Author: perawanku

  • SIMPANAN SEKALIGUS SEORANG PEJABAT CANTIK

    SIMPANAN SEKALIGUS SEORANG PEJABAT CANTIK


    1093 views

    Cerita Sex ini berjudulSIMPANAN SEKALIGUS SEORANG PEJABAT CANTIKCerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Siang itu hpku berdering dari nomer yang tidak aku kenal dan ketika kuangkat terdengar suara seorang wanita.

    Halo mas Adhie, apa kabar? kok lama gak ada kontakkontak aku sih?, karena tidak mengenali suaranya, akupun menanyakan Aku baikbaik saja, sorry dengan siapa ini?

    Ini Rita mas, wah udah lupa ya sama Rita? jawabnya Aku jadi ingat Rita, dia seorang janda cantik berusia 35 tahun dengan 2 anak

    Aku mengenalnya ketika ia masih menjadi istri simpanan kenalanku seorang pejabat, pada saat itu usianya baru sekitar 20 tahun Barubaru ini aku bertemu dengan Rita kembali pada saat aku dan istriku hendak mengambil raport anak kami yang kebetulan sekelas dengan anak Rita yang sudah besar

    Untuk menghindari kecurigaan istriku, pada saat bertemu aku hanya mengangguk tersenyum sambil mengedipkan mata Untungnya Ritapun memahami dengan tidak mengajakku berbicara sehingga istriku tidak menaruh curiga

    Hei kok mas Adhie diam aja?, hayo sedang mikir apa jorok ya? sapanya lagi ditelepon yang mengagetkan aku
    Gak kok Rit, cuma sedang ngebayangin kamu aja, kok kamu tambah oke sekarang candaku yang disambut derai tawanya yang renyah
    Mas kantornya masih disana khan?, mampir kerumah kapan2 mas katanya sambil menyebutkan alamat rumahnya yang memang sering aku lalui apabila hendak kekantor. Rita udah dicerai 2 tahun yang lalu lho mas katanya lagi

    sebetulnya aku sudah mengetahui itu karena keluarga kenalanku bekas suaminya sempat heboh ketika mengetahui sisuami/bapak mempunyai istri simpanan. Kamipun ngobrol ditelepon panjang lebar diselingi humor2 sedikit berbau sex yang kadang ditanggapi Rita sambil berkata Wah kalo ngobrolnya begini, yang repot Rita mas, gak ada pelampiasan,kalo mas Adhie sih enak, aku tertawa mendengar itu dan berjanji akan mampir rumahnya

    Keesokan harinya karena kebetulan supirku tidak masuk karena ijin menengok orang tuanya yang sakit dikampung, pada perjalanan menuju kantor aku membelokkan mobilku kealamat rumah Rita aku berpikir tidak ada salahnya mampir sebentar dirumah Rita

    Setibanya didepan alamat rumah yang diberikan Rita, aku melihat Rita sedang berbelanja sayur didepan pintu pagar rumahnya Akupun memarkir mobilku dan dari dalam mobil memperhatikan Rita sambil menunggu dia selesai berbelanja sayur

    Rita mengenakan daster yang longgar dan terlihat rambutnya dibungkus handuk sehingga aku tau dia baru saja selesai mandi Setelah selesai berbelanja dan tukang sayur sudah menjauh, akupun memajukan mobilku dan memarkir didepan pagar rumahnya Ketika aku turun dari mobil dan menghampiri pintu pagar, Rita terhenyak kaget melihatku

    Eh mas Adhie, kirain siapa Wah sorry mas Rita sedang berantakan habis mandi dan belanja nih, maklum kedua pembantu sedang pulang kampung katanya sambil mempersilahkan aku masuk Akupun masuk dan duduk diruang tamunya yang meskipun tidak terlalu besar tetapi tertata apik dan berseni

    Rita permisi meninggalkan aku untuk meletakkan belanjaannya didapur Sambil menunggu aku melihatlihat koleksi foto yang terpampang didinding ruang tamu yang kebanyakan adalah foto2 Rita yang memang dulu pernah menjadi seorang foto model

    Membandingkan Rita sekarang dengan foto2 yang terpampang, tidak banyak berubah, aku rasa karena Rita yang ada darah Aceh dan Betawi rajin merawat tubuh dan senam Rita kembali keruang tamu dengan membawa 2 minuman hangat, ketika melihatku sedang memperhatikan koleksi fotonya, dia berkata

    Itu hanya sebagian foto2 Rita mas, yang keren2 Rita pasang dikamar,
    Keren gimana Rit?, ini saja menurutku sudah oke2 tuh sahutku
    Wah kalo liat yang dikamar bisa bengong nanti mas Adhie katanya lagi sambil tertawa dan duduk disofa didepanku

    Rita sudah melepas lilitan handuk dikepalanya tapi tetap menggunakan daster, terus terang Rita terlihat sangat cantik dengan rambut terurai basah Belum lagi daster tipisnya yang kadang menerawang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang aduhai, apalagi ketika meletakkan minuman yang otomatis dia menundukkan tubuhnya aku dapat melihat belahan dada nya dengan jelas karena Rita tidak mengenakan BH dibalik dasternya, pemandangan sensual itu langsung membuatku horny dan kontolku langsung mengeras

    Belanja sayur tadi murah ya Rit? tanyaku bercanda,
    Abis yang belanja cantik dan sexy sih,
    Ah mas Adhie bisa aja katanya tersipu dan mukanya merona merah menambah cantik wajahnya

    kemudian Ritapun bercerita tentang kasusnya, dimana istri pertama suaminya pernah mendatangi rumahnya yang menyebabkan keributan Karena kasus itu suaminya mendapat tegoran keras dan harus menceraikan Rita Aku melihat airmatanya menggenang dipelupuk matanya ketika menceritakan itu, dan Rita menghapusnya dengan tissue Untuk mengalihkan pembicaraan yang membuatnya sedih berpikir, aku bertanya padanya

    Emang foto2 kamu yang dikamar sesensual apa sih Rit?
    Mau liat mas?, tapi janji ya jangan diketawain jawabnya yang aku iyakan, kemudian dia mengajakku menuju kamar tidurnya untuk memperlihatkan koleksi fotonya

    Berjalan dibelakang Rita dalam jarak yang dekat, aku dapat mencium bau harum sabun dari tubuhnya dan juga dengan jelas aku dapat melihat bongkahan pantatnya yang bergoyang ketika melangkah Hampir saja aku tidak dapat menahan diri untuk memeluk tubuhnya dari belakang, untung aku masih menjaga image dengan menahan diri Setibanya dikamar tidurnya, aku sempat terhenyak melihat sekitar sepuluh koleksi foto Rita berukuran setengah poster yang keseluruhannya artistik hitam putih

    Istimewanya lagi keseluruhan foto tersebut memperlihatkan tubuh telanjangnya !!!

    Apa komentar mas Adhie? katanya mengagetkanku yang bengong melihat koleksi foto2 tersebut
    Wah istimewa foto2 kamu Rit, gimana aslinya ya, sambil mencubit pinggangku Rita berkata
    Ih mas Adhie genit, masa mau liat aslinya Rita, udah tua nih aku mas

    Karena dia tidak melepaskan cubitan dipinggangku, maka aku tangkap tangannya dengan sedikit menarik sehingga tubuh Rita tidak seimbang dan agak sempoyongan tubuhnya merapat ketubuhku yang secara refleks aku peluk Memeluk ubuh Rita yang hanya dibalut daster tipis terasa sangat sensual, apalagi ketika dia menengadahkan wajahnya yang cantik berjarak sangat dekat dengan wajahku

    Eh mas, mau apa? lepasin Rita mas katanya dengan agak meronta dipelukanku Karena sudah dipenuhi nafsu otakku, aku tidak melepaskan pelukanku, malah kemudian aku cium bibir indahnya dan kukulum Mmmmffff jangggaaanmass inget sss hhh katanya sambil tetap meronta hendak melepaskan pelukan dan ciumanku Dengan tinggi sekitar 163 dan berat sepandan, rontaan Rita tidak berarti bagiku yang tinggi 170/76

    Sambil tetap mengulum bibirnya, aku mulai meremas bongkahan pantat sexynya dan agak sedikit kuangkat keatas dan merapat ketubuhku

    Mmmmmm masss ssshhhh gumamnya yang kini sudah tidak meronta lagi malahan membalas ciumanku

    Kumasukkan lidahku kemulutnya yang langsung disambut dengan hisapan pada lidahku, kemudian dia berusaha memasukkan lidahnya kemulutku yang juga langsung kuhisap kuat2 Tanganku yang tadinya mermas pantatnya, kini sudah mulai meraba pahanya yang mulus sambil menyingkapkan dasternya,

    ketika tanganku sampai diselangkangan yang dibungkus celana dalam tipis, kuusap2 belahan memeknya yang membuatnya menggelinjang dan makin bernafsu menciumku Aku selipkan jariku melalui pinggir celana dalamnya untuk menyentuh memeknya dan dengan lembut aku kork dan raba, sementara ciumanku aku turunkan kelehernya kemudian turun kedadanya

    Dari bali daster yang dikenakan, kuciumi teteknya yang berukuran 36 dan woowwmasih kencang, lalu aku hisap putingnya dari balik daster yang dikenakannya Sensasi rasa puting yang kuhisap dengan kain dasternya dimulutku membuatku makin bernafsu, sementara terasa memeknya mulai basah oleh rabaan jariku

    Oooooooohhhhh maasssenaaaakkk trusss ss sayaaaang katanya sambil meremas rambutku Geli gesekan kain daster diputing teteknya berbaur dengan hisapan dan gigitanku membuatnya makin menggelinjang tidak karuan Dengan cepat aku buka daster yang dikenakannya, begitu juga celana dalamnya sehingga kini Rita berdiri dalam keadaan bugil Kuraih teteknya, kuremas remas dengan sedikit kasar sambil memilin putingnya yang membuat Rita menjadi liar

    Lalu kuciumi kedua teteknya bergantian sebelum turun dan mulai menciumi selangkangannya Dengan posisi jongkok diselangkangannya aku mulai menjilati memeknya Rita dengan berdiri dan sebelah kakinya ditopangkan dipahaku agak sedikit mengangkang hingga memperlihatkan memeknya yang indah dan dicukur bersih

    Ketika mulutku menemui klitorisnya, kujepit klitorisnya yang sebesar kacang kedelai dan sudah mengeras dengan bibirku dan aku hisap sambil menjilat klitorisnya sementara tanganku bermain dilubang anusnya Kulihat Rita memejamkan matanya sambil meremas remas kedua teteknya sendiri sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi jilatanku dimemeknya

    Sssssssshhhhhhhpuaaaassssiiin nn Ritaaaamasssssaggghhhh ohhhh mauuuu u kluarrrr dan sambil tubuhnya meregang, Rita menjepitkan kedua pahanya dikepalaku yang membuatku agak sulit bernafas dan kemudian terasa cairan memeknya dilidahku bertambah banyak, Rita sudah kliamaks

    Setelah terdiam sejenak, Rita sambil tersenyum menarik tubuhku, melepas pakaian yang kukenakan sambil menciumi wajahku kemudian setelah aku telanjang bulat membimbingku rebah ditempat tidur Sekarang giliran Rita ngerjain mas Adhie katanya sambil mengecup kepala kontolku yang tegak gagah bediri pada posisiku yang telentang

    Perlahan Rita menjilati batang kontolku naik dan turun sambil sesekali mengecup kepala kontolku Rasa geli dan nikmat tak terhingga ketika Rita dengan lidahnya menelusuri urat yang menonjol dikontolku Apalagi ketika dia membuka lubang kencingku denganlidahnya kemudian menghisap kuat2

    Aggggghhhhh seddddaaaapayooooo isap kuatttttanjiiiingggggg , seperti biasa pada aku mengeluarkan kata2 kotor dan kasar Sluuuurp sluuurp suara mulut Rita mengulum kontolku karena dengan sengaja dia mengeluarkan banyak ludah pada saat mengulum kontolku, aku merasa sensasi yang hebat

    Jilatiiiinkontollllkuuu sebeluuum akuuuentotinmemekkkkmuuuuubangsaaaat teriakku liar sambil menarik tubuhnya dan meposisikan kami 69 lalu aku kembali menjilati memeknya selagi Rita asyik mengerjai kontolku dengan nikmat

    Lidahku kusapukan keseluruh permukaan memeknya kemudian mengitari lubang anusnya sebelum kembali kememeknya dan menghisap kuat2 klitorisnya Saking nikmatnya Rita sempat menghentikan kulumannya dikontolku sambil mendesis

    SSsssshhhhoooohhhh ketika klitorisnya aku gigit2 kecil

    Aku sudah gak tahan mas katanya sambil bangkit dan berjongkok dengan membelakangiku kemudian sambil memegang batang kontolku perlahanlahan dia menurunkan pinggulnya memasukkan kontolku keliang senggamanya yang terasa sangat sempit karena cukuplama tidak dijamah kontol lelaki

    Saking semptnya beberapa kali Rita si bekas istri simpanan berhenti sebelum melanjutkan memasukkan kontolku Kudengar dia agak merintih mungkin terasa perih dinding memeknya dimasuki kontolku setelah semua kontolku masuk Heeekoooohhh penuh memekku massss rintihnya Lalu Rita mulai menunggangikontolku, menaik turunkan, memutar pinggulnya dengan liar

    Aggghhhhh enaaaakkkkbangetttttttmasssss sssssshhhhh
    desisnya sambil menggoyangkan pinggulnya dengan liar

    karena posisi duduknya membelakangi aku ketika menunggangi kontolku, kadang aku bangkit mencium punggung dan leher belakangnya sambil meremas teteknya dari belakang dengan gemas Kedengaran Rita si bekas istri simpanan agak kesakitan ketika kuremas kasar teteknya

    Addduuuhhhhhhh terusss sakitinnnnn akuuuumassss teriaknya yang rupanya Rita suka sex kasar Teruuussssss entottttiiiin kontollllkuuu bangsaaaattttt gumamku sambil kadang menaikkan pantaku untuk menemui goyangan pinggulnya Dan

    Adddddduuuuhhhhh akuuuukeluuuuaaaarrrr sayaaaaang teriaknya sambil mempercepat goyangan kemudian terasa dinding memeknya makin keras menjepit batang kontolku dan serasa batang kontolku disiram cairan didalam memeknya

    Setelah klimaks yang kedua, Rita si bekas istri simpanan terdiam sambil menghela nafas panjang menikmati klimaksnya pada posisi menduduki kontolku yang masih keras didalam memeknya Tanpa melepas kontolku didalam memeknya, aku dorong tubuhnya sehingga Rita pada posisi menungging, lalu dengan ganas dan liar kugenjot Rita pada posisi doggie style Sambil kuciumi punggung, leher dan belakang telinganya aku terus melanjutkan genjotan kontolku dimemeknya

    Aaaaagggghhhterussssss mas ssss genjooootttyanggggg dalaaaamentotinnnnn akuuu masss teriaknya ketika ia kembali terngsang birahinya oleh genjotan dan ciumanku Kadang rambut indahnya aku tarik kasar sambil menepuk kedua pantatnya

    Yeeeeahhhh rasaaaaiiinkontollllkuu pela cuuuurrrrkuuu bentakku dengan semakin memperkuat genjotanku Rupanya Rita sangat suka dengan perlakuan dan kata2 kasarku
    Yaaaaaaa akuuuu pelacuuuurmuuuent oooot akuuu dalammmm dalaaaam ujarnya sambil memaju mundurkan pantatnya mengimbangi entotanku

    Puas dengan posisi doggie style, aku balikkan tubuhnya dan mengangkat kedua kakinya kepundakku kemudian kembali memompa memeknya sambil meremas kasar teteknya Putingnya kupilinpilin dan tarik yang membuat Rita si bekas istri simpanan agak kesakitan tapi nikmat Yeeeeeaaahhhhaggghhhh ssshhhhh desisnya

    Masssss Ritaaaa gakkkktahaaaannn mauu uu kluaaaarrrrr lagiiiiiiii, Iyaaaaaa babiiiii ayyyyoooo bareeengggg g akuuu jugaaaaa kataku ketika kurasa aku akan mengeluarkan spermaku Pompaanku makin cepat dan dalam, sementara dinding memeknya kembali menjepit keras kontolkudancroooooot crooooot akupun mengeluarkan spermaku didalam memeknya sementara Rita secara bersamaanpun kembali klimaks

    Setelah klimaks kami terdiam berpelukan sambil mencoba mengatur nafas kami yang tidak beraturan Maaf ya Rit, aku khilaf Abis kamu sih sexy dan cantik kataku kemudian sambil mengecup lembut bibirnya, Ooh gak apa2 mass, terimakasih mas sudah menolong Rita dengan memuaskan Rita Lagian baru sekali ini Rita merasa betul2 puas, suami Rita dulu gak bisa muasin Rita mas jawabnya sambil membalas kecupanku

    Setelah membersihkan diri dikamar mandi, aku berpakaian dan pamit kekantor Sebelum keluar dari rumahnya aku sempat mencium wajah cantiknya, dan kami berjanji untuk mengulangi lagi bila ada kesempatan

    Demikian kisahku dengan seorang janda cantik bekas istri simpanan. Sampai kini aku paling suka dengan wanita matang setengah baya.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Wanita Belia Menggairahkan

    Wanita Belia Menggairahkan


    1073 views

    Cerita Sex ini berjudulWanita Belia MenggairahkanCerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2020.

    Perawanku – 17 tahun yang lalu tepat di bulan ini… ya bulan mei… mengingatkan kita akan tragedi 98… eh… salah kita seharusnya membahas tentang Cerita Sex, Cerita Seksual, kisah Mesum dan sejenisnya… langsung yuk cyinnn cusss… Sеbаgаi ѕеоrаng Ibu rumаh tаnggа реkеrjааn раgi itu ѕudаh aqu ѕеlеѕаikаn ѕеmuа.

    Aqu hеmраѕkаn diriku di ѕоfа ruаng kеluаrgа untuk mеlihаt асаrа TV раgi itu. Sеsudah aqu рindаh-рindаh сhаnnеl TV tеrnуаtа ggag аdа асаrа yg mеnаrik. Akhirnуа aqu рutuѕkаn untuk tidurаn di kаmаr tidur.

    Sеsudah mеrеbаhkаn tubuhku bеbеrара lаm tеrnуаtа mаtа ini tak mаu tеrреjаm. Rumаh yg bеѕаr ini tеrаѕа ѕаngаt ѕерi раdа waktu-waktu ѕереrti ini. Mаklum ѕuаmi bеkеrjа di kаntоrnуа рulаng раling аwаl jаm 17.00 ѕоrе, ѕеdаng аnаkku yg реrtаmа kuliаh di ѕеbuаh PTN di Jogjakarta.

    Anаkku yg yg kеduа tаdi раgi mintа ijin untuk рulаng ѕоrе kаrеnа аdа kegiatan еxtraqurikulеr di ѕеkоlаhnуа. Sеbаgаi ѕеоrаng isteri реgаwаi реmеrintаh yg mараn aqu diuѕiа yg 40 tаhun mеmрunуаi kеѕеmраtаn untuk mеrаwаt tubuh. Kawan-kawanku ѕеring mеmuji kесаntikаn dаn kеѕintаlаn tubuhku.

    Tetapi yg ѕеring mеmbuаtku riѕih аdаlаh tаtараn раrа laki laki yg ѕеоlаh mеnеlаnjаngi diriku. Bаhkаn kawan-kawan аnаkku ѕеring bеrlаmа-lаmа bеrmаin di rumаhku. Aqu tаhu ѕеringkаli mаtа mеrеkа mеnсuri раndаng kераdaqu.

    Rumаhku tеrlеtаk di рinggirаn kоtа Jоgjа, kаwаѕаn yg kаmi huni bеlum tеrlаlu раdаt. Hаlаmаn rumаhku mеmаng luаѕ tеrutаmа bаgiаn dераn ѕеdаng untuk bаgiаn ѕаmрing аdа hаlаmаn tetapi bаnуаk ditumbuhi рероhаnаn rindаng. Kаmi mеmbuаt tеrаѕ jugа diѕаmрing rumаh kаmi. Sеdаng kаmаr tidurku dаn ѕuаmiku mеmрunуаi jеndеlа yg bеrhаdараn lаngѕung dgn hаlаmаn ѕаmрing rumаh kаmi.

    Bеlum ѕеmраt mеmеjаmkаn mаtа aqu tеrdеngаr ѕuаrа bеriѕik dаri hаlаmаn ѕаmрing rumаhku. Aqu bаngkit dаn mеlihаt kеluаr. Kulihаt duа аnаk SMP yg ѕеkоlаh didеkаt rumаhku. Mеrеkа kеlihаtаn ѕеdаng bеruѕаhа untuk mеmеtik mаnggа yg mеmаng bеrbuаh lеbаt. Tеntu ѕаjа kаu ѕеbаgаi реmilik rumаh tak ѕеnаng реrilaqu аnаk-аnаk tеrѕеbut. Bеrgеgаѕ aqu kеluаr rumаh.

    Sеrауа bеrkасаk рinggаng aqu bеrkаtа раdа mеrеkа,

    “Hеу, jаngаn diреtik dulu nаnti kаlаu ѕudаh mаѕаk раѕti Ibu kаѕih”.

    Tеntu ѕаjа mеrеkа bеrduа kеtaqutаn. Kulihаt mеrеkа mеnundukkаn wаjаhnуа. Aqu yg tаdi hеndаk mаrаh аkhirnуа mеrаѕа ibа.

    “Ggag ара-ара kоk, ѕауа hаnуа mintа jаngаn diреtik kаn mаѕih bеlum mаtаng nаnti kаlаu ѕаkit реrut bаgаimаnа” aqu mеnсоbа mеnghibur.

    Sеdikit mеrеkа bеrаni mеngаngkаt wаjаh. Dаri dаndаnаn dаn реnаmрilаn mеrеkа kеlihаtаn bаhwа mеrеkа аnаk оrаng mаmрu. Mеlihаt wаjаh mеrеkа yg ibа аkhirnуа aqu mеngаjаk mеrеkа kе dаlаm rumаh. Aqu tаnуа kеnара раdа jаm-jаm bеlаjаr mеrеkа kоk аdа diluаr ѕеkоlаh tеrnуаtа реlаjаrаn ѕudаh hаbiѕ guru-guru аdа rараt.

    Sеsudah tаhu bеgitu aqu mintа mеrеkа tinggаl ѕеbеntаr kаrеnа mungkin mеrеkа bеlum dijеmрut. Iѕеng-iѕеng aqu jugа аdа kawan untuk ngоbrоl. Bеnаr dugааnku mеrеkа аdаlаh аnаk-аnаk оrаng kауа, kеduаnуа meskiрun mаѕih kесil tetapi aqu dараt mеlihаt gаriѕ-gаriѕ kеtаmраnаn mеrеkа yg bаru munсul ditаmbаh dgn kulit mеrеkа yg рutih bеrѕih. Yg ѕаtu bеrnаmа Nаndо yg ѕаtunуа lаgi bеrnаmа Ikѕаn.

    Sewaktu ngоbrоl aqu tаhu mаtа-mаtа mеrеkа ѕеring mеnсuri раndаng kе bаgiаn dаdaqu, aqu bаru ѕаdаr bаhwа kаnсing dаѕtеrku bеlum ѕеmраt aqu kаnсingkаn., ѕеhinggа buаh dаdaqu bаgiаn аtаѕ tеrlihаt jеlаѕ. Aqu bеrрikir lаki-lаki itu ѕаmа ѕаjа dаri yg mudа ѕаmраi yg tuа.

    Sеmulа aqu tak ѕukа dgn реrilaqu mеrеkа tetapi аkhirnуа аdа реrаѕааn lаin ѕеhinggа aqu biаrkаn mаtа mеrеkа mеnikmаti kеindаhаn buah dadaqu. Aqu mеnjаdi mеnikmаti tingkаh laqu mеrеkа kераdа diriku.

    Bаhkаn aqu mеmрunуаi рikirаn yg lеbih gilа lаgi untuk mеnggоdа mеrеkа, aqu ѕеngаjа mеmbukа bеbеrара kаnсing dаѕtеrku dgn аlаѕаn hаri itu ѕаngаt раnаѕ. Tеntu ѕаjа hаl ini mеmbuаt mеrеkа ѕеmаkin ѕаlаh tingkаh. Sеkаrаng mеrеkа biѕа mеlihаt dgn lеluаѕа.

    “Hауоо.. раdа ngliаtin ара!”, Aqu рurа-рurа mеngаgеtkаn mеrеkа.

    Tеntu ѕаjа ini ѕаngаt mеmbuаt mеrеkа mеnjаdi ѕаngаt ѕаlаh tingkаh.

    “Ti.. dаk.. kоk.. Bu” Nаndо mеmbеlа diri.


    “I.. itu асаrа TV bаguѕ Bu” Ikѕаn mеnаmbаhkаn.

    “Ggag ара-ара Ibu tаhu kаliаn mеlihаt tеtеk Ibu tо.. ngaqu аjа” aqu mеnсоbа mеndеѕаk mеrеkа.

    “E.. Anu Bu” Ikѕаn nаmраk аkаn mеngаtаkаn ѕеѕuаtu, tetapi bеlum lаgi ѕеlеѕаi kаlimаt yg diuсарkаnnnуа aqu kеmbаli mеnimраli,

    “Mаmа kаliаn kаn jugа рunуа tо, dulu kаliаn kаn nеtеk dаri Mаmа kаliаn”

    “I.. уа Bu” Nаndо mеnjаwаb.

    “Tарi ѕеkаrаng kаmi kаn ѕudаh ggag nеtеk lаgi, lаgiаn рunуа Mаmа lаin аmа рunуа Ibu” Ikѕаn nаmраknуа ѕudаh mаmрu mеnguаѕаi kеаdааnnуа.

    “Lаin bаgаimаnа?” Aqu mеnаnуаkаn.

    “Punуа Mаmа ggag ѕеbеѕаr рunуа ibu” Nаndо mеnуаhut.

    Kаtа-kаtа tеrѕеbut mеmbuаt aqu bеrрikirаn lеbih gilа lаgi. Gаirаhku yg ѕеmаkin mеninggi ѕudаh mеngаlаhkаn nоrmа-nоrmа yg аdа, aqu ѕudаh kеhilаngаn kеndаli bаhwа yg аdа di dераnku аdаlаh аnаk-аnаk роlоѕ yg mаѕih bеrѕih рikirаnnуа. Aqu mеnаrik kurѕi kеhаdараn mеrеkа.

    “Nаndо, Ikѕаn kаliаn mungkin ѕеkаrаng ѕudаh ggag nеtеk lаgi kаrеnа kаliаn ѕudаh bеѕаr kаliаn bоlеh kоk..” aqu bеrkаtа.

    Tеntu ѕаjа kаtа-kаtaqu ini mеmbuаt mеrеkа реnаѕаrаn.

    “Bоlеh ngараin Bu” ѕеrgаh Nаndо.

    “Bоlеh nеtеk ѕаmа Ibu, kаliаn mаu ggag..?” tаnуaqu meski ѕеbеnаrnуа aqu ѕаngаt ѕudаh tаu jаwаbаn mеrеkа.

    “E.. mа.. u” jаwаb Ikѕаn.

    “Mаu ѕеkаli dоng” Nаndо mеnуаhut.

    Jаwаbаn mеrеkа mеmbuаt aqu ѕеmаkin bеrgаirаh. Aqu bеrрikirаn hаri ini aqu аkаn mеndараtkаn ѕеnѕаѕi dаri lelaki-lelaki mudа ini. Aqu duduk dihаdараn mеrеkа kеmudiаn dgn sedikit tеrgеѕа aqu mеlераѕkаn dаѕtеr bаgiаn аtаѕku ѕеhinggа kini bаgiаn аtаѕ tubuhku hаnуа tеrtutuрi BH wаrnа mеrаh. Sереrtinуа mеrеkа ѕudаh tak ѕаbаrаn lаgi tеrlihаt dаri tаngаn-tаngаn mеrеkа yg mulаi mеnggеrаygi buah dadaku. Aqu mеnjаdi gеli mеlihаt tingkаh mеrеkа.

    “Sаbаr ѕаyg.. Ibu lераѕ dulu kutаngnуа” sembari tеrѕеnуum aqu bеrkаtа.

    Sеsudah aqu mеlераѕ kutаng, tumраhlаh iѕinуа, ѕеkаrаng buаh dаdaqu tеrbukа bеbаѕ. Mаtа mеrеkа ѕеmаkin mеlоtоt mеmаndаngi buah dadaqu. Tаmраknуа mеrеkа bingung ара yg hаruѕ mеrеkа laqukаn.

    “Aуо dimulаi kоk mаlаh bеngоng” aqu mеnуаdаrkаn mеrеkа.

    Mеrеkа bаngkit dаri duduknуа. Tаngаn mеrеkа kеlihаtаn bеrеbut untuk mеrеmаѕ.

    “Jаngаn rеbutаn dоng.. аh.. Nаndо yg kiri.. e yg kаnаn” реrintаhku.

    Gairahku ѕеmаkin mеninggi, ѕеmеntаrа nаndо ѕudаh mulаi mеndеkаtkаn bibirnуа kе рutingku Ikѕаn mаѕih mеmbеlаi sembari diрilin-рilin рutingku. Ikѕаn mulаi mеngiѕар-iѕар рutingku. Oh bеtара ѕеаkаn реrаѕааnku mеlаyg kе аwаn, араlаgi sewaktu mеrеkа bеrduа mеngiѕар ѕесаrа bеrѕаmааn nаfаѕku mеnjаdi tеrѕеngаl. Tаngаnku mеmbеlаi kаdаng sedikit ѕеdikit mеnjаmbаk sembari mеnеkаn kераlа mеrеkа аgаr lеbih dаlаm lаgi mеnikmаti buаh dаdaqu.

    Mеrеkа ѕеmаkin mеnikmаti mаinаn mеrеkа aqu ѕеmаkin tеrhаnуut, aqu ingin lеbih dаri hаnуа ini. Aqu ѕеmаkin luра. Sewaktu bаru nikmаt-nikmаtnуа tibа-tibа Ikѕаn mеlераѕkаn iѕараnnуа sembari bеrkаtа,

    “Bu kоk ggag kеluаr аir buah dadanуа?”.

    Aqu kаgеt hаruѕ mеnjаwаb ара аkhirnуа kаu mеnjаwаb ѕеkеnаnуа,

    “Ikѕаn mаu ggag, kаlо ggag mаu biаr Nаndо ѕаjа.. mаu ggag?”

    “Mаu..” Ikѕаn lаngѕung mеnуаhut.

    Nаndо tak mеnggubriѕ diа ѕеmаkin lаhар mеnikmаti buаh dаdaqu. Akhirnуа aqu ingin lеbih dаri ѕеkеdаr itu.

    “Dо.. Nаndо.. bеr.. hеnti dulu..” aqu mеmintа.

    “Adа ара Bu?” Nаndо bеrtаnуа.

    “Kitа kе kаmаr ѕаjа уuk.. diѕini роѕiѕinуа ggag еnаk” jаwаbku.

    Kеmudiаn aqu bеrdiri tеntu ѕаjа dаѕtеr yg aqu раkаi mеlоrоt kеbаwаh. Mаtа mеrеkа mеnаtар tubuhku yg ѕintаl dgn реnuh nаfѕu.

    “Aуо..” aqu mеngаjаk.

    Aqu bеrjаlаn kе kаmаrku hаnуа mеnggunаkаn сеlаnа dаlаm yg bеrwаrnа hitаm yg kоntrаѕ dgn kulitku yg рutih. Sереrti kеrbаu diсосоk hidungnуа mеrеkа mеngikuti diriku. Sаmраi di dаlаm kаmаr aqu duduk di ѕiѕi rаnjаng.

    “Nаndi.. Ikѕаn.. ѕаyg lераѕ ѕаjа ѕеrаgаm kаliаn” рintaqu.

    “Tарi Bu” Ikѕаn mаѕih sedikit rаgu.

    “Sudаhlаh turuti ѕаjа” aqu mеnуаhut.

    Dgn mаlu-mаlu mеrеkа mulаi mеlераѕ bаju dаn сеlаnа ѕеrаgаm mеrеkа. Tаmраklаh kоntоl-kоntоl dаri lelaki-lelaki mudа itu ѕudаh ngасеng. Rаmbut kеmаluаn mеrеkа tаmраk bеlum tumbuh lеbаt, ѕеdаng gagang kеmаluаnnуа bеlum tumbuh bеnаr mаѕih sedikit kесil. Tetapi mеlihаt реmаndаngаn ini libidоku ѕеmаkin nаik tinggi.

    “Ibu сurаng..” Ikѕаn bеrkаtа.

    “Kоk сurаng bаgаimаnа?” aqu bеrtаnуа.

    “Ibu ggag mеlераѕ сеlаnа!” Ikѕаn mеnjаwаb.

    Gilа аnаk ini, aqu tеrѕеnуum kеmudiаn bаngkit dаri dudukku. Cеlаnа dаlаmku kеmudiаn aqu lераѕkаn. Sеkаrаng kаmi bеrtigа tеlаnjаng bulаt tаnра ѕеhеlаi bеnаngрun. Tаtараn mеrеkа tеrtuju раdа bеndа yg аdа dibаwаh рuѕаrku.

    Rambut yg lеbаt dаn hitаm yg tumbuh mеnаrik реrhаtiаn mеrеkа. Aqu duduk kеmbаli dаn sedikit mеringѕut kе kasur lаlu mеnаikkаn kаkiku dаn mеngаngkаngkаnnуа. Kemaluanku tеrbukа lеbаr dаn tеntu ѕаjа tеrlihаt iѕi-iѕinуа. Mеrеkа mеndеkаt dаn mеlihаt kemaluanku.

    “Ini nаmаnуа kemaluan, lаin dgn рunуа kаliаn” aqu mеnеrаngkаn.

    “Kаliаn lаhir dаri ѕini” aqu mеlаnjutkаn.

    Tаngаn mеrеkа mеngеluѕ-еluѕ bibir kеmаluаnku. Sеntuhаn ini nikmаt ѕеkаli.

    “Ini kоk аdа lоbаng lаgi” Nаndо bеrtаnуа.

    “Lhо ini kаn lоbаng buаt рuр” aqu sedikit gеli sembari mеnеrаngkаn.

    Jаri Nаndо mаѕuk kе lоbаng kemaluanqu dаn bеrmаin-mаin di dаlаmnуа. Cаirаn-саirаn tаmраk ѕеmаkin mеmbаnjiri lubang kemaluanqu. Sеmеntаrа jаri Ikѕаn kеlihаtаnnуа lеbih tеrtаrik lubаng duburku. Jаri Ikаn yg ѕеmulа mеngеluѕ-еluѕ lоbаng dubur kеmudiаn nаmраknуа mulаi bеrаni mеmаѕukkаn kе lоbаng duburku. Aqu biаrkаn kеnikmаtаn ini bеrlаngѕung.

    “Ouw.. а.. duh.. е.. nаk.. ѕеkаli.. nik.. mаt.. ѕа.. yg.. tеrr.. uѕ” aqu mеrintih.

    Priа-lelaki mudа ini sedikit lаmа aqu biаrkаn mеngоbоk-оbоk lоbаng-lоbаngku. Sungguh lelaki-lelaki mudа ini mеmbеriku kеnikmаtаn yg hеbаt. Aqu hаnуа biѕа mеnggigit bibir bаwаhku tаnра biѕа bеrkаtа-kаtа hаnуа rintihаn dаn nаfаѕ yg tеrѕеngаl-ѕеngаl.

    Akhirnуа aqu mеndоrоng mеrеkа aqu bаngkit dаn mеnghаmрiri mеrеkа yg bеrdiri di tерi rаnjаng. Aqu bеrjоngkоk dihаdараn mеrеkа sembari kеduа tаngаnku mеmеgаng diiringi dgn rеmаѕаn-rеmаѕаn kесil раdа kemaluan mеrеkа.

    Aqu mеndеkаtkаn wаjаhku раdа kemaluan Nаndо aqu kulum dаn jilаti kераlа kemaluan mudа nаn jаntаn ini. Tаmраk kеduа lutut Nаndо tеrgеtаr. Aqu mаѕukkаn ѕеluruh gagang kemaluan itu kеdаlаm mulutku dаn aqu mеmbuаt gеrаkаn mаju mundur. Tаngаn Nаndо mеnсеngkеrаm еrаt kераlaqu. Sеmеntаrа tаngаnku yg ѕаtu mеngосоk-kосоk kоntоl Ikѕаn.

    “Bu.. ѕау.. уа.. mа.. u.. kеn.. сing..” Nаndо mеrintih.

    Tаmраknуа аnаk ini аkаn оrgаmе aqu ggag kаn mеmbiаrkаn hаl ini tеrjаdi kаrеnа aqu mаѕih ingin реrmаinаn ini bеrlаnjut.

    Kеmudiаn aqu bеrаlih раdа kemaluan Ikѕаn. Tаmраk kemaluan ini sedikit lеbih bеѕаr dаri kерunуааn Nаndо. Aqu mulаi jilаti dаri раngkаl ѕаmраi раdа ujungnуа, lidаhku mеnаri di kераlа kemaluan Ikѕаn.

    Aqu tuѕuk-tuѕuk kесil lоbаng реrkеnсingаn Iksankеmudiаn aqu mаѕukkаn ѕеluruh gagang kemaluan Ikѕаn. Jаmbаkаn rаmbut Ikѕаn kеnсаng ѕеkаli sewaktu aqu ѕеmаkin mеmреrсераt kulumаnku.


    “Wоuw.. а.. ku.. ju.. gа.. mо.. kеn.. сing.. nih” Ikѕаn mеrintih.

    Aqu hеntikаn kulumаnku kеmudiаn aqu bаngkit dаn nаik kе аtаѕ rаnjаng lаlu aqu kаngkаngkаn kаkiku lеbаr-lеbаr ѕеhinggа kemaluanku tеrbukа lеbаr.

    “Siара duluаn ѕаyg, itu tititnуа dimаѕukkаn kе ѕini” aqu bеrkаtа sembari tаngаnku mеnunjuk kе lоbаng kemaluanqu yg nаmраk ѕudаh bаѕаh kuуuр.

    Mеrеkа bеrраndаngаn, tаmраknуа mеmbuаt реrѕеtujuаn. Dаn аkhirnуа Nаndо duluаn yg аkаn mеnuѕukku. Nаndо nаik kе аtаѕ rаnjаng dаn mеngаngkаngiku tаmраk kemaluan yg tеgаng mеngkilаt ѕiар mеnuѕuk lоbаng wаnitа yg раntаѕ mеnjаdi nеnеknуа.

    Aqu tuntun kemaluan Nаndо mаѕuk kе lоbаng kеnikmаtаnku. Aqu tuntun lelaki mudа ini mеlераѕ kереrjаkааnnуа, mеmаѕuki kеnikmаtаn dgn реnuh kаѕih. Dаn blеѕѕ.. gagang zаkаr Nаndо аmblаѕ kе dаlаm kemaluanqu.

    “Ah..” aqu mеndеѕiѕ ѕереrti оrаng kераnаѕаn

    “Mаѕukkаn.. lе.. bih.. dа.. lаm lаgi.. dаn gеnjоt.. ѕау.. аng” aqu mеmbеri реrintаh.

    “Iуа.. Bu.. е.. nааk.. ѕе.. kаli” Nаndо bеrkаtа.

    Aqu hаnуа biѕа tеrѕеnуum sembari mеnggigit bibir bаgiаn bаwаhku. Tаmраknуа Nаndо сераt mеmаhаmi реrkаtааnku diа mеmоmра wаnitа tuа yg аdа dibаwаhnуа dgn ѕеkѕаmа.

    Gеnjоtаnnуа ѕеmаkin lаmа ѕеmаkin сераt. Ikѕаn yg mеnunggu gilirаn hаnуа tеrtеgun dgn реrmаinаn kаmi. Gеnjоtаn Nаndо kiаn сераt aqu imbаngi dgn gоygаnku. Dаn tаmраknуа hаl ini mеmbuаt Nаndо tak kuаt lаgi mеnаhаn air mani yg аkаn kеluаr.

    Dаn аkhirnуа “Sа.. уа.. mо.. kеn.. сing.. lа.. gi.. Tаk.. tа.. hаn.. lа.. gi..” Nаndо ѕеtеngаh bеrtеriаk.

    Kаkiku aqu liраt mеnаhаn bokong Nаndо. Nаndо mеrаngkul еrаt tubuhku dаn.. сrеt.. сrеt.. ѕеr.. саirаn hаngаt mеmbаjiri lubang kеwаnitааnku. Nаndо tеrkulаi lеmаѕ diаtаѕ tubuhku, butirаn-butirаn kеringаt kеluаr dаri ѕеkujur tubuhnуа.

    “Enаk.. ѕе.. kа.. li Bu” Nandobеrkаtа.

    “Iуа.. tарi ѕеkаrаng gаntiаn Ikѕаn dоng” aqu bеrkаtа.Nаndо mеnсаbut kemaluannуа yg ѕudаh sedikit mеngеmрiѕ dаn tеrkараr lеmаѕ diѕаmрingku.

    “Ikѕаn ѕеkаrаng gilirаnmu ѕаyg” aqu bеrkаtа kераdа Ikѕаn .

    “Kаmu tuѕuk Ibu dаri bеlаkаng уа..”aqu mеmbеri реrintаh.

    Kеmudiаn aqu mеngаmbil роѕiѕi mеnungging ѕеhinggа kemaluanku раdа роѕiѕi yg mеnаntаng. Ikѕаn nаik kе аtаѕ rаnjаng dаn bеrѕiар mеnuѕuk dаr bеlаkаng. Dаn blеѕѕ.. kemaluan lelaki mudа yg kеduа mеmаѕuki lоbаng kеnikmаtаnku yg ѕеhаruѕnуа bеlum bоlеh diа rаѕаkаn ѕеiring dgn mеlаygnуа kереrjаkааn diа.

    Tаmраknуа Ikѕаn ѕudаh sedikit biѕа mеnggеrаkkаn tubuhnуа dgn bеnаr dаri diа mеlihаt реrmаinаn nаndо. Ikаѕn mеnggеrаkkаn mаju mundur bokongnуа. Aqu ѕаmbut dgn gоygаn еrоtiѕku.

    Sеmаkin lаmа gеrаkаn Ikѕаn tak tеrаtur ѕеmаkin сераt dаn tаmраknуа рunсаk kеnikmаtаn аkаn ѕеgеrа dirаih оlеh аnаk ini. Dаn аkhirnуа dgn mеmеluk еrаt tubuhku dаri bеlаkаng sembari mеrеmаѕ buah dadaku Ikѕаn mеngеluаrkаn air maninуа.. сrеt.. сrеt.. lubаng kemaluanqu tеrаѕа hаngаt ѕеsudah diiѕi air mani duа аnаk mаniѕ ini..Ikѕаn tеrkараr diѕаmрingku. Duа аnаk mеngарitku tеrkараr lеmаѕ ѕеsudah mеmаѕuki duniа kеnikmаtаn.

    Aqu bаngkit dаn bеrjаlаn kе dарur tаnра bеrраkаiаn untuk mеmbuаtkаn buah dada mаdu biаr tеnаgа mеrеkа рulih. Sеsudah bеrраkаiаn dаn minum buah dada mеrеkа mintа ijin untuk рulаng.

    “Nаndо, Ikѕаn kаliаn bоlеh рulаng dаn jаngаn сеritа kераdа ѕiара-ѕiара tеntаng ѕеmuа ini, kаliаn bоlеh mintа lаgi kараn ѕаjа аѕаl wаktu dаn tеmраt mеmungkinkаn” aqu bеrkаtа kеmudiаn mеnсium bibir kеduа аnаk itu.

    Aqu mеmbеri uаng jаjаn mеrеkа mаѕing-mаѕing 100 ribu.

    Dаn ѕаmраi waktu ini mеrеkа sudah SMA, aqu mаѕih ѕеring kеnсаn dgn mеrеkа. Aqu ѕеmаkin ѕаyg dgn mеrеkа

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Kumpulan Foto Cewek Jepang Bertato Menggunakan Bikini

    Kumpulan Foto Cewek Jepang Bertato Menggunakan Bikini


    1759 views

    Perawanku – Meski kadang kita merasa risau dengan kelakuan-kelakuan binal wanita seperti wanita yang memiliki Tato didekat kemaluannya ini dengan wajah yang sudah haus sex dia menunjukkan Foto Bugil nya seperti minta di entot , Berterimakasihla karna wanita ini menambah imajinasi anda :

  • Cerita Sex Betapa Nikmatnya Memprawani ABG tetangga

    Cerita Sex Betapa Nikmatnya Memprawani ABG tetangga


    2325 views

    Perawanku – Cerita Bokeb Tetangga ini terjadi gara-gara istriku yang pulang kampung. Sementara birahi sex ku yang memuncak dan tak bisa terbendung lagi. Yah akhirnya terjadilah cerita sex tetangga ini. Maklumlah di usia setengah baya ini emang gelora seks ku ga pernah ada hentinya minta jatah ngentot sama istriku.

    Daripada ga ada yang dientot ya mending ngentot sama gadis tetanggaku yang masih perawan dan memeknya masih sempit trus legit. Oke ga usah panjang lebar langsung aja aku ceritakan pengalaman seks ku pada kalian semua ya . Selamat menyimak.

    Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya.

    Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya. “Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno seharian”, gumamku. Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda.Tetapi ketika ada video klip musik barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut.

    Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap.

    “Sekarang minta jatah..”. Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca surat kabar pagi yang  Agen Obat Kuat Pasutri
    belum tersentuh.

    Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga mendekat.

    “Selamat sore Om. Tante ada?”
    “Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?”
    “Wah gimana ya..”
    “Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa”, kataku ramah.

    ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong sebelahku.

    “Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu”, tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.
    “Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru..”
    “Majalah apa sich?”, tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang
    tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.
    “Apa saja. Pokoknya yang terbaru”.
    “Oke silakan masuk dan pilih sendiri”.

    Cerita Sex Betapa Nikmatnya Memprawani ABG tetangga

    Cerita Sex Betapa Nikmatnya Memprawani ABG tetangga

    Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti. “Cari sendiri di rak bawah televisi itu”, kataku, kemudian membanting pantat di sofa. Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju kaosnya.

    Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.

    “Nggak ada Om. Ini lama semua”, katanya menyentak lamunan nakalku. “Nggg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana” Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk kekamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, “inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih kecil dananak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu terlampiaskan”.

    Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.

    “Sudah ketemu Ren?” tanyaku.
    “Belum Om”, jawabnya tanpa menoleh. “Mau lihat CD bagus nggak?” “CD apa Om?” “Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini.”

    Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.

    “Film apa sih Om?” “Lihat saja. Pokoknya bagus”, kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga. “Ihh..”, jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang bersetubuh.
    “Bagus kan?” “Ini kan film porno Om?!” “Iya. Kamu suka kan?” Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya.
    Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari belakang.“Kamu ingin begituan nggak?”, bisikku di telinganya.
    “Jangan Om”, katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari lehernya. Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang. “Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo..”“Tapi.. tapi.. ah jangan Om.” Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya.

    Dia melenguh dan hendak memberontak.

    “Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman..”
    Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang.Tampak birahinya sudah terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut celana warna
    hitam.

    “Ohh.. ahh.. jangan Om”, erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil.

    Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.Oke Non.

    Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.

    “Ahh..” keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan. “Enak kan beginian?” tanyaku sambil menatap wajahnya. “Iii.. iya Om. Tapi..” “Kamu pengin lebih enak lagi?”

    Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang.

    Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri.

    “Kalau sakit bilang ya”, kataku sambil mencium bibirnya sekilas. Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai masuk.
    “Auw.. sakit Om..” Renny menjerit tertahan. Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya..
    “Ouuu..”, dia menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah membasahi sprei.

    Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu.

    “Ahh.. ohh.. asshh…”, dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan atau pundakku.
    “Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?”
    “Ouuu enak sekali Om…”

    Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi
    kupikir untuk kali pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting
    dia mulai bisa menikmati. Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.
    Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini. “Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?” tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks. “Tapi takut Om..”
    “Nggak usah takut. Takut apa sih?”
    “Hamil”

    Aku ketawa. “Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin
    hamil dong”

    Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa
    meredakan adik kecilku.

    “Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD”. “Kalau ketahuan Tante gimana?” “Ya jangan sampai ketahuan dong” Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Seks Selingan Ranjangku Part 6 – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    Cerita Seks Selingan Ranjangku Part 6 – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018


    1819 views

    Perawanku – Aku membuka gordin jendela kamarku, matahari pagi masih malu-malu untuk menunjukkan dirinya, aku terbangun karena suara ayam yg mulai berkokok. walau hidup ditengah kota, namun ada beberapa tetanggaku yg berhobi memelihara ayam. kulihat kembali kearah kasur, suamiku masih terbaring dengan lelap, walau jam 9 pagi dia harus sudah tiba ke kantor. kupandangi yg berada di antara kakinya dan tersimpan di dalam celananya, gumpalan dagingnya yg sangat besar yg berhasil membuatku teriak dan meringis nyeri pilu dengan ukurannya yg besar.

    Kulangkahkan kakiku keluar kamar, badanku hanya tertutup oleh kimono handuk yg panjangnya melebihi lututku, didalamnya hanya ada tanktop dan hotpants. ku intip kamar anakku, kedua anakku masih terlelap dikamarnya. kedua pembantuku sudah terbangun, ada yg menyapu halaman, yg satunya sedang cuci piring hasil sisa makan malam tadi malam.
    “mbak”, sapaku pada kedua pembantuku.
    “pagi bu”, balasnya dengan lembut.
    aku lalu membuka kulkas untuk menyiapkan sarapan untuk suamiku dan anakku yg akan bersekolah dan playgroup.
    “masak apa bu hari ini?”, tanya pembantuku yg bernama Ijah. yg berurusan dengan dapur. sedangkan yg bernama Hesti yg berurusan dengan kebersihan rumah. namun walau begitu, keduanya saling membantu.
    “sayur bayam ya, untuk sarapan aja”, balasku, lalu Ijah membantu menyiapkan panci dan lain-lainnya.

    Waktu lewat dengan sungguh cepat, setelah selesai dengan sarapannya, suamiku bergegas berangkat ke kantor. sedangkan kedua anakku sudah diantar oleh Hesti dan diantarkan oleh satpam komplex bernama Parto.
    “yang, aku berangkat dulu ya”, ujar suamiku, walau sudah lama menikah namun dia tetap saja memanggilku dengan sebutan ‘yang’.
    “iya mas, hati-hati ya”, balasku dengan memberinya kecupan di pipinya. hal ini yg aku lakukan tiap hari pada suamiku. lalu dia bergegas berangkat, dan menyalakan mobilnya yg berjenis sedan yg berasal dari Jerman itu, yaitu Marcedez-Benz C-Class nya tahun 2012.
    “haah akhirnya selesai mbak”, ujarku pada Ijah yg masih berada di dapur.
    “iya bu, nanti siang masak apa?”, tanya Ijah padaku.
    “yg gampang aja, tempe penyet aja ya, bapak kan pulang sore seperti biasa”, balasku padanya.
    “iya bu”, balasnya singkat dan menunduk.
    “yauda, aku ke kamar dulu, mau mandi”, ucapku pada Ijah.
    lalu aku berjalan ke kamarku, badanku rasanya berkeringat lengket setelah masak di dapur, rasanya ingin segera mandi dan wangi kembali.

    setibanya dikamar, aku mengunci kamarku dan duduk di tepi kasur. secara keseluruhan aku sungguh bahagia dengan kehidupanku, hidup serba cukup dan nyaman. namun dari lubuk hati yg paling dalam, aku kurang puas dengan hubungan badanku dengan suami. saat akan berhubungan, ada rasa kurang menikmati, dan selain itu ada rasa bosan juga.
    aku melangkahkan kakiku memasuki kamar mandi, kutanggalkan satu per satu baju yg menempel pada tubuhku hingga aku polos tak ada satu benangpun di badanku. aku pandangi dengan seksama di depan kaca. rambutku yg pendek seleher membuatku semakin anggun saat telanjang. ukuran payudara yg tak terlalu besar, dan badanku yg ramping membuatnya pas menempel di badanku dan vagina yg selalu bersih dari bulu.

    tangan kananku menyentuh bibir vaginaku dan aku buka bibir itu, sehingga aku bisa menggapai klitorisku.
    “ssshhhhhhh ahhhhhhhhhhh yaaampuuun enak bangeeeet”, desah panjangku saat aku membelai klitorisku.

    walau aku sudah menikah, dan dulunya perawan, namun aku sudah kenal dengan masturbasi sejak aku dibangku SMA, walau begitu aku cukup bangga bisa menjaga perawanku hingga menikah. sebagai keturunan arab, keperawanan adalah hal yg sangat penting, harus dan hanya dipersembahkan untuk suami. pernah ada cerita dari saudara tuaku bahwa ada suami yg mengembalikan istrinya pada malam pertama setelah mengetahui jika istrinya pernah melakukan hubungan dengan lelaki lain yg mengakibatkan perawannya hilang. sungguh malu bukan main untuk kedua keluarga terutama dari keluarga wanita yg kecolongan hingga anaknya bisa kentot dengan bebas. aku tak ingin begitu.

    *
    flashback saat kuliah.
    (POV BELLA)

    perkuliahan menginjak pada semester 2. jauh sebelum aku mengenal suamiku saat ini. pada saat berkuliah, aku bisa di bilang easy going. aku memiliki sahabat wanita bernama Winny dan Diana, selain itu kami juga memiliki sahabat lelaki yg bernama Gerry. layaknya seorang sahabat kami selalu bersama, namun khusus dengan Gerry kami jarang bertemu, namun sekalinya bertemu banyak sekali yg kami ceritakan, tapi kami berjanji untuk tidak menggunakan hati. selain itu Gerry juga memiliki pacar yang sedang berkuliah di Solo, maka dia dengan pacarnya LDR. jarak antara Surabaya-Solo tidak bisa ditempuh dalam waktu singkat, sehingga pertemuan mereka saat akhir semester.

    suasana diluar kelas panas dan terik, seusai kelas aku dikantin bersama dengan kedua sahabatku meminum esteh untuk menghilangkan dahaga karena teriknya matahari.
    “panas ya tumben”, ujar Winny.
    “iya nih, renang enak nih”, balasku.
    “eh Gerry gak kelihatan kemana doi”, tanya Winny pada kami, kami berempat memang bersahabat, namun nampaknya Gerry yang paling malas berkuliah, selain itu aku yg paling akrab dengan Gerry.
    “hmm gak tau”, balasku singkat.
    mumpung di kantin kami bertiga lantas turut pesan makan siang, makanan favoritku adalah gado-gado. sembari makan kami juga bergossip apa saja yg bisa dijadikan pembicaraan, rasa panas sudah tak kami hiraukan lagi.
    “heeey ladieeees”, sapa dari seorang cowok yg suaranya khas dan dalam.
    “eh elu Ger, kemana aja?”, tanya Diana.
    “haha lagi males masuk tadi, terus nongkrong di kantin deket rektorat”, balas dia dengan santai dan mengambil gelas Winny dan dia minum tanpa bertanya.
    “eh eh eh langsung ambil aja”, protes Winny pada Gerry.
    “haha gapapa laaah seperti dengan siapa aja”, balas Gerry.

    lalu kami berempat lanjut ngobrolnya hingga sore hari, dan akhirnya satu per satu kami berpamitan balik pulang.
    “eh Bell, langsung pulang lu? nebeng dong sampai rumah, aku gak bawa mobil, tadi naik uber”, tanya Gerry padaku, rumah kami tidak berdekatan, namun untuk pulang, aku bisa lewat daerah rumah Gerry.
    “hmm yauda yuk”, ajakku.
    setibanya di dalam mobil, Gerry langsung duduk dan memasang sabuk pengaman, dan aku sibuk menghidupkan mesin mobil.
    “gimana Mauren?”, tanyaku memecah keheningan sambil menunggu mobil untuk panas.
    “gak gimana-gimana, kangen banget guwe gilak”, balas dia.
    “anjir kangen haha, bisa ya cowok kangen banget gitu”, tanyaku kembali.
    “kangen lah, punya pacar kok”, balas dia dengan sok keren.
    “halah, paling hanya kangen digoyang dikamar aja haha”, balasku dengan bercanda.
    “haha termasuk itu juga”, balas dia santai. Gerry ini memang cowok yg doyan ngentot, dan dia sangat terbuka cerita kepada kami.
    “nah kan hahahha dasar mesum lu”, balasku sambil menjalankan mobil untuk memulai perjalanan.
    “eh tanya dong Bell, bener yah keturunan arab gak boleh ngentot sebelum nikah?”, tanya dia padaku.
    “haha pertanyaannya gilalu, ya pada dasarnya kan semua kudu nikah dulu, Ger, tapi keturunan arab kalau ketahuan udah gak perawan, suami mu akan melaporkan pada keluargaku, bayangin aja kan”, terangku pada Gerry.
    “wah berat ya kalau pas pengin gitu haha”, balas dia.
    “ya pakai cara lain lah hahaha”, balasku santai.
    “haha njir, ngaceng nih bahas ginian, udah ah”, terang dia.
    “anjiiiiiirrrrr Gerry paraaahhhh”, teriakku.
    setelah obrolan sedikit mesum itu, kamipun menyudahi obrolan itu dan gantian membahas yg lain. hingga akhirnya tiba dirumah Gerry, dia pun turun dan aku memacu mobilku kearah rumahku.

    Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    *
    beberapa hari kemudian.

    suasana malam kembali panas dan tak berangin membuat badan menjadi sangat gerah. sebagai seorang jomblo, pada saat kumpul diruang tengah bersama keluarga, aku sering tidak memegang HP, lagipula siapa yang akan menghubungiku.

    sebagai anak kedua dari tiga bersaudara yang kesemuanya perempuan, rasanya seperti hidup di panti khusus wanita, ditambah 2 orang pembantu perempuan. hanya ayahku seorang yang lelaki. saat kami dirumah, kami diperbolehkan untuk tidak menggunakan jilbab, sebagai keturunan arab, ayahku sangat disiplin mengingatkan putrinya untuk terus mengenakan jilbab. namun, pada saat didalam rumah, kami bebas menggunakan apa saja. malam ini dengan cuaca yg panas, aku hanya menggunakan tanktop warna pink dan hotpants. begitupula dengan kakak dan adikku.

    kami berlima nonton acara yang cukup disenangi oleh hampir seluruh keluarga di Indonesia, yaitu dangdut Academy. yang nyanyinya hanya 3 menit, tapi komentarnya bisa sampai 3 jam. walau begitu, tetep aja kami suka menontonnya. saat pukul sudah menunjukkan pukul 11 malam, adikku pamit untuk tidur, diikuti satu-per satu hingga akhirnya kami semua masuk ke kamar masing-masing.

    aku mengunci kamarku, dan membaringkan badanku diatas kasur. aku meraih HP ku yang sejak tadi berada diatas meja dikamarku. oh ternyata ada pesan masuk dari Gerry yang sudah sejak setengahjam yang lalu.
    [22.45] Gerry: heh, Bell.
    [23.12] Bella: heh, apaan?
    [23.12] Gerry: lg apaan?
    [23.13] Bella: mau tidur, ada apaan?
    [23.13] Gerry: gapapa, haha aku kepikiran sama obrolan yang di mobil kemarin hehe ceritain dong.
    [23.14] Bella: anjir, ceritain apaan gila lho Ger.
    [23.15] Gerry: hehe yg katanya elu pernah anu hehe.
    [23.15] Bella: ya itu biasa lah Ger, kaya elu gak pernah aja.
    [23.16] Gerry: hehe makanya, karena elu arab kan guwe jadi membayangin.
    [23.17] Bella: dasar otak mesum lu.
    [23.18] Gerry: hehe selfie dong Bell, guwe belum pernah lihat elu gak pakai jilbab.
    aku berguling-guling dikasurku sambil membalas pesan dari Gerry, dan aku hampir tak percaya saat Gerry meminta selfieku yang tak memakai jilbab, hingga detik ini belum ada cowok yang melihat aku tak berhijab selain ayahku. aku dirundung kebimbangan apakah aku memberikan selfieku. namun walau begitu, obrolan nakal ini sedikit membangkitkan nafsuku.

    akupun akhirnya menuruti permintaan Gerry dengan mengirimkan selfieku, yang aku berikan hanyalah wajahku hingga sebatas tepat diatas dada.
    [23.24] Bella: udah noh, buruan di delete, ntar dilihat cewekmu.
    [23.24] Gerry: gilaaaa, mantab banget Bell, itu tali apaan di pundakmu hehe selfie depan kaca dong, seluruh badan hehe
    lagi-lagi aku akan melakukan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, menunjukkan lekuk tubuhku dan kulit tubuhku pada seorang cowok yang bukan pacar maupun suamiku. tapi aku tertantang untuk melakukan itu, akhirnya aku memberikan selfieku seluruh tubuh didepan kaca yang memperlihatkan rambut, wajah, tanktop dan hotpantsku, selain itu terlihat jelas lekukan payudara dan pahaku yang putih.
    [23.27] Bella: udah!!
    [23.27] Gerry: ohmygad Bell, seksi banget kamu ternyata, aku gak kuat Bell, aku coli bentar hehe
    [23.28] Bella: dasar!! jangan lu apa-apakan fotoku!!
    [23.28] Gerry: siap bos, bentar yak hehe lagi konsentrasi.
    jujur saja, libido ku juga naik dengan yang aku lakukan dengan Gerry, walau hanya melalui foto dan membayangkan apa yg Gerry lakukan terhadap fotoku membuatku sedikit bernafsu. tak kusadari tangan kiri sudah masuk kedalam celana dan membelai memek perawanku.
    [23.36] Gerry: anjir, keluar banyak banget Bell hehe mau lihat gak?
    [23.36] Bella: parah lu, hahaha, hmmm boleh.
    lalu beberapa saat kemudian aku menerima foto kontol Gerry yang lemas dan tumpahan cairan putih di atas perutnya dan wajah Gerry terlihat lemas namun puas. setelah dikirimi itu, aku menyudahi obrolan itu dan menaruh HP ku lalu membenamkan diri pada selimutku.


    namun, aku tak bisa tidur, karena libidoku menanjak dan vaginaku terasa basah. tangan kiriku berada di dalam celanaku memainkan klitorisku sejak tadi.
    “sshhhhhh ahhhhhhhhh”, desahku pelan agar tak didengar orang luar, aku terus mengelus-elus klitorisku hingga rasanya sampai dengan ubun-ubun.
    “aahhhh shhhmmmm hmmmm wwhhhh”
    “ehhhmmmm oooohhhh”
    tak sadar tangan kananku sudah memerasi payudaraku sendiri, penutup tubuhku sudah tak karuan bentuknya, celanaku sudah turun hingga ke paha dan tanktopku sudah naik hingga diatas dada.
    “awwhhhhh enakk bangeeettt”
    “sshhhh ahhh ayooo teruuuus awhhh”
    desahku sambil membayangkan badanku dinaiki oleh lelaki gagah dan seksi.
    “eehhhmmmm ooohhhh hooooooo”
    saat rasanya sudah dekat, aku selalu menahannya, aku ingin masturbasi selama mungkin dan menikmati sentuhan sensual yg merangsang tubuhku ini. tangan kanan dan kiriku gantian mengobel vaginaku ini. aku terkadang mengganti posisiku tengkurap dan telentang untuk mencapai sentuhan yg paling nyaman.
    “aawwwhhhhhhhhhh oooowwwhhhhhhh”, aku mendesah dengan sangat pelan, tanganku sudah sangat capek, mungkin ini sudah saatnya untuk aku orgasme.
    aku mengobel semakin cepat, dan terus merangsang dibagian yang sama.
    “AWWWHHHH AAAHHHHH HMMMMMMMM OOOHHHHHH”, desahku panjang diiringi dengan badanku mengejang dan berasa cairan hangat keluar dari dalam rahimku dan mengenai pahaku bagian dalam. mataku merem melek menikmati moment ini.
    “hooosshh hooosshh hooosshh hooossshhhh”, nafasku terus memburu dan akhirnya bisa terkendali, lalu melihat situasi sekitar. celanaku sudah turun hingga lutut dan tanktopku sudah terbuka sana sini. aku lihat di sprei ada cairan yg berasal dari memekku membekas di sprei.

    setelah merapikan kembali pakaianku dan tempat tidurku, aku memposisikan diri untuk mulai tidur, dan menyambut hari esok dengan senyum bahagia yg terpancar dari wajah kearabanku.

  • Cerita Sex Tante Perkosa Tante Muda Nafsu Sexnya Tinggi

    Cerita Sex Tante Perkosa Tante Muda Nafsu Sexnya Tinggi


    1147 views
    Perawanku – Sebut saja Elly. Usiaku sekitar 23 tahun. Aku sudah sudah menikah dengan suamiku yang kini berusia sekitar 25 tahun, dan kini aku termasuk ibu yang masih muda, dikaruniai seorang anak yang baru berusia 6 bulan yang kami beri nama Michel. Mulai dari pacaran dan menikah sampai sekarang ini, suamiku sering pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Aku sendiri adalah wanita yang mendapat karunia wajah yang cantik, itu menurut teman temanku. Aku memiliki rambut yang lurus dan panjang sampai sebahu. Tubuhku telah kembali ramping lagi dan indah seperti pujian suamiku, kendatipun aku baru melahirkan setengah tahun yang lalu.
    Kelihatanya hal itu karena aku rajin mengikuti olahraga senam aerobik, dan memang aku mengontrol pola makan supaya badanku tak semakin melar, dan aku sedikit banyak bangga sekali karenanya. Aku sendiri tak bekerja diluar, dikarenakan suamiku memiliki nafkah yang lebih dari lumayan. Dan memang suamiku kepingin aku menjadi ibu rumah tangga yg baik saja, hanya tinggal di rumah buat rawat anak kami dengan baik.
    Suamiku memang lelaki perkasa diatas ranjang, dan aku sungguh menikmati sekali kehidupan sex dengan suamiku karena kontol gede suamiku. Kini kalau suamiku tak ada dirumah, aku hanya berdua sama anakku sendiri, juga pembantu kami yang kupanggil bi siti, satpam kami yang bernama Adrian, dan tukang kebun kami yang bernama pak marno, dan juga sopir kami yang bernama anton. Di usiaku yang sekarang ini, nafsu sex tentu sedang tinggi sekali.
    Ditinggal seorang suamiku bekerja seperti ini, kadang terlintas aku amat merindukan bermain cinta dengan nya. Demikian sekilas akan keadaanku serta keluargaku.Pada Siangsabtu itu, aku menerima telepon dan aku terkejut dengan berita yang aneh sekali. Aku dapatkan hadiah suatu mobil lewat undian sebuah produk. Dan seingat aku, aku tak pernah mengikuti prosedur undian seperti demikian.
    Cerita Sex Tante Perkosa Dengam santainya aku coba berkata, “Pak, terserah bapak mau bicara apa, namun saya tidak akan pernah mentransfer uang sepeserpun untuk pajak atau yang lain”.Dan orang itu berkata blablabla… panjang lebar, “Ibu Elly, kami maklumi jika ibu berhati hati, memang kami tidak memungut biaya sepeserpun, hal ini dikarenakan semuah pajak hadiah di tanggung oleh pihak kami. Kami akan mengantarkan langsung hadiahnya kerumah ibu sekitar 1 jam lagi. Agen Maxbet
    Cerita Sex Tante Perkosa Gratis ibu, tak sepeserpun dipungut biaya apapun. Ibu bisa mencoba nya, bilamana ternyata mobil nya bermasalah kami segera akan mengganti dengan yang anyar langsung. Tapi hal tersebut tidak akan terjadi sama ibu, mengapa demikian di karenakan kami telah coba pemeriksaan terhadap mobil ini”.
    Mendengar hal seperti demikian ini, aku hanya bisa mengangkat bahu terus berkata, “Ya. . . terserah bapaknya sajalah. Maaf, dg bapak siapa saya bicara ?”.Dan orang itu menjawab, “Dengan bapak johan, Ibu boleh langsung saja hubungi kantor dinomer kantor kami di ******. Aku mengiyakanya saja dan kemudian memutus pembicaraan tadi. did alam hatiku merasa aneh jg, namun ya kalau gratis, ngk ada salahnya juga?
    Kulihat waktu ini adalah perkiraan jam 1 siang. Baru saja selesai makan siang aku menyusui dan menidurkan anakku, agar kelak nanti ketika aku pergi aku tidak lagi begitu kuatir. Dan memang selang waktu 1jam kemudian aku dengar bel yang berbunyi, lalu ketika aku keluar membuka pintu rumah, aku melihat suatu mobil Kijang Innova keluaran paling terbaru, dengan cat yang mulus serta kinclong. Dibelakangnya ada sebuah mobil Kijang. Mungkin untuk mereka yang antar mobilku ini pulang nantinya.
    Aku amat sangat terkejut, berarti mungkin ini benar aku dapat hadiah mobil. Seseorang turun dari mobil pickupnya didepan rumah, sementara orang yg sudah berdiri didepan pintu rumah menyapa aku. “dengan Bu Elly? Saya Anto”, kata orang yg bernama Anto itu sambil mengulurkan tangan nya.
    Aku menjabat tangan nya dengan sedikit perasaan ragu dan menjawab “Elly”.
    Orang tersebut memang penampilannya rapi. akan tetapi wajahnya agak seram. Aku mencoba menghilangkan semua pikiran negatifku. Dan kemudian temanya yg tampangya cukup lumayan, yang juga berwajah biasa biasa, menjabat tangan aku.
    “Seto”, katanya. Aku berjabat tangan dan menjawab, “Elly”.
    Cerita Sex Tante Perkosa Sehabis acara kenalan yang menurutku hanya formalitas kami saja, kami duduk diteras rumah, serta aku juga di sodori formulir yang aku baca dibagian awal dan penutupnya saja, untuk memastikanya saja aku tak keluar uang apapun untuk mendapatkan hadiah tersebut. Lalu Anto mengajak untuk coba mobil itu, hal itu dikarenakan nantinya aku harus mengisi formulir buat memberikan ‘penilaian’ tentang perihal mobil itu, sebelum acara serah terima surat kendaraan dilakukan Aku setuju” saja.
    Aku menerima kunci mobil itu dari Anto. Aku masuk kedalam mobil tersebut, joknya masih terbungkus plastik semuanya, serta untuk baunya juga khas mobil baru. Dan dengan didampingi mereka, dan lalu aku mulai mencoba mobil tersebut.Semua baik saja, sampai tiba tiba disebuah gang yang sepi sekali didekat rumah, Anto yang duduk dikursi depan menarik handbrake. Aku sangatlah terkejut sekali, sampai abaikan menginjak pedal kopling dan mesin mobil ini mati. Aku menoleh kepada kebelakang mobil, tapi belum sempat aku tanya, dari belakang aku dibekap, oleh Seto tentunya.
    Kurasakan sebuah aroma yang menyengat, dan tidak lama kemudian semuanya terasa gelap mataku. Perlahan lahan aku mulai tersadar. Aku mengeluh perlahan, waktu itu aku tidaklah sanggup menggerakkan kedua tanganku yang terlentang. Sakit rasanya, Dan Aku coba mengerti apa yang sudah terjadi. Ternyata kedua pergelangan tanganku yg terlentang ini, terikat sangat erat pada semacam pilar diruangan. Sedangkan aku sendiri sudah terbaring di atas matras. yg membuatku tercekat, aku sudah bugil. kedua Kakiku memang masih bebas, tapi apa arti semua ini? Aku kini sudah tak berdaya dg tangan yang terpasung dengan di bulat tali. Aku pejamkan mata dan menggigit bibir, tak sanggup bayangkan apa yang akan terjadi padaku. Aku mulai menyesali kebodohan ku tadi, mengapa bisa terjebak dg iming iming hadiah mobil.
    Tiba tiba pintu diruangan ini terbuka, lalu dibukanya dan masuk seseorang yang membuatku ternganga tidak percaya pada pengelihatanku sewaktu itu.
    “ Arman? ”, seruku tidak percaya akan ini yg terjadi. Agen Bola Maxbet Terpercaya
    “Halo bu Elly… lama tak jumpa… yaa… bagaimana kabar nya?”, kata Arman dengan senyum yang buat hatiku dingin seperti di siram dengn air es. Aku takut sekali saat itu.
    “Arman… apa yang kamu lakukan sekarang? ” Cerita Sex Pemerkosaan “ Ingatlah Arman, aku ini kakak iparmu. Tolong lepas kan aku dari ikatan ini..”, aku mencoba menyadarkan Arman walaupun aku tahu ini mungkin sekali merupakan sebuah hal yang sia”. Memang Aku sudah tahu Arman memang menginginkan aku sejak aku di kenalkan Albert pada keluarga nya. Arman adalah salah satu dari adik Albert yang kini berusia 23 tahun. Wajahnya memang cukuplah menarik tampan buat aku. Dan sejak itu mengenalku, ia sudah beberapa kali mencoba untuk mendekatiku, tapi tentu saja aku tak pernah sekalipun memberinya respon. Suatu ketika aku berkunjung ke rumah Albert saat itu dia masih tinggal bersama keluarga nya, Arman nekat sekali dan nyaris hampir saja berhasil memperkosa aku saat itu. Untungnya saja sewaktu itu kepulangan Albert menyelamatkan u, dan semenjak saat itu aku tahu aku harus menghindari arman. Tapi kini aku sudah jatuh kedalam tangannya. Mendengar kata”ku, Arman hanya tertawa saja. dia mendekatiku dan ‘krek…’. Arman merenggut braku hingga tali talinya terputus.
    Cerita Sex Tante Perkosa Tante Muda Nafsu Sexnya Tinggi

    Cerita Sex Tante Perkosa Tante Muda Nafsu Sexnya Tinggi

    “Aduh. . . . ”, aku mengeluh kesakitan, sedikit sakit bagian tubuhku yang tertekan tali braku saat ditarik Arman. Aku memejamkan kedua mataku, malu sekali rasanya payudaraku terlihat oleh laki” selain selain suami ku. “Elly… Elly… kamu pikir aku segoblok itu sudah bersusah menjebakmu seperti ini dan akan melepaskan kamu begitu saja ? Haha . . . aku tidak gila, Elly”, kata Arman sambil menyeringai mengeri kan saat aku menatap nya dengan marah bercampur rasa ketakutan.”
    “Arman, kamu memang gila… lepaskan aku ! ! ”, aku mulai panik sekali serta membentak nya.
    Lalu Arman dengan merenggut robek celana dalam ku, hingga kini aku sudah telanjang bulat tanpa sehelai pakaian.
    Cerita Sex Tante Perkosa Aku menjerit kecil. sekarang ini aku cuman bisa memandangi Arman dengan jantung berdebar ketika ia telah melucuti pakaiannya sendiri. Sesekali aku mencoba berontak kepada arman, namun tidak ada hasil sama sekali sebab aku benar” ngak bisa gerakkan tanganku yang terentang lebar. Aku tahu, nasib yang buruk segera menimpaku, dan perlahan aku menangis.
    “Lho kak kok nangis sih ? Tenang saja, sebentar lagi kakak juga akan keenakan kok”, ejek Arman yg sudah bersiap diselangkanganku.
    Aku semakin ngeri melihatnya, dengan suara gemetar aku memohon, “Arman, tolonglah kakak jangan macam” sama aku ini aku kakakmu iparmu… masa kamu tega sekali berbuat begini padaku…”. Arman tertawa dan berkata dengan suara kasar, “Diam Elly. Kamu sudah merendahkanku selama ini. Kamu selalu menolakku. Kamu tidak pernah sekali menghargai aku”.
    Aku memang sadar kalau aku memang sering menjaga jarak dengannya, karena aku merasa ia berbahaya. Dan sekarang memang semuanya terbukti kan?, Dan sambil merenggangkan kedua pahaku ngangkang, Arman melanjutkan, “Kamu tidak pernah mau aku ajak pergi makan berdua. Kamu anggap aku tidaklah layak pergi berdampingan bersamamu. Benar” perempuan sombong ! Karena itu smua sekarang rasakan pembalasan ku!”.
    Arman menempel kan kepala penis nya ke bibir vagina ku. Aku makin menjadi panik dan coba berusaha menggerakkan pinggulku menghindari hunjaman kontol gede Arman saat Arman mulai memajukan pinggul dia.
    Berhasil, kontol gede dia tak sampai melesak masuk menerobos vagina ku.Tapi rupanya dia marah dengan tingkahku, ia menamparku keras, sampai sampai aku mengaduh, menangis kesakitan. “Jangan coba-coba” lagi Elly, atau setelah aku kamu akan kuberikan pada dua temanku didepan itu!”, ancam Arman nada suara yang galak. Melihat dia begitu aku langsung pasrah saja, disela tangisanku, aku hanya bisa merintih, “ Kau gila. . .Arman ”.
    Cerita Sex Tante Arman hanya tertawa dan aku bisa membiarkan kepala kontol gede Arman menemukan bibir vagina ku, dan sesaat kemudian aku jadi mengerang sakit saat vagina ku tertembus batang kontol gede Arman. Aku mulai menangis saat dia memompa vagina ku. meskipun aku sudah pernah punya anak, tapi berkat senam serta ramuan khusus, vagina ku kembali sempit. ”
    Konsekuensi nya, kini aku merasa kesakitan karna vagina ku dipompa kontol gede Arman. Aku memalingkan wajahku agak tidak lihat wajah Arman yang kesenangan karena berhasil menjamah tubuhku yang montok dan vagina sempit ku. Ia meremas kedua payudara montok ku dengan gemas, seolah dia melampiaskan segala nafsu nya yang tak kesampaian untuk menikmati tubuhku sejak dahulu. Sedangkan aku sendiri hanya bisa terus menggeliat kesakitan menikmati kontol gede arman. “Elly vagina kamu legit rapet banget”, erang Arman dengan tatapan penuh gairahnya kontol masuk vagina ku.
    Rasanya aku ingin menampar nya, tapi kedua tanganku tidak mampu kugerakkan. Aku hanya bisa merelakan liang vagina sempet ku ditembusi kontol gede oleh laki laki yang harusnya memperlakukanku sebagai kakak ipar nya. Tapi Arman memang sudah kesetanan, dia mulai mencumbui ku dengan sangat buas sekali. Bibirku dilumat nya dg ganas, sementara kedua payudara montokku diremas nya dengan kuat.
    Cerita Sex Tante Perkosa Perlahan aku mulai terangsang menikmati kontol gede adik ipar ku ini, rasa terhina karena diperkosa mulai berganti dg rasa nikmat yang melanda selangkangan ku dan juga sekujur tubuhku. Rupanya vagina sempit ku sudah mampu beradaptasi dengan ukuran kontol gede Arman yg tadinya terasa sangat menyiksaku. Aku malu sekali, ingin rasanya aku menyembunyi kan wajahku yang terasa panas ini. Tapi tentu saja hal itu tidak mungkin bisa kulakukan, maka aku hanya dapat pasrah namun mati matian berusaha menahan diri supaya agar tidak kelihatan menikmati kontol gede arman.
    Tapi sayang, tubuhku terlalu jujur dengan perlahan tanpa mampu kucegah, pinggangku terangkat saat aku menahan nikmatnya kontol gede arman itu yang luar biasa. Kurasakan kontol Arman melesak begitu dalam ketika ia menghunjamkan kuat kuat kedalam vagina sempit ku, membuatku menggeliat keenakan seperti cacing kepanasan.
    Arman tertawa sinis dan mulai menghinaku “Ternyata kamu menikmati kontol gede ku juga yaa Elly. Makanya kamu jadi cewek jangan sok kalau sudah vagina dimasukin kontol gede gini, toh kamu keenakan juga..”.
    Sambil menghinaku Arman terus memompa vagina sempit ku dengan buasnya. Aku sudah tidak tahu apalagi yang harus kulakukan saat itu, karena perlahan tapi pasti aku sedang diantar menuju orgasm.
    “Armann…. oohh… sudaah… ampn uchhhh”, aku mulai mendesah dan melenguh kenikmatan.
    “ Kenapa El ? Enak ya? ”, ejek Arman dan malah makin gencar memompa vagina sempit ku.
    “Kamu..” aku tak lagi bisa menjawab, tubuhku menggigil, selangkanganku serasa akan meledak.
    Aku terus mengerang merintih dan melenguh, sampai akhirnya aku orgasme hebat, kepalaku terlempar ke sana kemari karena aku menggelepar dihantam badai orgasm.
    “Oh ternyata kamu cantik sekali kalau seperti ini”, desah Arman yang menunjuk kan tanda” akan orgasm yang sangat dahsyat, sementara aku sendiri sedang menderita dalam kenikmatan orgasm yg amat berkepanjangan ini, dan nikmat nya selangkanganku yang terus dipompa Arman semakin menjadi.
    Cerita Sex Tante Perkosa Namun rasa ngilu mulai menghampiri vagina ku, dan makin lama rasa itu makin menderaku vagina ku. Aku sudah tidak kuat lagi arman, dan berteriak “Armaaan… aaah… hentikaan… amppuuun…”. Dia benar” pria perkasa seperti suamiku yang kuat dan kontol gede, hanya saja suamiku bisa lebih pengertian, membiarkan aku beristirahat kala aku mengalami orgasme. Sedangkan Arman sama sekali tak memperdulikan keadaan ku, dia hanya mencari kenikmatan nya sendiri.
    Aku makin menderita dalam kenikmatan ini, rasanya tulang tulang ini terlepas semua dari sambungan nya, sementara tubuhku meliuk liuk dan menggelepar terhempas badai orgasme yg terus menerus mengeliat. Entahlah cairan cintaku sudah membanjir berapa banyak yang keluar, aku mulai pening dan tak lagi mampu mengerang lagi. Dengan kejam Arman terus memompa vagina ku, sampai akhir nya ruangan ini rasanya berputar, semua nya gelap.
    Ketika aku mulai bangun dari tidurku, kurasakan ada lagi perasaan kedua puting payudara ku seperti ada yang mengulum dan menyedoti dengan kuatnya. Vagina ku masih terasa sedikit sakit, tapi sudah tak lagi terasa sesak, yang punya arti Arman sudah selesai memompa vagina ku. Becek sekali rasanya vagina ku, aku tahu si brengsek ini pasti mengeluarkan spermanya didalam sana. Untungnya saja aku telah fase dalam masa tidak subur, jadi aku tak perlu takut hamil karena pemerkosaan ini
    Cerita Sex Tante Perkosa Tapi kini aku sudah sadar, ada dua orang sekaligus yang mengulum puting payudara montokku, yang berarti ada seseorang selain Arman. Dan aku mulai mengenali mereka ber2 ini, bahkan Arman bukan salah satu dari mereka. Ternyata Anto dan Seto yang kini sedang menyusu pada kedua payudaraku. “Jangaaaan”, aku menjerit keras.
    Aku tidaklah lagi bisa berbuat apapun lagi”, kedua tanganku yg terentang ini tak lagi bisa kugerakkan sedikitpun, sementara mereka ber2 dg santai meneruskan perbuatan mereka.“Lepaskan aku… Armaaan kamu emang bajingan…”, aku mengumpat dalam keputus asaanku. Dan kudengar tawa yang membuatku merinding ketakutan. Kemudian aku melihat Arman masuk, dan memegang handycamnya. dan dIa merekamku ! Merekamku yang sedang pasrah tak lagi berdaya saat kedua puting susuku disedot oleh kedua kacungnya. “Biadab kamu Arman… Kamu kan sudah janji.”, aku langsung terdiam. Bajingan ini memang tak pernah berjanji apa”
    “Kenapa Elly? Kok diam ? Apa aku salah ? Aku memang tak pernah berjanji kalau kamu tidak akan kuberikan pada mereka bukan ? Haha haa…”, Arman tertawa dengan memuakkan.Aku hanya bisa menangis. Habislah aku sekarang ini, aku sudah dalam cengkeraman si Arman sepenuhnya. Entah seperti apa nasibku di hari hari berikutnya lagi. Sementara kedua kacung Arman ini tertawa senang dengan adegan gangbang, dan mereka kembali menghisap dengan ganasnya kedua puting susuku dengan bersemangat sekali, tak lupa tentunya mereka juga meremasi payudaraku. Beberapa saat kemudian,dengan gaya yang menjijikkan buatku, mereka membuka mulut mereka yang penuh air susuku ke arah kamera.“Wow.. air susu Elly ”, kata Arman sambil menyorot mulut kedua kacung nya.
    Kedua pria itu menelan air susuku. “Bagaimana rasanya Anto bilangnya ? Seto? Enak tidak?”, tanya Arman penasaran.
    “nikmat dan legit banget bos, susu amoy gini”, kata Anto.
    “Lebih enak dari susu apa aja”, sambung Seto.
    Memang Kurang ajar sekali mereka, Dan Arman terlihat penasaran, lalu ia menaruh handycam nya.
    “Aku juga ingin mencoba”, gumannya.
    Ia mendekati payudaraku, dan setelah mereka memberikan beberapa jilatan yang membuatku mau tak mau aku merasa terangsang, tiba” dia sudah menghisap puting payudaraku. Beberapa sedotan dilakukann ya, sementara aku hanya bisa mendesah keenakan.
    “Bos, susunya diremas”, kata Anto. ”
    “Bisa tambah buanyak sekali keluarnya”, Seto menyambung.
    Maka Arman menyedot puting payudara sambil meremasi payudaraku dengan ganasnya. Aku sedikit menggeliat kesakitan. dIa terus melakukan nya sampai puas, sementara aku cuman bisa menggigil menahan kenikmatan kontol mereka.
    “ Susu yang enak, Elly ”, kata Arman dengan nada puas.
    “Nanti aku minta tambah lagi”, sambungnya sambil balik lagi mengambil handycamnya.
    “Lanjutkan”, perintah Arman ke Anto dan Seto.
    Mereka ber2 yang sudah melepaskan semua baju mereka hingga telanjang bulat selagi menunggu Arman mencicipi menghisap bagian puting susu ku. Mereka tentu saja kembali mengerubutiku dengan kesenangan. Handycam itu balik lagi merekamku. Kini Anto dan Seto hendak memuaskan diri mereka sendiri, bisa terlihat dari mereka kocok kontol mereka sendiri untuk makin menegangkan ereksi kontol mereka. Melihat ukuran kontol mereka berdua ini, aku semakin takut melihatnya. Baik panjang maupun diameter nya semuanya lebih dari ukuran kontol Arman. Aku bergerak dengan mematikan semua perasaanku. Kini aku di jamahi oleh 2 kacung Arman. Kedua selengkanganku dilebarkan Anto. Aku masih terlalu lemas buat mencoba menghindar.
    Akibatnya…., bless… kembali vagina dimasukin kontol gede lagi.
    Aku menggigit bibir dan menahan semua perasaan malu dan sakit ini, air mata ku terus mengalir. Handycam yang dipegang Arman terus menerus menyorot ke arah vagina ku yang sedang dipompa oleh Anto. Muka ku rasanya panas sekali membayang kan aku sedang membintangi film porno amatir.
    Dengan perlahan Arman mengarahkan sorotan handycamnya kearah tubuhku dibagian atas, dan sempat diam agak lama ketika menyorot kedua payudara ku. Seto sempat meremasi kedua payudaraku serta semua itu di sorot oleh Arman. Sementara itu tubuhku harus terus terusan menggeliat karna menerima rangsangan dua orang sekaligus. Vagina ku dipompa dengan gencar oleh Anto sementara kedua payudaraku diremas dengan buasnya oleh Seto. Aku sendiri antara mendesah keenakan dan merintih kesakitan. Vaginaku masih belum bisa beradaptasi sepenuhnya dengan ukuran KONTOL GEDE Anto, tapi sudah mendatangkan nikmatnya yang membuat ku serasa melayang tinggi.
    “Sudah… hentikaan…”, aku mengerang, mulai mengerang, karna kurasakan vagina dimasukin kontol gede lagi.
    Anto sendiri kelihatannya sudah akan berejakulasi, tubuhnya bergetar hebat sekali saat menyodok vaginaku, dan tak lama kemudian ia mengerang panjang dan meneriakkan namaku, “Ooouuuhhh… bu Ellyyy…”.
    Tubuhnya berkelojotan diatasku, dan kurasakan penisnya berdenyut keras sekali didalam sana. Beberapa semprotan sperma hangat kurasakan membasahi vaginaku, dan Arman segera bergerak ketempat yg bagus untuk menyorotan handy camnya kearah vaginaku. Kurasakan Anto mencabut kontolnya perlahan, lalu Arman terus menyorot daerah vaginaku, aku malu kali. Gejolak yang sempat membuat ku hampir orgasme kini mereda. Tapi gila sekali, Seto langsung bersiap menggilirku, dia sudah mengarahkan kontol nya ke liang vaginaku. Aku memang tak lagi bisa apa apa, hanya bisa menggigit bibir saat kurasakan vaginaku ter tusuk oleh penis nya Seto. Hanya saja sekarang rasanya tak lagi begitu sakit, dan setelah beberapa genjotan, Arman menyorot mukaku, karena si Anto sudah menempelkan penisnya ke mulutku. “Elly, ayooo kulum”, perintah Arman.
    Cerita Sex Tante Perkosa Aku hanya bisa menurut mereka, toh aku sudah tak lagi ada gunanya lagi membantah. Dari pada aku mendapat tamparan atau siksaan yang lain, aku lebih baik mengikuti kemauan mereka. Perlahan kubuka mulut ku, dan kontol Anto yg masih belepotan sperma, cairan cintaku, menerjang masuk ke dalam mulut. Rasanya amis, asin, membuatku ingin muntah. Akan tetapi aku berusaha tak lagi memikirkan rasanya, dan ingin cepat menyelesai kan tugasku. Aku terus mengulum kontol si Anto ini, kubersihkan cepat cepat dan kutelan semua sisa sperma nya dan cairan cintaku sendiri. Anto yg sudah tak lagi tertahan lagi mengerang panjang dan menarik kontolnya dari mulutku.
    Penderitaanku belum selesai.
    “Buka mulutmu, Elly”, perintah Arman sambil menyorot kan handycamnya ke mulut ku.
    “Perlahan!”, perintah nya lagi. Aku mulai membuka mulutku dengan perlahan, dan Arman terus menyorot mulutku.
    “Bagus”, katanya dengan puas.
    Aku malu sekali, pasti aku terlihat layak nya seorang wanita nakal didalam handycam itu. Tak lama kemudian tubuh ku terguncang habis, rupanya Seto mulai menikmati vagina ku. Dengan bersemangat ia menggenjot vagina ku, sementara aku tidak lagi tahu bagaimana sekarang raut wajah ku saat menahan malu dan nikmat dan disorot dg handycam milik Arman. Panas sekali wajah ku terasa, untungya Arman kemudian ganti menyorot tubuhku bagian vagina ku yang basah. Kini aku tinggal memusatkan perhatian ku pada Seto.
    ”Diam” aku melakukan gerakan menahan buang air kecil, sambil berpura-pura merintih keenakan, agar Seto cepat keluar dan semua ini segera berakhir. Sesuai harapan ku, tak lama kemudian si Seto yang terangsang habis, melolong lolong dan meneriak kan namaku.
    “Aaaaarrrhh… Ellyyyyy…”, jerit nya dan kemudian ia menarik penisnya, tentu saja setelah di dalam sana vaginaku dibasahi lahar panasnya. Arman dengan giat terus menyorot vagina ku yang tentunya tak lagi mampu menampung sperma ke2 pemerkosaaan yang kualami. Jari tangan nya ditusukkan ke vaginaku mengorek sisa sperma Anto, Seto. Seto sendiri segera beranjak ke arah wajahku, aku tahu dia mau menagih jatah lagi oral dariku jg. Seperti tadi, Arman yang buru buru mengarahkan handy camnya ke wajah ku memberikan instruksi instruksi padaku hingga membuat ku kembali terlihat seperti pelacur. Tapi aku hanya bisa menuruti, walaupun dengan hati sedih. Sehabis semua itu selesai, Arman mematikan handy camnya.
    “Arman, sudah cukup lepaskan, tolong”, aku memohon.
    Tapi Arman tidaklah mengubris sedikitpun juga, malah ia dengan bernafsu melihat kearah payudaraku.
    Aku langsung tersadar lalu teringat keinginan Arman tadi, yaitu ingin merasakan air susu ku lagi.
    Dan memang benar, Arman segera melumat puting susu ku, mengenyot susuku sepuas puasnya. Aku mendesah mengerang keenakan, memang rasanya nikmat ketika puting ku di jilat arman dan itu amat merangsangku. Aku nikmati dan menggigit bibir, apalagi Anto ikutan yang sama pada puting payudara yang sebelah. Kini 2 orang tersebut memainkan kedua putingku pada kedua payudara layanya seperti bayi, dan aku hanya bisa memejamkan mata dan menikmati mereka memainkan kedua putingku.
    Aku melamun kan suami ku… maafkanlah aku sayang… aku bahkan sempat orgasme ketika di perkosa adikmu.
    Tak terasa sampai si Seto juga sudah puas memainkan putingku, dan akhirnya ikatan ku dilepaskan. Lega rasa nya, meskipun terasa sakit pada bekas ikatan dikedua pergelangan tanganku. Aku duduk dan mengurut kedua pergelangan tangan aku, dan aku melihatnya Arman dengan rasa benci sekaligus takut, karna dengan rekaman handy cam itu, dia pasti akan menggunakan nya untuk mengancam ku agar menurutinya kelak kalau dia menginginkan tubuhku lagi. dIa tersenyum dg penuh kepuasan bersama dua kacungnya itu asyik melihat hasil rekaman film porno yg mereka buat tadi.
    Aku amat malu sekali, dan aku mencari cari pakaian luar ku yang ternyata berserakan tak jauh dari tempat aku di gangbang 3 pria tadi.
    “ Sudah puaskan kalian menghujam aku ? ”, bentakku dengan jengkel dan menahan tangis.
    Aku memakai pakaian ku tanpa bra, celana dalam. Ke2nya memang sudah tidak lagi bisa aku pakai karena tadi di renggut paksa dari tubuhku hingga tersobek. Mereka tertawa kadang beberapa saat lama nya mereka menonton rekaman pemerkosaan diriku tadi, kemudian Arman mematikan handycam yang dibawanya. Ia menghampiriku dan tiba tiba melumat bibirku. Aku menarik wajah ku kebelakang untuk melepaskan diri dari ciumannya, selanjutnya aku menampar nya, keras.
    “Bajingan kamu ya Arman! Kamu sungguh sangat tega sekali sama kakak ipar mu… sekarang antarkan aku pulang!”, kata ku lirih menangis.
    Arman mengelus pipi nya yang baru kutampar keras dan memandangku dengan wajah yg aneh. Aku bergidik di tatap oleh Arman seperti itu. kemudian Arman melangkah kearah luar di ikuti oleh kedua kacung nya. Aku ikuti mereka, dan dg tegang aku masuk ke dalam mobil pembawa mala petaka itu. Aku duduk dikursi penumpang yg depan, Arman yang menyetir, sementara Anto, Seto duduk dibelakang.
    Dalam perjalanan, kami semua terdiam, sedangkan aku sendiri masih merasakan ketegangan yang luar biasa, karena aku berada semobil dengan para pemerkosa ku. Tapi mereka tak lagi melecehkanku lebih lanjut, dan mobil sialan ini mengarah kerumahku. Ketika aku turun, aku mendengar Arman berkata, “Elly, sampai ketemu lagi ya, kapan kapan kita main main lagi yaaa”.
    Dengan muak sekali aku membanting pintu mobil, kemudian aku segera masuk kedalam rumah sambil menahan tangis.Aku segera melihat anakku. Agak lega melihat nya masih tertidur pulas. Aku segera mandi, keramas, membersihkan tubuhku yang sudah ternoda oleh adik iparku yang bangsat, yang sudah tega sekali menyerahkan ku pada dua kacung nya. Aku memang rindu bermain cinta, tapi itu dengan suami ku sendiri bukan dg arman, bukan dg mereka bertiga. Apalagi di perkosa seperti tadi, sakit sekali rasanya di dalam hati ini. Tanpa sadar aku kembali lagi menangis.
    Aku tahu hari ini adalah hari yg pertamaku mengalami penghinaan, dan ini bukan hari terakhir.Terbukti dua hari kemudian, aku dapat kiriman DVD dari Arman, yang isinya rekaman pemerkosaan terhadap ku oleh dua kacung nya itu, dengan sebuah surat bertuliskan “Elly, lain kali kita bermain tanpa ikatan pada kedua tanganmu yaa, kamu pasti akan lebih menikmati permainan kita kelak nanti”.
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Ngentot Mantan Murid – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Ngentot Mantan Murid – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    2158 views

    Perawanku – Kisah dan Cerita Panas ini berawal dari keberanian manta muridku, Sandi. Tampaknya sejak SD dia sudah sering mengintip dan memperhatikan tubuhku yang molek. Sebenernya cerita dewasa ini tak layak diceritakan. Tapi, apa mau dikata perbuatan itu telah kami lakukan, dan kenikmatan itu ingin kami bagikan disini.

    “Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.
    “Aku hampir keluar!” Sandi bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandi. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

    “Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.
    “Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Erang Sandi
    “Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.
    “Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”
    “Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”

    Namaku Asmiati, tinggi 160 sentimeter, berat 56 kilogram, lingkar pinggang 65 sentimeter. Secara keseluruhan, sosokku kencang, garis tubuhku tampak bila mengenakan pakaian yang ketat terutama pakaian senam. Aku adalah Ibu dari dua anak berusia 44 tahun dan bekerja sebagai seorang guru disebuah SLTA di kota S.

    Kata orang tahi lalat di daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku mirip Minati Atmanegara yang tetap kencang di usia yang semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat dengan olahraga yang teratur.

    Kira-kira 6 tahun yang lalu saat usiaku masih 38 tahun salah seorang sehabatku menitipkan anaknya yang ingin kuliah di tempatku, karena ia teman baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku menyetujuinya. Nama pemuda itu Sandi, kulitnya kuning langsat dengan tinggi 173 cm. Badannya kurus kekar karena Sandi seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Sandi ini pernah menjadi muridku saat aku masih menjadi guru SD.

    Sandi sangat sopan dan tahu diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau mengantar kedua anakku jika ingin bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama. Aku juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Sandi memperlihatkan sikap yang wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku.

    Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah S-2 keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan sex-ku yang masih menggebu-gebu. Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku jalankan, sehingga hasrat tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan kepergiannya otomatis aku harus menahan diri.

    Awalnya biasa saja, tapi setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah menunjukkan angka 9. Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar suara pintu dIbuka dari kamar Sandi.

    Kudengar suara langkahnya mendekatiku.

    “Bu Asmi..?” Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Sandi sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus berpura-pura tertidur.

    “Bu Asmi..?” Suara Sandi terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak atau tidak.

    Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai keleher.

    Lalu kurasakan Sandi mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura tertidur kuatur napas selembut mungkin.

    Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian aku merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap diam sampai saatnya tiba.

    Sekarang tangan Sandi sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti amalah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Sandi mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali.

    Tangan kanan Sandi mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Sandi menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku. Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Sandi mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri Sandiwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.

    “Sandi!! Ngapain kamu?”

    Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Sandi menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Sandi mecium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Sandi makin keras menekan pundakku, malah sekarang pemuda itu menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak.

    “Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya Bu… ” Sandi melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.

    “Kamu kan bisa denagan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua,” Ujarku lembut.

    “Tapi saya sudah tergila-gila dengan Bu Asmi.. Saat SD saya sering mengintip BH yang Ibu gunakan… Saya akan memuaskan Ibu sepuas-puasnya,” jawab Sandi.

    “Ah kamu… Ya sudah terserah kamu sajalah”

    Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya.

    Lalu Sandi melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku. Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku, kupandangi badanku di cermin. Benarkah pemuda seperti Sandi terangsang melihat tubuhku ini? Perduli amat yang penting aku ingin merasakan bagaimana sich bercinta dengan remaja yang masih panas.

    Keluar dari kamar mandi, Sandi persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun.

    “Body Ibu bagus banget.. ” dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.

    “Ibu hebat…,” desisnya.

    “Apanya yang hebat..?” Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Sandi yang panjang seleher.

    “Badan Ibu enggak banyak berubah dibandingkan saya SD dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.

    “Itu karena Ibu teratur olahraga” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. DIbukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.

    Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Sandi minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku.

    “Masukin aja yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu San!” Cegahku sambil menciumnya.

    Sandi tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya ?” godanya.

    “Kamu juga sudah enggak kuatkan sebenarnya San,” Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot.

    Sandi tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Sandi pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Sandi yang besar.

    Berbeda dengan suamiku, Sandi nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.

    Sandi menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Sandi, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah merekah.

    “Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak ‘bercinta’ sama Ibu…,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Sandi, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.

    Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Sandi semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu…, terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya…!!!

    Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Sandi memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.

    “Oohh…,” sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Sandi mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.

    “Saann, penismu enaaak…!!!,” kataku setengah menjerit.

    Sandi tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.

    “Oohh…, toloongg.., gustii…!!!”

    Sandi malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.

    “Aahh, penismu…, oohh, aarrghh…, penismuu…, oohh…!!!”

    Sandi terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Sandi sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.

    “Ibu mau keluar! Ibu mau keluaaar!!” aku menjerit-jerit.

    “Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget ‘bercinta’ sama Ibu!” Sandi menyodok-nyodok semakin kencang.

    “Sodok terus, Saann!!!… Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!”

    “Teruuss…, arrgghh…, sshh…, ohh…, sodok terus penismuuu…!”

    “Oh, ah, uuugghhh… ”

    “Enaaak…, penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss…”

    Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Sandi, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!

    Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin sudah ada lima tahun aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Sandi mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.

    Kuturuti permintaan Sandi. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Sandi mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam vaginaku.

    Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.

    Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Sandi dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Sandi segera menunduk, dikecupnya pipiku.

    “San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar,” kataku terus terang.

    “Emangnya Ibu suka kalau aku cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku.

    Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Sandi mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.

    Sandi melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.

    “Oorrgghh…, aahh…, ennaak…, penismu enak bangeett… Ssann!!”

    Sandi tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Sandi pun kali ini segera akan mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Sandi. Pemuda itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.

    Tiba-tiba Sandi menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Sandi langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Sandi memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.

    “Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.

    “Aku hampir keluar!” Sandi bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandi. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

    “Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.

    “Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Erang Sandi

    “Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.

    “Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”

    “Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”

    “Ah, oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaaar…!”

    “Yaahh teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann…, aku mau keluar, aku mau keluar, vaginaku keenakan, aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…, teruss…, aarrgghh…, ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!”

    Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Sandi menekan kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.

    “Oohhh…!!!” dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.

    Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Sandi memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas.

    “Enak banget,” bisik Sandi beberapa saat kemudian.

    “Hmmm…” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Sandi bergerak-gerak di dalam vaginaku.

    “Vagina Ibu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu…”

    “Apalagi penis kamu…, gede, keras, dalemmm…”

    Sandi bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Sandi menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.

    Sandi lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Sandi karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Sandi mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,

    “Aku bisa enggak puas-puas ‘bercinta’ sama Ibu… Ibu juga suka kan?”

    Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Sandi sebagai jawaban. Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Sandi kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga.

    Hampir tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sehari semalam dengan bekas muridku yang perkasa.

  • Cerita Sex Ibu Kost Memintaku Untuk Memberikan Kepuasan Birahinya

    Cerita Sex Ibu Kost Memintaku Untuk Memberikan Kepuasan Birahinya


    1095 views

    Perawanku – Cerita Sex Ibu Kost Memintaku Untuk Memberikan Kepuasan Birahinya, Wawan, seorang bujangan berumur 28 tahun yang saat ini sedang kebingungan. Pasalnya, panggilan pekerjaan dari sebuah perusahaan dimana dia melamar begitu mendadak. Dia bingung bagaimana harus mencari tempat tinggal secepat ini. Perusahaan dimana dia melamar terletak di luar kota, jangka waktu panggilan itu selama empat hari, dimana dia harus melakukan tes wawancara.

    Akhirnya dia memaksa berangkat besoknya, dengan tujuan penginapanlah dimana dia harus tinggal. Dengan bekal yang cukup malah berlebih mungkin, sampailah dia di penginapan dimana perusahaan yang dia lamar terletak di kota itu juga. Sudah 2 hari ini dia tinggal di penginapan itu, selama ini dia sudah mepersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan guna kelancaran dalam tes wawancara nanti.

    Sampai pada akhirnya, dia membaca di surat kabar, bahwa disitu tertulis menerima kos-kosan atau tempat tinggal yang permanen. Kemudian dengan bergegas dia mendatangi alamat tersebut. Sampai pada akhirnya, sampailah dia di depan pintu rumah yang dimaksud itu.

    Perlahan Wawan mengetuk pintu, tidak lama kemudian terdengar suara kunci terbuka diikuti dengan seorang wanita tua yang muncul.
    “Iya, ada perlu apa, Pak..?”
    “Oh, begini.., tadi saya membaca surat kabar, disitu tertulis bahwa di rumah ini menyediakan kamar untuk tempat tinggal.” sahut Wawan seketika.
    “Oh, ya, memang benar, silakan masuk Pak, biar saya memanggil nyonya dulu,” wanita tua itu mempersilakan Wawan masuk.
    “Hm.., baik, terima kasih.”
    Sejenak kemudian Wawan sudah duduk di kursi ruang tamu.

    Terlihat sekali keadaan ruang tamu yang sejuk dan asri. Wawan memperhatikan sambil melamun. Tiba-tiba Wawan dikejutkan oleh suara wanita yang masuk ke ruang tamu.
    “Selamat siang, ada yang perlu saya bantu..?”
    Terhenyak Wawan dibuatnya, di depan dia sekarang berdiri seorang wanita yang boleh dikatakan belum terlalu tua, umurnya sekitar 40 tahunan, cantik, anggun dan berwibawa.

    “Oh.., eh.. selamat siang,” Wawan tergagap kemudian dia melanjutkan, “Begini Bu..”
    “Panggil saya Bu Mira..,” tukas wanita itu menyahut.
    “Hm.., o ya, Bu Mira, tadi saya membaca surat kabar yang tertulis bahwa disini ada kamar untuk disewakan.”
    “Oh, ya. Hm.., siapa nama anda..?”
    “Wawan Bu,” sahut Wawan seketika.

    “Memang benar disini ada kamar disewakan, perlu diketahui oleh Nak Wawan bahwa di rumah ini hanya ada tiga orang, yaitu, saya, anak saya yang masih SMA dan pembantu wanita yang tadi bicara sama Nak Wawan, kami memang menyediakan satu kamar kosong untuk disewakan, selain agar kamar itu tidak kotor juga rumah ini biar tambah ramai penghuninya.” dengan singkat Bu Mira menjelaskan semuanya.

    “Hm, suami Ibu..?” tanya Wawan singkat.
    “Oh ya, saya dan suami saya sudah bercerai satu tahun yang lalu,” jawab Bu Mira singkat.
    “Ooo, begitu ya, untuk masalah biayanya, berapa sewanya..?” tanya Wawan kemudian.
    “Hm, begini, Nak Wawan mau mengambil berapa bulan, biaya sewa sebulannya dua ratus tujuh puluh ribu rupiah,” jawab Bu Mira menerangkan.
    “Baiklah Bu Mira, saya akan mengambil sewa untuk enam bulan,” kata Wawan.
    “Oke, tunggu sebentar, Ibu akan mengambil kuitansinya.”
    Akhirnya setelah mengemasi barang-barang di penginapan, tinggallah Wawan disitu dengan Bu Mira, Ida anak Bu Mira dan Bik Sumi pembantu Bu Mira.

    Sudah satu bulan ini Wawan tinggal sambil menunggu panggilan selanjutnya. Dan sudah satu bulan ini pula Wawan punya keinginan yang aneh terhadap Bu Mira. Wanita yang anggun, cantik dan berwibawa yang cukup lama hidup sendirian. Wawan tidak dapat membayangkan bagaimana mungkin wanita yang masih kelihatan muda dari segi fisiknya itu dapat betah hidup sendirian. Bagaimana Bu Mira menyalurkan hasrat seksualnya. Ingin sekali Wawan bercinta dengan Bu Mira. Apalagi sering Wawan melihat Bu Mira memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh Bu Mira yang masih kelihatan kencang dan indah. Ingin sekali Wawan menyentuhnya.

    “Aku harus bisa mendapatkannya..!” gumam Wawan suatu saat.
    “Saya harus mencari cara,” gumamnya lagi.

    Sampai pada suatu saat kemudian, yaitu pada saat malam Minggu, rumah kelihatan sepi, maklum saja, Ida anak Bu Mira tidur di tempat neneknya, Bik Sumi balik ke kampung selama dua hari, katanya ada anaknya yang sakit. Tinggallah Wawan dan Bu Mira sendirian di rumah. Tapi Wawan sudah mempersiapkan cara bagaimana melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mira. Lama Wawan di kamar, jam menunjukkan pukul delapan malam, dia melihat Bu Mira menonton TV di ruang tengah sendirian. Akhirnya setelah mantap, Wawan pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang tengah.

    “Selamat malam, Bu, boleh saya temani..?” sejenak Wawan berbasa-basi.
    “Oh, silakan Nak Wawan..,” mempersilakan Bu Mira kepada Wawan.
    “Ngomong-ngomong, tidak keluar nih Nak Wawan, malam Minggu loh, masa di rumah terus, apa tidak bosan..?” tanya Bu Mira kemudian.
    “Ah, nggak Bu, lagian keluar kemana, biasanya juga malam Minggu di rumah saja,” jawab Wawan sekenanya.
    Lama mereka berdua terdiam sambil menikmati acara TV.

    “Oh, ya, Bu, boleh saya buatkan minum..?” tanya Wawan tiba-tiba.
    “Lho, tidak usah Nak Wawan, kok repot-repot..,”
    “Ah, nggak apa-apa, sekali-kali saya yang buatkan minuman untuk Ibu, masak Ibu dan Bik Sumi saja yang selalu membuatkan minuman untuk saya.”
    “Hm.., boleh kalau begitu, Ibu ingin minum teh saja,” kata Bu Mira sambil tersenyum.
    “Baiklah Bu, kalau begitu tunggu sebentar.” segera Wawan bergegas ke dapur.

    Tidak lama kemudian Wawan sudah kembali sambil membawa nampan berisi dua teh dan sedikit makanan kecil di piring.
    “Silakan Bu, diminum, mumpung masih hangat..!”
    “Terima kasih, Nak Wawan.”
    Akhirnya setelah sekian lama terdiam lagi, terlihat Bu Mira sudah mulai mengantuk, tidak lama kemudian Bu Mira sudah tertidur di kursi dengan keadaan memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh dan payudaranya yang indah. Tersenyum Wawan melihatnya.

    “Akhirnya aku berhasil, ternyata obat tidur yang kubeli di apotik siang tadi benar-benar manjur, obat ini akan bekerja untuk beberapa saat kemudian,” gumam Wawan penuh kemenangan.
    “Beruntung sekali tadi Bu Mira mau kubuatkan teh, sehingga obat tidur itu dapat kucampur dengan teh yang diminum Bu Mira,” gumamnya sekali lagi.

    Sejenak Wawan memperhatikan Bu Mira, tubuh yang pasrah yang siap dipermainkan oleh lelaki manapun. Timbul gejolak kelelakian Wawan yang normal tatkala melihat tubuh indah yang tergolek lemah itu. Diremas-remasnya dengan lembut payudara yang montok itu bergantian kanan kiri sambil tangan yang satunya bergerilnya menyentuh paha sampai ke ujung paha. Terdengar desahan perlahan dari mulut Bu Mira, spontan Wawan menarik kedua tangannya.

    “Mengapa harus gugup, Bu Mira sudah terpengaruh obat tidur itu sampai beberapa saat nanti,” gumam Wawan dalam hati.
    Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Wawan kemudian membopong tubuh Bu Mira memasuki kamar Wawan sendiri. Digeletakkan dengan perlahan tubuh yang indah di atas tempat tidur, sesaat kemudian Wawan sudah mengunci kamar, lalu mengeluarkan tali yang memang sengaja dia simpan siang tadi di laci mejanya.

    Tidak lama kemudian Wawan sudah mengikat kedua tangan Bu Mira di atas tempat tidur. Melihat keadaan tubuh Bu Mira yang telentang itu, tidak sabar Wawan untuk melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mira.

    “Malam ini aku akan menikmati tubuhmu yang indah itu Bu Mira,” kata Wawan dalam hati.
    Satu-persatu Wawan melepaskan apa saja yang dipakai oleh Bu Mira. Perlahan-lahan, mulai dari daster, BH, kemudian celana dalam, sampai akhirnya setelah semua terlepas, Wawan menyingkirkannya ke lantai. Terlihat sekali sekarang Bu Mira sudah dalam keadaan polos, telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Diamati oleh Wawan mulai dari wajah yang cantik, payudara yang montok menyembul indah, perut yang ramping, dan terakhir paha yang mulus dan putih dengan gundukan daging di pangkal paha yang tertutup oleh rimbunnya rambut.

    Sesaat kemudian Wawan sudah menciumi tubuh Bu Mira mulai dari kaki, pelan-pelan naik ke paha, kemudian berlanjut ke perut dan terakhir ciuman Wawan mendarat di payudara Bu Mira. Sesekali terdengar desahan kecil dari mulut Bu Mira, tapi Wawan tidak memperdulikannya. Diciumi dan diremas-remas kedua payudara yang indah itu dengan mulut dan kedua tangan Wawan. Puting merah jambu yang menonjol indah itu juga tidak lepas dari serangan-serangan Wawan. Dikulum-kulum kedua puting itu dengan mulutnya dengan perasaan dan gairah birahi yang sudah memuncak. Setelah puas Wawan melakukan itu semua, perlahan-lahan dia bangkit dari tempat tidur.

    Satu-persatu Wawan melepas pakaian yang melekat di badannya, akhirnya keadaan Wawan sudah tidak beda dengan keadaan Bu Mira, telanjang bulat, polos, tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Terlihat kemaluan Wawan yang sudah mengencang hebat siap dihunjamkan ke dalam vagina Bu Mira. Tersenyum Wawan melihat rudalnya yang panjang dan besar, bangga sekali dia mempunyai rudal dengan bentuk begitu.

    Perlahan-lahan Wawan kembali naik ke tempat tidur dengan posisi telungkup menindih tubuh Bu Mira yang telanjang itu, kemudian dia memegang rudalnya dan pelan-pelan memasukkannya ke dalam vagina Bu Mira. Wawan merasakan vagina yang masih rapat karena sudah setahun tidak pernah tersentuh oleh laki-laki. Akhirnya setelah sekian lama, rudal Wawan sudah masuk semuanya ke dalam vagina Bu Mira.

    Ketika Wawan menghunjamkan rudalnya ke dalam vagina Bu Mira sampai masuk semua, terdengar rintihan kecil Bu Mira, “Ah.., ah.., ah..!”
    Tapi Wawan tidak menghiraukannya, dia lalu menggerakkan kedua pantatnya maju munjur dengan teratur, pelan-pelan tapi pasti.
    “Slep.., slep.., slep..,” terdengar setiap kali ketika Wawan melakukan aktivitasnya itu, diikuti dengan bunyi tempat tidur yang berderit-derit.

    “Uh.., oh.., uh.., oh..,” sesekali Wawan mengeluh kecil, sambil tangannya terus meremas-remas kedua payudara Bu Mira yang montok itu.
    Lama Wawan melakukan aktivitasnya itu, dirasakannya betapa masih kencangnya dan rapatnya vagina Bu Mira. Akhirnya Wawan merasakan tubuhnya mengejang hebat, merapatkan rudalnya semakin dalam ke vagina Bu Mira.

    “Ser.., ser.., ser..,” Wawan merasakan cairan yang keluar dari ujung kemaluannya mengalir ke dalam vagina Bu Mira.
    “Oh.. ah.. oh.. Bu Mira.., oh..!” terdengar keluhan panjang dari mulut Wawan.
    Setelah itu Wawan merasakan tubuhnya yang lelah sekali, kemudian dia membaringkan tubuhnya di samping tubuh Bu Mira dengan posisi memeluk tubuh Bu Mira yang telah dinikmatinya itu.

    Lama Wawan dalam posisi itu sampai pada akhirnya dia dikejutkan oleh gerakan tubuh Bu Mira yang sudah mulai siuman. Secara reflek, Wawan bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arah saklar lampu dan mematikannya. Tertegun Wawan berdiri di samping tempat tidur dalam kamar yang sudah dalam keadaan gelap gulita itu. Sesaat kemudian terdengar suara Bu Mira.

    “Oh, dimana aku, mengapa gelap sekali..?”
    Sebentar kemudian suasana menjadi hening.
    “Dan, mengapa tanganku diikat, dan, oh.., tubuhku juga telanjang, kemana pakaianku, apa yang terjadi..?” terdengar suara Bu Mira pelan dan serak.

     

    Suasana hening agak lama. Wawan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia diam saja.
    Terdengar lagi suara Bu Mira mengeluh, “Oh.., tolonglah aku..! Apa yang terjadi padaku, mengapa aku bisa dalam keadaan begini, siapa yang melakukan ini terhadapku..?” keluh Bu Mira.
    Akhirnya timbul kejantanan dalam diri Wawan, bagaimanapun setelah apa yang dia lakukan terhadap Bu Mira, Wawan harus berterus terang mengatakannya semuanya.

    “Ini saya..,” gumam Wawan lirih.
    “Siapa, kamukah Yodi..? Mengapa kamu kembali lagi padaku..?” sahut Bu Mira agak keras.
    “Bukan, ini saya Bu.., Wawan..,” Wawan berterus terang.

    “Wawan..!” kaget Bu Mira mendengarnya.
    “Apa yang kamu lakukan pada Ibu, Wawan..? Bicaralah..! Mengapa Ibu kamu perlakukan seperti ini..?” tanya Bu Mira kemudian.

    Kemudian Wawan bercerita mulai dari awal sampai akhir, bagaimana mula-mula dia tertarik pada Bu Mira, sampai pada keheranannya bagaimana juga Bu Mira dapat hidup sendiri selama setahun tanpa ada laki-laki yang dapat memuaskan hasrat birahi Bu Mira. Juga tidak lupa Wawan menceritakan semua yang dia lakukan terhadap Bu Mira selama Bu Mira tidak sadar karena pengaruh obat tidur. Tertegun Bu Mira mendengar semua perkataan Wawan. Lama mereka terdiam, tapi terdengar Bu Mira bicara lagi.

    “Wawan.., Wawan.., Ibu memang menginginkan laki-laki yang bisa memuaskan hasrat birahi Ibu, tapi bukan begini caranya, mengapa kamu tidak berterus-terang pada Ibu sejak dulu, kalaupun kamu berterus terang meminta kepada Ibu, pasti Ibu akan memberikannya kepadamu, karena Ibu juga merasakan bagaimana tidak enaknya hidup sendiri tanpa laki-laki

    “Terus terang saya malu Bu, saya malu kalau Ibu menolak saya.”
    “Tapi setidaknya kan, berterus terang itu lebih sopan dan terhormat daripada harus memperlakukan Ibu seperti ini.”
    “Saya tahu Bu, saya salah, saya siap menerima sanksi apapun, saya siap diusir dari rumah ini atau apa saja.”

    “Oh, tidak Wawan, bagaimanapun kamu telah melakukannya semua terhadap Ibu. Sekarang Ibu tidak lagi terpengaruh oleh obat tidur itu lagi, Ibu ingin kamu melakukannya lagi terhadap Ibu apa yang kamu perbuat tadi, Ibu juga menginginkannya Wawan tidak hanya kamu saja.”
    “Benar Bu..?” tanya Wawan kaget.
    “Benar Wawan, sekarang nyalakanlah lampunya, biar Ibu bisa melihatmu seutuhnya,” pinta Bu Mira kemudian.

    Tanpa pikir panjang lagi, Wawan segera menyalakan lampu yang sejak tadi padam. Sekarang terlihatlah kedua tubuh mereka yang sama-sama polos, dan telanjang bulat dengan posisi Bu Mira terikat tangannya.

    “Oh Wawan, tubuhmu begitu atletis. Kemarilah, nikmatilah tubuh Ibu, Ibu menginginkannya Wawan..! Ibu ingin kamu memuaskan hasrat birahi Ibu yang selama ini Ibu pendam, Ibu ingin malam ini Ibu benar-benar terpuaskan.”

    Perlahan Wawan mendekati Bu Mira, diperhatikan wajah yang tambah cantik itu karena memang kondisi Bu Mira yang sudah tersadar, beda dengan tadi ketika Bu Mira masih tidak sadarkan diri. Diusap-usapnya dengan lembut tubuh Bu Mira yang polos dan indah itu, mulai dari paha, perut, sampai payudara. Terdengar suara Bu Mira menggelinjang keenakan.

    “Terus.., Wawan.., ah.. terus..!” terlihat tubuh Bu Mira bergerak-gerak dengan lembut mengikuti sentuhan tangan Wawan.
    “Tapi, Wawan, Ibu tidak ingin dalam keadaan begini, Ibu ingin kamu melepas tali pengikat tangan Ibu, biar Ibu bisa menyentuh tubuhmu juga..!” pinta Ibu Mira memelas.
    “Baiklah Bu.”

    Sedetik kemudian Wawan sudah melepaskan ikatan tali di tangan Bu Mira. Setelah itu Wawan duduk di pinggir tempat tidur sambil kedua tangannya terus mengusap-usap dan meremas-remas perut dan payudara Bu Mira.

    “Nah, begini kan enak..,” kata Bu Mira.
    Sesaat kemudian ganti tangan Bu Mira yang meremas-remas dan menarik maju mundur kemaluan Wawan, tidak lama kemudian kemaluan Wawan yang diremas-remas oleh Bu Mira mulai mengencang dan mengeras. Benar-benar hebat si Wawan ini, dimana tadi kemaluannya sudah terpakai sekarang mengeras lagi. Benar-benar hyper dia.

    “Oh.., Wawan, kemaluanmu begitu keras dan kencang, begitu panjang dan besar, ingin Ibu memasukkannya ke dalam vagina Ibu.” kata Bu Mira lirih sambil terus mempermainkan kemaluan Wawan yang sudah membesar itu.
    Diperlakukan sedemikian rupa, Wawan hanya dapat mendesah-desah menahan keenakan.
    “Bu Mira, oh Bu Mira, terus Bu Mira..!” pinta Wawan memelas.
    Semakin hebat permainan seks yang mereka lakukan berdua, semakin hot, terdengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan kecil yang keluar dari mulut mereka berdua.

    “Oh Wawan, naiklah ke atas tempat tidur, naiklah ke atas tubuhku, luapkan hasratmu, puaskan diriku, berikanlah kenikmatanmu pada Ibu..! Ibu sudah tak tahan lagi, ibu sudah tak sabar lagi..” desis Bu Mira memelas dan memohon.

    Sesaat kemudian Wawan sudah naik ke atas tempat tidur, langsung menindih tubuh Bu Mira yang telanjang itu, sambil terus menciumi dan meremas-remas payudara Bu Mira yang indah itu.

    “Oh, ah, oh, ah.., Wawan oh..!” tidak ada kata yang lain yang dapat diucapkan Bu Mira yang selain merintih dan mendesah-desah, begitu juga dengan Wawan yang hanya dapat mendesis dan mendesah, sambil menggosok-gosokkan kemaluannya di atas permukaan vagina Bu Mira. Reflek Bu Mira memeluk erat-erat tubuh Wawan sambil sesekali mengusap-usap punggung Wawan.

    Sampai suatu ketika, tangan Bu Mira memegang kemaluan Wawan dan memasukkannya ke dalam vaginanya. Pelan dan pasti Wawan mulai memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira, sambil kedua kakinya bergerak menggeser kedua kaki Bu Mira agar merenggang dan tidak merapat, lalu menjepit kedua kaki Bu Mira dengan kedua kakinya untuk terus telentang. Akhirnya setelah sekian lama berusaha, karena memang tadi Wawan sudah memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira, sekarang agak gampang Wawan menembusnya, Wawan sudah berhasil memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira.

    Kemudian dengan reflek Wawan menggerakkan kedua pantatnya maju mundur teru-menerus sambil menghunjamkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira.
    “Slep.., slep.., slep..,” terdengar ketika Wawan melakukan aktivitasnya itu.
    Terlihat tubuh Bu Mira bergerak menggelinjang keenakan sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya mengikuti irama gerakan pantat Wawan.

    “Ah.., ah.., oh.. Wawan.., jangan lepaskan, teruskan, teruskan, jangan berhenti Wawan, oh.., oh..!” terdengar rintihan dan desahan nafas Bu Mira yang keenakan.
    Lama Wawan melakukan aktivirasnya itu, menarik dan memasukkan kemaluannya terus-menerus ke dalam vagina Bu Mira. Sambil mulutnya terus menciumi dan mengulum kedua puting payudara Bu Mira.

    “Oh.., ah.. Bu Mira, oh.., kamu memang cantik Bu Mira, akan kulakukan apa saja untuk bisa memuaskan hasrat birahimu, ih.., oh..!” desis Wawan keenakan.
    “Oh.., Wawan.., bahagiakanlah Ibu malam ini dan seterusnya, oh Wawan.., Ibu sudah tak tahan lagi, oh.., ah..!”
    Semakin cepat gerakan Wawan menarik dan memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira, semakin hebat pula goyangan pantat Bu Mira mengikuti irama permainan Wawan, sambil tubuhnya terus menggelinjang bergerak-gerak tidak beraturan.

    Semakin panas permainan seks mereka berdua, sampai akhirnya Bu Mira merintih, “Oh.., ah.., Wawan.., Ibu sudah tak tahan lagi, Ibu sudah tak kuat lagi, Ibu mau keluar, oh Wawan.., kamu memang perkasa..!”
    “Keluarkan Bu..! Keluarkanlah..! Puaskan diri Ibu..! Puaskan hasrat Ibu sampai ke puncaknya..!” desis Wawan menimpali.
    “Mari kita keluarkan bersama-sama Bu Mira..! Oh, aku juga sudah tak tahan lagi,” desis Wawan kemudian.

    Setelah berkata begitu, Wawan menambah genjotannya terhadap Bu Mira, terus-menerus tanpa henti, semakin cepat, semakin panas, terlihat sekali kedua tubuh yang basah oleh keringat dan telanjang itu menyatu begitu serasi dengan posisi tubuh Wawan menindih tubuh Bu Mira.

    Sampai akhirnya Wawan merasakan tubuhnya mengejang hebat, begitu pula dengan tubuh Bu Mira. Keduanya saling merapatkan tubuhnya masing-masing lebih dalam, seakan-akan tidak ada yang memisahkannya.

    “Ser.., ser.., ser..!” terasa keluar cairan kenikmatan keluar dari ujung kemaluan Wawan mengalir ke dalam vagina Bu Mira, begitu nikmat seakan-akan seperti terbang ke langit ke tujuh, begitu pula dengan tubuh Bu Mira seakan-akan melayang-layang tanpa henti di udara menikmati kepuasan yang diberikan oleh Wawan.
    Sampai akhirnya mereka berdua berhenti karena merasa kelelahan yang amat sangat setelah bercinta begitu hebat.

    Sejenak kemudian, masih dengan posisi yang saling menindih, terpancar senyum kepuasan dari mulut Bu Mira.
    “Wawan, terima kasih atas apa yang telah kau berikan pada Ibu..,” kata Bu Mira sambil tangannya mengelus-elus rambut Wawan.
    “Sama-sama Bu, aku juga puas karena sudah membuat Ibu berhasil memuaskan hasrat birahi Ibu,” sahut Wawan dengan posisi menyandarkan kepalanya di atas dada Bu Mira.
    Suasana yang begitu mesra.

    “Selama disini, mulai malam ini dan seterusnya, Ibu ingin kamu selalu memberi kepuasan birahi Ibu..!” pinta Ibu Mira.
    “Saya berjanji Bu, saya akan selalu memberikan yang terbaik bagi Ibu..,” kata Wawan kemudian.
    “Ah, kamu bisa saja Wan,” tersungging senyum di bibir Bu Mira.
    “Tapi, ngomong-ngomong bagaimana dengan Ida dan Bik Sumi..?” tanya Wawan.
    “Lho, kita kan bisa mencari waktu yang tepat. Disaat Ida berangkat sekolah juga bisa, dan Bik Sumi di dapur. Di saat keduanya tidur pun kita bisa melakukannya. Pokoknya setiap saat dan setiap waktu..!” jawab Bu Mira manja sambil tangannya mengusap-usap punggung Wawan.

    Sejenak Wawan memandang wajah Bu Mira, sesaat kemudian keduanya sama-sama tertawa kecil. Akhirnya apa yang mereka pendam berdua terlampiaskan sudah. Sambil dengan keadaan yang masih telanjang dan posisi saling merangkul mesra, mereka akhirnya tertidur kelelahan.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Gara gara waktu di Toilet

    Cerita Sex Gara gara waktu di Toilet


    1204 views

    Cerita Sex ini berjudulCerita Sex Gara gara waktu di ToiletCerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – aku jarang sekali mempunyai teman perempuan, memang kau mempunyai maslah dengan hal itu sulit untuk bergaul dengan wanita, tapi jujur saja aku mempunyai hasrat sex yang tinggi, jikia melihat cewek yang seksi burungku selalu tegangn karena aku sering berfantasi.

    Jujur saja, bila sudah begitu pikiranku sering mengkhayal ke arah persetubuhan. Bila hasratku sudah tak lagi dapat kutahan, terpaksa aku melakukan onani. Aku memilih itu sebab aku tak tahu lagi harus menyalurkan kemana.

    Sifat pendiamku ternyata membuat cewek-cewek di kampusku penasaran, sepertinya mereka ingin tahu lebih banyak tentangku. Cuma mereka harus kecewa sebab aku kesulitan untuk bergaul dengan mereka.

    Di samping itu teman-temanku bilang aku mempunyai face yang lumayan ganteng (nggak nyombong lo..), kulitku putih, rambuntuku gondrong, dan tinggiku sekitar 170 cm. Bila aku melintas di koridor kampus, aku merasa ada beberapa cewek yang melirikku, tetapi aku berusaha cuek saja, toh aku tak bisa mendekatinya.

    Namun ada seorang cewek yang diam-diam menyukaiku, hal itu aku ketahui dari sahabatku. Ketika aku minta untuk menunjukkan anaknya, kebetulan penampilannya sesuai degan seleraku. Tinggi tubuhnya sama denganku, rambut panjang, kulit putih bersih, wajah menarik, ukuran toketnya juga pas dengan seleraku, dan badannya padat berisi.

    Sebut saja namanya Nita (samaran). Sejak itu setiap kali aku melihatnya, aku sering berpikiran edan, yaitu membayangkan bisa bersetubuh dengannya. Sebaliknya bila ia melihatku, sikapnya biasa-biasa saja, walaupun aku tahu sebenarnya dia menyukaiku.

    Pada suatu hari yang tak terduga olehku, seolah-olah keinginanku dikabulkan (masa?). Saat kuliah usai pada jam 19.00 sore, selepas keluar ruangan aku hendak untuk mencuci muka, sekedar menyegarkan diri.

    Aku menuju WC kampus yang kebetulan letaknya agak menyendiri dari “peradaban” kampus. Sampai disana aku mendapati beberapa orang yang juga akan mempergunakan kamar mandi. Selagi menunggu giliran, aku ingin buang air kecil dulu, tapi kamar mandi sedang dipakai.

    Praktis aku urungkan saja. Begitu tiba giliranku, aku hendak menuju ke arah kran, tiba-tiba dari arah pintu kamar mandi yang tertutup tadi keluarlah seorang cewek yang selama ini kusukai dan dia juga mengincarku.

    Aku sangat tekejut melihatnya, sikapku hampir salah tingkah, begitu pun dengan dia. Kami saling bertatapan mata dan terdiam beberapa saat. Kemudian dia sedikit tersenyum malu-malu. Kok dia ada disini sih?, Pikirku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk memulai percakapan.

    “La, ngapain elo masuk ke WC cowok?” tanyaku penuh rasa heran.

    “Ehh.. itu.. ehmm.. tempat cewek penuh semua, makanya gue ke sini..”

    “Emang yang di lantai bawah juga penuh?”, tanyaku.

    Padahal dalam hati aku merasa mendapat kesempatan emas.

    “Iya. Emang kenapa? Boleh dong sebentar doang.. lagi pula ‘kan sekarang udah nggak ada siapa-siapa, ya kan..?”, jawab Nita rada genit.

    Aku pun tidak mau kalah.

    “Tapi kan gue cowok, elo nggak malu?”, gantian aku membalasnya.

    “Kalo elo, gue emang nggak keberatan kok.., untungnya cuman tinggal elo dong yang ada di sini, daripada yang laen..”, jawab Nita.

    Denger jawaban kayak gitu, aku malah jadi tambah bengong. Gila.. kayaknya dia emang ngasih kesempatan nih! Pikirku. Tiba-tiba dia menyerobot posisi gue yang dari tadi udah berdiri di samping kran.

    “Sorry yah, gue duluan, habis elo bengong aja sih..”, katanya.

    Rupanya dia juga mau mencuci muka. Selama dia mencuci muka, aku seperti orang bingung. Kadang-kadang aku mencuri pandang ke arah bagian yang terlarang. Posisinya yang sedang membungkuk membuat pantatnya yang berisi menungging ke arah selangkanganku.

    Ditambah lagi CD-nya yang berwarna krem terlihat olehku. Lama kelamaan aku menjadi terangsang, kontolku mulai tegang tak keruan. Langsung saja di pikiranku membayangkan kontolku kumasukkan ke dalam memeknya dari belakang pada posisi seperti itu.

    Entah apa yang merasuki pikiranku, aku berniat untuk menyetubuhinya di WC ini, sebab hasratku sudah tak tertahankan. Aku tak peduli dia keberatan atau tidak. Pokoknya aku harus ngentot dengan dia, apapun caranya.

    Diam-diam aku berdiri di pintu keluar, mengamati keadaan. Aman pikirku, tak ada seorang pun. Jadi aku bisa leluasa melaksanakan niat bejatku. Saat dia menuju pintu keluar, dari jauh aku sudah melihat senyumannya yang merangsang birahiku. Sepertinya dia memang sengaja menarik perhatianku. Tiba-tiba dengan cepat kupalangkan tanganku di depannya, sehingga ia menghentikan langkahnya. Dia melihatku seakan- akan mengerti maksudku.

    “Buru-buru amat La, emang elo udah ada kuliah lagi?”, tanyaku.

    “Enggak kok, gue cuman pengen istirahat di sini aja”, jawabnya.

    Aku tak menanggapinya, dengan cepat aku segera menutup dan mengunci pintu dari dalam. Melihat sikapku, Nita mulai menatapku dalam-dalam. Dengan perlahan kudekati dia. Kutatap kedua matanya yang indah.

    Dia mulai bereaksi, perlahan dia juga mulai mendekatiku, sehingga wajah kami berdekatan. Aku mulai merasa bahwa dia juga merasakan hal yang sama denganku. Nafasnya juga semakin memburu, seolah-olah dia mengerti permainan yang akan kulakukan.

    Mulutnya mulai terbuka seperti akan mengatakan sesuatu, namun dia keburu mengecupku dengan lembut. Perasaanku saat itu tak menentu, sebab baru kali inilah aku dicium oleh seorang cewek. Dengan spontan aku pun membalasnya dengan mesra.

    Aneh, walaupun aku belum pernah melakukannya, otomatis aku tahu apa yang harus mesti kulakukan. Apalagi aku juga sering melihat di film BF.

    Kami saling bermain lidah cukup lama, sampai kami kesulitan bernafas. Kedua bibir kami berpagut sangat erat. Desahan Nita membuatku semakin hot menciumnya. Aku mulai menggerakkan tanganku menuju ke pantatnya, kuraba dengan lembut, dan dengan gemas kuremas pantatnya.

    Kemudian aku mencoba untuk mengusap bagian memeknya. Kugosok-gosok sampai dia mengerang kenikmatan. Aku panik kalau erangannya terdengar ke luar. Setelah kuberi tahu dia mengerti dan mengecup bibirku sekali lagi. Usapanku membuat cairan memeknya membasahi celananya. Karena dia memakai celana bahan, maka cairannya juga membasahi tanganku.

    “Ssshhtt.. gilaa.. enak banget.. ehmm..”, desah Nita.

    Aku melepaskan ciumanku dan berpindah menciumi lehernya yang putih mulus. Lehernya yang harum membuatku makin gencar menciumi lehernya. Mata Nita terlihat mendelik dan menengadahkan mukanya ke atas merasakan kenikmatan. Tangannya mulai berani untuk meremas kontolku yang keras. Enak sekali pijitannya, membuat kontolku semakin berdenyut- denyut.

    Aku berhenti menciumi lehernya, aku mulai meraba-raba toketnya yang sudah mengeras. Nita mulai membuka kaosnya, dan memintaku untuk memainkan kedua toketnya. Kuraba-raba dengan lembut, dan sesekali kuremas sedikit.

    Merasa masih ada penghalang, kubuka BH-nya yang berwarna putih. Benar-benar pemandangan yang sangat indah, toketnya yang berukuran sedang, putih mulus, dan putingnya merah kecoklatan terlihat menantang seperti siap untuk dikemot.

    Langsung saja aku sedot susunya yang kenyal itu. Nita menggelinjang kenikmatan dan memekik. Aku tak peduli ada orang yang mendengar. Rupanya dia senang menyemprotkan parfum ke dadanya, sehingga terasa lebih nikmat mengulum toket harum.

    Aku benar-benar menikmati toket Nita dan aku ingin mengemoti toket Nita sampai dia menyerah. Kujilat puting susunya sampai putingnya berdiri tegak. Kulihat Nita seperti sudah di awang-awang, tak sadarkan diri.

    Tangan Nita mulai membuka ritsleting celana gue dan berusaha mengeluarkan kontol gue yang sudah keras sekali. Begitu semua terlepas bebaslah kontol gue menggantung di depan mukanya yang sebelumnya dia telah mengambil posisi jongkok.

    Dia kocok-kocok kontol gue, sepertinya dia sedang mengamati dahulu. Lalu dia mulai mencium sedikit-sedikit. Kemudian dia mencoba membuka mulutnya untuk memasukkan kontolku. Pertama hanya 1/4 nya yang masuk, lama-lama hampir seluruh kontolku masuk ke mulutnya yang seksi, kontolku sama sekali sudah tak terlihat lagi.

    Lalu dia mulai memaju mundurkan kontolku dalam mulutnya. Sedotan dan hisapannya sungguh luar biasa, seperti di film BF. Aku menahan rasa geli yang amat sangat, sehingga hampir saja aku mengeluarkan maniku di dalam mulutnya.

    Belum saatnya, pikirku. Aku ingin mengeluarkan maniku di dalam memeknya. Maka aku memberi tanda agar Nita berhenti sebentar. Aku berusaha menenangkan diri sambil mengusap-ngusap toketnya. Setelah rileks sedikit, Nita mulai melanjuntukan permainannya selama kurang lebih 10 menit.

    Nita sempat menjilat cairan bening yang mulai keluar dari ujung kontolku dan menelannya.
    Nita kemudian bangkit untuk melepaskan celana panjangnya, ia juga melepaskan CD-nya yang berwarna krem.

    Aku mengambil posisi jongkok untuk menjilati memeknya dahulu, agar licin. Kubuka pahanya lebar-lebar. Terlihatlah memek Nita yang sangat bersih, berwarna merah, lipatannya masih kencang, tak tampak sehelai bulu satu pun.

    Sepertinya Nita memang pandai merawat kewanitaannya. Aku mulai menjulurkan lidahku ke memeknya. Aku sempat berpikir bagaimana kalau di memeknya tercium bau yang tidak sedap. Ah, bodo amat aku sudah bernafsu, aku tahan nafas saja.

    Kubuka belahan memeknya. Lalu kujilat bagian dalamnya. Tapi ternyata koq baunya tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Memek Nita tidak berbau kecut, tapi juga tidak berbau harum, bau memek alami. Justru bau yang alami seperti itulah yang membuatku makin bernafsu serasa ingin melumatnya semua ke dalam muluntuku. Aaahh..Nita benar-benar pandai merawat memeknya. Sungguh beruntung aku.

    Aku terus menjilat-jilat memeknya yang mulai basah dengan cairannya. Nita terlihat sangat menikmati permainan ini. Matanya sayu, desahannya makin keras seraya menggigit bibir bawahnya.
    “Akkhh.. sstt.. uugh.. gilaa.. enak banget..”, desah Nita.

    Memeknya terasa hangat dan lembut. Betul-betuk memek ternikmat yang kurasakan.

    Kumasukkan jari telunjukku ke dalam memeknya sambil mengait-ngaitkan ke dinding memeknya. Tentu saja Nita makin edan reaksinya, membuat semakin kelojotan nggak keruan. Sampai ia menjepitkan kedua belah pahanya hingga kepalaku terjepit di antara sepasang paha yang putih mulus, dan tangannya menjambak rambuntuku sampai aku sendiri merasa kesakitan.

    Cairan yang keluar dari memeknya sampai meleleh ke pipiku dan kepahanya. Sebagian sempat mengalir ke bibirku. Karena penasaran dengan selama ini yang kutahu, kucicipi cairan itu. Gila! Rasanya enak koq, agak asin. Langsung aja aku hisap sebanyak-banyaknya dari memeknya.

    Nita sempat risih melihat perbuatanku. Namun aku cuek saja, sebab dia tadi juga melakukan hal yang sama pada kontolku.

    Tiba-tiba Nita mendorong kepalaku dari memeknya. Kayaknya dia sudah nggak kuat lagi.

    “Masukin dong punya elo, gue udah nggak tahan nich.. ayo dong sayy..”, pinta Nita dengan suara mendesah.

    Aku sempat tertegun sejenak, sebab sama sekali aku belum pernah melakukannya.

    “Ayo cepat dikit dong..”, katanya sambil memandangku yang tertegun sejenak.

    Dengan bermodal nekat dan pengetahuan dari film BF, gue turutin saja permintaan Nita.
    Kuangkat satu kakinya ke atas bak mandi, sehingga posisi memeknya lebih terbuka. Memeknya sudah basah sekali oleh cairan sehingga terlihat mengkilat.

    Hal itu makin membuatku bernafsu untuk memasukkan kontolku ke memeknya. Kuelus-elus dahulu kepala kontolku ke bibir memeknya. Kudorong kontolku perlahan.. masuk sedikit demi sedkit..

    Pantatku terus kudorong, terasa sebagian kepala kontolku sudah masuk ke lobang memek Nita yang sudah basah dan licin tapi terasa sempit banget. Dalam hati aku beruntung juga bisa ngerasain sempitnya memek perawan.

    Kucoba kugesek dan menekan perlahan sekali lagi. Kontolku sudah masuk setengahnya, namun masih terasa sempit sekali. Tubuh Nita sempat tersentak ketika kontolku sudah masuk seluruhnya.

    “Auuwww.. sakitt.. pelann.. sstt..”, Nita sedikit menjerit.

    Kutarik kontolku keluar, lalu kudorong lagi sekuat tenaga. Aku sengaja membiarkan kontolku menancap di dalamnya beberapa saat agar memek Nita terbiasa menerima kontolku. Kemudian barulah aku memulai gerakan maju mundur.

    Terasa kontolku bergesekan dengan dinding memek yang bergerinjal-gerinjal. Jadi ini toh yang dinamakan bersetubuh, pikirku dalam hati. Kontolku terasa agak perih dijepit oleh memeknya, tapi tetap kuteruskan, aku tak mau kehilangan kesempatan berharga ini.

    Tampaklah pemandangan indah ketika kontolku keluar masuk memek Nita. Kontolku sudah tidak terasa perih lagi, malah sebaliknya, terasa geli ngilu enak. Nita semakin tidak jelas rintihannya, seperti orang menangis, air matanya meleleh keluar.

    Mulutnya menggigit bibirnya sendiri menahan sakit. Aku sempat kasihan melihatnya. Mungkin aku sudah keterlaluan. Kucoba berbicara padanya sambil kedua pinggul kami menghentak-hentak.

    “Ke.. napa.. La.. ehhgg.., elo.. pe.. ngen udahann..?”, tanyaku.

    “Ja.. ngan dilepas.. terussinn.. aja.. gue.. nggak.. apa.. apa.. kok.. sstt..”, kata Nita.

    Goyangan pinggul Nita sangat luar biasa, hampir aku dibuat ngecret sekali lagi. Kutarik kontolku keluar dan kudiamkan beberapa saat. Setelah itu aku minta ganti posisi, aku ingin ngentotin dia dari belakang. Nita berpegangan pada pintu kamar mandi, sedangkan pantatnya sudah menungging ke arahku.

    Dalam posisi itu lipatan memeknya terlihat lebih jelas. Tanpa basa-basi lagi kumasukkan saja kontolku dengan hentakan yang kuat. Kali ini lebih lancar, sebab memeknya sudah terbiasa menerima kontolku.
    Kali ini gerakan Nita lebih hot dari sebelumnya, ia mulai memutar- mutar pantatnya.

    Setiap gerakan pantatnya membuat kontolku sangat geli luar biasa.. kontolku berdenyut-denyut seperti ingin memuntahkan lahar yang panas..aku merasa tak tahan lebih lama lagi. Tapi aku tak ingin mengecewakan Nita, aku pun berusaha mengimbangi permainannya.

    Aduhh srr.., ada cairan licin kembali keluar dari kontolku. Cairan itu makin menambah licin dinding memek Nita. Aku benar-benar merasakan kenikmatan persetubuhan ini. Aku makin tenggelam dalam kenikmatan bersetubuh dengan Nita, sungguh aku tak akan melupakannya.

    Tubuh kami terlihat mengkilat oleh keringat kami berdua. Toket Nita bergoyang-goyang mengikuti irama gerakan kami, membuatku makin gemas untuk meremasnya dan sesekali kukemot sampai ia memjerit kecil. Memek Nita makin berbusa akibat kocokan kontolku.

    Aku merasakan sesuatu yang tak tertahankan lagi. Aku makin pasrah ketika kenikmatan ini menjalar dari buah zakar menuju dengan cepat ke arah ujung kontolku. Seluruh tubuhku bergetar hendak menerima pelepasan yang luar biasa.

    “Laa.. gue udah mau keluar.. nihh.. Elo.. masih.. lama.. nggak..?”, rintihku.

    “Sa.. bar.. se.. bentarr.. sayaangg.. sama.. samaa.. gue.. juga.. hampir.. keluarr.. oohh.. ahhgghh..”, pantatnya menekan kontolku dengan kuat.

    Mukanya berusaha menengok ke arahku berusaha mengulum bibirku. Kudekatkan bibirku agar dia bisa mengulumnya.

    Bersamaan dengan itu..

    “Aaahh..”

    Kontolku menyemprotkan air mani ke dalam lobang memeknya berkali-kali. Sampai cairan putih itu meleleh ke pahanya dan sempat menetes ke lantai.

    Tak kusangka banyak sekali spermaku yang berlumuran di memeknya. Nita berjongkok memegang kontolku. Lalu ia menjilat dan mengulum kontolku yang masih berlumuran sperma. Dia menelan semua spermaku sampai kepala kontolku bersih mengkilat. Dia kelihatan tersenyum bangga.

    Nita kembali berdiri memandangi penuh kepuasan. Tubuh Nita terjatuh lemas membebani tubuhku, badannya bergetar merasakan orgasme.

    Nita memandangku tersenyum, disertai dengan nafas yang masih terengah-engah. Kami pun berpelukan dalam tubuh penuh keringat dengan alat kelamin kami masih saling menyatu. Bibir kami saling mengecup dengan mesra, sambil memainkan bagian-bagian sensitif.

    Kami membersihkan diri bersama sebelum beranjak keluar WC. Selama kami mandi kami saling mengutarakan sesuatu hal. Iseng-iseng aku bertanya mengapa dia mau menerima perlakuanku barusan.

    Ternyata Nita mengatakan bahwa selama ini dia sudah lama menyukaiku, namun ia tidak berani mengutarakannya, sebab malu sama teman-temannya. Aku sempat tertegun mendengarnya. Kemudian aku juga mengatakan bahwa aku juga suka padanya.

    Seakan dia tak percaya, tetapi setelah kejadian tadi kami menjadi saling menyayangi. Kami kembali berpelukan dengan mesra sambil saling mengecup bibir.

    Aku sempat khawatir kalau Nita hamil, sebab aku mengeluarkan spermaku di dalam memeknya. Aku tidak mau menikah, aku belum siap jadi bapak. Biarlah, kalaupun Nita hamil, aku akan membuat suatu rencana.

    Lagipula kami melakukannya baru sekali, jadi kemungkinan dia hamil kecil peluangnya.

    Selesai mandi aku menyuruh Nita keluar belakangan, aku keluar duluan agar bisa mengamati keadaan. Setelah tidak ada orang satupun, barulah Nita keluar, kemudian kami pergi berlawanan arah dan bertemu kembali di suatu tempat.

    Sampai saat ini hubunganku dengan Nita masih berjalan baik, cuma kami belum mengulang apa yang kami lakukan di WC dulu.

    Beberapa minggu setelah kejadian itu aku mendengar fakta dari teman-temannya bahwa Nita itu sebenarnya cewek yang haus seks. Dia juga telah bersetubuh dengan banyak pria, baik dari kalangan mahasiswa atau om-om. Makanya aku sempat curiga waktu kami bersetubuh dulu, sebab walaupun memeknya masih rapat seperti perawan, namun aku tidak merasakan menyentuh selaput daranya, bahkan aku sama sekali juga tidak melihat darah yang keluar dari lubang memeknya

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam

    Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam


    1925 views

    Perawanku – Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam, Sejak tadi suara itu mengganggunya. Suara seorang perempuan yang penuh desah kemanjaan itu, seakan memanggil Norman beberapa kali. Dahi Norman berkerut, hatinya bimbang dengan pendengarannya. Menurutnya, tak mungkin ada perempuan yang memanggilnya di tengah malam. Norman sengaja melupakan suara itu.

    Ia mendengar langkah kaki di depan kamarnya, tapi ia tahu itu langkah kaki Susilo, teman satu pondokan. Ia bergegas membuka pintu kamarnya dan memanggil Susilo yang hendak masuk ke kamar sebelah.

    “Sus… jam berapa ini?” tanya Norman.
    “Setengah satu kurang,” jawab Susilo sambil membetulkan celananya. Agaknya ia habis dari kamar mandi untuk buang air. Susilo justru berkata,
    “Kau sendiri kan punya arloji, masa’ masih tanya aku?”
    “Arlojiku mati! Eh, sebentar, Sus!” Norman keluar dari kamarnya, tidak sekadar melongokkan kepala. Ia mendekati Susilo yang berdiri di ambang pintu kamarnya sendiri. Dengan nada herbisik Norman bertanya,
    “Sus, kau tadi waktu ke kamar mandi melihat ada perempuan di sekitar sini?”
    “Maksudmu?” Susilo berkerut dahi.
    “Aku mendengar suara perempuan di samping kamar, la seakan memangil-manggil aku.”
    “Perek. mungkin!” jawab Susilo seenaknya. Norman hanya mendesah.
    “Aku serius, Sus. Dari tadi aku tidak bisa tidur karena mendengar suaranya.” Susilo berpikir sejenak, tubuhnya bersandar pada kusen pintu. Seingatnya, waktu ia ke kamar mandi, ia tidak melihat sekelebat manusia. Pondokan itu sepi. Maklum sudah lewat
    tengah malam. Beberapa mahasiswa yang kost di situ kebanyakan sudah tidur. Kalau toh ada, mereka pasti di dalam kamar menekuni bukunya.
    “Menurutku, kau hanya terngiang-ngiang cewekmu saja,” kata Susilo.
    “Maksudmu, Arni? Ah, suara Arni tidak seperti itu.”
    “Kalau begitu, kau hanya mendengar suara hatimu saja. Halusinasi! Ah, ngapain repot-repot memikirkan suara, kaukan bukan penata rekaman!”
    Susilo masuk, menutup kamarnya. Norman mengeluh dalam desah napas tipis. Ia berhenti sejenak ketika mau masuk ke kamarnya. Matanya memandang sekeliling. Oh, pondokan itu amat sepi. Lengang. Denni yang biasanya masih memutar kaset sampai jauh malam, kali ini agaknya sudah tidur. Lampu di kamarnya telah padam. Lampu-lampu di kamar lain pun padam. Hanya ada dua kamar yang lampunya masih menyala, kamar Mahmud dan kamar Tigor. Mungkin mereka sedang menekuni materi ujiannya untuk besok. Tengkuk kepala meremang lagi, Norman bergidik. Badannya bergerak dalam sentakan halus. Karena, ketika ia masuk ke kainar dan hendak menutup pintu, ia mendengar suara perempuan dalam desah kemanjaan yang memanggilnya.
    “Normaaan…! Normaaan….”
    Lampu kamar Norman sengaja diredupkan. Ia menyalakan lampu biru 10 watt sejak tadi. Menurut kebiasaannya, tidur dengan nyala lampu biru yang remang-remang membuat kesejukan tersendiri dalam hatinya. Namun, kali ini, kesejukan itu tidak ada. Yang ada hanya kegelisahan dari kecamuk hati yang terheran-heran atas terdengarnya suara panggilan itu. Angin malam lewat. Desaunya terasa menerobos dari lubang angin yang ada di atas jendela kamar. Suara itu terdengar lagi setelah dua menit kemudian.
    “Normaaan…! Datanglah…!”
    Dengan berkerut-kerut dahi, Norman bangkit dari rebahannya.
    “Suara itu seperti berada di luar jendela,” pikir Norman. Kemudian, ia mendekati pintu jendela. Ingin membuka jendela, tetapi ragu. Hatinya berkata, “Tidak mungkin ada perempuan di luar jendela. Dari mana ia masuk? Pintu pagar dikunci. Tidak mungkin ia memanjat pagar. Kalau memang ada perempuan yang memanjat pagar, itu nekat namanya.”
    Kemudian, telinga Norman agak ditempelkan pada daunjendela. Tapi yang didengar hanya suara desau angin, gemerisik dedaunan. Kamar Norman memang kamar paling ujung dari sederetan kamar kost-kostan itu. Di samping kamar, di seberang jendela itu, adalah sebidang tanah yang biasa dipakai olah raga. Ada lapangan bulu tangkis, dan meja ping-pong yang jika malam begitu dalam posisi miring, menempel dinding kamar Norman. Tanah yang merupakan fasilitas olah raga itu dikelilingi oleh pagar tembok. Pada bagian atas pagar diberi kawat berduri sebagai penolak tamu tak diundang. Di seberang pagar tembok itu ada pohon rambutan milik tetangga belakang pondokan. Sebagian daun dan dahan pohon itu menjorok ke halaman pondokan, dan meneduhkan bagi mereka yang bermain pingpong jika siang hari.
    Norman sudah tiga menit lebih berdiri di depan jendela, tetapi suara perempuan yang menggairahkan itu tidak terdengar lagi. Maka, ia kembali ke pembaringan dan merebahkan badan.. Ia kelihatan resah. Batinnya bertanyatanya,
    “Mengapa aku mendengar suara itu? Dan, sepertinya memang aku pernah mendengar suara itu. Suara siapa, ya?”
    Ada gonggongan anjing dari rumah belakang pondokan. Gonggongan anjing itu mulanya hanya sesekali. Ditilik dari nada gonggongannya, anjing itu seakan sedang menggoda orang lewat.
    Tetapi, gonggongan anjing itu lama-lama jadi memanjang. Mangalun mendayu-dayu mirip irama orang merintih kesakitan. Suara anjing itu menyatu dengan suara perempuan yang kian jelas di pendengaran Norman.
    “Normaaan…! Norrr…! Lupakah kauuu…? Lupakah kau padaku, Norman…!”
    Norman segera melompat dari pembaringannya, dan membuka jendela. Jantungnya berdetak-detak ketika wajahnya diterpa angin yang berhembus membawa udara dingin. Sekujur tubuhnya merinding. Matanya melebar, karena ia tidak menemukan siapa-siapa di luar jendela kamarnya.Padahal suara tadi jelas terdengar di depan jendela, seakan mulut perempuan itu ditempelkan pada celah jendela supaya suaranya didengar Norman. Tetapi, nyatanya keadaan di luar kamar sepi-sepi saja.
    “Brengsek!” geram Norman. Ia menunggu beberapa saat,
    sengaja membuka jendelanya, sengaja membiarkan angin dingin menerpa masuk ke kamar. Suara perempuan yang penuh desah menggairahkan itu tidak terdengar lagi. Norman mengeluh kesal sambil duduk di kursi belajarnya. Ia menyalakan lampu belajar yang ada di meja kamar. Kamar menjadi terang. Cermin di depan meja belajar menampakkan wajahnya yang sayu. Pintu kamarnya tiba-tiba ada yang mengetuknya dengan lembut. Pelan sekali, seakan pe-ngetuknya sengaja hati-hati supaya suara ketukan tidak didengar penghuni pondokan yang lainnya. Norman melirik ke arah pintu. Membiarkan ketukan itu terulang beberapa kali. Lalu, ia mendengar suaraperempuan di seberang pintunya.
    “Nor…? Normaaan…!”
    “Siapa…?!”
    tanya Norman dengan nada kesal, karena iatahu, bahwa suara perempuan yang mengetuk pintu kamarnya itu sama persis dengan suara yang mengganggunya sejak tadi. Tapi, karena tidak ada jawaban dari pengetuk pintu, Norman berseru lagi,
    “Siapa sih?! Jawab dong!”
    “Aku…!”
    “Aku siapa?! Sebutkan!”
    Norman sudah berdiri walau belum mendekat ke pintu.
    “Kismi….”
    Mata Norman jadi membelalak. Kaget.
    “Kismi…?!”
    desahnya dengan nada heran sekali. Ia mengenal pemilik nama itu, tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau Kismi akan datang, apalagi lewat tengah malam begini. Norman pun akhirnya bergegas membukakan pintu setelah ia sadar, bahwa suara yang sejak tadi memanggilnya itu memang suara Kismi.
    “Sebentar, Kis…!”
    kata Norman, yang kemudian segera membukakan pintu.
    “Hah…?!” Ia terperanjat dengan jantung berdetak-detak.
    Di luar kamarnya, tidak ada siapa-siapa. Sepi. Hanya hembusan angin yang dirasakannya begitu dingin dan membuat tubuhnya merinding lagi. Dalam keadaan bingung dan berdebar-debar itu, Norman masih menyempatkan diri berpaling ke kanan-kiri, mencari Kismi yang menurutnya bersembunyi. Tapi, tak terlihat bayangan atau sosok seseorang yang bersembunyi. Di kamar mandi? Tak mungkin. Kamar mandi terlalu jauh dari kamar Norman jika akan digunakan seseorang untuk berlari dan bersembunyi. Sebelum orang itu sempat bersembunyi, pasti Norman sudah melihatnya lebih dahulu.
    “Kismi…?!”
    Norman mencoba memanggil perempuan yang dikenalnya kemarin malam itu, tetapi tidak ada jawaban. Makin merinding tubuh Norman. dan semakin resah hatinya di sela debaran-debaran mencekam. Karena ditunggu beberapa menit Kismi tidak muncul lagi, bayangannya pun tak terlihat, maka Norman pun segera menutup pintu kamarnya dengan hati bertanya-tanya:
    “Kemana dia?”
    Mendadak gerakan penutup pintu itu terhenti. Mata Norman sempat menemukan sesuatu yang mencurigakan di lantai depan pintu. Aneh, namun membuatnya penasaran.
    “Kapas…?!”
    Hati semakin resah, kecurigaan kian mengacaukan benaknya. Segumpal kapas jatuh di lantai depan pintu. Sedikit bergerak-gerak karena hembusan angin. Ada rasa ingin tahu yang menggoda hati Norman. Maka. dipungutnya kapas itu. Ketika tubuh Norman membungkuk untuk mengambil kapas, tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang. Kapas itu bergerak, terbang. Masuk ke kamar. Gerakan kapas sempat membuat Norman yang tegang terperanjat sekejap. Pintu ditutup, dan kapas itu dipungutnya. Ia segera melangkah ke meja belajarnya, mencari tempat yang terang. Ia memperhatikan kapas itu di bawah penerangan lampu belajarnya.
    “Apakah kapas ini milik Kismi?”
    pikirnya sambil mengamatamati segumpal kapas yang kurang dari satu genggaman. Ada aroma bau harum yang keluar dari kapas itu. Bau harum itu mengingatkan Norman pada jenis parfum yang baru sekali itu ia temukan. Parfum yang dikenakan pada tubuh Kismi.
    “Aneh?! Mengapa Kismi tidak muncul lagi?”
    pikirnya setelah setengah jam lewat tak terdengar suara Kismi maupun ketukan pintu.
    “Mengapa ia hanya meninggalkan kapas ini? Lalu, kapas untuk apa ini? Apakah Kismi sakit? Apakah ia hanya bermaksud mengingatkan kenangan semalam?”
    Norman tertawa sendiri. Pelan. Ia kembali berbaring dengan jantung yang berdebar takut menjadi berdebar indah.Kapas itu  diletakkan di samping bantalnya, sehingga bau harum yang lembut masih tercium olehnya. Pikiran Norman pun mulai menerawang pada satu kenangan manis yang ia peroleh kemarin malam. Kisah itu, sempat pula ia ceritakan kepada Hamsad, teman baiknya satu kampus, dan Hamsad sempat tergiur oleh cerita tentang Kismi.

    ***
    “Siapa yang mengajakmu ke sana?” tanya Hamsad waktu
    itu.
    “Pak Hasan! Mungkin dia ingin men-service aku, supaya
    buku pesanannya cepat kukerjakan. Wah, tapi memang luar
    biasa, Ham,” ujar Norman berseri-seri. “Perempuan itu
    cantiknya mirip seorang ratu!”
    “Kau yang memilih sendiri?” Hamsad tampak bersemangat.
    “Bukan. Dia datang sendiri ke motel-ku. Kurasa, Pak Hasan
    yang memesankan cewek itu untukku. Atau, barangkali
    memang service dari motel itu sendiri, entahlah. Yang jelas,
    dia datang di luar dugaanku. Tak lama kemudian, setelah kami
    berbasa-basi sebentar, datang juga perempuan lain. Tapi,
    kutolak. Aku lebih memilih perempuan pertama. Mulus dan
    sexy sekali dia. Namanya, Kismi. Antik, kan?!”
    “Terus…? Terus bagaimana?” desah Hamsad tergiur.

    8
    “Macan, Mack! Luar biasa romantisnya. Hebat. Baru kali ini
    aku menemukan perempuan cantik yang punya daya rangsang
    yang luar biasa! Tujuh malam bersama dia tanpa keluar dari
    kamar, aku akan betah! Kurasa kau sendiri tidak akan sempat
    mengenakan pakaianmu lagi kalau sudah bersamanya, Ham!”
    Hamsad tertawa ngakak ketika itu. Ia benar-benar
    terperangah cerita Norman. Khayalannya melambung tinggi
    ketika Norman menceritakan detail kehebatan Kismi.
    “Berapa anggaran untuknya?” tanya Hamsad dengan gaya
    kelakar.
    “Aku tidak tahu. Mungkin Pak Hasan-lah yang mengurus
    soal itu. Antara pukul 4 atau 5 pagi, dia pamit. Dia tidak minta
    bayaran padaku. Ketika kutanya tentang uang taksi, dia hanya
    tersenyum, lalu pergi.”
    “Kurasa dia perempuan panggilan kelas atas, Nor!”
    “Menurut dugaanku juga begitu! Tapi, itu kan urusan Pak
    Hasan. Aku mau tanya tentang tarif argo untuk perempuan
    semacam Kismi, ah… nggak enak. Riskan.”
    “Beruntung sekali kau mendapat service seperti itu!”
    “Makanya konsekuensinya aku harus segera menyelesaikan
    naskah pesanan Pak Hasan itu! Siapa tahu selesai itu aku
    dibawanya ke motel tersebut. Kalau ke sana lagi, aku tidak
    ingin mencari perempuan lain. Hanya Kismi yang kubutuhkan,
    dan aku juga menghendaki Motel Seruni, tidak mau Motel
    Mawar, Kenanga, atau yang lainnya. Karena, kenanganku
    bersama Kismi yang pertama kali ada di Motel Seruni itu!”
    ***
    Malam semakin mengalunkan kesunyian, dan kesunyian itu
    sendiri menaburkan perasaan cemas. Sedangkan perasaan
    cemas itu membawa desiran indah bagi sebaris kenangan
    bersama Kismi. Bau harum dari parfum pada kapas semakin
    menggoda khayalan Norman. Khayalan itulah yang
    menumbuhkan rasa rindu, rasa ingin bertemu dan rasa ingin
    bercumbu. Maka, Norman pun menggeliat dengan gelisah.
    Darahnya dibakai’ oleh khayalannya sendiri. Nafsunya
    menghentak-hentak jantung, menuntut suatu perbuatan nyata

    9
    dari birahi yang ada. Norman menjadi bernafsu sekali untuk
    bertemu dengan Kismi.
    “Kismiii…!” erangnya dari sebuah rintih dari kerinduan.
    Dan, kerinduan itu akhirnya menjadi racun pada jiwa Norman.
    Emosinya meluap, meletup-letup, bahkan tak bertakaran lagi.
    Emosi itu bukan hanya sekadar luapan gairah bercinta saja,
    melainkan kebencian, kemarahan, kesedihan, semuanya
    bercampur aduk dan menyiksa jiwa Norman. Ia sempat
    meremat bantalnya kuat-kuat dengan tubuh gemetar, lalu
    ditariknya re-matan itu dan robeklah kain bantal. Isinya
    berhamburan, diremas pula dalam suara yang menggeram.
    Tubuh berkeringat, urat-urat menegang, gemetar dan ia
    menggemeletukkan gigi kuat-kuat dengan mata mendelik.
    Perubahan itu aneh sekali, namun tidak disadari oleh
    Norman. Napasnya terengah-engah seperti orang habis lari
    jauh. Matanya menjadi liar, ia menggeram beberapa kali,
    bahkan mengerang seperti seekor monyet buas yang hendak
    mengamuk.
    Sementara itu, sisa kesadarannya sesekali tumbuh, dan
    membuat Norman mampu meredam gejala anehnya itu. Ia
    sempat bertanya dalam hati, “Mengapa aku jadi begini?
    Mengapa aku benci pada diri sendiri?”
    Masa kesadarannya hilang lagi, kembali ia dalam amukan
    jiwa yang tak terkontrol. Ia mengamuk, berguling-guling di
    ranjangnya. Tangannya mencakar-cakar kasur, membuat
    seprei menjadi tercabik-cabik. Bahkan guling pun diremas,
    digigitnya kuat-kuat bagai beruang lapar. Sampai beberapa
    saat hal itu dilakukan di luar kesadarannya, kemudian ia
    terkulai lemas sambil terengah-engah.
    “Apa sebenarnya yang kualami ini…?! Oh, badanku sakit
    sekali…!” keluhnya lirih, nyaris tanpa suara.
    Plakkk…!
    Norman terkejut. Tiba-tiba ia memukul kepalanya sendiri
    dengan keras. Ia merasa heran, mengapa tangan kanannya
    bergerak sendiri menampar wajahnya. Bahkan kini tangan.

    kanan itu mengejang-ngejang, jarinya membentuk cakar yang
    kokoh.
    “Oh, kenapa tanganku ini?!” Norman menjadi tegang
    dengan mata melotot, memandangi tangan kanannya. Hanya
    tangan kanannya.
    Tangan itu sukar dikendalikan. Norman ingin melemaskan
    otot-ototnya, namun tidak berhasil Bahkan sekarang tangan
    kanannya yang membentuk cakar itu bergerak ke atas.
    Mendekati wajahnya. Norman melawannya, berusaha
    mengendalikan gerakan itu, tetapi tidak berhasil. Tiba-tiba
    gerakan tangan itu begitu cepat menghampiri wajahnya dan
    mencakar wajah itu sendiri.
    “Aaaow…!” Norman berteriak, namun tidak begitu keras,
    karena hanya luapan rasa kagetnya saja. Ia masih
    memandang tangan kanannya dengan mendelik. Tangan itu
    terasa ingin bergerak lagi mencakarnya, dan Norman berusaha
    melawan kekuatan yang ada pada tangan tersebut.
    “Gilaaa…!”
    Norman berteriak keras dan semakin ketakutan oleh
    tangannya sendiri. Ia benar-benar panik dan tak mengerti,
    mengapa tangannya bergerak di luar kemauannya?Dari kamar Susilo, teriakan Norman itu terdengar tidak
    terlalu keras, tapi jelas. Susilo yang belum tertidur nyenyak itu
    menjadi curiga. Ia menelengkan telinganya, menyimak suara
    dari kamar Norman. Dahinya berkerut menandakan perasaan
    anehnya.
    “Sinting dia. Hampir pukul dua pagi masih teriak-teriak
    juga. Ada apa sih?” gerutu Susilo sendirian. Suara gaduh dari
    kamar Norman itu benar-benar mengganggunya, sampaisampai
    ia terpaksa bangkit dan turun dari ranjang.
    Untuk melangkah keluar dari kamar. Susilo ragu-ragu. Ia
    masih menyimak suara gaduh yang mirip seseorang sedang

    11
    bergelut mengalahkan sesuatu. Mulanya Susilo menyangka
    Norman sedang membawa perempuan masuk ke kamarnya,
    namun setelah makin disimak, ternyata suara erangan Norman
    itu tidak mirip seseorang sedang mencumbu kekasihnya. Tapi
    lebih mirip seseorang yang sedang bertengkar.
    Prang…!
    Suara di kamar Norman semakin jelas. Berisik dan gaduh.
    Entah apa yang telah jatuh dan pecah sehingga suaranya
    sempat membuat Susilo tergerak kaget.
    “Aneh. Kenapa aku jadi merinding?” gumam Susilo sambil
    melangkah mendekati pintu. Ia bermaksud mengingatkan
    Norman agar tidak menimbulkan suara gaduh yang
    mengganggu, tapi hatinya menjadi bimbang, dan ia berdesir
    merinding saat hendak membuka pintu.
    Brak…! Prang…!
    Sekali lagi kamar Norman bagai mengalami gempa.
    Agaknya sesuatu telah membuat kamar itu menjadi porakporanda.
    Susilo pun akhirnya keluar dari kamar. ,
    “Astaga…!” Susilo terpekik tertahan. Jantungnya berdesir
    ketika ia melihat sosok manusia berdiri di depan pintu
    kamarnya. Untung saja ia tidak menjerit, karena ia buru-buru
    menyadari bahwa sosok manusia itu adalah Denny.
    Sambil membungkus badannya dengan selimut, Denny
    memandang pintu kamar Norman dan melangkah mendekati
    Susilo. Ia bertanya pelan,
    “Ada apa dia? Ngamuk sama siapa sih?”
    “Mana aku tahu?” Susilo menjawab dengan bisikan.
    Yoppi keluar juga dari kamarnya yang berjarak dua kamar
    dari kamar Norman. Ia bergabung dengan Denny dan Susilo,
    di depan kamar Susilo.
    “Berkelahi dengan siapa si Norman?” tanya Yoppi. Ia
    mengerjap-ngerjapkan mata karena terbangun dari tidurnya.
    “Tadi ia menanyakan tentang perempuan,” kata Susilo. “Ia
    mengaku mendengar suara perempuan memanggilnya.”

    12
    “Perempuan?!” Alis Yoppi yang tebal hampir menyatu
    karena heran. Tangan Yoppi menggaruk-garuk pinggang
    sambil masih mengerjap-ngerjap pertanda masih mengantuk.
    “Wah, gawat. Jangan-jangan dia membawa masuk perek,”
    kata Denny. “Kalau ketahuan ibu kost, nggak enak kita!”
    “Atau, siapa tahu ia berkelahi dengan pencuri?” kata Yoppi.
    Kemudian, Susilo memberanikan diri mengetuk pintu kamar
    Norman. “Nor…?! Nor, ada apa sih? Sudah lewat malam ini,
    Nor!”
    Jawaban yang ada hanya suara Norman yang menggeramgeram
    seakan sedang mengalahkan sesuatu. Ketiga teman
    kost itu menjadi cemas dan makin curiga. Yang menambah
    mereka cemas ialah suara Norman dalam satu teriakan rasa
    sakit.
    “Aaaow…! Uh, uh… uh… hiaaah…!” suara itu sangat jelas.
    “Dobrak saja pintunya,” kata Denny kepada Susilo dan
    Yoppi yang berusaha menggedor pintu kamar Norman.
    “Sialan! Aku jadi merinding sendiri. Aku mencium bau
    wangi,” kata Denny.
    “Aku juga mencium bau parfum enak,” sambung Yoppi.
    “Kurasa benar. Norman memasukkan perek ke dalam
    kamarnya.”
    Itulah yang membuat mereka ragu-ragu. Mereka tidak
    tahu, bahwa di dalam kamar Norman sedang berusaha
    mengalahkan gerakan tangan kanannya yang sepertinya
    bernyawa sendiri itu. Tangan kanan itu sudah ditekan matimatian
    menggunakan tangan kiri, namun gerakannya masih
    belum bisa dikendalikan. Tangan itu seolah-olah sosok
    makhluk tersendiri yang bergerak memukuli wajah Norman
    sendiri. Bahkan, ketika tangan kanan itu bergerak sendiri
    mengambil gunting, Norman berusaha menariknya. Tapi,
    tenaga Norman yang telah digerakkan kekuatan penuh itu
    tidak mampu menarik tangan kanan yang hendak memegang
    gunting. Tangan tersebut seakan mempunyai kekuatan yang
    lebih besar dari seluruh kekuatan tenaga Norman sebenarnya.

    13
    Lalu, ketika gunting itu telah digenggam oleh tangan kanan
    secara kokoh, tiba-tiba gerakan tangan kanannya itu melesat
    ke arah dada. Norman menjerit kesakitan, karena ujung
    gunting itu menancap di bawah pangkal pundaknya. Darah
    mulai mengucur keluar dan Norman masih terengah-engah
    melawan kekuatan tangan kanannya. Tangan yang
    menggenggam gunting itu seakan ingin menusuk-nusuk tubuh
    Norman sendiri dengan tanpa mengenal ampun lagi. Norman
    berusaha menahan dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang
    dikerahkan. Ternyata hal itu tidak mampu. Gunting itu
    bergerak sendiri ke arah dada Norman. Pada waktu itu
    Norman tak ingin ditusuk oleh dirinya sendiri. Ia berusaha
    memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri, sampaisampai
    ia berguling-guling di lantai. Tetapi, pada satu detik
    tertentu, gunting itu berhasil mengenai perutnya. Jubbb…!
    “Aaaow…!” teriaknya. Rasa sakit membuat ia makin
    mendelik. Tapi beruntung sekali gunting itu tidak masuk
    terlalu dalam, hanya beberapa mili dari ujung gunting.
    Brakkk…! Pintu berhasil didobrak oleh Denny dan Susilo.
    Ketigji orang itu terbelalak tegang melihat Norman berusaha
    menikam tubuhnya dengan gunting. Mereka menyangka
    Norman hendak melakukan bunuh diri, sehingga Denny pun
    berteriak,
    “Jangan gila kau, Norman!”
    “Cegah dia! Dia mau bunuh diri!” seraya berkata begitu
    Yoppi mendorong kedua temannya, dan Susilo serta Denny
    segera berusaha menyergap Norman. Saat itu Norman
    menyadari kehadiran ketiga temannya, tetapi ia tidak bisa
    mengendalikan gerakan tangan kanannya.
    “Pergi! Jangan dekati aku, nanti kalian celaka…!” teriak
    Norman.
    Gunting itu sedang ditahan kuat-kuat, karena hendak
    menusuk ulu hatinya. Norman mengerahkan kekuatannya,
    otot lengannya tampak bertonjolan. Namun, bagi mereka yang
    tidak tahu, Norman disangka sedang ragu-ragu untuk
    menusukkan gunting ke dalam tubuhnya.

    14
    “Lepaskan gunting itu! Lepaskan!” teriak Denny. “Jangan
    picik kau, Norman…!”
    Denny berusaha merebut gunting di tangan kanan Norman,
    tetapi baru saja mendekat, tiba-tiba tangan kanan itu bergerak
    di luar kontrol kesadaran Norman. Gunting itu mengibas cepat
    dan mengenai lengan Denny.
    “Aaaow…!” pekik Denny kesakitan.
    “Menjauh! Kalian menjauh dari aku. Ohw… aku tidak bisa
    mengendalikan tangan ini!” teriak Norman sambil berusaha
    mengekang gerakan tangan kanannya.
    “Sergap dari belakang!” teriak Yoppi dalam kepanikan.
    Maka, Susilo pun berusaha menyergap Norman dari
    belakang. Tetapi, sebelum Susilo berhasil mendekap tubuh
    Norman, tubuh itu berputar terbawa gerakan tangan
    kanannya. Gunting terarah lurus ke depan, sementara tangan
    kiri Norman masih memegangi tangan kanannya untuk
    menahan gerakan misterius itu.
    “Aaaow…! Kau melukaiku, Nor…!” teriak Susilo yang
    berhasil tergores dadanya oleh kibasan gunting tajam itu.
    “Aku tidak bisa menahan gerakan tanganku! Oh…. Tolong!
    Lekas tolong akuuu…!”
    Norman mendelik-delik dengan mengerang mengerahkan
    tenaga untuk menahan diri. Ia jatuh berlutut karena berusaha
    semaksimal mungkin menahan gerakan tangan kanannya yang
    kini kembali mengacungkan gunting ke arah dadanya.
    “Pukul dia biar pingsan!” teriak Yoppi, namun ia sendiri tak
    berani maju setelah melihat Susilo dan Denny berdarah karena
    terkena gunting tersebut.
    “Dia kemasukan setan!” pekik Denny yang berlari ke arah
    pintu.
    “Tolong…! Aaaoh… tolong aku… hiaaah…!” Norman
    berusaha habis-habisan menahan gerakan tangan kanannya.
    Dan, tiba-tiba ia menjerit tertahan, “Aaahg…!”
    “Normaaan…!” teriak Susilo di puncak kepanikan.
    Norman membelalakkan mata dalam keadaan berdiri
    dengan lutut menghadap ke arah ketiga temannya. Tubuhnya

    15
    menjadi kejang sesaat, karena waktu itu gunting telah berhasil
    menghunjam dada, menembus sampai ke bagian pangkalnya,
    tepat mengenai jantungnya. Darah pun menyembur ke manamana.
    Wajahnya yang mendelik dan kaku itu terkena percikan
    darah sendiri hingga tampak mengerikan.
    Denny diam tak bergerak. Shock. Susilo berteriak-teriak tak
    karuan dengan mata berkaca-kaca, tak tega menyaksikan
    keadaan Norman. Sementara itu, Yoppi berlari dengan panik
    menggedor setiap pintu kamar sambil berteriak-teriak
    mengagetkan mereka yang sedang tertidur nyenyak.
    “Norman bunuh diri…! Norman mati bunuh diri…!” seru
    Yoppi dengan suara tak tanggung-tanggung lagi kerasnya.
    Perlahan-lahan tubuh Norman limbung. Tangan kanannya
    masih memegangi gunting yang menikam jantungnya sampai
    ke bagian pangkal. Kemudian, tangan kanan itu mulai
    melemas bersama gerakan limbung tubuh Norman. Lalu, ia
    pun tergeletak di lantai yang banjir karena darah. Matanya
    masih mendelik ketika ia menghembuskan napas terakhir di
    depan Denny. Semakin shock Denny menyaksikan kengerian
    itu, semakin pucat sekujur tubuhnya. Ketika teman-teman satu
    pondokan menghambur ke kamar Norman, Denny jatuh
    terkulai tak sadarkan diri.
    Lalu, menyebarkan berita tentang kematian Norman.
    Semua mulut mengatakan, Norman mati bunuh diri. Hamsad,
    sebagai teman dekat Norman yang pernah tinggal sekamar
    dengan Norman, merasa tak yakin jika Norman sampai bunuh
    diri. Dalam rona kesedihan yang dalam, Hamsad menjelaskan
    kepada mereka,
    “Tiga bulan aku pernah tinggal sekamar dengannya, dan
    aku tahu kekerasan hatinya Norman bukan pemuda cengeng.
    Norman cukup tangguh dalam menghadapi kesulitan apa pun.
    Tak mungkin rasanya jika ia mati bunuh diri.”
    “Tapi, aku melihat sendiri saat ia menikamkan gunting itu
    ke arah dadanya,” kata Yoppi meyakinkan.

    16
    Hamsad menghempaskan napas dukanya. Kemudian, ia
    berkata dengan pelan, “Pasti ada sesuatu yang tak beres pada
    dirinya.”
    Tiga hari setelah jenazah Norman dimakamkan di kota
    asalnya, para penghuni pondokan itu masih ramai
    membicarakan tentang kematian Norman. Salah satu di
    antaranya ada yang berpendapat, Norman melakukan hal itu
    karena ada masalah dengan Arni.
    “Mungkin ia takut menghadapi Arni. Mungkin Arni hamil
    dengannya,” tutur Bahtiar kepada teman-temannya yang
    meriung di depan kamar Yoppi. Saat itu, Hamsad juga ada di
    situ dan menyimak beberapa kemungkinan dari mereka.
    “Aku juga punya praduga begitu,” kata Denny. “Tetapi, aku
    telah menghubungi Arni secara pribadi, dan menanyakan hal
    itu.”
    “Lalu, apa kata Arni?” tanya Yoppi.
    “Dia mengaku belum pernah dijamah Norman. Dan,
    memang kenyataannya mereka baru taraf saling menaksir
    saja. Belum berpacaran mutlak, kan?”
    Yang lainnya manggut-manggut. Mereka memang tahu,
    bahwa Norman sedang naksir Arni, mahasiswi seni tari itu.
    Mereka juga tahu, bahwa Arni sedang mempertimbangkan
    untuk menerima kehadiran Norman. Maka, mereka pun
    sepakat, bahwa praduga tentang kehamilan Arni adalah tidak
    benar.
    Susilo yang sejak kematian Norman menjadi orang bego.
    banyak melamun, sering terbengong-bengong di depan
    kamarnya, kali ini ia mulai ikut bicara.
    “Beberapa menit sebelum almarhum meninggal,” kata
    Susilo. “Ia sempat keluar dari kamar. Waktu itu, aku habis dari
    kamar mandi. Almarhum menanyakan tentang suara
    perempuan.”
    Semua mata tertuju pada Susilo. Bahtiar bertanya pelan
    ketika Susilo mengatur pernapasannya. “Suara perempuan
    bagaimana?”

    17
    “Almarhum Norman mendengar suara perempuan
    memanggil-manggilnya. Dan, mencari keluar kamar, lalu
    berpapasan denganku.”
    “Kau sendiri mendengar suara perempuan itu?” tanya Ade,
    yang kamarnya dekat kamar mandi.
    “Tidak,” jawab Susilo sambil menggeleng. “Aku tidak
    mendengar suara apa-apa. Tetapi, sebelum kudengar suara
    gaduh dari kamar Norman, aku sempat mendengar Norman
    seperti bicara dengan seorang perempuan. Aku mendengar ia
    menyebut namanya.”
    “Kau masih ingat nama yang disebutkan Norman?” tanya
    Yoppi.
    Susilo mengangguk dalam tatapan mata menerawang. Lalu,
    ia berkata pelan, “Kismi…!”
    Hanya Hamsad yang terperanjat ketika itu. Yang lain masih
    tertegun tak mengerti maksudnya. Tetapi, Hamsad yang sejak
    tadi menyimak pembicaraan dan pendapat dari mereka, kali ini
    bagai ada sesuatu yang menusuk punggungnya, hingga ia
    menegakkan badan.
    “Kismi…?!” tanyanya kepada Susilo yang tertegun
    dibungkus duka.
    “Ya, Kismi…! Kupikir…, Norman menyuruh perempuan
    menciumnya. Tetapi, setelah kupikir-pikir, ternyata dia tidak
    menyuruh perempuan menciumnya, melainkan menyebutkan
    nama perempuan itu. Kismi.”
    “Kau yakin begitu?” desak Denny.
    Susilo mengangguk. “Ada rangkaian kata lain ketika ia
    mengatakan Kismi. “Sebentar, Kis…? Itu katanya. Setelah itu,
    ia membuka pintu, dan memanggil nama Kismi, sepertinya
    mencari-cari perempuan itu.”
    “Ah, mungkin kau memang salah anggapan,” ujar Bahtiar
    menyangsikan.
    Hamsad buru-buru menyahut, “Tidak! Sus benar. Norman
    memang pernah bercerita padaku tentang Kismi, perempuan
    yang dikenalnya di sebuah motel.”

    18
    “Ooo… jadi, Norman punya cewek baru yang namanya
    Kismi? Begitu?” ujar Denny.
    Kemudian, Hamsad menceritakan apa yang pernah
    diceritakan Norman kepadanya. Ketika itu, mencuatlah
    praduga baru dari mulut Bahtiar,
    “Kalau begitu, dia punya problem dengan Kismi, sehingga
    ia nekat bunuh diri!”
    Sejenak suasana menjadi hening, karena masing-masing
    menekuni analisa dalam benaknya. Beberapa saat setelah
    keheningan itu mencekam, Denny berkata dengan nada
    sedikit menggeram,
    “Aku akan menemui Kismi! Aku merasa ditantang untuk
    mengejar misteri kematian Norman, karena teman kita yang
    malang itu sempat melukaiku dan menikam dirinya sendiri di
    depanku, di depan kau, dan kau juga Yoppi,” seraya Denny
    menuding Susilo dan Yoppi.
    “Kalau ingin mencari dia, datanglah ke motel itu. Kurasa
    bagian front-office pasti mengenal nama Kismi!” ujar Hamsad.
    “Hostes itu menurut Norman termasuk hostes eksklusif, yang
    mungkin biaya pemakaian semalam sama besarnya dengan
    uang semestermu!”
    Denny merasa berhutang budi kepada Norman, karena dulu
    ketika ia sakit, membutuhkan sumbangan darah, Norman-lah
    yang mendonorkan darahnya secara sukarela. Dan, kali ini,
    Denny ingin melacak penyebab kematian Norman yang
    menurutnya punya keganjilan semu. Denny yakin, pasti ada
    tabir misteri di balik kematian Norman. Barangkali juga ada
    hubungannya dengan perempuan malam yang bernama Kismi.
    Atau setidaknya Denny bisa memperoleh informasi dari Kismi
    tentang benar dan tidaknya pada malam itu Kismi datang ke
    pondokan mereka.
    Uang bukan masalah bagi Denny, karena ia memang
    berlimpah uang. Ayahnya direktur sebuah bank ternama di
    ibukota, dan Denny sendiri punya simpanan di beberapa bank.
    Sebenarnya, ia bisa hidup dari uang simpanannya itu. Tak
    perlu kuliah, ia sudah bisa memperoleh pekerjaan. Tetapi,

    19
    ayahnya punya gengsi tinggi, sehingga anaknya dipaksa harus
    memperoleh gelar sarjana penuh yang kelak akan dikirim ke
    Amerika untuk memperdalam study bidangnya. Kalau saja
    Denny mau, tahun-tahun kemarin ia sudah kuliah di Amerika.
    Tapi, Denny belum punya niat untuk ke sana, karena ia
    merasa malu jika ke Amerika hanya modal ijazah SMA saja. Ia
    harus punya modal khusus sebelum ia meraih gelar doktoral di
    Amerika.
    Denny datang ke motel itu bersama Hamsad, sebab
    Hamsad punya dendam tersendiri atas ke-matian Norman,
    sebagai teman dekatnya yang sudah dianggap saudara
    sendiri. Mereka berdua berlagak menjadi tamu yang ingin
    menyewa dua tempat di motel itu.
    “Hanya tinggal satu kamar, Bung,” kata bagian front-office
    kepada Denny. “Maklum, malam minggu begini, biasanya
    harus bocking dulu sehari atau dua hari sebelumnya.”
    Denny memandang Hamsad, seakan meminta
    pertimbangan. Lalu, Hamsad berkata kepada petugas
    tersebut,
    “Tinggal satu, tapi yang sebelah mana, Bung?”
    “Agak jauh dari pantai. Hm… ini, di kamar Melati.” Petugas
    itu menunjuk pada denah dalam brosur.
    “Bagaimana dengan kamar sampingnya? Motel Seruni ini?”
    Sejenak tak ada jawaban dari petugas tersebut. Denny
    menimpali pembicaraan itu,
    “Apakah Motel Seruni juga sudah di-bocking orang?”
    “Belum. Tapi…,” petugas front-office sedikit ragu. Tapi,
    karena Denny memandangnya dengan kerutan dahi pertanda
    merasa aneh, maka petugas itu pun melanjutkan katakatanya,
    “Kamar itu jarang ada yang mau memakainya.”
    “Kenapa?” desak Hamsad.
    “Tempatnya kurang nyaman. AC-nya sering macet, dan
    saluran airnya kadang tersumbat. Hm… belakangan ini
    memang tidak kami tawarkan kepada tamu, sebab kami belum
    sempat membetulkan beberapa kerusakannya. Tapi, kalau

    20
    Bung mau, bisa saja. Di sana juga ada kipas angin, kalaukalau
    AC tidak berfungsi.”
    “Oke!” jawab Hamsad tanpa meminta persetujuan Denny.
    Tapi, kami perlu teman. Kalau ada… tolong panggilkan yang
    bernama Kismi.”
    “Kismi…?!” petugas itu bingung. “Di sini tidak ada yang
    bernama Kismi. Mungkin Bung salah nama.”
    ***
    Bab 3
    Jawaban petugas dianggap hal yang wajar. Pada umumnya
    mereka saling berlagak tidak mengenal perempuan panggilan,
    tidak menyediakan hostes, tidak menyediakan wanita
    penghibur, dan semua itu hanya kamuflase saja. Den-ny dan
    Hamsad sudah tidak heran lagi. Mereka tetap menempati
    kamar-kamar yang telah dipesan. Kamar-kamar itu merupakan
    sebuah bangunan tersendiri, berbentuk semacam rumahrumah
    penduduk yang satu dengan yang lainnya terpisah.
    Bangunan-bangunan tersebut tidak memakai nomor,
    melainkan memakai nama bunga. Dalam setiap rumah motel,
    terisi beberapa perabot rumah tangga, terdiri dari satu ruang
    tamu, satu ruang tidur berukuran besar, dapur, dan kamar
    mandi.
    “Kau di kamair mana? Melati atau Seruni?” tanya Hamsad
    kepada Denny.
    “Aku di Seruni saja. Tapi, bagaimana dengan Kismi? Kalau
    mereka tidak bisa menyediakan perempuan itu, kita sia-sia
    bermalam di sini!”
    “Bisa kita atur lewat telepon, nanti. Biar aku yang bicara.”
    “Kau sendiri mau pakai dia?” tanya Denny.
    “Pakai dan tidak itu urusan nanti. Tapi, kalau Kismi sudah
    datang, segera kau telepon aku melalui kamarmu. Kita akan
    bicara bertiga, siapa tahu bisa menyimpulkan sesuatu yang
    berguna. Aku sendiri tidak perlu perempuan lain. Aku hanya

    21
    ingin bertemu dengan Kismi, ingin melihat seperti apa
    perempuan itu.”
    Mereka masuk ke motel itu memang sudah malam. Pukul 8
    mereka memesan kamar tersebut. Letaknya berseberangan.
    Masing-masing mempunyai bangku taman di bawah payung
    berwarna-warni.
    Telepon di kamar Denny berbunyi. Hamsad yang
    menghubunginya. Kata Hamsad kepada Denny,
    “Aku sudah paksa petugas itu untuk mengirimkan
    penghibur hangat yang bernama Kismi. Kukirimkan ke
    kamarmu. Den.”
    “Apa katanya, Ham?”
    “Yah… mereka mau usahakan. Tapi, mulanya mereka
    ngotot dan tetap tidak mengaku mempunyai ‘anak buah’ yang
    bernama Kismi. Lalu. kubujuk mereka, kucoba untuk
    mencarinya, dan akhirnya mereka suruh kita menunggu, ha ha
    ha…,” Hamsad tertawa.
    “Agaknya Kismi perempuan yang cukup eksklusif,” kata
    Denny dalam tersenyum. “Mungkin tidak semua orang bisa
    menemui Kismi, Ham. Kurasa tarifnya jauh di atas yang lain.”
    ‘Itu kan bisa diatur,” kata Hamsad dalam nada kelakar.
    Suara debur ombak terdengar, karena memang motel itu
    dibangun di kawasan pantai. Adakalanya hembusan angin kian
    bergemuruh, seakan menyatu dengan deru ombak memecah
    karang.
    Di dalam kamarnya, Denny mulai gelisah. Sudah pukul 11
    malam, tak ada perempuan yang datang. Hamsad sempat
    mendatangi kamar Denny, karena berulangkah ia menelepon
    Denny dan menanyakan perempuan pesanannya, Denny
    selalu menjawab, “Belum datang.” Mungkin karena rasa
    penasaran yang menggelitik, maka Hamsad pun datang ke
    kamar Denny itu. Dan, ia membuktikan sendiri bahwa di
    kamar itu Denny sendirian, tanpa teman wanita yang
    diharapkan.
    “Aku sudah menghubungi resepsionis, dan menurutnya
    Kismi sedang dijemput,” kata Hamsad. “Bersabarlah.”

    22
    “Yang harus bersabar aku atau kamu? Kulihat kau yang
    kelihatan nggak sabar lagi, Ham,” kata Denny seraya tertawa
    pelan.
    Hamsad kembali ke kamarnya: kamar Melati. Rupanya ada
    satu keisengan yang ia lakukan di kamarnya itu. Tak jauh dari
    kamarnya, terdapat kamar motel lain. Kamar Mawar. Di kamar
    itu, agaknya penghuninya tidak menyadari kalau lampu terang
    di dalamnya menampakkan sebentuk bayangan dari luar
    kamar yang gelap. Dari jendela dapur, Hamsad
    memperhatikan ruang tidur yang terang di kamar Mawar itu.
    Karena di sana tampak gerakan-gerakan dua orang yang
    bercumbu dalam bentuk bayangan. Dari kamar Denny,
    bayangan itu tak akan terlihat. Tapi, dari kamar Hamsad
    bayangan dua makhluk bercumbu di atas ranjang itu terlihat
    jelas.
    Denny sendiri asyik menikmati acara TV Malaysia yang
    menyajikan film kesukaannya. Ia tidak begitu menghiraukan
    apakah wanita pesanan itu akan hadir atau tidak. Ia juga tidak
    bertanya-tanya dalam hati: mengapa sampai larut malam
    perempuan itu belum muncul? Yang ada dalam pikiran Denny
    saat itu adalah rangkaian cerita film detektif yang menjadi
    kegemarannya.
    Pukul 12 malam lewat dua menit, tiba-tiba TV menjadi
    buram. Seolah-olah salurannya terputus. Layar TV
    menampakkan bintik-bintik seperti semut sedang kenduri.
    Saat itu, barulah Denny menyadari tujuan semula. Ia
    melirik arlojinya dan mendesah. TV dimatikan, ia berbaring
    sambil mulai menerawang pada masa-masa kematian Nomian.
    Bayangan tubuh Norman yang bermandikan darah
    terpampang kembali dalam benaknya. Bergidik badan Denny
    mengingat kengerian itu. Meletup emosinya, ingin mengetahui
    penyebab kematian Norman.
    Debur ombak terdengar samar-samar di sela siulan angin
    pantai. Kali ini, hembusan angin itu terasa cukup aneh. Denny
    sesekali berkerut dahi, karena suara angin yang berhembus itu
    menyerupai lolong serigala menelan malam. Hati Denny

    23
    menjadi gelisah, ada debaran-debaran aneh yang ia rasakan
    ganjil. Tanpa ada sesuatu ia bisa mengalami debaran, dan ini
    adalah hal yang aneh baginya. “Ada apa?” batinnya pun
    bertanya demikian.
    Gagang telepon diangkat. Denny bermaksud menghubungi
    Hamsad, karena makin lama ia merasa semakin merinding dan
    berperasaan resah. Namun, baru saja ia hendak menekan
    nomor telepon kamar Melati, tahu-tahu terdengar suara
    ketukan pintu yang lembut.
    Denny berhenti spontan dari segala geraknya, ia ingin
    menyimak suara ketukan pintu itu. Ternyata, untuk kedua
    kalinya pintu itu terdengar lagi diketuk. Lembut. Sopan. Pasti
    bukan Hamsad, pikir Denny.
    Ia bergegas turun dari ranjang berkasur empuk dan
    berseprei halus lembut. Ia merapikan rambutnya sesaat,
    kemudian segera membukakan pintu.
    “Selamat malam,” sapa seorang perempuan yang memiliki
    sepasang mata indah dan bibir yang sensual.
    “Malam…,” jawab Denny sambil merasakan debar-debar di
    dadanya. Ia sedikit gugup, karena baru kali ini ia melihat
    perempuan cantik yang memiliki nilai kecantikan luar biasa.
    Sungguh mengagumkan dan menggairahkan.
    “Anda yang bernama Kismi?”
    “Benar. Anda yang membutuhkan saya, bukan?” kata Kismi
    dengan suara serak-serak manja. Lalu, ia melontarkan tawa
    yang pelan namun memanjang.
    “Kupikir kau tak akan datang. Kupikir malam ini kau ada
    kencan dengan boss lain,” kata Denny memancing diplomasi.
    “Tidak semua orang bisa kencan denganku. O, ya… siapa
    namamu?”
    “Denny.”
    Kismi tertawa lagi. Pelan dan pendek. Denny berkerut dahi
    sedikit dan bertanya, “Kenapa tertawa?”
    “Namamu seperti nama bekas cowokku yang dulu. Tapi,
    wajahnya jauh lebih tampan wajahmu dan aku yakin hatinya

    24
    lebih lembut darimu,” kata Kismi seraya meletakkan tas kecil
    yang tadi tergantung di pundaknya.
    “Kau mau minum apa? Bir?” tanya Denny seraya membuka
    kulkas yang telah penuh dengan-minuman dan buah-buahan.
    “Aku biasa air putih, yang lainnya tidak,” kata Kismi.
    Kemudian, Denny mengambilkan air putih untuk Kismi.
    Malam melantarkan keheningan yang romantis. Tetapi, bagi
    Denny, malam itu bagai malam yang penuh teka-teki indah.
    Malam itu terasa menghadirkan sesuatu yang meresahkan dan
    membuatnya merinding, tetapi penuh dengan buaian mesra
    dari sang sepi. Tak henti-hentinya Denny menatap Kismi yang
    memang mempunyai nilai kecantikan dan lekuk tubuh
    sintalnya yang eksklusif. Ia mirip seorang ratu. Hadir dengan
    mengenakan gaun longdres putih berenda-renda pada bagian
    perut dan lehernya. Bau parfumnya sangat halus dan lembut.
    Enak dihirup beberapa saat lamanya. Rambutnya yang
    disanggul, sehingga tampak lehernya yang jenjang itu berkulit
    kuning langsat, bagai menantang untuk dikecup. Bibirnya yang
    sensual itu pun sesekali membuat hati Denny deg-degan
    karena menahan gejolak nalurinya yang masih ingin
    dikendalikan.
    Longdres putih itu terbuat dari bahan semacam sutra tipis,
    sehingga begitu membayang jelas lekuk tubuhnya yang sexy
    di balik gaun itu. Berulangkah Denny menelan air liurnya
    sendiri. Ia lebih suka bungkam sambil menikmati kecantikan
    yang luar biasa itu ketimbang harus bicara panjang lebar.
    “Mengapa diam saja?” tegur Kismi yang sudah duduk di
    pembaringan, sementara Denny duduk di meubel dekat
    ranjang, menatap Kismi tak berkedip. “Untuk apa kau kemari
    kalau hanya memandangiku? Kau rugi waktu lho.”
    “Jadi…. Jadi apa yang harus kuperbuat, menurutmu?”
    Denny masih sedikit kikuk dan menggeragap karena ia bagai
    dibuai oleh keindahan yang tiada duanya.
    “Apa perlumu kemari?” tanya Kismi. Denny jadi bingung
    menjawabnya. Sepertinya ada suatu kekuatan magis yang
    membuat Denny lupa segala-galanya dan hanya memikirkan

    25
    keagungan seraut wajah cantik yang siap menyerahkan diri
    padanya.
    “Kau baru pertamakan kemari, bukan?” Kismi mendekat
    sambil menyentil hidung Denny. Pemuda berwajah halus dan
    bersih itu hanya mengangguk. Kismi menyambung lagi,
    “Kau bisa penasaran dan ketagihan lho kalau bermalam di
    sini bersamaku.”
    “Apakah banyak yang… yang seperti itu? ‘Hem…
    maksudku, apakah banyak yang ketagihan padamu?”
    Kismi mengangguk, lalu berkata, “Tapi tidak semua
    kulayani. Aku pilih-pilih jika harus mengulang kemesraan
    dengan mereka. Memang ada yang kulayani lagi, tetapi hanya
    satu-dua.”
    “Termasuk aku?”
    “Mana aku tahu. Kita belum saling menukar kenikmatan,
    bukan?”
    “Kau ingin tahu kehebatanku?” tantang Denny sok berani,
    walau sesekali ini mengusap lengannya karena merinding.
    “Apa kau lelaki yang hebat?” Kismi tak kalah
    menantangnya.
    “Kau ingin buktikan?”
    “Tentu. Hanya pada lelaki yang hebat bercinta aku akan
    tunduk kepadanya. Kalau kau berhasil menundukkan aku,
    maka kau akan hidup berlimpah kemegahan dan
    kebahagiaan.”
    “Kenapa kau berkata begitu? Apakah kau sedang memburu
    pasangan yang sesuai dengan idamanmu?”
    “Tidak terlalu memburu, tapi kalau memang ada yang bisa
    berkenan di hatiku, barangkali dialah yang kupilih untuk
    selamanya…,” kata Kismi sambil merayapkan jari telunjuknya
    ke dagu Denny, kemudian merayap ke bibir Denny, dan Denny
    menyambutnya dengan ujung lidahnya.
    “Oh…,” Kismi mendesah dengan mata mulai membeliak
    sayu. Denny tergugah, dan semakin terbakar naluri
    kejantanannya. Ia mulai memberanikan diri meraba pipi Kismi

    26
    sementara bibir dan lidahnya sibuk menghisap-hisap jarijemari
    Kismi yang sengaja bermain di mulut Denny-
    Tangan Kismi yang kiri berusaha melepas tali gaun yang
    terikat di pundak kanan-kirinya. Simpul tali itu hanya
    ditariknya satu kali, lalu gaun terlepas sebelah. Yang satu
    ditariknya kembali simpul talinya, dan kini gaun lembut itu
    terlepas dari tubuh Kismi. Ia ternyata tidak mengenakan bra di
    balik gaun. Hanya sebentang kepolosan yang halus mulus
    yang ada di balik gaun. Dan kepolosan itu sangat
    menghentak-hentakkan jantung Denny karena kepadatan
    dadanya yang menonjol dalam keindahan yang ideal. Padat,
    besar dan menantang.
    Denny merayapkan tangannya ke leher, terus ke bawah.
    Kepala Kismi terdongak ke atas sambil mendesiskan erangan
    serak-serak manja. Matanya membeliak sayu. Ia masih
    berlutut di hadapan Denny yang duduk di kursi empuk itu.
    Tangan kiri Kismi segera melepas sanggulnya dengan gerakan
    tangan gemulai, maka tergerailah rambut hitam yang punya
    kelembutan bagai benang-benang sutra. Rambut itu ternyata
    sepanjang punggung dan berbentuk lurus tanpa I gelombang.
    Gerakan kepalanya yang mendongak makin ke belakang
    seakan memberi kesempatan Denny untuk mengecup
    lehernya. Denny tak sabar, kemudian ia melepaskan tangan
    kanan Kismi yang masih bermain di mulutnya. Kini bibir dan
    mulut Denny mulai merapat ke leher Kismi, membuat suatu
    kecupan kecil yang membuat Kismi semakin mengerang
    panjang.
    “Ouuuh…! Dennyyy…!”
    Ucapan kata dalam bentuk desah serak memanja itu begitu
    mempengaruhi jiwa Denny. Ia makin dibuai oleh suara yang
    memancing api birahi itu. Denny pun akhirnya memburu tanpa
    bisa menahan diri. Tak ada niat untuk menunda sedikit pun.
    Tak ada hasrat untuk berucap kata apa pun. Denny telah
    mabuk dan lupa segala-galanya.
    Sementara itu, tangan Kismi pun tak mau tinggal diam. Ia
    pandai menyusupkan jemarinya ke lekuk-lekuk tubuh yang

    27
    peka dari seorang lelaki. Ia memang jago. Hebat. Ia memang
    berpengalaman, jauh di atas segala pengalaman Denny.
    “Ooouh… kau terbakar, Sayang…,” bisik Kismi sambil
    menggeliat, bergerak maju bagai menerkam Denny. Pada
    waktu itu, tangan Kismi sudah berhasil melepas kancing baju
    Denny. Bahkan bagian atas tubuh Denny itu sudah tidak
    dibalut selembar benang pun. Denny tidak menyadari keadaan
    dirinya yang sudah demikian. Bahkan ia tidak tahu kalau
    celananya telah terlempar di lantai tak jauh dari kursi empuk
    itu.

    Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam

    Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam

    Satu hal yang disadari Denny adalah keadaan Kismi yang
    polos itu. Keadaan yang terbuka tanpa penghalang seujung
    rambut pun itu kini berada di sandaran kursi. Entah
    bagaimana caranya, Denny tak sadar, tahu-tahu Kismi duduk
    pada bagian atas dari sandaran punggung kursi. Ia duduk
    bagai seorang ratu yang siap memerintah dari singgasananya.
    Kismi mengerang tiada putus-putusnya sambil meremasremas
    kepala Denny yang ada di bawah tempat duduknya. Ia
    biarkan kedua pahanya tersentuh lengan dan ujung pundak
    Denny, karena pada saat itu ia merasakan satu sentuhan
    mesra yang nikmat dan sesekali membuat ia makin kuat
    meremas rambut-rambut di kepala Denny.
    Pekikan-pekikannya menandakan ia telah dikuasai oleh
    gairah birahi yang sesekali mengejutkan dirinya. Dan, tiap
    kejutan, ia memekik keras sambil mengejangkan otot. Denny
    bagai dipaksa tetap mencumbu di sela kepekaannya yang
    utama, dan agaknya itu sangat memabukkan dirinya. Pekikan
    dan erangannya kini makin berubah seperti tangis. Bukan
    tangis kesakitan, melainkan tangis kebahagiaan yang sering
    membuatnya gemas dan geregetan.
    Tak sabar Denny menghadapi kegemasan Kismi, karena ia
    sendiri ingin memperoleh masa-masa kegemasan yang
    melambung jiwanya. Maka, segera Denny mengangkat tubuh
    mulus berkeringat harum itu sambil mulutnya tetap merapat di
    bibir Kismi. Tubuh mulus yang mendebarkan hati itu
    diletakkan di atas ranjang, sehingga terlihat perempuan itu

    28
    lebih leluasa bergerak menggeliat, dan Denny sendiri lebih
    bebas menikmatinya.
    Deburan ombak di pantai terdengar bergemuruh bercampur
    deru angin. Gemuruhnya ombak itu, masih belum sebanding
    dengan gemuruhnya darah Denny yang dibuai kehangatan
    cinta Kismi. Perempuan itu lebih galak dari singa, dan lebih
    buas dari beruang. Tak segan-segan ia menjadi juru mudi
    dalam ‘pelayaran’ itu. Tak ada lelahnya ia menghantar Denny
    ke puncak kebahagiaan yang diharapkan setiap lelaki. Bahkan,
    Denny sempat memekik keras dalam suara tertahan ketika
    Kismi sengaja memancing Denny untuk berlayar lagi. dan
    berlayar terus. Puncak-puncak kebahagiaan Denny telah
    dicapai beberapa kali, tetapi Kismi masih ingin memacu diri
    untuk makin menggila, meremat-re-mat tubuh Denny, mencari
    puncaknya sendiri.
    “Aku lelah, Kismi… oh… berhentilah…!” Denny terengahengah
    dengan bermandikan keringat. Tetapi, Kismi tak mau
    berhenti. Masih saja ia mengerang, mengeluh, mendesah dan
    mendesis di sela setiap gerakannya yang luar biasa hebatnya.
    “Kismi… oh… kita istirahat dulu. Sayang! Aku capek…!”
    Kismi bahkan mengerang berkepanjangan sambil terus
    bergerak seirama dengan kemauan hatinya. Denny hanya
    terengah-engah dan sudah mengalami kesulitan menuju
    ketinggian puncak asmaranya. Akhirnya ia biarkan Kismi
    berlaga seorang diri. Ia biarkan Kismi berbuat apa maunya,
    dan Kismi pun merasa diberi kesempatan. Ia jadi lebih
    menggebu lagi.
    Denny mulai merasa pusing. Matanya berkunang-kunang.
    Napasnya sesak, dan perutnya terasa mual. Namun demikian,
    Kismi masih tetap mendayung sampannya menuju samudera
    kebahagiaan, sehingga mau tak mau Denny pun memekik lagi
    karena tiba di puncak khayalan mesranya. Dalam hati, Denny
    hanya bertanya-tanya dengan lemas, kapan ‘pelayaran’ itu
    akan usai? Haruskah ia menolak dengan kasar, atau
    membiarkan ia jatuh pingsan ditimpa sejuta kenikmatan?
    ***

    29
    Bab 4
    Hamsad menggeragap ketika menyadari dirinya tertidur di
    kursi dapur. Ternyata saat itu matahari telah memancarkan
    sinar paginya yang menghangat di ruang dapur.
    “Astaga…?! Sudah pagi?!” Hamsad segera bergegas ke
    meja di kamar tidur, ia mengambil arlojinya di sana.
    “Busyet! Pukul 7 kurang 10 menit? Apa-apa-an ini?
    Bagaimana dengan Denny?!’
    Tanpa cuci muka. tanpa menyisir rambutnya, Hamsad
    langsung keluar dari kamarnya, menyeberang jalan kecil, dan
    segera mengetuk pintu kamar Denny,
    Beberapa kali pintu kamar itu diketuknya, tapi tidak ada
    jawaban. “Ada apa Denny? Kenapa tidak segera membukakan
    pintu? Apakah ia tertidur seperti aku? Ah.seharusnya tadi
    kutelepon saja dari kamar. Pasti ia terbangun, karena meja
    telepon dekat sekali dengan ranjang.”
    Baru saja Hamsad ingin kembali ke kamarnya untuk
    menelepon Denny. Tiba-tiba pintu kamar itu terdengar dibuka
    seseorang dari dalam. Denny muncul dengan mata menyipit
    dan ta-ngan melintang ke atas, ia menahan sorot matahari
    yang mengenai matanya.
    “Brengsek lu” gerutu Denny sambil bersugut-sungut. Ia
    masuk, membiarkan Hamsad terbengong. Kemudian Hamsad
    juga turut masuk dan mengikuti Denny. Denny
    menelentangkan tubuhnya di ranjang empuk dengan satu
    hempasan yang lemas.
    “Ya, Tuhan…! Mengapa kamu menjadi seperti mayat
    begini. Denny?” Hamsad memandang Denny tak berkedip,
    sedikit tegang. Denny meraih guling dan mendesah.
    “Kamar ini menjadi bau sperma! Brengsek’ Apa yang telah
    kau lakukan semalam. Denny? hei, ? apakah Kismi datang
    kemari?!”
    “Hem…” Denny hanya menggumam, membenarkan dugaan
    Hamsad

    30
    “Oh, dia benar-benar datang? Dan .. dan… kau bercinta
    dengannya?”
    ‘Semalam suntuk!” kata Denny seenaknya dengan mata
    menyipit sayu bagai masih mengantuk.
    “Kenapa kau tak menghubungi aku?!” protes Hamsad
    merasa dongkol.
    ”Tak sempat!”
    “Ah, kau konyol! Aku nggak suka dengan kekonyolan model
    begitu. Den! Kita kemari bukan mencari kenikmatan sepihak!
    Kita kemari untuk…!”
    ’Tidak sempat!” bentak Denny yang merasa dongkol juga
    Hamsad tidak melanjutkan omelannya, takut terjadi
    perselisihan tak sehat, la diam. Memandang keadilan
    sekeliling. Ia menggeleng-gelengkan kepala, merasa heran
    melihat ranjang berserakan, sprei dan selimut tebal seperti
    habis dipakai bertanding adu banteng. Kaos Denny masih
    tergeletak di lantai, dekat kursi empuk itu bersama celananya.
    Hanya celana dalam Denny yang kala itu dikenakan
    Sementara kasur yang acak-acakan itu terlihat banyak noda
    kelembapan yang mengeluarkan bau jorok. Hamsad terpaksa
    menyingkir, tak tahan menghadapi suasana seperti itu.
    Sebelum ia kembali ke kamarnya, ia mengingatkan Denny,
    ‘Kita check out pukul 12 siang ini lho! Jangan lebih’
    Denny hanya menggumam sambil tetap memejamkan
    mata, dan Hamsad pun segera meninggalkan kamar lembap
    ini. Dalam hatinya ia menggerutu dan menyesal setengah
    mati, karena ia tidak berhasil bertemu dengan perempuan
    yang bernama Kismi. Untuk menghalau kedongkolannya itu.
    Hamsad menetralisir diri dengan berkata dalam hati, “Ah. tapi
    Denny kan sudah bertemu dengan Kismi ini. Pasti Denny
    sudah bisa mengorek beberapa rahasia dari Kismi tentang
    Almarhum Norman Tak apalah! Yang penting Denny bisa
    menyimpulkan semua keterangan dari Kismi tentang Norman,”
    Pukul 10. menjelang pagi berakhir, Denny masih tertidur.
    Hamsad menyempatkan diri berjalan ke pantai. Sambil

    31
    melangkah menikmati pemandangan indah dan cuaca cerah.
    Hamsad bertanya-tanya dalam hati.
    “Tapi, mengapa wajah Denny begitu pucat. Persis dengan
    wajah sesosok mayat, la kelihatan lemas dan layu sekali.
    Apakah benar ia telah bercinta dengan Kismi semalaman
    suntuk? Separah itukah ia?”
    Pasir pantai yang putih dan lembut disusurinya. Banyak
    sepasang sejoli yang melangkah sambil bergandengan tangan
    banyak pasangan yang beda usia sangat menyolok. dan sudah
    tentu mereka bukan suami-istri Oom-oom sedang monikmati
    masa santainya bersama daun muda. Ataupun ‘daun muda’
    yang berhasil menggaet oom-oom untuk diperas dompetnya?
    Terkadang Hamsad merasa iri melihat mereka. Yang tua. bisa
    mendapatkan pasangan muda belia dan cantik. Yang beruban
    dan berwajah peot saja bisa memeluk gadis cantik
    menggiurkan, mengapa ia tidak bisa seperti mereka?
    Mungkinkah karena faktor ekonomi yang tidak sepadan
    dengan opa-opa pecandu daun muda itu?
    Dalam masa-masa merenungi kenyataan itu.
    Hamsad teringat kata-kata Almarhum Norman saat ia
    menceritakan tentang kehebatan Kismi.
    “Ia tidak pantas dipajang sebagai wanita penghibur. Kismi
    sungguh anggun. Mirip seorang ratu di zaman Romawi Kuno.
    Hidungnya mancung dan matanya bening, mempunyai
    ketajaman yang berwibawa, tapi enak dipandang. Kalau kau
    berjalan dengan Kismi menyusuri pantai, maka orang-orang
    yang saling mendekap pasangannya itu akan melepaskan
    pelukan mereka, dan mata oom-oom yang ada di sana pasti
    terarah kepada Kismi tanpa berkedip. Kismi mempunyai daya
    magnitisme yang membuat lelaki bisa lupa daratan maupun
    lautan…!”
    Hamsad tertawa sendiri teringat kata-kata Norman.
    Barangkali di pantai inilah yang dimaksud Norman. Di pantai
    itulah seharusnyu Hamsad menggandeng Kismi. agar semua
    mata lelaki akan membelalak ke arah Kismi, dan semua
    pelukan lelaki akan terlepas dari pasangannya. Jika benar

    32
    begitu, oh… alangkah istimewanya wanita yang bernama
    Kismi itu? Pantas rupanya jika petugas motel merahasiakan
    tentang Kismi, dan tidak sembaningau memberikan Kismi
    kepada tamunya. Rupanya Kismi adalah maskot bagi motel
    itu. Kismi adalah sang Primadona yang tidak sembarang lelaki
    boleh menyentuhnya. Mengenai harga keringatnya, sudah
    tentu jauh di atas harga wanita-wanita penghibur yang lain.
    Hamsad digelitik oleh rasa penasaran tentang Kismi. Ia
    bergegas kembali ke kamarnya dan membangunkan Denny
    lewat telepon, karena jam sudah menunjuk pukul 11 siang.
    Tetapi, sebelumnya ia sempat berpapasan dengan seorang
    lelaki separuh baya yang berkumis dan berbadan gemuk, tapi
    bukan gendut.
    “Pak Hasan!” sapa Hamsad. Lelaki itu berpaling ke arah
    Hamsad, lalu tersenyum kaget. Pak Hasan segera melepaskan
    tangannya yang sejak tadi menggandeng wanita bertubuh
    langsing yang berusia sebaya dengan Hamsad.
    “Hei. kau di sini juga. Ham?!” Pak Hasan segera berjabat
    tangan dengan Hamsad.
    “Biasa, Pak. Refresing…!” Hamsad tertawa seirama dengan
    tawa Pak Hasan.
    “Bersama siapa kau di sini. Ham? Maksudku, bukan teman
    cewek, tapi teman lelakimu, Hem… o. ya kau tentu bersama
    Norman, bukan?”
    Hamsad sedikit kikuk untuk menjawab, namun akhirnya ia
    berkata. “Apakah Pak Hasan belum mendengar kabar tentang
    Norman?”
    Lelaki separuh baya yang masih digelayuti perempuan
    muda itu berkerut dahi. mulai curiga.
    ”Ada apa dengan Norman? Aku baru saja kemarin sore
    pulang dari Bandung.”
    “Astaga,..! Kalau begitu, mungkin Pak Hasan belum
    mendengar kabar terakhir tentang Norman”
    “Maksudmu?”
    “Norman… hm… dia telah meninggal. Pak.”

    33
    “Hah…?!” Pak Hasan nyaris terpekik keras. matanya
    mendelik. Mulutnya ternganga kaku sejenak.
    “Dia… dia melakukan kebodohan. Pak.” tambah Hamsad
    dengan nada sendu.
    “Kebodohan?” ‘
    Ya. Dia… bunuh diri!’
    “Astaga…?” makin mendelik lagi Pak Hasan mendengar
    kata-kata itu. Wajahnya tampak tegang dan menjadi pias.
    “Apa masalahnya? Ada apa sih?! Mengapa dia sampai
    melakukan hal itu?r
    Secara singkat Hamsad menceritakan saat-saat Norman
    menikam dirinya dengan gunting dan tepat mengenai
    jantungnya. Keceriaan Pak Hasan kala itu benar-benar
    terganggu dan boleh dikatakan hilang seluruhnya, la menjadi
    murung, duduk di bangku plesteran dari batu berlapis traso. Ia
    kelihatan sedih .sekali.
    “Norman….” gumamnya. “Ah. gila! Padahal dia satusatunya
    penulis andalanku yang baru saja kemarin malam
    kuusulkan oleh perusahaan yang baru untuk mengontrak
    Norman dalam penerbitan tahun ini. Tapi… ah. gila! N’orman
    itu gila apa waras sih? Mengapa ia sampai berani berbuat
    nekat begitu?”
    “Teman-teman satu pondokan tak ada yang mengetahui
    alasan Normali secara pasti, Pak.” kata Hamsad. “Tapi, ada
    tiga orang yang melihat persis saat Norman melakukan
    tindakan nekatnya itu. Dua temannya terluka ketika hendak
    menghalangi tindakan picik itu.”
    Wanita cantik yang duduk di samping Pak Hasan itu ikut
    menampakkan wajah sendu, seakan turut berdukacita atas
    kematian Norman, walau sebenarnya ia sendiri tidak tahu.
    siapa Norman. Dan, setelah menghela napas beberapa kali
    dalam kebungkamannya. Pak Hasan berkata kepada Hamsad.
    “Ham, aku tahu kau teman dekat Nornian. Aku ingin bicara
    denganmu, tapi tidak di sini! Datanglah ke rumahku, atau…
    jangan. Jangan ke rumah, nanti terganggu urusan lain. Hem…
    besok sore, teleponlah aku. Atau kapan saja setempatmu.

    34
    Telepon aku, dan kita tentukan di mana kita harus bertemu
    untuk membicarakan tentang Norman.”
    “Baik. Saya setuju. Pak.”
    “Ah. sial! Mengapa aku harus kehilangan dia?!” gumam Pak
    Hasan yang tampak menyesal sekali atas kematian Norman
    itu.
    Tak enak jika terlalu lama mengganggu Pak Hasan.
    Hamsad pun segera memisahkan diri. Pukul 11 lebih 20 menit,
    ia segera ke kamar Denny. takut Denny berlarut-larut dalam
    tidurnya.
    “Hei, minggat ke mana kau?!” sapa Denny yang rupanya
    justru sedang menengok keadaan di kamar Hamsad.
    “Aku baru saja memesan makanan,” kata Hamsad sambil
    duduk di kursi teras yang terbuat dari rotan.
    Hamsad tidak bicara untuk beberapa saat, karena ia masih
    terheran-heran melihat kepucatan wajah Denny.
    “Kenapa memandangku begitu? Apa aku mirip setan?!”
    “Persis sekali.” jawab Hamsad. “Kau bukan mirip, tapi
    persis setan! Pucat pasi. seperti kertas HVS ukuran kuarto!’
    Hamsad geleng-geleng kepala. Denny hanya nyengir berkesan
    tersipu.
    “Kita tidak buru-buru pulang, kan?” tanya Denny
    mengalihkan perhatian.
    “Tinggal satu setengah jam lagi kita punya ketempatan di
    sini.”
    “Ah, pulang besok saja,’ kala Denny. dan ia bergegas
    masuk ke kamar Hamsad. Begitu keluar sudah membawa dua
    kaleng Green Sands.
    ‘Kau mau pulang besok?” Hamsad sangsi.
    Denny hanya tersenyum-senyum. “Aku ada janji dengan
    Kismi untuk bertemu nanti malam.”
    “Ah, kau gila!” ketus Hamsad sambil membuka kaleng
    Green Sands.
    “Untung bukan kau yang bertemu dengan Kismi. Kalau kau
    bertemu dengan Kismi. maka kau yang akan menjadi gila!”

    35
    Denny tertawa. Wajahnya yang tampak sayu seperti
    dipaksakan untuk ceria.
    “Almarhum Norman pernah bilang begitu padaku.” kata
    Hamsad. “Katanya, aku akan tergila-gila jika bertemu dengan
    Kismi, apalagi sampai bergumul dengan wanita itu, pasti kesan
    itu menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan seumur
    hidupku.”
    “Benar! Kata-kata Norman itu memang benar! Kismi wanita
    istimewa yang mempunyai kehebatan luar biasa. Daya
    tariknya mampu melumpuhkan lututmu, Ham! Wah, aku
    hampir pingsan menikmati kebahagiaan dengannya. Dia
    pandai. Pandai dalam segala hal! Dia akan membuatmu lemas
    lunglai dan tak bisa bergerak lagi oleh cumbuan dan gairah
    birahinya yang berkobar-kobar Gairahnya itu seakan lak bisa
    dipadamkan dalam waktu sekejap. Perlu proses yang cukup
    panjang untuk menurunkan temperatur nafsunya. Sungguh
    melebihi kuda betina yang kokoh dan tangguh.”
    Terbayang dalam khayalan Hamsad. seperti apa
    sebenarnya keadaan Kismi itu. Ia meraba dalam bayangan
    dan akhirnya menciptakan debar-debar penasaran yang
    mengganggu ketenangannya. Denny terus bercerita tentang
    kehebatan Kismi. tentang kecantikan Kismi, dan tentang kesan
    indah yang ia peroleh dari Kismi. Lalu, meluncurlah
    pertanyaan dari mulut Hamsad yang bersifat usil.
    “Berapa banyak ia memeras uangmu untuk semalam
    suntuk Itu?”
    “Tidak sepeser pun!”
    “Ah…!” Hamsad mendesah, pertanda tak percaya.
    “Sungguh, Ham! Dia tidak minta sepeser pun uang duriku!”
    “Betul? Atau. barangkali menyuruhmu membayar di kasir»”
    “Kamu pikir dia dagangan di supermarket?” Denny tertawa
    lepas.
    Hamsad termenung heran.
    “Kok aneh?! Dia tidak minta bayaran? Lalu…? lalu untuk
    apa dia datang?!”

    36
    “Yah… mungkin dia seorang perempuan yang butuh
    hiburan juga,’ kata Denny. “Yang jelas, ketika pukul 4 pagi
    lewat sedikit, ia segera berbenah diri. kemudian mencium
    keningku dan berbisik agar aku kembali lagi pada malam
    berikutnya. Ia akan datang dan tak perlu memikirkan tarif apa
    pun. Dia tersinggung kalau aku bertanya tentang tarif
    cintanya. Dia merasa tidak menjual cinta kepada siapa pun. Ia
    hanya akan datang jika aku pun datang di tempat yang
    sama.”
    Terlintas kejanggalan yang menggelisahkan hati Hamsad
    saat itu. Rasa penasarannya semakin menggebu, dan hasrat
    untuk membuktikan Semua kata-kata Denny itu ditekan kuat.
    disambunyikan rapat-rapat.
    “Jadi kau ingin bermalam lagi?” tanya Hamsad dalam
    kebimbangan.
    “Ya. Kau… kau bisa datang ke kamarku. Kali ini. akan
    kusempatkan untuk meneleponmu jika dia datang. Tapi.
    ingat… aku tidak mau kau mengganggu kemesraan kami’
    Awas lu kalau konyol!”
    ‘Tidak. Aku tidak akan bermalam lagi di sini.”
    “Alaaah… begitu saja sewot!” ledek Denny.
    “Bukan sewot. Kau ingat, nanti malam adalah hari
    perkawinan dosen Biologi kita. Bu Anis.”
    “Astaga! Benar! Aku hampir lupa!”
    ‘Aku harus datang dalam pesta perkawinan itu. Semua
    teman kurasa juga datang, karena Bu Anis adalah satusatunya
    dosen yang paling akrab di hati para mahasiswanya.”
    Denny mauggul-manggut. lalu kelihatan bingung, la
    berkata, “Ya.ya…, Bu Anis nanti malam melangsungkan
    pernikahan. Dan, wah… repot kalau begini, Ham. Kalau aku
    tidak datang, itu sangat keterlaluan. Sebab, Bu Anis itu anak
    dari kakaknya ibuku- Kepada Bu Anis dulu ibuku menitipkan
    aku agar kuliah di kota ini. Dan. kurasa keluargaku pasti
    datang semua. Malulah aku kalau tidak nongol dalam
    perkawinan Bu Anis.”
    ‘Jadi, bagaimana dengan janjimu dengan Kismi?”

    37
    Denny diam sampai beberapa saat lamanya, la dalam
    kebimbangan yang benar-benar menjengkelkan. Setelah
    beberapa saat kemudian akhirnya ia memutuskan agar segera
    pulang saja. Urusan Kismi akan ditunda sampai malam
    berikutnya. Denny menitipkan pesan tulisan kepada bagian
    resepsionis. Pesan itu untuk Kismi yang berisi penundaan
    waktu berkencannya. Maka. siang itu juga mereka check-out
    dari motel tersebut. Denny langsung ke rumah Bu Anis untuk
    membantu persiapan malam perkawinan nanti, sedangkan
    Hamsad kembali ke rumahnya dengan sejumlah pertanyaan
    batin yang menggelisahkan hatinya.
    “Ada sesuatu yang ganjil dari cerita Norman dengan cerita
    Denny. Tapi, di mana letak keganjilan itu. aku belum
    menemukan.” pikir Hamsad ketika sore itu bergegas ke
    pondokan Denny dalam keadaan siap berangkat ke pesta
    perkawinan Bu Anis.
    Di pondokan. Hamsad yakin, banyak mahasiswa yang akan
    datang ke perkawinan Bu Anis, karena di situ banyak teman
    satu kampus dengannya, di antaranya Bahtiar, Ade. dan
    Yoppi. Mulanya Hamsad ingin menghampiri Sonita, cewek
    kampus yang pernah pergi ke pesta ulang tahun salah seorang
    teman bersama Hamsad. Tetapi, Hamsad ragu. sebab Sonita
    belakangan ini kelihatan mengakrabkan diri dengan Bob, dan
    kehadiran Hamsad bisa jadi menimbulkan perkara di antara
    mereka. Karena itu Hamsad lebih setuju untuk pergi bersamasama
    anak-anak pondokan saja. Mungkin lebih seru ketimbang
    harus membawa cewek yang penuh resiko itu.
    “Denny baru saja pergi lagi, Ham.’ kata Ade.
    “Ke mana dia?!”
    “Menjemput Kismi.”
    “Hah…?!” Hamsad terbalalak kaget memandang Yoppi yang
    menjawab pertanyaan tadi. “Dengan siapa ia menjemput
    Kismi?”
    “Tigor. Dia paling bernafsu mendengar cerita Denny
    tentang Kismi. Luar biasa menurutku juga”

    38
    Ada rona ketegangan yang tahu-tahu muncul di wajah
    Hamsad. la memandang Yoppi. Ade dan Bahtiar. Satu persatu
    wajah itu dipandanginya. Kemudian, ia bertanya dengan suara
    pelan, sepertinya tidak ditujukan pada mereka.
    “Jadi… kalian sudah tahu cerita tentang Kismi?”
    Ade tertawa sinis dalam gaya kelakar, *Kau pikir cuma kau
    saja yang boleh mendengar cerita menggairahkan itu? Kami
    juga berhak mendengarnya dong!”
    Bahtiar menimpali, “Kami juga berhak inengkhayalkannya
    dong. Betul, nggak?!” Dan, Ade serta Yoppi menjawab
    serempak. “Betuuul…!”
    Setelah diam sesaat. Hamsad berkala, “Tiba-tiba aku
    mencemaskan Denny?” Hamsad tampak resah.
    “Cemas? Kenapa harus cemas?”
    ‘Entahlah. Perasaan cemas itu juga timbul sebelum malam
    Kematian Norman. Ah, mau ada apa, ya?” gumam Hamsad.
    ***
    Bab 5
    Dengan mengendarai mobil Jeep milik Tigor, Denny
    bernafsu sekali utiluk membawa Kismi pada pesta perkawinan
    Bu Anis. Ia ingin memamerkan Kismi.kepada keluarganya yang
    malam itu berkumpul di gedung, tempat pesta perkawinan itu
    berlangsung. Sedangkan Tigor, adalah salah satu pemuda
    korban khayalan cerita Denny. Tigor penasaran sekali dan
    ingin melihat sendiri seperti apa Kismi itu. Benarkah cerita
    Denny bukan sekadar bualan belaka?
    Pukul 7 malam kurang beberapa menit, mereka tiba di
    bagian resepsionis. Seorang pemuda berdasi kupu-kupu duduk
    di balik meja resepsionis dan menyambut kedatangan Denny
    serta Tigor dengan senyum ramah.
    “Ada yang bisa saya bantu. Bung?” kata resepsionis itu.
    seperti sebuah hafalan.
    “Saya tadi siang titip pesan dengan petugas yang badannya
    sedikit gemuk.”

    39
    “O, maksudnya…. Mas Gagan?’
    ‘Entah siapa dia punya nama, tapi dia bagian resepsionis
    tadi siang. Mungkin sekarang tugasnya telah Anda gantikan,
    ya?’
    ”Benar. Saya tugas malam. Ada pesan apa maksudnya?”
    Denny sedikit bingung menjelaskannya. Lalu, dengan hatihati
    ia ceritakan pertemuannya kemarin malam dengan Kismi.
    Tetapi, petugas itu tampak kebingungan juga.
    “Maaf, kami memang mempunyai wanita-wanita yang…
    yah, sering dipesan oleh para tamu. Tetapi, tidak ada yang
    bernama Kismi. Mmm… mungkin Anda memesannya dari
    motel lain?”
    “Tidak. Saya memesannya dari sini. Dan, perempuan itu
    datang juga ke kamar saya. Maka, saya titip pesan untuknya,
    karena seharusnya hari ini saya masih di sini menunggu dia.
    Tapi, karena ada resepsi perkawinan keluarga, jadi saya
    tinggalkan. Nah, malam ini saya ingin ajak dia untuk
    menghadiri resepsi tersebut,” tutur Denny menjelaskan.
    Sejenak kemudian petugas itu mencari sesuatu dan
    menemukan surat Denny untuk Kismi
    ‘Mungkin ini surat Anda.”
    “Ya. benar! Rupanya belum disampaikan, ya?’
    “Mungkin tak seorang pun dari kami yang mengetahui
    perempuan bernama Kismi, Bung. Dan. kalau begitu, biasanya
    kami tunggu saja di sini Apabila perempuan itu datang, baru
    kami serahkan surat ini.”
    “Dari tadi dia belum datang?” Tigor yang tak sabar mulai
    angkat bicara.
    “Belum. Dalam buku tamu ini juga tidak ada yang
    mencantumkan namanya sebagai Kismi,” jawab petugas
    resepsionis dengan ramah. Sesaat kemudian, ketika Denny
    dan Tigor berbicara bisik-bisik, petugas itu bertanya lagi,
    “Maaf. di mana Anda semalam menginap? Maksud saya. di
    kamar Kenanga atau Flamboyan?”
    “Di kamar Seruni,” jawab Denny.

    40
    Petugas resepsionis itu kelihatan terperanjat sesaat, dan
    buru-buru menyembunyikan perasaan kagetnya itu. Tigor
    sempat mengetahui hal itu, kemudian sedikit berkerut dahi
    karena merasa curiga.
    “Apakah kamar itu sampai sekarang masih kosong?”
    “Saya rasa begitu. Bung?’” resepsionis itu telah berhasil
    menguasai rasa kagetnya, sehingga memberi jawaban ramah
    kepada Denny. Tetapi. Tigor diam-diam memperhatikan wajah
    pemuda tersebut yang tampaknya mulai dihinggapi keresahan.
    “Dia janji jam berapa akan datang?” tanya Tigor kepada
    Denny.
    “Dia tidan menentukan jamnya tapi yang jelas dia pasti
    datang untuk menemuiku kembali.”
    ‘Mmm… barangkali….” petugas itu sedikit, gugup.
    “Barangkali Anda bisa menunggunya jika membooking kamar
    itu lagi. Bung.”
    “Ah, kurang efisien itu!” Denny mendesah. “Atau barangkali
    Bung mau menunggunya?” petugas itu tetap ramah.
    Denny meminta pendapat Tigor. lalu Tigor berkata, “Repot
    pulalah aku! Kau yang punya urusan, kenapa aku yang ikut
    susah. Kau sendirilah yang tunggu dia kalau kau mau!’
    “Kita bicara sebentar di lobby itu yuk…”ajak Denny.
    Kemudian, mereka berdua duduk di sofa yang ada pada lobby
    tersebut.
    Agaknya Denny merengek kepada Tigor agar Tigor mau
    menemani dia menunggu Kismi. Tigor sendiri makin tertarik
    setelah Denny menceritakan kehebatan Kismi di ranjang. Tigor
    makin terbuai oleh cerita Denny tentang kecantikan Kismi
    yang mirip seorang Ratu Mesir Kuno. Maka. Tigor pun
    akhirnya berkata.
    “Kalau kau bohong, aku tak mau berteman lagi dengan
    kaulah! Tapi kalau kau benar, kau boleh anggap aku
    abangmu.”
    “Bah! Abang macam apa kau kalau diam-diam punya minta
    juga dengan kekasih adiknya.” kata Denny menirukan gaya
    Tapanuli.

    41
    ”Eh. siapa bilang aku mau sama cewekmu?”
    ”Eh. siapa bilang begitu, Denny?! Aku cuma ingin tahu,
    seperti apa cewek yang kau agung-agungkan itu. Denny!
    Jangan punya pikiran yang macam-macamlah!” Tigor
    bersungut-sungut, berlagak sewot. Denny tertawa terkekeh
    melihat gaya Tiyor berlagak tersinggung. Buktinya, Tigor
    sendiri segera berkata,
    “Kalau masalah kau mau kasih kesempatan sama aku, itu
    lain persoalan, kan?”
    “Kesempatan apa?”
    “Yang, kesempatan merasakan khayalanmu itulah.,.!” Tigor
    sendiri akhirnya tertawa bersama Denny.
    Sampai pukul 9 malam, Kismi belum datang juga. Tigor
    mulai menggerutu dan merasa ditipu. Denny tidak bisa
    tenang. Gelisah sakali, karena seharusnya saat itu ia sudah
    berada di pesta perkawinan Bu Anis. Ia penasaran kalau tidak
    membawa Kismi ke pesta itu. Ia malu. Dan, ia yakin, bahwa
    Kismi pasti datang sesuai janjinya.
    “Bagaimana ini, Denny? Sudah pukul 10 malam kurang
    sedikit. Apa kita harus tunggu dia sampai pagi, atau
    tinggalkan saja dongengmu itu! Kita ke resepsi sekaranglah!
    Biar aku tak kena marah keluargamu!”
    Kesal sekali hati Denny. la dicekam oleh kebimbangan yang
    menyebalkan. Menunggu Kismi seperti menanti kematian yang
    memuakkan.
    Dan akhirnya Denny pun setuju dengan usul Tigor untuk
    meninggalkan motel itu. Mereka segera melejit ke arah
    gedung pertemuan yang dipakai mengadakan pesta
    perkawinan Bu Anis. Denny yang mengemudikan mobil itu.
    karena Denny yang tahu persis mencari jalan pintas menuju
    gedung pertemuan untuk mempersingkat waktu.
    Tapi. tiha-tiba mobil itu mogok di perjalanan. Berulangkali
    Denny menstarternya, tapi mesin tak mau hidup lagi. Tigor
    mengambil alih kemudi, dan ternyata sama saja.
    “Bah ! Mobil macam apa ini?! Bensin masih ada, oli masih
    ada, air masih ada, kenapa macet!. Ah. macam-macam pula

    42
    mobil ini! Ala. Maaak…! Apa yang rusak ini?!” Tigor
    menggerutu dan ngomel-ngomel sendiri, sedangkan Denny
    diliputi rasa gelisah yang membuatnya menggeram-geram dan
    mendesah-desah tak karuan.
    Tigor mendorong mobil, sementara Denny memegang
    kemudi, tapi hasilnya nol. Dua orang tukang becak dimintai
    bantuan untuk mendorong mobil , tetap saja tak menghasilkan
    apa-apa., Akhirnya tukang becak itu bahkan menyatakan diri
    tidak sanggup dan terlalu jauh meninggalkan becaknya- Tigor
    memberi mereka uang seribu, lalu tinggallah Denny bersama
    Tigor di jalanan yang sepi itu.
    Malam melengangkan udara dingin. Sepertinya mau hujan,
    karena langit mendung, tak berbintang satu pun. Jalanan itu
    adalah jalanan yang jarang dilalui kendaraan karena di
    samping banyak lubang juga karena tak ada penerangan.
    “Denyyy…!’
    Tiba-tiba Denny mendengar seseorang memanggilnya. Ia
    tersentak kaget dan matanya membelalak mencari-cari suara
    tersebut. Tigor sedang mencoba mengutak-atik mesin mobil,
    sehingga ia tidak melihat Denny kelabakan mencari sesuatu.
    Beberapa saat selelah mencoba mengutak-atik mesin, Tigor
    mencoba menstarternya, tapi masih belum bisa hidup mesin
    mobil itu.
    “Kurang ajar!” umpatnya sendiri. “Sudah jam berapa ini,
    Denny? Aku rasa kita sudah terlambat. Mereka sudah pulang
    dari pesta perkawinan Bu Anis.”
    “Bakar saja mobil ini. Gor!” seraya Denny melirik arlojinya
    yang menunjuk pukul 12 tengah malam lewat lima menit.
    “Ah. jangan begitu kau! Kalau mobil itu bagus, kau tidak
    pernah suruh aku bakar, kan? Ini kan namanya insiden kecil!”
    “Mobil rungsokan kau bawa ke mana-mana!” gerutu Denny.
    “Dennyyy…!” suara itu terdengar lugi.
    Tigor ingin mengatakan sesuatu, tapi Denny melarang
    Tigor bicara. “Ssst…! Jangan bicara,” bisik Denny. “Aku
    mendengar suara perempuan memanggilku. Sudah dua kali
    ini, Gor.”

    43
    “Ah, kau macam-macam pula!”
    “Ssst… benar! Diamlah dulu. Dengarkan suara itu, siapa
    tahu ia memanggilku lagi.”
    Tigor hanya menghela napas dan menghempaskannya
    dengan kesal. Ia kesal terhadap mobilnya sendiri, juga kesal
    terhadap tingkah Denny yang menurutnya mengada-ada.
    Tetapi, ketika ia hendak berdiam diri beberapa saat. ia merasa
    tengkuk kepalanya merinding. Bulu-bulunya meremang
    sendiri, dan ia pun bergidik sambil mendesis pelan.
    “Aku jagi merinding, Denny!”
    “Aku juga,” bisik Denny.
    “Celaka! Matilah aku kalau tempat ini ternyata angker…!”
    kata Tigor dengan sedikit tegang, suaranya tak berani keras.
    Deru angin malam pembawa hujan mulai teram
    menyibakkan rambut-rambut mereka. Tigor semakin cemas,
    takut kalau-kalau hujan turun, sementara mereka berhenti di
    jalanan sepi. Kanan-kiri adalah rawa-rawa yang ditanami
    semacam tanaman kangkung atau sejenisnya. Tak jelas
    karenn malam. Yang jelas, mereka jauh dari rumah atau
    bangunan berpenghuni.
    ‘Eh, Denny… kita dorong saja mobil ini. Cari tempat yang
    tidak seram beginilah!”
    Denny setuju. .Mereka mendorong mobil mencari tempat
    yang tidak menyeramkan. Tigor mendorong bagian samping
    sambil mengendalikan stiran mobil. Napas mereka ngosngosan,
    keringat pun mulai beranjuran. Tetapi, keringat
    mereka itu bercampur dengan keringat dingin akibat rasa
    takut yang mencekam.
    Beberapa saat setelah mereka mendorong mobil, Denny
    yang mendorong dari bagian belakang mobil, tiba-tiba
    berhenti melangkah. Ia mendengar suara perempuan
    memanggilnya.
    “Tigor. aku mendengar suara Kismi memanggilku!”
    “Ah, tak ada suara apa-apa.’ Kau jangan macammacamlah!
    Bikin orang sport jantung saja.’” gerutu Tigor

    44
    sambil tetap mendorong mobil. ‘Eh, dorong lagi mobil ini!
    Jangan diam sajalah!”
    Denny mencoba melupakan suara itu. ia mendorong mobil
    lagi. Sampai akhirnya, mereka menemukan sebuah warung di
    pangkalan ojek Ada dua tukang ojek yang ada di situ. dan hati
    Tigor serta Denny sedikit lega. Setidaknya mereka berada di
    antara beberapa orang. Syukur ada yang bisa memperbaiki
    mobil, atau memberi saran yang terbaik bagi Tigor dan Denny.
    Warung itu. terletak pada satu tikungan jalan raya yang
    mempunyai cahaya lampu mercury di salah satu sisi. Sinar
    lampu itu jatuh ke warung dalam keadaan remang-remang,
    tetapi nyala lampu petromaks di warung itu cukup membuat
    penerangan tersendiri di sekitar situ.
    Ternyata dari dua tukang ejek itu, tak ada yang bisa
    diharapkan untuk membetulkan mesin mebil Tigor. Bahkan
    mereka bersikap acuh lak acuh. tak mau memberi saran apa
    pun. Sementara itu, pemilik warung jalanan itu juga tidak tahu
    soal mesin mobil dan tidak punya pandangan yang lebih baik.
    Pemilik warung itu seorang lelaki lanjut usia dengan anak
    lelakinya yang masih belasan tahun. Tigor dan Denny akhirnya
    ngopi di warung itu sambil mencari ide untuk kembali ke
    pondokan mereka.
    ‘Apakah mobil harus dititipkan pada pemilik warung ini?
    Kita pulang naik taksi saja?” usul Tigor. Denny menjawab
    dengan ketus karena dongkol pada nasibnya.
    “Kalau mobilmu mau hilang, silakan saja kau titipkan ke
    warung ini. Esok pagi warung ini sudah tidak ada. Mereka
    jualan pada waktu malam saja.’
    Denny ingin bicara lagi. tetapi kali ini ia mendengar suara
    seseorang berseni di kejauhan memanggilnya.
    “Denny…! Denny. tolong akuuu…!”
    Arah suara itu dari tempat Denny dan Tigor tadi mendoiong
    mobilnya. Denny terperanjat karena ia yakin bahwa Kismi
    sejak tadi sebenarnya menyusul mereka. Kismi tertinggal di
    belakang mereka, dan sekarang agaknya wanita itu mendapat
    kesulitan. Maka. Denny segera melompat keluar dari warung.

    45
    “Hei, mau ke mana kau. Denny?!“ seru Tigor.
    “Kismi menyusul kita. Gor! la tertinggal di belakang kila
    sejak tadi!”
    “Ah, mana mungkin dia berani lewat jalan sepi itu
    sendirian!’ bantah Tigor.
    “Tapi. aku mendengar suaranya memanggilku, la minta
    tolong!”
    Denny segera pergi, kembali ke arah semula. Tigor sangsi
    untuk mengikutinya. Ketika ia memandung jalanan yang gelap
    itu. ia melihat sosok bayangan Denny yang melangkah cepat
    bagai mengejar suara yang memanggilnya. Tetapi. Tigor
    sendiri sejak tadi tidak mendengar suara perempuan.
    Sekalipun tidak pernah. Maka. ia jadi merinding sendiri, dan
    masuk ke warung lagi.
    “Apakah Bapak mendengar suara perempuan berseru dari
    sana. Pak?” tanya Tigor pada pemilik warung.
    “Tidak. Tidak ada suara orang memanggil kok.” jawab
    pemilik warung. “Kamu mendengar. naK?” Ia bertanya kepada
    anak lelakinya.
    “Nggak dengar apa-apa kok. Pak! Nggak ada orang
    perempuan berteriak’” jawab anak lelaki pemilik warung.
    “Nah, temanku itu jangan-jangan sudah gila dia! Nekat
    memburu suara hatinya sendiri! Sinting, dia” Tigor
    menggerutu seenaknya sambil mencomot makanan dan
    melahapnya, la tidak begitu menghiraukan keadaan Denny. Ia
    sendiri merasa merinding dan diganggu oleh perasaan gelisah
    sejak Denny pertama kali mengaku mendengar suara
    perempuan memanggilnya.
    Denny sendiri tidak peduli dengan Tigor. Menurutnya, Tigor
    berlagak tidak mendengar suara Kismi karena ia takut jika
    harus kembali melalui jalan gelap dan sepi itu. Tetapi, Denny
    hanya punya satu konsentrasi, yaitu Kismi. Ia yakin Kismi
    memanggilnya dan ia harus datang dengan segera.
    Tetapi, setelah beberapa langkah ia meninggalkan warung
    itu, langkah kakinya menjadi terhenti Ia mendengar suara
    Kismi memanggilnya di tengah rawa yang penuh tanaman

    46
    sejenis kangkung. Sedangkan, di tengah rawa itu tak terlihat
    bayangan seseorang bergerak mendekat atau menjauh.
    “Dennyyy..! Deimv. lupakah kau padakuuu..?!”
    “Kismii…!” teriak Denny keras ke arah rawa gelap itu.
    Beberapa saat ia menunggu, ternyata tak ada jawaban.
    Jantungnya semakin berdebar-debar, tubuhnya merindng dan
    hatinya gelisah tak menentu.
    “Kismiii…! Di mana kaauu…!” teriak Denny lagi. tapi tetap
    tak ada jawaban.
    Angin bertiup mulai kentang. Denny masih berdiri di tepi
    rawa untuk menunggu kemungkinan terlihatnya Kismi. Ia ingin
    masuk ke tengah rawa-rawa ii u, tetapi ada keraguan sebab ia
    tak melihat bayangan manusia di sana. Tubuhnya dibiarkan
    semakin merinding, ia menganggap itu hal yang wajar karena
    angin bertiup cukup kencang dan membawa udara dingin.
    Tetapi, rasa takutnya itu masih menjadi bahan pemikiran
    Denny. Mengapa jantungnya jadi berdebar-debar dan
    sepertinya dicekam perasaan takut? Apa yang akan terjadi
    sebenarnya?
    Ada sesuatu yang terbang karena terbawa angin. Sesuatu
    itu menempel di telinga Denny. Dengan tersentak kaget Denny
    menangkap benda yang menempel di telinganya. Ia mulai
    terhenyak kaget setelah diketahui benda itu adalah kapas
    putih
    “Kapas dari mana ini?” pikirnya heran. Sekali Lagi tengkuk
    kepalanya merinding. Gumpalan kapas kecil itu sepertinya
    bekas penyumbat hidung atau mulut mayat Karena ia
    mempunyai dugaan begitu, maka jantungnya semakin
    berdebar keras.
    Hanya saja. sewaktu ia mencium bau harum dari kapas
    tersebut, rasa takutnya sedikit berkurang. Bau harum itu
    serupa betul dengan bau parfum di tubuh Kismi. Makin yakin
    Denny jadinya, bahwa Kismi memang ada di sekitarnya. Tapi
    di mana? Ia melangkah semakin menuju tempat asalnya ia
    datang bersama Tigor tadi.

    47
    “Kismiii…?! Kismi, di mana kau?!’ seru Denny sambil
    matanya mencari-cari. Lalu, mulailah ia terbayang masa-masa
    bercumbu bersama Kismi. karena tempat itu sepi dan ia mulai
    berkhayal, seandainya Kismi ada di situ, maka ia tak segansegan
    untuk menggeluti di rerumputan.
    Ingatan bercumbu habis-habisan dengan Kismi membuat.
    Denny mengerang menahan gejolak birahinya. Napasnya
    semakin terengah-engah, dan hasratnya untuk memburu
    kemesraan bersama Kismi menyesakkan pernapasannya.
    “Kismiii..!” Kali ini, Denny mendesah tanpa suara, dan
    meremas-remas sesuatu yang mendatangkan nikmat baginya.
    Di kejauhan, masih terdengar suara Kismi memanggilnya
    dengan suara serak-serak manja, seakan suatu ajakan untuk
    bercumbu di alam bebas itu. Denny semakin terangsang,
    menegang semua otot tubuhnya, mendesis-desis lak
    berkesudahan, Kapas itu sesekali diciumnya sebagai ingatan
    keringat Kismi yang berbau wangi lembut itu. Setiap ia
    mencium wangi kapas itu. birahinya pun semakin bergolak
    menghentak-hentak. Mulutnya mengucap kata “Kismi”
    beberapa kali.
    Namun, pada detik tertentu, Denny mengalami satu
    kejutan yang membuatnya tegang. Tangan kanannya tak
    dapat digerakkan. Kaku. la ingin memegang kepalanya, tapi
    tak bisa. Gerakan kaku tangan kanannya itu membuat Denny
    menarik ke atas untuk menggunakan tangan kiri. Tangan
    kanan itu tiba-tiba terlepas dari pegangan tangan kiri dan
    menampar matanya sendiri. Bahkan kali ini tangan tersebut di
    luar kemauan Denny telah meremat wajahnya sendiri,
    mencakar-cakar hingga wajah Denny pun mulai berdarah.
    ‘Oh ..! Aaaow…! Kenapa tanganku ini? Oh…!” Dan, ia pun
    segera berlari ke arah warung dalam cekaman rasa takut
    sambil menjerit -jerit dicakar tangannya sendiri.
    ***
    Bab 6

    48
    Malam yang hening dan angin yang bertiup ke arah Utara,
    membuat. Tigor berkerut dahi saat meneguk kopi panas.
    Suara Denny terdengar sayup-sayup, sejenak meragukan hati
    Tigor.
    “Ah, tak mungkin itu suara Denny,” pikirnya sendiri, dan ia
    melanjutkan menghirup kopi panasnya.
    Tetapi, beberapa saat kemudian anak pemilik warung itu
    berkata kepada Tigor, “Bang, sepertinya itu suara teman
    Abang.”
    Sekali lagi Tigor berkerut dahi sambil menelengkan kepala,
    menyimak suara yang ada di kejauhan. Pemilik warung yang
    sudah lanjut usia itu juga berkata kepada anaknya,
    “Iya, ya?! Sepertinya itu suara orang yang tadi ke sana, ya,
    Man? Jangan-jangan dia dalam bahaya,” kalimat terakhir
    ditujukan kepada Tigor.
    “Alaaah, Mak! Dia itu suka bercanda. Pak! Ja ngan mau
    percaya dengan lagaknya! Pasti dia main-main saja itu!” Tigor
    tetap tenang, sedangkan pemilik warung dan anaknya
    kelihatan menyimpan kecemasan.
    Denny berusaha mempercepat larinya sambil tangan kirinya
    memegangi tangan kanan supaya tak bergerak. Tapi,
    bagaimanapun juga kekuatan tangan kiri itu tidak sebanding
    dengan tangan kanannya. Sekali lagi tangan kanannya
    bergerak cepat menampar wajah sendiri, kemudian
    mencakarnya dengan ganas dan kuat sehingga sebagian kulit
    wajah Denny mengelupas perih.
    “Aaauw…!” teriak Denny begitu kuat menahan penderitaan
    itu. “Tigooor…! Tigooor…! Aaaow…!”
    Anak pemilik warung segera memandang ke arah jalanan
    yang sepi dan gelap itu. Ia melihat sesosok bayangan manusia
    yang berlari terhuyung-huyung dengan teriakan-teriakan kian
    jelas. Angin yang berhembus kali ini berubah arah,
    bertentangan dengan pelarian Denny, sehingga suara
    teriakannya nyaris terbawa angin seluruhnya. Hanya anak
    pemilik warung itu yang mendengar lebih jelas, sebab ia

    49
    melangkah beberapa meter dari depan warungnya. Ia segera
    meng-huhungi Tigor dan herkata dengan tegang,
    “Bang! Bang, itu teman Abang dalam bahaya! Ia berlari-lari
    menuju kemari!”
    Tigor tertawa dalam gumam. “Dia pasti ketakutan,
    disangkanya ada setan yang mengejarnya! Mampuslah kau!
    Sok berani dia!” Tigor tetap meremehkan temannya itu,
    sehingga anak pemilik warung menjadi jengkel sendiri. Ia
    tinggalkan saja Tigor yang menyepelekan pemberitahuannya.
    Ia kembali melangkah di tempatnya semula dan memandang
    dengan mata menyipit langkah-langkah Denny yang mulai tak
    mampu secepat semula.
    Denny tersungkur jatuh dengan menggeram-geram,
    mengerahkan tenaganya untuk melawan gerakan tangan
    kanannya itu. Tetapi, kekuatannya itu tak mampu menguasai
    tangan kanannya yang hergerak sendiri di luar keinginannya.
    Bahkan kali ini tangan kanan itu menjambak rambutnya
    sendiri, kemudian mengangkat kepala dan membenturkan
    kepalanya sendiri ke tanah. Berkali-kali tangan kanan itu
    membentur-benturkan kepalanya ke tanah hingga kotor dan
    berlumur darah. Sesekali Denny mencoba menahan hentakan
    kepalanya, namun selalu gagal dan akhirnya batu runcing pun
    mengenai keningnya beberapa kali, hingga makin deras darah
    yang mengalir dari wajahnya.
    “Aaaow! Aaaow! Aaaow…!” Denny berteriak kesakitan.
    Kemudian ia berusaha sekuat tenaga untuk bisa herdiri. Dan,
    ia berhasil. Tangan kanannya bergerak kaku melepaskan
    rambutnya. Gerakan kaku itu akibat kekuatan Denny memaksa
    agar tangan tersebut tidak bergerak. Tangan kirinya segera
    menarik turun tangan kanannya dengan kekuatan yang
    terpaksa menguras tenaga.
    Dalam keadaan melawan kekuatan gaib yang lelah merasuk
    dalam tangan kanannya itu, Denny tetap melangkah cepat,
    berlari ke arah warung. Erang dan tangisnya meraung di sela
    kesunyian malam, dan hanya anak pemilik warung yang
    mendengarnya.

    50
    “Man, ngapain kamu di situ?” tegur pemilik warung kepada
    anaknya.
    “Orang itu kesakitan, Pak!” jawab Man dengan perasaan
    ngeri.
    “Astaga…! Kenapa orang itu, Man?!” pemilik warung
    terbengong memandangi Denny dengan mata menyipit. Makin
    lama Denny semakin terlihat jelas dalam hembusan angin,
    seakan ia menyongsong derasnya angin yang menderu.
    “Aaaow…! Tigor…! Tolooong…!”
    Kali ini, Tigor keluar dari warung bertenda plastik itu.
    Denny berlari terhuyung-huyung dan tak tentu arah. Tigor
    masih saja menganggap itu suatu sandiwara atau permainan
    Denny. Ia bahkan berseru di sela tawanya,
    “Hei, mabuk di mana kau?! Macam mana bisa mabuk kalau
    cuma minum kopi, he he he…!”
    “Bang, dia hersungguh-sungguh!” kata anak pemilik
    warung.
    Tigor tiba-tiba menghentikan tawanya. Wajahnya menjadi
    tegang setelah Denny berjarak 7 meter darinya.
    “Denny…?! Kenapa kau, hah?!” Buru-huru Tigor
    menyambut Denny, namun tiba-tiba sewaktu ia hendak
    meraih tuhuh Denny yang berwajah merah karena darah itu,
    tangan kanan Denny menghantam dagu Tigor dengan keras.
    Tigor memekik kesakitan dan terjengkang ke belakang hingga
    jatuh terduduk di tanah. Sedangkan Denny masih mengerang,
    ngotot hingga uratnya keluar semua. Ia menahan gerakan
    tangan kanannya yang ingin menghantam kepalanya sendiri.
    Dan, sekali lagi Denny menjerit kesakitan karena tangan
    kanannya berhasil menghantam kepalanya dengan keras.
    Dua tukang ojek itu segera mendekati Denny, karena
    mereka curiga darah membasah di wajah Denny.
    “Ada apa, Wak…?!” tanya salah seorang tukang ojek
    kepada pemilik warung.
    “Nggak tahu, tuh! Dia tahu-tahu menghajar temannya dan
    memukuli dirinya sendiri!”
    “Gila barangkali, dia!” kata tukang ojek yanj; lain.

    51
    Denny masuk ke warung dengan gerakan kaku dan
    meraung-raung. Tangan kanannya yang masih mengejang
    kaku, seakan-akan bergerak sendiri.
    “Kasihan dia…!” tukang ojek yang jangkung hendak
    menolong Denny dengan cara memegang kedua pundaknya.
    Sayang sekali, sebelum tangan tukang ojek itu menyentuh
    tubuh Denny, tangan kanan itu sudah lebih dahulu mengibas
    dan menampar lelaki jangkung itu dengan keras. Tentu saja
    lelaki jangkung itu terpekik kesakitan dan terhuyung-huyung
    ke belakang.
    “Oh… hooow… hhh! Aaaowh…!” Denny bersuara tak
    karuan, membuat semua orang tak berani mendekati Denny.
    Apalagi dalam keadaan wajah berlumur darah itu Denny
    mendelik-delik dengan liar, oh… menyeramkan sekali. Pemilik
    warung dan anaknya gemetaran, memandang dari luar
    warungnya.
    “Denny…?! Denny, apa yang terjadi, Denny?!” teriak Tigor
    sambil mendekati Denny.
    Mata Denny yang membelalak liar itu memandang sebuah
    sendok garpu di atas piring kotor yang ada di sudut meja.
    Agaknya piring itu bekas orang makan yang belum dicuci.
    Seketika itu, samhil menggeram Denny menahan tangan
    kanannya yang ingin bergerak mengambil garpu makan itu.
    “Denny, apa-apaan kau sebenarnya, Bangsat!” bentak
    Tigor. Ia dalam keadaan panik melihat Denny berlumur darah
    wajahnya Lebih panik lagi setelah Denny terlihat
    menggenggam sebuah garpu makan dengan tangan
    kanannya. Garpu makan diacungkan ke arah diri sendiri.
    Suara Denny menggeram, sementara tangan kirinya
    menahan kuat-kuat gerakan tangan kanannya yang ingin
    menikam diri sendiri.
    “Oh, Tig…, Tigor… tolong aku…! Tangan kananku! Oh,
    tangan ini sukar kukendalikan, dan…. Aaaow…!” Denny
    menjerit lagi karena tangan kanannya berhasil
    menghunjamkan garpu makan itu ke arah pundak kirinya,
    dekat dengan leher.

    52
    Tigor hendak menyergap Denny, namun ia terpaksa
    berpaling dan menghindar seketika, karena dengan cepat
    tangan kanan itu bergerak mengibas dan mengenai pipi Tigor
    hingga berdarah.
    Jubb…!
    “Hughhh…! Krrr… krrr…!”
    “Edan kau! Edaaan…!” teriak Tigor dengan mata makin
    membelalak ketika ia melihat Denny menusukkan garpu
    bermata tiga itu ke arah tenggorokannya. Ia mendelik,
    matanya terbeliak-beliak. Batang garpu masuk terbenam ke
    bagian tengah leher, dan membuat Denny tak mampu bicara
    lagi. Ia seperti kambing yang disembelih seketika.
    Tigor mau menyergap bersama kedua tukang ojek, namun
    masing-masing merasa ciut nyalinya dan takut terkena
    sabetan garpu itu lagi. Tigor hanya bisa berseru.
    “Jangan nekat, Denny! Jangan berpikiran picik! Kismi masih
    bisa kau temani kalau kau hidup, tapi… tapi….”
    “Aaahg…!”
    Tepat pada saat itu Denny mendelik, membungkuk dan
    akhirnya jatuh dengan darah tersembur dari jantungnya yang
    terkena tusukan garpu yang kedua kalinya.
    Anak pemilik warung memeluk ayahnya, tak tega melihat
    peristiwa mengerikan itu. Dan, anak tersebut tak sempat
    melihat, bagaimana susah payahnya Denny mencabut garpu
    yang telah terbenam di jantungnya, kemudian berusaha
    menikam dirinya lagi, dan berhasil mengenai ulu hati. Darah
    semakin menyembur ke makanan atau toples tempat peyek
    kacang. Darah menjadi berceceran di mana-mana.
    Pada saat itu, Denny menjadi melemas. Sepertinya sudah
    tak ada setan yang masuk dalam raganya. Lalu, jatuhlah ia.
    Terkapar dekat bangku warung dengan berlumuran darah tak
    bisa diharapkan lagi. Tigor bermaksud mencari mobil
    ambulans atau mobil darurat untuk membawa Denny ke
    rumah sakit. Tetapi, usaha itu rupanya tak pernah berhasil,
    sebab beberapa saat kemudian, tubuh Denny itu tak mampu
    bergerak lagi. Ia menghembuskan napasnya yang terakhir

    53
    dengan masih sempat menyebut kata: “Kismi” dalam desah
    napas penghabisannya. Maka. meninggallah Denny dengan
    keadaan dan suasana yang amat mengerikan.
    Tigor tidak bisa berbicara sepatah kata pun melihat
    kenyataan itu. Mulutnya seperti dibekukan, kerongkongannya
    kering dan sukar untuk mengeluarkan suara. Lidahnya pun
    seperti terbuat dari besi, kaku sekali untuk digerakkan.
    Seorang tukang ojek mengambil inisiatif, menghubungi pos
    polisi terdekat. Mereka mempunyai kesimpulan yang sama,
    bahwa kematian Denny adalah satu tindakan bunuh diri, tanpa
    campur tangan pihak lain.
    Berita itu sempat membuat Hamsad nyaris jatuh pingsan di
    rumahnya. Ade menghubungi Hamsad pada pagi hari, empat
    jam setelah jenazah Almarhum Denny tiba di pondokan
    mahasiswa. Hamsad merasa dibantai jiwanya dengan berita
    kematian Denny. Bahkan, ketika ia bergabung dengan anakanak
    pondokan, Hamsad sempat berlinang air mata melihat
    wajah-wajah mereka dicekam duka, seakan menunggu giliran
    untuk melakukan bunuh diri yang keji.
    Hamsad terdengar berkata parau kepada Ade, “Setelah
    Norman, Denny. Setelah Denny, siapa lagi?”
    Seperti jenazah Norman dulu. Almarhum Denny pun
    dimakamkan di kota asalnya: Madiun. Hampir semua teman
    kost-nya turut memakamkan Denny ke Madiun. Hanya Tigor
    dan Lukman yang tinggal di pondokan. Tigor merasa tidak
    mampu menghadapi kenyataan tersebut. Tigor lebih merasa
    dibantai jiwanya, karena ia sempat menyepelekan teriakan
    Denny yang meminta tolong pada waktu itu. Rasa sesalnya
    begitu besar, dan membuat Tigor lebih sering mengunci
    mulutnya ketimhang harus bercerita kepada siapa pun yang
    bertanya kepadanya. Sedangkan Lukman, waktu itu dalam
    keadaan sakit. Ia tak bisa ikut menghadiri upacara
    pemakaman jenazah Denny di Madiun. Tetapi, dialah orang
    pertama yang menangis tersengguk-sengguk ketika melihat
    keadaan Denny sudah menjadi mayat. Beruntung waktu itu
    keluarga Denny berkumpul di rumah Bu Anis, sehingga

    54
    Lukman masih bisa mengantarkan jenazah Denny ke rumah
    Bu Anis, namun tidak mampu lagi ikut ke Madiun.
    Tentu saja setiap orang bertanya-tanya: Mengapa kematian
    Denny mempunyai kesamaan dengan kematian Norman?
    Masing-masing mati oleh tangannya sendiri. Bunuh diri. Tapi,
    faktor apa yang membuat mereka bunuh diri, masih belum
    mendapat suatu kesimpulan yang pasti. Ada yang
    mengatakan, pondokan mereka angker dan meminta korban
    entah berapa jumlahnya. Ada lagi yang beranggapan, Denny
    dihampiri roh Norman dan diajaknya pergi dengan cara seperti
    yang dilakukan Norman semasa hidupnya. Sementara yang
    lain mengatakan, itu hanya satu hal yang kebetulan saja.
    Kebetulan Denny punya masalah yang mengerdilkan jiwanya,
    sehingga ia berani melakukan bunuh diri.
    Hanya satu orang yang mempunyai dugaan aneh di dalam
    pertemuan tak resmi yang mereka adakan di kamar Bahtiar,
    dua hari setelah jenazah Denny dimakamkan. Orang yang
    mempunyai dugaan aneh itu adalah Hamsad. Karena dialah
    yang mempunyai firasat buruk pada saat-saat menjelang
    kematian Norman dan Denny.
    “Keduanya sama-sama jatuh cinta pada Kismi,” kata
    Hamsad. Kemudian, mereka memberikan reaksi serupa.
    Bungkam. Benak mereka sama-sama menerawang pada cerita
    Denny tentang Kismi.
    Bahtiar bertanya pada diri sendiri, dengan ucapan yang
    sempat didengar oleh teman-temannya, “Mungkinkah
    keduanya menjadi picik hanya karena jatuh cinta?”
    “Tiap-tiap orang mempunyai ketahanan jiwa yang
    berbeda,” ujar Ade. “Pada saat mencapai klimaks persoalan,
    jiwa manusia mudah menjadi rapuh. Yang terlintas dalam
    logiknya hanya jalan pintas menyelesaikan persoalan tersebut.
    Dan, mungkin bagi kedua korban itu sama-sama sependapat,
    bahwa jalan pintas yang terbaik adalah bunuh diri.”
    Tigor mulai tertarik dengan pembicaraan tersebut. Ia
    berkata dengan suara pelan, masih bernada duka,
    “Wanita itu sebenarnya tidak ada!”

    55
    Kini, semua mata memandang ke arah Tigor. Hanya
    Hamsad yang masih memandang ujung kakinya yang
    melonjor, namun telinganya menyimak kata-kata Tigor. Ia
    mendengar Tigor berkata lagi,
    “Petugas motel itu, aku rasa tidak ada yang kenal dengan
    Kismi. Jadi, kubilang Kismi itu hanya ada dalam khayalan
    mereka.”
    “Dan mereka mati karena khayalannya sendiri, begitu
    maksudmu?” tanya Yoppi.
    “Begitulah! Buktinya petugas motel berkeras untuk
    mengatakan, bahwa di situ tidak ada perempuan yang
    bernama Kismi! Dari pukul 7 malam sampai pukul 10 malam
    aku dan Denny menunggu perempuan itu, nyatanya tidak
    ada!”
    “Denny mengatakan, perempuan itu adalah perempuan
    eksklusif, yang keberadaannya sendiri dirahasiakan oleh
    petugas motel. Barangkali hal itu dimaksud agar reputasi Kismi
    yang sebenarnya tidak jatuh di mata mereka. Mungkin Kismi
    seseorang yang punya reputasi tinggi, punya jabatan
    fungsional, punya karir yang gemilang, sehingga kalau setiap
    orang mengenal dia sebagai perempuan kehausan, alangkah
    memalukan sekali? Karena itu, Denny juga berkata, bukan?
    Bahwa, Kismi bukan perempuan sembarangan yang mudah
    disentuh oleh lelaki. Dia tidak seperti wanita-wanita penghibur
    lainnya, yang sekali panggil pasti akan datang!” celoteh Susilo
    sambil memainkan korek api.
    Siapa sebenarnya Kismi? Di mana tempat tinggalnya?
    Menurut Hamsad, hanya Pak Hasan yang mengetahui hal itu.
    Karena, Norman mengenal Kismi lewat pesanan dari Pak
    Hasan. Hamsad masih ingat cerita Almarhum Norman, bahwa
    ia datang ke motel itu dibawa oleh Pak Hasan sebagai service
    pemancing spirit untuk tulisan yang akan disusun oleh
    Norman. Pak Hasan-lah yang memesankan seorang
    perempuan untuk Norman, karena waktu itu, tahu-tahu
    Norman dihampiri seorang perempuan sedangkan Pak Hasan
    mungkin mengambil perempuan lain untuk dirinya sendiri.

    56
    Jadi, Pak Hasan-lah sebenarnya yang memegang rahasia
    tentang siapa Kismi dan di mana Kismi.
    Tanpa memberitahukan kepada yang lain masalah Pak
    Hasan itu, Hamsad segera menghubungi Pak Hasan melalui
    telepon. Kebetulan, ketika Hamsad jalan-jalan di pantai, ia
    sempat bertemu dengan Pak Hasan dan disuruh
    menghubunginya sewaktu-waktu. Maka, kali ini ia ingin
    membuat janji untuk bertemu di sebuah restoran fast food.
    Pak Hasan sebenarnya punya bahan pembicaraan sendiri.
    Ia ingin berbicara tentang kematian Norman dan tawaran buat
    Hamsad mengenai penulisan tentang buku-buku. Tetapi,
    Hamsad lebih dahulu bertanya,
    “Siapa Kismi itu sebenarnya, Pak?”
    Pak Hasan kelihatan bingung, tak mengerti maksud
    Hamsad. Ia menggumam, “Kismi…?! Maksudmu, Kismi apa
    ini? Kismi makanan atau…?”
    “Norman bunuh diri sejak ia dibawa oleh Bapak ke Motel
    Seruni, dan di sana ia bercinta dengan Kismi.”
    “Ya. Memang aku yang mengajaknya ke motel, tapi dia
    menolak perempuan yang kukirimkan untuknya. Malahan
    perempuan itu bilang, bahwa Norman telah mempunyai
    pasangan sendiri. Mungkin, perempuan itu yang bernama
    Kismi. Tapi, aku tak tahu, Norman dapat dari mana
    perempuan itu.” tutur Pak Hasan kelihatan serius sekali.
    Hamsad masih curiga. “Jadi, Pak Hasan benar-benar tidak
    mengenal perempuan yang bernama Kismi?”
    “Tidak. Mendengar nama itu pun aku baru sekarang.” Pak
    Hasan tertawa pendek. “Kusangka tadinya Kismi itu nama
    makanan. Jadi, tadi aku sedikit bingung.”
    Hamsad tersenyum tawar, kemudian menghempaskan
    napas. Rona duka terlihat samar-samar di wajah itu, membuat
    Pak Hasan berbalik curiga kepada Hamsad.
    “Ada apa sehenarnya, Ham? Apa benar kematian Norman
    karena mengenal perempuan bernama Kismi?”
    ‘Ya. Benar. Tempo hari, ketika saya bertemu Pak Hasan di
    pantai, saya dengan teman saya mencari perempuan yang

    57
    bernama Kismi. Teman saya, Denny, berhasil bertemu dengan
    Kismi, tapi ia tidak sempat berbicara panjang lebar mengenai
    Norman. Ia terbuai dan bergumul dengan Kismi sampai pagi.
    Badannya lemas, wajahnya jadi pucat seperti mayat hidup.
    Beberapa hari yang lalu, Denny pun mati karena bunuh diri.”
    “Hah…?!” Pak Hasan mendelik.
    “Denny menikam leher, jantung dan ulu hatinya dengan
    garpu makan di sebuah warung. Menurut saksi mata, ia
    menghempaskan napas terakhir sambil menyebutkan nama
    Kismi.” Hamsad menelan ludahnya sendiri, seperti memendam
    suatu kepedihan. Pak Hasan melihat kesungguhan di wajah
    Hamsad, dan hal itu membuatnya berdebar-debar.
    Setelah Hamsad menceritakan secara detail tentang
    kematian Norman, juga proses kematian Denny, Pak Hasan
    pun akhirnya berkata, “Misterius sekali. Aku jadi tertarik untuk
    menemui perempuan itu.”
    “Apakah Bapak bisa membujuk petugas motel?”
    “Kenapa tidak!? Pemilik motel itu temanku satu kampung.”
    ***
    Bab 7
    Memang benar. Pemilik motel itu adalah teman sekampung
    dengan Pak Hasan. Tetapi, sayangnya Pak Hasan merasa
    keberatan jika Ham-sad ikut menghadap pemilik motel itu.
    Hamsad hanya diizinkan menunggu di lobby, sementara Pak
    Hasan terlibat pembicaraan dengan pemilik motel di dalam
    kantornya. Sore itu, Hamsad merasa seperti kambing congek,
    terbengong sendirian di lobby. Hatinya dongkol, karena tak
    diizinkan ikut dalam pembicaraan tersebut. Alasan Pak Hasan,
    karena temannya yang menjadi pemilik motel itu dalam
    keadaan cacat, dan ia tak mau orang lain melihat kecacatan
    fisiknya. Mau tak mau Hamsad menerima alasan tersebut.
    Matahari hampir terbenam seluruhnya. Hamsad masih
    berharap, mudah-mudahan ia bisa bertemu dengan
    perempuan yang bernama Kismi di lobby itu. Paling tidak

    58
    melihat perempuan dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan
    Norman dan Denny, dan Hamsad akan berusaha mengenal
    perempuan itu. Sayangnya, tamu-tamu yang memasuki lobby
    tidak satu pun ada yang punya paras cantik dan punya pesona
    mirip ratu Mesir Kuno. Rata-rata perempuan yang masuk ke
    lobby mempunyai paras standar, biasa-biasa saja. Tak ada
    yang istimewa. Kalau tidak istimewa, berarti dia bukan Kismi.
    Sambil merenungkan misteri kematian Norman dan Denny,
    Hamsad berhasil menemukan satu kejanggalan. Kejanggalan
    itu, tempo hari dikatakan rusak AC-nya, dan sering tersumbat
    saluran airnya. Tetapi, nyatanya ketika Hamsad masuk
    menemui Denny, kamar itu ber-AC. Lancar. Timbul rasa curiga
    dalam hati Hamsad, mengapa bagian resepsionis waktu itu
    setengah tidak mengizinkan mereka membocking kamar,
    Seruni? Kamar masih ada dua yang kosong, tapi dikatakan:
    “Tinggal satu kamar yang belum di-bocking.” Ini aneh dan
    janggal bagi Hamsad.
    Kecurigaan kedua, mengapa Norman dan Denny bisa
    bertemu dengan Kismi di kamar itu? Bagaimana dengan kamar
    lain? Apakah Kismi mau datang ke kamar lain juga? Mengapa
    pula Kismi tidak meminta uang lelah kepada Norman dan
    Denny? Bukankah Kismi bekerja sebagai wanita penghibur?
    Bukankah yang dibutuhkan dalam hal itu adalah uang?
    Iseng-iseng, Hamsad mendekati bagian resepsionis. Kali ini
    yang bertugas bukan orang yang dulu, tetapi orang yang
    sebenarnya pernah ditemui Denny dan Tigor. Hanya saja,
    Hamsad tidak tahu tentang pemuda tersebut.
    “Masih ada kamar kosong, Mas?” sapa Hamsad dengan
    ramah.
    “Masih,” jawab bagian resepsionis dengan ramah pula.
    “Mau bocking kamar?” tawarnya. Hamsad hanya tersenyum
    dalam ketenangan sikapnya.
    “Saya tunggu keputusan dari teman saya yang sedang
    menemui pemilik motel ini. Kalau dia mengajak bermalam di
    sini, yah… mau tak mau kami bocking dua kamar.” Padahal

    59
    rencana itu tidak ada dalam pembicaraan Hamsad dengan Pak
    Hasan.
    “Hari ini, agak sepi,” kata petugas resepsionis. “Lain halnya
    jika malam Minggu. Kalau malam-malam seperti ini, apalagi ini
    malam Jumat, biasanya kamar kami banyak yang kosong.
    Kalau Bung jadi bermalam di sini, Bung bisa bebas memilih
    kamar sesuai selera.”
    “O, begitu, ya?! Jadi, bisa saja saya memilih kamar Seruni,
    ya?”
    Pemuda petugas resepsionis itu sedikit menggeragap.
    “Hm… kalau kamar itu, wah… kebetulan tadi siang sudah ada
    yang bocking. Kamar itu sudah diisi, Bung.”
    “Ooo…?!” Hamsad manggut-manggut. “Kalau boleh saya
    tahu, lelaki atau perempuan yang memakai kamar Seruni itu?”
    “Lelaki. Mungkin dia orang seberang.”
    “Sendirian?”
    “Ya. Sendirian. Barangkali sebentar lagi partnernya
    datang.”
    “Apa dia langganan di sini? Maksud saya, sering datang dan
    bermalam di sini dengan seorang perempuan?” makin lama
    pertanyaan Hamsad makin bersifat pribadi. Petugas itu agak
    sulit menjawab. Ia hanya tersenyum-senyum yang a-khirnya
    berkata,
    “Sebenarnya, kami tidak boleh bicara soal itu, Bung. Tapi,
    karena kebetulan tadi saya juga yang menerima tamu itu, jadi
    kalau boleh saya katakan, bahwa saya baru sekali ini bertemu
    dengan orang tersebut. Saya rasa, dia juga baru kali ini
    datang kemari, Bung.”
    Hamsad manggut-manggut sambil menggumam. Petugas
    itu berkata lagi,
    “Kalau Bung mau, bisa memilih kamar yang lain. Kamar
    Seroja juga bagus. Bung. Strategis dan romantis letaknya. Dia
    ada di tepi pantai. Bung bisa melihat ombak dari terasnya.”
    “Kalau saya mau, saya akan memilih kamar Seruni,” kata
    Hamsad pelan, sepertinya sekadar basa-basi saja.

    60
    “Kamar itu jarang dipakai, Bung,” bisik petugas resepsionis,
    nada bicaranya mencurigakan.
    “Kenapa? AC-nya rusak? Saluran airnya tersumbat?”
    Petugas itu tertawa pendek. “Itu hanya alasan kami.
    Sebenarnya, kami menghindari kamar itu dari para tamu.
    Kalau tidak memaksa sama sekali, kami tidak izinkan para
    tamu menggunakan kamar tersebut.”
    “Alasannya?” desak Hamsad semakin penasaran.
    “Kamar itu angker, Bung.” Kali ini suaranya yang berbisik
    namun ditekankan kalimatnya itu, membuat Hamsad menjadi
    merinding seketika. Ia memandang ke arah luar, ternyata
    malam mulai datang. Suasana tak secerah waktu ia tiba di
    motel ini. Dan, suasana malam itu makin membuat Hamsad
    berdebar-debar setelah mendengar jawaban petugas tersebut.
    Sebenarnya Hamsad ingin bertanya lebih lanjut mengenai
    kamar Seruni, sayangnya petugas itu harus menemui tamu
    yang hendak mem-bocking kamar. Hamsad ditinggalkan, dan
    kini ia kembali ke meubel lobby, duduk di sana merenung diri.
    Hatinya menjadi galau. Resah. Batinnya bertanya-tanya,
    “Benarkah kamar itu angker? Jika benar begitu, mengapa
    begitu mudah petugas resepsionis itu mengatakannya
    kepadaku? Seharusnya dirahasiakan. Ini menyangkut prestise
    motel ini sendiri, kan? Ah, kurasa ia mengada-ada. Dengan
    cara begitu, diharapkan aku tidak kecewa dan mau memilih
    kamar lain. Brengsek!
    Itu hanya teknik propagandanya saja!”
    Hamsad mendesah kesal. Pak Hasan terlalu lama ngobrol di
    dalam dengan pemilik motel yang juga sebagai manager.
    Untuk menghilangkan kejenuhannya, Hamsad melangkah
    keluar dari lobby, menikmati udara malam di luar lobby. Dalam
    pikirannya sempat terlintas satu harapan. “Mudah-mudahan
    cewek yang akan datang ke kamar Seruni ituadalah Kismi.
    Kalau benar yang akan melayani tamu di kamar Seruni itu
    Kismi, maka ada baiknya kalau aku menghadangnya di sini.
    Kismi pasti akan berjalan lewat arah sini untuk menuju kamar
    Serani. Mungkin aku bisa menyapanya, setidaknya melihat

    61
    dengan mata kepala sendiri kecantikan yang konon istimewa
    itu.”
    Harapan itu adalah harapan yang sia-sia. Karena, sebelum
    Kismi muncul, Pak Hasan telah keluar dari lobby dan
    melambaikan tangan kepada Hamsad, memanggil. Mereka
    kembali duduk di lobby. Pak Hasan berkata kepada Hamsad,
    “Aku sudah mendesaknya beberapa kali, tapi dia tetap
    mengatakan, tidak ada ‘anak buahnya’ yang bernama Kismi.
    Bahkan ia mengingatkan padaku, agar jangan sekali-kali
    menggunakan kamar Seruni.”
    “Kenapa, katanya?”
    “Kamar itu angker!” bisik Pak Hasan dalam ketegangan.
    Hamsad sedikit terperanjat dan merasa heran, karena
    pernyataan itu sama dengan pernyataan petugas resepsionis
    tadi.
    “Saya tidak yakin, Pak!” kata Hamsad. “Saya rasa itu satu
    cara untuk mempromosikan kamar-kamar lainnya.”
    “Kalau tidak percaya, malam ini juga aku disuruh
    membuktikannya, Ham!”
    “Percuma. Pak. Kamar itu sudah dibocking orang.”
    “Hah…?!” Pak Hasan terperanjat.
    “Jadi, apa rencana kita selanjutnya?” tanya Hamsad dengan
    perasaan masih kesal akibat kegagalan menyelidik tentang
    Kismi.
    “Ham, kita disuruh cek ke beberapa tempat yang
    menampung wanita-wanita penghibur. Terutama di Panti Pijat
    Mahaiani. Karena, wanita-wanita di sana sering diambil kemari
    untuk melayani tamu yang membutuhkannya. Bagaimana
    kalau kita ke sana untuk mencari Kismi?”
    Setelah dipertimbangkan sejenak, Hamsad menjawab, “Kita
    coba saja!”
    Sebenarnya Hamsad tidak begitu bersemangat.’ Dalam
    hatinya ia berkata, “Pasti tidak ada yang bernama Kismi. Kalau
    toh ada, pasti Kismi sedang keluar, sebab kamar Seruni itu
    ada yang menempati. Tapi, coba sajalah. Barangkali ada halhal
    baru yang bisa dijadikan pertimbangan.”

    62
    Dugaan Hamsad menjadi kenyataan. Ia tidak memperoleh
    apa-apa di Panti Pijat Maharani itu. Tidak ada yang bernama
    Kismi, tidak ada yang mengenal Kismi, kendati mereka
    mengaku sering diambil ke Motel Angel Flowers. Kemudian,
    Pak Hasan dan Hamsad menuju ke Panti Pijat Ibu Endang,
    konon terkenal banyak pengunjungnya. Tetapi, di sana juga
    tidak ada yang bernama Kismi.
    Gagal sudah. Malam itu, Hamsad pulang tanpa membawa
    hasil. Hanya sedikit data tentang kamar Seruni yang katanya
    angker itu. Tapi, Hamsad tidak menghiraukan kata-kata
    petugas resepsionis tadi. Kemudian, dalam ketermenungannya
    itu ia mendapatkan gagasan baru. Ia berkata dalam hati. “Aku
    harus bermalam di sana! Barangkali dengan bermalam di
    sana, aku bisa menemukan apa yang kucari. Kismi. Dan, dari
    Kismi aku bisa memperoleh kesimpulan, mengapa kedua
    temanku itu mati bunuh diri? Kapan aku harus ke sana?
    Besok? Ah, jangan! Besok aku ada acara dengan Lista. Cewek
    itu menggemaskan juga sih. Siapa tahu dia mau nyantol
    padaku. Lumayan, kan?”
    Acara yang dimaksud Hamsad adalah menghadiri reuni SMP
    tempat Lista dulu. Acara itu cukup sederhana, namun sudah
    tentu mengesankan bagi mereka yang pernah satu bangku
    dan satu sekolah semasa SMP. Sedangkan Hamsad sendiri,
    tidak mempunyai kesan apa-apa, kecuali mendampingi Lista.
    “Kenapa kau membawaku kemari? Aku kan tidak punya
    kenalan di sini? Mereka tidak mengenalku,” kata Hamsad.
    “Justru aku ingin mengenalkan kamu kepada mereka
    sebagai pacarku,” kata Lista yang berpenampilan tomboy.
    “Apa? Sebagai pacarmu? Pacar cap apa aku ini? Bercinta
    belum sudah mengaku pacaran!”
    “Ah, cuek sajalah! Supaya aku kelihatan laku!”
    “Kenapa kau tidak mencari pacar yang sebenarnya saja?!”
    “Malas! Bikin repot karirku saja!” jawab Lista . seenaknya.
    Yang lebih menyebalkan lagi. dalam pesta reuni itu Lista
    justru asyik ngobrol dengan cowok-cowok bekas teman SMPnya
    yang sekarang, menurut Lista, sudah kelihatan gantengTiraikasih

    63
    ganteng semua. Hamsad merasa dikesampingkan oleh Lista,
    sehingga hampir-hampir ia pulang sendiri tanpa setahu Lista.
    Malam itu, Hamsad hanya memperoleh kedongkolan pergi
    dengan Lista. Ia merasa jera. Tak mau lagi pergi ke mana saja
    dengan Lista. Gadis itu egois. Ia hanya mementingkan diri
    sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Untung saja
    malam itu Hamsad bisa lekas tertidur, sehingga kedongkolan
    hatinya pun cepat reda.
    Hanya saja, esok harinya, Hamsad bangun sedikit siang. Ia
    memang bermaksud tidak kuliah. Malas. Karenanya, ketika
    adiknya membangunkan, Hamsad hanya menggeliat dan tidur
    lagi.
    Tetapi, kali ini ia dibangunkan oleh mamanya karena ada
    seorang teman yang ingin bertemu dengannya. Hamsad
    malas, tapi mamanya memaksa. Bahkan mamanya berkata,
    “Kalau kau ingin jadi pemalas, cari pondokan lain, seperti dulu
    lagi! Jadi, kau bisa bebas mau bertingkah apa saja!”
    Tak tahan mendengar omelan mamanya, Hamsad pun
    turun dari pembaringan. “Siapa yang mencariku?”
    “Temanmu! Bahtiar!”
    Benar. Bahtiar yang datang pagi itu, sekitar pukul 9 kurang.
    Hamsad mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa
    mengantuk. Ia berdiri dengan lesu, bersandar pada kusen
    pintu. Suaranya parau dan malas, “Ada apa, Tiar…?! Bikin
    kagok orang tidur saja kau, ah!”
    Bahtiar tidak langsung menjawab. Ia memandang Hamsad
    yang menguap sambil mengencangkan otot-ototnya.
    Kemudian, Hamsad menghampiri Bahtiar di kursi tamu, duduk
    di depan Bahtiar dengan loyo.
    Mendadak ia jadi curiga melihat Bahtiar berwajah sendu.
    Kecurigaannya itu membuat Hamsad menjadi serius, dan
    bertanya lagi, “Ada apa sih?!”
    “Ham…,” kata Bahtiar sedikit gagap. “Ada… ada korban lagi
    dari teman kita.”
    “Hah…?!” Hamsad terperanjat baru mendengar kata-kata
    itu. “Korban?! Maksudmu?”

    64
    “Tigor, bunuh diri!”
    “Gila!” teriak Hamsad sambil menggebrak meja, untung
    meja kaca itu tak sampai pecah, hanya asbaknya yang
    terpental.
    “Tigor bunuh diri?! Tigor…?!” Hamsad seperti orang tak
    percaya terhadap pendengarannya sendiri. Bahtiar
    mengangguk dalam kesedihan.
    “Peristiwanya terjadi tadi malam, sekitar pukul dua hampir
    pagi,” tutur Bahtiar.
    “Meng… mengapa? Mmmeng… mengapa ia bunuh diri?
    Apa alasannya, Tiar?!” Hamsad gemetar dan napasnya
    terengah-engah. Deburan di dalam dadanya membuat ia
    sedikit gemetar.
    “Kemarin malam, ia penasaran. Ia datang ke motel, tempat
    Norman dan Denny menginap….”
    “Kemarin malam? Bukan tadi malam, kan?” tegas Hamsad.
    “Kalau kemarin malam…? Berarti…? Berarti waktu itu aku ada
    di sana bersama Pak Hasan! Gila betul dia? Jadi… oh, ya…
    aku memang menanyakan kamar Seruni, dan petugas motel
    itu menjawab, bahwa kamar itu ada yang menyewanya. Aku
    tidak tahu kalau orang itu adalah Tigor?! Aaah…! Gila semua!”
    Hamsad bagai orang kesetanan. Matanya yang masih merah
    karena habis bangun dari tidur itu membelalak lebar, penuh
    kemarahan. Tapi, ia tak tahu, kepada siapa ia harus marah?
    Di perjalanan menuju pondokan Tigor dan teman-teman
    yang lainnya, Bahtiar menjelaskan tentang kematian Tigor.
    “Siangnya dia kembali, dan bercerita kepada kami, bahwa
    ia berhasil bertemu dengan wanita yang mengaku bernama
    Kismi. Menurutnya, Kismi memang cantik. Luar biasa
    kecantikannya. Kismi hebat di ranjang. Luar biasa
    kehebatannya. Dan, menurutnya, Kismi muncul setelah lewat
    tengah malam. Pintu kamarnya diketuk, dan ternyata Kismilah
    yang datang.”
    “Tigor memesan Kismi dari siapa?”
    “Ia tidak memesan Kismi. Ia yakin, bahwa Kismi itu setan.
    Ia sengaja ingin bertemu setan di situ, dan usahanya itu

    65
    berhasil, la bahkan bangga, karena bisa menjinakkan setan,
    Kismi bukan hantu yang menakutkan menurut Tigor, justru
    sebaliknya, Kismi hantu yang membuat lelaki betah tinggal
    bersamanya.”
    “Lalu, kenapa Tigor bunuh diri?”
    “Karena ia ingin bertemu dengan Kismi lagi, barangkali! Itu
    dugaan kami. Tigor ingin bertemu Kismi, tapi tidak punya
    uang sewa Seruni yang cukup mahal itu. Kemudian, ia
    mengambil pisau badiknya, dan menusuk-nusuk dirinya sendiri
    sampai beberapa kali. Lukman berhasil memukul tengkuk
    kepala Tigor, dan pingsan. Waktu itu, tubuh Tigor sudah
    berlumur darah. Tetapi, anehnya… tangan kanannya yang
    memegang badik sukar dicabut. Tangan kanannya itu justru
    bergerak sendiri, hampir menikam perut Ade.”
    “Kemudian, bagaimana cara kalian mengatasi?”
    “Tidak ada yang bisa mengatasi! Kami melihat sendiri
    tangan kanan itu menikam ulu hatinya sendiri, padahal Tigor
    dalam keadaan pingsan oleh pukulan Lukman. Dan… dan
    setelah tangan kanan itu merasa puas menikam-nikam
    tubuhnya sendiri, lalu ia berhenti. Lemas. Pisau badiknya
    tergeletak. Waktu itu, Tigor masih sempat terlihat napasnya,
    dan kami melarikan dia ke rumah sakit. Tetapi, di perjalanan
    Tigor menghembuskan napas terakhirnya.” Bahtiar menghela
    napas, sedikit tersendat-sendat, mungkin karena menahan
    duka atas kematian temannya yang tragis itu.
    “Tangan kanan…?!” gumam Hamsad sambil mengemudikan
    mobilnya “Lagi-lagi tangan kanannya! Norman, Denny, dan
    kini Tigor, masing-masing bunuh diri dengan tangan
    kanannya. Masing-masing mempunyai persamaan yang
    sekarang baru kusadari, bahwa tangan mereka bergerak
    dengan sendirinya. Jadi, ada satu kekuatan yang
    menggerakkan tangan kanan mereka, lalu menikam diri
    mereka masing-masing. Oh… mengerikan sekali!”
    Madi,-menurutmu ada satu kekuatan yang merasuk pada
    tangan kanan mereka?” tanya Bahtiar.

    66
    “Kurasa memang begitu. Roh seseorang masuk dalam
    tangan kanan mereka, dan membunuh mereka sendiri.
    Dengan begitu, tak ada orang yang dicurigai oleh pihak yang
    berwajib.”
    Bahtiar bergidik. Lalu, ia menggumam lirih, “Sudah pastikah
    bencana itu datang dari perempuan yang bernama Kismi?” Ia
    melirik Hamsad, seakan meminta pendapat. Hamsad diam
    saja. Lama sekali ia terbungkam sambil mengemudikan
    mobilnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata,
    “Akan kucoba menaklukkan dia!”
    Bahtiar buru-buru berpaling memandang penuh perasaan
    cemas. “Kau., kau hendak mencobanya seperti Tigor?”
    “Yah…!” Hamsad mengangguk sambil mendesah.
    “Kupikirkan dulu cara menaklukkannya, baru akan kutantang
    hantu keparat itu!”
    “Berbahaya, Ham! Jangan coba-coba berjudi dengan
    maut!” bisik Bahtiar merasa ngeri mendengar tekad Hamsad.
    “Kau mau membantuku?” Hamsad melirik Bahtiar.
    “Aku masih ingin hidup beberapa saat,” jawab Bahtiar.
    “Kalau begitu aku akan lakukan hal itu sendiri…!” Hamsad
    berkata dengan tenang, datar, seakan di dalam dadanya telah
    mendidih darah kemarahan yang sukar didinginkan kembali.
    Bahtiar makin ngeri melihat rona wajah Hamsad yang
    memancarkan dendam. Ia bagai seseorang yang sudah siap
    untuk mati.
    ***
    Bab 8
    Tekad Hamsad sudah hulat, ia harus menemui Kismi. Ia
    ingin membuktikan segalanya, dan mencari jawaban yang
    pasti tentang Kismi, juga tentang kematian Norman, Denny,
    dan Tigor. Di dalam hatinya ia menyimpan dendam, dan
    dendam itu yang menuntut pembalasan.
    Karena itu, pukul 4 sore itu, Hamsad sudah membocking
    kamar Seruni. Ia belum tahu, bagaimana caranya menghadapi

    67
    Kismi kalau benar wanita itu adalah hantu. Ia hanya punya
    keyakinan, bahwa ia akan bisa mengatasi Kismi dengan
    beberapa doa yang pernah diajarkan oleh kakeknya ketika ia
    masih di SMP. Ada beberapa doa yang konon bisa untuk
    mengusir hantu. Dulu, Hamsad pernah mendapat pelajaran
    mengusir hantu dari kakeknya, tapi satu kali pun belum
    pernah ia gunakan. Kali ini, ia ingin mencoba kekuatan magis
    dari doa tersebut untuk mengalahkan Kismi.
    Hati Hamsad belum terlalu berdebar-debar, karena ia ingat
    cerita para korban, bahwa Kismi akan muncul pada saat
    tengah malam. Karena sekarang masih pukul 4 lebih, rnaka
    tak ada yang perlu dicemaskan, tak ada yang perlu ditakutkan.
    Yang harus ia lakukan adalah mempersiapkan segala
    sesuatunya, di antaranya menghafal doa pengusir setan itu.
    Debur ombak dan angin senja membaur. Suasana di motel
    itu terasa lengang, sepi, namun terlihat beberapa kesibukan
    manusia yang seakan bergerak dan bekerja tanpa suara
    sedikit pun.
    “Aneh…! Mengapa mereka melangkah bagai tanpa suara?
    Mengapa mobil di jalan raya itu bergerak hanya
    memperdengarkan suaranya yang samar-samar? Alam ini
    menjadi lengang, seperti lorong menuju alam kematian. Oh,
    mungkinkah aku akan menemukan ajalku di sini juga?” pikir
    Hamsad sambil duduk di teras kamar Seruni. Tak lama
    kemudian, terdengar suara adzan magrib sayup-sayup sekali.
    Langit menjadi merah lembayung. Mentari mulai
    menyembunyikan diri.
    Iseng sekali Hamsad duduk sendirian di teras. Kebetulan
    seorang petugas motel yang biasa disebut sebagai room-boy
    sedang melintas di depan teras kamar Hamsad. Orang itu
    sudah tua, tapi gerakannya masih lincah, penuh semangat
    kerja.
    “Pak…!” panggil Hamsad, kemudian melambaikan tangan.
    Pelayan tua itu mendekat dengan senyum ramah.
    “Pak, bisa mencarikan saya makanan kecil?”
    “Maksud, Tuan?”

    68
    “Yah… semacam kacang mete, atau emping.”
    “O, bisa. Di restoran kami tersedia makanan itu. Mau
    kacang mete atau emping?” pelayan tua itu ganti bertanya.
    “Emping saja deh! Atau… emping sama kacang mete juga
    boleh.”
    Pelayan itu mengambilkan pesanan yang telah di pesan
    Hamsad. Waktu itu, Hamsad segera masuk dan memeriksa isi
    kulkas. Oh, lumayan ada dua kaleng bir sebagai selingan. Ia
    mengeluarkan salah satu, dan membukanya sambil matanya
    memandang ke arah TV yang dinyalakan dari tadi.
    Tak berapa lama, pelayan datang membawakan emping
    pesanan Hamsad.
    “Masuk saja, Pak!” teriak Hamsad, malas membukakan
    pintu karena ada acara menarik di TV.
    “Sendirian saja, Tuan?” tanya pelayan itu sambil cengarcengir.
    “Ya. Sendirian. Kenapa, Pak?” pancing Hamsad.
    “Tidak membutuhkan teman buat ngobrol-ngobrol?”
    “Teman perempuan maksudnya?”
    Pelayan berambut uban itu terkekeh sesaat,
    “Kalau teman lelaki sih buat apa, Tuan?”
    Hamsad ikut tertawa sekadarnya. Ia membuka plastik
    emping sambil bertanya, “Apa… apa kamu bisa sediakan
    perempuan cantik, Pak?”
    “O, bisa! Bisa saja, Tuan! Mau cari yang modelnya seperti
    apa?”
    ‘Yang paling cantik. Kalau bisa yang seperti Ratu Mesir
    Kuno!”
    Bapak itu terkekeh lagi. la berdiri dengan sikap
    menghormat, sopan, sekalipun merasa geli dengan kata-kata
    Hamsad, tapi ia tetap sopan.
    “Bisa, Pak?” desah Hamsad. Ia berjalan ke ruang tamu, dan
    duduk di meubel yang ada di situ.
    “Saya belum pernah melihat Ratu Mesir Kuno, Tuan,”
    katanya. “Lagi pula, bagi saya, semua perempuan itu ratu.”

    69
    Hamsad sempat tertawa keras mendengar banyolan
    pelayan tua itu. Ia tertarik untuk mengajaknya bicara,
    sehingga ia perlu mempersilakan bapak itu duduk di kursi.
    “Bapak namanya siapa. Pak?”
    “Saya…, Kosmin. Kalau perlu apa-apa bisa panggil saya
    saja lewat telepon, Tuan.”
    “Ah, paling-paling yang kuperlukan ya soal perempuan itu
    tadi. Pak.”
    “Bisa juga! Tempo hari ada yang memesan perempuan dua
    sekaligus! Tamu itu seorang lelaki yang usianya lebih tua dari
    Tuan, dan ia memakai dua perempuan dalam satu kamar.
    Saya juga yang mencarikan. Dia minta perempuan yang
    separuh baya, tapi masih kelihatan cantik dan montok, saya
    terpaksa mencarikannya ke beberapa tempat yang saya
    kenal….”
    “Berhasil?”
    “Berhasil juga, Tuan.”
    “Kalau begitu, carikan saya yang paling cantik.”
    “Boleh. Kapan saya suruh kemari?” tanya Pak Kosmin
    dengan penuh semangat. Hamsad tersenyum kalem sambil
    mengunyah emping.
    “Cantik sekali, nggak? Kalau nggak cantik sekali, saya
    nggak mau, Pak!”
    “O, ditanggung memuaskan, Tuan! Saya punya kenalan
    yang jarang saya suguhkan pada tamu-tamu di sini. Biasanya
    yang suka pakai dia… beberapa boss dari luar negeri.
    Perempuan itu memang biasanya dibawa ke luar negeri oleh
    boss-boss minyak. Baru seminggu yang lalu ia pulang dari
    Itali.”
    Hamsad makin tertarik, ia memperhatikan Pak Kosmin yang
    bermata cekung itu, lalu bertanya dengan penuh harap,
    “Namanya siapa, Pak?”
    “Gea. Nama lengkapnya saya tidak tahu, tapi ia selalu
    memperkenalkan diri dengan nama: Gea!”

    70
    Hamsad kelihatan mengeluh kecil. Ia kurang menggebugebu.
    Namun, ia membiarkan pelayan itu meneruskan
    promosinya tentang Gea. Setelah itu, baru Hamsad bertanya,
    “Pak Kosmin bisa mencarikan perempuan yang bernama
    Kismi?!”
    Pak Kosmin tampak terperanjat sekalipun berusaha
    disembunyikan. Hamsad mengetahui hal itu, dan ia segera
    mengusap tengkuk kepalanya yang sejak tadi bergidik bulu
    romanya. Sejak tadi! Hanya saja, Hamsad tadi bisa menahan
    diri untuk bersikap biasa-biasa saja.
    “Bagaimana, Pak? Kok malah melamun?” tegur Hamsad
    setelah mengetahui lelaki itu melamun. Wajahnya yang tua
    dan sedikit berkeriput itu kelihatan pias. Ia jadi tidak
    bersemangat lagi, seperti tadi. Ada senyum yang dipaksakan
    untuk tetap ramah. Dan, Hamsad membiarkan perubahan
    tersebut, seakan tidak mengetahuinya.
    “Kalau Pak Kosmin bisa mencarikan atau memanggilkan
    perempuan yang bernama Kismi, saya berani kasih tip banyak
    kepada Pak Kosmin,” tantang Hamsad sambil berlagak
    berseloroh. Pak Kosmin tersenyum hambar.
    “Mengapa harus Kismi?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu
    mempunyai arti lain bagi Hamsad, maka ia pun buru-buru
    bertanya,
    “Jadi, Pak Kosmin sudah mengenal Kismi, kan? Sudah
    pernah melihat Kismi, bukan? Nah, type wanita seperti itulah
    yang saya sukai, Pak. Kalau tidak Kismi, saya tidak mau
    ditemani oleh siapa pun!”
    Lelaki berseragam biru-biru, sebagai seragam pelayan
    motel ini, tampak termenung beberapa saat. Lalu, tiba-tiba ia
    mengajukan pertanyaan yang membuat Hamsad sedikit
    terpojok,
    “Apakah Tuan sudah pernah bertemu dengan Kismi?”
    “Hem… anu… bertemu sih belum pernah, tapi ketiga
    temanku pernah bermalam dengan Kismi. Aku mengetahui
    kecantikannya dari ketiga temanku itu, Pak.”

    71
    “Ooo..,” Pak Kosmin manggut-manggut. “Dan, bagaimana
    dengan ketiga teman Tuan itu?”
    “Mereka merasa bahagia sekali tidur bersama Kismi,” jawab
    Hamsad memaksakan untuk bersikap kalem.
    “Maksud saya, bagaimana nasibnya setelah ia tidur
    bersama Kismi?”
    Nah, pertanyaan ini kembali membuat Hamsad merinding.
    Ia melirik ke arah luar lewat gorden jendela, ternyata alam
    telah menjadi gelap. Terbersit perasaan ngeri dalam hatinya,
    namun ia mampu menutupi dengan caranya sendiri.
    “Mengapa Pak Kosmin menanyakan begitu? Apa
    maksudnya?”
    “Setahu saya,” kata lelaki tua itu. “Siapa pun yang tidur
    bersama Kismi, maka ia akan mati!”
    Ada suatu rasa yang menghentak di hati Hamsad, namun
    Hamsad berusaha menetralkan perasaannya.
    “Mengapa harus mati?” tanya Hamsad masih tetap kalem,
    seakan tidak mau percaya dengan keterangan Pak Kosmin.
    “Kismi itu roh!”
    “Ah…!” Hamsad sengaja mendesah dengan nada tidak
    percaya.
    “Sungguh, Tuan. Dulu, memang ada seorang wanita yang
    bernama Kismi. Dia seorang peragawati, tapi dia juga punya
    jabatan penting dalam suatu perusahaan besar di luar negeri.
    Konon, kesibukannya sebagai peragawati hanyalah sebagai
    penangkal kejenuhannya saja…!”
    Karena Pak Kosmin diam. Hamsad mendesaknya,
    “Ceritakan selengkapnya, Pak. Siapa tahu aku mempercayai
    kata-katamu.”
    “Kismi dibunuh di kamar ini oleh pacarnya. Ternyata
    pacarnya itu orang yang punya penyakit syaraf. Ia dicekik, dan
    tangan kanannya dipotong…!”
    Bergidik Hamsad mendengar cerita itu. Sejak tadi ia sudah
    berdebar-debar, keringat dinginnya sudah tersembul, hanya
    saja ia pandai menampilkan sikap tenang sehingga tidak
    kentara apa yang ia rasa.

    72
    “Kismi memang mempunyai hubungan dengan kepercayaan
    Mesir Kuno,” tambah Pak Kosmin, dan tambahan itulah yang
    membuat Hamsad terbelalak kaget.
    “Mmm… mak… maksud… maksudnya, bagaimana, Pak?
    Bagaimana?” Hamsad sampai meng-geragap.
    “Mayat Kismi sampai sekarang masih utuh, karena
    dimakamkan dalam kotak kaca hampa udara. Ia mempunyai
    cincin berbatu putih kekuning-kuningan. Cincin itu, konon
    pemberian seorang profesor, ahli sejarah, yang menjadi
    gurunya di perguruan tinggi. Cincin itu, berasal dari zaman
    Mesir Kuno. Bukan cincinnya yang saya maksud, melainkan
    batu pada cincin tersebut.”
    “O, begitu?! Lalu… lalu… lalu, khasiat cincin itu sendiri
    apa?”
    “Apabila ia mati, nyawanya masuk ke dalam batu cincin
    tersebut. Kalau ia mengenakan cincin itu lagi, maka ia akan
    hidup. Tetapi, kalau sampai tiga kali ia mati, maka ia akan
    mati selama-lamanya!”
    “Gila…!” gumam Hamsad sepertinya antara mengagumi
    dan tidak percaya.
    Pak Kosmin melanjutkan lagi, “Jadi, karena ia dicekik dan
    tangan kanannya dipenggal, maka ia tak dapat hidup lagi.
    Karena, di jari manis tangan kanannya itulah cincin mistik itu
    dikenakan. Ia terpisah dengan cincin tersebut, maka sama
    saja ia terpisah dari nyawanya. Kemudian, pelayannya yang
    selalu mendampingi Kismi memakamkan mayat Kismi di dalam
    tabung kaca hampa udara, supaya kuman tidak merusak
    jasadnya. Apabila potongan tangan kanan itu disambungkan
    lagi ke lengan Kismi, maka ia akan hidup lagi sebagai manusia
    biasa. Itulah keistimewaan dari Cincin Zippus.”
    Beberapa saat lamanya Hamsad terbengong. Terbayang
    sesuatu yang mustahil menjadi nyata. Dan, ia terkejut ketika
    Pak Kosmin berdiri, mohon pamit.
    “Tunggu, Pak…! Bapak sendiri siapa? Kenapa bisa
    mengetahui riwayat Kismi?”
    “Saya pelayan Kismi…!”

    73
    Dan, tiba-tiba lelaki tua beruban putih itu melangkah keluar
    kamar tanpa membuka pintu lebih dulu. Badannya bagai
    gumpalan asap yang mampu menembus daun pintu yang
    tebal. Hal itu membuat Hamsad tercengang dengan mata
    mendelik dan tubuh gemetar. Ia buru-buru membuka pintu
    untuk mengejar Pak Kosmin, tetapi ternyata lelaki tua itu tidak
    terlihat sama sekali. Di luar hanya ada gelap malam yang sepi.
    Sekujur tubuh Hamsad menjadi merinding dan keringat
    dinginnya pun membasahi semua pakaiannya. Lalu, sesuatu
    yang aneh kembali dialaminya, tak lama berselang dari
    peristiwa itu. Hamsad masih terengah-engah, ia melihat
    arlojinya, dan begitu terkejutnya ia setelah mengetahui,
    bahwa saat itu malam sudah menunjukkan pukul 11 lewat 55
    menit.
    “Gila! Arloji murahan bikin kaget saja!” gerutunya sambil
    gemetar. Ia tak percaya, tapi juga penasaran. Ia menelepon
    bagian resepsionis dan menanyakan jam. Ternyata
    jawabannya sama, “Pukul 11 lewat 55 menit, Tuan!”
    “Astaga…! Kalau begitu aku sudah bicara dengan… dengan
    roh pelayan Kismi itu memakan waktu cukup lama?! Dari
    magrib sampai hampir tengah malam?! Oh, konyol! Terasa
    hanya sebentar! Nyatanya lebih dari lima jam?! Gila! Ini benarbenar
    gila!”
    Malam yang mengalunkan deburan ombak samar-samar itu
    ibarat irama penghantar ke liang kubur. Suasana ganjil yang
    menimbulkan rasa takut mencekam kuat di dalam kamar
    tersebut. Jantung Hamsad berdetak-detak keras, sampai dia
    mengalami sesak napas. Ia berusaha merubah suasana
    tegang di dalam kamar dengan suara TV yang mengalunkan
    lagu-lagu tempo dulu: acara ‘Dari Masa ke Masa’. Dengan
    suara keras dari musik-musik itu, Hamsad sedikit berhasil
    mengatasi cekaman rasa takut yang bagai membekukan
    darahnya itu. Ia membuka kaosnya yang basah oleh keringat
    dingin. Bahkan juga melepas celana panjangnya yang lembab
    karena keringat pula.

    74
    Sekarang, ia merasa panas. Gerah. Padahal AC berjalan
    dengan lancar. Karena tak tahan, Hamsad pun mengguyur
    badannya di kamar mandi. Pada saat itu, ia masih terngiangngiang
    cerita Pak Kosmin, dan terbayang kenyataan
    mengerikan dari Pak Kosmin yang mampu menembus pintu
    tanpa dibuka lebih dahulu. Hamsad tidak percaya kalau
    ternyata sejak tadi berbicara dengan roh. Roh pelayan Kismi.
    Dan, agaknya roh pelayan Kismi itu pun mencari tahu di mana
    tangan kanan Kismi yang dipotong oleh pembunuhnya. Maka,
    timbul kecamuk di hati Hamsad,
    “Kalau aku bisa menemukan tangan atau cincin itu, dan
    bisa menyambungkannya ke lengan jenazah Kismi, mungkin
    perempuan itu akan hidup kembali. Lalu, apa yang kuperoleh
    dari pekerjaan itu? Oh… gila! Cerita itu kenapa mendominir
    otakku? Kenapa aku sangat percaya? Bukankah itu suatu hal
    yang mustahil?” Hamsad berdebat sendiri di dalam hatinya.
    Kemudian, batinnya berkata juga,
    “Jadi, pantas kalau selama ini Norman, Denny, dan Tigor
    mati bunuh diri setelah tidur bersama Kismi. Rupanya roh
    Kismi menaruh dendam kepada lelaki. Roh itu yang ada di
    tangan kanannya, pada batu cincin tersebut. Dan, roh itu yang
    masuk ke dalam tangan kanan Norman, kemudian memaksa
    Norman bunuh diri. Padahal itu adalah tindakan pembunuhan
    dari roh Kismi yang ada di tangan kanannya. Oh, mengerikan
    sekali! Apa jadinya jika roh itu masuk ke tangan kananku…?!”
    sambil berkecamuk demikian di batinnya, Hamsad
    mengangkat tangan kanannya sendiri. Memperhatikan tangan
    kanannya itu dengan hati berdebar-debar. Semakin lama ia
    memperhatikan tangan kanannya, semakin gemetar tangan
    kanan itu. Jantungnya bertambah cepat terpacu. Jari-jemari
    tangan kanannya mengejang. Mulanya bergerak-gerak, lalu
    mengejang semuanya, membentuk cakar.
    “Oh…?! Tangan kananku kaku..?!” katanya terpekik
    ketakutan sendiri. Ia mendelik memperhatikan tangan
    kanannya. Jari-jemari itu gemetar pada saat membentuk cakar
    yang keras dan kaku. Tangan kiri Hamsad buru-buru

    75
    melunakkan tekukan jari-jemari tangan kanannya. Dan,
    Hamsad pun menghempaskan napas. Ternyata tangan
    kanannya mengalami kram sebentar. Kini kembali lemas,
    seperti sediakala.
    Sambil mengenakan handuk, Hamsad terengah-engah
    karena rasa takutnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan
    hanya berbalut handuk, karena pada saat itu ia mendengar
    suara TV berkerosak tak karuan. Ternyata layar TV sudah
    tidak menampilkan gambar apa-apa lagi, kecuali bintik-bintik
    semacam semut berpesta pora. Salurannya bagai ada yang
    memutus, dan suara berisik itu mengganggu pendengaran
    Hamsad. Maka, pesawat TV pun terpaksa dimatikan. Dan, kali
    ini kamar menjadi hening tanpa suara apa pun.
    Hamsad duduk di pembaringan dengan melamun,
    membayangkan sesuatu yang bersimpang siur dalam
    pikirannya. Kacau!
    ***
    Bab 9
    Suara ketukan pintu yang lembut mengejutkan lamunan
    Hamsad. Napasnya terhempas karena rasa kagetnya. Ia
    sempat mencaci sendiri, lalu menyadari bahwa ia lupa
    membayar uang emping dan kacang mete. Setelah mengambil
    uang puluhan ribu dari dompetnya, Hamsad menuju ke ruang
    tamu dengan hanya berbalut handuk tebal.
    Klik…! Pintu dibuka, dan sapaan lembut terdengar,
    “Selamat malam…!”
    Hamsad terbelalak seketika. Darahnya bagai mengalir cepat
    ke bagian kepala. Pucat. Napasnya pun tersentak, seakan
    berhenti seketika. Di depannya, berdiri seorang perempuan
    yang berbadan atletis, tinggi sekitar 168 cm, berbadan padat,
    menonjol namun ideal bagi tubuhnya yang sexy itu. Mulut
    Hamsad bergerak-gerak, namun tak berhasil melontarkan
    sepatah kata pun. Matanya tak bisa berkedip menatap seraut

    76
    wajah klasik, dengan kecantikan yang mirip seorang ratu Mesir
    Kuno. Hidung mancung, bibir ranum tak terlalu lebar, mata
    bulat dengan kebeningan yang tajam meneduhkan, dan
    rambut hitam indah disanggul ke atas, sehingga
    menampakkan lehernya yang tergolong jenjang itu berkulit
    kuning langsat.
    Yang terucap di hati Hamsad hanya kata-kata, “Sudah
    lewat tengah malam…!”
    Perempuan itu tersenyum ramah, indah sekali. Enak
    dipandangi berjam-jam lamanya. Suaranya yang serak-serak
    manja terdengar membuai hati Hamsad yang gemetar.
    “Boleh aku masuk?”
    “Bo… bob… eh, sil… silakan…!” Hamsad menggeragap.
    Jantungnya yang berdetak cepat membuat ia serba gemetar.
    Berulangkah ia menelan napasnya untuk menguasai
    kegugupan yang mengerikan, dan sedikit-sedikit ia mulai
    berhasil menenangkan gemuruh di dalam dadanya.
    Ada bau harum dari parfum yang dikenakan perempuan itu.
    Bau harum itu begitu lembut, klasik, namun membawa kesan
    yang anggun. Perempuan itu mengenakan gaun transparan
    putih tanpa lengan. Tas kulit warna hitam yang bertali rantai
    kuning keemasan tergantung di pundak kirinya. Sepatunya
    berwarna hitam, menapak di lantai. Jelas sekali. Ketika
    melangkah terdengar ketukan sepatunya yang lembut.
    Waktu itu, angin berhembus lebih kencang dari
    sebelumnya. Suara angin itu mengalun bercampur deburan
    ombak. Malam berubah menjadi lebih sunyi lagi, seakan kutukutu
    malam pun tak berani bersuara. Hal itu semakin
    membuat Hamsad dicekam rasa takut, tubuhnya pun menjadi
    merinding semua.
    “Sendirian di sini?” suara serak-serak manja yang
    menggemaskan hati lelaki itu mengacaukan pikiran Hamsad.
    Ia masih diam di pintu, tanpa menutup daun pintu, sehingga
    angin yang berhembus membawa kemisterian itu menerobos
    masuk ke kamar. Ia tak sempat menjawab dengan kata,
    kecuali mengangguk dan menampakkan rasa takutnya. Ada

    77
    niat untuk lari keluar kamar dan berteriak meminta tolong,
    tetapi sikap perempuan itu begitu mengesankan, baik dan
    ramah. Sehingga, hati Hamsad berdiri di batas kebimbangan.
    “Apakah ruangan ini kurang dingin? Kurasa sudah cukup
    sejuk, tak perlu kau tambah dengan cara membiarkan pintu
    terbuka,” katanya sambil menampakkan senyumnya yang
    mengagumkan sekali. Hamsad pun segera menutup pintu,
    namun tak berani menguncinya. Ia jadi seperti orang bego
    berdiri bersandar pada pintu dengan kedua lutut gemetar.
    Detak-detak jantungnya kembali memburu ketika perempuan
    itu melangkah mendekati Hamsad, memandang dengan penuh
    sorot mata yang mempesonakan.
    Luar biasa kecantikan itu. Hamsad baru percaya dengan
    apa yang pernah dikatakan Almarhum Norman, Denny, dan
    Tigor. “Perempuan itu mempunyai kecantikan yang luar biasa.
    Kehebatan di ranjang yang luar biasa pula….” Pantas rasanya
    jika para korban memuji Kismi habis-habisan, karena
    perempuan itu memang patut dipuji dan disanjung. Hanya
    saja, kali ini lidah Hamsad masih kelu, darahnya berdesir
    seakan beredar di seluruh tubuh dengan kacau. Apalagi kali ini
    perempuan itu tepat berada di depannya, oh…. Hamsad
    seperti kehilangan kesempatan untuk menghela napas.
    “Kau sakit?” tanya perempuan itu. “Wajahmu pucat sekali.”
    Kemudian, karena lama sekali Hamsad tidak bisa
    menjawab, perempuan itu menyentuh jari-jemarinya ke pipi
    Hamsad. Lembut sekali. Pelan. Hamsad merasa diusap oleh
    selembar kain sutra yang berbau harum menggairahkan.
    Lutut semakin gemetar, nyaris tak bisa dipakai untuk
    berdiri, karena saat itu, Hamsad merasakan suatu ciuman
    yang hadir dengan sangat pelan. Menempel di pipinya terasa
    menghangat dipermukaan wajah Hamsad. Suara serak-serak
    manja menggemaskan itu terdengar berbisik di telinga
    Hamsad,
    “Kosmin memberitahu kehadiranmu. Aku tahu, kau
    membutuhkan aku, bukan? Kau mencari aku, bukan?” Ia
    segera menarik wajahnya, kini beradu pandang dengan

    78
    Hamsad. Mulut Hamsad masih kaku, sukar digerakkan. Dan,
    perempuan itu berkata lagi,
    “Jangan takut. Aku Kismi, orang yang kau cari. Kau hanya
    memilih aku dari sekian perempuan yang ditawarkan Kosmin.
    Dan, sekarang pilihanmu telah berada di sini, di depanmu.
    Mengapa kau diam saja? Mengapa kau takut? Barangkali
    karena kau mendengar cerita dari Kosmin, lantas kau pikir aku
    akan membunuhmu? Hem…?!”
    Oh, begitu mesranya ia bicara. Sesekali tangannya
    mengusap rambut di kening Hamsad, menyibakkan ke
    belakang dengan tatapan mata penuh curahan rasa kasih.
    “Barangkali kita bisa buat perjanjian,” katanya dengan
    lembut.
    “Ak… aaak… akuuu…,” Hamsad berkata dengan gagap.
    “Akuuu… hm… akkk….”
    “Ssst…!” Kismi menempelkan jari telunjuknya ke bibir
    Hamsad. Ia membisik, “Kecuplah bibirku…! Kecuplah, agar
    rasa takutmu hilang…!”
    Hamsad gundah. Debaran hatinya membuat ia tersengalsengal
    dalam bernapas.
    Kismi memejamkan mata, menyodorkan bibirnya yang
    terperangah menantang. Ia berbisik lagi, “Kecuplah aku…
    kecuplah, supaya rasa takutmu hilang…!”
    Dengan gemetar, Hamsad mendekatkan bibirnya ke bibir
    Kismi. Ia ragu sejenak, tetapi Kis-mi bergerak lebih maju,
    sehingga bibirnya menyentuh bibir Hamsad. Kemudian,
    Hamsad mengecup bibir itu dengan gemetar. Mulanya hanya
    ingin sekejap, tetapi Kismi membalas dengan hangat.
    Mengulumnya, melumatnya penuh gairah. Bahkan ia
    mendesah ketika bibir itu terlepas sekejap. Sebelum Hamsad
    menarik diri, Kismi telah mengulang adegan itu. Semuanya ia
    lakukan dengan lembut, tidak kasar dan rakus. Justru
    kelembutan itulah yang membuat hati Hamsad terasa tersiram
    serpihan salju. Dingin, tenang, dan debarannya pun
    berkurang.

    79
    Perlahan-lahan sekali Kismi melepaskan kecupan itu,
    seakan merasa enggan memisahkan bibirnya dari bibir
    Hamsad. Ketika kecupan itu berhenti, senyum Kismi mekar
    mengagumkan. Hamsad mulai menyunggingkan senyum
    bernada malu. Anehnya, saat itu ia tidak lagi merasa
    berdebar-debar. Ia tidak merasa takut dan gemetar. Ia dalam
    keadaan normal, memandang Kismi seperti memandang
    perempuan biasa. Hamsad sadar, ia berhadapan dengan
    hantu, tapi ia tidak merasa ngeri sedikit pun. Justru ia merasa
    bangga bisa berhadapan muka dengan wanita berwajah mirip
    ratu Mesir Kuno itu. Ia berdecak menyatakan rasa kagumnya
    kepada Kismi.
    “Bagaimana aku harus memanggilmu?” tanya Kismi sambil
    melingkarkan kedua tangannya ke leher Hamsad. Matanya
    berkedip-kedip memandang Hamsad dengan penuh pesona
    mengagumkan.
    “Panggil aku, Hamsad!” jawab Hamsad dengan lancar, tak
    ada kebimbangan, hanya sedikit sisa getaran masih terasa.
    “Aku kagum padamu, Hamsad. Kau manusia yang nekat.
    Kau punya semangat, tapi tidak punya keberanian. Mungkin
    begitulah dalam hidupmu sehari-hari.”
    Hamsad tersipu. Ia tak berkedip menatap Kismi, kemudian
    ia berkata bagai di luar kesabaran, “Cantik sekali…!”
    “Siapa?” tukas Kismi.
    “Kau…,” desah Hamsad, romantis sekali. Kismi mencibir
    manis. Kemudian keduanya sama-sama tertawa. Keduanya
    sama-sama berpelukan, masih di depan pintu.
    “Aneh sekali…,” bisik Hamsad.
    “Apanya yang aneh?”
    “Hatiku jadi berbunga-bunga. Aku bahagia sekali.”
    “Kenapa?” bisik Kismi makin mendesah.
    “Aku bisa bertemu denganmu, dan aku bisa memelukmu,”
    jawab Hamsad. “Padahal aku tahu….”
    “Tahu apa?” tukas Kismi lagi, seakan menggoda.
    “Aku tahu, bahwa kau bukan manusia…!”

    80
    Kismi buru-buru melepaskan pelukannya. Ia kelihatan
    tersinggung. Hamsad menggeragap bingung ketika Kismi
    meninggalkannya. Perempuan itu berjalan ke kamar tidur, dan
    menghempaskan dirinya di tepian ranjang. Wajahnya murung.
    Hamsad serba salah jadinya. Ia mencoba mendekati Kismi dan
    berkata penuh sesal,
    “Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.”
    “Aku tidak tersinggung,” jawab Kismi. Masih murung. “Aku
    sedih jika ada yang mengatakannya begitu. Aku ingin kau
    pura-pura tidak mengetahui siapa aku.”
    “Mengapa begitu?”
    Kismi mendongak, memandang Hamsad yang berdiri di
    sampingnya. Wajah Kismi tepat berada di pinggang Hamsad.
    Perempuan itu berkata dengan nada sedih,
    “Aku datang memenuhi keinginanmu. Aku ingin mengagumi
    lelaki yang punya tekad seperti kamu. Jadi, aku tak ingin
    mendengar kata-kata seperti itu lagi.”
    “Aku berjanji tidak akan mengatakan hal itu lagi, Kismi,”
    kata Hamsad sambil mengusap-usap kepala Kismi. Kepala itu
    pun kemudian rebah di pinggang Hamsad.
    “Aku ingin mencari kebahagiaan. Aku ingin menghibur
    diriku seriang mungkin. Aku…,” Kismi berhenti sejenak,
    mendongak lagi, menatap Hamsad, lalu berkata,”… aku ingin
    hanyut dalam kemesraan.”
    Hamsad mengangguk, “Apakah menurutmu aku bisa
    memberi kemesraan padamu?”
    Tangan Kismi mulai merayap, mengusap-usap paha
    Hamsad yang hanya dibalut handuk itu. Ia bicara bagai
    sedang melamun,
    “Aku tak tahu, apakah kau yang terpilih bagiku. Tetapi, aku
    sangat menyukai lelaki yang punya tekad, daripada yang
    hidup penuh kebimbangan. Biasanya, lelaki yang hidup
    mengandalkan tekad, ia mempunyai naluri bercumbu sangat
    romantis.”
    Hamsad tertawa pelan. “Aku tidak merasakan diriku begitu.
    Kismi,”

    81
    “Tapi aku merasakannya…,” seraya tangan Kismi terus
    merayap pada bagian terpeka bagi seorang lelaki. Hamsad
    membiarkan tangan itu memainkan sesuatu, Ia sibuk
    menekuni hatinya yang berdebar-debar dalam keindahan.
    Lalu, ia sedikit menunduk, mencium kening Kismi. Wajah
    itu buru-buru tengadah ke atas, merenggangkan bibirnya
    dalam desah yang tipis sekali. Hamsad mencium kening dan
    merayap ke hidung Kismi, kemudian merayap lagi perlahanlahan,
    sampai akhirnya mulut Hamsad menyentuh bibir Kismi.
    Lidah Hamsad mempermainkan bibir Kismi yang segar dan
    menggairahkan itu. Kismi mengerang pelan, bagai merengek
    minta sesuatu. Kemudian, Hamsad pun mengecup bibir itu
    pelan-pelan. Lembut sekali. Sementara itu, tangan Kismi yang
    nakal semakin bengal.
    Handuk pembalut pun terlepas dan jatuh di lantai. Hamsad
    membiarkan. Ia masih sibuk menciptakan sejuta desiran indah
    melalui kecupan bibir Kismi. Tapi, kali ini tangan Hamsad pun
    menarik tali gaun yang ada di pundak Kismi. Kedua tali pun
    terlepas, dan gaun transparan itu terkulai jatuh di pangkuan
    Kismi. Tangan Hamsad mulai merayap dengan usapan lembut,
    sentuhan jemarinya bagai mengambang dan justru
    menciptakan debaran halus di hati Kismi.
    “Oh… kau pandai membawaku melayang, Hamsad…,” bisik
    Kismi dalam desahnya. Ia buru-buru memeluk pinggang
    Hamsad. Mengecup pinggang itu, dan menjalar ke manamana.
    Hamsad melepas sanggul rambut Kismi sambil berdesis-
    desis. Rambut itu tergerai sebatas punggung. Lemas
    sekali. Halus, dan berbau harum. Tangannya mengusap-usap
    punggung Kismi dengan gerakan lamban, sedangkan Kismi
    semakin berani menjalarkan lidah dan bibirnya ke ujung
    percintaan Hamsad.
    Di relung keheningan malam, suara desah mereka saling
    memburu. Kismi sering memekik dalam keadaan tubuhnya
    mengejang kaku, sedangkan Hamsad hanya mendesah-desah
    dan tetap menjadi nahkoda ‘pelayaran’ itu. Ia sengaja tidak
    mendorong tubuh selembut sutra itu ke permukaan ranjang.

    82
    Ia biarkan cintanya melayang-layang dengan mengandalkan
    kekuatan kakinya. Kismi sendiri agaknya masih mampu
    menegakkan betisnya, sekalipun ia merasa limbung beberapa
    kali.
    Namun, kehebatan Kismi akhirnya membutuhkan alas bagi
    punggungnya, dan ia menarik Hamsad perlahan-lahan, maka
    jatuhlah mereka di ranjang yang berkasur empuk itu.
    Kecupan-kecupan Hamsad masih membanjir di sekujur tubuh
    Kismi. Napasnya masih mampu berlari sejauh 10 km lagi,
    bahkan lebih. Kismi merasa dirinya diterbangkan oleh amukan
    kasmaran Hamsad, sampai-sampai ia menggelinjang dengan
    brutal karena mengalami masa kejayaan cintanya beberapa
    kali.
    Pada detik-detik yang mendebarkan cinta Hamsad, ia
    semakin ‘berlari’ cepat, mengejar bayangan kasihnya di
    puncak bukit cinta. Ketika ia tiba di sana, ia pun mengerang
    panjang dan mengejang. Kismi ganti mengambil alih ‘kemudi’.
    Kini menjadi nahkoda ‘pelayaran’ malam itu. Dan sebagai
    seorang nahkoda, ia ternyata mempunyai kelincahan
    mempermainkan kemudi. Layar dikembangkan, dayung
    direngkuh, dan bahtera pun melaju makin dipermainkan
    ombak. Hamsad tak sempat berpikir untuk menentukan, Kismi
    bahtera atau ombak? Ia hanya merasakan amukan gelombang
    yang melemparkan ia ke awang-awang. Kismi bagai gulungan
    badai yang mampu menerbangkan Hamsad ke atas
    percintaannya beberapa kali, hingga pekikan dan erangan
    bahagia pun terlontar silih berganti.
    Ketika menyongsong fajar, kasur sudah berubah menjadi
    tanah lembab. Seprei dan selimut tebal tak ubahnya rumput
    yang terbabat, berserakan ke mana-mana. Banjir keringat
    mengguyur tubuh mereka. Napas-napas terpenggal saling
    berhamburan. Tubuh Kismi lunglai di peraduan. Hamsad
    mengusapnya dengan sarung bantal. Tubuh mulus tanpa
    cacat sedikit pun itu dibersihkan dari keringat. Diusap
    perlahan-lahan. Kemudian, dikecupnya beberapa bagian.
    Masih saja tercium bau wangi yang lembut dan

    83
    menggairahkan. Napas Kismi terengah-engah, dadanya yang
    menonjol dalam bentuk indah itu bergerak naik-turun. Ia
    membiarkan Hamsad mengucapnya beberapa kali, terkadang
    mencekam pada titik terpeka, dan Kismi hanya bisa
    mengerang di sela desah napas dan kelunglaian
    persendiannya.
    “Luar biasa…,” gumamnya bercampur dengus napas yang
    terengah-engah. Hamsad diam saja. Masih mengusap-usap,
    masih mencium beberapa tempat, masih pula menatapinya
    penuh rasa kagum dan bangga diri.
    Tangan Kismi meraba keringat Hamsad yang meleleh dari
    leher ke dada. Ia tersenyum, lalu berkata lirih,
    “Kau sungguh luar biasa, Hamsad. Kau… ah, kenapa baru
    sekarang kau kutemukan?”
    Hamsad tersenyum di sela engahan napasnya. “Kau
    memiliki kata dan tanya yang sama dalam benakku. Tapi…
    mengapa kau tampak pucat sekali? Lelah?”
    Kismi mengangguk, tak malu-malu. “Kau juga pucat,
    seperti selembar kertas. Capek?” tanyanya bergantian. Lalu,
    keduanya mengadu wajah sambil tertawa bahagia.
    ‘Hamsad, aku harus pulang sebelum matahari terbit,” bisik
    Kismi.
    “Tak bisakah kau tinggal sampai siang hari?”
    Kismi menggeleng. “Kita harus berpisah,” ucapnya penuh
    sendu. “Tapi, bila lewat tengah malam, kita bisa berjumpa
    lagi, Hamsad.”
    “Oh… tidak! Aku ingin memilikimu sepanjang masa, Kismi!
    Aku ingin mendekapmu, ingin menciummu, tanpa peduli siang
    atau malam.”
    “Hamsad, kau tahu siapa aku, bukan? Kita punya
    perbedaan masa. Kita punya perbedaan alam. Dan, itu tak
    bisa dibantah, Hamsad.”
    “Harus bisa! Aku tidak ingin kehilangan kau, Kismi. Aku…
    ah, terlalu mudah jika aku berkata cinta padamu, bukan? Jadi,
    sebaiknya tak kukatakan, bahwa aku mencintaimu….”
    “Kau sudah mengatakannya. Hamsad.”

    84
    Kemudian, Kismi pun tertawa mengikik geli sambil memijit
    hidung Hamsad. Tangan Hamsad mengibas, dan ia ganti
    memijit hidung Kismi sambil berkata, “Nakal…!”
    Pagi mulai meremang. Kismi bergegas pulang dengan
    wajahnya yang pucat. Hamsad sempat berbisik sedih, “Kapan
    kau datang padaku lagi, Kismi?”
    “Menunggu saatmu pulang kemari,” jawab Kismi. “Hati-hati,
    Hamsad. Mudah-mudahan ia tidak mengancammu.”
    “Siapa…?!” Hamsad merasa heran. Kismi diam saja.
    ***
    Bab 10
    Tubuh yang lunglai itu tergeletak sampai siang hari.
    Hamsad bagai habis mengadakan perjalanan jauh. Tulangtulangnya
    terasa ngilu semua. Ia meninggalkan motel itu
    antara pukul 12 siang. Ia tidak langsung ke rumah, melainkan
    ke kampus, karena hari itu ia punya acara: mengadakan
    audensi dengan salah seorang tokoh bersama dua temannya.
    Namun, ternyata benaknya sudah telanjur dipenuhi oleh
    kesan indah dan manis dari Kismi. Berulangkah’ ia
    mengalihkan pikirannya, tanpa sadar toh kembali juga ke
    masalah Kismi. Ia memang pernah punya perasaan cinta. Ia
    pernah menyukai seorang gadis. Tetapi, tidak seperti kali ini
    perasaan suka kepada gadis yang ia rasakan. Kali ini ia benarbenar
    terpaku oleh perasaan cintanya kepada Kismi. Ia seperti
    belum pernah mengenal cinta sebelumnya. Bahkan, dalam hati
    ia berkata, “Aku seperti anak ingusan yang baru pertama kali
    ini disentuh wanita. Padahal aku sering mencium Reni sewaktu
    di SMA. Aku juga sering berciuman dengan Laila. Bahkan aku
    pernah tidur dengan Pungki. Tetapi, mengapa mereka tidak
    meninggalkan kesan yang mematri di hatiku? Mengapa
    mereka jauh berbeda dengan Kismi? Kesannya begitu kuat,
    membuat aku tak mampu mengalihkan konsentrasiku walau
    sekejap. Oh… luar biasa daya tariknya. Luar biasa kecantikan

    85
    itu. Pantas kalau Norman dan yang lainnya tega melakukan
    bunuh diri demi cintanya yang tak tercapai itu.”
    Dalam perjalanan ke kampus, mendadak Hamsad menjadi
    tegang. Hatinya berdebar-debar setelah ia ingat kematian
    Norman, Denny, dan Tigor. La menggumam sendiri di dalam
    mobilnya, “Mereka mati dengan cara bunuh diri. Mereka
    bunuh diri karena rindu pada Kismi. Mereka rindu, karena
    mereka jatuh cinta pada Kismi. Lalu, bagaimana dengan aku?
    Apakah aku tidak akan berbuat seperti Norman, Denny, dan
    Tigor? Oh, jangan! Jangan sampai aku sepicik mereka. Aku
    harus tegar, tak mau jatuh karena perempuan. Tapi…?”
    Hamsad berkerut dahi. Ia melanjutkan kata-katanya dalam
    bentuk kecamuk di dalam liati.
    “Tapi, Kismi meninggalkan pesan yang misterius. Saat ia
    sebelum pergi, sebelum ia mengecup bibirku yang terakhir
    kali, aku mendengar ia menyuruhku berhati-hati. Ada sebaris
    kata yang aneh. Mudah-mudahan ia tidak mengancammu’.
    Ia…?! Siapa yang dimaksud ‘ia’ oleh Kismi itu? Benarkah diriku
    terancam? Oleh siapa sebenarnya? Kekasih Kismi? Kekasihnya
    yang telah tega membunuhnya itu? Ih, brengsek amat kalimat
    itu. Menghantui pikiranku terus. Siapa sih sebenarnya yang di
    maksud itu…?!”
    “Pucat sekali kau!” tegur Ade di pintu gerbang kampus.
    Waktu itu, Hamsad sedang; menuju ke gedung rektorat
    setelah memarkirkan mobilnya. “Kau habis begadang, ya?
    Atau… sakit?”
    “Apakah aku kelihatan pucat?!”
    “Ya, pucat sekali,” jawab Ade tegas. Hamsad jadi gelisah.
    “Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu, De. Tapi,
    tunggu sebentar, aku punya urusan penting.”
    “Oke. Aku nongkrong di kantin! Kutunggu kau di sana,
    Ham.”
    Ragu-ragu Hamsad jadinya. Wajahnya pucat pasi. Semua
    temannya yang berpapasan dengannya mengatakan begitu.
    Malahan seorang dosen yang berpapasan dengannya juga
    menyarankan, “Pulanglah! Jangan paksakan diri kalau kau

    86
    dalam keadaan sakit. Ilmu bisa dicari sampai tua, tapi nyawa
    seseorang tidak bisa dicari lagi. Sekali hilang, akan selamanya
    hilang.”
    Setelah bertemu dengan temannya yang punya urusan
    sama, Hamsad juga dianjurkan untuk pulang. Justru temannya
    kelihatan cemas dan berkata, “Kau benar-benar seperti mayat,
    Ham. Aku kuatir kau akan mengalami naas di sini! Pulanglah.
    Biar aku yang mengurus masalah kita ini.”
    Hamsad tidak langsung pulang, melainkan langsung ke
    kantin menemui Ade. Di pintu kantin ia berpapasan dengan
    Yoppi. Yoppi pun terkejut melihat Hamsad berwajah pucat
    sekali, ia menegur,
    “Gila kau, Ham! Kau kemanakan darahmu? Kau seperti
    manusia tanpa darah setetes pun, tahu?!”
    “Aku sedang tak enak badan,” ujarnya seraya langsung
    menemui Ade. Yoppi menguntit dari belakang. Begitu Hamsad
    duduk, Yoppi ikut duduk di sampingnya, tapi langsung
    berkata,
    “Demi Tuhan, aku jadi merinding melihat kau berjalan,
    Hamsad! Kau…. Wah, celaka! Kurasa saat ini bukan waktumu
    untuk ngobrol di sini!” Yoppi kelihatan cemas sekali.
    Sedangkan Ade hanya memandang Hamsad dengan
    kecemasan yang disembunyikan.
    “Aku…. Oke-lah, aku akan pulang dan beristirahat. Tetapi,
    sebelumnya ada yang ingin kuta-kakan kepada kalian,” kata
    Hamsad. “Tapi, kumohon kalian bisa merahasiakan. Kumohon
    sekali!”
    Yoppi dan Ade menggumam. Yoppi kelihatan lebih tegang
    dari Ade. Ia juga yang bertanya.
    “Tentang apa itu, Ham?!”
    Hamsad berkata pelan, “Aku telah bertemu dengan Kismi.”
    “Hah…?!” Kini, bukan Yoppi saja yang terpekik kaget,
    melainkan Ade pun jadi tersentak. Duduknya yang semula
    bersandar santai, kali ini bergerak maju dan mata memandang
    Hamsad penuh kecemasan.

    87
    “Kau…?! Kau bertemu dengan Kismi?!” Ade setengah tidak
    percaya.
    “Aku tidur dengan perempuan itu,” tambah Hamsad,
    semakin membuat Yoppi dan Ade menampakkan rasa
    takutnya. “Aku bergumul dengannya. Semalaman kami tak
    tidur. Ia memang hebat, istimewa dan luar biasa segalanya.
    Kecantikannya luar biasa, kekuatannya di ranjang juga luar
    biasa…!”
    “Tunggu, Ham…!” sergah Yoppi. Lalu, Yoppi berkata dalam
    bisikan yang dipertajam, “Dulu, Almarhum Tigor juga
    menceritakan hal itu kepada kami. Dan, malamnya ia bunuh
    diri. Denny pun demikian. Lalu, mengapa sekarang kau
    berkata begitu, Hamsad?! Apakah kau tak menyadari risiko
    berbahaya yang akan menimpamu?!”
    Sebelum Hamsad menjawab, Ade telah berkata, “Aku jadi
    merinding. Sungguh. Aku takut membayangkan kengerian
    yang akan kau alami nantinya. Oh… saat ini aku seperti
    melihat Tigor merenggangkan nyawanya karena tikaman badik
    ke tubuhnya…! Uh, mengerikan sekali, Ham! Sangat
    mengerikan!”
    Getir juga hati Hamsad mendengar kata-kata mereka, Ia
    makin beri debar-debar. Sudah lama ia berhenti merokok,
    namun kali ini ia menyahut rokok Yoppi dan menghisapnya.
    Barangkali ia mencari ketenangan jiwa dengan cara
    menghisap rokok. Namun, natanya ia masih saja kelihatan
    pucat dan tegang.
    “Aku tahu, apa yang dialami mereka yang habis bercinta
    dengan Kismi, tapi aku menjaga kesadaranku untu’k tidak
    berbuat seperti mereka,” kata Hamsad dongan gerak mata
    yang nanar karena hati berdebar-debar.
    “Apakah kau bisa?”
    “Harus bisa! Aku tidak boleh cengeng. Aku harus tegar
    dan…”
    “Norman bukan pemuda cengeng,” sahut Yoppi. “Dia
    pemuda yang tegar dan tidak mengenal kecengengan. Tetapi,
    nyatanya ia rapuh…!”

    88
    “Ia menikam dirinya sendiri dengan gunting,” sahut Ade.
    Kemudian, Yoppi melanjutkan,
    “Ia tidak bisa mengendalikan tangan kanannya yang
    beirgerak sendiri menikam dirinya…! Ham, aku curiga, di balik
    kematian mereka ada kekuatan gaib yang berperan tanpa
    mereka sadari. Kekuatan gaib itu… menurutku, berasal dari
    Kismi.”
    “Benar,” jawab Hamsad tegas.
    “Kalau kau tahu, mengapa kau lakukan?” sela Ade.
    Hamsad menghempaskan napasi “Sudah telanjur, De.
    Semuanya sudah telanjur. Aku tahu, Kismi sebenarnya sudah
    mati…!”
    “Ya, Tuhan…!” keluh Ade.
    “Kismi memang hantu, tetapi Kismi tidak seperti hantu.
    Aku… aku mencintainya, De.”
    “Gila kau!” geram Yoppi. “Kalau terjadi sesuatu padaku,
    kumohon, jangan ada yang mencobanya lagi. Lupakan
    tentang Kismi, dan jangan ada yang tergiur dengan cerita ini,
    juga jangan ada yang terpengaruh dengan cerita Almarhum
    Norman, Denny, maupun Tigor. Berbahaya! Aku akan
    mencoba mengalahkannya dengan caraku sendiri. Kalau aku
    gagal, berarti kalian akan gagal juga jika mencoba
    mengalahkannya…’:”
    Yoppi dan Ade sama-sama diam. Napas mereka terasa
    sesak. Mereka seakan berada di depan calon mayat. Mereka
    merasakan sesuatu kelengangan. Sepertinya, itulah saat -saat
    yang terakhir mereka bertemu dengan Hamsad. Yoppi sendiri
    terlihat begitu sedih dan cemas. Mungkin saat itu ia tak tahan
    menghadapi kenyataan, maka ia segera berdiri. Ia menepuknepuk
    punggung Hamsad. Ingin mengucapkan sesuatu,
    mungkin kata “Selamat jalan”, tetapi mulutnya tak mampu
    mengucap kata apa pun. Yoppi pergi begitu saja dengan
    desah napas yang terdengar oleh Hamsad dan Ade.
    Di rumah, Hamsad sendiri jadi gelisah. Ia dibayang-bayangi
    kenangan manis bersama Kismi di kamar motel itu. Kenangan
    manis itu menghantuinya, membuat ia tak dapat beristirahat

    89
    siang. Beberapa kali ia menelan telur ayam kampung yang
    masih mentah, meminum susu dan madu sebanyakbanyaknya.
    Ia ingin menutupi kepucatan wajahnya, agar tidak
    mencurigakan keluarga. Lalu, ia pun lebih sering mengurung
    diri di kamar. Benaknya berkecamuk terus, membuat ia
    menjadi pusing dan mual.
    Ketika sore hari, Dian, adik perempuannya, minta diantar
    ke rumah teman untuk suatu urusan. Hamsad sebenarnya
    malas keluar rumah. Tetapi, setelah dipikir-pikir, untuk
    menghilangkan kegelisahan yang menteror jiwanya, ia perlu
    mencari penyegar. Suasana di dalam kamar bisa mengurung
    jiwanya pada kenangan manis bersama Kismi. Maka, ia pun
    tidak keberatan mengantar Dian ke rumah temannya.
    Sepanjang perjalanan Hamsad tak banyak bicara. Biasanya
    ia banyak bercerita kepada Dian, baik mengenai teman
    kampusnya, atau mengenai cewek yang ditaksirnya. Dian
    menjadi heran melihat kakaknya murung dan
    menyembunyikan perasaan. “Ada apa, Ham?”
    Hamsad hanya melirik dan berkerut dahi, berlagak bingung.
    Dian melanjutkan kata-katanya, “Ada apa kau murung? Kau
    pucat sekali! Pasti kau punya persoalan! Aku tak yakin kalau
    kau terkena penyakit! Kau pasti punya masalah yang
    membuatmu stres begitu. Ada apa sih?”
    “Tidak ada apa-apa,” jawab Hamsad.
    “Ham, aku memang adikmu. Aku memang lebih muda
    darimu. Tetapi, otakku masih bisa mengungguli otakmu,” kata
    Dian yang kuliah di kedokteran, dua tingkat di bawah Hamsad.
    “Jadi, jangan sepelekan aku! Aku bisa membantu
    memecahkan problemmu. Banyak teman yang suka minta
    pendapat padaku, dan aku bisa mencarikan jalan keluarnya.”
    “Oke. Aku mengakui, kau memang cerdas. Tapi, untuk
    mengutarakan masalahku, aku perlu mempertimbangkan
    masak-masak.”
    “Kenapa begitu? Kau sangsi?”
    “Bukan soal sangsi, tapi ini menyangkut soal pribadi!”

    90
    “Aaah…! Kau mulai tertutup denganku, Ham! Itu tidak
    menguntungkan kamu…!”
    Berulangkali Dian membujuk kakaknya agar membeberkan
    masalah yang ada, tetapi Hamsad masih ragu-ragu. Banyak
    beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, dan itu semua
    membutuhkan tempo yang cukup lama.
    Sampai pulang dari mengantar Dian, Hamsad masih belum
    punya keputusan. Haruskah ia bicarakan masalahnya kepada
    keluarga? Apakah itu tidak akan mengganggu ketenangan
    keluarganya? Bagaimana jika keluarganya tahu, bahwa
    Hamsad di ambang kematian? Sudah tentu hanya akan
    membuat panik. O, tidak! Hamsad tidak mau masalah
    pribadinya membuat panik keluarga. Ia lebih baik
    menyimpannya sendiri, dan menanggung segala risiko
    sendirian. Ia tak ingin melibatkan keluarga.
    Pulang dari mengantar Dian, hari sudah malam. Tadi Dian
    mengajaknya mampir ke supermarket, dan Hamsad setuju.
    Pulangnya sudah cukup malam, dan Hamsad menjadi lebih
    gelisah lagi. Bayangan indah bersama Kismi semakin nyata,
    bahkan sempat membangkitkan gairah kejantanannya. Lalu,
    tiba-tiba ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
    “Lho, kok berhenti? Ada apa?!” tanya Dian merasa sangat
    heran.
    “Apakah kau mendengar seseorang memanggilku?”
    “Tidak,” jawab Dian.
    “Aneh. Dua kali aku mendengar seseorang memanggilku.”
    “Ah, ngaco! Tidak ada suara apa-apa kok! Ayolah,
    buruan…! Nanti papa dan mama ngomel kalau aku pulang
    kemalaman.”
    Hamsad melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya.
    Beberapa saat kemudian, laju mobilnya dikurangi. Ia
    menelengkan kepala, menyimak sesuatu dengan dahi
    berkerut.
    “Tuh, ada yang memanggil namaku berulangkah…!”
    katanya kepada Dian. Tetapi, Dian hanya menggerutu tak
    jelas. Hamsad kembali tancap gas.

    91
    Pada saat itu, ia baru teringat cerita tentang kematian
    Norman, Denny, dan Tigor. Menurut Susilo, sebelum Norman
    melakukan bunuh diri, anak itu juga mendengar suara
    seseorang memanggilnya. Tigor juga bercerita, bahwa Denny
    selalu merasa ada yang memanggilnya. Suara orang yang
    memanggil seperti suara Kismi. Dan, tak berapa lama, Denny
    bunuh diri. Menurut Bahtiar, sebelum Tigor bunuh diri, Tigor
    juga merasa ada yang memanggil-manggil. Konon, suara itu
    membuat Tigor menjadi sangat merindukan Kismi.
    Dan, sekarang? Sekarang Hamsad merasa mendengar
    suara Kismi memanggilnya. Apakah ia pertanda ia akan
    melakukan bunuh diri?!
    “Celaka kalau benar begitu,” geram Hamsad di dalam
    hatinya. “Padahal mereka berbuat bunuh diri seperti di luar
    batas kemauan hatinya. Ada kekuatan gaib yang
    menggerakkan tangan mereka untuk melakukan bunuh diri.
    Apakah aku juga demikian?”
    Ketika sampai di rumah, suara orang memanggilnya itu
    semakin jelas. Hamsad merinding sekujur badan. Ia berusaha
    menjaga, kesadarannya, menegakkan logikanya, tetapi ia juga
    merasa, bahwa dirinya sesekali terasa limbung karena dibuai
    oleh kenangan manis bersama Kismi. Hatinya berdebar-debar,
    seakan menuntut curahan rasa yang ada, yaitu rasa rindu
    kepada Kismi.
    “Gawat…! Aku harus bisa mengatasi emosiku sendiri…,”
    katanya dalam hati.
    Pikirannya berputar mencari cara. Lalu, ditemukan
    beberapa kemungkinan untuk menghindari gelagat yang
    membahayakan itu. Ia harus segera pergi ke pondokan Ade,
    dan meminta bantuannya. Ia tak mau membuat kegaduhan di
    rumah, sehingga keluarganya menjadi panik dan tegang.
    Dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi, Hamsad
    mulai terengah-engah diburu kegelisahan yang menyiksa.
    Rindu ingin bertemu Kismi membuat napasnya sukar dihela. Ia
    mencoba mengendalikan pikirannya agar tertuju pada temanTiraikasih

    92
    teman di pondokan, tetapi pikirannya itu justru menjadi kacau
    balau.
    “Hamsaaad…! Haaamsaaad…!”
    Suara Kismi terdengar memanggilnya sepanjang
    perjalanan. Suara itu jelas sekali mengalun, seakan-akan
    untuk mengajaknya bercumbu. Apalagi suara Kismi terdengar
    serak-serak manja, hati Hamsad semakin berdebar-debar.
    Rindunya mengembang dan meracuni pikirannya. Ia menahan
    perasaan itu sampai keluar keringat dinginnya. Ia menambah
    kecepatan mobilnya supaya segera tiba di pondokan, tetapi
    suara ‘Kismi itu semakin menyiksa jiwanya. Membuat Hamsad
    tegang dan kelabakan. Ia sempat melirik arlojinya, ternyata
    sudah pukul 10 malam lebih 45 menit. Ia hanya menggumam,
    “Hampir tengah malam…!”
    Pintu pagar halaman rumah pondokan itu tertutup
    sebagian. Hamsad tidak sempat turun dari mobil untuk
    membuka pintu halaman itu. Maka. ia langsung menabrak
    pintu tersebut dengan mobilnya, hingga menimbulkan suara
    gaduh yang mengagetkan semua penghuni pondokan itu.
    Dan, mobil berhenti tepat di depan kamar Ade. Sorot
    lampunya menyala terang, menyilaukan.
    Hamsad terengah-engah, masih belum mampu turun dari
    mobil. Kepalanya berdenyut-nyut, namun hatinya semakin
    dicekam rasa ingin bertemu dengan Kismi. Ia terkulai lemas di
    balik stiran mobil. Beruntung mesin mobilnya sempat
    dimatikan, sehingga sedikit aman.
    Para penghuni pondokan itu nyaris marah melihat sebuah
    mobil merusakkan pintu pagar mereka Tetapi, Bahtiar segera
    berteriak,
    “Hamsad…?!”
    “Siapa sih?!” seru yang lain.
    ‘Hamsad…!” jawab Yoppi juga. Ia berlari lebih dahulu
    mendekati mobil Hamsad dan berseru, “Ham…?! Ham, kau
    tidak apa-apa, kan?”
    Hamsad menggeram, “Tolong akuuu…!”

    93
    Yoppi agak ragu ketika hendak membukakan pintu mobil,
    tetapi setelah Bahtiar mendekat dan berkata,
    “Buka pintunya, bawa keluar dia!”
    Maka, Yoppi pun berani membukakan pintu mobil, lalu
    segera membantu Hamsad keluar dari mobil. Hamsad gemetar
    dan mengerang seperti suara orang merengek. Ia menyeringai
    bagai merasakan sesuatu yang amat sakit. Teman-teman yang
    lainnya pun segera mengerumuninya.
    “Tolong aku…! Ouh… tolooong, De…! Aku… aku… ah!”
    Hamsad terpelanting, nyaris jatuh. Kakinya amat lemas dan
    gemetar. Lalu, ia segera digotong ke bangku panjang, depan
    kamar Bahtiar. Ia dibaringkan di sana. Tetapi, mendadak ia
    meronta sambil menggeram, kejang.
    “Aku… oh… tolong jangan dekati aku! Aku ingin mati…!”
    kata-katanya menyeramkan bagi yang mendengar.
    “Ham, ingat! Ingat kau tidak boleh mati atas kemauanmu
    sendiri…! Ingat, Ham…!” kata Yoppi.
    “Aku ingin mati!” ia menggeram dengan ge-regetan.
    Matanya mendelik dan bergerak nanar, seakan mencari
    sesuatu. Dan, pada saat itu Yoppi pun gemetar dan berkata,
    “Celaka! Ia punya emosi untuk bunuh diri! Ia akan
    mengalami nasib seperti Tigor…!”
    Semua mundur, tegang. Napas mereka menjadi sesak, dan
    tubuh mereka merinding semua. Hamsad tersengal-sengal
    sambil menggerang-gerang. Matanya memandang mereka
    dengan liar. Giginya menggemelutuk dan otot-otot tubuhnya
    mulai mengeras. Ia masih sempat berusaha berkata,
    “Tolong aku…! Ouhhh… tolooong…!”
    ***
    Bab 11
    Mereka berkomat-kamit membaca doa dalam upaya
    menyadarkan Hamsad. Tetapi, nalurinya untuk bunuh diri
    semakin kuat dan mengacaukan kesadarannya. Dengan napas

    94
    yang tersendat-sendat dan bibir gemetar, Hamsad berkata
    kepada Ade, karena matanya yang liar itu tertuju pada Ade,
    “Ambil tali…! Tal… tali…!”
    Ade gugup, tak tahu harus mengambil tali ke mana. Yang
    lain juga sibuk mencari tali tanpa mengerti maksud Hamsad.
    Malahan Susilo berseru,
    “Jangan! Jangan beri tali dia! Dia mau gantung diri…!”
    Maka, semua yang sibuk mencari tali berhenti seketika.
    “Kismiii…! Aaaow…!” Hamsad mengerang setelah
    mendesah menyebutkan nama Kismi. Bayangan perempuan
    itu semakin kuat dan seakan meremat hatinya, menciptakan
    rasa sakit yang sukar dipahami.
    Kembali matanya yang nanar itu memandang Yoppi.
    “Taliii… cepat taliii…! Ikat tubuhku di pohon! Ikat kuat-kuat…!
    Oh, tolong…!”
    Barulah mereka mengerti maksud Hamsad yang
    sebenarnya. Dia minta diikat di pohon, supaya segala
    gerakannya terbatas. Maka, mereka sibuk mencari tali untuk
    mengikat tubuh Hamsad. Pada saat itu, terdengar lagi Hamsad
    berkata sambil memejamkan mata kuat-kuat, “Ada di… di
    mobil! Ada di mobilku…! Taliii…!”
    Ade berlari ke arah mobil, dan mendapatkan segulung
    tambang di samping tempat duduk sopir. Di situ juga terdapat
    borgol, gelang besi untuk pencuri, yang diperkirakan milik
    ayah Hamsad yang memang sebagai kepala polisi di sebuah
    resort. Ade membawa serta borgol yang siap digunakan itu.
    Tepat ketika Ade tiba kembali di depan Hamsad, pemuda
    diracun kerinduan itu menggeram sambil berkata,
    “Taaa… tanganku… oh, tanganku mau mengeras…! Ouh…
    tolong, tolong diborgol ke belakang! Cepat, cepat…! Cepat…!”
    Bahtlar merebut borgol dari tangan Ade, lalu ttegera
    memborgol kedua tangan Hamsad. Tangan kanan itu belum
    sempat menjadi kaku ketika ditautkan ke belakang dan
    dijadikan satu dengan tangan kiri, lalu diborgol keduanya.
    Crek…!

    95
    Sambil terengah-engah, Hamsad menyebut “Kismi”
    beberapa kali. Di sela kata-kata Kis-mi itu ia berkata, “Ikat
    aku…! Ikat di pohon mangga, belakang kamar mandi itu…!
    Lekas…, bawa aku ke sana…! Ouh…, Kismi! Aku ingin
    bertemu Kismi…!”
    Lukman yang berbadan besar segera membawa Hamsad ke
    pohon mangga. Yoppi dan Ade membantu mengikat tubuh
    Hamsad, dijadikan satu dengan batang pohon.
    “Ikat yang kuat! Jangan sampai ia bisa bergerak,” kata
    Bahtiar dengan gugup.
    Tali itu cukup panjang. Agaknya Hamsad berhasil
    menyiapkan peralatan yang sederhana itu, sehingga tubuhnya
    berhasil diikat dari dada sampai ke kaki. Ia seperti seorang
    tawanan yang siap dihukum tembak. Sementara Hamsad
    menggeram dan terengah-engah, mulut-mulut yang lainnya
    gemetar tidak berani bicara. Dalam hati mereka timbul
    perasaan macam-macam, antara kasihan, takut dan heran
    bercampur menjadi satu, membuat mereka hanya terbengongbengong
    dengan jantung berdebar-debar.
    Lonceng di gardu ronda terdengar samar-samar satu kali.
    Itu pertanda malam telah melewati pertengahan, dan sepi
    kian menghadirkan kesunyian. Saat itulah, masa-masa
    kemunculan Kismi ke kamar seruni pada motel tersebut.
    Namun, kali ini bukan Kismi yang muncul menemui Hamsad,
    melainkan kerinduannya yang amat menyiksa. Gairah ingin
    bercumbu meluap-luap. Birahi Hamsad bagai membakar jiwa.
    Menuntut satu pelampiasan yang nyata, namun ia tidak
    mampu berbuat apa-apa karena tubuhnya terikat kuat di
    pohon sedangkan kedua tangannya diborgol ke belakang.
    Hamsad mengerang dengan otot leher menjadi bertonjolan
    keluar. Ia menahan gejolak hasratnya yang membara di luar
    kewajaran.
    “Ta… tang… tanganku… tanganku… kakkk… kaku! Iaaa…
    ia mau bergerak sendiri…! Oh… ouh…! Aaaow…!”
    Hamsad memekik tertahan dengan kepala mendongakdongak,
    seakan berusaha keras untuk dapat melepaskan

    96
    tangan kanannya dari borgol. Ia juga menggerak-gerakkan
    badannya, bagai ingin meronta dari ikatan. Tetapi, ia tidak
    berhasil. Ikatan terlalu kuat dan borgol pun cukup kokoh
    menautkan tangan kanan dengan tangan kirinya. Jiwanya
    bagai terbagi dua, antara ingin bunuh diri dan ingin melawan
    hasratnya itu. Akibatnya Hamsad tiada habisnya mengerang,
    menggeram dan meronta-ronta.
    Mereka merasa terharu melihat Hamsad susah payah ingin
    melepaskan diri. Susilo sempat berkata, “Kasihan dia!
    Lepaskan saja…!”
    Saat itu, Hamsad sempat berkata sambil menggeram
    seperti orang kesurupan, “Jang… jangan…! Ouh, yaaah…
    jangan! Jangan lepaskan…! Aaaoh… panggil Kismi! Panggil
    Kismi… oh, aku ingin bertemu dengannya di alam kubur…!
    Kismiii…!” Hamsad mengejang-ngejang. Tangan kanannya
    bergerak-gerak dengan kasar. Ia kelihatan amat menderita
    sekali. Teman-temannya banyak yang membaca doa kembali
    untuk membebaskan Hamsad dari cekaman gaib yang
    mengancam keselamatan itu.
    Sesaat, terdengar lagi Hamsad meminta sesuatu tanpa
    menatap salah seorang. Ia memejamkan mata sambil berkata
    dalam erangan,
    “Tutup mulutku…! Oh…! Tutup mulutku dengan kain…!
    Lekaaas…! Aku ingin berteriaaak…! Lekaaas…!”
    Bahtiar meraih sarung yang ada di tali jemuran dalam.
    Sarung itu segera digunakan untuk menutup mulut Hamsad,
    diikatkan ke belakang, sehingga praktis sarung itu juga
    mengikat kepala Hamsad dengan batang pohon.
    ‘Hidungnya jangan ikut ditutup, Tiar! Biar ia bisa bernapas!”
    saru Lukman dengan perasaan cemas bercampur kasihan.
    Malam menghadirkan desiran angin pembawa embun.
    Dingin. Ada kesan lengang di sela desiran angin itu. Seakan
    angin berhembus tanpa desau dan suara apa pun. Hal itu
    membuat mereka yang ada di depan Hamsad menjadi
    merinding dicekam rasa takut. Apalagi mereka mendengar

    97
    anjing di rumah belakang pondokan itu melolong panjang
    bagai irama menjelang ajal. tubuh mereka semakin bergidik.
    Sementara itu, Hamsad masih meronta-ronta. la berteriak
    keras-keras, namun suaranya teredam kain sarung yang
    menutup mulutnya rapat-rapat. Tangan kanannya makin
    agresif, berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan gelang
    borgol besi itu. Kakinya pun mulai bergerak-gerak, berusaha
    melonjak, dan pundaknya meliuk-liuk, ingin melepaskan diri
    dari ikatan tali yang kuat. Hamsad tak bisa berkata apa-apa.
    Hanya suaranya yang menggeram disekap kain dan matanya
    yang melotot bagai ingin keluar itulah ang membuat temantemannya
    tak berani menatapnya langsung. Doa-doa masih
    diucapkan oieh mereka dengan perasaan sedih. Bahkan Susilo
    mengusap kedua matanya yang mulai berkaca-kaca,
    memandang haru keadaan Hamsad.
    Angin semakin berhembus kencang, merontokkan banyak
    dedaunan dari pohon tersebut. Tak lama kemudian, gerimis
    pun turun. Mereka semakin panik dan serba bingung. Namun,
    saat itu mereka juga menepi menghindari rintikan gerimis di
    ujung dini. Bahkan kali ini, gerimis itu telah berubah menjadi
    hujan yang deras.
    “Lepaskan dia! Dia kehujanan…! Dia menggigil di sana!”
    kata Susilo dengan panik.
    “Tenang, Sus.Itu cara yang dipilihnya,” kata Bahtiar.
    ‘Tapi kita harus tahu perasaan! Itu cara yang tidak
    manusiawi!” bentak Susilo.
    “Kalau dia kita lepaskan, maka ia akan bunuh diri! Apakah
    itu manusiawi?!” balas Bahtiar dalam serentetan bentakan
    kasarnya. Lukman segera melerai percekcokan mereka.
    Gelegar suara petir di angkasa terdengar mengejutkan
    mereka. Hamsad masih berusaha berontak dari ikatan dan
    borgolnya. Jeritannya teredam kain sarung sehingga tak
    terdengar keras. Hujan deras mengguyur tubuhnya di sela
    per-cikan cahaya petir yang menggelegar beberapa kali.
    “Bahaya! Dia bisa tersambar petir jika diam di bawah
    pohon!” kata Susilo sangat tegang. Lama-lama, Susilo tidak

    98
    sampai hati melihat Hamsad diguyur hujan dan petir dalam
    keadaan terikat, lalu ia pun berlari menerobos derasnya hujan
    dan bermaksud membukakan tali pengikat tubuh Hamsad.
    “Sus…! Jangan!” teriak Yoppi.
    Ade segera melompat menyusul Susilo dan menarik kaos
    yang dikenakan Susilo sambil berkata,
    “Kau mau membunuh teman sendiri, hah?! Kau mau
    membiarkan teman bunuh diri?!”
    “Dia bisa mati tersambar petir, tahu?!” Susilo membetot,
    tetap ingin mendekati Hamsad, tetapi Ade menyeret Susilo
    hingga anak itu terpelanting jatuh.
    “Bangsat kau…!” teriak Susilo lepas kontrol.
    Ia hendak memukul Ade, tapi tangannya segera dipegang
    Lukman yang berbadan besar, Lukman menyeret Susilo ke
    teras sambil berkata,
    “Kuasai emosimu, Sus! Saat ini gunakanlah otakmu, jangan
    hanya perasaanmu!”
    Susilo tak dapat berbuat banyak dalam cengkeraman
    Lukman. Akhirnya ia tak tega menghadapi penderitaan
    Hamsad, ia segera masuk ke kamar dan mengunci kamarnya
    dengan kasar.
    Tak berapa lama, hujan pun reda. Gerakan Hamsad mulai
    melemah. Memang masih terlihat napasnya terengah-engah,
    tetapi tangan kanannya yang sejak tadi berusaha ditarik keluar
    dari borgol, kali ini tampak melemas.
    Pukul 12 lewat, saat itu, mereka melihat Hamsad terkulai
    pingsan di tempat. Tetapi, mereka masih belum berani
    melepaskan ikatan pada tubuh Hamsad. Bahtiar berkata,
    “Tigor dulu juga pingsan karena dipukul Lukman, tetapi
    tangan kanannya bisa bergerak sendiri, dan menikam dadanya
    beberapa kali. Jadi, kurasa tangan kanan Hamsad pun bisa
    melakukan hal yang serupa jika kita lepaskan ikatan tali dan
    borgolnya.”
    “Sebaiknya tunggu sampai subuh tiba,” kata Yoppi, dan
    yang lainnya setuju.

    99
    Maka, ketika mendengar suara adzan subuh, mereka baru
    mulai berani melepaskan ikatan Hamsad. Tetapi, borgol itu tak
    dapat dilepaskan, karena mereka tidak tahu di mana Hamsad
    menaruh kunci borgol. Hamsad digotong ke kamar Bahtiar,
    dan mendapat pertolongan sebagaimana mestinya. Tangan
    kanannya berdarah, karena berulangkali memaksakan diri
    untuk lolos dari borgol. Semua mata yang memandangnya
    merasa iba dan semakin kasihan kepada Hamsad. Tetapi,
    ketika Hamsad siuman, ia justru merasa lega karena telah
    selamat dari ancaman maut, yaitu bunuh diri di luar
    kesadaran. Roh yang masuk ke tangan kanannya telah
    berhasil dijerat dengan akalnya, sehingga tangan kanan itu tak
    bisa bergerak sendiri, seperti yang terjadi dalam kasus
    kematian Norman, Denny, dan Tigor.
    Di depan mata mereka, Hamsad memang berhasil lolos dari
    ancaman maut kekuatan gaib tangan kanannya, tetapi apakah
    itu berarti Hamsad menjadi jera? Apakah itu membuat
    Hamsad puas dengan dirinya?
    Tidak! Hamsad masih penasaran. Ia masih menyimpan
    rindu kepada Kismi, walau rindunya itu tidak meracun jiwa.
    Tetapi, karena rindunya itu ia jadi datang kembali ke Motel
    Angel Flowers, dan membocking kamar Seruni. Kamar itu
    masih kosong. Barangkali memang tidak ditawarkan kepada
    tamu lain oleh petugas motel, karena mereka takut tamutamunya
    mengecam akibat kamar angker tersebut. Hanya
    saja, karena Hamsad memaksa untuk menyewa kamar Seruni,
    maka petugas resepsionis tak bisa lagi menghalanginya.
    Kamar itu tetap seperti dua malam yang lalu. bersih,
    teratur rapi. Taplak meja di ruang tamu masih sama,
    berwarna biru muda. Kursi meubel-nya juga masih sama,
    terletak melingkar, menghadap ke dinding kaca depan. Hanya
    saja, letak pot besar yang memuat tanaman sejenis palm itu
    bukan lagi di samping pintu, melainkan ada di sudut ruangan,
    dekat dengan buffet penghias ruangan. Selebihnya tak ada
    yang berubah. Bahkan warna seprei dan selimutnya pun tetap

    100
    sama. Ini semakin mengingatkan Hamsad pada masa-inasa
    indah yang pernah ia lewati bersama Kismi di kamar tersebut.
    Hamsad masuk pada pukul 7 malam dengan tangan dibalut
    perban. Luka pada tangan kanannya itu terasa perih jika tidak
    dibalut perban, seperti seorang petinju yang belum
    mengenakan sarung tinjunya. Dengan dibalut perban begitu,
    rasa perih tersebut berkurang, dan konsentrasi Hamsad tidak
    terlalu terganggu oleh rasa perih.
    Sebelumnya, Hamsad telah menyiapkan segala sesuatunya
    yang diperlukan. Tabungannya diambil sebagian dari bank.
    Lalu, ia membeli sebotol madu asli, susu, telur ayam kampung
    sampai 24 butir, anggur ginseng, super mie, dan beberapa
    obat yang berguna untuk memulihkan kesehatan badan serta
    menjaga stamina tubuh. Hamsad sempat tertawa sendiri
    ketika membeli barang-barang tersebut. Tetapi, ia akhirnya
    tidak peduli, karena semua itu memang ia butuhkan untuk
    memulihkan tenaganya yang nyaris terkuras habis akibat
    pergulatannya melawan emosinya kemarin malam.
    Menunggu sampai lewat tengah malam, adalah pekerjaan
    yang menggelisahkan bagi Hamsad. Ia berbaring sambil
    menyaksikan acara TV, satu-satunya hiburan yang ada di
    kamar tersebut. Sampai tak terasa, ia pun tertidur di tempat.
    Mungkin karena kelelahan yang luar biasa, sehingga ia sampai
    tertidur dan lupa mematikan TV.
    Kalau saja ia tidak mendengar suara orang mandi, mungkin
    ia tidak akan terbangun sampai pagi. Tapi, karena ia
    mendengar desis kran shower di kamar mandi dan
    gemericiknya air, maka ia pun terperanjat bangun. Lalu,
    hatinya bertanya heran, “Siapa yang mandi? Rasa-rasanya aku
    tidak membawa teman?!”
    Buru-buru Hamsad menengok arlojinya di meja, lalu ia
    menggumam, “Oh, pantas. Sudah pukul 12 lewat 23 menit.
    Sudah lewat tengah malam…!”
    Maka, hati Hamsad pun mulai berdebar-debar, karena ia
    tahu bahwa orang yang mandi itu tak lain dari Kismi. Gemetar
    langkahnya ketika ih mengendap-endap mendekati kamar

    101
    mandi yang pintunya tak tertutup itu. Pada saat langkahnya
    makin dekat, kran shower itu berhenti, bagai ada yang
    mematikan. Hamsad semakin berdebar dan merasa heran.
    Tapi, ia nekat mengendap-endap untuk mengintip siapa
    gerangan ynng mandi di tengah malam ini.
    “Jangan seperti pencuri, Hamsad…!” terdengar suara dari
    dalam kamar mandi. Dan, suara itu jelas suara Kismi yang
    serak-serak manja, Hamsad lalu menampakkan diri dengan
    cengar-cengir. Matanya tak berkedip memandang tubuh mulus
    berkulit kuning langsat itu dalam bintik-bintik air yang hendak
    disapu dengan handuk. Mamsad buru-buru masuk dan
    menyahut handuk dari tangan Kismi.
    “Jangan hapus…!”
    “Hamsad…?! Aku dingin…!”
    “Biarkan aku memandangi tubuhmu yang tersiram bintikbintik
    air ini. Oh… begitu indahnya kau dalam keadaan basah
    begini, Kismi…,” bisik Hamsad sambil menatapi tubuh polos itu
    Kismi kepala sampai ke kaki.
    “Konyol kamu, ah!” Kismi berusaha meraih handuk, dan
    Hamsad menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
    Jari-jemari Hamsad meraba tubuh itu, bagai menyentuh
    butiran-butiran airnya dari pundak ke dada. Kismi
    membiarkan, justru tertawa dalam desah, dan terdengar nada
    seraknya yang seakan kemanjaan itu.
    “Maaf, aku membangunkanmu, Hamsad,” kata Kismi sambil
    membiarkan ujung jemari Hamsad merayap samar-samar di
    permukaan kulit tubuhnya.
    “Aku tertidur menunggumu,” kata Hamsad tanpa menatap.
    “Aku tahu, dan aku merasa semakin kagum padamu,
    Hamsad.”
    “Dalam hal apa?” tanya Hamsad setelah mencibir.
    “Tak pernah ada lelaki yang lolos dari dendam Cincin
    Zippus, kecuali kau.”
    Kali ini, Hamsad menatapnya. “Dendam cincin…?!” Hamsad
    memperjelas keheranannya.

    102
    “Setiap lelaki yang bercinta denganku, ia pasti mati oleh
    tangan kanannya sendiri, sebab di tangan kananku itulah
    Cincin Zippus melekat sampai sekarang. Kutukan Cincin Zippus
    akan merasuk dalam tangan kanan lelaki yang bercinta
    denganku, dan lelaki itu pasti akan mati oleh kutukan Zippus,
    yang menggunakan bantuan tangan korban sendiri. Dan,
    kau…?” Kismi tersenyum sambil geleng-geleng kepala. “Kau
    hebat sekali! Kau bisa lolos dari kutukan. Itu
    mengagumkan…!”
    “Kau juga mengagumkan! Perempuan lain bisa kuabaikan,
    tapi kau tidak sama sekali…,” Hamsad tersenyum, Kismi
    mengikik serak, kemudian ia mengecup kening Hamsad.
    Tetapi, balasan Hamsad lebih panas dari lahar gunung berapi.
    Sekujur tubuh Kismi dirayapinya dengan bibir dan lidah,
    membuat Kismi merintih di sela desah, melebarkan tubuhnya,
    memberi kesempatan Hamsad agar lebih leluasa. Lalu, kamar
    mandi itu menjadi arena berpacu bagi napas-napas yang
    memburu puncak kemesraannya.
    ***
    Bab 12 tamat
    Keduanya ternyata memang pasangan yang tak pernah
    mengenal lelah. Banjir keringat bukan penghalang bagi
    mereka untuk terus berpacu. Kali ini, ranjang menjadi
    tumpuan amukan birahi mereka. Seprei kasur menjadi lusuh.
    Morat-marit tak karuan. Kismi mengamuk setiap birahinya
    melambung tinggi, melahirkan pekik dan ringkikan yang serakserak
    manja. Dan, suara itu membuat Hamsad makin
    menggebu-gebu dalam cumbuannya, makin dibakar
    gairahnya, meskipun ia sudah berulangkali melambung tinggi
    mencapai puncak harapannya.
    Di awal dini, akhirnya petualang cinta mereka berhenti.
    Kismi yang memohon agar Hamsad mengakhiri ‘pelayarannya’
    saat itu juga.

    103
    “Hari sudah menjelang pagi, dan kita harus berpisah lagi,
    Hamsad,” kata Kismi memberi pengertian dengan sabar dan
    lembut.
    Hamsad mendesah, seakan tak mengizinkan Kismi pergi. Ia
    memeluk perempuan itu dalam satu rengek kemanjaan
    seorang lelaki. Erat sekali ia memeluk Kismi, sehingga Kismi
    merasa kehadirannya sangat dibutuhkan oleh Hamsad disetiap
    saat. Kismi menjadi haru. Ia mencium Hamsad beberapa kali,
    bahkan kini ia juga memeluknya erat-erat dengan kedua kaki
    menggamit tubuh Hamsad.
    “Aku juga tidak ingin berpisah,” bisik Kismi. ‘Tapi
    keadaanku tidak mengizinkan kasih kita selalu berpadu
    sepanjang hari, bahkan sepanjang masa, Hamsad.”
    “Aku ingin memilikimu, Kismi. Aku ingin membanggakan
    kekasihku kepada mereka!”
    “ltu tidak mungkin, Hamsad. Ada penghalang di antara
    kita.”
    “Aku akan menembusnya, Kismi! Aku akan menghancurkan
    penghalang itu!” ucap Hamsad dalam pelukannya. “Apa pun
    yang harus kutempuh, aku harus bisa memiliki kamu, Kismi.
    Aku tak mau tersiksa seperti kemarin malam lagi. Aku tak
    mau!”
    Kismi merasa kaget, dan bingung juga menggadapi sikap
    lelaki seperti Hamsad. Ia masih memeluk Hamsad,
    membiarkan Hamsad tengkurap di atasnya Tangan Kismi
    mengusap-usap kepala Hamsad dengan lembut, seakan satu
    curahan rasa kasih sayang yang tak ingin berakhir sampai di
    situ.
    Setelah melalui masa bungkam yang mendalam, Kismi pun
    berkata lirih,
    “Carilah potongan tanganku, dan tempelkan pada jasadku,
    maka aku akan hidup kembali dan kita bisa berdua ke mana
    saja, Hamsad.”
    Kali ini, Hamsad menarik wajahnya, ia mengatur jarak
    dengan menggunakan kedua lengan dipakai bertumpu di

    104
    kasur. Ia memandang Kismi yang terbaring di bawahnya, lalu
    bertanya,
    “Bukankah kedua tanganmu dalam keadaan lengkap, tak
    kurang satu apa pun?”
    Kismi menggeleng, wajahnya sendu. “Ini tangan semu.
    Tangan yang ada dalam khayalanmu saja. Jasadku ini juga
    jasad yang ada dalam khayalanmu, Hamsad. Itulah sebabnya
    kukatakan, bahwa di antara kita ada batas penghalang, yaitu
    khayal dan kenyataan! Terkadang manusia tidak bisa
    membedakan keduanya. Kau tidak bisa melihat, bahwa tangan
    kananku ini sebenarnya buntung. Dipotong oleh Rendy, bekas
    kekasihku yang punya penyakit syaraf.”
    “Di mana orang itu sekarang?”
    “Ada di neraka. Kau mau ikut ke neraka?”
    Hamsad menghempaskan napas. Ia masih belum mau
    melepas hubungan kasihnya, dan tetap membiarkan dirinya di
    atas Kismi. Lalu, dengan suara sedikit bimbang ia bertanya,
    “Di mana kau dibunuh oleh Rendy?”
    “Di kamar ini!”
    “Dan, potongan tanganmu di simpan di mana?”
    “Entahlah. Mungkin di kamar ini, mungkin di tempat lain.
    Dibuang begitu saja. Carilah, dan letakkan pada jasadku yang
    bersemayam di dalam kotak kaca, maka rohku yang ada di
    dalam batu Cincin Zippus itu akan membuatku hidup kembali.
    Kematianku yang ketiga nanti, adalah kematian yang sejati.
    Tapi, saat ini, aku masih bisa hidup dan menikmati kehidupan
    selayaknya manusia biasa…!”
    Hamsad mendesah, lalu menegaskan kata, “Akan kucari
    potongan tanganmu itu sampai dapat!”
    “Tapi, hati-hati, Hamsad. Dia ganas! Dia memendam kutuk
    dan dendam! Dialah yang semalam berusaha ingin
    membunuhmu!”
    Merinding juga Hamsad jika teringat peristiwa kemarin
    malam. Tapi, demi teringat kemesraan dan cintanya kepada
    Kismi, Hamsad tetap bertekad untuk mencari potongan tangan
    kanan Kismi. Hanya saja, di mana potongan tangan itu

    105
    dibuang oleh Rendy, atau disembunyikan? Ah… itu satu hal
    yang sulit bagi Hamsad. Sukar ditentukan secara logika.
    Sepanjang siang, Hamsad memikirkannya sambil mondarmandir
    di dalam kamar, terkadang ia meneliti keadaan tanah
    di luar kamar, mencari kemungkinan di mana tangan Kismi
    disembunyikan Rendy.
    Semuanya dilakukan secara diam-diam agar tidak
    menimbulkan kecurigaan orang lain, terutama petugas motel
    itu. Beberapa batu dibongkarnya, dan dikembalikan seperti
    semula jika ternyata tidak terdapat apa yang dicari. Beberapa
    tanah di korek-koreknya, dan dikembalikan seperti semula
    karena tak ada tanda-tanda tangan Kismi di sana.
    “Kamar ini harus kutelusuri lebih dulu,” pikir Hamsad.
    “Mungkin membutuhkan waktu sehari penuh. Kalau memang
    di kamar ini tidak ada, berarti aku harus mencari ke tempat
    lain, mungkin di pinggir sungai, di pinggir selokan, atau… ah,
    memang sulit ditentukan. Tetapi, seandainya aku menjadi
    Rendy, apa yang kulakukan setelah aku membunuh Kismi dan
    memotong tangannya?” Hamsad berpikir keras.
    Membayangkan seandainya dia menjadi Rendy yang
    berpenyakit syaraf, apa yang akan dilakukan terhadap
    potongan tangan itu? Kemudian, batinnya berkata, “Mayat
    akan kutinggalkan, supaya orang-orang terkejut menemukan
    mayat Kismi, lalu tangan itu…? Hm… tangan itu akan
    kuletakkan di tempat tertentu di kamar ini. Tak perlu repotrepot
    membawanya pergi dan membuangnya. Cukup
    diletakkan di suatu tempat, sehingga suatu saat akan ada
    orang yang terkejut menemukan tangan itu. Lalu, ia akan
    berteriak ketakutan, dan aku akan puas mendengarnya!”
    Hamsad menghempaskan tubuhnya, duduk di ruang tamu.
    “Itulah pikiranku jika aku menjadi Rendy yang sinting.
    Sekarang, di mana tangan itu disembunyikan yang kira-kira
    bisa membuat orang terkejut?” Setelah berpikir beberapa saat,
    Hamsad berkata sendiri, “Di almari…! Buffet, kulkas, almari
    dapur dan… dan bawah kasur!”

    106
    Bergegas dia memeriksa tempat-tempat tersebut dengan
    teliti. Ternyata tempat yang diperkirakan itu tidak menyimpan
    tangan Kismi. Ia mendesah kesal. Hatinya berkata,
    “Bagaimana dengan tempat penampungan air closet? Jika ada
    yang membukanya pasti akan menjerit karena melihat
    potongan tangan terapung!”
    Lalu, ia pun memeriksa tempat penampungan air WC, yang
    secara otomatis akan mengguyur closet itu jika habis dipakai
    seseorang. Ternyata di sana juga tidak ada. Hamsad mulai
    kesal. Ia melihat plafon kamar mandi yang terbuka pada
    gagian sudutnya. Hatinya berkata, “Oh, ya, ya…apa salahnya
    jika kuperiksa bagian atas eternit ? Siapa tahu potongan
    tangan itu dilemparkan begitu saja di dalam eternit itu?!”
    Dengan susah payah Hamsad memeriksa langit-langit
    kamar mandi, dan seluruhnya. Isinya tanya kabel-kabel
    instalasi listrik yang malang-melintang. Tak ada potongan
    tangan di sana. Hamsad sudah mencarinya dengan teliti,
    sampai jeluruh pakaian dan tubuhnya menjadi kotor oleh
    debu.
    “Ke mana, ya?” pikirnya sambil garuk-garuk kepala.
    Mendadak, telepon berdering. Petugas resepsionis
    mengingatkan ckeck-out hampir tiba, lalu menanyakan apakah
    Hamsad mau melanjutkan sampai beberapa malam, atau
    cukup untuk hari itu saja? Karena Hamsad digelayut rasa
    penasaran dan tekad untuk menemukan potongan tangan itu
    menggebu-gebu, maka ia bermaksud memperpanjang waktu
    sampai besok siang.
    “Sial! Benar-benar sulit menemukan potongan tangan itu!”
    gerutunya dengan nada kesal. “Ah, sebaiknya aku istirahat
    dulu. Semalaman aku tidak tidur. Siapa tahu setelah bangun
    tidur nanti aku menemukan gagasan yang lebih baik…!”
    Hamsad menyuruh room-boy untuk membereskan
    kamarnya, sementara itu ia mandi, merendam diri di air
    hangat, yang mampu mengurangi rasa capeknya itu.
    Ketika ia merebahkan diri, benaknya terbayang kecantikan
    Kismi dan kehebatan wanita itu di atas ranjang. Alangkah luar

    107
    biasa bangganya jika Hamsad bisa memperistri wanita cantik
    seperti Kismi. Alangkah bahagianya nanti jika ia telah hidup
    bersama Kismi. Angan-angannya pun mulai melambung tinggi,
    menciptakan sejuta keindahan yang ada pada khayalnya.
    Berulangkah hatinya berucap tekad, “Aku harus memiliki dia!
    Aku harus memiliki Kismi. Aku sangat mencintainya…!” Lalu, ia
    pun tertidur.
    Tak diduga ternyata Hamsad tertidur cukup lama. Ketika ia
    bangun, ia mendapatkan alam telah meremang, matahari
    senja tinggal seujung rambut dan memancarkan warna merah
    lembayung di perbatasan samudera. Debur ombak terdengar
    jelas, karena angin senja berhembus tanpa suara. Badannya
    segar dari segala kepenatan, apalagi ia telah meminum susu,
    telur mentah, madu dan lain sebagainya. Namun demikian,
    perutnya toh masih terasa lapar juga, sehingga ia memesan
    makanan untuk pengisi perutnya.
    Sambil menikmati makanannya, Hamsad berpikir-pikir
    tentang potongan tangan Kismi. Tadi siang, semua tempat
    sudah diperiksanya. Kini tinggal bagian dinding dan lantai.
    Maka, seusai menyantap makanannya, Hamsad kembali
    beroperasi, memburu tangan Kismi. Setiap dinding diketuknya
    pelan-pelan, didengarkan suara ketukannya. Jika menggema,
    berarti tempat itu berongga. Besar kemungkinan di situlah
    tangan tersebut disembunyikan. Semua dinding diketuk. Rata.
    Dan, itu memakan waktu cukup lama, karena ia kerjakan
    dengan cermat dan hati-hati.
    Sayang, hasilnya tidak memuaskan. Tidak ada dinding yang
    patut dicurigai. Tak ada rongga di dalam dinding tersebut.
    Bahkan dinding kamar mandi dan dapur pun telah
    diperiksanya, dan hasilnya nihil. Sekarang giliran lantai yang
    menjadi pusat perhatiannya. Saat itu, malam telah lama
    menebarkan kegelapan. Arlojinya menunjukkan pukul 8 lewat
    15 menit.
    Lantai kamar terbuat dari ubin marmer warna putih kebirubiruan.
    Berukuran 40×40 cm tiap lempengan ubin. Dengan
    tekun Hamsad mengetuk-ngetuk setiap ubin, mencari ruangan

    108
    di bawahnya. Dari lantai teras, masuk ke ruang tamu, masuk
    ke ruang tidur dan terus ke kamar mandi, tidak ada ubin yang
    menimbulkan gema jika diketuk. Berarti tidak ada bagian yang
    berongga.
    Sejenak pintu diketuk. Hamsad terperanjat. Ia menggumam
    dalam hati, “Belum lewat tengah malam, mungkinkah Kismi
    datang?”
    Oh, ternyata seorang pelayan restoran yang datang dan
    menyodorkan bon makanan yang dipesan Hamsad. Hempasan
    napas menandakan Hamsad mengalami kelegaan ketika
    mengetahui yang datang pelayan restoran itu. Ia segera
    memberikan selembar uang puluhan ribu tanpa kembali, dan
    pelayan itu pun pergi.
    Ketika ia hendak kembali ke ruang belakang, meneruskan
    pekerjaannya yang menyita waktu itu, ia sedikit merasa heran.
    “Seingatku, pot besar itu kemarin ada di sudut sana,
    kenapa sekarang berada di sini, di dekat pintu? Siapa yang
    memindahkan?” Kemudian, Hamsad tertawa sendiri dan
    menggumam, “Sial! Room-boy yang membereskan kamar
    sewaktu aku mandi siang tadi, pasti telah memindahkannya
    kemari. Dan… ah, pikiranku sekarang mudah curiga. Bukan
    kepada manusia, kepada benda pun punya kecurigaan!
    Gawat! Jangan-jangan aku menjadi sinting!” sambil
    menggumam begitu, ia melangkah ke belakang.
    Sekarang, bagian dapur ia periksa lantainya. Satu demi
    satu diketuknya menggunakan gagang obeng besar yang ia
    ambil dari dalam mobilnya di garasi. Dan ternyata, salah satu
    dari ubin itu menimbulkan gema ketika diketuk. Hamsad mulai
    berdebar-debar. Apa yang dicarinya mulai menumbuhkan
    harapan. Kemudian, ia segera membongkar ubin tersebut
    dengan menggunakan obeng besar dan kunci pas dari dalam
    mobilnya. Kunci digunakan untuk memukul gagang obeng,
    sedangkan mata obeng sendiri berfungsi sebagai alat
    pemotong semen perekat sambungan ubin.
    Lama juga membongkar satu lempeng ubin itu, karena
    semennya cukup keras. Kalau petugas motel mengetahui,

    109
    pasti pekerjaan itu dilarang. Tetapi, Hamsad yang sudah
    telanjur penasaran itu tidak peduli dengan akibatnya. Ia tetap
    membongkar ubin itu dengan sabar, sekalipun sudah
    memakan waktu hampir satu jam lamanya.
    Napas terhempas lega. Ubin sudah berhasil dibongkar.
    Kemudian, dengan hati-hati dan berdebar-debar, ia
    mengangkat ubin tersebut untuk dipindahkan ke sampingnya.
    “Sial…!” cacinya dengan kesal. Di bawah ubin itu memang
    ada rongga, tanah kosong, tetapi di situ ada pipa saluran air
    yang agaknya pernah terpotong dan disambung lagi. Tidak
    ada tangan Kismi, tidak ada tanda-tanda lain. Hanya pipa
    saluran air dengan sambungannya.
    “Uuuh…! Brengsek! Sudah capek-capek membongkar,
    berkeringat, gemetar, eh… isinya pipa air! Konyol!” gerutu
    Hamsad seraya meletakkan kembali ubin tersebut pada
    tempatnya, tanpa menutupnya dengan semen seperti semula.
    Ia terpaksa mandi saat itu juga, karena selain tubuhnya
    berkeringat juga kotor karena tanah. Selesai mandi, ia
    membubuhkan parfum penyegar badan sambil matanya
    melirik ke arloji di meja. Oh, sudah pukul 10 malam lebih 50
    menit?
    “Aku harus bersiap menyambut kedatangan Kismi. Ia akan
    semakin mengagumiku jika aku berpakaian rapi dan
    menunggunya di ruang tamu!” kata Hamsad sendirian, seperti
    orang gila.
    Susu, madu dan telur yang dicampur ginseng, segera
    ditenggaknya habis. Kemudian, ia duduk di meubel tamu,
    santai. Sekaleng bir tersedia di atas meja, depannya. Sebuah
    majalah milik Dian yang tertinggal di mobil bisa dijadikan
    bahan bacaan menunggu lewat tengah malam.
    Penat juga membuang waktu lama dengan duduk-duduk.
    Maka, Hamsad pun pindah tempat. Kali ini ia melonjorkan kaki
    di sofa dengan santai sambil meneruskan membaca majalah.
    Tetapi, pada saat majalahnya menyentuh daun tanaman
    dalam pot, Hamsad jadi terkejut.

    110
    “Aneh. Beberapa jam yang lalu pot ini ada di dekat pintu,
    kok sekarang ada di sini lagi? Siapa yang memindahkan?” Ia
    memperhatikan pot besar berisi tanaman sejenis palm yang
    daunnya mirip daun mangga. Dahinya berkerut ketika
    memperhatikan tanaman tersebut. Jelas tadi ia sempat curiga,
    karena tanaman itu ada di dekat pintu. Sekarang ia semakin
    curiga, karena tanaman itu ada di sudut, dekat dengan sofa
    Tangan Hamsad secara tak sadar mematahkan ujung daun
    tersebut. Dan, ia terbelalak kaget, karena yang keluar dari
    ujung daun itu bukan getah putih, melainkan getah merah.
    Ketika diciumnya, getah itu berbau amis darah.
    Merinding seketika itu juga tubuh Hamsad. Ilerdebar-debar
    hatinya, dan mulai gemetar jari-jemarinya. Satu daun ia
    patahkan lagi dari tangkainya. Klak…!
    “Astaga…?!” Hamsad nyaris memekik keras, karena tangkai
    daun itu mengucurkan getah merah yangberbau amis darah.
    Hamsad sempat terlonjak mundur dengan mata membelalak
    lebar.
    Tetesan darah dari tempat bekas tangkai daun itu
    menjatuhi tanah di bawahnya. Dan, Hamsad teipaksa
    mengerutkan dahi tajam-tajam, mempertegas penglihatannya,
    karena tetesan darah itu jatuh pada sebuah benda yang
    mencuat dari kedalaman tanah pot. Rasa ingin tahunya
    bergumul dengan perasaan takut. Hamsad mendekatkan
    wajah, memperhatikan benda kecil itu.
    “Astaga…?! In… ini., ini ujung kuku…!” Hamsad mencoba
    mengorek tanah itu sedikit-sedikit, maka semakin berdebarlah
    ia, karena kini tampak jelas di kedalaman tanah pot itu
    terdapat jari kelingking manusia yang berkuku panjang, tapi
    indah dan serasi.
    “Ya, ampun…! Pasti di sini tangan Kismi ditanam oleh
    pembunuhnya…!” kata Hamsad dalam hati.
    Maka, segera ia mengorek tanah dalam pot besar itu
    dengan kedua tangannya. Makin dalam semakin jelas
    bentuknya. Sepotong tangan perempuan yang masih utuh,
    tanpa kebusukan. Di jari manisnya melingkar cincin berbatu

    111
    putih kekuning-kuningan. Cincin Zippus. Mungkin karena cincin
    itulah maka tangan yang terkubur di dalam tanah pot itu tidak
    membusuk.
    Hamsad menggali dengan kedua tangannya untuk
    mendapatkan tangan tersebut tanpa ada yang tertinggal.
    Napasnya memburu karena memendam rasa takut dan girang.
    Sampai akhirnya, ia berhasil menggali seluruhnya. Menatapnya
    sesaat, kemudian mengangkatnya pelan-pelan bekas
    potongan sebatas pergelangan tangan lebih sedikit itu, masih
    kelihatan berdarah segar.
    “Benar. Tangan ini sama persis dengan tangan Kismi yang
    sering mengusap-usap,” kata Hamsad pelan sambil
    memperhatikan telapak tangan yang menghadap ke muka.
    Tapi, tiba-tiba tangan itu melesat cepat mencengkeram
    wajah Hamsad.
    “Hah…!Aaah…!”
    Hamsad terpekik dan ketakutan seketika. Jantungnya nyaris
    berhenti berdetak ketika tangan itu bergerak cepat,
    mencengkeram wajahnya. Dengan sekuat tenaga Hamsad
    berusaha melepaskan, menarik tangan itu dan membuangnya
    ke sembarang tempat. Napasnya terengah-engah. Wajahnya
    berdarah karena kuku yang mencengkeramnya. Gerakan
    potongan tangan Kismi yang di luar dugaan itu membuat
    Hamsad menjadi panik dan sangat tegang. Matanya
    membelalak lebar penuh rasa takut. Ia memandang potongan
    tangan yang tergeletak jatuh di sofa, dekat dengan majalah.
    Hamsad melangkah mundur perlahan-lahan mengitari
    meja. Pada saat itu, ia melihat jelas jari tengah dan jari
    telunjuk tangan itu bergerak-gerak, bagai merayap. Kemudian,
    melompat ke meja kaca. Sekali lagi jantung Hamsad nyaris
    berhenti melihat gerakan tangan yang mengerikan itu. la
    bagai susah menelan air ludahnya sendiri. Kakinya gemetar
    dan keringat dinginnya mengucur seketika.
    Desakan rasa takut itu membuat Hamsad bergegas untuk
    melarikan diri. Ia segera melompat dan berlari ke arah pintu
    keluar.

    112
    Plokkk…!
    Tiba-tiba potongan tangan itu melesat dan menempel pada
    leher belakang Hamsad.
    “Aaah… hah…! Hiiih…!” Hamsad meronta-ronta,
    berjingkrak-jingkrak ketakutan dengan tubuh semakin
    merinding. Kuku pada potongan tangan itu terasa menggores
    perih di kulit lehernya, seakan hendak mencekik dari belakang.
    Dengan sekuat tenaga Hamsad menarik tangan itu dan
    membuangnya ke arah pintu. Namun, kali ini tangan tersebut
    tidak mau terlepas dari genggaman Hamsad. Tangan itu justru
    menggenggam tangan Hamsad kuat-kuat, bagai berpegangan.
    Celaka! Hamsad mengibas-ngibaskan dengan gerakan cepat,
    tetapi tangan itu masih lengket pada tangan Hamsad.
    Lalu. dengan menggunakan tangan kanannya, Hamsad
    menarik punggung potongan tangan yang masih berlumur
    tanah itu. Ia berhasil, dan membuangnya ke arah pintu.
    Plokkk…!
    Tangan itu jatuh ke lantai. Mata Hamsad masih mendelik
    memandanginya penuh rasa takut dan jijik. Potongan tangan
    itu bergerak-gerak jarinya, kemudian bagai sebuah mainan ia
    mampu melarikan diri dengan menggunakan jari-jemarinya
    itu. Hamsad segera melompat ke ruang tidur menghindari
    kejaran potongan tangan tersebut. Gerakannya begitu cepat,
    sehingga sewaktu Hamsad hendak haik ke atas ranjang,
    benda menjijikkan itu berhasil melompat dan mencengkeram
    betis Hamsad.
    “Waaaow…!” Hamsad memekik ketakutan. jPotongan
    tangan itu bagai menempel pada celana Hamsad, dan ketika
    hendak dipegang, ia bisa bergerak naik ke paha dengan cepat,
    lalu merambat merambat terus ke punggung. Hamsad
    kebingungan untuk memegang potongan tangan itu. Ia
    berguling-gulingan sambil berteriak ketakutan. Potongan
    tangan itu tidak mau terlepas. Kini justru merayap sampai ke
    leher samping dan mencengkeram lagi.
    “Setaaan…! Hhhah…!” Dengan menggunakan kedua
    tangan, Hamsad berhasil lagi menarik potongan tangan Kismi

    113
    itu dan membuangnya ke arah dinding, bagai dibenturkan
    dengan keras.
    Semakin panik Hamsad menghadapi hal itu, semakin ngeri
    ia melihat tangan tersebut tidak jatuh ke lantai, melainkan
    mampu merayap di dinding seperti seekor cicak. Darah bekas
    potongan tangan menetes ke sana-sini. Sungguh mengerikan.
    Jari-jemari tangan yang sebenarnya lentik dan indah itu kali
    ini bergerak-gerak lagi, bagai merayap di permukaan dinding.
    Hamsad buru-buru masuk ke kamar mandi, dan mengunci
    pintunya.
    “Oh…! Oooh…!” Ia terengah-engah diteror potongan
    tangan bercincin Zippus itu. Napasnya nyaris habis,
    tenggorokannya kering, dan badannya lemas. Ia bersandar
    pada dinding di kamar mandi dalam ketegangan yang
    mencekam Sekarang ia merasa aman. Potongan tangan itu
    tidak dapat masuk ke dalam kamar mandi. Tetapi, sampai
    kapan ia harus mendekam di kamar mandi?
    Tiba-tiba pintu kamar mandi itu diketuk-ketuk dengan
    lembut. Hamsad tersentak kaget, berdiri dari jongkoknya, dan
    menjauhi pintu. Ia tidak berani membukakan, bahkan
    mendekati pintu pun ia tidak berani. Perasaan ngeri membuat
    jiwanya menjadi kerdil dan ingin menangis karena dongkolnya.
    Tok, tok, tok…! Suara pintu diketuk. Hamsad masih diam,
    makin tegang, makin menjauh. Ia berdiri di atas closet yang
    tertutup. Gemetar ketakutan.
    “Hamsad…?! Haaam…?!”
    “O, itu suara Kismi…!” katanya sambil menghempaskan
    napas lega. Berulang-ulang Hamsad menghempaskan napas,
    senang sekali, karena pemilik potongan tangan itu sudah
    datang. Itu berarti waktu sudah menunjukkan lewat tengah
    mulum.
    Hamsad segera turun dari closet. dan membuka pintu
    kamar mandi. “Hahhh…!”
    Rupanya di luar kamar mandi tidak ada Kismi. Yang ada
    hanya potongan tangan itu. Dan bunda tersebut segera
    melesat masuk, menerkam kejantanan Hamsad. Nyawa

    114
    Hamsad bagai melayang ketika itu. Ia memekik kaget,
    kemudian mengerang kesakitan karena alat kejantanannya
    diterkam oleh potongan tangan yang ganas itu.
    “Oh…! Oooh…! Aaaow…!” Hamsad terhuyung-huyung
    dengan badan membungkuk. Kedua tangannya memegangi
    potongan tangan Kismi yang makin lama terasa makin
    meremat alat kejantanannya itu. Hamsad meringis kesakitan
    dengan badan membungkuk, dan kini limbung ke kiri,
    bersandar pada dinding di depan kamar mandi. Potongan
    tangan itu bagai sukar ditarik. dan, apabila ia ditarik, terasa
    makin kuat cengkramannya. Hal itu membuat Hamsad
    semakin mengerang kesakitan dengan mata terpejam kuatkuat.
    “Hamsad…?!” sapa sebuah suara di ruang tamu.
    “Kismiii…!” teriak Hamsad tertahan karena memendam rasa
    sakitnya.
    Kismi muncul dari ruang tamu ke kamar mandi, dan ia
    melihat Hamsad kesakitan sambil memegangi alat
    kejantanannya.
    “Oh… kau…?!” Kismi terperanjat kaget dengan mulut
    terbengong.
    “Aku menemukan… menemukan potongan tanganmu…!
    Tapi, tapi dia meremat… aouuuh…!” Hamsad semakin
    membungkuk dengan kaki merendah karena potongan tangan
    itu semakin menggenggam alat kejantanannya.
    “Lepaskan! Jangan sakiti dia…!” bentak Kismi sambil
    memandang potongan tangannya.
    Beberapa saat kemudian, potongan tangan itu pun
    mengendur. Hamsad buru-buru menariknya. Sempat terlihat
    olehnya jari-jemari potongan tangan itu bergerak-gerak, bagai
    sedang melemaskan otot-ototnya. Hamsad buru-buru
    melemparkannya, dan potongan tangan itu jatuh di lantai.
    Kismi memandang potongan tangannya dengan senyum
    berseri. Ia buru-buru memeluk Hamsad dan menciuminya.
    “Oh… kau telah berhasil! Kau berhasil menemukannya,
    Hamsad…!”

    115
    Yang bisa dilakukan Hamsad hanya uh nyr ringai
    merasakan sisa sakitnya. Tetapi, ia kemudian berkata, “Apa
    yang harus kulakukan?!”
    “Lekas, bawa dia ke tempatku. Cari aku di ruang bawah,
    dan tempelkan potongan tangan itu pada jasadku, Hamsad…!”
    “Aku tidak mau membawanya! Aku tidak mau mati dicekik
    olehnya, Kismi!”
    “Jangan kuatir…!” kemudian Kismi mendekati potongan
    tangannya yang tergeletak telentang di ranjang. Ia berbicara
    dengan potongan tangan itu,
    “Jangan sakiti dia! Dia akan mempertemukan kita!”
    Jari-jemari yang tadinya diam, kini bergerak-gerak, seakan
    sebuah anggukan tanda patuh terhadap perintah Kismi. Lalu,
    Kismi mendekati Hamsad dan berkata,
    “Bawa mobilmu menuju rumahku. Di sana aku tinggal, di
    bekas rumah keluargaku yang sudah pindah ke Amsterdam.
    Ikutilah kunang-kunang, ke mana arahnya, ikuti saja. Nanti
    kau akan menemukan rumah di sebuah bukit. Rumah itu
    sudah tak terawat lagi, tapi di sanalah Kosmin
    menyemayamkan aku di dalam kaca…!”
    Setelah berkata demikian, Kismi mencium pipi Hamsad.
    Hamsad sendiri menunduk memperhatikan alat kejantanannya
    yang dikhawatirkan terluka. Ternyata tidak. Namun, ketika ia
    memandang ke depan, ternyata Kismi telah tiada.
    “Kismiii…?! Kismiii…?!” Hamsad mencoba mencari Kismi,
    dan wanita yang hadir setiap tengah malam itu memang tidak
    ada lagi. Tetapi, Hamsad melihat seekor kunang-kunang
    terbang di sekitar pintu. Hamsad tak tahu persis, apakah
    kunang-kunang itu jelmaan dari roh Kismi atau bukan, tetapi
    ia membiarkan kunang-kunang itu keluar melalui celah sempit,
    dan Hamsad sendiri harus segera mengeluarkan mobil dari
    garasinya.
    Mulanya ia ragu-ragu ketika hendak mengangkat potongan
    tangan. Tetapi, agaknya potongan tangan itu tidak seganas
    tadi. Maka, dibungkusnya potongan tangan itu dengan

    116
    saputangan, kemudian ia pun keluar dari motel dengan
    mengendarai mobilnya.
    Malam bercahaya purnama, sehingga gelap tak terlalu
    pekat. Kunang-kunang terbang di depan mobil. Gerakannya
    cepat, seirama dengan gerakan mobil. Sementara itu,
    saputangan pembungkus potongan tangan Kismi diletakkan di
    jok samping kiri. Perhatian Hamsad tertuju pada gerakan
    kunang-kunang penuntun jalan itu.
    Ia tidak tahu kalau saputangan itu terbuka sendiri.
    Kemudian, jari-jemari potongan tangan bercincin itu bergerakgerak.
    Kini tengkurap, dan merayap perlahan-lahan.
    Ciiit…! Mobil nyaris menabrak pohon, karena Hamsad
    terkejut setelah pahanya terasa dicubit oleh potongan tangan
    tersebut.
    “Brengsek! Kulaporkan kau kepada Kismi kalau
    menggangguku terus!” geram Hamsad dengan jantung
    kembali berdebar-debar. Potongan tangan itu mencolek-colek
    paha, bahkan kini menggelitik di pinggang Hamsad. Sesekali
    Hamsad terpekik dan badannya bergerak kegelian, membuat
    laju mobilnya menjadi limbung.
    “Diam! Jangan ganggu aku!” bentak Hamsad
    memberanikan diri. Potongan tangan itu melompat ke depan
    stiran mobil. Hamsad membiarkan, karena potongan tangan
    itu tidak membuat gerakan yang perlu dikuatirkan. Bahkan,
    ketika kunang-kunang membelok arah, jari telunjuk dari
    potongan tangan itu menuding ke arah kiri, seakan memberi
    tahu agar mobil harus membelok ke arah kiri. Demikian juga
    jika harus ke arah kanan, jari itu menujuk arah kanan.
    Kemudian, tibalah Hamsad di sebuah perbukitan. Jalanan
    menanjak, kanan-kirinya kebun teh. Melewati perkebunan itu,
    ada jalan persimpangan. Jari telunjuk potongan tangan itu
    menuding ke arah kanan, dan Hamsad membelokkan mobilnya
    ke kanan. Tak berapa lama, jari tangan itu mengembang
    semuanya, seakan menyuruh “Stop” pada mobil tersebut.
    Cahaya purnama menampakkan sosok rumah kuno yang
    tinggal reruntuhannya. Menyeramkan sekali. Bentuk

    bangunannya jelas bangunan zaman Belanda. Bagian atapnya
    sudah rusak total, dan pada bagian halamannya telah banyak
    ditumbuhi tanaman liar, termasuk rumput ilalang.
    Kunang-kunang terbang memasuki rumah yang
    menyeramkan itu. Hamsad ragu-ragu. Ia berdiri di samping
    mobil sambil memegangi potongan tangan. Tiba-tiba,
    potongan tangan itu bergerak maju sambil memegangi tangan
    Hamsad, seakan menariknya agar Hamsad segera memasuki
    rumah kuno tanpa penghuni itu.
    Langkah kaki Hamsad terasa gemetar. Ia memasuki rumah
    yang sunyi dan kotor itu. Cahaya pucat rembulan
    meneranginya. Bahkan ada lantai yang longsor ke bawah,
    menuju ruang bawah. Potongan tangan dan kunang-kunang
    menunjukkan jalan menuju lantai bawah, melalui tangga batu
    di balik sebuah dinding kamar. Debar-debar di dalam dada
    Hamsad makin bergemuruh. Ia tetap mengikuti penunjuk
    jalannya yang setia Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah
    peti kaca seukuran tubuh manusia.
    Hamsad terhenyak kaget ketika menegaskan
    penglihatannya, bahwa ternyata di dalam kotak kaca yang
    mirip akuarium itu terdapat tubuh Kismi yang terbaring
    dengan tangan kanan terpotong. Kismi mengenakan gaun
    putih transparan yang sering dikenakan berkunjung ke kamar
    motel.
    Lebih terkejut lagi Hamsad setelah ruangan itu menjadi
    terang. Ada cahaya api yang datang dari arah belakangnya. Ia
    buru-buru berpaling. Oh, ternyata Pak Kosmin memegangi
    obor sebagai penerangnya. Hamsad semakin gemetar, karena
    ia ingat Pak Kosmin mampu menembus daun pintu bagaikan
    asap.
    “Jangan takut, Tuan. Saya tidak akan berbuat jahat…!
    Lakukanlah apa yang harus Tuan lakukan,” kata Pak Kosmin
    yang mempunyai sepasang mata cekung.
    Kemudian, Hamsad membuka tutup kotak kaca itu dengan
    gemetar. Napasnya tertahan, sesekali tersendat-sendat. PelanTiraikasih

    pelan ia letakkan potongan tangan itu ke lengan kanan tubuh
    Kismi.
    Suatu keajaiban membelalakkan mata Hamsad, sambungan
    pada potongan tangan dengan lengan Kismi itu membentuk
    satu cahaya hijau muda. Hijau kekuning-kuningan, mirip
    cahaya fosfor. Cahaya itu berpijar-pijar sejenak, kemudian
    redup. Dan, kini menjadi hilang sama sekali. Obor yang
    dibawa Pak Kosmin mendekat. Mereka memandang potongan
    tangan bercincin Zippus itu, dan ternyata pada sambungan
    tersebut tidak terlihat ada bekas luka sedikit pun
    “Ia telah pulih kembali, Tuan,” bisik Pak Kosmin.
    Hamsad terhentak lagi ketika mata Kismi yang terpejam itu
    terbuka, berkedip-kedip sejenak, kemudian tersenyum
    memandang Hamsad.
    “Jangan takut, Hamsad.,.. Aku Kismi! Aku telah hidup
    kembali!” seraya Kismi mengusap-usap pergelangan
    tangannya yang semula buntung itu.
    “Kau… kau benar-benar hidup…?!”
    Kismi mengangguk, keluar dari kotak kaca, mendekati
    Hamsad, kemudian Hamsad meraba pelan-pelan wajah Kismi.
    Terasa hangat. Lalu, Kismi berkata lirih, “Kau berhak memiliki
    aku, Hamsad…!”
    Mata Hamsad berkaca-kaca karena terharu, kemudian
    tanpa ragu lagi ia memeluk Kismi erat-erat, seakan tak ingin
    berpisah dengan Kismi selama-lamanya. Kismi pun
    menyambut pelukan itu dengan perasaan bahagia yang
    mengharu. Ia sempat meneteskan air mata, dan Hamsad
    mengusapnya sambil berkata,
    “Jangan teteskan air mata. Aku tak ingin kehilangan kau,
    walau hanya setetes air matamu. Aku tak ingin, Kismi…!”
    “Ohhh, Hamsad…!” Aku kagum pada tekadmu! Aku juga
    tidak ingin kehilangan kau…! Tapi….”
    “Tapi, apa, Sayang?”
    “Tapi ada satu risiko jika kau memperistri aku, Hamsad.”
    “Risiko apa?”

    “Aku… aku tak akan mempunyai keturunan…,” bisik Kismi
    dengan perasaan sedih. Hamsad pun berkata lirih sambil
    menatapnya,
    “Aku tak mau peduli tentang itu, yang penting kau jadi
    milikku. Dan… dan kau tak boleh kehilangan apa-apa lagi,
    Kismi!”
    Pelukan itu makin erat. Kemudian, Kismi berkata kepada
    Pak Kosmin, “Terima kasih, pak Kosmin. Dampingilah kami
    dari alammu…!”
    Obor pun padam. Ruangan jadi gelap. Kisimi berlari-lari
    membawa keluar Hamsad dari reruntuhan bekas rumahnya.
    Kemudian, Hamsad bermaksud membawa Kismi kembali ke
    motel untuk sementara waktu, sampai ditemukan tempat
    kontrakan yang layak bagi Kismi yang ternyata seorang
    ilmuwan berotak cerdas. Namun, ketika Kimiiii hendak naik ke
    dalam mobil Hamsad, ia jadi terhenti dengan wajah memanja.
    “Kenapa…?” tanya Hamsad heran.
    “Kiss me…!” katanya seraya menyodorkan pipi, dan
    Hamsad pun mencium pipi itu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Waktu Makan Di Temani STW Yang Cantik

    Cerita Sex Waktu Makan Di Temani STW Yang Cantik


    2615 views

    Perawanku – Cerita Sex Waktu Makan Di Temani STW Yang Cantik, Pak Edi kolegaku punya chemistry yang sama denganku. Meski dia lebih tua 20 tahun tapi jika kami bertugas keluar kota bersamaan, pada waktu luang kami akan jalan berdua. Tujuan pertama pasti wisata kuliner, dan tujuan berikutnya adalah mencari yang bening-bening.

    Pak Edi sangat menguasai Solo dan Yogyakarta. Jadi jika ada penugasan ke Solo dan Yogya, dia paling bersemangat, apalagi aku berada dalam timnya.

    Suatu hari dia bilang padaku, “Eh aku nemu tempat yang unik di Yogya,” katanya.

    Tempat yang unik dimaksud, adalah semacam “show room” tapi khusus untuk para istri yang mencari tambahan dengan menerima “tamu”. Pak Edi bersemangat menceritakan bahwa tempat itu banyak ibu-ibu yang lumayan, dan harganya tidak terlalu mahal. Sayangnya mereka hanya bisa di “tenteng” antara jam 10 sampai jam 5 sore. Mereka tidak bisa diajak nginap di hotel, karena harus kembali kerumah.

    Meskipun aku bukan penggemar STW, tetapi keunikan itu membuat penasaran. Suatu waktu jika ada tugas ke Yogya, aku prioritaskan “ bertamu” ke alamat yang diberikan Pak Edi.

    Saat yang ditunggu-tunggu tiba. Aku mendapat penugasan ke Yogya dan Solo.

    Menyelesaikan pekerjaan di Yogya seperti supir ngejar setoran. Semua kerja bisa aku selesaikan sebelum makan siang. Selepas waktu makan siang aku punya waktu bebas.

    Berbekal petunjuk dan alamat yang diberikan Pak Edi, aku naik becak dari hotel. Aku berhenti di bangunan yang ditunjuk pak Edi sebagai penanda, dekat dengan titik tujuan. Berjalan sekitar 30 m ada gang yang tidak terlalu besar. Suasananya teduh dan khas kampung-kampung Jawa, tenang ada suara-suara burung perkutut dan gending yang mungkin dikumandangkan dari radio atau rekaman secara samar-samar.

    Aku berdebar-debar juga mendatangi tempat tersebut. Aku berusaha menyesuaikan sikap sehingga tidak kelihatan sebagai orang asing di wilayah itu. Di sebelah kanan di bawah kerimbunan pohon aku melihat semacam warung makan. Ini adalah tempat yang ditunjuk Pak Edi. Warung makan itu agak unik, karena ruang untuk makannya berada di dalam rumah, seperti ruang makan rumah biasa, hanya saja meja makannya ada sekitar 3 dengan kursi-kursi.

    Dengan gaya percaya diri aku langsung membelok dan duduk di salah satu meja. Ketika itu meja-meja kosong. Jadi tamunya baru aku sendiri. Seorang perempuan paruh baya mengenakan kain panjang atau jarit menghampiri aku dan langsung duduk di kursi dekat aku.

    “ Mau pesen apa mas?” tanyanya.
    “ Disini apa yang enak,” tanyaku mulai melepaskan kalimat pembuka, kalimat itu kata Pak Edi adalah juga semacam password.
    “Wah semuanya di sini enak kok Mas,” timpalnya.

    Sambil aku mengamati menu yang disodorkan, mata ini tidak bisa konsentrasi, karena beberapa perempuan berseliweran. Mereka rata-rata berusia di atas 25 tahun sampai 35 tahun. Ada yang mengenakan jarit, tetapi ada juga yang mengenakan pakaian seperti layaknya ibu-ibu pergi ke pasar. Kelihatannya lumayan-lumayan juga. Seandainya aku pilih secara acak, aku kira ok-ok saja.

    “Mas pesen ini dulu, yang lainnya nanti bisa diteruskan,” kata si perempuan mbak-mbak yang kutaksir berumur 35 tahun. Akhirnya aku memesan sepiring gudeg ditambah pecel, air mineral dan kopi. Disini letak uniknya, sepertinya pelayan yang mengantar makanan aku orangnya berganti-ganti. Sekitar 5 orang mungkin yang melayani aku. Sambil makan aku ditemani oleh perempuan yang tadi pertama menyambut aku. “ Gimana mas ada yang cocok,” tanyanya.

    Terus terang aku bingung juga harus memilih yang mana. Si mbak lalu berpromosi, yang pake kain baju krem itu Ninuk, istri pegawai pemda, yang pake biru istri , yang krem satu lagi, yang baju merah. Semua dijelaskan si mbak. Kata si mbak mereka belum tentu bisa tiap hari kemari, karena kalau tiap hari bisa dicurigai suaminya. Paling-paling seminggu 2 kali. “ Jadi mas, yang hari ini sama yang besok, pasti beda,” kata si Mbak.

    Aku bingung memilih kriteria dari semua yang disebutkan si mbak. Tiba-tiba terlintas di benakku untuk memilih perempuan yang paling jarang, atau sudah lama tidak kemari. “ Oo itu mbak Rina, dia udah hampir sebulan nggak kemari, suaminya terlalu ngontrol, tapi gak mampu biayai rumah tangganya, orangnya baik kok mas, ramah. Sebentar ya mas aku panggil,” katanya.

    Rina berumur sekitar 28 tahun, agak gempal, tapi mukanya manis. Dia menyalamiku dan duduk di depanku. “Ngobrol aja dulu mas, kalau nggak cocok boleh cari yang lain,” kata si Mbak tadi berbisik di telingaku.

    Rina agak grapyak dan suasana obrolan mudah sekali cair. Aku tidak tega menggantinya dengan yang lain, apalagi rasanya lumayan jugalah untuk temen bobok siang. Akhirnya disepakati dia bisa nemani sampai jam 5 sore. Aturan di situ, kita tidak bisa langsung nenteng pilihan kita. Dia nanti akan diantar ke hotel yang kita sebutkan. Kita harus menunggu di lobby untuk menjemputnya lalu digandeng ke kamar.

    Setelah masalah harga dan cara pembayaran di sepakati, aku cabut duluan ke hotel. Hebatnya lagi aku ditawari digonceng sepeda motor untuk kembali ke hotel. Pengojeknya ya salah satu cewek yang ada di situ. Sekitar 10 menit menunggu di lobby, Rina tiba diantar oleh rekan yang kelihatannya juga sebaya yang tadi kulihat dia mengantar kopi untukku. Mereka datang berbonceng sepeda motor. Setelah serah terima, rekannya kembali dan Rina aku bimbing menuju kamarku.

    “Lho mbak, tadi kan pakai kain, sekarang kok malah pake Jins,” tanyaku ketika dia duduk di bed .

    “Iya mas, sebetulnya di tempatnya si Mbak Ambar itu, kita diharuskan pakai kain. Tapi kalau keluar dari situ boleh pakaian bebas, Lha kalau pakai kain naik motor repot toh mas,” katanya dengan senyum menggoda.

    Tempat rendezvous itu ternyata adalah milik Mbak Ambar yang tadi menyambutku. Dia membuka warung makan itu sebagai penyamaran, agar tidak mencolok di tengah-tengah kampung. Ada sekitar 30 perempuan di situ, tetapi setiap harinya paling banyak hanya 10 orang. Mereka seperti bergantian.

    Sebagian memang suaminya tidak tau, tetapi sebagian lagi menurut Rina datangnya di antar suami dan nanti sore dijemput lagi. Kalau Rina, bekerja sambilan begini tidak setahu suaminya. Dia beranak 2 dan suaminya bekerja sebagai guru. Rina beralasan ngobyek jualan batik membantu temannya.

    “Abis gaji guru berapa sih mas, untuk kebutuhan rumah tangga baru 10 hari udah habis,” kata Rina menjelaskan mengapa dia “ngojek” di luar pengetahuan suaminya. Menurut Rina jika dia setiap minggu “mampir” ke rumah Mbak Ambar, lumayan bisa menyamai gaji suaminya, malah sering-sering lebih. “

    Lho kata mbak Ambar tadi, “Ini” ongkosnya tigaratus, kalau 4 kali berarti satu koma dua toh,” kataku.

    “Lho kalau dikasi sigitu, saya ya matur nuwun, tapi kalau dikasih lebih masak iya saya nolak mas,” kata Rina.

    Ah sialan, aku terjebak oleh pertanyaanku sendiri. Berarti aku nanti harus kasih lebih dari price list. Aku tawari minum dan snack tapi ditampik oleh Rina. Dia menawarkan untuk dipijat. Tawaran yang sangat menarik, tentu saja aku setuju.

    “Mas ke kamar mandi dulu nanti gantian saya, “ katanya.
    “Lha kalau sama-sama aja kan enak sih,” kataku menggoda.
    “Ah masnya genit nih,” katanya sambil meminta dulu ke kamar mandi.

    Dari kamar mandi aku melepas semua baju kecuali celana dalam dan langsung tidur tengkurap. Entah berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena badanku terasa ditindih sambil dipijat. Nikmat sekali rasanya dipijat.

    Cerita Sex Waktu Makan Di Temani STW Yang Cantik

    Cerita Sex Waktu Makan Di Temani STW Yang Cantik

    Aku mulai sadar bahwa rasanya kulit pungungku bersentuhan langsung dengan kulit Rina, dan terasa ada bulu-bulu nempel di punggungku. Aku menganalisa sambil tengkurap, kayaknya si Rina telanjang bulat memijatku. Penisku jadi pelan-pelan mengeras. Untuk sementara aku ingin menikmati pijatannya yang lumayan enak. Dia lalu memelukku sambil tidur telungkup diatasku.

    Tengkukku diciuminya dan dia memberi kode gerakan agar aku berbalik telentang. Kuturuti arahannya dan aku telentang, sementara Rina tergolek di sampingku. Pemandangan yang sangat indah, toket gede dan badan yang sekel. Aku segera meremas susunya dan pentilnya ku pelintir-pelintir. Tangan Rina langsung membekap penisku dan perlahan-lahan dikocoknya.

    “Mas pijetnya diterusin dulu, nanggung kan,” katanya.

    Aku pasrah dan Rina bangkit duduk diatas pahaku, sedikit dibawah kemaluanku. Dia memijat bagian depan pundakku. Perlahan-lahan tumpuan badannya naik keatas, sehingga batang penisku yang mengeras sudah berada diantara belahan memeknya. Dengan nakalnya dia melakukan gerakan maju mundur sambil tangannya terus memijat.

    Dengan keahlian gerakannya, batang penisku perlahan-lahan mulai menelusup ke dalam liang vaginanya. Setelah seluruhnya tenggelam, Rina mulai melakukan gerakan mutar, sehingga penisku terasa seperti diremas-remas oleh vagina Rina. Makin lama dia makin semangat. Aku diperlakukan begitu tidak mampu bertahan lama dan jebollah pertahananku.

    Rina paham aku telah memuntahkan spermaku di dalam rahimnya. Dia menunggu sampai ejakulasiku usai baru perlahan-lahan melepas cengkeraman vaginanya. Rina bangkit , sambil menutup lubang kemaluannya agar maniku tidak tercecer. Dia berjalan ke kamar mandi. Aku yang baru saja merasakan kenikmatan, telentang pasrah.

    Rina kembali dari kamar mandi membawa handuk kecil yang telah dibasahi. Penisku dibersihkannya secara telaten.

    Rina lalu berbaring disampingku sambil tangannya mengelus-elus penisku yang telah layu. Dengan sabar di rangsangnya penisku sampai akhirnya dia bangkit dan mengoral penisku. Penisku yang tadinya loyo, dihisap-hisap Rina, perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Aku akui Rina cukup lihai juga mengoral penisku.

    Setelah cukup keras dia kembali memasukkan penisku ke rongga vaginanya dan mulai berputar-putar. Aku tidak tahu berapa lama dia menderaku, sampai akhirnya dia mencapai orgasme dan ambruk di dadaku sambil nafasnya tersengal-sengal. Aku merasa penisku seperti di genggam-genggam oleh otot vaginanya. Aku membalikkan posisi dan sekarang berganti aku yang menggarap Rina.

    Berbagai posisi mulai dari posisi biasa sampai akhirnya kedua kakinya kuangkat ke atas pundakku. Lubang kemaluan Rina cukup menggigit juga. Aku kemudian berganti posisi dogie. Cukup lama juga aku bermain dengan berbagai posisi, sampai aku lelah lalu berkonsentrasi untuk menembakkan spermaku untuk yang kedua kali.

    Setelah tembakanku usai aku merasa sangat ngantuk dan akhirnya jatuh tertidur. Ketika aku terbangun Rina dan aku terbungkus dalam satu selimut. Dia rupanya juga tertidur di sampingku. Sebenarnya jika waktunya cukup aku ingin melakukan lagi, tapi butuh waktu interval lebih lama. Namun karena hari sudah mekin sore, akhirnya aku mengijinkan Rina mengakhiri pergumulan.

    Aku antar dia keluar hotel sampai mendapatkan becak yang akan mengantarnya pulang.

    Hari kedua aku kembali ke tempat Mbak Ambar. Dia rupanya sudah mengenaliku. Kali ini aku datang agak lebih pagi, mungkin sekitar jam 11. “Lho kok gak kerja mas,” katanya.

    Aku berasalan mbolos. Aku kemudian memesan makanan . Kuakui makanan di warung Mbak Ambar memang lumayan enak. Seandainya tidak ada embel-embel tempat berkumpulnya para STW, mungkin aku akan sering mampir di warungnya hanya untuk makan .

    Selama makan aku ngobrol macam-macem, sampai akhirnya aku tahu bahwa Mbak Ambar punya usaha yang sama di Solo dan Semarang. Aku nggak nyangka, kegiatan seperti ini bisa punya cabang di dua kota. Dia lalu memberiku alamat dan kontak personnya di kota-kota itu.

    “Mas mau nyoba istri tentara nggak, lagi ada nih, dia udah 3 hari nggak kemari,” kata Ambar sambil menunjuk perempuan berumur sekitar 25 tahun, ayu dan bokongnya besar.
    “Wah nanti aku ditembak,” kataku.
    “Ah ya ndak tho, wong kadang-kadang dia diantar suaminya kok,” kata Ambar.
    “Dia belum punya anak mas,” tambah Ambar gencar berpromosi.

    Aku menyetujui lalu si Wiwik, istri sang tentara itu datang bergabung ke mejaku. Kami ngobrol ngalor-ngidul gak jelas. Seperti biasa aku diojekin ke hotel, lalu barang pesanan datang diantar ojek lainnya.

    Wiwik penampilannya bersahaja dan lugu. Dia tidak banyak cakap seperti Rina kemarin. Hanya berbicara menjawab pertanyaanku. Meskipun cenderung pendiam, namun Wiwik tergolong berisik jika bertempur. Ini menambah semangatku untuk terus menggempurnya. Dia cukup sabar, dan telaten melayaniku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Sang Calon Pengantin

    Cerita Sex Sang Calon Pengantin


    1039 views

    Perawanku – Cerita Sex Sang Calon Pengantin, Aku pernah berbagi kisah dengan temanteman pembaca semua, dan aku akan melakukan hal yang sama sekarang untuk yang kedua kalinya. Statusku yang bebas (mahasiswa perantau) membuatku tidak terbatas dalam berbagai aktifitas, walau seringkali diantaranya bermuatan negatif. Pengalaman ini terjadi pada tahun 2015 di bulan November, dimana kota Surabaya sedang diguyur hujan. Merupakan pemandangan langka kalau Surabaya dicurahi hujan, karena lebih sering kota ini berada dalam kondisi kering.

    Kesempatan itu kumanfaatkan untuk berkeliling mengitari Surabaya karena suhunya agak bersahabat. Aku berkeliling dengan menggunakan angkutan umum, ke tempattempat favorit dan belum pernah kujalani sebelumnya. Kali ini aku bersantai di Galaxy Mall, yang banyak dikunjungi WNI keturunan. Mataku liar meliriklirik wanita putih mulus dan trendy. Entah kenapa sejak dulu aku terobsesi dengan wanita Chinese yang menurut pandanganku adalah tipikal sempurna dalam banyak hal.

    Di lantai paling atas, mataku tertuju kepada seorang gadis cantik dan seksi, sedang makan sendirian, tak ada teman. Dengan teknik yang biasa kulakukan, kudekati dia. Kami berkenalan sejenak dan dia menawariku ikut makan. Aku bilang aku sudah kenyang. Dia bernama Nina **** (edited). Kami seumuran atau paling tidak dia lebih tua dua tahun dariku. Setelah ngobrol agak lama, dengan mengeluarkan jurus empuk tentunya, dia mengajakku pulang bersama, karena aku mengaku akan menunggu angkutan sampai hujan reda. Akhirnya, aku pun setuju, dan segera berangkat bersamanya.

    Di dalam mobil, aku tak bisa tenang karena ketika menyetir, aku bisa melihat dadanya yang montok dan paha mulusnya bergerak gesit menguasai kemudi. Tapi dia tidak menyadari itu, karena aku tahu dia tidak akan suka. Hal itu kusadari dari pembicaraan sebelumnya. Dia kelihatannya wanita baikbaik. Tapi konsentrasiku sangat terganggu apalagi jalanan di kota Surabaya yang tidak rata membuat dada indah yang bersembunyi di balik bajunya bergoyanggoyang. Ditambah lagi harum tubuhnya yang sangat merangsang. Akhirnya timbul pikiran jahat di otakku.

    Aku pindah ke belakang ya.. kataku. Kenapa? Aku ngantuk, mau tiduran, nanti turunkan aku di jalan Kertajaya, kataku berpurapura. Saat itu sejuta rencana jahat sudah merasuki otakku. Ok, tapi kamu jangan terlalu pulas ya.. nanti ngebanguninnya susah, katanya polos. Di kala otakku sudah kesetanan, tibatiba.. Jangan berisik atau pisau ini akan merobek lehermu, ancamku seraya menempelkan pisau lipat yang biasa kubawa. Itu sudah menjadi kebiasaanku sejak di Medan dulu.

    Don.. apaapaan nihh..? teriaknya gugup, karena terkejut. Aku peringatkan, diam, jangan macammacam! bentakku sambil menekan permukaan pisau lebih kuat. Aku sudah kehilangan keseimbangan karena nafsu. Jalankan mobilnya dengan wajar, bawa ke daerah Petemon.. cepat..! Ehh.. iiya.. iyahh.. jawabnya dengan sangat ketakutan. Tas yang tadi diletakkan di jok belakang segera kubuka. Seluruh uang dan kartu kreditnya langsung berpindah ke kantongku.

    Bawa ke Pinang Inn.. cepat! bentakku lagi. Kali ini aku sudah pindah ke jok depan, dan pisau kutempelkan di pinggangnya. Sepanjang perjalanan wajahnya pucat dan sesekali memandangiku, seolah minta dikasihani. Jangan mencoba membuat gerakan macammacam.. atau kamu kulempar ke jalan.. mengerti? ancamku lagi sambil berganti posisi.

    Aku mengambil alih kemudi. Entahlah, saat itu aku merasa bukan diriku lagi. Mungkin iblis sedang menarinari di otakku. Dia hanya membisu, dengan tubuh gemetar menahan rasa takut. Tibatiba HPnya berbunyi, kurebut HP itu dan kuhempaskan di jalan sampai pecah. Ingat.. jangan bertindak anehaneh.. kalau masih ingin hidup.. pesanku sesampainya di parkiran Pinang Inn. Mobil langsung masuk garasi, dan aku menghubungi Front Officer. Kubayar, lalu kembali ke garasi.

    Keluar..! Dengan wajar kugandeng dia masuk kamar. Kukunci dan kusuruh dia telentang di kasur yang empuk. Kunyalakan TV channel yang memutar filmfilm biru. Pinang Inn memang disediakan untuk bermesum ria. Dia kelihatan semakin ketakutan, ketika melihatku langsung membuka baju dan celana. Dengan hanya menggunakan CD, kurebahkan tubuhku di sampingnya dengan posisi menyamping. Pisau itu kugesekgesek di sekitar dadanya. Agar proses ini tidak menyakitkan, kamu jangan bertingkah.. atau besok mayatmu sudah ditemukan di laut sana.. paham?

    Don.. ke.. ke.. napaa.. jadi be.. gii.. ni? Apa.. salahku? dengan ketakutan dia berusaha membuatku luluh. Salahmu adalah.. kamu memamerkan tubuhmu di hadapan singa lapar.. Segera, seluruh bajunya kusobek dengan pisauku yang tajam. Mulai dari bagian luar sampai dalamnya. Kini dia telanjang bulat di antara serpihan pakaian mahal yang kusayatsayat. Dia menagis, mata sipitnya bertambah sipit karena berusaha menahan air mata yang mulai mengalir deras ditingkahi isaknya yang sesenggukan. Sejenak aku tertegun menyaksikan keindahan yang terpampang di hadapanku.

    Dada putih mulus yang montok, tubuh langsing, dan.. ups.. liang kemaluannya yang merah muda bersembunyi malumalu di antara paha yang dirapatkannya. Kubuka pahanya. Jangann Don.. kumohon jangan.. pintanya memelas. Aku sudah tidak peduli. Hei.. Nin.. bisa diam nggak? Mau mati? Hah..? ancamku sambil menampar pipinya. Wajahnya sampai terlempar karena aku menamparnya cukup keras. Silakan menjerit.. ini ruangan kedap suara.. ayo.. menjeritlah.., ejekku kesenangan. Segera kulebarkan pahanya, kuelus permukaan kemaluannya dengan lembut dan berirama.

    Sesekali dia menatapku. Ada juga desah aneh di bibirnya yang tipis. Aku terus mengelus kemaluan itu, sambil dua jariku yang menganggur mempermainkan puting susunya bergantian. Dia hanya bisa mendesah dan menangis. Kudekatkan wajahku ke sela paha mulusnya. Dengan perasaan, kukuak liang kemaluannya, indah sekali. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat kemaluan wanita seindah itu. Bentuknya agak membukit mungil, ditumbuhi bulu yang halus dan lemas.

    Bibir kemaluannya kupegang, kemudian lidahku kujulurkan memasuki lubang yang nikmat itu. Kujilati dengan perlahan, mengitari seluruh permukaannya. Shh.. Don.. Donhh.. jangaann.. sshh.. Nina sampai terduduk. Ada sesuatu yang lucu. Dalam situasi itu sempatsempatnya dia menggoyang pinggulnya mendesak mulutku, dan menjambak rambutku sesekali. Dalam hati aku tertawa, Dasar wanita.. munafik. Ayo.. Nin.. ayo.. kataku pelan mengharap cairan itu segera keluar membasahi kemaluan indahnya. Saat itu kesadaranku perlahan hadir. Perlakuanku kubuat selembut mungkin, namun tetap tegas agar Nina tidak bertindak ceroboh.

    Kali ini lidahku mengaitngait klitorisnya beraturan namun dengan arah lidah acak. Dia makin bergetar. Goyangan pinggulnya terasa sekali. Lho.. diperkosa kok malah enjoy.. ayo.. nangis lagi.. mana..? olokku. Don.. jangannhh.. janganh.. balasnya malumalu, berusaha menggeser kepalaku dari selangkangannya. Tapi setelah kepalaku digerakkan ke samping, malah ditariknya lagi hingga mulutku langsung terjatuh di bibir kemaluannya.

    Aku pun paham, dia ingin menunjukkan ketidaksudiannya, namun di lain pihak, dia sangat menginginkan sensasi itu. Nih.. aku kasih bonus.. silakan menikmati.. kataku sambil melanjutkan jilatanku. Sementara tanganku yang kiri membelai payudaranya bergiliran secara adil. Kiri dan kanan. Sementara tangan kananku kuletakkan di bawah pantatnya. Pantat seksi itu kuremas sesekali.

    Oghh.. sshh.. Nina menggelinjang menahan nafsu yang mulai merasuki dirinya. Sesaat dia lupa kalau sekarang dia dalam keadaan terjajah. Sshh.. terrusshh.. Perlahan lahan, cairan yang kunanti keluar juga. Secara mantap, lendir bening itu mengalir membasahi liang kemaluannya yang semerbak. Donnhh.. Donhh.. Dia berteriak di sela orgasmenya yang kuhadiahkan secara cumacuma. Aduh.. Nin.. yang benar aja dong.. ringisku karena saat orgasme tadi, kukunya yang lentik melukai pundakku.

    Maaf.. maaf Donhh.. Aku berhenti sesaat untuk memberinya waktu istirahat. Aku berdiri di samping ranjang. Dia terkulai lemas. Pahanya dibiarkan terbuka. Kemaluan genit itu sudah mengundang batang kemaluanku untuk beraksi. Namun aku berusaha menahan, agar pemerkosaan ini tidak terlalu menyakitkan. Kami berpandangan sejenak. Dia sudah tidak melakukan perlawanan apaapa, pasrah.

    Don.. aku tahu kamu sebenarnya baik, jangan sakiti aku yah.. aku mau menemani kamu di sini, asal kamu tidak melukai aku.. pintanya sambil mengubah posisi telentangnya menjadi duduk melipat lututnya ke bawah pantat. Liang kemaluannya agak tersembunyi sekarang. Kamu masih perawan nggak? tanyaku ketus. Iyah.. masih.. Nah.. sayang sekali, kalau mulai besok kamu sudah menyandang gelar tidak perawan lagi.. Ah.. dia tercekat.

    Don.. semua uang tadi boleh kamu ambil.. tapi mohon jangan yang kamu sebut barusan.. empat hari lagi aku menikah Don.. kumohon Don.. Ah.. daripada cowok lain yang merasakan nikmatnya darah segar kamu, mending aku curi sekarang.. kataku cepat sambil mendekatinya lagi. Don.. jangan.. kumohon.. Diam! Ingat.. pisau ini sewaktuwaktu bisa mengeluarkan isi perutmu.. ancamku.

    Nina terkejut sekali, karena menyangka aku sudah berbaik hati. Padahal aku juga tidak sungguhsungguh marah padanya. Mungkin karena aku yang sudah terbiasa berteriakteriak membuatnya ketakutan. Sekarang giliranmu, kukeluarkan batang kemaluanku yang sudah agak terkulai. Kupikir aku nggak perlu menjelaskan lagi cara membangunkan preman yang satu ini.. kataku sambil mengarahkan kepalanya berhadapan dengan batang kemalauanku yang lumayan besar.

    Sejenak dipandanginya diriku. Tanpa berkata apaapa dia memegang batang kemaluanku dan mengocoknya perlahan. Dikocoknya terus sampai perlahan, si batang andalanku naik. Cuma itu? tanyaku lagi. Dibuka mulutnya dengan raguragu, kebetulan sekali adegan di TV channel juga sedang memperagakan hal yang sama. Aku sebenarnya ingin tertawa. Tapi kutahan, karena gengsi kalau dia tahu. Dikulumnya batang kemaluanku. Aku berdiri di atas ranjang.

    Dia berjongkok dan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur. Ahh.. aku mengerang merasa nikmat sekali. Kulihat matanya sesekali melirik TV. Biar saja, pikirku dalam hati. Toh ini demi keuntunganku. Dijilatinya kepala kemaluanku. Tapi dia tidak berani menatap wajahku. Auhhgghh.. Jangan dilepas.. seruku tertahan. Aku jongkok dengan mengarahkan kepala ke sela pahanya. Aku telentang di bawah. Posisi kami sekarang 69. Sewaktu berputar tadi dia menggigit kemaluanku agar tidak lepas dari mulutnya. Lucu memang. Dengan bibir kemaluan tepat di atas wajah, kujilati dengan mantap.

    Kali ini gerakan lidahku liar mengitari permukaan kemaluannya. Sesekali kusedot bukit kecil itu sambil memasukkan hidungku yang kebetulan mancung ke lubang senggamanya. Oghh.. Ahh.. Kami berseru bersahutan. Kubalikkan tubuhnya. Sekarang dia ada di bawah, namun tetap 69. Kali ini aku lebih leluasa menjilati kemaluannya. Augghh.. Donhh.. enakkhh.. terusshh.. pintanya. Lalu kembali menyantap batang kemaluanku dengan garang. Sesekali aku merasakan gigitan kecil di sekitar kepala kemaluan. Pintar juga dia, pikirku dalam hati.

    Lidahku kujulurkan masuk ke lubang sempit itu dan menari di dalamnya. Pantatku kugoyang naikturun agar sensasi batang kemaluan yang berada di kulumannya bertambah asyik. Sambil menjilat liang kemaluan itu, jarijariku mempermainkan bibir kemaluannya. Ougghh.. Don.. enakkhh.. Donnhh.. ahh.. Donnhh.. serunya dibarengi aliran hangat yang langsung membanjiri lembah merah muda itu. Sekarang waktunya Nin. Aku mengambil posisi duduk di antara belahan kedua kakinya. Dia masih telentang. Kugesek lagi kepala kemaluanku yang sudah mengeras sempurna beradu dengan klitorisnya yang menegang.

    Dia setengah duduk dengan menahan tubuhnya pakai siku tangan, dan ikut menyaksikan beradunya batang kemaluanku dengan klitorisnya yang sudah menjadi genit. Batang kemaluanku itu kuarahkan ke liang kemaluannya. Jangann.. kumohon Donh.. jangan.. serunya tertatih sambil mencengkeram batang kemaluanku. Aku bersedia memuaskan nafsumu, dengan cara apa saja, asal jangan mengorbankan pusakaku. Oh ya? Kalau dari anus mau nggak? tantangku. Tapi sebenarnya aku tidak lagi perduli karena kemaluanku sudah minta dihantamkan melesak lubang kemaluannya.

    Yah.. terserah kamu Don.. Nggak.. mau.. aku cuma mau yang ini, ini lebih enak.. teriakku sambil menunjuk liang kemaluannya. Nih.. pegang.. masukin.. Dengan ragu dipegangnya batang kemaluanku. Don.. apa tidak ada cara lain? Cara lain? Adaada saja kamu.. Hei.. kamu jangan bertingkah lagi ya.. jangan sampai kesabaranku hilang. Kamu beri satu milyar pun sekarang aku nggak bakalan mau melepaskan punya kamu itu sekarang. Aku sudah nggak tahan.. paham.. paham? paham..? bentakku dengan nada suara lebih meninggi.

    Pisau yang tadi kusembunyikan di bawah kasur kuacungkan dan kutekan kuat di dadanya. Donn.. sakitt.. jangann.. rintihnya ketika pisau tadi melukai dada putihnya. Aku terkesiap. Namun tak peduli. Ayo.. dimasukin.. kali ini pisau kutekan lagi. Darah segar mengalir perlahan dari luka yang kuperbesar, walau tidak begitu parah. Dengan berat disertai ketakutan, dipegangnya kemaluanku. Diarahkannya ke liang kemaluannya. Sulit.. sakitt.. Don.. ampunn.. Don.. Pegang ini, kataku tidak sadar karena memberikan pisau itu ke tangannya.

    Dia juga tidak menyadari kalau sedang memegang pisau. Lucu sekali. Aku hanya bisa tersenyum kalau mengingat masa itu. Aku menunduk dan menjilati kemaluannya. Dia melihatku menjilati barangnya. Sesekali kami bertatapan. Entah apa artinya. Yang pasti aku merasa sudah memiliki mata sipit yang menggemaskan itu. Digerakkannya pinggul besarnya seirama jilatanku. Kuremas juga susunya yang segar merekah. Augghh.. Ahh.. jilatanku kupercepat. Cairannya mengalir lagi walau tidak sebanyak yang tadi. Aku kembali duduk menghadap selangkangannya.

    Tibatiba aku sadar kalau sebilah pisau ada di tangannya. Segera kuambil dan kulempar ke lantai. Dia juga baru sadar setelah aku mengambil pisau itu. Namun sepertinya dia memang sudah takluk. Nin.. ludahin ke bawah.. yang banyak.. kataku sambil menunjuk kemaluannya. Kami samasama meludah. Kuoleskan liur yang menetes itu ke batang kemaluanku, juga ke kemaluannya. Sesekali dia juga ikut mengusap batang kemaluanku dengan air ludah yang dikeluarkannya lagi di telapak tangannya. Aku memandanginya dengan sayang. Dia juga seolah mengerti arti tatapanku itu.

    Aku segera mengecup bibirnya. Dia membalas. Kami berpagutan sesaat. Kurasakan batang kemaluanku bersentuhan dengan perutnya. Ayo dicoba lagi.. Kali ini dipegangnya kepala kemaluanku. Ah.. Shh Dan.., Oogghh.. aahh.. Shh.. Kepala kemaluanku masuk perlahan. Sempit sekali lubang itu. Kusodok lagi perlahan. Dia hanya bisa menggigit bibir dan mencengkeram tanganku. Sesekali nafasnya kelihatan sesak. Namun ada juga desah liar terdengar lirih. Donnhh.. aku benci.. kaamu..

    Kusodok terus, sampai akhirnya semua batang kemaluanku terbenam di liang kewanitaannya. Aku tahu itu sakit. Namun mau bilang apa, nafsuku sudah di ujung tanduk. Brengsek.. Donhh.. baajingann.. kamu.. shh.. oghh, Aku tak peduli lagi umpatannya. Yang kurasakan hanya nikmat persenggamaan yang benarbenar beda. Shh.. shh.. Donhh.. Donhh..

    Kupeluk dia eraterat. Goyanganku makin liar. Aku hanya bisa mendengar dia mengumpat. Sesekali kupandangi wajahnya di sela nafasku yang ngosngosan. Beragam ekspresi ada di sana. Ada kesakitan, ada dendam, tapi ada juga makna sayang, dan gairah yang hangat. Kulihat titiktitik darah mulai mendesak lubang sempit yang tercipta antara batang kemaluan dan liang kewanitaannya. Seketika tagisnya meledak. Donhh.. bajingann.. kamuu.. jahatt.. kamu Don.. ahh.. uhh.. dia memukul dadaku keras sekali. Tangisnya makin menjadi. Aku iba juga. Kutarik kemaluanku dari liang kemaluannya.

    Darah segar mengalir memenuhi lubang yang memerah padam dan lecet. Kemaluanku kukocok sekuat tenaga ketika spermaku muncrat. Ahh.. ahh.. Air maniku memancar keras membasahi dada dan sebagian wajahnya. Dia menangis sesenggukan. Nikmatnya memek perawan kamu Nin.. kataku tersenyum senang. Aku langsung menjilati darah segar yang sudah membasahi pahanya. Segera kugendong dia menuju kamar mandi. Di bibir bak, kududukkan dia.

    Kuambil kertas toilet dan membasuhnya dengan air. Kuusap darah yang ada di sekitar kemaluannya dengan lembut. Darah di dadanya yang sudah mengering juga kulap dengan hatihati. Kamu puas sekarang.. bukan begitu Don? ejeknya di sela tangisnya. Aku terdiam. Aku merasa menyesal. Tapi mau bilang apa. Nasi sudah menjadi bubur. Kubersihkan semua darah itu sampai tidak berbekas. Kujilati lagi kemaluannya dengan lembut. Aku tahu, yang ini pasti tidak bisa ditolaknya. Benar, dia mulai bergetar.

    Dipegangnya tanganku dan diremasnya jariku. Tissue yang kupegang dibuangnya, malah jemariku dituntunnya ke sepasang dada montok miliknya. Ahh.. shh.. sekalian ajaa.. Don.. hamili.. aku.. biar kamu.. lebih.. puass.. katanya sambil mengangis lagi. Aku sungguh tak mengerti. Terus terang di sana aku seperti orang bodoh. Tapi dengan santai kujilati terus kemaluannya. Diraihnya batang kemaluanku dan dikocokkocoknya perlahan. Kemaluanku sudah terkulai.

    Lama dia mencengkeram kemaluanku sampai akhirnya bangkit. Nafsuku kembali membara. Kugendong lagi dia, dan jatuh bersama di ranjang empuk. Kami berpelukan dan berciuman lama sekali. Kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dan menjilati rongga mulutnya. Entah berapa kali kami saling bertukaran air liur. Bagiku, air ludahnya nikmat sekali melebihi minuman ringan apapun. Ketika aku berada di bawah, aku juga menelan semua liurnya tatkala dia meludahi mulutku. Terserahlah, apakah dia marah atau bagaimana. Sepanjang dia merasa bebas, aku melayaninya.

    Hitunghitung balas budi. Hehehe.. Aku bergerak ke bawah, menjilati tiap inci sel kulitnya. Lehernya bahkan kuberi tanda cupangan banyak sekali, walau aku tahu empat hari lagi dia akan menikah. Peduli setan. Ahh.. Don.. hhsshh.. yanghh.. itu.. nikhhmatt, serunya tertahan ketika putingnya kusedot dan kujilati dengan bernafsu. Tanganku merayap ke bawah dan membelai lubang kemaluannya yang masih basah. Aku terus merangkak turun, menjilati perutnya dan mengelus pahanya dengan nakal.

    Sesampainya di sela paha kubuka lagi kedua kakinya, terkuaklah liang kemaluan yang kumakan tadi. Kali ini bentuknya sudah berbeda. Lubangnya agak menganga seperti luka lecet, namun tidak berdarah. Segera kujilati lagi untuk kesekian kalinya. Donn.. enakhh.. nikmathh.. Jari telunjukku kumasukkan lembut ke lubang itu sambil menjilati kemaluannya sesekali. Aduhh.. duh.. enaknyaa.. Don.. jangan.. berhenti, serunya sambil menggelinjang hebat. Pinggul itu bergerak liar mendesak mulutku.

    Kutindih dia dan kuarahkan batang kemaluanku. Uhh.. sshh, serunya sesak ketika batang kemaluanku kuhantamkan ke liang kenikmatan itu. Goyangan demi goyangan membuat erangannya semakin ganas. Tentu saja aku semakin beringas. Siapa tahan. Donhh.. bajiingann! untuk kesekian kalinya dia mengumpatku. Entah apa maksudnya. Kali ini dia sangat menikmati permainan (setidaknya secara fisik, entahlah kalau perasaannya). Kepalanya terlempar ke sana ke mari dan nafasnya mendesah hebat. Nin.. punyaahh.. kamuu.. assiikkh.. ahh, seruku ketika denyutan liang kemaluannya terasa sekali menekan batang kemaluanku. Kubalik dia, sehingga sekarang posisinya di atas.

    Don.. aku.. akan.. bunuh.. kamuu.. suatu.. saat.. Silakan.. saajahh.. Kami berdua berbicara tak karuan. Oughh.. aihh.. sshh, teriaknya menggelinjang sambil mencabuti bulubulu dadaku. Aku merasa kesakitan. Tapi biarlah. Dia sepertinya sangat menyukai. Donh.. kamu.. kamu.. dia tidak melanjutkan katakatanya. Tibatiba.., Donhh.. Donhh.. bajingan.. ah.. serunya keras sekali, sambil menggoyang pantatnya dengan cepat dan menarinari seperti kilat. Bunyi becek di bawah sana menandakan dia kembali orgasme.

    Tapi goyangannya tidak surut. Kucabut batang kemaluanku dan menyuruhnya membelakangiku sambil berpegangan pada sisi ranjang. Kuarahkan batang kemaluanku dari belakang dan, Oughh.. oughh.. oughh.. oughh.. tiap sodokanku ditanggapinya dengan seruan liar. Kugenjot terus sambil meremasi kedua susunya yang ikut bergoyang. Lama kami pada posisi itu, tibatiba aku didorongnya dan dia berdiri di hadapanku. Aku ditamparnya keras dan memelukku erat.

    Ditariknya aku ke ranjang dan memegang kemaluanku. Ditindihnya aku, dia sendiri yang menghunjamkan kemaluanku ke liang kewanitaannya. Rasakan nihh.. bajingan.. shh, teriaknya sambil menarinari di atasku. Aku tahu dia akan orgasme lagi. Aduh..Nin.. pekikku tertahan ketika sekarang dia malah menggigit punggungku. Don.. Don.. dia berseru kencang dan memeluk erat kepalaku di dadanya. Kupeluk juga dia dan mengangkatnya. Kami berdiri di lantai. Dengan posisi ini aku bisa menyodoknya dengan sangat keras. Kurapatkan ke dinding, dan kupompa sekuat tenaga.

    Nin.. ahshh.. Donhh.. Aku mengeluarkan sperma di dalam kemaluannya. Dia memelukku erat sekali. Kami berdua ngosngosan. Kuangkat dia ke ranjang. Kami terkulai lemas. Kutarik kemaluanku yang melemah dengan pelan. Kutarik sprei itu karena sudah berisi noda darah dan bercak cairan yang beragam. Kami tergeletak berdampingan, tanpa pakaian. Don.. kamu berhutang padaku, suatu saat aku pasti menagihnya. Hutang apa? tanyaku. Dia tidak menjawab.

    Dengan perlahan dia memejamkan mata dan tertidur. Kupandangi wajahnya yang cantik. Tampak lelah. Hmm.. beruntung sekali calon suaminya. Kuelus rambutnya yang lurus indah dengan lembut. Kuciumi keningnya dan kupeluk dia. Aku membenamkan wajahku di dadanya dan terlelap bersama. Besoknya kami bangun bersamaan, masih berpelukan. Aku sadar, dia tidak punya pakaian lagi. Segera aku keluar dan pergi ke toko terdekat. Kubeli Tshirt dan celana pendek.

    Ketika kembali ke kamar, dia membisu dan tak mau menjawab pertanyaanku. Didiamkan begitu aku tak ambil pusing. Kupakaikan Tshirt dan celana pendek ke tubuhnya. Dia masih tetap membisu. Ayo pulang.. ajakku. Dia melangkah lunglai. Kugandeng dia ke mobil, kududukkan di jok depan. Setelah isi kamar sudah kurapikan, aku langsung menyetir mobil. Sepanjang jalan dia hanya diam membisu. Nin.. aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, satu hal yang aku minta darimu.. jangan membenciku untuk apa yang kuperbuat. Bencilah kepadaku karena aku bukanlah calon suamimu, kataku agak kesal dengan sedikit berdiplomasi. Dia memandangku dengan gundah.

    Namun tetap membisu. Sampai di daerah rumahnya pun dia tetap diam. Oke.. Nin.. aku tak tahu apa yang kamu inginkan. Jika ada yang ingin kamu utarakan, lakukanlah sekarang sebelum aku pergi. Dia hanya diam membisu. Dipandanginya aku agak lama. Karena tidak ada jawaban, kudekati dia dan kucium tangannya. Dia tidak bereaksi. Bye.. Nin.. Aku segera beranjak pergi. Empat hari kemudian aku memang secara diamdiam mendatangi daerah rumahnya.

    Benar, dari informasi yang kudapat dia memang sedang melangsungkan resepsi pernikahan di  sebuah Resto mewah di pusat kota. Tapi aku tidak pergi melihatnya. Siapa tahu itu hanya akan jadi luka baru baginya. Pertemuanku terakhir dengannya terjadi di salah satu kafe di Surabaya. Saat groupku manggung, aku melihatnya duduk di depan bersama seseorang (mungkin suaminya). Lagu ini kupersembahkan buat seorang wanita paling indah yang pernah mewarnai perjalanan hidupku, aku pun segera menyanyikan tembang Mi Corazon dengan penghayatan yang dalam.

    Dia menikmatinya dengan tatapan syahdu ke arahku. Tentu saja tak seorang pun pernah tahu, bahwa sesuatu pernah terjadi di antara kami. Sekarang setahun sudah lewat. Dia pernah juga meneleponku dan bilang kalau dia sedang hamil tujuh bulan. Ketika kutanya dimana dia saat itu, telepon segera ditutupnya. Well, ternyata aku pun sedang mengalami pemerkosaan darinya. Semoga ini bisa jadi pelajaran berharga buat sobat semua. Ups.. ternyata sekarang ada janji dengan Tante Stella.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Menikmati Jilatan Hana Si Gadis Imut

    Cerita Sex Menikmati Jilatan Hana Si Gadis Imut


    793 views

    Perawanku – Cerita Sex Menikmati Jilatan Hana Si Gadis Imut, Pernah berkenalan dengan wanita yang namanya Hana saya tanya tanya rupanya dia anak jawa, cewek yang supel dan enak di ajak ngobrol, kalau saya tanya hal apa , dia pasti bisa menjawab seolah olah seperti orang yang banyak pengetahuannya, dan setelah kami chat chat rupanya Hana juga ingin pergi ke Bandung tempat tinggal ku juga.

    Dari situ karena jarak yang cukup dekat denganku, akhirnya kami berjanji untuk saling bertemu di daerah K di Jakarta. Dari pertemuan itu saya mengenal Hana lebih jauh. Hana kuliah di salah satu universitas terkemuka di kotanya.
    Hana secara fisik biasa saja. Ukuran badannya kira-kira setinggi 160 cm. Tubuh agak bungkuk udang, mempunyai rambut panjang terurai. Tapi ada yang menarik dari penampilannya, toketnya! Toketnya terlihat unik & menantang. Saya hanya menelan ludahku bila tanpa sengaja mengintip bagian yang menggunung itu.
    Hana meminta saya untuk mengangkatnya sebagai “adik”, sedangkan saya diangkatnya sebagai “abang”! Sebab ia bilang, Hana tak mempunyai kakak. Saya setuju-setuju saja.
    Pertemuan kedua & selanjutnya kami semakin ‘terbuka’. Aku-pun sudah ‘diizinkan’ untuk memegang toketnya yang unik itu. Hanya saja ia bilang “dasar, abang nakal!!” saya hanya tersenyum…
    Kalau sudah dibilangin begitu, maka akupun kadang lebih berani lagi. Tanganku menjelajah ke daerah terlarangnya….
    Seminggu yang lalu saya menjenguknya di daerah P. Walau dengan mengendarai motor bututku, saya sampai juga ke rumahnya setelah berjalan selama beberapa jam dari rumahku.
    Kulihat kegembiraan yang amat sangat, saat ia tahu bahwa saya yang datang. Memang sudah dua bulan saya tak main ke rumahnya. ia sudah kangen, tampaknya… Pada saat membukakan pintu Hana memakai daster putih,
    Terlihat cukup jelas, pepayanya yang unik menerawang dari balik sangkarnya. Hana menyilahkanku duduk & berbalik sebentar ke dapur untuk kemudian kembali lagi dengan membawakanku segelas minuman dingin.
    Setelah ngobrol ngalor ngidul. Hana menyandarkan wajahnya ke dadaku…
    Saya menyambut dengan tenang. Sebab memang tujuanku ingin mencoba menuntaskan hasratku yang ada selama ini, dengannya. Kutundukkan muka saya untuk menjangkaunya. Saya menciumnya. Kususuri dengan bibirku.
    Dari kening, ciumanku turun ke alis matanya yang hitam lebat teratur, ke hidung & sampai ke bibirnya. Ciuman kami semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling berkait diikuti dengan desahan nafas yang semakin memburu.
    Tanganku yang tadinya memeluk punggungnya, mulai menjalar ke depan, perlahan menuju ke toketnya yang cukup besar & unik. Unik sebab bentuk toketnya yang memanjang & besar, mirip dengan buah pepaya.
    ‘Adikku’ ini pintar juga memilih daster yang berkancing di depan & hanya 4 buah, mudah bagi tanganku untuk membukanya tanpa harus melihat. Tak lama kemudian kaitan BH-nya berhasil dilepaskan oleh tanganku yang sudah cukup terlatih ini.
    Kedua bukit kembar dengan puncaknya yang coklat kemerahan tersembul dengan sangat indah. Daster & BH itupun segera terlempar ke lantai.
    Sementara itu, Hana juga telah berhasil membuka kancing celana jeanku, lalu berusaha melepas t-shirt yang saya pakai. Saya tetap menjaga agar Hana tak memelorotkan celana jeanku. Bukan apa-apa, ini kan di rental komputernya? hehehe…
    Kulepaskan ciumanku dari bibirnya, menjalar ke arah telinga, lalu desahkan erangan-erangan lembut. ia tersenyum & menatapku sambil terus melanjutkan pengembaraannya menelusuri ‘senjataku’.
    Kulanjutkan ciumanku ke lehernya, turun ke dadanya, lalu dengan amat perlahan, dengan lidah kudaki bukit indah itu sampai ke puncaknya.
    Kujilati & kukulum puting susunya yang sudah mengacung keras. Hana mulai mendesah & meracau tak jelas. Sempat kulihat matanya terpejam & bibirnya yang merah indah itu sedikit merekah. Sungguh merangsang.
    Tanganku mengelus, meremas & memilin puting di puncak bukit satunya lagi. Saya tak ingin buru-buru, saya ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara perlahan. Berpindah dari satu sisi ke sisi satunya, diselingi dengan ciuman ke bibirnya lagi, membuatnya mulai berkeringat.
    Tangannya semakin liar mengacak-acak rambutku, bahkan kadang-kadang menarik & menjambaknya, yang membuat nafsuku semakin bergelora. Apalagi suaranya yang meracau itu….
    Dengan berbaring menyamping berhadapan, kulepaskan celana dalamnya. Satu-satunya kain yang masih tersisa. Perlakuan yang sama kuterima darinya, Hana melepaskan celana jeanku. Saya tak menolak, sebab akupun ingin menuntaskan semuanya. Hana dengan bersemangat mengocok kontol ku, membuat semakin mengeras & mengacung gagah.
    Kubelai kakinya sejauh tanganku bisa menjangkau, perlahan naik ke paha. Berputar-putar, berpindah dari kiri ke kanan, sambil sekali-sekali seakan tak sengaja menyentuh gundukan berbulu yang tak terlalu lebat tapi terawat teratur.
    Sementara Hana rupanya sudah tak sabar, dibelai & digenggamnya kemaluanku, digerakkan tangannya maju mundur. Nikmat sekali. Walaupun hal itu sudah sering kurasakan dalam kencan-kencan liar kami selama beberapa saat sejak saya berkenalan dengan Hana, tetapi kali ini rasanya lain. Pikiran & konsentrasiku tak lagi terpecah.
    Melalui paha sebelah dalam, perlahan tanganku naik ke atas, menuju ke kemaluannya. Begitu tersentuh, desahan nafasnya semakin keras, & semakin memburu. Perlahan kubelai rambut kemaluannya, lalu jari tengahku mulai menguak ke tengah.
    Kubelai & kuputar-putar tonjolan daging sebesar kacang tanah yang sudah sangat licin & basah. Tubuh Hana mulai menggelinjang, pinggulnya bergerak ke kiri-ke kanan, juga ke atas & ke bawah. Keringatnya semakin deras keluar dari tubuhnya yang wangi.
    Ciumannya semakin ganas, & mulai menggigit lidahku yang masih berada dalam mulutnya. Sementara tangannya semakin ganas bermain di kemaluanku, maju-mundur dengan cepat. Tubuhnya mengejang & melengkung, kemudian terhempas ke tempat tidur disertai erangan panjang.
    Orgasme yang pertama telah berhasil kupersembahkan untuknya. Dipeluknya saya dengan keras sambil berbisik, “Ohhh, nikmat sekali. terima kasih sayang.”
    Saya tak ingin istirahat berlama-lama. Segera kutindih tubuhnya, lalu dengan perlahan kuciumi ia dari kening, ke bawah, ke bawah, & terus ke bawah. Deru nafasnya kembali terdengar disertai rintihan panjang begitu lidahku mulai menguak kewanitaannya. Cairan vagina ditambah dengan air liurku membuat lubang hangat itu semakin basah.
    Kumainkan klitorisnya dengan lidah, sambil kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang padat berisi. Tangannya kembali mengacak-acak rambutku, & sesekali kukunya yang tak terlalu panjang menancap di kepalaku. Ngilu tapi nikmat rasanya.
    Kepalanya terangkat lalu terbanting kembali ke atas bantal menahan kenikmatan yang amat sangat. Perutnya terlihat naik turun dengan cepat, sementara kedua kakinya memelukku dengan kuat.
    Beberapa saat kemudian, ditariknya kepalaku, kemudian diciumnya saya dengan gemas. Kutatap matanya dalam-dalam sambil meminta ijin dalam hati untuk memasukkan pusaka saya ke liang kenikmatannya. Tanpa kata, tetapi sampai juga rupanya. Sambil tersenyum sangat manis, dianggukkannya kepalanya.
    Perlahan, dengan tangan kuarahkan kemaluanku menuju ke kewanitaannya. Kugosok-gosok sedikit, kemudian dengan amat perlahan, kutekan & kudorong masuk. Terasa sekali kalau daerah terlarang itu sudah basah & mengeluarkan banyak cairan. Kudorong perlahan… & terasa ada yang menahan tongkat pusakaku.
    Wow…! Hana ini masih perawan rupanya. Kulihat ia meringis, mungkin kesakitan, tangannya tanpa kusangka mendorong bahuku sehingga tubuhku terdorong ke bawah. Kulihat ada air mata meleleh di sudut matanya. Saya tak tega, saya kasihan! Kupeluk & kuciumi dia. Hilang sudah nafsuku saat itu juga.
    Hana tahu saya kecewa. Sebab itu ia cepat mendekapku. & tiba-tiba dengan ganasnya, ia melumat & mengulum senjata saya yang mulai mengendur.
    “Argh… ” saya mendesis…! Ternyata sedotan demi sedotan dari Hana mendatangkan kenikmatan yang luar biasa…
    Saya membiarkan saja, apa yang dilakukan Hana. Kulihat Hana dengan rakusnya telah melahap & mengulum kemaluanku yang sudah kembali membesar & sangat keras. Nikmat tiada tara. Tapi, saya kesulitan untuk melakukan oral terhadapnya dalam posisi seperti ini. Jadi kuminta ia telentang di tempat tidur, saya naik ke atas tubuhnya, tetap dalam posisi terbalik.
    Saya pernah beberapa kali melakukan hal yang sama dulu, tetapi rasa yang ditimbulkan jauh berbeda. Hampir bobol pertahananku menerima jilatan & elusan lidahnya yang hangat & kasar itu.
    Apalagi bila ia memasukkan kemaluanku ke mulutnya seperti akan menelannya, kemudian bergumam. Getaran pita suaranya seakan menggelitik ujung kemaluanku. Bukan main nikmatnya.
    Larva panas hampir tak tertahankan lagi, saya memberi isyarat padanya untuk menghentikan emutannya…
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Saat Diriku Memuaskan Hasrat Dahsyat

    Cerita Sex Saat Diriku Memuaskan Hasrat Dahsyat


    896 views

    Perawanku – Cerita Sex Saat Diriku Memuaskan Hasrat Dahsyat. Aku harap semuanya akan lebih baik setelah aku memutuskan hubunganku dengan Reni tunanganku, namun ternyata tidak aku masih mencintainya. Hingga tidak mudah bagiku untuk melupakan sosoknya, terkadang aku berpikir kenapa aku harus menuruti kemarahanku jika akhirnya aku akan seperti ini, seperti orang yang kehilangan pegangan hidup aku sering keluar masuk tempat hiburan.

    Karena aku kira dengan begitu aku dapat melupakan sosok Reni, yang telah aku putusan karena melihatnya sedang mengobrol dengan seorang cowok di cafe tempat kami biasa makan ataupun sekedar hunting disana. Tapi hari itu kami sedang tidak ada janji dan akupun pergi kesana dengan temanku saat melihatnya akupun tersulut emosi apalagi di depan temanku yang tahu kalau Reni tunanganku tapi dengan cowok lain.

    Akhirnya aku bersikap kasar padanya, aku tidak memberikan dia kesempatan untuk menjelaskan. Aku permalukan Reni di depan banyak orang aku lupa kalau wanita ini telah memberikan semuanya padaku, bahkan kami sudah pernah melakukan adegan seperti dalam cerita sex. Masih aku ingat saat pertama kali kami melakukan Reni menangis karena telah memberikan kehormatanya padaku.

    Rasa cemburuku terlalu besar di saat itu juga aku memutuskannya di depan banyak orang. Aku tidak mengejarnya waktu dia menangis, aku sudah termakan egoku untuk mengalah. Hingga sekarang penyesalan yang terjadi, untuk meminta maafpun sudah tidak bisa karena Reni sudah tidak lagi tinggal di rumah orang tuanya dia memilih untuk meninggalkan kota ini.

    Bahkan ketika berulang kali aku menanyakan keberadaan Reni seluruh keluarganya sepakat untuk tutup mulut. Akupun sadar kalau aku sudah begitu kasar memperlakukannya di depan umum kala itu. Kini usiaku sudah memasuki 28 tahun sebenarnya aku sudah memutuskan untuk menikah tahun ini dengannya tapi semua musnah, masih aku ingat ketika dia memanggilku dengan lembut “Mas Bagas”.

    Hari ini tepat 8 bulan kami berpisah banyak yang bilang kalau penampilanku kini berantakan dengan kumis dan jenggot yang aku biarkan tumbuh “Mas ada temen kamu di depan..” Suara adikku di pintu kamarku “Siapa dik…” Tapi dia sudah keburu pergi begitulah adikku sendiri tidak mau lagi dekat-dekat denganku, dulu dia begitu dekat degan Reni bahkan mereka terlihat seperti saudara sendiri.

    Ternyata ada Dani temanku “Hei sob..kelihatanya kamu masih sama.. ayolah Bagas kamu harus move on” Dia mencoba memberikan penjelasan padaku tapi aku tidak mendengarkannya meskipun sudah panjang lebar dia berbicara padaku, sampai akhirnya Dani memberikan aku undangan pernikahannya semakin trenyuh hatiku melihat undangannya apalagi Dani menikah dengan temanku juga Bella.

    “Gua harap lu datang sob..banyak temen-temen yang gua undang” Tapi tetap saja aku merasa ada yang sakit dalam hati, hingga akhirnya Dani pamit pulang. Pernikahannya seminggu lagi ketika aku baca dalam undangan tersebut, akupun kembali ke club malam untuk melupakan kenangan itu namun sampai detik ini aku belum pernah melakukan hubungan intim layaknya dalam cerita sex meskipun banyak gadis penghibur yang siap aku bawa di club ini.

    Aku begitu mencintai Reni dan aku benar-benar menyesal, hingga akhirnya pernikahan Danipun tiba. Aku datang dengan salah satu temanku yang juga teman Dani, Farhan namanya begitu kami sampai akupun masuk ke dalam tanpa memperhatikan yang lain. Aku tahu kalau aku menjadi pusat perhatian, dulu aku begitu gagah dan termasuk cowok cakep di antara yang lain tapi kini tubuhku kelihatan lebih kurus.

    Belum lagi pesta usai saat aku hendak mengambil minum, karena pesta yang di gelar pernikahan Dani adalah garden party jadi setiap tamu yang merasa kurang sesuatu dapat mengambil sendiri. Saat itulah aku melihat sosok yang selama ini aku rindukan “Reni….” Kataku tapi diapun pergi dan aku tidak lagi membuang kesempatan aku kejar Reni hingga di tempat parkir dia masuk dalam mobilnya.

    Akupun tidak menyiakan kesempatan akupun ikut masuk dalam mobilnya “Sudaah Bagas kamu keluar sana..” Teriak Reni padaku tapi aku dengan cepat langsung memeluknya “Maaf Ren.. maaaf… aaaaku… maaf..” Tidak dapat lagi aku berkata akhirnya aku hanya memeluknya dengan erat, cukup lama aku membuatnya untuk tidak marah lagi padaku sampai akhirnya diapun

    Apalagi kami menjadi pusat perhatian saja, selama dalam perjalanan Reni terdiam aku yang awalnya tidak berhenti mengatakan kata maaf akhirnya ikut terdiam juga. Sampai kamipun berada di kawasan pantai “Ayo cepat jelaskan mas.. mas Bagas mau ngomong apa .. Reni mau pulang..” Katanya memecahkan kesunyian di antara kami. Tanpa pikir panjang akupun memeluknya lalu aku kecup bibirnya.

    Aku tahu kalau diapun masih mencintaiku dengan penuh gairah Reni melumat bibirku juga “Aaaaagggghh… eeeeuuummmccchhhh… aaaaggggghhhh.. eeeeuuuuummmmcccchhhh… aaaagggghhh…” Dia pejamkan matanya sambil menjambak rambutku hingga kusut, akupun melumat habis bibirnya aku luapkan semua kerinduanku padanya. Aku peluk tubuh Reni tanpa melepas bibirku.

    Bahkan tanganku lebih berani menggerayangi tubuhnya, mungkin karena kami sudah pernah melakukan adegan seperti dalam cerita sex “OOOoouuuggghhhh… aaaaggggghh…. sayaaaaang… aaaaaggggghhh…. aaaaggggghhh….. aaaaagggggggghhhh….” Reni sepertinya sudah mengharap lebih, dia pasrah ketika tanganku masuk dalam bajunya dan meremas bagian buah dadanya.

    Diapun menggelinjang “Ooouugggggghhhh… mas… Bagaaaas…. aaaagggghhh… aaaaggghhh… aaaagggghh… akuu kangeeeen maaassss… aaaaaggghhhh…” Rupanya Reni juga tidak dapat memendam gairahnya diapun naik ke atas tubuhku dan dengan posisi seperti menduduki aku, dengan sigap juga aku acungkan kontolku hingga diapun dengan mudahnya memasukkan kontolku dalam memeknya.

    “OOoouuuggghh… aaaagggghhh… aaaaagggghhh… aaaaggghh…. maaas… aaaggghhh…” Reni bergerak turun naik meskipun tidak leluasa tapi cukup bagi kami menikmatinya, akupun memegang kedua pinggul Reni dengan membantunya brgerak diatas tubuhku, yang sedikit duduk sambil agak rebahan di atas jok mobil. Reni terus bergerak membuat akupun menikmati setiap gerakannya.

    Kontolkupun tidak dapat mengontrolnya mungkin karena sudah lama tidak melakukan hubungan intim ini “OOOOuugggghh… Reeeen… aaaaakkkhhhhh…. aaaaaaku… aaaaaagggghh…. aaaggggghhhh…” Saat itu juga sperma mengalir dari dalam kontolku, sedangkan Reni masih berusaha mencapai klimaks tapi aku sudah mencapainya lebih dulu, mau sudah pasti.

    Tapi aku tahu dia tidak mau menunjukan kekecewaanya padaku,dia berhenti bergerak tapi dengan lembut dia menatapku dan mengelus wajahku “Reni kangen mas Bagas…” Aku tidak menjawabnya tapi aku tatap dia dengan tajam, bahkan saking tidak percayanya kalau saat itu adalah Reni kembali aku memeluknya dengan erat. Hingga Reni teriak kalau dia tidak dapat bernafas, kamipun tertawa.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Igo Deketin Adiknya Dapat Kakaknya

    Cerita Sex Igo Deketin Adiknya Dapat Kakaknya


    837 views

    Perawanku – Cerita Sex Igo Deketin Adiknya Dapat Kakaknya, Selesai sekolah Sabtu itu langsung dilanjutkan rapat pengurus OSIS. Rapat itu dilakukan sebagai persiapan sekaligus pembentukan panitia kecil pemilihan OSIS yang baru. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemilihan dimaksudkan sebagai regenerasi dan anak-anak kelas 3 sudah tidak boleh lagi dipilih jadi pengurus, kecuali beberapa orang pengurus inti yang bakalan “naik pangkat” jadi penasihat.

    Usai rapat, aku bergegas mau langsung pulang, soalnya sorenya ada acara rutin bulanan: pulang ke rumah ortu di kampung. Belum sempat aku keluar dari pintu ruangan rapat, suara nyaring cewek memanggilku.
    “Didik .. “ aku menoleh, ternyata Sarah yang langsung melambai supaya aku mendekat. “Dik, jangan pulang dulu. Ada sesuatu yang pengin aku omongin sama kamu,” kata Sarah setelah aku mendekat.

    Cerita Dewasa Igo Deketin “Tapi Rah, sore ini aku mau ke kampung. Bisa nggak dapet bis kalau kesorean,” jawabku.
    “Cuman sebentar kok Dik. Kamu tunggu dulu ya, aku mberesin ini dulu,” Sarah agak memaksaku sambil membenahi catatan-catatan rapat. Akhirnya aku duduk kembali.
    “Dik, kamu pacaran sama Nita ya?” tanya Sarah setelah ruangan sepi, tinggal kami berdua. Aku baru mengerti, Sarah sengaja melama-lamakan membenahi catatan rapat supaya ada kesempatan ngomong berdua denganku.
    “Emangnya, ada apa sih?” aku balik bertanya.
    “Enggak ada apa-apa sih .. “ Sarah berhenti sejenak. “Emmm, pengin nanya aja.”
    “Enggak kok, aku nggak pacaran sama Nita,” jawabku datar.
    “Ah, masa. Temen-temen banyak yang tahu kok, kalau kamu suka jalan bareng sama Nita, sering ke rumah Nita,” kata Sarah lagi.
    “Jalan bareng kan nggak lantas berarti pacaran tho,” bantahku.
    “Paling juga pakai alasan kuno ‘Cuma temenan’,” Sarah berkata sambil mencibir, sehingga wajahnya kelihatan lucu, yang membuatku ketawa. “Cowok di mana-mana sama aja, banyak bo’ongnya.”
    “Ya terserah kamu sih kalau kamu nganggep aku bohong. Yang jelas, sudah aku bilang bahwa aku nggak pacaran sama Nita.”
    Aku sama sekali tidak bohong pada Sarah, karena aku sama Nita memang sudah punya komitmen untuk ‘tidak ada komitmen’. Maksudnya, hubunganku dengan Nita hanya sekedar untuk kesenangan dan kepuasan, tanpa janji atau ikatan di kemudian hari. Hal itu yang kujelaskan seperlunya pada Sarah, tentunya tanpa menyinggung soal ‘seks’ yang jadi menu utama hubunganku dengan Nita.
    “Nanti malem, mau nggak kamu ke rumahku?” tanya Nita sambil melangkah keluar ruangan bersamaku.
    “Kan udah kubilang tadi, aku mau pulang ke rumah ortu nanti,” jawabku.
    “Ke rumah ortu apa ke rumah Nita?” tanya Sarah dengan nada menyelidik dan menggoda.
    “Kamu mau percaya atau tidak sih, terserah. Emangnya kenapa sih, kok nyinggung-nyinggung Nita terus?” aku gantian bertanya.
    “Enggak kok, nggak kenapa-kenapa,” elak Sarah. Akhirnya kami jalan bersama sambil ngobrol soal-soal ringan yang lain. Aku dan Sarahpun berpisah di gerbang sekolah. Nita sudah ditunggu sopirnya, sedang aku langsung menuju halte. Sebelum berpisah, aku sempat berjanji untuk main ke rumah Nita lain waktu.
    *****
    Diam-diam aku merasa geli. Masak malam minggu itu jalan-jalan sama Sarah harus ditemani kakaknya, dan diantar sopir lagi. Jangankan untuk ML, sekedar menciumpun rasanya hampir mustahil. Sebenarnya aku agak ogah-ogahan jalan-jalan model begitu, tapi rasanya tidak mungkin juga untuk membatalkan begitu saja. Rupanya aturan orang tua Sarah yang ketat itu, bakalan membuat hubunganku dengan Sarah jadi sekedar roman-romanan saja. Praktis acara pada saat itu hanya jalan-jalan ke Mall dan makan di ‘food court’.
    Di tengah rasa bete itu aku coba menghibur diri dengan mencuri-curi pandang pada Mbak Indah, baik pada saat makan ataupun jalan. Mbak Indah, adalah kakak sulung Sarah yang kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di kota ‘Y’. Dia pulang setiap 2 minggu atau sebulan sekali. Sama sepertiku, hanya beda level. Kalau Mbak Indah kuliah di ibukota propinsi dan mudik ke kotamadya, sedang aku sekolah di kotamadya mudiknya ke kota kecamatan.
    Wajah Mbak Indah sendiri hanya masuk kategori lumayan. Agak jauh dibandingkan Sarah. Kuperhatikan wajah Mbak Indah mirip ayahnya sedang Sarah mirip ibunya. Hanya Mbak Indah ini lumayan tinggi, tidak seperti Sarah yang pendek, meski sama-sama agak gemuk.
    Kuperhatikan daya tarik seksual Mbak Indah ada pada toketnya. Lumayan gede dan kelihatan menantang kalau dilihat dari samping, sehingga rasa-rasanya ingin tanganku menyusup ke balik T-Shirtnya yang longgar itu. Aku jadi ingat Nita. Ah, seandainya tidak aku tidak ke rumah Sarah, pasti aku sudah melayang bareng Nita.

    Saat Sarah ke toilet, Mbak Indah mendekatiku.
    “Heh, awas kamu jangan macem-macem sama Sarah!” katanya tiba-tiba sambil memandang tajam padaku.
    “Maksud Mbak, apa?” aku bertanya tidak mengerti.
    “Sarah itu anak lugu, tapi kamu jangan sekali-kali manfaatin keluguan dia!” katanya lagi.
    “Ini ada apa sih Mbak?” aku makin bingung.
    “Alah, pura-pura. Dari wajahmu itu kelihatan kalau kamu dari tadi bete,” aku hanya diamsambil merasa heran karena apa yang dikatakan Mbak Indah itu betul.
    “Kamu bete, karena malem ini kamu nggak bisa ngapa-ngapain sama Sarah, ya kan?” aku hanya tersenyum, Mbak Indah yang tadinya tutur katanya halus dan ramah berubah seperti itu.
    “Eh, malah senyam-senyum,” hardiknya sambil melotot.
    “Memang nggak boleh senyum. Abisnya Mbak Indah ini lucu,” kataku.
    “Lucu kepalamu,” Mbak Indah sewot.
    “Ya luculah. Kukira Mbak Indah ini lembut kayak Sarah, ternyata galak juga!” Aku tersenyum menggodanya.
    “Ih, senyam-senyum mlulu. Senyummu itu senyum mesum tahu, kayak matamu itu juga mata mesum!” Mbak Indah makin naik, wajahnya sedikit memerah.
    “Mbak cakep deh kalau marah-marah,” makin Mbak Indah marah, makin menjadi pula aku menggodanya.
    “Denger ya, aku nggak lagi bercanda. Kalau kamu berani macem-macem sama adikku, aku bisa bunuh kamu!” kali ini Mbak Indah nampak benar-benar marah.
    Akhirnya kusudahi juga menggodanya melihat Mbak Indah seperti itu, apalagi pengunjung mall yang lain kadang-kadang menoleh pada kami. Kuceritakan sedikit tentang hubunganku dengan Sarah selama ini, sampai pada acara ‘apel’ pada saat itu.
    “Kalau soal pengin ngapa-ngapain, yah, itu sih awalnya memang ada. Tapi, sekarang udah lenyap. Sarah sepertinya bukan cewek yang tepat untuk diajak ngapa-ngapain, dia mah penginnya roman-romanan aja,” kataku mengakhiri penjelasanku.
    “Kamu ini ngomongnya terlalu terus-terang ya?” Nada Mbak Indah sudah mulai normal kembali.
    “Ya buat apa ngomong mbulet. Bagiku sih lebih baik begitu,” kataku lagi.
    “Tapi .. kenapa tadi sama aku kamu beraninya lirak-lirik aja. Nggak berani terus-terang mandang langsung?”
    Aku berpikir sejenak mencerna maksud pertanyaan Mbak Indah itu. Akhirnya aku mengerti, rupanya Mbak Indah tahu kalau aku diam-diam sering memperhatikan dia.
    “Yah .. masak jalan sama adiknya, Mbak-nya mau diembat juga,” kataku sambil garuk-garuk kepala.
    Setelah itu Sarah muncul dan dilanjutkan acara belanja di dept. store di mall itu. Selama menemani kakak beradik itu, aku mulai sering mendekati Mbak Indah jika kulihat Sarah sibuk memilih-milih pakaian. Aku mulai lancar menggoda Mbak Indah.
    Hampir jam 10 malam kami baru keluar dari mall. Lumayan pegal-pegal kaki ini menemani dua cewek jalan-jalan dan belanja. Sebelum keluar dari mall Mbak Indah sempat memberiku sobekan kertas, tentu saja tanpa sepengetahuan Sarah.
    “Baca di rumah,” bisiknya.
    ***
    Cerita Dewasa Igo Deketin Aku lega melihat Mbak Indah datang ke counter bus PATAS AC seperti yang diberitahukannya lewat sobekan kertas. Kulirik arloji menunjukkan jam setengah 9, berarti Mbak Indah terlambat setengah jam.
    “Sori terlambat. Mesti ngrayu Papa-Mama dulu, sebelum dikasih balik pagi-pagi,” Mbak Indah langsung ngerocos sambil meletakkan hand-bag-nya di kursi di sampingku yang kebetulan kosong. Sementara aku tak berkedip memandanginya. Mbak Indah nampak sangat feminin dalam kulot hitam, blouse warna krem, dan kaos yang juga berwarna hitam. Tahu aku pandangi, Mbak Indah memencet hidungku sambil ngomel-ngomel kecil, dan kami pun tertawa. Hanya sekitar sepuluh menit kami menunggu, sebelum bus berangkat.
    Dalam perjalanan di bus, aku tak tahan melihat Mbak Indah yang merem sambil bersandar. Tanganku pun mulai mengelu-elus tangannya. Mbak Indah membuka mata, kemudian bangun dari sandarannya dan mendekatkan kepalanya padaku.
    “Gimana, Mbaknya mau di-embat juga?” ledeknya sambil berbisik.
    “Kan lain jurusan,” aku membela diri. “Adik-nya jurusan roman-romanan, Mbak-nya jurusan … “ Aku tidak melanjutkan kata-kataku, tangan Mbak Indah sudah lebih dulu memencet hidungku. Selebihnya kami lebih banyak diam sambil tiduran selama perjalanan.
    ***
    Yang disebut kamar kos oleh Mbak Indah ternyata sebuah faviliun. Faviliun yang ditinggali Mbak Indah kecil tapi nampak lux, didukung lingkungannya yang juga perumahan mewah.
    “Kok bengong, ayo masuk,” Mbak Indah mencubit lenganku. “Peraturan di sini cuman satu, dilarang mengganggu tetangga. Jadi, cuek adalah cara paling baik.”
    Aku langsung merebahkan tubuhku di karpet ruang depan, sementara setelah meletakkan hand-bag-nya di dekat kakiku, Mbak Indah langsung menuju kulkas yang sepertinya terus on.
    “Nih, minum dulu, habis itu mandi,” kata Mbak Indah sambil menuangkan air dingin ke dalam gelas.
    “Kan tadi udah mandi Mbak,” kataku.
    “Ih, jorok. Males aku deket-deket orang jorok,” Mbak Indah tampak cemberut. “Kalau gitu, aku duluan mandi,” katanya sambil menyambar hand-bag dan menuju kamar. Aku lihat Mbak Indah tidak masuk kamar, tapi hanya membuka pintu dan memasukkan hand-bag-nya. Setelah itu dia berjalan ke belakang ke arah kamar mandi.
    “Mbak,” Mbak Indah berhenti dan menoleh mendengar panggilanku. “Aku mau mandi, tapi bareng ya?”
    “Ih, maunya .. “ Mbak Indah menjawab sambil tersenyum. Melihat itu aku langsung bangkit dan berlari ke arah Mbak Indah. Langsung kupeluk dia dari belakang tepat di depan pintu kamar mandi. Kusibakkan rambutnya, kuciumi leher belakangnya, sambil tangan kiriku mengusap-usap pinggulnya yang masih terbungkus kulot. Terdengar desahan Mbak Indah, sebelum dia memutar badan menghadapku. Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku.
    “Katanya mau mandi?” setelah berkata itu, lagi-lagi hidungku jadi sasaran, dipencet dan ditariknya sehingga terasa agak panas. Setelah itu diangkatnya kaosku, dilepaskannya sehingga aku bertelanjang dada. Kemudian tangannya langsung membuka kancing dan retsluiting jeans-ku. Lumayan cekatan Mbak Indah melakukannya, sepertinya sudah terbiasa. Seterusnya aku sendiri yang melakukannya sampai aku sempurna telanjang bulat di depan Mbak Indah.
    “Ih, nakal,” kata Mbak Indah sambil menyentil rudalku yang terayun-ayun akibat baru tegang separo.
    “Sakit Mbak,” aku meringis.
    “Biarin,” kata Mbak Indah yang diteruskan dengan melepas blouse-nya kemudian kaos hitamnya, sehingga bagian atasnya tinggal BH warna hitam yang masih dipakainya. Aku tak berkedip memandangi sepasang toket Mbak Indah yang masih tertutup BH, dan Mbak Indah tidak melanjutkan melepas pakainnya semua sambil tersenyum menggoda padaku.
    Birahi benar-benar sudah tak bisa kutahan. Langsung kuraih dan naikkan BH-nya, sehingga sepasang toket-nya yang besar itu terlepas.
    “Ih, pelan-pelan. Kalau BH-ku rusak, emangnya kamu mau ganti,” lagi-lagi hidungku jadi sasaran. Tapi aku sudah tidak peduli. Sambil memeluknya mulutku langsung mengulum tokenya yang sebelah kanan.
    Mbak Indah tidak berhenti mendesah sambil tangannya mengusap-usap rambutku. Aku makin bersemangat saja, mulutku makin rajin menggarap toketnya sebelah kanan dan kiri bergantian. Kukulum, kumainkan dengan lidah dan kadang kugigit kecil. Akibat seranganku yang makin intens itu Mbak Indah mulai menjerit-jerit kecil di sela-sela desahannya.
    Beberapa menit kulakukan aksi yang sangat dinikmati Mbak Indah itu, sebelum akhirnya dia mendorong kepalaku agar terlepas dari toketnya. Mbak Indah kemudian melepas BH, kulot dan CD-nya yang juga berwarna hitam. Sementara bibirnya nampak setengah terbuka sambil mendesi lirih dan matanya sudah mulai sayu, pertanda sudah horny berat.
    Belum sempat mataku menikmati tubuhnya yang sudah telanjang bulat, tangan kananya sudah menggenggam rudalku. Kemudian Mbak Indah berjalan mundur masuk kamar mandi sementara rudalku ditariknya. Aku meringis menahan rasa sakit, sekaligus pengin tertawa melihat kelakuan Mbak Indah itu.
    Mbak Indah langsung menutup pintu kamar mandi setelah kami sampai di dalam, yang diteruskan dengan menghidupkan shower. Diteruskannya dengan menarik dan memelukku tepat di bawah siraman air dari shower. Dan …
    “mmmmhhhh …. “ bibirnya sudah menyerbu bibirku dan melumatnya. Kuimbangi dengan aksi serupa. Seterusnya, siraman air shower mengguyur kepala, bibir bertemu bibir, lidah saling mengait, tubuh bagian depan menempel ketat dan sesekali saling menggesek, kedua tangan mengusap-usap bagian belakang tubuh pasangan, “Aaaaaahhh,” nikmat luar biasa.
    Tak ingat berapa lama kami melakukan aksi seperti itu, kami melanjutkannya dalam posisi duduk, tak ingat persis siapa yang mulai. Aku duduk bersandar pada dinding kamar mandi, kali ku luruskan, sementar Mbak Indah duduk di atas pahaku, lututnya menyentuh lantai kamar mandi. Kemudian kurasakan Mbak Indah melepaskan bibirnya dari bibirku, pelahan menyusur ke bawah. Berhenti di leherku, lidahnya beraksi menjilati leherku, berpindah-pindah. Setelah itu, dilanjutkan ke bawah lagi, berhenti di dadaku. Sebelah kanan-kiri, tengah jadi sasaran lidah dan bibirnya. Kemudian turun lagi ke bawah, ke perut, berhenti di pusar. Tangannya menggenggam rudalku, didorong sedikit ke samping dengan lembut, sementara lidahnya terus mempermainkan pusarku. Puas di situ, turun lagi, dan bijiku sekarang yang jadi sasaran. Sementara lidahnya beraksi di sana, tangan kanannya mengusap-usap kepala rudalku dengan lembut. Aku sampai berkelojotan sambil mengerang-erang menikmati aksi Mbak Indah yang seperti itu.
    Pelahan-lahan bibirnya merayap naik menyusuri batang rudalku, dan berhenti di bagian kepala, sementara tangannya ganti menggenggam bagian batang. Kepala rudalku dikulumnya, dijilati, berpindah dan berputar-putar, sehingga tak satu bagianpun yang terlewat. Beberapa saat kemudian, kutekan kepala Mbak Indah ke bawah, sehingga bagian batanku pun masuk 2/3 ke mulutnya. Digerakkannya kepalanya naik turun pelahan-lahan, berkali-kali. Kadang-kadang aksinya berhenti sejenak di bagian kepala, dijilati lagi, kemudian diteruskan naik turun lagi. Pertahananku nyaris jebol, tapi aku belum mau terjadi saat itu. Kutahan kepalanya, kuangkat pelan, tapi Mbak Indah seperti melawan. Hal itu terjadi beberapa kali, sampai akhirnya aku berhasil mengangkat kepalanya dan melepas rudalku dari mulutnya.
    Kuangkat kepala Mbak Indah, sementara matanya terpejam. Kudekatkan, dan kukulum lembut bibirnya. Pelan-pelan kurebahkan Mbak Indah yang masih memejamkan mata sambil mendesis itu ke lantai kamar mandi. Kutindih sambil mulutku melahap kedua toketnya, sementara tanganku meremasnya bergantian.
    Erangannya, desahannya, jeritan-jeritan kecilnya bersahut-sahutan di tengah gemericik siraman air shower. Kuturunkan lagi mulutku, berhenti di gundukan yang ditumbuhi bulu lebat, namun tercukur dan tertata rapi. Beberapa kali kugigit pelan bulu-bulu itu, sehingga pemiliknya menggelinjang ke kanan kiri. Kemudian kupisahkan kedua pahanya yang putih,besar dan empuk itu. Kubuka lebar-lebar. Kudaratkan bibirku di bibir memeknya, kukecup pelan. Kujulurkan lidahku, kutusuk-tusukan pelan ke daging menonjol di antar belahan memek Mbak Indah. Pantat Mbak Indah mulai bergoyang-goyang pelahan, sementara tangannya menjambak atau lebih tepatnya meremas rambutku, karena jambakannya lembut dan tidak menyakitkan. Kumasukkan jari tengahku ku lubang memeknya, ku keluar masukkan dengan pelan. Desisan Mbak Indah makin panjang, dan sempat ku lirik matanya masih terpejam. Kupercepat gerakan jariku di dalam lubang memeknya, tapi tangannya langsung meraih tanganku yang sedang beraksi itu dan menahannya. Kupelankan lagi, dan Mbak melepas tangannya dari tanganku. Setiap kupercepat lagi, tangan Mbak Indah meraih tanganku lagi, sehingga akhirnya aku mengerti dia hanya mau jariku bergerak pelahan di dalam memeknya.
    Beberapa menit kemudian, kurasakan Mbak Indah mengangkat kepalaku menjauhkan dari memeknya. Mbak Indah membuka mata dan memberi isyarat padaku agar duduk bersandar di dinding kamar mandi. Seterusnya merayap ke atasku, mengangkang tepat di depanku. Tangannya meraih rudalku, diarahkan dan dimasukkan ke dalam lubang memeknya.
    Cerita Dewasa Igo Deketin “Oooooooooooohh ,” Mbak Indah melenguh panjang dan matanya kembali terpejam saat rudalku masuk seluruhnya ke dalam memeknya. Mbak Indah mulai bergerak naik-turun pelahan sambil sesekali pinggulnya membuat gerakan memutar. Aku tidak sabar menghadapi aksi Mbak Indah yang menurutku terlalu pelahan itu, mulai kusodok-sodokkan rudalku dari bawah dengan cukup cepat. Mbak Indah menghentikan gerakannya, tangannya menekan dadaku cukup kuat sambil kepala menggeleng, seperti melarangku melakukan aksi sodok itu. Hal itu terjadi beberapa kali, yang sebenarnya membuatku agak kecewa, sampai akhirnya Mbak Indah membuka matanya, tangannya mengusap kedua mataku seperti menyuruhkan memejamkan mata. Aku menurut dan memejamkan mataku.
    Setelah beberapa saat aku memejamkan mata, aku mulai bisa memperhatikan dengan telingaku apa yang dari tadi tidak kuperhatikan, aku mulai bisa merasakan apa yang dari tadi tidak kurasakan. Desahan dan erangan Mbak Indah ternyata sangat teratur dan serasi dengan gerakan pantatnya,sehingga suara dari mulutnya, suara alat kelamin kami yang menyatu dan suara siraman air shower seperti sebuah harmoni yang begitu indah. Dalam keterpejaman mata itu, aku seperti melayang-layang dan sekelilingku terasa begitu indah, seperti nama wanita yang sedang menyatu denganku. Kenikmatan yang kurasakan pun terasa lain, bukan kenikmatan luar biasa yang menhentak-hentak, tapi kenikmatan yang sedikit-sedikit, seperti mengalir pelahan di seluruh syarafku, dan mengendap sampai ke ulu hatiku.
    Beberapa menit kemudian gerakan Mbak Indah berhenti pas saat rudalku amblas seluruhnya. Ada sekitar 5 detik dia diam saja dalam posisi seperti itu. Kemudian kedua tangannya meraih kedua tanganku sambil melontarkan kepalanya ke belakang. Kubuka mataku, kupegang kuat-kuat kedua telapak tangannya dan kutahan agar Mbak Indah tidak jatuh ke belakang. Setelah itu pantatnya membuat gerakan ke kanan-kiri dan terasa menekan-nekan rudal dan pantatku.
    “Aaa .. aaaaaa … aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh,” desahan dan jeritan kecil Mbak Indah itu disertai kepala dan tubuhnya yang bergerak ke depan. Mbak Indah menjatuhkan diri padaku seperti menubruk, tangannya memeluk tubukku, sedang kepalanya bersandar di bahu kiriku. Ku balas memeluknya dan kubelai-belai Mbak Indah yang baru saja menikmati orgasmenya. Sebuah cara orgasme yang eksotik dan artistik.
    Setelah puas meresapi kenikmatan yang baru diraihnya, Mbak Indah mengangkat kepala dan membuka matanya. Dia tersenyum yang diteruskan mencium bibirku dengan lembut. Belum sempat aku membalas ciumannya, Mbak Indah sudah bangkit dan bergeser ke samping. Segera kubimbing dia agar rebahan dan telentang di lantai kamar mandi. Mbak Indah mengikuti kemauanku sambil terus menatapku dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Kemudian kuarahkan rudalku yang rasanya seperti empot-empotkan ke lubang memeknya, kumasukkan seluruhnya. Setelah amblas semuanya Mbak Indah memelekku sambil berbisik pelan.
    “Jangan di dalam ya sayang, aku belum minum obat,” aku mengangguk pelan mengerti maksudnya. Setelah itu mulai kugoyang-goyang pantatku pelan-pelan sambil kupejamkan mata. Aku ingin merasakan kembali kenikmatan yang sedikit-sedikit tapi meresap sampai ke ulu hati seperti sebelumnya. Tapi aku gagal, meski beberapa lama mencoba. Akhirnya aku membuat gerakan seperti biasa, seperti yang biasa kulakukan pada tante Ani atau Nita. Bergerak maju mundur dari pelan dan makin lama makin cepat.
    “Aaaah… Hoooohh,” aku hampir pada puncak, dan Mbak Indah cukup cekatan. Didorongnya tubuhku sehingga rudalku terlepas dari memeknya. Rupanya dia tahu tidak mampu mengontrol diriku dan lupa pada pesannya. Seterusnya tangannya meraih rudalku sambil setengah bangun. Dikocok-kocoknya dengan gengaman yang cukup kuat, seterusnya aku bergeser ke depan sehingga rudalku tepat berada di atas perut Mbak Indah.
    “Aaaaaaaah … aaaaaaahhh … crottt… crotttt ..,” beberapa kali spermaku muncrat membasahi dada dan perut Mbak Indah. Aku merebahku tubuhku yang terasa lemas di samping Mbak Indah, sambil memandanginya yang asyik mengusap meratakan spermaku di tubuhnya.
    “Hampir lupa ya?” lagi-lagi hidungku jadi sasarannya waktu Mbak Indah mengucapkan kata-kata itu.
    ***
    Selama di bus dalam perjalanan pulang aku memejamkan mata sambil mengingat-ingat pengalaman yang baru saja ku dapat dari Mbak Indah. Saat di kamar mandi, dan saat mengulangi sekali lagi di kamarnya. Seorang wanita dengan gaya bersetubuh yang begitu lembut dan penuh perasaan.
    “Kalau sekedar mengejar kepuasan nafsu, itu gampang. Tapi aku mau lebih. Aku mau kepuasan nafsuku selaras dengan kepuasan yang terasa di jiwaku.”
    Kepuasan yang terasa di jiwa, itulah hal yang kudapat dari Mbak Indah dan hanya dari Mbak Indah, karena kelak setelah gonta-ganti pasangan, tetap saja belum pernah kudapatkan kenikmatan seperti yang kudapatkan dari Mbak Indah. Kepuasan dan kenikmatan yang masih terasa dalam jangka waktu yang cukup lama meskipun persetubuhan berakhir.
    Cerita Dewasa Igo Deketin “Ingat ya, jangan pernah sekali-kali kamu lakukan sama Sarah. Kalau sampai kamu lakukan, aku tidak akan pernah memaafkan kamu!” Aku terbangun, rupanya dalam tidurku aku bermimpi Mbak Indah memperingatkanku tentang Sarah, adiknya. Dan bus pun sudah mulai masuk terminal.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Merengut Perawan Pacarku Disaat Rumah Sepi

    Cerita Sex Merengut Perawan Pacarku Disaat Rumah Sepi


    862 views

    Perawanku – Cerita Sex Merengut Perawan Pacarku Disaat Rumah Sepi, Lia adalah yang tergolong imut dan manis untuk gadis seusianya. Entah kenapa, aku ingin sekali bersetubuh dengan Lia, aku ingin menikmati rasanya lubang kelamin Lia, yang kubayangkan pastilah masih sangat sempit.

    Ahhh.. nafsuku kian membara karena memikirkan hal itu. Aku mencoba mencari akal, bagaimana caranya agar keperawanan Lia bisa kudapatkan dan kurasakan. Kutunggu saja waktu tepatnya dengan sabar.

    Tidak terasa, selesailah film panas yang sedang kami tonton. Suara Lia akhirnya memecahkan keheningan.

    Oom, tuh tititnya berdiri lagi. kata Lia sambil menunjuk ke arah batang kemaluanku yang memang sedang tegang.

    Iya nih Lia, tapi biarin saja deh, gimana dengan filmnya? jawabku santai.Bagus kok Oom, persis seperti apa yang papa dan mama lakukan, dan Lia ada beberapa pertanyaan buat Oom nih.

    Lia sepertinya ingin menanyakan sesuatu.Pertanyaannya apa? tanyaku.Kenapa sih, kalo olahraga gituan harus masukin titit ke apa tuh, Lia ngga ngerti? tanya Lia.

    Oh itu.., itu namanya titit dimasukkan ke lubang kencing atau disebut juga lubang memek, pasti papa Lia juga melakukan hal itu ke mama kan? jawabku menerangkan.Iya benar Oom, papa pasti masukin tititnya ke lubang yang ada pada memek mama.

    Lia membenarkan jawabanku.Itulah seninya olahraga beginian Lia, bisa dilakukan sendiri, bisa juga dilakukan berdua, olahraga ini khusus untuk dewasa.

    Kataku memberi penjelasan ke Lia.Lia sudah boleh ngga Oom.. melakukan olahraga seperti itu? tanya Lia lagi.

    Ouw.. inilah yang aku tunggu.. dasar rejeki.. selalu saja datang sendiri.Boleh sih, dengan satu syarat jangan bilang sama mama dan papa. jelasku.Terang saja aku membolehkan, sebab itulah yang kuharapkan.

    Lia harus tahu, jika Lia melakukan olahraga beginian akan merasa lelah sekali tetapi juga akan merasakan enak. tambahku. Masa sih Oom? Tapi kayaknya ada benarnya juga sih, Lia lihat sendiri mama juga sepertinya merasa lelah tapi juga merasa keenakan, sampai menjerit-jerit lho Oom, malahan kadang seperti mau nangis.

    Lia yang polos rupanya sudah mulai tertarik dan sepertinya ingin tahu bagaimana rasanya.Emang gitu kok. Ee, mumpung masih siang nich, mama Lia juga masih lama pulangnya, kalo Lia memang ingin olahraga beginian, sekarang saja gimana? aku sudah tidak sabar ingin melihat pesona kemaluannya Lia, pastilah luar biasa.

    Ayolah! Lia mengiyakan.Memang rasa ingin tahu anak gadis seusia Lia sangatlah besar. Ini adalah hal baru bagi Lia.

    Segera saja kusiapkan segala sesuatunya di otakku. Aku ingin Lia merasakan apa yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kaos singlet yang menempel di tubuhku telah kulepas.

    Aku sudah telanjang bulat dengan batang kejantananku mengacung-ngacung keras dan tegang. Baru pernah seumur hidupku, aku telanjang di hadapan seorang gadis belia berumur 12 tahun.

    Lia hanya tersenyum-senyum memandangi batang kemaluanku yang berdiri dengan megahnya. Mungkin karena kebiasaan melihat papa dan mamanya telanjang bulat, sehingga melihatku telanjang bulat merupakan hal yang tidak aneh lagi bagi Lia.

    Kusuruh Lia untuk membuka seluruh pakaiannya. Awalnya Lia protes, tetapi setelah kuberitahu dan kucontohkan kenapa mama Lia telanjang bulat, dan kenapa ceweknya Tarzan juga telanjang bulat, sebab memang sudah begitu seharusnya. Akhirnya Lia mau melepas pakaiannya satu persatu.

    Aku melihat Lia melepaskan pakaiannya dengan mata tidak berkedip. Pertama sekali, lepaslah pakaian sekolah yang dikenakannya, lalu rok biru dilepaskan juga. Sekarang Lia tinggal mengenakan kaos dalam dan celana dalam saja.

    Di balik kaos dalamnya yang cukup tebal itu, aku sudah melihat dua benjolan kecil yang mencuat, pastilah puting susunya Lia yang baru tumbuh.

    Baru saja aku berpikiran seperti itu, Lia sudah membuka kaos dalamnya itu dan seperti apa yang kubayangkan, puting susu Lia yang masih kuncup, membenjol terlihat dengan jelas di kedua mataku.

    Puting susu itu begitu indahnya. Lain sekali dengan yang biasa kulihat dan kurasakan dari wanita malam langgananku, rata-rata puting susu mereka sudah merekah dan matang, sedangkan ini, aku hanya bisa menelan ludah.

    Payudara Lia memang belum nampak, sebab karena faktor usia. Akan tetapi puting susunya sudah mulai menampakkan hasilnya. Membenjol cukup besar dan mencuat menantang untuk dinikmati.

    Warna puting susu Lia coklat kemerahan, aku melihat puting susu itu menegang tanpa Lia menyadarinya. Lalu Lia melepaskan juga celana dalamnya. Kembali aku dibuatnya sangat bernafsu, kemaluan Lia masih berupa garis lurus, seperti kebanyakan milik anak-anak gadis yang sering kulihat mandi di sungai.

    Vagina yang belum ditumbuhi bulu rambut satu pun, masih gundul. Aku sungguh-sungguh melihat pemandangan yang menakjubkan ini. Terbengong-bengong aku dibuatnya.

    Oom, udah semua nih, udah siap nih Oom.Aku tersentak dari lamunan begitu mendengar Lia berbicara.Oke, sekarang dimulai yaaa?Kuberi tanda ke Lia supaya tiduran di sofa.

    Pertama sekali aku meminta ijin ke Lia untuk menciuminya, Lia mengijinkan, rupanya karena sangat ingin atau karena Lia memang sudah mulai menuruti nafsunya sendiri, aku kurang tahu. Yang penting bagiku, aku merasakan liang perawannya dan menyetubuhinya siang ini.

    Aku ciumi kening, pipi, hidung, bibir dan lehernya. Kupagut dengan mesra sekali. Kubuat seromantis mungkin. Lia hanya diam seribu bahasa, menikmati sekali apa yang kulakukan kepadanya.

    Setelah puas aku menciuminya, Lia, boleh ngga Oom netek ke Lia? tanyaku meminta.Tapi Oom, tetek Lia kan belon sebesar seperti punya mama. kata Lia sedikit protes.

    Ngga apa-apa kok Lia, tetek segini malahan lebih enak. kilahku meyakinkan Lia.Ya deh, terserah Oom saja, asalkan ngga sakit aja. jawab Lia akhirnya memperbolehkan.Dijamin deh ngga sakit, malahan Lia akan merasakan enak dan nikmat yang tiada tara. jawabku lagi.

    Segera saja kuciumi puting susu Lia yang kiri, Lia merasa geli dan menggelinjang-gelinjang keenakan, aku merasakan puting susu Lia mulai mengalami penegangan total.

    Selanjutnya, aku hisap kedua puting susu tersebut bergantian. Lia melenguh menahan geli dan nikmat, aku terus menyusu dengan rakusnya, kusedot sekuat-kuatnya, kutarik-tarik, sedangkan puting susu yang satunya lagi kupelintir-pelintir.Oom, kok enak banget nihhh oohhh enakkk desah Lia keenakan.Lia terus merancau

    keenakan, aku sangat senang sekali. Setelah sekian lama aku menyusu, aku lepaskan puting susu tersebut. Puting susu itu sudah memerah dan sangat tegangnya. Lia sudah merasa mabuk oleh kenikmatan. Aku bimbing tangannya ke batang kemaluanku.

    Lia, kocok dong tititnya Oom Agus. aku meminta Lia untuk mengocok batang kemaluanku.Lia mematuhi apa yang kuminta, mengocok-ngocok dengan tidak beraturan.

    Aku memakluminya, karena Lia masih amatir, sampai akhirnya aku justru merasa sakit sendiri dengan kocokan Lia tersebut, maka kuminta Lia untuk menghentikannya.

    Selanjutnya, kuminta Lia untuk mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, tanpa bertanya Lia langsung saja mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, aku terpana sesaat melihat vagina Lia yang merekah.

    Tadinya kemaluan itu hanya semacam garis lurus, sekarang di hadapanku terlihat dengan jelas, buah klitoris kecil Lia yang sebesar kacang kedelai, vaginanya merah tanpa ditumbuhi rambut sedikit pun, dan yang terutama, lubang kemaluan Lia yang masih sangat sempitnya. Jika kuukur, hanya seukuran jari kelingking lubangnya.

    Aku lakukan sex dengan mulut, kuciumi dan hisap kemaluan Lia dengan lembut, Lia kembali melenguh. Lenguhan yang sangat erotis.

    Meram melek kulihat mata Lia menahan enaknya hisapanku di kemaluannya. Kusedot klitorisnya. Lia menjerit kecil keenakan, sampai tidak berapa lama.Oom, enak banget sih, Lia senang sekali, terussinnn pinta Lia.

    Aku meneruskan menghisap-hisap vagina Lia, dan Lia semakin mendesah tidak karuan. Aku yakin Lia hampir mencapai puncak orgasme pertamanya selama hidup.Oommm ssshhh Lia mau pipis nich..

    Lia merasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar, seperti ingin kencing.Tahan dikit Lia tahan yaaa sambil aku terus menjilati, dan menghisap-hisap kemaluannya.

    Udah ngga tahan nich Oommm aahhhTubuh Lia mengejang, tangan Lia berpegangan ke sofa dengan erat sekali, kakinya menjepit kepalaku yang masih berada di antara selangkangannya.

    Lia ternyata sudah sampai pada klimaks orgasme pertamanya. Aku senang sekali, kulihat dari bibir lubang perawannya merembes keluar cairan cukup banyak.

    Itulah cairan mani nikmatnya Lia.Oohhh Oom Agus Lia merasa lemes dan enak sekali apa sih yang barusan Lia alami, Oom? tanya Lia antara sadar dan tidak.

    Itulah puncaknya Lia.., Lia telah mencapainya, pingin lagi ngga? tanyaku.Iya.. iya.. pingin Oom jawabnya langsung.Aku merasakan kalau Lia ingin merasakannya lagi.

    Aku tidak langsung mengiyakan, kusuruh Lia istirahat sebentar, kuambilkan semacam obat dari dompetku, obat dopping dan kusuruh Lia untuk meminumnya.

    Karena sebentar lagi, aku akan menembus lubang perwannya yang sempit itu, jadi aku ingin Lia dalam keadaan segar bugar.

    Tidak berapa lama, Lia kulihat telah kembali fit.Lia tadi Lia sudah mencapai puncak pertama, dan masih ada satu puncak lagi, Lia ingin mencapainya lagi kan..? bujukku.

    Iya Oom, mau dong Lia mengiyakan sambil manggut-manggut.Ini nanti bukan puncak Lia saja, tetapi juga puncak Oom Agus, ini finalnya Lia kataku lagi menjelaskan.Final? Lia mengernyitkan dahinya karena tidak paham maksudku.

    Iya, final.., Oom ingin memasukan titit Oom ke lubang memek Lia, Oom jamin Lia akan merasakan sesuatu yang lebih enak lagi dibandingkan yang tadi. akhirnya aku katakan final yang aku maksudkan.

    Ooh ya, tapi.. Oom.. apa titit Oom bisa masuk tuh? Lubang memek Lia kan sempit begini sedangkan tititnya Oom.. gede banget gitu Lia sambil menunjuk lubang nikmatnya.Pelan-pelan dong, ntar pasti bisa masuk kok.. cobain ya..? pintaku lagi.Iya deh Oom Lia secara otomatis telah mengangkangkan kakinya selebar-lebarnya.

    Kuarahkan kepala kemaluanku ke lubang vagina Lia yang masih super sempit tersebut. Begitu menyentuh lubang nikmatnya, aku merasa seperti ada yang menggigit dan menyedot kepala kemaluanku, memang sangat sulit untuk memasukkannya.

    Sebenarnya bisa saja kupaksakan, tetapi aku tidak ingin Lia merasakan kesakitan. Kutekan sedikit demi sedikit, kepala kemaluanku bisa masuk, Lia mengaduh dan menjerit karena merasa perih.

    Aku menyuruhnya menahan. Efek dari obat dopping itu tadi adalah untuk sedikit meredam rasa perih, selanjutnya kutekan kuat-kuat.BlusssLia menjerit cukup keras, Ooommm tititnya sudaaahhh masuk kkaahhh?Udah sayang tahan ya kataku sambil mengelus-ngelus rambut Lia.

    Aku mundurkan batang kemaluanku. Karena sangat sempitnya, ternyata bibir kemaluan Lia ikut menggembung karena tertarik. Kumajukan lagi, kemudian mundur lagi perlahan tetapi pasti.

    Beberapa waktu, Lia pun sepertinya sudah merasakan enak. Setelah cairan mani Lia yang ada di lubang perawannya semakin membanjir, maka lubang kenikmatan itu sudah sedikit merekah.

    Aku menggenjot maju mundur dengan cepat. Ahhh.. inikah kemaluan perawan gadis imut. Enak sekali ternyata. Hisapannya memang tiada duanya. Aku merasa keringat telah membasahi tubuhku, kulihat juga keringat Lia pun sudah sedemikian banyaknya.

    Sambil kuterus berpacu, puting susu Lia kumainkan, kupelintir-pelintir dengan gemas, bibir Lia aku pagut, kumainkan lidahku dengan lidahnya.

    Aku merasakan Lia sudah keluar beberapa kali, sebab aku merasa kepala batang kemaluanku seperti tersiram oleh cairan hangat beberapa kali dari dalam lubang surga Lia. Aku ganti posisi.

    Jika tadi aku yang di atas dan Lia yang di bawah, sekarang berbalik, aku yang di bawah dan Lia yang di atas. Lia seperti kesetanan, bagaikan cowboy menunggang kuda, oh enak sekali rasanya di batang kemaluanku. Naik turun di dalam lubang surga Lia.

    Sekian lama waktu berlalu, aku merasa puncak orgasmeku sudah dekat. Kubalik lagi posisinya, aku di atas dan Lia di bawah, kupercepat gerakan maju mundurku. Lalu aku peluk erat sekali tubuh kecil dalam dekapanku, kubenamkan seluruh batang kemaluanku.

    Aku menegang hebat.Crruttt crrutttCairan maniku keluar banyak sekali di dalam lubang kemaluan Lia, sedangkan Lia sudah merasakan kelelahan yang amat sangat. Aku cabut batang kemaluanku yang masih tegang dari lubang kemaluan Lia.

    Lia kubiarkan terbaring di sofa. Tanpa terasa, Lia langsung tertidur, aku bersihkan lubang kelaminnya dari cairan mani yang perlahan merembes keluar, kukenakan kembali semua pakaiannya, lalu kubopong gadis kecilku itu ke kamarnya.

    Aku rebahkan tubuh mungil yang terkulai lelah dan sedang tertidur di tempat tidurnya sendiri, kemudian kucium keningnya. Terima kasih Lia atas kenikmatannya tadi. Malam pun tiba.

    Keesokan harinya, Lia mengeluh karena masih merasa perih di vaginanya, untungnya Tante Linda tidak tahu. Hari berlalu terus. Sering kali aku melakukan olahraga senggama dengan Lia, tentunya tanpa sepengetahuan Oom Joko dan Tante Linda.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Ngentot Pertama Kali Dengan Pacar Pertama

    Cerita Sex Ngentot Pertama Kali Dengan Pacar Pertama


    767 views

    Perawanku – Cerita Sex Ngentot Pertama Kali Dengan Pacar Pertama, Waktu itu kami bertemu di sebuah emperan toko daerah Coyudan. Kami sama-sama berteduh karena saat itu hujan mengguyur kota Solo sangat deras. Kami ngobrol panjang lebar dan angka arlojinya sudah menunjukkan pukul 6 sore, tetapi hujan tetap saja mengguyur walaupun tidak terlalu deras. Karena saat itu dia sedang menunggu bis, dan aku naik sepeda motor maka agar tidak kemalaman aku antar dia pulang tetapi tanpa jas hujan.

    Sampai di rumahnya ternyata rumahnya dalam keadaan kosong karena keluarganya sedang menghadiri pesta pernikahan pamannya.
    “Aduh.. gimana nih Vi.. bisa masuk ke dalam nggak?”, tanyaku.
    “Tenang, biasanya kuncinya ada di bawah pot ini, nah ini dia, masuk yuk di luar dingin, lagian baju kamu basah semua”, katanya sambil membuka pintu rumah.
    “Sebentar aku ambilkan handuk”, katanya sambil jalan ke belakang rumah.
    Rumah yang sederhana tetapi sangat rapi dengan sofa ditengah ruangan.

    Dia keluar dengan menggenakan daster kuning transparan. Samar-samar aku lihat lekuk-lekuk tubuhnya yang sangat sempurna membuat jantungku berdebar kencang. Kulitnya yang putih mulus terlihat sangat serasi dengan daster yang dipakainya. “Ini handuknya”, dia memecahkan lamunanku.

    Karena baju dan celanaku basah maka aku buka bajuku dan aku pinjam salah satu kaosnya, tetapi bagaimana dengan celana panjangku? “Pake punyaku aja Fa, aku punya jeans basic yang mungkin pas kamu pakai”, sahutnya. Aku tidak kaget karena dia tergolong cewek bertubuh tinggi besar.

    Aku masuk ke dalam kamarnya dan mulai membuka celana panjangku, tinggal CD-ku yang masih basah.
    “Vi.. sorry nich aku boleh pinjem CD-mu nggak? Yang penting dapat dipakai”, tanyaku.
    “Boleh, tapi di almari coklat yang kuncinya masih aku bawa, boleh aku masuk?”, sahutnya.Saat dia masuk kamar, aku hanya dililit selembar handuk bergambar Hello Kitty kepunyaannya. Saat dia membuka almarinya dia menyuruh aku untuk memilih sendiri, dan karena letak CD-nya ada di bagian bawah, aku harus jongkok. Tanpa aku sadari setelah aku berdiri, handuk yang melilit tubuhku terlepas dan aku hanya bisa diam terpaku. Dia juga diam memandang tubuhku yang telah telanjang bulat.

    Dia terus memandang penisku yang memang telah berdiri. Kemudian dengan perlahan dia mengambil handuk yang berada persis di bawah penisku. Kemudian tanganku mengusap kepalanya dan kepalanya tertahan tepat di depan penisku. Selanjutnya dia mencium kepala penisku, membuatku semakin kelabakan. Dia terus mencium penisku dengan lembut dan penuh perasaan, bisa aku rasakan itu.

    Kemudian dia berdiri dan giliranku menjilat bibirnya yang sangat lembut, dan diapun membalas dengan memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Untuk beberapa saat aku menikmati bibir dan lidahnya, aku lanjutkan permainan lidahku di sekitar telinganya, aku kulum telinganya, dia hanya bisa medesis kegelian. Aku lanjutkan dengan mencium dan menjilati sekitar lehernya.

    Aku mulai membuka resliting daster yang berada di belakang dan dengan perlahan aku tanggalkan daster kuningnya. Sekarang hannya tinggal BH dan CD-nya saja yang tersisa. Perlahan aku ciumi dan gigit payudara bagian atas sambil tanganku berusaha melepaskan BH-nya. Dia hanya terdiam dan terpejam menikmati gigitan lembut bibirku.

    Setelah BH-nya terlepas terlihat sepasang bukit yang sangat indah yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Begitu putih, lembut, kencang, padat dan kedua putingnya berwarna coklat masih bersembunyi di dalam pucuk payudaranya. Perlahan aku usap lembut kedua payudaranya dan aku hisap puting susunya agar mau keluar dan aku kulum lembut putingnya. Dia hanya bisa mendesis keenakan. Karena capek berdiri, aku tidurkaan dia di atas ranjangnya sambil mulutku terus menghisap kedua puting susunya secara bergantian dengan lembut.

    Selanjutnya ciuman dan jilatanku aku lanjutkan ke bawah menuju pusar dan paha bagian dalam. Dia lagi-lagi hanya mendesis, “Akh.. Fa.. aku nggak tahan..”, desisnya.
    Mendengar itu aku semakin bersemangat menjilati paha, lutut, betis dan jemari kakinya aku kulum sehingga dia semakin kelojotan menahan nikmat, terus aku kulum jari-jari kakinya yang putih bersih sambil tanganku mulai melepaskan CD-nya.

    Saat CD-nya terlepas, terlihat kemaluannya yang telah berbulu agak lebat. Perlahan aku raba daerah paha dan kemaluannya sambil kulanjutkan mengulum jari kakinya. Aku temukan klitorisnya terasa lunak dan agak basah, aku pilin-pilin daging kecil tersebut dia semakin mengerang menahan nikmat.

    Lidahku mulai bergerak dari jari kaki menuju betis, paha dan akhirnya pada daerah sekitar kemaluan. Walaupun kulitnya putih bersih, tetapi daerah kemaluannya berwarna coklat. Aku angkat kedua pahanya dan lidahku mulai menuju daerah duburnya, sesaat kemudian ke daerah vagina yang saat itu terasa basah dan berasa agak asin serta berbau khas menambah nafsuku semakin menjadi.

    Aku menghisap lendir yang keluar dari vaginanya dan kukeluarkan di sekitar klitorisnya, dan klitorisnya pun aku hisap-hisap. Tanpa kuduga kedua pahanya menjepit kepalaku yang saat itu sedang menikmati gurihnya klitoris dan tangannya menekan kepalaku agar aku menghisap lebih dalam lagi.

    Saat itu aku merasakan dia menegang dan seperti menjerit, “Akh.. uh..”, teriaknya. Aku tak tahu apa yang sedang dia rasakan saat itu, kemudian lidahku aku pindah ke bawah tepat pada liang vaginanya ternyata pada liang vaginanya telah keluar cukup banyak lendir yang selanjutnya kuhisap dan kutelan sampai habis.

    Dia mundur sehingga terpaksa aku lepaskan hisapanku. “Fa.. naik sini..”, dia menarikku yang saat itu masih jongkok dan menyuruhku tidur telentang di ranjangnya. Aku ditindih dan mulutnya mulai mengulum bibirku, seperti tidak mau kalah denganku, diapun menghisap dan mengulum telingaku terasa geli dan hangat. Dia lanjutkan dengan menghisap puting susuku, sambil tangannya meremas-remas penisku.

    Tanpa aku duga mulutnya mulai bergerilnya di sekitar paha dalamku, terasa sangat geli dan menambah kenikmatan. Lidahnyapun mulai menyapu duburku, “Okh..”, aku setengah berteriak, ya ampun.. nikmat sekali. Sepertinya dia tahu yang aku rasakan saat lidahnya menyentuh sekitar duburku, dan sekitar 5 menit lamanya dia menyapukan lidahnya di sekitar duburku, dan selanjutnya naik menuju pangkal penisku. Dia jilat pangkal penisku sampai ke ujung kepala penisku berulang-ulang sampai aku rasakan seluruh bulu-bulu tubuhku merinding.

    Selanjutnya dia memasukkan kepala penisku ke dalam mulutnya sambil sesekali dihisap, tetapi sayang dia tidak dapat mengulum lebih dalam lagi. Karena aku sudah tidak kuat menahan nikmat, maka aku minta dia untuk tidur telentang dan perlahan aku letakkan kepala penisku di depan lubang vaginanya.

    Aku gesek-gesekkan kepala penisku pada lubang vagina sampai aku temukan lubang yang benar untuk memasukkan penisku. Setelah aku rasa tepat perlahan aku tekan penisku agar dapat masuk ke dalam lubang vaginanya. Dia memejamkan mata seolah sedang menahan sesuatu, aku tak tahu pasti.

    Terasa sangat sempit dan agak susah memasukkan penisku sampai pada kira-kira setengah panjang penisku Novi berteriak, “Aakhh..”, aku menahan tekanan penisku dan aku lihat darah segar telah mengalir dari vaginanya aku lanjutkan takananku sampai seluruh penisku tenggelam dalam vagina yang telah banjir darah dan kutahan penisku di dalamnya.

    “Sakit Vi?”, bisikku.
    “Nggak apa-apa lanjutin aja Fa.. aku menikmatinya kok”, dia balas berbisik.
    Aku mulai mengayun-ayunkan penisku keluar masuk vagina, terasa sangat nikmat dan hangat tetapi kulit penisku terasa agak perih.

    Kira-kira 5 menit aku mengayunkan penisku dan kelihatannya Novi mulai menikmatinya, dia goyang-goyangkan pinggulnya dan kupercepat ayunan penisku sampai suatu ketika Novi berteriak, “Akh.. oh..”. Novi memejamkan matanya dalam-dalam. Tidak lama setelah itu akupun mulai merasakan kesemutan di kepalaku dan, “Ccreet..”, maniku keluar tetapi masih di dalam vaginanya.

    Dia memelukku erat dan berkata, “Fafa.. aku sayang kamu..”. Aku tidur di atasnya tetapi penisku masih berada di dalam vagina yang lama-kelamaan keluar sendiri karena mulai melunak, terasa agak geli jika penis yang lunak masuk dalam vagina.

    Aku terbangun dengan tubuh masih telanjang bulat ketika suara telepon berbunyi, aku lihat jam pukul 10 malam. Aku bangunkan Novi yang masih tertidur tanpa selembar kainpun menutupi tubuhnya agar mengangkat telepon yang ternyata dari keluarganya dan berencana akan pulang besok siang. Jadi aku gunakan malam itu untuk tidur semalam dengan Novi tanpa selembar kainpun menutupi tubuh kami.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Semua Gara-gara Gelang Kaki

    Semua Gara-gara Gelang Kaki


    1660 views


    SINOPSIS Cerita Ngentot ABG:

    Irzan digoda oleh Wida, kakak teman sekolahnya. Sampai kesabarannya habis…

    Story codes

    MF, 1st, cheat, Fdom

    DISCLAIMER Cerita Ngentot ABG:

    Perawan – Cerita ngentot ABG ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca oleh mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.

    Semua tokoh dalam cerita ngentot ABG  ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.

    Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.

    Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu. Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan.

    Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ngentot abg ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

    Diadaptasi dari beberapa sumber lain. Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda? Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com. Selamat membaca.

    Gelang Kaki

    Ninja Gaijin


    Cerita Ngentot ABG – Semua Gara-gara Gelang Kaki

    Apakah kalau cewek pakai gelang kaki, artinya cewek tersebut nakal? Gelang di pergelangan kaki Wida menarik perhatiannya dari tadi. Dia teringat obrolan teman-temannya di dalam kelas beberapa waktu lalu. Katanya kalau cewek sudah nikah tapi pakai gelang kaki di kanan itu artinya swinger. Yang lain tidak tahu apa arti swinger. Jadi teman yang bilang pertama kali menjelaskan, swinger itu artinya sudah nikah tapi mau gituan sama orang lain. Tukaran suami/istri. Anak-anak SMA itu sebagian melongo, sebagian lagi tertawa-tawa nakal. Dari dalam mobil itu, pemandangan terlihat gelap keruh karena kaca filmnya sangat gelap. Kalau ada orang lewat, dia tidak akan bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Tapi di tempat parkir yang sepi itu orang jarang lewat. Cuma ada dia dan Wida di dalam mobil. Wida membaca SMS yang masuk ke ponsel yang dipegang tangan kanannya. “Suamiku nanya kapan pulang. Aku jawab sebentar lagi. Kalau kamu sebentar lagi apa masih lama…”

    “…crotnya?”

    Dia mengenal Wida sebagai sosok perempuan high class, jadi mendengar Wida berbicara seperti pelacur murahan membuat penisnya yang dipegang tangan kiri Wida jadi makin keras. Wida mulai mengocoknya lebih cepat sambil menaruh HP. Dia melihat kilatan cincin kawin di tangan kanan Wida. Dia mengulurkan tangan, mau menyentuh tubuh Wida, tapi Wida menampar tangan itu.

    “Aku bilang kan tadi, jangan pegang-pegang…” kata Wida.

    Wida berhenti mengocok, membungkuk, membuka bibir merahnya, menjulurkan lidah. Setitik mani di lubang di kepala burung dijilatnya.

    “Kalau berani coba pegang lagi…” Wida menggenggam lagi HP-nya, “aku telpon suamiku, terus kubilang aku mau diperkosa sama kamu. Suamiku kenal polisi, dan tau kamu itu siapa. Ngerti, Irzan?”

    Dia, Irzan, menjawab dengan anggukan. Biarpun laki-laki, sebagai anak SMA wibawanya kalah dengan perempuan ini. Baru kali ini dia merasa terangsang sekaligus gentar.

    “Bagus,” kata Wida dengan puas sambil mulai mengocok lagi. “Kamu baru boleh nyentuh aku kalau kusuruh.” Dia lalu mengangkat tangan kanan ke depan mulut, memonyongkan sepasang bibirnya yang merah basah, dan meludah ke telapak tangannya. “Cuh!” Wida kembali mengocok penis Irzan. Terdengar bunyi becek dan Irzan merasa ada tekanan yang mulai terbentuk di dalam buah pelirnya. Dan dia cuma bisa bengong. Bengong melihat Wida memasturbasinya dengan tangan dan mulut Wida yang dekat sekali dari kejantanannya. Dan bibir indah itu pindah ke atas penisnya…

    Wida menjilat lagi mani yang menitik. Sambil terus mengocok.

    “Kita nggak punya banyak waktu, sebentar lagi Faisal datang ke sini. Jadi aku mau tanya langsung. Kamu mau masukin kontolmu ke dalam mulutku nggak?”

    Irzan kaget mendengar santainya Wida menanyakan itu. Dia menjawab terbata-bata, “I-i-iya.”

    Tampaknya Wida suka jawaban itu. Dia bangkit dan mendekatkan bibirnya ke telinga Irzan. Irzan merasakan nafas hangat Wida di telinganya selagi Wida berkata nakal, “Itu yang kamu bayangin ya Irzan? Kalau kamu ke rumahku buat ketemu Faisal? Pengen kusentuh kayak gini? Kontolmu dikocokin?” Irzan mengangguk, memang itu yang ada di dalam pikirannya sejak dia pertama kali bertemu kakak temannya itu. Wida adalah kakaknya Faisal, teman sekolahnya. Masih muda, baru 27.

    “Kamu pengen aku tempelin bibirku ke titit kamu? Pengen aku nelen batang kamu?” desis Wida di telinga Irzan.

    Lagi-lagi Irzan cuma bisa mengangguk.

    “Jawab yang benar, Irzan!” perintah Wida.

    “Iya!” sembur Irzan.

    “Iya apa?”

    “Iya… Kak Wida, tolong isep kontolku!”

    “Bagus. Gitu dong kalo jadi cowok, tegas, bilang apa yang dimauin. Satu lagi pertanyaannya. Jam berapa sekarang?”

    “Heh? Kok nanya waktu?” Irzan bingung tapi dia otomatis berusaha mencari jawabannya. Di mobil pasti ada jam digital. Dia menengok ke arah jam digital di dashboard lalu membaca angka-angka di sana.

    “Jam setengah tigGAAAHH!??”

    Wida tak menunggu jawaban dan langsung melahap kemaluan Irzan yang sedang membaca jam. Irzan menjerit kaget dan langsung menoleh ke bawah. Dan dia melihat pemandangan paling menakjubkan sepanjang hidupnya. Kepala penisnya dijepit bibir merah seksi Wida. Wida melepasnya lagi dan meninggalkan bekas lipstik di sana. Lalu Wida memasukkannya lagi dalam mulut, kali ini sampai setengah batang. Bibirnya mencengkeram erat lalu mulutnya mundur lagi. Hasilnya adalah noda merah seputar batang basah Irzan.

    “Mmmh… enak nggak Irzan?” Wida bertanya sambil menatap Irzan. Jawabannya anggukan. Wida kembali ke bawah dan kali ini mengenyot salah satu buah pelir Irzan. Disedot lalu dilepas seperti diludahkan. Kembali lipstiknya tertinggal di sana. Lalu Wida mulai menjilati seluruh permukaan batang Irzan. Tangannya menggenggam pangkal batang itu dan dia mulai menyepong. Bibirnya masih merah menyala, turun menyusuri batang, makin lama makin dekat dengan pangkal. Jarinya yang menggenggam pangkal batang ternoda merah ketika bertemu bibir itu. Di jari yang lain, cincin kawin tampak berkilat menyilaukan mata Irzan. Kepala Wida naik turun memberi kenikmatan. Irzan jadi berpikir macam-macam. Posisinya benar-benar rawan. Celananya terbuka, dan kakak temannya sedang menyepong kemaluannya. Apa yang bakal terjadi kalau ada orang yang memergoki? Tapi Irzan juga merasa dia makin tak tahan. Birahinya sudah mau meluap. Dia sedikit lagi muncrat dalam mulut Wida, dan tidak ada lagi yang dipikirkannya! Dia mulai mendesah tak karuan.

    “Agh… aah… Ungh… Ga… Tahaan!”

    Dan tiba-tiba Wida meremas penisnya yang sudah mau menembak itu!

    “Mau apa kamu, Irzan??” tantangnya.

    “NGHH!! KAK!! MAU!! CROT!!” Irzan meracau karena sudah lepas kendali.

    “Ayo crot di dalam mulutku Irzan! Crot-in mukaku! Bikin aku mandi peju!” Lalu Wida menyepong dengan ganasnya. Dia memasukkan seluruh batang itu ke mulutnya, lalu naik turun dengan cepat”

    “Aym crof ff dalmf! Crfin knfolm!” Kata-kata Wida tak kedengaran jelas lagi karena dia berusaha ngomong dengan mulut penuh.

    “Ah! Ahh!! Kak! Aku! GA TAHANNN! DI DALAM!!” Mendadak gelora kenikmatan melanda dan Irzan merasakan senjatanya mulai menembak gencar di dalam mulut Wida. Seluruh tubuh Irzan sampai melengkung dan mengejang ketika semburan demi semburan memancar kuat. Wida sepertinya menelan semuanya.

    “NGGHHHAAA!!” jerit Irzan.

    Wida mencengkeram pantat Irzan dan malah mendesakkan penis Irzan lebih jauh ke mulutnya. Semburan peju Irzan sepertinya terlalu banyak dan Wida tak cukup cepat menelannya, sehingga sebagiannya mengalir keluar. Wida lalu malah melepas kemaluan Irzan dari mulutnya dan mengocoki batang yang sedang menembak-nembak itu sambil menyemangati.

    “Ya! Ayo crot lagi! Mandiin aku pake peju!”

    Dan dua semburan berikutnya mendarat di wajahnya, lalu di rambutnya. Akhirnya semburan-semburan itu reda dan Wida menjilati sisa-sisa yang mengalir di batang Irzan. Cipratan peju ada di mana-mana, di wajah dan tangan Wida, termasuk di atas cincin kawinnya. Sesudah lega mengeluarkan simpanannya, Irzan menengok ke arah jam lagi. 15.00. Jam tiga! Dan Faisal sudah terlihat berjalan ke arah mobil bersama beberapa teman lain! Tapi Wida lebih gesit bertindak.

    “Ayo cepat pakai lagi celananya!” perintahnya, selagi dia sendiri menyambar tisu dan menyeka wajah. “Kalau sudah, cepat keluar!”

    Irzan buru-buru keluar dan bersembunyi. Tak lama kemudian Faisal, adik Wida, teman sekelasnya, sampai ke mobil Wida. Dari tempat persembunyiannya di balik semak, Irzan melihat Wida sudah bertingkah normal lagi. Dia melihat mobil itu pergi membawa Wida dan Faisal, lalu dia sendiri berjalan pulang. Di jalan, HP Irzan berbunyi. SMS. Dari Wida.

    “wiken ini jangan kemana2. jangan coli.”

    Irzan menelan ludah.

    *****

    Mundur sedikit ke belakang dalam waktu.

    Wida sebenarnya memang rada eksibisionis, jadi ketika Faisal adiknya mulai sering membawa teman-teman sekolahnya ke rumah, sisi eksibisionisnya terpancing. Meski belum tua-tua amat, Wida amat memperhatikan tubuhnya dan selalu merawat kecantikannya. Bukan demi suami; lebih karena dia sendiri menyukai kekaguman orang terhadap dirinya. Suatu hari, ketika teman-teman Faisal sedang ada di rumah, kebetulan Wida yang sedang hanya memakai kaos tanktop dan celana pendek mendekati mereka untuk menyuguhkan cemilan. Penampilannya itu membuat anak-anak SMA itu terdiam dari obrolan mereka dan melongo. Ketika Wida membungkuk untuk menaruh cemilan, dia melihat seorang teman Faisal yang berada di depannya tidak bisa tidak menatap dengan penuh nafsu ke arah buah dadanya yang menggantung di balik baju. Perempuan normal mestinya kaget dan marah tapi Wida merasa sesuatu yang beda. Dia malah berlama-lama membungkuk, memberi tontonan gratis kepada remaja itu. Dan dia memperhatikan, tanpa sadar tangan teman Faisal itu bergerak menyentuh selangkangan celananya sendiri. Sesudah selesai, Wida kembali ke kamarnya, mendapati kemaluannya basah karena terangsang, lalu bermasturbasi sampai orgasme. Teman Faisal itu adalah Irzan. Dan pengalaman pertama itu membuat Wida kecanduan, sehingga selanjutnya dia sering sengaja pamer tubuh kepada teman-teman Faisal. Suaminya biasanya tak di rumah ketika siang, jadi dia leluasa beraksi. Tiap dia melihat atau mendengar teman-teman Irzan sudah datang dan meramaikan rumah, cairan kewanitaannya terpancing mengalir. Lalu dia pun akan menuju lemari baju, memilih satu baju seksi yang mengumbar belahan dadanya atau paha mulusnya atau bagian lain tubuhnya. Tak lupa memakai make-up untuk menambah daya tariknya. Dan dia kemudian bakal mencari-cari alasan untuk berjalan ke tengah mereka, entah itu membawakan cemilan, minum, mengambil HP yang kebetulan ada di tempat mereka duduk, bicara dengan Faisal, atau semacamnya. Dia menikmati ketika ekspresi wajah mereka berubah mesum, lalu mereka terdiam malu-malu karena tak bisa menghindar dari memelototi keseksiannya.

    Sekali waktu, Wida berada di kamar saja, tidak menghampiri teman-teman Faisal. Tapi dia telanjang, duduk di depan meja rias dekat pintu, dan sengaja membuka pintu. Sebenarnya posisi pintu kamarnya tidak dekat dengan ruang tengah tempat Faisal dan teman-temannya biasa duduk, tapi kalau ada yang mau ke kamar mandi, pasti akan melewati pintu kamar Wida. Dari beberapa orang yang perlu ke kamar mandi, satu cukup iseng untuk mengintip ke celah pintu yang terbuka dan mendapat rezeki nomplok melihat tubuh telanjang Wida. Lagi-lagi, dia Irzan. Cukup lama Irzan berdiri termangu di depan pintu terbuka sampai Wida menengok ke arahnya, memergoki. Irzan yang ketahuan buru-buru kembali ke depan, diiringi tawa cekikikan puas Wida. Sesudahnya Wida menghampiri mereka dengan bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa, tapi dia sengaja memandangi Irzan dan melempar senyum mesum. Irzan serba salah. Malamnya Wida bercinta dengan suaminya sambil membayangkan teman-teman Faisal berdiri di seputar tempat tidur, menonton. Itu membuat dia orgasme duluan sebelum suaminya. Besok-besoknya, dia sempat menceletuk kepada teman-teman Faisal, terutama Irzan, bahwa dia sudah menganggap mereka adik-adiknya sendiri dan mereka “boleh mampir kapan saja” dan dia senang “bisa menghibur mereka”. Kata-kata bersayap, jaring yang ditebar. Mereka semua menyambut baik keramahan Wida itu. Tapi yang menanggapi serius hanya satu, Irzan.

    *****

    Kejadiannya dimulai pada suatu siang, ketika Irzan datang sendirian membawa sepeda motor ke rumah Faisal. Kebetulan Faisal pergi bersama teman-teman lain, tapi Irzan tidak tahu. Jadi dia hanya bertemu Wida.

    “Faisal barusan jalan main futsal sama yang lain,” kata Wida. “Mau nyusul?”“Nggak ah Kak, lagi males,” kata Irzan. “Yaudah, aku mau pulang aja ya.”

    “Eeeh tunggu, Irzan,” Wida menahan Irzan. “Kamu bawa motor kan? Kakak mau minta tolong boleh?”

    “Boleh Kak. Ada perlu apa nih?” Irzan sumringah.

    “Kakak sebenarnya mau ke salon, mau facial, tapi malas nyetir ke sana. Gimana kalau kamu yang nganterin Kakak ke sana pake motor?”

    “Apa sih yang ga bisa buat Kakak,” Irzan menggombal.

    “Kalau gitu tunggu sebentar ya.” Wida masuk kamar sebentar untuk bersiap, lalu keluar lagi.

    Dia mengenakan tanktop gombrong hitam dan celana pendek, lalu memakai jaket. Wajahnya tak dirias dan rambutnya digerai biasa. Lalu dia naik ke boncengan motor Irzan dan mereka berangkat. Sepanjang jalan Irzan tidak konsentrasi karena hidungnya diserang wangi tubuh dan parfum Wida yang terus merapat ke tubuhnya. Apalagi Wida tak segan-segan merangkul Irzan. Wida bilang Faisal baru mau pulang sore. Masih lama. Main futsal minimal 2 jam, belum istirahat makan-minum dan nongkrongnya. Dan Irzan terbuai nada suara Wida yang genit menggoda. Sampai di salon, Wida kemudian bertanya ke Irzan.

    “Mau pulang… apa kamu mau nungguin Kakak?”

    “…Aku tungguin aja deh kak, ga ada acara juga siang ini.”

    “Kamu baik deh. Nanti Kakak kasih hadiah~!” celetuk Wida genit sambil memasuki salon.

    Saat itu juga Irzan memperhatikan gelang kaki yang bergemerincing di pergelangan Wida.

    *****

    Salon yang didatangi Wida itu bukan salon kecil murahan. Menengah atas. Mungkin perawatan di sana bernilai ratusan ribu rupiah, pikir Irzan. Tidak heran, keluarga Faisal dan Wida tergolong mampu. Satu jam kemudian Wida keluar dari salon. Wajahnya kemerahan, bekas facial.

    “Lama ya nunggunya? Ayo kita pulang,” ajak Wida.

    Sepanjang perjalanan pulang, Irzan kembali merasa Wida merangkul erat tubuhnya. Dan rangkulannya… di perut. Seiring berjalannya motor, makin lama makin turun. Irzan terangsang dan ereksi. Mungkin Wida juga menyadari itu. Sesampainya di rumah, Wida meminta Irzan jangan langsung pergi. Faisal dan teman-teman yang lain belum muncul.

    “Ada yang mau Kakak tanya, tapi tunggu sebentar ya? Duduk aja dulu.”

    Irzan kemudian duduk sendirian di ruang tengah rumah besar itu, sementara Wida menghilang ke kamarnya. Tak lama kemudian Wida kembali lagi membawa beberapa barang tipis.

    “Kamu tahu ini apa kan?” Wida duduk di sebelah Irzan dan menunjukkan beberapa DVD yang sampulnya bergambar perempuan seksi.

    “Ehm… iya?” Irzan bingung.

    “Ini Kakak sita dari Faisal. Tapi dia bilang ini punya temannya. Punya kamu bukan?”

    “Bukan… Ga tau punya siapa. Punya Putra atau Endi kali’?” kata Irzan. “Yang paling suka beginian tuh anak dua.”

    “Udah mulai nakal ya kalian… Emangnya apa sih yang ditonton dari filem kayak gini? Kakak pengen tau. Ayo kita lihat.”

    “Hah? Eh tapi Kak Wida…”

    Koleksi Cerita Ngentot ABG | Sebelum Irzan bereaksi, Wida sudah menyalakan DVD player dan memasukkan salah satu DVD porno itu. Sebenarnya DVD itu bukan diambil dari Faisal, melainkan koleksi Wida dan suaminya. Wida memang mau mengerjai Irzan. Irzan mau bangun untuk pergi, tapi Wida memegangi lengannya. Jadilah dia terpaksa ikut menyaksikan. Irzan sendiri belum pernah melihat film porno yang sedang tayang di layar TV itu, walaupun dia sudah familiar dengan materi pornografi.

    “Waah, ternyata kalian sukanya yang kayak gini yaa… Yang ceweknya lebih tua?”

    Film yang ditayangkan memang berskenario seperti itu, aktris pornonya berperan sebagai ibu rumah tangga yang menggoda teman anaknya. Meski tidak muda, si aktris tetap tampak glamor dan seksi dengan rambut pirang, kalung mutiara, bra berenda, dan lipstik pink tebal. Dan Irzan baru memperhatikan bahwa bibir Wida sudah bersaput lipstik pink juga. Di TV, bibir berwarna sama sedang mengulum penis. Irzan merasa kemaluannya sendiri mengeras dan… digerayangi.

    “Hmmm…” gumam Wida. “Kok ini jadi keras…? Gara-gara nonton itu ya?”

    “Uhhh… Kak…” Irzan tidak berani berbuat apa-apa ketika Wida membuka resleting celananya.

    Tangan Wida terus beraksi menurunkan celana dalamnya dan akhirnya kulit bertemu kulit, tangan bertemu batang. Irzan seperti kesetrum ketika merasakan itu. Elusan tangan Wida menggodanya.

    “Dasar cowok… Zan, kamu pernah coli nggak~?” tanya Wida nakal.

    “Ngh… per… nah…” Irzan menjawab sambil menahan nafsu. Wida terus menggodanya.

    “Kalau dicoli’in?”

    “Be… bel… lum…”

    Tayangan film porno menampilkan si aktris menerima ejakulasi lawan mainnya di wajah.

    “Kamu lihat kan… tuh dia dicoli’in sama ibunya temennya… Tante-tante aja bisa bikin ngaceng kayak gitu… Kamu ngaceng juga ngelihat dia?…”

    Irzan sudah meracau tak jelas.

    “Kamu ngaceng ngelihat aku?”

    “NGHHH!!” Jawabannya adalah semburan mani yang hebat dari kejantanan Irzan.

    Irzan jelas merasa keenakan dengan orgasme itu. Sekaligus bingung dan sedikit takut. Tapi yang terlihat lebih puas adalah Wida.

    “Iihh. Banyak dan kentel peju kamu. Pasti udah lama gak crot.”

    Irzan cuma melongo bego. Wida memain-mainkan cairan kental yang mengotori jarinya itu, bahkan menjilatnya.

    “Enak?” tanya Wida.

    “Iiyah,” jawab Irzan pendek.

    “Mau lagi?”

    “…” Irzan tidak berani menjawab yang itu.

    “Kalau kamu mau lagi, mulai sekarang kamu harus ikut apa kata Kakak ya. Sekarang… cepat pulang. Faisal pasti sebentar lagi datang. Ayo sana!”

    Irzan buru-buru membetulkan pakaiannya dan bergegas keluar. Wida mengantarnya keluar dengan senyum nakal.

    ######

    Sesudah itu, Irzan dan Wida beberapa kali lagi bertemu berduaan saja, paling sering di rumah Wida sendiri, kalau sedang tak ada orang. Irzan sendiri tetap nongkrong bareng Faisal dan Wida tetap kadang tampil di depan mereka, tapi tidak ada yang tahu hubungan mereka. Yang dilakukan tetap sebatas Wida memasturbasi Irzan, dengan tangan, dan satu kali dengan kaki. Adegan di atas, pada waktu Wida mau menjemput Faisal dengan mobil dan Irzan menemuinya, adalah pertama kalinya Wida memberi oral seks kepada Irzan. Mereka berdua belum pernah berhubungan seks biasa. Walaupun Irzan penasaran dan dia sudah berkali-kali digoda oleh Wida, kakak temannya itu selalu membuatnya tak berdaya dan tak mampu meminta lebih. Namun lama-lama Irzan gemas juga. Makin hari dia makin ingin melampiaskan nafsunya kepada perempuan penggoda itu.

    *****

    Kejadiannya pada suatu siang. Irzan bersimbah keringat dingin. Di depannya, Wida akhirnya berhenti meronta dan telentang pasrah. Pergelangan tangannya terikat, wajahnya terlihat gentar.

    “Kamu kenapa gini, Zan… Kenapa kamu giniin Kakak?” tanya Wida.

    Saat itu kakak teman Irzan itu mengenakan babydoll tipis. Irzan mengangkang di atas paha Wida yang terbaring di ranjangnya.

    “Kenapa? Kakak ga pernah berhenti godain aku… Aku sudah ga tahan!” seru Irzan gusar.

    Tangannya menjamah payudara kanan Wida dan meremasnya. “Sekarang Kakak ga bisa ngelarang aku lagi…”

    Tadi, ketika dia baru datang, seperti biasa Wida menggoda dan mempermainkannya… tapi kali ini muncul keberaniannya untuk melawan dan meringkus Wida. Irzan lebih besar dan kuat, jadi tidak sulit untuknya. Dia juga menemukan tali yang dipakainya mengikat kedua pergelangan tangan Wida ke ranjang.

    “Sekarang kita main semauku,” kata Irzan dingin.

    Dia menyingkap baju Wida, mengungkap sepasang payudaranya. Lalu dia sendiri memelorotkan celana dan memamerkan penis ereksinya di depan mata Wida yang melotot.

    “Ayo Kak. Kakak suka kontolku kan?” suruh Irzan. Dia merangsek maju, mencengkeram kepala Wida, dan memaksa Wida mengoral kemaluannya.

    “Ah? Afhmmm!!” keluh Wida yang tiba-tiba mesti melahap rudal.

    “Sekarang ayo isep kontolku! Enak kan Kak? Enak?” seru Irzan, puas.

    “Ahpf! Nn!!” Mata Wida sampai berkaca-kaca karena kasarnya sodokan Irzan.

    Tiba-tiba Wida merasa jari-jari Irzan merambah kemaluannya. Mereka berdua cukup sering nonton film porno bersama sehingga Irzan sekarang tahu berbagai macam aksi seks.

    “Kakak dientot bibirnya kok memeknya basah? Suka ya dibegini’in?” tuduh Irzan. “Kalau gitu pasti suka minum peju juga kan? HnghhH!!”

    Penis Irzan meledak dalam mulut Wida, menyemburkan cairan peju. Sampai tumpah sebagian keluar, barulah Irzan menarik keluar kejantanannya dari sana.

    “Ehh… Auh…” Wida mengambil nafas.

    Tapi Irzan belum puas, dia melihat ada satu lagi tempat untuk melampiaskan nafsunya.

    “Kak Wida,” kata Irzan, “Yang di bawah itu pengen dimasukin juga ya?”

    Dia menarik Wida supaya berposisi duduk lalu pindah ke belakang Wida. Dia sudah cukup sering disuruh-suruh Wida dan dia ingin membalas. Kini tangan kanannya merogoh ke selangkangan Wida dan mencubiti klitoris Wida. Tangan satunya lagi memegangi ikatan tangan Wida agar tak menghalangi.

    “Kalau Kak Wida mau, ayo bilang. Bilang Kak Wida pengen.

    “Oh! Ooh! Ihh!” Wida mengerang-erang keenakan karena klitorisnya dimainkan.

    “Mauuhh… ihh… uhh…” pinta Wida.

    “Bilang yang jelas… Yang keras!” perintah Irzan.

    “Masukin… masukin kontolmu ke memek Kakak…” kata Wida.

    Cerita Ngentot ABG | Irzan langsung mendorong Wida sehingga berposisi nungging. Di belakang pantat yang menggoda itu Irzan menahan nafas, memegangi penisnya yang keras… Dia sudah cukup sering menonton di film, sekarang dia akan mencobanya sendiri. Zrepp…Irzan merasakan hangat basahnya liang kewanitaan Wida untuk pertama kali. Perempuan itu merintih-rintih ditusuk kejantanan Irzan dari belakang, dan Irzan memasukinya makin dalam sampai tak bisa maju lagi. Lalu dia mulai menggenjot.

    “Ahn! Ah! Enak…!” Wida jelas-jelas menikmati perlakuan Irzan, biarpun sebenarnya dia dipaksa oleh Irzan. “Dalem banget… zan! Enakh…! Ah!”

    “Kakak suka kan?! Ngentot sama aku enak kan!” kata Irzan dengan gemas sambil dia menancap-nancapkan senjatanya ke liang kenikmatan itu.

    “Ahh! Iyaa! Suka! Suka kontol Irzaann!” Wida sudah menyerahkan tubuhnya untuk diapakan saja oleh teman adiknya itu. “Enak! Nghh! Aduh ga tahan! Mau… mauu…”

    “AA~HHH!!” Jerit panjang Wida dan tubuhnya yang menegang karena orgasme lalu bergetar mengagetkan Irzan, yang kemudian kehilangan kendali juga dan ikut berorgasme di dalam vagina Wida.

    *****

    “Hmm!” Wida yang bangkit lebih awal sesudah keduanya ambruk kelelahan, wajahnya terlihat ceria. Irzan bingung.

    “Hihihi, nggak kira kamu bisa kasar juga akhirnya! Tau nggak, enak tuh dientot paksa kayak tadi. Pancinganku berhasil juga,” kata Wida. Irzan bengong. Rupanya selama ini Wida memancing-mancing dia supaya dia tak tahan dan berbuat kelewatan.

    “Kapan-kapan kamu harus bisa ganas seperti tadi ya Zan?” kata Wida sambil mencium pipi Irzan dengan genit.

    Irzan cuma bisa melengos. Pada akhirnya dia tetap jadi mainan…

  • Ruang Dosen Saksi Cinta Kita

    Ruang Dosen Saksi Cinta Kita


    1240 views

    Cerita Sex ini berjudulRuang Dosen Saksi Cinta KitaCerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Pengalaman ini terjadi sekitar 15 tahun yang lalu. Saya baru saja lulus SMA dan sedang bersiap untuk mendaftar di perguruan tinggi. Saya pria yang cukup tampan, pintar, dan menengah. Panggil saja aku, Budi

    Sementara di SMA, saya punya teman yang selalu bermain bersama. 4 anak laki-laki dan 7 perempuan. Sebagian besar teman saya kuliah di luar negeri karena sekolah saya adalah sekolah elit di kota J yang menghasilkan siswa dengan hasil pascasarjana yang baik.

    Karena saya berasal dari keluarga kelas menengah, pilihan sekolah untuk LN menjadi tidak mungkin. Dari kelompok kami hanya 3 teman perempuan yang meninggalkan saya. Kami bingung kemana harus pergi, tapi akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke kota B yang memiliki beberapa perguruan tinggi swasta dan negara ini cukup terkenal.

    Saya, Rika, Nova, dan Jenni memutuskan untuk masuk bersama ke kota B. Di sinilah petualangan kita dimulai. Kami berkumpul di rumah Jenni dan orang tuanya meminjamkan mobil untuk kami pakai. Kami sering berkelompok dengan meminjam mobil orang tua dan kadang-kadang menginap beberapa hari di luar kota.

    Jadi ketika kami pergi, orang tua dari teman-teman saya dengan tidak jelas membiarkan anak perempuan mereka pergi ke kota B dan menghabiskan tiga malam di sana. Semua liburan kita bilang.

    Perjalanan ke kota B berjalan lancar dan kita menghadapi ujian dengan keyakinan tinggi. Maklum, kita semua termasuk yang berotak kurus. Sore hari setelah kami menyelesaikan ujian masuk, kami segera mencari penginapan yang terkenal dengan daerah sejuk di sekitar kota B. Kami menyelesaikan administrasi dan langsung menuju kamar kami.

    “Wah, ternyata kamarnya bagus juga! Ada ruang tamu lain,” kataku.

    “Budi, kamu tidur di sofa aja yah! Kami berdua tidur!” Kata Nova.

    “Baiklah … Cheat … kali ini aku tinggal bersama wanita di satu ruangan! Siapa tahu …” keluhanku.

    “Aku mau ..” Jenni berkata sambil mendorong tubuhku menuju sofa.

    Kita semua jatuh pantat kita di sofa sambil unwinding. Setelah berbicara selama setengah jam tentang soal ujian siang ini, kami bergantian untuk mandi untuk menyegarkan diri. Kami juga memesan makan malam dari layanan kamar karena kami terlalu lelah untuk pergi makan. Rika akan ke sini besok pagi dan bertemu di kota B. Dia sudah masuk ujian masuk seminggu yang lalu. Pilihan universitas berbeda.

    Oh ya, saya belum menjelaskan kemunculan teman-teman saya. Rika: Gadis ini pemalu dengan tubuh kecil yang sangat cantik. Saya tahu ini karena Rika sangat suka memakai gaun yang menunjukkan lekuk tubuhnya. Bangku berukuran sedang, 34B (saya tahu setelah melihat BH-nya dan BH lainnya nanti). Kecil imut adalah kesan yang dia berikan. Senyumnya begitu manis.

    Nova: Gadis ini juga kecil tapi dengan dada yang terlihat jauh lebih besar dari milik Rika. Ukuran bra 34C. Mulutnya kecil dengan bibir tipis yang memberi senyum menggoda. Hampir semua anak laki-laki di sekolah saya mengejarnya. Manis dengan payudara besar. Siapa yang tidak tertarik?

    Jenni: Seorang gadis jangkung yang suka memakai baju longgar dan berjiwa bebas.

    Menyenangkan bertukar gagasan, cerdas, dan tomboi kecil. Itu adalah olahraga yang hebat dan sangat bagus di bola voli. Terbaik untuk menjadi lawannya di lapangan. Posisi saya sebagai tosser sering membuat saya tetap di depan jaring dan bertatap muka dengan Jenni. Posisi siap menerima bola dan kemeja longgar kerap mengganggu konsentrasi saya di lapangan.

    Jenni: “Apa yang kamu lakukan? Baru jam 6 kita selesai makan malam.”

    Nova: “Kami bermain kartu aja yuk”

    Budi: “apa kamu membawanya?”

    Nova: “bawa aku Rika, ayo kita main poker aja pakai uang tiruan aja, sebut saja taruhannya.”

    Kami bermain selama satu jam saat Nova mengetuk.

    Nova: “Nggak menyenangkan ya .. bosan .. bagaimana kalau dibuat lebih seru?”

    Budi: “Maksudmu, Nov?”

    Nova: “Strip poker !!”

    “Crazy you, Nov!”

    Nova: “Kaga berani?”

    Saya kembali tercengang dengan keberanian gagasan Nova.

    Jenni: “Siapa yang takut? Beraninya kau punya Budi!”

    Pipiku memerah dan terasa panas. Ada juga rasa malu.

    Glek .. aku menelan ludah. Mungkin saja dua gadis cantik cantik itu akan telanjang di hadapanku.

    Nova: “Jangan berani, Bud? Diam saja. Malu yah telanjang di depan cewek?”

    Wow, otak saya berputar cepat. Harus memikirkan semua kemungkinan. Jangan biarkan saya kalah dan tidak melihat cewek telanjang.

    Budi: “Dare! Tapi kalau begitu curang, kaga berani buka nyata!”

    Nova: “Jika ada yang berani kita buka, kita semua terbuka secara paksa! Apakah kamu setuju?”

    Kami semua mengangguk setuju.

    Jantungku berdegup kencang dan kegelapan mulai mengeras karena kemungkinan kejadian itu terlihat.

    Budi: “ya dah dah .. aturannya bagaimana ya nov?”

    Nova: “Kita semua punya modal 1000. Taruhannya adalah setiap pengganda 10 dan yang terbesar 100. Jika modal 1000 habis, baju gadai untuk 500. Setuju?”

    Kita semua setuju.

    Budi: “Kami bermain sampai kapan? Sampai satu orang telanjang atau sampai telanjang?”

    Nova: “Sampai semua bugil telanjang! Biarlah adil !!”

    Jenni: “Baiklah, tapi kasihan Budi dong. Dia hanya punya tiga baju. Arti hanya kaos, celana dan celana dalam. Kami cewek berlebih bra. ”

    Nova: “Iya iya … ya mari kita bersikap adil, kita semua melepas BH deh.”

    Nova segera dengan cekatan melepaskan bra merah terangnya tanpa melepaskan kaus dan melemparkan bra ke wajahku.

    Bau BH memenuhi hidungku. Aku tidak menyadari bra kedua mendarat di wajahku. Ini milik Jenni.BH dengan warna skin cream. Hahahahaha … kita juga tertawa bersama.

    Nova: “Mari kita mulai! Benar, Bud? Kita masing-masing hanya punya modal 3.”

    Budi: “tunggu sebentar .. baju yang sudah dilepas bisa dipakai lagi ga?”

    Nova: “Hmm … TIDAK UP! Ada apa, kamu tidak bisa menggunakannya lagi!”

    Budi: “Kalau sudah bosan kalah lagi bagaimana? Uangnya hilang!”

    Nova: “Banyak dari Anda, Bud! Bagaimana kabar Jen?”

    Jenni: “Bisa dipegang-sama sama menang. Tunggu selama 1 menit!”

    Ngomong-ngomong ya peraturan … tapi otak saya sudah mulai pindah ke alat kelamin ..

    “Pegang ah doang ah ah ah, bagaimana kalau dadanya mengisap-hisap!”

    Nova: “Yuck you, Bud …. Mau dong !!” Dengan suaranya yang manis sambil melirik naughly padaku! ”

    Jenni dan Nova tertawa terbahak-bahak.

    Nova: “Tapi jika Anda telah telanjang dan hilang, Bud? Saya mengesahkan titit yah !!”

    Jenni: “Saya ingin mengisap titit Budi!”

    Sama sekali tak terduga 3 tahun bersama di SMA, saya juga tidak mengira teman saya nakal juga. Permainan dimulai. Keterampilan bermain poker strip di komputer ternyata sangat berguna. Jenni segera kehilangan modal awal sehingga harus menggadaikan modal berikutnya. Jenni hendak membuka celananya, tapi dicegah oleh Nova.

    Nova: “Nah kaga boleh jadi celana nentuin yang terbuka. Budi, apa yang kamu mau Jenni buka?”

    Wow, terima kasih Nova !! Aku ingat bahwa mereka berangkat dari BH, tentu saja dengan melepas kaus itu, dada Jenni akan terbuka.

    Budi: “Tentu saja t-shirt, kapan lagi bisa melihat payudara dari dekat!”

    Jenni dengan malu-malu mulai melepaskan bajunya dan segera menutup putingnya dengan satu tangan. Saya kagum dengan pemandangan indah yang terlihat. Strip poker animasi di game komputer tidak seindah itu Pemandangan terlihat.

    Nova: “Jen .. dimana bisa ditutupi dadanya terbuka! Please!” Nova segera menghubungkan tangan penutup payudara.

    Jenni sedikit memberontak saat wajahnya memerah. Jenni tertarik pada tangannya, Menampilkan payudara terbuka dan menggantung indah di depan wajahku. Glek .. aku menelan ludah.

    Jenni: “Bud, diam dong .. Waktu buka gitu buka dadaku.”Jenni dan Nova tertawa. Hal ini membuat Jenni begitu santai dan pasrah dadanya diplester dengan jelas. Nah kalau mereka serius seperti ini, lebih baik kalah. Mengingat kekalahan itu terus berlanjut, titit saya akan tersedot selama 1 menit setiap kekalahan. Hahahaha .. otakku juga kotor. Lalu permainan berlanjut. Segera saya membuat diri saya telanjang. Celana dalam saya terbuka perlahan menunjukkan titit yang telah mengeras sejak terakhir.

    Saat itu, Nova, dengan payudaranya hanya montoknya tinggal celana. Kedua gadis itu memperhatikan celana dalamku dengan hati-hati sambil menahan nafas menunggu tititaku terlihat sepenuhnya.

    Nova: “Wow itu susah, Bud! Bagus lho bentuknya!”

    Budi: “Seberapa keras … lihat dua pasang payudara yang bagus!”

    Ternyata Nova tidak tahan lagi. Saya segera memukulnya dan mengarahkan titit saya secara langsung. Nova mulai mengocok tit saya dengan sesekali menjilat. Tentu saja saya tidak tinggal diam.Tanganku mulai meremas payudara Nova yang sedang. Tidak cukup dengan meremas, akhirnya aku meraup payudara kiriku dan mulai mengisapnya.

    “Ahh .. enak banget, Bud terus hisap ..”

    Sambil mengisap payudara Nova, tanganku mulai melepaskan celana dalamnya. Karena saya tidak ingin melepaskan isap, tentu saja melepaskan celana dalam jauh lebih keras. Nova membantu dengan melepaskan celana dalamnya sendiri. Tititku yang menjadi terpisah dari pegangan Nova, segera disambut Jenni dengan kulumannya.

    Apa mimpi malam itu? Kedua gadis itu sudah mengisap titit saya. Kami pindah ke tempat tidur. Aku berbaring di tempat tidur dengan titit langit-tinggi. Nova terus memberikan payudaranya untuk isap saya dan Jenni kembali menyedot titit saya. Tanganku mulai melakukan gerilya ke vagina Nova. Basah. Licin. Saya mulai menggesekkan jari saya ke klitorisnya. Licik

    Nova mendesah dengan senang yang ia alami di bawah.Jenni yang melihat Nova mengalami kenikmatan, mengubah posisi pantatnya ke wajahku.Body jenjang memang membuat posisi hampir 69 sangat mudah terjadi.Tanganku mengusap vagina Jenni yang juga sangat basah. Tangan kiri di vagina Jenni, tangan kanan di vagina Nova.

    Kukocok keduanya dengan kelembutan yang tumbuh lebih cepat.Jenni dan Nova blingsatan dibuat. Jenni bergetar hebat sampai dia melepaskan payudaraku dan mengerangPanjangnya sangat seksi. Nova diikuti dengan teriakan yang tak kalah seksi.Keduanya jatuh ke kanan kiriku dengan lemas.Saya sudah tegangan tinggi tidak mau diam. Aku pergi ke Nova dan membuka selangkangannya.

    Terlihat sangat bersih pussy indah. Rambut halusnya sangat seksi.Aku mulai menggosokkan kepala tititaku ke vagina Nova. Ah … .. apik dan bagus.Aku belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini sebelumnya.Nova yang mulai merasa senang, mulai bereaksi dengan menggerakkan pinggulnya ke irama gesekan.Nova semakin mengoceh …

    “Oohhh … aahhh … ohh..saya … tuhan … .. Bud benar-benar Bud”

    “Keep Bud … Delight … ahhh … aahhHHH …. .AAAHHHHHH … Gila .. sangat bagus Titit lu Bud !! Aku pernah ke sana”

    “Gesit baru aja dah bagus gini yah, Bud … bagaimana kalasukin yasuk? Masuk deh Bud ..”

    “Serius lu, Nov? Lu ingin aku jadi perawan? Aku benar-benar gairah.”

    “Yeah, Bud … aku ingin merasakan titit lu di dalam diriku … bagus di luar, apalagi di dalam.”

    Saya tidak berpikir lama lagi .. segera mencoba masuk ke vagina Nova.

    “Oww .. perlahan Bud .. sakit tau !!”

    “Ok, Nov .. saya melambat”

    Perlahan kepala tititku mulai tenggelam di vagina Nova.

    Terasa macet. Saya tidak berpengalaman memikirkan mengapa tidak di yah?

    “Nov, sudahkah kamu masuk?”

    Nova mulai meringis kesakitan, “Saya tidak berpikir begitu … tapi tetaplah terus.”

    “Lu yakin, Nov? Saya rasa ini sangat menyakitkan.”

    “Teruslah pergi, Bud, aku hanya ingin menyita lu di dalam diriku.”

    “Iya saya sudah .. saya tetap nih ..”

    Dengan tiga buah polong keras disertai erangan Nova, titrasi saya akhirnya masuk sepenuhnya.

    “Wow .. Nova … saya rasa titit saya dah masuk semua ya”

    “Ya .. Bud …” sambil menahan rasa sakit “hening dulu, Bud .. jangan digerakin dulu .. aku masih rada sakit ..”

    Ahh .. kenikmatan vagina perawan .. titit saya terasa benar-benar diremas oleh vagina Nova yang sempit.

    Tanpa menyadarinya, saya mulai menggerakkan pantat saya pelan.

    Masuk perlahan.

    Nova mulai bernafas teratur dan mulai menikmati kocokan lembut di vaginanya.

    “Perlahan yeah Bud … masih sakit tapi sudah bagus ya ya … vagina saya benar-benar terisi penuh titit lu”

    Jenni yang telah menonton menunjukkan pandangan tak percaya.

    “Gila lu keduanya .. benar-benar sial ya?”Jenni mendekati tempat kejadian dan mengamati dengan saksama.

    “Gila .. gila .. titit lu benar masuk ke vagina Nova, Bud!”

    “Ya Jen .. Bagus kok .. Nova vagina .. aku bisa kecanduan ngentot nih.”

    Tiba-tiba ada keinginan yang luar biasa untuk segera sampai ke sini .. Aku mempercepat goyahku. Nova bahkan lebih mendesah menggila. “Ahhh … Ohhh … Ahhh … Ohhh … Bud .. aku mau lagi ya”

    “Barong Nov .. aku juga mau ..”

    Di kepala saya saya tidak ingat pelajaran Biologi, jika sperma memenuhi telur akan menghasilkan zygot yang akan berkembang menjadi bayi.

    “Ayo .. Bud … kita bbaaareeennggg ….” Croootttt … croottt .. croottt … Tiga kali aku menyemprotkan air mani ke rahim Nova.

    Ahh … ini adalah perasaan yang indah … kenikmatan bercinta dengan seorang gadis muda yang cantik. Masturbasi sama sekali berbeda. Hubungan langsung lebih menyenangkan. Aku langsung jatuh lemas ke samping Nova. Jenni yang melihat pertunjukan live bagaimana cara bereproduksi mulai mendekati titit saya lagi dan mengisapnya dengan lembut. Nafasku terengah-engah perlahan tertata rapi sambil menikmati embusan Jenni. Shuffled perlahan tapi pasti membuat titit saya menjadi tegang lagi.

    “Bud, jangan, saya ingin saya menggesekkan vagina saya.”

    “Ya, Jen.” Jenni mengambil posisi WOT dan mulai mengusap vaginanya dari tititku.

    “Bagus sekali, Jen”

    Ganteng Jenni yang lembut membuat payudaranya bergetar dengan anggun. Pemandangan yang sangat indah.Jenni adalah salah satu wanita impian saya. Tinggi, gemuk, atletis, bercanda, dan baik hati. Sekarang dia menggesek alat kelaminnya dengan kegelapan. Ah .. kepengen masuk. Segera putar posisi jadi saya sekarang di atas. Aku membuka kakiku lebar-lebar. Vagina yang terlihat sangat indah. Bahkan lebih cantik dari pada Nova. Halus, hampir tak berbulu. Warnanya merah muda dan berkilau. Tititku langsung memutar untuk melihatnya. Saya mengarahkan titit saya ke vaginanya.

    “Bud, jangan terganggu!”

    “Mengapa Jen? Tidak tahan”

    “Jangan Bud … tidak sekarang.” Suaranya lembut melelehkan hatinya.

    Entah kenapa aku berhenti memaksa kepala tititaku. Akhirnya saya hanya menggesekkan kepala titit saya di depan vagina Jenni.

    “Ah … ya Bud .. hanya itu … terus gosip … Ahh … ahhh”

    Jenni mulai rileks lebih dan memperlebar posisi kakinya. Melihat itu, saya lebih cepat menggesekkan titit. Semakin cepat gesekan, semakin keras suara Jenni.

    “OOhhhh … AHhhhh..nice Bud … Teruss .. Terusss .. lebih cepat … Tee..teeeruussss …. AHHHHHH.”

    Jenni mendapatkan orgasme dan cukup cairan O-nya keluar. Kasurnya basah kuyup.Saya melihat Jenni mengalami orgasme yang sangat seksi sampai saya tercengang.Jenni sangat cantik … Saya sangat terpesona .. Sepertinya saya jatuh cinta pada Jenni.Nova telah beristirahat cukup dan melihat Jenni telah lemas mengambil alih situasi.Dia memegang titit saya dan mengguncangnya dengan lembut.Tititku yang masih belum puas dengan Jenni membuat otakku segera beralih ke Nova dan menyuruhku melampiaskannya ke Nova.Selain itu, tititaku bisa berupa coblos ke Nova.

    Segera aku membalik Nova dan aku mencoba gaya Doggy di samping Jenni yang masih terbaring pincang.Ternyata gaya Doggy memberikan sensasi yang berbeda. Tidak bisa ditulis dengan kata-kata .. Hanya enak ..Meskipun Nova sedang menusuk, pandanganku tidak lepas dari Jenni. Jenni membuka matanya dan menatapku dengan kasih sayang.Senyum manisnya membuat hatiku bingung.Di sini saya jatuh cinta pada Jenni, tapi tititiku menikmati layanan Nova, dan Jenni tersenyum padaku.

    Ah bingung … ..

    Aku balas tersenyum pada Jenni saat ia menggiring Nova.Dentuman kemudi saya dari belakang membuat Nova tidak dapat menahan diri lagidan dia mengalami orgasme lagi.Saya memperlambat pod saya sehingga Nova bisa menikmati orgasme nya.Jenni bangun dan memberikan payudaranya ke wajahku.

    “Sapep Bud, biar aku senang!”

    Ah .. kegembiraan Jenni nakal .. sungguh tapi ketat.Tentu saja, karena petunjuk lezat Jenni, goyahku pada Nova semakin cepat.

    “Crazy lu Bud, sangat enak disedot dari balik lu sama … aku .. mauuuuu … Ahhhhh …” Nova orgasme lagi.Aku tidak tahan dengan mengisap puting Jenni sementara doggy ke Nova dan akhirnya .. croott … croott … dua kali aku menyemburkan sperma.

    “Bud benar-benar bagus untuk disemprotkan pada Anda … Rasanya enak .. seperti mandi air hangat … tapi rasanya terasa di dalam.”

    Posisi kita belum berubah .. Saya masih menempel titit ke vagina Nova sembari terus menyemprot sisa spermaDan mulutku terus mengisap, mengisap dan menggigit payudara Jenni.


    “Bagus yah Bud, hisap payudaraku dan ngentot-in Nova”

    “Ya, Jen! Hanya mimpi yang bisa bertiga seperti ini tapi saya bisa ngerasain kejadian benernya.”

    “Ud dong Bud, tarik titit lu Pegel nih nungging hanya” kata Nova.

    Aku mencabut tititiku tapi mataku terus menatap mata Jenni. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta.
    Malam itu kami tidur tiga dalam keadaan telanjang. Jenni di sebelah kananku, Nova di sebelah kiriku.

    Tok tok tok .. Pintu kamar hotel sudah mengetuk.Nova yang terbangun pertama kali membuka pintu dan Rika sepertinya telah dikirim oleh orang tuanya.

    “Eh .. Rika” Nova panik “Bokap Nyokap lu dimana?”

    “Nova yang senyap, mereka hanya mengantarku kok .. langsung saja kembali ke kota C.”

    “Wah … lega .. saya pikir mereka ingin masuk ke dalam.”

    “Jadi apa kabar? Uh … kenapa kamu pakai bra?”

    “Itu dia Rik .. takut tertangkap .. aku berhasil ya ya”

    “Apakah berhasil, lu?”

    “Saya suka perawan saya dengan Budi !!”

    “Haahh apa yang benar Jenni juga? Kita semua sangat serius dengan Budi!”

    “Jenni belum .. masih perawan ya .. saya rasa takut .. tapi sudah main juga sama Budi, baru dipasukin aja.”

    “Aku sangat horny, Nov. Dimana itu? Tidakkah kamu menginginkannya?”

    “Masih tidur tuh .. lu bangun aja .. pria kalau diberi perawan dimana ada yang menolak.”

    “Hahahaha … bener juga lu!”

    “Lihat, Rika Ada yang menonjol di sampulnya Dia masih telanjang kamu tahu Kami tidur lebih lama lagi.”

    “Di mana Jenni, November? Bagaimana bisa?”

    “Lebih di kamar mandi Tuh lu jaga Budi aja Pagi hari jadi tegak .. Lu hisap ait tititnya dulu.”

    Rika pergi ke tempat tidur dan langsung menarik selimutnya agar titiku terbuka dengan bebas.Saya yang masih tidur tidak menyadari apa yang terjadi hanya dengan mengetahui bahwa tititiku senang.Perlahan aku membuka mataku berpikir Nova atau Jenni sedang mengisap junior.

    “Hah? Rika? Apa yang kamu lakukan?” Tanyaku tanpa berusaha kabur. Lebih banyak waktu untuk melarikan diri. Sangat tidak?

    “Mmlammggii hissmmmaaapp mttiimmtiitttmm mmlu” Jawab Rika dengan tidak melepaskan muatan di mulutnya.

    “Hahahaha” Nova tertawa. “Lanjutkan aja Rik, si Budi kaga nolak tuh .. ngeliatin lu hanya saat rem melek begitu.”

    Jenni yang mendengar tertawa Nova, segera melihat keluar dan cukup terkejut melihat Rika mengisap tongkat kesenanganku.

    “Eh .. Rika … baru sampe langsung sarapan aja nih” kata Jenni dengan nada yang menunjukkan kejutan.

    Jenni keluar dari kamar mandi sambil tetap mengeringkan rambutnya. Tubuh Jenni luar biasa. Aku tidak bisa melepaskan mataku dari tubuh langsing dengan payudara yang sempurna itu.

    “Budi .. jangan ngeliatin aku dong aja .. Rika dah nafsu tuh … puas gih … kayak lu puas kami berdua kemarin ya tidak Nov?”

    “Ya Jen .. Ayo Bud .. Puasin Rika .. Perkosa dia .. hahahaha ..”

    “Kaga perlu diperkosa .. bangsaku mau relawan banget” kata Rika. Mendengar jawaban Rika, saya langsung bertingkah.

    Aku mencium bibirnya dan kami menghabiskan beberapa menit untuk melampiaskannya saat bertukar air liur.Rika kecil sehingga saya dengan mudah mengangkatnya dari tepi tempat tidur dan meletakkannya di tempat tidur.Aku mendekati Rika dan menciumnya lagi. Kali ini tangan saya tidak tinggal diam. Payudara Rika saya pijit dan uleni dengan lembut.Kemeja ketat yang saya buka langsung menunjukkan payudara kecil yang kencang. Pentil telah keras naik ke atas.Pentil bagus dan saya langsung memukulnya.

    “Ohh .. Bud benar-benar bagus .. keep Bud …. .ahhh .. ahhh ..” Rika mengasyikkan kenikmatan.

    Embusan dan manik-manik saya tumbuh lebih keras. Tititku sangat cepat.Dengan sedikit kasar aku melepaskan semua baju yang masih menempel pada Rika.Wow .. ternyata Rika memiliki rambut jembut yang sangat kental.Tebal tapi terlihat sangat rapi dan terawat.Saya mencapai vagina dan mencium vagina yang merangsang.Tapi Jenni lebih banyak wangi.

    Ah .. Jenni lagi .. ada cewek yang dengan sukarela memberinya perawan, kenapa bisa memikirkan wanita lain.Aku melirik Jenni dan melihatnya tersenyum penuh pengertian.Vagina Kujilat Rika sambil terus melihat Jenni. Jenni tersenyum dan mengangguk seolah dia mengerti Jika saya bertanya mungkin membiarkan saya menjilat vagina wanita lainnya.

    “Ohh … oohhh … benar-benar baik Bud .. baru saja menjilat aja gya dah seperti ini .. ”

    “Beritahu Budi ngentotin elu, Rik … Lambat yah Bud .. kemarin aku cukup sakit lho” Nova hangat suasananya.

    “Iya Bud .. masuk game dong.”

    “Tentu lu, Rik?” Aku bertanya pada Rika tapi tatapanku kembali ke Jenni. Jenni mengangguk lagi.

    Aku langsung membuka lebar selangkangan Rika. Vagina Rika terlihat sangat imut, karena Rika cukup kecil.Dia hanya di bawah bahu saya sedikit.
    Perlahan aku mendorong titiku ke vagina Rika. Rika yang sangat basah hanya bisa mendesah.Kepala tititaku masuk sepenuhnya tapi saat aku melihat dindingnya.

    “Siap Rika? Ada di depan selaput dara. Tetap saya aduk”

    Entah kenapa aku sekali lagi melirik Jenni dan Jenni balas tersenyum. Senyum sangat manis.

    “Iya Bud .. sodok aja .. pemerkosaan aku .. bikin aku hamil .. aku mau anak dari lu.” Rika telah melupakan tanahnya.Aku menggenggam pinggul Rika erat-erat dan mendorongku dengan kekuatan. Blesss .. masuk sudahRika meneteskan air mata karena sakit.

    “Lanjutkan Rik?”

    “Ya Bud Dah dulu sudah terbiasa dengan itu, rasanya penuh dengan pussy ku”

    Proses fucking Rika segera terjadi. Out … in … out … in … perlahan tapi pasti vagina Rika semakin basah.

    “Crazy … .Yah..banget … Know gini … dari kemarin … aku … ikuti … nginep ….” Rika semakin larut dalam kesenangan.

    “Ohh … ooohh … bagus … aahh .. terus .. Bud .. itu cepat .. Bud!”Aku mematuhi kehendaknya. Semakin cepat saya mengguncang Rika, payudaranya menjadi semakin terguncang.

    “Bersama Rika juga .. saya juga mau nyemprot dah ..”

    “Ayo Bud .. bikin aku hamil .. banyak semprotan … AAARRRHHHH”

    Kami berdua adalah orgasme yang luar biasa. Vika Rika meremas semua sperma dalam titit saya.Saya mengeluarkan titit saya dan tampak seperti setetes darah perawan yang memercikkan seprai.Darah perawan noda Rika dan Nova terlihat bersebelahan. Yah aku harus membeli sprei ini dari hotel. Keepsakes saya pikir.Jenni mendatangiku dan mencium bibirku dengan ciuman yang sangat lembut.Tiba-tiba ada rasa bersalah di hatiku. Sepertinya Jenni tahu karena dia bilang,

    “Tidak apa-apa Bud, kita semua ingin menikmati titit lu.”

    Dan kemudian dia menciumku lagi. Ciuman penuh.Nova menyela ciuman kami dengan mengambil titit saya dan mengisapnya. Jenni mengangguk dan berbaring.Nova terus menikmati permainan di bawah ini. Jenni mengambil kepalaku dan memberikan vaginanya untukku. Ah .. kesukaan Jenni pussy.

    Kujilat dan kujilat berlanjut saat kami terus saling berhadapan. Aku benar-benar jatuh cinta.Pagi itu saya memutar tiga wanita cantik. Jenni masih hanya meminta gesekan. Nova dan Rika berhasil membuatku semprotSperma di dalamnya dua kali. Kami baru saja selesai saat kami lelah dan kelaparan. Ini waktunya makan siang. TAMAT

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Ngewek Pembantu Yang Hiper – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Ngewek Pembantu Yang Hiper – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1614 views

    Perawanku – Aku akan ceritakan kisahku saat masih duduk di kelas SMP bermain sex dengan pembantuku, perkenalkan
    namaku Bayu pengalamanku ini sungguh mustahil atau khayal bahkan aku juga pernah mempercayainya
    selanjutnya akan kuceritakan setiap alurnya.

    Saat pulang bermain bola dengan teman temanku di lapangan sekolah, jarak antara rumah dan sekolah

    cukup dekat mungkin membutuhkan waktu 10 menit jalan kaki, sesampainya di rumah ibuku sudah menyiapkan
    makanan, sehabis makan aku dipanggil oleh ibuku terlihat dari nadanya cukup penting, bergegas aku
    menemui ibuku.

    Ada apa pa?

    Duduk sini bentar, papa sama mama mau ngomong dengan kamu.

    Bayu, kamu kan sudah cukup besar sekarang dan udah bisa mengurus diri sendiri sekarang. Sebetulnya
    dulu mama kamu kerja kantoran sebelum melahirkan kamu, dan begitu kamu lahir mama berhenti dari
    pekerjaannya karena mau ngurusin kamu.

    Trus pa? Jawabku asal..

    Ya karena sekarang kamu udah smp, mama mau bekerja kembali dan ternyata kantornya mau menerimanya
    kembali

    bagus dong ma, terus memangnya kenapa pa??

    Ya kamu taukan papa pulangnya selalu malem, trus kalo mama kamu dah kerja lagi, pulangnya juga malem
    ntar. Jadi mungkin kami bakalan jarang ada di rumah. Trus nanti papa nyewakan pembantu buat ngurusin
    pekerjaan rumah. Tapi, kamu gak keberatan kan??

    Ooh gitu yah. Tapi hari sabtu minggu, papa sama mama di rumah kan??Iya kami di rumah, jadi gimana??
    Kamu gak keberatan kan Bayu??Yaudah, Bayu gak keberatan kok. Sebetulnya si aku keberatan juga.
    Biasanya ada mama tapi gak ada papa aja aku ngerasa kesepian juga di rumah. Tapi, daridulu aku emang
    gak pernah bisa nolak yang di suruh orang tuaku.

    nah gitu dong, ternyata si Bayu udah dewasa ya pa?? kata mamaku..

    iya nih. Kamu tenang aja Bayu, papa bakal cariin yang cakep biar kamu gak bosen Kata papaku sambil
    bercanda..

    Akupun ikut ketawa, aku sama sekali gak kebayang pembantu macam apa yang bakalan kerja disini. Dan
    berkat dia, aku udah dapat hampir semua pengalaman seks pria dewasaa Besoknya aku pergi sekolah
    seperti biasa, dan agak berharap juga kalo pembantu aku tu bener2 cakep.

    ( Sebelumnya kami gak pernah punya pembantu. Hari itulah pertama kalinya ada orang asing di rumah. Dan
    itu agak membuatku penasaran juga.)

    Sepulang sekolah, aku gak ikut bermain bola seperti biasa, aku kepingin cepat2 pulang ke rumah, karena
    penasaran.

    Sesampainya didepan rumah, aku jadi gugup sendiri, dan mengetuk pintu dengan tak sabar. Begitu pintu
    terbuka, sesuai dugaanklu pembantu barukulah yanbg membukakan pintunya. Dan aku agak kecewa juga si,
    ternyata gak secakep yang kubayangkan.

    Aku ngebayangkan, gimana yah kalo punya pembantu kaya bunga citra lestari (gak mungkinlah, kalo cewek
    secakep itu, paling rendah jadi barges om-om).. Huehe, setelah mengusir lamunanku, aku perhatikan
    kembali wajahnya, ternyata lumayan manis juga, dan badannya juga cukup bagus dan agak tinggi. Akupun
    menyapanya, dan agak berbasa-basi sebentar sambil berjalan ke dalam rumah.

    Hari-hari pertama si gak ada yang aneh dengan dia. Aku cukup sering memperhatikan dia. Apalagi kalo
    lagi nyapu, ugh pantatnya yang bulat dan menantang itu langsung membusung dengan bangganya.

    Walaupun aku masih kelas satu smp, aku udah sering menonton film bokep, jadi udah punya perbandingan
    soal bodi cewek. Walaupun bodinya kalah sama artis-artis bokep itu, tapi cukup membuatku terangsang
    dengan posisi-posisi tubuh yang dia lakukan sewaktu lagi mengerjakan tugasnya (emang dasar otak udah
    ngeres).

    Namun tetap aja, aku sama sekali gak berharap untuk menyentuh tubuhnya waktu itu. Aku hanya suka
    memperhatikan dia ketika dia lagi bekerja. Kelihatannya dia juga dah menyadari tatapanku ketika dia
    lagi bekerja, namun dia sepertinya gak terlalu peduli.

    Lagian aku Cuma anak berumur 13 tahun. Namun tanpa kusadari sebetulnya dia peduli, dan kayaknya dia
    juga menikmati ketika aku melihatnya dengan nafsu begitu. Seolah-olah dia sedang mengadakan
    pertunjukan untukku.

    Setelah beberapa minggu masih tetap seperti biasa. Namun dia mulai menunjukkan kelakuan aslinya
    setelah itu. Dia mulai memakai pakaian yang terbuka di rumah. Dan rok yang dipakainya pun sangat
    pendek walau tidak ketat. Namun itu justru membuat roknya gampang tersingkap dan terlihatlah celana
    dalamnya.

    Pertama kali aku melihatnya ketika dia sedang nonton tv di ruang dapur (papaku membeli tv itu khusus
    untuk pembantu biar dia gak bosen), dan kelihatnnya dia gak berusaha menutupinya, walaupun jelas-jelas
    aku berdiri di depan dia dan melihat celana dalamnya.

    Aku bener terpaku saat itu, karena itu pertama kalinya aku melihat tubuh wanita di balik roknya secara
    langsung. Apalagi di rumah sendiri. Wajahku terasa panas dan jantungku berdegup kencang, dan sikapku
    sangat kikuk jadinya.

    Dan entah kenapa dia cuek-cuek aja, malah posisinya semakin menantang. Kakinya diangkat sebelah ke
    kursi dan yang sebelah lagi dbuka lebar ke samping.

    Dan semakin jelaslah terlihat pahanya yang mulus dan terutama celana dalamnya. Cukup lama juga aku
    mondar-mandir di depan dia. Namun setelah itu aku kembali ke kamar karena aku takut dia maraha

    Sesampainya di kamar, aku masih terus keikiran kejadian tadi. Akhirnya karena gak tahan lagi, aku
    memutuskan untuk beronani di kamar mandi. Dan ternyata di kamar mandi ada benda yang baru saja aku
    lihat. Pakaian kotor pembantuku itu tergantung di kamar mandi. Dengan tak sabaran aku mulai mencari
    dan kutemukan juga celana dalam kotor pembantuku itu.

    Dengan nafsu yang tak tertahankan aku mulai mendekatkan celana dalam itu ke wajahku. Kutempelkan di
    wajahku dan kuhirup dalam-dalam aromanya. Seketika bau-bau asing menyerang penciumanku.

    Kucium juga bagian yang menutupi pantatnya. Wanginya benar-benar memabukkan, ingin rasanya aku
    menjilati anusnya setiap hari. Tangankupun mulai mengocok-kocok penisku. Kujilati bagian yang menutupi
    anusnya dengan nafsu. Waktu itu aku benar-benar berharap ada kotoran yang menempel di celana dalam
    itu.

    Maniku keluar lebih cepat dari biasanya. Lalu akupun mulai menciumi bajunya. Kuhirup aroma tubuhnya,
    ketiaknya dan bau keringatnyapun mulai membiusku. Aku dah mulai terobsesi sama dia. Padahal sebelumnya
    aku hanya seneng memandanginya ajaa

    Setelah puas menghirup semua bau yang ada di pakaian kotornya aku pun mulai mandi dan membersihkan
    badanku.

    Setelah selesai dan ketika hendak keluar, aku kaget bukan kepalang. Ternyata pintu kamar mandi gak
    kututup. Aku baru teringat, bahwa tadi aku lupa menutup pintu dan langsung mengambil pakaian kotor
    pembantuku itu.

    Dan kamar mandi itu pintunya di ujung, jadi kalo lupa nutup pintu dan gak ngeliat ke belakang, kita
    bisa gak sadar kalo kita lupa nutup pintu. Dan yang lebih membuat panik ternyata dari tadi pembantuku
    lagi nyapu ruang tamu, dan pintu kamar mandi itu memang menghadap ruang tamu.

    Aku baru sadar kalo dari pertama tadi emang ada suara-suara kayak orang lagi beres-beres gitu, tapi
    karena kupikir pintunya dah kukunci aku nyantai-nyantai aja. Dan dirumah memang gak ada orang selain
    kami berdua. Artinya dia bisa ngeliat dengan jelas kegiatan aku dari pertama tadi

    Aku pun jalan dengan gugup dan muka tertunduk. Trus tiba-tiba dia ngomong sama aku

    Udah siap mandinya dek??

    Eh u..udah kak. Jawabku dengan gugup..

    Kamu kaya cewek aja mandinya lama banget. Tadi kaka nungguin juga di depan pintu, eh rupanya masih
    lama mandinya.. katanya dengan senyum penuh arti..

    Damn!!!, artinya, dia tau aku ngapain aja di dalam. Atau begitulah bayanganku. Akupun gak menjawab
    apa-apa dan hanya berlari ke kamar. Aku sempet kepikiran juga arti senyumannya itu.

    Apa dia bermaksud mengatakan kalo dia gak keberatan aku ngelakuin itu??? Atau dia punya maksud
    lain???? Halah, pikiran anak smp mang belum nyampe ke hal-hal yg seperti itu. Dan aku tetap aja
    ketakutan dia bakal marah

    Sejak itu, aku sering bgt berlama-lama di kamar mandi, menikmati pakaian kotor pembantuku. Aku selalu
    masuk kamar mandi setelah dia mandi. Dan pakaian kotornya masih anget, dan aromanya masih kuat.

    Pernah aku dapet bajunya yang basah sama keringat. Aah nikmat banget keringatnya yang asin itu. Dan
    lagi-lagi aku ngerasa aneh, kenapa dia gak nanya ke aku, kenapa aku selalu masuk setelah dia mandi.
    Yah mungkin dia udah tau gara-gara yang pertama kali itu, tp tetep aja aku gak ngerti kenapa dia gak
    marah.

    Kegiatan ngintip celana dalam dia pun masih aku lakukan. Bahkan walaupun dia tau aku lg ngeliatin
    cdnya, dia cuek-cuek aja. Belakangan aku tau dia sengaja. Keliatannya dia emang suka mamerin tubuhnya
    gitu.

    Aku tau hal ini karena setelah beberapa bulan dia bekerja, aksi pamernya semakin menggila. Dia keluar
    kamar hanya dengan memakai celana dalam dan bra, dan mulai bekerja seolah gak ada kejadian apa-apa.

    Waktu ngeliat dia aku kaget setengah mati. Sampe-sampe aku bengong gitu. Dia malah cuek-cuek aja, gak
    lupa melempar senyum ke aku ketika berpapasan. Dan hari itu aku ngikutin dia terus. Pokoknya, dia lagi
    nyapu, lagi nonton, lagi beres-beres, aku pasti ikut.

    Dia juga (lagi-lagi) cuek-cuek aja. Tp, tetep aku gak berani mencoba menyentuh tubuhnya. Aku takut dia
    marah, terus minta berhenti.

    Paling asyik tu waktu dia lagi nyapu kamarku, pantatnya yang nunggging di ruangan sempit itu, semakin
    terlihat menantang karena cuma dibungkus celana dalam. Apalagi kelihatannya cdnya agak lembab gara-
    gara keringat.

    Waktu itu aku lagi baca komik di kamar. Trus entah kenapa dia lama banget ngeberes-beresin kamarku.
    Padahal kamarnya kecil trus barang-barangnya juga dikit. Trus waktu udah selesai, dia gak langsung
    keluar kamar.

    Dia malah duduk di tempat tidurku, katanya si dia mau istirahat sebentar. Tp yang didudukinnya
    ternyata bantalku, dan lama juga dia disitu. Begitu dia pergi, aku langsung menciumi bantalku. Dan
    aroma pantatnya pun tercium . Ingin rasanya didudukin pantatnya di wajahku. Dan ternyata impianku itu
    kejadian esoknya

    Waktu itu kami lagi nonton tv di dapur. Seperti biasanya dia hanya mengenakan cd dan bra. Karena hari
    itu di sekolah ada pelajaran olahraga, badanku udah kecapean, dan kepingin istirahat. Tapi aku gak mau
    melewatkan saat-saat bersama dia. Jadi, karena dia liat aku terus-terusan nguap, dia nawarin untuk
    tiduran di pangkuan dia. Tanpa basa-basi langsung kuterima tawarannya.

    Pahanya terasa hangat dan mulus di pipiku. adik? kecilku langsung bangun gara-gara itu. Akupun
    langsung pura-pura tertidur dan membalikkan badanku. Sehinggga sekarang aku tiduran mengahadap ke
    perutnya dia.

    Baru kali ini aku bisa ngeliat celana dalamnya dalam jarak sedekat ini. Aku bener-bener udah horny.
    Dan, pelan-pelan bibirku mulai mencoba menyentuh pahanya. Sentuhan pertama berhasil membuatku
    melayang. Pahanya teras hangat dan harum

    Kejutan yang kudapat gak berhenti sampai di situ. Ketika itu tiba2 hpnya yang di letakkan di meja
    sebelah sofa tempat kami duduk berbunyi. Dan dia pun pelan-pelan menggeser kepalaku dan meletakannya
    di sofa.

    Karena aku sedang pura-pura tidur, aku gak tau apa yang sedang terjadi. Dan ketika kubuka mata,
    ternyata dia lagi berlutut menyamping sambil mengotak-atik hpnya, dan kepalaku berada di tengah-tengah
    kedua lutunya.

    Dan entah kenapa, kulihat dia menurunkan pantatnya secara perlahan sampai akhirnya menyentuh wajahku.
    Dia menduduki wajahku. Aku gak percaya apa yang kualamin ini. Dan aku juga bisa ngerasain, kalo dia
    pelan-pelan menggerak-gerakkan pantatnya maju-mundur. Aaah,, aku bener-bener serasa di surga. Kuhirup
    dalam-dalam aroma pantatnya

    Setelah beberapa saat, tiba-tiba aku merasa ada yang menusuk-tusuk kepalaku. Ternyata itu jarinya. Dia
    sedang bermasturbasi rupanya. Aku menjadi semakin terangsang mendengar desahannya. Walaupun dia
    berusaha menahan suaranya.

    Pantatnya semakin bergerak tak terkendali di wajahku, kadang malah sampai membuatku gak bisa bernafas.
    Lalu tiba-tiba tekanan pantatnya di wajahku semakin kuat, dan tubuhnya mengejang, dan dia mengeluarkan
    desahan kecil tertahan.

    Sepertinya dia udah keluar?. Aah benar-benar saat-saat yang indah, walaupun nantinya aku bakal
    mengalamin yang lebih menarik lagiaSejak itu, aku selalu berusaha menyentuh pantatnya, dan membuatnya
    seolah-olah gak sengaja.

    Tetap aja aku gak berani menyentuhnya dengan terang-terangan. Kadang-kadang aku lewat-lewat di
    belakangnya, atau meletakkan tanganku di tempat dia akan duduk, dan kelihatannya dia juga gak perduli
    walaupun dia sedang menduduki tanganku

    Seminggu kemudian, dia melakukan hal yang lebih gila lagi. Dia udah gak memakai apapun lagi di
    badannya. Walaupun gak setiap saat (mungkin dia takut masuk angin ;). Tapi, ketika dia bekerja, dia
    tetap dalam keadaan bugil. Bukan itu aja, kalo dia ke kamar mandi juga udah gak pernah menutup pintu
    lagi.

    Sehingga, apapun kegiatannya di kamar mandi kelihatan dengan jelas dari luaraAku langsung menunggu dia
    nyapu ke kamarku, supaya bisa melihat lebih dekat. Dan setengah jam kemudian dia masuk kamarku., dan
    mulai membereskannya. Dan ketika dia nungging, terlihat jelasalah anusnya yang indah itu.

    Ingin rasanya menjilati anusnya itu setiap hari, membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di
    sekeliling anusnya, uugh.. Lalu tiba-tiba dia menghadap ke aku yang sedang tiduran di tempat tidur,
    lalu berkata.

    Dek, kakak cape nih. Numpang duduk bentar yah??Eh? Yaa.. udah kak bolehLalu dengan terkejut kusadari,
    dia bukan mau duduk di kursi atau di tempat tidur. Dia mengarahkan pantatnya ke wajahku.

    Awalnya dia berdiri di atas tilamku, lalu berjongkok dan perlahan-lahan mendudukkan pantatnya, yang
    sekarang gak terhalang oleh celana dalam, ke wajahku. Dan dia juga melebarkan belahan pantatnya dengan
    kedua tangannya, seolah-oleh ingin menempelkan anusnya ke wajahku.

    anusnya menempel tepat di bibirku. Badanku bergetar karena gembira, dan gairah. Pertama-tama kucium
    mesra anusnya, dan pembantuku itupun mulai mendesah. Kucium lagi pinggiran-pinggiran anusnya dengan
    lembut.

    perlahan-lahan kujulurkan lidahku dan kujilatin sekeliling anusnya, dan dia pun menggelinjang
    kegelian. Lalu kutusukkan secara perlahan lidahku ke anusnya.

    AAAh, sentuhan pertama yang bakal kuingat sampe tua. Anusnya rasanya agak pahit trus aneh gitu, susah
    deh ngejelaskannya. Kujilat-jilat anusnya dan sekarang dengan penuh nafsu, dan penuh kerinduan. Dia
    pun mulai bergerak liar di atasku.

    Tangannya sekarang gak hanya diam. Yang kanan mengelus-elus kontolku. Yang kiri sedang sibuk
    bermasturbasi ria. Kocokannya berkali-kali terhenti karena sedang berkonsentrasi untuk menggapai
    kenikmatana

    aaaaah,, Bayu jilatin terus anus kakak. Ah ayo sayang.. Teriaknya. Kelihatannya dia udah gak perduli
    apapun lagi. Dan beberapa saat kemudian dia menjambak rambutku dengan keras, dan setengah berdiri
    dengan lutunya, dan mengerang, pertanda dia sudah mencapai orgasme

    Makasih yah dek, sekarang giliran kakak yang muasin kamu katanya sambil tersenyum manis. Diciuminya
    bibirku dengan ganas. Karena aku masih dalam pertumbuhan, ukuran bibirnya dengan bibirku jauh berbeda.

    Dengan mudahnya dia melumat bibirku yang mungil ini, bahkan ketika dia menciukmku, dagukupun ikut
    terkena ciumannya.

    Dijilatinya bibirku, lalu dimasukkannya kedalam mulutku. Akupun berusaha menggapai lidahnya dengan
    lidahku. Lalu kuemut-emut lidahnya, lalu aku mulai menghisapnya. Lalu dia mengangkat kepalanya dan
    mulai meneteskan liurnya kedalam mulutku. Langsung kutelan dengan bernafsu. Berkali-kali kami lakukan
    itu.

    Setelah itu dia mulai menjilatiku lagi. Dari mulai pipi, hidung, keingku, dan daguku. Sampai-sampai
    wajahku basah kena jilatannya. Dan dia pun mulai meludahi wajahku dengan gemas. Aku hanya diam aja
    menikmati segala perlakuannya padaku.

    Perlahan-lahan jilatan-jilatannya mulai turun keleher, lalu kedada dan sampai ke putingkupun dijilat-
    dan dihisap-hisapnya. Dan tangannya meraba-raba putingku yang satunya.

    Setelah itu, dia membuka celanku sampai terlihatlah kontolku yang masih kecil mungil ini. Dan dia
    membuka mulutnya dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. Aah rasanya bener-bener nikmat. Setiap
    sedotannya membuat seluruh tubuhku menegang.

    Dan tanpa sadar tangankupun mulai menarik-narik wajahnya dengan nafsu. Dan dia terus menghisap-hisap
    titiku tanpa menggunakan tangannya sama-sekali. Dan setelah beberapa menit, aku sudah ingin keluar.

    Kaak, adek udah mau keluar nih kataku. Dia pun semakin memperkuat hisapannya sampai terasa sakit. Dan
    kukeluarkan semuanya di mulutnya. Dan kuliahat dia menelannya dengan semangat. Dan menjilati sisa-sia
    maniku di ujung kontoltku. AAh rasanya sangat nikmat

    Gimana?? Kamu puaskan??

    Eh, iya kak. Adek puas banget. Adek udah lama beronani smbil ngebayangin kakak. Kataku tanpa malu-malu
    lagi

    Hihihi. Nakal kamu yah, kenapa kamu gak langsung datengin kakak trus minta kakak ngent*tin kamu? Aku
    agak kaget mendengar dia tiba-tiba berkata vulgar. Tapi terlihat di wajahnya kelihatannya dia senang
    berkata-kata jorok seperti itu

    Kan kasian tongkol kamu kamu dek, setiap hari cuma dapetnya tangan kamu sendiri. Kan mendingan ent*tin
    kakak aja?? Katanya dengan tatapan penuh nafsu.

    Mulai sekarang, kalo kamu lagi kepengen kamu bilang kaya gini ke kakak, kaak, adek pengen ngentot ya??

    Iyaa kak..

    Coba bilang dong pintanya

    Kaaak, adek pe..pengen ngentot jawabku dengan gugup

    Naah, gitu yah bilangnya. Ntar kakak entotin kamu.

    iaiya kak.

    Lalu karena aku sudah cape, akupun tertidur sambil berpelukan dengan dia. Kami udah kaya suami istri
    aja

    Sejak itu, kami sering melakukan itu lagi. Dan kalo kami gak sedang bermain? pun dia tetap aja gak
    memakai bajunya. Aku juga sering ikut mandi bareng dia. Dan karena udah sangat terobsesi sama dia,
    kotorannya pun bisa membuatku terangsang.

    Hampir tiap hari aku minta dia mengencingiku. Kadang kutelan semua kencingnya sampai gak bersisa.
    Setelah bosan dengan kencingnya, tainyapun kujamah juga. Sampe-sampe setiap dia mau buang kotoran dia
    harus memberitahuku dulu.

    Kalo aku lagi gak mau, barulah dia ke wc secara biasa. Dan kami melakukannya di mana-mana, namun kami
    selalu berhati-hati agar kencing atau tainya gak berceceran.

    Aku juga memaksanya untuk ikut merasakan tainya sendiri, lalu setelah itu acara berciuman kamipun jauh
    lebih hot karena mulut kami penuh dengan kotoran

    Aku sadar apa yang kami lakukan itu jauuh diluar batasan normal (dari pertama juga sebenarnya udah gak
    normal. Masak cewek berumur 26 tahun main sama anak berumur 13 tahun???). Tp aku gak bisa ngebohongin
    diri sendiri, karena aku juga sangat menikmatinya.

  • Bapak Mertua Sangat Pandai Memuaskanku

    Bapak Mertua Sangat Pandai Memuaskanku


    2011 views


    Perawanku – Hari sudah mulai malam, aku baru saja selesai mandi dan duduk di meja rias dadan secantik mungkin dg penampilan yg seksi. Aku mengenakan bra warna merah dan gaun putih transparan, terlihat jelas warna bra yg kupakai, semua lelaki pasti tak akan kuat berpaling dariku. Sambil nunggu kabar dari suamiku yg belum pulang kerja sampai saat ini.

    Tiba-tiba
    Kriiiing,,,,
    Ya halo pa,,,
    Eh, ma malam ini papa ga bisa pulang, tugas dadakan dr bos
    Oh,, ga apa apa pa,,,

    Gitu aja ya ma
    Oke pa,,,
    Yess suamiku ga pulang, berarti malam ini aku bebas, sesuai rencana awal, aku penasaran, pengen tau rasanya punya mertua yg ekstra besar dan bikin aku ah ah ah,,,, aku akan bikin masakan yg enak buat mertuaku sayang dan brangkaaat,,,
    Tok tok,,,
    Siapa,,,
    Saya pak, Saliyem
    Oh, masuk
    Ini saya bawain makanan pak
    Ehem kok tumben malam2 gini
    Iya pak,,, HokiJudi99
    Suamimu?
    Lembur pak sampe pagi, besok pulang jam 9 pagi
    Lah kamu sendirian
    Makanya itu pak,,,
    Makanya kenapa
    Yem takut
    Nginap disini aja
    Emang boleh pak
    Oh,, boleh banget
    Ayo pak dimakan (suasana pecah saat mertuaku memandangi tubuhku seperti kesetanan, aku tau apa yg ada dalam pikirannya, dia pasti senang aku menawarkan diri nginap di rumahnya)
    Oh iya iya,,, em,, dik yem,,,
    Iya pak,, kenapa,,,
    Anakku beruntung banget ya dapetin kamu
    Bapak bisa aja, emangnya apa kelebihanku
    Kamu cantik luar biasa,,,
    Ah, biasa aja pak
    Bapak aja sampai ck ck ck,,,,
    Bapak ih,,,
    Em,,, ntar boboknya dimana dik yem
    Terserah bapak lah
    Lah kalo terserah saya, ya bapak suruh bobok dikamarku loh,,,
    Nggak ah, ntar diapa apain lagi,,, kan aku menantumu pak, pamali,,,
    Katanya terserah bapak, kalau soal itu sih ga ada istilah menantu dik
    Soal itu,,, maksud bapakkk?
    Itu lho,,, ah masa ga ngerti sih dik
    Ngerti bapak mertuaku sayang,,,
    Apa, kau panggil aku sayang,,, oh romantis sekali,,, bolehkah aku memelukmu dik saliyem menantuku sayang
    Nggak ah, ntar ada yg berdiri lagi
    Dari tadi udah berdiri dik, ga kuat niih
    Emang masih kuat pak,,,
    Kalo soal begituan, apalagi dg wanita secantik dirimu,,, oh,,, aku seperti orang kehausan ditengah gurun pasir dan menemukan segelas air dik,,,
    Oya,,,
    He em,,, badanku boleh tua tapi gairahku, tak perlu kau ragukan
    Terserah bapak deh,,, aku nurut aja sama mertua, diapain aja alu mau,,,,
    Benarkah dik,,, uuwaaahh uwaah,,, hmm,,,
    Tanpa ragu dan dg tenaga bull dozer, lelaki tua itu yg tak lain mertuaku sendiri, menyerangku, memelukku dg kuat, mulutnya menciumi wajahku, leherku dg bringas dan rakus, aku pasrah badanku digerayangi, pakaianku diacak acak. Tubuh mertuaku panas, gemetar namun liar. Benar yg ia katakan tadi seperti orang kehausan, mungkin karena lama tidak mencumbu wanita dan tak ada cewek yg mau dengannya kecuali aku menantunya sendiri. Aku biarkan dia menikmati tubuhku, aku serahkan semuanya malam ini untuknya. Tubuhku dibuat merinding olehnya, dalam sekejab dia berhasil menelanjangiku.

    Ciumannya bertubi tubi, jilatannya menjalar kemana mana sampai dadaku, leherku basah oleh ludahnya. Mertuaku yg sdh tua seperti mendapat durian runtuh bisa menggagahiku malam ini, diluar dugaannya pastinya. Mungkin selama ini aku orang yg selalu hadir dalam bayangannya ketika dia beronani, kini benar2 nyata dalam kekuasaannya bukan bayangan, bukan mimpi, makanya sampai dia terus menerus bergerak bergerilya menikmatiku. Seluruh pakaianku telah berceceran dilantai, aku terus diciumi, dijilati dari leher sampai jempol kaki. Mulutku dihisapnya, lidah mertuaku menyeruak masuk ke mulutku bergerak2. Aku jijik diperlakukan seperti itu, namun demi menghargai dia, aku balas dg menjulurkan lidahku ke mulutnya. Situs Judi Bola

    Eh lidahku dihisapnya dg kuat,,, aku mual,,, huekk. Tapi mertuaku cuek, tak peduli ekspresiku yg jijik atas perlakuannya. Bahuku diremas, payudaraku diciumi bergantian, puting susuku dihisapnya sampai terasa sakit. Oh,,, tenaga mertuaku ternyata luar biasa, kedua tanganku diangkat dan aku teriak teriak kegelian, dia jilati ketiakku,,, waw tubuhku menggelinjang menahan rasa geli permainan mertuaku, ia terus jilati ketiakku yg berkeringat, mungkin mengeluarkan aroma yg tidak sedap tapi dia makin rakus dan bernafsu. Belum digesek miss v ku sdh basah oleh lendir kenikmatan. Aku dibopong dan didudukkan diatas meja kayu yg besar, kakiku diangkat, kedua pahaku dibuka lebar, aku malu,,, ia tanpa ragu dan dg sigap membenamkan wajahnya di selangkanganku,,, aku menggeliat menahan nikmat dan geli, ini belum perbah dilakukan oleh suamiku.

    Mertuaku tak hanya punya barang gede, tapi pandai memainkan sex dg mantap. Aku benar2 dibikin klepek2 tak berdaya dihadapannya. Auuuuhhh,,, mis v ku dibelah,, dan emmhh,,, dicepok cepok,,, dan dijilati sampai seluruh lendirku terasa bersih. Geli geli nikmat membuatku mabuk kepayang. Oh mertua gila,,, jangan hentikan permainanmu, malam ini aku jadi milikmu,,, celotehku. Ia hanya bisa mengerang2 dg napas memburu seperti orang dikejar anjing. Miss v ku basah oleh ludahnya dijilati seperti kucing kelaparan ketemu ikan asin.
    Mertuaku telanjang bulat dg mr p yg gede berdiri manggut2 siap dihujamkan di miss v ku. Aku takut,,, aku degdegan,,, perasaanku tak karuan, antara perasaan berdosa selingkuhi suamiku dg mertuaku sendiri dg rasa penasaran pengen tau barang mertuaku yg bikin aku mabuk. Uwaaaah,,, mr p itu telah nempel dibibir vaginaku, panaaas,,, ditekan,,, auh,,, ditekan lagi auh,,, responku tak kusadari mulutku nyanyanyua,,,, kepala mr p mertuaku nerobos keluar masuk di ujung lubang vaginaku, ia tekan lagi,,, tekan terus sampai seluruh batang penis itu masuk ke vaginaku, ia cabut pelan, masukin lagi,,, begitu terus dan setiap ayunan aku tetiak dan mendesis saking enaknya dan bener2 hal yg berbeda dg suamiku.

    Ouh,,, aaahhh esst,,, aku disetubuhi mertuaku sendiri, hal yg tak layak, namun bagiku ini sensasi. Penis besar itu keluar masuk mengayun vaginaku yg bener2 peret krn ukuran pebis yg besar dan tak wajar. Vaginaku mengeluarkan pelumas yg menambah kenikmatan persenggamaan ini. Yah namanya orang tua, baru beberapa tusukan saja sdh nut nutan mau keluar. Mertuaku teriak teriak seperti orang ngeden eeekkk,,,,, dan segera mencabut penisnya dr vaginaku lalu mengocoknya hingga keluar sperma kental creeett crecet,,, berceceran di dadaku. Oaaah oaaah,,,, teriaknya
    Dik yem, makasih ya
    Iya pak sama sama
    Dik, bapak mohon kepadamu Agen Bola Terpercaya
    Apa itu pak,,,
    Tolong jaga rahasia ini
    Iya pak yem ngerti
    Bapak takut jika ada yg tau kita seperti ini, reputasi dan harga diri bapak sebagai penceramah bisa hancur dik.


    Tenang aja sih pak,,,
    Bapak bisa menahan diri dr kejahatan lain, tapi yg satu ini bapak tak sanggup
    Udah bapak bobok
    Nggak dik, istirahat 10 menit, bapak mau nambah
    Haaa,,, serius pak
    Oh my god,,,, aku digarap lagi, dan semalam suntuk aku disetubuhi mertuaku, istirahat sejenak, ia garap aku lagi sampai badanku sakit semua, vaginaku terasa ngilu, berkali2 ditusukin penis gede miliknya. Aku terasa mau pingsan, sekujur tubuhku lemes. Mertuaku sepertinya tak mau menyia2kan kesempatan. Seolah hari esok tak mungkin ada kesempatan sebagus ini, menyetubuhi menantunya sendiri yg cantik nseksi. 7 kali lebih mertuaku menggagahiku dlm semalam.
    Jam 7 pagi aku pulang menyiapkan segala sesuatunya tuk sambut suamiku pulang pagi ini.
    Suamiku datang dan kebetulan mertuaku juga main ke rumahku, seperti tak terjadi apa2 semalam, suamiku ngobrol santai dg bapaknya, mertuaku. Tak lama kemudian, suamiku pamitan mau mandi, mertuaku menatapku penuh nafsu. Begitu pintu kamar mandi nutup, mertuaku menghampiriku dg cepat dan menciumiku, mencumbuku dan jilati leher dan dadaku, susuku dirogoh rogoh, dikeliarkan dr bra dan disedot, dicupangi bergantian,,,, aaahh,,, mertuaku bringas menikmati sisa usianya bersama menantunya, diriku. Matanya nanar, kupingnya tajam memperhatikan suara pintu kamar mandi dmn suamiku ada didalamnya. Selama suamiku mandi aku dilucuti mertuaku, aku telanjang dada dan mertuaku dg bebas cumbui payudaraku.

    Ugh nikmatnya, punya mertua rakus haus sex. Penisnya menekan nekan dan digesek gesekin di pahaku sedangkan mulutnya sibuk jilati kedua payudaraku dan jilati ketiakku. Terus terang aku suka diperlakukan seperti ini. Terdengar suara pintu klek,,, kami sudahi permainan ini dan bergegas rapikan pakaian ambil sikap santai seperti tak terjadi apa2. Suamiku keluar dr kamar mandi, pakai handuk menuju kamar, ia ngunci pintu kamar dan pakai baju, seketika itu pula kami kembali berpagut bercumbu saling menikmati sentuhan dan cumbuan di ruang tamu ini. Kedua tangan mertuaku masuk ke dalam bajuku menggerayangi dan meremas payudaraku dg posisi ia ada dibelakang dg penis menekan pantatku, wua terasa banget kemaluan mertuaku yg super tegang nonjok pantatku yg masih tertutup rok.
    Terdengar lagi bunyi selot kamar suamiku klek,,, kami cepat ambil sikap santai pura2 ngobrol dg mertua. Suamiku tak curiga sama sekali dg aksiku yg benar2 rapi. Judi Bola Online
    Suamiku menuju ke taman belakang, lihat2 taman sambil duduk santai di sova, ia ambil makanan ringan, beberapa menit kemudian suamiku nguap, ngantuk krn habis kerja lembur. Ia akhirnya tertidur di sova. Mertuaku ternyata memperhatikan anaknya terus, begitu suamiku lelap, langsung dia menghajarku kembali, menciumiku, mencumbuku, menelanjangiku dan ahh,,,, penis gedenya menghajar vaginaku dg sadis.

    Aku pegangan lemari dg kuat, posisiku nungging beuh nikmatnya, vaginaku disetubuhi dr belakang oleh mertuaku,,, mataku merem melek menikmati sex terlarang ini, aku tetus memperhatikan suamiku, takut dia bangun, tapi tidurnya sangat lelap. Lama sekali aku disetubuhi mertuaku, krn semalam sdh berkali2 ngeluarin sperma, kali ini vaginaku dihajar habis sampai begitu lama, berjam2 ditusuki penisnya tapi tak keluar2 spermanya. Aku sampai lemes kecapean. Berganti gaya sambil lihat ke arah suami, telentang dan disetubuhi dari atas, merangkak disetubuhi dr belakang sampai ah,,, keringatku membasahi tubuhku krn vaginaku dihajar terus terusan mertuaku. Akhirnya mertuaku tubuhnya kaku, mencengkeram punggungku dan penisnya terasa berkedut kedut, ia orgasme,,, spermanya nyembur di vaginaku sebelum ia sempet cabut.


    Aduh gawat,,, aku kuatir hamilku nanti anakku mirip mertuaku, aku tak tau anak siapa nanti dlm kandunganku, anak suamiku atau anak mertuaku,,, au ah egp. Tanpa suara rintihan atau suara mengerang kami menikmati persenggamaan ini di ruang deket suamiku tidur. Mertuaku ternyata lebih hebat dr suamiku walau usianya lebih tua. Dan terus terang, aku lebih menikmati sex dg mertuaku, setiap ada kesempatan, kami lalukan perbuatan bejat namun nikmat itu entah sampai kapan, aku tak bisa menghentikannya.
    Saliyem

  • Cerita Ngentot Kesemokan Tubuh Pramugari – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Ngentot Kesemokan Tubuh Pramugari – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1422 views

    Perawanku – Aku adalah mahasiswi disebuah universitas swasta di kota “S”, nama initialku Rus, dan aku pernah mengirimkan cerita “Rahasiaku” kepada situs ini. Awal mula aku mengalami Making Love dengan seorang wanita yang mengubah orientasi seksualku menjadi seorang biseksual, aku mengalami percintaan sesama jenis ketika usiaku 20 tahun dengan seorang wanita berusia 45 tahun, entah mengapa semuanya terjadi begitu saja terjadi mungkin ada dorongan libidoku yang ikut menunjang semua itu dan semua ini telah kuceritakan dalam “Rahasiaku.”

    Wanita itu adalah Ibu Kos-ku, ia bernama Tante Maria, suaminya seorang pedagang yang sering keluar kota. Dan akibat dari pengalaman bercinta dengannya aku mendapat pelayanan istimewa dari Ibu Kos-ku, tetapi aku tak ingin menjadi lesbian sejati, sehingga aku sering menolak bila diajak bercinta dengannya, walaupun Tante Maria sering merayuku tetapi aku dapat menolaknya dengan cara yang halus, dengan alasan ada laporan yang harus kukumpulkan besok, atau ada test esok hari sehingga aku harus konsentrasi belajar, semula aku ada niat untuk pindah kos tetapi Tante Maria memohon agar aku tidak pindah kos dengan syarat aku tidak diganggu lagi olehnya, dan ia pun setuju. Sehingga walaupun aku pernah bercinta dengannya seperti seorang suami istri tetapi aku tak ingin jatuh cinta kepadanya, kadang aku kasihan kepadanya bila ia sangat memerlukanku tetapi aku harus seolah tidak memperdulikannya. Kadang aku heran juga dengan sikapnya ketika suaminya pulang kerumah mereka seakan tidak akur, sehingga mereka berada pada kamar yang terpisah.

    Hingga suatu hari ketika aku pulang malam hari setelah menonton bioskop dengan teman priaku, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, karena aku mempunyai kunci sendiri maka aku membuka pintu depan, suasana amat sepi lampu depan sudah padam, kulihat lampu menyala dari balik pintu kamar kos pramugari itu,
    “Hmm.. ia sudah datang,” gumamku, aku langsung menuju kamarku yang letaknya bersebelahan dengan kamar pramugari itu. aku bersihkan wajahku dan berganti pakaian dengan baju piyamaku, lalu aku menuju ke pembaringan, tiba-tiba terdengar rintihan-rintihan yang aneh dari kamar sebelah. Aku jadi penasaran karena suara itu sempat membuatku takut, kucoba memberanikan diri untuk mengintip kamar sebelah karena kebetulan ada celah udara antara kamarku dengan kamar pramugari itu, walaupun ditutup triplek aku mencoba untuk melobanginya, kuambil meja agar aku dapat menjangkau lubang udara yang tertutup triplek itu.

    Lalu pelan pelan kutusukan gunting tajam agar triplek itu berlobang, betapa terkejutnya aku ketika kulihat pemandangan di kamar sebelahku. Aku melihat Tante Maria menindih seorang wanita yang kelihatan lebih tinggi, berkulit putih, dan berambut panjang, mereka berdua dalam keadaan bugil, lampu kamarnya tidak dipadamkan sehingga aku dapat melihat jelas Tante Maria sedang berciuman bibir dengan wanita itu yang mungkin pramugari itu. Ketika Tante Maria menciumi lehernya, aku dapat melihat wajah pramugari itu, dan ia sangat cantik wajahnya bersih dan mempunyai ciri khas seorang keturunan ningrat. Ternyata pramugari itu juga terkena rayuan Tante Maria, ia memang sangat mahir membuat wanita takluk kepadanya, dengan sangat hati-hati Tante Maria menjilati leher dan turun terus ke bawah. Bibir pramugari itu menganga dan mengeluarkan desahan-desahan birahi yang khas, wajahnya memerah dan matanya tertutup sayu menikmati kebuasan Tante Maria menikmati tubuhnya itu. Tangan Tante Maria mulai memilin puting payudara pramugari itu, sementara bibirnya menggigit kecil puting payudara sebelahnya. Jantungku berdetak sangat kencang sekali menikmati adegan itu, belum pernah aku melihat adegan lesbianisme secara langsung, walaupun aku pernah merasakannya. Dan ini membuat libidiku naik tinggi sekali, aku tak tahan berdiri lama, kakiku gemetaran, lalu aku turun dari meja tempat aku berpijak, walau aku masih ingin menyaksikan adegan mereka berdua.

    Dadaku masih bergemuru. Entah mengapa aku juga ingin mengalami seperti yang mereka lakukan. Kupegangi liang vaginaku, dan kuraba klitorisku, seiring erangan-erangan dari kamar sebelah aku bermasturbasi sendiri. Tangan kananku menjentik-jentikan klitorisku dan tangan kiriku memilin-milin payudaraku sendiri, kubayangkan Tante Maria mencumbuiku dan aku membayangkan juga wajah cantik pramugari itu menciumiku, dan tak terasa cairan membasahi tanganku, walaupun aku belum orgasme tapi tiba-tiba semua gelap dan ketika kubuka mataku, matahari pagi sudah bersinar sangat terang.

    Aku mandi membersihkan diriku, karena tadi malam aku tidak sempat membersihkan diriku. Aku keluar kamar dan kulihat mereka berdua sedang bercanda di sofa. Ketika aku datang mereka berdua diam seolah kaget dengan kehadiranku. Tante Maria memperkenalkan pramugari itu kepadaku,
    “Rus, kenalkan ini pramugari kamar sebelahmu.”
    Kusorongkan tangan kepadanya untuk berjabat tangan dan ia membalasnya,
    “Hai, cantik namaku Vera, namamu aku sudah tahu dari Ibu Kos, semoga kita dapat menjadi teman yang baik.”
    Kulihat sinar matanya sangat agresif kepadaku, wajahnya memang sangat cantik, membuatku terpesona sekaligus iri kepadanya, ia memang sempurna. Aku menjawab dengan antusias juga,

    C

    “Hai, Kak, kamu juga cantik sekali, baru pulang tadi malam.”
    Dan ia mengangguk kepala saja, aku tak tahu apa lagi yang diceritakan Tante Maria kepadanya tentang diriku, tapi aku tak peduli kami beranjak ke meja makan. Di meja makan sudah tersedia semua masakan yang dihidangkan oleh Tante Maria, kami bertiga makan bersama. Kurasakan ia sering melirikku walaupun aku juga sesekali meliriknya, entah mengapa dadaku bergetar ketika tatapanku beradu dengan tatapannya.

    Tiba-tiba Tante Maria memecahkan kesunyian,
    “Hari ini Tante harus menjenguk saudara Tante yang sakit, dan bila ada telpon untuk Tante atau dari suami Tante, tolong katakan Tante ke rumah Tante Diana.”
    Kami berdua mengangguk tanda mengerti, dan selang beberapa menit kemudian Tante Maria pergi menuju rumah saudaranya. Dan tinggallah aku dan Vera sang pramugari itu, untuk memulai pembicaraan aku mengajukan pertanyaan kepadanya,
    “Kak Vera, rupanya sudah kos lama disini.”
    Dan Vera pun menjawab, “Yah, belum terlalu lama, baru setahun, tapi aku sering bepergian, asalku sendiri dari kota “Y”, aku kos disini hanya untuk beristirahat bila perusahaan mengharuskan aku untuk menunggu shift disini.”
    Aku mengamati gaya bicaranya yang lemah lembut menunjukan ciri khas daerahnya, tubuhnya tinggi semampai. Dari percakapan kami, kutahu ia baru berumur 26 tahun. Tiba-tiba ia menanyakan hubunganku dengan Tante Maria. Aku sempat kaget tetapi kucoba menenangkan diriku bahwa Tante Maria sangat baik kepadaku. Tetapi rasa kagetku tidak berhenti disitu saja, karena Vera mengakui hubungannya dengan Tante Maria sudah merupakan hubungan percintaan.

    Aku pura-pura kaget,
    “Bagaimana mungkin kakak bercinta dengannya, apakah kakak seorang lesbian,” kataku.
    Vera menjawab, “Entahlah, aku tak pernah berhasil dengan beberapa pria, aku sering dikhianati pria, untung aku berusaha kuat, dan ketika kos disini aku dapat merasakan kenyamanan dengan Tante Maria, walaupun Tante Maria bukan yang pertama bagiku, karena aku pertama kali bercinta dengan wanita yaitu dengan seniorku.”
    Kini aku baru mengerti rahasianya, tetapi mengapa ia mau membocorkan rahasianya kepadaku aku masih belum mengerti, sehingga aku mencoba bertanya kepadanya,
    “Mengapa kakak membocorkan rahasia kakak kepadaku.”
    Dan Vera menjawab, “Karena aku mempercayaimu, aku ingin kau lebih dari seorang sahabat.”
    Aku sedikit kaget walaupun aku tahu isyarat itu, aku tahu ia ingin tidur denganku, tetapi dengan Vera sangat berbeda karena aku juga ingin tidur dengannya. Aku tertunduk dan berpikir untuk menjawabnya, tetapi tiba-tiba tangan kanannya sudah menyentuh daguku.

    Ia tersenyum sangat manis sekali, aku membalas senyumannya. Lalu bibirnya mendekat ke bibirku dan aku menunggu saat bibirnya menyentuhku, begitu bibirnya menyentuh bibirku aku rasakan hangat dan basah, aku membalasnya. Lidahnya menyapu bibirku yang sedkit kering, sementara bibirku juga merasakan hangatnya bibirnya. Lidahnya memasuki rongga mulutku dan kami seperti saling memakan satu sama lain. Sementara aku fokus kepada pagutan bibirku, kurasakan tangannya membuka paksa baju kaosku, bahkan ia merobek baju kaosku. Walau terkejut tapi kubiarkan ia melakukan semuanya, dan aku membalasnya kubuka baju dasternya. Ciuman bibir kami tertahan sebentar karena dasternya yang kubuka harus dibuka melewati wajahnya.

    Kulihat Bra hitamnya menopang payudaranya yang lumayan besar, hampir seukuran denganku tetapi payudaranya lebih besar. Ketika ia mendongakkan kepalanya tanpa menunggu, aku cium leher jenjangnya yang sexy, sementara tanggannya melepas bra-ku seraya meremas-remas payudaraku. Aku sangat bernafsu saat itu aku ingin juga merasakan kedua puting payudaranya. Kulucuti Bra hitamnya dan tersembul putingnya merah muda tampak menegang, dengan cepat kukulum putingnya yang segar itu. Kudengar ia melenguh kencang seperti seekor sapi, tapi lenguhan itu sangat indah kudengar. Kunikmati lekuk-lekuk tubuhnya, baru kurasakan saat ini seperti seorang pria, dan aku mulai tak dapat menahan diriku lalu kurebahkan Vera di sofa itu. Kujilati semua bagian tubuhnya, kulepas celana dalamnya dan lidahku mulai memainkan perannya seperti yang diajarkan Tante Maria kepadaku. Entah karena nafsuku yang menggebu sehingga aku tidak jijik untuk menjilati semua bagian analnya. Sementara tubuh Vera menegang dan Vera menjambak rambutku, ia seperti menahan kekuatan dasyat yang melingkupinya.

    Ketika sedang asyik kurasakan tubuh Vera, tiba-tiba pintu depan berderit terbuka. Spontan kami berdua mengalihkan pandangan ke kamar tamu, dan Tante Maria sudah berdiri di depan pintu. Aku agak kaget tetapi matanya terbelalak melihat kami berdua berbugil. Dijatuhkannya barang bawaannya dan tanpa basa-basi ia membuka semua baju yang dikenakannya, lalu menghampiri Vera yang terbaring disofa. Diciuminya bibirnya, lalu dijilatinya leher Vera secara membabi buta, dan tanggannya yang satu mencoba meraihku. Aku tahu maksud Tante Maria, kudekatkan wajahku kepadanya, tiba-tiba wajahnya beralih ke wajahku dan bibirnya menciumi bibirku. aku membalasnya, dan Vera mencoba berdiri kurasakan payudaraku dikulum oleh lidah Vera. Aku benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa kami bercinta bertiga. Untung waktu itu hujan mulai datang sehingga lingkungan mulai berubah menjadi dingin, dan keadaan mulai temaram. Vera kini melampiaskan nafsunya menjarah dan menikmati tubuhku, sementara aku berciuman dengan Tante Maria. Vera menghisap klitorisku, aku tak tahu perasaan apa pada saat itu. Setelah mulut Tante Maria meluncur ke leherku aku berteriak keras seakan tak peduli ada yang mendengar suaraku. Aku sangat tergetar secara jiwa dan raga oleh kenikmatan sensasi saat itu.

    Kini giliranku yang dibaringkan di sofa, dan Vera masih meng-oral klitorisku, sementara Tante Maria memutar-mutarkan lidahnya di payudaraku. Akupun menjilati payudara Tante Maria yang sedikit kusut di makan usia, kurasakan lidah-lidah mereka mulai menuruni tubuhku. Lidah Vera menjelejah pahaku dan lidah Tante Maria mulai menjelajah bagian sensitifku. Pahaku dibuka lebar oleh Vera, sementara Tante Maria mengulangi apa yang telah dilakukan Vera tadi, dan kini Vera berdiri dan kulihat ia menikmati tubuh Tante Maria. Dijilatinya punggung Tante Maria yang menindihku dengan posisi 69, dan Vera menelusuri tubuh Tante Maria. Tetapi kemudian ia menatapku dan dalam keadaan setengah terbuai oleh kenikmatan lidah Tante Maria. Vera menciumi bibirku dan aku membalasnya juga, hingga tak terasa kami berjatuhan dilantai yang dingin. Aku sangat lelah sekali dikeroyok oleh mereka berdua, sehingga aku mulai pasif. Tetapi mereka masih sangat agresif sekali, seperti tidak kehabisan akal Vera mengangkatku dan mendudukan tubuhku di kedua pahanya, aku hanya pasrah. Sementara dari belakang Tante Maria menciumi leherku yang berkeringat, dan Vera dalam posisi berhadapan denganku, ia menikmatiku, menjilati leherku, dan mengulum payudaraku. Sementara tangan mereka berdua menggerayangi seluruh tubuhku, sedangkan tanganku kulingkarkan kebelakang untuk menjangkau rambut Tante Maria yang menciumi tengkuk dan seluruh punggungku.

    c

    Entah berapa banyak rintihan dan erangan yang keluar dari mulutku, tetapi seakan mereka makin buas melahap diriku. Akhirnya aku menyerah kalah aku tak kuat lagi menahan segalanya aku jatuh tertidur, tetapi sebelum aku jatuh tertidur kudengar lirih mereka masih saling menghamburkan gairahnya. Saat aku terbangun adalah ketika kudengar dentang bel jam berbunyi dua kali, ternyata sudah jam dua malam hari. Masih kurasakan dinginnya lantai dan hangatnya kedua tubuh wanita yang tertidur disampingku. Aku mencoba untuk duduk, kulihat sekelilingku sangat gelap karena tidak ada yang menyalakan lampu, dan kucoba berdiri untuk menyalakan semua lampu. Kulihat baju berserakan dimana-mana, dan tubuh telanjang dua wanita masih terbuai lemas dan tak berdaya. Kuambilkan selimut untuk mereka berdua dan aku sendiri melanjutkan tidurku di lantai bersama mereka. Kulihat wajah cantik Vera, dan wajah anggun Tante Maria, dan aku peluk mereka berdua hingga sinar matahari datang menyelinap di kamar itu.

    Pagi datang dan aku harus kembali pergi kuliah, tetapi ketika mandi seseorang mengetuk pintu kamar mandi dan ketika kubuka ternyata Vera dan Tante Maria. Mereka masuk dan di dalam kamar mandi kami melakukan lagi pesta seks ala lesbi. Kini Vera yang dijadikan pusat eksplotasi, seperti biasanya Tante Maria menggarap dari belakang dan aku menggarap Vera dari depan. Semua dilakukan dalam posisi berdiri. Tubuh Vera yang tinggi semampai membuat aku tak lama-lama untuk berciuman dengannya aku lebih memfokuskan untuk melahap buah dadanya yang besar itu. Sementara tangan Tante Maria membelai-belai daerah sensitif Vera. Dan tanganku menikmati lekuk tubuh Vera yang memang sangat aduhai. Percintaan kami dikamar mandi dilanjutkan di ranjang suami Tante Maria yang memang berukuran besar, sehingga kami bertiga bebas untuk berguling, dan melakukan semua kepuasan yang ingin kami rengkuh. Hingga pada hari itu aku benar-benar membolos masuk kuliah.

    Hari-hari berlalu dan kami bertiga melakukan secara berganti-ganti. Ketika Vera belum bertugas aku lebih banyak bercinta dengan Vera, tetapi setelah seminggu Vera kembali bertugas ada ketakutan kehilangan akan dia. Mungkin aku sudah jatuh cinta dengan Vera, dan ia pun merasa begitu. Malam sebelum Vera bertugas aku dan Vera menyewa kamar hotel berbintang dan kami melampiaskan perasaan kami dan benar-benar tanpa nafsu. Aku dan Vera telah menjadi kekasih sesama jenis. Malam itu seperti malam pertama bagiku dan bagi Vera, tanpa ada gangguan dari Tante Maria. Kami bercinta seperti perkelahian macan yang lapar akan kasih sayang, dan setelah malam itu Vera bertugas di perusahaan maskapai penerbangannya ke bangkok.

    Entah mengapa kepergiannya ke bandara sempat membuatku menitikan air mata, dan mungkin aku telah menjadi lesbian. Karena Vera membuat hatiku dipenuhi kerinduan akan dirinya, dan aku masih menunggu Vera di kos Tante Maria. Walaupun aku selalu menolak untuk bercinta dengan Tante Maria, tetapi saat pembayaran kos, Tante Maria tak ingin dibayar dengan uang tetapi dengan kehangatan tubuhku di ranjang. Sehingga setiap satu bulan sekali aku melayaninya dengan senang hati walaupun kini aku mulai melirik wanita lainnya, dan untuk pengalamanku selanjutnya kuceritakan dalam kesempatan yang lain.

  • Cerita Sex Harapanku Agar Bisa Berselingkuh Dengannya

    Cerita Sex Harapanku Agar Bisa Berselingkuh Dengannya


    1098 views

    Perawanku – Cerita Sex Harapanku Agar Bisa Berselingkuh Dengannya, Langsung saja dengan kisahku, saat itu istriku yang kucintai Della sedang hamil anak pertamaku, kira kira satu tahun lalu, perut Della sudah membesar karena menjelang delapan bulan, dan mau tak mau lagi kegiatan Della sebagai ibu rumah tangga harus istirahat.

    Sejak itu semua tanggung jawab menjaga istri dan pekerjaan rumah saya tangani, dari mencuci sampai memasak, saya lihat Della tidak tega melihat saya bekerja untuk membersihkan dan semua kebutuhan rumah, tapi apa boleh buat kata dokter Della harus istirihat total dari rutinitasnya. cerita ngentot.

    Akhirnya karena terlalu banyak menghabiskan waktu dirumah untuk menjaga Della dan jabang bayinya .pekerjaanku di kantor pun terganggu banyak file-file keuangan yang belum sempat kuselesaikan dan akupun jadi sering mbolos ngantor.bosku tentu saja marah.ia bahkan mengancam akan menskorsingku.wah celaka…….!

    Maka mau tak mau aku harus sering ke kantor untuk menyelesaikan semua pekerjaanku sementara Della akan menghubungi adik bungsunya Lany yang baru lulusan SMA.untuk menemaninya.aku memang nggak pernah bertemu Lany sebelumnya. lantaran ia sekolah di kota madiun dan tinggal bersama neneknya dikota tersebut.dan akhirnya kuijinkan aja Lany menemani Della. cerita ngentot.

    Semula nenek Lany keberatan kalau Lany harus tinggal bersama kami namun karena desakan Della yang cucu kesayangan ini.nenek pun berkenan membiarkan Lany tinggal bersama kami di Bandung.bahkan Lany berniat untuk melanjutkan pendidikanya di kota ini sambil bekerja dan mencari pengalaman hidup.katanya saat itu kamipun berniat membiayai pendidikan Lany.karena bagaimanapun pendidikan adalah yang utama.

    Sekarang mari kita bicarakan tentang body Lany. body Lany sangat menawan.payudaranya lumayan montok juga sanggup memancing hawa nafsu kaum adam sepertiku.bibirnya sangat ingin sekali aku mengulumnya.rambutnya panjang terurai lurus.wajahnya keindo-chinese-san.pantatnya juga semok.pokoknya sexy abiss bo..

    Aku berharap kelak bisa mengentotnya.sekalipun itu tidak mung kin terjadi karena Lany adalah adik bungsu Della yang notabene istriku sendiri.dengan kata lain ia adalah adik iparku sendiri.ah betapa gobloknya aku dulu andai dulu yang kunikahi Lany bukan Della.batinku kala itu.

    Suatu hari sifat keisengankupun kumat lagi.saat Lany mandi aku mengintipnya.saat itu Della sedang tak ada dirumah lantaran harus ke dokter kandungan.dengan sedikit tehnik yang kupelajari di kala “SLTP” dulu.aku berhasil menggintip Lany. ternyata tubuh Lany memang sangat sensual kedua payudaranya bukan Cuma besar ,tapi sangat indah dan kenyal. cerita ngentot.

    ingin saat itu aku meremasnya dan mengulum kedua putingng nya yang hitam kecoklatan itu.namun aku nggak ingin terburu-buru.melihat tubuh adik ipar kan nggak bisa setiap hari jadi harus kunikmati waktu emas ini sebaik-baiknya.

    Matakupun mulai menyisir tubuh Lany secara perlahan-lahan leher jejangnya,dadanya,serta memek perawannya yang diselimuti bulu-bulu halus, saat ia menyabuni tubuhnya ,juga saat ia keramas semua terlihat dengan sangat detail.benar-benar pemandangan yang eksotis.tak akan tertukar dengan pemandangan gunung willis sekalipun pokoke oke.dan tanpa sadar “adik kecil”kupun terbangun. cerita ngentot.

    Namun aku harus menelan ludah. jam dinding sudah menunjuk angka 08.00 aku harus bersiap-siap ke kantor.dan dikantorpun aku tak berkonsentrasi bayang-bayang tubuh Lany mengisi terus seluruh otakku.ingin rasanya aku pulang dan mengentot sorang wanita ABG.

    Dan begitu aku pulang. Aku jadi pusing tujuh keliling batang kemaluanku sudah “READY FOR ACTION” namun aku tak bisa meminta “jatah” ke Della lantaran ia hamil tua maka akupun memutuskan untuk menggumbar hawa nafsuku dengan melihat VCDo alias BF aku harus melihat vcd ginian waktu tengah malam. lantaran pada tengah malam begini biasanya Della dan Lany pasti sudah tidur terlelap.Della paling nggak suka kalau aku liat vcd beginian.dan kalau ketahuan Lany yang masih ABG itu bisa hilang wajahku. cerita ngentot.

    Saat aku tengah asyik-asyiknya melihat tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku “Pit…..Lany ka……mu be…belum tidur”ujarku gelagapan saat mengetahui bahwa yang menepuk pundakku adalah Lany. sembari menyetop jalannya BF dengan remote televisi yang terletak dismping sofa tempatku duduk. ‘’belum,mas malam ini panas banget,ya jadi gerah nih” “oh…”jawabku datar.

    “mas,mas suka ngeliat yang beginian ya?” “ah,nggak juga Cuma iseng doang kok,eh Lany jangan bilangin hal ini ke mbak Della ya soalnya dia nggak suka kalo mas liat ginian” “boleh aja mas pake rahasia-rahasiaan tapi……” “tapi apa?” “mas harus kasih liat tuh vcd ke Lany” gila kali nih anak, baru lulus SMA sudah berani liat beginian .tapi ya sudah lah toh aku sudah ketangkep basah jadi mau nggak mau kustel lagi deh BF tersebut.dan kami pun melihat BF itu berduaan di sofa kayak Romi dan yuli. cerita ngentot.

    Akhirnya tibalah adegan dimana pemain pria dikulum batang kemaluaannya oleh si pemain wanita.(oral). “mas kenapa sih kok tuh cowok seneng banget waktu “anunya” dikulum sama sicewek itu”Tanya Lany kujawab saja dengan jujur”ehh….tuh cowok kerangsang kali. aku bilangin ya pit cowok itu kalo dikulum anunya bakal kerangsang.” “emang kalo “anunya” mas digituin mas ya kerangsang?’’ “jelas dong”kataku saat itu.

    gila nih anak pertanyaannya kok menjurus amat ke hal-hal khusus dewasa.“mas,mas mau nggak kalo digituin sama Lany.” “gendheng kamu pit,aku ini kan kakak iparmu bagaimana kalau mbak Della tau” “lho,mbak Della kan sudah tidur mas,nggak bakalan tahu deh” belum sempat aku berkata apa-apa Lany sudah membuka celana ku dan langsung mungulum kemaluanku.aku gelagapan. cerita ngentot.

    suara mulut Lany yang tertahan burungku itu akhirnya membuat aku kerangsang juga.akhirnyapelan-pelan aku mulai mengikuti permainnan lidah Lany kugoyangkan pantatku searah dan perlahan.kubelai-belai rambut Lany yang terurai panjang.

    Sementara itu Lany mengulum kemaluanku bagai seorang bayi mengulum lollipop mulutnya mengulum mengitari kemaluanku kadang ia menngigit lembut kepala kemaluanku dan saat itulah aku memmekik ringan.hingga akhirnya: air surgawiku tertumpah semua ke mulut Lany .Lany berusaha menelan semuanya dan setelah itu dengan jilatan-jilatan kecilnya ia menbersihkan kemaluanku hinngga bersih dan klinclong.

    “hah….hah mas aku kan sudah ngulumin punyanya mas,sekarang giliran emas dong yang ngulumin punya Lany” “oke deh pit buka dong dasternya biar mas kulumin memek kamu “ dengan cepatnya Lany membuka baju dasternya bahkan juga bra dan cdnya .dan setelah itu kulihat lagi tubuh Lany polos tanpa sehelai benangpun sama persis dengan yang kulihat dikamar mandi tempo hari(saat aku mengintipnya remember).maka dengan segera tanganku mengengam kedua buah gumpalan dagingnya dan mulai meremasnya dengan kasar sembari kadang-kadang memainkan putingnya yang sudah mengeras akibat rangsangan ransangan yang didapatnya ketika menggulumku tadi.

    “akh……oooooooh……mas jangan mas kulumin memekku dulu dong pleeeeaaze” ‘ini dulu baru itu Pit”kataku menirukan bunyi iklan di tv sembari menciumi kedua daging kembar itu bergantian. cerita ngentot.

    Setelah puas menciumi kedua susu Lany barulah aku mulai menciumi memeknya pertama kujilati bulu-bulu halusnya rintihan Lany terdengar. tampaknya titik lemah Lany ada di memeknya.itu dapat dibuktikan .begitu ia mengerakan pantatnya dengan antusias membiarkan lidahku menari bergerak bebas didalam memeknya yang sempit dan begitu kutemukan chrytorysnya(yg sebesar kacang kedelai) lansung saja kukulum tanpa ammpun

    “akh………oooooooooo…………….akkkhh…………………akh………oooooooooo…………….akkkhh…………………akh………oooooooooo…………….akkkhh…………………maaaaas maaaasukin aja burung mas ke dalam memek aku akh…………….” “tapi ,Lany kamu kan masih perawan” “askh….nggak peduli pokoke puasin aku mas”kata Lany sembari menancapkan burungku ke vaginanya.

    “aaaaaaaaaaaaaaaaaa…………..oooooooooo………….” masuklah semua burungku seiring dengan erangan Lany (menahan sakitnya hujaman anuku).setelah itu mulailah kugenjot tubuh Lany semakin lama semakin cepat.Lany terus memekik keras namun aku sudah gelap mata.maka semakin keras erangan Lany semakin keras pula goyanganku. cerita ngentot.

    Aku terus mengoyang Lany hingga akhirnya Lany mencapai klimaks. Cairan orgasmenya keluar bersama darah keperawanannya.tubuh kami berdua bagai bermandi keringat.kubiarkan Lany istirahat sekitar 15 menit.saat itu kulihat Lany menyeka air matanya mungkin ia menangis karena menahan sakitnya hujaman “burungku”.kejadian ini mengingatkanku saat kuperawani Della .kala itu Della juga mengeluarkan air mata..dasar adik kakak sama saja.

    Lalu kubiarkan sekali lagi Lany mengulum anuku hingga keluar cairan surgawi untuk kedua kalinya kali ini fekwendsinya lebih banyak karena kulihat Lany tak mampu menelannya..air surgawiku tampak belepotan diwajahnya.kubantu Lany untuk membersihkan spermaku di wajahnya dengan kertas tissue.setelah itu kami akhiri perbuatan nista kami ini dengan cumbuan mesra. cerita ngentot.

    “Lany,kita baru saja melakukan sebuah perbuatan yang dilarang oleh agama,sadarkah kamu,Lany” “ah,nggak papa mas.apa urusannya agama sama kita.toh kita Cuma melakukan hubungan tidak lebih”masyaallah …! Dia Cuma berkata seperti itu setelah berselingkuh dengan aku,kakak iparnya sendiri ck…ck…..ck… cerita ngentot.

    “tapi aku kan sudah memerawanimu itu sama artinya dengan merusak masa depanmu dan aku juga telah menghianati cinta mbakyumu Della” “ah mas ini gimana toh asal kita nggak buka mulut siapa sih yang tahu kalau aku sudah nggak segelan lagi” “tapi…’’ “dan lagipula mas kan nggak maksa aku nglakuin ginian,orang aku yang mau kok mas asal mas tau aja ya aku tuh sudah lama menunggu saat dimana “segelku” dibuka sama mas,makanya tadi waktu mas ngintip aku biarin aja.”

    “jadi kamu tau kalo tadi pagi aku……” “ya,jelas tau dong mas ,mas dimataku mas itu seorang yang gagah dan baik jadi aku nggak akan nyesel ngasih keperawananku ke mas” “tapi gimana kalau sampai mbak Della tahu he…” “kita rahasiain hal ini dari semua orang mas gimana mas setuju nggak?” “baiklah aku rasa inijalan yang baik untuk kita berdua Lany aku mohon anggap saja malam ini tak pernah terjadi” dan mulai saat itu kami merahasiakan hal ini pada siapapun. cerita ngentot.

    Lany tinggal dikost-kostsan dengan alasan agar lebih dekat ke fakultas dimana ia menimba ilmu.(padahal ia tinggal di kost-kostsan untuk menghindari kecurigaan Della) ia hidup tanpa beban seolah-olah apa yang telah kulakukan tak pernah terjadi. cerita ngentot.

    Namun kini giliran aku yang repot karena aku tak bisa melupakan nikmatnya di oral oleh Lany.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Hubungan Gelap Dengan Selingkuhanku

    Cerita Sex Hubungan Gelap Dengan Selingkuhanku


    942 views

    Perawanku – Cerita Sex Hubungan Gelap Dengan Selingkuhanku, Aku seorang wanita berusia 32 tahun menjalin hubungan dengan seorang pria muda beumur 23 tahun. hubungan yang kami lakukan sudah berjalan kurang lebih tiga bulan atau kurang karena aku tidak pernah menghitung kapan tepatnya aku menjalin hubungan serius ini. Aku bilang hubungan serius karena kami sering melakukan adegan layaknya dalam cerita seks.

    Namaku Putri dan pria muda yang aku cinta itu biasa aku panggil Yan, sebenarnya aku seorang wanita yang sudah menikah dan Yan adalah laki-laki selingkuhanku. Tapi aku begitu mencintainya tapi saat ini yang aku sesali adalah egonya padaku, masih aku ingat akan janji manisnya yang selalu tergiang di telingaku kalau dia bersedia mengajakku lari jika hubungan kami sampai ketahuan.

    Aku tergiur dengan semua janji manisnya bahkan aku rela menyerahkan semua yang aku punya untuknya, begitu juga dengan hatiku. Sejak kejadian pertama kali kami melakukan adegan seperti dalam cerita seks dia bersikap seolah punya hak atas diriku, apabila dia memintaku untuk meleyaninya akupun memenuhi keinginannya untuk melakukan hal itu.

    Tidak terkecuali jika kami bertemu di tempat biasa kami melakukan hubungan intim layaknya dalam cerita seks. Diapun bersikap dewasa di depanku tapi jika aku melakukan kesalahan sekecil apapun dia terlalu membesar-besarkannya, tanpa mengerti perasaanku yang hampir setiap waktu selalu memikirkannya dan aku juga ingin selalu bersamanya kapanpun dan dimanapun.

    Tapi Yan tidak menghargai aku meskipun sering kali kami melkaukan adegan cerita seks itu. Aku bingung dengan sikapnya bahkan aku takut jika dia sampai meninggalkan aku tapi aku harus mencoba belajar kalau suatu saat hal itu akan terjadi juga, dan aku harus bersiap-siap dnegan hatiku tapi kali ini tanpa alasan yang jelas kali ini dia tidak menghubungiku.

    Mungkin kali ini dia benar-benar benci padaku, tanpa dia tahu kalau saat ini aku selalu mengisinya dan terasa sesak dalam hatiku setiap mengenang apa yang telah kami laukan berdua. Sepertinya baru kemaren kami melakukan adegan seperti dalam cerita seks, meskipun aku merasa kurang puas dengannya tapi aku bersikap seolah aku puas dengan permainan sex yang dia berikan padaku.

    Hari itu seperti biasa aku menemuinya di tempat yang telah kita janjikan. Di sana kami langsung berciuman begitu kami sudah mendekat satu sama lain, dengan mesra juga aku kulum bibir manisnya diapun membalas kulumanku dengan hangat. Semakin bergairah hatiku ketika tangannya meremas tetekku bahkan aku menggelinjang di buatnya akupun merasakan nikmat tiada terkira.

    Dengan penuh kelembutan aku terus memainkan lidahku di dalam rongga mulutnya, diapun melakukan hal yang sama padaku ” Ooouuuggghhh…. oooouuuuggghh….. eeeeuuummmppphhh….. eeeeuuuummmppphh…. aaaaaggghh….. ” Desahku menikmati kuluman bibir manisnya aku begitu bergairah mendapatkan ciuman mesra darinya kini dia berani melakukan hal yang lebih memuaskan padaku.

    Dia benamkan wajahnya untuk menghisap putingku kembali aku mendesah sambil membelai rambutnya ” OOouuuggggghhhhh…. ooouuugggghhh…. oooouuugghh….. aaaaagggghhhh…. aaaaaggghhh…… ” Dengan lebih keras Yan terus memainkan putingku bahkan dia meremas kedua tetekku dengan gemasnya dan aku hanya bisa menikmati permainan tangannya.

    Bagai pemain dalam adegan cerita seks, diapun memintaku untuk menindih tubuhnya. Dengan mencoba mnyibak rokku akupun menuntun kontolnya untuk dapat menyelinap masuk dalam lubang memekku, tapi aku merasa kontolnya masih belum berdiri tegak juga namun Yan mencoba terus memasukan dalam memekku sedangkan aku merasa sudah agak kecewa pada kontolnya.

    Tapi aku bersikap biasa saja di depannya, kasihan juga jika aku harus mengatakan hal itu. Lama kelamaan akhirnya kontol Yan menegang juga saat itulah aku bergerak di atas tubuhnya, kembali aku mendesah karena nikmatnya ” OOOuuuuuuuuuggghhh…. oooouuuggghh….. ooouuggghhh….. aaaaaggghhh…. terus….. aaaaaggghhh… ” Serasa hangat dan nikmat dalam memekku.

    Kini Yan memintaku untuk membalikan tubuhku, dengan posisi dia berada di atas tubuhku akupun terlentang di bawah tubuhnya ” OOouuugghhh….. ooouuugggghh…. aaaagggghhh…. aaaaggggghh…. ” Semakin cepat juga Yan menggoyangkan pantatnya dan aku terus mencoba mengimbanginya dengan cara melebarkan pahaku dari bawah tubuhnya yang terus bergerak cepat.

    Aku merasa ada sesuatu yang nikmat menjalar dari dalam tubuhku, semakin cepat Yan bergerak semakin nikmat rasa yang ada dalam tubuhku. Hingga akhirnya tidak berapa lama kemudian dia menumpahkan lendir kentalnya dalam memekku dan akupun menyuruhnya untuk segera bangun daripada sampai ketahuan orang lain, tapi aku puas dengan adegan layaknya dalam cerita seks yang baru kami lakukan.

    Aku melihat Yan masih terbaring lemas di atas tempat tidur sedangkan aku langsung membersihkan diri pergi ke kamar mandi. Tidak ada rasa sesal sama sekali dalam hatiku tapi jika mengingat apa yang telah dia lakukan pada hatiku ingin rasanya aku hilang di hadapanya tapi aku tidak tahu harus melakukan apa, karena masih ada yang harus aku lakukan yakni merawat anakku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Ngentot Dengan Lisa Yang Masih ABG

    Cerita Sex Ngentot Dengan Lisa Yang Masih ABG


    838 views

    Perawanku – Cerita Sex Ngentot Dengan Lisa Yang Masih ABG, Saya ingin menceritakan pengalaman saya dengan seorang teman saya yang belum lama ini terjadi. Namanya Lisa ***** (edited) yang juga adalah seorang warga keturunan. Saya mengenalnya ketika saya membaca suratnya di salah satu majalah bulan Desember yang mengatakan bahwa dia hendak berteman. Jadi akhirnya iseng-iseng saya mengirim surat kepadanya. Seminggu kemudian dia membalas surat saya.

    Saya menjemputnya di bandar udara Juanda, tanggalnya saya masih ingat yaitu tanggal 22 Juni. Setelah pesawatnya tiba saya mencari-cari dia. Tidak terlalu sulit menemukan dia karena saya sudah mempunyai fotonya. Dan rupanya orangnya benar-benar cantik, kulitnya putih pokoknya tidak rugi aku kenal sama dia deh.

    “Halo apakah kamu yang bernama Lisa?”

    “Wah kamu rupanya, kamu pasti Robert kan?”

    “Iya benar.” “Wah rupanya kamu keren yach, hahaha..”

    “Thanks atas pujiannya. Mau ngobrol di sini terus emangnya sampai malam.”

    “Yah jelas nggak donk, so jadi aku nginap di Hotel **** (edited). Kamu udah booking-kan khan?”

    “Tentu dong, apa mau diantar sekarang?”

    “Boleh aku capek banget nich, ayo berangkat sekarang!”

    “Ayo..”

    Setelah 1 jam tiba di Hotel **** (edited) tersebut saya meninggalkan Lisa tentunya atas kehendaknya karena dia ingin beristirahat. Sore- sore sekitar pukul 18 :00 dia menelepon di HP saya dan menyuruh saya untuk mejemputnya makan malam.

    Sekitar pukul 19 :00 saya sampai di hotel, Lisa memakai baju tank top dan rok mini yang tentunya membuat semua mata cowok tertuju pada dia. Karena Lisa sudah menunggu di bawah maka tanpa basa basi saya dan dia langsung cabut.

    “Mau makan di mana nich?” “Terserah dech, pokoknya aku udah lapar banget dech.”

    “Bagaimana kalau di restaurant **** (edited).”

    “Beres dech, pokoknya makan.”

    Setelah makan kemudian kami berkeliling kota tanpa tujuan. Akhirnya dia memutuskan untuk main di tempat kontrakan saya. Karena saya tinggal sendirian di tempat kontrakan saya tentunya tidak ada yang bakalan marah kalau Lisa saya bawa ke kontrakan. Di kontrakan saya, kami berdua ngobrol-ngobrol sampai tidak terasa sudah jam 23 :00 WIB.

    “Hah udah jam segini, gimana dong?”

    “Wah iya yach.. kamu mau pulang sekarang? Aku antar yuk!”

    “Hm, nggak enak nich, masak malam- malam aku nyuruh kamu ngantar aku, biar aku pulang sendiri aja dech naik taksi.”

    “Jangan, masak kamu pulang sendiri? Gini ajalah mending kamu nginap di sini aja. Kebetulan di sini ada kamar kosong kok. Itu kalau kamu nggak keberatan.”

    “Ok dech, tapi jangan macam- macam yach!”

    Kami mengobrol sampai pukul 02 :00 pagi. Makin lama saya melihat si Lisa semakin seksi. Tubuhnya yang seksi membuat saya sangat bernafsu tapi saya tidak berani macam-macam terhadap dia. Dan kemudian akhirnya Lisa memutuskan untuk tidur.

    – Saya mempersilakan dia tidur di kamar saya karena di sana lebih lengkap ada kamar mandi dan ber-AC, sedangkan saya sendiri tidur di kamar yang lainnya. Sewaku Lisa masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi saya segera menyusup masuk ke kamar saya untuk mengambil beberapa barang rahasia saya, seperti boneka dan kondom yang ada di lemari saya.

    Malam- malam di kamar tamu karena sangat terangsang dengan keindahan tubuh Lisa saya melalukan onani dengan boneka yang saya punyai itu. Saya ingin mencari “ayam” di luar untuk melampiaskan nafsu saya tapi sungkan sama Lisa karena meninggalkan dia. Jadi akhirnya saya memutuskan melakukan onani yang ditemani boneka cantik itu.

    Boneka itu memang khusus untuk pria melakukan onani. Saya melepas semua pakaian yang saya kenakan lalu memasang kondom di kontol saya kemudian saya mulai menindih dan melakukan onani terhadap boneka itu karena saya san gat terangsang mengingat keindahan tubuh Lisa. Saya melakukan onani dengan boneka itu sambil membayangkan saya sedang melakukan hubungan seks dengan Lisa.

    Malam itu saya melakukan onani sebanyak 3 kali sampai persediaan kondom saya habis. Kalau tidak pakai kondom takutnya nanti spermanya tercecer di dalam boneka sehingga saya harus mencucinya. Lalu akhirnya saya tertidur lelap tanpa memakai apapun. Pagi-pagi ketika Lisa hendak membangunkan saya, dia langsung masuk ke kamar yang lupa saya kunci.

    Wajahnya bersemu merah melihat saya yang tidur dalam keadaan telanjang. Saya sendiri kaget melihat dia dengan cepat menutup daerah bagian kontol saya. Kemudian dia keluar dengan tergesa- gesa dengan wajah merah. Lalu saya mengenakan pakaian dan mandi dengan segera.
    Setelah itu kami berdua sarapan yang disiapkan oleh pembantu tidak tetap. Karena saya ingin berduaan dengan Lisa, saya menyuruh pembantu saya pulang dengan alasan saya mau keluar. Akhirnya pembantu itu pulang dan tinggal saya dan Lisa berdua.

    Kemudian Lisa bertanya,

    “Kok kamu tidur telanjang sih, terus pake boneka segala? Itu pasti boneka untuk cowok yach?”
    “Wah kok tau? Abis mau gimana lagi, lihat tubuh kamu yang seksi siapa yang tahan? Mau gimana lagi, satu- satunya jalan yah onani dech.”

    “Itu salahmu, siapa suruh kamu nggak mau minta aku waktu tadi malam?”

    “Hah? Jadi boleh nich saya main sama kamu?”

    “Kalau nggak boleh ngapain aku tadi ngomong gitu.”

    “Wah kalo gitu aku minta sekarang yach, aku dari kemarin bener-bener nggak tahan nich.”

    “Terserah kamu aja, soalnya aku juga nafsu sama kamu nich, tapi kamu masih ada kondom khan? Aku nggak mau ah kalau nggak pakai kondom, soalnya aku ini kayaknya dalam masa subur nich.”

    “Wah kayaknya udah habis tuh, aku pake tadi malam untuk onani. Kalau gitu aku beli dulu dech.”

    Setelah sarapan saya segera ke apotek membeli kondom isi 12 warna hitam lalu pulang.

    “Nich kondomnya udah ada nich, so bisa khan mulai sekarang.”

    “Wah udah nggak sabaran yach?”

    “Ya iyalah, gimana mau sabaran kalau udah dikasih lampu hijau kayak gitu. Aku bawa kamu ke kamar yach!”

    “Boleh.”

    Lalu saya menggendong Lisa ke kamar sambil berciuman. Setelah di kamar saya membaringkan Lisa di tempat tidur, lalu saya menutup pintu. Setelah menutup pintu saya menuju ke ranjang dan melihat Lisa yang sudah terlentang pasrah.

    Tanpa membuang kesempatan lagi saya dan Lisa segera saling berpelukan, saling meraba dan saling berciuman. Rupanya ciuman Lisa tersebut sudah sangat hebatnya. Dia sepertinya sudah berpengalaman dalam kiss.

    Setelah berciuman beberapa waktu saya mulai melepaskan baju dan rok Lisa dengan perlahan-lahan sambil tetap berciuman. Setelah bajunya terlepas terlihat dadanya yang sangat luar biasa. Saya sambil menelan ludah beberapa kali melihat dadanya yang besar yang masih tertutup tersebut. Dadanya itu sepertinya berukuran 36B.

    Dengan tidak sabar lagi saya segera membuka penutup dadanya dan terlihatlah dadanya yang sangat indah tersebut. Tanpa basa basi lagi dan tanpa meminta ijin saya langsung meraba, meremas dan mengisap dadanya. Hal itu membuat Lisa merintih- rinih kenikmatan.

    “Oh.. uhh.. ohh pelan- pelannhh oohh..”

    Kemudian saya mulai meraba-raba celana dalamnya yang nampaknya sudah basah. Melihat saya meraba-raba bagian memeknya yang masih tertutup celana dalam kemudian dia melepaskan sendiri celana dalamnya. Wow, tampaklah memeknya yang indah dan seperti perawan (belakangan baru saya mengetahui bahwa dia mempunyai obat yang dapat merapatkan memek). Bulu-bulunya yang tidak tebal tetapi juga tidak tipis.

    Bulu-bulu kelaminnya sangat rapi menambah keindahannya. Segera saya mencium dan menjilat memeknya yang membuat dia semakin merintih kenikmatan. Tangannya menjambak rambur saya sambil sesekali juga meremas bantal, seprei dan sebagainya.

    Sedangkan tangan saya tetap meraba-raba dadanya yang montok itu. Sambil tetap menjilat-jilat memeknya yang sudah semakin basah itu, saya mulai melepas pakaian saya satu persatu. Baju dan celana begitu terlepas langsu ng dilempar begitu saja oleh Lisa.

    Jeritan kenikmatannya makin menjadi-jadi ketika saya mencoba memasukkan jari saya ke dalam memeknya. Hal itu membuat dia tampaknya semakin tidak tahan. Saya melakukan secara begantian. Memasukkan jari lalu menjilat dan seterusnya, hingga akhirnya, “Auhh.. aahh.. oohh.. aauu keluar..” terasa ada cairan hangat yang keluar dari memeknya.

    Saat Lisa mencapai orgasme dia sampai mendekap kepala saya dengan kedua pahanya sehingga kepala saya terjepit di memeknya, sehingga saya sempat merasakan cairan Lisa yang benar-benar tiada duanya. Setelah itu Lisa terkulai lemas, sedangkan saya belum apa-apa. Namun saya membiarkan dia dulu untuk meresapi keindahan yang baru dicapainya sambil menunggu dia kembali lagi.

    Dan benar, 5 menit kemudian tampaknya dia mulai bergairah kembali. Lisa langsung melepas celana dalam yang saya kenakan, lalu dia menyuruh saya berbaring. Sambil berbaring dia menjilat- jilat seluruh tubuhku membuat saya merasa keenakkan dan membuat saya melenguh berulang-ulang kali.

    Lalu semakin lama ciuman dan jilatan Lisa makin ke bawah, dan akhirnya sampai ke daerah kontol. Kontol saya waktu itu sudah tegak sekali karena ciuman Lisa yang dari tadi. Lalu Lisa mulai memasukkan kontolnya ke dalam mulutnya dan,

    “Ohh.. iihh..” hisapannya benar-benar luar biasa, tidak pernah saya rasakan sebelumnya dengan wanita manapun. Dia sangat pandai dalam mempermainkan kontol saya. Kadang-kadang dikulum bagian kepalanya lalu bagian bawah kepala lalu buah zakarku dan kadang- kadang pula disertai remasan yang tidak terlalu pelan tetapi tidak terlalu keras. Hal itu benar-benar membuat saya merasa kenikmatan bercinta.

    Hisapan Lisa yang luar biasa itu membuat saya ingin segera memulai permainan yang sesungguhnya. Akhirnya saya bangkit berdiri dan membaringkan Lisa. Saya menyempatkan mencium bibir Lisa, meremas dadanya dan mencium memeknya.

    Dan rupanya memeknya sudah kembali basah. Setelah itu saya mengambil posisi yang tepat untuk memasukkan kontol saya ke memek Lisa. Tetapi Lisa memperingatkan saya untuk memakai kondom. Lalu saya mengambil kondom yang tadi sudah saya beli dan segera memasangkan pada kontol saya.

    Setelah siap, Lisa yang sedang berbaring mengambil bantal untuk ditaruh di bawah pantatnya dan saya segera duduk dan siap untuk menembakkan kontol saya ke arah memeknya. Pertama kali saya menyodokkan kontol saya, tidak masuk. Lalu untuk kedua kalinya saya menyodoknya masuk dan rupanya tepat sasaran masuk ke dalam memek Lisa.

    Saya memasukkannya perlahan-lahan mulai kepalanya, lalu masuk setengahnya dan akhirnya masuk seluruhnya, dan ketika saya mulai memasukkannya hal tersebut membuat Lisa menjerit kenikmatan. Saya dan Lisa sama- sama bergoyang penuh kenikmatan. Kadang- kadang saya meraba- raba dadanya atau bulu memeknya sambil tetap mengeluar-masukkan kontol saya ke dalam memek Lisa dan memastikannya kontol saya tidak keluar dari sarungnya.

    Setelah 10 menit kemudian Lisa meminta saya untuk mengganti posisi. Dia menyuruh saya berbaring lalu dia duduk di atas sambil bergoyang. Katanya posisi itu membuat dia cepat mencapai puncak klimaksnya. Dalam posisi itu kadang-kadang kami saling berpagutan, lalu aku meraba-raba dadanya yang sangat saya sukai bentuknya dan ukurannya.

    Tidak lama kemudian terasa di kontol saya yang berada di dalam memek Lisa ada cairan kenikmatan. Rupanya Lisa telah mencapai klimaksnya untuk yang kedua kalinya. Semenit kemudian saya merasa juga akan mencapai klimaksnya maka saya mulai menggerakkan badan saya dengan cepat dan “Croott..” sperma saya keluar dengan banyak dan segera saya cabut kontol saya yang bersarung itu dari memek Lisa.

    Lalu Lisa melepas kondom yang saya gunakan itu dan kemudian dia menjilat kontol saya. Sejenak kami hening merasakan kenikmatan yang baru kami rasakan dan akhirnya kami tertidur. Saya dan Lisa melakukan kegiatan seks itu sebanyak delapan kali.

    Pertama dan kedua di kamar tidur saya. Ketiga di kamar mandi. Keempat, kelima sapai ke delapan di hotel t empat dia menginap. Kami benar-benar merasakan kepuasan yang tiada tara. Lisa di Surabaya cuma 4 hari. Kemudian dia pulang. Dan hari ini tanggal 15 January dia menikah karena dijodohkan.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Ngewe Asik Hot Diajak Ngentot – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Ngewe Asik Hot Diajak Ngentot – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    3013 views

    Perawanku – Kali ini aku ingin berbagi tentang pengalamanku ngesex dgn beberapa temanku, pertama-tama perkenalkan namaku Jimmy, seorang pelajar yg tinggal di tempat kost di kota B ini, aku di tempat kost ini tinggal dgn beberapa wanita (tempat kost ini bebas cewek cowok boleh tinggal) jadi banyak sekali pengalaman menantangku.

    Ini cerita sex pertama saya bersama Rere (nama samaran). Ketika itu aku lagi bersantai di kamar kostku dan tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamar kostku. Biasa karena aku tergolong orang yg ramah dan supel jadi banyak teman-teman yg mengunjungi kamar kostku. Ketika pintu kamar aku buka.

    “Lagi ngapain loe Jim?”
    “Lagi nyantai aja..”
    “Boleh ngga aku masuk sebentar?”

    Akupun langsung menjawab boleh dgn cepat karena yg ada di balik pintu itu seorang cewek cantik dan montok.

    “Duuhhhh ternyata kamar loe berantakan juga ya Jim..”
    “Hihihihihi,, namanya juga kamar cowok,, kan beda sama kamar cewek”

    Maklum kamarku waktu itu berantakan sekali dan aku sangat malas untuk membereskannya.

    “Oh iya Jim loe punya game apa?”
    “Tuh di meja NDs (nitendo Ds)”

    Lalu dia menuju meja dan mengambil nds itu.

    Langsung saja dia menyalakan nitendo Ds nya, dan dia langsung sibuk bermain game.

    Waktu itu dia mengenakan setelan celana pendek longgar, dan baju piyama tidur, maklum saat itu jam delapan malam. Tiba-tiba dia bertanya…

    “Jim ada game cooking mama ngga?”
    “Ngga ada,, mainin aja yg ada di situ..”

    Dia pun lanjut memainkan NDsnya tanpa memikirkan posisi dan caranya duduk yg sangat membuat nafsuku bangkit..

    Saat ku lirik dia sedang duduk dgn posisi menantang, celah di calananya memperlihatkan belahan maqinya, dan caranya duduk pun memperlihatkan toketnya dari balik piyama yg ia kenakan.

    “Re benerin tuh cara duduk loe..” Aku bilang saja dgn spontan.
    “Owwhh,, emang kenapa Jim?”
    “Itu belahan memek loe keliatan..” Aku hanya memberitahu saja.
    “Haaa yg bener?”
    “Iya benerrrr,, apa emang loe sengaja nantangin gue nih?” Tanyaku agak nakal.
    “Iya, iya sory ya,, kayanya loe udah nafsu berat ngeliat anu gue?” Katanya menjawab dgn nada nyeringai.

    “Iya nih,, memek loe Jimnanya bagus banget sih..” Ku jawab pertanyaannya dgn santai tetapi menusuk.
    “Hah?? Jimnanya bagus?? Maksud loe?”
    “Serius memek loe Jimnanya bagus banget deh, merah merah gimana gitu..”
    “Iiihhh,, ngga merah juga kali,, mau liat aslinya ngga?” Dia menantangku.!
    “Emang lua ngga takut gue perkosa nanti?”
    “Ngapain takut..! Kan loe anak baik-baik..”
    “Ya udah coba lihat?” -cerita hot-

    Tak lama kemudian dia langsung melorotkan celananya, dan seperti dugaan ku dia sudah tdk memakai celana dlm, langsung terpampang menantang memeknya.
    “Re boleh liat yg atas ngga?” Tanyaku menantang balik.

    Tanpa berpikir panjang langsung dia menyibakkan piyamanya, dan dua gundukan bulat montok yg sedari dulu aku impi-impikan untuk ku mainkan pun menantangku.

    “Re gue boleh megang ngga?” Kutanya lagi menantangnya.
    “Boleh, tp kalau loe sampe horny gue ngga tanggung yaaa…Eh iya kalau gue yg horny kamu harus tanggung jawab juga… ” Kata-katanya menyeringai di telingaku.

    Langsung saja tanganku menuju ke toket montoknya yg ku perkirakan berukuran 38B, karena sejak duduk di bangku SMP kami satu sekolah di kota R dan dia emang memiliki toket paling besar di antara teman-teman ku yg lain.

    Ketika ku remas lembut toket montok itu dia mengerang sedikit.

    “Aaaahhhhhhhhhh,, don’t stop Jim,, letas play with me..” Kata-katanya mulai ngga karuan.

    “Wah ni cewek udah horny lagi” kataku dlm hati.

    Lalu aku berhenti sejenak foreplay itu, dan aku bertanaya kepadanya.

    “Re loe masih P………”
    “Udah cerewet banget terusin aja,, mau gue potong Penis loe ngga lanjutin foreplay ini sampe selesai?” Dia nyela pertanyaanku.

    Lalu langsung saja aku melanjutkan foreplay. Dia sekarang sudah mendesah-desah keenakan. Dan mukanya sekarang merah padam, toketnya juga berbintik merah dan berjeplak tanganku yg meremasnya mulai kasar.

    “Re mau lanjutin sampe mana?” Aku menyela desahannya.
    “Terserah kamu Jim… bikin aku puas.. aku milikmu sekarang..”

    Ya udah langsung saja aku mainkan memeknya yg berJimna merah padam itu.

    Tak lama kemudian dia mengejang dgn dahsyatnya, langsung saja aku dekatkan mulutku de bibir memeknya, dan ku sedot habis cairan kenikmatnya yg keluar dari liang memeknya itu. Diapun terkulai lemas di ranjangku.

    “Udah puas belom Re?”
    “Masih mau ngerasain batang penis loe Jim..”

    Langsung saja aku menyeringai senang. Dan kubuka celana dan celana dlmku, munculah batang penisku yg sudah tegak dgn kerasnya.

    “Re kok bengong?” Menyelah di tengah” kebengongan Rere yg melihat penisku yg sudah berdiri tegak dgn gagahnya.

    Maklum batang penisku ini digolongkan ke golongan besar untuk ukuran penis orang asia dgn panjang kira-kira 18cm.

    Tanpa berpikir lama Rere langsung memegang dan mengocok pelan batang penisku ini. Aku pun merasakan sensasi yg sangat nikmat. Maklum kalau sama cewek gue kasar dia mainnya. Tak lama kemudian batang penisku kurasakan hangat dan lembab, ternyata sudah di kulum saja batang penisku.

    “Jim ko ngga keluar-keluar” sih?” Menyela kenikmatan yg sedang aku rasakan, Rere heran karena telah 20 menit dia mulai foreplay buat aku, namun peniskiu tak kunjung orgasme.
    “Iya nih, gue biasanya kalau sama bini gue udah keluar dari tadi kali..” Ku jawab agar dia semakin giat memainkan batang penisku.
    “Jim udah ngga tahan nih memek gue minta di tusuk sama penis loe..”

    Setelah berkata dia langsung berdiri dan menindihku, di bimbingnya batang penisku menuju liang memeknya . Dan

    “slek, slek, slek” lama sekali aku usahakan agar batang penisku bisa menerobos memek Rere, tp alhasil nihil.
    “Re memek loe rapet banget?, jangan-jangan kamu masih perawan lagi?” Ku tanya mengintrogasi.
    “Gue udah ngga perawan kok, gue aja sering ngentot sama cowo gue..”
    “Wah berarti Rere bakal ketagihan nih sama penis gue, abis punya cowonya kecil banget sih.. Masa dobrak memek gini aja ngga bisa..” Batinku berbicara.
    “Ayo dong Jim usaha lebih keras lagi..!” Dgn nada sedikit kesal karena penisku tdk kunjung masuk di memeknya.
    “Re kamu nungging aja lah biar lebih enak..” Ku bilang saja padanya.

    Kubiarkan Dani Menikmati Tubuhku
    Dan kucoba lagi menusukkan batang penisku ke memeknya. Dan akhirnya pada tusukan kedua masuk sebagian, tusukan berikutnya masuk semua di telan memek Rere yg hangat dan nikmat itu. Aku mulai menyodok Rere dgn posisi nungging. dia tak komentar apapun hanya pasrah dan menahan rasa nikmat yg luar biasa itu, selang 20 menit dari sodokan pertama yg tdk berhasil masuk Rere sudah orgasme untuk yg kesekian kali, namun dia kewalahan menghadapi aku karena aku belum juga mencapai puncak.

    Tetapi tak lama kemudian setelah aku mulai memainkan putiing toketnya yg sudah keras sedari tadi itu.

    “Re gue mau keluar, keluarin di dalem apa luar?”
    “Luar lah Jim, mau bikin gue hamil loe? Nanti cowok gue kecewa sama gue..!”
    “Reeeeee…..”
    “Jiimmmmm,, sabar gue juga………..”

    Kami berdua pun orgasme bersamaan dan terkulai lemas di ranjang.

    Sejak kejadian itu aku dan Rere sering ngesex entah di kamar kostku, kamar kost dia, atau bahkan ketika perjalanan bepergian menggunakan mobil ku.

  • Foto Ngentot Memek Cewek Jepang Mihono Sakaguchi Paling Panas 2018 – Foto Ngentot Terbaru 2018

    Foto Ngentot Memek Cewek Jepang Mihono Sakaguchi Paling Panas 2018 – Foto Ngentot Terbaru 2018


    4180 views

    Perawanku – Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, waktu begitu cepat berlalu. Rasanya tak terasa kita sudah sampai di pertengahan tahun 2018. Banyak hal yang sudah terjadi di setiap negara, serta banyak hal yang sudah kamu lihat di dunia nyata maupun dunia maya.
    Sebagai penikmat hiburan lendir sejati, tentunya kamu tak akan melewati salah satu adegan panas khas internet ini. Tak lain dan tak bukan ialah foto ngentot memek jepang dengan artis cewek bernama Mihono Sakaguchi. Ya itu dia bro! Makanya pada sesi kali ini kami mengumpulkan begitu banyak foto cewek ini mulai dari dia sedang menuju ke hotel hingga eksekusi nya yang sedang enak-enakan ngentot sama pasangan si Miho sebagai referensi bahan ngocokmu.

    Terutama bagi kamu yang begitu fanatik dengan cewek-cewek jepang tanpa busana, maka galeri dibawah tentu seakan menjadi angin segar buatmu di saat sekarang.

    Sebagai orang Indonesia, kita cenderung akan lebih tertarik dengan foto ngentot memek cewek Asia ketimbang belahan dunia yang lain. Sebab jika dilihat dari statistik, terlihat begitu tingginya animo para netizen yang mencari topik tersebut di mbah google. Hal itu tak mimin sia-siakan, sehingga rela begadang hanya untuk blusukan kesana kemari agar bisa memberi kamu bacol yang keren. Bisa saja kamu sudah mampir ke situs lain, namun kami yakin hanya disini kamu akan menemukan yang berkualitas baik.

    Selain karena tingginya animo netizen, galeri foto ngentot memek
    paling panas ini ada juga Karena memang belum banyak koleksi
    seperti ini disini. Maka di sesi ini ane akan menghadirkannya untuk
    agan-agan dirumah. Mungkin kamu sudah melihat berbagai gambar
    memek dan gambar pepek mulus. Tapi belum afdol rasanya jika
    kamu belum melihat galeri yang sudah kamu rangkum menjadi top foto ngentot beralurkan cerita ngentot dari sebelum ngentot, eksekusi hingga mandi-mandi nya yang kami anggap paling panas di sepanjang tahun 2018 ini:

  • Kisah Panas Ketika Bermalam di Puncak Kemping – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Kisah Panas Ketika Bermalam di Puncak Kemping – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1846 views

    Perawanku – Ini terjadi kurang lebih lima tahun yang lalu (tepatnya tanggal 31 Desember 1995). Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan) melakukan pendakian gunung. Rencananya kami akan merayakan pergantian tahun baru di sana. Sampai di tempat yang kami tuju hari telah sore, kami segera mendirikan tenda di tempat yang strategis.

    Setelah semuanya selesai, kami sepakat bahwa tiga orang lelaki harus mencari kayu bakar, sisanya tetap tinggal di perkemahan. Aku, Robby, dan Doni memilih mencari kayu bakar, sedangkan Fadli, Lia dan Wulan tetap tinggal di tenda.

    Baru beberapa langkah kami beranjak pergi, tiba-tiba Wulan memanggil kami, katanya dia ingin ikut kelompok kami saja (alasannya masuk akal, dia tidak enak hati sebab Fadli adalah pacar Lia, dan Wulan tidak ingin kehadirannya di tenda mengganggu acara mereka). Karena Fadli dan Lia tidak keberatan ditinggal berdua, kami (Robby, Doni, aku dan Wulan) segera melanjutkan perjalanan.

    Ada beberapa hal yang perlu aku ceritakan kepada pembaca tentang dua orang teman wanita kami. Lia sifatnya sangat lembut, dewasa, pendiam dan keibuan. Sifat ini bertolak belakang dengan Wulan. Mungkin karena dia anak bungsu dan ketiga kakaknya semua lelaki, jadi Wulan sangat manja, tapi terkadang tomboy. Tapi di balik semua itu, kami semua mengakui bahwa Wulan sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Lia.

    Tidak berapa lama, sampailah kami pada tempat yang dituju, lalu kami mulai mengumpulkan ranting-ranting kering. Sambil mengumpulkan ranting, kami membicarakan apa yang sedang dilakukan Fadli dan Lia di dalam tenda. Tentu saja pembicaraan kami menjurus kepada hal-hal porno. Setelah cukup apa yang kami cari, Robby mengusulkan singgah mandi dulu ke sungai yang tidak berapa jauh dari tempat kami berada.

    Wulan boleh ikut, tapi harus menunggu di atas tebing sungai sementara kami bertiga mandi. Wulan setuju saja. Singkat kata, sampailah kami pada sungai yang dituju. Aku, Robby dan Doni turun ke sungai, lalu mandi di situ. Wulan kami suruh duduk di atas tebing dan jangan sekali-kali mengintip kami.

    Ketika sedang asyik-asyiknya kami berkubang di air, tiba-tiba kami mendengar Wulan menjerit karena terjatuh dari atas tebing. Tubuhnya menggelinding sampai akhirnya ia tercebur ke dalam air. Cepat-cepat kami berlari mencoba menyelamatkan Wulan (kami mandi hanya menanggalkan baju dan celana panjang, sedangkan celana dalam tetap kami pakai).

    Robby yang pandai berenang segera menjemput Wulan, lalu menariknya dari air menuju tepi sungai. Aku dan Doni menunggu di atas. Sampai di tepi sungai, tubuh Wulan basah kuyup. Sepintas kulihat lengan Robby menyentuh buah dada Wulan. Karena Wulan memakai T-Shirt basah, aku dapat melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh Wulan yang sangat menggairahkan.

    Wulan merintih memegangi lutut kanannya. Aku dan Doni terpaku tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tapi Robby yang pernah ikut kegiatan penyelamatan dengan sigap membuka ikat pinggang Wulan lalu mencopot celana jeans Wulan sampai lutut. Wulan berteriak sambil mempertahankan celananya agar tidak melorot.

    Sungguh, saat itu aku tidak tahu apa sebenarnya yang hendak Robby lakukan terhadap Wulan. Segalanya berjalan begitu cepat dan aku tidak menyimpan tuduhan negatif terhadap Robby. Aku hanya menduga, Robby hendak memeriksa luka Wulan. Tapi dengan melorotnya jeans Wulan sampai ke lutut, kami dapat melihat dengan jelas celana dalam wulan yang berwarna off-white (putih kecoklatan) dan berenda. Kontan penisku bangun.

    Robby memerintahkan aku dan Doni memegangi kedua tangan Wulan. Seperti dihipnotis, kami menurut saja. Wulan semakin meronta sambil menghardik, “Rob, apa-apaan sih.., Lepas.., lepas! Atau saya teriak”.

    Doni secepat kilat membungkam mulut Wulan dengan kedua telapak tangannya. Robby setelah berhasil mencopot celana jeans Wulan, sekarang mencoba mencopot celana dalam Wulan. Sampai detik ini, akhirnya aku tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Aku tidak berani melarang Robby dan Doni, karena selain aku sudah merasa terlibat, aku juga sangat terangsang saat melihat kemaluan Wulan yang lebat ditumbuhi rambut-rambut hitam keriting.

    Wulan semakin meronta dan mencoba berteriak, tapi cengkeraman tanganku dan bungkaman Doni membuat usahanya sia-sia belaka. Robby segera berlutut di antara kedua belah paha Wulan. Tangan kirinya menekan perut Wulan, tangan kanannya membimbing penisnya menuju kemaluan Wulan. Wulan semakin meronta, membuat Robby kesulitan memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya. Doni mengambil inisiatif.

    Dia lalu duduk mengangkangi tepat di atas dada Wulan sambil tangannya terus membungkam mulut Wulan. Tiba-tiba Wulan berteriak keras sekali. Rupanya Robby berhasil merobek selaput dara Wulan dengan penisnya. Secara cepat Robby menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Untuk beberapa menit lamanya Wulan meronta, sampai akhirnya dia diam pasrah. Yang dia lakukan hanya menangis terisak-isak.

    Doni melepaskan telapak tangannya dari mulut Wulan karena dia merasa Wulan tidak akan berteriak lagi. Lalu dia mencoba menarik T-Shirt Wulan ke atas. Di luar dugaan, Wulan kali ini tidak mengadakan perlawanan, hingga Doni dan aku dapat melepaskan T-Shirt dan BH-nya. Luar biasa, tubuh Wulan dalam keadaan telanjang bulat sangat membangkitkan birahi. Tubuhnya mulus, dan buah dadanya sangat montok. Mungkin ukurannya 36B.

    Doni segera menjilati puting susu Wulan, sementara aku melihat Robby semakin kesetanan mengoyak-ngoyak vagina Wulan yang beberapa saat yang lalu masih perawan. Aku sangat terangsang, lalu aku mulai memaksa mencium bibir Wulan. Ugh, nikmat sekali bibirnya yang dingin dan lembut itu.

    Aku melumat bibirnya dengan sangat bernafsu. Aku tidak tahu apa yang sedang Wulan rasakan. Aku hanya melihat, matanya polos menerawang jauh langit di atas sana yang menguning pertanda malam akan segera tiba. Tangisnya sudah agak mereda, tapi aku masih dapat mendengar isak tangisnya yang tidak sekeras tadi. Mungkin dia sudah sangat putus asa, shock, atau mungkin juga menikmati perlakuan kasar kami.

    Tiba-tiba aku mendengar Robby menjerit tertahan. Tubuhnya mengejang. Dia menyemprotkan sperma banyak sekali ke dalam vagina Wulan. Setengah menit kemudian Robby beranjak pergi dari tubuh Wulan lalu tergeletak kelelahan di samping kami. Doni menyuruhku mengambil giliran kedua. Aku bangkit menuju Vagina Wulan.

    Sepintas aku melihat sperma Robby mengalir ke luar dari mulut vagina Wulan. Warnanya putih kemerahan. Rupanya bercak-bercak merah itu berasal dari darah selaput dara (hymen) Wulan yang robek.

    Tanpa kesulitan aku berhasil memasukkan penis ke dalam vaginanya. Rasanya nikmat sekali. Licin dan hangat bercampur menjadi satu. Dengan cepat aku mengocok-ngocok penisku maju mundur. Aku mendekap tubuh Wulan.

    Payudaranya beradu dengan dadaku. Dengan ganas aku melumat bibir Wulan. Doni dan Robby menyaksikan atraksiku dari jarak dua meter. Beberapa menit kemudian aku merasakan penisku sangat tegang dan berdenyut-denyut. Aku sudah mencoba menahan agar ejakulasi dapat diperlama, tapi sia-sia. Spermaku keluar banyak sekali di dalam vagina Wulan. Aku peluk erat Tubuh Wulan sampai dia tidak dapat bernafas.

    Setelah puas, aku berikan giliran berikutnya kepada Doni. Aku lalu duduk di samping Robby memandangi Doni yang dengan sangat bernafsu menikmati tubuh Wulan. Karena lelah, kurebahkan tubuhku telentang sambil memandangi langit yang semakin menggelap.

    Beberapa menit kemudian Doni ejakulasi di dalam vagina. Setelah Doni puas, ternyata Robby bangkit kembali nafsunya. Dia menghampiri Wulan. Tapi kali ini dia malah membalikkan tubuh Wulan hingga tengkurap. Aku tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Ternyata Robby hendak melakukan anal seks.

    Wulan menjerit saat anusnya ditembus penis Robby. Mendengar itu Robby malah semakin kesetanan. Dia menjambak rambut Wulan ke belakang hingga muka Wulan menengadah ke atas. Dengan sigap Doni menghampiri tubuh Wulan. Aku melihat Doni dengan sangat kasar meremas-remas buah dada Wulan. Wulan mengiba, “Aduhh.., sudah dong Ro.., ampun.., sakit Rob”. Tapi Robby dan Doni tidak menghiraukannya.

    “Oh, sempit sekali”, teriak Robby mengomentari lubang dubur Wulan yang lebih sempit dari vaginanya. Setiap Robby menarik penisnya aku lihat dubur Wulan monyong. Sebaliknya saat Robby menusukkan penisnya, dubur Wulan menjadi kempot. Tidak lama, Robby mengalami ejakulasi yang kedua kalinya. Setelah puas, sekarang giliran Doni menyodomi Wulan.

    Melihat itu aku jadi kasihan juga terhadap Wulan. Di matanya aku melihat beban penderitaan yang amat berat, tapi sekaligus aku juga melihat sisa-sisa ketegarannya menghadapi perlakuan ini.

    Setelah Doni puas, Robby dan Doni menyuruhku menikmati tubuh Wulan. Tapi tiba-tiba timbul rasa kasihan dalam hatiku. Aku katakan bahwa aku sudah sangat lelah dan hari sudah menjelang gelap. Kami sepakat kembali ke perkemahan. Robby dan Doni segera berpakaian lalu beranjak meninggalkan kami sambil menenteng kayu bakar. Wulan dengan tertatih-tatih mengambil celana dalam, jeans, lalu mengenakannya.

    Aku tanyakan apakah Wulan mau mandi dulu, dan dia hanya menggeleng. Dalam keremangan senja aku masih dapat melihat matanya yang indah berkaca-kaca. Kuambil T-Shirtnya. Karena basah, aku mengepak-ngepakkan agar lebih kering, lalu aku berikan T-Shirt itu bersama-sama dengan BH-nya. Robby dan Doni menunggu kami di atas tebing sungai. Setelah Wulan dan aku lengkap berpakaian, kami beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Robby dan Doni berjalan tujuh meter di depanku dan Wulan.

    Di perkemahan, Fadli dan Lia menunggu kami dengan cemas. Lalu kami mengarang cerita agar peristiwa itu tidak menyebar. Untunglah Fadli dan Lia percaya, dan Wulan hanya diam saja.

    Tepat tengah malam di saat orang lain merayakan pergantian tahun baru, kami melewatinya dengan hambar. Tidak banyak keceriaan kala itu. Kami lebih banyak diam, walau Fadli berusaha mencairkan keheningan malam dengan gitarnya.

    Esoknya, pagi-pagi sekali Wulan minta segera pulang. Kami maklum lalu segera membongkar tenda. Untunglah sesampainya di kota kami, Wulan merahasiakan peristiwa ini. Tapi tiga bulan berikutnya Wulan menghubungiku dan dia dengan memohon meminta aku bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku sempat kaget karena belum tentu anak yang dikandungnya itu adalah anakku. Tapi raut wajahnya yang sangat mengiba, membuatku kasihan lalu menyanggupi menikahinya.

    Satu bulan berikutnya kami resmi menikah. Wulan minta agar aku memboyongnya meninggalkan kota ini dan mencari pekerjaan di kota lain. Sekarang “anak kami” sudah dapat berjalan. Lucu sekali. Matanya indah seperti mata ibunya. Kadang terpikir untuk mengetahui anak siapa sebenarnya “anak kami” ini. Tapi kemudian aku menguburnya dalam-dalam. Aku khawatir kebahagiaan rumah tangga kami akan hancur bila ternyata kenyataan pahitlah yang kami dapati.

    Akhir Desember 1997 kami menikmati pergantian tahun baru di rumah saja. Peristiwa ini kembali menguak kenangan buruknya. Matanya berkaca-kaca. Aku memeluk dan membelai rambutnya. Beberapa menit kemudian, dalam dekapanku dia mengaku bahwa sebelum peristiwa itu terjadi, sebenarnya dia sudah jatuh cinta padaku. Dia ikut mencari kayu bakar karena dia ingin bisa dekat denganku.
    Ya Tuhan, aku benar-benar menyesal. Pengakuannya ini membuat hatiku pedih tak terkira.

  • Pengalaman Ngentot Ketika Disuruh Ibu Mengasih Berkas Ke Tante Tyas

    Pengalaman Ngentot Ketika Disuruh Ibu Mengasih Berkas Ke Tante Tyas


    1688 views

    Perawanku –  Di depan rumahku ada seorang ibu muda yang sebenarnya tidak cantik tapi sangat menarik. Dia sudah bersuami dan mempunyai 3 anak.

    Umurnya kira-kira antara 38-40 tahunan tapi wajah dan bodinya kelihatan lebih muda 10 tahun. Sebut saja namanya tante Tyas. Tante Tyas ini bekerja di instansi pemerintah di mana ibuku juga bekerja di sana, jadi mereka teman sekantor.

    Kisah ini berawal seringnya aku disuruh oleh mamaku untuk menyerahkan berkas-berkas pekerjaan kepada tante Tyas. Sehingga aku pun menjadi akrab dengannya.

    Pada malam itu seperti biasanya mama menyuruhku ke tempat rumah tante Tyas untuk menyerahkan berkas-berkas pekerjaan tersebut, sekalian aku berpamitan keluar untuk bermain.
    Kuketuk pintu rumahnya beberapa kali sampai capek ku menunggu di depan rumahnya.

    Kok kelihatan sepi, apa pada bepergian, tapi mobilnya tante Tyas ada di garasi, gumamku dalam hati. Tak lama kemudian pintu dibuka oleh wanita muda kira-kira umurnya 20 tahunan yang ternyata adalah pembantunya tante Tyas.
    “Tante Tyas-nya ada mbak Arum”, tanyaku padanya.
    “Oh ada dik Miki, masuk dulu tante Tyas masih mandi”, kata mbak Arum sambil menyalakan lampu ruang tamu.
    Aku duduk termenung sendirian dan untuk yang kesekian kalinya aku meminum sirup dingin yang sedari tadi disuguhkan oleh mbak Arum. 5 menit kemudian dari ruang tengah tampak tante Tyas keluar dari kamar mandinya dengan tubuh cuma ditutup oleh handuk.
    “Wow padat juga tubuhnya ya,” kataku dalam hati.
    “Eh dik Miki, udah lama ya nunggunya”.
    Aku masih tetap terpaku melihat tubuhnya yang indah dan padat berisi yang tidak tertutup seluruhnya oleh handuk tersebut.
    “Dik, lihat apa’an sih kok cuman bengong?”
    “Eh anu……. ‘te lihat….. susu eh lihat paha ding…. eh nggak lihat apa-apa kok ‘te”, jawabku kebingungan.
    “Dik Miki ini ada-ada saja. Disuruh ibu ya, di kamar tante saja ya nyerahin berkasnya, tante tunggu lho!”
    Aku tambah kebingungan, kok tumben ngomong kayak gituan. Dengan polosnya aku ikuti kata-katanya tadi.

    Sampai ku di depan pintu kamarnya ku ketuk pintu itu, dan dari dalam terdengar jawaban untuk menyuruhku masuk. Ku buka pintu kamarnya dengan hati-hati. Setelah ku masuk di kamarnya, betapa kagetnya aku melihat tubuh mulus telanjang tante Tyas telah terlentang menantang di atas ranjang.
    “Ini kan yang selama ini kamu bayangkan dan inginkan dariku, ya kan Mik?”
    Aku tidak menjawabnya karena aku masih belum sadar dari kebingunganku atas apa yang kulihat di depan mataku sekarang ini.
    “Sini Mik, naik ke ranjang puasin tante ya, nggak perlu malu, ini kan yang kamu penginin”
    Aku menuruti kata-kata tante Tyas dengan naik ke ranjangnya. Tiba-tiba tanganku dipegangnya lalu diarahkan ke payudaranya yang kira-kira berukuran 34c. Diletakkannya tanganku dan kuremas-remas payudaranya yang sebelah kiri dan kepalaku menciumi dan mejilati payudaranya yang sebelah kanan dengan birahi yang sudah meninggi.
    “Oouugghh… oouugghh…. sedot terus Mik …. oouugghh.. digigit dong!!!”, tante Tyas rupanya sudah terlelap dalam birahinya juga. Matanya merem melek menikmati payudaranya yang sedang kunikmati. Tiba-tiba tante Tyas melepaskan bajuku dan menyuruhku untuk terlentang.

    Ternyata tante melepaskan juga celanaku dan memlorotkannya dengan nafsu yang bergelora. Seperti apa yang kuharapkan terjadi juga, penisku dilumat-lumatnya, disedotnya sampai gemetar tubuhku dibuatnya. Aku bergelinjangan menahan kenikmatan yang pertama kali aku rasakan.
    “Mik, cium dong memek tante!”
    Kucium memeknya yang berbulu tipis dan berbau wangi, rupanya tante Tyas merawat milik-nya dengan baik. Tante tyas bergelinjangan, mendesah-desah karena kujilati memeknya. Kumain-mainkan ‘kacang’-nya dengan lidahku dan kadang-kadang kutusuk lobang memek-nya. Tubuhnya semakin kehilangan kendali, semakin kurasakan lembabnya memeknya karena tubuhnya dirangsang dengan hebat.
    “Mik tante sudah tidak kuat nih, masukin dong penismu!”
    Bleeesss…… bleeesss….. bleeesss…… kusodok-sodok dengan keras dan tante Tyas mengimbanginya dengan goyangan pinggul dan pantatnya.
    “Tante, Miki udah mau keluar… uuuhhhh… oooohhh…. uuuuhhh….”
    “Tahan Miki… yeaah… ooouuuh… ”
    Goyangan tante Tyas semakin liar yang membuat diriku semakin tidak tahan lagi, yang akhirnya… crrooott…. crrooottt….
    Dan di dalam memeknya terasa hangat oleh cairan yang membanjir bersamaan dengan bergetarnya tubuh tante Tyas.
    “Oouugghh….. ooouuuhhh… yeaahh.. yeaahh… uuhh… aku puas Mik, makasih ya !”
    Kuambil bajuku dan kupakaikan meskipun tubuhku penuh keringat yang bercucuran. “Besok temenin tante lagi, ya Mik!”, desah tante Tyas dengan tubuh lemas dan masih bertelanjang.

    Sesampaiku di rumah langsung disambut oleh mamaku, aku pun menjadi ketakutan kalau-kalau mamaku tahu apa yang baru saja terjadi. “Darimana saja kamu, main-main saja jadi lupa belajar, sudah sana ke kamar belajar”. Aku pun lega ternyata mamaku tidak tahu, aku pun berlari menuju kamarku sambil tersenyum karena aku telah menikmati apa yang belum aku rasakan sebelumnya.

    Setelah kejadian itu, aku dan tante Tyas berbulan-bulan lamanya melakukan affair yang sangat hot. Kami lakukan itu kadang-kadang di rumah tante Tyas, kadang di hotel, kadang pernah juga di rumahku kalau lagi kosong. Pokoknya di mana ada tempat untuk bercinta pasti tidak akan kami lewatkan.

    Hingga suatu malam di rumah tante Tyas seperti biasanya aku datang ke rumahnya. Aku langsung disambut mbak Arum, yang aku yakin dia sudah tahu tentang affairku dengan nyonya-nya.
    “Masuk aja mas Miki,ibu sudah menuggu dari tadi”, sambutnya dengan ramah. Aku langsung masuk ke kamar tante Tyas dan kubuka langsung celana dan bajuku. Tante Tyas pun melakukan hal yang sama.
    “Kok lama sih Mik, tante kan udah kedinginan nih!”, kata tante Tyas dengan manja dan menghampiriku untuk memeluk tubuhku dan menciumi bibirku, memasukkan lidahnya di mulutku sehingga lidahku pun saling ber-“silat lidah”. Sambil kucium ku buka tali BH-nya yang masih melekat di tubuhnya dan lalu kuciumi puting payudaranya yang sudah mengeras. Tante Tyas kubikin merem-melek.
    Kudorong tubuhnya ke ranjang lalu kubuka celana dalamnya, langsung kuciumi memeknya yang sudah lembab. Kujilat-jilat naik turun dan kugigit “kacang”nya, begitu seterusnya sambil tanganku meremas-remas payudaranya.
    “Ouugghh… oouugh… oouugghh… terus Mik… tante suka seperti ini….. oouuugghh….. yeeaahhh….”.
    Dan kubalik arah tubuhku sehingga membentuk angka 69. Tante Tyas melumat-lumat penisku keluar masuk mulutnya dan memainkan lidahnya di “helm” penisku. Juga sesekali dia memainkan lidahnya di “telur” ku dari pangkal sampai ujung. Aku pun semakin terangsang menciumi memek-nya yang semakin membanjir.
    “Oohh… uuhh… oouuhh… Mik Tante sudah tidak kuat lagi nih… ouughh… tante mau keluar, Mik”.
    “Aku juga ‘te aahhh… uuhh… aku keluarin di dalem mulut ya ‘te.. aahhh… uuuhhh.. aauuhhgg….”
    Tubuhku kami semakin menghebat dan kurasakan air maniku keluar deras ke mulutnya. Begitu juga mulutku terasa kemasukan lendir yang warnanya seperti air susu.

    Kami pun rebahan saling berpelukan, dan 5 menit kemudian kami melakukan aktifitas senggama yang dari tadi belum kami lakukan. Langsung kumengkangkangkan kakinya sehingga memeknya terlihat jelas dan sangat tepat juga mudah untuk di-“tusuk” oleh penisku yang berukuran 15 cm dalam keadaan menegang.
    Bleess… bleesss… keluar masuk penisku di memeknya yang disertai desahan yang menderu deru tante Tyas. “Ouggh… oouuugghh… eemmmmhhh…. uuhhh… yeahh.. uuuhh… yang keras dong Mik…. aahh.. uuhhh.. yeeahh..”. Semakin kurasakan basah di batang penisku, membuatku lebih bernafsu.
    Kami pun berganti posisi, aku yang dibawah dan tante Tyas di atas menduduki tubuhku. Goyangan pantat dan pinggulnya kulihat jelas mengocok-ngocok penisku. Merem-melek tante Tyas sambil mendongakkan kepalanya merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Kudorong-dorong pantatku ke atas untuk menyeimbangkan gerakannya yang semakin menggila.
    “Oh… oouuhh… Mik… Ouugh… enakkk… ouugh… yeaah… terruuusss….. yeeaahh….”.
    “Tante aku mau keluar nih, udah nggak kuat… oogghh… uuuhhhh… mmmhhhh….”
    “Tunggu dulu… Miikk…….. mmhhh… yeeaahh… tahan dulu Mikkhh….!”, lirih tante Tyas menahan kenikmatan yang hampir memuncak.

    Goyangan kami pun semakin menggila, ke kanan-kiri, naik-turun dan tiba-tiba tubuh tante Tyas bergetar dan bergelinjang hebat, kurasakan cairan yang hangat dari dalam memek tante Tyas.
    “Oouugghh….. uuuhh… uuugghh….. yeaaaahh…. mmmhhhh….. ouugghh yeaahhh…. uuuhhh… mmmmmhhh… aaahhhh…. yeeaahhh… tante sudah keluar Mik, sekarang giliran kamu, cayang!”
    Kulepas penisku dan langsung diraih oleh tangannya tante Tyas untuk dimasukkan ke mulutnya, dikocok-kocok oleh tangannya yang lembut lalu dimasukkan lagi ke mulutnya, dimain-mainkan oleh lidahnya. Tidak lama kemudian maniku pun keluar. Crooott…. crooottt….. crooottt…. kusiramkan ke wajah tante Tyas dan dia menjilatinya dengan nikmat seperti menjilati es krim yang sudah mencair. Kita berdua pun tergelepar dengan keringat yang masih bercucuran setelah sedikit bekerja keras untuk mendapatkan satu kenikmatan. Tubuh kami yang masih bertelanjang saling berpelukan dan saling menciumi bibir dengan mesra.

    Cerita Dewasa Tante,Cerita Hot Tante,Cerita Ngentot Tante

  • Bercinta Dengan Ibu Dosen Hot

    Bercinta Dengan Ibu Dosen Hot


    1778 views

    Kisah Seks Bergambar ini Berkisah ” Bercinta Dengan Ibu Dosen Hot ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Ngentot.

    Perawan –ini bermula pada saat aku duduk dibangku kuliah semester III di salah satu PTS di Yogyakarta. Pada waktu itu aku lagi putus dengan pacarku dan memang dia tidak tahu diri, sudah dicintai malah bertingkah, akhirnya dari cerita cintaku cuma berumur 2 tahun saja. Waktu itu aku tinggal berlima dengan teman satu kuliah juga, kita tinggal serumah atau ngontrak satu rumah untuk berlima.

    Cerita Sex Bercinta Dengan Ibu Dosen Hot


    Kebetulan di rumah itu hanya aku yang laki-laki. Mulanya aku bilang sama kakak perempuanku, “Sudah, aku pisah rumah saja atau kos di tempat”, tapi kakakku ini saking sayangnya padaku, ya saya tidak diperbolehkan pisah rumah. Kita pun tinggal serumah dengan tiga teman wanita kakakku.Ada satu diantara mereka sudah jadi dosen tapi di Universitas lain, Ibu Yuni namanya. Kita semua memanggilnya Ibu maklum sudah umur 40 tahun tapi belum juga menikah. Ibu Yuni bertanya, “Eh, kamu akhir-akhir ini kok sering ngelamun sih, ngelamunin apa yok? Jangan-jangan ngelamunin yang itu..”“Itu apanya Bu?” tanyaku.Memang dalam kesehari-harianku, ibu Yuni tahu karena aku sering juga curhat sama dia karena dia sudah kuanggap lebih tua dan tahu banyak hal. Aku mulai cerita,“Tahu nggak masalah yang kuhadapi? Sekarang aku baru putus sama pacarku”, kataku.“Oh.. gitu ceritanya, pantesan aja dari minggu kemarin murung aja dan sering ngalamun sendiri”, kata Ibu Yuni.Begitu dekatnya aku sama Ibu Yuni sampai suatu waktu aku mengalami kejadian ini. Entah kenapa aku tidak sengaja sudah mulai ada perhatian sama Ibu Yuni. Waktu itu tepatnya siang-siang semuanya pada kuliah, aku sedang sakit kepala jadinya aku bolos dari kuliah.Siang itu tepat jam 11:00 siang saat aku bangun, eh agak sedikit heran kok masih ada orang di rumah, biasanya kalau siang-siang bolong begini sudah pada nggak ada orang di rumah tapi kok hari ini kayaknya ada teman di rumah nih. Aku pergi ke arah dapur.“Eh Ibu Yuni, nggak ngajar Bu?” tanyaku.“Kamu kok nggak kuliah?” tanya dia.“Habis sakit Bu”, kataku.“Sakit apa sakit?” goda Ibu Yuni.“Ah.. Ibu Yuni bisa aja”, kataku.“Sudah makan belum?” tanyanya.“Belum Bu”, kataku.“Sudah Ibu Masakin aja sekalian sama kamu ya”, katanya.Dengan cekatan Ibu Yuni memasak, kita pun langsung makan berdua sambil ngobrol ngalor ngidul sampai-sampai kita membahas cerita yang agak berbau seks. Kukira Ibu Yuni nggak suka yang namanya cerita seks, eh tau-taunya dia membalas de ngan cerita yang lebih hot lagi. Kita pun sudah semakin jauh ngomongnya. Tepat saat itu aku ngomongin tentang perempuan yang sudah lama nggak merasakan hubungan dengan lain jenisnya.

    Apa masih ada gitu keinginannya untuk itu?” tanyaku.“Enak aja, emangnya nafsu itu ngenal usia gitu”, katanya.“Oh kalau gitu Ibu Yuni masih punya keinginan dong untuk ngerasain bagaimana hubungan dengan lain jenis”, kataku.“So pasti dong”, katanya.“Terus dengan siapa Ibu untuk itu, Ibu kan belum kawin”, dengan enaknya aku nyeletuk.“Aku bersedia kok”, kataku lagi dengan sedikit agak cuek sambil kutatap wajahnya. Ibu Yuni agak merah pudar entah apa yang membawa keberanianku semakin membludak dan entah kapan mulainya aku mulai memegang tangannya.Dengan sedikit agak gugup Ibu Yuni kebingungan sambil menarik kembali tangannya, dengan sedikit usaha aku harus merayu terus sampai dia benar-benar bersedia melakukannya.“Okey, sorry ya Bu, aku sudah terlalu lancang terhadap Ibu Yuni”, kataku.“Nggak, aku kok yang salah memulainya dengan meladenimu bicara soal itu”, katanya.Dengan sedikit kegirangan, dalam hatiku dengan lembut kupegang lagi tangannya sambil kudekatkan bibirku ke dahinya. Dengan lembut kukecup keningnya. Ibu Yuni terbawa dengan situasi yang kubuat, dia menutup matanya dengan lembut. Juga kukecup sedikit di bawah kupingnya dengan lembut sambil kubisikkan, “Aku sayang kamu, Ibu Yuni”, tapi dia tidak menjawab sedikitpun.Dengan sedikit agak ragu juga kudekatkan bibirku mendekati bibirnya. Cup.. dengan begitu lembutnya aku merasa kelembutan bibir itu. Aduh lembutnya, dengan cekatan aku sudah menarik tubuhnya ke rangkulanku, dengan sedikit agak bernafsu kukecup lagi bibirnya. Dengan sedikit terbuka bibirnya menyambut dengan lembut. Kukecup bibir bawahnya, eh.. tanpa kuduga dia balas kecupanku.Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Kutelusuri rongga mulutnya dengan sedikit kukulum lidahnya. Kukecup, “Aah.. cup.. cup.. cup..” dia juga mulai dengan nafsunya yang membara membalas kecupanku, ada sekitar 10 menitan kami melakukannya, tapi kali ini dia sudah dengan mata terbuka. Dengan sedikit ngos-ngosan kayak habis kerja keras saja.“Aah.. jangan panggil Ibu, panggil Yuni aja ya!Kubisikkan Ibu Yuni, “Yuni kita ke kamarku aja yuk!”.Dengan sedikit agak kaget juga tapi tanpa perlawanan yang berarti kutuntun dia ke kamarku. Kuajak dia duduk di tepi tempat tidurku. Aku sudah tidak tahan lagi, ini saatnya yang kutunggu-tunggu. Dengan perlahan kubuka kacing bajunya satu persatu, dengan lahapnya kupandangi tubuhnya. Ala mak.. indahnya tubuh ini, kok nggak ada sih laki-laki yang kepengin untuk mencicipinya. Dengan sedikit membungkuk kujilati dengan telaten.Pertama-tama belahan gunung kembarnya. “Ah.. ssh.. terus Ian”, Ibu Yuni tidak sabar lagi, BH-nya kubuka, terpampang sudah buah kembar yang montok ukuran 34 B. Kukecup ganti-gantian, “Aah.. ssh..” dengan sedikit agak ke bawah kutelusuri karena saat itu dia tepat menggunakan celana pendek yang kainnya agak tipis dan celananya juga tipis, kuelus dengan lembut, “Aah.. aku juga sudah mulai terangsang.Kusikapkan celana pendeknya sampai terlepas sekaligus dengan celana dalamnya, hu.. cantiknya gundukan yang mengembang. Dengan lembut kuelus-elus gundukan itu, “Aah.. uh.. ssh.. Ian kamu kok pintar sih, aku juga sudah nggak tahan lagi”, sebenarnya memang ini adalah pemula bagi aku, eh rupanya Yuni juga sudah kepengin membuka celanaku dengan sekali tarik aja terlepas sudah celana pendek sekaligus celana dalamku. “Oh.. besar amat”, katanya. Kira-kira 18 cm dengan diameter 2 cm, dengan lembut dia mengelus zakarku, “Uuh.. uh.. shh..” dengan cermat aku berubah posisi 69.

    Kupandangi sejenak gundukannya dengan pasti dan lembut. Aku mulai menciumi dari pusarnya terus turun ke bawah, kulumat kewanitaannya dengan lembut, aku berusaha memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya, “Aah.. uh.. ssh.. terus Ian”, Yuni mengerang. “Aku juga enak Yuni”, kataku. Dengan lembut di lumat habis kepala kemaluanku, di jilati dengan lembut, “Assh.. oh.. ah.. Yuni terus sayang”, dengan lahap juga kusapu semua dinding lubang kemaluannya, “Aahk.. uh.. ssh..” sekitar 15 menit kami melakukan posisi 69, sudah kepengin mencoba yang namanya bersetubuh. Kurubah posisi, kembali memanggut bibirnya.Sudah terasa kepala kemaluanku mencari sangkarnya. Dengan dibantu tangannya, diarahkan ke lubang kewanitaannya. Sedikit demi sedikit kudorong pinggulku, “Aakh.. sshh.. pelan-pelan ya Ian, aku masih perawan”, katanya. “Haa..” aku kaget, benar rupa-rupanya dia masih suci. Dengan sekali dorong lagi sudah terasa licin. Blesst, “Aahk..” teriak Yuni, kudiamkan sebentar untuk menghilangkan rasa sakitnya, setelah 2 menitan lamanya kumulai menarik lagi batang kemaluanku dari dalam, terus kumaju mundurkan. Mungkin karena baru pertama kali hanya dengan waktu 7 menit Yuni.. “Aakh.. ushh.. ussh.. ahhkk.. aku mau keluar Ian”, katanya. “Tunggu, aku juga sudah mau keluar akh..” kataku.Tiba-tiba menegang sudah lubang kemaluannya menjepit batang kemaluanku dan terasa kepala batang kemaluanku disiram sama air surganya, membuatku tidak kuat lagi memuntahkan.. “Crot.. crot.. cret..” banyak juga air maniku muncrat di dalam lubang kemaluannya. “Aakh..” aku lemas habis, aku tergeletak di sampingnya. Dengan lembut dia cium bibirku, “Kamu menyesal Ian?” tanyanya. “Ah nggak, kitakan sama-sama mau.”

    Kami cepat-cepat berberes-beres supaya tidak ada kecurigaan, dan sejak kejadian itu aku sering bermain cinta dengan Ibu Yuni hal ini tentu saja kami lakukan jika di rumah sedang sepi, atau di tempat penginapan apabila kami sudah sedang kebelet dan di rumah sedang ramai. sejak kejadian itu pada diri kami berdua mulai bersemi benih-benih cinta, dan kini Ibu Yuni menjadi pacar gelapku.

  • Cerita Sex Aku Di Setubuhi Oleh Kedua Tanteku Yang Binal

    Cerita Sex Aku Di Setubuhi Oleh Kedua Tanteku Yang Binal


    2063 views

    Perawanku – Cerita Sex Aku Di Setubuhi Oleh Kedua Tanteku Yang Binal, Nama saya Miko, saya seorang Pria yang sudah cukup umur untuk mengenal Sexs, Umur saya 19 tahun. Saya akan menceritakan tentang cerita sex nyata saya di situs dewasa ini. Kisah ini berawal ketika saya sedang berada di Home stay atau semcam rumah singgah kedua milik Om saya. Kebetulan sekali saat itu naluri saya tiba-tiba menuntun untuk masuk ke kamar tante Wiwik.

    Tanpa saya duga ketika saya telah masuk didalam kamar tante Wiwik, saya melihat sebuah album foto di kamar itu, tepatnya berada diatas meja samping ranjang tante Wiwik. Oh iya tante Wiwik ini adalah Istri pertama om saya. Om saya ini memliki 3 istri, Tante Wiwik, Nita, dan Sifa. Karena saya penasaran, saya-pun mendekat dan mulai membuka album foto itu.

    Setelah membuka, Wow… ternyata album itu berisi foto bugil tante-tante saya. Dengan seksama saya mengamati foto-foto tersebut, foto-foto telanjang itu saya amati dengan penuh penghayatan dan hasrat. Walaupun istri-istri om saya rata-rata sudah ber-usia di kepala 4, namun Tante Sifa dan Tante NIta mempunyai bentuk tubuh yang tidak kalah dengan para ABG.

    Sebagai laki-laki normal saya-pun menjadi terangsang, naluri lelaki saya-pun ingin rasanya bisa menikmati indahnya tubuh mereka secara langsung. Sampai pada akhirnya saya mempunyai ada pikiran Mesum dan saya mencari cara agar bisa memperdaya mereka dengan mengancam akan menyebarkan foto-foto bugil mereka. Seketika itu saya-pun mulai menyusun rencana, siapa yang akan saya perdaya.

    Setelah beberapa saat berfikir saya-pun memilih untuk, memperdaya Tante Tante Sifa dan Tante Nita. Tante nita ini berusia 41 tahun dan Tante Sifa 42 tahun. Singkat cerita saya-pun, mulai menelefon Tante Sifa dan Tante Nita. Saat itu saya berkata pada mereka, agar mereka berdua menemuiku di Home stay milik Om saya, Saat itu dengan alasan ada hal penting yang akan saya katakan kepada mereka.

    Pada esok hari-nya, saya yang kemarin kembali kerumah, sekarang bersiap-siap untuk pergi ke Home Stay itu. Oh iya saat itu saya membuat janji kepada tante Nita dan Sifa untuk datang di Home Stay itu pukul 09.00 pagi. Pada waktu itu aku segaja datang duluan untuk mengatur kondisi dan meminta penjaga Home Stay itu untuk pulang kampung dengan alasan memberi cuti tahunan kepada penjaga itu.

    Kira-kira setelah setengah jam penjaga Home Stay itu pergi, Tante Sifa dan Tante Nita-pun akhirnya sampai ke Home Stay. 5 menit setelah mereka datang, lalu saya-pun meminta mereka untuk duduk dan berkumpul masuk di ruang ruang tamu Home Stay itu,

    “ Ayo tnate-tanteku yang cantik, silahkan berkumpul ”, sambut manis saya kepada mereka.
    “ Ih… kamu bisa aja deh Miko, masak udah umur segini masih dibilang cantik ”, ucap Tante Nita.
    “ Emang masih cantik kog Tante, hhe… udah duduk dulu Tante ”, jawab saya.
    “ Iya deh Miko, kita duduk. Ngomong-ngomong ada apa sih Miko kamu panggil kita kesini ??? ” tanya Tante Sifa penasaran.

    Tante Sifa yang saat itu mengenakan kemeja lengan panjang dengan celana jeans ketatnya terlhat cantik dan sexy sekali. Ditengah aku memandang Tante Sifa, tante Nita-pun bertanya juga,
    “ Iya Mik, emangnya ada apa sih, kayaknya ada hal penting banget deh ??? ”, Tante Nita bertanya.
    Saat itu saya tidak langsung menjawab Tante Nita. Yang tadinya saya terpukau melihat Tante Sifa, gini aku-pun semakin kagum dengan cara berbusana Tante Sifa yang saat itu mengenakan kemeja tanpa lengan dengan rok diatas lutut. Busana itu membuat Tante Nita yang putih, semok dan ber-payudara besar terlihat sangat menggairahkan sekali. Setelah puas memandangi mereka sayapun menjawab,

    “ Saya mau tanya sama Tante berdua, ini milik siapa ya ??? ”, ucap saya sembari mengeluarkan sebuah bungkusan yang di dalamnya berisi setumpuk foto.
    Saat itu Tante Sifa-pun kemudian melihat bungkusan itu dan mengeluarkan iso bungkusan itu. Setelah melihat lalu Tante Sifa-pun berkata,

    “ Apa-apaan Mik, maksud kamu apa menunjukan foto-foto ini kepada kita? Darimana kamu dapatkan foto-foto ini ??? ” tanya Tante Sifa panik mendapatkan foto-foto telanjang dirinya.
    “ Miko… apa-apaan ini, dari mana barang ini?” tanya Tante Nita dengan tegang.
    “ Hemm… begini Tante Sifa, waktu itu saya kebetulan lagi bersih-bersih, pas kebetulan dikamar Tante Wiwik saya lihat kok ada foto-foto telanjang tubuh Tante-tante yang aduhai itu “, jawab saya sembari tersenyum.
    “ Baik… kalau gitu serahkan klisenya?” Ucapku saya Tante Nita.
    “ Baik tapi ada syaratnya lho “, jawab saya.
    “ Emang apa syaratnya Mik ??? kamu jangan malu-maluin tante kamu sendiri dong, udah kita selesaikan secara baik-baik yah ”, ucap Tante Sifa dengan ketus.
    “ Iya Mik, tolong lah Mik, pokok-nhya apa yang kamu minta, bakal tante turutin deh. dengan syarat asal kamu kembalikan Foto-foto kit ”, tambah Tante Nita memohon.
    “ Tenang aja Tante, Miko nggak minta apa-apa kog, cuma Miko hanya ingin melihat tante-tanteku ini telanjang didepan mataku ini ”, ucap saya.
    “ Jangan kurang ajar kamu! ”, ucapku saya Tante Sifa dan Tante Nita dengan marah dan menundingnya.
    “ Wah… wah… jangan galak gitu dong Tante, saya kan nggak sengaja, justru Tante-tante sendiri yang ceroboh kan “, jawab saya sembari menggeser dudukku lebih dekat lagi.
    “ Bagaimana Tante ? ”, ucapku memastikanya lagi.
    “ Hei… jangan kurang ajar, keterlaluan !!! ”, bentak Tante Nita sembari menepis tanganku.
    “ Bangsat… berani sekali, kamu kira siapa kami hah… dasar orang kampung !!!” Tante Sifa menghardik dengan marah dan melemparkan setumpuk foto itu ke wajahku.
    “ Hehehe… ayolah Tante, coba bayangkan, gimana kalo foto-foto ini nantinya terpajang di kantor Om ??? bisa- bisa Tante semua jadi terkenal deh !!!” ucap saya lagi.
    Kulihat disamping kananku Tante Sifa terdiam sejenak, kurasa dia memikirkan apa yang saya ucapkan tadi. Lalu Tante Sifa berkata,
    “ Kenapa harus kami yang harus kamu jadikan sasaran, sedangkan tante Wiwik nggak kamu apa-apakan ???” tanya Tante Sifa lemas.

    “ Tenang aja Tante, nanti juga Tante Wiwik akan dapat giliran. Bagaimana Tante ? Apa sudah berubah pikiran ??? ”, ucap saya memastikan lagi.

    “ Baiklah, tapi kamu hanya melihat saja kan?” tanya Tante Nita.

    “ Okey, dan kalau boleh sekalian memegangnya?” jawab saya.

    “ Kamu jangan macam-macam Miko ”, ucap Tante Sifa.

    “ Biarian ajalah Mbak, daripada kita ketahuan “, jawab Tante Nita.

    Sesaat itu juga Tante Nita dan Tante Sifa sembari berdiri mereka mulai melepas pakaiannya sembari memasang expresi wajah sedikit marah. Setelah beberapa menit, kini kedua Tante saya itu telanjang bulat dihadapanku. Tante Sifa walau sudah berusia 42 tahun tapi tubuhnya masih montok, dengan kulit kuning langsat dan kedua payudaranya yang besar menggantung bergoyang-goyang.

    Turun kebawah tampak pinggulnya yang lebar serta bulu hitam di selangkangan amat lebat.Tidak kalah dengan tubuh Tante Nita yang berusia 41 tahun dengan tubuh langsing berwarna kuning langsat, serta payudaranya yang tidak begitu besar tapi nampak kenyal dengan puting yang sedkit naik keatas. Pinggulnya juga kecil serta bulu kemaluannya di selangkangan baru dipotong pendek.
    “ Sudah Miko?” tanya Tante Sifa sembari mulai memakai bajunya kembali.

    Cerita Sex Aku Di Setubuhi Oleh Kedua Tanteku Yang Binal

    Cerita Sex Aku Di Setubuhi Oleh Kedua Tanteku Yang Binal

    “ Eh, belum Tante, kan tadi boleh pegang sekalian, lagian saya belum lihat Memek Tante berdua dengan jelas “, jawab saya.

    “ Kurang ajar kamu “, ucap Tante Nita setengah berteriak.
    “ Ya sudah kalo nggak boleh kukirim foto Tante berdua nih?” ucap saya.
    “ Baiklah, Apalagi yang mesti kami lakukan? ”, balas Tante Sifa.
    “ Coba Tante berdua duduk di sofa ini “, ucap saya.
    “ Dan buka lebar-lebar paha Tante berdua “, ucap saya ketika mereka mulai duduk.
    “ Begini Miko, Cepat ya “, balas Tante Nita sembari membuka lebar kedua pahanya.
    Hingga tampak Kewanitaan-nya yang berwarna kemerahan,

    “ Tante Sifa juga dong, rambutnya lebat sih, nggak kelihatan nih “, ucap saya sembari jongkok diantara mereka berdua.

    “ Beginikan “, jawab Tante Sifa.

    Saat itu Tante Sifa mulai membuka lebar kedua pahanya dan tangannya menyibakkan bulu kewanitaan-nya kesamping hingga tampak Kewanitaan-nya yang kecoklatan.

    “ Miko pegang sebentar ya?” ucap saya sembari tangan kananku coba meraba selangkangan Tante Sifa sementara tangan kiriku meraba selangkangan Tante Nita
    .
    Kumainkan jari-jari kedua tanganku di liang senggama Tante Sifa dan Tante Nita.

    “ Sudah belum, Miko… Ess… “, ucapku saya Tante Sifa sedikit mendesah.
    “ EEummmm… uuhh… jangan Miko, tolong hentikan… Eummmm!” desah Tante Nita juga ketika tanganku sampai ke belahan kemaluannya.
    “ Sebentar lagi kok Tante, memang kenapa ? ”, tanysaya pura-pura sembari terus memainkan kedua tanganku di liang senggama Tante Sifa dan Tante Nita yang mulai membasah.

    “ Eh, ini apa Tante?” tanysaya pura-pura sembari mengelus-selus Clitoris mereka.

    “ Ohh… Itu Clitoris namanya Miko, jangan kamu pegang ya… ”, desah Tante Sifa menahan geli.

    “ Iya”, jawab singkat saya.

    “ Jangan kamu gituin terus Clitoris Tante dong “, ucap Tante Nita.

    “ Memang kenapa Tante, tadi kata-nya boleh “, ucap saya sembari terus memainkan Clitoris mereka.

    “ Ssss… Aghhhh… OUghhhh… geli Mik… Oughhh… Ssss… “, Desah Tante Sifa dan Tante Nita.

    “ Ini liang senggama-nya ya Tante?” tanya saya sembari memainkan tanganku didepan liang senggama mereka yang semakin basah.

    “ Boleh dimasukin jari nggak Tante? ”, tanya saya.
    Kembali jariku membuka belahan liang senggama mereka dan memasukkan jariku, Zlebbb… bunyi jariku keluar masuk di liang senggama Tante Nita dan Tante Sifa yang makin mendesah-desah tidak karuan,

    “ Jangan Miko, jangan kamu masukin jari kamu… OUghhhh… “, Desah Tante Nita.
    “ Jangan lho Miko… Ssss… Aghhhh… ”, desah Tante Sifa sembari tangannya meremasi sofa.
    “ Kenapa? Sebentar saja kok, masukin ya “, ucap saya sembari memasukkan jari tengahku ke liang senggama mereka masing-masing.
    “ Aghhhh… Miko… “, desah Tante Sifa dan Tante Nita bersama-sama merasakan jari Miko menelusur masuk ke liang senggama mereka.
    “ Ssss… Aghhhh… Eummmm… !!” Tante Sifa dan Tante Nita mulai meracau tidak karuan saat jari-jariku memasuki liang senggama dan memainkan Clitoris mereka.

    “ Bagaimana Tante Sifa “, tanysaya mulai memainkan jariku keluar masuk di liang senggama mereka.
    “ Saya cium ya Tante yahh ? ”, tanysaya kepada Tante Sifa sembari mulai memainkan lidahku pada Kewanitaan-nya.

    “ Sebentar ya Tante Nita “, ucap saya.
    “ Jangan… Ssss… Aghhhh… Miko… ena… Desah Tante Sifa sembari tangannya meremasi rambutku menahan geli.

    “ Gimana Tante rasanya, enak nggak… ??? “, tanya saya kepada Tante Sifa.
    “ Ssss… Aghhhh… Miko… Geli Mik… Oughhhh… ”, Desahnya merasakan daerah sensitifnya terus kumainkan sembari tangannya meremasi kedua payudaranya sendiri.
    “ Agh… Ughhhh… Ssss… Teruss… Mik… Aghhhh… ”, desah Tante Sifa seperti tidak kuat lagi menahan nafsunya.

    Sementara Tante Nita memainkan Kewanitaan-nya sendiri dengan jari tanganku yang dia gerakkan keluar masuk. Dan Tante Sifa mendesah ketika mendekati klimaks-nya dan,

    “ Ouhhhh… Sssss… Tante udah nggak kuat lagi Miko… Ughhhh… “, Desah Tante Sifa merasakan lidahku keluar masuk diliang senggama-nya.

    “ Oughhhh… Mik, Tante Sifa keluar Miko… Aghhhh… “, desah lemas Tante Sifa dengan kedua kakinya menjepit kepalsaya di selangkangannya.

    Tahu Tante Sifa sudah keluar saya bangkit lalu pindah ke liang senggama Tante Nita dan kubuka kedua pahanya lebar-lebar. Sama seperti Tante Sifa Tante Nita juga meracau tidak karuan ketika lidahku menggila pada liang senggama-nya.

    “ Aghhhh… Ssss… Mik… nikmat sekali… Oughhh… “, Desah Tante Nita klimaks-nya menekan kepalsaya ke selangkangannya.

    Tante Nita di sofa dan kubuka lebar-lebar pahanya. Kubenamkan lidahku liang senggama Tante Nita, ku sedot-sedot Clitoris liang senggama Tante Nita yang ssudah basah itu,
    “ Teruss… Mikoo… Tante… mau keluar… Oughhhh… ”, Desah Tante Nita merasakan klimaks pertamanya. Miko lalu duduk diantara Tante Sifa dan Tante Nita.
    “ Gantian dong Tante, punysaya sudah tegang nih “, menunjukkan sarung yang saya pakai tampak menonjol dibagian kemaluanku pada Tante Sifa dan Tante Nita.
    Kuminta mereka untuk menjilati kemaluanku,
    “ Kamu nakal Miko, ngerjain kami “, ucapku saya Tante Sifa sembari tangannya membuka sarungku hingga tampak kejantanan saya yang mengacung tegang keatas.

    “ Iya… awas kamu Miko… Tante hisap punya kamu nanti… “, balas Tante Nita sembari memasukkan kejantanan saya pada mulutnya.
    “ Ssss… Aghhhh… Tante… terus… “, Desah Miko sembari menekan kepala Tante Nita yang naik turun di kejantanannya.
    Tante Sifa terus menjilati kejantanan saya gantian dengan Tante Nita yang lidahnya dengan liar menjilati kejantanan saya, dan sesekali memasukkannya kedalam mulutnya serta menghisap kuat-kuat kejantanan saya didalam mulutnya.

    “ Sruppp… Sruppp… Sruppp… ”, demikian suara ketika dia mengkulum Penis saya.
    “ Ughhhh… udah… Mik, Tante udah nggak kuat lagi… Ssss… Aghhhh… “, Desah Tante Nita sembari mengangkat kepalsaya dari Kewanitaan-nya.

    “ Tunggu dulu ya Tante Sifa, biar saya dengan Tante Nita dulu “, ucap saya sembari menarik kepala Tante Sifa yang sedang memasukkan kejantanan saya kemulutnya.
    “ Tante Nita sudah nggak tahan nih “, ucap saya sembari membuka lebar-lebar kedua paha Tante Nita dan berlutut diantaranya.

    “ Ayo Miko, cepetan masukin… Sssss… “, desah Tante Nita sembari tangannya mengarahkan kejantanan saya pada Kewanitaan-nya.
    “ Ughhhh… Ssss… Aghhhh… ”, Desah Tante Nita panjang merasakan kejantanan saya meluncur mulus sampai mencapai rahimnya.

    Tante Nita mengerang setiap kali saya menyodokkan kejantanannya. Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan sungguh membuatku terbuai dan semakin menikmati permainan Sex ini, saya tidak peduli lagi orang ini sesungguhnya adalah Tante saya sendiri. Lalu saya meminta Tante Nita untuk menjilati liang senggama Tante Sifa yang saat itu sedang jongkok diatas bibir Tante Nit,
    “ Ughhhh… Aghhhh… Geli sekali Nit… Sssss… Aghhhh… ”, desah Tante Sifa setiap kali lidah Tante Nita memasuki Kewanitaan-nya.

    Sementara saya sembari menyetubuhi Tante Nita tanganku meremas-remas kedua payudara Tante Sifa. Tiba-tiba Tante Nita mengangkat pinggulnya sembari mengerang panjang keluar dari mulutnya. “ Ahhss… Miko Tante keluar… ” “ Sudah keluar ya Tante Nita, sekarang gilran Tante Sifa ya “, ucap saya sembari menarik Tante Sifa untuk naik kepangkuanku.

    Tante Sifa hanya pasrah saja menerima perlsayaannya. Kuarahkan kejantanan saya ke liang senggama Tante Sifa, Lalu Aghhhh… desah Tante Sifa merasakan liang senggama-nya dimasuki kejantanan saya sembari pinggulnya mulai naik turun. Kunikmati goyangan Tante Sifa sembari ‘menyusu’ kedua payudaranya yang tepat di depan wajahku, payudaranya kukulum dan kugigit kecil.
    “ Teruss… Tante, Memek (Vagina) Tante enak… ”, Desahku sembari terus dalam mulutku menghisap-hisap puting payudara-nya.

    “ Kontol kamu juga perkasa sekali Ssss… Aghhhh… ” Desah Tante Sifa sembari melakukan gerakan pinggulnya yang memutar sehingga kejantanan saya terasa seperti dipijat-pijat.
    “ Sebentar Tante, coba Tante balik badan “, ucapku sembari meminta Tante Sifa untuk menungging.
    Kusetubuhi Tante Sifa dari belakang, sembari tanganku tangannya bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuhnya. Harus kusayai sungguh hebat wanita seumur Tante Sifa mempunyai liang senggama lebih enak dari Tante Nita yang berusia lebih muda. Sudah lebih dari setengah jam saya menggarap Tante Sifa, yang makin sering mendesah tidak karuan merasakan kejantanan saya menusuk-nusuk Kewanitaan-nya.

    Tak lupa saat itu tanganku meremasi payudaranya yang bergoyang-goyang akibat hentakan kejantanan saya di Kewanitaan-nya,

    “ Ssss… Aghhhh… Miko, Tante mau keluar… ” Desah Tante Sifa.
    “ Sabarr… Tante, sama-sama
    ” ucap saya sembari terus memainkan pinggulku maju-mundur. “ Aghhhh ss… Tante Sifa keluar… “, melenguh panjang.
    “ Saya belum, Tante “, ucap saya kecewa.
    “ Pake susu Tante aja ya “, jawab Tante Sifa jongkok didepanku sembari menjepitkan kejantanan saya yang ssudah licin mengkilap itu di antara kedua payudaranya yag besar, lalu dikocoknya.
    “ Sssss… Terus Tante … Oughhh… enak… Ssss… Aghhhh… “, Desahku.

    Melihat hal itu Tante Nita bangun sembari membuka mulutnya dan memasukkan kejantanan saya ke mulutnya sembari dihisap-hisap. Tak lama setelah mereka memainkan kejantanan saya, pada akhirnya,

    “ Crotttt… Crotttt… Crotttt… Crotttt… ”,
    Lega sekali rasanya, pada akhirnya kejantana saya-pun, mennyemburkan air mani-nya dengan derasnya. Sampai-sampai air mani saya pada saat itu, membasahi wajah dan payudara Tante Sifa dan Tante Nita. Lalu saya berkata,

    “ Para tante-tante tersayangku, terima kasih banyak yah atas service sex-nya…hhe… ”, ucap saya sembari meremas payudara mereka masing-masing dan beranjak pergi ke toilet untuk membersihkan diri.

    Singkat cerita sejak saat itu, saya-pun sering melakukan hubungan sexs dengan Tante Nita dan Tante Sifa. Saya sering meminta mereka untuk melayani saya ketika saya sedang mempunyai birahi yang tinggi. Karena memang berhungan sexs itu nikmat sekali, sampai-sampai aku melupakan bahwa mereka adalah istri dari Om saya. Sungguh benar-benar sebuah candu yang sangat luar biasa.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Ngentot Dengan Tante Pemilik Kontrakan

    Cerita Sex Ngentot Dengan Tante Pemilik Kontrakan


    928 views

    Perawanku – Cerita Sex Ngentot Dengan Tante Pemilik Kontrakan, Perkenalkan nama saya daniel biasa sering dipanggil dalam keseharian sebagai dani oleh para tetanggaku, aku memiliki tubuh tinggi lebih kurang sekitar 180 cm dan berparas wajah blesteran asia dan barat.dimana saat itu ibu menikah dengan orang belanda hingga melahirkanku. awal kisahnya saat aku baru diterima salah satu perusahaan asing dijakarta aku memutuskan untuk pindah dari kalimantan ke jakarta dimana saat itu aku belum memiliki tempat tinggal dan ditawarkan oleh kekasihku untuk tinggal di rumah kontrakan yang pemilikinya itu sendiri adalah tantenya. dikarenakan kontrakan tersebut sangat strategis maka aku dan adik-adikku untuk menepati rumah kontrakan tersebut dengan maksud ingin menghemat biaya pengeluaran dan untuk membiayai keperluan adik-adikku.

    setelah dua tahun aku bersama dengan adik-adikku mengontrak dirumah yang sammpailah kejadian tersebut Dimana waktu itu kelima adik saya pulang kampung karena liburan panjang ke Kalimantan, sedangkan saya yang kerja tidak dapat pulang kampung dengan mereka, maka tinggallah saya seorang diri di Jakarta.

    Waktu itu tepat hari Sabtu, dimana Om Doni atau suami Tante Dina ini biasanya kerja pada hari Sabtu, maklum dia adalah pegawai swasta dan sering juga ke lapangan dimana dia bekerja di perminyakan di lepas pantai. Jadi waktu itu Om Doni ke lapangan dan tinggallah Tante Dina sendirian di rumah.

    Tante Dina telah menikah, tetapi sudah lama tidak mendapatkan anak hampir sudah 8 tahun, dan hal itu menjadi pertanyaan siapa yang salah, Tante Dina apa Om Doni. Okey waktu itu tepatnya malam Sabtu hujan di Bogor begitu derasnya yang dapat menggoda diri untuk bermalas-malas. Secara otomatis saya langsung masuk kamar tidur dan langsung tergeletak.

    Tiba-tiba Tante Dina memanggil, “Dani.. Dani.. Dani.. tolong dong..!”
    Saya menyahut panggilannya, “Ada apaan Tante..?”
    “Ini lho.. rumah Tante bocor, tolong dong diperbaiki..!”
    Lalu saya ambil inisiatif mencarikan plastik untuk dipakai sementara supaya hujannya tidak terlalu deras masuk rumah. 10 menitan saya mengerjakannya, setelah itu telah teratasi kebocoran rumah Tante Dina.

    Kemudian saya merapikan pakaian saya dan sambil duduk di kursi ruang makan.
    Terus Tante Dina menawarkan saya minum kopi, “Nih.., biar hangat..!”
    Karena saya basah kuyup semua waktu memperbaiki atap rumahnya yang bocor.
    Saya jawab, “Okelah boleh juga, tapi saya ganti baju dulu ke rumah..” sambil saya melangkah ke rumah samping.

    Saya mengontrak rumah petak Tante Dina persis di samping rumahnya.
    Tidak berapa lama saya kembali ke rumah Tante Dina dengan mengenakan celana pendek tanpa celana dalam. Sejenak saya terhenyak menyaksikan pemandangan di depan mata, rupanya disaat saya pergi mandi dan ganti baju tadi,
    Tante Dina juga rupanya mandi dan telah ganti baju tidur yang seksi dan sangat menggiurkan. Tapi saya berusaha membuang pikiran kotor dari otak saya. Tante Dina menawarkan saya duduk sambil melangkah ke dapur mengambilkan kopi kesenangan saya. Selang beberapa lama, Tante Dina sudah kembali dengan secngkir kopi di tangannya.

    Sewaktu Tante Dina meletakkan gelas ke meja persis di depan saya, tidak sengaja terlihat belahan buah dada yang begitu sangat menggiurkan, dan dapat merangsang saya seketika. Entah setan apa yang telah hinggap pada diri saya.

    Untuk menghindarkan yang tidak-tidak, maka dengan cepat saya berusaha secepat mungkin membuang jauh-jauh pikiran kotor yang sedang melanda diri saya.
    Tante Dina memulai pembicaraan, “Giman Dani..? Udah hilang dinginnya, sorry ya kamu udah saya reporin beresin genteng Tante.”
    “Ah.. nggak apa-apa lagi Tante, namanya juga tetangga, apalagi saya kan ngontrak di rumah Tante, dan kebetulan Om tidak ada jadi apa salahnya menolong orang yang memerlukan pertolongan kita.” kata saya mencoba memberikan penjelasan.
    “Omong-omong Dani, adik-adik kamu pada kemana semua..? Biasanya kan udah pada pulag kuliah jam segini,”
    “Rupanya Tante Dina tidak tau ya, kan tadi siang khan udah pada berangkat ke Kalimantan berlibur 2 bulan di sana.”
    “Oh.. jadi kamu sendiri dong di rumah..?”
    “Iya Tante..” jawab saya dengan santai.
    Terus saya tanya, “Tante juga sendiri ya..? Biasanya ada si Mbok.., dimana Tante?”
    “Itu dia Dani, dia tadi sore minta pulang ke Bandung lihat cucunya baru lahir, jadi dia minta ijin 1 minggu. Kebetulan Om kamu tidak di rumah, jadi tidak terlalu repot. Saya kasih aja dia pulang ke rumah anaknya di Bandung.” jelasnya.
    Saya lihat jam dinding menunjukkan sudah jam 23.00 wib malam, tapi rasa ngantuk belum juga ada. Saya lihat Tante Dina sudah mulai menguap, tapi saya tidak hiraukan karena kebetulan Film di televisi pada saat itu lagi seru, dan tumben-tumbennya malam Sabtu enak siarannya, biasanya juga tidak.
    Tante Dina tidak kedengaran lagi suaranya, dan rupanya dia sudah ketiduran di sofa dengan kondisi pada saat itu dia tepat satu sofa dengan saya persis di samping saya.
    Sudah setengah jam lebih kurang Tante Dina ketiduran, waktu itu sudah menunjukkan pukul 23.35.
    “Aduh gimana ini, saya mau pulang tapi Tante Dina sedang ketiduran, mau pamitan gimana ya..?” kata saya dalam hati.

    Tiba-tiba saya melihat pemandangan yang tidak pernah saya lihat. Dimana Tante Dina dengan posisi mengangkat kaki ke sofa sebelah dan agak selonjoran sedang ketiduran, dengan otomatis dasternya tersikap dan terlihat warna celananya yang krem dengan godaan yang ada di depan mata. Hal ini membuat iman saya sedikit goyang, tapi biar begitu saya tetap berusaha menenangkan pikiran saya.
    Akhirnya, dari pada saya semakin lama disini semaking tidak terkendali, lebih baik saya bangunkan Tante Dina biar saya permisi pulang. Akhirnya saya beranikan diri untuk membangunkan Tante Dina untuk pulang. Dengan sedikit grogi saya pegang pundaknya.

    Cerita Sex Ngentot Dengan Tante Pemilik Kontrakan

    Cerita Sex Ngentot Dengan Tante Pemilik Kontrakan

    “Tan.. Tan..”
    Dengan bermalas-malas Tante Dina mulai terbangun. Karena saya dengan posisi duduk persis di sampingnya, otomatis Tante Dina menyandar ke bahu saya. Dengan perasaan yang sangat kikuk, tidak ada lagi yang dapat saya lakukan. Dengan usaha sekali lagi saya bangunkan Tante Dina.
    “Tan.. Tan..”
    Walaupun sudah dengan mengelus tangannya, Tante Dina bukannya bangun, bahkan sekarang tangannya tepat di atas paha saya.
    “Aduh gimana ini..?” gumam saya dalam hati, “Gimana nantinya ini..?”
    Entah setan apa yang telah hinggap, akhirnya tanpa disadari saya sudah berani membelai rambutnya dan mengelus bahunya. Belum puas dengan bahunya, dengan sedikit hati-hati saya elus badannya dari belakang dengan sedikit menyenggol buah dadanya.
    Aduh.., adik saya langsung lancang depan. Dengan tegangan tinggi, nafsu sudah kepalang naik, dan dengan sedikit keberanian yang tinggi, saya dekatkan bibir saya ke bibirnya. Tercium sejenak bau harum mulutnya.

    Pelan-pelan saya tempelkan dengan gemetaran bibir saya, tapi anehnya Tante Dina tidak bereaksi apa-apa, entah menolak atau menerima. Dengan sedikit keberanian lagi, saya julurkan lidah ke dalam mulutnya. Dengan sedikit mendesah, Tante Dina mengagetkan saya. Dia terbangun, tapi entah kenapa bukannya saya ketakutan malah keluar pujian.

    “Tante Dina cantik udah ngantuk ya..? Mmuahh..!” saya kecup bibirnya dengan lembut.
    Tanpa saya sadari, saya sudah memegang buah dadanya pada ciuman ketiga.

    Tante Dina membalas ciuman saya dengan lembut. Dia sudah pakar soal bagaimana cara ciuman yang nikmat, yaitu dengan merangkul leher saya dia menciumi langit-langit mulut saya. 10 menit kami saling berciuman, dan sekarang saya sudah mengelus-elus buah dadanya yang sekal.
    “Ahk.. ahk..!” dengan sedikit tergesa-gesa Tante Dina sudah menarik celana saya yang tanpa celana dalam, dan dengan cepat dia menciumi kepala penis saya.

    “Ahkk.. ah..!” nikmatnya tidak tergambarkan, “Ahkk..!”
    Saya pun tidak mau kalah, saya singkapkan dasternya yang tipis ke atas. Alangkah terkejutnya saya, rupanya Tante Dina sudah tidak mengenakan apa-apa lagi di balik dasternya. Dengan agak agresif saya ciumi gunung vaginanya, terus mencari klistorisnya.
    “Akh.. akh.. hus..!” desahnya.

    Tante Dina sudah terangsang, terlihat dari vaginanya yang membasah. Saya harus membangkitkan nafsu saya lebih tinggi lagi.

    30 menit sudah kami pemanasan, dan sekarang kami sudah berbugil ria tanpa sehelai benang pun yang lengket di badan kami. Tanpa saya perintah, Tante Dina merenggangkan pahanya lebar-lebar, dan langsung saya ambil posisi berjongkok tepat dekat kemaluannya.
    Dengan sedikit gemetaran, saya arahkan batang kemaluan saya dengan mengelus-elus di bibir vaginanya.

    “Akh.. huss.. ahk..!” sedikit demi sedikit sudah masuk kepala penis saya.
    “Akh.. akh..!” dengan sedikit dorongan, “Bless.. ss..!” masuk semuanya batang kejantanan saya.
    Setelah saya diamkan semenit, secara langsung Tante Dina menggoyang-goyang pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Tanpa diperintah lagi, saya maju-mundurkan batang kemaluan saya.
    “Akh.. uh.. terus Sayang.., kenapa tidak dari dulu kamu puasin Tante..? Akh.. blesset.. plup.. kcok.. ckock.. plup.. blesset.. akh.. aduh Tante mau keluar nih..!”
    “Tunggu Tante, saya juga udah mau datang..!”

    Dengan sedikit hentakan, saya maju-mundurkan kembali batang kemaluan saya.
    Sudah 15 menit kami saling berlomba ke bukit kenikmatan, kepala penis saya sudah mulai terasa gatal, dan Tante Dina teriak, “Akh..!”
    Bersamaan kami meledak, “Crot.. crot.. crot..!” begitu banyak mani saya muncrat di dalam kandungannya.

    Badan saya langsung lemas, kami terkulai di karpet ruang tamu.
    Tante Dina kemudian mengajak saya ke kamar tamu. Sesampainya disana Tante Dina langsung mengemut batang kemaluan saya, entah kenapa penis saya belum mati dari tegangnya sehabis mencapai klimaks tadi. Langsung Tante Dina mengakanginya, mengarahkan kepala penis saya ke bibir vaginanya.
    “Akh.. huss..!” seperti kepedasan Tante Dina dengan liarnya menggoyang-goyangkan pinggulnya.
    “Blesset.. crup.. crup.. clup.. clopp..!” suara kemaluannya ketika dimasuki berulang-ulang dengan penis saya.

    30 menit kami saling mengadu, entah sudah berapa kali Tante Dina orgasme. Tiba saatnya lahar panas mau keluar.

    “Crot.., crot..!” meskipun sudah memuncratkan lahar panas, tidak lepas-lepasnya Tante Dina masih menggoyang pantatnya dengan teriakan kencang, “Akh..!”
    Kemudian Tante tertidur di dada saya, kami menikmati sisa-sisa kenikmatan dengan batang kejantanan saya masih berada di dalam vaginanya dengan posisi miring karena pegal. Dengan posisi dia di atas, seakan-akan Tante Dina tidak mau melepaskan penis saya dari dalam vaginanya. Begitulah malam itu kami habiskan sampai 3 kali bersetubuh.

    Jam 5 pagi saya ngumpat-umpat masuk ke rumah saya di sebelah, dan tertidur akibat kelelahan satu malam kerja berat. Begitulah kami melakukan hampir setiap malam sampai Om itu pulang dari kerjanya.
    Dan sepulangnya adik saya dari Kalimantan, kami tidak dapat lagi dengan leluasa bercinta. Begitulah kami hanya melakukan satu kali. Dalam dua hari itu pun kami lakukan dengan menyelinap ke dapurnya. Kebetulan dapurnya yang ada jendela itu berketepatan dengan kamar mandi kami di rumah sebelahnya.

    3 bulan kemudian Tante Dina hamil dan sangat senang. Semua keluarganya memestakan anak yang mereka tunggu-tunggu 8 1/2 tahun. Tapi entah kenapa, Tante Dina tidak pernah mengatakan apa-apa mengenai kadungannya, dan kami masih melakukan kebutuhan kami.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,