Author: perawanku

  • Cerita Sex Gara – Gara Kunci Rumah Dibawa Teman – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Gara – Gara Kunci Rumah Dibawa Teman – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1740 views

    Perawanku – Namaku Hendriansyah, biasa dipanggil Hendri. Saat ini aku kuliah di salah satu Akademi Pariwisata sambil bekerja di sebuah hotel bintang lima di Denpasar, Bali. Kisah yang aku ceritakan ini adalah kisah nyata yang terjadi terjadi saat aku masih duduk di kelas II SMA, di kota Jember, Jawa Timur.

    Saat itu aku tinggal di sebuah gang di pusat kota Jember. Di depan rumahku tinggalah seorang wanita, Nia Ramawati namanya, tapi ia biasa dipanggil Ninik. Usianya saat itu sekitar 24 tahun, karena itu aku selalu memanggilnya Mbak Ninik. Ia bekerja sebagai kasir pada sebuah departemen store di kotaku. Ia cukup cantik, jika dilihat mirip bintang sinetron Sarah Vi, kulitnya putih, rambutnya hitam panjang sebahu. Namun yang paling membuatku betah melihatnya adalah buah dadanya yang indah. Kira-kira ukurannya 36B, buah dada itu nampak serasi dengan bentuk tubuhnya yang langsing.
    Keindahan tubuh Mbak Ninik tampak semakin aduhai saat aku melihat pantatnya. Kali ini aku tidak bisa berbohong, ingin sekali kuremas-remas pantatnya yang aduhai itu. Bahkan jika Mbak Ninik memintaku mencium pantatnya akan kulakukan. Satu hal lagi yang membuatku betah melihatnya adalah bibirnya yang merah. Ingin sekali aku mencium bibir yang merekah itu. Tentu akan sangat nikmat saat membayangkan keindahan tubuhnya.

    Setiap pagi saat menyapu teras rumahnya, Mbak Ninik selalu menggunakan kaos tanpa lengan dan hanya mengenakan celana pendek. Jika ia sedang menunduk, sering kali aku melihat bayangan celana dalamnya berbentuk segi tiga. Saat itu penisku langsung berdiri dibuatnya. Apalagi jika saat menunduk tidak terlihat bayangan celana dalamnya, aku selalu berpikir, wah pasti ia tidak memakai celana dalam. Kemudian aku membayangkan bagaimana ya tubuh Mbak Ninik jika sedang bugil, rambut vaginanya lebat apa tidak ya. Itulah yang selalu muncul dalam pikiranku setiap pagi, dan selalu penisku berdiri dibuatnya. Bahkan aku berjanji dalam hati jika keinginanku terkabul, aku akan menciumi seluruh bagian tubuh Mbak Ninik. Terutama bagian pantat, buah dada dan vaginanya, akan kujilati sampai puas.

    Malam itu, aku pergi ke rumah Ferri, latihan musik untuk pementasan di sekolah. Kebetulan orang tua dan saudaraku pergi ke luar kota. Jadi aku sendirian di rumah. Kunci kubawa dan kumasukkan saku jaket. Karena latihan sampai malam aku keletihan dan tertidur, sehingga terlupa saat jaketku dipakai Baron, temanku yang main drum. Aku baru menyadari saat sudah sampai di teras rumah.

    “Waduh kunci terbawa Baron,” ucapku dalam hati. Padahal rumah Baron cukup jauh juga. Apalagi sudah larut malam, sehingga untuk kembali dan numpang tidur di rumah Ferri tentu tidak sopan. Terpaksa aku tidur di teras rumah, ya itung-itung sambil jaga malam.

    “Lho masih di luar Hen..” Aku tertegun mendengar sapaan itu, ternyata Mbak Ninik baru pulang.

    “Eh iya.. Mbak Ninik juga baru pulang,” ucapku membalas sapaannya. “Iya, tadi setelah pulang kerja, aku mampir ke rumah teman yang ulang tahun,” jawabnya.
    “Kok kamu tidur di luar Hen.”

    “Anu.. kuncinya terbawa teman, jadi ya nggak bisa masuk,” jawabku. Sebetulnya aku berharap agar Mbak Ninik memberiku tumpangan tidur di rumahnya. Selanjutnya Mbak Ninik membuka pintu rumah, tapi kelihatannya ia mengalami kesulitaan. Sebab setelah dipaksa-paksa pintunya tetap tidak mau terbuka. Melihat hal itu aku segera menghampiri dan menawarkan bantuan.

    “Kenapa Mbak, pintunya macet..”
    “Iya, memang sejak kemarin pintunya agak rusak, aku lupa memanggil tukang untuk memperbaikinya.” jawab Mbak Ninik.
    “Kamu bisa membukanya, Hen.” lanjutnya.
    “Coba Mbak, saya bantu.” jawabku, sambil mengambil obeng dan tang dari motorku.
    Aku mulai bergaya, ya sedikit-sedikit aku juga punya bakat Mc Gayver. Namun yang membuatku sangat bersemangat adalah harapan agar Mbak Ninik memberiku tumpangan tidur di rumahnya.

    “Kletek.. kletek…” akhirnya pintu terbuka. Aku pun lega.
    “Wah pinter juga kamu Hen, belajar dari mana.”
    “Ah, nggak kok Mbak.. maklum saya saudaranya Mc Gayver,” ucapku bercanda.
    “Terima kasih ya Hen,” ucap Mbak Ninik sambil masuk rumah.
    Aku agak kecewa, ternyata ia tidak menawariku tidur di rumahnya. Aku kembali tiduran di kursi terasku. Namun beberapa saat kemudian. Mbak Ninik keluar dan menghampiriku.
    “Tidur di luar tidak dingin. Kalau mau, tidur di rumahku saja Hen,” kata Mbak Ninik.
    “Ah, nggak usah Mbak, biar aku tidur di sini saja, sudah biasa kok, “jawabku basa-basi.
    “Nanti sakit lho. Ayo masuk saja, nggak apa-apa kok.. ayo.”
    Akhirnya aku masuk juga, sebab itulah yang kuinginkan.

    “Mbak, saya tidur di kursi saja.”
    Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa yang terdapat di ruang tamu.
    “Ini bantal dan selimutnya Hen.”
    Aku tersentak kaget melihat Mbak Ninik datang menghampiriku yang hampir terlelap. Apalagi saat tidur aku membuka pakaianku dan hanya memakai celena pendek.
    “Oh, maaf Mbak, aku terbiasa tidur nggak pakai baju,” ujarku.
    “Oh nggak pa-pa Hen, telanjang juga nggak pa-pa.”
    “Benar Mbak, aku telanjang nggak pa-pa,” ujarku menggoda.
    “Nggak pa-pa, ini selimutnya, kalau kurang hangat ada di kamarku,” kata Mbak Ninik sambil masuk kamar.

    Aku tertegun juga saat menerima bantal dan selimutnya, sebab Mbak Ninik hanya memakai pakaian tidur yang tipis sehingga secara samar aku bisa melihat seluruh tubuh Mbak Ninik. Apalagi ia tidak mengenakan apa-apa lagi di dalam pakaian tidur tipis itu. Aku juga teringat ucapannya kalau selimut yang lebih hangat ada di kamarnya. Langsung aku menghampiri kamar Mbak Ninik. Ternyata pintunya tidak ditutup dan sedikit terbuka. Lampunya juga masih menyala, sehingga aku bisa melihat Mbak Ninik tidur dan pakaiannya sedikit terbuka. Aku memberanikan diri masuk kamarnya.

    “Kurang hangat selimutnya Hen,” kata Mbak Ninik.
    “Iya Mbak, mana selimut yang hangat,” jawabku memberanikan diri.
    “Ini di sini,” kata Mbak Ninik sambil menunjuk tempat tidurnya.
    Aku berlagak bingung dan heran. Namun aku mengerti Mbak Ninik ingin aku tidur bersamanya. Mungkin juga ia ingin aku.., Pikiranku melayang kemana-mana. Hal itu membuat penisku mulai berdiri. Terlebih saat melihat tubuh Mbak Ninik yang tertutup kain tipis itu.

    “Sudah jangan bengong, ayo sini naik,” kata Mbak Ninik.
    “Eit, katanya tadi mau telanjang, kok masih pakai celana pendek, buka dong kan asyik,” kata Mbak Ninik saat aku hendak naik ranjangnya.
    Kali ini aku benar-benar kaget, tidak mengira ia langsung memintaku telanjang. Tapi kuturuti kemauannya dan membuka celana pendek berikut cekana dalamku. Saat itu penisku sudah berdiri.
    “Ouww, punyamu sudah berdiri Hen, kedinginan ya, ingin yang hangat,” katanya.
    “Mbak nggak adil dong kalau hanya aku yang bugil, Mbak juga dong,” kataku.
    “OK Hen, kamu mau membukakan pakaianku.”
    Kembali aku kaget dibuatnya, aku benar-benar tidak mengira Mbak Ninik mengatakan hal itu. Ia berdiri di hadapanku yang sudah bugil dengan penis berdiri. Aku memang baru kali ini tidur bersama wanita, sehingga saat membayangkan tubuh Mbak Ninik penisku sudah berdiri.

    “Ayo bukalah bajuku,” kata Mbak Ninik.
    Aku segera membuka pakaian tidurnya yang tipis. Saat itulah aku benar-benar menyaksikan pemandangan indah yang belum pernah kualami. Jika melihat wanita bugil di film sih sudah sering, tapi melihat langsung baru kali ini.

    Setelah Mbak Ninik benar-benar bugil, tanganku segera melakukan pekerjaannya. Aku langsung meremas-remas buah dada Mbak Ninik yang putih dan mulus. Tidak cuma itu, aku juga mengulumnya. Puting susunya kuhisap dalam-dalam. Mbak Ninik rupanya keasyikan dengan hisapanku. Semua itu masih dilakukan dengan posisi berdiri.

    “Oh, Hen nikmat sekali rasanya..”
    Aku terus menghisap puting susunya dengan ganas. Tanganku juga mulai meraba seluruh tubuh Mbak Ninik. Saat turun ke bawah, tanganku langsung meremas-remas pantat Mbak Ninik. Pantat yang padat dan sintal itu begitu asyik diremas-remas. Setelah puas menghisap buah dada, mulutku ingin juga mencium bibir Mbak Ninik yang merah.

    “Hen, kamu ahli juga melakukannya, sudah sering ya,” katanya.
    “Ah ini baru pertama kali Mbak, aku melakukan seperti yang kulihat di film blue,” jawabku.
    Aku terus menciumi tiap bagian tubun Mbak Ninik. Aku menunduk hingga kepalaku menemukan segumpal rambut hitam. Rambut hitam itu menutupi lubang vagina Mbak Ninik. Bulu vaginanya tidak terlalu tebal, mungkin sering dicukur. Aku mencium dan menjilatinya. Tanganku juga masih meremas-remas pantat Mbak Ninik. Sehingga dengan posisi itu aku memeluk seluruh bagian bawah tubuh Mbak Ninik.

    “Naik ranjang yuk,” ucap Mbak Ninik.
    Aku langsung menggendongnya dan merebahkan di ranjang. Mbak Ninik tidur dengan terlentang dan paha terbuka. Tubuhnya memang indah dengan buah dada yang menantang dan bulu vaginanya yang hitam indah sekali. Aku kembali mencium dam menjilati vagina Mbak Ninik. Vagina itu berwarna kemerahan dan mengeluarkan bau harum. Mungkin Mbak Ninik rajin merawat vaginanya. Saat kubuka vaginanya, aku menemukan klitorisnya yang mirip biji kacang. Kuhisap klitorisnya dan Mbak Ninik menggeliat keasyikan hingga pahanya sedikit menutup. Aku terjepit diantara paha mulus itu terasa hangat dan nikmat.

    “Masih belum puas menjilatinya Hen.”
    “Iya Mbak, punyamu sungguh asyik dinikmati.”
    “Ganti yang lebih nikmat dong.”
    Tanpa basa-basi kubuka paha mulus Mbak Ninik yang agak menutup. Kuraba sebentar bulu yang menutupi vaginanya. Kemudian sambil memegang penisku yang berdiri hebat, kumasukkan batang kemaluanku itu ke dalam vagina Mbak Ninik.

    “Oh, Mbak ini nikmatnya.. ah.. ah..”
    “Terus Hen, masukkan sampai habis.. ah.. ah..”
    Aku terus memasukkan penisku hingga habis. Ternyata penisku yang 17 cm itu masuk semua ke dalam vagina Mbak Ninik. Kemudian aku mulai dengan gerakan naik turun dan maju mundur.
    “Mbak Ninik.. Nikmaat.. oh.. nikmaattt seekaliii.. ah..”
    Semakin lama gerakan maju mundurku semakin hebat. Itu membuat Mbak Ninik semakin menggeliat keasyikan.
    “Oh.. ah.. nikmaatt.. Hen.. terus.. ah.. ah.. ah..”

    Setelah beberapa saat melakukan maju mundur, Mbak Ninik memintaku menarik penis. Rupanya ia ingin berganti posisi. Kali ini aku tidur terlentang. Dengan begitu penisku terlihat berdiri seperti patung. Sekarang Mbak Ninik memegang kendali permainan. Diremasnya penisku sambil dikulumnya. Aku kelonjotan merasakan nikmatnya kuluman Mbak Ninik. Hangat sekali rasanya, mulutnya seperti vagina yang ada lidahnya. Setelah puas mengulum penisku, ia mulai mengarahkan penisku hingga tepat di bawah vaginanya. Selanjutnya ia bergerak turun naik, sehingga penisku habis masuk ke dalam vaginanya.

    “Oh.. Mbak Ninik.. nikmaaatt sekali.. hangat dan oh..”
    Sambil merasakan kenikmatan itu, sesekali aku meremas-remas buah dada Mbak Ninik. Jika ia menunduk aku juga mencium buah dada itu, sesekali aku juga mencium bibir Mbak Ninik.
    “Oh Hen punyamu Oke juga.. ah.. oh.. ah..”
    “Punyamu juga nikmaaat Mbaak.. ah.. oh.. ah…”
    Mbak Ninik rupanya semakin keasyikan, gerakan turun naiknya semakin kencang. Aku merasakan vagina Mbak Ninik mulai basah. Cairan itu terasa hangat apalagi gerakan Mbak Ninik disertai dengan pinggulnya yang bergoyang. Aku merasa penisku seperti dijepit dengan jepitan dari daging yang hangat dan nikmat.

    “Mbak Ninik.. Mbaaakk.. Niiikmaaattt..”
    “Eh.. ahh.. ooohh.. Hen.. asyiiikkk.. ahh.. ennakk.. nikmaaatt..”
    Setelah dengan gerakan turun naik, Mbak Ninik melepas penisku. Ia ingin berganti posisi lagi. Kali ini ia nungging dengan pantat menghadapku. Nampak olehku pantatnya bagai dua bantal yang empuk dengan lubang nikmat di tengahnya. Sebelum kemasukan penisku, aku menciumi dahulu pantat itu. Kujilati, bahkan hingga ke lubang duburnya. Aku tak peduli dengan semua hal, yang penting bagiku pantat Mbak Ninik kini menjadi barang yang sangat nikmat dan harus kunikmati.

    “Hen, ayo masukkan punyamu aku nggak tahaan nih,” kata Mbak Ninik.
    Kelihatannya ia sudah tidak sabar menerima hunjaman penisku.
    “Eh iya Mbak, habis pantat Mbak nikmat sekali, aku jadi nggak tahan,” jawabku.
    Kemudian aku segera mengambil posisi, kupegang pantatnya dan kuarahkan penisku tepat di lubang vaginanya. Selanjutnya penisku menghunjam dengan ganas vagina Mbak Ninik. Nikmat sekali rasanya saat penisku masuk dari belakang. Aku terus menusuk maju mundur dan makin lama makin keras.

    “Oh.. Aah.. Hen.. Ooohh.. Aah.. Aaahh.. nikmaaatt Hen.. terus.. lebih keras Hen…”
    “Mbak Ninik.. enak sekaliii.. niiikmaaatt sekaaliii..”
    Kembali aku meraskan cairan hangat dari vagina Mbak Ninik membasahi penisku. Cairan itu membuat vagina Mbak Ninik bertambah licin. Sehingga aku semakin keras menggerakkan penisku maju mundur.Mbak Ninik berkelonjotan, ia memejamkan mata menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Rupanya ia sudah orgasme. Aku juga merasakan hal yang sama.

    “Mbak.. aku mau keluar nih, aku nggak tahan lagi..”
    Kutarik penisku keluar dari lubang duburnya dan dari penisku keluar sperma berwarna putih. Sperma itu muncrat diatas pantat Mbak Ninik yang masih menungging. Aku meratakan spermaku dengan ujung penisku yang sesekali masih mengeluarkan sperma. Sangat nikmat rasanya saat ujung penisku menyentuh pantat Mbak Ninik.
    “Oh, Mbak Ninik.. Mbaak.. nikmat sekali deh.. Hebat.. permainan Mbak bener-bener hebat..”
    “Kamu juga Hen, penismu hebat.. hangat dan nikmat..”

    Kami berpelukan di ranjang itu, tak terasa sudah satu jam lebih kami menikmati permainan itu. Selanjutnya karena lelah kami tertidur pulas. Esok harinya kami terbangun dan masih berpelukan. Saat itu jam sudah pukul 09:30 pagi.

    “Kamu nggak sekolah Hen,” tanya Mbak Ninik.
    “Sudah terlambat, Mbak Ninik tidak bekerja.”
    “Aku masuk sore, jadi bisa bangun agak siang..”
    Kemudian Mbak Ninik pergi ke kamar mandi. Aku mengikutinya, kami mandi berdua dan saat mandi kembali kami melakukan permainan nikmat itu. Walaupun dengan posisi berdiri, tubuh Mbak Ninik tetap nikmat. Akhirnya pukul 14:30 aku pergi ke rumah Baron dan mengambil kunci rumahku. Tapi sepanjang perjalanan aku tidak bisa melupakan malam itu. Itulah saat pertama aku melakukan permainan nikmat dengan seorang wanita.

    Kini saat aku kuliah dan bekerja di Denpasar, aku masih sering mengingat saat itu. Jika kebetulan pulang ke Jember, aku selalu mampir ke rumah Mbak Ninik dan kembali menikmati permainan nikmat. Untung sekarang ia sudah pindah, jadi kalau aku tidur di rumah Mbak Ninik, orang tuaku tidak tahu. Kubilang aku tidur di rumah teman SMA. Sekali lagi ini adalah kisah nyata dan benar-benar terjadi.

  • KEDATANGAN SEORANG PEMBANTU MONTOK YANG MEMBUATKU BERNAFSU – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    KEDATANGAN SEORANG PEMBANTU MONTOK YANG MEMBUATKU BERNAFSU – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018


    1812 views

    Perawanku – Dia pertama sich agak ragu, kemudian karena aku terus mendesak, dengan terpaksa dia mengijinkan aku mengerokinya. Aku buka ritsluitingnya dan aku mulai mengeroknya. “Boleh nggak kubuka BH kamu?” tanyaku waktu itu. “Untuk apa?” tanyanya balik.

    “Ya supaya saya bisa ngerok kamu dan menggosok badan kamu dengan balsem.” jawabku dan tanpa menanti jawaban serta ijinnya aku langsung buka BH-nya. “Gila… payudaranya montok banget” kataku dalam batin ingin rasanya aku meremasnya, kuperkirakan ukurannya minimal 36B, lama kelamaan aku tak tahan dan meremasnya dan sialnya dia teriak “Jangan gitu”.

    Tapi karena nafsu telah menguasai batok kepalaku, tak kuat lagi aku menghentikan tanganku yang masih terus menggerayangi dadanya yang ranum menggairahkan itu. Kemudian dia bangkit dari tempat tidur, membenahi pakaiannya dan keluar kamarku, dia masuk ke kamarnya.

    Setelah cukup lama dan dia tertidur, aku coba memeriksa kamarnya dan kebetulan dia lupa menguncinya, maka dengan leluasa aku dapat masuk dan menguncinya dari dalam. Aku mendekatinya dan tampaknya dia hanya menggunakan BH dan CD saja dalam tidurnya, entah mengapa. Aku mulai coba buka tali BH-nya, kucium bibirnya dan sambil meremas dadanya yang 36B.

    Tiba-tiba dia terbangun “Tuan… saya akan berteriak bila Tuan tidak segera keluar dari kamar ini”. katanya tiba-tiba dan sempat membuatku kaget, berani juga ini anak. “Silakan saja kamu teriak, paling kamu kehilangan pekerjaanmu” jawabku enteng. Dia mulai melemah dan tertunduk.

    “Nah begitu lebih bijaksana” kataku lagi sambil mulai meraih dadanya, kuremas perlahan cukup lama, hingga dia mulai terbawa arus. “Heehh…” erangnya saat itu. Aku mulai dengan membuka CD-nya dan tanpa basa-basi lagi hendak memasukkan dalam liang kewanitaannya. “Tuan… jangan… hentikan” katanya tanpa aku tahu maksudnya.

    “Tuan, jangan hentikan…” atau “Tuan, jangan…, hentikan…!” dua kalimat yang berbeda arti hanya dapat diartikan dengan intonasi dan penekanan kata saat diucapkan. Tanpa pikir lebih jauh karena barangku sudah siap tempur, aku pilih saja alternatif pertama, yang maksudnya Tuan, jangan hentikan. Ya terus kalau maunya jangan hentikan.

    Aku mulai paksa dia dengan menindihnya, dia sedikit berontak, berarti masih malu dan penolakannya hanya basa-basi. Permainan permulaan dengan gaya tindih sampai beberapa waktu baru kemudian aku perintahkan dia untuk nungging berpegangan pada sisi ranjang dan aku tembak dari belakang.

    “Sakit Tuan… eehhmm…” rengeknya. Aku makin nafsu dan aku goyang makin keras sampai dia pingsan. Aku nggak mau tahu apa yang dia rasakan, yang penting aku puas, siapa suruh punya badan bagus dan dada besar, kalau nggak mau ditiduri.

    Aku cabut barangku dari lubangnya dan baru kutahu kali ini darah segar mengalir dari lubang yang baru saja aku tikam, ternyata dia cewe perawan !!!

  • Cerita Sex Merintih Meminta Ampun

    Cerita Sex Merintih Meminta Ampun


    1989 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Merintih Meminta Ampun ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Panggil saja namaku paul aku yang sudah bekerja di instansi juga mempunyai usaha sampingan, aku kan menceritakan pengalaman seorang temanku, Panggil saja Ta. Kami memang punya “hobi” yang sama, namun Ta punya trik tersendiri untuk menyalurkan hobinya. Kini selain terdaftar di kota asalnya, ia juga resmi penduduk sebuah desa yang agak terpencil. Berikut adalah caranya mendapatkan kembang desa, meski sudah beristri tiga orang.

    Indah terbangun dengan kepala yang pusing. Namun entah mengapa kedua tangannya tidak dapat digerakkan. Seluruh tubuhnya terasa hangat. Sambil mengerjapkan matanya, gadis itu memandang sekelilingnya.

    Ternyata ia berada dalam sebuah kamar yang belum pernah dilihatnya, terbaring di atas ranjang empuk dan besar yang berwarna merah jambu. Dari jendela yang tertutup terbayang hari sudah gelap. Dalam kamar itu sendiri hanya ada sebuah lampu kecil yang menyala remang-remang.

    Indah hanya ingat Sabtu sore tadi setelah bertanding bola volley melawan sekolah dari kecamatan tetangga, ia harus berlari-lari dalam gerimis hujan menuju rumah neneknya untuk menginap malam ini, karena rumahnya terlalu jauh dari lapangan volley.

    Seperti umumnya gadis desa lainnya, meskipun tidak terlalu tinggi, namun Indah memiliki tubuh yang montok dan padat. Buah dadanya yang membusung kencang seolah tidak muat dalam bra bekas kakaknya yang kekecilan.

    Ditunjang dengan kulitnya yang kuning langsat mulus dan rambut sebahu, wajahnya yang manis sering membuat pemuda desa terpaku dan menelan ludah saat gadis itu lewat dengan goyangan pinggulnya. Pantatnya yang montok selalu menonjol di balik rok seragam sekolahnya, yang biarpun di bawah lutut, ketatnya memperlihatkan garis celana dalam gadis itu.

    Bukan hanya para pemuda, beberapa orang yang telah beristri pun berangan-angan menjadikan gadis kelas 1 SMU itu istri mudanya. Menurut katuranggan, gadis macam Indah rasanya peret dan legit, pasti akan memberikan kenikmatan sepanjang malam, membuat suaminya betah di rumah.

    Tidak heran, tiap kali ada pertandingan volley, selalu banyak penontonnya, meski kebanyakan hanya menonton paha Indah yang bercelana pendek dan guncangan buah dadanya saat gadis itu memukul bola.

    “Ah, sudah bangun Nduk..?” sebuah suara dan lampu yang menyala terang mengagetkan gadis itu. Tampak seorang pria kekar memasuki ruangan. Indah mengenalinya sebagai Ta, seorang terpandang di desanya.

    Meski bukan penduduk desa itu, namun suka kawin-cerai dengan gadis-gadis di sini. Dalam sebulan paling ia hanya di rumah satu-dua hari saja, selebihnya “kerja di kota”. Sekarang ini istrinya di sini sudah ada tiga orang, semuanya masih belasan tahun dan cantik-cantik, namun masih suka menggoda Indah tiap kali bertemu.

    Bahkan baru saja ia pernah berusaha melamar gadis itu namun tidak berhasil. Indah berusaha bangun, namun tangan dan kakinya tetap lemas tidak dapat bergerak. “Tenang saja Nduk, nggak usah banyak gerak. Malam ini kamu di sini dulu.” kata Ta.

    Tidak sengaja Indah melihat ke dinding kamar, dan dari cermin besar yang terpasang di sana, ia menyadari kedua tangannya terikat menjadi satu di atas kepalanya, demikian juga kedua kakinya yang terentang ke sudut-sudut ranjang, seperti huruf Y terbalik.

    Seluruh tubuhnya tertutup selimut, namun ujung selimut yang tersingkap memperlihatkan sebagian paha gadis itu. Di sudut ranjang tampak terserak baju seragam dan rok yang tadi dipakainya. “Pak Ta, Indah dimana? Kenapa Indah begini?” tanya gadis itu dengan panik.

    Ia mulai teringat saat berlari ke rumah neneknya tadi seseorang menariknya dari belakang dan menempelkan sesuatu yang berbau menyengat ke wajahnya, kemudian semuanya menjadi gelap, hingga akhirnya ia kemudian tersadar di situ.

    “Tenang Indah, kamu baik-baik saja. Malam ini kita akan kawin. Minggu lalu saya sudah melamarmu pada bapakmu. Sekarang kita akan nikmati malam pertama kita.” kata Ta sambil menyeringai.

    “Enggak! Enggak! Kemarin Bapak bilang ditolak! Indah nggak mau!” gadis itu berusaha meronta, namun ikatan tangan dan kakinya terlalu kuat baginya. Sambil tertawa terkekeh, Ta perlahan menarik selimut yang menutupi tubuh gadis itu, membuat Indah terpekik karena penutup tubuhnya perlahan terbuka, sedangkan ternyata di balik selimut itu ia sudah telanjang bulat.

    “Jangan! Jangan! Aduh jangan! Pak Ta, jangan Pak! Tolong..!” Dengan sigap Ta mengambil pakaian dalam Indah yang terserak di atas ranjang, lalu menyumpal mulut gadis itu dengan celana dalamnya sendiri, dan mengikatnya ke belakang dengan bra gadis itu.

    “Pak? Kamu panggil aku Pak? Aku ini suamimu, tahu! Panggil aku Kangmas!” seru Ta sambil menampar pipi Indah sampai gadis itu memekik kesakitan. Ta semakin beringas melihat tubuh Indah yang montok telanjang bulat. Kedua paha gadis manis itu terentang lebar mempertontonkan bibir kemaluannya yang jarang-jarang rambutnya.

    “Diam Sayang! Ini malam kita bedah kelambu! Kalau bapakmu yang tolol itu tidak mau anaknya dilamar baik-baik, kita lihat saja besok! Karena besok anak perawannya sudah tidak perawan lagi!” Tanpa basa basi Ta segera membuka pakaiannya sendiri, lalu melompat ke atas ranjang.

    Indah dengan sia-sia meronta dan menjerit saat Ta menindih tubuhnya yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Gadis itu bahkan tidak bisa untuk sekedar merapatkan pahanya yang terkangkang lebar.

    Pekikan Indah tertahan sumpalan celana dalam saat Ta meremas buah dada gadis itu dengan kerasnya. Rontaan dan pekikan gadis cantik itu sama sekali tidak digubris. Ta kemudian menempatkan kejantanannya tepat di depan bibir kemaluan Indah.

    “Diam Sayang! Jangan takut, enak sekali kok! Nanti pasti kamu ketagihan. Sekarang biar Kangmas ambil perawanmu…” sambil berkata begitu Ta menghujamkan kejantanannya memasuki hangatnya keperawanan Indah. Selaput dara gadis itu terasa sedikit menghalangi, namun bukan tandingan bagi keperkasaan kejantanan Ta yang terus menerobos masuk.

    “Haanggkk..! Aahhkk..!” Napas gadis itu terputus-putus dan matanya yang bulat indah terbeliak lebar saat Indah merasakan perih tiba-tiba menyengat selangkangannya. Tubuh montok gadis itu tergeliat-geliat merangsang dengan napas tersengal-sengal sambil terpekik tertahan-tahan ketika Ta dengan perkasa menggenjotkan kejantanannya menikmati hangatnya kemaluan perawan Indah yang terasa begitu peret.

    “Aahh… enak sekali tempikmu… aahh… Wulaaanh… enak kan Nduk..? Terus ya Nduk..?” Ta mendesah merasakan nikmatnya mengambil kegadisan si kembang desa. Indah sambil merintih tidak jelas menggelengkan kepala dan meronta berusaha menolak, namun semua usahanya sia-sia, dan gadis itu kembali terpekik dan tersentak karena Ta kini dengan kuat meremasi kedua payudaranya yang kencang menantang.

    Memang benar kata orang, gadis seperti Indah memang sangat memuaskan, wajahnya yang cantik, buah dadanya yang tegak menantang bergerak naik turun seirama napasnya yang tersengal-sengal, tubuhnya yang montok telanjang bersimbah keringat, kedua pahanya yang mulus bagai pualam tersentak terkangkang-kangkang, bibir kemaluannya tampak megap-megap dijejali kejantanan Ta yang begitu besar.

    Sementara dinding kemaluannya terasa seperti mencucup-cucup tiap kali gadis itu terpekik tertahan. Indah dengan airmata berlinang merintih memohon ampun, namun tusukan demi tusukan terus menghajar selangkangannya yang semakin perih. Payudaranya yang biasanya tersenggol pun terasa sakit kini diremas-remas tanpa ampun.

    Belum lagi rasa malu diikat dan ditelanjangi di depan orang yang tidak dikenalnya, lalu diperkosa tanpa dapat berkutik. Rasanya bagai bertahun-tahun Indah disetubuhi tanpa mampu melawan sedikitpun.

    “Hhh..! Indahh..! Wulaann..! Sekarang Mas bikin kamu hamil, sayangghh..! Aah… ambil Nduk! Nih! Nih! Niih..!” Tanpa dapat ditahan lagi Ta menyemburkan spermanya dalam hangatnya kemaluan Indah sambil sekuat tenaga meremas kedua payudara gadis itu, membuat Indah tergeliat-geliat dan terpekik-pekik tertahan sumpalan celana dalam di mulutnya.

    Kepala gadis itu terasa berputar menyadari ia akan hamil. Perlahan pandangan gadis itu menjadi gelap. Indah kembali tersadar oleh dengusan napas di depan wajahnya. Sebelum sadar sepenuhnya, sengatan perih di selangkangannya membuat gadis itu terpekik dan meronta.

    Namun tangan dan kakinya tidak mau bergerak, dan pekikan-pekikannya tidak dapat keluar. Dengan gemas Ta kembali menggenjotkan kejantanannya menikmati keperawanan Indah. Ta tidak tahan lagi untuk tidak kembali menggagahi gadis itu, memandanginya tergolek telanjang bugil tanpa daya di atas ranjang.

    Pahanya yang putih mulus terkangkang seolah mengundang, bibir kemaluannya yang berambut jarang terlihat berbercak merah, tanda Indah memang betul-betul masih perawan, tadinya. Kedua payudara gadis itu berdiri tegak menjulang, dengan puting susu yang kemerahan menggemaskan.

    Sementara wajahnya yang manis dan bau tubuhnya yang harum alami sungguh membuat Ta lupa diri. Dengan istri muda seperti Indah, ia tidak akan mau tidur sekejap pun, tidak perduli gadis itu suka atau tidak.

    “Aah..! Ahk! Angkung (ampun)..! Aguh (aduh).. hakik (sakit).. angkung (ampun)..!” Indah merintih-rintih tidak jelas dengan mulut tersumpal celana dalam di sela-sela jeritan tertahan. Tanpa mampu merapatkan pahanya yang terkangkang, gadis itu merasakan kemaluannya semakin perih tiap kali Ta menggerakkan kejantanannya.

    Tiap detik, tiap genjotan terasa begitu menyakitkan, Indah berharap kembali pingsan saja agar perkosaan ini segera berlalu. Namun gadis itu tanpa daya merasakan bagian bawah tubuhnya terus ditusuk-tusuk benda yang begitu besar.

    Ta semakin giat menggenjotkan kejantanannya dalam hangatnya kemaluan Indah yang peret dan mencucup-cucup menggiurkan.

    Istri barunya ini memang pintar memuaskan suami di atas ranjang. Apalagi kalau nanti diajak tidur beramai-ramai bersama satu atau dua istrinya yang lain. Membayangkan meniduri dua atau tiga gadis sekaligus membuat Ta semakin bersemangat menyodok kemaluan Indah, semakin cepat, semakin dalam.

    Ta merasakan kejantanannya menyentuh dasar kemaluan gadis itu bila disodokkan dalam-dalam. Indah sendiri hanya merintih tampak pasrah mempersembahkan kesuciannya pada Ta. Airmata gadis itu tampak berlinang membasahi pipinya yang kemerahan.

    Tubuh montok gadis itu tergelinjang-gelinjang kesakitan tiap kali kejantanan Ta menyodok masuk dalam kemaluannya yang begitu sempit. Dengan menggeram seperti macan menerkam mangsa, Ta dengan nikmat menyemburkan sperma dalam kehangatan tubuh Indah yang terpekik tertahan-tahan.

    Semalam suntuk Ta dengan gagahnya memperkosa Indah, setidaknya lima kali gadis itu disetubuhi tanpa daya. Entah berapa kali Indah pingsan ketika Ta mencapai puncak, hanya untuk tersadar ketika tubuhnya kembali dinikmati dengan buasnya.

    Selangkangan gadis itu terasa perih dan panas, seperti ditusuk-tusuk besi yang merah membara. Payudaranya serasa lecet diremas habis-habisan, terkena semilir angin pun perih. Punggung gadis itu perih tergores kuku Ta.

    Namun siksaan tanpa belas kasihan itu tidak kunjung usai, bagai tidak mengenal lelah kejantanan Ta terus bertubi-tubi menusuk dalam-dalam, kedua tangannya seperti capit kepiting terus mencengkeram buah dada Indah.

    Sementara gadis itu dengan tangan dan kaki terikat erat tidak mampu berkutik, apalagi menghindar atau mencegah. Bahkan menjerit pun Indah tidak mampu, tenaganya sudah habis dan sumpalan celana dalamnya sendiri membuat pekikannya hanya seperti erangan.

    Bagai berabad-abad Indah dibuat bulan-bulanan tanpa daya. Dari sela-sela jendela yang tertutup, sinar matahari pagi menerobos masuk. Dengan lemas Ta berbaring di sisi Indah yang terisak-isak. Sungguh luar biasa istri barunya ini, semalam suntuk gadis ini mampu melayani suaminya.

    Dari jam tujuh malam sampai jam enam pagi, dalam sebelas jam gadis itu mampu lima-enam kali memuaskan suaminya, meskipun harus sedikit dipaksa. Kalau saja kemarin tidak minum obat kuat, mungkin saja pagi ini Ta tidak dapat bangun.

    Sambil tersenyum lebar, Ta bangkit dan mengenakan pakaian. Perlahan Ta membuka sumpalan mulut Indah. Gadis itu sendiri masih telanjang bulat dengan tangan dan kaki terikat terentang lebar. “Nduk, kalau jadi istriku, kamu minta apa saja pasti aku beri. Mau kalung? Gelang? Rumah? Sepeda motor? Jangan takut, sebagai istri orang kaya, semua keinginanmu akan terkabul.”

    “Nggak mau… lepasin Indah… Indah mau pulang..!” isak gadis itu menghiba. “Rumah kita sekarang di sini Nduk, kamu sudah jadi istriku.” bujuk Ta.

    “Enggak… enggak mau. Indah mau pulang!” gadis itu berusaha meronta tanpa hasil.

    “Jangan buat suamimu ini marah, Nduk! Kamu sudah jadi istriku, aku bebas berbuat apa saja dengan kamu! Jangan keras kepala!” seru Ta jengkel. Indah sambil terisak terus menggelengkan kepala. Berulangkali bujukan dan ancaman Ta tidak dihiraukan Indah, membuat Ta naik pitam.

    “Baik, jadi kamu tidak ingin jadi istriku. Baik, kamu sendiri yang minta, Nduk! Jangan salahkan aku kalau aku bertindak tegas!” kata Ta sambil membuka ikatan kaki Indah. Ta kemudian membuka ikatan tangan gadis itu dari besi ranjang, namun kedua pergelangan tangannya tetap terikat erat.

    Lalu dengan menarik ujung tali yang mengikat tangan Indah, Ta menyeret gadis yang masih telanjang bulat itu keluar kamar. Karena tubuhnya masih lemas, Indah tidak kuasa menolak dirinya yang masih bugil diseret sampai ke jalan desa yang terang benderang.

    “Hei, lihat! Lihat ini! Sungguh memalukan!” seru Ta sambil menyeret gadis yang mati-matian berusaha menutupi ketelanjangannya.

    “Ada apa Pak Ta? Apa yang terjadi?” tanya orang-orang desa yang segera saja mengerumuni keduanya.

    “Lihat ini! Perempuan ini sudah membuat desa kita tercemar! Dia berzinah dengan laki-laki! Saya pergoki mereka di rumah kosong di tepi desa! Sayang laki-lakinya kabur, tapi saya tahu orangnya! Pasti nanti akan kita tangkap!” seru Ta berapi-api.

    “Tidak! Tidak.. tolong..!” sia-sia Indah berusaha membantah, suaranya tertelan ramainya suasana. “Lihat! Ini bukti perempuan ini sudah berzinah!” Ta menunjuk ke arah selangkangan gadis itu yang berbercak darah.

    Kerumunan orang bergumam dan mengangguk-anggukkan kepala. “Tidak! Saya tidak ber…” perkataan Indah terputus oleh teriakan salah seorang. “Bawa ke balai desa! Biar dihukum adat di sana!” serunya. Seseorang lain menarik tali yang mengikat tangan Indah dan menyeret gadis telanjang bulat itu menuju ke balai desa.

    Sepanjang jalan mereka berteriak-teriak, membuat semakin banyak orang keluar rumah melihat Indah yang bugil diseret. Anak-anak kecil berlari-lari mengikuti sambil tertawa-tawa mengejek. Di balai desa, tepat di tengah pendopo, tali pengikat tangan Indah ditarik ke atas dan diikatkan dengan tiang di atasnya.

    Kini gadis telanjang bulat itu berdiri tegak dengan tangan terikat ke atas. Indah tahu bahwa hukuman bagi orang yang berzinah biasanya keduanya ditelanjangi, kemudian diikat seharian di balai desa. Seperti dirinya sekarang, namun ia hanya sendirian dan ia sama sekali tidak berzinah.

    Gadis itu diperkosa berkali-kali, lalu difitnah berzinah oleh pemerkosanya sendiri. Namun siasia gadis itu berusaha membantah, suaranya yang kecil hilang ditelan ramainya orang di sekitarnya. Dan kini ia berdiri telanjang bulat sendirian dikelilingi belasan warga.

    Isakan tangis Indah semakin keras mendengar tawa orang-orang yang mengelilinginya, berkomentar mencemooh tentang kemulusan tubuhnya, buah dadanya yang ranum kemerah-merahan bekas diremas, pantatnya yang bulat, pahanya yang mulus.

    Isakan gadis itu terhenti ketika sebuah truk berhenti di depan balai desa. Beberapa ibu-ibu yang turun dari truk terheran-heran melihat ke arah Indah.

    Beberapa orang kemudian menurunkan barang-barang dari truk. Indah tersadar, hari ini hari pasar, dan ratusan orang akan berkumpul hanya beberapa meter darinya. Ratusan orang akan melihat dirinya telanjang bulat tanpa tertutup sehelai benang pun.

    Kepala gadis itu terasa berputar, saat Ta berbisik di telinganya, “Rasakan akibatnya kalau kamu tidak mau jadi istriku! Sekarang semua orang tahu kamu sudah tidak perawan, dan semua orang juga sudah pernah melihat kamu tanpa pakaian!” Perlahan gadis itu kembali terisak dan berpikir seandainya saja ia menerima menjadi istri Ta.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Puas Bermain Dengan Asih Dan Ina

    Cerita Sex Puas Bermain Dengan Asih Dan Ina


    1336 views

    Perawanku – Cerita Sex Puas Bermain Dengan Asih Dan Ina, Bangun tidur sore itu… tidak membuat Anton menjadi bugar, seperti layaknya orang bangun tidur, Bayangkan 2 malam begadang di puncak Merapi. Sebagai anggota pencinta alam, kampusnya ditugaskan untuk mencari beberapa anak SMK pendaki yang hilang di Merapi. Cuaca buruk begini nekat mendaki gunung, kutuknya dalam hati. Di dekapnya kedua kaki mengusir dingin di atas bangku teras depan kosnya, cuaca hujan rintik-rintik.

    Memang cuaca bulan Desember membuat segalanya menjadi basah, termasuk beberapa potong celana jeans belelnya yang kemungkinan hanya di bulan Desember ini bertemu dengan yang namanya air, dua potong CD pun ikut basah akibat dicucinya tadi pagi. Benar2 hari yang menyiksa bagi Anton, sudah dingin cuaca… tanpa CD pula. Sepotong kain sarung yang lumayan kering cukuplah menghangatkan tubuh cekingnya sore itu.Agen Poker
    Tempat kos Anton cukup strategis, walaupun bangunan peninggalan Belanda, tetapi letaknya terpisah dari perkampungan, karena dikelilingi oleh tembok tinggi. Ibarat memasuki sebuah benteng pada jaman dahulu, letak kamar kos-kosan disekeliling bangunan utama yang di jadikan sekolah negeri. Suasana sekitar kos-kosan memang sedang sepi… penghuninya banyak yang pulang kampung, maklum liburan. Sementara sebagian kamar dijadikan asrama sekolah yang juga kosong ditinggal penghuninya liburan, praktis Anton merasa sebagai penjaga kosan, umpatnya dalam hati.
    “Mas… jamu mas…” sapa tukang jamu gendongan membuyarkan lamunan Anton.
    “Eh embak… ujan-ujan ngagetin orang lagi ngelamun aja” sewot Anton.
    “Masnya ini lho… ujan-ujan kok ngelamun… tuh jemuran gak diangkat…” tanya mbak jamu sambil berjalan menghampiri beranda di mana Anton duduk.
    “Emang sengaja mbak… sekalian kena air” jawab Anton sekenanya.
    “Lho… kan sayang udah di cuci tapi kehujanan” kata mbak jamu keheranan.
    “belum kok, belum di cuci” elak Anton.
    “Lha… kok aneh” protes mbak jamu,
    “sekalian dicuciin sama ujan” saut Anton.
    “Dah laku jamunya mbak? tanya Anton di sela-sela gerimis.
    “Yah belum banyak sih, makanya mbok dibeli mas jamunya” pinta mbak Jamu memelas.
    “Emang jualan jamu apa aja sih mbak” selidik Anton sambil membenahi sarungnya.
    “Ya macem-macem, ada galian singset, sari rapet, kunir asem, sehat lelaki, pokoknya banyak deh, dan semuanya hasil meracik sendiri lho mas” bangga mbak jamu sembari membersihkan air di sekitar kaki dan kainnya.
    “Kalo badan pegel-pegel, jamunya apa mbak?” tanya Anton,
    “Ada tolak angin” seru mbak jamu.
    “Ah… kalo aku biasa di kerokin mbak, kalo minum jamu doang kurang marem” kata Anton.
    “Mbaknya bisa ngerokin saya?” goda Anton,
    “Emang situ mau saya kerokin” kerling mbak jamu malu-malu. Anton hanya tersenyum saja.
    “Ngomong-ngomong… namanya siapa sih mbak” tanya Anton.
    “Saya Inah mas” jawabnya tersipu. Kalo di perhatikan… manis juga nih cewek… mana putih lagi kulitnya, gumam hati Anton.
    “Kalo mas siapa namanya?” tanya Inah membuyarkan lamunan Anton.
    “Saya Anton mbak” jawab Anton gugup. Keduanya bersalaman, gila… alus juga nih cewek tangannya, bathin Anton.
    “Gimana mas Anton, mau saya kerokin?” tantang Inah memancing.
    “Bener bisa ngerokin nih?” tanya Anton antusias.
    “Boleh” jawab Inah senyum.
    “Tapi jangan di sini ya, bawa masuk aja sekalian bakulnya mbak” kata Anton sambil bangkit berdiri menyilahkan Inah masuk ke dalam kos-kosan.
    “Wah kos-kosannya bagus ya mas, ada ruang tamunya segala, ini kamar siapa aja mas kok ada tiga? selidik Inah sembari meletakkan bakulnya di pojok dekat bufet.
    “Kamar temen, cuman mereka pada pulang kampung, tinggal saya sendiri jaga kos” jawab Aton.
    “Kamar mas Anton sebelah mana” tanya Inah,
    “Itu mbak, paling pojok, paling gelap” kata Anton.
    “Ih ngeri ah… gelap-gelapan” goda Inah genit.
    “Gak pa pa kok… aku dah jinak” canda Anton sembari mengajak Inah menuju ke dalam kamarnya.
    “Kok sepi mas?” selidik Inah sembari melihat ke kiri kanan. “Rumah sebelah juga pulang kampung sekeluarga, makanya sepi” jawab Anton.
    “Kamar mandinya di mana mas, aku mau cuci kaki dulu” tanya Inah.
    “Itu di depan kamarku jawab Anton sembari membereskan tempat tidurnya yang berantakan.
    Anton merebahkan badannya telungkup di atas kasur tanpa dipan, sementara Inah mengambil minyak gosok serta uang benggol untuk kerokan. “Mbak, jangan pake minyak ah… aku gak tahan bau dan panasnya” cegah Anton. “Trus pake apa dong mas? tanya Inah bingung. Anton berdiri menuju meja rias, diambilnya sebotol Hand Body dan di berikannya kepada Inah. “Pake ini aja mbak.. wangi lagi” senyum Anton.
    Kemudian Inah mengambil posisi duduk di sebelah Anton, disingkapkannya kain batik yg dikenakannya sehingga tampaklah betis mulus Inah. Wah mulus juga, mana banyak bulu halusnya nih tukang jamu sorak hati Anton. Tangan yang menempel di punggung Anton juga dirasa lembut dan halus oleh Anton. “Umurnya berapa mbak” tanya Anton memecah keheningan mereka berdua. “Dua enam bulan besok mas” jawab Inah. “Beda dua tahun di atas dong dengan saya” kata Anton sembari meringis kesakitan. “udah rumah tangga mbak?” kejar Anton. “Pisahan mas, suami saya kabur gak tanggung jawab” kata Ginah. “Lho kenapa?” sambung Anton penasaran.
    “Kecantol janda sebelah kampung” ungkap Inah cuek.
    “Waduh… laki-laki bodoh tuh… sela Anton sembarangan.
    “Emangnya kenapa mas?” penasaran Inah.
    “Gimana gak bodoh, punya istri manis, putih dan sintal kayak gini kok di sia-siakan” rayu Anton.
    “Ah… mas Anton bisa aja” jawab Inah masuk dalam perangkap Anton, sembari mencubit pinggang lelaki itu.
    “Eh… geli ah mbak…” jerit Anton sedikit mengelinjang.
    “Laki-laki kok gelian… ceweknya cantik tuh…” goda Inah.
    “Nggak cuman cantik… tapi banyak juga mbak” sombong Anton.
    “Huh… dasar… laki-laki…” cemberut Inah.
    “Mbak… tadi jamunya apa aja?” tanya Anton kemudian setelah adegan kerokan di punggungnya selesai.
    “Kalo buat kondisi mas Anton sekarang… minum Sehat Lelaki” jawab Inah, “Kasiatnya apa aja mbak?” kejar Anton. “Selain ngilangin masuk angin, supaya badan gak lemes dan mudah loyo” jawab Inah.
    “Mudah loyo…? maksudnya apa…? tanya Anton kemudian.
    “Ih masnya ini lho… kayak gak tau aja…” jawab Inah malu-malu. Anton memutar badannya, sekarang dia telentang menghadap Inah yang masih duduk terpaku,
    “Sungguh… saya gak tau mbak” aku Anton.
    Inah memalingkan wajahnya, terlihat semu merah di pipi Inah yang menambah manis rona wajahnya.
    “Itu lho… buat pasangan suami istri kalo mau melakukan hubungan…” jawab Inah tersipu.
    “Hubungan…? hubungan apa…?” tanya Anton dengan muka bloonnya.
    “Ahhh… mas Anton ini lho… ya hubungan suami istri” jawab Inah sembari mencubit lengan Anton.
    “Bagi yang punya pasangan… kalo kayak aku gimana…? siapa pasanganku ya…?” kerling Anton menantang Inah. Inah sendiri membuang mukanya, tetapi Anton menangkap semu merah di wajah Inah.
    Inah bangkit mengambil bakul yang tertinggal di ruang tamu, sekembalinya dia bertanya lagi kepada Anton,
    “Jadi nggak… jamu Sehat Lelakinya mas?” tanyanya kepada Anton.
    “Sini dulu dong…” jawab Anton sembari tangannya mempersilahkan Inah untuk duduk di sampingnya lagi.
    “Kalo aku jadi minum… terus bereaksi… buat membuktikannya gimana kalo jamu buatan mbak itu benar-benar berkhasiat” goda Anton.
    “Ya sama pacarnya dong… maunya sama sapa?” pancing Inah gantian.
    “Gimana kalo sama mbak aja… soalnya pacar yang mana juga bingung aku” tembak Anton sekenanya.
    “Jangan ah… entar kedengeran sama tetangga lho” jawab Inah tanpa nada penolakan.
    Kemudian Inah mengambil botol dari bakul dan meracik ramuan Sehat Lelaki. Anton bangkit dari tidurnya kemudian mendekati tempat Inah duduk, dibelainya kepala gadis itu dengan lembut.
    “Jangan mas… genit ah… entar aku teriak lho” ancam Inah jinak-jinak merpati.
    “Teriak aja… paling gak ada yang keluar… orang ujan-ujan begini… pada males orang keluar” tantang Aton. Kemudian belaian Anton turun ke pipi Inah terus ke leher jenjangnya.
    “Masss… geli ahh.. entar tumpah nih gelasnya” ancam Inah.
    “Kamu cantik lho mbak… kok bodoh sekali ya bekas suamimu itu” rayu Anton,
    “Soalnya janda itu kaya mas… sementara aku kan cuma orang desa yang gak punya apa-apa” jawab Inah sembari memberikan gelas berisi ramuan jamu kepada Anton.
    “Nih… minum dulu ramuannya… ditanggung ces pleng…” jawab Inah tanpa di sadari.
    “Hee… berarti mau dong ngebuktiin khasiatnya” tembak Anton setelah meminum habis ramuan jamu tersebut.
    “Eh… ya nggak gitu… nyobanya gak sama aku” elak Inah merasa di tembak Anton.
    “Sekarang pijitin bagian depannya dong mbak, khan gak imbang kalo cuma belakangnya aja yang di garap” pinta Anton. “Depannya minta di kerok sekalian mas?” tanya Inah. “Nggak usah di kerok… pijitin aja” kata Anton.
    Pijitan Inah di dada Anton, kembali membuat pemberontakan adiknya di dalam sarung. Tangan kanan Anton kembali meraba pipi halus Inah, wanita itu terdiam. Kemudian Anton menelusuri rabaan mulai turun ke leher Inah, perlahan tapi pasti dibukanya kancing kebaya Inah, Inah menoleh ke samping, dadanya bergemuruh, dirasakan semua bulu kuduknya berdiri, sensasi ini telah lama ia rindukan, semenjak bercerai dengan suaminya setahun lalu, tidak ada tangan laki-laki lain yang menyentuh tubuh sintalnya.
    Cerita Sex Puas Bermain Dengan Asih Dan Ina

    Cerita Sex Puas Bermain Dengan Asih Dan Ina

    Anton merasakan deru nafas Inah yang mulai tidak teratur, dalam hati Anton bersorak… kena lo sekarang…! Dirabanya bukit kembar satu persatu. Anton tidak mau terburu-buru, diraba dengan bra yang masih terpasang. Rona wajah Inah semakin nyata, “Masss… jaaangaannnn… mass… nanti dilihat orang” erang Inah sembari menahan gejolak dalam dirinya tanpa menepis tangan Anton. Anton tidak menjawab, perlahan di bukanya kebaya Inah mulai dari pundak.
    Inah mencoba untuk menahan tangan Anton, kemudian Anton bangkit dari tidurannya, Inah memiringkan wajahnya seolah takut berhadapan dengan wajah Anton yang tinggal beberapa senti lagi darinya. Anton meraih dagu wanita itu, perlahan dipalingkan wajah Inah tepat dihadapannya, kemudian Anton mendekatkan bibirnya mengecup bibir Inah, Wanita itu menolak, tetapi hanya sesaat, kedua tangan Anton memegang pundak wanita itu dan dilanjutkannya mengecup bibirnya, bergetar bibir wanita itu dirasa menambah nafsu Anton, perlahan dibukanya bibir itu dan dikulumnya lidah wanita itu, terlihat Inah mulai menikmatinya sambil memejamkan mata.
    Kedua tangan Anton menurunkan kebaya yang dipakai Inah, tanpa perlawanan lagi. Sembari mereka saling berpagutan, dicarinya pengait bra di punggung wanita itu dan berhasil dibukanya, perlahan diturunkannya tali di atas pundaknya ke samping dan turun ke bawah. Anton terhenyak tanpa melepaskan pagutannya, bukit kembar wanita itu masih kencang, bulat dan mengacung putingnya menantang, kemudian dirabanya kedua bukit itu disertai erangan kecil Inah.
    “Masss… aku takuuutt…” erang Inah.
    “Sssstttt… enggak pa pa kok… nikmatin aja ya sayang” ujar Anton menenangkan wanita itu.
    Kemudian Anton mengambil tangan kiri Inah yang kemudian diletakkannya di atas sarung tepat di senjata Anton.
    “Mass… gak pake celana dalam ya…?” tanya Ginah sembari mengelusnya dari luar sarung.
    Anton hanya tersenyum, kemudian diapun berusaha untuk melepaskan kain yang masih dikenakan Inah. Setelah kain terlepas… Anton tidak dapat menahan gelinya, “Kamu juga gak pake daleman ya…? tanya Anton dengan geli.
    “Memang rata-rata tukang jamu itu tidak memakai celana dalam mas” jawab Ginah ketus, giliran Anton yang kaget dan melongo… Gila!!! Perlahan ditatapnya wajah Inah, perlahan tapi pasti tangan Anton merenguh bahu wanita itu dan perlahan-lahan merebahkannya ke lantai.
    Anton mulai meraba kedua bukit kembar Inah, sementara wanita itu memalingkan wajahnya menghindar tatapan Anton, di pegangnya tangan Anton tetapi tidak bermaksud untuk melarang. Anton memang pandai memanjakan wanita, walau dirasa tubuh wanita itu sedikit berbau ramuan jamu, tidak mengurangi nafsu Anton untuk kemudian menjilatinya. Dimulai dari leher jenjang wanita itu, kemudian perlahan turun pada dua bukit kembar, kembali lidah Anton menyelusuri gundukan bukit itu satu persatu yang diakhiri dengan sedotan diujung putingnya.
    Terdengar erangan wanita seperti kepedesan, kedua tangannya telah beralih ke rambut gondrong Aton dengan sedikit jambakan. Lidah Anton meneruskan gerilyanya, turun ke arah pusar Inah, terlihat Inah demikian menikmatinya, kegiatan yang tidak pernah dilakukan suaminya dahulu, karena suaminya hanya memaksa bila ingin dipenuhi kebutuhan sahwatnya tanpa Inah merasakan nikmatnya berhubungan insan berlainan jenis.
    Tangan Anton kembali meremas bukit kembar Inah, sementara jilatan Anton telah mendekati sasaran di sarang kenikmatan Inah. Luar biasa… bulu kemaluan Inah demikian lebatnya, menambah sensasi tersendiri buat Anton. “Eh… masss… mau ngapaiiinn…? selidik Inah di atas sana.
    Anton tidak menjawab, tangan kanannya berusaha menyingkap bulu lebat Inah untuk menemukan kenikmatan gadis itu.
    “Jangan masss… kotooorrr… achhh…” erang Inah menahan gejolak yang untuk pertama kali dirasakan sensasi itu.
    Anton hanya melirik ke atas, dilihatnya mata wanita itu terpejam kenikmatan.
    “Masss… ediaaannn… uenakeee… ssshhh… aaahhh… emmmhhh masss…” jerit tertahan Inah sembari menjambak rambut Anton.
    Lidah Anton menemukan klitoris Indah, dijilat, dipluntir dan sesekali dihisap lembut, sehingga tak lama membuat Inah kelojotan.
    “Masss… gak kuaaat… mauuu pipp pisss…” teriak Inah sambil berusaha menyingkirkan kepala Anton dari kemaluannya.
    Anton menolak dan semakin kuat membenamkan wajahnya kedalam kemaluan Inah.
    Tak lama kemudian Anton merasa kalau kepalanya sedikit sakit akibat jepitan paha Inah, tetapi di tahannya, karena Anton tahu bahwa wanita ini mengalami orgasme yang teramat hebat dan dahsyatnya.
    “Achhh… emmmhhh… masss…sss…sss acchhh…” jerit tertahan Indah mengiringi orgasme yang baru sekali ini dialaminya, seolah copot semua persendian di tubuhnya. Sensasi apa ini, yang tak mampu dicapai oleh pikirannya, karena tidak pernah di dapat dari mantan suaminya dulu. Inah terkapar kelelahan,
    Anton memeluknya, dielusnya rambut dan pipi Inah, sementara Inah kehabisan nafas, seakan habis puluhan kilometer dia lari…
    “Gimana rasanya mbak?” tanya Anton beberapa saat kemudian setelah Inah terlihat telah dapat mengatur nafasnya. “Masss… tadi itu rasanya seperti apa ya…? tanya Inah kebingungan disela nafas yang masih tersengal.
    “Sssst… sudah tak usah diungkapkan… pokoknya dirasain aja ya…” jawab Anton menenangkan Inah.
    Beberapa saat kemudian Inah telah normal kembali pernafasannya dan bangkit duduk di samping Anton. “Kok mas gak jijik sih nyiumin pepekku” tanya Inah yang membahasakan kemaluannya dengan pepek. Anton tidak menjawab, malah dia bertanya pada Inah
    “Inah bener… belum pernah merasakan seperti tadi ya?”
    “Bener mas, soalnya suami Inah itu Peltu” jawab Inah.
    “Peltu??? emangnya suami Inah itu aparat?” goda Anton.
    “Bukan… nempel metu…” jawab Inah tersipu.
    “Ha… ha… ha…” tawa renyah Anton.
    Inah sudah tidak malu-malu lagi, perlahan tangan kanannya meraih senjata Anton yang masih tegak berdiri,
    “Mas… punyanya kok panjang begini ya” tanya Inah sembari mengelus senjata Anton. Anton tersenyum, diberinya ruang untuk Inah dapat sepenuhnya menikmati senjata Anton.
    Kemudian perlahan dan agak ragu, Inah mendekati senjata Anton ke wajahnya, matanya melirik Anton seakan meminta persetujuan Anton, Anton tersenyum dan mengangguk. Dengan tidak buru-buru, dimasukkannya kepala senjata Anton ke dalam mulut Inah, Anton terpejam merasakan sensasi bibir Inah sembari mengelus rambut wanita itu, luar biasa… katanya tidak mempunyai pengalaman, tetapi dalam urusan sedot-menyedot… rupanya Inah juga jagonya, bathin Anton, mungkin ini yang dinamakan bakat alam, tanpa dipelajari sudah berjalan secara naluri.
    Anton masih bermain dengan pikirannya, sementara Inah mengulum senjatanya. Sosok Inah di mata Anton seolah tidak bedanya dengan cewek-cewek kencannya, tetapi Inah mempunyai nilai plus. Di samping Inah hanya seorang tukang jamu, tetapi dalam merawat tubuh tidaklah kalah dengan cewek kuliahan, Kulit Inah putih bersih dengan bulu-bulu halus di sekujut tubuhnya, ketiak yang tidak dicukur tetapi rapi memberi kesan tidak jorok, sementara bulu kemaluan yang lebat sampai ke belakang.
    Anton terhenyak melihat Inah terbangun dari kulumannya di senjata Anton. “Kenapa mbak?” tanya Aton, “Pegel mas mulutku, habis gede banget sih senjatanya” senyum Inah malu-malu. “Oke, sekarang mbak tiduran, aku masukin ya senjataku ke pepek embak” kata Anton. Tanpa perlu menjawab, Inah merebahkan tubuhnya memasang posisi, kemudian Anton mulai menusukkan senjatanya kedalam kenikmatan Inah.
    “Auuu… pelan-pelan ya masss… masukinnya… maklum dah lama gak di pake?” meringis Inah merasakan moncong senjata Anton memasuki lubang pepeknya. Setelah di rasa cukup masuk dan menyesuaikan di dalam lobang kenikmatan Inah, mulailah Anton memaju-mundurkan senjatanya.
    “Ssshhh… enaaak masss… terusss… yang dalammm masss…”erang Inah keenakan. Anton mulai berkeringat, walau udara di kamar sebetulnya cukup dingin, mungkin karena jamu yang diminum tadi sudah bereaksi.
    “Gila nih lobangnya mbak… adikku kamu jepit pake apa sih mbak” kata Anton disela aktifitasnya memaju mundurkan senjatanya,
    “Ah… mas Anton ini lho.. sempet-sempetnya bercanda… enggak kok mas… barangku enggak ada alatnya… cuman bisa njepit aja” bangga Inah.
    “Ini yang dinamakan orang ‘Empot Ayam’ ramuan Madura… khan ada jamunya juga mbak” kata Anton.
    “Iya mas… aku rajin minum juga… cuman gak tau namanya apa… soalnya itu jamu warisan nenekku yang memang masih ada keturunan Madura…” jawab Inah sembari merasakan sensasi kembali.
    “Accchhh… masss… aku moo pippiisss lagiii… aahhh…” untuk kedua kalinya Inah melenguh panjang, pertanda telah sampai orgasme nya yang kedua.
    Dijepitnya pinggang Anton… dipeluknya dada Anton, seolah mau melumat tubuh kurus Anton, Anton sedikit meringis merasakan jepitan kaki Inah dan pelukan tangan Inah di tubuhnya, tetapi Anton mengerti akan kenikmatan Inah, maka dibiarkannya wanita itu menjepit tubuhnya. Setelah beberapa saat Anton memberi waktu untuk Inah mengembalikan nafas liarnya, ia berinisiatif untuk merubah gaya, disuruhnya Inah untuk nungging membelakanginya, Anton melakukan dogy style. Inipun sensasi lain yang dirasakan Inah, baru dengan Anton ini ia merasakan indahnya persetubuhan.
    Anton pun merasakan sensasi lain dari jepitan lubang Inah, dengan posisi ini, lubang kemaluan Inah semakin dirasakan sempit, sedikit mengalami kesulitan bagi Anton untuk memaju-mundurkan senjatanya, walau lubang Inah sudah sedemikian basahnya akibat orgasme Inah tadi.
    Tangan Anton memegang pinggul Inah, sedangkan Inah memeluk bantal sembari mengerang kenikmatan,
    “tusuk yang dalammm… masss… ssshhh….
    Akhirnya Anton memacu semakin cepat dengan tujuan untuk mencapai puncak kenikmatan bersamaan, kali ini. “Masss… pippiiisss… lagi nihhh akuuu…” desak Inah,
    “sabar sayang… mas juga mau keluar nihhh… ayuuukkk… aaahhh… Naaahhh” lenguh Anton. demikian juga Inah yang semakin liar memeluk serta menggigit sarung Aton,
    “aaacchh… emmmhhh… enghhh… masss…”
    Keduanya terkapar di kasur dengan deru nafas yang saling berlomba, Inah memeluk Anton, Anton membelai rambut lurus Inah. Mereka saling mendekap, berpagutan, disela deru nafas mereka berdua, hujan deras di luar. Tetapi di dalam kamar telah terjadi kehangatan yang dahsyat. “Mbak, gimana rasannya dengan gaya kayak barusan tadi?” tanya Anton memulai pembicaraan.
    “Sungguh mas, baru kali ini saya merasakannya dan ternyata luar biasa, seperti pengen mengulang terus dan terus” jawab lugu Inah.
    “ha… ha… ha… kayak iklan aja nih…” gelak Anton.
    “Kalo mas Anton udah berapa cewek yang mas Anton puasin?” selidik Inah sembari memainkan puting susu Anton,
    “Hemm… berapa ya…” jawab Anton seolah berpikir,
    “tau ah… saking banyaknya”. “dasar laki-laki buaya” geram Inah sembari mencubit dada Anton.
    “Trus… kebanyakan cewek-cewek itu juga puas mas…?” tanya Inah sedikit cemburu,
    “seperti jawabanmu bila kamu di tanya sama orang, pasti jawabannya… Luar Biasaaa…” jawab Anton geli sembari mencubit mesra hidung Inah.
    “Mas Anton gak punya cewek yang diseriusin ya?” kejar Inah lagi, “mana ada yang bisa serius dengan aku… kebanyakan cewek yang deket sama aku juga paling-paling minta dipuasin nafsunya” elak Anton.
    “Nakal ya mas Anton ini…” gemes Inah sembari mencubit senjata Anton.
    “Ha… ha… ha… memang itu yang mereka inginkan.. kebanyakan mereka nggak kangen sama aku,,, tetapi kangen sama burungku… ha.. ha… ha… canda Anton sambil terkekeh renyah.
    “tapi suatu saat nanti… pasti lah aku cari pendamping yang setia… mungkin seperti kamu mbak… selain manis, putih, pintar memijit dan piawai dibidang jepit-menjepit…” aku Anton sembari memeluk dan mengelitik payudara Inah.
    “Gombal…” jawab Inah sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan kelitikan Anton yang sengaja menyenggol payudaranya.
    “Mas… aku ke kamar mandi dulu ya, lengket rasa sekujur tubuh nih… pinjam handuknya boleh mas? tanya Inah sembari bangkit menuju kamar mandi, “Tuh di depan kamar mandi… handukku warna merah” jawab Anton.
    Memang diakui Anton bahwa jamu ramuan mbak Inah memang terbukti khasiatnya, Anton merasa cairan yang dikeluarkannya begitu banyak dan kental, serta pegal-pegal di badannya seketika hilang tak dirasa. Entah membayangkan sensasi apa yang ada dalam tubuh Inah, Anton merasa senjatanya bangkit berdiri kembali, gila nih jamu… dah minta jatah lagi adik gua.
    Anton bangkit dari tidurannya dihampirinya Inah yang sedang berada di kamar mandi,
    “lho… kok gak ditutup pintunya mbak?” tanya Aton geli dan melihat Inah sedang jongkok mengguyur air di sekujur tubuh mulusnya.
    “Katanya gak ada orang… makanya gak aku tutup pintunya, lho… kok sudah mengacung lagi mas senjatanya?” goda Inah sembari melihat kemaluan Anton yang tegak berdiri.
    “Iya nih… tanggung jawab lho mbak… gara-gara jamunya nih… adikku minta jatah lagi” protes Anton.
    “Aduh kacian… sini-sini mbak angetin…” bujuk Inah sembari meraih kemaluan Anton dan segera dikulumnya.
    “Ahhh… sssttt… enak mbak” lenguh Anton sembari mengelus rambut Inah, slruuup… slruup… ck..ck..ck.. bunyi mulut Inah terganjal kemaluan Anton.
    Setelah beberapa saat dirasa cukup oleh Anton, dipegangnya pundak Inah, dibimbingnya Inah untuk berdiri, kemudian diputarnya tubuh Inah membelakanginya, dengan tubuh basah Inah, Anton memeluk Inah dari belakang. Dicumbunya leher wanita itu dan dijilatnya rambut kalong Inah, sementara kedua tangannya menyusup dari bawah ketiak Inah dan menuju kedua bukit kembar Inah.
    Inah merasa tersanjung, diangkatnya kedua tangannya dan dipegangnya kepala Anton sembari melenguh kegelian “Masss… ennaaakk… ssshhh… geliii masss…” Puting susu Inah mengencang, mengeras disela jemari Anton. Dia memang lelaki hebat yang bisa memanjakan wanita kagum hati Inah serasa melambung ke langit ke tujuh belas… “Mbak… coba membungkuk sedikit… pegangan di bibir bak mandi… kakinya direnggangkan sedikit ya sayang” pinta Anton yang dituruti Inah dengan sedikit bingung. Kemudian Anton jongkok di belakang Inah, kedua tangan Anton meraba pantat Inah dan membelahnya layaknya membelah durian tetapi perlahan dengan perasaan.
    Kemudian Inah menjerit kecil, setelah dirasa ada benda basah tetapi hangat menyentuh lubang duburnya, ditengoknya kebelakang, ternyata Anton sedang bermain lidah di lubang duburnya. Inah kaget, tetapi menikmati sensasi lain yang tak kalah luar biasanya, Inah merasa geli yang tidak tertahan tetapi nikmat, dengan tidak sengaja Inah menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan karena kegelian.
    Ceplak… cepluk… bunyi lidah Anton menjilati lubang dubur Inah yang diselingi turun ke arah lubang kenikmatan Inah yang sudah terlanjur banjir. Tanpa di sadari Anton, tangan kanan Inah berpindah ke selangkangannya sendiri, dipijitnya klitoris Inah sendiri.
    “Masss… enaakk… masss… emmmhhh… ” erang Inah sembari menggigit bibir. Kemudian Anton bangkit berdiri, diciumnya bibir Inah dari samping sembari berkata
    “Enak mbak… emmmhhh…”, “Enaakkk masss… jawab Inah malas. Kemudian Anton kembali ke belakang Inah,
    perlahan tapi pasti dimasukkannya kemaluan Anton ke lobang kenikmatan Inah.
    “Ssshhh… masss… yang dalaaamm yahhh…” rintih Inah masih dengan posisi setengah terbungkuk.
    Plok… plok… plok… bunyi suara maju mundur Anton memompa yang mengenai pantat Inah membuat suasana menjadi semakin panas., sekarang dengan bercampurnya lend*r kenikmatan Inah dan air dari bak mandi, dirasa Anton tidak begitu sulit seperti tadi di kamar tidur.
    Hujan di luar kosan masih deras… sehingga erangan Inah tidak begitu terdengar, kalah dengan derasnya hujan yang turun di atas kamar mandi yg tertutup seng. Irama jatuhnya hujan di atas seng, teriakan nikmat Inah semakin menambah irama Anton dalam memacu tusukan senjatanya pada lubang kenikmatan Inah, Inah semakin liar bergoyang, ke kiri ke kanan, ke atas bawah, kadang membuat gerakan memutar seolah memeras kejantanan Anton.
    “Masss… Inahhh nyampeee lagiii masss… ssshhh… aaahhh” lenguh Inah mencapai klimaksnya. Anton menarik erat pinggul Inah, didorongkannya kemaluan Anton ke dasar lubang Inah semakin dalam sembari ditahan di dalamnya sembari dirasakan beberapa kedutan liang kenikmatan Inah yang berkontrasi meluapkan gairah orgasmenya, benar-benar empot ayam nih cewek… sorak hati Anton, Inah KO keempat kalinya.
    Dicabutnya batang kemaluan Anton, dan sekarang posisi bergantian. Anton duduk di tepi bak mandi, sementara Inah jongkok di hadapan Anton. Kemudian Inah memasukkan kemaluan Anton ke dalam mulutnya,
    mengulumnya dan memaju-mundurkan batang kemaluan Anton. Inah marasa kondisi Anton tak lama lagi mendekati klimaks, Inah mau memberi service dengan tetap mengulum kemaluan Anton serta membiarkan Anton mengeluarkan orgasmenya didalam mulutnya, dan “achhh… ssstttt… mmmbaaakhh… aagghhh… aku keluaaarrr…” dengus Anton mencapai puncak, sembari memegang kepala Inah serta mengacak-acak rambutnya, senjata Anton tetap di dalam mulut Inah, hingga tetes mani terakhir dan langsung ditelannya.
    Sensasi luar biasa dirasakan Anton sembari melihat bagaimana Inah mengulum penisnya seperti seorang anak kecil mendapat sepotong es krim kesukaannya. Setelah beberapa saat, di sela nafas yang muali teratur, Anton bertanya kepada Inah “Enak mbak…?”, “he-eh… asin tapi gurih mas…” senyum Inah puas sembari membersihkan sisa sisa lend*r dengan lidahnya di sekitar batang kemaluan Anton dan menelannya.
    “Baru ini pula aku merasakan sperma laki-laki, ternyata gurih ya mas ya…” pengakuan Inah sembari terus mengelus dan memijit batang kemaluan Anton. Setelah selesai keduanya membasahkan tubuh masing, saling menggosok, meraba dan membersihkan cairan sabunnya.
    Keluar dari kamar mandi, Inah menuju meja rias di dalam kamar Anton, sementara Anton berjalan ke dapur guna memasak air untuk membuat teh manis hangat. Sesekali diliriknya Inah dari dapur ke dalam kamar, Inah duduk membelakangi Anton sembari mengeringkan rambut dengan handuk tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh sintalnya. Melihat pemandangan itu, Anton terpana dari tempatnya membuat teh, gila perfect banget tuh body batin hatinya, orang gak akan nyangka bahwa tukang jamu memiliki body yang aduhai, apalagi barangnya… bisa memijit pula… mungkin karena setiap hari berjalan dan membawa beban di punggung, yang tanpa disadari sudah merupakan olah raga sex… masih dalam pikiran Anton melihat pemandangan Inah dari belakang.
    “Mbak… nih teh hangatnya… aku cuman bikin satu buat kita berdua ya… biar tambah mesra… bukannya pelit lho” canda Anton sembari membawa teh hangat yang diletakkan di atas meja rias. Anton meraih kursi dan duduk di sebelah meja rias yang sedang dipakai Inah untuk mengeringkan rambut, dipandanginya Inah dari sisinya duduk. “Ah… mas… kok ngeliatin Inah terus sih… Inah kan malu…” celoteh Inah manja sembari mencubit pipi Anton. Anton hanya tersenyum dan mendekati bibir wanita itu serta mengecupnya dengan mesra. Ketika Inah menyisir rambutnya, otomatis siku tangannya terangkat ke atas dan memperlihatkan ketiak Inah yang ditumbuhi bulu tetapi tidak lebat sehingga tidak memberi kesan jorok. Anton meraih ketiak Inah, dielusnya bulu-bulunya, “gak pernah dicukur ya mbak”. “Mana sempet mas… gak ada waktu ngurusin diri” bela Inah.
    Anton kembali memperhatikan Inah menyisir rambutnya, begitu pandangan Anton ke bawah, dilihatnya payudara Indah bergoyang ke kiri kanan, menambah pemandangan menjadi panas kembali. “Mbak… adikku bangkit lagi nih…” bisik Anton sembari memberi kode liwat tatapannya ke arah kemaluannya. “Ihhhh… tuh kan… baru percaya sama ramuan jamuku…” gemas Inah sembari mencubit dan mengelus kemaluan Anton. “Gimana kalo mau minta jatah lagi” harap Anton, “Aduh… khan udah mandi mas, lagian aku capek banget nih sampe berasa copot semua tulangku mas” elak Inah. Tetapi Inah bangkit dan berjongkok di depan Anton, “Ya deh… ini tanggung jawabku… aku kulum lagi aja ya mas… kasian klo gak bisa tersalur” jawab Inah memberi solusi.
    Anton hanya tersenyum sembari melihat lagi Inah mengulum kemaluannya, dielusnya rambut Inah. Inah memang cepat bisa, sedotannya membuat Anton tidak dapat bertahan lama, dan memang ini yang dimaui Anton, karena ia berpikir bila hanya dia yang bermain tidaklah terlalu nyaman. “Mbak… achhh…” jerit Anton mengiringi orgasmenya kali ini yang seperti tadi langsung ditelan habis Inah.
    “Kok cepet keluarnya sekarang mas?” tanya Inah tersenyum. “Sengaja, habis klo main sendiri gak enak lah rasanya, makanya aku kosentrasi supaya cepet keluar” bela Anton. “He… he… he… khan masih ada besok lagi mas…” kata Inah sembari membersihkan kemaluan Anton dengan tisu yang berada di atas meja tersebut, sembari mencium mesra pipi Anton.
    “Udah… tidur sini aja mbak, aku kelonin deh” rayu Anton melihat Inah mulai memakai bra kain dan kebayanya setelah dia membersihkan diri di kamar mandi sekali lagi. “Endak ah mas… gak enak sama teman kos saya” jawab Inah mengelak ajakan Anton. “Tapi besok… kalo saya kangen sama mas.. boleh ya saya main ke sini…” pinta Inah memelas, “Oke aja… kalo pas saya ada di kosan, biasanya sih suka keluyuran” jawab Anton seenaknya. “Sekarang saya tinggalin lagi jamunya ya mas, siapa tau ada yang butuh kehangatan mas Anton lagi he… he… he…” canda Inah setelah dia selesai memakai semua pakaiannya sembari mengangkat bakul berisi jamunya.
    “Berapa semuanya mbak…?” tanya Anton sembari membuka dompet untuk membayarnya. “Sudah mas… saya kasih gratis… soalnya saya sudah dapat kepuasan yang selama ini gak saya dapetin” tolak Inah halus, “Yang bener nih mbak… mosok dah disuruh ngerokin sama ngelonin… kok gak mau di kasih uang sih?” protes Anton. “Alaaahh… saya tau kantong Mahasiswa… paling juga recehan doang isinya… ha… becanda lho mas… serius kok mas… aku yang terima kasih… mas Anton bisa mengerti perasaan wanita, salam aja ya mas buat temen kencan mas yang lain” goda Inah sembari pamitan keluar kamar.
    “Eh… sebentar mbak!” seru Anton setelah memakai kain sarungnya kembali, Inah berhenti, kemudian Anton mendekati Inah memeluk wanita itu dan memberi kecupan lembut di bibir Inah sembari menyelipkan sejumlah uang ke dalam bra Inah dan berkata “Sekali ini jangan menolak ya mbak… saya bersalah jika tidak memberi ini mohon jangan anggap sebagai imbalan jasa… tetapi rasa sayang saya dan sebagai rasa terima kasih buat embak”.
    Inah terpaku dan menatap Anton, tak dinyananya bahwa lelaki ini selain ganteng, pemberi kepuasan dan baik hati terhadap wanita, ah… seandainya…. Inah tidak mampu melanjutkan impiannya yang dianggap mustahil bagi dirinya, tak terasa menetes air mata harunya. Anton mengusap air mata Inah dan mengecup kening Inah, “Sudah ya sayang… gak usah nangis… semoga besok kita bisa lebih panas lagi” goda Anton menghibur Inah. “Ma kasih ya mas” pamit Inah meninggalkan kos-kosan Anton.
    Anton terpaku melepas kepergian Inah, hujan baru saja berhenti, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, gila dari jam lima sore tadi kita berdua main bathin Anton. Tetapi Anton merasa klo tubuhnya dalam kondisi puncak, dahsyat sekali ramuan mbak jamu tadi ya pikir Anton, besok kalau bertemu, aku akan minta lagi ah, pikir Anton sembari menutup pintu kos-kosan dan kembali ke kamarnya untuk tidur.
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Suamiku Payah Diranjang

    Cerita Sex Suamiku Payah Diranjang


    1054 views

    Perawanku – Cerita Sex Suamiku Payah Diranjang, Suatu saat ketika suamiku akan mendapatkan tugas kantornya selama dua bulan, malam sebelumnya kita saling berdebat, aku tetap ingin ikut karena dua bulan bukan. waktu yang singkat dan supaya tetep bisa nampung maninya dalam rangka bikin anak. Karena kesibukannya menyiapkan kepergiannya sudah tiga minggu aku tidak dienjot oleh suamiku. Dia coba menenangkan aku dengan iming2 akan dibawakan oleh oleh dari belanda, aku tetap kecewa. Malem itu, aku dienjot oleh suamiku, tapi karena dia gak konsentrasi sebentar aja udah muncrat. Seperti biasa kalu udah muncrat dia langsung tidur. Aku memang mengharapkan kenikmatan, tapi aku tau

    bahwa suamiku payah kalo diranjang, yah akhirnya hanya menjadi menampung
    maninya saja . Pagi hari setelah suamiku berangkat ke airport , aku menyediakan
    makan pagi, kali ini hanya untuk kakak iparku saja yang diminta suamiku untuk
    menemani aku selama dia pergi. setelah siap aku memanggil kakak iparku. “Mas, sarapan mas..”. Aku memanggilnya sembari mendorong pintunya untuk melongok
    kedalam kamar, ternyata dia masih tidur dengan hanya memakai cd.

    Napsuku timbul lagi melihat pemandangan indah, tubuh yang kekar dan dadanya yang bidang hanya dibalut sepotong cd dimana terlihat jelas batangnya besar dan panjang tercetak dengan jelas di cdnya.  Kayaknya batangnya dah tegang berat.
    Tanpa disadari aku menggunggam sendiri, “.. Ohh mas seandainya kau suamiku
    akan kupeluk tubuhmu yang perkasa ini..”. Walaupun suara aku lirih tetapi ternyata
    dia dapat mendengarnya, dia terbangun dan tersenyum melihatku. “Kenapa Sin,
    kamu gak puas ya dengan suamimu”. Aku jadi tersipu malu. “Sarapan dulu mas, ntar
    dingin”, kataku sambil keluar kamar. Lama kutunggu tapi dia gak keluar juga dari
    kamar, sementara itu napsuku makin berkobar membayangkan batangnya yang
    besar dan panjang itu. “Mas”, panggilku lagi, tapi tetap gak ada jawaban. Aku berdiri
    dan kembali ke kamarnya. Dia rupanya sedang telentang sambil mengusap2
    batangnya dari luar cdnya. Ketika dia melihat aku ada dipintu kamar, sengaja dia
    pelan2 menurunkan cdnya sehingga nongollah batangnya yang besar mengacung
    dengan gagahnya. Aku terbelalak ngeliat batang segede itu. “Kamu pengen
    ngerasain batangku ya Sin”, katanya terus terang. “Belum pernah ya ngerasain
    batang segede aku punya. Aku juga napsu ngeliat kamu Sin, bodi kamu
    merangsang banget deh”.

    Dia bangun dalam keadaan telanjang bulat menuju ke tempat aku berdiri. batangnya yang tegang berat berayun2 seirama jalannya. DIa segera memelukku dan menarikku ke ranjang, dirumah memang gak ada siapa2 lagi. Dasterku segera dilepaskannya, begitu juga bra dan cdku. Dia meneguk liur memandangi tubuh telanjang ku yang mulus, dada yang besar dengan pentil yang dah mengeras dan jembiku yang lebat menutupi meqiku dibawah sana. Kemudian dia mencium serta mengulum bibirku. Aku balas memeluknya. bibirku digigitnya pelan pelan, bibirnya turun terus menciumi seluruh lekuk tubuhku mulai dari leher terus kebawah kepentilku, dikulumnya pentilku yang sudah mengeras, aku merintih rintih karena nikmat. Aku menekan kepalanya ke dadaku sehingga wajahnya terbenam di dadaku. Dia terus menjelajahi tubuhku, dijilatinya pelan dari bagian bawah dadaku sampe ke puser. Aku makin mendesis2, apalagi ketika jilatannya
    sampe ke meqiku yang berjembi tebal. Dia menjilati jembiku dulu sampe jembiku
    menjadi basah kuyup, pelan pelan jilatannya mulai menyusuri bibir meqiku terus ke
    klitku. Ketika lidahnya menyentuh klitku, aku terlonjak kegelian. Dia menahan kakiku
    dan pelan2 dikuakkannya pahaku sehingga kepalanya tepat berada diantara pahaku.
    Lidahnya menyusupi meqiku dan menjilati klitku yang makin membengkak. meqiku
    berlendir, dia menjilati lendir yang keluar.

    Aku gak tahan lagi, aku mengejan dengan suara serak, tanganku mencengkeram seprei dan kakiku menjepit kepalanya yang ada diselangkanganku. Aku nyampe. “Mas, nikmat banget deh, padahal belum dienjot ya”, kataku mendesah. Dia diam saja, dan berbaring telentang. “Kamu diatas ya Sin, biar masuknya dalem”, ajaknya. aku mulai mengambil posisi berjongkok tepat diantara batangnya yang sudah tegang berat. “Aku masukkin batangku ke meqi kamu ya Sin”, katanya sambil mengarahkan batangnya menyentuh bibir meqiku. Dia tidak masuk menekankan batangnya masuk ke meqiku tapi digesek2kan di bibir meqiku yang berlendir sehingga kepalanya yang besar itu basah dan mengkilap.Akuterbuai, dengan mata terpejam aku mendesah2 saking napsunya, “mas, masukin dong.” aku mulai menekan kepala batangnya yang sudah pas berada di mulut meqiku. Pelan2 batangnya menyusup kedalam meqiku, “Akh mas, gede banget”, erangku. “Apanya yang besar Sin”, dia memancing reaksiku. “Punyanya maass..!!” “..Apa namanya..?” dia memancing lagi, aku langsung aja menjawab, “batang mas, besar sekali”. Dengan sekali hentakan keatas batangnya menyeruak masuk meqiku. “Ooh mas, pelan2 mas”, aku mendesah lirih. Mataku terbeliak, mulutku terbuka, tanganku mencengkeranm seprei kuat2.http://139.99.33.211/wp-content/uploads/2020/07/147.jpg

    Cerita Sex Suamiku Payah Diranjang

    Cerita Sex Suamiku Payah Diranjang

    Bibir meqiku sampe terkuak lebar seakan tidak muat untuk menelan batang besarnya. “meqi kamu sempit sekali Sin”, jawabnya. aku mulai berirama menaik turunkan pantatku, batangnya masuk merojok meqiku tahap demi tahap sehingga akhirnya ambles semuanya. Pelan2 dia ikut bergoyang menarik ulur batang besarnya. Aku mulai merasa sensasi yang luar biasa nikmatnya. meqiku yang sudah licin terasa penuh sesak kemasukan batangnya yang besar, batangnya terasa banget menggesek meqiku yang sudah basah berlendir itu. “Mas, enak banget mas, terus mas”, erangku. “Terus diapain Sin”, jawabnya menggoda aku lagi. “Terus enjotin meqi
    Sintia mas”, jawabku to the point. “enjotin pake batang gede mas”. Enjotannya dari
    bawah makin menggebu sehingga aku makin menggeliat2. AKu memeluknya dan
    mencium bibirnya dengan garesif, dia menyambut ciumanku. Nafasku memburu
    kencang, lidahku saling mengait dengan lidahnya, saling menyedot. Kemudian dia
    menggulingkan aku sehingga aku dibawah, dia mulai mengenjotkan batangnya
    keluar masuk dengan cepat. aku mengangkangkan pahaku lebar2, supaya dia lebih
    mudah menyodokan batangnya keluar masuk. Keluar masuknya batangnya sampe
    menimbulkan suara berdecak2 yang seirama dengan keluar masuknya batangnya,
    karena basahnya meqiku.

    “Mas, enak sekali batangmu mas, enjotin meqi Sintia yang cepet mas, nikmat banget”, desahku. “Ooh meqi kamu sempit banget Sin, terasa banget sedotannya. Nikmat banget deh”, jawabnya sambil terus mengenjotkan batangnya keluar masuk meqiku. Enjotannya makin ganas, pentilku diemut2nya. Aku menggelinjang kenikmatan, dada kubusungkan dan kugerak2kan kekiri kekanan supaya 2 pentilku mendapat giliran diemut, “ssh, mas, nikmat banget ngenjot ama mas, pentil sintia dikenyot terus mas”, erangku lagi. “Sintia bisa ketagihan dienjot ama mas. Ooh mas, Sinta gak tahan lagi mas, mau nyampeee”.”. Aku mengejang sambil memeluk tubuhnya erat2, sambil menikmati kenikmatan yang melanda tubuhku, luar biasa rasanya. “Sin, aku masih pengen ngenjotin meqi kamu yang lama. Kamu bisa nyampe lagi berkali2”, katanya sambil terus
    mengenjotkan batangnya. Dia minta ganti posisi, aku disuruhnya nungging dan
    meqiku dienjot dari belakang, meqiku terasa berdenyut menyambut masuknya
    batangnya. Aku memutar2 pantatku mengiringi enjotan batangnya, kalo dia
    mengenjotkan batangnya masuk aku menyambutnya dengan mendorong pantatku
    dengan keras ke belakang sehingga batang besarnya masuk dalem sekali ke
    meqiku. “Ooh nikmatnya mas, dienjot dari belakang.

    Kerasa banget geseken batang mas di meqi Sintia”. Jarinya mengilik2 klitku sambil terus mengenjotkan batangnya keluar masuk. ” Uuh mas, nikmat banget mas, terus mainin klit Sintia mas sambil ngenjot meqi Sintia”, erangku saking nikmatnya. Jarinya terus menekan klitku sambil diputar2, aku mencengkeram seprei erat sekali. Pantat makin kutunggingkan keatas supaya enjotannya makin terasa. Dia memegangi pinggangku sambil mengenjotkan batangnya keluar masuk dengan cepat dan keras. “Mas, nikmat banget banget mas, Sintia udah gak tahan neh, mau nyampe lagiii”, aku menjadi histeris ketika nyampe untuk kedua kalinya, lebih nikmat dari yang pertama. Diapun mencabut batangnya dari meqiku dan berbaring disebelahku. “Mas. belum muncrat kok dicabut batangnya”, tanyaku. “Sintia masih mau kok mas dienjot lagi, biar bisa nyampe lagi”. Dia setengah bangun dan membelai rambutku, “Kamu masih bisa nyampe lagi kok Sin”.”Sintia mau kok dienjot mas seharian, kan Sintia bisa nyampe terus2an, nikmat banget deh mas”. Istirahat sebentar, dia kembali menaiki aku lagi, secara perlahan tapi pasti dia pun memasukkan batangnya ke dalam meqiku. Aku mendesah dan merintih, ketika dia mengenjotkan batangnya sampe ambles semua aku kembali menjerit, “Aaaaaaahhhh , Maaaassssssss ..”. batangnya dinaikturunkan dengan cepat, akupun mengimbanginya dengan gerakan pantatku yang sebaliknya. Bibirnya
    bermain di pentilku.

    sesekali dia menciumi ketekku, bau keringatnya merangsang katanya. Aku memeluknya dan mengelus2 punggungnya sambil menjerit dan mendesah karena nikmat banget rasanya, “Aah mas, nikmatnya Terus mas, tekan yang keras, aah”. Dia meremas2 dadaku dengan gemas menambah nikmat buatku. Dia terus mengocok meqiku dengan batangnya, aku menjadi makin histeris dan berteriak2 kenikmatan. Tiba2 dia mencabut batangnya dari meqiku, aku protes, “Kok dicabut mas, sintia belum nyampe mas, dimasukin lagi dong batangnya”. Tapi dia segera menelungkup diatas meqiku dan mulai menjilati bagian dalam pahaku, kemudian meqiku dan terakhir klitku. “Mas, diapa2in sama mas nikmat ya mas, terus isep klit Sintia mas, aah”, erangku. Dia memutar badannya dan menyodorkan batangnya ke mulutku. batangnya kujilati dan kukenyot2, dia mengerang tapi tidak melepaskan menjilati meqiku yang dipenuhi lendir itu. “Sin, aku dah mau muncrat neh”, katanya sambil mencabut batangnya dari mulutku dan segera dimasukkan kembali ke meqiku. Dia mulai mengenjot meqiku dengan cepat dan keras, aku rasanya juda sudah mau nyampe lagi, goyangan pantatku menjadi makin liar sambil mendesah2 kenikmatan. Akhirnya dia mengenjotkan batangnya dalam2 di meqiku dan terasa semburan maninya yang hangat didalam meqiku, banyak sekali muncratnya, bersamaan dengan muncratnya akupun nyampe lagi. Aku memeluk tubuhnya erat2, demikian pula dia.

    “Mas, nikmat banget deh masss”, erangku. Aku terkulai lemes dan bermandikan keringat. Dia kemudian mencabut batangnya dan berbaring disebelahku. Aku meremes2 batangnya yang berlumuran mani dan sudah lemes. Hebatnya gak lama diremes2, batangnya mulai tegang lagi. “Mas, Sintia dienjot lagi dong, tuh batangnya sudah tegang lagi. Mas kuat banget seh, baru muncrat udah tegang lagi”. Dia diam saja, aku berinisiatif menaiki tubuhnya. Kusodorkan pentilku ke mulutnya, segera pentilku dikenyot2nya, napsuku mulai memuncak lagi. Aku menggeser ke depan sehingga meqiku berada didepan mulutnya lagi. “Mas, jilat dong meqi Sintia, klitnya juga ya mas”. Dia mulai menjilati meqiku dan klitku dihisapnya, kadang2 digigitnya pelan, “Aah, mas, diemut aja mas, jangan digigit”, desahku menggelinjang. Aku gak bisa menahan diri lagi. Segera meqiku kuarahkan ke batangnya yang sudah tegang berat, kutekan sehingga
    batangnya kembali amblas di meqiku. Aku mulai menggoyang pantatku turun naik,
    mengocok batangnya dengan meqiku. Dia memlintir pentilku, aku mendesah2.
    Karena aku diatas maka aku yang pegang kendali, bibirnya kucium dan dia
    menyambutnya dengan penuh napsu. Pantatku makin cepat kuturun naikkan. Tiba2
    dia dengan gemas menggulingkan aku sehingga kembali dia yang diatas, dia
    segera mengenjotkan batangnya keluar masuk meqiku.

    Aku mengangkangkan pahaku lebar2, menyambut enjotan batangnya, aku gak bisa nahan lebih lama lagi, tubuhku makin sering menggelinjang dan meqiku terasa berdenyut2, “Maas, aah”. Akhirnya aku nyampe lagi, aku tergolek lemes, tapi dia masih saja menggenjot meqiku dengan cepat dan keras, aku mendesah2 kenikmatan. Hebatnya, dia bisa membuat aku nyampe lagi sebelum akhirnya dengan satu enjotan yang keras kembali dia muncratkan mani di meqiku. Nikmat nya.Dia menciumku, “Sin, nikmat banget deh ngenjot sama kamu”. “iya mas, Sintia juga nikmat banget, kalo ada kesempatan Sintia mau kok mas enjot lagi”.. mengenjotkan batangnya keluar masuk meqiku. Enjotannya makin ganas, pentilku. diemut2nya. segera mengenjotkan batangnya keluar masuk meqiku. Aku mengangkangkan saat lidahnya masuk di antara kedua bibir meqiku sambil. menghisap mememegang pinggulku dan dia memainkan batangnya keluar masuk dengan. cepat dan keras.batangnya keluar masuk dengan akhirnya sintia — Terasa meqiku sesek kemasukan batang besar dan panjang itu. Kedua tangannya dengan erat mememegang pinggulku dan dia memainkan batangnya keluar masuk dengan eee sintia slingkuh — segera mengenjotkan batangnya keluar masuk meqiku. Aku mengangkangkan pahaku lebar2, menyambut enjotan batangnya, aku gak bisa nahan lebih lama lagi.Terasa meqiku sesek kemasukan batang besar dan panjang itu. Kedua tangannya dengan erat mememegang pinggulku dan dia memainkan batangnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Terdengar ‘cepak-cepak’ setiap kali pangkal pahanya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Ngentot Mila Dengan Nungging

    Ngentot Mila Dengan Nungging


    1668 views

    Perawanku – Aku adalah seorang dosen pasca sarjana yang mengajar dan memberi seminar di mana-mana. Aku tinggal di Bogor dan hidup cukup bahagia dengan keluargaku. Suatu ketika, sedang iseng-iseng bermain dengan internet, aku temukan dia, perempuan ini bernama Mila, (aku harap ini nama sebenarnya). Mempunyai keinginan birahi yang nyaris serupa denganku yaitu bermain dengan tali.

    Dalam chat dan e-mail aku berhasil mengetahui bahwa dia bekerja di suatu hotel di Yogya sebagai Sales Manager. Hemm, kebetulan 2 minggu lagi aku mesti memberikan seminar 2 hari di universitas Undip Semarang. Tak sabar menunggu hari itu, masih asyik aku mengorek informasi melalui e-mail. Kami bahkan bertukar photo (tentu saja aku tidak mengirim photo yang sebenarnya), Mila bahkan sempat mengirim photonya ketika dia diikat oleh GMnya.

    Oh ya, menurut pengakuannya umurnya 34 tahun, Mila sudah 3 tahun menikah dengan seorang penerbang yang bekerja di maskapai multinasional yang bermarkas di Hong Kong. Pertemuan dengan suaminya nyaris hanya 2 minggu sekali. Starbet99

    Mila mempunyai hubungan khusus dengan laki-laki yang sudah lama ia kenal dan mengaku selama itulah dia mengagumi Mila, kira-kira sejak pertemuan mereka yang mana Mila menjadi anak buahnya 7 tahun yang lalu di Bali. Laki-laki itu sekarang merekrut Mila sebagai Sales Managernya. Laki-laki itu (GMnya), menikah dengan manager personalia sebuah bank di Semarang, tidak tinggal bersama karena karir. Sehingga saat dia tidak pulang ke Semarang, Milalah yang mengisi kekosongannya itu.

    “Yogya, Yogya, ayo mas, yang ini sudah mau berangkat mas,!”

    Suara kenek itu membuyarkan lamunanku, baru tuntas seminar dan agak lelah aku bersiap-siap ke Yogya; biasanya langsung naik bis Nusantara atau Ramayana ke Yogya dan berhenti di Ringroad ke rumah keluarga, ortu dan adikku tinggal. Tapi saat ini aku sudah punya niat lain, aku akan menculik si Mila yang ngegemesin dan selalu mengganggu pikiranku, sudah sebulan lebih ini aku selalu main internet khusus untuk bisa baca tulisannya atau lihat foto hornynya.

    Jadi bis berhenti di Ringroad juga tetapi aku langsung ke jalan Solo, ke hotel berbintang lima itu, memang diam-diam aku membawa foto ke paranormal dan beliau katakan nama hotelnya.

    Hotel tempatnya bekerja berdiri tepat bersebelahan dengan hotelku. Setelah aku check in di hotelku, aku datang ke hotelnya. Hari sudah sore aku tahu persis bahwa Mila itu pasti sudah pulang, jadi rencana akan dijalankan besok. Dari hotel aku naik taksi ke Alfa dan membeli beberapa gulungan tali pramuka yang berwarna putih. Juga sebungkus lilin murahan. Tentunya juga gunting yang cukup tajam, mau beli jepitan baju dari kayu nggak ada, jadi beli yang dari plastik aja tapi ada lubangnya sehingga bisa dimasukin tali.

    Esok harinya after breakfast aku mendatangi hotelnya, yang hanya 25 meter dari hotelku. Aku tanya sama Mbak yang di resepsionis dan katanya Mila kantornya itu tuh yang dekat GM nya katanya dengan sinis (mungkin dia nggak pernah diperhatikan sang GM).

    Dengan berpakaian necis lengkap dengan dasi dengan confident aku datangi kamar kerjanya Mila. “Wah orangnya tepat seperti yang di photo yang dikirimnya rambutnya panjang terurai di bahunya, kulitnya putih wajah paduan cina jawa, tinggi badannya 170cm beratnya mungkin 58 kg, padat bodynya..hmm!”

    Mila berdiri dan kami bersalaman; hatiku sangat bersyukur. Segera aku menguasai diri dan memperkenalkan diri bahwa aku adalah Steering Comitte dari suatu seminar internasional mengenai Lingkungan Hidup dan berminat menyewa 50 kamar dan ruang sidang untuk seminggu penuh. Mila menjelaskan harganya dan menanyakan kapan acaranya akan dimulai. Singkatnya urusan detil seminarku sudah beres (padahal seminar itu rekayasaku belaka). Mila menjelaskan panjang lebar tentang paket seminar dengan segala fasilitasnya sambil sesekali melemparkan senyum manisnya,. aku semakin kagum, lalu..

    “Bagaimana kalau proposalnya bisa Dik Mila antarkan ke hotel Ane?” umpanku sambil menyebut hotel tempatku tinggal.
    “Mengapa Bapak tidak tinggal di sini?” tanya Mila.
    “Lho maunya memang begitu, tapi kata resepsionis tadi kamar sudah penuh” balasku. Judi Bola Terpercaya
    “Betul Pak, mungkin besok Bapak bisa menginap disini dan bersedia mencoba pelayanan kami di sini?”
    “Boleh saja,.!” jawabku sambil mengharapkan ‘pelayanan’ yang lain.
    “Ane bookingkan ya Pak,!” aku mengangguk sambil menyembunyikan kekagumanku akan ketertarikanku padanya.

    Mila tidak cantik, dia menarik dan menawan. Lalu Mila berjanji akan mengantarkan proposalnya besok jam 10.30 pagi.
    Keesokannya telpon di kamar suiteku berbunyi, oh rupanya Mila sudah datang.

    “Mila mau langsung ke atas? Ini kamar suitenya bagus lho, ada istri Ane juga, biar Ane kenalkan sekalian!”
    “Oh ya, kebetulan Ane belum pernah lihat kamar suite di hotel ini, sebentar aja ya Pak” sahut dari seberang telpon.

    Sampai di suite roomku, aku silakan Mila duduk. Mila terlihat sangat manis dengan senyumnya yang mempesona. Hari ini Mila mengenakan blus berwarna biru terang mengkilap berlengan panjang dengan model kerah shanghai dengan kancing putih yang berbaris rapih dari leher hingga nyaris ujung bajunya, memakai rok hitam serta menggenggam HP Nokia 3650 warna Biru Kuning, di pergelangan tangan kirinya ada arloji berbentuk gelang. Di tangan kanannya ada karet pengikat rambut berwarna hitam, dan kutawarkan minuman, dia memilih apple juice kesukaannya. Kutuangkan dalam gelas yang sudah kucampur obat tidur yang kubeli kemarin dari toko obat Eng Tay Ho di Malioboro.

    “Ibu di mana Pak,” tanya Mila seraya meminum juicenya
    “Oh, ada di kamar mandi..”
    “Buu,.. buu..!” teriakku seolah-olah ada dia di sana.

    Mila meneguk kembali minumannya sampai hampir habis dan betul juga kata si engkoh, Mila langsung tertidur di sofa ruang tamu.

    Setelah pintu kukunci, aku langsung beraksi, pertama kubuka bajunya yang selalu nampak ketat, mulai kancing bawah hingga ke atas lalu BH Triump nya yang no 36, rok hitam yang 10 cm di atas lutut, dan terakhir CD merk Sloggy yang nampak bersih. Selanjutnya aku mulai menerapkan cara ikatan yang kuintip dari internet. Katanya yang paling canggih itu yang dari Jepang namanya Karada. Teorinya dari badan dulu, tapi aku takut dia terbangun, jadi biaraman tangannya dulu.

    Tangan kiri kuikat erat pergelangannya, juga tangan kanan. Lalu kedua tangannya dibawa ke punggung dan satu sama lain diikat dengan jenis yang mengunci (seperti laso, makin bergerak makin erat) dan dihubungkan dengan tali lagi ke leher ah jangan kasihan nanti bisa tercekik. Walaupun nggak ada di teori tali yang mustinya ke leher kuteruskan dari leher ke depan melewati susu dan di bawah buah dada di lingkarkan dan diikat erat sampai dadanya membusung seperti gunung merapi mau meletus.

    Agar kakinya nggak menendang walaupun masih pakai sepatu Edward Forrer dari Bandung dengan hak 7 cm dan ada talinya melingkar manis di pergelangan kaki itu juga diikat erat pakai tali lain. Sepatu ini yang dinamakan dia sepatu sexy.. dalam beberapa e-mailnya. Trus ikut teori aja, tali yang di buah dada diteruskan kebawah lewat vagina dan keatas lagi di belakang dan diikatkan ke tangannya yang dipunggung. Memastikan Mila sudah terikat erat, aku langsung menggendongnya,

    “Oops, lumayan juga beratnya..!” lalu meletakkannya di tempat tidur dalam posisi miring, karena tangannya terikat ke belakang. Aku tutup dan mengunci pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan kamar tidurku. Aku cape juga mengerjakannya dan menggendongnya, sampai tertidur di sebelah Mila. Cerita Dewasa | Cerita Panas | Cerita 17 Tahun

    Aku terbangun oleh suara makian wanita.

    “Shit, ugh! Apaan ini!?” Agen Casino Online

    Mila dengan wajah ketakutan melihat tubuhnya yang berbusana tali. Yes my dream comes true! Pikirku. aku berhasil mengikat Mila, dan ia terbangun sambil memaki-maki,

    “Pak, sadar Pak.. Ibu ada di kamar mandi.. berani-beraninya berbuat begini pada Ane” teriak Mila sambil meronta-ronta berusaha membuka ikatannya.

    “Lepaskan aku, let me go! To..”

    Takut terdengar kamar sebelah sebelum Mila berhasil berteriak minta tolong, dengan gerak cepat kuambil lakban perak di meja tempat tidurku,

    “..srett” dan kusumbatkan ke mulutnya, “mmhh!! mmhh!!”.

    Mila mulai mengeliat mencoba membebaskan dirinya, akan tetapi semakin tangannya bergerak maka semakin kencang juga ikatan yang ada di buah dadanya yang gede itu. Matanya melotot marah, ia terlihat kesakitan tapi mungkin ia menikmati juga.

    “Oh Mila Aneng, istriku memang ada di kamar mandi, tapi di rumahnya di Bogor,” jerit tawaku yang kubuat seram.
    “Permainan baru akan dimulai Mila” kataku dengan tegas.
    “Uugh, mmh, awwh!!” Mila hanya bisa mengeluh tanpa suara.

    Matanya mulai berkaca-kaca dan kelihatan putus asa. Aku mulai bekerja jepitan baju kupasang di kedua putingnya dan dihubungkan dengan tali kecil yang nyambung ke tangan yang dipunggung. Mila meronta-ronta menggerakkan tangannya mencoba untuk melepaskan ikatannya, tapi hasilnya adalah ikatan di buah dadanya semakin menyakitkan, juga putingnya menjadi tertarik oleh jepitan baju dan menambah rasa sakit.

    Masih belum puas aku meneteskan lilin panas pada jarak 40 cm dari buah dadanya, ternyata ia tidak terlalu kesakitan maka kudekatkan jadi jarak 20 cm ia menggeliat, meronta mmh,.! ugh,.! semakin terikat dan makin sakit dan ia telah melewati entah orgasme yang keberapa kalinya melalui tali yang melilit melalui vagina dan anusnya.

    Akhirnya Mila nampak memelas sekali seperti minta diampuni, mungkin karena sudah terlalu lelah meronta-ronta dan orgasme.

    “Kamu akan Ane lepaskan kalau mau ngemut punyaku dan minum sampai bersih, ok?”

    Matanya mengedip lemah. Tapi aku belum puas, aku berubah pikiran, apalagi buah zakarku yang sangat bersemangat sudah menunjuk-nunjuk ke Mila! Aku membuka ritsluiting celana kemudian melepaskan ikatan di kakinya yang rapat itu lalu pergelangan kakinya yang masih terikat dengan sepatu yang sexy itu kusambungkan ke kaki tempat tidur sehingga Mila terlentang dalam posisi tangan terikat ke belakang sementara kakinya terikat terlentang. Agen Judi Bola

    Penisku 16cm itu masuk dengan paksa ke vaginanya yang ternyata sudah bercairan. Masuk, keluar, masuk, keluar, berkali-kali hingga spermaku muncrat. Aku terbaring lunglai, di atas tubuh Mila yang berbusana tali itu, setelah mencapai puncaknya,

    “Good Girl” kataku sambil memegang kepalanya seperti aku menyayang-nyayang anjing keAnenganku si Bonci.

    Mila pingsan tak sadarkan diri.

    Segera aku membersihkan tubuhnya sekedarnya dengan handuk yang kubasahi, memakaikan pakaiannya lengkap dengan blus biru kerah shanghainya, mengancingi blusnya berurutan rapi. Memakaikan CD setelah spermaku kubersihkan. Aku ganti ikatannya dengan lakban perak, meliliti tubuhnya yang berbusana, membelenggu kembali tangannya kebelakang, kakinya aku satukan lagi dengan lakban yang sama, kaki yang bersepatu yang sexy (itu sebutannya di e-mail) itu aku kulum dengan gemas. Memastikan tangan kakinya sudah terikat, serta mulutnya sudah tersumbat, aku utak atik HPnya mencari tahu nomor HPnya lalu serta merta mematikannya, kulihat banyak miss call dan SMS, beberapa dari GMnya

    “Mami, sudah jam 5 sore kok belum kembali. Sales Call, posisi?” ada 4 SMS yang bernada serupa. Kumatikan HPnya supaya dia jangan sampai bisa SMS untuk minta tolong, juga aku cabut kabel telpon di kamarku.

    Mila mulai siuman, kemudian kuperlihatkan handycam yang tadi telah di pasang pada tempat tersembunyi. Aku mengancam jika bilang siapa-siapa, rekaman ini akan aku upload ke bondage.com, bondagegirl.com, 17tahun.com atau situs-situs lainnya, bahkan bisa kuperbanyak dan kujual kuedarkan. Matanya kutatap, berkaca-kaca, Mila meronta-ronta kali ini apa daya lakban perak sudah mengikat erat dan merekat di tubuhnya, Mila menangis tersedu-sedu, putus asa dan pasrah. Semalaman penuh Mila kugarap sedemikian rupa, karena aku akan check out besok pagi, jadi malamnya aku perkosa hingga dia pingsan lagi.

    Keesokan harinya, waktu menunjukkan pukul 6.00 pagi. Aku tinggalkan dia di kamarku dengan tubuhnya yang berbusana namun tetap terikat lilitan lakban perak, kubiarkan tanda Do Not Disturb menggantung di pintu kamarku. Aku langsung kembali ke Bandung dengan KA Argowilis. Di KA sambil menikmati hasil rekaman video pada laptopku, aku menyiapkan cerita ini dan kukirimkan kepadanya lewat e-mail sehingga dia tahu siapa sebenarnya yang ‘telah memperkosanya’. Entah bagaimana dia bisa melepaskan ikatannya, menjadi misteri sendiri.

  • Wanita Setengah Baya Terlihat Menggairahkan Bagiku

    Wanita Setengah Baya Terlihat Menggairahkan Bagiku


    1658 views

    Perawanku – Sebut saja aku Anto, usiaku saat ini sudah berkepala empat menjelang lima, sudah berkeluarga dengan anak dua. Perilaku dalam kehidupan seks normal, hanya saja jika pada umumnya laki-laki tertarik pada wanita yang usianya lebih muda, berbody seksi dengan pantat bahenol dan dada montok, sementara aku justru lebih tertarik pada wanita yang memiliki rambut tebal dan panjang, usia tidak masalah yang penting bukan ABG.

    Karena itu walau usiaku kini sudah termasuk setengah baya, namun jika melihat wanita yang berambut tebal dan panjang (kendati pemiliknya sudah setengah baya).. langsung saja gairah seksku meningkat. Yach..bisa jadi kondisiku ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa puberku dalam berhubungan badan dengan lawan jenis.

    Ketika itu usiaku baru 15 tahun dan kata orang betawi merupakan masa yang sedang ngebet-ngebetnya pengin ngesek (ngerasain seks). Cuma karena belum cukup umur, biasanya keinginan tersebut hanya disalurkan secara swalayan sambil membayangkan si “Nani” dengan berdesah.. Ooo.. na.. ni, o.. na.. ni (eh mungkin saja karena itu jadi banyak orang mengatakan kegiatan swalayan dengan istilah “onani”.).

    Pengalamanku diusia tersebut sedikit beruntung.. karena tidak harus berlama-lama swalayan. Dirumahku ada Bulik Anna yang saat itu sudah berusia 36 tahun tapi bodynya masih OK, rambutnya tebal, ikal, hitam dan panjang sepunggung. Dia sejatinya teman ibuku namun pada kesempatan-kesempatan tertentu dia bertindak sebagai “guru” sekaligus menjadi muara birahiku yang sedang menggebu-gebu. Bulik anna sangat pandai menjaga citra diri dan berakting manis didalam keluarga kami. Sehingga meskipun kami sudah ML berkali-kali ? kedua orang tuaku tidak curiga sama sekali. Kami sama-sama menikmati, dia puas karena dapat “burung muda” sementara akupun puas sebab tidak harus konak sendirian, lumayanlah ngirit sabun, hee..hee.. (O.. ya, pengalaman tentang pendaratan pertama “apollo”ku di “bulan”nya Bulik Anna sudah kuceritakan di situs ceritaseks15 ini loh.

    Suatu hari, tepatnya malam minggu tapi tanggal, bulan dan tahunnya lupa, Aku benar-benar bingung dan resah. Waktu itu aku baru pulang nonton film “Intan perawan kubu” dengan pemeran utama artis YO.(tahu khan??) Nah disalah satu adegannya ia tampil polos, hanya rambutnya yang ikal, panjang dibelah dua dan dipindahkan kedepan sehingga menutupi payudaranya.! Woouu.. aku jadi konak berat menyaksikan adegan tersebut dan yang bikin tambah resah ketika aku pulang kerumah. Inginnya langsung kusalurkan ke Bulik anna, namun lagi-lagi sial karena orangtuaku tidak jadi pergi malam itu, ketika aku pulang mereka sedang ngobrol diruang keluarga sambil nonton TV. Pokoknya..benar-benar suntuk aku malam itu, dan terpaksalah aku “onana”..(karena yang dikhayalin bulik anna)

    Paginya, aku dapat akal dan setelah sarapan pagi aku langsung bilang sama Ibuku..
    “Ma.. besok ada pelajaran sejarah, tapi kata Pak guru kami disuruh cari referensi buku lain, jadi aku pagi ini mau ke toko buku ya.”!
    “Lho emangnya kamu berani sendiri, khan Pak rus (sopir) libur hari ini” tanya ibuku..
    ” Berani sih, tapi kalau Bulik Anna mau nemani juga boleh, kami naik taksi aja ” jawabku sambil melirik bulik anna yang duduk disebelah ibuku.
    ” Enak.. aja kamu, tanya dulu tuh sama bulik..!! Piye.. Mbak, iso ora..! jawab ibuku sambil bertanya ke bulik Anna.
    ” ya.. udah bulik anterin..dasar anak manja “!! bulik anna menimpali pembicaraan kami sambil tersenyum dikulum penuh arti.
    ” Tuh..bulik mau khan Ma”!!, Nah minta uangnya dong
    ” Ah .. dasar kamu to!!”

    Selesai sarapan kami langsung bersiap-bersiap. Bulik Anna memakai rok terusan, rambutnya yang lebat dan panjang hanya dilipat setengah, sehingga tampak ia hanya memiliki rambut sebahu. Kamipun berpamitan pada kedua orang tuaku dengan tidak lupa minta sanggu yang lebih dengan alasan kami mau makan diluar. Kira -kira lima puluh meter setelah kami meninggalkan rumah, langsung saja kucubit bulik anna sambil kukatakan..
    “Ma’kasih ya bulik mau ngantar, sebenarnya aku pusing nih bulik”!!
    “Bulik tau koq.. dari tadi malam khan?! kata bulik anna sambil senyum sensasional.
    “Lho ..kalau bulik tahu, koq tadi malam tidak kekamarku setelah papa mama tidur??”
    “Tenang kita selesaikan ditempat biasa” sambungnya lagi, dan taksipun melaju ke arah kemayoran,..

    Setelah turun dari taksi kami langsung check in di suatu tempat yang sudah tidak asing lagi bagi kami. Disinilah kami sering ML jika keadaan dirumah tidak memungkinkan, tempat memang tidak terlalu bagus tetapi cukup nyaman untuk menyalurkan hasrat sesaat, apalagi para petugasnya sudah kenal dengan kami.

    Aku yang sudah menahan hasrat sejak tadi malam, makanya begitu masuk kamar langsung kuserbu bulik anna, kami berguling-gulung dikasur dengan bibir berpagutan lengket sekali. Mendapat serbuan mendadak, bulik anna sempat terperangah, sambil terenggah-enggah bulik Anna juga mengimbangi aktivitasku dengan sesekali bergumam..” huuh dasar anak muda!! tapi .. oenaak koq”.

    Bibir kami terus saling melumat sementara tangan kami saling beraksi melepas pakaian masing-masing.. sampai akhirnya kami berdua dalam keadaan polos tanpa ada lagi yang melekat ditubuh. Setelah melepas pakaiannya, tanganku kembali aktif meremas payudara bulik anna yang masih terasa kenyal..kumainkan pentilnya yang sudah mulai menjulang hitam semu merah. Jemari tangan bulik anna juga tidak kalah aktifnya, ia sudah mengocok lembut “apollo”ku. Hanya ketika dia berancang-ancang mengulum penisku.. kutahan tubuhnya.. dia sempat heran..

    “Sebentar bulik..” tadi malam aku konak berat dengan penampilan YO di film, jadi aku ingin bulik seperti dia..!! kataku menjelaskan.
    “Ok.. lah terserah kamu!! jawab bulik Anna pasrah..

    Dengan tetap berdiri, kubalik tubuh mulusnya, aku rapatkan tubuhku sehingga penisku nempel kepantat bulik Anna.. Kugesek-gesek pantatnya dengan penis, sementara tangganku mengurai rambut bulik Anna yang tebal, panjang dan harum..kusisir dengan jemari tanganku.. kemudian ku bagi dua..dan kupindahkan kedepan sehingga menutupi kedua payudara bulik Anna yang sudah tegang. Masih dari belakang dengan posisi tubuh berhimpitan.. tanganku meremas payudara yang tertutup rambut.. woauu asiknya bukan main.. diapun menikmati. Tubuhnya menggeliat.. sampai dia tidak tahan lagi dan langsung berbalik sambil berjongkok dan memegang penisku..yang sudah semakin mengeras.

    Dalam posisi dia jongkok aku berdiri, ia tidak langsung mengulum.. namun ia pindahkan rambutnya yang sudah tergerai berserakan keatas penisku..kini gantian dia yang memainkan penisku dengan rambutnya..
    “Auouu.. ah.. ahh.. enak sekali bulik”!! rintihku menahan geli bercampur nikmat yang luar biasa. Mendapat sensasi rambut seperti itu..aku hampir tidak tahan, tapi aku tidak ingin air maniku muncrat dirambutnya. Kudorong bahu bulik Anna.. agar Ia menghentikan sejenak pemainan rambutnya. Bulik Anna yang sudah mulai terangsang, tidak mau berhenti begitu saja.. dari pemainan rambut ia beralih melumat penisku dengan mulutnya.. Sambil dikulum penisku, kedua tanganku mengacak-acak rambut bulik Anna kesukaanku..

    Bayangkan.. aku merasa seperti diawang-awang, terasa darahku mengalir cepat, penisku terasa berdenyut-denyut menikmati kombinasi permainan lidah bulik Anna dikepala burung dengan sensasi rambut nya yang lebat berserakkan. Rambut bulik Anna yang sudah acak-acakan terus saja kumainkan..sehingga denyutan penisku terasa semakin cepat.. Mungkin hanya sekitar tiga menit aku menikmati permainan itu karena benar-benar tidak mampu lagi menahan sensasi yang luar biasa,.. “Ahh..auu..ahh.. bulik.. ahh.. aku keluar..”!! Air maniku muncrat deras. Saking banyaknya sampai tidak tertampung dimulut bulik Anna sehingga sebagian mengenai wajah dan rambutnya. Bulik Anna tampak belum orgasme, namun dia dengan sabar.. membantuku dalam menikmati saat konsolidasi..

    “Terimakasih Bulik..nikmat sekali”!! Kataku puas.
    “Sama-sama, istirahat dulu lah “! Kata Bulik Anna sambil memeluk dan mengibas-ngibaskan rambutnya ketubuhku..

    Aku merebahkan diri di kasur.., Bulik Annapun mengikuti tiduran disampingku. Sekitar lima menit aku tergolek dikasur, Ia masih memelukku, kemudian setelah dia melihat aku sudah siuman dari kenimatan, Ia mulai beraksi lagi dengan rambutnya. Dia geraikan rambutnya diatas tubuhku, mulai dari dadaku.. terus turun kebawah.., Persis diatas penisku dia gusel-guselkan kepalanya.. tampak benar.. rambut yang lebat dan harum berserakan..menutupupi sekitar penisku. Lalu dia atur lagi rambutnya untuk membalut payudaranya kemudian dia himpitkan payudara yang sudah dibalut rambutnya ke dadaku dan digerakkan naik turun.. Sensasional sekali .. sehingga tanpa terasa penisku tegak lagi, bahkan ketegangannya jauh lebih tegang dari yang pertama.

    Karena ini giliranku untuk memuaskan Bulik Anna, aku segera mengambil insiatif, kuputar tubuhnya menjadi aku diatas dia dibawah dengan selangkangannya tepat dimukaku sementara kepalanya juga tepat menghadap penisku..dan.. mulailah aktivitas 69. Posisi ini yang paling disukai oleh Bulik Anna, semakin aktif aku mempermainkan lidahku di liang vaginanya..semakin erotis gerakkan dia mengimbanginya. Tangganku memeluk erat kedua pahanya sehingga kepalaku semakin terbenam diselakangan. Puas lidahku mengitari lubang, kulanjutkan dengan menyedot dalam-dalam bagian tepinya. Tubuh Bulik Anna melonjak-lonjak sementara vaginanya sudah semakin basah.

    “Ayoo.. To masukin.. Bulik sudah ngga tahan nih..”!! seru Bulik Anna sambil membalikan tubuhnya. Ia berjongkok di atasku dan mengarahkan penisku menusuk liang vaginanya.. “slleebb”!!terdengar suara bersamaan dengan Bulik Anna menurunkan pantatnya. Dengan posisi itu, lalu dia bergerak meliuk-liuk sehingga payudara berguncang tersamar dengan rambutnya yang tergerai kian kemari mengikuti irama gerakkan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, langsung kutangkap dan kuremas-kuremas dengan penuh nafsu. Dengan aktivitas masing-masing, kami benar-benar saling menikmati, pantatku ikut bergerak naik turun seiirama dengan gerakan Bulik Anna, ..
    “Akh..oo.. enak..!! erang kami bergantian, disela-sela desahan nafas.

    Cukup lama kami bermain dengan posisi ini dan kulihat gerakan tubuh Bulik Anna sudah tidak beraturan. Segera aku mengangkat badan sehingga aku dapat memeluk Bulik Anna seperti orang memangku dan setelah beberapa kali kusodok-sodok.. kubalikan tubuhnya. Kami sempat bergumul namun tampaknya Bulik Anna sudah hampir orgasme, jadi begitu tubuhnya kutindihi, ia mengapitkan kedua pahanya, terasa lubang vagina Bulik Anna menyempit dan berdenyut-denyut.


    “Aouu.. to.. Bulik mauu keluar.. nih!!” .. Tubuhku dipeluk erat sekali..mulutnya langsung kututup dengan bibirku sementara tanganku menjambak lembut rambutnya untuk mengantar Bulik Anna mencapai orgasme. Kubiarkan penisku menancap di lubangnya..dan setelah beberapa saat ia mengalami orgasme, kubalik lagi tubuh Bulik Anna. Kini dia terlungkup dengan penisku tetap dalam sarang. Kumainkan maju mundur.. sementara tanganku meremas payudara dari belakang, sedang wajahku kubenamkam dirambutnya yang harum. Bulik Anna mengerang nikmat lagi.., Beberapa saat kemudian kusibak rambutnya.. lalu bibirku mengecup tengkuknya yang mulus..Mungkin karena dia belum tuntas orgasmenya sehingga ketika menerima perlakuan tersebut.. Dia menggeliat-mengeliat lagi..

    “Ayoo..to.. keluarin.. aku juga mau keluar lagi nih.. sama-sama ya”!! pinta Bulik Anna sambil terenggah-enggah.
    Aku tidak menjawab tetapi kecupanku semakin menguat ditengkuknya..tubuh Bulik Anna kembali mengejang, dan.. akhh..akhh.. lengkuh Bulik Anna berbarengan dengan semprotan airmaniku untuk kedua kalinya.
    Kami tergolek bersama, sambil mengatur nafas masing-masing..

    “Ohh.. Bulik puas sekali To”!! Kamu sudah semakin pandai saja..
    “Ya.. siapa dulu, dong gurunya”!! balasku sambil melumat lagi bibirnya..

    Setelah cukup istirahat, kami saling merapikan diri..Aku membantu menyisirkan rambut Bulik Anna yang kusut karena tadi terus kuacak-acak. Tampak ditengkuk Bulik Anna bekas kecupanku, untung saja ketika pergi dari rumah tadi, Bulik Anna tidak sanggulan penuh.. sehingga sepintas masih tertutup oleh rambutnya..

    “Terima kasih Bulik.. sekarang saya sudah ngga pusing lagi”!! kataku manja sambil mengecup pipinya.. dan berlalulah kami ke-toko buku.

  • Dengan Hawa Nafsu – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    Dengan Hawa Nafsu – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018


    1499 views

    Perawanku – Singkat cerita, ketika hari pertama aku ketemu dengan teman kuliahku itu, rasanya kami langsung akrab karena memang sewaktu kami sama-sama duduk di bangku kuliah, kami sangat kompak dan sering tidur bersama di rumah kostku di kota Bone. Bahkan seringkali dia mentraktirku. “Nis, aku senang sekali bertemu denganmu dan memang sudah lama kucari-cari, maukah kamu mengingap barang sehari atau dua hari di rumahku?” katanya padaku sambil merangkulku dengan erat sekali. Nama teman kuliahku itu adalah “Nasir”

    ”Kita lihat saja nanti. Yang jelas aku sangat bersukur kita bisa ketemu di tempat ini. Mungkin inilah namanya nasib baik, karena aku sama sekali tidak menduga kalau kamu tinggal di kota Makassar ini” jawabku sambil membalas rangkulannya. Kami berangkulan cukup lama di sekitar pasar sentral Makassar, tepatnya di tempat jualan cakar.

    “Ayo kita ke rumah dulu Nis, nanti kita ngobrol panjang lebar di sana, sekaligus kuperkenalkan istriku” ajaknya sambil menuntunku naik ke mobil Feroza miliknya. Setelah kami tiba di halaman rumahnya, Nasir terlebih dahulu turun dan segera membuka pintu mobilnya di sebelah kiri lalu mempersilakan aku turun.
    Aku sangat kagum melihat rumah tempat tinggalnya yang berlantai dua. Lantai bawah digunakan sebagai gudang dan kantor perusahaannya, sementara lantai atas digunakan sebagai tempat tinggal bersama istri. Aku hanya ikut di belakangnya.

    “Inilah hasil usaha kami Nis selama beberapa tahun di Makassar” katanya sambil menunjukkan tumpukan beras dan ruangan kantornya.

    “Wah cukup hebat kamu Sir. Usahamu cukup lemayan. Kamu sangat berhasil dibanding aku yang belum jelas sumber kehidupanku” kataku padanya.
    “Lin, Lin, inilah teman kuliahku dulu yang pernah kuceritakan tempo hari. Kenalkan istri cantik saya” teriak Nasir memanggil istrinya dan langsung kami dikenalkan.

    “Alina”, kata istrinya menyebut namanya ketika kusalami tangannya sambil ia tersenyum ramah dan manis seolah menunjukkan rasa kegembiraan.

    “Anis”, kataku pula sambil membalas senyumannya.
    Nampaknya Alina ini adalah seorang istri yang baik hati, ramah dan selalu memelihara kecantikannya. Usianya kutaksir baru sekitar 25 tahun dengan tubuh sedikit langsing dan tinggi badan sekitar 145 cm serta berambut agak panjang.

    Tangannya terasa hangat dan halus sekali. Setelah selesai menyambutku, Alina lalu mempersilakanku duduk dan ia buru-buru masuk ke dalam seolah ada urusan penting di dalam.

    Belum lama kami bincang-bincang seputar perjalanan usaha Nasir dan pertemuannya dengan Alina di Kota Makassar ini, dua cangkir kopi susu beserta kue-kue bagus dihidangkan oleh Alina di atas meja yang ada di depan kami.

    “Silakah Kak, dinikmati hidangan ala kadarnya” ajakan Alina menyentuh langsung ke lubuk hatiku. Selain karena senyuman manisnya, kelembutan suaranya, juga karena penampilan, kecantikan dan sengatan bau farfumnya yang harum itu.


    Dalam hati kecilku mengatakan, alangkah senang dan bahagianya Nasir bisa mendapatkan istri seperti Alina ini. Seandainya aku juga mempunyai istri seperti dia, pasti aku tidak bisa ke mana-mana
    “Eh, kok malah melamun. Ada masalah apa Nis sampai termenung begitu? Apa yang mengganggu pikiranmu?” kata Nasir sambil memegang pundakku, sehingga aku sangat kaget dan tersentak.
    “Ti.. Tidak ada masalah apa-apa kok. Hanya aku merenungkan sejenak tentang pertemuan kita hari ini. Kenapa bisa terjadi yah,” alasanku.

    Alina hanya terdiam mendengar kami bincang-bincang dengan suaminya, tapi sesekali ia memandangiku dan menampakkan wajah cerianya.

    “Sekarang giliranmu Nis cerita tentang perjalanan hidupmu bersama istri setelah sejak tadi hanya aku yang bicara. Silahkan saja cerita panjang lebar mumpun hari ini aku tidak ada kesibukan di luar.
    Lagi pula anggaplah hari ini adalah hari keistimewaan kita yang perlu dirayakan bersama. Bukankah begitu Lin..?” kata Nasir seolah cari dukungan dari istrinya dan waktunya siap digunakan khusus untukku.
    “Ok, kalau gitu aku akan utarakan sedikit tentang kehidupan rumah tanggaku, yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan rumah tangga kalian” ucapanku sambil memperbaiki dudukku di atas kursi empuk itu.
    “Maaf jika terpaksa kuungkapkan secara terus terang. Sebenarnya kedatanganku di kota Makassar ini justru karena dipicu oleh problem rumah tanggaku. Aku selalu cekcok dan bertengkar dengan istriku gara-gara aku kesulitan mendapatkan lapangan kerja yang layak dan mempu menghidupi keluargaku.

    Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan rumah guna mencari pekerjaan di kota ini. Eh.. Belum aku temukan pekerjaan, tiba-tiba kita ketemu tadi setelah dua hari aku ke sana ke mari. Mungkin pertemuan kita ini ada hikmahnya. Semoga saja pertemuan kita ini merupakan jalan keluar untuk mengatasi kesulitan rumahtanggaku” Kisahku secara jujur pada Nasir dan istrinya.

    Mendengar kisah sedihku itu, Nasir dan istrinya tak mampu berkomentar dan nampak ikut sedih, bahkan kami semua terdiam sejenak. Lalu secara serentak mulut Nasir dan istrinya terbuka dan seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba mereka saling menatap dan menutup kembali mulutnya seolah mereka saling mengharap untuk memulai, namun malah mereka ketawa terbahak, yang membuatku heran dan memaksa juga ketawa.

    “Begini Nis, mungkin pertemuan kita ini benar ada hikmahnya, sebab kebetulan sekali kami butuh teman seperti kamu di rumah ini. Kami khan belum dikaruniai seorang anak, sehingga kami selalu kesepian.
    Apalagi jika aku ke luar kota misalnya ke Bone, maka istriku terpaksa sendirian di rumah meskipun sekali-kali ia memanggil kemanakannya untuk menemani selama aku tidak ada, tapi aku tetap menghawatirkannya. Untuk itu, jika tidak memberatkan, aku inginkan kamu tinggal bersamaku.
    Anggaplah kamu sudah dapatkan lapangan kerja baru sebagai sumber mata pencaharianmu. Segala keperluan sehari-harimu, aku coba menanggung sesuai kemampuanku” kata Nasir bersungguh-sungguh yang sesekali diiyakan oleh istrinya.

    “Maaf kawan, aku tidak mau merepotkan dan membebanimu. Biarlah aku cari kerja di tempat lain saja dan..” Belum aku selesai bicara, tiba-tiba Nasir memotong dan berkata..
    “Kalau kamu tolak tawaranku ini berarti kamu tidak menganggapku lagi sebagai sahabat. Kami ikhlas dan bermaksud baik padamu Nis” katanya.

    “Tetapi,” Belum kuutarakan maksudku, tiba-tiba Alina juga ikut bicara..
    “Benar Kak, kami sangat membutuhkan teman di rumah ini. Sudah lama hal ini kami pikirkan tapi mungkin baru kali ini dipertemukan dengan orang yang tepat dan sesuai hati nurani. Apalagi Kak Anis ini memang sahabat lama Kak Nasir, sehingga kami tidak perlu ragukan lagi.

    Bahkan kami sangat senan jika Kak sekalian menjemput istrinya untuk tinggal bersama kita di rumah ini” ucapan Alina memberi dorongan kuat padaku.

    “Kalau begitu, apa boleh buat. Terpaksa kuterima dengan senang hati, sekaligus kuucapkan terima kasih yang tak terhingga atas budi baiknya. Tapi sayangnya, aku tak memiliki keterampilan apa-apa untuk membantu kalian” kataku dengan pasrah.

    Tiba-tiba Nasir dan Alina bersamaan berdiri dan langsung saling berpelukan, bahkan saling mengecup bibir sebagai tanda kegembiraannya. Lalu Nasir melanjutkan rangkulannya padaku dan juga mengecup pipiku, sehingga aku sedikit malu dibuatnya.

    “Terima kasih Nis atas kesediaanmu menerima tawaranku semoga kamu berbahagia dan tidak kesulitan apapun di rumah ini. Kami tak membutuhkan keterampilanmu, melainkan kehadiranmu menemani kami di rumah ini.

    Kami hanya butuh teman bermain dan tukar pikiran, sebab tenaga kerjaku sudah cukup untuk membantu mengelola usahaku di luar. Kami sewaktu-waktu membutuhkan nasehatmu dan istriku pasti merasa terhibur dengan kehadiranmu menemani jika aku keluar rumah” katanya dengan sangat bergembira dan senang mendengar persetujuanku.

    Kurang lebih satu bulan lamanya kami seolah hanya diperlakukan sebagai raja di rumah itu. Makanku diurus oleh Alina, tempat tidurku terkadang juga dibersihkan olehnya, bahkan ia meminta untuk mencuci pakaianku yang kotor tapi aku keberatan.

    Selama waktu itu pula, aku sudah dilengkapi dengan pakaian, bahkan kamar tidurku dibelikan TV 20 inch lengkap dengan VCD-nya. Aku sangat malu dan merasa berutang budi pada mereka, sebab selain pakaian, akupun diberi uang tunai yang jumlahnya cukup besar bagiku, bahkan belakangan kuketahui jika ia juga seringkali kirim pakaian dan uang ke istri dan anak-anakku di Bone lewat mobil.

    Kami bertiga sudah cukup akrab dan hidup dalam satu rumah seperti saudara kandung bersenda gurau, bercengkerama dan bergaul tanpa batas seolah tidak ada perbedaan status seperti majikan dan karyawannya.

    Kebebasan pergaulanku dengan Alina memuncak ketika Nasir berangkat ke Sulawesi Tenggara selama beberapa hari untuk membawa beras untuk di jual di sana karena ada permintaan dari langgarannya.
    Pada malam pertama keberangkatan Nasir, Alina nampak gembira sekali seolah tidak ada kekhawatiran apa-apa. Bahkan sempat mengatakan kepada suaminya itu kalau ia tidak takut lagi ditinggalkan meskipun berbulan-bulan lamanya karena sudah ada yang menjaganya, namun ucapannya itu dianggapnya sebagai bentuk humor terhadap suaminya. Nasir pun nampak tidak ada kekhawatiran meninggalkan istrinya dengan alasan yang sama.

    Malam itu kami (aku dan Alina) menonton bersama di ruang tamu hingga larut malam, karena kami sambil tukar pengalaman, termasuk soal sebelum nikah dan latar belakang perkawinan kami masing-masing.
    Sikap dan tingkah laku Alina sedikit berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Malam itu, Alina membuat kopi susu dan menyodorkanku bersama pisang susu, lalu kami nikmati bersama-sama sambil nonton. Ia makan sambil berbaring di sampingku seolah dianggap biasa saja. Sesekali ia membalikkan tubuhnya kepadaku sambil bercerita, namun aku pura-pura bersikap biasa, meskipun ada ganjalan aneh di benakku.
    “Nis, kamu tidak keberatan khan menemaniku nonton malam ini? Besok khan tidak ada yang mengganggu kita sehingga kita bisa tidur siang sepuasnya?” tanya Alina tiba-tiba seolah ia tak mengantuk sedikitpun.
    “Tidak kok Lin. Aku justru senang dan bahagia bisa nonton bersama majikanku” kataku sedikit menyanjungnya. Alina lalu mencubitku dan..

    “Wii de.. De, kok aku dibilangin majikan. Sebel aku mendengarnya. Ah, jangan ulang kata itu lagi deh, aku tak sudi dipanggil majikan” katanya.
    “Hi.. Hi.. Hi, tidak salah khan. Maaf jika tidak senang, aku hanya main-main. Lalu aku harus panggil apa? Adik, Non, Nyonya atau apa?”
    “Terserah dech, yang penting bukan majikan. Tapi aku lebih seneng jika kamu memanggil aku adik” katanya santai.

    “Oke kalau begitu maunya. Aku akan panggil adik saja” kataku lagi.
    Malam semakin larut. Tak satupun terdengar suara kecuali suara kami berdua dengan suara TV. Alina tiba-tiba bangkit dari pembaringannya.
    “Nis, apa kamu sering nonton kaset VCD bersama istrimu?” tanya Alina dengan sedikit rendah suaranya seolah tak mau didengar orang lain.

    “Eng.. Pernah, tapi sama-sama dengan orang lain juga karena kami nonton di rumahnya” jawabku menyembunyikan sikap keherananku atas pertanyaannya yang tiba-tiba dan sedikit aneh itu.
    “Kamu ingat judulnya? Atau jalan ceritanya?” tanyanya lagi.
    “Aku lupa judulnya, tapi pemainnya adalah Rhoma Irama dan ceritanya adalah masalah percintaan” jawabku dengan pura-pura bersikap biasa.

    “Masih mau ngga kamu temani aku nonton film dari VCD? Kebetulan aku punya kaset VCD yang banyak. Judulnya macam-macam. Terserah yang mana Anis suka” tawarannya, tapi aku sempat berfikir kalau Alina akan memutar film yang aneh-aneh, film orang dewasa dan biasanya khusus ditonton oleh suami istri untuk membangkitkan gairahnya.
    Setelah kupikir segala resiko, kepercayaan dan dosa, aku lalu bikin alasan.
    “Sebenarnya aku senang sekali, tapi aku takut.. Eh.. Maaf aku sangat ngantuk. Jika tidak keberatan, lain kali saja, pasti kutemani” kataku sedikit bimbang dan takut alasanku salah. Tapi akhirnya ia terima meskipun nampaknya sedikit kecewa di wajahnya dan kurang semangat.

    “Baiklah jika memang kamu sudah ngantuk. Aku tidak mau sama sekali memaksamu, lagi pula aku sudah cukup senang dan bahagia kamu bersedia menemaniku nonton sampai selarut ini.

    Ayo kita masuk tidur” katanya sambil mematikan TV-nya, namun sebelum aku menutup pintu kamarku, aku melihat sejenak ia sempat memperhatikanku, tapi aku pura-pura tidak menghiraukannya.
    Di atas tempat tidurku, aku gelisah dan bingung mengambil keputusan tentang alasanku jika besok atau lusa ia kembali mengajakku nonton film tersebut. Antara mau, malu dan rasa takut selalu menghantukiku.
    Mungkin dia juga mengalami hal yang sama, karena dari dalam kamarku selalu terdengar ada pintu kamar terbuka dan tertutup serta air di kamar mandi selalu kedengaran tertumpah.

    Setelah kami makan malam bersama keesokan harinya, kami kembali nonton TV sama-sama di ruang tamu, tapi penampilan Alina kali ini agak lain dari biasanya. Ia berpakaian serba tipis dan tercium bau farfumnya yang harum menyengat hidup sepanjang ruang tamu itu.

    Jantungku sempat berdebar dan hatiku gelisah mencari alasan untuk menolak ajakannya itu, meskipun gejolak hati kecilku untuk mengikuti kemauannya lebih besar dari penolakanku. Belum aku sempat menemukan alasan tepat, maka

    “Nis, masih ingat janjimu tadi malam? Atau kamu sudah ngantuk lagi?” pertanyaan Alina tiba-tiba mengagetkanku.

    “O, oohh yah, aku ingat. Nonton VCD khan? Tapi jangan yang seram-seram donk filmnya, aku tak suka. Nanti aku mimpi buruk dan membuatku sakit, khan repot jadinya” jawabku mengingatkan untuk tidak memutar film porn.

    “Kita liat aja permainannya. Kamu pasti senang menyaksikannya, karena aku yakin kamu belum pernah menontonnya, lagi pula ini film baru” kata Alina sambil meraih kotak yang berisi setumpuk kaset VCD lalu menarik sekeping kaset yang paling di atas seolah ia telah mempersiapkannya, lalu memasukkan ke CD, lalu mundur dua langkah dan duduk di sampingku menunggu apa gerangan yang akan muncul di layar TV tersebut.

    Dag, dig, dug, getaran jantungku sangat keras menunggu gambar yang akan tampil di layar TV. Mula-mula aku yakin kalau filmnya adalah film yang dapat dipertontonkan secara umum karena gambar pertama yang muncul adalah dua orang gadis yang sedang berloma naik speed board atau sampan dan saling membalap di atas air sungat.

    Namun dua menit kemudian, muncul pula dua orang pria memburuhnya dengan naik kendaraan yang sama, akhirnya keempatnya bertemu di tepi sungai dan bergandengan tangan lalu masuk ke salah satu villa untuk bersantai bersama.

    Tak lama kemudian mereka berpasang-pasangan dan saling membuka pakaiannya, lalu saling merangkul, mencium dan seterusnya sebagaimana layaknya suami istri. Niat penolakanku tadi tiba-tiba terlupakan dan terganti dengan niat kemauanku.

    Kami tidak mampu mengeluarkan kata-kata, terutama ketika kami menyaksikan dua pasang muda mudi bertelanjang bulat dan saling menjilati kemaluannya, bahkan saling mengadu alat yang paling vitalnya. Kami hanya bisa saling memandang dan tersenyum.
    “Gimana Nis,? Asyik khan? Atau ganti yang lain saja yang lucu-lucu?” pancing Alina, tapi aku tak menjawabnya, malah aku melenguh panjang.

    “Apa kamu sering dan senang nonton film beginian bersama suamimu?” giliran aku bertanya, tapi Alina hanya menatapku tajam lalu mengangguk.

    “Hmmhh” kudengar suara nafas panjang Alina keluar dari mulutnya.
    “Apa kamu pernah praktekkan seperti di film itu Nis?” tanya Alina ketika salah seorang wanitanya sedang menungging lalu laki-lakinya menusukkan kontolnya dari belakang lalu mengocoknya dengan kuat.
    “Tidak, belum pernah” jawabku singkat sambil kembali bernafas panjang.

    “Maukah kamu mencobanya nanti?” tanya Alina dengan suara rendah.
    “Dengan siapa, kami khan pisah dengan istri untuk sementara” kataku.
    “Jika kamu bertemu istrimu nanti atau wanita lain misalnya” kata Alina.
    “Yachh.. Kita liat saja nanti. Boleh juga kami coba nanti hahaha” kataku.
    “Nis, apa malam ini kamu tidak ingin mencobanya?” Tanya Alina sambil sedikit merapatkan tubuhnya padaku. Saking rapatnya sehingga tubuhnya terasa hangatnya dan bau harumnya.
    “Dengan siapa? Apa dengan wanita di TV itu?” tanyaku memancing.

    “Gimana jika dengan aku? Mumpung hanya kita berdua dan nggak bakal ada orang lain yang tahu. Mau khan?” Tanya Alina lebih jelas lagi mengarah sambil menyentuh tanganku, bahkan menyandarkan badannya ke badanku.

    Sungguh aku kaget dan jantungku seolah copot mendengar rincian pertanyaannya itu, apalagi ia menyentuhku. Aku tidak mampu lagi berpikir apa-apa, melainkan menerima apa adanya malam itu.
    Aku tidak akan mungkin mampu menolak dan mengecewakannya, apalagi aku sangat menginginkannya, karena telah beberapa bulan aku tidak melakukan sex dengan istriku. Aku mencoba merapatkan badanku pula, lalu mengelus tangannya dan merangkul punggungnya, sehingga terasa hangat sekali.
    “Apa kamu serius? Apa ini mimpi atau kenyataan?” Tanyaku amat gembira.


    “Akan kubuktikan keseriusanku sekarang. Rasakan ini sayang” tiba-tiba Alina melompat lalu mengangkangi kedua pahaku dan duduk di atasnya sambil memelukku, serta mencium pipi dan bibirku bertubi-tubi.
    Tentu aku tidak mampu menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku segera menyambutnya dan membalasnya dengan sikap dan tindakan yang sama. Nampaknya Alina sudah ingin segera membuktikan dengan melepas sarung yang dipakainya, tapi aku belum mau membuka celana panjang yang kepakai malam itu.
    Pergumulan kami dalam posisi duduk cukup lama, meskipun berkali-kali Alina memintaku untuk segera melepaskan celanaku, bahkan ia sendiri beberapa kali berusaha membuka kancingnya, tapi selalu saja kuminta agar ia bersabar dan pelan-pelan sebab waktunya sangat panjang.

    “Ayo Kak Nis, cepat sayang. Aku sudah tak tahan ingin membuktikannya” rayu Alina sambil melepas rangkulannya lalu ia tidur telentang di atas karpet abu-abu sambil menarik tanganku untuk menindihnya. Aku tidak tega membiarkan ia penasaran terus, sehingga aku segera menindihnya.

    “Buka celana sayang. Cepat.. Aku sudah capek nih, ayo dong,” pintanya.
    Akupun segera menuruti permintaannya dan melepas celana panjangku. Setelah itu, Alina menjepitkan ujung jari kakinya ke bagian atas celana dalamku dan berusaha mendorongnya ke bawah, tapi ia tak berhasil karena aku sengaja mengangkat punggungku tinggi-tinggi untuk menghindarinya.

    Ketika aku mencoba menyingkap baju daster yang dipakaianya ke atas lalu ia sendiri melepaskannya, aku kaget sebab tak kusangka kalau ia sama sekali tidak pakai celana. Dalam hatiku bahwa mungkin ia memang sengaja siap-siap akan bersetubuh denganku malam itu.

    Di bawah sinar lampu 10 W yang dibarengi dengan cahaya TV yang semakin seru bermain bugil, aku sangat jelas menyaksikan sebuah lubang yang dikelilingi daging montok nan putih mulus yang tidak ditumbuhi bulu selembar pun.

    Tampak menonjol sebuah benda mungil seperti biji kacang di tengah-tengahnya. Rasanya cukup menantang dan mempertinggi birahiku, tapi aku tetap berusaha mengendalikannya agar aku bisa lebih lama bermain-main dengannya. Ia sekarang sudah bugil 100%, sehingga terlihat bentuk tubuhnya yang langsing, putih mulus dan indah sekali dipandang.

    “Ayo donk, tunggu apa lagi sayang. Jangan biarkan aku tersiksa seperti ini” pinta Alina tak pernah berhenti untuk segera menikmati puncaknya.
    “Tenang sayang. Aku pasti akan memuaskanmu malam ini, tapi saya masih mau bermain-main lebih lama biar kita lebih banyak menikmatinya”kataku
    Secara perlahan tapi pasti, ujung lidahku mulai menyentuh tepi lubang kenikmatannya sehingga membuat pinggulnya bergerak-gerak dan berdesis.

    “Nikmat khan kalau begini?” tanyaku berbisik sambil menggerak-gerakkan lidahku ke kiri dan ke kanan lalu menekannya lebih dalam lagi sehingga Alina setengah berteriak dan mengangkat tinggi-tinggi pantatnya seolah ia menyambut dan ingin memperdalam masuknya ujung lidahku.

    Ia hanya mengangguk dan memperdengarkan suara desis dari mulutnya.
    “Auhh.. Aakkhh.. Iihh.. Uhh.. Oohh.. Sstt” suara itu tak mampu dikurangi ketika aku gocok-gocokkan secara lebih dalam dan keras serta cepat keluar masuk ke lubang kemaluannya.
    “Teruuss sayang, nikkmat ssekalii.. Aakhh.. Uuhh. Aku belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya” katanya dengan suara yang agak keras sambil menarik-narik kepalaku agar lebih rapat lagi.
    “Bagaimana? Sudah siap menyambut lidahku yang panjang lagi keras?” tanyaku sambil melepaskan seluruh pakaianku yang masih tersisa dan kamipun sama-sama bugil.
    Persentuhan tubuhku tak sehelai benangpun yang melapisinya. Terasa hangatnya hawa yang keluar dari tubuh kami.

    “Iiyah,. Dari tadi aku menunggu. Ayo,. Cepat” kata Alina tergesa-gesa sambil membuka lebar-lebar kedua pahanya, bahkan membuka lebar-lebar lubang vaginanya dengan menarik kiri kanan kedua bibirnya untuk memudahkan jalannya kemaluanku masuk lebih dalam lagi.

    Aku pun tidak mau menunda-nunda lagi karena memang aku sudah puas bermain lidah di mulut atas dan mulut bawahnya, apalagi keduanya sangat basah. Aku lalu mengangkat kedua kakinya hingga bersandar ke bahuku lalu berusaha menusukkan ujung kemaluanku ke lubang vagina yang sejak tadi menunggu itu. Ternyata tidak mampu kutembus sekaligus sesuai keinginanku. Ujung kulit penisku tertahan, padahal Alina sudah bukan perawan lagi.

    “Ssaakiit ssediikit.., ppeelan-pelan sedikit” kata Alina ketika ujung penisku sedikit kutekan agak keras. Aku gerakkan ke kiri dan ke kanan tapi juga belum berhasil amblas.
    Aku turunkan kedua kakinya lalu meraih sebuah bantal kursi yang di belakanku lalu kuganjalkan di bawah pinggulnya dan membuka lebar kedua pahanya lalu kudorong penisku agak keras sehingga sudah mulai masuk setengahnya.

    Alinapun merintih keras tapi tidak berkata apa-apa, sehingga aku tak peduli, malah semakin kutekan dan kudorong masuk hingga amblas seluruhnya. Setelah seluruh batang penisku terbenam semua, aku sejenak berhenti bergerak karena capek dan melemaskan tubuhku di atas tubuh Alina yang juga diam sambil bernafas panjang seolah baru kali ini menikmati betul persetubuhan.

    Alina kembali menggerak-gerakkan pinggulnya dan akupun menyambutnya. Bahkan aku tarik maju mundur sedikit demi sedikit hingga jalannya agak cepat lalu cepat sekali. Pinggul kami bergerak, bergoyang dan berputar seirama sehingga menimbulkan bunyi-bunyian yangberirama pula.
    “Tahan sebentar” kataku sambil mengangkat kepala Alina tanpa mencabut penisku dari lubang vagina Alina sehingga kami dalam posisi duduk.

    Kami saling merangkul dan menggerakkan pinggul, tapi tidak lama karena terasa sulit. Lalu aku berbaring dan telentang sambil menarik kepada Alina mengikutiku, sehingga Alina berada di atasku. Kusarankan agar ia menggoyang, mengocok dan memompa dengan keras lagi cepat.

    Ia pun cukup mengerti keinginanku sehingga kedua tangannya bertumpu di atas dadaku lalu menghentakkan agak keras bolak balik pantatnya ke penisku, sehingga terlihat kepalanya lemas dan seolah mau jatuh sebab baru kali itu ia melakukannya dengan posisi seperti itu.

    Karena itu, kumaklumi jika ia cepat capek dan segera menjatuhkan tubuhnya menempel ke atas tubuhku, meskipun pinggulnya masih tetap bergerak naik turun.
    “Kamu mungkin sangat capek. Gimana kalau ganti posisi?” kataku sambil mengangkat tubuh Alina dan melapas rangkulannya.

    “Posisi bagaimana lagi? Aku sudah beberapa kali merasa nikmat sekali” tanyanya heran seolah tidak tahu apa yang akan kulakukan, namun tetap ia ikuti permintaanku karena ia pun merasa sangat nikmat dan belum pernah mengalami permainan seperti itu sebelumnya.
    “Terima saja permainanku. Aku akan tunjukkan beberapa pengalamanku”
    “Yah.. Yah.. Cepat lakukan apa saja” katanya singkat.

    Aku berdiri lalu mengangkat tubuhnya dari belakang dan kutuntunnya hingga ia dalam posisi nungging. Setelah kubuka sedikit kedua pahanya dari belakan, aku lalu menusukkan kembali ujung penisku ke lubangnya lalu mengocok dengan keras dan cepat sehingga menimbulkan bunyi dengan irama yang indah seiring dengan gerakanku.

    Alina pun terengah-engah dan napasnya terputus-putus menerima kenikmatan itu. Posisi kami ini tak lama sebab Alina tak mampu menahan rasa capeknya berlutut sambil kupompa dari belakan. Karenanya, aku kembalikan ke posisi semula yaitu tidur telentang dengan paha terbuka lebar lalu kutindih dan kukocok dari depan, lalu kuangkat kedua kakinya bersandar ke bahuku.

    Posisi inilah yang membuat permainan kami memuncak karena tak lama setelah itu, Alina berteriak-teriak sambil merangkul keras pinggangku dan mencakar-cakar punggungku. Bahkan sesekali menarik keras wajahku menempel ke wajahnya dan menggigitnya dengan gigitan kecil. Bersamaan dengan itu pula, aku merasakan ada cairan hangat mulai menjalar di batang penisku, terutama ketika terasa sekujur tubuh Alina gemetar.

    Aku tetap berusaha untuk menghindari pertemuan antara spermaku dengan sel telur Alina, tapi terlambat, karena baru aku mencoba mengangkat punggungku dan berniat menumpahkan di luar rahimnya, tapi Alina malah mengikatkan tangannya lebih erat seolah melarangku menumpahkan di luar yang akhirnya cairan kental dan hangat itu terpaksa tumpah seluruhnya di dalam rahim Alina.

    Alina nampaknya tidak menyesal, malah sedikit ceria menerimanya, tapi aku diliputi rasa takut kalau-kalau jadi janin nantinya, yang akan membuatku malu dan hubungan persahabatanku berantakan.
    Setelah kami sama-sama mencapai puncak, puas dan menikmati persetubuhan yang sesungguhnya, kami lalu tergeletak di atas karpet tanpa bantal. Layar TV sudah berwarna biru karena pergumulan filmnya sejak tadi selesai.

    Aku lihat jam dinding menunjukkan pukul 12.00 malam tanpa terasa kami bermain kurang lebih 3 jam. Kami sama-sama terdiam dan tak mampu berkata-kata apapun hingga tertidur lelap. Setelah terbangun jam 7.00 pagi di tempat itu, rasanya masih terasa capek bercampur segar.

    “Nis, kamu sangat hebat. Aku belum pernah mendapatkan kenikmatan dari suamiku selama ini seperti yang kamu berikan tadi malam” kata Alina ketika ia juga terbangun pagi itu sambil merangkulku.
    “Benar nih, jangan-jangan hanya gombal untuk menyenangkanku” tanyaku.

    “Sumpah.. Terus terang suamiku lebih banyak memikirkan kesenangannya dan posisi mainnya hanya satu saja. Ia di atas dan aku di bawah. Kadang ia loyo sebelum kami apa-apa. Kontolnya pendek sekali sehingga tidak mampu memberikan kenikmatan padaku seperti yang kami berikan.

    Andai saja kamu suamiku, pasti aku bahagia sekali dan selalu mau bersetubuh, kalau perlu setiap hari dan setiap malam” paparnya seolah menyesali hubungannya dengan suaminya dan membandingkan denganku.
    “Tidak boleh sayang. Itu namanya sudah jodoh yang tidak mampu kita tolak. Kitapun berjodoh bersetubuh dengan cara selingkuh. Sudahlah. Yang penting kita sudah menikmatinya dan akan terus menikmatinya” kataku sambil menenangkannya sekaligus mencium keningnya.
    “Maukah kamu terus menerus memberiku kenikmatan seperti tadi malam itu ketika suamiku tak ada di rumah” tanyanya menuntut janjiku.

    “Iyah, pasti selama aman dan aku tinggal bersamamu. Masih banyak permainanku yang belum kutunjukkan” kataku berjanji akan mengulanginya
    “Gimana kalau istri dan anak-anakmu nanti datang?” tanyanya khawatir.

    “Gampang diatur. Aku kan pembantumu, sehingga aku bisa selalu dekat denganmu tanpa kecurigaan istriku. Apalagi istriku pasti tak tahan tinggal di kota sebab ia sudah terbiasa di kampung bersama keluarganya tapi yang kutakutkan jika kamu hamil tanpa diakui suamimu” kataku.
    “Aku tak bakal hamil, karena aku akan memakan pil KB sebelum bermain seperti yang kulakukan tadi malam, karena memang telah kurencanakan” kara Alina terus terang.

    Setelah kami bincang-bincang sambil tiduran di atas karpet, kami lalu ke kamar mandi masing-masing membersihkan diri lalu kami ke halaman rumah membersihkan setelah sarapan pagi bersama.
    Sejak saat itu, kami hampir setiap malam melakukannya, terutama ketika suami Alina tak ada di rumah, baik siang hari apalagi malam hari, bahkan beberapa kali kulakukan di kamarku ketika suami Alina masih tertidur di kamarnya, sebab Alina sendiri yang mendatangi kamarku ketika sedang “haus”.
    Entah sampai kapan hal ini akan berlangsung, tapi yang jelas hingga saat ini kami masih selalu ingin melakukannya dan belum ada tanda-tanda kecurigaan dari suaminya dan dari istriku.

  • Cerita Sex Aku Di Bikin Konak Oleh Pembantu Genit Tetanggaku

    Cerita Sex Aku Di Bikin Konak Oleh Pembantu Genit Tetanggaku


    1233 views

    Perawanku – Cerita Sex Aku Di Bikin Konak Oleh Pembantu Genit Tetanggaku, Di kompleks perumahan ibuku, Tri terkenal sebagai pembantu yang genit, ganjen, centil dan sebagainya. Dia sering gonta ganti pacar. Tri baru berumur kurang lebih 22 tahun. Bodynya bagus, dengan payudara berukuran kira-kira 34D dan pantat bulat dan padat.

    Yang lebih menggairahkan adalah cara berpakaiannya. Dia kerap mengenakan kaos ketat dan celana model ABG sekarang yang memperlihatkan pinggul dan pusar. Wajahnya cukup manis, bibirnya sensual sekali. Aku sering menelan ludah kalau melihat bibirnya.

    Tugas Tri adalah menjaga anak majikannya yang masih kecil-kecil. Kalau sore hari, dia selalu mengajak anak majikannya berjalan-jalan sambil disuapi. Nah, aku sering sekali berpapasan dengannya saat dia sedang mengasuh Nabila (anak bungsu pasangan tempat Tri bekerja).

    Nabila ini seorang anak yang lucu, sehingga kadang-kadang aku berhenti sebentar untuk mencubit pipinya. Suatu kali, seperti biasa aku bertemu dengan Tri yang sedang mengasuh Nabila, dan aku berhenti sebentar untuk mencubit pipinya.

    Tiba-tiba Tri nyeletuk, “Kok cuma Nabila yang dicubit Pak?”
    Aku sedikit terkesiap, “Haah?” dan aku memandang kepada Tri.

    Dia sedang menatapku dengan kerlingan genit dan tersenyum menggoda.

    “Habis, kalau aku cubit pipi Mbak Tri, aku takut Mbak Tri marah,” kataku.
    “Kalau cubitnya pelan-pelan, aku nggak marah kok Pak. Malah seneng,” sahut Tri.

    Kurang ajar anak ini, aku membatin, tapi mulai tergoda untuk memancingnya lebih jauh.

    “Kalau cuma cubit aku enggak mau Tri.” kataku.
    “Terus maunya apa? Emang berani?” dia malah menantang. Benar-benar ganjen anak ini.
    “Aku maunya, cium bibir kamu yang seksi itu, boleh?” aku bertanya.
    Dia malah balik bertanya, “Cuma cium? Enggak mau kalau cuma cium.”

    Astaga, ini sudah keterlaluan.

    “Tri, aku kan sudah punya isteri, emang kamu masih mau?” aku bertanya.
    “Yaa, jangan sampai isteri Pak Irwan tahu dong. Masak cuma Mbak Enny aja yang boleh ngerasain Pak Irwan.” balas Tri.

    Aku agak kaget juga mendengar ucapan Tri. Rupanya Enny curhat sama Tri. Tapi, kepalang tanggung pikirku.

    “Jadi benar nih kamu mau Tri?” aku memastikan.
    Tri menjawab, “Siapa takut? Kapan?”
    “Kamu bisanya kapan Tri? Aku sih kapan aja bisa,” jawabku sambil melirik ke toketnya yang bagus itu.

    Saat itu Tri pake kaos ketat yang tipis, sehingga bra hitamnya membayang dan memperlihatkan lekuk yang sangat mengairahkan. Pembaca, terus terang saat itu aku sudah “Konak”. Penisku kurasakan sudah mengeras.

    “Ya sudah, nanti malam aja Pak, kebetulan Bapak-Ibu mau ke Bogor, anak-anak mau diajak semua.” kata Tri.
    “Oke, nanti jam berapa aku ke rumahmu?” tanyaku.
    “Yaa, jam delapanan deh,” jawab Tri sambil membusungkan dadanya.

    Dia tahu aku sedang memperhatikan toketnya. Nafsuku menggelegak.

    “Kamu nantang benar sih Tri, ya sudah, nanti jam delapan aku dateng. Awas nanti kamu ya.” ancamku sambil tersenyum.
    Eh, dia malah menjawab, “Asal Pak Irwan kuat aja nanti malam.”

    Sambil mengedipkan matanya dan bibirnya membuat gerakan mengecup. Ya ampuunn, bibirnya benar-benar seksi. Aku menyabarkan diri untuk tidak menggigit bibir yang menggemaskan itu.

    “Kalau gitu aku pulang dulu ya Tri, sampai nanti malam ya.” kataku.
    “Benar yaa. Jangan boong lho. Tri tunggu ya sayang..” Tri membalas.

    Malamnya, jam delapan, aku sudah berada di depan pagar rumah Tri, lebih tepat rumah majikannya. Tri sudah menungguku. Dia membukakan pintu pagar dan aku langsung masuk setelah melihat situasi aman, tidak ada yang melihat. Kami masuk ke dalam dan Tri langsung mengunci pintu depan.

    Tri memakai celana yang sangat pendek, dengan kaos ketat. Kulitnya cukup mulus walaupun tidak terlalu putih, namun dibandingkan dengan Enny, masih lebih putih Tri. Aku tidak mau membuang waktu, langsung kudekap dia dan kuserbu bibirnya yang memang sudah lama sekali aku incar. Bibir kami berpagutan, lidah kami saling membelit, dipadu dengan nafas kami yang memburu.

    Tiba-tiba Tri melepaskan ciuman kami, dan dia memegang kedua pipiku sambil menatapku, lalu berkata manja.

    “Pak Irwan, kalau Pak Irwan mau ngewe sama Tri, ada syaratnya Pak.”
    Aku bingung juga, “Apa syaratnya Tri?” tanyaku.
    “Pak Irwan harus panggil aku Mbak, terus aku panggil Pak Irwan Yayang. Gimana? Mau nggak?” tanya Tri sambil tangannya turun ke dadaku dan dia meremas dadaku dengan gemas.

    Pembaca, ini yang mengherankan, aku seorang yang sudah berusia di atas 40 tahun, punya isteri dan anak, jabatanku cukup tinggi di kantor, dan seorang pembantu rumah tangga yang berumur baru 22 tahun mencoba untuk menguasaiku, dan aku merasa senang.

    Aku mengangguk sambil menjawab, “Iya Mbak, aku mau.”
    Sementara itu, penisku sudah ereksi dengan maksimal.

    “Sekarang, Yayang harus nurut apa yang Mbak bilang ya.” perintah Tri, maksudku Mbak Tri.
    “Iya Mbak.” jawabku pasrah.

    Lalu Mbak Tri menuntunku ke kamarnya di bagian belakang rumah. Kami masuk ke kamar itu, Mbak Tri menutup pintu dan sekarng dia yang memeluk dan menyerbu bibirku. Kembali kami berpagutan sambil berdiri, lidah saling belit dalam gelora nafsu kami.

    Mbak Tri kembali melepaskan ciuman kami, dan berkata,” Yaang, kamu jongkok dong.”

    Aku menurut, aku berjongkok di depan Mbak Tri.

    “Lepasin celana Mbak Yang, pelan-pelan ya Yaang.”
    “Iya Mbak.” cuma itu kata yang bisa aku keluarkan.

    Lalu akupun mulai menurunkan celana pendeknya yang tinggal ditarik saja kebawah karena dia memakai celana olahraga. Perlahan mulai tampak pemandangan indah di depan mataku persis. Pembaca, memeknya gundul tanpa bulu sedikitpun, dan montok sekali bentuknya. Warnanya kemerahan dan diatasnya terlihat clitnya yang juga montok. Mbak Tri melibarkan pahanya sedikit, sehingga memeknya agak terkuak. Mbak Tri mendongakkan wajahku dengan tangannya.

    Dan dia bertanya, “Gimana Yang? Bagus nggak Memek Mbak?”
    “Iya Mbak. Bagus banget. Tembem.” jawabku tersendat, karena menahan nafsu dalam diriku.
    “Yayang mau cium Memek Mbak?” tanyanya.
    “Mau Mbak.”

    Aku tidak menunggu diperintah dua kali. Langsung kuserbu Memek yang sangat indah itu. Mbak Tri menaikkan sebelah kakinya ke atas tempat tidur, sehingga lebih terbuka ruang bagiku untuk mencium keharuman memeknya.

    Mula-mula hidungku menyentuh kelembaban memeknya, dan aku menghirup keharuman yang memabokkan dari Memek Mbak Tri. Kususupkan hidungku dalam jepitan daging kenikmatan Memek Mbak Tri.

    Mbak Tri mengerang, “Aahh, Yayaanngg. Terusin Yang.”

    Lalu kukecup memeknya dengan penuh kelembutan. Dan perlahan mulai keluarkan lidahku untuk menjelajahi bibir memeknya. Kugerakkan lidahku perlahan-lahan kesekeliling memeknya. Tanganku meremas-remas pantatnya. Sesekali lidahku menyapu klitnya, dan kujepit klitnya dengan kedua bibirku.

    Cerita Sex Aku Di Bikin Konak Oleh Pembantu Genit Tetanggaku

    Cerita Sex Aku Di Bikin Konak Oleh Pembantu Genit Tetanggaku

    Tubuh Mbak Tri mengejang sambil mendesah, “Aarrgghh.. Yayaanngg.. Ennaakk Yaanngg..”

    Kedua tangan Mbak Tri meremas rambutku sambil menekan kepalaku ke belahan pahanya. Wajahku terbenam di Memek Mbak Tri, aku hampir tidak bisa bernafas.

    “Yaanngg.. Tunggu Yaang. Mbak nggak kuat berdiri Yang.”

    Lalu Mbak Tri merebahkan tubuhnya di kasur sambil melepaskan kaos dan branya. Dia terlentang di kasur. Aku berdiri dan ingin mulai melepas baju dan celanaku.

    “Jangan Yang, kamu jangan buka baju dulu. Jilatin Memek Mbak dulu Yang.” perintah Mbak Tri. Lagi-lagi aku nurut.

    Lalu Mbak Tri kembali menekan kepalaku ke selangkangannya. Kuteruskan kegiatan mulut dan lidahku di pesona kewanitaan Mbak Tri yang sangat indah kurasa. Kumasukkan lidahku ke dalam memeknya, dan kuputar-putar di dalam memeknya.

    Dia menggelinjang kenikmatan. Rambutku sudah berantakan karena diremas terus oleh Mbak Tri. Sekitar sepuluh menit kujilati Memek Mbak Tri dan memberinya kenikmatan sorgawi. Akhirnya dia menjerit tertahan, tubuhnya mengejang dan tangannya menekan kepalaku dengan kuatnya.

    “Aauugghh.. Yaanngg. Mbakk.. Kkeeluaarr Yaanngg” rintihnya.
    Pantat dan pingulnya bergerak memutar dengan liar dan tiba-tiba berhenti.
    “Sshh.. Oogghh.. Yaanngg.. Ennaakk banggeett Yaangg.”

    Kusedot seluruh cairan yang membanjir dari Memek Mbak Tri. Rasanya gurih dan wanginya harum sekali. Kurasakan becek sekali Memek Mbak Tri saat itu. Setelah berisitirahat kurang lebih sepuluh menit, Mbak Tri bangun dan mulai membuka pakaianku.

    “Sekarang giliran kamu Yang. Mbak mau gigitin kamu” perintahnya.

    Setelah semua pakaianku lepas, Mbak Tri memandang ke penisku yang sudah pusing dari tadi. Dia menggenggam penisku dengan gemas dan mulai mengocoknya dengan lembut. Kemudian aku disuruhnya telentang, lalu dia mendekatkan kepalanya ke penisku. Dikecupinya kepala penisku, dan lidahnya mulai menjelajahi bagian atas penisku.

    Astaga, permainan lidah Mbak Tri luar biasa sekali. Dalam sekejap aku dibuatnya melayang ke angkasa. Kenikmatan yang diberikan melalui lidah dan mulutnya, membuatku mendesah dan menggelepar tidak karuan.

    Dari bagian kepala, lalu ke batang penisku dan bijiku semua dijilatinya dengan penuh nafsu. Sesekali bijiku dimasukkan ke dalam mulutnya. Sampai terbalik mataku merasakan nikmatnya. Ujung lidahnya juga menyapu bahkan menusuk anusku. Kurasakan listrik yang menyengat ke sekujur tubuhku saat lidah Mbak Tri bermain di anusku. Sepuluh menit lamanya Mbak Tri menjilati dan mengemut penis dan anusku.

    Kemudian dia merayap naik ke badanku, mengangkangiku, dan mengarahkan penisku ke memeknya. Perlahan dia menurunkan pantatnya. Kurasakan penisku mulai melakukan penetrasi ke dalam belahan memeknya yang sangat montok itu. Agak susah pada awalnya karena memang tembem sekali Memek Mbak Tri. Setelah masuk semua, Mbak Tri mulai menaik turunkan pantatnya.

    “Aauugghh, Mbak. Enak Mbak.” rintihku.
    “Iya Yang, Mbak juga ngerasain enak. Adduuhh. Kontol kamu enak banget Yang.”

    Dan Mbak Tri mulai melakukan putaran pinggulnya. Pantatnya tidak lagi turun naik, melainkan pinggulnya yang berputar. Ini benar-benar membuat sensasi yang luar biasa nikmatnya. Mbak Tri sangat pintar memutar pinggulnya. Aku mengimbangi gerakan Mbak Tri dengan menusuk-nusukan penisku.

    Tapi, “Yaanngg. Kamu diem aja ya Yaangg. Biar Mbak aja yang muter.”

    Akupun diam dan Mbak Tri semakin liar memutar pinggulnya. Tidak lama kemudian, Mbak Tri menghentikan putaran pinggulnya, dan kurasakan memeknya menyedot penisku. Serasa dipilin oleh gumpalan daging yang hangat, kenyal dan kesat.

    Lalu Mbak Tri mengerang keras, “Yaanngg.. Aarrgghh. Mbak keluar laggii Yaanngg..”

    Mbak Tri rebah di atas tubuhku, sementara memeknya terus menyedot penisku. Luar biasa sekali rasanya memek Mbak Tri ini. Kemudian Mbak Tri memberi perintah agar aku bergantian di atas. Aku menurut, dan tanpa melepaskan penisku dari dalam memeknya kami berubah posisi.

    Sekarang aku berada di atas. Mbak Tri melingkarkan kakinya ke kakiku, sehingga aku tidak leluasa bergerak. Rupanya ini yang diinginkan oleh Mbak Tri, agar aku diam saja. Mbak Tri juga tidak menggerakkan pinggulnya, hanya kurasakan daging di dalam memeknya yang melakukan gerakan menyedot, memijit, memutar dan entah gerakan apa namanya.

    Yang pasti aku merasakan jepitan Memek yang sangat kuat namun enak sekali. Aku tidak dapat menggerakkan penisku di dalam memeknya. Juga tidak dapat menarik penisku dari dalam Memek itu. Tidak lama kurasakan Memek Mbak Tri menyedot penisku. Lalu perlahan Mbak Tri mulai memutar pinggulnya.

    Aku merasa sperti perahu yang berada di dalam lautan yang bergelora karena ada badai yang dahsyat. Dan semakin lama gelombang itu semakin kuat menggoncang perahu. Nafas kami sudah memburu, keringat sudah mengucur membasahi tubuh kami.

    Dan kurasakan Memek Mbak Tri mulai berdenyut keras lagi, bersamaan dengan aku mulai merasakan desakan lahar dalam diriku yang menuntut untuk keluar dari tubuhku. Putaran pinggul Mbak Tri semakin menggila, dan akupun membantu dengan menekan-nekankan pinggulku walaupun tidak terlalu bebas.

    “Oogghh.. Yaanngg.. Mbaakk nnggaakk kkuatt laaggi Yaanngg..” erang Mbak Tri.
    Aku juga sudah tidak bisa menahan lagi desakan dari dalam itu, “Iyaa mbaakk.. Aakkuu juggaa.. Aarrgghh.”

    Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku, karena saat itu muncratlah sudah cairan kenikmatanku di dalam memek Mbak Tri. Bersamaan dengan itu, Mbak Tri juga sudah mengejang sambil memelukku dengan kuatnya.

    “Sshh.. Oouugghh.. Enaak baannggett Yaangg.”

    Kami merasakan nikmat yang tiada duanya saat air mani kami bercampur menjadi satu di dalam memek Mbak Tri. Mbak Tri mencium bibirku, akupun membalasnya dengan penuh gairah. Dan.. Kamipun terkulai tak berdaya. Aku terhempas di atas tubuh Mbak Tri. Nafas kami tinggal satu-satu. Seprai dan kasur Mbak Tri sudah basah sama sekali karena keringat dan air mani kami yang meluap keluar dari Memek Mbak Tri saking banyaknya.

    “Yayaanngg..” Mbak Tri memanggilku dengan mesranya.
    “Iya mbaakk.” aku menjawab dengan tidak kalah mesranya.
    “Kamu hebat deh Yaang.” kata Mbak Tri sambil mengecup bibirku dengan lembut.
    “Mbak juga hebat. Memek Mbak enak banget deh Mbak.” kataku.

    Mbak Tri tersenyum, “Yayang suka sama memek Mbak?” tanyanya.
    “Suka banget Mbak. Memek Mbak bisa nyedot gitu. Nanti boleh lagi ya Mbak?” aku merayunya.
    “Pasti boleh Yang. Memek ini emang untuk Yayang kok.” Kata Mbak Tri.

    Dan malam itu, kami melakukannya sebanyak tiga kali, sampai kudengar adzan subuh dari mesjid terdekat. Lalu aku keluar dari rumah itu setelah melihat bahwa situasi aman, dan pulang ke rumahku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Kenikmatan Gadis Berjilbab Penjaga Toko – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Kenikmatan Gadis Berjilbab Penjaga Toko – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    2381 views

    Perawanku – Suatu hari, aku bertemu dengan rekan sesama hunter yang sedang berkunjung dikota aku. Ternyata pengalamannya mencari gadis gadis berjilbab sangat banyak, apalagi gadis2 penjaga toko yang berjilbab, namun bisa dipakai (bispak).

    Akhirnya aku diajak oleh Doni, rekan aku itu untuk diajari cara mencari gadis bispak berjilbab. Katanya, yang penting kita berani kenalan. Kalo mereka udah mau diajak kenalan, dan juga mau diajak pulang bareng, sudah jelas mereka adalah gadis yang bisa dipakai. Akhirnya kami langsung menuju ke daerah barat kotaku, dimana banyak pertokoan.

    Sesampainya di sana toko-toko sudah mau tutup, dan kami memasuki salah satu toko serba ada di sana. Langsung saja aku menuju counter pakaian, sambil berkeliling pura-pura mau membeli pakaian. Kebetulan toko sudah sepi karena mau tutup, dan pengunjungnya hanya beberapa orang. “Mau cari baju apa Mas?” tanyanya. Waktu aku lihat ke arah suara tadi, ternyata wanita penjaga counter yang cantik dan lugu. Jilbab seragam yang tipis dan halus dan baju kaos berkerah ketatnya membuatku hampir ngiler.

    “Ini Mbak, mau cari jeans ini yang nomor 32 ada nggak ya?” tanyaku. Si Mbak berjilbab itu pun mencarikan jeans yang aku maksud. Karena letaknya di bagian bawah, maka si Mbak berjilbab itu mencari dengan membungkukkan badan. Karena roknya yang agak ketat, pantatnya yang semok terlihat jelas didepanku, sampai terlihat alur celana dalamnya. “Wah gile bener nih.. semok banget.” Pikiran aku jadi ngeres nggak karuan lihat pemandangan di depan aku.

    “Yang ini Mas?”, tanyanya.

    “Oh.. ya..”, jawabku.

    Lalu si Mbak berjilbab pun menuliskan bon untuk dikasihkan ke kasir.

    “Mmm.. Mbak.. boleh tahu namanya?” tanyaku mengawali pembicaraan.

    “Afi”, katanya.

    “Andre”, kataku sambil mengulurkan tanganku.

    “Ini Mas bonnya”, katanya.

    “Makasih, mmh.. Mbak pulang jam berapa?” tanyaku.

    “Ntar jam 9.30?, jawabnya.

    “Ada yang nganter?” tanyaku lagi.

    “sendirian, cuman dekat mas” tanya Afi menantang.

    “Wah, kebetulan, mau dianter?”, jawabku mantap.

    “emm… boleh deh..” jawabnya sambil tersenyum. Waaaa ini dia mangsa baru jawab aku.

    Tak lama kemudian ada pengumuman bahwa toko mau tutup, dan aku pun membayar barang belanjaan, dan menunggu bersama teman di depan pintu tempat karyawan toko keluar. Tak lama kemudian terlihatlah Gadis berjilbab itu menuju ke arahku.

    “Kelamaan nunggunya ya Mas?” tanyanya.

    “Wah, kalau nunggu wanita secakep Afi sih rasanya sangat lama”, kataku.

    “Ah mas bisa aja..” kata Afi sambil tersipu malu.

    Kami bertiga pun meninggalkan toko tersebut.

    “Emang Afi rumahnya di mana?” tanyaku.

    “Aku di Jalan XXX”, katanya.

    “Oohh, okelah!” jawabku.

    Kami pun menuju tempat parkir dan aku starter Genio tahun 90-an yang sudah menemani aku selama 5 tahun ini.

    “Mas, aku turun di sini Mas..” kata Doni saat mobil melewati panti pijat di Jalan
    Dan mobil pun kuhentikan, Doni turun langsung masuk ke panti pijat. Wah ini anak memang gila beneran.

    “Itu sudah deket kok Mas, kost Afi”, kata gadis berjilbab itu.

    “Yah kiri, di situ.” katanya lagi.

    Kami pun turun, saat di tempat kos, penghuninya sudah tidur semua, tapi karena Afi memiliki kunci sendiri, kami pun tak ada kesulitan untuk masuk. Aku berjalan dibelakangnya, menelan ludah melihat kemontokan pantat gadis manis berjilbab itu.

    “silakan duduk dulu Mas!” kata gadis berjilbab itu.

    Lalu Afi pun pergi ke dapur membuat minuman. Kamarnya ukurannya 3 X 4 meter, di dalam hanya ada televisi, VCD, sama kursi. Meja dan tempat tidur. Tempat tidurnya diletakkan di bawah di atas karpet. Kubuka2 koleksi VCD-nya, wah ini ada VCD xx-nya.

    Pas aku lihat 2 VCD, Gadis berjilbab itu pun masuk dengan membawakan segelas STMJ dan memakai kaos lengan panjang ketat, jilbab cekak biru dan rok panjang hitam berbahan halus.

    “Wah, semakin kelihatan seksi nih anak”, pikirku.

    “Nih diminum Mas, biar anget”, kata gadis berjilbab itu.

    “Nin.. kamu suka ya lihat film-film macem ginian?” tanyaku.

    “emang itu VCD apa mas?” kata Gadis berjilbab itu sambil terlihat bingung. “Punya temen kost, kali…. Biasanya emang mereka suka nonton film disini kalo aku lagi kerja..” jawab gadis berjilbab itu lugu. Aku semakin bernafsu. Wah, kebetulan, bisa diajak nonton kayak gini.

    “mas stel yah? Kali aja bagus..”kataku. .

    “Yah, gapapa…” kata Afi.

    Aku pun mulai menyalakan VCD dan menontonnya. Dasarnya VCD hardcore, langsung saja yang ditampilkan seorang wanita yang diikat tangan kakinya di ranjang dan ditutup matanya, disetubuhi oleh lelaki dengan nafsunya. “Ahh.. no.. no.. uhshh..” jerit wanita tersebut sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. “waduh, kok film kayak gitu,mas…”, kata Afi sambil kelabakan.

    “udah, gapapa… kita tonton aja, yuk…” kataku sambil memegang pergelangan tangannya dan menariknya pelan duduk disampingku. Akhirnya Gadis berjilbab itu pun mau duduk di samping aku. Terlihat lagi kemudian ikatan tali itu dilepas, dan si wanita menungging, dan si lelaki berdiri di belakangnya, dan mulai menyetubuhinya dengan gaya doggy.

    “Ohh.. yess.. ahh.. ahh.. yess.. yess..” jerit wanita tersebut.

    Afipun terlihat serba salah. Cara duduknya berubah2, namun matanya terpaku kepada layar TV. Nampaknya gadis cantik berjilbab ini mulai menyukai seks. Pelan-pelan aku merangkul pinggulnya yang sekal. Gadis itu diam saja, sambil matanya tetap terpaku di layar TV. Pelan kutarik Afi duduk semakin mendekat ke tubuhku, sampai dada Gadis berjilbab itu bergesekan dengan lenganku. Afi diam saja. Dari bibir indahnya terdengar sedikit desahan pelan. Nafasnya juga mulai berat.

    “Wah, kayaknya dia terangsang nih”, pikir aku. Kemudian adegan pun semakin seru, si wanita menggoyang maju mundurkan pantatnya mengimbangi laju kemaluan laki-laki tersebut kedalam kemaluannya.

    “Oohh baby, yess.. ahhk”, jerit wanita tersebut dan Gadis berjilbab itu pun semakin menggesekkan dadanya ke lenganku dan akhirnya aku beranikan diri untuk memegang dada Afi, Gadis berjilbab itu tiba2 melihat padaku. Mata kami saling menatap. Kulihat matanya sayu penuh birahi. Aku remas dadanya, “jangan mas..” rintih Afi pelan. Namun aku tahu, itu hanya kata2 saja. Tubuhnya tidak benar2 berontak, dan tatapan matanya justru semakin sayu birah.. aku terus meremas dada ranumnya dari luar kausnya, dan perlahan ku beranikan diri untuk mencium bibirnya, beberapa saat, dibalas dengan ciuman pula oleh Gadis berjilbab itu.

    Akhirnya aku dan Afi terlibat dalam acara pagut memagut yang sangat seru. Jilbabnya sudah lusuh kuremasi. Lidah kami saling melilit satu sama lain. Kemudian kusibakkan kaos ketat lengan panjang Gadis berjilbab itu pelan2. Setelah kaosnya tersibak memperlihatkan bra yang menampung buas dada sekalnya, kuciumi lagi wajah gadis cantik berjilbab itu serta kurapihkan lagi jilbabnya yang sedikit berantakan. Aku benar2 terangsang dengan gadis2 yang memakai jilbab. Langsung aku menciumi bibirnya dengan ganas, “Mmm”, dan dibalas dengan ganas pula oleh Gadis berjilbab itu.

    Kemudian Afi pun mendesah, “Oohh.. shh.. shh”, dan kemudian aku buka kaitan bra Afi dengan gigi aku dan terpampang di depan mata aku gundukan gunung kembar berbentuk kerucut dengan puncaknya berwarna merah muda milik gadis berjilbab cantik yang lugu itu. Langsung aku jilati dari lembah gunung kembar tersebut terus menuju ke puncaknya.

    “Aakhh.. okhh.. Mas.. shh.. jangann.. jangan Mas.. jangan.. jangan… hentikan Mas..”

    hanya kata itu yang keluar dari bibir Gadis berjilbab itu. Wah masih pura2 gak mau juga ni cewe, padahal udah2 jelas2 dia mau kok.

    Tak lama kemudian ujung gunung kembar itupun berubah menjadi keras seperti penghapus pensil dan semakin keras saja. Selanjutnya habis mengerjakan tugas di puncak gunung, aku turun sedikit menuju lembah dan tepat di atas pusar aku jilati lagi.

    “Wah tubuhmu memang lezat, , mmh.. slurpp”, kata aku sambil menjilat dan menghisap-hisap tubuhnya.

    “Ahh.. shh.. ukhh.. ss..” desah Afi.

    Kemudian aku mulai menyibak rok panjang Afi keatas dan membuka celana dalam warna kremnya. Dan akhirnya, aku langsung turun ke daerah selangkangan Afi.

    Posisinya sekarang tidur di sofa dengan jilbab rapi masih dikenakan, namun buah dadanya sudah terhidang rapi tanpa ditutupi apapun. kaki gadis cantik berjilbab itu mengangkang membentuk huruf M dan aku duduk di bawah dan menjilati pangkal paha Gadis berjilbab itu.

    “Mmm.. mm.. slurpp.. mmh.. aku jilati seluruh permukaan rambut di daerah segitiga terlarang tersebut di situ tumbuh dengan lebatnya rambut-rambut halus bagaikan hutan tropis Kalimantan sebelum kebakaran. Kujilati hingga rambut di situ basah semua, dan kemudian aku menuju ke bibir kemaluan Afi. Kujilati bibir-bibir indah tersebut dengan ganasnya, “Okhh.. akkhh…. Mas.. ahh..” desah Gadis berjilbab itu sambil mengangkat pinggulnya.

    Kemudian kusingkap kedua bibir untuk mengetahui rahasia di dalam kemaluan Afi. Terlihat dengan jelas tonjolan daging yang ada di dalamnya dan kujilati dengan lidahku.

    “Ohh…. akhh.. oukhh.. akk”, jerit Gadis berjilbab itu saat aku jilati daging, yang biasa disebut klitoris.

    Setelah menjilati daging tersebut, kumasukkan tanganku ke dalamnya terasa ada yang menyedot jariku. dan kugesek-gesekkan jari-jariku ke dalam kemaluan Afi dan terasa daging yang bergelombang-gelombang di dalamnya. Mungkin ini yang disebut G-spot pikir aku. Langsung saja aku korek-korek daerah itu. Gadis berjilbab itu pun semakin tak terkendali,

    “Aahh.. sshh.. ohkk.. uhh.. yess, Mas … ahkkh..” jerit Afi semakin nggak jelas.

    Aku semakin memperbesar frekuensi mengobrak-abrik daerah tersebut, yang makin lama terasa semakin basah dan semakin menyedot-nyedot jariku. Tak lama kemudian,

    “Ohh.. Mas.. shh.. akkhh..” jerit Gadis berjilbab itu mengejang tanda mencapai klimaks, dan jariku di dalamnya pun semakin basah oleh semburan air dari dalam kemaluannya. Kemudian ku keluarkan tangan aku dari cengkeraman kemaluan nya dan menciumi Gadis berjilbab itu. “Sudah puas belum?” tanya aku. Gadis berjilbab itu pun tersenyum. Wajah lugunya yang masih terbalut jilbab terlihat sangat puas.

    Kemudian karena aku juga ingin dipuaskan, segera kubimbing Afi duduk, aku langsung melepaskan celanaku dan duduk di sofa, pelan aku tarik gadis cantik itu mendekat sampai wajahnya berada dihadapan penis aku yang telah tegak perkasa.

    “ayo, jilat ..” kataku menyemangati sambil sedikit menarik jilbab Afi agar wajahnya semakin mendekat ke penis aku. dan Afi pelan2 menjulurkan lidahnya, mulai menjilati kemaluan aku. Gadis berjilbab itu aku tuntun menjilati kantung kemaluan aku. Matanya sekali-kali melirik ke arahku, seolah ingin memastikan jilatannya memang memuaskan aku. Kemudian Afi menjilati batangan ku yang 7 inchi menyusuri jejak urat-urat yang menonjol di situ. Aku cuma bisa bilang, “Ahh.. ohh.. shh”, saat Gadis berjilbab itu menjilati batangan aku.

    Afi pun lalu mulai menjilati kepala kemaluan aku yang seperti helm astronot sambil memainkan lubangnya dengan lidah yang menari-nari di atasnya. kemaluan aku pun semakin tegang saja, dan kemudian Afi mulai memasukkan dan mengeluarkan kemaluanku di dalam mulut Gadis berjilbab itu dengan frekuensi tinggi, sehingga dengan gerak reflek aku maju mundurkan kemaluan aku sambil memegangi Gadis itu yang masih berjilbab. Setelah hampir 6 menit berlalu. Aku cukup merasa puas mengerjai wajah dan mulut Afi, segera dengan sedkit kasar aku hempaskan gadis berjilbab itu kembali terlentang disofa.

    Kemudian kuambil kondom special bawaan dari jakarta. Ketika kukenakan di kemaluan, Afi sempat tertawa mengikik. “lucu seperti ikan lele, ada sungutnya.” Kata gadis berjilbab itu dengan lugunya. Afi terlihat sudah pasrah, bahkan terlihat tidak sabar dengan tidur telentang dan kaki Gadis berjilbab itu membentuk huruf M. kugesek2kan kepala penis aku untuk melumasinya sambil melontarkan pertanyaan kotor, “kamu udah gak perawan yah,?” wajahnya yang merah padam karena birahi terlihat menatapku tajam, namun lalu mengangguk. “dasar..” kataku,

    Langsung aku masukkan kemaluan aku ke dalam kemaluan Gadis berjilbab itu. Wah, ternyata masih seret juga nih lubangnya pikir aku. Dan dengan dorongan sedikit tenaga masuklah batang aku ke dalam cengkraman kemaluan Afi. Aku dorong keluar masuk kemaluanku ke dalam kemaluan Gadis berjilbab itu.

    “Aahh.. oohh.. shh.. akhh.. shh…. Mas.. ahh..” desah Afi semakin tak beraturan.

    Kemudian aku berhenti, kemaluan aku di dalam kemaluan Gadis berjilbab itu dan memainkannya seperti orang sedang menahan air pipis. “Ih.. kamu nakal.. Mas..” dan Afi ganti membalasnya dengan perlakuan seperti aku. Saat Afi melakukan hal tersebut, kemaluan Gadis berjilbab itu terasa menjepit-jepit seluruh batang kemaluan aku secara periodik, dan membuat aku tak bisa mengendalikan diri.

    Kemudian aku genjot lagi kemaluan aku dan menggesekkan sungut-sungut pada kondom, sepertinya membuat sensasi tersendiri pada kemaluan Afi, “Ahh.. oohh.. Mas.. sungut lelemu.. ohkss.. akk.. yes ahh.. ohkk..” jerit Afi menikmati sungut lele dan ia pun menggoyangkan pinggulnya semakin kuat dan berbunyi kecipak-cipak saat aku memasuk-keluarkan kejantanan aku di dalam kewanitaan Gadis berjilbab itu yang makin basah.

    Setelah 15 menit kemudian Afi mendesah, “Mas.. ouchh.. akuu.. mmaauu.. akh, sampaii.” Tak lama kemudian terasa tumpahan cairan dari kemaluan Afi membuat batang kemaluan aku panas dan terasa ada yang menghisap-hisap kemaluanku yang membuat aku tak bisa mengendalikan diri, dan keluarlah lahar panas dari kemaluan aku pada kantong kondom di dalam kemaluan Gadis berjilbab itu. Kami berdua pun lemas dalam kenikmatan. Aku biarkan kemaluan aku di dalam kemaluan Afi sampai hilang hisapan-hisapan dari kemaluan Gadis berjilbab itu.

    Kemudian kukeluarkan kemaluan aku dan aku lepas kondom dan aku berikan ke Afi. “Nih, sumbangkan ke bank sperma”, kata aku. Gadis berjilbab itu pun tersenyum genit, dan pergi ke kamar mandi untuk membuang kondom tersebut. Kemudian kami pun tertidur dengan tubuh tanpa busana sampai keesokan harinya.

    Pagi hari ketika gadis berjilbab itu bangun dan membersihkan diri, segera kuserbu dia dari belakang dan kembali memberi gadis lugu berjilbab itu kenikmatan untuk kesekian kali. Sangat nikmat ternyata, seorang gadis penjaga toko berjilbab.

  • Cerita Sex Aku Entot Manager Hotelku

    Cerita Sex Aku Entot Manager Hotelku


    981 views

    Perawanku – Cerita Sex Aku Entot Manager Hotelku, Saya yaitu seseorang dosen saat sarjana yang mengajar serta berikan seminar di mana-mana, Saya tinggal di Bogor serta hidup cukup bahagia dengan keluargaku. Satu saat, tengah iseng-iseng bermain dengan internet, saya dapatkan dia, wanita ini bernama Mila. Memiliki hasrat birahi yang hampir sama denganku yakni bermain dengan tali.

    Narasi Sex Indonesia Dalam chat serta e-mail saya berhasil ketahui kalau dia bekerja di satu hotel di Jogja jadi Sales Manager. Hemm, kebetulan 2 minggu sekali lagi saya harus memberi seminar 2 hari di Undip Semarang.
    Tidak sabar menanti hari itu, masih tetap asik saya mengorek info lewat e-mail. Kami bahkan juga bertukar foto (sudah pasti saya tidak kirim foto yang sesungguhnya), Mila bahkan juga pernah kirim photonya saat dia diikat oleh GMnya.
    Oh ya, menurut pengakuannya usianya 34 th., Mila telah 3 th. menikah dengan seseorang penerbang yang bekerja di maskapai multinasional yang bermarkas di Hong Kong. Pertemuan dengan suaminya hampir cuma 2 minggu sekali.
    Mila memiliki hubungan spesial dengan lelaki yang telah lama ia kenal serta mengakui sepanjang tersebut dia kagum pada Mila, kurang lebih mulai sejak pertemuan mereka yang mana Mila jadi anak buahnya 7 th. waktu lalu di Bali. Lelaki itu saat ini merekrut Mila jadi Sales Managernya. Lelaki itu (GMnya), menikah dengan manager personalia satu bank di Semarang, tidak tinggal dengan karna karier. Hingga waktu dia tidak pulang ke Semarang, Milalah yang isi kekosongannya itu. “Yogya, Yogya, mari mas, yang ini telah ingin pergi mas,! ”
    Nada kenek itu membuyarkan lamunanku, baru selesai seminar serta agak capek saya bersiap-siap ke Yogya ; umumnya segera naik bis Nusantara atau Ramayana ke Yogya serta berhenti di Ringroad ke tempat tinggal keluarga, ortu serta adikku tinggal. Tapi sekarang ini saya telah miliki kemauan beda, saya juga akan menculik si Mila yang ngegemesin serta senantiasa mengganggu fikiranku, telah satu bulan lebih ini saya senantiasa main internet spesial untuk dapat baca tulisannya atau saksikan photo hornynya.
    Jadi bis berhenti di Ringroad juga namun saya segera ke jalan Solo, ke hotel berbintang lima itu, memanglah diam-diam saya membawa photo ke paranormal serta beliau katakan nama hotelnya.
    Hotel tempatnya bekerja berdiri pas bersebelahan dengan hotelku. Sesudah saya cek in di hotelku, saya datang ke hotelnya. Hari telah sore saya tahu persis kalau Mila itu tentu telah pulang, jadi gagasan juga akan digerakkan besok.
    Dari hotel saya naik taksi ke Alfa serta beli sebagian gulungan tali pramuka yang berwarna putih. Juga sebungkus lilin murahan. Pastinya juga gunting yang cukup tajam, ingin beli jepitan baju dari kayu tidak ada, jadi beli yang dari plastik saja tapi ada lubangnya hingga dapat dimasukin tali.
    Besok harinya after breakfast saya mendatangi hotelnya, yang cuma 25 mtr. dari hotelku. Saya bertanya sama Mbak yang di resepsionis serta tuturnya Mila kantornya itu tuch yang dekat GM nya tuturnya dengan sinis (mungkin saja dia tidak sempat di perhatikan sang GM).
    Dengan kenakan pakaian necis lengkap dengan dasi dengan confident saya datangi kamar kerjanya Mila. “Wah orangnya pas seperti yang di foto yang dikirimnya rambutnya panjang terurai di bahunya, kulitnya putih muka gabungan cina jawa, tinggi tubuhnya 170cm beratnya mungkin saja 58 kg, padat bodynya.. hmm! ”
    Mila berdiri serta kami bersalaman ; hatiku begitu bersukur. Selekasnya saya kuasai diri serta mengenalkan diri kalau saya yaitu Steering Comitte dari satu seminar internasional tentang Lingkungan Hidup serta tertarik menyewa 50 kamar serta ruangan sidang untuk satu minggu penuh.
    Mila menerangkan harga nya serta bertanya kapan acaranya juga akan diawali. Secara singkat masalah detail seminarku telah beres (walau sebenarnya seminar itu rekayasaku belaka). Mila menerangkan panjang lebar mengenai paket seminar dengan semua fasilitasnya sembari kadang-kadang melemparkan senyum manisnya,. saya makin mengagumi akan, kemarin..
    “Bagaimana bila proposalnya dapat Dik Mila antarkan ke hotel saya? ” umpanku sembari mengatakan hotel tempatku tinggal.
    “Mengapa Ayah tidak tinggal disini? ” bertanya Mila.
    “Lho maunya memanglah demikian, tapi kata resepsionis barusan kamar telah penuh” balasku.
    “Betul Pak, mungkin saja besok Ayah dapat bermalam di sini serta bersedia coba service kami disini? ”
    “Boleh saja,.! ” jawabku sembari menginginkan ‘pelayanan’ yang beda.
    “Saya bookingkan ya Pak,! ” saya mengangguk sembari sembunyikan kekagumanku juga akan ketertarikanku kepadanya. Mila tidak cantik, dia menarik serta menarik. Lantas Mila berjanji juga akan mengantarkan proposalnya besok jam 10. 30 pagi.
    Keesokannya telpon di kamar suiteku berbunyi, oh rupanya Mila telah datang.
    “Mila ingin segera ke atas? Ini kamar suitenya bagus lho, ada istri saya juga, agar saya kenalkan sekalian! ”
    “Oh ya, kebetulan saya belum juga sempat saksikan kamar suite di hotel ini, sebentar saja ya Pak” sahut dari seberang telpon.
    Hingga di suite roomku, saya silahkan Mila duduk. Mila tampak begitu manis dengan senyumnya yang menarik. Hari ini Mila kenakan blus berwarna biru jelas mengkilap berlengan panjang dengan jenis kerah shanghai dengan kancing putih yang berbaris rapi dari leher sampai hampir ujung pakaiannya, menggunakan rok hitam dan menggenggam HP warna Biru Kuning, di pergelangan tangan kirinya ada jam tangan berupa gelang. Di tangan kanannya ada karet pengikat rambut berwarna hitam, serta kutawarkan minuman, dia pilih apple jus kesukaannya. Kutuangkan dalam gelas yang telah kucampur obat tidur yang kubeli tempo hari dari toko obat di Malioboro.
    “Ibu dimana Pak, ” bertanya Mila seraya meminum jusnya
    “Oh, berada di kamar mandi.. ”
    “Buu,.. buu..! ” teriakku seakan-akan ada dia disana.
    Mila meneguk kembali minumannya hingga nyaris habis serta benar juga kata si engkoh, Mila segera tertidur di sofa ruangan tamu. Sesudah pintu kukunci, saya segera beraksi, pertama kubuka pakaiannya yang senantiasa terlihat ketat, mulai kancing bawah sampai ke atas lantas BH Triump nya yang no 36, rok hitam yang 10 cm diatas lutut, serta paling akhir CD merk Sloggy yang terlihat bersih. Setelah itu saya mulai mengaplikasikan langkah ikatan yang kuintip dari internet. Tuturnya yang paling mutakhir itu yang dari Jepang namanya Karada. Teorinya dari tubuh dahulu, tapi saya takut dia terbangun, jadi agar aman tangannya dahulu.
    Tangan kiri kuikat erat pergelangannya, juga tangan kanan. Lantas ke-2 tangannya dibawa ke punggung serta keduanya diikat dengan type yang mengunci (seperti laso, semakin bergerak semakin erat) serta dikaitkan dengan tali sekali lagi ke leher ah janganlah kasihan kelak dapat tercekik. Meskipun tidak berada di teori tali yang mustinya ke leher kuteruskan dari leher ke depan melalui susu serta dibawah buah dada di lingkarkan serta diikat erat hingga dadanya membusung seperti gunung merapi ingin meletus.
    Supaya kakinya tidak menendang meskipun masih tetap gunakan sepatu Edward Forrer dari Bandung dengan hak 7 cm serta ada talinya melingkar manis di pergelangan kaki itu juga diikat erat gunakan tali beda. Sepatu ini yang diberi nama dia sepatu sexy.. dalam sebagian e-mailnya. Trus turut teori saja, tali yang di buah dada diteruskan kebawah lewat vagina serta keatas sekali lagi di belakang serta diikatkan ke tangannya yang dipunggung. Meyakinkan Mila telah terikat erat, saya segera menggendongnya,
    “Oops, lumayan juga beratnya..! ” lantas menempatkannya ditempat tidur dalam tempat miring, karna tangannya terikat ke belakang. Saya tutup serta mengunci pintu yang menghubungkan ruangan tamu dengan kamar tidurku. Saya cape juga mengerjakannya serta menggendongnya, hingga tertidur di samping Mila.
    Saya terbangun oleh nada makian wanita.
    “Shit, ugh! Apaan ini!? ”
    Mila dengan muka ketakutan lihat badannya yang berbusana tali. Yes my dream comes true! Fikirku. saya berhasil mengikat Mila, serta ia terbangun sembari memaki-maki,
    “Pak, sadar Pak.. Ibu berada di kamar mandi.. berani-beraninya melakukan perbuatan begini pada saya” teriak Mila sembari meronta-ronta berupaya buka ikatannya.
    “Lepaskan aku”
    Takut terdengar kamar samping sebelumnya Mila berhasil berteriak minta tolong, dengan gerak cepat kuambil lakban perak di meja tempat tidurku,
    “.. srett” serta kusumbatkan ke mulutnya, “mmhh!! mmhh!! ”.
    Mila mulai mengeliat coba membebaskan dianya, walau demikian makin tangannya bergerak jadi makin kencang juga ikatan yang berada di buah dadanya yang gede itu. Matanya melotot geram, ia tampak kesakitan tapi mungkin saja ia nikmati juga.
    “Oh Mila sayang, istriku memanglah berada di kamar mandi, tapi di tempat tinggalnya di Bogor, ” jerit tawaku yang kubuat seram.
    “Permainan baru juga akan diawali Mila” kataku dengan tegas.
    “Uugh, mmh, awwh!! ” Mila cuma dapat mengeluh tanpa ada nada.
    Matanya mulai berkaca-kaca serta terlihat putus harapan. Saya mulai bekerja jepitan baju kupasang di ke-2 putingnya serta dikaitkan dengan tali kecil yang nyambung ke tangan yang dipunggung. Mila meronta-ronta menggerakkan tangannya berusaha untuk melepas ikatannya, tapi akhirnya yaitu ikatan di buah dadanya makin menyakitkan, juga putingnya jadi tertarik oleh jepitan baju serta menaikkan rasa sakit.
    Masih tetap belum juga senang saya meneteskan lilin panas pada jarak 40 cm dari buah dadanya, nyatanya ia tidaklah terlalu kesakitan jadi kudekatkan jadi jarak 20 cm ia menggeliat, meronta mmh,.! ugh,.! makin terikat serta semakin sakit serta ia sudah melalui tak tahu orgasme yang keberapa kalinya lewat tali yang melilit lewat vagina serta anusnya.
    Pada akhirnya Mila terlihat memelas sekali seperti minta diampuni, mungkin saja karna telah sangat capek meronta-ronta serta orgasme. “Kamu juga akan saya bebaskan bila ingin ngemut punyaku serta minum hingga bersih, ok? ”
    Matanya mengedip lemah. Tapi saya belum juga senang, saya beralih fikiran, terlebih buah zakarku yang begitu semangat telah menunjuk-nunjuk ke Mila! Saya buka ritsluiting celana lalu melepas ikatan di kakinya yang rapat itu lantas pergelangan kakinya yang masih tetap terikat dengan sepatu yang sexy itu kusambungkan ke kaki tempat tidur hingga Mila terlentang dalam tempat tangan terikat ke belakang sesaat kakinya terikat terlentang.
    Penisku 16cm itu masuk dengan paksa ke vaginanya yang nyatanya telah bercairan. Masuk, keluar, masuk, keluar, berulang-kali sampai spermaku muncrat. Saya terbaring lunglai, diatas badan Mila yang berbusana tali itu, sesudah menjangkau puncaknya,
    “Good Girl” kataku sembari memegang kepalanya seperti saya menyayang-nyayang anjing kesayanganku si Bonci. Mila pingsan tidak sadarkan diri.
    Selekasnya saya bersihkan badannya seadanya dengan handuk yang kubasahi, menggunakankan bajunya lengkap dengan blus biru kerah shanghainya, mengancingi blusnya berurutan rapi. Menggunakankan CD sesudah spermaku kubersihkan. Saya ganti ikatannya dengan lakban perak, meliliti badannya yang berbusana, membelenggu kembali tangannya kebelakang, kakinya saya satukan sekali lagi dengan lakban yang sama, kaki yang bersepatu yang sexy (itu sebutannya di e-mail) itu saya kulum dengan gemas.
    Meyakinkan tangan kakinya telah terikat, dan mulutnya telah terhalang, saya utak atik HPnya mencari tahu nomor HPnya lantas dan merta mematikannya, kulihat banyak miss call serta SMS, sebagian dari GMnya
    “Mami, telah jam 5 sore kok belum juga kembali. Sales Call, tempat? ” ada 4 SMS yang bernada sama.
    Kumatikan HPnya agar dia jangan pernah dapat SMS untuk minta tolong, juga saya cabut kabel telpon di kamarku. Mila mulai siuman, lalu kuperlihatkan handycam yang barusan sudah di gunakan pada tempat tersembunyi. Saya meneror bila katakan siapapun juga, rekaman ini juga akan saya unggah website dewasa, bahkan juga dapat kuperbanyak serta kujual kuedarkan.
    Matanya kutatap, berkaca-kaca, Mila meronta-ronta kesempatan ini apa daya lakban perak telah mengikat erat serta merekat di badannya, Mila menangis tersedu-sedu, putus harapan serta pasrah. Semalaman penuh Mila kugarap demikian rupa, karna saya juga akan cek out besok pagi, jadi malamnya saya perkosa sampai dia pingsan lagi
    Esok harinya, saat tunjukkan jam 6. 00 pagi. Saya tinggalkan dia di kamarku dengan badannya yang berbusana namun masih tetap terikat lilitan lakban perak, kubiarkan sinyal Do Not Disturb menggantung di pintu kamarku. Saya segera kembali pada Bandung dengan KA Argowilis.
    Di KA sembari nikmati hasil rekaman video pada laptopku, saya mempersiapkan narasi ini serta kukirimkan padanya lewat e-mail hingga dia paham siapa sesungguhnya yang ‘telah memperkosanya’. Tak tahu bagaimana dia dapat melepas ikatannya, jadi misteri sendiri.
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Janda Kembang Berbulu Lebat – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Janda Kembang Berbulu Lebat – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    2092 views

    Perawanku – Para netters sekalian, aku ingin sekali menceritakan Cerita Dewasa pengalaman hidup masa laluku kepada anda semua, mungkin ada di antara anda yang dapat mengobati perasaanku ini. Tetapi tolong jangan terobsesi dengan ceritaku ini.

    ini berawal ketika di usiaku yang masih terbilang muda, 19 tahun, papaku waktu itu menjodohkan aku dengan seorang pemuda yang usianya 10 tahun lebih tua dari aku dan katanya masih ada hubungan saudara dengan keluarga mamaku.
    Memang usiaku saat itu sudah cukup untuk berumah tangga dan wajahku juga tergolong lumayan, walaupun badanku terlihat agak gemuk mungkin orang menyebutku bahenol, namun kulitku putih, tidak seperti kebanyakan teman-temanku karena memang aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang berdarah Cina-Sunda, papaku Cina dan mamaku Sunda asli dari Bandung.

    Sehingga kadang banyak pemuda-pemuda iseng yang mencoba merayuku. Bahkan banyak di antara mereka yang bilang bahwa payudaraku besar dan padat berisi sehingga banyak laki-laki yang selalu memperhatikan buah dadaku ini saja. Apalagi bila aku memakai kaos yang agak ketat, pasti dadaku akan membumbung tinggi dan mancung. Tetapi sampai aku duduk di kelas 3 SMA aku masih belum memiliki pacar dan masih belum mengenal yang namanya cinta.
    Sebenarnya dalam hatiku aku menolak untuk dijodohkan secepat ini, karena sesungguhnya aku sendiri masih ingin melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi. Namun apa daya aku sendiri tak dapat menentang keinginan papa dan lagi memang kondisi ekonomi keluarga saat itu tidak memungkinkan untuk terus melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi.

    Karena ke-3 orang adikku yang semua laki-laki masih memerlukan biaya yang cukup besar untuk dapat terus bersekolah. Sementara papa hanya bekerja sebagai pegawai swasta biasa. Maka dengan berbagai bujukkan dari keluarga terutama mamaku aku mengalah demi membahagiakan kedua orangtuaku.

    Begitulah sampai hari pernikahan tiba, tidak ada hal-hal serius yang menghalangi jalannya pernikahanku ini dengan pemuda yang baru aku kenal kurang dari dua bulan sebelumnya. Selama proses perkenalan kamipun tidak ada sesuatu hal yang serius yang kami bicarakan tentang masa depan karena semua sudah diatur sebelumnya oleh keluarga kedua belah pihak.

    Maka masa-masa perkenalan kami yang sangat singkat itu hanya diisi dengan kunjungan-kunjungan rutin calon suamiku setiap malam minggu. Itupun paling hanya satu atau dua jam saja dan biasanya aku ditemani papa atau mama mengobrol mengenai keadaan keluarganya. Setelah acara resepsi pernikahan selesai seperti biasanya kedua pengantin yang berbahagia memasuki kamar pengantin untuk melaksanakan kewajibannya.

    Yang disebut malam pengantin atau malam pertama tidak terjadi pada malam itu, karena setelah berada dalam kamar aku hanya diam dan tegang tidak tahu apa yang harus kulalukan. Maklum mungkin karena masih terlalu lugunya aku pada waktu itu.

    Suamiku pada waktu itupun rupanya belum terlalu “mahir” dengan apa yang disebut hubungan suami istri, sehingga malam pertama kami lewatkan hanya dengan diraba-raba oleh suami. Itupun kadang-kadang aku tolak karena pada waktu itu aku sendiri sebenarnya merasa risih diraba-raba oleh lelaki. Apalagi oleh lelaki yang “belum” aku cintai, karena memang aku tidak mencintai suamiku. Pernikahan kami semata-mata atas perjodohan orang tua saja dan bukan atas kehendakku sendiri.

    Barulah pada malam kedua suamiku mulai melancarkan serangannya, ia mulai melepas bajuku satu per satu dan mencumbu dengan menciumi kening hingga jari kaki. Mendapat serangan seperti itu tentu saja sebagai seorang wanita yang sudah memasuki masa pubertas akupun mulai bergairah walaupun tidak secara langsung aku tunjukkan ke depan suamiku. Apalagi saat ia mulai menyentuh bagian-bagian yang paling aku jaga sebelumnya, kepalaku bagaikan tak terkendali bergerak ke kanan ke kiri menahan nikmat sejuta rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

    Kemaluanku mulai mengeluarkan cairan dan sampai membasahi rambut yang menutupi vaginaku. Suamiku semakin bersemangat menciumi puting susu yang berwarna merah muda kecoklatan dan tampak bulat mengeras mungkin karena pada saat itu aku pun sudah mulai terangsang.

    Aku sudah tidak ingat lagi berapa kali ia menjilati klitorisku pada malam itu, sampai aku tak kuasa menahan nikmatnya permainan lidah suamiku menjilati klitoris dan aku pun orgasme dengan menyemburkan cairan hangat dari dalam vaginaku ke mulutnya.

    Cerita Dewasa : Dengan perasaan tidak sabar, kubuka dan kuangkat lebar kakiku sehingga akan terlihat jelas oleh suamiku lubang vagina yang kemerahan dan basah ini. Atas permintaan suami kupegang batang kemaluannya yang besar dan keras luar biasa menurutku pada waktu itu.

    Perlahan-lahan kutuntun kepala kemaluannya menyentuh lubang vaginaku yang sudah basah dan licin ini. Rasa nikmat yang luar biasa kurasakan saat kepala penis suamiku menggosok-gosok bibir vaginaku ini. Dengan sedikit mendorong pantatnya suamiku berhasil menembus keperawananku, diikuti rintihanku yang tertahan.

    Untuk pertama kalinya vaginaku ini dimasuki oleh penis laki-laki dan anehnya tidak terasa sakit seperti yang seringkali aku dengar dari teman-temanku yang baru menikah dan menceritakan pengalaman malam pertama mereka.

    Memang ada sedikit rasa sakit yang menyayat pada saat kepala penis itu mulai menyusup perlahan masuk ke dalam vaginaku ini, tetapi mungkin karena pada waktu itu aku pun sangat bergairah sekali sehingga aku sudah tidak perduli lagi dengan rasa sakitnya. Apalagi saat suamiku mulai menggosok-gosokkan batang penisnya itu di dalam vaginaku, mataku terpejam dan kepalaku hanya menengadah ke atas, menahan rasa geli dan nikmat yang tidak dapat aku ceritakan di sini.

    Sementara kedua tanganku memegang tepian ranjang yang berada di atas kepalaku. Semakin lama goyangan pinggul suamiku semakin cepat diikuti dengan desahan nafasnya yang memburu membuat nafsuku makin menggebu. Sesekali terdengar suara decak air atau becek dari lubang vaginaku yang sedang digesek-gesek dengan batang penis suamiku yang besar, yang membuatku semakin cepat mencapai orgasme yang kedua.

    Sementara suami masih terus berpacu untuk mencapai puncak kenikmatannya, aku sudah dua kali orgasme dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sampai akhirnya suamiku pun menahan desahannya sambil menyemburkan cairan yang hangat dan kental dari kepala penisnya di dalam lubang vaginaku ini.

    Belakangan baru aku ketahui cairan itu yang disebut dengan sperma, maklum dulu aku tergolong gadis yang kurang gaul jadi untuk hal-hal atau istilah-istilah seperti itu aku tidak pernah tahu. Cairan sperma suamiku pun mengalir keluar dari mulut vaginaku membasahi sprei dan bercampur dengan darah keperawananku. Kami berdua terkulai lemas, namun masih sempat tanganku meraba-raba bibir vagina untuk memuaskan hasrat dan gairahku yang masih tersisa. Dengan menggosok-gosok klitoris yang masih basah, licin dan lembut oleh sperma suamiku, aku pun mencapai orgasme untuk yang ketiga kalinya.

    Luar biasa memang sensasi yang aku rasakan pada saat malam pengantin itu, dan hal seperti yang aku ceritakan di atas terus berlanjut hampir setiap malam selama beberapa bulan. Dan setiap kali kami melakukannya aku selalu merasa tidak pernah puas dengan suami yang hanya mampu melakukannya sekali.

    Aku membutuhkannya lebih dari sekali dan selalu menginginkannya setiap hari. Entah apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku sehingga aku tidak pernah bisa membendung gejolak nafsuku. Padahal sebelum aku menikah tidak pernah kurasakan hal ini apalagi sampai menginginkannya terus menerus. Mungkinkah aku termasuk dalam golongan yang namanya hypersex itu?

    Setelah 2 tahun kami menikah aku bercerai dengan suamiku, karena semakin hari suamiku semakin jarang ada di rumah, karena memang sehari-harinya ia bekerja sebagai manajer marketing di sebuah perusahaan swasta sehingga sering sekali ia keluar kota dengan alasan urusan kantor. Dan tidak lama terdengar berita bahwa ia memiliki istri simpanan. Yang lebih menyakitkan sehingga aku minta diceraikan adalah istri simpanannya itu adalah bekas pacarnya yang dulu, ternyata selama ini dia pun menikah denganku karena dipaksa oleh orang tuanya dan bukan karena rasa cinta.

    Tak rela berbagi suami dengan wanita lain, akhirnya aku resmi diceraikan suamiku. Sakit memang hati ini seperti diiris-iris mendengar pengakuan suami tentang istri simpanannya itu, dengan terus terang dia mengatakan bahwa dia lebih mencintai istri simpanannya yang sebetulnya memang bekas pacarnya. Apalagi katanya istri simpanan suamiku itu selalu dapat membuat dirinya bahagia di atas ranjang, tidak seperti diriku ini yang selalu hanya minta dipuaskan tetapi tidak bisa memuaskan keinginan suamiku, begitu katanya.

    Lima tahun sudah aku hidup menjanda, dan kini aku tinggal sendiri dengan mengontrak sebuah rumah di pinggiran kota Jakarta. Beruntung aku mendapat pekerjaan yang agak lumayan di sebuah perusahaan swasta sehingga aku dapat menghidupi diriku sendiri. Belakangan ini setiap malam aku tidak dapat tidur dengan nyenyak, sering aku baru bisa tertidur pulas di atas jam 03.00 pagi. Mungkin dikarenakan pikiranku yang sering ngelantur belakangan ini. Sering aku melamun dan membayangkan saat-saat indah bersama suamiku dulu.

    Terkadang sering pula aku membayangkan diriku bermesraan dengan seorang teman kerjaku, sehingga setiap malam hanya onani saja yang dapat kulakukan. Tidak ada keberanian untuk menceritakan hal ini kepada orang lain apalagi pada teman-teman kerjaku, bisa-bisa aku diberi julukkan yang tidak baik di kantor. Hanya dengan tanganku ini kuelus-elus bibir vaginaku setiap malam sambil membayangkan bercumbu dengan seorang laki-laki, terkadang juga kumasukkan jari telunjukku agar aku dapat lebih merasakan kenikmatan yang pernah kualami dulu.

    Para netters sekalian, aku memberanikan diri menceritakan Cerita Dewasa seperti di atas kepada Anda semua mungkin karena didorong oleh perasaan yang sangat tak tertahankan lagi saat ini. Dan mungkin ada di antara anda yang dapat membantu dan mungkin akan menjadi jodohku kelak. Aku harap Anda tidak hanya terobsesi dengan ceritaku di atas.

    Cerita Sex Janda,Cerita Sex Sedarah,Cerita Dewasa,Cerita Mesum,Cerita Bokep,Cerita Panas,Cerita Hot,Cerita Seks Bergambar.

  • Cerita Sex Ngentot Gadis ABG Jilbab Toket Montok

    Cerita Sex Ngentot Gadis ABG Jilbab Toket Montok


    1706 views
    Perawanku – Cerita Sex Ngentot Gadis  Sebetulnya aku bukanlah seorang pemerkosa. Aku juga bukan lelaki hipersex yang hobi jajan di lokalisasi. Aku seorang lelaki beristri. Tetapi, kejadian spontan telah membuatku menjadi orang yang terobsesi pada sex dengan kekerasan. Ya, tepatnya, aku kini jadi pemerkosa. Spesialisasiku, memperkosa perempuan berjilbab.
    Siang itu, aku berhenti di depan sebuah warung kecil. Mau beli satu bungkus rokok Djarum Super. Baru sekali ini aku ke warung ini. Rokok biasanya dipajang di bagian depan warung. Saat itulah kulihat seorang perempuan tengah nungging membelakangiku. Kelihatannya ia sedang menata barang dagangan.
    Cerita Sex Ngentot Gadis Kalian pasti membayangkan aku melihat paha yang tersingkap di balik rok. Jangan keliru dulu. Yang kulihat justru perempuan dengan busana serba tertutup. Ia pakai gamis panjang sampai mata kaki. Tetapi justru itu menariknya. Perempuan ini memakai gamis dari bahan halus berwarna biru muda. Kelihatan juga ia berjilbab biru tua. Jilbabnya panjang. Ujungnya sampai ke pinggulnya. Pada posisi menungging gitu, bagian muka jilbabnya jatuh sampai ke lantai. Dari celah jilbab di bawah lengannya terlihat tonjolan teteknya lumayan gede juga.
    Yang pertama menarik perhatianku justru bokongnya. Dari belakang terlihat bundar. Di bundaran itulah terlihat cetakan garis celana dalamnya. Entah mengapa aku jadi tertarik mengamati terus gerakan bokong perempuan itu. Sekitar lima menitan aku pandangi bokong itu. Yang terlihat di mataku kini bercampur dengan imajinasi bokong telanjang. Tambah parah lagi karena sekali perempuan itu menggaruk pantatnya tanpa sadar ada yang mengawasi. Tanganku rasanya gatal, ingin mengelus dan meremas pantat bundar itu. Akhirnya, perempuan itu menyadari kehadiranku. Ia menoleh ke belakang dan terkejut.
    “Eh… mau beli apa pak ?” katanya di tengah keterkejutannya. Agen Judi Nova88
    Aku lebih terkejut lagi. Ternyata, perempuan ini sangat cantik. Usianya memang tak muda lagi. Mungkin sudah sekitar tiga puluh tahunan. Tapi wajahnya itu lho yang bikin aku nggak bosan memandangnya. Putih, amat putih malah, bersih dan lembut…..Aku berlagak mencari-cari barang sambil terus menerus mencuri kesempatan memandang wajahnya. Sesekali kuajak ngobrol dia. Suaranya juga lembut, selembut wajahnya. Pikiranku mulai ngeres. Membayangkan rintihannya ketika memeknya ditembus kontolku.
    Dari ngobrol itulah kutahu bahwa dia seorang ibu dengan tiga anak. Yang paling besar baru kelas 5 SD. Kaget juga aku waktu tahu dia sudah punya 3 anak. Menurutku, dia bahkan pantas jadi mahasiswi semester I. Suaminya kerja dan baru pulang sore. Anak-anaknya sedang sekolah.
    “Jadi sendirian nih, Mbak ?” komentarku, keceplosan saking excitednya.
    “Iya, Pak. Sebentar lagi anak-anak juga pulang,” jawabnya tanpa curiga.
    Aku masih asyik dengan bayangan tubuh telanjangnya ketika ide jahat melintas begitu saja. Itu terjadi ketika kulihat sebilah pisau dagangan yang dipajang. Cepat sekali itu terjadi. Aku asal saja mengambil barang-barang dan kutaruh di meja kasir di hadapannya.
    Cerita Sex Ngentot Gadis ABG Jilbab Toket Montok

    Cerita Sex Ngentot Gadis ABG Jilbab Toket Montok

    “Aduh, Mbak… saya kok kebelet pipis. Bisa numpang ke belakang nggak ?” kataku, mulai menjalankan rencana jahatku.
    “Eh… gimana ya….?” katanya ragu. Aku tahu ia ragu, karena ia sendirian di rumah.
    “Gimana nih…. udah nggak tahan, Mbak,” kataku sambil demonstratif meremas selangkanganku di hadapannya.
    Kulihat wajahnya memerah.
    “Eh…. tapi tunggu sebentar ya… kamar mandinya berantakan. Saya rapikan sebentar,” sahutnya sambil bergegas ke dalam.
    Aku langsung menutup pintu warung dan menguncinya. Lalu, kuambil pisau dan menyusul perempuan tadi. Sekilas kulihat ia keluar dari kamar mandi dan menaruh BH ke mesin cuci.
    “Gimana ? Dah nggak tahan nih,” kataku lagi sambil meremas selangkanganku dan melangkah ke arahnya.
    Ibu muda itu kelihatan jengah karena melihatku ada di dalam rumah. “Eh… sudah, silakan,” katanya dengan wajah menunduk.
    Karena menunduk itu, ia kaget betul waktu aku berhenti di depannya. Ia mengangkat wajahnya dan seketika terlihat pucat waktu kuacungkan pisau ke arah perutnya.
    “Angkat tangan dan jangan melawan !” kataku setengah berbisik.
    Ia tampak ketakutan betul. Tangannya segera terangkat. Kusuruh ia berbalik menghadap tembok. Kedua tangannya kemudian kuturunkan dan kuikat dengan BH yang kuambil dari mesin cuci. Lalu, kuputar tubuhnya hingga menghadapku. Agen Nova88 Terbaik
    “Jangan… tolong, jangan apa-apakan saya…” katanya dengan suara gemetar.
    “Jangan takut, saya cuma mau senang-senang sedikit,” kataku sambil menjulurkan tangan ke dada kanannya yang tertutup jilbab lebar.
    Ibu muda ini memekik kecil. Wow… teteknya terasa kenyal dan mantap.
    “Kamu nggak pake BH ya ?” kataku sambil mencubit putingnya dari luar jilbab. Ia terus menggeliat-geliat.
    “Siapa namamu ?” kataku sambil memencet putingnya agak keras.
    “Aduh…. aduh… Lestari… aduh, jangan keras-keras….” ia merintih-rintih.
    Kulepaskan jepitanku pada putingnya. Tetapi kini tanganku mulai merayap ke perutnya yang ramping. Terus turun ke pusarnya dan akhirnya berhenti di selangkangannya. Kuremas-remas gundukan memeknya.
    “Ohhh… jangan… jangan….” Lestari menggeliat-geliat.
    “Jangan takut Mbak… saya cuma mau main-main sebentar…” kataku lalu berlutut di hadapannya.
    Tanganku kemudian masuk ke balik gamisnya. Menyusuri kulit tungkainya yang mulus. Lalu perlahan kutarik turun celana dalamnya. Perempuan itu mulai terisak. Apalagi, kini kupaksa kedua kakinya merenggang. Kuangkat bagian bawah gamisnya sampai ke pinggang. Wow… indah sekali. Memeknya mulus tanpa rambut. Gemuk dan celahnya terlihat rapat. Tak sabar kuciumi memek cantik itu…
    Lestari terisak, memohon-mohon agar aku melepaskannya. Ia pun menggeliat-geliat menghindar. Tetapi, mulutku sudah begitu lekat dengan pangkal pahanya. Kujilati sekujur permukaan memeknya sampai basah kuyup. Lidahkupun berusaha menerobos di antara celah memeknya. Agak sulit pada posisi seperti itu. Maka, kugandeng Lestari ke kamarnya. Setengah kubanting tubuhnya ke atas ranjangnya sendiri. Ibu muda itu menjerit-jerit kecil ketika dengan kasar kucabik-cabik gamisnya dengan pisau. Sampai akhirnya, tak ada sehelai kainpun kecuali jilbabnya.
    Kupandangi tubuh yang putih mulus itu. Kedua kakinya menjuntai ke tepi ranjang. Teteknya berguncang-guncang ketika ia menangis. Dengan penuh nafsu kucengkeram kedua teteknya dengan kedua tanganku, lalu kuciumi kedua putingnya. Sesekali kugigit-gigit benda mungil itu.
    “Jangan berteriak keras-keras ya. Cukup mendesah-desah saja. Kalau Mbak Lestari berteriak terlalu keras, aku bisa marah dan kupotong puting Mbak ini,” kataku sambil menjepit puting kanannya, menariknya ke atas dan menempelkan mata pisau ke sisinya. Lestari tampak ketakutan dan menggigigit bibirnya.
    Aku kemudian melorot turun. Wajahku tepat di hadapan selangkangannya. Kuangkat paha perempuan itu hingga terentang lebar, lalu kudorong ke arah tubuhnya. Kini tubuhnya melengkung dan pangkal pahanya terangkat ke arah wajahku. Perlahan, lidahku menjilat alur lubang memeknya dari bawah ke atas.
    “Eungghhhhh….” terdengar Lestari mengerang.
    Tak sabar, aku menguakkan bibir memeknya dengan jemariku. Lebar-lebar sampai terlihat bagian dalam lubang memeknya yang pink dan lembab. Jantungku berdegup kencang. Baru kali ini aku melihat dari dekat bagian dalam lubang memek selain milik istriku. Lebih berdebar lagi, karena memek yang satu ini milik seorang perempuan alim berjilbab lebar !Antara degup jantung dan dorongan gairah itu, kujulurkan lidahku sejauh-jauhnya ke lorong itu. Soal rasa tidak penting kuceritakan. Tetapi, sensasinya itu yang luar biasa. Tubuh Lestari bergetar hebat diiringi erangan dari mulutnya. Hampir tak henti-henti ia meratap-ratap diiringi isaknya.
    “Jangan… jangan…. ouhhhh…. jangan…. “
    Ratapannya makin menjadi-jadi saat lidahku menyerang klitorisnya dengan sapuan yang intens. Istriku bisa menjerit-jerit histeris jika itu kulakukan pada klitorisnya. Kulirik Lestari memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Kepalanya menggeleng-geleng. Kutusukkan dua jariku dan mengaduk-aduk memeknya. Akibatnya lebih hebat lagi. Lestari merintih-rintih dengan suara yang mirip seperti suara istriku menjelang orgasme. Memeknya terasa amat basah. Kugerakkan jariku makin cepat. Lalu, kusedot-sedot klitorisnya. Tiba-tiba, Lestari mengerang panjang dan kedua pahanya mengatup hingga menjepit kepalaku. Tubuhnya mengejang-ngejang. Saat itulah kugigit bibir memeknya dengan gemas. Terdengar Lestari memekik kesakitan. Dari gelinjang kenikmatan, ia kini meronta-ronta kesakitan, berusaha menjauhkan pangkal pahanya dari gigitanku.
    “Sakit….sakit, aduh… sakit… lepaskan….” rintihnya memelas.
    Aku lepaskan gigitanku lalu kedua lututku menekan pahanya hingga mengangkang. Terlihat bekas gigitanku di memeknya. Tetapi bibir memeknya memang terlihat mengkilap oleh cairan memeknya sendiri.
    “Kamu suka ya diperkosa ?” kataku sambil kali ini menusukkan tiga jari ke memeknya yang basah.
    Orgasme Lestari tadi rupanya tertunda. Buktinya, ketika tiga jariku menusuk memeknya, otot-ototnya langsung bereaksi seperti meremas ketiga jariku. Ibu muda itu pun mengerang dan merintih….
    “Ouuhhhh… jangannnhhh…aihhhh….oummmmhhhh…” desahannya makin menjadi ketika bibirku menangkap puting kanannya dan menghisapnya kuat-kuat.

    Cerita Sex Ngentot Gadis Aku tahu perempuan ini orgasme saat mendengar rintihannya. Sangat mirip rintihan istriku ketika orgasme. Otot-otot memeknya juga mencengkeram tiga jariku sementara pinggulnya bergerak tak terkontrol. Kupandangi wajah sayu Lestari dengan penuh nafsu. Dia menggigit bibirnya sendiri. Matanya terpejam. Tiga jariku masih menusuk memeknya yang terlihat amat becek. Tubuh telanjang ibu muda berjilbab ini terlihat bergetar menahan sisa-sisa orgasmenya. Sampai akhirnya, Lestari benar-benar terkapar lunglai. Kedua tangannya masih terikat di belakang punggung, mengganjal pantatnya sehingga bagian pinggulnya mendongak ke atas. Tubuhnya bermandi peluh. Kedua pahanya mengangkang lebar. Kutarik keluar tiga jariku, kunikmati pemandangan lubang memeknya yang membentuk huruf O dan perlahan mengatup kembali.

    “Ok… sekarang giliranku,” kataku sambil menempatkan diri di tengah pahanya yang mengangkang.
    Lestari cuma bisa menggeleng lemah saat kepala kontolku mulai menyusup di celah memeknya. Kupaksa ia mengulum tiga jariku yang berlumur lendir dari memeknya sendiri.
    Cerita Sex Ngentot Gadis“Kamu belum pernah menjilat memekmu sendiri kan ?” kataku.
    Lestari terisak-isak sambil mengulum tiga jariku yang berlumur lendir kemaluannya sendiri. Terlihat keningnya berkerut. Kepala kontolku sudah terjepit di mulut lubang memeknya yang terasa sangat basah. Aku ingin memberinya sedikit kejutan. Tanpa peringatan sama sekali, langsung kuhentakkan kontolku jauh sampai ke dasar memeknya. Kontolku terasa menerobos lorong sempit yang berlendir. Suara benturan biji pelirku dengan pangkal pahanya terdengar cukup keras. Reaksi Lestari juga luar biasa. Kedua matanya tiba-tiba membelalak. Kalau saja mulutnya tidak sedang mengulum jariku, mungkin dari mulutnya akan terdengar jeritan. Tetapi kini yang terdengar hanya gumaman tak jelas. Bahkan, jariku terasa agak sakit karena digigit ibu muda ini. Tetapi yang jelas, kontolku kini terasa seperti diremas-remas oleh otot-otot memek perempuan berjilbab lebar ini. Luar biasa…
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Main Kuda Binal Seks Dengan Tante Nina

    Main Kuda Binal Seks Dengan Tante Nina


    1770 views


    Perawanku – Sebelumnya perkenalkan nama saya. Nama saya Baim (Samaran), saya sekarang berprofesi sebagai seorang konsultan di Kota S. Bagi para pembaca yang memerlukan jasa konsultasi penulisan ilmiah (skripsi/thesis) bisa kontak e-mail saya, pasti akan saya bantu sampai selesai. Okay.. saya akan memulai menceritakan pengalaman saya waktu masih kuliah dahulu.

    Hari itu adalah malam Jum’at Pon.. kira-kira 7 tahun yang lalu. Hari itulah awal yang merubah kehidupanku, dari seorang mahasiswa yang lurus-lurus saja.. pokoknya serba lurus deh! Apalagi kalau si kecil lagi tegang.. wah lurus sekali! Ha..ha..ha..Waktu itu aku masih kuliah di satu-satunya PTN yang ada di kota S. Sebagai seorang anak rantau aku kost di belakang kampus yang cukup jauh dari keramaian. Pertimbanganku untuk memilih kost di tempat itu adalah di samping harganya murah, aku juga berharap dapat menghindari godaan keramaian yang ditawarkan kota S itu. Maklum misiku ke kota S ini adalah untuk menimba ilmu demi masa depan. Berkali-kali orang tuaku menyuruhku agar hidup prihatin.. karena mereka pun harus hidup prihatin demi menyekolahkanku.Dengan memilih tempat itu rasanya aku sudah berusaha memenuhi permintaan orang tuaku, yaitu agar hidup prihatin. Namun ternyata nasib membawaku lain dan melenceng dari misi semula ini.

    Sudah dua tahun aku kost di daerah itu, sehingga aku sudah kenal baik dengan semua masyarakat penghuni kampung itu. Aku sudah dianggap sebagai warga karena kesupelanku dalam bergaul. Nah dari kesupelanku itulah aku sudah terbiasa bercanda dengan setiap penduduk dari anak kecil hingga nenek-nenek.Suatu hari pada saat liburan semester, aku tinggal di tempat kost sendiri karena memang aku tidak pulang maklum aku aktif di kegiatan kampus. Waktu itu sedang musim kemarau sehingga banyak sumur penduduk yang kering, hanya sumur di tempat kost ku itulah yang masih cukup banyak airnya sehingga banyak tetangga yang ikut minta air dan bahkan ikut mandi di kost-ku. Dan diantara mereka ada satu tetanggaku yang waktu itu umurnya mungkin hanya terpaut 7 atau 8 tahun di atasku, namanya Tante  Nina (samaran). Perawakannya sedang tidak begitu tinggi (tingginya sekitar 158 – 160 Cm), tetapi bodynya tidak kalah dengan pesenam aerobik deh. Kulitnya sawo matang khas wanita Jawa dan wajahnya manis sekali, terutama pada saat tersenyum.. aduh makk!Dia sudah punya suami dan dua orang anak yang masih kecil yang pada saat itu umurnya baru 4 dan 2 tahunan. Dia berjualan barang-barang kelontong di dekat kost-ku. Nah suatu hari.. seperti biasa pagi pagi sekali Tante  Nina ketok-ketok pintu tempat kost ku..biasa mau ikutan ambil air dan sekaligus mandi.“Dik.. Dik.. cepet tolong bukain pintunya!” dia berteriak agak tak sabaran.“Iya bentar Tante ..” jawabku sambil setengah mengantuk.“Kok lama banget to Dik..” suaranya terdengar tak sabar.“Ada apa sih Tante  kok nggak sabar sekali?” tanyaku saat kubuka pintu untuknya.Wajahnya nampak meringis menahan sesuatu. Rupanya dia sudah mulas dan hendak buang hajat dari tadi.“Anu Dik.. aku sakit perut nih” Katanya agak malu.Begitu pintu terbuka ia langsung lari terbirit-birit masuk KM dan membanting pintu. Rupanya sang beban sudah hampir keluar.. pikirku.“Sorry ya Dik.. tadi Tante  nggedor-nggedor”, katanya.

    “Habis perut Tante  udah mulas dan di rumah nggak ada air.. itu lho bapaknya anak-anak semalam enggak pulang jadi Tante  belum sempat ngisi air di rumah.. maafin Tante  ya”.“Ah enggak apa-apa kok Tante , saya malah harus berterima kasih udah dibangunin sama Tante .”Sejak itu hubunganku dengan Tante  Nina jadi tambah akrab. Hingga pada suatu siang, aku ingat hari Kamis, Tante  Nina datang ke tempat kostku. Siang itu ia kelihatan manis sekali dengan memakai baju kaos lengan panjang warna krem ketat yang mencetak tubuhnya.“Eh Dik Baim.. hari ini ada acara enggak?” tanyanya begitu kutemui di teras depan.“Mm.. kayaknya enggak Tante .. memang ada apa Tante ?” tanyaku agak penasaran.“Anu Dik.. kalau tidak keberatan nanti adik Tante  ajak pergi ke Gml mencari bapaknya anak-anak, Dik Baim enggak keberatan kan?”“Lho memangnya Mas Gun disana di rumah siapa Tante ?” tanyaku semakin penasaran.“Anu Dik.. katanya orang-orang Mas Gun sudah punya istri simpanan di sana.. jadi Tante  mau melabrak.. tapi Tante  nggak berani sendirian.. jadi Tante  minta tolong Dik Baim nganter Tante  ke sana”.“Baiklah Tante .. tapi saya enggak mau ikut campur dengan urusan Tante  lho” kataku menyanggupi permintaannya.Sorenya kami berdua dengan sepeda motor milik Tante  Nina berboncengan kearah Gml, + 27 KM sebelah utara kota S arah ke Pwd. Tante  Nina membawa sebuah tas yang cukup besar. Aku jadi curiga, tetapi tetap diam saja.. pokoknya wait and see lah prinsipku. Kami tak banyak bicara saat dalam perjalanan. Hingga setelah sampai ke Gml aku baru bertanya letak rumahnya.“Oh.. itu.. itu masih terus ke utara Dik..” jawabnya agak tergagap.Kecurigaanku makin mendalam tetapi tetap diam saja sambil kuikuti permainannya.“I’ll follow the game” begitu pikirku, toh tidak ada ruginya dengan wanita yang cukup menarik ini.Kami terus ke utara hingga sampai ke tempat dimana terdapat gerbang bertuliskan “Obyek Wisata Gn Kmks”.“Lho kok ke sini to Tante .. apa enggak kebablasan?” Tanyaku agak bingung.“Anu.. anu sebenarnya Tante  enggak mencari Mas Gun kok Dik.. tapi Tante  mau ziarah ke sini..” Jawabnya agak khawatir kalau aku marah.Aku kasihan juga melihatnya saat itu yang begitu ketakutan. Aku Cuma menghela napas.. tapi tidak ada ruginya kok bagiku. Toh Tante  Nina orangnya cukup manis dan menarik jadi berlama-lama berdekatan dengannya juga tidak rugi pikirku menghibur diri.Sigkat cerita aku dan Tante  Nina mengikuti ritual yang harus dilakukan di sana. Ternyata bukan hanya kami berdua yang ada di sana. Ratusan bahkan mungkin ribuan orang datang ke sana sore itu.

    Semuanya mempunyai tujuan yang sama “Berziarah” (atau berzinah barangkali lebih tepatnya). Soalnya yang aku dengar kalau berziarah ke sana untuk mencari berkah harus berpasangan yang bukan suami-istri dan harus “Tidur” bersama di sekitar cungkup (makam) yang ada di sana. (Mungkin ini ritual mencari kekayaan yang paling nikmat di dunia.. he.. he.. he)!Setelah mengikuti berbagai ritual dan prosesi, selesailah sudah acara mohon berkah. Sekarang tinggal ‘finishing’-nya, yaitu tidur bersama! Aku sendiri menjadi panas dingin membayangkan aku harus tidur dengan seorang wanita! Gila.. ini benar-benar pengalaman pertama bagiku. Seumur umur belum pernah berdekatan dengan wanita.. apalagi harus tidur bersama! Dan katanya harus 7 kali malam Jum’at berturut-turut pula! Gila! Benar-benar tur gila.. asyiik!“Eh Dik Baim sudah punya pacar belum?” tanya Tante  Nina memecah kesunyian.“Eh.. mm. anu.. bbel.. belum Tante ” jawabku agak tergagap soalnya lagi ngelamun yang lain lagian pikiranku sedang bingung.Tante  Nina mungkin tahu apa yang kurasakan jadi dia Cuma diam saja dan menggandengku mencari tempat untuk menggelar tikar (Rupanya Tante  Nina sudah mempersiapkan segalanya dari rumahnya.. sontoloyo makiku dalam hati, tapi aku juga senang juga membayangkan mau tidur dengan wanita semanis Tante  Nina ini).Rupanya mencari tempat yang “Sesuai” (dalam artian sepi dan aduhai) di sekitar cungkup pada malam itu susah juga. Aku yang baru kali itu mengunjungi Gn Kmks takjub sekali dengan pemandangan yang kulihat disana. Bukan keindahan alamnya yang kukagumi, tetapi begitu banyaknya pasangan yang memenuhi lokasi sekitar cungkup bak ikan bandeng dijajar-jajar. Gilanya semua mungkin bukan pasangan suami-istri yang sah (Kalau boleh kukatakan ini namanya “Perzinahan masal” bukannya “Perziarahan masal”). Cukup lama kami mencari tempat untuk bermalam di tempat terbuka. Rupanya malam Jum’at Pon ini adalah hari “Raya”-nya Gn Kmks. Ramainya mungkin malah melebihi keramaian di Kota S. Dan semua pasangan itu rela “Tidur” bersama di tempat terbuka berjajar-jajar tanpa sekat pelindung yang membatasi privasi dengan pasangan lain di sebelahnya. Akhirnya setelah cukup lama mondar-mandir melewati jalan setapak nan gelap dan di kanan-kirinya bergelimpangan pasangan yang sedang melakukan “Laku” tidur bersama, kami menemukan tempat yang kami anggap ’sesuai’ bagi kami.

    “Disini saja Dik Baim.. tempatnya masih longgar” kata Tante  Nina sambil melepas gandengannya dan mulai menggelar tikar yang dibawanya. Di sebelah kanan dan kiriku ada pula pasangan yang sudah terlebih dahulu menempati kapling mereka. Jadi aku dan Tante  Nina termasuk datang agak terlambat. Setelah basa-basi sejenak dengan tetangga kanan-kiri kami pun rebahan sambil berpelukan dalam gelap di tempat terbuka lagi.Aku yang masih lugu tak tahu harus berbuat apa. Soalnya seumur-umur baru kali inilah aku memeluk seorang wanita dewasa. Tanganku diam saja sementara debar jantungku tak teratur. Tante  Sum yang semula hanya memeluk, perlahan-lahan mulai mengelus dadaku salah satu pahanya ditumpangkannya di atas pahaku. Kontan saja batang kemaluanku mengeras.. tapi aku tak berani berbuat apa-apa. Saat itu kurasakan kalau tubuh bagian bawah Tante  Nina terbungkus sarung, karena salah satu pahanya menindih pahaku.Napasku semakin memburu dan jantungku berdebar kian keras saat ia mulai meraba-raba puting dadaku.“Dik ikutan masuk sarung aja biar hangat” bisiknya pelan seolah takut terdengar pasangan yang ada di samping kami.“Ba.. baik Tante ..” Jawabku juga pelan.Lalu dengan hati-hati sekali aku mulai ikut memasukkan tubuh bagian bawahku ke sarung yang dipakai Tante  Nina. Jadi sekarang satu sarung berdua..!Aku sangat terkejut saat tubuh bagian bawahku masuk ke dalam sarung. Ternyata Tante  Nina tidak memakai selembar ain pun pada tubuh bagian bawahnya. Celana panjang yang tadi dipakainya sekalian celana dalamnya rupanya sudah dilepaskannya secara diam-diam saat mengenakan sarung tadi. Aku jadi serba salah, mau gerak tak berani mau diam kok seperti ini..! Batang kemaluanku yang dari tadi sudah keras menjadi semakin keras memberontak dalam celanaku.

    Apalagi tanpa dapat kucegah tangan Tante  Nina mulai meraba-raba batang kemaluanku dari luar celanaku. Napasku kian memburu mendapat perlakuan seperti itu.“Ayoo.. pegang dada Tante .. Dik..” bisik Tante  Nina dengan napas yang juga sudah mulai memburu.Aku dengan terpaksa (karena gak kuat menahan napsu..) mulai menggerakkan tanganku dan meraba-raba dada Tante  Nina dari luar gaunnya.. Kurasakan dadanya begitu sekal dan kenyal.. mungkin semua wanita begitu kali ya.. Napas kami semakin memburu tangan kami saling meraba dalam gelap.. (Mungkin.. ini yang dimaksud dengan peribahasa ’sedikit bicara banyak bekerja’ kali ya..? pinter juga tuh orang yang bikin peribahasa ini.. atau mungkin dia nemu peribahasa gini saat lagi begituan kali!)Napasku seolah terhenti saat tiba-tiba batang kemaluanku sudah digenggam Tante  Nina dan dielus-elus dengan lembutnya.. luar biasa.. benar-benar pengalaman terhebat yang pernah aku rasakan saat itu! Tubuhku meliuk-liuk menahan nikmat yang tiada tara saat tangan halus Tante  Nina mengurut dan meremas batang kemaluanku.. kedua biji pelirku pun dielusnya dengan penuh kasih sayang.. aduh makk!“Tante .. ahkk..” bisikku pelan-pelan tanpa berani bersuara keras-keras..“Masukkan tanganmu Dik.. remas tetek Tante .. ayoo..” bisik Tante  Sum yang menyadarkanku.Sebenarnya tanpa disuruh pun aku sudah ingin meraba langsung bukit menggairahkan itu. Segera dengan semangat 45 (Ini kan jamannya tujuh-belas Agustusan) bak pejuang kita dahulu, aku menyusupkan tanganku ke dalam kaos ketatnya dari bagian bawah dan mulai mencari-cari bukit kenyal di dada Tante  Nina. Tanganku terus meraba dan bergerak liar di dalam kaus Tante  Nina dan terpeganglah apa yang kudaTante an.

    Kusibak BH yang masih menempel dan tanganku bergerak liar di balik BH itu. Begitu gemas rasanya aku meremas dan meraba (boso jowone “Ngowol”) kedua bukit kembar itu bergantian.“Och.. ter.. terushh.. Dikk.. ouch..” Kudengar Tante  Sum berbisik pelan sekali ditelingaku dengan napas yang semakin memburu.“Ayo lepaskan celanamu itu Dik..” bisiknya lagi.Dengan hati berdebar keras membayangkan apa yang akan terjadi kuturuti permintaan Tante  Nina. Kuhentikan aktivitasku di dada Tante  Nina dan melepas celanaku pelan sekali. Soalnya takut ketahuan tetangga di sebelahku, yang sempat kulirik mereka juga sedang krusak-krusuk sendiri dalam gelap. Aku tahu itu dari bunyi kain yang bergeser-geser. Setelah melepas celanaku dan menyimpannya di tas Tante  Nina aku mulai beraktivitas lagi.. dan Tante  Nina juga. Kami saling meraba lagi. Batang kemaluanku yang sudah sangat keras (dalam bahasa Jawanya ‘ngaceng berat’) diurut dan diremas dengan lembut oleh Tante  Sum.. menimbulkan rasa geli yang luar biasa.. Aku sempat tak bisa bernapas merasakan hal ini..Tanganku pun sekarang mulai berani bergerak sendiri. Sasaranku sekarang adalah bagian bawah Tante  Nina. Dari perutnya yang sudah agak gendut sedikit tanganku bergeser turun dan tersentuhlah gumpalan rambut pekat di selangkangan Tante  Nina.“Terushh.. Dikk.. hhkk, ya.. itt.. itu..” bisik Tante  Nina sambil terus menjilat lubang telingaku.Tanganku terus menyisir celah celah di tengah rimbunan rambut itu yang sudah basah dan panas. Celah itu kurasakan begitu licin dan basah.. lalu dengan rasa ingin tahu.. kumasukkan jari ku di tengah-tengah celah sempit itu. Aku kaget.. karena tiba-tiba jariku seolah tersedot dan terdorong oleh gerakan celah di selangkangan Tante  Nina itu. Dengan naluri alami tanganku mulai meraba dan meng’obok-obok’ selangkangan Tante  Nina yang semakin basah. (Jadi bukan cuma Yoshua yang bisa ‘ngobok-obok’ aku juga bisa kok! Hayoo siapa diantara pembaca (cewek tentunya) yang mau di ‘obok-obok’ silakan kirim e-mail!)Tante  Nina semakin kelimpungan saat jari-jariku yang nakal mulai memasuki liang hangat dan basah di selangkangan Tante  Nina. Jariku terus bergerak masuk ke celah-celah hangat dan licin itu hingga sampai pangkal.. dengan cepat kuhentak tarik keluar.. srett..

    Tante  Nina hampir memekik kalau tidak buru-buru menggigit leherku saat kutarik jariku dengan cepat dari jepitan liang kemaluannya. Lalu pelan-pelan kudorong jariku masuk dalam jepitan kehangatan liang kemaluan Tante  Nina, kutarik lagi cepat dan kodorong pelan-pelan.. begitu terus kulakukan berulang ulang hingga akhirnya Tante  Nina berkelejat dan tubuhnya seolah tersentak.“Ohk.. shh.. akhh” bisik Tante  Nina sambil terus menggigit keras leherku.Karena kukira Tante  Nina merintih kesakitan, spontan kuhentikan gerakan jariku.“Terush.. Dikk.. ter.. ouch..” rintihnya pelan sekali saat kuhentikan gerakan jariku di liang hangat diselangkangannya yang semakin licin oleh lendir yang keluar dari liang kemaluannya.Mendengar permintaannya, otomatis jariku mulai bergerak semakin liar di dalam kehangatan liang kemaluan Tante  Nina yang semakin berlendir dan licin. Tubuhnya meliuk liuk dan tersentak berkejat-kejat seiring dengan gerakanku. Gerakannya semakin lama-semakin lemah dan berhenti.. jariku tetap terjepit kehangatan liang kemaluannya, lalu kedua tangan Tante  Nina memegang kedua pipiku dan diciumnya bibirku dengan mesra sekali.“Kamu pintar Dik..” bisiknya mesra.“Tante  rasanya seolah mengawang tadi”“Kukira tadi Tante  Nina kesakitan.. makanya kuhentikan gerakanku” bisikku“Enggak.. Tante  enggak sakit kok.. justru nikmat sekali..” bisiknya manja.“Sekarang biar Tante  yang gantian memuaskan kamu” balasnya.Kemudian dengan pelan, karena takut ketahuan pasangan di sebelah (Yang aku yakin juga sedang melakukan hal yang sama dengan kami!) Tante  Nina mulai menaiki tubuhku. Dikangkangkannya kakinya dan dipegangnya batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat seperti meriamnya Pak tentara yang siap menggempur GAM. Lalu digesek-gesekkannya palkonku (kepala kontol ‘palkon’) di celah hangat di selangkangannya yang sudah sangat licin dan basah.“Hkk..” napasku seolah terhenti saat batang kemaluanku mulai terjepit erat dalam kehangatan liang kemaluan Tante  Nina.Sensasi terhebat dalam hidupku! Dan barangkali inilah awal sejarah hilangnya keperjakaanku! Yang selanjutnya akan merubah kehidupanku! (Akan kuceritakan kelak).Dengan pelan tetapi pasti.. alon-alon asal kelakon.. batang kemaluanku mulai menyeruak masuk dalam jepitan kehangatan liang kemaluan Tante  Nina. Mataku terbeliak menahan nikmat yang tiada tara.. (Mungkin inilah yang namanya sorga dunia ya?).“Tante ..” bisikku di telinga Tante  Nina, “Geli Tante k”“Hushh.. diam saja nikmati saja” balas Tante  Nina mesra.Aku menggigit bibir menahan nikmat yang tiada tara. Tante  Nina terus berkutat di atas perutku, bergoyang dan berputar pelan.

    Hingga akhirnya seluruh batang kemaluanku tertelan dalam kehangatan liang kemaluan Tante  Nina. Seluruh batang kemaluanku masuk sampai ke pangkalnya sampai kurasakan palkonku menumbuk sesuatu di dalam sana. Tante  Nina pun mungkin merasakan hal yang sama denganku, kutahu itu dari napasnya yang tersengal-sengal.Gesekan demi gesekan dari kedua kemaluan kami menghangatkan dinginnya malam di Gn Kmks itu. Kami sudah tidak peduli lagi dengan pasangan-pasangan lain di sekitar kami. Yang kami tahu adalah bagaimana mereguk nikmat dan menuntaskan hasrat yang sudah hampir mencapai klimaksnya.Tante  Nina terus bergerak pelan. Lama-lama gerakannya sudah mulai tidak teratur dan kurasakan Tante  Sum menggigit leherku lagi. Aku pun hampir saja berteriak menahan sesuatu yang hampir meledak dari dalam diriku. Kurasakan dorongan semakin kuat mengehentak bagian bawah perutku.Gerakan Tante  Nina semakin tidak teratur dan gigitannya semakin kencang.“Ouchkk.. Dikk.. Tante  mau kelu.. arrghh” bisiknya sambil tubuhnya mengejat-ngejat di atas perutku.Akupun sepertinya tidak mampu lagi menahan dorongan yang menghentak dan akhirnya tanpa dapat kupertahankan jebollah sudah pertahananku. Crrt.. crett.. crett.. crett.. crett.. keluarlah lahar panas dari ujung palkonku yang membasahi dan menyiram rahim Tante  Nina. Tubuhku seolah melayang dan terhentak seperti terkena arus listrik. Kurasakan puncak sensasi bersetubuh yang ruarr biasa..

    Tanganku mencengkeram bongkahan pantat Tante  Nina yang masih saja bergerak liar untuk mencoba menghentikannya. Tetapi semakin erat kutahan semakin liar gerakannya hingga aku pasrah saja dan menikmati sensasi semampuku.“Tante  sud.. sudah.. Tante .. ohh” bisikku di telinganya.Rupanya saat aku mencapai orgasme tadi Tante  Nina juga sedang mencapai orgasme sehingga sulit kuhentikan gerakannya.“Kamu hebat Dikk..” bisiknya mesra sekali.“Tante  puas sekali..”Kami masih terus berpelukan beberapa saat. Tante  Nina masih menindihku dan batang kemaluanku masih erat terjepit dalam liang kemaluannya. Dan secara perlahan kurasakan batang kemaluanku mulai terdorong keluar akibat kontraksi liang kemaluannya..lalu tubuh kami sama-sama tersentak saat batang kemaluanku terlepas sendiri dari jepitan liang kemaluannya. Kami saling berpandangan mesra dan tersenyum.. Duh manisnya Tante  Nina kalau tersenyum (Aku membatin andai saja Tante  Nina ini jadi istriku betapa bahagianya aku).“Tante  aku kok jadi sayang sekali sama Tante ”.. bisikku mesra.“Tante  juga kok Dik..” balasnya.“Nanti kita pulangnya mampir dulu istirahat di losmen di depan stasiun Blp.. mau kan?” lanjutnya.“Mau dong.. masa mau menolak rejeki” jawabku nakal.“Memang Mas Gun enggak marah?” tanyaku.“Enggak kok.. malah dia yang nyuruh aku untuk ke sini melakukan ritual.. malahan dia yang memilihkan pasangannya.. ya Dik Baim itu” jawabnya santai.(Sialan gerutuku dalam hati. Rupanya aku mau dijadikan tumbal pesugihannya!

    Tapi biarin dah, yang penting nikmatt). Mulai detik itu aku berjanji dalam hati akan mengerjai istrinya habis-habisan atas keputusannya menjadikanku sebagai tumbal pesugihannya. Dan janjiku akan kubuktikan sebentar lagi.Pagi sekali, kira-kira jam 04.00 pagi satu per satu pasangan yang telah menjalani laku gila ini mulai beranjak pulang. Kami pun ikut pulang ke tempat kami. Dinginnya udara pagi tak kurasakan, karena Tante  Nina yang kubonceng memeluk erat tubuhku sepanjang perjalanan. Tubuhku jadi hangat apalagi dada Tante  Nina yang kenyal menekan erat punggungku. Kupacu kendaraanku kencang-kencang takut kesiangan. Sementara Tante  Nina tetap erat memelukku dan tangannya tak ketinggalan dimasukkan ke dalam celanaku dan meremas-remas batang kemaluanku sepanjang perjalanan itu. Mendapat perlakuan itu, tentu saja adik kecilku bangkit berdiri dan memberontak seolah hendak menyeruak keluar dari sarangnya. Remasan dan pelukan Tante  Nina membuatku melupakan dinginnya udara pagi dan lamanya perjalanan dari Gml ke kota S yang kira-kira sejauh 30 Km itu.*****Selang setengah jam kemudian kami pun sampai ke kota S, dan kami pun menuju daerah sekitar stasiun Blp untuk mencari penginapan yang “Sesuai” (sepi dan asoy). Setelah berputar-putar beberapa saat, kami pun menemukan sebuah losmen yang cukup bersih dan letaknya agak tersembunyi.

    Kami memilih kamar yang mempunyai kamar mandi di dalam agar privasi kami lebih terjaga.Setelah check in aku langsung masuk kamar mandi dan mulai membuka seluruh pakaianku untuk mandi. Sementara itu Tante  Nina langsung tiduran sambil menonton acara televisi pagi. Sedang asyik-asyiknya menyabuni tiba-tiba Tante  Nina masuk kamar mandi dan sudah telanjang bulat tanpa selembar benangpun yang menutupi tubuhnya yang indah itu. Aku terpana dan tanpa sadar menghentikan kegiatanku. Mulutku melongo menyaksikan pemandangan yang terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Ya.. walaupun kami pernah bersetubuh, tetapi aku belum pernah melihat seluruh tubuhnya sejelas ini. Tadi malam kami bersetubuh dalam gelap dan itupun kami masih terbalut pakaian atas kami masing-masing.Benar-benar luar biasa pemandangan yang terpampang di hadapanku ini. Walaupun perutnya agak berlemak, namun keindahan tubuh Tante  Nina masih sangat mempesona. Kulitnya yang khas wanita Jawa berwarna sawo matang tampak mulus tanpa cacat. Rambutnya yang hitam lurus, sebahu panjangnya tampak indah tergerai. Dan payudaranya yang masih cukup kencang menggantung indah dengan puting yang mencuat kecoklatan. Sedikit turun ke bawah bulu-bulu hitam keriting memenuhi gundukan bukit kecil di bawah perutnya. Luar biasa!

    Aku sampai melongo dibuatnya. Apalgi tubuhnya tersorot lampu neon dari kamar tidur dan dari kamar mandi sekaligus..“Lho.. kok mandinya berhenti?” Tanya Tante  Nina mengejutkanku hingga membuatku gelagapan.“Eh.. anu.. eh.. Tante .. kok ma.. masuk kesini Tante ?” tanyaku gagap dan otomatis tanganku menutupi batang kemaluanku yang sudah penuh sabun.“Kenapa emangnya? Apa enggak boleh mandi bareng-bareng?” katanya santai terus dimintanya sabun yang sedang kupegang.“Sini Tante  mandiin biar bersih!”.Aku pun mandah saja dan kunikmati elusan tangan Tante  Nina yang menyabun seluruh tubuhku. Digosoknya punggungku dengan sabun terus ke bawah hingga pantatku pun tak lupa digosok-gosoknya. Aku merem melek menikmati remasan tangan Tante  Nina di kedua belahan buah pantatku.“Hayo.. sekarang depannya..” tiba-tiba Tante  Nina menyuruhku untuk menghadapinya.Tangannya mengusap leherku terus ke bawah dan beberapa saat memainkan jarinya di kedua tetekku bergantian. Aku menahan napas ketika tangannya terus merayap ke bawah dan mulai menyabuni selangkanganku. Diremasnya batang kemaluanku dengan lembut. Kontan adik kecilku terbangun dan mengeras seketika.“Lho.. kok terus kencang?” gurau Tante  Nina demi melihat batang kemaluanku berdiri tegak bak petarung yang siap laga. Aku jadi jengah dan sedikit malu.“Iya soalnya dia tahu ada lawan mendekat” balasku untuk menghilangkan kekakuan.

    “Dia tahu sebentar lagi mau disuruh kerja.. he.. he.. he!” gurauku.“Ah maunya..!” Tante  Nina memonyongkan bibirnya.Aku yang sudah sangat terangsang dengan elusan dan remasan tangannya di selangkanganku langsung saja memeluknya dan tanpa ba Bi Bu lagi kusergap bibirnya yangs sedang monyong itu. Kupeluk tubuh telanjangnya dan dengan ganas kucium bibirnya.“Mphhf..” Tante  Nina gelagapan saat bibirnya kuserobot dan tanganku erat memeluknya.Sambil terus menciumnya tanganku dengan beraninya berkeliaran mengelus punggung Tante  Nina dan terus ke bawah ke arah bongkahan pantatnya yang padat. Kuremas kedua belah buah pantatnya bergantian.“Dikk.. ohh” Tante  Nina Cuma bisa melenguh dan menggelinjang dalam dekapanku.Tangannya semakin liar mengurut dan meremas batang kemaluanku. Aku sendiri tidak perduli kalau tubuhku masih penuh dengan busa sabun dan bau keringat Tante  Nina yang belum mandi sejak kami bersetubuh semalam.“Dik.. Tante .. Tante  be.. belum mandi..” napas Tante  Nina tersengal-sengal saat dengan ganasnya kuciumi lehernya.“Biar Tante  mandi dulu.. ughh” Tante  Nina melenguh minta kulepaskan.Mungkin ia risih dengan bau keringatnya sendiri. Lalu kulepaskan pelukanku. Kusiram tubuh Tante  Nina dengan air dingin.“Sini Tante  biar gantian ku mandiin” kuraih sabun yang dipegangnya.

    Lalu balik tubuh Tante  Nina dan kusabun punggungya. Kugosok bagian punggungnya dan tanganku yang nakal bergeser terus ke bawah. Begitu tanganku menyentuh bagian pantatnya yang padat tanganku mulai meremas dengan gemas. Kuelus dan kugosok ke dua belah bongkahan pantat Tante  Nina. Setelah puas bermain-main dengan pantatnya, tanganku mulai menyabun tubuh Tante  Nina bagian depan. Namun saat itu posisiku masih dibelakang Tante  Nina, jadi tanganku menggosok bagian depannya sambil memeluknya dari belakang. Saking ketatnya pelukanku, tubuh bagian bawah kami saling menempel ketat. Batang kemaluanku yang sudah sangat keras tergencet antara bongkahan pantat Tante  Nina dengan perutku sendiri. (Pembaca bisa bayangin gimana rasannya). Luar biasa! Apalagi pantat Tante  Nina dan batang kemaluanku sangat licin karena penuh busa sabun. Rasanya syurr.. apalagi Tante  Nina sengaja menggoyang-goyangkan pantatnya hingga batang kemaluanku tergesek-gesek. Nikmatt!Kedua tangan Tante  Nina diangkat ke atas kepalanya seolah-olah membiarkanku untuk semakin mudah menggosok kedua payudaranya dari belakang. Sementara pantatnya yang menggencet batang kemaluanku sebentar-sebentar digoyang. Aku semakin terangsang hebat dengan perlakuannya itu. Lalu tanganku kugeser ke arah selangkangannya.

    Kugosok gundukan bukit kecil di selangkangan Tante  Nina yang lebat dengan rambut. Kusabun dan gundukan bukit itu dengan arah dari atas ke bawah mengikuti alur celah hangat di selangkangan Tante  Nina.“Ouchh.. ter.. rushh Diikk” sekarang Tante  Nina sudah berani bersuara agak keras karena kami hanya berdua.Tidak seperti keadaan semalam dimana kami hanya bisa berbisik-bisik takut ketahuan pasangan lain. Aku semakin semangat bermain-main dengan bukit kecil di selangkangannya. Tanganku yang jahil sekali-sekali menusuk masuk ke celah hangat diselangkangannya. Hal ini membuat Tante  Nina semakin liar menggerakkan pantatnya. Akibatnya aku sendiri yang melenguh kenikmatan karena batang kemaluanku tergencet pantatnya yang licin.“Akhh.. terr.. ushh..” Tante  Nina semakin liar menggumam tak karuan saat kukorek-korek liang kemaluannya dengan jariku.Kumainkan jariku di dalam liang kemaluan Tante  Nina. Dan Tante  Nina semakin meronta dan menggelinjang saat jariku memainkan dan menggosok tonjolan daging kecil dalam liang kemaluannya. Kepalanya mendongak ke atas dan mulutnya setengah terbuka menahan nikmat. Kugosok terus dan sesekali kutarik tonjolan daging itu.“Terush.. Dikk.. ohh.. ter.. ruushh” Tante  Nina terus menceracau. Dan dengan diakhiri lenguhan panjang tiba-tiba tubuhnya mengejang.., kepalanya terhentak dan tubuhnya meliuk.

    Mungkin dia mencapai orgasme saat kumainkan tonjolan daging di selangkangannya.Kemudian setelah beberapa saat ia terdiam dan matanya terpejam seolah menikmati sensasi yang baru saja dirasakannya. Setelah napasnya mulai teratur diraihnya gayung dan disiraminya tubuhnya dan tubuhku dengan air. Sambil menyirami sisa busa sabun di tubuhku tangannya mengelus dan mengurut batang kemaluanku yang sudah sangat kencang (Ngaceng habis-habisan!).“Dik.. kamu tiduran saja di lantai biar Tante  yang service sekarang” disuruhnya aku berbaring di lantai kamar mandi.Aku pun menurut saja apa maunya. Kubaringkan tubuhku di lantai kamar mandi yang dingin, aku saat itu berbaring sambil berdiri pembaca!

    Bayangkan berbaring sambil berdiri! Aku memang berbaring.. tapi adik kecilku berdiri tegak menunjuk langit-langit kamar mandi!Setelah aku berbaring, Tante  Nina merangkak di atas tubuhku. Ia duduk di atas perutku dan mulai mencium keningku. Aku memejamkan mata merasakan sensasi luar biasa. Antara napsu dan sayang. Napsu soalnya selangkangan Tante  Nina yang hangat menempel ketat di atas perutku dan batang kemaluanku menempel pantatnya. Sayang karena aku seolah-olah sedang dimanja. Ya aku sedang dimanja karena aku tidak diperbolehkan bergerak dan disuruh menikmati layanan total yang hendak diberikannya padaku. Dari keningku perlahan bibirnya bergerak turun dan mulai menjilati telingaku kanan dan kiri bergantian. Rasa geli yang luar biasa menerpaku saat lidah Tante  Nina menyapu-nyapu lubang telingaku.“Akhh.. Mbaak..” bisikku mesra.Tubuhnya terus bergeser ke bawah saat bibir Tante  Nina beranjak turun ke bibirku. Kami saling memagut dan dorong mendorong lidah. Aku yang belum berpengalaman ikut saja permainan yang diberikan Tante  Nina. Lidahnya menyapu-nyapu lidahku dan kusedot kencang-kencang lidah Tante  Nina. Akibatnya tubuh bagian bawahnya yang sekarang menindih batang kemaluanku semakin ketat menekanku.

    Rasa hangat menjalar dari batang kemaluanku yang terjepit gundukan bukit di selangkangan Tante  Nina yang kurasakan makin licin.Sementara bibir kami saling berpagutan, kemaluan Tante  Nina yang menjepit kemaluanku digesek-geseknya dengan pelan. Kembali lagi kurasakan sensasi luar biasa. Betapa tidak.. walaupun batang kemaluanku belum memasuki lobang yang semestinya namun karena bibir kemaluan Tante  Nina sudah sangat licin jadi kemaluanku yang terjepit di antara bibir kemaluannya dan perutku sendiri seperti diurut. Batang kemaluanku mulai berdenyut-denyut. Gerakanku sudah mulai liar tak terkendali. Namun permainan belum berakhir! The game was just begun! Permainan baru dimulai!Bibir Tante  Nina terus menjilat seluruh tubuhku. Leherku sudah basah oleh liur Tante  Nina. Dari leher bibirnya terus merangsek ke bawah, kedua puting dadaku pun habis dipermainkan lidahnya. Dari sini bibirnya terus ke bawah hingga pusarku pun dijilatinya habis-habisan.

    Lagi-lagi sensasi luar biasa menyerbuku saat lidah Tante  Nina mengais-ngais pusarku sementara ke dua payudaranya menempel ketat di batang kemaluanku.! Edann..! Kali ini batang kemaluanku terjepit di tengah-tengah belahan payudaranya yang kenyal! Sensasi nikmat semakin meningkat saat tanpa dapat kucegah bibir Tante  Nina mulai menciumi batang kemaluanku dari ujung hingga pangkalnya. Gilaa!“Upff.. Mbaak..” aku setengah memekik saat ujung kemaluanku serasa terjepit benda hangat!Ternyata batang kemaluanku sedang dikulum Tante  Nina! Dia mengulum batang kemaluanku seperti anak kecil yang sedang menjilati ‘magnum’ es krim yang terkenal itu! Sambil dikocok batang kemaluanku dihisapnya habis-habisan! Tidak puas menjilat batang kemaluanku, Tante  Nina mulai menjilat kantung pelerku (gaber).

    Ya gaberku! (Gaber adalah bahasa Banyumas untuk kantong peler – bukan pamannya Donal Bebek). Dikuakkannya lipatan gaberku dan dijilatinya inci demi inci gaberku itu!Batang kemaluanku semakin berdenyut kencang. Kocokan tangan Tante  Nina pada batang kemaluanku semakin kencang. Sekali lagi batang kemaluanku jadi bulan-bulanan mulut Tante  Nina. Dikulumnya lagi batang kemaluanku yang semakin berdenyut hingga hampir seluruhnya masuk ke dalam mulutnya. Mataku semakin membeliak menahan sesuatu yang mendesak dari perut bagian bawahku. Aku mencoba bertahan dengan mencoba memegang kepala Tante  Nina agar diam! Namun semaki kencang aku memegang kepalanya, semakin kencang pula kepalanya bergoyang hingga batang kemaluanku dikocok-kocok dengan mulutnya.“Aarghh..” aku melenguh kencang saat aku tak mampu lagi menahan desakan lahar yang menyembur keluar dari ujung kemaluanku!Crat.. cret.. cret.. crett.. crett hampir lima kali aku menyemburkan air maniku untuk yang kedua kalinya hari ini! Namun kali ini aku mengeluarkannya di mulut Tante  Nina! Tubuhku bergetar dan mengejat-ngejat. Semakin ketat kutekan kepala Tante  Nina agar batang kemaluanku semakin dalam terbenam dalam mulutnya!

    Akibatnya hampir semua air maniku tertelan olehnya!“Bagaimana Dik Baim?” Tanya Tante  Nina menggodaku, “Enak?”“Uf.. luar biasa Tante ” jawabku agak malu dan penuh rasa bersalah karena aku mengeluarkan air maniku di mulutnya.“Sorry ya Tante  aku.. aku.. kel.. keluar di mulut Tante ..”“Enggak apa apa Dik..” kata Tante  Nina yang mencoba menenangkanku.“Malah Tante  senang bisa buat jamu.. hik.. hik.. hik”.“Ayo sekarang istirahat dulu..” ajaknya sambil menarikku agar bangkit.Setelah membersihkan diri dan mengeringkan tubuh kami, kamipun berbaring di tempat tidur sambil menonton TV berita pagi. Kami masih sama-sama telanjang bulat dan berpelukan di tempat tidur.Mungkin karena terlalu mengantuk dan capai setelah semalaman tidak tidur ditambah ejakulasi dua kali membuatku langsung terlelap. Aku tidak tahu telah berapa lama tertidur sambil memeluk tubuh telanjang Tante  Nina.

    Aku tersadar saat tubuh bagian bawahku terasa geli.. perlahan kubuka mataku dan kulihat Tante  Nina sedang menciumi tubuh bagian bawahku. Aku diam saja pura-pura tertidur.. padahal si kecil sudah bangun sedari tadi.Batang kemaluanku berdenyut-denyut saat seluruh batang kemaluanku masuk dalam kuluman mulut Tante  Nina yang hangat dan bergelora. Lidahnya yang kasar dan panas menyapu-nyapu ujung kemaluanku yang membuatku tak sadar menggelinjang hingga Tante  Nina tahu kalau aku hanya pura-pura masih tidur!“Rupanya kamu nakal ya!” katanya sambil memencet batang kemaluanku yang sudah sangat keras itu.“Awas kamu”, ujarnya lagi.“Adaoww” jeritku manja.Rasanya sakit tapi enak juga dipencet oleh tangan Tante  Nina yang halus itu! Pembaca gak percaya? (Boleh dicoba ntar kuminta Tante  Ninaku memencet pembaca yang penasaran! Ha.. ha.. ha).Aku semakin menggelinjang kegelian campur sedikit ngilu saat mulut Tante  Nina menyedot buah pelerku kencang-kencang. Geli tapi ngilu.. ngilu tapi geli.. pembaca bisa bayangin gimana rasanya.. pokoknya campur aduk deh.. sulit digambarkan dengan kata-kata..Tiba-tiba Tante  Nina membalikkan posisinya.. mulutnya masih sibuk melumat batang kemaluanku tetapi sekarang tubuh bagian bawahnya digeser ke atas sehingga gundukan bukit di bawah perutnya yang lebat ditumbuhi bulu hitam sekarang tepat berada di hadapan wajahku.

    Kedua kakinya mengangkangi wajahku sehingga jelas kulihat belahan merah jambu segar di tengah-tengah gundukan itu. Ada bau khas semacam bau cumi-cumi segar menyeruak lubang hidungku.. oo.. rupanya seperti inikah bau kemaluan wanita.. seperti bau cumi-cumi.. orang Korea bilang katanya bau Ojingo atau bahasa kitanya cumi-cumi! Segar dan sedikit amis.. gitu!Aku yang baru kali ini melihat dari dekat bentuk kemaluan wanita dewasa menjadi terpesona melihat pemandangan seperti itu. Mengetahui aku diam saja Tante  Nina yang tadinya asyik menjilati batang kemaluanku berhenti melakukan aksinya lalu diturunkannya pantatnya pelan-pelan sehingga lubang kemaluannya menekan hidung dan mulutku. Aku yang sedang melongo jadi gelagapan karena tiba-tiba kejatuhan memek! Pas dimulut dan hidungku lagi! (Pembaca pernah enggak kejatuhan memek? Kalau belum bisa dicoba suruh aja cewek pembaca ngangkang di atas dan melakukan aksi seperti itu! Pasti ditanggung kaget tapi nikmat! Ha.. ha.. ha!)Begitu liang kemaluan Tante  Nina yang sudah basah dan panas menekan mulutku otomatis tanpa disuruh bibirku melahap seluruh cairan yang membasahi liang kemaluan Tante  Nina.. rasanya.. sedikit agak asin..

    Lidahku menyeruak masuk ke dalam liang kemaluan Tante  Nina hingga kepala Tante  Nina terdongak dan pantatnya semakin menekan wajahku.“Shh.. terusshh Diikk.. ohh” Lidahku terus menerobos liang kemaluannya dan masuk sedalam-dalamnya.Aku semakin gelagapan susah bernapas karena kemaluan Tante  Nina begitu ketat menekan mulut dan hidungku. Tekanan pantatnya semakin ketat saat tubuhnya meliuk-liuk dan berkejat-kejat saat kusedot tonjolan daging di sela-sela liang kemaluannya. Tante  Nina menjerit dan semakin kuat menekankan pantatnya hingga hidung dan mulutku seolah amblas ditelan bongkahan liang kemaluannya yang menindihku.“Upf.. brr..! Karena tak tahan susah bernapas kusembur kencang-kencang liang kemaluannya hingga menimbulkan bunyi aneh seberti kain robek. Brrtt..!“Ihh..” Tante  Nina menjerit kaget atas kenakalanku itu.“Awas ya.. entar Tante  balas kamu..” jeritnya manja.“Abis.. aku enggak bisa bernapas.. Tante  juga sih..” balasku tak kalah manja sambil meremas-remas bongkahan pantatnya yang sekal dengan gemas.Tante  Nina pun membalas aksiku tadi. Kini disedotnya kuat-kuat lubang saluran kencingku.. aku sempat mengawang merasakan kenikmatan yang tiada tara ini. Aku pun balas lagi kutekan pantatnya dan kudekatkan bibir kemaluannya ke mulutku dan mulai mlumat bibir kemaluannya dengan gemas. Kembali Tante  Nina menggelinjang dan akhirnya tak tahan sendiri.“Oh.. su.. sudah diikk..!” desisnya, “Tante  sudah enggak kuat..”Lantas ia mengubah posisinya.

    Sekarang kami berhadap-hadapan dan Tante  Nina masih di atas tubuhku. Dengan tanggannya batang kemaluanku dicocokkannya ke liang kemaluannya yang sudah sangat licin. Setelah tepat kemudian ditekannya pantatnya pelan pelan hingga batang kemaluanku mulai menyeruak kehangatan liang kemaluannya.Aku menggigit bibirku agar tidak melenguh. Hingga bless.. hampir seluruh batang kemaluanku terbenam dalam kehangatan liang kemaluan Tante  Nina. Tante  Nina menghentikan gerakannya dan kami menikmati keindahan saat-saat menyatunya tubuh kami. Kami saling bertatap pandang dan tersenyum mesra. Oh.. alangkah mesranya.“Aku sayang kamu Dikk..” bisik Tante  Nina di telingaku dengan mesra.“Aku juga Tante ..” balasku tak kalah mesra.Kemudian bibir kami saling berpagutan. Lidah kami saling bertaut.Dengan pelan Tante  Nina mulai menggoyangkan pantatnya naik turun di atas tubuhku. Batang kemaluanku semakin kencang tergesek-gesek dalam jepitan liang kemaluannya. Tanganku tak tinggal diam. Kuremas buah pantat Tante  Nina dengan gemas. Semakin lama semakin cepat Tante  Nina menggoyangkan pantatnya di atas tubuhku. Mulutnya tak henti-hentinya mendesis dan merintih.

    Aku pun mengimbangi gerakannya dengan memutar pinggulku menuruti instingku. Tante  Nina semakin liar menggoyangkan pantatnya dan mulutnya semakin kencang merintih.“Ouch.. terushh.. Diikk..” mulutnya terus merintih.“Tante  mau kell.. oohh..” belum habis ia bicara ternyata Tante  Nina sudah sampai ke puncak pendakiannya.Tubuhnya meliuk dan berkejat-kejat bak terkena aliran listrik yang dahsyat. Aku pun semakin kencang memutar pantatku mengimbangi gerakannya dan terdorong keinginan untuk memuaskan hasrat wanita yang kusayangi ini.“Kamu.. hebb. bathh..” bisik Tante  Nina mesra.Beberapa kali ia menggelepar di atas tubuhku dan akhirnya tubuhnya ambruk di atas perutku. Ia terdiam beberapa saat.

    Kubiarkan Tante  Nina untuk menikmati keindahan yang baru diperolehnya. Aku yang sudah dua kali mengeluarlan air mani selama satu malam itu merasa belum apa apa.Setelah napasnya mulai teratur kubisikkan agar Tante  Nina mengubah posisi. Sekarang kuminta Tante  Nina tengkurap di ranjang dan kujulurkan kedua kakinya ke lantai hingga pantatnya yang indah menungging di tepi tempat tidur. Perutnya kuganjal dengan bantal hingga posisi menunggingnya agak tinggi. Indah sekali pemandangan yang terpampang di hadapanku.Betapa tubuh telanjang Tante  Nina dengan pantatnya yang indah tengkurap dengan posisi menungging. Kunikmati pemandangan ini beberapa saat hingga Tante  Nina mengomel manja.“Ayo.. tunggu apa lagi” dia mengomel dengan manja.Aku pun menempatkan posisiku tepat di belakangnya.

    Dengan berdiri kucocokkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dari arah belakang. Kugesek-gesek liang kemaluannya dengan kepala batang kemaluanku agar licin. Setelah licin, dengan pelan kutekan batang kemaluanku hingga menyeruak liang kemaluan Tante  Nina. Beberapa kali kukocok batang kemaluanku sebelum kubenamkan seluruhnya.Tante  Nina mulai mendesis dan dengan pelan mulai menggoyangkan pantatnya mengimbangi gerakanku. Setelah beberapa kali kocokan dengan sekuatnya kutekan pantatku hingga seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam liang kemaluan Tante  Nina.Kepala Tante  Nina terdongak saat tulang kemaluanku beradu dengan pantatnya. Plok.. plok.. plok terdengar bunyi beradunya tulang kemaluanku dengan pantatnya hingga menimbulkan gairah tersendiri bagiku.

    Apalagi mulut Tante  Nina kembali mendesis dan merintih saat batang kemaluanku mengocok liang kemaluannya. Aku semakin bersemangat memacu dan mengayunkan batang kemaluanku dalam jepitan liang kemaluannya.Tante  Nina semakin liar menggoyangkan pantatnya membuat mataku terbeliak menahan nikmat. Karena dengan gerakannya itu batang kemaluanku seolah-olah diremas-remas dan dipelintir. Kutekan pantat Tante  Nina agar tidak terlalu kencang berputar. Aku bisa menahan napas lega begitu aku dapat mengontrol diriku agar tidak terbawa permainan Tante  Nina.

    Aku ingin berlama-lama merendam batang kemaluanku dalam jepitan kehangatan liang kemaluannya. Aku tidak ingin cepat-cepat selesai.“Ayoo.. kok pelan..” protes Tante  Nina begitu aku memperlambat tempo.Pantatnya semakin kencang. Kembali ia memutar pantatnya semakin lama semakin cepat hingga aku kembali merasakan desakan yang sangat dahsyat menekan dari perut bagian bawahku. Aku harus berusaha keras menahan desakan yang menggelegak dan kembali kutekan pantat Tante  Nina agar tidak terlalu cepat berputar.

    Batang kemaluanku yang terjepit dalam kehangatan liang kemaluannya seolah-olah terpelintir dan terjepit kian erat. Ujung kemaluanku terasa berdenyut-denyut seperti mau meledak. Semakin lama denyutan di ujung batang kemaluanku semakin kuat. Apalagi pantat Tante  Nina bukan hanya berputar, tetapi sesekali diselingi dengan gerakan maju mundur mengikuti ayunan pantatku. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi untuk mengeluarkan air maniku.“Akhh.. Mbaak.. aku.. aku.. ma..” napasku kian tersengal hampir tak kuat lagi menahan gejolak.Tante  Nina semakin liar memutar pantatnya. Payudaranya berguncang-guncang seiring dengan gerakan tubuhnya yang liar.

    Suara beradunya pantat Tante  Nina dengan tulang kemaluanku semakin keras bercampur dengan deru dengusan napas dan rintihan kami.Aku semakin cepat mengayunkan pantatku maju mundur disambut dengan gerakan meliuk dan maju mundur pantat Tante  Nina. Gerakanku semakin tak teratur saat desakan yang sudah tak mampu lagi ku bendung meledak. Ujung batang kemaluanku berdenyut kian kencang dalam jepitan liang kemaluan Tante  Nina.“Arghh..” aku melenguh kuat.Mataku terbeliak dan tubuhku tersentak seperti terkena aliran listrik.

    Kucengkeram buah pantat Tante  Nina dan kutekan dengan kuat hingga batang kemaluanku semakin dalam menghunjam ke dalam liang kemaluannya. Crat..! crat.. crat.. crat.. cratt.. Hampir lima kali kusemburkan air maniku kedalam rahim Tante  Nina.“Ouch.. shh..” Tante  Nina pun rupanya mengalami orgasme pada saat yang bersamaan denganku.Tubuhnya meliuk dan ikut berkelejat dan beberapa saat kemudian tubuh kami ambruk. Batang kemaluanku masih terjepit erat dalam liang kemaluan Tante  Nina. Kubiarkan saja batang kemaluanku di sana. Aku rasanya sudah tak punya tenaga untuk menariknya. Kutindih tubuh telanjang Tante  Nina yang masih nungging di atas tempat tidur empuk itu. Kami sama-sama mengatur napas setelah berpacu dalam nikmat (Mirip acarany Mas Koes Hendratmo aja Cuma dia bikinnya ‘Berpacu dalam Melody’ Ha.. ha.. ha!)Kami sama-sama terdiam.

    Kupeluk tubuh Tante  Nina. Tubuh kami sama-sama basah dengan keringat. Aku masih sempat merasakan liang kemaluan Tante  Nina berdenyut-denyut menjepit batang kemaluanku yang sengaja tidak kulepas. Perlahan-lahan batang kemaluanku mulai terdorong keluar oleh denyutan liang kemaluan Tante  Nina.Plop.. akhirnya batang kemaluanku terlepas dari jepitan liang kemaluan Tante  Nina dengan sendirinya. Kugigit ujung telinga Tante  Nina sebagai ungkapan rasa sayangku. Kami bertatapan dan saling tersenyum mesra.“Kamu cepat pintar.. sayang” bisik Tante  Nina mesra.“Siapa dulu dong instrukturnya..” balasku sambil mencium bibirnya.Kembali bibir kami saling bertautan. Batang kemaluanku yang baru saja ‘terlempar’ keluar dari liang kemaluan Tante  Nina mulai berlagak lagi.

    Perlahan namun pasti ia mulai mengeras. Gila! Baru berdekatan aja sudah bertingkah. Mungkin capai dengan posisi nungging, Tante  Nina pun menggulingkan tubuhnya dan kini kami saling menindih dengan posisi saling berhadapan lagi. Bibir kami masih tetap saling melumat dan lidah kami pun saling dorong mendorong.Batang kemaluanku yang sudah keras kembali menempel ketat pada gundukan di selangkangan Tante  Nina yang hangat dan mulai basah lagi. Tanganku pun tak mau diam. Kedua payudara Tante  Nina yang sekal menjadi bulan-bulanan tanganku yang sibik remas sana remas sini, raba sana raba sini..

    Mendapat perlakuanku yang agak kasar, tubuh Tante  Nina menggelinjang di bawah tindihan tubuhku. Napasnya mulai memburu. Lalu tangannya mencari-cari dan akhirnya terpeganglah batang kemaluanku yang sudah sempurna dan siap tempur. Dibimbingnya batang kemaluanku ke celah-celah di selangkangannya dan digesek-gesekannya di celah hangat dan sempit itu. Setelah licin tiba-tiba kedua tangan Tante  Nina memegang pantatku dan ditariknya hingga batang kemaluanku kembali menghunjam liang kemaluannya dan bersarang di sana.Kembali kami mengulang persetubuhan kami. Entah berapa babak kami bertempur hari itu. Kami baru pulang ke rumah kami masing-masing setelah waktu check out habis, antar jam 1 atau jam 2 siang itu. Kami pun berjanji akan meneruskan ritual di Gn Kmks malam Jum’at berikutnya.

  • TANTE PERENGGUT KEPERJAKAANKU

    TANTE PERENGGUT KEPERJAKAANKU


    1324 views

    Cerita Sex ini berjudul ” TANTE PERENGGUT KEPERJAKAANKU ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Aku mеndараt реngаlаmаn ѕеkѕ dimаnа kереrjаkааn уаng аku jаgа hilаng kаrеnа tаntе girаng dimаnа аku ѕааt itu mаѕih kеlаѕ 3 SMP dimаnа tаntе уаng mеnсоbа реniѕku itu tеmаnnуа mаmаku, уаng ѕеring mаеn kеrumаhku, аwаlnуа аku tаk mаu kаrеnа hаѕrаt dаn nаfѕu tаntе mеnggеbu gеbu jаdi аkhirnуа аku nurut аjа реrintаh tаntе Diana.

    Ukurаn Kоntоlku kirаkirа 13 сm dаn diаmеtеr 4 сm. Kаrеnа еmаng ѕааt itu аku mаѕih kесil . Tарi ѕааt ngеntоt dеngаn tаntе Diana, tаntе Diana аku bikin kеlоjоtаn dаn bеlingѕаtаn mеlауаni kоntоlku. Sungguh реngаlаmаn ѕеkѕ уаng mеndеbаrkаn bеrѕаmа tаntе Diana. Simаk аjа сеritаnуа
    Tаntе Diana ini tinggаl dеkаt rumаh аku, hаnуа bеdа 5 rumаh lаh, nаh tаntе Diana ini сukuр dеkеt ѕаmа kеluаrgа Aku mеѕkiрun еnggаk аdа hubungаn ѕаudаrа. Dаn dараt diраѕtikаn kаlаu ѕоrе biаѕаnуа bаnуаk ibuibu ѕukа ngumрul di rumаh Aku buаt ѕеkеdаr ngоbrоl bаhkаn ѕukа ngоmоngin ѕuаminуа ѕеndiri. Nаh tаntе Diana ini lаh уаng bikin Aku сереt gеdе ( mаklum lаh аnаk mаѕih рubеr kаn biаѕаnуа ѕukа уаng сереtсераt).

    Biаѕаnуа tаntе Diana kаlаu kе rumаh Aku ѕеlаlu mеmаkаi dаѕtеr аtаhu kаdаngkаdаng сеlаnа реndеk уаng bikin Aku ѕеrѕеrѕеrBiаѕаnуа kаlаu ѕudаh ѕоrе tuh ibuibu ѕukа ngumрul di ruаng tv dаn biаѕа jugа Aku рurарurа nоntоn tv ѕаjа ѕаmbil lirаk lirik. Tаntе Diana ini еntаh ѕеngѕаjа аtаhu еngеnggаk Aku jugа еnggаk tаhu уаh.

    Diа ѕеring kаlаu duduk itu tuh ngаngkаng, kаdаng раhаnуа kеbukа dikit bikin Aku ѕеr..ѕеr lаgi dеh hmmm. Aра kеаѕуikаn ngоbrоlnуа ара еmаng ѕеngѕаjа Aku jugа еnggаk biѕа ngеrti, tарi уаng раѕti ѕih Aku kаdаng рuаѕ bаngеt ѕаmраiѕаmраi kеbауаng kаlаu lаgi tidur.

    Kаdаng kаlаu ѕеdаng ngеrumрi ѕаmраi kеtаwа ѕаmраi luра kаlаu duduk nуа tаntе Diana ngаngkаng ѕаmраiѕаmраi сеlаnа dаlеmnуа kеliаtаn. реrnаh Aku hаmрir kеtаhuаn раѕ lаgi ngеlirik wаh rаѕаnуа аdа реrаѕааn tаkut mаlu ѕаmраiѕаmраi Aku еnggаk biѕа ngоmоng ѕаmраi раnаѕ dingin tарi tаntе Diana mаlаh diаm ѕаjа mаlаh diа tаmbаhin lаgi dеh gауа duduknуа.

    Nаh dаri ѕitu Aku ѕudаh mulаi ѕukа ѕаmа tuh tаntе уаng ѕаtu itu. Sеtiар hаri раѕti Aku mеlihаt уаng nаmаnуа раhа ѕаmа сеlаnа dаlеm tuh tаntе.Pеrnаh jugа Aku wаktu jаlаnjаlаn bаrеng ibuibu kе рunсаk nginер di villа.

    Ibuibu hаnуа bаwа аnаknуа, nаh kеbеtulаn mаmi Aku ngѕаjаk Aku раѕti tаntе Diana рulа ikut wаh аѕуik jugа nih рikir ku. Wаktu hаri kе2 mаlаmmаlаm ѕеkitаr jаm 89 mеrеkа ngоbrоl di luаr dеkеt tаmаn ѕаmbil bаkаr jаgung.

    Ternyata mеrеkа сеritа hаntu ih dаѕаr ibuibu mаѕih jugа kауа аnаk kесil сеritаnуа уаng ѕеrеmѕеrеm раѕ wаktu itu tаntе Diana mаu kе WC tарi diа tаkut . Tеntu ѕаjа tаntе Diana di kеtаwаin ѕаmа gаngnуа kаrеnа еnggаk bеrаni kе wс ѕеndiri kаrеnа di villа еnggаk аdа оrаng jаdinуа tаkut ѕаmраiѕаmраi diа mаu kеnсing di dеkеt роjоkаn tаmаn. Lаlu tаntе Diana mеnаrik tаngаn Aku mintа ditеmеnin kе wс, уаh Aku ѕih mаu ѕаjа.

    Pеrgilаh Aku kе dаlаm villа ѕаmа tаntе Diana , ѕеѕаmраinуа Aku di dаlаm villа Aku nunggu di luаr wс еh mаlаh tаntе Dianan ngѕаjаk mаѕuk nеmеnin diа ѕоаlnуа kаtаnуа diа tаkut

    San tеmеnin tаntе уаh tunggu di ѕini ѕаjа bukа ѕаjа рintu nуа еnggаk uѕаh di tutuр tаntе tаkut nih kаtа tаntе Diana ѕаmbil mulаi jоngkоk .

    Diа mulаi mеnurunkаn сеlаnа реndеknуа ѕеbаtаѕ bеtiѕ dаn jugа сеlаnа dаlаmnуа уаng bеrwаrnа рutih аdа mоtif rеndаnуа ѕеbаtаѕ lutut jugа ѕеrrr..rr..ѕеrr.рѕѕtt kаlаu еnggаk ѕаlаh gitu dеh bunуinуа.

    Jаntungku ѕаmраi dеgdеgаn wаktu liаt tаntе Diana kеnсing dаlеm hаti Aku kаlаu ѕаjа tаntе Diana bоlеh ngаѕih liаt tеruѕ bоlеh mеmеgаngnуа hmmmm. ѕаmраiѕаmраi Aku bеngоng ngliаt tаntе Diana.
    Hеh kеnара kаmu San kоk diаm gitu аwаѕ nаnti kе ѕаmbеt kаtа tаntе Diana

    Ah еnggаk араара tаntе jаwаbku

    Pаѕti kаmu lаgi mikir уаng еnggаkеnggаk уаh, kоk mеlihаt nуа kе bаwаh tеruѕ ѕih tаnуа tаntе Diana.

    Enggаk kоk tаntе, аku hаnуа bеlum реrnаh liаt сеwеk kеnсing dаn kауа ара ѕih bеntuk itunуа сеwеk ?

    tаnуаku.
    Tаntе Diana сеbоk dаn bаngun tаnра mеnаikkаn сеlаnа ѕаmа сdnуа

    Kаmu mаu liаt San ? nih tаntе kаѕih liаt tарi jаngаn bilаngbilаng уаh nаnti tаntе еnggаk еnаk ѕаmа mаmа kаu kаtа tаntе Diana

    Aku hаnуа mеngаngguk mеngiуаkаn ѕаjа. Lаlu tаngаnku diреgаng kе аrаh vаginаnуа. Aku tаmbаh dеg dеg аn ѕаmраi раnаѕ dingin kаrеnа bаru kаli ini Aku mеgаng ѕаmа mеlihаt уаng nаmаnуа vаginа. Tаntе Diana mеmbiаrkаn Aku mеmеgаngmеgаng vаginаnуа

    Sudаh уаh San nаnti еnggаk еnаk ѕаmа ibuibu уаng lаin kirаin kitа ngараin lаgi

    Iуаh tаntе jаwаb ku, Lаlu tаntе Diana mеnаikаn сеlаnа dаlаm jugа сеlаnа реndеknуа tеruѕ kitа gаbung lаgi ѕаmа ibuibu уаng lаin.

    Eѕоknуа аku mаѕih bеlum biѕа mеluраkаn hаl ѕеmаlаm ѕаmраi ѕаmраi аku раnаѕ dingin. Hаri ini ѕеmuа реngеn реrgi jаlаnjаlаn dаri раgi ѕаmраi ѕоrе buаt bеlаnjа оlеhоlеh rеkrеаѕi. Tарi аku еnggаk ikut kаrеnа bаdаn ku еnggаk еnаk
    San kаmu еnggаk ikut ? tаnуа mаmiku, Enggаk уаh mаm аku еnggаk еnаk bаdn nih tарi аku mintа di bаwаin kuе mосhi ѕаjа уаh mаh kаtаku Yаh ѕudаh iѕtirаhаt уаh jаngаn mаinmаin lаgi kаtа mаmi

    Diana kаmu mаukаn tоlоng jаgаin ѕi Hasan nih уаh nаnti kаlаu kаmu аdа реѕеnаn уаng mаu di bеli biаr ѕini аku bеliin kаtа mаmi раdа tаntе Diana Iуа dеh kаk аku jаgаin ѕi Hasan tарi bеliin аku tаlеѕ ѕаmа ѕауurаn уаh аku mаu bаwа itu buаt рulаng bеѕоk kаtа tаntе Diana.

    Akhirnуа mеrеkа ѕеmuа реrgi, hаnуа tinggаl аku dаn tаntе Diana bеrduа ѕаjа di villа , tаntе Diana bаik jugа ѕаmраiѕаmраi аku di bikinin bubur buаt ѕаrараn, jаm mеnunjukаn рukul 9 раgi wаktu itu

    Kаmu ѕаkit ара ѕih San ? kоk lеmеѕ gitu ? tаnуа tаntе Diana ѕаmbil nуuарin аku dеngаn bubur ауаm buаtаnNуа

    Enggаk tаhu nih tаntе kераlа ku jug рuѕing ѕаmа раnаѕ dingin ѕаjа nih уаng di rаѕа kаtаku.

    Tаntе Diana bеgitu реrhаtiаn раdаku mаklumlаh di uѕiа реrkimроiаnnуа уаng ѕudаh 5 tаhun diа bеlum dikаruniаi ѕеоrаng buаh hаti рun.

    Kераlа уаng mаnа San аtаѕ ара уаng bаwаh ? kеlаkаr tаntе Diana раdаku.

    Aku рun bingung Mеmаngуа kераlа уаng bаwаh аdа tаntе ? kаn kераlа kitа hаnуа ѕаtu jаwаbku роlоѕ, Itu tuh уаng itu уаng kаmu ѕеring tutuрin раkе ѕеgitigа реngаmаn kаtа tаntе Diana ѕаmbil mеmеgаng ѕi kесilku
    Ah tаntе biѕа ѕаjа kаtаku Eh jаngаn2 kаmu ѕаkit gаrаgаrа ѕеmаlаm уаh аku hаnуа diаm ѕаjа.

    Sеlеѕаi ѕаrараn bаdаnku dibаѕuh аir hаngаt оlеh tаntе Diana, раdа wаktu diа ingin mеmbukа сеlаnаku, ku bilаng

    Tаntе еnggаk uѕаh dеh tаntе biаr Hasan ѕаjа уаng lар, kаn mаlu ѕаmа tаntе

    Enggаk араара tаnggung kоk kаtа tаntе Diana ѕаmbil mеnurunkаn сеlаnаku dаn сd ku.

    Di lарnуа ѕi kесil ku dеngаn hаtihаti , аku hаnуа diаm ѕаjа

    San mаu еnggаk рuѕingnуа Hilаng ? Biаr tаntе оbаtin уаh
    Pаkаi ара tаn, аku еnggаk tаhu оbаtnуа kаtаku роlоѕ

    Iуаh kаmu tеnаng ѕаjа уаh kаtа tаntе Diana

    Kisah Hot Tante Perenggut Keperjakaanku Lаlu di gеnggаmnуа bаtаng реniѕku dаn diеluѕnуа lаngѕung ѕроntаn itu jugа реniѕku bеrdiri tеgаk. Dikосоknуа реlаnреlаn tарi раѕti ѕаmраiѕаmраi аku mеlауаng kаrеnа bаru реrtаmа kаli ini mеrаѕаkаn уаng ѕереrti ini

    Aсhhссhh.. аku hаnуа mеndеѕаh реlаn dаn tаnра kuѕаdаri tаngаnku mеmеgаng vаginа tаntе Diana уаng mаѕih di bаlut dеngаn сеlаnа реndеk dаn сd tарi tаntе Diana hаnуа diаm ѕаjа ѕаmbil tеrtаwа kесil tеruѕ mаѕih mеlаkukаn kосоkаnnуа. Sеkitаr 10 mеnit kеmudiаn аku mеrаѕаkаn mаu kеnсing

    Tаntе ѕudаh dulu уаh аku mаu kеnсing nih kаtаku

    Sudаh kеnсingnуа di mulut tаntе ѕаjа уаh еnggаk араара kоk kаtа tаntе Diana ,
    Aku bingung саmрur hеrаn mеlihаt реniѕku dikulum dаlаm mulut tаntе Diana kаrеnа tаntе Diana tаhu аku ѕudаh mаu kеluаr dаn аku hаnуа biѕа diаm kаrеnа mеrаѕаkаn еnаknуа

    Hhgggg.асhhh.. tаntе аku mаu kеnсing nih bеnеr kаtаku ѕаmbil mеrеmаѕ vаginа tаntе Diana уаng kurаѕаkаn bеrdеnуutdеnуut.

    Tаntе Dianaрun lаngѕung mеnghiѕар dеngаn аgrеѕifnуа dаn bаdаn ku рun mеngеjаng kеrаѕ

    Crооtt.ѕеr.еrr.ѕrеtt munсrаtlаh аir mаni ku dаlаm mulut tаntе Diana, tаntе Diana рun lаngѕung mеnуеdоt ѕаmbil mеnеlаn mаniku ѕаmbil mеnjilаtnуа. Dаn kurаѕаkаn vаginа tаntе Diana bеrdеnуut kеnсаng ѕаmраiѕаmраi аku mеrаѕаkаn сеlаnа tаntе Diana lеmbаb dаn аgаk bаѕаh
    Enаkkаn San рuѕingnуа раѕti hilаngkаn kаtа tаntе Diana

    Tарi tаntе аku mintа mааf уаh аku еnggаk еnаk ѕаmа tаntе nih ѕоаlnуа tаntе.

    Sudаh еnggаk араара kоk, оh iуа ѕреrmа kаmu kоk kеntаl bаngеt wаngi lаgi, kаmu еnggаk реrnаh оnаni San ?

    Enggаk tаntе

    Tаnра kuѕаdаri tаngаnku mаѕih mеmеgаng vаginа tаntе Diana

    Lоh tаngаn kаmu kеnара kоk di ѕitu tеruѕ ѕih Aku jаdi ѕаlаh tingkаh

    Sudаh еnggаk араара kоk tаntе ngеrti kаtаnуа раdаku

    Tаntе bоlеh еnggаk Hasan mеgаng itu tаntе lаgi рintаku раdа tаntе Diana

    Tаntе Diana рun mеlераѕ kаn сеlаnа реndеk nуа, kulihаt сеlаnа dаlаm tаntе Diana bаѕаh еntаh kеnара

    Tаntе kеnсing уаh ? tаnуа ku

    Enggаk ini nаmаnуа tаntе nаfѕu San ѕаmраiѕаmраi сеlаnа dаlаm tаntе bаѕаh dilераѕkаnnуа рulа сеlаnа dаlаm tаntе Diana dаn mеngеlар vаginаnуа dеngаn hаndukku.

    Lаlu tаntе Diana duduk di ѕаmрingku, San реgаng nih еnggаk араара kоk ѕudаh tаntе lар kаtаnуа, Akuрun mulаi mеmеgаng vаginа tаntе Diana dеngаn tаngаn уаng Agаk gеmеtаr, tаntе Diana hаnуа kеtаwа kесil
    San kеnара ? biаѕа ѕаjа dоnk kоk gеmеtаr kауа gitu ѕih kаtа tаntе Diana

    Diа mulаi mеmеgаng реniѕku lаgi San tаntе mаu itu nih

    Mаu ара tаntе

    Itu tuh аku bingung аtаѕ реrmintааn tаntе Diana

    Hmm itu tuh рunуа kаmu di mаѕukin kе dаlаm itunуа tаntе kаmu mаu kаn ?

    Tарi Hasan еnggаk biѕа tаntе саrаnуа

    Sudаh kаmu diаm ѕаjа biаr tаntе уаng ѕаjаrin kаmu уаh kаtа tаntе Diana раdаku.

    Mulаilаh tаngаnnуа mеngеluѕ реniѕku biаr bаngun kеmbаli tарi аku jugа еnggаk tinggаl diаm аku соbа mеngеluѕеluѕ vаginа tаntе Diana уаng di tumbuhi bulu hаluѕ

    San jilаtin dоnk рunуа tаntе уаh kаtаnуа

    Tаntе Hasan еnggаk biѕа nаnti muntаh lаgi

    соbа ѕаjа San Tаntе рun lаngѕung mеngаmbil роѕiѕi 69 аku di bаwаh, tаntе Diana di аtаѕ dаn tаnра рikir раnjаng tаntе Diana рun mulаi mеngulum реniѕku

    Aсhhhh .. hgghhhghhh. tаntе
    Aku рun ѕеbеnаrnуа аdа rаѕа gеli tарi kеtikа kuсium vаginа tаntе Diana tidаk bеrbаu араара. Aku mаu jugа mеnjilаtinуа kurаng lеbih bаunуа vаginа tаntе Diana ѕереrti wаngi dаun раndаn ( аѕli Aku jugа bingung kоk biѕа gitu уаh ) аku mulаi mеnjilаti vаginа tаntе Diana ѕаmbil tаngаnku mеlераѕkаn kаuѕ u саn ѕее tаntе Diana dаn jugа mеlераѕkаn kаitаn bh nуа , kini kаmi ѕаmаѕаmа tеlаnjаng bulаt ,

    Tаntе Diana рun mаѕih аѕуik mеngulum реniѕku уаng mаѕih lауu kеmudiаn tаntе Diana mеnghеntikаnnуа dаn bеrbаlik mеnghаdарku lаngѕung mеnсium bibirku dеngаn nаfаѕ уаng реnuh nаfѕu dаn mеndеru

    Kаmu tаhu еnggаk mаndi kuсing San kаtа tаntе Diana.
    Aku hаnуа mеnggеlеngkаn kераlа dаn tаntе Diana рun lаngѕung mеnjilаti lеhеrku mеnсiuminуа ѕаmраiѕаmраi аku mеnggеlinjаng hеbаt , сiumаnnуа bеrlаnjut ѕаmраi kе рutingku dikulumnуа di jilаtnуа, lаlu kе реrutku, tеruѕ turun kе ѕеlаngkаngаnku dаn реniѕku рun mulаi bеrеаkѕi mеngеrаѕ.

    Dijilаtinуа раhа ѕеbеlаh dаlаmku dаn аku hаnуа mеnggеlinjаng hеbаt kаrеnа di bаgiаn ini аku tаk kuаѕа mеnаhаn rаѕа gеli саmрur kеnikmаtаn уаng bеgitu dаhѕуаt. Tаntе Diana рun lаngѕung mеnjilаti реniѕku tаnра mеngulumnуа ѕереrti tаdi diа mеnghiѕарhiѕар bijiku dаn jugа tеruѕ ѕаmраiѕаmраi lubаng раntаtku рun di jilаtinуа ѕаmраi аku mеrаѕаkаn аnuѕku mаѕuk kеluаr.

    Kulihаt рауudаrа tаntе Diana mеngеrаѕ, tаntе Diana mеnjilаti ѕаmраi kе bеtiѕku dаn kеmbаli kе bibirku di kulumnуа ѕаmbil tаngаnnуа mеngосоk реniѕku, tаngаnku рun mеrеmаѕ рауudаrа tаntе Diana. Entаh mеngара аku jаdi ingin mеnjilаti vаginа tаntе Diana, lаngѕung tаntе Diana ku bаringkаn dаn аku bаngun lаngѕung ku jilаti vаginа tаntе Diana ѕереrti mnjilаti еѕ krim
    Aсhhh.uhh.hhghh.ассh San еnаk bаngеt tеruѕ San, уаng itu iѕер jilаtin San kаtа tаntе Diana ѕаmbil mеnunjuk ѕеѕuаtu уаng mеnоnjоl di аtаѕ bibir vаginаnуа.

    Aku lаngѕung mеnjilаtinуа dаn mеnghiѕарnуа , bаnуаk ѕеkаli lеndir уаng kеluаr dаri vаginа tаntе Diana tаnра ѕеngаjа tеrtеlаn оlеhku

    San mаѕukin dоnk tаntе еnggаk tаhаn nih

    Tаntе gimаnа саrаnуа ?
    Tаntе Diana рun mеnуuruhku tidur dаn diа jоngkоk diаtаѕ реniѕku dаn lаngѕung mеnаnсарkаnnуа kе dаlаm vаginаnуа. Tаntе Diana nаik turun ѕереrti оrаng nаik kudа kаdаng mеlаkukаn gеrаkаn mаju mundur. Sеtеngаh jаm kаmi bеrgumul dаn tаntе Diana рun mеngеjаng hеbаt

    San tаntе mаu kеluаr nih еghhhh.huhh асhh kаtа tаntе Diana

    Akuрun di ѕuruhnуа untuk mеnаik turunkаn раntаtku dаn tаk lаmа kurаѕаkаn аdа ѕеѕuаtu уаng hаngаt mеngаlir dаri dаlаm vаginа tаntе Diana. Hmm ѕungguh реngаlаmаn реrtаmаku dаn jugа kurаѕаkаn vаginа tаntе Diana munguruturut реniѕku dаn jugа mеnуеdоtnуа. Kurаѕаkаn tаntе Diana ѕudаh оrgаѕmе dаn реrmаinаn kаmi tеrhеnti ѕеjеnаk.
    Tаntе Diana tidаk mеnсаbut реniѕku dаn mеmbiаrkаnуа di dаlаm vаginаnуа

    San nаnti kаlаu mаu kеnсing kауа tаdi bilаng уаh рintа tаntе Diana раdаku

    Akuрun lаngѕung mеngiуаkаn tаnра mеngеtаhui mаkѕudnуа dаn tаntе Dianaрun lаngѕung mеngосоk реniѕku dеngаn vаginаnуа dеngаn роѕiѕi уаng ѕереrti tаdi

    Aсhh tаntе еnаk bаngеt асhhhh,.gfggfgfg.. kаtаku dаn tаk lаmа аku рun mеrаѕаkаn hаl уаng ѕереrti tаdi lаgi

    Tаntе Hasan kауаnуа mаu kеnсing niih
    Tаntе Diana рun lаngѕung bаngun dаn mеngulum реniѕku уаng mаѕih lеngkеt dеngаn саirаn kеwаnitааnуа, tаnра mаlu diа mеnghiѕарnуа dаn tаk lаmа mеnуеmburlаh саirаn mаniku untuk уаng kе 2 kаlinуа dаn ѕереrti уаng реrtаmа tаntе Diana рun mеnеlаnnуа dаn mеnghiѕар ujung kераlа реniѕku untuk mеnуеdоt hаbiѕ mаniku dаn аkuрun lаngѕung lеmаѕ tарi diѕеrtаi kеnikmаtаn уаng аlаng kераlаng nikmаtnуа.

    Kаmiрun lаngѕung mаndi kе kаmаr mаndi bеrduа dеngаn tеlаnjаng bulаt dаn kаmi mеlаkukаnnуа lаgi di kаmаr mаndi dеngаn роѕiѕi tаntе Diana mеnungging di рinggir bаk mаndi. Aku mеlаkukаnnуа dеngаn сеrmаt аtаѕ аrаhаn tаntе Diana уаng hеbаt.

    Sеlаѕаi itu jаm рun mеnunjukаn рukul 1 ѕiаng lаngѕung mаkаn ѕiаng dеngаn tеlur dаdаr buаtаn tаntе Diana, ѕеtеlаh itu kаmiрun сараi ѕеkаli ѕаmраiѕаmраi tеrtidur dеngаn tаntе Diana di ѕаmрingku, tарi tаngаnku kuѕеliрkаn di dаlаm сеlаnа dаlаm tаntе Diana.

    Kаmi tеrbаngun раdа рukul 3 ѕоrе dаn ѕеkаli lаgi kаmi mеlаkukаnnуа реrmintааn tаntе Diana, tераt jаm 4:30 kаmi mеnеnggаkhiri dаn kеmbаli mаndi, dаn rоmbоngаn ibuibu рun рulаng рukul 6 ѕоrе.

    San kаmu ѕudаh bаikаn ? tаnуа mаmi ku

    Sudаh mаm , аku ѕudаh ѕеgеr n fit nih kаtаku

    Kаmu kаѕih mаkаn ара Ni, ѕi Hasan ѕаmраiѕаmраi lаngѕung ѕEhаt tаnуа mаmi ѕаmа tаntе Diana
    Hаnуа bubur ауаm ѕаmа mаkаn ѕiаng tеlur dаdаr tеruѕ ku kаѕih ѕаjа раnаdоl kаtа tаntе Diana

    Eѕоknуа kаmiрun рulаng kе jаkаrtа dаn di mоbilрun аku duduk diѕаmрing tаntе Diana уаng ѕеmоbil dеngаnku. Mаmi уаng mеnуuрir ditеmаni ibu hеrmаn di dераn.

    Didаlаm mоbilрun аku mаѕih сuriсuri mеmеgаng bаrаngnуа tаntе Diana.

    Sаmраi ѕеkаrаngрun аku mаѕih ѕukа mеlаkukаnnуа dеngаn tаntе Diana bilа rumаhku kоѕоng аtаu tеrkаdаng kе hоtеl dеngаn tаntе Diana. Sеkаli wаktu аku реrnаh mеngеluаrkаn ѕреrmаku di dаlаm ѕаmраi 3 kаli.

    Kini tаntе Diana рun ѕudаh dikаruniа 2 оrаng аnаk уаng саntik. Bаru kukеtаhui bаhwа ѕuаmi tаntе Diana tDianaаtа еjеkulаѕi dini. Kiniрun аku bingung аkаn аnаk itu. Yаh bеgitulаh kiѕаhku ѕаmраi ѕеkаrаng аku tеtар mеnjаdi PIL tаntе Diana bаhkаn аku jаdi lеbih ѕukа dеngаn wаnitа уаng lеbih tuа dаriku.
    Pеrnаh jugа аku mеnеmаni ѕеоrаng kеnаlаn tаntе Diana уаng nаѕibnуа ѕаmа ѕереrti tаntе Diana mеmрunуаi ѕuаmi уаng еjеkulаѕi dini dаn ѕukа dаun mudа buаt оbаt аwеt mudа, dеngаn mеnеlаn аir mаni рriа mudа.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Ingin Sekali Mencobanya

    Cerita Sex Ingin Sekali Mencobanya


    1717 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Ingin Sekali Mencobanya ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Kejadian ini bermula saat hujan turun dengan lebatnya , saat itu aku masih dikampus dan ingin pulang ke kost karena kost kostan ku jauh maka dari itu aku diantar oleh teman kampusku yang bernama Fuad kami berteduh di kosnya Irul diman dia adalah sahabatnya Fuad karena tak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan terpaksa kami berteduh di kosnya Irul.

    Untuk mengisi waktu, Fuad memutar VCD porno yang ada di kamar Irul dan aku ikut menontonnya karena sebenarnya aku sudah biasa menonton film begituan sebelum bercinta dengan pacarku yang dulu. Makin lama kami bertiga makin hanyut dalam hayalan di tengah lenguhan dan jeritan sang bintang biru di layar kaca.

    Ketika adegannya memperlihatkan seorang cewek tengah digarap oleh dua lelaki, aku mulai merasa tidak karuan. Entah mengapa aku selalu sangat terangsang bila melihat adegan-adegan seperti itu, dan kurasa mereka berdua pun demikian karena sesekali mereka mencuri pandang menatapku dengan aneh.

    Timbul pikiran dalam kepalaku membayangkan aku lah yang sedang di layar TV menikmati sorga dunia yang tiada tara itu. Kulihat kedua pria di kiri kananku semakin gelisah, dan dengan curi-curi kulihat benda di balik celana mereka mulai menggembung.

    Aku mulai menebak-nebak ukuran kedua benda itu dalam hatiku dan berharap mereka melakukan sesuatu duluan, sebab aku semakin tidak kuasa menahan gelora birahiku. Kurasakan celanaku mulai basah menyaksikan adegan-adegan panas dan seru itu.

    “Kamu pernah ML?” tanya Irul memecah kebisuan.

    “Pernah, dulu dengan mantanku. Emangnya kenapa?” jawabku menggoda.

    “Nggak pa-pa, cuma nanya. Ada nggak impian kamu yang belum terjadi?”

    “Yah.., jujur saja aku suka membayangkan bagaimana rasanya kalo ditiduri oleh dua laki-laki sekaligus seperti dalam film-film yang itu lho.” jawabku setelah ragu sejenak.

    “Mau nggak kalo sekarang?” tanya Fuad dengan tersenyum menggoda dan aku jadi sangat ingin mencobanya.

    “Tergantung.., penis kalian besar atau nggak. Soalnya aku juga pengen merasakan kepuasan yang total. Gimana?” tantangku.

    “Nggak usah takut deh, taruhan kamu pasti akan sangat puas, dan aku malahan kuatir kamu nggak bakal kuat ngadepin kita. Lihat nih..

    ” sambil berdiri Irul membuka celananya sekaligus sampai benda favoritku itu muncul mendadak di depan hidungku.

    Gila panjang banget, bahkan lebih panjang dari penis mantanku dulu. Aku hanya dapat menatap takjub. Pasti tidak akan muat deh mulutku mengemut penis sepanjang itu.

    Sementara itu Fuad rupanya sudah tidak dapat menahan nafsunya. Dia langsung mendekatiku dan meremas payudaraku yang tidak terlalu besar tapi aku yakin pasti memuaskan, karena montok dan indah bentuknya.

    Aku melenguh pelan menerima serangan mendadak itu. Irul menarik rambutku dan kumengerti sebagai isyarat untuk mulai mengemut ‘adik’-nya itu. Kukecupi ujung penisnya dengan lembut dan mulai menjilati perlahan mulai dari bawah hingga ke ujungnya dengan maksud ingin menggodanya.

    Irul mulai mendesah nikmat membuatku semakin bersemangat untuk membuat desahan itu semakin keras.

    “Oohh.., yes.., terus Han.., Kamu memang pintar.”

    “Ungongg.. umh..” jawabku tidak jelas dengan batang kemaluan sepanjang 20 senti di dalam mulutku.

    “Ooh.. kontolmu enak sekali Yang. Uhmp.. sroot.. wow.. aku.. oohh..” aku semakin tidak terkendali menikmati sensasi yang kurasakan.

    “Hana, tetekmu indah sekali. Ouu.., pantatmu juga. Kenapa sih kamu nggak pernah cerita kalo kamu punya badan yang sangat menggoda seperti ini?” puji Fuad sambil menjilati putingku yang sudah menegang dan agak besar karena sering dihisap oleh pacarku.

    Tangannya membelai pantatku dengan lembut dan diselingi dengan remasan dan cubitan gemas yang cukup sakit namun merangsang.

    Aku agak terkejut ketika kusadari ternyata Fuad telah membuka seluruh pakaianku sehingga aku betul-betul bugil di hadapan mereka berdua.

    Namun efek melihatku bugil serta kuatnya hisapanku dan frekuensi kocokan pada batang kemaluannya ternyata sangat berpengaruh, sehingga Irul cepat mencapai orgasme dan memuntahkan maninya di dalam mulutku yang langsung kutelan dengan rakusnya. Uuh.., rasanya enak sekali.

    “Enaknya.., sini Yang kujilati lagi jangan sampai tercecer.” rengekku sambil menarik lagi penis Irul ke dalam mulutku dan menjilatinya dengan liar.

    Tanganku yang kiri mendorong kepala Fuad makin rapat dengan dadaku, sementara dadaku sendiri kulambungkan ke arahnya. Aku tidak perduli lagi dianggap apaan, pokoknya aku ingin menikmati surga dunia ini dengan seluruh jiwa ragaku. Di sini saatnya sisi diriku yang lain yang selalu tertutupi oleh predikat mahasiswi teladan boleh muncul tanpa perlu malu.

    Fuad kemudian mengambil alih tubuhku. Diaturnya sedemikian rupa di atas tempat tidur dengan posisi kaki mengangkang di tepi tempat tidur, sehingga vaginaku yang berwarna pink tersibak dengan jelas di antara bulu-bulu halus dan Fuad langsung berlutut di depan selangkanganku.

    Tangannya membelai daerah pinggul lalu turun, berputar dan berhenti di vaginaku, memainkan klitorisku setelah membuka belahan bibir bawahku setengah kasar.

    “Oh ya.. oouu enak.. Hmmph..”

    “Cantiknya..”

    “Oouu..

    ” aku menjerit pelan ketika dia mencubit klitku.

    Kedua tangannya lalu membuka bibir vaginaku lebih lebar lagi dan kusambut dengan lebih mengangkangkan kakiku agar dia lebih leluasa mempermainkan vaginaku. Kurasakan lidahnya menyentuh bagian dalam vaginaku perlahan, lalu semakin liar membuatku bergerak tidak karuan mengimbangi serangan-serangan Fuad.

    “Teruss Yang..

    Jangan berhenti.., Oh yeah.. enak banget.”

    Kugerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan, kadang ke atas menahan rasa geli dan nikmat. Jeritanku mulai mengisi kamar itu mengalahkan jeritan dalam VCD, dan itu tampaknya semakin membakar nafsu kedua lelaki itu.

    “Aaww yess..

    ” seruku ketika Fuad menggigit kacang yang sangat sensitif itu.

    Kugerakkan tanganku mencari kepalanya dan kuremas rambutnya sambil terus mendorong agar kepalanya tetap berada di vaginaku.

    “Irul udah dong istirahatnya, sini kontolmu kuisap lagi..

    ” pintaku manja.

    Irul tersenyum dan mendekatiku, mencium bibirku dengan ganas, kusambut permainan lidahnya dengan bersemangat pula. Lidahnya berputar liar dalam mulutku beradu dengan lidahku, dan kami terus mencoba menghisap lidah satu sama lain, nikmat sekali

    Puas bermain di mulutku, dia meneruskannya di belakang telingaku, menghisap setiap senti leherku hingga turun ke dadaku menyentuh payudaraku yang putih dan menegang.

    Dengan rakus dihisapnya payudaraku seakan ingin dimasukkannya semua ke dalam mulutnya, sementara tangannya meremas puting kiriku dan memutar-mutarnya. Aku melenguh habis-habisan diserang dari dua sudut sumber birahiku.

    Tapi aku tidak menyerah begitu saja setiap bagian tubuh Irul yang berhasil kupegang segera pula kubalas menghisapnya, tanganku yang satu meremas rambut Fuad, sedangkan yang lain mencari dan membelai bagian tubuh Irul.

    Melihat serangan Irul, Fuad pun tidak mau kalah membuatku menjerit nikmat dengan mejilati lubang pantatku. Aku agak terkejut karena baru sekali ini merasakannya, namun menikmatinya juga. Entah apalagi yang dilakukannya, aku tidak perduli lagi walaupun sakit yang penting itu dapat membuatku semakin nikmat.

    “Udah Sayang.., oh.. masukkan sekarang, aku dah nggak tahan lagi. Please..
    ” au benar-benar tidak sabaran lagi dipenuhi oleh nafsu untuk segera merasakan nikmatnya vaginaku dimasukki batang kemaluan mereka.

    “Ayo dong..

    Oouhh.. udah stop, memekku udah gatal nih..”

    “Sabar dong Han, baru juga segini. Bentar lagi deh, aku masih mo mainin memekmu. Aku suka sih baunya, harum.. nggak seperti bau memek pacar-pacarku dulu.”

    “Jelas dong. Kan punyaku kurawat tiap hari pake pembersih khusus wanita, so pasti harum dong.”

    “Cepeten dong friend, aku kan juga mau ngerasain memeknya. Masa dari tadi aku kebagian mulutnya aja?” protes Irul. Aku tersenyum.

    “Jangan kuatir nanti pasti kebagian. Pokoknya terserah deh kalian mo ngapa-ngapain aku hari ini, I’m yours..

    ” hiburku di sela-sela desahan.

    “Sayang ayo kontolmu..

    ” kumiringkan badanku meraih penis Irul di sampingku dan segera mengemutnya bagaikan es krim.
    Kuvariasikan hisapanku dengan jilatan pada buah zakarnya hingga batang sampai ujung penisnya dengan gigitan kadang pelan kadang keras yang pasti membuatnya ‘nggak ku-ku’.

    Taktikku itu berhasil. Irul langsung ‘blingsatan’ tidak karuan setengah mendesah setengah memaki dan menjambak rambutku, meremas payudaraku keras-keras hingga memerah. Aku mengeluarkan jeritan tertahan berhubung batang kemaluannya tengah kuhisap.

    “Huumph.. enaknya. Aku ketagihan nih ama kontolmu..

    ” godaku sambil menatap wajahnya.

    Irul menjawab dengan menjambak rambutku lebih keras dan menyentakkan penisnya ke dalam mulutku sampai aku tersedak namun dia tidak perduli. Permainannya semakin kasar dengan menggigit leherku dan memaksa hisapanku semakin keras, tapi aku menyukai cara-caranya. Kini tubuh bugilku penuh cairan campuran keringat dan liur mereka.

    Fuad menggosok batang kemaluannya di daerah vaginaku, dan tiba-tiba dengan sekali sentakan keras dia mendorang penisnya masuk ke vaginaku. Satu menit dibiarkannya di dalam, diam alu dikeluarkannya lagi, didorongnya lagi lalu dikeluarkan lagi, mula-mula secara perlahan namun kemudian semakin cepat. Kedua kakiku dipakainya untuk berpegangan agar pinggulnya mudah digerakkan.

    “Oh yeah.. oh yeah.. oouu terus oh Sayang enak sekali. Ohh.. lebih keras, yeah. Lebih keras lagi, auww sakit..

    Enak, nikmat..

    ” cerocosanku berhenti ketika Irul memasukkan kembali batang kemaluannya ke dalam mulutku dan membuatku sibuk melayaninya.

    “Ohh.. Sheet..

    Memekmu rapat sekali Han, sakit tapi enak..

    Oh yeah..

    Ayo.., enakkan..? Oukh.. yeah..

    ” Fuad bergumam tidak karuan, sesekali ditepuknya pinggulku dengan keras, membuatku tersentak kesakitan.

    Bosan dengan posisi demikian, Irul mengambil alih vaginaku, dan tanpa basa-basi langsung menusukkannya di lubang kenikmatanku. Saking panjangnya, kupikir liangku tidak akan muat menelan seluruh batang penisnya sampai ke pangkalnya.

    Aku menjerit keras ketika Irul memaksa penisnya agar masuk sedalam mungkin. Kurasakan kemaluannya menyentuh dinding rahimku. Posisiku kini berubah, bukan tiduran lagi namun agak jongkok, karena Fuad telah berbaring di depanku meminta jatah kocokan mulutku yang mungil ini.

    Seperti dugaanku, batang kemaluan Fuad tidak lah sepanjang punya Irul, tapi tidak juga pendek, namun lingkar diameternya lebih besar dari Irul, sehingga tetap saja aku kewalahan menghisapnya berhubung bibirku kecil.

    Aku berjongkok di antara kedua tungkainya dan bertumpu pada kedua sikuku, sementara Irul dengan ganasnya menusukkan penisnya ke dalam vaginaku sambil memaki-maki dan melenguh kenikmatan.

    Agar tidak terlalu keras menjerit menahan serangan Irul, aku mencoba berkosentrasi pada batang penis Fuad dan mulai bekerja menjilat, menghisap, menggigit dan mengocoknya dengan bersemangat seirama dengan sodokan yang kuterima dari arah kemaluanku.

    “Uhh.. mmph.. kontolmu besar juga Yang, enak..

    ” pujiku.

    Fuad tidak menjawab karena sedang menikmati sensasi pijatan mulutku. Kuputar-putar ke kiri dan ke kanan di dalam mulutku sambil kuhisap dalam-dalam, kutahan lalu kulepaskan setelah sekian detik membuatnya meringis nikmat.

    Tidak ada kata lain memang yang dapat mewakili perasaan yang kami alami selain nikmat yang tiada tara. Aku sangat menikmati peranku melayani kebutuhan seksual dan menjadi objek pemuas nafsu mereka.

    “Irul, aku mau keluar. Oouu.. Ooohh yeah..

    Aahh..

    ” jeritku ketika mencapai orgasme.

    Irul tetap liar menyodok liangku, sesekali tangannya bergerak ke bawah mencari klitorisku dan mencubitnya sampai aku menjerit antara sakit dan nikmat. Selanjutnya berbagai posisi mereka atur tubuhku, sementara aku hanya dapat menurut disuruh apa saja, sebab seluruh tubuhku pasrah menerima perlakuan mereka.

    Badanku gemetar hebat melepas orgasme berkali-kali, tapi mereka tetap saja belum orgasme. Bergantian mereka menggarap vaginaku, sementara aku terus berusaha mengimbangi mereka. Bagaimanapun aku tidak mau kalah menunjukkan kebinalanku di tempat tidur, dan kurasa mereka sangat terkesan melihatku sangat hebat bergerak liar dan menjerit-jerit.

    Kami semakin hanyut dalam gelorah nafsu birahi, hingga akhirnya aku mau keluar. Fuad semakin keras menyodokku, lalu tiba-tiba ditariknya penisnya dan dibawa ke mulutku. Aku segera menyingkirkan batang kejantanan Irul dari mulutku dan menyambut penis Fuad dengan terburu-buru.

    “Oh cepat sini Sayang..

    Biar kuemut sampai keluar, Ooohh..

    Kuhisap cepat dan kukocok batang kemaluannya di dalam mulutku, semantara penis Irul sudah nangkring di sarangnya mengaduk-aduk vaginaku. Dalam beberapa menit, muncratlah sperma Fuad memenuhi rongga mulutku dan kutelan setelah kumainkan sejenak.

    Semprotan kedua muncrat mengenai seluruh wajahku dan semprotan ketiga sebagian berhasil kutangkap dalam mulutku, namun sebagian sukses membasahi wajahku pula.

    “Hmm.. banyak sekali spermamu Yang, enak..

    ” kataku sambil menjilati penisnya, membersihkan sisa-sisa sperma yang masih tertinggal.
    “Udah dong Hana. Geli nih..

    Nggak usah rakus gitu, nanti juga bisa kok kamu dapatin. Tenang aja.. asal memekmu masih bisa kuubek-ubek, spermaku juga masih bisa kamu nikmati.” ujarnya kegelian.

    Akhirnya kurelakan batangnya pergi dari mulutku.

    Karena wajahku penuh sperma, maka kubersihkan dengan jari-jariku dan kujilati setiap jari untuk mendapatkan sperma yang tercecer itu. Sejak pertama kali pacarku menyuruh menelan spermanya, aku langsung tergila-gila dan jatuh cinta menelan setiap sperma dari laki-laki yang meniduriku.

    Aku asyik mengemut jari-jariku sendiri sambil menjerit menikmati sodokan-sodokan Irul yang semakin cepat. Pasti sebentar lagi dia off. Benar saja kataku, tidak lama kemudian kurasakan otot-ototnya makin tegang pertanda maninya udah di ujung penis. Cepat-cepat kutarik vaginaku.

    “Tahan Yang bentar..

    ” aku langsung bergegas bangun dan turun dari tempat tidur, lalu berlutut di depan batang penisnya dan menyambarnya masuk ke mulutku.

    Irul meringis ketika kemaluannya kuhisap dan kukocok kuat berkali-kali.
    “Oh yeah.. terus..

    Hampir, ayo Hana..

    Ohh.. Aahh..

    ” seruannya membahana keluar mengiringi muncratnya cairan putih susu yang kental dan hangat dalam rongga mulutku.

    Enaknya, aku terus menghisap dengan rakus tidak ingin ada setetes sperma pun luput dari mulutku.

    Irul berkali-kali memuncratkan lahar putihnya itu hingga akhirnya dia terduduk lemas di tempat tidur, tapi aku tetap tidak berhenti. Kuhisap batang kemaluannya dan kubersihkan dengan lidahku sampai benar-benar bersih. Fuad menonton adegan itu dari sudut kamar di atas sebuah kursi sambil memegang batang kemaluannya menatap pinggulku yang terangkat naik memperlihatkan vaginaku yang membengkak dan berair.

    Sedang asyiknya aku menjilati batang kemaluan Irul dan bergerak ke atas ke arah pusarnya, tiba-tiba Fuad bangkit dan meremas pinggulku. Kedua tangannya membuka belahan pantatku dan berlutut di belakangku, tepat di antara kedua pahaku dan mulai menjilati vaginaku ramai sekali hingga berbunyi kecipak-kecipuk. Hisapannya pada klitorisku kembali menaikkan birahiku, dan aku semakin bersemangat menjilati seluruh badan Irul yang terbaring kelelahan.

    “Han.. sodomi ya..?” pinta Fuad setelah sekian lama mengerjai daerah vaginaku dan sekitarnya.

    “Terserah tapi pelan-pelan ya, aku belum pernah soalnya.” kataku di antara kesibukan mengecup dan membelai dengan lidah bagian dada Irul yang ditumbuhi bulu-bulu subur naik ke lehernya dan mendarat di bibirnya.

    “Tenang aja, nggak kalah nikmat kok, sekali mencoba pasti ketagihan.” ujar Irul pelan menggenggam rambutku dan melumat bibirku dengan ganas sampai seisi mulutku pun tidak luput dari perhatian liarnya.

    Dengan posisi doggy style di atas, tubuh Irul asyik bertukar-tukar ludah, Fuad meludah tepat di lubang duburku dan menusuk-nusukkan ibu jarinya untuk melicinkan jalan penisnya nanti. Dan, bless.., aku menancapkan kuku-kukuku di bahu Irul menahan rasa sakit ketika Fuad menusukkan batang kejantanannya ke dalam anusku.

    Aku ingin berteriak tapi Irul telah membungkam mulutku dengan lidahnya yang liat. Fuad terus memompa anusku dengan penisnya yang berdiameter super itu makin lama makin cepat dan mencengkram pinggulku erat-erat, mengayunkannya berlawanan dengan arah sodokannya hingga menimbulkan tumbukan yang luar biasa enak.

    Irul rupanya mulai pulih kekuatannya, dia menggeser badannya hingga batang kemaluannya itu tepat berada di depan mulutku. Tanpa basa basi, kusambut batang kemerahan yang telah memberikan aku nikmat tiada terkira itu dengan servis istimewa. Kutusukkan ujung lidahku tepat di lubang saluran penisnya berkali-kali dan kuhisap kuat-kuat hanya pada ujungnya saja.

    “Auwww..yes pintar kamu girl

    Tanganmu sini genggam buah zakarku biar lebih enak.”

    Kuturuti permintaanya dan kelima jari-jari lentikku mulai membelai, meremas buah zakarnya dan kulanjutkan dengan mengocok batang kemaluannya mengimbangi hisapanku dan sodokan Fuad. Irul langsung merem melek menikmati pelayananku.

    “Kenapa? Enak ya Yang..? Uuhh.. ouw.. enaknya. Liat nih..

    ” kutepuk-tepukkan penisnya di daerah mulutku sambil kuberikan dia senyum dan tatapan menggoda alias mesum.

    Kuangkat kedua tungkainya dan kususupkan kepalaku ke bagian pantatnya hingga dadaku rebah menyatu dengan kasur meski pahaku masih dalam posisi doggy style. Kujilati daerah anusnya hingga Irul merintih kegelian. Semakin dia meringis semakin terbakar nafsuku untuk memberinya kepuasan dari seluruh tubuhku.

    Jilatanku berganti dengan hisapan dan tusukan ibu jariku ke dalam liang anusnya. Kubuang rasa jijikku, yang ada hanyalah hasrat ingin melayani dan memberikan kepuasan kepada kedua jagoanku itu. Lama-lama aku merasa menjadi pelacur ahli tempat pemuas nafsu seksualitas mereka, namun anehnya aku malah semakin merasa horny dengan perasaan demikian.

    Dengan rasa itu, ditambah pula desakan dalam duburku, akhirnya aku tidak tahan lagi dan menjerit keras melepas orgasmeku yang entah untuk keberapa kalinya terjadi, dan tubuhku bergetar hebat sementara kemaluanku menyemburkan cairan kental yang hangat. Fuad segera menusukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke dalam vaginaku sambil terus bergoyang maju mundur.

    “Oh.. jepitanmu kuat sekali Han. Jariku sampai berdenyut-denyut di dalam. Bagaimana rasanya..? Asyikkan..?”

    “Asyik sekali Yang. Oohh.. akh.. hmpm.. aku nggak kuat lagi.” timpalku dengan memelas.

    Irul langsung mengambil inisiatif, diangkatnya tubuhku ke atas tubuhnya lagi seperti pada posisi awal dan langsung memberikan rangsangan maut pada kedua buah dadaku yang memerah dan membengkak akibat hisapan-hisapan mereka.

    Aku hanya mampu rubuh di atas dadanya dan membiarkan tangannya sibuk menjelajahi buah dadaku, bibirnya pun tidak mau kalah menjilati belakang telingaku dan leherku.

    Dengan sekali jambakan kuat pada rambutku, dia memaksaku bertumpu pada kedua tanganku dan mengulum bibirku. Aku hanya pasrah menerima semuanya, bagaimanapun toh aku menyukai kekasarannya, juga pada saat dia mengangkat pinggulku dan langsung menancapkan penisnya dalam vaginaku.

    Oh Tuhan, sungguh sensasi yang luar biasa dimana ketiga lubang sex-ku terisi semua. Satu di lubang vaginaku, satu penis lainnya di lubang anusku berlomba memacu maju mundur berirama liar, sementara di mulutku lidah Irul pun bergerak liar maju mundur menghisap lidahku.

    Jika saja kiamat akan datang saat itu, aku takkan menyesal karena aku berada pada puncak kenikmatan paling dasyat yang membuatku melayang ke surga.

    Tempat tidur spring bed Irul berderak-derak seirama dengan gerakan kami. Mungkin orang di luar kamar ini pasti mendengarnya, namun aku tidak perduli lagi, bahkan aku ingin menjerit memamerkan keadaanku yang sedang disenggamai kedua lelaki jantan ini. Napasku memburu dan kutekankan buah dadaku di dada Irul sambil terus mengulum lidahnya.

    “Ayo Sayang, oh.. goyang teruss..

    Oh.. ya.. akh.. shh..

    ” desahku di antara lidah Irul.

    Peluh kami banjir memenuhi tubuhku dan seprei coklat sampai akhirnya tiba-tiba Fuad berteriak keras dan kurasakan cairan hangat itu tumpah dalam anusku. Aku merapatkan lubang anusku menjepit penis Fuad dan menahannya tetap di dalam anusku hingga sensasi itu hilang. Fuad menampar pinggulku keras sekali sambil memaki tidak jelas, lalu mencabut batang kemaluannya dan rebah di samping kami.

    Aku segera menegakkan badan dan gantian kini aku yang memompa Irul. Kuturun-naikkan pinggulku semakin cepat hingga tusukan penis Irul terasa sangat nikmat. Gerakan demikian sangat menguras tenagaku, sehingga tidak lama aku tidak sanggup lagi mengangkat pinggulku, namun rupanya Irul tidak mau melepaskan kenikmatan itu, maka dia lalu ganti mengangkat pinggulku dan melakukan gerakan seperti tadi.

    Tanpa melepaskan penisnya dari liang sanggamaku, Irul membalik posisi kami hingga aku terbaring di kasur dengan kaki mengangkang ke atas, sementara Irul duduk tegak dan melanjutkan kegiatan mengocoknya.

    Dengan posisi demikian aku lebih leluasa meremas payudaraku sendiri dan bergoyang erotis sambil sesekali menarik dan menjepit putingku dan mendesah halus. Menyaksikan aku yang bergerak erotis, Irul semakin mempercepat frekuensi sodokannya plus gigitannya pada betisku. Tidak lama kemudian dia mulai menegang.

    “Han.., udah hampir nih..

    “Jangan, jangan dicabut dulu Yang, aku juga hampir..

    ” pintaku memelas dan kini aku pun ikut menggoyangkan pinggulku berlawanan arah dengan dorongan pantat Irul.

    “Keluarin dalam ya?” bujuk Irul.

    “Ter.. se.. rahh.. akkhh..

    ” aku memuntahkan lagi cairan orgasmeku.

    “Ohh.., enaknya jepitanmu Han. Oh.., ash.., shshsh.., aakhh..

    ” cairan hangat yang kugilai itu tumpah dalam vaginaku dan aku sangat terkesan oleh sensasi yang ditimbulkannya karena sebenarnya baru pertama kali ini aku membiarkan sperma memenuhi vaginaku. Aku sangat menjaga agar jangan sekali pun ada sperma yang menyentuh daerah vaginaku, sebab aku tidak ingin hamil, tetapi hari ini aku lupa akan kekhawatiranku itu.

    Aku ingin merasakan semua fantasi-fantasiku selama ini, lagipula kalau hitunganku tidak salah hari ini aku masih dalam masa tidk subur.

    Irul lalu mengeluarkan penisnya dari vaginaku dan rebah di sebelah kananku meninggalkan aku yang masih gemetar dengan anus dan vagina basah penuh sperma. Kakiku tetap kubuka lebar agar aku dapat merasakan sperma yang mengalir di bibir-bibir vaginaku yang masih berdenyut-denyut kencang. Kedua lelaki tadi terbaring dengan mata tertutup entah tertidur atau berpikir. Aku pun tidak dapat menahan kantuk dan segera tertidur kelelahan dalam posisi tadi.

    Ketika aku bangun hujan telah berhenti, kulirik jam di tembok ternyata sudah jam 4 lewat, tangan kananku bergerak otomatis ke arah vaginaku, sedangkan tangan kiriku mencari Irul ataupun Fuad, namun ternyata mereka sudah tidak ada di sampingku.

    “Akh.., kemana sih mereka?” aku bergegas berdiri mencari bajuku atau minimal CD dan BH-ku, namun aku tidak mendapatinya. Yang kudapat akhirnya hanyalah kemeja dan rokku saja. Akhirnya tanpa mengenakan BH dan CD aku memakai baju dan rokku dan segera merapikan diri, di luar terdengar tawa beberapa orang yang kupikir pasti Irul atau Fuad dengan teman-temannya.

    Setelah yakin penampilanku sempurna, aku segera keluar mendapati mereka dengan maksud meminta Fuad mengantarku pulang. Benar saja di ruang tengah ternyata Irul dan Fuad berkumpul bersama teman-temannya lagi asyik ngobrol dan nonton film triple X.

    Begitu aku muncul, mereka langsung terdiam dan menatapku dengan ganjil. Memang tanpa BH payudaraku dengan puting yang mencuat tegang tampak jelas di balik kemeja kuning muda dan sangat tipis ini, dan itulah mungkin yang menyebabkan mereka terbelalak menatapku.

    “Udah bangun Han? Sini duduk sini yuk. Kenalin nih teman-temanku. Itu Rudi, Adi, Dias, Deni dan Lilo.” Irul memperkenalkan temannya satu persatu.

    Setelah menjabat tangan mereka, aku pun ditarik duduk di antara Irul dan Fuad, lalu ikut menyaksikan adegan panas di TV. Kami pun terlibat obrolan menarik seputar sex dan ML selama kurang lebih satu jam sambil sesekali mereka menggerayani tubuhku.

    “Fuad udah sore nih, antarin aku pulang dong..

    Belum mandi nih.” kataku sambil mengancingkan kemejaku dan merapikan rokku yang telah tersingkap kesana kemari. Aku takut kalau lama-lama di sini jangan-jangan aku dikerjai mereka semua disuruh melayani nafsu mereka. Bukannya aku tidak mau, sebenarnya aku malah tergoda sekali untuk merangsang mereka, tapi aku malu lah mengingat selama ini kan aku dikenal sebagai cewek ‘baik-baik’ dan aku belum siap kehilangan predikat itu.

    “Ok deh, yuk..”

    Aku segera mengambil tas dan buku-bukuku dari kamar Irul dan diantar pulang oleh Fuad. Sebelum mandi aku menatap tubuh bugilku di depan kaca dan mengusap bekas-bekas cupangan Irul dan Fuad di sekujur badanku terutama daerah payudara, perut sampai di bawah pusarku.

    Bulu-buluku menegang kembali mengingat kejadian barusan yang kualami, lalu tanpa sadar aku bermastrubasi di depan kaca, tapi karena tidak kuat berdiri aku membaringkan tubuhku di atas kasur dan mulai mengerjai vaginaku sendiri. Kumasukkan jari telunjuk dan jari tengahku ke dalam vaginaku, lalu mulai mengocoknya sambil meremas putingku bergantian dengan tangan yang satunya.

    Lima belas menit akhirnya aku selesai tapi birahiku masih tinggi, maka kuambil HP-ku dan menghubungi Ken mantan pacarku. Sampai sekarang kami masih tetap berhubungan hanya untuk melepaskan hasrat seksual masing-masing.

    Batang kemaluan Ken memang tidak sebesar punya Fuad apalagi Irul, tapi dia tahu bagaimana memuaskan aku dan membuatku merindukan kocokan mautnya. Satu setengah tahun kami pacaran dan dia telah mengajarkan segalanya tentang bagaimana membuat lelaki puas melepas hasrat mereka dengan membiarkannya melakukan apa saja terhadap tubuh wanita.

    “Halo, Ken? Ke sini dong, aku kangen nih. Udah dua hari kamu nggak ke sini, aku kan kangen mo ngemut lolipopmu. Aku hampir gila nih nggak dikasih jatah. Bilang dong ama Vivi aku juga butuh, bukan cuma dia.” rayuku.

    “Mau tau nggak aku lagi apa? Dengar ya Yang, aku lagi tiduran bugil mastrubasi bayangin kamu. Datang dong..”

    “Ok deh. Tapi aku nggak bisa lama-lama, soalnya jam tujuh nanti ada janji mo temenin Vivi ke pesta. But kamu siap-siap aja ya aku datang bentar lagi.”

    Kututup telponku setelah memberikan ciuman panjang kepadanya.

    Aku langsung bergegas mandi, berdandan dan mengatur kamarku tanpa memakai baju, hanya kulilitkan handuk saja. Kasur kuletakkan di tengah ruangan dan kututupi dengan selembar kain, sebab aku tidak mau nanti malam tidur dengan bau sperma.

    Untungnya kosku ini termasuk bebas dimasuki cowok sampai jam 10 malam, jadi kami bebas melakukan apa saja tanpa perlu khawatir, apalagi khusus saat ini hujan tampaknya akan deras lagi, sehingga aku yakin segaduh apapun kami nanti suaranya akan hilang ditelan deru angin dan hujan.

    Setelah selesai persiapan ruangnya, aku segera mengoleskan baby oil ke seluruh badan agar tampak mengkilap dan seksi plus harum. Tidak lupa aku makan dahulu, tidak terlalu banyak yang penting cukup untuk memberi tenaga, karena aku tahu kalau sudah berhubungan dengan Ken aku pasti tidak bakalan sanggup bangun apalagi makan. Tidak lama setelah aku merapikan dandanan lagi sehabis makan, kudengar pintu diketuk dan aku bergegas membukanya.

    “Hallo cantik,” Ken mencium bibirku dan mencubit pantatku di balik handuk yang kukenakan sebelum masuk dan memutar film blue. Dia memang suka merangsang dirinya dengan menonton film begituan sebelum meniduriku.

    Setelah mengunci pintu aku menyusulnya dan segera kuciumi bibir dan lehernya habis-habisan dengan napas memburu. Aku memang tidak butuh film untuk merangsang diriku, sebab dengan bugil di depan cowok saja dan membayangkan bahwa sebentar lagi aku akan menjerit-jerit kesenangan cukup untuk membuatku merasa horny.

    “Umhh.. aku kangen sekali Yang,”

    Kubuka kancing kemejanya satu persatu sambil kuciumi dadanya, dia tetap tidak bergeming sambil terus menatap layar TV. Kujilati sekujur tubuhnya mulai dari wajah, leher, dada hingga ke perut dan pusarnya, dia hanya mendesah sedikit. Memang cowok ini susah dirangsang, tapi kalau sudah on, wuiihh dasyat..

    Oleh sebab itu meski harus kurendahkan diriku dengan menari-nari erotis menjilat kepala sampai ujung kakinya pun aku rela, bahkan bila aku diharuskan merengek dan menangis memohon padanya untuk sudi menusuk kemaluanku, aku pasti mau.

    Dia telah membuatku bertekuk lutut dan memujanya. Seluruh sendiku terlanjur dibuatnya tergila-gila pada jilatannya, hisapannya, kecupannya, sentuhannya, remasannya, cubitannya, bahkan pada pukulan dan tamparannya. Bercinta dengannya berarti merelakan diri menjadi budak seks yang sangat hina yang hanya dapat menerima perlakuannya tanpa banyak cincong.

    Puas bermain dengan dada dan putingnya, aku membuka ikat pinggangnya dan kurebahkan dirinya di atas kasur agar aku dapat menelanjanginya dengan mudah. Kulempar jauh-jauh handuk yang menutup tubuhku, lalu mulailah aku beraksi merangsangnya, mulai dari kuciumi jari-jari kakinya, kukulum dan kujilat dengan penuh perasaan lalu naik menuju betisnya, kulakukan hal serupa pada sebelah kakinya.

    Kurapatkan kedua kakinya dan kurebahkan badanku di atasnya lalu kugesek-gesekkan buah dadaku hingga bersentuhan dengan bulu-bulu kakinya. Iihh.. gelinya.. merangsang. Kubuka kembali kedua kakinya dan kutekuk, lalu aku masuk di antaranya dan merapatkan wajahku ke selangkangannya. Kumanja dia dengan oral seks kebanggaanku, membuatnya makin lama makin mengerang tidak karuan.

    Akhirnya usahaku tidak sia-sia, bersamaan dengan adegan memancarnya mani pria di film porno itu Ken segera merenggut rambutku dan menarikku hingga rebah di kasur. Aku gemetar dan berdebar-debar menanti luapan birahinya atasku.

    Dengan ahlinya Ken menggerayangi tubuh bugilku dengan lidah dan tangannya sekaligus menyentuh setiap titik rangsangku, membuatku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali mendesah, melenguh dan menggelinjang hebat tatkala sebelah putingku digigit, sedangkan sebelahnya lagi dipelintir jarinya dan tangan satunya sibuk bermain di daerah kemaluanku, sebelum akhirnya kedua jarinya amblas ke dalam vaginaku.

    “Aakkhh.. Ooww yeah..

    ” kugigit bibirku erat-erat mencegah jeritan penuh kenikmatan yang hendak keluar.
    Badanku mulai bergoyang seirama dengan sodokan jari-jarinya di dalam vaginaku. Tanganku bergerak meraih wajahnya dan kukulum bibirnya penuh nafsu. Kubayangkan lidahnya sebagai sebuah penis dan kuhisap dengan semangatnya.

    Kemaluanku pastilah sangat banjir sebab dapat kudengar bunyi kecipaknya beradu dengan tangan Ken semakin jelas. Ken mencabut jarinya dan menarik lidahnya dariku yang langsung memperlihatkan wajah kecewa tapi tidak lama kemudian wajahku segera berubah menjadi meringis nikmat tatkala kurasakan lidah Ken menari-nari di lubang sanggama hingga anusku sambil tidak lupa menghadiahkanku beberapa gigitan di klitoris, bibir vagina dan daerah panggulku.

    Enaknya cumbuan Ken membuatku merintih-rintih dan melambungkan dadaku hingga payudaraku yang bengkak berisi bergoyang-goyang liar menggoda Ken untuk meremasnya sambil tetap menghisap vaginaku menelan semua cairan yang keluar dari vagina merah jambuku ini.

    Adakalanya dia begitu lembut menjilati tubuhku dan membelai seluruh permukaan kulitku, membuatku mendesah nikmat, namun kadang pula dia begitu liar dan kasar melahap semua kenikmatan yang ditawarkan tubuh bugil dan menggoda yang terbaring menyerah tanpa syarat kepadanya ini.

    Dia memang tidak dapat ditebak, semakin keras aku menjerit kesakitan, makin bernafsu dia menyakiti dan membuatku menjerit lebih keras lagi. Jika sampai di satu titik dimana aku tidak dapat menjerit lagi dan hanya dapat menangis lirih menahan rasa sakit sekaligus nikmat, maka dia tampak sangat puas dan mulai melembutkan cara bercintanya.

    Namun anehnya, dari pertama kuserahkan diriku bulat-bulat padanya, aku telah jatuh cinta pada cara bercintanya yang aneh ini, atau dengan kata lain lama-lama aku kecanduan berat ditiduri olehnya hingga satu hari saja tidak kurasakan penisnya menyodok vaginaku, maka pastilah aku terus uring-uringan tidak menentu.

    Ketika aku tidak berdaya lagi, akhirnya Ken mau meloloskan permohonanku untuk disenggamai olehnya. Sebagai permulaan, dipaksanya aku mengulum penisnya agar licin jika dimasukkan ke dalam vaginaku. Tentu saja pekerjaan itu kusambut dengan senang hati dan kukerahkan seluruh kemampuanku menjilat, mengulum dan mengisap penis yang sangat kudamba itu.

    Pekerjaanku itu memang ‘tokcer’, buktinya Ken segera mengalihkan penisnya ke arah vaginaku, dan amblas lah batang lumayan besar itu, meski tidak sebesar punya Fuad atau Irul itu ke dalam liang senggamaku dan tentu saja disambut vaginaku penuh sukacita dengan langsung menjepitnya erat-erat. Dari gerak tubuh Ken kutahu dia pun sangat terangsang dan ingin menyalurkan nafsunya itu sesegera mungkin.

    Dalam beberapa saat selanjutnya hanya terdengar dengusan napas terengah cepat dan gesekan seprei di antara bunyi ‘pak-pak-pak’ yang timbul dari terpaan daerah selangkang Ken dengan pantatku. Tubuh kami menyatu bergoyang seirama tidak beraturan, kadang cepat kadang pelan, lalu cepat lagi hingga beberapa kali aku tidak sanggup menahan erangan keras yang keluar sebagai ungkapan nikmat yang kurasakan tatkala gesekan kejantanan Ken terasa sekali dalam dinding vaginaku. Tengah asyiknya aku mendaki gunung kenikmatan birahi itu, tiba-tiba Ken menghentikan sodokannya dan menarik rambutku hingga leherku serasa akan patah.

    “Hana, kamu habis ditiduri orang lain ya?” tanyanya marah sambil lebih keras lagi menarik rambutku sampai kepalaku mendongak ke atas dalam posisi doggy style.

    “I.., iya Ken.” jawabku ketakutan.

    “Kapan dan di mana, Han..?”

    “Tadi siang di rumah temanku.” erangku pelan menahan sakit. “Aku dipaksa Ken, aku nggak bisa menolak, abis mereka berdua sih.” tambahku sambil berbohong sedikit untuk membela diri.

    “Ooo.. jadi sekarang kamu udah terima servis massal ya? Dasar perempuan jalang nggak tau diri, memekmu gatal apa kalau nggak dimasuki ******?

    Rasanya aku harus memberimu pelajaran deh.” Tanpa mencabut penisnya dari liang senggamaku, tangannya meraih ikat pinggangnya yang tadi kuletakkan di sisi tempat tidur. Aku tidak berani bersuara sedikit pun, bahkan tidak berani mengembalikan kepalaku ke posisi normal.

    Selanjutnya dapat ditebak, Ken menaikiku bagaikan seorang rodeo. Dicambuknya tubuhku sambil terus mengocok kejantanannya di dalam liangku. Setiap pukulan yang hinggap di tubuhku hingga berbekas merah sangat dinikmatinya, begitu pula setiap jeritan yang keluar dari bibirku, semakin mendorongnya mencapai orgasme, sementara mulutnya tidak berhenti memaki-maki aku.

    “Aakh.. kkhh..” setelah berganti gaya beberapa kali agar dia dapat terus menyodokku sambil memukul hingga tidak ada bagian tubuhku kecuali wajah yang luput dari ciuman ikat pinggangnya, akhirnya dia mencapai orgasme yang sangat hebat. Semprotan air maninya terasa hangat ketika tumpah di wajah dan mulutku.

    Mau tidak mau meski badanku penuh bilur kemerahan aku juga mencapai orgasme yang sangat hebat pula hingga tubuhku bergetar liar sebelum akhirnya diam terpuruk di atas kasur. Kupejamkan mataku sambil menjilati sperma yang masih tersisa di sekitar mulut dan wajahku.

    “Kamu memang berbakat jadi perek Han. Dari pertama aku menidurimu, aku langsung tahu kalau kamu ini memang perempuan binal yang sangat-sangat gatal. Tapi nggak pa-pa, mungkin itu malah menguntungkan suatu hari kelak.”

    Ditepuknya pahaku sebentar, lalu dia cepat-cepat berkemas memakai bajunya.

    “Besok kuhubungi lagi kalau ada waktu. Kamu boleh tidur dengan orang lain tapi ingat, kamu harus beritahu aku dulu. Mulai sekarang aku yang akan menentukan dengan siapa kamu bisa bersanggama dan siapa yang boleh menidurimu. Dengar?”

    Aku hanya dapat mengangguk menerima ultimatumnya meski masih tidak jelas dengan maksudnya. Dia masih sempat menggigit klitorisku sebelum meninggalkanku terbaring tanpa daya penuh memar dan sperma di dada dan wajah. Tanpa repot-repot membersihkan diri aku langsung jatuh tertidur kecapaian.

    Keesokkan hari dan hari-hari selanjutnya hingga saat ini Ken mewujudkan kata-katanya dengan menjadikan aku pelacur sungguhan yang melayani semua permintaan kapan saja dan dimana saja sesuai keinginan klien yang tidak lain adalah teman-temannya sendiri.

    Aku tidak pernah menyesali semua yang terjadi pada diriku, sebab justru dengan menjadi pelacur di tangan Ken aku dapat memenuhi semua kebutuhanku, terutama kebutuhan akan seks yang tidak kusangka semakin hari semakin besar.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Kasir Swalayan Perawan Diperkosa Di Pos Kamling

    Cerita Sex Kasir Swalayan Perawan Diperkosa Di Pos Kamling


    1886 views

    Perawanku – Adel ABG cantik yang berprofesi sebagai kasir ini malang sekali nasibnya. Akibat sok berani melawan segrombolan pria mabuk di pos kamling, akhirnya dia diperkosa oleh seorang pria bertato yang tidak lain adalah kepala gerombolan para pemuda mabuk itu.

    Aku gadis SMA yang baru saja lulus sekolah, usiaku 18 tahun. Umur yang sangat rentan dengan pergaulan bebas. Panggil saja aku Adel, seorang gadis remaja yang sedang mencari jati diri. Aku berencana meneruskan ke perguruan tinggi namun aku enggan dan pengennya bekerja saja. Orangtuaku pun tidak memaksa aku untuk melanjutkan pendidikan.

    Aku memutuskan untuk bekerja dan melamar pekerjaan sesuka hatiku. Lulusan SMA ya bisanya jadi pelayan di swalayan atau SPG. Kalau SPG aku belum mahir dan tidak PD karena saingannya cantik-cantik. Sebenarnya aku juga cantik, menarik pula tapi aku tipe orang yang kurang percaya diri. Bekerja di swalayan saja mungkin untuk pengalaman kerja nantinya.

    Sekali melamar aku langsung diterima oleh pemilik swalayan. Aku bekerja di bagian kasir, berhadapan dengan komputer. Satu dua bulan aku dapat melaluinya. Aku juga betah bekerja di situ dengan gaji yang pas menurutku. Dari situlah aku mengenal make up dan berdandan. Cara berpakaianku berubah menjadi semakin rapi, wajahku tampak menor sekali tapi aku tetap terlihat cantik. Link Alternatif DewiFortunaQQ

    Banyak pria yang menggodaku karena melihat kecantikanku tapi aku tipe orang yang cuek. Cara berpakaian dari yang cupu menjadi anak muda kekinian itulah aku. Bahkan aku berani mewarnai rambutku dengan warna pirang. Orang bilang aku sekarang nakal, entah nakal dari segi mana. Yang jelas aku biasa saja hanya merubah penampilanku yang lusuh menjadi menarik.

    Kerja ku system shift pagi siang malam, jadi enak tidak selalu pagi. Aku berangkat kerja dengan mengendarai motor matic. Malam haripun aku berani menerjang malam yang sepi. Padahal di pangkalan itu banyak sekali pria muda yang begadang di pinggir jalan. Terkadang mereka suka rese namun aku berani melawannya.

    Di usiaku yang sudah menuju di angka 19 ini aku memiliki pengalaman pahit dalam hidupku. Aku memiliki rasa gengsi yang sangat tinggi, aku juga tipe orang yang tidak takut jika aku benar. Malam hari aku pulang kerja, karena lembur aku pulang dari rumah jam 9 malam. Aku melewati pos yang banyak kerumunan pria yang sedang bermalam.

    Aku memberanikan diri untuk lewat, waktu itu aku sudah mengucapkan kata permisi.
    Namun mereka tidak mendengar yang ada mereka menyuruhku untuk berhenti.
    “Berhenti neng…..!!!”

    Dengan rem mendadak aku berhenti di depan pria-pria itu.
    Mereka menggodaku dengan rayuan gombal.
    “Cantik sekali neng… kenalan dong….”

    Aku terdiam sambil mataku melotot melihat tingkah mereka.
    Ada salah satu pria yang memegang aku.
    “Jangan pegang-pegang mas!!!“
    “Aahhhh.. galak sekali kamu neng…..”
    “Jangan coba mendekat ya kalian, aku teriak maling lho ini…” gertakku dengan keras.

    Mereka masih saja menggodaku dan ternyata bau alkohol menyengat. Mereka terpengaruh dengan minuman keras. Aku mundur ke belakang, lebih baik aku mengalah daripada mereka bertingkah yang tidak sopan. Namun ada salah satu pria yang menarikku, dia bertato dan bertubuh kekar. Dia pun menyuruh teman-temannya pergi.

    Hanya aku berdua di pos itu, aku ingin berteriak namun kanan kiri tidak ada rumah. Malam semakin larut tidak ada satu orang pun yang lewat karena aku butuh pertolongan orang sekitar. Tampaknya pria ini mabuk berat, dia menarikku di pos ronda. Aku berteriak minta tolong namun tidak ada seorang pun yang mendekati aku.

    “Kalau kamu berani dengan ku, layani aku dengan birahimu…”
    “Apa maksudmu.. jangan sembarangan ya…” ucapku.
    “Kamu cantik, sangat menarik, kamu milikku malam ini…” ucap pria itu dengan sempoyongan.

    Aku berusaha lari namun gagal. Kuat sekali tangan pria ini sehingga aku tidak bisa melepaskan diri. Pria itu memaksa aku untuk terus melayani gairahnya. Dia mengucapkan kata-kata yang membuat kupingku panas. Dia menantang aku dengan terus mengenggam tanganku sangat erat.

    Aku paling tidak tahan dengan tantangan, sepertinya pria itu menguji keberanianku. Di pos itu aku melayani gairahnya, aku yang bersikuku untuk melepaskan tangan akhirnya luruh juga. Aku tidak mau diremehkan oleh pria bertato itu. Dia mendorongku agar berbaring di pos kamling itu.

    “Aawwww.. sakiitt kasar sekali kamu….”

    Pria itu dengan beringas membuka kancing kemejaku, dan langsung menyerobot bibirku yang tipis. Dia menciumi bibirku, aku tidak tahan dengan bau alkohol yang sangat menyengat. Ciuman itu semakin meresap, lama-lama aku membalas ciumannya. Aku mulai menggerakkan bibirku seirama dengan ciumannya.

    Lidahku bergoyang menciumi bibirnya, apalagi si pria bertato itu ciumannya sangat bergairah. Bau alkohol seketika hilang begitu saja, dingin yang mencekam berubah menjadi kehangatan. Kemudian kancingku yang sudah terbuka membuat dia semakin beringas. Kedua payudaraku dimainkannya, payudara perawan yang montok dan besar itu seketika dia remas.

    Pengait bra pun dilepaskannya, kedua payudaraku terbuka lebar. Dia segera menciumi dengan penuh kegairahan, puting susuku yang menonjol dia jilati dengan lidahnya. Tubuhku bergerak dan bibirku mendesah, “aaaahhhhhhh…… aaaaaahhhhh……. ooohhhh……”

    Kedua puting susuku dimainkannya secara bergantian, aku pasrah. Menikmati sentuhan demi sentuhan tangannya, tubuhku serasa mengejang ketika dia terus membelai tubuhku.
    “Oooohhhhh…. aaaaahhhhhh……. ooohhhh……”

    Lalu dia memasukkan putingku ke dalam mulutnya. Dia memutar-mutar putingku dengan sangat nikmat. Tangan kanannya meremas payudaraku yang montok, bibirnya terus mengulum puting susuku tanpa henti. Aku lemas tak berdaya, dia berada di atasku. Wajahnya yang beringas terlihat jelas di depan mataku, “aaaasssshhh….. aaaaaahhhh….. Mas….. ooohhh…..”

    Ketika angin bertiup kencang dia langsung mendekap tubuhku. Aku merasakan kehangatan dari seorang pria yang baru pertama kalinya. Tubuhku bergetar dibuatnya, serasa melayang malam itu. Berawal dari tantangan dan akhirnya aku menikmatinya. Malam semakin mencekam dia menjilati tubuhku dari atas hingga ke bawah.

    Celana jeansku panjang dibuka, akupun telanjang tanpa kain sehelai pun. Pria ini benar-benar memiliki nafsu yang tinggi apalagi pengaruh alkohol yang sangat kuat. Memekku yang masih polos itu dijamah dengan kedua tangannya. Tangannya meraba memekku dari atas hingga ke bawah. Bulu kemaluan yang masih jarang itu membuat pria bertato semakin bergairah.

    Dia membuka kakiku, dia buka lebar hingga aku mengangkang lebar. Kala itu aku nurut dengan semua perintahnya.

    “Oooohhhhh aaaahhhh….. aaakkkkhhhhh….. nikmat……”

    Dia menjilati selakanganku yang mulus, tubuhku terus bergerak merasakan kenikmatan. Memekku dibuka lebar. Dia menjilati bagian demi bagian.

    “Aaaaakkkhh…. ooohhh…. .aaaaaakkkhhhh….. nikmat…… terus mas…… aaaaahhhhhh…..”

    Dia pun seperti kesurupan. Nafsunya yang tinggi membuat dia gemas dan terus menjlati memekku. Memekku mengeluarkan cairan yang sangat banyak. Kenikmatan itu membuat aku semakin tak kuasa.

    “Aaaaaaaakkkhhhh….. oooohhhhh….. aaaaaahhhhhh…..”

    Lidahnya tepat di depan lubang memekku. Dia terus menjilatinya dengan penuh kegairahan. Tubuhku semakin mengejang merasakan kenikmatan. Aku melihat penisnya tegak dan sangat kencang. Tubuhnya penuh dengan tato. Ngeri melihatnya, tapi semua sudah tertutup dengan birahi yang sangat kuat. Penisnya yang besar itu disodorkan ke mulutku, aku bingung apa maksud pria ini.

    Dia pun memaksa memasukkan penisnya ke dalam mulutku. Terpaksa aku mengulumnya, penisnya aku emut keluar masuk ke dalam bibirku. Lalu tanganku mengocok penisnya, penis itu semakin besar.

    “Oooohhh terus sayang… masukkan sayang…. ooohhh aaaahhh…..” desah pria itu. Agen Obat Kuat Pasutri

    Pria itu merasakan kenikmatan ketika penisnya aku sedot, “uuuhhhhh……. nikmat…… aaaahhhhh sedot lagi sayang…… ooohhh…..”

    Dia meminta aku untuk terus menyedot penisnya. Aku terus menyedotnya. Aku pun sangat horni, memekku basah terus kala itu. Dia buru-buru melepas penisnya dari mulutku. Dia langsung menggesek-gesekkan penisnya ke memekku. Aku semakin nggak tahan, “oooohhh…. ooohhh…. aaaahhhhh…. aaakkhhh……”

    Memekku bergetar pengen dijamah dengan bibirnya yang manis. Namun dia terus menggesek-gesekkan penisnya, memekku serasa membuka dan menutup. Geli sekali, “ooohhh…. aaaakkhh…. oooohh…..”

    Lalu dia memasukkan ujung penisnya ke dalam memekku. Aku mengejang, “aaawwww…. sakit…. aaaaaakkhhh…..”

    Saat itu memang sakit sekali, dia terus mencoba memasukkan penisnya. Aku pasrah dan terlentang sangat lemas. Bibirnya mengulum puting susuku dengan lembut, aku horni. Dia terus menciumii leher kemudian puting susuku. Dia terus merangsang gairahku agar aku tidak kesakitan saat dia memasukkan penisnya, “aaaakkkhhhhh….. aahhhhh….. ooohhhh……”

    Jllleeebbbb… “aaaahhhhhh……” Masuklah penisnya ke dalam memekku, seluruh batang penis itu masuk. Aku menjerit merasakan sakit bercampur nikmat. Dia terus menekan penisnya ke dalam memekku, “aaaaakkkhhh….. ooohhh….. aaaakkkkhhhh….. ooohhhh…… aaaakkkhhh…..”

    Dia memintaku untuk menggoyangkan memekku, dan mengangkat ke atas. Aku goyangkan dan aku angkat badanku sedikit, ternyata sangat nikmat. Aku pun ketagihan sesekali aku mengangkat pantatku, rasanya penis itu menancap di dalam memekku. “Oooohhhh… aaaahhhh… aaaahhh terus mas…… aaaaaahhh…..”

    Cerita Sex Kasir Swalayan Perawan Diperkosa Di Pos Kamling

    Cerita Sex Kasir Swalayan Perawan Diperkosa Di Pos Kamling

    Penisnya terus bergoyang di dalam lubang kenikmatanku. Aku tak tahan dengan gerakannya. Dia terus memompa penisnya masuk ke dalam memekku. Aku hanya merintih nikmat saat dia terus berusaha menggairahkan tubuhnya. Memekku kembali mengeluarkan cairan yang banyak membuat jalan kenikmatan semakin licin, “aaaaakkkhhhhh… nikmat…. ooohhh…..”

    Gerakan yang berulang-ulang itu sangat nikmat, dan tak lama kemudian keluarlah cairan sperma itu, “ccccccccccccrrrrrroootttt….. cccrroooooottt…. ccccrrrroootttttt…..”

    Dia masukkan cairan itu ke dalam mulutku, terpaksa aku menelan cairan itu. Lalu aku merapikan pakaianku kembali, begitu pula pria bertato itu. Begitu saja dia meninggalkan aku sendiri di pos. Aku menangis sendiri akibat tingkah ku yang sok berani membuat aku kehilangan keperawananku dengan pria tak dikenal.

    Bahkan dia merenggut keperawananku karena pengaruh alkohol dan di pos kamling dia mengoyak memekku dengan liarnya. Saat itu aku layaknya seorang pelacur yang melayani seorang pria dan kemudian ditinggalkan begitu saja.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Mencari Kesempatan Menikmati Tubuh Ibu Mertua Ketika Sedang Merawatnya

    Mencari Kesempatan Menikmati Tubuh Ibu Mertua Ketika Sedang Merawatnya


    1701 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Mencari Kesempatan Menikmati Tubuh Ibu Mertua Ketika Sedang Merawatnya ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2020.

    Perawanku – Kepulan asap dari sebatang rokok ketengan menemani lamunanku siang itu. Deru kendaraan lalu lalang di antara alunan lagu dangdut dari TV pemilik warteg di mana aku menumpang duduk sambil ngopi tak mampu menggugah pikiranku yang melayang entah kemana.

    Ngelamun aja lo, kangen bini ya?, tegur Bejo, rekan sesama tukang ojek tempat kami bersama mangkal. Aku hanya membalas dengan senyuman. Bukopi satu, ujarnya kepada pemilik warung. Catur , Den? ujarnya.halahbosen, dari pagi main sama si Ujang, entar situ kalah lagi, Bejo hanya nyengir mendengar jawabanku. Siang ini memang pikiranku tengah galau, mengenang peristiwa tadi malam dan pagi hari ini.

    Aku tinggal menumpang mertua di sebuah rumah sederhana di kampung perbatasan jakarta. Kami berasal dari keluarga dengan ekonomi paspasan. Isteriku terpaksa menjadi TKI di Arab Saudi untuk memperbaiki keadaan.

    Motor kreditan yang aku pakai untuk mengojek ini juga hasil jerih payahnya.Kondisi mertua juga sama saja, ayah isteriku adalah tukang bangunan yang lebih sering keliling dari satu proyek ke proyek lain daripada dirumahnya sendiri, kadang berbulanbulan tidak pulang.

    Bapak, demikian aku memanggilnya, dulu sangat keras menolak pernikahan kami, ya wajar, sudah susah kok dapat mantu yang juga susah. Sementara ibu mertua kebalikannya, ia sosok ibu yang lembut dan baik hati. Mau bagaimana lagi kalau memang sudah jodohnya. Dulu aku sempat bekerja di pabrik sebelum akhirnya bangkrut dan aku kena PHK. Pernikahan kami menghasilkan seorang anak usia 2,5 tahun yang kini diasuh neneknya, ibu mertuaku.

    Malam itu hujan sangat deras menghujam bumi. Aku tengah lesehan di atas tikar lusuh menonton TV ketika tibatiba ibu mertua tergopohgopoh keluar dari kamarnya menuju kamar mandi , lalu terdengar suara seperti orang muntah. Aku menyusulnya,ada apa Bu? Masuk angin?, ia mengangguk lemah. Saya panggilkan Teh Nining sebelah ya bu? Tawarku.

    Gak usah, den, gak enak udah malam beginimana hujan lagi, jawabnya. kalau gitu saya bikinin teh panas ya bu, saya juga masih punya obat neh, ibu mengangguk lalu berjaan menuju kamarnya. Setelah mengantarkan teh dan obat flu, kembali aku berbaring di ruang tamu sederhana itu sampai akhirnya aku terlelap.

    Jam dinding kusam itu menunjukan pukul 1.30 malam ketika aku mendadak terbangun karena kembali ibu muntahmuntah di kamar mandi. Dengan segera aku menyusulnya,Ibu muntah lagi?, tanyakuia mengangguk lemah dan berkata , Ibu kalau belum dikeroki biasanya belum mempan, tapi mau bagaimana lagi, jawabnya pasrah.

    Entah muncul ide darimana, ya udah, biar saya yang ngeroki bu, ibu tunggu aja di kamar, jawabku dan ibu sepertinya tidak menolak kecuali ia menginginkan muntahmuntah lagi.

    Aku bergegas menuju dapur, mencari piring kecil alas gelas dan menumpahkan sedikit minyak goreng, tinggal 1 koin seratusan lama yang kebetulan aku masih menyimpan beberapa. Agak sedikit kaget setibanya aku di kamar, mendapati ibu telah berganti pakaian yang semula daster panjang kini kain kemben batik yang warnanya telah lusuh.

    Namun bukan itu yang membuat aku menelan ludah, tapi kemben sebatas dada itu telah menampakan bahu ibu yang ternyata kuning bersih, ditambah ketatnya kain itu menampakan lekak lekuk tubuhnya yang masih menampakan keindahan di usianya yang 45 tahun itu. Namun pikiran kotor segera kusingkirkan, bagaimanapun ia adalah orang tua isteriku yang harus kuhormati.

    Mulailah aku mengeroki punggungnya dalam posisi ibu duduk membelakangiku di atas ranjang tua di mana anakku juga tengah tertidur di atasnya. Selesai,di bagian pangkal leher dan bahunya, kini gilirang punggung bagian tengah,maaf bu, kainnya bisa diturunkan sedikit?, pintaku karena kain kemben itu menghalangi.

    Ibu mengangguk pelan dan membuka ikatan kain tersebut namun karena kurang hatihati kain itu melorot hingga pantatnya yang dibungkus celana dalam putih lusuh, dan yang membuat sesuatu di balik celanaku tak bisa diajak kompromi adalah karena sekilas sisi payudaranya terlihat. Ibu segera membenahinya dan mendekap sarung batik itu didadanya, dan aku seolaholah tak melihat pemandangan indah itu kembali melanjutkan kerokan ku.

    Peluh mulai bercucuran di dahi ku, bukan hanya karena mengeluarkan tenaga tetapi juga menahan hasrat yang terpendam, setelah setahun berlalu tanpa sentuhan isteriku. Paling maksimal aku hanya bisa melakukan masturbasi untuk sekedar pelampiasan.

    Ibu kalau capek, baring aja, pintaku dan ibu menuruti dengan berbaring tengkurap sehingga aku bisa melanjutkan mengeroki punggung mulusnya itu, yang tampak berkilauan terkena sinar redup lampu kamar, belangbelang merah bekas kerokan tak bisa menghilangkan keindahannya. Keringat dingin mulai keluar dari poripori kulitnya.

    Aku terus bekerja sampai kemudian kudengar dengkuran halus keluar dari mulutnya, ibu tertidur. Dan entah kenapa aku tak serta merta menghentikan kerokan, seolaholah ingin lebih lama menikmati pemandangan sensual tubuhnya. Khawatir ibu terbangun tibatiba, kini aku hanya memijatmijat pelan pinggangnyaterus ke bawah hingga tumpukan daging kenyal pantatnya yang membusung itu.

    Mulamula tanganku gemetar, namun menyadari ibu seolaholah kian tenggelam di alam mimpi, aku makin memberanikan diri. Entah setan mana yang mengendalikanku, usai berlamalama menjamah pantatnya, kini kucoba pelorotkan sarungnya ke bawah.

    Mataku nanar menyaksikan bayangan belahan pantatnya dibalik celana dalam lusuh yang menipis akibat keseringan di cuci itu, mana berlubang di sanasini menampakan kulit di belakangnya, desakan batang kontolku kian mendesak celana pendek yang kupakai, menciptakan semacam tenda kecil di antara selakanganku.

    Dengan tangan gemetar ku pelorotkan celana dalam ibu secara perlahan, hubungan mertuamenantu ke depan dipertaruhkan dalam aksi nekat itu. Gerakanku terhenti ketika tepi paling atasnya tiba di pangkal paha ibu mertua yang agak merapat itu.

    Tentu saja bentuk pantat bahenol itu, bayangan hitam lubang anusnya dan tumpukan rambut hitam di bawahnya membuat aku kehilangan kontrol. Ku oleskan sebagian minyak goreng itu di atas pantat ibu, sambil meremasremasnya, dan kini berkilauan sebagaimana punggung ibu tadi.

    Dengan jantung berdegup, ku turunkan celana pendekku, lalu merangkap di atas tubuh tengkurap ibu yang sangat nyenyak tertidur, namun kuupayakan tidak menindihnya. Ku selipkan batang kemaluanku yang sedari tadi sangat mengeras di antara belahan pantat ibu, lalu mulai menggosokgosokannya pelan, sehatihati munkin agar ia tak terbangun. Tapi sensasi yang kurasakan sangat luar biasa, anda akan paham jika lama tak merasakan kenikmatan tubuh wanita.

    Mataku menyaksikan wajah ibu yang damai dalam tidurnya, ia cukup manis walau munkin jarang tersentuh make up, ingin rasanya kuciumi pipinya tapi tentu beresiko. Dan tak menunggu lama ketika aku mengejang lalu semburan demi semburan sperma hangat ..dan sangat banyak, hingga di pantat, punggung, bahkan leher ibu. Lama aku mematung hingga denyutandenyutan orgasmeku hilang dan kemaluanku mulai mengerut.

    Baru kemudian aku beranjak.kepanikan kecil melandaku melihat lelehan benihku di atas tubuh ibu. Ku lepaskan kaus kumal yang kupakai, dan kugunakan sebagai lap menghilangkan jejakjejak tindakan mesum yang kulakukan malam itu. Dengan terburuburu kurapikan kain kemben ibu, dan bergegas keluar kamar. Usai dari kamar mandi kembali kubaringkan tubuh, apa yang kau lakukan, pikirkunamun akhirnya terlelap juga.dengan rasa puas.

    Seperti biasa, pukul setengah enam pagi aku terbangun, usai sekedarnya membersihkan rumah, ku sempatkan mengintip kamar ibu. Ia masih tertidur, kain kembennya sudah terikat di dada, namun agak tersingkap di bagian paha, membuat aku kembali menelan ludah. Di sebelahnya, anakku telah terbangun, tengah asyik memainkan mobilannya sambil berbaring. Aku kemudian mandi, sedikit tertegun melihat kaus kumal tadi malam, lalu aku mencucinya.

    Buibu,, panggilku mencoba membangunkannya sambil sedikit menepuk pundaknya. Matanya mulai membuka. Sudah jam setengah delapan bu, ibu sudah enakan?..ia mengangguk pelan, tapi masih lemas Den, linulinunya belum ilang, Ari mana? tanya Ibu.Sedang main di luar bu, sudah saya mandikan dan kasih sarapan, tadi saya belikan bubur ayam di depan, ibu sarapan ya?, jawabku sambil menawarkan bubur ayam.

    Ibu bangkit perlahan dan duduk di tepi ranjang, semangkuk bubur dan segelas teh kuletakan di atas meja kecil di dekat ranjang. Aku meninggalkannya. Dan tak lama kemudian kembali aku memasuki kamarnya dan menyerahkan obat, lho..kok gak habis bu?, tanyaku melhat bubur itu masih separuh tersisa.

    Masih pahit Den, jawabnya. Ya udah, ibu minum obat air panas udah saya siapkan di kamr mandi, ibu lalu meminum obat dengan perlahan,ibu masih pegal Den, mau istirahat lagi, ntar aja deh mandinya, jawabnya. ehmmkalau gitu saya kompres aja ya bu, tawarkugak usah repot, belum usai kalimatnya aku sudah setengah berlari ke dapur, mengambil handuk kecil dan baskom kecil lalu menuangkan air hangat ke dalamnya.

    Ibu sudah terbaring di kamar ketika aku masuk. Aku mengambil kursi kayu lalu duduk disampingnya, meremas handuk dan mulai secara lembut mengusap wajahnya. Ibu jadi gak enak nih Den, jadi ngerepotin kamu, katanya.

    ahibu kan sudah seperti ibu saya sendiri, jawabku sambil terus melapi leher, pundak hingga dada atasnya. Lalu kedua lengannya hingga ketiaknya yang putih dan sedikit ditumbuhi bulu itu, membuat senjata biologisku mulai berulah. Ibu bisa tengkurap sebentar?, pintaku pada ibu. Namun ibu justeru duduk membelakangiku untuk mempermudah melapi pungunggnya.

    Usai belakang leher hingga bahu sampai batas kain ,bisa turunin dikit kainnya bu?, tanpa berkatakata ibu melepaskan ikatan sarungnya, dan kembali kunikmati punggung yang kini berbelang merah sampai batas pinggang itu, dengan lembut ku usap seluruh permukaan kulitnya dengan handuk basah hangat tadi, dan butiran keringat mulai muncul dari poripori kulitnya. Aku hanya bisa nyengir menyaksikan beberapa bercak sprema kering yang mengerak di kulit punggung ibu dan segera ku lap.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Seks Berpacu dalam nafsu

    Cerita Seks Berpacu dalam nafsu


    1046 views

    Perawanku – Cerita Seks Berpacu dalam nafsu, Tak lama kemudian ketika Pak Reza sedang keras kerasnya menyodokku, kembali aku dibuat iri pada Lisa saat Pak Edwin dan.

    Andi bertukar tempat, Lisa sudah mendapat kocokan Andi untuk kedua kalinya, kepalanya mendongak dan tubuhnya menggeliat ketika Andi memasukkan kembali penisnya tapi tak lama setelah itu dia sudah mulai mengulum penis Pak Edwin. Pak Reza kembali meremas remas buah dada Lisa sambil mengocokku tapi Andi tak mau melakukan hal itu padaku, dia tetap serius mengocok Lisa sampai berulang kali dia menggeliat ketika Andi mengocoknya dengan keras. “Lisa sudah mendapatkan tiga penis, di mulut maupun vagina, tapi aku baru dua, itupun kurang memuaskanku” teriak batinku.

    Kupandangi wajah Andi ketika mengocok Lisa begitu ganteng dan cool, expresinya tidak berubah seperti biasa saja kecuali keringatnya yang menetes membasahi tubuhnya yang atletis itu sehingga makin sexy. Belum sekalipun Andi menyentuhku, entah dia mau menghukumku atau karena segan, aku tak tahu.

    Kuhibur diriku dengan berkonsentrasi pada kocokan Pak Reza, aku tak mau tersiksa terlalu lama mengharapkan Andi, maka kugerakkan pinggangku mengimbangi Pak Reza dan hasilnya sungguh luar biasa, dia bergerak semakin liar dan akhirnya tak bisa bertahan lama, maka menyemprotlah spermanya ke vaginaku dengan kencangnya, kurasakan denyutan yang keras dari penisnya di dalam vaginaku seakan menghantam dinding rahimku. Bersamaan dengan semprotan Pak Reza, ternyata Pak Edwinpun menyemprotkan spermanya di muka Lisa, sperma itu menyemprot kemana mana baik di mulut, wajah dan sebagian ke rambutnya.

    Pak Reza menarik penisnya yang sudah lemas begitupun dengan Pak Edwin, aku belum mencapai orgasme, hanya satu penis yang masih berdiri yaitu Andi, akhirnya aku harus mengalahkan gengsiku yang dari tadi mencegahku.
    Kuhampiri Andi yang sedang menyocok Lisa, dari belakang kupeluk dia hingga tubuh telanjangku menempel di punggungnya, keringat kami menyatu, aku elus dadanya yang bidang berbulu. Sesaat dia menghentikan gerakannya tapi kemudian dilanjutkan kembali dengan lebih keras.

    Merasa belum mendapat respon darinya, aku bergeser ke depan, kujilati puting dadanya sambil mengelus kantung bolanya, Andi masih tetap tak mau menyentuhku malah makin cepat mengocok Lisa, maka kupegang tangannya dan kuletakkan di buah dadaku, kugosok gosokkan, barulah dia mulai merespon dengan remasan halus tanpa berhenti mengocok Lisa, lalu kucium bibirnya, tanpa kuduga dia langsung memegang kepalaku dan diciumnya bibirku dengan penuh gairah, full of passion, seperti orang melepas rindu berat, mungkin dari tadi Andi memang menginginkanku tapi tidak berani.

    Ciuman pada bibirku yang penuh nafsu tak menghentikan kocokan pada Lisa, lalu turun ke leherku sebagai sasaran selanjutnya dan berhenti di kedua putingku.
    Dengan penuh nafsu dan dengan liarnya dia mengulum, menjilat, menyedot dan meremas remas puting dan buah dadaku. Ouuhh aku menggeliat dalam kenikmatan yang indah.

    Konsentrasiku terganggu ketika kudengar teriakan dari Lisa yang sedang mencapai kenikmatatan tertinggi, dia mengalami orgasme dengan hebatnya, terlihat badannya bergetar hebat dan kepalanya digoyang goyangkan seperti orang yang kesetanan, beberapa detik kemudian tubuhnya melemas di atas kursi dengan napas terputus putus. Bersamaan dengan ditariknya penis dari vagina Lisa, dia mendorong tubuhku ke bawah lalu disodorkannya penis besar itu ke wajahku, agak ragu sejenak tapi kemudian tanpa membuang waktu lebih lama kukulum juga penis anak buah kepercayaanku itu, seperti dugaanku ternyata aku tak mampu mengulum penis itu semuanya, lalu kukocok pelan, aroma dari vagina Lisa tercium olehku tapi tak kupedulikan, Andi memegang kepalaku dan mengocokkan penisnya di mulutku dengan liar, hampir aku tak bisa bernafas.

    Lisa sudah duduk di antara Pak Edwin dan Pak Reza, kemudian Andi memintaku duduk di kursi, dipegangnya kedua kakiku dan dipentangkannya, kuraih penis besar yang dari tadi kuimpikan, kusapukan di bibir vaginaku dan kuarahkan masuk, ternyata Andi tak mau terlalu lama bermain main di luar, dengan keras di sodoknya penis besar itu masuk ke vaginaku.

    “OOUUGGHHh” teriakku spontan lalu kututupi mulutku dengan tangan sambil melotot ke arahnya.
    Vaginaku terasa penuh hingga aku tak berani menggerakkan tubuhku, tapi Andi seperti tak peduli, langsung mengocokku dengan cepat dan keras, kurasakan penisnya menggesek seluruh dinding dan mengisi semua rongga di vaginaku, begitu nikmat hingga seakan aku melayang layang dalam kenikmatan birahi yang tinggi. Kakiku kujepitkan di pinggangnya, kedua tangannya meremas dengan keras kedua buah dadaku dan memilin ringan putingku sambil mencium bibirku dengan ganasnya.

    Begitu liar dan ganas dia mencumbuku seakan menumpahkan segala dendam yang lama tesimpan, kocokannya yang keras seakan mengaduk aduk vaginaku. Kulawan gerakannya dengan menggerakkan pinggulku secara acak, dan aku mendapatkan kenikmatan yang bertambah.

    Entah sudah berapa lama kami bercinta di kursi hingga dia memintaku untuk rebah di karpet lantai ruangan, lalu segera dia menyetubuhiku, tubuh atletisnya menindih tubuhku sambil pantatnya turun naik mengocok vaginaku, ciumannya sudah menjelajah ke seluruh wajah dan leherku tanpa sedikitpun bagian yang terlewatkan.

    Aku mengagumi kekuatan fisik Andi yang begitu kuat, dinginnya AC tak mampu mencegah peluh kami sudah bertetesan di seluruh tubuh. Kuraih kenikmatan demi kenikmatan dari setiap gerakan Andi di atas tubuhku.
    Selanjutnya kami bergulingan, kini Andi telentang dan aku duduk di atasnya, secepatnya kugoyangkan pantatku mengocok penis Andi, goyanganku kubuat tidak aturan dan banyak variasi hingga dia menggigit bibirnya, dipandanginya wajahku, lalu dia kembali meremas buah dadaku dengan kerasnya, tanpa kusadari ternyata Pak Reza sudah berdiri di sampingku dan menyodorkan penisnya ke mulutku, kugapai dan langsung kukulum dengan gairahnya sambil tetap menggoyang pantatku. Pak Reza ternyata tak mau diam saja, dia ikut mengocokkan penisnya di mulutku sambil memegangi kepalaku. Tak mau kalah Andi kemudian ikutan menggoyangkan pinggulnya hingga kami seolah berpacu meraih kenikmatan birahi.

    Andi lalu duduk hingga tubuhku berhadapan dalam pangkuannya, kujepitkan kakiku di pinggangnya sambil tetap menggoyangkan pantat tanpa melepas kocokan mulutku pada penis Pak Reza, Andi menjilati seluruh leher dan dadaku, disedotnya putingku dengan keras, kurasakan gigitan gigitan kecil di sekitar buah dada dan putingku tapi tak kuperhatikan.

    Akhirnya kurasakan tubuh Andi menegang dan sedetik kemudian kurasakan kepala penisnya membesar memenuhi rongga dalam vaginaku lalu menyemprotkan spermanya, sementara gigitan dan sedotan di dadaku terasa semakin kuat, denyutannya membuat aku terbang melayang tinggi hingga ke puncak kenikmatan, maka akupun orgasme saat penis Andi sedang berdenyut dengan hebatnya di vaginaku, kami sama sama menggapai orgasme dalam waktu yang relatif bersamaan, tubuhku sudah mulai melemas tapi penis Pak Reza masih di tanganku, maka kukeluarkan kemampuanku untuk segera mengakhiri kemauan Pak Reza sambil masih tetap duduk di atas Andi, tangan Andi masih meremas dengan lembut kedua buah dadaku, tapi konsentrasiku hanya tertuju ke Pak Reza, tak lama kemudian berdenyutlah penis Pak Reza di mulutku, tak kurasakan cairan sperma keluar dari penis itu, hanya denyutan denyutan ringan hingga melemas dengan sendirinya.

    Aku terkulai lemas di atas tubuh Andi, anak buahku itu, dan dia membalas dengan ciuman dan elusan di punggung telanjangku, beberapa saat kemudia aku tersadar dan berdiri menjauhinya, duduk kembali di kursi.
    Lisa memberikan teh hangat, kami semua masih telanjang, masih kurasakan seakan penis Andi masih mengganjal vaginaku.

    Baru aku sadari ternyata ada empat titik memerah bekas gigitan Andi pada dada dan sekitar buah dadaku, kulirik Andi tapi dia tidak memperhatikan.
    Jarum jam menunjukkan pukul 13:30, ketika kami menandatangani kontrak itu dalam keadaan telanjang, sambl memangkuku Pak Reza menandatangani lembaran itu dan di atas pangkuan Pak Reza pula aku menandatanganinya. Sementara Pak Edwin sebagai saksi, ikut menandatangani kontrak itu sambil memangku Lisa yang masih telanjang.

    “Alangkah asiknya kalau kita bisa makan siang bersama sambil telanjang” usul Pak Edwin
    Aku hanya tersenyum menanggapi usulan nakal Pak Edwin, kukenakan kembali pakaianku meski tanpa celana dalam karena diminta Pak Edwin yang masih bujangan itu.
    Tak lama kemudian kami semua sudah berpakaian lengkap, kubereskan dokumen yang berserakan di lantai maupun meja dan kuberikan semuanya ke Andi.
    Dan selesailah official meeting hari ini.

    Sebenarnya aku tak mau mencampur adukkan antara bisnis dan kesenangan seperti ini, baru pertama kali terjadi. Awal bisnis yang di awali seperti ini terus terang membuat aku takut, tapi apa bedanya dengan para bisnisman lainnya yang memberikan wanita cantik untuk dapat mendapatkan proyek, toh proyek itu jalan juga.

    Setelah makan siang, aku dan Andi mengantar mereka hingga ke lobby dan disanalah kami berpisah, Aku dan Andi naik ke atas, tak ada pembicaraan sepanjang jalan ke kamar meskipun di lift Cuma kami berdua, suasana menjadi kaku, hal seperti inilah yang tidak aku inginkan.
    “Andi apapun yang telah terjadi adalah tidak pernah terjadi, tolong camkan itu demi kebaikan kita semua” kataku pada Andi sambil mengecup bibirnya, sebelum dia masuk kamarnya.

    Dan kami kembali ke Jakarta sebagai mana tidak terjadi sesuatu kecuali kenangan indah.

    Aku tidak pernah bisa memenuhi kata kataku sendiri seperti yang aku pesan di atas, karena bercinta dengan Andi terlalu nikmat untuk di tinggalkan.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Sensasi Kenikmatan Ngentot Dengan 3 Cewek Cantik

    Cerita Sex Sensasi Kenikmatan Ngentot Dengan 3 Cewek Cantik


    1104 views

    Perawanku – Cerita Sex Sensasi Kenikmatan Ngentot Dengan 3 Cewek Cantik, Mungkin saking asyiknya kami bercumbu tanpa kami sadari rupanya dari tadi ada yang memperhatikan pergumulan kami berdua, Mbak Fitri dan adik suaminya, Asih sudah berdiri di pinggir pintu. Mungkin mereka pulang berdua tanpa suaminya dan kedua anaknya yang masih mampir ke rumah Pakdhenya mereka ketuk pintu tapi nggak ada sahutan lalu mereka menuju pintu daur yang lupa tak aku kunci.

    Aku dan Mbak Wina kaget setengah mati, malu takut bercampur menjadi satu jangan-jangan mereka marah dan menceritakan kejadian ini pada orang lain. Tapi yang terjadi sungguh diluar dugaan kami berdua, mereka bahkan ikut nimbrung sehingga kami menjadi berempat.

    “Dik main gituan kok kakak nggak di ajak sich kan kakak juga mau, sudah seminggu ini suami kakak nggak ngajak gituan”, ucap Mbak Fitri.
    “Ini juga baru mulai kak!” sahutku.
    “Mas aku boleh nyoba seks sama Mas?” tanya Asih.
    “Boleh”.

    Aku dan Kak Wina selanjutnya menyuruh mereka berdua melepas seluruh pakaiannya.

    “Ck.. ck…ck……ck……”, guman ku.

    Sekarang aku dikerubung 3 bidadari cantik sungguh beruntung aku ini.

    Mbak Fitri tubuhnya masih sangat kencang payudaranya putih agak besar kira-kira 36 B vaginanya indah sekali. Sedangkan Asih tubuhnya agak kecil tapi mulus, dadanya sudah sebesar buah apel ukuranya 34 A vaginanya kelihatan sempit baru ditumbuhi bulu yang belum begitu lebat.

    Pertama yang kuserang adalah Mbak Fitri karena sudah lama aku membayangkan bersetubuh dengannya aku menciumi dengan rakus pentilnya kuhisap dalam-dalam agar air susunya keluar, setelah keluar kuminum sepuasnya rupanya Mbak Wina dan Asih juga kepingin merasakan air susu itu sehingga kami bertiga berebut untuk mendapatkan air susu tersebut, sambil tangan kami berempat saling remas, pegang dan memasukam ke dalam vagina satu sama lain.

    Setelah puas dengan permainan itu, aku meminta agar mereka berbaring baris sehingga kini ada 6 gunung kembar yang montok berada di depanku. Aku mulai mengulum susu mereka satu per satu bergantian sampai 6, aku semakin beringas saat kusuruh mereka menungging semua, dari belakang aku menjilati vagina satu persatu rasanya bagai makan biscuit Oreo di jilat terus lidahku kumasukkan ke dalam vagina mereka.

    Giliran mereka mengulum penisku bergantian.

    “Hoh…. hoooooooooo…… hhhhhhhhhh…… ehmmmmmmmmm”, desah mereka bertiga.

    Aku yang dari tadi belum orgasme semakin buas memepermainkan payudara dan vagina mereka, posisi kami sekarang sudah tak beraturan. Saling peluk cium jilat dan sebagainya pokok nya yang bikin puas, hingga mereka memberi isyarat bahwa akan sampai puncak.

    “Dik aku mau keluar”
    “Mas aku juga”
    “Aku hampir sampai”, kata mereka bergantian.
    “Jangan di buang percuma, biar aku minum!”, pintaku
    “Boleh”, kata Mbak Fitri.

    Aku mulai memasang posisi kutempelkan mulutku ke vagina mereka satu persatu lalu kuhisap dalam-dalam sampai tak tersisa, segarnya bukan main.

    “Srep.., srep”.

    Heran, itulah yang ada di benakku, aku belum pernah nge-sex sama mereka kok udah pada keluar, memang mungkin aku yang terlalu kuat. Karena sudah tidak sabar aku mulai memasukkan penisku de dalam vagina Mbak Wina kugenjot naik turun pinggulku agar nikmat, sekitar 5 menit kemudian aku gantian ke Kak Fitri, biarpun sudah beranak 2 tapi vaginanya masih sempit seperti perawan saja.

    Cerita Sex Sensasi Kenikmatan Ngentot Dengan 3 Cewek Cantik

    Cerita Sex Sensasi Kenikmatan Ngentot Dengan 3 Cewek Cantik

    “Dik enak……. Uh…… oh…..terussssssss!”, desahnya.
    “Emang kok Kak…….. hhhhhhh ehmm…..”
    “Mas giliranku kapan..?”, rupanya Asih juga sudah tak tahan.
    “Tunggu sebentar sayang.“

    Sekitar 10 menit aku main sama kak Fitri sekarang giliran Asih, dengan pelan aku masukkin penisku, tapi yang masuk hanya kepalanya. Mungkin ia masih perawan, baru pada tusukan yang ke 15 seluruh penisku bisa masuk ke liang vaginanya.

    “Mas……. sakit….. mas…… oght…….. hhohhhhhh…….”, jerit kecil Asih.
    “Nggak apa-apa nanti juga enak, Sih!”, ucapku memberi semangat agar ia senang.
    “Benar Mas sekarang nikmat sekali… oh.. ought..”

    Rupanya bila kutinggal ngeseks dengan Asih, kak Fitri dan Kak Wina tak ketinggalan mereka saling kulum, jilat dan saling memasukkan jari ke vaginanya masing-masing. Posisiku di bawah Asih, di atas ia memutar-mutar pinggulnya memompa naik turun sehingga buah dadanya yang masih kecil terlihat bergoyang lucu, tanganku juga tidak tinggal diam kuremas-remas putingnya dan kusedot, kugigit sampai merah.

    Karena sudah berlangsung sangat lama maka aku ingin segera mencapai puncak, dalam posisi masih seperti semula Asih berjongkok di atas penisku, kusuruh Mbak Fitri naik keatas perutku sambil membungkuk agar aku bisa menetek,

    eh…, bener juga lama-lama air susunya keluar lagi, kuminum manis sekali sampai terasa mual. Mbak Wina yang belum dapat posisi segera kusuruh jongkok di atas mulutku sehingga vaginanya tepat di depan mulutku, dan kumainkan klitorisnya. Ia mendesah seperti kepedasan.

    “Ah……… huah…….. hm…….!”

    Tanganku yang satunya kumasukkan ke vagina Mbak Fitri, kontolku digarap Asih, mulutku disumpal kemaluan Mbak Wina, lengkap sudah. Kami bermain gaya itu sekitar 30 menit sampai akhirnya aku mencapai puncak kenikmatan.

    “Ought……… hmmmmmm…… cret… crot…..”
    “Enak Mas…….!” desah Asih.

    Spermaku ku semprotkan kedalam vagina Asih dan keluarlah cipratan spermaku bercampur darah menandakan bahwa ia masih perawan. Kami berempat sekarang telah mencapai puncak hampir bersamaan, lelah dan letih yang kami rasakan.

    Sebelum kami berpakaian kembali sisa-sisa sperma di penisku di jilati sampai habis oleh mereka bertiga. Setelah kejadian itu kami selalu mengulanginya lagi bila ada kesempatan baik berdua bertiga maupun berempat. Namun sekarang kami sudah saling berjauhan sehingga untuk memuaskan nafsu birahiku aku sering jajan di kafe-kafe di kota Solo ini ataupun dengan teman-teman wanita di tempat kuliah yang akrab denganku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Ngewek Pembantu Yang Hiper – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Ngewek Pembantu Yang Hiper – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1807 views

    Perawanku – Aku akan ceritakan kisahku saat masih duduk di kelas SMP bermain sex dengan pembantuku, perkenalkan
    namaku Bayu pengalamanku ini sungguh mustahil atau khayal bahkan aku juga pernah mempercayainya
    selanjutnya akan kuceritakan setiap alurnya.

    Saat pulang bermain bola dengan teman temanku di lapangan sekolah, jarak antara rumah dan sekolah

    cukup dekat mungkin membutuhkan waktu 10 menit jalan kaki, sesampainya di rumah ibuku sudah menyiapkan
    makanan, sehabis makan aku dipanggil oleh ibuku terlihat dari nadanya cukup penting, bergegas aku
    menemui ibuku.

    Ada apa pa?

    Duduk sini bentar, papa sama mama mau ngomong dengan kamu.

    Bayu, kamu kan sudah cukup besar sekarang dan udah bisa mengurus diri sendiri sekarang. Sebetulnya
    dulu mama kamu kerja kantoran sebelum melahirkan kamu, dan begitu kamu lahir mama berhenti dari
    pekerjaannya karena mau ngurusin kamu.

    Trus pa? Jawabku asal..

    Ya karena sekarang kamu udah smp, mama mau bekerja kembali dan ternyata kantornya mau menerimanya
    kembali

    bagus dong ma, terus memangnya kenapa pa??

    Ya kamu taukan papa pulangnya selalu malem, trus kalo mama kamu dah kerja lagi, pulangnya juga malem
    ntar. Jadi mungkin kami bakalan jarang ada di rumah. Trus nanti papa nyewakan pembantu buat ngurusin
    pekerjaan rumah. Tapi, kamu gak keberatan kan??

    Ooh gitu yah. Tapi hari sabtu minggu, papa sama mama di rumah kan??Iya kami di rumah, jadi gimana??
    Kamu gak keberatan kan Bayu??Yaudah, Bayu gak keberatan kok. Sebetulnya si aku keberatan juga.
    Biasanya ada mama tapi gak ada papa aja aku ngerasa kesepian juga di rumah. Tapi, daridulu aku emang
    gak pernah bisa nolak yang di suruh orang tuaku.

    nah gitu dong, ternyata si Bayu udah dewasa ya pa?? kata mamaku..

    iya nih. Kamu tenang aja Bayu, papa bakal cariin yang cakep biar kamu gak bosen Kata papaku sambil
    bercanda..

    Akupun ikut ketawa, aku sama sekali gak kebayang pembantu macam apa yang bakalan kerja disini. Dan
    berkat dia, aku udah dapat hampir semua pengalaman seks pria dewasaa Besoknya aku pergi sekolah
    seperti biasa, dan agak berharap juga kalo pembantu aku tu bener2 cakep.

    ( Sebelumnya kami gak pernah punya pembantu. Hari itulah pertama kalinya ada orang asing di rumah. Dan
    itu agak membuatku penasaran juga.)

    Sepulang sekolah, aku gak ikut bermain bola seperti biasa, aku kepingin cepat2 pulang ke rumah, karena
    penasaran.

    Sesampainya didepan rumah, aku jadi gugup sendiri, dan mengetuk pintu dengan tak sabar. Begitu pintu
    terbuka, sesuai dugaanklu pembantu barukulah yanbg membukakan pintunya. Dan aku agak kecewa juga si,
    ternyata gak secakep yang kubayangkan.

    Aku ngebayangkan, gimana yah kalo punya pembantu kaya bunga citra lestari (gak mungkinlah, kalo cewek
    secakep itu, paling rendah jadi barges om-om).. Huehe, setelah mengusir lamunanku, aku perhatikan
    kembali wajahnya, ternyata lumayan manis juga, dan badannya juga cukup bagus dan agak tinggi. Akupun
    menyapanya, dan agak berbasa-basi sebentar sambil berjalan ke dalam rumah.

    Hari-hari pertama si gak ada yang aneh dengan dia. Aku cukup sering memperhatikan dia. Apalagi kalo
    lagi nyapu, ugh pantatnya yang bulat dan menantang itu langsung membusung dengan bangganya.

    Walaupun aku masih kelas satu smp, aku udah sering menonton film bokep, jadi udah punya perbandingan
    soal bodi cewek. Walaupun bodinya kalah sama artis-artis bokep itu, tapi cukup membuatku terangsang
    dengan posisi-posisi tubuh yang dia lakukan sewaktu lagi mengerjakan tugasnya (emang dasar otak udah
    ngeres).

    Namun tetap aja, aku sama sekali gak berharap untuk menyentuh tubuhnya waktu itu. Aku hanya suka
    memperhatikan dia ketika dia lagi bekerja. Kelihatannya dia juga dah menyadari tatapanku ketika dia
    lagi bekerja, namun dia sepertinya gak terlalu peduli.

    Lagian aku Cuma anak berumur 13 tahun. Namun tanpa kusadari sebetulnya dia peduli, dan kayaknya dia
    juga menikmati ketika aku melihatnya dengan nafsu begitu. Seolah-olah dia sedang mengadakan
    pertunjukan untukku.

    Setelah beberapa minggu masih tetap seperti biasa. Namun dia mulai menunjukkan kelakuan aslinya
    setelah itu. Dia mulai memakai pakaian yang terbuka di rumah. Dan rok yang dipakainya pun sangat
    pendek walau tidak ketat. Namun itu justru membuat roknya gampang tersingkap dan terlihatlah celana
    dalamnya.

    Pertama kali aku melihatnya ketika dia sedang nonton tv di ruang dapur (papaku membeli tv itu khusus
    untuk pembantu biar dia gak bosen), dan kelihatnnya dia gak berusaha menutupinya, walaupun jelas-jelas
    aku berdiri di depan dia dan melihat celana dalamnya.

    Aku bener terpaku saat itu, karena itu pertama kalinya aku melihat tubuh wanita di balik roknya secara
    langsung. Apalagi di rumah sendiri. Wajahku terasa panas dan jantungku berdegup kencang, dan sikapku
    sangat kikuk jadinya.

    Dan entah kenapa dia cuek-cuek aja, malah posisinya semakin menantang. Kakinya diangkat sebelah ke
    kursi dan yang sebelah lagi dbuka lebar ke samping.

    Dan semakin jelaslah terlihat pahanya yang mulus dan terutama celana dalamnya. Cukup lama juga aku
    mondar-mandir di depan dia. Namun setelah itu aku kembali ke kamar karena aku takut dia maraha

    Sesampainya di kamar, aku masih terus keikiran kejadian tadi. Akhirnya karena gak tahan lagi, aku
    memutuskan untuk beronani di kamar mandi. Dan ternyata di kamar mandi ada benda yang baru saja aku
    lihat. Pakaian kotor pembantuku itu tergantung di kamar mandi. Dengan tak sabaran aku mulai mencari
    dan kutemukan juga celana dalam kotor pembantuku itu.

    Dengan nafsu yang tak tertahankan aku mulai mendekatkan celana dalam itu ke wajahku. Kutempelkan di
    wajahku dan kuhirup dalam-dalam aromanya. Seketika bau-bau asing menyerang penciumanku.

    Kucium juga bagian yang menutupi pantatnya. Wanginya benar-benar memabukkan, ingin rasanya aku
    menjilati anusnya setiap hari. Tangankupun mulai mengocok-kocok penisku. Kujilati bagian yang menutupi
    anusnya dengan nafsu. Waktu itu aku benar-benar berharap ada kotoran yang menempel di celana dalam
    itu.

    Maniku keluar lebih cepat dari biasanya. Lalu akupun mulai menciumi bajunya. Kuhirup aroma tubuhnya,
    ketiaknya dan bau keringatnyapun mulai membiusku. Aku dah mulai terobsesi sama dia. Padahal sebelumnya
    aku hanya seneng memandanginya ajaa

    Setelah puas menghirup semua bau yang ada di pakaian kotornya aku pun mulai mandi dan membersihkan
    badanku.

    Setelah selesai dan ketika hendak keluar, aku kaget bukan kepalang. Ternyata pintu kamar mandi gak
    kututup. Aku baru teringat, bahwa tadi aku lupa menutup pintu dan langsung mengambil pakaian kotor
    pembantuku itu.

    Dan kamar mandi itu pintunya di ujung, jadi kalo lupa nutup pintu dan gak ngeliat ke belakang, kita
    bisa gak sadar kalo kita lupa nutup pintu. Dan yang lebih membuat panik ternyata dari tadi pembantuku
    lagi nyapu ruang tamu, dan pintu kamar mandi itu memang menghadap ruang tamu.

    Aku baru sadar kalo dari pertama tadi emang ada suara-suara kayak orang lagi beres-beres gitu, tapi
    karena kupikir pintunya dah kukunci aku nyantai-nyantai aja. Dan dirumah memang gak ada orang selain
    kami berdua. Artinya dia bisa ngeliat dengan jelas kegiatan aku dari pertama tadi

    Aku pun jalan dengan gugup dan muka tertunduk. Trus tiba-tiba dia ngomong sama aku

    Udah siap mandinya dek??

    Eh u..udah kak. Jawabku dengan gugup..

    Kamu kaya cewek aja mandinya lama banget. Tadi kaka nungguin juga di depan pintu, eh rupanya masih
    lama mandinya.. katanya dengan senyum penuh arti..

    Damn!!!, artinya, dia tau aku ngapain aja di dalam. Atau begitulah bayanganku. Akupun gak menjawab
    apa-apa dan hanya berlari ke kamar. Aku sempet kepikiran juga arti senyumannya itu.

    Apa dia bermaksud mengatakan kalo dia gak keberatan aku ngelakuin itu??? Atau dia punya maksud
    lain???? Halah, pikiran anak smp mang belum nyampe ke hal-hal yg seperti itu. Dan aku tetap aja
    ketakutan dia bakal marah

    Sejak itu, aku sering bgt berlama-lama di kamar mandi, menikmati pakaian kotor pembantuku. Aku selalu
    masuk kamar mandi setelah dia mandi. Dan pakaian kotornya masih anget, dan aromanya masih kuat.

    Pernah aku dapet bajunya yang basah sama keringat. Aah nikmat banget keringatnya yang asin itu. Dan
    lagi-lagi aku ngerasa aneh, kenapa dia gak nanya ke aku, kenapa aku selalu masuk setelah dia mandi.
    Yah mungkin dia udah tau gara-gara yang pertama kali itu, tp tetep aja aku gak ngerti kenapa dia gak
    marah.

    Kegiatan ngintip celana dalam dia pun masih aku lakukan. Bahkan walaupun dia tau aku lg ngeliatin
    cdnya, dia cuek-cuek aja. Belakangan aku tau dia sengaja. Keliatannya dia emang suka mamerin tubuhnya
    gitu.

    Aku tau hal ini karena setelah beberapa bulan dia bekerja, aksi pamernya semakin menggila. Dia keluar
    kamar hanya dengan memakai celana dalam dan bra, dan mulai bekerja seolah gak ada kejadian apa-apa.

    Waktu ngeliat dia aku kaget setengah mati. Sampe-sampe aku bengong gitu. Dia malah cuek-cuek aja, gak
    lupa melempar senyum ke aku ketika berpapasan. Dan hari itu aku ngikutin dia terus. Pokoknya, dia lagi
    nyapu, lagi nonton, lagi beres-beres, aku pasti ikut.

    Dia juga (lagi-lagi) cuek-cuek aja. Tp, tetep aku gak berani mencoba menyentuh tubuhnya. Aku takut dia
    marah, terus minta berhenti.

    Paling asyik tu waktu dia lagi nyapu kamarku, pantatnya yang nunggging di ruangan sempit itu, semakin
    terlihat menantang karena cuma dibungkus celana dalam. Apalagi kelihatannya cdnya agak lembab gara-
    gara keringat.

    Waktu itu aku lagi baca komik di kamar. Trus entah kenapa dia lama banget ngeberes-beresin kamarku.
    Padahal kamarnya kecil trus barang-barangnya juga dikit. Trus waktu udah selesai, dia gak langsung
    keluar kamar.

    Dia malah duduk di tempat tidurku, katanya si dia mau istirahat sebentar. Tp yang didudukinnya
    ternyata bantalku, dan lama juga dia disitu. Begitu dia pergi, aku langsung menciumi bantalku. Dan
    aroma pantatnya pun tercium . Ingin rasanya didudukin pantatnya di wajahku. Dan ternyata impianku itu
    kejadian esoknya

    Waktu itu kami lagi nonton tv di dapur. Seperti biasanya dia hanya mengenakan cd dan bra. Karena hari
    itu di sekolah ada pelajaran olahraga, badanku udah kecapean, dan kepingin istirahat. Tapi aku gak mau
    melewatkan saat-saat bersama dia. Jadi, karena dia liat aku terus-terusan nguap, dia nawarin untuk
    tiduran di pangkuan dia. Tanpa basa-basi langsung kuterima tawarannya.

    Pahanya terasa hangat dan mulus di pipiku. adik? kecilku langsung bangun gara-gara itu. Akupun
    langsung pura-pura tertidur dan membalikkan badanku. Sehinggga sekarang aku tiduran mengahadap ke
    perutnya dia.

    Baru kali ini aku bisa ngeliat celana dalamnya dalam jarak sedekat ini. Aku bener-bener udah horny.
    Dan, pelan-pelan bibirku mulai mencoba menyentuh pahanya. Sentuhan pertama berhasil membuatku
    melayang. Pahanya teras hangat dan harum

    Kejutan yang kudapat gak berhenti sampai di situ. Ketika itu tiba2 hpnya yang di letakkan di meja
    sebelah sofa tempat kami duduk berbunyi. Dan dia pun pelan-pelan menggeser kepalaku dan meletakannya
    di sofa.

    Karena aku sedang pura-pura tidur, aku gak tau apa yang sedang terjadi. Dan ketika kubuka mata,
    ternyata dia lagi berlutut menyamping sambil mengotak-atik hpnya, dan kepalaku berada di tengah-tengah
    kedua lutunya.

    Dan entah kenapa, kulihat dia menurunkan pantatnya secara perlahan sampai akhirnya menyentuh wajahku.
    Dia menduduki wajahku. Aku gak percaya apa yang kualamin ini. Dan aku juga bisa ngerasain, kalo dia
    pelan-pelan menggerak-gerakkan pantatnya maju-mundur. Aaah,, aku bener-bener serasa di surga. Kuhirup
    dalam-dalam aroma pantatnya

    Setelah beberapa saat, tiba-tiba aku merasa ada yang menusuk-tusuk kepalaku. Ternyata itu jarinya. Dia
    sedang bermasturbasi rupanya. Aku menjadi semakin terangsang mendengar desahannya. Walaupun dia
    berusaha menahan suaranya.

    Pantatnya semakin bergerak tak terkendali di wajahku, kadang malah sampai membuatku gak bisa bernafas.
    Lalu tiba-tiba tekanan pantatnya di wajahku semakin kuat, dan tubuhnya mengejang, dan dia mengeluarkan
    desahan kecil tertahan.

    Sepertinya dia udah keluar?. Aah benar-benar saat-saat yang indah, walaupun nantinya aku bakal
    mengalamin yang lebih menarik lagiaSejak itu, aku selalu berusaha menyentuh pantatnya, dan membuatnya
    seolah-olah gak sengaja.

    Tetap aja aku gak berani menyentuhnya dengan terang-terangan. Kadang-kadang aku lewat-lewat di
    belakangnya, atau meletakkan tanganku di tempat dia akan duduk, dan kelihatannya dia juga gak perduli
    walaupun dia sedang menduduki tanganku

    Seminggu kemudian, dia melakukan hal yang lebih gila lagi. Dia udah gak memakai apapun lagi di
    badannya. Walaupun gak setiap saat (mungkin dia takut masuk angin ;). Tapi, ketika dia bekerja, dia
    tetap dalam keadaan bugil. Bukan itu aja, kalo dia ke kamar mandi juga udah gak pernah menutup pintu
    lagi.

    Sehingga, apapun kegiatannya di kamar mandi kelihatan dengan jelas dari luaraAku langsung menunggu dia
    nyapu ke kamarku, supaya bisa melihat lebih dekat. Dan setengah jam kemudian dia masuk kamarku., dan
    mulai membereskannya. Dan ketika dia nungging, terlihat jelasalah anusnya yang indah itu.

    Ingin rasanya menjilati anusnya itu setiap hari, membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di
    sekeliling anusnya, uugh.. Lalu tiba-tiba dia menghadap ke aku yang sedang tiduran di tempat tidur,
    lalu berkata.

    Dek, kakak cape nih. Numpang duduk bentar yah??Eh? Yaa.. udah kak bolehLalu dengan terkejut kusadari,
    dia bukan mau duduk di kursi atau di tempat tidur. Dia mengarahkan pantatnya ke wajahku.

    Awalnya dia berdiri di atas tilamku, lalu berjongkok dan perlahan-lahan mendudukkan pantatnya, yang
    sekarang gak terhalang oleh celana dalam, ke wajahku. Dan dia juga melebarkan belahan pantatnya dengan
    kedua tangannya, seolah-oleh ingin menempelkan anusnya ke wajahku.

    anusnya menempel tepat di bibirku. Badanku bergetar karena gembira, dan gairah. Pertama-tama kucium
    mesra anusnya, dan pembantuku itupun mulai mendesah. Kucium lagi pinggiran-pinggiran anusnya dengan
    lembut.

    perlahan-lahan kujulurkan lidahku dan kujilatin sekeliling anusnya, dan dia pun menggelinjang
    kegelian. Lalu kutusukkan secara perlahan lidahku ke anusnya.

    AAAh, sentuhan pertama yang bakal kuingat sampe tua. Anusnya rasanya agak pahit trus aneh gitu, susah
    deh ngejelaskannya. Kujilat-jilat anusnya dan sekarang dengan penuh nafsu, dan penuh kerinduan. Dia
    pun mulai bergerak liar di atasku.

    Tangannya sekarang gak hanya diam. Yang kanan mengelus-elus kontolku. Yang kiri sedang sibuk
    bermasturbasi ria. Kocokannya berkali-kali terhenti karena sedang berkonsentrasi untuk menggapai
    kenikmatana

    aaaaah,, Bayu jilatin terus anus kakak. Ah ayo sayang.. Teriaknya. Kelihatannya dia udah gak perduli
    apapun lagi. Dan beberapa saat kemudian dia menjambak rambutku dengan keras, dan setengah berdiri
    dengan lutunya, dan mengerang, pertanda dia sudah mencapai orgasme

    Makasih yah dek, sekarang giliran kakak yang muasin kamu katanya sambil tersenyum manis. Diciuminya
    bibirku dengan ganas. Karena aku masih dalam pertumbuhan, ukuran bibirnya dengan bibirku jauh berbeda.

    Dengan mudahnya dia melumat bibirku yang mungil ini, bahkan ketika dia menciukmku, dagukupun ikut
    terkena ciumannya.

    Dijilatinya bibirku, lalu dimasukkannya kedalam mulutku. Akupun berusaha menggapai lidahnya dengan
    lidahku. Lalu kuemut-emut lidahnya, lalu aku mulai menghisapnya. Lalu dia mengangkat kepalanya dan
    mulai meneteskan liurnya kedalam mulutku. Langsung kutelan dengan bernafsu. Berkali-kali kami lakukan
    itu.

    Setelah itu dia mulai menjilatiku lagi. Dari mulai pipi, hidung, keingku, dan daguku. Sampai-sampai
    wajahku basah kena jilatannya. Dan dia pun mulai meludahi wajahku dengan gemas. Aku hanya diam aja
    menikmati segala perlakuannya padaku.

    Perlahan-lahan jilatan-jilatannya mulai turun keleher, lalu kedada dan sampai ke putingkupun dijilat-
    dan dihisap-hisapnya. Dan tangannya meraba-raba putingku yang satunya.

    Setelah itu, dia membuka celanku sampai terlihatlah kontolku yang masih kecil mungil ini. Dan dia
    membuka mulutnya dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. Aah rasanya bener-bener nikmat. Setiap
    sedotannya membuat seluruh tubuhku menegang.

    Dan tanpa sadar tangankupun mulai menarik-narik wajahnya dengan nafsu. Dan dia terus menghisap-hisap
    titiku tanpa menggunakan tangannya sama-sekali. Dan setelah beberapa menit, aku sudah ingin keluar.

    Kaak, adek udah mau keluar nih kataku. Dia pun semakin memperkuat hisapannya sampai terasa sakit. Dan
    kukeluarkan semuanya di mulutnya. Dan kuliahat dia menelannya dengan semangat. Dan menjilati sisa-sia
    maniku di ujung kontoltku. AAh rasanya sangat nikmat

    Gimana?? Kamu puaskan??

    Eh, iya kak. Adek puas banget. Adek udah lama beronani smbil ngebayangin kakak. Kataku tanpa malu-malu
    lagi

    Hihihi. Nakal kamu yah, kenapa kamu gak langsung datengin kakak trus minta kakak ngent*tin kamu? Aku
    agak kaget mendengar dia tiba-tiba berkata vulgar. Tapi terlihat di wajahnya kelihatannya dia senang
    berkata-kata jorok seperti itu

    Kan kasian tongkol kamu kamu dek, setiap hari cuma dapetnya tangan kamu sendiri. Kan mendingan ent*tin
    kakak aja?? Katanya dengan tatapan penuh nafsu.

    Mulai sekarang, kalo kamu lagi kepengen kamu bilang kaya gini ke kakak, kaak, adek pengen ngentot ya??

    Iyaa kak..

    Coba bilang dong pintanya

    Kaaak, adek pe..pengen ngentot jawabku dengan gugup

    Naah, gitu yah bilangnya. Ntar kakak entotin kamu.

    iaiya kak.

    Lalu karena aku sudah cape, akupun tertidur sambil berpelukan dengan dia. Kami udah kaya suami istri
    aja

    Sejak itu, kami sering melakukan itu lagi. Dan kalo kami gak sedang bermain? pun dia tetap aja gak
    memakai bajunya. Aku juga sering ikut mandi bareng dia. Dan karena udah sangat terobsesi sama dia,
    kotorannya pun bisa membuatku terangsang.

    Hampir tiap hari aku minta dia mengencingiku. Kadang kutelan semua kencingnya sampai gak bersisa.
    Setelah bosan dengan kencingnya, tainyapun kujamah juga. Sampe-sampe setiap dia mau buang kotoran dia
    harus memberitahuku dulu.

    Kalo aku lagi gak mau, barulah dia ke wc secara biasa. Dan kami melakukannya di mana-mana, namun kami
    selalu berhati-hati agar kencing atau tainya gak berceceran.

    Aku juga memaksanya untuk ikut merasakan tainya sendiri, lalu setelah itu acara berciuman kamipun jauh
    lebih hot karena mulut kami penuh dengan kotoran

    Aku sadar apa yang kami lakukan itu jauuh diluar batasan normal (dari pertama juga sebenarnya udah gak
    normal. Masak cewek berumur 26 tahun main sama anak berumur 13 tahun???). Tp aku gak bisa ngebohongin
    diri sendiri, karena aku juga sangat menikmatinya.

  • Nekat ML di Kantor dengan Teman Wanitaku yang Agresif – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    Nekat ML di Kantor dengan Teman Wanitaku yang Agresif – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018


    1634 views

    Perawanku – Kejadian ini berlangsung ketika waktu itu saya dipindahkan oleh manajemen ke Bandung untuk memimpin kantor cabang Bank di Bandung. Suatu hari, sore sekitar pukul 18.00 WIB menjelang malam sebelum pulang, saya ngobrol dengan operational manager saya di ruangan saya.

    Di kantor tinggal kami berdua, office boy dan para marketing sudah ijin pulang. Saya berdiri dengan badan merapat di badannya yang duduk di kursi sambil saya memandang ke arah jalan di luar. Saking dekatnya tak terasa kemaluan saya menempel ke lengan kanannya.

    Saya sejenak tertegun akan apa yang terjadi, tetapi dia kelihatannya suka dan cuek saja sambil sedikit senyum dikulum. Sedikit saya gambarkan operational manager saya yang seorang wanita agresif dan seksi ini, saya tidak akan menyebutkan siapa namanya, saya tidak ingin dia menjadi malu karena sampai saat ini kami masih tetap berhubungan baik.

    Wajahnya cukup cantik, manis dengan senyum yang menggoda, dia memiliki tubuh yang mungil dengan rambut sebahu, kulitnya putih sekali, buah dadanya tidak begitu besar tapi sangat padat, bibirnya sangat sensual. Tiba-tiba tangannya memegang jari-jari tangan kanan saya lalu mengusapnya perlahan, lalu saya memandang wajah cantiknya, dia tersenyum.

    Saya ingin sekali memeluk tubuh mungilnya. Dengan perlahan saya menurunkan muka saya ke mukanya, saya sentuh bibir seksinya, saya cium dengan lembut, dengan penuh perasaan, lalu dia balas dengan melumat bibir saya dengan kuluman lidahnya yang menggairahkan sambil menarik dasi saya untuk lebih merapat ke badannya.

    Tangan sayapun mulai turun mengusap-usap buah dadanya, tangannya pun tidak mau kalah, batang kemaluan saya diusap-usap dan diurut-urut dengan lembut dari luar pantalon saya. Sebelum saya lebih bernafsu, saya kunci pintu, saya ingin take safe.

    Saya langsung memeluk dan menciumi seluruh muka dan lehernya begitu saya kunci pintu kantor saya. Dia yang seorang wanita agresif lalu mendesah dan mengerang nikmat tidak karuan. Ini yang saya sukai darinya, dia begitu ekspresif dan amat menikmati ciuman dan cumbuan saya.

    Dengan agresif dia membuka celana saya, lalu dia duduk sambil memasukkan penis saya ke dalam mulutnya dan menghisapnya perlahan-lahan lalu menariknya kembali sambil kedua bibirnya mengatupkan rapat di seputar batang kemaluan saya. Oooh, inilah yang saya paling sukai dari dia, pintar sekali mengulum kepunyaan saya. Saya tahu bahwa dia sangat mencintai saya, karenanya dia selalu memberikan yang terbaik untuk saya.

    Saya benar-benar sudah tidak tahan. Segera saya tarik badannya dan saya dudukkan di atas meja saya, kedua kakinya menjuntai ke kursi. Dia benar-benar pasrah waktu saya angkat rok mininya lalu saya tarik celana dalamnya, lalu saya lumat habis selangkangannya, “Aahh”, dia menjerit perlahan sambil menjambak rambut saya.

    Lebih kurang 10 menit saya melakukan foreplay lalu saya masukkan kemaluan saya ke dalam lubang cintanya. Pelan-pelan saya mulai menggoyang pantat saya maju mundur, diapun menggoyang-goyangkan pinggulnya naik turun mengikuti irama pantat saya, kaki kanannya saya angkat ke pundak saya sambil jari tangan kiri saya meremas-remas kedua buah dadanya. Lima menit kemudian dia mempercepat gerakannya sambil mendesah-desah,

    “Oohh…, Maasss…, Maass…, nikmat Maass”, desahnya.

    Tiba-tiba kaki kanannya diturunkan, kemudian kedua kakinya dilingkarkan ke belakang pantat saya, lalu dia setengah bangun, tangan kanannya memegang leher saya, sedangkan tangan kirinya menopang badannya. Bibirnya menciumi dada saya lalu lidahnya menjilat-jilat puting dada saya.

    “aaghh Pak…, ooohh..,

    Pak…, eennaakk paakk…, uuughh”, begitulah rintihan dan lengguhan nikmatnya seirama dengan maju mundurnya pantat saya. Batang kemaluan saya terasa lebih besar setelah sekitar 20 menit menerobos dan membongkar habis kemaluannya yang merah dan menggairahkan.

    Saya merasakan bahwa lubang kemaluannya semakin basah namun pijatan-pijatan di dalam lubang kemaluannya semakin terasa getarannya. Lima menit kemudian dia bangun memeluk tubuh saya erat sekali sambil menciumi dagu saya, pantatnya bergetar hebat dengan kedua kakinya yang semakin erat melingkar di belakang pantat saya.

    “Ougghh…, hh…, Pak…, oohh…, Paak…, saya mau keluaar…, oooh…, oouuuggh…, maauu keluuaarrr…, sebentar lagi paak”, desahnya sambil terus mengerang-erang kenikmatan.

    Saya semakin bergairah dan menambah kecepatan maju mundurnya pantat saya. Tiba-tiba saya merasakan badannya menegang dan menggelepar-gelepar beberapa detik, dia sedang merasakan ejakulasi, saya kembali mempercepat gerakan pantat saya sambil saya peluk dia erat dan saya mendesah-desah dan membisikkan

    “Ahh…, kamu…, aagghh…, aaghh…, agghh…, kamu punya nikmat sekali sayang”, demikianlah kebiasaan kami bila bercinta, kami selalu saling apresiasi bila salah satu dari kami mencapai puncak kenikmatan. Badannya kembali mengejang kuat sambil bergetar hebat menikmati irama goyangan pantat saya serta dahsyatnya batang kemaluan saya.

    “aagghh…, Paak…, saya keluaarrr Paak”, teriaknya. Bersamaan dengan telah mencapai puncak orgasme manager saya itu, maka saya tekan habis-habisan batang kemaluan saya hingga saya rasakan menyentuh dinding vaginanya. Nikmat sekali memang rasanya, saya tetap terus memaju mundurkan pantat saya, maklum saya termasuk pria yang butuh waktu lama bila bercinta. Apalagi kemaluan saya yang perkasa ini.

    Bagi anda para pembaca wanita, anda bisa membayangkan kemaluan saya seperti apa, kemaluan saya tidak begitu panjang tapi sangat keras sekali, sekitar 14 cm dengan diameter sekitar 3,8 cm, berwarna coklat sedikit pink dengan kepala kemaluan bundar menawan dan mengkilat. Banyak sekali wanita yang mengagumi kemaluan saya. Mereka umumnya selalu merasa excited dan ingin selalu mem-blowjob-nya.

    Sampai suatu ketika saya merasa bahwa saya akan mencapai puncak kenikmatan. Saya bisikkan bahwa saya mau keluarin di mulutnya. Dia tersenyum dan mengedipkan matanya pertanda setuju. Saya merasa sangat terangsang dan dihargai, lalu saya percepat gerakan batang kemaluan saya keluar masuk liang vaginanya yang kini terasa lebih sempit dan sedikit kering.

    Dia membisikkan kata-kata kenikmatan, “Ouuugghh…, ough…, ough…, Paak…, “Pakk…, uuuhh nikmat sekali punya bapaak…, saya mau kelluar lagiii Paak”, teriaknya. Tiba-tiba badannya mengejang dan bergetar hebat beberapa saat, rupanya dia keluar untuk kedua kali.

    Saya mempercepat gerakan, 2 menit kemudian ketika saya sudah tidak tahan lagi, saya keluarkan batang kemaluan saya dari liang vaginanya, lalu dia langsung jongkok bersimpuh dan saya mulai meremas-remas rambut dan sedikit menjambaknya sebelum saya ejakulasi.

    Lalu…, “Cret…, cret…, crettt…, crett”, saya muntahkan cairan sperma saya ke dalam mulut seksinya. Sebagian yang masuk ke dalam mulutnya langsung ditelan, sebagian lagi mengenai mata, hidung dan dagu serta turun mengenai buah dadanya. “Ugh nikmat sekali”.

    Kami lalu berpelukan sambil membisikkan kata-kata sayang, setelah kami berpakaian dan sama-sama merasa rapi, saya antarkan dia pulang ke rumahnya sambil saling berjanji untuk melakukannya esok hari.

  • Cerita Sex Bertukar Pasangan Dengan Istri Temanku

    Cerita Sex Bertukar Pasangan Dengan Istri Temanku


    1249 views

    Perawanku – Cerita Sex Bertukar Pasangan Dengan Istri Temanku, Taryono (samaran) adalah sahabat lamaku sejak aku SMA, Kini setelah kami sudah mempunyai anak remaja (umurku 46 tahun) dia masih sahabatku, bahkan istrinya yang bernama Atik (samaran) dan istriku sangat akrab, dan kami rutin selalu ketemu kalau tidak dirumahnya, ya dirumahku.

    Bahkan jika aku dan Triyono pergi mancing ketengah laut dengan sewa perahu, tak jarang istriku menginap dirumah menemani istrinya atau sebaliknya (karena anak kami sudah remaja dan mereka kuliah dikota lain).

    Begitu akrabnya kami sehingga tak jarang kami melakukan yang menurut pandangan orang ketiga adalah hal yang aneh, misalnya ditengah gurauan, kadang kadang Triyono memeluk istriku dan menciumi pipinya berkali kali, didepanku maupun didepan istrinya. Demikian pula sebaliknya ketika kami bercengkarama berempat kadang kadang Atik dengan manja tiduran berbantal pahaku. Tentunya sikap kami ini tidak didepan anak anak yang sudah berangkat remaja.

    Bahkan pernah didapur rumahku aku memergoki Triyono mencolek pantat istriku, dan kulihat istriku pura pura marah, aku tahu itu dari raut wajahnya, tentu saja sebagai lelaki normal kadang aku dilanda cemburu. Tetapi kami selalu lebih memegang persahabatan, apalagi akupun sering melakukan hal yang sama terhadap istrinya.

    Tentu saja keadaan ini tidak terjadi begitu saja, kami menjalin hubungan kekeluargaan sejak kami menikah. Namun sejauh itu kami tidak pernah melakukan hal hal yang terlalu jauh. Sampai suatu hari terjadilah apa yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, setidak tidaknya olehku. Tapi aku yakin ini adalah rencana Triyono dan istrinya yang sudah dipersiapkan (ini kusadari setelah cukup lama peristiwa itu terjadi)

    Seperti yang sering kami lakukan, pada hari jumat yang kebetulan hari libur kami berempat ber week end di Villaku didaerah Ciloto. Walaupun tidak terlalu mewah namun villaku ini cukup luas dan cukup nyaman untuk beristirahat di akhir pekan. Kami selalu rutin mengunjunginya paling tidak sebulan sekali, biasanya hanya aku dan istriku, kadang kadang anak anak ikut, atau famili lain.

    Kali ini aku mengajak Triyono dan istrinya, tidak ada yang istimewa kami hanya ingin menikmati liburan dan seperti biasanya selesai makan siang dijalan, istriku mampir untuk beli pepes ikan Mas kesukaanku. Sampai di villa sekitar jam jam 2 siang, aku tidur pulas, sampai akhirnya dibangunkan istriku untuk makan malam. Kami makan malam berempat dengan nasi hangat dan pepes ikan.

    Selesai makan malam kami menonton TV sambil ngobrol kesana kemari diruang keluarga. Setelah bosan ngobrol, Triyono mengambil inisiatif mengambil kasur dikamarnya dan dihamparkan didepan TV dia dan istrinya menonton TV sambil tiduran, dan akupun berbuat hal yang sama. Atiek masuk kamarnya dan mengganti dasternya dengan baju tidur yang amat tipis tanpa BH dan CD, ini terlihat jelas dari bayangan tubuhnya dibalik gaun tidurnya.

    Cerita Sex Bertukar Pasangan Dengan Istri Temanku

    Cerita Sex Bertukar Pasangan Dengan Istri Temanku

    Kulihat dia sangat atraktif mempertontonkan tubuhnya didepanku dan didepan istriku. Kulihat Triyono acuh saja melihat tingkah istrinya. Kamipun menonton TV sambil tiduran, istriku dan Atiek tidur berdampingan ditengah sedangkan aku berada disamping istriku dipinggir.

    Acara TV terasa membosankan mungkin karena aku tidak bisa konsentrasi, aku lebih terpesona menikmati tubuh yang menggairahkan yang tergolek disamping istriku dan itu membuat adik kecilku dibalik sarung setengah ereksi.

    “Pah.., puterin film yang hot.. dong.., aku kedinginan nih..” Atiek menyuruh suaminya memutar film porno.

    Aku tahu mereka sering muter film porno karena kami sering tukar menukar film, tapi selama ini kami belum pernah nonton bersama sama.

    Sebelum beranjak mengambil film, Triyono basa basi minta ijin istriku

    “Rin..muter film blue ya..”
    “Terserah aja ” jawab istriku.

    Filmnya cukup bagus dengan latar belakang jaman kekaisaran romawi, adegan sexnya tidak vulgar, dan ini membuat gairahku cepat bangkit. Sarungku sudah terdongkrak keatas sementara kulihat Atiek sering mencuri padang kearah sarungku yang memang sengaja tidak kusembunyikan. Sementara itu istriku sudah memindahkan kepalanya diatas lenganku dan jari tangannya meremas remas jari tanganku. Aku sudah hapal sekali, istriku pasti sudah terangsang.

    Triyono menonton film itu dengan memeluk istrinya secara ketat dan tangannya mengusap usap payudara Atiek dari luar baju tidurnya, sesekali diciumnya bibir istrinya dalam dalam. Sementara itu kaki kanan Atiek ditekuk dan pahanya menindih paha istriku, sehingga tak terhindarkan baju tidurnya yang memang pendek makin tersingkap sehingga akupun makin leluasa melahap pahanya yang putih mulus, dan sebagian rambut dipangkal pahanya dengan sudut mataku.

    “Mbak Rin,.. Aku jadi pengen nih..” Atiek bicara kepada istriku.
    “Ya nggak apa apa, wong Mas nya nyanding koq.” Istriku menyahut sambil senyum penuh arti.

    Aku makin terangsang, kumiringkan tubuhku menghadap istriku sehingga aku bisa melihat paha mulus Atiek, dan kuselusupkan tanganku dibalik blouse istriku yang tidak ber BH untuk meremas remas buah dadanya, sementara tangannya sudah masuk kesarungku untuk mengelus elus penisku yang sudah berdiri keras.

    Ia menutup tanganku dengan bantal sehingga gerilya yang kulakukan tidak terlihat oleh Triyono dan Atiek. Walaupun itu sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan, karena mereka sudah tidak memperhatikan kami lagi, keduanya sudah mulai tenggelam dalam percintaan.

    Ketika Atiek melepaskan seluruh pakaiannya dan mencopoti pakaian suaminya, Triyono menggeser posisinya merapat keistriku, sedangkan Atiek menindihkan tubuhnya yang bugil dari sebelah kanan, sehingga Triyono berdampingan dengan istriku.

    Mereka berciuman sambil saling saling mengelus penuh nafsu, kulihat istriku sering melirik mereka dengan gairah, ikut terhanyut dengan adegan panas persis satu jengkal disampingnya. Tiba tiba Atiek menghentikan pergulatan dengan suaminya dan tangannya meraih blouse depan istriku dan melepas kancingnya.

    “Biar adil dong Mbak..” sambil tangannya terus melolosi seluruh pakaian istriku.

    Walaupun wajah istriku protes, tapi usaha mencegah tangan Atiek yang nakal, tidak serius sehingga dengan mudah Atiek melucuti pakaian istriku. Sekelebat kulihat mata Triyono melahap seluruh tubuh indah istriku, bahkan ia segera mengeser posisinya merapat ketubuh istriku, sehingga lengannya menempel pada pinggir payudara istriku.

    Aku tak sempat berfikir macam macam, nafsuku mendominasi pikiranku, kucopot seluruh pakaianku sehingga kami berempat sudah bugil, kuciumi istriku, sambil jariku mengelus vaginanya yang sudah basah. Istriku mendesis desis keenakan tangan kanannya mendekap punggungku erat erat, sedangkan tangan kirinya tertindih tangan Triyono.

    Kurasakan elusan lembut sebuah tangan halus menelusuri bokongku, bahkan kemudian mengarah keselangkangan dan mengelus buah zakarku. Aku sudah menduga pemilik tangan itu, dan hatiku berdesir ketika kulihat tangan Atiek lah yang sedang mengelus batang penisku, sambil mulutnya menciumi dada suaminya.

    Aku yakin Triyono melihat tangan istrinya yang sedang beroperasi di batangku yang keras seperti kayu, tapi dia tampak acuh saja, bahkan kini lengan kanannya telah mendidih susu istriku. Istriku tidak menyadari atau pura pura tidak tahu bahwa tangan Triyono sudah menindih payudaranya, dan wajahnya dipalingkan kearah yang berlawanan.

    Atiek sambil berubah posisi dengan setengah duduk dipaha suaminya dengan selangkangan yang terbuka lebar memperlihatkan vagina merah basah yang sangat indah, sementara tangan kanannya menggosokan gosokkan kemaluan suaminya ke klitorisnya, sementara buah dada nya menggantung diremas remas suaminya.

    Posisinya tersebut membuat tubuh Triyono merenggang dari tubuh istriku sehingga tangan kiri istriku yang tertidih menjadi bebas. Dari padangan matanya yang sayu dan pahanya sudah direntangkan, aku tahu baha istriku sudah memberi lampu hijau.

    Dituntunnya penisku kearah lubang vaginanya, dan dalam tempo singkat aku sudah melayang menikmati jepitan lobang kemaluan istriku. Sementara aku mengocoknya perlahan lahan, istriku mendesis desis keenakan, kini wajah istriku menghadap kearah Triyono bahkan hanya berjarak sejengkal dengan wajah Triyono namun matanya terpejam.

    Atiek sudah terlengkup ditubuh suaminya, sementara pinggulnya naik turun, mengocok batang suaminya yang sudah melesak ditelan liang kenikmatannya. Sekali kali tangannya meremas bokongku dan istriku melihat aktifitas tangan Atiek ini, tapi rupanya diapun tak ambil peduli. bahkan beberapa kali Triyono mencium mulut istriku yang tengah mendesis, istriku diam saja, walaupun tidak meresponnya.

    Entah kenapa aku tidak cemburu melihat istriku diciumi oleh Triyono saat sedang kusetubuhi, bahkan aku makin terangsang. Karena kulihat ciuman itu membuat istriku makin bergolak gairahnya. Ini kurasakan dari gerakan dan nafasnya mendengus tidak seperti adat biasanya.

    Dalam waktu yang tidak terlalu lama gerakan istriku tak terkendali, bahkan ia membalas menyedot ciuman Triyono, dan pada saat itulah istriku menghentak hentakkan pinggulnya keatas, mulutnya menghisap mulut Triyono dalam dalam sambil merintih. Dia telah ejakulasi. Ini diluar kebiasaan, istriku biasanya cukup tahan lama ejakulasi-nya, tapi kali ini dia cepat selesai, padahal aku belum merasa akan ejakulasi.

    Kuhentikan kocokanku, kucabut penisku, aku masih tanggung tetapi aku memang tidak ingin selesai sekarang, aku masih berharap istriku bangkit lagi setelah istirahat. Kutatap wajah istriku yang penuh kepuasan. Disampingnya kulihat Triyono menggengam tangan istriku.

    Melihat aku tegeletak disamping istriku, dengan kemaluan yang masih tegar, Atiek segera tahu bahwa aku belum ejakulasi. Tiba tiba Atiek menghentikan goyangan pinggul, dicopotnya penis suaminya dari vaginanya. Dengan melangkahi tubuh istriku, Atiek segera menghampiriku, kemudian dengan dasternya yang diambil dari sisi kasur dibersihkannya penisku yang penuh lendir istriku.

    Dia menindihku dan menciumku. Aku sempat kaget, aku tak menduga kejadian itu, kulirik Triyono tetapi dia hanya melihat tingkah istrinya tanpa reaksi. Istriku juga hanya melirikku sebentar kemudian memejamkan mata kembali, menikmati sisa ejakulasi yang ia dapat dariku.

    Kubalas ciuman Atiek dengan nafsu, tangan kiriku mengelus bokongnya sedangkan tangan kanan meremas buah dadanya. Atiek menjulurkan lidahnya menyambut lidahku, sementara vaginanya yang basah digesek gesekan ke diatas kemaluanku.

    Tampak Atiek sudah sangat terangsang, sehingga ciuman kami hanya berlangsung sebentar, segera dia menghentikan ciumannya, ditariknya badannya sehingga sekarang posisinya duduk diatas pahaku, sementara belahan kemaluannya menidih pada batang penisku yang rebah diatas perut.

    Kulihat belahan kemaluannya yang merah penuh lendir, aku sudah tidak sabar lagi, kuangkat pinggangnya dengan kedua tanganku, Atiek cepat tanggap, sambil mengangkat pantatnya, diambilnya penisku dan diarahkan kelobang vaginanya. Dalam hitungan detik, kemaluanku sudah menyelusup kedalam vagina Atiek. Atiek melenguh pelan, badannya ambruk kedadaku dan wajahnya menempel disamping kepalaku sambil mendesis desis.

    Kuangkat pinggulku berusaha mengocok kemaluan Atiek, dan diapun mengikuti gerakanku tetapi pinggulnya digoyang memutar sedangkan otot vaginanya menjepit kemaluanku, jepitan dan putaran pinggulnya tidak akalh dengan istriku, kenikmatan menjalar keseluruh penisku.

    Sepuluh menit telah berlalu dan kurasakan Atiek mulai mempercepat goyangannya, mulutnya menciumku dan lidahnya menerobos masuk ke mulutku. Nafasnya tersengal, aku segera mengerti bahwa sedang mulai masuk kemasa ejakulasi. Tanpa menunggu waktu lagi kupercepat kocokanku, karena kemaluankupun sudah berdenyut denyut enak, dan segera akan keluar.

    Ketika kurengkuh bokongnya, Atiek merengkuh pundakku makin kencang, dari mulutnya keluar erangan kenikmatan yang panjang dan kemaluannya ditekan keras ke kemaluanku, dia sedang ejakulasi. Dan segera kulepas pula air maniku menyemprot didalam vaginanya. Kenikmatan yang luar biasa.

    Walaupun permainanku sudah berakhir tetapi Atiek tidak mau mencopot kemaluanku dari vaginanya, dia hanya mengeser tubuhnya dari dadaku untuk meringakan tindihan tubuhnya diatas tubuhku. Kesadaranku mulai pulih, kulihat istriku sedang bergumul dengan Taryono.

    Dengan tubuh yang bugil dia menindih tubuh istriku, mereka berciuman dengan pelan dan dalam, tangan meremas remas buah dada istriku yang tergolong besar dan montok, sementara tangan istriku mengelus bokong Triyono, dan kudengar desahan halus dari mulutnya itu pertanda istriku sudah mulai terangsang lagi.

    Melihat istriku terangsang, tiba tiba akupun terangsang kembali. Aku sangat senang istriku menikmati sexnya, Kuhadapkan tubuhku kearah istriku, dan Atiek segera merangkul pinggangku dengan kakinya dari belakang, sambil menikmati sisa ejakulasi yang kuberikan padanya.

    Triyono sedikit mengeser tubuhnya dan tangan yang tadinya meremas tetek istriku turus kebawah, kearah kemaluan istriku, dan istriku mengangkat pinggulnya ketika jari tengan Triyono memutar mutar clitorisnya. Desahan dari mulutnya makin keras.. Triyono mengangkat tubuhnya dan dibukanya lebar lebar paha istriku.

    Istriku menoleh kearahku, matanya sayu memandangku seolah minta ijin padaku. Kupandangi dia, dia sangat cantik tak kuasa aku menghalanginya. Kukecup bibirnya kuusap rambutnya tanda bahwa aku menyetujuinya. Dan ketika penis priyono melesak kedalam vaginanya, istriku memejamkan mata keenakan, dan tangannya mengelus elus penisku seirama dengan kocokan yang diberikan Triyono.

    Kuciumi bibirnya, pipinya lehernya, atau mana saja yang kudapat karena istriku dalam kenikmatan, selalu kepalanya tidak bisa diam, menoleh kekiri kekanan sambil menjilat jilat bibirnya sendiri. Sementara tangan kanannya mengocok penisku tangan kirinya merangkul pundak Triyono. Tangankupun tak henti hentinya meremas remas buah dadanya.

    Kudengar pula desisan Triyono menambah suasana jadi makin mengairahkan. Tiba tiba istriku berhenti menggelengkan kepalanya, dahinya berkerut dan giginya menggigit bibr bawahnya, dia menoleh kearahku, istriku akan selesai dan sebentar lagi pasti akan melenguh panjang.

    “Pah.. aku sudah nggak tahan.. Pahaahh.. eghh.. eegghh”

    Pada saat itu dia mendongakkan wajahnya keatas, matanya menatap mata Triyono dengan sayu. Pada saat yang sama, aku tak tahan menahan ejakulasi, digenggaman tangannya. Kulihat Triyono menekan kemaluannya dalam dalam kevagina istriku untuk berejakulasi.. Ketika dia mencabut kemaluanya, kulihat sisa air mani ejakulasi yang meleleh keluar dari bibir vagina istriku, yang berwarna kemerahan.

    Malam ini adalah malam pertama dimana istriku merasakan penis orang lain selain punyaku apalagi dia merasakannya sekaligus dalam selang beberapa menit, sebuah pengalaman yang sangat memuaskan kami berempat.

    Sejak itu kami sering melakukannya, sedikitnya sebulan sekali, dan kami berkomitmen ini hanya dilakukan berempat, Bahkan kini muncul ide baru dari Atiek untuk menambah menjadi tiga pasangan.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Selingkuh Dengan Tetangga Yang Masih SMP – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Selingkuh Dengan Tetangga Yang Masih SMP – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    2292 views

    Perawanku – Saya adalah seorang mahasiswa yang sedang pulang untuk liburan. Di suatu hari yang cerah, saya sedang berbaring untuk mencoba tidur siang. Ternyata ibu memanggilku dari luar. Segera saya beranjak dari tempat tidur untuk menemuinya, dan ternyata ibu memintaku untuk mengantarkan sebuah bungkusan untuk diserahkan ke teman arisannya.

    Tanpa banyak tanya saya segera bergerak ke alamat yang dituju yang tidak berbeda jauh dari rumahku. Sesampainya di sana aku melihat sebuah rumah yang besar dengan arsitektur yang menawan.

    Aku segera memijit bel di pintu pagar rumah tersebut. Tidak beberapa lama keluarlah seorang gadis manis yang memakai kaos bergambar tweety kedodoran sehingga tidak terlihat bahwa gadis itu memakai celana, walaupun akhirnya saya melihat dia memakai celana pendek.

    Singkat kata saya segera bertanya tentang keberadaan teman ibu saya.
    “Hmm…, sorry nih, Ibu Raninya ada?, saya membawa kiriman untuk beliau”, tanyaku.
    “Wah lagi pergi tuh, Kak…, Kakak siapa ya?”, tanyanya lagi.
    “Oh saya anaknya Ibu Erlin”, jawabku.

    Tiba-tiba cuaca mendung dan mulai gerimis. Sehingga gadis manis itu mempersilakan saya masuk dahulu.
    “Kakak nganterin apaan sih?”, tanyanya.
    “Wah…, nggak tahu tuh kayaknya sih berkas-berkas”, jawabku sambil mengikutinya ke dalam rumahnya.

    “Memang sih tadi Mama titip pesen kalo nanti ada orang yang nganterin barang buat Mama…, tapi aku nggak nyangka kalo yang nganter cowo cakep!”, katanya sambil tersenyum simpul.
    Mendengar pernyataan itu saya menjadi salah tingkah.

    Saat saya memasuki ruang tengah rumah itu, saya menjumpai seorang gadis manis lagi yang sedang asyik nonton TV, tapi melihat kami masuk ia seperti gugup dan mematikan TV yang ditontonnya.

    “Ehmm…, Trid siapa sih?”, tanya gadis itu.
    “Oh iya aku Astrid dan itu temanku Dini, kakak ini yang nganterin pesanan mamaku..”, jawab gadis pemilik rumah yang ternyata bernama Astrid.
    “Eh iya nama gue Ian”, jawabku.

    Tidak lama kemudian aku dipersilakan duduk oleh Astrid. Aku segera mencari posisi terdekat untuk duduk, tiba-tiba saat aku mengangkat bantal yang ada di atas kursi yang akan aku duduki aku menemukan sebuah VCD porno yang segera kuletakkan di sebelahku sambil aku berkata, “Eh…, kalo ini punya kamu nyimpannya yang bener nanti ketahuan lho”.

    Dengan gugup Astrid segera menyembunyikan VCD tersebut di kolong kursinya, lalu segera menyalakan TV yang ternyata sedang menayangkan adegan 2 orang pasangan yang sedang bersetubuh. Karena panik Astrid tidak dapat mengganti gambar yang ada.Untuk menenangkannya tanpa berpikir aku tiba-tiba nyeletuk.

    “Emang kalian lagi nonton begini nggak ada yang tahu?”.

    Dengan muka memerah karena malu mereka menjawab secara bersamaan tapi tidak kompak sehingga terlihat betapa paniknya mereka.

    “Ehh…, kita lagi buat tugas biologi tentang reproduksi manusia”, jawab Astrid sekenanya. Dapat kulihat mimik mukanya yang ketakutan karena ia duduk tepat di sampingku.
    “Tugas biologi?, emangnya kalian ini kelas berapa sih?”,tanyaku lagi.
    “Kita udah kelas 3 SMP kok!”, jawab Dini. Aku hanya mengangguk tanda setuju saja dengan alasan mereka.

    “Kenapa kalian nggak nyari model asli atau dari buku kedokteran?”, tanyaku.
    “Emang nyari dimana Kak?”, tanya mereka bersamaan.
    “Hi.., hi.., hi.., siapa aja…, kalo gue jadi modelnya mo dibayar berapa?”, tanyaku becanda.
    “Emang kakak mau jadi model kita?”, tanyanya.
    Mendengar pertanyaan itu giliran aku yang menjadi gugup.
    “Siapa takut!”, jawabku nekat.

    Ternyata, entah karena mereka sudah ‘horny’ gara-gara film BF yang mereka tonton itu, Astrid segera mendekatiku dengan malu-malu.

    “Sorry kak boleh ya ‘itunya’ kakak Astrid pinjem”, bisiknya.
    Dengan jantung yang berdegup kencang aku membiarkan Astrid mulai membuka retsleting celanaku dan terlihat penisku yang masih tergeletak lemas.

    “Hmm…, emangnya orang rumah kamu pada pulang jam berapa?”, tanyaku mengurangi degup jantungku. Tanpa dijawab Astrid hanya memegangi penisku yang mulai menegang.

    “Kak, kalo cowok berdiri itu kayak gini ya?”, tanyanya.
    “Wah segini sih belum apa-apa”, jawabku.
    “Coba kamu raba dan elus-elus terus”, jawabku.
    “Kalo di film kok kayaknya diremas-remas terus juga dimasukin mulut namanya apa sih?”, tanyanya lagi.
    Ketegangan penisku hampir mencapai maksimal.

    “Nah ukuran segini biasanya cowok mulai dapat memulai untuk bersetubuh, gimana kalo sekarang aku kasih tahu tentang alat kelamin wanita, Emm.., vagina namanya”, mintaku.

    Tanpa banyak tanya ternyata Astrid segera melepaskan celananya sehingga terlihat vaginanya yang masih ditutupi bulu-bulu halus, Astrid duduk di sampingku sehingga dengan mudah aku mengelus-elus bibir vaginanya dan mulai memainkan clitorisnya.

    “Ahh…, geli…, Kak.., ahh…, mm..”, rintihnya dengan mata yang terpejam.
    “Ini yang namanya clitoris pada cewek (tanpa melepaskan jariku dari clitorisnya) nikmat kan kalo aku beginiin”, tanyaku lagi. Dan dijawab dengan anggukan kecil.

    Tiba-tiba Dini yang sudah telanjang bulat memasukkan penisku ke mulutnya.
    “Kok kamu sudah tahu caranya”, tanyaku ke Dini.
    “Kan nyontoh yang di film”, jawabnya.

    Tiba-tiba terjadi gigitan kecil di penisku, tapi kubiarkan saja dan mengarahkan tangan kiriku ke vaginanya sambil kuciumi dan kujilati vagina Astrid. Vagina Astrid mulai dibasahi oleh lendir-lendir pelumas yang meleleh keluar.

    Tiba-tiba Astrid membisiku, “Kak ajarin bersetubuh dong..?”.
    “Wah boleh”, jawabku sambil mencabut penisku dari mulut Dini.
    “Tapi bakal sedikit sakit pertamanya, Trid. Kamu tahan yah…”, bisikku.

    Aku mengangkangkan pahanya dan memainkan jariku di lubang vaginanya agar membiasakan vagina yang masih perawan itu. Dan aku pelan-pelan mulai menusukkan penisku ke dalam liang vagina Astrid, walau susahnya setengah mati karena pasti masih perawan. Ketika akan masuk aku segera mengecup bibirnya, “Tahan ya sayang…”.

    “Aduh…, sakit..”, teriaknya.
    Kubiarkan penisku di dalam vaginanya, beberapa menit baru kumulai gerakan pantatku sehingga penisku bergerak masuk dan keluar, mulai terlihat betapa menikmatinya Astrid akan pengalaman pertamanya.

    “Masih sakit nggak, Trid”, tanyaku.
    “mm…, nggak…, ahh…, ahh…, uhh…, geli Kak”.

    Hampir 30 menit kami bersetubuh dan Astrid mulai mencapai klimaksnya karena terasa vaginanya basah oleh lendir.

    “Kak Astrid pingin pipis!”, tanyanya.
    “Jangan ditahan keluarin aja”, jawabku.
    “Ah…, ahh…, emm…., e..mm”, terasa otot vaginanya menegang dan meremas penisku.
    “Nah Trid kamu kayaknya udah ngerasain ejakulasi tuh”.

    Aku merebahkan tubuh Astid di sampingku dan segera menarik Dini yang sedang onani sambil melihat film porno di TV.
    “Sini kamu mau nggak?”, tanyaku.

    Tanpa banyak tanya Dini segera bergerak mendekatiku, kuhampiri dia dan segera mengangkat kaki kirinya dan kumasukkan penisku ke vaginanya dan tampaknya ia menahan sakit saat menerima hunjaman penisku di lubang vaginanya sambil memejamkan matanya rapat-rapat, tapi sekian lama aku mengocokkan penisku di vaginanya mulai ia merintih keenakan. Aku terus melakukannya sambil berdiri bersender ke tembok.

    “aahh…, Kak.., Dini.., Dini”, jeritnya dan tiba-tiba melemas, ia sudah kelur juga pikirku.

    Aku bopong gadis itu ke kursi dan rupanya Astrid sudah di belakangku dan menyuruhku duduk dan memasukkan penisku ke vaginanya dengan dibimbing tangannya. Aku telah berganti tempat dan gaya, yang semua Astrid yang memerintahkan sesuai adegan di film sampai akhirnya Astrid memberitahuku bahwa ia akan keluar.

    “Trid tahan yah…, aku juga udah mau selesai nih…, ahh…, aahh…, croot…, creettt…,creet”, aku muntahkan beberapa cairan maniku di dalam vaginanya dan sisanya aku semprotkan di perutnya.

    “Enak…, yah Kak…, hangat deh memekku…, hmm…, ini sperma kamu?”, bisiknya dan kujawab dengan ciuman di bibirnya sambil kubelai seluruh tubuh halusnya.

  • Koleksi Foto Model Bugil Di Kamar Mandi Nampak Susu Gede

    Koleksi Foto Model Bugil Di Kamar Mandi Nampak Susu Gede


    2190 views

    Perawanku –Kamu sedang mencari foto Susu yang gede yang hot? anda sudah benar masuk kemari bos ku , Temukan semua yang anda inginkan dalam Perawanku.com Galeri Cewek cewek yang ngentot yang sexy dan Ceritasex yang  paling hot dan dijamin bikin Wenak Di Mata update terbaru 2018 ini.

  • Menikmati Tubuh Tifa Yang Sempurna

    Menikmati Tubuh Tifa Yang Sempurna


    1238 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Menikmati Tubuh Tifa Yang Sempurna ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Teman teman sering memanggilku dengan kata berto pada umumnya nama itu biasanya dipakai pada orang yang bertato tapi gak tau teman teman suka panggil itu mungkin karena mudah diingat dan familiyar, aku berusia 26 tahun gilanya lagi diumur segitu aku masih minim pengetahuan tentang apa namanya cinta.

    Sekarang aku sudah bekerja dari 4 bulan kemarin perusahaan di bidang jasa jarak antara kantor 6 km dari tempat tinggalku, aku masih menumpang di rumah om ku namnya om Rudy dia adalah akepala sekolah di SMK yang terkenal di kota kami, sedangkan istrinya bekerja sebagai perawat di RS swasta. Dan anaknya ngekost di kota lain karena tidak mau kuliah di kota yang ditinggalinya.

    Sejak kedua anaknya kuliah dan tinggal di kota lain, om dan tante Aku hanya tinggal bertiga dengan seorang pembantu.

    Sekitar dua bulan kemudian Om Rudy mengajak Aku agar Aku tinggal bersama mereka, dengan alasan daripada Aku harus kost di luar, lebih baik Aku tinggal di rumah om Aku saja karena di rumahnya ada kamar yang kosong, kata om Rudy memberi alasan.

    Sebulan kemudian, tante Rini membawa keponakannya ke rumah. Nama keponakan tante Rini adalah Tifa, usianya 15 tahun, ia sudah duduk di kelas dua SMKK Negeri. Tifa adalah seorang gadis yang cantik, cerdas, rajin dan baik hati pada semua orang. Suatu ketika, om Rudy dan tante Rini pergi menghadiri acara perpisahan siswa kelas II di sekolah tempat om mengajar.

    Ia sempat mengajak Aku, namun Aku menolak dengan alasan Aku agak lelah, lalu tante Rini mengajak Tifa, namun Tifa juga menolak dengan alasan Tifa lagi ada tugas dari sekolah yang harus diselesaikan malam itu juga karena besok tugas itu sudah harus dikumpulkan.

    Sebelum om dan tante meninggalkan rumah, mereka tidak lupa berpesan agar kami berdua berhatihati, karena sekarang banyak maling yang purapura datang sebagai tamu, namun ternyata sang tamu tibatiba merampok setelah melihat situasi yang memungkinkan. Setelah selesai berpesan, om dan tante pun pergi sambil menyuruh Aku menutup pintu.

    Sejak kepergian om dan tante, rumah jadi hening, kini hanya ada suara TV, namun sengaja Aku kecilkan volumenya karena Tifa sedang belajar. Aku hanya duduk di ruang depan menonton sebuah sinetron yang ditayangkan salah satu stasiun TV swasta.

    Aku sempat menyaksikan adegan panas seorang lelaki paruh baya yang sedang asyik berselingkuh dengan seorang gadis yang ternyata teman sekantornya sendiri. Karena terlalu asyiknya Aku nonton TV, sehinggak Aku sangat kaget ketika sebuah tangan menepuk pundak Aku.

    Setelah Aku lihat ternyata Tifa, ia tersenyum manis sambil menarik lenganku dengan manja menuju kamarnya. Aku jadi degdegan setelah melihat penampilannya, ternyata ia hanya mengenakan celana pendek ketat warna coklat muda dengan kaos orangenya yang super ketat, sehinggak lekuklekuk tubuhnya tampak begitu jelas.

    Sejenak Aku terpana melihat tubuhnya yang nyaris sempurna. Aku amati pinggangnya bagai gitar spanyol dengan paha yang kencang, mulus, dan bersih. Selain itu juga tampak buah dadanya sangat menantang. Sepertinya ukuran BHnya 34B.

    Pemandangan itu sempat mengundang pikiran jahat Aku. Bagaimana rasanya kalau Aku menikmati tubuhnya yang nyaris sempurna itu. Namun Aku berusaha menyingkirkan pikiran itu karena Aku pikir bahwa dia adalah sepupu ipar Aku, tinggal serumah dengan Aku dan Aku pun menganggapnya sudah seperti adik kandung Aku sendiri.

    Ada apa sih? Kok kamu mengajak Aku masuk ke kamar kamu? kataku agak bingung sambil berusaha melepaskan tangan Aku.

    Sebenarnya bukan karena Aku menolak tetapi hanya karena grogi saja. Maklum Aku belum pernah masuk ke kamar Tifa sebelumnya.

    Kak, Tifa mau minta tolong nih! katanya sambil menatapku manja.

    Kakak mau nggak membantu Aku menyelesaikan tugas ini, soalnya besok sudah harus dikumpul. kata dia setengah merengek.

    Oh, maksudnya kamu mau minta tolong agar Aku membantu kamu mengerjakan tugas itu? Okelah. Aku akan membantumu dengan senang hati, Aku kan sudah berjanji untuk selalu menolongmu. kataku mantap.

    Asyik, makasih ya kak. kata Tifa sambil menciumku.

    Kontan Aku merasa tersengat aliran listrik karena meskipun umur sudah 25 tahun, Aku belum pernah mendapat ciuman seperti itu dari seorang gadis, apalagi ciuman itu datangnya dari gadis secantik Tifa.

    Aku pun segera membantunya sambil sesekali mencuri padang padanya, namun sepertinya ia tidak menyadari kalau Aku memperhatikanya. Setelah kami mengerjakan tugas itu sekitar 30 menit, tibatiba Tifa berhenti mengerjakan tugas itu. Ia mengeluh sambil memegangi keningnya.

    Kak, Tifa pusing nih, boleh nggak kakak pijitin kepala Tifa? katanya sambil merapatkan badannya ke dada Aku.

    Sempat Aku merasakan gesekan dari payudaranya yang cukup kencang namun terasa lembut.

    Emang kenapa kok Tifa tibatiba pusing? tanya Aku agak heran.

    Ayo kak, tolong pijatin dong, kepala Tifa pening!

    Oke, dengan senang hati lagi. kataku penuh antusias.

    Aku lalu mulai menekannekan keningnya dengan tangan kiri Aku dan tangan kanan. Aku menahan lehernya agar badannya tidak bergoyang. Sesekali Aku juga mengelus pundaknya yang putih bersih.

    Kak, belakang leher Tifa juga kak, soalnya leher Tifa agak kaku nih. katanya sambil menuntun tangan Aku pada lehernya. Setelah Aku memijatnya sekitar lima menit, ia lalu berdiri sambil menarik tangan Aku.

    Kak, Tifa baring di ranjang aja ya? Biar pijitnya gampang.

    Terserah Tifa ajalah. kata Aku sambil mengikutinya dari belakang.

    Lagilagi Aku terkesima melihat pinggulnya yang sungguh aduhai. Ia lalu berbaring telungkup di atas ranjang sambil menyuruh Aku memijat leher dan punggungnya. Sesekali Aku melihat dia menggerakkan tubuhnya, entah karena sakit atau karena geli.

    Aku tidak tahu pasti, yang jelas Aku juga sangat senang memijat punggungnya yang sangat seksi. Entah karena gerah atau bagaimana, tibatiba saja ia bangun.

    Kak, Tifa buka baju saja ya? Sekalian pakai balsem biar cepat sembuh.

    Mungkin Tifa masuk angin. katanya sambil melepaskan kaosnya, lalu kembali berbaring di depan Aku.

    Aku terkesima melihat kulit tubuhnya yang kuning langsat. Dalam hati Aku berpikir alangkah bahagianya Aku kalau kelak mempunyai istri secantik Tifa. Aku terus memijatnya dengan lembut. Sesekali Aku memutarmutar jarijari Aku di tepi rusuknya.

    Setiap Aku meraba sisi rusuknya, ia kontan menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Kadang juga pinggulnya ditarik. Maklum, ia belum terbiasa disentuh lakilaki. Aku juga sudah mulai merasakan penis Aku mulai bergerakgerak dan kini sudah semakin tegang. Tibatiba ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Aku.

    Kak, Tifa buka aja BHnya ya kak? Soalnya gerah nih. Terserah Tifa lah. kata Aku.

    Kini kami saling berhadaphadapan, ia berbaring menatap ke arah pandangan Aku dan Aku berlutut di samping kanannya. Dia hanya tersenyum manja, Aku pun membalas senyumanya, nafas Aku sudah mulai tidak menentu.

    Sepertinya nafas Tifa juga sudah mulai tidak terkendali, Aku melihat bukitnya yang nampak berdiri kokoh dengan pucuk warna merah jambu kini sudah mulai turun naik. Aku sempat grogi dibuatnya, bagaimana tidak, selama ini Aku belum pernah melihat pemandangan seindah ini.

    Di depan Aku kini tergeletak seorang gadis yang tubuhnya begitu memabukkan dengan desahan nafas yang membuat batang kejantanan Aku sudah berdenyutdenyut. Seakanakan penis Aku mau lompat menerjang tubuh Tifa yang terbaring mengeliatgeliat, sungguh darah muda Aku mulai berdesir kencang. Kini Aku mulai merasakan detak jantung Aku sudah tidak beraturan lagi.

    Kenapa kak? katanya sambil tersenyum manja.

    Nggak, nggak papa kok. kata Aku agak grogi.

    Sudahlah, ayo Kak pijatnya yang agak keras dikit.

    Iya, iya jawab Aku.

    Aku lalu mulai mengeluselus perutnya yang putih bersih itu, tanpa sengaja Aku menyenggol gundukan di dadanya.

    Ahh.. katanya sambil menggeliatkan tubuhnya. Aku dengan cepat memindahkan tangan, tetapi ia kembali menariknya

    Tidak apaapa kak, terusin saja. katanya.

    Wah, benarbenar malam ini adalah malam yang sangat menyenangkan bagi Aku karena tidak pernah terlintas di dalam pikiran Aku akan mendapat kesempatan seperti ini. Kesempatan untuk mengeluselus tubuh Tifa yang sangat merangsang.

    Aku tidak boleh melewatkan kesempatan sebaik ini, kata Aku dalam hati.

    Kini Tifa semakin merasakan sentuhan jarijari Aku, Aku melihat dari desahan nafasnya dan dari tubuhnya yang sudah mulai hangat. Entah setan apa yang membuat Tifa lupa diri, dia tibatiba menarik wajah Aku,

    Lalu mengusapnya dengan jarijarinya yang lembut dan mulai mencium dan menggigit bibir Aku. Aku hanya pasrah dan terus terang Aku juga sebenarnya sangat menginginkanya, namun selama ini Aku pendam saja karena Aku menghargainya dan menganggapnya sebagai adik sendiri.

    Tetapi saat ini pikiran itu telah sirna dari kepala Aku yang dialiri oleh gelora darah muda Aku yang menggelora. Ia terus mencium Aku dan kini ia melepaskan kaos yang Aku pakai lalu membuangnya di samping ranjang.

    Tifa, ada apa ini? tanya Aku setengah tidak percaya dengan apa yang sedang ia lakukan.

    Tetapi ia tidak memperdulikan katakata Aku lagi. Melihat gelagat Tifa yang sudah di luar batas kendali itu, Aku pun tidak mau tinggal diam. Aku mulai membalas ciumannya, melumat bibirnya dan menghisap lehernya yang putih bersih.

    Aku merasakan penis Aku semakin keras dan berdenyutdenyut. Tifa terus mencium bibir Aku dengan nafas tersengalsengal. Aku pun tidak mau kalah, Aku mulai meremasremas payudaranya yang masih kencang dan menantang. Kini Aku mulai mengisap pucuknya.

    Achh.. ia menggeliat.

    Aku melihat Tifa semakin menikmati perbuatannya. Sesekali ia menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan sambil mendesah nikmat.

    Tifa melihat penis sudah mendongkrak celana pendek Aku, ia lalu menyelipkan tangannya ke dalam CD Aku dan ia kini sudah menggenggam penis Aku yang berdiri tegak dengan otototot yang berwarna kebiruan. Ia lalu menarik celana pendek dan CD Aku dan kemudian melemparkannya ke lantai. Ia kembali menangkap penis Aku dan mengocoknya dengan jarijarinya yang lembut.

    Aachh.. achh.. benarbenar nikmat rasanya. Aku merasakan penis Aku semakin tegang dan semakin panjang. Ia terus mempermainkan milik Aku yang sudah berdenyutdenyut dan mulai mengeluarkan cairan bening.

    Aku pun tidak mau ketinggalan. Aku lalu menyelipkan jarijari Aku ke selangkangannya. Aku merasakan lubang kemaluannya sudah hangat dan sudah sangat basah dengan cairan warna bening mengkilat.

    Rupanya ia sudah benarbenar sangat terangsang dengan permainan kami. Dengan nafas yang tersengalsengal, Aku lalu melorotkan celana Tifa lalu meremasremas pahanya yang putih mulus dan masih kencang.

    Aku tidak sanggup lagi menahan nafsu Aku yang sudah naik ke ubunubun Aku. Dengan sekali tarik, Aku berhasil melepaskan CDnya Tifa. Kini ia benarbenar bugil. Aku sejenak terpana menyaksikan tubuhnya yang kini tanpa sehelai benang, dengan kulit kuning langsat, halus, bersih dan bentuk badan yang sangat seksi sungguh nyaris sempurna.

    Aku benarbenar tidak tahan melihat vaginanya yang ditumbuhi rambut tipis dan halus dengan bentuknya yang mungil berwarna coklat agak kemerahmerahan.

    Kembali penis Aku berdenyutdenyut, seakan merontaronta ingin menerjang lubang nikmat Tifa yang masih terkatup rapat. Aku sangat gemas melihat liang kemaluannya dan kini Aku mulai mengusapusap bibirnya dan meremas klitorisnya. Lubang nikmat Tifa sudah sangat basah. Aku melihat Tifa semakin terlelap dalam nafsunya. Ia hanya mengerang nikmat.

    Achh.. achh.. ohh.. ohh.. Aku terus menjilat klitorisnya. Ia hanya mendesah,

    Achh.. achh.. sambil menariknarik pinggulnya.

    Kak, ayo masukin kak! sambil menarik penis Aku menuju bibir kemaluannya.

    Oke Akung, lalu Aku membuka kakinya.

    Kemudian Aku melipat kakinya dan menyuruhnya supaya ia membuka pahanya agak lebar. Aku lalu menarik pantat Aku dan merapatkan pada selangkangannya. Ia dengan cekatan meraih batang kemaluan Aku lalu menempelkannya di bibir kemaluannya yang masih sangat rapat namun sudah basah dengan cairan lendirnya.

    Pelanpelan ya kak, Tifa belum biasa.

    Iya Akung, kata Aku sambil mengecup bibirnya yang merekah basah. Aku kemudian mendorongnya pelanpelan.

    Achh.. sakit kak.

    Tahan Akung.

    Aku lalu kembali mendorongnya pelanpelan dan kini batang Aku sudah bisa masuk setengahnya. Tifa hanya menggeliat dan menggigit bibirnya. Aku terus mendorongnya sambil memeluk tubuhnya. Sesekali Aku menyentaknya agak keras.

    Achhkk.. sakit kak, pelanpelan donk! memang vaginanya masih sangat rapat, maklum ia masih perawan.

    Tahan ya Akung, Aku mencoba menenangkannya sambil memegang pinggulnya eraterat.

    Akk.. Tifa meringis keras. Ia memukul dada Aku dengan keras sambil menarik pantatnya.

    Sakit kak, sakitt..

    Aku merasakan batang kejantanan Aku menembus sesuatu yang kenyal dalam lubang kenikmatan Tifa. Rupanya batang Aku telah berhasil menembus selaput daranya. Dari liang sorga Tifa tampak mengalir darah segar.

    Aku terus menggoyanggoyangkan pinggul maju mundur sambil menciumi bibirnya dan meremasremas gunungnya yang sangat menantang itu. Sesekali Aku melihat dia merapatkan kedua pahanya sambil mengigit bibirnya. Benarbenar milik Tifa sungguh nikmat,

    Aku merasakan vaginanya semakin basah dan licin, namun tetap Aku merasakan kejantanan Aku terjepit dan kadang seperti dihisap oleh vaginanya Tifa. Kini Aku merasakan batang kemaluan Aku sudah berdenyutdenyut sepertinya ingin memuntahkan sesuatu, namun Aku tetap menahannya dengan mengurangi irama permainan Aku.

    Terus kak, terus.. ia menggeliat.

    Aku melihat kedua kakinya mengejang. Gerakan Aku kembali Aku pacu, membuat payudaranya agak bergoyang dan sepertinya semakin membesar berwarna kemerahmerahan.

    Achh.. achh.. Kak cepat kak, cepat kak. sambil menggeliat.

    Ia merapatkan pahanya. Dia mulai menggerakgerakkan tangannya mencari pegangan. Akhirnya ia memelukku dengan erat dan mengangkat kedua kakinya. Sambil menggigit bibirnya, ia memejamkan matanya. Aku merasakan kalau kini badannya sudah kaku dan hangat. Akhirnya Tifa memelukku eraterat dan mengangkat pantatnya sambil berteriak.

    Achhkk.. Aku merasakan badannya bergetar dan sepertinya ada sesuatu yang hangat menyentuh batang kejantanan Aku, rupanya Tifa sudah orgasme.

    Aku semakin tidak kuat menahan denyutan dari buah kejantanan Aku, akibat kenikmatan yang diberikan Tifa sangat luar biasa, batang Aku semakin berdenyutdenyut dan kini Aku benarbenar tidak sanggup lagi menahannya. Lalu Aku mempercepat gerakan Aku dan mendorong penis Aku lebih dalam lagi sambil menarik tubuh Tifa dengan erat ke dalam pelukan Aku.

    Aku merasakan kenikmatan yang sangat dahsyat itu. Kini semuanya mengaliri dan menggetarkan seluruh tubuh Aku mulai dari ubunubun sampai ujung kaki Aku.

    Akhirnya, Srett.. srett.. srett.. Kejantanan Aku mengeluarkan cairan hangat dalam lubang kemaluan Tifa.

    Aku sempat bingung dan takut karena telah menikmati tubuh Tifa secara tidak sah. Namun rasa nikmat itu lebih dahsyat sehingga pikiran itu segera sirna. Aku hanya tersenyum lalu mengecup bibir Tifa dan mengucapkan terima kasih pada Tifa.

    Tampak tubuh Tifa basah dengan keringatnya tetapi terlihat wajahnya berseriseri karena puas. Tifa hanya merapatkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Ketika Aku mencabut batang kejantanan Aku dari vaginanya ia hanya tersenyum saja. Astaga, Aku melihat di sprey Tifa terdapat bercak darah. Tetapi segera Tifa bangun dan menenangkan Aku.

    Tenang mas, nanti Aku cuci, tak akan ada yang mengetahuinya.

    katanya sambil meletakkan jarinya di kedua bibir Aku. Kami berdua lalu menuju ke kamar mandi. Di situ kami masih sempat melakukannya sekali lagi, lalu akhirnya kami kembali mandi dan kembali ke kamarnya Tifa.

    Setelah Aku mengambil baju dan celana, Aku pun menuju ruang tamu. Tidak lama kemudian keluarlah Tifa dari kamarnya lalu mengajak Aku makan malam berdua. Katanya, ia sengaja duluan makan karena tidak ingin bertemu dengan om dan tante malam ini. Mungkin Tifa malu dan takut kalau perbuatan kami ketahuan. Setelah makan, ia kembali ke kamarnya. Entah ia tidur atau belajar, Aku tidak tahu pasti.

    Tidak lama kemudian, om dan tante datang. Mereka menceritakan keadaan pesta itu yang katanya cukup ramai dibanding tahun lalu karena tahun ini siswanya lulus 100 persen dengan nilai tertinggi di kota kami.

    Om menanyakan Tifa, tetapi Aku katakan mungkin ia sudah tidur sebab tadi setelah makan ia sempat mengatakan kepada Aku bahwa ia agak lelah. Om hanya mengangguk lalu menuju kamarnya, katanya ia juga sudah makan dan kini ia pun ingin istirahat.

    Aku tersenyum puas dan kembali menonton sebentar, lalu masuk kamar Aku. Di dalam kamar, Aku tidak bisa tidur membayangkan kejadian yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu. Malam ini Aku sangat senang karena telah merasakan sesuatu yang tidak pernah Aku rasakan sebelumnya dan pengalaman yang sangat manis ini tentu tidak akan pernah Aku lupakan sepanjang hidup Aku.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Hot Selingkuh Temen Kantor – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Hot Selingkuh Temen Kantor – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1682 views

    Perawanku – Umurku kini 39 tahun sementara Sari berusia 34 tahun. Memang kami akhirnya berhenti berhubungan karena ia harus pindah ke luar kota sementara saya tetap di Jakarta. Namun kisahku dengan dia selalu menjadi kenangan, bahkan sering merangsangku. Sari adalah seorang ibu dari dua anak dan bersuamikan pria yang baik, memiliki pekerjaan lumayan di sebuah perusahaan milik pemerintah.

    Aku sendiri di perusahaan swasta, se kantor dengan Sari. Badanku biasa-biasa saja dengan tinggi hampir 170 cm, sementara Sari sekitar 165 cm. Badannya cukup langsing dengan pantat yang agak menonjol. Inilah yang sangat menggairahkan saya. Sementara dia bilang sangat menyukai bersenggama dengan saya karena ukuran penis saya yang lebih gemuk dari punya suaminya, walaupun panjangnya kira-kira sama.

    Hubungan kami bermula dari kedekatan tempat duduk yang membuat kami sering ngobrol di kala senggang. Aku suka memuji pakaiannya dengan kalimat-kalimat yang mengarah keurusan nafsu. Misalnya, “rokmu bagus deh hari ini, seksi banget kelihatannya” .

    Luar biasanya, jawaban Sari lebih mengarahkan lagi, “seksi gimana, hayo, jelasin dong..” Aku biasanya langsung ngejelasin bahwa lekuk tubuhnya jadi terlihat dan enak dipandang. Dia senang aku memujinya. Hal-hal begini terjadi dan makin lama makin brani, namun tanpa pernah ia tersinggung atau marah.

    Nampaknya dia santai-santai aja dan menikmati percakapan, sejauh apapun. Pada suatu waktu, kamu keterusan ngobrol tentang hubungannya dengan sang suami. Kebetulan paginya, katanya, ia baru bersenggama dengan suaminya, namun nggak mencapai orgasme. Sementara suaminya selalu orgasme. Saya langsung memancing,” jadi lagi nanggung dong skarang, ya”.

    Eh, nggak nyangka dia menjawab,”napa, mo bantu nerusin nih.. emang mampu?”. Wah, bagi saya kesempatan nih. Aku langsung mengarahkan pembicaraan ke makan siang bareng di luar kantor. Dia mau banget. “Gimana kalo makannya di tempat yang berdua aja”, aku membuka obrolan di mobil ketika kami berangkat mencari tempat makan. Sari menjawab dengan pertanyaan sambil melihat ke arahku yang sedang nyetir,” di mana?”. Pikiranku tidak lain ke motel jam-jaman tentunya. Di situ bisa nonton tv, ngobrol, pesen makanan, dianterin ke kamar, bayar, tanpa harus ketemu muka dengan pengantar makanan.

    Aku jelasin semua itu, dia malah nyambung,”masa cuman nonton tv, ngobrol, makan..”. Ini jawaban yang ngeresin banget. Aku merasakan desakan dari dalam celanaku, ereksi yang dahsyat. Akhirnya kami tiba di motel. Ngobrol-ngobrol lebih jauh, ternyata dia memang telah sering ke motel dengan suaminya ketika pacaran dulu.

    Saya jadi sangat maklum, pantes Sari nggak kelihatan risi atau kaku sama sekali. Selesai membayar kamar dan pesen makanan, kamipun duduk di tempat sambil nonton tv. Ternyata ada channel video dengan film seks. Aku nggak pindahin lagi channelnya dan Sari nampaknya senang. Baru 2-3 menit, ia sudah merapatkan badannya ke tubuhku sambil berkata,” puasin aku ya..”.

    Aku langsung merapatkan bibirku ke bibirnya. Kamu berciuman sangat bernafsu. Lidahnya duluan masuk ke mulutku ambil meraba-raba setiap sudut dalam mulut. Aku sangat terangsang, apalagi melihat tangannya memegang daerah vaginanya yang masih tertutup rok. Wanita ini nampaknya sangat dingin dan cuek, pikirku. Inilah kebiasaan wanita yang sangat ku sukai dan sangat merangsangku. Aku membuka kancing bajunya dan langsung menyusupkan tanganku ke buah dada kirinya.

    Dia dengan cepat membuka tali bh sehingga menyembul dua bukit yang cukup besar. Aku langsung mengulum putting salah satunya. Kepalanya bergerak ke belakang menahan isapanku. Aku suka ekspresinya ketika terangsang.

    Ia makin terangsang, aku juga.

    Tanganku telah masuk ke dalam celana dalamnya dari samping. Agak basah. Jari tengahku mengusap-usap klitorisnya. Ini membuat ia tak tahan. Tanpa komando apa-apa, posisi kami berubah menjadi posisi 69.

    Kami saling mengisap sambil, ” aaaah.. eeeeh..haaaaaaahhh. .” Ketika bibirku mengulum klitorisnya, ia melenguh panjang keenakan,” aaaauu.. enak, Di”. Aku lakukan ini sekitar 5 menit sampai Sari mendorongku kemudian mengangkang di sampingku.

    “Ayo Di, nggak tahan nih. Masukin cepet..” Aku berputar menaikinya, mengarahkan kontolku ke liang senggamanya yang sudah sangat basah. Perlahan-lahan ku dorong masuk.. enak sekali. Sari melenguh,” aaaaah.. ya teruuuss Di.”. Perlahan-lahan ku pompa liang senggamanya sementara dia memaju-mundurkannya dengan badan yang sangat kaku.

    Rupanya ia mengejar orgasmenya yang pertama. “Terus Diiii, aku suka banget. “. Semenit kemudian badannya mengeras total sambil berteriak,” aaaaaaaaah. udah Di aku dapet. aaaaah”. Aku mendiamkan sedikit agar ia bisa tenang dulu.

    “Enak banget, sayang”, katanya setelah agak tenang Aku kaget dia memanggilku dengan sebutan sayang. “Kamu sayang aku ya?”, aku bertanya sambil memulai memompa liang senggamanya lagi. “Iya dong, aku sayang kamu yang telah memuaskanku, selain menyayangi suamiku yang baik itu lho”, Sari menjawab.

    Kami bertempur lagi dan nampaknya Sari telah terangsang lagi. Kadang-kadang aku memutarmutar pantatku dengan arah yang berlawanan dengan putaran pantat Sari. Kami benar-benar menikmati hubungan seks kami yang pertama. Akhirnya aku hampir mencapai puncak,” Sari, aku mo nyampe nih.aaaahhh” . “Yaaaah, aku juga”.

    Semenit kemudian aku mencapai orgasme yang luar biasa sambil berteriak,” aaaaaahhh.”. Sari juga ternyata mencapai orgasmenya yang kedua sambil melenguh keras sekali,” aaaaauuuu.. Enak Di. enaaaak”. Kami terdiam sejenak. Cerita sex selingkuh

    Setelah reda, kami berciuman lagi secara lembut sekali. Kemudian kami mandi bersama. Di bawah shower, kontolku tegang lagi. Sari juga terangsang karena ku gesek-gesek ke vaginanya ketika kami mandi sambil berpelukan. Akhirnya kami bersenggama lagi, kali ini sambil berdiri.

    Karena sulit melakukannya sambil berdiri, kami kembali ketempat tidur untuk menyelesaikan satu putaran kenikmatan. Lagi-lagi aku mengalami hubungan seks yang sangat ekspresif. Karena Sari sangat ekspresif, nggak malu-malu, aku jadi sangat terangsang.

    Akhirnya kami mencapai kepuasan bersama, setelah aku harus menahan orgasme sebentar karena Sari belum akan orgasme. Akhirnya kami meledakkannya bersama-sama, ” aaahhhhhh… aaaahhh.”. Sampai pertengahan 2003 kami rutin berhubungan 2 atau 3 kali seminggu.

    Kami melakukannya tanpa saling menuntut, kecuali menuntut kepuasan. Saya tidak pernah bermaksud memperistrinya, dia juga tidak pernah berangan-angan hendak bercerai dan menikah dengan saya. Cocok benar kemauan saya dengan kemauan dia. Saya kami hari berpisah. Skarang saya harus agak sering melakukannya sendiri, sambil berkhayal tentang hubungan seksku dengan Sari.

  • Aku Menjadi Obyek Fantasi Seks PasCol

    Aku Menjadi Obyek Fantasi Seks PasCol


    1691 views

    Perawanku – Aku memasuki kamarku dan langsung kukunci dari dalam, kulepas T Shirt tanpa lengan yang kupakai dan kulemparkan begitu saja di tempat tidur. Payudaraku yang ranum berwarna sedikit merah muda di puting dan sekitarnya tampak menggairahkan.

    Aku memang sejak kecil tidak suka memakai bra hingga kini aku jadi tidak memiliki BH barang satupun, hingga begitu T Shirt kutanggalkan maka payudaraku pun langsung mencuat, ukurannya memang sedang-sedang saja namun bentuknya padat dan menggairahkan hingga dapat membuat setiap lelaki menelan ludah bila memandangnya, apa lagi ditunjang postur tubuhku yang sexy dengan tinggi 170 centimeter, yang cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita.

    Kuperosotkan dan kulepas hot pantsku yang mini model longgar di bagian bawah, hingga tampak jelas CD model G String warna merah yang saat ini kupakai. Bentuknya sangat mini dengan seutas tali nylon yang melilit di pinggangku dan ada ikatan di kiri dan kanan pinggangku yang ramping.

    Bulu-bulu halus kemaluanku tampak menyibak keluar dari sela sela secarik kain model segi tiga kecil yang tipis ukurannya, tidak lebih dari ukuran dua jari hanya mampu menutupi lubang vaginaku. Bentuk G String yang kupakai memang sangat sexy dan aku sangat suka memakainya, ditambah seutas tali nylon yang melingkar melewati selangkanganku tepat mengikuti belahan pantatku ke atas bagian belakang dan tersambung dengan tali nylon yang melingkar di pinggangku.

    Dengan sekali tarik ikatan di kanan kiri pinggangku, maka tak sehelai benang pun kini menutupi tubuhku, CD kubiarkan tergeletak di lantai. Sambil telanjang bulat aku berjalan menuju lemari mengambil sebuah celana pendek mini yang longgar di bagian bawahnya yang terbuat dari bahan sutera tipis tembus pandang dan ada celah di bagian kiri dan kanannya dan tanpa kancing, hanya menggunakan karet elastis saja.

    Segera kukenakan sambil menyalakan komputer dan mengakses internet. Celana ini memang enak sekali dipakai di rumah saat tidur, dan aku biasa tidur dalam keadaan seperti ini, tanpa busana lainnya menutupi tubuhku, hanya ada celana pendek seperti yang kukenakan saat ini. Namun tak jarang juga aku tidur tanpa berbusana sama sekali dan langsung menyusup ke dalam selimut. Seperti biasa, email yang masuk ke mail box-ku sangat banyak.

    Kubuka satu persatu, bagi pengirim yang belum pernah mengirim email kepadaku langsung kujawab emailnya dan kucantumkan persyaratanku bila ingin berkenalan dan mengobrol lebih lanjut denganku, sedangkan bagi yang sudah pernah kujawab emailnya namun tidak memenuhi persyaratanku tetapi tetap ngotot berkirim email ingin berkenalan lebih lanjut dan ber email ria, langsung saja kuhapus emailnya dengan tanpa memberikan reply.

    Demikian pula bagi yang mengirimkan pesan dengan menggunakan nomor HP-nya melalui SMS langsung saja kuhapus tanpa perlu membukanya terlebih dahulu. Aku malas membukanya karena membuang-buang waktu dan biaya, toh aku juga tidak bisa membalas pesannya kecuali dengan juga menggunakan SMS, untuk apa aku harus bersusah payah membuang-buang pulsa segala, pikirku.

    Setelah selesai membuka dan membalas semua email yang masuk, kuputus akses dengan internet, namun komputerku tetap kunyalakan karena rencananya nanti selesai mandi aku akan mengaksesnya lagi, karena biasanya akan banyak lagi email yang masuk. Kulepas celana yang kupakai dan aku memasuki kamar mandi yang ada dalam kamarku. Kunyalakan air hangat mengisi bathtub kamar mandiku.

    Sore ini aku ingin berendam sejenak sambil menghilangkan pegal-pegal yang ada di tubuhku. Kutorehkan bath foam secukupnya dalam air hingga berbusa. Saat aku menunggu penuhnya air, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Kalau kudengar dari deringnya, aku yakin ini datangnya dari salah seorang pembacaku, karena memang bagi pembaca yang sudah memenuhi persyaratanku, nomor handphonenya segera kumasukkan memory dan kukumpulkan dalam satu nada dering khusus. Kuambil hand phoneku yang tergolek di atas meja computer, dari layarnya tampil namanya Amin (nama samaran).

    “Yaa..! Halloo..!”, sapaku setelah menekan tombol Yes. “Hallo..! Hai Lia..! Apa kabar..? Lagi ngapain nich?”, sahut Amin dari seberang. “Aku sedang mau mandi nich! Emangnya kenapa dan ada apa menelepon? Entar aja deh kamu telepon aku lagi ya, aku sudah telanjang bulat nich, sudah siap-siap mau berendam”, belum selesai aku berkata, Amin langsung memotong pembicaraanku.. “Eee.. Eeh! Tunggu dulu dong! Biar saja kamu berendam sambil tetap ngobrol denganku”, pinta Amin.

    “Baiklah”, jawabku menyetujui sambil meraih hands free kemudian aku masuk kembali ke kamar mandi. Hand phone kuletakkan di meja wastafel dan kabel hands free menjulur ke arah telingaku, aku pun akhirnya berendam sambil mengobrol dengan Amin menggunakan hands free.

    “Lia! Aku sekarang juga berjalan ke kamar mandi, sekarang di kamar mandi aku melepaskan celana dan CD-ku, kondisiku sekarang juga sudah bugil nich!”, Amin mencoba menjelaskan keadaannya saat itu padaku. “Emangnya gue pikirin, lagian ngapain kamu ikutan bugil di sana?”, ujarku.

    “Lia! Aku ingin melakukan onani sambil ngobrol denganmu, kamu tidak keberatan kan? Please! Sekarang penisku sudah selesai kubasahi dan kuoles dengan shampoo, sekarang mulai kuusap-usap sambil mengocok-ngocoknya, kamu juga cerita dong apa yang kamu kerjakan saat ini sambil memberiku rangsangan”, pinta Amin lagi dengan memelas. Mendengar penuturan Amin tadi, terus terang aku sempat membayangkan sejenak dan sedikit mulai terangsang hingga tanpa kusadari aku juga sudah mulai meremas-remas payudaraku. Karena aku memakai hands free, maka aku tetap masih bisa mengobrol dengan kedua tanganku tetap bebas bisa beraktifitas.

    Kuceritakan pada Amin kalau saat ini aku sedang meremas-remas kedua payudaraku yang juga sudah mulai mengeras, puting susuku mendongak ke atas dan mulai kujilati sendiri bergantian kiri kanan, aku merasakan ada aliran yang mengalir keluar dari liang senggamaku, pertanda aku sudah mengalami rangsangan hebat.

    Sementara tangan kiriku tetap meremas-remas payudaraku, tangan kananku mulai turun ke bawah meraba dadaku, mengelus-elus sendiri pusarku, ke bawah lagi ke arah vaginaku sambil mengangkat kedua buah kakiku dan meletakkannya ke samping bathtub hingga posisiku sekarang terkangkang lebar hingga memudahkan tangan kananku mengelus bagian luar vaginaku yang sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu halus. Jari-jariku turun sedikit mengusap-usap bibir vaginaku sambil menggesek-gesekkan klitorisku.

    Aku mulai melenguh menikmati fantasiku, gesekannya kubuat seirama mungkin sesuai dengan keinginanku. Tiba-tiba kudengar suara teriakan Amin dari seberang sana.. “Ooo.. Oocch! Liaa..! Aku orgasme nich!”, suaranya makin lirih, rupanya di seberang sana Amin sudah berhasil mencapai puncaknya, gila! Dia sepertinya sangat menikmati penuturanku melalui telepon sambil terus melakukan aktifitasnya sendiri,

    mendengar suara itu aku menjadi semakin terangsang saja jadinya, jari tengah dan jari manis tangan kananku mulai kumasukkan ke dalam liang vaginaku yang sudah semakin berlendir, sementara jari telunjuk kupakai menggesek-gesek klitorisku. Rasanya benar-benar membuat darahku mengalir ke atas kepalaku. Pertama agak sulit masuk, namun lama-lama setelah melalui beberapa kali gesekan, bibir vaginaku pun semakin merekah sehingga memudahkan jari-jariku masuk menembus liang vaginaku. Kumainkan jari-jariku di dalam vagina, kuputar-putar di dalam hingga menyentuh dinding-dinding bagian dalam vaginaku, rasanya tidak kalah dengan batang kemaluan yang pernah masuk dan bersarang dalam liang vaginaku, bahkan lebih hidup rasanya karena bisa kukontrol sesuai dengan keinginanku. Kugaruk-garukkan lembut pada dinding dalam vaginaku, ada kalanya kusentuhkan pada tonjolan sebesar ibu jari yang ada dan tersembul di dalam vaginaku, nikmat sekali rasanya.

    Aku juga sepertinya akan segera mencapai puncak kenikmatan. Sekarang tiga jariku yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kananku kumasukkan seluruhnya ke dalam liang vaginaku, kutarik keluar masuk, kukocok-kocokkan makin cepat, sementara tangan kiriku juga mulai ikut aktif membantu, jari manis dan jari telunjuk tangan kiri kupakai menyibakkan bibir vaginaku, sementara jari tengahnya mengorek-ngorek klitorisku. Kocokan jari-jari tangan kananku semakin cepat. Aku terus melenguh. “Ooh.. Oocch! Aa.. Aacch!”, badanku berguncang keras sehingga air dalam bathtub banyak yang tumpah keluar membasahi lantai kamar mandiku. Badanku menggigil hebat, sekali lagi aku melenguh panjang, dan aku pun mencapai orgasme.

    Badanku kini lemas tersandar di punggung bathtub. Dari seberang sana kudengar suara Amin menanyakanku.. “Gimana Lia, enak enggak?”, Setan.., umpatku dalam hati, masa masih ditanya enak atau enggak? “Lia..! Aku sekarang ke rumahmu ya? Kau kujemput dan kita check in terus melakukan hal yang sesungguhnya yuk”, ajak Amin. Aku menolak dengan halus ajakan Amin. Setelah berbincang sejenak aku pamit untuk mematikan telepon dengan alasan akan melakukan sesuatu.

    Akhirnya dengan berat hati Amin pun bersedia mematikan teleponnya, entah berapa banyak pulsa sudah yang dia habiskan untuk melakukan sex by phone denganku sambil beronani. Terus terang saja walau sudah agak sering kontak dengan Amin dan kami juga sudah dua kali bertatap muka, aku sedikit pun tidak berminat berhubungan badan dengannya.

    Tingginya sekitar 165 centimeter, lebih pendek sedikit dariku, badannya agak sedikit gendut, usianya 32 tahun, sudah beristri dan beranak tiga. Wajahnya menurut ukuranku juga tidak ganteng, jadi biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa bagiku. Aku memang juga membutuhkan sarana menyalurkan libidoku namun tidak berarti aku bisa melakukannya dengan siapa saja. Dalam permainan sex, aku benar-benar ingin menikmatinya, maka aku juga harus memilih pasangan yang benar-benar bisa menaikkan gairahku.

    Sudah berkali-kali Amin mengajakku make love (ML) tapi selalu kutolak dengan seribu satu macam alasan, namun aku tetap tidak mengutarakan alasan penolakanku, karena aku yakin dia akan langsung merasa malu dan tersinggung. Maka lewat tulisanku ini, buat seorang pembaca yang kuberi nama samaran Amin, aku mohon maaf dan aku harap kamu juga membaca tulisanku ini dan dapat mengerti. TAMAT

  • Pengalaman Hot Bersetubuh Dengan Kedua Tanteku yang Cantik – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Pengalaman Hot Bersetubuh Dengan Kedua Tanteku yang Cantik – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1864 views

    Perawanku – Nama saya Miko, saya seorang Pria yang sudah cukup umur untuk mengenal Sexs, Umur saya 19 tahun. Saya akan menceritakan tentang cerita sex nyata saya di situs dewasa ini. Kisah ini berawal ketika saya sedang berada di Home stay atau semcam rumah singgah kedua milik Om saya. Kebetulan sekali saat itu naluri saya tiba-tiba menuntun untuk masuk ke kamar tante Wiwik. Agen Bola

    Tanpa saya duga ketika saya telah masuk didalam kamar tante Wiwik, saya melihat sebuah album foto di kamar itu, tepatnya berada diatas meja samping ranjang tante Wiwik. Oh iya tante Wiwik ini adalah Istri pertama om saya. Om saya ini memliki 3 istri, Tante Wiwik, Nita, dan Sifa. Karena saya penasaran, saya-pun mendekat dan mulai membuka album foto itu.

    Setelah membuka, Wow… ternyata album itu berisi foto bugil tante-tante saya. Dengan seksama saya mengamati foto-foto tersebut, foto-foto telanjang itu saya amati dengan penuh penghayatan dan hasrat. Walaupun istri-istri om saya rata-rata sudah ber-usia di kepala 4, namun Tante Sifa dan Tante NIta mempunyai bentuk tubuh yang tidak kalah dengan para ABG.

    Sebagai laki-laki normal saya-pun menjadi terangsang, naluri lelaki saya-pun ingin rasanya bisa menikmati indahnya tubuh mereka secara langsung. Sampai pada akhirnya saya mempunyai ada pikiran Mesum dan saya mencari cara agar bisa memperdaya mereka dengan mengancam akan menyebarkan foto-foto bugil mereka. Seketika itu saya-pun mulai menyusun rencana, siapa yang akan saya perdaya.

    Setelah beberapa saat berfikir saya-pun memilih untuk, memperdaya Tante Tante Sifa dan Tante Nita. Tante nita ini berusia 41 tahun dan Tante Sifa 42 tahun. Singkat cerita saya-pun, mulai menelefon Tante Sifa dan Tante Nita. Saat itu saya berkata pada mereka, agar mereka berdua menemuiku di Home stay milik Om saya, Saat itu dengan alasan ada hal penting yang akan saya katakan kepada mereka.

    Pada esok hari-nya, saya yang kemarin kembali kerumah, sekarang bersiap-siap untuk pergi ke Home Stay itu. Oh iya saat itu saya membuat janji kepada tante Nita dan Sifa untuk datang di Home Stay itu pukul 09.00 pagi. Pada waktu itu aku segaja datang duluan untuk mengatur kondisi dan meminta penjaga Home Stay itu untuk pulang kampung dengan alasan memberi cuti tahunan kepada penjaga itu.

    Kira-kira setelah setengah jam penjaga Home Stay itu pergi, Tante Sifa dan Tante Nita-pun akhirnya sampai ke Home Stay. 5 menit setelah mereka datang, lalu saya-pun meminta mereka untuk duduk dan berkumpul masuk di ruang ruang tamu Home Stay itu,

    “ Ayo tnate-tanteku yang cantik, silahkan berkumpul ”, sambut manis saya kepada mereka.

    “ Ih… kamu bisa aja deh Miko, masak udah umur segini masih dibilang cantik ”, ucap Tante Nita.

    “ Emang masih cantik kog Tante, hhe… udah duduk dulu Tante ”, jawab saya.

    “ Iya deh Miko, kita duduk. Ngomong-ngomong ada apa sih Miko kamu panggil kita kesini ??? ” tanya Tante Sifa penasaran.

    Tante Sifa yang saat itu mengenakan kemeja lengan panjang dengan celana jeans ketatnya terlhat cantik dan sexy sekali. Ditengah aku memandang Tante Sifa, tante Nita-pun bertanya juga,

    “ Iya Mik, emangnya ada apa sih, kayaknya ada hal penting banget deh ??? ”, Tante Nita bertanya.

    Saat itu saya tidak langsung menjawab Tante Nita. Yang tadinya saya terpukau melihat Tante Sifa, gini aku-pun semakin kagum dengan cara berbusana Tante Sifa yang saat itu mengenakan kemeja tanpa lengan dengan rok diatas lutut. Busana itu membuat Tante Nita yang putih, semok dan ber-payudara besar terlihat sangat menggairahkan sekali. Setelah puas memandangi mereka sayapun menjawab,

    “ Saya mau tanya sama Tante berdua, ini milik siapa ya ??? ”, ucap saya sembari mengeluarkan sebuah bungkusan yang di dalamnya berisi setumpuk foto.

    Saat itu Tante Sifa-pun kemudian melihat bungkusan itu dan mengeluarkan iso bungkusan itu. Setelah melihat lalu Tante Sifa-pun berkata,

    “ Apa-apaan Mik, maksud kamu apa menunjukan foto-foto ini kepada kita? Darimana kamu dapatkan foto-foto ini ??? ” tanya Tante Sifa panik mendapatkan foto-foto telanjang dirinya.

    “ Miko… apa-apaan ini, dari mana barang ini?” tanya Tante Nita dengan tegang.

    “ Hemm… begini Tante Sifa, waktu itu saya kebetulan lagi bersih-bersih, pas kebetulan dikamar Tante Wiwik saya lihat kok ada foto-foto telanjang tubuh Tante-tante yang aduhai itu “, jawab saya sembari tersenyum.

    “ Baik… kalau gitu serahkan klisenya?” Ucapku saya Tante Nita.

    “ Baik tapi ada syaratnya lho “, jawab saya.

    “ Emang apa syaratnya Mik ??? kamu jangan malu-maluin tante kamu sendiri dong, udah kita selesaikan secara baik-baik yah ”, ucap Tante Sifa dengan ketus.

    “ Iya Mik, tolong lah Mik, pokok-nhya apa yang kamu minta, bakal tante turutin deh. dengan syarat asal kamu kembalikan Foto-foto kit ”, tambah Tante Nita memohon.

    “ Tenang aja Tante, Miko nggak minta apa-apa kog, cuma Miko hanya ingin melihat tante-tanteku ini telanjang didepan mataku ini ”, ucap saya.

    “ Jangan kurang ajar kamu! ”, ucapku saya Tante Sifa dan Tante Nita dengan marah dan menundingnya.

    “ Wah… wah… jangan galak gitu dong Tante, saya kan nggak sengaja, justru Tante-tante sendiri yang ceroboh kan “, jawab saya sembari menggeser dudukku lebih dekat lagi.

    “ Bagaimana Tante ? ”, ucapku memastikanya lagi.

    “ Hei… jangan kurang ajar, keterlaluan !!! ”, bentak Tante Nita sembari menepis tanganku.

    “ Bangsat… berani sekali, kamu kira siapa kami hah… dasar orang kampung !!!” Tante Sifa menghardik dengan marah dan melemparkan setumpuk foto itu ke wajahku.

    “ Hehehe… ayolah Tante, coba bayangkan, gimana kalo foto-foto ini nantinya terpajang di kantor Om ??? bisa- bisa Tante semua jadi terkenal deh !!!” ucap saya lagi.

    Kulihat disamping kananku Tante Sifa terdiam sejenak, kurasa dia memikirkan apa yang saya ucapkan tadi. Lalu Tante Sifa berkata,

    “ Kenapa harus kami yang harus kamu jadikan sasaran, sedangkan tante Wiwik nggak kamu apa-apakan ???” tanya Tante Sifa lemas.

    “ Tenang aja Tante, nanti juga Tante Wiwik akan dapat giliran. Bagaimana Tante ? Apa sudah berubah pikiran ??? ”, ucap saya memastikan lagi.

    “ Baiklah, tapi kamu hanya melihat saja kan?” tanya Tante Nita.

    “ Okey, dan kalau boleh sekalian memegangnya?” jawab saya.

    “ Kamu jangan macam-macam Miko ”, ucap Tante Sifa.

    “ Biarian ajalah Mbak, daripada kita ketahuan “, jawab Tante Nita.

    Sesaat itu juga Tante Nita dan Tante Sifa sembari berdiri mereka mulai melepas pakaiannya sembari memasang expresi wajah sedikit marah. Setelah beberapa menit, kini kedua Tante saya itu telanjang bulat dihadapanku. Tante Sifa walau sudah berusia 42 tahun tapi tubuhnya masih montok, dengan kulit kuning langsat dan kedua payudaranya yang besar menggantung bergoyang-goyang.

    Turun kebawah tampak pinggulnya yang lebar serta bulu hitam di selangkangan amat lebat.Tidak kalah dengan tubuh Tante Nita yang berusia 41 tahun dengan tubuh langsing berwarna kuning langsat, serta payudaranya yang tidak begitu besar tapi nampak kenyal dengan puting yang sedkit naik keatas. Pinggulnya juga kecil serta bulu kemaluannya di selangkangan baru dipotong pendek.

    “ Sudah Miko?” tanya Tante Sifa sembari mulai memakai bajunya kembali.

    “ Eh, belum Tante, kan tadi boleh pegang sekalian, lagian saya belum lihat Memek Tante berdua dengan jelas “, jawab saya.

    “ Kurang ajar kamu “, ucap Tante Nita setengah berteriak.

    “ Ya sudah kalo nggak boleh kukirim foto Tante berdua nih?” ucap saya.

    “ Baiklah, Apalagi yang mesti kami lakukan? ”, balas Tante Sifa.

    “ Coba Tante berdua duduk di sofa ini “, ucap saya.

    “ Dan buka lebar-lebar paha Tante berdua “, ucap saya ketika mereka mulai duduk.

    “ Begini Miko, Cepat ya “, balas Tante Nita sembari membuka lebar kedua pahanya.

    Hingga tampak Kewanitaan-nya yang berwarna kemerahan,

    “ Tante Sifa juga dong, rambutnya lebat sih, nggak kelihatan nih “, ucap saya sembari jongkok diantara mereka berdua.

    “ Beginikan “, jawab Tante Sifa.

    Saat itu Tante Sifa mulai membuka lebar kedua pahanya dan tangannya menyibakkan bulu kewanitaan-nya kesamping hingga tampak Kewanitaan-nya yang kecoklatan.

    “ Miko pegang sebentar ya?” ucap saya sembari tangan kananku coba meraba selangkangan Tante Sifa sementara tangan kiriku meraba selangkangan Tante Nita


    .
    Kumainkan jari-jari kedua tanganku di liang senggama Tante Sifa dan Tante Nita.

    “ Sudah belum, Miko… Ess… “, ucapku saya Tante Sifa sedikit mendesah.

    “ EEummmm… uuhh… jangan Miko, tolong hentikan… Eummmm!” desah Tante Nita juga ketika tanganku sampai ke belahan kemaluannya.

    “ Sebentar lagi kok Tante, memang kenapa ? ”, tanysaya pura-pura sembari terus memainkan kedua tanganku di liang senggama Tante Sifa dan Tante Nita yang mulai membasah.

    “ Eh, ini apa Tante?” tanysaya pura-pura sembari mengelus-selus Clitoris mereka.

    “ Ohh… Itu Clitoris namanya Miko, jangan kamu pegang ya… ”, desah Tante Sifa menahan geli.

    “ Iya”, jawab singkat saya.

    “ Jangan kamu gituin terus Clitoris Tante dong “, ucap Tante Nita.

    “ Memang kenapa Tante, tadi kata-nya boleh “, ucap saya sembari terus memainkan Clitoris mereka.

    “ Ssss… Aghhhh… OUghhhh… geli Mik… Oughhh… Ssss… “, Desah Tante Sifa dan Tante Nita.

    “ Ini liang senggama-nya ya Tante?” tanya saya sembari memainkan tanganku didepan liang senggama mereka yang semakin basah.

    “ Boleh dimasukin jari nggak Tante? ”, tanya saya.

    Kembali jariku membuka belahan liang senggama mereka dan memasukkan jariku, Zlebbb… bunyi jariku keluar masuk di liang senggama Tante Nita dan Tante Sifa yang makin mendesah-desah tidak karuan,

    “ Jangan Miko, jangan kamu masukin jari kamu… OUghhhh… “, Desah Tante Nita.

    “ Jangan lho Miko… Ssss… Aghhhh… ”, desah Tante Sifa sembari tangannya meremasi sofa.

    “ Kenapa? Sebentar saja kok, masukin ya “, ucap saya sembari memasukkan jari tengahku ke liang senggama mereka masing-masing.

    “ Aghhhh… Miko… “, desah Tante Sifa dan Tante Nita bersama-sama merasakan jari Miko menelusur masuk ke liang senggama mereka.

    “ Ssss… Aghhhh… Eummmm… !!” Tante Sifa dan Tante Nita mulai meracau tidak karuan saat jari-jariku memasuki liang senggama dan memainkan Clitoris mereka.

    “ Bagaimana Tante Sifa “, tanysaya mulai memainkan jariku keluar masuk di liang senggama mereka.

    “ Saya cium ya Tante yahh ? ”, tanysaya kepada Tante Sifa sembari mulai memainkan lidahku pada Kewanitaan-nya.

    “ Sebentar ya Tante Nita “, ucap saya.

    “ Jangan… Ssss… Aghhhh… Miko… ena… Desah Tante Sifa sembari tangannya meremasi rambutku menahan geli.

    “ Gimana Tante rasanya, enak nggak… ??? “, tanya saya kepada Tante Sifa.

    “ Ssss… Aghhhh… Miko… Geli Mik… Oughhhh… ”, Desahnya merasakan daerah sensitifnya terus kumainkan sembari tangannya meremasi kedua payudaranya sendiri.

    “ Agh… Ughhhh… Ssss… Teruss… Mik… Aghhhh… ”, desah Tante Sifa seperti tidak kuat lagi menahan nafsunya.

    Sementara Tante Nita memainkan Kewanitaan-nya sendiri dengan jari tanganku yang dia gerakkan keluar masuk. Dan Tante Sifa mendesah ketika mendekati klimaks-nya dan,

    “ Ouhhhh… Sssss… Tante udah nggak kuat lagi Miko… Ughhhh… “, Desah Tante Sifa merasakan lidahku keluar masuk diliang senggama-nya.

    “ Oughhhh… Mik, Tante Sifa keluar Miko… Aghhhh… “, desah lemas Tante Sifa dengan kedua kakinya menjepit kepalsaya di selangkangannya.

    Tahu Tante Sifa sudah keluar saya bangkit lalu pindah ke liang senggama Tante Nita dan kubuka kedua pahanya lebar-lebar. Sama seperti Tante Sifa Tante Nita juga meracau tidak karuan ketika lidahku menggila pada liang senggama-nya.

    “ Aghhhh… Ssss… Mik… nikmat sekali… Oughhh… “, Desah Tante Nita klimaks-nya menekan kepalsaya ke selangkangannya.

    Tante Nita di sofa dan kubuka lebar-lebar pahanya. Kubenamkan lidahku liang senggama Tante Nita, ku sedot-sedot Clitoris liang senggama Tante Nita yang ssudah basah itu,

    “ Teruss… Mikoo… Tante… mau keluar… Oughhhh… ”, Desah Tante Nita merasakan klimaks pertamanya. Miko lalu duduk diantara Tante Sifa dan Tante Nita.

    “ Gantian dong Tante, punysaya sudah tegang nih “, menunjukkan sarung yang saya pakai tampak menonjol dibagian kemaluanku pada Tante Sifa dan Tante Nita.

    Kuminta mereka untuk menjilati kemaluanku,

    “ Kamu nakal Miko, ngerjain kami “, ucapku saya Tante Sifa sembari tangannya membuka sarungku hingga tampak kejantanan saya yang mengacung tegang keatas.

    “ Iya… awas kamu Miko… Tante hisap punya kamu nanti… “, balas Tante Nita sembari memasukkan kejantanan saya pada mulutnya.

    “ Ssss… Aghhhh… Tante… terus… “, Desah Miko sembari menekan kepala Tante Nita yang naik turun di kejantanannya.

    Tante Sifa terus menjilati kejantanan saya gantian dengan Tante Nita yang lidahnya dengan liar menjilati kejantanan saya, dan sesekali memasukkannya kedalam mulutnya serta menghisap kuat-kuat kejantanan saya didalam mulutnya.

    “ Sruppp… Sruppp… Sruppp… ”, demikian suara ketika dia mengkulum Penis saya.

    “ Ughhhh… udah… Mik, Tante udah nggak kuat lagi… Ssss… Aghhhh… “, Desah Tante Nita sembari mengangkat kepalsaya dari Kewanitaan-nya.

    “ Tunggu dulu ya Tante Sifa, biar saya dengan Tante Nita dulu “, ucap saya sembari menarik kepala Tante Sifa yang sedang memasukkan kejantanan saya kemulutnya.

    “ Tante Nita sudah nggak tahan nih “, ucap saya sembari membuka lebar-lebar kedua paha Tante Nita dan berlutut diantaranya.

    “ Ayo Miko, cepetan masukin… Sssss… “, desah Tante Nita sembari tangannya mengarahkan kejantanan saya pada Kewanitaan-nya.

    “ Ughhhh… Ssss… Aghhhh… ”, Desah Tante Nita panjang merasakan kejantanan saya meluncur mulus sampai mencapai rahimnya.

    Tante Nita mengerang setiap kali saya menyodokkan kejantanannya. Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan sungguh membuatku terbuai dan semakin menikmati permainan Sex ini, saya tidak peduli lagi orang ini sesungguhnya adalah Tante saya sendiri. Lalu saya meminta Tante Nita untuk menjilati liang senggama Tante Sifa yang saat itu sedang jongkok diatas bibir Tante Nit,

    “ Ughhhh… Aghhhh… Geli sekali Nit… Sssss… Aghhhh… ”, desah Tante Sifa setiap kali lidah Tante Nita memasuki Kewanitaan-nya.

    Sementara saya sembari menyetubuhi Tante Nita tanganku meremas-remas kedua payudara Tante Sifa. Tiba-tiba Tante Nita mengangkat pinggulnya sembari mengerang panjang keluar dari mulutnya. “ Ahhss… Miko Tante keluar… ” “ Sudah keluar ya Tante Nita, sekarang gilran Tante Sifa ya “, ucap saya sembari menarik Tante Sifa untuk naik kepangkuanku.

    Tante Sifa hanya pasrah saja menerima perlsayaannya. Kuarahkan kejantanan saya ke liang senggama Tante Sifa, Lalu Aghhhh… desah Tante Sifa merasakan liang senggama-nya dimasuki kejantanan saya sembari pinggulnya mulai naik turun. Kunikmati goyangan Tante Sifa sembari ‘menyusu’ kedua payudaranya yang tepat di depan wajahku, payudaranya kukulum dan kugigit kecil.

    “ Teruss… Tante, Memek (Vagina) Tante enak… ”, Desahku sembari terus dalam mulutku menghisap-hisap puting payudara-nya.

    “ Kontol kamu juga perkasa sekali Ssss… Aghhhh… ” Desah Tante Sifa sembari melakukan gerakan pinggulnya yang memutar sehingga kejantanan saya terasa seperti dipijat-pijat.

    “ Sebentar Tante, coba Tante balik badan “, ucapku sembari meminta Tante Sifa untuk menungging.

    Kusetubuhi Tante Sifa dari belakang, sembari tanganku tangannya bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuhnya. Harus kusayai sungguh hebat wanita seumur Tante Sifa mempunyai liang senggama lebih enak dari Tante Nita yang berusia lebih muda. Sudah lebih dari setengah jam saya menggarap Tante Sifa, yang makin sering mendesah tidak karuan merasakan kejantanan saya menusuk-nusuk Kewanitaan-nya.

    Tak lupa saat itu tanganku meremasi payudaranya yang bergoyang-goyang akibat hentakan kejantanan saya di Kewanitaan-nya,

    “ Ssss… Aghhhh… Miko, Tante mau keluar… ” Desah Tante Sifa.

    “ Sabarr… Tante, sama-sama

    ” ucap saya sembari terus memainkan pinggulku maju-mundur. “ Aghhhh ss… Tante Sifa keluar… “, melenguh panjang.

    “ Saya belum, Tante “, ucap saya kecewa.

    “ Pake susu Tante aja ya “, jawab Tante Sifa jongkok didepanku sembari menjepitkan kejantanan saya yang ssudah licin mengkilap itu di antara kedua payudaranya yag besar, lalu dikocoknya.

    “ Sssss… Terus Tante … Oughhh… enak… Ssss… Aghhhh… “, Desahku.

    Melihat hal itu Tante Nita bangun sembari membuka mulutnya dan memasukkan kejantanan saya ke mulutnya sembari dihisap-hisap. Tak lama setelah mereka memainkan kejantanan saya, pada akhirnya,

    “ Crotttt… Crotttt… Crotttt… Crotttt… ”,

    Lega sekali rasanya, pada akhirnya kejantana saya-pun, mennyemburkan air mani-nya dengan derasnya. Sampai-sampai air mani saya pada saat itu, membasahi wajah dan payudara Tante Sifa dan Tante Nita. Lalu saya berkata,

    “ Para tante-tante tersayangku, terima kasih banyak yah atas service sex-nya…hhe… ”, ucap saya sembari meremas payudara mereka masing-masing dan beranjak pergi ke toilet untuk membersihkan diri.

    Singkat cerita sejak saat itu, saya-pun sering melakukan hubungan sexs dengan Tante Nita dan Tante Sifa. Saya sering meminta mereka untuk melayani saya ketika saya sedang mempunyai birahi yang tinggi. Karena memang berhungan sexs itu nikmat sekali, sampai-sampai aku melupakan bahwa mereka adalah istri dari Om saya. Sungguh benar-benar sebuah candu yang sangat luar biasa.

  • Cerita Sex Malam Pertama

    Cerita Sex Malam Pertama


    2531 views

    Cerita sex dewasa lepas perawan Istri Dimalam Pertama

    Perawanku – Panggil saja aku Nita, Statusku sekarang telah mempunyai suami.Setelah sekian lama kami menjalin hubungan tanpa status yang resmi dari KUA akhirnya pagi tadi sekitar pukul 08.00 disaksikan orang tua, 2 saksi resmi, dan ratusan orang dari pihak pengantin pria maupun wanita, kami telah resmi menjadi sepasang suami istri yang telah sah, resmi, dan bebas untuk melakukan hubungan seks kapan saja dimana saja baik siang, malam, dikamar, didapur, dikamar mandi, ditengah rumah, sambil masak, sambil nonton TV, pokoknya kata pak penghulu tadi bilangnya bebas sebebasnya asal sesuai dengan aturan agama yang kami anut.

    Cerita Sex Malam Pertama Nikmat Sekali


    Cerita Sex Bergambar Malam Pertama – Tibalah saatnya kami memasuki malam pertama di kamar pengantin tepatnya sekitar pukul 23.30 dimana acara resepsi pernikahan telah usai, para tamu tidak ada lagi yang datang, dan orang-orang dirumah juga tampaknya tinggal beberapa orang saja yang masih terjaga menunggu peralatan resepsi, adapun kebanyakan sudah tertidur pulas karena pasti kecapean melayani tamu demi tamu yang datang tak henti silih berganti baik tamu dari pengantin pria, pengantin wanita, maupun tamu dari orang tua kami.

    Setelah mengunci rapat pintu kamar, suamiku berkata setengah berbisik “Dik, ini malam pertama kita sebagai suami istri. Tebak apa yang akan kita perbuat pertama kali dikamar pengantin ini?” Mendengar pertanyaan suamiku tersebut aku hanya tertunduk malu sambil menggeleng-gelengkan kepala isyarat menjawab tidak tahu. Padahal sebenarnya dalam hatiku banyak sekali yang ingin kuungkapkan, namun karena aku malu jadi hanya bisa terdiam tanpa sanggup berkata-kata.

    Sesekali kulihat wajah suamiku yang tak henti menatap wajahku sambil tersenyum hingga akhirnya dia menggunakan telunjuknya untuk menganggat daguku agak tak terus tertunduk. Masih dengan perasaan malu, akupun menegakkan wajahku hingga menatap lurus ke wajah suamiku. Kulihat suamiku kembali tersenyum yang reflek kubalas senyuman suamiku itu dengan senyuman malu.

    “Abang kan sekarang sudah menjadi suami adik, tak perlu malu seperti itu lagi dong! Kita sudah halal untuk berdua-duaan dikamar seperti ini, jangan takut digerebek hansip atau pak RT kaya semasa tunangan dulu” canda suamiku coba mencairkan suasana. Aku hanya mengangguk sambil sedikit tertawa namun tetap menujukkan rasa malu.

    Dan kami pun lansung berpelukan, didalam pelukkan suamiku, aku merasa ada barang yang keras menempel di pahaku. ternyata tongkat tersebut adalah kerisnya si suamiku yang sudah mulai menegang. aku pun menatap suamiku dan suamiku lansung mencium bibir ku dan kedua tangannya satu meraba bagian dada ku dan satunya sudah masuk dalam CD ku.

    Terasa sekali bila suamiku memengang miss V ku, ia dengan lembut mengosok-gosok klitorisku yang membuat aku tidak bisa mengontrol nafsu birahi yang mulai memanas ini. Dan aku juga mengosok-gocok celana suami ku dan aku cium-cium leher suamiku dan setelah itu sambil tidak berpisah satu sama lain kami berdua berjalan step by step menuju ke ranjang.

    Setelah sampai diranjang suamiku kayaknya sudah engak bisa nunggu lagi untuk menjalankan tugasnya ini, ia lansung membuka semua bajuku dan bajunya.Cerita Sex Malam Pertama – Ia lansung mengajariku gimana untuk sedot kerisnya yang begitu panjang dan besar..hehehe sampai-sampai mulutku yang kecil ini tidak muat untuk kerisnya.

    Aku pun berusaha supaya tidak mengecewakan suamiku, aku jilat dan hisap perlahan-lahan keris suamiku kadang aku melirik ekspresi suamiku yang sedang menikmati serviceku yang amatir ini. Setelah sekitar 10 menit aku sedot suamiku meminta untuk foreplay dengan posisi 69. Aku sendiri si agak malu karena belum pernah barangku di jilat sama orang lain, dengan muka yang malu saya juga menuruti permintaan suamiku. Suamiku lansung menjilat-jilat miss V ku yang sudah mulai basah berlendir itu dan kami sesama saling menyervis satu sama lain.

    Setelah foreplay nya selesai suamiku membaringkanku dan membuka lebar kedua kakiku, walau masih malu dan sedikit deg degan karna aku ni masih perawan, jadi aku pun dengan lembut bilang sama suamiku untuk pelan-pelan aja, maklum belum pernah ML takut sakit juga.

    Dan suamiku pun mulainya dengan pelan-pelan dan ia coba untuk memasukkan kerisnya ke miss v ku, ia mulai dengan lembut pelan-pelan memasukkan kepala kerisnya namun karena sakit saya pun menahan tubuh suamiku untuk berhenti sejenak dan perlahan-lahan masuk. Suamiku tau kalau aku lagi sakit jadi dia pun dengan halus mainnya. Perlahan-lahan keris pun masuk ke dalam miss v ku dan terasa banget kalu ada tongkat yang keras muat dalam lobang miss v ku. dan perasaan itu susah untuk dikatakan “sakit campur enak”.

    Cerita Sex Bergambar Malam Pertama – Suami ku pun pelan-pelan keluar masuk kerisnya dan lama-lama mungkin karna aku juga teransang jadinya engak gt terasa sakitnya malahan ada satu perasaan yang enak then aku pun menikmatinya, setelah 20 menit gitu suamiku bergoyang-goyang diatas tubuhku, aku melihat kalau suamiku sudah mulai kecapean jadi aku pun menyuruh suamiku untuk mengajarku posisi lain yang biar aku yang menyervisnya. si suamiku lansung ambil keluar kerisnya, dan dikerisnya terdapat banyak darah perawanku yang sudah aku pertahankan sekian lama.

    Dan suamiku lansung baring diranjang dan menyuruh aku untuk menaikinya “ya kayak lagi nunggang kuda” suamiku menyuruh aku untuk bergoyang dan dia menempatkan tangan ku di dada nya untuk jari-jariku bisa bermain sama puting nya.

    Dan suamiku kedua tangannya juga sambil meraba-raba dada ku yang kian montok. Setelah aku goyang-goyang lumayan lama, suamiku memintaku untuk berdiri dan merungkuk di ranjang, sedangkan suamiku bangun dan berlutut dibelakangku. ia mengangkat pinggulku dan menusuk dari belakang. dipikiran ku suamiku ini kuat juga ya sudah mau sejam kami berhubungan tapi suamiku masih terlihat fit aja. Dan suamiku juga dorong-dorong aku dari belakang, makin didorong terasa kecepatan dorongannya semakin cepat, cepat, cepat, dan makin cepat, habis itu suamiku lansung ambil keluar kerisnya dan lansung memutar badanku untuk berbaring dan menyemprot maninya di mukaku. Maninya yang menetes di muka ku terasa panas dan ada sedikit bau.

    Setelah semua mani nya crot dimukaku, aku sedot lagi keris suamiku nampak sekali kalau suamiku terasa sangat nikmat. Sekian dulu cerita pengalaman pertama ku bersama suami tercintaku.

  • Pengalaman Sex Nikmatnya Penis Ayah Angkat Ku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Pengalaman Sex Nikmatnya Penis Ayah Angkat Ku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    3040 views

    Perawanku – Sebagai anak angkat aku harus menjadi anak baik dan patuh pada kedua orang tua angkatku, mereka telah mengangkat aku sejak usiaku 7 tahun. Kini usiaku sudah menginjak 17 tahun, dan masih menjadi bagian dari keluarga angkatku. Meskipun kini mereka telah memiliki anak sendiri, yang baru berusia 5 tahun. Sejak saat itu mama angkatku menjadi lain sikapnya padaku.

    Kalau dulu dia begitu baik kini dia berubah, sejak kelahiran anak kandungnya. Tapi aku masih bersyukur karena papa angkatku, papa Dodi begitu baik dan sayang padaku, papa baru saja merayakan hari ulang tahunnya yang pas ke 40 tahun. Banyak keluarga dan koleganya yang hadir di acara tersebut, papa memang pria yang baik bahkan dia masih terlihat keren.

    Banyak juga teman-teman Retno yang suka godain papa, katanya Retno beruntung memiliki papa yang baik dan juga tampan. Mereka tidak tahu kalau aku adalah anak angkatnya, begitu juga Vian pacarku. Dia tidak tahu kalau aku anak angkat, padahal aku pacaran dengannya sejak masuk ke sekolah ini. Berarti sudah hampir 3 tahun kami pacaran bahkan sudah begitu banyak kami melakukan hubungan intim seperti dalam cerita seks.

    Karena hal itu sudah biasa di lakukan oleh remaja sepertiku, karena itu aku begitu menyayangi Vian pacarku. Hampir setiap hari kami selalu berduaan di sekolah, dan selalau mencuri waktu untuk melakukan adegan layaknya dalam cerita sex. Sore itu aku pergi ke rumah Vian tanpa sepengetahuannya, pikirku aku ingin memberikan kejutan padanya bahkan aku membawakannya makanan kesukaan dia.

    Tapi aku terkejut ketika aku masuk ke kamar Vian. Aku melihatnya sedang bermesraan dengan Gita teman satu kelasku “Viaaan… aapa..apa maksud kalian..” Teriakku dan sempat aku lemparkan makanan ke mukanya “Retnoo.. tunggu biar aku jelasin..” Vian mencoba membujukku, tapi ketika aku melihat lagi ke arah Gita yang sedang merapikan bajunya aku semakin muak.

    Karena aku tahu apa yang telah mereka lakukan, dengan cepat aku pergi dari rumah Vian. Yang memang selalu sepi karena kesibukan orang tuanya yang jarang ada di rumah, aku menangis dan terus menangis di dalam taksi yang membawaku pulang, sejak hari itu au tidak lagi tegur sapa dengan Vian. Bahkan ktika dia memaksaku untuk berbicara dengannya di sekolah aku langsung menangis histeris.

    Dalam hati aku begitu membenci Vian cowok yang selama ini begitu baik padaku, bahkan aku telah menyerahkan segalanya pada dia. Akupun menjadi jarang keluar rumah, aku tidak lagi sering hang out dengan teman-temanku, walau sebenarnya di rumah akupun selalu di buat pusing oleh mama yang sering marah padaku. Tinggal papa Dodi yang begitu baik padaku.

    Hingga pada suatu hari kami di tinggal pergi selama seminggu oleh mama dan juga adikku, mereka ada acara keluarga di luar kota. Tinggal aku dengan papa di rumah, padahal sebelum mama pergi papa sudah tidak enak badan, karena itu dia tidak berangkat kerja dan sudah 3 hari dia tidak bekerja. Aku menjadi kasihan padanya meskipun ada asisten rumah tangga kami.

    Tapi aku begitu kasihan melihat papa karena itu aku yang merawatnya hingga diapun lebih segeran setelah 3 hari. Pagi itu aku datang ke kamar papa setelah baru selesai mandi, aku langsung sarapan dan tidak melihat pembantuku aku tahu dia sedang pergi berbelanja di jam seperti sekarang. Dengan langkah gontai aku masuk kedalam kamar papa ternyata dia berada di dalam kamar mandi.

    Entah keberanian darimana aku mendekat ke kamar mandinya lalu aku mengintip apa yang dilakukan papa di dalam sana, ternyata papa sedang memainkan senjatanya dengan tangannya sendiri. Akupun merasa kasihan padanya karena aku tahu juga pernah melakukan adegan seperti dalam cerita seks 17 tahun akhirnya akupun merasakan gairahku bangkit dan tanpa malu sedikitpun aku masuk ke dalam kamar mandi papa.

    Papa kaget melihatku “Reetno..apa yang kamu lakukan disini..” Aku tidak menjawab pertanyaan papa, tapi aku langsung menghamipirinya lalu akupun duduk dengan wajah pas di depan kontolnya, perlahan tapi pasti aku memegang kontolnya lalu aku kulum dalam mulutku “Jangaaan sayaaang….aaaaaggghhhh..” Awalnya papa menarik tubuhnya tapi begitu aku mainkan kontolnya dalam mulutku.

    Diapun berubah terdiam dan menikmati kuluman mulutku “Aaaagaggggghhhh… aaaaggggggghhhhh… sayaaaaaang…. aaaaaggggghhhh..” Dia pejamkan matanya sambil memegang kepalaku, sedangkan aku semkain ayik memainkan kontolnya mulai dari aku kulum sampai aku hisap telornya “Oooouuggggghhh… nikmaaaaat… sayaaaang… aaagggghh… aagggghhhhhhh… aaagggghhh..”.

    Papa tidak lagi malu padaku dia sepertinya juga sadar kalau akupun juga bukan darah dagingnya. Kontol papa semakin membesar dan semakin tegak berdiri, diapun membopong tubuhku lalu dia membaringkan aku di tempat tidurnya. Aku segera melepas pakaianku dan meliuk-liukannya agar papa lebuh terangsang lagi melihat lekuk tubuhku yang lebih muda darimama.

    Diapun menindihku ketika kontolnya mampu menyusup ke dalam kemaluanku akupun mendesah sambil melingkarkan tangannku pada lehernya “Yaaaccchhhhh… aaaagggghhh… yaaaaacchhh.. paaa… itu..paaaa…. aaagggggghh… aaaaaagggghhhh.. aaaggghh..” Aku mengimbangi goyangan pantat papa, dan dia sepertinya puas dengan hal itu terlihat dia terus menatapku dengan tajam.

    Desah nafas papa begitu berat dan membuat akupun keraanjingan “Aaaaaagggghhh…. paaaaa… aaagggghhhh… aaaggggghhh… teruuuuuus… paaaa… ” Senjata papa sungguh begitu besar, beda banget dengan milik Alvin mantan pacarku, papa juga begitu kuat dia terus bergoyang. Tanpa merasa keletihan sedikitpun diapun menciumi wajahku dan aku membalasnya dengan mesra juga.

    Hingga kurang dari setengah jam kami bergoyang akhirnya papapun mengerang panjang “OOoouuggggghhh…. aaaggggghh… aaaagggghhh… aaaaaggggghhh… aaaaaaggghh…” Dia menekan lebih dalam kontolnya hingga akupun merasakan lendir kental yang mengalir dalam kemaluanku, aku peluk tubuh papa dan diapun memeluk tubuhku. Kami begitu puas melakukan adegan ranjang ini.

    Hingga akhirnya aku segera bangun karena takut sampai ketahuan oleh pembantu yang akan segera datang. Tapi sejak saat itu aku sering melakukannya dengan papa Dodi, dan anehnya aku tidak merasa menyesal sedikitpun bahkan dalam hatiku aku merasa ada perasaan pada papa, seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta. Aku tidak lagi memikirkan kalau papa adalah orang tua angkatku.

  • Foto Gadis Perawan Jepang Pamer Toket Sintal

    Foto Gadis Perawan Jepang Pamer Toket Sintal


    2132 views

    Perawanku –Di jaman sekarang ini mencari Gadis perawan itu macem mencari Jerami di tumpukan Jarum bos ku sakit sakit susah Tapi ujung” nya enak :D.

    Tapi tidak dengan Gadis jepang ini, tidak mau kalah dari yang lain gadis perawan jepang ini Pamer toket sintal mulus nya lo bos ku, minta di emut kali ya bos ku :