Author: perawanku

  • Skandal Sex Tubuh ku Yang Telah Di Kuasai – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Skandal Sex Tubuh ku Yang Telah Di Kuasai – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1806 views

    Perawanku – Kehidupan dalam rumah tanggaku berjalan baik baik saja untunglah aku mendapat suami yang pengertian dan saying terhadap keluarga semua kebutuhan hampir dari kahir dan batin terpenuhi, aku dibesarkan dari lingkungan yang taat agama adat jawanya selanjutanya aku dan mas Abraham setelah kuliah memutuskan untuk menikah kerena sudah 4 tahun kita pacaran jadi melanjutkan ke jenjang yang serius.

    Bersyukur kehidupanku berkecukupan ayahku yang pekerjaannya sebagai pamong di daerahku dan orang tua mas Abraham adalah bisnismen di kota dan menetap di Jakarta, akhirnya kita menikah dan selama 1 tahun kami merencanakan untuk menunda momongan memang rencananya begitu mas Abraham masih ingin beduaan dan aku serius juga dalam pekerjaanku tanpa diganggu oleh momongan dulu.

    Mas Abraham ingin aku mencurahkan perhatianku kepada pekerjaan dan ingin tetap menikmati kehidupan berdua dulu tanpa di ganggu anak dulu. Saat ini usiaku menginjak 27 tahun. tinggiku 158cm dan rambut sebahu. kulitku kata teman2ku sawo matang, karena jika putih pasti kalah denagn orang chines.

    Tidak heran selama aku kuliah dulu di daerah surakarta,banyak teman sekampusku yang coba endekati, namun hatiku terpaut pada Mas Abraham saja. Bukan materi yang aku kejar pada dirinya, namun karena sikapnya yang santun thdp aku.

    Teman2 bilang aku terlalu pilih2,namun semua itu salah, dan kebetulan Mas Abraham datang kekostku slalu pake BMW kadang mercy milik orang tuanya. Tapi aku lebih suka jika ia datang dan jemput pake sepeda motor saja.

    Bukan apa2, di kampungku orangtuaku juga punya mobil seperti itu. Kehidupan sexualku normal dan Mas Abrahampun tau ttg seleraku. Ia amat mengerti kapan kami bisa berhubungan badan dan kapan tidak. Akupun tidak mau Mas Abraham terlalu memporsir tenaganya untuk melakukan kewajibannya. Sebagai wanita jawa aku dituntut untuk nrimo dan pasrah saja.

    Kami tinggal di surakarta dan menempati rumah pemberian orang tua Mas Abraham. Di rumah yang luas dan asri ini, kami tinggal dan ditemani dua orang pembantu suami istri.

    Kedua pembantu itu telah lama ikut dengan orang tua Mas Abraham. Umur mereka kira2 65 tahun. yang perempuan bernama mak imah dan pak bidin. Kami mempercayakan rumah kepada mereka jika kami pergi kerja.

    Setiap hari aku kekantor kadang diantar Mas Abraham dan kadang aku nyetir sendiri. Suatu saat aku pulang kantor dan mau kerumah, aku tanpa sengaja menyerempet sebuah sepeda yang dikemudikan oleh seorang pria paro baya.

    Pria itu jatuh dan aku karena takut dan kaget, maka aku larikan saja mobilku kearah rumah. Sesampai dirumah aku, masukkan mobil dan diam di kamar. Masih terbayang olehku saat, pria itu jatuh dan memanggil manggil aku untuk berhenti, namun aku tancap gas.

    Dirumah perasanku tak tenang dan itu aku diamkan saja dari Mas Abraham. setelah kejadian itu besoknya aku minta diantar kekantor dengan Mas Abraham. hampir tiap malam aku bermimpi bertemu dengan pria yang ku tabrak itu. sampai2 Mas Abraham heran akan sikapku yang berubah dingin dan gelisah.

    Lalu Mas Abraham menanyakan sebab perubahan sikapku itu. Akupun berterus terang dan Mas Abraham memahaminya. Lalu ia sarankan aku untuk menagmbil seorang sopir, untuk mengantarku. Akupun setuju, sebab aku memang trauma sejak saat itu menyetir sendiri.

    Beberapa hari kemudian, datanglah sopir yang dicari Mas Abraham itu. Alangkah kagetnya aku, soalnya itu adalah orang yang aku tabrak tempo hari. Iapun kaget, namun aku berusaha menagatur sikapku, aku yakin iapun masih ingat denganku saat ku tabrak.

    Supaya Mas Abraham tak curiga pada orang yang ku tabrak itu, maka aku setuju saja jika ia jadi sopirku. Aku pikir itung2 balas jasa ataskesalahanku saat itu. Namanya Pak Hardi, umurnya kira2 66 tahun, namun masih kuat dan sehat.

    Sejak saat itu aku slalu diantar Pak Hardi kemana aku pergi, baik kekantor atau belanja. Setiap pagi ia telah ada di rumah, dan siap2 membersihkan mobilku.

    Sedang suamiku telah akrab dgn Pak Hardi. Suatu hari saat mengantar aku kekantor sambil bincang2 Pak Hardi, bilang padaku. Bu.. kalau ndak salah ibu dulu, nabrak saya dengan mobil ini kan?.. tanyanya.

    Aku terdiam dan Pak Hardipun berkata, ibu,,, kejam dan tidak bertanggung jawab. Lalu ku jawab… maaf pak.. waktu itu memang saya salah,, saya tergesa gesa saat itu, jawabku.

    Alahhhh kalian orang kaya memang begitu.. menganggap orang lain sampah, lanjutnya.. Lalu ku jawab.. jangan gitu pak? saya waktu itu benar2 khilaf kataku lagi. Lalu ia diam… Aku… pun diam saja saat itu, hingga sampai di rumah.

    Sejak kejadian itu sikapnya terhadapku jadi lain dan aku tidak ambil pusing. Aneh memang kenapa sejak saat Pak Hardi bertanya kepadaku saat itu, aku merasakan adanya sensasi tersendiri dalam hatiku saat menatap matanya.

    Perasaanku kepada Pak Hardi serasa ingin terus bersama dengannya. Jika ia pulang sore harinya,aku merasa ada yang hilang dalam hidupku. Dan pagi jika ia datang untuk mengantarku rasa itu jadi senang dan seperti kasmaran. Perasanku kepada Mas Abraham biasa saja.

    Jum’at sore saat ia menjemputku, entah kenapa aku minta Pak Hardi untuk mampir dulu untuk singgah di sebuah restoran. Disitu aku mengambil tempat agak kesudut dan suasananya amat romantis.

    Pak Hardi kuajak makan. kami duduk berhadap hadapan, ia pandangngi terus mataku. Akupun demikian seperti aku memandang mas hedra. Tanpa ada kata2 ia genggam jemariku saat itu, aku merasa tenang seperti gadis remaja dengan pasangannya.

    Pak Hardi lalu meraih tanganku dan menciumnya. Baru kali ini, tanganku di pegang orang selain suamiku dan ada rasa hangat yang mengalir di sekujur tubuhku. Beberapa saat kami menikmati suasana yang tak aku hendaki itu terjadi.

    Setelah itu kami keluar dari restoran itu dan menuju kemobil. Dalam mobiku itu, aku terdiam dan bingung akan kejadian barusan, otakku tidak berjalan sebagai mana mestinya, soalnya aku bermesraan dengan sopirku yang tidak sepadan denganku dan ia dengan bebasnya meraih dan meremas tanganku.

    Dalam mobil sebelum berjalan, Pak Hardi menoleh kearahku,dan kembali meraih jemariku dan lalu ia rengkuh tubuhku lalu ia kecup bibirku. aku kembali seperti orang linglung. Sesampai dirumah aku terus terbayang sensasi kejadian tadi sore itu.
    Alangkah kurang ajarnya sopirku itu, bisik hatiku. Malam harinya, dengan separo hati, aku layani suamiku dengan apa adanya. Tidak ada lagi rasa nikmat yang aku rasakan saat Mas Abraham mencumbuku dan mensebadaniku. Hatiku slalu terbayang wajah Pak Hardi.

    Kalau pikiranku sehat saat itu, aku berpikir apa istimewanya Pak Hardi? gak ada rasanya. tapi aku slalu terbayang wajahnya, sampai2 saat suamiku saat berada diatas tubuhku saat melakukan hubungan badan, aku kira Pak Hardi yang diatas tubuhku, tapi untunglah aku masih bisa mengusai diri.

    Besoknya aku seperti biasa diantar olehnya, dan ia tambah berani dengan meraba paha dan dadaku, tangannya aku tepiskan, namaun ia hanya senyum. Setiap hari, matanya tidak luput memandangku dari ujung rambut sampai kaki.

    Entah kenapa setiap hari, ada2 saja yang ia pegang dari tubuhku, kadang dadaku, paha, kadang ia cium bibirku. Namun aku tidak berontak. Suatu ketika saat pulang kantor, mobil tidak ia arahkan kerumah tapi, kerumahnya di kawasan kartosuro.

    Disana, suasananya sepi dan jarang ada rumah penduduk. Entah kenapa akau, mau saja diajak turun dan amsuk kerumahnya, yang dikelilinggi pohon2 besar. Rumahnya terbuat dari kayu dan beratap genteng yang telah tua.

    Dalam rumah itu hanya ada dipan beralaskan tikar dan sebuah bantal. Lalu Pak Hardi menutup pintu rumah itu dan menyilahkan aku duduk di pinggiran dipan itu. Kalau dilihat, gubuknya seperti rumah dukun dan didindingnya ada semacam tulang2 dan bau menyan.

    Pak Hardi kebelakang dan tidak lama kemudian muncul dan duduk di sampingku. Bu… beginilah keadaan saya, katanya… oooo.. ndak apa lah pak? jawabku. Lalu tiba2 saja ia lingkarkan tangannya di bahuku.

    Aku merasa tidak enak.. buk… saya,,, ingin… merasakan kehanagatan tubuh ibu,,, katanya. Dulunya istri saya masih hidup jika tidak ibu tabrak saya saat itu, saya masih bisa menolongnya, namun ibu, membuat saya terlambat.. dan istri saya mati, terangnya.

    Sekarang ibu,, lah yang menggantikannya… lanjutnya lagi. Aku diam saja saat itu, aku begitu karena pikiranku sudah kosong dan dalam diriku ada semacam gairah yang menghentak untuk dituntaskan dan lepaskan.

    Setelah berkata begitu, satu persatu pakainanku jatuh kelantai dan setiap inci tubuhku ia raih dan remah hingga aku tidak berpenutup lagi.

    Aku ia baringkan di dipan kayu itu, lalu ia buka pakaiannya hingga, sama2 bugil denganku. saat itu aku sebelumnya hanya berpakaian kantor. lalu ia raih inci demi inci setiap rongga di tubuhku.

    Dan akhirnya ia hujamkan kejantanannya kekemaluanku berkali kali. ,hingga derit dipan itu terdengar. Aku hanya mendengus dan merasa terus dijadikan kuda pacu.

    Tubuh mulusku dijamah Pak Hardi berulang ulang, hingga akhirnya ia pancarkan cairan hangat itu didalam kemaluanku, ada rasa hangat dan tegang saat ia sampai klimaks. Aku pun tanpa kusadari dari tadi telah pula klimax.

    Tubuhku saat itu penuh dengan keringat dan bercampur dengan keringat Pak Hardi. Aku mersakan perih dan nyilu pada selangkanganku karena kejantanan Pak Hardi panjang dan besar juga. hampir seluruh kulit tubuhku merah2 dan putingku serasa panas akibat gigitan Pak Hardi.

    Beberapa saat kemudian aku di suruh berpakaian dan berbenah seperti biasa lagi. Lalu aku pulang diantarkanya dengan mobilku.

    Dalam mobil aku merasa sesal telah mengkhianati Mas Abraham, namun apa dayaku, sebab Pak Hardi amat berkuasa terhadap tubuhku, hingga ia berhasil menelanjangngi dan menyetubuhi ku.

    Sejak saat itu, bila ada waktu saat aku pulang kantor, Pak Hardi slalu menytubuhiku dan kadang jika suamiku ke jakarta, ia dengan seenaknya tidur di rumahku dan kamipun bersebadan dengan Pak Hardi di atas ranjang kami dengan Mas Abraham.

    Setiap ia menggauliku aku slalu merasakan puas dan pegal2 pada selangkangannku. Para pembantuku tidak curiga atas tindakan kami itu. Pak Hardi pun tampaknya bisa menutup mulut kedua pembantuku.

    Hampir selama 6 bulan aku menjadi bulan2an nafsu Pak Hardi, itu, akupun merasakannya. Namun aku sedikit tenang, aku tidak bakalan hamil, karena aku sudah memasang spiral.

    Dan itu aku sadari, karena hampir setiap berhubungan sex dengan Pak Hardi, ia slalu mengeluarkan air maninya dalam rahimku.

    Dan memang aku sempat mencium bau tidak enak saat ia berada diatas tubuhku. Bau keringatnya amat busuk, namun aku slalu mengganti sprei ranjangku setiap ia meniduriku, sebab bau keringatnya akan tinggal di kain sprei itu. kamarpun aku semprot dengan wewangian dan acnya slalu menyala.

    Dan sekian lama barulah aku mengetahui dari seorang teman bahwa Pak Hardi adalah seorang dukun dan aku telah di guna- gunainya.

    Atas saran dan bantuan seorang orang pintar di tempat rekan kerjaku itu, kini aku telah terbebas dari guna-guna Pak Hardi. Iapun lalu, aku pecat dan ia sempat mengancamku, akan membongkar hubungan sexku dengan ku kepada suamiku.

    Dengan minta duit sekitar 10 juta dari tabunganku aku, minta dia keluar. Sejak saat itu ia tidak pernah muncul lagi.

  • Cerita Seks Party In My House – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Seks Party In My House – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1806 views

    Perawanku – Aku ingin memperkenalkan diriku kepada para pembaca Rumah Seks tentang pengalamanku. Namaku Nadya. Aku adalah gadis keturunan chinese yang berkulit kuning langsat. Badanku tidak terlalu tinggi hanya sekitar 155 cm dan berat 45 cm. Payudaraku berukuran sedang, sekitar 34B. Usiaku sekarang 22 tahun dan aku tinggal di pinggiran kota Jakarta. Aku sebenarnya bukanlah wanita penggoda. Cuman aku sering mendengar dari teman-teman kuliahku bahwa aku termasuk cewek yang berpenampilan sexy dan sering membuat para cowok turun naik jakunnya. Terlebih aku suka memakai kaos longgar, sehingga jika aku menunduk sering terlihat gundukan payudaraku yang terbungkus bra hitam kesukaanku. Di rumahku sendiri, setiap habis mandi, aku selalu hanya membungkus tubuhku menggunakan kimono mandi warna biru muda berbahan handuk. Seringkali karena habis tersiram air yang dingin, membuat puting susuku tercetak di balik kimono. Kamar mandiku sendiri terletak di ruang tamu, dan sering pada saat aku mandi, pacar ciciku datang sedang ngapelin ciciku. Walau aku tidak pernah berpikiran ngeres, tapi sering aku melihat pacar ciciku menelan ludah jika melihat aku habis mandi hanya berbalut kimono itu.

    Ayahku adalah seorang penyalur TKI yang akan diberangkatkan ke luar negeri. Sering kali ada TKI baik pria maupun wanita menginap di rumah sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Hari Minggu kemarin papa baru saja membawa pulang 3 orang TKI pria berusia sekitar 20 tahunan yang kuketahui bernama Maman, Yadi, dan Mulyo. Mereka bertiga orang desa yang bertubuh kekar dan berkulit gelap. Mereka sedang menunggu akan berangkat ke Malaysia. Pagi itu hari Senin, aku sendirian di rumah bersama ke 3 orang calon TKI itu. Mamaku sedang pergi ke Jakarta bersama papaku ada keperluan mendadak. Sementara ciciku pergi bersama pacarnya entah kemana. Aku waktu itu habis beraerobik ria di rumah, dan kemudian ingin mandi. Seperti biasa kubawa saja kimono biruku ke kamar mandi. Dan setelah aku beberapa saat aku selesai mandi, maka kubalut tubuh telanjangku itu dengan kimonoku tanpa apa-apa lagi di baliknya. Kemudian aku berjalan ke halaman belakang hendak menjemur pakaian dalam yang baru kupakai semalam untuk tidur. Kulihat para TKI itu sedang menikmati sarapan pagi. Mereka menyapaku ramah.

    Kulihat mereka memandangiku saat aku memeras BH hitam dan celana dalam kuningku yang sexy itu. Sebenarnya aku risih juga dilihatin begitu, tapi aku pikir tanggung, sebentar lagi aku akan kekamar untuk ganti pakaian. Maka aku kemudian menjemur pakaian dalamku itu. Pada saat aku berjinjit untuk menaruh pakaian dalamku di jemuran, tak terasa kimonoku sedikit tertarik ke atas, padahal kimono itu hanya sepaha. Maka, tak elak lagi, bulu bulu vaginaku yang tidak tertutup itu sedikit kelihatan membuat mereka melotot. Tapi aku tak menyadari hal itu, kemudian aku berbalik dan masuk ke kamar. Kamarku sendiri ada jendela besar ke halaman belakang. Aku ingat ada para TKI itu, maka korden aku tutup, namun rupanya tidak tertutup rapat dan masih bisa kelihatan dari halaman belakang. Aku melepas kimonoku, dan mulai melotioni tubuh telanjangku ini. Aku tak sadar ada 3 pasang mata yang melotot memandangi tubuh telanjangku ini. Beberapa saat kemudian aku baru sadar saat melihat bayangan di cermin. Maka aku berteriak dan segera menutup payudara dan kemaluanku dengan tangan.

    Ketiga TKI itu segera lari dan masuk ke kamarku yang memang tak pernah kukunci. Aku kaget melihat mereka bertiga masuk ke kamarku. “Non, kami sudah melihat tubuh non yang mulus itu. Sebaiknya non tidak usah melawan karena di sini tidak ada siapa-siapa lagi ” kata Mulyo cengengesan. Aku masih berusaha galak dan menyuruh mereka keluar. Namun Maman dan Yadi segera maju dan memegangi tanganku. Kemudian aku mereka banting di ranjang. Aku kemudian berpikir daripada aku melawan malah mendapat celaka, maka lebih baik aku pasrah saja dan tidak melawan. “Sabar-sabar, jangan pada main kasar gitu donk. Saya kan belum pernah gituan.. pelan2 kek” tegurku. Mereka kemudian tidak lagi beringas, dan mendekatiku. Maman segera memelukku dan menciumi bibirku dengan ganas. Mula-mula aku berusaha menolak bibirnya yang bau itu, namun saat Yadi mulai menjilati payudaraku, dan Mulyo mulai mengelus-elus bibir vaginaku dengan tangannya yang kasar itu, aku mulai terangsang dan bibirku mulai membuka untuk membalas serbuan bibir Maman yang tangannya sibuk meremasi pantatku yang bulat itu. Tanganku mulai meraba-raba celana mereka. Dan Yadi berinisiatif membuka celananya dan menyodorkan kontolnya yang lumayan besar itu ke tanganku.

    Aku agak kaget melihat kontol pria sebesar itu. Aku sudah sering melihat kontol milik pacar-pacarku namun tidak ada yang sebesar itu. Apalagi Maman dan Mulyo menyusul bugil. Ternyata kontol mereka begitu besar. Aku sempat ketakutan, namun dengan halus, Mulyo memegang tanganku dan menaruhnya di batang penisnya. Akupun perlahan mulai mengelus penisnya. Maman melanjutkan menyusu di payudaraku yang montok itu. Aku yang sudah makin terangsang, mulai bergantian menjilati batang penis Mulyo dan Yadi secara bergantian, sementara Maman kini mulai menjilati klitorisku yang memerah. Tiba-tiba aku merasa ingin pipis dan akhirnya keluar cairan banyak dari vaginaku. Ketiga cowok itu segera saja berebut menjilati vaginaku sampai aku kegelian. Yadi kemudian menelentangkan aku di ranjang. Aku merasa inilah saatnya aku akan kehilangan keperawananku. Saat Yadi menempelkan kepala kontolnya yang besar itu di bibir vaginaku aku sempat berusaha menolaknya. Namun dari belakang Mulyo mendorong Yadi sehingga kontolnya langsung amblas ke memekku. Aku menjerit kesakitan. Namun Mulyo segera berinisiatif menjilati puting payudaraku sehingga aku kegelian.

    Yadi sendiri perlahan mulai menarik majukan kontolnya sehingga aku merasakan kegelian yang amat sangat di lubang vaginaku. Terasa kontolnya memenuhi lubang vaginaku. Tiba-tiba sambil memelukku, Yadi menggulingkan aku sehingga aku berada di atasnya. Mulutnya segera menyerbu ke puting payudaraku yang menggantung bebas. Belum sempat aku berpikir tiba-tiba dari belakang Mulyo menyodokkan kontolnya yang besar itu ke dalam lubang anusku. Aku yang berteriak kesakitan, segera disumpal mulutku dengan kontol Maman samai aku nyaris muntah. Kini dalam keadaan menelungkup, ketiga lubangku sudah dimasuki kontol yang berbeda. Namun aku merasakan sensasi yang luar biasa. Seluruh tubuhku serasa dilolosi. Aku mengalami orgasme sampai 3 kali. Akhirnya aku merasa ingin orgasme lagi, dan bersamaan dengan orgasmeku, kurasakan Yadi menyemprotkan banyak sekali spermanya di dalam memekku. Kemudian aku jatuh lunglai di pelukan Yadi. Mulyo kemudian segera menarikku duduk di pangkuannya sambil kontolnya masih menancap di lubang anusku. Dari belakang ia meremas-remas payudaraku yang berguncang-guncang. Maman yang belum klimaks, segera menyodokkan kontolnya ke dalam vaginaku yang nganggur itu.

    Aku benar-benar sudah merasa kepayahan, hingga akhirnya aku merasa ingin keluar lagi. Tak lama kemudian aku benar-benar tak tahan lagi dan akhirnya aku menyemprotkan cairan orgasmeku yang kelima. Maman tak lama kemudian menyusul menyemprotkan maninya di dalam memekku. Mulyo rupanya memang yang terkuat di antara mereka. Dia belum keluar, sehingga dia kemudian menunggingkan aku dan kontolnya pindah ke vaginaku. Dari belakang aku disodoknya sambil tangannya memeras-meras payudaraku. 15 menit kemudian dia akhirnya mencapai klimaks dan aku pun juga mencapai orgasmeku lagi. Kami berempat akhirnya lunglai di atas ranjang. Kulihat jam, ternyata sudah hampir 2 jam kami melakukan pesta sex. Aku kemudian mengajak mereka untuk mandi bersama karena aku khawatir sebentar lagi papa mamaku pulang. Kemudian kami berempat mandi bersama. Di kamar mandi ketiga laki-laki itu selalu berebutan untuk menjamah tubuhku yang mulus ini. Sungguh pengalaman ini tak terlupakan bagiku dan aku mulai mengerti nikmatnya sex sejak itu. Lain kali akan kuceritakan pengalamanku bersama tetanggaku. Tamat

  • Seks Hangat Adik Sepupu Istriku

    Seks Hangat Adik Sepupu Istriku


    1804 views


    Perawanku – Pertama kali aku mengenal dirinya, aku kagum dengan budi pekerti dan kesopanan bicaranya. Saat itu aku masih ingat, dia sudah duduk di bangku akhir SLTP dan usianya menginjak 15 tahun, namanya Eva, ya.. Eva, cantik sekali namanya secantik orangnya. Waktu itu aku sudah bertunangan dengan kakak sepupunya yang sekarang telah menjadi istri tercintaku dan dikaruniai seorang putra yang lucu.

    Tiga tahun kemudian adik sepupu istriku Eva datang ke rumahku dan memintaku untuk membantu mencarikan PTS di kotaku. Aku dan istriku jadi repot dibuatnya karena harus mengantarkan dia untuk daftar, test dan cari kost. Selama membantu dia, aku mendapatkan pengalaman yang sangat menarik dan membuatku bertanya-tanya dalam hati.

    Selama aku membantunya mencarikan PTS di kotaku, dia sering mencuri pandang ke arahku dengan pandangan yang nakal, kemudian terseyum sambil memandang kejauhan. Hampir tanpa ekspresi, aku pun terdiam sampai dia berlalu. Aku terkejut bukan karena cara pandangannya kepadaku, tapi dia sendiri itu yang membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku kemudian berandai-andai, jika waktu berpihak kepadaku, jika keberuntungan mendukung, jika kesempatan mau sedikit saja berbaik hati. Mungkin juga aku yang terlalu berharap dibuatnya, sebenarnya batinku tidak setuju untuk menyebutnya begitu.

    Sesungguhnya kita sering diganggu oleh ketidakpastian yang menghantui kotak pikiran, namun setelah kenyataan dihadapan mataku, maka baru sadar. Aku takut tidak dapat mengendalikan diriku lagi. Pada suatu hari dia datang ke rumahku, karena ada hari libur besoknya, dia mau menginap di rumahku. Hatiku jadi gelisah, aku ingin melakukan sesuatu, mengalirkan magma yang meledak-ledak dalam diriku. Tapi batin dan nuraniku melarangnya, tidak sepantasnya itu terjadi padaku dan sepupuku.

    “Kak, tolong aku dong!” Pandangannya menusuk, menembus dadaku hingga jantungku, serasa ingin meloncat.

    “Jika Kakak tak keberatan, Eva minta diajarin naik motor bebek”, matanya mengerling ke arahku serasa terseyum manis.

    Belum pernah aku menerima tawaran seperti ini dari wanita. Kau telah menyentuh sisi paling rawan dalam hatiku. Aku mengangguk sambil tetap mencengkram wajahnya dengan tatapanku, sayang untuk dilepaskan. Wajahnya lembut, tenang dan dewasa, kalau saja tubuhnya setinggi minimal 175 cm, pastilah sudah menjadi bintang film sejak lama. Rambutnya sebahu, kulitnya kuning langsat, Pokoknya mantap!

    “Mengapa memilih Kakak? Mengapa tidak kepada pacarmu atau temanmu yang lain?” tanyaku.

    “Saya telah memilih Kakak”, katanya manja. Aku mulai menggodanya..

    “Memilih Kakak?” Dia mengangguk lugu, tetapi semakin mempesona.

    “Kalau begitu, jangan protes apa-apa, kamu Kakak terima menjadi murid, sederhana bukan?” kataku.

    “Kakak akan menyesal jika melewatkan kesempatan ini, sebab Kakak ingin tercatat dalam hati sanubari Eva yang paling dalam sebagai orang paling berjasa menumbuhkan dan menyemaikan bakat naik motor kepada Eva gadis yang manis, kandidat peraih Putri Indonesia.” Tawanya meledak, matanya menyepit, bibirnya memerah. Pipinya juga, duhh..!

    “Kapan Kak belajarnya?” tanya dia.

    “Sekarang”, jawabku.

    Kemudian kami pamit kepada istriku, dan aku mengeluarkan motor bebek, kuhidupkan mesinnya. Aku duduk di depan dan dia di belakangku, aku mencari daerah yang sepi lalu lintasnya. Setelah sampai di daerah yang lalu lintasnya kurasa sepi, aku menghentikan dan turun dari motor. Kemudian aku memberikan beberapa petunjuk yang diperlukan dan mempersilakan dia untuk duduk di depan dan aku di belakangnya. Beberapa menit kemudian motor mulai jalan pelan dan bergoyang-goyang hingga mau jatuh. Terpaksa aku membantu memegang stang motor, aku tidak sempat memperhatikan lekuk tubuhnya. Badannya sangat indah jauh lebih indah dari yang aku bayangkan. Lehernya yang putih, pundaknya, buah dadanya.. Akh..!

    Setelah aku membantu memegang stang, motor dapat berjalan dengan stabil, aku mulai dapat membagi konsentrasi. Aku merasakan kehangatan tangannya, telapak tanganku menumpuk pada telapak tangannya. Kuusap tangannya, dia nggak bereaksi, mungkin karena lagi konsentrasi dengan jalan. Kemudian aku merapatkan dudukku ke depan sehingga kemaluanku merapat pada punggung bagian bawah. Hidungku kudekatkan ke belakang telinganya, tercium bau wangi pada rambutnya. Aku mulai terangsang, kemaluanku mulai tegak di balik celana dalam yang kupakai.

    Karena dia sudah mulai dapat menguasai motor, sementara aku masih dapat mengontrol diriku dengan baik, kutawarkan untuk latihan sendiri dan aku menunggu di warung saja. Tapi dia nggak mau, dia ingin aku tetap duduk di belakangnya. Aku jadi khawatir sendiri, kalau begini terus akan berbahaya, imanku kuat tapi barangku nggak mau diajak kompromi.

    Akhirnya timbul dalam pikiranku untuk sekedar berbuat iseng saja. Kemudian aku pura-pura menjelaskan soal lalu lintas, aku merapatkan badanku sampai kemaluanku menempel di bawah punggungnya. Eva pasti juga dapat merasakan kemaluanku yang tegak. Tapi dia cuma diam saja, kubisikan di telinganya..

    “Eva, kamu cantik sekali!” kataku dengan suara bergetar.

    Tetapi dia tetap tidak bereaksi, kemudian aku meletakkan kedua tanganku di kedua pahanya. Rupanya dia tetap tidak bereaksi, aku jadi semakin berani mengusap-usap pahanya yang terbuka, karena dia memakai celana pendek.

    “Akh.. Kakak nakal! Entar dimarahi Kak Lina lho, kalau ketahuan!”, katanya manja.

    “Kalau Eva nggak cerita, ya.. Nggak ada yang tahu! Emang Eva mau cerita sama Kak Lina?” tanyaku.

    “Ya.. Nggak sih”, katanya.

    “Kalau gitu kamu baik dech”, kataku.

    Karena mendapat lampu hijau aku semakin berani, kukatakan bahwa payudaranya sangat bagus bentuknya, lebih bagus dari punya kakaknya, Lina. Dia tampak senang.

    “Kakak ingin sekali menyentuhnya, boleh nggak?” kataku meluncur dengan begitu saja.

    “Akh.. Kakak nakal”, katanya manja.

    Aku semakin nekat saja, sebab dari jawabannya aku yakin dia nggak keberatan. Kemudian tanganku pelan-pelan mulai menyentuhnya dan kemudian memegang penuh dengan telapak tanganku. Wah, rasanya keras sekali, kucoba meremasnya dan dia sedikit terkejut. Aku tidak dapat memegang lama-lama sebab harus membagi konsentrasi dengan jalan. Yang jelas kemaluanku semakin berdenyut-denyut.

    Aku tersentak waktu dia mengerem motor dengan mendadak untuk menghindari lubang. Tubuhku menekan tubuhnya hingga membuat kesadaranku pulih, akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya pulang. Aku sempat melihat kekecewaan di matanya. Tapi mau bagaimana lagi itu jalan terbaik, agar aku tidak sampai terjebak pada posisi yang sulit nantinya.

    Besok paginya, waktu aku mau berangkat bekerja, istriku memintaku untuk mengantarkan Eva dulu ke tempat kostnya. Tentu saja aku bersedia, malah jantungku menjadi berdebar-debar. Nggak lama kemudian Eva mendekati kami.

    “Kak, antarin Eva dulu dong? Eva ada kuliah pagi nich! Teman Eva nggak jadi menjemput”, katanya.

    “Ayo!” ajakku sambil masuk ke dalam mobil.

    “Eva mau mandi dulu ya Kak!” katanya.

    “Nggak usah, nanti keburu macet di jalan, mandinya nanti aja di kost.”, jawabku.

    Di dalam hatiku aku sudah berjanji bahwa aku harus dapat mengendalikan diri. Sehingga selama dalam perjalanan aku banyak diam. Akhirnya dia mulai membuka pembicaraan..

    “Kak, kok diam aja sih? Marah ya? Anterin Eva pulang!” kata Eva.

    “Kakak cuma lagi kurang enak badan saja”, jawabku sekenanya.

    Setelah sampai di depan rumah kostnya, dia minta aku untuk ikut masuk, mengambil mainan yang telah dibelikannya untuk anakku. Mulanya aku menolaknya, tapi karena dia mau buru-buru berangkat kuliah dan juga belum mandi, sedangkan kamarnya di lantai 3. Aku jadi kasihan kalau dia harus naik turun tangga hanya untuk mengambilkan mainan saja. Akhirnya aku mengikutinya dari belakang, aku sempat heran dan tanya kepada dia..

    “Kok sepi sekali?”

    Ternyata kata Eva semua sudah pada berangkat kuliah. Kemudian aku disuruh menunggu di kamarnya, sementara dia mandi. Setelah selesai mandi dia masuk ke kamar, wajahnya kelihatan segar.

    “Lho kok nggak ganti pakaian?” tanyaku.

    “Iya, tadi temanku kasih tahu kalau dosennya nggak masuk, jadi Eva nggak perlu buru-buru lagi.” katanya. Sementara aku duduk di tempat tidurnya, dia mengambilkan mainan yang akan diberikan pada anakku.

    “Ini Kak”, katanya sambil duduk di sampingku.

    “Wah bagus sekali. Terima kasih ya!” kataku.

    Sewaktu aku mau berpamitan keluar, pandangan mataku beradu dengannya, hati ini kembali berdebar-debar, pandangan matanya benar-benar meluluh-lantakan hatiku dan menghancurkan imanku. Aku tidak jadi berdiri, kupegang tangannya. Kuusap dengan penuh perasaan, dia diam saja, kemudian kupegang pundaknya, kubelai rambutnya..

    “Eva kamu cantik sekali”, kataku dengan suara bergetar, tapi Eva diam saja dengan muka semakin menunduk. Kemudian aku meletakkan tanganku di pundaknya. Dan karena dia diam saja, aku jadi semakin berani, kucium di bagian belakang telinganya dengan lembut, rupanya dia mulai terangsang. Dengan pelan-pelan badan Eva aku bimbing, kuangkat agar berada dalam pangkuanku.


    Sementara kemaluanku semakin menegang, usapan tanganku semakin turun ke arah payudaranya. Aku merasa nafas Eva sudah memburu seperti nafasku juga. Aku semakin nekat, tanganku kumasukan ke dalam kaosnya dari bawah. Pelan-pelan merayap naik ke atas mendekati panyudaranya, dan ketika tanganku sudah sampai ke pinggiran payudaranya yang masih tertutup dengan BH-nya, kuusap bagian bawahnya dengan penuh perasaan, dia menggelinjang dan menoleh ke arahku dengan mulut sedikit terbuka.

    Aku jadi tidak tahan lagi, kutundukan muka kemudian mendekatkan bibirku ke bibirnya. Ketika bibir kita bersentuhan, aku merasakan sangat hangat, kenyal dan basah. Aku pun melumat bibirnya dengan perasaan sayang dan Eva membalas ciumanku, pelan-pelan lidahku mulai menjulur menjelajahi ke dalam mulutnya dan mengkait-kaitkan lidahnya, membuat nafas Eva semakin memburu.

    Tanganku pun tidak tinggal diam, kusingkapkan BH-nya ke atas, sehingga aku dapat dengan leluasa memegang payudaranya. Aku belum melihat tapi aku sudah dapat membayangkan bentuknya, ukurannya tidak terlalu besar dan terlalu kecil, sehingga kalau dipegang rasanya pas dengan telapak tanganku. Payudaranya bulat dengan punting yang tegak bergetar seperti menantangku. Kuusap dan kuremas, Eva mulai merintih.

    Kemudian Eva kurebahkan di kasur, kulepas kaosnya dan BH-nya sehingga tampak pemandangan yang sangat menakjubkan. Dua buah gundukan yang berdiri tegak menantang, kupandangi badannya yang setengah telanjang. Kemudian mulutku pelan-pelan kudekatkan ke buah dadanya, dan ketika mulutku menyentuh buah dadanya, Eva merintih lebih keras. Nafsuku semakin naik, kuciumi susunya dengan tidak sabar. Putingnya kukulum dengan lidahku, kuputar-putar di sekitar putingnya dan susunya yang sebelah kuremas dengan tanganku.

    “Aduuhh.. Ahh.. Ah”, Eva semakin mengerang-erang dan dengan gemas putingnya kugigit-gigit sedikit.

    Badannya menggelinjang membuatku semakin bernafsu untuk terus mencumbunya. Sekarang tanganku mulai beroperasi di daerah bawah, kubuka celana pendeknya hingga sekarang hanya mengenakan celana dalam saja, rupanya celana dalamnya sudah basah. Akhirnya kulepas sekalian, sehingga tampak vaginanya yang masih kencang dan ditumbuhi rambut yang tidak banyak, membuat kemaluanku semakin tegang.

    Kubersihkan vaginanya dengan bekas celana dalamnya. Kemudian kupandangi dan kuusap-usap dengan penuh perasaan, Eva tampak sangat menikmati sekali, dan saat jariku menyentuh klitorisnya, Eva menggelinjang dengan keras. Sementara klitorisnya masih kuusap-usap dengan jariku, Eva semakin menggeliat-liat. Pada saat itu aku ingin sekali mencium vaginanya, karena sudah terangsang sekali. Saat aku mau menunduk untuk mencium, kuangkat tanganku tapi pada saat itu dia langsung merapatkan kedua pahanya dan badannya tegang sekali dan tersentak-sentak selama beberapa saat.

    “Aahhkk.. Oohh.. Kak, aahh!”

    Akhirnya Eva diam beberapa saat, kudiamkan saja, sebab dia baru saja merasakan orgasme. Tubuhnya terkulai lemas, aku jadi kasihan sehingga senjataku juga ikut-ikutan turun. Dengan penuh rasa kasih sayang aku menghampirinya, duduk di pembaringan sejajar dengan buah dadanya dan menghadap ke arah wajahnya. Tubuhnya kututupi dengan selimut. Kubelai rambutnya dan kucium keningnya, rupanya dia terharu dengan perilakuku. Baru saja aku mau berdiri, tanganku diraihnya, kemudian aku duduk lagi, tahu-tahu tangannya sudah ada di atas pahaku.

    “Kak, baru kali ini Eva merasakan sensasi yang sangat luar biasa nikmatnya, sebab yang namanya disentuh oleh laki-laki Eva belum pernah, apalagi pacaran. Jadi Kakak adalah orang yang pertama yang menyentuh Eva, tapi Eva senang kok Kak. Tadi Eva merasakan nikmatnya sampai tiga kali Kak, Eva sangat puas Kak!”

    Dalam hatiku bertanya mengapa bisa sampai 3 kali, padahal aku kira cuma sekali. Pantas dia langsung KO. Mungkin karena dia tidak pernah dijamah laki-laki, jadi tubuhnya sangat sensitif sekali.

    “Kok diam saja, Kak? Apa Kakak juga udah puas?” tanyanya.

    “Eva nggak usah pikirin Kakak, yang penting kamu sudah dapat merasakan nikmatnya orang bercumbu yang seharusnya belum boleh kamu rasakan. Sekarang Kakak mau berangkat bekerja dulu, oke!” kataku.

    “Kak gimana caranya biar Kakak juga bisa merasakan nikmat”, katanya dengan lugu. Tangannya yang masih ada di atas pahaku tahu-tahu sudah melepas sabukku dan membuka celanaku.

    “Biar Eva juga mau pegang punya Kakak seperti tadi Kakak pegang punya Eva, tadi waktu Kakak pegang memek Eva dan mengusap-usap, Eva mendapat kenikmatan luar biasa, berarti kalau punya Kakak Eva pegang dan diusap-usap pasti Kakak juga merasa nikmat”, katanya sok tahu.

    Sekarang celana dalamku sudah kelihatan dan Eva mulai memegang dan meremasnya dari luar. Kemaluanku jadi tegak dan menyembul keluar dari celana dalamku. Dia terkejut dan takjub, “Wuah besar sekali.” Kalau sudah begini aku jadi lupa lagi dengan diriku, aku menurunkan celana dalamku agar dia dapat leluasa memainkannya. Kemaluanku yang sudah sangat tegak digenggamnya dengan telapak tangannya dan diremasnya.

    “Akh.. Eva, enaakk”, dia tambah bersemangat. Jari-jarinya mengusap-usap kepala kemaluanku.

    “Eva, teruskan sayang..” kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa kemaluanku sudah keras sekali. Eva meremas dan mengurut kemaluanku semakin cepat.

    “Eva!” seruku.

    “Kakak akan terasa lebih nikmat kalau Eva mau menciumnya!”

    Kemudian kupindahkan kepalanya di pahaku dan susunya menempel dipunggungku, aku ajari dia, mulanya kusuruh cium batang kemaluanku kemudian kusuruh jilati dengan lidahnya. Aku merasakan sesuatu yang lain yang tidak kualami jika dengan istriku, mungkin karena Eva masih gadis, lugu dan tubuhnya belum pernah dijamah sedikitpun oleh laki-laki.

    Rupanya Eva juga menikmati dan mulai terangsang. Karena posisi kami kurang bebas, aku membimbing Eva bangun dari pembaring dan duduk di lantai sementara aku tetap duduk di pembaring, sehingga mukanya tepat di depan selangkanganku. Kini dengan leluasa dia dapat melihat kemaluanku yang semakin keras. Kemaluanku terus dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak.

    Mulutnya perlahan mulai didekatkan ke arah kemaluanku dan bibirnya mengecup kepala kemaluanku, tangannya memegang pangkal kemaluanku. Mulutnya mulai ditempelkan pada kepala kemaluanku dan lidahnya kusuruh menjilati ujungnya. Dan aku mulai menyuruhnya untuk dikulum di dalam mulutnya, mulutnya mulai dibuka agak lebar dan kemaluanku bagian ujungnya mulai dikulum, aku semakin keenakan.

    “Eva.. ennaak! Terus sayang, masukan terus lebih dalam lagi, nah.. Begitu sayang.”


    Rambutnya kuusap-usap dan kepalanya pelan-pelan kutarik kemudian kudorong lagi ke arah kemaluanku. Rupanya dia tahu maksudku, kemudian dia maju mundurkan kemaluanku di dalam mulutnya. Aku merasa sudah nggak tahan, apalagi sewaktu Eva melakukannya semakin cepat. Ketika aku merasa spermaku mau keluar, pelan-pelan kutahan gerakan kepalanya, maksudku mau menarik kemaluanku keluar dari mulutnya. Tetapi dia malah melawan gerakanku, dengan memegang pangkal kemaluanku lebih kuat dan mempercepat gerakannya. Akhirnya aku tidak dapat menahan lebih lama lagi..

    “Aahh, aahh, aahh..!”

    Spermaku keluar di dalam mulutnya dengan rasa nikmat luar biasa dan badanku sampai tersentak-sentak. Kemudian kemaluanku kutarik dari mulutnya. Aku melihat di mulutnya belepotan dengan spermaku, kuangkat dia dan kududukkan di pahaku, tanganku yang sebelah kiri menopang kepalanya, sedangkan tanganku yang kanan membersihkan mulutnya.

    “Kamu pintar sekali, Kakak mendapatkan kenikmatan yang luar biasa”, kataku berbisik.

    “Eva.. Juga Kak, sekarang Eva merasakan tulang-tulang Eva seperti lepas!” Kemudian kuangkat tubuhnya yang masih telanjang, kurebahkan di pembaringan. Aku sendiri merapikan pakaian dan langsung pamit pulang.

    Setelah kejadian tersebut aku sangat merasa menyesal, tapi lagi-lagi sudah terlambat, tapi hatiku mengatakan tidak ada yang terlambat, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Aku kembali berjanji dalam hatiku cukup sampai di sini.

  • Cerita Hot Bergambar Perintah Mbak Lia – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Hot Bergambar Perintah Mbak Lia – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1804 views

    Perawanku – Mbak Lia kurang lebih baru 2 minggu bekerja sebagai atasanku sebagai Accounting Manager. Sebagai atasan baru, ia sering memanggilku ke ruang kerjanya untuk menjelaskan overbudget yang terjadi pada bulan sebelumnya, atau untuk menjelaskan laporan mingguan yang kubuat. Aku sendiri sudah termasuk staf senior. Tapi mungkin karena latar belakang pendidikanku tidak cukup mendukung, management memutuskan merekrutnya. Ia berasal dari sebuah perusahaan konsultan keuangan.

    Usianya kutaksir sekitar 25 hingga 30 tahun. Sebagai atasan, sebelumnya kupanggil “Bu”, walau usiaku sendiri 10 tahun di atasnya. Tapi atas permintaanya sendiri, seminggu yang lalu, ia mengatakan lebih suka bila di panggil “Mbak”. Sejak saat itu mulai terbina suasana dan hubungan kerja yang hangat, tidak terlalu formal. Terutama karena sikapnya yang ramah. Ia sering langsung menyebut namaku, sesekali bila sedang bersama rekan kerja lainnya, ia menyebut “Pak”.

    Dan tanpa kusadari pula, diam-diam aku merasa betah dan nyaman bila memandang wajahnya yang cantik dan lembut menawan. Ia memang menawan karena sepasang bola matanya sewaktu-waktu dapat bernar-binar, atau menatap dengan tajam. Tapi di balik itu semua, ternyata ia suka mendikte. Mungkin karena telah menduduki jabatan yang cukup tinggi dalam usia yang relatif muda, kepercayaan dirinya pun cukup tinggi untuk menyuruh seseorang melaksanakan apa yang diinginkannya.

    Mbak Lia selalu berpakaian formal. Ia selalu mengenakan blus dan rok hitam yang agak menggantung sedikit di atas lutut. Bila sedang berada di ruang kerjanya, diam-diam aku pun sering memandang lekukan pinggulnya ketika ia bangkit mengambil file dari rak folder di belakangnya. Walau bagian bawah roknya lebar, tetapi aku dapat melihat pinggul yang samar-samar tercetak dari baliknya. Sangat menarik, tidak besar tetapi jelas bentuknya membongkah, memaksa mata lelaki menerawang untuk mereka-reka keindahannya.

    Di dalam ruang kerjanya yang besar, persis di samping meja kerjanya, terdapat seperangkat sofa yang sering dipergunakannya menerima tamu-tamu perusahaan. Sebagai Accounting Manager, tentu selalu ada pembicaraan-pembicaraan ‘privacy’ yang lebih nyaman dilakukan di ruang kerjanya daripada di ruang rapat.

    Aku merasa beruntung bila dipanggil Mbak Lia untuk membahas cash flow keuangan di kursi sofa itu. Aku selalu duduk persis di depannya. Dan bila kami terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius, ia tidak menyadari roknya yang agak tersingkap. Di situlah keberuntunganku. Aku dapat melirik sebagian kulit paha yang berwarna gading. Kadang-kadang lututnya agak sedikit terbuka sehingga aku berusaha untuk mengintip ujung pahanya. Tapi mataku selalu terbentur dalam kegelapan. Andai saja roknya tersingkap lebih tinggi dan kedua lututnya lebih terbuka, tentu akan dapat kupastikan apakah bulu-bulu halus yang tumbuh di lengannya juga tumbuh di sepanjang paha hingga ke pangkalnya. Bila kedua lututnya rapat kembali, lirikanku berpindah ke betisnya. Betis yang indah dan bersih. Terawat. Ketika aku terlena menatap kakinya, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertanyaan Mbak Lia..

    “Theo, aku merasa bahwa kau sering melirik ke arah betisku. Apakah dugaanku salah?” Aku terdiam sejenak sambil tersenyum untuk menyembunyikan jantungku yang tiba-tiba berdebar.
    “Theo, salahkah dugaanku?”
    “Hmm.., ya, benar Mbak,” jawabku mengaku, jujur. Mbak Lia tersenyum sambil menatap mataku.
    “Mengapa?”

    Aku membisu. Terasa sangat berat menjawab pertanyaan sederhana itu. Tapi ketika menengadah menatap wajahnya, kulihat bola matanya berbinar-binar menunggu jawabanku.

    “Saya suka kaki Mbak. Suka betis Mbak. Indah. Dan..,” setelah menarik nafas panjang, kukatakan alasan sebenarnya.
    “Saya juga sering menduga-duga, apakah kaki Mbak juga ditumbuhi bulu-bulu.”
    “Persis seperti yang kuduga, kau pasti berkata jujur, apa adanya,” kata Mbak Tia sambil sedikit mendorong kursi rodanya.
    “Agar kau tidak penasaran menduga-duga, bagaimana kalau kuberi kesempatan memeriksanya sendiri?”
    “Sebuah kehormatan besar untukku,” jawabku sambil membungkukan kepala, sengaja sedikit bercanda untuk mencairkan pembicaraan yang kaku itu.
    “Kompensasinya apa?”
    “Sebagai rasa hormat dan tanda terima kasih, akan kuberikan sebuah ciuman.”
    “Bagus, aku suka. Bagian mana yang akan kau cium?”
    “Betis yang indah itu!”
    “Hanya sebuah ciuman?”
    “Seribu kali pun aku bersedia.”

    Mbak Tia tersenyum manis dikulum. Ia berusaha manahan tawanya.

    “Dan aku yang menentukan di bagian mana saja yang harus kau cium, OK?”
    “Deal, my lady!”
    “I like it!” kata Mbak Lia sambil bangkit dari sofa.

    Ia melangkah ke mejanya lalu menarik kursinya hingga ke luar dari kolong mejanya yang besar. Setelah menghempaskan pinggulnya di atas kursi kursi kerjanya yang besar dan empuk itu, Mbak Lia tersenyum. Matanya berbinar-binar seolah menaburkan sejuta pesona birahi. Pesona yang membutuhkan sanjungan dan pujaan.

    “Periksalah, Theo. Berlutut di depanku!” Aku membisu. Terpana mendengar perintahnya.
    “Kau tidak ingin memeriksanya, Theo?” tanya Mbak Lia sambil sedikit merenggangkan kedua lututnya.

    Sejenak, aku berusaha meredakan debar-debar jantungku. Aku belum pernah diperintah seperti itu. Apalagi diperintah untuk berlutut oleh seorang wanita. Bibir Mbak Lia masih tetap tersenyum ketika ia lebih merenggangkan kedua lututnya.

    “Theo, kau tahu warna apa yang tersembunyi di pangkal pahaku?” Aku menggeleng lemah, seolah ada kekuatan yang tiba-tiba merampas sendi-sendi di sekujur tubuhku.

    Tatapanku terpaku ke dalam keremangan di antara celah lutut Mbak Lia yang meregang. Akhirnya aku bangkit menghampirinya, dan berlutut di depannya. Sebelah lututku menyentuh karpet. Wajahku menengadah. Mbak Tia masih tersenyum. Telapak tangannya mengusap pipiku beberapa kali, lalu berpindah ke rambutku, dan sedikit menekan kepalaku agar menunduk ke arah kakinya.

    “Ingin tahu warnanya?” Aku mengangguk tak berdaya.
    “Kunci dulu pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu ruang kerjanya. Dan dengan patuh aku melaksanakan perintahnya, kemudian berlutut kembali di depannya.

    Mbak Lia menopangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Gerakannya lambat seperti bermalas-malasan. Pada saat itulah aku mendapat kesempatan memandang hingga ke pangkal pahanya. Dan kali ini tatapanku terbentur pada secarik kain tipis berwarna putih. Pasti ia memakai G-String, kataku dalam hati. Sebelum paha kanannya benar-benar tertopang di atas paha kirinya, aku masih sempat melihat bulu-bulu ikal yang menyembul dari sisi-sisi celana dalamnya. Segitiga tipis yang hanya selebar kira-kira dua jari itu terlalu kecil untuk menyembunyikan semua bulu yang mengitari pangkal pahanya. Bahkan sempat kulirik bayangan lipatan bibir di balik segitiga tipis itu.

    “Suka?” Aku mengangguk sambil mengangkat kaki kiri Mbak Lia ke atas lututku.

    Ujung hak sepatunya terasa agak menusuk. Kulepaskan klip tali sepatunya. Lalu aku menengadah. Sambil melepaskan sepatu itu. Mbak Tia mengangguk. Tak ada komentar penolakan. Aku menunduk kembali. Mengelus-elus pergelangan kakinya. Kakinya mulus tanpa cacat. Ternyata betisnya yang berwarna gading itu mulus tanpa bulu halus. Tapi di bagian atas lutut kulihat sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus yang agak kehitaman. Sangat kontras dengan warna kulitnya. Aku terpana. Mungkinkah mulai dari atas lutut hingga.., hingga.. Aah, aku menghembuskan nafas. Rongga dadaku mulai terasa sesak. Wajahku sangat dekat dengan lututnya. Hembusan nafasku ternyata membuat bulu-bulu itu meremang.

    “Indah sekali,” kataku sambil mengelus-elus betisnya. Kenyal.
    “Suka, Theo?” Aku mengangguk.
    “Tunjukkan bahwa kau suka. Tunjukkan bahwa betisku indah!”

    Aku mengangkat kaki Mbak Lia dari lututku. Sambil tetap mengelus betisnya, kuluruskan kaki yang menekuk itu. Aku sedikit membungkuk agar dapat mengecup pergelangan kakinya. Pada kecupan yang kedua, aku menjulurkan lidah agar dapat mengecup sambil menjilat, mencicipi kaki indah itu. Akibat kecupanku, Mbak Lia menurunkan paha kanan dari paha kirinya. Dan tak sengaja, kembali mataku terpesona melihat bagian dalam kanannya. Karena ingin melihat lebih jelas, kugigit bagian bawah roknya lalu menggerakkan kepalaku ke arah perutnya. Ketika melepaskan gigitanku, kudengar tawa tertahan, lalu ujung jari-jari tangan Mbak Lia mengangkat daguku. Aku menengadah.

    “Kurang jelas, Theo?” Aku mengangguk.

    Mbak Lia tersenyum nakal sambil mengusap-usap rambutku. Lalu telapak tangannya menekan bagian belakang kepalaku sehingga aku menunduk kembali. Di depan mataku kini terpampang keindahan pahanya. Tak pernah aku melihat paha semulus dan seindah itu. Bagian atas pahanya ditumbuhi bulu-bulu halus kehitaman. Bagian dalamnya juga ditumbuhi tetapi tidak selebat bagian atasnya, dan warna kehitaman itu agak memudar. Sangat kontras dengan pahanya yang berwarna gading.

    Aku merinding. Karena ingin melihat paha itu lebih utuh, kuangkat kaki kanannya lebih tinggi lagi sambil mengecup bagian dalam lututnya. Dan paha itu semakin jelas. Menawan. Di paha bagian belakang mulus tanpa bulu. Karena gemas, kukecup berulang kali. Kecupan-kecupanku semakin lama semakin tinggi. Dan ketika hanya berjarak kira-kira selebar telapak tangan dari pangkal pahanya, kecupan-kecupanku berubah menjadi ciuman yang panas dan basah.

    Sekarang hidungku sangat dekat dengan segitiga yang menutupi pangkal pahanya. Karena sangat dekat, walau tersembunyi, dengan jelas dapat kulihat bayangan bibir kewanitaannya. Ada segaris kebasahan terselip membayang di bagian tengah segitiga itu. Kebasahan yang dikelilingi rambut-rambut ikal yang menyelip dari kiri kanan G-stringnya. Sambil menatap pesona di depan mataku, aku menarik nafas dalam-dalam. Tercium aroma segar yang membuatku menjadi semakin tak berdaya. Aroma yang memaksaku terperangkap di antara kedua belah paha Mbak Lia. Ingin kusergap aroma itu dan menjilat kemulusannya.
    Mbak Lia menghempaskan kepalanya ke sandaran kursi. Menarik nafas berulang kali. Sambil mengusap-usap rambutku, diangkatnya kaki kanannya sehingga roknya semakin tersingkap hingga tertahan di atas pangkal paha.

    “Suka Theo?”
    “Hmm.. Hmm..!” jawabku bergumam sambil memindahkan ciuman ke betis dan lutut kirinya.

    Lalu kuraih pergelangan kaki kanannya, dan meletakkan telapaknya di pundakku. Kucium lipatan di belakang lututnya. Mbak Lia menggelinjang sambil menarik rambutku dengan manja. Lalu ketika ciuman-ciumanku merambat ke paha bagian dalam dan semakin lama semakin mendekati pangkal pahanya, terasa tarikan di rambutku semakin keras. Dan ketika bibirku mulai mengulum rambut-rambut ikal yang menyembul dari balik G-stringnya, tiba-tiba Mbak Lia mendorong kepalaku.

    Aku tertegun. Menengadah. Kami saling menatap. Tak lama kemudian, sambil tersenyum menggoda, Mbak Lia menarik telapak kakinya dari pundakku. Ia lalu menekuk dan meletakkan telapak kaki kanannya di permukaan kursi. Pose yang sangat memabukkan. Sebelah kaki menekuk dan terbuka lebar di atas kursi, dan yang sebelah lagi menjuntai ke karpet.

    “Suka Theo?”
    “Hmm.. Hmm..!”
    “Jawab!”
    “Suka sekali!”

    Pemandangan itu tak lama. Tiba-tiba saja Mbak Tia merapatkan kedua pahanya sambil menarik rambutku.

    “Nanti ada yang melihat bayangan kita dari balik kaca. Masuk ke dalam, Theo,” katanya sambil menunjuk kolong mejanya.

    Aku terkesima. Mbak Tia merenggut bagian belakang kepalaku, dan menariknya perlahan. Aku tak berdaya. Tarikan perlahan itu tak mampu kutolak. Lalu Mbak Lia tiba-tiba membuka ke dua pahanya dan mendaratkan mulut dan hidungku di pangkal paha itu. Kebasahan yang terselip di antara kedua bibir kewanitaan terlihat semakin jelas. Semakin basah. Dan di situlah hidungku mendarat. Aku menarik nafas untuk menghirup aroma yang sangat menyegarkan. Aroma yang sedikit seperti daun pandan tetapi mampu membius saraf-saraf di rongga kepala.

    “Suka Theo?”
    “Hmm.. Hmm..!”
    “Sekarang masuk ke dalam!” ulangnya sambil menunjuk kolong mejanya.

    Aku merangkak ke kolong mejanya. Aku sudah tak dapat berpikir waras. Tak peduli dengan segala kegilaan yang sedang terjadi. Tak peduli dengan etika, dengan norma-norma bercinta, dengan sakral dalam percintaan. Aku hanya peduli dengan kedua belah paha mulus yang akan menjepit leherku, jari-jari tangan lentik yang akan menjambak rambutku, telapak tangan yang akan menekan bagian belakang kepalaku, aroma semerbak yang akan menerobos hidung dan memenuhi rongga dadaku, kelembutan dan kehangatan dua buah bibir kewanitaan yang menjepit lidahku, dan tetes-tetes birahi dari bibir kewanitaan yang harus kujilat berulang kali agar akhirnya dihadiahi segumpal lendir orgasme yang sudah sangat ingin kucucipi.

    Di kolong meja, Mbak Lia membuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Aku mengulurkan tangan untuk meraba celah basah di antara pahanya. Tapi ia menepis tanganku.

    “Hanya lidah, Theo! OK?”

    Aku mengangguk. Dan dengan cepat membenamkan wajahku di G-string yang menutupi pangkal pahanya. Menggosok-gosokkan hidungku sambil menghirup aroma pandan itu sedalam-dalamnya. Mbak Lia terkejut sejenak, lalu ia tertawa manja sambil mengusap-usap rambutku.

    “Rupanya kau sudah tidak sabar ya, Theo?” katanya sambil melingkarkan pahanya di leherku.
    “Hm..!”
    “Haus?”
    “Hm!”
    “Jawab, Theo!” katanya sambil menyelipkan tangannya untuk mengangkat daguku. Aku menengadah.
    “Haus!” jawabku singkat.

    Tangan Mbak Lia bergerak melepaskan tali G-string yang terikat di kiri dan kanan pinggulnya. Aku terpana menatap keindahan dua buah bibir berwarna merah yang basah mengkilap. Sepasang bibir yang di bagian atasnya dihiasi tonjolan daging pembungkus clit yang berwarna pink. Aku termangu menatap keindahan yang terpampang persis di depan mataku.

    “Jangan diam saja. Theo!” kata Mbak Lia sambil menekan bagian belakang kepalaku.
    “Hirup aromanya!” sambungnya sambil menekan kepalaku sehingga hidungku terselip di antara bibir kewanitaannya.

    Pahanya menjepit leherku sehingga aku tak dapat bergerak. Bibirku terjepit dan tertekan di antara dubur dan bagian bawah vaginanya. Karena harus bernafas, aku tak mempunyai pilihan kecuali menghirup udara dari celah bibir kewanitaannya. Hanya sedikit udara yang dapat kuhirup, sesak tetapi menyenangkan. Aku menghunjamkan hidungku lebih dalam lagi. Mbak Lia terpekik. Pinggulnya diangkat dan digosok-gosokkannya dengan liar hingga hidungku basah berlumuran tetes-tetes birahi yang mulai mengalir dari sumbernya. Aku mendengus. Mbak Lia menggelinjang dan kembali mengangkat pinggulnya. Kuhirup aroma kewanitaannya dalam-dalam, seolah vaginanya adalah nafas kehidupannku.

    “Fantastis!” kata Mbak Lia sambil mendorong kepalaku dengan lembut. Aku menengadah. Ia tersenyum menatap hidungku yang telah licin dan basah.
    “Enak ‘kan?” sambungnya sambil membelai ujung hidungku.
    “Segar!” Mbak Lia tertawa kecil.
    “Kau pandai memanjakanku, Theo. Sekarang, kecup, jilat, dan hisap sepuas-puasmu. Tunjukkan bahwa kau memuja ini,” katanya sambil menyibakkan rambut-rambut ikal yang sebagian menutupi bibir kewanitaannya.
    “Jilat dan hisap dengan rakus. Tunjukkan bahwa kau memujanya. Tunjukkan rasa hausmu! Jangan ada setetes pun yang tersisa! Tunjukkan dengan rakus seolah ini adalah kesempatan pertama dan yang terakhir bagimu!”

    Aku terpengaruh dengan kata-katanya. Aku tak peduli walaupun ada nada perintah di setiap kalimat yang diucapkannya. Aku memang merasa sangat lapar dan haus untuk mereguk kelembutan dan kehangatan vaginanya. Kerongkonganku terasa panas dan kering. Aku merasa benar-benar haus dan ingin segera mendapatkan segumpal lendir yang akan dihadiahkannya untuk membasahi kerongkongannku. Lalu bibir kewanitaannya kukulum dan kuhisap agar semua kebasahan yang melekat di situ mengalir ke kerongkonganku. Kedua bibir kewanitaannya kuhisap-hisap bergantian.

    Kepala Mbak Lia terkulai di sandaran kursinya. Kaki kanannya melingkar menjepit leherku. Telapak kaki kirinya menginjak bahuku. Pinggulnya terangkat dan terhempas di kursi berulang kali. Sesekali pinggul itu berputar mengejar lidahku yang bergerak liar di dinding kewanitaannya. Ia merintih setiap kali lidahku menjilat clitnya. Nafasnya mengebu. Kadang-kadang ia memekik sambil menjambak rambutku.

    “Ooh, ooh, Theo! Theoo!” Dan ketika clitnya kujepit di antara bibirku, lalu kuhisap dan permainkan dengan ujung lidahku, Mbak Lia merintih menyebut-nyebut namaku..
    “Theo, nikmat sekali sayang.. Theoo! Ooh.. Theoo!”

    Ia menjadi liar. Telapak kakinya menghentak-hentak di bahu dan kepalaku. Paha kanannya sudah tidak melilit leherku. Kaki itu sekarang diangkat dan tertekuk di kursinya. Mengangkang. Telapaknya menginjak kursi. Sebagai gantinya, kedua tangan Mbak Lia menjambak rambutku. Menekan dan menggerak-gerakkan kepalaku sekehendak hatinya.

    “Theo, julurkan lidahmuu! Hisap! Hisaap!”

    Aku menjulurkan lidah sedalam-dalamnya. Membenamkan wajahku di vaginanya. Dan mulai kurasakan kedutan-kedutan di bibir vaginanya, kedutan yang menghisap lidahku, mengundang agar masuk lebih dalam. Beberapa detik kemudian, lendir mulai terasa di ujung lidahku. Kuhisap seluruh vaginanya. Aku tak ingin ada setetes pun yang terbuang. Inilah hadiah yang kutunggu-tunggu. Hadiah yang dapat menyejukkan kerongkonganku yang kering. Kedua bibirku kubenamkan sedalam-dalamnya agar dapat langsung menghisap dari bibir vaginanya yang mungil.

    “Theoo! Hisap Theoo!”

    Aku tak tahu apakah rintihan Mbak Lia dapat terdengar dari luar ruang kerjanya. Seandainya rintihan itu terdengar pun, aku tak peduli. Aku hanya peduli dengan lendir yang dapat kuhisap dan kutelan. Lendir yang hanya segumpal kecil, hangat, kecut, yang mengalir membasahi kerongkonganku. Lendir yang langsung ditumpahkan dari vagina Mbak Lia, dari pinggul yang terangkat agar lidahku terhunjam dalam.

    “Oh, fantastis,” gumam Mbak Lia sambil menghenyakkan kembali pinggulnya ke atas kursinya.

    Ia menunduk dan mengusap-usap kedua belah pipiku. Tak lama kemudian, jari tangannya menengadahkan daguku. Sejenak aku berhenti menjilat-jilat sisa-sisa cairan di permukaan kewanitaannya.

    “Aku puas sekali, Theo,” katanya. Kami saling menatap. Matanya berbinar-binar. Sayu. Ada kelembutan yang memancar dari bola matanya yang menatap sendu.
    “Theo.”
    “Hm..”
    “Tatap mataku, Theo.” Aku menatap bola matanya.
    “Jilat cairan yang tersisa sampai bersih”
    “Hm..” jawabku sambil mulai menjilati vaginanya.
    “Jangan menunduk, Theo. Jilat sambil menatap mataku. Aku ingin melihat erotisme di bola matamu ketika menjilat-jilat vaginaku.”

    Aku menengadah untuk menatap matanya. Sambil melingkarkan kedua lenganku di pinggulnya, aku mulai menjilat dan menghisap kembali cairan lendir yang tersisa di lipatan-lipatan bibir kewanitaannya.

    “Kau memujaku, Theo?”
    “Ya, aku memuja betismu, pahamu, dan di atas segalanya, yang ini.., muuah!” jawabku sambil mencium kewanitaannya dengan mesra sepenuh hati.

    Mbak Lia tertawa manja sambil mengusap-usap rambutku.

  • Cerita Bersambung Berbisnis Sambil Cari Pengalaman Tentang Sex Part 2 – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Bersambung Berbisnis Sambil Cari Pengalaman Tentang Sex Part 2 – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1803 views

    Perawanku – Kembali lagi dengan Cerita “Bersambung Berbisnis Sambil Cari Pengalaman Tentang Sex Part 1 – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018”

    Baju dan celana panjang kutitipkan di Butequ.. Sewaktu mau bayar baju aku di tegur..
    “Kenapa Bra dan celana dalamnya tidak di lepas sekalian..” kata pelayan menyapaku..
    “Ini seperti saya.. Nanti makin malam makin asyik..” katanya pula sambil nunjukan buah dada besarnya yang hanya tertutup sedikit baju.
    “Kalau lagi asyik.. Tidak tahu loo celana dan Bra tercecer di mana..?” katanya.
    “Lebih baik jadi satu di sini saja.. Ok.. Buka sajalah..” katanya.
    “Memangnya nanti kalau sudah malam apa yang mereka lakukan..?” tanyaku.
    “Mereka hanya bersenag-senang saja dan yang nonton di sini rata-rata hanya saling pegang saja dan bertukar pasangan seperti yang mereka mulai lakukan sekarang ini.. Dan mereka tidak akan melakukan hubungan badan.. Tanpa salah satu memintanya..” katanya.

    Lalu pelan kulepas Bra ku yang sempit, aku yang mulai bernafsu, ternyata buah dadaku meregang kedepan dan mengeras seperti tadi malam.. Aku berharap.. Dalam hatiku.. Ada yang mengelus dan mengisap buah dadaku.. Perlahan celanaku kulepas dan semuanya kumasukkan dlam tas yang di beri Butequ.

    “Terimakasih..” kataku sambil berjalan menuju kaca yang terang.
    “Silakan selamat bersenang-senang.. Jangan lupa ambil bajunya nanti..” katanya..
    “OOoo.. Ya ya..” kataku berlalu.

    Aku sengaja mencari Sofa yang kosong tetapi agak dekat dengan kaca yang terang.. Kamar yang satu.. Satu wanita dua laki laki dan sebelahnya satu wanita satu laki laki mereka semua masih muda-muda. Begitu duduk ada laki laki ikut duduk.

    “Permisi..” katanya.
    “Silakan..” kataku tapi dalam hati kenapa penisnya dikeluarkan .. Dalam hatiku..
    “Permisi..” kataku pula..

    Sambil kupegang penisnya.. Lalu ku kocok-kocok perlahan. OOoo yes.. Ini yang kusuka katanya lembut di telingaku sambil mengecupku dan menciumiku.. Kukocok terus penisnya.. Dia agak menurunkan kolornya sedikit kebawah. Aku leluasa memegangi mengocoknya dan menciuminya.. Sesekali kukulum..

    “Nikmat..” Bisiknya.

    Aku sambil memandangi adegan dalam kaca yang kian makin seru.. Saling jilat, remas peluk dan ciuman. Sementara aku merasakan sendiri buah dadaku.. Yang dielus-elus dan diremas mesra serta di isap isap.. Terasa nikmat.. oohh yaa. Lalu kulepaskan kocokan penisnya.. Ia lalu pergi dan terima kasih katanya..

    Lalu tiba tiba orang Butequ datang.. Seleraku jadi bubar.. Sementara sofa terasa lengket di celah selangkanganku.

    “Ada apa..?” kataku.. Sedikit agak kaku
    “Ibu tenang dulu.. Biar tidak cepat lelah..” katanya lembut.1
    “Kok gitu..” kataku.
    “Apakah ibu tidak perlu ini..” katanya sambil menunjukkan penis buatan.
    “Ahh.. Di sini kan banyak yang asli..” kataku
    “Ini ada yang seperti asli.. Besar pendek.. Untuk disini.. Itu hampir semua mereka pakai..” katanya.
    “Ini kecil panjang untuk Ibu mulai pakai di rumah dan selanjutnya bisa gunakan yang Besar panjang atau kalau pasangan Ibu telah orgasme duluan.”
    “Ok.. Itu yang dua masukkan di tas saya dan ini sini.. Bayarnya nati..” kataku agak sengit.
    “Terimakasih..” katanya sambil berlalu.
    “Hai.. Sebentar..” kataku.

    “Ada apa Bu.. Jangan lama-lama aku juga lagi nafsu..” katanya lembut.
    “Kamu kenal enggak beberapa lelaki di sini.. Terutama yang sehat..” kataku.
    “Ibu pingin pasangan.. Pakai itu dulu kan masih lama lagi..” katanya.
    “Tapi kalau Ibu tidak sabar bisa saya suruh datang sekarang..” lanjutnya.
    “Bukan aku mau yang kuisap dan kutelan..” kataku lembut.
    “Ayo Bu ikut saya.. Jangan disini..” Sambil menarikku.

    Sambil berjalan buah dadaku yang ingin di remas dan diisap membuat memekku denyut denyut. Dan disilakan aku duduk di Butequ, beberapa menit datanglah beberapa orang laki-laki muda diantaranya si Mexico yang menciumku pertama tadi. Lalu kupilih dia saja. Andrealno pun mendekat dan yang lainnya pergi.

    “Kita tidak usah transaksi bu..” katanya membisik di telingaku.
    “Aku senang dengan Ibu.. Ibu bagaimana..?” lanjutnya menggoda.
    “Aku pingin penismu yang panjang besar ini..” Sambil kupegang..
    “Ibu pingin dimasukkan..” Sambil menciummiku bertubi-tubi dan mengelus-elus dadaku yang terasa panas dan keras.
    “Ssstt.. Ooouuhh. Aku butuh manimu sayang..” kataku sambil menggelinjang karena putingku di isap.
    “Masukkan dimana Bu..?” Sambil mencium pipiku.
    “Jangan panggil aku ibu..”
    “Masukkan di mulut saja.. Bulehkan..” kataku.. Dalam hati aku akan telan Spermamu.
    “Baik Bu..” katanya sambil memegan memekku dan ngisap putingku kembali.
    “Ooouuhh.. Jangan pangil Ibu.. Sayang.. Dimana kita lanjutkan.”
    “Mari kita lanjutkan dibalik gantung gantungan baju ini saja..” Sambil merangkulku dengan mesra.. Tak kuasa penisnya kupegangi terus.
    “Kita disini saja.. Sayang” katanya..

    Sambil melepaskan bajuku yang sudah kusut. Tak sabar aku juga melepaskan celana pendeknya.. Kami bugil dibalik gantungan baju. Dan cahaya lampu remang-remang. Andrealno.. Terlentang di bawah denga pisisi penis yang ngaceng menantang ke atas, aku tak sabar lagi. Dari atas rasanya pingin kucobloskan saja memekku yang merekah.. Cepat sayang sambil memegang memekku..

    Aku ambil posisi 69 aku diatas.. Tetekku diremas mesra.. Sambil menjilati memekku..

    “Ooouuhh yes.. Terus memekku eennaakk..” kataku kuat.

    Aku tak perdulikan suaraku karena suara disana juga hiruk pikuk.

    Clepp cclleep.. Clepp cclleep.. Clepp cclleep.. Terus suara mulutku mengisap penis yang besar tidak muat di mulutku, dan panjangnya kira kira lebih dari 20 cm. Diapun terus mengisap memekku sambil menarik pantatku dan meremas Buah dadaku yang rasanya luar biasa. Kalau tadi malam aku pingin sekali.. Kali ini kupuaskan.

    Clepp cclleep.. Clepp cclleep.. Clepp cclleep

    “Terus.. Isap.. Kutarik telornya.. Sayang”

    Clepp cclleep.. Clepp cclleep.. Clepp cclleep..

    “Tetekku remas.. Remas kuat tetekku.. Terus.. Teruss.. Kuat.. Kuaatt oouuhh kataku nikmat”

    Clepp cclleep.. Clepp cclleep.. Clepp cclleep

    “Hisap kuat.. Kocok-kocok..Ooouuhh” katanya..

    Aku merasakan kontolnya sepertinya makin besar dan panjang saja.. Aku makin semangat dan bernafsu..

    “Ooouuhh aku mau keluar..” Kutekankan memekku kemulutnya. Tetekku rasanya tambah besar saja..

    Clepp cclleep..

    “Remas.. Remas kuat.. Terus.. Teruss.. Kuat.. Kuaatt oouuhh..”
    “Ooouuhh aku mau keluar.. Juga.. Ssshhaa”

    Aku tidak mengeluarkan lagi kontol besar itu dari mulutku.. Kuisap terus.. Sambil kuelus-elus dan kutarik telornya.

    “Ooouuhh aku keluar.. Ssshhaa uuhh.”

    Semburan sperma langsung ke mulutku.. Tanpa tunggu langgsung kuisap kutelan, bersih air sperma yanga begitu banyak tanpa tinggal. Ahirnya terkulai lemas..

    Suara hiruk pikuk di sekitar membuatku bergairah lagi. Aku duduk di lantai bersandarkan dinding, kaki menjulur ke depan.
    Andrealno lalu bergeser meletakkan kepalanya diatas memekku denga posisi telentang. Ia membelaiku, aku agak tertunduk..

    “Mau spermaku lagi.. Sayaanngg?” katanya berbisik mesra.

    Sssrruutt.. Aaahh.. Sambil mengisap buah dadaku yang masih menantang keras. Aku terperanjat nikmat.. Birahiku muncul lagi.

    “Ooouuhh.. Mau aahh..” kataku manja.

    Sambil merasakan nikmat.. Buah dadaku diremas dan di isap.. Dan tangan kananku sambil mengocok kontol yang mulai tegang lagi. Tiba-tiba.. Andrealno duduk dan memangkuku, aku berputar mengesampingkan dinding. Kami duduk berhadapan dan berpelukan. Aku didekap erat, tetekku terasa besar padat, memekku terasa hangat merekah nikmat karena kontolnya langsung nempel di memekku. Aku mendongakkan kepala sambil berhayal kalaulah dimasukkan kepalanya saja kontol segede ini pasti nikmat luar biasa.

    Tanganku menahan kebelakang hingga Andrealno bias leluasa meremas, menghisap sesukanya buah dadaku yang memang dia inginkan sejak awal. Memang buah dadaku walau besar tetapi tidak seberapa turun, hingga laki-laki melihatnya saja sudah terangsang apalagi menikmatinya seperti Andrealno ini.. dalam hatiku.

    Sesekali ia membelaiku dan menciumku sambil menarik pinggulku hingga makin mulai tak karuan mendenyut denyut rasa memekku pingin di sogok penisnya.

    “Ayo kita mulai lagi sayang..” bisiknya mesra.
    “Iiiyaa.. Sayang..”

    Sssrruutt.. Sssrruutt.. Sssrruutt.. Suara cipok mesra. Sssrruutt. Sssrruutt. Sssrruutt.. oouuhh
    Sssrruutt.. Sssrruutt.. Sssrruutt.. Diisap diremas buah dadaku. Ooouuhh. Sssrruutt.. Memekku gatal.. Aku hanya menahan dalam hati. Aku mau keluar.. kataku sambil kutekan memeku kekontolnya.. Kukhayalkan seakan akan kontolnya amblas. Sambil berbaring aku menjerit.. Ooouuhh.. Diremas buah dadaku.. Aku merintih

    Secepat itu pula Andrealno berada dia tasku dengan posisi 69. Dalam sekejap ia telah menjilat dan mengisap memekku yang banjir hingga bersih. Ia memasukkan lidahnya dalam memekku.. OoOOoouuhh masih nimat rasanya.. Ia sambil meremas Buah dadaku yang masih mengeras.. Aku yang tak ketinggalan mengisap, mengocok kontol dan telornya. Aku merasakan kontolnya makin tambah tegang saja. OOoouuhh ia menjerit nikmat..

    Ccceerr.. Ceerr. Maninya keluar lagi.. Kutampung di mulut langsung ku telan.. Hangat rasanya, tapi kali ini tidak lebih banyak dari yang pertama. Kami duduk berhadapan dan rapat, saling pandang.. Saling senyum.. Saling rangkul dan sesekali kami bercipokan lagi.. Saling cium dan pelukan. Tapi tubuhnya mulai kelihatan lemas.

    Buah dadaku masih menantang keras memerah sesekali di isapnya dan di di elus.. Memekku merekah.. Denyut-denyut.. Pingin di sogok.. Kupandangi dia kelihatan lesu.. Tapi kulihat penisnya masih tegang.. Aku tidak akan sia-siakan kesempatan ini.. Mumpung dia suka aku juga suka. Kukocok kontol gede itu. Dan kepala kontolnya kutempelkan di memekku.. Aku pingin di masukkan.. dalam hati.

    Begitu ia sorong sedikit.. Aku mundur.. Kupancing ia penasaran. Masukkan sedikit saja yaa.. katanya merayuku sambil meremas punggungku. Aku sebenarnya sudah tak sabar.. Kubiarkan kepalanya masuk sedikit. Cleepp.. Kucabut huu enaknya.. Dalam hatiku. Di sorongnya lagi.. Maju sorong.. Maju sorong.. Lama lama kok makin nikmat. Masuk setengah kepalanya.. Aku pingin kali ini ia nyemprot di dalam.

    Dan aku yakin.. sperma yang ketiga pasti sudah encer dan tidak mungkin akan jadi janin.. Karena yang pertama.. Tadi lebih kental dari yang kedua, apalagi beberapa hari lagi aku datang bulan.. Dalam hatiku yakin. Jangan sedikit, masuk setengah.. Boleh sayang.. Bisiknya mesra.. Tanpa kujawab.. Memekku terasa merekah.. Makin kugesek pinggulku. Aku mundur sedikit.. Tanpa buang waktu.. Kontol segede itu kepalanya masuk ke memekku.. Tanpa kesulitan yang memang sudah merekah dan pingin dari tadi..

    Ooouuhh aku mendesis.. Masuk setengah, aku bergoyang terus.. Ouu amblas.. Tapi kok tidak kandas. Ooouuhh tambah nikmat. Dia terbaring badannya kelihatan letih.. Tapi kontolnya tegang.. Aku tak perduli.. Kumanfaatkan kesempatan ini.. Untuk menikmatinya. Cccrreett.. Bles amblas tak sisa lagi.. Segede ini. Sepanjang ini.. Dalam hatiku.

    Ahh.. Kepala bayi besar saja bisa.. Walau sakit.. Apalagi ini nikmat.. Dalm hatiku lagi. Lututku terasa sakit di lantai lalu ku ganjal dengan baju dan celananya. Dengan sedikit menunduk dan jongkok. Maju mundur. Di sini aku bertahan sejenak..
    Tiba-tiba ia meremas punggungku dang mengisap bauah dadaku yang tergantung..

    Sssrruutt. Sssrruutt. Sssrruutt.. Ooouuhh.. Sssrruutt.. Sssrruutt.. Sssrruutt..
    Diisap diremas buah dadaku. Memekku terasa penuh sesak tapi nikmat.. Yyyaa ampun kontol sepanjang ini rupanya yang nikmat.
    Krreett.. Cccrruutt.. Kkrreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt.. Aku goyang terus dari atas. Ooouuhh. Sssrruutt.. Memekku gatal lagi..

    Aku hanya menahan dalam hati rasa nikmat tak karuan, Aku mau keluar.. kataku sambil kutekan memekku. Krreett.. Cccrruutt.. Kkrreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt.. Aku makin gencar. Ooouuhh. Sssrruutt

    Tetapi kontol ini kok rasanya makin kecil.. Atau memekku yang tambah besar.. Dalam hati.. Masa bodoh pokoknya ini yang paling nikmat diatas nikmat.. Ooouuhh.. Diremas buah dadaku.. Aku merintih. Aku terasa lelah tapi nikmat

    Lalu ia menawari aku di bawah..Dengan ngos-ngosan aku langsung cabut dan berbaring.. Karena aku merasa akan keluar.. Kalau di bawah pasti lebih nikmat.. Bisik batinku. Secepat itu pula menancapku dari atas dan menggenjotnya dengan pelan..

    Krreett.. Cccrruutt.. Kkrreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt.. Aku makin merasa nikmat.. Krreett.. Cccrruutt.. Kkrreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt

    “Tapi lama lama kok kurang kalau tidak di tekan.. Yang kuat sayang..” kataku.
    “Sabar.. Rasakan saja kenikmtannya..” katanya.

    Sambil memainkan irama.. Tusukannya kadang gantung gantung kadang ditekan. Membuat memekku tak karuan nikmat. Krreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt.. Krreett.. Cccrruutt ppllookk.. Krreett.. Cccrruutt.. Krreett ccrruutt pllookk pllookk krreett pllookk krreett pllookk. Aku mau keluarr.. Ia makin kuat.
    Pllookk krreett pllookk krreett pllookk krreett pllookk krreett pllookk krreett pllookk krreett pllookk. Ooouuhh..

    Memekku menyembur.. Kutarik kuat bukongnya sambil ku goyang dari bawah.. Dan merasakan kontolnya tambah besar.. Hampir meledak rasanya tapi nikmat.. Dan sengaja kugoyang saja.. Kutahan untuk di keluar masukkan. Ia makin kuat menekan..
    Aku goyang makin kuat, karena memekku makin gatal.. Ooouuhh nikmat Lalu aku diam dan memekku masih denyut denyut ..

    Lalu ia mau mencabutnya.. Kutahan dan kulepas.. Llluurr nikmat kurasa.. Aku masih berbaring.. Merasakan memekku besar bengkak tapi enak. Aku lalu mengenakan baju walau tanpa Bra dan celana dalam..

    “Terimakasih.. Aku mencintaimu..” Ia berbisik.
    “Jangan lupa kalau kemari.. Panggil saya.. Buah dadamu hebat.. Memuaskan saya..” katanya. Sambil memelukku dan menciumku

    Kontolmu memuaskan.. Sambil kupegang.. Walau kontol itu tidak mengeluarkan mani lagi. Tapai masih tegang. Kulihat jam didinding sudah jam 00 malam.. Tak lama terdengar suara himbuan.. Yang artinya kira kira..

    “Silakan cari pasangan masing masing, karena dua jam lagi tempat ini akan di istirahatkan”

    Aku di bisik lagi. “Sayang..” katanya.
    “Kamu masih bisa cari pasangan lain, bisa satu, dua, atau tiga sekaligus bila mau, seperti mereka.” menunjuk salah satu perempuan yang sedang bergumul dengan dua lelaki.
    Ia mengecupku.. Sambil berkata.. “Nanti pulang sama-sama.. Kutunggu disini.”
    “Tidak usah.. Terimakasih..” kataku..

    Diapun pergi. Katanya cinta.. Kok nyuruh orang cari pasangan.. Dalam hatiku. Ketika aku akan beranjak.. Mataku melihat..
    Yyaa wanita Butequc.. Lagi merajut kenikmatan juga rupanya. Kuintip sebentar permainan 1-2 mereka..Sedang desis-desis menikmati sperma.. Dari kontol sebesar itu. Sementara lelaki yang dibawahnya sedang menjerit, mungkin lagi menyemburkan sperma ke memeknya.. Betapa nikmatnya perempuan Butequc itu.

  • Cerita Dewasa Birahi Gadis

    Cerita Dewasa Birahi Gadis


    1803 views


    Perawanku – Aku ialah seorang pegawai suatu perusahaan di Aceh. Aku telah menikah semenjak tahun 2014, dengan seorang wanita mempunyai nama Wulan. Adik iparku (adik kandung istriku) menikah dengan seorang wanita mempunyai nama Rini yang menjadi rekan selingkuh ku untuk sejumlah waktu.

    Sedikit curhat, pernikahanku kali ini di ujung tanduk. Yah bila diliat dari biografi singkat yang kuceritakan di atas, dapat diambil benang merah apa dan siapa penyebabnya. Yak, selingkuh dan aku pelakunya. Untungnya, rekan selingkuhku yang ketahuan kali ini bukan istri adik iparku, tetapi “teman” dari software media sosial “KitaNgobrol”. Ruginya, ya tidak sedikit banget. Salah satunya adik iparku sontak memusuhiku, sekaligus istrinya darurat ikut perintah suaminya. Rini (Dalam sebuah kesempatan, Rini bertemu dan langsung memohon supaya hubungan kami tidak boleh disebarluaskan. Aku pegang tangannya dan kupastikan bahwa aku bukan orang laksana itu. Sampai kini kami belum berkomunikasi lagi)

    Pertengkaran dengan istriku tidak dapat dielakkan. Aku melulu mampu menyembunyikan bahwa aku baru melakukannya sekali, dan meyakinkan itu melulu coba2 dan tidak bakal pernah terulang lagi. Tapi yang namanya emosi kadang tidak dapat dikendalikan, istri mengamuk sejadinya dan membawa masalah ke ranah family besar.

    Akupun darurat pindah ke lokasi kos sebab istri muak liat wajahku. Dalam keadaaan terlunta2 mental dan tertekan laksana ini, aku pun berjuang mencari pelarian dengan menginap di kantor dan merepotkan pegawai lainnya dengan sesekali nginap di lokasi tinggal mereka.

    Adalah teman kerjaku semenjak tahun 2016 kemarin, mempunyai nama Putri, seorang perempuan kelahiran medan berdarah batak. Putri ini seorang alpha-woman-type, dengan kata lain keras kepala dan ingin egois. Awal awal kehadirannya saja telah langsung nyuruh2 orang beda jelasin peraturan/SOP ke dia, sebenarnya jelas orang lain tersebut (aku) jauh lebih lama bekerja disini.

    Soal perawakan, Putri tidak didukung wajah yang menarik. 3-size-measurement? Minus justeru di unsur depan. Parahnya, putri lebih senang guna tidak menggunakan make-up bahkan dalam kondisi formal sekalipun. Makanya di umur nya yang memasuki 30 tahun ini, aku paham mengapa pacarnya mutusin dia. Padahal bila memakai make up, Putri bisa kelihatan lebih menarik.

    Kami telah setim nyaris 2 tahun lamanya. Baik profesional ataupun hal personal sudah tidak jarang kami bahas. Makanya saat dia tahu aku cekcok dengan Wulan, dia langsung bertanya “Kau apain dia?” dengan gaya khas anak bataknya. Kalau telah pake gaya begini, mendingan dibalas dengan serius atau langsung cabut, sebelum disuruh debat yang ujungnya ngabisin energi.

    Akupun menjelaskan secara garis besar apa masalahnya. Kata2 bodat pun terbit dari mulutnya ditujukan padaku. Aku hanya dapat tersenyum meringis, menginginkan bahwa teman kerja ku pun akan memusuhiku (aku memahami kenapa, kan dia diputusin pacarnya . Jadi dimata dia, aku sama brengseknya dengan mantan co nya). Hari aku mengisahkan kasusku, ialah hari dimana Putri sama sekali tidak memperdulikanku. Untungnya kerjaan kami sedang tidak tidak sedikit dan dapat kuhandle sendiri. Tapi aku bertekad baikan sama dia, sebab urusan kantor memang jangan bercampur dengan hal pribadi. Sangat memprovokasi output dan kinerja.

    Esoknya kubeli sebatang chunky bar dan sebungkus chitato besar. Berhubung meja kami sebelahan, mudah saja kutawarin dia makanan tersebut. Dengan pelototan dan jawaban ketus, dijawabnya tidak. Aku langsung ketawa2. Kuhimbau pada nya guna tidak melarutkan masalahku ke profesionalisasi kami. Dia menatapku dan menjulurkan tangannya ke bungkus chitato. Yah, paling tidak teman kerjaku tidak memusuhiku.

    Untuk meredakan bencinya, kubiarkan dia sepanjang pagi tersebut merepet dan memaki ku atas perbuatan ku untuk Wulan. Tidak sekalipun kusanggah, tidak sekalipun kutepis. Suaranya hingga bergetar, air mata mulai memupuk di matanya. Aku hanya dapat bilang maaf berulang kali. Siangnya, keadaan sudah mulai berubah sebab dia mulai bertanya di mana aku tinggal.

    “sesekali di kantor” jawabku. “hah, istirahat dimana kau?” tanya nya. “noh korsi2 tersebut kalo dijejer dapat buat lokasi tidur. Yang urgen punggungku nyandar aja”. Dia geleng2 kepala dan bilang aku gila. Padahal dia ga tau kalo bermukim di kantor dengan air bersih, listrik gratis, serta wifi dengan kuota gede tersebut menyenangkan. Kami juga kembali konsentrasi ke kerjaan masing2.

    Selepas istirahat, darah batak yang mengalir di tubuhnya pulang menghangat. Tapi tidak memanas, melulu interogasi kecil yang hendak dituntaskannya.

    Putri (P): Kok dapat lah kau gituin dia rud?
    Aku (A): bah, masih belum puas?
    Putri (P): bukan loh, ga abis pikir aku soalnya. Kalian kek ga terdapat puas2nya. Ngebuang bunga demi sampah di jalan
    Aku (A): Ini inginkan digimanain lagi coba? Aku kan dah mohon maaf juga. Penyesalan kan tidak jarang kali datang telat, kalo di mula kan namanya pendaftaran.

    Berkat ucapan cuek ku, aku sukses membuatnya tertawa. Mungkin, mungkin sebab aku belum “menyentuh” wanita sekitar 3 minggu terakhir, tawa dan ekspresi Putri menciptakan nafsuku tidak stabil. Wanita teman kerjaku sekitar ini yang kuliat biasa saja, bahkan ingin tidak unik perhatianku, menciptakan insting pria ku aktif. Tanpa sadar, aku memegang kedua tangannya yang bersila di paha nya. Kugenggam dan kutatap matanya seraya tersenyum.

    Putri kaget dan langsung unik tangannya. Aku kembali menerbitkan perkataan cuek “Lumayan megang tangan cewek” sebelum dia berbicara apa2. Putri langsung merespon “segitu pengennya ya?” yang langsung kujawab “udah nyaris sebulan loh. Bosen pake tangan sendiri”. Putri langsung melotot tajam “Jadi kau kira aku lokasi pelampiasan?” dengan nada meninggi. Akupun langsung berkilah “enggak loh put. Bukan pelampiasan, kau lokasi aku melimpahkan rinduku” disertai senyum seringaiku, bercita-cita ini tidak jadi pembantaian umum.

    Putri langsung membalas “sama aja kampret” dan pulang menghadapi kerjaannya. Dalam artian lain, sebetulnya aku telah di zona selamat karena sukses mengalihkan pembicaraan permasalahan ku ke mesumku. Namun, kini otakku diisi pikiran mesumku. Aku hendak bersetubuh. Tepatnya, aku hendak memasukkan perangkat kelaminku ke lubang kesenangan Putri. Kupandangi tubuhnya khususnya di unsur payudara. Sadar aku menyimak dirinya, Putri balas menatap tajam dan tidak banyak membentak “apa?”

    Pikiranku langsung cepat bereaksi. Putri ialah seorang alpha-type, dia ga bakal segampang tersebut peduli, meskipun untuk rekan kerjanya sendiri. Pikiranku berlanjut, Putri telah lama tidak pacaran. Ini berarti taruhan 50-50. Aku mesti mencoba, batinku berkata.

    “Enggak. Aku cuma inginkan pijet2 badanmu aja” sergahku sambil menunjukkan kursi ku ke belakang nya dan sekaligus memegang bahu nya. Putri tidak banyak berteriak “apaan seh?” seraya menepis tanganku dari bahu nya. Langsung sigap kutangkap tangannya. Putri langsung melotot tajam sambil berbicara “Rud, aku marah. Lepasin”.

    Taruhanku kelihatannya salah. Tapi otakku masih diisi pikiran mesum. Dengan tidak banyak tercekat, aku menerbitkan kata2 “Put, bantu aku put” sembari tidak menghiraukan perintahnya untuk mencungkil tangannya. Putri membalas tegas “ENGGAK. LEPASIN”. “Put, bantuin napa. Ga usah sampe “kesana” deh. Bantuin aku “keluar” aja. Janji (janji? lol)” kataku dengan sarat harap seraya tetap memegang tangannya.

    Putri terdiam sejenak. Disaat laksana ini, aku tidak membiarkannya berpikir. Aku langsung menyambung perkataanku “Iya ga sampe ngapa2in. Nanti aku bantuin pun kau deh” seraya menurunkan tangan kami berdua ke arah paha nya. Aku memanjangkan jari kelingkingku ke arah paha nya, tidak banyak membelai, bercita-cita semoga rangsangan ini sampai. Putri tidak berbicara apa2. Putri diam, laksana terpasrah. Aku celingak- celinguk liat keadaan, dan langsung menghambur ke depan mendekap putri seraya berbicara “Makasih ya put”. Aroma rambutnya menelusuk hidung, bercampur dengan nafsu yang hendak segera kutuntaskan. Putri berbisik “jangan disini. dimana?”. Akupun berdiri, memberinya kode guna mengikutiku ke ruang kesehatan.

    Ruang kesehatan kantor kami terletak di ujung lantai 2. Ruang ini sederhana, melulu ada lokasi tidur rawat, meja dan kursi kerja dokter, kursi tunggu dan AC. Ruangan ini serba praktis, sering digunakan untuk lokasi istirahat ataupun lokasi kongkow. Dan laksana biasa, kunci ruangan ini tidak jarang kali tertinggal di dalam. Mungkin memang terdapat pegawai atau pejabat beda yang menggunakan nya laksana yang bakal kulakukan. Tapi tersebut bukan urusanku.

    Putri juga masuk. Aku langsung mengunci pintu dan memeluk dia dari belakang. Tangan kananku langsung menggerayangi payudaranya, sedang tangan kiriku mengelus area perempuan nya dari luar celana hitamnya. Kali ini putri tidak dapat terdiam. Suara lirihan kecil mulai tersiar di telinga kiriku. Putri langsung mengembalikan badan dan menyambar mulutku dengan mulutnya. Bibir kami beradu, aku berjuang memasukkan lidahku ke mulutnya. Sedikit kuremas payudaranya barulah lidahku bertemu dengan lidahnya. Tangan kiriku bergerilya masuk kedalam celananya. Gila ya put, pikirku dalam hati. Kuyakin kau pun menginginkan urusan ini. Kau pun merindukan diginiin. Buktinya dengan basahnya celana dalammu.

    Jari tengahku menerobos masuk ke liang vaginanya. Ciuman Putri mulai tak tertata dan terlepas. Desahan tertahan terbit dari mulutnya, yang memancing ku guna meneruskan foreplay ini lebih lanjut. Tangan kananku bergerak melolosi kancing kemejanya, sampai bh hitamnya terpampang dan tanganku bebas merabanya. Lidahku kini bergerak di leher kiri Putri, tangan kananku memilin dan meremas apa yang bisa di raihnya dibalik Bh hitam tersebut. Tangan kiriku tetap dinamis mengorek isi dalam lubang itu. Pikiranku diisi dengan nafsu. Aku yakin putri telah lupa dengan janji ku janji yang mana? hahaha

    Kudorong pelan Putri ke arah meja kerja dokter. Putri memahami dan duduk diatas meja tersebut. Kutanggalkan celana Putri, kulepaskan celana dalamnya sampai-sampai liang kesenangan yang telah basah tersebut terpampang di hadapanku. Putri terkangkang pasrah di hadapanku, melulu kemeja yang tersingkap separuh dan Bh hitamnya yang melekat di badannya ketika ini. Kumajukan kepalaku guna melekatkan mulutku ke vagina Putri. Sepertinya Putri pun mengharapkan ini, terbukti dengan dijambaknya rambutku saat cairan vaginanya mulai kuisapi. Desisan desisan nafsu ini semakin membangunkan gairahku.

    Aku menurunkan celanaku. Kuhisap pulang lidah Putri sambil mencungkil Bh hitamnya. Kupilin putingnya dan aku berbisik di telinganya “Enak sayang?” Putri menggigit pundakku sebagai jawaban. Kuciumi lehernya, kupermainkan puting payudaranya, kutekan2 klitorisnya. Sepertinya Putri akan menolong ku terbit kali ini. Tangannya menggenggam k0ntolku, naek turun, dan mulai mengarahkannya ke vaginanya….tanpa kuminta. Aku mesti menolong Putri juga. Kudorong perlahan batangku, sekujur badanku diisi kenikmatan keduniaan itu. Kudorong terus hingga melekat kelamin kami. Kutatap mata Putri, kami pulang berciuman, dan Putri pulang menggigit pundakku.

    Kami saling menahan dan mengkait saat aku mulai menggerakkan batangku maju-mundur. Setiap hentakan yang kulakukan dijawab dengan baik oleh goyangan Putri. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi bilamana kami ketahuan. Putri pun kelihatannya sama. Bunyi meja berderit, desahanku, desahan Putri aku rasa bisa menjelaskan suasana kami pada orang yang barangkali sedang tepat terdapat di luar ruangan. Aku tidak peduli. Putri kini terlentang di atas meja, kaki kiri nya kuangkat ke pundakku yang barusan digigitnya. Kupacu pulang tempo tadi. Putri semakin belingsatan. Tangan kiriku mengurangi klitorisnya. Gerakan putri semakin tidak karuan. Aku tetap memaju-mundurkan batangku di dalam lubang yang semakin basah tersebut.

    Kenikmatan ini ekstasi untuk kami. Putri sepertinya keletihan setelah batangku dipijat vaginanya sejumlah kali. Kedua kakinya kuangkat, kucium betis nya sambil kembali menghentakkan batangku. Aku nyaris keluar. Kupercepat irama gerakan pinggulku sebisa yang aku mampu. Makin cepat dan tak terkendali, Putri sudah laksana kehabisan napas, deritan meja kian keras, aku mulai teriak, teriak kesenangan yang kulepaskan mendadak cairanku memenuhi dalam lubang vagina itu. Aku goyangkan terus, meresapi sisa2 kesenangan yang masih ada.

    Putri bangkit duduk dan merangkul leher ku, menghirup ku, dan berbicara “Enak sayang”. Aku juga tersenyum dan membalas “Makasi ya sayang. Benar2 nikmat abang rasa” (padahal kami seumuran. Aku menggunakan kata abang ke dia biar mesra soalnya. hahaha). Aku langsung memungut tisu dan mengelap baik kelaminku dan kelamin Putri. Putri tidak banyak merasa geli saat kusentuhkan tisu tersebut ke vaginanya.

    “Padahal tadi niatnya hanya pake tangan. Aku justeru mau pake mulut. Ujung2 nya ngentot pun kita ya” Ujarnya seraya tersenyum cemberut. Aku tertawa dan berbicara “Lain kali di lokasi tidur yok put. Mau?” Putri melulu tersenyum mengangguk. Kami berdua bergegas menggunakan pakaian kami dan meninggalkan ruangan tempat empiris kesatu kami, dengan disertai rasa was was dan teliti supaya tidak terdapat bukti yang tertinggal.

  • Ngentot Dengan Dokter – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    Ngentot Dengan Dokter – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018


    1803 views

    Perawanku – Ditanganku saat itu ada hasil pemeriksaan USG yang menunjukkan gambar janin berumur 10 minggu yang sehat. Keputusanku untuk di USG sebenarnya bukan untuk melihat janin ini tetapi untuk memeriksa perutku karena beberapa minggu ini aku merasa sering mual-mual dan tidak sembuh-sembuh dengan obat-obatan biasa.

    Aku tidak menyangka hubungan badanku dengan Ferry akan membuatku hamil dengan cepat, padahal hubungan badan pertamaku dengan Ferry baru menginjak bulan ke-3. Namaku Yunita, seorang dokter di Bandung yang sedang mengambil spesialisasi mata saat cerita ini terjadi. Umurku saat itu sekitar 36 tahun dan berstatus janda cerai dengan satu anak perempuan ABG.

    Mantan suamiku juga dokter ahli penyakit dalam yang belakangan aku ketahui punya kelainan sex, yaitu bisex (suka perempuan dan laki-laki). Sehingga karena tidak tahan akhirnya aku minta cerai setelah ayahku meninggal. Perceraian dan kehilangan ayah membuat aku menjadi gamang, apalagi bagiku ayahku adalah segala-galanya.

    Kegamanganku itu rupanya terbaca dan dimanfaatkan oleh dokter NL, seorang dokter senior yang sangat dihormati di kotaku yang juga sekaligus menjadi dosen pembimbing program spesialisku. Dengan pendekatan kebapakannya dia akhirnya bisa membawaku ke ranjangnya tanpa banyak kesulitan. Affair kami awalnya berlangsung cukup panas karena kami punya banyak kesempatan bersama untuk melakukannya di manapun kami ingin, seperti di tempat praktek, di rumah sakit, di rumah dokter NL (saat ada istrinya) bahkan di dalam pesawat kecil (dokter NL ini adalah juga seorang pilot).

    Karena alasanku berhubungan dengannya adalah untuk mengisi kekosongan sosok seorang ayah, maka aku pada awalnya tidak begitu peduli dengan kualitas hubungan seks yang aku dapat yaitu jarangnya aku mendapat orgasme. Hubungan kami inipun tidak pernah membuatku sampai hamil walaupun kami sering melakukannya pada periode suburku tanpa pengaman.

    Karena perbedaan umur yang cukup jauh, pelan-pelan aku mulai ada rasa bosan setiap kali berhubungan badan dengan pembimbingku ini. Apalagi kedekatanku dengan dokter NL ini membuatku mulai dijauhi oleh teman-teman kuliahku yang secara tidak langsung mulai menghambat program spesialisasiku. Akhirnya pada suatu acara reuni kecil-kecilan SMAku, aku bertemu lagi dengan sahabat-sahabat lamaku, termasuk Ferry.
    Aku dan Ferry sebenarnya sewaktu di SMA bersahabat sangat dekat sehingga beberapa teman menganggap kami pacaran. Tapi setelah lulus SMA, Ferry memilih untuk berpacaran dengan sahabatku yang lain yang kemudian menjadi istrinya. Kalau sebelumnya aku lebih sering berhubungan dengan istrinya Ferry, bahkan kedua anak kami juga bersahabat.

    Tapi setelah acara reuni itu, aku juga menjadi sering bekomunikasi kembali dengan Ferry, baik lewat telepon maupun SMS. Akhirnya Ferry menjadi teman curhatku, termasuk masalah affairku dengan dokter NL dan entah kenapa aku menceritakannya dengan detail sampai ke setiap kejadian. Ferry adalah pendengar yang baik dan dia sama sekali tidak pernah langsung menghakimi apa yang telah kulakukan, terutama karena tahu persis latar belakangku.

    Komunikasiku dengan Ferry sebagian besar sepengetahuan istrinya, walaupun detailnya hanya menjadi rahasia kami berdua. Kalau aku sudah suntuk teleponan, kadang-kadang dia mengajakku jalan-jalan untuk ngobrol langsung sehingga pelan-pelan aku mulai bisa melupakan afairku dengan dokter NL dan mencoba membina hubungan yang baru dengan beberapa laki-laki yang dikenalkan oleh teman-temanku.

    Sayangnya aku sering kurang merasa sreg dengan mereka, terutama karena mereka tidak bisa mengerti mengenai jam kerja seorang dokter yang sedang mengambil kualiah spesialisnya. Lagi-lagi kalau ada masalah dengan teman-teman priaku ini aku curhat kepada Ferry yang sebagai anak seorang dokter Ferry memang juga bisa memahami kesulitanku dalam mengatur waktu dengan mereka.
    Hingga pada suatu siang aku mengajak Ferry untuk menemaniku ke rumah peristirahatan keluargaku di Lembang yang akan dipakai sebagai tempat reuni akbar SMAku. Aku ingin minta saran Ferry tentang bagaimana pengaturan acaranya nanti disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia di sana. Seperti biasa sepanjang jalan kita banyak ngobrol dan bercanda, tapi entah kenapa obrolan dan canda kita berdua kali ini sering menyinggung seputar pengalaman dan fantasi dalam hubungan seks masing-masing.

    Sekali-sekali kita juga bercanda mengenai “perabot” kita masing-masing dan apa saja yang suka dilakukan dengan
    “perabot” itu saat bersetubuh. Entah kenapa dari obrolan yang sebenarnya lebih banyak bercandanya ini membuat aku mulai sedikit terangsang, putingku kadang-kadang mengeras dan vaginaku mulai terasa sedikit berlendir. Waktu aku lirik celananya Ferry juga terlihat lebih menonjol yang mungkin karena penisnya juga berereksi.
    Dalam pikiranku mulai terbayangkan kembali beberapa hubungan badan di masa lalu yang paling berkesan kenikmatannya. Tanpa terasa akhirnya kami sampai di rumah peristirahatan keluargaku, perhatianku jadi teralihkan untuk memberi pesan-pesan kepada mamang penjaga rumah dan tukang kebun yang ada di sana untuk mempersiapkan rumah tersebut sebelum akhirnya membawa Ferry berkeliling rumah.

    Seperti waktu SMA dulu, obrolan kami kadang-kadang diselingi dengan saling bergandengan tangan, saling peluk dan rangkul atau sekedar mengelus-elus kepala dan pipi. Setelah selesai berkeliling kami kembali ke ruang tengah yang mempunyai perapian yang biasa dipakai menghangatkan ruangan dari udara malam Lembang yang cukup dingin.
    Di sana Ferry kembali memeluk pinggangku dengan kedua tangannya dari depan sehingga kami dalam posisi berhadapan. Pelukannya itu aku balas dengan memeluk leher dan bahunya sehingga kami terlihat seperti pasangan yang sedang berdansa.
    “Mmmmpppphhhh ……” Ferry tiba-tiba memangut bibirku lalu mengulumnya dengan hangat dan lembut.
    Walaupun saat itu aku benar-benar kaget, tapi entah kenapa aku merasa senang karena dicium oleh orang yang aku anggap sangat dekat denganku.
    Dengan jantungku berdebar aku kemudian memberanikan diri untuk membalas ciumannya sehingga kami berciuman cukup lama dengan diselingi permainan lidah ringan.
    “Ahhh…….” Tanpa sadar aku mendesah saat ciuman perdana kami itu akhirnya berakhir. Sesaat setelah bibir kami lepas, aku masih memejamkan mata dengan muka sedikit menengadah dan bibir yang setengah terbuka untuk menikmati sisa-sisa ciuman tadi yang masih begitu terasa olehku. Aku baru tersadar setelah Ferry menaruh telunjuknya dibibirku yang sedang terbuka dan memandangku dengan lembut sambil tersenyum.

    Kemudian dia menarik kepalaku ke dadanya sehingga sekarang kami saling berpelukan dengan eratnya. Jantungku semakin berdebar dan nafasku mulai tidak teratur, ciuman tadi telah membangkitkan “kebutuhanku” akan kehangatan belaian laki-laki. Tanpa menunggu lama, aku mengambil inisiatif untuk melanjutkan ciuman kami dengan memangut bibir Ferry lebih dulu setelah melakukan beberapa kecupan kecil pada lehernya.

    Kali ini aku menginginkan ciuman yang lebih “panas” sehingga tanpa sadar aku memangut bibirnya lebih agresif. Ferry langsung membalasnya dengan lebih ganas dan agresif, lidahnya langsung menjelahi mulutku, membelit lidahku dan bibirnya melumat bibirku. Ciuman yang bertubi-tubi dan berbalasan membuat tubuh kami berdua akhirnya kehilangan keseimbangan hingga jatuh terduduk di atas sofa.

    Tangan Ferry mulai bergerilya meremas-remas buah dadaku, mula-mulai masih dari luar baju kaosku tapi tak lama kemudian tangannya sudah masuk ke dalam kaosku. Kedua cup-BHku sudah dibuatnya terangkat ke atas sehingga kedua buah dadaku dengan mudah dijangkaunya langsung. Jari-jarinya juga dengan sangat lihai dalam mempermainkan putting buah dadaku.
    Bibir Ferry juga mulai menciumi leher dan kedua kupingku sehingga menimbulkan rasa geli yang amat sangat. Terus terang dengan aksi Ferry itu aku menjadi sangat terangsang dan membankitkan keinginanku untuk bersetubuh. Maklum sejak putus dengan dosen pembimbingku praktis aku tidak pernah lagi tidur dengan laki-laki lain.

    Aku saat itu sudah sangat berharap Ferry segera memintaku untuk bersetubuh dengannya atau meningkatkan agresifitasnya ke arah persetubuhan. Aku rasakan vaginaku sudah sangat basah dan aku mulai sulit berpikir jernih lagi karena dikendalikan oleh berahi yang semakin memuncak. Sebaliknya Ferry kelihatan masih merasa cukup dengan mencium meremas buah dadaku saja yang membuat aku semakin tersiksa karena semakin terbakar oleh nafsu berahiku sendiri.

    “To, kamu mau ga ML sama aku sekarang ?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dengan ringan dari mulutku di mana dalam kondisi biasa sangat tidak mungkin aku berani memulainya. Hanya dengan melihat Ferry menjawabnya dengan anggukan sambil tersenyum, aku langsung meloncat dari sofa dan berdiri di hadapan Ferry sambil melepas kaos atas dan BHku dengan terburu-buru. Melihat itu, Ferry membantuku dengan melepas kancing dan risleting celana jeansku sehingga memudahkanku untuk mempelorotkannya sendiri ke bawah.

    Ferry sekali lagi membantuku dengan menarik celana dalamku sampai terlepas hingga membuat tubuhku benar-benar telanjang bulat tanpa ada lagi yang menutupi. Tanpa malu-malu, aku kemudian menubruk Ferry di sofa untuk kemudian duduk dipangkuannya dengan posisi kedua kakiku mengangkangi kakinya. Kami lalu berciuman lagi dengan ganasnya sambil kedua tangan Ferry mulai meraba-raba dan meremas-remas tubuh telanjangku sebelah bawah..
    “Akkhhhhhh ….” Aku menjerit pendek saat Ferry memasukkan jari tangannya ke dalam liang senggama dari vaginaku yang sudah mengangkang di pangkuannya. Tanpa menunggu lama mulut Ferry juga langsung menyambar putting payudaraku membuat badanku melenting-lenting kenikmatan yang sudah lama tidak kunikmati. Ferry semakin agresif dengan memasukkan dua jarinya untuk mengocok-ngocok liang senggamaku yang membuat gerakan badanku semakin liar.
    Gerakanku yang sudah makin tidak terkendali rupanya membuat Ferry kewalahan, lalu dengan perlahan dia mendorongku untuk rebah di karpet tebal yang terhampar di bawah sofa. Kemudian dengan tenang Ferry mulai membuka bajunya satu persatu sambil mengamati tubuh telanjangku dihadapannya yang menggelepar gelisah oleh berahiku yang sudah sangat memuncak.
    Melihat Ferry memandangiku seperti itu, apalagi dengan masih berpakaian lengkap, tiba-tiba aku menjadi sangat malu sehingga aku raih bantal terdekat untuk menutupi muka dan dadaku sedangkan pahaku aku rapatkan supaya kemaluanku tidak terlihat Ferry lagi. Sesaat kemudian aku merasakan Ferry membuka pahaku lebar-lebar dan tanpa menunggu lama-lama kurasakan penisnya mulai melakukan penetrasi.

    BLESSSSSS ……kurasakan penis Ferry meluncur dengan mulus memasuki liang senggamaku yang sudah becek sampai hampir menyentuh leher rahimku.

    “Uhhhhhhmmmm ….” Aku mengeluarkan suara lenguhan dari balik bantal menikmati penetrasi pertama dari penis sahabatku yang sudah aku kenal lebih dari 20 tahun.
    “Katanya tadi mau ngajak ML ….” Kata Ferry sambil mengambil bantal yang kupakai menutupi mukaku sambil tersenyum menggoda.
    “Sok atuh dimulai saja ….” Jawabku sekenanya dengan muka memerah karena masih malu CROK … CROK … CROK …CROK …. CROK … ayunan penis Ferry langsung menimbulkan bunyi-bunyian dari cairan vaginaku.

    Ferry mengait kedua kakiku dengan tanganya sehingga mengangkang dengansangat lebar untuk membuatnya lebih leluasa menggerakkan pinggulnya dalam melakukan penetrasi selanjutnya.
    “Ferryoo…..ohhhh…ahhhhh….. nikmat sekali …Ferryoo….” Aku mulai meracau kenikmatan. Kedua kakiku kemudian dipindah ke atas bahu Ferry sehingga pinggulku lebih terangkat, sedangkan Ferry sendiri badannya sekarang menjadi setengah berlutut.
    Posisi ini membuat sodokan penis Ferry lebih banyak mengenai bagian atas dinding liang senggamaku yang ternyata mendatangkan kenikmatan luar biasa yang belum pernah aku dapat dari laki-laki yang pernah meniduriku sebelumnya.
    “Adduuhhh …. enak sekali … ooohhh…. … kontolnya ….tooo…..kontolmu enak sekaliii …” aku mulai meracau dengan pilihan bahasa yang sudah tidak terkontrol lagi. Aku lihat posisi Ferry kemudian berubah lagi dari berlutut menjadi berjongkok sehingga dia bisa mengayun penisnya lebih panjang dan lebih bertenaga. Badanku mulai terguncang-guncang dengan cukup keras oleh ayunan pinggul Ferry.

    Ayunan penisnya yang panjang dan dalam seolah-olah menembus sampai ke dalam rahimku secara terus menerus sampai akhirnya aku mulai mencapai orgasmeku.
    “Yanntooooooo ….. aaaak …kkk…kuu…udd…da…aahh…mmaau… dddaaapaaat …” kata-kataku jadi terputus-putus karena guncangan badanku. Ferry merespon dengan mengurangi kecepatan ayunan penisnya sambil menurunkan kakiku dari bahunya. “Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhh …….” Akhirnya gelombang orgasmeku datang bergulung-gulung, bola mataku terangkat sesaat ke arah atas sehingga tinggal putih matanya saja dan kedua tanganku meremas-remas buah dadaku sendiri.
    Ferry memberikan kecupan-kecupan kecil saat nafasku masih terengah-engah sambil tetap memaju mundurkan dengan pelan penisnya yang masih keras menunggu aku siap kembali karena dia sendiri belum sampai ejakulasi. Setelah nafasku mulai teratur, aku peluk Ferry lalu kami berciuman dengan penuh gairah dan kepuasan untuk babak ke satu ini.

    “Yunita, aku boleh minta masuk dari belakang ?” Bisiknya ditelingaku
    “Tentu saja sayang, kamu boleh minta apa saja dari aku …” Aku menjawab sambil tersenyum manis padanya. Ferry dengan hati-hati bangun dari atas tubuhku sampai berlutut, kemudian dengan pelan-pelan dia cabut penisnya dari vaginaku.
    “Uhhhhhhhh ….” Aku medesah karena merasa geli bercampur nikmat saat penisnya dicabut.
    Aku lihat penis Ferry masih mengacung keras dan sedikit melengkung ke atas, batang penisnya yang penuh dililit urat-urat terlihat sangat basah oleh cairan vaginaku. Karpet yang tepat di bawah selangkanganku juga sangat basah oleh cairanku yang langsung mengalir ke karpet tanpa terhalang bulu-bulu kemaluanku.

    Vaginaku memang hanya berbulu sedikit seperti anak-anak gadis yang baru mau puber, itupun hanya ada di bagian atas dekat perutku, sehingga aku tidak perlu repot-repot lagi mencukurnya.
    “Ayo Lan, balikkan tubuh kamu” Pinta Ferry padaku Setelah berhasil mengankat tubuhku sediri, aku lalu membalikkan badan untuk mengambil posisi menungging sebagai persiapan melakukan persetubuhan doggy style sesuai permintaannya tadi.
    Aku rasakan Ferry medekat karena penisnya sudah terasa menempel di belahan pantatku dekat liang anus. Posisi kedua kakiku dia betulkan sedikit untuk mempermudahnya melakukan penetrasi. BLESSSSS ………………… untuk kali kedua penisnya masuk ke dalam liang senggamaku dengan mulus “OOOOOHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH …………” Aku melenguh dengan kerasnya mengikuti masuknya penis tersebut.
    Kurasakan penis Ferry mulai bergerak maju mundur, bukan hanya karena gerakan pinggulnya saja tapi juga karena dengan tangannya Ferry juga menarik dan mendorong pinggulku sesuai dengan arah gerakan penisnya dia sehingga aku seperti “ditabrak-tabrak” oleh penisnya.

    “Aaaarkkkhhh….aaaarrrrrkkkkkhhhh ….aaarrrkkkhhh “ Aku terus-terusan mengerang kenikmatan PLEK … PLEK … PLEK … PLEK … terdengar suara pantatku yang beradu dengan pahanya Ferry. “AUUUUUHHHHHHH…..AHHHHHHHHH …..OOOUUUUUUUHHHHH” Aku mulai melolong-lolong dengan kerasnya. TREK … tiba-tiba kudengar suara pintu yang dibuka.

    “Neng Yunita … ada apa Neng ?” Aku mendengar suara penjaga rumahku bertanya dengan suara gugup. Rupanya dia dikagetkan saat mendengar lolonganku tadi yang membawanya datang kemari, tapi akhirnya menjadi lebih kaget lagi setelah melihat majikannya sedang disetubuhi oleh tamunya.
    Lagi pula siapa yang menyangka kami akan nekat bersetubuh siang hari bolong di ruang keluarga yang terbuka dan masih ada penghuni rumah lainnya.

    “Ga ada apa-apa kok Pak, saya sedang mijetin Neng Yunita nih …” Kudengar Ferry menjawab dengan tenang tanpa ada nada kaget atau gugup seolah-olah tidak terjadi apa-apa, bahkan tanpa menghentikan pompaan penisnya. Hanya kecepatannya saja dikurangi sehingga tidak terdengar lagi bunyi-bunyian heboh yang berasal dari beradunya kemaluan-kemaluan kami
    “Ahhhh …aaaahhh …auhhhhh …” Aku tetap tidak mampu menahan erangan nikmatku walaupun aku sangat kaget kepergok sedang bersetubuh oleh Mamang penjaga rumah yang sudah megenalku sejak kecil
    “Aa..aduh punten Neng Yunita … punten Agan … Mamang tidak tahu Agan-agan sedang sibuk begini, Mamang tadi takut ada apa-apa denger suara Neng Yunita seperti menjerit” Lanjutnya dengan muka pucat setelah sadar apa yang dilihatnya.
    “Ya sudah pak, Neng Yunita juga ga apa-apa kok” Kudengar jawaban Ferry “Yaaa Mmmaammang … sayaa gaaaa apa-apa ko..ok….dududddduuuhhhh….ahhhhh ….shhhhh “ Aku coba bantu menjawab tanpa melihat ke arahnya tapi malah jadi bercampur desahan karena aku benar-benar sedang dalam kendali kenikmatan dari gerakan penis Ferry.

    “Nuhun upami kitu mah, mangga atuh Neng … mangga Agan … mangga lajengkeun deui, Mamang mah mau ke belakang lagi” kata Mamang sebelum kemudian berlalu menghilang di balik pintu. PLEK … PLEK … PLEK …PLEK …PLEK …Ferry kembali menggenjot penisnya dengan kecepatan penuh
    “Addduuuuhh….duhhh…terussss….terrruussss …..arrrrkkkkhhhh “ Aku kembali menjerit-jerit dan bahkan mungkin lebih keras lagi dari sebelumnya CROK … CROK …CROK … CROK….CROK …cairan vaginaku mulai membanjir lagi, sebagian ada mengalir turun lewat kedua pahaku sebagian lagi ada yang naik melalui belahan pantatku karena terpompa oleh penis Ferry.
    Kepergok oleh penjaga rumah sedang bersetubuh memang menegangkan, tapi sekaligus membuat aku semakin terangsang setelah melihat sendiri Ferry bisa mengatasinya dengan tenang.
    “Geliiiiii …. Aduuuhh…geli sekaliiiii….uuuhhhhhh ….oohhhhhh….Ferryo….geliii …“ Teriakku saat jari-jari Ferry mulai mempermainkan liang duburku yang telah basah oleh cairan dari vaginaku. “Sakkkiiiiit ….addudduuuh ….

    Sakitt….aarrrkkkhhhhh ….” Jeritku ketika Ferry malah memasukkan jari tangannya ke dalam liang duburku setelah dilumasi cairan vaginaku terlebih dahulu. Saking sakitnya aku sampai mencoba mengulurkan tangan kananku ke arah duburku untuk menepis tangannya tapi tidak berhasil.
    Tapi seperti waktu pertama kali vaginaku diperawani oleh mantan suamiku dulu, rasa sakit itu lama-lama hilang dan berganti menjadi rasa nikmat yang sangat berbeda. Walaupun tidak senikmat penis Ferry yang ada di liang senggamaku, tapi tambahan gerakan jarinya di liang duburku mulai membuatku semakin bergairah. Tiba-tiba kurasakan gerakan Ferry menjadi tidak teratur lagi, penisnya seperti berdenyut-denyut di dalam liang senggamaku sedangkan nafasnya seperti ditahan-tahan.
    Mungkin Ferry akan ejakulasi ? Memikirkan hal itu, aku menjadi tambah bergairah menuju orgasmeku yang kedua.
    “Lan… Yunita…sepertinya aku sudah akan keluarrrr ….

    “ Kata Ferry dengan sedikit tertahan
    “T…ttung…ggguu sebentar lagi To …. Yunita juga sss … sudah …hhhaampir dapppatt lagi” Aku berharap bisa orgasme barengan pada saat Ferry ejakulasi, saat itu tangan kananku sudah kupakai menggesek-gesek klitorisku sendiri.
    “Ahhhhh …” aku menjerit tertahan saat Ferry mencabut tangannya dari liang duburku Ferry sekarang memakai kedua tangannya itu untuk menahan pinggulku sambil menekan-nekankan penisnya yang berdenyut makin kencang.
    “Yunitaaaa …ga bisa aku tahan lagi …. aaaarrkkkkhhhhhhhhhhhhhhhh” Ferry mengerang tertahan saat ejakulasi SSSSSRRRRTTT….SSSSRRRTTTT….SSSSRRRRT…cccrrtt…cccrr r…cccrrtt… aku merasakan ada tiga kali semburan kuat dalam liang senggamaku diikuti belasan semburan kecil.
    Semburan air mani yang hangat akhirnya membuat aku juga segera mendapatkan orgasmeku yang kedua.

    “Ferryoo…. Nikmat sekali ….aaaakkkkhhhhh ……duuuuhhh …. benar benar kamu nikmat” aku mulai meracau dengan suara pelan karena sudah sangat lemas. Walaupun penis Ferry masih terasa keras setelah ejakulasi, badanku sudah terlalu lemas untuk bisa menahan tubuhku sendiri dalam posisi menungging. Aku pasrah saja ketika Ferry membalikkan badanku tanpa melepaskan penisnya dari tubuhku.
    Walaupun kami bersetubuh cukup lama, tapi tidak banyak keringat yang keluar dikarenakan udara Lembang yang cukup sejuk, tapi aku lihat tubuh Ferry tetap agak berkilat oleh keringatnya sendiri. Kami kemudian berciuman dan berpelukan lagi dengan mesra, tidak pernah terlintas dalam pikiranku sampai pagi tadi sebelum berangkat ke sini bahwa aku akan bersetubuh dengan sahabat dekatku sendiri.
    Tapi aku hampir tidak ada rasa menyesal telah melakukannya, padahal waktu aku pertama kali disetubuhi dosen pembimbingku ada rasa menyesal yang cukup dalam. “Yunita, kamu bisa menikmatinya sayang ?” Ferry berbisik di telingaku
    “Enak sekali To, baru kali ini aku merasakan nikmat yang luar biasa ” Jawabku dengan lembut
    “ Terima kasih ya To” Ferry membalasnya dengan kembali memangut bibirku dengan lembut di sisi lain aku merasakan Ferry mulai menggerakkan penisnya maju mundur lagi walaupun masih dengan perlahan.

    Saat itu aku sudah sangat kelelahan dengan persetubuhan dua babak tadi sehingga tidak siap untuk melanjutkan ke babak berikutnya.
    “To, aku udah kecapean sekarang … kalau kamu masih mau lagi, kita lanjutkan setelah aku istirahat sebentar. Boleh kan ya sayang ?” Aku coba menolak Ferry melanjutkan niatnya dengan sehalus mungkin.
    Ferry rupanya bisa mengerti dan menghentikan gerakan penisnya, sebagai gantinya aku melakukan kontraksi pada otot-otot vaginaku untuk “meremas-remas” penis Ferry yang masih keras saja sampai sekarang walaupun sudah berejakulasi. Dia kelihatannya sangat menikmatinya sampai akhirnya berejakulasi lagi walaupun semprotannya jauh lebih lemah dan lebih sedikit dari yang pertama.
    “Uuuuuuuuhhhhhh ….” Aku kembali melenguh saat Ferry menarik penisnya yang mulai melunak. Kami kemudian melanjutkan obrolan kami tanpa mengenakan pakaian dulu, tapi aku tetap menutup badanku dengan selimut yang disediakan dekat perapian karena walau bagaimanapun aku masih ada sedikit perasaan risi bertelanjang bulat di depan sahabat laki-lakiku.

    Ferry ternyata sangat kaget waktu mengetahui aku tidak memakai kontrasepsi dan sangat menyesal sudah mengeluarkan spermanya di dalam tubuhku. Aku coba tenangkan dirinya bahwa akulah yang menginginkan dia berejakulasi di dalam tubuhku, lagi pula selama ini baik mantan suamiku maupun dosen pembimbingku selalu mengeluarkannya di dalam dan aku hanya bisa hamil di tahun pertama pernikahan kami. Aku juga ceritakan bahwa baru dengan Ferry aku bisa dua kali mengalami orgasme dalam sekali bersetubuh sampai aku merasa kepayahan, padahal sebelumnya hanya kadang-kadang saja bisa sampai orgasme.

    Ferry bilang bahwa dia selalu berusaha mendahulukan pasangan-pasangannya mendapat orgasme duluan, minimal sekali, sebelum dia berejakulasi. Waktu aku balik tanya memangnya sudah pernah meniduri berapa wanita, dia hanya nyengir saja. Sekejap ada perasaan cemburu mengetahui bahwa aku bukan perempuan satu-satunya selain istrinya yang dia tiduri, tapi aku berusaha redam perasaan itu karena tujuan hubungan kami bukan seperti itu. Ferry kemudian memintaku untuk bersedia melakukan variasi hubungan anal dengannya, aku sempat kaget dan menolak permintaannya.
    Apalagi bila mengingat sakitnya liang duburku waktu dia memasukkan jari tangannya, apalagi kalau penisnya yang besar dan keras itu ? Tapi waktu aku melihat pandangan memohonnya, hatiku menjadi luluh dan bilang ke dia bahwa aku tidak mau sering-sering melakukannya karena takut bentuk anusku berubah drastis. Kami kemudian sempat tertawa-tawa waktu membahas tentang peristiwa tertangkap basah oleh Mamang penjaga rumah sedang bersetubuh secara langsung akibat lolongan dan jeritan erotisku.

    Aku i memang dikenal oleh orang lain sebagai orang yang kalem sehingga kalau sampai menjeri-jerit tentu saja akan mengagetkan mereka. Aku yakinkan Ferry bahwa akan bisa mengatasi Mamang penjaga rumah supaya tidak menceritakan kejadian ini kepada keluargaku atau orang lain. Aku cuma menyesal Mamang itu sudah melihat tubuh telanjangku dalam posisi dan ekspresi yang sangat merangsang pikiran laki-laki. Setelah hampir dua jam beristirahat, aku berkata kepada Ferry bahwa aku belum melihat bentuk persisnya penis dia saat ereksi karena ketika tadi sedang ereksi hampir selalu berada dalam vaginaku.

    Ferry balas menjawab bahwa dia juga tidak sempat memperhatikan dengan teliti bentuk vaginaku, oleh karena itu dia mengajak aku untuk langsung melakukan foreplay saja dengan posisi 69. Dengansedikit tersipu aku sempat balik bertanya tentang apa yang dimaksud posisi 69 karena soal teknik seks aku sangat awam. Akhirnya kami mulai melakukan posisi 69 itu dengan aku berada di atas karena benar-benar ingin melihat biangnya rasa nikmatku tadi.


    Ternyata memang diameter penisnya Ferry sangat besar saat ereksi walaupun biasa saja panjangnya. Tetapi yang istimewa adalah tonjolan urat-urat pembuluh darah yang mengelilinginya sepeti ulir sekrup yang membuat gesekan pada dinding vaginaku lebih terasa nikmat. Tak lama kemudian kami mulai bergumul lagi dengan berahi yang lebih panas karena melakukannya dengan kesadaran penuh bukan lagi karena reaksi spontan seperti sebelumnya. Aku mengambil posisi di atas dia sehingga bisa mengendalikan bagian mana saja dari liang senggamaku yang ingin di sentuh penisnya.
    Sedangkan Ferry sendiri selain meremas buah dadaku dan menghisap putingnya, juga mempermainkan kelentitku dengan jari-jarinya. Akhirnya aku mencapai orgasme pertama yang sangat nikmat sekaligus lelahkan untuk babak ke dua ini. Ferry kemudian menagih janjiku untuk berhubungan secara anal sesaat setelah orgasme pertamaku, sehingga aku kembali dalam posisi menungging. Sekarang penis Ferry langsung masuk ke liang duburku setelah dibasahi dulu dengan cairan vaginaku yang menetes.
    Aku benar-benar merasa kesakitan yang luar biasa saat penisnya masuk ke dalam lubang duburku yang ototnya masih kaku. Bahkan aku sempat menjerit jerit kesakitan sebelum akhirnya mulai merasakan nikmatnya hubungan anal bahkan bisa sampai mendapat orgasme walaupun tidak hebat penetrasi di vagina. Setelah orgasme keduaku pada anal, Ferry kembali menyetubuhiku secara konvensional sampai aku mencapai orgasme ketiga padahal Ferry belum juga mendapat ejakulasinya .
    Saat itu aku benar-benar sudah kepayahan menerima serbuanny sehingga akhirnya aku terpaksa memohon untuk berhenti karena vaginaku sudah seperti hampir mati rasa. Dengan penuh pengertian Ferry menghentikan aktivitasnya walaupun terlihat ada rasa kecewa di matanya. Karena hari sudah menjelang malam, setelah beristirahat sebentar sambil berciuman, kami bersiap-siap untuk kembali ke Bandung. Sebelum pulang aku berwanti-wanti kepada Mamang penjaga rumah supaya tidak perlu bercerita tentang apa yang dilihatnya karena kami melakukannya sebagai orang dewasa yang saling membutuhkan dan saling suka satu sama lainnya.

    Si Mamang bilang dia mengerti sebagai janda tentunya aku butuh laki-laki yang menemani saat kesepian. Dalam perjalanan pulang aku menawarkan ke Ferry untuk melakukan seks oral di mobil sambil berjalan sampai dia bisa ejakulasi. Aku menawarkan itu karena merasa bersalah telah menyia-nyiakan sahabatku yang telah memberikan kenikmatan yang bertubi-tubi ditambah beberapa petualangan seks yang sangat baru buatku termasuk juga petualangan kepergok Mamang yang mendebarkan.
    Ferry tentu saja menyambutnya dengan antusias dan dia memintaku untuk melepas BHku supaya sambil di oral dia bisa membalas dengan permainan tangannya pada buah dadaku. Dengan nekat aku lalu mencopot BHku saat mobil berjalan yang artinya aku harus melepas kaosku dahulu sebelum melepaskan BHnya itu. Sebuah mobil sempat memberi lampu jauh saat aku bertelanjang dada, aku tidak tahu apakah pengemudinya sempat melihat kondisiku saat itu.
    Dengan sabar aku mulai melakukan seks oral sedangkan Ferry mengemudikam mobil Audi A4 Triptroniknya hanya dengan satu tangan saja karena tangan kirinya dipakai untuk memainkan buah dadaku. Aku sempat bergurau bahwa penisnya dia sangat “yummie” sehingga tidak membosankan untuk dikulum dimulut atau digesek-gesek di vagina.
    Sekarang aku mengerti kenapa Ferry mau bersusah-susah memainkan buah dadaku sambil mengemudi karena ternyata rangsangannya pada buah dadaku itu membuatku banyak melakukan gerakan spontan pada mulutku saat mengulum penisnya yang membuatnya merasa lebih nikmat. Walaupun aku sudah berusaha maksimal, tapi Ferry belum saja berejakulasi padahal sudah dekat rumahku.

    Tepat ketika mobilnya sudah berhenti di depan pintu pagar rumahku, Ferry tiba tiba menekan kepalaku dengan kedua tangannya sampai batang penisnya amblas menyodok masuk ke kerongkonganku dan ….
    CRUT…CRUT…CRUT …CRUT … penisnya memuntahkan air mani yang sangat banyak yang terpaksa aku telan langsung ke perutku “Aaaaahhhh ….” Kudengar suara Ferry mengerang nikmat Aku coba berontak karena hampir tidak bisa bernafas, tapi Ferry hanya melonggarkan sedikit tekanan tangannya Crut …crut …crut …crut … masih ada beberapa semprotan lagi yang keluar dari penisnya berceceran di dalam rongga mulutku, malah ada beberapa yang menempel di bibir, pipi dan hidungku.

    Ketika aku bangun dari pangkuan Ferry, aku lihat si Bibi sedang membuka pintu pagar dan anakku menunggu di pintu garasi. Dengan terburu-buru aku menyambar tisu yang disodorkan oleh Ferry yang sedang tersenyum nakal. Aku hanya sempat menghapus mukaku sekenanya karena takut anakku datang mendekat dan melihat penisnya Ferry yang tetap mengacung setelah ejakulasi. Saat aku turun dari mobil malah aku lupa membawa BHku yang ada di jok belakang.

    Waktu aku mencium anakku, dia sempat berkomentar kenapa mamanya lengket-lengket dan mulutnya rada ada bau amis. Ferry memang memberiku banyak petualangan seks yang tidak pernah aku bayangkan sampai umurku yang bisa dibilang matang ini walaupun frekuensi pertemuan kami tidak terlalu sering.

    Aku hanya berhubungan badan dengan dia saat aku benar-benar membutuhkannya atau karena Ferry memang memintanya. Aku ingin tetap hubungan kami hanya sebagai sahabat karena hubungan persahabatanku dengan Ferry jauh lebih berharga dari pada kebutuhanku mencari pasangan hidup.
    Setiap kali berhubungan badan aku selalu memaksanya untuk ejakulasi di dalam, aku tidak mau ejakulasinya di luar ataupun memakai kondom walaupun dia sangat khawatir karena merasa spermanya sangat subur. Akhirnya kekhawatiran Ferry terbukti karena kemudian aku hamil, bahkan sampai mencapai usia 10 minggu janin yang aku kandung. Asalnya aku tidak percaya sampai diperiksa oleh temanku sesama dokter dengan menggunakan alat USG. Karena hubunganku dengan Ferry belum mencapai 3 bulan, berarti janin itu berasal dari hubungan seks kami yang awal-awal.

    Dengan umur kandungan yang sudah besar, akhirnya aku minta tolong temanku untuk merekomendasikan dokter koleganya di luar kota untuk membantu menggugurkannya. Aku tidak mau di kuret di kotaku karena dapat menimbulkan kehebohan besar. Dengan pengalaman ini akhirnya aku berinisiatif pasang IUD sehingga Ferry tetap bisa leluasa berejakulasi di dalam tubuhku seperti keinginanku. Petualanganku denga Ferry akhirnya terhenti setelah dua tahun ketika ada dokter yang melamarku dan memboyongku ke luar kota.

    Bukannya aku tidak ingin setia pada suamiku yang baru, tapi sebenarnya aku sering merindukan belaian keintiman khas Ferry mengingat dasar hubungan seks kami yang istimewa. Walaupun dia selalu menjawab komunikasi dariku, tapi dia tidak pernah lagi memintaku untuk melayaninya seperti yang dulu dia lakukan kalau dia sedang membutuhkan seks.

    Padahal tinggal dia minta, aku pasti pergi ke kotanya dengan cara apapun hanya untuk melayani kebutuhannya. Tapi kalau kebetulan aku tahu dia sedang ada di kotaku, Ferry tidak pernah menolak kunjunganku ke hotelnya untuk melepas rindu akan siraman air maninya.

  • Memuaskan Tante Sendiri Yang Biseks Bersama Temannya Yang Juga Seksi – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    Memuaskan Tante Sendiri Yang Biseks Bersama Temannya Yang Juga Seksi – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018


    1803 views

    Perawanku – Kisah ini tentang Aku, tante Anna dan Temannya Tante Susi Kali ini saya kedatangan Tante saya, Tante Anna dan temannya yang saya panggil dengan Mbak Susi. Mbak Susi adalah orang sunda asli dengan kulitnya yang putih bersih, tinggi 167 cm dengan berat 50 kg sesuai dengan payudara yang saya perkirakan 34A, pasti membikin orang menoleh pada Mbak Susi

    Umur Mbak Susi sekitar 36 tahun, 3 tahun lebih tua dari saya, makanya saya panggil dengan Mbak Tante Anna orangnya supel dengan tinggi 171 cm, berat 53 kg dan berkulit kuning langsat dengan payudara yang kencang karena rajin fitnes, ukuran 34B Cantiknya seperti artis kira-kira dan Mbak Susi seperti artis Venna Melinda Mereka berdua ke Lombok dalam rangka tugas perusahaan selama lima hari

    “Ndi, nanti anterin Mbak Susi ya” kata Tante Anna sambil membereskan pakaian dalamnya
    “Kemana Tante?” jawab saya sekenanya, sambil jelalatan melihat BH merah punya Tante Anna, sungguh pemandangan yang indah, BH-nya segini ukurannya apalagi isinya He He
    “Mbak mau ke mall sebentar beli pulsa nich!” Mbak Susi menjawab mengandeng tangan saya akrab
    “Beres boss ”

    Kemudian saya dan Mbak Anna ke mall, di dalam taksi saya perhatikan Mbak Anna sungguh seksi dengan hem atasan berwarna putih ketat memperlihatkan payudaranya yang membusung dan rok mini diatas lutut berwarna biru, hingga lekuk-lekuk celana dalamnya samar-samar tercetak serta wangi parfumnya yang segar Sungguh membuat saya pengin ngewe aja. Tapi itu harapan saja coy

    “Ramai juga mallnya ya!”
    “Iya Eh Mbak Sini” lalu saya menarik tangannya, sungguh halus dan lembut
    “Counter handphone di sana toh”

    Karena ramai maka saya Mbak Susi mepet di depan saya hingga pantatnya yang terbungkus rok menempel di depan kemaluan saya Wah ini kesempatan nich pikir saya dalam hati, saya tempelkan kemaluan saya yang sudah tegak kepantatnya Mbak Susi, untuk tadi saya pakai celana panjang kain Sensasinya begitu nikmat, apalagi dimasukin nich Asoy geboy mak Selesai acara mepet-mepetan tad karena udah sampai dan bla, bla, bla tanpa kejadian yang hot

    Di malam ketiga, saya, Tante Anna dan Mbak Susi ngobrol sampe malam, kira-kira jam 21 00

    “Ndi Mbak Susi tidur duluan ya”
    “Iya Mbak Mimpi yang indah ya Mbak!”

    Lalu menyusul Tante Anna yang malam itu memakai longdress yang belahannya seolah-olah tak muat untuk payudara yang putih bersih itu Malam itu Tante Anna tidur sekamar dengan Mbak Susi di kamar tamu Tinggal saya yang memencet-mencet tombol remote TV karena acaranya tak begitu bagus Kira-kira jam 23 00 saya mendengar jeritan kecil, karena penasaran saya datangi sumber suara itu dan arahnya ternyata dari kamar tamu.

    Saya jadi penasaran nich, kebiasaan ngintip kambuh lagi nich pembaca, kamar tamu itu cuma dibatasi kaca nako yang kebetulan kordennya setengah tertutup Wah asyik nich, yang saya lihat sungguh mengagetkan dan mengasyikkan

    Tante Anna sedang menggerayangi Mbak Susi, tangan Tante Anna sedang meremas-remas payudara Mbak Susi yang sudah terbuka setengahnya dan baju atas piyamanya sudah tidak beraturan lagi, menampakkan payudara dan BH hijaunya Mmh sedap

    “An Jangan. Apa yang kamu lakukan” Mbak Susi berusaha menahan tangan payudaranya

    “Sus Tolong saya Sus Mmh ” rintih Tante Anna sambil mencium leher kemudian bibir Mbak Susi dengan liar sambil menarik BH hijau Mbak Susi hingga terpampanglah dua gunung putihnya

    “Jang an Saya Masih suka sama pria An” terengah-engah Mbak Susi menjawab karena Tante dengan giat mencium dan mengulum mulut, kemudian ke bawah puting Mbak Susi yang sudah kencang itu digigit dan dikulum Tante Anna dengan gemas sambil tangan mengusap-ngusap celana dalam Mbak Susi yang berwarna putih itu

    “Pelan2. Ada Andi tuch”
    “Udah diam aja kamu Sus!” bentak Tante Anna pelan, sambil membuka longdressnya yang ternyata tidak memakai BH dan celana dalam
    “Ssh Geli. Anna Ssh ” rintih Mbak Susi yang kelihatan sudah mulai terangsang

    Tante Anna mulai menciumi perut dan vagina Mbak Susi yang terbungkus celana dalam putih, beberapa menit kemudian terbukalah celana dalam Mbak Susi dan Tante Anna mengambil posisi 69, saling menjilat vagina masing sambil jari tangan Tante Anna tak henti keluar masuk vagina Mbak Susi yang sudah mulai basah

    “Ce Pat Sus Saya mau keluar!”
    “I Ya Rat Samaan Ke Luarnya ya” jawab Mbak Susi sambil mempercepat jarinya begitu juga Tante Anna

    Kedua wanita itu saling mempercepat kegiatan masing-masing dan akhirnya mereka orgasme Kemudian mereka tidur bugil sambil berpelukan Ah Ternyata kemaluan saya dari tadi juga sudah keluar nich, biasa ngocok sendiri

    Keesokan paginya

    “Pagi Tante Pagi Mbak Susi” salam saya pada kedua wanita tersebut
    “Pagi” jawab mereka bersamaan
    “Enak ya mimpinya” sindir saya sambil melihat Mbak Susi yang tersipu malu
    “Mmh Lumayanlah” Mbak Susi menjawab sambil melihat Tante saya
    “Ooh ya, nanti anterin Mbak Susi ke pantai sengigi ya ndi”
    “Beres Tante, pokoknya puas dech”

    Kemudian Tante Anna pergi meeting lagi dan saya kebagian tugas nganterin Mbak Susi, ini kesempatan namanya, kapan lagi kontol sama orang cantik kayak artis lagi Sore itu jan 15 10 saya anter Mbak Susi memakai mobil sewaan ke Senggigi.

    “Mbak, tadi malam ngapain aja di kamar sama Tante!”
    “Eh Ya tidur dong Ndi” jawab Mbak Susi agak sedikit grogi
    “Mbak Susi ngesex ya sama Tante”
    “Hus Ngawur kamu Ndi” Mbak Susi mencubit saya sambil melotot
    “Lho Wong Andi lihat kok, kalo nggak ngaku tak bilangin orang sekantornya Mbak Susi lho”
    “I Ya Iya Mbak Susi ngaku dech, tapi jangan bilangin siapa-siapa ya”

    Mobil kuparkir di tempat yang agak sepi dan jam sudah menunjukkan jam 18 20 malam

    “Boleh tapi ada syaratnya!”
    “Kok pakai syarat Minta uang nich!” kata Mbak Susi akan membuka dompet
    “Duit sich mau Tapi bukan itu, Andi pengin ngentot ama Mbak Susi”
    “Apa Gila Kamu ”
    “Kubilangin lho ”

    “Iya Dech Tapi bagian atas aja ya” jawab Mbak Susi pasrah sambil pindah dan bersandar pada bangku belakang Saya mengikutinya dan sore itu Mbak Susi memakai kaos kuning ketat dan celana jins

    “Lho Kok Dilihat aja, nggak mau ya!” goda Mbak Susi
    “Mmh Pe Lan Ndi ” terengah-engah Mbak Susi saat saya cium dan kami saling melumat

    Tangan saya meremas payudara sebelah kanan yang masih terbungkus kaos kuningnya Beberapa menit kami berciuman dan kemudian saya arahkan ke leher untuk membuat cupang merah Tangan saya sudah menyelusup ke dalam kaos dan BH putihnya sambil memelintir putingnya

    “Ssh Mmh Aah ” rintih Mbak Susi sambil tangannya masuk ke dalam celana jins saya dan meremas-remas kontol saya yang sudah tegak dari tadi

    Saya buka celana jins saya dan membiarkan Mbak Susi dengan leluasa meremas-remas kontol saya Kemudian saya buka pengait BH-nya dan muncullah dua bukit kembarnya yang tegak menantang, tanpa menunggu lagi saya lahap dan jilat sampai Mbak Susi merintih-rintih keenakan

    “Terr Us Ndi Pin Dah sebelah lagi”

    Beberapa menit kami saling meremas dan menjilat, saya kemudian melepas celana jins dan CD putih Mbak Susi, wah betul-betul vagina yang sempurna, tanpa pikir panjang saya cium dan jilat vaginanya yang sudah basah oleh cairan kental putih itu, sambil menjilat saya masukkan jari tangan agar Mbak Susi bertambah merintih tidak karuan

    “Sst Ce Pat Ndi Masukin Mbak udah nggak tahan nich”

    “Ben Tar Mbak pakai kondom dulu” kata saya sambil membuka celana saya seluruhnya dan memakai kondom, kemudian dengan dituntun tangan Mbak Susi yang halus akhirnya bles Mmh masuk semua dech kontol saya yang katanya bengkok itu

    “Terr Us Dor Ong Teruss Sst”

    “Cep Epet Ya Gitu Ahh ” Celoteh dan rintihan Mbak Susi akibat sodokan demi sodokan yang masukkan dalam-dalam, mmh nikmat rasanya dan akhirnya kami sama-sama nggak kuat, sambil berpelukan dengan erat Crot Crot Keluarlah lahar putih itu bersamaan

    “Terima kasih ya Mbak Susi”
    “Sama-sama ndi, kapan-kapan lagi ya” jawab Mbak Susi tersenyum puas

    Dan kami pun pulang, disambut Tante Anna tanpa curiga Aduh Tante saya yang satu ini cantik sekali, kapan ya saya bisa kontol sama dia, abis cantik sich en’ seksi Kesempatan itu datang malam ini

    “Gimana Sus tadi”
    “Puas dech dianterin si Andi”
    “Siapa dulu dong Tantenya”
    “An, tidur duluan ya”
    “Iya sus, saya juga mau tidur”
    “Ndi terima kasih ya udah nganterin Mbak Susi tadi”
    “Biasa aja kok Mbak, yang penting puas khan?” jawab saya mengedipkan mata pada Mbak Susi
    “Ndi, Tante tidur di kamarmu ya”

    “Kenapa Tante, apa kamar tamunya ndak cukup berdua ama Mbak Susi?”
    “Bukan begitu, di kamar tamu tuch panas, kali aja di kamarmu lebih adem”
    “Terserah Tante dech” jawab saya sekenanya
    “Tante duluan tidur ya Ndi”
    “Iya Tante, Andi lagi nungguin acara bagus nich”


    Tante Anna lalu pergi tidur dengan daster kuningnya yang kependekan itu Satu setengah jam kemudian saya menyusul ke kamar untuk pergi tidur juga dan wow Tante Anna tidur dengan memeluk guling, tapi yang membuat kontol saya tegak adalah daster kuningnya menyingkapkan paha kanannya yang putih bersih serta sedikit memperlihatkan CD-nya yang berwarna putih itu Mmh sungguh pemandangan yang indah pembaca

    Saya dengan perlahan membuka pakaian dan celana pendek, tinggal CD saja, ini baru kesempatan namanya Saya tidur dengan posisi membelakangi Tante Anna dan dengan perlahan membuka daster bawahnya sampai sebatas pinggang dan sekarang dengan jelas kelihatan CD-nya berwarna putih selaras dengan pantatnya yang putih, pelan sekali saya tempelkan kontol saya ke pantat Tante Anna dan serr

    Rasanya halus dan wangi tubuhnya pun harum Mmh enak sekali, sambil tangan kanan saya linkarkan ke perutnya Tidak ada reaksi sama sekali tapi tiba-tiba saja tangannya memegang tangan saya sambil bergumam “Mm ”

    Saya sampai kaget, tapi cuma sesaat dan kaki kanan saya masukkan di antara kaki Tante Anna Beberapa saat dalam kondisi tersebut, perlahan saya lanjutkan dengan tangan kanan saya yang tadinya di perut sekarang merayap perlahan ke arah dalam daster dan ternyata Tante Anna tidur tidak memakai BH Payudaranya akhirnya tersentuh juga dan saya usap dengan perlahan sekali takut Tante Anna bangun Khan malu sekali jadinya, tapi sudah kadung nafsu, saya terusin aja, paling dimarahin

    kontol kugesek-gesekkan seiring intensitas tangan saya yang sekarang bukan saja mengusap tapi meremas-remas Lagi asyik-asyiknya melakukan kegiatan mepet-mepetan, tiba-tiba Tante Anna tersadar juga

    “Oh Siapa ini ” ujarnya sambil mengibaskan tangan saya
    “Sst Andi Tante ” guman saya, antara takut dan bingung
    “Maaf Tante Andi Khilaf” kata saya akan beranjak keluar
    “Tunggu Ndi” tahan Tante Anna

    “Sebetulnya Tante nggak marah kok, cuma kaget aja, tak kirain siapa”
    “Sekali lagi maaf Tante, tapi jangan laporan ibu ya”
    “Kamu nakal ya, cuma ada syaratnya lho supaya nggak dilaporin”
    “Apa Tante, pokoknya tak lunasin dech” jawab saya bingung dan takut
    “Kamu kunci kamar ini dan temenin Tante tidur malam terakhir ini, gimana?”

    Wah bukan main senangnya saya dan cepat-cepat saya kunci pintu dan wow Tante Anna sudah membuka daster, tinggal CD putihnya saja

    “Lho, kok bengong sini bobo”
    “I Ya ”

    Antara kagum dan nafsu jadi satu dech, melihat pemandangan yang bagus ini Dan Tante Anna menarik CD saya hingga lepas

    “Wah Kontolmu bengkok ya” puji Tante Anna sambil menindih saya

    Lalu kami pun berciuman dengan lembut dan makin lama ciuman itu berubah menjadi saling jilat Tangan saya bergerilya meremas-remas kedua payudaranya dan Tante Annapun meremas dan menarik-narik kontol saya

    “Ndi Emut Su Su Tante Ya” tersengal-sengal Tante Anna mengarahkan kepala saya pada payudaranya

    Payudaranya yang putih saya emut, jilat dan gigit dengan perlahan sampai Tante Anna merintih-rintih, sementara tangan kanan saya ikut masuk dalam CD-nya dan mengusap-usap vagina Tante Anna yang mulai basah

    “Terr Us Ndi Yang Baw Ah”

    Saya teruskan, celana dalam putih itu saya tarik dan tampaklah vagina yang ditumbuhi bulu halus muncul, saya jilat, cairan putih semakin banyak, slrup Slrup Slrup begitu bunyinya saya hisap sampai kepala saya terjepit kaki Tante Anna yang udah mulai orgasme pertama

    “Ndi Ganti Po Sisi ya?” tanya Tante tersengal-sengal sambil mengarahkan mulutnya ke kontol saya hingga posisi kami bergaya 69

    Tante Anna betul-betul mahir mengulum dan menghisap sampai-sampai kontol saya gerakkan perlahan ke atas ke bawah seiring kulumannya dan saya pun tak kalah gesit menjilat dan menghisap cairan putih yang semakin banyak dari Tante Anna

    “Gan Tian Tante di atas”

    Lalu kami pun berubah posisi dengan saya di bawah dan Tante Anna di atas, sambil sedikit berjongkok Tante Anna membimbing kontol saya masuk vaginanya dan bless Cleep Cleep Cleep Begitu bunyinya akibat goyangan pantatnya yang semok dan sodokan kontol saya sampai-sampai buah zakar saya mepet dengan vaginanya

    “Sst Terr Ss Pegang Su Su Tante Ndi Sst”
    “I Ya Tante Mmh ”
    “Nach Gitu Remas Yaa ” Rintih Tante Anna karena kedua payudaranya saya remas dan kedua putingnya saya pelintir-pelintir

    Keringat Tante Anna sudah mulai menetes bersamaan dengan keringat saya, sudah 15 menit kami melakukan sodokan dan goyangan yang hebat sampai ranjang itu berderit-derit menahan goyangan kami yang begitu liar seperti pengantin baru

    “Tan Andi Mau Kel Uar Nich”
    “Ben Tar Ndi Sst Sst Samaan Kelua Rrnya ya” perintah Tante pada saya yang sudah mau bobol saja rasanya dan kami pun mempercepat sodokan dan goyangan Cleep Cleep Cleep Dan akhirnya

    “Sst Ce Pat Ndi Aakh ” Tante Anna memeluk saya sambil menggoyang-goyang pantatnya semakin cepat, jeritaannya bersamaan dengan semprotan saya dan Tante, croot, croot muncratlah air mani itu dalam vagina Tante

    Tante Anna memeluk saya lemas dan kami pun berpelukan dalam keadaan bugil menikmati sensasi tersebut, saya dan Tante Anna bergumul sampai 3 kali malam itu

    “Terima kasih ya ndi, udah lama Tante nggak ngewe kayak begini”
    “Sama-sama Tante, Andi juga puas kok, kapan-kapan kalo Tante ke sini kita ngesex lagi ya”
    “Beres, pokoknya ini rahasia kita berdua, OK!” jawab Tante Anna sambil mencium saya dengan lembut dan memberikan saya amplop

    “Apaan ini Tante”
    “Oh, uang jajan dari Tante dan Susi buat kamu”
    “Terima kasih banyak lho Tante” jawab saya senang, sudah dapat tubuh tante en’ dapet uang lagi, yang besarnya kira-kira Rp 3.400.000,-

    Lumayan lho pembaca untuk tour guide seperti saya yang nganterin Tante saya yang biseks bersama temannya selama lima hari.

  • Kania ABG Bertubuh Mulus Dan Haus Seks

    Kania ABG Bertubuh Mulus Dan Haus Seks


    1803 views


    Perawanku – Awalnya aku tidak pernah menduga kalau akhirnya aku akan melakukan adegan seperti dalam cerita ngentot, di saat usiaku baru menginjak 18 tahun. Saat ini aku masih duduk di kelas 3 bangku SMU, namaku Bima dari dulu aku memang banyak di dekati cewek baik di sekolah maupun di lingkungan rumahku. Namun aku tidak pernah menanggapi mereka karena aku tidak suka untuk menjalin hubungan.

    Pikirku dengan pacaran tidak akan membawa apa-apa, apalagi aku seorang gamer hampir setiap ada kesempatan aku selalu di depan gadgetku. Untuk main game dan itu adalah hobiku sejak aku masih SMP hingga saat ini, meskipun penampilanku memakai kaca mata namun tidak membuatku terlihat cupu karena dengan tinggi badan yang profesional di tambah bentuk tubuh yang lumayan atletis.

    Akupun terlihat keren dan bukannya membanggakan diri sendiri, tapi memang sejak dulu aku sering di dekati cewek. Namun hatiku belum terbuka untuk melkaukannya, hingga akhirnya akupun sering membuka situs dewasa, dengan seringnya membaca cerita sex abg dan lainnya membuat aku terkadang ingin menikmatinya tapi aku masih belum bisa melakukannya karena aku masih malu.

    Pernah sekali aku membawa teman cewek ke kamarku, saat itu memang tidak ada orang di rumah. Tapi aku hanya mencium pipinya dan melihat dia tertunduk malu akupun menjadi tidak berani melanjutkannya, apalagi aku dengar dari temanku si Beni kalau kita akan melakukan adegan seperti dalam cerita ngentot mengalir saja tanpa harus ada yang memaksa itu baru nyaman dan begitu terasa.

    Sampai akhirnya akupun mengenal sosok cewek yang lebih tua dariku, Kania namanya dia sudah duduk di bangku kuliah. Sebenarnya akupun tidak begitu menyukai Kania namun karena dia begitu agresif akupun tergiur padanya, tidak jarang Kania menyentuhku dengan cubitan kecil “Iiihh..lucunya kamu Bim..” Katanya ketika kami bertemu di sebuah cafe tempat kami biasa makan.

    Perkenalan kamipun berlanjut dan membuat aku semakin mengenalnya lebih dekat lagi, hingga pada suatu hari aku di ajak Kania ke rumah temannya. Sampai di sana ternyata ada empat orang cewek termasuk Kania, dan cuma aku cowok diantara mereka. Kania dengan manja memperkenalkan aku sebagai pacarnya akupun hanya tersenyum di depan mereka, dan ada salah satu temannya yang mengodaku.

    Tapi aku berlagak seperti cowok yang sudah dewasa, padahal aku belum pernah sekalipun melakukan adegan seperti dalam adegan cerita sex ngentot abg. Hingga akhirnya aku di bawa masuk kedalam kamar teman Kania “Di dalam aja yuk BIm.. bentar lagi cowok mereka pada datang..”Malas juga kalau harus ngbrol dengan teman cowok Kania, yang notabene bukan teman selistingku.

    Akupun masuk ke dalam kamar teman Kania, rupanya rumah itu memang di tempati cewek yang tadi dia perkenalkan padaku. Di dalam kamar itu Kania sibuk dengan gadgetnya karena merasa di kacangin akhirnya akupun merampas gadget yang dia pegang, ternyata Kania sedang membaca cerita ngentot. Kini aku yang menjadi salah tingkah di depannya tanpa tahu harus berbuat apa, akupun mengembalikan hpnya.

    Dia mendekat lalu memelukku dari belakang “Kenapa..emangnya Bima belum pernah membaca hal ginian..” Akupun menjawab “Kata siapa..itu mah.. biasa dah aku baca..” Kataku dengan sombongnya “Kalau gitu Bima tahu dong caranya..” Glek.. mati aku, pikirku ketika Kania berkata seperti itu, diapun mendekat dan wajahnya pas berada di depan wajahku.

    Perlahan dia lepas kaca mata yang aku pakai, kemudian dia mendaratkan bibirnya pada bibirku “Bima.. aku sayang kamu..” Kembali dia melumat bibirku dan kamipun berciuman dengan mesranya di dalam kamar itu, meski terdengar suara candaan teman Kania dari luar aku tidak perduli. Aku benar-benar terbuai dengan lumatan bibir Kania yang menggairahkan.

    Tangannya mulai meraba-raba tubuhku hingga dia temukan kontolku, perlahan namun pasti menggeliat juga kontolku di remasnya “Oooouuuggggggghhhhhh…… oooouuugggghhh… aaaaggggggghh… Kaniaaaaa… aaaagggghh…” Aku tidak berbuat apa-apa kecuali menikmati sentuhan tangannya pada kontolku, seperti dalam adegan cerita ngentot yang sering aku baca.

    Ketika kontolku membesar dan semakin panjang diapun menyuruhku untuk berbaring di atas tempat tidur. Bagai kerbau yang sudah jinak aku mengikuti perintahnya, dan aku lihat Kania naik ke atas tubuhku dan dia mencoba memasukkan kontolku ke dalam memeknya, dan tidak butuh lama untuk melakukan hal itu, aku terbelalak ketika pantatnya mulai bergoyang di atas tubuhku.

    Aku begitu menikmatinya “Ooouuuuuggggghhh… aaaaaaaagggggghh…. aaaaaggggghh… Kaaaniiiiaaaa… aaaggghh.. teruuuuusss… sayaaaang…. aaaggggghhh..” Rasanya tidak dapat aku bayangkan, ternyata seperti ini kenikmatan yang di ceritakan Beni padaku, Kania semakin bergelinjangan bahkan dia memutar-mutar tubuhnya dan juga semakin dalam kontolku dalam memeknya.

    Diapun mendesah panjang sambil terus berpegangan pada dadaku “OOoouuggggghh… aaaaaaaggggghhh… ooooouuugggghh… aaaagggggghh.. sayaaaaang… aaaaagggghh..” Desahnya membuat aku semakin tidak dapat menahan kenikmatan, aku berusaha menahannya dengan cara memejamkan mataku. Karena dari tad aku tidak tahan juga melihat tubuh mulus kania yang terus bergoyang di atasku.

    Tubuhnya sudah bersimbah keringat namun dia tetap seperti kuda binal yangterus bergerak layaknya dalam adegan cerita ngentot “Oooouuuggggggghhhh… aaaaagggghh…. ooouuuggggghh.. aaaggghh..” Tiba-tiba aku merasa selangkanganku tidak dapat menahan kenikmatan, kontolku semakin mengeras dan akhirnya memuncratkan sesuatu yang terasa hangat dari dalam.

    Kania tsenyum ambil berbisik lirih di telingaku “OOoouuugggghh.. Bimaaa.. sayaang… aku puas…. sayaaang….” Dia tidak lag bergerak namun tetap di atas tubuhku, dan aku mendekapnya dengan erat, seakan tidak ingin melepasnya. Aku tahu kalau di luar teman-temannya pasti tahu apa yang kami lakukan, tapi aku tidak takut kalau sampai mereka menggoda kami, karena aku benar-benar terpuaskan oleh kania.

  • Pengalaman Ngentot Nikmatnya Rasa Mesum Pertama Kalinya –  Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Pengalaman Ngentot Nikmatnya Rasa Mesum Pertama Kalinya – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1802 views

    Perawanku – Saat ini aku sudah bertunangan dengan seorang pria pilihan orang tuaku, mas Dika namanya dia sudah bekerja sebagai salah satu pegawai bank swasta. Dan dari yang aku dengar mas Dika sudah memiliki rumah sendiri, namun hal itu tetap tidak membuatku untuk menaruh hati padanya karena saat ini juga aku masih berhubungan dengan Rendra pacar yang telah dua tahun menemaniku.

    Selama berhubungan dengan Rendra aku merasa kalau dia laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab. Tidak pernah sekalipun Rendra menjamahku layaknya dalam cerita ngentot yang telah banyak di lakukan oleh anak muda sekarang. karena itu aku menjadi sangat menyayanginya karena dengan begitu aku tahu kalau Rendra juga begitu mencintaiku dengan tulus.

    Hari ini aku di ajak keluar oleh mas Dika, karena takut pada ancaman kedua orang tuaku akhirnya akupun mau ikut dengan tunanganku itu. Dia membawaku ke sebuah pesta yang di adakan oleh temannya. Disana aku di kenalkan pada teman-temannya oleh mas Dika, aku lihat mas Dika orangnya supel, dia banyak teman namun meski begitu aku tidak suka padanya meskipun usia kami tidak jauh berbeda.

    Karena meski dia sudah bekerja usianya sudah 26 tahun sedangkan aku masih 22 tahun, pikiranku tetap berada dengan Rendra. Hingga saatnya untuk pulang karena pesta telah usai, tapi bukannya membawaku pulang ke rumah mas Dika membawaku ke rumahnya yang dia huni sendirian karena orang tuanya tinggal di rumah mereka sendiri. Mas Dika menyuruhku untuk masuk.

    Akupun mengikutinya aku masuk dan duduk di ruang tamunya, sementara itu mas Dika masuk kedalam rumahnya dan dia keluar dengan membawa minuman “Ayo di minum Ranti..jangan sungkan bukankah disini juga bakalan jadi rumahmu..” Aku diam tanpa senyum sedikitpun , aku bersikap begitu biar dia mengerti kalau aku tidak mencintainya.

    Sebelum aku pulang dari ruamh mas Dika hujan turun dengan derasnya, karena dia tidak membawaku pulang juga akhirnya akupun berkata “Kalau mas Dika nggak mau nganter Ranti biar Ranti pulang sendiri..” Dia bangun dari duduknya, lalu menarik tanganku dan akupun jatuh dalam pelukannya. Mas Dika langsung mendaratkan bibirnya dan seraya mnguncinya dengan bibirnya yang aku rasa begitu hangat.

    Mungkin karena kedinginan aku sempat menikmati adegan seperti dalam cerita dewasa ngentot itu, namun akhirnya aku sadar dan aku mendorong tubuh mas Dika “Jangan mas.. aku nggak suka kamu Ranti sudah ada pacar..” Mas Dika agak marah dari tatapan matanya, dia mendekat padaku “Ranti aku suka kamu dari dulu.. dan aku sudah berniat menjadikan kamu istriku..” Katanya.

    Namun aku tetap mundur dan diapun semakin mendekat hingga akhirnya kami kembali berciuaman, kini tangan mas Dika begitu erat mendekap tubuhku. Dia melumat bibirku dengan lembutnya dan desah nafasnya begitu berat terdengar “UUuuhhhhhffff…. aaaaahhhhh… Raaaantiii.. saaaayaaang.. jangaaan katakaaan kalau kamu mencintai orag lain…” Lirihnya.

    Dia beralih ke leherku sedangkan tangannya yang begitu fasih meraba-raba area tubuhku yang sensitif. Hingga akupun merasa hasratku juga bangkit, apalagi aku seorang wanita yang belum pernah melakukan hal ini, meski tanganku mendorong tubuh mas Dika namun pada akhirnya diapun bisa melepas bajuku dan kini terlihat dengan jelas tubuh mulusku di depannya.

    Aku hendak pergi dari sana namun mas Dika mendekap tubuhku lalu dia membenamkan wajahnya tepat di memekku “OOouugggghh….. maaaas…. aaaagggghhh…. aaagggggghh… aaaggghh.. ” Nikmatnya di perlakukan seperti ini oleh mas Dika, kini aku bukannya menolaknya malah aku membiarkan dia melakukan adegan seperti dalam cerita ngentot itu, dan hal ini benar-benar baru pertama kali aku lakukan.

    Kini mas Dika kembali berdiri dan dia membopong tubuhku dan dia rebahkan di atas sofa masih di ruang tamunya. Aku lihat dengan mata yang sedikit terpejam dia memasukkan kontolnya dalam kemaluanku “OOouuugghh… aaaaagggggghhh… aaaaaagggghh… aaaaaggggghh.. aaaaagggggghh.. aaaaaagggggghh.. Raaanti.. saaayaaang….” Desah mas Dika sambil bergerak perlahan.

    Di atas tubuhku setelah menemukan sedikit kesulitan tadi, memekku masih sempit karena belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Tapi akhirnya mas Dika bisa juga menerobosnya “Ooouuuggggghhhhh…. oooouuuugggggghh… maaaas…. aaaagggghh… aaaagggggghh…. aaaagggggghh.. aaaaggghhh..” Kini aku yang mwndesah saking nikmatnya merasakan hal ini.

    Mas Dika terus bergerak namun dia menatap wajahku hingga mata kami bertatapan “Saayaaang.. mas akan tanggung jawab… Ranti mas benar-benar suka kamu sayang.. dan itu dari dulu… aaaggggghh… aaaggggghh… sayaaang…” Katanya sambil terus bergerak hingga akhirnya diapun semakin cepat bergerak di atas tubuhku, aku sudah tidak menggambarkan rasa nikmat yang aku rasakan.

    Mungkin ini yang sering orang bilang kalau melakukan adegan sex seperti cerita ngentot begitu nikmatnya. Tiba-tiba tubuh mas Dika mngejang dan diapun mengerang keras “Ooouuugggghhhh… oooouuugghh… Raaanti… aaaaggggghhh… aaaaggggghhh..” Rupanya mas Dika mencapai puncak kepuasan, dia memeluk tubuhku dan menekan lebih dalam kontolnya hingga akhirnya terkulai lemas di atas tubuhku.

    Dia memeluk tubuhku namun aku yang sadar tidak berani menatapnya, ada banyak rasa bergejolak dalam hatiku. Antara menyesal dan jga kecewa namun aku juga tidak dapat memungkiri kalau baru saja mendapatkan pengalaman yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Dan mas Dikapun mengantarku pulang selama dalam perjalanan berkali-kali dia mengatakan menyesal dan meminta maaf padaku.

    Bahkan mas Dika menawarkan aku untuk segera melangsungkan pernikahan, namun aku segera membantahnya dan menolaknya. Sesampainya di rumah aku begitu takut kalau-kalau Rendra akan mengetahui apa yang telah terjadi padaku, bagaimana kalau dia tidak lagi mencintaiku. Akupun menangis malam itu ingin rasanya datang hari esok, aku ingin segera bertemu dengan Rendra.

    Tepat jam 7 pagi aku sudah berada di depan kamar kost Rendra, hari ini kuliah memang siang. Tapi aku ingin segera menemui kekasih hatiku ini, aku tahu dia bakalan terkejut karena aku jarang main ke sini paling tidak hanya mengantarnya di depan tempat kost ini. Setelah mengetuk pintunya dan agak lama juga dia membuka pintu saat itu aku melihat Rendra dengan masih males membuka matanya.

    Diapun terkejut melihatku dan berkali-kali mengucek matanya “Raaanti..” Katanya terkejut “Iya kenapa .. ku kangen sayang..” kataku dan masuk kedalam kamarnya, namun kini bukan Rendra yang terkejut melainkan aku yang jauh lebih terkejut. Di atas tempat tidur Rendra ada seorang cewek yang masih setengah telanjang dan lebih terkejut lagi ternyata dia Desi sahabatku sendiri.

  • Cerita Sex Diwarung Yang Remang Ini Di Isi Oleh Tante Sange

    Cerita Sex Diwarung Yang Remang Ini Di Isi Oleh Tante Sange


    1802 views

    Perawanku – Cerita Sex Diwarung Yang Remang Ini Di Isi Oleh Tante Sange, Namaku Didi (bukan nama sebenarnya), aku bekerja di sebuah perusahaan cukup terkenal di Jawa Barat, di sebuah kota yang sejuk, dan saya tinggal (kost) di daerah perkampungan yang dekat dengan kantor. Di daerah tersebut terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik & manis.

    Aku dan teman-teman kost setiap pulang kantor selalu menyempatkan diri untuk menggoda cewek-cewek yang sering lewat di depan kost. Di sebelah kostku ada sebuah warung kecil tapi lengkap, lengkap dalam artian untuk kebutuhan sehari-hari, dari mulai sabun, sandal, gula, lombok, roti, permen, dsb itu ada semua.

    Aku sudah langganan dengan warung sebelah. Kadang kalau sedang tidak membawa uang atau saat belanja uangnya kurang aku sudah tidak sungkan-sungkan untuk hutang. Warung itu milik Ibu Cici (tapi aku memanggilnya Tante Cici), seorang janda cerai beranak satu yang tahun ini baru masuk TK nol kecil.

    Warung Tante Cici buka pagi-pagi sekitar jam lima, terus tutupnya juga sekitar jam sembilan malam. Warung itu ditungguin oleh Tante Cici sendiri dan keponakannya yang SMA, Krisna namanya. Seperti biasanya, sepulang kantor aku mandi, pakai sarung terus sudah stand by di depan TV, sambil ngobrol bersama teman-teman kost. Aku bawa segelas kopi hangat, plus singkong goreng, tapi rasanya ada yang kurang.., apa ya..?,

    Agen Togel Oh ya rokok, tapi setelah aku lihat jam dinding sudah menunjukkan jam 9 kurang 10 menit (malam), aku jadi ragu, apa warung Tante Cici masih buka ya..?, Ah.., aku coba saja kali-kali saja masih buka. Oh, ternyata warung Tante Cici belum tutup, tapi kok sepi.., “Mana yang jualan”, batinku.

    “Tante.., Tante.., Dik Krisna.., Dik Krisna”, lho kok kosong, warung ditinggal sepi seperti ini, kali saja lupa nutup warung.

    Ah kucoba panggil sekali lagi,

    “Permisi.., Tante Cici?”.
    “Oh ya.., tungguu”, Ada suara dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.

    Yang keluar ternyata Tante Cici, hanya menggunakan handuk yang dililitkan di dada, jalan tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya yang kelihatannya baru selesai mandi juga habis keramas.

    “Oh.., maaf Tante, Saya mau mengganggu nich.., Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho Dik Krisna mana?

    “O.., Krisna sedang dibawa ama kakeknya.., katanya kangen ama cucu.., maaf ya Mas Didi Tante pake’ pakaian kayak gini.. baru habis mandi sich”.

    “Tidak apa-apa kok Tante”,

    sekilas mataku melihat badan yang lain yang tidak terbungkus handuk.., putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru kali ini aku lihat sebagian besar tubuh Tante Cici, soalnya biasanya Tante Cici selalu pakai baju kebaya. Dan lagi aku baru sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas dadanya berarti Tante Cici tidak memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.

    Malam gini kok belum tutup Tante..?

    “Iya Mas Didi, ini juga Tante mau tutup, tapi mo pake’ pakaian dulu”

    “Oh biar Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian”, kataku. Masuklah aku ke dalam warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.

    “Wah ngerepoti Mas Didi kata Tante Cici.., sini biar Tante ikut bantu juga”. Warung sudah tertutup, kini aku pulang lewat belakang saja.

    “Trimakasih lho Mas Didi..?”.
    “Sama-sama..”kataku.
    “Tante saya lewat belakang saja”.

    Saat aku dan Tante Cici berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku menubruk tante, tanpa diduga handuk penutup yang ujung handuk dilepit di dadanya terlepas, dan Tante Cici terlihat hanya mengenakan celana dalam merah muda saja. Tante Cici menjerit sambil secara reflek memelukku.

    “Mas Didi.., tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan Tante”, kata tante dengan muka merah padam. Aku jongkok mengambil handuk tante yang jatuh, saat tanganku mengambil handuk, kini di depanku persis ada pemandangan yang sangat indah, celana dalam merah muda,

    dengan background hitam rambut-rambut halus di sekitar vaginanya yang tercium harum. Kemudian aku cepat-cepat berdiri sambil membalut tubuh tante dengan handuk yang jatuh tadi. Tapi ketika aku mau melilitkan handuk tanpa kusadari burungku yang sudah bangun sejak tadi menyentuh tante.

    “Mas Didi.., burungnya bangun ya..?”.

    “Iya Tante.., ah jadi malu Saya.., habis Saya lihat Tante seperti ini mana harum lagi, jadi nafsu Saya Tante..”.

    “Ah tidak apa-apa kok Mas Didi itu wajar..”.
    “Eh ngomong-ngomong Mas Didi kapan mo nikah..?”.
    “Ah belum terpikir Tante..”.

    “Yah.., kalau mo’ nikah harus siap lahir batin lho.., jangan kaya’ mantan suami Tante.., tidak bertanggung jawab kepada keluarga.., nah akibatnya sekarang Tante harus bersetatus janda. Gini tidak enaknya jadi janda, malu.., tapi ada yang lebih menyiksa Mas Didi.. kebutuhan batin..”.

    “Oh ya Tante.., terus gimana caranya Tante memenuhi kebutuhan itu..”, tanyaku usil.
    “Yah.., Tante tahan-tahan saja..”.

    Kasihan.., batinku.., andaikan.., andaikan.., aku diijinkan biar memenuhi kebutuhan batin Tante Cici.., ough.., pikiranku tambah usil. Waktu itu bentuk sarungku sudah berubah, agak kembung, rupanya tante juga memperhatikan.

    “Mas Didi burungnya masih bangun ya..?”.

    Aku cuma megangguk saja, terus sangat di luar dugaanku, tiba-tiba Tante Cici meraba burungku.

    “Wow besar juga burungmu, Mas Didi.., burungnya sudah pernah ketemu sarangnya belom..?”.

    “Belum..!!”, jawabku bohong sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak pernah kurasakan.

    “Mas.., boleh dong Tante ngeliatin burungmu bentarr saja..?”, belum sempat aku menjawab, Tante Cici sudah menarik sarungku, praktis tinggal celana dalamku yang tertinggal plus kaos oblong.

    “Oh.., sampe’ keluar gini Mas..?”.

    “Iya emang kalau burungku lagi bangun panjangnya suka melewati celana dalam, Aku sendiri tidak tahu persis berapa panjang burungku..?”, kataku sambil terus menikmati kocokan tangan Tante Cici.

    “Wah.., Tante yakin, yang nanti jadi istri Mas Didi pasti bakal seneng dapet suami kaya Mas Didi..”, kata tante sambil terus mengocok burungku. Oughh.., nikmat sekali dikocok tante dengan tangannya yang halus kecil putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, Tante Cici sudah melepaskan lagi handuk yang kulilitkan tadi, itu aku tahu karena burungku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang tidak terlalu besar itu.

    “Ough.., Tante.., nikmat Tante.., ough..”,

    desahku sambil bersandar memegangi dinding rak dagangan, kali ini tante memasukkan burungku ke bibirnya yang kecil, dengan buasnya dia keluar-masukkan burungku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot.., ough.., seperti terbang rasanya. Kadang-kadang juga dia sedot habis buah salak yang dua itu.., ough.., sesshh.

    Aku kaget, tiba-tiba tante menghentikan kegiatannya, dia pegangi burungku sambil berjalan ke meja dagangan yang agak ke sudut, Tante Cici naik sambil nungging di atas meja membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku kini.

    “Mas Didi.., berbuatlah sesukamu.., cepet Mas.., cepet..!”.

    Tanpa basa-basi lagi aku tarik celana dalamnya selutut.., woow.., pemandangan begini indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu banyak. Aku jadi tidak percaya kalau Tante Cici sudah punya anak, aku langsung saja mejilat vaginanya, harum, dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Aku lahap rakus vagina tante, aku mainkan lidahku di clitorisnya, sesekali aku masukkan lidahku ke lubang vaginanya.

    “Ough Mas.., ough..”, desah tante sambil memegangi susunya sendiri.
    “Terus Mas.., Maas..”,

    aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu aku masukkan lidahku ke dalam vaginanya, ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila. Kemudian Tante Cici membalikkan badannya telentang di atas meja dengan kedua paha ditekuk ke atas.

    “Ayo Mas Didi.., Tante sudah tidak tahan.., mana burungmu Mas.. burungmu sudah pengin ke sarangnya.., wowww.., Mas Didi.., burung Mas Didi kalau bangun dongak ke atas ya..?”. Aku hampir tidak dengar komentar Tante Cici soal burungku, aku melihat pemandangan demikian menantang, vagina dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku langsung tancapkan burungku dibibir vaginanya.

    “Aughh..”, teriak tante.
    “Kenapa Tante..?”, tanyaku kaget.

    “Udahlah Mas.., teruskan.., teruskan..”, aku masukkan kepala burungku di vaginanya, sempit sekali.

    “Tante.., sempit sekali Tante.?”.

    “Tidak apa-apa Mas.., terus saja.., soalnya sudah lama sich Tante tidak ginian.., ntar juga nikmat..”.

    Yah.., aku paksakan sedikit demi sedikit.., baru setengah dari burungku amblas.., Tante Cici sudah seperti cacing kepanasan gelepar ke sana ke mari.

    “Augh.., Mas.., ouh.., Mas.., nikmat Mas.., terus Mas.., oughh..”.

    Begitu juga aku.., walaupun burungku masuk ke vaginanya cuma setengah, tapi sedotannya oughh luar biasa.., nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Kali ini burungku sudah amblas dimakan vagina Tante Cici. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Cici. Tiba-tiba tante terduduk sambil memelukku, mencakarku.

    “Oughh Mas.., ough.., luar biasa.., oughh.., Mas Didi..”, katanya sambil merem-melek.
    “Kayaknya ini yang namanya orgasme.., ough..”, burungku tetap di vagina Tante Cici.
    “Mas Didi sudah mau keluar ya..?”.

    Aku menggeleng. Kemudian Tante Cici telentang kembali, aku seperti kesetanan menggerakkan badaku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk dan kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Cici semakin mendesah,

    “Ough.., Mas..”, tiba-tiba Tante Cici memelukku sedikit agak mencakar punggungku.
    “Oughh Mas.., aku keluar lagi..”,

    kemudian dari kewanitaannya aku rasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin terasa, aku dibuat terbang rasanya. Ach rasanya aku sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante Cici.

    “Tante.., Aku keluarin dimana Tante..?, di dalam boleh nggak..?”.
    “Terrsseerraah..”, desah Tante Cici.

    Agen Bandar Togel Ough.., aku percepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh burungku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya spermaku aku muntahkan dalam vagina Tante Cici, masih aku gerakkan badanku rupanya kali ini Tante Cici orgasme kembali, dia gigit dadaku.

    “Mas Didi.., Mas Didi.., hebat Kamu Mas”.

    Aku kembali kenakan celana dalam serta sarungku. Tante Cici masih tetap telanjang telentang di atas meja.

    “Mas Didi.., kalau mau beli rokok lagi yah.., jam-jam begini saja ya.., nah kalau sudah tutup digedor saja.., tidak apa-apa.., malah kalau tidak digedor Tante jadi marah..”, kata tante menggodaku sambil memainkan puting dan clitorisnya yang masih nampak bengkak.

    “Tante ingin Mas Didi sering bantuin Tante tutup warung”, kata tante sambil tersenyum genit. Lalu aku pulang.., baru terasa lemas sakali badanku, tapi itu tidak berarti sama sekali dibandingkan kenikmatan yang baru kudapat. Keesokan harinya ketika aku hendak berangkat ke kantor, saat di depan warung Tante Cici, aku di panggil tante.

    “Rokoknya sudah habis ya.., ntar malem beli lagi ya..?”, katanya penuh pengharapan, padahal pembeli sedang banyak-banyaknya, tapi mereka tidak tahu apa maksud perkataan Tante Cici tadi, akupun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan kejadian kemarin malam.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Pengalaman Ngentot Dapat Perawan Desi

    Pengalaman Ngentot Dapat Perawan Desi


    1802 views


    Perawanku – Ini adalah pengalaman pertama saya melakukan hubungan seksual. Kebetulan pula wanita itu juga baru pertama kali melakukannya. Dia adalah pacar saya. Sebutlah namanya Desi. Memang dia sudah beberapa kali saya ajak ke rumah saya. Tapi setiap kali ke rumah, kami hanya sekedar tiduran dan paling jauh cuma ciuman saja.

    Ceritanya bermula ketika untuk kesekian kalinya dia saya ajak main ke rumah. Awalnya seperti biasanya kami cuma cium-ciuman saja. Cium pipi, cium bibir, hal biasa kami lakukan. Entah setan apa yang lewat di benak kami. Tangan kami mulai berani meraba-raba bagian lain, sebenarnya tidak pantas dilakukan oleh dua insan yang belum menikah. Ketika tangan saya meraba payudaranya (kami masih berpakaian lengkap), dia sama sekali tidak menolak.

    Ini membuat saya sedikit lebih berani untuk meremas payudaranya sedikit lebih keras. Ternyata dia menikmatinya. Saya mencoba untuk melakukannya lebih jauh lagi. Kali ini tangan saya perlahan-lahan saya arahkan ke bagian selangkangannya. Dia masih tidak menolak. Saat itu dia memakai celana panjang dari kain yang tipis, jadi saya bisa merasakan lembutnya bibir kemaluannya. Tanpa saya sadari tangannya juga telah mengelus-elus selangkangan saya. Mungkin karena pikiran saya terlalu tegang, sampai-sampai saya kurang memperhatikannya. Kurang masuk akal memang.

    Tapi itulah yang terjadi. Kepasrahannya semakin melambungkan kekurangajaran saya. Tangan saya mulai menyelinap ke balik pakaiannya. Saya kembali meremas-remas payudaranya. Kali ini langsung menyentuh permukaan kulitnya. Saya lakukan sambil mencium lehernya dengan lembut. Suara desahan lembut mulai terdengar dari bibirnya, di saat saya menyelipkan tangan saya ke balik celana dalamnya. Ada sedikit rasa ragu ketika meraba bibir kemaluannya secara langsung. Saya kumpulkan segenap keberanian saya yang tersisa. Jari tengah saya, saya tekan sedikit demi sedikit dan perlahan ke belahan kemaluannya. Saat itulah dia tersentak dan menahan tangan saya. Dia menatap mata saya.

    “Jangan dimasukkan ya Mas”, katanya.
    Saya hanya tersenyum dan mengangguk. Serta merta dia mencium bibir saya. Sementara jari saya masih mengelus-elus bibir kemaluannya. Lendir yang membasahi dinding vaginanya, mulai merembes hingga ke bibir kemaluannya. Saya mencoba memintanya untuk menyentuh dan memegang kemaluan saya. Ternyata dia tidak menolak. Terlihat jelas di raut mukanya, dia sedikit gugup ketika membuka rensleting celana saya. Dan seakan malu memandang wajah saya ketika dia mulai menggenggam kemaluan saya. Untuk mengurangi ketegangannya saya mencium bibirnya. Selama lebih dari setengah jam kami hanya berani melakukan itu-itu saja. Kemudian saya beranikan diri untuk mengajaknya menanggalkan semua pakaian. Dia terlihat ragu, dan hanya menunduk. Mungkin dia ingin menolak tapi takut membuat saya kecewa.

    “Kamu bener berani tanggung jawab”, katanya lagi.
    Saya terdiam sejenak dan kemudian mengangguk. Padahal dalam hati, saya bertanya-tanya, benarkah saya mampu bertanggungjawab? Dia menanyakannya sekali lagi. Dan saya mengiyakannya untuk kedua kalinya. Diapun mulai melepaskan kancing bajunya. Ketika saya membantunya, dia menolak.

    “Biar Saya sendiri saja.., Kamu lepas bajumu.”, sahutnya.
    Saya menurut saja. Dan tak lama kemudian, tak ada selembar benangpun pada tubuh kami. Telanjang bulat, walaupun dia masih menutupi payudaranya dengan tangan dan menyilangkan pahanya untuk menutupi kemaluannya. Saya memeluknya sambil berusaha menurunkan tangannya. Dia menurut, saat saya kembali meremas payudaranya dengan lembut. Kali ini tanpa diminta dia mau memegang kemaluan saya sambil mengelus-elusnya. Entah karena terangsang atau karena saya mengatakan mau bertanggung jawab tadi, dia menuntun tangan saya untuk mengelus selangkangannya.

    Agar dia tidak merasa malu, saya terus mencumbunya. Dia menikmatinya sambil menekan jari saya ke bibir kemaluannya, yang saya rasakan semakin basah oleh lendir. Dia kemudian merebahkan tubuhnya. Dan saya pun merebahkan tubuh saya di atas tubuhnya. Kami kembali bercumbu. Kali ini sedikit lebih liar. Suara desahan terdengar lebih nyaring daripada sebelumnya, ketika saya mencubit clitorisnya. Ketika saya sudah tidak tahan lagi, saya mencoba “minta ijin” padanya untuk berbuat lebih jauh. Dia mengangguk sambil sedikit meregangkan belahan pahanya.

    Setelah “mendapatkan ijin”, saya mencoba memasukkan kemaluan saya ke liang vaginanya. Tapi sulitnya luar biasa. Berkali-kali saya coba, tetapi belahan itu seakan-akan direkatkan oleh lem yang kuat. Ujung kemaluan saya sampai sakit rasanya. Dan dia pun meringis kesakitan, sambil sesekali memekik kecil, “Aduh.., aduh”. Saya sedikit tidak tega juga. Saya hentikan sejenak usaha saya itu, sambil kembali mengelus bibir kemaluannya, agar sakitnya sedikit berkurang.

    “Masih sakit?”, tanya saya.
    “Udah nggak begitu sakit”, jawabnya.
    Saya mencobanya lagi. Kali ini saya minta dia membuka bibir vaginanya lebih lebar. Tetapi masih susah juga. Padahal kata teman-teman saya yang sudah sering berhubungan seks, kalau sudah basah pasti gampang. Kenyataannya ujung kemaluan saya sampai sakit gara-gara saya paksa masuk. Saya hampir putus asa. Kemaluan saya mulai lemas lagi karena saya menjadi kurang konsentrasi.

    Tiba-tiba saya teringat bahwa saya pernah baca di majalah, ada jenis selaput dara yang sangat elastis dan relatif lebih tebal daripada yang normal. Kepercayaan diri saya mulai timbul lagi. Saya “mengusulkan” padanya, pakai jari saja dulu. Maksud saya supaya agak lebar lubangnya. Dia setuju saja. Walaupun saya sadar selaput dara itu justru akan robek karena jari saya, bukan karena kemaluan saya, cara itu tetap saya lakukan. Dari pada kami (terutama dia) kesakitan, lebih baik begini.


    Mulanya saya hanya menggunakan jari kelingking. Dia hanya mendesah sambil menggigit bibirnya. Kemudian saya lakukan dengan jari tengah, sambil menggerakkannya naik turun. Dia masih hanya mendesah. Kemudian saya masukkan jari tengah dan telunjuk ke liang vaginanya. Dia menjerit halus sambil menahan tangan saya agar tidak masuk lebih dalam. Setelah dia melepaskan tangannya baru saya lanjutkan lagi dengan sangat perlahan.

    Setelah yakin sudah cukup, saya mencoba kembali memasukkan kemaluan saya ke liang vaginanya. Saya menyibakkan bibir vaginanya, sementara dia mengarahkan kemaluan saya. Memang sedikit lebih mudah sekarang. Tapi tetap saja dia merintih kesakitan. Sayapun masih merasakan sakit. Kemaluan saya seperti diperas dengan sangat keras. Setiap kali merasakan sakit (dan mungkin perih), dia menahan “laju” masuknya kemaluan saya. Sayapun hanya berani melakukannya dengan gerakan perlahan. Hati saya benar-benar tidak tega melihatnya merintih kesakitan. Tapi pada akhirnya kemaluan saya bisa masuk seluruhnya.

    Saat pertama kali berhasil masuk, saya belum berani menariknya kembali. Kami hanya berciuman saja, supaya rasa sakit itu reda dahulu. Setelah itu baru saya berani menggerakkan pinggul saya maju mundur, tapi masih sangat pelan. Sementara tangannya tampak memegang erat ujung bantal, sambil terpejam dan mengigit bibirnya. Setelah beberapa lama, kami berganti posisi. Kali ini saya berada di bawah, sementara dia duduk di atas saya. Dia saya minta menggerakan pinggulnya naik turun. Dia hanya beberapa kali melakukannya. Dan berkata, “Aku nggak bisa”, sambil berguling ke samping saya.

    Saya memeluknya dan mengelus rambutnya serta mencium keningnya. Kemudian kembali merapatkan tubuh saya ke atas tubuhnya. Saya memasukkan kembali kemaluan saya ke liang vaginanya. Kali ini gampang sekali. Di dorong sedikit langsung bisa masuk. Dan dia pun tidak lagi merintih kesakitan. Hanya mendesah halus. Saya kembali menggerakkan pinggul saya maju mundur. Saya coba lebih cepat. Rasanya licin sekali. Saya merasakan diantara kemaluan kami sangat basah oleh lendir bercampur keringat. Saya terus melakukannya sambil mencium bibirnya. Kali ini dia lebih erotis.

    Dia sangat suka menghisap-hisap lidah saya, yang sengaja saya julurkan ke dalam mulutnya. Sementara tangannya tak henti-hentinya mengelus punggung dan pantat saya. Sesekali saya jilati puting susunya dengan lidah saya. Namun dia lebih suka kalau saya menghisap putingnya itu. Sebenarnya saat itu saya kurang berkonsentrasi. Pikiran saya masih terbagi. Saya masih berpikir agar tidak membuat dia kesakitan. Mungkin karena itu saya bisa bertahan agak lama. Kalau tidak mungkin saya sudah mengalami ejakulasi.

    Setelah cukup lama, tiba-tiba dia menyentakkan pinggulnya ke atas sambil menekan pantat saya. Saya tidak tahu apakah saat itu dia mengalami orgasme atau tidak. Tapi yang jelas dia menahan posisi itu cukup lama. Setelah itu dia bilang bahwa dia capek. Saya pun mengerti, dan walaupun belum mengalami ejakulasi, saya mengeluarkan kemaluan saya dari liang vaginanya, dan tidur telentang di sampingnya. Sekilas saya lihat, di bibir kemaluannya ada lendir putih yang ketika saya pegang terasa kental dan lengket, namun tidak kesat seperti halnya sperma.


    Sepertinya dia tahu kalau saya belum puas (yah namanya juga kurang konsentrasi). Dia duduk di sebelah saya sambil kemudian menggenggam kemaluan saya. Perlahan-lahan dia menggerakan tangannya naik turun. Saya sangat menikmati perlakuannya ini. Payudaranya kembali saya elus-elus. Sesekali saya permainkan putingnya dengan jari. Kali ini saya tidak bisa bertahan lama. Ketika gerakan tangannya semakin cepat, saya merasakan geli yang luar biasa di ujung kemaluan saya. Dan saya pun akhirnya mengalami ejakulasi. Dia menampung sperma saya dengan telapak tangannya.

    Kemudian membersihkan sisanya dengan tissue. Setelah mencuci tangan serta kemaluannya, dia kembali ke kamar dan mencium saya. Dia kemudian merebahkan kepalanya di dada saya. Sementara saya mengelus-elus rambutnya.
    Saat membenahi kamar sebelum mengantarnya pulang, pandangan saya tertuju pada bekas tissue yang sebagian juga digunakan untuk membersihkan sisa lendir kemaluannya. Terlihat bercak-bercak merah pada beberapa lembar tissue, tetapi tidak banyak.
    Saya memandangnya dan bertanya, “Masih berdarah nggak?”.
    Dia menggeleng, dan menjawab, “Sudah nggak lagi, tadi sudah aku cuci”.

    Setelah itu saya mengantar dia pulang. Kalau tidak salah waktu itu sudah sekitar jam sembilan malam. Saat perjalanan kembali pulang, saya berpikir. Dia sudah mengorbankan miliknya yang paling berharga kepada saya.

    Dia berkorban karena dia percaya pada saya. Belum pernah dalam hidup saya, ada orang yang begitu percayanya pada saya. Bahkan jauh melebihi kepercayaan orang tua saya, yang lebih sering memberikan uang belaka daripada sebuah kepercayaan yang tulus. Kepercayaan yang diberikannya adalah pemberian yang tak ternilai harganya. Saya berharap kebersamaan kami dapat terjalin selamanya.

  • Cerita Mesum Gara Gara Batu Subur – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Mesum Gara Gara Batu Subur – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1801 views

    Perawanku – Namaku nanto dan cerita ini terjadi di tahun ditahun terakhirku kuliah atau lebih tepatnya aku sedang dalam pengerjaan skripsi ketika itu. mungkin aku ingin menjelaskan lebih detail dulu tentang keluarga angkatku ini. ibu angkatku yang biasa kupanggil mama merupakan adik dari istri pertama papa angkatku, istri pertama papa meninggal karena sakit.

    Waktu istri pertama meninggal mbak rani anak kedua papa masih kelas 1 SMA dan mbak ayu sudah kelas 3. mama angkatku ini pernah menikah waktu umur 24 tahun tetapi selama lima tahun dia selalu keguguran dan setelah di berulang kali di”kuret” hasilnya rahim mama angkatku ini terjadi pengeringan permanen karena terlalu seringnya di “kuret. mungkin karena mama angkatku dulu sangat sibuk untuk pekerjaannya. Daftar Sbobet

    Mama angkatku bercerai di tahun kelima pernikahannya dan setehun kemudian papa angkatku memberanikan diri untuk menikahinya, mungkin merasa sudah seperti keluarga sendiri jadi mama angkatku mau menerima papa angkatku itu. lalu sebagai pengganti ketidak mampuan mama angkatku beliau mengangkatku sebagai anak ketika aku masih kelas 6 SD. ternyata papa angkatku setuju dan mbak ayu dan mbak rani senang sekali punya adik seperti ku. aku bukan merasa di tempat orang lain malah seperti benar-benar keluarga ku sendiri.

    itulah sekilas dari sejarah keluarga angkatku. kali ini menceritakan tentang pengalamanku ketika mengejar skripsiku, bukan dengan dosennya. aku mendapatkan pembimbing skripsi dua orang dan kedua dosen pembimbingku itu merupakan guru besar di salah satu PTN luar provinsi jadi mereka jarang sekali ke kampusku yang PTS, kadang hanya sebulan sekali. jadi daripada kelamaan lulus lebih baik aku mengejar kedua dosenku itu yang berada di kota M. tapi aku memang berani ke kota M karena mbak rani tinggal disana bersama suaminya yang sekarang sedang merintis bisnis bersama, bisnis yang mereka bangun adalah team kontraktor proyek yang ternyata sudah berkembang maju, sekarang disebelah kanan rumahnya sudah dijadikan bangunan khusus kantor dan karyawan mereka.

    rumah dan kantor nya sekarang sudah dikelilingi dengan pagar tembok tinggi dan didepan pintu gerbang sudah ada pos satpam yang selalu berjaga 24 jam. mbak rani tidak disibukan dalam proyek tapi hanya sebagai kathering makanan bersama beberapa pembantu lainya, maklum karyawannya sudah banyak dan rumahnya pun sekarang sudah besar jadi mungkin agak repot kalau di urusi mbak rini sendiri. kalau pagi sampe sore rumah rame karena ada pembantu-pembantu mbak rani dan juga oleh aktivitas kantor disebelah rumahnya tapi kalau sudah malam jadi sepi dan hanya ada satpam yang berjaga di depan gerbang.

    aku sampai di rumah mbak rani ketika siang hari dan pas waktu jam makan siang jadi aku mala dikenalkan oleh mas yadi (suaminya mbak rani) kepada seluruh karyawan nya. entah karena mereka semua ramah atau memang mau cari muka dengan mas yadi jadi gak karyawan ataupun karyawatinya sok-sok dekat dengan ku. bahkan skripsiku dibantui oleh mereka tapi apapun itu yang penting skripsiku beres. hehehe. sudah dua minggu aku ada dirumah mbah rani dan setiap hari aku bantu-bantu apa yang bisa kukerjakan meskipun malah aku kena marah pembantu-pembantu mbak rani karena aku malah disuruh istirahat melulu. tapi mmbak rani dan mas yadi malah ketawa aja pas ngeliat ku dimarahi pambantu-pembantunya. jadi dari pada aku bengong aja dirumah mbak rani aku jalan-jalan aja pake mobil mas yadi, kadang ditemani mbak rani kadang sendiri malah kalo mas yadi lagi free kadang kita bertiga jalan-jalan keman-mana sambil liburan weekend.

    sautu hari hari baru pulang dari bimbingan skripsi dengan dosenku dan pulang pake angkutan umum karena mobil dipake semua karyawan. aku buka sendiri pintu gerbang dan kulihat mbak rani sudah duduk didepan teras sambil mainan tabletnya.
    “kok malem sih sampenya?’ tanya mbak rani
    ” dosennya reseh, banyak yang dicorat coret jadi baru pulang deh.” jawabku.
    “masuk yuk..kita makan dulu. mbak laper nungguin kamu di teras dari tadi” ajaknya.
    “mbak..kok gak ada satpam-nya?” tanyaku sambil berjalan menuju kamar tempatku menginap.
    “satpamnya lagi pada dibawa mas yadi buat nurunin barang-barang untuk proyek. mungkin nanti tengah malem baru pulang lagi kesini bareng mas yadi. jelasnya mbak rani.

    aku meletakaan tas yang kubawa di kamar tamu yang disediakan mbak rani untukku dan kemudian aku mandi baru setelah mandi aku duduk di meja makan menunggu mbak rani yang sedang sibuk didapur. ketika makan malam juga tak ada yang aneh. kami ngobrol apa saja dan aku pun biasa saja melihatnya yang hanya mengenakan pakaian tidur seperti daster putih panjang tak berlengan yang terlihat sangat anggun dipakai oleh mbak rani. selesai makan aku dan mbak rani duduk diruang keluarga yang ada tv besar, sambil nonton tv kami terus saja mengobrol.

    “mbak kapan nih ngasih aku ponakan…apalagi mama papa udah pengen juga tuh punya cucu abis kata mama papa aku dah gak lucu lagi hehe…” candaku.
    “hihihi…kamu mah bukan lucu..tapi ‘kunyu’ hihihi…” balas mbak rani.
    “hehe…abis mbak ayu lom punya anak eh..mbak rani juga malah ikut-ikutan.” candaku lagi.

    “iya..gampang..entar kalo mas yadi pulang tak bikinin ponakan deh…hihihi” balas mbak rani.
    “ye..makanya kalo mas yadi lagi pengen jangan disuruh maen sendiri dikamar mandi..hehehe” balasku sengit
    “hihihi…itu mah kamu..kalo mas yadi kan ada tempat pembuangannnya disini (sambil menepuk-nepuk perutnya) hihihi…”kata mbak rani.
    “yah..pantes..gak jadi-jadi dedeknya..lawong malah ditelen sama ibunya..hahaha” balasku sambil tertawa.

    “ye..dasar bocah..hihihi…lom tau enak ya gitu…hihihi..” katanya sambil bangkit berdiri untuk tidur dikamarnya.
    “jangan lupa entar malem bikinin aku dedek ya mbak..hehehe..” candaku lagi.
    “gampang…entar malem tak bikinin selusin biar kamu kerepotan hihi.. ” jawabnya sambil melenggang menuju tv untuk mematikan tv.
    “ih..mbak genit…hahaha” balasku lagi.
    “ye..hihihi..namanya aja lagi malem masbur(masa subur) jadi kebawa-bawa ngerumpi jorok deh..hihihi…dah aku mau tidur entar kalo kelamaan ngobrol jorok ama kamu aku malah gak bisa tidur..” katanya mematikan lampu ruang tengah.
    “ye..itu sih maunya mbak aja pengen diidurin ama mas yadi..haha” balasku sambil berlari masuk kamar.

    klontang…
    “ada apa, to.” kata mbak rani yang datang kedepan pintu kamarku.
    “gak tau nih mbak kayak ada yang jatuh dari meja.” kataku menjelaskan.
    “iya..sih..ini meja sebelahan bangat ama pintu kamar tamu jadi ngeri kalau ada guci atau apa yang jatuh..yuk cari dulu apa yang jatuh..” kata mbak rani sambil muter-muter di sekitar meja.

    “ah…ini mbak..” kataku sambil mengambil sebuah satu kecil seperti batu kali tapi warnanya hitam mengkilat dan halus.
    “oh..ini sih koleksi mas yadi. katanya siapa yang bisa megang ini batu pas direndem di mangkok putih isi air putih berarti dia subur alias bisa punya anak tapi bukan lantaran dari batu ya… hihihi” jawabnya sambil tertawa.
    “lah..kalo orang yang gak bisa megang batunya waktu direndem air berarti mandul ya mbak? kataku penasaran.

    “katanya mas yadi sih gitu. tapi kalo kata mas yadi air rendaman dari batu tadi kudu diminum biar bisa subur dan terus diminum sampe orangnya bisa megang batunya, berarti dia sudah cukup subur.” jelas mbak rani.

    “eh..mbak, udah nyobain lom tuh batu sama mas yadi.?” tanyaku penasaran.
    “udah sih..aku sama mas yadi bisa megang dan pas waktu tes di rumah sakit juga kami berdua emang subur tapi emang belum rejeki punya anak ya jadinya lom jadi-jadi deh dedek-nya hihihi…” jawab mbak rani.
    “ye..kirain tuh batu bisa bantuin.hehehe.” kataku meledek.
    “ya enggaklah..ini cuman mendeteksi dan buat terapi kesuburan tapi dikasih atau belum itu rejeki. eh..mau nyobain gak kamu..?”tanya mbak rani.
    “hehehe…aku lom punya istri to mbak..” jawabku bingung.
    “ya..gak papa..kalo nanti kamu gak bisa megang nanti kan kamu langsung aja minum airnya terus menerus tiap hari sampe kamu bisa pegang batunya.”jelas mbak rani.

    aku duduk di sofa besar yang panjang tempat aku dan mbak rani tadi nonton tv. dari pada bengong nungguin mbak rani ambil mangkok dan air putih aku hidupin lagi tv nya. mbak rani membawa mangkok putih besar seperti baskom yang berisi air putih. kemudian diletakkan diatas meja di depan sofa kami dan mbak rani duduk disamping kananku.

    “nah sekarang tinggal nyemplungin batunya kedalem air yang di mangkok, to.” katanya menyuruhku.
    plung..
    “gak ada apa-apa tuh mbak airnya…?” kataku bingung.
    “ye…somplak…kamu kira kayak di tv keluar sinar-sinar gitu…tunggu lima menit baru coba kamu ambil itu batunya.” jelas mbak rani lagi.
    “mbak..kalo nanti aku bisa ambil batunya boleh gak air rendemannya tak minum?” tanyaku heran.
    “gak papa sih..biar makin subur hihihi” katanya sambil tertawa.
    “emang mbak sama mas yadi lom pernah minum air rendemannya ya?” tanyaku lagi.
    “belom pernah sih..tapi kata mas yadi sih..gak papa kalo mau diminum. emang serius nih mau diminum semua air rendeman sebanyak itu?” tanya mbak rani heran.
    “hehehe…gak sebanyak itu juga sih…kan ada mbak naniti ngewangi setengah. hehe..” kataku dengan tawa.
    “ye…lah kalo aku entar kembung gimana..?” katanya gengsi.
    “hehehe…anggep-anggep terapi bikin tambah subur buat nanti malem gitu lo…hehehe…” ledekku.
    “iya..iya…entar tak ewangi..tapi setengah-setengah loh…aku gak mau kalo gak rata..” katanya mengiyakan.
    “siiip..boss…!” jawabku semangat.

    kulihat jam di hp ku, ternyata sudah lima menit lebih sedikit. dengan dada berdebar-debar aku mulai memajukan tanganku yang sudah kucuci bersih hingga menyentuh air yang ada di mangkok itu tetapi sebelum tanganku menyentuh batu itu ternyata batunya

    bergetar-getar seperti bergerak-gerak sendiri didalam mangkok yang berisi air itu.
    “mbak..kok batunya getar-getar gitu ya..?” tanyaku sedikit takut.
    “o..kamu malem ini lagi masa paling subur..coba genggam aja batunya nanti batunya diem sendiri.” jelasnya dan aku mematuhinya, ternyata memang benar.
    “ah..aku bisa megang batunya mbak..lega aku mbak.” kataku lega.
    “hihihi..aku juga ah..lepasin batunya taroh lagi di dalem air. aku mau coba, aku kan lagi masbur malem ini bisa getar juga gak itu batu.” suruhnya.

    kuletakkan kembali batu kecil yang hanya segenggaman tangan itu kedalam mangkok besar putih yang berisi air putih. kemudian kulihat mbak rani mengulurkan tangannya masuk kedalam air, ketika jari jari tangan yang lentik itu masuk kedalam air batu itu langsung bergetar-getar sendiri.

    “hihihi…batunya getar, to..berarti bener malem ini aku lagi masbur.” kata mbak rani girang.
    “udah tangkep tuh batu…!” suruhku. yang kemudian batu itu sudah ada ditangannya.
    “nih. batunya udah tak pegang sekarang tak simpen dulu di kotak koleksi mas yadi dulu. kamu minum tuh air nya setengah..oke.!” suruhnya.

    mbak rani masuk kekamarnya, kuambil mangkok putih besar itu dan mulai kuminum setenguk demi seteguk. segar sekali air ini belom pernah ngerasain air yang sesegar ini tapi bukan karena dingin ataupun karena dari air kulkas tapi segarnya itu bikin semangat dan badan rasanya rileks dan agak adem ini hati apa kayak gini ya reaksinya. kusudahi minumku ketika mbak rani sudah duduk disampingku lagi dan ketika kulihat airnya sudah terminum setangah labih dikit lah..
    “cie…haus nih kayaknya..hihihi” ledek mbak rani.
    “bawel..nih minum..”kataku memberikan mangkok itu.

    mbak rani meminum air yang ada di dalam mangkok itu. aku menoleh kearah tv dan bersender di senderan sofa. kurasakan badanku yang rileks dan segar tapi kok makin lama makin berasa agak anget ini badanku ya.. dan mbak rani kulihat baru kembali dari dapur untuk meletakkan kembali mangkok besar yang tadi dipakai. dan baru kuperhatikan jika mbak rani itu sangat cantik dan anggun, pinggulnya melenggak-lenggok seperti model yang ada di tv, dia juga terlihat mempesona dengan baju tidurnya yang seperti daster putih berlengan pendek yang tebal dan licin yang panjangnya hanya selutut sungguh baru kusadari pesona indah itu bahkan sekarang aku malah yang terpesona olehnya. entah karena terpesona atau karena apa tapi yang jelas batangku didalam celanaku ini mulai menggeliat dan rasanya lumayan sakit karena kecepit.

    karena tak ingin dibilang kurng ajar aku nonton tv aja dan mbak rani malah gak jadi tidur dan duduk nonton tiv di sebelahku lagi. kami ngobrol lagi tapi obrolannya hanya obrolan tak penting dan banyak diamnya karena aku juga sedang kesulitan dengan badanku yang sekarang malah seperti merinding tapi bukan karena dinginnya malam tapi karena makin lama badanku makin anget dan dadaku ser-seran seakan jantungku berdenyut lebih kencang entah bagaimana dengan mbak rani mungkin dia sedang asyik nonton film di tv yang emang lagi seru.

    aku mulai gelisah karena entah kenapa batangku malah sekarang full tegang dan kuambil bantal di sofa untuk menutupi tegangangku tapi malah seperti menjadi-jadi. kulihat mbak rani kok malah agak gelisah juga ya…apa dia juga sama kayak aku, lagi nafsu. apa jangan-jangan gara-gara minum itu air rendaman batu yang tadi ya. tapi aku sekuat tenaga untuk nafan nafsu dan juga nahan nafas biar gak kayak orang lagi ngos-ngosan walaupun kadang kelepasan dan ternyata mbak rani juga kayaknya lagi ngos-ngosan juga nih. aku makin yakin kayaknya ini gara minum air rendaman batu tadi karena film yang kami tonton juga film action bukan film porno.

    “to, susu mbak kok rasanya kenceng banget ya” kata mbak rani mengagetkankua.
    “kan namanya aja masih muda mbak..”jawabku diplomatis.
    “tapi kok rasanya kenceng padet banget aku aja yang punya kerasa banget bedanya. kalo gak percaya pegang nih.” kata mbak rani sambil membawa tanganku dan diletakkan di kedua susunya.
    “coba pegang, to. kerasa kan padet banget..nafasku rasanya sesek banget nih..” kata mbak rani.

    aku makin gugup dan tak bisa ngomong apa-apa lagi karena tanganku sekarang sudah berada tepat diatas susunya dan kurasakan sepertinya mbak rani gak pake BH.
    “mba..gak.pake.BH ya.?” tanyaku gugup.
    “engh..gak, to. remes, to. biar tau.” suruhnya.

    tangan kananku ku coba meremas walaupun dengan lembut. emang terasa banget apa yang terjadi di susunya, susunya seperti makin membesar dan sangat padet bahkan susu si risa aja kalah. rasanya begitu hangat dan juga padat tapi juga begitu halus dan putingnya terasa sekali karena sedang keras tapi masih kecil.

    “emh..enak to..duh..kerasin dikit..” suruhnya terengah-engah.
    “i.iya..mbak.”jawabku tergagap.
    “pa.det..kan, to. ra.sanya..sesek..ba.nget . a.apa susu.ku jadi ge.de yah..ehmhm” celoteh mbak rani.
    “i.iya mbak..ge.de.” kataku terbata-bata.
    “ehmn..emutin pen.tilnya., to..” kata mbak rani yang sudah memelorotkan baju tidurnya hingga keperut.

    tak bisa lagi aku nolak kalau sudah sepanas ini adegannya. kepalaku langsung ditarik mbak rani ke susunya yang terlihat bulat sempurna dan juga besar putih dengan pentil cantiknya yang segera ku cucupi, dan aku tak menyianyiakan sebelah susunya lagi. mbak rina suaranya sudah tak terkendali lagi tapi masih lirih terdengar dengan tubuh yang terus menggeliat. mulutku berpindah ke susu sebelahnya yang tetap masih kuremas dan kugunakan kedua tanganku untuk berkerja bersama untuk meremasi kedua susu yang luar biasa indah dan menantang itu. aku ingin mencupangi kedua susunya, jadi aku mulai menjilati semua bagian susunya baik yang kanan maupun yang kiri hingga basah kuyup oleh ludahku. saat aku mulai ingin melakukan cupangan mbak rani bersuara untuk memberitahukanku.
    “to, ja.ngan di cu.pang..keta.wan mas ya.di. ja.ngan ya..” katanya mengangkat kepalaku dan mengelus rambutku dengan penuh kelembutan.
    “i.ya. mbak. ta…”belum sempat aku menyelesaikan kata-kata ku mbak rani nyosor bibirku.

    kuhisap dengan penuh nafsu mulut, lidah dan ludahnya sampe mbak rani melepaskan ciumannya dengan nafas yang megap-megap. mbak rani menarik kepalaku lagi untuk berciuman dengan panasnya sambil tanganya menarik kaosku keatas agar bisa terlepas dari badanku, aku melepas ciuman itu sejenak untuk melepaskan sendiri semua bajuku termasuk celanaku walaupun celana dalamku masih kupakai dengan setengah batangku yang sudah keluar dari sisi atas celan dalamku. mbak rani juga melepasi semua yang ada ditubuhnya bahkan celana dalamnya juga. kulihat vaginanya gundul dan tak ada rambutnya sama sekali yang membuatku semakin memanas dan menarik mbak rani untuk duduk bersandar di sofa dan aku bersimpuh di lantai agar aku bisa menjilati vaginanya yang membuatku semakin meronta karena nafsu.

    kujilati dengan ganas bahkan aku seperti kesetanan karena nafsuku sendiri dan jangan tanya bagaimana keadaan mbak rani karena dia sudah lebih gila lagi karena kedua tangannya meremasi kedua susunya sendiri dengan mulut yang selalu mengerang nikmat. kujilati klitorisnya dan kumasukan jari telunjuk dan jari tengahku untuk masuk kedalam vaginanya dan sempit sekali seperti milik si risa tetapi vagina mbak rani berkedut-kedut terus tak seperti risa yang berkedut-kedut jika ingin klimaks. kucari G-spot yang berada didalam vagina mbak rani, agak lama mencarinya karena susah sekali kutemukan malah sebelum G-spot mbak rani kutemukan ternyata dia sudah klimaks duluan sampe aku susah nafas karena dijepit kedua paha putih itu. setelah agak mereda aku jilati lagi klitorisnya dan kucari lagi G-spot mbak rani yang belum kutemukan, sesekali aku seperti menyentuh benjolan datar yang rata di bagian atas vaginanya tetapi agak kesamping kiri mungkin karena letaknya disitu aku yang belum banyak pengalaman jadi gak tau.

    setelah kutemukan G-spot mbak rani aku gosk-gosok g-pot mbak rani dan lidahku terus menjilati clitoris mbak rani. mbak rani meraung-raung seperti orang berteriak dan tak sampai 5 menit, vagina mbak rani nyemprot dua kali walaupun semprotannya kecil tapi sangat kental. aku sempat terminum air squirt mbak rani dan rasanya asin pekat, mungkin karena mbak rani lagi masa subur malam ini.
    “udah…udah..to..ampun..to. ngi.lu..” kata mbak rani.

    aku berenti dan berdiri didepan mbak rani dan tangan mbak rani langsung menggapai celana dalamku dan menurunkannya. seperti risa dulu, mbak rani pun terlihat sedikit terkejut entah karena ukuran batangku atau karena batangku yang langsung memukul wajahnya.
    “to, punyamu subur banget.. beda ama mas yadi…hihihi” kata mbak rani dengan mata memperhatikan batangku.
    “hehehe..maaf mbak panjang banget bulunya heheh..” kataku mengira-ngira.
    “ye..maksudku punyamu ini nih…” katanya yang langsung mencaplok batangku kedalam mulutnya.

    dan kejadian bersama mama angakat dan risa pun terulang lagi karena mbak rani juga hanya bisa mengulum kepala dan sedikit leher batangku. mulutnya seperti roda yang bisa memutari batangku yang masih didalam mulutnya. tanganya membantu mengocoki batangku yang tak terkulum mulutnya dan kemudian kepalanya maju mundur di batangku. beberapa kali mbak rani seperti tersedak dan mengeluarkan batang lalu mbak rina manarik batangku agar aku rebah menindihnya walaupun tak sepenuhnya menindih mbak rani karena mbak rani posisinya duduk bersender tetapi agak rebah. mbak rani menarik kepalaku dan kami berciuman dengan agak panas. kurasakan kepala batangku dioles-oleskan di depan vaginanya kemudian sebelah tangannya mendorong pantatku.

    ku dorong pantatku perlahan untuk memasukkan batangku kedalam vagina sempit yang penuh denyutan nikmat itu. mbak rani seperti menggigit bibirku tapi kubiarkan saja dan terus kudorong tapi batangku terasa buntu setelah setengah batangku masuk. mungkin perlu perlahan jadi aku mengangkat pantatku agar batangku mulai tertarik keluar dan kemudian kudorong lagi untuk masuk dan terus-menerus kulakukan sampai terasa lancar. karena sudah lebih lancar aku pun mendorong lagi batangku untuk masuk lebih dalam dan ternyata masuk juga sedalam-dalamnya sampai kepala batang dan leher batangku seperti memasuki lubang lagi, seperti memasuki lubang kedua tapi entahlah aku tak tau apa yang terjadi didalam sana. mbak rani melarangku untuk mulai menggenjotnya.
    “ben.tar, to. pu.nyamu..men.tok ba.nget di.tem.patku..” kata mbak rani terengah-engah sambil meringis.
    “i.iya mbak. tapi pu.nya mbak..e.nak ba.nget..” kataku menghibirnya dengan kejujuranku.

    mbak rani tersenyum dan menyuruhku mulai menggenjot tapi pelan pelan dulu katanya. jadi mulai kutarik lagi batangku hingga setengah dan kumasukkan lagi batangku hingga ambles. setiap batangku masuk sampai ambles mbak rani terdangak keatas dengan mata tertutup rapat tetapi mulut menganga. kucium mulut mbak rani ketika aku ingin mempercepat genjotanku. genjotan-genjotanku makin mala makin cepat bahkan otak ku seperti tidak berfungsi lagi untu berfikir apapun karena semua fokus dan konsentrasiku sedang memburu nafsu meraih klimaks.

    genjotan-genjotanku membuat mulut mbak rani mengerang cukup keras dan tak lama kemudian mbak rani sudah kelojotan dengan vagina meremas batangku dengan kuat sekali sampai-sampai aku gak bisa lagi menggenjot batangku. mbak rani kolojotan menjemput klimaksnya dengan begitu indah kulihat. dan aku tak perlu menggenjotkan batangku karena remasan-remasan yang dilakukan vaginanya sungguh luar biasa sekali bahkan melebihi risa.
    “ah..ah.. ka.mu su.bur ba.nget, to.” kata mbak rani setelah agak reda dari klimaksnya.

    aku tak mempedulikan ucapannya karena tadi aku sedang enak-enaknya dan sekarang aku mulai lagi menggenjot tubuhnya dengan kuat dan tekanan-tekanan yang sangat nikmat hingga mentok semua batangku. pompaan-pompaan batangku di dalam vagina mbak rani sampai-sampai menimbulkan suara kecipak dari vaginanya yang sudah basah dan tepukan-tepukan selangkangan kami mengalahkan suara tv yang sering terdengar tembakan-tembakan dari film. aku semakin heran pada vagina mbak rani yang sungguh membuatku lupa diri, vaginanya begitu menjepit kuat dan sering berdenyut-denyut walaupun vaginanya sudah banjir sebanjir-banjirnya. kepalaku sudah tak bisa berfikir apapun kecuali berusaha menggapai klimaks ku yang kurasakan akan datang dan semakin dekat, denyutan vagina mbak rani makin intens dan itu sangat membuatku lupa diri.

    suara mbak rani sudah kayak orang minta tolong, teriakannya membuatku takut dikira aku memperkosa mbak rani. kulumat bibirnya agar tak lagi teriak dan kupompa sekuat tenaga ku, terus, terus dan terus. semakin lama batangku semakin berkedut-kedut seakan mempersiapkan tembakan ku dan vagina mbak rani pun ikut berdenyut-denyut seirama seakan ada interaksi diantara keduanya. ketika aku sudah tak lagi bisa mempertahankan spermaku ternyata mbak rani teriak didalam mulutku keras sekali dengan tubuh yang kejang-kejang seperti orang sekarat.

    vaginanya mencengkram begitu kuat dan meremas dengan nikmatnya, aku tak mampu lagi untuk menahan walaupun sedetik lagi. ciumanku terlepas dan pantatku menekan kuat ke vagina mbak rani. semprotan demi semprotan sperma ku tembakan, nikmatnya terasa lama sekali dan entah berarapa kali aku menembakan sperma ku tapi aku merasakan banyak sekali yang kusemprotkan bersamaan dengan erangan nikmat kami berdua hingga kami berdua sama-sama lemas dalam pelukan yang begitu memuaskan. setelah agak reda aku mencium bibirnya dengan lembut dan dibalas mbak rani dengan ciuman basah yang lembut pula dengan di iringi sisa-sisa nikmat klimaksa yang masih terasa begitu nikmat.

    setelah kami sama-sama sudah agak reda kami saling menatap mata dengan batangku yang masih agak tegang terendam di vaginanya, mata mbak rani sayu menunjukan kepuasan dan kelegaan.
    “to, jangan kasih tau mas yadi ya..?” kata mbak rani mengingatkan.
    “iya, mbak. maaf kalau aku sampe begini. aku gak bisa nahan nafsu.” kataku meminta maaf.
    “aku juga, to. aku kok malah gak bisa nahan nafsu gini ya. apa jangan-jangan gara minum air rendaman tadi ya?” tanyanya padaku.
    “mungkin juga mbak, karena pas udah minum aku badanku jadi agak panas dan ngaceng terus” jelasku.
    “aku juga abis minum air itu punyaku langsung basah terus kedut-kedut gatel gitu, to. sampe heran aku kok bisa sampe dapet 3 kali” kata mbak rani bingung.
    “mbak, punyamu enak banget. suempit tenan, gigit-gigit gitu mbak. ah..beruntung amat ya jadi mas yadi.” kataku memuji.
    “ye…itu sih punyamu aja yang terlalu subur…hihihi” jawabnya sambil tertawa dibawah tindihan tubuhku.

    Tiiin…(suara klakson mobil).
    aku dan mbak rani langsung berbenah diri. aku disuruh mbak rani membuka pintu gerbang dan mbak rani masih dengan telanjang berlari menuju kamarnya. tangan kiri memegang baju dan celana dalamnya sedangan tangan kanannya membekap vaginanya agar spermaku tak tercecer saat dia berjalan. dan malam itu berlalu seperti biasanya. dan seperti biasanya juga, kejadian bersama mbak rani menjadi kejadian pertama dan terakhir karena baik aku dan mbak rani sama-sama gak mau menghianati mas yadi. tetapi sering bila aku nonton tv berdua dengan mbak rani kadang meledekku.

    “punyamu jangan dikasih pupuk lagi ya…! entar malah ngalahin pentungan pak satpam…hihihi” cadanya bila kami berdua.
    “mbak kemaren aku keluar di dalem…gi.mana..kalau..” tanyaku gugup.
    “ye..emang mbak anak kemeren sore apa..” jawab mbak rani.
    “duh..serius aku mbak. aku takut di bunuh mas yadi…” kataku takut.
    “hihihi…berani berbuat berani bertanggung jawab donk..” katanya yang membuatku panik.
    “ah…mbak..aduh aku gimana mbak…aku blom siap mati nih…” kataku ketakutan.
    “hihihi…kamu lucu kalau lagi panik. pokoknya kamu tenang aja. mbak seminggu ini minum pil kb. itu juga gara-gara mani-mu itu…” jelas mbak rani.
    “kok gara-gara mani-ku?” tanyaku bingung.
    “iya..gara-gara kamu terlalu subur, itu mani banyaknya bukan main. pas sampe kamar mandi itu mani keluar terus-terusan sampe pegel kaki-ku kelamaan jongkok.” jelas mbak rani.

  • Galeri Foto Nozomi Aiuchi Lagi Sange Emutin Dildo

    Galeri Foto Nozomi Aiuchi Lagi Sange Emutin Dildo


    1800 views

    Perawanku – Aduh Model ini wik wik wik pakek Dildo ne, kalau bos ku  yang lagi sange wik wik wik nya pakek Galeri Foto Model ini aja ya , di jamin bikin crot bos ku :

  • Cerita Hot Kenikmatan Malam Pertama – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Hot Kenikmatan Malam Pertama – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1800 views

    Perawanku – Saya Nisa, Statusku sekarang sudah mempunyai teman hidup. Setelah sekian lama kita menjalin relasi tanpa tanda yang formal dari KUA akhirnya cepat tadi lebih kurang pukul 08. 00 disaksikan orang tua, dua saksi sah dan ratusan orang daripada pihak mempelai pria ataupun waNisa, abdi telah formal menjadi serasi suami perempuan yang telah nyata, resmi, & bebas untuk melakukan tumpuan seks saat saja yang mana saja indah siang, silam, dikamar, didapur, dikamar membasuh, ditengah wisma, sambil intensif, sambil nonton TV, terpangkal kata peti penghulu tadinya bilangnya lepas sebebasnya usul sesuai secara aturan kepercayaan yang kita anut.

    Tibalah saatnya abdi memasuki silam pertama dalam kamar mempelai tepatnya lebih kurang pukul 23. 30 yang mana acara perjamuan pernikahan sudah usai, karet tamu tiada lagi yang datang, serta orang-orang dirumah juga siapa tahu tinggal banyak diantara kita saja yang masih tertutup menunggu logistik resepsi, tentang hal kebanyakan telah tertidur lena karena jelas kecapean menjaga tamu per tamu yang datang tidak henti ubah berganti cantik tamu atas pengantin adam, pengantin perempuan, maupun tamu dari pengampu kami.

    Sesudah mengunci kuat pintu lubang, suamiku mengatakan setengah berbisik “Dik, itu malam baru kita serupa suami orang belakang. Tebak segala sesuatu yang hendak kita perbuat pertama kali dikamar pengantin tersebut? ” Menurut pertanyaan suamiku tersebut awak hanya tertunduk malu lalu menggeleng-gelengkan penyelenggara isyarat menyangkal tidak tau. Padahal sesungguhnya dalam hatiku banyak sekali yang ingin kuungkapkan, namun sebab aku segan jadi cuma bisa teringa-inga tanpa mampu berkata-kata.

    Sewaktu-waktu kulihat roman suamiku yang tak jeda menatap wajahku sambil tersenyum hingga walhasil dia memakai telunjuknya untuk menganggat daguku agak tidak terus tertunduk. Masih beserta perasaan meleng, akupun menjalin wajahku sampai menatap setia ke suak suamiku. Kulihat suamiku balik tersenyum yang reflek kubalas senyuman suamiku itu secara senyuman segan.

    “Abang kendi sekarang sudah biasa menjadi teman hidup adik, tidak perlu meleng seperti itu sedang dong! Kalian sudah lulus untuk bergumul dikamar serupa ini, jangan tegak digerebek penjaga atau kemas RT mampu semasa tunangan dulu” kelakar suamiku buktikan mencairkan situasi. Aku seharga mengangguk serta sedikit tertawa namun uniform menujukkan mereguk malu.

    & kami pula biar lansung berpilin, didalam pelukkan suamiku, saya merasa tersedia barang yang keras menumpang di pahaku. ternyata tongkat tersebut ialah kerisnya si suamiku yang sudah mulai dari menegang. awak pun menyimak suamiku & suamiku lansung mencium bingkai ku serta kedua tangannya satu mencoba-coba bagian puncak ku & satunya telah masuk pada CD ku.

    Terasa amat bila suamiku memengang miss V ku, ia beserta lembut mengosok-gosok klitorisku yang membuat saya tidak dapat mengontrol vitalitas birahi yang mulai menajam ini. Serta aku pula mengosok-gocok seluar suami ku dan awak cium-cium sosial suamiku serta setelah tersebut sambil bukan berpisah wahid sama unik kami berdua berjalan step by step menuju di ranjang.

    Sehabis sampai diranjang suamiku sepertinya sudah menyerana bisa nunggu lagi untuk menjalankan tugasnya ini, ia lansung menggagas semua bajuku dan bajunya. Ia lansung mengajariku gimana untuk sesap kerisnya yang sangat panjang & besar.. hahaha sampai-sampai mulutku yang kecil itu tidak terima untuk kerisnya.

    Aku pula biar berusaha agar tidak meniadakan suamiku, saya jilat serta hisap lembut keris suamiku kadang awak melirik karakter suamiku yang sedang mereguk serviceku yang amatir tersebut. Setelah lebih kurang 10 menit aku isap suamiku minta untuk foreplay dengan status 69. Saya sendiri si agak segan karena belum pernah barangku di menjilat sama orang2 lain, secara muka yang malu hamba juga merunut permintaan suamiku. Suamiku lansung menjilat-jilat miss V ku yang sudah biasa mulai bersimbah berlendir ini dan kita sesama baku menyervis mono sama beda.

    Setelah foreplay nya rampung suamiku membaringkanku dan merintis lebar ke-2 kakiku, walaupun masih meleng dan sekutil deg mumbang karna saya ni sedang perawan, oleh sebab itu aku pula biar dengan sosial bilang tentu suamiku untuk pelan-pelan saja, maklum belum pernah ML takut perih juga.

    Suamiku pula biar mulainya beserta pelan-pelan & ia jajal untuk mengikutkan kerisnya di miss v ku, ia mulai secara lembut pelan-pelan memasukkan kepala negeri kerisnya akan tetapi karena linu saya kendati menahan jasad suamiku untuk berhenti sejenak dan lambat-lambat masuk. Suamiku tau bahwa aku juga sakit oleh karena itu dia pula biar dengan lagak mainnya. Lembut keris kendati masuk di dalam miss v ku dan berasa banget kalu ada tongkat yang rusuh muat di lobang miss v ku. dan sentimen itu rumit untuk disebut “sakit aduk enak”.

    Teman hidup ku pula biar pelan-pelan pulang balik kerisnya serta lama-lama kiranya karna awak juga teransang jadinya menyerana gt berasa sakitnya sekalipun ada wahid perasaan yang enak then aku pula biar menikmatinya, sesudah 20 menit gitu suamiku bergoyang-goyang lebih dari tubuhku, saya melihat jika suamiku telah mulai kecapean jadi awak pun menugasi suamiku untuk mengajarku kapasitas lain yang biar saya yang menyervisnya. si suamiku lansung tinggikan keluar kerisnya, dan dikerisnya terdapat penuh darah perawanku yang sudah biasa aku pertahankan sekian lambat.

    Dan suamiku lansung menyemayamkan diranjang & menyuruh awak untuk menaikinya “ya sumbuk lagi nunggang kuda” suamiku menyuruh saya untuk bergerak dan dia menempatkan tangan ku pada dada nya untuk jari-jariku bisa tampil sama klitoris nya. Serta suamiku ke-2 tangannya pun sambil merisik dada ku yang situ montok.

    Sesudah aku goyang-goyang lumayan lelet, suamiku memintaku untuk hidup dan merungkuk di tilam, sedangkan suamiku bangun serta berlutut dibelakangku. ia membawa pinggulku & menusuk daripada belakang. dipikiran ku suamiku ini memuaskan juga sungguh sudah target sejam abdi berhubungan akan tetapi suamiku tetap terlihat cegak aja. & suamiku pula dorong-dorong awak dari besok.

    Makin didorong terasa kesebatan dorongannya bertambah cepat, lekas, cepat, serta makin segera, habis tersebut suamiku lansung ambil tampak kerisnya & lansung melegarkan badanku untuk berbaring serta menyemprot maninya di mukaku. Maninya yang menetes lalu ku berasa panas & ada lumayan bau. Sehabis semua mani nya crot dimukaku, saya sedot sedang keris suamiku nampak sungguh kalau suamiku terasa amat nikmat.

  • Kado Istimewa Dari Kakakku

    Kado Istimewa Dari Kakakku


    1800 views

    Perawanku.com – Sebelum aku memulai kisah ini, aku akan menyamarkan semua nama termasuk namaku sendiri karena aku tidak mau nantinya aku menerima malapetaka dikemudian hari. So, cerita kumulai sekarang ya?

    Hari itu sabtu, pas dalam minggu dihari kelahiranku yang ke-17, jadi orang tuaku sengaja mengadakan pesta Ulang Tahun untukku, anak lelaki satu-satunya. Maklum saja aku anaknya pemalas banget soal pesta-pestaan, alias kutu buku banget dan smart di sekolah, berbeda dengan kakak perempuanku yang satu-satunya juga, badung dan ogah-ogahan kalau disuruh belajar (padahal pintar juga sekolahnya loh, sampai lulus SMU dia tidak pernah lolos dari urutan 10 besar dalam ranking sekolahnya).

    Dasar kakak cewekkku ini badung, dia tidak ada selama sore hari saat berlangsungnya pesta, kemana ya, aku juga jadinya agak sedih sedikit. Bukan mengharapkan kado darinya, tapi dengan kehadirannya saja aku tentu akan sangat senang sekali, karena minimal aku bisa memperlihatkan pada teman-teman cewekku di sekolah (yang kuundang ke pestaku) bahwa dikeluargaku juga ada cewek kecenya yang tidak kalah kece dari semua teman paling kece di sekolahku).

    Pas acara sudah mau berakhir, yaitu acara disco bebas, aku lagi bengong-bengong melihat teman-temanku ajojing, nah kakak cewekku satu-satunya pulang juga. Wah happy banget aku, maklum saja kami memang cuma 2 bersaudara, tidak punya saudara kandung lain. Dia sih sudah kuliah tahun ke-2, sedangkan aku masih SMU kelas 2.

    “Jon.. selamat Ulang Tahun yah.. sorry aku kagak bawa kado..” kata Fifi sambil mengajukan tangannya untuk bersalaman setelah melihat tumpukan kado di atas meja. Wah dia pulang saat temanku belum bubar saja aku sudah happy banget, boro-boro mikirin kado deh, habis salaman kupeluk kakakku dengan kegirangan (kami memang akrab sekali sebenarnya, jadi biasa saja pelukan). Kakakku tidak lupa memberikan sesuatu yang membuatku kaget juga, yaitu ciuman di pipi kiri-kanan di depan teman-temanku. Gile bener.. akrab sih akrab sama kakak, tapi untuk ciuman baru kali ini kuterima sejak beranjak dewasa. Di belakang sih terdengar suara tepuk tangan dari teman-temanku. Mungkin bagi yang belum kenal dipikirnya pacarku datang kali, tapi bagi yang sudah tahu yah entah apa pikirannya deh. Habis biarpun kakakku tingginya 170 cm, tetap saja kalah tinggi denganku yang 175 cm saat itu.

    Kadang-kadang, aku memang suka membayangkan bentuk tubuh Fifi. Soalnya memang dia kece sih. Terlebih sejak aku mengalami mimpi basah pertama kali waktu SMP 1 dulu. Lah yang kuimpikan saja kakakku kok, si Fifi ini. Wajahnya seperti artis Hongkong deh, putih cantik dan benar-benar kece berat pokoknya. Paling hebat saat aku melihat dia cuma berbikini saat berenang, selebihnya wah cuma dalam mimpi. Sedangkan untuk pacaran. Wah aku belum berani, soalnya cita-citaku ranking satu terus, dan idolaku yah si Fifi yang sudah muncul sejak mimpi basah pertama kali dulu. Heran yah?

    Waktu mau bubaran pestanya, temanku yang jadi DJ iseng banget, dia muterin lagu buat slow dance, dan aku disuruh mengajak cewek pilihanku (biasanya sih kalau saat-saat begini, yang ultah ngajak orang yang di taksirnya untuk berdansa) turun dan memperkenalkan pada seluruh tamu, wah brengsek. Memang gosipnya ada beberapa cewek yang naksir padaku di sekolah, tapi aku cuek bebek, kurang begitu peduli sama mereka semua, padahal mereka-mereka itu kece dan cantik-cantik juga loh, dan rebutan cowok-cowok di sekolahku. Bukan apa-apa, kalau aku naksir yang satu kan yang lain bakalan hilang, mundur teratur, nah mendingan aku tidak memilih satu orangpun? jadinya bisa nempel sama semua cewek kece.

    Nah teman brengsek ini menyuruhku untuk mengajak satu cewek untuk slow dance, seolah mengumumkan siapa cewek pilihanku. Yah sulit dong.. Gile juga.. Tapi akalku jalan cepat sekali, si Fifi kudatangi walaupun lagi mojok di dekat orang tuaku (tapi tidak ngobrol, jadi bagi yang belum kenal Fifi, tetap saja menganggap Fifi cuma temanku). Fifi agak terkejut sedikit waktu tahu dan sadar dia yang kuajak slow dance, tapi belum berkomentar apa-apa. Begitu kami masuk ke tengah-tengah arena slow dance, di tengah kerumunan pasangan lain baru Fifi berbisik, “Jon… kok ngajak aku slow dance-nya sih?”
    “Iya Fi.. aku belum punya cewek sih..”
    “Kan banyak teman elu yang kece-kece tuh..” masih sambil berbisik.
    “Yang kece sih banyak Fi.. tapi yang sekece kamu mana ada..” rayuku pada kakak sendiri.
    “Gelo loh.. cewek kece banyak begitu disia-siakan..”
    “Beneran Fi.. nggak ada yang cantik dan dewasa seperti kamu, semuanya ABG doang..”
    Fifi tidak menjawab lagi, tapi menaruh kepalanya pada pundakku. Harum rambutnya yang tadi sore keramas bercampur dengan sedikit keringat kepalanya di hidungku begitu merangsangnya. Begitu kugeser kepalaku sedikit mendekati telinganya lagi, kali ini makin jelas aku mencium parfum si Fifi yang dipakai pada belakang telinga. Kakakku ini seru loh, suka memakai parfum lelaki! Dan aku mengikuti dia dalam merk parfum. Cuma berhubung bau badan kami beda dikit yah tetap saja aku terangsang mencium bau campuran parfum dan bau badan Fifi. Batang kemaluanku ngaceng berat waktu itu.

    Begitu Fifi sadar, aku membaui sekitar belakang telinganya, dia memelukku lebih erat lagi. Alamak.. Cukup terasa juga payudaranya menekan dadaku. Wow.. empuk-empuk nikmat (memang nikmat?!) Pokoknya menimbulkan sensasi tersendiri. Mungkin yang merasakan nikmat si cewek kali kalau bersentuhan dada begitu. Aku sebagai lelaki sih rasanya enak-enak saja.

    Sepanjang lagu yang satu itu, tanganku yang tidak memegang tangan Fifi kusuruh menjelajahi punggungnya. Dari dekat lehernya sampai ke pinggangnya. Berhubung Fifi memakai gaun malam mini, yah dia tidak perlu pakai rok-rok segala dong, kan jadi satu sama atasan, eh baju terusan itu. Mini tuh maksudku masih setinggi pertengahan paha. Nah saat aku mengusap-usap pinggang Fifi, aku tidak begitu merasakan adanya garis celana dalamnya.

    Timbul niat isengku pada kakak sendiri, sekalian mau tahu juga.
    “Fi.. kamu nggak pakai celana dalam yah?” kataku sambil berbisik di telinganya.
    “Eh.. enak saja.. aku pakai tahu.. nakal loh Jon nanyanya!” jawab Fifi sambil berbisik.
    “Kok nggak berasa dipegang Fi.. batas celana dalamnya..” bisikku lagi penasaran.
    “Coba elu rabanya turun lagi dikit..” balas Fifi sambil berbisik juga.

    Lalu kuraba mengikuti petunjuknya, kali ini buah pantatnya terpaksa harus kuraba-raba. Dan merabanya makin turun saja. Benar juga, akhirnya ketemu dan kutelusuri garis batas celana dalamnya. Dilihatin orang nih dansanya. Nekat kali aku meraba makin ke bawah. Ha! Gile apa.. ini kakak sendiri friends. Rabaanku berjalan ke samping saja, menelusuri pelan-pelan garis celana dalam Fifi yang memang sepertinya cuma segaris itu. Oh.. aku tahu sekarang, celana dalamnya model tali saja dan dipakainya berbentuk V.

    “Fi.. celana dalam elu modelnya aneh banget sih.. makanya kukirain tadi kagak pake celana,” kataku masih berbisik.
    “Makanya elu cari pacar dan pacaran.. nanti jadinya tahu..” balas Fifi masih bisik-bisik saja.
    “Kalo pacarku seperti kamu sih boleh saja Fi..” balasku mesra.
    Wah pembaca, jangan heran kami bisa ngomong bebas begini kan karena memang akrab.

    Dalam kepalaku timbul juga perasaan cemburu sedikit saat itu. Wah.. sialan siapa saja nih yang sudah pegang-pegang si Fifi sampai dia perlu pakai celana dalam sexy seperti itu. Sialan… mau kuhajar saja rasanya. Belum tahu kali tuh cowok, adiknya Fifi jagoan taekwondo, karate sekaligus Merpati Putih.

    Eh lagi enak-enak memeluk Fifi sambil goyang-goyang lagunya habis.. sialan, temanku mengganti jadi disco lagi. Yah sudah bubaran deh slow dance-ku dan Fifi. Aku masih melihat-lihat teman yang lain, si Fifi menghilang entah kemana. Karena acara terakhir pesta rumahan adalah disco, yah tidak lama setelah itu bubar deh pestanya, masak anak SMU pesta di rumahan sampai lewat jam 12 malam sih? nggak sopan dong (anak ranking 1 nih yang bilang, aku!).

    Persis jam 12 lewat 5 menit, teman terakhir sudah tidak kelihatan mobilnya. Aku yang capek banget rasanya mau tidur saja deh, sambil mikirin Fifi. Kemana yah dia? Urusan kado besok saja lah. Tidak mungkin ada yang ngambil ini. Aku naik ke atas dan langsung masuk ke kamarku. Melepaskan pakaian dulu lalu masuk kamar mandi pribadi dan bersih-bersih. Masih bugil aku balik ke ruangan ranjang. Ah biasanya tidur pakai CD, kali ini mau nyobain bugil ah, sudah gede ini, kan 17 tahun. Yah badanku yang gede dan anuku juga cukup gede kok. Panjangnya sih cuma 15 cm saja.

    Karena AC kamarku cukup dingin, aku biasa tidur memakai selimut (Tidak lucu sebenarnya, kalau memahami kesehatan, saat tidur itu bagusnya tubuh kita tidak dalam keadaan ‘terikat’ dan udara yang kita hirup sebaiknya memang sekitar 18-24 derajat celsius. Jangan lebih panas dan jangan lebih dingin. Itu baru tidur sehat. Eh ini kata dokter Joni loh hehehe coba saja iseng tanya dokter beneran.) Kan bule-bule dalam film banyak yang tidur bugil toh?

    Masih berbaring, pikiranku melamun pada peristiwa slow dance bersama Fifi, kakak tercintaku. Saat dance tadi aku sih lupa apakah ngaceng atau nggak, tapi saat mikirin aku inget. Ngaceng kenceng! Gile kupegang si Junior, malah makin bikin tenda di selimutku jadinya. Yah kuusap-usap sayang deh juniorku. Tentu saja sambil membayangkan bagaimana bentuk tubuh si Fifi yang polos dalam keadaan bugil sepertiku, apalagi sambil menari bareng. Wow.. asyik loh.

    Aku berhayal.. Tubuh si Fifi mulus tanpa cacat (sepertinya memang belum pernah luka sih, paling bekas suntikan cacar di pahanya) payudaranya yang lumayan mantap kalau dipegang, dengan puting cukup besar sehingga enak dikulum. Lalu perutnya yang datar dan rata karena hobbynya aerobic dan fitness, dan pantatnya yang aduhai montoknya, tadi saja saat kupegang waktu slow dance mantap banget rasanya.

    Eh lagi enak-enak berhayal begitu, tiba-tiba pintu kamarku diketok. Tok.. tok.. tok.. cuma tiga kali dan tidak kencang. Karena kebiasaan menjaga privacy di keluarga kami, sebelum masuk harus ketok pintu dulu, aku sih tidak pernah mengunci pintu.

    “Siapa?” tanyaku.
    “Aku Jon..” jawab suara yang tidak asing lagi, sepertinya berbisik tuh.
    Wharakadah! gadis yang sedang kuimpi-impikan muncul mendatangiku friends! Aku terdiam bingung.
    “Jon.. elu belum pulas kan?” tanya Fifi dari balik pintu. Lalu diam menunggu jawabanku. Wah gimana nih.. aku sedang bugil dalam selimut begini. Ah biarin deh.
    “Boleh masuk Jon?” tanya Fifi lagi, padahal aku baru mau menyuruhnya masuk, tapi belum sempat.
    “Iya, masuk saja Fi..” kataku cukup keras supaya jelas terdengar olehnya, kalau pelan-pelan entar dia tidak jadi masuk lagi, kan bikin sedih jadinya.

    Si Fifipun masuk juga, setelah menutup pintu kamar, dia berbalik dan, “Jon lampunya dinyalain yah?” tanya Fifi. Maklum sebelum naik ranjang, lampu terangnya kumatikan, cuma sisa lampu kecil saja, jadi remang-remang. Wah benar juga idenya, jadi aku bisa melihat jelas tubuh Fifi, sepertinya cuma memakai baju tidur waktu bayangannya terlihat saat memasuki kamarku.
    “Iya deh..” jawabku, lalu sadar, wah.. entar senjataku yang ngaceng kelihatan dong!
    “Eh…” belum sempat aku ngomong lagi, si Fifi sudah menyalakan lampu. “Blar..” terang deh.

    Aku memperhatikan Fifi. Dia memakai baju tidur favoritku, karena model baby doll, terusan cuma melewati pantatnya dikit, warna kuning muda dan agak transparan. Biasanya kalau dia berdiri membelakangi lampu sih kelihatan bentuk tubuhnya, dan pakaian dalamnya. Kali ini belum kelihatan, kan lampunya di tengah ruangan, sedang dia masih dekat pintu.

    “Ada apa Fi?” tanyaku bingung juga dan heran, ada apa malam-malam waktunya tidur begini dia datang yah? Kalau masih sore sih aku tidak heran, paling dia mau nanya soal komputer atau soal mobilnya.
    “Eh sebelumnya sorry loh Jon..”
    “Kenapa?” langsung kupotong saja.
    “Aku kan belum ngasih kado buat elo.. kagak kepikir mau ngasih apa sih.” lanjut si Fifi mencoba senyum menghiburku kali. Wah bener juga.

    Aku memang tidak sempat memikirkan Fifi ngasih kado atau tidak, dia mau slow dance denganku saja rasanya aku happy banget. Lalu sekarang mau apa lagi nih? “Ah nggak apa-apa Fi.. nggak masalah soal kadonya.. aku punya kakak sebaik elu saja sudah merupakan kado yang indah setiap hari..” kataku. Lalu si Fifi berjalan menghampiri ranjang sambil melihat mataku terus. Wah untung tidak melihat ke arah juniorku. Masih ngaceng man! banyangkan sendiri deh cewek kece, seksi sedang berada di dekat kamu, di ranjang yang sedang bugil. Dan sambil tersenyum manis sekali pada kamu.

    Sewaktu dia makin mendekatiku, aku menggeser ke tengah ranjang, jadi dia bisa duduk di tepi ranjang kalau memang mau ngobrol agak lama. Nah saat makin dekat itulah lampu kamar dibelakangi olehnya. Wow.. bayangan mulus tubuhnya yang sempurna sekali (nggak kayak gitar kok, tapi melengkung dan meliuk indah) makin jelas saja terlihat. Benar saja dia duduk dekat pinggangku, persis sebelah pinggang dan juniorku yang ngaceng berat. Selimutku yang bergeser membuat si junior mengangguk-angguk kegelian karena gesekan itu. Tangan kiriku yang masih dalam selimut terpaksa harus memegangi si Junior nih. Fifi berlagak tidak melihat dan tetap senyum manis sekali.

    “Jon.. aku mau ngasih kado spesial buat elu, tapi.. elu nggak boleh cerita sama siapapun juga, setuju?” Langsung saja aku mengangguk, walaupun bingung menduga-duga kado spesial apaan, apakah Blow Job? Belum tentu, terusin saja baca ceritanya.
    “Janji yah Jon..”
    “Saya berjanji, Fifi kakakku tersayang..” kataku menegaskan dari sekedar mengangguk.
    “Jon, Fifi mau tahu.. kamu beneran belum pernah pacaran? maksudnya nge-date berduaan ama cewek?” tanya dia.
    “Bener Fi.. kan tiap malam minggu, kalau kagak ada pesta ultah, yah aku di rumah saja kok surfing di internet, kamu sih kelayapan melulu malah ninggalin aku sendirian kalau malam minggu” kataku, dia senyumnya makin lebar.
    “Jadi belum pernah pegang-pegang tubuh cewek dong?” tanyanya lagi, memancing dikit.
    “Yah pegang sih belum cuma kalo melihat sering?”
    “Oh yah? dimana?” tanya Fifi kaget sedikit.
    “Di internet..” jawabku cepat, memang betul sih. Dia tersenyum lagi.. heran kayaknya makin lama melihat Fifi tersenyum makin manis saja tuh senyumnya, wah aku rasanya makin senang dan happy sekali melihat bibirnya yang tersenyum.
    “Jadi yang real dan asli belum pernah dong?” kata Fifi masih dengan tersenyum. Bagiku ini bukan ledekan, tapi ucapan tulus kakak pada adik yang memang akrab. Aku mengangguk.

    “Fifi mau kasih hadiah khusus, tapi kamu harus janji tidak boleh ngapa-ngapain kalo kagak disuruh. Mau nggak?” tanya Fifi, kakak tersayangku ini. Aku mengangguk.
    “Eh janji dulu..”
    “Iya deh Joni janji Fifi sayang..” kataku memuaskan keinginan Fifi.
    “Siap menerima hadiah?” tanyanya lagi sambil menegakkan badannya yang tadinya duduk santai.
    Aku mengangguk lalu berkata, “Siap boss..”

    Fifi kemudian menaiki ranjang, sambil tangannya mendorong perlahan tubuhku untuk bergeser sedikit. Ranjangku sih ukuran 160 lebarnya, jadi muat saja kalau mau tidur berduaan. Lalu Fifi berlutut tegak di sampingku, memandang mataku lekat-lekat masih dengan senyum manisnya. Kemudian secara perlahan-lahan dia mengambil ujung bawah baju tidurnya. Ops.. Fifi terlupa sesuatu.. buru-buru dia turun ranjang dulu, menuju ke lemariku yang ada componya, dia pilih buru-buru salah satu CD lalu diputarnya. Nah muncul lagu romantis, dipasangnya cukup keras tapi tidak mengganggu keluar ruangan. Mungkin sekedar supaya pembicaraan kami tidak terdengar saja kali. Lalu dia berjalan ke pintu dan mengunci pintu.

    Aku merasa sedikit heran, mau ngapain nih. Si Fifi balik lagi ke sampingku, berlutut di atas ranjang sambil melenggok menari mengikuti irama lagu. Tangannya balik lagi memegang ujung bawah baju tidurnya dan mulai memilin sedikit-sedikit, lalu menarik perlahan ke atas. Wah ini sih striptease. Kutungguin saja deh. Begitu bawah bajunya mulai naik setinggi bawah selangkangannya, aku makin deg-degan! Cepat sekali naik lagi perasaanku. Lalu muncul celana dalamnya yang transparan dan seperti tadi waktu dansa berbentuk V dan sebagian besar tali. Warnanya sih hitam, ada merahnya sedikit persis ditengah dekat bawah pusarnya, eh tuh merah bunga kecil, cuma satu.

    Gila friends.. bulu kemaluannya terlihat. Belahan kewanitaannya sih terbayang dalam bungkusan CD halus itu yang mengikuti bentuk bibir kemaluannya. Wow.. sialan aku janji tidak boleh ngapa-ngapain. Wah pingin sekali untuk menjamahnya. Tangan kiriku terpaksa memegangi juniorku deh. Makin keras saja ngacengnya nih.

    Makin tinggi Fifi menarik bajunya, semakin jelas tubuh putihnya terlihat. Begitu bagian bawah payudaranya muncul. Wow.. aku sampai menelan ludah. deg-degan makin keras. Ops.. sial ada BH-nya! Eit tunggu dulu, BH-nya seru banget.. juga hitam transparan dan puting susunya yang kuduga besar, benar saja muncul dan terlihat jelas, kali ini aku tidak perlu menebak-nebak lagi, ternyata warnanya merah sedang, nggak pink sih, lebih tua sedikit tapi tidak coklat gelap. Saat bajunya melewati kepalanya, aku ingin sekali memegang payudaranya. Tapi ingat janji.. wah brengsek.. padahal si Fifi kan tidak melihat.

    Dan saat bajunya sudah lolos melewati kepala, Fifi langsung membuangnya ke atas karpet kamarku. Tangannya kembali turun lagi yang membuat payudaranya terlihat dan berbentuk semakin menonjol saja. Gile bener.. sss.. alamak nggak tahan nih.. Kemudian Fifi menggeser posisi berlututnya kali ini dia mengangkangiku. Wow.. sepertinya aku semakin tidak tahan deh. Mana tangan kiriku sudah tidak lagi memegang si Junior lagi dan dengan posisi baru ini otomatis Fifi menindih perutku. Dia masih bergerak meliuk dan menari. Mungkin tidak nyaman menari di atas selimut, dia menggeser dulu lalu mendadak menyingkapkan selimut untuk membuangnya.

    “Eit.. sorry Jon.. aku nggak tahu elu kalo tidur juga bugil!” kontan kedua tanganku menutupi juniorku. Tapi mana bisa.. lah lagi siaga satu gitu kok. Lagi pula dia ngomong dengan kalimat ..juga bugil! Wah dia kalau tidur bugil dong?! kenapa tidak dari dulu aku masuk kamarnya kalau dia sedang tidur.

    Karena aku diam saja tidak berkata apa-apa, Fifi balik lagi berlutut di atas perutku menghadap wajahku dengan sebelumnya mengambil tanganku untuk melepaskan pegangan yang menutupi si Junior. Terpaksa tanganku posisinya seperti orang menyerah kalau berdiri, kutaruh di samping kepala. Sepertinya Fifi sedang bergerak menari sambil membuka BH-nya deh.. tapi susah atau sengaja susah membukanya?

    “Fi.. boleh aku bantuin membuka BH kamu?”
    “Memang kupikir tadinya mau nyuruh elu yang bukain.. tapi gue kagok..” lalu sambil berkata begitu dia rebahan dikit, tangannya menopang tubuhnya di samping kepalaku, dengus nafasnya dekat sekali menyapu wajahku. Karena posisi berlututnya di perutku, yah mulut dan hidungku cuma kebagian lehernya saja. Wah wangi juga lehernya.. tanganku mulai memeluknya dan mencari kaitan BH-nya di punggungnya. Biarpun sudah ketemu sengaja aku lama-lamain. Enak gila.. memeluk tubuh hangat cewek kece seperti ini.

    “Ayo Jon.. jangan nakal, hadiahnya masih banyak..” kata Fifi lalu menggeser tubuhnya yang berada di atasku sehingga menurun sedikit dan wajahnya berhadapan dengan wajahku. Alamak.. dengus nafasnya yang menyentuh wajahku membuatku konak lagi dan semakin bernafsu. Tidak tahu siapa yang memulainya, tahu-tahu bibir kami nempel dan lidah Fifi menyapu bibirku. Sepertinya sih Fifi juga nafsu sekali mau menciumku kali, habis wajahku tetap lurus, tapi wajahnya miring-miring kok. Nah kan dia yang berusaha lebih keras buat menciumku toh?

    “Blp.. buka mulutnya Jon.. aku ajarin ciuman..” kata Fifi. Lalu kuikuti membuka mulut, membiarkan lidah Fifi masuk ke dalam mulutku. Dia menyapu gigi depanku, lalu lidahku didorong-dorong dan dibolak-balik segala, dan malah lidahku dikitik-kitik dengan lidahnya juga. Wah seru juga loh, tukar-tukaran ludah.

    Aku lupa bahwa tanganku sudah melepas BH-nya apa belum yang jelas tanganku mengusap punggungnya dengan bebas tanpa ganjalan BH segala. Kuusap-usap terus punggungnya yang mulus dan hangat. Dada kami sih masih terpisah oleh BH-nya. Ops.. baru aku bilang masih terpisah, Fifi menarik BH-nya untuk disingkirkan. Sambil ciuman begitu, otakku mikirin bagian bawah kami. Wah senjataku tergesek-gesek sama celana dalam mini si Fifi nih, sakit dikit sih, lecet nggak yah?

    “Fi.. boleh aku lepasin celana dalam elu nggak? kontol gue sakit kegesek-gesek.” kataku melepaskan ciuman sekejab. Akibatnya malah lepas terus-terusan tuh.
    “Eit.. jangan nakal dulu. Sudah bisa ciuman yang kuajarin?”
    “Iya boss..” jawabku.
    “Elu diam saja yah..” kata Fifi. Lalu dia bergerak semakin turun. Kali ini sampai dia duduk di kakiku. Dia persisnya menduduki bagian ujung kakiku, nggak diduduki habis sih, dia bersimpuh sedikit, sambil bergerak perlahan-lahan wajahnya ikutan turun sambil mencium badanku juga. Geli sekali loh, apalagi waktu dia mencium putingku. Wow.. sampai kupegang kepalanya gara-gara geli. Untung dia tidak marah. Waktu hidungnya kena bulu kemaluanku, makin geli dan si Junior mulai kena dengusannya dan dikecup kepalanya, sepertinya sih kena mata tunggal di kepala si Junior tuh.. geli banget sih.

    Gila friends.. kali ini kuduga bakal dapat pengalaman dikaraokein deh, aku mau menikmati rasanya di karaokein kakak tersayang ini. Dimulai dengan jepitan erat bibirnya pada kepala kemaluanku, rasanya sukar dilukiskan, yah geli-geli enak deh. Apalagi waktu bibir itu masih dalam jepitan erat bergerak turun menyentuh lingkaran helm senjataku. Wah rasanya mau ngecret saat itu. Gile bener.. untung juniorku tahan juga.

    Apalagi sensasi yang timbul saat bibir Fifi makin turun menjalari batang juniorku yang keras dan penuh urat-urat. Waduh, gesekannya sukar dilukiskan (namanya juga pertama kali) apalagi saat itu juga helm di kepala kemaluanku dijilati oleh lidah hangat Fifi. Wow.. mana tahan, beneran mau ngecret rasanya.

    Dan saat jepitan erat bibir Fifi, kakak tersayangku ini semakin turun kearah bulu-bulu kemaluanku yang mulai memenuhi pangkal senjataku, ujung kepala helm si junior juga menyentuh daging halus dan lembut langit-langit tenggorokan Fifi. Weleh.. weleh.. gila man.. nikmat sekali! dan, “Cret.. cret.. cret.. cret.. cret..” beberapa kali aku ngecret. Kulirik ke sana, si Fifi melirikku juga, gile pandangannya itu.. wow.. sexy sekali.. (sering aku membanyangkan dan terbayang-bayang terus wajah Fifi saat dia sedang mengkaraoke barangku) Gile deh, masih muda gini si Fifi sudah jago mengisap senjataku. Dia suka lagi.. tidak setetespun cairan maniku yang meleleh dari mulutnya. Wah di Bohongin film tuh, paling yang sampai meleleh gitu yah karena si ceweknya tidak mau menelan protein yang kita keluarkan, atau mungkin di film tuh sperma meleleh karena memang asyik melihat dan menonton cairan yang meleleh.

    “Fiii… aduh.. enak sekaliii…” kataku merintih perlahan. Kencang-kencang takut orang tuaku mendengar lagi. Gile loh.. ini taboo, pamali.. incest.
    “Jon.. hadiahnya belum selesai.. ini baru foreplay-nya buat elu…”
    Hah..! Gile bener.. apalagi nih?

    “Elu basahin memekku dengan ciuman yang tadi aku ajarin yah? sementara aku bikin burung elu tegang lagi.” kata Fifi lalu berdiri dan membuka CD-nya secepat kilat.
    Kemudian dia menungging mengambil posisi 69 persis seperti gambar-gambar di internet yang kulihat kalau ada pasangan yang saling mengisap.

    Begitu Fifi dalam posisi mengangkang dengan pahanya terbuka lebar, harum liang kewanitaannya langsung tercium olehku. Gile bener.. nikmat sekali.. enak loh mencium bau khas liang kewanitaan cewek, wah pantesan banyak gambar orang lagi ismek dan jimek yah? Mula-mula kujilati dulu belahan liang kewanitaan si Fifi yang terlihat sudah mulai basah, lalu setelah beberapa kali dijilat dengan ujung lidah sampai badan lidahku juga, gelambir bibir luar si Fifi yang warnanya kemerahan dikit itu mulai membuka dan melebar. Nah habis itu jangan lupa pasti sasaran kita bibir dalam mungil yang warnanya pink. Sebelumnya pastikan lagi deh, jilati terus dari batas liang kewanitaan luar paling bawah dekat perbatasan anus sampai arah klitorisnya, tentu dengan jilatan panjang tanpa terputus, dijamin kegelian tuh cewek yang kita jilati. Nah begitu diulang beberapa kali.. asyik.. terasa kan sari buah segar dari tubuh cewek seperti yang kulakukan pada Fifiku ini, kalau terasa juice-nya mulai berkurang kan kurang asyik, ganti lagi dengan mengulum seluruh bibir luarnya yang melambai-lambai, yah mengulum dan menghisap lah, terus sambil sedikit jilat dan sedot terus, sehingga sisa juice dari tubuhnya dan sedikit sisa pada lidah kita tetap saja bisa kita nikmati terus. Biasanya cewek kegelian dan memproduksi lagi juice alami ini dari dalam tubuhnya. Wow.. asyik pasti deh kalau normal sama-sama menikmati kita dapat bonus lagi banyak juice.

    “Aaahh.. enak Jon.. terus.. terus..” kata Fifi.
    “Iya Fi.. blp.. aku juga keenakan.. slup.. slup.. dikaraokein elu itu.. slup..” jawabku.
    “Blp.. blp.. ehm.. blp.. blp..” tidak jelas deh apa jawaban Fifi, yang jelas aku ingin sekali hadiahnya berlanjut terus sekalian juga aku membalas kenikmatan pada si Fifi dong, biar adil.
    Saling jilat dan isep yang kami lakukan kuulangi lagi. Kali ini kutambah dengan jurus baru, gara-gara melihat gambar di internet (wah lihat gambar porno berguna juga kadang-kadang yah?). Aku mencoba memasukkan lidah ke dalam liang senggama si Fifi yang mungil tempat keluarnya juice nikmat tadi. Lubang itu sih terlihat nafsuin banget. Jelas terlihat empot-empotan membuka menutup dengan gerakan-gerakan merangsang nafsuku. Karena batang kejantananku letaknya jauh, yang paling praktis yah lidah dong. Kudorong-dorong saja lidahku memasuki lubang di liang kewanitaan kakak sexy-ku ini, sambil sesekali jurus-jurus gerakannya kugabung dengan menjilat celah liang kewanitaan dan mengulum semua bibir bawah si Fifi. Wah nikmat sekali, untung si Fifi sudah memberi kursus kilat cara ciuman dan kulum-kuluman.

    Sukar dilukiskan kenikmatan yang kudapatkan deh, bayangkan saja, kakakku yang sexy sedang mengkaraoke senjataku, sambil liang kewanitaannya kujilati.

    “Jon.. kayaknya elu sudah siap menerima hadiah lanjutannya nih,” kata si Fifi yang buru-buru bangun dan ganti posisi, kali ini dia berjongkok di atas pinggangku. Hehehe.. dia yang tidak tahan tuh. Asyik.. pasti aku akan bersenggama dengan kakak cantikku ini. Yang jelas sih memang batang kejantananku tidak ciut-ciut tuh. Alasan si Fifi saja untuk membuat liang kewanitaannya lebih basah dulu supaya kami bersetubuhnya lebih gampang, daripada alasan membuat juniorku ngaceng lagi

    Dengan satu tangan memegang juniorku dan satu tangan lagi membuka celah liang kewanitaannya, Fifi menunduk melihat jelas-jelas supaya tidak meleset adegan persetubuhan kami yang pertama ini. Aku juga sampai menaikkan kepala kok walau sudah diganjal bantal tinggi. Gila kelihatan banget bibir kemaluan Fifi yang membuka dan siap disusupi oleh batang kejantananku yang ngaceng berat. Si Fifi perlahan-lahan menurunkan pinggulnya dan juniorku, helmnya terasa menyentuh belahan hangat basah liang kewanitaan Fifi. Makin si Fifi menurunkan pinggulnya, helm si Junior semakin tidak terlihat dengan perasaanku yang semakin keenakan.

    Si Fifi yang tidak sabar begitu helm si Junior hilang dari pandangannya langsung menduduki pinggulku, yah sudah amblaslah seluruh batang tubuh si Junior dan batang kejantananku itupun lenyap dari pandangan.
    “Aow… sakit Fi..” maunya aku sih teriak, habis mendadak gitu kulit batang kejantananku tertarik oleh jepitan erat dinding kewanitaan si Fifi. Terasa sekali gesekan dan tarikan kulit itu loh.
    “Sstt.. jangan berisik.. aku juga sakit Jon.. kurang pas kali..” kata si Fifi lalu dia mencabut batang kejantananku dengan mengangkat pinggulnya lagi. Waw.. kenikmatan yang dirasakan tidak terlukiskan deh. Tidak sampai lepas semuanya, kali ini si Fifi menggoyang-goyang dulu pinggulnya sedikit untuk memperlancar pelumas atau arah yang tepat, aku tidak tahu deh. Lalu dia menurunkan lagi perlahan saja dulu. Nah ini baru mantap.. Pas masuknya. Sambil si Fifi goyang kiri kanan dikit dan maju mundur dikit, akhirnya batang kejantananku terbenam mantap di dalam liang kenikmatan kakak tersayangku. Duh.. ujung batang kejantananku menyentuh apaan yah? Jangan-jangan rahimnya kali!

    “Oohhh.. Joni sayang..” si Fifi kakakku ini diam tidak bergerak lagi punggulnya tetapi bagian atas tubuhnya rebah menindihku. Dadanya yang padat berisi, menindih dadaku, dan wajahnya dekat sekali di depan wajahku.
    “Fi.. gue boleh mengusap-usap badan elu nggak?” aku bertanya, takut melanggar janji. Dia tersenyum lalu mengangguk saja, dan buru-buru mulutku di cipok. Keras! bibirku sampai terbetot karena menciumnya dengan sedotan segala. Belum kaget aku atas kejadian itu, dia mencium lagi kali ini bibirku dilumatnya dan kamipun bersilat bibir lagi.

    Aku tersadar akan ujung si junior yang menyentuh sesuatu di dalam sana.
    “Fi.. elu bisa hamil nggak nih?” tanyaku dengan nada khawatir. Lah iya.. gila kali menghamili kakak sendiri, bersenggama dengan kakak kandung saja sudah perbuatan gila-gilaan. Apalagi sampai hamil.
    “Tenang Jon.. baru saja gue selesai mens kok tadi pagi baru bersih..”
    Hah? aku yang melongo.. pantesan saja dia juga sakit waktu kami baru bersatu tadi walaupun sudah becek sejak kujilati liang kewanitaannya.
    “Fi.. elu nggak perawan sejak kapan nih?” tanyaku.
    “Eh.. nakal yah tanya-tanya.. nggak usah di omongin deh.. nikmati saja yah Joni sayang..” kata si Fifi, yah sudah. Tapi kulihat dia jadinya sedih tuh gara-gara aku bertanya soal itu. Kami memang terdiam jadinya. Fifi cuma diam saat menindihku tanpa bergerak dengan memiringkan kepalanya di wajahku. Hidung kami bersentuhan. Aku menikmati sekali saat-saat ini. Saat-saat indah bersatu dengan kakak tersayangku. Dengusan nafas halusnya menyapu wajahku juga dengan keharuman nafas segarnya. (wah jangan-jangan tadi kumur-kumur dengan close-up cair dulu kali nih) Tanganku mengusap-usap punggungnya yang halus tapi sedikit berkeringat karena kupegang dalam keadaan lembab. Mungkin posisinya kurang enak, si Fifi menggerakkan bagian bawah tubuhnya sedikit. Wow.. sensasi dalam lubang tempat kami bersatu itu nikmat sekali.

    “Fifi kakakku sayang, ngapain lagi nih sekarang..” tanyaku bingung. Nah tanpa menjawab dia bangkit dari menindih badanku. Kali ini dia benar-benar menduduki pinggangku. Wow buah dadanya yang mantap memerah karena tertindih tadi terlihat semakin indah saja. Putingnya juga ngaceng banget lagi, mancung.
    “Nikmati yah Jon, jangan bergerak-gerak pinggulnya..” kata si Fifi.
    “Ok boss..” Lalu mulailah si Fifi bergerak-gerak. mula-mula sih gerakannya cuma memajumundurkan pinggulnya saja sehingga batang kejantananku yang terbenam dalam-dalam tidak keluar sedikitpun, tapi didalam sana rasanya. Wah.. coba sendiri deh komentarku. Kalau aku bilang enak entar tidak percaya. Pokoknya sukar dilukiskan. Ujung kepala si Junior terutama helm junior tuh yang menikmati banget gesekan-gesekan di dalam rongga persetubuhan kami, sepertinya sih menyentuh-nyentuh sesuatu benda yang agak kenyal? seperti ada dodol bola deh di dalam sana. Apa iya itu rahim. Kepala si Junior mengelilingi dan menyenggol-nyenggol dodol bola itu. Gile bener.. sensasi yang ditimbulkan luar biasa enaknya, beneran loh aku terasa banget dan yakin, lubang kecil di helm si junior menyentuh dan disentuh sesuatu di dalam sana.

    “Oohhh Jon..”
    “Ya.. Fi..”
    “Oohhh Jon.. Sayang..”
    “Ya.. Fifi sayang..”
    “Jon.. aaahh..”
    “Ya Fifi kakakku tercinta.. eugh..”
    “Oohhh Jon.. Sayang.. enak sekali.. kamu enak Yang?”
    “Ya Fifi sayang… wah nikmat sekali aaah.. enak Fi..”
    “Pegang dan remas-remas tetekku dong Jon..” kata si Fifi dengan manja.
    “Wah tetek kamu mantap banget Fi.. pas susunya.. kenceng lagi..” pujian jujur dariku keluar deh.
    “Oohhh Jon… terus Jon.. lebih kuat remasnya..”
    “Ya Fi.. lebih enak?”
    “Ooohh Jon.. terus Jon.. putingnya juga..”
    “Oohhh.. aahhh Joniii..”
    “Eh Fi.. jangan kenceng-kenceng..” kataku khawatir juga, habis makin lama semakin kenceng saja desahan dan suara Fifi yang keluar dari bibir sexy-nya itu.

    Kali ini Fifi menunduk deh jadinya, mulutnya mencium mulutku lagi, nah suaranya kan cuma nafas doang tuh. Wah ada yang seru lagi. Kali ini Fifi mulai menggerakkan pinggulnya naik turun. Gila, rasanya gesekan batang kejantananku pada dinding liang kewanitaan Fifi yang menggenggam erat itu loh. Waw.. enak gila.. lebih enak dari Frozz deh. Sensasi yang di timbulkan sampai naik ke kepalaku, buktinya waktu melewati leher dan mulut nafasku semakin menderu-deru. Terbukti dong semakin enak.. asyik loh.

    Cukup lama juga Fifi melakukan olahraga turun naik di atas pinggangku, pasti dia capek juga, habis biarpun AC kamarku dingin punggungnya keringatan tuh. Tanganku sampai basah telapaknya waktu mengusap-usap terus dari tadi. Tiba-tiba saja Fifi menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan makin keras menghujam kearah batang kejantananku, makin mantap deh tusukan-tusukannya. Lalu lidahku disedot kuat-kuat dan dia roboh lemas setelah tegang-tegang dikit sebelumnya. Wah…. ini orgasme kali yah? Kok aku kaga ngecret sih kata siapa orgasmenya cewek dan cowok mesti barengan?

    Aku iseng ah, walau tidak disuruh kugoyang pinggulku menyodok naik dikit. Habis si Fifi diam sih, padahal tadi lagi asyik menggoyangkan pinggulnya.

    “Oohhh Joni.. sayang.. nakal yah.. tapi enak Jon.. enak sekali.. iya terus Jon.. kamu enak Yang?”
    “Ya.. Fifiku sayang.. kamu sudah orgasme yah.. wah licin nih Fi jadinya tapi nikmat juga kok aaah.. enak Fi.. enak sekali..”
    “Iya Jon.. tadi aku mencapai surga tuh.. lidah elu nggak kegigit kan?” tanya si Fifi. Wah dia tidak sadar tadi menyedot kuat-kuat lidahku, dan dugaanku dia mencapai orgasme ternyata benar. Wah untung tidak digigit ya lidahku. Kalau tidak saat dia lupa gitu salah-salah aku jadi si bisu Joni lagi hehehe… habis lidahnya putus.

    “Jon.. biar elu lebih menikmati hadiahnya, ganti posisi yah?” tawar si Fifi padaku. Asyik.. doggy style boleh aku praktikkan nih.
    “Gaya nungging yah Fi?”
    “Elu mau gaya begitu?”
    “Iya Fi.. kayak di foto dalam internet.”
    “Hayo deh berhubung ini hadiah..”

    Kamipun berganti gaya jadi doggy style. Cuma sebentar saja, walaupun seru aku melihat Fifi dari belakangnya, dengan kulit punggung mulus walau berkeringat, pinggangnya yang ramping dan buah pantatnya yang besar jelas pemandangan indah tersendiri. Tapi.. ada yang bikin gaya ini jadi sebentar. Setiap kali kusodok maju batang kejantananku semakin ke dalam rongga liang kewanitaan si Fifi, dia seperti tersendak kesakitan.

    “Kamu nggak enak yah Fi?” tanyaku pelan-pelan takut menyakiti kakak tersayangku.
    “Nggak pa-pa, terusin saja, yang penting kamu senang..” jawab Fifi, weleh-weleh.. baru dua sodokan lagi reaksinya sama saja, kesakitan. Wah aku tidak mau jadi adik tidak berbudi. Dikasih hadiah sangat nikmat begini masak dengan tega menyakiti kakak tersayang sih?

    “Fi.. ganti gaya lagi deh.. gaya apalagi yang kamu mau dan kamu anggap akan menyenangkan Joni?”
    “Oh.. Joni sayang.. aku bener-bener sayang sama elu Jon..” kata Fifi begitu mengakhiri persetubuhan kami dan berbalik menghadap dan memelukku dengan erat. Lagi-lagi aku di cium olehnya, kali ini sebentar saja lalu dia mengambil posisi persis di tengah ranjang dan mengangkang lebar-lebar, dengkulnya ditekuk naik sampai dekat kepalanya.

    Wah.. ini posisi surga bagiku. Gile bener.. melihatnya saja si Junior terkejut. Bibir luar liang kewanitaan Fifi otomatis merekah (karena indahnya bentuk bibir itu kadang-kadang ada yang mengumpamakan sebagai bunga yang merekah) bibir dalamnya yang berwarna pink dan tidak kalah sexy-nya di mataku ikutan merekah juga, membuka gerbang surganya yang berupa lubang hitam menantang untuk ditutupi oleh batang kejantananku.

    Aku dengan masih berlutut bergerak mendekati pintu surga itu, dan dengan posisi sedikit berlutut itulah kutempelkan juniorku di pintu surga yang gelap itu. Kugesek sedikit seperti dalam BF lalu karena memang masih becek-becek dikit yah lancar saja kucelupin si junior dan batang kejantananku itu semuanya. Waw.. gesekan dinding liang kewanitaan kakakku ini masih saja mantap dan kesat, seret juga malah.

    “Aahhh..” si Fifi malah yang bersuara.
    “Enak Fi?”
    “Iya gerakin keluar masuk dong Jon..”
    Aku menurut deh, kugerakkan pelan-pelan saja. Tips; gerakkan ini sebaiknya divariasikan antara gerakan menusuk dengan seluruh tubuh dan gerakan menusuk menggunakan pinggul saja. Dengan gerakan pinggul saja tusukan batang kejantanan kita semakin dalam loh! dan semakin membuat cewek kita keenakan. Kata salah seorang teman cewekku sih, membawa cewek tembus surga ke-7. Apalagi dengan tusukan perlahan-lahan tapi mantap. Gocekan kiri kanan saat menusuk sebaiknya memang melingkari dodol bola di dalam sana, alias memoles seluruh permukaan bola dodol itu. Waw.. gocekan begini selain kitanya enak juga, kujamin, cewek normal akan segera mencapai orgasme dengan cukup cepat. Asal jangan lonte saja deh yang sudah kecapekan melayani langganan (dulu-dulu juga hooker high class senang sama aku gara-gara mereka ngakunya mencapai orgasme dengan teknikku ini, maklum si Joni pantang mencapai orgasme dibawah 1/2 jam, biasanya malah lebih 1 jam, yang penting mengatur pernafasan dan pikiran kita).

    Memang tidak lama berlangsung, si Fifi kakak tersayangku ini buru-buru melebarkan kakinya lagi dan tangannya buru-buru meraih leherku untuk diciumi lagi. Gila ciumannya buas sekali, cepat dan srobotan terus. Pokoknya ciuman buas yah begitulah kali. Tiba-tiba saja aku yang tetap mengatur enak-enak tusukan mantap dalam persetubuhan kami terkaget lagi. Bibirku disedot keras lagi. Kali ini karena aku tahu bahwa si Fifi mungkin mencapai orgasme. Aku siaga, sengaja mulutku makin merapat, menjaga giginya kalau-kalau menggigit. Berhasil.. tidak kena gigit.

    “Oohhh Jon.. sayang.. enak sekali.. ooohh Jonii.. sss.. kamu enak Yang?”
    “Ya.. Fifi sayang.. aahhh.. nikmat sekali Fi.. aaah.. enak Fi..”
    “Gila Jon.. elu belum mau keluar lagi yah?” tanya si Fifi setelah agak reda capeknya.
    “Adik siapa dulu dong?” wah sempat-sempatnya kami yang sedang bercumbu begitu bercanda juga. Tuh hidungku dipencet si Fifi yang masih dalam posisi mengangkang heboh dan kutusuk, eh pompa deh.
    “Enak nggak Jon hadiahku?”
    “Bukan enak lagi Fi.. indah dan bagus sekali.. aku nggak mungkin bisa membalas hadiah seperti ini..” jawabku.
    “Ah Joni.. Joni.. adikku sayang.. kalau bukan adikku.. aku mau aja deh pacaran sama elu Jon..”
    “Loh memangnya sekarang kagak bisa apa?”
    Akhirnya sambil bercinta dengan hot terus sebelum aku ngecret lagi kami ngobrol-ngobrol sedikit.

    Aku tidak menyinggung soal keperawanan dan pacarnya sekarang. Dia cuma cerita batang kejantananku adalah yang terpanjang dan terbesar yang pernah dia rasakan, padahal dia baru mencoba 2 batang kejantanan selain punyaku.

    “Fi.. gara-gara cerita ngesek dan soal batang kejantananku yang super menurut elu, kayaknya aku mau keluar lagi nih..”
    “Aahhh.. Joni.. Sayang.. jangan takut.. aku sayang banget sama elo Jon.. silakan saja keluarkan di dalam rahimku Jon.. jangan khawatirkan apa-apa..” kata si Fifi sambil mengusap-usap perutku segala sekaligus mengusap-usap wajahku. Ah mana tahan aku melihat wajah manisnya yang cantik dan tersenyum terus melihatku. Kupompa semakin cepat dikit deh dan dalam-dalam setiap tusukannya.

    “Oohhh.. oh.. ah.. ahhh.. heh.. heh.. eh.. eh..” begitulah suara kami berdua akhirnya gara-gara aku mempercepat irama persetubuhan kami. “Jonn.. aku keluar lagi nih.. aaahh Joniii…” Wah tampang sexy si Fifi saat mencapai Orgasmenya yang ketiga kali ini tidak bisa kutahan lagi deh, apalagi wajahnya yang memerah berusaha tetap tersenyum senang dan tidak memejamkan matanya tapi melihat ke dalam mataku. Wah.. sudah nyobain belum bersetubuh sampai ceweknya mencapai orgasme tapi tidak merem tuh cewek, nah tampangnya cewek begitu menurutku adalah tercantik darinya. Dan biasanya nikmat melihat wajah cewek saat mencapai orgasme, sepertinya lebih enak dari orgasme itu sendiri bagiku. Makanya hobiku bikin orgasme cewek, bukannya aku orgasme duluan, tidak sedikit kok aku malah tidak orgasme saat bersatu dengan cewek. Sweer.. mula-mula kupikir aku impoten, tetapi ternyata sebagian cewek bilang malah aku terlalu perkasa urusan ranjang dan senggama begitu, Well nggak tahu deh, walaupun hobby bercinta, kupikir tidak perlu setiap bersenggama kita mengeluarkan sperma dong?

    “Cret.. cret.. cret..” entah berapa kali saat ini aku ngecretnya. Yang jelas cairan hangatku menembak bola dodol dalam medan tempur kami berdua. Wah saat terkejut, begitu kenikmatannya sukar dilukiskan juga loh. Aku sampai roboh kecapaian dalam pelukan si Fifi yang masih ngangkang terus.

    “Oohhh Fifi sayang..”
    “Yah.. Joni adikku sayang..”
    “Hadiah kamu tak ternilai Fi..”

    Malam itu kami tidur seranjang. Bohong besar kalau aku cerita senggama sampai pagi. Aku kecapaian kok. Sepertinya waktu baru berbaring sama-sama sebelum tidur, karena kami sama-sama capek untuk matiin lampu, aku melihat hari sudah pukul 3 pagi.

    Dalam ngobrol-ngobrol sebelum pulas, sepertinya si Fifi cerita, perawannya hilang waktu SMA kelas 2, saat pergi ke luar kota barengan kakak kelas lalu sekarang ini sehabis menikmati dan tahu si Fifi tidak perawan lagi, pacarnya yang di kampus mulai menjauhinya, jadi dia kosong tuh saat ini, belum ketemu cowok yang sreg.

    Dan sebelum pulas kami juga berandai-andai, siapa tahu saja bisa sama-sama terus setiap malam minggu pergi barengan saja. Soal tidur malam sih, sepertinya pintu penghubung antar kamar kami mesti dicari kuncinya tuh, maklum sudah lama tidak pernah dibuka.

  • Gambar Ngentot Teman Sekantor Yang Lagi Sange

    Gambar Ngentot Teman Sekantor Yang Lagi Sange


    1799 views

    Perawanku – Ketika lagi suntuk di kantor ada  teman wanita sungguh enak bukan bisa menghilangkan stres sekaligus bisa bercanda gurau.

    Tapi ada juga yang lagi sama sama sange terus ngentot bareng lo bos ku seperti gambar ngentot teman sekantor yang lagi sange di bawah ini  mereka sama sama sange lalu ngentot di kantornya :

  • Penthol Atasanku Bikin Aku Ketagihan – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    Penthol Atasanku Bikin Aku Ketagihan – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018


    1799 views

    Perawanku – Gue cowok yang masih single. Gue kerja seruang dengan seorang cewek cantik. Dia atasan gue, orangnya cantik dan montok menggoda. Dia suka membuat batang gue naik terus. Nggak heran dia punya hobby ngesex. Gue juga punya hobby yang sama. Tapi tidak semaniak dia. Hampir tiap hari dia ngesex dengan cowok yang disenanginya, bahkan gue sering diajak ‘Anu’ sama dia. Disamping gue senang dan menikmati tubuhnya yang aduhai itu, gue juga tidak berani menolak perintahnya.. pokoknya “A.I.S”-lah.. itu..tuu.. Asal Ibu Senang. Dan gue dijanjikan naik pangkat dan tentu saja gaji naik juga dong plus bonus tubuhnya yang montok itu.
    Dia orangnya cantik meskipun umurnya jauh diatas gue. Karena dia selalu suka pakai rok ‘super’ mini warna putih transparan. Maka gue tahu kalau dia tiap hari nggak pernah pakai CD. Yang gue heran ama dia, pas dia ada di luar ruang kerja dia selalu pakai rok biasa bahkan pernah pakai celana. Tapi pas ada di ruang kerja kita dia selalu pakai rok ‘super’ mini itu. Jadi kalau ada sesuatu yang dia butuhkan dia selalu minta tolong gue yang ngurus. Meja kerjanya yang berada di depan gue, jadi gue bisa melihat apa yang dikerjakannya. Tiap menit dia selalu memancing nafsu gue. Dia sering pura-pura lihat suasana diluar jendela, padahal dia ingin memeperlihatkan kemontokan pantatnya yang super montok itu. Lalu dia pura-pura melihat hasil kerja gue sambil dekat-dekat terus dia menundukkan kepalanya.. lalu yah jelaslah payudaranya yang tergantung bebas tanpa halangan dari BH. Dia goyangkan badannya, maka bergoyanglah payudara itu kiri-kanan-kiri lagi.. Tapi yang paling parah, dia pura-pura menjatuhkan bulpen di lantai, terus dia jongkok membelakangi gue. Pas dia nunduk, roknya tersingkap keatas jadi terlihatlah pantatnya yang montok putih dan memeknya yang putih kemerahan dengan bulu yang tampak menantang untuk dijamah. Pas dia udah ambil itu bolpoint, eh.. dijatuhin lagi terus nungging lagi.. lagi.. lagi.. Dia goyangin itu pantatnya maju-mundur, bawah-atas..lalu dia renggangkan kakinya sehingga memeknya yang lezat itu merekah bagai bunga ‘mawar’ dan begitu seterusnya. Hingga gue nggak tahan akan kelakuannya itu. Langsung aja gue deketin dia terus gue obok-obok ‘anu-nya’.. Dan ternyata.. apa yang terjadi.. ohh..
    Dia menikmati sentuhan-sentuhan gue. Saat ini gue bekerja dengan lidah gue. Gue jilat sedikit kacangnya dan di “suck” agar basah. Nggak samapai dua menit udah tampak ada cairan bening di memeknya. Karena batang gue udah nggak tahan, lalu gue masukin batang gue ke memeknya. Dia mendesis – meronta – mengerang nikmat(3M) demikian juga gue. Hangat dan lembab. Lalu gue mula goyang kiri kanan, maju-mundur dan kadang-kadang gue putar. Dia bener-bener hebat, setelah gue agak pasif dalam gerakan gue karena udah hampir nyampe. Dia dengan perkasa menggoyang tubuhnya maju-mundur, kanan-kiri dan berputar dengan garang.
    Sementara gue makin berat nahan orgasme gue, akhirnya..
    “Bu boleh keluarin di dalam..?”kataku.
    “Boleh aja sayang, emang sudah hampir.. ya?”katanya sambil terus menggenjot pantatnya maju-mundur.
    “Ya, bu”kataku.
    “Kita sama-sama ya, hmm..ohh..”.
    Dengan sisa tenaga gue goyang lagi sampai gue terasa enak bener karena orgasme gue udah sampai deket pintu helm “NAZI”.
    Lalu gue peluk dia dari belakang sambil gue remes dadanya. Dan cret.. cret.. cret. cret, air mani gue muncrat didalam lubang memeknya. Dan diapun merintih ohh yes dan lalu mencengkeram kursi dengan erat serta badannya bergetar dan menegang.. Rupanya dia klimaks juga. Dengan batang dan memek masih bersatu gue tetep peluk dia dari belakang.
    Dia tersenyum puas lalu melumat bibirku. Dia bilang kontolku enak banget sih. Dia kangen katanya kalau nggak dicoblos kontolku barang sehari. Nggak lama gue peluk pinggangnya kuat-kuat dari belakang sambil ngerintih akhh.. akhhgg dan lalu di dinding memeknya kubikin terasa hangat karena semprotan sperma gue tadi. Nggak ke tulungan enaknya katanya, tapi dia harus buru-buru ngrapiin baju dan nyuci memeknya. Habis gituan luemes banget dan nggak bisa kerja lagi. Abis sambil berdiri sih.
    Enak juga lho making love di kantor. Apalagi kalau lembur jangan dibilang. Di meja kerja, di WC, di lift, di lantai atas gedung atau juga di dalam mobilnya juga bisa, rasa takut ketahuan itu selalu ada, tapi kenikmatannya lain dari pada yang lain, pokoknya sensasinya lain.
    Malamnya gue diajak ke pub. Setelah jam dua belas malam, gue ajak dia pulang. Dia kutuntun ke mobilku karena dia mulai mabuk akibat terlalu banyak mengkonsumsi minuman dan kuantarkan ke apartemennya. Gue bingung mengapa dia nggak pulang ke rumahnya sendiri.. mengapa kesini. Kuantar sampai ke dalam kamarnya di lantai 7, gue istirahat sejenak di sofanya. Dia bangun dan menghampiri gue untuk mengucapkan terima kasih dan selamat malam.. tapi tubuhnya jatuh dalam pelukan gue sehingga nafsu gue untuk meng’anu’nya mulai bangkit. Kuciumi dari kening, mata, hidung hingga mulut sensualnya disambutnya ciuman gue dengan permainan lidahnya yang sudah profesional.

    Lama kami berciuman dan gue mulai meremas teteknya yang agak kenyal.. lalu kubuka resleting bajunya..kemudian kususupkan tanganku ke dalam behanya untuk meremas teteknya lagi dan memainkan putingnya.. sambil terus berciuman. Satu persatu pakaiannya jatuh ke lantai.. BH.. CD.. tapi kami masih berciuman. tanganku tak tinggal diam.. meremas diatas sesekali memainkan puting dan meraba dan memainkan di bagian memeknya.. oi.. jembutnya yang menggoda.. lezatnya..
    Memeknya telah banjir akibat otot memeknya mengeluarkan cairan karena rangsangan dari gue.. tangannya mulai membuka satu persatu pakaianku sampai kami berdua full bugil. Kusodok sodok jari tengahku ke dalam memeknya ..sshh.. oohh.. gung.. please.. sshh.. don’t stop..aahh.. terus jariku telunjukku memainkan itilnya yang mulai menegang .. sshh.. aahh.. dan dia mulai merebahkan badannya di sofa kuciumi lagi putingnya dan kusodok-sodok lagi memeknya dengan dua jari.. sshh.. aahh..oohh my goodd..sshh .. dia mulai mencari-cari kontolku yang sudah tegang sejak tadi.. dan mulai menghisap kontolku .. mulai dari kepala .. sshh .. aahh.. buu.. aahh.. sshh .. perlahan lahan mulutnya masuk dan melahap kontolku semuanya sshh ..hhmm.. kutambah jariku satu lagi hingga tiga yang masuk ke dalam memeknya sshh.. aachh.. tambah satu lagi hingga hanya jempol saja yang masih di luar memainkan itilnya.. sshh.. hhmm.. gue lepaskan kontolku dari mulutnya dan mulai kuarahkan ke bibir memeknya yang banjir.. perlahan lahan kudorong kontolku.. sshh.. oohh.. honey.. hhmm.. bibir bawahnya menggigit bibir atasnya.. kuangkat kedua pahanya dan kusandarkan di sandaran sofa yang sebelah kiri sedang yang kanan kuangkat.. dan bless.. aahh.. sshh.. kuayunkan perlahan lahan.. sshh.. oohh my god.. come on.. sshh..terus kuayunkan hingga kupercepat ayunanku .. sshh.. buu.. saya mau keluar buu..sshh.. keluarin di dalem aja sayang..ohh aahh.. kedua pahanya mulai dijepitkan pada pinggangku sambil terus menggoyangkan pantatnya sshh.. aahh..
    Tiba-tiba dia menjerit histeris oohh..sshh.. sshh..sshh.. ternyata dia sudah keluar.. gue terus menggenjot pantatku semakin cepat dan keras hingga mentok ke dasar memeknya sshh.. aahh.. dan aagghh.. crett.. crreett.. ccrreett..kutekan pantatku hingga kontolku menempel dasar memeknya.. dan keluarlah pejuku ke dalam liang memeknya.. sshh.. bbrr.. saat terakhir pejuku keluar.. guepun lemas tetapi tidak gue cabut melainkan menaikan lagi kedua pahanya hingga dengan jelas gue lihat bagaimana kontolku masuk ke dalam memeknya yang di kelilingi oleh jembutnya yang menggoda.. kubelai jembutnya sambil sesekali menyentuh itilnya. Ssshh.. aahh.. gue mulai mengayunkan kembali kontolku.. biar agak ngilu gue paksakan..kapan lagi.. sshh.. aahh.. hhmm.. gue meminta dia untuk posisi nungging dengan tidak melepaskan kontolku dalam memeknya.. kontolku terasa dipelintir oleh memeknya.. terus kugenjot lagi ..sshh dan.. sshh.. dia mendorong pantatnya dan aachh.. lebih cepet honey ..sshh.. dia sudah keluar lagi
    Gue masih asik mengoyang pantatku sambil meremas teteknya yang dari tadi gue biarkan.. sshh.. hhmm..aahh.. dan creett.. creett.. guepun menekan pantatku dan menarik pinggulnya hingga kontolku mentok lagi di dasar memeknya.. kami berdua sama lemas..
    Dia ambil sebatang rokok.. dinyalakannya dan dia hisap itu rokok.. persis seperti saat dia menghisap batang gue.. kami duduk dan sama menikmati permainan tersebut sambil dia merokok kami saling mengobok-obok kemaluan masing-masing.. Kuangkat tubuhnya ke tempat tidur.. kami tidak membereskan pakaian kami yang masih berserakan di lantai ruang tamu.. gue putar jam bekerja tepat pukul 5 soalnya gue mau pulang.. Dia mulai merapatkan matanya sambil tangannya merangkul dan tubuhnya yang berkeringat merapat ke tubuhku.. meskipun udara di rungan sudah dingin tetapi tubuh kami masih berkeringat akibat permainan tadi..
    Pada kesempatan lain gue datang ke rumahnya nganterin surat-surat penting. Kebetulan siang itu dia lagi sendiri. “Oh kamu sayang.. ayo cepet masuk..ehhmm”katanya sambil nutup pintu. “Iya bu, saya cuma mau ngantar surat
    ini “kataku.
    Terus gue minta pamit pulang.. tapi.. “Aduh koq buru-buru amat sih.. ibu mau minta tolong lagi.. boleh khan ..”katanya manja. Lalu, matanya merem melek sambil lidahnya dikeluarkan, gue udah tahu pasti dia pengen ngentot lagi nich. Pokoknya udah nggak tahan deh. Langsung gue diajak dia masuk dan duduk di teras. Waktu itu dia pakai baju kulot putih transparan. Terlihat payudaranya yang montok dengan putingnya yang menyembul dari balik bajunya. Gue lihat dia lagi ‘super’ nafsu, lalu dia pancing gue untuk making love. Gue sih “A.I.S” saja.

    Lalu kulot dan CD dilepaskan step by step, lalu memeknya gue raba-raba, dan kelentitnya gue diplintir sampai dia terangsang banget. Terus baju, celana dan CD gue diplorotin. Lalu kita duduk di lantai teras. Dalam posisi duduk santai kakiku selonjor, dia sedot-sedot kontolku sampai gue mendesah-desah dan kontolku menjadi tegang dan keras. Dia kangkangi kakinya terus dia pegang kontolku yang udah keras sambil mengarahkan ke memeknya yang sudah basah dan merekah itu.
    Aduh enaknya terus dia naik turun terus sambil digoyang-goyang terus dikocok terus sampai kenikmatan yang tak terhingga. Rasanya dia jadi lemas dan capai, tapi dia berusaha tidak mau udahan. Kayaknya teriak tertahan, mungkin dia takut kedengaran tetangga. Dia terus naik turun dan gue juga ngimbangi dari bawah, terus sampai akhirnya gue dan dia pelukan erat-erat karena dia sudah merasa hampir klimaks, dan nggak lama dia pun menegang dan akhirnya sama-sama puncak dan keluar. Pokoknya nikmat banget, dan badan gue juga terasa lemas tak bertenaga kepinginnya nggak mau lepas dari tubuhnya. Tanpa pakai celana dulu dia pergi ke kamar mandi. Pantatnya yang montok bergoyang kanan-kiri-kanan-kiri.. Kadang dia menundukkan tubuhnya sehingga posisinya nungging ke arah gue.. sehingga memeknya terlihat merekah.. ohh. Gue melotot lihat tingkahnya begitu seronok. Ah gue cuek aja. Yang penting.. uueennaakk.. ooii.. Byyee..

  • Cerita Bokep Melayani Guruku Yang Nafsu – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Bokep Melayani Guruku Yang Nafsu – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1799 views

    Perawanku – Nama ku Hasan aku sekolah disalah satu Sma di kota Bandung. Saya ingin menceritakan seks sama Guruku.
    kenangan yang tak akan terlupakan Guruku dan pembantunya, Ku tulis kata-demi kata hingga cerita ngentot mengenai pengalamanku ngentot dengan ibu Guru Ku,ku isikan cerita ngentotku ber sama Ibu Guru ku yang ber nama Bu Anita.

    pada waktu mau ujian nasional aku di temani rintikan-rintikan gerimis hujan menuju ketempat rumah Ibu Guru ku yang berada di daerah Kota Bandung, aku dipanggil ke rumah Guru ku wanita yang masih muda, umur sekitar 28 tahun. Bodi seksi, cantik, rambut sebahu, buah dada gede banget tentunya. Aku di panggil di rumah nya karna beliau mau pergi jadi ingin titip tugas sekolah sama aku, karena beliau mau ke luar kota.

    Malam itu Aku ke rumahnya sekitar jam 7.30 malam, Saat itu beliau hanya di rumah sama pembantunya dan Pembantunya pun juga cantik, Suaminya Ibu Guru ku belum pulang karna ada rapat kantor dan tempat rapatnya di puncak, jadi hanya wanita-wanita cantik penghuninya. Saat aku mengetuk pintu rumahnya Ibu Anita, Aku sempet kaget yang bukain pintu Bu Anita beliau pake baju tidur yang agak trawang-trawang sehingga terlihat buah dada yang mau keluar.

    Lama-lama aku perhatikan ternyata beliau tidak memakai BH, Terlihat segar rasanya kalau di pegang dan di remas-remas, dan keliatan kayak belum pernah punya anak karna buah dadanya tidak turun sama sekali. Putingnya juga terlihat besar dan kemerahan, sepertinya memiliki ukuran sekitar 37B. Sewaktu aku sedang memperhatikan Bu anita di malam itu, Aku ternyata di awasin sama pembantunya waktu melihat Buah dadanya Bu Anita, ternyata dari tadi memperhatikan Aku dan Sesaat itu Aku jadi malu sekali karna pemantu itu ternyata memperhatikanku, Saat aku mlototin buah dadanya Bu Anita.

    Berlanjut namanya juga Tamu dan waktu itu dia ngasihkan minum di meja ruang tamu, Saat itu dia juga pake baju daster dan agak terbuka, saat ngasihkan minum dia agak jongkok jadi agak kelihatan dadanya apalagi buah dadanya pastinya juga kelihatan. dan Aku kaget dia mengedipkan mata sama Aku, buah dada nya pun juga besar dan kelihatanya ukurannya sama dengan Bu Anita.

    Kemudian Bu Anita duduk di ruang tamu untuk menyapa Aku dan membahas tentang tugasnya, sebelum itu nawarin minumnya suruh ganti susu sama mbak ijah (nama pembantunya). mungkin karena aku tadi melihat belahan dada pembantu itu beliau nawarin minum nya suruh ganti susu. Cerita Sex

    “Kamu pengen minum susu ya San ?”

    “Aku langsung kaget dan gagap dan menjawab,” enggak kok Bu..”

    “Nggak papa kalo kamu pingin.., Ibu juga bersedia nyusuin kamu.” jawab Bu Anita..”

    “Oh… boleh juga tuh Bu..!”. jawab Aku, tapi awal Aku anaggap becanda.

    Dan ternyata beliau pun ngajak masuk ke ruang kerjanya.
    lalu aku masuk ke ruang kerjanya Bu Anita, Beliau tiba-tiba menyuruhku…

    “Hasan, tolong liatin ada apaan sih nih di punggung Ibu..!”

    Kemudian Aku menurut saja, saya lihat punggungnya Bu Anita. Karena tidak ada apa-apa, Aku bilang,

    “Nggak ada apa-apa kok Bu..!”

    Tanpa Aku sangka beliau malah langsung membuka baju tidurnya, dengan berjalan sambil mendekatiku.

    Saya sempet kaget pastinya dan deg-deg kan, lalu aku lihat semua tubuhnya yang begitu mulus dan putih kemudian beliau mendekatiku dan menarik tangan ku langsung ke buah dadanya tanpa bosa-basi, oh sungguh kenyal dan besar langsung Aku remas-remas buah dadanya Bu anita, dan aku berpikir tadi memang benar, putingnya besar dam masih keras dan sangat aduhai.

    Kemudian Beliau langsung hadap ke depan, yang Aku lihat Bodinya Bu Anita dari belakang dan Beliaupun masih pake celana dalamnya, dan langsung di buka. lalu terlihat juga bokongnya yang gede atau yang bahenol itu, Gak lama beliau langsung menghadap ke aku, lalu Aku melihat dari bawah terlihat di sekitar memekna dan rambut memeknya, bulu yang lebat sekali.

    “Kenapa Ibu Anita membuka baju..?” Aku Tanya..

    “Sudah…. Kamu diam aja san, puaskan aku malam ini kalau perlu hingga pagi.”
    Jawab Bu Anita dengan manja.

    Karna aku mengidolakan beliau karna beliau jadi guru yang ter seksi dan cantik dan punya buah dada yang sangat gede sekali di sekulahan, Aku tanpa bosa-basi langsung menciuminya dan juga buah dadanya Aku nikmati Aku hisap hingga Beliau kegelian dan menikmatinya.

    Lalu Beliau tanpa bosa basi langsung membuka celana ku dan baju ku, Beliau pun kaget saat melihat penisku.

    “San, besar sekali punyamu ”. Bu Anita

    Lalu Bu Anita langsung bergairah lihat penisku yang gede, Beliau langsung menjilat batang penisku pelan-pelan lalu mengulum penis ku hingga pol.

    “Ah.. ah..ah… Bu… sssttttttt, terus Bu enak banget bu…, aku belum pernah dihisap seperti ini..” Aku
    .
    Beliau aku puji, langsung memainkan mulutnya sambil maju mundur. Saya juga meremas-remas terus buah dadanya dan memelintir putingnya.

    “AHhhhhhh…” Bu Anita

    Kemudian Bu Anita ngajak berpindah posisi karna Beliau mulai terangsang dan inginya beliau memek nya ingin sekali Aku jilati dan kami pun langsung ber pindah posisi 69.

    Aku langsung aja menjilati memeknya sambil batang tangan aku ku masukkan ke memeknya.

    “Ah…. Hasan,,, aku nggak tahan nih… Cepat masukkan penismu..” katanya.

    “Iya Bu Aku juga gak tahan juga ni” jawab ku sambil penisku tak tempel ke memeknya.

    “Ah……, ternyata susah juga ya BU, Apa Jarang dimasukin ya Bu..?” tanya saya.

    “Iya Hasan, suami ku jarang banget membelai ku, karena itu Ibu memanggil mu kesini”. jawabnya.

    Kemudian Beliau gak bisa tahan karna penisku yang gede dan gak masuk-masuk di memeknya, saat penis ku bisa masuk Beliau pun sampai kesakitan sampai-sampai aku kasih pelican air liurku sendiri langsung bisa mauk bless…. beliau agak kesakitan,

    “Ohh… ohhh… oh… besar sekali penismu San, nyampe-nyampe susah banget masukinya”.

    “Ohhh… ohhh…oh…. Terus San, udah agak enak an San, agak keras dikit San” Bu Anita.

    Akhirnya Aku agak cepat gerakan maju mundurnya.

    “Oohh ssssshhhhhhh… ahahhahhh.. shhhhh… ahhhhhhhh” desahnya yang sangat hot, OOOOhhh..!”

    Aku pun sambil menggerakan batang Vaginanya, Gak sampai 2mnit, kemudian Bu Anita mengeluarkan cairan vaginanya.

    “Oh Hasan, Ibu udah keluar…” Bu Anita.

    Terasa hangat di penisku.
    Cairan itu juga memudahkan saya untuk terus memaju-mundurkan batang penisku. Karena cairan yang dikeluarkan terlalu banyak, terdengar bunyi, “Crep.. crep.. sleppp.. slepp..slep” sangat keras. Karena Aku melakukanya di sebelah pintu, sehingga terdengar sampai ke luar ruang kerjanya, dan pintunya ternyata terbuka.

    Pada saat itu ternyata pembantunya ngintipin aku lagi ngentot sama Bu Anita. Dan ternyata pembantu itu sedang meremas-remas Buah dadanya sendiri saat aku lagi menikmati ngentot sama Bu Anita, (mungkin karena bernafsu melihat permainan kami).

    Oh, betapa nikmatnya Aku memainkan dengan gaya maju mundur dengan sangat keras sekali. Akupun juga melihat pembantunya juga asyik sekali memainkan dan meremas remas buah dadanya sendiri, Dan Aku baru kali ini melihat wanita masturbasi. Cerita Bokep

    Setelah 15 menit bermain di atas, kemudian Aku menyuruh Bu Anita ber pindah posisi di atas . beliaupun sangat agresif dan keras sekali memainkanya saat di atas, 15 menit kemudian Beliau mau mencapai orgasme lagi yang ke 2.

    “Oh……Oh……,” mau keluar ni san..?” Bu Anita.

    cepat sekali dia orgasme, padahal aku belum sekalipun orgasme.” batin saya.

    Kemudian setelah orgasmenya yang kedua, Aku mau pindah posisi, Beliau aku suruh di atas meja, sedangkan Aku berdiri di depannya sambil menggerakkan gaya maju mundur sampai merasakan batas dinding rahimnya.

    “Oh.. oh..oh.. Hasan, pelan-pelan San..” katanya.

    Kelihatannya Beliau belum menikmati hubungan seks sama suaminya sampe kayak gini.

    “Ah Hasan, aku mau keluar lagi ni, ah… ah… ahhhhhh…

    Bu Anita mengeluarkan orgasme yang ke tiga, desahnya sambil memuncratkan kembali cairan kemaluannya yang banyak itu.

    Setelah itu beliau mengajak di kamar mandi yang berada didalam ruang kerjanya, Dan aku di suruh usap di buah dadanya suruh Aku meremas buah dadanya pakai air sabun, biar membantu agar Aku cepet orgasme. Ia membalasnya dengan meremas-remas buah kemaluan ku menggunakan sabun.

    Setelah 5 menit kami bermain ngentot di kamar mandi dengan gaya berdiri, kami akhirnya berdua mencapai klimaks yang keempat bagi Bu Anita dan yang pertama bagi Aku.

    “Oh….. Hasan, aku mau keluar lagi..” katanya.

    “Aku juga ni Bu mau keluar,,,” Aku.

    “Aku terus memainkan gerakanku sangat keras lagi dan akhirnya….

    ‘Ahhhhhhhhhhhhhhhh”. crottt crottttt crottttttttt.

    “Akhirnya aku pun keluar.”
    Aku keluarkan cairan maniku itu di atas buah dadanya.


    “Oh Hasan, kamu sungguh kuat dan dahsyat saat melakukanya, kamu tidak cepat orgasme atau keluar, sehingga aku dapat orgasme berkali-kali.

    Ini pertama kalinya bagiku Hasan, Suamiku biasanya hanya dapat membuatku orgasme sekali saja, kadang-kadang tidak sama sekali.” Ujar Bu Anita.

    “Masak sih Bu.” jawabku.

    Kemudian kami kelelahan, Beliau lemes dan duduk di atas wc duduk yang berada di kamar mandi, dan Aku keluar ruang kerjanya masih dalam keadaan bugil mencoba mengambil pakaianku yang berada di sana.

    Di luar ruang kerjanya Bu Anita, Aku lihat pembantu itu tiduran di dekat ruang kerjanya Bu Anita dan udah bugil lalu memasukkan jarinya yang tengah dan dia memainkanya. Karena aku melihat tubuh pembantu itu yang juga montok dan putih bersih, penisku mulai berdiri lagi. membayangkan bila saya dapat bersetubuh dengannya, yang menarik dari tubuhnya adalah karena buah dadanya yang besar, kurang lebih hampir sama dengan Bu Anita, Akhirnya aku memberanikan diri mendekati dia.

    Pembantu itu pun juga tampaknya bergairah setelah melihat permainan ku tadi dengan majikannya atau Bu Anita.

    Cerita Dewasa – Aku langsung aja tanpa bosa-basi naik di atas tubuhnya yang montok itu dengan sangat bernafsu, Aku mencoba melakukan perangsangan terlebih dulu ke bagian sensitifnya, Aku pun mulai buat dia merangsang dulu aku ciumi lehernya, buah dadanya, dan vaginanya Tidak berapa lama kemudian, Aku langsung masukin penisku dan Kami bermain sekitar 15 menit, dan tampaknya pembantu ini lebih kuat dari Bu Anita.

    Tak lama kemudian kami bermain, kami keluar atau orgasme barengan. Oh,,,,,,,.

    Ternyata saya sudah bermain seks dengan dua wanita bernafsu ini. Aku pun akhirnya pulang dengan rasa lelah yang luar biasa, karena ini adalah pertama kalinya Aku merasakan ngentot dengan wanita.

  • Pengalaman Sex Sensasi Vagina Berdenyut -Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Pengalaman Sex Sensasi Vagina Berdenyut -Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1798 views

    Perawanku – Namaku Eva, seoarang wanita keturunan, usiaku 27 tahun dan aku sudah mempunyai seorang anak dari suami yg sangat kucintai. Akan tetapi ada satu sifat dari diriku yg tdk dapat kukendalikan, aku merasa bahwa aku tdk dapat hidup dan bercinta hanya dgn satu pria, aku senang menggoda dan ngesex dgn pria yg kuanggap menarik dan bisa memuaskanku, dan setelah itu meninggalkannya utk kembali pada suamiku.

    Sejak dibangku SMP aku sudah mulai merasakan keanehan ini, dan yg mendukung sifatku ini adalah aku selalu dikelilingi oleh pria yg menarik. Pertama kali aku melakukan masturbasi adalah sewaktu aku berumur 13 tahun, aku suka memainkan puting payudraku dan klitorisku sambil berimajinasi merasakan nikmatnya ngesex. Dan dari masturbasi seperti ini, aku mendapatkan kepuasan yg membuatku mencapai puncak orgasme.

    Pacar pertamaku waktu aku berumur 15 tahun adalah Edo, dia lebih tua lima tahun dari aku, dia sudah cukup berpengalaman dlm hal bercinta, karena dia tahu aku suka berfantasi, maka dia sering mencium dan mengulum bibirku dgn penuh nafsu. Apabila kebetulan ortu ku sedang pergi, kami berdua sering melakukan oral sex di kamarku atau di ruang tengah.

    Aku paling terangsang bila dia mengulum putingku, menjilatinya dan tangan satunya memainkan klitorisku. Karena aku terangsang, maka kuberanikan diri utk memegang rudalnya. Kurasakan benda itu semakin mengeras dan mengeras. Kumasukkan tanganku ke dlm celananya, kubelai buah zakarnya, pangkal rudal dan kepalanya. Dia mendesah, ujung kepala rudalnya terasa basah, kumainkan dgn jarijariku, dia semakin kuat mengulum putingku, dan aku pun mendesah nikmat. Kemaluanku mulai berdenyutdenyut, cairan nikmat itu semakin banyak keluar dan aku semakin tdk tahan.

    Kudorong badan Edo sehingga posisiku berada di atasnya, kuplorotkan celananya dan kelihatanlah rudalnya yg keras, tegak menantang. Aku belum pernah melihat rudal sebelumnya, oleh karena itu aku cukup terkejut, tetapi nafsuku utk mengulum rudal Edo lebih besar daripada rasa terkejutku. Kupegang pelan batang rudalnya, tanganku naik turun perlahan mengikuti irama erangan Edo, kubelai dan kuciumi hingga puas. Edo menggelinjang kenikmatan. Kujilat dari pangkal ke atas, kukulum dan kusedotsedot, kumainkan dgn lidahku, kugigit, erangan Edo semakin menjadijadi.

    Mmmmppphhh.., Edo nggak tahan lagi, Eva.. Edo mau sampe..! katanya waktu itu.

    Aku tak dapat menjawabnya, karena mulutku tersumpal batang rudalnya, aku hanya mendesah, menjilat, mengulum dan menyedot. Kemaluanku kembali berdenyutdenyut. Sambil mengulum rudal Edo, kumainkan puting payudaraku bergantian dgn klitorisku. Aku pun sudah hampir mencapai puncak orgasme, kugeser posisi tubuhku hingga membentuk posisi 69, dan Edo dgn cepatnya mejilat serta mengulum memekku.

    Ooohhhh.., Eva.. keluarin punyamu Sayang.. Aku sudah nggak bisa nahan lebih lama lagi, aku mau keluaarr.. Acchhh.. oohh.. oohh.. oohh..! erangan Edo dan eranganku semakin kencang dan menyemburlah sperma dari rudalnya di dlm mulutku.

    Aku masih mengulum, menyedot dan menjilat sisasisa spermanya, rudal Edo berdenyutdenyut dan setiap kali kusedot, dia menggelinjang. Edo juga mejilatjilat vginaku dan mengulumnya.

    Occhhhh.., it feels so good.. batinku saat itu.

    Aku pun tergeletak lemas di samping Edo sambil masih menjilati putingku yg basah terkena spermanya, rasanya putingku masih mengeras dan masih minta utk dikulum dan dihisap, memekku pun masih berdenyutdenyut, rasanya masih ada yg mengganjal meminta utk dilampiaskan. Akhirnya dlm posisi telentang, tangan kananku kumainkan di kemaluanku dan tangan kiriku memilinmilin putingku, kugesekgesek dan kutekan tangan kananku di kemaluanku semakin cepat dan cepat sambil memejamkan mata dan membayangkan rudal di dlm memekku.

     

    Edo yg dari tadi memperhatikanku mulai beringsut mendekatiku dan berbisik,

    Mau aku bantu sayang..? Biar kamu dapat kepuasan lebih..?

    Aku hanya mendesah mengiyakan dan mulai menjerit kecil saat Edo menggigit pelan putingku, dimainkannya satu persatu. Dihisap pelan, dimainkan dgn lidah, digigit, dijilat sampai akhirnya vaginaku bertambah basah dan ada sesuatu yg mendesak ingin mencapai puncak kenikmatan. Tubuhku mengejang dan Edo semakin liar meremas kuat buah dadaku. Aku terkulai dan tercapai sudah keinginanku utk mendapatkan multi orgasme.

    Saat ini aku sudah putus dgn Edo dan aku mempunyai seorang pacar yg usianya jauh lebih tua dari aku, 9 tahun bedanya. Menurutku dia seorang lakilaki yg cukup berpengalaman, terutama dlm hal seks, akan tetapi dia menganggapku anak kecil yg sama sekali belum mengerti tentang nikmatnya seks. Walaupun aku masih tetap perawan (dgn Edo aku hanya melakukan oral), tetapiaku benarbenar ingin merasakan nikmatnya berhubungan badan. Namanya Donnie, aku sangat menyukai tangannya yg kekar dan pantatnya yg bulat berisi, entah mengapa, aku selalu terangsang apabila melihat tangan yg kekar dan pantat yg berisi. Aku ingin sekali dia menyetubuhiku, dan aku berpikir bagaimana caranya dia tergoda olehku.

    Waktu itu hari Minggu, dan kedua orangtuaku sedang bepergian ke luar kota. Aku tinggal di rumah hanya dgn pembantuku. Aku baru saja bangun tidur waktu kudengar pembantuku menerima telpon dari Donnie, dan Donnie mengatakan bahwa dia akan tiba di rumahku 10 menit lagi. Mungkin karena sudah beberapa hari ini produksi hormonku meningkat, aku merasa terusmenerus terangsang dan bernafsu sekali.

    Kuambil baju tidurku bewarna hitam yg berupa tank top dgn belahan dada rendah dan transparan, sehingga memperlihatkan payudaraku yg montok dan kenyal, putingku yg mengeras menonjol keluar seperti sedang mempersiapkan diri utk dikulum. Kuganti celana dlmku dgn gstring warna hitam senada dgn atasannya. Kuoleskan sedikit parfum kesukaan Donnie di belakang telinga dan belahan dadaku.

    Aku berpesan kepada pembantuku, apabila Donnie datang, suruh saja langsung masuk ke kamarku, karena aku agak sedikit pusing. Aku kembali berbaring di atas tempat tidur, menutup kembali selimutku dan berpurapura tidur sambil menunggu kedatangan Donnie. Tdk lama kemudian dia datang. Setelah pembantuku menyampaikan pesanku, kudengar perlahanlahan dia masuk ke dlm kamarku. Bau harum menyegarkan dan merangsang datang dari tubuhnya, dia duduk di pinggir ranjang sambil membelai kepalaku dan membisikkan sesuatu di telingaku.

    Hi, Sayanggg.. Kata bibi kamu sakit..? Pusing kenapa Sayang..? katanya pelan dan manis sekali.

    Aku menggelinjang dan membalikkan tubuhku menghadap dia. Sekilas sempat kulihat dia menelan ludah karena pahanya tersenggol oleh payudaraku, kusandarkan kepalaku di pahanya dan kutarik sedikit selimutku ke bawah, sehingga dia dapat melihat jelas gundukan dua bukit putih dan kenyal milikku. Kupeluk pinggangnya sehingga posisi wajahku menghadap ke perut dan kemaluannya, lalu kemudian aku bangkit dan duduk di pangkuannya.

    Kupeluk lehernya, kubisikkan di telinganya dgn desahan nafasku yg hangat,

    Aku pusing karena kamu nggak datengdateng..

    Donnie membalas pelukanku dgn erat, diciuminya pundak dan leherku sambil berbisik,

    Mmpphh, kamu sexy sekali, baumu sungguh merangsang, kamu tau aku paling nggak bisa tahan kalo kamu pake parfum ini.. Nanti kalo aku nggak tahan gimana..?

    Aku mengeratkan pelukanku dan menempelkan payudaraku ke dadanya sambil kugesekgesekkan, kucium belakang telinganya, kujilat lehernya.

    Kalo nggak tahan, ya dikeluarin ajaa.. aahh..!

    Aku mengubah posisiku menjadi menghadap ke arahnya dgn kedua kakiku menjepit pinggulnya. Kuremas rambutnya yg hitam, semerbak wangi kelelakiannya membuat kemaluanku berdenyutdenyut. Donnie mengangkatku dan menidurkanku di atas ranjang, dia menciumi dadaku, membuka tali tank topku dgn mulutnya satu persatu, menyembullah payudaraku. Dia mulai menghisap dan menjilat putingku, sementara tangan yg satunya meremas payudaraku yg satunya.

    Ouch.., Donnie.. aku paling terangsang kalo putingku dikerjain, aku bisa lakukan apa saya yg kamu minta, asal jangan berhenti menjilat dan menghisap putingku.. Ahh.. Ssshh..!

    Donnie semakin bernafsu mendengar katakata dan eranganku, kemaluannya sudah mulai mendesak dari celananya, kurasakan hal itu dan aku pun tdk tahan utk tdk memegang kemaluannya. Kubuka resleting celananya dan kumasukkan tanganku ke dalamnya, kurasakan cairan hangat di ujung kepala rudalnya dan hangat batangnya, dia mengerang nikmat sambil menggigit puting payudaraku. Setelah itu dia menciumi seluruh tubuhku hingga aku terangsang hebat.

    Dia memang sangat berpengalaman dlm hal ini, setelah itu aku berpindah ke depan kemaluannya dan mulailah aku melakukan aksiku membuat lelaki tergilagila. Kucium ujung rudalnya, kujilat cairan yg terasa gurih, kumasukkan kepala rudalnya ke dlm mulutku, kuhisaphisap dan kumainkan dgn lidahku. Donnie masih meremas dan memilinmilin putingku sambil mengerang nikmat, kumasukkan lagi rudalnya lebih dlm ke dlm mulutku sambil kukocokkocok dgn mulutku naik turun. Pertama perlahan, semakin lama semakin cepat. Donnie semakin kuat meremas payudaraku dan kemudian dia menarikku ke atas tubuhnya.

    Donnie melepas celana dlmku dan aku duduk di atas kemaluannya, kugesekgesekkan memekku di atas rudalnya sambil menggoyanggoyangkan tubuhku dan meremas serta memainkan putingku. Aku mengerang, dan Donnie tampaknya sudah sangat terangsang oleh gerakan tubuhku. Dia duduk dan diangkatnya aku hingga rudalnya berdiri dan siap menusuk ke liang kemaluanku.

    Aku memeluknya dan membisikkan,

    Honey, Im still virgin, so do it smoothly, because I want to feel the excitement..
    Sure, sweetheart.. Ill do this very, very gently so you wont forget this moment..

    Perlahan dia mulai memasukkan batang rudalnya, terasa sempit sekali dan terasa panas, akan tetapi karena didorong oleh nafsuku yg sudah tdk tertahankan dan Donnie melakukannya dgn sangat berhatihati, lama kelamaan seluruh batang rudalnya telah masuk ke dlm liang memekku dan terasa nikmat sekali.

    Ouch.., Donnie mulai menggerakgerakkan pantatnya yg sexy dan aku mulai menggoyanggoyangkan pinggulku. Cairan yg keluar dari kemaluanku memang sangat membantu, terasa sempit, menjepit namun tdk sakit. Donnie semakin cepat menggerakkan rudalnya, maju dan mundur. Aahh, rasanya tdk dapat diungkapkan dgn katakata, terlalu nikmat utk diucapkan. Peluh membasahi kedua tubuh kami, hawa dingin yg keluar dari AC sudah tdk dapat mendinginkan kami yg sedang dibakar gairah.

    Sambil menggoyangkan tubuhnya, Donnie kembali menghisap puting payudaraku dan membuatku gila. Rasanya aku tdk ingin dia melepaskan hisapannya. Kupeluk dia dan kujilat lehernya, kukulum bibirnya sambil mengerang nikmat.

    Donnie membisikkan sesuatu padaku, Rubah posisi yuk, sayang.. Aku yakin dgn posisi ini kamu bakalan ketagihan ngesex..

    Donnie kemudian mengangkat dan memutar tubuhku, sehingga aku membelakanginya, dia melakukan dogie style yg pada saat itu aku belum pernah membayangkan sampai kesitu.

    Donnie kembali memasukkan batang rudalnya ke memekku dan maju mundur, dari perlahan hingga semakin cepat. Pengalamanku kali ini luar biasa, belum pernah aku merasakan kenikmatan yg seperti ini. Memang betul kata Donnie, ini akan membuatku ketagihan. Semakin cepat Donnie menggerakkannya, semakin aku terangsang dan merasakan sesuatu kenikmatan luar biasa yg berbeda dgn yg kurasakan pada waktu masturbasi maupun oral.

    Donnie memelukku dari belakang, meremas payudaraku dan membisikkan,

    Oooggghhh.. aku mau keluar.. kamu luar biasa, kamu bisa membuat aku begitu terangsang dan aku nggak mau kehilangan kamu.. oohh.. oohh.. oohh..

    Bersamaan dgn keluarnya mani Donnie, aku pun merasakan yg sama, cairan hangat milik Donnie membasahi memekku. Bau khas kejantanan itu menyetuh penciumanku. Aku mengatakan bahwa aku tdk menyesal melakukan hal ini, karena ini timbul dari keinginanku, tetapi Donnie mengatakan berulang kali bahwa dia tdk mau kehilangan diriku.

  • Menjadi Simpanan Tante Erni Karena Suaminya Mengalami Ejakulasi Dini – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    Menjadi Simpanan Tante Erni Karena Suaminya Mengalami Ejakulasi Dini – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018


    1797 views

    Perawanku – Kejadian ini terjadi ketika aku kelas 3 SMA, yah aku perkirakan umur aku waktu itu baru saja 14 tahun. Aku entah kenapa yah perkembangan sexnya begitu cepat sampai-sampai umur segitu ssudah mau ngerasain yang enak-enak.

    Ah itu semua karena temen nyokap kali yah, Soalnya temen nyokap Aku yang namanya Tante Erni (biasa kupanggil dia begitu) orangnya cantik banget, langsing dan juga awet muda bikin aku bergetar.Tante Erni ini tinggal dekat rumahku, hanya beda 5 rumahlah, nah Tante ini cukup deket sama keluargaku meskipun enggak ada hubungan saudara.

    Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak ibu-ibu suka ngumpul di rumahku buat sekedar ngobrol bahkan suka ngomongin suaminya sendiri. Nah Tante inilah yang bikin aku cepet gede (maklumlah anak masih puber kan biasanya suka yang cepet-cepet).

    Biasanya Tante Erni kalau ke rumah Aku selalu memakai daster atau kadang-kadang celana pendek yang bikin aku ser.. ser.. ser.. Biasanya kalau sudah sore tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang TV dan biasanya juga aku pura-pura nonton TV saja sambil lirak lirik. Tante ini entah sengaja atau nggak aku juga enggak tahu yah. Dia sering kalau duduk itu tuh mengangkang, kadang pahanya kebuka dikit bikin Aku ser.. ser lagi deh hmm.

    Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengaja Aku juga enggak bisa ngerti, tapi yang pasti sih aku kadang puas banget sampai-sampai kebayang kalau lagi tidur. Kadang kalau sedang ngerumpi sampai ketawa sampai lupa kalau duduk nya Tante Erni ngangkang sampai-sampai celana dalemnya keliatan (wuih aku suka banget nih).

    Pernah aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada perasaan takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai panas dingin tapi Tante malah diam saja malah dia tambahin lagi deh gaya duduknya. Nah dari situ aku sudah mulai suka sama tuh Tante yang satu itu. Setiap hari pasti Aku melihat yang namanya paha sama celana dalem tuh Tante.

    Pernah juga Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di villa. Ibu-ibu hanya bawa anaknya, nah kebetulan Mami Aku ngsajak Aku pasti Tante Erni pula ikut wah asyik juga nih pikir ku. Waktu hari ke-2 malam-malam sekitar jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket taman sambil bakar jagung.

    Ternyata mereka sedang bercerita tentang hantu, ih dasar ibu-ibu masih juga kaya anak kecil ceritanya yang serem-serem, pas waktu itu Tante Erni mau ke WC tapi dia takut. Tentu saja Tante di ketawain sama gangnya karena enggak berani ke WC sendiri karena di villa enggak ada orang jadinya takut sampai-sampai dia mau kencing di deket pojokan taman.

    Lalu Tante Erni menarik tangan Aku minta ditemenin ke WC, yah aku sih mau saja. Pergilah aku ke dalam villa sama Tante Erni, sesampainya Aku di dalam villa Aku nunggu di luar WC eh malah Tante ngajak masuk nemenin dia soalnya katanya dia takut.

    “Lex temenin Tante yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya enggak usah di tutup, Tante takut nih”, kata Tante Erni sambil mulai berjongkok.

    Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana dalamnya yang berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga. “Serr.. rr.. serr.. psstt”, kalau enggak salah gitu deh bunyinya. Jantungku sampai deg-degan waktu liat Tante Erni kencing, dalam hatiku, kalau saja Tante boleh ngasih liat terus boleh memegangnya hmm. Sampai-sampai aku bengong ngeliat Tante.

    “Heh kenapa kamu Lex kok diam gitu awas nanti kesambet” kata Tante.
    “Ah enggak apa-apa Tante”, jawabku.
    “Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak yah, kok melihatnya ke bawah terus sih?”, tanya Tante Erni.
    “Enggak kok Tante, aku hanya belum pernah liat cewek kencing dan kaya apa sih bentuk itunya cewek?” tanyaku.

    Tante Erni cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama CDnya.

    “Kamu mau liat Lex? Nih Tante kasih liat tapi jangan bilang-bilang yah nanti Tante enggak enak sama Mamamu”, kata Tante Erni.

    Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah vaginanya. Aku tambah deg-degan sampai panas dingin karena baru kali ini Aku megang sama melihat yang namanya memek. Tante membiarkanku memegang-megang vaginanya.

    “Sudah yah Lex nanti enggak enak sama ibu-ibu yang lain dikirain kita ngapain lagi”.
    “Iyah Tante”, jawabku.

    Lalu Tante Erni menaikan celana dalam juga celana pendeknya terus kami gabung lagi sama ibu-ibu yang lain. Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku panas dingin. Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi sampai sore buat belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut karena badanku enggak enak.

    “Lex, kamu enggak ikut?” tanya mamiku.
    “Enggak yah Mam aku enggak enak badan nih tapi aku minta di bawain kue mochi saja yah Mah” kataku.
    “Yah sudah istirahat yah jangan main-main lagi” kata Mami.
    “Erni, kamu mau kan tolong jagain si Alex nih yah, nanti kalau kamu ada pesenan yang mau di beli biar sini aku beliin” kata Mami pada Tante.
    “Iya deh Kak aku jagain si Alex tapi beliin aku tales sama sayuran yah, aku mau bawa itu buat pulang besok” kata Tante.

    Akhirnya mereka semua pergi, hanya tinggal aku dan Tante Erni berdua saja di villa, Tante baik juga sampai-sampai aku di bikinin bubur buat sarapan, jam menunjukan pukul 9 pagi waktu itu.

    “Kamu sakit apa sih Lex? kok lemes gitu?” tanya Tante sambil nyuapin aku dengan bubur ayam buatannya.
    “Enggak tahu nih Tante kepalaku juga pusing sama panas dingin aja nih yang di rasa” kataku.

    Tante Erni begitu perhatian padaku, maklumlah di usia perkawinannya yang sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun.

    “Kepala yang mana Lex atas apa yang bawah?” kelakar Tante Erni padaku.

    Aku pun bingung,

    “Memangya kepala yang bawah ada Tante? kan kepala kita hanya satu?” jawabku polos.
    “Itu tuh yang itu yang kamu sering tutupin pake segitiga pengaman” kata Tante sambil memegang si kecilku.
    “Ah Tante bisa saja” kataku.
    “Eh jangan-jangan kamu sakit gara-gara semalam yah” aku hanya diam saja.

    Selesai sarapan badanku dibasuh air hangat oleh Tante, pada waktu dia ingin membuka celanaku, kubilang, “Tante enggak usah deh Tante biar Alex saja yang ngelap, kan malu sama Tante”
    “Enggak apa-apa, tanggung kok” kata Tante Erni sambil menurunkan celanaku dan CDku.

    Dilapnya si kecilku dengan hati-hati, aku hanya diam saja.

    “Lex mau enggak pusingnya hilang? Biar Tante obatin yah”
    “Pakai apa Tan, aku enggak tahu obatnya” kataku polos.
    “Iyah kamu tenang saja yah” kata Tante .

    Lalu di genggamnya batang penisku dan dielusnya langsung spontan saat itu juga penisku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti sampai-sampai aku melayang karena baru pertama kali merasakan yang seperti ini.

    “Achh.. cchh..” aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku memegang vagina Tante Erni yang masih di balut dengan celana pendek dan CD tapi Tante hanya diam saja sambil tertawa kecil terus masih melakukan kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan mau kencing.

    “Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih” kataku.
    “Sudah, kencingnya di mulut Tante saja yah enggak apa-apa kok” kata Tante Erni.

    Aku bingung campur heran melihat penisku dikulum dalam mulut Tante Erni karena Tante tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa diam karena merasakan enaknya.

    “Hhgg..achh.. Tante aku mau kencing nih bener ” kataku sambil meremas vagina Tante yang kurasakan berdenyut-denyut.

    Tante Ernipun langsung menghisap dengan agresifnya dan badanku pun mengejang keras.

    “Croott.. ser.. err.. srett..” muncratlah air maniku dalam mulut Tante Erni, Tante Erni pun langsung menyedot sambil menelan maniku sambil menjilatnya. Dan kurasakan vagina Tante berdenyut kencang sampai-sampai aku merasakan celana Tante lembab dan agak basah.

    “Enak kan Lex, pusingnya pasti hilang kan?” kata Tante Erni.
    “Tapi Tante aku minta maaf yah aku enggak enak sama Tante nih soalnya Tante..”
    “Sudah enggak apa-apa kok, oh iya kencing kamu kok kental banget, wangi lagi, kamu enggak pernah ngocok Lex?”
    “Enggak Tante”

    Tanpa kusadari tanganku masih memegang vagina Tante.

    “Loh tangan kamu kenapa kok di situ terus sih”. Aku jadi salah tingkah
    “Sudah enggak apa-apa kok, Tante ngerti” katanya padaku.
    “Tante boleh enggak Alex megang itu Tante lagi” pintaku pada Tante.

    Tante Erni pun melepaskan celana pendeknya, kulihat celana dalam Tante basah entah kenapa.

    “Tante kencing yah?” tanyaku.
    “Enggak ini namanya Tante nafsu Lex sampai-sampai celana dalam Tante basah”.

    Dilepaskannya pula celana dalam Tante dan mengelap vaginanya dengan handukku. Lalu Tante Erni duduk di sampingku

    “Lex pegang nih enggak apa-apa kok sudah Tante lap” katanya. Akupun mulai memegang vagina Tante Erni dengan tangan yang agak gemetar, Tante hanya ketawa kecil.
    “Lex, kenapa? Biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih” kata Tante.

    Dia mulai memegang penisku lagi,

    “Lex Tante mau itu nih”.
    “Mau apa Tante?”
    “Itu tuh”, aku bingung atas permintaan Tante Erni.
    “Hmm itu tuh, punya kamu di masukin ke dalam itunya Tante kamu mau kan?”
    “Tapi Alex enggak bisa Tante caranya”
    “Sudah, kamu diam saja biar Tante yang ajarin kamu yah” kata Tante padaku.

    Mulailah tangannya mengelus penisku biar bangun kembali tapi aku juga enggak tinggal diam aku coba mengelus-elus vagina Tante Erni yang di tumbuhi bulu halus.

    “Lex jilatin donk punya Tante yah” katanya.
    “Tante Alex enggak bisa, nanti muntah lagi”
    “Coba saja Lex”

    Tante pun langsung mengambil posisi 69. Aku di bawah, Tante Erni di atas dan tanpa pikir panjang Tante pun mulai mengulum penisku.

    “Achh.. hgghhghh.. Tante”

    Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium vagina Tante tidak berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih baunya vagina Tante Erni seperti wangi daun pandan (asli aku juga bingung kok bisa gitu yah) aku mulai menjilati vagina Tante sambil tanganku melepaskan kaus u can see Tante dan juga melepaskan kaitan BH-nya, kini kami sama-sama telanjang bulat.

    Tante Erni pun masih asyik mengulum penisku yang masih layu kemudian Tante Erni menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium bibirku dengan nafas yang penuh nafsu dan menderu.

    “Kamu tahu enggak mandi kucing Lex” kata Tante Erni.

    Aku hanya menggelengkan kepala dan Tante Erni pun langsung menjilati leherku menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat, ciumannya berlanjut sampai ke putingku, dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku, terus turun ke selangkanganku dan penisku pun mulai bereaksi mengeras.

    Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya menggelinjang hebat karena di bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur kenikmatan yang begitu dahsyat. Tante pun langsung menjilati penisku tanpa mengulumnya seperti tadi dia menghisap-hisap bijiku dan juga terus sampai-sampai lubang pantatku pun dijilatinya sampai aku merasakan anusku basah.

    Kulihat payudara Tante Erni mengeras, Tante menjilati sampai ke betisku dan kembali ke bibirku dikulumnya sambil tangannya mengocok penisku, tanganku pun meremas payudara Tante. Entah mengapa aku jadi ingin menjilati vagina Tante, langsung Tante kubaringkan dan aku bangun, langsung kujilati vagina Tante Erni seperti menjilati es krim.

    “Achh.. uhh.. hhghh.. acch Lex enak banget terus Lex, yang itu isep jilatin Lex” kata Tante sambil menunjuk sesuatu yang menonjol di atas bibir vaginanya.

    Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya, banyak sekali lendir yang keluar dari vagina Tante Erni tanpa sengaja tertelan olehku.

    “Lex masukin donk Tante enggak tahan nih”
    “Tante gimana caranya?”

    Tante Erni pun menyuruhku tidur dan dia jongkok di atas penisku dan langsung menancapkannya ke dalam vaginanya. Tante naik turun seperti orang naik kuda kadang melakukan gerakan maju mundur. Setengah jam kami bergumul dan Tante Erni pun mengejang hebat.

    “Lex Tante mau keluar nih eghh.. huhh achh” erang Tante Erni.

    Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama kurasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari dalam vagina Tante. Hmm sungguh pengalaman pertamaku dan juga kurasakan vagina Tante Erni mungurut-urut penisku dan juga menyedotnya. Kurasakan Tante sudah orgasme dan permainan kami terhenti sejenak. Tante tidak mencabut penisku dan membiarkanya di dalam vaginanya.

    “Lex nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang ya” pinta Tante Erni padaku.

    Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan Tante Ernipun langsung mengocok penisku dengan vaginanya dengan posisi yang seperti tadi.

    “Achh .. Tante enak banget achh.., gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun merasakan hal yang seperti tadi lagi.
    “Tante, Alex kayanya mau kencing niih”

    Tante Erni pun langsung bangun dan mengulum penisku yang masih lengket dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan tak lama menyemburlah cairan maniku untuk yang ke 2 kalinya dan seperti yang pertama Tante pun menelannya dan menghisap ujung kepala penisku untuk menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas tapi disertai kenikmatan yang alang kepalang.

    Kami pun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan telanjang bulat dan kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi Tante Erni menungging di pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas arahan Tante yang hebat.

    Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1 siang langsung makan siang dengan telur dadar buatan Tante, setelah itu kamipun capai sekali sampai-sampai tertidur dengan Tante Erni di sampingku, tapi tanganku kuselipkan di dalam celana dalam Tante. Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami melakukannya atas permintaan Tante, tepat jam 4:30 kami mengakhiri dan kembali mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul 6 sore.

    “Lex kamu sudah baikan?” tanya Mamiku.
    “Sudah mam, aku sudah seger n fit nih” kataku.
    “Kamu kasih makan apa Ni, si Alex sampai-sampai langsung sehat” tanya Mami sama Tante.
    “Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus kukasih saja obat anti panas” kata Tante Erni.

    Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobil pun aku duduk di samping Tante Erni yang semobil denganku. Mami yang menyopir ditemani Ibu Herman di depan. Di dalam mobilpun aku masih mencuri-curi memegang barangnya Tante.

    Sampai sekarang pun aku masih suka melakukannya dengan Tante bila rumahku kosong atau terkadang ke hotel dengan Tante Erni. Sekali waktu aku pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3 kali. Kini Tante sudah dikarunia 2 orang anak yang cantik.

    Baru kuketahui bahwa suami Tante ternyata mengalami ejakulasi dini. Sebenarnya kini aku bingung akan status anak Tante Erni. Yah, begitulah kisahku sampai sekarang aku tetap menjadi simpanan Tante bahkan aku jadi lebih suka dengan wanita yang lebih tua dariku.

    Pernah juga aku menemani seorang kenalan Tante yang nasibnya sama seperti Tante Erni, mempunyai suami yang ejakulasi dini dan suka daun muda buat obat awet muda, dengan menelan air mani pria muda.

  • Perawanku Pecah Di Dokter

    Perawanku Pecah Di Dokter


    1797 views


    Perawanku – Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Aku ingin menceritakan pengalaman seksku yang pertama justru dari teman baik ayahku sendiri. Peristiwa yang tak kuduga ini terjadi ketika aku baru saja akan masuk kelas 2 SMP, ketika aku masih tinggal di Yogya. Teman ayah itu bernama Om Bayu dan aku sendiri memanggilnya Om. Karena hubungan yang sudah sangat dekat dengan Om Bayu, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri di rumahku. Om Bayu wajahnya sangat tampan, wajahnya tampak jauh lebih muda dari ayahku, karena memang usianya berbeda agak jauh. Usia Om Bayu ketika itu sekitar 28 tahun. Selain tampan, Om Bayu memiliki tubuh yang tinggi tegap dengan dada yang bidang.

    Kejadian ini bermula ketika liburan semester. Waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke Madiun karena ada perayaan pernikahan saudara. Karena kami dan Om Bayu cukup dekat, maka aku minta kepada orang tuaku untuk menginap saja di rumah Om Bayu yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu. Om Bayu sudah menikah, tetapi belum punya anak. Istrinya adalah seorang karyawan perusahaan swasta, sedangkan Om Bayu tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia adalah seorang makelar mobil. Hari-hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria, setelah istri Om Bayu pergi ke kantor. Om Bayu sendiri karena katanya tidak ada order untuk mencari mobil, jadi tetap di rumah sambil menunggu telepon kalau-kalau ada langganannya yang mau mencari mobil. Untuk melewatkan waktu, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma atau monopoli, karena memang Om Bayu orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja.

    Ketika suatu hari, setelah makan siang, tiba-tiba Om Bayu berkata kepadaku, “Rin… kita main dokter-dokteran yuk.., sekalian Rini, Om periksa beneran, mumpung gratis”.

    Memang kata ayah dahulu Om Bayu pernah kuliah di fakultas kedokteran, namun putus di tengah jalan karena menikah dan kesulitan biaya kuliah.

    “Ayoo…”, sambutku dengan polos tanpa curiga.

    Kemudian Om Bayu mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya ketika kuliah dulu.

    “Nah Rin, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang”.

    Mula-mula aku agak ragu-ragu. Tapi setelah melihat mukanya yang bersungguh-sungguh akhirnya aku menurutinya.

    “Baik Om”, kataku, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring.

    Namun Om Bayu bilang, “Lho… BH-nya sekalian dibuka dong.. biar Om gampang meriksanya”.

    Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal.

    “Wah… kamu memang benar-benar cantik Rin…”, kata Om Bayu.

    Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku dan aku hanya tertunduk malu.

    Setelah telentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Om Bayu mulai memeriksaku. Mula-mula ditempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin, lalu Om Bayu menyuruhku bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Om Bayu mencopot stetoskopnya. Kemudian sambil tersenyum kepadaku, tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya dengan lembut.

    “Waah… kulit kamu halus ya, Rin… kamu pasti rajin merawatnya”, katanya.

    Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Om Bayu. Kemudian usapan itu bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Om Bayu merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Om Bayu benar-benar terasa lembut. Dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai-sampai bulu tanganku merinding dibuatnya.

    Lalu Om Bayu menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih… baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut, dan geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Om Bayu menghentikan usapannya. Dan aku kira… yah hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi kemudian Tom Bayu bergerak ke arah kakiku.

    “Nah.. sekarang Om periksa bagian bawah yah…”, katanya.

    Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja. Saat itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Om Bayu menarik dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati.

    “Ih… Om kok celana dalam Rini dibuka…?”, kataku dengan gugup.

    “Lho… kan mau diperiksa.. pokoknya Rini tenang aja…”, katanya dengan suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Om Bayu penuh dengan maksud tersembunyi. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

    Setelah celana dalamku diloloskan oleh Om Bayu, dia duduk bersimpuh di hadapan kakiku. Matanya tak berkedip menatap vaginaku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang masih sangat halus dan tipis. Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Om Bayu mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba-raba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hiii… aku jadi merinding rasanya.

    “Ooomm…”, suaraku lirih.

    “Tenang sayang.. pokoknya nanti kamu merasa nikmat…”, katanya sambil tersenyum.

    Om Bayu lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya. Kemudian dengan jari telunjuknya yang besar, Om Bayu menggesekkannya ke bibir vaginaku dari bawah ke atas.

    “Aahh… Oooomm…”, jeritku lirih.

    “Sssstt… hmm… nikmat.. kan…?”, katanya.

    Mana mampu aku menjawab, malahan Om Bayu mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin tidak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, menggeliat-geliat kesana kemari.

    “Ssstthh… aahh… Ooomm… aahh…”, eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Vaginaku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar sangat terangsang sekali.

    Setelah Om Bayu merasa puas dengan permainan jarinya, dia menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku. Aku yang belum berpengalaman sama sekali, dengan pikiran yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya geli, lembut, dan basah.

    Namun Om Bayu bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya. Hiii… rasanya jadi makin geli… apalagi ketika lidah Om Bayu memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Om Bayu saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian.

    Kemudian Om Bayu mengangkat wajahnya dan memundurkan badannya. Entah permainan apa lagi yang akan diperbuatnya pikirku, aku toh sudah pasrah. Dan eh… gila… tiba-tiba badannya dimundurkan ke bawah dan Om Bayu tengkurap diantara kedua kakiku yang otomatis terkangkang. Kepalanya berada tepat di atas kemaluanku dan Om Bayu dengan cepat menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku. Kedua pahaku dipegangnya dan diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Om Bayu. Aku sangat terkejut dan mencoba memberontak, akan tetapi kedua tangannya memegang pahaku dengan kuat, lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Om Bayu mulai menjilati bibir vaginaku.

    “Aaa… Ooomm…!”, aku menjerit, walaupun lidah Om Bayu terasa lembut, namun jilatannya itu terasa menyengat vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Namun Om Bayu yang telah berpengalaman itu, justru menjilati habis-habisan bibir vaginaku, lalu lidahnya masuk ke dalam vaginaku, dan menari-nari di dalam vaginaku. Lidah Om Bayu mengait-ngait kesana kemari menjilat-jilat seluruh dinding vaginaku. Tentu saja aku makin menjadi-jadi, badanku menggeliat-geliat dan terhentak-hentak, sedangkan kedua tanganku mencoba mendorong kepalanya dari kemaluanku. Akan tetapi usahaku itu sia-sia saja, Om Bayu terus melakukan aksinya dengan ganas. Aku hanya bisa menjerit-jerit tidak karuan.

    “Aahh… Ooomm… jaangan… jaanggann… teeerruskaan… ituu… aa… aaku… nndaak… maauu.. geellii… stooopp… tahaann… aahh!”.

    Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat kesana kemari antara mau dan tidak. Biarpun ada perasaan menolak akan tetapi rasa geli bercampur dengan kenikmatan yang teramat sangat mendominasi seluruh badanku. Om Bayu dengan kuat memeluk kedua pahaku diantara pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat kesana kemari namun Om Bayu tetap mendapatkan yang diinginkannya. Jilatan-jilatan Om Bayu benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan. Vaginaku sudah benar-benar banjir dibuatnya. Hal ini membuat Om Bayu menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot vaginaku. Cairan lendir vaginaku bahkan disedot Om Bayu habis-habisan. Sedotan Om Bayu di vaginaku sangat kuat, membuatku jadi semakin kelonjotan.

    Kemudian Om Bayu sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir vaginaku, lalu disorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Om Bayu, rupanya Om Bayu mengincar clitorisku. Dia menjulurkan lidahnya lalu dijilatnya clitorisku.

    “Aahh…”, tentu saja aku menjerit keras sekali. Aku merasa seperti kesetrum karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai mengangkat pantatku. Om Bayu malah menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati clitorisku sambil dihisap-hisapnya.

    “Aa… Ooomm… aauuhh… aahh… !”, jeritku semakin menggila.

    Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang teramat sangat, yang ingin keluar dari dalam vaginaku, seperti mau pipis, dan aku tak kuat menahannya, namun Om Bayu yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot clitorisku dengan kuatnya.

    “Ooomm… aa… !”, tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Om Bayu dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan vaginaku banyak sekali, dan tampaknya Om Bayu tidak menyia-nyiakannya. Disedotnya vaginaku, dihisapnya seluruh cairan vaginaku. Tulang-tulangku terasa luluh lantak, lalu tubuhku terasa lemas sekali. Aku tergolek lemas.

    Om Bayu kemudian bangun dan mulai melepaskan pakaiannya. Aku, yang baru pertama kali mengalami orgasme, merasakan badanku lemas tak bertenaga, sehingga hanya bisa memandang saja apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu. Mula-mula Om Bayu membuka kemejanya yang dilemparkan ke sudut kamar, kemudian secara cepat dia melepaskan celana panjangnya, sehingga sekarang dia hanya memakai CD saja.

    Aku agak ngeri juga melihat badannya yang tinggi besar itu tidak berpakaian. Akan tetapi ketika tatapan mataku secara tak sengaja melihat ke bawah, aku sangat terkejut melihat tonjolan besar yang masih tertutup oleh CD-nya, mencuat ke depan. Kedua tangan Om Bayu mulai menarik CD-nya ke bawah secara perlahan-lahan, sambil matanya terus menatapku.

    Pada waktu badannya membungkuk untuk mengeluarkan CD-nya dari kedua kakinya, aku belum melihat apa-apa, akan tetapi begitu Om Bayu berdiri tegak, darahku mendadak serasa berhenti mengalir dan mukaku menjadi pucat karena terkejut melihat benda yang berada diantara kedua paha atas Om Bayu. Benda tersebut bulat, panjang dan besar dengan bagian ujungnya yang membesar bulat berbentuk topi baja tentara. Benda bulat panjang tersebut berdiri tegak menantang ke arahku, panjangnya kurang lebih 20 cm dengan lingkaran sebesar 6 cm bagian batangnya dilingkarin urat yang menonjol berwarna biru, bagian ujung kepalanya membulat besar dengan warna merah kehitam-hitaman mengkilat dan pada bagian tengahnya berlubang dimana terlihat ada cairan pada ujungnya. Rupanya begitu yang disebut kemaluan laki-laki, tampaknya menyeramkan. Aku menjadi ngeri, sambil menduga-duga, apa yang akan dilakukan Om Bayu terhadapku dengan kemaluannya itu.

    Melihat ekspresi mukaku itu, Om Bayu hanya tersenyum-senyum saja dan tangan kirinya memegang batang kemaluannya, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus bagian kepala kemaluannya yang kelihatan makin mengkilap saja. Om Bayu kemudian berjalan mendekat ke arahku yang masih telentang lemas di atas tempat tidur. Kemudian Om Bayu menarik kedua kakiku, sehingga menjulur ke lantai sedangkan pantatku berada tepat di tepi tempat tidur. Kedua kakiku dipentangkannya, sehingga kedua pahaku sekarang terbuka lebar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena badanku masih terasa lemas. Mataku hanya bisa mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu.

    Kemudian dia mendekat dan berdiri tepat diantara kedua pahaku yang sudah terbuka lebar itu. Dengan berlutut di lantai di antara kedua pahaku, kemaluannya tepat berhadapan dengan kemaluanku yang telah terpentang itu. Tangan kirinya memegang pinggulku dan tangan kanannya memegang batang kemaluannya. Kemudian Om Bayu menempatkan kepala kemaluannya pada bibir kemaluanku yang belahannya kecil dan masih tertutup rapat. Kepala kemaluannya yang besar itu mulai digosok-gosokannya sepanjang bibir kemaluanku, sambil ditekannya perlahan-lahan. Suatu perasaan aneh mulai menjalar ke keseluruhan tubuhku, badanku terasa panas dan kemaluanku terasa mulai mengembung. Aku agak menggeliat-geliat kegelian atas perbuatan Om Bayu itu dan rupanya reaksiku itu makin membuat Om Bayu makin terangsang. Dengan mesra Om Bayu memelukku, lalu mengecup bibirku.

    “Gimana Rin… nikmat kan…?”, bisik Om Bayu mesra di telingaku, namun aku sudah tak mampu menjawabnya. Nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku sudah tidak berdaya diperlakukan begini oleh Om Bayu dan tidak pernah kusangka, karena sehari-hari Om Bayu sangat sopan dan ramah.

    Selanjutnya tangan Om Bayu yang satu merangkul pundakku dan yang satu di bawah memegang penisnya sambil digosok-gosokkan ke bibir kemaluanku. Hal ini makin membuatku menjadi lemas ketika merasakan kemaluan yang besar menyentuh bibir kemaluanku. Aku merasa takut tapi kalah dengan nikmatnya permainan Om Bayu, di samping pula ada perasaan bingung yang melanda pikiranku. Kemaluan Om Bayu yang besar itu sudah amat keras dan kakiku makin direnggangkan oleh Om Bayu sambil salah satu dari pahaku diangkat sedikit ke atas. Aku benar-benar setengah sadar dan pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Kepala kemaluannya mulai ditekan masuk ke dalam lubang kemaluanku dan dengan sisa tenaga yang ada, aku mencoba mendorong badan Om Bayu untuk menahan masuknya kemaluannya itu, tapi Om Bayu bilang tidak akan dimasukkan semua cuma ditempelkan saja. Saya membiarkan kemaluannya itu ditempelkan di bibir kemaluanku.

    Tapi selang tak lama kemudian perlahan-lahan kemaluannya itu ditekan-tekan ke dalam lubang vaginaku, sampai kepala penisnya sedikit masuk ke bibir dan lubang vaginaku. Kemaluanku menjadi sangat basah, dengan sekali dorong kepala penis Om Bayu ini masuk ke dalam lubang vaginaku. Gerakan ini membuatku terkejut karena tidak menyangka Om Bayu akan memasukan penisnya ke dalam kemaluanku seperti apa yang dikatakan olehnya. Sodokan penis Om Bayu ini membuat kemaluanku terasa mengembang dan sedikit sakit. Seluruh kepala penis Om Bayu sudah berada di dalam lubang kemaluanku dan selanjutnya Om Bayu mulai menggerakkan kepala penisnya masuk dan keluar dan selang sesaat aku mulai menjadi biasa lagi. Perasaan nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhku, terasa ada yang mengganjal dan membuat kemaluanku serasa penuh dan besar.

    Tanpa sadar dari mulutku keluar suara, “Ssshh… ssshh… aahh… ooohh… Ooomm… Ooomm… eennaak… eennaak… !”

    Aku mulai terlena saking nikmatnya dan pada saat itu, tiba-tiba Om Bayu mendorong penisnya dengan cepat dan kuat, sehingga penisnya menerobos masuk lebih dalam lagi dan merobek selaput daraku dan akupun menjerit karena terasa sakit pada bagian dalam vaginaku oleh penis Om Bayu yang terasa membelah kemaluanku.

    “Aadduuhh… saakkiiitt… Ooomm… sttooopp… sttooopp… jaangaan… diterusin”, aku meratap dan kedua tanganku mencoba mendorong badan Om Bayu, tapi sia-sia saja.

    Om Bayu mencium bibirku dan tangannya yang lain mengelus-elus buah dadaku untuk menutupi teriakan dan menenangkanku. Tangannya yang lain menahan bahuku sehingga aku tidak dapat berkutik. Badanku hanya bisa menggeliat-geliat dan pantatku kucoba menarik ke atas tempat tidur untuk menghindari tekanan penis Om Bayu ke dalam liang vaginaku. Tapi karena tangan Om Bayu menahan pundakku maka aku tidak dapat menghindari masuknya penis Om Bayu lebih dalam ke liang vaginaku. Rasa sakit masih terasa olehku dan Om Bayu membiarkan penisnya diam saja tanpa bergerak sama sekali untuk membuat kemaluanku terbiasa dengan penisnya yang besar itu.

    “Om… kenapa dimasukkan semua… kan… janjinya hanya digosok-gosok saja?”, kataku dengan memelas, tapi Om Bayu tidak bilang apa-apa hanya senyum-senyum saja.

    Aku merasakan kemaluan Om Bayu itu terasa besar dan mengganjal rasanya memadati seluruh relung-relung di dalam vaginaku. Serasa sampai ke perutku karena panjangnya penis Om Bayu tersebut. Waktu saya mulai tenang, Om Bayu kemudian mulai memainkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya memompa kemaluanku. Badanku tersentak-sentak dan menggelepar-gelepar, sedang dari mulutku hanya bisa keluar suara, “Ssshh… ssshh… ooohh… ooohh…”

    Dan tiba-tiba perasaan dahsyat melanda keseluruhan tubuhku. Bayangan hitam menutupi seluruh pandanganku. Sesaat kemudian kilatan cahaya serasa berpendar di mataku. Sensasi itu sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh pikiran normalku. Seluruh tubuhku diliputi sensasi yang siap meledak. Buah dadaku terasa mengeras dan puting susuku menegang ketika sensasi itu kian menguat, membuat tubuhku terlonjak-lonjak di atas tempat tidur. Seluruh tubuhku meledak dalam sensasi, jari-jariku menggengam alas tempat tidur erat-erat. Tubuhku bergetar, mengejang, meronta di bawah tekanan tubuh Om Bayu ketika aku mengalami orgasme yang dahsyat. Aku merasakan kenikmatan berdesir dari vaginaku, menghantarkan rasa nikmat ke seluruh tubuhku selama beberapa detik. Terasa tubuhku melayang-layang dan tak lama kemudian terasa terhempas lemas tak berdaya, tergeletak lemah di atas tempat tidur dengan kedua tangan yang terentang dan kedua kaki terkangkang menjulur di lantai.

    Melihat keadaanku, Om Bayu makin terangsang. Dengan ganasnya dia mendorong pantatnya menekan pinggulku rapat-rapat sehingga seluruh batang penisnya terbenam dalam kemaluanku. Aku hanya bisa menggeliat lemah karena setiap tekanan yang dilakukannya, terasa clitorisku tertekan dan tergesek-gesek oleh batang penisnya yang besar dan berurat itu. Hal ini menimbulkan kegelian yang tidak terperikan. Hampir sejam lamanya Om Bayu mempermainkanku sesuka hatinya. Dan saat itu pula aku beberapa kali mengalami orgasme. Dan setiap itu terjadi, selama 1 menit aku merasakan vaginaku berdenyut-denyut dan menghisap kuat penis Om Bayu, sampai akhirnya pada suatu saat Om Bayu berbisik dengan sedikit tertahan.

    “Ooohh… Riiinn… Riiinnn… aakkuu… maau… keluar!.. Ooohh… aahh… hhmm… ooouuhh!”.

    Tiba-tiba Om Bayu bangkit dan mengeluarkan penisnya dari vaginaku. Sedetik kemudian… cret… crett… crett… spermanya berloncatan dan tumpah tepat di atas perutku. Tangannya dengan gerakan sangat cepat mengocok-ngocok batang penisnya seolah ingin mengeluarkan semua spermanya tanpa sisa.

    “Aahh…”, Om Bayu mendesis panjang dan kemudian menarik napas lega.

    Dibersihkannya sperma yang tumpah di perutku. Setelah itu kami tergolek lemas sambil mengatur napas kami yang masih agak memburu sewaktu mendaki puncak kenikmatan tadi. Dipandanginya wajahku yang masih berpeluh untuk kemudian disekanya. Dikecupnya lembut bibirku dan tersenyum.

    “Terima kasih sayang…”, bisik Om Bayu dengan mesra. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Om Bayu.

    Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang. Perasaan-perasaan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Om Bayu telah berupaya menenangkanku dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok rasanya aku jadi kepengin lagi. Memang kalau diingat-ingat sebenarnya nikmat juga sih. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Om Bayu, tentu saja aku malu mengatakannya. Aku hanya pura-pura ngobrol kesana kemari, sampai akhirnya Om Bayu menawarkan lagi untuk main-main seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk malu-malu. Begitulah kisah pengalamanku, ketika pertama kalinya aku merasakan kenikmatan hubungan seks.

  • Cerita Hot Indah Dan Adeknya

    Cerita Hot Indah Dan Adeknya


    1797 views

    Perawanku – Selesai sekolah Sabtu itu langsung dilanjutkan rapat pengurus OSIS. Rapat itu dilakukan sebagai persiapan sekaligus pembentukan panitia kecil pemilihan OSIS yang baru. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemilihan dimaksudkan sebagai regenerasi dan anak-anak kelas 3 sudah tidak boleh lagi dipilih jadi pengurus, kecuali beberapa orang pengurus inti yang bakalan “naik pangkat” jadi penasihat.

    Usai rapat, aku bergegas mau langsung pulang, soalnya sorenya ada acara rutin bulanan: pulang ke rumah ortu di kampung. Belum sempat aku keluar dari pintu ruangan rapat, suara nyaring cewek memanggilku.

    “Didik .. “ aku menoleh, ternyata Sarah yang langsung melambai supaya aku mendekat. “Dik, jangan pulang dulu. Ada sesuatu yang pengin aku omongin sama kamu,” kata Sarah setelah aku mendekat.

    “Tapi Rah, sore ini aku mau ke kampung. Bisa nggak dapet bis kalau kesorean,” jawabku.

    “Cuman sebentar kok Dik. Kamu tunggu dulu ya, aku mberesin ini dulu,” Sarah agak memaksaku sambil membenahi catatan-catatan rapat. Akhirnya aku duduk kembali.

    “Dik, kamu pacaran sama Nita ya?” tanya Sarah setelah ruangan sepi, tinggal kami berdua. Aku baru mengerti, Sarah sengaja melama-lamakan membenahi catatan rapat supaya ada kesempatan ngomong berdua denganku.

    “Emangnya, ada apa sih?” aku balik bertanya.

    “Enggak ada apa-apa sih .. “ Sarah berhenti sejenak. “Emmm, pengin nanya aja.”

    “Enggak kok, aku nggak pacaran sama Nita,” jawabku datar.

    “Ah, masa. Temen-temen banyak yang tahu kok, kalau kamu suka jalan bareng sama Nita, sering ke rumah Nita,” kata Sarah lagi.

    “Jalan bareng kan nggak lantas berarti pacaran tho,” bantahku.

    “Paling juga pakai alasan kuno ‘Cuma temenan’,” Sarah berkata sambil mencibir, sehingga wajahnya kelihatan lucu, yang membuatku ketawa. “Cowok di mana-mana sama aja, banyak bo’ongnya.”

    “Ya terserah kamu sih kalau kamu nganggep aku bohong. Yang jelas, sudah aku bilang bahwa aku nggak pacaran sama Nita.”

    Aku sama sekali tidak bohong pada Sarah, karena aku sama Nita memang sudah punya komitmen untuk ‘tidak ada komitmen’. Maksudnya, hubunganku dengan Nita hanya sekedar untuk kesenangan dan kepuasan, tanpa janji atau ikatan di kemudian hari. Hal itu yang kujelaskan seperlunya pada Sarah, tentunya tanpa menyinggung soal ‘seks’ yang jadi menu utama hubunganku dengan Nita.

    “Nanti malem, mau nggak kamu ke rumahku?” tanya Nita sambil melangkah keluar ruangan bersamaku.

    “Kan udah kubilang tadi, aku mau pulang ke rumah ortu nanti,” jawabku.

    “Ke rumah ortu apa ke rumah Nita?” tanya Sarah dengan nada menyelidik dan menggoda.

    “Kamu mau percaya atau tidak sih, terserah. Emangnya kenapa sih, kok nyinggung-nyinggung Nita terus?” aku gantian bertanya.

    “Enggak kok, nggak kenapa-kenapa,” elak Sarah. Akhirnya kami jalan bersama sambil ngobrol soal-soal ringan yang lain. Aku dan Sarahpun berpisah di gerbang sekolah. Nita sudah ditunggu sopirnya, sedang aku langsung menuju halte. Sebelum berpisah, aku sempat berjanji untuk main ke rumah Nita lain waktu.

    Diam-diam aku merasa geli. Masak malam minggu itu jalan-jalan sama Sarah harus ditemani kakaknya, dan diantar sopir lagi. Jangankan untuk ML, sekedar menciumpun rasanya hampir mustahil. Sebenarnya aku agak ogah-ogahan jalan-jalan model begitu, tapi rasanya tidak mungkin juga untuk membatalkan begitu saja. Rupanya aturan orang tua Sarah yang ketat itu, bakalan membuat hubunganku dengan Sarah jadi sekedar roman-romanan saja. Praktis acara pada saat itu hanya jalan-jalan ke Mall dan makan di ‘food court’.

    Di tengah rasa bete itu aku coba menghibur diri dengan mencuri-curi pandang pada Mbak Indah, baik pada saat makan ataupun jalan. Mbak Indah, adalah kakak sulung Sarah yang kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di kota ‘Y’. Dia pulang setiap 2 minggu atau sebulan sekali. Sama sepertiku, hanya beda level. Kalau Mbak Indah kuliah di ibukota propinsi dan mudik ke kotamadya, sedang aku sekolah di kotamadya mudiknya ke kota kecamatan.

    Wajah Mbak Indah sendiri hanya masuk kategori lumayan. Agak jauh dibandingkan Sarah. Kuperhatikan wajah Mbak Indah mirip ayahnya sedang Sarah mirip ibunya. Hanya Mbak Indah ini lumayan tinggi, tidak seperti Sarah yang pendek, meski sama-sama agak gemuk.

    Kuperhatikan daya tarik seksual Mbak Indah ada pada toketnya. Lumayan gede dan kelihatan menantang kalau dilihat dari samping, sehingga rasa-rasanya ingin tanganku menyusup ke balik T-Shirtnya yang longgar itu. Aku jadi ingat Nita. Ah, seandainya tidak aku tidak ke rumah Sarah, pasti aku sudah melayang bareng Nita.

    Saat Sarah ke toilet, Mbak Indah mendekatiku.

    “Heh, awas kamu jangan macem-macem sama Sarah!” katanya tiba-tiba sambil memandang tajam padaku.

    “Maksud Mbak, apa?” aku bertanya tidak mengerti.

    “Sarah itu anak lugu, tapi kamu jangan sekali-kali manfaatin keluguan dia!” katanya lagi.

    “Ini ada apa sih Mbak?” aku makin bingung.

    “Alah, pura-pura. Dari wajahmu itu kelihatan kalau kamu dari tadi bete,” aku hanya diam sambil merasa heran karena apa yang dikatakan Mbak Indah itu betul.

    “Kamu bete, karena malem ini kamu nggak bisa ngapa-ngapain sama Sarah, ya kan?” aku hanya tersenyum, Mbak Indah yang tadinya tutur katanya halus dan ramah berubah seperti itu.

    “Eh, malah senyam-senyum,” hardiknya sambil melotot.

    “Memang nggak boleh senyum. Abisnya Mbak Indah ini lucu,” kataku.

    “Lucu kepalamu,” Mbak Indah sewot.

    “Ya luculah. Kukira Mbak Indah ini lembut kayak Sarah, ternyata galak juga!” Aku tersenyum menggodanya.

    “Ih, senyam-senyum mlulu. Senyummu itu senyum mesum tahu, kayak matamu itu juga mata mesum!” Mbak Indah makin naik, wajahnya sedikit memerah.

    “Mbak cakep deh kalau marah-marah,” makin Mbak Indah marah, makin menjadi pula aku menggodanya.

    “Denger ya, aku nggak lagi bercanda. Kalau kamu berani macem-macem sama adikku, aku bisa bunuh kamu!” kali ini Mbak Indah nampak benar-benar marah.

    Akhirnya kusudahi juga menggodanya melihat Mbak Indah seperti itu, apalagi pengunjung mall yang lain kadang-kadang menoleh pada kami. Kuceritakan sedikit tentang hubunganku dengan Sarah selama ini, sampai pada acara ‘apel’ pada saat itu.

    “Kalau soal pengin ngapa-ngapain, yah, itu sih awalnya memang ada. Tapi, sekarang udah lenyap. Sarah sepertinya bukan cewek yang tepat untuk diajak ngapa-ngapain, dia mah penginnya roman-romanan aja,” kataku mengakhiri penjelasanku.
    “Kamu ini ngomongnya terlalu terus-terang ya?” Nada Mbak Indah sudah mulai normal kembali.

    “Ya buat apa ngomong mbulet. Bagiku sih lebih baik begitu,” kataku lagi.

    “Tapi .. kenapa tadi sama aku kamu beraninya lirak-lirik aja. Nggak berani terus-terang mandang langsung?”

    Aku berpikir sejenak mencerna maksud pertanyaan Mbak Indah itu. Akhirnya aku mengerti, rupanya Mbak Indah tahu kalau aku diam-diam sering memperhatikan dia.

    “Yah .. masak jalan sama adiknya, Mbak-nya mau diembat juga,” kataku sambil garuk-garuk kepala.

    Setelah itu Sarah muncul dan dilanjutkan acara belanja di dept. store di mall itu. Selama menemani kakak beradik itu, aku mulai sering mendekati Mbak Indah jika kulihat Sarah sibuk memilih-milih pakaian. Aku mulai lancar menggoda Mbak Indah.

    Hampir jam 10 malam kami baru keluar dari mall. Lumayan pegal-pegal kaki ini menemani dua cewek jalan-jalan dan belanja. Sebelum keluar dari mall Mbak Indah sempat memberiku sobekan kertas, tentu saja tanpa sepengetahuan Sarah.

    “Baca di rumah,” bisiknya.

    Aku lega melihat Mbak Indah datang ke counter bus PATAS AC seperti yang diberitahukannya lewat sobekan kertas. Kulirik arloji menunjukkan jam setengah 9, berarti Mbak Indah terlambat setengah jam.

    “Sori terlambat. Mesti ngrayu Papa-Mama dulu, sebelum dikasih balik pagi-pagi,” Mbak Indah langsung ngerocos sambil meletakkan hand-bag-nya di kursi di sampingku yang kebetulan kosong. Sementara aku tak berkedip memandanginya. Mbak Indah nampak sangat feminin dalam kulot hitam, blouse warna krem, dan kaos yang juga berwarna hitam. Tahu aku pandangi, Mbak Indah memencet hidungku sambil ngomel-ngomel kecil, dan kami pun tertawa. Hanya sekitar sepuluh menit kami menunggu, sebelum bus berangkat.

    Dalam perjalanan di bus, aku tak tahan melihat Mbak Indah yang merem sambil bersandar. Tanganku pun mulai mengelu-elus tangannya. Mbak Indah membuka mata, kemudian bangun dari sandarannya dan mendekatkan kepalanya padaku.

    “Gimana, Mbaknya mau di-embat juga?” ledeknya sambil berbisik.

    “Kan lain jurusan,” aku membela diri. “Adik-nya jurusan roman-romanan, Mbak-nya jurusan … “ Aku tidak melanjutkan kata-kataku, tangan Mbak Indah sudah lebih dulu memencet hidungku. Selebihnya kami lebih banyak diam sambil tiduran selama perjalanan.

    Yang disebut kamar kos oleh Mbak Indah ternyata sebuah faviliun. Faviliun yang ditinggali Mbak Indah kecil tapi nampak lux, didukung lingkungannya yang juga perumahan mewah.

    “Kok bengong, ayo masuk,” Mbak Indah mencubit lenganku. “Peraturan di sini cuman satu, dilarang mengganggu tetangga. Jadi, cuek adalah cara paling baik.”

    Aku langsung merebahkan tubuhku di karpet ruang depan, sementara setelah meletakkan hand-bag-nya di dekat kakiku, Mbak Indah langsung menuju kulkas yang sepertinya terus on.

    “Nih, minum dulu, habis itu mandi,” kata Mbak Indah sambil menuangkan air dingin ke dalam gelas.

    “Kan tadi udah mandi Mbak,” kataku.

    “Ih, jorok. Males aku deket-deket orang jorok,” Mbak Indah tampak cemberut. “Kalau gitu, aku duluan mandi,” katanya sambil menyambar hand-bag dan menuju kamar. Aku lihat Mbak Indah tidak masuk kamar, tapi hanya membuka pintu dan memasukkan hand-bag-nya. Setelah itu dia berjalan ke belakang ke arah kamar mandi.

    “Mbak,” Mbak Indah berhenti dan menoleh mendengar panggilanku. “Aku mau mandi, tapi bareng ya?”

    “Ih, maunya .. “ Mbak Indah menjawab sambil tersenyum. Melihat itu aku langsung bangkit dan berlari ke arah Mbak Indah. Langsung kupeluk dia dari belakang tepat di depan pintu kamar mandi. Kusibakkan rambutnya, kuciumi leher belakangnya, sambil tangan kiriku mengusap-usap pinggulnya yang masih terbungkus kulot. Terdengar desahan Mbak Indah, sebelum dia memutar badan menghadapku. Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku.

    “Katanya mau mandi?” setelah berkata itu, lagi-lagi hidungku jadi sasaran, dipencet dan ditariknya sehingga terasa agak panas. Setelah itu diangkatnya kaosku, dilepaskannya sehingga aku bertelanjang dada. Kemudian tangannya langsung membuka kancing dan retsluiting jeans-ku. Lumayan cekatan Mbak Indah melakukannya, sepertinya sudah terbiasa. Seterusnya aku sendiri yang melakukannya sampai aku sempurna telanjang bulat di depan Mbak Indah.

    “Ih, nakal,” kata Mbak Indah sambil menyentil rudalku yang terayun-ayun akibat baru tegang separo.

    “Sakit Mbak,” aku meringis.


    “Biarin,” kata Mbak Indah yang diteruskan dengan melepas blouse-nya kemudian kaos hitamnya, sehingga bagian atasnya tinggal BH warna hitam yang masih dipakainya. Aku tak berkedip memandangi sepasang toket Mbak Indah yang masih tertutup BH, dan Mbak Indah tidak melanjutkan melepas pakainnya semua sambil tersenyum menggoda padaku.

    Birahi benar-benar sudah tak bisa kutahan. Langsung kuraih dan naikkan BH-nya, sehingga sepasang toket-nya yang besar itu terlepas.

    “Ih, pelan-pelan. Kalau BH-ku rusak, emangnya kamu mau ganti,” lagi-lagi hidungku jadi sasaran. Tapi aku sudah tidak peduli. Sambil memeluknya mulutku langsung mengulum tokenya yang sebelah kanan.

    Mbak Indah tidak berhenti mendesah sambil tangannya mengusap-usap rambutku. Aku makin bersemangat saja, mulutku makin rajin menggarap toketnya sebelah kanan dan kiri bergantian. Kukulum, kumainkan dengan lidah dan kadang kugigit kecil. Akibat seranganku yang makin intens itu Mbak Indah mulai menjerit-jerit kecil di sela-sela desahannya.

    Beberapa menit kulakukan aksi yang sangat dinikmati Mbak Indah itu, sebelum akhirnya dia mendorong kepalaku agar terlepas dari toketnya. Mbak Indah kemudian melepas BH, kulot dan CD-nya yang juga berwarna hitam. Sementara bibirnya nampak setengah terbuka sambil mendesi lirih dan matanya sudah mulai sayu, pertanda sudah horny berat.

    Belum sempat mataku menikmati tubuhnya yang sudah telanjang bulat, tangan kananya sudah menggenggam rudalku. Kemudian Mbak Indah berjalan mundur masuk kamar mandi sementara rudalku ditariknya. Aku meringis menahan rasa sakit, sekaligus pengin tertawa melihat kelakuan Mbak Indah itu.

    Mbak Indah langsung menutup pintu kamar mandi setelah kami sampai di dalam, yang diteruskan dengan menghidupkan shower. Diteruskannya dengan menarik dan memelukku tepat di bawah siraman air dari shower. Dan …

    “mmmmhhhh …. “ bibirnya sudah menyerbu bibirku dan melumatnya. Kuimbangi dengan aksi serupa. Seterusnya, siraman air shower mengguyur kepala, bibir bertemu bibir, lidah saling mengait, tubuh bagian depan menempel ketat dan sesekali saling menggesek, kedua tangan mengusap-usap bagian belakang tubuh pasangan, “Aaaaaahhh,” nikmat luar biasa.

    Tak ingat berapa lama kami melakukan aksi seperti itu, kami melanjutkannya dalam posisi duduk, tak ingat persis siapa yang mulai. Aku duduk bersandar pada dinding kamar mandi, kali ku luruskan, sementar Mbak Indah duduk di atas pahaku, lututnya menyentuh lantai kamar mandi. Kemudian kurasakan Mbak Indah melepaskan bibirnya dari bibirku, pelahan menyusur ke bawah. Berhenti di leherku, lidahnya beraksi menjilati leherku, berpindah-pindah. Setelah itu, dilanjutkan ke bawah lagi, berhenti di dadaku. Sebelah kanan-kiri, tengah jadi sasaran lidah dan bibirnya. Kemudian turun lagi ke bawah, ke perut, berhenti di pusar. Tangannya menggenggam rudalku, didorong sedikit ke samping dengan lembut, sementara lidahnya terus mempermainkan pusarku. Puas di situ, turun lagi, dan bijiku sekarang yang jadi sasaran. Sementara lidahnya beraksi di sana, tangan kanannya mengusap-usap kepala rudalku dengan lembut. Aku sampai berkelojotan sambil mengerang-erang menikmati aksi Mbak Indah yang seperti itu.

    Pelahan-lahan bibirnya merayap naik menyusuri batang rudalku, dan berhenti di bagian kepala, sementara tangannya ganti menggenggam bagian batang. Kepala rudalku dikulumnya, dijilati, berpindah dan berputar-putar, sehingga tak satu bagianpun yang terlewat. Beberapa saat kemudian, kutekan kepala Mbak Indah ke bawah, sehingga bagian batanku pun masuk 2/3 ke mulutnya. Digerakkannya kepalanya naik turun pelahan-lahan, berkali-kali. Kadang-kadang aksinya berhenti sejenak di bagian kepala, dijilati lagi, kemudian diteruskan naik turun lagi. Pertahananku nyaris jebol, tapi aku belum mau terjadi saat itu. Kutahan kepalanya, kuangkat pelan, tapi Mbak Indah seperti melawan. Hal itu terjadi beberapa kali, sampai akhirnya aku berhasil mengangkat kepalanya dan melepas rudalku dari mulutnya.

    Kuangkat kepala Mbak Indah, sementara matanya terpejam. Kudekatkan, dan kukulum lembut bibirnya. Pelan-pelan kurebahkan Mbak Indah yang masih memejamkan mata sambil mendesis itu ke lantai kamar mandi. Kutindih sambil mulutku melahap kedua toketnya, sementara tanganku meremasnya bergantian.

    Erangannya, desahannya, jeritan-jeritan kecilnya bersahut-sahutan di tengah gemericik siraman air shower. Kuturunkan lagi mulutku, berhenti di gundukan yang ditumbuhi bulu lebat, namun tercukur dan tertata rapi. Beberapa kali kugigit pelan bulu-bulu itu, sehingga pemiliknya menggelinjang ke kanan kiri. Kemudian kupisahkan kedua pahanya yang putih,besar dan empuk itu. Kubuka lebar-lebar. Kudaratkan bibirku di bibir memeknya, kukecup pelan. Kujulurkan lidahku, kutusuk-tusukan pelan ke daging menonjol di antar belahan memek Mbak Indah. Pantat Mbak Indah mulai bergoyang-goyang pelahan, sementara tangannya menjambak atau lebih tepatnya meremas rambutku, karena jambakannya lembut dan tidak menyakitkan. Kumasukkan jari tengahku ku lubang memeknya, ku keluar masukkan dengan pelan. Desisan Mbak Indah makin panjang, dan sempat ku lirik matanya masih terpejam. Kupercepat gerakan jariku di dalam lubang memeknya, tapi tangannya langsung meraih tanganku yang sedang beraksi itu dan menahannya. Kupelankan lagi, dan Mbak melepas tangannya dari tanganku. Setiap kupercepat lagi, tangan Mbak Indah meraih tanganku lagi, sehingga akhirnya aku mengerti dia hanya mau jariku bergerak pelahan di dalam memeknya.

    Beberapa menit kemudian, kurasakan Mbak Indah mengangkat kepalaku menjauhkan dari memeknya. Mbak Indah membuka mata dan memberi isyarat padaku agar duduk bersandar di dinding kamar mandi. Seterusnya merayap ke atasku, mengangkang tepat di depanku. Tangannya meraih rudalku, diarahkan dan dimasukkan ke dalam lubang memeknya.

    “Oooooooooooohh ,” Mbak Indah melenguh panjang dan matanya kembali terpejam saat rudalku masuk seluruhnya ke dalam memeknya. Mbak Indah mulai bergerak naik-turun pelahan sambil sesekali pinggulnya membuat gerakan memutar. Aku tidak sabar menghadapi aksi Mbak Indah yang menurutku terlalu pelahan itu, mulai kusodok-sodokkan rudalku dari bawah dengan cukup cepat. Mbak Indah menghentikan gerakannya, tangannya menekan dadaku cukup kuat sambil kepala menggeleng, seperti melarangku melakukan aksi sodok itu. Hal itu terjadi beberapa kali, yang sebenarnya membuatku agak kecewa, sampai akhirnya Mbak Indah membuka matanya, tangannya mengusap kedua mataku seperti menyuruhkan memejamkan mata. Aku menurut dan memejamkan mataku.

    Setelah beberapa saat aku memejamkan mata, aku mulai bisa memperhatikan dengan telingaku apa yang dari tadi tidak kuperhatikan, aku mulai bisa merasakan apa yang dari tadi tidak kurasakan. Desahan dan erangan Mbak Indah ternyata sangat teratur dan serasi dengan gerakan pantatnya,sehingga suara dari mulutnya, suara alat kelamin kami yang menyatu dan suara siraman air shower seperti sebuah harmoni yang begitu indah. Dalam keterpejaman mata itu, aku seperti melayang-layang dan sekelilingku terasa begitu indah, seperti nama wanita yang sedang menyatu denganku. Kenikmatan yang kurasakan pun terasa lain, bukan kenikmatan luar biasayang menhentak-hentak, tapi kenikmatan yang sedikit-sedikit, seperti mengalir pelahan di seluruh syarafku, dan mengendap sampai ke ulu hatiku.

    Beberapa menit kemudian gerakan Mbak Indah berhenti pas saat rudalku amblas seluruhnya. Ada sekitar 5 detik dia diam saja dalam posisi seperti itu. Kemudian kedua tangannya meraih kedua tanganku sambil melontarkan kepalanya ke belakang. Kubuka mataku, kupegang kuat-kuat kedua telapak tangannya dan kutahan agar Mbak Indah tidak jatuh ke belakang. Setelah itu pantatnya membuat gerakan ke kanan-kiri dan terasa menekan-nekan rudal dan pantatku.

    “Aaa .. aaaaaa … aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh,” desahan dan jeritan kecil Mbak Indah itu disertai kepala dan tubuhnya yang bergerak ke depan. Mbak Indah menjatuhkan diri padaku seperti menubruk, tangannya memeluk tubukku, sedang kepalanya bersandar di bahu kiriku. Ku balas memeluknya dan kubelai-belai Mbak Indah yang baru saja menikmati orgasmenya. Sebuah cara orgasme yang eksotik dan artistik.

    Setelah puas meresapi kenikmatan yang baru diraihnya, Mbak Indah mengangkat kepala dan membuka matanya. Dia tersenyum yang diteruskan mencium bibirku dengan lembut. Belum sempat aku membalas ciumannya, Mbak Indah sudah bangkit dan bergeser ke samping. Segera kubimbing dia agar rebahan dan telentang di lantai kamar mandi. Mbak Indah mengikuti kemauanku sambil terus menatapku dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Kemudian kuarahkan rudalku yang rasanya seperti empot-empotkan ke lubang memeknya, kumasukkan seluruhnya. Setelah amblas semuanya Mbak Indah memelekku sambil berbisik pelan.

    “Jangan di dalam ya sayang, aku belum minum obat,” aku mengangguk pelan mengerti maksudnya. Setelah itu mulai kugoyang-goyang pantatku pelan-pelan sambil kupejamkan mata. Aku ingin merasakan kembali kenikmatan yang sedikit-sedikit tapi meresap sampai ke ulu hati seperti sebelumnya. Tapi aku gagal, meski beberapa lama mencoba. Akhirnya aku membuat gerakan seperti biasa, seperti yang biasa kulakukan pada tante Ani atau Nita. Bergerak maju mundur dari pelan dan makin lama makin cepat.

    “Aaaah… Hoooohh,” aku hampir pada puncak, dan Mbak Indah cukup cekatan. Didorongnya tubuhku sehingga rudalku terlepas dari memeknya. Rupanya dia tahu tidak mampu mengontrol diriku dan lupa pada pesannya. Seterusnya tangannya meraih rudalku sambil setengah bangun. Dikocok-kocoknya dengan gengaman yang cukup kuat, seterusnya aku bergeser ke depan sehingga rudalku tepat berada di atas perut Mbak Indah.


    “Aaaaaaaah … aaaaaaahhh … crottt… crotttt ..,” beberapa kali spermaku muncrat membasahi dada dan perut Mbak Indah. Aku merebahku tubuhku yang terasa lemas di samping Mbak Indah, sambil memandanginya yang asyik mengusap meratakan spermaku di tubuhnya.

    “Hampir lupa ya?” lagi-lagi hidungku jadi sasarannya waktu Mbak Indah mengucapkan kata-kata itu.

    ***
    Selama di bus dalam perjalanan pulang aku memejamkan mata sambil mengingat-ingat pengalaman yang baru saja ku dapat dari Mbak Indah. Saat di kamar mandi, dan saat mengulangi sekali lagi di kamarnya. Seorang wanita dengan gaya bersetubuh yang begitu lembut dan penuh perasaan.

    “Kalau sekedar mengejar kepuasan nafsu, itu gampang. Tapi aku mau lebih. Aku mau kepuasan nafsuku selaras dengan kepuasan yang terasa di jiwaku.”

    Kepuasan yang terasa di jiwa, itulah hal yang kudapat dari Mbak Indah dan hanya dari Mbak Indah, karena kelak setelah gonta-ganti pasangan, tetap saja belum pernah kudapatkan kenikmatan seperti yang kudapatkan dari Mbak Indah. Kepuasan dan kenikmatan yang masih terasa dalam jangka waktu yang cukup lama meskipun persetubuhan berakhir.

    “Ingat ya, jangan pernah sekali-kali kamu lakukan sama Sarah. Kalau sampai kamu lakukan, aku tidak akan pernah memaafkan kamu!” Aku terbangun, rupanya dalam tidurku aku bermimpi Mbak Indah memperingatkanku tentang Sarah, adiknya. Dan bus pun sudah mulai masuk terminal.

  • AKU DISETUBUHI PACAR ADIKKU

    AKU DISETUBUHI PACAR ADIKKU


    1797 views

    Cerita Sex ini berjudul ” AKU DISETUBUHI PACAR ADIKKU ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Namaku Irma, tapi biasa dipanggil I’in oleh orang di rumah. Aku sulung dari 4 bersaudara yang semuanya perempuan. Saat ini usiaku 34 tahun dan adik bungsuku Tita 21 tahun. Aku sangat menjaga bentuk tubuhku, dengan tinggi badan 167 cm dan berat badan 59 kg, tidak ada yang menyangka kalau aku sudah memiliki 2 orang anak yaitu Echa 6 tahun dan Dita 3 tahun.

    Kalau menurut suamiku, teman-temannya sering memuji tubuhku, terutama pada bagian pinggul dan payudara yang terlihat sangat seksi jika sedang mengenakan baju yang pressed body. Begini ceritaku..

    Kenaikan jabatan yang diterima oleh suamiku membuatnya harus berada di luar daerah, dan hanya bisa pulang sebulan sekali. Otomatis kebutuhan biologisku hanya bisa terpenuhi pada saat suamiku pulang saja. Bahkan sering juga aku harus puasa sampai berbulan-bulan karena pada saat suamiku pulang aku sedang kedatangan “tamu”.

    Tapi itu tidak terlalu kupedulikan, toh saat kami berhubungan, aku jarang sekali mengalami orgasme karena suamiku biasanya sudah keluar duluan dan bila sudah begitu pasti ia langsung tertidur dan membiarkanku menggantung sendirian.

    Sampai akhirnya terjadi peristiwa yang membuatku sangat malu pada awalnya, namun menjadi ketagihan pada akhirnya. Orang yang membuatku mabuk kepayang itu bernama Hasan yang tidak lain adalah pacar adikku yang paling bungsu. Orangnya lumayan ganteng dengan bentuk tubuh yang kekar karena ia adalah seorang atlit renang perwakilan daerah.

    Hasan sudah berpacaran dengan adikku Tita selama 5 tahun sehingga hubungan keluarga kami dengannya sudah sangat dekat, aku sendiri bahkan sudah menganggapnya sebagai adik iparku demi melihat keseriusan hubungan Hasan dan adikku.

    Hasan juga sering datang ke rumah untuk mengantarkan aku pergi karena aku tidak bisa naik motor, tentu saja sebelumnya aku selalu memintanya tolong melalui Tita. Selama tidak sibuk dia pasti mau menolongku sehingga kami menjadi lumayan dekat.

    Ia sering bercerita tentang hubungannya dengan Tita adikku, sehingga aku jadi tahu kalau dia adalah pemuda yang sangat menghormati wanita. Itu adalah pandanganku sebelum terjadi affair antara kami berdua.

    Sore itu aku berangkat dengan diantar Tita adikku untuk berenang di sebuah hotel yang cukup besar di kota SMD. Setelah berganti dengan baju renang, aku melangkahkan kaki ke tepi kolam. Beberapa pemuda melirikku dengan pandangan nakal. Setelah melakukan pemanasan aku lalu turun ke air.

    Setelah menyesuaikan diri dengan suhu air baru aku mulai berenang. Setelah bolak-balik 3 kali putaran, aku beristirahat di pinggir kolam sambil mengatur napas. Beberapa pemuda yang lewat menggodaku, aku hanya tersenyum. Lalu aku terhanyut pada lamunanku yang sudah 3 bulan tidak melakukan hubungan suami-istri.

    “Sendirian saja Kak?” Suara yang ramah mengagetkanku dari belakang.
    “I.. Iya” Jawabku sambil menoleh ke belakang.

    Setelah melihat siapa yang menyapaku, aku menjadi tenang tetapi sedikit risih karena ternyata ia adalah Hasan yang melihatku tanpa berkedip. Sambil mengajakku mengobrol ia melakukan pemanasan. Sesekali aku melirik untuk melihat tubuhnya yang kekar. Lalu mataku turun lagi ke dadanya yang bidang dan perutnya yang sangat berotot.

    Saat mataku sampai ke celana renangnya, dadaku berdegup kencang, celana itu terlihat sangat menonjol pada bagian tengahnya. Pasti besar sekali, mungkin bahkan lebih besar dari pada milik suamiku, batinku.

    Lalu aku tercekat saat Hasan melompat terjun ke kolam renang dan langsung meluncur. Setelah 7 kali bolak-balik ia menepi ke sampingku untuk beristirahat. Ia meletakkan tangannya di sampingku sehingga sikunya menyentuh paha kananku.

    “Kesini pake apa Kak?” Tanyanya sambil menatapku dengan tajam.
    “Diantar sama Tita” Jawabku sambil menghindari pandangan matanya.
    “Trus.. Sekarang Titanya kemana?” Sahut Hasan melirik sekeliling.
    “Langsung pulang jagain Dita sama Echa..” Sebelum ia sempat menanyaiku lagi, aku langsung melompat terjun.

    Setelah menyeberang, aku lansung naik karena ingin segera pulang. Sebelumnya aku tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang mengenalku di kolam ini. Dan yang bertemu denganku ternyata Hasan, terlebih lagi aku hanya mengenakan baju renang hingga otomatis menampakkan sebagian tubuhku.

    Aku tidak mau menoleh ke belakang karena aku takut Hasan akan berbicara lagi denganku. Setelah memakai rok setinggi lutut, aku mengenakan pakaian yang lumayan ketat sehingga memamerkan garis tubuhku yang masih terbentuk.

    Saat melangkahkan kaki menuju jalan raya untuk mencari angkot, ada motor yang memotong jalanku. Aku kaget bukan kepalang, terlebih lagi saat melihat siapa yang menaikinya, lagi-lagi ternyata Hasan.

    “Saya antar ya Kak?” Tawar Hasan dengan sopan.

    Aku berpikir sejenak, sebelum aku sempat menjawab Hasan sudah menyodorkan helm. Dengan ragu aku menerima helm itu, setelah mengenakannya aku lalu duduk menyamping di belakang dengan tangan kananku melingkar di pinggangnya. Sebenarnya hal ini sudah sangat sering kulakukan, tapi untuk saat ini aku merasa sangat serba salah.

    Perasaanku semakin tidak enak saat ia mengarahkan motornya ke arah yang berlawanan dengan arah ke rumahku. Bodohnya, aku cuma diam saja sampai akhirnya Hasan menghentikan motornya di depan sebuah bioskop yang cukup terkenal di kota SMD.

    “Nonton dulu ya Kak?” Pintanya sopan.
    “Aduh gimana ya San.. Ini kan sudah sore” Jawabku panik.
    “Please Kak.. Ini film yang pengen banget aku tonton, lagian ini hari pemutarannya yang terakhir” Sahut Hasan dengan tatapan yang memohon.
    “Iya deh.. Tapi habis itu langsung pulang” tegasku. Hasan tersenyum dengan penuh kemenangan.

    Setelah memesan tiket, kami pun masuk ke dalam dan ternyata yang menonton sangat sedikit. Setelah mendapatkan tempat duduk, kami berdua mulai menikmati film yang diputar. Belum lama berselang, aku tercekat kaget saat tangan Hasan merangkul bahuku. Aku berusaha untuk tenang dan tak bereaksi apa-apa.

    Melihat aku diam saja Hasan semakin berani, mukanya didekatkan ke wajahku hingga sontak aku menolak saat ia mencoba mencium bibirku. Tapi malah bertambah parah karena yang dia cium adalah telinga dan leherku, padahal itu termasuk daerah sensitifku.

    Aku menjadi deg-degan, dan sepertinya Hasan mengetahui kalau aku mulai memakan umpan yang ia berikan. Tangannya mulai turun ke dadaku dari bahu. Ternyata tangannya sangat lihai meskipun dari luar putaran-putaran jarinya mampu membuatku sesak karena buah dadaku yang telah mengeras. Tangannya terus aku pegang. Tangannya yang satu berhasil kutahan semantara yang lain berhasil lolos dan semakin aktif.

    Dia berhasil membuka kancing-kancing bajuku bagian atas lalu tangannya bermutar-mutar di atas BH-ku yang tipis. Malu juga rasanya kalau Hasan tahu bahwa putingku sudah keras sekali. Bibirnya yang bermain di leherku mulai turun ke bahu dan entah bagaimana caranya, ternyata Hasan telah menurunkan tali BH dan bajuku sampai ke pinggang lalu bibirnya bermain diatas BH-ku dan sekali renggut buah dadaku telah terekspos pada bibirnya.

    Aku menjadi semakin lupa diri, lupa pada suami dan anak-anakku, dan lupa kalau Hasan adalah kekasih adikku dan kemungkinan besar akan menjadi iparku kelak. Begitu buah dadaku terekspos, Hasan tidak langsung mencaplok tapi putingku yang keras dirangsang dulu dengan hidungnya. Nafasnya yang hangat sudah bisa membuat putingku semakin mengeras.

    Lalu dia ciumi pelan-pelan buah dadaku yang berukuran 34B itu, mula-mula bagian bawah terus melingkar sehingga hampir semua bagian buah dadaku dicium dengan lembut olehnya. Belum puas menggodaku, lidahnya kemudian mulai menari-nari di atas buah dadaku. Akhirnya pertahananku pun jebol hingga aku mulai mendesah halus. Akhirnya apa yang kukhawatirkan terjadi, lidahnya mulai menyapu sekitar puting dan akhirnya..

    Akh.. putingku tersapu lidahnya.. Perlahan mula-mula, semakin lama semakin sering dan akhirnya putingku dikulumnya. Ketika aku merasa nikmat, ia melepaskannya dan kemudian mulai mengecup dari bagian tepi lagi. Perlahan mendaki ke atas dan kembali ditangkapnya putingku. Kali ini putingku digigitnya perlahan sementara lidahnya berputar-putar menyapu putingku.

    Sensasi yang ditimbulkannya sungguh luar biasa, semua keinginan yang kupendam selama 3 bulan ini serasa terpancing keluar dan berontak untuk segera dipuaskan.

    Melihatku mendesah, Hasan semakin berani. Selain menggigit-gigit kecil putingku sembari lidahnya menyapu-nyapu, tangannya mulai bermain di lututku. Perasaan yang kupendam selama ini kelihatannya mulai bergejolak. Hal itu membuatku membiarkan tangannya menggerayangi lutut dan masuk menyelusup ke dalam rokku untuk mengelus pahaku. Dia tahu bahwa tubuhku merinding menahan nikmat dan dengan lihai tangannya mulai mendaki dan kini berada di selangkanganku.

    Dengan lembut Hasan mengusap pangkal pahaku di pinggiran CD-ku. Hal ini menimbulkan sensasi dan nikmat yang luar biasa. Aku tak dapat duduk tenang lagi, sebentar-bentar menggelinjang. Aku sudah tak dapat lagi menyembunyikan kenikmatan yang kualami, hal ini bisa dia ketahui dengan telah lembabnya CD-ku.

    Jarinya yang besar itu akhirnya tak mampu kutahan ketika dia memaksa menyelinap ke balik CD-ku dan langsung menuju clitku. Dengan lembut dia memainkan jarinya sehingga aku terpaksa menutup bibirku agar lenguhanku yang keluar tak terdengar oleh penonton yang lain. Jarinya dengan lembut menyentuh clitku dan gerakannya yang memutar membuat tubuhku serasa ringan dan melayang.

    Akhirnya pertahananku jebol, cairan kental mulai keluar dari vaginaku dan Hasan mengetahuinya hingga semakin mengintensifkan serangannya. Akhirnya puncak itu datang, kupeluk kepalanya dengan erat dan kuhunjamkan bibirku ke bibirnya dan tubuhku bergetar. Hasan dengan sabar mengelus clitku hingga membuatku bergetar-getar seolah tak berhenti.

    Lubang vaginaku yang basah dimanfaatkan dengan baik olehnya. Sementara jari jempolnya tetap memainkan clitku, jari tengahnya mengorek-ngorek lubangku mensimulasi apa yang dilakukan laki-laki pada wanita. Aku megap-megap dibuatnya, entah berapa lama Hasan membuatku seperti itu dan sudah berapa kali aku mengalami orgasme.

    Aku lalu memberanikan diri, kujulurkan tanganku ke arah selangkangannya. Di sana jemariku menemukan gundukan yang mulai mengeras. Begitu tersapu oleh belaianku, gundukan itu berubah menjadi batang hangat yang mengeras. Jariku terus membelai turun naik sepanjang batang itu yang menurutku sangat besar untuk ukuran seorang pemuda berusia 21 tahun.

    Secara perlahan batang tersebut bertambah panjang dan besar hingga menimbulkan getaran-getaran yang membuatku kembali mencapai orgasme. Saat orgasme, tanganku secara tak sengaja meremas-remas bolanya sehingga Hasan pun terangsang.

    “Kita ke tempat kosku ya Kak..” bisiknya kemudian sambil mengecup daun telingaku.

    Aku mengangguk, dan setelah merapikan pakaian yang aku kenakan, Hasan menarikku sehingga aku berjalan mengikutinya. Setelah 10 menit naik motor, kami mulai memasuki sebuah bangunan yang besar dan agak sepi.

    Saat dia menggandeng pinggulku menuju kamarnya, beberapa orang anak kost di sana tampak menatap kami dengan pandangan penuh pengertian. Tapi itu tetap tak mengurangi rasa kikuk dan canggung yang menyerangku. Apa yang sedang kulakukan di sini, batinku.

    Saat aku sampai di depan pintu kamar kostnya yang terbuka, aku terdiam sejenak. Keraguan besar mendadak menyerangku, dan itu ternyata ditangkap oleh Hasan. Dengan tenang dia menangkap bahuku dari belakang dan dengan pelan dia mendorongku masuk ke dalam. Setelah menutup pintu dan menguncinya, lalu tangannya turun ke pinggulku dan kemudian memutar tubuhku sehingga kini kami saling berhadapan untuk pertama kalinya sejak dari kolam renang.

    Kami berhadapan sejenak, lalu Hasan tersenyum dan kembali bibirnya mengecup bibir bawah dan atasku bergantian dan berusaha membangkitkan gairahku lagi. Aku mendesah kecil ketika tangannya turun ke bokongku kemudian meremasnya lalu menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. Bibirnya perlahan mengecup bibirku, bibirnya merambat di antara dua bibirku yang tanpa sadar merekah menyambutnya.

    Lidah itu begitu lihai bermain di antara kedua bibirku mengorek-ngorek lidahku agar keluar. Sapuan lidahnya menimbulkan sensasi-sensasi nikmat yang belum pernah aku rasakan, sehingga dengan perlahan lidahku dengan malu-malu mengikuti gerakan lidahnya mencari dan mengikuti kemana lidahnya pergi.

    Dan ketika lidahku menjulur memasuki mulutnya, dengan sigap Hasan menyambutnya dengan lembut dan menjepit lidahku di antara langit-langit dan lidahnya. Tubuhku menggeliat menahan nikmat yang timbul, itulah ciuman ternikmat yang pernah kurasakan dalam hidupku.

    Pada saat itulah aku merasa Hasan membuka kancing-kancing bajuku. Tubuhku sedikit menggigil ketika udara malam yang dingin menerpa tubuhku yang perlahan-lahan terbuka ketika Hasan berhasil memerosotkan bajuku ke lantai.

    Kemudian tangannya menjulur lagi ke pinggul, kemudian berhenti di bokong untuk meraih retsleting yang ada di rokku lalu menariknya ke bawah dan menanggalkan rokku ke lantai.

    Aku lalu membuka mataku perlahan-lahan dan kulihat Hasan sedang menatapku dengan tajam tanpa berkedip. Dia tampak tertegun melihat tubuh mulusku yang hanya terbungkus oleh BH dan CD yang ketat. Sorotan matanya yang tajam menyapu bagian-bagian tubuhku secara perlahan, pandangannya agak lama berhenti pada bagian dadaku yang kencang membusung.

    BH-ku yang berukuran 34B memang hampir tak sanggup menampung bongkahan dadaku, sehingga menampilkan pemandangan yang mengundang syahwat lelaki, apa lagi darah muda seperti Hasan.

    Tatapan matanya cukup membuatku merasa hangat, dan dalam hati kecilku ada perasaan senang dan bangga dipandangi lelaki dengan tatapan penuh kekaguman sperti itu. Rasanya semua usahaku selama ini untuk menjaga kekencangan tubuh tidak sia-sia. Aku terseret maju ketika lengan kekar Hasan kembali merangkul pinggangku yang ramping dan menariknya merapat ke tubuhnya.

    Tanganku terkulai lemas ketika sambil memelukku, Hasan mengecup bagian-bagian leherku sambil tak henti-hentinya membisikkan pujian-pujian akan kecantikan bagian-bagian tubuhku. Akhirnya kecupannya sampai ke daerah telingaku dan lidahnya secara lembut menyapu bagian belakang telingaku.

    Aku menggelinjang, tubuhku bergetar sedikit dan rintihan kecil lepas dari kedua bibirku. Hasan telah menyerang salah satu bagian sensitifku dan dia mengetahui sehingga ia melakukannya berulang kali.

    “Kak I’in.. Aku ingin menghabiskan malam ini bersama kamu.., jangan menolak ya.. please..” bisiknya dengan penuh pesona.

    Kemudian bibirnya kembali menyapu bagian belakang telingaku hingga pangkal leherku. Aku tak sanggup menjawab, tubuhku terasa ringan dan tanpa sadar tanganku kulingkarkan ke lehernya. Rupanya bahasa tubuhku telah cukup dimengerti oleh Hasan sehingga dia menjadi lebih berani. Tangannya telah membuka kaitan BH-ku dan dalam sekejap BH itu sudah tergeletak di lantai.

    Tubuhku serasa melayang. Ternyata Hasan telah mengangkat tubuhku, dibopongnya ke tempat tidur dan dibaringkan secara perlahan. Kemudian Hasan menjauhiku dan dengan perlahan mulai melepaskan pakaiannya. Aku sangat menikmati pemandangan ini. Tubuh Hasan yang kekar dan berotot itu tanpa lemak hingga menimbulkan gairah tersendiri untukku. Dengan hanya mengenakan celana dalam, Hasan duduk di ujung ranjang. Aku berusaha menduga-duga apa yang akan dilakukannya.

    Kemudian dia membungkuk dan mulai menciumi ujung jariku kakiku. Aku merintih kegelian dan berusaha mencegahnya, namun Hasan memohon agar dia dapat melakukannya dengan bebas. Karena penasaran dengan sensasi yang ditimbulkannya, akhirnya aku biarkan dia menciumi, menjilat dan mengulum jari-jari kakiku.

    Aku merasa geli, tersanjung sekaligus terpancing untuk terus melanjutkan kenikmatan ini. Bibirnya kini tengah sibuk di betisku yang menurutnya sangat indah itu. Mataku terbelalak ketika kurasakan dengan perlahan tapi pasti bibirnya semakin bergerak ke atas menyusuri paha bagian dalamku.

    Rasa geli dan nikmat yang ditimbulkan membuatku lupa diri dan tanpa sadar secara perlahan pahaku terbuka. Hasan dengan mudah memposisikan tubuhnya di antara kedua pahaku. Aku berteriak tertahan ketika Hasan mendaratkan bibirnya di atas gundukan vaginaku yang masih terbungkus CD. Tanpa mempedulikan masih adanya celana dalam, Hasan terus melumat gundukan tersebut dengan bibirnya seperti saat sedang menciumku.

    Aku berkali-kali merintih nikmat, dan perasaan yang lama telah hilang dalam setahun ini muncul kembali. Getaran-getaran orgasme mulai bergulung-gulung, tanganku meremas apa saja yang ditemuinya, sprei, bantal, dan bahkan rambut Hasan. Tubuhku tak bisa diam bergetar menggeliat dan gelisah, mulutku mendesis tanpa sengaja, pinggulku meliuk-liuk erotis secara refleks dan beberapa kali terangkat mengikuti kepala Hasan.

    Untuk kesekian kalinya pinggulku terangkat cukup tinggi dan pada saat itu Hasan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menarik celana dalamku lepas. Aku agak tersentak tetapi puncak orgasme yang makin dekat membuatku tak sempat berpikir untuk bertindak apa pun. Bukit vaginaku yang sudah 3 bulan tak tersentuh suami terpampang di depan mata Hasan.

    Dengan perlahan lidah Hasan menyentuh belahannya, aku menjerit tak tertahan dan ketika lidah itu bergerak turun naik di belahan vaginaku, puncak orgasmeku datang tanpa tertahankan. Tanganku memegang dan meremas rambut Hasan, tubuhku bergetar-getar dan melonjak-lonjak. Hasan tetap bertahan pada posisinya, sehingga lidahnya tetap bisa menggelitik klitorisku ketika puncak kenikmatan itu datang.

    Aku merasa dinding-dinding vaginaku telah melembab, dan kontraksi-kontraksi khas pada lorong vaginaku mulai terasa. Itulah salah satu kelebihanku yaitu lorong vaginaku secara refleks akan membuat gerakan-gerakan kontraksi hingga membuat suamiku selalu tak bisa bertahan lama.

    Hasan tampaknya bisa melihat kontraksi-kontraksi itu, sehingga membuatnya semakin bernafsu. Kini lidahnya semakin ganas dan liar menyapu habis daerah selangkanganku, bibirnya ikut mengecup dan bahkan cairanku yang mulai mengalir disedot habis olehnya. Nafasnya mulai memburu, aku tak lagi bisa menghitung berapa kali aku mencapai puncak orgasme oleh permainan lidah dan bibirnya.

    Hasan kemudian bangkit. Dengan posisi setengah duduk dia melepaskan celana dalamnya. Beberapa saat kemudian aku merasa batang yang sangat besar itu mulai menyentuh selangkanganku yang basah.

    Hasan membuka kakiku lebih lebar dan mengarahkan kepala kemaluannya ke bibir vaginaku. Meskipun tidak terlihat olehku, aku bisa merasakan betapa keras dan besarnya milik Hasan. Dia mempermainkan kepala penisnya di bibir kemaluanku, digerakkan ke atas dan ke bawah dengan lembut untuk membasahinya.

    Tubuhku seperti tidak sabar untuk menanti tindakan selanjutnya, lalu gerakan itu berhenti. Dan aku merasa sesuatu yang hangat mulai mencoba menerobos lubang kemaluanku yang masih sempit. Tetapi karena liang itu sudah cukup basah, kepala penis itu dengan perlahan tapi pasti terbenam, semakin lama semakin dalam.

    Aku merintih panjang ketika Hasan akhrinya membenamkan seluruh batang kemaluannya. Aku merasa sesak tetapi sekaligus merasakan nikmat yang luar biasa, seakan seluruh bagian sensitif dalam liang itu tersentuh. Batang kemaluan yang keras dan padat itu disambut hangat oleh dinding vaginaku yang sudah 3 bulan tidak tersentuh.

    Cairan-cairan pelumas mengalir dari dinding-dindingnya dan vaginaku mulai berdenyut hingga membuat Hasan membiarkan kemaluannya terbenam agak lama untuk merasakan kenikmatan denyutan vaginaku. Kemudian Hasan mulai menariknya keluar dengan perlahan dan mendorongnya lagi, semakin lama semakin cepat.

    Sodokan-sodokan yang sedemikian kuat dan buas membuat gelombang orgasme kembali membumbung, dinding vaginaku kembali berdenyut. Kombinasi gerakan kontraksi dan gerakan maju mundur membuat batang kemaluan Hasan seakan diurut-urut, suatu kenikmatan yang tidak bisa disembunyikan oleh Hasan hingga gerakannya semakin liar, mukanya menegang dan keringat bertetesan dari dahinya. Melihat hal ini, timbul keinginanku untuk membuatnya mencapai nikmat.

    Pinggulku kuangkat sedikit dan membuat gerakan memutar manakala Hasan melakukan gerakan menusuk. Hasan tampak terkejut dengan gerakan ‘dangdut’ ini hingga mimik mukanya bertambah lucu menahan nikmat, batang kemaluannya bertambah besar dan keras, ayunan pinggulnya bertambah keras tetapi tetap lembut.

    Akhirnya pertahanannya pun bobol, kemaluannya menghunjam keras ke dalam vaginaku, tubuhnya bergetar dan mengejang ketika spermanya menyemprot keluar dalam vaginaku berkali-kali. Aku pun melenguh panjang ketika untuk kesekian kalinya puncak orgasmeku kembali tercapai.

    Sesaat dia membiarkan batangnya di dalamku hingga nafasnya kembali teratur. Tubuhku sendiri lemas luar biasa, namun kuakui kenikmatan yang kuperoleh sangat luar biasa dan belum pernah kurasakan sebelumnya selama aku telah 10 tahun menikah. Kami kemudian terlelap kecapaian setelah bersama-sama mereguk kenikmatan.

    Pagi itu aku terbangun sekitar jam 05:45, dan aku merasa seluruh badanku sangat pegal dan linu. Setelah beberapa saat mengembalikan kesadaran, aku kembali teringat tentang malam hebat yang baru saja aku lalui.

    Bahkan saat malam pertama bersama suami dulu pun aku tidak merasakan kepuasan yang teramat sangat seperti ini. Bulu kudukku meremang saat mengingat tiap detik kejadian tadi malam. Lalu aku mencoba bangkit untuk duduk, tapi badanku tertahan.

    Saat kuperhatikan, ternyata badanku tertahan oleh kedua lengan Hasan. Tangan kanannya menjadi bantal untuk kepalaku dan sedang menggenggam lemah salah satu payudaraku, sementara tangan kirinya melingkar di pinggang dengan telapak tangan terjepit di antara kedua belah pahaku. Lalu aku merasakan hembusan nafas hangat yang halus di tengkukku, lalu aku menolehkan kepala sedikit.

    Aku melihat wajah Hasan yang sedang tertidur tenang di sampingku, wajah itu seperti sedang tersenyum puas. Siapa pun akan berwajah seperti itu jika habis ML, batinku.

    Saat aku mencoba melepaskan tangan kirinya, aku mendengar suara Hasan yang bergumam di belakangku. Kutolehkan wajahku, perlahan dia membuka kedua matanya lalu sebuah senyum tipis terlihat di wajahnya. Bersamaan dengan itu aku merasakan tangan kanannya semakin erat menggenggam payudaraku dan tangan kirinya mulai mengelus-elus pangkal pahaku. Aku yang tidak siap dengan serangan itu agak terkejut sehingga tubuhku bergetar halus.

    “Pagi Kak I’in tersayang”, sapanya halus sambil mengecup leherku.
    “Mmh.. Pagi san.. kamu.. mau.. ngapain..?”, balasku sambil mencoba mengatasi pergerakan kedua tangan Hasan yang semakin aktif.

    Lalu kecupannya mulai bergerak dari tengkuk menuju leher di bawah telinga kemudian lidahnya menjilati belakang telingaku yang memang sejak semalam mendapatkan rangsangan berkali-kali.

    “Saan.. Kakak boleh nanya nggak?”, ucapku sambil menikmati jilatannya.
    “Masalah apa Kak?”, balasnya sambil terus menjilat dan meremas.
    “Kenapa kamu.. Mau sama Kak I’in yang sudah tua ini?”.

    Sejenak Hasan terdiam, lalu ia membalikkan tubuhku sehingga kini aku berhadap-hadapan dengannya, kemudian dia mengecup bibirku lembut. Lalu Hasan bercerita kalau dia sangat suka melihat keindahan tubuhku yang tetap terjaga walaupun telah memiliki 2 orang anak. Selama ini dia masih bisa menahan hasratnya, tapi saat melihat aku yang mengenakan pakaian renang, Hasan tidak dapat lagi mengendalikan birahinya.

    Saat aku menanyakan bagian mana dari tubuhku yang membuatnya sangat terangsang. Hasan mengatakan bahwa pinggangku yang ramping terlihat sangat seksi dari belakang. Terutama kalau mengenakan celana kain yang ketat, tambahnya.

    Aku cuma terdiam mendengar penuturannya, tak kusangka kalau selama ini Hasan sangat memperhatikan diriku. Lalu dengan tenang Hasan mulai meremas dadaku lagi, aku cuma diam menerima apa yang bakal dia lakukan. Kedua jari-jari tangannya aktif meremas kedua payudaraku, apa lagi saat jari-jari itu mulai memilin dan kemudian memelintir kedua puting susuku.

    Rasa nikmat yang luar biasa dari dada itu menyebar ke seluruh badanku, sehingga membuat tubuhku bergetar dan mengerang halus. Tiba-tiba semua kenikmatan itu terhenti, tapi ada sesuatu yang hangat di sekitar dadaku, terus berhenti di putingku. Aku membuka mata sebentar, ternyata Hasan sedang asyik menjilati putingku dan sesekali menghisap-hisapnya.

    Aku terus meresapi setiap kenikmatan yang dihasilkan oleh permainan lidah Hasan di dadaku, pelan-pelan kubuka mataku. Dan aku bisa menyaksikan bagaimana Hasan menjelajahi setiap lekuk tubuhku. Aku mendesah panjang saat aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh vaginaku.

    Rupanya jari-jari Hasan telah mengelus-elus vaginaku yang sudah basah sekali. Sambil terus memainkan lidahnya di puting susuku yang sudah sangat mengeras, seperti semalam sambil menghisap lidahnya memutar-mutar puting susuku, sesekali dia menggigitnya sehingga aku menjadi berkelojotan tak tertahankan. Saat aku terengah-engah mengambil nafas, Hasan memindahkan serangannya ke arah selangkanganku.

    Aku menarik nafas dalam-dalam sewaktu lidahnya yang basah dan hangat pelan-pelan menyentuh vaginaku, aku mendesah tertahan saat lidahnya naik ke klitorisku dan menyentuhnya. Kemudian dengan lihainya Hasan memelintir klitorisku dengan bibir hingga benar-benar membuatku merem-melek keenakan. Aku seperti tersetrum karena tidak tahan, melihat itu Hasan semakin ganas memelintir klitorisku.

    “Euh.. Ah.. Ah.. Ach.. Aw..”

    Aku sudah tidak tahu bagaimana keadaanku waktu itu, yang jelas mataku buram, semua serasa memutar-mutar. Badanku lemas dan nafasku seperti orang yang baru lari marathon. Aku benar-benar pusing, terus aku memejamkan mataku, ada lonjakan-lonjakan nikmat di badanku yang bermula dari selangkangan merambat ke pinggul lalu bergerak ke dada dan akhirnya membuat badanku kejang-kejang tanpa bisa kukendalikan.

    Hasan memandangi wajahku yang sedang menikmati puncak kenikmatan yang telah dia berikan, sesungging senyum terlintas di sana. Aku mencoba mengatur nafasku, dan sewaktu aku telah mulai tenang Hasan menyodorkan penisnya yang.. wow, ternyata 2 kali lebih besar daripada milik suamiku.

    Kini penisnya yang telah hampir maksimal berdiri di depan mukaku, tangan kanannya digunakan untuk memegang batang penis itu sementara tangan kirinya membelai rambutku dengan lembut. Aku tahu dia mau dioral. Sudah 2 tahun aku tidak melakukannya sehingga ada rasa jijik sedikit. Tapi rasanya tidak adil, dia sudah memuaskan aku, masa aku tolak keinginannya.

    Aku buka mulutku dan kujilat sedikit kepala penisnya, terasa hangat dan membuatku ketagihan. Aku mulai berani menjilat lagi terus dan terus. Hasan duduk di ranjang, kedua kakinya dibiarkannya telentang. Aku juga duduk di ranjang, lalu aku membungkuk sedikit, aku pegang batang penisnya yang 2 kali lebih besar daripada milik suamiku itu dengan tangan kiri dan tangan kananku menahan badanku agar tidak jatuh saat mulutku sedang bekerja.

    Mula-mula cuma menjilati, terus aku mulai kulum kepala penisnya. Aku hisap sedikit terus kumasukkan semuanya ke mulutku tapi sayang tidak bisa masuk semuanya. Kepala penisnya sudah menyodok ujung mulutku tapi masih ada sisa beberapa centi lagi. Aku tidak mau memaksakannya, aku gerakkan naik turun sambil aku hisap dan sesekali aku gosok batang penisnya memakai tangan kiriku.

    Hasan sepertinya puas dengan permainanku, dia memperhatikan bagaimana asyiknya aku mengkaraoke batang penisnya, sesekali dia membuka mulut sambil sedikit mendesah. Sekitar 10 menit kemudian, masih juga belum ada tanda-tanda kalau dia akan keluar. Lalu dia melepaskan batang penisnya dari mulutku yang masih penasaran. Lalu Hasan berdiri dan mendorong tubuhku ke ranjang sampai aku telentang.

    Lalu dibukanya pahaku agak lebar dan dijilatinya lagi vaginaku yang sudah kebanjiran. Terus dipegangnya penisnya yang sudah berukuran maksimal, kemudian Hasan mengarahkan batang penisnya ke vaginaku, tapi tidak langsung dia masukkan. Dia gosok-gosokkan kepala penisnya terlebih dulu ke bibir vaginaku, baru beberapa detik kemudian dia dorong batang penisnya ke dalam.

    Terasa sesuatu yang keras padat hangat dan besar memaksa masuk ke dalam vaginaku, menggesek dindingnya yang sudah berlendir. Aku mulai berkejap-kejap lagi merasakan bagaimana penisnya menggosok-gosok dinding vaginaku hingga rasa nikmat yang luar biasa kembali menjalari tubuhku. Tiba-tiba penis Hasan memaksa masuk terus melesak ke dalam vaginaku hingga membuat tubuhku berkelojotan tak karuan menahan nikmat.

    Lalu Hasan mulai menggerakkan pinggangnya naik turun. Penisnya menggesek-gesek vaginaku, mula-mula lambat lalu semakin lama semakin cepat. Ada rasa nikmat luar biasa setiap kali Hasan menusukkan penisnya dan menarik penis itu lagi. Hasan semakin cepat dan semakin keras mengocok vaginaku, aku sendiri sudah merem-melek tidak tahan merasakan nikmat yang terus mengalir dari dalam vaginaku.

    Saat rasa nikmat itu semakin menggumpal dan hampir tumpah keluar, tiba-tiba Hasan mencabut penisnya dari vaginaku. Dia tengkurap diatasku, walau sudah lemas tapi aku tahu apa yang ingin Hasan lakukan. Lalu aku angkat pantatku ke atas, aku tahan pakai lututku dan kubuka pahaku sedikit sementara tanganku menahan badanku agar tidak ambruk dan aku bersiap untuk ditusuk olehnya dari belakang.

    Hasan memasukkan penisnya ke vaginaku dari belakang, terus dia kocok lagi vaginaku. Dari belakang kocokan Hasan tidak terlalu keras, tapi semakin cepat. Aku sudah sekuat tenaga menahan badanku agar tidak ambruk, dan aku rasakan tangan Hasan meremas-remas dadaku dari belakang, terus jari-jarinya menggosok-gosok puting susuku hingga ini membuatku merasa seperti diserang dari dua arah, depan dan belakang.

    Hasan kembali mengeluarkan penisnya dari vaginaku, kali ini dimasukkannya ke dalam anusku. Dia benar-benar memaksakan penisnya masuk, padahal inilah pertama kalinya ada batang penis yang menjelajahi lubang anusku.

    Hasan sepertinya tidak peduli, dia mengocok anusku seperti mengocok vaginaku, kali ini cuma tangan kirinya yang meremas dadaku sedangkan tangan kanannya sibuk bermain-main di selangkanganku, dia masukkan jari tengahnya di vaginaku dan jempolnya menggosok klitorisku.

    Aku benar-benar melayang, tubuhku bergerak-gerak tak karuan dan mataku berkejap-kejap keenakan. Anusku dikocok-kocok, klitorisku digosok-gosok, dadaku diremas-remas dan putingnya dipelintir-pelintir dan vaginaku dikocok-kocok juga pakai jari tengah. Aku benar-benar tidak kuat lagi, serasa seperti ada aliran setrum yang menyerang tubuhku dan menyebar ke segala arah. Bersamaan dengan itu aku merasa kepala penis Hasan membesar di dalam lubang anusku.

    Secara bersamaan aku menjerit halus dan ambruk ke atas kasur, batang penisnya sudah tidak bergerak-gerak lagi tapi kedua tangannya tetap aktif bergerak membantuku meresapi setiap detik kenikmatan di setiap sendi tubuhku. Hasan lalu membalikkan tubuhku kemudian menjilati kedua puting susuku.

    Sambil menikmati sisa-sisa gelombang orgasme yang masih terus menjalar, aku pegang rambut Hasan yang lumayan panjang dan kujambak. Setelah itu aku melangkahkan kaki ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar kostnya.

    Guyuran air yang dingin mengembalikan kesegaran tubuhku yang terasa linu di sana-sini. Saat sedang asyik menikmati semua itu, ada ketokan halus dari arah pintu. Kubuka pintu kamar mandi dan Hasan tampak terkesima menyaksikan tubuhku yang telanjang bulat dengan rambut yang basah. Dia masuk dan langsung merangkul tubuhku.

    “Mandi dulu dong”, pintaku berbisik di telinganya.

    Ternyata dia mau menurut dan langsung mengguyur badannya dengan air, kemudian Hasan menyabuni tubuhnya dengan sabun cair. Melihat tubuh kekar yang berotot itu basah oleh air, gairahku mulai naik kembali.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Bercinta Dengan Bini Orang

    Bercinta Dengan Bini Orang


    1796 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Bercinta Dengan Bini Orang ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Sebagai seorang ibu rumah tangga bekerja pagi itu sudah aku menyelesaikan semua. Aku hempaskan diriku di sofa ruang keluarga untuk melihat acara TV pagi. Setelah aku pindah di sekitar saluran TV ternyata tidak ada acara penonton.

    Akhirnya saya memutuskan untuk berbaring di kamar tidur. Setelah beberapa lam merebahkan tubuhku tidak mau berubah dengan mata tertutup. Rumah besar ini yang merasa sangat kesepian di saat-saat seperti ini. Maklum suami bekerja di kantor kembalinya awal pukul 15.00 WIB, yang kuliah pertama saya di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung.

    Mulut anak saya yang kedua pagi untuk meminta izin untuk pulang sore karena ada acara ekstrakurikuler di sekolah. Sebagai seorang istri saya menetapkan bahwa karyawan BUMN pada usia 45 tahun yang memiliki kesempatan untuk mengurus tubuh.

    Terbaru mesum cerita | Teman-teman saya sering memuji kecantikan dan kesintalan tubuhku. Tapi sering membuat saya tidak nyaman adalah tatapan seorang pria yang tampaknya menanggalkan pakaian saya. Bahkan teman-teman teman-teman saya sering berlama-lama bermain di rumahku. Aku tahu mata mereka sering mencuri pandang ke arahku.

    rumah saya terletak di pinggiran kota S, kawasan yang kami huni tidak terlalu padat. halaman rumah saya luas terutama bagian depan berada di sisi halaman, tetapi ada banyak ditumbuhi warna pepohanan. Kami membuat teras juga di sebelah rumah kami. Rata-rata kamar saya dan suami saya punya balasan jendela langsung menghadap halaman samping rumah kami.

    Namun sempat menutup mata saya, saya mendengar suara dari halaman samping rumah saya. Aku bangkit dan melihat keluar. Aku melihat dua anak SMP di dekat mulut saya. Mereka seem’re mencoba untuk memetik mangga yang berbuah.

    Tentu saja Anda sebagai pemilik rumah tidak laku bahagia dari anak-anak ini. Aku bergegas keluar rumah.Seraya dgn bertolak pinggang aku berkata kepada mereka,

    “Saudara, jangan dipetik sekali ketika Anda memasak pasti Ibu cinta”.

    Tentu saja mereka berdua ketakutan. Aku melihat mereka jatuh di wajah mereka. Aku hendak mendapatkan tadi marah akhirnya merasa kasihan.

    “Tidak apa-apa Sis, Ibu hanya meminta untuk tidak picked’m masih belum matang nanti jika sakit perut bagaimana” aku mencoba menghibur.

    Mereka berani mengangkat wajah sedikit. Dari makeup dan penampilan mereka tampak bahwa anak-anak mereka mampu. Melihat wajah mereka kasihan mereka yang akhirnya saya membawa mereka ke dalam rumah. Aku bertanya-tanya mengapa di jam belajar mereka benar-benar ada di luar sekolah ternyata belajar terserah guru pertemuan.

    Setelah tahu begitu aku memiliki mereka tinggal untuk sementara waktu karena mungkin mereka belum dijemput. Iseng-iseng saya juga punya teman untuk ngobrol. Benar dugaan mereka adalah anak-anak orang kaya, meskipun keduanya masih kecil, tapi aku bisa melihat garis ketampanan mereka yang muncul bersama dengan orang-orang yang membersihkan kulit putih. Yang satu bernama Doni yang hanya lagi disebut Edo.

    Ketika obrolan saya tahu mata mereka sering menyelinap melihat dada saya, saya menyadari bahwa saya tidak punya tombol dasterku waktu kancing., Sehingga bagian atas payudara saya yang terlihat jelas. Saya pikir itu adalah orang yang sama yang hanya dari muda ke mulut tua. Pada awalnya saya tidak suka perilaku mereka, tapi akhirnya ada perasaan lain yang aku membiarkan mata mereka untuk menikmati keindahan payudara. Aku sedang menikmati perilaku mereka kepada saya.

    Bahkan, saya berpikir bahwa lebih gila lagi untuk menggoda mereka, aku sengaja membuka beberapa tombol dasterku alasan hari itu sangat panas. Tentu saja hal ini membuat mereka semakin tidak nyaman. Sekarang mereka bisa melihat secara bebas.

    “Hayoo .. pada ngliatin apa!”, Aku pura-pura mengagetkan mereka.

    Tentu saja itu sangat membuat mereka sangat tidak nyaman.

    “Ti .. DAK .. kenapa .. Bu Heni” Doni membela diri.

    “Aku .. itu acara TV yang baik Bu Heni” tambah Edo.

    “Tidak apa-apa Aku tahu kau melihat payudara Ibu mengakui aja ..” Saya mencoba untuk mendorong mereka.

    “E .. Anu Bu Heni” Edo tampaknya untuk mengatakan sesuatu, namun belum selesai kalimat yang saya diucapkan kembali menimpali,

    “Mama kalian juga harus, pertama kalian netek dari Mama Anda”

    “Aku .. ya Bu Heni,” kata Doni. “Tapi sekarang kita sudah tidak netek lagi, lagian punya lain Mama ama memiliki Bu Heni” Edo tampaknya telah mampu menguasai situasi.

    “Lain apa?” Saya bertanya.

    “Mama Got Bu Heni belum sebesar” jawab Doni.

    Kata-kata ini membuat saya berpikir lebih gila lagi. Semakin meningkatnya gairah yang telah mengatasi norma-norma yang ada, aku sudah kehilangan kontrol yang Anda miliki di depan saya adalah anak-anak yang tidak bersalah yang masih pikiran yang bersih. Aku menarik kursi ke mereka.

    “Doni, Edo Anda mungkin sekarang tidak netek lagi karena Anda memiliki banyak Anda harus benar-benar ..” kataku.

    Tentu saja, kata-kata ini membuat mereka penasaran. “Can melakukan Bu Heni,” kata Doni.

    “Bisa netek ibu yang sama, Anda tidak akan ..?” Aku bertanya, meskipun aku sudah tahu jawaban mereka.

    “E .. ma .. u” kata Edo.

    “Saya akan senang dong” jawab Doni.

    Jawaban mereka membuat saya lebih bersemangat. Saya pikir hari ini saya akan mendapatkan sensasi orang-orang muda. Aku duduk di depan mereka dan kemudian dengan tergesa-gesa sedikit aku membiarkan daster bagian dari saya sehingga sekarang hanya menutupi saya atas tubuh BH krem. Sepertinya mereka tidak sabar lagi terlihat dari tangan mereka yang mulai menggeraygi susu saya. Saya geli melihat perilaku mereka.

    “Kesabaran sayang .. Ibu off bra pertama” kataku sambil tersenyum.

    Setelah saya menghapus bra, tumpahlah isinya, payudara saya sekarang terbuka bebas. Mereka semakin melotot mata menatap payudara saya. Tampaknya mereka bingung apa yang harus mereka lakukan. “Mari kita mulai mengapa bahkan bingung” Aku sadar mereka.

    Mereka bangkit dari tempat duduknya. tangan mereka tampak berebut untuk memeras. “Jangan melawan dong .. ah .. .. e Doni yang meninggalkan mulut kanan” perintah.

    Birahiku meningkat, sementara Doni sudah mulai menempelkan bibirnya ke puting saya sambil membelai dipilin- Edo masih terdampar puting. Edo mulai mengisap puting saya. Oh betapa aku merasa seolah-olah melayg ke awan, terutama ketika mereka berdua secara bersamaan mengisap napas dalam napas.

    Tanganku membelai kadang-kadang sedikit robek sambil memegang kepala mereka untuk lebih dalam menikmati payudara saya. Mereka semakin menikmati mainan mereka, aku terbawa, saya ingin lebih dari hanya ini. Aku bahkan lupa.

    Ketika nikmat baru kesenangan tiba-tiba isapannya rilis Edo mengatakan, “Bu Heni mengapa tidak keluar susu?”.

    Saya terkejut harus menjawab apa akhirnya Anda menjawab santai, “Edo tidak akan, jika tidak ingin membiarkan Doni hanya .. ingin tidak?”

    “Ingin ..” Edo jawaban langsung.

    Doni mengabaikannya lebih sungguh-sungguh menikmati payudara saya. Akhirnya, saya ingin lebih dari itu.

    “Don .. Edo .. Air .. pertama berhenti ..” tanya saya.

    “Apa Bu Heni?” tanya Doni.

    “Kami ke ruang yuk .. Posisi yang benar-benar buruk di sini” jawabku.

    Lalu aku berdiri saja daster yang saya pakai merosot. Mata mereka menataptubuhku gemuk mulut lapar.

    “Ayo ..” Saya diundang.

    Aku berjalan ke kamarku hanya menggunakan celana dalam hitam yang yang kontras dengan mulut kulit putih. Dipimpin oleh hidung seperti kerbau mereka mengikuti saya. Di ruang aku duduk di sisi tempat tidur. “Don .. Edo .. sayang lepas seragam Anda” Aku memohon.

    “Tapi Bu Heni” Edo masih agak ragu.

    “Ayo ditaati” jawab saya.

    Malu-malu mereka mulai melepas baju seragam dan celana. Lihatlah, penis laki-laki muda telah ngaceng. rambut kemaluan mereka tampak belum tumbuh lebat, sementara batang kemaluannya belum tumbuh benar masih agak kecil. Namun, melihat pemandangan ini libidoku naik semakin tinggi.

    “Bu Heni kecurangan ..” kata Edo.

    “Mengapa menipu bagaimana?” Saya bertanya.

    “Bu Heni tidak melepas celana Ibu!” kata Edo.

    Gila anak ini, aku tersenyum dan kemudian bangkit dari tempat duduk. Lalu aku menghapus celana saya. Sekarang kami bertiga telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. tatapan mereka tetap pada objek yang di bawah pusar saya.

    Bulu yang tumbuh tebal dan hitam yang menarik perhatian mereka. Aku duduk kembali dan agak meringsut ke rangjang lalu meletakkan kaki dan mengangkangkannya saya. Pussy terbuka lebar dan tentu saja terlihat isinya. Mereka semakin dekat dan melihat vagina saya.

    “Ini adalah vagina, yang lainnya dengan Anda” Saya jelaskan

    . “Kau lahir di sini” aku melanjutkan.

    tangan mereka membelai bibir vagina. Ini Touches lezat. “Inilah sebabnya mengapa ada lubang lagi” tanya Doni.

    “Mengapa lubang untuk BEOL” Saya agak geli saat ia menjelaskan.

    jari Doni masuk ke lubang vagina saya dan bermain di dalamnya. Cairan tampak semakin membanjiri liang vagina. Sementara tampaknya lebih tertarik lubang jari Edo duburku. Edo jari yang pada awalnya mengelus anal lubang kemudian muncul untuk memulai berani untuk masuk ke dalam duburku lubang.

    Aku membiarkan kesenangan ini berlangsung.

    “Ouw .. a .. duh .. e .. sekali .. nik nak .. .. mat .. sa .. balas .. Terr .. kita” Aku mengerang.

    Para pemuda di ini agak lama aku biarkan mengobok- obok lobangku lobang-. Memang orang-orang muda yang memberi saya senang. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku tanpa bisa berbicara hanya mengerang dan terengah-engah yang sengal.Akhirnya saya mendorong mereka aku bangkit dan pergi ke orang-orang yang berdiri di tepi tempat tidur. Aku berjongkok di depan mereka sambil memegang tangan saya diikuti oleh meremas-meremas penis mereka kecil.

    Aku meletakkan wajahku pada penis Doni aku kulum dan menjilat kepala penis laki-laki muda nan ini. lutut Doni tampak senang. Aku memasukkan seluruh batang penis ke dalam mulut saya dan saya membuat gerakan bolak-balik. Doni tangan erat mencengkeram kepala. Sementara tangan-shake untuk mengocok lain satu penis Edo.

    “Bu Heni .. katakanlah .. ya .. ma .. u .. ken .. kucing ..” Doni mengerang.

    Tampaknya anak ini akan orgame aku tidak benar membiarkan ini terjadi karena saya masih ingin ini berlanjut.Kemudian permainan saya beralih pada penis Edo. Tampak penis agak lebih besar dari Doni milik. Aku mulai menjilat dari pangkal sampai ke ujung, menari lidah saya di kepala penis Edo. Saya tusukan-tusukan kecil lubang Edo kemih maka saya memasukkan seluruh batang penis Edo. Edo menarik rambut tegang sekali ketika saya mendapatkan mempercepat kulumanku.

    “Wouw .. a .. aku .. .. mo ga ju .. .. .. ya ken .. cing” Edo mengerang.

    Aku berhenti kulumanku maka saya bangkit dan naik ke tempat tidur dan kemudian aku kangkangkan kaki lebar sehingga vagina yang terbuka lebar. “Siapa bayi pertama, itu tititnya dimasukkan ke sini” aku berkata dengan tangan menunjuk ke vagina lubang yang tampaknya sudah direndam.

    Mereka berpendapat, tampaknya membuat perjanjian. Dan akhirnya pertama Doni yang Sebaiknya menusuk. Doni naik ke tempat tidur dan mengangkangiku tampak penis yang tegang waHeni siap menusuk lubang mengkilap yang pantas menjadi neneknya.

    Saya telah menyebabkan penis masuk ke dalam lubang Doni kesenangan saya. Saya telah menyebabkan pemuda ini melepas keperjakaannya, memasuki kenikmatan penuh cinta. Dan memberkati .. testis berasal Doni lenyap ke dalam vagina.

    “Ah ..” aku mendesis seperti kepedasan

    “Masukkan .. le .. BIH .. da .. lam lagi .. dan genjot .. katakanlah .. ang” aku memberi perintah.

    “Ya .. Bu Heni .. e .. naak .. se .. kali” kata Doni.

    Aku hanya bisa tersenyum, menggigit bibir bawah saya. Doni tampaknya cepat memahami kata-kata saya, dia memompa waHeni ada tua di bawah hati-hati. Genjotannya lebih cepat dan lebih cepat. mulut Edo menunggu hanya tertegun dengan permainan kami. Doni dipercepat genjotan aku Seimbangkan dengan goyganku. Dan tampaknya hal ini membuat Doni tidak lagi memegang sperma yang akan keluar.

    Dan akhirnya

    “Sa .. ya .. mo .. ken .. cing .. la .. gi .. ada .. ta .. han .. la .. gi ..” Doni hampir berteriak.

    Aku melipat kaki saya terus ass Doni. Doni erat memeluk tubuh saya dan .. cret .. cret ser .. .. hangat cairan kewaHenianku membajiri liang. Doni merosot di tubuhku, butir-butir keringat keluar dari tubuhnya.

    “Ini baik .. se .. ka .. li Bu Heni,” kata Doni.

    “Ya .. tapi sekarang giliran Edo dong sayang” kataku.

    Doni mencabut penisnya yang agak kempes dan berbaring lemas di sampingku. “Edo sekarang sayang giliran Anda” Saya berkata kepada Edo. “Kau tusukan ibu dari belakang ya ..” aku memberi perintah.

    Lalu aku mengambil posisi menungging yang vaginanya dalam posisi yang menantang. Edo naik ke tempat tidur dan kembali menusuk dar. Dan memberkati .. penis pria muda yang baik masuk mulut pit seharusnya tidak menjadi kesenangan saya dia merasa sebagai melaygnya keperawanannya.

    Tampaknya Edo agak bisa menggerakkan tubuhnya ke kanan dia melihat permainan Doni. Edo bergerak maju mundur pantat. Saya menyambut dengan goygan erotis. Semakin lama gerakan tidak teratur Edo lebih cepat dan tampaknya klimaks akan dicapai oleh anak ini.

    Dan akhirnya memelukku dari belakang, meremas saya susu Edo eject sperma .. cret .. cret .. lubang vaginanya terasa hangat setelah sperma dikenakan ini..Edo dua anak manis berbaring di sampingku.

    Dua anak mengapitku berbaring lemas setelah memasuki dunia kesenangan. Aku bangkit dan berjalan ke dapur tanpa berpakaian dengan daya makan biarkan mereka sembuh. Setelah berpakaian dan susu, mereka meminta izin untuk pulang.

    “Doni, Edo Anda bisa pulang dan melakukan cerita kepada siapa pun tentang semua ini, Anda mungkin akan diminta lagi setiap saat dan tempat asal memungkinkan” kataku, kemudian mencium dua anak .Saya memberi tunjangan mereka masing-masing 50.000 ribu.

    Dan sampai sekarang mereka telah kuliah, aku masih pergi keluar dengan mereka. Aku mulai sayang dengan mereka.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cemberutin Pacar Dapat Perawan

    Cemberutin Pacar Dapat Perawan


    1795 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cemberutin Pacar Dapat Perawan ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Kali ini menceritakan hubungan Sex hilangnya perjaka dan perawan dari pasangan anak SMA yang bernama Agung dan Adel. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.

    Anggap saja namaku Agung ( nama samara), aku akan menceritakan pengalaman ku dulu yang mungkin akan aku ceritakan dengan bahasa seadanya ( maklum baru pertama berbagi cerita di web dewasa), hhe. Okey, jadi begini. Cerita Sex-ku ini berawal dari ketika aku masih duduk dibangku sekolah kelas 1 SMA. Ketika itu aku yang masih tergolong anak baru gede bermaksud ingin mendekati teman sekolahku.

    Wanita yang aku dekati itu sih biasa-biasa saja kalau kata teman-teman sekolahku, yah yang namanya cinta mau orang bilang apa bagiku dia adalah wanita yang paling cantik di dunia, hhe… gombal dikit. Maaf sebelumnya para maniaks cerita sex, didalam cerita ini aku tidak bisa menjelaskan sedetail mungkin tentang wanita yang aku dekati ini yang sebut saja nama dia adalah Adel.

    Adel ini adalah seorang gadis Abg yang sedang-sedang saja, begitu pula dengan bentuk tubuh, payudara dan bagian pantatnya. Kembali ke pribadi masing-masing, cantik itu relative, jika kita suka ya kita merasa dia cantik, kalau kita tidak suka mau secantik apapun wanita itu ya bagi kita dia biasa-biasa saja,hhe… betul nggak para pembaca. Seperti yang aku aku katakan tadi Adel ini mempunyai body biasa, dan wajah yang lumayan (menurutku).

    Kalau berbicara tentang payudara dan pantat Adel mempunyai yang ukuran yang biasa-biasa saja. Namun walaupun Adel biasa saja, namun Adel ini berkulit putih dan mempunyai wajah yang menggemaskan, pokoknya aku suka banget deh. Selama aku masih dalam rangka pendekakatan, setahuku Adel tidak pernah tahu dan mengerti seputar sex, dia masih polos sekali para pembaca.

    Singkat cerita setelah beberapa bukan melakukan pendekatan kepada Adel, pada akhirnya akupun bisa mendapatkanya dan kini statusku dengan dia adalah berpacaran, hhe. Nah dari sininlah awal keseruan cerita sex-ku. Karena dia sudah resmi menjadi pacarku, aku-pun mulai mengajarkan kepada Adel untuk mengenal dan melakukan hal-hal yang berbau sex. Pada awalnya sih memang sulit sekali, namun dengan trik hebatku diapun akhirnya mau.

    Pada hari itu, aku sudah merancang rencana agar aku bisa melakukan hal mesum dengan Adel pacarku itu. Pada hari itu aku memasang muka marah saat bersama Adel, setiap Adel mengajak aku ngobrol pada saat itu aku diam saja dan berpura-pura murung. Dengan hal itu, maka Adel-pun merespon aku,

    “ Kamu kenapa sih sayang, kog dari tadi aku ajak ngobrol kamu diem aja, dan kamu dari tadi cemberut aja, kamu kenapa sih sayang ???, “ ucapnya penasaran kepadaku.

    Ini nih, saat aku melakukan trik busukku,

    “ Auk ah, aku kesel banget sama kamu, gara-gara kamu aku di ledekin sama temen-temen, katanya masak aku cowok nggak jantan, “ ucapku berpura-pura marah.

    “ Lah, kog bisa gara-gara aku sih Yank, emang aku salah apa, hhu, “, tanyanya penasaran.

    “ Iyalah jelas ini gara-gara kamu, kamu tahu nggak aku di ledekin sama temen-temen katanya aku nggak jantan gara-gara aku nggak pernah ngapa-ngapain sama kamu, kan malu, ” ucapku mulai memancing Adel, Kumpulan Dewasa Terkini. Agen Sbobet

    Pada saat itu Adel tidak menjawab dan terdiam saja. Tidak kusangka setelah sore hari, caraku itu ternyata sukses kawan. Kalian tahu Adel pada sore harinya dia menelepon aku tidak aku sangka dia berbicara lewat telefon bahwa dia ingin ML sama aku pada malam hari di rumahnya.

    Wow gila nggak tuh, patut dicoba para pembaca caraku ini, hhe. Lanjut. Saat itu dia memberitahukan aku bahwa aku harus kerumahnya pada pukul 00.00 WIB.

    Aku tahu maksud Adel menyuruhku kerumahnya pada jam itu, karena pada jam itu semua keluarganya yang ada di rumahnya pasti sudah tertidur lelap dan pasti akan aman tanpa hambatan. Seketika itu aku dihadapkan dengan rasa senang dan bingung, aku bingung karena harus bagaimana agar aku bisa keluar jam segitu dan aku senang karena Adel pada akhirnya mengabulkan keinginanku untuk melakukan hubungan sex.

    Namun pada akhirnya akupun nekat kabur dari rumah dengan cara melompat diam-diam dari jendela kamarku dan menuju kerumah Adel. Singkat cerita sampailah aku dengan motor yang disambut dengan seorag Adel yang sudah menunggu di depan rumahnya dengan baju tidur yang sangat tipis dan hamper transparan. Sesampainya disana, kami-pun dengan diam-diam masuk kerumah Adel yang besar dan mewah.

    Dengan extra hati-hati, aku dan Adel melompat dari jendela kamarnya. Sesampai-nya di kamarnya kami pun segera melakukan pemanasan. Saat itu kami awali dengan aku membuka kaos kami. Setelah kami sama-sama telanjang setengah dada aku pun lansung memeras buah dada-nya, dengan penuh nafsu saat itu aku melucuti piyamanya yang tipis dan tak lupa aku melepaskan tali bra-nya.

    Setelah terbuka Tali Bra-nya aku-pun mulai melepas Bra milik Adel yang mengganggu tangan ku pada saat aku meremas payudaranya. Pada awalnya aku menganggap payudara Adel kecil, namun setelah kini aku melihatnya langsung, Wow… cukup besar kawan.

    Payudara Adel yang sudah tanpa Bra itu terlihat sanagt kencang dan padat sekali, sungguh melihat itu nafsuku semakin membara saja, rasanya ingin sekali segera meremas dan mengkulumnya, Cerita Dewasa Terkini.

    Aku yang sudah nafsu berat, saat itu aku-pun langsung melucuti celana beserta celana dalamnya yang minim itu. Pada saat itu Adel-pun mendadak agresif lalu melucuti celanaku dan celana dalamku. Tanpa komando Adel-pun mulai meraih kejantananku dan membimbing kejantananku kedalam mulutnya,

    “ Oughhh… Ssssshhh… nikmat enak sayang… Aghhhhhh… terus kayak gitu sayang… Aghhh…, ” desahku.

    Sungguh pada saat itu aku tidak menyangka Adel bisa melakukan hal seperti itu. Sungguh nikmat sekali kuluman Adel pada kejantananku. Bebrapa menit dia mengkulum kejantananku dengan lincah-nya. Namun ketika sedang enak-enaknya tiba-tiba Adel menghentikan kulumanya dan,

    “ Sayang kamu bawa kondom nggak, ” ucapnya mengejutkanku.

    Pada saat itu aku tidak menjawab pertanyaanya, memang sebenarnya aku sengaja tidak membawa benda itu. Tanpa buang waktu lagi, aku-pun langsung mendorongnya sampai jatuh pada ranjangnya dan aku-pun langsung menghujani ciuman pada bibirnya yang nikmat dan merah merekah itu. Kami yang saat itu sama-sama nafsu, Adel-pun kemudian merespon ciumanku dengan mengadu lidah dengan liarnya.

    Ditengah kenikmatan itu, air liur kami menjadi satu di dua mulut yang saling berpangutan di iringi dengan tangan kananku yang mulai menjamah payudara Adel dan tangan kiri-ku memainkan vagina Adel dengan perlahan. Sedikit demi sedikit aku melakukan hal itu. Kira-kira setelah 5 menit jariku bermain pada area kewanitaan Adel, aku merasakan tanganku mulai dibasahi oleh lendir kawin dari vagina Adel.

    Setelah puas kami melakukan warming up, kemudian kami-pun memulai melakukan yang lebih hot. Kini aku mulai mengkulum pentil-nya yang sebelah kanan dan yang kiri aku remas dengan tanganku yang sesekali menarik putingnya yang mulai keras. Lidahku yang saat itu asik dengan memainkan putting itu, tak lupa aku menghisap payudaranya yang kenyal dan mulai keras karena rangsanganku,

    “ Ughhh… Sssss… Aghhh… Oughhh…. Terus saying… Aghhhh…., ” desahnya.

    Mendengar desahnnya, saat itu aku semakin menggila dan aku melakukan itu semakin keras dan mulutku mulai menurun ke bagian bawah melewati perut dan sampai ke tempek nya yang basah dengan air yang terus mengalir dari dalam Vagina-nya dan dia masih saja merengek tetapi dia ingin di teruskan karena nikmatnya mungkin. Setelah beberapa menit aku menyuruhnya mengkulum lagi Penis-ku.

    Saat itu akupun sudah tidak sabar lagi ingin menikmati keperawanannya dan dia langsung menghisap tanpa ragu. Saat itu kuluman-nya yang kuat membuatku geli dan nikmat yang luar biasa.

    Setelah beberapa menit berlalu aku menggesek-gesek vaginanya dan dia merengek tidak jelas karena masih dengan posisi dia mengkulum Penis-ku. Karena aku ingin segera menikmatinya aku memasukan kejantanan-ku ke dalam sangkarnya dengan dia terlentang, tetapi agak sulit karena masih sempit.

    Setelah susah payah, pada akhirnya Penisku-pun berhasil menembus selaput darahnya dan dengan dorongan kecil akhirnya sobek dan dia menjerit kesakitan dicampur kenikmatan,

    “ Aow……. Sakit sayang, Aghhhhhhhh…………, ” jeritnya lirih.

    Setelah kejantananku sudah tertanam didalam liang senggama Adel, aku-pun kini mulai memaju mundurkan Penis-ku. Namun ditengah hunbungan sex kami itu, aku melihat Adel merasa kesakitan,

    “ Aoww… Ughhhh… Sakit sayang, pelan-pelan ya sayang, Aghhhhhhh…., ” ucapnya.

    Mendengar perkataan Adel yang seperti itu aku-pun mulai memperlambat permainan sexs-ku. Namun hal itu hanya bertahan sebentar saja, aku yang sudah tidak tahan lagi, aku kembali mempercepat genjotan penis-ku kedalam liang senggama Adel,

    “ Ouhggg… enak sayang… rasanya aku pingin kencing sayang… Aghhh…. Sssssshhhh…., ” ucapnya.

    Aku yang sudah tahu dari film porno, Adel pada saat itu bukanlah ingin kencing, namun dia pada saat itu akan medapatkan klimaksnya. Melihat Adel seperti itu aku makin mempercepat gerakan kejantananku kedalam liang senggamanya,

    “ Iya gitu sayang, Aghhh… Enak… Oughhh…, ” desahnya semakin menjadi-jadi saja.

    Pada akhirnya dia mengeluarkan cairan itu di Penis-ku merasa hangat memang hebat dan tahu cara memuaskanku dan setelah itu aku merubah posisi menjadi aku menusuknya dari belakang kali ini masuknya mudah dan arena tamengnya sudah sobek jadi tidak lagi ada yang menghalangi pedangku dan dia yang memaju mundurkan tubuhnya dan akupun mengikuti irama itu.

    Beberapa menit kemudian dia mengejang dan kembali Klimaks di saat itu aku sudah ingin keluar dan tetapi aku takut dia hamil dan aku juga tak sudi perjakaku diambil oleh cewek yang aku dekati karena iseng belaka.

    Aku mengeluarkannya di luar saat aku membalikan badannya maksudku mengeluarkan di mulutnya tetapi belum sampai sudah moncrot deh air maninya tepat di kepalanya dan aku menyuruhnya mencoba rasa itu dan dia meminumnya dan berkata,

    “ oohh enak rasanya ini cairan apa ? kencing ya ? , ” tanyanya polos.

    ” bukan sayang, ini namanya air kenikmatan lelaki alias sperma, ” ucapku.

    Aku pun memberitahunya bahwa itu air mani aku berpikir cewek ini sebenarnya tidak pernah sekalipun melihat film porno tetapi dia dapat melakukan gerakan-gerakan itu dari mana kan tidak mungkin udah pernah. Tetapi aku masih belum puas aku memasukan lagi Penisku ke mulutnya dan dia tanpa di suruh dia melakukan itu sendiri. Setelah bosan aku kembali memasukan Penis-ku ke Vagina-nya.

    Saat itu dengan telapak kakinya menempel di lantai aku memasukan itu dari atas dan setelah beberapa saat dia berKlimaks dengan meringik terus-menerus , aku mau keluar dan aku lansung menyuruhnya menghisap dan keluarlah lagi cairan itu di mulutnya yang menggairahkan setelah itu kami lemas dan kami tertidur pulas dengan Penis-ku yang masih di dalam mulut Adel.

    Singkat cerita, aku-pun dibangunkan Adel pagi sekali tepatnya subuh. PAda saat itu aku dibangunkan agar cepat pulang sebelum di ketahuan oleh orang-orang di rumah. pada sat itu akupun bergegas memakai pakaianku lagi dan sebelum aku pergi aku mencium mulutnya dan pulang kerumah. Sesampainya dirumah aku-pun tertidur pulas. pada hari itu karena capek aku tidak masuk sekolah dan begitu juga Adel.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Dewasa Keseksian Tante Ratih

    Cerita Dewasa Keseksian Tante Ratih


    1795 views


    Perawanku – Siang itu begitu panas udaranya, membuat jalan di depan rumah sepi sekali. Tidak ada satupun orang yg keliatan. Mgkn pada ngumpet di dlm rumah masing2. Saat itu aku hanya mengenakan celana pendek dan kaos singlet. Kebetulan rumahku jg sepi bgt.

    Krn g tahan aku beranjak untuk membeli es batu di tetangga. Saat melewati rumah temanku, aku sedikit tertegun melihat sesosok wanita paruh baya. Ya, Namanya adalah Tante Ratih, mama temanku. Saat itu tante ratih memakai daster yang seksi sekali. Tampaknya dia tidak memakai BH jg, krn putingnya tercetak jelas.

    “Siang tante” sapaku padanya. “Eh, leo mau kemana panas2 gini??” tanyanya. “Mau beli es tante, buat ngadem..”sahutku. “Ohhhh ni tante punya es, gak usah beli deh, sini aja” kata tante ratih. “Waaah boleh jg nih tan, okey deh” seruku. Kami berdua masuk ke rumah. “Bentar ya tante buatin es nya dulu” kata tante ratih. “Oke deh tan, makasih banget lho” sahutku. Mataku tidak bisa diam dan mengekor mengikuti goyangan pantat tante ratih. Astaga begitu terkena sinar matahari, daster itu jadi transparan..

    Aku bisa melihat belahan pantat tante ratih. Saat itu pikiranku mulai kacau. Kontolku jg perlahan bangkit. “Nih es nya” seru tante ratih membuyarkan fantasiku. “Duuh, makasih tante. Kok sepi banget sih tan?” tanyaku sambil meneguk es cincau buatan tante. “Biasa lah, kalo jam segini masih kerja semua” kata tante sambil mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya. “Emang gak takut tante, sendirian?” tanyaku lagi. “Ahh, ngapain jg takut, khan siang2 gini” jawabnya enteng. Lalu obrolan kami berlanjut tentang aktifitas sehari-hari. Dan, tentunya mataku masih sibuk meneliti paha tante ratih.

    Tiba2 tante ratih mendekati aku sambil berkata, “Dari tadi tante liat, km ngeliat ke bawah aja terus, emang ada apa??”. “Busyet, ketauan deh” gumamku. “Oh…eh…nggak apa2 kok tante..” jawabku sebisanya. “Km liat ini ya??” kata tante sambil mengelus2 pahanya. “Alamaaak, harus bilang apa nih??” batinku. Aku hanya tersenyum saja. Tiba2 tangan tante ratih menyentuh kontolku dari luar celana. “Nih buktinya kontolnya ngaceng tuhh…” serunya genit. Aku hanya diam saja, seperti orang kena hipnotis. Entah siapa yg mulai, tau2 bibir kami berpagutan. Tangan tante ratih g henti2nya mengelus2 kontolku. “Ehm….aah…..” desah tante ratih ketika aku jilat telinga dan lehernya. Tanganku tidak tinggal diam.

    Aku sibak daster tante sampai keliatan memeknya. Lalu aku usap2 memek tante ratih dan aku mainkan klitorisnya. “uuuhhh….leo….enak sayang….terusin…..ahhhhhh” tante ratih terus mendesah. Aku pun menyudahi aksiku dan mulai berjongkok di depan tante ratih. Aku jilatin paha tante ratih sampai ke selangkangannya. Aku jilat juga memeknya….harum dan sedikit asin rasanya. Rupanya memek tante ratih udah basah. “Ah…..ouuuhhh….sssssshshs…terus sayang, emutin itil tante….mainkan sayang…aaahhhh…” tante ratih mendesah2. Aku mainkan itil tante dengan jempolku, sambil sesekali lidahku menyeruak ke dalam memek tante ratih…”Ah…..leo….pinter kamu sayang…..ahhhh….” tante ratih semakin meracau. Aku buka daster tante ratih hingga dia telanjang di depanku.

    Aku remas tetek tante ratih, aku mainkan putingnya….Lalu aku jilat n kulum bergantian. Kemudian aku cium tante ratih sambil aku masukkan jariku ke memek tante ratih. Aku mainkan untuk menyetuh G-Spot tante ratih. “Aaaaaaahhh….leo, tante mo dapet…..uuhhh..sssst, gila kamu leo,,,,aaahh” tante ratih semakin menggelinjang dan akhirnya bergetar. Nampaknya dia mengalami orgasme. Langsung saja aku jilat semua cairan tante ratih lalu aku kulum lagi itilnya….”Hmm….nikmat bgt tante rasanya” seruku. “uhhh…..ssshhhh…enak bgt sayang…..”seru tante ratih sambil memejamkan mata menikmati orgasmenya. Akupun duduk dan kembali menikmati es cincau punyaku.

    Tante ratih perlahan bangkit, lalu menghampiriku dan melumat bibirku. “Oahm….sshhh….” tante ratih mulai mendesis lagi ketika aku kulum putingnya n aku remas teteknya. Tante ratih mulai melepas celana pendek dan CD ku. Lalu tangannya mainin kontolku. “Ah….”seruku sambil menatapnya ketika tante ratih mulai mengulum kontolku. Rupanya tante ini sangat profesional dalam blowjob. Sesekali kontolku dikocok dengan kencang, lalu dikendorkan lagi sambil dikulum n dihisap. Buah pelirku jg tak luput dari jilatan dan kuluman tante ratih. “Oohhh….enak tante….terus….jilat n sedot lagi tante….aaaahh” seruku mulai tak karuan.

    Tante ratih bangkit dan memegang kontolku. Lalu tante naik ke kursi dan mulai menggesekkan kontolku ke memeknya…dan….slep…bles, kontolku masuk ke memek tante ratih. “Ahhhh…..”seru tante ratih. Tante lalu menciumku sambil mulai menggoyang pantatnya…”aihh….oohhh…ssshhhh…enak banget kontolmu leo….” serunya. “Ohhhh….iya tante,,,,memek tante jg enak, masih rapet n anget tan…aaaahhh” jawabku. “slep….slep….plok..plok…plokk, suara kontolku beradu dengan memek tante ratih. aaahhhhh….nikmat tante…” seruku. Tante ratih berhenti dan mulai menggoyang pantatnya dengan gerakan memutar yg erotis sambil meremas2 teteknya….aaaaaauuuuhhh……tante……enak bgt……” seruku lagi. Tante ratih memegang kepalaku dan ditekan ke arah teteknya…aku hisap dan kulum tetek tante ratih….”Ahhhhh…sssshhhh….sedot terus sayang…..aaaaghjhh” rintihnya. Tante ratih berhenti dan melepas kontolku.


    “Ayo sayang sekarang doggy style” sahut tante sambil nungging. Perlahan aku masukkan lagi kontolku ke memek tante ratih….slep…slep….crok…crok…..” pahaku beradu dengan pantat tante ratih. Cukup lama di posisi ini, tante ratih minta ganti lagi. Tante lalu duduk mengangkang di kursi. “ayo sayang….tante mau nyampai nih….” serunya. Aku jilat lagi itil tante ratih sebelum aku masukkan ****** aku lagi. “ahhh…tante….geli banget ****** aku…..hhhh” seruku. “Ahhh….iya…aahhh….kontolmu kuat juga ya…ohhhhh…yeesss…sshhhhh” tante ratih mulai meracau tak karuan. “auuuhhh leo,,,tante mau nyampai nih….hssshshs oooohhhh…” “iya tante leo jg hampir nih…..” tak lama kemudian tubuh tante ratih mengejang…”aaaaaaaaaaaaaaahhhhh……shhhhhhhh tante keluar leo….” jeritnya.

    Memek tante berdenyut2 dan membuat ****** aku semakin geli…”ahhhhh….tante……crot…crot….crot.. ..crot…tak kurang dari 4 kali aku semprotkan sperma aku ke memek tante. “auuuuhhh..ssshsh leo sperma mu hangat sayang…..” sahut tante. Tubuhku terasa lemas sekali. Aku biarkan kontolku di dalam memek tante ratih untk beberapa saat sampai lemas. Lalu aku keluarkan kontolku dari memek tante ratih. “ahh…enak banget tante….” kataku sambil memejamkan mata ketika tante ratih membersihkan sisa sperma dengan kulumannya. “Makasih ya leo…tante puasss sekali…” kata tante ratih. “Sama2 tante….memek tante nikmat bgt..” jawabku. “Kapan km mau, kalo rmh lagi sepi, datang aja kesini ya…” seru tante sambil lalu mengecup bibirku. “Beres tante….” jawabku sambil meremas teteknya. Aku lalu berpakaian dan keluar dari rumah tante ratih stelah sebelumnya kami berpagutan lagi.

  • Ananda Namanya

    Ananda Namanya


    1795 views

    Perawanku – Kisah ini terjadi, ketika aku masih di bangku kuliah beberapa tahun yang lalu dan pada akhirnya kuliahku juga berhenti di tengah jalan karena kesibukanku dengan grup band yang aku bentuk.

    Kisah ini terjadi, ketika aku masih di bangku kuliah beberapa tahun yang lalu dan pada akhirnya kuliahku juga berhenti di tengah jalan karena kesibukanku dengan grup band yang aku bentuk.

    Pagi itu seperti kebiasaan aku sebelum masuk ruang kuliah, selalu menyempatkan diri untuk menikmati makanan di cafetaria kampus yang suasananya cukup asri dengan keberadaan taman di samping cafetaria kampus itu sendiri. Diantara beberapa mahasiswa yang sedang menikmati makanan, aku sempat terpaku oleh sosok yang sebelumnya belum pernah aku lihat di kampus.

    Penampilannya cukup membuatku terpesona, dengan tank top warna merah di padu dengan blue jeans skirt setinggi lutut menjadikan dia juga patut untuk menjadi pusat perhatian semua cowok yang ada di cafetaria. Setelah memesan makanan dan minuman, aku melangkahkan kakiku menuju meja yang ada di luar ruangan cafetaria yang posisinya menghadap langsung ke arah taman kampus.

    Pagi itu kebetulan aku seorang diri, nggak seperti hari-hari biasa yang selalu datang bersama teman-teman dekatku yang sekaligus juga teman di grup bandku. Dengan santai aku duduk sambil menikmati segelas coklat hangat dan sepotong pancake nanas kesukaanku.

    Di tengah asyiknya aku menikmati makanan, tiba-tiba telah berdiri temanku yang bernama Dina dan seorang yang telah membuatku terpaku sebelumnya.

    “Maaf Diet.. Boleh nggak kita gabung duduknya?” tanya Dina sambil tersenyum.

    “Oh.. Kamu Din..!” ujarku spontan.

    “Boleh-boleh… Lagian aku sendirian kok” sahuntuku meyakinkan.

    “Tumben nih cafetari rame, sampai nggak ada satupun meja kosong” Kata Dina menambahkan.

    “Kamu juga tumben Diet makan sendirian, biasanya khan sama grup band kamu?” kata Dina lagi.

    “Iya nih Din.. Kebetulan ada kelas pagi jadinya aku berangkat lebih awal deh” jelasku sesaat setelah Dina dan temannya duduk.

    “Oh iya Diet, kenalin ini anak baru di kampus kita” Dengan ramah Dina memperkenalkan temannya.

    “Ananda… Ini Adietya teman kita juga, yang kebetulan juga dia vokalis di grup band di kampus kita ini” Dina memperkenalkan aku kepada Ananda secara panjang lebar.

    “Dan dia ini Diet, mahasiswa pindahan dari Jakarta yang mengikuti orangtuanya karena pindah tugas” Jelas Dina kepadaku.

    “Namanya Ananda aprilia putri, yang mempunyai hobby dengerin musik juga” sahut Dina lagi.

    Yang di perkenalkan cuman tersenyum manis aja. Dengan ramah aku tersenyum kepada Ananda, sambil menyodorkan tanganku.

    “Adietya!” kataku pendek.

    “Ananda!” dengan senyum manis dia menerima uluran tanganku.

    Tangannya halus banget saat aku menggenggamnya lembut, apalagi di lengannya di tumbuhi bulu-bulu halus yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang mulus.

    Dari jarak yang lumayan dekat aku bisa menikmati pesona kecantikan Ananda yang begitu menawan, Ananda mempunyai rambut yang cukup tebal dan hitam yang panjangnya di bawah bahunya sedikit. Bibirnya sensual dan selalu basah alami tanpa olesan lipstik. Pandanganku sesaat turun ke arah lehernya yang jenjang dan berakhir di kedua tonjolan di dadanya yang aku taksir ukurannya 36B.

    Sampai di sini aku sempat menelan ludah sesaat, betapa ranumnya buah dada Ananda yang menuruntuku begitu menggairahkan kalau di remas nan lembut dan putingnya di jilatin dengan gerakan erotis. Khayalanku buyar bersama teguran dari Dina mengingatkan kalau aku masih menggenggam tangan Ananda.

    “Sudah dong Diet.. Lepasin tangan Ananda” tegurnya mengingatkan.

    “Maaf.. Yah Ananda” kataku polos.

    “Tangan kamu halus banget sih” kataku menambahkan.

    “Tangan atau, kamu yang terpesona oleh kecantikannya” sindir Dina.

    Aku hanya tersenyum mendengar Dina mengatakan itu. Sejujurnya aku memang mengagumi pesona Ananda yang kayaknya bakal jadi bunga kampus nantinya.

    Seminggu setelah pertemuanku dengan Ananda di cafetaria. Aku bertemu kembali dengannya tapi bukan di kampus seperti saat itu. Ananda datang bersama kedua orang tuanya untuk menikmati makam malam di salah satu cafe yang cukup terkenal di kota itu. Dan kebetulan aku bersama teman-temanku bermain musik akustik di cafe itu setiap 3 kali seminggu.

    Malam itu Ananda mengenakan gaun warna hitam yang membuat penampilannya sangat berbeda dengan saat dia ada di kampus. Gaun malam yang panjang dan modelnya sedikit sexy dibagian dadanya membuat Ananda tampil begitu anggun malam itu. Saat itu Ananda belum menyadari kalau yang ada di atas panggung adalah diriku.

    “Selamat datang dan selamat menikmati suguhan musik akustik dari kami, semoga makan malam anda cukup berkesan bersama orang-orang yang anda cintai” Sambutanku kepada semua pengunjung cafe.

    Setelah aku menyanyikan beberapa lagu dan mendapat sambutan yang cukup meriah dari pengunjung malam itu. Dengan mantap, kembali aku menyampaikan pesan khusus.

    “Lagu ini akan saya persembahkan buat pengunjung yang ada di meja nomer 5, yaitu Ananda bersama kedua orang tuanya dan semoga makan malamnya berkesan dengan hadirnya lagu ini” sahuntuku spontan.

    Seketika pandangan Ananda bersama kedua orang tuanya tertuju ke panggung. Dengan sopan aku menganggukan kepala kepada mereka, sambil tersenyum ramah. Ananda sempat terpaku, ketika melihat diriku tersenyum dari atas panggung.

    Setelah melewati moment sesaat yang merupakan kejutan dariku. Perlahan aku mulai menyanyikan lagu lembut yang pernah dibawakan oleh Rod stewart” Have I told you lately”. Pandanganku beradu dengan pandangan Ananda yang sedang serius menatapku dari mejanya, ketika di awal lagu sambil tersenyum aku memandangnya lembut.

    “Have I told you lately that I love you..” bunyi lirik di awal lagu itu.

    Dengan penghayatan aku menyanyikan lagu itu yang secara tidak sengaja terinspirasi oleh kedatangan Ananda di cafe malam itu. Setelah selesai aku menyanyikan lagu itu, bersamaan juga saat aku bersama grupku mendapat kesempatan untuk break di session pertama. Di saat break aku pergunakan waktu yang ada untuk menemui Ananda bersama ke dua orang tuanya.

    “Selamat malam Om, Tante dan juga Ananda” tegurku sopan.
    “Perkenalkan nama saya Adietya, teman Ananda satu kampus” dengan ramah dan sopan aku memperkenalkan diri di hadapan kedua orang tua Ananda.

    Yang juga disambut dengan ramah oleh kedua orang tua Ananda.

    “Pa, Ma, Ini teman Ananda yang pernah Ananda ceritakan sebelumnya” terang Ananda kemudian.

    Dalam hati sempat aku bertanya, apakah yang telah di ceritakan Ananda kepada kedua orang tuanya tentang diriku. Setelah berkenalan dengan kedua orang tuanya dan terlibat obrolan yang panjang, akhirnya aku tahu kalau Ananda adalah anak semata wayang di keluarganya.

    Tak mengherankan jika, kalau Ananda mendapatkan kasih sayang secara penuh baik dari papanya dan juga Mamanya. Itu terlihat dari kesehariannya yang riang dan lincah saat dia berada di kampus. Setelah tiba waktu buat aku dan teman-teman untuk main di session kedua, dengan sopan aku berpamitan kepada kedua orangtuanya dan juga Ananda.

    Suasana cafe malam itu sangat special buat diriku, karena kedatangan orang yang sering aku khayalkan setiap saat di tempat yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Menjelang setengah sebelas, aku menyudahi penampilan malam itu lewat lagu”Cinta Sejati” Milik ari lasso.

    Ketika selesai acara, aku pamit kepada teman-teman band, kalau aku ingin menemui Ananda dan kedua orang tuanya. Sesampainya di meja Ananda, dan ngobrol sesaat, kedua orang tuanya berpamitan ingin pulang karena sudah mulai di hinggapi rasa kantuk.

    “Pa, Ma, Ananda boleh pulangnya belakangan?” tanya Ananda kepada kedua orang tuanya.

    “Ananda masih pingin ngobrol dengan Adiet nih bolehkan?” rajuknya manja.

    “Baiklah, asal nanti pulangnya Adietya yang nganterin!” tegas papanya.

    “Baik Om.. Terima kasih atas kepercayaan yang Om berikan”jawabku kemudian.

    “Makasih pa, Ma..” teriaknya sambil mencium pipi Papa dan Mamanya.

    Setelah kepergian Papa dan Mamanya, kembali kita melanjuntukan obrolan yang tertunda sesaat. Ketika waktu menunjukan pukul 23.30 aku mengatakan kepada Ananda.

    “Ananda sebaiknya kita pulang yah” kataku pelan.

    “Sudah malam nih, ntar Papa dan Mama kamu gelisah menunggumu” terangku lagi.

    “Baiklah kalau menurut kamu begitu” jawab Ananda kemudian.

    Yang tak lama aku bergegas menyetop taxi yang sedang lewat di depan kita. Di dalam taxi aku terdiam sambil melamunkan kejadian yang barusan aku alami. Betapa beruntung aku bisa duduk berduaan di dalam taxi dengan seorang gadis cantik yang begitu banyak di dambakan oleh setiap cowok yang ada di kampus.

    “Diet kenapa diam?” tanya Ananda membuyarkan lamunanku.

    “Oh.. Eh”jawabku gugup.

    “Aku nggak pernah membayangkan kalau aku bisa sedekat ini dengan dirimu” jelasku setelah bisa menguasai keadaan.

    “Maksud kamu?”tanya Ananda lagi.

    “Kamu tahu khan, kalau di kampus banyak cowok yang menaksir kamu” terangku kemudian.

    “Diet, kalaupun banyak cowok yang mengejar-ngejar aku, aku punya hak juga khan buat menolak?” tanyanya lagi.

    Aku hanya terdiam mendengar penjelasannya, sambil tersenyum lembut menatapnya.

    “Aku sudah banyak menceritakan tentang dirimu kepada Papa dan Mama, makanya mereka percaya kalau aku pulangnya bersama kamu” terang Ananda meyakinkan aku.

    Di kepala masih teringat saat aku memperkenalkan diri di hadapan Papa dan Mamanya, ketika break time tadi yang Ananda bilang pernah menceritakan aku sebelumnya.

    “Diet, sejak awal perkenalan di cafetaria, hatiku sempat berdetak entah kenapa” terangnya kemudian.

    “Aku juga selalu berhayal tentang dirimu” jelasnya lagi.

    “Banyak cerita di kampus yang mengatakan, kalau kamu orangnya cukup lembut setiap menghadapi cewek” tambahnya lagi.

    “Semua itu benar adanya, apalagi dengan kamu memberikan sebuah lagu romantis buat diriku saat malam tadi” dengan lembut Ananda mengatakan itu.

    “Papa dan Mama sempat memuji, kalau kamu orangnya bisa menghargai seorang wanita” terangnya lagi.

    Terharu aku mendengar semua penjelasan dari Ananda yang ternyata selama ini dia bersimpati terhadap diriku. Taxi yang kita tumpangi melintasi sebuah jalan yang lampu penerang jalannya agak redup. Dengan keberanian di tengah keremangan, aku memeluk Ananda mendekat dan mengecup bibirnya yang ranum.

    “Sudah lama aku mendambakan kamu Ananda” bisikku mesra di telinganya.

    Ananda hanya tersenyum manis mendengar bisikanku, sambil meremas mesra tanganku. Tak lama berselang taxi telah sampai di depan sebuah rumah besar yang di halamannya ada sebuah taman dan balai-balai kecil di pojok rumah.

  • Kisah Panas Yang Terjadi Di Dalam Keluarga – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Kisah Panas Yang Terjadi Di Dalam Keluarga – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1794 views

    Perawanku – Keadaan di rumah jadi berubah setelah sebuah pertanyaan terlontar darinya di malam itu. Aku dan Riri telah menikah selama 21 tahun, kami mempunyai seorang anak lelaki, Angga. Riri adalah seorang ibu rumah tangga dan sejauh yang kutahu dia selalu setia.

    Waktu itu kami sedang membaca di atas tempat tidur untuk menghabiskan malam, saat dia menanyakan pertanyaan yang tak terpikirkan itu.

    “Apa kamu pernah menyetubuhi ibu kandungmu?”
    “Pernah apa?” aku bereaksi dengan terkejut.
    “Kamu mendengarnya.” lanjutnya.
    “Waktu kamu muda dan masih ikut orang tua, pernahkah kamu bersetubuh dengan ibu kandungmu?”
    “Pertanyaan seperti apa itu?” tanyaku.
    “Ini bukan pertanyaan mengada-ada.. Kenyataannya itu hal yang kerap terjadi, cuma orang-orang tak mau membicarakannya. Saat kamu muda aku dapat mengerti jika kamu menyimpan rahasia seperti itu, jadi ayahmu tak mengetahuinya, tapi itu sudah berlalu dan kupikir kamu dapat menceritakannya pada isterimu sekarang, kan?” tanyanya.
    “Tidak, aku tak pernah melakukannya dengan ibuku. Dan aku yakin itu hal yang tabu dan melanggar hukum.” aku menegaskan.

    Isteriku terdiam.

    “Yah, jadi itu tak layak dan kemarin aku dengar 99% orang yang menikah mengakui pernah melakukannya.” jawabnya.
    “Jadi, aku harap perkawinan kita salah satu dari yang 1% itu.” kataku.

    Riri memejamkan matanya dan tersenyum.

    “Jadi kamu setidaknya mempunyai fantasi untuk melakukannya kan?” tanyanya.
    “Tidak, aku tak pernah membayangkannya, demi Tuhan dia adalah ibu kandungku!” aku berteriak.

    Isteriku menggelengkan kepalanya.

    “Pembohong.” katanya.
    “Sebagian besar remaja berfantasi untuk menyetubuhi ibunya, ini kenyataan yang umum. Kamu berfantasi untuk menyetubuhi ibumu seperti halnya Angga yang berfantasi untuk menyetubuhiku.”
    “Riri, itu gila, bagaimana kamu dapat beranggapan seperti itu terhadap anakmu sendiri?” tanyaku.
    “Karena itulah kenyataannya.. Angga tak berbeda dengan remaja lain seumurannya yang bermimpi tentang apa yang ada di antara paha ibu mereka saat ayah mereka pergi kerja. Itu benar-benar alami.” katanya.
    “Kamu tak tahu tentang hal itu.” kataku.
    “Sayang, percayalah padaku, aku adalah ibunya dan seorang ibu tahu hal-hal seperti itu.” katanya.
    “Oh, ayolah Ri, kamu bertingkah sepertinya kamu tahu apa yang anak-anak pikirkan.” kataku.
    “Seorang ibu biasanya tahu lebih dari apa yang kamu kira.” katanya.
    “Oh, benarkah, jadi apa yang kamu tahu tentang Angga yang tak kumengerti?” tanyaku jengkel.
    “Aku tahu kalau dia bermasturbasi tiga kali sehari, kadang empat kali. Dia berfantasi sedang menggesekkan penisnya di antara pahaku. Dia mengambil keranjang cucianku saat aku dan kamu sedang pergi dan senang menghirup dan menghisapi celana dalamku yang kotor. Dia juga senang dengan wanita yang berdada besar, terutama yang sedang hamil.. Apa kamu mau tahu lebih banyak lagi?” tanyanya.

    Aku terdiam oleh perkataannya.

    “Bagaimana kamu tahu semua itu?” tanyaku. Riri tersenyum puas.
    “Seorang ibu mempunyai caranya sendiri.” jawabnya
    “Yakin kamu tak membicarakan dengannya tentang hal ini?” tanyaku.
    “Sayang, segera setelah kamu pergi kerja dan melakukan pekerjaan hingga tak begitu memperhatikan Angga dan aku, seorang ibu dan anak mempunyai dunianya sendiri di sini di rumah, yang tak harus diperhatikan oleh seorang anak.” katanya.
    “Riri, kamu dan Angga tidak..” aku tak dapat menyelesaikan.
    “Bersetubuh?” dia berkata dengan tersenyum.
    “Jika aku menyetubuhi anakku sendiri, artinya aku sangat menarik baginya. Itu bukan topik yang akan dibicarakan seorang isteri pada suaminya.” Aku mulai merasakan darahku bergolak.
    “Riri, tolong katakan padaku, ya atau tidak. Apa kamu dan Angga telah melakukannya?” aku mendesaknya.

    Seiring wajahku memerah, isteriku tertawa dan menjulurkan jarinya ke wajahku dengan lembut.

    “Sayang, kamu membuat hal ini jadi rumit. Ini sangat mengganggumu ya?” dia bertanya sambil menahan tawanya.
    “Aku hanya berpikir kalau aku berhak untuk tahu!” kataku.
    “Tidak, kamu tidak perlu mengetahuinya. Sayang, aku mencintaimu, sebagai ayah dan suami, tapi tidak ada tempat di antara hubungan antara seorang ibu dan anaknya. Apa yang terjadi di rumah ini saat kamu pergi bukanlah urusanmu dan tak perlu perhatianmu. Kalau seorang ibu dan anaknya di rumah ini bersetubuh, maka kamu tak berbeda dengan ayah yang lainnya dan tak akan pernah tahu tentang itu.” katanya. Dia memberiku sebuah senyuman hangat.
    “Kamu sudah capek dan kamu punya hari yang sibuk besok. Tidurlah sekarang.” katanya.

    Malam itu aku tak benar-benar bisa tertidur. Pagi harinya, aku bangun seperti biasa dan Riri menyiapkan sarapan untukku dan mengantarku sampai pintu depan. Dia memakai baju terusan yang membuat payudaranya begitu terlihat indah menantang. Aku lihat Angga turun dari tangga dengan mengenakan celana pendek.

    “Dia bangun lebih awal.” kataku.
    “Ya, aku bilang padanya dia bisa bantu ibunya mengecat kuku dan mencuci baju yang kotor.” dia berkata sambil meringis. Perutku melilit.
    “Jadi apalagi yang kalian kerjakan hari ini?” tanyaku curiga.
    “Oh, aku yakin kami akan menemukan sesuatu yang bisa mempererat hubungan kami.” jawabnya sambil tersenyum lebar.
    “Lebih baik kamu segera berangkat, sayang. Kamu nanti bisa terlambat lho.”

    Aku berjalan keluar dengan membanting pintu. Waktu aku berjalan ke mobil, aku dengar isteriku mengunci pintu di belakangku dan berpikir dunia macam apa yang telah dibuat isteriku bersama Angga saat aku tak ada. Tanpa sadar, penisku terasa mengeras dari balik celanaku. Sial, seharusnya aku lebih dekat dengan ibuku!

    Seharian itu aku tak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan. Otakku dibakar oleh beribu pertanyaan. Apakah isteriku dan anakku yang berumur 18 tahun berbuat gila? Akhirnya, siangnya aku ambil telepon dan memutar nomor rumahku agar aku bisa tahu dengan jelas apa yang mereka kerjakan di dunianya. Setelah cukup lama tak ada yang mengangkat, akhirnya terdengar suara isteriku di sana.

    “Hh.. Halo..” Dia berkata. Aku dapat mendengarnya bernafas dengan susah.
    “Halo sayang, ini aku.” jawabku.

    Terdengar suara ganjil berulang-ulang di belakang, seperti suara kulit yang beradu dengan kulit.

    “Sayang, a.. aku tak bis..” dia mencoba bernafas dengan susah.
    “Aku tak bisa bicara sekarang, telepon aku lagi saja nanti.” lanjutnya.

    KLIK!! Dia tutup teeponnya. Perutku tiba-tiba saja jadi terasa mulas. Aku tak pernah membayangkan isteriku akan berselingkuh, apalagi dengan anak kami yang masih remaja. Mungkinkah itu?

    Aku pulang kerja lebih awal hari itu. Aku ingin mengadakan penyelidikan. Aku harus yakin. Aku lalui jalan hanya untuk melihat isteri dan anakku yang keluar dari jalan dengan minivan isteriku. Aku ikuti mereka ke mall pada sisi lain kota ini. Dengan mengendap, aku masuki mall itu dan mengikuti mereka dari belakang.

    Aku terkejut saat melihat mereka berjalan bergandengan tangan dengan mesra, layaknya sepasang kekasih yang sedang belanja. Tingkah laku isteriku seperti seorang gadis remaja saja. Aku mengikuti isteri dan anakku yang berkeliling di seluruh mall ini, bergandengan tangan seperti remaja yang sedang kasmaran. Paling tidak, dia sudak tak muda lagi, umurnya sudah 38 tahun dan sudah menikah dan yang satunya anak muda yang baru berumur 18 tahun. Walaupun begitu, isteriku dapat mengimbanginya. Dia tak pernah semesra itu denganku, tapi benar-benar lain dengan anakku.

    Aku jadi lebih terkejut lagi saat mereka duduk berdua di bangku itu. Lengan isteriku melingkar di pundaknya, membelai mesra rambutnya. Bibirnya mendekat, membisikkan padanya sesuatu yang dapat kukira hanyalah cumbuan tentang seks. Aku tak mahir dalam hal membaca gerak bibir, tapi sungguh jelas sekali kalau yang keluar kebanyakan hanyalah ‘bersetubuh, penis dan vagina’ dari mulut isteriku. Kalau itu belumlah cukup, isteriku melepaskan sandalnya dan menggerakkan kakinya pada betis anakku. Setiap sekali gerakan disertai dengan tiupan dan ciuman ringan di leher anakku.

    Mereka meninggalkan mall dan aku memastikan kalau aku akan mengikuti mereka pulang, tapi mereka tidak pulang. Isteriku mengendarai mobilnya membawa mereka keluar kota sampai ke hutan. Dia berhenti di jalanan yang sedikit berlumpur dan itu membuatku terperanjat saat mengetahui kemana dia akan membawanya. Mereka akan pergi ke bagian rahasia di hutan ini, tempat dimana aku dan isteriku biasanya berkencan dulu.

    Tahu tepatnya tempat itu, aku parkirkan mobilku dan melanjutkan membuntuti mereka dengan berjalan kaki. Lima belas menit kemudian aku menemukan van isteriku terparkir di bawah semak-semak. Aku juga melihat mereka tak mau menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Jendela mobil tertutup rapat dan van itu terlihat bergoncang-goncang. Aku mendekat dan segera saja telingaku menangkap erangan-erangan mesum mereka.

    “Oh, ya.. Lebih keras, sayang, setubuhi ibumu dengan benar!” isteriku merajuk.
    “Oh Tuhan, tekan!! Kerjai vaginaku, sayang!!” dia berteriak.
    “Hahh, dorong penis besarmu lebih dalam lagi.. Oouuhh!!” lanjutnya.

    Dan bila kata-kata tak senonoh itu belumlah cukup, selang beberapa menit kemudian,

    “Oh, rasanya sungguh nikmat dikerjai oleh pria jantan. Ya, begitu, lebih keras lagi.. Leb.. Bih dallaam!! Oh Tuhan aku keluar!! Aku keluar!!”

    Aku tak mampu menerimanya lagi. Yang dapat kulakukan hanya berbalik kemudian lari. Aku lari secepat yang kubisa menuju ke mobilku. Aku masih dapat mendengar isteriku menjerit dan mengerang, suaranya bergema dalam kepalaku. Aku nyalakan mobilku, hatiku mendidih, air mataku keluar. Aku menyetir dengan gila.. Dalam perjalanan pulangku, bayangan tentang anakku yang berada di antara paha isteriku menghantui aku. Apa yang harus kuperbuat?

    Malam itu aku dan isteriku berbaring berdampingan di ranjang perkawinan kami. Dia memegang sebuah majalah dan berpura-pura membacanya. Tak lama kemudian dia meletakkan majalah itu dan menatapku.

    “Sayang, ada sesuatu yang harus kuceritakan padamu.” katanya.
    “Apa?” tanyaku, bersiap untuk hal terburuk, setidaknya dalam hal ini tak ada yang akan mengejutkanku.
    “Aku hamil.” dia berkata dengan senyuman mengembang.

    Tak sekali pun dalam setahun belakangan ini aku menggauli istriku tanpa kondom. Dia tahu itu, aku tahu itu, dan dia pasti juga tahu bahwa aku mengetahuinya.

    “Ini bukan bayiku, kan?” tanyaku. Senyumnya hampir menyerupai seringai.
    “Tidak.” jawabnya.
    “Angga?” kejarku.

    Istriku menjadi serius.

    “Sebelum kamu pergi, biarkan aku mengingatkanmu kalau ayahku adalah seorang pengacara dan jika kamu menceraikanku, kamu tahu bahwa Angga dan aku akan mendapatkan ini semua, segalanya, dan kamu tak mendapatkan apa pun.” ancamnya
    “Sudah berapa lama kalian berdua melakukan ini?” aku bertanya.
    “Kamu tidak perlu tahu itu. Yang harus kamu ketahui sekarang adalah bahwa Angga dan aku telah memutuskan ada hal-hal yang perlu diubah.” katanya.
    “Seperti apa?” tanyaku dengan marah.
    “Yah, pertama, kami akan mempertahankan bayi ini dan ya, ini memang bayiku dengan Angga.” jelasnya.
    “Yang kedua, Angga akan pindah ke kamar ini dan berbagi tempat tidur denganku, dan sebaliknya mulai sekarang kamu tidur di tempat tidurnya Angga.” lanjutnya.

    Aku hanya bisa menahan amarah.

    “Dan yang ketiga, kalau kamu menolak, aku dan Angga akan pindah dan mengontrak sebuah rumah bersama dan menuntut uang cerai darimu.” katanya memojokkanku.
    “Ini gila, kamu adalah istriku..”
    “Ya, dan kamu suamiku, dan akan tetap seperti itu, tapi suami sebenarnya dan kekasihku sekarang adalah Angga. Dan kami memutuskan bahwa kamu harus tetap bekerja seperti biasanya sedangkan Angga dan aku akan tinggal di rumah membuat bayi, kami juga sudah memutuskan ingin mempunyai tiga orang anak lagi.” katanya.
    “Kamu katakan padaku kalau aku bahkan tidak boleh tidur denganmu, isteriku sendiri?” tanyaku tak percaya.
    “Tidak, maaf. Angga dan aku yang akan tidur di ranjang ini mulai sekarang.” Lalu dia memandang ke arah pintu.
    “Angga, cintaku, apa kamu di sana?” panggilnya.

    Anakku masuk ke kamar dengan tas ransel berisi barang-barangnya. Dia memandang pada ibunya dan aku.

    “Maaf, Ayah.” dia berkata dengan menyeringai.
    “Sayang, kenapa kamu tidak pergi dan bersihkan dirimu sebelum naik ke ranjang.” kata isteriku.

    Perutku jadi mulas. Isteriku menatapku tajam.

    “Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin sendirian dengan ayah dari anakku. Ambil barang-barangmu dan pergilah ke kamarmu.” perintahnya.
    “Sayang, tolonglah.. Kita bicarakan hal ini.” aku memohon.
    “Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku minta maaf, Sayang, tapi sekarang kamu bukan lagi seorang kepala rumah tangga.” katanya.
    “Aku akan berusaha, aku bersumpah.” ucapku putus asa.
    “Jangan, Sayang! Kamu boleh berusaha semampumu tapi kamu tidak akan bisa menyamai bahkan hanya separuh dari Angga di atas ranjang. Kamu tak bisa memohon padaku, kamu tak memiliki stamina untuk itu. Suka atau tidak, kamu tidak memiliki barang yang cukup besar untuk pekerjaan itu.. Dan anakmu memilikinya.”

    Serasa sebilah pisau yang merobek hati. Aku bangkit dari tempat tidur dan mengemasi barang-barangku. Angga keluar dari kamar mandi dan menempatkan dirinya di samping ibunya di ranjang. Dia berada di bawahnya dengan cepat, memeluknya erat hingga menekan payudaranya yang besar.

    “Inilah suami baruku. Kemari dan bercintalah dengan isterimu yang sedang hamil” katanya.

    Itu semua serasa mimpi buruk. Aku pandangi mereka berdua di balik selimut. Bisa kukatakan anakku sedang menempatkan dirinya di antara paha ibunya. Aku dapat mendengar mereka berciuman dengan hebatnya. Isteriku muncul dari balik selimut, memandangku.

    “Sayang, dapatkah kamu matikan lampu dan menutup pintunya saat kamu keluar?” pintanya. Aku hanya bisa mematuhinya.

    Malam itu aku rebah di tempat tidurku yang baru dengan mendengarkan teriakan-teriakan yang berasal dari kamar yang semula kutempati bersama isteriku. Erangan isteriku menggema di setiap sudut rumah. Semalaman itu aku dengar rangkaian rintihan tabu mereka. Isteri dan anakku sedang membuat bayi mereka dan akan menamakannya seperti nama ayahnya.

    Tahun demi tahun berlalu dan mereka telah memiliki 3 anak, semuanya laki-laki. Seiring waktu berlalu, anak-anak itu tumbuh jadi remaja, Angga tua telah menemukan seorang wanita muda yang cantik dan atas seijin ibunya boleh dinikahinya.

    Kemudian Angga pindah dan meninggalkan anak-anaknya bersamaku dan ibunya. Dalam beberapa tahun kemudian aku kembali pada kehidupan rumah tanggaku semula, hingga pada suatu malam saat kami sedang rebahan di atas tempat tidur seperti biasa, terdengar ketukan di pintu dan Angga muda, yang sekarang juga telah berumur 18 tahun, berdiri di sana dengan tas ranselnya. Isteriku, yang sekarang berusia lima puluhan meletakkan majalahnya dan kembali menoleh padaku dengan tersenyum.

    “Kemasi barang-barangmu, sayang.” katanya.

    Isteriku kembali menatap tajam padaku.

  • Cerita Ngentot Bergambar Gadis Cina Dengan Nafsu Yang Sangat Bergairah – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Ngentot Bergambar Gadis Cina Dengan Nafsu Yang Sangat Bergairah – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1794 views

    Perawanku – Pamannya Ahung… Ciri-ciri orangnya adalah wanita keturunan, mata sipit, tinggi kurang lebih 165cm, berat 50kg, bibir sensual, ramah, suka senyum, senang pakai rok mini dan sepatu hak tinggi, kulit bersih, rambut sebahu dan wajah tidak kalah dengan titi dj. Aku biasa pergi makan siang bersama manajernya yang juga rekan sekerjaku. Kebetulan sang manager juga seorang wanita dimana dalam perusahaan tempat aku bekerja adalah fifty fifty antara pri dan keturunan.

    Ketika makan siang bersama (saat itu kira-kira 6 orang termasuk nirmala) dengan kendaraanku menuju salah satu rumah makan di daerah sabang. Pas memilih meja langsung menuju meja tapi aku agak terburu-buru atau si ahung yang terburu-buru sehingga terjadi tabarakan tanpa sengaja antara aku dan ahung. Hidungnya yang tidak begitu mancung menempel pada hidungku yang mancung banget. Tubuhnya tinggi bila dibanding wanita biasa kira-kira 170 cm plus sepatu, soalnya tubuhku juga sekitar itu, secara reflek aku memeluknya karena takut terjatuh. Dalam dekapanku terasa harum parfum mahal dan ternyata memang mahal yang membuat darahku berdesir mengalirkan hawa naafsu hingga keubun-ubun.

    Setelah makan siang kamipun kembali kekantor dengan tidak membawa hubungan serius setelah kecelakaan tadi. Kira-kira setengah jam akan berakhir jam kantor aku hubungi dia lewat telephone untuk mengajak nonton dan kebetulan filmnya bagus sekali.. eh ternyata dia setuju kalau nontonnya hanya berdua saja.

    Selama dalam perjalanan dari kantor ke tempat tujuan kami ngobrol ngalorngidul tidak karuan dan tertawa dan kutanya apakah dia sudah punya pacar? dijawab baru putus tiga bulan yang lalu makanya dia memutuskan untuk mutasi ke tempatku sambil mengepulkan asap rokoknya. Kupikir dia ini lagi labil dan kebetulan sekali aku mau mendekatinya, kuparkir kendaraanku di halaman pelataran parkir Jakarta Theatre.

    Setelah membeli karcis dan makanan kecil kami masuk ke dalam gedung yang masih sepi… biasanya juga sepi sih…. aku mengambil posisi di tengah dan boleh pilih tempat kata penjaganya… Sesaat filmpun dimulai… tanganku mulai menyentuh tangannya… dia masih membiarkan.. mulailah pikiran kotorku… kuremas secara halus…. dia hanya membalas dengan halus….Kudekatkan wajahku ketelinganya… nafasku mulai masuk melalui lubang telinganya yang sedikit terhalang oleh rambutnya yang harum…

    kuberanikan untuk mencium leher… dia hanya mendesah aaahhhhh…… kuarahkan ke pipi lalu ke mulutnya….. pertama kali dia menutup mulutnya tetapi tidak kuasa untuk membukanya juga karena aku terus menempelkan mulutku pada bibirnya…. ssssshhhhh……Tanganku tetap meremas jemari tangannya lalu pindah ke leher dan sebelah lagi ke pinggang… lama kelamaan naik ke buah dada yang masih terbungkus oleh pakaian seragam kantor… lidahku mulai memainkan lidahnya begitu pula sebaliknya…. kuperhatikan maatanya mulai terpejam… jemarinya mulai agak kuat meremas tubuhku…. kami tidak memperhatikan lagi film yang sedang diputar soalnya lagi asik sich….

    Aku raba kebagian paha…. tetapi terhalang oleh stokingnya yang panjang sampai perut… sudah tidak sabar aku untuk meraba kemaluannya… dia menarik tanganku agar jangan meraba barangnya… kuraba terus akhirnya dia mengalah…. kubisikan untuk melepaskan stockingnya.. kami lepas semua permainan sejenak… hanya untuk melepas stocking yang dia pakai… setelah itu kembali lagi ke permainan semula…. kurogoh dengan tanganku yang kekar dan berbulu selangkangannya yang masih terbungkus dengan cdnya… tanganku mulai kepinggulnya.. eh.. ternyata dia memakai cd yang diikat disamping….. kubuka secara perlahan agar memudahkan untuk melanjutkan kememeknya… yang terdengar cuma suara nafas kami berdua….. sampailah aku kepermukaan pusar lalu turun kebawah…. betapa kagetnya aku raba-raba ternyata bulunya hanya sedikit… kulepas mulutku dari mulutnya dan bertanya sama dia …hung….. bulunya dicukur ya…. bukan jawaban yang aku terima tetapi tamparan kecil mendarat dipipiku… plak….. kulanjutkan lagi…. sampai akhirnya film sudah akan selesai….

    Kubisikan lagi.. “saya ikatkan lagi ya..hung….” tidak dijawab.. kuikatkan kembali… filmpun berakhir kita semua bubar……Melangkah dianak tangga ke tujuh… dia menarik aku lalu membisikan “gung… talinya lepas….” buru-buru aku pepet samping kiri pinggulnya agar orang tidak menyangka… turun lagi keanak tangga kesembilan eh dia bisikan lagi “gung satunya juga….. kamu sih.. ikatnya ‘nggak kencang…” sory dech kataku… akhirnya dia menuruni tangga dengan merapatkan kaki dan memegang samping kiri karana roknya… cepat cepat aku ambil mobil sementara dia berdiri menunggu… “sampai juga akhirnya…….” kita berdua hanya cekikikan saja…

    “Mau kemana lagi kita sekarang….” kataku terserah aja soalnya mau pulang males… lagi ribut sama mama…. lalu kupercepat laju kendaraanku menuju pondok tirta di halim… langsung masuk kekamar…Ngoborol-ngobrol sebentar… lalu aku kekamar mandi untuk pasang kondom.. dan kembali lagi terus kuciumi dia sampai ‘nggak bisa nafas …eeeggghhhhh…… sambil mencabut mulutnya…. pelan-pelan dong…. mulailah aku menciumi secara perlahan sambil membuka baju dan behanya.

    Teteknya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil… tetapi pentilnya masuk kedalam… kuciumi teteknya… sssshhhhh…… sambil menjambak rambutku. kumainkan lidahku di putingnya yang satu sementara yang satu lagi aku mencari channel radio fm…. ssssshhhhhh……. dan nafas yang memburu. kuturunkan roknya lalu celana dalamnya dan kubaringkan ketempat tidur sambil terus menyusu…. sssshhh……ooohhh….. gung….. aku tak peduli dengan suara itu. dan benar saja bulu jembutnya hanya sedikit dan halus-halus lagi.. kubelai-belai meski hanya sedikit… lalu kumainkan itilnya yang sudah basah … dia agak kaget…. aauuu….. keperhalus lagi permainkanku… mau kumasukan jemariku kememeknya tapi …aaauuu…. sakit gung…. lho anak ini masih perawan rupanya aku pikir…

    Kujilati terus pentilnya sambil kubuka seluruh pakaianku… tampaklah dua insan manusia tanpa benang sehelaipun… dia memperhatikan kontolku sejenak…. lalu tertawa ngakak… hhhaaa… hhhaaa…. kenapa kataku…. “kayak penjahat yang difilm-film….” katanya…. lalu pelan pelan ku geser pahanya agar merengang… dan kuatur posisi untuk siap menerobos lubang memeknya… eeghhh… egghhh…. belum bisa juga… dua kali baru kepalanya yang masuk…. aku tidak kehilangan akal… kujilat terus puting susunya dan secara perlahan ketekan pantatku agar masuk seluruh kontolku… dan ..sssssshhhhhh…. eeeeggghhhh….. sssshhhh… barulah masuk seluruhnya aku punya kontol…. dan mulai kuayunkan secara perlahan sekali… ssssshhhhhh….ssssshhhhh… aaakkhhhh….. hung….. gung……. hanya itu suara yang terdengar….. makin lama makin cepat ayunan pantatku dan kurasakan seluruh persendianku mau copot…… sssssshhhhhh…. ooohhhh… my god…. katanya aku setop permainan sementara karena aku mau keluar jadi kuhentikan sesaat… eh dia malah membalikkan tubuhku…. kuatur posisi kontolku agar pas dilobang memeknya… dan …bbbllleeess… masuk lagi kontolku dalam lumatan memeknya yang masih kencang….. dia menaikan dan menurunkan badannya… ssshhhh…. sshhhh….. aahhhh….. mulutku disumpalnya dengan susunya dan putingnya sudah menegang semua seperti kontolku yang menegang dari tadi….. ssssshhh… aaaaahhhhh…. ooohhhhh….. sssssshhh….. lima menit kemudian …. dia menjambak rambutku dan mejatuhkan tubuhnya ketubuhku…. gung……. aaaakkkkkhhhh……. gung……..ssssshhhhh…. rupanya dia mencapai klimaks…. dan aku merasakan kejutan dari lubang memeknya seperti empot ayam….. sssshhhhhh…. aaahhhhhh…… hhunnggg…….. pejuku nyemprot kedalam liang memeknya kira-kira empat atau lima kali kejutan….. yaaaahhhhhhh…..

    Akhirnya kami berdua lemas dan bermandikan keringat….. sesaat tubuhnya masih menindih tubuhku…. dan kurasakan pejuku mulai mengalir dari lobang memeknya menuju keluar melalui batang kontolku kuciumi dia dengan mesra…. cup..cup…cup…. lalu dia menggeser kekasur…. kuambil sebatang rokok untuk kuhisap… ternyata dia juga menghisapnya….. aaahhh….. sambil memijat-mijat kontolku… “jangan dikepalanya…” kubilang… emangnya kenapa??? katanya ….”Ngilu.. tau nggak….” …he… he… he… kutanya secara perlahan… hung… hhhmmmmm… katanya… cowok kamu dulu suka begini nggak…. nggak berani… katanya… jadi ini yang pertama aku bilang….. dia hanya mengangguk….. aku tidak memperhatikan kalau dikontolku itu ada tetesan darah dari memeknya…. dia berjalan menuju kamar mandi… lalu berteriak kecil…. aaauuuu…. kenapa.. kataku…. kencingnya sakit…. katanya…. lalu kami mandi berdua…. mebilas berdua…. dan membersihkan badan… tanpa terasa sudah jam delapan tiga puluh … kami memesan makan malam dan disantap tanpa busana…. setelah santap malam kujilati lagi puting susunya sampai menegang kembali….. tapi aku meminta untuk mengulum kontolku dai hanya menggeleng….. kuraba memeknya juga mulai bannnjjiiirrr……. kubalikkan dia kuarahkan kontolku keliang memeknya dari belakang…. aaauu….. katanya kaget… dan ..dddhhuuutttt… bunyi dari dalam memeknya kita jadi tertawa lagi….. terus kuayunkan daari pelan sampai ngepot…… sssshhhhh… ssshhhhh… ssshhh… lalu dia minta aku berbalik dengan posisi terlentang sedang dia mulai menaki tubuhku sambil susunya disodorkan untuk dilumat lagi….. kuarahkan lagi tanpa melihat dimana posisi lobangnya… dan bless…. dia mulai mengayunkan tubuhnya… ssssshhhhhh….. sssshhhhh…… aaaahhhh……. gung….. lima menit kemudian tubuhnya kembali mengejang dan aaaahhhhh……. gung……… sambil merapatkan tubuhnya ke tubuhku. kini giliran aku yang tidak bisa bernafas karena tertutup rambut…. kuhentakkan pantatku kuat-kuat dan kuayunkan pantatku terus lalu…. sssssshhhhhhh….. hung……… pejuku yang kedua keluar……..Kami istirahat sejenak lalu mandi air hangat lagi dan kutengok jam tanganku sudah menunjukkan pukul sepuluh malam… lalu kuantarkan dia pulang kerumahnya dibilangan tebet timur….

    Keesokan harinya kami bekerja seperti biasanya antara atasan dan bawahan…. tetapi dia menghubungiku …gung… masih sakit kalau kencing….. tuh sampai tadi pagi juga sakit…….. aku bilang nggak apa-apa….. tapi enak kan?? mau nambah…. dia bilang ..nanti…..

  • Cerpen Seks Dewasa Abg Tergoda Susu/Toket Meita

    Cerpen Seks Dewasa Abg Tergoda Susu/Toket Meita


    1794 views

    Perawanku – nama gw radit gw masih kuliah di salah satu PTS di jakarta. gw orangnya biasa aja… tapi banyak yang bilang badan gw gagah… tinggi gw 175…. dulu di SMU gw termasuk salah satu cowo yang di PUJA” sama wanita… dari Kelas 1 sampai kelas 3.

    ini berawal pas gw duduk di SMU.. pertama kali gw masuk kelas 3.. gw pindahan dari surabaya.. SMP gw di jakarta cuma sampai kelas 2 semester 1.. kelas 2 SMP.. selanjutnya gw terusin di surabaya.. maklum bonyok pindah kerja melulu… terpaksa gw ikut juga……

    waktu itu hari pertama gw masuk kelas 3.. gw di kenalin di salah satu kelas kalu nggak salah 3 IPA… gw orang pinter wajar masuk IPA… hauahahhauah!!.. gw di kenalin sama guru gw n kepsek di kelas… udah gitu gw di suruh duduk di samping cewe yang langsung gw kenal namanya meita tingginya sebahy gw.. badannya sintel banget payudaranya yang selalu buat gw ndisir melulu klo deket dya…. gw sempet tuker-tukeran no. hp sama dya… setelah gw tau dya kaya’ gimana… gw coba aja jadian sama dya…

    Gw jalan sama dya masih sampai sekarang… dya klo deket gw rada” binal… Napsuan… bersyukur banget gw dapet cewek macem gitu… waktu itu pelajaran biologi, kebetulan gurunya nggak masuk… gw sama meita ngobrol aja dipojok kelas.. maklum tempat duduk gw sama dya di taro di pojok sama walas… pertama gw sich nggak berani ngapangapain dya di kelas tapi klo udah masuk ke mobil gw abis tuch cewe…. waktu itu gw liat temen gw lagi cipokan di depan kelas…. balakng meja guru… tiba” aja cewe gw ngomong gini

    “tuch rido aja berani.. masa’ kamu kalah sama dya??”
    “ha? aku kalah……

    belum sempet selesai bibir gw di lahap sama meita… di bales aja dengan ciuman n sedotan yang bikin dya ampun”an sama gw… meita sempet ngasih lidahnya ke gw.. tapi gw lepas ciumannya “kenapa??” gw bilang aja begini “aku nggak mau maen lidah di kelas.. takut kelewatan”… “y udah.. maen biasa aja”… gw lanjutin ciuman gw di bawah.. bangku meja gw gw dorong ke depan supaya lebih luas gw ngelakuin ciuman demi ciuman……”ahhhhhh…. ahhhh…… dittttt..” kata” itu selalu keluar dari mulutnya…. setelah gw puas ciumin tuch bibir… gw turun ke bawah ke lehernya dya yang makin membuat dya kewalahan… dan tangan gw ngeremes” payudara dya.. yang ukurannya gw taksir 35 tau A B C D.. cuz setiap gw tanya dya g pernah mau jawab…. gw remes tuch dadanya sampe dya kelojotan… setelah gw nandain tanda merah di lehernya… dya ngeremes remes kontol gw… yang membuat ni “ADEK” kagak kuat lagi buat nahan di dalam kancut…. maupun masih make baju seragam n gw ngelakuin di dalam kelas… gw tetep nggak gentar…. gw bukan resleting seragam gw… n gw keluarin tuch siADEK.. dan si meita udah siap dengan mulutnya yang menganga…. gw sempet nutupin dya pake jaket gw… sehingga misalnya temen gw nanya gw bilang aja lagi sakit…..

    jilatan demi jilatan dya beri untuk gw….. isapan dya bikin gw nggak kuat lagi buat nahan keluarnya mani gw….. lidahnya bergoyang” di ADEK gw…. “akhhhhhhh………. crotttttt…… croooootttt crotttttttttttt….” keluar mani gw….. meita membersihkannya dengan mulutnya… dan di kocok” trus di ADEK gw…….. selesai itu gw bersiin mulutnya dya pake tissue yang ada di kantongnya…. gw sama meita kembali berciuman… freenc kiss,,, lidahnya dya ber gelugit” di dalam mulut gw……

    jam 12.00 gw balik sekolah…. sebelum gw gas mobil gw ke rumah gw di bilangan bekasi.. nggak jauh dari rumahnya meita.. gw bermain dadanya meita dolo di mobil gw…. gw buka kancing seragam pelan” di bantu meita… dengan napsu yang ganas… meita ngerti maksud gw and dya nge buka tali BHNya dan 2 buah gunung merapi yang bakal mengeluarkan volcano gara isapan gw muncul di depan gw….. dengan napsu di ujung rambut gw isap puting susunya tangan kiri gw megangin kepala belakang dya.. and tangan kanan gw ngeremes” dada yang satu lagi…. “ahhhhh…….. radit…… pelan” donkkk……. meita udah nggak bisa nahannnnn lagiiiii nehhhhhhhh”….. puting meita yang berwarna merah ke merah” mudaan tertelan abis oleh mulut gw and tiba” aja tubuhhhhh meita mejelijang seperti cacing kepanasan……. gw sedot trus dada meita…. sampai puting itu terasa keras banget di mulut gw…. meita cuma diam dan terkulai lemas di mobil gw…. gw liat parkiran mobil di sekolahan gw udah sepi…. meita mengancingi baju seragamnya satu gw bantu supaya cepet….

    selama perjalanan pulang meita tetap lemas dan memejamkan matanya… gw kecup keningnya sesampai di rumah gw….

    meita bangun dan dya pengen ke kamar kecil… gw suruh dy ganti seragam dengan baju kaos yang dya bawa dari rumah sebelum berangkat kesekolah…. selesai dari kamar mandi gw liat meita nyopot BHnya…. terlihat jelas putingnya dan bongkahan susu sebesar melon itu…..

    belum sempat masukin baju ke tasnya dya… dya gw dorong gw tempat tidur… dan gw lahap bibirnya dan dya membalas nya dengan penuh hot panas bercampur dengan napsu… gw yang cuma make bokser doank… ke walahan tangan dy bermain” di selangakangan gw….. gw bermain di leher dya dan gw buat cap merah lagi di lehernya…. gw sibak SMA negeri yang hanya sampai lutut itu dy cuma make CD G string… dengan perlahan” dya nurunin roknya dan dy hanya menggunakan CDnya… gw copot dan gw jilatin vaginanya….. ” ahhhhhhhhhhhhhhhhhh………… dit…………………..ahhhhhhhhhh” cuma kata” itu yang keluar daru mulutnya….. gw rasain vagina meita semakin keras… dan gw gigit kelentitnya dya terik semakin kencang untung di rumah cuma da pembantu gw….. “dit…….. puasin gwwww dunkkkkkkk.”…… nggak pake cing cong gw jilat n gw sodok” tuch vagina pake telunjuk gw… ” dittttttttttttttttt…………. gw keluarrrrrrrrrrrrrrrr……..” vagina meita basah ketika di depan mata gw……… di sedot sampai bersih tuch vagina…… udah gitu gw liat dya memegang bantal dengan keras……. gw deketin dya dan gw cium bibir dya……. ternyata dya blum lemas….. dy bangkit dan memegang kontol gw dan di kocokinnya sampe si ADEK mengacung sangat keras….. kontol gw di masukin ke mulutnya meita…. di masukan di keuarkan…. sampai” di sedot….uhhhhhhhhh….. nikmat banget yang sekarang dari pada yang di kelas tadi……. biji zakar gw juga nggak lupa ikut ke sedot….. pass biji gw di sedot rasanya gw pengen FLY……. kocokin meita semakin panas dan hisapannya semakin nggak manusiawi lagi…… wajahnya tambah maniss kalo dya sambil horny begini…….. ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh……… crottttttttttttttttttttttttttttt many gw tumpah semua ke lantai kamar gw…. yang sisanya di jilatin meita sampai bersuh………………………… gw bangkit dan menarik tangan meita… gw ciumin dadanya gw kenyot”lagi putingnya sampai merah……….. gw cupang di sebelah putingnya…. manis banget susunya……. membuat gw semakin napsu sama dya……………

    “meitaku sayang…. masukinnn sekarang yach??”
    “ya udahhhh cepetannn aku dari tadi Nungggu kamu…..”

    gw bertukar posisi meita di bawah…. dan gw di atas… sebelum gw masukan gw gesek” dolo di depan vaginanya… belum gw masukin aja meita udah meringis”…. gw dorong perlan”… “Dit… pelan” sakit. nee”….. di bantu dengan tangannya dya perlahan” kontol gw masuk…. baru seperempatnya masukkk gw cabut lagi dannn gw sodok lagi…. dan akhirnya masuk semua….. gw lihat meita sangat menderita…… tapi sepertinya dya seneng banget……. udah semuanya masuk gw goyangin… gw maju mundurin perlahan lahan….. bokong meita pun ikut bergoyang yang membuatku kewalahan….. setelah beberapa menit gw goyang” tiba” badan meita mengejang semua….. dan akhirnya… meita orgasme untuk ke 3xnya…..

    gw cabut kembali penisg w dan meita berada di atas gw….. posisi ini membuat gw lebih rileks…. meita memasukannya pelan” di genggamnya penisku dan di masukannya penisku ke vaginanya…. dan blesssss ternanam semua di dalam vaginanya….. badan meita naik turun mengikuti irama…. meita mengambil bantal yang da di sebelahnya dan menarohnya di pala gw…. posisi ini membuat gw bisa ngerasaain 2 gerakan sekaligus… gw emut” kecil putingnya meita dan meremas remasnya….. bokong meita terusss bergoyaanggg…….. ” ahhhhhhhhh…… ahhhhhhhhh…….. isappp teruss dit…………” badan meita mengenjang dan ” radittttttttttttttt akuuu pengen keluar lagi….”….. ” akuuu juga pengennnnn selesaiiiiii metttt……… tahannnn sebentarrrrrrr lagi…….”….. gw dan meita mempercepat permainan dan akhirnya……………”ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhh………………….. gw keluar….. kata” itu yang menngakiri permainan ini..

    sampaiiii sekarang pun meita tetep bermain sama gw… kami tetap melakukan banyakk hal…. dan gw di tunangin sama meita karena orang tua kami sama” setuju atas hubungan kami…………….

  • Cerita Seks Selingan Ranjangku Part 3 – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Seks Selingan Ranjangku Part 3 – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1793 views

    Perawanku – Setelah kejadian itu, aku tidak tenang menjalani hariku, ada rasa gelisah dan dosa. apalagi jika aku memiliki komitmen diri yg telah aku hancurkan sendiri karena sudah tertutup oleh nafsu. sebagai anak SMA yg masih ingin mencoba-coba, tidak kupungkiri itu merupakan kesempatan yg tak mungkin ditolak oleh siapapun saat gejolak nafsu sedang memuncak. kini aku sering merenung dan diam saja di dalam kamar, hanya terbayang-bayang yg telah kulalui. aku merasa bersalah kepada kedua orangtuaku yg selama ini telah merawat dan melindungiku dari gangguan hal negatif yg beredar di masyarakat.

    namun begitu, hubunganku dengan pacar masih nampak baik-baik saja, dia masih berperilaku seperti tidak ada yg terjadi atau setidaknya merasa aman karena aku mungkin tak akan memutuskan dia karena toh aku juga melakukan, sedangkan aku hanya berperilaku seolah baik-baik saja. didalam pikirku siapa yg memperawani, sudah berapa cowok yg sudah melihatnya telanjang dan berapa kali dia sudah melakukan hubungan yg dilarang dilakukan sebelum sah menikah. selanjutnya aku hanya memikirkan langkah selanjutnya yg bisa aku ambil.
    “kenapa baru pacaran pertama aja udah menghadapi masalah sesulit ini?”, pikirku dalam hati dengan berbaring telentang dikamar yg memiliki warna lampu putih ini.

    “ehhmmm yg aku inginkan hanyalah menjalani pacaran dengan wajar dan tidak melakukan melewati batas”, pikirku dengan penuh penyesalan.
    namun yg sudah terjadi ya harus terjadi, mau gimana lagi, aku harus menerima dan menjalani hidupku seperti ini.
    “apakah aku masih layak mendapatkan istri yg masih perawan jika aku sendiri sudah pernah melakukan?”, tanyaku pada diri sendiri yg lantas membuatku tersadar bahwa aku sudah kotor dan tak layak.
    sudah beberapa hari ini aku berangkat tidur tanpa sebelumnya memegang buku untuk belajar, maksimal hanya mengerjakan PR, itupun aku kerjakan ala kadarnya berharao esok harinya disekolah ku lanjutkan atau ku nyontek milik teman yg lebih bisa.
    “ya, aku harus membuat keputusan?!”, pikirku dalam hati sebelum tidur, namun justru tidak bisa tidur dan hanya terus berpikir terhadap kondisi yg aku lalui.

    *

    berminggu-minggu aku galau, mungkin bagi sebagian orang, justru dimanfaatkan untuk mulai menjelajah wanita untuk bisa ditiduri, tapi tidak denganku. aku tetap jalan dan menjemput dia terkadang usai pulang sekolah, namun aku tidak pernah mau diajak mampir berdalih bahwa aku ada bimbingan belajar diluar sekolah pada sore harinya, walau sebenarnya tertarik juga untuk mengulangi kejadian yg lalu, merasakan indahnya bercinta dengan wanita. tapi yg ku ketahui itu bukan diriku, aku tak boleh terlewat batas. aku menimbang setiap langkah yg akan aku ambil.

    seperti biasa, pacarku meminta untuk menjemputnya disekolahnya dan diantarkannya kerumah. jarak sekolah yg tak terlalu jauh dan rumahnya juga hampir sejalur dengan rumahku membuatku tak ada alasan untuk tak mengantarnya.
    “yuk sayangg”, ucap Owie setelah menaruh pantatnya yg semok di jok kursi belakang dengan duduk menyamping dan tangan kanannya berpegangan padaku.

    selama perjalanan ramai dengan anak sekolah seusia ku yg juga turut pulang sekolah, kondisi hari yg mendung namun tak hujan tapi berangin ini rasanya membuat mata ngantuk ingin menenggelamkan diri pada dalam selimut. aku lihat Owie melalui sepion, sebenarnya dia sangat cantik dan manis, sungguh sayang kenapa dia seperti ini.
    aku melihat banyak para ibu-ibu yg sedang menjemput anaknya, lampu sein ke kanan namun beloknya ke kiri membuat hatiku jengkel sebagai pengendara di belakangnya menebak kira-kira akan kemana arah si ibu itu. perjalanan dari sekolah Owie menuju rumahnya kira-kira hanya 15 menit, namun dalam waktu segitu banyak hal yg bisa kita lihat.

    akhirnya tibalah dirumah Owie, seperti biasa kondisi sangat sepi begitupula dengan kampungnya.
    “mampir dulu sayang”, ujar Owie.
    “ehhmm bentar aja ya”, balasku dengan singkat yg lantas meminggirkan motorku dan berjalan masuk, namun aku duduk di teras.
    “masuk sini sayang”, ajaknya untuk diajak masuk ke dalam rumahnya, namun aku menolak.
    “ehhmm yang, aku ngomong bentar sama kamu”, ujarku langsung to the point, yg membuat pacarku menjadi serius dan mendengarkan, “kita sudahan aja ya, aku pikir kita punya beda pemikiran”, lanjutku dengan tegas.
    “beda pemikiran apa?”, tanya Owie dengan sudah mulai akan menangis.
    “ya beda, hmmm aku gak bisa menerima kamu yg sudah gak perawan”, tegasku.

    “kamu kemarin katanya gapapa, kenapa ini udah berubah, kamu cowok plinplan!! lagipula kamu juga udah menikmati aku!! dasar cowok gak jelas!! huhhhhhhhuuuhuhhhuu……”, balas dia dengan panjang lebar namun penuh dengan tangis yg membuat hati bergetar.
    “maaf, tapi aku gak bisa”, ujarku dengan sangat yakin.
    “kenapa kamu memperlakukan ini padaku, aku udah yakin denganmu dan aku berharap bisa berubah untukmu, bahkan aku rela kamu tiduri”, ujar dia dengan nangisnya sudah membasahi seragam OSIS nya.
    “maaf Owie, aku gak bisa, udah ya aku balik”, ujarku dengan tegar, melihat Owie dalam kondisi seperti itu sebenarnya membuat hatiku teriris, namun aku harus mengambil keputusan atas suatu hal yg bersebrangan denganku.

    aku membalik badanku berjalan menuju motorku, tanpa memberi salam maupun pelukan terakhir bagi Owie, aku tak ingin menatapnya lebih lama karena bisa menganggu keputusanku yg sudah bulat. kuarahkan motor kearah rumah, selama diperjalanan pikiranku entah kenapa rasanya plong sekali, rasanya aku sudah melewati beban yg sangat berat dan akhirnya bisa kusingkirkan. semoga keputusan yg aku ambil ini bisa membuat Owie lebih baik dan menjadi wanita yg seperti diinginkan oleh banyak lelaki karena kebaikannya, bukan karena seksinya atau goyangannya. aku akan terus turut mendoakan Owie menjadi yg terbaik….

    setelah akhirnya aku mengambil keputusan untuk menyelesaikan hubunganku dengan Owie, banyak temanku yg akhirnya tahu dan sangat menyayangkan aku putus dengan wanita secantik dia. memang kuakui dia cantik tapi jika sudah hilang mahkotanya bagaimana, yg akan rugi juga aku sendiri. namun, aku akhirnya bisa menjalani hatiku dengan tidak ada rasa tekanan dan bahagia, walau aku sendiri sudah tidak perjaka dengan Owie, namun aku sendiri juga tidak begitu menikmati hubungan badan yg kami lakukan.
    aku hanya ingin move on dan tidak membahas hubunganku lagi dengan Owie, tentunya aku ingin kembali membangun prinsipku yg telah runtuh.

    *
    masa perkuliahan

    aku masuk ke salah satu universitas ternama di negeri ini, merupakan suatu pencapaian bagiku, aku ingin memulai dengan baik dan menjadi pribadi yg disegani oleh teman-teman baruku. awal-awal perkuliahan aku gunakan sebaik-baiknya untuk ikut kegiatan organisasi, maupun sekedar bersosialisasi dengan teman baruku di kantin, selain itu aku juga membidik siapa yg kiranya berpotensi untuk aku jadikan pasangan kekasih, namun kali ini aku kudu mengenalnya lebih dalam sebelumnya akhirnya memutuskan, aku tak ingin kejadian seperti Owie terjadi lagi, jujur saja sangat menyakitkan baginya dan bagiku. tapi aku ambil positifnya saja, yaitu ternyata seks itu nikmat.

    memasuki semester 3, temanku semakin banyak dan semakin akrab, beberapa sahabatku adalah Edo, Dika dan Alex. mereka bertiga yg selalu menghiasi hari-hariku sehingga aku dengan riang melewatinya, tiap kelas kami selalu bersama dan kadang kita mengerjakan tugas bersama. yg kuketahui, hanya Edo yg memiliki pacar, namun seperti LDR karena selama ini aku tidak pernah bertemu dengan pacarnya. tapi itu bukan urusanku.

    bagaimana dengan percintaanku, aku masih saja jomblo, walau ada beberapa cewek yg menurutku bening dan pantas untuk aku jadikan pasangan, tapi aku masih menyisakan sedikit trauma dengan apa yg terjadi dengan Owie. maka dari itu aku lebih kalem dalam menyeleksi, aku ingin kenal lebih dahulu atau berteman dengannya untuk waktu yg lama sebelum akhirnya bersama. yg jelas dan wajib adalah wanita itu harus turut menjaga dan menjalankan prinsip yg aku bangun.