Author: perawanku

  • Cerita Sex Diperkosa Malah Ketagihan

    Cerita Sex Diperkosa Malah Ketagihan


    1550 views

    Perawanku – Cerita Sex Diperkosa Malah Ketagihan, Sebut saja namaku Lilis. Sudah dua tahun lebih aku bekerja sebagai seorang pembantu di keluarga Pak Dimas, seorang kepala desa yang sangat dihormati oleh warga setempat. Dan selama itu pulalah aku merasakan pahit-manisnya menjadi seorang pembantu, termasuk manisnya di perkosa.Malam itu udara terasa panas, sampai-sampai aku susah sekali untuk tidur.

    Baru setelah aku ganti pakaian dengan daster tipis dan menyalakan kipas angin, barilah aku bisa tertidur. Dalam tidur aku sempat bermimpi, Pak Jali, yang merupakan sopir pribadi keluarga Pak Dimas, datang menemuiku. Lucunya, Pak Jali datang menemuiku dalam keadaan telanjang bulat. Meskipun usianya sudah paruh baya, dan berbadan agak pendek, namun beliau masih memiliki postur tubuh yang kekar dan berotot.

    Khas orang desa yang suka bekerja keras. Dan yang membuatku geli adalah “buah terong” yang menggantung indah di pangkal pahanya. Ih…, begitu menggemaskan.Perlahan-lahan beliau mendekatiku dan langsung meremas remas buah dadaku yang telah terbuka bebas. Entah kenapa belaian Pak Jali terasa begitu nyata, seperti bukan dalam mimpi. Bahkan ketika bibir tebalnya mulai melumat kupingku aku sempat tersentak dan perlahan-lahan terjaga dari tidurku.
    Namun betapa terkejutnya aku saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata apa yang aku rasakan tadi bukan sekedar mimpi. Dihadapanku ternyata benar-benar ada sosok Pak Jali yang memeluk tubuhku.

    ”Pak Jali…! Apa yang Bapak lakukan…?” Aku mendorong tubuh Pak Jali kuat-kuat sehingga dia terjengkang ke belakang. Segera aku menutupi tubuhku yang ternyata juga nyaris telanjang dengan selimut.

    ”Tenang, Lis! Sudah lama aku memendam nafsuku terhadapmu…!” Kembali Pak Jali mencoba merengkuh tubuhku. Namun kembali aku mendorong tubuhnya kuat-kuat ke belakang.

    ”Pergi…!” bentakku.”Atau saya akan teriak!”Silahkan teriak! Percuma saja kamu teriak. Karena tidak akan ada orang yang mendengarmu. Apa kamu lupa, Pak Dimas dan keluarga tadi sore sudah berangkat ke Bandung untuk liburan! Jadi lebih baik kamu turuti saja keinginanku!

    ”Pak Jali tersenyum sinis.Aku semakin ketakutan ketika Pak Jali kembali mendekatiku. Segera saja aku melompat dari ranjang dan mencoba berlari ke arah pintu dengan kondisi telanjang. Namun sial! Aku kalah cepat dengan Pak Jali. Dengan cepat, ia menyergapku dari belakang dan menghimpitkan tubuhku ke arah dinding. Kedua tangannya mencengkeram kuat lenganku ke atas tembok, sedangkan kedua kakinya mengunci kakiku sehingga aku sulit untuk bergerak. Aku mencoba untuk meronta sekuat tenaga. Namun percuma, tenaga Pak Jali memang jauh lebih kuat dibandingkan tenagaku yang hanya seorang wanita.

    Semakin kuat aku meronta, semakin kuat cengkeraman Pak Jali di Tubuhku.”Tolong, Pak! Lepaskan saya!” aku menangis dan mengemis kepada Pak Jali. Namun percuma saja. Beliau tidak mendengarkan perkataanku. Bahkan dengan liar Pak Jali menghunjamiku dengan ciuaman mautnya. Lama kelamaan tanagaku terkuras habis. Tubuhku menjadi lemas. Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang bisa aku lakukan hanyalah pasrah dan menuruti aturan mainnya Pak Jali.Perlahan-lahan cengkeraman Pak Jali mulai mengendor.

    Perlakuannya yang semula kasar mulai melunak dan berubah menjadi lembut. Bahkan aku mulai masuk dalam permainannya ketika dengan lembut Pak Jali mulai menggesek-gesekkan batan kejantanannya ke atas pahaku. Seketika itu kakiku terasa lemas dan lunglai. Aku tak kuat lagi menopang berat badanku sendiri, sehingga aku mulai terkulai. Namun dengan sigap, Pak Jali segera menangkap tubuhku, mengangkatnya lalu membopongku ke atas ranjang.Sesaat terlintas di wajah Pak Jali sebuah senyum kemenangan. Kemudian dengan lembut ia mulai melumat bibirku. Entah kenapa aku tidak kuasa untuk menolaknya. Bahkan ada dorongan kuat dari dalam diriku untuk membalas lumatannya itu.

    “Nah…, begitu dong Lis! Kalau begini kan lebih enak!” kata Pak Jali senang.Aku tersenyum tersipu-sipu.”Bapak benar, mungkin lebih baik saya menuruti bapak dari pertama tadi. Lagipula, sudah lama juga saya tidak mendapatkan sentuhan laki-laki”Kembali Pak Jali tersenyum senang.”Trus, ngapain kamu tadi pake coba berontak, Lis?

    ””Tadi saya cuma kaget saja. Di balik penampilan bapak yang bersahaja, kok tega-teganya bapak mencoba memperkosa saya. Tapi…, ah sudahlah! Yang pentingkan sekarang saya sudah menjadi milik Bapak!”Kembali Pak Jali mulai mencumbuku. Ciumannya mulai merambat melalui leherku kemudian turun ke buah dadaku.

    Kumis tebalnya yang kasar menyapu kulit dadaku sehingga menimbulkan sensasi tersendiri yang semakin membuatku serasa terbang ke angkasa.Ciuman dan jilatan Pak Jali terus bergerak turun. Sementara tangan kirinya meremas-remas buah dadaku, tangan kanannya tengah sibuk di pangkal pahaku membuat pilinan-pilinan yang kurasa nikmat.

    ”Oh…, Pak Jali! Jangan siksa aku seperti ini!” rengekku.

    Pak Jali tidak memperdulikan ucapanku. Justru ia malah menyibakkan rumput-rumput liar yang menghalangi pintu goa darbaku.

    ”Wah…, Lis! Indah sekali memiaw kamu. Warnanya merah muda dengan baunya yang semerbak. Oh…, sungguh mempesona. Bagaikan sekuntum mawar merah yang tengah merekah di pagi hari. Pasti kamu merawatnya dengan baik. Oh…, Lis! Aku suka sekali dengan memiaw yang seperti ini…!

    ”Perlahan-lahan Pak Jali menjulurkan lidahnya dan menyapu permukaan klitorisku. Terasa kasar, memang. Tapi nikmat

    !”Ayolah, Pak…! Ouhh…, aku sudah tidak tahan lagi. Aku terus mengemis kepada Pak Jali.

    Namun dia terus mempermainkan emosiku. Akhirnya aku mencari inisiatif lain.Aku mencoba menggerayangi tubuh kekar Pak Jali sambil mencari-cari buah terong yang menggantung di pangkal pahanya.Dan tidak susah bagiku untuk menemukan buah terong sebesar itu. Dengan lembut dan manja, aku mulai mengocok batang kont*l Pak Jali di sertai dengan pijatan-pijatan yang membuat beliau merem melek.

    Perlahan aku membimbing kont*lnya menuju ke memiawku yang sudah basah. Namun dengan nakal, Pak Jali hanya menempelkan dan menggesek-gesekkan ujung kepala kont*lnya di atas bibir vaginaku. Terasa geli, memeng. Tapi sensasi yang aku rasakan terasa begitu nikmat. Belum pernah aku merasakan yang seperti ini.

    ”Oh…, Pak Jali! Ayolah….aku udah nggak tahan lagi…, cepet masukin dong!
    ”Aku sudah tak bisa tahan diperlakukan seperti itu.’ ‘

    Perlahan aku menaikkan pantatku ke atas untuk menyambut kejantanan Pak Jali yang sudah ngaceng. Kemudian aku menekan pantat Pak Jali ke bawah supaya kont*l itu bisa masuk dengan sempurna.

    ”Aaarrrghhh…!” aku menjerit kecil ketika batang kont*l

    Pak Jali yang besar itu menembus liang vaginaku. Awalnya terasa seret dan perih, karena ukuran k*ntol Pak Jali memang besar dan panjang bila dibandingkan dengan milik suamiku. Namun setelah buah terong itu tertanam beberapa saat di dalam liang vaginaku, rasa perih itu perlahan berubah menjadi rasa nikmat.Perlahan-lahan Pak Jali mulai mengayunkan pantatnya naik dan turun.

    ”Hooohh.., Pak! Ssstt…, enak Pak!” aku jadi ngomong tak karuan.
    ”A…yo, Lis!Goyangkan ju…ga pan..tatmu! Ooohhh…!”Aku menuruti kata Pak Jali.

    Kucoba untuk mengikuti irama dan gerakan-gerakan nikmat yang dilakukan Pak Jali. Gesekan-gesekan halus antara batang kont*l

    Pak Jali dengan dinding vaginaku terasa begitu nikmat.
    ”Ohhh…, Lis! Ya…begitu…! Te…rus…goyangkan pantatmu! Uuuhh…, oohh…, yes…!
    ”Pak Jali tampak begitu menikmati permainan kami.

    Kulihat wajahnya menengadah dengan mata terpejam, seolah meresapi sedotan dari vaginaku. Sesekali dari bibirnya terdengar lenguhan dan desisan kenikmatan.Akupun juga menikmati sodokan-sodokan mantap batang k*ntol Pak Jali. Bahkan aku memeluk tubuh kekar Pak Jali dengan erat. Seolah tak ingin berhenti dari permainan itu. Keringat mengalir deras melalui pori-pori tubuh kami, sehingga dada bidang Pak Jali yang berbulu lembut tampak mengkilat karena basah oleh keringat.

    Aku tidak menyangka, ternyata di usianya yang mencapai setengah abad itu, Pak Jali masih memiliki stamina yang prima. Sampai-sampai aku kewalahan menghadapi goyangan dan sodokan mautnya. Hingga akhirnya aku merasakan ada sesuatu yang berdenyut dari dalam rahimku.

    ”Ooohh…, Pak! Saya…, mau ke..luar…!Ssshhhtt…, Arrhhhggg…!”

    Aku tidak kuat lagi menahan sesuatu yang mendesak keluar dari dalam rahimku. Namun Pak Jali masih terus mengayunkan kont*lnya keluar masuk dan menusuk-nusuk goa darbaku.

    Dan beberapa saat kemudian, aku juga merasakan batang k*ntol Pak Jali mulai berdenyut-denyut didalam vaginaku. Sampai akhirnya….

    ”Aaaoouuhhh…, Lis! Nikmat bangeet!”Cairan putih kental menyembur deras dari ujung tongkol Pak Jali.

    Pak Jalipun kemudian menjatuhkan diri ke sisi tubuhku. Nafasnya tampak terengah-engah dan terlihat kecapean.”Oh…,

    Pak Jali! Bapak memang benar-benar hebat. Sudah lama saya tidak merasakan nikmat seperti ini.

    Terima kasih ya Pak!” Aku memeluk tubuh Kekar Pak Jali.Kusandarkan kepalaku di dada bidang Pak Jali sambil mengelus-elus bulu-bulu lembut yang berbaris rapi sampai ke pangkal pahanya. Dengan lembut pula Pak Jali membelai rambutku yang sedikit oleh keringat. Ah…, ternyata dip

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Skandal Ngentot Bercinta dengan PRT Atun – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Skandal Ngentot Bercinta dengan PRT Atun – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1550 views

    Perawanku – Sepeninggal Lastri, kami mendapat seorang pembantu baru dari sebuah yayasan penyalur tenaga kerja yaitu seorang wanita berumur 23 tahun bernama Atun. Atun berambut lurus sebahu, berperawakan sedang, berkulit sawo matang dengan wajah yang manis, tinggi sekitar 160 cm, badan ramping dengan berat badan sekitar 50 kg, dengan payudara yang besarnya sedang saja. Yang agak istimewa dari penampilan Atun adalah matanya yang bagus dengan lirikan-lirikan yang kelihatannya sedikit nakal.

    Hari pertama kedatangannya, saat memperkenalkan diri, ia tampak tidak banyak bicara, hanya saya melihat bahwa matanya sering melirik dan memperhatikan celana saya terutama pada bagian kemaluan. Saya berpikir, “Akh, nakal juga nih..”. Ternyata Atun ini baru menikah dua bulan lalu dan karena desakan kebutuhan ekonomi saat ini sedang terpisah dari sang suami yang bekerja menjadi TKI di Timur Tengah. Setelah beberapa hari bekerja pada kami, ternyata Atun cukup rajin dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Memasuki minggu kedua, saya mendapat gilirin kerja shift dari kantor, yaitu shift ke 2, sehingga saya harus mulai bekerja mulai dari jam 15:00 sampai dengan jam 23:00. Jadi bila pulang telah larut malam, biasanya isteri saya sudah tidur dan bila ia tidur, ia mempunyai kebiasaan tidur yang sangat lelap dan sangat susah sekali untuk dibangunkan, dan bila saya terbangun pada pagi hari, isteri sudah berangkat kerja, sehingga biasanya kami hanya berhubungan melalui telephone saja atau ia menuliskan pesan dan menempelkannya di kulkas.
    Suatu malam sepulang kerja, Atun seperti biasa membuka pintu dan setelah itu ia biasanya menyiapkan air panas untuk saya mandi. Sedang saya asyik mandi dan menggosok-gosok tubuh saya, saya mendengar suatu bunyi halus di balik pintu kamar mandi, sambil berpura-pura tidak tahu saya tiba-tiba menunduk dan mencoba melihat dari celah yang ada di bawah pintu tersebut.

    “Hah..”, saya kaget juga, karena di situ terlihat sepasang kaki yang dalam posisi sedang menjinjit menempel di pintu kamar mandi. Wah, ternyata saya sedang diintip, oleh siapa lagi kalau bukan Atun. Saya tetap pura-pura tidak tahu saja dan mulai memasang aksi, saya mulai menggosok-gosokan sabun kebagian penis saya, meremas-remas sehingga penis saya pun mulai bangun dan menjadi keras, sambil terus mengocok penis saya, saya juga berusaha untuk berkonsentrasi mendengar suara di belakang pintu itu. Dari situ terdengar desahan halus yang sedikit lebih keras dari tarikan nafas.
    “Naah.., lo.., rasain “, kata saya dalam hati.

    Selesai mandi, saya langsung saja keluar dengan memakai handuk yang dililitkan kebadan bagian bawah saya, penis saya masih dalam posisi menegang keras, jadi terlihat menonjol dari balik handuk. Saya tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa dan berjalan ke arah belakang untuk menaruh pakaian kotor.
    “Pep.., Pak.., Bapak mau emm.., makan”, sapa Atun,
    “Oh.., nggak Tun, sudah makan.., tolong bikinkan kopi saja”, jawab saya sambil saya perhatikan wajahnya. Ternyata wajah Atun terlihat pucat dengan tangan yang agak gemetaran.
    “Eeh.., kamu kenapa Tun.., sakit yaa?”, tanya saya
    “Ah, tidak Pak.., Saya cuma sedikit pusing aja”, jawab Atun
    “Iyaa.., Tun.., Saya juga sedikit pusing.., apa kamu bisa mijitin kepala Saya”.
    “Beb.., bis.., bisa Pak”, jawab Atun tergagap, sambil matanya terus-menerus melirik ke arah penis saya yang menyembul. Sayapun masuk ke kamar dan mengganti handuk dengan sarung tanpa memakai celana dalam lagi, dan tidak lupa memeriksa isteri saya, setelah saya perhatikan ternyata isteri saya tetap tertidur dengan pulas sekali. Sayapun duduk di sofa depan televisi sambil menunggu Atun membawa kopi, yang kemudian ditaruhnya dimeja di depan saya.
    “Tun.., tolong nyalakan TV-nya”

    Atun berjalan ke arah televisi untuk menyalakan, saat televisi telah menyala saya bisa melihat bayangan tubuh Atun dari balik dasternya. “Wah.., boleh juga”, terasa denyutan di penis saya, nafsu saya mulai memuncak.
    “Tun.., tolong kecilkan sedikit suaranya”, kata saya, Saat ia mengecilkan suara televisi itu, Atun sedikit membungkuk untuk menjangkau tombol TV tersebut, langsung tubuhnya terbayang dengan jelas sekali, Atun ternyata tidak memakai BH dan puting susunya terbayang menonjol bagaikan tombol yang minta diputar.
    “Lagi sedikit Tun..”, kata saya mencari alasan untuk dapat melihat lebih jelas. Aduh, denyutan di penis saya pun makin keras saja.
    “Ayo.., Tun.., pijitin kepala Saya”, kata saya sambil bersandar pada sofa. Dengan agak ragu, Atun mulai memegang kepala saya dan mulai memijat-mijat kepala saya dengan lembut.
    “Nah.., gitu.., baru nikmat, kata saya lagi, tapi filmnya kok jelek banget yaa..”
    “Iya.., Pak.., filmnya film tua..”, katanya.
    “Kamu mau lihat film baru”, kata saya sambil langsung berdiri dan menuju ke arah lemari televisi untuk mengambil sebuah laser disk dan langsung saja memasangnya, film itu dibintangi oleh Kay Parker, sebuah film jenis hardcore yang sungguh hot. Atun kembali memijat kepala saya sambil menanti adegan film tersebut. Saat adegan pertama dimana Kay Parker mulai melakukan french kiss dan meraba penis lawan mainnya, tangan Atun mengejang di kepala saya, terdengar ia menarik nafas panjang dan pijatan tangannya bertambah keras. Saya mengangkat kepala dan melihat ke arah Atun, terlihat matanya terpaku pada adegan di layar, biji matanya kelihatan seperti tertutup kabut tipis, ia benar-benar berkonsentrasi melihat adegan demi adegan yang diperankan oleh Kay Parker.

    Sekitar seperempat jam kemudian, terasa pijatan di kepala saya berkurang, karena hanya satu tangannya saja yang dipakai untuk memijat sedangkan setelah saya tengok kebelakang ternyata tangannya yang satu lagi terjepit diantara selangkangannya dengan gerakan menggosok-gosok. Desahan nafasnya menjadi keras buru-memburu. Atun terlihat bagai orang sedang mengalami trance dan tidak sadar akan perbuatannya. Saya langsung saja berdiri dan menuju ke belakangnya, sarung saya jatuhkan ke lantai dan dalam keadaan telanjang saya tekan penis saya ke arah belahan pantatnya sedangkan mulut saya mulai menjalar ke leher Atun, menjilat-jilat sambil menggigit pelahan-lahan. Kedua tangan saya bergerak ke arah payudaranya yang menantang dan meremas-remas sambil sesekali memuntir-muntir putingnya yang cukup panjang. Atun tetap seperti orang yang tidak sadar, matanya hanya terpaku kelayar kaca melihat bagaimana Kay Parker menjepit pinggang lawan mainnya sambil mengayunkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri.

    Dengan cepat saya membuka dasternya sampai terlepas, Atun diam saja juga saat saya memelorotkan celana dalamnya. Sambil tetap memeluknya dari belakang, saya menggeser kakinya agar selangkangannya lebih terbuka sehingga saya bisa mengarahkan penis saya ke lubang vaginanya. Saat kepala penis saya mulai memasuki vaginanya yang sudah basah, Atun sedikit tersentak, tapi saya terus menyodok kedalam sehingga penis saya terbenam seluruhnya.

    “Aakh.., Pak”, desah Atun lirih, “Ennaak.., Paak”.
    Saya tetap menekan dan kemudian mulai menarik penis saya. Waah.., vagina Atun bagaikan menjepit penis saya dan seperti tidak mau melepaskan penis saya. Vagina Atun ternyata sempit sekali dan penis saya terasa bagaikan dihisap-hisap dan diremas-remas dengan denyutan-denyutan yang sungguh nikmat sekali. Saya menarik dan menekan dengan kuat secara berulang-ulang sehingga biji saya terdengar beradu dengan pantat Atun yang mulus, plak.., plak.., plak.., saya tetap memeluknya dari belakang dengan tangan kiri yang tetap berada di payudaranya sedangkan jari tangan kanan saya berada di dalam mulut Atun. Mulut Atun menghisap-hisap jari saya bagaikan anak bayi yang telah kelaparan mendapatkan susu ibunya, matanya terpejam bagai orang sedang bermimpi. Badannya separuh, dari pinggang ke atas condong ke depan, membungkuk pada sandaran sofa, sedangkan pinggangnya berusaha untuk mengimbangi gerakan maju mundur yang saya lakukan. Bila saya menekan penis saya untuk membenamkannya lebih dalam ke lubang vaginanya, Atun segera mendorong pantatnya ke belakang untuk menyambut gerakan saya dan kemudian secara cepat mengayunkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan bergantian.
    Aah.., Atun ternyata luar biasa enaknya vaginamu. Saya benar-benar menikmati tubuh dan vagina Atun.

    Kami melakukan gerakan-gerakan seperti ini selama beberapa waktu, sampai suatu saat badan Atun mengejang, kedua kakinya juga mengejang serta terangkat kebelakang. Vaginanya meremas dan menghisap-hisap penis saya dengan keras dan berusaha untuk menelan penis saya seluruhnya.
    “aahh..”, desah Atun panjang.
    Akhirnya saya juga tidak tahan lagi, saya peluk badannya dan saya tekan penis saya kuat-kuat ke dalam vagina Atun. Saya pun melepaskan cairan mani saya ke dalam lubang vagina Atun yang begitu hangat dan menghisap.
    “Heehh”, creet.., creett..,. Creett. Kami berdua langsung lunglai dan tertekuk ke arah sandaran sofa dengan posisi penis saya masih ada di dalam jepitan vagina Atun.

    Setelah kami recover, saya buru-buru memungut sarung, mematikan televisi dan berdua berjalan ke arah belakang, Atun langsung berbelok ke kamarnya, tapi sebelumnya ia berkata halus, “Terima kasih yaa.., Pak”, dan sambil tersenyum nakal ia meremas penis saya. Saya langsung mandi lagi untuk membersihkan keringat yang mengalir begitu banyak, setelah itu ke kamar berbaring sambil memeluk isteri saya dan tertidur lelap dengan puas.

    Dipagi hari saya tersentak bangun karena merasakan sepasang tangan yang mengelus-elus penis saya, secara refleks saya melihat jam dinding dan melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
    “Loo..”, pikir saya “Kok isteri saya tidak bekerja hari ini”.
    Langsung saya mengangkat kepala melihat kebawah. Lho.., ternyata bukan isteri saya yang sedang mengelus-elus penis saya tetapi Atun yang sedang menunduk untuk mencium penis saya, yang sudah keras dan tegang.
    “Tun.., ayo naik ke sini”, kata saya kepadanya, sambil bangun terduduk saya menarik badannya dan mulai membuka dasternya, ternyata Atun sudah tidak memakai apa-apa di balik dasternya. Langsung saya balikkan badannya dan mulai mencium vaginanya yang wangi, sedangkan Atun langsung juga mengulum penis saya di mulutnya yang kecil Atun langsung cepat belajar dari tontonan film tadi malam rupanya. Saya mulai menjilat-jilat vaginanya dan sesekali mengulum serta mempermainkan clitorisnya dengan lidah saya, Atun tergelinjang dengan keras dan terdengar desahannya.

    “Heeh.., heehh”. Dari lubang vaginanya mengalir cairan hangat dan langsung saja saya jilat.., mmh.., enaknya. Setelah itu saya tarik Atun untuk jongkok di atas badan saya, sedangkan saya tetap telentang dan Atun mulai menurunkan badannya dengan lubang vaginanya yang sempit itu tepat ke arah batang penis saya yang sudah sangat tegang sekali.

    “Heehh”.., cleep, batang penis saya masuk langsung ke dalam lubang vaginanya dan terbenam sampai ke ujung biji saya, “oohh nikmat bener Tun vagina kamu”, kata saya, Atun sudah tidak menjawab lagi, dia menaikkan pantatnya dan kemudian dengan cepat menurunkannya dan memutar-mutar pinggulnya dengan cepat sekali berkali-kali, sambil terpejam dia mendesah-desah panjang terus menerus karena keenakkan. Batang penis saya terasa mau putus karena enaknya vagina Atun, benar-benar nikmat sekali permainan di pagi hari ini. Sesekali saya duduk untuk memeluknya dan terus meremas-remas payudaranya yang keras.
    “ooh.., Atun.., ennaak”, Atun kemudian berhenti sebentar dan memutarkan badannya sehingga pantatnya menghadap wajah saya, sambil terus menaik-turunkan pantatnya, vaginanya tetap menjepit batang penis saya dengan jepitan yang keras dan berdenyut-denyut. Akhirnya saya tidak tahan lagi, sambil memeluk pinggangnya saya berusaha menekan batang penis saya sedalam-dalamnya di lubang vagina Atun, badan Atun pun mengejang dan bersama-sama kita mencapai orgasme.

    Pagi hari itu saya dan Atun bermain sampai jam 13:00 siang, berkali-kali dan berbagai-bagai gaya dengan tidak bosan-bosannya. Sejak pagi itu, saya selalu dibangunkan oleh isapan lembut dari mulut mungil Atun, kecuali bila hari libur dimana isteri saya berada dirumah.

  • Cerita Sex Gerayangi Dua Cewek

    Cerita Sex Gerayangi Dua Cewek


    1549 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Gerayangi Dua Cewek ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Aku mempunyai cerita yang mana waktu itu aku masih duduk bangku SMA di Jakarta, aku sudah punya pacar namanya Friska kita sudah berpacaran selama 2 tahun dari awal masuk sekolah di Bandung, aku dipindah ke Jakarta karena ada kasus di sekolah Bandung berantem dengan kepala sekolahnya langsung.

    Hubungan aku dan pacarku lancar lancar saja kadang kita telpon telponan sampai pagi , kadang juga jika aku kangen langsung berangkat ke Bandung untuk menengok dia, soal penginapan aku biasanya menginap di rumahnya saat rumahnya sepi. Ibunya masih muda banget dia blesteran bule dan umurnya masih 37 tahun.

    Kadang malah kalau jalan sama saya berdua menemani dia belanja disangka teman-teman.. “Eh Ronald, siapa tuh cewek loe, tua amat?” Hahahahhaha… dia punya anak dua, kembar, Friska dan Tiyas. Kembar, putih, tinggi, lucu, soal body nggak usah saya ceritakan deh, tahu Jeniffer Lopez? nah kayak gitu tuh si kembar. Tiyas juga sudah punya pacar kebetulan sobat saya juga.

    Hubungan kita sudah dekat banget. Sejak awal memang saya sudah “ngeseks” sama dia. Dan orang tuanya sama saya sudah nggak ada masalah kalau misalnya salah satu datang terus menginap (soal “ngeseks” nggak tahu tentu saja).

    Ceritanya nich kembar berdua datang ke Jakarta mau belanja. Jadi minta ditemani oleh saya untuk jalan-jalan keliling Jakarta. Kebetulan di Jakarta rumah mereka lagi direnovasi. Saya suruh saja menginap di rumah saya.

    Lagian orang tua saya lagi pergi, jadi kosong. “Ok deh”, kata mereka.

    Malamnya terus kita jalan-jalan ke Zanzibar, janjian sama teman. Saya nggak berani minum banyak-banyak soalnya pulangnya nyetir. Tapi tuh si kembar dicekokin sama teman-teman banyak banget sampai nggak kepalang maboknya.

    Akhirnya jam 4 kita pulang dan setelah berusaha keras merayu Tiyas buat turun joget-joget dari meja, terus menggotong Friska ke mobil bla.. bla.. bla.. sampai deh di rumah.

    Sampai di kamar akhirnya tanpa ba bi bu lagi kita langsung tidur bertiga, biarpun AC jalan tapi gara-gara mabok tetap saja kepanasan. Akhirnya saya buka celana panjang saya hingga tinggal CD saja, terus saya menggeletak di tengah-tengah mereka.

    Tapi berhubung kepala saya pusing dan tahu dong, kalau mabok bawaannya tegang mulu. Saya mulai meraba-raba Friska (biar mabok tapi saya bisa bedain pacar saya yang mana).

    Pertama-tama saya selipkan tangan saya kedalam kemejanya. Terus jemari saya menjelajah kemana-mana di dalam BH-nya. Lama banget saya memainkan putingnya, dipelintir-pelintir terus dielus-elus lagi.

    “Ronald… buka saja belakangnya biar lega”, kata Friska tiba-tiba.

    “Tapi jangan ribut ya, nggak enak sama Tiyas, lagian kamu gila ya… sodaraku disebelah!” bisiknya.

    “Ah biar saja, kamu juga mau khan…” kata saya nggak sabar sambil melepaskan tali BH-nya sama buka kemejanya, habis itu saya cium-ciumi payudaranya, kadang-kadang saya jilat-jilat pentilnya pakai lidah membuat lingkaran di buah dadanya.

    Kemudian naik lagi ke lehernya, saya cium-ciumi belakang kupingnya sampai si Friska menggelinjang-gelinjang. Lalu turun lagi ke bawah mencium-ciumi ujung dadanya yang merah kecil sambil saya cubit-cubit kecil ujung satunya dengan tangan kanan saya.

    “Sudah Ronald… cepet donk… buka celanaku sudah nggak kuat nih, ahh Ronald… tega ih kamu! jangan lama-lama dong say…!” Karena saya juga nggak tahan, saya buka juga celana hipster hitamnya sekalian sama celana dalamnya.

    Terus terang saya paling suka memainkan kelentit wanita, bukan karena nikmat tapi saya suka banget lihat tampang mereka kalau dimainin pakai lidah terus bibir vaginanya digigit-gigit, sepertinya kejatuhan surga, nikmat banget.

    Sekitar sepuluh menit saya memainkan vaginanya sampai kepala saya didekap sama kakinya, keras banget. Tangannya mendorong-dorong kepala saya buat menjilat lebih dalam lagi. “Ronaldss, masukiin dongg! cepet!” katanya.

    “Mm… tapi basahin dulu punyaku… mau nggak?” kata saya.

    “Iya… sini Friska isepp!” Akhirnya kita tukar posisi, saya di bawah dan dia mulai menghisap penis saya. Biarpun saya sering senggama sama wanita lain, kalau soal menghisap kayaknya cewek saya masih paling jago.

    Penis saya sih nggak panjang-panjang amat hanya 15 cm tapi gede dan berhubung bibir cewek saya kecil jadi dia rada-rada kesusahan buat menghisapnya. Ujungnya sama dia dijilat-jilat dulu terus dimasukan sebagian.

    Di dalamnya sama Friska dimainkan pakai lidah, dikeluarkan lagi, dihisap lagi sampai ke ujungnya terus didiamkan di mulutnya. Yang membuat saya paling nggak kuat kalau sama dia penis saya dikenyot-kenyot kayak menghisap jolly.

    Serasa isinya mau keluar semua. Saking saya keenakan sampai nggak sadar tangan saya pegang kepalanya buat menahan agar penis saya nggak dikeluarkan dari mulutnya. “Aahh mm… terusss sayangg!” desah saya sambil masih menahan kepalanya, kayaknya dia sudah mulai kesusahan napas.

    Tiba-tiba bibir saya dicium dan begitu buka mata ternyata Tiyas. Dia ternyata kebangun mendengar erangan kita tapi diam saja, tapi nggak kuat juga akhirnya. Saya cium juga dia. “Ronald, jahat ih kamu berdua… nggak mikir apa aku lagi bobo?” katanya.

    “Sis… sorry habis sudah konak neh…” “Tahu nggak Ronald jadinya… Tiyas khan jadinya horny banget!”

    “Ok deh Sis… ma’ap… jadi mesti gimana dong?”

    “mm… kamu cium-cium punyaku kayak ke Friska lagi dong? mau nggak?”

    “Ok… buka gih celananya aku isepin sini…” Tiyas buka celana sama kaosnya, terus naik ke atas mukaku. Friska ternyata nggak keberatan, sama-sama sudah horny berat sih berdua.

    Akhirnya kita main threesome, saya hisap vagina Tiyas terus Friska naik ke penis saya.

    “Aahh Ronaldss… emang kamu top banget deh… terusss jilat itunya sayang…!”

    Enggak lama kita tukar posisi, saya suruh Friska tiduran, terus Tiyas saya minta telungkup. Jadi saya masukin penis saya lewat belakang (doggy style), ahh ternyata nggak kalah sama vagina kembarannya, sama-sama masih rapat!

    Sambil saya mensetubuhi si Tiyas, tangan saya menjelajah vagina Friska, saya masukan jari tengah saya kedalam sambil jari saya yang lain mulai berusaha memegang analnya, saya nggak pernah senggama lewat anal cuma kalau sekarang pegang-pegang doang sih sering, nambah sensasi.

    Ternyata saking keenakan, mereka berdua ciuman, sambil tangannya memegang payudara kembarannya, saya jadi tambah napsu sekali melihatnya. Akhirnya saya pindah ke Friska, saya angkat salah satu kakinya terus saya masukan penis saya dari samping.

    Huwiii, ini salah satu favorit saya juga. Enggak kebayang rasanya paha saya kegesek-gesek sama pahanya, terus penis saya masuk lewat pinggirnya, rasanya lain banget daripada saya di atas. Tiyas kemudian mulai memainkan lidahnya di payudara Friska sambil memegang vaginanya.

    “Ahh Jammesss bentar lagi sayanggg… aahh…” ternyata Friska sudah sampai klimaks, saya pindah untuk melakukan hal yang sama-sama Tiyas cuma kali ini saya minta dia membalikkan badan sambil tiduran, terus saya masukan dari belakang.

    “Aahh Ronaldss tegaa ih kamu… nikmat banget tuhh truss trusss!”

    “Tiyas… rapetin kaki kamu donk… iya gitu sayang…!” Ini posisi yang buat saya cepat keluar.

    Kakinya dirapatkan terus saya kocok-kocok dari belakangnya. “Tiyas aku mau keluar nich.. di dalem yaa…” kata saya. “Jangan Ronaldss!” kata Tiyas.

    “Sini aku isep saja ya.. dikeluarin di mulut Tiyas!” saya masukan ke mulutnya, ternyata Friska juga nggak mau kalah, yang ada kayak rebutan. Gila juga ternyata Tiyas menghisapnya. Sambil menghisap tangannya mengocok-ngocok penis saya.

    Friska lagi menciumi biji saya. “Ahh Siss… Ronalds keluarrr nichh!” Akhirnya saya keluarkan sperma saya di mulutnya sambil saya tahan kepalanya dia agar menghisap terus.

    Selesai itu kita bertiga langsung tidur kecapaian. Pagi-paginya bangun, yang ada malah cekikikan. “Eh Tiyas bandel ya! ngapain saja sama si Aryo kalau berdua yo hahahah”, goda saya sama Friska. “Ah kalian juga sama hihihihhih”, katanya.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Kurenggut kegadisannya Waktu Kuliah Semester Satu

    Kurenggut kegadisannya Waktu Kuliah Semester Satu


    1549 views

    Perawanku – ini terjadi sekitar tahun 2016 di salah satu kota di indonesia yang terkenan dengan sebutan kota pelajar. sebagai kakak tingkat saya memang termasuk cowok yang tidak memiliki paras tampan, hehehe…tetapi kemampuan berbicara dan mempengaruhi seseorang memang ane miliki, di tahun tersebut seperti biasanya banyak sekali mahasiswi baru yang baru memulai kuliahnya di kota ini,

    salah satu nya sebut saja “mita”, anaknya manis dan ramah sekali, ane tertarik banget sama anak satu ini, setelah ane perhatiin lebih teliti lagi ternyata doi memiliki senyum yang sumringah sekali, jadi sewaktu doi tersenyum doi keliatan makin manis aja, satuhal yang bikin pikiran kotor ane muncul adalah sewaktu pandangan mata ane jatuh ke bokong si doi,

    bokong model begini ini yang bener-bener ane idamkan gede, masih ngangkat (g turun), dan masih kencang (sering bgt ane berfantasi pengen gaya doggy ama si doi), ukuran payudara si doi standar aja deh, maklumlah umurnya saat itu baru 18 tahun (ABG mode on)hehe….

    Selanjutnya berkenalan lah ane dengan si di dengan pura-pura meminjam salah satu bukunya, dengan alesan mau ada yang di foto copy buat belajar ujian, ane pinjem deh buku si doi, sekalian ngobrol-ngobrol santai, akhirnya ane memberanikan diri untuk meminta no hp si doi, nih no hpnya masih ane simpen—>

    085*2******3 (yang tanda binta isi sendiri yah kali aja ente eruntung, hehe), lalu keesokan harinya ane sms-sms an sama doi lalu berjanji untuk main ke kos doi, mulailah kedekatan kami terjalin dan doi juga sudah merasa nyaman jalan dan ngobrol bareng ane, biasalah jalan , makan, ngobrol dan lain-lain untuk PDKT…..

    kira-kira kurang lebih dua minggu setelah perkenalan kami, akhirnya ane memberanikan diri untuk mengajak doi jalan-jalan ke suatu kawasan tinggi dan sejuk di kota ini…ane emang sengaja ambil start agak maleman, biar ada alesan untuk gak nganter doi pulang ke kosnya (soalnya kos doi tutup jam 10 malem dan doi gak pny konci pagarnya),

    ane jemput doi jam 21.00 di kosnya, malem itu doi keliatan cantik banget, dandanannya modis bgt, baunya harum (ane jadi ngebayangin mekinya wangi nih pastinya), akhirnya meluncurlah kami berdua kekawasan dingin nan sejuk tersebut, doi memluk tubuh ane dengan kencang…(Payudara doi tersa banget nempel dan nyenggol di punggung ane), konti ane jadi senut-senut deh, jadi berfantasi ria deh….kira-kira 30 menit sampailah kami di daerah yang dituju, cari cafe kecil, lalu pesen susu anget ama jagung bakar….15 menit hidanga dah tersedia.

    lalu kami menikmati makanan sambil ngobrol-ngobrol santai….
    kira-kira jam 22.30 mulai lah tahap perayuan dimulai, ane bilang bahwa ane suka sama dia dan mau jadi pacarnya dia, dan ternyata cinta ane diterima, karena alesan hari suda malem dan gak mungkin pulang karena udah jam segini, ane ray doi agar mau nginep aja di hotel, entar ane bobo di sofa dan doi bobo dikasur (Dasar otak PK, hehehe),

    akhirnya kami check in di salah satu hotel di kawasan tersebut, proses pembayaran ane yang ngurus, minuman dan makanan ringan dianter, terus ane kunci deh tu pintu kamar, sambil ngidupin TV dan Nyetel VCD, kita nonton film sebentar terus bersih-bersih badan di kamar mandi, terus siap-siap buat bobo….

    sekitar jam 23.30 doi bilang gak bisa bobo, doi pengen pulang aja takut katanya….ane bilang aja gak papa koq, besok pagi-pagi kita pulang (hehehe), dedek ane semakin senut-senut aja deh ngeliatin bokong doi yang memang impian ane bgt, pengen deh ngerasain mekinya dengan gaya doggy sambil memperhatikan bokongnya…..hehehe

    sekitar jam 00.00 ane gak kuat lagi nahan nafsu ane dan akhirnya ane naik keranjang dan langsung aja ane lumat bibirnya, dan doi juga membalas ciuman ane dengan ciuman juga, wah makin senut-senut deh konti ane, kami berciuman lama sekali, doi bilang doi baru kali ini dicium ama cowo dan doi seneng bgt ngerasain ciuman pertamanya ini, kata doi ciuman tu bikin hati tenang,,,sambil berciuman tangan ane mulai bergrilya di payudara si doi walaupun doi masih pake baju,

    ane remas-remas dan doi kaget, dan sedikit berontak, tapi karena nafsu ane dah gede bgt, maka tenaga ane ane tambah biar ane tetep bisa meremas tuh payudara, akhirnya ane buka paksa juga deh tu baju, dan menyembullah dua daging kenyal di balik BH si doa dan karena gak sabar ane langsung pelorotin aja deh tuh paydara,

    dan sekarang bener-bener nih toked tanpa benag pun, kencang dan bundar bentuknya, ane pandangin beberapa saat melihat keindahn bentuknya, lalu ane jperes dan jilatin seta isep tu payudara pelan dan lama sekali ane emut tuh puting, doi memang berontak tapi semua tenaga doi kalah ama tenaga ane, dan doi cuma bisa takut dan diem aja,ane terusin aja jilatin tuh toked sambil terus meremas-remasnya….

    diteruskan dengan membuka celana jeansnya, doi memberontak bgt saat mau di buka celana jeanyya, katanya takut, bener-bener taku….ane paksa aja dan ane plorotin tuh celana dan ane lempar ke lantai, cd doi jg ane lepas bersamman dengan lepasnya jeans doi, hahahahaha puas bgt deh, ternyata meki doi jembinga gak dicukur yah..belum pernah dijamah oleh siapaun nih, mekinya juga masih tertutup sekali…..
    perlahan-lahan ane posisikan mulut ane didepan lubang kehangatan tersebut dan memulai menjilati mekinya…..si doi memegang kepala ane dan mengangkat kepala ane dan bilang jangan mas…mita takut,,,,mita bener-bener takut mas…jangan…plissssmita mohon jangan mas lakuin ini ke mita yah…..

    (emang ane pikirin ane tarik kepala ane dan mulai menjilatin meki doi, doui cuma diem aja tetapi kaki doi naik turun dan keluarlah cairan lengket dari meki si doi….meki doi rapet dan wangi banget bro…tembem lagi tebel gitu…hehehehe….beberapa lama ane jilatin tuh meki akhirnya nafsu untuk merasakan tuh lobang dah gak tertahan lagi….

    akhirnya ane buka baju dan jeans ane sekarang dan konti ane memang udah bener-bener keras, ane kasih pelumas deh dg air ludah di konti ane dan kepala konti ane ane arahin di depan lubang yang hangat ini, perlahan-lahan ane masukin tuh konti, pertama kepalanya aja, lalu ane cabut lagi, ane masukin lagi kepalanya lalu ane cabut lagi, doi bilang jangan mas,,,,jangan,,,sakit,,,,mas…sakit….meki doi sumpah rapet bgt, susah masukinnya….hehehe

    ane terusin aja, dan akhirnya setengah dari konti ane masuk kedalamlubang tersebut, dan dengan suatu kejutan ane kejutin dg memasukan batang konyi ane semuanya secara tiba-tiba dan mita menjerit keras dan mengis……his…hiks…..ane yakin tetangga kamar sebelah pasti pada tahu8 semua….wkwkwkwk…….anhe cabut dan ane masukin lagi sampe ambleessss…..terus menerus tapi tetep dg kecepatan pelan tapi seluruh konti ane ambless…..

    pada saat ane cabut ane pegang konti ane dan ada bau anyir yang menempel di konti ane dan ternyata berwarna merah, ane cabut semua dan ane ngeliat meki doi berdarah dan sebagian darahnya nempel di konti ane, doi nagis …..tapi doi angis sambil bugil sih, sedangkan konti ane masih tegang dan senut-senut, akhirnya ane peluk doi dan ane masukin lagi konti ane ke mekinya, ane gerakin maju mjundur dan posisi yang kami lakukan hanya MOT aja,

    maklum doi dan ane blm pengalaman, sekitar 15 menit ane goyang meki doi, akhirnya konti ane rasanya ada yang mau muncrat, ane cabut dan ane muncratin di tubuh doi,,,,,ooookkhhhh……oookkhh……enak bgt rasanya keluar lahar panas dari konti ane…ane muncratin semua deh…doi tetep diem dan nangis….
    terus ane peluk doi dan ane bawa ke kamar mandi, ane bersihkan semua badan doi dngan lembut dan perlahan, lalu ane jg bersih-bersih badan, dan ane pakein doi bajunya lagi, dan ane jg pake baju lagi, terus ane peluk mesra doi dan kami cerita-cerita sebentar, lalu ane peluk doi dan akhirnya kami tertidur….
    pagi-pagi kami pulang……
    keesokan harinya, hal ini sering bgt kami lauin, hampir setiap hari kami ML, pokoknya gak ada hari tanpa ML….

  • Cerita Ngentot Mahasiswi Yang Seksi – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Ngentot Mahasiswi Yang Seksi – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1549 views

    Perawanku – Wаnitа bеrnаmа Prily, iа аdаlаh mаhаѕiѕwi di salah satu Univеrѕitаs swasta terkemuka di Jakarta. Sеmuа kеjаdiаn ini, tеrjаdi ѕесаrа tidаk tеrdugа dаn tidаk dirеnсаkаn. Sааt ini аku bеrumur 25 tаhun, kuliаh dаn ѕаmbil kеrjа di bidаng biѕniѕ рrоduk kоѕmеtik.

    Aku рunуа kеunikаn уаng tеrtаrik jikа mеlihаt mаhаѕiѕwi. Rаѕаnуа ingin bеrmаin bеrсintа dеngаnnуа, kаrеnа mеnurut аku mаhаѕiѕwi itu аdаlаh mаѕа-mаѕа ѕubur untuk di nikmаti. Di dаlаm kеhiduраn рribаdiku, tidаk bаnуаk wаnitа уg ѕinggаh dаlаm hаtiku. mungkin di kаrеnаkаn kаrаktеrku уаng реmаlu. Atаu mungkin аjа kаrеnа lingkungаn dimаnа аku dibеѕаrkаn di gоlоngаn уаng bаik. Agen Judi Togel

    Pеrtеmuаn аku dеngаn wаnitа kеdоtеrаn tеrѕеbut di ѕаlаh ѕаtu асаrа mаhаѕiѕwа уаng diikuti bаnуаk kаmрuѕ. Nаmаnуа Prily, ѕikар аku biаѕа аjа kаrеnа mеnurutku diа tidаk bеgitu аnggun. tеtарi рunуа kеlеbihаn bоdуnуа ѕuреr ѕеkѕi dаn mоntоk.

    Kаlаu di рikir-рikir еnаk lаh untuk роѕiѕi арарun wаnitа уаng ѕереrti ini kаlаu di аjаk mаin. bеrbоdi lаngѕing dаn rаmbut раnjаng аdаlаh tiреku. аku dаn diа di kеnаlkаn оlеh bеbеrара tеmаnku ѕааt mаkаn ѕiаng.

    “Prily…” kаtаnуа ѕаmbil mеngulurkаn tаngаn

    “Randy…” kuѕаmbut tаngаnnуа уаng lеmbut. аkhirnуа аku tаu jugа nаmаnуа. рikirku dаlаm hаti.

    Dаri оbrоlаn mаkаn ѕiаng itu аku ѕеdikit tаu lаtаr bеlаkаng kеhiduраnnуа, iа bеrаѕа dаri dаеrаh Jawa Tengah mеmрunуаi сiri khаѕ dаеrаh Jawa. jаdi kаlаu diа bеrbiсаrа terdengar dari logatnya yang masih terdengar medog.

    Satu mаlаm ѕаjа асаrа tеrѕеbut bеrlаngѕung, tidаk bаnуаk аku bеrkоmunikаѕi dеngаnnуа. hаnуа ѕеkаli-kаli аku hаnуа mеnсuri раndаng mеlihаt tubuhnуа уаng lаngѕing. Pеrnаh ѕааt аku tаtарi diа, mаlаh mаtа kаmi ѕаling bеrtеmu dаn ѕаling buаng mukа. luсu ѕеkаli kаlаu mеngingаt hаl kоnуоl tеrѕеbut.

    Di аkhir аkhir асаrа аku mеnуеmраtkаn untuk mеndеkаtinуа mеmintа nо hр dаn bbmnуа lаngѕung. Kеlihаtаn dаri rеаkѕinуа, tidаk аdа kаtа-kаtа реnоlаkаn dаn iа mеmbеrikаn nоmоr tеrѕеbut.

    Pulаnglаh kаmi mаlаm itu kе rumаh mаѕing-mаѕing. hinggа satu minggu аku tidаk реrnаh mеnghubunginуа ѕааt bеrhаѕil mеndараtkаn bbmnуа tеrѕеbut. Di аkhir реnghujung hаri ѕаbtu уаitu mаlаm minggu, аku mеndараtkаn tеlроn dаri diа.

    “Hаllо… ” tеrdеngаn ѕuаrаnуа Prily уаng medok.

    “Hаllо jugа ” ѕаhutku

    “Aра kаbаr Randy, ѕibuk уа ? uсарnуа

    “Tidаk kоk, lаgi ѕаntаi аjа nih mаlаm minggu ini ” bаlаѕku

    Singkаt сеritа аku diаjаknуа jаlаn-jаlаn di mаlаm minggu itu, tеtарi аku mеndаtаngi dаhulu tеmраt kоѕtаnnуа di dаеrаh jаkаrtа jugа. Sеtеlаh ѕаmраi di kоѕtаnnуа, bеnаr dugааnku kаmаrnуа rарi ѕеkаli mаklum wаtеk dаri сеwеk itu ѕеring bеrѕih dаn rарi.

    Dеngаn bеrjаlаnnуа wаktu hubungаn kаmi ѕеmаkin аkrаb. mеmаng tidаk аdа hаdiаh аtаu ѕurрiѕе mаlаm itu. hinggа kаmi bеrduа ѕераkаt bеrрасаrаn kаrеnа tidаk biѕа mеmbоhоngi реrаѕааn mаѕing-mаѕing. Hаnуа ѕаjа аku ѕеring mеmbауаngkаn bеrсintа dеngаn tubuhnуа уаng ѕеring mеnеmаni khауаlаnku ѕеbеlum tidur.

    Kаmi ѕераkаt расаrаn mаlаm itu, dаn kаmi mеlаnjuti аktifiаѕ mеnоntоn kаѕеt biоѕkор ѕаjа. Awаl mulа kаmi расаrаn ѕаngаt mеѕrа, bауаngin ѕаjа bаgi раrа реmbаса. Nоntоn kаѕеt biоѕkор ѕаmbil tidurаn di ѕаmрingnуа, mukаnуарun ѕеring ѕеkаli mеnаtар wаjаhku. kаrеnа bеlum реngаlаmаn аku ngаk tаu kаlаu itu kоdе dаri diа ingin di сium.

    Dеngаn rаѕа dеg-dеgаn аku mеnсоbа mеnguѕар-uѕар rаmbutnуа dаhulu dаn mеlаnjutkаn nоntоn kаѕеt. Tаk lаmа kеmudiаn iа mеnаtар wаjаhku lаgi, аku mеmbеrаnikаn diri untuk mеngесuр bibirnуа ѕеkаli.

    “Cuррр.. Cuрррр.. Cuрр… ” ѕuаrа сiumаn kаmi

    Sеtеlаh mеnсiuminуа diа bеrаkѕi mеmbаlаѕ ѕеrаngаn сiumаnku. аku jаdi gеmеtаѕаn реngеn реgаng tokednуа. Kаrеnа kаmi аѕik сiроkаn, аkuрun ngаk mаu mаlаh mеmbеrаnikаn diri mеmеgаng tоkеdnуа.

    “Hhhmmmm… Sѕѕѕhh… ” nаdаnуа уаng mеnggеmаѕkаn.

    Dаlаm hаti bеrkаtа аku bаru реrtаmа kаmi расаrаn dеngаn mаhаѕiѕwi dоktеr ѕереrti ini. dаn ѕереrtinуа аku bеrhаѕil mеmbuаt diа mаbuk kерауаng. Dеngаn роѕiѕi miring dаn реgаng tоkеd, аku mаѕih lеluаѕа mеngrауарi tubuhnуа.

    Kеtikа реgаng tоkеdnуа, аlаmаkkk… ! uсарku dаlаm hаti tеrnуаtа tоkеdnуа mаѕih kеnсаng dаn kеnуаl. Tаnра bа bi bu bе bо mеnunggu wаktu lаmа, аku lераѕkаn сiumаn kаmi dаn lаngѕung bеrаlih kе bаgiаn рutingnуа.

    “Ouuuhhhhh…. Aаааааhhh… ” lаgi-lаgi dеѕаhnуа уаng mеrdu tеrdеngаr di tеlingаku

    Sеkitаr 5 mеnitаn rеmаѕаn dаn сiроkаn itu bеrlаngѕung. Kауаknуа diа ѕudаh tеrреngаruhi оlеh ѕуаhwаt birаhi hinggа diа ѕеndiri уаng mеmbukа iѕi сеlаnа dаlаmnуа. Dараt rеzеki nоmрlоk, ngараin di tоlаk ” рikirku dаlаm hаti уаng tidаk mеngkоmеntаri tindаkаnnуа.

    Yg bikin hоrnуа lаgi, аku bеrhаѕil mеrоbеk iѕi dаlаm vаginаnуа dеngаn jаri-jаriku. Aраlаgi ѕааt аku mеmреrmаinkаn bаgiаn klitоriѕnуа.

    “Ahhh… Ahh… ” diа ѕереrti mеlауаng. Pаkаiаn kаmi рun ѕаtu реr ѕаtu ѕudаh tеrlераѕ ѕеmuа. kеbеtulаn wаnitа ini gаnаѕ jugа dеngаn tubuhku, hinggа diа lаngѕung mеnаrik tubuhku untuk mеnindihkаn tubuhnуа.

    “Aуо lаh jаgоаnku, tеmаni аku mаlаm minggu ini donk ” uсарnуа mеrауuku.

    Akuрun hаnуа tеrѕеnуum mаniѕ mеlihаt аkѕinуа уаng bringаѕ. Kаmi ѕереrti bеrlоmbа untuk ѕаling mеmuаѕkаn hаѕrаt. Mulаi уuk ѕауаng ” kоmеntаrinуа lаgi. Wаlаu роѕiѕinуа di bаwаh bаdаnku tарi diа gаk mаu bеrdiаm diri ѕаjа. iа mеnjilаti tubuhku dаn mеrаbа-rаbа jugа ѕеluruh tubuhku.

    Lаngѕung ѕаjа аku tаnсар gаѕ mаlаm itu, dеngаn lаngѕung mеngаrаhkаn реniѕku kе vаginаnуа. Tеrutаmа аku оlеѕ-оlеѕ dаhulu, di ѕеkеliling bibir vаginаnуа аgаr diа tеrаngѕаng. Sааt аku оlеѕ-оlеhkаn, tubuhnуарun mеnggеlinjаng kееnаkаn.

    “Aуо dong Randy сераtаn mаѕukin Iihhh.. ” рintаnуа

    Agаk ѕеmрit еmаng mеmеknуа kеtikа аku ѕоdоk, mеѕkiрun ѕudаh tidаk реrаwаn mеmеknуа mаѕing lеngkеt. Aku mаѕukin lаgi реrlаhаn-lаhаn.

    “HHmmmm… ” dеѕirnуа уаng lеmbut ѕаmbil mеmеjаmkаn mаtа.

    Sеtеlаh ѕudаh mаѕuk ѕеmuа bаtаng реniѕku, mulаi аku gоуаngkаn dеngаn реlаn-реlаn lаgi аgаr mеmеknуа mеlеbаr ѕеhinggа tеrbiаѕа dеngаn gоуаngаn рinggulku. Tеrkаdаng jugа аku mеmреrсераt gоуаngаnnуа, аku ѕеѕi реrmаinаn реrсintааn kаmi сераt ѕеlеѕаi. Aku jugа khаwаtir, kаlаu ѕеdаng bеrсintа di kеtаhui оlеh tеtаnggа kоѕt уаng di ѕеbеlаh.

    Sеtеlаh рuаѕ dеngаn gауа аku di аtаѕ, аku mеnуuruhnуа nungging уg bеrubаh mеnjаdi роѕiѕi dоggу ѕtуlе. Pоѕiѕi ini lеbih lеngkеt lаgi, kаrеnа mеmеknуа mеrараt bеrkаt раntаtnуа уаng tеbаl.

    “Aааhhh… Ahhh… Tеruѕѕ Randy” uсарnуа mеmаnggil nаmаku ѕingkаt.

    Dеѕаhаnnуа уаng ѕереrti itu juѕtru mеmbuаt ku ѕеmаkin bеrnаfѕu, ku gеnjоt tеruѕ dаri bеlаkng dеngаn kесаng dаn tеrаrаh. Sеmаkin kеnсаng gеnjоtаn, ѕеmаkin сераt jugа kаmi di ujung оrgаѕmе. ini ѕudаh mеnjаdi kоdе аlаm bеrhubungаn intim.Sungguh nikmаt ѕеkаli mеmеknуа уаng mаѕih lеngkеt itu , hinggа аku mеnсараi di ujung реrjаlаnаn.

    “Kеluаrin dimаnа nih Prily.. ” uсарku

    “Kеluаrin di luаr аjа Ran” ѕаhutnуа

    Crrооооt… Crооооt… Crооооtt… ” lеndirnуа munсаt di bаgiаn раntаt dаn аku mеngеluаrkаn ѕuаrа

    ”аааhhhhhh..Hmmmmm… ” Aku mеnjаdi lеmаѕ dаn tеrjаtuh уаng lаngѕung mеnindih tubuhnуа.

    Akhir сеritа seks ini berujung kаmi bеrduа jаdiаn dеngаn wаktu уаng ѕаngаt ѕingkаt, tеrkаdаng jugа kаmi ѕеring mеlаkukаn hubungаn ѕеkѕuаl di hоtеl-hоtеl kаlаu di kоѕtаn ѕеdаng bаnуаk tеtаnggа уаng bеlum tidur.

  • Cerita Sex Ngentot Kakak Kandung

    Cerita Sex Ngentot Kakak Kandung


    1549 views

    Perawanku – Cerita Sex Ngentot Kakak Kandung, Bu Tiara dia adalah atasanku yg masih baru, dia menjabat sebagai acounting manager baru 3 minggu, biasanya aku sering dipanggil ke ruangannya untuk menjelaskan budget yg terjadi pada bulan kemarin. Umurnya kutaksir sekitar 27 tahunan. Sebagai atasan, sebelumnya kupanggil “Bu”, walau umurku sendiri 5 tahun di atasnya.

    Tapi atas permintaanya sendiri, seminggu yg lalu, ia mengatakan lebih suka jika di panggil “Mbak”. Sejak waktu itu mulai terbina suasana serta hubungan kerja yg hangat, tak terlalu formal. Terutama sebab sikapnya yg ramah. Ia sering langsung menyebut namaku, sesekali jika sesertag bersama teman kerja lainnya, ia menyebut “Pak”.

    Serta tanpa kusadari pula, diam-diam aku merasa betah serta nyaman jika memansertag wajahnya yg cantik serta lembut menawan. Ia memang menawan sebab sepasang bola matanya sewaktu-waktu bisa bernar-binar, atau menatap dgn tajam. Tapi di balik itu semua, ternyata ia suka mendikte.

    Mungkin telah menduduki jabatan yg cukup tinggi dalem umur yg relatif muda, kepercayaan dirinya pun cukup tinggi untuk menyuruh seseorang melaksanakan apa yg diinginkannya. Bu Tiara selalu berpakaian formal. Ia selalu mengenakan blouse serta rok hitam yg agak menggantung sedikit di atas lutut.

    Jika sesertag berada di ruang kerjanya, diam-diam aku pun sering memansertag lekukan pinggulnya ketika ia bangkit mengambil file dari rak folder di belakangnya. Walau bagian bawah roknya lebar, tetapi aku bisa melihat pinggul yg samar-samar tercetak dari baliknya. Sangat menarik, tak besar tetapi jelas bentuknya membongkah, memaksa mata lelaki menerawang untuk mereka-reka keindahannya.

    Di dalem ruang kerjanya yg besar, persis di samping meja kerjanya, terbisa seperangkat sofa yg sering dipergunakannya menerima tamu-tamu perusahaan. Sebagai Accounting Manager, tentu selalu ada pembicaraan-pembicaraan ‘privacy’ yg lebih nyaman dilakukan di ruang kerjanya daripada di ruang rapat.

    Aku merasa beruntung jika dipanggil Bu Tiara untuk membahas cash flow keuangan di kursi sofa itu. Aku selalu duduk persis di depannya. Serta jika kami terlibat dalem pembicaraan yg cukup serius, ia tak menyadari roknya yg agak tersingkap. Di situlah keberuntunganku. Aku bisa melirik sebagian kulit paha yg berwarna gading. Kasertag-kasertag lututnya agak sedikit terbuka sehingga aku berusaha untuk mengintip ujung pahanya.

    Tapi mataku selalu terbentur dalem kegelapan. Andai saja roknya tersingkap lebih tinggi serta kedua lututnya lebih terbuka, tentu akan bisa kupastikan apakah rambut-rambut halus yg tumbuh di lengannya juga tumbuh di sepanjang paha hingga ke pangkalnya. Jika kedua lututnya rapat kembali, lirikanku berpindah ke betisnya. Betis yg indah serta bersih. Terawat.

    Ketika aku terlena menatap kakinya, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertanyaan Bu Tiara..
    “Thomas, aku merasa bahwa kamu sering melirik ke arah betisku. Apakah dugaanku salah?” Aku terdiam sejenak sambil tersenyum untuk menyembunyikan jantungku yg tiba-tiba berdebar.

    “Thomas, salahkah dugaanku?”
    “Hmm.., ya, benar Mbak,” jawabku mengaku, jujur. Bu Tiara tersenyum sambil menatap mataku.
    “Mengapa?” Aku membisu. Terasa sangat berat menjawab pertanyaan sederhana itu. Tapi ketika menengadah menatap wajahnya, kulihat bola matanya berbinar-binar menunggu jawabanku.

    “Aku suka kaki Mbak. Suka betis Mbak. Indah. Serta..,” setelah menarik nafas panjang, kukatakan alasan sebenarnya.

    “Aku juga sering menduga-duga, apakah kaki Mbak juga ditumbuhi rambut-rambut.”

    “Persis seperti yg kuduga, kamu pasti berkata jujur, apa adanya,” kata Mbak Tiara sambil sedikit mendorong kursi rodanya.

    “Agar kamu tak penasaran menduga-duga, bagaimana kalo kuberi kesempatan memeriksanya sendiri?”

    “Sebuah kehormatan besar untukku,” jawabku sambil membungkukan kepala, sengaja sedikit bercanda untuk mencairkan pembicaraan yg kaku itu.

    “Kompensasinya apa?”

    “Sebagai rasa hormat serta tanda terima kasih, akan kuberikan sebuah ciuman.”

    “Bagus, aku suka. Bagian mana yg akan kamu cium?”

    “Betis yg indah itu!” “Hanya sebuah ciuman?” “Seribu kali pun aku bersedia.”

    Mbak Tiara tersenyum manis ditahan. Ia berusaha manahan tawanya.
    “Serta aku yg menentukan di bagian mana saja yg harus kamu cium, OK?”
    “Deal, my lady!”
    “I like it!” kata Bu Tiara sambil bangkit dari sofa.

    Ia melangkah ke mejanya lalu menarik kursinya hingga ke luar dari kolong mejanya yg besar. Setelah menghempaskan pinggulnya di atas kursi kursi kerjanya yg besar serta empuk itu, Bu Tiara tersenyum.

    Matanya berbinar-binar seolah menaburkan sejuta pesona birahi. Pesona yg membutuhkan sanjungan serta pujaan.
    “Periksalah, Thomas. Berlutut di depanku!” Aku membisu. Terpana mendengar perintahnya. “Kamu tak ingin memeriksanya, Thomas?” tanya Bu Tiara sambil sedikit merenggangkan kedua lututnya.

    Sejenak, aku berusaha meredakan debar-debar jantungku. Aku belum pernah diperintah seperti itu. Apalagi diperintah untuk berlutut oleh seorang wanita. Bibir Bu Tiara masih tetap tersenyum ketika ia lebih merenggangkan kedua lututnya.
    “Thomas, kamu tahu warna apa yg tersembunyi di pangkal pahaku?” Aku menggeleng lemah, seolah ada kekuatan yg tiba-tiba merampas sendi-sendi di sekujur tubuhku.

    Tatapanku terpaku ke dalem keremangan di antara celah lutut Bu Tiara yg meregang. Akhirnya aku bangkit menghampirinya, serta berlutut di depannya. Sebelah lututku menyentuh karpet. Wajahku menengadah. Mbak Tiara masih tersenyum. Telapak tangannya mengusap pipiku beberapa kali, lalu berpindah ke rambutku, serta sedikit menekan kepalaku agar menunduk ke arah kakinya.

    “Ingin tahu warnanya?” Aku mengangguk tak berdaya. “Kunci dulu pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu ruang kerjanya. Serta dgn patuh aku melaksanakan perintahnya, kemudian berlutut kembali di depannya. Bu Tiara menopangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Gerakannya lambat seperti bermalas-malasan. Pada waktu itulah aku menbisa kesempatan memansertag hingga ke pangkal pahanya.

    Kali ini tatapanku terbentur pada secarik kain tipis berwarna putih. Pasti ia memakai G-String, kataku dalem hati. Sebelum paha kanannya benar-benar tertopang di atas paha kirinya, aku masih sempat melihat rambut-rambut ikal yg menyembul dari sisi-sisi celana dalemnya. Segitiga tipis yg hanya selebar kira-kira dua jari itu terlalu kecil untuk menyembunyikan semua rambut yg mengitari pangkal pahanya. Bahkan sempat kulirik baygan lipatan bibir di balik segitiga tipis itu.

    “Suka?” Aku mengangguk sambil mengangkat kaki kiri Bu Tiara ke atas lututku. Ujung hak sepatunya terasa agak menusuk. Kulepaskan klip tali sepatunya. Lalu aku menengadah. Sambil melepaskan sepatu itu. Mbak Tiara mengangguk. Tak ada komentar penolakan. Aku menunduk kembali. Mengelus-elus pergelangan kakinya.

    Kakinya mulus tanpa cacat. Ternyata betisnya yg berwarna gading itu mulus tanpa rambut halus. Tapi di bagian atas lutut kulihat sedikit ditumbuhi rambut-rambut halus yg agak kehitaman. Sangat kontras dgn warna kulitnya.

    Aku terpana. Mungkinkah mulai dari atas lutut hingga.., hingga.. Aah, aku menghembuskan nafas. Rongga dadaku mulai terasa sesak. Wajahku sangat dekat dgn lututnya. Hembusan nafasku ternyata membuat rambut-rambut itu meremang.
    “Indah sekali,” kataku sambil mengelus-elus betisnya. Kenyal.
    “Suka, Thomas?” Aku mengangguk.
    “Tunjukkan bahwa kamu suka. Tunjukkan bahwa betisku indah!”

    Aku mengangkat kaki Bu Tiara dari lututku. Sambil tetap mengelus betisnya, kuluruskan kaki yg menekuk itu. Aku sedikit membungkuk agar bisa mengecup pergelangan kakinya. Pada kecupan yg kedua, aku menjulurkan lidah agar bisa mengecup sambil menjilat, mencicipi kaki indah itu. Akibat kecupanku, Bu Tiara menurunkan paha kanan dari paha kirinya.

    Serta tak sengaja, kembali mataku terpesona melihat bagian dalem kanannya. Sebab ingin melihat lebih jelas, kugigit bagian bawah roknya lalu menggerakkan kepalaku ke arah perutnya. Ketika melepaskan gigitanku, kudengar tawa tertahan, lalu ujung jari-jari tangan Bu Tiara mengangkat daguku. Aku menengadah.
    “Kurang jelas, Thomas?” Aku mengangguk.

    Bu Tiara tersenyum nakal sambil mengusap-usap rambutku. Lalu telapak tangannya menekan bagian belakang kepalaku sehingga aku menunduk kembali. Di depan mataku kini terpampang keindahan pahanya. Tak pernah aku melihat paha semulus serta seindah itu. Bagian atas pahanya ditumbuhi rambut-rambut halus kehitaman. Bagian dalemnya juga ditumbuhi tetapi tak selebat bagian atasnya, serta warna kehitaman itu agak memudar. Sangat kontras dgn pahanya yg berwarna gading.

    Aku merinding. Sebab ingin melihat paha itu lebih utuh, kuangkat kaki kanannya lebih tinggi lagi sambil mengecup bagian dalem lututnya. Serta paha itu semakin jelas. Menawan. Di paha bagian belakang mulus tanpa rambut. Sebab gemas, kukecup berulang kali. Kecupan-kecupanku semakin lama semakin tinggi. Serta ketika hanya berjarak kira-kira selebar telapak tangan dari pangkal pahanya, kecupan-kecupanku berubah menjadi ciuman yg panas serta basah.

    Sekarang hidungku sangat dekat dgn segitiga yg menutupi pangkal pahanya. Sebab sangat dekat, walau tersembunyi, dgn jelas bisa kulihat baygan bibir kewanitaannya. Ada segaris kebasahan terselip membayg di bagian tengah segitiga itu. Kebasahan yg dikelilingi rambut-rambut ikal yg menyelip dari kiri kanan G-stringnya. Sambil menatap pesona di depan mataku, aku menarik nafas dalem-dalem. Tercium aroma segar yg membuatku menjadi semakin tak berdaya.

    Aroma yg memaksaku terperangkap di antara kedua belah paha Bu Tiara. Ingin kusergap aroma itu serta menjilat kemulusannya. Bu Tiara menghempaskan kepalanya ke sandaran kursi. Menarik nafas berulang kali. Sambil mengusap-usap rambutku, diangkatnya kaki kanannya sehingga roknya semakin tersingkap hingga tertahan di atas pangkal paha.

    “Suka Thomas?”
    “Hmm.. Hmm..!” jawabku bergumam sambil memindahkan ciuman ke betis serta lutut kirinya. Lalu kuraih pergelangan kaki kanannya, serta meletakkan telapaknya di pundakku. Kucium lipatan di belakang lututnya.

    Bu Tiara menggelinjang sambil menarik rambutku dgn manja. Lalu ketika ciuman-ciumanku merambat ke paha bagian dalem serta semakin lama semakin mendekati pangkal pahanya, terasa tarikan di rambutku semakin keras. Serta ketika bibirku mulai mengulum rambut-rambut ikal yg menyembul dari balik G-stringnya, tiba-tiba Bu Tiara mendorong kepalaku.

    Aku tertegun. Menengadah. Kami saling menatap. Tak lama kemudian, sambil tersenyum menggoda, Bu Tiara menarik telapak kakinya dari pundakku. Ia lalu menekuk serta meletakkan telapak kaki kanannya di permukaan kursi. Pose yg sangat memabukkan. Sebelah kaki menekuk serta terbuka lebar di atas kursi, serta yg sebelah lagi menjuntai ke karpet.
    “Suka Thomas?”.
    “Hmm.. Hmm..!”.
    “Jawab!”.
    “Suka sekali!”

    Cerita Sex Ngentot Kakak Kandung

    Cerita Sex Ngentot Kakak Kandung

    Pemandangan itu tak lama. Tiba-tiba saja Mbak Tiara merapatkan kedua pahanya sambil menarik rambutku.
    “Nanti ada yg melihat baygan kita dari balik kaca. Masuk ke dalem, Thomas,” katanya sambil menunjuk kolong mejanya.
    Aku terkesima. Mbak Tiara merenggut bagian belakang kepalaku, serta menariknya perlahan. Aku tak berdaya. Tarikan perlahan itu tak mampu kutolak. Lalu Bu Tiara tiba-tiba membuka ke dua pahanya serta mendaratkan mulut serta hidungku di pangkal paha itu.

    Kebasahan yg terselip di antara kedua bibir kewanitaan terlihat semakin jelas. Semakin basah. Serta di situlah hidungku mendarat. Aku menarik nafas untuk menghirup aroma yg sangat menyegarkan. Aroma yg sedikit seperti daun pandan tetapi mampu membius saraf-saraf di rongga kepala. “Suka Thomas?”. “Hmm.. Hmm..!” “Sekarang masuk ke dalem!” ulangnya sambil menunjuk kolong mejanya.

    Aku merangkak ke kolong mejanya. Aku sudah tak bisa berpikir waras. Tak peduli dgn segala kegilaan yg sesertag terjadi. Tak peduli dgn etika, dgn norma-norma bercinta, dgn sakral dalem percintaan.

    Aku hanya peduli dgn kedua belah paha mulus yg akan menjepit leherku, jari-jari tangan lentik yg akan menjambak rambutku, telapak tangan yg akan menekan bagian belakang kepalaku, aroma semerbak yg akan menerobos hidung serta memenuhi rongga dadaku, kelembutan serta kehangatan dua buah bibir kewanitaan yg menjepit lidahku, serta tetes-tetes birahi dari bibir kewanitaan yg harus kujilat berulang kali agar akhirnya dihadiahi segumpal lendir orgasme yg sudah sangat ingin kucucipi.

    Di kolong meja, Bu Tiara membuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Aku mengulurkan tangan untuk meraba celah basah di antara pahanya. Tapi ia menepis tanganku. “Hanya lidah, Thomas! OK?” Aku mengangguk. Serta dgn cepat membenamkan wajahku di G-string yg menutupi pangkal pahanya. Menggosok-gosokkan hidungku sambil menghirup aroma pandan itu sedalem-dalemnya. Bu Tiara terkejut sejenak, lalu ia tertawa manja sambil mengusap-usap rambutku. .

    “Rupanya kamu sudah tak sabar ya, Thomas?” katanya sambil melingkarkan pahanya di leherku.
    “Hm..!”
    “Haus?”
    “Hm!”
    “Jawab, Thomas!” katanya sambil menyelipkan tangannya untuk mengangkat daguku. Aku menengadah.
    “Haus!” jawabku singkat.

    Tangan Bu Tiara bergerak melepaskan tali G-string yg terikat di kiri serta kanan pinggulnya. Aku terpana menatap keindahan dua buah bibir berwarna merah yg basah mengkilap. Sepasang bibir yg di bagian atasnya dihiasi tonjolan daging pembungkus clit yg berwarna pink. Aku termangu menatap keindahan yg terpampang persis di depan mataku.

    “Jangan diam saja. Thomas!” kata Bu Tiara sambil menekan bagian belakang kepalaku.
    “Hirup aromanya!” sambungnya sambil menekan kepalaku sehingga hidungku terselip di antara bibir kewanitaannya. Pahanya menjepit leherku sehingga aku tak bisa bergerak. Bibirku terjepit serta tertekan di antara dubur serta bagian bawah kemaluannya.

    Sebab harus bernafas, aku tak mempunyai pilihan kecuali menghirup udara dari celah bibir kewanitaannya. Hanya sedikit udara yg bisa kuhirup, sesak tetapi menyenangkan. Aku menghunjamkan hidungku lebih dalem lagi. Bu Tiara terpekik. Pinggulnya diangkat serta digosok-gosokkannya hingga hidungku basah berlumuran tetes-tetes birahi yg mulai mengalir dari sumbernya.

    Aku mendengus. Bu Tiara menggelinjang serta kembali mengangkat pinggulnya. Kuhirup aroma kewanitaannya dalem-dalem, seolah kemaluannya adalah nafas kehidupannku.
    “Fantastis!” kata Bu Tiara sambil mendorong kepalaku dgn lembut. Aku menengadah. Ia tersenyum menatap hidungku yg telah licin serta basah.

    “Enak ‘kan?” sambungnya sambil membelai ujung hidungku.
    “Segar!” Bu Tiara tertawa kecil. “Kamu pandai memanjakanku, Thomas. Sekarang, kecup, jilat, serta hisap sepuas-puasmu. Tunjukkan bahwa kamu memuja ini,” katanya sambil menyibakkan rambut-rambut ikal yg sebagian menutupi bibir kewanitaannya.

    “Jilat serta hisap dgn rakus. Tunjukkan bahwa kamu memujanya. Tunjukkan rasa hausmu! Jangan ada setetes pun yg tersisa! Tunjukkan dgn rakus seolah ini adalah kesempatan pertama serta yg terakhir bagimu!”

    Aku terpengaruh dgn kata-katanya. Aku tak peduli walaupun ada nada perintah di seTiarap kalimat yg diucapkannya. Aku memang merasa sangat lapar serta haus untuk mereguk kelembutan serta kehangatan kemaluannya. Kerongkonganku terasa panas serta kering. Aku merasa benar-benar haus serta ingin segera menbisakan segumpal lendir yg akan dihadiahkannya untuk membasahi kerongkongannku.

    Lalu bibir kewanitaannya kukulum serta kuhisap agar semua kebasahan yg melekat di situ mengalir ke kerongkonganku. Kedua bibir kewanitaannya kuhisap-hisap berganTiaran. Kepala Bu Tiara terkulai di sandaran kursinya. Kaki kanannya melingkar menjepit leherku. Telapak kaki kirinya menginjak bahuku.

    Pinggulnya terangkat serta terhempas di kursi berulang kali. Sesekali pinggul itu berputar mengejar lidahku yg bergerak amelr di dinding kewanitaannya. Ia merintih seTiarap kali lidahku menjilat clitnya. Nafasnya mengebu. Kasertag-kasertag ia memekik sambil menjambak rambutku.

    “Ooh, ooh, Thomas! Thomas!” Serta ketika clitnya kujepit di antara bibirku, lalu kuhisap serta permainkan dgn ujung lidahku, Bu Tiara merintih menyebut-nyebut namaku..
    “Thomasssss, nikmat sekali sayg.. Thomas! Ooh.. Thomas oooooooooooooooo!”

    Telapak kakinya menghentak-hentak di bahu serta kepalaku. Paha kanannya sudah tak melilit leherku. Kaki itu sekarang diangkat serta tertekuk di kursinya. Mengangkang. Telapaknya menginjak kursi. Sebagai gantinya, kedua tangan Bu Tiara menjambak rambutku. Menekan serta menggerak-gerakkan kepalaku sekehendak hatinya.
    “Thomas, julurkan lidahmuu! Hisap! Hisaap!”

    Aku menjulurkan lidah sedalem-dalemnya. Membenamkan wajahku di kemaluannya. Serta mulai kurasakan kedutan-kedutan di bibir kemaluannya, kedutan yg menghisap lidahku, mengunsertag agar masuk lebih dalem. Beberapa detik kemudian, lendir mulai terasa di ujung lidahku. Kuhisap seluruh kemaluannya. Aku tak ingin ada setetes pun yg terbuang.

    Inilah hadiah yg kutunggu-tunggu. Hadiah yg bisa menyejukkan kerongkonganku yg kering. Kedua bibirku kubenamkan sedalem-dalemnya agar bisa langsung menghisap dari bibir kemaluannya yg mungil.
    “Thomaso! Hisap Thomasoooooooooooo!”

    Aku tak tahu apakah rintihan Bu Tiara bisa terdengar dari luar ruang kerjanya. Seandainya rintihan itu terdengar pun, aku tak peduli. Aku hanya peduli dgn lendir yg bisa kuhisap serta kutelan. Lendir yg hanya segumpal kecil, hangat, kecut, yg mengalir membasahi kerongkonganku. Lendir yg langsung ditumpahkan dari kemaluan Bu Tiara, dari pinggul yg terangkat agar lidahku terhunjam dalem.
    “Oh, fantastisssssssssssssssss,” gumam Bu Tiara sambil menghenyakkan kembali pinggulnya ke atas kursinya.

    Ia menunduk serta mengusap-usap kedua belah pipiku. Tak lama kemudian, jari tangannya menengadahkan daguku. Sejenak aku berhenti menjilat-jilat sisa-sisa cairan di permukaan kewanitaannya.
    “Aku puas sekali, Thomas,” katanya. Kami saling menatap. Matanya berbinar-binar. Sayu. Ada kelembutan yg memancar dari bola matanya yg menatap sendu.

    “Thomas.”
    “Hm..”
    “Tatap mataku, Thomas.” Aku menatap bola matanya.
    “Jilat cairan yg tersisa sampai bersih”
    “Hm..” jawabku sambil mulai menjilati kemaluannya.
    “Jangan menunduk, Thomas. Jilat sambil menatap mataku. Aku ingin melihat erotisme di bola matamu ketika menjilat-jilat kemaluanku.”

    Aku menengadah untuk menatap matanya. Sambil melingkarkan kedua lenganku di pinggulnya, aku mulai menjilat serta menghisap kembali cairan lendir yg tersisa di lipatan-lipatan bibir kewanitaannya.
    “Kamu memujaku, Thomas?”
    “Ya, aku memuja betismu, pahamu, serta di atas segalanya, yg ini.., muuah!” jawabku sambil mencium kewanitaannya dgn mesra sepenuh hati. Bu Tiara tertawa manja sambil mengusap-usap rambutku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Desahan Guruku Yang Cantik – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Desahan Guruku Yang Cantik – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1547 views

    Perawanku – Disekolahku ada wanita yang cantik dengan tubuh indahnya dia berprofesi sebgai guru sejarah di SMA
    namanya Ibu Yeni umurnya mash muda 28 tahun dan dia bercerai dengan suaminya kalau di diskripsikan
    wajahnya seperti Yeyen Presenter Bola, dengan tinggi 170 cm buah dada kiranya berukuran 36 B, semua
    murid bahkan guru laki pun jika melihat dia berjalan rasanya ingin menggodanya. MarkasJudi

    Suatu hari Yeni terpaksa harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya, untuk ulangan susulan. Si
    Adi harus mengulang karena ia kedapatan menyontek di kelas. Adi juga terkenal karena kekekaran
    tubuhnya, maklum dia sudah sejak SD bergulat dengan olah raga beladiri, karenanya ia harus menjaga
    kebugaran tubuhnya.

    Bagi Yeni, kedatangan Adi ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Ia juga diam-diam naksir dengan
    anak itu. Karenanya ia bermaksud memberi anak itu ‘pelajaran’ tambahan di Minggu siang ini.

    “Sudah selesai Adi?”,

    Yeni masuk kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Adi selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal
    yang diberikannya.

    “Hampir bu”

    “Kalau sudah nanti masuk ke ruang tengah ya saya tinggal ke belakang..”

    “Iya..”

    “Bu Yeni, Saya sudah selesai”, Adi masuk ke ruang tengah sambil membawa pekerjaannya.

    “Ibu dimana?”

    “Ada di kamar.., Adi sebentar ya”, Yeni berusaha membetulkan t-shirtnya.

    Ia sengaja mencopot BH-nya untuk merangsang muridnya itu. Di balik kaus longgarnya itu bentuk
    payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul.

    Begitu ia keluar, mata Adi nyaris copot karena melotot, melihat tubuh gurunya. Yeni membiarkan rambut
    panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya saat ia tampil di muka murid-muridnya.

    “Kenapa ayo duduk dulu, Ibu periksa..”

    Muka Adi merah karena malu, karena Yeni tersenyum saat pandangannya terarah ke buah dadanya.

    “Bagus bagus…, Kamu bisa gitu kok pakai menyontek segala..?”

    “Maaf Bu, hari itu saya lupa untuk belajar..”

    “oo…, begitu to?”

    “Adi kamu mau menolong saya?”, Yeni merapatkan duduknya di karpet ke tubuh muridnya.

    “Apa Ibu?”, tubuh Adi bergetar ketika tangan gurunya itu merangkul dirinya, sementara tangan Yeni yang
    satu mengusap-uasap daerah ‘vital’ nya.

    “Tolong Ibu ya…, dan janji jangan bocorkan pada siapa–siapa”.

    “Tapi tapi…, Saya”.

    “Kenapa?, oo…, kamu masih perawan ya?”.Muka Adi langsung saja merah mendengar perkataan Yeni

    “Iya”

    “Nggak apa-apa”, Ibu bimbing ya.

    Yeni kemudian duduk di pangkuan Adi. Bibir keduanya kemudian saling berpagutan, Yeni yang agresif
    karena haus akan kehangatan dan Adi yang menurut saja ketika tubuh hangat gurunya menekan ke dadanya.

    Ia bisa merasakan puting susu Yeni yang mengeras. Lidah Yeni menjelajahi mulut Adi, mencari lidahnya
    untuk kemudian saling berpagutan bagai ular.

    Setelah puas, Yeni kemudian berdiri di depan muridnya yang masih melongo. Satu demi satu pakaiannya
    berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos seakan akan menantang untuk diberi kehangatan oleh perjaka
    yang juga muridnya ini.

    “Lepaskan pakaiannmu Adi”, Yeni berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya
    tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya.

    “Ahh cepat Adi”, Yeni mendesah tidak sabar.

    Adi kemudian berlutut di samping gurunya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pengetahuannya
    tentang seks hanya di dapatnya dari buku dan video saja.

    “Adi…, letakkan tanganmu di dada Ibu”,

    Dengan gemetar Adi meletakkan tangannya di dada Yeni yang turun naik. Tangannya kemudian dibimbing
    untuk meremas-remas payudara Yeni yang montok itu.

    “Oohh…, enakk…, begitu caranya…, remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang..”
    Dengan semangat Adi melakukan apa yang gurunya katakan.

    “Ibu…, Boleh saya hisap susu Ibu?”.

    Yeni tersenyum mendengar pertanyaan muridnya, yang berkata sambil menunduk,

    “Boleh…, lakukan apa yang kamu suka”.

    Tubuh Yeni menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulut pemuda itu di susunya. Perasaan yang ia
    pernah rasakan 3 tahun lalu saat ia masih bersama suaminya.

    “Oohh…, jilat terus sayang…, ohh”,

    Tangan Yeni mendekap erat kepala Adi ke payudaranya.

    Adi semakin buas menjilati puting susu gurunya tersebut, mulutnya tanpa ia sadari menimbulkan bunyi
    yang nyaring. Hisapan Adi makin keras, bahkan tanpa ia sadari ia gigit-gigit ringan puting gurunya
    tersebut.

    “mm…, nakal kamu”, Yeni tersenyum merasakan tingkah muridnya itu.

    “Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusar Ibu”.Adi menurut saja.

    Duduk diantara kaki Yeni yang membuka lebar. Yeni kemudian menyandarkan punggungya pada dinding di
    belakangnya.

    “Coba kamu rasakan”, ia membimbing telunjuk Adi memasuki vaginanya.

    “Hangat Bu..

    “Bisa kamu rasakan ada semacam pentil…?”

    “Iya..”

    “Itu yang dinamakan kelentit, itu adalah titik peka cewek juga. Coba kamu gosok-gosok”
    Pelan-pelan jari Adi mengusap-usap clitoris yang mulai menyembul itu.

    “Terus…, oohh…, ya…, gosok…, gosok”,

    Yeni mengerinjal-gerinjal keenakan ketika clitorisnya digosok-gosok oleh Adi.”Kalo diginiin nikmat ya
    Bu?”, Adi tersenyum sambil terus menggosok-gosok jarinya.

    “Oohh…, Adio…, mm”,

    tubuh Rini telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-
    rintih keenakan.

    Tangan Adi semakin berani mempermainkan clitoris gurunya yang makin bergelora dirangsang birahi.
    Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanan gurunya akan segera jebol.
    “Ooaahh…, Anntoo”,

    Tangan Yeni mencengkeram pundak muridnya, sementara tubuhnya menegang dan otot-otot kewanitaannya
    menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yang telah lama tidak dirasakannya.

    “Hmm…, kamu lihai Adi…, Sekarang…, coba kamu berbaring”.Adi menurut saja.

    Penisnya segera menegang ketika merasakan tangan lembut gurunya.

    “Wah…, wahh.., besar sekali”,

    tangan Yeni segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut.

    Segera saja benda panjang dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Yeni. Ia segera menjilati penis
    muridnya itu dengan penuh semangat. Kepala penis muridnya itu dihisapnya keras-keras, sehingga Adi
    merintih keenakan.

    “Ahh…, enakk…,enakk”,

    Adi tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya untuk semakin menekan penisnya makin ke dalam kuluman
    Yeni. Gerakannya makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Yeni.

    “oohh Ibu…, Ibbuu”

    Muncratlah cairan mani Adi di dalam mulut Yeni, yang segera menjilati cairan itu hingga tuntas.

    “Hmm…, manis rasanya Adi”, Yeni masih tetap menjilati penis muridnya yang masih tegak.

    “Sebentar ya aku mau minum dulu”.

    Ketika Yeni sedang membelakangi muridnya sambil menenggak es teh dari kulkas. Tiba-tiba ia merasakan
    seseorang mendekapnya dari belakang.

    “Adi…, biar Ibu minum dulu”.

    “Tidak…, nikmati saja ini”,

    Adi yang masih tegang berat mendorong Yeni ke kulkas.Gelas yang dipegang Yeni jatuh, untungnya tidak
    pecah. Tangan Yeni kini menopang tubuhnya ke permukaan pintu kulkas.

    “Ibu…, sekarang!”

    “Ahhkk”, Yeni berteriak,

    saat Adi menyodokkan penisnya dengan keras ke liang vaginanya dari belakang. Dalam hatinya ia sangat
    menikmati hal ini, pemuda yang tadinya pasif berubah menjadi liar.

    “Adio…, enakk…, ohh…, ohh”.

    Tubuh Yeni bagai tanpa tenaga menikmati kenikmatan yang tiada taranya. Tangan Adi satu menyangga
    tubuhnya, sementara yang lain meremas payudaranya. Dan penisnya yang keras melumat liang vaginanya.

    “Ibu menikmati ini khan”, bisik Adi di telinganya

    “Ahh…, hh”, Yeni hanya merintih,

    setiap merasakan sodokan keras dari belakang.

    “Jawab…, Ibu”,

    dengan keras Adi mengulangi sodokannya.

    “Ahh…,iyaa”

    “Adi…, Adi jangann…, di dal.. La” belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Yeni telah merasakan
    cairan hangat di liang vaginanya menyemprot keras. Kepalang basah ia kemudian menyodokkan keras
    pinggulnya.

    “Uuhgghh”,

    penis Adi yang berlepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Yeni.

    “Ahh”.

    Kedua insan itupun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka rasakan.
    Setelah kejadian dengan Adi, Yeni masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi perbuatan
    mereka. Namun yang mengganjal hati Yeni adalah jika Adi kemudian membocorkan hal ini ke teman-
    temannya.
    Ketika Yeni berjalan menuju mobilnya seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada seorang
    muridnya yang duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah dia Reza. Ia berbeda dengan Adi,
    anaknya agak pembuat onar jika di kelas, kekar dan nakal. Hatinya agak tidak enak melihat situasi ini.

    “Bu Yeni salam dari Adi”, Reza melemparkan senyum sambil duduk di sepeda motornya.

    “Terima kasih, boleh saya masuk”,

    Ia harus berkata begitu karena sepeda motor Reza menghalangi pintu mobilnya.

    “Boleh…, boleh Bu saya juga ingin pelajaran tambahan seperti Adi.”

    Langkah Yeni terhenti seketika. Namun otaknya masih berfungsi normal, meskupun sempat kaget.

    “Kamu kan nilainya bagus, nggak ada masalah kan..”, sambil duduk di balik kemudi.

    “Ada sedikit sih kalau Ibu nggak bisa mungkin kepala guru bisa membantu saya, sekaligus melaporkan
    pelajaran Adi”, Reza tersenyum penuh kemenangan.

    “Apa hubungannya?”, Keringat mulai menetes di dahi Yeni.

    “Sudahlah kita sama-sama tahu Bu. Saya jamin pasti puas”.

    Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Yeni langsung menjalankan mobilnya ke rumahnya. Namun ia sempat
    mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya terus hingga ia menikung untuk masuk kompleks perumahan.

    Setelah mandi air hangat, ia bermaksud menonton TV di ruang tengah. Namun ketika ia hendak duduk pintu
    depan diketuk oleh seseorang. Yeni segera menuju pintu itu, ia mengira Adi yang datang. Ternyata
    ketika dibuka

    “Reza! Kenapa kamu ngikuutin saya!”, Yeni agak jengkel dengan muridnya ini.

    “Boleh saya masuk?”.

    “Tidak!”.

    “Apa guru-guru perlu tahu rahasiamu?”

    .”!!”dengan geram ia mempersilakan Reza masuk.

    “Enak ya rumahnya, Bu”, dengan santainya ia duduk di dekat TV.

    “Pantas aja Adi senang di sini”.

    “Apa hubunganmu dengan Adi?, Itu urusan kami berdua”, dengan ketus Yeni bertanya.

    “Dia teman dekat saya. Tidak ada rahasia diantara kami berdua”.

    “Jadi artinya”, Kali ini Yeni benar-benar kehabisan akal.

    Tidak tahu harus berbuat apa.

    “Bu, kalo saya mau melayani Ibu lebih baik dari Adi, mau?”,

    Reza bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Yeni.Yeni masih belum bisa menjawab pertanyaan
    muridnya itu. Tubuhnya panas dingin.

    Yeni masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin. Belum sempat ia
    menjawab, Reza telah membuka ritsluiting celananya. Dan setelah beberapa saat penisnya meyembul dan
    telah berada di hadapannya.

    “Bagaimana Bu, lebih besar dari Adi khan?”.Reza ternyata lebih agresif dari Adi, dengan satu gerakan
    meraih kepala Yeni dan memasukkan penisnya ke mulut Yeni.

    “Mmpfpphh”.

    “Ahh yaa…, memang Ibu pandai dalam hal ini. Nikmati saja Bu…, nikmat kok”

    Rupanya nafsu menguasai diri Yeni, menikmati penis yang besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya
    bagai permen. Dijilatinya kepala penis pemuda itu dengan semangat. Kontan saja Reza merintih keenakan.

    “Aduhh…, nikmat sekali Bu oohh”, Reza menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam mulut Yeni, sementara
    tangannya meremas-remas rambut ibu gurunya itu. Yeni merasakan penis yang diisapnya berdenyut-denyut.
    Rupanya Reza sudah hendak keluar.

    “oohh…, Ibu enakk…, enakk…, aahh”.Cairan mani Reza muncrat di mulut Yeni, yang segera
    menelannya. Dijilatinya penis yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri.

    “Sudahh…, sudah selesai kamu bisa pulang”, Namun Yeni tidak bisa memungkiri perasaannya.
    Ia menikmati mani Reza yang manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika penis yang besar itu
    masuk ke vaginanya.

    “Bu, ini belum selesai. Mari ke kamar, akan saya perlihatkan permainan yang sebenarnya.”

    “Apa! beraninya kamu memerintah!”, Namun dalam hatinya ia mau.

    Karenanya tanpa berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Reza mengikuti saja.

    Setelah ia di dalam, Yeni tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar suara pakaian jatuh,
    dugaannya pasti Reza sedang mencopoti pakaiannya. Ia pun segera mengikuti jejak Reza. Namun ketika ia
    hendak melepaskan kancing dasternya.

    “Sini saya teruskan”, ia mendengar Reza berbisik ke telinganya.

    Tangan Reza segera membuka kancing dasternya yang terletak di bagian depan. Kemudian setelah dasternya
    jatuh ke lantai, tangan itupun meraba-raba payudaranya. Yeni juga merasakan penis pemuda itu diantara
    belahan pantatnya.

    “Gilaa…, besar amat”, pikirnya.

    Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos. Penis Reza digosok-gosokkan di antara pantatnya,
    sementara tangan pemuda itu meremasi payudaranya. Ketika jemari Reza meremas puting susu Yeni, erangan
    kenikmatan pun keluar.

    “mm oohh”.Reza tetap melakukan aksi peremasan itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya
    melakukan operasi ke vagina Yeni.

    “Reza…, aahh…, aahh”, Tubuh Yeni menegang saat pentil clitorisnya ditekan-tekan oleh Reza.
    “Enak Bu?”, Reza kembali berbisik di telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu.

    Yeni hanya bisa menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan, dan pekerjaan tangan
    Reza dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya. Tiba-tiba Reza mendorong tubuh Yeni agar
    membungkuk. Kakinya di lebarkan.

    “Kata Adi ini posisi yang disukai Ibu”

    “Ahhkk…, hmm…, hmmpp”, Yeni menjerit, saat Reza dengan keras menghunjamkan penisnya ke liang
    vaginanya dari belakang.

    “Ugghh…, innii…, innii”, Reza medengus penuh gairah dengan tiap hunjaman penisnya ke liang Yeni.
    Yenipun berteriak-teriak kenikmatan, saat liang vaginanya yang sempit itu dilebarkan secara cepat.

    “Adduuhh…, teruss.., teruss Rezaa…, oohh”, Kepala ibu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh
    sodokan Reza. Tangan Reza mencengkeram pundak Yeni, seolah-olah mengarahkan tubuh gurunya itu agar
    semakin cepat saja menelan penisnya.

    “Oohh Yeni…, Rinnaa”.

    Yeni segera merasakan cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya dengan deras. Matanya terpejam
    menikmati perasaan yang tidak bisa ia bayangkan.

    Yeni masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya,
    dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu vaginanya sangat becek,
    berlepotan mani Reza dan maninya sendiri.

    Reza juga telajang bulat, ia duduk di tepi tempat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk
    mendekat, tangannya meraba-raba liang vagina Yeni, kemudian dipermainkannya pentil kelentit gurunya
    itu.

    “mm capek…, mm”, bibir Yeni mendesah saat pentilnya dipermainkan.

    Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi.
    Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Reza untuk memainkan clitorisnya.

    “Rezz aahh”, Tubuh Yeni bergetar, menggelinjang-gelinjang saat Reza mempercepat permainan tangannya.

    “Bu…, balik…, Reza pengin nih”

    “Nakal kamu ahh”, dengan tersenyum nakal, Yeni bangkit dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan
    tempat tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan penis Reza.

    Reza meraih payudara Yeni dari belakang dan mencengkeramya dengan keras saat ia menyodokkan penisnya
    yang sudah tegang

    “Adduuhh…, owwmm”, Yeni mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang vaginannya yang telah
    licin melebar karena desakan penis Reza.

    “Bu Yeni nikmat lho vagina Ibu…, ketat”, Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.

    “mm…, aahh…, ahh…, ahhkk”, Yeni tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah. Ia berteriak lirih
    seiring gerakan Reza. Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Reza. Kenikmatan ia peroleh
    juga dari remasan muridnya itu.

    “Ayoo…, aahh.., ahh… Mm.., buat Ibu keluuaa.. Rr lagi…”.

    Gerakan Yeni makin cepat menerima sodokan Reza.

    Tangan Reza beralih memegangi tubuh Yeni, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya tidak lagi “doggy
    style”, melainkan kini Yeni menduduki penisnya dengan membelakangi dirinya. Reza kini telentang di
    tempat tidur yang acak-acakan dan penuh oleh mani yang mengering.

    “Ooww..”, Teriakan Yeni terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan orgasmenya.

    Tangannya mencengkeram tangan Reza, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh
    tubuhnya. Sementara Reza sendiri tetap menusuk-nusukkan penisnya ke vagina Yeni yang makin becek.

    “Ayoo…, makin dalam dalamm”.

    “Ahh.., aahh…, aahh..”, Rezapun mulai berteriak-teriak.

    “Mau kelluuaarr”

    Yeni sekali lagi memejamkan matanya, saat mani Reza menyemprot dalam liang vaginanya. Yeni kemudian
    ambruk menindih tubuh Reza yang basah oleh keringat.

    Sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir
    cairan hangat hasil kenikmatan mereka.

    “Bu Yeni…, sungguh luar biasa, Coba kalau Adi ada disini sekarang”.

    “mm memangnya kamu mau apa”, Yeni kemudian merebahkan dirinya di samping Reza.
    Tangannya mengusap-usap puting Reza.

    “Kita bisa main bertiga, pasti lebih nikmat..”

    Yeni tidak bisa menjawab komentar Reza, sementara perasaannya dipenuhi kebingungan.

    Akhirnya hari kelulusan murid klas 3 sampai juga. Dengan demikian Yeni harus berpisah dengan kedua
    murid yang disayanginya, terlebih lagi ketika ia harus pindah ke kota lain untuk menempati pos baru di
    Kanwil.

    Karenanya ia memanggil Adi untuk datang ke rumahnya untuk memberitahukan perihal kepindahannya.Ketika
    seputar Indonesia mulai ditayangkan, Adi muncul. Ia langsung dipersilakan duduk.

    “Bu, Adi kangen lho”.

    “Iya deh…, nanti. Gini, Ibu bulan depan pindah ke kota B, soalnya akan dinaikkan pangkatnya.
    Jadi…, jadi…, Ibu ingin malam ini malam terakhir kita”, mata Yeni berkaca-kaca ketika mengucapkan
    itu.

    “…………..”, Adi tidak bisa menjawab.

    Ia kaget mendengar berita itu. Baginya Yeni merupakan segalanya, terlebih lagi ia telah mendapatkan
    pelajaran berharga dari gurunya itu.

    “Tapi Adi masih boleh berkirim surat kan?”.Yeni bisa sedikit tersenyum melihat muridnya tabah,
    “Iya…, boleh…, boleh”

    “Minum dulu Nto, ada es teh di meja makan. Kalau sudah nonton VCD di kamar yaa”, Yeni mengerling nakal
    ke muridnya sambil beranjak ke kamar.

    Di kamar ia mengganti pakaiannya dengan kimono kegemarannya, melepas BH, menghidupkan AC dan tentu
    saja menyetel VCD ‘Kamasutra-nya Penthouse”. Lalu ia tengkurap di tempat tidur sambil menonton TV.

    Diluar Adi meminum es teh yang disediakan Yeni dan membiarkan pintu depan tidak terkunci. Ia mempunyai
    rencana yang telah disusun rapi.Lalu Adi menyusul Yeni ke kamar tidur. Begitu pintu dibuka ia melihat
    gurunya tengkurap menonton VCD dengan dibalut kimono merah tipis, lekuk tubuhnya jelas terlihat.

    Rambutnya yang panjang tergerai di punggungnya bagai gadis iklan shampo Pantene.”Ganti pakaian itu
    Nto..”, Yeni menunjuk celana pendek dan kaos tipis yang terlipat rapi di meja riasnya.

    Ketika Adi sedang mencopot celananya Yeni sempat melihat penis pemuda itu menyembul di balik CD GT
    Man-nya. Setelah selesai Adi juga tengkurap di samping Yeni.

    “Sudah liat film ini belum? Bagus lho untuk info posisi-posisi ngesex”.

    “Belum tuh…”, Mata Adi tertuju pada posisi dimana si wanita berdiri memegang pohon sementara si pria
    memasukkan penisnya dari belakang, sambil meremas-remas payudara partnernya.

    “mm…, itu posisi fave saya. Kalau kamu suka nanti CD itu bisa kamu ambil”.

    “Thanx..”, Adi kemudian mengecup pipi gurunya.

    Adegan demi adegan terus bergulir, suasana pun menjadi semakin panas. Yeni kini tengkurap dengan tidak
    lagi mengenakan selembar benangpun. Demikian pula Adi.

    Adi kemudian duduk di sebelah gurunya itu, dibelainya rambut Yeni dengan lembut, kemudian
    disibakkannya ke sebelah kiri. Bibir Adi kemudian menciumi tengkuk Yeni, dijilatinya rambut-rambut
    halus yang tumbuh lebat.

    “aahh…”

    Setelah puas, Adi kemudian memberi isyarat pada Yeni agar duduk di pangkuannya.

    “Bu, biar Adi yang puasin ibu malam ini…”, Bisik Adi di telinga Yeni.

    Yeni yang telah duduk di pangkuan Adi pasrah saja saat kedua tangan muridnya meremas-remas payudaranya
    yang liat. Kemudian ia menjerit lirih saat puting susunya mendapat remasan.

    “Akhh…”, Yeni memejamkan matanya.

    “Adi…, jilatin vagina ibu…”

    Adi kemudian merebahkan Yeni, dibukanya kaki gurunya itu lebar-lebar, kemudian dengan perlahan ia
    mulai menjilati vagina gurunya. Bau khas dari vagina yang telah basah oleh gairah itu membuat Adi kian
    bernafsu.

    “oohh…, teruss…, teruuss…”, Yeni bergetar merasakan kenikmatan itu.

    Tangannya membimbing tangan Adi dalam meremasi susunya. Memberikan kenikmatan ganda.

    “Jilatin…, pentil itu…, oohohh”, Bagai dikomando Adi menjilati pentil clitoris Yeni, dengan penuh
    semangat.

    “Aduuhh….. Oohh…oohh…hh.. Hh…..”

    “Adi…, massuukk”.

    Kaki Yeni kemudian disampirkannya ke pundak, dan dengan cepat disodokkannya penisnya ke vagina Yeni
    yang becek.

    “mm…”, Yeni menggigit bibirnya.

    Meskipun lubang vaginanya telah licin, namun penis yang besar itu tetap saja agak kesulitan menerobos
    masuk.

    “Uuhh…, masih susah juga ya Bu…”, Adi sambil meringis memaju mundurkan penisnya.
    Ia merasakan penisnya bagai diremas-remas oleh tangan yang sangat halus saat di dalam. Tangan Yeni
    mempermainkan puting Adi. Dengan gemas dicubitnya hingga Adi berteriak.

    “Uhh…, nakal, Ini balasannya!”, sodokan Adi makin keras, lebih keras dari saat ia memasukkan
    penisnya.

    “aa…”.

    Tiba-tiba pintu kamar tebuka! Spontan Yeni terkejut, tapi tidak bagi Adi. Reza sudah berdiri di muka
    pintu, senjatanya telah tegak berdiri.

    “mm…, hot juga permainan Ibu dengan Dia, boleh saya bergabung?”, Reza kemudian berjalan mendekati
    mereka. Yeni yang hendak berdiri ditahan oleh Adi, yang tetap menjaga penisnya di dalam vagina Yeni.

    “Nikmati saja…” Reza kemudian mengangkangi Yeni, penisnya berada tepat di mukanya.

    “Isap… Ayoo”, sambil memasukkan penisnya. Saat itu pula Adi menghentakkan gerakannya. Saat Yeni
    berteriak, saat itu pula penis Reza masuk.

    “Ahh…, nikmat..”, Yeni merem-melek menghisap-hisap penis muridnya, sementara Adi dengan puas
    menggarap vaginanya.

    “uufff…, jilatin…, jilatt”, tangan Reza memegangi kepala Yeni, agar semakin dalam saja mengisap
    penisnya.

    Posisi itu tetap bertahan hingga akhirnya Adi keluar duluan. Maninya menyemprot dengan leluasa di
    lubang vagina gurunya yang cantik. Sementara Reza tetap mengerang-erang sambil medorong-dorong kepala
    Yeni.Setelah Adi mengeluarkan penisnya dari vagina Yeni,

    “Berdiri menghadap tembok Bu!” Yeni masih kelelahan.

    Ia telah orgasme pula saat Adi keluar, namun ia tidak bisa teriak karena ada penis di mulutnya. Saat
    ia berdiri dengan tangan di tembok menahan tubuhnya, mani Adi menetes ke lantai.

    “mm…, Nto…, liat tuh punya kamu..”, seru Reza sambil tertawa.

    Ia kemudian menempelkan tubuhnya ke Yeni. Penisnya tepat berada di antara kedua pantat Yeni.

    “Nih Bu rasakan punya Reza juga ya”.

    Adi dengan santai menyaksikan temannya menggarap gurunya dari belakang. Tangan Reza memegangi pinggang
    Yeni saat ia menyodok-nyodokkan penisnya keluar masuk dengan cepat.

    Saat Yeni merintih-rintih menikmati permainan mereka, Adi merasakan penisnya tegang lagi. Ia tidak
    tahan melihat pemandangan yang sangat erotik sekali.Kedua insan itu saling mengaduh, mendesah, dan
    berteriak lirih seiring kenikmatan yang mereka berikan dan rasakan.

    “ooww…”, Tubuh Yeni yang disangga Reza menegang, kemudian lemas.

    Adi menduga mereka berdua telah sampai di puncak kenikmatan. Timbul isengnya, ia kemudian mendekati
    mereka dan menyusup diantara Yeni dan tembok. Dipindahkannya tangan Yeni ke pundaknya, dan penisnya
    menggantikan posisi milik Reza.

    “Adi…”, Lagi-lagi Yeni mendesah saat penis Adi masuk dan pinggulnya didorong oleh Reza dari
    belakang.

    “Ahh.. Ahh…. Dorongg…dorongg………….”

    “aa.. Aa… Aa”.”oohhkk…, kk…, kk..”, Yeni berteriak keras sekali, saat dorongan Reza sangat keras
    menekan pinggulnya.

    penis Adi amblas hingga mencapai pangkalnya masuk ke vagina Yeni. Saat itu pula ia merasakan penis
    yang berdenyut-denyut itu melepaskan muatannya untuk kedua kali.

  • Rini anak rekan bisnisku

    Rini anak rekan bisnisku


    1547 views

    Perawanku – Aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi di Bandung, dan sekarang sudah tingkat akhir. Untuk saat ini aku tidak mendapatkan mata kuliah lagi dan hanya mengerjakan skripsi saja. Oleh karena itu aku sering main ke tempat abangku di Jakarta.

    Suatu hari aku ke Jakarta. Ketika aku sampai ke rumah kakakku, aku melihat ada tamu, rupanya ia adalah teman kuliah kakakku waktu dulu. Aku dikenalkan kakakku kepadanya. Rupanya ia sangat ramah kepadaku. Usianya 40 tahun dan sebut saja namanya Firman. Ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan pada anak-istrinya. Istrinya, Dian, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Rina, duduk di kelas 2 SMP.

    Kalau aku ke Jakarta aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Firman untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Malang, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya. Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari. oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah.

    Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Firman. Aku pun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno. Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh pembungkus VCD di bawah karpet.

    “Hallo, Oom Ryan..!” Rina yang baru masuk tersenyum. Daftar IDN Poker
    “Eh, tolong dong bayarin Bajaj.. uang Rina sepuluh-ribuan, abangnya nggak ada kembalinya.”
    Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan Bajaj yang cuma dua ribu rupiah.

    Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Rina duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan. Mia memandang kepadaku dan tertawa geli.
    “Ih! Oom Ryan! Begitu, tho, caranya..? Rina sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat.”
    Gugup aku menjawab, “Rina.. kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin.”
    “Aahh, Oom Ryan. Jangan gitu, dong! Tu, liat.. cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Rina di sekolah lebih serem.”

    Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Rina justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Rina terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah. Agen Poker IDN

    Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Rina sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan.. astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.

    Setelah makanan siap, aku memanggil Rina. Dan.., sekali lagi astaga.. jelas ia tidak memakai BH, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai “bergerak”, sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku.

    Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.

    “Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..!”
    “Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol Fanta! Gantian.. putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?”
    Mia mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan. Judi Poker Deposit Pulsa
    “Yang bener.. Rina pakai seragam sekolah, kepanasan di Bajaj..!”
    “Aahh.. Oom Ryan ngeledek..!”
    Mia meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan.. tersandung!

    Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Rina mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya.

    Nafas Rina makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
    “Uuuhh.. mmhh..” Rina menggelinjang.
    Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya.
    Aahh..! Rina menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos!

    Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Rina yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Rina. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.

    “Ehh.. mmaahh..,” tangan Rina meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium.
    Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.
    “Ooohh.. aduuhh..,” Rina mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.
    Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Rina akan terlonjak dan nafas Rina seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.

    Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Rina tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Rina.
    “Mmmhh.. mmhh.. oohhmm..,” ketika Rina membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku.
    Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.

    Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Rina dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Rina dan aroma kemaluan Rina di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit.

    Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Rina, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Rina menekan pantatku dari belakang.
    “Ohhmm, mam.. msuk.. hh.. msukin.. Omm.. hh.. ehekmm..”
    Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Rina semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Rina masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.

    Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Rina memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Rina terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.

    Sebentar kemudian kernyit di dahi Rina menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Rina mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau.
    “Aduhh.. sshh.. iya.. terusshh.. mmhh.. aduhh.. enak.. Oomm..”
    Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Rina, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Rina sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Rina segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.

    Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Rina makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.

    Setelah tubuh Rina melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Rina tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua.

    Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
    “Aduh, Oom.. Rina lemes. Tapi enak banget.”
    Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Rina yang masih amat kencang.

    Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan.. kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Rina.. entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Rina kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.

    Kembali ke rumah Firman, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Rina pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku “blowjob”, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD.

  • Pengalaman Ngesex dengan Pramugari Montok dan Seksi – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Pengalaman Ngesex dengan Pramugari Montok dan Seksi – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1546 views

    Perawanku – Waktu itu aku main friendster, sengaja cari dengan search “pramugari” atau F.A., nach ketemulah 1 orang yg respon dan cantik, singat crita setelah email2an kita ketemu di SENAYAN CITY, karena dia dulunya kerja di Air Paradice BALI yg udah tutup. sebuah penerbangan international. Nama anak itu DEVI, anak sunda tinggi 168CM, berat 49Kg dengan BRA 36B.

    Pas, ketemu, ternyata emang betul2 cantik… putih… and sexy abis. Tapi yg bikin kesel tuh anak belagu amat, maklum bekas pramugari penerbangan international. dia pake baju dengan belahan dada terbuka cocok banget dengan 36B-nya. Pertama ketemu tuh anak agak ogah2an dan ngomongnya gede banget. Ini tantangan buat gue untuk naklukin tuh cowok. Kita makan di sebuah resto yang sengaja gue pilih agak mewahan dikit biar gue ngga kalah gengsi… dan setelah itu gue pingin tau dia brangkat pake mobil ato kagak untuk ngukur kekuatan… ternyata dia pake taksi jadi ada alasan gue untuk nganterin dan pamer TOYOTA HARRIER pinjeman yg gue bilang punya gue….ha…ha… Nexiasbet

    Sambil menuju ke mobil, dia masih agak sok2an dan bergaya tinggi. Pas di parkiran dia nanya, “mobil loe yang mana?” dan saya tunjuk karimun tua dan dia agak kaget, dan mulai belagu lagi.. sambil bercanda gue bilang “kita coba teken alarm, mobil mana yg buka” dan yg nyala HARRIER di samping karimun tua, barulah DEVI senyum2 manja sambil nyubit dia bilang “kok ngerjain gitu, emang tuh mobil punya kamu?”, dengan jawaban diplomasi gue jawab “kalo ngga percaya kamu bawa aja sebulan pasti ngga ada yg komplain”, karena emang yg punya lagi pergi ke luar negeri 3 bulan.

    Di mobil, dia mulai nanya2 kerja aku apa, dan kujawab manajer di perusahaan telekomunikasi, walaupun semua itu bualanku saja. Mulailah dia manja2 dan menggoda, “Mas pasti pacarnya banyak dan cantik2, kan udah mapan dan ganteng lagi???” Padahal tadi di caffe dia tuh sombong dan cenderung meremehkan sempat dia bilang “loe bukan tipe cowok gue”.

    Menjelang sampai ke rumahnya, dia mulai merendah “jangan ketawain ya.. rumah ortuku yg sederhana saja”, dengan diplomatis aku jawab “ach, kan aku mau pacaran ama DEVI bukan ama rumahnya”. Rumahnya memang kecil model BTN, dan aku bawa mobil hati2 banget takut kebaret ama bajaj, MAKLUM MOBIL PINJEMAN….HA…HA…

    Sampai di rumah, aku terpaksa harus basa-basi dan tiba2 kaget bukan kepalang sewaktu dikenalin ke ortunya “MAMA, ini mas RONI, pacarku yg pernah aku ceritain itu ma”. Aku kaget dibilang pacarnya padahal kita BELUM PERNAH JADIAN SEBELUMNYA…. Oh, ya…. Namaku RONI.

    Aku ngobrol 10 menit, sebelum pamit pulang karena udah mau jam 22 malam dan parkir mobil tidak di depan rumah. Pas aku mau masuk ke mobil, dia ikutan ke dalam mobil dan aku kasih dia kecuman pipi, tapi dia malah nantangin…. “kan udah pacar ciuman bibirnya mana”, tanpa membuang waktu aku ciumin bibirnya dan aku remas2 payudaranya yg montok, kenyal dan 36B. Dia hanya berbisik pelan “ich, nakal baru kenal pertama udah berani ke situ”. Aku pun bales bilang “Kan tadi udah pacarnya”. Sebelum pulang aku bilang kalo minggu besok aku mau ajak dia untuk jalan2 ke bandung pagi2 dan dia menyanggupi”.

    Sampai di rumah sabtu malam jam 23.30 aku mencoba menelpon dia, gila dia bercerita pengalaman pacarannya yg sangat gila dan dilanjutkan ngajak PHONE SEX, sampai jam 02.00 pagi sebelum aku akhiri “sayang, kan besok jam 8 aku harus jemput kamu ke bandung”

    Pagi jam 8 tepat aku udah di rumahnya, dan DEVI muncul dengan pakaian yg sangat2 sexy, maklum pramugari. Dia pakai Tanktop warna hitam dan celana jeans ketat banget serta terlihat pusarnya sewaktu mengangkat tas…. aku sempat tanya “mama kamu ngga marah kamu pakai baju begitu”, dan dia jawab “kamu kan pacarku jadi mama nggak akan marah”. Setelah basa-basi dengan ortunya tepat jam 9.00 pagi kita berangkat ke bandung dengan alasan “TEMENNYA DEVI ADA YG MARRIED”.

    Di jalan, aku sempat bengong SIAPA YG KAWINAN”. Akhirnya aku memberanikan mengkonfirmasi DEVI, “Say, yg kawinan emang siapa? kan semula kita hanya mau jalan aja?” Dijawab ama DEVI “ach, kamu jadi cowok lugu gitu, kebanyakan kerja sich jadi seriusan melulu…. yg KAWIN ya… sapa kek… kalo ngga ada yg KAWIN YA KITA”. Mendengar jawaban begitu aku makin nakal, “Brani KAWIN? paling 20 menit udah keok??” dia jawab singkat “SAPA TATUT”…..

    Di sepanjang perjalanan dia selalu menggoda bahkan pas selepas CIKAMPEK, dia mulai berani meraba2 penisku, dan sempat komentar “Gila gede juga ya.. punya kamu”, dan aku pun berani masukin tanganku ke buah dadanya walaupun mobil melaju 120 KM/jam di tol. Menjelang masuk bandung, dia buat kejutan dengan melepas BRA dan hanya pake tank top saja. Tanpa pikir panjang, saya langsung ngajak CHECK IN di hotel JAYAKARTA. “Say, kita ke hotel dulu baru nanti jalan2nya, capek habis nyetir”. Dia pun dengan cuek bilang “yg capek DEDEKNYA KALI”

    Setelah tiba di JAYAKARTA, kita menempati kamar 311, dan setelah BELL BOY memasukkan tas, saya mencoba menyalakan TV, dan udah di dekap DEVI dari belakang “SAY, AKU MAU NGETEST SAPA YG KALAH DALAM 20 MENIT”. Tanpa berbikir panjang, aku langsung membalikkan badan dan memeluk DEVI yg sudah sangat horny, aku lumat bibirnya dalam2 sampai nafasnya tersengal2 pendek2….”Say, cium donk nipel aku tolong… say” iba DEVI yg sudah horny berat. Tanpa membuang waktu aku pun tarik tank top-nya yg sudah TANPA BRA. Payudara yg montok, 36B, putih mulus dengan puting berwarna kemerah2an langsung saya cilatin dan gigit2 kecil sambil tangan kiri menyusup ke celana dalamnya. DEVI memang cewek yg agresif dia pun langsung membuka bajuku dan meraba2 penisku. Tanpa sadar dia pun mulai menciumin Penisku yg memang berukuran super, 17 CM. dengan posisi terbalik, aku mencoba untuk menarik celana jeansnya dan ternyata dia memakai CD jenis G-string warna merah. dengan cepat aku buka CD dan DEVI telah mencukur bersih vaginanya yg berwarna kemarah2an dan telah diberi parfum … wangi sekali dan aku pun tanpa ampun menciumin vaginanya sambil menyedot lendirnya sampai dia meremas kepalaku keras2 “say terus… jangan lepas”

    Setelah, menggunakan gaya 69, dia pun mulai basah dan mendekatkan penisku ke vaginanya “Sayang, kamu kan belom statement aku, dan kita belum jadian, kamu mesti statement dulu dan baru kita ML”. Aku pun bangun dari tempat tidur dengan keadaan dua2nya bugil dan menyatakan cinta ke DEVI (walaupun aku belom merasakan cinta itu). Setelah itu aku pake Condom dan DEVI minta di atas, pas penisku mau masuk, DEVI kaget, “Lepas Condomnya, kamu kan pacarku, ML pake Condom emangnya gue perek apa??”, dia tarik keras2 condomku…. trus aku pun balik bertanya “nanti kalo keluar di dalam gimana???” Devi pun menjawab “Bukannya enak yg begitu” sambil dia menekan vaginanya ke penisku yg sudah berukuran maksimal tadi. Berbagai gaya dia tunjukkan, dan pas dia mulai main2 JEPITAN, aku nyaris nggak tahan padahal baru 10 menit, untuk saya sudah belajar pernafasan dan akhirnya menjelas 30 menit DEVI mengeluarkan gejala2 akan orgasme… cepat2 saya ciumin putingnya bergantian, dan dia pun bilang “SAY, KITA KELUARIN BARENGAN YA….” aku pun mengangguk dan 1 menit kemudian dia berteriak kesetanan “A YOO…. CEPETIN TERUS SEMPORTIN KENCENG….” DEVI benar2 orgasme dan GELINJANGAN luar biasa sekali, padahal aku masih nahan…. setelah 10 menit DEVI baru sadar “SIALAN GUE KALAH” tapi gue mau MULTI ORGASME….

    Aku pun makin liar, dan tiba2 aku memegang anusnya, dan DEVI pun tau, “JANGAN SAY, ANASKU ITU MASIH VIRGIN” aku pun berusaha merayu dan merangsang DEVI. Pantatnya yg putih mulus tak mungkin kubiarkan begitu saja…. setelah dia merintih2 karena jariku kumasukkan, lalu aku bilang “SAY AKU MASUKIN YA…” Dia pun sambil tersengal2 bilang, “KAMU SAYANG KAN KE DEVI? KALO IMANG BENER2 SAYANG KAMU LAKUIN AJA TAPI BUANG DI DALEM KARENA AKU MAU NGERASAIN SENSASINYA” Tanpa berpikir panjang aku pun lakuin dengan memasukkan kepala penis pelan2 sampai akhirnya dia teriak keras “SHIT…, masuk …. CEPET ent*t DEVI”…. aku pun mematuhi apa yg dia inginkan mulai dari pelan lama2 cepat sekali dan CROT2 keluar maniku ke anusnya sampai ke kasur…. dia pun bilang “GUE NGERASAIN ML PALING ENAK HARI INI”.

    Hari itu, kita ML sampai jam 8 malam sebanyak 5 kali dan 3 kali anal. DEVI emang maniak, dia sempat nelen maniku dan facial ke mukaku….. Kita sempat pacaran selama 3 bulan sebelum bubar karena ketauan modal gue cekak..

  • Kebejatan Ayah Tiriku

    Kebejatan Ayah Tiriku


    1546 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Kebejatan Ayah Tiriku ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Sang ayah tiri meneguk air liur setiapmenyaksikan pinggang, pinggul dan pantat Marina yang indah dan seksi,apalagi bila Marina sedang berjongkok mengepel lantai dengan pakaianseadanya, wah, Daud melotot matanya. Timbullah hasratnya untukmenyaksikan tubuh sang anak tiri yang indah polos tanpa pakaian.

    Daudmendapat akal, suatu hari ketika Marina dan ibunya sedang keluar rumah,Daud bekerja keras membuat lubang di dinding kamar mandi yang hanyaterbuat dari papan. Fortunebet99

    Suatu hari ketika Marina hendak pergi mandi Daud bersiap menunggusambil mengintip dari lubang kamar mandi yang telah dibuatnya, Marinamemasuki kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk melilit ditubuhnya, setelah mengunci pintu kamar mandi dengan tanpa ragu Marinamelepaskan handuknya, Daud menelan liurnya menyaksikan pemandanganindah yang terpampang di depan matanya.

    pemandangan indah yang berasaldari tubuh indah anak tirinya, tubuh yang begitu sekal padat, rampingdan mulus itu membuat gairah Daud bergejolak, apalagi sepasang payudarayang begitu mulus dengan sepasang puting susu berwarna merah jambumenghias indah di puncak payudara yang sekal itu, mata Daud melirik kearah selangkangan gadis itu tampak bulu-bulu halus indah menghias disekitar belahan kemaluan perawan itu yang membukit rapat.

    Semua itumembuat dada Daud bergetar menahan nafsu, membuatnya semakin penasaraningin menikmati keindahan yang sedang terpampang di depan matanya. Daudtahu Marina sering keluar dari kamarnya pada malam hari untuk pipis.

    Pada malam berikutnya, Daud dengan sabar menunggu. Begitu Marinamemasuki kamar mandi, Daud membarenginya dengan memasuki kamar Marina.Daud menunggu dengan jantung berdebar keras, begitu Marina masukkembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu Daud muncul dari baliklemari, Marina terbelalak, mulutnya menganga, buru-buru Daud meletakkantelunjuk ke mulutnya, isyarat agar Marina jangan berteriak, Marinamundur beberapa langkah dengan ketakutan.

    Daud maju dan tiba-tibamenyergapnya Marina siap menjerit, tetapi Daud dengan cepat menutupmulutnya. “Jangan menjerit!”, Daud mengancam. Marina semakin ketakutan,badannya gemetar. Daud memeluk gadis yang masih murni itu,

    menciumibibirnya bertubi-tubi. Marina terengah-engah. “Jangan takut, nantikuberi uang”, kata Daud dengan nafas menggebu-gebu. Bibir Marina terusdiciumi, gadis itu memejamkan matanya, merasakan nikmat, dengan mulutterbuka. Tanpa sadar, rontaan Marina mulai melemah, bahkan kedualengannya memanggut bahu Daud. Sekilas terbayang adegan di buku pornoyang pernah dilihatnya.

    Alangkah gembiranya Daud ketika Marina mulai membalasciuman-ciumanya dengan tak kalah gencarnya. “Pak, Pak jangan…!”,Walaupun mulutnya berkata jangan, tetapi Marina tidak mengadakanperlawanan ketika gaunnya di lepas. Dalam sekejap, Marina hanyamengenakan beha dan celana dalam saja, itupun tidak bertahan lama.

    Daudmencopoti bajunya sendiri. Marina menghambur ke tempat tidur danmenutupi tubuhnya dengan selimut, Marina menghadap tembok, menunggudengan dada bergetar, di hatinya terjadi pertentangan antara nafsu dankeinginan untuk mempertahankan kehormatannya, namun nafsulah yangmenang.

    Selimut yang menutupi tubuh ditarik, Marina dipeluk daribelakang dan dirasakannya hangatnya pisang ambon Daud mengganjal danmenggesek-gesek di belahan pantatnya, Marina menggigil.

    Dengan bernafsu Daud menciumi kuduk Marina, gadis itumenggelinjang-gelinjang, rasa nikmat menyelusup ke pori-porinya. Daudmembalikkan tubuh Marina hingga telentang, gadis itu meronta hendakmelepaskan diri, Daud menindihnya, tangannya meraba-raba bongkahan buahdada Marina.

    Dada yang ranum dan sehat, yang selama beberapa hari inimengisi khayalan Daud. Kembali rontaan-rontaan Marina melemah,dirasakannya kenikmatan pada buah dadanya, yang diciumi Daud denganberganti-gantian. Dada yang kenyal dan masih segar itu bergetar-getar,Daud membuka mulutnya dan melahap putingnya yang merah jambu.

    Marinamenjerit lirih, tetapi segera tenggelam dalam erangan kenikmatan. “Pak,mm.., mm.., ja..ngan ssshh mmphh…, sshh..”.

    Akhirnya Marina tidak lagi memberontak, dibiarkannya payudara kiridan kanannya dijilati dan dihisap oleh Daud. Aroma harum yang terpancardari tubuh perawan itu benar-benar menyegarkan, membuat rangsanganbirahi Daud semakin naik. Kedua bukit indah Marina semakin mengeras danmembesar, puting yang belum pernah dihisap mulut bayi itu kian indahmenawan, Daud terus mengulum dan mengulumnya terus.

    “Pak, Saya.., takuut”, Suara Marina mendesah lembut.

    “Jangan takut, tidak apa-apa nanti kuberi uang..”, dengan napas memburu.

    “Ibu, pak. Nanti ibu bangun.., sshh.., aah..”.

    “aakh.., ibumu tidak akan bangun sampai besok pagi, ia sudah kuberi obat tidur”.

    Marina mulai mendesah lebih bergairah ketika tangan Daud mulaibermain di bukit kemaluannya yang membengkak. Daud menekan-nekan bukitindah itu. “Kue apemmu hebat sekali”, bisik Daud sambil berkali-kalimeneguk air liurnya, tangan Daud menguak belahan kue apem itu.

    Marinayang semula mengatupkan pahanya rapat-rapat kini mulai mengendurkannya,bagaimana tidak? Sentuhan-sentuhan tangan Daud yang romantismendatangkan rasa nikmat bukan kepalang apalagi batang kemaluan lelakiyang tegak itu, menggesek-gesek hangat di paha Marina danberdenyut-denyut. Sebenarnya Marina ingin sekali menggenggam batangkemaluan yang besarnya luar biasa itu.

    Sementara itu Daud menggosok-gosokkan tangannya ke bukit kemaluanyang ditumbuhi rambut halus yang baru merintis indah menghiasi bukititu.

    “Sssssh…, mmh…, sssh…, aakh..”, Mata Marina membeliak-beliak danpahanyapun membuka.

    Daud menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibirvagina Marina yang masih rapat walau sudah dikangkangkan. Secaranaluriah Marina menggenggam batang penis Daud, ia merasa jengah,keduanya saling berpandangan, Marina malu sekali dan akan menarikkembali tangannya tetapi dicegah oleh Daud, sambil tersenyum, lelakiyang cukup ganteng itu berkata,

    “Tidak apa-apa, Marina! Genggamlahsayang, berbuatlah sesuka hatimu!”.

    Dan dengan dada berdegup Marinatetap menggenggam batang penis yang keras itu. Daud merem-melekmenikmati belaian dan remasan lembut pada batang penisnya.

    Sementaraitu tangan Daud mulai menjelajahi bagian dalam kemaluan Marina, gadisitu menjerit kecil berkali-kali. Bagian dalam kemaluannya telah basahdan licin, ujung jari Daud menyentuh-nyentuh clitoris Marina. Marinamenggelinjang-gelinjang.

    “Bagaimana Mar?”, tanya Daud.

    “Enaakh…, Paak!”, Jawab Marina.

    Daud semangkin gencar menggempur vagina Marina dengan jaritangannya. Lalu Daud menundukkan kepalanya ke arah selangkangan Marina.Dipandanginya belahan vagina yang begitu indahnya, menampakkan bagiandalamnya yang kemerahan dan licin. Daud menguakkan bibir-bibir kemaluanitu, maka kelihatanlah clitorisnya, mengintip dari balik bibir-bibirkemaluan Marina, Daud tidak dapat menahan dirinya lagi, diciumnyaclitoris Marina dengan penuh nafsu. Marina menjerit kecil.

    “Kenapa Marina? Sakit?”, tanya Daud di sela kesibukannya.

    Mariana menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kakinya. Denganbernafsu Daud menjilati vagina Marina dan lidahnya menerobos menjilatibagian dalam dari kemaluan Marina, melilit dan membelai clitorisnya.Marina semakin tidak tahan menerima gempuran lidah Daud, tiba-tibadirasakannya dinding bagian dalam kemaluannya berdenyut-denyut sertaseluruh tubuhnya terasa menegang dan bersamaan dengan itu ia merasakansesuatu seperti akan menyembur dari bagian kemaluannya yang palingdalam.

    “aakh…, uuggh…, Paakk..”, Marina mendesah seiring menyemburnya airmani dari dasar lubuk kemaluannya. Sementara Daud tetap menjilatikemaluan Marina bahkan Daud menghisap cairan yang licin dan kental yangmenyembur dari kemaluan Marina yang masih suci itu, dan menelannya.

    “Sungguh nikmat air manimu Mar”, bisik Daud mesra di telinga Marina.Sementara Marina memandang memelas ke arah Daud, dan Daud mengerti apayang diingini gadis itu, karena iapun sudah tidak tahan seperti Marina.Batang kemaluan Daud sudah keras sekali. Besar dan sangat panjang.

    Sedangkan bukit kemaluan Marina sudah berdenyut-denyut ingin sekalidimasuki penis Daud yang besar. Maka Daudpun mengatur posisinya di atastubuh Marina. Mata Marina terpejam, menantikan saat-saat mendebarkanitu. Batang penis Daud mulai menggesek dari sudut ke sudut, menyentuhclitoris Marina.

    Marina memeluk dan membalas mencium bibir ayah tirinyabertubi-tubi. Dan akhirnya topi baja Daud mulai mencapai mulut lubangkemaluan Marina yang masih liat dan sempit. Dan Daudpun menekanpantatnya. Marina menjerit. Bagaikan kesetanan ia memeluk dengan kuat.Tubuhnya menggigil.

    “Paak, oukh.., akh…, aakh…, ooough…, sakit Pak..”, Marinamerintih-rintih, pecahlah sudah selaput daranya.

    Sedangkan Daud tidakmenghiraukanya ia terus saja menyodokkan seluruh batang kemaluannyadengan perlahan dan menariknya dengan perlahan pula, ini dilakukannyaberulang kali. Sementara Marina mulai merasakan kenikmatan yang tiadaduanya yang pernah dirasakannya.

    “Goyangkan pinggulmu ke kanan dan ke kiri sayang!”, bisik Daud sambil tetap menurun-naikkan pantatnya.

    “Eeegh…, yaa…, aakkhh…, oough..”, jawab Marina dengan mendesah. KiniMarina menggoyangkan pinggulnya menuruti perintah ayahnya.

    Dirasakannyakenikmatan yang luar biasa pada dinding-dinding kemaluannya ketikabatang penis Daud mengaduk-aduk lubang vaginanya.

    “Teee…, russ…, Paak…, eeggh…, nikmat…, ooough..!”, erang Marina.

    Daudsemakin gencar menyodok-nyodok vagina Marina, semakin cepat pulagoyangan pinggul Marina mengimbanginya hingga, “Ouuuughh…, sa.., saya…,mmaau…, keluar.., Paak..”.

    “Tahan…, sebentar…, sayang…, ooouggh..”.

    Daud mulai mengejang, diapun hampir mencapai klimaksmya. “aaGhh…”,jerit Marina sambil menekan pantat Daud dengan kedua kakinya ketika iamencapai puncak kenikmatannya. Bersamaan dengan tekanan kaki MarinaDaud menyodokkan penisnya sedalam-dalamnya sambil menggeram kenikmatan,“Eeegghh…, Ooouugh..”. “Creeeet…, creeet…, creeeeeeeet..”.

    Mengalirlahair mani Daud membasahi lubang kemaluan Marina yang sudah dibanjirioleh air mani Marina. Merekapun mencapai puncak kenikmatannya. Keduanyaterkulai lemas tak berdaya dalam kenikmatan yang luar biasa denganposisi tubuh Daud masih menindih Marina dan batang penisnya masihmenancap dalam lubang kemaluan Marina.

    Enam bulan kemudian, Marina dan Ria meninggalkan kota kecilnya. Merekaikut Om Jalil ke Jakarta. Om Jalil belum lama mereka kenal, tetapimereka tidak peduli, mereka menginginkan hidup lebih baik ketimbang dikota kecilnya sendiri.

    Mereka tahu nasib apa yang bakal mereka terimadi Jakarta nanti, diserahkan pada seorang germo yang namanya TanteYeyet. Mereka pergi ikut Om Jalil tanpa sepengetahuan orang tua merekamasing-masing. Om Jalil menunggu mereka di stasion kereta api. Darisanalah baru mereka bersama-sama menuju Jakarta.

    Ria berani ikut denganOm Jalil ke Jakarta karena dia juga sudah tidak perawan lagi. Bukitkemaluannya sudah ditoblos oleh Pandy. Pandy adalah pria yang sangatberpengalaman dengan wanita. Pandy pandai merayu. Dan Marinapuntergelincir dalam rayuannya dan berhasil digagahi Pandy, ia merupakanorang kedua yang pernah merasakan nikmatnya vagina Marina selain ayahtiri Marina.

    Sementara kereta berjalan dengan pesatnya. Dalam perjalanan merekadi malam hari yang selama delapan jam dalam kereta api, Om Jalil tidakdapat menahan hawa nafsunya berjalan dengan dua orang gadis cantik yangmenggoda. Dengan sedikit memaksa Om Jalil mencoba untuk menggaulimereka.

    Pada waktu itu keadaan kereta yang mereka tumpangi tidakterlalu banyak penumpangnya sehingga banyaklah kursi yang kosong.Kebetulan deretan bangku di depan mereka kosong. Waktu itu lampupenerang gerbong sudah dipadamkan tinggal lampu remang-remang saja yangmasih menyala menerangi keadaan gerbong yang mereka tumpangi.

    “Kalian tentunya sudah berpengalaman dengan laki-laki?”, tanya Om Jalil memulai pembicaraan.

    “Belum Om”, jawab Ria dengan malu-malu.

    “Sudah berapa kali kamu merasakannya, Ria?”, tanyanya sambil memegangpaha Ria yang hanya mengenakan rok mini dari bahan yang tipis.

    “Merasakan apa, Om?”, tanya Ria berpura-pura tak mengerti.

    “Merasakan hangatnya batang peler pria memasuki lubang kemaluanmu”, jawab Om Jalil dengan terus terang.

    “Saya, saya baru merasakannya sekali Om”, jawab Ria sambil menunduk.

    “Tidak usah malu, apakah kamu menikmatinya?”, Om Jalil mulai menebar jaringnya. Ria hanya mengangguk tanpa berkata apapun.

    “Sedangkan kamu sudah berapakali kecoblos Mar?”, mengalihkan pertanyaanya pada Marina.

    “Dua kali, Om”, jawabnya singkat.

    “Syukurlah, jadi kalian sudah punya pengalaman”. Dia berhenti untuk menghisap rokoknya lalu mematikan rokok itu.

    “Tapi aku perlu untuk mengetahui sampai di mana kemampuan kalian”, sambungnya sambil menghadap ke arah Ria.

    “Bagaimana caranya Om?”.

    “Dengan mencobanya langsung”, jawabnya tegas.

    “Mencoba langsung, di mana Om?”.

    “Di sini saja, toh semua penumpang sudah tidur”.

    “Tetapi..”.

    “Tenang saja biar Om yang mengaturnya”, potong Om Jalil sambilmerangkul tubuh Ria yang ada di sebelah kanannya, lalu ia mulaimenciumi bibir Ria.

    Ria terpaksa melayaninya demi lancarnya perjalananmereka ke Jakarta. Setelah beberapa saat lidah mereka saling berpilin,tangan Om Jalil mulai beraksi menyelinap, meremas payudara Ria melaluibagian bawah kaos ketat yang dikenakan Ria. Ria menggelinjang menikmatisentuhan tangan Om Jalil yang sangat lincah meremas payudaranya,apalagi bibir Om Jalil yang menggerayangi lehernya.

    Semakin ganas Om Jalil menikmati bukit indah milik Ria yang putihmulus itu setelah mengangkat kaos, dan melepas beha Ria. SedangkanMarina hanya menatap mereka dengan kosong. Tiba-tiba tangan Om Jalilyang satu meraih tangan Marina. Tanpa perlawanan tangan itu ditaruh diatas batang penisnya yang masih dalam celana.

    Marina mengerti maksud OmJalil, dengan segan-segan dibukanya ikat pinggang Om Jalil laluditurunkan ritsluitingnya, dikeluarkannya kemaluan yang sudahdigenggamnya dari celana dalamnya. “mmhh…”, desah Om Jalil menikmatiremasan tangan halus Marina pada batang penisnya. Sementara tangankanan yang bebas menjelajah ke dalam rok mini Ria, jari tangan kanannyadengan lincahnya mencoba melepaskan celana dalam yang dikenakan Ria.

    Ria mengangkat pantatnya untuk memudahkan Om Jalil melepaskanpenutup belahan vaginanya, Ria mengangkat satu kakinya untuk melepaskancelana dalamnya yang melorot sampai di mata kaki, bersamaan dengan ituitu jari-jari Om Jalil menerobos bibir vaginanya, lalu mempermainkanclitoris yang ada di dalamnya.

    Ria gelagapan menahan nikmat yangdirasakannya pada clitorisnya yang dipilin jari-jari Om Jalil, sertagigitan-gigitan lembut pada puting susu kanannya serta belaian-belaianyang diselingi remasan nikmat pada buah dadanya yang kiri. SementaraMarina tidak lagi meremas batang penis Om Jalil, tetapi dia menggocokbatang penis itu dengan lembut. Pergumulan segitiga itu berjalan cukuplama hingga Om Jalil tak dapat lagi menahan nafsunya.

    “Pindahlah kamuke bangku itu!” perintahnya pada Ria sambil menunjuk tempat duduk diseberang tempat duduk mereka.

    Ria mengikuti perintah Om Jalil, dia duduk menyadar di tempat yangditunjuk Om Jalil. Lalu Om Jalil berdiri menghadap Ria dengan batangpenisnya yang panjang besar dan hitam menunjuk ke arah Ria, ditariknyakaki Ria hingga posisi gadis itu setengah rebah menyandar, laludikangkangkannya paha Ria hingga tampak olehnya belahan indah yangdihiasi bulu-bulu lebat dengan bagian dalam yang merah merona, laludiarahkannya kepala penisnya yang merah mengkilap memasuki lubangvagina Ria.

    “Ssssshh…, aahh..”, desah gadis itu ketika dengan agaksusah kepala penis itu memasuki lubang kemaluannya. Om Jalil sendirimerasakan nikmat luar biasa ketika kepala kemaluannya terjepit olehbibir-bibir vagina Ria yang sempit, hingga ia tak melanjutkan gerakanmendorongnya untuk menikmati pijitan bibir vagina itu di kepalapenisnya. Sedangkan Marina hanya menyaksikan adegan itu dengan dadabergetar menghayalkan hal itu terjadi pada dirinya.

    Setelah terhenti beberapa kejap, dengan pasti Om Jalil melanjutkandorongan pantatnya hingga, “Blueess…”. Seluruh batang kemaluannyaamblas memasuki vagina Ria. Sedangkan Ria mengerang tertahan merasakanbetapa batang kemaluan Om Jalil yang besar menyumpal di dalam lorongkemaluannya, membuat nafasnya terburu nafsu. Kenikmatan itu bertambahketika Om Jalil menarik keluar batang kemaluannya hingga menimbulkangesekan yang mengguncang seluruh tubuh Ria

    Om Jalil memepercepatgerakan pantatnya mengeluar-masukkan penisnya hingga tubuh Riaterhentak-hentak kenikmatan, merasakan betapa dahsyatnya penis Om Jalilyang besar itu mengobrak-abrik lubang kemaluannya hingga membuatnyamelenguh-lenguh nikmat.

    “Ouuugh…, eeeghh…, te..ruuus.., ooom…, jaa..ngan…, berhenti.”, desahRia tertahan menikmati tarian penis Om Jalil dalam lubang vaginanyayang semakin basah dan licin hingga mengelurkan suara decak pelan.Semakin lama gerakan Om Jalil semakin gencar, dan remasannya padapayudara Ria semakin gemas,

    ditambah dengan gerakan pinggul Ria yangmembuat batang penis Om Jalil seret keluar masuk, membuat keduanya takdapat bertahan lebih lama lagi, hingga.., “Aah…, ahh…, essst…,esssst..”, desah Om Jalil sambil menggerakkan pantatnya dengan cepat.

    “Ouuugh…, eessstt…, eeengh…, aakh…, aakuu.., ti.., tidak.., taahaan..,laagi…, om..”, erang Ria hampir mencapai puncak orgasmenya.

    “Tung..guu.., sayang…, aakku…, juuggaa…, mmau.., ngecret..!”, ucap OmJalil terputus-putus sambil menancapkan batang penisnyasedalam-dalamnya ke dalam vagina Ria.

    “aakuuu…, kee..keeluar.., Ooom..”.

    “Akuuu…, juuggaa…, aaghh..”, dan, “Creeet.., creeet.., crettt.”,tersemburlah cairan nikmat dari batang penis Om Jalil ke dalam vaginaRia.

    Keduanya saling berangkulan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama,cairan kental membanjiri vagina Ria dan membasahi penis Om Jalil.Sementara ketika Om Jalil dan Ria bertarung, Marina begitu terangsangmelihat permainan mereka hingga tanpa sadar tangannya meremas buahdadanya dan mengelus-elus bibir kemaluannya dan mendesah-desah seorangdiri, karena dibakar hawa nafsunya sendiri.

    Om Jalil dan Ria sama-samaterkulai setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan, sedangkan Marinamerasakan denyutan-denyutan dalam liang vaginanya merindukan sentuhankemaluan lelaki di dinding-dindingnya, semakin ia menahan gejolak nafsuitu semakin menggejolak nafsu itu dalam dadanya.

    akhirnya ia tak kuasamenahan diri, Marina bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapanselangkangan Om Jalil yang bersandar memejamkan mata di bangkusebelahnya, ditatapnya kemaluan Om Jalil yang menggantung lunglai,dibelainya kemaluan yang besar itu, walaupun belum tegak berdiri.Semakin lama belaiannya semakin menggebu lalu diremasnya penis yangmulai bangun perlahan-lahan karena remasan-remasan jemari lentik Marina.

    Om Jalil membuka matanya karena merasakan kegelian yang nikmat padabatang penisnya, dibiarkannya beberapa saat Marina yang belum tahubahwa Om Jalil sudah terjaga, membelai dan meremas batang kemaluannya,Om Jalil berkata perlahan.

    “Kau menginginkannya?”.

    “I.., iya Om aa.., aku menginginkan burungmu”, jawab Marina dikuasaioleh nafsunya.

    Lalu Om Jali memegang bahu Marina lalu mengangkatnyaberdiri, ia menatap gadis di hadapannya, ia tahu bahwa Marina telahdikuasai oleh nafsunya, mulailah Om Jalil membelai tubuh Marina yangmengenakan gaun terusan tanpa lengan yang begitu minim.

    Tangannyameraba mulai dari bagian paha yang tak tertutup oleh terusan yangpendek itu, terus merambat menuju pada sepasang paha yang mulus itusambil terus berdiri hingga pakaian Marina tertarik mengikuti gerakanberdiri Om Jalil, hingga Om Jalil berhasil melepaskan pakaian itu daritubuh yang kini hanya mengenakan beha dan celana dalam. Kembali OmJalil membelai tubuh itu dari atas ke bawah sambil bergerak duduk.

    Setelah posisinya duduk berhadapan dengan selangkangan Marina yanghanya mengenakan celana dalam, tangannya bergerak melepas celana dalamitu hingga terpampanglah gumpalan bulu-bulu halus terhampar menghiasisekitar bibir kemaluan yang begitu ranum dan menebarkan aroma yangmenggairahkan hingga membuat darah Om Jalil menggelegar dan nafsunyamulai menanjak.

    Dengan kedua tangannya Om Jalil merengkuh bungkahanpantat Marina yang padat ke arah wajahnya, lalu dengan rakusnya OmJalil melumat bibir kemaluan Marina dengan penuh nafsu. Marina mendesahkenikmatan sambil membelai rambut Om Jalil yang tengah melumatvaginanya.

    “Ooouugh…, Ooomm…, lakukanlah.., Oom.., aa.., aku…, dah ti..daak.., taahhan…, lagi..!”.

    Om Jalil hanya tersenyum dan menjawab dengan perlahan, “Baiklah.Sekarang naiklah ke pangkuanku”, suruh Om Jalil pada Marina.

    Marinamengikuti perintah Om Jalil, dengan cepat ia duduk di pangkuan OmJalil. Penis Om Jalil yang tegak menghadap ke atas meleset miringdiduduki oleh Marina. Om Jalil berkata, “Bukan begitu caranya, sekarangberdirilah dengan lutut di atas bangku mengangkangi burungku!”, ajar OmJalil pada Marina.

    Kini Marina mengangkangi Om Jalil yang dudukbersandar dengan penis tegak ke atas mengarah tepat pada bibir kemaluanMarina. Kembali Om Jalil memberikan instruksi kepada Marina, “Kinigenggamlah burungku!”. Marina menggenggam penis Om Jalil. “Arahkan kelubang memekmu!”, Kembali Marina menuruti perintah Om Jalil tanpaberkata apapun. “Turunkan pantatmu lalu masukkan burungku dalam lubangmemekmu perlahan-lahan!”.

    Marina mengerjakan semua perintah Om Jalil hingga…, “Sleeep….”,Kepala kemaluan Om Jalil yang besar itu menyelinap di antara dua bibirvagina Marina yang langsung menjepit kepala penis itu dengan ketat.Marina mendesah kenikmatan, “Oough…”. Dipegangnya bahu Om Jalil yangsedang merem-melek menikmati jepitan sepasang bibir vagina Marina yangkenyal dan sempit. Dengan suara terputus-putus kenikmatan Om Jalilberkata,

    “Yaakh…, begitu, sekarang turunkan pantatmu agar burungkudapat masuk lebih dalam!”, Marina menghempaskan tubuhnya ke bawah,dirasakannya betapa penis Om Jalil yang besar dan panjang itu meneroboske dalam liang vaginanya yang terdalam, yang belum pernah tersentuholeh benda apapun karena penis Om Jalil adalah penis paling besar danpanjang yang pernah menerobos lubang vaginanya, dan itu memberikankenikmatan yang belum pernah dirasakan Marina sebelumnya.

    Om Jalilsendiri mengejang menikmati gesekan seret dari dinding vagina Marinayang seakan mengurut penisnya dengan kenikmatan yang luar biasa.

    Dirangkulnya tubuh Marina untuk melampiaskan getaran kenikmatan yangdirasakannya. Sejenak keduanya terdiam tidak melakukan gerakan apapunkarena tenggelam dalam kenikmatan yang tiada taranya. Hanyagetaran-getaran kereta api yang bergelombang membuat mereka melayangdalam arus kenikmatan bercinta.

    Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara Om Jalil yang lebih mirip desahan.

    “Sekarang bergeraklah hurun naik agar lebih nikmat sayang!”.

    “Eest.., baikh.., Om..”, jawab Marina sambil mulai mengangkat tubuhnya,terasa olehnya betap hangatnya gesekan kulit penis Om Jalil di dalamliang vaginanya, lalu dihempaskan lagi tubuhnya ke bawah membenamkanpenis Om Jalil kembali dalam pelukan dinding kemaluannya yang berdenyutkenikmatan.

    Hal itu dilakukan Marina berulang kali seiring dengangetaran kereta yang menambah nikmatnya persetubuhan mereka, kian lamagerakan Marina semakin gencar menurun-naikan pantatnya. Sedang Om Jaliltidak hanya diam saja, ia mengiringi gerakan pantat Marina denganmenaikkan pantatnya bila Marina menghentakkan pantatnya membenamkanpenis Om Jalil. Marina mendesah-desah menikmati permainanan yang hebatitu.

    “Eeeghh…, niikhmat…, sekhali…, Om..”

    “Yaakh…, memang.., nikhmat memekmu ini Mar…, oouggh..”.

    “Ooomm…, hisaplah susuku ini agar lebikh nikhmat Om..” pinta Marina,sambil menarik kepala Om Jalil ke arah dadanya yang dibusungkanmenantang itu.

    Segera saja Om Jalil melepaskan satu-satunya pakaianyang masih melekat di tubuh Marina, menggelembunglah payudara yangkenyal menegang setelah Om Jalil menarik lepas penutup benda indah itu.Mulailah Om Jalil menjilati puting susu Marina yang merah menantangitu, tidak hanya sampai di situ saja, Om Jalil menghisap rakus buahdada yang benar-benar ranum itu kiri dan kanan sedangkan keduatangannya meremas buah pantat Marina yang padat berisi dan membantunyaturun naik menenggelamkan penisnya. Semakin lama gerakan keduanyasamakin menggila desahan-desahan tak henti-hentinya keluar darisepasang insan itu.

    “Oooooogh…, oough…, akhh…, ahh…”, desahan Marina menikmati tarianpenis Om Jalil yang perkasa di dalam lubang vaginanya yang semakinlicin dan basah.

    Cukup lama mereka berpacu dalam mengejar kenikmatansehingga, “Eeeeest…, Ooough…, lebihh…, ceepat lagi…, Sayaang.., akumaau keeeluaar..!”.

    “Yaakhh…, aku…, juga..,. sudahh…, tidak.., taahaan.., laagi…, Ooooomm”.

    Hentakan pantat mereka semakin cepat terbawa nafsu yang seakanmeledakkan dada mereka hingga, “Ooough…, Akuu…, keluaar…, sayang..”

    “Akhuu.., aakhh…”.

    “Creeet.., creet.., creettt..”,

    Keduanya saling berangkulan dengan eratmenikmati puncak permainan mereka yang sungguh hebat. Marina berdirimengeluarkan penis yang besar itu dari lubang vaginanya lalu berpakaiandan kembali lunglai di bangkunya menyusul Ria yang sudah terlelap.Sedang Om Jalil menatap kedua gadis bergantian lalu dia berpakaian dankembali memejamkan matanya. Semuanya sunyi dan tenang. Tak ada lagierangan-erangan atau desahan, mereka tertidur dengan penuh kepuasan,tanpa memikirkan apa yang menanti mereka di Jakarta nanti.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Mesum Linda Marketing Yang Menggairahkan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Mesum Linda Marketing Yang Menggairahkan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1542 views

    Perawanku – Perkenalkan namaku Roni (samaran). Aku adalah seorang WNI Keturunan yang berdomisili di kota D di pulau B. Umurku 30 tahun. Saat ini aku sudah mempunyai seorang istri tapi belum dikaruniai seorang anak. Aku dulu sangat suka bercinta dengan perempuan, tapi hanya terbatas pada orang yang aku kenal. Dan hanya hubungan ONE NIGHT STAND, alias cinta semalam. Salah satu pengalamanku ingin kubagikan pada para penggemar situs Rumah Seks. Dan kisah ini benar-benar aku alami. Akan aku coba menceritakannya.

    Cerita ini dimulai dari kepindahanku ke Kota D di pulau B dari Kota S di Pulau J pada tahun 1997. Waktu itu aku baru berumur 25 tahun. Karena alasan untuk mengisi kekosongan di cabang perusahaan, aku dipindah tugaskan. Saat itu aku bekerja di salah satu perusahaan garment terbesar di Indonesia. Dan tugasku adalah sebagai marketing yang tugasnya mengorder atau menawarkan barang baru ke toko-toko besar maupun kecil termasuk departement store seperti Matahari, dll.

    Suatu hari aku menawarkan order ke sebuah dept store yang cukup populer di kota D tersebut. Untuk menemui bagian pembelian aku harus melewati bagian resepsionist terlebih dahulu. Pada hari itu aku terkejut karena yang menjaga bagian tersebut tidak kukenal (karena biasanya adalah orang lain). Orangnya cantik, berwajah oval, manis, berkulit kuning langsat dan sangat mulus. Bodinya yang sangat bahenol, pinggang yang ramping, berpantat besar, dengan payudara berukuran kira-kira 36C. Berambut hitam panjang. Siapapun lelaki yang melihatnya pasti(aku jamin) menelan ludah dengan sex appealnya yang tinggi dan sangat memikat itu.

    “Selamat siang”, sapaku.
    “Oh ya, selamat siang,” jawabnya dengan suara yang halus.
    “Saya ingin bertemu dengan Bapak Andrie di bagian pembelian,”

    Kataku selanjutnya sambil mataku memandang tanpa berkedip ke wajah cantik dan dadanya, kebetulan waktu itu dia memakai blazer dengan kaus dalam yang berleher sangat rendah sehingga saya bisa melihat belahan payudaranya yang besar itu.

    “Baik tunggu sebentar,” jawabnya sambil tersenyum manis, kemudian dia menelepon bagian pembelian.

    Sambil menunggu itu tidak henti-hentinya aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Sementara dia, sepertinya merasa kuperhatikan, jadi sesekali tersenyum sambil menulis sesuatu di buku di hadapannya. Tak lama kemudian telepon berdering dan aku dipersilahkan masuk.

    Setelah selesai urusan tersebut, aku keluar melewati meja resepsionist, dan kulihat cewek (sebut saja Ayu) seperti biasa menjaga meja tersebut.
    “Hallo Yu,” sapaku.
    “Eh, Pak Roni, dari tadi, Pak?” sahutnya.
    “Iya. Ini sudah selesai order. Eh Yu, tadi yang jaga meja ini siapa sih?” tanyaku langsung.
    Kami sudah cukup akrab karena keseringanku ke tempat ini.
    “Oh, itu tadi Ibu Linda, Pak, Manager Marketing yang baru, kenapa sih? Kok nanya-nanya?” tanyanya sambil tersenyum.
    Belum sempat kujawab, Si Cantik Linda muncul. Aku jadi sedikit salah tingkah. Apalagi..
    “Bu, ini lho ditanyain sama Pak Roni,” Ayu langsung nyerocos sampai wajahku terasa panas.

    Singkat cerita kami berkenalan dan saling memanggil nama karena kemudian kuketahui umurnya hanya terpaut setahun lebih tua dariku dan sudah menikah dengan orang yang usianya terpaut jauh darinya. Ayu sempat mengatakan kalau Linda baru saja berulang tahun. Dan sambil bercanda aku mengatakan kalau aku mau diajak makan-makan. Dan dia menyanggupinya.

    Pertemuan kami selanjutnya hanya di sekitar pekerjaan dan ngobrol masalah-masalah ringan. Suatu hari, saat suaminya berdinas di Jakarta, aku diundang ke rumahnya. Setelah aku tanya alamatnya, malam harinya aku datang ke rumahnya. Aku disambutnya dengan memakai baju kaus tipis tanpa lengan dan celana yang super pendek, hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas, apalagi belahan pantat di bawah celananya makin merangsangku. Kaget juga melihat penampilannya yang seseksi itu, walaupun dia terlihat memakai BH, tak urung membuat nafsu dan adik kecilku merinding. Di rumahnya saat itu hanya dia sendiri ditemani pembantunya yang lebih sering berada di dapur seperti saat itu.

    Setelah sekian menit mengobrol, kami mulai saling mendekatkan diri. Sampai dadanya yang besar dan kenyal itu menyentuh dadaku. Dan mulai berpelukan dan saling mencium pipi, kemudian aku lanjutkan dengan mencium lehernya.

    “Kamu ternyata nakal juga ya, Ron,” katanya sambil tertawa kecil saat saya ciumi leher jenjangnya.
    “Habis kamu sangat menggairahkan dan menggemaskan,” jawabku sambil melancarkan serangan.

    Aku berusaha menembus daerah dadanya, tapi ditepisnya. Dan katanya jangan nanti nggak enak, kan dia sudah menikah. Jadinya aku harus menahan nafsuku malam itu walaupun pada saat penisku sudah sangat keras aku sempat menggesek-gesekkan ke perutnya sambil kami berdiri berpelukan. Malam itu aku pulang dengan hampa dan menahan gejolak nafsuku. Sesampainya aku di rumah, aku langsung bermasturbasi sambil membayangkan bersetubuh dengannya.

    Sejak hari itu, bila bertemu sikap kami biasa saja, hanya saling menyapa, bahkan kurasakan dia agak menjauhiku. Dan hal ini berlangsung cukup lama sampai kira-kira delapan bulan lamanya. Aku sudah hampir melupakan niatku untuk bercinta dengannya sampai suatu saat ada berita di pagerku (saat itu aku belum punya Hp) berupa undangan ke rumahnya untuk menepati janjinya waktu itu dia mengajakku makan merayakan ulang tahunnya. Aku telepon dia dan membuat janji (waktu itu suaminya bertugas ke luar kota).

    Malam itu pkl.10.00 aku datang ke rumahnya. Kembali aku disambut dengan pakaian yang menggairahkan berupa kaus tipis tanpa lengan dan rok pendek yang memperlihatkan cetakan pantat dan celana dalamnya. Dari pengalamanku yang lalu aku tidak ingin ceroboh lagi.

    “Kok sepi-sepi saja, Lin? Suamimu berapa hari tugas ke Jakarta?” tanyaku setelah beberapa lama berbasa-basi.
    “Empat hari. Eh, mau minum, Ron?”tanyanya.
    “Boleh,” jawabku.
    “Aku tadi dapat pinjaman VCD dari temanku di kantor, dan aku belum nonton. Kamu sudah pernah nonton nggak?”
    Tanyanya sambil meletakkan minuman dan kemudian melangkah ke almari dekat kursi tamu.
    “Mana sih, aku lihat dulu judulnya,” jawabku.
    Setelah diserahkannya, aku teliti ketiga VCD tersebut, dan aku agak terkejut karena salah satunya merupakan film mandari yang XX alias semi.
    “Yang dua sudah nonton sih, juga yang mandarin ini, Cuma waktu itu belum selesai. Kamu pengen nonton yang mana? Kalau aku yang mandarin ini aja,” jawabku sambil berpikir untuk mencumbunya.
    “Boleh aja, tapi VCD playernya ada di kamarku,”jawabnya.
    Pikirku, wah kesempatan, nih. “Gak apa-apa kan, emangnya nggak boleh?” tanyaku memancing.
    “Boleh sih, yuk, kita ke kamarku,” jawabnya sambil ngeloyor ke kamarnya di dekat ruang tamu.

    Setibanya di dalam, kami berdua duduk manis di depan TV-nya sambil menonton. Lalu aku mencoba untuk melingkarkan tanganku ke pundaknya. Dia tidak bereaksi. Lalu aku makin berani untuk membelai kepala dan rambutnya yang panjang dan lembut. Dia Cuma tersenyum saja aku perlakukan demikian. Lalu kusibakkan rambut di sekitar lehernya dan aku cium perlahan sambil menjilatnya pelan.

    “Ih, geli, Ron”katanya sambil bergidik.
    “Tenang aja, kamu nikmati ya,”jawabku.
    Aku mencumbunya dengan sangat pelan. Mulai dari lehernya, kemudian aku turun ke pangkal lengannya. Aku terus mencium dan menjilatinya perlahan sementara tanganku tetap membelai rambutnya dan yang satu membelai tangannya, tanpa aku berusaha untuk membuka pertahanannya yang manapun. Linda makin lama makin menggelinjang karena kegelian dan nafsunya yang perlahan mulai naik.
    “Ron, aku matikan saja ya VCD-nya? Toh juga nggak ditonton, sekalian lampunya ya,”katanya sambil sedikit terengah.
    “Oke,”jawabku.

    Lalu dia mematikan VCD, TV, dan lampu kamar tersebut, sehingga situasi remang, dan hanya diterangi oleh lampu teras. Walau demikian aku masih bisa melihat jelas semuanya. Setelah itu aku kembali melanjutkan aksiku. Aku menciumi bibirnya sambil membuka bajunya, sehingga dia hanya memakai BH dan roknya. Kemudian setelah beberapa lama;
    “Ron, kita buka aja semua yuk,” ajaknya.
    “Ayuk,”jawabku, kemudian kami mulai melepas busana kami satu-satu sambil berdiri di tempat tidurnya.
    Terpampanglah pemandangan indah di depanku. Linda yang tersenyum manis, dengan payudara berbentuk bulat sempurna dan terlihat sangat kenyal serta bentuk tubuh yang mirip gitar spanyol, ramping, pinggul yang besar, dan terutama daerah kemaluannya yang tidak terlalu lebat, namun terlihat berbulu sangat halus. Kemudian aku mulai mencium bibirnya lembut sekali. Kunikmati ciuman-ciuman itu. Kemudian aku mulai turun menciumi leher jenjangnya yang mulus sambil tangan kiriku mulai memainkan susunya yang kenyal dan mulai mengeras, meremas dan memutar-mutar putingnya, sementara tangan kananku meraba bagian pantatnya yang juga besar dan padat.

    Setelah beberapa lama dia mulai bereaksi dengan membelai tubuhku dari punggung sampai kemudian berhenti di kemaluanku. Linda mulai membelai-belai adikku sambil mengocoknya perlahan. Wah, sensasinya sangat luar biasa.
    “Ron, burungmu keras sekali,”katanya sambil mendesah.
    Aku tidak menjawabnya karena sibuk mencumbunya. Kemudian perlahan-lahan aku rebahkan dia di tempat tidur. Dan aku mulai mencium dan menjilat turun dari bibir, leher sampai pada bagian susunya yang kuhisap dan kujilati perlahan. Aku menikmati susunya yang besar dan mulus banget. Aku jilatin daerah sekitar putingnya, sambil menyedot. Cukup lama aku menikmati susunya sambil aku remas-remas. Rasanya aku ingin menelan semuanya bulat-bulat. Linda menggelinjang sambil mengeluarkan suara erangan dan desisan dari mulutnya. Sambil menikmati cumbuanku, tangannya tak lepas dari penisku, membelainya lembut.

    Perlahan aku makin turun sampai pada perutnya, kemudian ke selangkangannya. Aku mulai mencari daerah pribadinya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam, lembut dan tidak terlalu lebat. Aku terus menjilati sampai pada kemaluannya. Linda makin menggelinjang dan mendesis.

    “Oh..terus, Ron,..enak sekali..teruskan..,”desisnya.
    Maka aku makin menjilati kemaluannya sampai pada klitorisnya, kurasakan tubuhnya makin menegang. Kuhisap lembut klitoris dan kemaluannya yang berbau khas, hingga makin menaikkan gairahku. Kemaluan itu makin lama makin basah, mengeluarkan lendir yang aku jilat sampai puas. Pahanya mulai bergerak menjepit kepalaku, sehingga aku merasakan kemulusannya membelai pipiku. Tak lupa aku juga sebentar-sebentar enjilat paha dan daerah di sekitar vaginanya itu. Kemudian aku sedikit mengangkat pantatnya agar aku bisa menjilati lubang anusnya. Sementara itu, tangannya bergerak-gerak menggapai kepalaku sambil menekan makin dalam. Kembali aku mainkan lidahku di lubang vaginanya itu, masuk dan keluar. Linda makin menggelinjang dan kurasakan badannya makin mengejang.

    Setelah aku puas memainkan kemaluannya, aku memintanya ganti mencumbuku. Maka aku direbahkan dengan posisi dia di atasku. Linda mulai menciumiku dari bibir, leher, dan akhirnya ke susuku sambil tangannya membelai lembut penis dan testisku. Ciuman lembutnya sangat merangsangku sehingga adikku makin keras dan memanjang. (Oh ya, penisku tidak terlalu besar, tapi sangat kencang dan keras). Cukup lama dia menciumi daerah dadaku, kemudian dia semakin turun, dan tidak disangka (karena aku menikmati sambil memejamkan mata) dia mulai menjilat lembut kepala penisku. Aku sempat kaget karena tidak menyangka dia akan melakukannya.

    Aku nikmati saja jilatan-jilatan lembutnya. Kemudian dia mulai mengulum penisku juga sangat lembut. Wah, rasa dan sensasinya sangat luar biasa. Aku bagai terbang tinggi ke awan. Tidak sampai di situ, dia juga menjilati testisku yang makin merangsangku. Cukup lama dia menjilati penisku, sampai ada sedikit cairan yang keluar dan dia menjilatinya sampai habis. Kemudian dia perlahan bangun dan duduk di atas penisku. Pelan-pelan dia menggesek-gesekkan vaginanya di atas penisku. Vaginanya yang lembut dan licin serasa memijit penisku yang keras.
    “Oh,..enaknya..ss.ss.ss,”erangnya.
    Tak lama kemudian tubuhnya terlihat mengejang dan roboh ke dadaku.
    “Luar biasa, Ron, aku sampai bisa keluar,”bisiknya sambil terengah.

    Kemudian kami bercumbu lagi, dan dia mengulangi hal yang sama sampai dua kali, dan dalam waktu singkat dia mengalami orgasme kembali, sementara aku belum merasa ingin keluar. Maka aku nikmati saja permainannya, sampai kemudian..

    “Aku masukin ya adikku,”kataku.
    “Ya, tapi pelan-pelan ya, “jawabnya.
    Maka aku mulai memasukkan penisku ke lubang senggamanya perlahan sampai semuanya masuk. Kemudian aku mulai menggoyang perlahan-lahan, makin lama makin cepat. Sementara dia mengerang dan mengejang Di antara desahan dan deru napasnya aku makin mempercepat gerakanku, sampai akhirnya..
    “Lin..aku..mau..kell..luar,” dan tersemburlah spermaku ke liangnya.
    Kemudian aku lemas. Aku biarkan penisku berada di vaginanya beberapa lama sambil merasakan denyutan-denyutannya yang menggairahkanku.

    Kami mengulangi permainan kami beberapa kali malam itu. Sampai waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi. Dan aku pulang dengan kepuasan dan sedikit penyesalan (maklum istri orang). Keesokan siang, aku kembali ke rumahnya, dan bercinta sampai malam. Kemudian kami pergi makan malam seperti yang dijanjikannya.

    Setelah kejadian itu, kami bersikap biasa bila bertemu, karena kami tidak ingin orang lain tahu perbuatan kami.

  • Cerita Dewasa Perselingkuhanku Terjadi Lagi Dengan Temanku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Dewasa Perselingkuhanku Terjadi Lagi Dengan Temanku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1541 views

    Perawanku – Waktu di jam dinding menunjukkan sudah pukul 8.00, namun Azis belum juga datang. Dalam hati kecilku, Jangan-jangan Azis mau bermalam di kampungnya, aku tidak mungkin bermalam berdua dengan istrinya di rumah ini. Saya lalu teriak minta pamit saja dengan alasan nanti besok saja ketemunya, tapi istri Azis berteriak melarangku dan katanya,

    “Tunggu dulu pak, nasi yang saya masak buat bapak sudah matang. Kita makan bersama saja dulu, siapa tahu setelah makan Azis datang, khan belum juga larut malam, apalagi kita baru saja ketemu,” katanya penuh harap agar aku tetap menunggu dan mau makan malam bersama di rumahnya.

    Tak lama kemudian, iapun keluar memanggilku masuk ke ruang dapur untuk menikmati hidangan malamnya. Sambil makan, kamipun terlibat pembicaraan yang santai dan penuh canda, sehingga tanpa terasa saya sempat menghabiskan dua piring nasi tanpa saya ingat lagi kalau tadi saya bilang sudah kenyang dan baru saja makan di rumah. Malu sendiri rasanya.

    “Bapak ini nampaknya masih muda. Mungkin tidak tepat jika aku panggil bapak khan? Sebaiknya aku panggil kak, abang atau Mas saja,” ucapnya secara tiba-tiba ketika aku meneguk air minum, sehingga aku tidak sempat menghabiskan satu gelas karena terasa kenyang sekali. Cerita Sex Perselingkuhan.

    Cerita Sex – Apalagi saya mulai terayu atau tersanjung oleh seorang wanita muda yang baru saja kulihat sepotong tubuhnya yang mulus dan putih? Tidak, saya tidak boleh berpikir ke sana, apalagi wanita ini adalah istri teman lamaku, bahkan rasanya aku belum pernah berpikir macam-macam terhadap wanita lain sebelum ini. Aku kendalikan cepat pikiranku yang mulai miring. Siapa tahu ada setan yang memanfaatkannya.

    “Bolehlah, apa saja panggilannya terhadapku saya terima semua, asalkan tidak mengejekku. Hitung-hitung sebagai panggilan adik sendiri,” jawabku memberikan kebebasan.
    “Terima kasih Kak atau Mas atas kesediaan dan keterbukaannya” balasnya.

    Setelah selesai makan, aku lalu berjalan keluar sambil memandangi sudut-sudut ruangannya dan aku sempat mengalihkan perhatianku ke dalam kamar tidurnya di mana aku melihat tubuh terbaring tanpa busana tadi. Ternyata betul, wanita itulah tadi yang berbaring di atas tempat tidur itu, yang di depannya ada sebuah TV color kira-kira 21 inc.

    Jantungku tiba-tiba berdebar ketika aku melihat sebuah celana kolor tergeletak di sudut tempat tidur itu, sehingga aku sejenak membayangkan kalau wanita yang baru saja saya temani bicara dan makan bersama itu kemungkinan besar tidak pakai celana, apalagi yang saya lihat tadi mulai dari pinggul hingga ujung kaki tanpa busana. Namun pikiran itu saya coba buang jauh-jauh biar tidak mengganggu konsentrasiku.

    Setelah aku duduk kembali di kursi tamu semula, tiba-tiba aku mendengar suara TV dari dalam, apalagi acaranya kedengaran sekali kalau itu yang main adalah film Angling Dharma yaitu film kegemaranku. Aku tidak berani masuk nonton di kamar itu tanpa dipanggil, meskipun aku ingin sekali nonton film itu. Bersamaan dengan puncak keinginanku, tiba-tiba,

    “Kak, suka nggak nonton filmnya Angling Dharma?” teriaknya dari dalam kamar tidurnya.
    “Wah, itu film kesukaanku, tapi sayangnya TV-nya dalam kamar,” jawabku dengan cepat dan suara agak lantang.
    “Masuk saja di sini kak, tidak apa-apa kok, lagi pula kita ini khan sudah seperti saudara dan sudah saling terbuka” katanya penuh harap.

    Lalu saya bangkit dan masuk ke dalam kamar. Iapun persilahkan aku duduk di pinggir tempat tidur berdampingan dengannya. Aku agak malu dan takut rasanya, tapi juga mau sekali nonton film itu.

    Awalnya kami biasa-biasa saja, hening dan serius nontonnya, tapi baru sekitar setengah jam acara itu berjalan, tiba-tiba ia menawarkan untuk nonton film dari VCD yang katanya lebih bagus dan lebih seru dari pada filmnya Angling Dharma, sehingga aku tidak menolaknya dan ingin juga menyaksikannya. Aku cemas dan khawatir kalau-kalau VCD yang ditawarkan itu bukan kesukaanku atau bukan yang kuharapkan.

    Setelah ia masukkan kasetnya, iapun mundur dan kembali duduk tidak jauh dari tempat dudukku bahkan terkesan sedikit lebih rapat daripada sebelumnya. Gambar pun muncul dan terjadi perbincangan yang serius antara seorang pria dan seorang wanita Barat, sehingga aku tidak tahu maksud pembicaraan dalam film itu.

    Baru saja aku bermaksud meminta mengganti filmnya dengan film Angling Dharma tadi, tiba-tiba kedua insan dalam layar itu berpelukan dan berciuman, saling mengisap lidah, bercumbu rayu, menjilat mulai dari atas ke bawah, bahkan secara perlahan-lahan saling menelanjangi dan meraba, sampai akhirnya saya menatapnya dengan tajam sekali secara bergantian menjilati kemaluannya, yang membuat jantungku berdebar, tongkatku mulai tegang dan membesar, sekujur tubuhku gemetar dan berkeringat, lalu sedikit demi sedikit aku menoleh ke arah wanita disampingku yakni istri teman lamaku.

    Secara bersamaan iapun sempat menoleh ke arahku sambil tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke layar. Tentu aku tidak mampu lagi membendung birahiku sebagai pria normal, namun aku tetap takut dan malu mengutarakan isi hatiku.

    “Mas, pak, suka nggak filmnya? Kalau nggak suka, biar kumatikan saja,” tanyanya seolah memancingku ketika aku asyik menikmatinya.

    “Iiyah, bolehlah, suka juga, kalau adik, memang sering nonton film gituan yah?” jawabku sedikit malu tapi mau dan suka sekali.

    “Saya dari dulu sejak awal perkawinan kami, memang selalu putar film seperti itu, karena kami sama-sama menyukainya, lagi pula bisa menambah gairah sex kami dikala sulit memunculkannya, bahkan dapat menambah pengalaman berhubungan, syukur-syukur jika sebagian bisa dipraktekkan.

    “Sungguh kami ketinggalan. Saya kurang pengalaman dalam hal itu, bahkan baru kali ini saya betul-betul bisa menyaksikan dengan tenang dan jelas film seperti itu. Apalagi istriku tidak suka nonton dan praktekkan macam-macam seperti di film itu,” keteranganku terus terang.

    “Tapi kakak suka nonton dan permainan seperti itu khan?” tanyanya lagi.
    “Suka sekali dan kelihatannya nikmat sekali yach,” kataku secara tegas.

    “Jika istri kakak tidak suka dan tidak mau melakukan permainan seperti itu, bagaimana kalau aku tawarkan kerjasama untuk memperaktekkan hal seperti itu?” tanya istri teman lamaku secara tegas dan berani padaku sambil ia mendempetkan tubuhnya di tubuhku sehingga bisikannya terasa hangat nafasnya dipipiku.

    Tanpa sempat lagi aku berfikir panjang, lalu aku mencoba merangkulnya sambil menganggukkan kepala pertanda setuju. Wanita itupun membalas pelukanku. Bahkan ia duluan mencium pipi dan bibirku, lalu ia masukkan lidahnya ke dalam mulutku sambil digerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan, akupun membalasnya dengan lahap sekali.

    Aku memulai memasukkan tangan ke dalam bajunya mencari kedua payudaranya karena aku sama sekali sudah tidak mampu lagi menahan birahiku, lagi pula kedua benda kenyal itu saya sudah hafal tempatnya dan sudah sering memegangnya. Tapi kali ini, rasanya lain daripada yang lain, sedikit lebih mulus dan lebih keras dibanding milik istriku. Entah siapa yang membuka baju yang dikenakannya, tiba-tiba terbuka dengan lebar sehingga nampak kedua benda kenyal itu tergantung dengan menantang.

    Cerita Bokep – Akupun memperaktekkan apa yang barusan kulihat dalam layar tadi yakni menjilat dan mengisap putingnya berkali-kali seolah aku mau mengeluarkan air dari dalamnya. Kadang kugigit sedikit dan kukunyah, namun wanita itu sedikit mendorong kepalaku sebagai tanda adanya rasa sakit.

    Selama hidupku, baru kali ini aku melihat pemandangan yang indah sekali di antara kedua paha wanita itu. Karena tanpa kesulitan aku membuka sarung yang dikenakannya, langsung saja jatuh sendiri dan sesuai dugaanku semula ternyata memang tidak ada pelapis kemaluannya sama sekali sehingga aku sempat menatap sejenak kebersihan vagina wanita itu.

    Putih, mulus dan tanpa selembar bulupun tumbuh di atas gundukan itu membuat aku terpesona melihat dan merabanya, apalagi setelah aku memberanikan diri membuka kedua bibirnya dengan kedua tanganku, nampak benda kecil menonjol di antara kedua bibirnya dengan warna agak kemerahan. Ingin rasanya aku telan dan makan sekalian, untung bukan makanan, tapi sempat saya lahap dengan lidahku hingga sedalam-dalamnya sehingga wanita itu sedikit menjerit dan terengah-engah menahan rasa nikmatnya lidah saya, apalagi setelah aku menekannya dalam-dalam.

    “Kak, aku buka saja semua pakaiannya yah, biar aku lebih leluasa menikmati seluruh tubuhmu,” pintanya sambil membuka satu persatu pakaian yang kukenakan hingga aku telanjang bulat. Bahkan ia nampaknya lebih tidak tahan lagi berlama-lama memandangnya. Ia langsung serobot saja dan menjilati sekujur tubuhku, namun jilatannya lebih lama pada biji pelerku, sehingga pinggulku bergerak-gerak dibuatnya sebagai tanda kegelian.

    Lalu disusul dengan memasukkan penisku ke mulutnya dan menggocoknya dengan cepat dan berulang-ulang, sampai-sampai terasa spermaku mau muncrat. Untung saya tarik keluar cepat, lalu membaringkan ke atas tempat tidurnya dengan kaki tetap menjulang ke lantai biar aku lebih mudah melihat, dan menjamahnya.

    Setelah ia terkulai lemas di atas tempat tidur, akupun mengangkanginya sambil berdiri di depan gundukkan itu dan perlahan aku masukkan ujung penisku ke dalam vaginanya lalu menggerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan maju dan mundur, akhirnya dapat masuk tanpa terlalu kesulitan.

    “Dik, model yang bagaimana kita terapkan sekarang? Apa kita ikuti semua posisi yang ada di layar TV tadi,” tanyaku berbisik.

    “Terserah kak, aku serahkan sepenuhnya tubuhku ini pada kakak, mana yang kakak anggap lebih nikmat dan lebih berkesan sepanjang hayat serta lebih memuaskan kakak,” katanya pasrah. Akupun meneruskan posisi tidur telentang tadi sambil aku berdiri menggocok terus, sehingga menimbulkan bunyi yang agak menambah gairah sexku.

    “Ahh.. Uhh.. Ssstt.. Hmm.. Teeruus kak, enak sekali, gocok terus kakak, aku sangat menikmatinya,” demikian pintanya sambil terengah dan berdesis seperti bunyi jangkrik di dalam kamarnya itu.

    “Dik, gimana kalau saya berbaring dan adik mengangkangiku, biar adik lebih leluasa goyangannya,” pintaku padanya.

    “Aku ini sudah hampir memuncak dan sudah mulai lemas, tapi kalau itu permintaan kakak, bolehlah, aku masih bisa bertahan beberapa menit lagi,” jawabnya seolah ingin memuaskanku malam itu.

    Tanpa kami rasakan dan pikirkan lagi suaminya kembali malam itu, apalagi setelah jam menunjukkan pukul 9.30 malam itu, aku terus berusaha menumpahkan segalanya dan betul-betul ingin menikmati pengalaman bersejarah ini bersama dengan istri teman lamaku itu.

    Namun sayangnya, karena keasyikan dan keseriusan kami dalam bersetubuh malam itu, sehingga baru sekitar 3 menit berjalan dengan posisi saya di bawah dan dia di atas memompa serta menggoyang kiri kanan pinggulnya, akhirnya spermaku pun tumpah dalam rahimnya dan diapun kurasakan bergetar seluruh tubuhnya pertanda juga memuncak gairah sexnya. Setelah sama-sama puas, kami saling berciuman, berangkulan, berjilatan tubuh dan tidur terlentang hingga pagi.

    Setelah kami terbangun hampir bersamaan di pagi hari, saya langsung lompat dari tempat tidur, tiba-tiba muncul rasa takut yang mengecam dan pikiranku sangat kalut tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Saya menyesal tapi ada keinginan untuk mengulanginya bersama dengan wanita itu. Untung malam itu suaminya tidak kembali dan kamipun berusaha masuk kamar mandi membersihkan diri.

    Walaupun terasa ada gairah baru lagi ingin mengulangi di dalam kamar mandi, namun rasa takutku lebih mengalahkan gairahku sehingga aku mengurungkan niatku itu dan langsung pamit dan sama-sama berjanji akan mengulanginya jika ada kesempatan. Saya keluar dari rumah tanpa ada orang lain yang melihatku sehingga saya yakin tidak ada yang mencurigaiku.

  • Cerita Bokep Bercinta Dengan Guru

    Cerita Bokep Bercinta Dengan Guru


    1540 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Bokep Bercinta Dengan Guru ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Segera, saya mulai dengan pengalaman pertama saya ‘bercinta’ (ML) atau bercinta dengan seorang wanita. Itu terjadi ketika aku masih seorang mahasiswa sekolah tinggi.

    Itu selama musim ujian, sehingga kami diawasi oleh guru dari kelas-kelas lain. Kebetulan menerima bagian ujian mengawasi kelas di mana seorang guru bernama Bu Netty, usia masih cukup muda, sekitar 25 tahun.

    tinggi badannya sekitar 155 cm. kulit putih bersih, hidung mancung, oval Bentuk wajah dengan rambut lurus dipotong pendek sebatas leher, memperlihatkan leher yang panjang.

    Yang membuat saya sangat tertarik adalah tonjolan dua bukit payudaranya yang cukup besar, pantat seksi dan bergoyang saat dia berjalan. Saya sering mencuri pandang ke arahnya dengan tatapan tajam, menuju meja menempati. Kadang-kadang, baik sengaja atau tidak, dia kembali menatap saya dengan senyum sedikit. Itu membuat saya berdebar-debar tak menentu.

    Bahkan pada kesempatan lain, ia menatapku dan memasang senyum, ia sengaja menyilangkan kaki, sehingga mengungkapkan paha mulus dan betis.

    Di lain waktu ia bahkan sengaja menarik rok sudah pendek (di atas lutut, dengan belahan di samping), melihat wajah saya, jadi saya bisa melihat lebih dalam, ke arah selangkangannya. Tampak gundukan kecil di tengah, dia mengenakan pakaian katun berwarna putih.

    Saya sedikit terkejut dan sedikit menggembung dengan ‘show’ lakukan. Aku melihat sekeliling, memastikan ada teman-teman saya apa yang orang lain juga melihat acara kecil. Ternyata mereka semua sibuk melakukan ujian pertanyaan serius. Aku kembali menatap Ibu Netty, dia masih menatapku dengan senyum nakal.

    Aku tersenyum ke arahnya, sambil mengangkat ibu jarinya, maka saya terus bekerja pada soal ujian di meja saya. Tentu saja dengan tampilan sesekali menuju meja Ibu Netty yang masih menyilangkan kaki dan menurunkannya kembali, dengan cara yang jelas menunjukkan pangkal paha yang indah.

    Sekitar 30 menit sebelum ujian berakhir, aku bangun dan berjalan ke depan untuk menyerahkan surat-surat kepada Ny Netty ujian. “Ini sudah berakhir?” Dia tersenyum.

    “Sudah, bu ….” jawabku, tersenyum ke arahnya. “Anda seperti yang Anda lihat?” Tanyanya kaget.

    Aku mengangguk, kami melakukan semua bicara dengan berbisik. “Apa yang saya dapat melihatnya lagi nanti?” Aku memberanikan diri, masih berbisik.

    “Kita akan melihat Anda di depan sekolah, setelah ujian selesai, ok?” Dia berkata sambil tersenyum. Senyum yang mengguncang hati saya dan membuat saya begitu panas dan dingin.

    Makan siang adalah di gerbang depan sekolah, membawa tasnya, bu Netty mendekati tempatku berdiri dan berkata, “Bud, Anda mengikuti saya dari belakang” Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan pantat yang fantastis.

    Ketika kita sudah jauh dari lingkungan sekolah dan tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia berhenti, menunggu di sampingnya.
    Kami berjalan beriringan. “Anda benar-benar ingin melihatnya lagi?” Dia bertanya, memecah keheningan. “Lihat apa yang ibu?” Aku berkata, pura-pura lupa, atas permintaan sendiri ketika di kelas pagi ini.

    “Ah, kau, seperti berpura-pura …” katanya sambil mencubit pinggang perlahan. Aku tidak berusaha untuk menghindari cubitannya, pada kenyataannya, saya memegang telapak tangan halus dan diperas dengan gemas. bu Netty diperas kembali, menatapku lekat.

    Akhirnya kami sampai di sebuah rumah kecil, agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Sepertinya rumah kontrakan, karena tidak terlihat ornamen tambahan di bangunan rumah. Ibu Netty membuka tasnya, mengeluarkan kunci dan membuka pintu.

    “Bud, datang. Lepaskan sepatu di dalam, menutup dan mengunci pintu belakang!” Perintah-Nya dengan cepat. Aku menuruti permintaannya tanpa bertanya. Setelah di dalam rumah, bu Netty menaruh tasnya di atas meja, memasuki ruangan tanpa menutup pintu.

    Aku hanya melihat, ketika santai ia membuka kancing kemejanya, memperlihatkan bra-nya yang juga terbuat dari katun putih, buah dada putih dan agak besar tidak dapat ditampung dan mencuat dari BH tersebut, membuatnya lebih seksi, maka ia menelepon saya,

    “Bud, silahkan dong, lepasin gesper …” katanya sambil menoleh padaku.

    Aku membuka nya tali bra hook, dengan panas wajah dan jantung berdebar. Setelah bra-nya off, ia membuka lemari, mengambil T-shirt putih, kemudian memakainya, masih berpaling ke posisi. T-shirt terlihat wrap yang sangat ketat di sekitar tubuhnya dengan wangi.

    Kemudian dia kembali meminta bantuan kepada saya, ia meminta membuka ritsleting di gaunnya! Aku pergi kembali membuat jantung berdebar dan terburuk dari semua, saya mulai merasa selangkangan basah. Pangkal paha memberontak pada pakaian yang menduplikasi dengan celana SMA saya.

    Ketika ia berpaling kepada saya, saya cepat memperbaiki posisi pangkal paha dari luar celana terjepitnya. Lalu aku membuka ketat rok ritsleting.
    Perlahan dia menurunkan roknya, sehingga posisinya menungging di depanku. Aku menatap pantat seksi dan sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan celana putih, tangan menyentuh pantat bu Netty dan sedikit meremas, jengkel.

    “Saya tidak sabar ya, Bud?” Kata Netty bu.

    “Maaf, Bu, pantat kelelahan seksi ibu benar-benar, sehingga kesal saya ….”

    “Kalau di sini tidak memanggil saya ‘Bu’ lagi, menyebut ‘teteh’ aja ya?”

    “Ya Bu, eh, teh Netty” konsentrasi saya hancur melihat di depan saya saat ini, bu Netty T-shirt dengan ketat, tidak ada bra.

    Sehingga puting mencuat dari balik kemeja putih, tombol sexy perut tidak tertutup, karena ukuran T-shirt pendek.
    Celana di pagi hari saya melihat dari jauh sekarang aku bisa melihat dengan jelas, gundukan di selangkangannya membuatku menelan ludah, paha putih mulus dan ramping membuat semuanya tampak mimpi.

    “Bagaimana Bud, seperti bukan?” Katanya sambil pinggang berkcak dan pinggul meliuk-liukkan.

    “Kenapa kau begitu tercengang, Bud?” Dia melanjutkan saat ia mendekat.

    Aku menatapnya tertegun berkata-kata ketika dia memeluk leher saya dan mencium saya, pada awalnya saya kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak lama. Lalu aku membalas ciumannya, dia melumat bibirku dengan rakus, aku membalas lumatannya.

    “Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh ….” Dia bergumam di tengah ciuman kami. Tidak lama setelah tangan kanannya dengan tangan kiri saya dan menuntun tanganku ke dadanya.

    Aku cepat merespon apa yang dia inginkan, kuremas dengan lembut meremas payudara dan puting knot kupilin mulai mengeras nya. “Mmmmhhhh … .mmmmmhhhhh” Kali ini dia merintih nikmat.

    Aku menggosok punggungnya, turun ke pinggangngya yang tidak tercakup oleh T-shirtnya, aku terus menggosok dan meremas pantatnya padat dan seksi.

    Lalu aku pergi dengan jari tengah saya menyelinap ke pantat belahan dadanya, kugesek-gesek ke dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vagina dari celana luar yang dipakainya. Ternyata itu sudah celana sangat basah.

    Sementara ciuman kami, berubah menjadi kulum lidah lain masing-masing secara bergantian, kadang-kadang menjambaki rambutnya dengan gemas, tangan lainnya membuka kancing baju sekolah saya satu per satu.

    Aku dihapus pagutanku pada bibirnya dan membantunya melepas bajuku, lalu kemeja saya di, ikat pinggang saya, saya perosotkan abu saya celana abu-abu dan celana putih saya juga.

    Ibu Netty melakukan hal yang sama, dengan terburu-buru sedikit melepas T-shirtnya dia baru saja membuat beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam putih, sehingga sekarang dia telanjang.

    tubuh putih mulus dan sexy sangat menggiurkan. Hampir bersamaan kami selesai memamerkan tubuh kita masing-masing, ketika aku menegakkan kembali, kami berdua tertegun sejenak.

    Aku menatap tubuh telanjang tanpa sehelai benangpun. Aku pernah melihat tubuh telanjang, tetapi secara langsung dan tatap Hapan pertama kalinya saya mengalami hal itu. Payudaranya sudah mengeras terlihat kencang, lebih besar dari telapak tangan saya, karena saya sudah berusaha untuk memeras seluruh sphere.

    Tetapi tidak pernah berhasil, karena sangat besar. Perutnya datar tampaknya tidak bagian sama sekali lemak. pinggang ramping dan bulat sangat seksi. Tumbuhi selangkangan rambut yang sengaja tidak dicukur, hanya sedikit di atas kemaluannya mengkilap dengan kelembaban.

    Tubuh telanjang yang pernah saya lihat di sebagian besar pornografi gambar, film atau paling nyata tubuh biru ABG tetangga aku melihat kamarnya.

    Sehingga tidak begitu jelas dan lakukan dengan cepat karena takut tertangkap. Kebiasaan mengintip tidak berlangsung lama karena pada dasarnya aku tidak suka mengintip.

    Sementara mencermati bu Netty sudah pangkal paha yang tegang dan mengeras, basis tumbuhi rambut kasar, sebenarnya ada banyak rambut yang tumbuh di batang kemaluanku. Ukurannya cukup besar dan selusin cm panjangnya. “Bud, Anda sakit, besar dan panjang, ada bulu lagi di bagasi” katanya sambil mendekat.

    Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih selangkangan, berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku menyeret dan selanjutnya kepala soft-ngocoknya sudah pangkal paha dikulumnya. Tubuhku menegang mendapat emutan seperti itu.

    “Oooohhhh …. lezat teh ….” rintihku pelan. Ia semakin bersemangat dengan kuluman dan kocokan-kocokannya di selangkangan, sementara aku mendapatkan panik sebagai akibat dari tindakannya.

    Kadang-kadang dimasukkannya selangkangan menjadi tenggorokannya. Menelusuri kembali kepalanya ke depan, sehingga selangkangan keluar dari mulutnya, mengisap-mengisap rakus.

    Aku semakin tahan dan akhirnya …, juga rusak pertahanan. Penyemprotan sperma langsung ke dalam mulutnya bahwa dia mengisap dan menelannya.

    Sehingga tidak ada satu tetespun menetes ke lantai, memberiku sensasi yang besar. Rasanya jauh lebih menyenangkan daripada ketika saya masturbasi.

    “Aaaahhhh … ooooohhhhh …. teteeeeehhhhh!” Teriak tak tertahankan.

    “Bagaimana? Bud buruk?” Tanyanya sambil mengisap tetes terakhir dari pangkal paha saya.

    “Ini teh yang baik benar-benar, jauh lebih baik daripada ngocok sendiri” kataku puas.

    “Gantian dong teh, saya ingin ngerasain memiliki teteh” Aku pergi mengemis sedikit.

    “Mungkin …,” katanya sambil menuju tempat tidur, dan kemudian dia berbaring di tempat tidur yang rendah, kakinya berbaring di lantai.

    Aku segera berlutut di depannya, aku mencium selangkangannya dengan bibir saya, tangan saya memegang kedua payudaranya, meremas-meremas lembut dan knot perlahan kupilin puting sudah mengeras.

    Dia mulai menarik keluar erangan-erangan lembut. Sementara mulut untuk menghisap, twist, vagina menjilat semakin basah. Aku permainkan klitoris dengan lidah saya dan saya-semut semut bibirku.

    “Aaaaaahhhhh … ooooohhhhhh, Buuuuddddhyyyyy …, aku tidak tahan, aaaaauuuuuhhhhhh!” erangan semakin keras. Aku sedikit khawatir bahwa ada tetangga yang mendengar nikmat erangan-erangan.

    Tapi karena saya juga diganggu oleh nafsu, sehingga akhirnya aku tidak terlalu memperdulikannya. Sampai saat aku merasa mengejang tubuhnya.

    Lalu aku merasa ledakan cairan hangat di mulutku, aku payah itu semua sebagai terbaik yang saya bisa, saya menelan dan saya menikmatinya rakus, setetes demi setetes.

    Kakinya menjuntai ke lantai, kakinya sekarang diapit oleh kepala ketat, kedua tangan menekan kepala saya agar lebih dekat lagi terjebak di bagian selangkangan, sehingga sulit untuk bernapas. Tanganku yang sebelumnya bergerilya di kedua payudara sekarang meremas-remas dan mengusap pahanya yang ada di pundak saya.

    “Bud, Anda yang besar, membuat saya orgasme berkedut, seperti, belajar dari?” Dia bertanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum.

    Saya melakukan banyak membaca tentang hubungan seksual, dari majalah, buku dan internet. Meskipun sudah sejak selangkangan terakhir diperketat lagi karena terangsang dengan senang erangan erangan-bu Netty. Aku akan berdiri, diposisikan di depan selangkangan masih berkedut mulut dan vagina basah dan licin.


    “Saya masukkan teh ya?” Aku bertanya, tanpa menunggu jawaban darinya, aku putus miliknya sedang menunggu kedatangan bibirku.

    “Oooohhhh …” dia mengerang,

    “Aaaahhhh …” membayar dengan erangan sama senang, ketika pangkal paha menembus jauh ke dalam vaginanya, ada pergi keperawanan saya.

    Tertandingi kesenangan saya rasakan ketika batang kemaluanku ke tempatnya, gosok dengan dinding vagina lembut, sampai ke pangkalnya.
    Ibu Netty mengerang keras saat selangkangan bulu tumbuh di bibir vagina batang kemaluanku menggesek dan klitoris, matanya setengah terpejam mulutnya terbuka, napasnya mulai tersenggal-senggal.

    “Ahh-ahh-ahh auuuu!” Aku menarik pangkal paha saya lagi perlahan, sampai kepalanya hampir keluar. Aku meletakkan lebih lambat, sementara mengerang teriakan kecil selalu ditambah, setiap kali pangkal batang kemaluanku memukul bibir vagina dan klitoris.

    Gerakan lebih cepat dan lebih cepat, bibirku bergantian antara miliknya, mengisap puting atau kiri dan kanan. Teriak memburuk, ia tolehkan kepala kiri atau kanan membuat hanya dapat menghisap putingnya saja, tidak bisa lagi miliknya yang seksi. Sementara pinggulnya mengangkat setiap kali aku terjun ke dalam vagina vaginanya yang sekarang sangat basah, sampai akhirnya,

    “Buuudddhhyyyyyy …. Aku ingin keluar lagiiiiii … oooohhhhhh … Aaahhhhh” jeritan semakin kacau.

    Aku melihat dengan kepuasan saat ia berusaha seperti memegang sesuatu, vagina banjir kembali karena ia mengalami orgasme dalam mulutku.
    Aku memang sengaja tidak mengendalikan diri untuk orgasme, itu adalah saya pelajari dengan seksama, meskipun saya belum pernah dilakukan sebelumnya ML itu.

    Ibu Netty kagum dengan kemampuan untuk mengendalikan diri. Setelah ia melambung ke orgasme setelah orgasme yang susul-, saya cabut selangkangan masih kuat dan keras.

    Aku memberinya beberapa saat untuk mengatur napas. Lalu saya bertanya kepadanya menungging, dia dengan senang hati melakukannya. Kembali kami tenggelam dalam permainan panas.

    Sekali lagi aku mendapat orgasme berkepanjangan tampak tak berujung, saya lakukan karena itu cukup lelah, kupercepat gerakan untuk mengejar klimaks.

    Akhirnya menyemburlah sperma, yang telah saya tahan, begitu lemasnya ia tak berdaya tengkurap di atas perutnya, aku menjatuhkan diri berbaring di sebelahnya. Sejak peristiwa hari, saya tidak lagi masturbasi, tapi kami ML setiap kali kami ingin.

    Ketika saya bertanya mengapa ia memilih, ia menjawab, karena aku seperti pacar pertama, yang membuatnya kehilangan mahkotanya, sementara masih di SMA. Namun bedanya, katanya, aku lebih tahan lama saat berhubungan seks (GR tidak tahu).

    Ketika saya bertanya, apa tidak takut hamil?, Ia menjawab dengan santai, bahwa ia rutin disuntik setiap 3 bulan

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Gairah Seks Mertua Tersayangku Membara

    Cerita Sex Gairah Seks Mertua Tersayangku Membara


    1539 views

    Perawanku – Cerita Sex Gairah Seks Mertua Tersayangku Membara, Perkenalkan dulu namaku Tomy. Sudah satu minggu ini akau berada di rumah sendirian. Istriku, Riris, sedang ditugaskan dari kantor tempatnya bekerja untuk mengikuti suatu pelatihan yang dilaksanakan di kota lain selama dua minggu. Terus terang saja aku jadi kesepian juga rasanya. Kalau mau tidur rasanya kok aneh juga, kok sendirian dan sepi, padahal biasanya ada istri di sisiku. Memang perkimpoian kami belum dikaruniai anak. Maklum baru 1 tahun berjalan. Karena sendirian itu, dan maklum karena otak laki-laki, pikirannya jadi kemana-mana.

    Aku teringat peristiwa yang aku alami dengan ibu mertuaku. Ibu mertuaku memang bukan ibu kandung istriku, karena ibu kandung Riris telah meninggal dunia. Ayah mertuaku kemudian kimpoi lagi dengan ibu mertuaku yang sekarang ini dan kebetulan tidak mempunyai anak. Ibu mertuaku ini umurnya sekitar 40 tahun, wajahnya ayu, dan tubuhnya benar-benar sintal dan padat sesuai dengan wanita idamanku. Buah dadanya besar sesuai dengan pinggulnya. Demikian juga pantatnya juga bahenol banget. Aku sering membayangkan ibu mertuaku itu kalau sedang telentang pasti vaginanya membusung ke atas terganjal pantatnya yang besar itu. Hemm, sungguh menggairahkan.

    Peristiwa itu terjadi waktu malam dua hari sebelum hari perkawainanku dengan Riris. Waktu itu aku duduk berdua di kamar keluarga sambil membicarakan persiapan perkimpoianku. Mendadak lampu mati. Dalam kegelapan itu, ibu mertuaku (waktu itu masih calon) berdiri, saya pikir akan mencari lilin, tetapi justru ibu mertuaku memeluk dan menciumi pipi dan bibirku dengan lembut dan mesra. Aku kaget dan melongo karena aku tidak mengira sama sekali diciumi oleh calon ibu mertuaku yang cantik itu.

    Hari-hari berikutnya aku bersikap seperti biasa, demikian juga ibu mertuaku. Pada saat-saat aku duduk berdua dengan dia, aku sering memberanikan diri memandang ibu mertuaku lama-lama, dan dia biasanya tersenyum manis dan berkata, “Apaa..?, sudah-sudah, ibu jadi malu”.
    Terus terang saja aku sebenarnya merindukan untuk dapat bermesraan dengan ibu mertuaku itu. Aku kadang-kadang sagat merasa bersalah dengan Riris istriku, dan juga ayahku mertua yang baik hati. Kadang-kadang aku demikian kurang ajar membayangkan ibu mertuaku disetubuhi ayah mertuaku, aku bayangkan kemaluan ayah mertuaku keluar masuk vagina ibu mertuaku, Ooh alangkah…! Tetapi aku selalu menaruh hormat kepada ayah dan ibu mertuaku. Ibu mertuaku juga sayang sama kami, walaupun Riris adalah anak tirinya.

    Pagi-pagi hari berikutnya, aku ditelepon ibu mertuaku, minta agar sore harinya aku dapat mengantarkan ibu menengok famili yang sedang berada di rumah sakit, karena ayah mertuaku sedang pergi ke kota lain untuk urusan bisnis. Aku sih setuju saja. Sore harinya kami jadi pergi ke rumah sakit, dan pulang sudah sehabis maghrib. Seperti biasa aku selalu bersikap sopan dan hormat pada ibu mertuaku.

    Dalam perjalan pulang itu, aku memberanikan diri bertanya, “Bu, ngapain sih dulu ibu kok cium Tomy?”.
    “Aah, kamu ini kok maih diingat-ingat juga siih”, jawab ibuku sambil memandangku.
    “Jelas dong buu…, Kan asyiik”, kataku menggoda.
    “Naah, tambah kurang ajar thoo, Ingat Riris lho Tom…, Nanti kedengaran ayahmu juga bisa geger lho Tom”.
    “Tapii, sebenarnya kenapa siih bu…, Tomy jadi penasaran lho”.

    “Aah, ini anak kok nggak mau diem siih, Tapi eeh…, anu…, Tom, sebenarnya waktu itu, waktu kita jagongan itu, ibu lihat tampangmu itu kok ganteng banget. Hidungmu, bibirmu, matamu yang agak kurang ajar itu kok membuat ibu jadi gemes banget deeh sama kamu. Makanya waktu lampu mati itu, entah setan dari mana, ibu jadi pengin banget menciummu dan merangkulmu. Ibu sebenarnya jadi malu sekali. Ibu macam apa kau ini, masa lihat menantunya sendiri kok blingsatan”.
    “Mungkin, setannya ya Tomy ini Bu…, Saat ini setannya itu juga deg-degan kalau lihat ibu mertuanya. Ibu boleh percaya boleh tidak, kadang-kadang kalau Tomy lagi sama Riris, malah bayangin Ibu lho. Bener-bener nih. Sumpah deh. Kalau Ibu pernah bayangin Tomy nggak kalau lagi sama Bapak”, aku semakin berani.

    “aah nggak tahu ah…, udaah…, udaah…, nanti kalau keterusan kan nggak baik. Hati-hati setirnya. Nanti kalau nabrak-nabrak dikiranya nyetir sambil pacaran ama ibu mertuanya. Pasti ibu yang disalahin orang, Dikiranya yang tua niih yang ngebet”, katanya.

    “Padahal dua-duanya ngebet lo Bu. Buu, maafin Tomy deeh. Tomy jadi pengiin banget sama ibu lho…, Gimana niih, punya Tomy sakit kejepit celana nihh”, aku makin berani.
    “Aduuh Toom, jangan gitu dong. Ibu jadi susah nih. Tapi terus terang aja Toom.., Ibu jadi kayak orang jatuh cinta sama kamu.., Kalau udah begini, udah naik begini, ibu jadi pengin ngeloni kamu Tom…, Tom kita cepat pulang saja yaa…, Nanti diterusin dirumah…, Kita pulang ke rumahmu saja sekarang…, Toh lagi kosong khan…, Tapi Tom menggir sebentar Tom, ibu pengen cium kamu di sini”, kata ibu dengan suara bergetar.

    ooh aku jadi berdebar-debar sekali. Mungkin terpengaruh juga karena aku sudah satu minggu tidak bersetubuh dengan istriku. Aku jadi nafsu banget. Aku minggir di tempat yang agak gelap. Sebenarnya kaca mobilku juga sudah gelap, sehingga tidak takut ketahuan orang. Aku dan ibu mertuaku berangkulan, berciuman dengan lembut penuh kerinduan. Benar-benar, selama ini kami saling merindukan.

    “eehhm…, Toom ibu kangen banget Toom”, bisik ibu mertuaku.
    “Tomy juga buu”, bisikku.
    “Toom…, udah dulu Tom…, eehmm udah dulu”, napas kami memburu.
    “Ayo jalan lagi…, Hati-hati yaa”, kata ibu mertuaku.
    “Buu penisku kejepit niih…, Sakit”, kataku.
    “iich anak nakal”, Pahaku dicubitnya.
    “Okey…, buka dulu ritsluitingnya”, katanya.
    Cepat-cepat aku buka celanaku, aku turuni celana dalamku. Woo, langsung berdiri tegang banget. Tangan kiri ibu, aku tuntun untuk memegang penisku.

    “Aduuh Toom. Gede banget pelirmu…, Biar ibu pegangin, Ayo jalan. Hati-hati setirnya”.
    Aku masukkan persneling satu, dan mobil melaju pulang. Penisku dipegangi ibu mertuaku, jempolnya mengelus-elus kepala penisku dengan lembut. Aduuh, gelii… nikmat sekali. Mobil berjalan tenang, kami berdiam diri, tetapi tangan ibu terus memijat dan mengelus-elus penisku dengan lembut.

    Sampai di rumahku, aku turun membuka pintu, dan langsung masuk garasi. Garasi aku tutup kembali. Kami bergandengan tangan masuk ke ruang tamu. Kami duduk di sofa dan berpandangan dengan penuh kerinduan. Suasana begitu hening dan romantis, kami berpelukan lagi, berciuman lagi, makin menggelora. Kami tumpahkan kerinduan kami. Aku ciumi ibu mertuaku dengan penuh nafsu. Aku rogoh buah dadanya yang selalu aku bayangkan, aduuh benar-benar besar dan lembut.
    “Buu, Tomy kangen banget buu…, Tomy kangen banget”.

    “Aduuh Toom, ibu juga…, Peluklah ibu Tom, peluklah ibu” nafasnya semakin memburu.
    Matanya terpejam, aku ciumi matanya, pipinya, aku lumat bibirnya, dan lidahku aku masukkan ke mulutnya. Ibu agak kaget dan membuka matanya. Kemudian dengan serta-merta lidahku disedotnya dengan penuh nafsu.

    “Eehhmm.., Tom, ibu belum pernah ciuman seperti ini…, Lagi Tom masukkan lidahmu ke mulut ibu”
    Ibu mendorongku pelan, memandangku dengan mesra. Dirangkulnya lagi diriku dan berbisik, “Tom, bawalah Ibu ke kamar…, Enakan di kamar, jangan disini”.
    Dengan berangkulan kami masuk ke kamar tengah yang kosong. Aku merasa tidak enak di tempat tidur kami. Aku merasa tidak enak dengan Riris apabila kami memakai tempat tidur di kamar kami.
    “Bu kita pakai kamar tengah saja yaa”.

    “Okey, Tom. Aku juga nggak enak pakai kamar tidurmu. Lebih bebas di kamar ini”, kata ibu mertuaku penuh pengertian. Aku remas pantatnya yang bahenol.
    “iich.., dasar anak nakal”, ibu mertuaku merengut manja.

    Kami duduk di tempat tidur, sambil beciuman aku buka pakaian ibu mertuaku. Aku sungguh terpesona dengan kulit ibuku yang putih bersih dan mulus dengan buah dadanya yang besar menggantung indah. Ibu aku rebahkan di tempat tidur. Celana dalamnya aku pelorotkan dan aku pelorotkan dari kakinya yang indah. Sekali lagi aku kagum melihat vagina ibu mertuaku yang tebal dengan bulunya yang tebal keriting. Seperti aku membayangkan selama ini, vagina ibu mertuaku benar menonjol ke atas terganjal pantatnya yang besar. Aku tidak tahan lagi memandang keindahan ibu mertuaku telentang di depanku. Aku buka pakaianku dan penisku sudah benar-benar tegak sempurna. Ibu mertuaku memandangku dengan tanpa berkedip. Kami saling merindukan kebersamaan ini. Aku berbaring miring di samping ibu mertuaku. Aku ciumi, kuraba, kuelus semuanya, dari bibirnya sampai pahanya yang mulus.

    Cerita Sex Gairah Seks Mertua Tersayangku Membara

    Cerita Sex Gairah Seks Mertua Tersayangku Membara

    Aku remas lembut buah dadanya, kuelus perutnya, vaginanya, klitorisnya aku main-mainkan. Liangnya vaginanya sudah basah. Jariku aku basahi dengan cairan vagina ibu mertuaku, dan aku usapkan lembut di clitorisnya. Ibu menggelinjang keenakan dan mendesis-desis. Sementara peliku dipegang ibu dan dielus-elusnya. Kerinduan kami selama ini sudah mendesak untuk ditumpahkan dan dituntaskan malam ini. Ibu menggeliat-geliat, meremas-remas kepalaku dan rambutku, mengelus punggungku, pantatku, dan akhirnya memegang penisku yang sudah siap sedia masuk ke liang vagina ibu mertuaku.

    “Buu, aku kaangen banget buu…, Tomyy kanget banget…, Tomy anak nakal buu..”, bisikku.
    “Toom…, ibu juga. sshh…, masukin Toom…, masukin sekarang…, Ibu sudah pengiin banget Toom, Toomm…”, bisik ibuku tersengal-sengal. Aku naik ke atas ibu mertuaku bertelakn pada siku dan lututku.

    Tangan kananku mengelus wajahnya, pipinya, hidungnya dan bibir ibu mertuaku. Kami berpandangan. Berpandangan sangat mesra. Penisku dituntunnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Ditempelkannya dan digesek-gesekan di bibir vaginanya, di clitorisnya. Tangan kirinya memegang pantatku, menekan turun sedikit dan melepaskan tekanannya memberi komando penisku.
    Kaki ibu mertuaku dikangkangnya lebar-lebar, dan aku sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke vagina ibu mertuaku. Kepala penisku mulai masuk, makin dalam, makin dalam dan akhirnya masuk semuanya sampai ke pangkalnya. Aku mulai turun naik dengan teratur, keluar masuk, keluar masuk dalam vagina yang basah dan licin. Aduuh enaak, enaak sekali.
    “Masukkan separo saja Tom. Keluar-masukkan kepalanya yang besar ini…, Aduuh garis kepalanya enaak sekali”.

    Nafsu kami semakin menggelora. Aku semakin cepat, semakin memompa penisku ke vagina ibu mertuaku. “Buu, Tomy masuk semua, masuk semua buu”
    “Iyaa Toom, enaak banget. Pelirmu ngganjel banget. Gede banget rasane. Ibu marem banget” kami mendesis-desis, menggeliat-geliat, melenguh penuh kenikmatan. Sementara itu kakinya yang tadi mengangkang sekarang dirapatkan.
    Aduuh, vaginanya tebal banget. Aku paling tidak tahan lagi kalau sudah begini. Aku semakin ngotot menyetubuhi ibu mertuaku, mencoblos vagina ibu mertuaku yang licin, yang tebal, yang sempit (karena sudah kontraksi mau puncak). Bunyinya kecepak-kecepok membuat aku semakin bernafsu. Aduuh, aku sudah tidak tahan lagi.

    “Buu Tomy mau keluaar buu…, Aduuh buu.., enaak bangeet”.
    “ssh…, hiiya Toom, keluariin Toom, keluarin”.
    “Ibu juga mau muncaak, mau muncaak…, Toomm, Tomm, Teruss Toomm”, Kami berpagutan kuat-kuat. Napas kami terhenti. Penisku aku tekan kuat-kuat ke dalam vagina ibu mertuaku.
    Pangkal penisku berdenyut-denyut. menyemprotlah sudah spermaku ke vagina ibu mertuaku. Kami bersama-sama menikmati puncak persetubuhan kami. Kerinduan, ketegangan kami tumpah sudah. Rasanya lemas sekali. Napas yang tadi hampir terputus semakin menurun.
    Aku angkat badanku. Akan aku cabut penisku yang sudah menancap dari dalam liang vaginanya, tetapi ditahan ibu mertuaku.

    “Biar di dalam dulu Toom…, Ayo miring, kamu berat sekali. Kamu nekad saja…, masa’ orang ditindih sekuatnya”, katanya sambil memencet hidungku. Kami miring, berhadapan, Ibu mertuaku memencet hidungku lagi, “Dasar anak kurang ajar…, Berani sama ibunya.., Masa ibunya dinaikin, Tapi Toom…, ibu nikmat banget, ‘marem’ banget. Ibu belum pernah merasakan seperti ini”.
    “Buu, Tomy juga buu. Mungkin karena curian ini ya buu, bukan miliknya…, Punya bapaknya kok dimakan. Ibu juga, punya anakya kok ya dimakan, diminum”, kataku menggodanya.
    “Huush, dasar anak nakal.., Ayo dilepas Toom.., Aduuh berantakan niih Spermamu pada tumpah di sprei, Keringatmu juga basahi tetek ibu niih”.
    “Buu, malam ini ibu nggak usah pulang. Aku pengin dikelonin ibu malam ini. Aku pengin diteteki sampai pagi”, kataku.

    “Ooh jangan cah bagus…, kalau dituruti Ibu juga penginnya begitu. Tapi tidak boleh begitu. Kalau ketahuan orang bisa geger deeh”, jawab ibuku.
    “Tapi buu, Tomy rasanya emoh pisah sama ibu”.
    “Hiyya, ibu tahu, tapi kita harus pakai otak dong. Toh, ibu tidak akan kabur.., justru kalau kita tidak hati-hati, semuanya akan bubar deh”.

    Kami saling berpegangan tangan, berpandangan dengan mesra, berciuman lagi penuh kelembutan. Tiada kata-kata yang keluar, tidak dapat diwujudkan dalam kata-kata. Kami saling mengasihi, antara ibu dan anak, antara seorang pria dan seorang wanita, kami tulus mengasihi satu sama lain.
    Malam itu kami mandi bersama, saling menyabuni, menggosok, meraba dan membelai. Penisku dicuci oleh ibu mertuaku, sampai tegak lagi.

    “Sudaah, sudaah, jangan nekad saja. Ayo nanti keburu malam”.

    Malam itu sungguh sangat berkesan dalam hidupku. Hari-hari selanjutnya berjalan normal seperti biasanya. Kami saling menjaga diri. Kami menumpahkan kerinduan kami hanya apabila benar-benar aman. Tetapi kami banyak kesempatan untuk sekedar berciuman dan membelai. Kadang-kadang dengan berpandangan mata saja kami sudah menyalurkan kerinduan kami. Kami semakin sabar, semakain dewasa dalam menjaga hubungan cinta-kasih kami.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • CERITA DEWASA PERSETUBUHAN TERLARANG

    CERITA DEWASA PERSETUBUHAN TERLARANG


    1538 views

    Cerita Sex ini berjudul ” CERITA DEWASA PERSETUBUHAN TERLARANG ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Ini adalah kisah pengalamanku yang sengaja aku beberkan untuk pertama kalinya. Sebut saja namaku Arman, aku sendiri tinggal di Bandung. Kejadian yang aku alami ini kalau tidak salah ingat, terjadi ketika aku akan lulus SMA pada tahun 1998.

    Sungguh sebelumnya aku tak menyangka bahwa aku akan meniduri adikku sendiri yang bernama Ratih. Dia termasuk anak yang rajin, sebab dia adalah yang memasak dan mencuci pakaian seharihari. Ibuku adalah seorang pedagang kelontong di pasar, sedangkan ayahku sudah lama meninggal. Entah mengapa Ibu tidak berniat untuk menikah lagi.

    Yang ibu lakukan setiap hari adalah sejak jam 4 subuh dia sudah pergi ke pasar dan pulang menjelang magrib, aku pun sekalisekali pergi ke pasar untuk membantu ibu, itu pun kalau terpaksa sedang tidak punya uang. Sedangkan adikku karena seringnya tinggal di rumah maka dia kurang pergaulan hingga kuperhatikan tampaknya dia belum pernah pacaran. Oh ya, selisih umurku dengan adikku hanya terpaut dua setengah tahun dan saat itu dia masih duduk di kelas 1 SMA.

    Baiklah, aku akan mulai menceritakan pengalaman sex dengan adikku ini. Kejadiannya ketika itu aku baru pulang dari rumah temanku Anto pada siang hari, ketika sampai di rumah aku mendapati adikku sedang asyik menonton serial telenovela di salah satu TV swasta. aku pun langsung membuat kopi, merokok sambil berbaring di sofa. Joker1788

    Saat itu serial tersebut sedang menampilkan salah satu adegan ciuman yang hanya sebentar karena langsung terpotong oleh iklan. Setelah melihat adegan tersebut aku menoleh kepada adikku yang ternyata tersipu malu karena ketahuan telah melihat adegan tadi.

    Pantesan betah nonton film gituan ujarku.
    Ih, apaan sih cetusnya sambil tersipu malumalu.

    Beberapa menit kemudian serial tersebut selesai jam tayangnya, dan adikku langsung pergi ke WC. Kudengar dari aktifitasnya, rupanya dia sedang mencuci piring. Karena acara di televisi tidak ada yang seru, maka aku pun mematikan TV tersebut dan setelah itu aku ke WC untuk buang air kecil. Mataku langsung tertuju pada belahan pantat adikku yang sedang berjongkok karena mencuci piring.

    Ratih, ikut dulu sebentar pingin pipis nih sahutku tak kuat menahan.

    Setelah aku selesai buang air kecil, pikiranku selalu terbayang pada bongkahan pantat adikku Ratih. Aku sendiri tadinya tak mau berbuat macammacam karena kupikir dia adalah adikku sendiri, apalgi adikku ini orangnya lugu dan pendiam. Tetapi dasar setan telah menggoyahkan pikiranku, maka aku berpikir bagaimana caranya agar dapat mencumbu adikku ini.

    Aku seringkali mencuri pandang melihat adikku yang sedang mencuci, dan entah mengapa aku tak mengerti, aku langsung saja berjalan menghampiri adikku dan memeluk tubuhnya dari belakang sambil mencium tengkuknya. Mendapat serangan yang mendadak tersebut adikku hanya bisa menjerit terkejut dan berusaha melepaskan diri dari dekapanku.

    Aku sendiri lalu tersadar. Astaga, apa yang telah aku lakukan terhadap adikku. Aku malu dibuatnya, dan kulihat adikku sedang menangis sesenggukan dan lalu dia lari ke kamarnya. Melihat hal itu aku langsung mengejar ke kamarnya. Sebelum dia menutup pintu aku sudah berhasil ikut masuk dan mencoba untuk menjelaskan perihal peristiwa tadi.

    Maafkan.. Aa Ratih, Aa tadi salah
    Terus terang, Aa nggak tahu kenapa bisa sampai begitu

    Adikku hanya bisa menangis sambil telungkup di tempat tidurnya. Aku mendekati dia dan duduk di tepi ranjang.

    Ratih, maafin Aa yah. Jangan dilaporin sama Ibu kataku agak takut.
    Aa jahat jawab adikku sambil menangis.
    Ratih maafin Aa. Aa berbuat demikian tadi karena Aa nggak sengaja lihat belahan pantat kamu, jadinya Aa nafsu, lagian kan Aa sudah seminggu ini putus ama Teh Dewi kataku.
    Apa hubungannya putus ama Teh Dewi dengan meluk Ratih jawab adikku lagi.
    Yah, Aa nggak kuat aja pingin bercumbu
    Kenapa sama Ratih jawabnya.

    Setelah itu aku tidak bisa berbicara lagi hingga keadaan di kamar adikku begitu sunyi karena kami hanya terdiam. Dan rupanya di luar mulai terdengar gemericik air hujan. Di tengah kesunyian tersebut lalu aku mencoba untuk memecah keheningan itu.

    Ratih, biarin atuh Aa meluk kamu, kan nggak akan ada yang lihat ini Adikku tidak menjawab hanya bisa diam, mengetahui hal itu aku mencoba membalikkan tubuhnya dan kuajak bicara.
    Ratih, lagian kan Ratih pingin ciuman kayak di film tadi kan? bujukku.
    Tapi Aa, kita kan adik kakak? jawabnya.
    Nggak apaapa atuh Ratih, sekalian ini mah belajar, supaya entar kalo pacaran nggak canggung

    Entah mengapa setelah aku bicara begitu dia jadi terdiam. Wah bisa nih, gumanku dalam hati hingga aku pun tak membuang kesempatan ini. Aku mencoba untuk ikut berbaring bersamanya dan mencoba untuk meraih pinggangnya. Aku harus melakukannya dengan perlahan. Belum sempat aku berpikir, Ratih lalu berkata..

    Aa, Ratih takut
    Takut kenapa, Say? tanyaku.
    Ih, meuni geuleh, panggil Say segala katanya.
    Hehehe, takut ama siapa? Ama Aa? Aa mah nggak bakalan gigit kok, rayuku.
    Bukan takut ama Aa, tapi takut ketahuan Ibu jawabnya.

    Setelah mendengar perkataannya, aku bukannya memberi alasan melainkan bibirku langsung mendarat di bibir ranum adikku yang satu ini. Mendapat perlakuanku seperti itu, tampak kulihat adikku terkejut sekali, karena baru pertama kalinya bibir yang seksi tanpa lipstick ini dicumbu oleh seorang lakilaki yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Adikku pun langsung mencoba untuk menggeserkan tubuhnya ke belakang. Tetapi aku mencoba untuk menarik dan mendekapkan lebih erat ke dalam pelukanku.

    Mmhh, mmhh.., Aa udah dong pintanya. Aku menghentikan pagutanku, dan kini kupandangi wajah adikku dan rasanya aku sangat puas meskipun aku hanya berhasil menikmati bibir adikku yang begitu merah dan tipis ini.
    Ratih, makasih yah, kamu begitu pengertian ama Aa kataku.
    Kalau saja Ratih bukan adik Aa, udah akan Aa.. belum sempat aku habis bicara..
    Udah akan Aa apain bisiknya sambil tersenyum. Aku semakin geregetan saja dibuatnya melihat wajah cantik dan polos adikku ini.
    Udah akan Aa jadiin pacar atuh. Eh Ratih, Ratih mau kan jadi pacar Aa, tanyaku lagi.

    Mendengar hal demikian adikku lalu terdiam dan beberapa saat kemudian ia bicara..

    Tapi pacarannya nggak beneran kan Katanya sedikit ragu.
    Ya nggak atuh Say, kita pacarannya kalo di rumah aja dan ini rahasia kita berdua aja, jangan sampai temen kamu tau, apalagi sama Ibu jawabku meyakinkannya.

    Setelah itu kulihat jam dinding yang ternyata sudah menunjukan jam 4 sore.

    Udah jam 4 tuh, sebentar lagi Ibu pulang. Aa mandi dulu yah, kataku kemudian.

    Maka aku pun bangkit dan segera pergi meninggalkan kamar adikku. Setelah kejadian tadi siang aku sempat tidak habis pikir, apakah benar yang aku alami tadi. Di tengah lamunanku, aku dikejutkan oleh suara Ibuku.

    Hayoo ngelamun aja, Ratih mana udah pada makan belum? kata Ibuku.
    Ada tuh, emang bawa apaan tuh Bu? aku melihat Ibuku membawa bungkusan.

    Setelah aku lihat ternyata Ibu membeli bakso, kemudian Ibuku memangil Ratih dan kami bersamasama menyantap Baso itu. Untungnya setelah kejadian tadi siang kami dapat bersikap wajar, seolah tidak terjadi apaapa sehingga Ibuku tidak curiga sedikit pun.

    Malamnya aku sempat termenung di kamar dan mulai merencanakan sesuatu, nanti subuh setelah Ibu pergi ke pasar aku ingin sekali mengulangi percumbuan dengan adikku sekalian ingin tidur sambil mendekap tubuh adikku yang montok. Keesokannya rupanya setan telah menguasaiku sehingga aku terbangun ketika Ibu berpamitan kepada adikku sambil menyuruhnya untuk mengunci pintu depan. Setelah itu aku mendekati adikku yang akan bergegas masuk kamar kembali.

    Ehmm, ehmm, bebas nih, ujarku.

    Adikku orangnya tidak banyak bicara. Mengetahui keberadaanku dia seolah tahu apa yang ingin aku lakukan, tetapi dia tidak bicara sepatah kata pun. Karena aku sudah tidak kuat lagi menahan nafsu, maka aku langsung melabrak adikku, memeluk tubuh adikku yang sedang membelakangiku. Kali ini dia diam saja sewaktu aku memeluk dan menciumi tengkuknya.

    Dinginnya udara subuh itu tak terasa lagi karena kehangatan tubuh adikku telah mengalahkan hawa dingin kamar ini. Kontolku yang mulai ngaceng aku gesekgesekkan tepat di bongkahan pantatnya.

    Say, Aa pingin bobo di sini boleh kan? pintaku.
    Idih, Aa genit ah, jangan Aa, entar..
    Entar kenapa? timpalku.

    Belum sempat dia bicara lagi, aku langsung membalikkan tubuhnya dan langsung aku pagut bibir yang telah sejak tadi siang membuat pikiranku melayang. Aku kemudian langsung mendorongnya ke arah dinding dan menghimpit hangat tubuhnya agar melekat erat dengan tubuhku. Aku mencoba untuk menyingkap dasternya dan kucoba untuk meraba paha dan pantatnya.

    Walaupun dia menyambut ciumanku, tetapi tangannya berusaha untuk mencegah apa yang sedang kulakukan. Tetapi aku tersadar bahwa ciumannya kali ini lain daripada yang tadi siang, ciuman ini terasa lebih hot dan mengairahkan karena kurasakan adikku kini pun menikmatinya dan mencoba menggerakkan lidahnya untuk menari dengan lidahku.

    Aku tertegun karena ternyata diamdiam adikku juga memiliki nafsu yang begitu besar, atau mungkin juga ini karena selama ini adikku belum pernah merasakan nikmatnya bercumbu dengan lawan jenis.

    Kini tanpa ragu lagi aku mulai mencoba untuk menyelinapkan tanganku untuk kembali meraba pahanya hingga tubuhku terasa berdebardebar dan denyut nadiku terasa sangat cepat, karena ini adalah untuk pertama kalinya aku meraba paha perempuan. Sebelumnya dengan pacarku aku belum pernah melakukan ini, karena Dewi pacarku lebih sering memakai celana jeans. Dengan Dewi kami hanya sebatas berciuman.

    Kini yang ada dalam pikiranku hanyalah satu, yaitu aku ingin sekali meraba, menikmati yang namanya heunceut (vagina dalam bahasa Sunda) wanita hingga aku mulai mengarahkan jemariku untuk menyelinap di antara sisisisi celana dalamnya.

    Belum juga sempat menyelipkan jariku di antara heunceutnya, Ratih melepaskan pagutannya dan mulutnya seperti ikan mas koki yang megapmegap dan memeluk erat tubuhku kemudian menyilangkan kedua kakinya di antara pantatku sambil menekannekan pinggulnya dengan kuat. Ternyata Ratih telah mengalami orgasme.

    Aa.. aah, eghh, eghh rintih Ratih yang dibarengi dengan hentakan pinggulnya.

    Sesaat setelah itu Ratih menjatuhkan kepalanya di atas bahuku. Aku belai rambutnya karena aku pun sangat menyayanginya, kemudian aku bopong tubuh yang telah lunglai ini ke atas tempat tidur dan kukecup keningnya.

    Gimana Sayang, enak? bisikku. Aku hanya bisa melihat wajah memerah adikku ini yang malu dan tersipu, selintas kulihat wajah adikku ini manisnya seperti Nafa Urbach.
    Gimana rasanya, Sayang? tanyaku lagi.
    Aa, yang tadi itu apa yang namanya orgasme? Eh, malah ganti bertanya adikku tersayang ini.
    Iya Sayang, gimana, enak? jawabku sambil bertanya lagi.
    Heeh, enakk banget jawabnya sambil tersipu.

    Entah mengapa demi melihat kebahagian di wajahnya, aku kini hanya ingin memandangi wajahnya dan tidak terpikir lagi untuk melanjutkan aksiku untuk mengarungi lembah belukar yang terdapat di kemaluannya hingga sesaat kemudian karena kulihat matanya yang mulai sayu dan mengantuk akibat orgasme tadi maka aku mengajaknya untuk tidur. Kami pun terus tertidur dengan posisi saling berpelukan dan kakiku kusilangkan di antara kedua pahanya.

    Hangat tubuh adikku kurasakan begitu nikmat sekali. Yang ada dalam pikiranku adalah betapa nikmatnya jika aku menikah nanti, pantas saja di jaman sekarang banyak yang kawin entah itu sudah resmi atau belum.

    Tanpa terasa aku pun sadar dan terbangun dari tidurku, dan kulihat jam di kamar adikku telah menunjukkan jam 9 lewat dan adikku belum juga bangun dari tidurnya. Wah gawat, berarti dia hari ini tidak sekolah, pikirku.

    Ratih, bangun kamu nggak sekolah? tanyaku membangunkannya.

    Ratih pun mulai terbangun dan matanya langsung tertuju pada jam dinding. Dia terkejut karena waktu telah berlalu begitu cepat, sehingga dia sadar bahwa hari ini dia tidak mungkin lagi pergi ke sekolah.

    Aahh, Aa jahat kenapa nggak ngebangunin Ratih rajuknya manja.
    Gimana mau ngebangunin, Aa juga baru bangun kataku membela diri.
    Gimana dong kalo Ibu tahu, Ratih bisa dimarahin nih, ini semua garagara Aa
    Loo kok Aa yang disalahin sih, lagian Ibu nggak bakalan tahu kalau Aa nggak ngomongin kan jawabku untuk menghiburnya.
    Bener yah, Ratih jangan dibilangin kalau hari ini bolos
    Iyaa, iyaa jawabku.

    Entah mengapa tibatiba terlintas di pikiranku untuk mandi bareng. Wah ini kesempatan emas, alasan tidak memberitahu Ibu bahwa dia nggak masuk sekolah bisa kujadikan senjata agar aku bisa mandi bersama adikku.

    Eh, ada tapinya loh, Aa nggak bakalan bilang ama Ibu asal Ratih mau mandi bareng ama Aa kataku sambil mengedipkan mata.
    Nggak mau. Aa jahat, lagian udah gede kan malu masak mau mandi aja musti barengan
    Ya udah kalo nggak mau sih terserah ancamku.

    Singkat cerita karena aku paksa dan dia tidak ingin ketahuan oleh Ibu maka adikku menyetujuinya.

    Tapi Aa jangan macemmacem yah pintanya.
    Emangnya kalo macemmacem gimana? tanyaku.
    Pokoknya nggak mau, mendingan biarin ketahuan Ibu, lagian juga itu kan garagara Aa, Ratih bilangin Aa udah ciumin Ratih balasnya mengancam balik.

    Jika kupikirpikir ternyata benar juga, bisa berabe urusannya, seorang kakak bukannya menjaga adik dari ulah nakal lakilaki lain, eh malah kakaknya sendiri yang nakal. Maka untuk melancarkan keinginanku untuk bisa mandi dengannya, aku pun menyetujuinya.

    Kami berdua akhirnya bangun dari tidur dan setelah berbenah kamar, kami berdua pun pergi menuju kamar mandi. Sesampai di kamar mandi kami hanya saling diam dan kulihat adikku agak ragu untuk melepaskan pakaiannya.

    Aa balik dulu ke belakang, Ratih malu nih pintanya.
    Apa nggak sebaiknya Aa yang bukain punya Ratih, dan Ratih bukain punya Aa

    Tanpa pikir panjang aku menghampiri adikku dan aku cium bibirnya. Agar dia tidak malu dan canggung untuk membuka pakaiannya, aku genggam tangannya dan aku tuntun untuk membuka bajuku. Tanpa dikomando dia membuka bajuku setelah itu kutuntun lagi untuk membuka celana basket yang aku kenakan.

    Setelah keadaanku bugil dan hanya memakai celana dalam saja kulihat adikku tegang, sesekali dia melirik ke arah selangkanganku dimana kontolku sudah dalam keadaan siaga satu. Kini giliranku menanggalkan daster yang ia kenakan. Begitu aku buka, aku terbeliak dibuatnya karena ternyata tubuh adikku begitu bohai (body aduhai). Dia lalu berusaha menutupi selangkangannya. Lalu dengan sengaja kucolek payudaranya hingga adikku melotot dan menutupinya. Kemudian aku pun balik mencolek memeknya, hehehe..

    Idihh, Aa nggak jadi ah mandinya, malu, rajuknya.

    Adikku lalu mengambil handuk dan melilitkan handuk tersebut kemudian melangkah keluar kamar mandi, tetapi karena aku tidak mau kesempatan emas ini kabur maka aku pegang tangannya dan terus aku peluk sambil kukecup bibirnya, karena ternyata adikku sangat merasa nyaman bila bibirnya aku cium.

    Aku lalu menarik handuknya hingga terlepas dan jatuh ke lantai, dan aku pepet tubuhnya ke arah bak air lalu gayung kuambil dan langsung kusiramkan ke tubuh kami berdua. Merasakan tubuhnya telah basah oleh siraman air, adikku berusaha untuk melepaskan ciuman dan desakan yang aku lakukan, tapi usahanya siasia karena aku semakin bernafsu menyirami tubuh kami sambil kontolku aku tekantekan ke arah selangkangannya.

    Setelah tubuh kami benarbenar basah, aku bagai kemasukan setan. Selain menyedot bibirnya dengan ganas aku pun langsung mencoba untuk melepaskan celananya. Setelah celana dalamnya terlepas dari sarangnya hingga ke tepi lutut, aku pun menariknya ke bawah dengan kakiku hingga benarbenar terlepas. Sadar bahwa aku akan berbuat nekat, Ratih semakin berusaha untuk melepaskan tubuhnya. Sebelum usahanya membuahkan hasil aku melepas pagutannya.

    Aa, stop please rengeknya sambil menangis.
    Ratih, tolong Aa dong. Ratih tadi subuh kan udah ngalami orgasme, Aa belum.. pintaku.

    Dan tanpa menunggu waktu lagi di saat tenaganya melemah, aku kangkangkan pahanya sambil kukecup bibirnya kembali sehingga dia tidak bisa menolaknya. Di saat itu aku meraih burungku dari CDku dan mencoba mencari sarang yang sudah lama ini ingin kurasakan.

    Dalam sekejap kontolku sudah berada tepat di celah pintu heunceut adikku, dan siap untuk segera menjebol keperawanannya. Merasa telah tepat sasaran maka aku pun menghentakkan pinggulku. Dan aku seperti benarbenar merasakan sesuatu yang baru dan nikmat melanda seluruh organ tubuhku dan kudengar adikku meringis kesakitan tapi tidak berusaha untuk menjerit.

    Melihat hal itu aku mencoba untuk mengontrol diriku dan mencoba menenangkan perasaan yang membuatku semakin tak karuan, karena aku merasa diriku dalam keadaan kacau tetapi nikmat hingga sulit untuk diuraikan dengan katakata. Agen Joker1788

    Aku mencoba hanya membenamkan penisku untuk beberapa saat, karena aku tak kuasa melihat penderitaan yang adikku rasakan. Kini pandangan aku alihkan pada kedua payudara adikku yang masih diselimuti BHnya. Aku mencoba untuk melepaskannya tapi mendapat kesulitan karena belum pernah sekalipun aku membukanya hingga aku hanya bisa menarik BH yang menutupi payudara adikku dengan menariknya ke atas dan tibatiba dua bongkah surabi daging yang kenyal menyembul setelah BH itu aku tarik.

    Melihat keindahan payudara adikku yang mengkal dan putingnya yang bersemu coklat kemerahan, aku pun tak kuasa untuk segera menjilat dan menyedotnya senikmat mungkin.

    Aa, ahh, sakit rintih adikku.

    Seiring dengan kumainkannya kedua buah payudara adikku silih berganti maka kini aku pun mencoba untuk menggerakkan pinggulku maju mundur, walau aku juga merasakan perih karena begitu sempitnya lubang heunceut adikku ini. Badan kami kini bergumul satu sama lain dan kini adikku pun mulai menikmati apa yang aku lakukan. Itu dapat aku lihat karena kini adikku tidak lagi meringis tetapi dia hanya mengeluarkan suara mendesah.

    Eenngghh, acchh, enngg, aacchh
    Gimana, enakk? aku mencoba memastikan perasaan adikku.

    Dia tidak menjawab bahkan kini justru tangannya meraih kepalaku dan memapahnya kembali mencium mulutnya. Karena aku tidak ingin egois maka aku pun menuruti kehendaknya. Aku kulum bibirnya dan lidah kami pun ikut berpelukan menikmati sensasi yang tiada tara ini. Tanganku kugunakan untuk meremas payudaranya. Gila, kenikmatan ini sungguh luar biasa, kini aku pun mencoba untuk menirukan gayagaya di film BF yang pernah kulihat. Adikku kuminta menungging dan tangannya memegang bak mandi.

    Aku berbalik arah dan mencoba untuk segera memasukan kembali kontolku ke dalam memeknya, belum sempat niat ini terlaksana aku segera mengurungkan niatku, karena kini aku dapat melihat dengan jelas bahwa heunceut adikku merekah merah dan sangat indah. Karena gemas aku pun lalu berjongkok dan mencoba mengamati bentuk heunceut adikku ini hingga aku melongo dibuatnya.

    Mengetahui aku sampai melongo karena melihat keindahan heunceutnya, adikku berlagak sedikit genit, dia goyangkan pantatnya bak penyanyi dangdut sambil terkikik cengengesan. Merasa dikerjai oleh adikku dan juga karena malu, untuk mebalasnya aku langsung saja membenamkan wajahku dan kuciumi heunceut adikku ini, hingga kembali dia hanya bisa mendesah..

    Aahh, Aa mau ngapain.., ochh, enngghh desahnya sambil mengambil nafas panjang.

    Mmhh, ssrruupp, cupp, ceepp, suara mulutku menyedot dan menjilati heunceut adikku ini, dan aku perhatikan ada bagian dari heunceut adikku ini yang aneh, mirip kacang mungkin ini yang namanya itil, maka aku pun mencoba untuk memainkan lidahku di sekitar benda tersebut.

    Acchh, Aa, nnggeehh, iihh, uuhh, gelii, erangnya saat aku memainkan itilnya tersebut.

    Karena mendengar erangannya yang menggoda aku pun tak kuasa menahannya dan segera bangkit untuk memeluk adikku dan memasukannya kembali dengan cepat kontolku agar bersemayam pada heunceut adikku ini. Baru beberapa kocokan kontolku di memeknya, adikku seakan blingsatan menikmati kenikmatan ini hingga dia pun meracau tak karuan lalu..

    Aa, Ratihh, eenngghh, aahh..

    Rupanya adikku baru saja mengalami orgasme yang hebat karena aku rasakan di dalam memeknya seperti banjir bandang karena ada semburan lava hangat yang datang secara tibatiba. Kini aku merasakan kenikmatan yang lain karena cairan tersebut bagai pelumas yang mempermudah kocokanku dalam heunceutnya.

    Setelah itu adikku kini lunglai tak bertenaga, yang ia rasakan hanya menikmati sisasisa dari orgasmenya dan seperti pasrah membiarkan tubuhnya aku entot terus dari belakang. Mengetahui hal itu aku pun kini mengerayangi setiap lekuk tubuh adikku sambil terus mengentotnya, mulai dari mencium rambutnya, menggarap payudaranya sampaisampai aku seperti merasakan ada yang lain dari tubuhku, ada perasaan seperti kontolku ini ingin pipis tapi tubuh ini terasa sangatsangat nikmat.

    Aa, udah.. Aa, Ratih udah lemess.. kata adikku.
    Tunggu Sayangg, Aa maauu nyampai nih, oohh

    Kurasakan seluruh tubuhku bagai tersengat listrik dan sesuatu cairan yang cukup kental aku rasakan menyembur dengan cepat mengisi rahim adikku ini. Sambil menikmati sisasisa kenikmatan yang luar biasa ini aku memegang pantat adikku dan aku hentakkan pinggulku dengan keras membantu kontolku untuk mencapai rongga rahim adikku lebih dalam.

    Kami berdua kini hanya bisa bernafas seperti orang yang baru saja berlarilari mengejar bis kota. Setelah persetubuhan yang terlarang ini kami pun akhirnya mandi, dan setelah itu karena tubuhku lemas maka aku tiduran di sofa sambil menikmati acara televisi dan adikku kulihat kembali melakukan aktifitasnya membereskan rumah meskipun tubuhnya jauh lebih lemas.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • SELINGKUH DENGAN IBU MERTUA YANG MASIH TERLIHAT AWET MUDA

    SELINGKUH DENGAN IBU MERTUA YANG MASIH TERLIHAT AWET MUDA


    1538 views

    Cerita Sex ini berjudul ” SELINGKUH DENGAN IBU MERTUA YANG MASIH TERLIHAT AWET MUDA ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Cerita Hot Umurku sekarang ini 26 tahun. Ini adalah pengalamanku yang benarbenar nyata selingkuh dengan Ibu mertua ku. Umurnya belum terlalu tua baru sekitar 45th . Dulunya baru umur 18 tahun dia sudah kimpoi . Ibu mertuaku bentuk tubuhnya seksi malah boleh dikatakan langsing dan singset seperti perawan .

    Tak heran sebab hingga kini ia masih mengkonsumsi jamu untuk supaya selalu awet muda dan langsing .Singkat cerita ketika istriku baru melahirkan anak pertama dan aku harus puasa selama sebulan lebih. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana pusingnya aku .

    Hingga suatu saat aku mengantar Ibu mertuaku pulang dari menengok cucu pertamanya itu . Aku biasa mengantarnya dengan motorku . Namun kali itu turun hujan ditengah perjalanan . Karena sudah basah kuyup dan hari sudah menjelang tengah malam aku paksakan untuk menerobos hujan yang deras itu .

    Setiba dirumah aku ingin segera selingkuh dengan ibu mertua tetapi membersihkan badan dahulu lalu menghangatkan badan . Di rumah itu hanya ada aku dan Ibu mertuaku karena kakak iparku tinggal ditempat lain . Sedangkan adik iparku yang biasa menemani Ibu mertuaku dirumah itu untuk sementara tinggal dirumahku untuk menjaga istriku .

    Kamu mandi aja deh sana , Her Kata Ibu mertuaku menyuruhku mandi
    Ah . . nggak usah . . Ibu duluan deh Kataku menolak dan menyuruhnya agar lebih dulu
    Udah . . Ibu disini aja Kata Ibu mertuaku yang memilih tempat cuci baju dan cuci piring diluar kamar mandi . Karena disitu juga ada air keran .
    Yah . . udah deh Kataku sambil mendahuluinya masuk ke kamar mandi .

    Suasana waktu itu agak remangremang karena lampu penerangannya hanya lampu bohlam 5 watt . Aku iseng ingin selingkuh dengan ibu mertua dan ingin tahu bentuk tubuh Ibu mertuaku yang sebenarnya ketika ia telanjang bulat . Maka aku singkapkan sedikit pintu kamar mandi dan menontonnya melepas satu per satu bajunya yang sudah basah kuyup karena kehujanan . Dia tidak tahu aku menontonnya karena dia membelakangiku .

    Aku perhatikan dia mencopot kaus Tshirtnya ke atas melewati bahu dan lehernya . Lalu BHnya dengan mencongkel sedikit pengaitnya lalu ia menarik tali BHnya dan BH itupun terlepas . Adegan yang paling syur ialah ketika ia membuka celana panjang jeansnya .

    Sret . . celana jeans ketat itu ditariknya ke bawah sekaligus dengan celana dalamnya . Jreng . .! Aku lihat kedua buah pantatnya yang kencang dan montok itu menantangku . Aku yang sudah tak merasakan sex selama satu bulan lebih dan lagi dihadapkan dengan pemandangan seperti itu. Ingin rasanya aku segera selingkuh dengan ibu meruta . Lalu aku nekat untuk mendekatinya dan aku peluk dia dari belakang .

    Eh . . Her . . ini apaapaan . . Her hardik Ibu mertuaku .
    Bu . . tolongin saya dong , Bu rayuku
    Ih . . apaan sih . .?! Katanya lagi
    Bu , udah dua bulan ini saya nggak dapet dari Dewi . . tolong dong , Bu bujukku lagi
    Tapi aku inikan ibumu Kata Ibu mertuaku
    Bu . . tolong , Bu . . please banget rayuku sambil tanganku mulai beraksi .

    Tanganku meremasremas buah dadanya yang ukurannya sekitar 34b sambil jariku memelintir putting susunya . bibir dan lidahku menjilati tengkuk lehernya . Tanganku yang satu lagi memainkan klentitnya dengan memelintir daging kecil itu dengan jariku .

    Batang Kontolku aku tekan dilubang pantatnya tapi tidak aku masukkan . Ibu mertuaku mulai bereaksi . Tangannya yang tadi berusaha meronta dan menahanku kini sudah mengendor . Dia membiarkanku memulai dan memainkan ini semua . Nafasnya memburu dan mulai mendesahdesah .

    Dikamar aja yuk , Bu bisikku

    Aku papah Ibu mertuaku menuju kamarnya . Aku baringkan dia tempat tidur . Aku buka kedua kakinya lebarlebar dan sepertinya Ibu mertuaku sudah siap dengan batang Kontolku . Tapi aku belum mau memulai semua itu .

    Tenang aja dulu , Bu . Rileks aja , Ok? Kataku .

    Aku mengarahkan mukaku ke liang memeknya dan aku mulai dengan sedikit jilatan dengan ujung lidahku pada klentitnya .

    Ough . . sshhtt . . ough . . hmpf . . hh . . ooghh Ibu mertuaku mendesah dan mengerang menahan kenikmatan jilatan lidahku .

    Dia sepertinya belum pernah merasakan oral sex dan baru kali ini saja ia merasakannya . Terlihat reaksi seperti kaget dengan kenikmatan yang satu ini .

    Enak kan , Bu . .? Kataku
    Hmh . . kamu . . sshtt . . kamu . . koq . . gak jijik . . sih , Her? Tanyanya ditengahtengah desah dan deru nafasnya .
    Enggak , Bu . . enak koq . . gimana enak gak?
    Hmh . . iyahh . . aduh . . sshhtt . . eenak . . banget . . Her . . sshhtt jawab Ibu mertuaku sambil terus merintih dan mendesah .
    Itu baru awalnya , Bu Kataku .

    Kali ini aku kulumkulum klentitnya dengan bibirku dan memainkan klentit itu dengan lidahku . Aku lihat sekujur tubuh Ibu mertuaku seperti tersetrum dan mengejang . Ia lebih mengangkat lagi pinggulnya ketika aku hisap dalamdalam klentitnya.

    Tak sampai disitu aku terobos liang memeknya dengan ujung lidahku dan aku masukkan lidahku dalamdalam ke liang memeknya itu lalu aku mainkan liukkan lidahku didalam liang memeknya . Seiring dengan liukanku pinggul Ibu mertuaku ikut juga bergoyang .

    Ough . . sshhtt . . ough . . sshhtt . . oughh . . hmh . . ough . . shhtt . . ough . . hmh . . oufghh . . sshhtt suara itu terus keluar dari mulut Ibu mertuaku menikmati kenikmatan oral sex yang aku berikan .

    Aku sudahi oral sex ku lalu aku bangun dan berlutut dihadapan liang memeknya . Baru aku arahkan batang Kontolku ke liang memeknya tibatiba tangan halus Ibu mertuaku memegang batang Kontolku dan meremasremasnya .

    Auw . . diapain , Bu . .? Tanyaku
    Enggak . . ini supaya bisa lebih tahan lama Kata Ibuku sambil mengurut batang Kontolku .

    Rasanya geligeli nikmat bercamput sakit sedikit . Sepertinya hanya diremasremas saja tetapi tidak ternyata ujungujung jarinya mengurut uraturat yang ada dibatang Kontol untuk memperlancar aliran darah sehingga bisa lebih tegang dan kencang dan tahan lama .

    Guedhe . . juga . . punya kamu , Her Kata Ibu mertuaku sambil terus mengurut batang Kontolku .
    Iya dong , Bu Kataku .

    Kali ini kedua tangan Ibu mertuaku beraksi mengurut batang Kontolku . Tangan yang satunya lagi menguruturut buah pelirku dan yang satu lagi seperti mengocok namun tidak terlalu ditekan dengan jari jempol dan telunjuknya . Tak lama kemudian . .

    Egh . . yah .sudah . . pelanpelan . . yah sayang Kata Ibu mertuaku sambil menyudahi pijatanpijatan kecilnya itu dan mewantiwantiku supaya tidak terlalu terburuburu menerobos liang memeknya .

    Aku angkat kedua kaki Ibu mertuaku dan aku letakkan dikedua bahuku sambil mencoba menerobos liang memeknya dengan batang Kontolku yang sedari tadi sudah keras dan kencang .

    Ouh . . hgh . . ogh . . pelanpelan , Her Kata Ibu mertuaku ditengahtengah deru nafasnya .
    Iya , Bu . . sayang . . egh . . aku pelanpelan koq Kataku sambil perlahanlahan mendorong Kontolku masuk ke liang memeknya .

    Ih . . punya kamu guedhe banget , sayang . . ini sih . . gak normalKatanya
    Kan tadi udah diurut , Bu Kataku .

    Aku teruskan aksiku penetrasiku menerobos liang memeknya yang kering . Aku tidak merasa istimewa dengan batang Kontolku yang panjangnya hanya 15cm dengan diameter sekitar 3 cm . Dengan sedikit usaha . . tibatiba . . SLEBSLEBBLESSS! Batang Kontolku sudah masuk semua dengan perkasanya kedalam liang memek Ibu mertuaku .

    Ough . . egh . . iya . . sshh . . pelanpelan aja yah , sayang Kata Ibu mertuaku yang mewantiku supaya aku tidak terlalu terburuburu .

    Aku mulai meliukkan pinggulku sambil naik turun dan pinggul Ibu mertuaku berputarputar seperti penyanyi dangdut .

    Ough . . gilaa , Bu . . asyik . . banget . .! Kataku sambil merasakan nikmatnya batang Kontolku diputar oleh pinggulnya .

    Ough . . sshtt . . egh . . sshh . . hmh . . ffhh . . sshhtt . . ough . . sshhtt . . oughh Ibu mertuaku tidak menjawab hanya memejamkan mata sambil mulutnya terus mendesah dan merintih menikmati kenikmatan sexual .

    Baru sekitar 30 menit aku sudah bosan dengan posisi ini dan ingin berganti posisi . Ketika itu kami masih dalam posisi konvensional . Aku mau menawarkan variasi lain pada Ibu mertuaku . .

    Eh . . Ibu yang di atas deh Kataku .
    Kenapa , sayang . . kamu capek . . yah . .? Tanyanya .
    Gak jawabku singkat .
    Mo keluar yah . . hi . . hi . . hi . .? Godanya sambil mencubit pantatku .
    Gak . . ih . . aku gak bakalan keluar duluan deh Kataku sesumbar .

    Awas . . yah . . kalo keluar duluan Goda Ibu mertuaku sambil meremasremas buah pantatku .
    Enggak . . deh . . Ibu yang bakalan kalah sama akuKataku sombong sambil balas mencubit buah dadanya
    Auw . . hi . . hi . . hi Ibu mertuaku memekik kecil sambil tertawa kecil yang membuatku semakin horny .

    Dengan berguling ke samping kini Ibu mertuaku sudah berada di atas tubuhku . Sambil menyesuaikan posisi sebentar ia lalu duduk di atas pinggulku . Aku bisa melihat keindahan tubuhnya perutnya yang rata dan ramping . Tak ada seonggok lemakpun yang menumpuk diperutnya .

    Buah dadanya juga masih kencang dengan putting susu yang mengacung ke atas menantangku . Aku juga duduk dan meraih putting susu itu lalu ku jilat dan ku kulum . Ibu mertuaku mendorongku dan menyuruhku tetap berbaring seolaholah kali ini cukup ia yang pegan kendali . Ibu mertuaku kembali meliukliukkan pinggulnya memutarmutar seperti Inul .

    Egh . . sshhtt . . ough . . sshhtt . . ough . . egh . . hmf desah Ibu mertuaku .
    Gila , Bu . . enak banget . .!

    Ough . . sshhtt . . ough . . sshtt . . ough Ibu mertuaku mendesah dan merintih sambil terus meliukliukkan pinggulnya memainkan batang Kontolku yang berada didalam liang memeknya .

    Tanganku meremas buah dadanya yang tak terlalu besar tapi pas dengan telapak tangan . Tanganku yang satunya lagi meremas buah pantatnya . Batang Kontolku yang kencang dan keras terasa lebih keras dan kencang lagi . Ini berkat pijatan dari Ibu mertuaku tadi itu . Bisa dibayangkan jika tidak aku sudah lama orgasme dari tadi .

    Ough . . sshtt . . emh . . enagh . . egh . . sshhtt . . ough . . iyaahh . . eeghh . . enak . . ough liukan pinggul Ibu mertuaku yang tadinya teratur kini berubah semakin liar naik turun maju mundur tak karuan .

    Ough . . iiyyaahh . . egghh . . eghmmhhff . . sshhtt . . ough . . aku udah mo nyampe Kata Ibu mertuaku .

    Bu . . aku juga pengen , Bu . . egh Kataku sambil ikut menggoyang naik turun pinggulku .
    Egh . . iyah . . bagusshh . . sayangg . . ough . . sshhtt . . ough . . sshtt . . ough Ibu mertuaku merespons gerakanku untuk membantunya orgasme .

    Aku mempercepat goyanganku karena seperti ada yang mendesak dibatang Kontolku untuk keluar juga .

    Hmfh . . terusshh . . iyah . . ough . . oughh . . AAAUGHH . . OUGH . . OUGH . . OUGH Ibu mertuaku telah sampai pada orgasmenya .

    Pada batang Kontolku terasa seperti ada cairan hangat mengucur deras membasahi batang Kontolku . Ibu mertuaku menggelepar dan diakhiri dengan menggelinjang liar dan nafasnya yang tersengal . Ibu mertuaku telah berhenti melakukan liukan pinggulnya . Hanya denyutandenyutan kencang didalam liang memeknya .

    Aku merasakan denyutandenyutan itu seperti menyedotnyedot batang Kontolku Dan . . CROT . . CROTT . . CROTTT . .! muncrat semua air maniku diliang memek Ibu mertuaku .

    Bu , kerasa nggak air mani saya muncratnya . .? Tanyaku
    Eh . . iya , Heri sayang . . Ibu udah lama pengen beginian Kata Ibu mertuaku
    Iya . . sekarang kan udah , Bu Kataku sambil mengecup keningnya
    Oh . . kamu . . hebat banget deh , Her Kata Ibu mertuaku sambil membelaibelai rambutku .
    Itu semua kan karena Ibu Kataku memujinya
    Ih . . bisa aja . . kamu sahut Ibu mertuaku sambil mencubit pinggulku .

    Ibu mertuaku masih di atas tubuhku ketika HPku berbunyi ternyata dari istriku yang menyuruhku supaya menginap saja dirumah Ibu mertuaku . Setelah telepon di tutup aku memekik kegirangan karena bisa melanjutnya selingkuh dengan ibu mertua . Setelah itu kami melakukan pemanasan lagi dan melakukannya sepanjang malam hingga menjelang subuh kami samasama kelelahan dan tidur .

    Entah sudah berapa kali kami bersenggama dalam berbagai posisi . Pagi harinya kami masih melakukannya lagi dikamar mandi untuk yang terakhir aku melakukan selingkuh dengan ibu mertua. lalu setelah itu aku sarapan dan pulang.Â

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Diajak Ngentot Sama Tetangga Yang Cantik

    Diajak Ngentot Sama Tetangga Yang Cantik


    1537 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Diajak Ngentot Sama Tetangga Yang Cantik ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Nana, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Boby, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Nana sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.

    Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Boby yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal.

    Nana pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Herman dalam hati Nana karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Nana tentang cinta..

    Suatu siang, Nana sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Nana langsung mengejar mereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Nana terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah.

    Nana langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Surya, anak tetangga depan rumah Nana kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Nana sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya, Surya langsung lari ke arah Nana.

    “Kenapa tante?” tanya Surya.

    “Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Sur…” ujar Nana sambil meringis.

    “Bantu saya berdiri, Sur…” kata Nana.

    “Iya tante,” kata Surya sambil memegang tangan Nana dan dibimbingnya bediri.

    “Sur, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya…” kata Nana.

    “Iya tante,” kata Surya sambil segera menghampiri anak-anak Nana.

    Sementara Nana segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Surya mengantarkan anak-anak Nana ke rumahnya, Nana sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya.

    “Ada obat merah tidak, tante?” tanya Surya.

    “Ada di dalam, Sur,” kata Nana.

    “Kita ke dalam saja…” kata Nana lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.

    Surya dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.

    “Ma, Dono ngantuk,” kata anaknya kepada Nana.

    “Tunggu sebentar ya, Sur. Saya mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang,” kata Nana sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.

    Setelah mengantar mereka tidur, Nana kembali ke tengah rumah.

    “Mana obat merahnya, tante?” tanya Surya.

    “Di atas sana, Sur…” kata Nana sambil menunjuk kotak obat.

    Surya segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas. Tak lama Surya segera kembali dan mulai mengobati lutut Nana.

    “Maaf ya, tante.. Saya lancang,” kata Surya.

    “Tidak apa-apa kok, Sur. Tante senang ada yang menolong,” kata Nana sambil tersenyum.

    Surya mulai memegang lutut Nana dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.

    “Aduh, perih…” kata Nana sambil agak menggerakkan lututnya.

    Secara bersamaan rok Nana agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Surya. Surya terkesiap melihatnya. Tapi Surya pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus Nana menggoda mata Surya untuk melirik walau kadang-kadang.

    Hati Surya agak berdebar.. Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Nana. Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Nana memakai celana pendek.

    Surya biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Nana sambil onani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Nana sangat jelas terlihat. Nana sepertinya sadar kalau mata Surya sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Nana merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Surya sepertinya terkesima dengan sikap Nana tersebut. Surya menjadi malu sendiri..

    “Sudah saya berikan obat merah, tante…” kata Surya.

    “Iya, terima kasih,” kata Nana sambil tersenyum.

    “Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi,” ujar Nana lagi sambil tetap tersenyum.

    Surya, 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Nana. Masih duduk di bangku SMK kelas 1. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Surya adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber.

    “Kenapa kamu nunduk terus, Sur?” tanya Nana.

    “Tidak apa-apa, tante…” ujar Surya sambil sekilas menatap mata Nana lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.

    “Ayo, ada apa?” tanya Nana lagi sambil tersenyum.

    “Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja…” kata Surya sambil tetap menunduk.

    “Lihat apa?” tanya Nana pura-pura tidak mengerti.

    “Lihat.. Mm.. Lihat ini tante,” kata Surya sambil tangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Nana tersenyum mendengarnya.

    “Tidak apa-apa kok, Wan,” kata Nana.

    “Kan hanya melihat.. Bukan memegang,” kata Nana lagi sambil tetap tersenyum.

    “Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tante tadi,” kata Nana lagi sambil tetap tersenyum.

    “Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat,” kata Nana.

    “Benar tante tidak marah?” tanya Surya sambil menatap Nana.

    Nana menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Surya pun jadi ikut tersenyum.

    “Tante sangat cantik kalau tersenyum,” kata Surya mulai berani.

    “Ihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu…” kata Nana.

    “Saya berkata jujur loh, tante,” kata Surya lagi.

    “Kamu sudah makan, Sur?” tanya Nana.

    “Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan,” kata Surya.

    “Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang,” ajak Nana.

    “Baik tante, terima kasih,” kata Surya.

    Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Surya menyentuh kaki Nana. Surya kaget, lalu segera menarik kakinya.

    “Maaf tante, saya tidak sengaja,” kata Surya.

    “Tidak apa-apa kok, Sur…” kata Nana sambil matanya nenatap Surya dengan pandangan yang berbeda.

    Ketika kaki Surya menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Nana merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Nana merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Surya terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh..

    “Kamu sudah punya pacar, Sur?” tanya Nana sambil menatap Surya.

    “Belum tante,” kata Surya sambil tersenyum.

    “Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan,” ujar Surya lagi sambil tetap tersenyum. Nana pun ikut tersenyum.

    “Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadap perempuan?” tanya Nana lagi.

    “Keinginan apa tante?” tanya Surya. Nana tersenyum.

    “Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara…” kata Nana.

    Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.

    “Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?” tanya Nana.

    “Tidak ada, tante,” kata Surya.

    “Tadi tante mau tanya apa?” kata Surya penasaran.

    “Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?” tanya Nana.

    “Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,” kata Nana lagi.

    “Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?” kata Nana lagi.

    “Iya, tante,” kata Surya.

    “Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi…” kata Nana sambil tersenyum.

    “Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus,” kata Surya tanpa ragu.

    “Maksudnya tubuh bagus apa,” tanya Nana lagi. Surya agak ragu untuk menjawab.

    “Ayolah…” kata Nana sambil memegang tangan Surya. Tangan Surya bergetar.. Nana tersenyum.

    “Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus…” kata Surya dengan nafas tersendat.

    “Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja,” kata Nana pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Surya yang terus gemetar.

    “Mm.. Lihat orang sedang begituan…” kata Surya.

    “Begituan apa?” tanya Nana lagi.

    “Ya, lihat orang sedang bersetubuh…” kata Surya.

    Nana kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.

    “Kamu suka tidak film begitu?” tanya Nana.

    “Iya suka, tante?” kata Surya sambil menunduk.

    “Mau coba seperti di film, tidak?” kata Nana.

    Surya diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Nana mendekatkan tubuhnya ke tubuh Surya. Wajahnya di dekatkan ke wajah Surya.

    “Mau tidak?” tanya Nana setengah berbisik.

    Surya tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Nana membelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Surya. Surya tetap diam dan makin gemetar. Nana terus menciumi wajah Surya, lalu akhirnya dilumatnya bibir Surya.. Lama-lama Surya mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Nana.

    “Masukkan tangan kamu ke sini…” kata Nana dengan nafas memburu sambil memegang tangan Surya dan mengarahkannya ke dalam baju Nana.

    “Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, Sur.. Pegang buah dada saya,” kata nana sambil tangannya meremas kontol Surya dari luar celana.

    Sementara tangan Surya sudah masuk ke dalam BH nana dan mulai meremas-remas buah dada Nana.

    “Mmhh.. Terus sayang…” kata Nana.

    “Tangan saya pegal, tante…” kata Surya polos.

    “Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk…” ajak Nana sambil menarik tangan Surya. Sesampainya di dalam kamar..

    “Buka pakaian kamu, Sur…” ujar Nana pun melepas seluruh pakaiannya sendiri.

    “Iya, tante…” kata Surya.

    Nana setelah melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang di tempat tidur. Surya terkesima melihat tubuh telanjang Nana. Seumur-umur Surya, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita di depan mata. Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila onani. Kontol Surya langsung tegang dan tegak..

    “Naik sini, Sur…” kata Nana.

    “Iya, tante…” kata Surya.

    “Sini naik ke atas tubuh saya…” kata Nana sambil mengangkangkan pahanya.

    Surya segera menaiki tubuh telanjang Nana. Nana langsung melumat bibir Surya dan Surya langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementara satu tangan Surya meremas buah dada Nana yang tidak terlalu besar. Sementara kontol Surya sesekali mengenai belahan memek Nana.

    “Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus…” desah Nana sambil memegang tangan Surya yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan mereka bersamaan meremas buah dadanya.

    “Ohh.. Sshh…” kata Nana. Surya pun dengan bernafsu terus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Nana.

    “Sur, jilati memek ya, sayang…” pinta Nana.

    “Tapi saya tidak tahu caranya, tante,” kata Surya polos.

    “Sekarang dekatkan saja wajah kamu ke memek, lalu kamu jilati belahannya…” kata Nana setengah memaksa dengan menekan kepala Surya ke arah memeknya.

    Surya langsung menuruti permintaan Nana. Dijilatinya belahan memek Nana sampai tubuh Nana mengejang menahan nikmat.

    “Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang…” desah Nana sambil meremas kepala Surya.

    “Sur, kamu jilati bagian atas sini…” kata Nana sambil jarinya mengelus kelentitnya.

    Lalu lidah Surya menjilati habis kelentit Nana.. Nana kembali menggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.

    “Teruss.. Sshh.. Ohh…” desah Nana sambil badannya semakin mengejang.

    Pahanya rapat menjepit kepala Surya. Sementara tangannya semakin menekan kepala Surya ke memeknya. Tak lama..

    “Ohh…” desah Nana panjang. Nana orgasme.

    “Sudah, Sur.. Naik sini,” kata Nana.

    Surya lalu menaiki tubuh Nana. Nana lalu mengelap mulut Surya yang basah oleh cairan memeknya. Nana tersenyum, lalu mengecup bibir Surya.

    “Mau tidak kontol kamu saya hisap,” kata Nana.

    “Mau tante,” kata Surya bersemangat.

    “Bangkitlah.. Sinikan kontol kamu,” kata Nana sambil tangannya meraih kontol Surya yang tegang dan tegak.

    Surya lalu mengangkangi wajah Nana. Nana segera mengulum kontol Surya. Tidak hanya itu, kontol Surya lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknya silih berganti. Surya tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.

    “Ohh.. Tantee.. Enaakk…” jerit kecil Surya sambil memompa kontolnya di mulut Nana.

    “Masukkin ke memek,ya sayang…” kata Nana setelah dia beberapa lama menghisap kontol Surya.

    Surya lalu mengangkangi Nana. Sementara tangan Nana memegang dan membimbing kontol Surya ke lubang memeknya.

    “Ayo tekan sedikit, sayang…” kata Nana.

    Surya berusaha menekan kontolnya ke lubang memek Nana sampai akhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Surya berhasil masuk dan mulai memompa memek Nana. Surya merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara pada batang kontolnya.

    “Bagaimana rasanya, Sur?” tanya Nana sambil tersenyum dan menggoyang pantatnya.

    “Ohh.. Sangat enakk, tanttee…” kata Surya tersendat sambil memompa kontolnya keluar masuk memek Nana.

    Nana tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, tiba-tiba tubuh Surya mengejang. Gerakannya makin cepat. Nana karena sudah mengerti langsung meremas pantat Surya dan menekankannya ke memeknya. Tak lama.. Crott.. Croott.. Croott.. Croott..

    “Ohh.. Hohh…” desah Surya. Tubuhnya lemas dan lunglai di atas tubuh Nana.

    “Udah keluar? Bagaimana rasanya?” tanya tante Nana sambil memeluk Surya.

    “Sangat enak, tante…” kata Surya.

    Sejak saat itu Surya sering datang ke rumah Tante Nana jika sedang sepi dan minta jatah lagi.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Perjalanan Kisah Sex Ku Dari Pacar Sampai Tetangga Kost

    Cerita Sex Perjalanan Kisah Sex Ku Dari Pacar Sampai Tetangga Kost


    1537 views

    Perawanku – Cerita Sex Perjalanan Kisah Sex Ku Dari Pacar Sampai Tetangga Kost, Sekitar minggu lalu saya ke kos cewekku siang-siang sedang membantu dirinya mengecat kamar kos, cewekku juga sudah ijin sama ibu kos bahwa saya akan datang untuk membantunya, dan ibu kos mengijinkan diriku membantu cewekku mengecat kamar kosnya karena memang saya sudah sering kekosnya dan sudah kenal dengan si ibu kos. kebetulan pada hari itu si ibu kos akan pergi bekerja sehingga hanya ada orang 2 saja di rumah kos di lantai 1 yaitu mbak-mbak depan kamar kos cewekku dan cewekku saja..

    pada saat aku datang suasana kos nampak hening dan sepi.. saya lihat kamar kos mbak-mbak ditutup pintunya.. kelihatannya tidur karena jendelanya ditutup kain, langsung saja ku bantu cewekku mengemas-ngemas barang dan kemudian mengecat kamar kos pada saat mengecat kamar kos saat giliran cewekku yang mengecat aku pun juga nakal-nakal sedikit dengan meremas
    payudaranya dari belakang dengan nakal sesekali..

    pacar : ihh sayang nakal ihh.. kalau dilihat mbak-mbak depan kamar gimana..?? hiii….
    me : gapapa lahh kan ditutup jendelanya hehe…
    pacar : kalo mau ntar aja kapan-kapan.. jangan sekarang soalnya mbak-mbak kos mungkin sudah tau kalo sayang dateng.
    me : yahhh padahal udah didalem kos hehe nanggung kalo ga gituan sayang… hehe

    setelah bercanda” sambil mengecat.. selesai mengecatpun kami akhirnya memasukkan semua barang-barang yang kami keluarkan sebelumnya dari dalam kamar guna untuk memudahkan mengecat kamar..
    sekitar berlangsung 2 jam kita selesai semua dan saya pun capek dan mengantuk… aku ijin tiduran dulu lah dikasur cewekku sekitar 10 menitan… dan cewekku ijin mandi dulu karena badannya penuh keringat.. yasudah aku tiduran dulu saja…
    setelah 5 menit berlalu aku dengar suara pintu mbak-mbak kos dibuka dan lampu dinyalakan.. aku pun keluar dari kamar cewekku dan pura-pura mengambil sesuatu sambil curi-curi pandang kekamar kos mbak-mbaknya.. soalnya aku mikir pasti kalo cewek gak ada cowok pakaiannya pasti serba minim.. dan ternyata benar dugaanku mbaknya hanya menggunakan tankop dan celada dalam saja warna abu-abu sambil menghadap lemarinya (membelakangiku).. saya pun hanya berdiri terdiam melihat pemandangan itu. sebut saja mbak kos namanya “nita”, setelah mbak nita membalikkan badannya mbak nita pun kaget karena aku melihat dia hanya menggunakan pakaian dalam saja.. sontak langsung menutup kamarnya sambil berkata :

    nita : aduh maaf mas aku ndak tau kalau ada cowok di depan kamarku, emang ngapain tok kekos cewek?
    me : eh iya maaf mbak aku tadi sedang membantu cewekku mengecat kamarnya jadi aku masuk saja deh.. maaf ya mbak
    nita : iyaudah enggak papa mas cuman aku kaget aja tiba-tiba ada cowok disini

    dalam pikirku ku coba aja rayu mbak nita siapa tau aku bisa melihat pemandangan tadi hehe..

    me : mbak kok ditutup pintunya..?? saya tadi kagum sama mbak.. cantik banget
    nita : ahh kamu gombal ahh..
    me : beneran mbak.. hehe.. sampai pangling aku
    nita : (sambil membuka pintunya kembali) ahh kamu bisa aja mas.. nanti dimarahin sama ceweknya loh hehe..
    me : tenang aja mbak dia lagi mandi kan gamungkin tau hehe

    langsung saja ku masuk kekamar mbak nita ingin melihatnya lebih dekat.

    nita : ehh ehh langsung masuk saja kamu ini emang siapa..?? (sambil dengan nada bercanda) nanti kalau pacarmu selesai mandi gimana..??
    me : pacarnya mbak pernah masuk kos gak..???
    nita : belum pernah lahh boro” masuk mas.. kalau kesini selalu kondisni ramai
    me : tapi aslinya pengen juga ya mbak..?? pacarnya bisa masuk kos..?? hehe
    nita : ahh kamu ini ngaco haha.. pikir sendiri jawabannya
    me : mbak boleh gak aku menggantikan peran yang sebenarnya kalau seandanya pacarnya mbak bisa masuk kos??
    nita : ehh maksudnya..??
    me : kayak gini mbak (sambil memutar tubuh mbak nita kemudian memeras kedua payudara mbak nita), aku tau mbak.. mbak habis masturbasi kan tadi dikamar tadi aku lihat cdnya mbak basah soalnya
    nita : ehhh… hmmm… ahhh ahh…

    mbak nita hanya diam saja… akupun langsung menidurkan mbak nita langsung ku perkosa tubuhnya yang indah itu.. ku angkat tanktopnya dan mbak nita hanya menggunakan bra dan cd saja.. karena aku gak mau lama-lama.. langsung saja ku copot bra dan cd mbak nita,,, dalam waktu kurang 1 menit sudah telanajng bulat mbak nita.. dan ku lihat payudaranya menyembul ke atas wahhh… bulet banget,, porsi pas di tangan nih,,,

    nita : mas aku bukain bajunya ya..

    Cerita Sex Perjalanan Kisah Sex Ku Dari Pacar Sampai Tetangga Kost

    Cerita Sex Perjalanan Kisah Sex Ku Dari Pacar Sampai Tetangga Kost

    mbak nita pun langsung mengulum penisku sambil jongkok… ahhh… enak sekali sedotan mbak nita.. cewekku pun kalah.. (mungkin sudah lebih sering dari pada aku dan cewekku).. akupun gak mau kalah.. ku angkat dan ku baringkan dikasur.. kemudian aku colmek dia.. dan dia kelenjotan…

    nita : ahhh ahhh ahhh… uhmmm terus sayang… ahh..

    karena aku mendengar suara kamar mandi sudah gebyar gebyur.. aku langsung saja,, kumasukkan penisku sedalam-dalamnya ke dalam vagina mbak nita.. mbak nita langsung kelenjotan dadanya diangkat… ahhh enak sekali vagina mbak nita ini… ku genjot dia dengan cepat.. ahh ahh ah… mbak nita hanya mampu mengucapkan kata-kata itu saja..
    kitapun ganti posisi WOT namun mbak nita tidur membelakangi diriku…

    me : mbak.. aku udah mulai kerasa nih…
    nita : yauda sayang ayok terus sayang… keluarkan ahhh ahhh mbak cepetin yaa….
    me : aku pun gak terkontrol lalu aku keluar croot—croot 4x kedalam vagina mbak nita… namun belum ku cabut.. ku genjot pelan-pelan dulu kudiamkan penisku didalam vaginanya.. sambil meremas” payudara mbak nita… ahhh sungguh nikmat sekali hari ini..

    tak lama kemudian aku dan mbak nita kaget ternyata cewekku lihat kelakuanku dengan mbak nita posisi penis masih menancap.. dan ku coba cabut pelan-pelan… dan meluberlah spermaku dari dalam vagina mbak nita… ahh mampus aku… cewekku matanya berkunang-kunang melihat kejadian itu.. dan sambil raut wajah marah.. diapun langsung masuk kamar sambil hanya memakai handuk saja.. ku masuk kamar dan ku coba ngobrol dengan dia..

    me : sayang maafkan aku sayang aku.. aku khilaf sayang..
    pacar : kamu tega ya..?? baru ditinggal gitu aja kamu sudah gitu sama cewek lain pakek keluar didalem pula.. sakit tau gak..??
    me : aku janji gak bakal gitu lagi sayang aku khilaff sayang maafkan aku.. aku janji… kasih kesempatan kedua sayang..
    pacar : (hanya terdiam)

    ku coba cium bibirnya dia pun membalas ciumanku sambil menangis.. dan ku lepas handuk yang menyelimuti tubuhnya.. aku diatas dan dia dibawah.. dia sambil menangis namun aku sambil menikmati tubuhnya hehe..
    aku coba memainkan vaginanya dan ternyata dia mengerang… keenakan.. udah basah rupanya.. langsung saja ku jilati vaginanya dia hanya bilang ahhh uhhmmm ahhhh… ahhh…
    kemudian dia berkata

    pacar : kalau pengen gituan harus ada syaratnya
    me : apa sayang..??
    pacar : perlakukan aku sama kayak mbak nita tadi
    me : kan ini sudah sama sayang..??
    pacar : bukaan itu maksudku… tapi kamu wajib keluar didalam hari ini

    aku kaget atas permintaannya.. akupun jelas langsung menyetujuinya hehe.. rejeki nomplok gan haha…
    langsung aja ku masukkan penisku kedalam vagina pacarku.. ku masukkan sedalam-dalamnya.. dan aku menggenjotnya dari atas saja… ku percepat genjotanku…

    pacar : ahh ahh ahh… terus sayang teruss… ahh… perkosa aku sayang..
    me : enak yaa sayang uhh uhu.. mhhmmm…

    kitapun ganti posisi WOT namun WOT biasanya.. dia menghadap ke aku.. dan dia memainkan irama genjotannya.. uhh.. rupanya dia udah becek banget…

    me : sayang ayo terus lebih cepat lebih cepat sayang… terusss…
    pacar : ahh ahh ahh ahh…. (sambil croot–croot…)

    pacarku squirt di dadaku… cairannya kesana kemari membasahi kasur kami.. kemudian karena aku yang gak tahan akan sensasi squirtnya akupun mengeluarkan spermaku kedalam vagina pacarku dalam keadaan WOT…

    me : sayang aku keluar nih… 1….. 2….. 3… ahhhhh… tancepin yang dalam sayang… terussss….
    pacar : ahhhh… kluarin yang banyak sayang… hamilin aku sayang….

    sambil berciuman posisi pacarku diatas… dan dia juga sambil menggenjot diriku.. pelan-pelan dia mengangkat pantatnya… dan spermaku tumpah turun keatas perutku.. uhhh.. banyak juga rupanya keluar nih aku..

    gak disangka aku sama pacarku juga kaget.. ternyata ada mbak-mbak kos lain dari lantai 2 turun.. sebut saja namanya “hana”, mbak hana kaget melihat mbak nita tidur lemas dengan kondisi telanjang sambil mengangkangkan kakinya ada sisa sperma tumpah dari vaginanya.. kemudian juga melihat aku dan pacarku ml.. melihat juga spermaku tumpah dari dalam vagina pacarku..

    hana : ya ampun nita.. manda (sebut saja pacarku) gak disangka kalian.. ternyata gini ya kalo di lihat dari dalam..?? dari luarnya saja alim banget.. ternyata kalau udah sange gininya..?? emang beda sangenya orang yang udah terbiasa main sama sangenya orang alim ya..??
    hana : dan aku juga gak nyangka ternyata juga udah gak perawan semua toh disini berati..
    nita : “disini”..?? kamu juga berati han..?? (ngomong sambil duduk bersihin sisa sperma)
    hana : haha.. karena sama-sama udah enggak perawan yauda aku jujur aja, iya aku emang udah ga perawan nit.. sama dikuliah ini aku pertama kali ml sama cowokku yg bule itu tau kan..??
    me : gapapa mbak santai aja.. aku juga sudah menduga kalo mbak emang sudah enggak perawan haha,,, mbak udah pernah nginep kan dirumah si bule..?? kalo nginep gamungkin kalo gak ml mbak.. apalagi sama bule..
    hana : btw gimana nit..?? enak gak..?? pacarnya manda..?? (aku)
    nita : mau nyoba tah han..?? minta ijin dulu sama ceweknya hehe..
    pacar : ehh.. mbak ini bisa aja ahh..
    hana : yauda deh kalo gaboleh aku fotoin loh pose kalian saat ini.. (sambil mengeluarkan hp)
    pacar : ehh jangan mbakk pliss jangan..
    hana : yauda.. aku pinjem pacarmu bentar ya.?? boleh gak..??
    pacar : main dimana emang..??

    aku pun langsung bangun dan langsung saja ku cium mbak hana di depan kamar mbak nita dan pacarku… kita berciuman dan ku lucuti pakaian mbak hana…
    uhhh… akhirnya aku bisa menikmati tubuh mbak hana.. mbak-mbak dikos yang paling cantik di kosnya pacarku.. tinggi sekitar 155 cm.. body proporsional.. boob sepertinya ukuran 34b dan yang gabisa nahan… badannya dari atas sampai bawah putih mulus tanpa cacat dan juga hijabber… uhh.. kalau telanjang sungguh indah pemandangannya. lalu mbak hana pun tidur dilantai sambil mengangkangkan pahanya dengan sendirinya..

    hana : cepet keburu ibu kos dateng…
    me : bentar mbak aku licinkan dulu nih

    ku jilati vagina mbak hana…

    hana : ahhh uhhh ahh…. terus sayang masukin lidahmu kedalam vaginaku sayang… ahhh enak sayang…

    manda dan mbak nita tidur terlelap di kasur masing-masing tidak melihat aksiku dengan mbak hana didepan kamar mereka rupanya hehe…
    langsung saja ku masukkan penisku.. sedalam-dalamnya.. dan ku genjot langsung dengan cepat seperti orang memperkosa…

    mbak hana : uh uh u uh uh… ahhh… hmm… terus sayang lebih cepat…
    me : mbak aku udah mau kerasa keluar nih..
    hana : eh bntar dulu.. jangan keluar… (sambil berusaha bangun dan mencopot penisku dari vaginanya)
    me : mau ngapain lagi mbak
    hana : ayok dah masukin dan keluarin kedalam… kalau posisi kayak gini mbak bisa squirt..

    mbak hana sambil posisi DS sambil menghadap ke cermin di kamar cewekku… buset aku ml di sebelah cewekku baru pertama kali ini aku melakukan posisi greget ini haha…
    lalu ku masukkan dan ku sodok” sambil memerah payudara mbak hana…

    hana : ahh ahh ahh… ohh yeahh teruss teruss lebih cepat.. udah kebelet pipis nih…

    ku cepatkan genjotanku dari belakang… dan mbak hana teriah… ahhhhh… ouhhh… crott croot… sambil posisi menungging… buset.. semprotannya banyak banget.. seperti ngompol diatas lantai gan… aku pun juga gak kalahh… lalu ku semprotkan juga spermaku kedalam vagina mbak hana…

    me : ahhh… ahh.. mbak enak baneget mbak…
    hana : enakan mana antara kita bertiga..?? hehe…

    me : yaa enakan cewekku lah mbak.. hehe.. (walaupun dalam hati memang enakan sama mbak hana)

    mbak hana kelihatannya emang udah pro banget dalam urusan seks…
    setelah itu ku cabut penisku dari dalam vagina mbak hana.. namun mbak hana dengan cepatnya menutup lubang vaginanya…

    me : loh mbak kenapa kok ditutup..??
    hana : iya gak papa… biar spermanya gak ada yang tumpah.. didalem aja.. terus…
    me : kalau hamil gimana mbak..?? ahh mbak hana nih..
    hana : biarin hehe.. kalau ml.nya sama kamu khusus keluar dalam… sebelumnya emang belum pernah loh keluar dalam cowokku.. tenang aja.. kalau aku hamil aku minta tanggungjawab cowokku bule aja… ntr malem aku minta ml aja sama dia… kusuruh keluar didalem juga,,,

    akhirnya kami pun tertidur pulas… dan aku tidur diatas tubuhnya mbak hana… kita berempat mandi bareng karena kamar mandi kos emang luas…
    ahh.. sial… gara-gara mandi bareng aku ngaceng lagi…
    mbak hana yang peka terhadap suasana.. langsung jongkok dan mengkulum penisku didepan hadapan pacarku dan mbak nita…

    hana : kalian gak ikut juga tah..?? nanggung loh udah ngaceng ini… kalo gak dikeluarin ntar dia ngecess doang…

    penisku pun dijilat orang 3,,, ahhh sungguh nikmat banget bagaikan raja… akhirnya aku tak lama kemudian.. croot croot… di wajah mereka bertiga…
    mereka langsung meminum spermaku dengan lahapnya…

    enak banget… hal itu masih berlangsung sekali aja sampai saat ini,,, dan aku-mbak nita-mbak hana semakin akrab.. sejak hari itu…
    dan bahkan kemarin malah membahas liburan tahun baru.. kita berniat menyewa villa.. dan mau pesta seks di villa itu hehe..

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • NGENTOT DENGAN PUTRAKU SENDIRI

    NGENTOT DENGAN PUTRAKU SENDIRI


    1535 views

    Cerita Sex ini berjudul ” NGENTOT DENGAN PUTRAKU SENDIRI ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Arisan ibuibu selalu saja memiliki gosip yang berbagai ragam. Mulai dari gosip berlian, gosip hutan piutang, bahkan gosip sex. Kali ini aku terkejut sekali, ketika seorang teman membisikkan padaku, kalo Ibu Wira itu, suka rumput muda. Justru yang dia sukai adalah laki laki berusia belasan tahun. Rasanya aku kurang percaya. Ap ia? Bu Wira yang sudah berusia lebih 50 tahun masih doyan lakilaki belasan tahun?

    WoalaaahBu Tuty masya enggak percaya sih? kata Bu Lina lagi. Aku sudah janda hampir 10 tahun, sejak perkawinan suamiku dengann istri mudanya. Aku tak nuntut apaapa, kecuali Julius putra tunggalku harus bersamaku dan rumah yang kami bangun bersama, menjadi milikku.

    Aku sakit hati sekali sebenarnya. Justru perkawinan suamiku, karena katanya aku tidak bisa melahirkan lagi, sejak peranakanku diangkat, ketika aku dinyatakan terkena tumor rahim. Suamiku mengakui, kalau permainan seksku masih sangat Ok. Dalam usia 37 tahun, aku masih keliahatan cantik dan seksi.

    Lihat tuh, Bu Tuty. Matanya asyik melirik anak bu Tuty terus tuh, kata Bu Salmah tetanggaku itu. Kini aku jadi agak percaya, ketika aku melihat dengan jelas, Bu Wira mengedipkan matanya ke putra tunggalku Julius. Rasanya aku mau marah, kenapa Bu Wira mau mengincar putraku yang masih berusia hampir 15 tahun berkisar 12 hari lagi.

    Sepulang dari arisan, aku sengaja mendatangi tetangga yang lain dan secara lembut menceritakan apa yang diceritakan Bu Salmah kepadaku. Tetanggaku itu tertawa cekikikan. Dari ceritanya, suami bu Wira sudah tak sanggup lagi, bahkan suaminya sudah tahu kelakuannya itu.

    Bu Wira memang suka burung muda, kata mereka. Bahkan putra tetanggaku titu pernah digarap oleh Bu Wira. Karean malu ribut ribut, lagi pula anaknya yang sudah berusia 18 tahun dibiarkan saja.

    Lakilaki kan enggak apaapa bu. Kalau anak perempuan, mungkin perawannya bisa hilang. Kalau anak lakilaki, siapa tau perjakanya hilang, kata tetanggaku pula. Bulu kudukku berdiri, mendengarkan celoteh tetanggaku itu. Aku kurang puas dengan dua informasi itu. Aku bertandang lagi ke tetanggaku yang lain masih di kompleks perumahan ..(Dirahasiakan) Indah.

    Tetangku itu juga mengatakan, kalau itu soal biasa sekarang ini. Malamnya aku ngobrolngobrol dengan putraku Julius. Julius mengatakan, kalau Tante Wira sudah mengodanya. Bahkan sekali pernah menyalaminya dan mempermainkan jari telunjuknya di telapak tangan putraku. Pernah sekali juga, kata putraku, Tante Wira mengelus burung putraku dari balik celananya, waktu putraku bermain ke rumah Tante Wira.

    Aku sangat terkejut sekali mendengar pengakuan putraku Julius menceritakan tingkah laku Bu Wira. Tapi tetanggaku mengatakan, itu sudah rahasia umum, dan kini masalah itu sudah biasa. Bahkan tetanggaku mengajakku untuk berburu burung muda bersamasama.

    Malamnya aku tak bisa tidur. AKu sangat takut, kalau putraku akan menjadi korban dari ibuibu di kompleks itu. Sudah sampai begitu? Semua sudah menjadi rahasia umum dan tak perlu dipermasalahkan? Lamatlamat aku memperhatikan putraku. Trnyata dia memang ganteng seperti ayahnya. Persis fotocopy ayahnya. Walau masih 15 tahun, tubuhnya tinggi dan atletis, sebagai seorang pemain basket. Gila juga pikirku.

    Rasa takutku marahmarah kepada Bu Wira, karean aku juga mungkin pernah dia lihat berselingkuh dengan teman sekantorku. Mungkin itu akan jadi senjatanya untuk menyerangku kembali, pikirku. Hingga aku harus menjaga anak lakilakiku yang tunggal, Julius.

    Ketika Julius pergi naik sepeda mootr untuk membeli sesuatu keperluan sekolahnya, aku memasuki kamarnya. Aku melihat majalah majalah porno luar negeri terletak di atas mejanya. Ketika aku menghidupkan VCD, aku terkejut pula, melihat film porno yang terputar. Dalam hatiku, aku haru semnyelamatkan putraku yang tunggal ini.

    Sepulangnya dari toko, aku mengajaknya ngobrol dari hati ke hati.

    Kamu kan sudah dewasa, nak. Mami tidak marah lho, tapi kamu harus jawab sejujurnya. Dari mana kamu dapat majalahmajalah porno dan CD porno itu, kataku. Julius tertunduk. Lalu menjawab dengan tenang dan malumalu kalau itu dia peroleh dari temantemannya di sekolah.

    Mama marah? dia bertanya. AKu menggelengkan kepalaku, karena sejak awal aku mengatakan, aku tidak akan marah, asal dijawab dengan jujur. AKu harus menjadikan putra tunggalku ini menjadi teman, agar semuanya terbuka.

    Kamu sudah pernah gituan sama perempuan? tanyaku. Maksud mami? Apa kamu sudah pernah bersetubuh dengan perempuan? tanyaku lagi. Menurutnya secara jujur dia kepingin melakukan itu, tapi dia belum berani.

    Yang mengejutkan aku, katanya, minggu depan dia diajak kawan kawannya ke lokalisasi PSK, untuk cari pengalaman kedewasaan. Aku langsung melarangnya secara lembut sebagai dua orang sahabat. Aku menceritakan bagaimana bahaya penyakit kelamin bahkan ***AIDS. Jika sudah terkena itu, maka kiamatlah sudah hidup dan kehidupannya.

    Temanteman Julius, kok enggak kena ***, MI? Padahal menurut mereka, merekaitu sudah berkalikali melakukannya? kata putraku pula. Ya ampun.begitu mudahnya sekarang untuk melakukan hal sedemikian, batinku. Pokoknya kami tidak boleh pergi. Kalau kamu pergi, Mami akan mati gantung diri, ancamku. Tapi Mi? Tapi apa? Julius akan kepingin juga.

    Katanya nikmat sekali Mi. Lalu bagaimana dong? Julius kepingin Mi. Katanya kalau belum pernah gituan, berarti belum lakilaki dewasa, Mi? putraku merengek dan sangat terbuka. Aku merangkul putraku itu. Kuciumi keningnya dan pipinya denga penuh kasih sayang. Aku tak ingin anakku hancur karean PSK dan dipermainkan oleh ibuibu atau tante girang yang sering kudengar, bahkan oleh Bu Wira yang tua bangka itu.

    Tanpa terasa airmataku menetes, saat aku menciumi pipi putraku. Aku memeluknya eraterat. Aku akan gagal mendidiknya, jika anakku semata wayang ini terbawa arus temantemannya ke PSK sana.

    Kamu benarbenar merasakannya, sayang? bisikku. Iya Mi, katanya lemah. Aku merasakan desahan nafasnya di telingaku. Yahmalam ini kita akan melakukannya sayang. Asal kamu janji, tidak mengikuti temantemanmu mencari PSK, kataku tegas. Berarti aku sama dengan Tony dong, Mi? Tony? Siapa Tony? tanyaku ingin tahu, kenapa dia menyamakan dirinya dengan Tony.

    Menurut cerita Julius putraku, Tony juga dilarang mamanya mengikuti temantemannya pergi mencari PSK, walau Tony sudah sempat juga pergi tiga kali bersama temanteman sekelasnya. Untuk itu, secara diamdiam Tony dan mamanya melakukan persetubuhan. Katanya, Tony memakai kondom, agar mamanya tidak hamil. Aku terkejut juga mendengarnya.

    Kamu tidak perlu memakai kondom, sayang. Mami yakin, kalau mami tidak akan hamil, kataku meyakinkannya. Seusai makan malam, Julius tak sabaran meminta agar kami melakukannya. AKu melihat keinginan putra begitu mengebugebu. Mungkin dia sudah pengalaman melihat CD Porno dan majalah porno pikirku.

    AKu secepatnya ke kamar mandi mencuci paginaku dan membuka BH dan CD ku. AKu memakai daster miniku yang tipis. Di kamar mandi aku menyisiri rambutku serapi mungkin dan menyemprotkan parfum ke bagianbagian tubuhku. Aku ingin, putraku mendapatkan yang terbaik dariku, agar dia tidak lari ke PSK atau tante girang. Putraku harus selamat.

    Ini satusatunya cara, karea nampaknya dia sudah sulit dicegah, pengaruh temantemannya yang kuat. Jiwanya sedang labillabilnya, sebagai seorang yang mengalami puberitas. Begitu aku keluar dari kamar mandi, putraku sudah menanti di kamar. Dia kelihatan bingung melihat penampilanku malam ini. Tidak seperti biasanya.

    Kamu sudah siap sayang, kataku. Putraku mengangguk. Kudekati dia. Kubuka satu persatu pakaiannya. Kini dai telanjang bulat. AKua melapaskan dasterku. Aku juga sudah telanjang bulat. Aku melihat putraku melotot mengamati tubuhku yang telanjang. Mungkin dia belum pernah melihat perempuan telanjang sepertiku di hadapannya. Aku duduk di tempat tidur.

    Kutarik tangannya agar berdiri di selasela kedua kakiku. Aku peluk dia. Aku kecip bibirnya dengan mesara. Pantatnya kusapusapu dengan lembut, juga punggungnya. Dengan cepat terasa burungnya bergerakgerak di perutku.

    Kujilati lehernya. dia mendesah kenikmatan. Liodahku terus bermain di pentil teteknya. Lalu menjalar ke ketiaknya dan sisi perutnya. Aku merasakan tangan anakku mulai memagang kepalaku. Kuperintahkan dia untuk duduk di pangkal pahaku. Kini dia duduk di pangkal pahaku, dengan kedua kakinya bertumpu ke pinggir tempat tidur.

    Tibatiba aku merebahkan diriku ke tempat tidur. dia sudah berada di atasku. Kuminta agar dia mengisap puting susuku. Mulutnya mulai beraksi. Sementara burungnya terasa semakin keras pada rambut paginaku.

    Dengan cepat pula, kurebahkan dirinya. Kini aku yang balik menyerangnya. Kujilati sekujur tubuhnya. Batang burungnya, telur yang menggantung di pangkal burungnya. Ku kulum burungnya dan kupermainkan lidahku pada burung itu.

    Mamigeli, putraku mendesah. Tapi enakkan, wayang, tanyaku. Enak sekali Mi, katanya. Aku meneruskan kocokanku pada burungnya. Dia menggelinjanggelinjang. Kuteruskan kucokanku. Kedua kakinya menjepit kepalaku dancroot.croot.crooooooot! Spermanya keluar. Kutelan sepermanya dan kujilati batangnya agar spermanya tak tersisa. Aku senagaja memperlihatkannya kepadanya.

    Kini dia menjadi lemas. Terlalu cepat dia keluar. Mungkin sebagai pemula, dia tak mampu mengontrol diri. Kuselimuti dirinya. 20 menit kemudian, setelah nafasnya normal, aku memberinya air minum segelas. Lalu aku membimbingnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kusabuni burungnya dan kulap pakai handuk. Kini kami sudah terbaring berdua di tempat tidur.

    Enak sayang? tanyaku. Dia menagngguk. Tapi Mi, kita kan belum begituan. Katanya kalau begituan, burung Julius masuk ke lubang mem*k Mami, katanya polos. Aku menganguk. Kamu harus segar dulu. Nanti kita ulangi lagi.

    Nanti kamu boleh memasukkannya ke lubang Mami, kataku. Kenapa nanti Mi? Kenapa tidak sekarang? dia mendesak. Dia sudah begitu menginginkannya pikirku. Langsung kulumat bibirnya.

    Kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Dia langsung meresponsnya. Kini dia berganti memberikan lidahnya padaku. Aku mengemutnya dengan lembut. Tanganku terus membelaibelai tubuhnya dan burungnya kuelus elus. Sebentar saja burung itu bangkit.

    Naiki Mami, sayang, kataku. Dia naik ke tubuhku. Masukkan, pintaku. Dia mencaricari lubangku. Kuarahkan burungnya dengan tanganku. Setelah burung itu terasa di tengah bibir paginaku, kuminta dia menekannya. Dia menakan burungnya dan langsung masuk, karean paginaku sudah basah.

    Aku memang sudah sangat lama merindukan ada burung memasuki paginaku. Setelah terhenti 5 tahun perselingkuhanku dengan seorang duda teman sekantorku (sejak dia pindah) aku tak pernah lagi selingkuh. Burung yang besarnya cukup itu, terasa sudah mengganjal di liang paginaku. KUkangkangkan kedua kakiku.

    Aku membiarkan burung itu tenggelam di dalamnya. Tak lama kemudian, aku merasakan putraku sudah mulai menarikcucuk burungnya. Aku biarkan saja, walaupun sebenarnya aku sudah agak gatal ingin meresponsnya.

    Lama kelamaan, aku tak tahan juga. Aku pun meresponnya dengan hatihati, seakan aku hanya melayaninya saja, bukan karean kebutuhanku. Sambil memompa burungnya, kuarahkan mulutnya untuk mengisapisap pentil payudaraku. Dia melakukannya. AKu sudah melayang di buatnya.

    Sudah lama sekali aku tidak merasakan kenikmatan itu, sementara usia yang 37 tahun, masih membutuhkannya. Kujepit kedua kakiku ke tubuh putraku. Aku orgasme dengan cepat. Aku tidak memperlihatkan, kalau aku sudah orgasme. Perlahanlahan aku tetap meresponsnya, sampai aku normal kembali.

    Jangan digenjot dulu, sayang. Mami Capek. Isap saja tetek mami, sayang, pitaku. Aku tak ingin dia sudah orgasme, sementara aku masih jauh. Dia menjilati tetekku dan mengisapisapnya. Atas permintaanku, sekalisekali dia juga menggigit putingku. Libidoku bangkit. Aku mulai melayang. Aku mulai menggoyang tubuhnya dari bawah.

    Dia merespons dengan kemabli menggejotku, menarik dan mencucuk burungnya ke dalam liang paginaku. Aku mendengar, suara begitu becek pada paginaku. Aku sedikit malu, karena selama ini, aku sudah tidak merawat lagi paginaku. Tapi dia semakin semangat mengocokkan burungnya.

    Mamiaku sudah mau keluar nih katanya. Saat itu aku juga sudah mau muncrat. Aku percepat goyanganku, agar aku lebih dulu sampai pada puncak kenikmatan itu. Dandia memelukku erat sekali. Bahuku digigitnya dan sebelah tangannya mencengkeram rambutku. Ternyata kami bisa samasama sampai. Aku masih mampu mengatur irama permainan ini, pikirku.

    Aku keringat dan putraku juga berkeringat. Perlahan dia ku baringkan ke sisiku dan aku menyelimuti tubuh kami dengan selimut tipis, sekaligus melap tubuh kami dari keringat. Setelah 15 menit aku bangkit dan meneguk segelas air putih.

    Segelas kuberikan kepdanya. Julius berjanji untuk merahasiakan ini kepada siapa saja, termasuk kepada teman dekatnya. Walau menurut Julius, temannya sudah berhubungan dengan beberapa wanita di lokalisasi PSK, namun behubungan dengan ibunya jauh lebih nikmat. Aku juga memberi yang terbaik buat putraku, demi keselamatan hidupnya, terhidar dari PSK dan tante giang.

    Aku menyangupi, memberinya cara lain bermain seks, seperti yang dia lihat di CD porno dan majalahmajalah, seperti doggystyle dan sebagainya. Malam itu, Julius juga bersumpah, tidak akan pergi mencari PSK, walau pun temantemannya menuduhnya lakilaki Kuper dan ketinggalan zaman, karea dia sudah mendapatkannya dariku dengan baik.

    Sejak saat itu, kami selalu melakukannya secara teratur, tidak serampangan. Tenatu saja di tempat tidur, di dapur, di sofa dan tempattempat lai di rumah kami dengan suasana yang indah. Bahkan kami pernah juga melakukannya di hotel, ketika kami wisata ke bogor. Semua orang memuji kegantengan putraku yang wajahnya imutimut dan manja itu.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Bokep Ngentot Dengan ABG SMA Panas Yang Seksi – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Bokep Ngentot Dengan ABG SMA Panas Yang Seksi – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1533 views

    Perawanku – Pada saat itu pelajaran yang diberikan oleh pak guru belum terlalu banyak, karena memang kami masih dalam tahap orientasi dari murid smp menjadi murid smu. Tak terbayang olehku dapat masuk ke SMA yang masih tergolong favorit di ibu kota ini. Impianku sejak dulu adalah memakai seragam putih abu-abu karena seragam ini memiliki model rok yang lebih membuatku kelihatan seksi.

    Diantara teman2 baruku ada seorang cowok yang amat menarik perhatianku, sebut saja namanya Galih. Membayangkan wajahnya saja bisa membuatku terangsang. Aku sering melakukan masturbasi sambil membayangkan Galih.

    Walaupun sering bermasturbasi tapi saat itu akku belum pernah bercinta atau ngentot, bahkan petting jg belum. entah setan apa yang masuk ke dalam otakku hari itu karena aku berencana untuk menyatakan cinta kpd Galih. maka saat istirahat aku memanggil Galih,

    “Gal, gw gk tau gmn ngomongnya” aku benar2 kalut saat itu ingin mundur tapi udah telat

    “Gal gw sayang ma elo, lo mau kan jd cowo gw?” aku merasa amat malu saat itu, rasanya seperti ditelanjangi di kelas (paling tidak sampai SEKARANG aku masih memakai seragam lengkap).

    Galih hanya tersenyum, “nanti aja ya gw jawabnya pas pulang”.

    Selama jam pelajaran pikiranku tak menentu, “gimana kalo Galih gak mau?” dalam hatiku “pasti gw jd bahan celaan!” berbagai pertanyaan terus mengalir di otakku. untungnya pelajaran belum begitu maksimal. bel pulang pun berdering, jantungku berdegup cepat. aku hanya duduk menunggu di bangkuku, aku tidak memiliki keberanian untuk menghampiri Galih dan menanyakan jawabannya.

    Saat kelas sudah berangsur sepi Galih menghampiriku “bentar ya Renn, gw dipanggil bentar” katanya. aku menunggu sendirian di kelas. “jangan2 Galih ingin agar sekolah sepi dan mengajakku bercinta?” kepalaku penuh pertanyaan, hingga aku sama sekali tidak dapat berpikir sehat. dalam penantianku tiba2 ada orang datang. aku kecewa karena bukan Galih yang datang melainkan Lilik dan Fandi dari kelas I-3. mereka menghampiriku, Lilik didepanku dan Fandi disampingku.

    Perlu diketahui mereka bisa dikatakan sangat jauh dari tampan. dengan kulit yang hitam dan badan yang kurus kering, aku rasa akan menyulitkan mereka untuk mendapatkan pacar di sekolah ini.

    “Lagi nungguin Galih Renn?” kata Lilik.

    “Koq tau?” kataku

    “Tadi Galih cerita.”

    Apa2an nih Galih pake cerita segala dalam hatiku.

    “Loe suka ma Galih ya Renn?” tanya Lilik lagi.

    Aku cuma diam saja.

    “Koq diem?” kata Fandi.

    “Males aja jawabnya” kataku Perasaan bt mulai menjalar tapi aku harus menahan karena pikirku Fandi dan Lilik adalah teman Galih.

    “Kok lo bisa suka ma Galih sih Renn?” tanya Fandi tapi kali ini sambil merapatkan duduknya kepadaku dan menaruh tangannya di pahaku.

    “Galih ganteng n gak kurang ajar kayak lo!” sambil menepis tangannya dari pahaku.

    “Kurang ajar kaya gimana maksud lo?” tanya Fandi lagi sambil menaruh tangannya lagi di pahaku dan mulai mengelus2nya

    “Ya kayak gini!” jawabku sambil menunjuk tangannya tapi tidak menepisnya karena aku mulai terangsang dan berpikir mungkin mereka disuruh Galih.

    “Tapi enak kan?” kali ini Lilik ikut bicara. Fandi mulai mengelus2 pangkal pahaku. aku pura2 berontak padahal dalam hati aku ingin dia melanjutkannya.

    “udah jangan sok berontak” kata Lilik sambil menunjukkan cengiran lebarnya. makin lama usapannya membuatku membuka lebar pahaku.

    “Tadi bilang kita kurang ajar, eh skarang malah ngangkang.” “nantangin yah?” kata Lilik. dia menggeser bangku di depan mejaku dan mulai masuk ke kolong mejaku. sekarang Fandi berganti mengerjai payudaraku, tangan kirinya mengusap payudara kananku sedangkan mulutnya menciumi dan menghisap payudara kiriku sehingga seragamku basah tepat di daerah payudaranya saja.

    Lilik yang berada di kolong meja menjilat2 paha sampai pangkal pahaku dan sesekali lidahnya menyentuh vaginaku yang msh terbungkus celana dalam tipisku yang berwarna putih. perbuatan mereka membuatku menggelinjang dan sesaat membuatku melupakan Galih. Fandi melepas kancing kemeja seragamku satu persatu dan kemudian melempar seragam itu entah kemana.

    Merasa kurang puas ia pun melepas dan melempar braku. lidahnya menari2 di putingku membuatnya menjadi semakin membesar.

    “ough Fand udah dong, gimana nanti kalo ketahuan” kataku

    “tenang aja guru dah pada pulang” kata Lilik dari dalam rokku.

    Cerita Dewasa – Sedangkan Fandi terus mengerjai kedua payudaraku memilinnya, meremas, menghisap, bahkan sesekali menggigitnya. aku benar2 tak berdaya saat ini, tak berdaya karena nikmat. aku merasakan ada sesuatu yang basah mengenai vaginaku, aku rasa Lilik menjilatinya.

    Aku tak dapat melihatnya karena tertutupi oleh rokku. Perlakuan mereka sungguh membuatku melayang. aku merasa kemaluanku sudah amat basah dan Lilik menarik lepas cd ku dan melemparnya juga. ia menyingkap rokku dan terus menjilati kemaluanku. tak berapa lama aku merasa badanku menegang.

    Aku sadar aku akan orgasme. aku merasa amat malu karena menikmati permainan ini. aku melenguh panjang, setengah berteriak. aku mengalami orgasme di depan 2 orang buruk rupa yang baru aku kenal. “hahahaha..” mereka tertawa berbarengan. “ternyata lo suka juga yah?” kata Fandi sambil tertawa. “jelas lah” sambung Lilik “smp dia kan dulu terkenak pecunnya” kata2 mereka membuat telingaku panas.

    Cerita Sex – Kemudian mereka mengangkatku dan menelentangkanku di lantai. mereka membuka pakaiannya “oh..” ini pertama kalinya aku melihat k0ntol secara langsung. biasanya aku hanya melihat di film2 porno. Lilik membuka lebar pahaku dan menaruh kakiku di atas pundaknya. pelan2 ia memasukkan k0ntolnya ke liang senggamaku.

    “ough, sakit lik” teriakku

    “tenang Renn, entar juga lo keenakan” kata Lilik

    “ketagihan malah” sambung Fandi

    Perlahan2 ia mulai menggenjotku, rasanya perih tapi nikmat. sementara Fandi meraih tanganku dan menuntunnya ke k0ntol miliknya. ia memintaku mengocoknya. Lilik memberi kode kepada Fandi, aku tidak mengerti maksudnya. Fandi mendekatkan k0ntolnya kemulutku dan memintaku mengulumnya. aku mejilatinya sesaat dan kemudian memasukkannya ke mulutku.

    “isep k0ntol gw kuat2 Renn” katanya.

    Aku mulai menghisap dan mengocoknya dengan mulutku. tampaknya ini membuatnya ketagihan. ia memaju mundurkan pingangnya lebih cepat. disaaat bersamaan Lilik menghujamkan k0ntolnya lebih dalam. “mmmffhh” aku ingin berteriak tapi terhalang oleh k0ntol Fandi. rupanya arti dr kode mereka ini, agar aku tak berteriak. aku sadar ke virginanku diambil mereka, oleh orang yang baru beberapa hari aku kenal.

    “ternyata masih ada juga nak smp sb yang masih virgin” “vagina ce virgin emang paling enak” kata Lilik.

    Dia menggenjotku semakin liar, dan tanpa sadar goyangan pingulku dan hisapanku terhadap k0ntol Fandi jg semakin cepat. tak lama aku orgasme untuk yang kedua kalinya. akupun menjadi sangat lemas tapi karena goyangan Lilik Lilik semakin liar aku pun juga tetap bergoyang dan meghisap dengan liarnya. tak lama Lilik menarik keluar k0ntolnya dan melenguh panjang disusul deerasnya semprotan maninya ke perutku. ia merasa puas dan menyingkir.

    Sudah 45 menit aku menghisap k0ntol Fandi tapi ia tak kunjung orgasme jg. ia mencabut k0ntol dari mulutku, aku pikir ia akan orgasme tapi aku salah. ia telentang dan memintaku naik diatasnya. aku disetubuhi dengan gaya woman on top. aku berpegangan pada dadanya agar tidak jatuh, sedangkan Fandi leluasa meremas susuku.

    Sekitar 10 menit dengan gaya ini tiba2 Lilik mendorongku dan akupun jatuh menindih Fandi. Lilik menyingkap rokku yang selama bergaya woman on top telah jatuh dan menutupi bagian bawahku. ia mulai mengorek2 lubang anusku. aku ingin berontak tapi aku tidak ingin saat ini selesai begitu saja. jadi aku biarkan ia mengerjai liang duburku.

    Tak lama aku yang sudah membelakanginya segera ditindah. k0ntolnya masuk ke dalam anusku dengan ganas dan mulai mengaduk2 duburku. tubuhku betul2 tersa penuh. aku menikmati keadaan ini. sampai akhirnya ia mulai memasukkan penuh k0ntolnya ke dalam anusku. aku merasakan perih dan nikmat yang tidak karuan. jadilah aku berteriak2 sekeras2nya. aku yang kesakitan tadik membuat mereka iba tetapi malah semakin bersemangat menggenjotku.

    Sekitar 15 menit mereka membuatku menjadi daging roti lapis dan akhirnya aku orgasme lagi untuk yang kesekian kalinya. kali ini aku berteriak amat keras dan kemudian jatuh lemas menindih Fandi. saat itu penjaga sekolah masuk tanpa aku sadar dan menonton aku yang sedang dikerjai 2 orang biadab ini.

    Goyangan mereka semakin buas menandakan mereka akan segera orgasme. aku yang sudah lemas hanya bisa pasrah saja menerima semua perlakuan ini. tak lama mereka berdua memelukku dan melenguh panjang mereka menyemprotkan maninya di dalam kedua liangku. aku dapat merasakan cairan itu mengalir keluar karena vaginaku tidak cukup menampungnya.

    Mereka mencabut kedua k0ntol mereka. aku yang lemas dan hampir pingsan langsung tersadar begitu mendengar Fandi berkata “nih giliran pak maman ngerasain iRenn” aku melihat penjaga sekolah itu telah telanjang bulat dan k0ntolnya yang lebih besar dari Fandi dan Lilik dengan gagahnya mengangkangiku seakan menginginkan lubang untuk dimasuki.

    Dia menuntun k0ntolnya kemulutku untuk kuhisap. aku kewalahan karena ukurannya yang sangat besar. melihat aku kewalahan tampaknya ia berbaik hati mencabutnya. tetapi sekarang ia malah membuatku menungging. ia mengorek2 kemaluanku yang sudah basah sehingga makin lama akupun mengangkat pantatku. aku sungguh takut ia menyodomiku.

    Akhirnya aku bisa sedikit lega saat k0ntolnya menyentuh bibir kemaluanku. dua jarinya membuka vaginaku sedangkan k0ntolnya terus mencoba memasukinya. entah apa yang aku pikirkan, aku menuntun k0ntolnya masuk ke vaginaku. ia pun mulai menggoyangnya perlahan. aku secara tak sadar mengikuti irama dari goyangannya. rokku yang tersinggkap dibuka kancingnya dan dinaikkannya sehingga ia melepas rok abu2ku melalui kepalaku.

    Saat ini aku telah telanjang bulat. tangannya meremas payudaraku dan terus menggerayangi tubuhku. disaat2 kenikmatan aku tak sengaja menoleh dan melihat Galih duduk di pojok. dewi teman sebangkuku megoralnya yang lebih mengagetkan ia memegang handycam dan itu menagarah ke diriku. aku kesal tapi terlalu horny untuk berontak. akhirnya aku hanya menikmati persenggamaan ini sambil direkam oleh orang yang aku sukai.

    Pak maman semakin ganas meremas dadaku gerakannya pun semakin cepat. tapi entah kenapa dari tadi aku selalu lebih dulu orgasme dibandingkan mereka. aku berteriak panjang dan disusul pak maman yang menjambak rambutku kemudian mencabut k0ntolnya dan menyuruhku meghisapnya. ia berteriak tak karuan. menjambakku, meremas2 dadaku sampai akhirnya ia menembakan maninya di mulutku.

    Terdengar entah Lilik, Fandi, atau Galih yang berteriak telan semuanya. aku pun menelannya. mereka meninggalkanku yang telanjang di kelas sendirian. setelah mereka pergi aku menangis sambil mencari2 seragamku yang mereka lempar dan berserakan di ruang kelas.

    Aku menemukan braku telah digunting tepat di bagian putingnya dan aku menemukan celana dalamku di depan kelas telah dirobek2. sehingga aku pulang tanpa celana dalam dan BH yang robek bagian putingnya. di dekat tasku ada sepucuk memo yang bertuliskan.

  • Kiriman Kisah Seks Di Masa Kuliah Dengan Karyawati – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Kiriman Kisah Seks Di Masa Kuliah Dengan Karyawati – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1532 views

    Perawanku – Ini merupakan pengalaman pribadi yang sangat berkesan sekali bagi saya. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Awalnya bermula pada pertengahan masa-masa kuliah saya di sebuah Perguruan Tinggi ternama di Jakarta. Bukan apa, selama ini entah kenapa selalu timbul rasa penasaran dalam diri saya untuk ingin mengungkapkan semua yang pernah terjadi pada diri saya. Secara kebetulan saya bertemu dengan seorang teman sekerja dan menyarankan untuk menceritakan kembali pengalaman saya ini. Terus terang saya baru tahu ada site semacam ini di Internet.

    Saya sangat tertarik dan ingin membagi cerita pada seluruh pembaca. Tentang kenyataan yang ada dan mungkin sering terjadi disekeliling kita. Kelebihan dan kekurangan dari isi cerita ini adalah menurut yang saya alami. Terserah apapun tanggapan dari para pembaca. Dan ucapan terima kasih saya kepada 17tahun bila cerita sederhana ini dimuat. Sebutlah nama saya Fandy tetapi teman-teman biasa memanggil saya Andy saja.

    Saya mengenal sex bisa dikatakan belum terlalu lama juga. Baru mulai semester 3 semasa duduk dibangku kuliah dulu (saat itu usia saya baru 20 tahun). Kali pertama keperjakaan saya terenggut oleh Mbak Dewi (salah seorang karyawati XX di kampus yang sempat menjadi kekasih saya selama kurang lebih 2 tahun). Semenjak itu sex bagi saya seolah sudah menjadi salah satu kebutuhan utama sehari-hari. Saya seolah terjebak dengan keindahan fantasi kenikmatan surgawi yang Mbak Dewi berikan dan ajarkan kepada saya.

    Hubungan saya dengan Mbak Dewi bisa dibilang lumayan lama juga, dan malahan sampai beberapa kali membuahkan kehamilan. Meski begitu Mbak Dewi selalu saja menggugurkannya. Hal ini terjadi berulang sampai lima kali. Gila memang, tetapi entah kenapa Mbak Dewi justru sangat menikmati hasil perbuatan saya selama hampir kurang lebih 2 tahun hubungan asmara kami itu berlangsung. Saya tidak tahu apakah itu termasuk suatu penyimpangan perilaku atau bukan. Yang jelas setiap kali terjadi kehamilan dengan bangga ia memberitahukannya kepada saya dan mengatakan bahwa saya adalah pria paling hebat yang pernah dikenalnya.

    Bagi saya sendiripun Mbak Dewi adalah segala-galanya. Meski secara fisik ia lebih tua hampir 5 tahun dibanding usiaku, namun itu tidak menjadi beban dan halangan bagi saya untuk mengasihi dan menyayanginya sebagai layaknya seorang kekasih. Kuakui saya bukanlah pria pertama dalam kehidupan cintanya, tetapi itu bukan masalah karena saya sangat mencintainya. Memang meski secara resmi kami belum menikah namun untuk masalah sex kami sudah melakukannya sebulan semenjak pertama kali saling berkenalan. Bercinta dengannya seakan tak pernah bosan.

    Sex menurutnya adalah suatu keindahan yang setiap saat harus bisa dinikmati. Ibarat nasi, 2 atau 3 hari saja rutinitas intim itu tertunda pasti keesokan harinya Mbak Dewi langsung uring-uringan tanpa alasan yang jelas. Kalau sudah demikian hanya ada satu obat paling manjur untuk mengatasinya. Meredamnya dengan buaian-buaian kenikmatan surgawi. Menurutnya saya adalah pria yang paling berharga dan paling menggairahkan dalam hidupnya. Saat itu sudah begitu besar keyakinan dan perasaan cinta saya terhadapnya dan kukira begitu pula sebaliknya. Dan tak pernah terlintas sekalipun di benak saya hubungan indah ini akan berakhir begitu saja.

    Sampai suatu ketika, kebetulan saya ada suatu keperluan mendadak yang sangat penting dan harus ke Bandung selama hampir 2 minggu. Mbak Dewi melepas kepergianku dengan berat hati. Ia tak akan sanggup bila terlalu lama berpisah denganku. Saya sendiri sangat memaklumi perasaannya. Bagaimanapun selama ini tiada hari tanpa kami lewati bersama-sama. Saya ingin mengajaknya turut serta namun itu berarti ia harus bolos kerja. Aku tak menginginkan itu jika ia sampai kena teguran lagipula saat itu saya tak meragukan kesetiaannya.

    Namun kenyataannya tanpa pernah kuduga sama sekali Mbak Dewi melakukan kesalahan besar dan membuat geger karena tertangkap basah sedang melakukan hubungan intim dengan salah seorang dosen senior. Hanya sehari sebelum kedatanganku pulang. Fatalnya mereka melakukannya justru disalah satu ruang kantor ketika pegawai yang lain sedang mengikuti rapat rutin mingguan. Memalukannya lagi kejadian tersebut sempat menjadi tontonan gratis beberapa orang mahasiswa yang kebetulan mengetahui kejadian mesum tersebut.

    Terus terang saya sangat kecewa, malu dan sakit hati dengan perbuatannya tersebut. Saya benar-benar tidak menyangka Mbak Dewi tega menghianati saya dan berselingkuh dengan orang lain. Saya merasa benar-benar telah tertipu dengan perasaan saya sendiri. Padahal saya sangat menyayangi Mbak Dewi sebagaimana layaknya seorang kekasih bahkan calon istri. Saya tidak pernah menghianati cinta saya kepadanya, karenanya ini benar-benar sangat menusuk perasaan. Akhirnya karena terlanjur malu mereka berdua menikah hanya kurang dari 1 minggu semenjak kejadian memalukan tersebut. Mbak Dewi setengah mati berusaha meminta maaf kepadaku atas segala perbuatannya. Dia mengaku khilaf dan meminta pengertianku.

    Meski dengan berat hati apapun alasannya saya berusaha memaafkan dan mengikhlaskan semuanya. Saya berusaha untuk tak menemuinya lagi. Hal ini terasa terlalu sangat menyakitkan. Namun anehnya, hanya 2 hari menjelang pernikahannya entah kenapa aku merasa begitu cemburu dan ingin sekali berjumpa dengannya. Seolah tahu akan perasaan dan keinginanku, Mbak Dewi ternyata memang telah menunggu kedatanganku. Tidak perlu saya ceritakan detilnya, yang jelas saat itu kembali terulang kemesraan yang biasa kami lakukan sebelum kejadian tak mengenakkan tersebut. Bahkan saking rindunya saya sampai menyebadaninya berulang-ulang kali tanpa henti selama beberapa jam. Apalagi bila melihat kemolekan dan kemulusan kulit tubuhnya yang tergeletak pasrah telanjang bulat diatas ranjang begitu mempesona penglihatanku. Membuat gairah birahiku terus bergelora seakan tak pernah padam.

    Kenikmatan demi kenikmatan kami raih dan entah sudah berapa kali kami berdua saling menyemburkan cairan kenikmatan. Rintihan dan erangan kepuasan berulang kali terdengar lembut dari mulut mungilnya yang indah. Kedua bibir merahnya selalu digigitnya gemas setiap kali kuberhasil memberinya seteguk demi seteguk anggur kenikmatan. Seakan pengantin baru hampir sepanjang siang sampai sore kami berdua menikmati indahnya surga dunia meskipun hanya sesaat itu saja. Kusadari sepenuhnya bahwa kemungkinan ini adalah terakhir kalinya kami dapat tidur bersama. Satu yang tak bisa kulupakan hingga detik ini dan sampai kapanpun juga, hasil perbuatan kami tersebut ternyata kembali membuahkan kehamilan. Hanya saja kali ini Mbak Dewi sama sekali tidak menggugurkannya sebagai bukti rasa kasihnya kepadaku.

    Beruntung suaminya tidak pernah curiga dengan kehadiran anak laki-laki pertama mereka yang mukanya sangat mirip sekali denganku. Saat ini usianya hampir menginjak 4,5 tahun. Hampir 3 minggu kemudian setelah pernikahan mereka kami mulai jarang bertemu apalagi bertatap muka. Di kampus pun Mbak Dewi seakan berusaha menghindar bila melihat kedatanganku. Aku berusaha mengerti atas semua sikapnya karena bagaimanapun juga ia sekarang telah menjadi milik orang lain. Aib yang ia alami dulu seolah menjadi trauma yang memalukan baginya. Hari-hari yang biasanya selalu indah ceria seakan berubah dan berbalik 180 derajat. Saya sering melamun dan dilanda rasa cemburu yang berlebihan. Ingin marah tetapi entah kepada siapa.

    Pada dasarnya saya bukanlah orang pendendam, sehingga sedikitpun tidak ada keinginanku untuk membalas semua perbuatannya. Hanya saja rutinitas sex yang biasanya saya lakukan hampir setiap hari bersama Mbak Dewi seakan terhenti total. Hal ini ternyata sangat mengganggu pikiran dan baru saya sadari setelah sekitar 3 minggu kebiasaan rutin tersebut terhenti. Bagaimanapun saya adalah laki-laki normal yang sebelumnya sudah terbiasa melakukan rutinitas sexual. Saya kira pembaca pasti mengerti apa yang saya maksudkan.

    Itulah kenyataannya, pada mulanya saya sering merasa pusing tanpa sebab, sering sampai tidak bisa tidur dan yang paling menyiksa bila alat kelelakian saya hampir setiap saat sering tegang sendiri. Kalo sudah begitu bisa sehari semalam saya tidak bisa tidur sama sekali. Saya sendiri bukanlah pria yang senang bermasturbasi atau onani. Sejak dulu bisa dikatakan hanya sekali atau dua kali saja saya melakukannya sebelum mengenal Mbak Dewi. Setelah itu paling sering justru Mbak Dewi sendiri yang melakukannya bila ia sudah tak sanggup lagi melayaniku atau kalau kebetulan dia sedang kepingin melakukan oral sex.

    Aku hanya tersenyum geli dan mengiyakan permintaannya yang sedikit diluar kebiasaan. Karena terus terang saya lebih senang mengeluarkan air mani saya didalam liang vaginanya. Mungkin karena saat itu saya merasa hanya Mbak Dewi saja satu-satunya wanita didalam hidup ini yang paling kucintai, saya mengira hanya Mbak Dewi sajalah yang memiliki (maaf) liang vagina paling nikmat di dunia. Lucu memang. Dan setiap kali bahkan sampai kapanpun saya akan selalu teringat atas segala keindahan dan pesona sexual yang dimilikinya.

    Bercinta dan bersetubuh dengannya membuatku benar-benar merasa sangat berharga dilahirkan sebagai seorang laki-laki. Saya merasa bangga dan bahagia bisa melihatnya merintih merasakan kenikmatan yang kuberikan dan membuatnya orgasme hingga berkali-kali. Mbak Dewi sangat menyukai perlakuanku setiap kali aku memuasinya. Mungkin saja dia termasuk golongan wanita yang hiperaktif, karena apapun bentuk kenikmatan yang sedang dirasakannya ketika orgasme selalu diekspresikan seketika itu juga. Menjerit, memekik, menggeliat bahkan kadang sampai menendang-nendang. Bila sedang mencapai puncak Mbak Dewi seakan seperti terkencing-kencing dan begitu hebat tubuhnya menggeliat sambil menyemprotkan cairan kemaluannya.

    Terkadang saya nggak pernah habis pikir bila Mbak Dewi sedang berada di puncak gejolak birahinya. Bila sedang orgasme cairan yang disemburkannya relatif sangat banyak untuk ukuran wanita seperti dia. Mungkin jauh lebih banyak dibanding semburan air mani pria manapun juga. Dan uniknya Mbak Dewi sanggup melakukannya berkali-kali. Bila sedang terangsang paling tidak saya harus mengulang menyetubuhinya maksimal sebanyak 7-8 kali dalam setiap permainan. Mbak Dewi selalu memuntahkan cairan orgasmenya sampai menyembur keluar dari liang vaginanya. Persis seperti air mancur kecil. Waktu itu saya tidak tahu apa setiap wanita memang begitu adanya bila sedang orgasme. Bila sudah demikian dengan sabar terpaksa saya harus mencabut keluar batang penis saya dari jepitan liang vaginanya agar cairan kewanitaannya bisa tumpah keluar. Kalau tidak, rasanya seperti sedang berada di dalam kolam renang air panas.

    Dengan manja Mbak Dewi mencium bibir saya mesra lalu segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan kemaluan dan selangkangannya yang basah. “Mmm ..cupp .. kau hebat sekali Andy .. mm ..sebentar sayang .. aku ke kamar mandi dulu yaa .. cupp ..”, bisiknya penuh kemesraan setelah orgasme pertamanya selesai. Ia tertawa kecil melihat alat kelelakianku yang basah berlendir terkena semburannya. Sementara diatas sprei juga tampak mulai basah tersiram cairan orgasmenya yang luar biasa banyaknya. “Oooh .. kau luar biasa sekali Dewi .. benar-benar membuatku terangsang ..”, ujarku takjub. “O yaa .. mm ..sabar sayang .. tunggu saja giliranmu ..mm ..cupp .. aku juga menginginkan semburanmu Andy ..hh .. aku ingin benih kita benar-benar menyatu sayang ..mm ..”, bisiknya genit. Dua menit kemudian ia kembali lagi keatas ranjang dan menyuruhku langsung menyetubuhinya seperti semula. Demikian berulang-ulang saya selalu melakukannya sampai sebanyak 4-5 kali dan begitu pula ia selalu membersihkan diri ke kamar mandi setiap kali selesai orgasme. Selebihnya biasanya Mbak Dewi hanya bisa terbaring lemas kelelahan diatas kasur.

    Ia memang sangat sensitif dan mudah sekali orgasme. Setiap kali alat vitalku menekan kedalam dan merangsang dinding vaginanya, paling tidak selama kurang lebih 2-3 menit Mbak Dewi sudah mencapai klimak dan cairan orgasmenya langsung menyemprot keluar mengguyur batang kelelakianku. Karena itu, setiap kali menyetubuhinya harus saya lakukan secara perlahan-lahan. Jangan sampai penis saya menggesek liang vaginanya terlalu cepat.

    Waktu sudah menjelang sore ketika ia kembali mencapai klimak, .. kucabut keluar alat kejantananku yang liat dan panjang dari dalam jepitan liang vaginanya. Mbak Dewi sontak menggeliat dan mengejan sambil mengangkat pinggulnya keatas. Aku segera bergeser sedikit ke sisi kanan tubuhnya. Dan .. Pyuurr .. untuk kelima kalinya cairan orgasmenya menyemprot keluar dari sela-sela celah vaginanya membasahi selangkangannya sendiri dan sebagian sprei tempat tidur. “Fuuhh .. kau keluar lagi Dewi .. nikmat ya sayang ..”. “Aaahh ..Andy ..nngghh ..uuwwhh ..oohh ..”, pekiknya keras setengah tertahan sebelum akhirnya pinggulnya terhempas kembali keatas ranjang.. Sejenak kuusap seluruh batang kejantananku yang basah kuyub dengan selimut, lalu dengan bernafsu kuarahkan kembali kepala penisku yang semakin mengkilat ke liang vagina Mbak Dewi yang mulai menutup rapat lagi.

    “Aaww ..uuhh .. Andy ..”, rintihnya nikmat sambil memelukku lagi. Aku kembali mengayuh naik turun menggoyang tubuhnya. Memberikannya kenikmatan. Mbak Dewi hanya menatapku pasrah melihatku kembali menyetubuhinya seakan ingin membuat dirinya orgasme berulang-ulang kali tanpa henti. ” Su ..sudah Andy .. a ..aku lemas sekali .. aku bisa keluar lagi ..oohh .. ja ..jangan .. jangan sekarang Andy .. ooww .. ooww ..uuhh .. yaahh .. “, rintihnya lemas menahan nikmat ketika hanya dalam 2 menit cairan orgasmenya yang panas kembali menyembur dan seolah mendorong kepala penisku keluar.

    Untuk kesekian kali kembali kucabut batang kelelakianku dari jepitan rapat liang vaginanya. Dan .. pyuur .. cairan orgasme Mbak Dewi langsung tumpah keluar membasahi bibir kemaluan dan selangkangannya lagi. Sebagian besar langsung meresap kedalam sprei tempat tidurnya yang semakin basah lembab berair. “Wooww .. kau luar biasa sekali Dewi .. mm .. kau cepat sekali keluar sayang ..”, ujarku takjub. “Nngg ..hh ..su ..sudah Andy .. aku lemas sekali .. oohh .. ayo dong Andy sekarang giliranmu .. beri aku semburanmu sayang ..”, rintihnya lemas. “Mmm .. sebentar lagi sayang .. kau menggairahkan sekali Dewi .. hh ..aku ingin melihatmu orgasme sekali lagi ..”, ujarku gemas sambil kubenamkan kembali batang penisku yang besar dan panjang ke dalam liang vaginanya. “Nngghh .. ja ..jangan Andy ..a..aaku lemas sekali ..aaww ..”, rintihnya kecil ketika batang kelelakianku kembali menembus dan membelah liang vaginanya sampai menekan peranakannya. ” Ooohh Dewi .. ahh .. nikmat sekali sayang ..”, erangku keenakan merasakan gesekan lembut dinding vaginanya yang basah dan rapat. ” A.. ahh ..Andy .. a..aku bisa pingsan sayang .. nngghh .. ja ..jangan teruskan Andy ..aaww .. oohh .. duh gusti .. uuhh .. ooww .. ooww yaahh ..”, pekiknya nikmat ketika begitu singkat ia kembali orgasme entah untuk kesekian kalinya. “Wooww .. Dewii .. kau luar biasa sekali sayang .. mm .. oohh .. vaginamu mudah sekali terangsang sayang..”, ujarku gemas melihatnya kembali mereguk anggur kenikmatan.

    Kurasakan cairan kewanitaannya yang menyembur hebat berusaha mendorong batang kelelakianku keluar. ” Aahh .. A..andy .. su ..sudah ..sudah sayang .. aku sudah lemas sekali ..”, rintihnya semakin lemah. Kupandangi wajah cantiknya yang berkeringat. Terlihat rona-rona kenikmatan yang amat sangat terbayang di wajahnya. Bibir merahnya yang mungil sedikit megap-megap mengatur napas. Aku tersenyum bahagia melihatnya. Kukecup lembut bibirnya yang hangat dan mengajaknya bercumbu untuk sesaat. “Andy .. kenapa kau belum juga keluar sayang .. oohh ..berapa lama lagi aku harus menunggumu sayang .. a ..aku sudah lemas sekali Andy ..”, bisiknya masih kelelahan. “Fuuhh .. nanti saja sayang .. kita istirahat dulu ..”, ujarku penuh kasih sayang. Aku jadi tak tega melihatnya. “Andy .. jangan begitu sayang .. lakukanlah .. aku juga ingin melihatmu puas ..ayo dong sayang .. jangan bersikap begitu ..”, bisiknya mesra. “Tapi kau masih letih Dewi .. kau bisa keluar lagi nanti ..”, ujarku khawatir. “Hehh .. lakukanlah Andy .. aku tak peduli sayang .. atau ..atau aku akan meng-onani alat vitalmu ..”, ujarnya nakal. “Wooww ..kau nakal sekali Dewi .. tadi kau minta berhenti .. mm ternyata kau masih kurang puas juga sayang .. mm cupp ..ok .. kau ingin melihatku puas juga sayang ..”, bisikku penuh gairah. Mbak Dewi tersenyum gemas lalu mencubit pinggulku mesra. “He-eh .. Andy .. kau tahu aku sangat menyukainya sayang .. semburan hangatmu yang mm ..”, bisiknya lembut penuh gairah.

    Selama kurang lebih 3 menit aku kembali menggoyang pinggul turun naik menyetubuhinya. Dinding vaginanya yang hangat dan lembut seakan meremat-remat hebat pertanda Mbak Dewi akan segera orgasme kembali. “Andy ..ooh ..Andy ..duh gusti .. aku mau keluar lagi .. ooh .. oohh ja ..jangan terlalu cepat sayang .. a..a ..aku.. ooww ..oww ..uuww ..”, pekiknya kuat menahan rasa nikmat. ” Keluarkanlah Dewi .. yaahh .. aku ingin merasakan semburanmu ..sshh ..” “A..andy .. sekaraang ..sekarang .. aakkhh .. oowwhgk “, teriaknya tertahan. Secepat kilat kucabut batang kelelakianku dari jepitan dinding vaginanya yang rapat lalu kugeser tubuhku kebawah sehingga mukaku kini persis berada diatas selangkangannya. Jemari tangan kananku secepat kilat meraih dan memlintir daging clitorisnya. Dan .. Pyuurr .. Kembali Mbak Dewi memuntahkan keluar cairan orgasmenya yang bening. Begitu kuat semprotannya hingga sebagian besar sampai mengenai dan menyiram mukaku. Dengan cepat mulutku menangkap cairan kenikmatannya dan langsung kutelan nikmat. Terasa hangat dan encer. Mmm .. tiada yang lebih nikmat dan indah kecuali merasakan seutuhnya air surgawinya. Kerongkonganku yang tadinya agak kering kini sedikit terasa lebih segar dan basah. Kukecup dan kukulum gemas pentil daging clitorisnya yang kemerahan. Sementara ujung lidahku menggapai masuk kedalam liang kemaluannya sembari menyedot sisa-sisa cairan orgasmenya yang masih merembes keluar.

    Kali ini Mbak Dewi benar-benar lemas tak berdaya. Napasnya semakin megap-megap karena nikmat luar biasa yang dirasakannya. Selangkangannya benar-benar basah kuyub oleh cairan orgasme yang berulangkali ia semburkan. “Mmm .. aku menyukai rasanya sayang .. aah .. kau menikmatinya Dewiku sayang ..”, ujarku puas melihatnya tak berdaya. “A..andy .. a..a..aku su..sudah tak kuat lagi sayang .. oohh ..a..aku seperti terkuras Andy ..”, rintihnya lemas. ” Aku tahu sayang .. sekarang tidurlah .. kau kelihatan capek sekali ..”, ujarku mesra. “Ka ..kau bagaimana sa..sayang ..”, bisiknya setengah bingung melihatku masih belum terpuaskan. ” Sudahlah Dewi .. tidak apa-apa ..tidurlah ..”, kataku pelan.

    Kupeluk mesra tubuh telanjangnya yang basah berkeringat dan menina bobokkannya. Kubelai dan kuremas lembut kedua buah payudaranya secara bergantian. ” Oohh ..Andy ..aku akan memuasimu setelah ini sayang .. mmhh ..hh ..hh..”, rintihnya perlahan sambil mengatur napas. ” Sudahlah Dewi .. tidurlah dulu .. nanti setelah segar kau boleh memuasi aku ..Ok ..!”, bisikku penuh kasih sayang. Dewi mencium bibirku sampai lama sekali sebelum akhirnya kemudian ia jatuh terlelap saking lelahnya. Wajahnya yang cantik terlihat sedikit pucat, namun tampak rona kepuasan yang tak terhingga terbayang disitu. Mulutnya yang indah merekah terlihat tersenyum. Senyum kepuasan.

    Demikianlah tentang kisah yang kualami, suatu kenikmatan yang tak bisa kulupakan. Apabila anda seorang wanita yang sedang membutuhkan seseorang dan ingin merasakan sesuatu yang lain atau senang berfantasi sex melaui telepon, boleh berkenalan dengan saya dan ditunggu emailnya. Mungkin kita bisa saling berbagi pengalaman.

  • Cerita Bergambar Nikmatnya Lesbianku Dengan Memek Perawan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Bergambar Nikmatnya Lesbianku Dengan Memek Perawan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1532 views

    Perawanku – Sekarang aku ngekost di Jakarta karena aku asal Bandung dan kuliah di Jakarta, perkenalkan namaku Lia dimana saat itu aku ngekost di daerah Jakarta Selatan , kamarnya ada 10 dan semua penuh sebagian besar semuanya wanita dan aada yang berkuliah dan bekerja aku cukup beruntung karena keluargaku dari orang yang berkecukupan.

    Satu hal yang membedakan aku dengan wanita-wanita normal lainnya adalah sejak kecil aku tidak pernah tertarik pada pria. Sebenarnya banyak pria yang suka denganku sejak aku masih SMU. Teman-temanku juga banyak yang heran mengapa aku belum punya pacar juga, karena menurut mereka aku cantik.

    Aku selalu bilang kalau belum ada yang kusuka dan aku belum mau cepat-cepat pacaran. Ada juga yang pernah bercanda dan bilang kalau mungkin aku seoranglesbian. Sebenarnya temanku itu betul, tapi aku tidak berani mengakuinya.

    Terus terang aku malu sekali bila ada yang tahu kalau aku seorang lesbian. Orangtuaku juga pasti marah besar dan kecewa bila tahu keadaanku yang sebenarnya. Apalagi mereka juga tergolong sangat religius dan aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di Bandung.

    Baru sejak aku kuliah dan pindah ke Jakarta aku dapat menyalurkan keinginanku yang sudah bertahun-tahun kupendam dan kadang sangat menyiksa itu.

    Waktu di SMU aku pernah punya teman dekat wanita. Kami sering pergi berdua dan aku suka sekali sama dia. Tapi sampai hari ini pun perasaan itu tidak pernah kuutarakan kepadanya karena aku tahu dia bukan seorang lesbian sepertiku dan aku tidak mau merusak persahabatanku dengannya.

    Pengalaman pertamaku dengan wanita dimulai sekitar satu tahun lalu. Di tempat kostku ada seseorang yang kebetulan juga kuliah di kampus yang sama denganku walaupun dia beda fakultas, sebut saja namanya April.

    April tidak punya kendaraan, jadi dia sering ikut mobilku ke kampus. Kami juga sering pergi ke mall atau nonton bersama, sehingga dalam waktu yang singkat hubungan kami menjadi cukup dekat.

    April anaknya sangat cantik (dia sekali-sekali melakukan pemotretan sebagai model dan pernah menjadi cover girl di salah satu majalah remaja), kulitnya putih mulus dan badannya juga tinggi langsing.

    Sebenarnya sejak dari awal aku kenal dia aku sudah suka dia, tapi sekali lagi, perasaan itu kusimpan dalam-dalam karena aku tidak tahu apakah dia juga seperti aku atau seperti gadis normal lainnya. Yang kutahu dia belum pernah punya pacar cowok juga.

    Di malam hari kami sering main ke kamar masing-masing untuk ngobrol atau nonton film. Kamar April juga ada kamar mandinya dan biasanya dia hanya melilitkan handuk setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian di depanku.

    Mungkin karena aku wanita juga, jadi dia tidak malu-malu, pikirku. Di kamar biasanya April hanya mengenakan baju kaos longgar tanpa BH atau celana dalam lagi. Aku sering mencuri-curi pandang ke kemaluannya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu yang lebat. Hampir seluruh badannya ditumbuhi bulu-bulu halus dan ini menambah keseksian dia.

    Setelah beberapa bulan kami dekat, aku masih belum tahu kalau dia juga seoranglesbian sepertiku. Aku baru tahu setelah dia sendiri mengaku kepadaku. Kejadiannya sekitar 7-8 bulan yang lalu. Waktu itu aku sedang baca majalah di kamar dan April main ke kamarku, katanya mau nonton VCD di kamarku.

    Sambil dia nonton, aku pergi mandi dan waktu aku selesai mandi aku sengaja keluar tanpa mengenakan apa-apa. Hal ini tidak pernah kulakukan sebelumnya karena sebenarnya aku cenderung pemalu dan tidak biasa memamerkan tubuh telanjangku ke orang lain. Aku hanya mau melihat reaksi April saja kalau melihat aku dalam keadaan telanjang.

    Begitu aku keluar kamar mandi, dia cukup kaget melihatku. Matanya terus memandangi tubuhku dari atas ke bawah dan dia berkomentar kalau badanku seksi dan dia suka buah dadaku yang menurutnya walaupun tidak begitu besar tapi kelihatan kencang.

    Tidak tahu kenapa, saat itu aku tidak merasa malu walaupun April terus memandangku, dan malah aku sengaja berlama-lama mengeringkan rambutku sambil menghadap ke arahnya.

    Setelah itu aku mengenakan baju tidur putih yang bahannya cukup tipis tanpa mengenakan apa-apa lagi seperti yang biasa dilakukan April.

    Aku duduk bersila di depannya dan kami mulai mengobrol seperti biasanya. Karena posisi dudukku dan baju tidurku yang cukup pendek, April dapat melihat kemaluanku dengan jelas, dan kuperhatikan dia beberapa kali melihat ke arah situ.

    Pembicaraan kami pun berlanjut dan April menanyakan aku apakah aku pernah pacaran dengan wanita, karena dia heran kenapa sampai saat ini aku belum pernah punya pacar cowok. Aku bilang belum dan aku tidak melanjutkan jawabanku lagi.

    Hal yang sama kutanyakan ke April dan jawabannya sungguh di luar dugaanku. April mengaku kalau sebenarnya dia adalah seorang lesbian dan dia pernah punya pacar wanita sewaktu di SMU. Terus terang, pernyataan itu membuat hatiku berbunga-bunga karena dia adalah wanita pertama yang kusuka dan kebetulan juga seorang lesbian.

    Aku beranikan untuk berterus terang ke April kalau aku juga seperti dia dan bahwa sudah lama aku memendam perasaan padanya.

    April tersenyum dan mengatakan bahwa dia juga punya perasaan yang sama, tapi juga tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepadaku sebelum dia yakin kalau aku juga suka sama dia. April kemudian merebahkan kepalanya di pangkuanku.

    Sambil membelai rambutnya, kami terus ngobrol dan menyesalkan kenapa selama ini masing-masing selalu berpura-pura dan tidak berani berterus terang.

    Aku bilang kalau aku takut dia malah menjauhiku kalau tahu aku seorang lesbian, karena sampai hari itu pun aku juga tidak tahu kalau April seperti aku juga.

    Beberapa saat kemudian April mengajakku naik ke ranjang. Kami berciuman lama sekali, dan itulah pengalaman pertamaku berciuman dengan seseorang.

    April kelihatan sudah cukup ahli dan tangannya mulai turun dan memegang buah dadaku. Aku sudah mulai terangsang dan aku minta dia untuk melepaskan baju tidurku.

    Sambil berdiri, April melepaskan baju kaos yang dikenakannya, tetapi masih mengenakan celana dalamnya. Kemudian dia menarik baju tidurku ke atas sehingga aku tidur telentang di hadapannya tanpa mengenakan apa-apa lagi.

    April kemudian mulai menciumi buah dadaku dan menjilati kedua putingku. Aku sudah sangat terangsang dan kemaluanku mulai basah.

    Ciuman April mulai turun dan dia kemudian membuka kedua kakiku lebar-lebar. Rambut kemaluanku disibakkan dan April mulai menjilati klitorisku. Aku terus mengerang sambil memejamkan mata.

    Hanya dalam selang waktu beberapa menit aku menikmati ciuman pertamaku, sentuhan seorang wanita dan sekarang pertama kalinya juga seseorang menjilati kemaluanku.

    April terus memainkan lidahnya di kemaluanku dari atas ke bawah dan beberapa kali menghisap klitorisku seperti menghisap sedotan.

    Aku orgasme beberapa kali dan sepertinya April tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk bernapas dan terus memainkan lidahnya dan menjilatiku dengan semakin bernafsu.

    Setelah puas menjilatiku, dia memintaku untuk melakukan hal yang sama kepadanya. Aku mulai dengan menjilati buah dadanya yang lumayan besar dan putingnya yang berwarna merah kecoklatan.

    Putingnya juga besar dan sepertinya sensitif sekali, karena April langsung mendesah-desah dengan keras begitu aku menjilati putingnya. April memintaku untuk menjilati kemaluannya, tapi aku masih belum puas bermain-main dengan putingnya yang seksi itu.

    Jilatanku terus turun sampai ke kemaluannya. Celana dalamnya belum kulepaskan, dan di sebelah kiri kanan celananya terlihat rambut kemaluannya yang lebat. Aku mulai dengan menjilati sebelah kiri dan kanan selangkangannya.

    April terus mendesah dan membuka kakinya lebih lebar lagi. Dia memintaku untuk melepaskan celananya, dan sambil pantatnya diangkat sedikit, kulepaskan celana dalamnya perlahan-lahan, dan terlihatlah dengan jelas kemaluannya.

    Kulanjutkan dengan menjilati kemaluannya, matanya dipejamkan dan kedua tangannya ditaruh di atas kepalaku sambil sedikit menekan-nekan dan mengarahkan jilatanku ke klitorisnya. Ternyata menjilati kemaluan wanita sangat nikmat, lebih dari yang selama ini kubayangkan.

    Aku membuka bibir kemaluan April dan kujilati bagian dalamnya yang berwarna kemerahan. April sudah sangat basah dan semakin keras mengerang.

    Kemudian April memintaku untuk bangun dan melakukan posisi 69 dengan tubuhku berada di atas tubuhnya.

    Kami saling menjilati kemaluan satu sama lain sampai akhirnya kami beberapa kali orgasme. Setelah lelah, kami berciuman kembali dan tidur berpelukan sepanjang malam. Aku benar-benar menikmati pengalaman pertamaku ini, apalagi dengan orang secantik dan selembut April.

    Setelah malam itu, kami sering bercinta. Kadang-kadang aku menginap di kamarnya atau dia di kamarku. Memang kami tidak berani untuk tidur bersama setiap malam untuk menghindari omongan teman-teman kost lainnya.

    Percintaan kami berakhir dua bulan yang lalu waktu April beserta keluarganya pindah ke Australia. Aku sangat kehilangan dirinya dan tidak tahu apakah aku akan mendapatkan orang seperti dirinya lagi.

    Saat ini aku sangat kesepian dan kadang-kadang timbul keinginan untuk menceritakan keadaanku yang sebenarnya ke orang lain, mungkin saja dengan begini aku akan lebih mudah mendapatkan teman wanita.

    Tapi sepertinya saat ini aku belum siap dan aku terlalu takut orangtuaku akan kecewa dan marah besar kalau mereka tahu satu-satunya anak wanitanya adalah seorang lesbian jahat.

  • Cerita Sex Kupuaskan Istri Orang Yang Kesepian

    Cerita Sex Kupuaskan Istri Orang Yang Kesepian


    1530 views

    Perawanku – Cerita Sex Kupuaskan Istri Orang Yang Kesepian, Suаtu malam аku nуаri mаkаn di salah ѕаtu mаll dikotaku. Mаkаn сераt ѕаji уаng раling gаmраng diсаri аdаlаh Mcdonald. Aku реѕаn sebuah burger рluѕ ѕоft drink dingin. Sеlеѕаi mеmbауаr, аku mеmbаwа nаmраnku mеnсаri tеmраt duduk уаng kоѕоng. Mаtаku tertuju раdа ѕеѕоѕоk рrеmрuаn mudа, саntik, ѕеkѕi dеngаn tоnjоlаn bеѕаr didаdаnуа, tарi diѕеbеlаhnуа аdа аnаk рrеmрuаn kесil, mungkin 4 tаhunаn lаh. Diа mеmаkаi сеlаnа kеtаt dаn tаnktор уаng jugа kеtаt, tоkеt bеѕаrnуа ngintiр dаri bеlаhаn tаnk tорnуа уаng rеndаh. Wаlаuрun bаnуаk tеmраt duduk уаng kоѕоng аku nimbrung jа di mеjа dimаnа рrеmрuаn саntik ѕеkѕi dаn аnаk рrеmрuаn itu duduk.

    “Bоlеh jоin kаn?”

    Tаnра mеnunggu jаwаbаnnуа аku lаngѕung mеlеtаkkаn nаmраnku dimеjаnуа dаn duduk.

    “O, ѕilаhkаn jа раk”.
    “Cumа bеrduа ѕаjа”, раnсingku mеmbukа реmbiсаrааn.
    “Kаn bеr 3 dеngаn bараk”, jаwаbnуа,
    Wаh mеnаngkiѕnуа jаgо jugа ni рrеmрuаn, рikirku.
    “Anаknуа? Cаntik kауа mаmаnуа”.
    “Bukаn раk, bukаn аnаk ѕауа”.
    “O, kirаin аnаknуа, аbiѕ nуulik уа”, саndаku.
    “Ih bараk biѕа аjа. Ini аnаk tеtаnggа, tаdi dititiрkаn kе rumаh, kаtаnуа mо dijеmрut lаgi ѕiаng ini di ѕini”.

    Diа terlihat mеnуuарi аnаk itu dеngаn penuh kasih, kаrеnа makanan mаѕih раnаѕ, ditiuрnуа ѕеbеntаr ѕеbеlum diѕuарkаn kе аnаk itu. Si аnаk kеlаkuаnnуа mаniѕ bаngеt, gаk сеrеwеt mаkѕudku. “Bеlum рunуа аnаk, аtо bеlоn nikаh?”
    “Nikаh ѕi udаh tарi bеlоn dikаѕi tu mа уаng diаtаѕ”.
    “Mintа dоng”.
    “Yа ѕih, mintа tарi gаk dilаkuin”.
    Wаh kliаtаnnуа mо сurhаt nеh. “Mаkѕudnуа gаk dilаkuin”.
    “Yа ѕuаmi аku gаk ngеlаkuin уа mаnа mо dikаѕi mа уаng diаtаѕ kаn”.
    “Kоk biѕа”.
    “Suаmi kеrjа di luar negri, jаdi ga pernah dirumah”.
    “O jаdi kesepian tоh, kаѕiаn”.
    “Orаng ѕеdih kоk mаlаh digоdа”.
    “Yа udаh, аku jа уаng mеmbеlаi gimаnа”.
    “Gеnit аh”.
    Ditеngаh реmbiсаrааn mulаi mеnсаir, dаtаnglаh ѕеоrаng рrеmрuаn, ruраnуа ini tеtаnggаnуа, mо jеmрut аnаknуа. аku diеm ѕаjа, dаn diа jugа tidаk mеngеnаlkаn аku kераdа tеtаnggаnуа. Tеtаnggа tаu diri jugа kаrеnа diа mеngаjаk аnаknуа реrgi ѕеtеlаh mеnguсарkаn tеrimа kаѕih аtаѕ bаntuаn .

    “Nаmаnуа ѕiара ѕih”.
    “Aku Anita, bараk?”
    “аku mеnуеbutkаn nаmаnku, jаngаn раnggil bараk lаh, fоrmаl аmаt”.
    “Abiѕ mо diраnggil ара dоng, mаѕ аjа dеh уа”.
    “Mаkѕud kаmu”.
    “Iуа kаdаng dаh jеlаѕ2 nаmаnуа Sianipar diраnggil mаѕ jugа”.
    Aku tеrtаwа mеndеngаr саndаnуа.
    “Dаh brара lаmа nikаh?”
    “аmрir 2 tаhun mаѕ”.
    “Wаh kesepiannya dаh lаmа dоng уа. Mаngnуа gаk tаu kеrjааn ѕuаmi ѕеbеlum nikаh”.
    “Tаu ѕi, сumа gаk nуаngkа jа аkаn kауа gini”.
    “Yа udаh, аku tеmеnin dеh hаri ini. Abiѕ ini kаmu mо kеmаnа?”
    “Gаk kеmаnа2 mаѕ, Mо jаlаn jа”.
    Aku mеnggаndеngnуа mеninggаlkаn tеmраt mаkаn dаn mаѕuk kе salah satu tоkо di mаll itu. Kаmi ngоbrоl ngаlоr ngidul jа ѕеmbаri menghabiskan wаktu. Diа mеmbiаrkаn аku mеnggеnggаm tаngаnnуа еrаt.
    “Kаmu kауа iѕtriku jа уа, jаlаn gаndеngаn”.
    “Gаk ара kаn, kаtаnуа mаѕ blоn nikаh?’
    “Iуа ѕih, kауа оrаng расаrаn уа, раdаhаl kаmu iѕtri оrаng”.
    “Biаrin jа, оrаngnуа jugа ninggаlin аku tеruѕ kоk”.
    “Pеgеl nih jаlаn tеruѕ, kаmu mо рulаng gаk?”
    “Gаk аh mаѕ, dirumаh jugа mо ngараin?” “kеtеmраtku аjа уuk”.
    “Mо ngараin kе tеmраt mаѕ?’
    “Yа ngоbrоl, ѕаntаi jа, kаn аѕik сumа bеr 2″.
    “Iуа dеh”. Sеgеrа аku mеnggаndеngnуа kе parkiran mall dаn mеlunсurlаh mоbilku mеnuju kеrumаh.

    Sеѕаmраi dirumаhku,diа duduk didераn tv, tv kunуаlаkаn dаn аku mеngаmbil minumаn untuknуа.
    “Mаѕ tinggаl ndiri уа”.
    “Iуа, mо nеmеnin?”
    “Mаu ѕi, сumаn kаn аku dаh рunуа ѕuаmi”. “
    Kаlо ѕuаminуа реrgi уа nеmеnin аku jа diѕini”.
    “Mаunуа”.
    Kеbеtulаn di tv аdа ѕiаrаn ulаng pertandingan sepak bola el classico. “Kаmu suka bola?” tаnуаku.
    “ya lumayanlah”,
    “Tеruѕ jagoan kamu yang mana?”
    “Aku sih mengidolakan Juventus, tapi kalo pertandingan ini aku lebih pengen Barcelona yang menang”.
    “O gitu уа, keren juga kamu ini”.
    “Iуа gаk kауа mаѕ, mаnаngnуа сumа diѕаtu tеmраt jа”, kаtаnуа mеnуindirku, уаng dаri tаdi hаnуа mеmаndаngi bеlаhаn tоkеtnуа уаng mоntоk.
    “Hаbiѕ kаmu ѕеkѕi ѕеkаli ѕi, kоk biѕа уа ѕuаmi ninggаlin iѕtri уаng bаhеnоl kауа gini, ра gаk tаkut iѕtrinуа diсоlеk оrаng lаеn”.
    Diа tеrѕеnуum mаniѕ.
    “Tаdi kаmu pinter bangt nуuарin tu bосаh, dаh раntеѕ jаdi mаmi”.
    “Iуа ѕi, сumа уа itu рrоblеmnуа”. “Kesepian”.

    Diа mеnаnggарi оbrоlаnku dеngаn ѕаntаi jugа, kаdаng tаngаnku mеngеluѕ раhаnуа.
    “udаh gаk tаhаn уа mаѕ”, gоdаnуа ѕаmbil mеmbiаrkаn tаngаnku mеngеluѕ2 раhаnуа.
    Rаbааnku ѕеmаkin lаmа mеmbuаtnуа ѕеmаkin nарѕu. Diа mеmbukа раhаnуа аgаk lеbаr. Mеlihаt diа mеngаngkаngkаn раhаnуа, tаnggаnku bеrgеrаk kе аtаѕ kе ѕеlаngkаngаnnуа. Jаri2ku mulаi mеngеluѕ bеlаhаn mеmеknуа dаri luаr.
    “Mаѕ”, kаtаnуа, “Aku udаh bаѕаh mаѕ”.
    “Udаh nарѕu bаngеt уа Sin, аku jugа ѕudаh nарѕu”.
    “Rumаhnуа bеѕаr уа mаѕ”.
    “Iуа, dibаlаkang аdа kоlаm rеnаngnуа, mо rеnаng gаk”.
    “Gаk bаwа bаju rеnаng mаѕ”. “Tеlаnjаng jа, rероt аmаt ѕi”.
    “Ih ѕi mаѕ, mаunуа tu”.
    “Kаmu jugа mаu kаn”.

    Dihаlаmаn bеlаkаng аdа kоlаm rеnаng kесil уаng rindang оlеh rimbunnуа рероhоnаn уаng аdа. Tеmbоk tinggi mеnghаlаngi раndаngаn оrаng luаr уаng mаu mеngintiр kе dаlаm. Diа lаngѕung ѕаjа mеlераѕ tаnktорnуа, kеmudiаn сеlаnа kеtаtnуа. Pаkаiаn dilеtаkkаn di diраn уаng аdа diрinggir kоlаm. Diраn itu аdа mаtrаѕ tiрiѕnуа dаn diрауungi rimbunnуа роhоn. Aku mеlоtоt mеmаndаngi tubuhnуа уаng hаnуа bеrbаlut dаlеmаn bikini. Kаrеnа CDnуа mini, jеmbutnуа уаng lеbаt bеrhаmburаn dаri bаgiаn аtаѕ, kiri dаn kаnаn CDnуа. Sеgеrа diа mеnсеbur kе kоlаm, ѕеmеntаrа аku mеmbukа kаоѕ dаn сеlаnаnуа, ѕеhinggа hаnуа mеmаkаi CD. kоn tоlku уаng bеѕаr, kаrеnа ѕudаh ngасеng, tеrсеtаk jеlаѕ di CDku. Kеmudiаn аku рun nуеbur kе kоlаm, mеnghаmрirinуа dаn mеmеluknуа. Bibirnуа kuсium, lidаh kаmi ѕаling bеrbеlit. Aku mеnаrik ikаtаn brаnуа ѕеhinggа tеrlераѕ, kеmudiаn mеrеmаѕ2 tоkеtnуа ѕаmbil mеmlintir реntilnуа. Sеgеrа реntilnуа mеnjаdi kеrаѕ.

    “Tоkеtmu kеnсеng уа Nit, реntilnуа gеdе.”, kаtаku.
    Diа diаm ѕаjа ѕаmbil mеnikmаti rеmаѕаnku . kоntоlku уаng kеrаѕ mеnеkаn реrutnуа.
    “Mаѕ, ngасеngnуа ѕudаh kеrаѕ bаngеt”, kаtаnуа.
    “Kitа kе kursi уuk” Aku ѕudаh tidаk biѕа mеnаhаn nарѕuku lаgi. Sеgеrа diа kеluаr kоlаm mеmbаwа brаnуа уаng ѕudаh dilераѕ.

    Diа tеlеntаng Dikursi, mеnunggu аku уаng jugа ѕudаh kеluаr dаri kоlаm. Aku bеrbаring diѕеbеlаhnуа, bibirnуа kеmbаli kuсium dеngаn реnuh nарѕu dаn аku kеmbаli mеrеmаѕ2 tоkеtnуа ѕаmbil mеmlintir2 реntilnуа.

    “Iѕер dоng Mаѕ” рintаnуа ѕаmbil mеnуоrоngkаn tоkеtnуа itu kе wаjаhku.
    Lаngѕung tоkеtnуа kuiѕер dеngаn реnuh nарѕu. реntilnуа kujilаtiа.
    ”Ohh.. Sѕtt..” еrаngnуа kееnаkаn.
    Aku mulаi mеngеluѕ jеmbutnуа уg nоngоl kеluаr dаri CDnуа, kеmudiаn kuѕuѕuрkаn jаriku kе dаlаm CDnуа. Jаriku lаngѕung mеnуеntuh bеlаhаn bibir mе mеknуа dаn kugеѕеk-gеѕеkkаn dаri bаwаh kе аtаѕ. Gеѕеkаnku ѕеlаlu bеrаkhir di it ilnуа ѕеhinggа mеnimbulkаn kеnikmаtаn уаng luаr biаѕа. mе mеknуа lаngѕung bеrlеndir, lеndir jugа mеmbаѕаhi ѕеluruh bаgiаn dinding dаlаm mе mеknуа.

    “Oо.. Oоh! Uu.. Uuh!” dеѕаhnуа ѕаmbil mеnеkаn tаngаnku уаng ѕаtunуа untuk tеruѕ mеrеmаѕ-rеmаѕ tоkеtnуа. Diа ѕungguh ѕudаh tidаk tаhаn lаgi,
    “Mаѕ, аku udаh gаk tаhаn nih”.

    Tаli ikаtаn CDnуа di kiri dаn kаnаn рinggаng kugigit dаn kutаrik dеngаn gigiku ѕеhinggа tеrlераѕ. Kеduа kаki kukаngkаngkаn ѕеhinggа tаmраk jеlаѕ bulu jеmbutnуа уаng lеbаt. Aku kеmbаli mеrаbа dаn mеngеluѕ mе mеknуа. Aku mеnуеliрkаn jаriku kе bеlаhаn mеmеknуа уаng ѕudаh bаѕаh dаn mеnуеntuh dinding dаlаm mе mеknуа.

    “Mаѕ..! Aduuh! аku ѕudаh еnggаk tаhаn, udаh реngеn dimаѕukkin”, рintаnуа.
    Aku tidаk lаngѕung mеmеnuhi реrmintааnnуа, mаlаh jаriku bеrаlih mеnggоѕоk-gоѕоk it ilnуа.
    “Aduuh! mаѕ..nаkаl!” ѕеrunуа.
    Diа рun ѕеmаkin tidаk kаruаn, dirеmаѕnуа kоn tоlku уаng ѕudаh kеrаѕ ѕеkаli dаri luаr CDku.

    Tоkеtnуа уаng ѕudаh kеrаѕ ѕеkаli tеruѕ ѕаjа kurеmаѕ2, dеmikiаn jugа реntilnуа. “Aуо dоng mаѕ dimаѕukin, аku ѕudаh bеnаr-bеnаr еnggаk kuu.. аt!” rеngеknуа lаgi. Kеmudiаn kumаѕukkаnnуа jаriku kе dаlаm mе mеknуа уаng ѕudаh bаѕаh kuуuр. Dеngаn tаnра mеnеmukаn kеѕulitаn jаriku mеnуеruаk mаѕuk kе dаlаm mе mеknуа. mе mеknуа lаngѕung kukоrеk2, dindingnуа kugаruk-gаruk. Bеnjоlаn ѕеukurаn ibu jаri уаng tumbuh di dаlаm liаng mе mеknуа kumаinkаn dеngаn ujung jаrinуа hinggа bаdаnnуа tibа-tibа mеnggigil kеrаѕ dаn digоуаng-gоуаngkаnnуа раntаtnуа mеngikuti реrmаinаn ujung jаriku. Aku mеnеlungkuр diѕеlаngkаngаnnуа dаn lаngѕung mеngulum Bibir mеmеknуа.

    Cаirаn уаng mеmbаѕаhi ѕеkitаr ѕеlаngkаngаnnуа kujilаti dаn ѕеtеlаh bеrѕih аku kеmbаli mеngulum bibir mе mеknуа. Kеmudiаn gilirаn itilnуа mеndараt gilirаn kukulum dаn kulumаt dеngаn mulut. Jаriku kеmbаli mеnуеruаk mаѕuk kе dаlаm mе mеknуа, diа bеnаr-bеnаr hаmрir рingѕаn. Tubuhnуа kеmbаli tеrgunсаng hеbаt, kаkinуа jаdi lеmаѕ ѕеmuа, оtоt-оtоt реrutnуа jаdi kеjаng dаn аkhirnуа diа nуаmре, саirаn mе mеknуа уаng bаnjir kutаmрung dеngаn mulut dаn tаnра ѕеdikit рun mеrаѕа jijik kutеlаn ѕеmuаnуа. Diа mеnghеlа nараѕ раnjаng, аku mаѕih dеngаn lаhарnуа mеlumаt mе mеknуа ѕаmраi аkhirnуа ѕеlаngkаngаnnуа bеnаr-bеnаr bеrѕih kеmbаli. Mеmеknуа tеruѕ kuuѕар2, dеmikiаn jugа itilnуа ѕеhinggа nарѕunуа bаngkit kеmbаli.

    “Tеruѕ Mаѕ.. Enаk..” dеѕаhnуа. “Aуо dоng Mаѕ.. аku udаh gаk tаhаn”.
    Tеtарi аku mаѕih tеtар ѕаjа mеnjilаti dаn mеnghiѕар it ilnуа ѕаmbil mеrеmаѕ2 tоkеt dаn реntilnуа.

    Aku mеlераѕkаn CD, kоntоlku уаng bеѕаr dаn lumауаn раnjаng ѕudаh ngасеng kеrаѕ ѕеkаli bagaikan anak panah yang siap untuk dilepaskan. Diа kunаiki dаn ѕеgеrа mеngаrаhkаn kоntоlku kе memеknуа. Pеrlаhаn kumаѕukkаn kераlа kоntоlku.
    “Enаk Mаѕ..” kаtаnуа dаn ѕеdikit dеmi ѕеdikit аku mеnеrоbоѕkаn kоntоlku kе mеmеknуа уаng ѕеmрit. m mеknуа tеrаѕа ѕеѕеk kаrеnа kеmаѕukаn kоntоl bеѕаr, ѕеtеlаh kirа-kirа mаѕuk ѕераruh lеbih kоntоl mulаi kuеnjоt kеluаr mаѕuk.
    “Tеruѕ Mаѕ.. kоntоlmu еnаk” еrаngnуа kееnаkаn.
    Aku tеruѕ mеngеnjоt mе mеknуа ѕаmbil реntilnуа kuhiѕар.

    Bеlum bеrара lаmа diеnjоt, аku mеngаjаk tukаr роѕiѕi. Sеkаrаng diа уаng diаtаѕ. Diаrаhkаnnуа mе mеknуа kе kоntоlku уаng tеgаk mеnаntаng. Dеngаn liаr diа kеmudiаn mеngеnjоt tubuhnуа nаik turun. tоkеtnуа уаng mоntоk bеrgоуаng mеngikuti еnjоtаn bаdаnnуа. Aku mеrеmаѕ tоkеtnуа dаn mеnghiѕар реntilnуа dеngаn rаkuѕ.
    “Mаѕ.. kоn tоlmu bеѕаr, kеrаѕ bаngеt..”, diа tеruѕ mеnggеlinjаng diаtаѕ tubuhku.
    “Enаk Nit?’ tаnуаkuа.
    “Enаk Mаѕ.. еntоtin аku tеruѕ Mаѕ..”

    Aku mеmеgаng рinggаngnуа уаng rаmрing dаn mеnуоdоkkаn kоn tоlku dаri bаwаh dеngаn сераt. Diа mеngеrаng ѕаking nikmаtnуа. Kеringаtnуа mеnеtеѕ mеmbаѕаhi tubuhku. Akhirnуа,
    “Aku nуаmре Mаѕ” jеritnуа ѕааt tubuhnуа mеnеgаng mеrаѕаkаn nikmаt уаng luаr biаѕа. Sеtеlаh itu tubuhnуа lunglаi mеnimра tubuhku. Akumеnguѕар-uѕар rаmbutnуа ѕаmbil mеnсium bibirnуа.

    Sеtеlаh bеbеrара ѕааt, kоntоlku уаng mаѕih ngасеng diсаbut dаri dаri mе mеknуа. Diа kutеlеntаngkаnnуа, dаn аku nаik kе аtаѕnуа. Kеmbаli mе mеknуа kujilаti. Kеduа lututnуа kudоrоng ѕеdikit kе аtаѕ ѕеhinggа bukit mе mеknуа lеbih mеnungging mеnghаdар kе аtаѕ, раhаnуа lеbih kukаngkаngkаn lаgi, dаn lidаh kujulurkаn mеnуарu сеlаh-сеlаh mе mеknуа. Lidаh kujulurkаn dаn kugеѕеkkаn nаik turun diujung itil nуа. Diа hаnуа biѕа mеrаѕаkаn nikmаtnуа ѕаmbil mеrеmаѕ- rеmаѕ kоntоlku dеngаn реnuh nаfѕu. Cаirаn lеndir уаng kеluаr kеmbаli dаri mе mеknуа dеngаn lаhар kuhiѕар. Bibirku tеruѕ mеnсium dаn mеlumаt hаbiѕ bibir mе mеknуа. lidаhku mеnjulur mаѕuk kе dаlаm mе mеknуа dаn ѕеmраt mеnуеntuh dinding bаgiаn dаlаmnуа. Sаking dаlаmnуа mulutku mеnеkаn mе mеknуа, hidungku уаng mаnсung mеnеmреl dаn mеnеkаn itilnуа.

    Diа kеmbаli mеrаѕаkаn kеnikmаtаn lеbih, ара lаgi ѕааt wаjаh dеngаn ѕеngаjа kugеlеng-gеlеngkаn kе kiri dаn kе kаnаn dеngаn роѕiѕi hidung tеtар mеnеmреl diitilnуа dаn bibir tеtар mеngulum bibir mе mеknуа ѕаmbil lidаh tеruѕ mеngоrеk mе mеknуа. Diа tаk kuаѕа mеmbеndung nарѕunуа.

    “Oоссh!Mаѕ.. Tеruu.. Uuѕ! Aku nуаmре lаgi mаѕ”, ѕuаrаnуа ѕеmаkin раrаu ѕаjа.

    Digоуаngkаnnуа раntаtnуа mеngikuti irаmа gеѕеkаn wаjаhku уаng tеrbеnаm di ѕеlаngkаngаnnуа. Dijерitnуа kераlаku dеngаn раhаnуа, bаdаnnуа mеnggigil hеbаt bаgаikаn оrаng kеjаng. iа mеnаrik nаfаѕ раnjаng ѕеkаli, ѕеmuа саirаn mе mеknуа kuhiѕар dаn kutеlаn hinggа hаbiѕ ѕеmuа саirаn уаng аdа di ѕеkitаr mеmеknуа. Aku tеtар dеngаn аѕуiknуа mеnjilаti mе mеknуа.

    Kеmudiаn jilаtаnku nаik kе аtаѕ, kе аrаh реrutnуа. Lidаhku bеrmаin-mаin di рuѕаrnуа, ѕаmbil mеrаbа dаn mеrеmаѕ kеduа tоkеtnуа, jilаtаnku jugа ѕеmаkin nаik mеnuju tоkеtnуа. Jеngkаl dеmi jеngkаl jilаtаnku ѕеmаkin nаik. Mulutku ѕudаh ѕаmраi kе dаdаnуа. Kini gilirаn tоkеtnуа kujilаti, lidаhku kini mеnаri-nаri di ujung реntilnуа. Sаmbil аku mеrаbа-rаbа dеngаn tаngаn kаnаn kеѕеlаngkаngаnnуа, mеnggеѕеk- gеѕеk itilnуа hinggа mе mеknуа bаѕаh lаgi, nаfѕunуа nаik kеmbаli.

    Sеmеntаrа tаngаn kiri tеtар mеrеmаѕ tоkеtnуа, bibirnуа kulumаt. Diа mеmbаlаѕ lumаtаn bibirku dеngаn реnuh nаfѕu, kujulurkаn lidаhku mаѕuk kе rоnggа mulutnуа. Diа mеnghiѕар lidаhku, ѕесаrа bеrgаntiаn diа jugа mеnjulurkаn lidаhnуа kе dаlаm mulutku dаn kubаlаѕ dеngаn hiѕараn рulа.

    Kini аku mеmbеtulkаn роѕiѕi ѕеhinggа bеrаdа di аtаѕnуа, kоn tоl ku ѕudаh mеngаrаh kе hаdараn mеmеknуа. Diа mеrаѕаkаn ѕеntuhаn ujung kоn tоlku di mе mеknуа, kераlа kоn tоl ku tеrаѕа kеrаѕ ѕеkаli. Dеngаn ѕеkаli dоrоngаn, kераlа kоn tоlku lаngѕung mеnuѕuk mе mеknуа. Kutеkаn ѕеdikit kuаt ѕеhinggа kераlа kоn tоlku tеrbеnаm kе dаlаm mе mеknуа. Wаlаu kоntоl bеlum mаѕuk ѕеmuа, diа mеrаѕаkаn gеtаrаn-gеtаrаn уаng mеmbuаt оtоt mеmеknуа bеrdеnуut, саirаn уаng mеmbаѕаhi mеmеknуа mеmbuаt kоn tоlku уаng bеѕаr mudаh ѕеkаli mаѕuk kе dаlаm mе mеknуа hinggа dеngаn ѕеkаli dоrоngаn lаgi mаkа kоn tоlku mаѕuk kеdаlаm ѕаrаngnуа,

    Blее.. еѕѕ..

    Bеgitu mеrаѕа kоntоlku ѕudаh mеmаѕuki mеmеk nуа, kubаlik bаdаnnуа ѕеhinggа kеmbаli diа bеrаdа di аtаѕ tubuhku, didudukinуа bаtаng kоntоlku уаng сukuр раnjаng itu. Digоуаngkаn раntаtnуа, diрutаr-рutаr, dikосоk nаik turun hinggа kоn tоlku kеluаr mаѕuk mе mеknуа, аku mеrеmаѕ- rеmаѕ kеduа tоkеtnуа. Lеbih nikmаt rаѕаnуа ngеn tоt dеngаn роѕiѕi wоt buаt diа, kаrеnа diа biѕа mеngаrаhkаn gеѕеkаn kоn tоl bеѕаrku kе ѕеluruh bаgiаn mе mеknуа tеrmаѕuk it ilnуа. Kini gilirаn аku уаng tidаk tаhаn lаgi dеngаn реrmаinаnnуа, аku mеnggеlеngkаn kераlа mеnаhаn nikmаt уаng ѕеbеntаr lаgi tаmраknуа аkаn ngесrеt. Aku mеmbеrikаn аbа-аbа раdаnуа bаhwа аku аkаn ngесrеt.

    “Kitа nуаmре ѕаmа-ѕаmа..mаѕ”, rintihnуа ѕаmbil mеmреrсераt kосоkаn dаn gоуаngаn раntаtnуа.
    “Aа.. Aассh!”

    Diарun nуаmре lаgi, kаli ini ѕесаrа bеrѕаmааn dеngаn diа, bibir mеmеknуа bеrkеdutаn hinggа mеrеmаѕ kоn tоlku. Pеjuku dаn lеndir mе mеknуа bеrсаmрur mеnjаdi ѕаtu mеmbаnjiri mе mеknуа. Kаrеnа роѕiѕinуа bеrаdа diаtаѕ, mаkа саirаn kеnikmаtаn itu mеngаlir kеluаr mеrеmbеѕ mеlаlui kоntоlku ѕеhinggа mеmbаѕаhi ѕеlаngkаngаnku, bаnуаk ѕеkаli dаn kurаѕаkаn ѕеdikit lеngkеt-lеngkеt аgаk kеntаl саirаn уаng mеrеmbеѕ kеluаr itu tаdi.

    Kаmi bеrduа аkhirnуа tеrkulаi lеmаѕ di diраn. Pоѕiѕinуа tеngkurар di ѕаmрingku уаng tеrkulаi tеlеntаng mеmаndаng rimbunnуа dеdаunаn.

    “Mаѕ, рintеr bаngеt ѕih ngеrаngѕаng аku ѕаmре bеrkаli2 nуаmре, udаh gitu kоntоl mаѕ kаlо udаh mаѕuk tеrаѕа ѕеkаli gеѕеkаnnуа, аbiѕ gеdе bаngеt ѕih”, kаtаnуа.
    “Mеmеkmu jugа nikmаt ѕеkаli Nit, реrеt bаngеt dеh, kеrаѕа ѕеkаli сеngkеrаmаnnуа kе kоntоlku”, jаwаbku ѕаmbil mеmеluknуа.
    Kаmi bеrduа ѕеmраt tеrtidur сukuр lаmа kаrеnа kеlеlаhаn dаn tiuраn аngin ѕеjuk ѕероi2. Kеtikа tеrbаngun, kаmi mаѕuk kе rumаh, аku mеngаjаknуа mаndi.
    “Kitа mаndi ѕаmа-ѕаmа уuk!” аjаkku, “Bаdаnku lеngkеt kаrеnа kеringаt”.

    Kаmi mаѕuk kе rumаh mеnuju kе kаmаr mаndi bеriringаn ѕаmbil bеrреlukаn, bеrtеlаnjаng bulаt. Kаmаr mаndinуа tidаk tеrlаlu bеѕаr nаmun сukuр bаguѕ, аdа ruаngаn bеrbеntuk ѕеgi еmраt di dаlаm kаmаr mаndi, didalamnya ada tempat untuk berendamnya. Kаmi bеrduа mаѕuk kе dаlаmnуа dаn mеnуаlаkаn ѕhоwеr, аku dаn diа ѕаling bеrgаntiаn mеnggоѕоk tubuh kаmi, dеmikiаn рulа ѕааt mеnуаbuni tubuh kаmi lаkukаn bеrgаntiаn, ѕаling rаbа, ѕаling rеmаѕ, bibir kаmi ѕаling раgut bеrgаntiаn. Diа mеnjulurkаn lidаhnуа kе dаlаm mulutku уаng kuѕаmbut dеngаn hiѕараn, dаn ѕесаrа bеrgаntiаn рulа kujulurkаn lidаhku kе dаlаm mulutnуа. Diарun mеnуаmbutnуа dеngаn lumаtаn. Rаbааn tаngаnku bеrрindаh kе tоkеtnуа. Kurеmаѕ-rеmаѕnуа tоkеtnуа уаng mulаi mеngеnсаng lаgi реrtаndа nарѕunуа bаngkit lаgi. Diа рun tidаk mаu kаlаh, dirаihnуа kоn tоlku уаng kеmbаli ѕudаh bеrdiri tеgаk dаn dikосоk-kосоk lеmbut. Ujung kоntоlku ѕеѕеkаli mеnуеnggоl bаgiаn dераn раngkаl раhаnуа.

    “Bеtul kаn, kаlо сеwеk jеmbutnуа lеbаt раѕti nарѕunуа bеѕаr, kауа kаmu уа Nit”, kаtаnуа.

    Kuаrаhkаn kоntоlku kе bеlаhаn bibir mе mеknуа. Dеngаn mеnggunаkаn tаngаnku, kugеѕеk- gеѕеkkаn ujung kоn tоlku kе bеlаhаn bibir mе mеknуа. Kutеmреlkаn ujung kоn tоlku kе ujung it ilnуа dаn kugеѕеk-gеѕеkkаn nаik turun. Kini mеmеknуа kеmbаli mеngеluаrkаn саirаn bеning. Lаlu аku mеmаtikаn ѕhоwеr ѕаmbil duduk di ѕаmрing bаthtub. Diа kuраngku dеngаn роѕiѕi mеmunggungiku. kоntоlku уаng ѕudаh ngасеng kеrаѕ kеmbаli kumаѕukkаn kе dаlаm mеmеknуа dаlаm роѕiѕi ѕереrti itu. Kаrеnа kоndiѕi bаthtub уаng ѕеmрit mеnghаruѕkаn роѕiѕinуа mеrараtkаn раhаnуа, mаkа mеmеknуа mеnjаdi kiаn ѕеmрit ѕаjа. Awаlnуа аgаk ѕulit jugа kоntоlku mаѕuk kеdаlаm mеmеknуа.

    Tеtарi dеngаn ѕеdikit bеrѕuѕаh рауаh аkhirnуа ujung kоntоlku bеrhаѕil mеnуеruаk kе dаlаm mе mеknуа уаng dibаntu diа dеngаn ѕеdikit mеnеkаn bаdаnnуа kеbаwаh, dаn diаngkаtnуа kеmbаli раntаtnуа hinggа lаmа kеlаmааn аkhirnуа bеrhаѕil jugа kоntоlku аmblаѕ ѕеmuа kе dаlаm mеmеknуа. Dеngаn роѕiѕi bеgini mеmbuаtnуа hаruѕ аktif mеngосоk kоntоlku ѕереrti di kоlаm rеnаng tаdi dеngаn саrа mеngаngkаt dаn mеnurunkаn kеmbаli раntаtnуа, ѕеhinggа mе mеknуа biѕа mеrеmаѕ dаn mеngосоk-ngосоk kоntоlku. kоntоlku tеrаѕа ѕеkаli mеnggеѕеk-gеѕеk dinding bаgiаn dаlаm mе mеknуа. Sааt diа duduk tеrlаlu kе bаwаh, kоn tоlku tеrаѕа ѕеkаli mеnuѕuk kеrаѕ mе mеknуа, nikmаt уаng kurаѕаkаn tidаk dараt kulukiѕkаn dеngаn kаtа-kаtа lаgi.

    mеmеknуа ѕеmаkin lаmа ѕеmаkin bаѕаh ѕеhinggа kеbеrаdааn kоntоlku dаlаm mеmеknуа ѕudаh tidаk ѕеѕеѕаk tаdi. Kini diа рun ѕudаh tidаk kuаt lаgi mеnаhаn nарѕuku. Diа tidаk mаmрu lаgi mеngаngkаt dаn mеnurunkаn раntаtnуа ѕереrti tаdi, kini diа hаnуа biѕа tеrduduk dаlаm роѕiѕi kоntоlku mаѕih tеrtаnсар di dаlаm mе mеknуа. Digоуаng-gоуаngkаn ѕаjа раntаtnуа ѕаmbil duduk di раngkuаnku.

    Aku ѕеdаri tаdi аѕуik mеrеmаѕ kеduа tоkеtnуа. реntilnуа kuсubit dаn kuрilin-рilin ѕеhinggа mеnimbulkаn ѕеnѕаѕi tеrѕеndiri bаginуа. Aku tidаk mаmрu bеrtаhаn lаmа mеrаѕаkаn gоуаngаn уаng diа lаkukаn.

    “Aduuh..! Nit, hеbаt bаngеt еmроtаn mеmеk kаmu! Aku hаmрir ngесrеt niсh!” ѕеruku ѕаmbil tеtар mеmilin реntilnуа.
    “Kitа kеluаrin ѕаmа-ѕаmа уuk!” ѕаhutnуа ѕаmbil mеmреrсераt gоуаngаnnуа.

    Aku ѕudаh bеnаr- bеnаr tidаk mаmрu bеrtаhаn lеbih lаmа lаgi hinggа diа kudоrоng ѕеdikit kе dераn ѕаmbil аku bеrdiri, ѕеhinggа роѕiѕinуа mеnungging mеmbеlаkаngiku, tеtарi kоntоlku mаѕih mеnаnсар di dаlаm mеmеknуа. Aku bеrdiri ѕаmbil mеngаmbil аlih реrmаinаn, аku mеngосоk-ngосоkkаn kоntоlku kеluаr mаѕuk mеmеknуа dаlаm роѕiѕi menungging.

    “Aа.. Aассh!”

    Kini gilirаnnуа уаng mеnуеrасаu tidаk kаruаn. Aku mеrаѕаkаn kеdutаn-kеdutаn di dаlаm mеmеknуа, tеrаѕа ѕеkаli ѕеmburаn hаngаt уаng mеnеrра dinding mеmеknуа, реjuku lаngѕung munсrаt kеluаr mеmеnuhi mеmеknуа. Bеrѕаmааn dеngаn itu, diа рun mеngаlаmi hаl уаng ѕеruра, kurаѕаkаn kеdutаn mеmеknуа bеrkаli- kаli ѕааt diа nуаmре. Kаmi nуаmре dаlаm wаktu hаmрir bеrѕаmааn hinggа mеmеknуа kеmbаli реnuh dеngаn саirаn birаhi kаmi bеrduа, ѕаking реnuhnуа ѕеhinggа tidаk tеrtаmрung ѕеluruhnуа. Cаirаn kаmi уаng tеlаh tеrсаmрur itu, mеlеlеh kеluаr mеlаlui сеlаh mеmеknуа dаn mеrеmbеѕ kеluаr hinggа mеmbаѕаhi реrutnуа kаrеnа роѕiѕinуа mаѕih ѕеtеngаh mеnungging ѕааt itu. Kаmi рun mеlаnjutkаn mаndi bеrѕаmа-ѕаmа bаgаikаn ѕераѕаng реngаntin bаru.

    Sеtеlаh ѕеlеѕаi mаndi dаn mеngеringkаn tubuh kаmi mаѕing-mаѕing dеngаn hаnduk, dеngаn bеrtеlаnjаng bulаt kаmi mеnuju kе ruаng mаkаn. Aku mеngеluаrkаn makanan dаri lеmаri еѕ dаn bеrkаtа

    “Kаmu mаkаn makanan ringan ini dulu уа, nаnti аku bеlikаn mаkаnаn”.
    “аku mаu tidur ѕаjа, саре diеnjоt tеruѕ ѕаmа mаѕ”, kаtаnуа.
    “Tарi еnаkkаn?” kаtаku lаgi ѕаmbil mеngеnаkаn раkаiаnnуа.
    “Enаk bаngеt mаѕ, аku mаѕih mаu lаgi lо mаѕ”, jаwаbnуа ѕаmbil mulаi mеnguраѕ buаh.
    “Sо раѕti, аku аjаk kаmu kеѕini kаn untuk ngеntоt ѕаmре lоуо. Aku реrgi dulu уа”, ѕаmbil mеnсium рiрinуа.
    “Hаti2 уа mаѕ, аku nungguin lо”.

    Sереrginуа аku, diа bеrbаring ѕаmbil ngemil makanan. Diа mаkаn bеbеrара роtоng ѕеhinggа аkhirnуа diа mеrаѕа kеnуаng dаn mеngаntuk lаgi. Diа bеrbаring di ѕоfа dаn аkhirnуа tеrtidur.

    Kеtikа аku kеmbаli mеmbаwа mаkаnаn, diа mаѕih tеrtidur. Tеrаngѕаng jugа аku mеlihаt diа tеrkараr tеrlеlар dаlаm kеаdааn tеlаnjаng bulаt ѕереrti itu. Tоkеtnуа уаng bеѕаr turun nаik ѕеirаmа tаrikаn nараѕnуа. Pеrutnуа уаng rаtа dihiаѕi dеngаn рuѕеr уаng ѕеkѕi dаn diѕеlаngkаngаnnуа bеrgеrоmbоl jеmbut уаng lеbаt. Kоntоl lаngѕung bеrеаkѕi dеngаn ѕikар ѕеmрurnа, аliаѕ ngасеng lаgi. Tеtарi реrut dh mintа diiѕi. Aku mеmbаngunkаnnуа dеngаn mеngеluѕ2 tоkеtnуа.

    “Mаkаn уuk”.
    “Abiѕ itu mаеn lаgi уа mаѕ”.
    “Bоlе jа, аѕаl kаmu gаk lеmеѕ”.
    “Gаk ара lеmеѕ mаѕ, аku kаn gаk реrnаh ngеrаѕаin nikmаt diеntоt ѕереrti ѕеkаrаng ini. Mаѕ ѕеring2 ngеn tоtin аku уа mаѕ”.
    “Itu mаh biѕа diаtur kоk, kаlо ѕuаmi kаmu реrgi”.
    Kаmi mеnуаntар mаkаnаn уаng аku bеli ѕаmре tаndаѕ. Sаmа2 lареr kаrеnа еnеrѕi tеrkurаѕ kеtikа bеrtеmрur tаdi.

    Sеtеlаh ѕеlеѕаi mаkаn, diа mеmbаntu аku mеmbеrеѕkаn реrаlаtаn mаkаn, mеlар mеjа mаkаn, kеmudiаn kеkеnуаngаn kаmi duduk lаgi di ѕоfа didераn tv. tv kunуаlаkаn tарi gаk аdа асаrа уаng mеnаrik. Diа bеrѕеndеr kе аku.

    “Kаmu tu ѕеkѕi bаngеt dеh Nit, ngеliаt kаmu аku ngасеng tеruѕ tuh. Hеrаn jа, kоk ѕuаmi kаmu biѕа ninggаlin bidаdаri ѕеkѕi уаng mеrаngѕаng kауа kаmu itu”.
    “Gаk tаu dеh mаѕ, jаngаn ngоmоngin diа dеh, kаn mаѕ mо bikin аku tеrkараr lаgi”.

    Aku mеmеluknуа dаn mulаi mеmеrаh tоkеtnуа. аku tеruѕ ѕаjа mеrеmаѕ tоkеtnуа, mаlаh ѕаmbil mеmlintir2 реntilnуа, реrlаhаn реntilnуа mulаi mеngеrаѕ.

    “Nit, еnаk nggаk diginiin?” ѕаmbil tаngаnku tеruѕ mеrеmаѕ-rеmаѕ tоkеtnуа.
    “Mаѕ, ааh”, nарѕunуа mаkin mеninggi.

    Sаmbil tоkеtnуа kurеmаѕ tеruѕ, аku mеnjilаti ѕеluruh tubuhnуа, mulаi dаri ujung kераlа ѕаmраi ujung kаki. Kujilаti рulа tоkеtnуа, kuѕеdоt реntilnуа ѕаmраi diа gеmеtаr ѕаking nарѕunуа. Kаkinуа dаn kеduа раhаnуа уаng muluѕ itu dibukаnуа ѕuрауа biѕа kuеluѕ2, dеngаn ѕаtu tаngаn mаѕih mеrеmаѕ tоkеtnуа. Sеtеlаh itu mе mеknуа kujilаtin dеngаn lidаhku уаng kаѕаr. Bukаn hаnуа bibir mе mеknуа аjа уаng kujilаtin, tарi lidаhku jugа mаѕuk kе mе mеknуа, diа jаdi mеnggеlinjаng nggаk tеrkоntrоl, wаjаhnуа mеmеrаh ѕаmbil tеrdоngаk kеаtаѕ.

    Mеlihаt nарѕunуа ѕudаh nаik, аku mеlераѕ ѕеluruh раkаiаn dаn сеlаnаnуа. Diа diаm аjа. kоntоlku уаng bеѕаr ѕеkаli ѕudаh ngасеng dеngаn kеrаѕ. Diа hаmрir tаk dараt mеmеgаngnуа dеngаn kеduа tаngаnnуа.

    “Dikосоk Nit”, рintаku, diа nurut ѕаjа dаn mеngосоk kоntоlku dеngаn gеmаѕ, mаkin lаmа mаkin bеѕаr dаn раnjаng.
    “Nit diеmut dоng”, kаtаku kееnаkаn.

    Aku bеrdiri diѕаmрing ѕоfа dаn diа duduk ѕаmbil mеngаrаhkаn kоntоl уаng аdа digеnggаmаnnуа kе аrаh mulutnуа. Diа mеnсоbа mеmаѕukkаn kеdаlаm mulutnуа dеngаn ѕuѕаh рауаh, kаrеnа bеѕаr ѕеkаli jаdi dijilаti dulu kераlа kоn tоlku. Aku mеndеѕаh2 ѕаmbil mеndоngаkkаn kераlа. Diа bеrtаnуа,

    “Kеnара mаѕ”.
    “Enаk bаngеt, tеruѕin Nit, jаngаn bеrhеnti”, ujаrku ѕаmbil mеrеm mеlеk kеnikmаtаn.

    Diа mеnеruѕkаn аkѕinуа, mеnjilаti kоntоlku mulаi dаri kераlа kоntоlku ѕаmраi kе раngkаl bаtаng, tеruѕ kе biji реlirnуа, ѕеmuа di jilаtin. Diа mеnсоbа untuk mеmаѕukkаn kеdаlаm mulutnуа lаgi, udаh biѕа mаѕuk, udаh liсin tеrkеnа ludаhnуа.

    Aku mеmеgаngi kераlаnуа dеngаn ѕаtu tаngаn ѕаmbil mеmаju-mundurkаn раntаtku, mеngеn tоti mulutnуа. Sеdаng tаngаnku ѕаtunуа lаgi mеrеmаѕ tоkеtnуа ѕеbеlаh kаnаn. gеrаkаnku ѕеmаkin lаmа ѕеmаin сераt. аku mеnghеntikаn gеrаkаnnуа. kоntоl ku kеluаrkаn dаri mulutnуа. аku mеnаiki tubuhnуа dаn mеngаrаhkаn kоntоlku kе tоkеtnуа.

    “Nit, аku mаu ngеrаѕаin kоn tоlku kеjерit tоkеt kаmu уаng mоntоk уа”.
    Diа раhаm ара уаng аku mаu, dаn аku kеmudiаn mеnjерit kоn tоlku di аntаrа tоkеtnуа.
    “Ahh.. Enаk Nit. Diеmut еnаk, dijерit tоkеt jugа еnаk.”, еrаngku mеnаhаn nikmаt jерitаn tоkеtnуа.
    Aku tеruѕ mеnggоуаng kоn tоlku mаju mundur mеrаѕаkаn kеkеnуаlаn tоkеtnуа. Sаmраi аkhirnуа
    “Aduh Ni, ѕеbеntаr lаgi аku mаu Keluar, kеluаrin di mulut kаmu уа”.
    “Jаngаn mаѕ, di mеmеkku ѕаjа”, jаwаbnуа.
    Diа tidаk ingin mеrаѕаkаn реju dimulutnуа, lеbih bаik disemprotkan di mmеknуа kаrеnа diа ngеrаѕаin nikmаt уаng luаr biаѕа.

    Akuрun nаik kеаtаѕnуа ѕаmbil mеngаrаhkаn kоntоlku kе mеmеknуа. Aku mulаi mеmаѕukkаn kоntоlku уаng bеѕаr dаn раnjаng itu kе mеmеknуа, ѕаmраi diа mеrеm mеlеk kееnаkаn ngеrаѕаin mе mеknуа digеѕеk kоn tоlku. Aku mulаi mеnggеrаkkаn kоntоlku kеluаr dаn mаѕuk dimеmеknуа уаng ѕеmрit itu. Diа mulаi mеrаѕаkаn nikmаt уаng tаk tеrkаtаkаn, luаr biаѕа еnаk ѕеkаli rаѕаnуа. Sесаrа nаluri diа mеnggеrаkkаn раntаtnуа kеkаnаn dаn kеkiri, mеngikuti gеrаkаn kоntоlku уg kеluаr mаѕuk, wuihh tаmbаh nikmаt. tеrlihаt diwаjаhku bаhwа аku mеnikmаti ѕеkаli gеѕеkkаn kо tоlku di mеmеknуа. Tubuhku bеrgоуаng-gоуаng mаju mundur, аku mеmреrhаtikаn kоn tоlku ѕеndiri уаng ѕеdаng kеluаr mаѕuk di mе mеknуа. Sеlаng bеbеrара ѕааt, аku mеngаjаk gаnti роѕiѕi, diа раѕrаh аjа.

    Diа kuѕuruh nungging dаn аku mеnуоdоkkаn kоntоlku dаri bеlаkаng kе mеmеknуа. Nikmаt ѕеkаli реrmаinаn ini.

    “Ennngghh…” dеѕаhnуа tаk kеruаn.

    Sаmbil mеnggоуаng раntаtnуа mаju mundur, аku mеmеgаngi рinggulnуа dеngаn еrаt, tеrаѕа nikmаt уаng luаr biаѕа. Tidаk tаhu bеrара lаmа аku mеnggеnjоt mе mеknуа dаri bеlаkаng ѕереrti itu, mаkin lаmа mаkin kеrаѕ ѕеhinggа аkhirnуа diа nуаmре lаgi

    “Mаѕ, еnjоt уаng kеrаѕ, nikmаt ѕеkаli rаѕаnуа”, jеritnуа.
    Aku mеngеnjоt kоntоlku lеbih сераt lаgi dаn kеmudiаn реjuku munсrаt didаlаm mе mеknуа bеrulаng-ulаng, bаnуаk ѕеkаli.

    ‘сrоttt, сrоооth.., сrооооtttthh…’ Diа mеrаѕа mеmеknуа аgаk mеmbеngkаk аkibаt diѕоdоk оlеh kоn tоlku уаng bеѕаr itu. “
    Nit, mеmеk kаmu luаr biаѕа dеh сеngkеrаmаnnуа, nikmаt bаngеt. Kеrаѕа ѕеkаli gеѕеkаnnуа dikоntоlku”, kаtаku ѕаmbil tеrеngаh2.

    Sеtеlаh iѕtirаhаt bеbеrара ѕааt, аku bеrtаnуа раdаnуа “Gimаnа Ni?”.
    “Enаk ѕеkаli mаѕ, rаѕаnуа nikmаt ѕеkаli, mеmеkku ѕаmре ѕеѕеk kеmаѕukаn kоntоl mаѕ, аbiѕ gеdе bаngеt ѕih”, jаwаbnуа.

    Aku mеnсаbut kоntоlku уаng ѕudаh lеmеѕ dаri mе mеknуа. kоntоlku bеrlumurаn реjunуа dаn саirаn mеmеknуа. Mungkin ѕаking bаnуаknуа аku nyemprotin реju dimеmеknуа.
    ”Cаре уа Sin”.
    “Iуа mаѕ, mаlеm ini аku nginер diѕini уа mаѕ, bоlеh kаn”.
    “Bоlеh bаngеt, kitа biѕа ngеntоt аll nitе lоng kаn”.
    “Wаh mаu dоng”.

    Dan begitulah dan seterusnya sepanjang suaminya masih belum kembali dari luar negri si Anita yang kesepian ini memenuhi kepuasan bilogisnya dariku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Rasakan Kenikmatan Batangnya

    Cerita Sex Rasakan Kenikmatan Batangnya


    1530 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Rasakan Kenikmatan Batangnya ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Petang itu aku tinggal sendirian di rumah. Abah, mak, kakak dan adik-adik dah balik kampung kerana atuk nak buat sedikit kenduri. Jiran sebelah rumah ku juga dah seminggu balik kampung kerana nak naik pelamin. Rumah kami kembar tiga; dua kami pakai sendiri, manakala yang lagi satu abah sewakan pada Bang Hasan. Cuaca redup kerana hari nak hujan.

    Sudah menjadi tabiat ku, kalau aku tinggal sendirian, pintu depan akan ku mangga dari luar, seolah-olah rumah ini kosong aje. Aku akan keluar masuk ikut pintu dapur. Lampu dalam rumah juga aku padamkan kecuali lampu veranda.

    Lebih kurang jam 5 petang aku makan nasi sejuk. Awal aku makan kerana takut nasi dan gulai basi. Aku paling malas nak perangatkan lauk-pauk. Almaklumlah usia ku ketika itu baru meningkat 15 tahun.

    Nak menonton tv aku rasa boring. Dalam pada itu aku teringatkan bilik kecil di atas loting. Abah buat bilik itu untuk menyimpan perkakas kenduri seperti periuk besar, talam dan sebagainya. Baru minggu lepas abah bersihkan bilik itu.

    Aku naik ke bilik itu. Di situ ada sebiji bantal dan sehelai tikar mengkuang. Di situ juga terdapat majalah komedi ala Gila-Gila. Sambil berbaring aku baca ceritanya. Lama-kelamaan aku mengantuk lalu tertidur.

    Tiba-tiba aku dikejutkan oleh bunyi kereta. Kedengaran bertalu-talu pintu kereta dibuka dan ditutup. Rupa-rupanya jiran sebelah dinding, Bang Hasan dah balik membawa bersama isterinya, Kak Andrik. Riuh rendah mereka di sebelah.

    Bang Hasan begitu yakin rumah ku ini kosong, tak ada orang. Dia membuka pintu lalu masuk dan memasang lampu. Sibuklah bunyinya mereka berekamas itu dan ini. Tak lama kemudian rumah sebelah senyap. Tetapi bunyi tv masih kedengaran di ruang tamu. erdasarkan rancangan yang disiarkan itu, iaitu Dunia Jam 10, ternyata begitu lama aku tertidur di atas loteng ini.

    Perlahan-lahan aku merangkak menuju ke satu lubang yang bercahaya setentang dengan bilik Bang Hasan. Ianya tidak jauh dari tempat aku berbaring.

    Aku berjaya sampai di situ. Aku mula mengintai-intai. Lubangnya ialah lubang bekas paku lima atau enam inci, mungkin sebesar jari kelengkeng aje. Dari situ aku nampak keseluruhan bilik tidur Bang Hasan. Rupa-rupanya mereka sedang berdiri berhadap-hadapan.

    Waktu itu Bang Hasan sedang menanggal pakaian isterinya, Kak Andrik. Mula-mula baju kurung. Jadi terdedahlah buah dada Kak Andrik yang masih bercoli itu. Baju kurung tadi dikesampingkannya. Kak Andrik sendiri pula yang membuka cangkuk colinya. Lalu diletakkannya di atas katil. Buah dada Kak Andrik tidaklah besar. Kalau dengan buah epal tu, besar lagi buah dada Kak Andrik. Putingnya berwarna coklat gelap tetapi payu daranya agak cerah.

    Dengan kedua-dua belah tangannya, Bang Hasan meraba-raba dan meramas-ramas buah dada isterinya yang nampak pejal dan anjal aje itu. Sesiapa juga yang terpandang pasti teringin benar nak menjamah dan meramas-ramasnya.

    Manakala tangan Kak Andrik memaut erat bahu Bang Hasan. Ternyata Kak Andrik sedang menikmati rasa sedap apabila Bang Hasan berbuat begitu. Sambil meramas-ramas buah dada itu, Bang Hasan mengisap atau menyonyot tetek Kak Andrik.

    Kepala Kak Andrik berputar-putar menahan rasa nikmatnya. Nafasnya mula keluar masuk deras. Pada sesuatu ketika tertentu dia menarik nafas panjang, kesan daripada dia menahan nafas kerana menahan rasa nikmat teteknya dinyonyot.

    Kemudian kain dan seluar dalam Kak Andrik pula ditanggalkan. Itulah pertama kalinya ku dapat sekujur tubuh Kak Andrik dalam keadaan bertelanjang bulat. Kak Andrik memang lah perempuan yang dikira cantik jugak. Memandang tubuh bogel Kak Andrik membuatkan aku rasa inginkan sesuatu kenimatan dari tubuh itu. Sungguh istimewa rezeki mata ku hari ini.

    Aku lihat Bang Hasan mula beralih tempat. Dia berdiri di belakang Kak Andrik. Tangan Kak Andrik bermain dengan teteknya sendiri. Manakala tangan Bang Hasan meraba-raba bulu puki Kak Andrik. Bulu puki Kak Andrik halus dan tidak lebat. Tetapi tundun pukinya nampak cukup tembam. Oleh kerana bulunya tidak lebat maka alur puki Kak Andrik dapat juga ku lihat.

    Bertalu-talu jari jemari Bang Hasan mengusap alur puki Kak Andrik. Sementara mulutnya pula menyelusuri tengkuk dan bahagian belakang cuping telinga Kak Andrik. Pada waktu itu Kak Andrik mengerang dan merengek kesedapan.

    “Erh erh erh erh errrhhh errrrhhhh,” demikianlah suara Kak Andrik apabila tengkuk dan bahagian belakang cuping telinganya dicium dan dijilat oleh Bang Hasan. Kini tangan Bang Hasan naik ke atas, iaitu bermain dengan buah dada Kak Andrik. Kak Andrik terus-terusan mengerang begitu hinggakan aku di sebelah boleh mendengarnya.

    Sedar-sedar konek aku sudah keras. Manakan tidaknya. Kak Andriklah diantara perempuan yang memang kerap menarik perhatian ku. Entah berapa pulah kali tubuh Kak Andrik telah ku jadikan modal melancap. Otak seks aku telah melakunkan Kak Andrik dengan berbagai watak lucah.

    Namun kini aku sendiri dapat saksikan adingan seks Kak Andrik secara life dan percuma pulak tu. Adingan yang cukup nyata akan dapat ku nikmati di hadapan mata kepala ku sendiri. Nafas ku terasa sesak. Ku raba pelir ku. Aku dapati ianya keras dan kepalanya ada lendir yang keluar.

    Perlahan lahan ku usap batang pelir ku itu Aku bertekad tak akan melepaskan peluang yang sedia ada. Adingan persetubuhan Kak Andrik pasti akan ku lancapkan sepuas puas yang mahu. Aku pun dah seminggu tak melancap jadi memanglah pelir aku asyik nak keras aje. Sambil mata ku mengintai, pelir ku pula yang keras dan terasa sedap.

    Aku terus tekun menumpukan intaian ke bawah. Kak Andrik sudah sedia berbaring menelentang dengan mengorak kangkang yang agak luas. Baringannya betul betul pada kedudukan mata aku dapat melihat di bahagian bawah kangkangnya. Dan apabila Bang Hasan melapikkan sebiji bantal di bawah bontot Kak Andrik, tundun puki Kak Andrik nampak cukup jelas tertonjol.

    Jari telunjuk Bang Hasan tergosok gosok pada bibir dan kelentit puki Kak Andrik. Beberapa ketika kemudian dua batang jari Bang Hasan terus dibenamkan ke dalam lubang puki Kak Andrik. Sambil itu jari Bang Hasan dengan agak ganasnya mula mengorek gorek di situ.

    Setelah dibuai kesedapan, kini Kak Andrik nampak agak tidak selesa dengan kekasaran Bang Hasan itu. Berkerek gigi Kak Andrik dihurung kepedihan. Tangan Kak Andrik cuba menghala ke arah pukinya tetapi telah dihalang oleh Bang Hasan.

    “Tak mau cam ni bang… sakit.”…… Amat jelas dapat ku dengar keluhan dan rayuan dari Kak Andrik. Namun Bang Hasan hanya menjawab dengan agak kasar, “ahhhh…..”. Bang Hasan aku dapat rasakan kegeramannya yang amat sangat pada puki tembam Kak Andrik itu. Berkerut muka Kak Andrik apabila dua batang jari suaminya itu terus bergaru di dalam lubang puki yang sensitif itu.

    Setelah puas hatinya barulah Bang Hasan mencabut keluar jarinya itu. Aku dapat lihat bahawa pelir Bang Hasan sudah cukup keras terpacak dengan gagahnya. Aku dapat mengagak sememangnya pelir Bang Hasan jauh lebih besar dan lebih panjang daripada pelir aku sendiri. Bang Hasan merangkak ke celah kangkang Kak Andrik lalu melutut di situ.

    Tangan kirinya masih memegang batang pelirnya sendiri. Bang Hasan mengangkat lutut Kak Andrik ke udara dan dilipatkannya hala ke perutnya. Posisi tubuh Kak Andrik nampak cukup bersedia untuk membahagiakan pelir lelaki. Sehinggakan pelir aku sendiri pun terasa amat berkeinginan untuk berkubang dalam lubang puki Kak Andrik itu.

    Bang Hasan membasahi pelirnya dengan air liur sendiri. Berkilat kilat pelir Bang Hasan sesudah berlumuran air liur. Dengan bantuan tangan kirinya, Bang Hasan menyelitkan kepala pelirnya di celah alur puki Kak Andrik. Dengan kangkangan kaki yang dah terlipat hingga ke paras perut maka bibir puki Kak Andrik dengan tersendirinya juga sudah terselak luas.

    Cukup mudah Bang Hasan menyorong masuk batang pelirnya. Dengan sekali hentak saja seluruh kejantanan pelir Bang Hasan bercerop masuk ke dalam lubang puki isterinya. Bergegar sekujur tubuh Kak Andrik kerana terkejut dengan kekasaran Bang Hasan itu. Ku lihat Kak Andrik getapkan bibirnya. Urat kakinya nampak kejang sambil kakinya tertonjol tonjol ke atas. Dari reaksi yang Kak Andrik pamirkan, ternyata pukinya masih belum bersedia untuk menyambut pelir yang diterjah masuk secara ganas itu.

    Ku lihat Kak Andrik menggerakkan punggungnya. Mungkin cuba mencari posisi yang lebih sesuai untuk kurangkan kesakitan dan ketidak selesaan. Bang Hasan juga sama membetulkan posisinya. Dia lalu meniarapi Kak Andrik.

    Namun begitu, sikunya dijadikan tongkat untuk membolehkan dia menatap wajah isterinya yang ayu itu. Jadi sambil menghenjut dapatlah mulutnya menyerang pada mana saja bahagian muka Kak Andrik yang digerami.

    Pada waktu yang sama aku nampak punggung Bang Hasan mula turun naik. Lubang puki Kak Andrik yang sempit itu cukup rancak dikerjakan oleh batang pelir Bang Hasan. Sesaat ku lihat seluruh kepanjangan pelir Bang Hasan terbenam masuk ke dalam lubang puki Kak Andrik. Sesaat lagi pula ku lihat pelir itu terbit semula keluar hingga ke paras takuknya. Begitulah kerancakkan irama keluar masuk yang bersileh ganti pada setiap saat.

    “Erh erh erh errhhh errrhhhh ! Sedap puki Andrik…. Sempitnya… Bertuah abang…. dapat puki Andrik”. Sambil menghenjut puki Kak Andrik, begitulah bunyi kata kata geram yang sering pancul dari mulut Bang Hasan. Kak Andrik pula ku lihat cukup terangsang dengan pujian seksual yang sebegitu rupa. Ia benar benar membuat Kak Andrik cair. Corak penadahan kangkangnya juga nampak lebih bersemangat.

    Lama kelamaan Kak Andrik pun sama terasa sedap. Ianya kesan daripada lubang pukinya dijolok ‘go head go sturn’ dek batang pelir Bang Hasan. Semakin dijolok, sudah pasti biji kelentitnya bertambah membesar dan kembang.

    Dan bila kelentit dah semakin panjang maka semakin banyaklah cetusan air nikmat yang mengalir keluar membasahi lubang pukinya. Kenyaringan bunyi celup celap yang terbit dari lubang puki Kak Andrik menjadi bukti betapa basahnya di situ. Bila lubang puki Kak Andrik semakin basah, semakin gilalah kenikmatan yang dirasai oleh batang pelir Bang Hasan.

    Kesenambungan tindak balas dia antara mereka berdua jelas mempamirkan kenikmatan bersama. “Sedapnya Bang. Sedapnya sedapnya sedapnya,” Berulangkali Kak Andrik melafazkan bahawa dia sedang mengalami rasa kelazatan. Tiba-tiba dia meminta Bang Hasan menghejut kuat,” Henjut kuat bang. Henjut kuat, henjut laju bang. Andrik dah tak tahan ni.” Badannya meronta-ronta. Tangannya mengelewar dan meronta-ronta tak tentu hala. Otot-ototnya menjadi pejal.

    Serentak dengan itu Bang Hasan pun menghenjut kuat dan laju. Tak sampai pun beberapa henjutan, Kak Andrik pun menjerit kuat, “Aaaaaaaaaak”. Bang Halim juga ikut terjerit. Punggungnya ditekan rapat ke puki Kak Andrik. Kemudian perlahan-lahan dia bangun lalu melutut.

    Batang pelirnya ikut sama tercabut. Kulihat pelirnya melendut sedikit. Cecair likat berwarna keputihan menyaluti pelir Bang Hasan. Bang Hasan tersenyum puas. Dia pun mencapai kain pelikat dan bergerak keluar bilek.

    Sejurus kemudian kedengaran bunyi TV yang telah dipasangnya. Sedang Bang Hasan rilek menonton TV, Kak Andrik tinggal keseorangan di atas katil. Matanya terpejam diambang kelenaan. Kedua belah tangannya terangkat ke atas dan dengan itu kehalusan bulu ketiaknya dapat ku lihat dengan cukup nyata.

    Aku beraleh tumpuan ke arah celah kangkang Kak Andrik. Punggung Kak Andrik masih lagi beralaskan bantal. Dengan itu bahagian puki Kak Andrik cukup ketara terangkat ke atas. Kedua belah kaki Kak Andrik masih mengangkang luas seolah olah masih lagi bersetubuh.

    Alur puki Kak Andrik membengkak kemerahan. Kesan air mani Bang Hasan berselepar dengan banyaknya di persekitaran bibir puki Kak Andrik. Aku pun mula menghayun kemuncak lancapan. Tak berapa lama kemudian, air maniku pun terpancut.

    Oh! Sedap sungguh terasa apabila air itu terpancut. Kemudian, perlahan-lahan aku turun ke bawah. Mujur lampu veranda udah aku pasang siang tadi. Jadi teranglah bilikku kerana cahaya lampu veranda masuk ikut cermin tingkap. Aku berbaring. Tak lama kemudian aku tertidur.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Lepas Perawan Istri Di Malam Pertama

    Lepas Perawan Istri Di Malam Pertama


    1529 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Lepas Perawan Istri Di Malam Pertama ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Panggil saja aku Nita, Statusku sekarang telah mempunyai suami.Setelah sekian lama kami menjalin hubungan tanpa status yang resmi dari KUA akhirnya pagi tadi sekitar pukul 08.00 disaksikan orang tua, 2 saksi resmi, dan ratusan orang dari pihak pengantin pria maupun wanita.

    kami telah resmi menjadi sepasang suami istri yang telah sah, resmi, dan bebas untuk melakukan hubungan seks kapan saja dimana saja baik siang, malam, dikamar, didapur, dikamar mandi, ditengah rumah, sambil masak, sambil nonton TV, pokoknya kata pak penghulu tadi bilangnya bebas sebebasnya asal sesuai dengan aturan agama yang kami anut.

    Tibalah saatnya kami memasuki malam pertama di kamar pengantin tepatnya sekitar pukul 23.30 dimana acara resepsi pernikahan telah usai, para tamu tidak ada lagi yang datang, dan orang-orang dirumah juga tampaknya tinggal beberapa orang saja yang masih terjaga menunggu peralatan resepsi.

    adapun kebanyakan sudah tertidur pulas karena pasti kecapean melayani tamu demi tamu yang datang tak henti silih berganti baik tamu dari pengantin pria, pengantin wanita, maupun tamu dari orang tua kami.

    Setelah mengunci rapat pintu kamar, suamiku berkata setengah berbisik “Dik, ini malam pertama kita sebagai suami istri. Tebak apa yang akan kita perbuat pertama kali dikamar pengantin ini?”

    Mendengar pertanyaan suamiku tersebut aku hanya tertunduk malu sambil menggeleng-gelengkan kepala isyarat menjawab tidak tahu. Padahal sebenarnya dalam hatiku banyak sekali yang ingin kuungkapkan, namun karena aku malu jadi hanya bisa terdiam tanpa sanggup berkata-kata.

    Sesekali kulihat wajah suamiku yang tak henti menatap wajahku sambil tersenyum hingga akhirnya dia menggunakan telunjuknya untuk menganggat daguku agak tak terus tertunduk. Masih dengan perasaan malu, akupun menegakkan wajahku hingga menatap lurus ke wajah suamiku. Kulihat suamiku kembali tersenyum yang reflek kubalas senyuman suamiku itu dengan senyuman malu.

    “Abang kan sekarang sudah menjadi suami adik, tak perlu malu seperti itu lagi dong! Kita sudah halal untuk berdua-duaan dikamar seperti ini, jangan takut digerebek hansip atau pak RT kaya semasa tunangan dulu” canda suamiku coba mencairkan suasana. Aku hanya mengangguk sambil sedikit tertawa namun tetap menujukkan rasa malu.

    Dan kami pun lansung berpelukan, didalam pelukkan suamiku, aku merasa ada barang yang keras menempel di pahaku. ternyata tongkat tersebut adalah kerisnya si suamiku yang sudah mulai menegang.

    aku pun menatap suamiku dan suamiku lansung mencium bibir ku dan kedua tangannya satu meraba bagian dada ku dan satunya sudah masuk dalam CD ku.

    Terasa sekali bila suamiku memengang miss V ku, ia dengan lembut mengosok-gosok klitorisku yang membuat aku tidak bisa mengontrol nafsu birahi yang mulai memanas ini. Dan aku juga mengosok-gocok celana suami ku dan aku cium-cium leher suamiku dan setelah itu sambil tidak berpisah satu sama lain kami berdua berjalan step by step menuju ke ranjang.

    Setelah sampai diranjang suamiku kayaknya sudah engak bisa nunggu lagi untuk menjalankan tugasnya ini, ia lansung membuka semua bajuku dan bajunya.

    Ia lansung mengajariku gimana untuk sedot kerisnya yang begitu panjang dan besar..hehehe sampai-sampai mulutku yang kecil ini tidak muat untuk kerisnya.

    Aku pun berusaha supaya tidak mengecewakan suamiku, aku jilat dan hisap perlahan-lahan keris suamiku kadang aku melirik ekspresi suamiku yang sedang menikmati serviceku yang amatir ini. Setelah sekitar 10 menit aku sedot suamiku meminta untuk foreplay dengan posisi 69.

    Aku sendiri si agak malu karena belum pernah barangku di jilat sama orang lain, dengan muka yang malu saya juga menuruti permintaan suamiku. Suamiku lansung menjilat-jilat miss V ku yang sudah mulai basah berlendir itu dan kami sesama saling menyervis satu sama lain.

    Setelah foreplay nya selesai suamiku membaringkanku dan membuka lebar kedua kakiku, walau masih malu dan sedikit deg degan karna aku ni masih perawan, jadi aku pun dengan lembut bilang sama suamiku untuk pelan-pelan aja, maklum belum pernah ML takut sakit juga.

    Dan suamiku pun mulainya dengan pelan-pelan dan ia coba untuk memasukkan kerisnya ke miss v ku, ia mulai dengan lembut pelan-pelan memasukkan kepala kerisnya namun karena sakit saya pun menahan tubuh suamiku untuk berhenti sejenak dan perlahan-lahan masuk.

    Suamiku tau kalau aku lagi sakit jadi dia pun dengan halus mainnya. Perlahan-lahan keris pun masuk ke dalam miss v ku dan terasa banget kalu ada tongkat yang keras muat dalam lobang miss v ku. dan perasaan itu susah untuk dikatakan “sakit campur enak”.

    Suami ku pun pelan-pelan keluar masuk kerisnya dan lama-lama mungkin karna aku juga teransang jadinya engak gt terasa sakitnya malahan ada satu perasaan yang enak then aku pun menikmatinya, setelah 20 menit gitu suamiku bergoyang-goyang diatas tubuhku.

    aku melihat kalau suamiku sudah mulai kecapean jadi aku pun menyuruh suamiku untuk mengajarku posisi lain yang biar aku yang menyervisnya. si suamiku lansung ambil keluar kerisnya, dan dikerisnya terdapat banyak darah perawanku yang sudah aku pertahankan sekian lama.

    Dan suamiku lansung baring diranjang dan menyuruh aku untuk menaikinya “ya kayak lagi nunggang kuda” suamiku menyuruh aku untuk bergoyang dan dia menempatkan tangan ku di dada nya untuk jari-jariku bisa bermain sama puting nya.

    Dan suamiku kedua tangannya juga sambil meraba-raba dada ku yang kian montok.

    Setelah aku goyang-goyang lumayan lama, suamiku memintaku untuk berdiri dan merungkuk di ranjang, sedangkan suamiku bangun dan berlutut dibelakangku. ia mengangkat pinggulku dan menusuk dari belakang. dipikiran ku suamiku ini kuat juga ya sudah mau sejam kami berhubungan tapi suamiku masih terlihat fit aja.

    Dan suamiku juga dorong-dorong aku dari belakang, makin didorong terasa kecepatan dorongannya semakin cepat, cepat, cepat, dan makin cepat, habis itu suamiku lansung ambil keluar kerisnya dan lansung memutar badanku untuk berbaring dan menyemprot maninya di mukaku. Maninya yang menetes di muka ku terasa panas dan ada sedikit bau.

    Setelah semua mani nya crot dimukaku, aku sedot lagi keris suamiku nampak sekali kalau suamiku terasa sangat nikmat. Sekian dulu d cerita pengalaman pertama ku bersama suami tercintaku

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Ketika Nonton Film Bioskop Bersama – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Ketika Nonton Film Bioskop Bersama – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1528 views

    Perawanku – Kali ini saya akan menceritakan kisah hubunganku dengan Rina, gadis dari Bukittinggi. Kami ketemu ketika aku nongkrong di salah satu Studio 21 di Jakarta. Setelah lihat poster film yang akan diputar kurasa aku nggak tertarik untuk nonton hari ini. Di sebelahku ada seorang wanita muda yang juga sedang melihat-lihat poster film. Dari raut mukanya kelihatannya dia juga tidak tertarik.

    “Mau nonton Mbak?” tanyaku
    “Rencananya sih, tapi filmnya kurang bagus menurutku, dan yang dua lagi saya udah nonton,” jawabnya.

    Kami berdua duduk di lobby dan mendiskusikan film yang sedang diputar, When a Man Loves a Woman. Boleh juga wawasan dan ulasannya. Karena film sudah diputar dan pintu studio akan ditutup, kami berdua keluar dari studio.

    “Kemana sekarang Mbak?” tanyaku.
    “Jalan-jalan aja, lagi males di rumah,” jawabnya.
    “Boleh dong ikutan. Mbak jangan takut, aku orang baik-baik kok”
    “Nggak pa-pa, malah senang ditemenin dan ada pengawal. Mas ini anggota ya?” tanyanya.

    Memang karena perawakanku yang tegap aku sering disangka sebagai tentara atau polisi. Tapi aku selalu jujur kalau ditanya demikian.

    “Anggota apa? Kalau anggota masyarakat betul, tapi kalau militer bukan kok. Dulu pernah ikut tes tapi nggak lulus”.
    “Habis badannya tegap begitu”.

    Akhirnya kami berputar-putar saja di mall yang ada di dekat situ. Habis berputar-putar kami singgah di sebuah kafe dan minum di sana. Sambil ngobrol kuamati wanita di depanku ini. Badannya OK, sintal dan montok, kulitnya kuning langsat.

    Dalam setiap percakapan selalu kupanggil dia dengan sebutan “Mbak”.

    “Eh, aku bukan orang Jawa, panggil saja namaku, Rina, atau kalau mau panggil Uni Rina,” ia memprotes. Akhirnya kupanggil namanya saja. Panggilan Uni rasanya kurang familiar di lidahku.

    Aku tidak berani memancingnya untuk melakukan hal-hal yang lebih jauh mengingat cerita kota asalnya yang penduduknya terkenal taat. Namun memang kalau lagi rejeki, ada saja jalannya. Waktu dia buka tasnya, mengambil sesuatu tiba-tiba dompetnya terjatuh ke lantai. Dia membungkuk mengambilnya. T-shirt yang dipakainya sedikit membuka tanpa disadarinya. Aku yang memperhatikannya langsung saja seperti terkena aliran listrik. Buah dadanya yang besar dan putih, terbungkus bra dengan model cup yang hanya menutup puting, menggantung seolah minta dipetik. Dia masih belum sadar kalau aku memperhatikan ke balik t-shirtnya sampai dia tegak kembali. Aku masih termangu-mangu menikmati pemandangan yang baru saja kulihat.

    Rina menggoyangkan tangannya di mukaku.

    “Eh, bangun.. Bangun. Ada kebakaran,” katanya mengejutkanku.

    Aku tersentak dari lamunanku. Dia tertawa kecil.

    “Jangan melamun, nanti keterusan,” katanya lagi. Dipegangnya tanganku. Aku semakin panas dingin. Digesernya tempat duduknya ke sampingku. Tak sengaja sikuku menyentuh dadanya yang kenyal. Mukaku agak merah, sementara dia diam saja.
    “Sorry Rin, nggak sengaja,” kataku meminta maaf.
    “Aku tahu kok, kalau sampai sengaja namanya kurang ajar. Tapi kalau mau boleh lagi kok. Lagian daripada ngelamun lebih baik cari pengalaman,” katanya pelan sambil mukanya berpaling ke arah lain. Haah! Aku seakan tak percaya dengan ucapannya. Otakku mulai menganalisa peluang yang bisa kutangkap.
    “Bener nih nggak mau. Kalau mau ayo kita cari tempat yang aman. Jangankan kau senggol, lebih dari itupun ayuk saja,” ia mengerling ke arahku dan lidahnya memainkan bibirnya.
    “Tarik Mangg!!” sorakku dalam hati.

    Tanpa buang waktu lagi kami naik taksi dan menuju sebuah hotel yang cukup bersih. Kami berdua berbaring di atas ranjang. Rina berada di sebelahku, menatapku lalu mendekatkan mukanya ke mukaku dan menciumku. Aku membalas perlahan. Kuremas dadanya dari luar kausnya. Ia naik ke atas tubuhku.

    “Ouw.. Mulai nakal tangannya ya!” bisiknya.

    Rina terus menciumiku sambil melepas t-shirtnya. Kemudian tangannya menarik kaus yang kukenakan dan melepas lewat kepalaku. Ia membelai dadaku dan mengusapkan bibirnya pada bulu dadaku.

    Bibirnya ke bawah dan sudah sampai di leherku. Kuciumi telinganya dan kuhembuskan napasku dekat telinganya. Ia menggelinjang geli sekaligus nikmat. Debaran di dada meningkat. Ia terus menciumi dadaku. Kurasakan buah dadanya yang tadi sempat kuintip menekan dadaku. Kenyal dan padat dibungkus bra hitam. Onde mandeh, indah sekali.

    Tangan kanannya ke bawah, membuka ikat pinggangku, melepas kancing celana dan menarik ritsluiting dan kemudian menariknya ke bawah. Aku mengangkat pantatku untuk membantu memudahkan tangannya membuka celanaku. Kugerakkan kepalaku ke punggungnya dan dengan gigiku kulepas kait branya. Kuciumi punggungnya yang putih mulus. Tanpa dibuka, dengan pergerakan kami berdua akhirnya tidak lama branya sudah terlepas sendiri dan merosot ke ranjang.

    Buah dadanya berukuran besar, mungkin 36, terlihat sangat putih, kencang dan padat dengan bagian ujungnya berwarna kemerahan. Putingnya yang merah kecoklatan tidak sabar menungguku untuk segera mengulumnya. Payudara kiri kuisap dan kujilati, sementara sebelah kanannya kuremas dengan tangan kiriku. Kulakukan demikian berganti-ganti. Tangan kiriku mengusap-usap rambutnya dengan lembut.

    Rina mengerang dan merintih ketika putingnya kugigit.

    “Upps.. Lagi Anto. Ououououhh.. Nghgghh, Anto ayo teruskan lagi.. Ouuhh.. Anto”

    Payudaranya kukulum habis. Rina menggoyangkan kepalanya dan mencium leherku sampai ke dekat tengkuk. Akupun sudah tidak tahan. Senjataku sudah siap untuk masuk dalam pertempuran. Terasa keras dan kepalanya nongol melewati ban pinggang celana dalamku. Tangannya menurunkan celana dalamku sampai ke paha dan dilanjutkan dengan jari kaki ia melepas celana dalamku.

    Mulutnya terus bergerak ke bawah dan kini Rina mengisap-isap buah zakarku dan menjilati batang meriamku. Kupalingkan mukaku ke samping dan kugigit ujung bantal.

    Tiba-tiba secara refleks meriamku mengencang hingga condong mendekati permukaan perutku ketika lidah Rina mulai menjilat kepalanya. Kukencangkan otot perutku sehingga meriamku juga ikut bergerak dan berdenyut-denyut.

    “Hmm.. Tidak terlalu besar, rata-rata saja ukurannya tapi keras dan berdenyut. Pasti luar biasa nikmat,” komentar Rina sambil terus melakukan aktivitasnya. Kuangkat kepalaku dan kulihat Rina sedang asyik menjilat, menghisap dan mengulum meriamku. Kadang-kadang ia melihat ke arahku dan tersenyum.

    Rina melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan tangannya dengan cepat melepas celana dalamnya sendiri. Bibirnya menyambar bibirku. Kubalas dengan ganas dan kusapukan lidahku pada bibir dan masuk dalam rongga mulutnya. Lidah kami kemudian saling memilin dan mengisap. Tanganku mengembara ke selangkangannya dan kemudian jari tengahku masuk menerobos liang kenikmatannya sampai menemukan tonjolan kecil di dinding atasnya. Rina meremas dan mengocok meriamku. Meriamku semakin tegang dan keras. Kami saling memberikan stimulasi.

    “Ouououhhkk.. Nikmat.. Puaskan aku,” ia memohon dengan suara tertahan.

    Kemudian tangannya mengurut dan menggenggam erat meriamku. Kurasakan pantat dan pinggul Rina bergoyang menggesek meriamku. Dan tanpa kesulitan kemudian kepala meriamku masuk ke dalam gua kenikmatannya. Terasa lembab dan agak kendor. Kurasakan dinding guanya semakin berair membasahi tonggak pusakaku.

    “Akhh Anto ayo kita sama-sama nikmati.. Oukkhh”.

    Kujilati lehernya dan bahunya. Ia terus menggoyangkan pantatnya sehingga sedikit demi sedikit makin masuk dan akhirnya semua batang meriamku sudah terbenam dalam guanya.

    Rina bergerak naik turun untuk mendapatkan sensasi kenikmatan. Pantatnya bergerak maju mundur. Gerakannya berubah dari perlahan menjadi cepat dan semakin cepat sampai akhirnya dia berhenti karena kelelahan. Ia mengubah gerakannya menjadi ke kanan ke kiri dan berputar-putar. Pantatnya naik agak tinggi sehingga hanya kepala meriamku berada di bibir guanya dan bibir guanya kemudian berkontraksi mengurut kepala meriamku. Tidak terlalu kuat kontraksi otot vaginanya, hanya sedikit terasa meremas batang kemaluanku.

    Kemudian ia menggesek-gesekkan bibir guanya pada kepala meriamku sampai beberapa kali dan kemudian dengan cepat ia menurunkan pantatnya hingga seluruh batang meriamku tenggelam seluruhnya. Ketika batang meriamku terbenam seluruhnya badannya bergetar dan kepalanya bergoyang ke kanan dan kekiri. Napasnya terputus-putus.

    Kuisap putingnya yang sudah keras. Gerakannya semakin liar dan cepat. Tanganku memeluk punggungnya dengan erat sehingga tuuh kami merapat total. Ia juga memeluk diriku rapat-rapat. Kini gerakannya pelan namun sangat terasa. Pantatnya naik ke atas sampai kemaluanku terlepas, dan ia menurunkan lagi dengan cepat dan kusambut dengan gerakan pantatku ke atas. Kembali meriamku menembus guanya. Ia merinding dan menggelepar. Tangannya meremas rambutku dan mencakar punggungku, punggungnya melengkung menahan kenikmatan. Mulutnya merintih dengan kata-kata yang tidak jelas dan mengerang keras.

    “Anto.. Ouhh Anto, aku mau dapat, aku tidak tahan mau kelu.. Ar,” desahnya.
    “Sshh.. Shh”
    “Anto sekarang ouhh.. Sekarang” ia memekik.

    Tubuhnya mengeras, merapat di atasku dan kakinya membelit betisku. Pantatnya ditekan ke bawah dengan keras dan vaginanya menjadi sangat basah hingga terasa licin. Tubuh Rina mulai melemas. Keringatnya menitik di sekujur pori-porinya. Kemaluanku yang masih menegang tetap dibiarkan di dalam vaginanya.

    “Terima kasih jantanku. Kau sungguh hebat sekali. Aku puas dengan permainanmu. Berikan aku istirahat sebentar, lalu..,” ia berbisik di telingaku.

    Kusambar bibirnya dengan bibirku dan kugulingkan ke samping. Penisku yang memang belum menyelesaikan tugasnya tentu saja masih tegang dan penasaran.

    “Sudahlah sayang, biarkan aku istirahat dulu sebentar saja.. ”

    Aku tidak menghiraukannya, kini kugenjot vaginanya sampai berdecak-decak menimbulkan suara yang justru sangat merangsang. Ia hanya pasif dan diam saja saja menerima gempuranku.

    Vaginanya terasa sangat licin dan ditambah lagi kondisi ototnya yang sudah kendor, maka gerakanku tidak memberikan kenikmatan yang maksimal. Kucabut penisku dan kuambil handuk untuk mengelap vaginanya supaya agak kering. Aku naik lagi ke atas tubuhnya. Kembali kuarahkan moncong meriamku ke sasaran. Kudorong pelan, meleset sampai beberapa kali. Kuangkat kedua kakinya dan kurenggangkan pahanya. Dengan tenaga penuh kudorong pantatku. Kini berhasil, dan langsung kugenjot dengan tempo perlahan saja. Lumayan, dalam keadaan dinding vagina kering begini baru bisa terasa nikmat.

    Rina kembali bangkit nafsunya setelah beberapa menit beristirahat. Iapun kemudian mengimbangi permainanku dengan gerakan pinggulnya. Diganjalnya pantatnya dengan bantal sehingga kemaluannya agak naik. Kami berciuman dengan penuh gairah. Kaki kami saling menjepit dengan posisi silang, kakiku menjepit kaki kirinya dan kakinya juga menjepit kaki kiriku. Dalam posisi seperti ini dengan gerakan yang minimal dapat memberikan kenikmatan optimal, sehingga sangat menghemat tenaga.

    Kami makin terbuai dengan gerakan masing-masing. Kini kedua kakinya menjepit kakiku. Ia memutar-mutar pinggul dan membuat gerakan naik turun. Aku meremas, memilin serta mengisap payudaranya. Kami bisa saling memberikan kenikmatan.

    “Ouh.. Achch.. Mmmhh.. Ngngngnhhk” Rina mendesah tertahan.

    Kugenjot pinggulku naik turun dengan irama tertentu. Kadang cepat kadang sangat lambat. Setiap gerakanku kubuat pinggulku naik agak tinggi sehingga penisku terlepas dari vaginanya, lalu kutekan lagi. Setiap penisku dalam posisi masuk, menggesek bibir vaginanya ia terpekik kecil. Kakinya bergerak dan kedua kakinya kujepit dengan kedua kakiku. Dalam posisi begini aku hanya menarik penisku setengah batang saja saja karena kalau sampai tercabut keluar susah untuk memasukkannya lagi. Namun keuntungannya jepitan vaginanya jadi sangat terasa.

    Kami mengubah posisi lagi, kembali dalam posisi konvensional. Kedua kakinya kuangkat ke atas bahuku, lututnya menempel pada perutnya. Dengan bertumpu pada tangan kubiarkan tubuhku melayang tanpa menempel pada tubuhnya. Sepintas seperti gerakan orang sedang melakukan push-up.

    “Rina.. Ouhh nikmat sekali, hebat sekali permainanmu.. ”

    Kuperkirakan sudah setengah jam kami bercinta, tenaga sudah mulai berkurang sehingga kuputuskan untuk segera mencapai puncak. Kupercepat gerakanku dan gerakannya juga semakin liar.

    “Ke atas sedikit yang.. Oooh,” pintanya. Kuturuti permintaannya. Aku menggeser tubuhku, sehingga penisku menggesek bagian atas vaginanya. Gesekan kulit penisku dengan klitorisnya terasa sangat nikmat.

    Bunyi deritan ranjang, erangan, bunyi selangkangan dan paha beradu seakan-akan berlomba. Tubuh kami sudah basah oleh keringat yang membanjir. Dinginnya udara kamar tak terasa lagi. Kurasakan ada aliran yang menjalar dalam penisku. Inilah saatnya akan kuakhiri permainan ini. Rina terengah-engah menikmati kenikmatan yang dirasakannya.

    “Rina.. Rin sebentar lagi aku mau keluar.. ”

    Gerakanku semakin cepat hingga seakan-akan tubuhku melayang. Lututku mulai sakit.

    “Ayolah Anto aku juga mmau kkel.. Uar. Kita sama-sama sampai”.

    Ketika kurasakan aliran pada penisku tak tertahankan lagi maka kurapatkan tubuhku ke tubuhnya dan kulepaskan kakinya dari atas bahuku. Kakinya mengangkang lebar. Kuhunjamkan pinggulku dalam-dalam sambil memekik tertahan.

    “Rina.. Ouh .. Sekarang.. Sekarang”.
    “Ouh Anto aku.. Juga.. Keluar”.

    Kakinya membelit kakiku, kepalanya mendongak dan pantatnya diangkat. Kurasakan denyutan dalam vaginanya sangat kuat. Kutembakkan laharku sampai beberapa kali. Giginya dibenamkan dalam di dadaku sampai terasa pedih. Napas kami masih tersengal-sengal, kucabut penisku dan menggelosor di sampingnya. Tangannya memeluk lenganku dan jarinya meremas jariku.

    “Anto aku masih mau lagi, kita habiskan malam ini bersama-sama. Ayolah, kumohon.. Pleasse!” ia memintaku.

    “Sorry Rin, jangan malam ini. Bukannya aku tidak mau, tapi besok pagi-pagi aku akan keluar kota selama beberapa hari. Nanti aku akan memuaskanmu setibanya dari luar kota,” aku mengelak.

    Rasanya badanku sangat lelah sehingga jika kuturuti permintaannya aku merasa tidak mampu lagi menandinginya. Rina kelihatan agak kecewa namun dia bisa menerima alasanku. Kami masuk kamar mandi, berpelukan dan berendam air hangat bersama-sama di bath tub sampai rasanya mau tertidur. Kemudian kami saling membersihkan tubuh masing-masing. Setelah berpakaian kukecup bibirnya, dia membalasnya dengan bernafsu, tapi kudorong tubuhnya dengan halus.

    “Sudahlah Rin, nanti saja kita habiskan waktu kita bersama-sama sepanjang hari,” rayuku.

    *****

    Kami keluar dari hotel dan berpisah di jalan dengan janji untuk bercumbu lagi setelah kembali dari luar kota.

  • Cerita Sex Berteduh Di Warung

    Cerita Sex Berteduh Di Warung


    1528 views

    Perawanku – Aku adalah seorang karyawan pada sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang kredit barang
    keperluan rumah tangga. Namun pekerjaanku di lapangan, yaitu sebagai seorang kolektor (Collector). Jadi
    kegiatanku sehari-hari adalah menarik uang tagihan dari pelanggan yang mengambil barang secara kredit
    dari perusahaanku. Dalam pekerjaanku, sekali dalam sebulan, aku pasti akan bekerja di luar kota.

    Pengalaman yang ingin ku ceritakan ini adalah peristiwa yang terjadi saat aku harus melakukan penarikan
    di luar kota. Waktu itu, aku berangkat menggunakan sepeda motor. Karena pertimbangan kemacetan, aku
    memilih untuk memilih jalan alternatif, yaitu jalan menuju luar kota yang melewati perkampungan. Jarak
    yang harus ku tempuh memang lebih jauh, tetapi waktu yang ku tempuh untuk mencapai tujuan relatif lebih
    cepat, karena jalan alternatif ini masih dalam kondisi baik dan jauh dari kemacetan.

    Warung Remang-Remang Di tengah perjalanan, tiba-tiba langit menjadi gelap. Aku sadar bahwa aku tidak
    membawa jas hujan, sehingga ku pacu motorku lebih cepat berharap tiba di tujuan sebelum hujan turun.
    Ternyata tanpa disangka, hujan justru menghadangku di depan perjalanan. Mau tidak mau aku harus mencari
    tempat untuk berteduh. Sialnya aku terjebak hujan justru di daerah hutan dan persawahan. Ku pikir tidak
    kan ada tempat berteduh di tempat seperti ini, sehingga ku pacu motorku lebih cepat untuk bisa mencapai
    daerah pemukiman warga berada tak begitu jauh di depan.

    Dalam cepatnya aku memacu motorku, tiba-tiba melihat sebuah rumah tua dengan warung minum di depannya.
    Aku langsung menghentikan motorku dan memutar balik menuju warung itu. Setibanya di warung itu, aku
    langsung melompat masuk ke warung dan meninggalkan motorku di depan warung. Dengan nada bicara sesopan
    mungkin aku minta izin untuk berteduh kepada pemilik warung yang ternyata, seorang gadis cantik yang
    masih berusia belasan tahun. Wanita itu dengan sopan mempersilahkanku untuk duduk berteduh di warungnya.

    Warung minum sederhana yang saat itu kebetulan sepi, memberikan kesempatan kepadaku untuk sedikit
    bercakap-cakap dengan pemilik warung itu. Dari percakapan itu ku ketahui bahwa namanya Nurlaila, dia
    bukan pemilik warung, tetapi anak dari warung yang ternyata hari itu kebetulan sedang pergi ke pasar
    untuk membeli barang dagangan yang sudah habis. Lela panggilan singkatnya, dia berhenti sekolah saat
    kelas I SMA, karena Bapaknya yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal dunia. Jadi sekarang
    pekerjaannya adalah membantu ibunya menjaga warung minum kecil tersebut.  Agen Judi Bola

    Kalau kuperhatikan, gadis ini sangat cantik alami, rambut panjang terikat di belakang, bibirnya tipis,
    bulu matanya lentik, kulitnya putih, tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun proporsional dengan ukuran
    dada dan pingulnya. Hanya saja permasalahannya, ia kurang pandai dalam berdandan dan perawatan kulit.
    Penampilannya yang cukup sederhana, dan kecantikannya yang alami, sebenarnya cukup menggodaku, terutama
    menggoda pikiran nakalku.

    Dalam percakapan yang terjadi di tengah derasnya hujan itu, beberapa kali ku coba menggodanya.

    “Boleh saya minta Susu?” Tanyaku.
    “Susunya habis, Mas! kalau mau teh saja…” Jawabnya
    “Saya lihat masih ada kok!” Godaku sambil melirik ke buah dada yang menonjok di dadanya.

    Dia hanya tersenyum dan mengatakan “ah!” dengan wajah malu-malu. Jawabannya itu, bagiku terdengar cukup
    seksi dan menggodaku untuk terus mengajaknya berbincang.

    “nggak perlu pakai gula lagi deh!”
    “Ah, Mas ini! ada-ada saja! Lela jadi malu nih diliatin begitu.”
    “melihat juga belum, kok udah malu-malu sih?”
    “Jangan gitu ah, Mas! ini buat anak Lela nanti kalau udah punya anak…”
    “anak Lela bolehlah minum susunya, tapi kalau Mas kalengnya aja deh! nggak apa-apa!”
    “ih..! nggak boleh, Mas! ntar kalengnya pecah!”

    begitulah! suasana perbincanganku dengan Lela semakit hanya di tengah dinginnya hujan yang cukup lebat.
    Akhirnya ku coba untuk meminta buatkan secangkir teh hangat, agar pembicaraanku bisa terus berlanjut,
    mumpung masih hujan, dan mumpung warung sepi. Lela membuatkanku secangkir teh hangat dan menyuguhkannya
    di depanku. Karena alasan hujan yang sekain lebat, aku minta izin untuk dudk di bagian dalam warung.
    Lela tanpa berpikir macam-macam mengizinkanku untuk duduk di dalam warung tepat di dekatnya.

    Dengan pikiran yang sebenarnya sudah cukup ngeres, aku terus mencoba menggodanya, dengan kata-kata dan
    pertanyaan yang semuanya menjurus pada hal-hal yang merangsang.

    “kalau boleh tahu, ukuran BH Lela berapa ya?”
    “ih, Mas ini.! ngapain tanya begitu?”
    “Yaa nggak apa-apa sih! biar Mas bisa membelikan BH buat Lela!”
    “Hahaha…. nggak usah, Mas! Lela nggak pakai BH…”
    “Serius?”
    “Hahaha…..”

    Perbincanganku dan Lela semakin hangat, kekakuan antara kami semakin hilang, suasana semakin mencair,
    karena Lela terus saja punya jawaban yang bisa membuatku tidak bosan duduk menunggu hujan reda. Sikap
    Lela yang terus merespon membuatku semakin berani untuk mengarahkan pada pembicaraan yang lebih
    merangsang.

    Cerita Sex Berteduh Di Warung

    Cerita Sex Berteduh Di Warung

    “Lela pernah lihat ini, nggak?” tanyaku sambil memberi isyarat mata untuk melihat ke bagian bawah
    tubuhku.

    Tepatnya bagian yang tersembunyi di dalam celanaku yang waktu itu mengembul karena tegang karena arah
    pembicaraan yang sangat merangsang.

    “Apa’an?” tanya Lela, dan ketika mengerti apa yang ku maksud, ia terus berkata. ” iih, nggak mau’ah!
    ngeri… takut…!”
    “Takut kenapa?” tanyaku.
    “Abis gundul sih…! Hehehe….” Jawab Lela sambil tertawa.

    Aku tahu pasti, Lela saat ini juga pasti sedang terangsang, hanya saja karena dia perempuan, tidak ada
    bagian tubuh yang menegang seperti pada laki-laki. Dengan jawaban Lela seperti itu, lalu ku katakan
    padanya:

    “Mas tahu kok, CD Lela pasti sudah basah, ya…”
    “Ah, Mas ini sembarangan aja kalau ngomong…! Tapi Mas kok tahu, ya?” Jawab Lela sambil menatapku dan
    memperbaiki posisi duduknya dengan kaki menyilang.
    “Lela pasti juga terangsang kan?” ku pegang pergelangan tangan Lela, ku tarik dan ku coba untuk
    menyentuhkannya ke penisku yang tersebunyi di balik celana panjangku.

    Lela sedikit berontak karena terkejut atas keberanianku memegang tangannya.

    “Mas!”
    “Lela nggak usah malu-malu…! Kalau belum kawin, Lela nggak akan perah lagi dapat kesempatan megang
    punya laki-laki…”

    Ku paksa tangannya untuk menyentuh baang penisku yang sangat tegang. Karena tanganku lebih kuat, Lela
    akhirnya mengalah, dibiarkannya tanganku menarik tangannya untuk memegang batang penisku. Beberapa saat
    kemudian, Lela kembali menarik tangannya dari menyentuh batang penisku yang masih tertutup celana.

    “Udah!” katanya sambil menarik tangannya.

    Tapi tangan Lela kembali ku tarik dan ku paksa kembali untuk menyentuh batang penisku. Lela menatapku,
    lalu berkata:

    “Mas! berpikir yang macam-macam! Maunya Mas, apa?”
    “Mas pingin Lela memegang punya Mas!”
    “Oke! tapi jangan berpikir lebih dari itu…!!”
    “Ya… baiklah!”

    Lela akhirnya memegang batang penisku, dan tanpa pikir panjang, ku buka celanaku dan ku minta Lela untuk
    menggenggam penisku. Lela memalingkan wajahnya lalu berkata:

    “Mas! Kenapa dikeluarkan?”

    “kalau nggak begini, Lela nggak akan bisa memegang…..” Kembali ku raih tangan Lela lalu ku minta ia
    menggenggam batang penisku.

    Lela menurut saja keinginanku, namun wajahnya menatap ke arah lain. Ku gerakkan tangannya yang telah
    menggengam tangan naik turun, Lela hanya diam tanpa kata. Dapat ku rasakan, Lela menikmati setiap
    gesekan batang penisku yang tegang di telapak tangannya yang dingin.

    Perlahan ku lepaskan genggaman tanganku di pergelangan Lela dan ku biarkan dia melakukannya sendiri.
    Lela terus mengocok penisku dengan genggaman tangannya yang mencengkram erat. Lalu perlahan ku sentuh
    dan ku elus pahanya yang masih tertutup rok panjang selutut. Lela membiarkan saja tanganku singgah di
    pahanya. Keadaan ini ku manfaatkan dengan menarik roknya dan memasukkan tanganku untuk menyentuh
    selangkangannya.

    Merasakan tanganku masuk ke daerah sensitifnya, Lela merapatkan pahanya. Namun aku tetap memaksakan
    untuk menyentuh belahan vaginanya. Memang benar, CD Lela memang sudah sangat basah. Itu artinya Lela
    juga sudah sangat terangsang. Aku terus melesakkkan jariku di selangkangannya.

    “Lela..! Jangan ditolak, jika Lela merasa nikmat….”  Agen Judi Bola
    “Lela hanya tidak ingin keterusan, Mas!”
    “Ya! Mas juga mengerti…. Kita nikmati saja, mumpung masih ada kesempatan…!” Setelah aku mengatakan hal
    itu, Lela meraih tanganku dan menarikku ke dalam rumahnya. di ruangan itu, Lela langsung menanggalkan
    seluruh pakaiannnya.

    Aku terpaku melihat apa yang terjadi di hadapanku, seakan tak percaya dengan apa yang ku lihat. Seorang
    gadis yang baru ke kenal beberapa jam yang lalu kini telah berdiri di hadapanku dalam keadaan siap
    dinikmati.

    Lela menarik tanganku sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur tipis di yang terdapat di dalam rumah
    kecil tersebut. Aku pun ikut terjatuh di atas tubuhnya. Dalam posisi seperti itu, Lela membisikkan
    sepatah kata di telingaku:

    “Ini tidak pernah ku lakukan sebelumnya… Memberikan kenikmatan hanya untuk menikmati…”

    Mendengar perkataannya yang penuh gairah dan makna itu, aku tidak buang-buang waktu. Langsung saja ku
    lucuti seluruh pakaianku, dan langsung ku tancapkan kepala penisku ke belahan vagina Lela yang telah
    mengangkang menanti kenikmatan birahi yang telah memuncak.

    Di antara lebatnya hujan yang tak henti-hentinya mengguyur jalanan, aku dan Lela larut dalam kenikmatan
    persenggamaan terlarang. penisku telah amblas dalam lobang vagina gadis yang masih berusia belasan. Aku
    tak perduli lagi dengan apapun yang terjadi diluar sana, yang ada di benakku hanya menikmati gesekan
    demi gesekan penisku di dinding vagina Lela yang basah. Menghujam, menghentak, menusuk, demi memburu
    puncak kepuasan sengama.

    Suara becek terdengar di dalam liang vagian Lela, seiring dengan suara desahan di bibir Lela yang
    membisik di telingaku, menambah panas suasana birahi di diriku. Aku semakin bersemangat untuk menghujam
    penisku hingga menyentuh bibir rahim Lela. Batang penisku terasa berdenyut-denyut menandakan bahwa aku
    akan mencapai puncak kepuasan dalam percintaan terlarang dengan Lela.

    Beberapa saat sebelum aku mencapai puncak, ku bisikkan pada Lela:

    “Mas akan segera keluar…. Heh…”
    “Di dalam saja, Mas!”

    Tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkannya, puncak kenikmatan hubungan seks antara aku dan Lela,
    ku selesaikan dengan menumpahkan sperma dalam lobang vagian Lela. Aku terhempas kelelahan mengejar
    orgasme di atas tubuh gadis kecil anak pemilik warung. Batang penisku tetap ku biarkan amblas dalam
    vagina Lela. Setelah permainan berakhir, aku baru menyadari apa akibat yang akan terjadi jika sperma
    yang ku tanam akan membuahi sel telur di rahim Lela.

    “Kenapa kamu membiarkan saya mengeluarkan di dalam?”
    “Tenang saja! Lela sudah biasa kok!” begitu jawaban Lela yang sangat mengejutkanku.
    “Maksud Lela? sudah biasa hamil…!?”
    “Bukan!”
    “Lalu…!?
    “Lela sudah biasa melayani birahi laki-laki seperti Mas!”
    “Jadi Lela….???”
    “Ya! Lela memang bukan perawan seperti yang mungkin Mas kira…! Lela bekerja memang sebagai penjaga
    warung, tetapi itu tidak cukup untuk kami bertahan hidup.

    Ibu mengizinkan Lela untuk melakukannya, asal dengan laki-laki yang menurut Lela bersih dari penyakit
    kelamin…”

    Mendengar pengakuan itu, aku terperanjat dan bangkit dari tubuh Lela. Aku tidak menyangka gadis seusia
    Lela telah menjual keperawanannya hanya demi bertahan hidup. Tapi di sisi lain, aku juga berpikir,
    masalahnya bukan hanya urusan bertahan hidup, tetapi karena banyaknya lelaki yang memandang wanita hanya
    sebagai pemuas nafsu. Salah satunya aku, yang dengan susah payah memancing pembicaraan yang merangsang,
    hanya demi mendapatkan lobang kecil di selangkangan Lela.

    “Kenapa Lela tidak minta bayaran dari, Mas!”
    “Hehe…. untuk pertama Gratis kok, Mas! Biar Mas merasa dulu, gimana rasanya pelayanan Lela…” Lela
    bangkit dari tempat berbaringnya, lalu mengenakan kembali seluruh pakaiannya.

    Aku terdiam menatap Lela yang sedang mengenakan kembali pakaiannya. Ku tarik kembali tubuh Lela sehingga
    ia jatuh kembali di atas kasur tipis tempat kami becinta, lalu ku katakan:

    “Lela…! hujan masih lebat… Mas masih ingin bersama Lela… Berapa yang harus Mas keluarkan untuk yang
    kedua…???”
    “Kalau Mas bener mau lagi, Mas tinggal aja di sini malam ini menemani Lela…. Lela akan melayani Mas,
    berapa kalipun Mas sanggup…. Gratis!”

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Anakku Menghamiliku Saat Tidur Lelap

    Cerita Sex Anakku Menghamiliku Saat Tidur Lelap


    1527 views

    Perawanku – Cerita Sex Anakku Menghamiliku Saat Tidur Lelap, Namaku Tini, usia 49 tahun, saat ini aku tinggal di kota Cirebon. Tetangga kiri kananku mengenalku dengan sebutan bu Haji. Ya, di blok komplek rumahku ini, hanya aku dan suami yang sudah naik Haji. Suamiku sudah pensiun dari Departemen Luar Negeri. Kini ia aktif berkegiatan di masjid Al Baroq dekat rumah.

    Aku pun aktif sebagai ketua pengajian di komplek rumahku ini. Tetangga kami melihat keluargaku adalah keluarga harmonis. Namun mereka bertanya-tanya, mengapa anakku masih kecil, masih berusia satu tahun, padahal aku sudah berusia hampir 50 tahun. Aku bilang saja, yah, maklum, rejeki datang lagi pas usia saya senja begini, mau diapakan lagi, tidak boleh kita tolak, harus kita syukuri.

    Sebenarnya aku punya anak lagi, anakku yang sulung, laki-laki, dan saat ini mungkin ia sudah berusia 26 tahun. Namanya Roni. Sebelum kelahiran anakku yang masih bayi ini, Roni adalah anak tunggal. Sampai akhirnya aku usir dia dari rumah ini dua tahun yang lalu. Dan sampai detik ini, suamiku, Beny, atau orang akrab memanggil dia Pak Haji Beny atau Pak Ustad, ia belum tahu alasan mengapa Roni meninggalkan rumah sejak dua tahun yang lalu itu, jika suamiku bertanya padaku, aku terpaksa berbohong, bilang tidak tahu dan pura-pura kebingungan. Walaupun aku tahu, karena akulah yang mengusir Roni dari rumah tanpa sepengetahuan suamiku.

    Cerita sedih ini berawal ketika Roni yang selama 15 tahun kami tinggalkan hidup dengan Neneknya di Cirebon, akhirnya kumpul bersama dengan kami layaknya keluarga. Bisa aku tinggalkan selama 15 tahun karena aku dan suami harus tinggal di Belanda. Saat aku dan suami ke Belanda, Roni baru berusia delepan tahun, ibuku (nenek Roni) tidak ingin jauh dari Roni, beliau mungkin takut Roni akan terbawa arus kehidupan eropa dan lupa adat indonesia. Jadilah Roni tinggal di Cirebon bersama ibuku, lalu aku dan suami tinggal di Eropa.

    Lima belas tahun kemudian, aku dan suami pulang ke tanah air, sebelum pulang aku dan suami menyempatkan diri untuk naik haji. Setelah pulang menunaikan haji, aku dan suami pulang ke tanah air dan pergi ke Cirebon. Tak kusangka anakku sudah besar, ya Roni telah berusia 23 tahun. Kami lihat ia tumbuh menjadi anak yang sangat soleh, santun dan lemah lembut.

    Aku sangat berterima kasih dengan ibu waktu itu, telah membuat Roni tetap menjadi anak yang baik dan rajin beribadah. Beberapa bulan setelah kami berkumpul bersama, ibuku (nenek Roni) meninggal. Kami sedih sekali waktu itu.Setelah itu kami hidup sekeluarga bertiga.

    Kehidupan keluarga kami sangat sakinah mawadah dan rohmah. Aku bangga sekali punya anak Roni. Ia rajin ke mesjid dan mengaji. Hal itu membuat aku dan suami selalu merasa bahagia. Seakan-akan kami awet muda rasanya.

    Kebahagiaan ini juga mempengaruhi kemesraan aku dan suami sebagai suami istri. Walaupun kami sudah tua, tapi kami masih rutin melakukan hubungan pasutri meski hanya satu minggu sekali. Sampai suatu hari, suamiku mendapat tugas dari untuk dinas selama tiga bulan di Qatar. Suamiku mengajak kami berdua (aku dan Roni anakku) namun Roni yang sudah kerasan tinggal di Cirebon menolak ikut, akupun karena tidak mau lagi jauh dengan anakku menolak ikut. Akhirnya hanya suamiku sendiri saja yang pergi.

    Hari-hari tanpa suamiku, hanya aku dan anakku tinggal di rumah kami. Aku sibuk sebagai ketua pengajian ibu-ibu dan memberikan ceramah kecil-kecilan setiap ada arisan di komplek rumahku ini. Roni aktif sebagai remaja masjid di masji Baroq dekat rumah. Terkadang karena aku sudah berusia hampir 50, aku mudah merasa capek setelah berkegiatan.

    Suatu siang aku merasa sangat capek, sehabis pulang memberikan ceramah ibu-ibu di masjid. Aku pun langsung tertidur. Saat aku tengah-tengah enaknya merasa nyaman dengan kasurku, aku seperti merasa ada sesuatu yang membuat paha, pinggang dan daerah dadaku geli dan gatal. Setengah sadar dan tidak sadar, aku lihat Roni sedang berada di dekatku. Sambil setengah ngantuk aku berkata, “Kenapa Ron? Mama capek nih…”

    “Ga, ma, Roni tahu, makanya Roni pijetin, udah mama tidur aja”, balas Roni.
    Aku senang mendengarnya, senang pula punya anak yang tumbuh dewasa dan baik seperti Roni. Oh terima kasih Tuhan.

    Lama kelamaan, aku mengalami hari yang sangat aneh, terutama setiap malam saat aku tidur. Aku merasa, ada sesuatu yang menggelitik daerah sensitifku, terutama daerah selangkanganku. Enak sekali rasanya, oh apakah ini setengah mimpi yang timbul akibat hasratku sebagai seorang istri yang butuh kehangatan suami. Ya, aku yakin karena aku ditinggal suami saat aku lagi merasa kembali muda dan penuh gairah, makanya aku sering sekali mimpi basah setiap malam.

    Mimpi yang rasanya sadar tidak sadar, kenikmatannya seperti nyata. Ya, aku menjadi senang tidur malam, karena ingin cepat-cepat mimpi basah lagi. Aku menduga ini adalah rejeki dari Tuhan, agar gairahku sebagai istri tetap terjaga, dan kebutuhan biologisku tetap tersalurkan walaupun hanya diberi mimpi basah sama Tuhan. Oh… nikmat sekali. Aku membayangkan suamiku, Beny, yang berhubungan denganku, oh nikmat sekali.

    Dan karena seringnya dikasih mimpi basah oleh Tuhan, setiap pagi aku bangun aku merasa kemaluanku selalu basah kuyup sampai celana dalamku basah total. Yah, jadinya aku punya kebiasaan baru selalu mandi wajib setiap pagi. Yang aku takuntukan hanya satu, takut saat aku mimpi basah, aku mengigau dan takut suara mendesahku terdengar anakku Roni. Tapi saat aku liat dari gelagatnya sehari-hari, nampaknya ia tidak tahu.

    Sampai tiga bulan lamanya, hampir tiap malam aku selalu mimpi basah, aku jadi heran. Apa penyebabnya dari nutrisi yang kumakan atau kuminum sehari-hari ya? Hmm, mungkin saja. Soalnya aku punya kebiasaan minum teh hijau sebelum tidu. Kata dokterku itu baik untuk orang setua aku, apalagi biar selalu sehat menjelang usia setengah abad. Akhirnya aku coba meminum teh hijau, saat pagi hari, malamnya kucoba tidak minum.

    Malam harinya, saat aku tidur, ditengah asyiknya tidurku, dan gelapnya lampu kamarku. Aku merasa perasaan mimpi basah mulai datang kembali, yah, mmh, rasanya ada yang menggelitik kemaluanku, sesuatu yang lembut, oh, bergerak-gerak. Selangkanganku pun ikut tergelitik hingga aku merasa ada sesuatu yang membuat basah kemaluan dan selangkanganku.

    Lalu berbarengan dengan rasa sensasi pada daerah kemaluanku, sesuatu yang lebut bergerak-gerak menyentuh buah dadaku, bergantian, pertama yang kiri lalu yang kanan, kemudian.. Aw!.. Ada rasa hisapan yang lembut hangat namun kuat pada puting buah dadaku yang sebelah kanan. Oh enak sekali, terima kasih Tuhan, jantungku mulai berdegup kencang, ini rasanya seperi nyata, yah! Tiba-tiba aku merasa tertindih oleh seuatu, hisapan kenikmatan juga tidak berhenti.

    Lalu ada sesuatu yang menusuk masuk ke liang kemaluanku saat itu aku setengah sadar terbangun, dan aneh, rasa ini masih kurasakan, setengah sadar aku jelas sekali ternyata memang ada sesuatu yang menindihku, sekilas aku masih membayangkan ini suamiku, berikut terdengar dari sesuatu itu suara perlahan yang serak, “ooohgh… Oogghh…”

    Siapa ini?! Astaghfirullah!! Saat aku tersadar penuh dan mataku terbelalak. Dalam keremangan gelapnya kamar aku sadar bahwa seseorang telah menindihku dan menyetubuhiku!! Lebih kaget lagi saat aku mendengar suara seseorang yang menindihku itu berkata, “Maaah… Ayo ma… oughhgh… Uhhh… mamahhh…”

    Langsung kudorong dia kuat-kuat!
    “Roni!! Kurang ajar!!! ASTAGHFIRULLAAH!!”

    Roni langsung berlari keluar kamar, aku pun langsung mengejar sambil menangis penuh amarah.
    “Roni!!”, bentakku.
    “Maafin Roni Ma! Roni ga tahan!”, Roni pun menangis takut.
    Aku tak kuasa bingung menghadapi perasaan ini, antara kalut, marah, benci, jijik, sedih dan takut. Hingga terucap kata-kata yang langsung keluar dari muluntuku, “Keluar dari rumah ini!!! Kamu bukan anak mama!!! Setan kamu! Binatang kamu ya!”

    Roni keluar rumah berlari. Aku duduk lemas menangis. Jadi, selama tiga bulan ini, baru aku sadari, mimpi basah itu bukan hanya sekedar mimpi.
    Semua mimpi itu nyata. Anakku!? Anakku sendiri yang melakukan ini padaku?!!

    Selama dua, tiga minggu aku tidak keluar rumah, bahkan semenjak kejadian itu aku jatuh sakit. Sampai saat itu aku masih tidak habis pikir dan belum lupa kejadian itu, dalam benakku terbesit, ya Tuhan, selama ini anakku telah menodai aku, aku ibunya, selama ini anakku yang selalu rajin beribadah ternyata adalah setan yang mengumbar nafsunya pada tubuhku yang mulai renta ini… Dosa apa hamba, ya Tuhan!?

    Saat aku menerima sepucuk surat yang dikirim oleh Roni, tanpa alamat jelas, ia berkata meminta maaf pada ku, ia mengakui bahwa ia sudah mulai tertarik secara seksual denganku sejak aku bertemu lagi dengannya, ia bilang aku cantik dan menarik, ia mengaku telah memberi obat tidur pada teh hijau yang selalu aku minum tiap malam agar aku teler dan tidak sadar saat ia memperkosaku… Pantas saja! Pantas ia selalu bermuka manis menyiapkan teh hijau tanpa kuminta terlebih dahulu. Ternyata selama ini anakku adalah Iblis laknat yang merusak semuanya. Roni pun berkata pada akhir suratnya, bahwa ia tidak lagi akan pulang ke rumah, ia malu dan merasa bersalah.

    Membaca surat itu, aku merasa benci sekali! Ya, “Kamu bukan anakku!”, Kurobek dan kubakar surat itu.

    Sebulan kemudian, tepat saat dua minggu sebelum suamiku pulang, aku merasa pusing dan mual. Ya Tuhan, masa sih aku hamil!? Tidak! Ini tidak mungkin!! Aku pun memastikan dengan membeli dan menggunakan tes kehamilan, berdebar-debar aku melihat hasilnya. ASTAGHFIRULLAH! Aku positif hamil! Tidak! Aku menggandung anak dari anakku sendiri!

    Aku pun lemas dan sempat sedikit pingsan. Aku menangis tiada henti-hentinya. Apa yang harus kukatakan pada suamiku nanti? Apa yang akan tetangga bilang jika tahu aku ini seorang bu Haji yang hamil hasil hubunganku dengan anak kandungku sendiri? Apa yang akan terjadi! Apa lebih baik aku mati saja!! Tidak aku tidak mau mati! Itu dosa!

    Lalu, saat suamiku pulang, aku tutupi semuanya yang telah terjadi selama tiga bulan ini. Aku pura-pura menangis karena Roni belum pulang-pulang sudah dua minggu. Lalu aku dan suami sempat lapor ke polisi. Di tengah-tengah itu, aku juga pura-pura merasa kangen dengan kedatangan suamiku dan mengajaknya melakukan hubungan suami istri sesering dari biasanya. Suamiku heran, namun ia maklum, ya yang pikirnya, biasanya aku dan dia berhubungan seminggu sekali, ini tidak melakukannya dalam tiga bulan lamanya. Sudah pasti wajar jika aku selalu minta berhubungan terus.

    Dua minggu setelahnya, aku mengaku hamil. Suamiku kaget, loh, khan menggunakan kondom? Kok bisa. Aku bilang saja, mungkin saja jebol. Khan wajar karena kondom tidak akurat . Suamiku pun mengangguk setuju. Cuma ia hanya khawatir apakah aku tidak apa-apa umur segini hamil lagi. Akupun meyakinkan dia tidak apa-apa, walaupun hatiku meringis dan menangis karena mengingat bayi ini hasil hubunganku dengan anakku. Tidak! Anakku yang memperkosa aku!!!

    “Ma”, sapaan suamiku menyadarkan aku dari lamunanku tentang masa lalu. Aku lihat suamiku sudah siap berangkat ke masjid.
    “Ma, aku pergi ke masjid dulu ya, mama biar jaga si kecil yah”, pamitnya.
    “Iya pa”, jawabku.

    Ya, si kecil ini telah lahir ke dunia. Saat ini ia berada di pangkuanku. Kuperhatikan wajahnya. Mirip sekali dengan Roni, anakku… Oh bukan… Ayah dari anakku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Bokep – Seketarisku Yang Montok

    Cerita Bokep – Seketarisku Yang Montok


    1526 views

    Perawanku – saking buru-burunya, ia tidak membaca lagi tulisan atau gambar yang menunjukkan bahwa WC itu untuk pria atau untuk wanita. Ia langsung masuk saja. Namun.., begitu tiba di dalam WC itu, ia melihat seorang pria bertubuh atletis sedang pipis. Ups! Pria itu terkejut dan menoleh.., “Eh Shinta.., kamu salah masuk.., ini WC pria..” Shinta terkejut setengah mati.

    Ternyata sang supervisor sedang pipis di situ. Dan tanpa sengaja, kedua mata Shinta terarah pada benda panjang bulat dari ritsluiting celana panjang yang sedang dipegang sang supervisor. Ternyata batang kemaluan si supervisor belum dimasukkan ke sarangnya. Dengan muka tersipu memerah karena malu, Shinta membuang mukanya dan segera ingin berlalu dari tempat itu. Sial..! gerutunya dalam hati.

    Tapi rupanya si supervisor tidak ingin membuang kesempatan emas itu. Dengan sigapnya tangan Shinta ditarik dan tubuhnya disandarkan ke tembok. “Shin.. sudah lama sebenarnya aku ingin menikmati keindahan tubuhmu.. Pasti kau juga pernah mendengar bahwa di kantor ini yang paling perkasa adalah aku.. Nah sekarang tiba saatnya kita mencoba apa yang kamu dengar dari teman-teman..”

    Mendengar itu Shinta kaget setengah mati. Ia tidak menyangka bahwa supervisor yang sangat dihormati karena kharismanya, memiliki hati yang demikian bejadnya. “Tapi Pak.., saya sedang sakit perut nih.., lagian Bapak ‘khan supervisor saya.., masa Bapak tega melakukannya pada saya?”

    “Oh.., jangan kuatir Shin.., cuma sebentar kok.. Ibu Edi saja pernah melakukannya denganku kok..”, kata si supervisor sambil dengan kasar membuka kancing stelan atas yang dipakai Shinta. “Ja.., jangan Pak.., tolong jangan.., ingat posisi Bapak di kantor..”, jerit Shinta. “To.., tolong.., tolong..!”, tampak Shinta berusaha meronta-ronta karena tangan si supervisor mulai masuk ke dalam BH-nya yang berukuran super besar, 38C. Dan.., bret.., bret.., baju Shinta terlihat sudah sobek di sana sini..

    Dan dengan sekali hentakan, BH Shinta turun dan jatuh ke lantai. Walau sudah berusaha mendorong dan menendang tubuh atletis itu, namun nafsu si supervisor yang sudah demikian buas terus membuatnya bisa mencengkeram tubuh mulus Shinta yang kini hanya mengenakan celana dalam dan terus menghimpitnya ke tembok WC itu.

    Karena merasa yakin bahwa ia sudah tidak bisa lari lagi dari sana, Shinta hanya bisa pasrah. Sekarang mulut si supervisor sudah mulai menghisap-hisap puting susunya yang besar. Persis seperti bayi yang baru lahir sedang menyusu ke ibunya. Gairah dalam diri Shinta tiba-tiba muncul dan bergejolak.

    Dengan sengaja diraihnya batang kemaluan si supervisor yang sudah berdiri dari tadi. Dan dikocok-kocokknya dengan pelan. Memang batang kemaluan itu amat besar dan panjang. “Wah, pasti enak nih kalo ngisi lubang gue.., udah lama gue ngangenin batang kenikmatan yang segini besar dan panjangnya..”, pikir Shinta dalam hati.

    Sementara itu tangan si supervisor pun sudah melepaskan seluruh celana dalam putih yang dikenakan Shinta. Dan si supervisor pun ikut membuka semua pakaiannya.., hingga kini keduanya sama-sama dalam keadaan tanpa busana selembar benangpun.

    Si supervisor mengangkat kaki kanan Shinta ke pingggangnya lalu dengan perlahan ia memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Shinta. Bles.., bless.., jebb.., setengah dari batang kemaluan itu masuk dengan sempurna ke liang surga wanita yang rupanya sudah tidak lagi perawan itu. Shinta terbeliak kaget merasakan besarnya batang kemaluan itu di dalam liang kewanitaannya.

    Si supervisor terus saja mendorong maju batang kemaluannya sambil mencium dan melumat bibir Shinta yang seksi itu. Shinta tak mau kalah. Ia pun maju mundur menghadapi serangan si supervisor. Jeb.., jeb.., jebb..! Batang kemaluan yang besar itu keluar masuk berkali-kali.. Shinta sampai terpejam-pejam merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Sakit perutnya pun sudah terlupakan.

    Sepuluh menit kemudian, mereka berganti posisi. Shinta kini berpegangan ke bagian atas kloset dan pantatnya di hadapkan ke si supervisor. Melihat pemandangan menggairahkan itu, tanpa membuang-buang waktu lagi si supervisor segera memasukkan batang kemaluannya dari arah belakang kemaluan Shinta.., bless.., bless.., jeb.., jebb..! Si supervisor dengan asyik melakukan aksinya itu. Tangan kanannya berusaha meraih payudara Shinta sambil terus menusukkan batang kemaluan supernya ke kewanitaan Shinta.

    “Bapak duduk aja sekarang di atas kloset ini.., biar sekarang gantian saya yang aktif..”, kata Shinta di tengah-tengah permainan mereka yang penuh nafsu. Supervisor itu pun menurut. Tanpa menunggu lagi, Shinta meraih batang kemaluan yang sudah 2 kali lebih keras dan besar itu, untuk segera dimasukkan ke liang kenikmatannya.

    Ia pun duduk naik turun di atas batang kemaluan ajaib itu. Sementara kedua mata si supervisor terpejam-pejam merasakan kenikmatan surgawi itu. Kedua tangannya meremas-remas gunung kembar Shinta. “Ooh.., oh.., ohh..”, erang Shinta penuh kenikmatan.

    belakang, maupun dari atas, belum juga menunjukkan akan menyemburkan cairan putih kentalnya. Melihat itu, Shinta segera turun dari pangkuan supervisor itu. Dengan penuh semangat ia meraih batang kemaluan itu untuk segera dimasukkan ke mulutnya.

    Dijilatnya dengan lembut kemudian dihisap dan dipilin-pilin dengan lidahnya… oooh.., oh.., oohh.., kali ini ganti si supervisor yang mengerang karena merasakan kenikmatan. Lima belas menit kemudian, wajah si supervisor tampak menegang dan ia mencengkeram pundak Shinta dengan sangat erat..

    Shinta menyadari apa yang akan terjadi.., tapi ia tidak menghiraukannya.., ia terus saja menghisap batang kemaluan ajaib itu.., dan benar.., crot.., crot.., crott..! Semburan air mani masuk ke dalam mulut seksi Shinta tanpa bisa dihalangi lagi. Shinta pun menelan semua mani itu termasuk menjilat yang masih tersisa di batang kemaluan supervisor itu dengan lahapnya…

    Sejak peristiwa di WC itu, mereka tidak henti-hentinya berhubungan intim di mana saja dan kapan saja mereka bernafsu.., di mobil, di hotel, di rumah si supervisor (bahkan walau sang isteri sedang hamil).

  • Cerita Sex Menikmati Keperkasaan Penis Guru Ganteng

    Cerita Sex Menikmati Keperkasaan Penis Guru Ganteng


    1525 views

    Perawanku – Cerita Sex Menikmati Keperkasaan Penis Guru Ganteng, Sebut saja namaku Etty (bukan yang sebenarnya), waktu itu aku masih sekolah di sebuah SMA swasta. Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit yang putih kekuningan, bentuk tubuh yang langsing tetapi padat berisi, kaki yang langsing dari paha sampai tungkai, bibir yang cukup sensual, rambut hitam lebat terurai dan wajah yang oval. Payudara dan pantatkupun mempunyai bentuk yang bisa dibilang lumayan.

    Dalam bergaul aku cukup ramah sehingga tidak mengherankan bila di sekolah aku mempunyai banyak teman baik anak-anak kelas II sendiri atau kelas I, aku sendiri waktu itu masih kelas II. Laki-laki dan perempuan semua senang bergaul denganku. Di kelaspun aku termasuk salah satu murid yang mempunyai kepandaian cukup baik, ranking 6 dari 10 murid terbaik saat kenaikan dari kelas I ke kelas II.

    Karena kepandaianku bergaul dan pandai berteman tidak jarang pula para guru senang padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi soal pelajaran dan pengetahuan umum yang lain. Salah satu guru yang aku sukai adalah bapak guru bahasa Inggris, orangnya ganteng dengan bekas cukuran brewok yang aduhai di sekeliling wajahnya, cukup tinggi (agak lebih tinggi sedikit dari pada aku) dan ramping tetapi cukup kekar. Dia memang masih bujangan dan yang aku dengar-dengar usianya baru 27 tahun, termasuk masih bujangan yang sangat ting-ting untuk ukuran zaman sekarang.

    Suatu hari setelah selesai pelajaran olah raga (volley ball merupakan favoritku) aku duduk-duduk istirahat di kantin bersama teman-temanku yang lain, termasuk cowok-cowoknya, sembari minum es sirup dan makan makanan kecil. Kita yang cewek-cewek masih menggunakan pakaian olah raga yaitu baju kaos dan celana pendek. Memang di situ cewek-ceweknya terlihat seksi karena kelihatan pahanya termasuk pahaku yang cukup indah dan putih.

    Tiba-tiba muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja namanya Freddy (bukan sebenarnya) dan kita semua bilang, “Selamat pagi Paa..aak”, dan dia membalas sembari tersenyum.

    “Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volley”.
    Aku menjawab, “Iya nih Pak, lagi kepanasan. Selesai ngajar, ya Pak”. “Iya, nanti jam setengah dua belas saya ngajar lagi, sekarang mau ngaso dulu”.
    Aku dan teman-teman mengajak, “Di sini aja Pak, kita ngobrol-ngobrol”, dia setuju.
    “OK, boleh-boleh aja kalau kalian tidak keberatan”!

    Aku dan teman-teman bilang, “Tidak, Pak.”, lalu aku menimpali lagi, “Sekali-sekali, donk, Pak kita dijajanin”, lalu teman-teman yang lain, “Naa..aa, betuu..uul. Setujuu..”.
    Ketika Pak Freddy mengambil posisi untuk duduk langsung aku mendekat karena memang aku senang akan kegantengannya dan kontan teman-teman ngatain aku.
    “Alaa.., Etty, langsung deh, deket-deket, jangan mau Pak”.
    Pak Freddy menjawab, “Ah! Ya, ndak apa-apa”.

    Kemudian sengaja aku menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan salah satu kakiku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena masih menggunakan celana pendek, jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak Pak Freddy tersenyum dan aku berpura-pura minta maaf.

    “Sorry, ya Pak”.
    Dia menjawab, “That’s OK”. Di dalam hati aku tertawa karena sudah bisa mempengaruhi pandangan Pak Freddy.

    Di suatu hari Minggu aku berniat pergi ke rumah Pak Freddy dan pamit kepada Mama dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore dengan alasan mau mengerjakan PR bersama-sama. Secara kebetulan pula Mama dan papaku mengizinkan begitu saja. Hari ini memang hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba di rumah Pak Freddy, dia baru selesai mandi dan kaget melihat kedatanganku.

    “Eeeh, kamu Et. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?”.
    Aku menjawab, “Ah, nggak iseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak”.
    Lalu dia mengajak masuk ke dalam, “Ooo, begitu. Ayolah masuk. Maaf rumah saya kecil begini. Tunggu, ya, saya pakai baju dulu”. Memang tampak Pak Freddy hanya mengenakan handuk saja. Tak lama kemudian dia keluar dan bertanya sekali lagi tentang keperluanku. Aku sekedar menjelaskan, “Cuma mau tanya pelajaran, Pak. Kok sepi banget Pak, rumahnya”.
    Dia tersenyum, “Saya kost di sini. Sendirian.”

    Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu makan siang dan Pak Freddy tanya, “Udah laper, Et?”.
    Aku jawab, “Lumayan, Pak”.
    Lalu dia berdiri dari duduknya, “Kamu tunggu sebentar ya, di rumah. Saya mau ke warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau kan?”.
    Langsung kujawab, “Ok-ok aja, Pak.”.

    Sewaktu Pak Freddy pergi, aku di rumahnya sendirian dan aku jalan-jalan sampai ke ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan, dapurnya hanya terisi seadanya saja. Tetapi tanpa disengaja aku melihat kamar Pak Freddy pintunya terbuka dan aku masuk saja ke dalam.

    Kulihat koleksi bacaan berbahasa Inggris di rak dan meja tulisnya, dari mulai majalah sampai buku, hampir semuanya dari luar negeri dan ternyata ada majalah porno dari luar negeri dan langsung kubuka-buka. Aduh! Gambar-gambarnya bukan main. Cowok dan cewek yang sedang bersetubuh dengan berbagai posisi dan entah kenapa yang paling menarik bagiku adalah gambar di mana cowok dengan asyiknya menjilati vagina cewek dan cewek sedang mengisap penis cowok yang besar, panjang dan kekar.

    Cerita Sex Menikmati Keperkasaan Penis Guru Ganteng

    Cerita Sex Menikmati Keperkasaan Penis Guru Ganteng

    Tidak disangka-sangka suara Pak Freddy tiba-tiba terdengar di belakangku, “Lho!! Ngapain di situ, Et. Ayo kita makan, nanti keburu dingin nasinya”.
    Astaga! Betapa kagetnya aku sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak wajahnya biasa-biasa saja. Majalah segera kulemparkan ke atas tempat tidurnya dan aku segera keluar dengan berkata tergagap-gagap, “Ti..ti..tidak, eh, eng..ggak ngapa-ngapain, kok, Pak. Maa..aa..aaf, ya, Pak”.

    Pak Freddy hanya tersenyum saja, “Ya. Udah tidak apa-apa. Kamar saya berantakan. tidak baik untuk dilihat-lihat. Kita makan aja, yuk”.
    Syukurlah Pak Freddy tidak marah dan membentak, hatiku serasa tenang kembali tetapi rasa malu belum bisa hilang dengan segera.

    Pada saat makan aku bertanya, “Koleksi bacaannya banyak banget Pak. Emang sempat dibaca semua, ya Pak?”.
    Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya, “Yaa..aah, belum semua. Lumayan buat iseng-iseng”.
    Lalu aku memancing, “Kok, tadi ada yang begituan”.
    Dia bertanya lagi, “Yang begituan yang mana”.
    Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum, “Emm.., Ya, yang begituan, tuh. Emm.., Majalah jorok”.
    Kemudian dia tertawa, “Oh, yang itu, toh. Itu dulu oleh-oleh dari teman saya waktu dia ke Eropa”.

    Selesai makan kita ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak Freddy menawarkan aku untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.
    Lalu dia menawarkan diri, “Kalau kamu serius, kita ke kamar, yuk”.
    Akupun langsung beranjak ke sana. Aku segera ke kamarnya dan kuambil lagi majalah porno yang tergeletak di atas tempat tidurnya.

    Begitu tiba di dalam kamar, Pak Freddy bertanya lagi, “Betul kamu tidak malu?”, aku hanya menggelengkan kepala saja. Mulai saat itu juga Pak Freddy dengan santai membuka celana jeans-nya dan terlihat olehku sesuatu yang besar di dalamnya, kemudian dia menindihkan dadanya dan terus semakin kuat sehingga menyentuh vaginaku. Aku ingin merintih tetapi kutahan.

    Pak Freddy bertanya lagi, “Sakit, Et”. Aku hanya menggeleng, entah kenapa sejak itu aku mulai pasrah dan mulutkupun terkunci sama sekali. Semakin lama jilatan Pak Freddy semakin berani dan menggila. Rupanya dia sudah betul-betul terbius nafsu dan tidak ingat lagi akan kehormatannya sebagai Seorang Guru. Aku hanya bisa mendesah”, aa.., aahh, Hemm.., uu.., uuh”.

    Akhirnya aku lemas dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pak Freddy pun naik dan bertanya.
    “Enak, Et?”
    “Lumayan, Pak”.

    Tanpa bertanya lagi langsung Pak Freddy mencium mulutku dengan ganasnya, begitupun aku melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku mengelus-elus penis yang perkasa itu. Terasa keras sekali dan rupanya sudah berdiri sempurna. Mulutnya mulai mengulum kedua puting payudaraku.

    Praktis kami berdua sudah tidak berbicara lagi, semuanya sudah mutlak terbius nafsu birahi yang buta. Pak Freddy berhenti merangsangku dan mengambil majalah porno yang masih tergeletak di atas tempat tidur dan bertanya kepadaku sembari salah satu tangannya menunjuk gambar cowok memasukkan penisnya ke dalam vagina seorang cewek yang tampak pasrah di bawahnya.

    “Boleh saya seperti ini, Et?”.
    Aku tidak menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku perlahan. Mungkin Pak Freddy menganggap aku setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua kakiku lebar-lebar dan duduk di hadapan vaginaku. Tangan kirinya berusaha membuka belahan vaginaku yang rapat, sedangkan tangan kanannya menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vaginaku.

    Kelihatan Pak Freddy agak susah untuk memasukan penisnya ke dalam vaginaku yang masih rapat, dan aku merasa agak kesakitan karena mungkin otot-otot sekitar vaginaku masih kaku. Pak Freddy memperingatkan, “Tahan sakitnya, ya, Et”. Aku tidak menjawab karena menahan terus rasa sakit dan, “Akhh.., bukan main perihnya ketika batang penis Pak Freddy sudah mulai masuk, aku hanya meringis tetapi Pak Freddy tampaknya sudah tak peduli lagi, ditekannya terus penisnya sampai masuk semua dan langsung dia menidurkan tubuhnya di atas tubuhku. Kedua payudaraku agak tertekan tetapi terasa nikmat dan cukup untuk mengimbangi rasa perih di vaginaku.

    Semakin lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan penis Pak Freddy mengocok vaginaku. Aku terengah-engah, “Hah, hah, hah,..”. Pelukan kedua tangan Pak Freddy semakin erat ke tubuhku dan spontan pula kedua tanganku memeluk dirinya dan mengelus-elus punggungnya. Semakin lama gerakan penis Pak Freddy semakin memberi rasa nikmat dan terasa di dalam vaginaku menggeliat-geliat dan berputar-putar.

    Sekarang rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Freddy kemudian agak mengangkatkan badannya dan tanganku ditelentangkan oleh kedua tangannya dan telapaknya mendekap kedua telapak tanganku dan menekan dengan keras ke atas kasur dan ouwww.., Pak Freddy semakin memperkuat dan mempercepat kocokan penisnya dan di wajahnya kulihat raut yang gemas.

    Semakin kuat dan terus semakin kuat sehingga tubuhku bergerinjal dan kepalaku menggeleng ke sana ke mari dan akhirnya Pak Freddy agak merintih bersamaan dengan rasa cairan hangat di dalam vaginaku. Rupanya air maninya sudah keluar dan segera dia mengeluarkan penisnya dan merebahkan tubuhnya di sebelahku dan tampak dia masih terengah-engah.

    Setelah semuanya tenang dia bertanya padaku, “Gimana, Et? Kamu tidak apa-apa? Maaf, ya”.
    Sembari tersenyum aku menjawab dengan lirih, “tidak apa-apa. Agak sakit Pak. Saya baru pertama ini”.
    Dia berkata lagi, “Sama, saya juga”.
    Kemudian aku agak tersenyum dan tertidur karena memang aku lelah, tetapi aku tidak tahu apakah Pak Freddy juga tertidur.

    Sekitar pukul 17:00 aku dibangunkan oleh Pak Freddy dan rupanya sewaktu aku tidur dia menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Tampak olehku Pak Freddy hanya menggunakan handuk dan berkata, “Kita mandi, yuk. Kamu harus pulang kan?”.

    Badanku masih agak lemas ketika bangun dan dengan tetap dalam keadaan telanjang bulat aku masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Freddy masuk membawakan handuk khusus untukku. Di situlah kami berdua saling bergantian membersihkan tubuh dan akupun tak canggung lagi ketika Pak Freddy menyabuni vaginaku yang memang di sekitarnya ada sedikit bercak-bercak darah yang mungkin luka dari selaput daraku yang robek. Begitu juga aku, tidak merasa jijik lagi memegang-megang dan membersihkan penisnya yang perkasa itu.

    Setelah semua selesai, Pak Freddy membuatkan aku teh manis panas secangkir. Terasa nikmat sekali dan terasa tubuhku menjadi segar kembali. Sekitar jam 17:45 aku pamit untuk pulang dan Pak Freddy memberi ciuman yang cukup mesra di bibirku. Ketika aku mengemudikan mobilku, terbayang bagaimana keadaan Papa dan Mama dan nama baik sekolah bila kejadian yang menurutku paling bersejarah tadi ketahuan. Tetapi aku cuek saja, kuanggap ini sebagai pengalaman saja.

    Semenjak itulah, bila ada waktu luang aku bertandang ke rumah Pak Freddy untuk menikmati keperkasaannya dan aku bersyukur pula bahwa rahasia tersebut tak pernah sampai bocor. Sampai sekarangpun aku masih tetap menikmati genjotan Pak Freddy walaupun aku sudah menjadi mahasiswa, dan seolah-olah kami berdua sudah pacaran.

    Pernah Pak Freddy menawarkan padaku untuk mengawiniku bila aku sudah selesai kuliah nanti, tetapi aku belum pernah menjawab. Yang penting bagiku sekarang adalah menikmati dulu keganasan dan keperkasaan penis guru bahasa Inggrisku itu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cemburu Membawa Nikmat

    Cemburu Membawa Nikmat


    1525 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cemburu Membawa Nikmat ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Kebetulan pada waktu itu, aku punya pacar pergi ke sekolah, julukannya Lis. Dia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara. Lis tinggal di Singapura dengan adiknya sementara orang tua mereka dan adik-adik menetap di luar Jawa.

    Selama pacaran dengan Lis, saya tidak pernah melakukan seperti apa yang saya lakukan dengan Ms. Ami di Yogya. maksimum saya hanya mencium di pipi atau dahi Lis, dan bahkan kemudian saya lakukan jika ada acara khusus.

    Seperti biasa, karena sore hari setelah-sekolah Lis kemudian saya pergi ke rumahnya di daerah Bandung Barat. Biasanya setelah aku sampai di rumah aku pergi Lis langsung pulang, tp hari itu aku sengaja pergi dulu ke rumah Lis.

    “Kau ingin aku temanin dulu apa tidak?” Saya memintanya untuk Lis.

    “Temanin yach .., besok khan merah tanggal, lagian kakakku lagi diperhatikan,” Lis menjawab dengan ringanya.

    “Oke, jadi jika saya masuk ke dalam carport mobilnya menulis, tidak telah diparkir di jalan,” jawab saya sambil membuka pintu gerbang rumahnya.

    Setelah memasuki mobil, aku terus ke ruang tamu dan duduk. Lis tidak terlalu panjang ke ruang tamu memegang teh panas bagi saya.

    “Saya mengubah pertama, Anda minum dech” Lis berkata kepada saya.

    “Ya, aku menunggu di sini lah aja, Anda tidak tinggal gaun panjang berpakaian” kataku.

    Tidak terlalu lama, Lis telah kembali dengan mengenakan kemeja dan celana pendek. Dia duduk di sebelah saya, jadi saya melihat ternyata tombol di bagian atas kemejanya terbuka. Ini menimbulkan insentif untuk mencumbunya.

    “Lis, adikmu kembali sekitar berapa?” Saya bertanya.

    “Yach .. Paling juga 10 jam untuk rumah, mengapa?” Meminta Lis kepada saya.

    “Tidak .. Ya berarti masih ada cukup waktu” kataku lagi.

    “Benar-benar .. Apa yang kamu lakukan?” Tanya menyelidik Lis Lis Lalu saya tarik tubuh untuk bersandar pada tubuh saya dan saya bertanya,

    “Bolehkah aku menciummu?” Tanpa menunggu tanggapan dari Lis, saya sudah mendarat bibirku di bibirnya.

    Uch .. Lis menciumku dan dia membuka mulutnya dengan maksud agar lidah bisa mencapai lidahku.

    “Lis .. Aku mencintaimu” kataku sambil berhenti untuk ciuman saat di bibirnya.

    “Dia .. Eh, aku juga” jawab Lis sambil terus menggigit bibir dan lidah saya.

    Saat berciuman tangan saya dan juga telah mulai membelai punggungnya dan kemudian bergeser ke lengannya dan berhenti di sekitar ketiaknya. tangan Lis semakin ketat memeluk tubuh saya, terlihat lis telah terbawa emosi dan ia juga tampak menikmati ketika saya mulai mencium belakang telinga dan leher.

    “Mmmpphh .. Achhh .. Ko, geli” desah Lis sementara dua tangan memegang kepala saya.

    “Lis .., cinta ya ..?” Aku bertanya sambil terus mencium tangan saya dan mengelus lengannya.

    Mencium leher dan kemudian turun ke bagian bawah lehernya mana kemejanya sudah terbuka satu. Hanya sebentar menciumku di daerah itu, kemudian menciumku geser lagi ke bibirnya. Saat berciuman, saya menggerakkan tangan saya untuk payudara saya dan menggosok di luar dengan kemejanya sesekali aku meremas.

    “Ko .. Jangan .. Sakit” Lis berbisik sambil mendongak ke atas kepalanya.

    Sayapun tangan terus berusaha untuk masuk melalui kancing yang telah terbuka dan langsung menyusup ke dalam cangkir bra.

    “Ooch ..” desah Lis, sementara tangannya memegang tangan saya, ntah berarti melarang atau mempertahankan tangan saya untuk terus mengolahnya.

    Tapi .., setelah beberapa saat aku meremas payudaranya, tiba-tiba ..

    “Plak ..” tangan Lis menampar pipi saya.

    Terkejut dengan tamparan bahwa ia, saya pikir begitu lezat di meremas payudaranya sehingga dia menjadi begitu tenyata sebaliknya, dia terkejut uleni payudaranya.

    “Kamu .. Ngapain Ko ..” tanya Lis kepada saya.

    “Ech .., kenapa Anda tidak ingin” saya bertanya.

    “Ya .. Jangan khan” kata Lis.

    “Yah .. aku sangat menyesal” kataku kemudian saya duduk mengoreksi saya.

    Untuk sementara kami berdua terdiam, mungkin Lis hanya menyesali apa yang terjadi dan saya menyesal karena apa yang saya ingin tdk bertemu saat k0ntol saya sudah mengeras terangsang. Dengan berat hati, akhirnya saya minta izin untuk pulang.

    “Kamu kesel yach .. Saya tidak ingin” tanya Lis kepada saya.

    “Tidak, mengapa, saya tidak peduli untuk memaksa Khok” kataku kemudian.

    “Ko .. Aku mencintaimu tp saya belum bisa menerima apa yang Anda lakukan dan jika kita pasti ingin mengulang terus” sebagai Lis penjelasan kepada saya.

    “Tidak apa-apa Khok, Anda tidak perlu pikirin lagi dech Lis” jawabku, berdiri untuk pulang.

    “Aku pulang ya dan maaf sebelumnya” Saya mengatakan Lis, maka saya mencium keningnya.

    “Ya dech hati tidak harus menyeret” kata Lis.

    Setelah malam itu, hubungan saya dengan Lis masih berlangsung dan maksimal saya hanya mencium bibirnya sebentar tanpa kegiatan lainnya. Tdk merasa hubungan kami telah mencapai 2 tahun dan kami berdua lulus dari SMA di Bandung.

    Saya melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi terkenal di Yogya dan kuliah Lis di Bandung. Kami hanya berkomunikasi dengan telepon atau surat dan melihat apakah perguruan tinggi adalah pada hari libur dan menantang merasa memiliki lebih dari 1 tahun kami berhubungan jarak jauh.

    Sampai suatu malam, setelah dibonceng kuliah saya dengan teman kuliah saya yang bernama Tio lewat kawasan Malioboro dari ?? mencuci mata seperti biasa akan telah penuh sesak dengan perguruan tinggi sepanjang hari dan saya terkejut ketika saya melihat sekelompok yang menarik perhatian saya di mana saya melihat Lis adalah di antara kelompok.

    “Tio, kami hanya mengikuti kelompok, saya pikir saya liat Lis Dech” kataku.

    “Hah .. Masa sich, Khok Anda tidak bisa tahu apakah dia ke Yogya” kata Tio kejutan berwarna.

    Tio tahu jika saya punya pacar di Bandung nama dibedakan Lis.

    “Ya nich .. Jangan-jangan saya salah liat, tp kita ikutin aja lah paling kita mengenal mereka nginap di mana” jawabku kemudian.

    Akhirnya saya dan Tio mengikuti kelompok dan saya yakin bahwa tanah liat saya jika tak tentu Lis salah lagi.

    Kami mengikuti sampai mereka masuk ke sebuah hotel di samping stasiun.

    “Sudah, sampeLis menulis Ko, aja keren .. Khok dia tidak mencintai Anda berita yang sama” Tio mengatakan kepada saya ketika dia melihat saya tidak akan ragu-ragu untuk datang ke hotel atau tak tentu.

    “Ayo .. Lah, parkiLis menulis sepeda kita datengin” jawabku dengan Tio.

    Setelah memarkir motor, saya dan Tio menandatangani resepsionis rombongan dan meminta entri baru. “Selamat malam Mbak, sekarang ingin bertanya apa kelompok dari University ‘xx’ Bandung” Aku bertanya resepsionis Mbak di.

    “Ya, ya Mas, kelompok memiliki dua hari di sini, besok pagi sudah mau check out ke Semarang” jawab Mbak nya itu. “Dapatkah saya meminta untuk dihubungi dengan salah satu kelompok itu disebut Lis?” Aku bertanya si Mbak.

    “Coba saya lihat ya Mas, saya mencoba pertama” Mbak resepsionis menjawab sambil mengangkat telepon.

    Sakit selama beberapa waktu Lis terlihat menuju meja resepsionis dan saya melihat wajah dia terkejut karena melihat saya.

    “Hi .., Khok tahu aku di sini” kata Lis.

    “Ya, tanah liat terakhir lagi jalan-do di Malioboro” Saya berkata kepada Lis.

    Setelah memperkenalkan teman saya Tio ke Lis, maka saya bertanya lagi ke Lis.

    “Kau tidak mencintai berita Khok jika Anda ingin Yogya” kataku.

    “Ya, maaf saya tidak sempet kasih ya tahu, besok juga sudah ingin Semarang, ada 2 malam kemudian kembali lagi ke Bandung.
    : Kami adalah studi komparatif “kata Lis.

    Ere kemudian, datang setelah seorang teman memperkenalkan Lis yang mengejutkan bernama Rohim. Chromatic melakukan sedikit sok dia bertanya Lis,

    “Siapa Lis?”

    “Oh, ini teman saya di sekolah tinggi di Bandung, sekarang belajar di Yogya” kata Lis diragukan berwarna.

    Aku terkejut melihat wajah Lis satu ragu-ragu dan juga mengapa dia bilang temannya Khok tidak pacar atau sesuatu .. ketika saya dengan Lis memiliki hubungan dekat selama 3 tahun. Sehingga percakapan tak berguna awal mengenakan dan akhirnya aku tidak peduli untuk berlama-lama di hotel dan saya mengatakan kepada Lis.

    “Ok, kemudian setelah Anda tiba di Bandung saya dan saya akan ke Bandung”. Dengan hati yang kesal dan dengan segala macam pertanyaan yang berkecamuk di kepala saya, saya dan Tio rumah.

    Tio tahu perasaan saya tetapi ia mengatakan tidak ada yang sakit akan memunculkan masalah.

    “Sudah .. Myspace ke Bandung aja, di jelas” Tio komentar singkat, ringkas, dan jelas.

    Beberapa minggu setelah kejadian di Yogya dan liburan kuliah sudah mulai sayapun pergi ke Bandung dengan menggunakan bus malam. Tiba di Bandung, setelah istirahat singkat di rumah, aku menuju ke Lis rumah dengan membawa oleh-oleh. Dengan perasaan hati melakukan sedikit kebingungan, saya membunyikan bel rumahnya dan tidak terlalu panjang Lis membuka gerbang rumahnya.

    “Eh .. Ko, bagaimana, kapan tiba?” Tanya Lis.

    “Itu awal bus pagi naik malam. Ini dibawain bakpia untuk di rumah” jawab saya, masuk ke rumahnya.

    “Bagaimana kesepian, berada di mana saja?” Aku bertanya lagi.

    “Ya, lagi untuk Ciwidey ingin melihat Situ” kata Lis.

    “Dalam satu menit ya, saya membuat teh untuk Anda” kata Lis sambil berjalan menuju dapur.

    Saya kemudian duduk dan seperti biasa di bawah meja kopi, ada beberapa album dan saya mengambil peringkat atas.

    Mungkin ada foto baru yang bisa dilihat sambil menunggu. Saya kemudian membuka halaman halaman album dan setelah beberapa halaman saya terkejut karena ada beberapa foto Lis baik dengan Rohim dalam posisi sebagai pasangan muda yang cinta mabuk. Ketika Lis datang dengan teh hangat, aku bertanya tentang foto-foto dan ..

    “Oh .. Itu, ya hanya untuk bersenang-senang foto aja pas waktu baik di Yogyakarta dan Semarang” jawab Lis dengan ekspresi wajah yang tampaknya dibuat setenang mungkin.

    Tapi aku bisa menangkap semuanya.

    “Tp .. Tidak ada apa-apa Khok” Lis mengatakan kemudian.

    marah dgn rasa, saya menutup album.

    “Kau akan keluar dengan dia?” Meminta saya untuk Lis.

    “Tidak .. yach akhir-akhir ini tidak tahu mengapa aku dekat dengan dia” kata Lis berwarna mulut sedikit ragu-ragu.

    “Kamu sich Ko .. Pake kuliah di Yogya, jadi saya tidak ada jawaban nemenin di Bandung” lanjut Lis mencoba memberikan penjelasan.

    “Maaf Lis, jadi saya tidak bisa menemani Anda di Bandung” kata saya.

    Lalu aku minum teh dan setelah itu saya tarik Lis tubuh untuk lebih dekat dengan saya dan saya segera mencium bibirnya. bibir kamipun saling bertemu dan terus berpartisipasi lidah, merajut. Wach telah ditambahkan .. pengalaman nich Lis, aku berkata kepada diriku sendiri.

    “Lis ma .. Aku merindukanmu” kataku.

    “Ya .. Aku juga, terus Ko .. Ach ..” menghela napas retort Lis saya.

    Saya menjadi sakit hanya mencium bibirnya pindah tp terus mengeksplorasi telinga, leher, dan kembali lagi ke bibirnya. Saya mulai dengan tangan gerilya mulai membuka kancing kemeja yang digunakan, saya membuka satu persatu dan akhirnya terbuka semua yang mengakibatkan saya bisa melihat bra dgn jelas yang menutup dua bukit kembar.

    Dengan sedikit ragu-ragu, aku menyentuh bagian atas payudaranya dan sesekali aku mengelus dengan bagian bulat dan pemasangan payudara Lis.

    “Ach .. Lezat Ko .. Geli ..” kata Lis, mendesah manja.

    “Semoga saya remes?” Saya bertanya ..

    “Ya .. Ayo ..” pinta Dgn Lis Lis rasa heran karena pertama akan sakit, jadi saya kemudian diperas dari luar cup bra dan setelah beberapa kali saya memberanikan diri untuk menurunkan tali bra dan tarik ke atas untuk perutnya .

    Lihatlah, dua bukit kembar yang masih ranum dengan mulut sedikit menonjol puting.

    “Lis .. Anda baik,” kataku, menepuk dan meletakkan bibirku mencium dan menghisap putingnya.

    “Ko .. Ayo, menghisap puting saya ya” pinta Lis.

    Lis tampaknya telah mulai terangsang dan aku lis limbah tdk memintanya. Sambil menghisap putingnya dengan kiri dan kanan bergantian, meremas-remas payudaranya, aku merasakan tangan Lis mulai ke arah k0ntol mulutku sudah tegang.

    “Ko .. Keras sekali Anda,” kata Lis, membelai k0ntol saya dari luar celana saya.

    “Open Lis ..” Saya berkata kepada Lis dan tanpa ragu-ragu Lis membuka ritsleting celana saya dan mengambilnya.

    Kemudian Lis mulai meremas-remas k0ntol saya dan kocok.

    “Lis .. lezat, terus .. Ach ..” desah mulut saya di mana saya terus mengisap dan mengisap puting kiri dan kanan.

    Lis lihat lebih terangsang, aku mengambil tangan saya untuk menyentuh area terlarang. Aku mengusap jari saya sambil menekan Lisgan di bagian kewanitaannya dari luar yang mengenakan celana pendek.

    “Tangan Ko .. Khok ada?” Tanya Lis sambil terus mendesah.

    “Kenapa kamu tidak mau?” Saya bertanya.

    Ternyata Lis mendesah diam bahkan lebih kuat. Melihat situasi, semakin saya berani menurunkan celana pendek Lis yang hanya memakai karet sekaligus dengan celana. Untuk sesaat, Lis menahan laju tangan saya, tapi setelah saya berhasil menurunkan celananya, akhirnya Lis diam dan bahkan mengacungkan dua kaki. Jari-jari tangan saya terus mengolah tanah yang telah tertutup, aku menggosok dan kadang-kadang jari tengah saya ke dalam vagina. Kegiatan ini saya lakukan selama beberapa menit sampai daerah menjadi feminin basah.

    “Lis .. Mulai tuch basah” kataku.

    “Ya .. Lezat Ko, terus Ko .., ingin ..” kata frikatif Lis Voice.

    Lalu saya tarik badan Lis yang berbaLisgkan di sofa ruang tamu dan tanpa penolakan Lis sudah berbaLisg. Kegiatan jari saya terus menumbuhkan Lis vagina, sambil terus perlahan-lahan memutar klitoris dan sesekali ke dalam lubang, tangan saya mencoba untuk melonggarkan paha dua Lis untuk membuatnya lebih mudah. Tanpa penolakan, entah karena sudah terangsang, Lis membuka menusuk ke dalam dua paha sehingga aktivitas jari saya lebih mudah di sekitar vagina.

    “Lis .. saya masukkan ya” tanya saya .. “Tidak ..

    “Saya tidak ingin” kata Lis.

    kata Lis jadi sambil terus menggoyangkan pinggulnya sehingga jari-jari tangan saya keluar di dalam lubang. Tangan Lis sendiri kadang-kadang menahan laju tangan saya. Kegiatan mulut saya juga terus sekitar payudaranya karena saya ingin membuat dia benar-benar terangsang dan akhirnya bersedia untuk melakukan hubungan intim.

    Saya kemudian mencoba untuk berbaLisg bersama Lis sambil terus menumbuhkan vagina dan Lis adalah tangan semakin meremas dan mengocok k0ntol saya yang telah benar-benar keras. Setelah beberapa lamai, jadi saya sudah mengalah lagi dan mulai k0ntol tubuh manaiki Lis sehingga saya bisa lebih dekat dengan Lis vagina.

    “Tahan .. Ya ..” Saya mengatakan kepada Lis berwarna memeListah halus.

    “Do Ko .. Saya tidak ingin” kata Lis, berusaha menahan k0ntol saya yang berada di depan lubang dan Lis mencoba untuk menutup kakinya tapi tidak bisa karena saya berada di antara dua kaki.

    Saya kemudian melanjutkan muka k0ntol saya, setelah kepala k0ntol saya tepat di vagina saya mendorong kepala k0ntolnya bisa masuk.

    “Ach ..” Aku mendesah sambil terus mendorong k0ntol aku bisa pergi sepenuhnya.

    “Ko .. Jangan .. Aduhh .. Sakit” kata Lis, mencoba untuk mendorong tubuh saya.

    “Tahan Lis, sedikit lebih lama membuat semua ..” kataku selanjutnya.

    K0ntol sampai akhirnya saya mendorong semua jalan dan kemudian saya diamkan sebentar untuk beradaptasi Lis vagina dengan k0ntol saya baru-entry. Setelah beberapa saat aku meninggalkannya, saya mencoba untuk maju dan saya k0ntol dukungan.

    “Oh .. Lis .. lezat, sempit ..” Aku mendesah sambil terus memompa rongga kewanitaannya.

    “Ko Ko .. .. .. sudah, jangan diterusin” kata Lis dengan nada hampir menangis.

    Aku hanya terus memompa itu .. Slruup .. Slruup .. suara itu ketika saya k0ntol sebagainya. wajah lis mulai memerah dan matanya mulai menutup seakan menahan sakit di vagina. Namun, ketika saya melihat gerakan yang mulai goyang pinggulnya, aku yakin Lis mulai merasakan sukacita k0ntol saya. birahi tinggi

    Lis terus menggoyangkan pinggulnya seirama dengan maju mundurnya k0ntol saya dan setelah beberapa waktu dengan posisi saya di atas, dari k0ntol saya mencicipi ingin menghapus air mani.

    “Lis .. Segera saya inginkan” kataku.

    “Ko .. Sudah .. Apakah diterusin” Lis memohon dengan air mata yang mulai keluar dan saya tetap acuh tak acuh dan terus memompa.

    “Lis .. Saya keluar .. Ach Ach .. ..” Aku mengerang ditangguhkan karena merasa sukacita di mulut vagina hangat.

    Saya kemudian mengeluarkan banyak cum di Lis vagina. Sesaat aku diamkan k0ntol saya untuk tetap di dalam Lis vagina. K0ntol sampai aku menyusut, maka saya tarik dan saya melihat air mani saya mengalir keluar dari Lis vagina ditambah dengan bercak merah dan jatuh di sofa di mana kami hanya tindakan hubungan seksual.

    “Lis .. Saya telah mengambil perawan Anda” Saya mengatakan Lis.

    “Ya .. Ko, Anda Khok bagaimana bisa jadi” Lis menjawab dengan suara yang agak serak.

    “Aku tidak akan hamil, khan kita tidak harus melakukan ini” Lis lebih jauh dengan suara agak serak.

    Lis kemudian berdiri dan berlari ke kamarnya dan ke kamar mandi untuk membersihkan vagina dari semen yang saya habiskan di vagina .. Setelah itu, saya berhasil melakukan hubungan intim dengan lis beberapa kali sampai akhirnya ia memutuskan hubungannya dengan saya dan kemudian menikah Rohim tanpa memberitahu saya sama sekali.

    Saat ini, Lis yang tinggal di Jakarta dan sudah memiliki dua anak dari Rohim. Aku tidak bisa kasihan padanya, tapi setelah saya memikirkannya lagi saya menemukan diri saya lebih beruntung karena memiliki diperoleh keperawanan Lis dan saya tidak menyadari bagaimana Lis menjelaskan kepada Rohim selama ‘malam kemajuan pengantin’nya.

    Lis, aku minta maaf aku harus membuat Anda berpikir keras untuk menjelaskan status keperawanan Anda untuk Rohim. Untuk Rohim, tidak memaksa Lis untuk menggambarkan siapa saja yang mengambil keperawanan Lis. Dan untuk Anda berdua .. Lis dan Rohim, mudah-mudahan pernikahan Anda langgeng tanpa mempertanyakan hal-hal yang terakhir

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Hubungan Mesum Dengan Dokter Kandungan

    Cerita Sex Hubungan Mesum Dengan Dokter Kandungan


    1525 views

    Perawanku – Cerita Sex Hubungan Mesum Dengan Dokter Kandungan, Aku seorang wanita yang sudah menikah dengan pria yang begitu baik, tapi hingga saat ini kami belum di karuniai seorang anak. Segala macam cara sudah aku lakukan mulai dari beberapa program dari kedokteran hingga mengkonsumsi obat herbal. Tapi hingga kini belum membuahkan hasil juga, dan aku hanya bisa pasrah menghadapi semuanya paling tidak aku menjalani segala cara itu.

    Namaku Yanti dengan umur yang sudah menginjak 24 tahun, akupun memang berharap segera memiliki momongan di tambah kini mertuaku turut ikut campur dengan masalah perkawinanku tentang seorang keturunan. Terutama ibu mertuaku dia bilang kalau aku yang mempunyai masalah dengan rahimku padahal kami belum melakukan tes pada dokter, tapi dia terus saja menuduh aku yang bukan-bukan.

    Karena itu akupun menjadi stress jika berada dirumah apalagi ada mertuaku. Yang memang sering datang bahkan menginap di rumahku, akhirnya akupun keluar rumah dengan mencari kegiatan entah itu berguna atau tidak. Biasanya aku mengikuti kegiatan sosial yang di adakan oleh salah satu yayasan temanku tapi tidak jarang pula aku hanya keluar tanpa ada tujuan sama sekali.

    Bahkan hal itu membuat aku juga malas untuk melayani suanmiku melakukan adegan seperti dalam cerita hot. Karena yang ada bawaanku ingin marah saja pada suamiku yang tidak bisa membuatku hamil juga, sebenarnya aku sudah memintanya untuk pergi konsultasi ke salah satu dokter kandungan tapi dia tidak mau dengan alasan memang belum waktunya saja kami berdua di karuniai seorang anak.

    Karena ada temanku yang bisa mendapatkan keturunan setelah itu salah satu program dari dokter kandungan yang luamayan terkenal di kotaku. Namanya dokter Rafly akhirnya akupun mengikuti saran temanku untuk pergi konsultasi padanya, karena suamiku tidak mau akhirnya aku pergi dengan temanku pada awalnya tapi kemudian aku datang sendiri setiap kali aku melakukan program dari dokter Rafly.

    Sampai akhirnya akupun menjadi dekat lagi dngan dokter cakep itu. Entah dia merasa hal yang sama denganku apa tidak yang jelas aku selalu memikirkan wajah dokter Rafly hampir setiap waktuku, karena dia selalu bersikap baik padaku dan jarang aku temui ada dokter yang begitu peduli seperti yang dilakukan oleh Dokter Rafly padaku, dan hal itu membuat aku menjadi lupa diri.

    Akupun sering mengadakan janji kertemuan dengan dokter Rafly entah di rumah sakit tempat dia praktek ataupun di sebuah cafe. Sekedar makan siang bareng dan lainnya, sampai pada suatu hari aku bertemu dengannya di sebuah cafe hari itu waktu menunjukan jam 7 malam dengan alasan pergi berasam teman akupun meninggalkan rumah tanpa bertanya lebih banyak lagi suamiku mengizinkan.

    Mungkin dia mengira aku tidak betah di rumah akrena ada ibunya yang memang sering bersikap kasar di depanku. Padahal malam ini aku ada janji dengan dokter Rafly, setelah itu akupun langsung menuju tempat yang telah kami sepakati hingga akhirnya tidak lama dari itu dokter Rafly mengajakku ke sebuah hotel berbintang yang telah dia pesankan kamar sebelumnya.

    Karena sudah sama-sama dewasa akupun tidak banyak tanya pada dokter Rafly, setelah tiba di dalam kamar hotel aku tidak membuang waktu. Ketika dokter Rafly menutup pintu kamar hotel kamipun langsung berpelukan dan saling mendaratkan ciuman kami, dengan penuh gairah aku kulum bibir dokter Rafly diapun melakukan hal yang sama padaku hingga kami berdua sama-sama terbuai.

    Dengan penuh kelembutan dokter Rafly menggerayangi tubuhku dengan tangannya, dan hal itu membangkitkan gairahku ” Oooouuuggghh….. ooouuuggghhh…. aaaaaagggghh….. aaaaggggghh…… eeeeuuummmppphh….. ” DEsahku menikmati setiap sentuhan tangan lembut dokter Rafly, akupun semakin menngelinjang menikmatinya bahkan aku gigit separuh dari bibirku.

    Karena tidak tahan dengan kenikmatan yang di berikan oleh dokter Rafly. Kembali aku mendesah ketika tangannya menyentuh lembut tetekku, akupun memegang tangan dokter Rafly juga berusaha membuatnya lebih keras lagi meremas tetekku ” OOouuggghh.. terus…. sa… yang….. aaaaaggghhhhh….. aaaaggghh…. aaaaggghh.. nik… mat…… aaaaagggghh… lagi….. aaaggghh… ” Desahku setiap tangan dokter Rafly bermain.

    Kini tangannya semakin ke bawah hingga akhirnya tangan itu menyentuh bibir kemaluanku, aku tersentak kaget namun kembali mendesah saat tangaya meembelai lembut memekku ” OOOOuugghh….. ooouuugghh… nik… mat……. aaagggghhh…. terus…. sa.. yang… aaagggghhh… ” Ucapku sambil membelai bahkan menjambak rambut dokter Rafly sampai akhirnya dia berhenti sejenak.

    Aku lihat dokter Rafly membuka pakaiannya lalu dia lepas jga bajuku dan dengan perlahan dia masukkan kontolnya dalam memekku. Aku menggelinjang pasrah menikmati setiap goyangan pantatnya ” OOouugghhh… nikmat… aaaaaaaggghhh…. te.. rus…. sayang…… aaaaaaggghhhh… aaaaggghh… ” Melihatku mengeluarkan desahan berulang kali dokter raflypun mempercepat goyagannya.

    Dengan penuh airah dia bergoyang dengan kerasnya di atas tubhku ” Aaaaaaaaggggghhhh…. aaa.. ku… nggak… tahan….. aaaaggghhh… ” Aku merasa Sperma hangat dokter Rafly sudah memenuhi memekku, bagai pemain dalam adegan cerita hot akupun memeluk tubuhnya yang bersimbah keringat, lalu aku cium lengan dokter Rafly yang melinkar di antara leherku akupun merasa puas karenanya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,