Author: perawanku

  • Buasnya Cumbuan Tante Linda

    Buasnya Cumbuan Tante Linda


    1473 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Buasnya Cumbuan Tante Linda ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Ade Nama saya, usia saya sekitar 19 tahun waktu, saya sekarang kuliah di OSU, Amerika Serikat. Kebetulan saya naik di salah satu kenalan ada Oom aku menelepon Bibi Linda. Wuih, dia orang baik benar untuk saya. Kebetulan dia adalah nyonya bule kaya tetapi lansia.

    Jadilah saya naik di rumah yang agak tenang, itu dikenal ada jarang memakai pembantu pula. Bibi Linda tidak orang ini berpikir seksi. payudara bulat besar seperti melon dengan 36C ukuran.

    Ketinggian sekitar 175 cm dengan kaki ramping seperti manekin. Sementara perut rata karena dia tidak punya anak, baik itu dikenal suaminya sudah tua, sehingga mungkin telah loyo. Dia sekitar 33 tahun tapi kulitnya masih mulus dan putih. Itu membuat saya nyaman untuk berlama-lama di rumah jika bisnis tidak lebih penting, aku enggan untuk keluar rumah. Pokoknya saya juga bingung mau meninggalkan rumah tetapi tidak tahu jalan.

    Dan setiap hari aku hanya berbicara dengan seksi Bibi Linda. Ternyata dia benar tidak orangnnya supel cerita canggung dengan saya bahwa jauh lebih muda. Dari kisah Bibi Linda bisa saya kira dia nya sangat kesepian karena suaminya jarang pulang, tahu orang-orang sibuk. Jadi aku mencoba untuk menjadi teman dekat sementara suaminya lagi pergi.

    Hari demi hari keinginanku untuk bisa mendapatkan Bibi Linda semakin tentu saja lebih kuat, selain bibi juga memberi lampu hijau kepada saya. Terbukti dia sering memancing gairah dengan tubuh seksi. Kadang-kadang kupergok Tante Linda lagi pas dimandikan, ia hanya meletakkan handuk hanya, wow lihat itu begitu gembira hati saya tampaknya, ingin segera membuka handuk dan melahap tubuh seksi.

    Kadang-kadang juga dia sering menelepon saya ke kamarnya untuk mengancingkan bajunya dari belakang. Bahkan, pada waktu itu aku mengintip dia lagi mandi sambil masturbasi. Wah pula ia tahu bagaimana memancing gairahku.Cerita Sex Tante

    Sampai hari itu persis Jumat malam, ketika gerimis hujan, jadi aku enggan untuk keluar rumah, aku di kamar lagi main internet, melihat gambar-gambar porno dari situs internet, terus tanpa sadar aku mengambil pangkal paha yang sudah tegang sementara melihat gambar wanita telanjang,

    Kemudian kuelus membujuk batang pangkal paha hingga sekitar 15 cm tegang, kelelahan saya sudah terangsang benar-benar. Tanpa disadari tiba-tiba Bibi Linda masuk menyelonong tanpa mengetuk pintu, begitu terkejut aku tidak punya waktu untuk menutup batang kemaluanku menjadi tegang. Bibi Linda telah menatap batang kemaluanku sedang tegang, langsung dia bertanya dengan senyum manis.Cerita Sex Tante Linda

    “Apa yang kau lakukan De Hayyoo lagi?”

    “Aah, tidak bermain komputer Tante lagi”, jawabku singkat.

    Tapi Bibi Linda tampaknya menyadari bahwa saya kemudian membelai batang kemaluanku.

    “Apa Tante?” Saya bertanya.

    “Aah tidak, Tante hanya ingin mengajak Anda temenin Tante menonton di ruang depan.”

    “Ohh ya sudah, aku akan menyusul yah Tan”, jawab saya.

    “Tapi jangan lama-lama juga”, kata Ms Linda lagi.

    Setelah itu saya berusaha untuk meredakan ketegangan batang kemaluanku, lalu aku keluar kamar tidur dan menemani Bibi Linda film semi-porno yang banyak mengumbar adegan syuuurr.

    Melihat film itu hanya saya sangat tidak nyaman, karena batang kemaluanku hanya bangun lagi tidak sembrono. Bahkan, malam itu Bibi Linda berpakaian seksi, dia memakai pakaian ketat dan gila dia tidak memakai bra, karena aku bisa melihat putingnya agak Muncung ke depan.

    Tentu saja tidak menentu, gairah memuncak melihat sesuatu seperti itu, tapi, juga jadi itu saya tidak bisa apa saja. Sementara batang kemaluanku semakin tegang saja sehingga aku mencoba untuk bergerak sedikit dalam rangka untuk memperbaiki lokasi miring. Melihat gerakan Bibi Linda direalisasikan tersenyum arahku.Cerita Sex Tante 2016

    “Apa yang kamu lakukan pula Anda De?”

    “Ah tidak Tante ..”

    Sementara Bibi Linda mendekati saya sehingga menjauhkan kita lebih dekat ke sofa panjang.

    “Kamu terangsang yah De, lihat film ini?”

    “Tulis Ah Tante tidak biasa,” Jawabku mencoba mengendalikan diri. Aku bisa melihat payudaranya yang besar menantang di sisiku, aku merasa seperti aku merokok-mengisap sementara aku menggigit puting saya keras. Namun ternyata hal ini tidak dirasakan oleh saya sendiri, Bibi Linda tampaknya juga telah agak terangsang sehingga dia mencoba mengambil serangan terlebih dahulu.

    “Menurut pendapat Anda seksi Tante De tidak?” Dia bertanya.

    “Wow seksi Tante”, kataku.

    “Di mana bagian yang sama dalam film?” Dia bertanya lagi, mengisap payudara yang terlihat semakin membesar.

    “Wow seksi Tante dong, abis bodynya Tante baik meskipun.” Saya bilang.

    “Waktu Ah sih?” Dia bertanya.

    “Iya bener Tante, aku bersumpah …” kataku.

    Jarak duduk kita semakin rapat karena Bibi Linda terus membawa dia kepada saya, dan kemudian dia bertanya,

    “Anda tidak akan diundang jika begituan sama Tante?”

    “Tante Mmaaauu …” Ah rejeki nomplok seperti dapat kesempatan ini saya tidak sia-siakan, hanya aku memberanikan diri untuk mencoba untuk mendapatkan lebih dekat dengan bibi Linda.

    “Wahhhh Anda besar barang-barang ya De …” katanya.

    “Ah … Tante bisa aja kok Tante tampaknya semakin sexy aja .. sampai aku gemes ngeliatnya deh …” kataku.

    “Kamu nakal Ah yah De”, jawab Ms Linda sambil meletakkan tangannya di pangkal paha saya, dan saya mencoba untuk tenang sambil memegang tangannya.

    “Wah lakukan dipegangin terus Tante, akan ditambahkan tablet besar”, kataku.

    “Ah Bener ya?” Dia bertanya.

    “Ya Tante .. ehhh, aku harus menahannya eehhh Tante tidak?” Saya bilang.

    “Ambil apa?” Dia bertanya.

    “Tunggu tuh ..” kataku menunujukkan ke arah Tante payudara besar itu.

    “Ah mungkin aja yang Anda inginkan.”

    Wah nih kesempatan besar, tapi aku sedikit takut untuk memegang payudaranya, takut dia marah tapi tangan Tante sekarang bahkan telah membelai selangkangan saya sehingga saya memberanikan diri untuk membelai payudaranya.

    “Ahhh .. Arghhh lezat De .. Anda nakal dengan baik”, kata Tante sambil tersenyum manis padaku, aku melepas spontan saya.

    “Loh kok De dilepas sih?”

    “Ah, takut Tante marah”, kataku.

    “Ooohh tidak peduli tentang … di sini deh.”

    Bibi Linda mencengkeram tangan saya, kemudian dimasukkan kembali payudaranya jadi aku lebih berani meremas-remas payudaranya.

    “Aaarrhh … sshh”, rintihan Tante semakin menggelitik saya, dan saya mencoba untuk mencium Bibi Linda, berada di luar kejutan, Bibi Linda disambut dengan ciuman kekerasan, dan kemudian kami berciuman penuh gairah sekali sementara di tangan gerilya di payudaranya sekal sekali adalah.

    “Ahhh kau begitu besar De .. terusin sayang .. malam ini Anda harus memberikan kepuasan yang sama Tante yah .. ahhh .. arhhh.”

    “Bibi, aku mungkin membuka baju Tante tidak?” Saya bertanya.

    “Oohhhh silakan sayang”, lalu dengan cepat membuka bajunya payudara jadi besar dengan puting coklat berada di depan mata saya, saya hanya menjilat payudaranya, memang saya kagumi itu.

    “Aahhh … Arghhh …” lagi Tante mengerang keenakan.

    “Teruss .. terusss sayang … ahhh begitu baik …” Aku menjilat payudara bibi tua Linda, dibutuhkan waktu sekitar 10 menitan sehingga tanpa sadar batang kemaluanku juga mulai mengeluarkan jelas pelumas cair lebih dari seks kepalanya.Cerita Tante

    Lalu aku menangkap tangan sekilas Tante Linda sedang mengelus clitorisnya sehingga bagian saya kuarahkan ke arah celana untuk kupelororti.

    “Aahhh buka saja sayang … jangan malu-malu … ahhhh …” Bibi Linda napas terengah-engah menahan nafsu, seperti orang gila Aku segera membuka celananya dan aku mencium CD nya. Whoa, dia hanya lagsung keenakan menggelinjang, kemudian celana kupelorotkan jadi sekarang Tante Linda sudah telanjang Total.

    Aku melihat lubang kemaluannya dipenuhi bulu ditata rapi sehingga terlihat seperti lembah penuh rambut. Lalu perlahan-lahan kumasukan jari tengah untuk menembus lubang sudah ayam basah.

    “Aahrrrh … sshh … lezat De .. lezat”, teriaknya. Lalu aku meletakkan wajahku ke liang kemaluannya untuk ayam bibir menjilati halus mengkilap, maka dengan nafsu kujilati lubang bibi kemaluan dengan lidah saya naik dan turun kasus cat saja. Bibi Linda semakin kewalahan, ia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sementara meremas payudaranya sendiri.

    “Aahhh … sshhh datang pada bayi .. memberi saya lebih banyak, memberi saya lebih banyak … ohhhh”, dengan clit kujilati lebih cepat dengan jari-jari saya dan ayam pit kucoblos yang semakin basah.

    Beberapa saat kemudian tubuhnya dipindahkan ke alam liar sepertinya dia seperti orgasme. Lalu kupercepat tusukan jari-jari saya bahwa dia merasa keenakan sekali dan kemudian sekali ia menangis,

    “Oohh aaahh … Tante sudah keluar sayang … ahhh”, berteriak sedikit pantat goyang untuk menemukan lidah saya yang masih menjilati bibir kemaluannya sehingga orgasme cairan kujilati sampai habis.

    Kemudian dia tenang seperti lemas sekali, dan kemudian dia menarikku ke sofa.

    “Nah ternyata kau begitu besar sama sekali, Tante belum puas karena loh …” dia mencium bibirku sehingga cairan ke bibir diolesi ayam liang Bibi Linda. Sementara batang kemaluanku masih tegang di belaian oleh Bibi Linda dan aku masih memutar putingnya semakin keras Tante itu.

    “Aahh ..” dia mendesah sambil terus membelai bibirku. “Sekarang giliran Tante Tante sayang … akan membuat Anda merasa sukacita tubuh Tante ini.

    Tangan Tante Linda segera meraih selangkangan batang erat mencengkeram batang kemaluanku jadi sedikit sakit, tapi hanya kehilangan kudiamkan lezat juga uleni dengan tangan Bibi Linda. Lalu aku juga tidak mau kalah, tangan saya juga terus meremas-remas payudara yang indah.

    Terus terang saya paling suka dengan payudara Bibi Linda karena bentuknya yang indah, besar juga mengandung alias gemuk. “Aahhh … ssst,” jelas Bibi Linda mulai terangsang kembali ketika tangan mulai meremas payudaranya dengan kujilati sesekali dengan puting lidah yang sudah tegang, seolah-olah seperti orang kelaparan kuemut-semut disimpan puting jadi Bibi Linda menjadi semakin panik,

    “Ahh Anda cinta sama yah dada De Tante?”

    “Ya bibi, Tante abis bentuk payudara sangat merangsang sih, terus besar tapi masih tetep ketat …”

    “Aahhh Anda emang baik di memuji De ..”

    Sementara itu tangannya masih membelai batang kemaluanku yang kepalanya kemerahan tetapi tidak terguncang hanya membelai. Kemudian Bibi Linda mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkangan sehingga aku mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa sampai akhirnya Bibi Linda jongkok di bawah sofa dengan kepala mendekati batang kemaluanku.

    “Wahh batang besar kontol De … tidak salah Anda tidak kehilangan besarnya sama memiliki bule”, Ms Linda memuji batang pangkal paha.

    Sesaat kemudian ia mulai mencium kepala batang kemaluanku mengeluarkan jelas pelumas cair dan merata ke seluruh selangkangan kepala batang dengan lidahnya. Uaah, saya tidak bisa membantu merintih merasakan sukacita dari layanan yang disediakan Tante Linda malam itu.

    Lalu dia mulai membuka mulutnya dan memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil menghisap-mengisap dan menjilati seluruh bagian batang kemaluanku sehingga basah dengan air liurnya. Saya juga tidak ingin kehilangan, membelai rambutnya sesekali meremas erat payudaranya, montok sehingga Bibi Linda bergidik terus kenikmatan.

    Beberapa menit setelah Tante melakukan hisapannya, aku mulai merasakan desir-desir kenikmatan menyebar ke seluruh batang kemaluanku dan kemudian saya mengambil Bibi Linda kemudian mendorongnya perlahan-lahan sehingga ia berbaring di karpet. Semangat aku mengangkat kakinya sehingga dia mengangkang tepat di depan saya.

    “Ahh De ayolah masukkan batang kemaluan Anda ke Tante yah .. Tante’ve tidak menunggu ingin ngerasain vagina menusuk saling Tante besar bar yang sama Anda itu.”

    “Iiiya Tante”, kataku.

    Lalu aku mulai membimbing batang ke arah lubang kemaluan selangkangan Tante Linda tapi aku tidak segera dimasukkan tapi saya menggesek-gesek ke bibir kelamin sehingga Tante Tante Linda Linda lagi berteriak keenakan,

    “Aahhh .. ya .. ya .. oh baik .. Ayo jangan tanggung-tanggung sayang masukinnya … “dan kemudian aku mendorong masuk batang kemaluanku.

    Uh, agak sempit rupanya lubang vagina Bibi Linda jadi agak sulit untuk masuk ke batang kemaluanku sudah besar.

    “Aahh .. ssst .. .. oohhh Aoh perlahan-sayangi .. terus … ahhh”, saya mulai mendorong batang kepala ke dalam lubang kemaluan pangkal paha Tante Linda sehingga Ms Linda merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang pangkal paha ‘ pernah masuk semuanya .Seks Tante

    Kemudian batang kemaluanku mulai kupompakan perlahan tapi dengan gerakan memutar sehingga pantat Bibi Linda juga ikut-ikutan bergoyang-goyang.

    “Aahhh argghhh .. enak sekali karena ass goyangan Bibi Linda membuat batang kemaluanku seperti memutar knot dengan dinding ayam liang dan tarik rasanya seperti empotan ayam.” Uuaahhh .. “sementara aku terus menjilati puting Bibi Linda dan menjilat lehernya basah karena keringat. Sementara Bibi Linda tangan menggenggam saya keras sehingga saya memberikan lebih cepat mengocok lagi.

    “ooohh ssst sayang … lezat ooohhh yess … ooohh good … ooh ya …” mendenganr mengerang saya lebih bersemangat untuk menyelesaikan permainan,

    “Aahh … cepat bibi sayang keluar ahh”, tubuh Ms Linda pindah kembali liar yang ass ikutan Rupanya ia naik kembali orgasme, aku bisa merasakan cairan hangat menyiram kepala batang pangkal paha lagi merojok-rojok lubang vagina Bibi Linda.

    “Aahh … shhsss .. yess”, lalu tubuhnya kembali agak tenang menikmati sisa-sisa orgasmenya.Cerita Linda Sex Tante Toge

    “Wahh kau benar-benar hebat De … Tante sampai keok dua kali saat Anda masih kuat.”

    “… Dalam satu menit Tante Iiya juga Ade keluar ya …” lanjutnya Aku menyodok-poke lubang Tante Linda yang sempit kemaluan dan berdenyut itu.

    “Ahh enak Tante .. ahhh …”

    “Terusin sayang .. terus … ahhh .. ssst”, erangan Bibi Linda membuat saya lebih kuat merojok-rojok batang kemaluanku ke dalam kesenangan tanah.

    “Aauwh ahhh perlahan sayang .. ya .. ahh baik.”

    “Oh Bibi, keluar ya sebentar …” kataku.

    “Aahh Ade sayang … keluarin di aja yah sayang .. ahhh .. Tante mau ngerasin .. ahhh … ssst ingin percikan rasain hangat dari air mani kamu sayang …”

    “Iiiyyaa … Tante ..” lalu aku mengangkat kaki kanan saya sehingga posisi ayam lubang Tante lebih menjepit batang kemaluanku yang keluar dari lubang kemaluannya.

    “Aahhh … ohhh ahhh .. .. Tante Ade ssshhh keluar ya .. ahhh,” dan saya memeluk Bibi Linda-meremas, meremas payudaranya. Sementara itu, Bibi Linda memeluk erat sambil berayun pantatnya.

    “Ah bibi juga keluar lagi ahhh … ssst …” dan kemudian lubang kemaluannya tegas kurojok sehingga maniku pengumpulan air terjebak meletus.

    “Seeerr .. serr … .. Crot Crot …” “Aahhh enak sekali Tante … ahhh … ahhh sulit .. sulit Tante …” Selama dua menitan aku masih berjuang dengan semprotan tubuh Bibi Linda untuk menyelesaikan maniku itu. Kemudian Bibi Linda membelai rambutku.

    “Ah kamu ternyata menjadi jagoan De …” Lalu ia menarik batang kemaluanku masih sedikit tegang di pit ayam kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya untuk lidahnya menjilat oleh. Ah, rasanya batang kemaluanku nyeri merokok Bibi Linda.

    Setelah kejadian ini kami sering melakukan hubungan seks yang kadang-kadang meniru gaya porno yang beredar di sana. Jadi, mudah-mudahan cerita ini bisa menjadi bahan bagi anda yang suka berhubungan seks dengan bibi.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Kebejatan Ayah Tiriku

    Kebejatan Ayah Tiriku


    1546 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Kebejatan Ayah Tiriku ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Sang ayah tiri meneguk air liur setiapmenyaksikan pinggang, pinggul dan pantat Marina yang indah dan seksi,apalagi bila Marina sedang berjongkok mengepel lantai dengan pakaianseadanya, wah, Daud melotot matanya. Timbullah hasratnya untukmenyaksikan tubuh sang anak tiri yang indah polos tanpa pakaian.

    Daudmendapat akal, suatu hari ketika Marina dan ibunya sedang keluar rumah,Daud bekerja keras membuat lubang di dinding kamar mandi yang hanyaterbuat dari papan. Fortunebet99

    Suatu hari ketika Marina hendak pergi mandi Daud bersiap menunggusambil mengintip dari lubang kamar mandi yang telah dibuatnya, Marinamemasuki kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk melilit ditubuhnya, setelah mengunci pintu kamar mandi dengan tanpa ragu Marinamelepaskan handuknya, Daud menelan liurnya menyaksikan pemandanganindah yang terpampang di depan matanya.

    pemandangan indah yang berasaldari tubuh indah anak tirinya, tubuh yang begitu sekal padat, rampingdan mulus itu membuat gairah Daud bergejolak, apalagi sepasang payudarayang begitu mulus dengan sepasang puting susu berwarna merah jambumenghias indah di puncak payudara yang sekal itu, mata Daud melirik kearah selangkangan gadis itu tampak bulu-bulu halus indah menghias disekitar belahan kemaluan perawan itu yang membukit rapat.

    Semua itumembuat dada Daud bergetar menahan nafsu, membuatnya semakin penasaraningin menikmati keindahan yang sedang terpampang di depan matanya. Daudtahu Marina sering keluar dari kamarnya pada malam hari untuk pipis.

    Pada malam berikutnya, Daud dengan sabar menunggu. Begitu Marinamemasuki kamar mandi, Daud membarenginya dengan memasuki kamar Marina.Daud menunggu dengan jantung berdebar keras, begitu Marina masukkembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu Daud muncul dari baliklemari, Marina terbelalak, mulutnya menganga, buru-buru Daud meletakkantelunjuk ke mulutnya, isyarat agar Marina jangan berteriak, Marinamundur beberapa langkah dengan ketakutan.

    Daud maju dan tiba-tibamenyergapnya Marina siap menjerit, tetapi Daud dengan cepat menutupmulutnya. “Jangan menjerit!”, Daud mengancam. Marina semakin ketakutan,badannya gemetar. Daud memeluk gadis yang masih murni itu,

    menciumibibirnya bertubi-tubi. Marina terengah-engah. “Jangan takut, nantikuberi uang”, kata Daud dengan nafas menggebu-gebu. Bibir Marina terusdiciumi, gadis itu memejamkan matanya, merasakan nikmat, dengan mulutterbuka. Tanpa sadar, rontaan Marina mulai melemah, bahkan kedualengannya memanggut bahu Daud. Sekilas terbayang adegan di buku pornoyang pernah dilihatnya.

    Alangkah gembiranya Daud ketika Marina mulai membalasciuman-ciumanya dengan tak kalah gencarnya. “Pak, Pak jangan…!”,Walaupun mulutnya berkata jangan, tetapi Marina tidak mengadakanperlawanan ketika gaunnya di lepas. Dalam sekejap, Marina hanyamengenakan beha dan celana dalam saja, itupun tidak bertahan lama.

    Daudmencopoti bajunya sendiri. Marina menghambur ke tempat tidur danmenutupi tubuhnya dengan selimut, Marina menghadap tembok, menunggudengan dada bergetar, di hatinya terjadi pertentangan antara nafsu dankeinginan untuk mempertahankan kehormatannya, namun nafsulah yangmenang.

    Selimut yang menutupi tubuh ditarik, Marina dipeluk daribelakang dan dirasakannya hangatnya pisang ambon Daud mengganjal danmenggesek-gesek di belahan pantatnya, Marina menggigil.

    Dengan bernafsu Daud menciumi kuduk Marina, gadis itumenggelinjang-gelinjang, rasa nikmat menyelusup ke pori-porinya. Daudmembalikkan tubuh Marina hingga telentang, gadis itu meronta hendakmelepaskan diri, Daud menindihnya, tangannya meraba-raba bongkahan buahdada Marina.

    Dada yang ranum dan sehat, yang selama beberapa hari inimengisi khayalan Daud. Kembali rontaan-rontaan Marina melemah,dirasakannya kenikmatan pada buah dadanya, yang diciumi Daud denganberganti-gantian. Dada yang kenyal dan masih segar itu bergetar-getar,Daud membuka mulutnya dan melahap putingnya yang merah jambu.

    Marinamenjerit lirih, tetapi segera tenggelam dalam erangan kenikmatan. “Pak,mm.., mm.., ja..ngan ssshh mmphh…, sshh..”.

    Akhirnya Marina tidak lagi memberontak, dibiarkannya payudara kiridan kanannya dijilati dan dihisap oleh Daud. Aroma harum yang terpancardari tubuh perawan itu benar-benar menyegarkan, membuat rangsanganbirahi Daud semakin naik. Kedua bukit indah Marina semakin mengeras danmembesar, puting yang belum pernah dihisap mulut bayi itu kian indahmenawan, Daud terus mengulum dan mengulumnya terus.

    “Pak, Saya.., takuut”, Suara Marina mendesah lembut.

    “Jangan takut, tidak apa-apa nanti kuberi uang..”, dengan napas memburu.

    “Ibu, pak. Nanti ibu bangun.., sshh.., aah..”.

    “aakh.., ibumu tidak akan bangun sampai besok pagi, ia sudah kuberi obat tidur”.

    Marina mulai mendesah lebih bergairah ketika tangan Daud mulaibermain di bukit kemaluannya yang membengkak. Daud menekan-nekan bukitindah itu. “Kue apemmu hebat sekali”, bisik Daud sambil berkali-kalimeneguk air liurnya, tangan Daud menguak belahan kue apem itu.

    Marinayang semula mengatupkan pahanya rapat-rapat kini mulai mengendurkannya,bagaimana tidak? Sentuhan-sentuhan tangan Daud yang romantismendatangkan rasa nikmat bukan kepalang apalagi batang kemaluan lelakiyang tegak itu, menggesek-gesek hangat di paha Marina danberdenyut-denyut. Sebenarnya Marina ingin sekali menggenggam batangkemaluan yang besarnya luar biasa itu.

    Sementara itu Daud menggosok-gosokkan tangannya ke bukit kemaluanyang ditumbuhi rambut halus yang baru merintis indah menghiasi bukititu.

    “Sssssh…, mmh…, sssh…, aakh..”, Mata Marina membeliak-beliak danpahanyapun membuka.

    Daud menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibirvagina Marina yang masih rapat walau sudah dikangkangkan. Secaranaluriah Marina menggenggam batang penis Daud, ia merasa jengah,keduanya saling berpandangan, Marina malu sekali dan akan menarikkembali tangannya tetapi dicegah oleh Daud, sambil tersenyum, lelakiyang cukup ganteng itu berkata,

    “Tidak apa-apa, Marina! Genggamlahsayang, berbuatlah sesuka hatimu!”.

    Dan dengan dada berdegup Marinatetap menggenggam batang penis yang keras itu. Daud merem-melekmenikmati belaian dan remasan lembut pada batang penisnya.

    Sementaraitu tangan Daud mulai menjelajahi bagian dalam kemaluan Marina, gadisitu menjerit kecil berkali-kali. Bagian dalam kemaluannya telah basahdan licin, ujung jari Daud menyentuh-nyentuh clitoris Marina. Marinamenggelinjang-gelinjang.

    “Bagaimana Mar?”, tanya Daud.

    “Enaakh…, Paak!”, Jawab Marina.

    Daud semangkin gencar menggempur vagina Marina dengan jaritangannya. Lalu Daud menundukkan kepalanya ke arah selangkangan Marina.Dipandanginya belahan vagina yang begitu indahnya, menampakkan bagiandalamnya yang kemerahan dan licin. Daud menguakkan bibir-bibir kemaluanitu, maka kelihatanlah clitorisnya, mengintip dari balik bibir-bibirkemaluan Marina, Daud tidak dapat menahan dirinya lagi, diciumnyaclitoris Marina dengan penuh nafsu. Marina menjerit kecil.

    “Kenapa Marina? Sakit?”, tanya Daud di sela kesibukannya.

    Mariana menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kakinya. Denganbernafsu Daud menjilati vagina Marina dan lidahnya menerobos menjilatibagian dalam dari kemaluan Marina, melilit dan membelai clitorisnya.Marina semakin tidak tahan menerima gempuran lidah Daud, tiba-tibadirasakannya dinding bagian dalam kemaluannya berdenyut-denyut sertaseluruh tubuhnya terasa menegang dan bersamaan dengan itu ia merasakansesuatu seperti akan menyembur dari bagian kemaluannya yang palingdalam.

    “aakh…, uuggh…, Paakk..”, Marina mendesah seiring menyemburnya airmani dari dasar lubuk kemaluannya. Sementara Daud tetap menjilatikemaluan Marina bahkan Daud menghisap cairan yang licin dan kental yangmenyembur dari kemaluan Marina yang masih suci itu, dan menelannya.

    “Sungguh nikmat air manimu Mar”, bisik Daud mesra di telinga Marina.Sementara Marina memandang memelas ke arah Daud, dan Daud mengerti apayang diingini gadis itu, karena iapun sudah tidak tahan seperti Marina.Batang kemaluan Daud sudah keras sekali. Besar dan sangat panjang.

    Sedangkan bukit kemaluan Marina sudah berdenyut-denyut ingin sekalidimasuki penis Daud yang besar. Maka Daudpun mengatur posisinya di atastubuh Marina. Mata Marina terpejam, menantikan saat-saat mendebarkanitu. Batang penis Daud mulai menggesek dari sudut ke sudut, menyentuhclitoris Marina.

    Marina memeluk dan membalas mencium bibir ayah tirinyabertubi-tubi. Dan akhirnya topi baja Daud mulai mencapai mulut lubangkemaluan Marina yang masih liat dan sempit. Dan Daudpun menekanpantatnya. Marina menjerit. Bagaikan kesetanan ia memeluk dengan kuat.Tubuhnya menggigil.

    “Paak, oukh.., akh…, aakh…, ooough…, sakit Pak..”, Marinamerintih-rintih, pecahlah sudah selaput daranya.

    Sedangkan Daud tidakmenghiraukanya ia terus saja menyodokkan seluruh batang kemaluannyadengan perlahan dan menariknya dengan perlahan pula, ini dilakukannyaberulang kali. Sementara Marina mulai merasakan kenikmatan yang tiadaduanya yang pernah dirasakannya.

    “Goyangkan pinggulmu ke kanan dan ke kiri sayang!”, bisik Daud sambil tetap menurun-naikkan pantatnya.

    “Eeegh…, yaa…, aakkhh…, oough..”, jawab Marina dengan mendesah. KiniMarina menggoyangkan pinggulnya menuruti perintah ayahnya.

    Dirasakannyakenikmatan yang luar biasa pada dinding-dinding kemaluannya ketikabatang penis Daud mengaduk-aduk lubang vaginanya.

    “Teee…, russ…, Paak…, eeggh…, nikmat…, ooough..!”, erang Marina.

    Daudsemakin gencar menyodok-nyodok vagina Marina, semakin cepat pulagoyangan pinggul Marina mengimbanginya hingga, “Ouuuughh…, sa.., saya…,mmaau…, keluar.., Paak..”.

    “Tahan…, sebentar…, sayang…, ooouggh..”.

    Daud mulai mengejang, diapun hampir mencapai klimaksmya. “aaGhh…”,jerit Marina sambil menekan pantat Daud dengan kedua kakinya ketika iamencapai puncak kenikmatannya. Bersamaan dengan tekanan kaki MarinaDaud menyodokkan penisnya sedalam-dalamnya sambil menggeram kenikmatan,“Eeegghh…, Ooouugh..”. “Creeeet…, creeet…, creeeeeeeet..”.

    Mengalirlahair mani Daud membasahi lubang kemaluan Marina yang sudah dibanjirioleh air mani Marina. Merekapun mencapai puncak kenikmatannya. Keduanyaterkulai lemas tak berdaya dalam kenikmatan yang luar biasa denganposisi tubuh Daud masih menindih Marina dan batang penisnya masihmenancap dalam lubang kemaluan Marina.

    Enam bulan kemudian, Marina dan Ria meninggalkan kota kecilnya. Merekaikut Om Jalil ke Jakarta. Om Jalil belum lama mereka kenal, tetapimereka tidak peduli, mereka menginginkan hidup lebih baik ketimbang dikota kecilnya sendiri.

    Mereka tahu nasib apa yang bakal mereka terimadi Jakarta nanti, diserahkan pada seorang germo yang namanya TanteYeyet. Mereka pergi ikut Om Jalil tanpa sepengetahuan orang tua merekamasing-masing. Om Jalil menunggu mereka di stasion kereta api. Darisanalah baru mereka bersama-sama menuju Jakarta.

    Ria berani ikut denganOm Jalil ke Jakarta karena dia juga sudah tidak perawan lagi. Bukitkemaluannya sudah ditoblos oleh Pandy. Pandy adalah pria yang sangatberpengalaman dengan wanita. Pandy pandai merayu. Dan Marinapuntergelincir dalam rayuannya dan berhasil digagahi Pandy, ia merupakanorang kedua yang pernah merasakan nikmatnya vagina Marina selain ayahtiri Marina.

    Sementara kereta berjalan dengan pesatnya. Dalam perjalanan merekadi malam hari yang selama delapan jam dalam kereta api, Om Jalil tidakdapat menahan hawa nafsunya berjalan dengan dua orang gadis cantik yangmenggoda. Dengan sedikit memaksa Om Jalil mencoba untuk menggaulimereka.

    Pada waktu itu keadaan kereta yang mereka tumpangi tidakterlalu banyak penumpangnya sehingga banyaklah kursi yang kosong.Kebetulan deretan bangku di depan mereka kosong. Waktu itu lampupenerang gerbong sudah dipadamkan tinggal lampu remang-remang saja yangmasih menyala menerangi keadaan gerbong yang mereka tumpangi.

    “Kalian tentunya sudah berpengalaman dengan laki-laki?”, tanya Om Jalil memulai pembicaraan.

    “Belum Om”, jawab Ria dengan malu-malu.

    “Sudah berapa kali kamu merasakannya, Ria?”, tanyanya sambil memegangpaha Ria yang hanya mengenakan rok mini dari bahan yang tipis.

    “Merasakan apa, Om?”, tanya Ria berpura-pura tak mengerti.

    “Merasakan hangatnya batang peler pria memasuki lubang kemaluanmu”, jawab Om Jalil dengan terus terang.

    “Saya, saya baru merasakannya sekali Om”, jawab Ria sambil menunduk.

    “Tidak usah malu, apakah kamu menikmatinya?”, Om Jalil mulai menebar jaringnya. Ria hanya mengangguk tanpa berkata apapun.

    “Sedangkan kamu sudah berapakali kecoblos Mar?”, mengalihkan pertanyaanya pada Marina.

    “Dua kali, Om”, jawabnya singkat.

    “Syukurlah, jadi kalian sudah punya pengalaman”. Dia berhenti untuk menghisap rokoknya lalu mematikan rokok itu.

    “Tapi aku perlu untuk mengetahui sampai di mana kemampuan kalian”, sambungnya sambil menghadap ke arah Ria.

    “Bagaimana caranya Om?”.

    “Dengan mencobanya langsung”, jawabnya tegas.

    “Mencoba langsung, di mana Om?”.

    “Di sini saja, toh semua penumpang sudah tidur”.

    “Tetapi..”.

    “Tenang saja biar Om yang mengaturnya”, potong Om Jalil sambilmerangkul tubuh Ria yang ada di sebelah kanannya, lalu ia mulaimenciumi bibir Ria.

    Ria terpaksa melayaninya demi lancarnya perjalananmereka ke Jakarta. Setelah beberapa saat lidah mereka saling berpilin,tangan Om Jalil mulai beraksi menyelinap, meremas payudara Ria melaluibagian bawah kaos ketat yang dikenakan Ria. Ria menggelinjang menikmatisentuhan tangan Om Jalil yang sangat lincah meremas payudaranya,apalagi bibir Om Jalil yang menggerayangi lehernya.

    Semakin ganas Om Jalil menikmati bukit indah milik Ria yang putihmulus itu setelah mengangkat kaos, dan melepas beha Ria. SedangkanMarina hanya menatap mereka dengan kosong. Tiba-tiba tangan Om Jalilyang satu meraih tangan Marina. Tanpa perlawanan tangan itu ditaruh diatas batang penisnya yang masih dalam celana.

    Marina mengerti maksud OmJalil, dengan segan-segan dibukanya ikat pinggang Om Jalil laluditurunkan ritsluitingnya, dikeluarkannya kemaluan yang sudahdigenggamnya dari celana dalamnya. “mmhh…”, desah Om Jalil menikmatiremasan tangan halus Marina pada batang penisnya. Sementara tangankanan yang bebas menjelajah ke dalam rok mini Ria, jari tangan kanannyadengan lincahnya mencoba melepaskan celana dalam yang dikenakan Ria.

    Ria mengangkat pantatnya untuk memudahkan Om Jalil melepaskanpenutup belahan vaginanya, Ria mengangkat satu kakinya untuk melepaskancelana dalamnya yang melorot sampai di mata kaki, bersamaan dengan ituitu jari-jari Om Jalil menerobos bibir vaginanya, lalu mempermainkanclitoris yang ada di dalamnya.

    Ria gelagapan menahan nikmat yangdirasakannya pada clitorisnya yang dipilin jari-jari Om Jalil, sertagigitan-gigitan lembut pada puting susu kanannya serta belaian-belaianyang diselingi remasan nikmat pada buah dadanya yang kiri. SementaraMarina tidak lagi meremas batang penis Om Jalil, tetapi dia menggocokbatang penis itu dengan lembut. Pergumulan segitiga itu berjalan cukuplama hingga Om Jalil tak dapat lagi menahan nafsunya.

    “Pindahlah kamuke bangku itu!” perintahnya pada Ria sambil menunjuk tempat duduk diseberang tempat duduk mereka.

    Ria mengikuti perintah Om Jalil, dia duduk menyadar di tempat yangditunjuk Om Jalil. Lalu Om Jalil berdiri menghadap Ria dengan batangpenisnya yang panjang besar dan hitam menunjuk ke arah Ria, ditariknyakaki Ria hingga posisi gadis itu setengah rebah menyandar, laludikangkangkannya paha Ria hingga tampak olehnya belahan indah yangdihiasi bulu-bulu lebat dengan bagian dalam yang merah merona, laludiarahkannya kepala penisnya yang merah mengkilap memasuki lubangvagina Ria.

    “Ssssshh…, aahh..”, desah gadis itu ketika dengan agaksusah kepala penis itu memasuki lubang kemaluannya. Om Jalil sendirimerasakan nikmat luar biasa ketika kepala kemaluannya terjepit olehbibir-bibir vagina Ria yang sempit, hingga ia tak melanjutkan gerakanmendorongnya untuk menikmati pijitan bibir vagina itu di kepalapenisnya. Sedangkan Marina hanya menyaksikan adegan itu dengan dadabergetar menghayalkan hal itu terjadi pada dirinya.

    Setelah terhenti beberapa kejap, dengan pasti Om Jalil melanjutkandorongan pantatnya hingga, “Blueess…”. Seluruh batang kemaluannyaamblas memasuki vagina Ria. Sedangkan Ria mengerang tertahan merasakanbetapa batang kemaluan Om Jalil yang besar menyumpal di dalam lorongkemaluannya, membuat nafasnya terburu nafsu. Kenikmatan itu bertambahketika Om Jalil menarik keluar batang kemaluannya hingga menimbulkangesekan yang mengguncang seluruh tubuh Ria

    Om Jalil memepercepatgerakan pantatnya mengeluar-masukkan penisnya hingga tubuh Riaterhentak-hentak kenikmatan, merasakan betapa dahsyatnya penis Om Jalilyang besar itu mengobrak-abrik lubang kemaluannya hingga membuatnyamelenguh-lenguh nikmat.

    “Ouuugh…, eeeghh…, te..ruuus.., ooom…, jaa..ngan…, berhenti.”, desahRia tertahan menikmati tarian penis Om Jalil dalam lubang vaginanyayang semakin basah dan licin hingga mengelurkan suara decak pelan.Semakin lama gerakan Om Jalil semakin gencar, dan remasannya padapayudara Ria semakin gemas,

    ditambah dengan gerakan pinggul Ria yangmembuat batang penis Om Jalil seret keluar masuk, membuat keduanya takdapat bertahan lebih lama lagi, hingga.., “Aah…, ahh…, essst…,esssst..”, desah Om Jalil sambil menggerakkan pantatnya dengan cepat.

    “Ouuugh…, eessstt…, eeengh…, aakh…, aakuu.., ti.., tidak.., taahaan..,laagi…, om..”, erang Ria hampir mencapai puncak orgasmenya.

    “Tung..guu.., sayang…, aakku…, juuggaa…, mmau.., ngecret..!”, ucap OmJalil terputus-putus sambil menancapkan batang penisnyasedalam-dalamnya ke dalam vagina Ria.

    “aakuuu…, kee..keeluar.., Ooom..”.

    “Akuuu…, juuggaa…, aaghh..”, dan, “Creeet.., creeet.., crettt.”,tersemburlah cairan nikmat dari batang penis Om Jalil ke dalam vaginaRia.

    Keduanya saling berangkulan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama,cairan kental membanjiri vagina Ria dan membasahi penis Om Jalil.Sementara ketika Om Jalil dan Ria bertarung, Marina begitu terangsangmelihat permainan mereka hingga tanpa sadar tangannya meremas buahdadanya dan mengelus-elus bibir kemaluannya dan mendesah-desah seorangdiri, karena dibakar hawa nafsunya sendiri.

    Om Jalil dan Ria sama-samaterkulai setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan, sedangkan Marinamerasakan denyutan-denyutan dalam liang vaginanya merindukan sentuhankemaluan lelaki di dinding-dindingnya, semakin ia menahan gejolak nafsuitu semakin menggejolak nafsu itu dalam dadanya.

    akhirnya ia tak kuasamenahan diri, Marina bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapanselangkangan Om Jalil yang bersandar memejamkan mata di bangkusebelahnya, ditatapnya kemaluan Om Jalil yang menggantung lunglai,dibelainya kemaluan yang besar itu, walaupun belum tegak berdiri.Semakin lama belaiannya semakin menggebu lalu diremasnya penis yangmulai bangun perlahan-lahan karena remasan-remasan jemari lentik Marina.

    Om Jalil membuka matanya karena merasakan kegelian yang nikmat padabatang penisnya, dibiarkannya beberapa saat Marina yang belum tahubahwa Om Jalil sudah terjaga, membelai dan meremas batang kemaluannya,Om Jalil berkata perlahan.

    “Kau menginginkannya?”.

    “I.., iya Om aa.., aku menginginkan burungmu”, jawab Marina dikuasaioleh nafsunya.

    Lalu Om Jali memegang bahu Marina lalu mengangkatnyaberdiri, ia menatap gadis di hadapannya, ia tahu bahwa Marina telahdikuasai oleh nafsunya, mulailah Om Jalil membelai tubuh Marina yangmengenakan gaun terusan tanpa lengan yang begitu minim.

    Tangannyameraba mulai dari bagian paha yang tak tertutup oleh terusan yangpendek itu, terus merambat menuju pada sepasang paha yang mulus itusambil terus berdiri hingga pakaian Marina tertarik mengikuti gerakanberdiri Om Jalil, hingga Om Jalil berhasil melepaskan pakaian itu daritubuh yang kini hanya mengenakan beha dan celana dalam. Kembali OmJalil membelai tubuh itu dari atas ke bawah sambil bergerak duduk.

    Setelah posisinya duduk berhadapan dengan selangkangan Marina yanghanya mengenakan celana dalam, tangannya bergerak melepas celana dalamitu hingga terpampanglah gumpalan bulu-bulu halus terhampar menghiasisekitar bibir kemaluan yang begitu ranum dan menebarkan aroma yangmenggairahkan hingga membuat darah Om Jalil menggelegar dan nafsunyamulai menanjak.

    Dengan kedua tangannya Om Jalil merengkuh bungkahanpantat Marina yang padat ke arah wajahnya, lalu dengan rakusnya OmJalil melumat bibir kemaluan Marina dengan penuh nafsu. Marina mendesahkenikmatan sambil membelai rambut Om Jalil yang tengah melumatvaginanya.

    “Ooouugh…, Ooomm…, lakukanlah.., Oom.., aa.., aku…, dah ti..daak.., taahhan…, lagi..!”.

    Om Jalil hanya tersenyum dan menjawab dengan perlahan, “Baiklah.Sekarang naiklah ke pangkuanku”, suruh Om Jalil pada Marina.

    Marinamengikuti perintah Om Jalil, dengan cepat ia duduk di pangkuan OmJalil. Penis Om Jalil yang tegak menghadap ke atas meleset miringdiduduki oleh Marina. Om Jalil berkata, “Bukan begitu caranya, sekarangberdirilah dengan lutut di atas bangku mengangkangi burungku!”, ajar OmJalil pada Marina.

    Kini Marina mengangkangi Om Jalil yang dudukbersandar dengan penis tegak ke atas mengarah tepat pada bibir kemaluanMarina. Kembali Om Jalil memberikan instruksi kepada Marina, “Kinigenggamlah burungku!”. Marina menggenggam penis Om Jalil. “Arahkan kelubang memekmu!”, Kembali Marina menuruti perintah Om Jalil tanpaberkata apapun. “Turunkan pantatmu lalu masukkan burungku dalam lubangmemekmu perlahan-lahan!”.

    Marina mengerjakan semua perintah Om Jalil hingga…, “Sleeep….”,Kepala kemaluan Om Jalil yang besar itu menyelinap di antara dua bibirvagina Marina yang langsung menjepit kepala penis itu dengan ketat.Marina mendesah kenikmatan, “Oough…”. Dipegangnya bahu Om Jalil yangsedang merem-melek menikmati jepitan sepasang bibir vagina Marina yangkenyal dan sempit. Dengan suara terputus-putus kenikmatan Om Jalilberkata,

    “Yaakh…, begitu, sekarang turunkan pantatmu agar burungkudapat masuk lebih dalam!”, Marina menghempaskan tubuhnya ke bawah,dirasakannya betapa penis Om Jalil yang besar dan panjang itu meneroboske dalam liang vaginanya yang terdalam, yang belum pernah tersentuholeh benda apapun karena penis Om Jalil adalah penis paling besar danpanjang yang pernah menerobos lubang vaginanya, dan itu memberikankenikmatan yang belum pernah dirasakan Marina sebelumnya.

    Om Jalilsendiri mengejang menikmati gesekan seret dari dinding vagina Marinayang seakan mengurut penisnya dengan kenikmatan yang luar biasa.

    Dirangkulnya tubuh Marina untuk melampiaskan getaran kenikmatan yangdirasakannya. Sejenak keduanya terdiam tidak melakukan gerakan apapunkarena tenggelam dalam kenikmatan yang tiada taranya. Hanyagetaran-getaran kereta api yang bergelombang membuat mereka melayangdalam arus kenikmatan bercinta.

    Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara Om Jalil yang lebih mirip desahan.

    “Sekarang bergeraklah hurun naik agar lebih nikmat sayang!”.

    “Eest.., baikh.., Om..”, jawab Marina sambil mulai mengangkat tubuhnya,terasa olehnya betap hangatnya gesekan kulit penis Om Jalil di dalamliang vaginanya, lalu dihempaskan lagi tubuhnya ke bawah membenamkanpenis Om Jalil kembali dalam pelukan dinding kemaluannya yang berdenyutkenikmatan.

    Hal itu dilakukan Marina berulang kali seiring dengangetaran kereta yang menambah nikmatnya persetubuhan mereka, kian lamagerakan Marina semakin gencar menurun-naikan pantatnya. Sedang Om Jaliltidak hanya diam saja, ia mengiringi gerakan pantat Marina denganmenaikkan pantatnya bila Marina menghentakkan pantatnya membenamkanpenis Om Jalil. Marina mendesah-desah menikmati permainanan yang hebatitu.

    “Eeeghh…, niikhmat…, sekhali…, Om..”

    “Yaakh…, memang.., nikhmat memekmu ini Mar…, oouggh..”.

    “Ooomm…, hisaplah susuku ini agar lebikh nikhmat Om..” pinta Marina,sambil menarik kepala Om Jalil ke arah dadanya yang dibusungkanmenantang itu.

    Segera saja Om Jalil melepaskan satu-satunya pakaianyang masih melekat di tubuh Marina, menggelembunglah payudara yangkenyal menegang setelah Om Jalil menarik lepas penutup benda indah itu.Mulailah Om Jalil menjilati puting susu Marina yang merah menantangitu, tidak hanya sampai di situ saja, Om Jalil menghisap rakus buahdada yang benar-benar ranum itu kiri dan kanan sedangkan keduatangannya meremas buah pantat Marina yang padat berisi dan membantunyaturun naik menenggelamkan penisnya. Semakin lama gerakan keduanyasamakin menggila desahan-desahan tak henti-hentinya keluar darisepasang insan itu.

    “Oooooogh…, oough…, akhh…, ahh…”, desahan Marina menikmati tarianpenis Om Jalil yang perkasa di dalam lubang vaginanya yang semakinlicin dan basah.

    Cukup lama mereka berpacu dalam mengejar kenikmatansehingga, “Eeeeest…, Ooough…, lebihh…, ceepat lagi…, Sayaang.., akumaau keeeluaar..!”.

    “Yaakhh…, aku…, juga..,. sudahh…, tidak.., taahaan.., laagi…, Ooooomm”.

    Hentakan pantat mereka semakin cepat terbawa nafsu yang seakanmeledakkan dada mereka hingga, “Ooough…, Akuu…, keluaar…, sayang..”

    “Akhuu.., aakhh…”.

    “Creeet.., creet.., creettt..”,

    Keduanya saling berangkulan dengan eratmenikmati puncak permainan mereka yang sungguh hebat. Marina berdirimengeluarkan penis yang besar itu dari lubang vaginanya lalu berpakaiandan kembali lunglai di bangkunya menyusul Ria yang sudah terlelap.Sedang Om Jalil menatap kedua gadis bergantian lalu dia berpakaian dankembali memejamkan matanya. Semuanya sunyi dan tenang. Tak ada lagierangan-erangan atau desahan, mereka tertidur dengan penuh kepuasan,tanpa memikirkan apa yang menanti mereka di Jakarta nanti.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Kumpulan Foto Ngentot Cewek Jepang Cantik

    Kumpulan Foto Ngentot Cewek Jepang Cantik


    2540 views

    Perawanku – Banyak cara yang bisa kamu lakukan agar bisa menikmati hiburan malam sampai terangsang hebat. Salah satu yang patut kamu coba adalah melihat berbagai Foto Ngentot Cewek Jepang Cantik ini dipastikan kamu crot bos ku  :

  • Cerita Mesum Ibu Teman Montok Super Hot Yang Butuh Kepuasan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Mesum Ibu Teman Montok Super Hot Yang Butuh Kepuasan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    2016 views

    Perawanku – Namaku Bobby, Aku seorang remaja abg biasa berumur 18 tahun. Gayaku yang biasa saja bahkan bisa di bilang URAKAN ini jika dipandang cewek/wanita mungkin tidak menarik perhatian.

    Aku mempunyai seorang teman dekat sebut saja Toni. Dia merupakan teman dekat bahkan bisa dibilang seorang sahabat karib sejak kecil. Aku sering main ke rumah Toni. Keluarganya yang baik dan ramah membuatku betah jika aku berada di rumahnya. Ibu nya Toni sebut saja Bu Mawar berumur kira kira 38 Tahun. Orangnya sangat baik terhadap anak nya bahkan diriku ini sangat dimanja ketika aku bermain di rumah Toni, sedangkan ayahnya toni berprofesi sebagai buruh pabrik.

    Suatu Saat aku pernah ditawari temanku Toni untuk tidur di rumahnya, Pas banget waktu itu ada acara bola dan yang bermain adalah klub sepakbola kesukaanku dan Toni tentunya. Akhirnya akupun setuju saja ketika di suruh untuk tidur di rumah Toni, karena di saat bersamaan ayah Toni ditugaskan keluar kota.

    Akhirnya tiba lah hari itu, aku sudah bersiap dengan “dandan’an”yang rapih (maklum ini kan mau tidur di rumah teman, sopan donk hehe).Namun aku tidak langsung ke rumah Toni, melainkan aku ingin mencari angin segar dan lagipula acara Sepakbola itu mulai dini hari.

    Pukul 7 malam aku sudah bersiap menanti temanku Toni untuk sekedar mencari angin dan kami pun memutuskan untuk pergi ke angkringan. disitu kami pun ngopi ngopi sambil menikmati gorengan yang ada. Setelah itu kami pun memutuskan untuk langsung pergi ke rumah Toni karena ibu nya sudah berulang kali Telpon dan sms kalau hari sudah larut malam, memang tak terasa kami nongkrong sudah 4 jam lamanya (pukul 11 malam).

    Sesampainya di rumah Toni kami pun langsung di sambut oleh ibu Mawar.

    Bu Mawar : “kemana saja kamu, jam segini baru pulang, mamah di rumah sendirian sayang, tak ada laki laki di rumah ini, jadi maaf saja kalau mamah Was Was”

    Toni : “Maaf mah, aku habis nongkrong bareng Bobby di angkringan”

    Bu Mawar : “oh”

    Aku : “maaf bu, ini semua aku yang mengatur (dengan kepala tertunduk hehe)”

    Bu Mawar : “Gpp sayang (sejak kecil memang dia memanggilku dengan kata sayang), lain kali kalau mau pergi lama bilang ibu dulu ya” Aku pun hanya mengangguk dengan sedikit senyuman.

    Saat itu Bu Mawar hanya menggunakan kaos ketat berwarna putih dan celana pendek (kira kira sepaha). Sengaja kucuri curi perhatian ke arah Payudara Bu mawar yang pada saat itu mengenakan BH berwarna hitam.

    ”Wah kenapa dengan ku, kok rasanya ada yang beda dengan bu mawar” gumamku dalam hati.

    Akhirnya kami masuk rumah, sembari kami menunggu acara bola, Toni pun memutuskan untuk tidur dulu dan minta di bangunkan oleh aku. Tiba Tiba saja aku mendadak ingin kencing, lalu kuputuskan untuk pergi ke kamar mandi, Saat itu keadaan rumah gelap karena sudah biasanya orang rumah ini tidur dengan keadaan gelap. Aku pun hanya menggunakan Senter dari HP. Aku pun tiba di depan WC, namun keadaan WC terkunci. Akhir nya aku pun mengetuk pintu WC itu dan sedikit bertanya apakah ada orang, dan ternyata Bu Mawar sedang buang air kecil. Aku pun terpaksa menunggu, namun aku sudah sangat tidak tahan, kemudian aku pun bertanya kepada Bu Mawar.

    Aku : “bu bisa cepetan dikit ga, Bobby udh g tahan nih”

    Bu Mawar : “oh iya iya”

    dan akhirnya bu Mawar keluar dari WC. Aku pun lega.

    Setelah kencing, niatku hanya langsung menuju kamar Toni, namun tanpa kusangka ternyata Bu Mawar belum beranjak dari depan pintu WC.

    Aku: “lho, ibu kok belum masuk”

    Bu Mawar : “nunggu kamu, ibu takut”
    Aku : “loh bukan nya tadi ibu berani sendirian ke WC (terheran heran).

    Bu Mawar : “gpp kok, ibu cuma ingin masuk bersama mu saja Bob (dengan sedikit senyuman)”.

    Ohhh tidak, Penisku menjadi tegang gara gara melihat Buah Dada bu Mawar yang lumayan besar yang tertutupi BH hitamnya. Aku pun menjadi pucat karena Malu kalau ketahuan Penisku ini sudah Ngaceng berat.

    Bu Mawar : “ayo masuk”

    Aku : “i..iii ya, dengan perlahan lahan aku berjalan”

    Bu Mawar : “kamu kenapa Bob (tanya bu Mawar)”

    Aku : “ehh Anu bu, Gpp kok”

    Bu Mawar pun cuek saja.

    Sesampai nya di depan kamar bu Mawar. (kamar Toni berada di depan, sedangkan kamar Orang tuanya berada di Tengah).

    Bu Mawar : “kamu mau ga temenin ibu tidur?”

    Aku pun sangat terkejut.

    Aku : “hah, apaan bu ga denger aku nya (pura pura bego)”

    Bu Mawar : “Kamu mau ga temenin Ibu Tidur, ibu takut sendirian sayang (dengan sedikit senyuman)”

    Aku : “ehhmm tapi Bu .. Toni gimana nan..”

    Bu Mawar : “sudah ayo masuk saja tidak apa apa (sambil menarik kaos ku).

    Aku sedikit gemetaran, apakah maksud bu mawar ini, dan aku pun pasrah karena tidak mungkin aku menolak nya (tdk enak gan).

    Malam itu terasa sangat panas, akhirnya aku meminta izin untuk membuka jendela ventilasi rumah

    Aku : “Bu ini Ventilasi nya di buka sedikit ya, Gerah banget”

    Bu Mawar : “oh ya sudah buka saja, senyaman mungkin lah kamu di rumah ini Bob, mumpung suami ku tidak berada di rumah”

    Aku :”hehehe iya bu (sedikit senyuman)”.

    Waktu sudah menunjukan pukul 1 malam dan sampai saat itu pun aku belum bisa tidur, dan aku juga memikirkan Toni yang ingin dibangunkan nanti jika acara bola nya sudah mulai.

    Kamar bu Mawar ini lumayan Besar, Rapih dan Bagus. Bu Mawar tidak menyarankan aku untuk menyalakan AC dan Kipas angin (aku pun hanya mengikuti saja).

    Bu Mawar : “belum tidur kamu Bob”

    Aku : “belum bu panas banget ni padahal ventilasi udah di buka, aku kira ibu sudah tidur dari tadi”

    Bu Mawar : “klo memang masih panas, di buka aja Baju nya, ibu ndak bisa tidur, insomnia mungkin”

    Aku : “emang gpp bu kalo baju Bobby ni di buka?, oh insomnia to (dengan lugu nya gan “D)”

    Bu Mawar :”gpp sayang, buka aja, buat senyaman mungkin saja, iya ibu sering insomnia ga tau kenapa, mungkin saat ini gara gara ada kamu”. Memang sebelumnya aku belum pernah tidur di rumah Bu Mawar ini.

    Aku :”oke deh.eh sekalian celana boleh ga Bu, kan gerah pake Levis”. Aku pun pura pura tidak mengerti perkataan yang tadi Bu Mawar katakan.

    Bu Mawar : “ehmm .. it’s oke”

    lalu kubuka kaos dan celana ku, kni aku hanya di balut dengan celana dalam. Tiba tiba timbul pikiran kotorku.

    Aku : “Bu apa ibu ga gerah dengan pakaian seperti itu?” tanyaku.

    Bu Mawar pun kaget.

    Bu Mawar : “sebenernya sih Gerah Bob, tapi apa engga apa apa klo ibu buka”

    Aku : “lho gpp lah bu, emg kenapa, kan ibu yang punya rumah, jadi terserah ibu donk”.

    Bu Mawar : “sekalian celana ya (sedikit kedipan mata)”

    Dibukalah baju dan celana bu Mawar.WOOOOOOOOOW dalam hati ku, tubuh nya indah banget, payudaranya juga montok, bokong nya pun kencang, maklum mereka hanya punya 1 anak yaitu cuma Toni.

    Bu Mawar : “gimana, gpp kan ? suka ga klo ibu kaya gini”

    Aku : “suka bu, cantik banget klo penampilan ibu kaya gini” Bu Mawar pun hanya tersenyum Malu mendengar perkatan ku.

    Aku : “bu, kita jangan 1 ranjang ya tidur nya”

    Bu Mawar : “engga, pokok nya 1 ranjang (dengan nada kesal mendengar perkataanku)”.

    Aku : “ya udh deh klo itu mau nya ibu”

    Bu Mawar hanya tersenyum.Kemudian kami pun langsung menuju kasur empuk dan kami hanya di balut selimut (untuk 2 orang gan). Jantung ku merasa berdebar debar, darahku serasa naik, Hangat sekali rasanya”.karena sudah memuncak, Penisku menjadi Keras dan ingin rasanya ku muncratkan sperma ku ini di payudara Bu Mawar. Karena sudah tidak tahan, ku coba untuk mengocok Penisku ini, namun secara perlahan lahan takut bu Mawar terbangun dari tidurnya. Sambil ku kocok, ku lirik payudara bu Mawar yang lumayan Besar.Shiit Dammmn tanpa kusadari ternyata bu Mawar belum tidur..

    Bu Mawar : “lagi ngapain kamu Bob (sambil tersenyum)”.

    Aku : “ehmm,,aa ann,,anuu Buu”Tegang banget disini.

    Bu Mawar :”Ibu tau kok yang Kamu Lakuin, Kamu Terangsang yah gara gara ibu memakai pakaian seperti ini”.

    Aku : “engg..ehh iyya bu sedikit”.

    Bu Mawar :”Ibu sengaja pancing kamu untuk menemani ibu tidur, Ibu sudah jarang di sentuh oleh Suami ibu”

    Aku :”ooo.h..oohh”

    Bu Mawar :”Jadi, Mau kah Kamu Bob”tanya bu Mawar padaku.

    Aku :”ehh,, Mmm MakSuud ibu ap..appa”pura pura bego.

    Bu Mawar :”udah lah jangan berlagak gitu ahh, ibu juga tau kok klo kamu…”

    Aku : “iii ..iiyaa Bbbu”.

    Tanoa Basa Basi, Bu Mawar langsung membuka Selimut yang menutupi kami berdua.Disini aku pun terus terang karena aku belum pernah melakukan hal seperti ini.

    Aku :”Bu, aa..n.u, sblumnya Bobby belum pernah ngelakuin kaya gini”.

    Bu Mawar :”ohh bagus donk, Pasti bisa banyak nih muncratnya”

    Aku :”iii.y.a bu”

    Langsung saja bu Mawar membuka celana dalam ku, dan dia pun terkejut karena ukuran Penis ku yang lumayan besar, katanya sih punya suami bu mawar ini kalah jauh.

    Bu Mawar :”suka banget sama Penis mu sayang, punya suami ibu kalah jauh”

    Aku :”eemang iya bu? (sedikit senyuman)”

    Bu Mawar : “iya donk ..”

    First, Bu Mawar langsung melumat bibir ku,.

    Bu Mawar :”ayo mainin bibir mu Bob”.

    Aku :”emmh iya bu”

    setelah 10 menit kami Berciuman, Tangan bu indah pun langsung menuju ke penisku.

    Bu Mawar :”aduuh ibu jadi geregetan, penismu bagus sekali sayang”

    Aku :”hehe”

    Bu Mawar :”ini di BJ aja dulu ya, klo baru pertana kali, biasanya ga lama”

    karena belum tau BJ, aku pun hanya mengangguk)

    Wow pintar sekali bu Mawar memainkan Penis ku, tak lama kemudian ….

    Aku :”Bu ..aaakkk…uuu”

    semakin cepat saja bu Mawar mengocok Penisku,Dannn Ahhhh, Akhir Spermaku berceceran di muka Bu Mawar.

    Aku :”makasih buu, cukup kah segini saja?”

    Dia belum menjawab pertanyaanku, karena sedang sibuk membersihkan sperma yang ada di penis dan menjilati seluruh Spermaku yang berada di Payudara nya.

    Bu Mawar :”eiits tunggu dulu donk sayang, ini mah belum apa apa”

    Aku : “maksud nya?”

    Lalu bu Mawar membuka BH dan CD nya . Dan WOW aku terkagum kagum.Tak lama kemudian Bu Mawar Duduk dan bersandar.Lalu dia menarik Kepala ku, tepat di hadapanku Vagna yang sangat bagus milik bu Mawar, Rapih gan tercuku dan masih lumayan karena jarang di sentuh suami nya.

    Bu Mawar :”Jilat Vagina Ibu Bob”

    Aku :”iya bu”

    Kemudian aku pun Menjilati Vagina Bu Mawar TERSAYANG.

    Bu Mawar :”Ahhh,, Uhhh,, “sambil menjambak rambutku. tak berapa lama, Bu Mawar menyuruh ku untuk berhenti, (shiit padahal lagi enak enaknya, tapi apa boleh buat).

    Bu Mawar :”masukin ya”

    Aku :”iya bu”

    karena baru pertama kali melakukan nya, aku pun masih kesusahan (hehe).Bu Mawar pun tersenyum melihat ku kesusahan memasukan Penisku ke dalam Lubang Vagina nya.

    Bu Mawar :”Yeee .. Susah ya?”

    Aku :”iiya nih bu,,, maap ya karena baru pertama kali”sambil tersenyum.

    Bu Mawar pun memegang penis ku, dan mengarahkan nya ke Vagina milik nya.Sleeep Akhir nya masuk juga.

    Bu Mawar :”Tekan, lalu gerakin ya Bob”.

    Aku :”iya bu, tapi sambil di ajarin ya”

    dan Bu Mawar pun Hanya mengangguk. Aku tekan tekan Penis ku dan Memain kan nya.

    Aku:”Begini bkn bu?”

    Bu Mawar :”iya sayang, nanti klo mau keluar di percepat dikit ya gerakan nya” Ahhh Ohhh ummmHHH ahhhh Anjaas ahhhh Uhhh Ummh ucap bu Mawar..

    Aku:”ahh buuu,, emmhh”

    Kemudian aku melepaskan Batang Penisku dari Vagina Bu Mawar.

    Bu Mawar :”Lho kenapa ?”

    Aku :”Ganti Posisi ya”

    Bu Mawar :”Y udh … Anal aja ya”

    aKU :”apa itu bu”

    Bu Mawar :”Kamu tusukkan Penismu ke Anus Ibu”

    Aku:”Ohh .. iya bu”

    Kemudian Bu Mawar pun membalikan Badan nya, Disini aku sudah sedikit lihai karena tadi sudah di ajarkan oleh bu Mawar. Sleeep Masuk juga.

    Aku Mainkan Penisku,

    Aku:”ahhh buu,, ummh nikmatt bu ahhh oouuhh”

    Bu Mawar:”ahhh .. terus sayang ahh woow .. buat ibu puas malam ini”

    Aku:”Buuu klo di keluarkan di dalam bagaimana?”

    Bu Mawar :”Keluarkan saja tidak apa apa .. Ouuuhh Ahhhh Emmmh Sayanngg”

    Sekitar 5 menit …..

    Aku:”Buu Akkkuuuu KelllluuArrr”

    Bu Mawar :”ahh ahhhhh ohhhhh ahhhh sayaangg emmmmhhh ahhhh”

    Crooot Croot,, spermaku pun keluar di dalam.

    Bu Mawar:”jangan di lepas, biarkan saja, tunggu mengecil sendiri”

    Aku :”Ahhhh,, Capek dan Lemes nih Bu”

    Setelah Penisku mengecil sendiri, akhir nya kucabut.Lalu Kami berdua berbaring bersama.

    Bu Mawar :”Makasih banget Bob,, malam ini ibu Puas”(kemudian mengecup bibirku).

    Aku:”Sama Sama Bu,, baru pertama kali Bobby ngelakuin kaya gini,, Makasih banget”

    Bu Mawar :”Iya sayangg”(dengan senyuman manjanya)

    Lalu Aku pun memakai Kaos dan Celana ku kembali, tapi Bu Mawar masih Berbaring di tempat tidur nya mungkin dia kelelahan.Waktu sudah menunjukan Pukul 02.00.

    Aku:”Aku ke kamar Toni dulu yah Bu, takut dia marah”

    Bu Mawar :”iya sayang, jangan bilang bilang ya (senyum gembiranya ), sini mendekat sebentar.

    Kami melakukan Kissing sekitar 5 menit, aku pun bergegas ke kamar Toni dan melambaikan tangan ku ke arah Bu Mawar, dan dia pun hanya tersenyum puas.

  • Cerita Sex Tante Yang Kesepian

    Cerita Sex Tante Yang Kesepian


    1166 views

    Perawanku – Setelah sepulang sekolah bisanay aku disuruh untuk menjaga took milik tante girang, dia adalah teman dari ibuku yang saudaranya jauh sekali, aku mulai menjaga took ini 3 minggu yang lalu, yang beli biasanya ibu iu rumah tangga karena yang disediakan disini adalah menjual sembakao, Toko milik tante Lina berdempetan dengan toko tante girang.

    Dia biasanya saling omong-omong, bersenda gurau dengan Tante Girang xxx, dan apabila telah begini tentu lama sekali selesainya. Dan seperti biasanya, aku pulang duluan ke rumah karena Tante Girang xxx biasanya dijemput oleh suaminya atau anaknya.

    Tapi suatu saat, ketika mau pulang aku teringat bahwa harus mengantarkan Indomie ke pelanggan, aku cepat-cepat balik ke toko. Dan memang toko sudah sepi, pintu pun hanya ditutup tanpa dikunci. Aku pun langsung masuk menuju tempat penyimpanan Indomie.

    Ternyata aku menyaksikan peristiwa yang tidak kuduga sama sekali, kulihat Tante Girang xxx dengan posisi tetelentang di antara tumpukan karung beras sedang dioral kemaluannya oleh Bu Lina. Tante Girang xxx sangat menikmati dengan rintihannya yang ditahan-tahan dan tangannya memegang kepala Bu Lina untuk dirapatkan ke selangkangannya.  Agen Obat Kuat Pasutri

    Karena terkejut atas kedatanganku, maka keduanya pun berhenti dengan memperlihatkan wajah sedikit malu-malu. Tapi tidak sampai lima detik, mereka pun tersenyum dengan penuh artii

    “Kamu belum pulang to Her (Hery namaku), kebetulan lho kita bisa rame-rame, ya kan Bu Lina..?” ucap Tante Girang xxx sambil menariktangan Bu Lina ke arah kedua dadanya yang terbuka.

    “Ayo sini Her.., jangan malu, ughh, ahh..!” desah Tante Girang xxx lagi, kali ini tangannya melambai ke arahku.

    Dan aku pun sempat bingung tidak tahu harus berbuat apa, tapi karena kedua wanita dalam keadaan tanpa pakaian seperti itu memanggilku, nafsu kelelakianku bangkit walaupun aku belum pernah merasakan sebelumnya.

    Perlahan aku mendekati keduanya sambil melihat mereka berdua. Seperti seorang raja aku pun disambut, mereka yang tadinya telentang dan menindih kini mereka bangkit dan duduk sambil menata rambutnya masing-masing.

    Hanya lima langkah aku pun sampai di hadapanya, dan dengan lihai mereka berdua langsung meremas selangkanganku.

    Cerita Sex Tante Yang Kesepian

    Cerita Sex Tante Yang Kesepian

    “Her, ini pernah masuk ke sarangnya belum..?” tanya Tante Girang xxx manja.

    “Be.., belum Tante..!” jawabku polos sambil menahan rasa geli yang begitu nikmat.

    “Wah.., hebat dong belum pernah. Pertama kali langsung dapat dua lubang..!” canda Bu Lina, sementara tangannya menarik lepas celanaku hingga aku benar-benar telanjang di hadapan mereka.

    Dan sesaat kemudian aku merasakan kehangatan padabatang kemaluanku. Terdengar srup, srup ahh. Tante Girang xxx dan Bu Lina seakan ingin berebut untuk menikmati batang kemaluanku yang berukuran normal-normal saja.

    “Ayo Bu.., hisap yang lebih kenceng biar keluar isinya..!”

    “Iya Bu.., ini kontol kok enak banget sih..?”

    “Cupp.., crupp..!” kata mereka berdua saling menyahut.

    Aku hanya pasrah menikmati perlakuannya dan sesekali kuusap pipi-pipi kedua Tante-Tante itu dengan nafsu juga.

    Tidak sampai 10 menit, aku merasakan sesuatu kenikmatan luar biasa yang biasanya terjadi dalam mimipi, badanku menegang, mataku terpejam untuk merasakan sesuatu yang keluar dari kemaluanku. Tumpahan maniku memuncrat mengenai wajah Bu Lina dan Tante Girang xxx, dan dengan serta merta Tante Girang xxx mengalihkan lumatan dari punyaku ke wajah Bu Lina.

    Dengan buas sekali mereka saling berciuman bibir, berebutan untuk menelan air kenikmatan punyaku. Aku pun berjongkok dan membuka paha Tante Girang xxx, Tante Girang xxx hanya menurut.

    “Mau apa kau Sayang..?” desah Tante Girang xxx.

    Aku hanya diam saja dan mengarahkan wajahku ke arah selangkangannya yang berbau anyir dan tampak mengkilap karena sudah basah. Aku mencoba untuk melakukan seperti di film-film. Kumasukkan lidahku ke dalam rongga-rongga vaginanya serta menyedot-nyedot klitorisnya yang kaku itu.

    Kurasakan ketika aku menyedot benda kecil Tante Girang xxx, Tante Girang xxx selalu menggelinjang dan mengangkat pantatnya, sehingga kadang hidungku ikut mencium benda kecil itu.

    “Her.., kamu kok pinter banget sih, terus, terus uggh.. ughh.. ahhh, ehh, aahhh..!” ceracau Tante Girang xxx.

    “Terus Her, terus..! Beri Tantemu surga kenikmatan, ayo Her..!” ucap Bu Lina yang memilin dan mengemut puting susu Tante Girang xxx.

    “Terus Bu..! Her.., aku mau muncrat! Ayo Her.., sedot yang keras lagi..!” pinta Tante Girang xxx.

    Aku pun semakin liar memainkan vaginanya, dan dengan teriakan Tante Girang xxx, “Aghh.., ughh..!” lidahku merasakan ada cairan kental keluar dari vagina Tante Girang xxx. Aku cepat-cepat menangkapnya dan sedikit ragu untuk menelannya.

    “Her, sudah Her.., Tante sudah puas nih..! Kamu gantian dengan Bu Lina ya..!” ucapnya sambil tangannya mengusap cairannya yang keluar dari liang senggamanya.

    Aku pun tidak sadar bahwa batang kemaluanku sudah bangun lagi, tegak dengan sempurna walaupun sedikit terasa ngilu.

    “Bentar Her.., kamu disini dulu ya..!” pinta Bu Lina sambil keluar ke tempat tumpukan koran dan mengambil beberapa lembar.

    Kemudian Bu Lina masuk ke gudang lagi dengan menggelar koran yang dibawanya. Setelah kira-kira cukup, Bu Lina menelentangkan tubuhnya dan memanggilku, “Ayo sekarang giliran saya dong Her..!” katanya sambil tangannya meremas susunya sendiri.

    Aku pun langsung mengangkanginya dan kedua tangan pun mengganti tangannya untuk meremas susu-susunya yang masih kenyal. Lembut, halus, enak rasanya memegang payudara orang dewasa.

    “Her.., masukin dong tuh burung kamu ke lubang Lina, ayo dong Her..!” bisiknya lembut.

    intermezooo….Silahkan lanjutkan baca Cerita Ngentot Tante Girang nya ya….||||

    Aku pun berusaha untuk mengarahkan masuk ke liangnya, tapi dasar memang masih amatir, terasa terpeleset terus.

    “Ayo Lina bantu biar nggak salah sasaran..!” ucapnya.

    Dan tangannya pun memegang batang kemaluanku dengan lembut dan memberikan kocokan sebentar, dan akhirnya dibimbing masuk ke lubang kenikmatannya.

    Ini pertama kali kurasakan penisku masuk ke sarangnya. Terasa hangat, lembab, nikmat dan seperti ditarik-tarik dari dalam kamaluan Bu Lina. Secara naluri aku pun mulai menggerakkan pantatku maju mundur secara pelan dan berirama.

    “Terus Her.., masukkin lagi yang lebih dalam, ayooo, ughh..!” desah Bu Lina.

    Tangan Bu Lina pun telah memegang pantatku dan menekan-nekan supaya doronganku lebih keras, sedangkan kakinya telah melingkar di pinggangku.

    Kira-kira hanya 10 menit berlalu, Bu Lina menjerit sambil menggaruk punggungku dengan keras, “Ooohhh.., aku ngejrot.., Her..! Yeess.., uhhh..!”

    Kemudian tubuhnya lunglai dan melepaskan kakinya yang melingkar di pinggangku. Aku pun bangkit meninggalkan Bu Lina yang telentang dan tampak dari liang kenikmatannya sangat banyak cairan yang keluar. Kuhampiri Tante Girang xxx yang mulai menutup pintu-pintu tokonya. Aku pun turut membantunya untuk mengemasi barang-barang.

    Setelah beberapa menit menunggu jemputan, terdengar telpon berdering. Setelah kuangkat ternyata mobil yang dipakai menjemput dipakai suaminya untuk ngantar tetangga pindahan. Kemudian aku pun menawarkan untuk mengantarkan ke rumah Tante Girang xxx dengan Impresa 95 kesayanganku.

    Di dalam perjalanan, Tante banyak bercerita bahwa hubungan lesbinya dengan Bu Lina sudah 3 tahun, karena Omku suka pulang malam (mabuk-mabukan, judi, nomor buntut, dan sebagainya) sehingga tidak puas bila dicumbu oleh Omku. Sedangkan Bu Lina memang janda karena suaminya minggat dengan wanita lain.

    Sampai di rumah Tante Girang xxx, suasananya memang sepi karena anaknya kuliah dan Omku sedang mengantar tetangga pindah rumah. Setelah aku angkat-angkat barang ke dalam rumah, aku pun lalu pamitan mau pulang kepada Tante Girang xxx. Aku terkejut, ternyata Tante Girang xxx bukannya memperbolehkan aku pulang, tetapi malah menarik tanganku menuju kamar Tante Girang xxx.

    “Her.., Tante tolong dipuasin lagi ya Yang..!” pintanya sambil memelukku dan menempelkan kedua buah dadanya ke tubuhku.

    Aku pun mencium bibirnya yang terbuka dan mengulumnya dengan nafsu, demikian pula Tante Girang xxx. Kemudian dengan dorongan, jatuhlah tubuh kami berdua di kasurnya, dan dengan bersemangat kami saling meraba, menindih, merintih. Hingga akhirnya aku melepaskan maniku ke dalam kemaluan Tante Girang xxx.

    Aku pun pamitan pulang dengan mencium bibirnya dan meremas susunya dengan lembut. Kemudian dari laci lemari diambilnya uang seratus ribuan, dan diberikan kepadaku, “Untuk rahasia kita..!” katanya.

    Sampai saat ini lebih dari 2 tahun aku bekerja di toko Tante Girang xxx, dan hubungan badanku dengan Tante Girang xxx dan Bu Lina masih berlangsung. Dan yang menyenangkan adalah Tanti, anak Bu Lina mau kupacari, dan aku ingin menjadikannya sebagai istri.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Pijitan janda pembantuku yang berlanjut ngentot

    Cerita Sex Pijitan janda pembantuku yang berlanjut ngentot


    1136 views

    Perawanku – Cerita Sex Pijitan janda pembantuku yang berlanjut ngentot, Pagi itu, setelah bermain golf di Ciracas, badanku terasa gerah dan lelah sekali karena, aku menyelesaikan delapan belas hole, biasanya aku hanya sanggup bermain sembilan hole, tetapi karena Ryan memaksaku untuk meneruskan permainan, maka aku jadi kelelahan seperti sekarang ini.

    Kupanggil Sumi pembantuku yang sudah biasa memijatku, aku benar-benar merasa lelah karena semalamnya aku sempat dua kali “bertempur” dengan kenalanku di Mandarin, pasti nikmat rasanya dipijat dan selanjutnya berendam di air panas, langsung aku membuka pakaianku hingga hanya tinggal celana dalam dan langsung berbaring di atas tempat tidurku.

    Namun agak lama juga Sumi tak muncul di kamarku memenuhi panggilanku melalui interkom tadi, biasanya Sumi sangat senang bila aku suruh memijat karena disamping persenan dariku besar, dia juga sering kupijat balik yang membuat dia juga dapat merasakan kenikmatan yang satu itu.
    Ketika kudengar langkah memasuki kamarku, aku langsung berkata, “Kok lama sih Mar, apa masih sibuk ya, ayo pijat yang nikmat!”. Tiba-tiba kudengar suara perempuan lain, “Maaf Pak, Mbak Sumi masih belum kembali, apa bisa saya saja yang memijat?”.

    Aku meloncat duduk dan menoleh ke arahnya, ternyata di depanku berdiri pembantu lain yang belum pernah kukenal. Kuperhatikan pembantu baru ini dengan seksama, wajahnya manis khas gadis desa, dengan bibir tipis yang merangsang sekali.

    Ia tersenyum gugup ketika melihat aku memperhatikannya dari atas ke bawah itu. Aku tak peduli, mataku jalang menatap belahan dasternya yang agak rendah sehingga menampakkan sebagian payudaranya yang montok itu. Dengan pelan kutanyai siapa namanya dan kapan mulai bekerja.
    Ternyata dia adalah famili Sumi dari Kerawang namanya Lastri dan dia ke Jakarta karena ingin bekerja seperti Sumi. Aku hanya mengangguk-angguk saja, ketika kutanya apakah dia bisa memijat seperti Sumi, dia hanya tersenyum dan mengangguk.

    Kuperintahkan dia untuk menutup pintu kamar, sebenarnya tidak perlu pintu kamar itu ditutup karena pasti tak ada seorangpun di rumah, isteriku juga sedang pergi entah ke mana dan pasti malam hari baru pulang, tujuanku hanyalah menguji Lastri, apakah dia takut dengan aku atau benar-benar berani. Kuambil cream untuk menggosok tubuhku dan kuberikan pada Lastri sambil berkata “Coba gosok dulu badanku dengan minyak ini, baru nanti dipijat ya!”.

    Aku membuka celana dalamku dan langsung telungkup di tempat tidur, sengaja pada waktu berjalan aku menghadap Lastri sehingga Lastri dapat juga melihat penisku, ternyata dia diam saja. Ketika aku sudah berbaring, dia langsung membubuhkan lotion itu di punggungku dan menggosokannya ke punggungku. Sambil memejamkan mata menikmati elusan tangan Lastri yang halus, aku mengingatkan dia agar menggosoknya rata ke seluruh badanku. Sambil berbaring aku minta Lastri menceriterakan tentang dirinya.

    Ternyata Lastri seorang janda yang belum mempunyai anak, suaminya lari dengan perempuan lain yang kaya raya dan meninggalkan dia. Karena itu dia lebih suka ke Jakarta karena malu. Aku berkata kepadanya, “Jangan kuatir, kalau begitu kapan-kapan kamu mesti kembali ke desamu dengan banyak uang supaya bekas suamimu tahu kalau kamu sekarang sudah kaya dan bisa membeli laki-laki untuk jadi suamimu!”.

    Lastri tertawa mendengar perkataanku itu. Ketika itu Lastri sudah mulai menggosok bagian pantatku dengan lotion, tangannya dengan lembut meratakan lotion tersebut ke seluruh pantatku bahkan juga di sela-sela pantatku diberinya lotion itu sehingga kadang-kadang tangannya menyenggol ujung pelirku.

    Aku jadi tegang dengan gosokan Lastri ini, tetapi aku diam saja namun akibatnya posisiku jadi tidak enak, karena posisiku yang tengkurap membuat penisku yang berdiri tegak itu jadi tertekan dan sakit sekali. Aku jadi gelisah karena penisku rasanya mengganjal. Lastri yang melihat aku gelisah itu bertanya apakah gosokannya kurang betul. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.

    Ketika aku bertanya lagi apakah isteri baru suaminya itu cantik, Lastri hanya menjawab dengan tertawa katanya, “Cantik atau tidak yang penting uangnya banyak, kan suami saya bisa numpang nikmat!”, Ketika Lastri sudah menggosok badanku sampai ke kaki, dia bertanya, “Apa sekarang mulai dipijat pak?”.

    Aku langsung berbalik telentang sambil berkata, “Sekarang yang bagian depan juga diberi minyak ya!”. Aku sengaja memejamkan mata sehingga aku tak tahu bagaimana sikap Lastri melihat bagian depan tubuhku yang telanjang itu, apalagi penisku sudah berdiri penuh mendongak ke atas dengan ujungnya yang seperti jamur raksasa itu.

    Lastri tidak banyak berbicara, tetapi ia mulai menggosok bagian dadaku dengan lotion yang harum itu, ketika aku membuka mata, kulihat buah dadanya yang montok tepat berada di depan mataku, bahkan karena potongan dusternya rendah, aku bisa melihat celah buah dadanya yang terjepit diantara beha yang dipakainya.

    Ketika gosokan Lastri sampai di selangkanganku, Lastri membubuhi sekitar bulu penisku dengan lotion tersebut, begitu juga dengan buah pelirku yang dengan lembut diberinya lotion tersebut. Saat itu Lastri berkata “maaf pak, apakah burungnya juga digosok?”. Aku tak menyahut tetapi aku hanya mengangguk saja.

    Tanpa ragu Lastri membubuhi ujung penisku dengan lotion tersebut, terasa dingin, kemudian Lastri mulai meratakannya ke seluruh batang penisku dengan lembut sekali, bahkan dia menarik kulit penisku sehingga lekukan di antara kepala dan batang kenikmatanku juga diberinya minyak.

    Ketika itulah aku membuka mataku dan memandang Lastri, ketika dilihatnya aku memandangnya, Lastri tersenyum dan tertunduk sementara tangannya terus mengurut penisku itu. Aku sudah tak kuat lagi menahan keinginanku, kutahan tangannya dan kusuruh Lastri untuk membuka pakaiannya. Lastri yang sudah janda rupanya langsung paham dengan keinginanku, wajahnya memerah, tetapi ia langsung bangkit dan membuka dusternya.

    Aku duduk di tepi tempat tidur memperhatikan badan Lastri yang hanya dilapisi beha mini dan celana dalam mini yang kurasa pasti pemberian isteriku. Buah dadanya membusung keluar karena beha yang diberikan isteriku nampaknya kekecilan sehingga tak dapat menampung payudaranya yang montok itu.

    Aku berdiri mendekati Lastri dan kupeluk dia serta kubuka pengait behanya, payudaranya yang montok dan kenyal itu tergantung bebas menampakkan garis merah bekas terjepit beha yang kekecilan itu, tetapi payudaranya sungguh kenyal dan gempal sama sekali tidak turun dengan putingnya yang mendongak ke atas. Ketika kurogoh celana dalamnya kurasakan bulu vaginanya cukup rimbun sementara ketika jariku menyentuh clitorisnya,

    Lastri seperti terlonjak dan merapatkan badannya ke dadaku, kurasakan vagina Lastri kering sekali sama sekali tak berair. Kukecup puting susu Lastri sambil kedua tanganku menurunkan celana dalamnya itu. Ketika kutarik Lastri ke tempat tidur, Lastri meronta katanya,

    “Pak saya takut hamil!” Kujawab enteng, jangan kuatir, kalau hamil tanggung jawab Bapak!”. Mendengar hal ini barulah dia mau kubaringkan di atas tempat tidurku, sambil menutupi matanya dengan tangan. Kupuaskan mataku memandang kemolekan gadis desa ini, aku langsung menyerbu vaginanya yang ditutupi bulu yang cukup rimbun itu, kuciumi dan kugigit pelahan bukit cembung yang penuh bulu itu,

    Lastri merintih pelan, apalagi ketika tanganku mulai mengembara menyentuh puting susunya. Lastri hanya menggigit bibir sementara tangannya tetap menutupi wajahnya, mungkin dia masih malu. Ketika aku berhasil menemukan clitorisnya, aku langsung menjilatinya begitu juga dengan bibir vaginanya kujadikan sasaran jilatan.

    Mungkin karena merasa geli yang tak tertahankan, tangan Lastri mendorong pundakku agar aku tak meneruskan gerakanku itu, begitu juga dengan pahanya yang terus akan dirapatkan, tetapi semua ikhtiar Lastri tak berhasil karena tanganku menahan agar kedua pahanya itu tak merapat. Akibatnya Lastri hanya bisa menggerak gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan menahan geli.

    Tetapi lama-kelamaan justru aku yang jadi tak tahan dengan semua ini, kuhentikan jilatanku dan segera kutindih Lastri sambil mengarahkan penisku ke liang vaginanya. Melihat aku kesulitan memasukkan ujung penisku, Lastri dengan malu-malu menuntun penisku ke arah liangnya dan menepatkannya di ujung bibir vaginanya. Ketika itu dia berbisik, “Sudah pas pak”.

    Aku langsung mendorong pantatku agar supaya penisku bisa masuk yang disambut juga oleh Lastri dengan sedikit mengangkat pahanya sehingga.., sleep.., bles.., penisku terbenam seluruhnya di liang vagina Lastri yang seret itu, belum sempat aku menggerakkan penisku, Lastri sudah mulai memutar mutar pantatnya sehingga ujung penisku rasanya seperti dilumat oleh liang vagina Lastri itu.

    Aku mendengus keenakan, bibirku mencari puting susu Lastri dan mulai mengulumnya. Sambil mendesah desah Lastri berkata, “Ayo pak, digoyang, biar sama sama nikmat nya!”. Aku terkejut melihat keberanian Lastri menyuruh aku bekerja sama dalam permainan ini.

    Tetapi justru ini membuat aku makin terangsang, meskipun profesinya hanya pembantu, tetapi cara main Lastri benar benar memuaskan. Vaginanya tak henti henti meremas penisku membuat aku jadi ngilu, aku sudah paham bahwa orang desa secara naluri sudah mempunyai kemampuan seks yang hebat, jadi untuk aku kemampuan Lastri benar benar sulit dicari bandingannya.

    Ketika kurasakan air maniku hampir memancar, aku berbisik pada Lastri agar berhenti menggoyang pantatnya supaya aku dapat lebih merasakan kenikmatan ini. Tetapi Lastri justru makin cepat menggoyangkan pantatnya serta meremas-remas penisku sehingga tanpa dapat ditahan lagi air maniku memancar dengan derasnya memenuhi vagina Lastri.

    Saat itu juga Lastri mencengkeram punggungku keras keras dan kurasakan vaginanya menjepit penisku dengan erat sekali, matanya terbeliak sambil mendesis. Rupanya aku dan Lastri mencapai puncaknya pada saat yang bersamaan. Setelah beberapa menit diam, kurasakan Lastri pelan pelan mulai meremas-remas punggungku sambil menempelkan pipinya ke pipiku.

    Dengan tersipu-sipu dia bercerita kalau dia senang bisa mendapat rejeki ditiduri olehku, karena sejak di desa dulu dia memang nafsunya besar, sehingga suaminya sampai kerepotan melayani nafsunya yang luar biasa itu. Sekarang ini dia benar-benar baru merasakan puas yang sebenarnya setelah main denganku.

    Aku terhanyut oleh caranya yang mesra itu, namun aku tak ingin main lagi saat itu karena aku tadinya benar-benar hanya mau pijat dan melemaskan ototku, kalau sampai harus seperti ini, semuanya hanya gara-gara ada vagina baru di rumah yang tentunya tak dapat aku biarkan. Setelah kuberi dia uang 200 ribu, kusuruh Lastri keluar, Lastri sangat terkejut melihat jumlah uang yang kuberikan, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih dan keluar dari kamarku.

    Sekeluarnya Lastri, aku kembali berbaring telanjang bulat diatas ranjangku sambil memejamkan mata, badanku terasa enteng karena terlalu banyak seks.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Bos Perempuan ML Dengan Manajernya

    Cerita Sex Bos Perempuan ML Dengan Manajernya


    2190 views

    Perawanku – Cerita Sex Bos Perempuan ML Dengan Manajernya, Sudah sepuluh tahun aku bekerja di suatu perusahaan swasta. Diawali dengan membaca iklan yang dimuat oleh perusahaan tersebut, keesokan harinya aku datang membawa berkas yang dibutuhkan dan memasukkan lamaran lewat Sekretaris Eksekutif Direktur Utama, Ibu Ina namanya. Orangnya cantik, langsing dan menarik. Setelah melalui seleksi yang cukup ketat, akhirnya aku diterima bekerja. Aku sangat senang dan bekerja dengan giat.

    Berkat kerja keras, pimpinan memberikanku kesempatan meningkatkan keterampilan dengan sekolah lagi di luar kota, sehingga akhirnya aku memperoleh jabatan yang semakin tinggi. Ibu Ina yang dulunya jauh kedudukannya di atasku, menjadi semakin dekat, sehingga kami sering bertemu. Setelah duduk di jajaran eksekutif, barulah aku tahu bahwa ia sudah bersuami dan mempunyai dua orang anak yang sudah duduk di bangku SLTA dan SLTP. Padahal sejak kulihat pertama kali, aku sudah naksir dia, sayang ia sudah menikah. Ibu Ina yang kulihat sepuluh tahun lalu, belum banyak berubah, meskipun sudah berusia 40 tahun. Aku sendiri berusia 5 tahun di bawahnya. Keterampilan dan penampilannya selalu mempesona, sehingga posisinya semakin menanjak, bahkan setelah menyelesaikan pascasarjana strata dua ia diangkat sebagai Manager pada bidang quality control. Meskipun setahun yang lalu aku menikahi Waty, seorang gadis manis dari Klaten, aku tetap menjadi pengagum diam-diam Ibu Ina. Tak seorang pun di kantor yang mengetahui betapa aku begitu memujanya.

    Suatu ketika Direktur Utama memanggilku, “Saudara Agus saya tugaskan mengikuti pertemuan dengan beberapa rekanan di Yogya selama 3 hari.” Aku sempat kesal waktu dipanggil menerima tugas tersebut, karena ada ulah bawahan di bagianku yang membuatku uring-uringan dan harus kubereskan dalam waktu 5 hari. Aku sempat menolak halus, “… tapi maaf Pak, bukankah saya harus membereskan masalah di bagian saya?” Sang Direktur berkata, “Tentang hal itu tidak perlu saudara risaukan, saya sudah menugaskan orang lain untuk menyelesaikannya.” Lalu ditambahkannya, “Oh ya, saudara saya minta membantu sepenuhnya Ibu Ina, salah seorang manager kita untuk mempresentasikan di depan rekanan tentang manajemen mutu perusahaan kita. Pertemuan ini sangat penting dalam rangka menjalin kerja sama ke depan. Saudara saya minta bersungguh-sungguh dalam tugas ini. Saya mempercayakan saudara mendampingi Ibu Ina mengingat kemampuan saudara yang telah saya lihat selama ini.” Ups, aku terhenyak kaget, bukan hanya karena kepercayaan yang diberikan kepada saya, tetapi karena seakan mendapatkan durian runtuh. “Pucuk dicinta ulam tiba,” pikirku, “Tiga hari bersama si Cantik Bu Ina tentunya akan sangat menyenangkan.” Rasanya tidak sabaran menunggu saat keberangkatan.

    Sehari sebelum keberangkatan ke Yogya, Ibu Ina memanggilku dan mengatakan,

    “Dik Agus, aku agak deg-degan naik pesawat akhir-akhir ini, sehingga meskipun seharusnya kita naik pesawat, aku telah memesan dua tiket kereta api eksekutif malam untuk kita. Tetapi lumpsum kita tidak dikurangi selama berada di sana. Harap Dik Agus maklum dan tidak keberatan atas keputusanku,” nada suaranya terkesan galak dan tegas.

    Kujawab dengan spontan, “Tak apa-apa, Bu, demi menemani Ibu Ina, saya bersedia jalan kaki sekalipun.”

    Ia tersenyum kecil sambil mencubit lenganku. Wah, terkejut hatiku karena tidak menduga mendapat perlakuan demikian. Ah, berjuta rasanya. Kuelus-elus lenganku menikmati bekas cubitannya. Ia hanya memandangku dengan tatapan yang tak kumengerti.

    Saat berangkat dari Stasiun Gambir, aku duduk di sebelah kanan Bu Ina. Kami ngobrol begitu akrab, seakan-akan dua sahabat lama yang bertemu kembali. Wangi parfumnya begitu menggodaku, apalagi rambutnya yang sebahu tergerai lepas dan anak rambutnya sesekali mengenai keningku dikala kami berbincang-bincang.

    Menjelang tengah malam, Bu Ina minta ijin tidur duluan. Memang sebelumnya kulihat ia sudah menguap tanda mengantuk. Aku masih membaca majalah sambil sesekali melirik wajahnya yang cantik. “Ah, betapa lembut wajahnya, andaikan aku dapat mengelusnya,” batinku. Lamunanku semakin melambung manakala tubuhnya semakin rapat ke tubuhku dan kepalanya rebah di pundak kiriku. Tak enak mengganggu tidurnya, kubiarkan saja kepalanya bersentuhan dengan kepalaku, bahkan beberapa kali kudekatkan hidungku menghirup wangi rambutnya. Tak tahan dengan situasi itu, tangan kiriku kuletakkan ke pundak kirinya, merangkul tubuhnya. Kurasakan pipinya bersentuhan dengan pipiku. Ah, betapa halusnya. Tapi aku tak berani berbuat lebih jauh. Tak lama kemudian aku tertidur dalam posisi memeluk pundaknya.

    Tiba di Yogya, aku duluan bangun dan kuperbaiki letak dudukku agar ia tidak malu jika mengetahui kupeluk pundaknya semalaman. Kami pun naik taksi menuju hotel tempat pertemuan kami yang dimulai hari itu.

    Setelah dua hari lamanya berada di Yogya, pertemuan kami berakhir sehari lebih cepat dari yang dijadwalkan. Bu Ina berbisik padaku usai makan siang,

    “Dik Agus, tidak ada rencana mau kemana siang ini? Kalau tidak mengganggu, habis makan siang ini, tolong temani aku belanja ya?”

    “Baik Bu, ke manapun Ibu minta, akan saya antar,” jawabku sambil memperhatikan wajahnya.

    Siang itu kami berdua berjalan sepanjang Jalan Malioboro. Usai belanja, Ibu Ina mengajakku naik delman menuju hotel tempat kami menginap. Kami masuk ke kamar masing-masing. Letih juga berjalan menemani Bu Ina berbelanja. Aku berpikir ingin memanjakan diri sambil membersihkan tubuh, kemudian aku bertelanjang menuju kamar mandi dan berendam di bathtub. Rasanya belum lama berendam, telepon di kamar berdering kudengar berdering. “Sial, siapa yang ganggu orang sedang santai gini?” gerutuku. Kutarik handuk dan mengeringkan tanganku, lalu dengan bertelanjang, aku keluar kamar mandi dan mengangkat gagang telepon.

    “Sedang ngapain, Dik?” kudengar suara lembut di seberang sana, “Ah, ternyata Ibu Ina,” pikirku.

    “Sedang mandi, Bu, habis gerah banget abis jalan-jalan tadi,” jawabku.

    “Waduh, maaf ya, jadi ganggu kegiatan Dik Agus,” sesalnya, “Kalau gitu, teruskan aja mandinya.”

    Khawatir ia butuh bantuanku, dengan cepat kubantah, “Tidak apa-apa, Bu. Sudah selesai koq. Ada yang bisa saya bantu, Bu?”

    “Gini lho Dik, tapi maaf lho, terus-terusan aku minta bantuanmu. Sekarang kan sudah pukul enam, tadi petugas hotel memberitahuku ada film bagus di bioskop yang dekat hotel ini. Aku ingat waktu kuliah dulu di Bulaksumur suka nonton di situ. Bagaimana kalau tak ada acara, Dik Agus temani Mbak nonton? Tapi makan malam dulu deh!” Aku terkejut campur senang mendengar ajakannya, tetapi lebih kaget lagi waktu mendengarnya mengganti sebutan dirinya dengan Mbak. “Ah, ada apa nih?” pikirku penasaran.

    “Wah, dengan senang hati, Bu. Bila perlu kita makan di luar aja, supaya tidak telat nontonnya,” timpalku dengan hati berbunga-bunga.

    “Jangan panggil Ibu terus dong, kita kan sedang tidak di kantor. Panggil Mbak gitu, apalagi Mbak belum setua ibumu, bukan?” katanya di seberang sana.

    “Maaf, Bu … eh .. Bu … eh .. iya Mbak Ina,” kataku terbata-bata.

    “Nah, kan? Masih latah sebut Ibu terus?” guraunya lagi. Kemudian sambungnya, “Kita makan aja dulu, baru nonton. Mbak tunggu di ruang makan hotel tiga puluh menit lagi ya?” serunya tanpa menunggu jawabanku dan memutuskan pembicaraan.

    Waktu makan malam, aku begitu terpesona melihat penampilan Mbak Ina (sekarang kuganti panggilannya sesuai permintaannya tadi). Ia mengenakan celana jeans dan kaos, sebab ia tampil seperti anak muda usia belasan tahun. Apalagi warna lipstick tipis merah muda yang menghiasi bibir mungilnya. Kami makan berdua sambil berbincang-bincang tentang berbagai hal.

    Setelah makan, kami menuju bioskop yang dimaksud Mbak Ina. Ternyata film yang akan kami saksikan telah berjalan setengah jam dan pintu theatre sudah ditutup. Ada film di dua theatre lain, tetapi karena tidak tertarik, Mbak Ine tidak mau. Sewaktu melihat jadwal tayang, kami melihat bahwa film yang akan kami tonton masih akan diputar pukul 23.

    “Bagaimana jika kita nonton tengah malam Dik? Tokh kita masih nginap semalam lagi dan besok sore baru kembali ke Jakarta?” tukas Mbak Ina.

    “Saya sih tidak keberatan, Mbak, asal Mbak tidak takut tidur kemalaman ntar,” kataku.

    “Ah, sekali-sekali tidur larut malam tak apa, kan? Apalagi sayang jika tadi kita langsung pulang, padahal hotel ini sudah dibayar mahal sampai besok sore,” timpalnya sambil menarik tanganku. “Kita jalan-jalan dulu deh nunggu pukul sebelas,” tambahnya. Kami pun keluar areal bioskop setelah memesan tiket untuk pertunjukan film pukul 23.

    Kami berjalan-jalan dan menikmati roti bakar dan wedang jahe di pinggir jalan. “Ah, ternyata enak juga jalan bareng Mbak Ina, bisa merakyat begini, tidak hanya makan di restoran mahal,” pikirku.

    “Heh, ngapain, siang-siang sudah ngelamun jorok,” tiba-tiba Mbak Ina mengagetkan aku sambil mencubit pipiku. Aku tersipu-sipu malu dan menjawab,

    “Nggak ngelamun koq, Mbak, cuma heran aja, koq kita bisa begini akrab ya, padahal di Jakarta tidak sempat seperti ini?”

    “Ah kamu … emang nyesel jalan bareng Mbak?” tanyanya merajuk. Eh, dia mulai mengganti panggilan Dik dengan kamu. Aku agak heran, tapi kupikir mungkin karena ia makin merasa amat dekat denganku.

    “Siapa bilang nyesel, Mbak? Malah senang banget. Nggak pernah mimpi bisa berdua Mbak begini.”

    Sepuluh menit menjelang pukul 23, kami sudah kembali ke bioskop. Kami masuk dan nonton film romantis, tetapi berbau horor. Waktu menonton adegan yang menyeramkan, tangan Mbak Ina memegang pergelangan tanganku dengan kencang.

    Suatu ketika pegangannya begitu kuat, hingga aku terkejut dan berseru,

    “Mbak, tanganku sakit tertusuk kuku Mbak!”

    “Aduh, maaf, abis ngeri banget sih liat vampire-nya muncul tiba-tiba,” katanya tanpa melepaskan genggaman tangannya.

    Namun saat ada adegan ranjang yang cukup hot, dimana pemain wanitanya hanya tinggal mengenakan baju tipis dan buah dadanya nampak terbuka, sedang berciuman dengan tokoh vampire di film tersebut, kurasakan jari-jari Mbak Ina meremas-remas jari-jari tangan kiriku. Aku hampir tak berani bergerak merasakan remasan tangannya dan napasku serasa terhenti di leher. Hal itu terjadi beberapa kali. Aku tidak berusaha menepis, karena kupikir itu reaksi alami karena adegan panas yang kami lihat, bahkan aku berharap agar tangannya tidak pindah dari jari-jariku. Namun aku tidak berani membalas remasannya, khawatir ia akan salah sangka.

    Pukul 01 film pun berakhir. Kami naik becak menuju hotel. Mbak Ina nampak masih tercekam oleh film tadi, sehingga ia banyak berdiam diri.

    “Mbak udah ngantuk ya? Koq diam aja?” tanyaku sambil mencolek punggung tangannya.

    “Hiiyy, serem juga film tadi. Untung ada kamu, kalau tidak, Mbak udah pingsan kali,” jawabnya.

    “Ah, itu kan cuma film, Mbak. Ngapain dipikirin, ntar malah nggak bisa tidur lho! Apalagi tidak ada teman di kamar Mbak,” kataku.

    Ia diam saja, sehingga aku agak menyesal menggodanya dan memegang jari-jarinya,

    “Maaf ya Mbak, saya tidak bermaksud menakut-nakuti Mbak. Maafkan kata-kata saya barusan.”

    Mbak Ina membalas sentuhanku dengan meremas jari-jariku sambil berkata,

    “Tak apa-apa. Kamu begitu baik temani sejak siang tadi dan nonton, walaupun film tadi mungkin bukan film yang kamu sukai.”

    Kami turun dari becak dan menuju lantai lima di mana kamar kami berada dan masuk ke kamar masing-masing. Aku masih merasakan aroma parfum yang dipakai Mbak Ina melekat di pundak dan jari-jariku. Seperti kerasukan, aku menciumi jari-jariku sendiri seolah-olah mencium jari-jari Mbak Ina. Sewaktu mau merebahkan tubuh di ranjang, telepon berdering. “Ah, siapa lagi telepon malam-malam?” pikirku, “Dik Agus, sudah tidur ya?” kudengar suara Mbak Ina di seberang sana.

    “Hampir tidur Mbak. Ada apa, Mbak?” tanyaku.

    “Aa.. aku … takut, kebayang-bayang film tadi. Dik Agus tolong ke kamarku sebentar ya!” pintanya.

    Dengan bercelana pendek dan kaos oblong, aku mengetuk pintu kamarnya. Ketika pintu kamarnya terbuka, aku tercekat sebab melihat Mbak Ina berdiri dengan baju tidur tipis berwarna putih sehingga memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya diterangi lampu kamar yang redup. Walaupun agak temaram, aku dapat melihat jelas betapa seksinya tubuh Mbak Ina. Tanpa sadar aku menelan ludah beberapa kali, apalagi melihat di balik baju tidurnya ia mengenakan BH dan celana dalam warna merah hati.

    “Ayo masuk, jangan bengong aja di situ!” ajaknya sambil menutup pintu di belakangku. “Kalau tak keberatan, maukah kamu duduk sambil nonton TV untuk menemani aku sampai aku tidur? Kalau aku sudah tertidur, tinggalkan saja dan kembali ke kamarmu,” sambungnya.

    “Boleh Mbak, malah saya sangat menyesal telah menakut-nakuti Mbak dengan ucapan saya waktu di becak tadi, sehingga bermaksud menemani Mbak sampai pagi,” kataku menanggapi.

    “Benar nih, sampai pagi mau temani aku?” tagihnya.

    Aku bingung juga dengan spontanitasku yang kusesali dapat membuatku menjadi satpam semalaman ini, tetapi melihat diri Mbak Ina dalam pakaiannya sekarang membuatku bersemangat, bila perlu seminggu lagi menemani dia sekamar.

    “Ok Mbak, aku siap mengawal Mbak, tak usah takut ada vampire,” jawabku menyombong.

    Mbak Ina berbaring di ranjangnya yang berukuran king size, sedangkan aku duduk di kursi yang ada di dekat TV sambil mencari channel yang menyuguhkan film. Tetapi mataku mencuri-curi pandang ke arah tubuhnya yang walaupun sebagian ditutupi selimut, bagian dadanya yang hanya tertutup sepertiga BH-nya ternyata tidak tertutup selimut. Aku tidak tahu, apakah ia sengaja melakukan itu atau tidak. Kuperhatikan diam-diam, ia sudah memicingkan matanya.

    Setengah jam kemudian kulihat ia sudah tertidur, terbukti dari suara napasnya dan matanya yang terpejam rapat, kuamati dadanya yang membusung indah naik turun dengan teratur sesuai helaan napasnya. Aku duduk dengan gelisah, sebab laki-laki mana yang tahan sekamar dengan wanita secantik Mbak Ina dalam baju tidur demikian? “Adik kecilku” yang sudah bangun sejak masuk kamarnya terus menerus mengangguk-angguk, menggodaku dengan bisikan liar, “Ayo, apa lagi yang kau tunggu, bukankah ini peluang emas yang kau impikan selama ini? Kapan lagi ada kesempatan begini dan ajakannya menemani adalah undangan untuk mereguk anggur kenikmatan?”

    Aku hampir tak berani beringsut dari dudukku, perlahan kugerakkan leher menoleh ke arah Mbak Ina. Ia tidur dengan tenang. Namun tiba-tiba kudengar ia berteriak, “Tidak, tidak, jangan … ahhh …” Aku terkejut dan melompat dari dudukku. Kulihat Mbak Ina terduduk, matanya agak melotot, ia terengah-engah, jari-jarinya meremas sprei ranjangnya, dan kuperhatikan tetesan keringat di keningnya. Sedangkan selimutnya berantakan tidak menutupi bagian dadanya, sehingga sebagian payudaranya yang putih dapat kulihat dengan jelas, tetapi aku menghalau pikiran-pikiran mesumku.

    Aku duduk di ranjang, di dekatnya sambil memegang tangannya lembut, bertanya, “Mimpi ya Mbak? Jangan takut, saya ada di dekat Mbak.”

    Ia diam saja, tetapi tanpa kuduga, ia menarik tanganku dan tanpa dapat kucegah sentakannya membuat tubuhku jatuh ke arahnya dan menimpa tubuhnya. “Ma..ma..af, Mbak, saya … ” ucapanku tak selesai karena tiba-tiba bibirku sudah ia tekan ke pipinya. Aku terkejut dengan muka merah padam. Dan belum selesai keterkejutanku, ia menarik tubuhku masuk ke balik selimutnya sambil berkata dengan memelas,

    “Temani aku tidur, aku takut … Jangan jauh-jauh di sana! Peluk aku ya!”

    Napasku seakan berhenti, jantungku berdebar-debar kencang, sebab kedua bahuku telah ia peluk erat, hingga terasa kedua buah dadanya menekan dadaku. “Aduhai, betapa kenyal payudara wanita ini,” batinku seraya berharap pelukan itu takkan ia lepaskan. Jantungku semakin kencang menghentak-hentak dadaku ketika sebelah kakinya naik memeluk paha dan kakiku. Nafas Mbak Ina terasa begitu dekat di wajahku. Aku serasa bermimpi dan tanpa sadar menutup mataku.

    Seperti seorang bayi yang membutuhkan dekapan, Mbak Ina meletakkan kepalanya di dadaku dan tanpa kusadari jari-jariku membelai-belai rambut di keningnya sambil menenangkannya. Kulihat ia memejamkan mata sambil memeluk tubuhku. Aku pun merasa begitu damai merengkuh pundaknya sambil mengingat suasana sewaktu di kereta api bersamanya. Ada kemiripan, tetapi kali ini lebih mesra, apalagi kami berdua sama-sama sedang mengenakan pakaian tidur. Rasanya begitu teduh dan nyaman. Tangannya semakin erat memeluk pinggangku dan kurasakan dagu dan hidungnya ditekankan ke dadaku hingga kelelakianku kurasa bangkit.

    Aku tidak berani berbuat macam-macam, walaupun hasratku sudah menggelegak. Tetapi sewaktu bibirnya bergerak naik ke leher, hembusan napasnya kurasa semakin dekat ke dagu dan pipiku, aku membuka mata dan menatap wajahnya. Hatiku kaget bercampur senang sebab kulihat Mbak Ine dengan mata terpejam semakin mendekatkan bibirnya ke bibirku. Secara naluriah aku membuka mulut dan menyambut bibirnya. Aku tidak ingat lagi siapa di antara kami yang memulai ciuman itu, dia atau aku, tapi aku tidak peduli. Gairahku bergelora ketika lidahnya mengait lembut tepi bibirku dan menyusuri rongga mulutku dan menggelitiki lidahku dengan lincahnya. Dengan tangkas kusambut pilinan lidahnya dengan lidahku. Tangan kiriku yang semula ada di atas bahunya yang terbuka, mulai naik ke arah dagu, pipi dan merabai bibirnya. Mbak Ina mendesah, “Ahh… ahh… aku kangen kamu, Gus… Peluk aku dan berikan kehangatan buatku!” pintanya.

    Aku menggelinjang merasakan aksinya selanjutnya. Mbak Ina begitu buas menciumi wajahku, leherku, turun ke dadaku, hingga aku sempat terperangah kaget saat ia meremas putingku dan mengisapnya, kadang-kadang lembut, dan di waktu lain begitu kuat menggemaskan. Kedua puting dadaku dijilati dan dimasukkan ke mulutnya secara bergantian. Lidahnya begitu lincah bermain di sekujur dadaku, turun ke perut dan lidahnya menggelitiki pusarku hingga aku merasakan aliran darahku memompa begitu kencang. Aku tak ingat lagi siapa dia dan bagaimana posisinya di kantorku, yang terpikir hanyalah bagaimana memacu kenikmatan bersamanya. Yang terbayang di benakku saat itu adalah seakan-akan sedang memadu kasih dengan istriku sendiri. Sebelah tanganku mengusap-usap perutnya yang datar, tidak terlihat gemuk meskipun sudah melahirkan dua orang anak, sedangkan tanganku yang lain mengelus-elus pundak, punggung dan pinggulnya hingga ia meliuk-liukkan tubuhnya dengan sangat menggairahkan.

    “Kamu mau ku-blow job, Agus sayang?” desahnya sambil melakukan “mandi kucing” pada perut, pinggang dan pusarku.

    “Ahh … ssshhh, oohhh …. Mmm … mmau, Mmbaakkk… mau banget!” aku memohon dengan sangat, karena begitu dahsyat ia memainkan lidah dan bibirnya sambil tangannya mulai bergerak ke arah celanaku, menyentuh penisku dari luar dan pelan-pelan menurunkan celana pendek dan celana dalamku secara serempak. Aku sudah tak sadar dengan ucapanku, karena birahiku sudah begitu dalam menguasai diriku. Tidak ada lagi Agus yang alim, yang sopan, yang santun, yang selalu menghargai wanita. Bahkan aku tak sendiri tidak ingat kapan ia membukai kaosku hingga kini aku benar-benar bugil di hadapannya, sedangkan ia masih mengenakan baju tidurnya. Aku benar-benar tak berkutik dibuatnya, bahkan sewaktu kucoba membuka kait BH dan melolosi baju tidurnya, Mbak Ina dengan gesit menepis tanganku dan sama sekali tidak memberi peluang bagiku. “Sebentar sayang, giliranku memuaskanmu ….,” desahnya di sela-sela permainan bibir dan lidahnya yang begitu memabukkan.

    Aku merasa seperti terombang-ambing, apalagi waktu ia mencium, menjilat dan mengisap kulit perut, pinggul dan pinggangku dengan gerakan lembut, berganti dengan gigitan-gigitan kecil, lumatan kasar, bahkan kadang-kadang kurasakan perih bercampur nikmat. Tangannya tak ketinggalan mengelus, mencubit, dan meremas pahaku, lutut, betis juga bagian-bagian atas tubuhku, tak ketinggalan putingku yang semakin merah akibat cubitan-cubitan kecilnya yang membuatku terlonjak-lonjak.

    Dalam memuncaknya gairahku, kulihat ia bergeser menempatkan tubuhnya berlutut di antara kedua paha dan kakiku, kepalanya tepat di selangkanganku. Ia mengusap-usap rambut di pangkal pahaku tanpa menyentuh penisku sama sekali hingga aku semakin menggeliat-geliat dibuatnya. Masih dengan kesibukannya memainkan bulu-bulu di sekitar penisku, bibir dan lidahnya mulai merambat ke sela-sela pahaku. Lidahnya menjilati pahaku dan “Ahh … Mmmbakkk,…. ohhhh …. en…nakkkk … nikmattt sayanggg….” aku terpekik waktu lidahnya menjilati kedua testisku secara bergantian, apalagi waktu keduanya dimasukkan ke dalam mulutnya dan diisapnya seakan-akan sedang menikmati es krim. Aku merasa terbang melayang.

    Setelah itu, lidahnya naik menjilati penisku, mulai dari bawah naik ke leher penis, pada bagian ini ia melakukan gerakan melingkar, hingga lidahnya bergerak mengelilingi leher penisku, lalu ia mengarahkan lidahnya ke lubang pipisku. “Ohh… Ougghh … enakh Mbaaakkk akkhhhh…” dan semakin tersentak saat kedua bibirnya mengecup kepala penisku dan menelannya hingga seluruh kepalanya tertelan oleh mulutnya. Dengan gerakan lembut, Mbak Ina memasukkan dan mengeluarkan kepala penisku dalam mulutnya. Aku merasa seakan-akan hampir tidak sadarkan diri, karena nikmat sewaktu penisku dimasukkannya hingga pangkalnya dan terasa ujungnya membentur daging lembut di tenggorokannya. Aku semakin menggelinjang saat merasakan jari-jarinya mengelus lubang analku dan kurasakan ada cairan yang ia oleskan di situ, aku hanya sempat melihat sekilas ke arah bawah, ternyata sesekali Mbak Ina memasukkan jarinya ke mulutnya dan menaruh ludahnya ke lubang analku. Entah mengapa dan bagaimana ia melakukannya, aku tak mau bertanya saat itu, hanya sanggup merintih dan berusaha menikmatinya sambil meremasi rambutnya yang tergerai.

    Pinggang dan pantatku kunaikkan karena geliatku ke kiri dan ke kanan terasa sudah tidak memadai, dan jeritan nikmatku kembali memecah di kamar hotel itu ketika jari tengah tangan kanannya perlahan-lahan memasuki analku, sedikit demi sedikit dan akhirnya sampai seluruhnya masuk ke analku. Kepalaku kugoyangkan ke kanan kiri dan kedua tanganku menekan belakang kepala Mbak Ina ke arah pahaku, hingga seluruh batang penisku masuk ke mulutnya. Belum pernah aku merasakan sensasi yang begitu nikmat pada penis dan sekaligus analku.

    “Mbak, aku nggak kuat, akkhu … mau … keluar … Lepaskan Mbak, akkhh …” jeritku.

    “Hm, sshhh …. ahh … sabar sayang, nikmati ya say… biar kutelan cairanmu sayang, … ahh… sss …. ekhhh…” desahnya dan kembali menelan penisku sambil jarinya semakin dalam masuk ke analku, ia masukkan dan keluarkan semakin cepat hingga aku semakin tinggi melayang-layang dalam alam kenikmatan. Ia mengulum, menjilat dan merangsek habis-habis.

    Entah karena pengaruh film yang kami saksikan tadi atau rangsangan melihat Mbak Ina dalam baju tidurnya dan aksinya yang begitu hebat, aku tak kuasa menahan cairan kenikmatanku.

    “Ougghhh … akhhhh … Mbaaakkkk … Inaaahhhh …. akhhh nik..mat…,” jeritku tatkala penisku dengan hebatnya menyemprotkan air mani ke dalam mulutnya. Aku terkejut karena dengan ganasnya Mbak Ina menelan seluruh penisku dan menelan cairanku, bahkan isapan bibirnya pada penisku begitu kencangnya hingga aku tak mampu menarik penisku keluar. Tangannya turut bekerja mengelus dan meremas kedua biji testisku. Kurasa tak setetes pun air maniku tersisa. Ia begitu menikmati kuluman mulutnya pada penisku dan kurasakan lidahnya terus bermain menggelitiki batang penis dan lubang pipisku. Denyutan penisku lebih sepuluh kali di dalam mulutnya.

    Aku terengah-engah karena orgasme yang kualami. Dengan istriku sendiri belum pernah kurasakan kenikmatan demikian, karena seluruh pori-pori tubuhku seakan-akan turut merasakannya, bukan hanya penisku. Mbak Ina kembali menciumi bibirku dan kurasakan beberapa tetes cairanku sewaktu bibir dan lidah kami berpagutan.

    Kupeluk dia sambil meredakan debur jantungku yang begitu kencang, aku bertanya padanya, “Mengapa …..?? Mengapa Mbak….?”

    Kulihat ia memandangiku dengan lembut dan meletakkan telunjuknya di bibirku, “Ssstt, dengarkan kisahku sayang!” Kutatap matanya, kulihat di sana rasa sayang yang tulus. Ia melanjutkan, “Sejak kamu masuk ke perusahaan kita, sudah kuperhatikan bagaimana cara kamu memandangku. Walaupun tidak pernah kamu katakan, aku dapat membaca tatapan matamu. Tapi aku sadar, Gus, bahwa aku sudah bersuami dan punya anak, tak mungkin menikah denganmu. Dan aku sempat cemburu, waktu kamu menikah. Kamu ingat bahwa aku tidak mau hadir pada pesta pernikahanmu? Itu karena aku iri, istrimu mendapatkan pria sebaik kamu. Aku tidak berani menggodamu di kantor kita, sebab aku sadar statusku sudah bersuami dan teman-teman tahu bahwa aku bukan wanita penggoda. Apalagi kulihat kamu begitu sopan dan tidak pernah kudengar sikapmu yang buruk terhadap karyawati di perusahaan kita. Itu sebabnya mengapa waktu kita mendapat tugas bersama, kuminta naik kereta api agar dapat bersentuhan denganmu setidak-tidaknya beberapa jam. Kesempatan emas makin terbuka kurasa karena kamu mau menemaniku berbelanja dan nonton.”

    Tak kuasa berdiam diri, keluar pengakuanku, “Aku sudah lama mengagumi dan menyayangimu Mbak, tapi aku menyesal, sebab Mbak sudah menikah waktu kita bertemu. Aku juga tidak berani mengganggu Mbak, karena kudengar dari teman-teman, Mbak adalah istri yang sangat setia pada suami. Maafkan aku atas kejadian malam ini, Mb…”

    “Husshh,” potongnya, “Kamu tidak perlu minta maaf, Gus, justru akulah yang menggodamu sehingga malam ini kita jadi begini. Aku cuma bikin alasan takut karena nonton film tadi dan minta kau temani supaya kita dapat bermesraan sekarang. Paling tidak ini saat-saat bahagia kita berdua. Kalau di Jakarta, tidak mungkin kita bisa melakukan hal ini.”

    Aku terdiam menyimak kata-katanya dan kembali gairahku bangkit manakala jari-jarinya bermain di dada dan perutku. “Ah, Mbak … aku .. sayang kamu …,” bisikku perlahan di telinganya. “Sekarang giliranku memuaskanmu, ya Mbak sayang?” sambungku.

    Ia tidak menjawab, hanya mengangguk sambil memejamkan mata.

    Aku dalam keadaan masih telanjang menciumi rambutnya, keningnya, kedua kelopak matanya dan hidungnya. Pipinya tak luput dari kecupanku dan kembali bibir kami bertemu serta lidah kami bertautan. Lidahku masuk ke dalam mulutnya, mencari dan memilin lidahnya, bahkan air ludahku ia isap dengan liar saat lidahku menggelitik bagian atas rongga mulutnya. Di lain waktu, lidahnya masuk ke dalam mulutku menggelitik gigi geligiku dan lidahku. Mulut dan lidah kami terus saling mengulum dan membelit berbagi kenikmatan. Tangannya mengelus-elus kepala dan rambutku. Jari-jariku kumainkan di pipi dan lehernya.

    Kuturunkan kepalaku, bibir dan lidahku menciumi lehernya yang jenjang dan turun ke pundaknya. Ia makin menggeliat sambil mulutnya terus mendesah. “Akhh.. Gus, sayang … ah, terus Gus, oohh… teruskan dong Gus, ja… jangan berhenti!”

    Aku mengambil napas memandangi wajahnya sambil jari-jariku mengusap pundaknya dan bermain ke belakang punggungnya melepas kaitan BH-nya. Ia makin merintih manakala tali kait BH-nya kulepas sambil menciumi ketiaknya yang bersih, lidahku kumainkan di situ dan merambat ke arah payudaranya yang begitu sekal, kenyal dan padat.

    “Oww… luar biasa payudaramu, Mbak!” tak dapat kusembunyikan kekagumanku atas keindahan payudaranya. “Padahal Mbak sudah tidak berumur tiga puluhan lagi. Koq bisa masih begini kenyal ya Mbak? Seperti payudara gadis-gadis saja?” lanjutku.

    “Ah, kau bisa saja, Gus! Aku kan sudah tua?” bantahnya sambil memainkan jari-jarinya mengelus dadaku.

    “Kata siapa Mbak sudah tua? Nyatanya payudara Mbak masih lebih bagus daripada punya Waty istriku,” kataku lagi memuji.

    “Gombal! Rayuan kuno Gus!” katanya lagi sambil menjentik pipiku dengan jarinya yang lentik.

    Aku menghentikan elusanku sambil mengamati payudaranya yang tak begitu besar, tetapi begitu sekal, kenyal, sehingga sangat nikmat dielus dan diremas. Ukurannya tidak terlalu besar, mungkin 34C, tetapi dengan putingnya yang begitu runcing bagaikan stupa candi, membuatku sangat terangsang untuk mengecupnya.

    “Ada apa sih, Gus? Koq jadi melongo gitu?” tanyanya, entah heran atau bangga, karena melihat sikapku yang begitu mengagumi keindahan payudaranya.

    “Ini lho Mbak, puting payudaramu sangat cantik. Aku jadi ingat stupa Candi Borobodur. Bagian atas putingmu begitu runcing, tetapi di bagian bawahnya semakin melebar, sehingga tidak sama diameternya dengan ujung putingmu,” kataku lagi sembari mengelus lembut putingnya dan menjilati ujungnya kemudian turun ke belahan payudaranya. Benar-benar indah. Seolah-olah ada dua gunung yang bertindihan melihat bentuk payudara dan putingnya. Gunung pertama berujung pada putingnya, sedangkan gunung yang lebih besar menyangga putingnya dan membentuk lembah indah ketika bertemu dengan bagian lereng payudaranya yang lain.

    “Ougghhh… Guuusss… ohhh.. enak … yah… terus, terusss, sayang ….” rintihnya saat kukecup dan kulumat putingnya dengan lidah dan bibirku tanpa menyentuh gunung payudaranya. Ia semakin menggeliat-geliat saat bibirku memasukkan putingnya ke mulutku dan mengecupnya dengan lembut, lama kelamaan makin kuat kemudian lembut lagi, demikian seterusnya. Apalagi kedua tanganku mulai turut aktif meremas-remas kedua payudaranya sambil mulutku tak henti-hentinya menjilat dan mengisap putingnya secara bergantian. Jari-jarinya mulai mencari-cari penisku dan mengusap-usapnya lagi, tetapi kutepis dengan halus sambil berkata, “Sabar sayang, tadi kan sudah Mbak puasi aku, sekarang giliranku dulu ya say…”

    “Ahh… sshhh … ihhh … kau menyiksaku Gus … ohh…nikmatnya,” erangnya sambil menghempaskan kepalanya ke kanan kiri tak beraturan. “Owwhh … ahhh…,” desahannya makin kuat waktu kedua kedua buah dadanya kudekatkan satu sama lain dan kedua putingnya kumasukkan ke mulutku serta kuisap secara berbarengan. Beberapa menit aku melakukan itu sambil lututku menekan-nekan dengan ritme yang beraturan pada kemaluannya yang telah basah walaupun masih dibalut celana dalam. Dengan setengah berlutut di samping tubuhnya yang menggeliat-geliat menahan nikmat, aku terus memainkan bibir, lidah dan tanganku di puting dan kedua payudaranya dan sebelah tanganku turun ke bagian bawah perutnya masuk ke balik celana dalamnya yang semakin basah menelusuri rambut-rambut kemaluannya dan mengusap-usap vaginanya yang membanjir. Begitu kutemukan sesuatu sebesar biji kacang pada bagian atas vaginanya yang ternyata adalah klitorisnya, aku melakukan usapan lembut dan perlahan-lahan menjepitnya dengan dua jari. Gerakan tersebut membuatnya makin meracau dan menggeliat.

    “Ya…. ya …. terusss … ya …. sshh … itu Guss….., jangan berhenti …. ayo say …. gerakkan lebih cepat tanganmu pada kelentitku. Oookkhhhh …. ekkhhh … uhhgg….” ia memberikan perintah padaku sambil menggeliat-geliat semakin tak menentu.

    Mendengar permintaannya itu, aku malah berdiam diri sejenak, hingga ia tersentak, “Oohh, ada apa … Gus? Jangan berhenti, cepaattt … aku sudah hampir sampai … ohhh jangan siksa akuuuu…” rintihnya lirih.

    Aku tidak menyahut, tetapi kembali kubenamkan wajahku ke dadanya mencium, menjilat dan mengisap puting dan kedua payudaranya. Putingnya kuisap kuat-kuat sambil menekankan mulutku ke payudaranya. Bukannya menolak, ia justru makin membusungkan dadanya ke atas hingga kedua payudaranya membuatku semakin tak bisa bernapas. Kumasukkan putingnya bergantian ke dalam mulutku sambil mengisap buah dadanya sebanyak yang dapat kumasukkan ke mulutku. “Ooooohhhhhhh ….. akkkhhh …. ssshh …. kamu pinnn…tarrr … Gus!” erangnya. Jari-jariku yang bermain di klitorisnya terus melakukan sentuhan dan tekanan yang semakin cepat, sesekali telunjukku kumasukkan ke liang vaginanya hingga cairannya semakin banyak merembes. Kuusap-usap klitorisnya semakin cepat dan makin cepat hingga pinggulnya dihentak-hentakkannya ke atas memberikan suguhan pemandangan yang indah bagiku tentang pesona kenikmatan seorang wanita.

    “Ahkhh … ak .. akkhu … mmmmaauu … keluar Gus … sayaanggg … sshhh… eekhh … ooohhhhh…..!” jeritnya panjang. Kedua belah pahanya menjepit kedua kakiku dengan eratnya sedangkan tangan kananku dijepitnya di vaginanya yang membanjir dengan cairan kenikmatan, kedua tangannya memeluk punggungku sambil mulutnya mencari-cari mulutku dan menciuminya dengan ganas bahkan dengan lihaynya diisap dan digigitnya lembut lidahku.

    Ia masih terengah-engah saat berkata, “Ohhh… kau begitu pandai memanjakanku, Gus.” Aku tersenyum sambil mengusap rambut-rambut kemaluannya yang basah kuyup. “Aku masih pakai celana pun sudah kau buat orgasme,” sambungnya.

    “Sayangku, apa yang kulakukan hanyalah merespon rasa cintamu padaku,” ujarku lembut sambil membelai-belai payudaranya dan tubuhnya yang telanjang. “Ngomong-ngomong, koq payudaramu masih sekal banget, Mbak, diapain sih koq tidak kendor walaupun sudah punya dua anak dan kawin begitu lama?” celetukku penasaran.

    “Aku kan tidak pernah menyusui anak-anakku, Gus, karena ASI-ku tidak banyak. Lalu karena dokter menyarankan susu kaleng, yah jadi keterusan, nggak menyusui. Selama ini cuma suamikulah yang menyusu padaku, dan terakhir ini, yah kamu….” katanya sambil memijat hidungku lembut. “Emang kenapa sih nanya-nanyain itu?

    “Soalnya waktu memesrai buah dada Mbak, tidak seperti buah dada wanita yang sudah punya anak. Kayak payudara gadis aja sih? Dikasih semalaman menjilatinya pun mau aku” kataku.

    “Genit kamu, Gus … hi .. hi .. hi ..” tawanya.

    “Berarti aku ini orang kedua yang pernah mencicipi buah dadamu, ya?” kataku lagi. Setelah terdiam beberapa saat, kutanya dia, “Apakah siap untuk permainan yang sebenarnya, Mbak Ina sayang?” aku bertanya sambil merabai pahanya dan berusaha membuka celana dalamnya.

    Ia menatapku dengan tatapan sayu tapi penuh rasa sayang, “Gus, aku sangat ingin melakukan itu denganmu, tapi … tapi …,” ia tak melanjutkan kalimatnya.

    “Mengapa sayang? Apakah Mbak takut hamil akibat perbuatan kita?” tanyaku.

    “Bukan itu, Gus! Di usiaku sekarang tentu sudah sulit hamil bagiku, apalagi aku pakai spiral. Yang kutakutkan adalah jika hubungan kita ini membuatku lupa akan suamiku. Ia begitu baik, setia dan percaya pada isterinya, tapi aku telah mengkhianati cintanya dan janji perkawinan kami,” lanjutnya sambil menatapku dengan mata berkaca-kaca. Oh, ternyata wanita ini bukanlah tipe penggoda, bukan pula tipe pengkhianat rumah tangga, aku semakin mengagumi pribadinya, tetapi aku masih berusaha menggodanya.

    “Kalau begitu, terserah Mbak sajalah. Aku tidak mau memaksa apalagi memperkosamu, sebab cintaku pada Mbak tidak mengijinkan pemaksaan,” kataku. Tapi aku sendiri bingung apakah ucapanku itu karena menyetujui pendapatnya atau karena kesal oleh penolakannya.

    Ia mengecup pipi dan bibirku sambil memelukku makin erat, kulihat air matanya menitik dari celah-celah pelupuk matanya, ia berkata, “Gus sayang, jangan salah sangka. Aku sangat sayang pada kamu, tetapi aku sudah bersuami dan punya anak, kamu pun sudah beristeri. Jangan sampai kita melakukan persetubuhan yang bisa membuat kita lupa akan keluarga kita.”

    “Lalu, yang kita lakukan tadi apa, Mbak? Bukankah itu sudah termasuk pengkhianatan?” tangkisku. “Kalau memang Mbak tidak suka, mengapa Mbak merencanakan semua ini?” aku makin tajam mendakwanya. Ia makin terisak-isak pilu sehingga aku merasa menyesal telah membuatnya merasa begitu bersalah, padahal aku pun ikut andil dalam kejadian ini. Aku berdiam diri sambil mengusap-usap rambut dan wajahnya serta punggungnya dengan lembut.

    Beberapa saat kemudian, kulihat ia mengusap air matanya dan dirinya sudah semakin tenang. Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik, “Gus, aku pernah baca artikel, bahwa anal-sex merupakan salah satu alternatif hubungan seks. Kalau kamu tidak keberatan, lakukanlah hal itu walaupun aku sendiri belum pernah melakukannya dengan orang lain bahkan suamiku.”

    Aku terperanjat mendengar bisikannya, tapi merasa tergoda mencoba hal itu, apalagi dengan isteriku sendiri pun hal itu belum pernah kulakukan. “Entah bagaimana rasanya?” pikirku sambil membayangkan andaikan kami melakukannya sekarang.

    Sekonyong-konyong ia membuka celana dalamnya dan sisa gaun yang melekat di tubuhnya dan berbaring terlentang. “Ayo Gus, setubuhi aku lewat analku agar kau dan aku bersatu malaupun tidak dengan cara yang sesungguhnya,” ajaknya.

    Birahiku bangkit melihat tubuhnya yang terpampang indah di hadapanku. Perlahan kucium bibirnya, berpagutan dengan berbagai variasi dan saling memilin lidah. Turun ke payudara dan putingnya yang kembali tegang, perut dan pusarnya kembali menjadi sasaran lidah dan bibirku, kemudian jari-jariku menjelajahi rambut kemaluannya yang tipis tapi dicukur dengan rapi sehingga bagian seputar labia vaginanya betul-betul bersih. Bibirku terus turun menjelajahi pangkal pahanya, melakukan isapan dan jilatan lembut hingga ia menggeliat-geliat sambil mendesah. Tibalah saatnya kuperhatikan klitorisnya yang makin membesar di bagian depan vaginanya. Kusentuh dengan lidahku hingga ia terpekik ,”Ahhh … kau apakan aku sayang?” Aku tidak menjawab karena yakin ia baik-baik saja dan itu merupakan permintaan halus agar aku meneruskan aktivitasku.

    Klitorisnya kujilat tanpa mencium labia vaginanya sama sekali. Ia terus meracau sambil kedua tangannya menekan belakang kepalaku hingga hidung dan mulutku tepat berada di vaginanya yang sudah banjir. Bibirku menjilati dan sesekali mengisap labianya. Dan ketika klitorisnya kujilat dan kumasukkan ke mulutku sambil kuhisap lembut dan makin kuat, ia tak kuasa menahan gairahnya, pantatnya terangkat ke atas, tapi kedua tangannya tetap berusaha menekan kepalaku agar tetap berada di kemaluannya. Jari-jariku meremas-remas kedua bongkah pantatnya dan sesekali satu tangan bergantian meremas payudaranya.

    Geliatnya makin tak beraturan, bahkan ia makin kuat menghempas-hempaskan pinggul dan pantatnya ke sana ke mari, tetapi aku tidak memberikan kesempatan untuk melepaskan diri, karena aku tahu, justru hal itulah yang ia inginkan. Ke mana pinggulnya bergerak, ke situ wajahku ikut sambil bibir dan lidahku mencium, menjilat dan mengisap seluruh organ kemaluannya. Cairan vaginanya kembali membanjir dan entah sudah berapa banyak kutelan masuk dalam mulutku. Rasanya gurih, sedikit asin, tetapi aromanya begitu sedap dan tidak berbau amis, mungkin karena ia rajin merawat bagian tubuhnya itu. Rintihannya makin tak beraturan saat dua jari tengah dan telunjuk tangan kanan kumasukkan pelan-pelan ke vaginanya sambil terus melakukan aksi dengan bibir dan lidahku, terlebih saat jari tengah tangan kiri kumasukkan ke lubang analnya setelah kuolesi ludah dan cairan vaginanya.

    “Ahhh… Guuussss …. aaa… kkhuuuu …. ahh … ohhh … nikmatnya ….Shhsshh … ahh ..” suaranya tidak lagi keras, tetapi lebih merupakan desisan dan rintihan. “Ahhkhhh … lebih cepat Gusss sayang ….!” ia memohon. Kupercepat aksiku dan kurasakan betapa bagian dalam vaginanya meremas-remas jariku dan analnya pun memberikan jepitan yang luar biasa pada jari tengah tangan kiriku. Tanpa memberinya peluang untuk melawan, kulakukan gerakan semakin cepat, hingga ia meronta-ronta, menggelinjang-gelinjang dengan rambut yang tak beraturan dan bola matanya membeliak menahan kenikmatan yang sudah di ambang pintu.

    Dengan satu hentakan, kulakukan gerakan bersamaan ke vagina dan analnya sambil mengisap klitorisnya dengan cepat tetapi lembut. “Aaaakhhhhhh ….. aku …. keluar Gus!!!” jeritnya sambil mencakar pundak dan punggungku. Kulihat di ujung matanya menetes air mata. Kulepaskan jari-jariku dari bagian bawah tubuhnya dan kurengkuh tubuhnya sambil menciumi matanya, kujilati air matanya sambil membelai-belai rambutnya.

    “Kenapa Mbak? Apakah aku menyakitimu?” tanyaku sambil memeluk dirinya.

    “Ohhh… sayang. Agusku sayang, aku begitu bahagia. Begitu luar biasa kenikmatan yang kau berikan. Suamiku sendiri belum pernah memperlakukan diriku sepertimu. Terima kasih sayang,” bisiknya sambil mengecup leher dan bibirku.

    Orgasme yang kedua kalinya membuat Mbak Ina terkapar tanpa seutas benang pun melekat pada tubuhnya. Kami berbaring terlentang sambil berpegangan dan meremas tangan. Aku merasa agak lelah karena sudah memuaskannya sedemikian rupa. Tak sadar aku tertidur. Beberapa saat kemudian kurasakan elusan pada dada, perut dan pahaku. Penisku yang sudah terkulai kembali bangun akibat elusan jari-jari lembut pada dirinya. Mataku kubuka perlahan dan kulihat Mbak Ina sudah berlutut di samping tubuhku sambil merabai tubuhku. “Luar biasa wanita ini. Masih sanggup bermain lagi rupanya?” kataku dalam hati.

    Aku pura-pura masih tertidur, tapi waktu kurasakan kepala penisku dikulum oleh mulut lembut Mbak Ina, aku tak kuasa lagi, erangan nikmat pun kembali kulantunkan. “Ahhhh, mau apa lagi Mbak?” Tanganku mengelus-elus rambutnya yang tergerai di perut dan dadaku.

    “Aku tak mau stand kita masih 1-2, belum 2-2. Aku mau memuaskanmu sekali lagi,” katanya.

    “Maksud Mbak gimana?” tanyaku berlagak pilon, tetapi senang juga dengan perlakuannya.

    “Tadi kan sudah kubilang supaya kita main anal, koq kau tidak lakukan?” desaknya.

    “Apa nggak sakit nanti Mbak? Aku sih mau-mau saja, apalagi kata orang enak banget rasanya. Pengen sih nyobain,” kataku menggoda.

    “Emang istrimu belum pernah kau gituin?” tanyanya.

    Aku tidak menjawab, malah balik bertanya, “Mbak sendiri apa pernah melakukannya dengan suami Mbak?”

    “Suamiku sih mau menang sendiri aja. Baru sebentar main, sudah keluar. Aku sering dibiarkan mencari kenikmatan sendiri. Jangankan main anal, main biasa aja ia sering kewalahan. Satu ronde saja sudah terkapar,” gumamnya.

    “Wah, nasib kita sama dong, Mbak” kataku. “Istriku pun masih kuno. Nggak kayak Mbak ini. Seringkali aku yang meminta baru ia mau berhubungan badan. Kalau aku diam aja, ya dia tidak pernah mau minta kusetubuhi. Padahal kami laki-laki pun senang jika istri meminta, bukan kami saja yang minta, iya nggak? Posisi kami pun gitu-gitu aja, tidak mau coba variasi macem-macem.” Entah mengapa aku begitu terbuka padanya tentang rahasia di balik ranjang perkawinanku.

    “Kasihan kamu ya!” timpalnya, “Melihat bentuk tubuhmu, nafsu seks-mu pasti sangat hebat, tapi dengan istri yang begitu, bisa-bisa jajan terus dong kamu!” katanya mencoba mengorek informasi.

    “Aku tak berani jajan, Mbak. Takut kena penyakit kelamin,” elakku. “Paling-paling kalau sudah tidak tahan, yah main “swalayan” alias pake sabun di kamar mandi. Malah dengan perempuan lain, yah baru dengan Mbak inilah,” ungkapku jujur.

    “Masak sih? Apa iya ada lelaki jujur di abad ini?” tukas Mbak Ina sambil mencubit pipiku.

    “Buat apa aku bohong Mbak, apalagi kepada wanita yang kusayangi seperti Mbak ini,” kataku.

    “Iya deh, aku percaya kata-katamu,” ia menutup percakapan kami sambil kembali memelukku dengan tubuhnya di atasku.

    Himpitan payudaranya membuatku kembali terangsang, apalagi jari-jarinya bermain di sekitar paha dan mulai merabai penis dan testisku kembali. Aku berbisik padanya, “Mbak, sudah siap main anal-nya? Aku jadi kepengen nih atas ajakan Mbak tadi?”

    “Sudah siap sejak tadi, sayang, tapi kamunya malah bikin aku kesetanan dengan orgasmeku tadi,” jawabnya.

    Kembali kuciumi seluruh tubuhnya, bahkan hingga telapak kaki dan jari-jari kakinya, hingga ia kembali mendesah, merintih dan menjerit kecil di kamar hotel itu. Dengan cairan vaginanya yang kembali membanjir, kubasahi lubang analnya dan kuperhatikan bentuknya yang begitu mungil tetapi geliatnya persis mpot-mpotan ayam seperti pernah kubaca di buku tentang seksologi. Aku tak tahan memandanginya terus, kujilati analnya dan pelan-pelan kumasukkan satu jari ke dalam. Mbak Ina mengerang. Tubuhnya kubalikkan dengan pantat di atas, sehingga dengan posisi menungging dapat kulihat lebih jelas bentuknya. Ia makin merintih waktu jariku kumasukkan lebih dalam.

    “Ayo sayang, sekarang … aku sudah tak tahan …” desahnya.

    Kutempatkan pinggulku tepat di belakang kedua belah pantatnya yang sintal dan perlahan-lahan kepala penis kugesekkan ke lubang analnya. Ia mendesah semakin lirih. Kepala penisku kudesakkan, mula-mula agak susah karena lubangnya begitu kecil. Namun begitu kuolesi lagi dengan ludahku dan cairan vaginanya, sudah semakin mudah dimasuki. Kepala penisku pun masuk dengan sukses. “Aukhhh… sakittt sayang…,” desisnya. Aku menghentikan dorongan penisku dan berniat menariknya, tetapi ia justru menarik kedua belah pahaku kembali meneruskan kegiatanku. “Oohhh, enak banget penismu sayang ….,” rintihnya.

    Aku berdiam diri sejenak, lalu kuteruskan aksiku mendorong penis makin dalam memasuki analnya. Setengah penisku sudah masuk, ia agak mendongakkan kepala seakan menahan sakit, tetapi gerakannya pantatnya malah mundur pantatnya agar penisku masuk lebih dalam lagi. Setelah penisku masuk 2/3, kutarik mundur, kumajukan lagi, demikian seterusnya. Dan kalau kurasa agak susah masuk, kembali kuberikan ludahku untuk melincinkan jalan masuk penis ke dalam analnya. Mbak Ina merintih-rintih dengan nikmat, apalagi tangan kiriku memainkan vaginanya dari depan dan tangan kananku meraih payudaranya, sehingga ia merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa.

    “Oughhh … Guusss, ssshhh … akhhh,” desisnya seperti orang kepedasan akibat rasa nikmat yang tak terkatakan. “Terusss …. okhh …. terrussskaaan …. sayyyang … ahhhhh …”

    Rintihannya semakin kuat dan suatu ketika ia menjerit-jerit sambil menghentakkan pantatnya ke belakang hingga tak ayal lagi seluruh penisku menghunjam ke dalam analnya. Akibatnya sangat luar biasa. Aku begitu terpukau dengan gerakannya dan melakukan reaksi berupa gerakan cepat dan sesekali memutar dalam analnya.

    Mbak Ina merintih-rintih. Kedua tanganku terus bermain di vagina dan payudaranya, apalagi waktu dadaku kudekatkan merapat ke punggungnya sambil merabai payudara dan membelai serta memelintir putingnya, ia makin kuat meronta-ronta tapi tidak berusaha melepaskan hunjamanku pada analnya. Gerakannya makin liar dan akhirnya ia tidak lagi menungging, tetapi tengkurap di ranjang tetapi dengan tanganku masih meremas payudara dan vaginanya dan hebatnya, dengan posisi ini, kurasakan penisku mendapatkan lumatan yang begitu dahsyat dalam analnya.

    “Ayo sayang, ahhh …. ayyooo …. keluarin spermamu di analku, ohhhh …. tidak usah dikeluarkan di luar,” rintihnya. “Akkhhh … sayang …. oughhh… nik … mattt …., uhhhh …. ohhh …. aku keluar lagi sayangggg…. aaaakkhhhh,” jeritnya.

    Kurasakan betapa kuat jepitan otot-otot analnya pada penisku, sensasi yang luar biasa merasuki diriku dan dengan hentakan yang kuat pada analnya, penisku menyemprotkan cairan kenikmatan di dalam liang analnya. Denyutan vaginanya yang demikian basah pada jari-jari tanganku bersaing dengan remasan otot-otot di liang analnya.

    Aku terpekik merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat, “Aku … ohhh, …. aku .. juga keluar, Mbak Ina …. ooohhh … sayyy… sayang …. akhh ….,” bisikku di telinga Mbak Ina saat menjatuhkan tubuhku di atas tubuhnya sembari menggigit pundaknya dengan gemas dengan penisku masih tetap berada di analnya. Kunikmati denyutan demi denyutan pada liang vaginanya dan analnya yang menjepit penisku. Kuangkat perlahan-lahan penisku keluar dari analnya dan kuperhatikan beberapa tetesan cairan kenikmatanku turut keluar dari analnya membasahi pangkal pahanya.

    “Penismu enak banget say…,” desahnya di telingaku sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku.

    “Enak mana dibanding suami Mbak?” godaku.

    “Enakan punyamu Gus!”

    “Emang penisku lebih besar dari punya suami Mbak?” tanyaku dengan rasa ingin tahu yang besar.

    “Ukurannya sih lebih besar dan lebih panjang dari punyamu, Gus. Tapi apa artinya kalau tidak bisa menggunakannya dengan baik? Enakan yang biasa-biasa aja kayak punyamu, tapi begitu perkasa memuaskan wanitanya,” katanya sambil meraba penisku yang mulai melembek.

    “Lho, bukannya kalau lebih besar pasti lebih enak, Mbak?” Ada sedikit rasa iri padaku mendengar pengakuannya bahwa penis suaminya lebih besar daripada penisku.

    “Yaah, itu kan kata orang. Aku yang menjadi istri lebih sepuluh tahun, bisa merasakan orgasme sekali sebulan pun sudah untung. Apalagi akhir-akhir ini seringkali cuma sekali seminggu berhubungan badan, itu pun kebanyakan karena kuminta,” paparnya. “Tahu nggak Gus, walaupun kata orang, gairah wanita makin menurun pada usia empat puluh menjelang menopause, tapi aku sendiri merasa seolah-olah gairah masa mudaku kembali lagi. Entah mengapa bisa begitu? Aku sendiri heran tuh,” lanjutnya.

    “Kan ada aku, Mbak? Kalau butuh kenikmatan, aku tidak akan menolak Mbak,” rayuku.

    “Gus, Gus …. kamu ternyata pandai memuaskan dan menyenangkan wanita,” katanya menanggapi rayuanku, “Tapi jangan lupa, kalau di Jakarta, mana mungkin kita begini? Bisa-bisa rumah tangga kita masing-masing hancur, iya nggak?”

    Aku terdiam menyimak kata-katanya sambil mengelus-elus rambutnya di keningnya dan yang tergerai di dadaku. “Ya, benar Mbak. Apalagi reputasi Mbak begitu bagus selama ini. Bisa-bisa semuanya jadi tak berarti kalau perselingkuhan kita ketahuan ya?”

    “Benar Gus,” jawabnya, “Tapi, jangan biarkan aku sendiri tidur kalau tugas berdua seperti ini lagi keluar kota ya?” pintanya.

    “Emang masih boleh nanti-nanti, Mbak? Apa nggak takut ketahuan kenalan kita jika kebetulan ketemu?” tukasku.

    “Ah, kalau lagi tugas gini, kita tetap aja pesan dua kamar terpisah, tapi kalau malam tidurnya bareng,” imbuhnya membuat hatiku berbunga-bunga. “Berarti masih ada kesempatan lain untuk bermesraan dengannya, walaupun mungkin ia takkan pernah mau melakukan hubungan badan lewat vaginanya,” pikirku nakal.

    “Duhh, aku senang banget mendengar kata-kata Mbak,” kataku. “Lebih enak tidur berdua gini, bisa makin fresh kalau balik ke Jakarta ya?”

    Ia tidak menjawab, hanya tersenyum dan memainkan jari-jarinya di dadaku. Aku berbaring terlentang di sebelahnya dan ia berbaring lelah dengan kepalanya di dadaku sambil mengusap-usap perut dan penisku. Matanya terpejam dan iapun tertidur. Aku pun tak kuasa menahan kelopak mataku, tapi sebelum tertidur dalam posisi telanjang, masih sempat kutoleh jam dinding menunjukkan angka 4.

    Waktu terbangun, aku merasa tubuh Mbak Ina masih tergolek di atas tubuhku. Tangannya masih memegangi penisku yang sudah layu dengan sisa-sisa sperma yang telah mengering. Kutengok jam telah menunjukkan pukul 7 pagi, berarti aku tertidur selama 3 jam. Aku ingin bangun dan berusaha memindahkan tubuhnya ke sampingku, tetapi tiba-tiba Mbak Ina meraih pinggangku sehingga tubuhku rebah di atas tubuhnya. Payudaranya kurasa kenyal, liat, belum kendor, menekan dadaku, apalagi kutoleh putingnya sudah tegang lagi. “Ah… kuat benar nafsu wanita ini, padahal dalam keseharian ia tampil begitu sopan, tidak nampak binal sama sekali,” batinku.

    Dengan mata masih terpejam, ia menciumi bibirku dan mengusap-usap punggungku sambil berkata, “Sayangku, betapa nikmat kebersamaan kita tadi.” Aku menggulirkan tubuhku ke sampingnya dan memandangi wajahnya dengan memiringkan tubuh, “Ya Mbak, aku merasa seperti musafir kehausan yang baru menemukan oase,” sambutku sambil membelai-belai anak-anak rambut di keningnya.

    “Gusss,” bisiknya lembut di telingaku sambil menciumi belakang telingaku hingga desah napasnya terasa menggelitik membuatku geli tapi nikmat. “Aku mau sarapan …”

    “Ayo Mbak, apa kupesankan breakfast by phone?” timpalku.

    “Bukan sarapan itu maksudku, sayang,” desahnya sambil mencubiti kedua putingku bergantian, “Aku mau mengulangi kemesraan kita yang tadi … please!” sahutnya menghiba.

    Gairahku bergolak kembali, apalagi ia langsung bergerak ke arah selangkanganku dan menempatkan tubuhnya di atas tubuhku dengan posisi terbalik. Kepalanya ia tempatkan di pangkal pahaku, sedangkan pahanya mencari tempat di atas wajahku. Jari-jari tangannya meraih penisku, dengan bibir dan lidahnya ia mengecup kepala dan leher penisku, kemudian menjilatinya seperti anak kecil yang kesenangan menikmati es krim. Aku tak kuasa menolakkan tubuhnya, bahkan mulai menikmati posisi 69 yang ia tawarkan. Vaginanya mulai terasa basah lagi sewaktu bibir dan lidahku menyeruak menjilati bibir-bibir vaginanya yang merah merona. Kedua tanganku kulingkarkan ke atas hingga tepat memegang kedua belahan pantatnya. Remasan demi remasan di pantatnya membuatnya mengerang, “Ahhh … nikmatnya say.”

    Lidahku makin gesit bermain menjilati kedua labia vaginanya, bahkan bibirku mulai mengisap secara bergantian bibir-bibir yang menyimpan kenikmatan itu. Saat kujilat klitorisnya, pahanya nampak bergetar menahan nikmat, apalagi saat jari telunjukku kumasukkan lagi menerobos analnya, ia semakin merintih bahkan sesekali menjerit. Tetapi ia tidak berusaha mengangkat pantatnya dari jilatan dan hisapanku; bahkan ia semakin kuat menekan pantatnya ke bawah hingga kurasakan hidung dan mulutku terbenam pada vaginanya yang merekah. “Ohhh… Agusss…., terusss … teruskan sayangkuuuu….,” desahnya sambil meliuk-liukkan pinggulnya. “Sekarang, sekarang masukkan lagi penismu di analku, sayanggghhh …. ooougghh ….,” rintihnya sambil berbalik terlentang dan membuka kedua pahanya lebar-lebar. Ohhh, sungguh fantastis, dibawah cahaya mentari yang masuk lewat gordijn jendela kamar hotel, kulihat betapa indah bentuk vaginanya yang telah kumesrai semalam.

    Aku berlutut di antara kedua pahanya. Ia sudah menggelepar-gelepar seperti ikan terlempar dari air ke daratan, karena jari-jari tanganku terus bermain di klitoris dan vaginanya. Kedua tangannya kini meremas-remas payudara dan putingnya, matanya membeliak karena kenikmatan yang ia rasakan. Kedua kakinya kutarik lembut dan kuletakkan ke atas bahuku sambil mendekatkan lutut makin rapat ke pangkal pahanya. Jari-jariku mengait-ngait klitoris dan vaginanya dan cairan kenikmatan yang dihasilkan rongga vaginanya kuusapkan di analnya, juga air ludahku untuk menambah licinnya penetrasi penisku, bahkan kumasukkan jari telunjuk kanan ke dalamnya. Ia mengerang sambil terus meremas-remas dan mempermainkan payudaranya sendiri. Aku terpukau melihat gayanya. Ternyata Mbak Ina yang begitu tenang dalam penampilan di kantor, menyimpan kekuatan seks yang sangat hebat. Gayanya mengingatkanku pada pola permainan bintang film porno.

    Setelah kurasa cairan vaginanya bercampur air ludahku telah cukup sebagai pelumas untuk memberi jalan bagi penisku, kepala penis kutempatkan di mulut analnya, mengulas-ulasnya beberapa saat, dan kumasukkan pelan-pelan sambil memperbaiki letak kakinya di pundakku. “Akhh …. sshhhh … ougghhh … pelan-pelan sayanggghhh….akhhh,” rintihnya dan kedua tangannya seakan-akan ingin menolakkan pahaku, tetapi waktu kutarik mundur penisku dari analnya, kedua tangannya justru meraih pahaku untuk semakin rapat ke pahanya. Aku kembali melakukan tekanan dengan tenaga yang makin meninggi, walaupun belum berani memasuk-keluarkan penis dengan gerakan cepat di analnya, khawatir terjadi iritasi pada analnya. “Terus … ohhhh … te..russs…kan ….. sayyyanggg …. akhhhhhh,” mulutnya mendesis sambil lidahnya ia julurkan keluar mulutnya dan menjilati bibirnya sendiri. Semakin lengkap penampilannya kulihat sebagai bintang seks.

    Penisku sudah lebih setengah bermain di analnya, tetapi ia justru makin memajukan pahanya agar penisku masuk lebih dalam lagi. Kedua tangannya meraih kedua pahaku agar lebih rapat lagi ke pahanya. Dan waktu penisku masuk seluruhnya, tubuhnya terasa mengejang, sehingga aku sempat kaget dan menghentikan gerakanku.

    “Ada apa, Mbak? Apakah aku menyakitimu?” tanyaku lembut.

    “Ohhh… tidak, tidak sayang…. Teruskan, teruskan … akkhhh… enn…nak sayang….” ia merintih sambil menghempaskan kepalanya ke kanan kiri. Tangannya bergantian bermain di payudaranya dan sesekali meremas-remas sprei ranjang.

    Kedua kakinya sudah hampir tegak lurus terhadap tubuhnya, berjuntai di pundakku. Kupercepat gerakan penis di analnya sambil jari-jariku kembali merangsang klitoris dan vaginanya, bahkan dua jariku kumasukkan ke dalam vaginanya, hingga ia terpekik.

    “Gussss!!! Ahhh …. nikmatttt sayyy …” rintihannya. Suara kecipak penisku beradu dengan analnya dan jari-jariku masuk keluar vaginanya melantunkan irama yang sangat nikmat untuk didengar. Gerakan kami semakin liar dan tak beraturan. Rintihan kami berdua bercampur bunyi kelamin kami. Penisku makin cepat kuhunjamkan ke analnya hingga terasa ada jepitan yang begitu kuat di kepala penisku. “Ahhh… koq rasanya seperti vagina saja jadinya?” pikirku.

    “Ayo say … goyang … goyang yang kuat,” katanya sambil menikmati gerakan pantatku yang tidak lagi hanya maju mundur, tetapi juga menggunakan gerakan ngebor. Tanganku tidak lagi hanya bermain di vagina dan klitorisnya, tetapi juga meremas payudara dan menarik-narik dan memelintir putingnya hingga nampak warnanya semakin merah akibat jamahan dan jepitan jari-jariku. Keringatku tak kurasakan lagi mengucur dan menetes ke perutnya. Begitu pula keringat Mbak Ina telah membasahi tubuhnya membuatku semakin terangsang melihat payudara, perut dan pahanya yang nampak seakan-akan bercahaya.

    “Akhhh …. Gus …. sayaaannggg … akkkkhu …. keluarrrr … arrhggg….” jeritnya sambil menghempaskan pantatnya makin dalam hingga seluruh penisku ditelan analnya dan kedua kakinya menjepit kepalaku dengan kuatnya. Kurasakan betapa otot-otot vagina dan analnya berdenyut-denyut akibat orgasme yang sudah melanda dirinya. Mbak Ina terengah-engah

    “Okhhh …. Mbak, tahannn …. biar bareng denganku,” pintaku.

    “Oougg … sshhh … ahhh … aku sudah tidak kuatttt ….. oooooohhhh Gusss…” teriaknya membahana dan kurasakan cairan vaginanya begitu banyak membanjir membasahi jari-jariku dan jepitan analnya menahan penisku hingga tak bisa kutarik mundur. Aku pun mengerang sambil memeluk kedua kakinya di dadaku dan merasakan penisku berdenyut-denyut semakin kuat, pertanda akan mencapai klimaks.

    “Mbaakkkk ….. ohhhh sayangkuuu…. ” gumamku sambil menikmati puncak kenikmatan bersama dirinya. Dengan cepat kurebahkan dia dan menarik penisku dari analnya lalu dengan lahap melumat vaginanya dan menyedot cairannya yang membanjir hingga menetes ke sela-sela pahanya. Ia menggeliat-geliat geli merasakan bibir dan lidahku menyedot cairan vaginanya dengan sangat bernafsu. Sprei di ranjangnya sudah acak-acakan akibat permainan panas kami berdua yang begitu menggebu-gebu.

    Akhirnya, kami berdua berbaring bersisian sambil menenangkan diri, hingga lambat laun napas kami kembali normal. Ia mengambil handuk kecil dan melap peluh yang ada di tubuhku barulah kemudian ia sendiri mengeringkan tubuhnya dari keringatnya. Kami terlentang berdua sambil menatap langit-langit kamar hotel dengan tangan saling menggenggam.

    Setelah itu kami mandi berduaan di bathtub. Saling menyabuni satu sama lain. Ia menolak halus waktu kuelus-elus payudara dan vaginanya dengan sabun sambil merangsangnya kembali. “Sudah Gus, aku capek… ntar lagi deh kalau mau ….” Kami berdua keluar kamar mandi. Sambil memandanginya berpakaian dan berdandan, aku memesan makanan diantarkan ke kamar. Ia mengenakan celana pendek dan baju you can see tanpa mengenakan BH.

    Kami makan berdua sambil menikmati siaran televisi. Jam sudah menunjukkan pukul 10. Aku pamit ke kamarku, walaupun ia merengek mau mencegah kepergianku. Saat di kamar, telepon berdering-dering terus begitu juga ponselku, tetapi waktu kulihat nomor ponselnya yang memanggil, sengaja tak kujawab. Lima belas menit kemudian aku kembali ke kamarnya dan mengetuk. Pintu kamarnya terbuka dan kulihat wajahnya cemberut, “Kenapa sih tidak mau jawab teleponku?” tanyanya sambil mencubit lengan atasku dengan gemas.

    “Addduhhh, sakit Mbak,” jeritku sambil menutup pintu di belakang kami. Ia menarik tanganku dan mendorongku hingga rebah ke atas ranjangnya. Lalu tubuhnya jatuh menimpaku tanpa dapat kucegah. Payudaranya yang kenyal menekan dadaku dan bibirnya menjejahi wajahku hingga aku gelagapan dibuatnya. Kembali kami mereguk kenikmatan demi kenikmatan hingga sore hari saat kami check-out dari hotel tersebut menuju Bandar Udara kembali ke Jakarta. Di atas pesawat ke Jakarta, aku merenungi kejadian dua hari itu sambil membaui aroma tubuh Mbak Ina yang tertidur dengan kepala rebah ke bahuku. Ah, benar-benar kenangan manis yang tak terlupakan. Akankah ada lagi kelanjutannya?

    Sepulang dari pertemuan di Yogya, Mbak Ina tetap bersikap biasa-biasa padaku di kantor. Aku juga tidak berusaha memancing percakapan yang bersifat pribadi atau memandangnya dengan tatapan sayang, agar tidak menimbulkan kecurigaan teman-teman sekantor. Begitulah, di lingkungan kantor ia tetap seorang Ibu Ina yang tegas, tetapi ramah, baik kepada karyawan dan setia pada keluarga. Tetapi dalam hatiku ia kuanggap sebagai kekasih.

    Empat bulan setelah penugasan ke Yogya, aku dipanggil oleh Direktur Utama. “Saudara Agus, saya memanggil saudara untuk memberitahukan bahwa minggu depan ada pertemuan sangat penting tentang quality control of product untuk regional Asia di Singapura. Lamanya 3 hari. Orang yang saya percayai untuk hadir pada pertemuan itu adalah Ibu Ina dan saudara Agus. Mengapa? Sebab berdasarkan catatan psikolog perusahaan dan rekomendasi dari Ibu Ina serta memperhatikan kinerja saudara selama ini, saudara sudah mampu bekerja pada bagian yang Ibu Ina pimpin. Dan sepulang dari Singapura, saudara akan kami berikan tugas baru sebagai Manager Assisstant Ibu Ina, tentunya dengan standar penghasilan dan fasilitas sebagaimana mestinya. Kami harap saudara bersedia menerima tugas dan promosi ini.”

    “Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya, Pak, tapi saya minta ijin untuk melakukan adaptasi dalam waktu 2 minggu agar dapat mempelajari hal-hal yang menjadi kewajiban saya. Mudah-mudahan saya tidak mengecewakan Bapak dan pimpinan lain atas kepercayaan yang diberikan,” aku menjawab dengan riang, apalagi membayangkan berduaan lagi dengan Mbak Ina.

    Pada hari yang ditentukan, Mbak Ina berangkat denganku menuju Singapura. Kami masih memiliki waktu sehari untuk bersiap-siap mengikuti pertemuan regional tersebut. Waktu berada di pesawat, Mbak Ina berbisik padaku, “Gus, jangan lupa ya, tiap malam kamu harus tidur di kamarku lho, walaupun kita tetap menyewa dua kamar hotel.”

    “Tentu saja, Mbak. Dengan senang hati,” balasku.

    Setiba di Singapura, kami naik taxi menuju hotel yang telah dipesan dari Jakarta. Kami diantar oleh room boy hotel ke kamar masing-masing. Baru lima belas menit di kamar, telepon berdering, “Hello, Dik Agus, ke kamarku aja dulu sekarang ya?” kudengar suara Mbak Ina.

    “Iya Mbak. Ha.. ha.. sabaarr, ojo kesusu yo Mbak!” godaku sambil tertawa.

    “Iiihhh, ngomong kesusu, udah ngeres aja kamu ya? Hi … hi … hi …” sambutnya terkikik lembut. “Pokoknya buruan, lewat dari sepuluh menit, pintu tidak dibuka lagi,” ancamnya.

    “Daulat Tuan Puteri, hamba akan segera datang memenuhi panggilan Tuanku,” kujawab ancamannya dengan rayuan.

    Agar tidak ada yang curiga apabila memergoki aku masuk ke kamar wanita yang bukan isteriku, aku datang menenteng tas berisi notebook dan berpakaian rapi. Tidak sampai lima menit, aku sudah berdiri di depan kamarnya dan mengetuk. Aku terpana, tanganku ditarik masuk dan dengan cepat pintu telah ditutup oleh Mbak Ina yang sudah berdiri di depanku dengan hanya mengenakan celana dalam dan BH. Tubuhnya yang langsing begitu sexy, pinggulnya begitu indah dan pantatnya yang padat serta dada yang agak membusung meskipun payudaranya tidak begitu besar, membuat mataku cepat mengirimkan info ke otak. Aku merasa darahku mengalir semakin cepat di sekujur tubuhku. Wajahku langsung memerah melihat penampilannya dan desakan di pangkal pahaku semakin sempit terasa karena reaksi alami.

    “Kita mandi dulu yuk,” ajaknya sambil membukai dasi, baju dan celanaku, hingga aku hanya benar-benar telanjang bulat di hadapannya. “Luar biasa! Mbak Ina yang sangat berwibawa di kantor, rela memberikan tubuhnya bagiku,” batinku. Ditariknya tanganku setengah menyeret dan dengan cepat ia melepaskan celana dalam dan BH-nya, sehingga kami berdua berjalan ke kamar mandi bagaikan dua bayi raksasa yang siap berendam di bathtub.

    Sesampainya di dalam, kulihat air hangat di bathtub telah penuh dan wangi-wangian rempah begitu semerbak memenuhi kamar mandi tersebut. Rupanya Mbak Ina sebelumnya membawa bekal untuk menambah sensasi kebersamaan kami. Kami pun bergandengan tangan masuk ke dalam bathtub. Dalam keadaan masih berdiri kami berpelukan dan berciuman dengan ganas, maklum telah empat bulan berlalu sejak kejadian di Yogya, kami sama-sama rindu suasana penuh kegilaan itu lagi. Sambil terus berciuman kami duduk berhadapan di bathtub, tangan kami saling mengelus tubuh yang lain. Payudaranya kuremas-remas dengan lembut, putingnya kubelai-belai. Ia membalik tubuhnya dan duduk di pangkuanku. Penisku kurasa sudah begitu tegang apalagi waktu pantatnya turun menindih kedua belah pahaku. Kedua pahanya agak dibuka dan memberi ruang bagi penisku untuk bersentuhan dalam air dengan rambut-rambut kemaluannya. Aku mengambil sabun dan menyabuni bahu, punggung, pinggulnya, kemudian tanganku bergerak ke bagian depan tubuhnya menyabuni pundak depannya, turun ke payudara, di situ kedua tanganku mengelus-elus kedua puting payudaranya, juga meremas kedua belah payudaranya dengan gerakan melingkar, hingga ia mendesah-desak nikmat.

    “Oohhh, ya …. ya, gitu Gus. Ssshhh…., addduuuhhh …. enak …. oughhh nikmatnya Gus?” serunya sambil tangannya mengelus-elus penisku yang dijepit oleh kedua pahanya yang kupangku.

    “Ohhh … shhhh … udah dulu Gus, aku sudah tak tahan … ntar kita teruskan … di ranjang. Aku mulai kedinginan nih,” tiba-tiba ia bangkit berdiri dan membilas tubuhnya dengan air yang mengucur dari shower. Kubiarkan ia meraih handuk dan melap tubuhnya sambil berjalan keluar. Aku pun segera menyelesaikan mandi, mengambil handuk dan dengan cepat mengeringkan tubuhku.

    Kulihat ia sudah berbaring di ranjang di bawah selimut. Aku melompat ke ranjang dengan bertelanjang, hingga ia tersenyum melihat ulahku. Kubuka selimutnya dan masuk ke bawah selimut bersama-sama dengan Mbak Ina. Wah, ternyata ia sama saja denganku, sama-sama bertelanjang. Tiba-tiba kedua tangannya meraih kepalaku dan menciumi pipiku, hidungku dan berhenti di bibirku. Kami saling melumat dengan ganas dan lidah kami saling memilin. Geliatnya semakin tak menentu saat tanganku meremas kedua bulatan di dadanya, terlebih lagi waktu jari-jariku bermain di putingnya dan melumatnya dengan bibirku.

    “Ahh… ekhh … sshhh… Gus …. terus …. terusss…. shhh,” rintihnya.

    Lidahku bermain turun dari klitorisnya, kedua belah bibir bawahnya tak luput dari jilatan dan kuluman lidah dan permainan bibirku. Dengan jari-jariku, kukuakkan kedua labianya ke kanan kiri sehingga terlihat warna merah merona vaginanya yang indah. “Akkkhh … nikmattthhh …. Guuusss….. oooohhhhhhhhhhhhhhhh ….” jeritnya sewaktu lidahku kusapukan ke bagian dalam vaginanya yang terpampang lebar karena kedua labianya kutarik ke kanan kiri. Ia terengah-engah karena rasa nikmat yang semakin memuncak. Kulihat keringat mulai menetes di lehernya, juga dada, perut dan pinggangnya.

    Lidahku terus turun hingga melewati ujung bawah vaginanya. Kini sasaranku adalah lubang analnya. Kuarahkan hidung mengendus-endus analnya. Ia menggeliat kegelian, tetapi tidak berusaha menolakkan kepalaku. Bibirku mulai menciumi tepi-tepi analnya dan lidahku mulai mencari-cari lubang analnya. Jari-jariku kupakai untuk membuka analnya lebih lebar sehingga lidahku masuk ke analnya. Mendapat perlakuan demikian, pantatnya tiba-tiba terangkat ke atas dan rintihannya semakin keras mengatasi suara televisi yang sedang menyiarkan warta berita. “Ihhhhh …. nikmaaaaattthhhhh ….” Analnya terus kujilati sambil jari-jariku terus mengusap-usap labia dan klitorisnya.

    “Okkhhhhh ….. ssshhhhh … Gussss, aku tak kuuuu….att ….. ahhhhhh….. aku mau … ke …. kelll…..luarrrrr …..” ia menjerit-jerit sambil menggeliat-geliat. Tiba-tiba kurasakan vaginanya membanjir dengan cairan yang cukup banyak. Tak mau kehilangan momentum yang menentukan, kuarahkan bibir dan mulutku ke vaginanya dan menyedot dengan rakusnya cairan kenikmatan yang dihasilkannya. Telunjuk kiriku masuk ke vaginanya, menusuk dalam-dalam sedangkan telunjuk tangan kananku dengan cepat menembus analnya hingga lebih setengah jariku ditelan analnya yang berdenyut-denyut menjepit jariku.

    “Sayannnnngggg …oohhh …. akkk ….. ku keluarrrrr …..” teriaknya sambil kepalanya dihempas-hempaskan ke kiri dan kanan. Tangannya meremas-remas kedua buah dadanya dengan ganas dan pahanya dirapatkan dengan jariku masih terjepit dalam analnya.

    Sesudahnya ia tergolek lemas dengan senyum manis dan tatapan sayu ke arahku. Aku membalas dengan mengecup bibirnya berbagi cairan kenikmatannya yang masih tersisa di mulutku. Ia amat bergairah menyambut ciumanku dan tidak merasa jijik menjilati cairannya yang ada di mulutku.

    Tubuhku kuletakkan miring memeluk dirinya dari belakang. Sambil kuelus-elus bahu, pinggang dan pinggulnya, penisku mengambil posisi tepat di belakang pantatnya. Kurenggangkan sedikit pahanya dan perlahan-lahan penisku mencari-cari lubang analnya. Karena begitu sempit, kugunakan lagi jari-jariku meraba dan menusuk analnya setelah membasahinya dengan ludahku. Ia tersentak dengan style yang kupakai sekarang. Analnya semakin membesar saat topi baja kepala penisku memasuki sedikit demi sedikit. Kuhunjamkan penisku semakin dalam dan ia kembali mengerang. Kembali birahinya naik menyambut tusukan-tusukan mautku dan remasan jari-jariku di payudaranya. Karena posisinya demikian kritis, penisku masuk sebagian saja ke dalam analnya. Merasa kurang sreg, aku menggulingkan tubuhnya hingga tengkurap dan penisku masuk seluruhnya hingga ia mendongakkan kepala dengan jeritan kuat,

    “Gus …. ohhhhh … pelan-pelan, oohhh …. ssshhhh …. sssaaakiiittt….”

    “Tenang say, ntar lagi juga bakal enak kau rasakan ….” hiburku sambil menarik penisku dan memasukkannya lagi dengan gerakan yang lebih lambat.

    Benar saja, bukannya merasa sakit, perlahan-lahan Mbak Ina merasakan nikmat yang tak terhingga saat penisku kembali masuk keluar analnya, apalagi jari-jari tanganku turut merogoh vaginanya dari depan merangsang klitoris dan labianya yang membanjir dengan cairan kenikmatan. “Sssrrrt…. crrett … ssrrrt … crrrtt,” terdengar suara yang aneh saat penisku melesak maju mundur dalam analnya.

    “Sssshhh …. aaahhh ….. ekkk …… sssshhh…… ooooougggghhhhh…..” lenguhnya berusaha menahan agar tidak cepat-cepat orgasme. Tapi ia tak kuasa menahan lebih lama lagi, pantatnya yang menjepit penisku dalam analnya bergetar hebat hingga kurasa penisku tak dapat kutarik mundur maju lagi, terjepit dengan ketatnya dalam analnya; dan dengan suatu sentakan luar biasa, ia merapatkan bongkah pantatnya dengan telak ke arah penisku. “Ooouwww …………… sshhhh ….. aaaaahhhhhkkk …. aku dapat Gussss….!” teriaknya kuat hingga aku sendiri terkejut mendengar jeritan birahinya.

    “Crot …. crrooootttt … crrooootttt …” penisku tak mampu lagi kutahan, dengan hebat menyemprotkan air mani dalam analnya. “Ahhhhhhh…. akkkkuuuuu …. keluar Mbbbbaakkkkk!” desahku sambil menghunjamkan dalam-dalam penis ke dalam bongkahan pantatnya yang sangat merangsang.

    Masih menindih tubuhnya yang menelungkup dari atas, aku mulai meredakan napas dan mengatur detak jantungku yang begitu kencang, dan berguling ke sampingnya dengan tetap memeluk pinggulnya hingga terlentang dengan tubuhnya kini berada di atasku.

    “Gus, Gus, kamu tidak berat ditindih badanku begini?” tanya Mbak Ina.

    “Hmmm, nggak apa-apa, Mbak. Apalagi ada kompensasinya koq, penisku
    masih menikmati kuluman analmu,” jawabku.

    “Iihhhhh jorok …., nyebut-nyebut anal,” katanya.

    “Biarin jorok, yang penting nikmat, Mbak ….” aku menimpali ucapannya, “Kalau begini terus tiap malam di Singapura ini, wah … rasanya seperti berbulan madu dong Mbak?”

    “Enak aja kamu Gus! Kita kemari kan buat kerja,” tandasnya mengingatkan maksud kami datang ke Singapura. “Ini kan selingan buat menumpahkan rindu sejak pulang dari Yogya,” tambahnya.

    Aku tersenyum mendengar kata-katanya. “Iya deh Mbak. Tugas tetap tugas, tapi pacaran juga jalan terus kan?” gurauku.

    Ia tertawa kecil dan sambil menggulingkan tubuhnya ke sampingku ia bertanya, “Kamu senang ikut tugas kantor denganku, Gus?” Belum sempat kujawab pertanyaannya, ia berkata lagi, “Aku yang mendesak pimpinan agar kamu ditaruh pada bagianku dan menjadi asistenku. Tadinya ada manajer lain yang memintamu ke bagiannya, tapi berkat argumentasiku dan didukung oleh evaluasi dari bagian personalia, kamu disetujui pindah ke tempatku.”

    “Aku sempat kaget, Mbak. Koq tiba-tiba ditawari posisi baru padahal masih ada beban kerja di bagianku yang harus kuselesaikan tahun ini,” kataku. “Rupanya Mbak Ina yang menjadi dalang di balik semua ini?”

    “Jadi kamu nggak suka atas ulahku memindahkanmu?” desisnya sambil memandangku tajam.

    “Wah, keluar galaknya,” pikirku.

    “Ouww, jangan salah sangka, Mbak. Aku justru sangat senang dan berterima kasih mendapat promosi. Cuma tidak menduga sebelumnya bahwa Mbak turut berperan atas hal ini,” kataku sambil mencium bibirnya lembut. Ia membalas ciumanku dan mengulum serta mengisap lidahku.

    Kami kemudian tidur sambil berpelukan di bawah berselimut. Kira-kira sejam kemudian aku tersentak mendengar dering telepon. Ingin kuraih, tapi khawatir itu untuknya, maka kuguncang-guncangkan bahunya agar menerima telepon tersebut.

    “Hallo, I am Mrs. Ina,” katanya menjawab nada panggilan di seberang sana.

    Aku memeluk tubuhnya yang telanjang dari belakang dan kudekatkan telingaku ke telinganya, lalu kudengar suara dari seberang sana. Rupanya dari Direktur Utama kami.

    “Bagaimana perjalanan kalian? Apakah semuanya berjalan baik?”

    “Yes, oh … ya .. ya, Pak, kami baik-baik saja. Perjalanan kami lancar dan kami sudah berada di hotel untuk mempersiapkan diri pada pertemuan besok,” jawabnya.

    “Saya berkali-kali menelepon ke kamar Agus, tapi tidak diangkat. Apakah ia keluar hotel?”

    “Celaka, rupanya The Big Boss mencari jejakku,” pikirku.

    “Tadi begitu tiba di hotel, ia minta ijin tidak mau diganggu, Pak. Katanya semalam ia tidur larut malam karena mempersiapkan presentasi kami untuk pertemuan besok. Mungkin ia sedang bermimpi indah di kamarnya, Pak,” jawabnya berbohong. Gila benar, cepat sekali si Cantik ini memberi argumentasi yang membuat atasan kami senang.

    “Baiklah, jika demikian, silakan beristirahat agar penampilan kalian besok benar-benar prima. Sampaikan salam saya kepada Agus. Sukses ya!” kembali suara Direktur Utama kami terdengar.

    “Ok Pak, saya sampaikan salam Bapak nanti dan doakan kami agar tidak mengecewakan Bapak dan perusahaan. Salam kami kembali buat Bapak,” katanya menutup pembicaraan dan meletakkan gagang telepon.

    Masih memeluk pinggangnya dari belakang, bibirku menghembuskan napas di belakang telinganya hingga ia kegelian lalu lidahku menjilati lehernya yang jenjang hingga turun ke kuduknya. Di situ kubuat kecupan agak kuat hingga ia mendesah-desah. Apalagi sewaktu bahunya kuciumi dan kujilati dengan lembut. Ia mengerang dan desahannya seperti orang kepedasan karena makan cabai. Ciuman dan jilatanku semakin turun ke punggung, pinggang dan pinggulnya. Ia semakin menjadi-jadi meliuk-liukkan tubuhnya. Kudengar suaranya sambil mendesah,

    “Gus, apakah kamu pernah melakukan seperti ini dengan perempuan lain selain isterimu dan aku?”

    “Mbak, Mbak, mana berani aku berbuat begini. Dengan Mbak aja hanya karena “gayung bersambut” maka aku mau. Aku takut kena penyakit kelamin, Mbak,” jawabku.

    “Jadi kamu jujur nih tidak pernah begini dengan yang lain?” desaknya,

    “Soalnya aku tak mau kalau suatu waktu kena penyakit karena tertular darimu yang pernah main dengan perempuan lain. Apalagi kita cuma bisa main anal, karena aku tak mau kau coblos vaginaku.”

    “Jujur Mbak,” kataku. Memang aku tak pernah berpikir jajan atau berbuat begini dengan yang lain, bahkan ada beberapa gadis di kantor yang pernah menggodaku atau menaksirku baik terang-terangan maupun secara diam-diam, tidak pernah kugubris. “Aku cuma setia padamu dan istriku, Mbak Ina sayang,” rayuku.

    “Aku perlu kejujuranmu agar tiada sesal diantara kita kelak,” ungkapnya. “Biar saja Tuhan Sendiri yang menyaksikan kebinalan kita, tetapi rumah tangga kita tetap kita pelihara,” katanya lagi.

    Aku terdiam dan menghentikan elusan tangan dan permainan bibir dan lidahku sambil merenungkan kata-katanya barusan.

    “Lho, koq jadi diam? Tersinggung dengan kata-kataku barusan ya?” ia bertanya sambil menoleh ke belakang hingga hidungnya menyentuh pipi dan hidungku. “Terusin dong …” rajuknya sambil tangannya meraih tanganku yang memeluk pinggangnya agar naik meraba payudaranya kembali.

    “Aku terharu aja Mbak,” kataku. “Mbak tidak menuntut apa-apa dariku selain kebersihan diri seperti itu, walaupun aku sadari dosaku menggoda Mbak.”

    “Sssttt, jangan bicara begitu. Tidak ada yang salah. Bukan kau yang menggodaku, justru aku yang harus tahu diri dan tidak menggodamu,” bantahnya. “Tak perlu menyesali semua yang sudah-sudah. Yang penting kita berdua pandai-pandai membawa diri agar hanya kitalah yang tahu dan Tuhan bahwa kita saling menyayangi dan ingin berbagi kasih. Itupun tidak tiap kali kita melakukan hal begini. Paling-paling saat keluar kota atau keluar negeri seperti sekarang. Yang kuminta padamu Agus sayang, adalah jangan keterusan bersetubuh denganku lewat vaginaku, agar setidak-tidaknya masih ada bagian yang tersisa pada tubuhku yang hanya boleh dimiliki dan dinikmati oleh suamiku.”

    “Ya Mbak. Aku memang tergoda melihat vaginamu dan payudaramu serta seluruh organ tubuhmu yang sangat menawan. Bahkan waktu di Yogya aku sangat berhasrat memasukkan penisku ke dalam vaginamu. Untungnya aku masih sadar dan menahan diri. Entah nanti. Tapi kuharap jangan segan-segan menamparku apabila aku tak dapat menguasai diri, mana tahu Mbak kupaksa dan kuperkosa suatu waktu,” pintaku.

    “Justru itu Gus. Aku tak ingin ada kekasaran diantara kita. Biarlah kita menikmati kasih ini dengan cara kita sendiri tanpa harus menggunakan yang satu itu. Aku rela jika kau minta terus-terusan memasukkan penismu di mulutku atau analku, tapi ke vaginaku kuharap tidak kau lakukan, kecuali jika hanya bagian kepala hingga leher penismu saja masuk ke vaginaku. Bagaimana Gus, kau mau berjanji padaku?” tuntutnya sambil melingkarkan kedua tangannya ke leherku.

    “Aku tidak mau berjanji, Mbak, sebab janji adalah hutang. Tapi aku akan selalu berusaha untuk menahan diri agar tidak mengecewakan dirimu Mbak. Mudah-mudahan hubungan aneh kita ini tidak membuat kita saling menyakiti kelak dan tidak ada yang akan dipermalukan diantara kita berdua. Semoga hubungan gelap kita ini hanya Tuhan dan kita berdua yang tahu dan biarlah Dia memaafkan kita atas perbuatan kita ini. Sebab aku tulus mengasihi Mbak dan tidak ingin merusak kepercayaan yang sudah Mbak tanamkan padaku,” tekadku.

    Mbak Ina memelukku erat-erat dan mengecup leherku. Agak lama ia berbuat demikian hingga kurasakan ada aliran air hangat membasahi leherku turun ke dadaku. “Mungkin ia menangis,” pikirku. Benar saja, kemudian ia melepaskan wajahnya dari leher dan dadaku. Kupandang matanya berair dan sebagian membasahi pipinya. “Mengapa Mbak menangis?” aku bertanya lugu.

    “Aku terharu, Gus. Masih ada pria sebaik dirimu yang mengasihiku dengan tulus, tidak menuntut yang bukan-bukan. Andaikan dengan lelaki lain, barangkali sudah sejak di Yogya aku tak punya muka lagi melihat dunia karena melakukan persetubuhan dengan pria yang bukan suamiku. Mana ada buaya menolak bangkai, bukan? Pasti ajakanku menemani sekamar saja sudah diartikan untuk melakukan hubungan badan, iya nggak?” katanya.

    “Aku senang karena mencintai perempuan sebaik Mbak Ina,” kataku.
    “Memang sukar untuk tidak melakukan persetubuhan apalagi jika melihat wanita secantik Mbak. Aku justru karena sungguh-sungguh menyayangi Mbak sejak awal masuk perusahaan, sehingga tidak pernah berpikiran merusak diri Mbak.” lanjutku.

    “Ok sayang, sekarang … mumpung masih ada waktu tersedia sebelum kita bekerja besok, mari kita reguk kenikmatan kembali,” ajaknya sambil menghujani dadaku dengan ciuman-ciuman yang menggairahkan. Putingku dilumat oleh lidahnya dan bibirnya mengecup kedua putingku bergantian hingga kulihat ada cupang berwarna kemerah-merahan bekas kecupan bibirnya. Birahiku kembali membuncah mendapat perlakuan demikian. Kubalas dengan menaruh kedua pahanya di atas pahaku dan memeluk dirinya erat-erat sambil meremas-remas kedua buah dadanya. Kembali ia mengerang dan mendesah-desah.

    Vaginanya bergerak-gerak di bagian bawah penisku seakan-akan meminta diterobos oleh batang kenikmatanku. Diarahkannya penisku menguakkan rambut-rambut kemaluannya. Tetapi aku sadar akan percakapan kami tadi dan tidak berusaha memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang semakin lembab. Ia berbisik di telingaku, “Gus, masukkan penismu dikit ya, atur agar cuma sampai leher penismu masuk dalam vaginaku. Soalnya aku terangsang banget. Biar klitoris dan labiaku nikmati tusukan kepala penismu ya sayang?” pintanya. Kuturuti permintaannya dan menekan lembut ke liang vaginanya, tapi jari-jari tangan kananku kupakai menggenggam penisku, sehingga batangnya dapat kukendalikan tidak masuk dan hanya kepala hingga leher penisku yang menekan-nekan rambut kemaluannya.

    Dengan sedikit geliat, ia berhasil membuat kepala penisku tepat berada di depan klitorisnya yang semakin tegang. Sekonyong-konyong ia merebahkan badannya terlentang di bawahku dengan kedua belah pahanya masih ditumpangkan di atas pahaku dan menggerakkan pahanya ke arah tubuhku sehingga kepala penisku menancap telak di mulut vaginanya. Untunglah aku tetap menggenggam batang penis hingga ke pangkalnya hingga tidak terbawa masuk akibat gerakannya yang tiba-tiba.

    “Ayo Gus, aaahhhh …. ssshhh ….ayo … sayangggg…. gerakkan kepala penismu menggesek-gesek klitoris dan permukaan vegy-ku,” erangnya.

    Dengan setengah berlutut, kugerakkan pantatku maju mundur agar kepala penisku benar-benar memberikan gesekan nikmat bagi klitoris dan labianya yang semakin basah.

    “Ahhhh … ssshhhh ….. ooooohhhh ….. ooouuuwwww ….. yang cepat Gus … lebih cepat lagi sayanggggg ….. aaahhhhhhhhhh …” desisnya sambil melemparkan kepalanya ke kanan kiri dan ke atas hingga rambutnya semakin awut-awutan, tapi justru menambah kecantikannya sebab wajahnya semakin merah merona dan kedua tangannya terus meremas-remas puting dan payudaranya karena tanganku kupakai meremas-remas kedua belah pantatnya dan mengelus-elus pahanya.

    Gerakan kepala penisku sekarang kupusatkan pada bagian klitorisnya dengan cara memutar hingga membuatnya semakin menggeliat-geliat sambil merintih sambil meraih kenikmatan. Kemudian kubuat variasi gerakan dengan mengulas-ulas labianya menggunakan kepala penisku hingga bibir bawahnya semakin terbuka memperlihatkan warna merah dengan cairan-cairan putih bening yang keluar dari lipatan-lipatan dalam vaginanya.

    Tiba-tiba pantatnya diangkat tinggi hingga kulepaskan penisku dan kedua belah pahanya menjepit leherku kuat-kuat, denyut-denyut di vaginanya semakin kencang dan dengan jari-jariku kuterobos liang kenikmatannya dalam-dalam sambil mengisap kuat-kuat klitorisnya. Dengan jari telunjuk kanan, kuterobos vaginanya mencari-cari letak G-spotnya. Agak ke atas di belakang klitorisnya kutemukan suatu titik lembut yang ketika kutekan membuatnya makin merintih-rintih nikmat. Sedangkan telunjuk tangan kiriku pelan-pelan merambat ke dalam analnya hingga ia semakin menggelinjang-gelinjang.

    Saat gerakannya semakin liar, kumasukkan lagi dua jariku bersama-sama telunjuk masuk membenam ke dalam vaginanya dan kurasakan bagaimana lorong vaginanya meremas-remas ketiga jariku dengan kuatnya dan dengan dorongan yang luar biasa ia menyemprotkan cairan vaginanya hingga muncrat ke wajahku. “Guuuuusssss …..” hanya itu kata-kata yang dapat ia lantunkan di puncak orgasmenya. Dengan cepat kubenamkan wajahku, bibirku dan lidahku menjilati cairannya yang kini bukan hanya di seputar vaginanya, tapi juga mengenai rambut dan dadaku bahkan sebagian mengenai sprei. Luar biasa banyaknya. Rasanya gurih, sedikit asin, dan aku terus dengan keasyikanku menjilati semua cairannya.

    “Oohhhh ….. Agus sayangggg ….. enak … nikmat sekali sayang, aaaakhhhh. Kau apakan vaginaku sampai begitu banyak menyemprotkan maniku?” erangnya sambil mengelus-elus kepala dan rambutku. “Begitu lama aku kawin dengan suamiku, tetapi baru sekali ini kurasakan semprotan vaginaku yang luar biasa,” katanya lagi.

    “Sayang …. apa kau tidak tahu? Itu kan G-spot-mu yang kutekan tadi bersama-sama klitoris dan liang vaginamu,” jawabku sambil mencium bibirnya.

    “Ehh … ya … aku sendiri walaupun sudah menikah lebih dari sepuluh tahun, rasanya masih banyak yang harus kupelajari tentang seks,” gumamnya. “Anehnya, aku malah bisa begitu nikmat kamu puasi, padahal suamiku termasuk orang yang rutin berhubungan badan, tetapi pemahamannya tentang tubuh wanita sepertinya kalah dari kamu,” lanjutnya.

    Sampai sore hari kami masih bermain dua kali dan setelah makan malam, kami kembali bergulat di kamarnya sampai pukul sembilan. Untunglah kami ingat harus beristirahat agar tampil bugar pada pertemuan besok.

    Selama mengikuti pertemuan dengan rekanan, kami berdua memperlihatkan sikap biasa-biasa di depan orang lain, tidak terkesan bahwa kami punya hubungan intim. Namun malam harinya, seperti hari pertama di Singapura, aku rutin menemani Mbak Ina di kamarnya. Tentu saja bukan sekadar tidur, tetapi setidaknya bermain cinta secara unik dengannya paling sedikit dua kali; bahkan pernah kami melakukan sampai ia mencapai orgasme sebanyak 5 kali dan aku sebanyak 3 kali.

    Malam terakhir kami di Singapura benar-benar kami habiskan berdua di kamarnya. Begitu usai makan malam dengan Mr. Chow, salah seorang manager pada perusahaan rekanan kami, dengan dalih akan beristirahat, Mbak Ina sudah pamit lebih dulu meninggalkanku bersama rekanan kami yang masih mengajakku ngobrol. Aku sudah ingin cepat-cepat pergi, apalagi sudah sepuluh sms Mbak Ina masuk, minta aku segera datang, tapi karena tak enak hati pada rekanan kami, aku cuma membalas singkat, “Masih ada yang dibicarakan, sabar sayang!” Tepat pukul 9 malam, barulah aku pamit dengan dalih sudah mengantuk dan membuat gerakan menguap beberapa kali.

    Kusms Mbak Ina, “Tuan Putri, hamba segera datang ke peraduanmu.” Sesampai di kamar, kuangkat gagang telepon untuk berbicara dengan Direktur Utama melaporkan kegiatan kami. “Semua beres, Pak. Laporan selengkapnya secara tertulis akan Ibu Ina dan saya selesaikan agar dapat Bapak terima sesegera mungkin,” janjiku. Pimpinan kami menjawab dengan nada puas, “Baiklah, saya percaya akan kinerja kalian. Silakan beristirahat karena kalian tentu sudah sangat lelah beberapa hari ini. Bila perlu tak perlu cepat-cepat pulang besok agar dapat sehari lagi berjalan-jalan di Sinagapura. Mengenai hal ini, sudah saya pesankan tadi kepada Ibu Ina, sehingga tak perlu kuatir akan adanya tambahan biaya, semua akan ditanggung oleh perusahaan. Ok, sampai jumpa.” Aku senang sekali mendengar ucapan Direktur Utama kami itu. “Wah, kalau Mbak Ina setuju, berarti besok kami dapat seharian mereguk anggur kenikmatan di atas ranjangnya,” pikirku.

    Setelah itu, kuputar nomor telepon rumahku. Begitu diangkat, kudengar suara istriku, “Hallo, selamat malam! Mau bicara dengan siapa?” Kukatakan pada istriku, “Mama sayang, bagaimana kabarmu?” Jawabnya, “Oh Papa ya? Aku baik-baik saja, tapi sudah rindu banget. Jadi pulang besok, Pa? tanyanya.

    “Itulah yang mau kukatakan. Aku belum tahu bagaimana Bu Ina selaku pimpinanku. Tadi Boss kami katakan agar kami menambah waktu untuk melakukan beberapa hal lain mumpung masih di Singapura, sehingga kami tak dapat pulang besok, paling cepat lusa. Mudah-mudahan Bu Ina memperbolehkan aku pulang duluan, abis udah kangen pada Mama sih! Tapi jika tidak diijinkan, Mama sabar aja ya nunggu Papa pulang lusa,” kataku dengan nada merayu. Sebetulnya tak enak juga berbohong seperti itu padanya, tapi karena adanya peluang diberi Pimpinan, kucoba gunakan.

    “Ahhh, Papa jahat deh! Jadi besok belum bisa melepas rindu dong?” rajuk istriku manja.

    “Jangan marahin Papa dong, Mama sayang … kan Papa hanya bawahan yang harus tunduk pada atasan. Apalagi Papa sudah bilang bahwa tugas kali ini berkaitan dengan promosi jabatan Papa sepulang ke Jakarta nanti. Kalau sudah balik ke Jakarta, Mama minta berapa ronde pun kulayani deh …” kucoba meyakinkan dengan melontarkan jurus-jurus rayuan maut.

    “Kalau begitu, Papa harus belikan Mama oleh-oleh yang bagus …. dan jangan lupa, kangen Mama harus dirapel beberapa ronde yaaaa???” kembali suara manja istriku terdengar.

    “Baik, Papa akan carikan souvenir indah buat Mama, tapi janji jangan musuhin Papa dan jangan buat Papa lecet-lecet waktu melepas rindu nanti ya?” jawabku. “Ok Mama, selamat malam, selamat tidur ya. Kiss bye,” sambungku menutup percakapan kami.

    “Cup … cup … met malam. Salam kangen banget ya Pa!” desah istriku.

    Baru saja kuletakkan gagang telepon, tiba-tiba telepon itu berdering.

    “Kriiingg … krrrinngg … krrinnggg ….” Kuangkat telepon, dan benar dugaanku, Mbak Ina. Pasti ia sedang uring-uringan. “Koq lama banget sih. Sibuk terus teleponmu! Apa kamu punya pacar baru ya?” semprotnya.

    “Maaf Mbak, tadi abis bicara dengan Mr. Chow, aku telepon Boss kita di Jakarta melaporkan pertemuan kita.”

    “Ngapain kamu mesti telepon Pimpinan kita, kan tadi sore kamu dengar sendiri aku bicara per telepon dengannya?” katanya ketus.

    “Jangan marah gitu dong, Mbak? Aku kan juga mau tambahkan percakapan informal kami dengan Mr. Chow tadi sekaligus memberitahu beliau bahwa laporan pertemuan kita akan sesegera mungkin saya siapkan.”

    “Ohh gitu, abis teleponmu sibuk terus sih, padahal sms-mu tadi bilang mau langsung ke kamarku? gerutunya sambil melanjutkan dengan nada yang sudah semakin datar, “Nah, tadi beliau katakan agar kita tidak buru-buru pulang. Jika ada yang masih perlu dipelajari dari rekanan kita di luar pertemuan formal beberapa hari ini, kita dapat menambah waktu sehari lagi di sini. Bagaimana, kamu tidak keberatan?”

    “Ah, aku sih bagaimana Mbak aja. Apalagi tokh tiap malam Mbak selalu memberikan service khusus buatku?” candaku demi mendengar suaranya sudah mulai mendatar.

    “Tapi bagaimana dengan istrimu, apa tidak curiga jika kita nambah waktu di sini?” tanyanya menyelidik. “Kalau aku sih, sudah langsung kutelepon suamiku tadi memberitahu kemungkinan pulang masih lusa dari sini.”

    “Beres, Mbak. Tadi istriku sudah kubilangin kalau masih ada tugas kita, sehingga belum bisa pulang besok,” jawabku.

    “Gila lu, tugas apa tugas nih?” oloknya sambil tertawa kecil. “Udah buruan, aku sudah kedinginan sendirian di kamarku. Jangan pake mandi lagi, cepat ya! Kutunggu dalam sepuluh detik,” ancamnya menggoda.

    “Ha … ha … ha … jangankan sepuluh detik, Mbak. Sekarang pun aku sudah di kamarmu karena masuk lewat saluran telepon …” balasku sambil meletakkan telepon dan bergegas ke kamarnya.

    Sesaat kemudian aku sudah di depan kamarnya. Waktu kuketuk pintunya, ternyata pintunya sedikit terbuka, “Masuk Gus!” Aku mengomelinya, “Gila, koq pintumu tidak dikunci sih Mbak? Nggak takut ada orang lain masuk?” Kulihat lampu kamarnya remang-remang dan ia berbaring di ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, sementara pesawat televisi di kamarnya menyajikan film dewasa semi porno. Batinku, “Wah, udah ngeres rupanya dia nonton film beginian?”

    “Ah ngapain takut? Tokh cuma kamu yang tahu kalau pintu itu agak terbuka. Dari tadi ada yang lewat kudengar tapi mana berani masuk?” tangkisnya.

    “Aku mandi dulu ya Mbak, gerah banget nich seharian duduk, sore tadi cuma mandi koboi,” kucoba bercanda melihat reaksinya terhadap ucapanku.

    “Ehhh …. belum pernah lihat televisi dilempar ke wajahmu, ya? Kan udah kubilang tadi tak usah pake mandi. Alasan aja, padahal mau godain aku… Sini, naik ke dekatku!” serunya dengan nada memerintah.

    Kulepaskan baju dan celana panjangku dan kusampirkan di gantungan baju di lemarinya. Dengan hanya mengenakan celana dalam dan kaos singlet, kudekati dia dan membuka selimut masuk ke baliknya berbaring di dekatnya. Sekilas kulihat ia hanya mengenakan baju tidur tipis tanpa mengenakan BH, entah celana dalamnya karena selimutnya tidak kubuka lebar.Belum sempat rebah dengan baik, ia sudah memelukku dan melumat bibirku dengan buas. Tangannya meraih kepalaku dan bahuku, hingga aku tak bisa mengelak dari ciuman-ciuman mautnya. Lidahnya disusupkan masuk ke dalam mulutku membelit lidahku dan mengait-ngait rongga mulutku sambil bibirnya menutup penuh-penuh mulutku. Buah dadanya yang padat begitu liat dengan putingnya yang kulihat sudah tegang, menekan dadaku hingga birahiku naik dengan cepat.

    “Sebentar Gus, kamu jangan melawan, ikuti saja kemauanku …” paksanya tiba-tiba sambil menyeret tubuhku ke pinggir ranjangnya, sementara selimut yang kami pakai sudah terlempar ke bawah ranjang. Ditariknya kedua kakiku hingga berjuntai ke lantai dan pantatku tepat di tepi ranjangnya, sementara di bawah kepalaku ia letakkan sebuah bantal. Lalu dengan cepat ia menempatkan diri berjongkok di antara kedua pahaku dan mengelus-elus rambut kemaluanku. Bibirnya mulai ia gunakan menciumi lututku, naik ke pahaku dan kedua testisku. Lidahnya mulai menjulur membasahi pori-pori tubuhku seolah-olah tidak mau menyisakan se-inci pun luput dari lumatan bibir dan tusukan lidahnya yang menimbulkan seribu satu sensasi. Aku mulai mengerang mendapat pelayanan yang begitu memuaskan.

    “Ekhhhh… sshhh …. ahhh … Mbakkkk …. nik .. mat … Ougghh .. sayaangggg….” Kembali kusaksikan bukan seorang Ibu Ina yang sangat disegani di lingkungan kerja, tetapi yang ada kini hanyalah seorang wanita yang benar-benar tahu apa yang harus ia lakukan untuk memenuhi kodratnya sebagai seorang wanita terhadap kekasihnya.

    Perlahan-lahan lidahnya menjilati batang penisku dan melakukan gerakan memutar sambil menggunakan sebelah tangannya memegangi pangkal kemaluanku dan tangannya yang lain mengelus-elus testisku yang menjadikanku menggeliat-geliat. Di bagian leher penisku, lidahnya bermain dengan lincah melakukan manuver keliling dan “Oouuuwww …!” aku menjerit ketika ujung lidahnya mengulas-ulas lubang penisku dan memasukkan kepala penis ke dalam rongga mulutnya sambil terus menerus melakukan gerakan simultan dengan kedua tangannya.

    Aku semakin terengah-engah manakala ia memasukkan seluruh penisku hingga pangkalnya masuk ke mulutnya. Kurasakan bagaimana ujung penisku menyentuh kerongkongannya, aku tidak tahu apakah itu amandelnya, tapi yang jelas ada benda yang lunak di sana memberikan rangsangan yang luar biasa bagi kepala penisku. Sambil menelan seluruh penisku dalam-dalam, lidahnya tetap menjilati batang penis dan kepala penisku, hingga aku terbeliak karena menahan nikmat yang tak terkatakan. Aksinya belum berhenti, tangan kanannya menggenggam batang penisku dan melakukan kocokan-kocokan maut sambil terus mulutnya melakukan gerakan memasukkan dan mengeluarkan kepala penisku semakin cepat dan semakin cepat.

    Tangan kirinya kembali meremas-remas, kini sasarannya adalah kedua belah pahaku dan entah kapan cairan ludahnya ia ambil dari mulutnya, kurasakan jari telunjuk kirinya mulai melakukan eksplorasi ke liang analku. Mula-mula masih di permukaan analku ia oleskan ludahnya, tetapi kemudian ia mulai memasukkan sedikit demi sedikit jarinya ke dalam analku. Lonjakan pantatku semakin hebat, bahkan hingga bergetar merasakan rangsangan yang dahsyat hingga tanpa kusadari kedua bongkah pantatku kuangkat hingga penisku semakin kutekankan ke mulutnya. Jarinya yang masuk ke analku pun masuk semakin dalam bahkan sampai seluruhnya dan kurasakan ia melakukan gerakan memutar di dalam analku, bahkan kadang-kadang ujung jarinya mengait-ngait bagian dalam analku hingga kurasakan betapa denyutan analku semakin kencang menjepit jarinya. “Penyiksaannya” pada penis, kedua testis dan analku membuatku semakin horny, hingga kurasa tak lama lagi akan mencapai klimaks. Gerakannya semakin cepat demi melihat reaksiku yang sudah seperti cacing kepanasan, menggeliat-geliat sambil merintih. Dengan suatu erangan nikmat, aku memuntahkan cairan hangat ke mulutnya.

    “Akkkhhh … Ak … kuuu keluar Mbakk sayangg?” Kurasakan betapa kuatnya desakan maniku menyemprot dalam rongga mulutnya yang ia sambut dengan penuh perasaan. Kuamati wajahnya, ia sedang terpejam sambil menikmati air maniku dengan pipi yang kempot karena kuatnya mengisap penisku. Lidahnya terus merangsang lubang penisku yang masih menyemprotkan mani.

    “Ohhh … hebat … jepitan analmu sungguh hebat Gus!” pujinya sambil menjilati air maniku yang menetes di bibirnya, sementara jarinya pada analku masih ia hunjamkan sedalam-dalamnya.

    Denyut jantungku yang memacu dengan kencang dan napasku yang terengah-engah tidak membuatku surut. “Sekarang rasakan pembalasanku,” pikirku sambil menegakkan tubuh berdiri di tepi ranjangnya dan dengan gerakan yang tak ia duga, mendorongnya jatuh ke ranjang lalu menarik kedua kakinya ke tepi ranjang persis seperti yang ia lakukan bagiku.

    “Lho, ada apa Gus? Pelan-pelan dong?” katanya terkejut.

    “Emang cuma Mbak yang bisa bikin begitu? Giliranku sekarang, ayo … nikmati aja say!”

    Kulucuti gaun tidurnya dan ternyata memang tidak ada lagi apa-apa di baliknya, hingga kini kami berdua sudah dalam keadaan telanjang tanpa selembar benang pun melekat di tubuh masing-masing. Kuciumi mulutnya dan kugelitik rongga mulutnya dengan memasukkan lidahku dalam-dalam ke mulutnya, lalu ciuman dan jilatanku turun ke lehernya yang jenjang terus ke payudaranya. Putingnya kulumat sambil mengisap buah dadanya sebanyak yang dapat kutelan dalam rongga mulutku sambil jari-jariku meremas-remas payudaranya yang sebelah lagi. Bergantian kulakukan seperti itu hingga ia semakin merintih.

    “Gusss…. ohhh….nikmat … ahhh… terus … ya gitu say…. ooohhhh …. teruskan remas susuku ….” desahnya.

    Usai menggeluti kedua buah dada dan kedua putingnya yang sudah tegang mencuat ke atas, kutelusuri perutnya, pinggang dan pinggulnya dengan bibir dan lidahku. Ia memejamkan mata sambil terus merintih hingga suara rintihannya terdengar begitu memilukan, tapi aku tahu, ia tidak kesakitan melainkan karena merasakan nikmat yang semakin memuncak. Lidahku semakin liar menjilati seputar kemaluannya dengan memulainya pada bagian labianya yang sudah basah. Rambut kemaluannya kuraba dengan jari-jariku sambil mencari-cari klitorisnya. Begitu kutemukan klitorisnya, lidahku dengan ganasnya melakukan isapan dan jilatan yang membuatnya semakin liar menggelinjang.

    Kedua tangannya meremas-remas rambutku bahkan sesekali menarik rambutku karena gemas. Jari-jari tangan kananku menekan-nekan labianya dan telunjukku kumasukkan ke liang vaginanya hingga membuatnya terhenyak kaget dan mengangkat kedua belah pantatnya tinggi. Kukuakkan kedua labianya lebar-lebar ke kiri kanan dan lidahku terhunjam dengan gerakan buas memasuki vaginanya. Kukait-kait klitoris dan vaginanya sambil jari-jariku melakukan eksplorasi lebih lanjut mencari G-spotnya. Tak sulit lagi mencarinya karena pengalaman beberapa malam yang lalu. Aksiku menggumuli klitoris, G-spotnya, labia liang vaginanya kurasa belum cukup, sehingga jari tengah tangan kiriku kumasukkan ke analnya setelah kuolesi cairan vaginanya yang semakin membanjir.

    “Oooohhhh Gus… sayyyangggg!” teriaknya dengan mata terbelalak, tapi aku tahu ia tidak marah karena itu adalah ungkapan kenikmatan.

    “Sabar Mbak sayang, bentar lagi kuantar ke gerbang kenikmatan ….” ujarku sambil meneruskan aksiku.

    “Aguuuusssss ….. sayangggkuuu .. ooohhhh,” jeritnya.

    Dengan suatu geraman tinggi, ia menghentakkan pantatnya tinggi-tinggi dan begitu kurasakan bahwa ia akan orgasme kutekan wajahku dalam-dalam ke vaginanya sambil terus mengocok vagina dan analnya dengan jari-jariku. “Croott.. crooot … crooot …” cairan hangat terasa membasahi wajahku dan sempat kutarik wajahku hingga kulihat betapa kuatnya semprotan cairan kenikmatannya bahkan kupikir melebihi semprotan penisku saat orgasme. Begitu ia rasakan kutarik wajahku dari vaginanya, kedua tangannya menekan belakang kepalaku kuat-kuat hingga kembali terbenam ke vaginanya yang merekah. Maka sibuklah aku menyedot dan menjilati cairan vaginanya hingga kurasa mulutku penuh dengan cairan gurih. Jariku di analnya masih merasanya denyutan-denyutan hebat, begitu pula jariku di vaginanya masih terjepit dan kurasakan remasan-remasan otot-otot vaginanya menjepit jariku.

    “Ahhh… aku capek Gus… kita istirahat dulu ya sayang?” katanya sambil memelas.

    Kuangkat tubuhnya ke atas dan kutempatkan diriku berbaring di sampingnya sambil saling berciuman meredakan gelora nikmat yang menguasai dirinya dan diriku. Kini kami berdua bagaikan dua bayi raksasa yang tergolek siap untuk saling berbagai kepuasan.

    Jari-jari kami saling meremas dan kaki kami membelit satu sama lain. Tak berapa lama kulihat matanya terpejam. “Ah, biarlah ia tidur dulu, kasihan jika kupaksa untuk main tanpa jeda,” pikirku. Aku pun memicingkan mata dan mencoba tidur sambil merenung mengapa kami bisa begitu binal.

    Jelang tengah malam, aku terbangun karena Mbak Ina bangkit menuju kamar mandi. Kudengar suara air gemercik mengisi bathtub. Karena penasaran menunggunya tidak balik ke ranjang, aku bangun dan berjalan ke kamar mandi, kubuka pelan pintu yang tidak ia tutup. Kulihat Mbak Ina sedang berendam sambil menutup mata dalam bathtub yang sudah mulai berisi air. Melihat sebagian tubuhnya berendam demikian, birahiku kembali menggelegak, aku masuk ke dalam kamar mandi dan kudekati dia. “Oh kamu udah bangun, Gus? Mau mandi air hangat bareng denganku?” ajaknya. “Iya Mbak, biar fresh untuk sesi berikutnya,” jawabku sambil masuk ke bathtub. “Uihhh, makin kelihatan kalau kamu sebetulnya mata keranjang,” katanya sambil mencipratiku dengan air. Kami mandi berdua, saling meremas, saling menggosok dan menyabuni satu sama lain.

    Usai mengeringkan badan, dengan bertelanjang kami berdua kembali ke ranjang. Kami duduk bersisian dengan saling peluk dan cium sambil menonton film dewasa yang belum juga usai. Kami sama-sama melihat sepasang pria dan wanita yang telanjang dalam posisi sedang duduk berpelukan melakukan hubungan badan. Tidak terlihat penis si pria masuk keluar kemaluan si wanita, tetapi gerakan-gerakan tubuh mereka di mana si wanita dalam pose menduduki kemaluan si wanita mengesankan bahwa mereka sedang mendaki puncak kenikmatan. Tiba-tiba si pria mengangkat si wanita, sambil berdiri di lantai, si pria menggendong si wanita dengan menahan kedua pantatnya sedang kedua paha si wanita memeluk erat-erat pinggang si pria. Posisi ini yang disebut sebagai monyet menggendong anaknya. Kuperhatikan dengan ekor mataku mata Mbak Ina memandangi adegan itu dengan tajam dan kurasakan jari-jarinya tidak lagi meremas tanganku tetapi berpindah ke pangkal pahaku dan mulai membelai penisku yang mulai bangkit kembali sejak kami mandi berdua. Elusan jari-jarinya membuat gairahku semakin naik kembali.

    “Gus, enak banget kali gaya begitu ya?” desahnya di telingaku. “Udah pernah nyoba dengan istrimu?” tanyanya.

    “Belum Mbak.”

    “Ehmmm, enak mungkin ya? Tapi gimana ya?” desahnya sambil melirik aku.

    “Tapi gimana ya? Aku justru maunya gini aja denganmu, penismu tidak sampai penetrasi ke vaginaku kayak gitu?”

    “Nggak apa-apa Mbak, kita tetap main anal seperti biasanya, cuma dengan posisi begitu, bagaimana?” kataku menantang, sambil menarik tangannya turun dari ranjang.

    Sambil tersenyum dengan wajah tak mengerti akan ajakanku, ia bertanya,
    “Ada apa sih Gus? Koq pake turun ranjang segala?”

    Aku tidak menjawab, tapi kuatur tubuhnya berdiri sambil membungkuk, bertopang kedua tangannya ke kursi di depan TV, kemudian kutempatkan diriku persis di belakang tubuhnya dan mulai mengusap-usap lubang analnya. Kuambil ludahku dan kuoleskan di mulut analnya sambil tanganku yang lain merabai payudaranya di depan. Ia mulai mendesah geli campur nikmat,

    “Sssshhhh, ohhh … kau kuat banget sih Gus? Udah minta lagi?”

    Kepala penisku mulai mengambil posisi tepat di mulut analnya dan dengan perlahan-lahan kudorong masuk ke analnya. “Sstt… eeekhhh …. pe..lan Gus, jangan kuat-kuat, ehhh … shhh …” katanya sambil sebelah tangannya mencoba menahan laju pantatku agar tidak maju mundur dengan cepat.

    “Tenang aja, Mbak. Aku takkan menyakitimu. Nikmati saja, sayang …” gumamku pelan sambil terus memaju-mundurkan pantatku hingga penisku masuk lebih dalam ke dalam analnya.

    Nafsunya kembali naik seiring dengan gerakan penisku yang semakin intens ke dalam analnya dan kedua tanganku tidak tinggal diam, kadang-kadang meremas kedua belah pantatnya, juga bergantian menjangkau vagina dan klitorisnya serta payudaranya. Desahannya mulai berganti dengan rintihan yang semakin kuat.

    “Sshhhh …. aakkkhhh … enakkkkhhh … Gus …. Ahhhh sayang …. terus … teruusssss ….

    ooukhhhh ….” geliat tubuhnya semakin menggairahkan apalagi sesekali kurapatkan tubuhku ke punggungnya dan menjilati kuduknya bahkan menggigit pelan-pelan. Bibir dan lidahku bermain juga di pundak, sela-sela ketiaknya dan turun ke lengan atasnya.

    Saat rintihannya semakin kuat, penisku kuhentikan tepat menghunjam sedalam-dalamnya ke analnya dan kuhentikan gerakanku untuk melihat reaksinya.

    “Oukhhh …. ada apa Gus? Koq kamu diam sih? Sengaja mau menyiksaku ya? tanyanya.

    Tanpa menjawab pertanyaannya, tiba-tiba kuletakkan kedua tanganku di bawah pahanya dan kutopang dengan kedua tanganku, lalu dengan kekuatan tanganku kunaik-turunkan pahanya, sehingga bunyi analnya menelan penisku semakin sedap kedengaran, “Slepp …. sleepp … sslep …” Ia mengerang-erang kenikmatan. “Guuussss ….” hanya itu suaranya. Kulihat kedua tangannya meremas-remas payudaranya menambah rasa nikmat yang ia terima akibat permainan penisku. “Ssshhh …. ahhh … aku hampir dapat Gus!” rintihnya semakin kuat.

    “Sabar Mbak, ntar bareng dengan aku,” bujukku sambil merebahkannya terlentang di tempat tidur. Wajahnya nampak kesal karena tiba-tiba kucabut penisku dari analnya.

    “Ada apa lagi sih Gus? Koq dicabut, padahal aku hampir klimaks?” gerutunya sambil cemberut.

    “Kita ganti posisi, biar Mbak lebih santai,” kataku sambil berlutut di dekat pahanya dan mengangkat paha kanannya ke atas paha kiriku. Kuambil ludahku dan kuoleskan lagi di mulut analnya kemudian penisku kuarahkan kembali ke analnya masuk keluar.

    “Ahhh… kau pinter banget bikin variasi. Shhh … ohhhgg … terusss Gus … aduh nikmatnya …” erangnya sambil menggeliat-geliatkan pantatnya.

    Kuayunkan pantatku mendorong penis masuk keluar analnya. Dengan kaki kanannya di atas paha kiriku, ia berbaring agak miring sehingga dengan bebas tangan kananku dapat merabai klitoris dan vaginanya.

    “Ssshhh … nikmattt Gus, te..rus … ohhh … lebih cepat lagi Gus?”

    “Yang mana yang lebih cepat, Mbak? Tanganku di analmu atau yang di vegy-mu nich?” godaku sambil mempercepat ayunan pantatku.

    “Semuanya enak Gus, aduh … kau suka banget sih bikin aku keqi? …. shhh …. akkkhh” rintihnya.

    Jari-jari tangan kananku semakin cepat menggesek-gesek labianya dan ketika kuraba klitorisnya yang sudah begitu tegang, kubuat jepitan kecil dengan jari telunjuk dan jari tengah. Kemudian kedua jari tersebut kumasukkan ke liang vaginanya sambil jempol kananku mengelus-elus klitorisnya.

    “Auhhhh … enakkkhhhh … Guuussss ….” rintihannya makin meninggi.

    “Akkkhuu hampir keluarrr …. oookhhhh ….”

    “Sekalian denganku Mbak, ssshhhh … akkkhhh … aku juga udah mau keluar …. Bareng Mbak …. aaakkhhh …” desahku sambil mempercepat genjotan penisku pada analnya dan jari-jari tangan kanan pada kemaluannya sedangkan tangan kiri meremas-remas payudara dengan putingnya yang amat tegang.

    Dengan suatu hentakan kuhempaskan dalam-dalam penis ke dalam analnya, paha kanannya melilit erat pinggangku, kurasakan denyutan luar biasa pada analnya juga liang vaginanya yang mpot-mpotan meremas-remas jari telunjuk dan tengah tangan kananku. Pantatnya dengan kuat menggelinjang-gelinjang hingga membuat penisku semakin erat dikulum oleh liang analnya.

    “Ggguuuuuussss! rintihannya berubah menjadi teriakan yang kuat di ruang kamar itu.

    “Mbaaakkk sayangggg …” sambutku sambil terus menggoyang-goyangkan pantat menikmati orgasme yang bersamaan tiba. Kurasakan penisku menyemprotkan air mani kuat-kuat ke dalam analnya. Setelah beberapa saat, kutarik penisku dan kulihat cairan putih bening menetes turun ke pahanya.

    Kami berdua berbaring miring sambil berpelukan dan berciuman. Bibirku dikulumnya dengan sangat erat, bahkan sempat digigitnya lidahku saking gemasnya. Setelah orgasme kami berdua mereda, kami berbaring sambil bergenggaman tangan dan tertidur dalam keadaan telanjang.

    “Kita tidur dulu ya sayang, besok masih bisa kita lanjutkan. Masih ada waktu sehari penuh buat kita,” katanya sambil memicingkan mata.

    “Iya Mbak, yuk tidur sayang! Met malam ya!” ujarku sambil mencium bibirnya.

    Keesokan harinya masih kami isi dengan berbagai gaya permainan ranjang meskipun tetap tanpa melakukan penetrasi ke dalam vaginanya. Tenaga kami benar-benar terkuras, karena ingat di Jakarta tak mungkin kami berbuat demikian.

    Itulah pengalamanku dengan Mbak Ina yang cantik dan penuh gairah. Hingga kini kami berdua masih tetap tidur bersama jika kebetulan bertugas keluar kota atau keluar negeri hanya berdua, paling tidak 4-8 kali kami memperoleh tugas luar semacam itu. Uniknya, hingga kini kami hanya bermain anal, tetapi kenikmatan yang kami rasakan tak ubahnya seperti permainan seks biasa. Lucunya lagi, akibat permainanku, Mbak Ina mulai coba-coba minta suaminya pun main di analnya, tetapi ia mengakui style-ku selalu lebih hot daripada suaminya. Rahasia kami berdua tetap tersimpan erat dan tidak pernah ada orang di perusahaan yang tahu hubungan kami, karena di kantor kami tetap berbuat sebagaimana wajarnya karyawan biasa. Orang hanya tahu ia sebagai atasanku dan aku sebagai asistennya selalu berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan pimpinan. Mereka tidak pernah tahu, bahwa keberhasilan itu juga sangat didukung oleh hubungan mesra di antara kami.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Hot Selingkuh Dengan Adik Istriku Yang Masih SMP

    Cerita Sex Hot Selingkuh Dengan Adik Istriku Yang Masih SMP


    1809 views

    Perawanku – Perkanalkan namaku galih umurku 25 tahun aku sudah nikah tapi belum punya momongan cerita ini sungguh gila karena disitu aku ngentot dengan adek istriku yang masih sekolah kelas 1 SMP.

    “ngapain des” aku Tanya,

    “pinjem hpnya donk mas” jawab indah.

    Segera ku ambil hp dari saku dan aku kasih dia. Emang biasa dia maen game d hp aku, jd aku ga curiga. Sesaat setelah aku mandi terdengar suara2 yg mengeluh, aku deketin sumber suara ternyata c desi lg asik nonton video porno yg ada di hp aku.

    “hayoo..lg liat paan km?”,
    langsung aku ambil aja hpnya.

    “ihh.. ganggu kesenangan orang aje sih” c desi menjawab sambil berlalu.

    Emang dasar c desi anak yg rada bandel, genit, ganjen, padahal msh kecil..

    “mas Galih, filem bokepnya banyak bgt sih d hpnya” tiba2 pertanyaan itu terlontar dr mulut desi.

    “ach..ehmm..biarin kan dah kawin, jd bisa langsung praktek” ku jwb skenanya.

    Nih anak lama2 songong jg sih..dlm hati ku dongkol.

    “des sana mandi dah sore, dcariin emak tuh”ku ahlihkan pembicaraan.

    “mandi di sini aja ah.. “ desi menjawb sambil berlalu.

    Emang rmh aku dan rmh mertua aku adep adepan, cuman jarak berapa meter doank. Kemudian desi mandi sambil bersenandung, tp ko lama bgt dia ga keluar dr kamar mandi.

    “des, mandi apa bertapa? Lama bgt?”  Agen Obat Kuat Pasutri

    istriku memanggil dari dapur. Iseng – iseng aku penasaran kkamar mandi yg tertutup dengan hordeng plastic doank, sambil aku intip alangkah kagetnya aku melihat pemandangan d dlm wc, sambil nongkrong d wc desi memaenkan memeknya pake sabun yg dia buat jd bentuk lonjong, sambil mengoles2kan sabunnya ke belahan mmknya dan tangan kirinya memilin-milin pentil te2nya yg masih belom begitu besar desi mendesah-desah

    “ach..ach…seeect..huh..” waduh..bukannya aku labrak, malah nafsu jg ngeliatnya, mmknya yg msh belum berbulu terlihat merah merona, te2nya yg msh belum tumbuh sempurnya dia tarik2, sekitar 5 menitan trlihat desi semakin nafsu

    Sepertinya dia mo memasukkan sabun yg udah berbentuk lonjong itu ked lm lubang kemaluannya,

    “ach..ach…huhhhh…” namun langsung aku pura2 batuk dngan keras sambil masuk ke kamar mandi pura2 ngambil ember…”ngapain lo des maenin sabun kaya gitu” aku pura2 ga tau. “ engga cuman buat maenan aja ko”.

    Malemnya sehabis makan aku langsung giring bini aku ke kasur, biz kejadian sore itu aku jd nafsu nih mo ML. eh.. dasar anak songong ternyata d kasur udah ada c desi yg udah molor sampe ngiler.. biking w greeegetan bgt, kt bini aku

    Cerita Sex Hot Selingkuh Dengan Adik Istriku Yang Masih SMP

    Cerita Sex Hot Selingkuh Dengan Adik Istriku Yang Masih SMP

    “c desi mo bobo d sini aja”,dan bini aku ga berani menolak kemauannya, coz kalo dlarang ntar desi bisa ngambek.

    Emang desi anak bontot yg sangat dsayang ama mertua aku. Bini aku yg udah tau maksud dan tujuan aku ngajakin maen ddepan tv aje, nasib2, udah rmh kecil ukuran RSSSS ( Rumah sangat sangat sempit sekali sehingga selonjoran saja susah).

    Terpaksa aku maen d depan tv deh sama bini aku. Seperti biasa aku setel dvd bokep sambil nonton tangan aku mulai bekerja, bini aku sambil tdran bersender ke dada aku tangannya dengan cekatan meremas2 kontol aku.

    Sedangkan tangan kiri aku dengan trampil dah nyelip d tengah2 empik bini aku.

    ”ach..masss… terus gosok2 terus.. itilku”, bini aku terangsang hebat, sampe memeknya basah kuyup.

    “plok,plok,plok..” trdengar suara yg berasal dr mmk yg aku sodok2 pake jari. Sekitar 7 menit tubuh bini aku mengejang”

    achhh..aahhh..ahhh… ohh..”suaranya sedikit melengking tanpa memperdulikan sekitar dan “Ohhh…oh…

    Aku keluar mas…enak bgt” akhirnya bini aku orgasme, nah sekarang gantian giliran mas yah”

    dengan cekatan bini aku mengulum ttt aku yg dah tegak berdiri,

    “uhhh..yesss..” emang jago bini aku kl urusan bginian, dengan semangat isapan bibir tebalnya sambil menyapu kepala penih aku dengan lidahnya.

    “ohh… yes…”. Lalu segera aku tarik daster yg dpakai bini aku sampe atas, dengan gaya sendok aku mulai mengarahkan penis aku k mmk bini aku, aku gesek2kan kpala penis ke itilnya, sampe bini aku kegelian enak.

    “ayo donk mas, masukin aja ah..bikin penasaran ajah”dengan sedikit dorongan.

    “Slep..crek..crek..crek..”

    kontolku dengan mudah meluncur masuk ked lm rongga kemaluannya.. – Cerita seks99

    “ah..ah.. yes.. nikmat”,

    sambil bergoyang maju mundur dengan semangat ku genjot mmk biniku sambil meremas2.

    “ach..ach..ach…masss” terasa vagina biniku berdenyut denyut seperti memijat2, aku ganti posisi bini aku bangun dan sakarang brada d atas memegang kendali, sambil mata aku menonton filem bokep bini aku memegang kendali skarang.

    Sambil menggoyang 2kan pantatnya naik turun “ ah..ah..achhh…” goyangannya semakin cepat “massss… ku mo keluar lagi nihhhh….”

    Dengan genjotan yg sangat kencang dia organism yg ke2 kalinya…”ach…ach..ach.. yes…”, akhirnya aku jg ikut keluar dngan beberapa semprotan kencang aku hujam lobang mmk bini aku dengan deras.. dngan letih bini aku tertidur d pelukkan aku, mungkin saking capenya.

    Aku bawa bini aku kkasur,dlm kondisi sangat lelah aku jg rebahan d kasur yg sudaah berpenghuni c desi yg udah tdr. Terasa lelah sekali tubuh ini setelah sharian bekerja,dtambah melayani bini td, jam menunjukkan pukul 12 malam.

    Trnyata lama jg td maennya ampir 1 jam.Tiba2 ketika aku tdr seperti ada yg memegang2 ttt aku,

    “aduuh… eneng..dah malem nih,bsk lg ja yah..”,

    Aku seperti setengah sadar, sesaat berhenti, tp ga lama malah smakin mnjadi2 mengelus2 ttt aku dr dlm celana (emang aku kl tdr suka ga pake cd),

    Diam2 aku ngintip dan ternyataaaa yg memegang ntu c desi, sambil berusaha menggenggam penis aku dia mengusap usapnya.

    Desi skarang brada dtengah2 antara aku dan bini aku. Skarang aku pura2 merubah posisi miring menghadap dia sambil tangan aku skarang memeluk badannya yg msh kecil tu. Sambil terus mengocok2 ttt aku dia menjulurkan lidahnya ke mulut aku.

    Bukan maen nih bocah, bener2 ganjen bgt.. pikiran g mulai menerawang sambil menikmati kocokan desi dan membayangkan mmknya desi yg msh kecil, lidahnya menyapu2 bibirku yg sedikit terbuka.

    ”ehmm..uhh..uhh..” deru nafasnya kena muka aku, bikin tambah horni. Dlm hti pengen tp takut bini bangun. Nekat akhirnya ku sambut lidah desi,

    “Haaa…” desi sangat terkejut sekali, tangannya berhenti mengocok dan bibrnya mengeras kaku tdk bisa berkata apa2.

    Dengan semangat skarang malah aku yg mengulum2 bibir desi sambil memainkan lidah,” sstt…jngn berisik nnti kk mu bangun”, ayo lanjutkan” aku berbisik tuk menenangkannya.

    Berlanjut tangannya mulai mengocok2 lg ttt aku, sambil terus berciuman mesra skali, wajahnya yg cantik mirip nikita wili tp versi anak2 bikin aku gemez, tangan aku mulai meraba2 slangkangan desi yg udah sdikit terbuka.

    Dengan lembut aku coba masuk kedalam celana pendek yg dipakai desi, dan “ack..ack..achh..”desi sedikit mndesah ketika gundukan kecil tepat d tengah mmknya aku elus2..udah becek, tiba2 desi bangun dan perlahan lahan mmbuka celana aku, dngn mata yg tajam memandang sambil mengocok2 ttt aku dengan lembut.

    “ah..ah..ah..”nikmat sekali. “WOW” Aku kaget setengah mati ketika desi dngan binal mulai mengulum ttt aku, buset deh nih bocah bener2 binal piker aku, ttt aku yg sebelumnya udah lemes bangkit kembli.

    Sensasi yg luar biasa desi berikan ketika dngan lembut mnjilat dan mengisap biji aku. Kalo bini aku bangun bisa ancur ancuran nih ketahuan adeknye nyepong punya kk iparnye.

    Hehehe… baru sekitar 5 menitan brasa ttt sudah mo keluar nyemprot

    “ ach..ach..aaach…” sambil menahan suara yg keluar dr mulut karena nikmat akhirnya

    “ crrooot…crooott..croott…” air mani aku nembak d mulutnya desi, aku teken trus kepala desi sampe die seperti mo muntah tp aku ga perduli.

    Belum pernah sebelumnya aku keluarin di mulut.

    “nikmaaat…bgt” anget2 basah. Dengan lahap desi menelan peju aku sambil menyedot2 trus ttt aku,

    “Ngiluuu bukan main coy”,kemudian pelan2 dia kembali ke pelukan aku. Sekarang gilirn desi yg aku puasin, pelan2 aku pelorotin celana pendek desi beserta cdnya, sambil mindik mindik agar bini aku ga bangun.

    “uhuk..uhuk..”,Tiba2 bini aku bergerak dan batuk bikin jantung aku dekdekan aje, untung gak bangun, kemudian aku lanjutin focus pada selangkangan desi yg sekarang sudah mengangkang tepat d depan muka aku, tercium baru aroma pesing campur bau khas mmk, dngan sekali hap mulut aku bisa mencaplok mmk desi yg masih terlihat kecil dan rapat,

    “Ach..ach..huh…” desi mengeluh dengan nafas terengah engah karena menahan nikmat yg dia terima takut ketahuan bini aku. Jilatan dan sedotan yg aku berikan ke itil desi membuat dia tidak bisa diam, ke dua kakinya seperti menahan tp kepala aku dia tekan semakin keras,

    “ouh..ouh..Oooohhh..” desi sedikit memekik tubuhnya berkeringat, nafasnya ngosngosan kaya molahiran, seluruh tubuhnya tegang, mulutnya mangap seperti menahan

    “ouw..ach..ach..” akhirnya desi orgasme dasyat mmknya mengeluarkan banyak cairan kewanitaannya, dengan sigap aku isap habis cairan tersebut.

    Setelah selesai, desi seperti ambruk, tubuhnya lemes sekali, pelan2 aku pakaikan celananya kembali., aku pake celana jg, terlihat bini aku tidur dngan lelapnya, berarti amaaaan… aksi aku ga ketahuan, desi langsung tertidur pulas dengan mulut yg masih bau peju. pengen rasanya mencoba mmknya tp kasihan jg, mash kecil.

    Keesokan paginya aku terbangun dan kaget ternyata posisi aku dengan desi saling berpelukan, sedangkan bini aku udah tdk ada d tempat tidur, langsung aku bangun “ jngan sampe ntar bini aku curiga nih”,

    “mas…mas.. km sudah bangun , nih kopinya”,

    “tidur ko pules bgt sih, sampe peluk2kan sama desi bgitu”, ternyata binih aku td ngeliat tp dia cuek aje”. Aman..aman.. hehehe… singkat cerita setelah kejadian malem itu desi sakit perut.Aku ketakutan, jangan jangan gara2 kelakuan aku lagi, eeehh…..ternyata Desi sedang mens,,artinya desi sekarang mulai dewasa.

    Aku ucapkan ke Desi,,Selamat ya Des,,karena kamu sekarang sudah dewasa,,dan jangan kapok tentang kejadian bersama aku yach.Terima kasih Desi,,kamu memang adik iparku yang baik dan juga cantik.

    Cerita Mesum ABG ini berjudul ” Mesum Selingkuh Dengan Adik Istriku Yang Masih SMP ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Bokep ML Di Apartemen Dengan Cewek Yang Cantik – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Bokep ML Di Apartemen Dengan Cewek Yang Cantik – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1602 views

    Perawanku – Namaku Rendi Aku bisa dibilang sukses sebagai perantau di Jakarta, umurku 28 tahun, aku punya pekerjaan dan income yang stabil, cicilan mobilku sudah lunas dan aku tinggal di apartemen di kawasan Kalibata (yeee ketebak kali ya) sendirian, lumayan kesepian.

    Dulu-dulu mungkin cewe-cewe pacarku sering tinggal di apartemenku Namun kali ini aku lagi gak punya pacar Aku punya tetangga sebelah kamar, dia seorang wanita dewasa mungkin usianya 35 tahunan Namanya Dewi, namun aku sering panggil dia Tante saja

    Yang aku takjub dari wanita-wanita usia segini selain si Tante juga adalah mereka dalam masa dewasa-dewasanya Mature dalam hal, berpakaian simple namun masih memancarkan aura keseksian tanpa berprilaku norak untuk memancing perhatian kayak ABG Atau ini kelainanku yang lebih suka wanita dewasa

    Aku dan Tante sebenarnya sudah cukup akrab Setiap pagi aku sering satu lift bareng Tante Dewi menuju lobby Yang kutau, Tante ini punya toko DVD di ambasador hasil patungan dia dengan keponakannya Aku pun sering bertemu dengan Tante setiap kali berenang rutin hari Sabtu pagi Namun begitu-begitu saja

    Tidak ada yang istimewa dari pertemuan-pertemuan kami itu Saat aku lagi fresh-freshnya putus dengan pacar, tiba-tiba pertemuanku dengan Tante Dewi lebih sering, terlalu sering seperti bukan kebetulan seperti tiba-tiba ketemu di minimarket dibawah lalu aku naik ke atas bareng, atau tiba-tiba parkirannya sebelahan

    Ge-erku merasa Tante ini ngikutin aku Dari kedekatan kami ini, aku ambil kesempatan saja dengan meminta pin bbm Tante Tante dengan senang hati memberikannya “Kupikir kamu gak bakalan minta Ren, hampir aku yang minta duluan” ujar Tante menggodaku

    Semenjak itu kami mulai bbm-an dari yang hanya pura2 saling bertanya apakah berenang atau tidak hari sabtu, atau aku tanya DvD film apa saja yang sudah ori Lama kelamaan chat kami semakin intim Tante Dewi menanyakan kemana pacarku

    “Aku kok gak pernah liat pacar kamu ya? biasanya kalian berenang bareng?” “Sudah putus dari kapan tau Tante” “Oooo ceritain dong ke Tante” “Tante nih kepo aja, hahahaha” tante membalasku dengan emoticon *not interested* dan icon *:P*

    “Hehehehe, iya Tan, makin ke sini makin gak sreg sama dia, kerjanya marah maraaaah mulu, cemburu ini itu, dianya kelewat manja, minta jemput sana sini, dikira saya gak kerja kali ya, sekali-kali okelah, lha ini hampir tiap hari minta dijemput Egoislah, masih ABG sih maklum” “Lah emang dia umurnya berapa Ren?”

    “berapa ya, baru semester 2 tuh Tan” “oooo dasar om-om nyarinya ABG-ABG”

    Monyet nih si Tante ngatain gw, “Daripada Tante,” aku hentikan ketikanku, aku gak tau latar belakang si Tante Dewi ini apakah sudah punya pacar, kalo nggak kenapa sendiri dll “Eh btw Tante tinggal sendirian aja?” “Iya, kenapa? Rendi mau temenin” wah? agresif juga nih, dipancing dikit kesamber

    “Lah kan udah ditemenin terus Tan, tapi cuma kepisah tembok aja” dari chat2an kami, aku jadi tau Tante ini gak mau pacaran karena dulu pernah dikecewakan Yah standar lah cewe kecewa sama cowo Akhirnya sekarang Tante lebih memilih hidup liberal, menerima siapa aja yang datang kehatinya tanpa ikatan

    Hari demi hari, chatting kami semakin intim, kami jadi sering berenang bareng Dan saat berenang ini kesempatanku untuk memanjakan mataku dengan memandangi tubuh tante di balut pakaian renang Pakaian renang yang Tante pakai gak seberapa seksi, malah aku pikir sangat sopan karena model baju senam yang menutupi hingga paha

    Cerita Bokep – Hingga suatu saat “Ren, cerita dong kamu udah ngapain aja sama pacar kamu” “Ah gak ngapa2in kok tante, kami saling menjaga” “Heuuuu boong amat, dikira gak kedengeran tiap malam kalian berdua kayak gimana?” Wah aku gak memperhatikan kalo ternyata permainan ku dengan mantanku sampai terdengar ke kamar Tante Dewi

    “Hah?” belom selesai ku ketik Tante membalas “Kamu putus kan udah lama Ren, bukannya udah hampir 2 bulan Emang tahan gak begituan?” “Begituan gimana nih Tan, aku gak ngerti” “Rendi nih ya, aku delete pin bbmnya nih sekali lagi ngeles”

    “ehhh, iya iya Ya gimana Tante kepengen sih, cuma mau sama siapa? mau pake pelacur takut kena penyakit Minta jatah2 mantan gak mungkin banget gengsi lah hahahaha ” Aku tekan enter dan menambahkan ketikanku “Tante mau bantu brangkali?” Chat bbm berubah dari centang menjadi *d* menjadi *r* artinya bbmku sudah kebaca sama Tante

    Tapi lama kumenunggu, Tante gak bales2 Duh, bego banget, tersinggung deh si Tante 15 menit berasa 5 jam nungguin balesan Tante Apa ku samperin aja ya ke kamar Tante Dewi minta maaf “TINUNG” bunyi tanda bbm masuk menyalak dari BBku

    AH! Tante membalas “Saling bantu lah Ren, aku gini-gini juga butuh, kita sama-sama manusia” begitu bunyi bbm si Tante diikuti dengan emoticon kiss “Beneran Tante?” aku setengah tidak percaya, tidak menyangka sebentar lagi akan bercinta dengan sang Tante

    “Enak nih mumpung masih terang, kamu ke kamarku ya Ren 15 menit lagi, aku mau rapi2 dulu ” “Oke tan, btw aku request boleh?” “Apa say?” “Tante gak usah make up ya” “Sure beb” “Haiiiii… ” begitulah Tante menyambutku sambil membuka pintu setelah ku mengetuk 2x Tante hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu

    Sore itu sang tante terlihat fresh karena baru saja selesai mandi, tidak ada make up yang menempel di wajahnya sesuai permintaanku Sang tante menggunakan lingerie warna hijau transparan Dari pandangan mata elang ini, terlihat tante gak make daleman Makanya pas buka pintu dia ngumpet di belakang pintu terus Tanganku ditarik masuk lalu cipika-cipiki, aku sosor saja karena gak tahan dengan wangi nafas tante, sepertinya baru saja sikat gigi

    “Eiittttsss… sabar doooong” “Maaf tan, habis tante Dewi nafsuin banget”

    Cerita Sex – Aku meletakkan BB dan kunci kamarku di meja dapur kamar tante “Maaf Tan, aku gak sopan, dateng cuma begini aja” Aku menunjuk ke pakaianku Karena kupikir hanya sebelah kamar jadi aku gak ganti baju, lagian ke kamar Tante mau ngentot, ngapain rapi2 Pakaian kebangsaan yang kupakai tiap ML, kaos oblong dan celana gombrong tanpa CD

    “Gakpapa, ntar Tante bongkar juga kan?” Tante sepikiran sama aku ternyata Sang tante mengajakku ngobrol dulu di sofanya sambil nonton CNBC Ha? CNBC? iya, saat itu beritanya lagi tentang Bom Boston yang baru-baru aja terjadi

    Sang tante nanya-nanya soal ini itu, teori konspirasi, doktrin agama, sampe CIA/FBI Sepertinya ini macam icebreaking sekalian mungkin ngetes intelektual sang tamu (ane sendiri) ini sejauh mana hahahaha aneh…

    Ngobrol lumayan lama kami pun mulai bergumul, kali ini nggak ada *entah siapa yang memulai* karena waktu itu aku duluan yang nyosor Tante Kami ciuman hebat, tante Dewi selalu french kiss hot sekali, tapi sebenarnya aku gak suka, aku tenangkan tante untuk berciuman romantis Domino QQ

    “Tangan kamu sopan ya” tante mengkomentari tanganku yang masih melingkar di belakang punggung tante, mendekap erat jangan sampe tumpah eh lepas “kenapa tan? udah mau di grepe2 emangnya?” “Euh kamu… bahasanya plis deh, di-sti-mu-la-si!” sambil tersenyum

    Aku rebahkan badan tante membelakangiku sambil aku tetap menciumi pundak, tengkuk dan kuping tante, tanpa basahan tentunya Aku baru saja tau kalau wanita tetap saja mau diperlakukan halus, mau bagaimanapun latar belakang dia

    “SSaaaaayyyyy… ” tanganku mulai mengelus2 perutnya Perutnya tante Dewi ini gak buncit tapi gak kenceng Pas lah

    Sesekali aku menyenggol toket tante yang ukurannya besar sekali Benar2 besar!!! mungkin ini 38C, meskipun putingnya tidak pink lagi namun tidak lebar Sungguh seksi sekali Puting tante sudah mengeras, aku main-mainkan seperti tombol switch on/off gitar lembek Tante mulai mengerang dan badannya mulai belingsatan Kedua tanganku menjamah kedua semangka lembek raksasa

    Sambil menikmati kecupan demi kecupan di pundak punggung dan tengkuk, tante mulai terlihat tidak tahan, tangan kirikupun mulai turun ke bawah, Aku pernah lihat video di youtube, cara terbaik merangsang vagina wanita bukanlah langung dicolok tapi dibuat geli area sekitarnya dahulu (entahlah suhu suhu lebih tau nih hehehe)

    Woooooow… begitu tanganku sampai di memeknya, ternyata liang surganya lagi banjir, oh Jokowi harus turun tangan nih, mencari tau banjirnya dari mana ahahahahaha… setelah merangsang2 sebentar, kumasukkan satu jariku kedalam memek si Tante Terasa sentakan* di tubuh tante Dewi saat jari telunjukku masuk ke dalam

    “HHhhhhhhhhhh………kkkkkammmmmuuuuuu iiiiihhhhh… ” “Beeeeeebbb…… ” lah dia manggil aku beb?? aku merasa di atas angin setiap kali bisa membuat seorang wanita gak berdaya kita rangsangi tersange-sange (bukankah kita semua begitu ya?) “BBBbbbeeeeebbbbb…… jari kamu pinter amaaaat… ”

    “Hhhhhhhhhhh… kamuuuuuu, aku lupaa nama kamua” Yalah!!! sempet2nya nanya nama AKu lanjutkan lagi sodokan dengan jari telunjuk ini Terasa badan tante mulai meronta-ronta Perlu diketahui, sang tante ini ukurannya gak kurus loh, tinggi tante ini hampir sedagu ku, dan beratnya mungkin 69-75kg jika ditelaah dari beban yang diterima badanku ini

    Tubuh tante makin menggelinjang hebat, dia berteriak “ML-in aku… ML-in akuuuuuu… ” aku makin semangat meremas buah dadanya dan mengobel memeknye Terasa tante Dewi mau beranjak merubah posisi, aku dengan sigap memindahkan tanganku dari toket kanan tante ke toket kiri tante (ingat aku posisinya di belakangi tante dan kami pangkuan di sofa) Dengan posisi begitu, otomatis tanganku menahan badan tante dan tante makin mengerang mencoba keluar dari kuncianku

    Tiba-tiba tangan tante mencakar tanganku yang sedang meremas toket ini SSSSssssoooooooooooooorrrrrr…… si tante squirt, cairan hangat merembes dari lingerie tante, turun perlahan membasahai paha tante dan juga tanganku, untungnya sofa tante dari bahan kulit sintetis jadinya gak merembes lantai kayu apartemen tante langsung becek Nafas tante yang tadinya memburu mulai mereda tenang namun mukanya merah padam

    Lalu berselang beberapa menit, tante merebut tangan kananku dan tante menarik badanku Aku terjatuh diatas becekan squirtan tante, punggung kaos dalamku becek tante menyusul menjatuhkan badannya ke atas badanku Sepintas kami bergulat untuk mendapatkan posisi diatas satu sama lainnya

    Namun aku seperti naluriah membiarkan tante Dewi menguasai badanku Kami bergumul dan berguling2 menjauhi becekan dan melanjutkan aksi kami di karpet bulu di lantai tidak jauh dari sofa, menghindari cairan squirt-an tante,* tante masih menyerangku dengan meniban badanku, menciumiku dengan brutal

    “Taaaannn… mmmm… mmmmmmpppelan-pelan ajaaa…mmmm” french kiss super sange Aku baru sekali ini bercinta, bahkan belum sampe ML sudah begini sangenya Sepertinya tante tidak mau mendengarkan permintaanku

    Kami berciuman hebat, kontolku sudah mengeras sekali dan menggesek2an ke celana lingerie tante Tante makin menggila, dia rebut kontolku dengan tangan kanannya dan dikocok2 sambil masih menciumi bibirku Aku pun tak kalah sigap, kucoblos memek Tante dengan jari telunjuk “AAAkkkkkkhhhhh… Bangsaaat!!!” PLAKKKK!!!!! OMG kenapa nih gw digampar tante “Lakuin lagi! Lakuin lagiii!!!” wah ada potensi BDSM sepertinya

    Lalu sambil masih menindih badanku seperti tidak mau melepaskan badanku, Tante memutarbalikkan badannya, dan slubb!!! tiba2 mulutnya sudah ada di kontolku… dan sebagai balasannya, saya dihidangkan lembah gelap yang indah, aku jilat2in saja sampe Tante Dewi mulai mengerang2 kurang lebih dari sejak perciuman kamu di sofa hingga posisi 69 ini sudah hampir lebih dari setengah jam

    Tante mungkin mulai heran (dan takjub I don’t know) kenapa aku belum crot juga “Kammmuuuu… beloom mau keluarrr???” “Belom taaant…” belom sempat aku menyelesaikan kalimatku, tante squirt untuk yang kedua kalinya, menyemprot tepat di mukaku Aku gak tau squirt ini cairan apa, katanya yang pasti bukan cairan kencing Lagipula aku lagi sange di ubun2 gini gak nolak lah

    “HHhhhhhhhhhh… gilllllaaa… permainan kamu hhhh hhhh hebat yah hhh hhhhhh aku mau kontol kamu sayyyyyy mmmm mmmmm” ujar sang tante sambil lanjut menyepong kontolku “Aku udah boleh masukin ya tan, tapi gak enak nih masa di lantai?” tante beranjak dari tubuhku sambil tetap menyepong kontolku Aku dengan susah payah berdiri dan tantepun berlutut melanjutkan emutannya

    “Taaaannn… katanya mau dimasukin?” aku yang tak tahan di sepong mulai blingsatan seperti mau crot Tante mungkin melihat aku seperti mau crot, akhirnya melepaskan sepongannya dan secepat kilat menyambar bibirku, kami berdua bercumbu kembali Cumbuan ini hebat sekali, seperti si tante Dewi ini benar2 lagi mengeluarkan pusing2 di kepalanya

    Kami berciuman sambil berdiri, tante berujar “Ke kamar mmmm aja mmmm sayymmmm” sambil menarik badanku yang erat menempel dengannya DIbukakan pintu kamar dia dengan posisi kami berjalan sambil berciuman

    Terbukalah kamar tidur tante Tempat tidur size 200 yang besar dan dengan bedcover yang masih tertata rapi Aku angkat tubuh tante dengan memegang kedua paha tante, kedua kaki tante pun refleks melingkarin tubuhku, kontolku yang tegang masih tertutup celana mulai memaksa masuk ke memek tante yang juga masih tertutup lingerie

    Kemudian aku lemparkan sang tante ke kasur Buuuuukkkkkk…… setelah itu aku membuka celana dan kaosku segera Tante juga bermaksud untuk membuka lingerienya namun aku hadang “Jangan tan, nanti aku bantuin…” Ku serang tante, mencumbunya dengan ganas, kami bergumul hebat dalam waktu singkat tempat tidur tante yang rapi sudah gak karuan

    Aku yang sudah blingsatan mencoba membuka lingerie tante Dewi Tapi akunya tidak sabaran hingga lingerie tante robek “Maaf tante… nanti kuganti” “Udah gakpapa ayo ngentot aja” And here is the moment of truth Kepala si Otong sudah nangkring ke mulut goa si tante

    Perlahan-lahan kumasukkan Blessssss… “AaaaAAAAaaAAkkkkhhhh… ennnnaaak beeeeb…… uuuuughhhh perrrasaaannnn tadi kontol kammmmmmu kecil deh, kok kalo udah masuk berasa tebel enaaaaak” WATDE??? sialan nih tante, sebagai hukuman, kuhentakkan keras2 hujamanku sekali, cukup sekali itu Tante langsung banjir dan mulai menggoyang2kan pantatnya sebagai reaksi genjotanku

    kulanjutkan genjotanku bervariasi, posisi kami masih misionaris rpm rendah berganti2 cepat-pelan-cepat-pelan, biar gak terlalu capek Terasa tante mesinnya udah mulai panas, kami bercinta dengan posisi ini lama sekali, aku sangat menikmati setiap jengkal tubuh kenyal tante

    Mungkin tante sudah mulai bosan, tante pun mengambil kendali agar kami berubah posisi Kami berguling kesamping, kontolku terlepas sebentar namun tante dengan sigap langsung memasukkan kembali kelubang memeknya “Oooooouuuhhhhhh… mmmm… reeeeennn…… ” tante Dewi menggenjot si Joni perlahan2 hingga akhirnya dengan ritme konstan Sesekali tante menciumi bibirku dengan begitu basahnya

    Tante juga sesekali menggigiti putingku, selama posisi ini tanganku tidak pernah lepas dari kedua belah dadanya, bergantian aku menjilati puting ranum tante Seperti kubilang, puting tante sudah tidak pink lagi, namun aku tak peduli aku sangat menikmati menggoda tante dengan jilatan-jilatan ini Terasa genjotan tante semakin menjadi, moaning tante semakin keras

    “Aaaaaakhhhhh… teruuuuus terusssssss… beeeebbbbbbbaaaaaakkkhhhhhh”

    Kemudian dia menarik kedua tanganku dari toketnya dan dengan satu tangan meletakkannya jauh di atas kepalaku sedangkan tangannya yang lain dengan erat menjambak rambutku, aku seperti tawanan yang disekap agar tidak kabur Lalu masih dalam posisi woman on top kedua kaki tante Dewi mencoba melingkari badanku sampai2 aku harus mengangkat pantatku agar kaki tante ini bisa masuk ke bawah

    Aku serasa dililit ular anakonda Seperti sedang bergulat akupun berusaha keluar dari kuncian tante, kakinya memiting tubuhku sambil tetap menggenjot kontolku Saat erangan tante semakin keras dan genjotannya semakin kencang, akhirnyaa… SRRRRrrrtttt aku merasakan dinding vagina tante berdenyut2 hebar memijat batang kontolkua Tante sedang orgasme

    “Oooouuuuhhhhhhh……hhhhhhhhhhhhhh… hhhhhhhhhh h… hhhhhmmmmmhhhhh hhhhh hhh” Nafas tante yang tadinya gak karuan, perlahan seperti terbuang lega semua

    “Nikmat sekali bercinta dengan kamu Ren” “Enak sih enak, aku belum keluar nih Tan!” ujarku protes “Iyaaa deh… cowo itu makin lama makin bagus? Istirahat sebentar ya, Tante Dewi janji pasti bikin kamu crot kok, kalo nggak juga berarti kamu ini hebat sekali, dan tante gak akan ngasi kamu pulang sebelum kamu crot ” Aku emang ada “kelainan” Aku ini lama sekali crotnya, aku bisa 3 jam bercinta dan tidak crot juga

    Apalagi kalau menggunakan kondom Aku setengah bangga, kebanyakan wanita-wanita yang kuentotin malahan protes karena aku terlalu lama Dan dikala si Joni otong lagi cape, bukannya cepet crot, yang ada malah ngambek total Ah geblek

    GGggrrrrkkkkkkkkggrkkgrrrkkk…

    “Eh bunyi apa tuh?” tanya Tante “Perut kamu ya? hahahaha, udah gembul, lagi tengah2 ML kok ya bisa2nya laper?” “Yah si tante, kepalaku, perutku sama tititku itu yang ngatur departemennya beda2, jadi bisa aja laper ” “Yaudah kita break dulu deh ya Ren, aku pesenin bakmi, abis makan kita lanjut gulat lagi, Tante Dewi mau ber-ronde-ronde sama kamu ”

    Wek! Kulihat jamku udah jam 7 malam Bisa balik jam berapa nih?

    Akhirnya setelah makan dan istirahat sebentar dengan ngobrol2, kami melanjutkan pertarungan kami Malam itu hingga pagi, kami bercinta 4 ronde, aku ngecrot 2 kali jadi total dengan yang sore/siang 5 ronde dengan skor 2-5 Itu diluar squirt-an Tante “Tante, makasih ya hari ini aku puas sekali”

    “Aku yang terima kasih Ren, kamu hebat sekali, kayaknya ini dendam 2 bulan gak ML ya? kapan-kapan kita lakuin lagi ya” “Pasti Tan, aku siap ngelayanin Tante Dewi kapanpun Tante mau ” “Aku juga Ren sebaliknya, kalo kamu yang perlu bilang aku aja ” Aku tersenyum dan kubilang “Aku balik ya Tan” jam di posisi 3 pagi

    “Tanggung beb, nginep aja sampe besok, eh ini udah besok ya? Kalo pulangnya besok aku janji aku mandiin deh” Kata Tante Dewi.

  • Ngentot Dengan Janda Muda Seksi Dan Toket Gede

    Ngentot Dengan Janda Muda Seksi Dan Toket Gede


    1580 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Ngentot Dengan Janda Muda Seksi Dan Toket Gede ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Ditinggal mati oleh isteri di umur 39 tahun bukan hal yg menyenangkan. Namaqu Ardy, berasal dari kawasan Timur Indonesia, tinggal di Surabaya. Isteriku Lia yg terpaut lima tahun dariku sudah dipanggil menghadap hadirat penciptanya. Tinggal aqu seorang diri dgn dua orang anak yg masih membutuhkan perhatian penuh.

    Aqu harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi mereka. Bukan hal yg mudah. Sejumlah kawan menyarankan untuk menikah lagi agar anak-anak memperoleh ibu baru. Anjuran yg bagus, namun aqu tak ingin anak-anak mendapat seorang ibu tiri yg tak menyaygi mereka. Karena itu aqu sangat hati-hati.

    Kehadiran anak-anak jelas merupakan hiburan yg tak tergantikan. Anita kini berumur sepuluh tahun dan Marko adiknya berumur enam tahun. Anak-anak yg lucu dan pintar ini sangat mengisi kekosonganku. Namun kalau anak-anak lagi berkumpul bersama kawan-kawannya, kesepian itu senantiasa menggoda. Ketika hari sudah larut malam dan anak-anak sudah tidur, kesepian itu semakin menyiksa.

    Sejalan dgn itu, nafsu birahiku yg tergolong besar itu meledak-ledak butuh penyaluran. Beberapa kawan mengajakku mencari perempuan panggilan namun aqu tak berani. Resiko terkena penyakit mengendurkan niatku. Terpaksa aqu bermasturbasi. Sesaat aqu merasa lega, namun sesudah itu keinginan untuk menggeluti tubuh seorang perempuan selalu muncul di kepalaqu karena rasa kesepian.

    Tak terasa tiga bulan sudah berlalu. Perlahan-lahan aqu mulai menaruh perhatian ke perempuan-perempuan lain. Beberapa kawan kerja di kantor yg masih lajang kelihatannya membuka peluang. Namun aqu lebih suka memiliki mereka sebagai kawan.

    Karena itu tak ada niat untuk membina hubungan serius. Di saat keinginan untuk menikmati tubuh seorang perempuan semakin meningkat, kesempatan itu datang dgn sendirinya. Senja itu di hari Jumat, aqu pulang kerja. Sepeda motorku santai saja kularikan di sepanjang Jalan Darmo. Maklum sudah mulai gelap dan aqu tak terburu-buru.

    Di depan hotel Mirama kulihat seorang perempuan kebingungan di samping mobilnya, Suzuki Baleno. Rupanya mogok. Kendaraan-kendaraan lain melaju lewat, tak ada orang yg peduli. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tak tahu apa yg hendak dilaqukan. Rupanya mencari bantuan. Aqu mendekat.

    “Ada yg bisa aqu bantu, Mbak?” tanyaqu sopan.

    Ia terkejut dan menatapku agak curiga. Aqu memahaminya. Akhir-akhir ini banyak kejahatan berkedok tawaran bantuan seperti itu.

    “Tak usah taqut, Mbak”, kataqu.”Namaqu Ardy. Boleh aqu lihat mesinnya?”

    Walaupun agak segan ia mengucapkan terima kasih dan membuka kap mesinnya. Ternyata hanya problema penyumbatan slang bensin. Aqu membetulkannya dan mesin dihidupkan lagi. Ia ingin membayar namun aqu menolak. Kejadian itu berlalu begitu saja.

    Tak kuduga hari berikutnya aqu bertemu lagi dgnnya di Tunjungan Plaza. Aqu sedang menemani anak-anak berjalan-jalan ketika ia menyapaqu. Kuperkenalkan dia pada anak-anak. Ia tersenyum manis kepada keduanya.

    “Sekali lagi terima kasih untuk bantuan kemarin sore”, katanya,”Namaqu Meywan. Maaf, kemarin tak sempat berkenalan lebih lanjut.”

    “Aqu Ardy”, sahutku sopan.

    Harus kuaqui, mataqu mulai mencuri-curi pandang ke seluruh tubuhnya. Perempuan itu jelas turunan Cina. Kontras dgn pakaian kantor kemarin, ia sungguh menarik dalem pakaian santainya. Ia mengenakan celana jeans biru agak ketat, dipadu dgn kaos putih berlengan pendek dan leher rendah.

    Pakaiannya itu jelas menampilkan keseksian tubuhnya. Buah dadanya yg ranum berukuran kira-kira 38 menonjol dgn jujurnya, dipadu oleh pinggang yg ramping. Pinggulnya bundar indah digantungi oleh dua bongkahan bokong yg besar.

    “Kok bengong”, katanya tersenyum-senyum,”Ayo minum di sana”, ajaknya.

    Seperti kerbau dicocok hidungnya aqu menurut saja. Ia menggandeng kedua anakku mendahului. Keduanya tampak ceria dibelikan es krim, sesuatu yg tak pernah kulaqukan. Kami duduk di meja terdekat sembari memperhatikan orang-orang yg lewat.

    “Ibunya anak-anak nggak ikut?” tanyanya.

    Aqu tak menjawab. Aqu melirik ke kedua anakku, Anita dan Marko. Anita menunduk menghindari air mata.

    “Ibu sudah di surga, Tante”, kata Marko polos. Ia memandangku.

    “Isteriku sudah meninggal”, kataqu. Hening sejenak.

    “Maaf”, katanya,”Aqu tak bermaksud mencari tahu”, lanjutnya dgn rasa bersalah.

    Pokok pembicaraan beralih ke anak-anak, ke sekolah, ke pekerjaan dan sebagainya. Akhirnya aqu tahu kalau ia manajer cabang satu perusahaan pemasaran tekstil yg mengelola beberapa toko pakaian. Aqu juga akhirnya tahu kalau ia berumur 32 tahun dan sudah menjanda selama satu setengah tahun tanpa anak.

    Selama pembicaraan itu sulit mataqu terlepas dari bongkahan dadanya yg menonjol padat. Menariknya, sering ia menggerak-gerakkan tubuhnya sehingga buah dadanya itu dapat lebih menonjol dan kelihatan jelas bentuknya. Beberapa kali aqu menelan air liur membaygkan nikmatnya menggumuli tubuh bahenol nan seksi ini.

    “Nggak berpikir menikah lagi?” tanyaqu.

    “Rasanya nggak ada yg mau sama aqu”, sahutnya.

    “Ah, Masak!” sahutku,”Aqu mau kok, kalau diberi kesempatan”, lanjutku sedikit nakal dan memberanikan diri.”Kamu masih cantik dan menarik. Seksi lagi.”

    “Ah, Ardy bisa aja”, katanya tersipu-sipu sembari menepuk tanganku. Tapi nampak benar ia senang dgn ucapanku.

    Tak terasa hampir dua jam kami duduk ngobrol. Akhirnya anak-anak mendesak minta pulang. Meywan, perempuan Cina itu, memberikan alamat rumah, nomor telepon dan HP-nya. Ketika akan beranjak meninggalkannya ia berbisik,

    “Aqu menunggu Ardy di rumah.”

    Hatiku bersorak-sorak. Lelaki mana yg mau menolak kesempatan berada bersama perempuan semanis dan seseksi Meywan. Aqu mengangguk sembari mengedipkan mata. Ia membalasnya dgn kedipan mata juga. Ini kesempatan emas. Apalagi sore itu Anita dan Marko akan dijemput kakek dan neneknya dan bermalam di sana.

    “OK. Malam nanti aqu main ke rumah”, bisikku juga, “Jam tujuh aqu sudah di sana.” Ia tersenyum-senyum manis.

    Sore itu sesudah anak-anak dijemput kakek dan neneknya, aqu membersihkan sepeda motorku lalu mandi. Sembari mandi imajinasi seksualku mulai muncul. Bagaimana tampang Meywan tanpa pakaian? Pasti indah sekali tubuhnya yg bugil. Dan pasti sangatlah nikmat menggeluti dan menyetubuhi tubuh semontok dan selembut itu.

    Apalagi aqu sebetulnya sudah lama ingin menikmati tubuh seorang perempuan Cina. Tapi apakah ia mau menerimaqu? Apalagi aqu bukan orang Cina. Dari kawasan Timur Indonesia lagi. Kulitku agak gelap dgn rambut yg ikal.

    Tapi.. Peduli amat. Toh ia yg mengundangku. Andaikata aqu diberi kesempatan, tak akan kumur-siakan. Kalau toh ia hanya sekedar mengungkapkan terima kasih atas pertolongaqu kemarin, yah tak apalah. Aqu tersenyum sendiri.

    Jam tujuh lewat lima menit aqu berhasil menemukan rumahnya di kawasan Margorejo itu. Rumah yg indah dan mewah untuk ukuranku, berlantai dua dgn lampu depan yg buram. Kupencet bel dua kali. Selang satu menit seorang perempuan separuh baya membukakan pintu pagar. Rupanya pembantu rumah tangga.

    “Pak Ardy?” ia bertanya, “Silahkan, Pak. Bu Meywan menunggu di dalem”, lanjutnya lagi.

    Aqu mengikuti langkahnya dan dipersilahkan duduk di ruang tamu dan iapun menghilang ke dalem. Selang semenit, Meywan keluar. Ia mengenakan baju dan celana santai di bawah lutut. Aqu berdiri menyambutnya.

    “Selamat datang ke rumahku”, katanya.

    Ia mengembangkan tangannya dan aqu dirangkulnya. Sebuah ciuman mendarat di pipiku. Ini ciuman pertama seorang perempuan ke pipiku sejak kematian isteriku. Aqu berdebaran. Ia menggandengku ke ruang tengah dan duduk di sofa yg empuk. Mulutku seakan terkunci. Beberapa saat bercakap-cakap, si pembantu rumah tangga datang menghantar minuman.

    “Silahkan diminum, Pak”, katanya sopan, “Aqu juga sekalian pamit, Bu”, katanya kepada Meywan.

    “Makan sudah siap, Bu. Aqu datang lagi besok jam sepuluh.”

    “Biar masuk sore aja, Bu”, kata Meywan,

    “Aqu di rumah aja besok. Datang saja jam tiga-an.”
    Pembantu itu mengangguk sopan dan berlalu.

    “Ayo minum. Santai aja, aqu mandi dulu”, katanya sembari menepuk pahaqu.

    Tersenyum-senyum ia berlalu ke kamar mandi. Di saat itu kuperhatikan. Pakaian santai yg dikenakannya cukup memberikan gambaran bentuk tubuhnya. Buah dadanya yg montok itu menonjol ke depan laksana gunung. Bokongnya yg besar dan bulat berayun-ayun lembut mengikuti gerak jalannya. Pahanya padat dan mulus ditopang oleh betis yg indah.

    “Santai saja, anggap di rumah sendiri”, lanjutnya sebelum menghilang ke balik pintu.

    Dua puluh menit menunggu itu rasanya seperti seabad. Ketika akhirnya ia muncul, Meywan membuatku terkesima. Rambutnya yg panjang sampai di punggungnya dibiarkan tergerai. Wajahnya segar dan manis. Ia mengenakan baju tidur longgar berwarna cream dipadu celana berenda berwarna serupa.

    Namun yg membuat mataqu membelalak ialah bahan pakaian itu tipis, sehingga pakaian dalemnya jelas kelihatan. BH merah kecil yg dikenakannya menutupi hanya sepertiga buah dadanya memberikan pemandangan yg indah. Celana dalem merah jelas memberikan bentuk bokongnya yg besar bergelantungan. Pemandangan yg menggairahkan ini spontan mengungkit nafsu birahiku. Kemaluanku mulai bergerak-gerak dan berdenyut-denyut.

    “Aqu tahu, Ardy suka”, katanya sembari duduk di sampingku, “Siang tadi di TP (Tunjungan Plaza) aqu lihat mata Ardy tak pernah lepas dari buah dadaqu. Tak usah khawatir, malam ini sepenuhnya milik kita.”

    Ia lalu mencium pipiku. Nafasnya menderu-deru. Dalem hitungan detik mulut kami sudah lekat berpagutan. Aqu merengkuh tubuh montok itu ketat ke dalem pelukanku. Tangaqu mulai bergerilya di balik baju tidurnya mencari-cari buah dadanya yg montok itu. Ia menggeliat-geliat agar tanganku lebih leluasa bergerak sembari mulutnya terus menyambut permainan bibir dan lidahku. Lidahku menerobos mulutnya dan bergulat dgn lidahnya.

    Tangannya pun aktif menyerobot T-shirt yg kukenakan dan meraba-raba perut dan punggungku. Membalas gerakannya itu, tangan kananku mulai merayapi pahanya yg mulus. Kunikmati kehalusan kulitnya itu. Semakin mendekati pangkal pahanya, kurasa ia membuka kakinya lebih lebar, biar tanganku lebih leluasa bergerak.

    Peralahan-lahan tanganku menyentuh gundukan kemaluannya yg masih tertutup celana dalem tipis. Jariku menelikung ke balik celana dalem itu dan menyentuh bibir kemaluannya. Ia mengaduh pendek namun segera bungkam oleh permainan lidahku. Kurasakan tubuhnya mulai menggeletar menahan nafsu birahi yg semakin meningkat.

    Tangannyapun menerobos celana dalemku dan tangan lembut itu menggenggam batang kemaluan yg kubanggakan itu. Kemaluanku tergolong besar dan panjang. Ukuran tegang penuh kira-kira 15 cm dgn diameter sekitar 4 cm. Senjata kebanggaanku inilah yg pernah menjadi kesukaan dan kebanggaan isteriku. Aqu yakin senjataqu ini akan menjadi kesukaan Meywan. Ia pasti akan ketagihan.

    “Au.. Besarnya”, kata Meywan sembari mengelus lembut kemaluanku.

    Elusan lembut jari-jarinya itu membuat kemaluanku semakin mengembang dan mengeras. Aqu mengerang-ngerang nikmat. Ia mulai menjilati dagu dan leherku dan sejalan dgn itu melepaskan bajuku. Segera sesudah lepas bajuku bibir mungilnya itu menyentuh puting susuku. Lidahnya bergerak lincah menjilatinya.

    Aqu merasakan kenikmatan yg luar biasa. Tangannya kembali menerobos celanaqu dan menggenggam kemaluanku yg semakin berdenyut-denyut. Aqu pun bergerak melepaskan pakaian tidurnya. Rasanya seperti bermimpi, seorang perempuan Cina yg cantik dan seksi duduk di pahaqu hanya dgn celana dalem dan BH.

    “Ayo ke kamar”, bisiknya, “Kita tuntaskan di sana.”

    Aqu bangkit berdiri. Ia menjulurkan tangannya minta digendong. Tubuh bahenol nan seksi itu kurengkuh ke dalem pelukanku. Kuangkat tubuh itu dan ia bergayut di leherku. Lidahnya terus menerabas batang leherku membuat nafasku terengah-engah nikmat.

    Buah dadanya yg sungguh montok dan lembut menempel lekat di dadaqu. Masuk ke kamar tidurnya, kurebahkan tubuh itu ke ranjang yg lebar dan empuk. Aqu menariknya berdiri dan mulai melepaskan BH dan celana dalemnya.

    Ia membiarkan aqu melaqukan semua itu sembari mendesah-desah menahan nafsunya yg pasti semakin menggila. Sesudah tak ada selembar benangpun yg menempel di tubuhnya, aqu mundur dan memandangi tubuh telanjang bulat yg mengagumkan itu.

    Kulitnya putih bersih, wajahnya bulat telur dgn mata agak sipit seperti umumnya orang Cina. Rambutnya hitam tergerai sampai di punggungnya. Buah dadanya sungguh besar namun padat dan menonjol ke depan dgn puting yg kemerah-merahan. Perutnya rata dgn lekukan pusar yg menawan.

    Pahanya mulus dgn pinggul yg bundar digantungi oleh dua bongkah bokong yg besar bulat padat. Di sela paha itu kulihat gundukan hitam lebat bulu kemaluannya. Sungguh pemandangan yg indah dan menggairahkan birahi.

    “Ngapain hanya lihat tok,” protesnya.

    “Aqu kagum akan keindahan tubuhmu”, sahutku.

    “Semuanya ini milikmu”, katanya sembari merentangkan tangan dan mendekatiku.

    Tubuh bugil polos itu kini melekat erat ditubuhku. Didorongnya aqu ke atas ranjang empuk itu. Mulutnya segera menjelajahi seluruh dada dan perutku terus menurun ke bawah mendekati pusar dan pangkal pahaqu. Tangannya lincah melepaskan celanaqu. Celana dalemku segera dipelorotnya.

    Kemaluanku yg sudah tegang itu mencuat keluar dan berdiri tegak. Tiba-tiba mulutnya menangkap batang kemaluanku itu. Kurasakan sensai yg luar biasa ketika lidahnya lincah memutar-mutar kemaluanku dalem mulutnya. Aqu mengerang-ngerang nikmat menahan semua sensasi gila itu.

    Puas mempermainkan kemaluanku dgn mulutnya ia melepaskan diri dan merebahkan diri di sampingku. Aqu menelentangkannya dan mulutku mulai beraksi. Kuserga buah dada kanannya sembari tangan kananku meremas-remas buah dada kirinya. Bibirku mengulum puting buah dadanya yg mengeras itu.

    Buah dadanya juga mengeras diiringi deburan jantungnya. Puas buah dada kanan mulutku beralih ke buah dada kiri. Lalu perlahan namun pasti aqu menuruni perutnya. Ia menggelinjang-linjang menahan desakan birahi yg semakin menggila. Aqu menjilati perutnya yg rata dan menjulurkan lidahku ke pusarnya.

    “Auu..” erangnya, “Oh.. Oh.. Oh..” jeritnya semakin keras.

    Mulutku semakin mendekati pangkal pahanya. Perlahan-lahan pahanya yg mulus padat itu membuka, menampakkan liang surgawinya yg sudah merekah dan basah. Rambut hitam lebat melingkupi liang yg kemerah-merahan itu. Kudekatkan mulutku ke liang itu dan perlahan lidahku menyuruk ke dalem liang yg sudah basah membanjir itu.

    Ia menjerit dan spontan duduk sembari menekan kepalaqu sehingga lidahku lebih dalem terbenam. Tubuhnya menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Bokongnya menggeletar hebat sedang pahanya semakin lebar membuka.

    “Aaa.. Auu.. Ooo..”, jeritnya keras.

    Aqu tahu tak ada sesuatu pun yg bakalan menghalangiku menikmati dan menyetubuhi si canting bahenon nan seksi ini. Tapi aqu tak ingin menikmatinya sebagai orang raqus. Sedikit demi sedikit namun sangat nikmat. Aqu terus mempermainkan klitorisnya dgn lidahku.

    Tiba-tiba ia menghentakkan bokongnya ke atas dan memegang kepalaqu erat-erat. Ia melolong keras. Pada saat itu kurasakan banjir cairan vaginanya. Ia sudah mencapai orgasme yg pertama. Aqu berhenti sejenak membiarkan ia menikmatinya. Sesudah itu mulailah aqu menjelajahi kembali bagian tersensitif dari tubuhnya itu.

    Kembali erangan suaranya terdengar tanda birahinya mulai menaik lagi. Tangannya terjulur mencari-cari batang kejantananku. Kemaluanku sudah tegak sekeras beton. Ia meremasnya. Aqu menjerit kecil, karena nafsuku pun sudah diubun-ubun butuh penyelesaian.

    Kudorong tubuh bahenon nan seksi itu rebah ke kasur empuk. Perlahan-lahan aqu bergerak ke atasnya. Ia membuka pahanya lebar-lebar siap menerima penetrasi kemaluanku. Kepalanya bergerak-gerak di atas rambutnya yg terserak.

    Mulutnya terus menggumam tak jelas. Matanya terpejam. Kuturunkan bokongku. Batang kemaluanku berkilat-kilat dan memerah kepalanya siap menjalankan tugasnya. Kuusap-usapkan kemaluanku di bibir kemaluannya. Ia semakin menggelinjang seperti kepinding.

    “Cepat.. Cepat.. Aqu sudah nggak tahan!” jeritnya.

    Kuturunkan bokongku perlahan-lahan. Dan.. BLESS!

    Kemaluanku menerobos liang senggamanya diiringi jeritannya membelah malam. Tetangga sebelah mungkin bisa mendengar lolongannya itu. Aqu berhenti sebentar membiarkan dia menikmatinya. Lalu kutekan lagi bokongku sehingga kemaluanku yg panjang dan besar itu menerobos ke dalem dan terbenam sepenuhnya dalem liang surgawi miliknya.

    Ia menghentak-hentakkan bokongnya ke atas agar lebih dalem menerima diriku. Sejenak aqu diam menikmati sensasi yg luar biasa ini. Lalu perlahan-lahan aqu mulai menggerakkan kemaluanku. Balasannya juga luar biasa.

    Dinding-dinding liang kemaluannya berusaha menggenggam batang kemaluanku. Rasanya seberti digigit-gigit. Bokongnya yg bulat besar itu diputar-putar untuk memperbesar rasa nikmat. Buah dadanya tergoncang-goncang seirama dgn genjotanku di kemaluannya.

    Matanya terpejam dan bibirnya terbuka, berdesis-desis mulutnya menahankan rasa nikmat. Desisan itu berubah menjadi erangan kemudian jeritan panjang terlontar membelah udara malam. Kubungkam jeritannya dgn mulutku. Lidahku bertemu lidahnya. Sementara di bawah sana kemaluanku leluasa bertarung dgn kemaluannya, di sini lidahku pun leluasa bertarung dgn lidahnya.

    “OH..”, erangnya, “Lebih keras sayg, lebih keras lagi.. Lebih keras.. Oooaah!”

    Tangannya melingkar merangkulku ketat. Kuku-kukunya membenam di punggungku. Pahanya semakin lebar mengangkang. Terdengar bunyi kecipak lendir kemaluannya seirama dgn gerakan bokongku. Di saat itulah kurasakan gejala ledakan magma di batang kemaluanku. Sebentar lagu aqu akan orgasme.

    “Aqu mau keluar, Meywan”, bisikku di sela-sela nafasku memburu.

    “Aqu juga”, sahutnya, “Di dalem sayg. Keluarkan di dalem. Aqu ingin kamu di dalem.”

    Kupercepat gerakan bokongku. Keringatku mengalir dan menyatu dgn keringatnya. Bibirku kutekan ke bibirnya. Kedua tanganku mencengkam kedua buah dadanya. Diiringi geraman keras kuhentakkan bokongku dan kemaluanku membenam sedalem-dalemnya. Spermaqu memancar deras. Ia pun melolong panjang dan menghentakkan bokongnya ke atas menerima diriku sedalem-dalemnya.

    Kedua pahanya naik dan membelit bokongku. Ia pun mencapai puncaknya. Kemaluanku berdenyut-denyut memuntahkan spermaqu ke dalem rahimnya. Inilah orgasmeku yg pertama di dalem kemaluan seorang perempuan sejak kematian isteriku. Dan ternyata perempuan itu adalah Meywan yg cantik bahenol dan seksi.

    Sekitar sepuluh menit kami diam membatu mereguk semua detik kenikmatan itu. Lalu perlahan-lahan aqu mengangkat tubuhku. Aqu memandangi wajahnya yg berbinar karena birahinya sudah terpuaskan. Ia tersenyum dan membelai wajahku.

    “Ardy, kamu hebat sekali, sayg”, katanya, “Sudah lebih dari setahun aqu tak merasakan lagi kejantanan lelaki seperti ini.”

    “Meywan juga luar biasa”, sahutku, “Aqu sungguh puas dan bangga bisa menikmati tubuhmu yg menawan ini. Meywan tak menyesal bersetubuh dgnku?”

    “Tak”, katanya, “Aqu malah berbangga bisa menjadi perempuan pertama sesudah kematian isterimu. Mau kan kamu memuaskan aqu lagi nanti?”

    “Tentu saja mau”, kataqu, “Bodoh kalau nolak rejeki ini.” Ia tertawa.

    “Kalau kamu lagi pingin, telepon saja aqu,” lanjutnya, “Tapi kalau aqu yg pingin, boleh kan aqu nelpon?”

    “Tentu.. Tentu..”, balasku cepat.

    “Mulai sekarang kamu bisa menyetubuhi aqu kapan saja. Tinggal kabarkan”, katanya.

    Hatiku bersorak ria. Aqu mencabut kemaluanku dan rebah di sampingnya. Kurang lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Ia lalu mengajakku mandi. Lapar katanya dan pingin makan. Malam itu hingga hari Minggu siang sungguh tak terlupakan. Kami terus berpacu dalem birahi untuk memuaskan nafsu.

    Aqu menyetubuhinya di sofa, di meja makan, di dapur, di kamar mandi dalem berbagai posisi. Di atas, di bawah, dari belakang. Pendek kata hari itu adalah hari penuh kenikmatan birahi. Dapat ditebak, pertemuan pertama itu berlanjut dgn aneka pertemuan lain. Kadang-kadang kami mencari hotel namun terbanyak di rumahnya.

    Sesekali ia mampir ke tempatku kalau anak-anak lagi mengunjungi kakek dan neneknya. Pertemuan-pertemuan kami selalu diisi dgn permainan birahi yg panas dan menggairahkan.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Kumpulan Foto Cewek Jepang Bertato Menggunakan Bikini

    Kumpulan Foto Cewek Jepang Bertato Menggunakan Bikini


    1978 views

    Perawanku – Meski kadang kita merasa risau dengan kelakuan-kelakuan binal wanita seperti wanita yang memiliki Tato didekat kemaluannya ini dengan wajah yang sudah haus sex dia menunjukkan Foto Bugil nya seperti minta di entot , Berterimakasihla karna wanita ini menambah imajinasi anda :

  • Cerita Sex Kugoda Pembantuku Yang Montok

    Cerita Sex Kugoda Pembantuku Yang Montok


    1334 views

    Perawanku – Cerita Sex Kugoda Pembantuku Yang Montok, Aku sedang melamun sendiri dikamar, istri dan anakku sejak kemarin pulang ke kampungnya di Jawa, Aku sendiri malas keluar, walaupun hari ini kantor libur hari sabtu. Tiba-tiba saja kudengar pintu kamarku diketok oleh orang.

    ” Pak , permisi, Siti mau cuci kamar mandi bapak” terdengar suara pembantuku
    ” Yah Masuk aja ” jawabku
    Siti pembantuku pun masuk sambil membawa ember kecil dan yang membuat saya kaget, dia hanya memakai handuk besar yang membungkus dadanya yang besar dan pantatnya yang bahenol.
    ” Waduh, pake handuk aja ti” kataku sambil menelan liur karena menyaksikan pemandangan yang membangkitkan adekku.

    ” Iya pak, biar ngak basah baju Siti ” jawabnya sambil tersenyum manis dan lirikan matanya yang genit menuju adekku yang hanya di bungkus celana dalam saja.
    Kurang lebih 15 menit kudengar suara air yang disiram ke dinding kamar mandi
    Wah berarti dia sudah selesai mencuci kamar mandi, akupun cepat-cepat mencopot
    celana dalamku, dan langsung kutarik pintu geser kamar mandiku yang memang tidak pakai konci.

    ” Eh ,pak, ” Siti terkejut, ketika melihat aku masuk dalam keadaan bugil, dia segera jongkok dengan keadaan telanjang bulat, sambil menutupi susunya dan menghadap kedinding kamar mandi membelakangiku.
    Tapi tetap aja terlihat pantatnya yang bahenol, terlihat mengkilap , hitam, karena sekujur tubuhnya basah kena air ketika mencuci kamar mandi.
    Akupun langsung mendekati closet sambil mengacungkan adekku
    ” Iya Ti, bapak mau kencing nih , udah ngak tahan , kamu sih lama banget cucinya”
    Aku sambil pura-pura, mau kencing, tapi boro-boro mau keluar airnya, namanya juga
    adek lagi bediri , mana mau keluar kencingnya, mana mata sambil terus melihat kearah Siti yang telanjang bulat sambil jongkok.
    ” Udah Ti, ngak usah malu, ngak ada orang kok, cuma kita, Bapak aja ngak malu”
    Kulihat dia mulai berani mengintip kearah adekku, dia kaget melihat adekku yang sengaja kuacung-acungkan.
    ” Ti, tolong minta air dong , untuk cuci ini adek bapak ” kataku, sambil menyodorkan adekku kuhadapannya.
    Dengan takut- takut dan malu, tangan satunya mengambil shower dan tangan satunya tetap menutupi susunya.
    ” Ayo dong sekalian dicuciin” kataku

    Diapun mulai berdiri, dan menyirami adekku dengan shower, sambil matanya terus melihat adekku yang sudah tegang, Adekku ukurannya panjangnya sih biasa saja sekitar 15 cm,tapi gemuk banget , sudah banyak wanita yang kaget dengan ukuran diameter dan bentuk kepalanya yang membesar seperti pukulan gong.
    ” Ayo jangan cuma di siram, ambil itu sabun sekalian disabunin dong ”
    Kulihat dia agak kagok, tapi diambilnya juga sabun cair, dan dia mulai menyabuni
    adekku .
    ” Ahhhh,,, enak Ti, Cucinya yang bersih Ti ”
    ” Yah pak.” jawabnya sambil terus tertunduk dan menatap adekku.
    Sekarang dia juga dalam keadaan telanjang bulat, tidakbisa lagi menutupi susunya , karena kedua tangannya sibuk menyabuni dan menyirami adekku.
    Susunya kelihatan benar besar ,masih bulat sekali dan keras sekali dengan pentil yang masih kecil tapi kelihatan sudah berdiri. sedang memeknya kelihatan berupa garis, karena bulunya sudah tidak ada, mungkin dia sering mencukurnya, tapi terlihat jelas bekas bulu yang baru dicukur, makin membuatku nafsu.

    Tangankupun mulai memegang susunya dan mengelusnya sambil berkata
    ” TI, Susu kamu bagus yah. masih montok banget”
    ” Pak Siti malu pak”
    ” Ahhhh… . pak……jangan pak….”
    Tanganku memelintir pentilnya yang keras, dan tangan satunya sibuk memutar -mutar
    susu yang satunya.
    ” Auwww pak……pakk….”
    Dia mulai mendesah, dan pegangannya ke adekku bukan hanya mengelus lagi,tapi mulai meremas dengan kencang.
    Mulutkupun mulai bergerilya menciumi susunya dan mulai lidahku mebelit-belit pentil susunya, pelan tanganku yang satunya turun meluncur kearah memeknya.
    Jariku menemukan bibir memeknya yang udah licin, bibirnya tipis, aku, mulai mengorek-orek memeknya dan mencari-cari kelentitnya.
    ” Auuu pak…geli pakk….,Siti geli pak ”
    Aku terus menjilati pentilnya dan tanganku, menemukan kelentitnya yang cukup besar, terasa sebesar biji kacang tanah, keras, licin dan enak sekali dimaenin dengan tangan.
    ” Pakkkkkk…Auuuuu…ZZZZZZ. pak Siti………..ngak tahan pak”
    Tangannya sudah dengan kasar menggosoj adekku dan sampai kebijinya diperas dengan keras, sampai aku agak terasa sakit.
    ” Pakkkk….ampun ….pak…Siti….enak.pakkk” desahnya, terus menerus.
    ” Pelan kuangkat sebelah kakinya , kusandarkan kakinya yang satu di atas bak mandi, lalu lulutku mulai turun kebawah mencari lubang memeknya.
    Kujilati bibir memeknya, dan sambil lidahku masuk menjelajahi lubang memeknya yang terasa masih kecil sekali. Lalu lidahku mulai menjilati dan mengulum biji kelentitnya yang sebesar kacang tanah, dan terasa keras serta licin sekali karena air nikmatnya yang banyak keluar.

    ” Aduhhhhhhhhh………..pak…….Siti ngak tahan pakkkkkkkkkk”
    ” Auuuuuu……pakk Ampun pak………Siti enak banget pakkkkk, Memek Siti diapain pak……. Auuuuuuuuuu ”
    ” Memang belum pernah diginiin Ti”
    ” Belummmmpakkkk….enak ….banget pakkk.”
    ” Auuuuuuzzzzzzzzzzz…… enak pakkkkkkkkkkk”
    ” Yuk kita keranjang Ti .” sambil keseret kekamarku
    Langsung kurebahkan dia diranjangku. langsung kuserbu susunya kujilati dan kugigit
    gigit kecil pentilya,
    ” Pakkkkk……. enak pak…..UZZZzzzz….”
    Lidahkupun mulai meluncur kebawah, mulai kujilati bibir memeknya, kutarik dengan bibirku , pelan kubuka memeknya yang hitam, sesuai dengan kulitnya yang hitam manis, bibir memeknya pun hitam dengan bekas bulu yang dickur, makin membuat aku nafsu, pelan kubuka memeknya, terlihatlah dalam memeknya yang berwarna merah tua segar dengan keadaan basah sekali, sangat kontras dan menarik dengan warna bibir memeknya yang hitam , ,kujilati dalam memenya, dan terlihat kelentitnya yang menonjol dengan menantang merah dan licin sekali, langsung kujilati dan kukulum biji kelentitnya.
    ” Pakkkkkkkkkkk…..aduh pak…..enak……ohhhhhhhhh..ohhhhhh”
    Siti menggerakkan memeknya mendekati bibirku, terasa agak asin cairan yang keluar dari memenya, aku suka sekali melihat biji kelentitnya yang keras dan licin, terus kukulum, sehingga dia terus teriak dan mengangkat memeknya tinggi-tinggi
    ” Aduh pak…ampun pak…..Siti ngak tahan pak…Ngentotin Siti pak”
    Akupun berputat dalam posisi 69, dia dengan segera menarik adekku dan langsung dengan rakus mengulum batangnya, lalu turun kebijinya, kedua bijiku disedotnya, bukan main rasanya.
    ” auuuuuuuu enak ti, terus ti……”

    Aku terus menjilati dan menggigit biji kelentitnya, sambil menyedot cairanyang keluar,
    tiba-tiba kepalaku dikepitnya dengan keras, dan terasa adekku disedot dan digigit dengankeras oleh Siti,
    ” Pakkkkkkk….Siti keluar pak…….Aya u……..uuuuu ”
    Dijepitnya dengan keras kepalaku , lalu ia lemas dan kakinya mulai terbuka lagi.
    ” Aduh pak, enak banget pak, Siti belum pernah diginiin sampe keluar”
    “Emang kamu udah sering Ti, ” selidikku
    ” Ngak pak , Siti baru pernah sekali dientot sama pacar dikampung, eh abis dientot di takut Siti Hamil, jadi dia lari dari kampung.
    Aku mulai menjilati lagi, memeknya yang semakin merah dalamnya, dan aku
    menggigit kecil kelentitnya.
    ” Aduh..pak….kok..jadi enak lagi yah..”
    ” Siti rasanya mau enak lagi nih pak”
    Setelah puas kujilati semua lubang dalam memeknya, aku pun berputar dan mulai menindih tubuhnya. Pelan kugesek kepala kontolku ke bibir memeknya,
    ” Auiuuuu,,,,,,pak,,,,,kok,,,enak lagi yah…..aduh pa kkkk”
    Pelan kucoba memasukkan adekku kedalam memeknya , sulit sekali sebab lubangnya masih kecil sekali.
    ” Auu pak…pelan..pak…sakit….****** bapak gede banget…”

    ” emang ****** pacarmu kecil Ti”
    ” Kecil pak, punya bapak gede banget apalagi kepalanya segede tinju Siti”
    ” Bisa-bisa sobek memek Siti pak….”
    Pelan kudoron adekku memasuki memeknya, terasa pedih karena sempit
    ” Auuuu pak,,,sakit pakk,,,,,pelan pelan pak”
    Pelan-pelan kepala kontolku berhasil masuk sebatas kepalanya.
    Dia sudah menjerit-jerit kesakitan dan keenakan.
    ” Aduh pakkk….sakir,,,,enak….sakit…pak tapi enak:”
    “Gimana mau diterusin ngak Ti, katanya sakit”
    ” Terus pak biarin , mau jebol juga ngak apa yang penting enak”
    katanya sambil memelukku dengan erat.
    Dengan tiba-tiba kudorong semua kontolku kedalam memeknya.
    ” Auuuuuuuuuuuu. poakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk”

    Kudiamkan kontolku masuk kedalam memeknya terasa mentok sampai rahimnya
    Siti juga terdiam, matanya melotot, sambil menggigit bibir bawahnya,
    Aku senang sekali melihat gadis yang melotot ketika kontolku mentok masuk kememeknya.
    ” Pakkkkkkk…..sakit,,,,tapi enak banget pak, ****** bapak gede banget, sampe penuh memek Siti.
    pelan mulai kugenjot keluar masuk memeknya,
    ” Auusss…sekarang enak banget pakkkkk..au….pakkkk”
    Matanya tetap melotot setiap kali kepala kontolku masuk mentok ke memeknya
    ” Au…..Auu…..Au….” setiap kali kugenjot memeknya Siti terus mengoce dan teriak
    Aku senang sekali dengan cewe yang berisik ketika di entot.
    Lalu kuputar kaki satunya sehingga keatas, lalu dengan posisi miring kutusuk lagi memeknya.
    ” Aduh……….pakkk…….auuuu”
    Siti lebih menjerit dan melotot lagi, karena kontolku makin masuk kedalam mentok.
    ” Pak ….k Siti udah ngak tahan mau keluar”
    ” Sebentar Ti, Bapak juga……….aaaaaa”
    Kupercepat genjotanku dengan cepat sekali
    ” Au–…au…auu……au…………………… pakkkkkkkkkkkk”
    Siti mengejang dan terasa memeknya memijit dengan keras kontolku, seakan kontolku diperas. lalu akupun merasa sudah mau keluar, dengan hentakan terakhir
    kutekan keras memeknya sambil menyemburkan maniku kememeknya.
    ” Auuuuuuuuuuuutiiiiiiiiiiii. bapak keluarrrrrrrrrrrrrrr”
    ” Siti juga pakkkkkkkkkkkkkAZZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzz”
    Lalu saya pun terjatuh diatas badanya.lemas, tapi enak banget,
    Memang memek hitam dan merah dalamya enak banget,legit dan empot ayam lagi…

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Galeri Foto Kontol Gede Jebol Lubang Memek

    Galeri Foto Kontol Gede Jebol Lubang Memek


    2143 views

    Perawanku – Mempunyai Kontol yang besar sudah  menjadi idaman para pria terlebih lagi menjadi sudah menjadi kesayangan para wanita. Wanita mana yang tidak mendambakan memeknya di sobek oleh kontol yang besar, Semua wanita pasti ingin merasakannya.

    Seperti wanita wanita berikut ini di Jebol oleh Kontol yang gede-gede meringis kenikmatan bos ku :

     

  • Cerita Sex Saat Berkemah Di Puncak

    Cerita Sex Saat Berkemah Di Puncak


    1178 views

    Perawanku – Cerita Sex Saat Berkemah Di Puncak, Ini terjadi kurang lebih dua puluh tiga tahun yang lalu (tepatnya tanggal 31 Desember 1995). Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan) melakukan pendakian gunung. Rencananya kami akan merayakan pergantian tahun baru di sana. Sampai di tempat yang kami tuju hari telah sore, kami segera mendirikan tenda di tempat yang strategis.

    Setelah semuanya selesai, kami sepakat bahwa tiga orang lelaki harus mencari kayu bakar, sisanya tetap tinggal di perkemahan. Aku, Robby, dan Doni memilih mencari kayu bakar, sedangkan Fadli, Lia dan Wulan tetap tinggal di tenda. Baru beberapa langkah kami beranjak pergi, tiba-tiba Wulan memanggil kami, katanya dia ingin ikut kelompok kami saja (alasannya masuk akal, dia tidak enak hati sebab Fadli adalah pacar Lia, dan Wulan tidak ingin kehadirannya di tenda mengganggu acara mereka). Karena Fadli dan Lia tidak keberatan ditinggal berdua, kami (Robby, Doni, aku dan Wulan) segera melanjutkan perjalanan.

    Ada beberapa hal yang perlu aku ceritakan kepada pembaca tentang dua orang teman wanita kami. Lia sifatnya sangat lembut, dewasa, pendiam dan keibuan. Sifat ini bertolak belakang dengan Wulan. Mungkin karena dia anak bungsu dan ketiga kakaknya semua lelaki, jadi Wulan sangat manja, tapi terkadang tomboy. Tapi di balik semua itu, kami semua mengakui bahwa Wulan sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Lia.

    Tidak berapa lama, sampailah kami pada tempat yang dituju, lalu kami mulai mengumpulkan ranting-ranting kering. Sambil mengumpulkan ranting, kami membicarakan apa yang sedang dilakukan Fadli dan Lia di dalam tenda. Tentu saja pembicaraan kami menjurus kepada hal-hal porno. Setelah cukup apa yang kami cari, Robby mengusulkan singgah mandi dulu ke sungai yang tidak berapa jauh dari tempat kami berada. Wulan boleh ikut, tapi harus menunggu di atas tebing sungai sementara kami bertiga mandi. Wulan setuju saja. Singkat kata, sampailah kami pada sungai yang dituju. Aku, Robby dan Doni turun ke sungai, lalu mandi di situ. Wulan kami suruh duduk di atas tebing dan jangan sekali-kali mengintip kami.

    Ketika sedang asyik-asyiknya kami berkubang di air, tiba-tiba kami mendengar Wulan menjerit karena terjatuh dari atas tebing. Tubuhnya menggelinding sampai akhirnya ia tercebur ke dalam air. Cepat-cepat kami berlari mencoba menyelamatkan Wulan (kami mandi hanya menanggalkan baju dan celana panjang, sedangkan celana dalam tetap kami pakai). Robby yang pandai berenang segera menjemput Wulan, lalu menariknya dari air menuju tepi sungai. Aku dan Doni menunggu di atas. Sampai di tepi sungai, tubuh Wulan basah kuyup. Sepintas kulihat lengan Robby menyentuh buah dada Wulan. Karena Wulan memakai T-Shirt basah, aku dapat melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh Wulan yang sangat menggairahkan.

    Wulan merintih memegangi lutut kanannya. Aku dan Doni terpaku tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tapi Robby yang pernah ikut kegiatan penyelamatan dengan sigap membuka ikat pinggang Wulan lalu mencopot celana jeans Wulan sampai lutut. Wulan berteriak sambil mempertahankan celananya agar tidak melorot. Sungguh, saat itu aku tidak tahu apa sebenarnya yang hendak Robby lakukan terhadap Wulan. Segalanya berjalan begitu cepat dan aku tidak menyimpan tuduhan negatif terhadap Robby. Aku hanya menduga, Robby hendak memeriksa luka Wulan. Tapi dengan melorotnya jeans Wulan sampai ke lutut, kami dapat melihat dengan jelas celana dalam wulan yang berwarna off-white (putih kecoklatan) dan berenda. Kontan penisku bangun.

    Robby memerintahkan aku dan Doni memegangi kedua tangan Wulan. Seperti dihipnotis, kami menurut saja. Wulan semakin meronta sambil menghardik, “Rob, apa-apaan sih.., Lepas.., lepas! Atau saya teriak”.

    Doni secepat kilat membungkam mulut Wulan dengan kedua telapak tangannya. Robby setelah berhasil mencopot celana jeans Wulan, sekarang mencoba mencopot celana dalam Wulan. Sampai detik ini, akhirnya aku tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Aku tidak berani melarang Robby dan Doni, karena selain aku sudah merasa terlibat, aku juga sangat terangsang saat melihat kemaluan Wulan yang lebat ditumbuhi rambut-rambut hitam keriting.

    Wulan semakin meronta dan mencoba berteriak, tapi cengkeraman tanganku dan bungkaman Doni membuat usahanya sia-sia belaka. Robby segera berlutut di antara kedua belah paha Wulan. Tangan kirinya menekan perut Wulan, tangan kanannya membimbing penisnya menuju kemaluan Wulan. Wulan semakin meronta, membuat Robby kesulitan memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya. Doni mengambil inisiatif. Dia lalu duduk mengangkangi tepat di atas dada Wulan sambil tangannya terus membungkam mulut Wulan. Tiba-tiba Wulan berteriak keras sekali.

    Rupanya Robby berhasil merobek selaput dara Wulan dengan penisnya. Secara cepat Robby menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Untuk beberapa menit lamanya Wulan meronta, sampai akhirnya dia diam pasrah. Yang dia lakukan hanya menangis terisak-isak.

    Doni melepaskan telapak tangannya dari mulut Wulan karena dia merasa Wulan tidak akan berteriak lagi. Lalu dia mencoba menarik T-Shirt Wulan ke atas. Di luar dugaan, Wulan kali ini tidak mengadakan perlawanan, hingga Doni dan aku dapat melepaskan T-Shirt dan BH-nya. Luar biasa, tubuh Wulan dalam keadaan telanjang bulat sangat membangkitkan birahi. Tubuhnya mulus, dan buah dadanya sangat montok. Mungkin ukurannya 36B.

    Doni segera menjilati puting susu Wulan, sementara aku melihat Robby semakin kesetanan mengoyak-ngoyak vagina Wulan yang beberapa saat yang lalu masih perawan. Aku sangat terangsang, lalu aku mulai memaksa mencium bibir Wulan. Ugh, nikmat sekali bibirnya yang dingin dan lembut itu. Aku melumat bibirnya dengan sangat bernafsu. Aku tidak tahu apa yang sedang Wulan rasakan. Aku hanya melihat, matanya polos menerawang jauh langit di atas sana yang menguning pertanda malam akan segera tiba. Tangisnya sudah agak mereda, tapi aku masih dapat mendengar isak tangisnya yang tidak sekeras tadi. Mungkin dia sudah sangat putus asa, shock, atau mungkin juga menikmati perlakuan kasar kami.

    Tiba-tiba aku mendengar Robby menjerit tertahan. Tubuhnya mengejang. Dia menyemprotkan sperma banyak sekali ke dalam vagina Wulan. Setengah menit kemudian Robby beranjak pergi dari tubuh Wulan lalu tergeletak kelelahan di samping kami. Doni menyuruhku mengambil giliran kedua. Aku bangkit menuju Vagina Wulan. Sepintas aku melihat sperma Robby mengalir ke luar dari mulut vagina Wulan. Warnanya putih kemerahan. Rupanya bercak-bercak merah itu berasal dari darah selaput dara (hymen) Wulan yang robek. Tanpa kesulitan aku berhasil memasukkan penis ke dalam vaginanya. Rasanya nikmat sekali. Licin dan hangat bercampur menjadi satu. Dengan cepat aku mengocok-ngocok penisku maju mundur. Aku mendekap tubuh Wulan.

    Payudaranya beradu dengan dadaku. Dengan ganas aku melumat bibir Wulan. Doni dan Robby menyaksikan atraksiku dari jarak dua meter. Beberapa menit kemudian aku merasakan penisku sangat tegang dan berdenyut-denyut. Aku sudah mencoba menahan agar ejakulasi dapat diperlama, tapi sia-sia. Spermaku keluar banyak sekali di dalam vagina Wulan. Aku peluk erat Tubuh Wulan sampai dia tidak dapat bernafas.

    Setelah puas, aku berikan giliran berikutnya kepada Doni. Aku lalu duduk di samping Robby memandangi Doni yang dengan sangat bernafsu menikmati tubuh Wulan. Karena lelah, kurebahkan tubuhku telentang sambil memandangi langit yang semakin menggelap.

    Beberapa menit kemudian Doni ejakulasi di dalam vagina. Setelah Doni puas, ternyata Robby bangkit kembali nafsunya. Dia menghampiri Wulan. Tapi kali ini dia malah membalikkan tubuh Wulan hingga tengkurap. Aku tidak tahu apa yang akan diperbuatnya.

    Ternyata Robby hendak melakukan anal seks. Wulan menjerit saat anusnya ditembus penis Robby. Mendengar itu Robby malah semakin kesetanan. Dia menjambak rambut Wulan ke belakang hingga muka Wulan menengadah ke atas. Dengan sigap Doni menghampiri tubuh Wulan. Aku melihat Doni dengan sangat kasar meremas-remas buah dada Wulan. Wulan mengiba, “Aduhh.., sudah dong Ro.., ampun.., sakit Rob”. Tapi Robby dan Doni tidak menghiraukannya.

    “Oh, sempit sekali”, teriak Robby mengomentari lubang dubur Wulan yang lebih sempit dari vaginanya. Setiap Robby menarik penisnya aku lihat dubur Wulan monyong. Sebaliknya saat Robby menusukkan penisnya, dubur Wulan menjadi kempot. Tidak lama, Robby mengalami ejakulasi yang kedua kalinya. Setelah puas, sekarang giliran Doni menyodomi Wulan. Melihat itu aku jadi kasihan juga terhadap Wulan. Di matanya aku melihat beban penderitaan yang amat berat, tapi sekaligus aku juga melihat sisa-sisa ketegarannya menghadapi perlakuan ini.

    Setelah Doni puas, Robby dan Doni menyuruhku menikmati tubuh Wulan. Tapi tiba-tiba timbul rasa kasihan dalam hatiku. Aku katakan bahwa aku sudah sangat lelah dan hari sudah menjelang gelap. Kami sepakat kembali ke perkemahan. Robby dan Doni segera berpakaian lalu beranjak meninggalkan kami sambil menenteng kayu bakar. Wulan dengan tertatih-tatih mengambil celana dalam, jeans, lalu mengenakannya. Aku tanyakan apakah Wulan mau mandi dulu, dan dia hanya menggeleng. Dalam keremangan senja aku masih dapat melihat matanya yang indah berkaca-kaca. Kuambil T-Shirtnya. Karena basah, aku mengepak-ngepakkan agar lebih kering, lalu aku berikan T-Shirt itu bersama-sama dengan BH-nya. Robby dan Doni menunggu kami di atas tebing sungai. Setelah Wulan dan aku lengkap berpakaian, kami beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Robby dan Doni berjalan tujuh meter di depanku dan Wulan.

    Di perkemahan, Fadli dan Lia menunggu kami dengan cemas. Lalu kami mengarang cerita agar peristiwa itu tidak menyebar. Untunglah Fadli dan Lia percaya, dan Wulan hanya diam saja.

    Tepat tengah malam di saat orang lain merayakan pergantian tahun baru, kami melewatinya dengan hambar. Tidak banyak keceriaan kala itu. Kami lebih banyak diam, walau Fadli berusaha mencairkan keheningan malam dengan gitarnya.

    Esoknya, pagi-pagi sekali Wulan minta segera pulang. Kami maklum lalu segera membongkar tenda. Untunglah sesampainya di kota kami, Wulan merahasiakan peristiwa ini. Tapi tiga bulan berikutnya Wulan menghubungiku dan dia dengan memohon meminta aku bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku sempat kaget karena belum tentu anak yang dikandungnya itu adalah anakku. Tapi raut wajahnya yang sangat mengiba, membuatku kasihan lalu menyanggupi menikahinya.

    Satu bulan berikutnya kami resmi menikah. Wulan minta agar aku memboyongnya meninggalkan kota ini dan mencari pekerjaan di kota lain. Sekarang “anak kami” sudah dapat berjalan. Lucu sekali. Matanya indah seperti mata ibunya. Kadang terpikir untuk mengetahui anak siapa sebenarnya “anak kami” ini. Tapi kemudian aku menguburnya dalam-dalam. Aku khawatir kebahagiaan rumah tangga kami akan hancur bila ternyata kenyataan pahitlah yang kami dapati.

    Akhir Desember 1997 kami menikmati pergantian tahun baru di rumah saja. Peristiwa ini kembali menguak kenangan buruknya. Matanya berkaca-kaca. Aku memeluk dan membelai rambutnya. Beberapa menit kemudian, dalam dekapanku dia mengaku bahwa sebelum peristiwa itu terjadi, sebenarnya dia sudah jatuh cinta padaku. Dia ikut mencari kayu bakar karena dia ingin bisa dekat denganku.

    Ya Tuhan, aku benar-benar menyesal. Pengakuannya ini membuat hatiku pedih tak terkira.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Melayani Nafsu Bejat Ketiga Ipar Ku Sendiri

    Cerita Sex Melayani Nafsu Bejat Ketiga Ipar Ku Sendiri


    1409 views

    Perawanku – Cerita Sex Melayani Nafsu Bejat Ketiga Ipar Ku Sendiri, Sejak Bapak meninggal tujuh tahun lalu dan Ibu meninggal enam tahun yang lalu, aku tinggal bersama kakak sulungku, Mbak Mira. Rumah orang tuaku di Madiun terpaksa dijual. Uangnya kami bagi bertiga, Mbak Mira, Mbak Mona, dan aku, Mila.

    Rumah waris itu hanya laku Rp. 6,5 juta. Waktu itu aku masih duduk dibangku kelas tiga SMA. Masing-masing kebagian Rp. 2 juta, sisa Rp.500 ribu dimasukkan ke bank untuk memperbaiki makam kedua orang tua dan biaya keselamatan.

    Ketika menerima uang waris Rp. 2 juta, aku sengaja menyimpan Rp. 1 juta sebagai deposito ke sebuah bank, sedangkan sisanya kubelikan sebuah TV. Sebab aku ingin punya TV sendiri dikamar tidurku.

    Begitu lulus, aku pergi berduaan ke Sarangan bersama Anton, pacarku yang sekelas denganku. Ditempat rekreasi yang sejuk itulah aku memadu kasih dengan Anton. Entah bagaimana mulanya, setelah aku dicium dan diremas-remas payudaraku, aku seperti terhipnotis dan terbuai dengan segala rayuannya, sehingga aku menuruti saja ketika Anton mengajakku memasuki kamar hotel di Sarangan, aku tidak menolaknya.

    Bahkan ketika di dalam kamar tidur, Anton mulai kembali dengan cumbuannya dan remasan-remasan hangatnya yang benar-benar membuatku tak berdaya dan diam saja saat Anton mulai melepas satu demi satu seluruh pakaian yang menempel ditubuhku, aku hanya bisa merasakan desah nafasku yang semakin tidak beraturan dan seluruh tubuhku benar-benar di luar kendaliku.

    Saat tangan Anton semakin bergerak leluasa ke bagian-bagian sensitif tubuhku, aku semakin pasrah dan menikmati seluruh kecupan hangat,remasan-remasan yang luar biasa nikmatnya, hingga akhirnya seluruh pertahananku jebol setelah penis Anton dengan cepatnya masuk dan merenggut keperawananku dengan sekali hentakan saja.

    Namun semuanya tak kupikirkan terlalu lama karena aku benar-benar sangat menikmatinya saat penis Anton mulai bergerak maju-mundur, turun-naik, sehingga membuat liang vaginaku mengeluarkan cairan kenikmatan yang terasa hangat saat tubuhku terhempas ke ranjang karena puncak orgasme yang kurasakan saat itu. Lemas, mataku berat, dan akhirnya aku tertidur di dalam pelukan dada Anton kekasihku itu.

    Noktah merah yang seharusnya kupersembahkan buat suamiku, akhirnya keberikan lebih awal kepada Anton, pacarku sekaligus calon suamiku kelak. Aku ingat persis Anton kembali melakukan persetubuhan denganku hingga lebih dari tiga kali pada hari itu, aku benar-benar dibuat takluk dengan keperkasaan seksualnya.

    “Tak udah memikirkan keperawanan. Jaman sudah maju, manusia tidak membutuhkan keperawanan, melainkan kesetiaan”, kata Anton setelah berhasil mengambil keperawananku. Aku juga masih ingat persis ketika Anton memberiku uang Rp.10 ribu.

    “Ini untuk beli jamu”, katanya singkat. Hampir saja aku melempar uang itu ke wajahnya. Tetapi Anton keburu mencium pipiku, keningku dan tengkukku sehingga aku tidak bisa marah atas sikapnya tadi.

    Benar dugaanku. Setelah peristiwa itu Anton tidak muncul-muncul. Hampir dua minggu aku menunggu, tak kelihatan juga batang hidungnya. Akhirnya aku memaksakan untuk datang ke rumahnya di jalan Borobudur. Betapa terkejutnya aku, ketika ibunya bilang Anton sudah berangkat ke Jakarta, untuk mengadu nasib di sana. Niat hati ingin menyampaikan masalah ini kepada ibunya bahwa aku dan Anton telah berbuat hal layaknya suami istri. Tetapi mulutku tidak bisa bersuara. Aku hanya menahan nafas dan mengehembuskannya dalam-dalam.

    Saat paling membuatku berdebar-debar adalah saat aku tidak mengalami menstruasi. Aku kalut, Beberapa macam pil yang disebut orang-orang bisa untuk menggugurkan kandungan, kuminum. Tetapi, aku tetap terlambat datang bulan. Aku makin kalut. Apalagi aku harus hengkang dari rumah, karena rumah kami sudah laku dijual. Aku harus ke Surabaya, tidak ada jalan lain.

    Bulan kedua aku lewati dengan mengurung diri di kamar di ruman Mbak Mira, kakak sulungku. Di rumah ini tinggal juga suaminya, Mas Sancaka, dan anak tunggalnya Sarma, yang masih balita. Selain itu pula ada pula Mas Sudrajat, adik Mas Sancaka, yang hingga kini masih hidup membujang.

    Sebulan dirumah Mbak Mira, aku sudah tidak bisa menyembunyikan diri lagi. Ketika Mbak Mira tidur aku mengutarakan permasalahanku ini kepada Mas Sancaka, dan berharap dia bisa memeberikan jalan keluar terbaik bagi diriku.

    “Besok kamu ikut aku. Kita harus menggugurkan anak haram itu”, kata Mas Sancaka, “Dan Mbak Mira tidak perlu tahu musibah ini”, tambahnya. “Kamu masih punya uang simpanan?”, katanya.
    “Satu juta”, jawabku singkat.
    “Besok pagi kita ambil, kekurangan uangnya biar aku yang tanggung”, kata Mas Sancaka.

    Keesokan pagi harinya aku dibawa ke dokter yang ada dikawasan lokalisasi di Surabaya. Di tempat yang tidak terlalu luas itu, kandunganku digugurkan. “Biayanya Rp. 1,6 juta, itu belum termasuk biaya kamar, biaya perawatan, dan obat-obatan. Siapkan saja uang sekitar Rp. 2 juta”, kata dokter yang merawatku kepada Mas Sancaka.

    Aku memandangi Mas Sancaka untuk meminta reaksi atas ucapannya tadi malam. “Ya, Dok. Ini kami membawa uang Rp. 1 juta, nanti saya akan ambil uang di ATM untuk melengkapi seluruh biayanya”, kata Mas Sancaka kepada dokter yang akan menggugurkan kandunganku, sembari melirikku. Lega rasanya aku dibantu kakak iparku. Dibenakku aku punya harapan untuk kuliah kembali, agar jadi ‘orang’.

    Uang Rp. 1 juta kuserahkan, dan dalam waktu sepuluh menit aku sudah tidak sadarkan diri. Ketika aku bangun, aku telah berada di ruangan yang sama sekali tidak aku kenal. Ada seorang perawat disini. “Jangan banyak bergerak dahulu ya jeng”, kata perawat itu yang kira-kira berusia 40 tahun. dia kemudian menyeka keringatku dan meneyelimuti tubuhku dengan baju putih.

    Cerita Sex Melayani Nafsu Bejat Ketiga Ipar Ku Sendiri

    Cerita Sex Melayani Nafsu Bejat Ketiga Ipar Ku Sendiri

    Tak lama kemudian Mas Sancaka datang dan membawa buah-buahan untukku. Aku tersenyum kepadanya. Diapun membalas senyumku. Diusapnya rambutku, dan diciumnya keningku.

    “Sus, meski kami menggugurkan kandungannya, tetapi kami ingin tetap menikah. Kami hanya merasa belum siap saja. Saya ingin Mila menjadi istri kedua”, kata Mas Sancaka kepada perawat itu, tanpa meminta persetujuanku kalau aku pura-pura jadi WIL-nya.

    Sehari kemudian aku pulang. Tetapi aku tidak diijinkan untuk pulang ke rumah Mbak Mira oleh Mas Sancaka, Aku justru dibawanya kesebuah hotel. “Kenapa disini, Mas?” tanyaku.

    “Kamu masih kelihatan pucat. Jangan pulang dulu, kamu tidur disini sekitar 3 sampai 4 hari dulu, nanti baru pulang. Lagian Mas Sancaka sudah bilang ke Mbak Mira, bahwa kamu balik sementara ke Bandung untuk keperluan menjenguk saudara”, katanya. Aku mengikuti saja sarannya tersebut.

    Hari-hari pertama Mas Sancaka bersikap sopan kepadaku, Dia tampak mengasihiku. Tetapi, pada hari kedua, Mas Sancaka mulai berubah, setelah berbaringan di sebelah tubuhku, Mas Sancaka secara mengejutkan memintaku untuk memegang ‘senjatanya’.

    “Aku nggak kuat, Mila. Tolong kamu pegang-pegang penisku sampai ‘keluar’, agar kepalaku tidak pusing. Mbakyumu sedang mestruasi. Jadi aku tidak melakukan hubungan badan selama dua hari ini, biasanya kami melakukannya setiap hari”, begitu kata Mas Sancaka beralasan kepadaku.

    Ingin rasanya aku menolak, tetapi bagaimana lagi? Mas Sancaka telah begitu berbaik hati kepadaku. Kupikir tidak ada salahnya aku melakukannya sekali ini untuk membalas kebaikan-kebaikan Mas Sancaku kepadaku selama ini, khususnya saat-saat seperti ini. Dengan malu-malu aku melakukan apa yang dimintanya,

    Kulihat penis Mas Sancaka masih tertidur, panjangnya lumayanlah, aku mulai mengusap-usap batang penis Mas Sancaka secara lembut. Sedikit demi sedikit aku mulai melihat reaksinya, Penis Mas Sancaka sedikit demi sedikit mulai mengembang dan membesar, tanganku merasakan penisnya yang bergerak-gerak hingga akhirnya tidak bisa bergerak lagi, karena seluruh batang penisnya telah tegang dengan sangat kerasnya.

    Mas Sancaka kulihat memejamkan matanya menikmati permainan ini, aku semakin berani untuk memain-mainkan penisnya, kuusap, kugosok-gosok dengan jariku dan terakhir aku mulai mengocok-ngocok penis Mas Sancaka secara turun naik, kulihat tubuh Mas Sancaka kadang-kadang menggeliat merasakan kenikamatan ini, sampai akhirnya tiba-tiba tubuh Mas Sancaka tiba-tiba mengejang, penisnya terasa panas sekali, kulihat kepala penisnya kini berubah warnanya menjadi sangat merah sekali dan berdenyut-denyut.

    Tiba-tiba Mas Sancaka memejamkan matanya sangat erat, bibirnya seperti menggigit menahan sesuatu yang amat luar biasa, tidak lebih dalam hitungan dua detik, tiba-tiba aku melihat cairan kental menyemprot deras keluar dari batang penisnya Mas Sancaka, cairan spermanya muncrat banyak sekali seiring dengan itu tubuhnya berkelejat-kelejat sampai pada akhirnya spermanya habis,

    Tubuhnya jatuh lunglai dan kulihat wajah Mas Sancaka tersenyum puas. Perlahan-lahan aku membersihkan tubuh Mas Sancaka yang belepotan spermanya, kubersihkan dengan perlahan-lahan sambil memijat-mijat tubuh Mas Sancaka, hingga akhirnya Mas Sancaka tertidur di ranjangku.

    Di hari kedua aku benar-benar tidak mampu menolak permintaannya, saat aku sedang mandi tiba-tiba pintu kamar mandiku diketok oleh Mas Sancaka, ketika kubukakan, tiba-tiba Mas Sancaka menerkamku dengan buasnya. “Kalau kamu tidak melayaniku, maka kasus pengguguran ini akan kuberitahukan kepada Mbak Mira”, ancamnya.

    Maka, aku tidak mampu menolak keinginannya ini, Semalaman itu aku harus melayani Mas Sancaka ronde demi ronde. Sejak saat itu aku semakin tidak punya keberanian untuk menolak keinginan Mas Sancaka untuk mencicipi kehangatan tubuhku yang masih sintal, dan rapatnya liang vaginaku, karena aku memang belum pernah melahirkan.

    Perbuatannya ini tidak hanya dilakukan di hotel saja, tetapi sudah mulai berani dilakukan di rumah Mbak Mira, Hampir Setiap tengah malam menjelang pukul 3 pagi, Mas Sancaka selalu mengendap-endap menuju kamarku dan mengetuk kamar tidurku untuk meminta jatahnya, karena aku takut suatu waktu akan ketahuan akibat Mas Sancaka mengetuk pintuku maka aku setiap tidur tidak pernah mengunci kamar tidurku.

    Yang membuatku semakin tertekan adalah tiba-tiba pada suatu hari tubuhku serasa terindih sesuatu, ketika aku membuka mataku alangkah kagetnya aku, karena yang menindih tubuhku adalah Mas Sudrajat, adik Mas Sancaka, aku ingin berteriak, tetapi Mas Sudrajat menutup mulutku sambil mengancamku. “Awas, kamu tidak perlu berteriak, Jika tidak saya akan melaporkan perselingkuhan kamu dengan Mas Sancaka kepada Mbak Mira. Aku telah mengetahui kejadian ini sejak minggu lalu, lalu apa salahnya jika kamu melakukannya kepadaku juga”, ancamnya.

    Sejak saat itu aku menilai Mas Sudrajat sama bejatnya dengan Mas Sancaka. Hingga mulai saat itu hampir setiap hari aku melayani dua pria. Antara pukul 12 malam sampai denga pukul 1.30 pagi aku melayani Mas Sudrajat, dan Antara pukul 3 pagi sampai dengan pukup 4 pagi aku harus kembali bergumul dengan Mas Sancaka. Tubuhku benar-benar sebagai pelampiasan nafsu kedua saudara-saudara iparku.

    Bahkan menurutku Mas Sudrajat adalah orang paling bejat didunia ini, ia bahkan menceritakan perselingkuhan kami kepada Mas Suwono yang tinggal di jakarta. Ketika suatu saat Mas Suwono menginap di rumah Mbak Mira berkaitan dengan tugas kantornya. Dia tidak tidak sungkan-sungkan masuk kekamar tidurku malam hari bersama dengan Mas Sudrajat untuk kembali merasakan kehangatan tubuhku.

    malah pernah suatu kali ketiganya tiba-tiba berkumpul di kamarku dan benar-benar menguras seluruh tenagaku, hingga aku pernah pingsan menahan kenikmatan yang datang bertubi-tubi tanpa hentinya dari ketiga saudara iparku yang menggilir aku secara bergantian. Hingga akhirnya puncak dari seluruh kenikmatan tersebut adalah kelelahan yang luar biasa, aku knock out alias KO!

    Lebih celaka lagi ketika suatu saat Mbak Mira pada siang hari datang ke kamarku dan menemukan celana dalam suaminya ada di kamarku. Aku sangat yakin Mbak Mira mengetahui kalu suaminya sering masuk ke kamarku. Mbak Mira hanya diam saja. Dia hanya melemparkan celana dalam suaminya itu kewajahku.

    Dan, sejak itulah Mbak Mira jarang mengajakku bicara. Ketika kuceritakan kejadian ini kepada Mas Sancaka, Diluar dugaan di berkata, “Mila, Mbak Mira sudah tidak kuat lagi melayani nafsuku, pernah kusampaikan aku punya pacar seorang janda muda, dia diam-diam saja”, kata Mas Sancaka.

    Aku tercenung. Napasku terasa berhenti di tenggorokan. Kasihan Mbak Mira. Tetapi siapa yang menaruh rasa belas kasihan kepadaku? Aku telah melayani nafsu biadab ketiga saudara iparku. Ingin rasanya aku lari minggat dari rumah Mbak Mira, Tetapi kemana aku harus menetap? aku tidak ingin menjadi seorang Wanita Tuna Susila, dan aku sudah tidak memiliki uang pula untuk menyambung hidup jika aku minggat.

    Sampai akhirnya sedikit demi sedikit keberanianku benar-benar hilang sama-sekali, dan hingga sampai ini aku masih harus tetap melayani nafsu binatang ketiga lelaki iparku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Liarnya Birahi Pacarku Saat Bermain di Ranjang

    Cerita Sex Liarnya Birahi Pacarku Saat Bermain di Ranjang


    1046 views

    Perawanku – Cerita Sex Liarnya Birahi Pacarku Saat Bermain di Ranjang, Perkenalkan nama gw leo,aktifitas gw kuliah di tahun ke 4 sekarang dan gw punya pacar yang binalnya minta ampun dulu di smp gw namanya anggi,dan kalo bicara yang namanya tidur ama cw gw ngelakuiin pertama kali di bangku smp dulu sama dengan anggi ,dan karena itu juga gw punya pacar yang tetap ampe sekarang gw kuliah,kejadiannya tepat di gudang sekolah gw yang tercinta ini pas gw melakukan ini gw kelas 3 smp dan pacar gw kelas 2 smp .Ni ceritanya tapi kalo jelek jangan protes ya.

    Gw sekolah di suatu smp swasta di jakarta,ngomong2x gw termasuk orang yang tenar di sekolah gw (maklum tajir,juga wajah gw juga lumayan dan gw osis di sana).Singkat cerita cewe di sekolah gw banyak yang ngejar dan mau ama gw tapi hanya sedikit cw yang gw ajak tidur ama gw,sekolah gw termasuk sekolah swasta yang favorit di daerah gw sekali kalo engga sekola gw menang sesuatu pasti ada yang mengharumkan nama sekolah gw,di sekolah gw di cap playboy tapi biar di cap gitu masih banyak cw yang mau ama gw dari sekian banyak cw di sekolah gw ada 1 cw di sekolah gw yang pengen banget gw cobaiin namanya anggilina,cantik,imut,kulitnya putih,rambut sebahu warna pirang biru dan sepintas mirip cina dan yang paling gw suka dari dia adalah pantat ama dada gadis tsb tumbuh gd melebihi temen cw ya .

    Anggi pangilan tuk cw ini dan dia termasuk cw yang nakal ato bisa dikatakan binal sekali di sekolah,ada2x aja dulu tingkahnya yang buat orang awam ato guru geleng pala pernah dia tari telanjang di kelas,ciumman di kelas,ampe sepongin ama fetting di wc sekola nih cw termasuk primadona sekola gw banyak cowo yang mau ngajak dia jadian cuma tuk “tidur” ama dia tapi di tolak secara halus karena menurut dia,dia engga mau sembarang cowo yang masukin kontolnya ke memek dia.

    Pas hari senin pagi seperti biasa gw ama gw berangkat dan engga biasanya gw terlambat ( gw kaga pernah terlambat sekalipun ) dan ternyata banyak siswa yang terlambat dan dari pada di hukum ,gw main di gudang sekolah sambil ngerokok di gudang sekolah ( gw sering ngerokok disitu ) dan digudang sekolah gw liat anggi lagi asyik baca buku,gila ni cw baca bacaan novel cowo dewasa.Dia baca sambil ngusap2x dadanya dan sesekali jarinya di masukkin ke memek,”ahhh….ahhh….ahhh” gitu kira2x desahan ya ni cw lagi coli kali pikiran gw ,

    Langsung aja gw buka pintu gudang sekola itu kontan dia kaget gw cuma terpana ngeliat memek dia yang di hiasi jembut yang lumayan tebal ” ehhh…leo gw ngapain loe…kaget..gw ” kata dia terkejut sambil cepat – cepat ngerapiin celana dalamnya “ahh engga,lagi ngapain loe” kata gw ” iya,coli ya” kata gw nambahin ” ihhh…. engga… lagi baca aja” kata dia seraya nunjukin majalah itu ke gw “gi loe mau engga jadi bokin gw “kata gw “bokin loe”kata dia “iya “kata gw mendekat seraya mengelus memek anggi yang taunya udah basah itu “ehmmm….mauuu”kata anggi merem melek dan mundur serta memakai celana dalamnya lagi

    “mau engga loe tidur ama gw ” kata gw langsung ” ama loe ” kata dia kaget.”Iya ama gw,abis ama siapa lagi loe kan bokin gw ” kata gw nambahin ” engga ahhh takutt ” kata anggi “takut,takut apaan ” kata gw “takut hamil “kata dia “engga la,kalo hamil ya gw tanggung jawab “kata gw “bener mau tanggung jawab” kata anggi senyum “kapan mau ML ama gw”kata anggi” disini aja entar siang abis anak2x ama guru balik” kata gw seneng kegirangan”

    Entar sore jam 3 aja” kata anggi ” tapi gw boleh minta duit engga,buat bayaran sekola gw nunggak 4 bulan nih ” kata anggi “emang loe belum bayaran sekola gi ” kata gw bingung “belon kan uangnya gw pake buat beli majalah ini ” kata anggi senyum ” iya nih ” kata gw seraya mengeluarkan 4 lembar seratus ribuan ” kembaliannya buat loe aja gii ” kata gw ” gw tunggu loe disini ya nanti ” kata gw ” bye sayang,tunggu gw ya” kata anggi seraya mengecup gw dan kami masuk sekolah di pelajaran ke dua.

    Jam 3 sore guru ama murid di sekola gw pulang dan gw minta ijin ama mang diman,pinjem kunci sekola buat urusan sesuatu seraya masukkin 2 lembar seratus ribu ke kantong mang diman,gw liat sepi gw ke gudang sekolah yang letaknya agak sepi dan terbelakang di sekolah gw,ada,anggi lagi nenggak minuman dingin.

    “ayo mulai aja ” kata anggi ” ayo aja ” kata gw ” boleh,tapi jangan sangar ya ” kata anggi lalu gw melepas celana panjang dan celana dalam ” anggi kata lo siapa yang paling gd diantara cowok yang pernah loe liat ” kata gw seraya menyorongkan ****** gw ” ehhh…keliatanya sih lu udah putih panjang lagi ” kata anggi malu2x “gii… loe buka donk baju luu …” kata gw dan anggi pun membuka baju serta celana abu2xnya dan jreeng telah berdiri di hadapan gw si anggi cw seksi yang sudah telanjang bulat engga makai apa 2x berdiri di depan gw

    “wuihhh..bener..kata…orang…badan loe kualitas nomer satu gi” kata gw,gw lalu memeluk anggi dan mencium anggi serta meraba pantat anggi dari belakang dan ciumman gw turun ke leher dan tangan gw pindah ke depan dan gw langsung mengusap – ngusap memek anggi dengan tangan dan memasukkan jari tengah gw di memek anggi “ahh..sakiitt..tauuu..”kata anggi terhentak.

    Lalu jari gw berganti bermain di bibir memek anggi dan gw mau anggi melakukan sesuatu dan gw mengghentikan tangan gw di memek anggi dan gw meminta anggi berdiri di depan s*****kangan gw dan menyuruh melakukan blow job lalu dia segera melakukannya dan gw mengarahkan anggi ke depan ****** gw dan menyuruh memasukkan ****** gw ke mulut anggi dan mengangkat tangan anggi memegang pantat gw dan gw memaju – mundurkan ****** gw seperti menyetubuhi mulut mungil anggi

    Dan dengan mulutnya anggi mengulum dan ****** gw di sedot sedot,****** gw di kulum biji zakarnya di maju mundurkan ****** gw di mulut anggi yang mungil itu ,****** gw kadang kadang di jepit diantara dada anggi yang bulat seksi tsb dan anggi menyedot kepala ****** gw dan sensasi yang di berikan anggi serta dadanya itu enak sekali dan gw tidak hentinya mengerang dan dengan keras kedua tangan gw menjambak rambut anggi kedepan dan ke belakang sampai biji zakar gw menghantam muka anggi dengan keras” eehhmmm… .eenakghhhh…. giii… enakgghhh… teruss. .giii” kata gw ngerasa kaya kesetrum listrik jutaan watt pas mulut imut anggi mengemut dan menyedot keras dan

    Sesudah ****** gw mengkilat karena ludah anggi itu ,anggi berkata “sayy.. .isepp… memek… anggiii… donk” dan gw langsung ke bawah dan langsung mencium memek anggi baunya wangi merangsang itu dan gw langsung menjilat memek anggi seraya mengeluar mesukkan jari tengah gw ke memek anggi dan kadang2x kedalam anus anggi,gw sedot sedot clotoris anggi dan anggi pun tak hentinya mengerang “trerus…. leooo…. sedottt… memekkk… anggiiii” kata anggi,gw makin gila menyedot dan mengeluar masukan jari gw ke memek dan anus anggi “leooo… memekkk… anggiiii…”kata anggi “kenapa.. memek… anggiii” jawab gw seraya menekan nekan jari gw

    “memek angggiii basahhh” kata anggi ” anggi… mauuu… keluarrrrr….” dan anggi mengejang dan menjambak rambut gw ke memeknya dan dia merasakan orgasme yang pertamanya sesudah itu gw berkata ” gi gw boleh kan masukin ****** gw ke sini ” sambil mengusap – usap kontolnya ke memek anggi ” boleh aja pelan2x ya ” kata anggi seraya merem melek akibat perlakuan jari dan ****** gw di memek anggi lalu gw pelan – pelan masukin kepala ****** itu ke guanya anggi dan tidak bisa masuk meleset lalu gw lumurin tangan gw dengan ludah dan gw mencoba dan setelah setengah ****** itu masuk anggi memekik keras “acchhh… ouww..

    Sakitt.. dii..pelan.. pelan..donk… luu…. jangan sangar gitu ” setelah kepala batang keras tersebut masuk kemudian gw mencium leher anggi dan sesudah anggi terangsang gw menghentakkan batang ****** gw sehingga masuk seluruhnya ke memek anggi dan anggi menjerit seraya memeluk punggung gw ” achhh…. leooo.. perihhh….” jerit anggi setengah menangis “tenang gii entar juga enak cuma sebentar kok sayy” kata gw seraya mencium dan meremas dadanya supaya dia tenang lalu gw mulai bergerak maju mundur pelan sekali supaya anggi engga merasa sakit ”
    achhh…ohhh… enakkkghhh…. leooo.. enakk… trusss.. leoooo…”kata anggi merem melek,mulut anggi tak hentinya meracau

    “enakkk…leooo…terusss” racau anggi “enakkk….apa…”kata gw seraya mempercepat genjotan gw di dalam memek anggi “kontollll… leooo.. enakkk” racauan anggi yang sudah tak beraturan itu dan gw bergerak sedikit cepat dan anggi seraya menaikan kakinya dan terus mengusap – usap pantat gw yang gerakannya semakin cepat dan gw hanya bergerak maju mundur seraya memegang dan mengelus – elus paha putih anggi dan sesekali menampar paha anggi seraya sesekali menyedot dada anggi yang membusung keras dan leher anggi yang wangi tsb dan setelah 15 menit anggi di genjot oleh gw anggi merasakan sesuatu yang mau keluar dari liang memeknya

    ” achhh… diiii…. gw…. mauuuu….” jerit anggi “mauu…apa…”kata gw “memek anggii… keluarrr…. keluarrr… genjotttt…. yangg…. kerassss… donkkkk… sayyy” kata anggi dan gw segera mengeluar masukan ****** gw dengan cepat dan keras “keluariinn.. aja.. giii.. biar… memek… loe… jepit.. kontoll… leooo “kata gw seraya menaikkan lagi tempo genjotan di memek anggi dan anggi yang sudah tidak tahan itupun menjerit takkala menahan orgasmenya “anggi…. sayangg….. leoooo” dan anggipun merasakan orgasme keduanya dan tubuh anggi pun mengejang dan otomatis menjambak rambut gw kebelakang dan kedua kakinya naik dan menjepit pinggang gw sesudah itu langsung melemas dan jatuh di atas kardus di sampingnya ” dua.. kosong… sayang..” kata gw

    “say…kita coba dogie style yu” kata gw seraya membalik tubuh anggi ke posisi seperti orang merangkak,lalu dengan cepat gw menusuk anggi dari belakang dan bleesssshhh ****** gw yang panjang dan putih itu masuk lagi ke memek anggi dari belakang lalu gw mulai kerja lagi keluar masuk memek anggi dan anggi hanya merem melek dan mengoyangkan kepalanya kekanan dan kiri dan sesekali juga mengoyang anusnya kekiri dan kekanan sesuatu ketika gw bergerak dengan cepat dan kasar sekali sampai bunyi anus anggi yang bersentuhan dengan perut gw berbunyi nyaring dan badan anggi tesodok – sodok dan terguncang – guncang dan buah dada anggi yang besar itu beranyun – anyun dan desahan anggi bertambah nyaring dan gerakan anus anggi semakin erotis.

    Gw terus menyodok memek gw dengan gerakan yang sangat cepat dan setelah 10 menit berdogie style dengan anggi akhirnya gw menyerah dan merasa pertahanan gw akan jebol dan gw mengenjot anggi dengan cepat dan sesuatu ketika gw menancapkan kontolnya di memek gw dan meremas dada anggi dengan keras dan tiba – tiba gw berteriak kepada anggi seraya menancapkan batang ****** ke memek anggi yang sekali jadi sehingga anggi pun memekik dan kepalanya mendongak keatas seraya melepas ****** gw di mulutnya itu”achhhh….”jerit anggi

    ”accchhhh…. giii… gw… mauu…. keluarrrghhhh… terimaaa…. nihhhh…. pejuuuuu… gueee” gw mengerang dan tangannya berganti meremas buah anus anggi dengan kencang dan pada saat itu pula gw mengeluarkan spermanya yang jumlahnya banyak itu di dalam memek anggi ” enakk.. giii… enakkk… memek… loe… enakkk” kata gw seraya sedikit bergerak keluar masuk lagi di memek anggi tuk merasakan sedikit kenikmatan lagi sampai muncratan sperma terakhir ****** gw dan mencabut ****** gw dan menyuruh anggi membersihkan ****** gw dengan lidahnya.

    Dan sesudahnya gw yang kecapaian duduk di kotak di samping tubuh anggi yang mengkilat akibat keringat itu lalu gw mau mendekati anggi lagi ,dan meminta sekali lagi tapi yag ini lain,gw dari dulu pengen nyoba yang namanya anal seks dan banget – banget pengen nyobain anus si anggi yang semok dan padat itu lalu dengan sedikit diolesi vaseline punya anggi gw lumuri batang gw yang mengeras lagi dan anus anggi dan gw mulai penetrasi dengan ****** keras gw ke dalam anus anggi ” achhh…. leo… sakiiitttt…. sakiittt….” rintih anggi pas kepala ****** gw memaksa masuk ke anus anggi yang kecil tsb

    ” gila…giii…pantat… loe… enakghhh..” seraya bergerak maju mundur pelan – pelan 5 menit waktu yang di butuhkan tuk ****** gw masuk seluruhnya “gila …. loe… pantat….. memang…. cocok… disodomi… gii…”kata gw lalu dengan semangat gw gerakin ****** gw keluar masuk anus anggi dengan cepat sambil mengusap buah pantat anggi dan juga kadang kadang seraya tangan kanan gw menjambak rambut anggi ke atas “gila…bener bener anus nomer satu ” kata gw sambil terus mengenjot anus anggi dan teriakan anggi terdengar semakin nyaring dan melengking ketika ****** gw bergerak keluar masuk anusnya dengan cepat,”achhh…. leooo… sakitttt…” erang anggi,gw tau teriakannya itu engga bisa kedengeran oleh siapapun karena gudang itu jauh dari depan sekolah dan sekolah lagian lagi sepi dan itu yang buat gw makin semangat memompa ****** gw di anus anggi .

    Baru kali ini gw ngerasaiin yang namanya anal seks dan dengan kenikmatan anus seorang yang seksi padat pula dan kerasa nikmatnya ampe ubun – ubun gw,gw lalu mencengkram pinggul anggi dengan kedua tangan gw dan mengeluarkan – masukkan ****** gw dengan sangat cepat ” ayooo…. giii… ngentootttt… luuuu… ngenttttottt…..” caci gw seraya sesekali menampar anus semok anggi kiri dan kanan sampai kelihatan anusnya kelihatan memerah dan anggi hanya bisa menjerit seirama sodokan ****** gw di dalam liang anusnya yang sedang di tusuk oleh ****** gw ” ahhh.. .le… akiiittt… leoo.. .jangannnn…. cepeeettthhh…. cepettthhhh… donkkkkhhh… achhhh… sakittt..” rintih anggi meminta gw bergerak pelan

    Tapi gw udah terbang ke langit ke tujuh dan tidak perduli akan permintaan anggi yang menjerit itu dan terus mengenjot anus semok ini dengan cepat dan gw ingin lebih kasar lagi mensodomi anus anggi yang semok ini dan menggenjot anus semok ini dan dengan gerakan cepat aku memulai aktivitas dengan anus semok ini lalu tiba – tiba anggi memekik panjang “achhhh…. achhhh…. gilaaaa… looooo…… perihhhhh…. tauuuu… sakiitttt” jeritan melengking dari anggi pas ****** gw tarik hingga tinggal ujungnya dan memasukkannya dengan cepat dan keras sekali jadi ke dalam anus anggi dan keringat dingin pun menetes deras di punggung anggi dan saat itu pula gw menggangkat anggi dan punggung anggi bersentuhan dengan dada gw dan tangan gw meremas – remas buah dada anggi yang bulat seksi tersebut seraya menyedot lehernya,

    Bau harum dari lehernya yang buat gw makin gila menggenjot mundur maju anus anggi dan napas anggi kelihatan memburu dan tangan anggi tak henti – hertinya meremas tangan gw yang sedang meremas dada anggi sendiri dan gw memegang tangan anggi dan menaruh ke belakang punggung gw dan mengangkat paha anggi seperti orang buang air besar dan setengah menundukan anggi ke bawah dan gw mulai lagi bergerak mundur maju menyodok anus anggi dengan cepat dan semakin keras meremas buah dada anggi seraya mencaci dan memaki anggi,anggi hanya meremas anus gw dan bergerak maju mundur seirama ****** gw didalam anusnya yang sempit tersebut dan gw makin gila menyodok anus anggi dengan cepat seperti gw ingin menghancurkan anus seksi anggi

    “ngenntootttt..luuu… pelacuurrrrhh…. caboo… .jebolhhh… luuuu… jebolllhhh… rasaiinnnchhh… nichhh… makann… nihhhhhh” caci gw seraya meremas dada anggi dengan keras sekali dan kadang kadang menampar buah dada anggi ” ohhhh….. ahhhh…. leooo… anggiiii.. .enggaaa.. .kuaaattt… lagiiiiii… ceeeppeettttaaannn…. donkkkk” rintihan anggi terdengar lagi ” ayooo…. giiii… sebentarrhhhh…. laghiiiiii…..” kata gw seraya menunggingkan dia lagi “ahhh… ohhhh.. .ahhhh…. ahhhh..”desahan anggi yang semakin tidak beraturan ,”giiii…..leooo engga tahann…. mauuu… leooo….. mauuu……. keluarrrghhh…. sayanghhh… diii… dalammm… pantattt… kamuuu” dan

    “kamuuuu…. jadiiii…. pacarrrrr… akuuu….”kata gw dan gw menancapkan ****** gw di anus anggi sekali jadi sehingga terbenam seluruhnya sampai keliatan buah zakarnya saja di anus mungil seksi padat anggi “angggiiii…… sayanggg…. leooooo” jeritan terakhir anggi dan cratt crattt crattt sperma gw meledak kembali tapi ini meledak di dalam anus anggi dan gw seketika itu pula gw menekan ****** gw di anus anggi ke dalam sampai muncratan sperma terakhir gw kedalam anus anggi ini .

    Napas gw dan anggi tersengal – sengal sehabis 20 menit gw menggenjot anus anggi habis habisan dan “achhh…. enakkk” jerit gw ketika ****** gw tercabut dengan sendirinya dari anus anggi ” makasih ya gi gw puas banget ” kata gw seraya mengelus rambut dan mencium pipi dan meremas buah dada anggi,anggi hanya tersenyum dan anggi kusuruh membersihkan ****** gw dari sisa sperma dan anggi pun berlutut di depan ****** gw dan dengan mulut dan lidahnya lagi

    Dia membersihkan penis gw dari lumuran sperma sampai bersih serta memijit batang ****** gw dan tidak disangka dia menyedot ****** gw dan menelan sisa sperma gw yang sedikit keluar dari ****** gw dan rasanya ngilu dan enak banget ” iya…gw..juga nikmatin kok perlakuan loe tadi enak ” kata anggi seraya memakai bajunya kembali dan kami berdua keluar dari gudang dan sebelum keluar gw sempat melihat darah di atas karung buku yang menjadi alas kami “main” dan gw menunjuk tempat alas “main”gw dan anggi tadi “wahh… giii… loe..”kata gw ” iya… gw masih virgin..”kata anggi yang sayu karena kecapaian dan hanya melempar senyum ke gw

    ” elo nyesel gi berbuat gitu ama gw kalo nyesel,dan kalo terjadi apa apa gw mau kok tanggung jawab”kata gw seraya mengelus rambut anggi yang tiba – tiba memeluk dan menangis “:emang kamu engga main main dengan yang tadi” kata anggi dengan mata berair dan gw memeluk tubuh mungilnya “ehhmm… engga.. la .. gw serius ” kata gw “kan anggi hanya cw bispak disini apa kamu engga malu ama temen2x kamu “kata anggi terisak isak “cw bispak kok perawan,mau engga jadi bokin gw “kata gw “engga tau,tapi emang anggi suka ama leo dari dulu dan pas anggi pagi digudang anggi ngebayangin di entot ama leo ” kata anggi “wahhh… beneeerrr… nihhh… jadii..gimana donk” kata gw.

    Dan anggi hanya tersenyum dan gw keluar mengambil mobil dan mengantar anggi ke rumahnya “gw tunggu tlp loe say” kata gw seraya mencium bibir anggi dan memasukan kartu nama berisi no tlp gw ke dalam saku bajunya dan sesudah itu gw pulang ke rumah dengan membawa perasaan yang bahagia dan membawa kenangan biru yang romantis di gudang sekolah gw dan menunggu calon pacar gw telpon dan malamnya jadi anggi menelepon gw dan mengatakan perasaannya dan bahwa dia mau jadi bokin gw dan ingin mengulang saat itu lagi,

    Tapi dengan syarat dia mau jadi cewe satu satunya dan sejak itu gw ama anggi jadian dan pernah saat itu gw pacar gw anggi,andi dan pacar yang kami berdua menjebol keperawannya di gudang sekolah yang sama (gw jebol pantat anggi dan gw juga jebol pantat ita..maruk pantat ya ) ita selalu melakukan perbuatan nikmat itu berempat di wc sekolah,di hotel,kontrakan kami,ato dimana saja,pernah gw “tidur” ama anggi ama ita sekaligus dan kalo ama anggi tak terhitung jumlahnya kayanya tuh memek udah memble tapi ajaib lo memek ama anus anggi tetap sempit kaya dulu lain ama ita yang jalannya udah ngegang karena banyak di sodomi ama andi pacarnya dan itu yang ngebuat gw ketagihan dan nyeret dia tuk tidur bareng mulu dan engga mau coba memek ama anus selain punya cw gw,liburan anak – anak pada belajar tapi gw ama anggi malah ngentot abis – abisan pernah suatu hari gw ama anggi dan melakukannya di alam terbuka pas gw berempat kemping di gunung dan gw melakuannya di batu besar disana

    Itulah cerita rahasia di gudang sekolah kami gw,temen gw andi serta anggi pacar semok gw yang seksi dan mungkin karena ketagihan ama memek ama anus anggi gw jadian ampe sekarang gw kuliah.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Foto Bugil Cewek Asian Dijamin Bikin Sange – Foto Bugil Terbaru 2018

    Foto Bugil Cewek Asian Dijamin Bikin Sange – Foto Bugil Terbaru 2018


    2979 views

    Perawanku – Siapa sih yang tak gemetar ketika melihat kemolekan dan kecantikan wanita asia ? Hal tersebut sudah tak diragukan lagi dalam industry perlendiran yang semakin menjadi-jadi. Bahkan penggemar setia foto bugil asia timur sudah semakin banyak. Walau tak begitu Nampak karena ini masih merupakan hal yang tabu di masyarakat. Tapi keberadaan mereka tak terbantahkan dengan tingginya statistic pencarian topik ini di mesin penelusur seperti yahoo dan google. Foto bugil asia seakan menjadi magnet tersendiri pagi penggemarnya yang doyan mengoleksi foto saru wanitanya.

    Banyak cara yang bisa kamu lakukan agar bisa menikmati hiburan malam sampai terangsang hebat. Salah satu yang patut kamu coba adalah melihat berbagai foto bugil cewek Asia  seperti yang ada disini.

  • Bibiku Mengajariku Seks Hebat

    Bibiku Mengajariku Seks Hebat


    1836 views


    Perawanku – Kini aku sudah berusia 35 tahun dan sudah mempunyai seorang istri dan dua orang anak. Kisah yang kualami terjadi ketika aku berusia kurang lebih 25 tahun sewaktu aku masih menjadi salah seorang mahasiswa tingkat akhir. Waktu itu aku tinggal disalah satu tempat pemondokan (kost) bersama teman-teman mahasiswa yang lain kurang lebih sebanyak 20 orang.

    Untuk meringankan tugas kami sehari-hari, kami mempunyai seorang pembantu wanita (bibi) yang bertugas memasak, mencuci, dan menyapu. Usia bibi pada saat itu kurang lebih 40 tahunan, sudah bersuami dan mempunyai anak, putri sulungnya pada saat itu sudah SMA. Bibi bekerja di tempat kami dari pagi sampai sore (pagi-pagi datang dan sorenya pulang ke rumahnya). Karena bibi bekerja di tempat kami sudah cukup lama maka hubunganku dengan bibi cukup akrab. Aku tidak sungkan-sungkan lagi berbicara dengan bibi sampai menjurus kearah hal-hal yang berbau cerita panas. Bandar Slot Online

    Pada suatu hari, pagi-pagi bibi datang dari pasar membawa belanjaan salah satunya berupa terong panjang berwarna ungu. Ketika bibi sedang memasak aku menemaninya ngobrol di dapur dan aku iseng menggoda bibi dengan menggunakan terong yang baru dibelinya dari pasar. Terong tersebut aku bentuk menyerupai alat kelamin laki-laki (penis) dengan cara memberikan bentuk kepala penis pada salah satu ujungnya. Setelah selesai, aku tunjukkan kepada bibi dan ia senyum-senyum saja melihat hal tersebut. Pada saat yang bersamaan penisku bangun, rupanya bibi tahu hal tersebut dari perubahan bentuk celana yang kupakai. Tiba-tiba tangan bibi memegang penisku dari luar celana, aku hanya bisa tersipu-sipu saja karena aku belum terbiasa melakukan hal itu. Perlu pembaca ketahui bahwa pada saat itu aku belum pernah melakukan hubungan seks meskipun aku sudah mempunyai seorang pacar yang berada di kampung kelahiranku. Aku dan pacarku hanya ketemu sekali dalam setiap enam bulan, pada saat aku mendapat liburan.

    Setelah bibi memegang penisku tersebut, tanpa berkata-kata aku langsung pergi ke kamar dan beberapa saat kemudian bibi menyusulku ke kamar. Di dalam kamar aku menunjukkan sebuah foto porno kepada bibi, maksudnya aku ingin mengajak bibi berhubungan dengan gaya seperti pada photo tersebut. Tetapi bibi malah keluar dari kamarku tanpa berkata-kata sepataHPun, aku merasa malu jadinya. Beberapa menit kemudian bibi datang lagi ke dalam kamarku, tanpa kusadari tiba-tiba aku dan bibi sudah saling berpelukan sambil berdiri. Aku langsung membuka resluiting celana dan mengeluarkan penisku yang sudah menegang. Kemudian aku mengangkat rok dan celana dalam bibi, kuturunkan sedikit kemudian aku langsung memasukkan penis ke dalam liang surganya. Ternyata liang kewanitaannya sudah sedikit longgar sehingga aku tidak mengalami kesulitan untuk memasukinya. Baru beberapa saat tiba-tiba ada temanku yang ribut-ribut di luar, aku dan bibi secepatnya untuk berhenti berhubungan dan selanjutnya bibi kembali ke dapur.


    Siang harinya ketika teman-teman kostku sedang tidur siang, bibi kembali lagi ke dalam kamarku. Tanpa berkata-kata aku langsung saja membuka resluiting celanaku dan selanjutnya aku angkat lagi rok yang dipakainya dan melakukan hubungan seks sambil berdiri. Baru beberapa menit aku sudah keluar, kelihatannya bibi belum puas aku dapat merasakannya dari raut wajahnya.

    Besoknya sepulang dari kuliah setelah makan siang, aku langsung ke kamar dan kugunakan obat yang dioleskan pada kepala penis. Obat tersebut sebelummya aku sudah menyimpannya, kebetulan teman kostku ada yang menjatuhkannya di halaman dan aku menyimpannya. Setelah beberapa menit kemudian ketika teman-teman kostku sedang istirahat siang, bibi kembali lagi ke kamarku. Tanpa basa-basi lagi aku langsung mengajaknya untuk bersetubuh. Pada hubungan hari kedua tersebut karena aku memakai obat, kami dapat melakukan permainan seks yang cukup lama. Aku dapat merasakannya bahwa bibi mencapai orgasme sehingga pada hubungan hari kedua tersebut kelihatannya bibi betul-betul puas.

    Selanjutnya setelah kejadian itu, hubunganku dengan bibi semakin akrab saja. Atas saranku, bibi kalau kerja selalu menggunakan rok yang cukup longgar sehingga memudahkan pada saat melakukan persetubuhan. Hubungan seks yang kami lakukan sebagian besar pada siang hari pada saat teman-teman sedang tidur siang. Pernah sekali-sekali pada pagi hari sepulang bibi dari pasar kalau teman-teman belum bangun pagi. Aku dan bibi melakukan hubungan badan selalu dalam kamar dan tidak pada ranjang karena takut ranjangnya berbunyi, maklum ranjangku terbuat dari besi yang sudah agak tua. Pernah suatu hari bibi mengajakku melakukan hubungan di dalam kamar mandi tetapi aku menolaknya karena takut ketahuan oleh teman-teman yang lain.

    Belakangan atas pengakuan bibi aku baru tahu bibi dalam rumah tangganya mengalami persoalan dalam berhubungan seks dengan suaminya. Kata bibi, suaminya cepat sekali keluarnya sehingga bibi jarang mencapai orgasme. Padahal dari hubungan yang kulakukan dengannya selalu berakhir dengan puncak kenikmatan. Setelah sering melakukan hubungan seks dengannya, aku jarang lagi menggunakan obat sehingga sering kami mengalami orgasme hampir bersamaan. Setelah beberapa lama aku dan bibi melakukan hubungan badan, bibi malah menganggapku sebagai suaminya yang kedua karena kepuasan yang kuberikan dapat menggantikan suaminya. Untuk menghindari kecurigaan suaminya, aku sarankan pada bibi agar sikapnya terhadap suaminya tidak berubah terutama dalam melakukan hubungan seks. Bibi menuruti saranku, malah setelah menjalin hubungan denganku, perlakuan bibi terhadap suaminya menjadi semakin mesra untuk menghindari kecurigaan. Situs Judi Slot


    Bibi adalah guru bagiku dalam hal berhubungan seks. Berbagai posisi telah diajarkannya padaku diantaranya, aku duduk dan bibi di atasku, bibi nungging sambil berdiri, bibi tidur di atas meja, aku duduk diatas kursi, dll. Kalau bibi sedang haid, bibi selalu memberikan blow job kepadaku. Hubungan yang kurasakan paling berkesan adalah pada suatu malam dimana aku dan teman-teman mengadakan acara di luar rumah sehingga rumah kosong sama sekali, kami meminta bibi untuk menjaga rumah sampai tengah malam. Aku sengaja pulang lebih awal kebetulan di rumah hanya ada bibi sendirian. Aku dan bibi langsung menuju tempat tidur setelah mengunci seluruh pintu masuk. Kami melakukan hubungan seks yang cukup lama sehingga bibi dapat mencapai orgasme beberapa kali. Setelah di tempat tidur kemudian pindah ke sofa ruang tamu sampai menjelang teman-teman pulang tengah malam.

    Demikianlah hubunganku dengan bibi berlanjut kurang lebih satu tahun sampai akhirnya aku lulus dan pindah ke kota lain. Selama itu aku dan bibi melakukan hubungan seks tidak kurang dari 100 kali dalam berbagai posisi. Suatu saat pernah kuungkapkan pada bibi bahwa aku bermaksud berpacaran/kawin dengan salah seorang putrinya sehingga dengan demikian aku dan ibunya (bibi) dapat menjalin hubungan terus, tetapi bibi tidak menyetujui rencanaku tersebut. Judi Slot Deposit Pulsa
    Sampai saat aku menulis pengalamanku ini, aku belum pernah berjumpa lagi dengan bibi. Kadang-kadang aku sangat merindukan saat-saat indah yang pernah kami alami.

  • Cerita Bokep – Seketarisku Yang Montok

    Cerita Bokep – Seketarisku Yang Montok


    1526 views

    Perawanku – saking buru-burunya, ia tidak membaca lagi tulisan atau gambar yang menunjukkan bahwa WC itu untuk pria atau untuk wanita. Ia langsung masuk saja. Namun.., begitu tiba di dalam WC itu, ia melihat seorang pria bertubuh atletis sedang pipis. Ups! Pria itu terkejut dan menoleh.., “Eh Shinta.., kamu salah masuk.., ini WC pria..” Shinta terkejut setengah mati.

    Ternyata sang supervisor sedang pipis di situ. Dan tanpa sengaja, kedua mata Shinta terarah pada benda panjang bulat dari ritsluiting celana panjang yang sedang dipegang sang supervisor. Ternyata batang kemaluan si supervisor belum dimasukkan ke sarangnya. Dengan muka tersipu memerah karena malu, Shinta membuang mukanya dan segera ingin berlalu dari tempat itu. Sial..! gerutunya dalam hati.

    Tapi rupanya si supervisor tidak ingin membuang kesempatan emas itu. Dengan sigapnya tangan Shinta ditarik dan tubuhnya disandarkan ke tembok. “Shin.. sudah lama sebenarnya aku ingin menikmati keindahan tubuhmu.. Pasti kau juga pernah mendengar bahwa di kantor ini yang paling perkasa adalah aku.. Nah sekarang tiba saatnya kita mencoba apa yang kamu dengar dari teman-teman..”

    Mendengar itu Shinta kaget setengah mati. Ia tidak menyangka bahwa supervisor yang sangat dihormati karena kharismanya, memiliki hati yang demikian bejadnya. “Tapi Pak.., saya sedang sakit perut nih.., lagian Bapak ‘khan supervisor saya.., masa Bapak tega melakukannya pada saya?”

    “Oh.., jangan kuatir Shin.., cuma sebentar kok.. Ibu Edi saja pernah melakukannya denganku kok..”, kata si supervisor sambil dengan kasar membuka kancing stelan atas yang dipakai Shinta. “Ja.., jangan Pak.., tolong jangan.., ingat posisi Bapak di kantor..”, jerit Shinta. “To.., tolong.., tolong..!”, tampak Shinta berusaha meronta-ronta karena tangan si supervisor mulai masuk ke dalam BH-nya yang berukuran super besar, 38C. Dan.., bret.., bret.., baju Shinta terlihat sudah sobek di sana sini..

    Dan dengan sekali hentakan, BH Shinta turun dan jatuh ke lantai. Walau sudah berusaha mendorong dan menendang tubuh atletis itu, namun nafsu si supervisor yang sudah demikian buas terus membuatnya bisa mencengkeram tubuh mulus Shinta yang kini hanya mengenakan celana dalam dan terus menghimpitnya ke tembok WC itu.

    Karena merasa yakin bahwa ia sudah tidak bisa lari lagi dari sana, Shinta hanya bisa pasrah. Sekarang mulut si supervisor sudah mulai menghisap-hisap puting susunya yang besar. Persis seperti bayi yang baru lahir sedang menyusu ke ibunya. Gairah dalam diri Shinta tiba-tiba muncul dan bergejolak.

    Dengan sengaja diraihnya batang kemaluan si supervisor yang sudah berdiri dari tadi. Dan dikocok-kocokknya dengan pelan. Memang batang kemaluan itu amat besar dan panjang. “Wah, pasti enak nih kalo ngisi lubang gue.., udah lama gue ngangenin batang kenikmatan yang segini besar dan panjangnya..”, pikir Shinta dalam hati.

    Sementara itu tangan si supervisor pun sudah melepaskan seluruh celana dalam putih yang dikenakan Shinta. Dan si supervisor pun ikut membuka semua pakaiannya.., hingga kini keduanya sama-sama dalam keadaan tanpa busana selembar benangpun.

    Si supervisor mengangkat kaki kanan Shinta ke pingggangnya lalu dengan perlahan ia memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Shinta. Bles.., bless.., jebb.., setengah dari batang kemaluan itu masuk dengan sempurna ke liang surga wanita yang rupanya sudah tidak lagi perawan itu. Shinta terbeliak kaget merasakan besarnya batang kemaluan itu di dalam liang kewanitaannya.

    Si supervisor terus saja mendorong maju batang kemaluannya sambil mencium dan melumat bibir Shinta yang seksi itu. Shinta tak mau kalah. Ia pun maju mundur menghadapi serangan si supervisor. Jeb.., jeb.., jebb..! Batang kemaluan yang besar itu keluar masuk berkali-kali.. Shinta sampai terpejam-pejam merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Sakit perutnya pun sudah terlupakan.

    Sepuluh menit kemudian, mereka berganti posisi. Shinta kini berpegangan ke bagian atas kloset dan pantatnya di hadapkan ke si supervisor. Melihat pemandangan menggairahkan itu, tanpa membuang-buang waktu lagi si supervisor segera memasukkan batang kemaluannya dari arah belakang kemaluan Shinta.., bless.., bless.., jeb.., jebb..! Si supervisor dengan asyik melakukan aksinya itu. Tangan kanannya berusaha meraih payudara Shinta sambil terus menusukkan batang kemaluan supernya ke kewanitaan Shinta.

    “Bapak duduk aja sekarang di atas kloset ini.., biar sekarang gantian saya yang aktif..”, kata Shinta di tengah-tengah permainan mereka yang penuh nafsu. Supervisor itu pun menurut. Tanpa menunggu lagi, Shinta meraih batang kemaluan yang sudah 2 kali lebih keras dan besar itu, untuk segera dimasukkan ke liang kenikmatannya.

    Ia pun duduk naik turun di atas batang kemaluan ajaib itu. Sementara kedua mata si supervisor terpejam-pejam merasakan kenikmatan surgawi itu. Kedua tangannya meremas-remas gunung kembar Shinta. “Ooh.., oh.., ohh..”, erang Shinta penuh kenikmatan.

    belakang, maupun dari atas, belum juga menunjukkan akan menyemburkan cairan putih kentalnya. Melihat itu, Shinta segera turun dari pangkuan supervisor itu. Dengan penuh semangat ia meraih batang kemaluan itu untuk segera dimasukkan ke mulutnya.

    Dijilatnya dengan lembut kemudian dihisap dan dipilin-pilin dengan lidahnya… oooh.., oh.., oohh.., kali ini ganti si supervisor yang mengerang karena merasakan kenikmatan. Lima belas menit kemudian, wajah si supervisor tampak menegang dan ia mencengkeram pundak Shinta dengan sangat erat..

    Shinta menyadari apa yang akan terjadi.., tapi ia tidak menghiraukannya.., ia terus saja menghisap batang kemaluan ajaib itu.., dan benar.., crot.., crot.., crott..! Semburan air mani masuk ke dalam mulut seksi Shinta tanpa bisa dihalangi lagi. Shinta pun menelan semua mani itu termasuk menjilat yang masih tersisa di batang kemaluan supervisor itu dengan lahapnya…

    Sejak peristiwa di WC itu, mereka tidak henti-hentinya berhubungan intim di mana saja dan kapan saja mereka bernafsu.., di mobil, di hotel, di rumah si supervisor (bahkan walau sang isteri sedang hamil).

  • Karena Sebuah Kesetiaan Seks

    Karena Sebuah Kesetiaan Seks


    2021 views

    Foto Sex ini berjudul ” Karena Sebuah Kesetiaan Seks ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2018.

    Perawanku – Aku saat itu masih tinggal di kota Klaten, dan masih SMA kelas satu. Aku mempunyai tetangga yang cukup baik dan cukup dekat dengan keluargaku pula. Sering aku main ke tempat tetanggaku yang kebetulan seorang dokter itu karena dia mempunyai anak yang masih kecil dan sering kuajak main-main kalau aku sedang suntuk menghadapi hari-hari yang panas di Klaten.

    Istri Pak dokter itu lumayan cantik, dia berumur sekitar 22 tahun dan baru mempunyai 1 anak yang masih TK. Pada suatu hari kebetulan aku libur karena di sekolah sedang diadakan EBTA, aku ke rumah tetanggaku yang kebetulan suaminya saat itu sedang dinas luar. Suami tetanggaku itu sering keluar kota, karena dia sebagai dokter lapangan. Saat itu kujumpai anaknya yang sedang sibuk mau berangkat sekolah (TK), aku membantunya membereskan mainannya karena biasanya Tante Ana (nama istri dokter itu) mengepel lantai setelah anaknya pergi dan menjemput anaknya setelah jam 10:00 pagi.

    Tanpa sengaja saat aku merapikan mainan anaknya, aku menemukan video XX, tentu saja aku kaget campur malu, karena kebetulan Tante Ana juga ada disitu dan aku memang masih belum nonton gituan.
    Sambil deg-degan aku bilang, “Tante ini video apaan..? keliatannya nggak baek di liat sama anak kecil”.
    “Ah kamu Mon.. anak kecil kan belum bisa nyetel video.. bilang saja kamu pingin liat,” jawabnya walaupun aku sering menunggu di rumahnya sementara dia mengantar anaknya ke TK tapi lumayan juga aku deg-degan akibat itu.

    “Mon, Tante ngantar Adhe dulu ya.. tolong jaga rumah bentar,” katanya sambil lalu.
    Nggak kebayang deh, di ruang keluarganya ada video nganggur, dengan sedikit deg-degan aku mencoba menyetel kaset itu. Rasanya panas dingin deh.

    Sial, tiba-tiba Tante Ana pulang, dan masuk lewat pintu belakang, ketahuan deh.
    “Mon kamu lagi nonton RCTI? rasanya RCTI belum pernah nayangin film gituan?” tanyanya.
    Bagai kesambar petir aku kaget, rasanya lututku tidak mau kompromi alias ndeprok.
    “Mon.. kalau kamu mau nonton bilang dong, jangan di situ, di kamar Tante aja kan nggak enak kalau ada tetangga tahu kamu kayak gituan..”
    “Iya Tante..” jawabku gemetar.

    Kukeluarkan kaset itu, terus kupindahkan video ke kamar Tante Ana. Aku biasa bermain di kamar Tante Ana dengan anaknya yang masih TK itu. Begitu serius aku melihat film, tapi Tante Ana malah tertawa, “Mon.. Mon.. kamu kok culun banget padahal kamu udah SMA.. kamu udah pernah liat film kayak gitu?” tanya Tante Ana. Nexiabet
    “Belum Tante,” jawabku.
    “Sudah pernah pacaran?” tanya dia lagi.
    “Belum Tante,” jawabku lagi.
    “Wah kamu masih super bujang dong Mon..” kata Tante Ana sambil menutup pintu kamar.
    “Sorry ya Mon, Tante mau ganti baju dulu,” kata Tante Ana lagi.

    Wah saat itu aku tambah deg-degan, soalnya di kamar cuma aku dan dia! Tiba-tiba dari belakang Tante Ana memegang pinggangku (saat itu aku duduk di pinggir ranjang). Wah Tante Ana cuma memakai BH dan CD!
    Tan.. te..? kataku.
    “Kamu mulai gagap, kenapa Mon.. biasanya kamu khan suka ndongeng Adhe,” tanya Tante Ana sambil meraba tubuhku.
    Rasanya aku seperti tersetrum tegangan tinggi 20 KV. Aku tidak bisa berkata apa-apa.

    “Tante.. Tante..?” kataku.
    “Apa Mon..?” jawabnya dengan halus.
    “Mon kamu pernah onani?” tanya Tante Ana.
    “Belum.. Tante.. cuma mimpi basah aja..” jawabku sambil gemetaran.
    “Boleh Tante buka celanamu..” tanya Tante Ana sambil mulai membuka ritsluiting celanaku. Kemudian Tante Ana langsung memegang jimatku. Aduh kontan saja aku kaget, namun rasa yang aneh menyelimutiku.

    Tante Ana dari belakangku mencium punggungku dan meremas kejantananku sambil sepertinya merangsang dirinya sendiri.
    “Mon.. Om kan sering dinas luar.. sebenarnya Tante kesepian Mon,” katanya.
    “I.. Iya Tante..” jawabku sambil merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan.
    “Mon.. Tante punya sesuatu.. kamu tiduran dulu ya..” kata Tante Ana mesra.
    “Iya Tante..” jawabku sambil menuruti perintahnya.
    Tanpa kusadari, aku merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti diriku, rasa hangat tersebut berasal dari kejantananku yang diremas-remas dengan sangat halus. Kubuka mataku, ternyata Tante Ana telah membenamkan batang kemaluanku ke dalam liang senggamanya. Sambil menjerit lirih Tante Ana mengurut batang kemaluanku dengan miliknya.

    Wajah Tante Ana mulai kelihatan merah tertahan. Sedetik kemudian kurasakan getaran yang aneh dan mengurut lebih keras batang nikmatku.
    “Tante.. Mon rasanya ingin pipis..” kataku pada Tante Ana.
    “Tahan Mon.. kamu nggak mungkin pipis..” jawabnya sambil terbata-bata.

    Akhirnya ada sesuatu yang memancar melalui batang kemaluanku.
    “Mon kamu.. akh.. ah.. ah..” Tante Ana sambil terbata mendekap erat tubuhku.
    Sekarang rasanya kejantananku tidak begitu merasakan pijatan yang lembut. Kemudian Tante Ana melepaskan batang kejantananku dari miliknya.

    “Mon.. kamu baru pertama ya..” bisik Tante Ana sambil tersenyum.
    “Mon cium memek Tante ya..” kata Tante Ana.
    Aku cuma bisa mengiyakan sambil rasanya kepala ini bingung. Kuikuti perintahnya, kuciumi dan ia meraih tanganku ke payudaranya. Karena aku baru pertama kali nonton apalagi beginian aku agak grogi juga. Namun akhirnya aku agak terbiasa. “Ah.. ah.. Monn.. Monn.. akh..” sepertinya Tante Ana baru merasakan orgasme setelah aku duluan tadi. Kemudian ia memeluk erat diriku, keras sekali. “Tante.. Tante..” aku mencoba mencium Tante Ana yang cantik karena aku sudah tidak kuat lagi. Batang kemaluanku telah mengeras kembali. Kupeluk Tante Ana dengan keras dan kuremas payudaranya dengan kuat.
    “Tante.. tolong Tante..” desahku dengan nafas tersengal-sengal. “Mon.. kamu.. ka.. kamu suka..?” tanyanya sambil nafasnya mulai memburu lagi.
    “Iya Tante..” balasku mesra.

    Kemudian Tante Ana mendudukiku lagi. Karena tahu saya belum berpengalaman, maka dengan dengan dia berada di atasku, dia bisa mengontrol dirinya cuma mungkin agak capek. Kelihatan peluhnya mulai membanjiri tubuhnya, membuat aroma yang begitu khas yang membuatku bertambah hanyut.

    Sepertinya aku saat ini pemenangnya, karena aku merasakan getaran yang lebat dengan denyutan yang sangat sensasional. Air tubuhnya membasahi sekitar kejantananku.
    “Mon kamu sekarang di atas yah.. Tante capek..” kata Tante Ana sambil memeluk keras tidak mau lepas dari tubuhku. Kugulingkan pelan sambil kupagut bibirnya dalam-dalam karena aku hampir sampai dan tak ingin aku harus mulai dari awal lagi.

    Dengan style konvensional (karena yang kutahu baru itu) aku mulai mencoba memaju-mundurkan batanganku untuk dibenamkan ke dalam liang senggama Tante Ana. Rasanya seperti patah pinggangku (karena jarang olah raga kali) Tapi semua terkalahkan dengan rasa yang menyelimuti diriku. Tante Ana sepertinya mulai terangsang lagi, kupeluk dengan kuat sambil kumainkan pinggulku, terus sambil aku berpagutan hingga terasa batang kejantananku berdenyut-denyut dan gesekan dari dinding kemaluan Tante Ana makin kuat.

    “Tante.. Tante.. ugh.. ” aku memaggut bibir Tante Ana.
    “Mon..” jawabnya mesra.
    “Akh.. oh.. oh..” dan makin kupagut bibir Tante Ana.
    “Ihh.. ii.. ahh..” hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir Tante Ana.
    Ternyata kami mendapat orgasme bersamaan. Akhirnya kami terkulai lemas sambil kupeluk dan tetap kupagut bibirnya.

    “Tante.. maafkan Momon.. Momon nggak bisa ngontrol,” bisikku.
    “Mon.. ini salah Tante.. Tante telah meregut perjakamu,” katanya sambil mendesah.
    “Mon.. maafkan Tante, namun kamu jangan kamu lakukan pada wanita lain, cukup kalau kamu ingin, Tante mau melayanimu sampai kapan pun, jangan karena Tante telah menghilangkan keperjakaanmu kamu membalas dendam pada yang lain,” bisiknya.
    “Mon.. Tante nggak menjebakmu.. Tante memang rela hanya untukmu.. Tante kesepian..” balasnya sambil sesenggukan.
    “Tante.. Momon janji..” jawabku sambil memeluknya rapat.

    Ternyata suaminya beberapa tahun kemudian serong karena dia terlalu jauh dari istri dan Tante Ana tidak mau dimadu, akhirnya mereka cerai. Aku pada saat itu telah selesai kuliah dan telah bekerja dan akhirnya aku memperistri Tante Ana walaupun umurku beda dengannya. Untung tak begitu jauh sehingga keluargaku menyetujui. Dia istri yang baik, dia seperti itu karena sudah tahu suaminya mulai serong dan dia menginginkan suatu kesetiaan. Dia tahu saya menyayangi anaknya, dia ingin saya selalu mendampinginya. Saat ini Adhe sudah punya adik yang cantik seperti ibunya buah cintaku dengan ibunya.

    BONUS ++

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Gadisku Yang Nikmat Sekali

    Cerita Sex Gadisku Yang Nikmat Sekali


    2082 views

    Perawanku – Cerita Sex Gadisku Yang Nikmat Sekali, Jam 6.30 pagi dan jam 13.00 siang adalah jam dimana aku harus dan wajib nongkrong di teras rumah kosku. Bukan karena menunggu penjual baso atau siomay lewat, tapi di jam-jam itulah aku bisa melihat lewatnya gadis pujaanku berangkat dan pulang sekolah.

    Ups lupa, perkenalkan, namaku Gunung Purba. Nama itu rasanya terdengar aneh dan unik namun setahuku sih ayahku dulu seorang pecinta alam yang terbiasa naik turun gunung.
    Aku seorang anak kuliah jurusan keperawatan di sebuah akademi keperawatan yang terletak di sebuah ibukota provinsi. Di kota tersebut aku tinggal di sebuah rumah kosan bersama 3 orang teman kuliahku. Mereka adalah dadang, ade, dan basuki.

    Kembali pada sosok gadis yang kubicarakan tadi, ia adalah penghuni salah satu rumah kurang lebih sepuluh rumah sederet setelah rumah kosku. Didepan rumahnya digunakan untuk usaha wartel. Namanya ara, lengkapnya arimbi dara daunmuda. Hehehe namanya juga aneh ya? Mirip salah satu sub-kategori di forum cerita panas semprot saja namanya !. Tapi memang begitulah adanya.
    Gadis yang kukagumi ini sebenarnya bukanlah anak kuliahan seperti aku. Ia adalah seorang anak SMA kelas 2. Tapi pertumbuhan badannya begitu pesat dan subur (kecuali tinggi badannya yang masih sekitar 157 centimeter) untuk anak belia seumurannya. Ku taksir umurnya sekitar 15 atau 16 tahun. Hanya saja onderdil orisinilnya sudah tumbuh sempurna layaknya gadis seumuran anak kuliah. Bayangkan saja, dengan umur sedemikian muda namun bongkahan dadanya begitu terlihat membulat indah dengan ukuran bra yang lagi-lagi kutaksir (tukang ramal kaleee…) sudah sekitar 34. Belum lagi sekal, montok dan bahenolnya pantat yang padat berisi. Dipadu dengan ukuran paha yang proporsional dan betis yang langsing. Sungguh membuat aura kewanitaannya begitu kuat terlihat dalam balutan seragam SMA nya.
    Selain daya tarik yang aku sebutkan diatas, wajahnya itu lho…wajah yang mengingatkanku pada sosok penyanyi alda. Namun yang ini sedikit ditambah bumbu timur tengah. Bisa dibayangkan wajah yang bersih mulus dengan hidung mancung dan raut muka yang sensual. Rambutnya bergelombang panjang sebatas setengah punggungnya. Bila berjalan, dadanya membusung karena tertekan baju seragam sekolahnya yang press body. Pantatnya juga wahh banget saat memakai rok sekolah yang lumayan ketat.

    “permisi dik…ada yang kosong kbu nya?” Tanyaku saat muncul di wartel ara dan tentu saja bertemu ara.

    “iya mas tuh masih kosong semua kok !” Jawab ara terkesan tegas dan agak jutek. Memang itulah daya tarik tersendiri bagiku. Aku entah kenapa selalu suka pada cewek dengan jenis karakter tegas, jutek, judes, galak, atau yang sejenisnya itu. Rasanya bakalan binal di ranjang….hahaha…

    “halooo…siapa nehhh ???” Ucap ade di telepon dengan bermalas-malasan.

    “aku nyong…Purba…” jawabku. Memang aku biasa memanggil ade dengan sebutan inyong karena memang dia berasal dari daerah ngapak-ngapak.

    “aseemm…ngapain kamu pakai telepon segala? Gangguin orang tidur saja !!” Timpal ade dengan bete.

    “uhhh nyong….cakep bener ya nih cewek…muda belia lagi…hihihi” ucapku lagi.

    “edan kau dul….dasar otak mesum ! Udah sana nikmatin idolamu…aku mo bobo manis !” Balas ade.

    Keluar dari wartel adalah waktu yang aku tunggu-tunggu. Waktunya bayar adalah waktunya ketemu dan mencuri pandang kearah ara…huhuiiii…

    KRIEKKKK…KRIEEKKKK…
    begitulah bunyi printer wartel mencetak struk percakapan saat kuletakkan gagang telepon ke sarangnya.

    “berapa dik?” Aku berdiri di depan meja kasir sambil bertanya ke ara.

    Tak ada jawaban.

    “dikk…adikkk…berapa???” Ku ulangi lagi pertanyaan yang sama pada ara.

    “ohhh iyaaa ya mas ehhh ini anu…dua ribu mas” jawab ara seperti terkaget sambil matanya tak lepas dari layar komputer operator yang ada dihadapannya.

    Aku membayar dengan sambil tetap memandangi wajah ara yang terkesan seperti salah tingkah.

    “aduh mas kegedean uangnya…bayar dua ribu aja kok uangnya limapuluhan sihh…ada uang pas ga??” Ucap ara kemudian dengan agak bete.

    “satu-satunya harta terakhir yang kumiliki dik hehehe…” aku menjawab sambil cengengesan.

    “owww…ya udah bentar ya…” Ara membalas singkat sambil berlari ke dalam rumah untuk mengambil uang kembalian. Kuikuti langkah kakinya dengan mataku. Pantatnya bergoyang indah sekali.

    Merasa penasaran pada apa yang diperhatikan ara di layar komputer, perlahan aku mencoba melongok ke balik komputer itu.

    Busssyyyetttttt..!!!
    “filem belu brooooo…gila…!!!” Batinku.

    Sesaat kemudian nampak ara melenggang mendekatiku sambil membawa uang kembalian.
    “kok sepi dik…papa mama emang lagi keluar? Adik kamu juga ikut ya?” Ucapku sopan.
    “ihh mas tanyanya kayak detektif aja !…iya sepi mas…pada kondangan ke tempat sodara, kenapa emang ? Mo godain ara? Jangan macam-macam ya !!!” Balas ara si galak dengan mendelik. Aku hanya tersenyum kecut namun tak juga beranjak dari tempat itu.

    “nungguin apa mas??? Kembaliannya kurang?” Tanya ara ketus saat melihatku tak kunjung beranjak pergi.

    “eehhmmm ga sihhh…tapii…..cuma mo tanya…sudah lama suka sama pilem begituan?” Balasku sambil mengedip nakal ke arah layar komputer.

    Ara sepertinya terkejut dan melotot kepadaku.
    “hheeehh mas ngintip komputer ara ya ??? Jahil banget sih jadi orang !! Awas ya kalau sampai cerita ke papa mama !!” Bentak ara.

    Cliiingg !!!
    Tiba-tiba aku seperti mendapatkan inspirasi layaknya penulis cerita panas semprot yang secara spontan dapat ide baru dalam penulisannya.

    “kenapa pakai ngancam sih ??? Aku sih santai saja asal ada satu syarat !!” Imbuhku sambil mencoba suaraku kubuat berat layaknya seorang perampok yang menodong korbannya.

    “ehhmmm maaf deh mas…bukannya gitu…Ara Kan takut juga kalau papa mama tahu…syarat apaan sih…??? Jangan yang aneh-aneh ya !!” Ucap ara agak mengendur.

    “iya…tenang aja…syaratnya ga sulit kok…cuma ingin bisa jadi teman dik ara” jawabku tanpa sungkan-sungkan.

    “jiaahhh mas mas…mo ngomong begitu aja susah banget…iya iya…Ara Jadi temen mas deh…tapi ya jangan panggil dak dik dak dik begitu dong…kesannya ara seperti bau kencur banget…biasa aja…panggil ara…ok?” Balas ara dengan bonus senyum.

    Aku tersenyum dan mengangguk. Akhirnya akupun tak jadi pamit balik ke kosan. Kita berdua asyik ngobrol sambil menemani ara yang menjaga wartel. Tak terasa hari telah beranjak siang.

    “aku buatin mie rebus ya masss” Ucap ara padaku.

    “boleh deh…” jawabku. Yah anggap saja sekaligus pengiritan. Namanya juga anak kosan…hehehe..

    “ya udah…tolong dong bantuin tutup rolling door nya, nanti buka lagi jam 5 sore” imbuh ara lagi.

    Aku segera beranjak menutup rolling door wartel.

    “mas…abis tutup wartel langsung aja ke ruang tengah ya…disana ada televisi…mas santai aja disitu dulu sambil nungguin ara selesai masak” teriak ara dari dalam rumah.

    singkat cerita, aku sedang mengunyah mie rebus buatan si cantik dengan penuh semangat. Teh manis juga telah dihidangkan ara sebagai pendamping makanan itu.

    “hihihihi…lucu juga kamu mass…makan kok kayak mesin selep tebu…asal telan aja..apa ga panas tuh?” Ucap ara sambil tersenyum geli memandangku yang sedang mengunyah mie dengan lahap.

    “kalo ada lomba makan mie, aku paling jago…dijamin dehh..hehehe” balasku dengan agak membusungkan dada.

    tanpa kusangka, dicubitnya dadaku yang sedang kubusungkan itu. Aku mengaduh kesakitan.

    “hihihi…rasain…dasar congkak !!!” Cibir ara sambil menahan senyum.

    “huuhhh dasarrr…!!!” Balasku sambil mengacak-acak rambut ara dengan kesal.

    Selesai makan, kita asyik nonton televisi berdua.

    “ehhh ra…setelin pilem belunya dooong…” ucapku tiba-tiba dengan wajah memelas.

    Plukkk !!!
    Tamparan ringan di pipiku menjadi jawaban atas ucapanku tadi.

    “hehh mister cabul….tak usyahhhh yaaa!!!” Bentak ara sambil melotot namun sambil menahan tawanya. tapi ternyata itu hanya gurauan ia semata. Nyatanya ia beranjak juga ke dalam kamar dan sejurus kemudian sudah keluar kamar dengan membawa sebuah dvd polos tanpa gambar bertuliskan love & live.

    “ada syaratnya kalo mo nyetel beginian disini !” Ucap ara sambil berjalan kearahku. Lenggak-lenggok jalannya bikin mules saja hihihi.

    “apaan mbak sist syaratnya?” Tanya ku super penasaran sambil mengkerutkan kening. Tapi mengkerutnya kening itu buka karena penasarannya tapi karena pusing setelah melihat lenggak-lenggok jalannya ara tadi… xixixixi.

    “resiko ditanggung penumpang, aku ga mau tanggungjawab !” Balas ara.

    “lha kan ada kamyuuu…menerima dan menyalurkan hasrat kan ???” Tanyaku nyengir.

    Toooeenggg…!!!
    Bantal kursi sofa berukuran 30 cm x 30 cm dengan ketebalan sekitar 10 cm dan berat kurang lebih sekitar setengah kilogram telah nangkring di kepalaku, buah karya tangan ara sebagai ganti dari jawaban atas pertanyaan sablengku barusan. Aku hanya pura-pura manyun.

    Ceklekkk…Srriuutttt…Ccreetttt…
    suara disk setelah dimasukkan player dvd.

    Blaaablaaa..bla..bla..
    suara dialog awal film yang tidak terlalu penting bagiku karena memang es degan panas..uppss salah…adegan panas lah yang hanya ku tunggu.
    Tampak disana si cewek baru melepas handuknya sehingga nampak tubuh polosnya. Ia berjalan menuju meja rias untuk berdandan. Sungguh pemandangan indah luar biasa. Udah putih, cuantiik, langsing perutnya, pantatnya semlohe, dadanya manyun gede, bbbrrrrr…..bikin ngilu saja hehehe.
    Saat si cewek berdiri didepan cermin tiba-tiba seorang cowok datang dan merangkulnya dari belakang. Si cewek hanya tersenyum dan berbalik. Sambil berhadapan, mereka mulai saling melumat bibir. Si cewek membantu si cowok melepas seluruh pakaiannya. Tuiiing….menyembullah batang si cowok yang bikin mendelik si cewek itu. Busyettt…gede dan panjang banget. Seukuran apa ya….ehh…itu lho seukuran gethuk pisang yang dari kediri…tahu kan ??? Tapi yang ini hampir dua kalinya gethuk itu…swearr… Si cewek terlihat takjub dan terpukau. Namun tanpa sungkan-sungkan ia menyambar si gethuk pisang dan mulai mengulum dan menjilatinya. Ku lirik ara yang duduk di sebelahku, nampaknya dia agak berubah roman mukanya.

    Plekkk…
    “apaan sih mass….!!! Udah sana nonton” ucap ara sambil tangannya menepuk pipiku dan tersenyum malu-malu-mau.

    Dengan sigap bin lincah ia terjang si cewek hingga tertelentang dan dengan beringas menjilati lobang ehem si cewek. gantian sekarang si cewek merem melek dibuatnya. Aku yang memperhatikan ‘kegiatan’ di layar televisi itu menjadi panas dingin sendiri.
    Tanpa peduli ara bakal marah atau tidak, aku rangkul pundak ara dan aku tarik kearahku. Dengan cepat ku sambar bibirnya dan berusaha ku kulum. ternyata ara hanya diam saja. Lambat laun mulutnya juga merespon kulumanku dan berusaha mengimbanginya. Semakin lama semakin bersemangat dan menggebu-gebu.

    “eehhhmmm…mas mas….sudah ya…stooppp…stttttopppp…berhentiii…..Ara Udah punya pacar !” Ucap ara menghentikan aksi ciuman kami.

    Dueerrr….Tuwingggwing wingg…plekkkk….
    anganku yang sudah melambung jauh tinggi hingga ke awan tiba-tiba tersambar petir, jatuh berputar-putar, dan akhirnya menghujam bumi….uhhh…
    Si anu yang tadinya udah berdiri dengan sikap sempurna kini mengendur dan lama-lama terkuai lemas. Mood-ku benar-benar amblas sirna. Aku jadi murung dan memandang layar televisi dengan tatapan kosong.

    “ya udah dehhh…sori…aku balik dulu ya…udah mo sore” ucapku dengan wajah cool abis.

    “yaaa…mas kok ngambek gitu…di sini dulu dehhh…!!!” Balas ara dengan prihatin (sok prihatin mungkin pastinya).

    “ga ahhh…besok-besok aja aku maen lagi..” lanjutku.

    “sttttt…hehmmm…ya udah terserah mas…tapi minta no hp nya mas dong…siapa tahu wartelnya butuh orang jaga besok-besok !” Balas ara lagi sambil menghela nafas.

    Seminggu kemudian di kamar kos ku…

    Seputih cinta ini, ingin kulukiskan di dasar hatiku, kesetiaan janjiku, untuk pertahankan kasihku padamu…

    Cklekkkkkk !!!
    Kumatikan saja radio yang sedang memperdengarkan lagu kerispatih-tak lekang oleh waktu. Berisik ah…apaan lagu cinta-cinta-an. Prettt…

    Apakah ini cinta…datang menyeruak dalam jiwa,
    sesakkan jiwa, dan kini ku terluka…

    ranah jiwa sedang kering kerontang, desiran angin terbangkan sampah dedaunan,
    kosong dan hampa tercipta, sinar mataku siratkaan nestapa….
    hikks…hikss… kucoba merangkai puisi atau rintihan jiwa atau apalah itu ku tak peduli. Yang penting aku bisa melipur jiwaku yang sedang luka. Wajah ara melintas di benakku dan aku semakin merana. Tapi memang apa hendak dikata, cintaku terluka hnya karena anak SMA belaka…whattt??? SMA ??? Shiittt…!!!

    Ting tong ting teng…
    Bang…MAS…TUAN…ADA Smsss…
    teriak suara doraemon dari hp ku yang cukup mengejutkanku. Nomernya tidak dikenal. Kucoba membaca isinya,

    “mas minta tolong, bisa jagain wartel siang ini (sekarang) ??, Orang rumah lagi kerumah nenek yang sakit, aku juga kurang enak badan nih…tolong ya…makacih..ARA”
    wowww…Ara. Tapi ku masih bete dengan kejadian minggu lalu. Dengan berat hati kulangkahkan kaki menuju rumahnya mengingat kasihan juga pada ara yang sakit tapi ga ada yang bisa dimintain tolong.

    “ara….ara…kamu dimana?” Teriakku dari depan pintu rumahnya.

    “masuk saja mas, aku dikamar lagi tiduran, ini kuncinya wartel di aku” jawab ara.

    Ku berjalan memasuki rumah yang lengang itu dan menemukan ara dibawah tumpukan pakai kotor…upss hehe salah…di atas ranjang dengan berselimut rapat.

    “mas ini kuncinya, tolong dibuka seperti biasa. Nanti kalau capek, ditutup dulu sebentar ga apa-apa” ucap ara dengan agak lemah.

    “lho ara sakit apa? Udah bilang ortu? Pacarnya mana kok ga nemenin?” Tanyaku gencar.

    “belum bilang mama papa sih mas, nanti juga mendingan. Kalo pacar ara sih tadi udah di sms, tapi katanya lagi ada job penting jadi ga bisa kesini, cuma mas yang dengerin keluhan ara…makasih ya mas..!!!” Balas ara.

    Kudekati ara dan aku mencoba ngobrol untuk menemani dia sementara waktu. Akhirnya ku tahu bahwa pacar ara bukanlah anak SMA seperti ara melainkan seorang pegawai yang umurnya sedikit diatas umurku. Ternyata selera ara yang dewasa ya hiihiihiii.
    Dari obrolan itu aku juga akhirnya tahu bahwa pacar ara jarang sekali ketemuan dengan ara. Terakhir ia kelepasan bahwa ia akan minta putus dari pacarnya.

    “lho…kok minta putus…hayooo…punya gebetan baru ya ??” Ledekku pada ara.

    “sebel aja mas…bete…punya pacar tapi kemana-mana sendirian…mintanya yang enak aja tuh dia” ucap ara dengan ber api-api.

    “hahh…minta enaknya yang gimana?” Tanyaku menyelidik.

    “hhhemmm hehehe…ya itu mas…itu tuhhh masak ga tau sihhh…mainin itu ama masukin itu ke ituuu…hihihi” balas ara dengan agak memerah wajahnya sambil ia menutup mukanya karena malu.

    “udahhh ah mas malu…lagian sebenarnya ara lagi berbunga-bunga…ada cowok yang perhatiaannn banget ama ara akhir-akhir ini…jadinya ara makin sebel ama pacar ara itu” imbuh ara lagi.

    Clingggg…!! (muncul gambar lampu bohlam diatas kepalaku)
    secara tidak langsung aku langsung paham lah. Ternyata ara sudah pernah begituan dengan cowok. Pantesan aja dia kelihatan ehemm menggoda gitu hehehe. Tapi…siapa ya cowok yang perhatian sama ara akhir-akhir ini? Bikin penasaran saja. Yang pasti aku ga boleh kalah sama tuh cowok.

    “badanmu panas ra, sudah minum obat belum ?” Ucapku sambil memegang kening ara.

    “iya sih mas agak demam gitu, tapi tadi udah minum obat kok, kebetulan ada kotak p3k di rumah, cuman ni kepala rasanya pusing banget mas !” Jawab ara sambil memegang kepalanya.

    “oww pusing, sini aku pijitin…jelek-jelek begini tapi suka jadi langganan teman-teman buat pijet gratis hahaha” lanjutku.

    “kok jelek? Ganteng kok hiihihi..” timpal ara sambil terkekeh. Terlihat dia berusaha membuka selimutnya dan hendak bangun untuk siap dipijit.

    “yeee…tumben bilang ganteng…mentang-mentang minta pijit gratis pakai merayu segala !!!” Semprotku sembari mencibir. Tapi swearrrr rasanya begimana gitoh saat dia bilang ganteng….hhrrrrr….

    Segera kubantu ara membuka selimutnya, tapi saat selimut itu telah selesai seluruhnya terbuka waduuuwww ampunnn dj…..Ara Cuma pakai lilitan handuk brooo…CDnya Kelihatan…aw aw awww…jadi inget pilem yang diputer seminggu yang lalu itu hihihi…

    “lho…kokkk???” Tanyaku tak kulanjutkan namun sambil mulut ternganga takjub.

    “ehhhmmmm iya tadi abis mandi berasa badan meriang, ya udah minum obat terus tiduran disini…belum sempat ganti baju…hayooo….mesum lagi nih pikiran mas !!!” Jawab ara membuatku salting alias salah tingkah dan laku.

    “owwhhh….yyaa yaa… udah ss ini aku pijitin…menghadap belakang gih, pundaknya mo ku pijit” lanjutku dengan grogi sambil memberikan instruksi.

    Pijit pundak kanan, pundak kiri, leher belakang, tepi ketiak, lalu…

    “ra, ini mo dipijit punggung belakangnya…biasanya sih kalau masuk angin perlu di pijit yang bagian sini..” ucapku sambil menyentuh punggungnya yang masih tertutup handuk.

    Tanpa bicara dan tanpa ada keraguan ara spontan huhuii membuka handuknya. Topless lah dia. Cuma pakai cd doang warna unggu ehh ungu. Ctuing ctuing gitu deh jadinya si anu ku. Ya memang sih bagain payudaranya tak terlihat karena menghadap depan tapi lekuk tubuhya yang juelas terlihat itu malah bikin gantian aku yang puyeng.
    Perlahan ku pijit bagian punggung yang ku sebutkan lagi. Sesekali jariku sedikit menepi sehingga sedikit menyenggol tepian payudara yang ternyata hhhiiiiii empukkkkk banget bro…

    ” ehhhh masss…ganjen lagi ya…cabul lagi ya….!!!” Bentak ara padaku.
    “upppsss soriii ga sengajaaaa!” Balasku takut-takut.

    “hihihihi… becanda mas…ga apa-apa kok, namanya juga tukang pijet ya pastilah mijitin yang penting-penting hihihi…udah sana lanjutkan !” Ara menimpali dengan tersenyum dan berucap agak genit.
    Cessssss….rasanya hatiku mendengar itu. Aku sudah takut bukan main tadi saat dia ngebentak. Tapi…semua hanya mimpi..ehhh salah….semua hanya becanda. Horeeee…

    Kulanjutkan dengan pijitan ‘serius’. Ara pun sudah mengatakan kalau kepalanya sudah enakan. Tapi yang namanya jariku tak mau berhenti. Mijit dan mijit kian kemari, mendekati gundukan tepi payudaranya. Semakin lama semakin merayap ketengah payudara. Ara hanya diam dan sesekai menggeliat geli. Begitu kedua bukitnya sudah penuh tertelangkup tanganku, segera kutarik dia kearahku. Menempel lah punggungnya ke dadaku. dari arah samping ku sambar mulutnya yang sedikit ternganga menahan geli. Ara menyambutnya dengan lembut. tautan lidah dan sedotan bibir bergantian semakin lama semakin menggelora. Remasan tanganku didadanya pun juga semakin bervariatif. Remasan dan pilinan ku kombinasikan sesuka hati.

    “uuuhhhmmmmmmmmmm” ara melenguh panjang dengan bibir masih dalam pagutanku. Ia merasakan geli yang teramat sangat pada putingnya yang terus kupermainkan.

    “uuuhhh maass masss..gelii auhhhh yaaa yang itu nahh nahhh ahhhh awwww ahhh masssss” ara menarik mulutnya dan berhamburanlah kalimat desahan yang indah dari mulutnya.

    “ehmmm mass…auuuhh aduhhh ssstttt masss gilaa mass geliii bangettt taphiiii eennn ennn ennakkk masss aduhhh sssttttt massss auhh” desah ara semakin menggila.

    Ara kudorong untuk berdiri sedangkan aku masih dalam posisi duduk di tepi ranjang. Ku bantu ara untuk membuka cd unggu nya eehhh salah lagi…ungu.

    Woowww…sekarang dia full bugil brooo. Memang indah ya tubuhnya. Wajahnya cantik, kulit putih, hidung mancung, rambut bergelombang sensual, dadanya haiiikkk gede juga, bulet kenceng lagi dadanya, putingnya merah muda abis, pantatnya montok bahenol, waahhh gitar spanyol banget deh. Gila… masih anak SMA brooo… gimana dewasanya nanti yahhh…
    Kupeluk dia dengan posisiku tetap duduk sehingga otomatis bukit payudara montoknya pas menyumpal mulutku dengan sukses. Ku kulum dan kujilat putingnya dengan gemas. Kumainkan lidahku dengan getaran cepat untuk menggelitik puting itu. Bukan itu saja, tanganku pun ikutan gotong royong dalam meremas dan memilin sesuatu yang perlu di pilin hohohoho..

    “aihhhh masss….geliiii lebihhh geliii dari yangg remmasann tadii ahh aaayhhh mass benerannn enakkkkk mass” rancau ara menyeruak lagi.

    “diemuttt masss yang dalemm uhhh ennn ennn ennak masss aauhhh sssttttttttt…..masssssssss” ara kian menggeliat dan mendesis seperti ular sanca.

    Dengan sedikit membungkuk ku berpindah daerah kekuasaan ke arah sela sela selangkangannya hhehe. Slurrppp…satu jilatan mendarat tepat di daging enak milik ara. Ara terjingkat kaget plus geli. Ku ulangi lagi jilatan dan makin bertubi-tubi. Lidahku pun mengorek-ngorek sejauh yang bisa dijangkau lidahku. Lobang ara yang masih cukup sempit itu ku bor dengan ujung lidah getarku. Sesekali ku emut klitorisnya dan ku gigit-gigit kecil. Ara mengejang-ngejang hebat tanda…suka.

    “auuuhhh aw aww awwwhh masss auuhhh iiihhhh stsstttttt ehhmmmm masss” desah ara sambil mendongakkan kepalanya.

    “auuuww masss teruuusssss ahhhh auuuhhh klitnya mas yang seringgg ahhh ahhh sssttt ahhhhh” sambung ara sambil meminta bahwa ia suka klitorisnya di kerjain lagi.

    “sstt nahhh nahhh ituhhh masss sssip ahhhhh enakkknyah auuhhh sttttt waaaahhh aahhhh” ara semakin menggila.

    Kudorong ara agar menungging dengan berpegangan tangan di bibir ranjang. Kakinya kubuka lebar. Lalu kujilati lubang anusnya dengan tanpa jijik. Bagiku semua yang ada di tubuh ara adalah keindahan dan keindahan.
    Slurrppp…sluuuppp ku jiat lubang itu dengan penuh semangat dan nafsu. Ara mengejang kaget dan kegelian.

    “ahhh hihi…hii mass ahhh nakal banget sihhh….kokk lobang ituuhh yang dikerjainnnn ahhhh tapiii gelinyaaa aduhhh terusss ajahhh dehhh auuhhh massss…pacarkuu ga pernaaahh gini innn akhuuu uuhhmmmm” ara mencoba berbicara dibalik desahan manjanya. Dia sudah lupa bahwa seminggu kemarin telah menolakku. Dia sudah lupa bahwa aku bukan pacarnya. Dia sudah lupa dan lupa karena yang ada dalam benaknya sekarang hanyalah kenikmatan tak berujung.

    Berpindah lagi ku ke bagian memey nya yang merekah itu. Kujilat bergantian secara searah dengan anusnya. Membuat ara menggeliat meronta namun pasrah. Saat ku jilat anusnya, jariku ikut mengobok memey dan klitorisnya. sebaliknya, saat ku jilat memey nya maka jariku sibuk menembus anusnya. Ara menjadi bingsatan karenanya.

    “auuhhh mass aiiiihhhh aduhhh apaan masss diapain aja nihhh auhhh ennaakkknya masss janagnnn berhentiiihhh aauhhhh masss terussiiinnn ahhh aahhh” ara mendesah dan berteriak keenakan.

    Semakin ku percepat kocokan dan gesekan didaerah memey dan klit-nya saat kujilat anus indahnya. Alhasil ara semakin dibuat melambung dan menggila.

    “auhhh masss aduhhh auuuww sssssttttt ahhh aduhghhh gannteng…enakkk sedapppnya masss ahhhhh awwwhhhhh” ara menjerit sejadi-jadinya. Dalam hatiku merasa gembira sekali saat ia menyebutku ganteng hehehe.

    “eeehhhhmmmmm masss enakkk terusssss akkku berrasa mmmoo mmmmo nyammmpaiiiii sssstttt ahhhhh terusinnnn yangggg di klitt kuuuhh ayyyoooohhh etrsss ahhha ahhh awww assststttttt aaaahhhh wwwwssssytttt ahhhhh mmmmassss affffttt aarrrgggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh……..” Ara merancau tak terkendali dan akhirnya memuncratkan cairan orgasmenya. Meski tidak banyak namun tetesan cairan nikmat itu terlihat sibuk berebut keluar dari memey ara dan berdesakan mengaliri paha hingga betis ara.

    Ara bersimpuh di lantai dengan bertumpukan lutut dan kepalanya lemah tersandar di bibir ranjang. Ara tak tahu saat itu aku sudah muai melucuti pakaianku hingga polos los los. Tanpa menunggu lama, kutarik pantat ara untuk menungging lagi. Ku gesekan ujung palkon (kepala kontol) ku di bibir memeynya yang basah kuyup. Ara terhenyak kaget, namun tangannya segera mengarah kebelakang untuk menuntun kontay ku menembus memeynya. Lagi-lagi ara terbelalak terkejut saat memegang kontay ku.

    “hahhhhh….gede sekali masss kontolmuuuhhh…ssttttt jadi berasa takut-takut massss….cukup ga yaahhh…sakittt ga yaa…jadi inget yang di film yang kita tonton kemarin…segede iniiihhh ehhhmmm pastinya penuh dan enakk nihhh !!”ucap Ara dengan genit-genit menggemaskan.

    Memang batang kontay ku tergolong cukup berbobot dan berkelas. Dengan panjang 17 cm dan diameter se gede versneling mobil pastinya akan membuat cewek indonesia mendelik. Ini berkat ilmu pijitan dari kakekku dan juga ritualku yang rutin merendam dengan berbagai ramuan jamu.
    Ara mengarahkan batangku dengan perlahan namun pasti ke memey nya. Awalnya agak susah. Mungkin karena si memey kaget menerima tamu baru yang super oye ini. Namun si memey memang pinter, digoyang dikit-dikit dia langsung bisa menyesuaikan dan bahkan berusaha menelannya.

    “hhhemmmmm masss stttt…padat merayapppp hihiiihi…uhhh stttttt hhhhmmmmm” desah ara sambil mencoba becanda namun terganggu oleh desahannya sendiri.

    “baru separooo…hhmmmm…peret seret juga memey kamu cantik !” Balasku dengan gemas.

    “apahhhh separooo….uuhhhhhmmm….segini aja sudah sedapphhh aphhaalagii sstttt semuanyahhh nanntiii uuuhhh ehhhmmmm masss ssstttt” timpal ara sambil terus mendesis dan mendesah karena perlakuanku yang terus memompa dengan lembut dan pelan-pelan menghanyutkan.

    Bblllesss !!!
    Dengan satu tekanan tenaga penuh kulesakkan sedalam mungkin kontay ku ke memey ara. Sejurus kemudian goyangan dan tusukanku yang awalnya pelan berubah menjadi super cepat dan dalam.

    “aaaaawwwwwhh masssssssssssss…..auuh aw aww awww awww awww sttttt masss aahhhh ampunnn enakkkk massss aahhh terusssshhh aahhhwwhhhhhhh” ara berteriak tertahan. dari mulutnya keluar erangan erotis yang membuat suasana begitu bergairah.

    “eehmmm ra, memey kamuuu eehhmmm enakkk sempittt legittt !! Ucapku sambil terus menggoyang cepat.

    “iyahhh masss sempittt tapi dapat kontol gedeeehhh jadiii eehhmmm nya eeehhhh enn ennnakkk sssttta ahhhhhhhh masss terusss…aku mau terusss lagi….lagiii…besok juga lagi…lusa lagiiihhh aahhh mass beneran gilaaa ahh ahh aww awa aww masss enakkkk mass ssstttt ahhhhhhh !!!!” Ara merancau dan berteriak tak terkendali. 10 menit dalam posisi nungging membuatku lelah juga. Dengan tetep menancapkan kontay di memey ara kugendong dia dan sekarang kami sama-sama duduk berpangkuan namun wajah ara membelakangiku. Kugoyang dari bawah memey ara dan iapun merespon dengan ikut turun naik di kontay ku. Tanganku berusaha meraih payudara ara dan meremaskan keras sambil menusuk-nusuk dalam ke memey nya.

    “ahhh masss hhhhhhrrrr masssss hhekk hekkk hekkk ssttt ahhh” ara mendesah sambil menggoyang pantatnya sendiri naik turun dengan menghentak keras.

    “masss….gilaaa kuattnya mass inihhh…pacarkuuhhh palinggg 5 menittt sudahhh muncrattt…ini mashhh ampunnn bikin akhhuuu ketagihannn ajaahh…masss auuuhhhhhhh” ucap ara disela raungan mulutnya.

    Aku mencoba lagi dengan posisi lain. Ku tengkurapkan ara dengan kaki tertutup rapat. Kontay kudorong menembus sela-sela kakinya yang rapat itu menuju memey ara yag tentunya mengatup rapat pula.
    “auuhhh masss….gilaaaa…gedenya berasa banget pakai cara begiini auuhh mass ah ahhha awwwwwwwwwwwwhhhh” ara menjerit tertahan oleh sumpalan seprei di mulutnya.

    “auuuh masss….benerannnn auuh auuuhh teruss yang cepettt ahh ahhhh aaahhhh sssttttttt” ara terus saja merancau.

    Kudorong dan kutusuk memey ara dengan cepat dan dalam. Akupun merasakan pilinan dan empotan yang sangat dalam posisi ini. Dunia seperti begitu indah.

    “eerrhhhghhh mass aahh ahh ahhhh akkhu ga kuattt ahh amhhhmmm…mauu mauhhh keluarrrghh lagihh aah ahhha hahhh ahhh awaaww aaaargghhh masssssss maaasss purbaaaaaa ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” ara menjerit lagi dan kurasakan kontay ku disirami sesuatu yang hangat di dalam sana. Ara mencapai orgasmenya yang kedua.

    “tungguu ggghh aakhuu jugga ggggrrhhhh mauu ccroooottttttttttttttttttttt ahhhhhhhhhhhh” aku merasa tak kuat lagi menahan sempitnya memey di posisi itu. Akhirnya klimaks kucapai juga dengan empat sampai lima crottt di memeynya.

    Kami tergeletak lemas dengan dilelehi keringat hasil perjuangan bersama. Ara memeluk manja di dadaku seakan meras sangat bahagia.

    “ra…sebenarnya akuu…jatuh cinta sama kamuu…”ucapku malu-malu.

    “iya…Ara Tahu…emang mas tahu siapa laki-laki yang ara bilang penuh perhatian dan mencuri hati ara?…itu mas…ya mas purba…tapi mas tahu kan…Ara Punya pacar…jadi sedikit bersabar ya…kalau jodoh nanti kita pasti bisa bersama” jawab ara sok berpetuah sok tua. Tapi memang ada benarnya juga.

    Aku hanya mengangguk setuju sambil berpikir.
    “ahhh biarlah ara jadi pacar orang lain….yang penting tubuhnya milikku hehehe!” Lamunku dengan sok berjiwa master permemek…halahhh purba…purba..

    “ra, kalo kamu hamil gimana? Pacarmu bisa marah besarrr !!!” Tanyaku pada ara.

    “tenang saja mas…Ara Udah biasa minum obat seperti saat main dengan pacar ara” jawab ara santai.

    “ehhmmm mass jangan tersinggung ya…sebentar ara mau telepon mas ryan, hanya sekedar memastikan dia jadi kesini atau tidak…” ucap ara lagi.

    “iyahhhh…” jawabku pendek.

    Ara segera duduk dan memencet tuts hp nya kemudian meletakkan ditelinga.

    ” halooo mas ryan…” ucap ara.

    “ehhhmmm ini ara ya….saya lihat namamu muncul di hp ryan…ada perlu apa? Kamu apanya ryan ya?…kenalin aku cintya tunangannya ryan….Ryan Lagi ke kamar mandi tuh..” seseorang wanita berbicara di hp ryan.

    Duuuerrrrr !!
    Ara kaget sekali mendengarnya.

    Tanpa berbicara ara segera menutup telepon itu dan berbicara padaku,

    “mas temenin ara sebentar..ke kosan mas ryan…ada yang ga beres…buruannn !!!” Ucap ara panik.

    Sekian menit kemudian ara sudah duduk diatas motor bututku yang melaju membelah jalan menuju kosan ryan. Sampai disana pintu kamar ryan tertutup rapat. sayup-sayup terdengar rintihan suara manusia sedang memacu hasrat birahi kepuncak asmara. Ara semakin yakin pada kata-kata cintya tadi.

    Doook.dok Dookkk..
    Ara mengetuk pintu kamar itu dengan agak keras. Agak lama menunggu. Semenit kemudian muncul cintya membukakan pintu dengan hanya berbalut kain bali dari atas dadanya hingga menjuntai ke lantai.

    “mbak cintya ya???” Tanya ara menyelidik.

    “ehhh iyaa…siapa ya?” Jawab cintya sambil bertanya balik.

    “saya ara yang tadi telepon, apa benar mbak itu tunangannya mas ryan ?” Tanya ara lagi.

    “iya…ada apa dik?” Jawab cintya lagi dengan wajah bingung.

    tanpa menjawab pertanyaan cintya, ara segera menerobos masuk ke dalam kos itu. Aku mengekor dari belakang di ikuti cintya dibelakangku dengan wajah semakin bingung.

    “hehhh mas ryan…tega-teganya ya ngebohongin ara !!” Bentak ara saat bertemu ryan di dalam kamar itu.

    “eh ara…ada apa ini…kok dateng-dateng ngomel gitu !!” Balas ryan terpancing emosi ara.

    “mas kenapa ngaku bujang…ini mbak cintya bilang kalo dia tunangan mas…tega ya mas berbuat begitu…Ara Malu dengan mbak cintya masss….kasihan dia…sudah tunangan kok dibegituin !” Ucap ara lagi dengan ketus.

    “iii yya…tapi kita bicarakan dulu yaaa..” kata ryan lagi dengan tegang.

    “ga perlu…dasar lelaki pembohong…mulai sekarang kita putusss !!!” Bentak ara sambil melotot menakutkan.

    “sebentar ara…!!!” Sahut ryan sambil menarik tangan ara. aku yang merasa tidak senang dengan ryan sejak awal spontan menepis tangan ryan yang berusaha menghentikan langkah ara.

    “hehhh looo…!!! Siapa looo…jangan sok jadi pelindung ara ya…!” Bentak ryan padaku.

    “aku kakaknya ara…kamu sudah deh sana urusin calon istrimu…siapin pernikahanmu…ga usah maen api sama cewek laen!!” Balasku sambil membentak tak mau kalah.

    “brengsek loo ya, gue tahu…pasti lo kan yang tukang ngomporin ara supaya nyelidikin gue ?!!” Bentak ryan lagi.

    “kalo aku yang ngomporin, emang kamu mau apa ? Kalo enggak pun, kamu mau apa?” Jawabku enteng sambil mencibir.

    “bangsat lo….!!!!” Prakkkkkk…!!!
    Ryan mengumpat emosi sambil melayangkan satu pukulan ke rahang kiriku. Aku tersulut, dengan tangan mengepal ku labrak ryan dan ku hadiahi beberapa pukulan di pipi, dada, dan perutnya. Ryan terdorong mundur beberapa langkah namun maju kembali hendak membalas pukulanku.

    Stttoooppp !!!
    “ryan, kamu sudah ga waras ya??? Kamu itu salah, ngebohongin orang, ngeduain aku, sekarang malah kakaknya pacarmu kamu pukulin, kamu punya nurani ga sih ryannn…!!!” Bentak cintya tiba-tiba menengahi pertengkaran kami dengan menangis tersedu.

    “eehhh…ma…maa..af cin, maaf buat kamu terluka…harusnya aku tidak begini…” ucap ryan sambil memeluk cintya.

    Aku yang melihat mereka sedang sibuk berbicara berdua segera menarik ara untuk segera keluar dari tempat itu. Ara menurut. Sebentar kemudian motor ku sudah melaju kembali di jalanan.

    Ku dengar ara menangis sesenggukan. Dengan iba ku belokkan motorku disebuah warung es untuk istirahat sejenak dan menenangkan ara.
    “udah ya ara…jangan dipikirin lagi…!!” Ucapku membuka pembicaraan.

    “bukan begitu mas, aku sangat terluka, semuanya telah kuberikan buat dia, tapi….huaaaaaa” jawab ara sambil menangis.

    “iya iya aku tahu…tapi kamu tak bisa memutar kembali waktu yang telah berjalan…bayangkan jika kamu belum tahu masalah ini hingga ryan menikah, malah akan lebih runyam kan ???” Lanjutku lagi.

    “udah sekarang diminum es nya, terus ara mau ngajak kemana? Muter-muter dulu keliling kota atau langsung pulang??” Ucapku pada ara sambil bertanya kembali.

    “srrrooottt…ga mau pulang…Ara mau diluar terus sampe besok !!” Cerocos ara sambil mengelap ingusnya yang meleleh di hidungnya akibat menangis tadi.

    “lhoo…lhooo…kok ga pulang gimana sihhh??? Kalo papa mama nyariin gimana? Trus sekolahmu gimana?” Ucapku kaget.
    “sekolahnya lagi liburan massss…..papa mama sama adik baru pulang minggu depan sekalian ngabisin liburan, aku sih milih ga ikut emang !! !!!” Jawab ara kemudian.

    Setelah mendengar kata-kata ara bahwa ia sedang libur, timbul pikiran bebasku untuk mengajak ara jalan sekalian agak jauh. Tapi kemana aku juga bingung. Dan setelah berpikir dan berpikir akhirnya aku memutuskan untuk mengajak ara ke salah satu daerah dataran tinggi untuk refreshing sekaligus menyewa vila.
    Sekitar jam 8 malam kuajak ara untuk makan diluar sembari melihat-lihat pemandangan alam pegunungan yang demikian segar. Saat melewati sebuah toko pakaian, aku menjadi teringat bahwa ara dan aku tak membawa pakaian ganti satupun. Kuingat di dompetku masih cukup dana karena tiga hari yang lalu sempat ikut borongan eo untuk persiapan konser sebuah grup band papan atas. Yahhh lumayanlah hasilnya bisa buat hidup sebulan dua bulan dengan berfoya-foya plus belanja-belanja hahaha (wajah congkak songong).
    Kupilihkan baju hangat untuk ara yang tadi pagi mengeluh meriang berupa sebuah sweater dan celana training kaos. Ternyata dia memilih tambahan beberapa g-string dan bra minim.

    Dalam perjalanan pulang ke vila, ku ajak ara untuk mampir sejenak ke perkebunan sayur.

    “mas, hatiku sakit sekali kalo ingat mas ryan…!!” Ucap ara.

    “ihhh kok mikirin dia lagi sih ???” Sahutku agak sebel.

    Ara menangkap gelagatku yang kurang suka dengan obrolan itu. Dengan manja ia sandarkan kepalanya di dadaku yang sedang memandang kosong ke hamparan tanaman sawi yang ada di depanku.

    “masss…Ara Tahu mas sayang dan cinta sama ara…apalagi pengorbanan mas dalam membela ara di depan mas ryan bikin ara terharu….Ara Mengungsi di sini pun mas rela nemenin…eehmmmm…kalau boleh ngomong….sebenarnya….Ara Juga sayang sama mas purba…sejak dulu mas mondar-mandir ke wartel dan curi pandang ke ara…Ara Juga melirik mas….tapiiii yahhh memang harus tunggu mas ryan begitu dulu kali ya biar kita bisa duduk berdua di sini sekarang…” ucap ara panjang x lebar x tinggi.

    Mataku menjadi berbinar, tak terasa lelehan airmata meluncur turun ke pipiku. Ku pandang wajah ara, wajah yang teduh itu, wajah yang cantik ayu itu, wajah yang menghiasi mimpi tidurku. Kupegang kedua bahu ara, ku tatap matanya, kemudian dengan lembut dan penuh perasaan ku kecup keningnya. Sejenak kemudian kami saling merangkul erat, seakan tiada lagi kata berpisah yang mampu menghadangnya. Sekian menit kami hanyut dalam lamunan masing-masing sambil tetap dalam posisi berpelukan. Suasana hening, syahdu, tenang, setenang jiwaku yang serasa disiram ribuan bunga hingga merasuk ke otak ku, ke lubuk hatiku terdalam.

    Cerita Sex Gadisku Yang Nikmat Sekali

    Cerita Sex Gadisku Yang Nikmat Sekali

    “sayang….” ucapku kemudian.

    “iya sayang…” jawab ara sambil mendongakkan kepala memandangku.

    Secepat kilat kusambar bibir ara dan kukulum dengan lembut. Ara hanya terpejam, namun gerakan bibirnya mulai mengimbangi setiap sedotan dan kuluman yang aku lakukan. Lidah saling melilit, menjulur, mengulum, dan berbagai ciuman mesra nan menggebu kami lakukan dengan penuh penjiwaan.

    “sayang…dingin…balik yuk…” ucap ara setelah sekitar 10 menit kami berpagutan di tengah alam bebas itu.

    “ayoookkk sayang…” sambutku sambil menggamit mesra tangan kekasih baruku itu dan melangkah berdua meningggalkan perkebunan yang telah menjadi saksi bisu dari pertemuan cinta kasih tulus kami.

    Sampai di vila, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Waktu yang cukup dingin untuk wilayah dataran tinggi. Setelah kami membersihkan badan. Kutuntun ara untuk rebah di atas kasur. Kuselimuti sekujur badannya dengan selimut. Namun karena dorongan buang air kecil yang terus mendera akibat udara dingin, akhirnya aku dengan malas beranjak kembali ke kamar mandi untuk menuntaskan hajat.

    Memang udara dingin bikin kamar mandi laris. Setelah buang air kecil malahan aku berasa mules, akhirnya mau ga mau kutuntaskan sekalian keperluan pribadiku itu meski setiap gayung air yang ada di kamar mandi itu begitu dingin sedingin es hingga terasa menembus tulangku.
    Butuh waktu sekitar 15 menit hingga aku bisa keluar kamar mandi dengan lega. Kulihat ara sudah terlelap di balik selimutnya. Layar televisi yang menyala segera kumatikan dan aku segera menyusul ara di ranjang. Badan ini serasa letih sekali setelah menjalani berbagai peristiwa hari ini.
    Aku segera menyusupkan tubuhku dibawah selimut ranjang yang memang lebar dan hanya satu itu untuk setiap ranjang sehingga aku harus berbagi bersama ara. Kupandang wajah ara yang teduh itu. Pancaran kecantikannya tak surut meski guratan keletihan menghiasi wajahnya. Sejenak aku terlupa bahwa wanita yang ada di sampingku ini adalah anak sekolah SMA yang berumur 17 tahunan. Memang cinta tak pandang usia. Lagian ara sudah cukup dewasa untuk menghembuskan nafas cinta bersamaku.
    Kumiringkan tubuhku menghadap ara demi untuk menikmati wajah ciptaan tuhan yang sungguh sempurna. Pahaku yang terbuka karena hanya memakai celana boxer menggesek atau tepatnya menyenggol sesuatu yang sepertinya adalah kulit paha ara. Aku menjadi termenung sejenak, kan seharusnya aku tak terkena kulit itu. Sebelum tidur tadi ara kan memakai celana training kaos yang kubelikan…!!
    Dengan penasaran kuberingsut memasukkan kepalaku ke bawah selimut. Kulongok dan aku pun terkejut. Ara hanya memakai g-string minim dan bra minim yang kubelikan tadi. Sungguh seksi dan montok kulihat. Kulihat kembali wajah ara, sesaat kemudian dia tersenyum centil.

    “oalahhh ndukk gendukk…kamu pura-pura tidur ya…asyemmm !!!” Bentakku sambil tersenyum lucu.

    Ara hanya tersenyum dan langsung bergerak menindihku. Kami berpagutan bibir dengan panas dan menggelora dibalik selimut itu. Merasa tak nyaman dengan penghalang selimut, ku tendang selimut itu hingga terjuntai ke lantai. Ciuman panas kami lanjutkan dengan menggebu. Ara begitu menikmati perciuman itu dan bahkan sepertinya dia yang mencoba mengambil alih nahkoda perciuman dengan posisinya diatasku untuk mendominasi permainan. (tuhhh kan bener…yang jutek, yang judes, yang galak….itu simbol ratu di ranjang…!!! Hehehe).
    Ara kemudian melorot jauh kebawah dan menemukan celana boxer ku yang sudah menggembung bagian depannya. Tanpa permisi ia loloskan boxer itu dari tubuhku sekaligus cd yang kukenakan. Kini tubuhku polos. Ara dengan gemas memegang erat batang kontay ku dan mengocoknya membuat aku gemetaran. Perlahan tapi pasti dijilatnya batangku dan dikulumnya.

    “aauhhh sayanggg….pinterrr bangettt siihhh ahhhhhh” ucapku terangsang hebat merasakan kuluman batangku di mulut ara.

    “ssstttt aahhhh sayayng aaahhhh aahhhhh” seringaiku menikmati itu semua.

    Kuterjang kedua bukit ara yag menggembung indah dibalik branya yang sangat mini itu. Dengan satu hentakan, terlepaslah pengait bra ara dan dengan buas ku lumat putingnya dan kukulum juga kujilati. Tanganku tak hanya diam, ku remas bongkahan dada putih nan membusung itu hingga ara meringis antara kesakitan dan geli.

    “auuuhh mass…nakallll ayhhhh…..sayanggg….diapain aja tuhhh susu akhuuu hmmmm” desah ara manja sambil mencubit hidungku.

    “hmmmm…hhmm..mmmmhhhhhh” jawabku dengan gumaman tak jelas karena sibuk ‘mengunyah’ dada indahnya ara.

    Kepalaku bergerak semakin ke bawah. Kugeser kain g-string tanpa melepasnya sehingga lobang memey ara terlihat menyembul di sisi samping kain. Begitu kulihat daging berjenggot itu spontan darahku berdesir. Dengan sangat bernafsu segera ‘kuterkam’ bagian lobang aneh itu dengan penuh semangat. Lidah dan tanganku bermain dengan lincahnya di area becek itu. Kadangkala ku gosok tonjolan diatas memey dengan telunjukku sehingga membuat ara menggelinjang tak karuan. Paduan tusukan jari dan gosokan di klit nya ara begitu kunikmati laksana seorang pegawai baru menerima pekerjaannya dengan senang hati.

    “auuuhhhh sayy ahhh sttttttttt ehhhmmmm sayangggg aaahhhhh stttttt aahhhhhh” ara mulai mendesah tanda nikmat.

    “sssstttttt masss sayanggg aaahhhhh aauuuwwwwhhh eeehmmm ennnnakkk sayaaangggg…sssstttt terussss !!” Desah ara tiada henti.

    P”ehhhmmm……eeehhhhh…ehhhmmmmmm” hanya desahan demi desahan yang keluar dari mulut ara sementara matanya tertutup menghayati setiap sentuhan dan gesekan ku.

    Semakin gemas dengan lobang ara yang berdenyut-denyut semakin pula ku kocok lobang itu dengan irama yang stabil namun semakin lama semakin cepat dan dalam.

    “auhhh auhhh massss sssttt ahhhhh aahhh ahhh terusss cepetannn ahhhh mmmo mmo nyampaaiiii bentarrran laghiii uhhh ahhha hahhhh masssss” desah ara semakin meradang.

    “ssssttt masss ahhhh sayayanggg aauhhh ahhh ahh ahhh awawwwhhh mmmasss akhuuu keluarrrr ahhhhhhhhhhhhhahh ahhhhhhh” teriak ara dengan suara super seksi.

    Saat melihat ara menggapai orgasmenya, tangan dan lidahku malah ku tarik keluar dari memey ara. Sebagai gantinya, dengan gemas ku cabut satu dua bulu jembi ara. Ara melonjak dan terpelanting kembali ke ranjang akibat orgasme dan perbuatanku ‘cabut rumput’ yang jahil. Antara puncak kenikmatan dan sakit yang aneh menyerang memey ara dengan bersamaan.

    “aauhhhh massss dasssarrr nakalll bangg het siiihh….” ucap ara sambil mencoba mencubit dadaku. Namun badan dan tangannya sudah terlalu loyo merasakan gejolak puncak itu sehingga cubitannya pun menjadi tak bertenaga.

    “ehhhmmmm masss…barusan sensasinya anehhh bangettt…rasanya gimana gitu…asyik..enak tapi…aduuuh apaan ya….ituuu sayang…keras gituu hihihih….ehhmm cuuppp mwuahh” ucap ara menceritakan kenikmatannya sambil mengisyaratkan kecupan bibir ke arahku dengan seksinya.

    Tak kukira ara yang seorang anak SMA kelas 2 telah memiliki gejolak birahi begitu membuncah. Sisi erotisnya menyeruak dibalik usianya yang masih ranum. Tapi kembali ku berpikir, berapapun usianya, se-seksi apalah dia, sebesar apapun gejolak nafsunya, selama ia telah mencapai garis dewasa dalam hal ini telah menstruasi maka tak aneh bila semua itu terjadi. Memang kalangan keluarga ara adalah keluarga berpostur super. Papanya begitu jangkung dan gagah. Mamanya juga tinggi montok hehehe. Ya mungkin darah timur tengah masih mengalir di tubuh mereka sehingga pertumbuhannya juga berbeda dengan pribumi layaknya.

    Dengan tangan yang masih bergetar tremor karena mengocok memey ara, kulanjutkan dengan mendaki tubuh ara hingga wajah kami saling berhadapan. Sambil terus berciuman dalam posisi konvensional itu ku tekan kontay ku mengarah ke memey ara. Ara seperti biasa memegang batangku dan membantu mengarahkan ke bagian vitalnya. Nampak ara mendelik saat ujung kontay ku mulai menyeruak bibir memey nya dan terus melaju lambat menyusuri goa terjal berlendir itu. Meski sudah pernah ‘menelan’ kontay ku namun batangku yang memang guede itu tetap saja membuat ara mendelik seakan kaget dan tegang menerima ‘hujaman’.

    “uuuffffhhhh masss….ggilllaa…guedeenyahhhh hhmmmm nikmattt massss” desah ara pelan.
    Dengan penuh konsentrasi ku mulai menggoyang memey ara. Semakin lama semakin kudengar desahan dan raungan ara yang menikmati genjotanku.

    “uhhhmmm sayanggg….auhhhh ssttt ahhh ahhh terusss….cepett tambahhh enakkk…ehhhh rasanya mentokkk bangettt uhhhh mass ahhhh penuh bangettt memey ku massss aahhhh ahhhha ahhh” rancau ara.

    “ehmmm say sayanggg suka gakk…enakkk gaaa saayanggg” bisikku di telinga ara.

    “sukka sayaang sukaaa bange ettt aahhh ahahhhh aw awwwhhh…enakknyaaa ampuuunnn sayang aahhh enaaakk gilaaaa….terusinnn saayyy aahhhhhh” jawab ara disela erangannya.

    “aahhhh kkkm kammmu sayanggg akkuu gaaa ra? Cinta gaaa ?” Ucapku lagi ditelinganya memancing antusiasme ara.

    “sayayanggg bangettt ahhhh ciin cinnta jugaaaa…jangnn tingggalinn akhuuu masss ahhh sstttt… selamanyaaa ahahhh sama akuuu…temaninnn akuuu…kelakkkk jadi suamikhuuu yahhh ssttt ahhhhhhh” jawab ara dengan terbata-bata. Jawaban ara membuatku tertegun sejenak dan kemudian hatiku tersenyum dibuatnya.

    Malam kian larut. Dengan penuh kasih sayang ku ajak ara berdiri diatas ranjang. Kutuntun dia untuk menyandarkan tangan ketembok ya ada di tepi ranjang. Kupandu ara dengan lembut. Kubungkukkan tubuhnya dan kutunggingkan pantatnya. Kini mulai ku belai dan kujilati bongkahan pantat indah ara itu dengan penuh gairah. Kujilati pula bibir anus ara.

    “auuuufhhhhh mmasssss aahhhh…sudaaahh sudaahhh ahhhh…pakai kontol gede kesukaanku ajaa ahhhhhhh masss” teriak ara tak kuasa menerima semua rangsangan itu.

    Tak kupedulikan teriakan ara. Terus saja kukocok memey ara sambil menggosok-gosok klit nya dengan cepat. Lidahku juga tak mau pindah dari urusan jilat-menjilat di anus ara. Ara semakin meraung tak tertahankan.

    “auuuh masss aahhhhhh massss ampunnnn ara tidak kuatttt aahhh masss aw awwwhhhh mmauuu keluarrr lagi niiihhh masss auuuuhhh masssssssss ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” ara menjerit dan merancau tak terkira. Dengan suara nyaring ia sampai juga pada orgasmenya yang kedua. Cairan ara yang sudah membanjir di lobang memey nya mulai menetes ke ranjang.
    Kaki Ara sudah semakin tak kuat untuk berdiri. Nafasnya ter engah-engah.

    Tanpa menunggu ara yang masih lemas, ku tusuk dengan cepat memey ara yang masih merekah. Ara menjerit super kaget namun aku langsung injak pedal gas untuk full speed. Kukocok dengan kecepatan super gila. Ara semakin mengaduh tapi keenakan.

    “aaauuuuuuuuuhhhh masssss aahhhhhhhh ahhh ahhhh ahhhh gilaaa auuuhhh ssstttt ahhh” desah ara tanpa henti.

    “aww awww awwwhhh sayanggg hhekkk heehhkkk aduuuhhh stttt ahhhh ahhhhh” desah ara semakin menjadi-jadi tanpa bisa berkata-kata.

    “sayanggg…kamuuu siappp maiiinn teruss sama akkhuuu setiaap waktuuu ??? Kamuu gaa nyerahhh sayanggg ngeladeninn akhuuu???” Ucapku sambil dengan tetap menggenjot ara.

    “auuuwhhh sayanggg…kamuu perkassaa ahhhh gaa ada matinyaahhh…akhuuu malahh senengggg mainnn ahhh ahhh teerr…terruss sama kammuhhh…kapannn ajaaa…aauuuhhh sayangg aaahhh ahhh” balas ara dibarengi desahan yang terus menerus terlontar dari bibirnya yang seksi.

    “aauuuhhh mass ssstttt ahhhh terusss jangnnn berhentitiii…sedikittt…sedd ddiikittt ahhh lagiii aahhh ahh awawawwhh ara nyampaiiiyyy lagggiii aaawww ahhhh ahhh aahhhh masss ahhh aauuuhhh aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh” sekali lagi ara mencapai orgasmenya. Matanya sayu namun menyiratkan kepuasan tak terhingga.

    “yaaa aaayyyy saayyannng akkkhhuu jugga hampir ooohhh sammmpaii juuga aahh uhhhh ehhmmm…akkkuu kellluarin diluarrr aja yaaa…kita perluuu mainnn save sayanggg aaahhh ahhh ahhhhh araaaaaaaa……” akhirnya aku mendekati puncak kenikmatan yang sedari tadi ku daki. Ku tarik batang kontay ku dari memey ara. Dengan sigap pula ara membalikkan badan dan segera mengulum kontay ku. Sekian detik kemudian cairan kental muncrat ke dalam mulut ara. Sebagian merembes keluar dari mulut ara karena tak muat. Dengan senyuman genit ia menelan seluruh cairanku. Lelehan di luar mulutnya pun ia jilati dengan menjulurkan lidahnya.

    Tanpa berbusana kami saling berpelukan dibawah selimut ranjang. Segera kami tertidur karena letih yang amat sangat.

    jam menunjukkan jam 9 pagi saat kubangunkan ara yang masih tidur. Kuajak dia mandi bersama. Didalam kamar mandi itu kami sekali lagi bergumul dan memacu kenikmatan. Sungguh hari-hari yang membahagiakan bagi kami berdua.

    beberapa jam kemudian motor bututku telah kembali membelah teriknya mentari di jalan raya untuk kembali ke kota.

    wwoo wwooo gadisku…
    sayap cintaku kini telah tumbuh,
    mengepak indah membelai sang bayu,
    isyaratkan indah binar sanubariku,

    oh ara ku…
    dalam keremangan kau ku jelang,
    ku ajak kau menggapai bintang,
    beriring bersama meniti riang,
    kelak kau kan ku pinang..

    Bait puisi seperti mengalir lancar mengisi hatiku. Aku berjanji dalam hati untuk selalu menjaga ara dan mencintainya sepanjang masa. Kan kunanti ia tamatkan sma nya, dan saat itulah saat dimana ia akan kupinang. Semoga kelak kau menjadi permaisuriku seutuhnya. Semoga jalan yang telah kurangkai ini akan berujung pada muara maghligai cinta. Kuingin nanti dikemudian hari dapat berucap : ‘duhai ara istriku tercinta…’.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Binalnya Rekan Kerja Ku Yang Berjilbab – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Binalnya Rekan Kerja Ku Yang Berjilbab – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    3084 views

    Perawanku – Namaku Sakti, umurku 29 tahun dan aku memiliki perawakan yang cukup gagah dimata para perempuan. Selain gagah dalam perawakanku, aku juga gagah dalam bidang pekerjaanku, karena baru sekitar 1 tahun aku bekerja disebuah perusahaan, aku sudah mendapatkan jabatan yang cukup tinggi. Diperusahaan tempatku bekerja, aku diposisikan sebagai manajer bagian penawaran. Aku diangkat sebagai manajer karena aku memenangkan sebuah tander yang sangat besar sekali dan membuat perusahaan tempatku bekerja itu untung sangat besar sekali, maka dari itu aku mendapatkan kepercayaan dari owner perusahaan.

    Naaah kali ini aku akan menceritakan kisahku dengan rekan kerjaku yang saat itu aku ditugaskan oleh kantor menyurvey dan memastikan sebuah lahan untuk usaha. Waktu itu aku ditemani oleh rekan kerjaku yang bernama bu Yana, orangnya siiih bisa saja, namun kalau senyum sangat manis sekali. Usia bu Yana sekitar 33 tahunan, dia sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Meski

    sudah mempunyai anak, bu Yana ini masih memiliki body tubuh yang singset, ramping. Payudaranya juga cukup besar yang kutafsir sekitar 36B dan pantatnya yang bulat dan padat itu menghiasi tubuh molek bu Yana dibalik kerudung yang selalu dipakainya. Sudah hampir setahun aku bekerja dengan bu Yana, jadi aku bisa mengetahui sifat dan kebiasaan bu Yana yang menjadikan kita tidak segan lagi saat bercanda.

    Waktu itu, selain ditemani bu Yana, aku juga ditemani oleh sopir pribadiku yang juga sudah lama bekerja denganku. Dibalik kerudung bu Yana sempat aku menebak-nebak tentang gairah Sex bu Yana ini, bahkan aku juga sempat menanyakan pada bu Yana saat kami keluar menyurvey. Dia hanya tersenyum dengan pertanyaanku yang menjurus soal hubungan Sex. Aku jadi tahu kalau bu Yana ini juga sebenarnya gak baik-baik banget, aku juga bisa mendapatkannya, namun dia menutupinya dengan berkerudung saat dikantor. Aku juga sering menggodanya saat berada dikantor namun gak didepan teman-teman kantor, namun saat suasana terlihat sepi dan bu Yana selalu hanya membals godaanku dengan senyuman yang sangat khas dari raut wajahnya yang snagat manis itu. Saat itu hari sabtu aku mengambil libur karena aku ingin istirahat dirumah menenagkan pikiran dari segala urusan yang ada dikantor. Namun semua tak sesuai dengan harapanku, sekitar jam sepuluh siang aku ditelpon oleh atasanku dan aku ditugaskan untuk menyurvey sebuah lahan dengan sebuah klien dari perusahaan. Dengan tak bisa menolak aku pun menyanggupinya. Dan aku meminta kalau bu Yana diantar kerumahku. Segera aku bergegas bersiap menyiapkansegala sesuatu yang kuperlukan dan setengah jam kemudian bu Yana sampai kerumahku dengan diantar sopir perusahaan.

    Kupersilahkan bu Yana masuk dirumahku dulu sambil menunggu bersiap. Istriku dengan bu Yana juga sudah akrab karena aku sudah cerita tentang bu Yana jadi istriku gak masalah.

    Setelah aku selesai, aku mencari sopirku dan setelah kupanggil malah istriku yang menjawab, kalau sopirku pagi tadi ijin untuk mengantar istrinya kerumah sakit. Jadi terpaksalah aku menyetir mobil sendiri. Dan aku langsung berpamitan dengan istriku. Aku dan bu Yana kemudian masuk mobil dan kami pun langsung meninggalkan rumah. Obrolan kami diperjalanan menuju lokasi, hanya menyangkut masalah-masalah bisnis yang ada kaitannya dengan bu Yana. Gak ada sesuatu yang menyimpang. Bahkan setelah tiba di lokasi, aku gak berpikir yang aneh-aneh. Bahkan aku jengkel juga saat pemilik tanah itu gak ada ditempat, harus dijemput dulu oleh keponakannya yang segera meluncur diatas motornya.

    Kami duduk saja didalam mobil yang kuparkir menghadap kekebun tak terawat, yang rencananya akan dijadikan perumahan oleh kenalanku yang seorang developer. Suasana sunyi sekali. Karena kami berada didepan kebun yang mirip hutan. Pepohonan yang tumbuh tidak dirawat sedikit pun. Namun suasana yang sunyi itu entah kenapa tiba-tiba saja membuatku iseng memegang tangan bu Yana sambil berkata,

    “Bisa dua jam kita harus menunggu di sini Bu” kataku
    “Iya pak” sahutnya tanpa menepiskan genggamanku
    “Sabar aja ya pak didalam bisnis memang suka ada ujiannya” aku terdiam namun tanganku tidak diam. Aku mulai meremas tangan bu Yana, yang makin lama terasa makin hangat. bu Yana bahkan membalasnya dengan remasan. Apakah ini berarti “Aaaahhh…” pikiranku mulai melayang-layang tak menentu. Mungkin di mana-mana juga lelaki itu sama seperti aku. Dikasih sejengkal mau sedepa.

    Remas-remasan tangan gak berlangsung lama. Kami bukan ABG lagi. Masa cukup dengan remas-remasan tangan? Sesaat kemudian, lengan kiriku sudah melingkari lehernya. Tangan kananku mulai berusaha membuka jalan agar tangan kiriku bisa menyelusup kedalam bajunya yang sangat tertutup dan bertangan panjang. bu Yana diam saja dan akhirnya aku berhasil menyentuh buah dadanya. Namun bu Yana menepiskan tanganku sambil berkata,

    “Duduknya dibelakang saja pak, di sini takut dilihat orang…”
    Ooohhh…senangnya hatiku karena ucapannya itu mengisyaratkan bahwa dia juga mau.
    “Kenapa mendadak jadi begini pak?” tanya bu Yana saat kami sudah duduk di jok belakang, pada saat tanganku berhasil menyelinap masuk kedalam baju tangan panjangnya dan kebalik BH-nya.
    “Gak tau kenapa ya?” jawabku sambil meremas buah dadanya yang terasa masih kencang, mungkin karena rajin merawatnya.
    “Tapi pak……Uuuuhhhh……kalau saya jadi horny gimana nih?” bu Yana terpejam-pejam sambil meremas-remas lututku yang masih berpakaian lengkap.
    “Kita lakukan saja, asal bu Yana gak keberatan….” tanganku semakin berani dan berhasil menyelinap kebalik rok panjangnya, kemudian menyelundup kebalik CD-nya.
    Tanganku sudah menyentuh jembutnya yang terasa lebat sekali. Lalu menyeruak kebibir memeknya bahkan mulai menyelinap kecelah memeknya yang terasa sudah basah dan hangat.

    “Masa dimobil?” protesnya
    “Kata orang mobil jangan dipakai gituan, bisa bikin sial…” tambahnya
    “Emang siapa yang mau ngajak begituan dimobil? Ini kan perkenalan aja dulu….” kataku waktu jemariku mulai menyelusup kedalam lubang vagina bu Yana yang terasa hangat dan berlendir. Bu Yana memelukku erat-erat sambil berbisik,
    “Duuuh pak…aku jadi kepengen niiihh…kita cari penginapan aja dulu yuk. Bilangin aja sama orang-orang disini kalau kita mau datang lagi besok”
    “Iya sayang” bisikku
    “Sekarang ini memiliki dirimu lebih penting daripada ketemuan dengan pemilik tanah itu”
    “Ya sudah dulu donk” bu Yana menarik tanganku yang sedang mempermainkan memeknya
    “Nanti kalau aku gak bisa nahan disini kan berabe, nanti aja dihotel aku kasih semuanya…” Aku ketawa kecil

    Kamudian kami pindah duduk kebelakang setir lagi. Gak lama kemudian mobilku sudah meluncur dijalan raya. Persetan dengan pemilik tanah itu. Sekarang ini yang terpenting adalah tubuh bu Yana, yang jelas sudah siap diapakan saja. Dengan mudah kudapatkan hotel kecil dipinggiran kota, sesuai dengan keinginan bu Yana, karena kalau didalam kota takut kepergok oleh orang-orang yang kami kenal. Soalnya aku punya istri, bu Yana pun punya suami. Hotel itu cuma hotel sederhana namun lumayan, kamar mandinya pakai shower air panas. Tidak pakai AC, karena udaranya sudah cukup dingin. Yang penting adalah wanita berjilbab itu yang sekarang sedang berada didalam kamar mandi, mungkin sedang cuci-cuci dulu, sementara aku sudah tak sabar menunggunya.
    Saat bu Yana muncul didepan pintu kamar mandi, aku terpana dibuatnya. Rambutnya yang tak ditutupi apa-apa lagi, nampak tergerai lepas, panjang lebat dan ikal. Jujur, bu Yana nampak jauh lebih seksi, apalagi kalau mengingat bahwa dia 6 tahun lebih muda dari pada istriku. Rok bawahnya tidak dikenakan lagi, sehingga pahanya yang putih mulus itu nampak jelas didepan mataku. Aku bangkit menyambutnya dengan pelukan hangat,

    “Bu Yana kalau gak pake jilbab malah nampak lebih cantik…..Muuuahhhhh…” kataku diakhiri dengan kecupan hangat di pipinya.
    Bu Yana memegang pergelangan tanganku sambil tersenyum manis. Dan kuraih pinggangnya, sampai berada diatas ranjang yang lumayan besar. kamudian kami bergumul mesra diatas ranajng itu.

    Bu Yana tidak pasif, berkali-kali dia memagut bibirku. Aku pun dengan gak sabar menyingkapkan baju lengan panjangnya. Dan…Aah…rupanya gak ada apa-apa lagi dibalik baju lengan panjang itu selain tubuh bu Yana yang begitu mulus. Toketnya gak sebesar toket istriku namun nampak indah dimataku. Gak ubahnya toket seorang gadis belasan tahun. Dan saat pandanganku melayang kebawah perutnya, nampak sebentuk bongkahan vagina yang ditumbuhi rambut sangat lebat da aku pun mulai beraksi. Mencelucupi lehernya yang hangat, sementara tanganku mulai mengelus jembutnya yang lebat keriting itu.
    Bu Yana-pun gak tinggal diam, dia mulai melepaskan kancing kemejaku satu persatu, kemudian menanggalkan kemejaku. Untuk mempermudah, aku-pun menanggalkan celana panjang dan CD-ku. Sehingga batang k0ntolku yang sudah tegak kencang ini tak tertutup apa-apa lagi. Bu Yana melotot saat melihat batang k0ntolku yang sudah tak tertutup apa-apa lagi ini.

    “Iiiih…..burung bapak kok panjang dan gede gitu,..Mmmhh….si ibu pasti selalu puas ya…” desahnya
    “Emang punya suami bu Yana seperti apa?” tanyaku
    “Jauh lebih pendek dan kecil” bisik bu Yana sambil merangkulku dengan ketat, seperti gemas.

    Kembali kuciumi lehernya yang mulai keringatan, kemuidian turun mencelucupi putting susunya. Kusedot-sedot seperti anak kecil sedang menetek, sambil mengelus-eluskan ujung lidahku diputting susunya yang terasa semakin mengeras ini. Sementara tanganku gak hanya diam. Jemariku mulai mengelus bibir vagina bu Yana , bahkan mulai memasukkan jari tengahku kedalam lubang memeknya.

    Bu Yana sendiri gak cuma diam saja, tangannya mulai menggenggam batang k0ntolku dan meremasnya dengan lembut. Mengelus-elus kepala k0ntolku, sehingga aku makin bernapsu. Namun aku sengaja ingin melakukan pemanasan selama mungkin, agar meninggalkan kesan yang indah dikemudian hari. Maka setelah puas menyelomoti putting susu bu Yana, bibirku turun kearah perutnya. Menjilati pusarnya sesaat. Kemudian turun kebawah perutnya.

    “Pak…Jangan kesitu…..Aaaahhh…Malu…” bu Yana berusaha menarik kepalaku agar naik lagi keatas lagi namun aku bahkan mulai menciumi vaginanya yang berbulu lebat itu
    Kemudian jemariku menyibakkan jembut bu Yana , mengangakan bibirnya dan mulai menjilatinya dengan gerakan dari bawah keatas,
    “Aduh pak…ini diapain??? Aaah…kok enak sekali pak…” bu Yana mulai menceracau tak menentu

    Lebih-lebih saat aku mulai mengarahkan jilatanku diklitorisnya, terkadang menghisap-hisapnya sambil menggerak-gerakkan ujung lidahku.
    “Oooh Pak…Ooouuhhh….Pak…iiiih…aku udah mau keluar nih……Duuuhhhhhh” celotehnya membuatku buru-buru mengarahkan batang k0ntolku kebelahan vaginanya yang sudah basah dan kudesakkan sekaligus “Bleeeessss…” agak mudah membenam kedalam vagina bu Yana yang sudah banyak lendirnya itu.
    “Aduuuduuuhhhh…Sudah masuk paaakk…Oooouuuhhhh…” bu Yana menyambutku dengan pelukan erat, bahkan sambil menciumi bibirku sambil menggerak-gerakkan pantatnya,
    “Aakkk…Aku gak bisa nahan lagi…Langsung mau keluar paaak…tadi sih terlalu dienakin…Ooouuhhh”

    Kemudian kurasakan tubuh bu Yana mengejang dan mengelojot seperti sekarat. Rupanya bu Yana gak bisa menahan lagi. Dia sudah orgasme, terasa liang memeknya berkedut-kedut, kemudian jadi becek.
    “Barusan kan baru orgasme pertama” bisikku yang mulai gencar mengayun batang k0ntolku, maju mundur didalam vagina bu Yana

    Beberapa saat kemudian bu Yana merem-melek lagi, bahkan makin gencar menggoyang-goyang pinggulnya, sehingga batang k0ntolku serasa dibesot-besot oleh lubang vagina bu Yana. Aku tahu goyangan pantatnya itu bukan sekadar ingin memberikan kepuasan untukku, tapi juga mencari kepuasan untuknya sendiri. Karena pergesekan k0ntolku dengan vaginanya jadi semakin keras, klitorisnya pun berkali-kali terkena gesekan k0ntolku.

    “Adduuuh…Duuuh…Pak…kok enak sekali sih pak…Aaaahhh…aku bisa ketagihan nanti pak” celotehnya dengan napas tersengal-sengal
    “Aku juga bisa ketagihan” sahutku setengah berbisik ditelinganya, sambil merasakan enaknya gesekan dinding vaginanya
    “Vagina bu Yana enak sekali, saying…Duuuuh…Benar-benar enak sekaliii” Aku memang gak berlebihan

    Entah kenapa, rasanya persetubuhanku kali ini terasa fantastis sekali. Mungkin ini yang disebut Selingkuh Itu Indah. Padahal posisi kami cuma posisi klasik. Goyangan pantat bu Yana juga konvensional saja. Namun enaknya sangat luar biasa. Dalam tempo singkat saja keringatku mulai bercucuran. Bu Yana-pun nampak sangat menikmati genjotan batang k0ntolku. Sepasang kakinya diangkat dan ditekuk, kemudian melingkari pinggangku, sementara desahannya tak henti keluar dari mulutnya.

    “Ooooh…Ooouuhhh…Eeegghhhh…Aaaaahhhhh…Ooohhh…Aaaahhh…Aduuuh paaak…Enak Pak…Duuuuh…Mmmmhhhhh…Aku mau keluar lagi nih paaak” desah bu Yana
    “Kita barengin keluarnya yaaak” bisikku sambil mempergencar genjotan batang k0ntolku, maju mundur didalam vagina bu Yana

    “I…iya pak….bi…bi…biar nikmat…..” sahutnya sambil mempergencar pula ayunan pinggulnya, meliuk-liuk cepat dan membuat batang k0ntolku seperti dipelintir oleh dinding vagina bu Yana yang licin dan hangat itu.

    Sampai pada suatu saat, kuremas-remas payudara bu Yana, mataku terpejam, napasku tertahan, batang k0ntolku membenam sedalam-dalamnya kemudian kami seperti orang-orang kesurupan, kami sama-sama berkelojotan dipuncak kenikmatan yang tiada taranya. Dan “Croooottt…Croooottt…Croooottt…” Spermaku terasa menyemprot-nyemprot didalam liang vagina bu Yana. Lubang vagina bu Yana kurasakan berkedut-kedut.
    Kamudian kami sama-sama terkapar, dengan keringat bercucuran.

    “Ini yang pertama kalinya aku digauli oleh lelaki yang bukan suamiku” ujar bu Yana sambil membiarkan batang k0ntolku tetap menancap didalam vaginanya
    Kujawab dengan ciuman hangat dibibirnya yang sensual,
    “Sama…aku juga baru sekali ini merasakan bersetubuh dengan wanita yang bukan istriku. Terimakasih sayang…mulai saat ini bu Yana jadi istri rahasiaku…”
    “Dan Bapak jadi suami keduaku….iiih…kenapa tadi kok enak sekali ya pak?”
    “Mungkin kalau dengan pasangan kita sendiri sudah terlalu biasa, gak ada yang aneh lagi. Tapi barusan dilepas didalam…gak papa?”

    “Gak papa” sahutnya dengan senyum manis, mata bundar beningnya-pun bergoyang-goyang manja
    “Aku kan ikut KB sejak kelahiran anakku…”
    “Asyik donk, jadi aman….”
    “Aku pasti ketagihan pak….soalnya punya bapak panjang dan gede gitu…..” Kata-kata bu Yana itu membuat napsuku bangkit lagi

    Dan batang k0ntolku yang masih terbenam didalam vaginanya, terasa mengeras lagi. Maka kucoba menggerak-gerakkannya dan ternyata memang bisa dipakai “bertempur” lagi. Batang k0ntolku sudah mondar mandir lagi didalam memek bu Yana yang masih banyak lendirnya tapi tidak terlalu becek, bahkan lebih mengasyikkan karena aku bisa mengentot dengan gerakan yang sangat leluasa tanpa kehilangan nikmatnya sedikit pun. Bahkan saat aku menggulingkan diri kebawah, dengan aktifnya bu Yana action diatas tubuhku. Setengah duduk bu Yana menaik turunkan pinggulnya, sehingga aku cukup berdiam diri, hanya sesekali menggerakkan batang k0ntolku keatas, supaya bisa masuk sedalam-dalamnya. Posisi dibawah ini membuatku leluasa meremas-remas toket montok bu Yana yang bergelantungan diatas wajahku. Terkadang kuremas-remas juga pantatnya yang lumayan besar dan padat. Namun mungkin posisi ini terlalu enak buat bu Yana, karena moncong k0ntolku menyundul-nyundul dasar memeknya. Dan itu membuatnya cepat orgasme. Hanya beberapa menit saja bu Yana bisa bertahan dengan posisi ini. Tak lama kemudian dia memeluk leherku kuat-kuat, seperti hendak meremukkannya.

    Kemudian terdengar erangan nikmatnya, “Aaaahhhh….aku keluar lagi paaaak…..” lalu dia ambruk di dalam dekapanku.
    Namun aku seolah tak peduli bahwa bu Yana sudah orgasme lagi. Butuh beberapa saat untuk memulihkan vitalitasnya kembali. Tak perlu vitalitas. Yang jelas batang k0ntolku sedang enak-enaknya mengenjot vagina teman bisnisku ini. Kemudian kugulingkan badannya sambil kupeluk erat-erat, tanpa mencabut batang k0ntolku dari dalam vaginanya yang sudah orgasme kesekian kalinya. Bu Yana memejamkan matanya saat aku mulai mengentotnya lagi dengan posisi klasik, dia dibawah aku diatas.

    Namun beberapa saat kemudian dia mulai aktif lagi. Mendekapku erat-erat sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan gerakan meliuk-liuk. Aku-pun makin ganas mengentotnya. Namun bu Yana gak mau kalah ganas. Gerakan pantatnya semakin lama semakin dominan. Membuatku berdengus-dengus dalam kenikmatan yang luar biasa.

    “Ooouuhhh…Enak banget paaak….Ak…Aku mau keluar lagi ….kita barengin lagi pak…ta…tadi juga enak sekali….” celotehnya setelah batang k0ntolku cukup lama mengentot vaginanya.

    Aku setujui dan kugenjot batang k0ntolku dengan kecepatan tinggi, maju-mundur, maju-mundur sampai akhirnya kami sama-sama berkelojotan lagi Saling cengkram, saling lumat seolah ingin saling meremukkan dan akhirnya “Crooottt….Crooott…Croottt…” spermaku menyemprot-nyemprot lagi dipuncak kenikmatanku, diikuti dengan rintihan bu Yana yang sedang mencapai orgasme pula.

    “Kita kok bisa tiba-tiba begini ya?” cetus bu Yana sat sudah mengenakan pakaiannya lagi
    “Iya…dari rumah aja gak ada renana, namun tadi mendadak ada keinginan, untunglah bu Yana gak menolak…terimakasih ya sayang” sahutku dengan genggaman erat dipergelangan tangannya dan kemudian kukecup mesra bibirnya yang tipis mungil itu.
    Bu Yana tersenyum dan memeluk pinggangku sambil berkata perlahan,
    “Kita harus berterimakasih pada pemilik tanah itu ya pak, gara-gara dia gak ada ditempat kita jadi ada acara mendadak begini” Aku mengangguk dengan senyum. Sementara hatiku berkata “Gara-gara sopirku gak masuk pula, aku jadi punya kisah seperti ini. Kalau ada dia, aku tentu takkan sebebas ini”

    Sore itu kami pulang kerumah masing-masing dengan perasaan baru. Bahkan malamnya, saat istriku sudah tertidur pulas, aku masih sempat smsan dengan bu Yana. Salah satu smsnya berbunyi :
    “Puas banget…punyaku sampe terasa seperti jebol….punya bapak kegedean sih…kapan kita ketemuan lagi?”
    Kujawab singkat “Kapan pun aku siap..”

  • Cerita Sex Kenikmatan Ketika Memek Ku Di Jilat Pacar

    Cerita Sex Kenikmatan Ketika Memek Ku Di Jilat Pacar


    2064 views

    Perawanku – Cerita Sex Kenikmatan Ketika Memek Ku Di Jilat Pacar, Aku baru saja merekrut sekretaris baru karena sekretarisku yang lama sudah malas-malasan dan kurang profesional, apalagi setelah dia menikah. Oh ya, hampir lupa, aku bekerja di sebuah perusahaan swasta yang sedang naik daun, tepatnya di sebuah bank swasta. Tak kuduga, sekretaris baruku itu memang bukan saja masih perawan, tapi rajin, pintar dan yang paling penting lagi adalah bodinya yang montok dan parasnya yang cantik, dengan kulit putih bersih tanpa cela. Dari pandangan mata pertama kali ketika kuwawancarai aku langsung terpikat dan dari sorot matanya serta sikapnya terhadapku, aku juga faham jika dia suka padaku.

    Wah, cocok deh, rasanya pada minggu pertama hari-hari di kantor begitu indah dan rasanya sangat cepat berjalan. Namanya Indah Ningsih Purwati, oh… rasanya kerjaku semakin bersemangat. Setiap kali dia datang ke kamar kerjaku membawa surat atau minumanku, aku mulai menancapkan busur-busur asmaraku dari mulai menggenggam tangannya, mencium hidung dan keningnya tetapi masih cukup sopan, jangan sampai dia kaget atau marah. Tapi aku yakin, dia pun ingin diperlakukan demikian karena ternyata dia tak menolak bahkan kerjanya semakin rajin dan cekatan bahkan tak pernah bolos (termasuk ketika datang matahari, eh datang bulan). Kupikir tak apa, malah aku senang, toh aku belum mau pakai, yang penting bisa mencium bibirnya, hidungnya, keningnya dan dari hari ke hari kami semakin tenggelam dalam asmara. Ketika itu, tahun 1982, dia sudah punya pacar bahkan pacarnya terus memintanya untuk segera menikah. Herannya, menurut pengakuannya, dia semakin benci dan tidak berniat kawin dengan pacarnya itu. Weleh-weleh- weleh, rupanya jerat cintaku telah merasuki jiwanya.

    Sampai suatu hari (3 bulan kemudian), aku membeRenikan diri untuk mengajaknya pergi ke luar kota di hari minggu, karena tidak mungkin kami mencurahkan cinta kasih kami di kantor. Dia setuju dan berjanji untuk menungguku di sebuah pasar swalayan tak jauh dari rumahnya. Maka ketika mobil kami meluncur di toll Jagorawi menuju Bogor dan kemudian ke Pelabuhan Ratu Sukabumi, hati kami semakin berbunga-bunga sebab kami akan dapat mencurahkan segalanya tanpa takut diketahui orang atau pegawai lain di kantor maklum kedudukanku sebagai kepala cabang bank swasta terkemuka di samping sudah beristeri dan beranak dua.

    “Ning….” kataku pelan ketika mobilku keluar pintu toll.
    “Ada apa Pak?” Ningsih menjawab manis, sambil melirikku.
    “Sekarang jangan panggil bapak, panggil saja Papah, biar nanti orang mengira kita ini suami-isteri. ” Dia mencubit pahaku sambil tersenyum manja, dan tangannya kutahan untuk tetap memegang pahaku, dia mendelik manja tapi juga setuju.
    “Pah… kamu nakal deh”, sambil mencubit sekali lagi pahaku. Wah, rasanya aku seperti terbang ke langit mendengar Ningsih mengatakan “Papah” seperti yang kuminta. Sebaliknya, aku pun mulai saat itu memanggil Ningsih dengan sebutan “Mamah” dan kami saling memagut cinta sepanjang perjalanan ke Pelabuhan Ratu itu, laksana sepasang sejoli yang sedang mabuk cinta atau pengantin baru yang akan ber-“honey-moon” , sehingga tak terasa mobilku sudah memasuki halaman Hotel Samudera Beach. Pelabuan Ratu yang berada di tepi Samudra Hindia dengan ombaknya yang terkenal garang. Laksana suami isteri, aku dan Ningsih masuk dan menuju “reception desk” untuk check-in minta satu kamar yang menghadap ke laut lepas. Petugas resepsi dengan ramah dan tanpa rewel (mungkin karena aku ber-Mamah-Papah dan terlihat sebagai suami isteri yang sangat serasi, sama ganteng dan cantiknya) segera memberikan kunci kamar, sambil minta seorang room-boy mengantar kami ke ruangan hotel di lantai tiga kalau aku tak salah. Segera kututup pintu kamar, di-lock sekaligus dan pesan supaya kami tidak diganggu karena mau beristirahat. Aku dan Ningsih duduk berhadapan di pinggir tempat tidur sambil tersenyum mesra penuh kemenangan. Akhirnya, angan-angan yang selalu kuimpikan untuk berdua-duaan dengan Ningsih ternyata terlaksana juga. Kukecup hidungnya, keningnya, telinganya, Ningsih menggelinjang geli. Kusodorkan mulutku untuk meraih mulutnya, dia terpejam manja dan ketika bibir kami bersentuhan dan kuulurkan lidahku ke bibirnya, ternyata dia langsung menyedot dan melumat lidahku dalam-dalam. “Ooohhgghh, Paahh”, Ningsih mulai terangsang dan merebahkan badannya, aku segera saja menggumulinya dan menaiki badannya, Ningsih melenguh dan terpejam, kemaluanku bergesekan dengan selangkangannya dan bau harum parfumnya semakin merangsang nafsuku. “Paahh, kita buka pakaiannya dulu, nanti lecek.” Oh, harum sekali mulutnya, kulumat habis wajahnya, kupingnya, jidatnya dan mulutnya. “Paahh, bandel nih, kita buka dulu bajunya!” Aku masih terengah-engah menahan nafsuku yang membara, kemaluanku semakin menegang menggesek selangkangannya. “OK Mahh… yuuk dibuka dulu.”

    Karena sudah sama-sama ngebet, kami saling membukakan pakaian dan setelah T-Shirt-nya kulepas, terlihat sepasang gunung menyembul putih, dan mulus sekali. Kami berpandangan setelah tak selembar benang pun menempel. Kudekap Ningsih yang mulus, putih, harum itu, kujilati semuanya sambil berdiri, sementara kemaluanku sudah tegang memerah, apalagi ketika Ningsih mulai meraba dan meremas batang kemaluanku. Kutelentangkan dia di tempat tidur. Oh… betapa mulusnya badan Ningsih, sempurna sekali seperti bidadari. Pinggulnya yang montok, buah dadanya yang putih kencang dengan puting merona merah dan kemaluannya yang dijalari rambut kemaluan yang tidak terlalu lebat jelas menampakkan bentuknya yang sempurna tanpa cacat, dan kelentit yang merah terlihat rapi dan belum menonjol keluar karena memang Ningsih masih perawan. Kujilati dari ujung kaki sampai ujung jidatnya yang mulus, naik ke atas, berhenti lama di bawah kemaluannya. Kumainkan lidahku di antara selangkangannya, Ningsih melenguh, terus kukulum-kulum kemaluannya, klitorisnya yang merah dan beraroma harum, tambah lama tambah merambah ke dalam lubang kemaluannya yang merah.
    “Ogghh, Paahh, geliii.., terusss Pahh, ogghh, tapi jangan terlalu dalam Pahh…, saakiiit.”
    “Yaa, sayanggg”, sambil terus lidah dan mulutku mengulum kemaluan dan kelentitnya yang mulai terasa agak asin karena cairan kemaluan Ningsih mulai keluar.
    “Ogghh, Paah…, adduuhh, Paahh, gelii, Pahh, Mamah kayaak maauu… ogghh.” Aku terus menjilati seluruh kemaluannya dengan membabi buta, kuhirup seluruh cairannya yang wangi itu, sekali-kali lubang pantatnya kujilati dan Ningsih menggelinjang dan merintih setiap kali kujilat pantatnya.

    Penisku semakin tegang dan keras, urat-uratnya terlihat jelas menegang, aku tahan terus supaya tidak ejakulasi duluan. Aku ingin memuaskan Ningsihku yang tentunya baru merasakan kenikmatan surga dunia ini bersama lelaki yang dicintainya. “Paahh, eemmggghh.., teruss… Paahh, geellii…, oooggghh…, Pappaahh jaahhaatt!” aku masih saja terus melumat, memamah, menggigit-gigit kecil lubang kemaluan dan klitorisnya yang merah dan beraroma wangi, dan pantat Ningsih semakin cepat naik turun sepertinya mau agar lidahku semakin masuk ke lubang kemaluannya. “Paahh, naik Paahh, udaahh donnkk, Mamahh nggak tahaan”, sambil menarik tanganku. Matanya terpejam ayam, buah dadanya yang putih, mulus dan mengkel terlihat naik turun. Aku menaiki badannya dan penisku yang sudah seperti besi terasa menggesek bulu kemaluannya dan menempel hangat disela-sela kemaluannya yang semakin basah oleh ludahku dan cairan vaginanya. Kuremas dan kuhisap buah dadanya, kukulum puting susunya yang merah muda, terasa sedap dan manis. Ningsih menggelinjang dan semakin melenguh. “Maahh, masukin yaa, penis Papah”, dia mengangguk sambil tetap terpejam. Kubidikan penisku yang sudah keras itu kelubang kemaluannya, dan kujajaki sedikit-sedikit lubangnya, maklum Ningsih masih perawan, aku tak ingin menyakitinya. “PPPaahh, masukkaan cepatt… Mamah nggak tahan Paah aahh…” Kutancapkan penisku lebih dalam, Ningsih merintih nikmat, pantatku naik turun untuk mencari lubang kemaluannya yang masih belum tertembus penis itu, Ningsih terus menggoyangkan pantatnya naik turun sambil terus merintih. “Maahh, penis Papahh udahh masuukk, oogghh mahh, vaginanya lezat, menyedot-nyedottt. .. penis…” aku mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa, karena disamping Ningsih masih perawan, vaginanya juga punya keistimewaan yang sering disebut “empot-empot ayam” itu. Tambah lama, penisku tambah melesak jauh ke dalam vagina Ningsih dan ada beberapa tetes darah sebagai tanda keperawanannya diberikan kepadaku, boss-nya, kekasih barunya. Oh, betapa bahagianya hati ini. “Paahh, saakkiitt, Paahh, tapi enaak, oooggghh.. Paahh, terus, goyang paahh…, oooghh, cepeetiinn paahh…” Aku semakin mempercepat goyangan pantatku naik turun dan penisku sudah bisa masuk semuanya ke lubang kemaluan Ningsih. Aku bangun dan duduk sambil kupeluk Ningsih untuk duduk berhadap-hadapan dengan tidak melepaskan penisku. Ningsih duduk di pangkuanku dengan kaki melonjor ke belakang pantatku. Penisku terus menancap di vaginanya dan Ningsih mulai menaik-turunkan pantatnya. “Paahh, oggghh… pahh”, sambil melumat bibirku dan menggigitnya. “mmaahh,oogghh, aememmhh… maahh, goyang terusss…, Papah mau keluarrrr.” Ningsih semakin beraksi menaik turunkan pinggulnya yang bahenol dan putih bersih dan aku pun meladeninya dengan menaik-turunkan pantat dan penisku semakin kencang juga.
    “Pppaahh… Papahh harus tanggung jawab yaa, kalau Ningsih hamil”, ucapnya di sela-sela nafasnya yang semakin ngos-ngosan.
    “Ningsiha… emmhhggg, sayang Pappaahh… biarin mengandung anak Papaah”, manjanya. Aku mengangguk saja sebab aku sangat mencintainya.
    “Paahh… oogghh… emmgghh… Ningsiha mauuu… keluaarrr… oomhh.” “Papahh.. jugaa… sayanggg…. “jawabku sambil telentang agi sedangkan Ningsih tetap nongkrong berada di atas badanku dan vagina serta pantatnya naik turun semakin cepat melumat habis batang penisku.

    “Paahh… Mamahh… oooghh… sssakittt, oooggghh… tapiii.. ennaakk”, ketika kubalikkan badannya dan kutancapkan penisku dari belakang. Kugenjot terus penisku keluar masuk lubang kemaluannya sambil kuremas-remas pinggulnya yang mulus dan montok seperti gitar itu, Ningsih semakin merintih, aku juga semakin tersengal-sengal menahan nafasku dan penisku yang semakin liar. Waktu sudah berjalan sekitar 50 menit sejak kami masuk kamar. Kuat juga pikirku, mungkin berkat latihan yogaku yang cukup teratur, sehingga bisa menahan emosi dan cukup nafas. Aku memang rada jago juga dalam bermain asmara di ranjang.
    “Terruusss.. . Paahh… eemmhh… ogghh… Paahh… Paahh, ggghh… Mamahh maaooo keluaarr… oogghh… bareng Paahh.” Kucabut dulu penisku dan Ningsih kuminta untuk telentang kembali dan lantas kutindih lagi sebab aku ingin menatap dan menciumi wajah kekasihku ketika kami sama-sama ejakulasi. Kutancapkan kembali penisku ke vaginanya yang terlihat semakin memerah, kujilati dulu lendir-lendir di kemaluannya sampai lumat dan kutelan dengan nikmat. Dia menggeliat,
    “Cepat dong masukan lagi penisnya Pah!” dan,
    “Bbbleess”, oh nikmat sekali rasanya vagina perawanku tercinta ini. Aku seperti di awang-awang, saling mencintai dan dicintai. Kugoyang terus pantatku semakin lama semakin kencang dan penisku keluar masuk vaginanya dengan gagah, Ningsih terus melenguh kenikmatan sambil tangannya memilin-milin puting susuku semakin membawa nikmat. Ningsih semakin menggila goyangannya mengimbangi keluar masuk penisku ke vaginanya, penisku terasa disedot-sedot dan dijepit dengan daging lunak yang ngepres sekali. Keringat kami semakin bercucuran dan semakin membangkitkan gairah cinta, kemudian tiba pada puncak gairah cinta dan surga dunia kami yang paling indah, paling berkesan sekali disaksikan laut kidul, dan kami berdua serempak berteriak dan mengejang, “Paahh… Maahh… oogghh… mauuu keluuuarrr.. . ogghh… baarrrreeengg. .. yuuu…, oooghh… sayaang.” Kami sama-sama mengejang, mengerang, merengkuh apa pun yang bisa direngkuh, sebuah klimaks dua manusia yang saling mencintai dan baru dipertemukan, meskipun sudah agak telat karena aku sudah berkeluarga.

    Sejak itu, aku terus memadu kasih kapan dan di mana saja (kebanyakan di luar kota) sampai Ningsih kawin dan keluar dari perusahaanku. Anak-anaknya adalah anak-anakku juga bahkan wajahnya mirip wajahku dan kadang-kadang kami masih bertemu memadu kasih karena kami tidak bisa melupakan saat-saat indah itu. Kapan akan berakhir perselingkuhan ini, kami tidak tahu sebab cinta kami sangat mendalam.

    Ningsih telah keluar dari kantor cabang bank yang kupimpin di bilangan Slipi, karena dia dipaksa kawin dengan seorang laki-laki yang tidak dicintainya. Namun sebagai anak yang patuh sama orang tua, terpaksa harus mengikuti keinginan orangtuanya dan ikut bersama suaminya setelah itu ke Bandung, karena suaminya bertugas di kantor pajak Jawa Barat. Sebulan sebelum menikah dia kuajak ke Singapore untuk operasi selaput dara, karena aku tidak ingin Ningsihku bermasalah dengan suaminya pada malam pengantinnya. Kami menginap di sebuah hotel di kawasan Orchard Road yang ramai dan penuh pertokoan selama tiga malam dan satu malam lainnya aku menungguinya di Rumah Sakit Elizabeth yang terkenal dan langsung ditangani oleh dr. Lie Tek Shih, spesialis operasi plastik, kenalan lama saya. Malam sebelum operasi selaput dara, kami menumpahkan seluruh kasih sayang semalam suntuk di hotel bintang empat itu, dan malam itu merupakan malam yang ke 24 (karena Ningsih rajin mencatat setiap pertemuan kami) kami memadu kasih dan terlarut dalam kebersamaan yang tiada tara sejak yang pertama di “Samudera Beach” Pelabuhan Ratu.

    “Papah”, Ningsih bersender manja di dadaku di kamar hotel itu.
    “Apa sayang?” jawabku sambil mencium rambutnya yang harum.
    “Mamah… Mamah nggak mau kawin dan meninggalkan Papah”, rengeknya manja.
    “Memangnya kenapa sayang?” jawabku sambil mengusap sayang payudaranya yang putih ranum.
    “Mamah nggak cinta sama calon suami pilihan Bapak, lagi pula Mamah nggak mau meninggalkan Papah sendirian di Jakarta.” Matanya terlihat mulai berkaca-kaca, “Mamah sangat sayaang sekali sama Papah, Mamah cintaa sekali sama Papah, Mamah tak rela tubuh dan segala milik Mamah dijamah dan dimiliki orang lain selain Papah, achh… kenapa Tuhan mempertemukan kita baru sekarang? setelah Papah punya isteri dan anak?” Ningsih terus bergumam sambil membelai dadaku dan sesekali mempermainkan puting susuku yang semakin keras.

    “Mahh, sudahlah, itu sudah diatur dari sananya begitu, kalau dipikir, Papah pun nggak rela kamu dijamah laki-laki lain, Papah tak kuasa membayangkan bagaimana malam pengantinmu nanti, tapi semuanya sudah akan menjadi kenyataan yang tidak mungkin kita robah.” Aku menciumi seluruh mukanya dengan segenap kasing sayang, seakan kami tidak ingin terpisahkan, air mata kami berlinangan campur menjadi satu dalam kesenduan dan kemesraan yang tak pernah berakhir setiap kali kami memadu kasih.

    “Papaahh, nikmatilah Ningsihmu sepuasmu Pahh, sebelum orang lain menjamah tubuhku.” Ningsih menarik tanganku ke buah dadanya dan merebahkan badannya ke kasur empuk sebuah double-bed. Aku beringsut mendekatinya, sambil kurebahkan badanku di samping tubuhnya yang putih mulus dan seksi itu. Kuusap-usap penuh mesra dan kasih sayang buah dadanya yang putih ranum dengan putingnya yang merona merah. Kujulurkan mulut dan lidahku ke puting buah dada kirinya yang menurutnya cepat membuat rangsangan berahinya timbul.

    “Paahh…, gelliii… sayaang… oooggghh, Paahh…, naikin Mamaahh… Paahh…” Matanya merem ayam dan dadanya semakin turun naik.
    “Iyyaa, yaanng…” aku segera menindihi badannya, dan penisku mulai kembali tegang. Tiba-tiba Ningsih membalikkan badannya dan mendadak merenggangkan kedua kakiku. Tak sampai satu menit, Ningsih sudah mengulum penisku yang semakin mengeras dan mengkilat kepalanya sampai batangnya amblas semua ke dalam mulutnya.
    “Oogghh, Paahh, sudah assiiinnn, Papah sudah ngiler nih, tapi nikmat kok, Mamah suka?” Aku semakin merem melek,
    “Ogghh, Mmaahh, geellii, sayaang, nikmaatt, ogghh.” Ningsih mengenyot biji pelirku dan menggigit-gigit sayang, hingga aku menggelinjang geli dan nikmat. Ningsih memang pintar, hebat, telaten dan cantik. Aku terkadang tak suka dan tak rela dia nanti ditiduri dan dijamah lelaki lain, walaupun itu suaminya. Aku terpikir untuk menggodanya.
    “Mah, apa nanti suamimu juga dijilati begini?” Ningsih berhenti melumat dan menjilat penis dan buah pelirku sejenak. Matanya mendelik dan mencubit pantatku keras sekali.
    “Jangan menyakiti hati Mamah ya Pah, Mamah sumpah nggak akan seperti ini, seperti main sama Papah, meskipun nanti lelaki itu resmi jadi suamiku”, Ningsih iseng mengusap-usap penisku penuh sayang sambil nyerocos lagi.
    “Percaya dech pah, Ningsih cuma cinta sama Papah, paling-paling kalau main nanti sama dia sekedar karena kewajiban, biar saja kayak gedebong pisang.”
    “Benar ya Mah, Papah nggak rela kalau kamu main sama dia dirasain, terus ikut goyang dan melenguh, Papah pasti merasakannya” , kataku menimpali.
    “Nggak bakal sayang, Mamah hanya manja dan menikmati semua kalau ngewe sama Papah, percaya dech sayang.” Ningsih kembali naik di atas badanku dan penisku terus diusap-usapnya dan sesekali dikocoknya persis di bagian kepalanya, sehingga langsung tegang dan berdiri perkasa menampakkan otot-ototnya. Ningsih mengangkat sedikit pantatnya ke atas dan menyelipkan penisku yang semakin perkasa ke lubang kemaluannya yang mulai basah dan licin. Penisku nggak begitu panjang memang, paling sekitar 15 sentimeter, tapi kerasnya seperti besi, dan Ningsih selalu menikmati klimaks dengan sangat bahagia bahkan bisa berkali-kali klimaks dalam setiap kali berhubungan denganku. Pantatnya mulai bekerja naik turun dan pantatku juga mengimbanginya dengan menekan-nekan ke atas, sehingga Ningsih semakin merem melek keasyikan. “Ppaahh, aagggghh… terus teken sayaang… Mamaahh eennnaakk adduuhh Paahh.., oogghh.., Mamaahh, cintaa.. yaangg…” Selalu saja Ningsih nyerocos mulutnya kalau lagi keasyikan vaginanya melumat penisku. Vaginanya mulai lagi menyedot-nyedot penisku dengan “empot ayamnya” yang tak bisa kulupakan.

    “mmaahh…. ooogghh… aduuhh, Maahh, nikmaat, sayaang.. teruuuss Maahh, goyaanng.” Aku mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kuremas-remas buah dada dan putingnya, hingga dia kegelian dan semakin kencang menaik-turunkan pantatnya, sampai bunyi gesekan penis dan vaginanya semakin terdengar. Ningsih membalikkan badannya dan membelakangiku tapi dengan posisi tetap di atas tubuhku tanpa mengeluarkan penisku dari kemaluannya. Aku paling bernafsu kalau melihat pantat Ningsih yang putih mulus dan bahenol turun naik di depan mataku sambil vaginanya terus menghisap-hisap batang penisku sampai amblas semuanya ke dasar kemaluannya. Tiba-tiba, “Pppaahh, oggghh, Papaahh, Mamahh maooo keluaarr…. ooghh… Papaahh… aa.. aa… aagghh aaggghh, Mamaahh duluaannn Pahh….” Ningsih terkulai lemas sambil menyubit keras pantatku dan berbalik kembali menindih tubuhku, sambil memegang penisku yang masih berdiri tegak dan belepotan lendirnya. “Bandel nich… ayo cepeten masukin lagi, Mamah yang di bawah!” perintahnya manja sambil menciumi wajahku. Kedua tubuh kami mandi keringat, rasanya puas sekali setiap bersetubuh dengan Ningsihku sayang.
    Aku tersenyum puas, aku memang nggak egois, biar Ningsihku dulu yang terkulai lemas menikmati klimaksnya, aku bisa menyusul kemudian dan Ningsih selalu melayaniku dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Kubalikkan tubuhnya, kujilati dengan kulumat lendir-lendir di vaginanya, kujilat, kugigit sayang klitoris dan vaginanya, dia menggelinjang kegelian. Kutelan semua lendir Ningsihku, sementara itu penisku masih berdiri tegak.

    “Cepat masukin penisnya sayang, Mamah mau bobo nich.., lemas, ngantuk”, kicaunya. Setelah kubersihkan vaginanya dengan handuk kecil, kumasukkan lagi penisku, aduh ternyata lubang vaginanya menyempit kering lagi, menambah nikmat terasa di penisku.
    “Mmaahh, eennaak… Maahh, oogghh, sempit lagi Maahh…” sambil terus kutekan ke atas dan ke bawah penisku.

    Aku sedikit mengangkat badanku tanpa mencabut penisku yang terbenam penuh di vagina Ningsih, kemudian kaki kanan Ningsih kuangkat ke atas dan aku duduk setengah badan dengan tumpuan kedua dengkulku. Ningsih memiringkan sedikit badannya dengan posisi kaki kanannya kuangkat ke atas. Dengan posisi demikian, kusodok terus penisku ke luar dan ke dalam lubang vaginanya yang merah basah. Ningsih mulai melenguh kembali dan aku semakin bernafsu menusukkan penisku sampai dasar vaginanya. “Ooggghh, Maahh, ooogghh.. nikmat sekali sayang”, lenguhku sambil memejamkan mataku merasakan kenikmatan vagina Ningsih yang menyut-menyut dan menyedot-nyedot. “Paahh.. Mamah enaak lagi, ooogghh… Paahh”, dia mulai melenguh lagi keenakan. Aku semakin bersemangat menusukkan penisku yang semakin tegang dan rasanya air maniku sudah naik ke ujung penisku untuk kusemburkan di dalam kemaluan Ningsih yang hangat membara. Kubalikkan tubuhnya supaya tengkurap dan dengan bertumpu pada kedua dengkulnya aku mau bersenggama dengan doggy style, supaya penisku bisa kutusukkan ke vaginanya dari belakang sambil melihat pinggul dan pantatnya yang putih dan indah. Dalam posisi senggama menungging begitu, aku dan Ningsih merasakan kenikmatan yang sangat sempurna dan dahsyat. Apalagi aku merasakan lubang vaginanya semakin sempit menjepit batang penisku dan sedotannya semakin menjadi-jadi. “Paahh… teruuuss genjoott.. Paahh…” Ningsih mulai mengerang lagi keenakan dan pantatnya semakin mundur maju sehingga lubang vaginanya terlihat jelas melahap semua batang penisku. “Blleesss, shhoottt… bleesss… srooottt, sreett crreeckkk… ” gesekan penisku dan vaginanya semakin asyik terdengar bercampur lenguhan yang semakin nyaring dari dua anak manusia yang saling dilanda cinta.

    “Maahh, ooggghh… adduuuhh, Yaangg… emghh, Papah enaakk, ooghh!” aku tergoncang-goncang dan dengkulku semakin lemas menahan kenikmatan dan nafsuku yang semakin menggelegak. Sementara itu keringatku semakin bercucuran membasahi kasur meskipun AC cukup dingin di kamar hotel itu.

    “Paahh, ooogghh, teruuusss tusuuk Paahh…” Ningsih merintih-rintih ke asyikan, kelihatannya akan klimaks lagi. Rupanya Ningsih nggak mau tahu kalau posisi persetubuhan saat itu akan berakhir 2-1 untuk kemenanganku, dan entah akan menghasilkan skor berapa sampai pagi hari nanti, soalnya mumpung ketemu sebelum dia dikawinkan. Ningsih memintaku untuk telentang lagi dan sementara dia berada jongkok di depanku, sehingga vaginanya yang merah basah sampai ke bulu-bulunya terlihat jelas di depan mataku. Aku memberi kode agar Ningsih mendekatkan vaginanya ke mukaku. Sesaat kemudian vaginanya sudah ditindihkan di mulutku dan kulumat habis cairan asin bercampur manis yang ada di selangkangan dan mulut vagina dan bulunya. Kujilati habis dan kutelan dalam-dalam. Ningsih melenguh keasyikan sambil menggoyangkan pinggulnya ke atas ke bawah dan membenamkan vaginanya ke mukaku.

    “Paahh…, ooghh, Paahh…, nikmaatt, yaangg… teruusss, aduuuhh…, ooggghh, eemmhh, gilaa…, emmhh”, mulai ramai lagi dia dengan lenguhannya yang semakin menambah semangatku untuk terus melumat, menjilat, menggigit-gigit kecil kemaluan dan klitorisnya, lidahku terus menggapai-gapai ke dalam kemaluannya dan sesekali menjilat lubang pantatnya, sehingga dia menggeliat dan melenguh keenakan. Lenguhan Ningsih kalau sedang senggama itu tak bisa kulupakan sampai saat ini.

    Ningsihku adalah isteriku yang sesungguhnya, meskipun secara resmi tidak dapat dilakukan karena keadaan kami masing-masing. Terkadang kami bingung apakah cinta kasih kami akan terus tanpa akhir sampai takdir memisahkan kami berdua? Ningsih kembali kuminta celentang, karena sudah kebiasaanku kalau aku klimaks harus melihat wajahnya dan mendengar lenguhannya di depan mataku, dan rasanya semua perasaan cintaku dan spermaku tumpah ruah di dalam vaginanya kalau aku ejakulasi sambil berada di atas tubuhnya yang mulus montok, terkadang sambil meremah buah dadanya yang putih padat.

    Kumasukkan lagi segera penisku yang sekeras besi dan berwarna coklat mengkilap itu kelubang vaginanya, “Blleeeessss. ” Aku sudah tak tahan lagi menahan gumpalan spermaku di ujung penisku. Kugenjot penisku keluar masuk vaginanya sampai ke ujung batang penisku, sehingga rambut kemaluan kami terasa bergesekan membuat semakin geli dan nikmat rasanya. Kuangkat kaki kanan Ningsih ke atas, sehingga aku semakin mudah dan bernafsu memaju mundurkan pinggulku dan penisku, Ningsih meringis dan melenguh keenakan. “Paahh… teruuss Paahh… oogghh, penis Papah eaakk… ooggghh, eeemmhh… emmhh… aduuuhh.” Keringat kami semakin bercucuran membasahi sprei, masa bodoh sudah bayar mahal ini. Aku semakin bernafsu menyodok dan menarik batang penisku dari vagina Ningsih yang semakin licin tapi tetap sempit seperti perawan.

    “Oooggghh… Maahh… ooggghh… Maahh… ikut goyang dong Sayaang…, oooghh… Papaahh maauu keluuuaarr.. .” aku semakin gila saja dibuatnya, keringat semakin bercucuran, nikmat dan nikmat sekali setiap bersetubuh dengan Ningsihku sayang. Air maniku rasanya tinggal menunggu komando saja untuk disemprotkan habis-habisan kelubang vagina Ningsih. “Paahh, aduuuhh, bareng yuuu.. Paahh… Mamah mmoo keluaarr lagi”, Ningsih minta aku menindihnya dan menciumnya. Segera kutimpa dia dari atas sambil melumat mulut, bibir dan lidahnya. “Ooogghh… yuu… baraeeng.. Paahh… aiiaaogghh.. . aduhh.. yuu Maahh.. Paahh…” badan kami saling meregang, berpelukan erat seakan tak mau lepas lagi. Air maniku kusemprotkan dalam-dalam ke lubang vagina Ningsih, rasanya nggak ada lagi tersisa. Kami terkulai lemas dalam pelukan hangat dan puas sekali. Sesekali penisku kutusukan ke dalam vaginanya, Ningsih menggelinjang geli dan melenguh “Paahh… udaahh… Mamahh geli…” matanya terpejam puas. Kuciumi dia, kubersihkan lagi vaginanya dengan jilatan lidah dan mulutku, ketimbang pakai handuk. Vaginanya tetap harum, manis dan wangi laksana melati.

    Sepulang dari Singapore, aku dan Ningsih masih selalu bertemu di beberapa motel di Jakarta dan sekitar Botabek. Aku seakan tidak rela melepas kekasihku untuk dikawinkan dengan lelaki lain. Tapi memang tidak ada jalan lain, sebab meskipun Ningsih telah menyatakan keikhlasannya untuk menjadi isteri keduaku, namun aku juga sangat cinta keluarga terutama anak-anakku yang masih butuh perhatian. Ningsih sangat maklum hal itu, namun dia juga tidak bisa menolak keinginan orangtuanya untuk segera menikah mengingat hal itu bagi seorang wanita adalah sesuatu yang harus mempunyai kepastian karena usianya yang semakin meningkat. Waktu itu Ningsih sudah berusia hampir 26 tahun dan untuk wanita seusia itu pantas untuk segera berumah tangga.

    Tanpa terasa hari pernikahan Ningsih sudah tinggal tersisa satu bulan lagi, bahkan undangan pesta pernikahan sudah mulai dicetak, dan dia membeNingsihhukan aku bahwa resepsi pernikahannya akan diselenggarakan di Balai Kartini. Hatiku semakin merasa kesepian, dari hari ke hari aku semakin sentimentil dan sering marah-marah termasuk kepada Ningsih. Aku begitu tak rela dan rasanya merasa cemburu dan dikalahkan oleh seorang laki-laki lain calon suami Ningsih yang sebenarnya tidak dia cintai. Tapi itulah sebuah kenyataan pahit yang harus kutelan. Itulah adat ketimuran kita, adat leluhur dan moyang kita. Barangkali kalau aku dan Ningsih hidup di sebuah negara berkebudayaan barat, hal ini tidak bakalan terjadi, sebab Ningsih bisa menentukan pilihannya sendiri untuk hidup bahagia bersamaku di sebuah flat tanpa bisik-bisik tetangga dan handai-taulan di sekitar kita.

    Tanpa terasa pula aku sudah menjalin cinta dan berhubungan intim dengan Ningsih hampir empat tahun lamanya, seperti layaknya suami isteri tanpa seorang pun yang mengetahui dan hebatnya Ningsih tidak sampai mengandung karena kami menggunakan cara kalender yang ketat sehingga kami bersenggama jika Ningsih dalam keadaan tidak subur.

    Pada suatu sore, Ningsih meneleponku minta diantarkan untuk mengukur gaun pengantinnya di sebuah rumah mode langganannya di kawasan Slipi. Kebetulan aku sedang agak rindu pada dia. Kujemput dia di sebuah toko di Blok M selanjutnya kami meluncur ke arah Semanggi untuk menuju ke Slipi. Di mobil dia agak diam, tidak seperti biasanya.
    “Ning, kok tumben nggak bersuara”, kataku memecah hening.
    Dia menatap mukaku perlahan, tetap tanpa senyum. Air matanya terlihat samar di pelupuk matanya.
    “Mah, kenapa sayang? kok kelihatannya bersedih”, kataku sekali lagi.
    Dia tetap menunduk dan air matanya mulai meluncur menetes di tanganku yang sedang mengelus mukanya.
    “Bertambah dekat hari pernikahanku, aku bertambah sedih Pah”, ujarnya.
    “Mamah membayangkan malam pengantin yang sama sekali tidak Mamah harapkan terjadi dengan lelaki lain. Sayang sekali kamu sudah milik orang lain. Kenapa kita baru dipertemukan sekarang?” Ningsih berceloteh setengah bergumam. Aku merasa iba, sekaligus juga mengasihani diriku yang tidak mampu berbuat banyak untuk membahagiakannya.

    Kugenggam tangannya erat-erat seolah tak ingin terlepaskan. Tanpa terasa, mobilku sudah memasuki pekarangan rumah mode yang ditunjukan Ningsih. Hampir setengah jam aku menunggu di mobil sambil tiduran, mesin dan pendingin mobilku sengaja tak kumatikan. Laser disk dengan lagu “Love will lead you back” mengalun sayup menambah suasana sendu yang menyelimuti perasaanku. Aku dikejutkan Ningsih yang masuk mobil dan membanting pintunya. Setelah berada di jalan raya kutanya dia mau ke mana lagi dan dia menjawab terserahku. Kuarahkan mobilku kembali ke jembatan Semanggi dan belok kiri ke jalan Jenderal Sudirman dan masuk ke Hotel Sahid. Sementara aku mengurus check-in di Reception Desk, Ningsih menungguku di lobby hotel. Kemudian kami naik lift menuju kamar hotel di lantai dua.

    “Pah, Mamah serahkan segalanya untukmu, Mamah khawatir sebentar lagi Mamah dipingit, nggak boleh keluar sendirian lagi, maklum tradisi kuno kejawen masih ketat.” Tanpa malu-malu lagi karena kami memang sudah seperti suami isteri, dia membuka satu persatu pakaian yang melekat di badannya sehingga kemontokan tubuhnya yang tak bisa kulupakan terlihat jelas di hadapanku. Tanpa malu-malu pula dia mulai memelorotkan celana panjang sampai celana dalamku, sehingga batang penisku yang masih tiduran terbangun. Tanpa menungguku membuka baju dan kaus singlet, Ningsih sudah membenamkan batang penisku ke mulutnya dan melumatnya dalam-dalam. Aku mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa dan batang penisku mulai mengembang besar dan keras seperti besi.

    Cerita Sex Kenikmatan Ketika Memek Ku Di Jilat Pacar

    Cerita Sex Kenikmatan Ketika Memek Ku Di Jilat Pacar

    “Ogghh… Maahh…, isep terus yaang oooghh, aduuuuhh… gelli”, aku mulai melenguh nikmat dan Ningsih semakin cepat mengulum penisku dengan memaju-mundurkan mulutnya, penisku semakin terasa menegang dan aliran darah terasa panas di batang penisku dan Ningsih semakin semangat melumat habis batang penisku. “Oggghh, Paahh, enaakkk asiiin.. Paahh.” Wah, batang penisku makin terasa senut-senut dan tegang sekali rasanya cairan spermaku sudah berkumpul di ujung kepala penisku yang semakin merah mengkilat dikulum habis Ningsih. Aku minta Ningsih menghentikan hisapannya dulu, kalau tidak rasanya spermaku sudah mau muncrat di mulutnya.

    “Ooogghh, Maahh, sudah dulu doong, Papaahh moo… keluaar!” Ningsih menuruti eranganku dan beranjak rebah dan telentang di tempat tidur. Aku mengambil nafas dalam-dalam untuk menahan muncratnya spermaku. Aku ikut naik ke tempat tidur dan kutenggelamkan mukaku ke tengah selangkangannya yang mulus putih tiada cela tepat di depan kemaluannya yang merekah merah. Kujulurkan lidahku untuk kemudian dengan meliuk-liuk memainkan kelentitnya, turun ke bawah menjilat sekilas lubang pantatnya. Ningsih melenguh kegelian dan mulai menaik-turunkan pantatnya yang putih dan gempal.

    Kutarik ke atas lidahku dan kujilat langit-langit vaginanya yang mulai basah dan terasa manis dan asin. Kutegangkan lidahku agar terasa seperti penis, terus kutekan lebih dalam menyapu langit-langit vagina Ningsih. Ningsih semakin memundur-majukan pinggulnya sehingga lidahku menembus lubang vaginanya semakin dalam. Aku sebenarnya ingat bahwa hasil operasi selaput daranya tempo hari di Singapore bisa jebol lagi, tapi aku tak peduli kalau kenikmatan bersenggama dengan Ningsih telah memuncak ke ubun-ubunku. “Paahh… ooghh… wooowww… ooghh.. paahh, terus paahh… enaakkk… paahh lidahnya kayaak kontoooll… ” Goyangan pinggul Ningsih semakin menggila, aku pun tambah semangat membabi buta memainkan lidah dan mulutku melumat habis vagina dan klitorisnya sampai cairan Ningsih semakin banyak mengalir. Kuhisap dan kutelan habis cairan vagina Ningsih yang asin manis itu sehingga lubang vaginanya selalu bersih kemerahan. Ningsih terus menyodok-nyodokkan vaginanya ke mukaku sehingga lidahku terbenam semakin dalam di lubang vaginanya, sampai mulai terasa pegal rasanya lidahku terus kutegangkan seperti penis. “Paahh… sudah naik sayaang, Mamah sudah nggak tahan, masukkan penisnya sayang.” Ningsih menarik tanganku ke atas supaya aku segera menaikkan badanku di atas badannya.

    Penisku memang sudah terasa panas dan tegang sekali. Ningsih tak sabar memegang penisku dan menuntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah karena lendir kemaluan bercampur ludahku. Maka “bleeess”, “Ogghh… Paahh… tekan terus sayaang, Mamah udaahh rinduu… oogghh emmgghh… Paah… terus goyaag sayaang…. ooghh..” Pantat Ningsih mulai bergerak naik turun dengan liar dan penisku sebentar masuk sebentar keluar dari lubang vaginanya yang menyedot-nyedot lagi. Kunaikkan kaki kanannya dan dengan posisi setengah miring dan posisiku setengan duduk aku sodok vagina Ningsih dari belakang. Aku semakin bernafsu kalau melihat pantat dan pinggul Ningsih yang putih. Penisku semakin ganas dan tegang menyodok mantap vaginanya dari belakang.

    Ningsih membalikkan tubuhnya sehingga menungging membelakangiku dan penisku tak kucabut dari vaginanya. “Paahh.. teruuss dooong, Mamaah nikmaa… ogghh… teruuusss… sodoook sayaang… ogghh… Paahh…. aaoggghh… uuuggghh…” Pantatnya semakin menggila mundur maju dan aku pun semakin menggila menyodokkan penisku sampai rasanya mau patah. Memang setiap senggama sama Ningsih rasanya habis-habisan. Kutumpahkan semua kemampuan dan keperkasaanku untuk membahagiakan Ningsihku. Dia pun demikian, tidak ada yang tersisakan kalau kami bersenggama. Harus habis-habisan supaya puas. Keringat kami membanjiri sprei hotel seperti habis mandi.

    “Mmaahh… oooghh, teruuusss goyaang… oooggghh.. Maahh… Papaahh mooo keluaarr… gila Maahh… vaginanyaa.. . oooghh… nikmaat… sekalii…” Aku mulai ribut dan Ningsih melenguh semakin panjang. Mungkin tamu kamar sebelah mendengar lengkingan dan lenguhan kami.

    Masa bodoh! “Pahh… emmghh… oogghh… Paapaahh… adduuuhh.. Paahh… adduuhh… Mamaahh… mmooo kelluuaarr.. . emmggg… addduhh… Paahh aduuhh… Paahh… adduuhh”, Kugenjot terus penisku keluar masuk, vagina Ningsih yang semakin banjir dengan cairan vaginanya, terus kugenjot penisku sampai pegel aku tak peduli. Keringat kami terus membanjiri sprei.

    Kuminta Ningsih telentang kembali karena dengkulku mulai lemas. Dia tersenyum sambil tetap memejamkan matanya. Oh, cantiknya bidadariku, rasanya ingin kukeluarkan seluruh isi penisku untuknya. Ningsih baru sadar bahwa hasil operasi selaput daranya mungkin jebol lagi. Ningsih bilang masa bodoh, yang penting semuanya telah diberikan buat Papah. Biar saja suaminya curiga atau marah atau bahkan kalau mau cerai sekalipun kalau tahu dia nggak perawan lagi. Kali ini kami nggak menunggu waktu ketika Ningsih sedang tidak subur, karena Ningsih ingin mengandung anakku dan orang tidak akan curiga karena Ningsih akan punya suami. Memang kasihan nasib suami Ningsih nanti, tapi bukan salah kami karena dia merebut cinta kami, ya kan ?

    “Cepat pah masukan lagi ach… jangan mikirin orang lain!” Tuh kan betapa dia nggak ambil peduli tentang hari pernikahannya dan calon suaminya, sebab bagi dia akulah suami sesungguhnya dalam hati sanubarinya. Bleess…, “Ooogghh… Paahh, enaak… Paahh… aaoogghh.. uuhhgg.. uuughh… genjot terus Paah”, Aku tekan penisku sekuat-kuatnya sampai tembus semuanya ke lubang paling dalam vaginanya sampai terasa mentok. “Ooogghh… mmaahh… nikmaattt… istrikuu… sayaangg… oooggghh… aagghh… eemmgghh…” aku setengah berdiri lagi dengan tumpuan ke dua dengkulku dan kurenggangkan kedua kaki Ningsih, kusodokkan terus penisku keluar masuk vaginanya, bleeesss… sreeett… blleeess… sreeet…, vaginanya menimbulkan suara yang semakin memancing gairah kami berdua. Ningsih memejamkan dan mengigit-gigit bibirnya dan mencakar-cakar punggung dan tanganku ketika mulai meregang.

    “Ooooggghh.. . Paappaahh… emmggg… ooggghh… aduuuhh… Mamaah moo keeluuuuarr. . oooghh.. Paahh… teruuuss… saayyaang, keluuaarriiinn barreenng oogghh”,
    “Hayyyoo… Maahh… oogghh… hayoo… baarr… ooghh… reenng… Maahh… ooooghh”, teriakanku tak kalah serunya. Kami menggelepar, meregang, mengejang bersama-sama, serasa nafasku mau copot dan Ningsih melenguh panjang sambil merasakan cairan air maniku tertumpah ruah di lubang kemaluannya, terasa nikmat dan hangat katanya. Biasanya sehabis merasakan klimaks yang sangat dahsyat Ningsih selalu memukul dan mencubit sayang badanku, terus kelelahan mau tidur sehingga terbaring lunglai dengan keringat bercucuran. Aku selalu memeluk dan menciumi keningnya, hidungnya, mulutnya, rambutnya sampai ke pantatnya, biasanya dia menggelinjang dan marah-marah karena geli. Jika Ningsih sudah terpuaskan dan tertidur, aku rasanya lelaki yang sangat berbahagia di dunia ini. Sekian dulu (Akan kusambung setelah Ningsih kawin seminggu, tambah seru deh!).
    Telah seminggu Ningsih menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Resepsi pernikahannya di Balai Kartini cukup meriah, dan aku datang dengan isteriku untuk menyampaikan selamat. Ketika aku menyalaminya, dia tertegun dan terasa agak kikuk dan serba salah, aku pun merasakan hal yang sama. “Terima kasih ya Pak”, katanya hampir tak terdengar. Di hatiku berkecamuk seribu macam pikiran, tapi kuusahakan untuk tetap wajar. Ningsihku begitu cantik dan anggun dengan pakaian pengantinnya. Aku membayangkan bahwa sebentar lagi Ningsih kekasihku, isteriku, yang beberapa tahun telah memadu cinta denganku akan menjadi isteri orang.

    Meskipun kutahu bahwa dia tetap mencintaiku, tapi secara resmi dia akan menjadi isteri orang lain, tentu tidak akan sebebas dulu ketika dia masih single. Sebentar lagi Ningsih akan tidur berdua-duaan dengan lelaki lain, mungkin untuk selamanya, karena aku pun tak ingin dia menjadi janda dan kalau Ningsih menjadi janda tentu akan menjadi gunjingan orang. Tidak, aku tak rela Ningsihku menjadi gunjingan orang. Sekilas aku berpikir untuk mengakhiri saja hubunganku dengan Ningsih, karena dia telah menjadi isteri orang, tapi apakah bisa semudah itu aku melupakannya? Dunia rasanya sepi dan kejam, dan aku melangkah gontai meninggalkan pesta perkawinannya yang masih penuh tawa dan canda teman-teman dan keluarganya.

    Beberapa hari setelah pernikahannya aku membenamkan diri dengan pekerjaanku, siang dan malam kusibukkan diriku dengan pekerjaan dan mengurus anak-anaku. Aku tak mau membayangkan, dan memang tak sanggup membayangkan sedang apa Ningsih beberapa hari setelah pernikahannya. Aku cemburu, marah, masgul, gundah jika membayangkan dirinya sedang bersenang-senang dengan suaminya yang tentunya sudah tak sabar ingin menikmati kemontokan dan kemulusan tubuh Ningsih, yang sudah resmi jadi isterinya. Aku membayangkan Ningsih telanjang bulat bersama suaminya, manja, bersenggama bebas tanpa takut oleh siapapun dan melenguh mesra seperti ketika bersenggama denganku.

    Tiba-tiba aku sangat benci padanya, aku menganggap Ningsih nggak setia padaku, Ningsih telah mengkhianati cintaku, buktinya dia mau saja digilir oleh lelaki lain. Apakah itu yang namanya cinta dan kesetiaan? Aku bertekad untuk menjauhinya mulai sekarang, dan aku tak akan menerima teleponnya. Ningsih memang berjanji akan meneleponku paling lambat satu minggu setelah dia menikah dan sebelum ikut suaminya pindah ke Bandung.

    Tidak! aku tak akan menerimanya jika dia meneleponku, biar dia tahu rasa, aku tak mau bekas orang lain. Benar saja, pada hari kelima setelah kawin dia meneleponku.
    “Pak, ada telepon”, kata sekretarisku yang baru, pengganti Ningsih.
    Anehnya, meskipun dia berparas lumayan, aku tak tertarik sama sekali dengan sekretaris baruku itu. Aku memang bukan type “hidung belang” yang sekedar mau iseng bercumbu dengan perempuan. Aku hanya jatuh hati dua kali seumur hidupku, kepada isteriku dan kepada Ningsih.
    “Pak, kok melamun, ada telepon dari Ibu Ningsih, katanya bekas sekretaris bapak”, sekretaris baruku kembali mengagetkan lamunanku.
    “Ooh.. ya… ya.. sebentar Reni…, emh.. dari siapa? Ningsih? bilang saja Bapak sedang ke luar kantor ya!” aku mengajari dia bohong.
    “Lho, Pak, kenapa? kan kasihan Pak, katanya penting sekali, dan besok Ibu Ningsih mau pindah ke Bandung”
    Reni, sekretaris baruku itu mulai mendesakku untuk menerima saja telepon Ningsih itu. Aku sejenak merasa bingung, aku rasanya masih benci tapi juga sangat rindu sama Ningsih, apalagi kata Reni besok akan jadi pindah mengikuti suaminya yang bekerja di Bandung.

    Setelah berfikir sejenak… “OK, Reni, sambungkan ke sini!” dan aku agak gugup untuk kembali berbicara dengan Ningsih, untuk kembali mendengar suaranya, Ningsih yang sekarang sudah menjadi isteri orang lain.
    “Hallooo…, siapa nich?”, kataku agak malas.
    “Papah, ini Ningsih Pah, Papah kok gitu sih?” jawab Ningsih di ujung sana.
    “Oh, Nyonya Prayogo, saya kira Ningsih Prameswara kawanku”, kataku menggoda.
    “Nggak lucu ah…, Mamah sekarang tanya serius, apa Papah mau nemui Mamah nggak sebelum besok Mamah pindah ke Bandung?”, jawabnya lagi setengah mengancam. Aku bingung juga ditanya begitu, sebab jauh di dalam hatiku sebenarnya aku rindu berat sama Ningsih, tapi kebencian dan kekesalan masih menempel erat di benakku.

    Beberapa jenak, aku nggak bisa menjawab sampai Ningsih nyerocos lagi.
    “Mamah ngerti, Papah masih kesal dan benci sama Mamah, tapi kamu kan sudah setuju kalau Mamah terpaksa harus kawin, demi kebaikan hubungan kita dan demi menjaga nama baikmu juga. Papah, dengar! Mamah sudah seminggu nggak menstruasi lagi sampai sekarang. Ingat hubungan kita di Hotel Sahid terakhir kali? Sudahlah, nanti Mamah ceNingsihkan lebih lengkap, sekarang mau nggak jemput Mamah di toko biasa di Blok M? Soalnya mumpung si Yudi pulang agak larut malam” Nama suaminya memang Yudi Prayogo dan hanya selisih dua tahun dengan Ningsih, katanya sih ketemu di kursus Inggris LIA.

    Hatiku mulai melunak mendengar pengakuannya dan serta merta aku menyetujui untuk menjemputnya di Blok M. Aku memarkir mobilku di tempat parkir yang agak memojok dan sepi, maklum kami harus semakin berhati-hati, karena Ningsih sudah menjadi isteri orang. Ningsih segera hafal melihat mobilku dan setelah Ningsih duduk di sampingku, segera kukebut lagi keluar Blok M menuju ke utara melewati Sisingamangaraja, Sudirman, naik jembatan Semanggi terus memutar ke jalan Jenderal Subroto dan dengan cepat masuk ke halaman parkir Hotel Kartika Chandra. Ningsih terlihat lebih cantik, sedikit gemuk dan tambah bersih dan putih mukanya. Rambut dan bulu-bulu halus di sekitar jidatnya terlihat hilang, mungkin karena dikerok oleh perias pengantinnya.

    Dia mengenakan celana panjang merah dan T-Shirt putih kembang-kembang ditutupi blazer warna hitam. Terlihat serasi dengan kulitnya yang putih bersih. Banyak yang nyangka dia keturunan Tionghoa, padahal Jatul. Tahu jatul? Jatul itu “Jowo Tenan” atau “Jawa Tulen”. Ibunya dari Purwokerto dan bapaknya dari Surakarta , katanya sih masih kerabat Kesultanan Surakarta, masih trah langsung Raja Paku Bowono. Setelah check-in sebentar, aku sudah berdua-dua dengan Ningsih di kamar hotel, dan untuk pertama kalinya aku berduaan dengan isteri orang. Ada perasaan berdosa menyelinap di hatiku. Tapi semuanya menjadi hilang karena betapa besarnya cintaku pada Ningsih. Juga sebaliknya, jika Ningsih tak mencintaiku, mana mungkin dia beReni bertemu dengan lelaki lain padahal dia baru kawin lima hari lalu?

    “Papah, Ningsih sedang mengandung janin anakmu, biasanya tanggal lima minggu lalu Mamah menstruasi ternyata nggak keluar sampai sekarang”, Ningsih menambahkan keterangannya tadi di telepon, dan aku semakin cinta dan sayang rasanya. Tapi tetap saja ingin menggodanya dan mengetes cintanya padaku.
    “Oh, ya, hampir lupa, gimana dong bulan madunya kemarin, ceNingsihin dong Ning! pasti seru dan rame dengan lenguhan. Dan apa suamimu nggak ribut tanya perawanmu kaya Farid Hardja?” Ningsih mendelikkan matanya dan mencubit pahaku keras sekali.
    “Percaya atau tidak terserah Papah, yang pasti nggak ada lenguhan, nggak ada goyangan, persis kaya gedebong pisang. Si Yudi memang sempat marah-marah karena mungkin Mamah ternyata begitu dingin dan nggak gairah. Tapi memang nggak bisa dipaksakan. Mamah hanya bergairah kalau bersenggama dengan Papah. Dia nggak nanya tuh, kenapa nggak ada darah perawan Mamah di sprei, ah.. sudah.. sudah! nggak usah tanya gitu-gituan lagi. Nanti malah berantem terus. Pokoknya Mamah sayaang benar sama Papah, nggak ada duanya deh”.

    Seperti bisa dia mulai mencopoti pakaianku satu persatu, sampai CD-ku dia pelorotin juga. Begitu di buka CD-ku, penisku langsung bergerak liar dan setengah tegang begitu tersentuh tangan halus Ningsih. Tak buang waktu lama, Ningsih melemparkan semua pakaiannya ke lantai karpet sampai terlihat bodinya yang seksi, putih mulus dengan puting susu yang semakin ranum. Mungkin pengaruh dari kehamilannya meskipun baru beberapa hari mengandung anakku. Penisku yang masih setengah tertidur langsung dikulumnya ke dalam mulutnya dan dihisapnya dalam-dalam, padahal aku masih berdiri seperti patung dengan bersandar ke tembok. Dengan ganas dia menghisap, menggigit dan menyedot penisku dalam-dalam sampai penisku mentok ke langit-langit mulutnya. Tak lama penisku langsung tegang dan memerah dan mengkilap bercampur ludahnya.

    “Ooooggghh.. . Maahh…. terus Maahh… jilaat…. ooogghh…” Aku mulai terangsang dan kenikmatan setiap penisku dihisapnya. Ningsih memang suka sekali menjilat dan menghisap penisku, tapi ketika kutanya apakah dia juga menghisap penis suaminya, dia bilang amit-amit, nggak nafsu katanya. Mulut Ningsih pindah menghisap dan menjilat penisku, dia juga senang menggigit-gigit dua bakso penisku, sampai aku kesakitan campur geli dan nikmat bukan kepalang. “Ooooghh… Maahh… jangan digigit, Papah sakiiittt”. Aku minta Ningsih berhenti dulu mengulum batang penisku, aku juga sudah rindu untuk menjilat vagina dan klitorisnya. Kuminta Ningsih tiduran di pinggir tempat tidur empuk itu dengan kaki terjuntai ke bawah, dengan begitu aku bisa duduk di tengah-tengah selangkangannya. Vagina dan klitorisnya terlihat jelas kalau begitu. Oh, begitu indah dengan warna merah jambu klitoris dan lubang vaginanya terlihat jelas di hadapan mukaku. Kujilat dengkul dan pahanya, terus merayap kujilati selangkangannya yang mulus, sesekali kujilatkan lidahku ke lubang pantat, klitoris dan lubang vaginanya, Ningsih melenguh-lenguh tertahan. “Oooghh, Papaahh… eeemghh, aduuuhh…, teruuuss… Paahh… oooghh… enaakkk.” Kalau Ningsih sudah mulai melenguh begitu aku semakin bernafsu untuk terus menjilat, mengigit dan menyedot-nyedot klitoris dan lubang vaginanya sambil menyedot air maninya yang mulai meleleh keluar dan lubang vaginanya. Oh, nikmat… manis dan sedikit asin, kaya kuah asinan Bogor . Kukeraskan lidahku supaya semakin tegang dan kutusukkan ke dalam lubang vaginanya, Ningsih semakin melenguh keenakan, karena mungkin lidahku terasa seperti penis menyodok-nyodok semakin ke dalam lubang vaginanya. Cairan vaginanya semakin banyak keluar dan kuhisap dan kutelan dengan nikmat. Kadang-kadang rambut kemaluan Ningsih ada yang putus dan ikut termakan. “Paahh…. ooooghh…. Paahh…, enaakkk, teruuuusss.. .. Paahh… ooooggghh… aduuuhh”, Ningsih semakin ramai, barangkali suaranya terdengar tamu di sebelah atau room-boy yang sedang lewat. Kujilatkan lidahku ke lubang pantatnya berkali-kali Ningsih bergelinjang kegelian. “Papaahh… geliiii…” penisku menggesek pahanya yang mulus sehingga semakin tegang. “Paahh… penisnya geli tuch di paha Mamah, udahan dulu ngisepnya sayang…., kesini deh, cium Mamah dan masukin penisnya.”

    Kuhentikan jilatan lidahku, memang sudah mulai pegal juga menegangkan lidahku hampir seperempat jam. Kugeserkan badanku ke atas, sejajar dengan tubuh Ningsih dan sambil kulumat mulutnya dalam-dalam kugesekan penisku ke vaginanya yang basah, oh… betapa nikmatnya. Kukulum dan kugigit lidahnya. Ningsih menjeNing tertahan, kemudian kujulurkan juga lidahku dan dia balas menggigit lidahku dengan bernafsu. Aku gantian teriak, sampai keluar sedikit air mata. Untung kenang-kenangan kalau Ningsih di Bandung katanya. Kujilati kupingnya, jidatnya, hidungnya, matanya sampai Ningsih menggelinjang- gelinjang ketika kujilati dan kugigit kupingnya. “Tuuuuhh.. Paah lihat, sampai merinding, “katanya manja. “Paahh, masukin penisnya Paahh, Mamah sudah rinduuu.”

    Ningsih melenguh manja. Ningsih merenggangkan selangkangannya untuk membuka lubang vaginanya lebih lebar lagi. Penisku yang tambah keras nyasar-nyasar di lubang vaginanya setelah menembus bulu-bulu vaginanya yang mulai basah dan “Bleesssss.. .” Ningsih berteriak keenakan sambil menggigit bibirku. “Paahh…, ooogghh…, pelaan pelaannn… doongg.” Matanya terpejam, nafasnya yang harum dan bau mulutnya yang wangi masuk semua terhirup oleh hidungku. Kutarik dan kutekan penisku semakin kuat dan sering, keringatku semakin bercucuran, mungkin berkat bir hitam cap kucing yang kuminum sebelum bermain dengan Ningsih tadi. Ningsih juga semakin mengencangkan goyangan pinggul dan pantatnya turun naik sampai aku merasakan kepala penisku mentok di ujung lubang vaginanya. “Paappaahh.. .. ooogghh… teruuusss, cumbu Mamaah Paahh…, Mamaahh cintaa, Mamaahh.. sayyy… oooghh.. aduuhh… aanggg.” Ningsih semakin ramai mengerang dan melenguh tak peduli suaranya akan didengar orang. Kuminta Ningsih menungging setelah kucabut penisku. Ningsih menurut dan wow! aku selalu semakin bernafsu kalau melihat pantat dan pinggul Ningsih yang mulus dan seksi. Sambil setelah jongkok, aku menyodokan penisku dari belakang setelah membuka lubang vaginanya sedikit dengan tanganku dan, “Bleeeeezzzz” , Ningsih berteriak keenakan. “aaggghh, oooghh… Paahh… terus genjot Paahh… wooowww… enaakkk Paahh…” aku semakin mengencangkan sodokan penisku. Ningsih melenguh, merintih dan teriak-teriak kecil sementara itu keringat kami semakin bercucuran membasahi seprei. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa setiap mempraktekkan berhubungan badan dengan gaya “doggy style” sehingga spermaku mulai meleleh keluar, semakin meramaikan bunyi gesekan penisku dengan vagina Ningsih. Ningsih semakin menunggingkan pantatnya sehingga penisku semakin amblas di dalam vaginanya. Rasanya air maniku sudah mengumpul di kepala penisku menunggu dimuntahkan habis. “Maahh… oooghh…. aduuuhh… Maahh, vaginanya enaakk…, punya Papah yaa sayaang….” Ningsih menjawab sambil merintih “Iyaa… sayaangg, semuanya punya Papaahh.” Kusodokkan penisku semakin dalam. “Maahh…. adddduuhh… . Papaahh… moooo keluaarr! cabut dulu ya Maahh…” Ningsih setuju dan segera telentang kembali. Aku segera menggumulinya dari atas badannya, kulumat pentil buah dadanya. Ningsih kenikmatan dan minta penisku segera dimasukan kembali ke vaginanya. Dia minta aku merasakan kenikmatan bersenggama dengannya, sampai nanti bertemu lagi di Bandung dengan segala cara. Kumasukan kembali penisku ke vaginanya yang semakin basah dengan cairan sperma kami yang sudah bercampur satu.

    “Bleeessszzz, crroockkk… chhooozkk… breesszz… crrrockkk… . bunyinya semakin gaduh. Ningsih semakin membabi buta menggoyang dan menaik-turunkan pinggulnya dan aku juga demikian. Kutekan dan kucabut penisku yang panas dan keras ke lubang vaginanya. Ingin rasanya kutumpahkan semua sperma dan spermaku ke lubang vagina dan rahim Ningsih supaya anakku semakin sehat dengan tambahan vitamin dan mineral dari sperma bapaknya. Supaya kegantengan dan kepintarannya juga turun ke anakku yang ada di dalam rahim Ningsih. Tiba-tiba kami merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, kami meregang dan melenguh bersama-sama merasakan sorga dunia yang tiada taranya, meregang, meremas dan memeluk erat-erat dua badan anak manusia yang saling mencinta dan seakan tak mampu terpisahkan. Ningsih mengejang badannya dan menggigit bibir dan lidahku, pinggulnya terangkat sambil berteriak. “Papaahh…. oooghh… Mamaah… ooghh, keluaar… sayaangg”, sambil mencubit dan mencakar punggungku.
    Mendengar lenguhan dan teriakan ejakulasi Ningsih, aku pun mulai tak tahan menahan desakan air maniku di kepala penisku dan sambil menekan dalam-dalam penisku di vaginanya aku berteriak sambil mengejang, kugigit lidahnya, “Maahh… oooggghh… Papaahh… jugaa….. keeelluuuaarrr. … oooghh…. sayaanggg… . nikmaattt.” Kami tertidur sejenak sambil berpelukan dengan mesra dan tersenyum puas, waktu sudah menunjukkan jam delapan lewat lima menit, berarti kami bermain selama hampir dua jam lamanya. Oh, betapa nikmat dan puasnya. Aku memeluk dan menciumi Ningsih erat-erat seolah tak ingin berpisah dengan kekasihku dan isteriku tercinta, karena besok dia sudah akan pindah ke Bandung. Ningsih berjanji untuk membeNingsihhukan nomor telepon rumahnya di Bandung dan aku diminta untuk datang paling tidak seminggu sekali.

    Sudah satu bulan berlalu, sejak pertemuanku terakhir dengan Ningsih di Jakarta. Aku terkadang sangat rindu dengannya, tapi kutahan perasaanku dengan menyibukkan diriku pada pekerjaan yang semakin menumpuk sejak aku mempimpin cabang Slipi. Maklum, para pengusaha nasabah bank dimana aku bekerja semakin banyak saja, hal ini karena keberhasilan marketing-ku. Aku sengaja bekerja all-out siang malam, dengan menjamu langgananku sambil makan malam dan karaoke. Aku ingin melupakan Ningsihku yang sekarang sudah jadi isteri orang, tapi bayang-bayang kemesraan selama beberapa tahun dengannya seperti suami isteri tak mudah rupanya untuk dilupakan begitu saja. Sekretarisku yang baru memang cantik, lebih muda dan menarik, tapi anehnya aku sama sekali tak tertarik dengannya, barangkali memang aku bukan tipe lelaki “play-boy” yang gampang gonta-ganti pasangan. Cintaku sudah direbut oleh Ningsih tanpa peduli bahwa dia sudah menjadi isteri orang. Tapi aku tak menyesali pertemuan dengan Ningsih, aku tetap mencintainya dengan sepenuh hati.

    Oh, rupanya aku melamun terlalu lama, sehingga aku merasa malu ketika sekretarisku Reni masuk membawa setumpuk dokumen.

    “Pak, kok melamun?” sapanya ramah, sambil tersenyum manja.
    “Ah, oohh… eng.. nggak.. kok”, kataku tergagap.

    “Pak, dokumen-dokumen ini perlu segera ditanda-tangani Bapak, sebab nanti siang Pak Yusuf Pramono akan mengambilnya” , kata Reni lagi.

    “Okay, tinggalkan saja dulu, nanti saya panggil lagi kamu setelah kutandatangani” , kataku datar. Reni menaruh beberapa map “feasability study” untuk beberapa proyek pabrik konveksi yang mengambil kredit dari bank dimana aku bekerja. Dia keluar ruanganku dengan lirikan matanya yang semakin manja. Ah, boleh juga tuh cewek pikirku, bodinya cukup montok, hitam manis dengan buah dada yang terlihat menonjol besar keluar dari blousenya. Tapi setiap aku kepingin iseng-iseng menggoda Reni bayangan wajah Ningsih selalu berkelebat di depan mataku, seakan mengingatkan janji dan kesetiaanku. Ah, kamu mau menang sendiri Ning! gumamku dalam hati, sedangkan kamu nikmat-enakan dengan suamimu. Aku selalu membayangkan Ningsih telanjang bulat setiap malam dengan suaminya dan bermain cinta di ranjang berdua, tanpa takut ketahuan orang, tanpa takut diganggu orang karena memang suami-isteri sah dan lupa pada diriku. Kemudian pada akhir klimaks-nya Ningsih melenguh dan meregang sambil memuji sayang suaminya, sama seperti dilakukannya padaku. “Uuh! kamu memang nggak setia Ningsih! kamu tega meninggalkan aku sendirian di Jakarta , sedangkan kamu nikmat-enakan tiap malam ngentot dengan suamimu. Kamu bilang nggak cinta, tapi lama lama kamu suka juga dimasukin penisnya! Brengsek kamu Ningsih!!! dan bodohnya aku tetap saja setia menunggu barang bekasan lelaki lain.”

    Sekretarisku masuk lagi ke ruang kerjaku, ada apa pikirku, belum dipanggil kok masuk lagi. Jangan-jangan dia memang sudah kegatelan mau kucumbu. Aku sudah mempunyai pikiran buruk untuk menggodanya untuk mengobati kekesalanku pada Ningsih dan aku hampir yakin bahwa dia pun pasti menginginkan aku berbuat sesuatu yang mengasyikan padanya.

    “Ada apa lagi?” kataku pura-pura tetap berwibawa seperti biasanya.
    “Anu, Pak.. ada telepon dari Ibu Ningsih, Bandung!” katanya mengandung curiga. “Hah, Ningsih! Ada apa lagi dia, mau ceNingsih asyik-masyuk pengantin barunya dengan si Yudi itu?” pikirku dalam hati. “Cepat, sambungin ke sini!” jawabku cepat dan spontan. Heran, setiap kudengar nama dia, apalagi akan mendengar suaranya setelah hampir sebulan tidak ketemu, kebencian dan cemburuku pada suaminya seperti mendadak hilang tak berbekas. Sekretarisku bergegas keluar kembali untuk menyambungkan saluran telepon dari Ningsih, terlihat raut mukanya agak ditekuk. Aku yakin dia nggak begitu suka jika Ningsih telepon, mungkin juga cemburu, karena dia tahu aku punya hubungan khusus dengan bekas sekretarisku itu.

    “Hallo, Papah, ini Mamah, apa khabar sayang?” suara Ningsih di seberang sana terdengan merdu di kupingku.
    “Baik saja kok, kamu gimana?” kataku datar.
    “Pah, Mamah sangat rindu deh, kapan Papah mau ke Bandung?” jawabnya lagi.
    Tiba-tiba timbul pikiranku untuk menggodanya, sekaligus menumpahkan kekesalan dan kecemburuanku.
    “Ah, masa sih kamu kangen saya, kan tiap malam ada teman sekasur, nikmat lagi, nggak takut ketahuan orang, tiap jam, tiap saat mau mainkan tinggal buka celananya, penisnya gede lagi, pasti kamu melenguh keenakan!” jawabku nyerocos seenaknya dan rasanya plong hatiku setelah mengatakannya.
    “Papah, kok gitu sih? Papah jahat deh, Mamah nggak nyangka Papah bicara begitu, padahal setiap detik, setiap hari Mamah rindu padamu!” ungkapnya dengan nada agak tinggi. Aku terdiam, nggak tahu mau ngomong apa lagi.
    “Pah, kamu masih mau denger Mamah nggak?” Ningsih berkata lagi.
    “Pah, Mamah interlokal nih, jadi mesti menghemat, Mamah kan isteri pegawai kecil, mesti ngiNing, masih mau dengar nggak?”
    “Iya, iya, aku masih dengar kok, terus saja ngomong, aku dengerin”, kataku sekenanya.
    “Papah kok gitu sih, Papah kelihatannya nggak rindu sama Mamah? ya sudah, Mamah tutup teleponnya ya!” serunya mulai emosi. Aku masih saja mau menggodanya, rasanya kesal dan cemburuku belum hilang betul.
    “silakan, memangnya siapa yang telepon duluan?” lanjutku lagi.
    “Oh, gitu ya, kamu memang egois, kamu nggak mau ngerti, mau menang sendiri, kamu selalu mengungkit perkawinanku, padahal semuanya terjadi bukan karena mauku. Kenapa dulu Papah nggak beReni mengawini Mamah? Jawabnya karena Papah sudah punya anak, isteri dan kedudukan tinggi. Apakah itu bukan egois namanya? Tapi Mamah tetap menyintaimu dengan sepenuh hati, apa Papah pikir Mamah juga nggak cemburu, bertahun-tahun mencintai laki-laki yang sudah jadi suami orang? Apa Mamah harus jadi perawan tua dan hanya selingan kamu?”
    Terdengar suaranya mulai keras dan terbata-bata, mungkin menahan tangis.
    “Ya sudah, Mamah nggak bakalan telepon Papah lagi, biarlah Mamah menanggung rindu dan mencintai Papah sampai mati, Mamah nggak akan ganggu Papah lagi kalau memang sudah tidak dibutuhkan! Tapi kamu mesti ingat Pah, bahwa bayi di kandungan Mamah adalah anakmu, bayi ini adalah darah dagingmu, kamulah yang membentuk dan menjadikan janin anakmu ini, si Yudi bukan bapaknya yang sesungguhnya, dia nggak tahu bahwa aku sudah mengandung benih anakmu ketika kawin.”

    Ningsih terdengar menutupi kesedihannya dengan omelan panjang yang memerahkan kupingku. Ah, dasar perempuan, kalau sudah merajuk dan mengamuk, hatiku selalu luluh dengan perasaan cintaku kepadanya, cintaku yang memang sangat mendalam dan tidak bisa terlupakan, apapun yang terjadi dan bagaimanapun status Ningsih sekarang yang sudah menjadi Nyonya Yudi Prayogo. Aku takut Ningsih segera menutup teleponnya, makanya segera kularang dia.

    “Mah, tunggu! jangan tutup dulu teleponnya, oke…oke… , maafkan Papah, Papah juga rindu, Papah sayang, Papah selalu mencintaimu, kamu dengar itu sayang?” aku menyerocos tak terkendali, menumpahkan perasaanku yang sesungguhnya.
    “Ya sudah, tak apa, Mamah selalu memaafkan kamu, sekarang catat nomor telepon Mamah dan Mamah tunggu kamu di Bandung segera kalau Papah masih sayang Mamah, mumpung si Yudi lagi tugas seminggu ke Malang!” perintah Ningsih. Kucatat nomor teleponnya dan aku berjanji untuk segera datang ke Bandung menemuinya, kasihan Ningsihku kesepian dan sangat merindukanku. Aku janji untuk datang hari Jumat sore dengan kereta Parahyangan dan menginap di Hotel Kumala Panghegar. Aku sengaja tidak bawa mobil dan sopirku sebab bisa berabe nanti kalau sopirku tahu aku masih berhubungan dengan Ningsih.

    Pada Jum’at sore aku sudah tiba di stasiun kereta api Bandung dan temanku kepala cabang di Bandung telah siap menjemputku di stasiun. “Gila lu Zen, kau rupanya masih juga berhubungan sama Ningsihmu itu!” katanya sambil menepuk bahuku, setelah kami bertemu di stasiun. Aku hanya tersenyum saja. Togar Sihombing temanku itu memang satu-satunya sejawatku yang mengetahui hubungan intimku dengan Ningsih, sejak Ningsih masih menjadi sekretarisku. “Hati-hati kamu Zen, di sini kamu lagi bertamu, nanti ditangkep satpam suaminya tau rasa kau!” katanya meledek. Karena rahasiaku dan Ningsih memang sudah di tangannya, aku tak sungkan-sungkan meminta supaya Togar bisa jemput Ningsihku dari rumahnya di daerah Pasir Kaliki dan dibawa ke kamar hotelku. Aku suruh dia mengatur segalanya, termasuk keamanan hotel Kumala Penghegar, agar aku bisa tenang dan santai dengan Ningsihku semalam suntuk, bahkan kalau bisa sampai minggu pagi.

    Kira-kira satu setengah jam aku menunggu di kamar hotel, pintu diketuk dari luar dan waktu kubuka pintu kamarku, ternyata Ningsihku sudah berdiri sendirian. Dia tersenyum manis dengan lipstik merah tua tipis, kontras dengan mukanya yang putih mulus. Badannya semakin bersih dan montok, mungkin pengaruh kandungannya yang jalan dua bulan, sehingga buah dadanya terlihat semakin membesar dan pinggulnya semakin bulat berisi. Terlihat perutnya sedikit membesar dan itu semakin membangkitkan gairahku. Kata orang, wanita yang sedang hamil dua atau tiga bulan itu sedang cantik-cantiknya dan akan sangat menggemaskan laki-laki yang melihatnya, apalagi dalam keadaan polos. Kuraih tangannya dan kutarik dia ke kamarku. Setelah mengunci kamar dengan double-locked, kupeluk dan kucium dia dengan penuh kerinduan, Ningsih membalas hangat. Kuminta air liurnya seperti biasa ketika kami berciuman dan kutelan dalam-dalam ludahnya yang tetap wangi itu. Baru aku sadar untuk menanyakan kawanku Togar, setelah Ningsih melepaskan ciumanku yang menggebu-gebu sehingga terengah-engah kehabisan napas.

    “Kemana si batak itu?” tanyaku.
    “Dia pulang dulu katanya, setelah mengantar Mamah sampai ke pintu kamarmu”, jawab Ningsih. Tahu betul tuh batak satu.

    “Kok, Papah kelihatan kurusan? katanya lagi sambil memandangiku dari ujung kaki ke ujung rambut.
    “Masa? barangkali kurus mikirin kamu. Apa khabar sayang? senang ya hidup di Bandung?” dia merebahkan badannya di pelukanku, sehingga aku terdorong rebah ke ranjang karena Ningsih semakin berat badannya.
    “Apa kabarnya suamimu? Kok punya isteri cantik ditinggal-tinggal terus”, godaku muncul lagi.
    “Ah, sudahlah, nggak usah nanya dia, namanya juga pegawai rendahan, harus mau ditugaskan ke mana saja.” Jawab Ningsih.
    “Pah, Mamah kangen dan rindu banget deh”, katanya lagi sambil berbalik menindih tubuhku. Oh, Ningsihku semakin bahenol saja badannya, dan buah dadanya yang semakin montok menekan dadaku.
    “Hati-hati dengan perutmu sayang, nanti anak kita kejepit.” Ningsih tak peduli, dia terus merangsek dan menciumi seluruh mukaku dan kupingku sehingga seluruh tubuhku merinding dibuatnya.
    “Oooohh… Papah, Mamah gemes dan rindu deh!” ujarnya sambil menjulurkan lidahnya yang harum ke bibirku, tentu saja kusambut hangat dan segera menghisap lidahnya dalam-dalam sambil kugigit sayang. Ningsih melotot manja, “aachh… sakiiitt dong Paahh!” Kukulum lagi lidahnya dan kusedot sambil memejamkan mataku, Ningsih mulai melenguh bahagia sambil sekali lagi menumpahkan liurnya untuk kuhisap dan kutelan dalam. Kubalikkan badannya pelan-pelan karena Ningsih sedang berisi, dan segera saja kubuka pakaiannya. Ningsih diam saja dengan mata terpejam. Kulempar satu persatu roknya, blousnya, blazernya, dan terakhir celana dalamnya. Oh, Ningsihku semakin montok dan menggairahkan. Pahanya, betisnya yang putih bersih, ditumbuhi bulu-bulu halus, pinggulnya semakin montok berisi dan vaginanya dengan bulu-bulu hitam tipis kemerahan semakin menggairahkan. Kujilati badannya mulai dari ujung kaki, naik ke betis, paha dan bermuara di selangkangan dan vaginanya. Ningsih mulai menggeliat-geliat kegelian.
    “Paahh, ooogghh Mamah rindu jilatanmu seperti ini, oooogghh.” lenguhan Ningsihku baru lagi kudengar setelah dua bulan tidak ketemu. “Papah buka pakaiannya dong!” kata Ningsih mulai nggak sabar. Aku segera menanggalkan seluruh pakaian yang melekat dan ketika CD-ku kulepas, penisku langsung mencuat keluar dengan tegang. Ningsih tersenyum manja dan langsung menyergap penisku dengan kuluman mautnya.

    “Paahh… Mamah rindu penis iniiii, eeeemmggghh enaakkk Paahh, kok sudah assiinn?” Mulutnya menyedot-nyedot penisku sambil mundur maju, aku merasakan kenikmatan luar biasa. Ningsih mengigit-gigit batang penisku yang mulai menegang seperti kayu.

    “Maahh, ooogghh teruusss oooggghh, tapi jangaann oooghh, keras-keras gigitnya!” aku mulai merem-melek keasyikan. Ningsih semakin kencang menghisap-hisap penisku sambil memejamkan matanya, sementara buah-dadanya berayun-ayun ketika dia menaik-turunkan mulutnya sampai batang penisku masuk semua di mulutnya.

    “Paah, sudah keluar lendirnya, asiiiin!” sambil menelan cairan penisku, dan hisapannya semakin menjadi-jadi di kepala penisku sambil menghisap-hisap lendir penisku. “Eeeemmhh… enaak Paahh.” Aku semakin merem melek sambil menggapai buah dadanya, dan ketika tanganku berhasil meraihnya, kuremas-remas buah dadanya yang semakin kenyal dan kupilin putingnya yang kemarahan seperti buah delima matang.

    “Maahh.. ooogghh… udaahh duluuu yaang, Papah nggak tahaannn… oooghh.” Aku menggelinjang kuat ketika hisapannya semakin asyik di kepala penisku. “Sekarang giliran Mamah yang tidur.” Ningsih telentang pasrah, kedua kakinya kurenggangkan, kuusap-usap perutnya yang mulai kelihatan sedikit buncit mengandung anakku. Kubenamkan mukaku di selangkangannya sambil kujilat kedua selangkangannya dan dengan cepat kujilat pula lubang duburnya. Ningsih selalu nggak tahan kalau kujilat lubang pantatnya. Dia menggelinjang kegelian sambil merintih. “Aduuuhh, Papah jahaat!” Kumainkan klitorisnya dan lubang vaginanya dengan lidahku dan kukeluarkan ludahku membasahinya sehingga terasa semakin nikmat ketika kuhisap cairan vaginanya yang sudah mulai keluar bercampur ludahku. Asin, manis dan gurih. Kutelan dalam-dalam. Ningsih mulai menaik-turunkan pinggulnya kegelian.

    “Paahh, eeemmggghh.. .. ooogghh, teruuusss… Paahh, lidahnya kayak kontoool.” Dia terus melenguh seperti biasanya, dan lenguhannya ini yang tak bisa kulupakan. Lidahku yang tegang semakin kujulurkan ke dalam lubang vaginanya, kumainkan klitorisnya dengan lidah digetarkan, Ningsih menggelinjang hebat. Rongga-rongka vaginanya kulumat dan kujelajahi dengan lidahku, sementara bibirku melumat kelentitnya yang memerah.

    “Oooooghh… Papaahh… nikmaat… teruuusss Paahh! Ningsih menaik-turunkan pantatnya semakin tinggi, sehingga lidahku seperti penis menancap dalam di vaginanya.
    “Aduuhh… Paahh… oooogghh… Paahh, Mamaahh… oogghh… enaakkk!” mulai deh Ningsih melenguh panjang. “Paah, hayo naik deh, Mamah sudah nggak tahan, masukin cepet penisnya sayaang!” Ningsih semakin melebarkan selangkangannya dan menggapai badanku. Aku bangun dan menidurinya dengan hati-hati karena sekarang Ningsih sedang berbadan dua. penisku sudah keras seperti batu dan mengangguk-ngangguk gagah mencari mangsa. penis pun tahu bahwa kesukaannya ada di depannya, vagina Ningsih memang sudah tak asing lagi buat penisku sehingga begitu bersentuhan saja langsung mengeras bukan main. Seperti batu! Dan Ningsih memang nggak bakal lupa dengan keperkasaan penisku yang mulai dikenalnya sejak dia perawan, untuk pertama kali menikmati penis lelaki.

    Kugesekan penisku di pahanya, Ningsih kegelian, dan memberikan kode supaya langsung ditancapkan ke vaginanya yang sudah menganga, basah, hangat dan mulai menyedot-nyedot mencari mangsa. Kubenamkan kepala penisku sedikit demi sedikit, oh hangatnya vagina Ningsih dan vaginanya mulai bereaksi menyedot-nyedot, empot-ayamnya mulai main. Kutarik lagi penisku, sehingga pinggul Ningsih ikut naik karena sudah tidak sabar ingin melumat penisku. Kubenamkan lagi batang penisku perlahan, Ningsih menaikkan pinggulnya ke atas, sehingga batang penisku setengah ditelan vaginanya. Pinggulnya diputar-putarkan sambil mengeluarkan jurus “empot-ayamnya” .

    “Oooogggghh, Mamaahh… uughhgghh… nikmaattt aduhh.” Desahanku membuat Ningsih semakin semangat menaik-turunkan pinggulnya, hingga batang penisku semakin amblas ditelan vaginanya yang tetap saja sempit.
    “Paahh tekaannnn Paahh… Mamaahh… oogghh… nikmaattt sekalii.” Pinggul Ningsih dan badannya semakin bahenol dan seksi, perutnya yang sedikit membesar membuat nafsuku semakin menjadi-jadi. Kuganjal pantatnya dengan bantal dan aku setengah duduk dengan bertumpu pada dengkul menggenjot penisku keluar masuk vagina Ningsih yang semakin naik ditopang bantal sehingga seluruh rongga vaginanya terlihat jelas. “Bleeesss… creekkkk…. bleeees… creeekkk, gesekan dahsyat penis dan vaginanya yang empot ayam semakin ramai saja. Daging vaginanya terlihat seperti terbawa ketika kucabut batang penisku saking sempitnya. Dan “empot-ayam” -nya dikeluarkan kalau senggama dengan aku saja katanya, sedangkan dengan suaminya tetap seperti layaknya “gedebong pisang”.
    “Paah…, aduuhh, Paahh.., kontoolnya ooghh, Mamaahh… nggaak tahaan… Paahh!” Ningsih seperti nggak ingat sedang hamil, badannya bergetar, pinggulnya naik turun dengan cepatnya, miring ke kiri dan ke kanan merasakan kenikmatan penisku yang perkasa.
    “Paahh… ooghh…. eemmghh… oozzzhh… aauugghh… eeemmhh… teruuzshh… tusuuukk…. Paahhghh”, lenguhan itu yang sangat kudambakan. Aku seperti lelaki yang sangat dibutuhkan Ningsihku, tidak ada lelaki lain yang bisa memuaskannya lahir batin.

    Aku semakin gila menyodokkan penisku keluar masuk vagina Ningsih, kuangkat kaki kirinya ke atas dan kutenggelamkan seluruh batang penisku sampai terasa mentok di ujung lubang vaginanya.
    “Oooogghh… apaahh… uughhzz… Papaahh… nikmaatt… ooghh…. teruss… aduuuuhh… teruuss, Mamaahh… maooo… keluaarr!” Ningsih berteriak-teriak keras sekali sambil seluruh badannya bergetar dan bergoyang, keringat kami bercucuran seperti habis mandi membasahi sprei. “Paahh, kenapa dicabut?” Ningsih mendelik waktu penisku mendadak dicabut dari lubang vaginanya. Ningsih tersenyum lagi ketika kuminta dia menungging, supaya kami bisa bermain dengan “doggy style”. Wow, pinggulnya yang putih mulus semakin berisi dan bahenol saja menambah nafsuku semakin menjadi, ketika Ningsih menungging. Kuhisap dan kujilat lendir vaginanya dari belakang, sekalian lubang pantatnya, Ningsih melenguh panjang. Dia memang paling geli kalau dijilat lubang pantatnya. “Papaahh…. aduhh…. Mamaahh, nggak tahaan doongg… Cepat masukin penisnyaa!” teriak Ningsih sambil menunggingkan pantatnya, sehingga terlihat vaginanya yang merah jambu dan sedikit basah itu. Penisku yang lagi tegang-tegangnya kuarahkan ke lubang vaginanya seperti mengarahkan meriam “Si Jagur” siap menembak tank-tank belanda. Dan… “Bleeeesszzhh. ..” penisku menyeruak ke dalam “gua kenikmatan dunia” Ningsihku. Ningsih kembali melenguh panjang. “Paahh… oooggghh…, teruuss kocookk sayaang!” Aku mulai menarik dan membenamkan batang penisku keluar masuk lubang vaginanya yang terasa semakin sempit dan menyedot-nyedot kalau bersenggama dengan “doggy style” kesukaan kami berdua. “Oooggghh… Maahh, Papah enaakkk… ooooggghh… hhzzz… aahzzoogghh. .. duuh…. Maahh… aa… duuhh gilaa… yaangg, teruuss goyaang.. cakeeep!” Ningsih memundur-majukan pantat dan pinggulnya semakin cepat sehingga bed kamar hotelku berdeNing-deNing bunyinya. Keringat kami jatuh bercucuran. Nikmat sekali rasanya bersenggama dengan kekasihku tersayang ini. Jiwa raga kami rasanya bersatu-padu.

    “Aduuuhh… Papaahh… ooggghh… enaakkk… Paahh, teruusss Paahh genjot… teruuuss… aahh… lebih kenceng, oooggghh… aahhzzzzhh.. . duhh”, badan Ningsih berguncang-guncang keras, goyangan pinggul dan pantatnya tambah menggila dan lubang vaginanya seakan mau melumat habis dan mematahkan batang penisku. Air maniku rasanya sudah mengumpul di kepala penisku, siap disemprotkan kapan saja kalau mau, tapi aku mau agar Ningsihku dulu yang klimaks supaya dia puas. Belum tentu kami bisa ketemu seminggu sekali, padahal dia pernah bilang bahwa kalau kami bisa kawin mungkin bisa berhubungan badan setiap malam, karena penisku terasa nikmat sekali rasanya katanya suatu hari sambil melumat lendirku yang keluar di mulutnya, dan Ningsih nggak geli menelan semua air maniku.

    “Paahh… Mamaahh… ooggghh… Paahh… aaduuhh… oggzz… giillaa…. aahh.. ooogghh… Mamaahh…. ooghh… Maauu keluaarrr!”
    “Tungguu sayaangg.. Mamaah berbalik dulu telentang lagi”, perintahku, kami sudah hampir mencapai orgasme. Kucabut penisku, Ningsih kemudian telentang dengan kedua kaki dibuka lebar. Vagina dan lubang pantatnya kubersihkan dulu dengan jilatan lidahku penuh nafsu. Kutelan habis cairan vaginanya yang asin, wangi dan gurih itu. Dia menggelinjang sambil bergumam “Aduuuhh, ooogghh, Papah jahaat!” sambil tersenyum manja dan matanya merem-melek. “Cepetan masukin lagi penisnya Paahh, Mamah sudah nggak tahan nih!” Aku segera menaiki tubuhnya dengan hati-hati takut kandungannya tertekan dan anakku kesakitan. Kuarahkan lagi batang penisku yang sudah merah legam seperti batu dibakar untuk siap bertempur sampai titik darah putihku terakhir, demi untuk Ningsihku tersayang. Dan… “Bleeezzzhh” dan Ningsih melenguh panjang sekali “Oooogghh Paahh.. kocookkkhh yangghhzz..” Kutarik cepat penisku sampai kepalanya nongol ke permukaan vaginanya dan seketika itu juga kubenamkan habis batang penisku ke lubang vaginanya sampai terasa mentok. Ningsih melenguh panjang. “Oooggghh Paahh aduuuhh gilaa nikmaat.” Kucabut lagi batang penisku tiba-tiba dan kubenamkan lagi kuat-kuat ke dalam vaginanya, dengan style agak miring, terkadang dari lubang sebelah kanan, terkadang masuk dari lubang sebelah kirinya, membuat Ningsih terbuai kenikmatan luar biasa. “Ooooowww ooogghh aahh Papahh enaakkhh duhh ampuunnn duuhh ooghhz…. Paahhzz!” teriakannya melengking-lengking , seperti nggak peduli kalau ada yang dengar. Aku semakin bernafsu, keringatku bercucuran, penisku terasa semakin tegang dan mau meledak dan terasa panas sekali seperti gunung mau memuntahkan laharnya. “Maahh.. ooghhzz Maahh Nonooknya gilaa empot ayaamm!”
    “Goyaanggg teruusss oogghh yuuu bareeeng keluariiin Maahhggzz!

    Kami semakin menggila saja, aku menusukkan batang penisku dan mencabutnya setiap “setengah detik” sekali, dan goyangan pantat dan pinggul Ningsih semakin menjadi-jadi. Tempat tidur semakin ramai berdeNing-deNing, keringat kami bercucuran seperti mandi sambil bersenggama, atau bersenggama sambil mandi, bercampur menjadi satu menambah kenikmatan dan rasa menyatu yang bukan main indahnya. Ningsih semakin menggila, mengelepar-gelepar keasyikan, matanya merem-melek. Kucium dan kulumat seluruh wajahnya, bibirnya, jidatnya, ludahnya kusedot dalam-dalam. Ningsih menggigit lidahku keras sekali sampai aku menjeNing kesakitan. Itu tandanya Ningsihku mau ejakulasi dan klimaks. Kukuatkan agar cairan air sorgaku nggak muncrat dulu sampai Ningsihku mencapai klimaksnya. Tiba-tiba… “Paahh oooggghh aduuuhh Maamah keluuaarr ooghh aduuhh gilaa ooowwwhzz aahh Papaahh.. uuughh uughh uuugghh”, dia sekali lagi menggigit lidahku sampai berdarah barangkali, sambil mencubit keras pahaku, itu memang kebiasaannya kalau meregang menahan klimaks luar biasa. Aku tak peduli apapun yang dilakukan Ningsihku demi kepuasan kekasihku ini. Aku terus menggenjotkan penisku semakin gila dan rasanya sudah nggak tahan lagi menahan spermaku muncrat di vaginanya yang kusayangi. Ningsih sudah kepayahan rupanya, katanya vaginanya terasa ngilu kalau dia keluar duluan dan aku masih semangat menggenjotkan penisku keluar masuk vaginanya.

    “Cepeeet dooong yaang aach Mamaah capeee”, katanya dan akhirnya… “Ooogghh.. Maahh.. Papah jugaa keluaarrr… ooooghh.. oooghh… oooghh.. Mamaahh… aduuuuhh eemmhhzz! Kami sama-sama meregang, mengejang, mendelik, menggelepar, seakan jiwa raga kami terbang ke angkasa luas nan indah, ke alam surgawi dunia fana entah sampai kapan kami akan memagut cinta, tapi rasanya memang sulit berpisah. Kupeluk dan kucium Ningsihku yang terkulai puas dengan senyuman tersungging di bibirnya yang merah muda tanpa gincu. Kulumat lagi bibirnya habis-habisan, dia melenguh manja dengan mata tertutup letih tanda puas yang luar biasa. “Paahh, Mamah cinta… jangan tinggalin Mamah ya sayaang!” Aku mengangguk saja karena aku pun sangat mencintainya. Kemudian Ningsih dan aku rupanya tertidur pulas dalam keadaan berpelukan mesra dan bugil dan penisku masih sedikit menancap di vaginanya. Kulihat jam tanganku sudah menunjukan jam dua pagi. Hawa dingin kota Bandung dan ketika aku tersadar bahwa kekasihku masih tergolek mesra di pelukanku dengan telanjang bulat, nafsuku mulai bangkit kembali dan penisku sedikit demi sedikit mulai menegang dan keras kembali.

    Kubangunkan Ningsihku, dia terbangun kami sama-sama berciuman kembali walaupun belum gosok gigi. Tapi cinta mengalahkan segalanya, semuanya terasa indah dan harum wangi. Ningsih juga kemudian terangsang kembali dan kami bersenggama lagi habis-habisan sampai jam empat pagi sampai seluruh badan terasa lemas dan lunglai. Nggak apa, kami makan apa saja yang membuat tubuh segar kembali dengan memesan ke Room Service. Hari Sabtu pagi sampai siang hari kami terus tidur berpelukan mesra, pintu kamar terus berstatus “DO NOT DISTURB” sebab ada dua sejoli yang sedang memagut kasih, dan sampai Minggu pagi kami terus bercinta dan bersetubuh tak bosan-bosannya sampai tujuh kali. Minggu siang sekitar jam 12.00 Togar datang sesuai janji untuk mengantarkan Ningsih pulang, sambil mendropku di stasiun kereta api. Oh, setianya Batak satu ini, benar-benar kawan sejati dia. Dia cuma cengar-cengir penuh arti ketika bersalaman di stasiun dan berpisah denganku. Dari mobil, Ningsih melambaikan tangan dan menempelkannya di bibirnya. “Hati-hati kau bawa dia kawan, dia sedang mengandung anakku, cari jalan yang mulus!” perintahku pada Togar. “Siap boss, akan kulaksanakan perintahmu!” katanya tegas. Batak ini memang tegas dan kasar, tapi hatinya sangat lembut dan baik. Sekali lagi aku berpelukan dengan Togar, sebelum Kijangnya yang membawa Ningsih hilang dari pandanganku.

    Aku berjanji pada Ningsih untuk sesering mungkin datang ke Bandung, tak peduli apakah si Yudi keluar kota atau tidak sebab cinta kami begitu indah.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Dewasa Nikmatnya Perawan Sang Mantan –  Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Dewasa Nikmatnya Perawan Sang Mantan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1663 views

    Perawanku – Sudah hampir enam bulan lamanya aku berhubungan dengan gadis yang bernama Mitha, dia merupakan teman kantorku. Dan tahu juga kalau aku pernah bertunangan dengan Ega dan akhirnya putus, sikap Mitha sungguh berbeda dengan Ega dia begitu dewasa dalam menyikapi setiap permasalahan yang kami hadapi. Dan yang paling aku suka darinya dia tidak banyak menuntutku untuk selalu mengikuti kehendaknya.

    Namaku Yudi dan bukan maksudku untuk tidak mau mengikuti keinginan gadis yang telah aku anggap layaknya istriku. Karena bagaimanapun juga kami sudah sering melakukan adegan seperti dalam cerita hot selingkuh, dengan usia yang sama-sama dewasa menurutku. Karena saat ini usiaku sudah menginjak 28 tahun begitu juga dengan Ega mantan tunanganku itu.

    Dulu Ega sering menginap di rumahku dan mamaku memang tidak banyak komen tentang gadis yang aku ajak menginap di rumah. Apalagi Ega adalah gadis yang telah aku pinang walau akhirnya putus juga, dan kini dengan Mitha aku sama sekali tidak pernah membawanya ke rumah. Entah mengapa aku merasa malu pada mama mungkin karena aku tahu kalau mama sudah berharap untuk aku segera menikah dengan Ega waktu itu.

    Untungnya juga Mitha tidak menuntutku untuk mengajaknya main ke rumah dan memperkenalkan dia pada mamaku. Walau begitu aku sering menceritakan tentang mamaku karena memang hanya dia yang kini menjadi orang tua tunggal bagiku setelah papa meninggal. Sejak dulu aku termasuk cowok yang bisa di bilang nakal, untuk urusan melakukan cerita hot selingkuh bukan lagi hal tabu bagiku.

    Tapi dengan Mitha aku merasa tidak ada keinginan untuk melakukan hal itu, padahal aku sering merindukannya dan bahagia bila bersamanya mungkin karena aku takut kalau harus melakukan adegan seperti dalam cerita sex paling hot, hubunganku tidak akan berakhir di pelaminan lagi. Atau mungkin karena Mitha meruapakan gadis yang pendiam dan tidak menggodaku dengan penampilannya.

    Setiap bertemu paling kami hanya membahas tentang persoalan kami atau tentang pekerjaan kami masing-masing. Seperti sore ini selepas dari kantor aku langsung mengantarnya pulang “Minggu besok kita jalan yuk..” Ajakku pada Mitha “Kemana mas..?” Katanya sambil menatapku “Kemana aja.. terserah kamu..enaknya kemana ” Seperti biasa dia hanya tersenyum dan menyerahkan semua keputusan padaku.

    Begitu mengantar Mitha ke rumahnya aku langsung pulang dan aku di buat terkejut oleh kedatangan seseorang di rumahku, di ruang tamu duduk Ega dengan menunduk “Mas Yudi..” Katanya sambil berlari memelukku, diapun menangis di pelukanku “Ada apa Ega…?” kataku sambil menarik tubuhnya dan dia tetap menangis, akupun membawanya duduk kembali dan mencoba membujuknya untuk berhenti menangis.

    Sampai mamaku juga ikut membujuknya dan Ega menceritakan masalahnya, karena hari telah larut tidak mungkin juga dia pulang karena kini dia tinggal di luar kota. Ega akhirnya menginap di rumahku, besoknya aku terbangun dan aku mendengar mama mengobrol sama Ega ketika aku lihat rupanya Ega masak seperti di saat dia masih sebagai tuanganku dulu dan dia masih terlihat begitu dekat dengan mama.

    Akupun berangkat kantor dan seperti biasa aku menjemput Mitha terlebih dulu, dan aku tidak bisa menceritakan padanya kalau di rumah ada Ega “Hei..kenapa kebanyakan diemnya..?” kata dia membuyarkan lamunanku “Ah.. nggak cuma ke bawa cuaca aja.. dingin males buat ngomong..”Jawabku mencari alasan untung cuaca hari ini mendung “kalau mendung begini besok jadi gak mas..”.

    Aku terperanjat mendengarnya “Oh..iya..iya..sekarang hujan terus ya..” Aku gugup karena aku dengar Ega masih belum mau pulang, katanya dia masih mau tinggal di rumah dan mamaku mengizinkannya. Namun aku tidak berani membicarakan tentang Ega pada Mitha, karena dia juga tahu kalau aku dulu sudah pernah melakukan hubungan intim layaknya dalam cerita hot dan aku tidak mau menyakiti hatinya.

    Hingga pulang dari kerja aku langsung mengantar Mitha, sebenarnya aku masih berniat untuk mampir k rumahnya “Sudah mas nggak usah.. ini mau hujan lagi kelihatannya..” Kata Mitha ketika aku hendak turun dari mobil, akhirnya akupun pulang dan benar saja tiba di rumah hujan turun dengan lebatnya. Akupun langsung ke dalam kamarku dan segera menghangatkan diri dengan selimut.

    Aku tidak melihat mama masuk ke kamarku, biasanya setiap aku pulang dari kerja dia langsung membuntutiku. Tapi kali ini dia tidak melakukannya sampai akhirnya aku mendengar pintu terbuka aku pikir itu pasti mama “Mas Yudi ini Ega bawain minuman hangat..” Dengan malas aku membuka mataku, dan aku terkejut melihat Ega dengan mengenakan pakaian yang begitu tipis seolah sengaja ingin menggodaku.

    Aku bangun dan mengambil minuman dari tangan Ega, ketika selesai meminumnya Ega mengambil minuman tadi. Namun dia bukan hanya mengambil minuman itu tapi dengan cepat dia mencium bibirku, aku tersentak dan langsung mendorong tubuhnya. Saat itu juga aku lihat Ega menangis dan langsung berlari dari kamarku, lama juga aku terdiam dan akhirnya akupun menuju kamarnya untuk meminta maaf.

    karena aku tahu Ega juga bukan gadis yang mudah melakukan hal seperti itu, aku lihat dia menangis memeluk bantal “Ega maafkan aku.. bukan maksudku untuk…”Dia kembali memelukku saat itu juga aku teringat akan masa laluku dengannya, dengan mesra aku balas memeluknya juga dan kamipun bercumbu seperti dulu dengan lembut aku mencium bibirnya yang terasa begitu hangat.

    Ega memejamkan mata bahkan dia mendesah dengan lirih “Ooouuuggghh… maaas.. Yudiii… aaagggggghhhhh… aku sayaaang kamu maaaaas….” Akupun tidak lagi memikirkan yang lain, tapi dengan perlahan aku lepas pakaian Ega dan nampaklah tubuh mulus Ega di depan mataku “Ooouugggghh… sayaaang.. aku juga masih sayang sama kamu…” Kataku sambil mendekat pada tubuhnya.

    lalu akupun kembali mencumbunya sambil melepas pakaianku juga, hingga akhirnya ketika kontolku sudah menyentuh tubuh Ega. Dengan sigap Ega memegangnya lalu diapun menuntunnya untuk masuk dalam kemaluannya, dan dengan cepat kontolku masuk kedalamnya “Oouuughh… aaagggghh.. aaaagggghh… aaaagggghhh… aaagggghh…Yudiii… aaagghhh..” Desah Ega waktu itu.

    Dia menggelinjang bagai cacing kepanasan dan aku terus memompa tubuhnya hingga tubuhku penuh dengan keringat “OOOooouuuggggghh… aaaaggggghhh… aaaaaggggghhh… aaaggghhh… aaaaaggggghhh…” Aku terus bergerak dan dapat aku rasakan kenikmatan bagai dulu ketika kami masih bersama sering melakukan adegan seperti dalam cerita hot selingkuh ini, kembali aku kecup bibir Ega.

    Hingga akhirnya kami berdua sama-sama mengerang panjang “Ooouuggggghh… aaagggghh… aaagggghh… sayaaaang… aaagggghh…. aaagggghhh…” Kamipun terkulai di tempat tidur, dan Ega memeluk tubuhku dengan mesranya hingga kamipun tertidur lelap, seperti biasa aku terbangun dan Ega sudah tidak ada di sampingku. Aku tahu dia pasti sedang masak dengan mama.

    Ketika aku bangun dan hendak pindah ke kamarku, mama memanggilku “Yudi.. kamu sudah bangun..itu ada yang temannya..” Dengan masih mata mengantuk akupun melihat ke ruang tamu, apalagi kamarku memang melewati ruang tengah tepat di samping ruang tamu “Oohhh..Mitha..” aku terkejut sedang duduk di sofa Mitha pacarku, dan yang lebih membuat aku terkejut dia di temani Ega disampingnya.

    Aku langsung menghampirinya “Tunggu ya.. 10 menit lagi..” Kataku tapi aku lihat Mitha sudah bangun dari duduknya dan berkata dengan tertahan “Ooh.. tidak usah mas.. Mitha pergi saja..” diapun melesat dengan cepat meninggalkan ruang tamuku, aku berusaha mengejarnya tapi dia masuk kedalam mobilnya lalu meninggalkan aku sendiri dengan perasaan yang tidak dapat aku gambarkan.

  • Cerita Bokep Tante Ivone Maniak Seks – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Bokep Tante Ivone Maniak Seks – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1614 views

    Perawanku – Udara pagi ini terasa sejuk sekali, seakan menyambut baik datangnya hari Minggu ini. Secerah wajah tante Ivone yg tengah bercengkrama dengan bunga bunga ditaman. Meskipun nampak angkuh, namun kecantikan wajahnya tak dapat disembunyikan. Aku baru saja selesai mandi dan berniat ngeteh diteras rumah sambil mnghirup udara pagi yg segar. Akan tetapi mataku melihat tante Ivone tengah asyik menikmati keindahan bunga ditaman depan rumah. Dengan gaya ala petani bunga Cibodas, tante Ivone nampak srius mmperhatikan tanaman itu.

    ” Pagi tan ” sapaku. ” Hmm… ” balasnya tanpa berpaling dari rumpunan bunga. ” Mau aku buatin minum nda tan!? ” tanyaku lagi setengah menawarkan jasa. ” Nda usah!! ” jawabnya juga seraya membelakangiku. Aku tak melihat tante Rita, Hendri ataupun Nita pagi ini. ” Ach, pada lari pagi kali? ” fikirku dalam hati.

    Aku kmbali mmperhatikan tante Ivone yg mmblakangiku. Mulai dari betisnya yg putih mulus mskipun nampak kurus, pahanya yg lebih mulus dari betisnya, bokongnya meskipun trbalut clana pendek, namun trlihat jelas lekukannya. ” Coba dia bisa aku tiduri sperti tante Rita ya? ” gumanku dalam hati. Belum habis lamunanku,tiba tiba kulihat tubuh tante Ivone trhuyung lemah ingin trsungkur. Dengan cepat aku mloncat dan mmegangi tubuhnya yg nyaris trsungkur itu, mninggalkan sisa lamunan cabulku.

    Kurangkul tubuhnya yg mulus dan trlihat lemas sekali. “Ga papa kan tan??” tanyaku penuh rasa khawatir, sraya mmapah tubuh tante Ivone. “Kpalaku trasa pusing Fad” jawab tante Ivone lemah. “Ya udah, istirahat aja didalam” saranku sambil terus memapahnya ke dalam rumah. “Akhirnya aku bisa mrangkulmu Vone” ucapku dalam hati. Ada sjuta kebahagian dihatiku karna mampu mrangkul tubuh si angkuh trsebut.

    Stelah brada didalam rumah, dengan perlahan kududukan tante Ivone disofa ruang tamu. Dengan mnarik nafas tante Ivone duduk dan brsandar pada sandaran sofa. Stelah itu aku melangkah mninggalkannya sendiri. Tak brapa lama aku kembali dngn sgelas air hangat dan mnghampiri tante Ivone yg tengah brsandar disandaran sofa. “Minum dulu tan, biar enakan!” ujarku sambil mnyerahkan gelas brisi air hangat yg kubawa. Tante Ivone pun mminum air hngt yg kuberikan. “Makasih ya Fad” ucapnya lemah sambil mletakan gelas dimeja yg ada didepannya.

    “Kpalanya masih pusing ga tan!?” tanyaku. Tante Ivone hanya mnganggukan kpalanya. “Mau dipijatin ga!?” tanyaku lagi. “E, em” jawab tante Ivone prlahan seakan tengah mnahan sakit. Aku pun sgera memijat mulai dari kpalanya dngn prlahan lahan, kmudian dahinya yg dia bilang mrupakan pusat rasa sakitnya. “Wah, knapa tante Fad!?” tanya Nita yg baru saja pulang. “Tadi si tante hampir jatuh, kpalanya pusing Nit!” jawabku. ” Trlalu capek kali!? ” ujar Nita sambil mlangkah kedapur. “Dah aga mndingan Fad” jelas tante Ivone dngn mata terpejam, menikmati pijatan pijatan jariku. Terasa hangat dahinya brsamaan dngn rasa hangat yg menjalari tubuhku. Harum aroma tubuh tante Ivone trasa mnusuk kedua lobang hidungku. Mmbuat aku ingin lebih lama lagi memijat dan dekat dngnnya.

    “Masuk angin kali tan, dahinya aga anget ne!? ” jelasku, brupaya memancing agar niatku tercapai. “Iya kali? “ujarnya pula, seakan mngerti akan arti ucapanku. Membuatku makin brani lebih jauh. “Mau dikerikin ga!?” tanyaku dngn penuh haraf kepadanya. “Memang kamu bisa!?” tante Ivone balik brtanya. Membuat hatiku trasa brdebar tak karuan. “Ya bisa… ” jelasku dngn cepat, takut tante Ivone brubah fikiran lagi. “Ya udah, tapi dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Ivone. Mmbuat hatiku brdebar makin cepat. Dengan prlahanku papah dia mlangkah mnuju kamarnya. Akupun brusaha untuk menahan dan menenangkan hatiku. Yang mulai dirasuki niat dan fikiran kotorku.

    Setelah brada didalam kamar, kusarankan agar dia istrahat diranjangnya. Tante Ivone pun mrebahkan tubuhnya sraya brnafas panjang. Seolah olah ada beban berat yg dibawanya. Aku sgera brlalu mngambil obat gosok dan coin untuk mengerik tubuh tante Ivone. Stelah kudapati smua yg kubutuhkan, aku kembali mnghampiri tante Ivone yg tengah menanti. Dengan mmbranikan diri aku memintamya agar dia mlepaskan pakaian yg dipakainya. Dia pun prlahan melepaskan pakaian atau baju yg dipakainya. Shingga tante Ivone kini hanya mngenakan bra yg brwarna pink dan clana pendek saja. Ada getaran hangat mnjalari sluruh tubuhku, saat menyaksikan tante Ivone mmbuka bajunya. Hingga mmbangunkan kjantanan dan hawa nafsuku. Yang memang telah mngendap dibenakku sejak awal, ketika memprhatikan dia ditaman.

    Dengan prasaan yg tak mnentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Akupun mulai mngusap … ..usap punggung mulus yg mmblakangiku, dngn hati hati sekali. “Tali branya dibuka aja ya tan??” pintaku pnuh haraf sambil trus mngusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku. “Iya… ” jawabnya lirih. Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli aku tak tau. Yang pasti tanganku sgera melepaskan kait tali branya, sehingga mmbuat branya mlorot mnutupi sbagian payudaranya yg bulat dan berisi. Sperti payudara milik gadis kebanyakan. Stelah tiada lagi penghalang dipunggungnya, akupun membalurinya dngn minyak gosok. Dan jari jemarikupun menari mmbentuk garis dipunggung tante Ivone.

    Sambil sekali kali mataku melirik kearah payudaranya yg brusaha ditutupi dngn bra dan kedua tlapak tangannya. Tapi hal trsebut mmbuatku smakin terangsang didorong rasa pnasaran yg tramat. Smentara tante Ivone hanya trdiam sraya mmejamkan matanya yg bulat dan indah. ” Pelan pelan ya Fad!? ” pintanya masih dngn mata yg trpejam. Tiba tiba pintu kamar prlahan terbuka, nampak Nita tengah brdiri dimuka pintu. “Tan aku mo kerumah tman dulu ya!?” ujar Nita brpamitan sraya matanya mlirik kearahku. “Iya Nit… ” balas tante Ivone tanpa brpaling kearahnya. Kmudian scara prlahan Nita mnutup pintu kembali dan brlalu pergi.

    Jari tanganku mulai nakal trhadap tugasnya, jariku trkadang nyelinap dibawah ketiaknya brusaha meraih benda yg bulat dan padat brisi yg ditutupinya. Tapi tangan tante Ivone terkadang brusaha mnghalanginya, dngn merapatkan pangkal lengannya. “Jari kamu nakal ya Fad!? ” ucap tante Ivone stengah berbisik seraya mlirik ke arahku. Membuatku trsipu malu. “Habis ga kuat sich, tan…” jawabku jujur. Tapi tante Ivone malah melepaskan branya shingga kini payudaranya nampak polos tanpa plindung lagi.

    Dan langsung menjadi santapan kedua mataku tanpa brkedip. Langsung mmbuat hatiku brdebar debar mnyaksikan pemandangan trsebut. “Sekarang bisa kamu plototin pe puas dech!!” ujar tante Ivone tak lagi mnutupit buah dadanya dngn kedua tlapak tangannya lagi. Jantungku trasa bgitu cepat brdetak dan mmbuat lemas sluruh prsendianku. Kontolku brlahan tapi pasti mulai brdiri tegak mngikuti dorongan hasratku.

    “Memang dah selesai ngeriknya Fad!?” tegur tante Ivone mngingatkanku. Mmbuat aku sgera mlanjutkan prkerjaanku yg trtunda sesaat. Hampir sluruh bagian belakang tubuh tante Ivone telah kukerik dan brwarna merah brgaris garis. Hanya bagian bokongnya yg luput dari kerikanku karna trhalang dngn clana pendek serta CD yg dikenakannya. Tapi belahan bokongnya telah puas kuplototin.

    Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Kemudian dngn prlahan jari jariku memijati pundaknya. Tante Ivone mnundukan kpalanya, sekali sekali trdengar suara dahak dari mulutnya. “Sudah Fad!” printahnya, agar aku mnyudahi pijatanku.

    Dengan prasaan malas akupun mnghentikan pijatanku dan sgera mmbrsihkan sisa sisa minyak dikedua tlapak tngnku. ” Cuci tanganmu dulu biar bersih sana!!” pinta tante Ivone skaligus printah. Akupun branjak pergi kekamar mandi yg memang ada didalam kamar trsebut. Stelah usai mncuci sluruh tanganku hingga bnar bnar bersih. Akupun kembali menghampiri tante Ivon yg tengah telentang diatas ranjang masih dngn keadaan sparuh bugil. Sperti saat aku tinggalkan kekamar mandi. Hingga payudaranya yg bulat dan brisi nampak mmbusung besar didadanya, dngn puting yg brwarna coklat susu. “Ayo Fad, kamu mau mainin ini kan!?”. “Aku juga mau kok!?” ucap tante Ivone sambil mremas salah satu payudaranya hingga putingnya mnonjol kearahku. Akupun mndekat mnghampirinya dngn perasaan nafsu. Membuat kontolku kian brdiri dan mngeras kencang dibalik clanaku.

    Akupun tak mnunggu lebih lama, sgeraku remasi payudaranya yg mnantang. Tante Ivone brgelinjang saat tlapak tanganku mndarat dan meremas kedua payudaranya. ” Achh.., iya Fad trussss ” rintihnya prlahan. Jari jemariku kian liar mremasi sluruh daging bulat yg padat brisi. JariQ juga memainkan putingnya yg mulai mngeras. ” Iya,.., ayo diisep Fad.., aaaayooo “pinta tante Ivone dngn nafas taj tratur. Akupun sgera mnjilati dan mengisapi puting payudaranya. “Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante Ivone sraya mmegangi kpalaku. Aku smakin brnafsu dngn puting yg kenyal sperti urat dan mnggemaskan.

    Sementara tante Ivone smakin mndesah tak karuan. Tangan kananku meluncur kearah slangkangan dibawah pusar, trus mnyusup masuk diantara clana dan CD tante Ivone. Hingga jari jariku trasa mnyentuh rumput halus yg cukup lebat didalamnya. Tante Ivone mmbuka pahanya tak kala jari tlunjukku brusaha masuk kedalam lobang yg ada ditengah bulu bulu halus miliknya. “Aowww…” jerit kecil tante Ivone saat tlunjukku brhasil memasuki lobang memeknya. Dia pun mnggeliatkan tubuhnya penuh gairah nafsu. Smentara kontolku smakin mngeras hendak kluar dari bahan yg mnutupinya.

    Cukup lama jari tlunjukku kluar masuk didalam memek tante Ivone, hingga lobang itu mulai trasa basah dan lembab. Sampai akhirnya tangan tante Ivone menahan gerakan tanganku dan mminta mnyudahinya. “Aaaachhh.., udaahhh., Faddh.., aaachh” rintih tante Ivone. Akupun menarik tanganku dari balik clananya dan mlepaskan putingnya dari mulutku.

    “Buka pakaianmu dong, Fad!!” seru tante Ivone sraya bangkit dan mlepaskan clana pendek serta CDnya. Shingga dia bugil dan nampak rumput hitam ditengah slangkangannya yg baru saja ku obok obok. Akupun mlepaskan smua pakaianku dan bugil sperti dirinya.

    Dengan senyum manis kearahku, tante Ivone mendekat dan brjongkok tepat didepan slangkanganku. “Aouw, gede banget..!!” seru tante Ivone sraya tlapak tangannya mraih kontolku yg telah brdiri dan keras. Dngn tangan kanan dia mmegang erat batang kontolku, sedangkan tlapak kirinya mngelus elus kpalanya. Hingga kpala kontolku trasa brdenyut hangat. Kmudian dimasukan kontolku kedalam mulutnya sraya matanya mlirik ke arahku. “Agghhh… “aku mlengguh tak kala sluruh kontolku tnggelam masuk kedalam mulutnya. Darahku brdesir hangt mnjalari sluruh urat ditubuhku. Aku hanya dapat memegangi kpala tante …

    …Ivone, mremas serta mngusap usap rambutnya yg ikal sebahu. Smentara tante Ivone smakin liar, sbentar mngulum dan mngemud seakan dia ingin melumat sluruh kontolku. Trnyata dia lebih buas dari tante Rita. Trkadang dia mnjilati dari batang hingga lobang kencing dikpalanya. ” Aaaaaaa… ” erangku menahan rasa nikmat nan tramat. Trasa tubuhku melayang jauh tak menentu.

    Entah brapa lama tante Ivone mngemut, mnjilat dan mngulum kontolku. Yg jelas hal ini mmbuat tubuhku brgetar dan hampir kejang. ” Gantian dong tan, aQ juga mau jilatin memekmu! ” rengekku, hampir tak mampu mnahan nafsuku. Ingin rasanya memuntahkan keluar sebanyak banyak. Agar tante Ivone mandi dngn air maniku.

    Tante Ivone sgera bangkit brdiri meninggalkan kontolku yg masih brdiri tegak. Kmudian aku mminta agar dia duduk dikursi tanpa lengan yg ada. Akupun brjongkok mnghadap memeknya yg dihiasi bulu lebatnya. Kedua kaki tante Ivone trtumpu pada kedua bahuku. Maka mulutku mulai mnjarah memek yg tlah mnganga terkuak jari jemariku, hingga nampak jelas lobang memek yg brwarna merah dan lembab.

    Lidahku pun mulai mnjelajahi dan mnjilati lorong itu. “Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., trussss, aassstttssh” desah tante Ivone saat lidahku brmain mnjilati lobang memeknya. “Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh” rintihnya pula sambil mremas dan mnjambaki rambut dikpalaku. Lidahkupun smakin liar dan brusaha masuk lebih dalam lagi. “Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante Ivone tak karuan. Lidahku brhenti mnjilati dinding lobang memek, kini brpindah pada daging mungil sbesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yg brwarna merah dan basah dngn air mazinya dan air liurku.

    “Aughh…..” suara tante Ivone sperti tersedak sambil mrapatkan kedua pahanya, hingga mnjepit leherku, ketika ku isap itilnya. ” Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” ucap tante Ivone lirih. ” Udahhh…, Fad…, udddaah Faadd ” rengek tante Ivone sraya mndorong kpalaku dngn kakinya yg trkulai lemas dibahuku.

    Akupun mlepaskan isapan mulutku pada itil tante Ivone dan bangkit brdiri dihadapannya dngn kontol yg masih tegak dan keras. Kemudian mminta tante Ivone agar bangkit dari duduknya. Kini aku yg mnggantikan posisinya duduk dikursi.

    Tante Ivone naik keatas pahaku dan tubuhnya mnghadap kearahku, hingga tubuh kami saling brhimpitan. Kmudian tante Ivone mmbimbing kontolku masuk kelobang memeknya dngan jarinya. ” Aagghhsss.. ” rintih kecil tante Ivone ketika kontolku masuk menusuk memeknya. Tak lama kmudian bokongnya mulai turun naik, mngesek gesek kontolku didalamnya. Aqpun mngimbanginya dngn mmegangi pinggulnya mmbantu bokongnya turun naik. ” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Fadd “. ” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa ” racau tante Ivone tak karuan jika tubuhnya turun mnenggelamkan kontolku dimemeknya.

    ” Aauwww, aku ga tahan ne Fadd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante Ivone sraya mnggerakan bokongnya dngn cepat. Akupun mmbalas reaksinya, dengan melumat lagi payudaranya .”Aaaaaawhhh……..”erang tante Ivone sambil mnekan bokongnya lebih rapat dengan slangkanganku. Akupun mengejang mnahan tekanan bokong tante Ivone. “Aaaachhhh…….” akhirnya aku tak mampu lagi mmbendung cairan kental dari dalam kontolku. Kamipun saling brpelukan dngn erat beberapa saat dngn brcampur peluh masing masing.

    Stelah cukup lama kami brpelukan, kamipun bangkit dngn malas, enggan branjak dari suasana yg ada. Stelah itu kamipun mandi mmbrsihkan tubuh kami masing masing yg basah dngn peluh syurga. Akhirnya aku bisa menidurimu dan menaklukan keangkuhanmu Ivone Gienarsih.

  • Cerita Dewasa Pengalaman Sex Ku Ketika Di SMU Di Sekolah – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Dewasa Pengalaman Sex Ku Ketika Di SMU Di Sekolah – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1630 views

    Perawanku – Waktu aku masih sekolah di sebuah SMU di Bantul aku mempunyai seorang teman. Bisa dikatakan teman dekat. Namanya Evi. Usianya 17 tahun. Dia keturunan Cina sehingga kulitnya kuning langsat. Tingginya sekitar 156 cm dan beratnya sekitar 48 kg. Rambutnya lurus panjang dan berwarna kecoklatan. Dia pindahan dari kota lain waktu permulaan kelas tiga. Aku dan dia saling menyukai. Meskipun ada perbedaan warna kulit. Kulitku sendiri sawo matang.
    ini terjadi ketika Suatu hari menjelang EBTA lokal dia minta sesuatu yang juga ada dipikiranku. Dia minta dicium. Akhirnya kami berdua sepakat melakukannya setelah pulang sekolah. Di salah satu kamar mandi sekolah. Setelah keadaan sekolah sepi kami berdua segera masuk ke kamar mandi. Kebetulan kamar mandi di sekolahku tidak membedakan antara cowok dan cewek.

    Kami berdua berhadap-hadapan. Kami sama-sama ragu untuk memulai. Entah siapa yang memulai, tahu-tahu kami berdua sudah berciuman. Lidah kami berdua saling menjilat. Matanya terpejam.

    Tanganku mencoba meremas payudaranya yang berukuran 38 yang masih tertutup pakaian seragam sekolah. Kuremas payudara kanannya. Ciuman kami terlepas.
    “Ooohh..” Desah Evi.
    Tangannya turun ke bawah mau membuka retsluiting celanaku. Kami berdua tersenyum. Tiba-tiba.
    “Apa-apaan kalian.” Bentak seseorang.
    Kami berdua terkejut. Di pintu yang terbuka terdapat salah seorang guru BP yang sangat ditakuti. Namanya Bu Heydi. Tanganku menghentikan remasan pada payudara kanan Evi. Sementara tangan Evi masih di celanaku.
    “Kalian berdua ikut aku ke kantor.” Kata Bu Heydi sambil berjalan keluar kamar mandi.
    Kami berdua mengikutinya. Tangan Evi memegang tanganku. Dia kelihatan ketakutan. Aku sendiri juga takut. Takut hal ini akan disebarluaskan.

    Kami bertiga telah sampai di ruang BP. Dikuncinya pintu ruangan itu. Kami berdua disuruh duduk di kursi sofa. Begitu duduk Evi dengan setengah menangis berkata.
    “Tolong bu. Jangan bilang siapa-siapa.”
    “Baiklah. Kamu jangan menangis. Aku akan tutup mulut. Tapi ada syaratnya.” Kata Bu Heydi yang duduk di depan meja kerjanya.
    “Apa syaratnya, bu?” tanyaku.
    “Saya bersedia memberi uang kepada ibu.” Kata Evi sebelum Bu Heydi menjawab pertanyaanku.
    “Aku nggak butuh uang.”
    Bu Heydi diam sejenak. Kemudian lanjutnya.
    “Aku butuh kamu.” Katanya sambil menunjukku. Kali ini suaranya agak lembut.
    “Apa yang bisa saya bantu?”
    “Aku butuh tubuhmu.”
    “Maksudnya?”
    “Aku minta dilayani.”

    Aku dan juga Evi setengah kaget. Aku tidak mengira Bu Heydi mengajukan syarat yang sangat tidak mungkin kulakukan. Aku hanya diam. Aku tahu Bu Heydi yang berusia 47 tahun adalah seorang janda. Jadi wajar saja dia minta dilayani.

    “Bagaimana?” Kata Bu Heydi sambil melepas kemejanya. Sehingga dia tinggal memakai baju dalam yang putih tipis memperlihatkan branya yang berwarna hitam. Tampak juga sebagian kulit sawo matangnya pada tubuh dengan tinggi sekitar 156 cm dan berat sekitar 53 kg.
    “Jangan, bu. Syarat yang lain saja.” Tolakku sambil tetap memegang tangan Evi.
    “Ibu nggak punya syarat lain selain itu.”
    “Jangan, bu.” Tolakku sekali lagi.
    “Kalau begitu, ibu akan umumkan perbuatan kalian besok.” Kata Bu Heydi agak marah.

    Aku dan Evi berpandangan. Kembali Bu Heydi berkata.
    “Daripada bercinta dengan orang yang lain warna kulitnya, lebih baik dengan..”
    Belum selesai Bu Heydi selesai bicara sudah disela oleh Evi.
    “Tolong, bu. Jangan sebut-sebut warna kulit. Aku rela. Terserah ibu mau lakukan apa terhadapnya. Tapi. Sekali lagi. Jangan sebut-sebut warna kulit.” Kata Evi dengan nada keras dan melepaskan pegangan tanganku.

    Bu Heydi tertawa sambil berdiri menghampiriku. Dia jongkok di depan tempat aku duduk. Dia meremas penisku yang masih tidur. Remasan itu membuat penisku setengah tegang. Sementara Evi berdiri. Dia berjalan mau keluar dari ruangan itu.
    “Eh. Jangan pergi dulu.” Cegah Bu Heydi sambil tetap memegang penisku. Kemudian sambungnya lagi.
    “Setelah aku menikmati tubuh pacarmu ini, kamu boleh melakukannya sepuasnya.”
    Kelihatannya Evi setuju. Dia kembali duduk. Tetapi duduk di kursi sofa yang berada di depanku yang dibatasi oleh meja. Sementara meja itu telah digeser Bu Heydi untuk berjongkok.

    Setelah melihat Evi duduk, kembali Bu Heydi meremas penisku. Kali ini penisku sudah hampir tegang. Dibukanya celanaku. Diturunkan ke bawah sedikit termasuk celana dalamku. Penisku sudah muncul dihadapan Bu Heydi dengan keadaan tegang sepenuhnya. Dipegangnya penisku dan langsung dimasukkan ke mulutnya. Dikeluarmasukkan penisku yang panjangnya 15 cm. Tanganku hanya memegang rambut hitamnya yang lurus potong pendek sebahu ciri khas BP. Mataku setengah terpejam menikmati kuluman Bu Heydi terhadap penisku.

    Sekarang kepala penisku dijilatinya sambil melepas baju dalam yang masih dipakainya. Kemudian dipegangnya lagi penisku dan dimasukkan kembali ke mulutnya. Tangannya juga membelai buah pelirku. Penisku dikeluarkan dari mulutnya dan disentuhkan ke lehernya sementara lidahnya menjilati pinggangku. Aku beranikan membuka ikatan bra yang dipakai Bu Heydi. Perlahan-lahan kulepas bra itu. Sedangkan Bu Heydi menjilati buah pelirku.
    Beberapa saat kemudian digesek-gesekkan diantara kedua payudara Bu Heydi yang berukuran 34. Pada saat itu kulihat Evi sedang melakukan masturbasi. Baju seragam sekolahnya setengah terbuka dan dia meremas payudara kanannya yang masih ditutupi kaos dalam dan bra. Bu Heydi kembali menjilati kepala penisku. Kudorong kepalanya supaya penisku masuk ke mulutnya. Kembali penisku keluarmasuk masuk mulut Bu Heydi. Sambil kedua tangannya membelai-belai buah pelirku.

    Setelah puas menikmati penisku, dia berdiri menyorongkan payudara kirinya ke mulutku. Kujilati payudara kirinya itu. Bu Heydi rupanya juga melihat Evi bermasturbasi. Dia meninggalkanku dan menghampiri Evi yang masih asyik dengan remasan pada payudara kanannya.
    “Boleh ibu bantu.” Tawar Bu Heydi.
    Evi menghentikan remasannya dan hanya diam. Dan tanpa persetujuan Evi dibukanya dengan cepat seluruh pakaian seragam sekolah yang dipakai Evi termasuk kaos dalam dan bra. Mereka berdua sama-sama setengah telanjang.
    Dibimbingnya Evi untuk berdiri untuk menempelkan kedua payudaranya ke kedua payudara Evi.

    “Ooouhh..” Mereka berdua sama-sama mendesah.
    Bu Heydi lalu memegang kedua payudara Evi sedangkan Evi mendorong tubuh Bu Heydi pada kedua lengannya. Aku kira Evi yang mempunyai tato bergambar bunga mawar kecil di atas pusarnya akan menolak ajakan Bu Heydi. Ternyata tidak. Evi bahkan melepas semua pakaian yang tersisa di tubuhnya yang diikuti oleh Bu Heydi yang juga dengan cepat melepas semua pakaiannya. Keduanya berdiri berhadap-hadapan dan saling tersenyum. Aku sendiri ketika mereka melepaskan semua pakaian juga ikut melepas semua pakaianku sambil duduk. Aku ingin menghampiri mereka yang kemudian dihalang-halangi oleh Bu Heydi.
    “Biarkan aku menikmati tubuhnya sendirian.” Kata Bu Heydi sambil berjalan ke belakang Evi.

    Dari belakang diciumnya bibir Evi yang tangan kanannya memegang leher belakang Bu Heydi. Tangan kiri Bu Heydi dari belakang meremas payudara kiri Evi. Tangan kiri Evi menjepit tangan kiri Bu Heydi di bawah ketiaknya sambil memegang tangan kanan Bu Heydi yang membelai vaginanya.
    Lalu Evi membalik badannya dan dengan membungkuk dihisapnya kedua payudara Bu Heydi bergantian.

    “Uuughh..” Desah Bu Heydi.
    Kedua tangannya memegang pinggang Bu Heydi. Ditariknya tubuh Evi ke atas sambil dia sendiri berjongkok di hadapan Evi. Langsung saja dibukanya vagina Evi dengan kedua tangannya. Evi meletakkan kaki kirinya ke atas kursi sofa untuk mempermudah terbukanya vaginanya. Bu Heydi lalu menjilat vagina Evi dan menghisapnya.
    “Aaaghh..oohh..” Desah Evi.
    Bu Heydi lalu membimbing Evi untuk duduk di kursi sofa. Gantian dia membungkuk dan menghisap kedua payudara Evi bergantian.
    “Uuughh..” Desah Evi.
    Mulutnya turun ke bawah dan dihisapnya kembali vagina Evi dengan lidahnya. Evi meremas rambut Bu Heydi yang semakin bernafsu dalam menghisap vagina Evi.
    “Aaaghh..oohh..” Desah Evi.

    Bu Heydi kemudian menghentikan permainannya. Dia lalu duduk di kursi sofa dengan kaki kanannya tetap dibawah. Dengan isyarat tangan dipanggilnya Evi yang masih duduk sambil tangannya memegang vaginanya yang sudah basah. Dihampirinya Bu Heydi. Jempolnya basah karena cairan yang keluar dari vaginanya. Diarahkannya ke mulut Bu Heydi yang kemudian menghisap jempol itu.

    Cerita Dewasa – Lalu Evi duduk di antara kedua kaki Bu Heydi. Dari belakang Bu Heydi memeluk Evi sambil mencium bibir Evi. Tangan kanannya membelai vagina Evi dan jari tengah dan telunjuknya dimasukkan ke vagina Evi. Kepala Evi otomatis mendongak ke atas yang membuat Bu Heydi menjilati leher Evi. Tangan kirinya meremas kedua payudara Evi bergantian. Sedangkan tangan kanan Evi memegang tangan kanan Bu Heydi untuk mempercepat kocokan pada vaginanya.

    “Ooohh..aahh..oouhh..” Desah Evi.
    Aku tetap duduk melihat permainan Bu Heydi dengan Evi yang memanas. Aku hanya bisa meremas-remas penisku sendiri yang tegang. Kelihatannya Evi sudah mencapai orgasme. Bu Heydi mengeluarkan kedua jarinya dari vagina Evi dan memeluknya. Aku ingin menghampiri mereka lagi. Tapi.

    “Aku ingin lagi, bu.” Kata Evi pelan.
    Aku urungkan menghampiri mereka yang telah memulai kembali permainannya yang semakin memanas. Kulihat Evi dalam posisi kayang sedang dihisap vaginanya oleh Bu Heydi. Evi tidak kuat dalam kayangnya sehingga dia terjatuh ke lantai. Tetapi Bu Heydi tetap saja menghisap vagina Evi dengan lidahnya sambil tangan kirinya membelai paha kiri Evi.
    “Aaaghh..oohh..eehmm..” Desah Evi.
    Setelah beberapa lama Evi mencapai orgasme. Tampak dia kelelahan. Tetapi oleh Bu Heydi dirangsang kembali. Dengan cara Bu Heydi membuka vaginanya dan menempelkan kelentitnya ke puting payudara kanan Evi.
    “Aaahh..” Mereka berdua sama-sama mendesah.
    Gairah Evi kembali lagi. Tangan kirinya meremas payudara kanannya sendiri sementara tangan kirinya membelai paha kanan Bu Heydi. Bu Heydi melanjutkan dengan berdiri dan meletakkan kaki kirinya ke kursi sofa. Evi yang berada tepat di bawahnya lalu memegang paha kanan Bu Heydi dan menjilatinya.
    “Eeehmm..” Desah Bu Heydi.
    Mulutnya naik ke atas dan dibukanya vagina Bu Heydi untuk menghisap dengan lidahnya.
    “Aaaghh..oohh..” Desah Bu Heydi.

    Akhirnya Bu Heydi mencapai orgasme dan dia terjatuh tertelungkup di sofa dengan kaki tetap di bawah. Tetapi Evi belum puas. Puting payudara kirinya di tempelkan di lubang pantat Bu Heydi. Kemudian dari belakang dihisapnya lagi vagina Bu Heydi dengan lidahnya.
    “Aaahh..aaghh..oohh..” Desah Bu Heydi.
    Sebagai puncak permainan mereka, Evi membalikkan tubuh Bu Heydi dan mengangkat kakinya ke atas kursi sofa. Mereka bermain dalam posisi 69 selama beberapa menit.
    Aku semakin asyik saja dengan penisku. Tidak saja meremas-remas penisku. Juga kukocok penisku. Aku tidak tahu ketika mereka berdua telah mendatangi aku yang bersandar ke meja. Bu Heydi mengambil kursi kayu. Sambil duduk dia memegang penisku dan memasukkan ke mulutnya. Evi ingin menciumku. Tetapi kudaratkan bibirku ke payudara kanannya.

    “Oooughh..”
    Kulepaskan hisapan pada payudara kanannya. Dia merangkulkan tangan kirinya ke pundakku. Tangan kanannya ikut memegang penisku yang keluar masuk mulut Bu Heydi. Tangan kananku meremas pantat kirinya yang membuat kepalanya mendongak ke atas. Aku dapat dengan leluasa menjilati lehernya dan kedua payudaranya.
    “Eeehmm..eehmm..” Desah Evi.
    Kutambah dengan remasan tangan kiriku yang meremas pantat kanannya. Penisku sudah tidak lagi dikeluarmasukkan. Kulepaskan diriku dari rangkulan Evi. Evi kemudian duduk di kursi kayu. Bu Heydi mendekati Evi. Mereka berdua berciuman kembali. Setelah kukangkangkan kaki Bu Heydi, dari bawah kuhisap vagina Bu Heydi dengan lidahku sementara mereka tetap berciuman.
    “Aaaghh..oohh..” Desah Bu Heydi disela-sela ciumannya.
    Mereka berciuman sambil tangan kanan Bu Heydi memasukkan jari tengah dan telunjuknya ke vagina Evi.
    Kuremas-remas juga pantat Bu Heydi. Bu Heydi melepaskan ciumannya dan berkata.
    “Masukkan.” Katanya sambil mencium Evi kembali.
    Dari belakang kumasukkan pelan-pelan penisku ke vagina Bu Heydi.

    Cerita Bokep – Kulihat tangan kanan Evi memegang paha kiri Bu Heydi. Evi juga telah berdiri dari kursinya. Bu Heydi menjilati leher Evi sampai ke kedua payudara Evi. Tangan kirinya memegang erat tangan kanan Evi. Penisku keluarmasuk vagina Bu Heydi dari belakang sementara Bu Heydi dan Evi tetap berciuman sambil menempelkan kedua payudara mereka. Kedua tangan mereka saling meremas kedua paha. Kurasakan maniku mau keluar.
    “Maaf, bu. Mau keluar.” Kataku pelan.
    “Keluarkan saja di dalam.” Jawab Bu Heydi sambil mendesah disela-sela ciumannya.
    Akhirnya kukeluarkan maniku di vagina Bu Heydi yang juga basah. Bu Heydi kemudian mendorong tubuhku. Kukeluarkan penisku dari vagina Bu Heydi dan aku langsung jatuh terduduk. Aku duduk bersandar ke tembok dengan kakiku kuluruskan. Bu Heydi juga melepaskan ciumannya pada Evi. Dia duduk di kursi sofa.

    Evi menghampiriku. Aku berjalan dengan dua lututku juga maju mendekatinya. Kuhisap payudara kiri Evi. Sedangkan payudara kanan Evi kuremas.
    “Oooughh..oohh..” Desah Evi.
    Bu Heydi juga berdiri dan menggesekkan kedua payudaranya ke punggungku sambil kedua tangannya membelai bagian depan tubuhku.

    Kubalikkan tubuhku sambil berdiri. Kubimbing Bu Heydi untuk duduk di kursi sofa. Ingin sekali kumasukkan penisku dari depan. Tapi Evi menarikku ke belakang. Dia langsung menghisap vagina Bu Heydi dengan lidahnya dengan bertumpu pada kedua tangannya dan lututnya. Dia juga berkata kepadaku.
    “Masuki aku.” Kata Evi yang menghentikan hisapan pada vagina Bu Heydi dengan lidahnya.
    Dari belakang pelan-pelan kumasukkan penisku.
    “Aaaghh..” Desah Evi.
    Evi melanjutkan lagi menghisap vagina Bu Heydi dengan lidahnya. Tapi baru sebentar, Evi berkata lagi.
    “Keluarkan. Nggak enak.”
    Terpaksa kukeluarkan lagi penisku. Evi membalikkan tubuhnya dan mendorongku untuk duduk di kursi kayu. Aku duduk di kursi kayu. Evi kemudian mencoba duduk di pangkuanku. Dia meraba-raba ke belakang mencari penisku. Aku tahu maksudnya. Pelan-pelan kumasukkan penisku ke vagina Evi. Kurasakan vagina Evi yang basah.
    “Aaaghh..” Desah Evi.

    Bu Heydi juga bangkit dari kursi sofa. Dari samping tangan kanannya membelai vagina Evi. Payudara kirinya menempel pada payudara kanan Evi. lalu dipegangnya payudara kiri Evi dan ditempelkan ke payudara kanannya. Kedua payudara mereka menempel dan bergesekan seiring dengan Evi yang menaikturunkan pantatnya supaya penisku keluar masuk. Kuangkat paha kanan Bu Heydi. Evi menyambutnya dengan belaian tangan kiri pada paha kanan Bu Heydi.
    “Ooouhh..aahh..oouhh..” Desah Evi.
    “Ooouhh..” Desah Bu Heydi.
    Kemudian Bu Heydi turun ke bawah. Dihisapnya vagina Evi yang masih dimasuki penisku. Kuangkat pantat Evi dan akupun mencoba berdiri. Aku berhasil berdiri dan kulihat kaki kiri Evi diangkat ke atas meja kecil. Penisku dipegang oleh Bu Heydi sementara kepala penisku masih berada di vagina Evi. Dikeluarkannya penisku sambil Bu Heydi menjilati cairan yang keluar dari vagina Evi.
    Aku masih berdiri sambil membersihkan penisku. Kulihat Bu Heydi terlentang di lantai dan tangannya menarik Evi untuk melakukan posisi 69. Ketika mereka melakukan posisi itu kukeluarmasukkan penisku ke vagina Evi.
    “Aaahh..oouhh..Jangan. Jangan.” Teriak Evi berulang-ulang.

    Kukeluarkan penisku sambil berdiri. Evi juga berdiri. Evi menghampiriku dan dibimbingnya aku untuk telentang dilantai disamping Bu Heydi yang sudah duduk juga dilantai. Evi tengkurap di atas tubuhku sambil mencoba supaya penisku masuk vaginanya. Bu Heydi membantu dari belakang. Dimasukkannya penisku ke vagina Evi sambil lidahnya menjilati pantat Evi. Kuangkat kepalaku untuk menghisap kedua payudara Evi yang bergoyang seiring dengan pantatnya yang dinaikturunkan. Aku hisap payudara kanannya. Bu Heydi dari belakang menempelkan kedua payudaranya ke punggung Evi. Tubuhnya ikut membantu mendorong tubuh Evi yang dinaikturunkan supaya penisku keluarmasuk vagina Evi. Tangan kirinya meremas payudara kiri Evi.

    “Aaahh..oouhh..oohh..aahh..oouhh..” Desah Evi.
    “Aku mau keluar.” Kataku sambil berteriak kenikmatan.
    “Jangan keluarkan di dalam.” Kata Evi sambil memundurkan tubuhnya ke belakang.
    Bu Heydi yang tahu hal itu langsung berdiri. Evi langsung melentangkan tubuhnya di lantai sambil berkata kepadaku.
    “Keluarkan di sini.” Kata Evi sambil memegang kedua payudaranya.
    Kukangkangkan kakiku yang setengah berdiri bertumpu dengan kedua lututku tepat di atas kepala Evi. Kutumpahkan maniku di kedua payudara Evi yang langsung dijilati Bu Heydi.
    “Eeehmm..” Desah Evi.

    Cerita Dewasa – Bu Heydi juga menjilati kepala penisku. Sedangkan buah pelirku dijilati oleh Evi. Aku lalu pindah ke samping kanan Evi. Kugesek-gesekkan penisku yang masih keluar mani ke kedua payudara Evi bergantian. Juga ke belahan kedua payudara Evi. Akhirnya kujatuhkan tubuhku di samping kanan Evi. Bu Heydi masih menjilati kedua payudara Evi bergantian sambil sesekali membagi maniku dengan lidahnya ke bibir Evi. Akhirnya Bu Heydi juga menjatuhkan tubuhnya di samping kiri Evi.
    Setelah beristirahat sebentar dan membersihkan tubuh di kamar mandi yang ada di dalam ruang BP, kami bertiga pulang ke rumah masing-masing.

  • SELINGKUH DENGAN IBU MERTUA YANG MASIH TERLIHAT AWET MUDA

    SELINGKUH DENGAN IBU MERTUA YANG MASIH TERLIHAT AWET MUDA


    1538 views

    Cerita Sex ini berjudul ” SELINGKUH DENGAN IBU MERTUA YANG MASIH TERLIHAT AWET MUDA ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Cerita Hot Umurku sekarang ini 26 tahun. Ini adalah pengalamanku yang benarbenar nyata selingkuh dengan Ibu mertua ku. Umurnya belum terlalu tua baru sekitar 45th . Dulunya baru umur 18 tahun dia sudah kimpoi . Ibu mertuaku bentuk tubuhnya seksi malah boleh dikatakan langsing dan singset seperti perawan .

    Tak heran sebab hingga kini ia masih mengkonsumsi jamu untuk supaya selalu awet muda dan langsing .Singkat cerita ketika istriku baru melahirkan anak pertama dan aku harus puasa selama sebulan lebih. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana pusingnya aku .

    Hingga suatu saat aku mengantar Ibu mertuaku pulang dari menengok cucu pertamanya itu . Aku biasa mengantarnya dengan motorku . Namun kali itu turun hujan ditengah perjalanan . Karena sudah basah kuyup dan hari sudah menjelang tengah malam aku paksakan untuk menerobos hujan yang deras itu .

    Setiba dirumah aku ingin segera selingkuh dengan ibu mertua tetapi membersihkan badan dahulu lalu menghangatkan badan . Di rumah itu hanya ada aku dan Ibu mertuaku karena kakak iparku tinggal ditempat lain . Sedangkan adik iparku yang biasa menemani Ibu mertuaku dirumah itu untuk sementara tinggal dirumahku untuk menjaga istriku .

    Kamu mandi aja deh sana , Her Kata Ibu mertuaku menyuruhku mandi
    Ah . . nggak usah . . Ibu duluan deh Kataku menolak dan menyuruhnya agar lebih dulu
    Udah . . Ibu disini aja Kata Ibu mertuaku yang memilih tempat cuci baju dan cuci piring diluar kamar mandi . Karena disitu juga ada air keran .
    Yah . . udah deh Kataku sambil mendahuluinya masuk ke kamar mandi .

    Suasana waktu itu agak remangremang karena lampu penerangannya hanya lampu bohlam 5 watt . Aku iseng ingin selingkuh dengan ibu mertua dan ingin tahu bentuk tubuh Ibu mertuaku yang sebenarnya ketika ia telanjang bulat . Maka aku singkapkan sedikit pintu kamar mandi dan menontonnya melepas satu per satu bajunya yang sudah basah kuyup karena kehujanan . Dia tidak tahu aku menontonnya karena dia membelakangiku .

    Aku perhatikan dia mencopot kaus Tshirtnya ke atas melewati bahu dan lehernya . Lalu BHnya dengan mencongkel sedikit pengaitnya lalu ia menarik tali BHnya dan BH itupun terlepas . Adegan yang paling syur ialah ketika ia membuka celana panjang jeansnya .

    Sret . . celana jeans ketat itu ditariknya ke bawah sekaligus dengan celana dalamnya . Jreng . .! Aku lihat kedua buah pantatnya yang kencang dan montok itu menantangku . Aku yang sudah tak merasakan sex selama satu bulan lebih dan lagi dihadapkan dengan pemandangan seperti itu. Ingin rasanya aku segera selingkuh dengan ibu meruta . Lalu aku nekat untuk mendekatinya dan aku peluk dia dari belakang .

    Eh . . Her . . ini apaapaan . . Her hardik Ibu mertuaku .
    Bu . . tolongin saya dong , Bu rayuku
    Ih . . apaan sih . .?! Katanya lagi
    Bu , udah dua bulan ini saya nggak dapet dari Dewi . . tolong dong , Bu bujukku lagi
    Tapi aku inikan ibumu Kata Ibu mertuaku
    Bu . . tolong , Bu . . please banget rayuku sambil tanganku mulai beraksi .

    Tanganku meremasremas buah dadanya yang ukurannya sekitar 34b sambil jariku memelintir putting susunya . bibir dan lidahku menjilati tengkuk lehernya . Tanganku yang satu lagi memainkan klentitnya dengan memelintir daging kecil itu dengan jariku .

    Batang Kontolku aku tekan dilubang pantatnya tapi tidak aku masukkan . Ibu mertuaku mulai bereaksi . Tangannya yang tadi berusaha meronta dan menahanku kini sudah mengendor . Dia membiarkanku memulai dan memainkan ini semua . Nafasnya memburu dan mulai mendesahdesah .

    Dikamar aja yuk , Bu bisikku

    Aku papah Ibu mertuaku menuju kamarnya . Aku baringkan dia tempat tidur . Aku buka kedua kakinya lebarlebar dan sepertinya Ibu mertuaku sudah siap dengan batang Kontolku . Tapi aku belum mau memulai semua itu .

    Tenang aja dulu , Bu . Rileks aja , Ok? Kataku .

    Aku mengarahkan mukaku ke liang memeknya dan aku mulai dengan sedikit jilatan dengan ujung lidahku pada klentitnya .

    Ough . . sshhtt . . ough . . hmpf . . hh . . ooghh Ibu mertuaku mendesah dan mengerang menahan kenikmatan jilatan lidahku .

    Dia sepertinya belum pernah merasakan oral sex dan baru kali ini saja ia merasakannya . Terlihat reaksi seperti kaget dengan kenikmatan yang satu ini .

    Enak kan , Bu . .? Kataku
    Hmh . . kamu . . sshtt . . kamu . . koq . . gak jijik . . sih , Her? Tanyanya ditengahtengah desah dan deru nafasnya .
    Enggak , Bu . . enak koq . . gimana enak gak?
    Hmh . . iyahh . . aduh . . sshhtt . . eenak . . banget . . Her . . sshhtt jawab Ibu mertuaku sambil terus merintih dan mendesah .
    Itu baru awalnya , Bu Kataku .

    Kali ini aku kulumkulum klentitnya dengan bibirku dan memainkan klentit itu dengan lidahku . Aku lihat sekujur tubuh Ibu mertuaku seperti tersetrum dan mengejang . Ia lebih mengangkat lagi pinggulnya ketika aku hisap dalamdalam klentitnya.

    Tak sampai disitu aku terobos liang memeknya dengan ujung lidahku dan aku masukkan lidahku dalamdalam ke liang memeknya itu lalu aku mainkan liukkan lidahku didalam liang memeknya . Seiring dengan liukanku pinggul Ibu mertuaku ikut juga bergoyang .

    Ough . . sshhtt . . ough . . sshhtt . . oughh . . hmh . . ough . . shhtt . . ough . . hmh . . oufghh . . sshhtt suara itu terus keluar dari mulut Ibu mertuaku menikmati kenikmatan oral sex yang aku berikan .

    Aku sudahi oral sex ku lalu aku bangun dan berlutut dihadapan liang memeknya . Baru aku arahkan batang Kontolku ke liang memeknya tibatiba tangan halus Ibu mertuaku memegang batang Kontolku dan meremasremasnya .

    Auw . . diapain , Bu . .? Tanyaku
    Enggak . . ini supaya bisa lebih tahan lama Kata Ibuku sambil mengurut batang Kontolku .

    Rasanya geligeli nikmat bercamput sakit sedikit . Sepertinya hanya diremasremas saja tetapi tidak ternyata ujungujung jarinya mengurut uraturat yang ada dibatang Kontol untuk memperlancar aliran darah sehingga bisa lebih tegang dan kencang dan tahan lama .

    Guedhe . . juga . . punya kamu , Her Kata Ibu mertuaku sambil terus mengurut batang Kontolku .
    Iya dong , Bu Kataku .

    Kali ini kedua tangan Ibu mertuaku beraksi mengurut batang Kontolku . Tangan yang satunya lagi menguruturut buah pelirku dan yang satu lagi seperti mengocok namun tidak terlalu ditekan dengan jari jempol dan telunjuknya . Tak lama kemudian . .

    Egh . . yah .sudah . . pelanpelan . . yah sayang Kata Ibu mertuaku sambil menyudahi pijatanpijatan kecilnya itu dan mewantiwantiku supaya tidak terlalu terburuburu menerobos liang memeknya .

    Aku angkat kedua kaki Ibu mertuaku dan aku letakkan dikedua bahuku sambil mencoba menerobos liang memeknya dengan batang Kontolku yang sedari tadi sudah keras dan kencang .

    Ouh . . hgh . . ogh . . pelanpelan , Her Kata Ibu mertuaku ditengahtengah deru nafasnya .
    Iya , Bu . . sayang . . egh . . aku pelanpelan koq Kataku sambil perlahanlahan mendorong Kontolku masuk ke liang memeknya .

    Ih . . punya kamu guedhe banget , sayang . . ini sih . . gak normalKatanya
    Kan tadi udah diurut , Bu Kataku .

    Aku teruskan aksiku penetrasiku menerobos liang memeknya yang kering . Aku tidak merasa istimewa dengan batang Kontolku yang panjangnya hanya 15cm dengan diameter sekitar 3 cm . Dengan sedikit usaha . . tibatiba . . SLEBSLEBBLESSS! Batang Kontolku sudah masuk semua dengan perkasanya kedalam liang memek Ibu mertuaku .

    Ough . . egh . . iya . . sshh . . pelanpelan aja yah , sayang Kata Ibu mertuaku yang mewantiku supaya aku tidak terlalu terburuburu .

    Aku mulai meliukkan pinggulku sambil naik turun dan pinggul Ibu mertuaku berputarputar seperti penyanyi dangdut .

    Ough . . gilaa , Bu . . asyik . . banget . .! Kataku sambil merasakan nikmatnya batang Kontolku diputar oleh pinggulnya .

    Ough . . sshtt . . egh . . sshh . . hmh . . ffhh . . sshhtt . . ough . . sshhtt . . oughh Ibu mertuaku tidak menjawab hanya memejamkan mata sambil mulutnya terus mendesah dan merintih menikmati kenikmatan sexual .

    Baru sekitar 30 menit aku sudah bosan dengan posisi ini dan ingin berganti posisi . Ketika itu kami masih dalam posisi konvensional . Aku mau menawarkan variasi lain pada Ibu mertuaku . .

    Eh . . Ibu yang di atas deh Kataku .
    Kenapa , sayang . . kamu capek . . yah . .? Tanyanya .
    Gak jawabku singkat .
    Mo keluar yah . . hi . . hi . . hi . .? Godanya sambil mencubit pantatku .
    Gak . . ih . . aku gak bakalan keluar duluan deh Kataku sesumbar .

    Awas . . yah . . kalo keluar duluan Goda Ibu mertuaku sambil meremasremas buah pantatku .
    Enggak . . deh . . Ibu yang bakalan kalah sama akuKataku sombong sambil balas mencubit buah dadanya
    Auw . . hi . . hi . . hi Ibu mertuaku memekik kecil sambil tertawa kecil yang membuatku semakin horny .

    Dengan berguling ke samping kini Ibu mertuaku sudah berada di atas tubuhku . Sambil menyesuaikan posisi sebentar ia lalu duduk di atas pinggulku . Aku bisa melihat keindahan tubuhnya perutnya yang rata dan ramping . Tak ada seonggok lemakpun yang menumpuk diperutnya .

    Buah dadanya juga masih kencang dengan putting susu yang mengacung ke atas menantangku . Aku juga duduk dan meraih putting susu itu lalu ku jilat dan ku kulum . Ibu mertuaku mendorongku dan menyuruhku tetap berbaring seolaholah kali ini cukup ia yang pegan kendali . Ibu mertuaku kembali meliukliukkan pinggulnya memutarmutar seperti Inul .

    Egh . . sshhtt . . ough . . sshhtt . . ough . . egh . . hmf desah Ibu mertuaku .
    Gila , Bu . . enak banget . .!

    Ough . . sshhtt . . ough . . sshtt . . ough Ibu mertuaku mendesah dan merintih sambil terus meliukliukkan pinggulnya memainkan batang Kontolku yang berada didalam liang memeknya .

    Tanganku meremas buah dadanya yang tak terlalu besar tapi pas dengan telapak tangan . Tanganku yang satunya lagi meremas buah pantatnya . Batang Kontolku yang kencang dan keras terasa lebih keras dan kencang lagi . Ini berkat pijatan dari Ibu mertuaku tadi itu . Bisa dibayangkan jika tidak aku sudah lama orgasme dari tadi .

    Ough . . sshtt . . emh . . enagh . . egh . . sshhtt . . ough . . iyaahh . . eeghh . . enak . . ough liukan pinggul Ibu mertuaku yang tadinya teratur kini berubah semakin liar naik turun maju mundur tak karuan .

    Ough . . iiyyaahh . . egghh . . eghmmhhff . . sshhtt . . ough . . aku udah mo nyampe Kata Ibu mertuaku .

    Bu . . aku juga pengen , Bu . . egh Kataku sambil ikut menggoyang naik turun pinggulku .
    Egh . . iyah . . bagusshh . . sayangg . . ough . . sshhtt . . ough . . sshtt . . ough Ibu mertuaku merespons gerakanku untuk membantunya orgasme .

    Aku mempercepat goyanganku karena seperti ada yang mendesak dibatang Kontolku untuk keluar juga .

    Hmfh . . terusshh . . iyah . . ough . . oughh . . AAAUGHH . . OUGH . . OUGH . . OUGH Ibu mertuaku telah sampai pada orgasmenya .

    Pada batang Kontolku terasa seperti ada cairan hangat mengucur deras membasahi batang Kontolku . Ibu mertuaku menggelepar dan diakhiri dengan menggelinjang liar dan nafasnya yang tersengal . Ibu mertuaku telah berhenti melakukan liukan pinggulnya . Hanya denyutandenyutan kencang didalam liang memeknya .

    Aku merasakan denyutandenyutan itu seperti menyedotnyedot batang Kontolku Dan . . CROT . . CROTT . . CROTTT . .! muncrat semua air maniku diliang memek Ibu mertuaku .

    Bu , kerasa nggak air mani saya muncratnya . .? Tanyaku
    Eh . . iya , Heri sayang . . Ibu udah lama pengen beginian Kata Ibu mertuaku
    Iya . . sekarang kan udah , Bu Kataku sambil mengecup keningnya
    Oh . . kamu . . hebat banget deh , Her Kata Ibu mertuaku sambil membelaibelai rambutku .
    Itu semua kan karena Ibu Kataku memujinya
    Ih . . bisa aja . . kamu sahut Ibu mertuaku sambil mencubit pinggulku .

    Ibu mertuaku masih di atas tubuhku ketika HPku berbunyi ternyata dari istriku yang menyuruhku supaya menginap saja dirumah Ibu mertuaku . Setelah telepon di tutup aku memekik kegirangan karena bisa melanjutnya selingkuh dengan ibu mertua . Setelah itu kami melakukan pemanasan lagi dan melakukannya sepanjang malam hingga menjelang subuh kami samasama kelelahan dan tidur .

    Entah sudah berapa kali kami bersenggama dalam berbagai posisi . Pagi harinya kami masih melakukannya lagi dikamar mandi untuk yang terakhir aku melakukan selingkuh dengan ibu mertua. lalu setelah itu aku sarapan dan pulang.Â

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Penjual Nasi Yang Bertubuh Bohai

    Cerita Sex Penjual Nasi Yang Bertubuh Bohai


    1168 views

    Perawanku – Cerita Sex Penjual Nasi Yang Bertubuh Bohai, Sebelumnya aku perkenalkan diri, namaku Asep (samaran), 21 tahun, tinggi 171 cm, berat yang ideal. Aku tergolong cowok yang cakep dan banyak sekali yang naksir aku, tapi yah.. gimana ya! aku punya penis yang cukup besar untuk bisa bikin cewek klepek-klepek dan tidak tahan untuk beberapa kali orgasme.

    Kepala batang kemaluan yang besar dan ditumbuhi rambut yang cukup rapi, rata dan tidak gondrong karena nanti bisa mengganggu cewek untuk “karaoke”. Aku mempunyai daya sex yang tinggi sekali. Aku bisa melakukan onani sampai 3 – 4 kali. Hobiku nonton bokep, sehingga aku cukup mahir dalam gaya-gaya yang bisa buat cewek kelaparan sex. Setelah nonton film bokep aku tidak lupa untuk onani.

    cerita panas Kisah ini berawal dari membeli nasi kuning di pagi hari. Seperti biasa tiap pagi perutku tidak bisa diajak kompromi untuk berunding tentang masalah makan, langsung saja setelah merapikan diri (belum mandi nih) langsung mencari makanan untuk mengganjal perut yang “ngomel” ini. Setelah beberapa lama putar-putar dengan motor, aku ketemu dengan seorang cewek yang menjual nasi kuning yang laris sekali.

    Setelah kuparkir di samping tempat jualannya itu, lalu aku ngantri untuk mendapat giliran nasi kuning. Aku kagum sekali dengan penjual nasi kuning ini.

    Kuketahui namanya Naning, umurnya kira-kira 25 tahun dan dia memiliki wajah yang natural sekali dan cantik, apalagi dia kelihatan baru mandi kelihatan dari rambut yang belum kering penuh. Dia tingginya 165 cm dan berat yang ideal (langsing dan seksi) dengan rambut yang pendek sebahu. Dia memiliki susu yang cukupan (34), cukup bisa untuk dikulum dan dijilat kok! cerita panas.

    Waktu itu Naning memakai kaos oblong yang agak longgar dan celana batik komprang. Aku mengambil posisi di sampingnya, tepatnya di tempat pengambilan bungkus nasi kuning yang letaknya agak ke bawah. Dari posisi itu aku dengan leluasa melihat bentuk susu Naning yang dibungkus kaos dan BH, walaupun tidak begitu besar aku suka sekali dengan susunya yang masih tegak dan padat berisi. cerita panas.

    Sesekali aku membayangkan kalau memegang susu Naning dari belakang dan meremas-remas serta sesekali memelintir-lintir puting susunya dengan erangan nafsu yang binal, wouw, asik tenan dan ee.. penisku kok jadi tegang! Saat Naning mengambil bungkusan nasi kuning di depanku, aku bisa melihat dengan jelas susu Naning yang terbungkus BH, putih, mulus dan tegak, nek! Aku semakin menegakkan posisi berdiriku untuk lebih bisa leluasa melihat susu Naning yang mulus itu. Weoe.. ini baru susu perawan yang kucari, padet dan putih serta masih tegak lagi..

    Ya.. andaikan..! kata hati berharap besar untuk mencoba vagina dan susu untuk dijilati, pasti dia suka dan menggeliat deh. cerita panas. Setelah beberapa menit kemudian, pembeli sudah tidak ada lagi tinggal aku sebagai pembeli yang terakhir. “Mau beli nasi kuning, Mas?” sapanya mengambil bungkus nasi di depanku, aku tidak langsung jawab karena asik sekali melihat susu Naning menggelantung itu.

    “E.. Mas jadi beli nggak sih..” Sapa Naning agak ketus. “Oh.. ya Mbak, 1 saja ya.. sambel tambah deh..” sambil gelagapan kubalas sapaan Naning. Aku yakin tadi si Naning mengetahui tingkah lakuku yang memandangi terus dadanya yang aduhai itu, oleh karena itu aku sengaja tanya-tanya apa saja yang bisa buat dia lupa dengan kejadian yang tadi.

    Dari hasil pembicaraan itu kami saling mengenal satu sama yang lain walaupun sebatas nama dan sekitarnya. Naning ini anak kedua dari tiga bersaudara, dia tidak kuliah lagi karena tuntutan orangtuanya untuk membantu berjualan nasi kuning saja. Aku berniat untuk membantu Naning untuk beres-beres dagangannya, karena aku tahu bahwa aku adalah pembeli terakhir dan nasi kuning sudah habis terjual. cerita panas. “E.. boleh nggak kalau Asep bantuin beres-beres barangnya?” rayuku. “Jangan! ngerepotin saja,” sambil malu-malu Naning berkata. “Nggak kok, boleh ya..” rayuku.

    Sampai beberapa menit aku merayu agar bisa membantu Naning untuk beres-beres dagangannya, akhirnya aku bisa juga. Memang sih, barang-barang untuk jualan nasi kuning tidak begitu banyak, jadi hanya perlu satu kali jalan saja. Aku membawa barang yang berat dan Naning yang ringan. Setelah sesampai di rumahnya, cerita panas. “Mas, diletakkan di atas meja saja, sebentar ya.. aku ke kamar mandi sebentar, kalau mau makan nasi kuningnya ambil sendok di dapur sendiri ya..” kata Naning dengan melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.

    Setelah beberapa menit aku duduk-duduk dan mengamati rumahnya, aku terasa lapar sekali dan berniat untuk mengambil sendok di dapur yang letaknya tidak begitu jauh dari kamar mandi Naning. Sesampainya di dapur, terdengar Naning suara pintu dari kamar mandi, eh ternyata Naning barusan saja masuk ke kamar mandi dan kesempatan ini aku tidak sia-siakan saja. Aku berjalan pelan-pelan ke depan pintu kamar mandi itu dan jongkok di depan lubang pintu kamar mandi sehingga bisa melihat apa yang ada di dalam sana walaupun memang agak sempit sih.

    Wow.. wow.. aku melihat Naning yang masih berpakaian lengkap dan mulai dia meletakkan handuknya di tempat samping pintu kamar mandi, lalu pelan-pelan dia melepas kaos longgarnya dan terlihatlah susunya yang putih bersih tanpa cacat yang masih terbungkus dengan BH.

    cerita panas. Dan perlahan-lahan dia melepaskan tali pengikat celana batik yang dipakainya dan menurunkan pelan-pelan dan ah.. terlihat pinggul yang oke sekali putih, dan paha dan betis yang ideal tenan dengan memakai CD yang tengah bawahnya menggelembung seperti bakpaw.

    Itu pasti vaginanya. Ah.. ayo cepetan buka dong, hati yang tidak sabaran ingin tau sekali isi CD itu. Dan akhirnya dia melepaskan ikatan BH dan.. berbandullah susu Naning yang merangsang batang kemaluanku untuk tegang (puting yang coklat kemerahan yang cukup besar untuk dipelintir deh.. ah) dan sialnya, Naning meletakkan BH-nya pas di lubang pintu sehingga pandanganku terhalang dengan BH Naning.

    Ya.. asem tenan, masak susunya udah ditutup, aku kecewa sekali dan aku kembali duduk di teras sambil makan nasi kuning sambil menutup pintu depan rumah Naning. cerita panas. Cerita Sex 2018 Pijatan Plus Penjual Nasi Kuning – Dan beberapa menit kemudian, Naning keluar dari kamar mandi, Ee.. dia pakai handuk yang dililitkan ke badannya.

    Handuk yang amat-amat mini sekali deh, panjangnya di dekat pangkal paha, oh.. indah sekali. Dia hanya pakai BH dan CD di dalam handuk, karena terlihat di pantatnya yang padat itu terawah CD-nya dan tali BH yang ada di bahunya.

    “Ee.. Mas Asep kenapa kok bengong?” “Oo.. e.. o.. tidak.. kok ini pedas,” sambil melanjutkan makannya. “Ya.. ambil saja minum di belakang, aku mau ganti dulu,” saut Naning sambil melangkah ke kamarnya yang letaknya di sampingku dan dia menutupnya tidak penuh. 2 menit kemudian, “Mas Asep bisa bantuin Naning ambilin bedak di kamar mandi, nggak?” “Ya.. sebentar!” aku langsung menuju ke kamar mandi dan mengambil bedak yang dia maksudkan. “Ini bedaknya,” aku masih di luar pintu kamar Naning.

    “Masuk saja Mas tidak dikunci kok,” saut Naning. Setelah aku membuka pintu dan masuk ke kamar Naning, terlihat Naning sedang di depan seperti sambil duduk dan dia tetap pakai handuk yang dia pakai tadi sambil menyisir rambut basahnya itu, sambil mendekat. cerita panas. “Ini Mbak bedaknya,” sambil menyodorkan bedak ke arah Naning. “E.. bisa minta bantuan nggak!” sambil membalikkan muka ke arahku. “Apa tuh..” “Bantuin aku untuk meratakan bedak di punggungku dong, aku kan tidak bisa meratakan sendiri,” kata Naning menerangkan permintaannya. “Apa? meratakan ke tubuh Mbak, apa tidak..” basa basiku.

    Sebelum kata itu berakhir, “Takut ketahuan ortuku ya.. atau orang lain, ortu lagi pergi dan kalau malu ya tutup saja pintu itu,” kata Naning. Aku melangkah ke arah pintu kamar Naning dan menutup pintu itu dan tidak lupa aku menguncinya, setelah itu aku balik ke arah Mbak Naning dan woow.. wowo.. wow.. woow.. dia sudah terkurap di atas ranjang dengan handuk yang tidak dililitkan lagi, hanya sebagai penutup bagian tubuh belakang saja.

    Dan aku menuju pinggir ranjang di samping Naning. cerita panas. “Udah, mulai meratakan saja, e.. yang rata lho..!” sambil menoleh ke belakang dan mengangkat kepalanya ke atas bantal. Aku mulai dari punggung atas mulus Naning, aku taburkan dulu bedak di sekeliling punggung atas Naning dan meratakan dengan tanganku. Ayy.. mulus sekali ini punggung, batang kemaluanku mulai tegang tapi aku tahan jangan sampai ketahuan deh. Meratakan dari atas punggung, ke samping kiri dan kanan, aku sengaja sambil mengelus-elus lembut, punggung Naning dan terdengar sayup-sayup nafas Naning yang panjang.

    Hobisex69 – Aku mulai menurunkan tanganku untuk meratakan ke bagian punggung bagian tengah yang masih tertutup oleh handuk. “Mas Asep, kalau handuknya menghalangi ya.. di lepas saja,” kata Naning sambil metutup matanya. “Ya.. boleh,” hati berdebar ingin tahu apa yang ada di dalam sana. Aku mulai menyingkap handuk dan ah..

    wowowo terlihatlah punggung Naning dan pantat yang tegak putih terlihat bebas, batang kemaluanku tambah tegang saja melihat pemandangan yang begitu indahnya, kulit Naning memang sangat mulus tanpa cacat sama sekali. Aku mulai menaburkan bedak di atas punggung Naning sampai di atas pantat Naning yang masih tertutup oleh CD, setelah menaburkan bedak aku mulai meratakan dengan kedua tanganku ini. Ah.. aku juga bisa menikmati tubuh Naning yang belakang dengan meraba-raba dan mengelus-elus dengan lembut, aku sengaja tidak membuka kaitan BH-nya ya.. biar dia yang minta saja dibukakan.

    Cerita Sex Penjual Nasi Yang Bertubuh Bohai

    Cerita Sex Penjual Nasi Yang Bertubuh Bohai

    Sambil menyenggol-nyenggol kaitan BH Naning agar Naning merasa aku kehalangan dengan kaitan BH-nya itu dan.. “Mas, kaitan BH-nya dicopot saja biar bisa meratakan bedak dengan leluasa,” kata Naning yang masih menutupkan matanya, mungkin agar bisa menikmati rabaan dan elusan tanganku ini. Setelah kaitan BH aku buka dan BHnya masih tidak terlepas dari kedua tangan Naning (hanya kaitan BH yang lepas) terlihat olehku tonjolan susu Naning dari pinggir badannya yang mulus itu.
    Aku pelan-pelan melanjutkan meratan bedak lagi dan sedikit-sedikit turun ke samping badan Naning yang dekat dengan tonjolan susu Naning itu, dengan pelan-pelan aku meraba-raba dengan alasan meratakan bedak. Oh.. kental dan empuk, man! Saat itu juga Naning menarik nafas panjang dan “Sesstsst eh..”sambil menggigit bibir bawahnya. Aku tahu kalau ia sudah terangsang dan aku teruskan untuk meraba dan meremas sedikit tonjolan susu Naning yang ada di samping badannya itu walaupun puting susunya belum kelihatan, nafas dan erangan lembut masih terdengar walaupun Naning berusaha menyembunyikannya dariku.

    Aku tidak mau cepat-cepat. Aku melanjutkan meratakan di pinggang Naning, saat aku mengelus-elus di bagian kedua pinggangnya dia mengerang agak keras, “Ssts seestt.. ah.. geli Mas jangan di situ ah.. geli yang lain saja,” kata Naning sambil menutup mata dan menggigit bibir bawahnya yang seksi itu. Aku mulai menaburkan bedak ke kedua kaki Naning sampai telapak kakinya juga aku beri bedak, selangkangan Naning masih tertutup rapat otomatis aku tidak bisa melihat ke bagian tonjolan vagina yang masih tertutup oleh CD itu.

    Aku harus bisa bagaimana cara untuk membuka selangkangan ini biar tidak kelihatan, aku sengaja ingin mencicipi vagina Naning, akalku terus berputar. cerita panas. Aku mulai meratakan dari pangkal paha Naning, aku mengelus-elus dari atas dan ke bawah berulang kali sambil sedikit-sedikit berusaha melebarkan selangkangan Naning yang masih rapat itu dan lama-lama berhasil juga aku melebarkan selangkangan Naning dan terlihatlah CD Naning yang sudah basah di bagian vaginanya dan Naning sudah mulai terangsang berat, terlihat dari erangan yang makin lama makin keras saja. cerita panas.

    Aku mulai mengelus-elus di bagian paha atas yang dekat dengan pantat Naning masih terbungkus rapi CD-nya. Pelan-pelan aku menyentuhkan ibu jariku di bagian yang basah di CD Naning sambil pura-pura meratakan bedak di bagian dekat pangkal paha. Tersentuh olehku bagian basah CD Naning dan.. “Ah.. sstt stt.. ah.. eh.. sestt..” Naning makin menggigit bibir bawah dan mengangkat pantatnya sedikit ke atas tapi dia diam saja tidak melarangku untuk melakukan itu semua. Aku mulai memberanikan diri dan sekarang aku tidak segan-segan dengan sengaja memegang CD yang basah itu dengan ibu jariku.

    Aku terus memutar-mutarkan ibu jariku di permukaan vagina Naning yang masih tertutup oleh CD-nya itu, aku tekan dan putar dan gesek-gesek dan makin lama makin cepat gesekan dan tekanan ibu jariku ini. “Ah.. oh ye.. sstt ah.. terus.. jang.. an berhenti Sep.. oh.. ye..” Naning mulai terangsang berat dan tidak segan-segan mengeluarkan erangan yang keras. “Ya.. tekan yang keras.. Sep.. oh.. ye.. buka.. CD-nya Sep.. please..” permintaan Naning yang masih menutup matanya, sengaja aku tidak mau membuka CD-nya biar dia tersiksa dengan rabaan dan elusan nikmat ibu jari di permukaan vaginanya yang masih tertutup oleh CD-nya itu. “Ah.. Sep.. aku.. oh..

    Naning menggeliat dan pantatnya naik-turun tidak beraturan ke kanan dan ke kiri dan aku mengerti kalau ini tanda ia mau orgasme pertama kalinya dan sengaja aku berhenti dan.. “Mbak Naning sekarang berbalik deh..” aku memotong orgasmenya dan dia berhenti menggeliat dan orgasmenya tertunda dengan perkataanku tadi dan sekarang dia berbalik, terlihat wajahnya mencerminkan kekecewaan yang sangat dalam atas tertundanya kenikmatan orgasme yang pertama kali untuk dia. Setelah badan Naning dibalikkan terlihat susu Naning yang putih itu walaupun masih tertutup secara tidak sempurna oleh BH yang kaitannya sudah terlepas.

    Belahan susu Naning terlihat sebagian permukaan susu terlihat tapi putingnya masih tersembunyi di BH. Dan CD yang sudah amat basah dan selangkangan Naning sudah dilebarkannya sendiri sehingga bisa melihat CD yang amat basah itu. cerita panas. Aku mulai menaburkan bedak di atas tubuh Naning tapi sedikit sekali. Aku mulai meraba di bagian leher Naning dengan masih menggigit bibir bawahnya dan mata tertutup rapat dan perlahan-lahan turun di dekat bongkahan dada yang aduhai itu dengan sedikit menyenggol-nyenggol BH-nya dan ternyata dia mengerti maksudku dan.. “Sep, lepas saja semua apa yang ada di tubuhku please, cepet Sep!” kata Naning yang masih menutup mata yang tidak sabaran untuk bercinta denganku karena sudah terangsang berat sekali, apalagi tertundanya orgasme pertamanya.

    Lalu aku pelan-pelan masukkan jari-jariku ke BH Naning, dia semakin mengerang keenakan, “Ssstss ah.. ye.. teruss..” kepal Naning ke kanan dan ke kiri apalagi ketika aku memegang puting susunya dan aku segera membuka BH Naning yang dari tadi tidak tahan rasanya aku mau lihat susu mulus Naning. Tuing.. tuing.. susu Naning kelihatan jelas di depan wajahku, pelan-pelan aku mulai meraba sekeliling permukaan dada Naning. cerita panas. “Ah.. ya.. Sep.. tengahnya Sep.. Sep.. ya.. oh.. te.. rus..” Naning memohon sambil menggigit bibir bawah Naning, aku langsung menjilat ujung puting Naning dengan ujung lidahku dengan sangat pelan-pelan sekali. “Ah.. scrut..” aku mencoba rasa puting Naning, aku putar-putar ujung lidahku di atas puting Naning dan di belahan susunya, dia menggeliat sambil mengangkat menurunkan dadanya sehingga menempel penuh di wajahku.

    Kuremas dan tekan susu Naning dengan kedua tanganku, lalu aku pelan-pelan turun ke pusar dengan tetap ujung lidahku bermain di atas perut Naning. “Ah.. sstt ah.. oh.. ye.. terus Sep.. ke bawah i.. ya..” aku rasa Naning sudah tidak sabar lagi, tangan Naning mulai memegang batang kemaluanku yang masih di dalam celana, dia meremas-remas dan mengelus-elus. Tangan kananku meraba CD Naning dan aku berusaha membuka CD-nya dan Naning membantuku dengan mengangkat pantatnya dan wow.. wow.. vaginanya basah sekali akibat rangsanganku tadi. Vagina Naning dengan bibir yang tipis dan di pinggir vagina tidak ada rambut tapi di atas vaginanya tumbuh rambut yang tipis rapi dengan bentuk segitiga yang pernah kulihat di BF.

    Aku langsung memainkan klitoris vagina Naning dengan ibu jariku. “Ah.. oh.. ya.. sstt terus.. cepat dong.. oh.. ya..” sambil mengangkat pantat dan menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Aku mulai memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang vaginanya, dan aku terus mengocok lubang itu dengan pelan-pelan dan lama kelamaan kocokanku percepat dan tangan satunya memperlebar bibir vagina Naning dan lidahku memainkan k;itorisnya.

    cerita panas. “Ah.. ya.. ye.. terus.. jangan.. ber.. henti.. da.. lam..” katanya sambil patah-patah, dan 3 menit kemudian gerakannya semakin liar mengangkat pantat dan meremas keras-keras batang kemaluanku, aku mempercepat kocokan jariku di vaginanya. “Ah.. Sep.. aku.. tidak ta.. han.. ce.. petin.. ah.. sstt.. a.. ku kelu..” dia mengejang, beberaoa detik lamanya dan.. “Cur.. cur..” keluarlah cairan kental putih kenikmatan dari vagina Naning dan dia lemas di ranjang akibat orgasme yang hebat. Aku lalu menarik jariku dari dalam lubang vagina Naning dan menempel cairan kental itu, aku lalu berdiri di samping ranjang dan melepas seluruh pakaianku kecuali CD-ku.

    Sambil berdiri di samping ranjang Naning, aku melihat batang kemaluanku sudah berdiri dan sedikit-sedikit aku mengocok-ngocok batang kemaluanku dari luar CD agar tetap dalam keadaan ready. Lalu aku duduk di samping Naning yang masih tergeletak lemas dengan meremas-remas susunya dan melintir-lintir putingnya agar dia terangsang lagi dan tangan satunya mengocok-ngocok pelan batang kemaluanku. cerita panas.

    “Mbak Naning hebat deh..” sambil membisikkan dekat di telinganya. “Ah.. nggak.. kocokan kamu yang membuat aku terbang,” Naning terbangun dari kelemasannya. “Itu masih tanganku, gimana kalau batang kemaluanku yang mengaduk-aduk vagina Mbak?” sautku sambil tetap melintir-lintir puting susu Naning. “Sstt ah.. boleh.. cepet ya.. aku tidak tahan nih.. ah.. ye,” kata Naning sambil menahan rangsangan pelintiran puting dari tanganku. Lalu aku melebarkan selakanganku di depan Naning dan pelan-pelan Naning mengelus-elus dan mengocok dari luar CD dan dia tidak sabaran langsung dicopot CD-ku dan tuing.. tuing.. batang kemaluanku “ngeper” dan berdiri tegak di depan muka Naning.

    “Wow.. batang kemaluan kamu besar sekali.. kamu rawat ya..” kata Naning sambil mengocok pelan-pelan batang kemaluanku. “Iya.. Mbak biar tetap ready untuk Mbak Naning,” kataku sambil tetap melintir puting susu Naning yang menggelantung karena dia dalam posisi nungging. Naning langsung memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya, dia kulum batang kemaluanku dan jilati sampai rata, “Ah.. ya.. sstt ah..” erangku sambil meremas-remas susu Naning, tidak hanya batang kemaluanku yang ditelan oleh Naning, kedua “telur”-ku pun dilahapnya, “Plok.. plok..” bunyi sedotan mulut Naning di kedua “telur”-ku dan dilepas dan mulai mengocok-ngocok batang kemaluanku dengan mulutnya lagi. Jilatan, gigitan dan sedotan mulut Naning memang membuatku terbang, “Ah.. kamu memang hebat, ah.. ses.. ah.. ye..” pujiku ke Naning yang terus mengocok batang kemaluanku dengan mulut binalnya itu.

    5 menit bermain dengan mulut Naning, batang kemaluanku sudah tidak sabaran menerobos masuk vagina Naning yang merah merekah itu. Lalu aku berbaring terlentang di ranjang Naning dan Naning duduk di atas badanku, ternyata Naning mengerti apa mauku, dia langsung memegang batang kemaluanku dan didekatkan ke vaginanya. Naning tidak langsung memasukan batang kemaluanku ke vaginanya tapi digesek-gesekkan dahulu di permukaan vaginanya dan selanjutnya.. cerita panas. “Bless.. sleep!” masuklah batang kemaluanku ke vagina Naning yang sudah penuh dengan lendir kenikmatan Naning.

    Naning mulai menaikkan pinggul dan menurunkannya kembali dengan pelan-pelan, “Aah.. batang kemaluanmu mantep.. Sep.. ah.. ye.. dorong.. Sep yang dalam.. ya!” erang Naning sambil berpegangan dengan dadaku. “Oph.. ya.. vagina kamu top.. Ning.. goyang.. te.. rus.. oh.. ye..” kata-kataku patah-patah karena kenikmatan tiada tara dari dinding vagina Naning yang meremas-remas batang kemaluanku, dan sambil meremas-remas susu Naning yang “ngeper” naik turun akibat goyangannya. cerita panas.

    Lama kelamaan goyangan Naning semakin cepat dan binal, “Ah.. ye.. kon.. tol.. kamu.. do.. rong.. Sep.. sstt ah.. ye.. oh.. ye..” erang Naning yang sudah tidak karuan goyangannya. Lalu aku pun mengimbangi goyangan Naning, aku pegang pinggulnya dan aku mengocok dengan cepat vagina Naning dengan batang kemaluanku dari bawah. “Plek.. plek.. plek.. plek..” suara benturan pantat mulus Naning dengan permukaan pinggulku. “Oh.. ya.. goyangan.. hebat..” kataku sambil mempercepat kocokan batang kemaluanku di vagina Naning dan sepuluh menit kemudian tubuh Naning menggeliat dan mulai menegang, Naning sedang dalam ambang orgasme yang kedua.
    “Ah.. Sep.. aku.. ti.. tidak.. tah.. aku.. sstt ah.. ya.. ke.. luar.. ah..” kata Naning sambil menempelkan badannya ke badanku dan dia semakin mempercepat gerakan pinggulnya untukmengocok batang kemaluanku dan aku membantunya dengan mengangkat sedikit pantatnya dan mengocok dengan kecepatan penuh.

    “Ah.. aku.. tidak kuat.. lagi Sep.. aku mau.. ke.. luar.. ah.. sesstt.. ah..” dan akhirnya, “Ser.. ser..” terasa semprotan cairan hangat di ujung batang kemaluanku yang masih di dalam vagina Naning, tubuh Naning lemas dan aku belum orgasme dan aku ingin menuntaskannya. “Mbak aku belum keluar, tuh batang kemaluannya masih berdiri, bantuin ya.. keluarin spermanya!” aku bisikkan di telinga Naning yang masih lemas itu. “Kamu memang kuat sekali Sep.. masak kamu belum keluar juga,” kata Naning bangkit dari lemasnya sambil mengocok pelan-pelan batang kemaluanku yang masih tegang dari tadi.

    “Ya.. sedikit lagi nih.. nanggung kalau dibiarkan, entar bisa pusing,” sambil meremas-remas susu Naning. “Ya.. udah gimana lagi nih.. vaginaku masih kuat kok menahan kocokan batang kemaluanmu yang nakal itu,” sambil melepaskan kocokan tangannya di batang kemaluanku aku menyuruh Naning untuk nungging dan terlihatlah dengan jelas lubang dan vagina Naning yang amat basah dan merahitu. Aku mulai mencium pantat Naning yang semok itu, aku raba-raba di sekitar lubang anusnya dan aku jilati lubang anus Naning, ternyata dia mengerang keasyikan dan tanganku menggesek-gesek vagina Naning dan memasukan jari ke vaginanya.

    “Aah.. stt sstt ya.. Sep.. dimasukkan saja.. a.. aku tidak.. sabar.. manna kontolmu.. ma.. sukin cepat!” Naning tidak sabar sekali dengan kocokan batang kemaluanku. Aku mengarahkan batang kemaluanku ke vagina Naning dan aku memperlebar selangkangan Naning agar lebih leluasa untuk kocokan batang kemaluanku dan sedikit tekanan, “Bleess.. slleep..” batang kemaluanku langsung masuk ke lubang kenikmatan Naning dengan diiringi dengan erangan Naning menerima batang kemaluanku masuk. “Ah.. ye.. goyang.. Sep.. sstt..” Aku langsung mengocok vagina Naning dengan tempo yang sedang. “Auggh.. hem.. ye.. te.. rus.. cepat.. ah.. hm..” Naning pun ikut menggoyangkan pantatnya maju-mundur untuk mengimbangi kocokan batang kemaluanku, lalu aku tidak sabaran dan mempercepat kocokan batang kemaluanku. “Ya.. ya.. ya.. te.. rus.. ah.. ya.. da.. lam.. Sep.. aku.. ke.. luar..

    ” Naning menggeliat tanda dia mau orgasme yang ketiga kalinya. “Ta.. han.. Ning.. aku juga.. mau.. ye.. ah.. ke.. luar..” aku makin mempercepat dengan memegang pinggul Naning. Beberapa menit, aku terasa mencapai puncak, terasa spermaku kumpul di ujung batang kemaluan dan mau aku semprotkan. cerita panas. “Ya.. kit.. a.. ba.. reng.. ya.. aku.. ke.. luar.. ya..” aku tidak kuat lagi menahan desakan sperma yang sudah penuh dan.. “Sa.. tu.. Du.. a.. Ti.. g.. crot.. crott ser.. ser..”aku menyemprotkan spermaku di dalam vagina Naning sampai lima semprotan dan Naning jatuh lemas tidak berdaya di atas ranjangnya, aku sedikit mengocok batang kemaluanku dan masih keluar sperma sisa di dalamnya.

    “Makasih ya.. Mbak Naning, vagina kamu cengkramannya bagus kok,” bisikku di telingnya. “Ah.. kamu bisa saja.. batang kemaluan kamu juga kocokannya hebat.. kapan-kapan aku mau lagi,” saut Naning sambil meraba-raba dadaku. Dan kami tidur bareng saat itu dengan tubuh yang telanjang tanpa apa-apa. Sampai beberapa jam kemudian aku terbangun dari tidurku, dan aku bangun dari tidurku dan melihat Mbak Naning tidak ada di sampingku dan aku keluar dari kamar Naning sambil membawa pakaianku dan aku masih telanjang.

    Ternyata Naning mandi dan aku sengaja menunggunya di ruang depan sambil mengocok-ngocok batang kemaluanku agar tegang lagi. Dan beberapa menit Naning keluar dan mendekatiku, “Lho.. kok tidak dipake bajunya, tuh.. batang kemaluan kamu berdiri lagi,” dan Naning duduk di sebelahku dengan pakai belitan handuk saja. “Ya.. Mbak aku mau pulang udah siang nih.. tapi Mbak..” kataku. “Apa lagi he..” sambil mengelus-elus pipiku. “Keluarin lagi dong, tidak usah dimasukin ya.. oral deh..” rayuku. “Ya.. udah.. kamu tenang saja ya..

    ”Naning langsung jongkok di selakanganku dan melepas handuknya dan dia sekarang bugil. Langsung dia kulum dan jilati dengan buas sekali, hampir aku tidak tahan menerima perlakuan sepeti ini tapi aku berusaha menahan kocokan mulut binal Naning, dan sampailah beberapa menit aku tidak tahan lagi atas perlakuan Naning dan.. cerita panas. “Croot.. croot..” semburan spermaku ke wajah, susu dan rambut Naning. “Ah.. ya.. terima kasih ya.. Mbak..” lalu aku memakai bajuku dan.. “Ya.. kembali, kalau ada waktu datang ya..” kata Naning sambil membersihkan semprotan spermaku di tubuhnya dengan handuk mandinya.

    Lalu aku pamitan untuk pulang. Dan hubungan kami tetap baik, hampir tiap hari aku beli nasi kuning Mbak Naning, kalau memang di rumah sepi aku dan Mbak Naning nge-sex terus, tapi kalau ada orangtuanya mungkin hanya batang kemaluanku di kocok sama tangannya saja. Ya.. gerak cepat tapi puas. Tapi sudah beberapa bulan ini Mbak Naning tidak jualan lagi sehingga nge-sex sama Mbak Naning jadi terganggu. Aku harap ada Mbak mbak yang lain yang lebih binal.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Terbaru Maria Yang Manis Menggoda

    Cerita Sex Terbaru Maria Yang Manis Menggoda


    1198 views

    Perawanku – Maria. Itu namaku. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan ketika aku berusia 11 tahun. Saat itu, aku benar-benar sendirian. Rasa takut dan kesepian menyerang hati dan pikiranku. Yang paling menyedihkan adalah, aku sama sekali tidak pernah dikenalkan ataupun berjumpa dengan kerabat ayah maupun ibu. Aku tidak pernah bertanya. Selama ini aku hanya mengenal ayah dan ibu saja. Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Kami bertiga sangat bahagia.

    Aku tidak ingat, bagaimana aku bisa sampai di panti asuhan itu. Yayasan Bunda Erika, aku membacanya di sebuah papan nama di depan pintu masuk bangunan itu. Di sana, banyak anak-anak yang sebaya denganku. Kehadiran mereka membuatku setidaknya “lupa” akan kemalangan yang baru saja menimpaku. Tidak lamapun, aku merasa kalau aku telah menemukan rumah baru bagiku. Enam bulan pun berlalu.

    Pada suatu hari yang cerah, mendadak kami dibangunkan oleh Bunda Risa, salah satu pengurus di tempat kami.
    “Ayo bangun, cepat mandi, pakai pakaian terbaik kalian, setelah itu kalian harus berkumpul di aula. Kita akan kedatangan seseorang yang sangat istimewa”, katanya sambil tersenyum hangat.
    Dan aku pun bertanya, “Bunda, tamu istimewanya siapa sih? Artis ya?”
    “Mungkin ya..”, kata Bunda Risa sambil tertawa kecil.
    “Karena dia adalah putra tunggal dari pemilik yayasan ini..”

    Tak kusangka, pertemuanku dengan Erik Torian bisa mengubah hidupku, seluruhnya. Saat dia melewati barisan anak-anak yang lain, dia tiba-tiba berhenti tepat di depanku. Senyuman misterius menghiasi wajahnya. Dengan posisi membungkuk, dia mengamati wajahku dengan teliti. Temannya yang ikut bersamanya pun ikut memperhatikan diriku.

    “Ada apa Torian? Apa kau kenal dengan anak ini?”, tanyanya.
    “Tidak”, Erik masih memandangiku sambil memegang mukaku, seolah-olah aku tidak bernyawa.
    “Sempurna” katanya dingin.  Agen Obat Kuat Pasutri
    “Seperti boneka..”
    Aku yakin sekali dia bergumam [“..boneka yang aku idam-idamkan”]
    Lalu dia melepaskan wajahku dan langsung meninggalkanku begitu saja.

    Sehari setelah kunjungan itu, Erik bersama temannya itu kembali mengunjungi yayasan, untuk mengadopsi diriku.
    “Halo.. Maria” Erik melemparkan senyum yang berbeda dari kemarin.
    “Mulai saat ini, aku-lah yang akan merawat dan mengurus Maria. Kamu tidak harus memanggil aku ‘ayah’ atau sebutan lainnya, panggil saja aku Erik.”
    Sambil mengalihkan pandangannya ke temannya, dia melanjutkan,”Nah.., ini adalah temanku, namanya Tomi.”
    Akupun menyunggingkan senyuman ke arah Tomi yang membalasku dengan senyuman hangat.

    Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Erik tinggal sendirian di rumah megah seperti ini dan masih berusia 24 tahun saat itu. Diam-diam, aku kagum dengan penampilan Erik dan Tomi yang sangat menarik. Berada di tengah-tengah mereka saja sudah sangat membuatku special. Erik sangatlah baik padaku. Dia selalu membelikan baju-baju indah dan boneka porselain untuk dipajang dikamar tidurku. Dia sangat memanjakan aku. Tapi, dia juga bersikap disiplin. Aku tidak diperbolehkan untuk keluar rumah selain ke sekolah tanpa dirinya.

    Cerita Sex Terbaru Maria Yang Manis Menggoda

    Cerita Sex Terbaru Maria Yang Manis Menggoda

    Empat bulan berlalu, rasa sayangku terhadap Erik mulai bertambah. Hari itu, aku mulai merasa bosan di rumah dan Erik belum pulang dari kantor. Aku pun menunggunya untuk pulang sambil bermain Play Station di kamarku. Tepat jam 10.30 malam, aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku berbunyi.
    “Erik sudah pulang!!”, pikirku senang.

    Aku pun berlari keluar kamar untuk menyambutnya. Tapi, di depan kamar Erik aku berhenti. Pintunya terbuka sedikit. Dan aku bisa tahu apa yang terjadi di dalam sana. Erik bersama seorang wanita yang sangat cantik, berambut panjang, kulitnya pun sempurna. Aku hanya bisa terdiam terpaku. Aku melihat Erik mulai menciumi bibir wanita itu dengan penuh nafsu. Tangannya meraba-raba dan meremas payudara wanita itu.

    “Ohh..Erik”

    Pelan-pelan, tangan Erik menyingkap rok wanita itu dan menari-nari di sekitar pinggul dan pahanya. Tak lama, Erik sudah habis melucuti pakaian wanita itu. Erik merebahkan wanita itu ke tempat tidur dan menindihnya, tangan Erik bermain-main dengan tubuh wanita itu, menciuminya dengan membabi buta, menciumi leher, menciumi payudara wanita itu sambil meremas-remasnya.

    “Ohh..Eriik..” Aku mendengar desahan wanita itu.

    Aku melihatnya. Aku tidak percaya bahwa aku menyaksikan itu semua. Tapi, aku tidak bergerak sedikit pun. Aku tidak bisa.

    Erik pun membuka resleting celananya dan mengeluarkan ‘senjata’nya, kedua kaki wanita itu dipegang dengan tangan Erik dan Erik segera menancapkan ‘senjata’nya ke liang wanita yang sudah basah itu dengan sangat kasar. Wanita itu mengerang dengan keras. Tanpa sadar, pipiku sudah dibasahi oleh air mata. Hatiku terasa sakit dan ngilu. Tapi, aku tetap tidak bisa beranjak dari sana. Aku tetap melihat perbuatan Erik tanpa berkedip sambil berlinang air mata.

    Erik masih melanjutkan permainannya bersama wanita cantik itu, dia menggerakkan pinggulnya maju dan mundur dengan sangat cepat. Teriakan kepuasan dari wanita itu pun membahana di seluruh ruangan. Sepuluh menit setelah itu, Erik terlihat kejang sesaat sambil mengerang tertahan. Erik pun menghela napas dan beristirahat sejenak, masih dalam rangkulan wanita itu. Permainan berakhir.

    Tapi aku masih mematung di depan kamarnya, memperhatikan Erik dari sebelah pintu yang sedikit terbuka. Aku tidak mau bergerak juga, seolah-olah aku sengaja ingin ditemukan oleh Erik. Benar saja, aku melihat Erik berbenah memberesi bajunya dan bergerak menuju pintu. Dia membuka pintu dan melihat diriku mematung sambil menangis di sana. Dia memperhatikanku sejenak dan senyuman misterius itu hadir lagi.

    Dia pun membungkukkan tubuhnya,
    “Hey, tukang ngintip cilik. Aku nggak marah kok. Hanya saja, aku sudah mempersiapkan hukuman yang tepat untukmu. Tapi, tidak saat ini. Ayo, aku temani kamu sampai kamu tertidur. Kalau kamu capek, besok bolos saja.”
    Erik pun menggendongku yang masih terisak kekamar tidurku. Dan semalaman dia tidur sambil memelukku dengan hangat.
    “Aku..aku..sayang Erik”
    “Erik adalah milikku..hanya milikku seorang”
    Pikiranku berputar-putar memikirkan hal itu. Tak lama, aku pun tertidur lelap.

    Hari ini adalah ulang tahunku yang ke-14. Aku senang sekali, karena Erik telah mempersiapkan sebuah pesta ulang tahun untukku di sebuah hotel bintang 5. Ballroom hotel itu sangat indah, Erik mempersiapkannya secara spesial. Aku pun mengenakan gaun berwarna putih yang baru dibelikan Erik. Kata Erik, aku sangat cantik dengan baju itu, “Kamu cocok sekali dengan warna putih, sangat matching dengan warna kulitmu.. Dan lagi, sekarang.. kamu semakin cantik.”

    Teman-teman perempuanku juga berdecak kagum melihat penampilanku saat itu.
    “Kamu cantik ya Maria? Beruntung sekali kamu punya ayah angkat seperti Erik..”
    Kata Sara, teman baikku sambil tertawa meledek. Sara melirik ke arah Erik yang sedang duduk di meja pojok bersama Tomi.
    “Hey Maria, Erik itu ganteng banget ya? Temennya juga..” ujar Sara sambil tertawa kecil.
    Aku pun hanya bisa tertawa, aku pun menetujuinya. Akhir-akhir ini, kami memang jadi sering membicarakan soal cowok. Mungkin karena puber. Tak lama, Aryo temanku yang sepertinya suka denganku datang, sambil menyerahkan hadiah, dia mencium kedua pipiku. Tanpa sadar pipiku bersemu merah.

    Setelah pesta usai, Erik mengajakku istirahat di kamar hotel. Aku lumayan capek, tapi aku senang. Dan setiba di kamar, aku memeluk Erik sambil mengucapkan terima kasih.
    “Terima kasih Erik..aku sayang sekali sama Erik..”
    Erik pun membalas pelukanku sejenak dan kemudian melepasnya, dan dia memegang kedua lenganku sambil memandangku dengan serius. Aku pun merasa heran dan sedikit takut.
    “..Erik? Kenapa? Marah yaa? Aku..melakukan kesalahan apa?”

    Tanpa banyak bicara, Erik menggeretku ke tempat tidur, mencopot dasinya dan menggunakannya untuk mengikat kedua tanganku dengan kencang. Aku memekik dan mulai menangis.
    “Eriik!! Sakit!! Kenapa??!!”
    Dia melihatku dengan pandangan marah. Kemudian berteriak,
    “Kenapa??!! Kenapa katamu?! Kamu itu perempuan apa??!! Masih kecil sudah kenal laki-laki!! Sudah kuputuskan! Kamu harus di hukum atas perbuatanmu barusan dan perbuatanmu 2 tahun yang lalu!!”

    Deg. Jantungku terasa berhenti mengingat kejadian itu.
    “Erik marah..”, pikirku.
    Aku pun merasa ketakutan. Aku takut dibenci. Aku tidak mau kehilangan lagi orang yang kusayangi.
    Tiba-tiba, Erik menarik gaunku dengan sangat kasar sehingga menjadi robek. Aku berteriak.
    “Ini akibatnya kalau jadi perempuan genit!!”
    Erik menariknya lagi untuk kedua kalinya, pakaian dalamku semakin terlihat. Celana dalamku juga akan dilepasnya.
    “Erriik!! Jangaan!!”, aku berteriak ketakutan.

    Terlambat, aku sudah telanjang total. Hanya sisa-sisa gaunku-lah yang masih menyembunyikan bagian-bagian tubuhku sedikit. Erik melihatku dengan penuh nafsu. Nafasnya terdengar berat penuh dengan kemarahan dan birahi. Dia pun menahan tanganku yang terikat dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.
    “Aku harus menjadi orang pertama yang..”
    Erik tidak menyelesaikan kata-katanya dan mulai melumat bibirku dengan sedikit kasar.
    “Hmmphh..”
    Untuk pertama kalinya aku merasakan ada getaran yang aneh pada tubuhku. Sensasi yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
    Erik terus berlanjut menciumku, aku bisa merasakan lidahnya memijat lidahku. Aku pun mengikuti permainannya, sedikit takut, sedikit ingin tahu. Erik mulai meremas-remas payudaraku yang belum tumbuh seutuhnya.
    “Ahh..”
    Aku mulai menikmati getaran aneh pada diriku.
    “Panas..badanku terasa panas..Erik..” pikirku dalam hati.
    Erik melanjutkan ciumannya ke leher dan menggigitnya sedikit, remasan tangannya di payudaraku makin kuat.
    “Ahh..!!” nafasku makin memburu.

    Tiba-tiba Erik berhenti dan melihatku sambil tersenyum misterius.
    “Hmm..kamu menyukainya bukan? Ya kan, setan cilik?”
    Mukaku bersemu merah, tapi terlalu takut untuk berbicara, tubuhku bergetar hebat. Erik melepaskan kemejanya dan celananya, masih memandangiku. Aku terlalu malu untuk memandang wajahnya.
    “Aku rasa, kamu sudah siap untuk permainan selanjutnya..”
    Erik tertawa kecil, sedikit kemarahan masih tersisa pada dirinya. Erik kembali menciumiku, kali ini dia meremas payudaraku sambil menghisapnya.
    “Hhh..!!”
    “Tidak apa-apa..kalau Erik..tidak apa-apa.” pikirku.

    Aku memejamkan mataku erat-erat ketika Erik mulai memasukkan ‘senjata’nya ke dalam diriku.
    “Emm..” aku tidak berani bilang kalau aku merasa sakit.
    Erik mulai tidak sabar, dan dia memasukkannya dengan kasar.
    “Aaahh..!!”
    Aku menjerit dan mulai menangis lagi. ‘Senjata’nya sudah memasuki diriku seutuhnya dan sakit yang kurasakan itu sedikit aneh, ada kenikmatan di dalamnya. Aku mulai sedikit meronta sambil berteriak. Tapi Erik menahanku dengan kuat. Erik menciumi diriku yang bergetar hebat dengan sedikit paksa. Bosan dengan posisinya, Erik membalikkan posisi tubuhku menjadi telungkup.
    “Erriik..!! tidaak!!” aku sangat malu melakukan posisi itu.

    Tetapi Erik tidak peduli dan melanjutkan kembali permainannya. Setiap kali tubuh Erik menghentak, aku menjerit sekeras-kerasnya. Erik melakukan gerakan menghentak itu secara teratur, dan tiba-tiba aku merasakan getaran yang sangat hebat dalam diriku, aku merasakan ‘liang’ku
    menyempit karena otot-otot di tubuhku menjadi tegang. Aku pun berteriak lebih keras dari sebelumnya.

    “Ohh..Maria.”
    Aku merasakan tangan Erik meremas pinggulku dengan kuat. Tubuh Erik mengejang, dan cairan deras pun mengalir dari ‘liang’ku. Aku mendesah panjang. Tubuhku masih bergetar. Erik masih menindihku dan mulai menciumi punggungku.
    “Hhhmm.. pilihanku memang selalu tepat”, gumamnya.
    Aku memilih untuk diam. Erik bergeser ke sampingku. Dia memandangiku yang masih berlinang air mata. Tersenyum Erik mengecup kepalaku sambil mengelusnya.
    “Maria, kamu adalah milikku seorang.. tidak ada satupun yang boleh menyentuhmu tanpa seizin-ku.”

    Erik memeluk tubuhku yang kecil dengan erat.
    “Ya Erik..aku adalah milikmu. Aku akan melakukan apa saja yang kau perintahkan, asal kau tidak membenciku.” Aku masih terisak.
    “Anak bodoh.. Aku tidak akan pernah membencimu Maria..”
    Pelukan Erik semakin erat. Mukaku terasa panas. Dan aku segera membenamkan diriku ke dalam pelukan Erik.

    “Terima kasih..Erik.”

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Ngentot Ketahuan Hubungan Seks Dengan Tanteku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Ngentot Ketahuan Hubungan Seks Dengan Tanteku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1989 views

    Perawanku – Cerita yang dituangkan di sini adalah kisah nyata dan bagi yang kebetulan merasa sama nama atau kisahnya mohon dimaafkan itu hanyalah kebetulan. Kejadian ini terjadi sekitar 6 tahun yang lalu, waktu itu aku masih berusia 16 tahun. Aku mempunyai seorang tante bernama Lia yang umurnya waktu itu 36 tahun. Tante Lia adalah adik dari Mamaku. Tante Lia sudah menjanda selama lima tahun. Dari perkawinan dia dengan almarhum suaminya tidak di karunia anak. Tante Lia sendiri melanjutkan usaha peninggalan dari almarhum suaminya. Dia tinggal di salah satu perumahan yang tidak jauh dari rumahku. Dia tinggal dengan seorang pembantunya, Mbak Sumi. Tante Lia ini orangnya menurutku seksi sekali.

    Payudaranya besar bulat dengan ukuran 36C, sedangkan tingginya sekitar 165 cm dengan kaki langsing seperti peragawati dan perutnya rata soalnya dia belum punya anak. Hal ini membuatku sering ke rumahnya dan betah berlama-lama kalau sedang ada waktu. Dan sehari-harinya aku cuma mengobrol dengan tante Lia yang seksi ini dan dia itu orangnya supel benar tidak canggung cerita-cerita dengan

    Maka aku berupaya menemaninya dan sekalian ingin melihat tubuhnya yang seksi. Setiap kali aku melihat tubuhnya yang seksi, aku selalu terangsang dan aku lampiaskan dengan onani sambil membayangkan tubuhnya. Kadangkala timbul pikiran kotorku ingin bersetubuh dengannya tapi aku tidak berani berbuat macam-macam terhadap dia, aku takut nanti dia akan marah dan melaporkan ke orang tuaku. Hari demi hari keinginanku untuk bisa mendapatkan tante Lia semakin kuat saja.

    Kadang-kadang kupergoki tante Lia saat nabis mAlan, dia hanya memakai lilitan handuk saja. Melihatnya jantungku deg-degan rasanya, ingin segera membuka handuknya dan melahap habis tubuh seksinya itu. Kadang-kadang juga dia sering memanggilku ke kamarnya untuk mengancingkan bajunya dari belakang. Benar-benar memancing gairahku. Sampai pada hari itu tepatnya malam minggu, aku sedang malas keluar bersama teman-teman dan aku pun pergi ke rumah Tante Lia. Sesampai di rumahnya, tante Lia baru akan bersiap makan dan sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah.

    Kami pun saling bercerita, tiba-tiba hujan turun deras sekali dan Tante Lia memintaku menginap saja di rumahnya malam ini dan memintaku memberitahu orang tuaku bahwa aku akan menginap di rumahnya berhubung hujan deras sekali. “Lan, tante mau tidur dulu ya, udah ngantuk, kamu udah ngantuk belum?”, katanya sambil menguap. “Belum tante”, jawabku.

    “Oh ya tante, Rio boleh pakai komputernya nggak, mau cek email bentar”, tanyaku. “Boleh, pakai aja” jawabnya lalu dia menuju ke kamarnya. Lalu aku memakai komputer di ruang kerjanya dan mengakses situs porno. Dan terus terang tanpa sadar kukeluarkan kemaluanku yang sudah tegang sambil melihat gambar wanita setengah baya bugil. Kemudian kuelus-elus batang kemaluanku sampai tegang sekali berukuran sekitar 15 cm karena aku sudah terangsang sekali.

    Tanpa kusadari, tahu-tahu tante Lia masuk menyelonong begitu saja tanpa mengetuk pintu. Saking kagetnya aku tidak sempat lagi menutup batang kemaluanku yang sedang tegang itu. Tante Lia sempat terbelalak melihat batang kemaluanku yang sedang tegang hingga langsung saja dia bertanya sambil tersenyum manis. “Hayyoo lagi ngapain kamu, Lan?” tanyanya. “Aah, nggak apa-apa tante lagi cek email” jawabku sekenanya. Tapi tante Lia sepertinya sadar kalau aku saat itu sedang mengelus-elus batang kemaluanku.

    “Ada apa sih tante?” tanyaku. “Aah nggak, tante cuma pengen ajak kamu temenin tante nonton di kamar” jawabnya. “Oh ya sudah, nanti saya nyusul ya tante” jawabku. “Tapi jangan lama-lama yah” kata Tante Lia lagi. Setelah itu aku berupaya meredam ketegangan batang kemaluanku, lalu aku beranjak menuju ke kamar tante kesepian dan menemani tante Lia nonton film horor yang kebetulan juga banyak mengumbar adegan-adegan syur. Melihat film itu langsung saja aku menjadi salah tingkah, soalnya batang kemaluanku langsung saja bangkit lagi.

    Malah Tante Lia sudah memakai baju tidur yang tipis dan gilanya dia tidak memakai bra karena aku bisa melihat puting susunya yang agak mancung ke depan. Gairahku memuncak melihat pemandangan seperti itu, tapi apa boleh buat aku tidak berani berbuat macam-macam. Batang kemaluanku semakin tegang saja sehingga aku terpaksa bergerak-gerak sedikit guna membetulkan posisinya yang miring. Melihat gerakan-gerakan itu tante Lia rupanya langsung menyadari sambil tersenyum ke arahku. “Lagi ngapain sih kamu, Lan?” tanyanya sambil tersenyum. “Ah nggak apa-apa kok, tante” jawabku malu. Sementara itu tante Lia mendekatiku sehingga jarak kami semakin dekat di atas ranjang. “Kamu terangsang yah, Lan, lihat film ini?” “Ah nggak tante, biasa aja” jawabku mencoba mengendalikan diri.

    Bisa kulihat payudaranya yang besar menantang di sisiku, ingin rasanya kuhisap-hisap sambil kugigit putingnya. Tapi rupanya hal ini tidak dirasakan olehku saja, Tante kesepian Lia pun rupanya sudah agak terangsang sehingga dia mencoba mengambil serangan terlebih dahulu. “Menurut kamu tante seksi nggak, Lan?” tanyanya. “Wah seksi sekali tante” kataku. “Seksi mana sama yang di film itu?” tanyanya lagi sambil membusungkan payudaranya sehingga terlihat semakin membesar. “Wah seksi tante dong, abis bodynya tante bagus sih” kataku.

    “Ah masa sih?” tanyanya. “Iya benar tante, swear..” kataku. Jarak kami semakin merapat karena tante Lia terus mendekatkan tubuhnya padaku, lalu dia bertanya lagi padaku.. “Kamu mau nggak kalo diajak begituan sama tante”. “Mmaauu tante..” Ah, seperti ketiban durian runtuh, kesempatan ini tidak tentu aku sia-siakan, langsung saja aku memberanikan diri untuk mencoba mendekatkan diri pada tante Lia. “Wahh barang kamu lumayan juga, Lan” katanya. “Ah tante kesepian bisa aja..

    Tante kok kelihatannya makin lama makin seksi aja sih.. Sampe saya gemes deh ngeliatnya..” kataku. “Ah nakal kamu yah, Lan” jawabnya sambil meletakkan tangannya di atas kemaluanku. “Waahh jangan dipegangin terus tante, ntar bisa tambah gede loh” kataku. “Ah yang benar nih?” tanyanya. “Iya tante.. Ehh.. Ehh aku boleh pegang itu nggak tante?” kataku sambil menunjuk ke arah payudaranya yang besar itu.

    “Ah boleh aja kalo kamu mau” jawabnya. Wah kesempatan besar, tapi aku agak sedikit takut, takut dia marah tapi tangan si tante sekarang malah sudah mengelus-elus kemaluanku sehingga aku memberanikan diri untuk mengelus payudaranya. “Ahh.. Arghh enak Lan.. Kamu nakal ya” kata tante sembari tersenyum manis ke arahku, spontan saja kulepas tanganku. “Loh kok dilepas sih Lan?” tanyanya. “Ah takut tante marah” kataku. “Oohh nggak lah, Lan.. Kemari deh”.

    Tanganku digenggam tante kesepian Lia, kemudian diletakkan kembali di payudaranya sehingga aku pun semakin berani meremas-remas payudaranya. “Aarrhh.. Sshh” rintihnya hingga semakin membuatku penasaran. Lalu aku pun mencoba mencium tante Lia, sungguh di luar dugaanku, Tante Lia menyambut ciumanku dengan beringas. Kami pun lalu berciuman dengan nafsu sekali sambil tanganku bergerilya di payudaranya yang sekal sekali itu. “Ahh kamu memang hebat Lan.. Terusin Lan.. Malam ini kamu mesti memberikan kepuasan sama tante yah.. Arhh.. Arrhh”.

    “Tante, aku boleh buka baju tante nggak?” tanyaku. “Oohh silakan Lan”, sambutnya. Dengan cepat kubuka bajunya sehingga payudaranya yang besar dengan puting yang kecoklatan sudah berada di depan mataku, langsung saja aku menjilat-jilat payudaranya yang memang aku kagumi itu. “Arrgghh.. Arrgghh..” lagi-lagi tante mengerang-erang keenakan. “Teruuss.. Teerruuss Lan.. Ahh enak sekali..” Lama aku menjilati putingnya sehingga tanpa kusadari batang kemaluanku juga sudah mulai mengeluarkan cairan bening pelumas di atas kepalanya.

    Lalu sekilas kulihat tangan Tante kesepian Lia sedang mengelus-elus bagian klitorisnya sehingga tanganku pun kuarahkan ke arah bagian celananya untuk kulepaskan. “Aahh buka saja Lan.. Ahh” Nafas Tante Lia terengah-engah menahan nafsu. Seperti kesetanan aku langsung membuka CD-nya dan lalu kuciumi. Sekarang Tante kesepian Lia sudah bugil total. Kulihat liang kemaluannya yang penuh dengan bulu.

    Lalu dengan pelan-pelan kumasukkan jariku untuk menerobos liang kemaluannya yang sudah basah itu. “Arrhh.. Sshh.. Enak Lan.. Enak sekali” jeritnya. Setelah puas jariku bergerilya lalu kudekatkan mukaku ke liang kemaluannya untuk menjilati bibir kemaluannya yang licin dan mengkilap itu. Lalu dengan nafsu kujilati liang kemaluannya dengan lidahku turun naik seperti mengecat saja.

    Tante Lia semakin kelabakan hingga dia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil meremas payudaranya. “Aah.. Sshh tante udaahh nggaakk tahaann laaggii.. Tante udaahh maauu kkeeluuaarr.. Ohh”, dengan semakin cepat kujilati klitorisnya dan jariku kucobloskan ke liang kemaluannya yang semakin basah. Beberapa saat kemudian tubuhnya bergerak dengan liar sepertinya akan orgasme. Lalu kupercepat jilatanku dan tusukan jariku sehingga dia merasa keenakkan sekali lalu dia menjerit.. “Oohh.. Aarrhh..

    Tante udah keeluuaarr Lan.. Ahh” sambil menjerit kecil pantatnya digoyang-goyangkan dan lidahku masih terus menjilati bagian bibir kemaluannya sehingga cairan orgasmenya kujilati sampai habis. Kemudian tubuhnya tenang seperti lemas sekali. “Wah ternyata kamu hebat sekali, tante sudah lama tidak merasakan kepuasan ini loh..” ujarnya sambil mencium bibirku sehingga cairan liang kemaluannya di bibirku ikut belepotan ke bibir Tante Lia. Sementara itu batang kemaluanku yang masih tegang di elus-elus oleh tante Lia dan aku pun masih memilin-milin puting tante yang sudah semakin keras itu. “Aahh..” desahnya sambil terus mencumbu bibirku. “Sekarang giliran tante.. Tante akan buat kamu merasakan nikmatnya tubuh tante”.

    Tangan tante Lia segera menggerayangi batang kemaluanku lalu digenggamnnya batang kemaluanku dengan erat sehingga agak terasa sakit tapi kudiamkan saja karena terasa enak juga diremas-remas oleh tangan tante Lia. Lalu aku juga tidak mau kalah, tanganku juga terus meremas-remas payudaranya yang indah itu. Rupanya tante Lia mulai terangsang kembali ketika tanganku meremas-remas payudaranya dengan sesekali kujilati putingnya yang sudah tegang itu, seakan-akan seperti orang kelaparan, kukulum terus puting susunya sehingga tante Lia menjadi semakin blingsatan.

    “Aahh kamu suka sekali sama dada tante yah, Lan?” “Iya Tante abis tetek tante bentuknya sangat merangsang sih.. Terus besar tapi masih tetap kencang..” “Aahh kamu memang pandai muji orang, Lan..” Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan tetapi tidak dikocok hanya dielus-elus. Lalu tante kesepian Lia mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkanganku sehingga aku pun mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa sampai akhirnya Tante Lia berjongok di bawah ranjang dengan kepala mendekati batang kemaluanku.

    Sedetik kemudian dia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang telah mengeluarkan cairan bening pelumas dan merata tersebut ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya. Aku benar-benar merasakan nikmatnya service yang diberikan oleh Tante kesepian Lia. Lalu dia mulai membuka mulutnya dan lalu memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil menghisap-hisap dan menjilati seluruh bagian batang kemaluanku sehingga basah oleh ludahnya.

    Selang beberapa menit setelah tante kesepian melakukan hisapannya, aku mulai merasakan desiran-desiran kenikmatan menjalar di seluruh batang kemaluanku lalu kuangkat Tante Lia kemudian kudorong perlahan sehingga dia telentang di atas ranjang. Dengan penuh nafsu kuangkat kakinya sehingga dia mengangkang tepat di depanku. “Aahh Lan, ayolah masukin batang kemaluan kamu ke tante yah..

    Tante udah nggak sabar mau ngerasain memek tante disodok-sodok sama batangan kamu itu”. “Iiyaa tante” kataku. Lalu aku mulai membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluannya tapi aku tidak langsung memasukkannya tapi aku gesek-gesekan terlebih dulu ke bibir kemaluannya sehingga tante kesepian Lia lagi-lagi menjerit keenakan.. “Aahh.. Aahh.. Ayolah Lan, jangan tanggung-tanggung masukiinn..” Lalu aku mendorong masuk batang kemaluanku.

    Uh, agak sempit rupanya lubang kemaluannya sehingga agak sulit memasukkan batang kemaluanku yang sudah tegang sekali itu. “Aahh.. Sshh.. Oohh pelan-pelan Lan.. Teruss-teruuss.. Aahh” Aku mulai mendorong kepala batang kemaluanku ke dalam liang kemaluan Tante kesepian Lia sehingga dia merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluanku sudah masuk semuanya.

    Kemudian batang kemaluanku mulai kupompakan dengan perlahan tapi dengan gerakan memutar sehingga pantat Tante Lia juga ikut-ikutan bergoyang. Rasanya nikmat sekali karena goyangan pantat tante Lia menjadikan batang kemaluanku seperti dipilin-pilin oleh dinding liang kemaluannya yang seret itu dan rasanya seperti empotan ayam. Sementara itu aku terus menjilati puting dan menjilati leher yang dibasahi keringatnya. Sementara itu tangan Tante Lia mendekap pantatku keras-keras sehingga kocokan yang kuberikan semakin cepat lagi.

    “Oohh.. Sshh.. Lan.. Enak sekali.. Oohh.. Ohh..” mendengar rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini. “Aahh.. Cepat Lan, tante mau keluuaarr.. Aahh” Tubuh tante kesepian Lia kembali bergerak liar sehingga pantatnya ikut-ikutan naik. Rupanya dia kembali orgasme, bisa kurasakan cairan hangat menyiram kepala batang kemaluanku yang sedang merojok-rojok liang kemaluannya. “Aahh.. Sshh.. Sshh”, desahnya, lalu tubuhnya kembali tenang menikmati sisa-sisa orgasmenya. “Wahh kamu memang hebaat Lan..

    Tante sampe keok dua kali sedangkan kamu masih tegar” “Iiyaa tante.. Bentar lagi juga Alan keluar nih..” ujarku sambil terus menyodok liang kemaluannya yang berdenyut-denyut itu. “Aahh enak sekali tante.. Aahh..” “Terusin Lan.. Terus.. Aahh.. Sshh” erangan tante Lia membuatku semakin kuat merojok-rojok batang kemaluanku dalam liang kemaluannya. “Aauuhh pelan-pelan Lan, aahh.. Sshh”

    “Aduh tante bentar lagi aku udah mau keluar nih..” kataku. “Aahh.. Lan.. Keluarin di dalam aja yah.. Aahh.. Tante mau ngerasain.. Ahh.. Shh.. Mau rasain siraman hangat peju kamu..” “Iiyyaa.. Tante..” Lalu aku mengangkat kaki kanan tante sehingga posisi liang kemaluannya lebih menjepit batang kemaluanku. “Aahh.. Oohh.. Aahh.. Sshh.. Tante, Rio mau keluar nih.. Ahh” lalu aku memeluk tante Lia sambil meremas-remas payudaranya. Sementara itu, tante Lia memelukku kuat-kuat sambil menggoyang-goyangkan pantatnya.

    “Aahh tante juga mau keluar lagi aahh.. Sshh..” lalu dengan sekuat tenaga kurojok liang kemaluannya sehingga kumpulan air maniku yang sudah tertahan menyembur dengan dahsyat. Seerr.. Seerr.. Croott.. Croott.. “Aahh enak sekali tante.. Aahh.. Ahh..” Selama dua menitan aku masih menggumuli tubuh Tante kesepian Lia untuk menuntaskan semprotan maniku itu. Lalu Tante kesepian Lia menbelai-belai rambutku. “Ah kamu ternyata seorang jagoan, Lan..” Setelah itu dia mencabut batang kemaluanku dari liang kemaluannya kemudian dimasukkan kembali ke dalam mulutnya untuk dijilati oleh lidahnya.

    Ah, ngilu rasanya batang kemaluanku dihisap olehnya. Dan kemudian kami berdua pun tidur saling berpelukan. Malam itu kami melakukannya sampai tiga kali. Setelah kejadian itu kami sering melakukan hubungan seks yang kadang-kadang meniru gaya-gaya dari film porno. Hubungan kami pun berjalan selama dua tahun dan akhirnya diketahui oleh orang tuaku. Karena merasa malu, Tante kesepian Lia pun pindah ke Jakarta dan menjalankan usahanya di sana. Aku benar-benar sangat kehilangan Tante Lia dan semenjak kepindahannya, tante Lia tidak pernah menghubungiku lagi.

  • Cerita Sex Sepupuku Sedang Ngentot Dengan Pacarnya

    Cerita Sex Sepupuku Sedang Ngentot Dengan Pacarnya


    1884 views

    Perawanku – Cerita Sex Sepupuku Sedang Ngentot Dengan Pacarnya, Pada pagi yang indah dan cerah itu, aku sedang lewat depan kamar Anggun adik sepupuku, Anggun adik sepupu tepatnya Anak dari tanteku, kira-kira sudah ikut denganku sejak 1 tahun yan lalu. Dia bekerja sebagai Teller Bank BNI di jakarta. Ketika itu kulihat pintu kamar Anggun sedikit terbuka, ketika itu tiba-tiba timbul keinginan di benakku untuk mengintip Anggun. Dari sela pintu itu kulihat Anggun masih tertidur pulas.

    Anggun yang masih tertidur pulas saat itu hanya mengenakan daster tidur yang berbahan tipis dan sexy. Sungguh benar-benar cantik sekali dia, batinku sembari menatap wajahnya yang putih bersih. Pelan-pelan, aku Masuk ke dalam kamar sambil melangkah sangat pelan, dan sebelumnya sepatuku telah kubuka terlebih dahulu agar tidak terdengar suara langkah kakiku karena sepatu.

    Setelah masuk didlam kamar Anggun, kupandangi wajah cantik dan juga seluruh tubuhnya yang saat itu tertidur dengan posisi terlentang. Saat aku sedang asik meandanginya tiba-tiba Anggun menggeliat kesamping kiri, kaki kanannya agak menekuk hingga celana dalamnya terlihat jelas olehku. Dengan seksama sambil menahan nafas ku pandangi seluruh sudut celana dalam Anggun.

    Garis Vaginanya membayang jelas dibalik celana dalam yang tipis itu, biraku tiba-tiba memanas. Secara pelan tapi pasti Penisku-pun mulai tegang tegak berdiri, hingga celana kerja ku terasa sesak. Ditambah lagi aku melihat, dari pinggiran celana dalam Anggun, saat itu kuperhatikan rambut kemaluanyanya sedikit keluar dari celana dalamnya yang mini dan tipis itu.

    Entah setan apa yag merasukiku, dengan spontan secara perlahan aku meraba pahanya yang mulus sekali. Ditengah asiknya aku yang sedang meraba pahanya, tiba-tiba Anggun terbangun, dan dia kaget melihat aku berada dikamarya,
    “ Hah, Abang lagi ngapain dikamar Anggun ? ” tanyanya bingung.

    Lalu dengan sedikit gugup aku menarik tanganku dari paha Anggun, “ Eeee… Abang, Cuma mau ngebangunin …kamu kog Nggun, ntar kamu kesiangan ketempat kerja ”, Kataku gugup.

    “ Oh begitu ya Bang… makasih ya Bang udah bangunin Anggun ”, ucap Anggun sembari duduk dipinggiran tempat tidur.
    “ Iya Anggun, yaudah buruan bangun terus berangkat kerja gih !! ”, kataku sembari keluar dari kamar Anggun dengan jantung masih berdetak cepat.

    Setelah keluar dari kamar Anggun, aku menuju ruang makan lalu aku menyeduh secangkir kopi. Saat itu pikiranku m asih melayang karenamembayangkan hal yang kulakukan pada Anggun tadi. Ditengah fantasiku yang sedang asik, tiba-tiba,
    “ Bang… kog Abang senyum-senyum sendiri sih ”, tanya Anggun dengan tiba-tiba dan melintas didepanku.
    “ Ah… nggak papa kog Nggun ”, jawab singkatku pada Anggun.

    “ Kirain kenpa bang, hhe… Oh iya Abang mau aku masakin buat sarapan nggak ??? tanya Anggun padaku.
    “ Nggak usah Nggun, Abang soalnya sebentar lagi berangkat kerja Nggun ”, kataku sembari melirik Anggun yang sedang membuat jus jambu kesukaannya.

    “ Oh gitu ya Bang, yaudah deh ”, jawabnya singkat. SeLalu gelas nya diletakkan diseberang posisiku duduk.
    Lalu ia bergegas kekamar mandi. Seketika timbul fikiran kotor diotakku, didalam bungkus marlboro aku masih kusimpan 1 butir inex sisa semalam. Inex itu aku remas sampai hancur lalu kumasukan ke dalam Jus Anggun tadi, setelah itu aku aduk sampai larut didalam jus itu. Setelah itu aku berjinjit ke dalam gudang di samping kamar mandi.

    Didalam ruang gelap dan berdebu itu terdapat lubang yang cukup untuk aku mengintip Anggun yang sedang mandi. Dari sela-sela lubang kulihat Anggun tengah membasahi tubuhnya, posisinya membelakangi lubang intipku, jadi aku hanya melihat punggung dan bongkahan montok pantatnya. Mataku tak berkedip saat tubuh putih nan montok itu menghadap lubang intipku.

    Sembari mengintip Anggun, aku menahan nafasku yang mulai memburu, lalu Penisku mulai ku pegang dan kukocok. Kulihat Vaginanya yang ditumbuhi dengan bulu halus yang lebat namun rapih. Dalam batinku berkata apapun caranya aku harus bisa menikmati Vagina Anggun ini. Tak terasa Anggun aku mengintip Anggun sudah setengah jam.

    Sementara itu aku hanya puas secara mata saja tanpa bisa menyentuhnya. Setelah itu Anggun-pun selesai mandi, dan mulai mengambil handuknya. Sementara Anggun mengeringkan tubuhnya dengan handuk, aku segera bergegas keluar dari gudang dan kembali duduk di ruang makan. Tak lama setelah itu, Anggun-pun melintas dan aku melirik tubuhnya yang hanya terlilit handuk saja.

    Sembari melirik akupun berbasa-basi pada Anggun,
    “ Nggun… Jam segini udah mendung aja nih, kayaknya hari ini bakal turun hujan lagi deh, Nggun ”, kataku.
    “ Iya nih Bang. Oh iya Bang, nanti aku ikut motor abang sampai halte depan ya Bang ”, pinta Anggun padaku.
    “ Okey Nggun ”, jawabku singkat.

    Kemudian Anggun segera masuk kedalam kamarnya, tidak lama kemudian Anggun-pun sudah keluar dengan seragamnya,
    “ Wah… kamu terlihat cantik sekali Ya Nggun kalau kamu pakai seragam itu”, pujiku kepda Anggun.
    “ Ah Abang bisa aja Deh, hhe…”, balas Anggun malu-malu sembari mengambil gelas Jusnya yang tadi sudah bercampur dengan Inex.

    Tanpa ragu Anggun-pun meminumnya sampai habis tanpa ada rasa curiga sedikitpuun.
    “ Kena lu sama Gue ” ucap dalam hatiku.

    “ Ayo Nggun berangkat, nanti keburu hujan lagi ”, ajakku.
    Setelah aku mengunNggun pintu rumah, aku segera starter motorku, Anggun-pun lalu duduk membonceng dengan memegang pundakku. Saat itu kira-kira kami baru berjalan selama 10 menit, tiba-tiba dia menegeluh sambil menyandarkan kepalanya di punggungku,

    “ Aduh Bang, kok kepala Anggun pusing gini ya Bang ”, keluh Anggun. Saat itu juga, aku segera mengentikan motorku,
    “ Wah… kog tiba-tiba kamu pusing, yauda kamu Abang antar pulang aja yah ??? ucapku pura-pura perduli kepada Anggun.
    Ketika itu Anggun tampak gelisah, dan bibirnya yang sensual tampak mulai digigit-gigit sengan pelan,

    “ Nggk tau nih Bang, yaudah Anggun anteri pulang aja deh Bang ”, jawabnya.
    Dengan cepat, kuputar motorku kembali menuju ke arah rumah. Sesampainya dirumah ketika di akan turun dari motor, dia sudah tampak lemas tak berdaya layaknya orang sedang On. Tanpa banyak tanya, Anggun segera ku papah masuk kedalam kamarnya, dan kurebahkan dia di tempat tidur,

    “ Aduhh Bang ”, ucap-nya pelan.Cerita Porno
    Setelah itu tiba-tiba matanya menatapku sayu, sembari dia terus menggigit-gigit bibirnya. Saat itu kedua kakinya masih menggantung di bawah kasur, jadi posisi-nya Anggun mengangkang. Karena Posisi Anggun seperti itu maka celana dalam Anggun saat itu terlihat jelas di mataku. Nampak begitu jelas Vaginanya yang menggembung dari balik celana dalamnya itu.

    Karena adik sepupuku yang montok dan cantik ini sudah terkena pengaruh inex yang ku berikan tadi, maka aku memberanikan diri untuk mencoba melepas celanaku,

    “ Bang… Abang mau ngapain melepas celana ? ” ucapnya dengan setengah sadar karena pengaruh Inex tadi.
    Lalu setelah celana dan celana dalamku terlepas, nampaklah batang Penisku yang sudah tegak dan besar maksimal itu. Lalu tangan kiriku yang sedang memegang Penis, lalu kuarahkan kepada Anggun,
    “ Bang… badan Anggun panas dingin Bang ”, ucapnya berbisik.

    Ketika itu aku hanya tersenyum, tangan kananku kemudian meraih tangan Anggun, lalu tangan kirinya Anggun kuarahkan ke Penisku, hingga dia menggenggam batang Penisku. Semula Anggun hanya menggenggam Penisku saja, tapi kemudian dia mulai mengelus dan mengocok-kocok Penisku yang sudah tegak menantang itu,

    “ Ouwhhh… terus Anggun… yahh… terus Anggun sayang… ”, kataku sedikit berbisik.
    Lalu tanganku langsung melucuti pakaian kerjanya hingga pakaian atasnya terbuka semua termasuk Bra Anggun yang berenda itu. Alamakkk… seksi sekali Anggun ini, gumamku pelan. Payudara Anggun yang membusung dengan puting yang mengeras mancung, nafas Anggun yangsemakin memburu deras-pun mengiringinya.

    “ Ouhhhh… Bang… Aghhhh…. ”, gumamnya sambil terus mengelus dan mengocok batang Penisku yang besar dan keras.
    Seluruh sudut batang Penisku di dielus dan di reBangnya lembut, terMasuk sekeliling biji pelerku dan bulu-bulu jembutnya. Perlahan-lahan kudekatkan wajah ku ke payudaranya yang membusung. Lalu kukecup ringan payudaranya,
    “ Ahhhh… Ughhh…. Bang… geliii bang… Sss… Ahhh…” desah Anggun lirih.

    Anggun mendesah disaat mulutku mengulum putingnya dengan penuh gairah. Lalu mulai kujamah seluruh permukaan payudara Anggun yang besar, montok dan putih itu. sembari terusku hisap di payudaranya, sesekali kutarik pelan pake gigi. Tanganku bergerak cepat melepaskan rok mini kerjanya, dan celana dalam-nya yang mini serta tipis itu.

    Hal itu membuat lutut Anggun dirapatkan, karena menahan gerakan tanganku yang menarik lepas celana dalamnya. Ketika sudah berada di atas lututnya,

    “ Kenapa Anggun sayang ? ” tanyaku.
    Saat itu dia tidak menjawab, melainkan hanya menatapku dengan mata sayu-nya, Kemudian dia membuka lebar-lebar kakinya, hingga celana dalamnya bisa kulucuti dengan mudahnya. Begitu celana dalamnya kulucuti segera kulihat Vaginanya yang merangsang dihiasi bulu jembut yang Masih jarang namun terlihat ditata dengan rapih.
    “ Indah sekali Vaginamu ini Nggun ”, kataku berbisik di telinga kanannya.

    Tanpa menjawab, Anggun hanya memejamkan mata dan berkedip mendengar kata-kataku itu. Lalu tangannya yang tengah mengelus-ngelus batang Penisku, segera ku angkat dan kulepas dari batang Penisku. Lalu tangannya ku angkat dan kutaruh disamping kepalanya. Saat itu dia terlihat pasrah saat kubuka pahanya lebar-lebar. Wow, belahan Vaginanya sunguh membuatku semakin terangsang saja.

    Lalu,

    “ Nggun, sebenarnya sudah lama sekali Abang ingin berstubuh sama kamu”, ucapku tegas. Dengan cepat kudekatkan kepalaku ke permukaan Vaginanya, lalu dengan mantap kujilat permukaan liang Vaginanya,

    “Sruppp… Sruppp…”enak dan harum sekali vagina Anggun ini,
    “ Sss… Ahhh…. Bang… Ouwhh… terus bang… Aghhh…”, desah Anggun seirama gerakan lidahku yang nakal menjilati liang kenikmatannya.

    Ketika itu tangan Anggun menjambak rambutku saat lidahku mulai kutusukan dalam Vaginanya itu, “ Ouwhhh… Bang… Aghhh…”, desah nikmatnya.

    Dengan semangat kujilati terus Vaginanya hingga basah, selang 10 menit kemudian kuhentikan gerakan ku menjilati Vaginanya itu. Keringat dan desahan nafas Anggun seakan berpacu, lalu ku arahkan batang Penisku ke lubang Vagina Anggun. Lalu sesaat kusapu Vaginanya dengan lidahku,

    “ Aghhh…. geli sekali Bang… Ughhh….”, desahnya pelan.
    “ Ada pa Anggun sayang ?”, tanyaku menghentikan gerakan Penisku di bibir Vaginanya.
    “ A…aa… aku masih perawan Bang. Aku takut ”, ucap Anggun lirih.

    “ Udah kamu jangan takut, nanti Abang akan bertanggung jawab bila sampai terjadi apa-apa pada Anggun ”, kataku gombal menenangkan Anggun.

    Sebenaranya dalam benakku bersorak ( mantap cuy, gue dapet perawan ),
    “ Makasih ya Bang, pelan-pelan Bang yah masukin titit abang ke Vagina aku ”, pinta nya padaku.
    “ Iya Anggun sayang”, jawabku singkat.

    Sembari mengarahkan kepala Penisku yang bulat besar ke lubang Vaginanya, dengan perlahan kudorong Penisku. Sedikit demi sedikit, walaupun agak susah karena vagina masih perawan dan sempit sekali aku terus mencoba tanpa mengenal lelah,

    “ Aouw… sa.. sakit Bang… Aghhh…Auow… pelan Bang”, ucap Anggun sembari mencengkram sprey tempat tidur dan sedikit menutup bukaan pahanya.

    “ Aghhh… Tahan dulu ya Anggun sayang” rayuku menenangkanya.Setelah bersusah payah, pada akhirnya, Zlebbbbbbbbbbb….. akhirnya batang Penisku amblas juga Masuk kedalam Vaginanya Anggun,

    “ Aowwwwwww… sakitttt… saaakit sekalliiii Bang… Huuu… huu… hu… ”, kata Anggun sambil menggigit bibirnya.
    Ketika itu kudiamkan batang Penisku sejenak didalam Vaginanya, ughhh… kuat sekali jepitan Vagina Anggun, batinku. Lalu beberapa saat kemudian segera ku ayun perlahan Penisku maju mundur didalam liang Vagina Anggun,
    “ Zlebb… Zlebb… Zlebb… ” , bunyi penisku yang sedang menyelami Vagina Anggun.

    Lama-kelamaan aku merasa mudah mengayun Penisku. Ketika itu Anggun memejamkan mata seraya memeluk leherku erat. Dengan irama yang tetap santai ku ayun gerakan Penis ku maju mundur mencoblos Vaginanya,
    “ Aghhh… enak sekali Vagina kamu sayang… Oughhh… ”, bisikku penuh gairah di telinganya, sembari menjilati telinga Anggun yang mungil itu.

    “ Ssss… Aghhh… Bang… pelan Bang… aoww… Sss… ahhh” desah nikmat dan sakit menjadi satu.
    Pada awalnya gerakan Anggun kaku, namun lama-kelaman Anggun mulai membalas goyangan pinggangku dengan goyangan sedikit memutar pinggul,

    “ Enak Anggun, Aghhhh… terus goyang sayang ”, pintaku.
    Saat itu kulihat matanya sedikit meneteskan air mata, namun disisi lain mulutnya terbuka terengah-engah menikmati tusukan Penisku di Vaginanya. Sesekali dia menggigit dada dan leherku.

    “ Slebb… Sluppp… Plakkk… Plakkk… Plakkk… ”, bunyi gesekan Penis dengan Vagina semakin nyaring.
    Dengan semangat, kurasakan tubuhku terbang melayang keenakan, lalu kupacu gerakan tusukan Penisku lebih cepat lagi. Saat itu Anggun semakin mendesah dan terengah keenakan, aku tak peduli dengan suara pembantuku didapur yang tampaknya sudah pulang dari pasar. Rupanya pembantuku lewat pintu belakang, sehingga tidak melintasi pintu kamar Anggun yang terbuka lebar.

    Dengan penuh gairah terus kupacu irama Penisku, sampai kumerasa kepala Penisku linu , geli bercampur enak sekali. Kaki Anggun kini melingkar di pinggangku, hingga tusukan Penisku terasa semakin dalam. Tak terasa kami sudah berhubungan intim selama 15 menit, tidak lama setelah itu tubuh Anggun-pun menegang dengan hebat, lalu,

    “ Aghhhh…. Bang… enak Banng, a… aa… aku mau pipis Bang… aghhh…” mulutnya mulai meracau sembari menggigit dadaku.
    Rupanya Anggun telah mencapai puncaknya, Vaginanya terasa sangat basah sekali hingga Penisku terasa liNggunn saat menggelosor masuk ke Vaginanya. Tubuhnya Anggunpun setelah itu lemas seperti tak bertulang. Dari sudut mataku sekilas kulihat Zaenab pembantuku mengintip dari balik horden pintu, tidak kusangka rupanya dia tengah menonton aku yang lagi asik bersetubuh dengan Anggun.

    Namun saat itu aku berpura-pura tidak tau dan terus mengocok lubang Vagina Anggun. Dari lubang Vagina Anggun tampak menetes darah bercampur cairan lengket. Akirnya tercapai juga keinginaku, sungguh puas aku mendapatkan keperawan Anggun, kataku dalam hati. Lalu kucabut batang Penisku yang Masih keras dari lubang Vagina Anggun yang sudah tidak perawan lagi karena aku.

    Sementara itu Anggun terkulai lemas dan wajahnya Masih tampak tegang, dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Hal itu membuat tubuh putihnya semakin terlihat menggairahkan saja. Batang Penisku yang mengkilat dikelilingi lendir kawin Anggun, saat itu masih belum memuntahkan sperma juga, maka dari itu aku masih sangat bernafsu sekali,

    “ Anggun sayang… Abang belum keluar nih, sekarang kamu uka mulut donk sayang… perintahku.
    Tanpa menjawab Anggunpun lalau membuka mulutnya, lalu aku mengarahkan batang Penisku ke dalam mulutnya. Pada awalanya Anggun mau muntah saat Penisku Masuk kemulutnya yang mungil itu. Namun kemudian dia mulai terbisa mengocok dan mengulum Penisku,

    “ Aghhh… enak Nggun, sepong terus… Oughh… kamu mulai mahir deh, Ssss… Aghhh…”, desahku mulai merasa nikmat oleh kuluman Anggun.

    Secara konstan Anggun-pun terus mengkulum penisku dengan lembutnya. Tak lama setelah itu kurasakakan batang penisku berdenyut dan,

    “ Crottt… Crottt… Crottt… ”,
    Akhirnya Penisku memuntahkan spermanya kedalam mulut Anggun yang mungil itu, saking banyaknya spermaku yang keluar sampai-sampai mulut Anggun yang mungil itu tidak mampu menampung spermaku.

    Walaupun mulut Anggun mungil, hampir setengah spermaku tertelan oleh Anggun. Setelah itu kamipun sama-sama terkulai lemas, aku dan Anggun tertidur pulas hingga siang hari.

    Pada akhirnya kami sama-sama tidak berangkat kerja. Singkat cerita semenjak kejadian itu kamipun sering melakukan hubungan sex dirumah, dan tak jarang pembantuku Zaenab mengintip kami saat berhubungan intim. Sampai saat ini hubungan kami terus berlanjut dan Zaenab tidak pernah angkat bicara sedikitpun tentang persetubuhan kami.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Suamiku Payah Diranjang

    Cerita Sex Suamiku Payah Diranjang


    1054 views

    Perawanku – Cerita Sex Suamiku Payah Diranjang, Suatu saat ketika suamiku akan mendapatkan tugas kantornya selama dua bulan, malam sebelumnya kita saling berdebat, aku tetap ingin ikut karena dua bulan bukan. waktu yang singkat dan supaya tetep bisa nampung maninya dalam rangka bikin anak. Karena kesibukannya menyiapkan kepergiannya sudah tiga minggu aku tidak dienjot oleh suamiku. Dia coba menenangkan aku dengan iming2 akan dibawakan oleh oleh dari belanda, aku tetap kecewa. Malem itu, aku dienjot oleh suamiku, tapi karena dia gak konsentrasi sebentar aja udah muncrat. Seperti biasa kalu udah muncrat dia langsung tidur. Aku memang mengharapkan kenikmatan, tapi aku tau

    bahwa suamiku payah kalo diranjang, yah akhirnya hanya menjadi menampung
    maninya saja . Pagi hari setelah suamiku berangkat ke airport , aku menyediakan
    makan pagi, kali ini hanya untuk kakak iparku saja yang diminta suamiku untuk
    menemani aku selama dia pergi. setelah siap aku memanggil kakak iparku. “Mas, sarapan mas..”. Aku memanggilnya sembari mendorong pintunya untuk melongok
    kedalam kamar, ternyata dia masih tidur dengan hanya memakai cd.

    Napsuku timbul lagi melihat pemandangan indah, tubuh yang kekar dan dadanya yang bidang hanya dibalut sepotong cd dimana terlihat jelas batangnya besar dan panjang tercetak dengan jelas di cdnya.  Kayaknya batangnya dah tegang berat.
    Tanpa disadari aku menggunggam sendiri, “.. Ohh mas seandainya kau suamiku
    akan kupeluk tubuhmu yang perkasa ini..”. Walaupun suara aku lirih tetapi ternyata
    dia dapat mendengarnya, dia terbangun dan tersenyum melihatku. “Kenapa Sin,
    kamu gak puas ya dengan suamimu”. Aku jadi tersipu malu. “Sarapan dulu mas, ntar
    dingin”, kataku sambil keluar kamar. Lama kutunggu tapi dia gak keluar juga dari
    kamar, sementara itu napsuku makin berkobar membayangkan batangnya yang
    besar dan panjang itu. “Mas”, panggilku lagi, tapi tetap gak ada jawaban. Aku berdiri
    dan kembali ke kamarnya. Dia rupanya sedang telentang sambil mengusap2
    batangnya dari luar cdnya. Ketika dia melihat aku ada dipintu kamar, sengaja dia
    pelan2 menurunkan cdnya sehingga nongollah batangnya yang besar mengacung
    dengan gagahnya. Aku terbelalak ngeliat batang segede itu. “Kamu pengen
    ngerasain batangku ya Sin”, katanya terus terang. “Belum pernah ya ngerasain
    batang segede aku punya. Aku juga napsu ngeliat kamu Sin, bodi kamu
    merangsang banget deh”.

    Dia bangun dalam keadaan telanjang bulat menuju ke tempat aku berdiri. batangnya yang tegang berat berayun2 seirama jalannya. DIa segera memelukku dan menarikku ke ranjang, dirumah memang gak ada siapa2 lagi. Dasterku segera dilepaskannya, begitu juga bra dan cdku. Dia meneguk liur memandangi tubuh telanjang ku yang mulus, dada yang besar dengan pentil yang dah mengeras dan jembiku yang lebat menutupi meqiku dibawah sana. Kemudian dia mencium serta mengulum bibirku. Aku balas memeluknya. bibirku digigitnya pelan pelan, bibirnya turun terus menciumi seluruh lekuk tubuhku mulai dari leher terus kebawah kepentilku, dikulumnya pentilku yang sudah mengeras, aku merintih rintih karena nikmat. Aku menekan kepalanya ke dadaku sehingga wajahnya terbenam di dadaku. Dia terus menjelajahi tubuhku, dijilatinya pelan dari bagian bawah dadaku sampe ke puser. Aku makin mendesis2, apalagi ketika jilatannya
    sampe ke meqiku yang berjembi tebal. Dia menjilati jembiku dulu sampe jembiku
    menjadi basah kuyup, pelan pelan jilatannya mulai menyusuri bibir meqiku terus ke
    klitku. Ketika lidahnya menyentuh klitku, aku terlonjak kegelian. Dia menahan kakiku
    dan pelan2 dikuakkannya pahaku sehingga kepalanya tepat berada diantara pahaku.
    Lidahnya menyusupi meqiku dan menjilati klitku yang makin membengkak. meqiku
    berlendir, dia menjilati lendir yang keluar.

    Aku gak tahan lagi, aku mengejan dengan suara serak, tanganku mencengkeram seprei dan kakiku menjepit kepalanya yang ada diselangkanganku. Aku nyampe. “Mas, nikmat banget deh, padahal belum dienjot ya”, kataku mendesah. Dia diam saja, dan berbaring telentang. “Kamu diatas ya Sin, biar masuknya dalem”, ajaknya. aku mulai mengambil posisi berjongkok tepat diantara batangnya yang sudah tegang berat. “Aku masukkin batangku ke meqi kamu ya Sin”, katanya sambil mengarahkan batangnya menyentuh bibir meqiku. Dia tidak masuk menekankan batangnya masuk ke meqiku tapi digesek2kan di bibir meqiku yang berlendir sehingga kepalanya yang besar itu basah dan mengkilap.Akuterbuai, dengan mata terpejam aku mendesah2 saking napsunya, “mas, masukin dong.” aku mulai menekan kepala batangnya yang sudah pas berada di mulut meqiku. Pelan2 batangnya menyusup kedalam meqiku, “Akh mas, gede banget”, erangku. “Apanya yang besar Sin”, dia memancing reaksiku. “Punyanya maass..!!” “..Apa namanya..?” dia memancing lagi, aku langsung aja menjawab, “batang mas, besar sekali”. Dengan sekali hentakan keatas batangnya menyeruak masuk meqiku. “Ooh mas, pelan2 mas”, aku mendesah lirih. Mataku terbeliak, mulutku terbuka, tanganku mencengkeranm seprei kuat2.http://139.99.33.211/wp-content/uploads/2020/07/147.jpg

    Cerita Sex Suamiku Payah Diranjang

    Cerita Sex Suamiku Payah Diranjang

    Bibir meqiku sampe terkuak lebar seakan tidak muat untuk menelan batang besarnya. “meqi kamu sempit sekali Sin”, jawabnya. aku mulai berirama menaik turunkan pantatku, batangnya masuk merojok meqiku tahap demi tahap sehingga akhirnya ambles semuanya. Pelan2 dia ikut bergoyang menarik ulur batang besarnya. Aku mulai merasa sensasi yang luar biasa nikmatnya. meqiku yang sudah licin terasa penuh sesak kemasukan batangnya yang besar, batangnya terasa banget menggesek meqiku yang sudah basah berlendir itu. “Mas, enak banget mas, terus mas”, erangku. “Terus diapain Sin”, jawabnya menggoda aku lagi. “Terus enjotin meqi
    Sintia mas”, jawabku to the point. “enjotin pake batang gede mas”. Enjotannya dari
    bawah makin menggebu sehingga aku makin menggeliat2. AKu memeluknya dan
    mencium bibirnya dengan garesif, dia menyambut ciumanku. Nafasku memburu
    kencang, lidahku saling mengait dengan lidahnya, saling menyedot. Kemudian dia
    menggulingkan aku sehingga aku dibawah, dia mulai mengenjotkan batangnya
    keluar masuk dengan cepat. aku mengangkangkan pahaku lebar2, supaya dia lebih
    mudah menyodokan batangnya keluar masuk. Keluar masuknya batangnya sampe
    menimbulkan suara berdecak2 yang seirama dengan keluar masuknya batangnya,
    karena basahnya meqiku.

    “Mas, enak sekali batangmu mas, enjotin meqi Sintia yang cepet mas, nikmat banget”, desahku. “Ooh meqi kamu sempit banget Sin, terasa banget sedotannya. Nikmat banget deh”, jawabnya sambil terus mengenjotkan batangnya keluar masuk meqiku. Enjotannya makin ganas, pentilku diemut2nya. Aku menggelinjang kenikmatan, dada kubusungkan dan kugerak2kan kekiri kekanan supaya 2 pentilku mendapat giliran diemut, “ssh, mas, nikmat banget ngenjot ama mas, pentil sintia dikenyot terus mas”, erangku lagi. “Sintia bisa ketagihan dienjot ama mas. Ooh mas, Sinta gak tahan lagi mas, mau nyampeee”.”. Aku mengejang sambil memeluk tubuhnya erat2, sambil menikmati kenikmatan yang melanda tubuhku, luar biasa rasanya. “Sin, aku masih pengen ngenjotin meqi kamu yang lama. Kamu bisa nyampe lagi berkali2”, katanya sambil terus
    mengenjotkan batangnya. Dia minta ganti posisi, aku disuruhnya nungging dan
    meqiku dienjot dari belakang, meqiku terasa berdenyut menyambut masuknya
    batangnya. Aku memutar2 pantatku mengiringi enjotan batangnya, kalo dia
    mengenjotkan batangnya masuk aku menyambutnya dengan mendorong pantatku
    dengan keras ke belakang sehingga batang besarnya masuk dalem sekali ke
    meqiku. “Ooh nikmatnya mas, dienjot dari belakang.

    Kerasa banget geseken batang mas di meqi Sintia”. Jarinya mengilik2 klitku sambil terus mengenjotkan batangnya keluar masuk. ” Uuh mas, nikmat banget mas, terus mainin klit Sintia mas sambil ngenjot meqi Sintia”, erangku saking nikmatnya. Jarinya terus menekan klitku sambil diputar2, aku mencengkeram seprei erat sekali. Pantat makin kutunggingkan keatas supaya enjotannya makin terasa. Dia memegangi pinggangku sambil mengenjotkan batangnya keluar masuk dengan cepat dan keras. “Mas, nikmat banget banget mas, Sintia udah gak tahan neh, mau nyampe lagiii”, aku menjadi histeris ketika nyampe untuk kedua kalinya, lebih nikmat dari yang pertama. Diapun mencabut batangnya dari meqiku dan berbaring disebelahku. “Mas. belum muncrat kok dicabut batangnya”, tanyaku. “Sintia masih mau kok mas dienjot lagi, biar bisa nyampe lagi”. Dia setengah bangun dan membelai rambutku, “Kamu masih bisa nyampe lagi kok Sin”.”Sintia mau kok dienjot mas seharian, kan Sintia bisa nyampe terus2an, nikmat banget deh mas”. Istirahat sebentar, dia kembali menaiki aku lagi, secara perlahan tapi pasti dia pun memasukkan batangnya ke dalam meqiku. Aku mendesah dan merintih, ketika dia mengenjotkan batangnya sampe ambles semua aku kembali menjerit, “Aaaaaaahhhh , Maaaassssssss ..”. batangnya dinaikturunkan dengan cepat, akupun mengimbanginya dengan gerakan pantatku yang sebaliknya. Bibirnya
    bermain di pentilku.

    sesekali dia menciumi ketekku, bau keringatnya merangsang katanya. Aku memeluknya dan mengelus2 punggungnya sambil menjerit dan mendesah karena nikmat banget rasanya, “Aah mas, nikmatnya Terus mas, tekan yang keras, aah”. Dia meremas2 dadaku dengan gemas menambah nikmat buatku. Dia terus mengocok meqiku dengan batangnya, aku menjadi makin histeris dan berteriak2 kenikmatan. Tiba2 dia mencabut batangnya dari meqiku, aku protes, “Kok dicabut mas, sintia belum nyampe mas, dimasukin lagi dong batangnya”. Tapi dia segera menelungkup diatas meqiku dan mulai menjilati bagian dalam pahaku, kemudian meqiku dan terakhir klitku. “Mas, diapa2in sama mas nikmat ya mas, terus isep klit Sintia mas, aah”, erangku. Dia memutar badannya dan menyodorkan batangnya ke mulutku. batangnya kujilati dan kukenyot2, dia mengerang tapi tidak melepaskan menjilati meqiku yang dipenuhi lendir itu. “Sin, aku dah mau muncrat neh”, katanya sambil mencabut batangnya dari mulutku dan segera dimasukkan kembali ke meqiku. Dia mulai mengenjot meqiku dengan cepat dan keras, aku rasanya juda sudah mau nyampe lagi, goyangan pantatku menjadi makin liar sambil mendesah2 kenikmatan. Akhirnya dia mengenjotkan batangnya dalam2 di meqiku dan terasa semburan maninya yang hangat didalam meqiku, banyak sekali muncratnya, bersamaan dengan muncratnya akupun nyampe lagi. Aku memeluk tubuhnya erat2, demikian pula dia.

    “Mas, nikmat banget deh masss”, erangku. Aku terkulai lemes dan bermandikan keringat. Dia kemudian mencabut batangnya dan berbaring disebelahku. Aku meremes2 batangnya yang berlumuran mani dan sudah lemes. Hebatnya gak lama diremes2, batangnya mulai tegang lagi. “Mas, Sintia dienjot lagi dong, tuh batangnya sudah tegang lagi. Mas kuat banget seh, baru muncrat udah tegang lagi”. Dia diam saja, aku berinisiatif menaiki tubuhnya. Kusodorkan pentilku ke mulutnya, segera pentilku dikenyot2nya, napsuku mulai memuncak lagi. Aku menggeser ke depan sehingga meqiku berada didepan mulutnya lagi. “Mas, jilat dong meqi Sintia, klitnya juga ya mas”. Dia mulai menjilati meqiku dan klitku dihisapnya, kadang2 digigitnya pelan, “Aah, mas, diemut aja mas, jangan digigit”, desahku menggelinjang. Aku gak bisa menahan diri lagi. Segera meqiku kuarahkan ke batangnya yang sudah tegang berat, kutekan sehingga
    batangnya kembali amblas di meqiku. Aku mulai menggoyang pantatku turun naik,
    mengocok batangnya dengan meqiku. Dia memlintir pentilku, aku mendesah2.
    Karena aku diatas maka aku yang pegang kendali, bibirnya kucium dan dia
    menyambutnya dengan penuh napsu. Pantatku makin cepat kuturun naikkan. Tiba2
    dia dengan gemas menggulingkan aku sehingga kembali dia yang diatas, dia
    segera mengenjotkan batangnya keluar masuk meqiku.

    Aku mengangkangkan pahaku lebar2, menyambut enjotan batangnya, aku gak bisa nahan lebih lama lagi, tubuhku makin sering menggelinjang dan meqiku terasa berdenyut2, “Maas, aah”. Akhirnya aku nyampe lagi, aku tergolek lemes, tapi dia masih saja menggenjot meqiku dengan cepat dan keras, aku mendesah2 kenikmatan. Hebatnya, dia bisa membuat aku nyampe lagi sebelum akhirnya dengan satu enjotan yang keras kembali dia muncratkan mani di meqiku. Nikmat nya.Dia menciumku, “Sin, nikmat banget deh ngenjot sama kamu”. “iya mas, Sintia juga nikmat banget, kalo ada kesempatan Sintia mau kok mas enjot lagi”.. mengenjotkan batangnya keluar masuk meqiku. Enjotannya makin ganas, pentilku. diemut2nya. segera mengenjotkan batangnya keluar masuk meqiku. Aku mengangkangkan saat lidahnya masuk di antara kedua bibir meqiku sambil. menghisap mememegang pinggulku dan dia memainkan batangnya keluar masuk dengan. cepat dan keras.batangnya keluar masuk dengan akhirnya sintia — Terasa meqiku sesek kemasukan batang besar dan panjang itu. Kedua tangannya dengan erat mememegang pinggulku dan dia memainkan batangnya keluar masuk dengan eee sintia slingkuh — segera mengenjotkan batangnya keluar masuk meqiku. Aku mengangkangkan pahaku lebar2, menyambut enjotan batangnya, aku gak bisa nahan lebih lama lagi.Terasa meqiku sesek kemasukan batang besar dan panjang itu. Kedua tangannya dengan erat mememegang pinggulku dan dia memainkan batangnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Terdengar ‘cepak-cepak’ setiap kali pangkal pahanya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,