Author: perawanku

  • Kangen Nyepong Kejantanan

    Kangen Nyepong Kejantanan


    1365 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Kangen Nyepong Kejantanan ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2020.

    Perawanku – Pengalaman beberapa waktu yang lalu dimana aku mempunyai sifat yang hypersexual atau bahasa lainnya adalah kecanduan akan hal sex apalagi aku suka dengan kebiasaanku nyepong kemaluan pria, rasanya giman gitu, dan lama aku tidak merasakan kemaluan pria, umurku disaat itu 17 tahun waktu itu aku mendapat 2 kemaluan pria , dan rasanay aku ingin menghisap kemaluan pria lagi.

    Masalahnya saya sering dipingit orang tua, apalagi ditambah dengan lingkungan sekolah saya yang merupakan sekolahan khusus cewek. Jadi saya sering sakaw (menagih) kemaluan pria. Suatu malam, saya sudah benarbenar tidak tahan lagi. Buku dan VCD porno pun tidak bisa memuaskan saya. Bahkan waktu saya melakukan masturbasi pun saya tetap merasa kurang puas.

    Saya yang sehabis masturbasi, membuka jendela kamar saya yang berada di lantai 2 rumah saya. Waktu itu jam 23:30. Saya melihat jalanan di depan rumah sudah sepi sekali. Tibatiba ide gila saya mulai lagi. Saya dengan nekat, diamdiam keluar rumah sambil bertelanjang tanpa sepengetahuan siapa pun yang ada di rumah karena semua sudah pada tidur.

    Saya sampai nekat melompat pagar dengan harapan ada cowok atau pria yang melihat dan memperkosa saya. Apapun asal saya bisa menghisap kemaluannya.

    Di komplek saya memang sepi sekali pada jamjam segitu. Saya sedikit menyesal juga, kenapa saya tidak keluar agak lebih sore. Agak dingin juga malam itu atau mungkin juga karena saya tidak memakai selembar pakaian pun. Di ujung jalan, saya melihat masih ada mas Agus, tukang nasi goreng langganan saya yang masih berjualan. Langsung saya sapa dia.

    Mas Agus, nasi gorengnya dong pinta saya.

    Lho, mbak Lili..? Ngapain malammalam begini masih di luar? Ngga pake apaapa lagi sahutnya sambil terheranheran melihat saya yang tanpa sehelai benang pun di tubuh.

    Abis panas sih, Mas. Kok tumben masih jualan..?

    Mas Agus tidak menjawab. Tetapi saya tahu matanya tidak bisa lepas dari payudaraku yang putih polos ini.

    Ngeliatin apa mas..? kutanya.

    Ah ngga katanya gugup.

    Lalu mas Agus menyiapkan penggorengannya untuk memasak nasi goreng pesananku. Saya lihat ke arah celananya, saya tahu batang kemaluannya sudah berubah jadi bertambah besar dan tegang. Karena saya sudah tidak tahan lagi untuk segera menghisap kemaluannya, saya nekat juga.

    Saya jongkok sambil membuka ritsletingnya dan mengeluarkan batang kejantanannya dari dalam CDnya. Tidak pakai basabasi, saya masukkan alat vitalnya mas Agus ke dalam mulut saya. Saya jilatjilat sebentar lalu saya hisap dengan bibir.

    Saya yakin mas Agus merasakan senang yang tiada tara, seperti mendapatkan rejeki nomplok. Tidak hanya itu, saya juga menjilati dua telor mas Agus. Memang agak bau sih, tetapi saya benarbenar menikmati kejantanan mas Agus yang sekarang dia mulai bersuara, Mmmh mmmh uhhh

    Kirakira 15 menit saya menikmati kemaluannya mas Agus, tibatiba mas Agus menyuruh saya untuk berdiri. Dia memelorotkan celana dan CDnya sendiri sampai bawah dan menyuruh saya berbalik. Sekarang saya membelakangi mas Agus.

    Mas Agus jongkok dan menjilati kemaluan saya. Saya langsung merasakan kenikmatan yang hebat sekali. Hanya sebentar dia melakukan itu. Selanjutnya dia berdiri lagi dan memasukkan batang kejantanannya ke liang senggama saya. Kami berdua melakukan senggama sambil berdiri. Saya melakukannya sambil pegangan di gerobak nasi gorengnya. Saya sudah benarbenar merasa keenakan.

    Uuuh akkhh akkh akhhh saya menjeritjerit kegilaan, untung tidak ada yang mendengar.

    Mas, kalo udah mau keluar, bilang ya pinta saya.

    Udah mau keluar nih jawabnya.

    Langsung saja saya melepaskan batang kejantanannya dari liang vagina saya dan jongkok di hadapan kemaluannya yang mengacung tegak. Tetapi setelah saya tunggu beberapa detik, ternyata air maninya tidak keluarkeluar.

    Terpaksa saya kocok dan hisap lagi batang kejantanannya, saya jilati, dan saya gigitgigit kecil. Setelah itu tibalah saatnya saya menerima upah yang dari tadi saya sudah tunggutunggu, yaitu air maninya yang memang lezat.

    Crot.. crot.. crot semuanya saya minum seperti orang yang kehausan.

    Langsung saja saya telan dan saya bersihkan kejantanannya dari air mani yang tersisa.

    Bertepatan dengan itu, 2 lakilaki lewat di depan kami. Ternyata mereka adalah bapakbapak yang tinggal di komplek ini yang sedang meronda.

    Lho, mas Agus lagi ngapain..? kata seorang bapak di situ.

    Ah ngga pak mmm ini mbak Lily jawab mas Agus malumalu.

    Ini Om, saya habis gituan sama mas Agus saya jawab begitu nekat dengan harapan 2 bapak ini juga mau memperkosa saya seperti yang telah saya lakukan dengan si penjuali nasi goreng.

    Mereka keheranan setengah mati mendengar pengakuan saya itu.

    Adik ini tinggal dimana? tanya salah satu dari mereka.

    Di sana, di blok F. jawab saya.

    Ayo pulang sudah malam..!

    Dan saya pun diseret pulang. Saya takut setengah mati karena jika sampai saya dibawa pulang, pasti ketahuan sama orang tua dan saya bakal digantung hiduphidup.

    Di tengah jalan, saya beranikan diri berkata pada mereka, Om, mau nyusu ngga..?

    Jangan mainmain kamu

    Ayolah Om. saya tau kok, Om mau juga kan ngewe sama saya..?

    Mendengar itu, si Om langsung terangsang berat. Saya langsung mengambil kesempatan merabaraba batang kejantanannya yang tegang.

    Ayo dong Om saya pengen banget lho saya bilang lagi untuk menegasakan maksud saya.

    Bapak yang satunya lagi langsung setuju dan berkata, Ya udah, kita bawa ke pos ronda aja pak Karim dan pak Karim pun setuju.

    Setibanya di sana, ternyata masih ada 3 orang lagi yang menunggu di sana, termasuk bang Parli, hansip di komplek saya. Saya kegirangan sekali, bayangkan saya akan mendapatkan 6 batang kejantanan dalam semalam.

    Gila beruntung sekali saya malam itu. Setelah kami berenam ngobrolngobrol sebentar tentang kejadian antara saya dan mas Agus, saya langsung memberanikan diri menawarkan kesempatan emas ini ke mereka, Saya sebenernya pengen banget ngerasain barangnya bapakbapak ini

    Mereka langsung terlihat bernafsu dan terangsang mendengar perkataan saya, dan saya jelas mengetahuinya. Saya suruh mereka berlima melepas celana dan CD mereka sendiri dan duduk di bangku pos hansip itu.

    Mereka berbaris seperti menunggu dokter saja. Batang kemaluan mereka besarbesar juga. Saya langsung memulai dengan batang kejantanan yang paling kanan, yaitu senjata keperkasaannya bang Parli.

    Saya hisap, saya gigitgigit kecil, saya kocok di dalam mulut saya, dan saya jilati keseluruhan batangnya dan termasuk juga telurnya. Begitu juga pada batang keperkasaan yang kedua, ketiga, keempat, dan yang terakhir miliknya pak Karim.

    Setelah selesai, saya masih belum puas kalau belum meminum air mani mereka. Lalu saya duduki batang kejantananmya bang Parli sampai masuk ke liang senggama saya. Saya kocokkocok di dalam vagina saya.

    Sementara itu, pak Karim dan satu bapak lainnya menjilati dan menghisap puting susu saya, sedangkan yang dua bapak lainnya menunggu giliran. 10 menit setelah itu, saya sudah setengah tidak sadar, siapa yang menggenjot lubang senggama saya, siapa saja yang menghisap buah dada saya, batang kejantanan siapa saja yang sedang saya sepong, seberapa keras jeritan saya dan berapa kali saya sudah keluar karena orgasme.

    Ada pula saatnya ketika satu senjata kejantanan masuk ke lubang vagina saya, sedangkan satu senjata lagi masuk ke lubang anus saya sambil saya menghisap 3 batang kemaluan secara bergantian. Pokoknya saya sudah tidak sadar lagi. Karena merasakan kenikmatan yang benarbenar tiada tara.

    Untungnya mereka tidak mengeluarkan air maninya di dalam lubang kewanitaan saya, kalau tidak bisa hamil nanti saya berabe dong..! Lagipula saya berniat meminum semua air mani mereka. Akhirnya saat yang saya tunggutunggu, yaitu saatnya saya berjongkok di depan mereka dan mereka mengelilingi wajah saya sambil mengocokngocokkan barang mereka masingmasing.


    Sesekali saya masih juga menghisap dan menyedot kelima batang kejantanan itu dengan lembut.

    Akhirnya, Crot crot crot crot. crot saya malam itu seperti mandi air mani. Saya merasa puas sekali.

    Waktu pulang, saya diantarkan bang Parli, si hansip. Ketika sudah sampai di depan rumah saya, sekali lagi bang parli membuka ritsletingnya dan menyodokkan batang kejantanannya ke dalam lubang senggama saya.

    Saya melakukannya sambil nungging berpegangan ke pagar depan rumah saya. Selama 10 menit saya dan bang parli melakukan senggama di depan pagar rumah saya. Air maninya sekarang terpaksa dikeluarkan di punggung saya.

    Saya tidak menyesal karena air maninya kali ini tidak terlalu banyak. Saya melompat pagar lagi, dan masuk ke kamar diamdiam. Sampai di kamar sudah jam 3 lebih. Badan saya seluruhnya malam itu bau sperma. Saya langsung tidur tanpa mandi dahulu karena besoknya saya harus ke sekolah. Saya yakin mereka semua akan tutup mulut sebab takut dengan istri mereka masingmasing.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Nafsu Rinelda

    Nafsu Rinelda


    1365 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Nafsu Rinelda ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Cerita ku ini bermula ketika aku sedang memenuhi panggilan interview pekerjaan di pusat kota Surabaya, meski lulusan sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di Malang namun berpuluh kali aku mengikuti interview namun tak satu pun mengangkatku menjadi salah satu pegawainya.

    Aku menginap di rumah tetangga kampung yang pindah ke Surabaya namun sudah ku anggap saudara sendiri karena mereka cukup baik pada keluargaku dan sudah kuanggap sebagai keluarga dan aku memanggil mereka PakDhe dan BuDhe, hari itu kebetulan aku sedang mengikuti interview di hotel Tunjungan Plasa Surabaya.

    Oh ya.. namaku Rinelda. 24 tahun. Aku pernah menjadi Finalis Putri sebuah kontes kecantikan di malang, Aku pernah menikah tapi belum mempunyai anak karena usia perkawinanku baru berjalan 4 bulan dan sudah 3 bulan ini menjanda karena suamiku sangat pencemburu akhirnya ia menceraikan aku dengan alasan aku terlalu mudah bergaul dan gampang di ajak teman laki-lakiku.

    Dari teman dan suami aku mendapat pujian bahwa aku cantik, tubuh yang cukup sintal dengan tinggi 173 cm mulus dan 2 bongkahan Susu yang tak terlalu gede tapi untuk ukuran seorang janda tak mengecewakanlah, cocok dengan body ku yang cukup atletis. Soal sexs, dulu setiap ber “ah-uh” dengan suamiku aku merasa kurang, mungkin karena gairah sex yang kumiliki sangat kuat sehingga kadang-kadang suamiku yang merasa tak mampu memuaskan tempikku, meski aku bisa orgasme tetapi masih kurang puas!

    Kulihat jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 16.15 menit, aku sedikit dongkol karena seharusnya aku sudah dipanggil sejak pukul 15.00 tadi, padahal aku sudah datang sejak pukul 14.30 tadi. “He..eh” aku pun Cuma bisa menggerutu sambil mencoba untuk memahami bahwa aku butuh kerja untuk saat ini.

    “Hallo!” suara perempuan mengagetkan ku dari lamunan.

    “Ya !” jawabku sambil berdiri. Sejurus aku memandang kearah perempuan itu, Cantik!

    “Nona Rinelda ?” dia bertanya sambilmengulurkan tangan mempersilahkan aku kembali duduk.

    Beberapa saat kami berbicara dan ku tahu namanya adalah Rifda, dia memakai jam gede di tangan kanannya, dengan nama dan pakaian yang lumayan seksi mengingatkan ku pada teman SMP ku di Malang, ternyata dia mengaku seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan dan sedang mencari model, setelah berbicara tentang diriku panjang lebar akhirnya dia berkata bahwa aku cocok untuk menjadi salah satu Modelnya. Akhirnya aku mendapatkan kepastian esok hari aku akan bekerja, aku pun berjalan pulang dengan langkah seolah lebih ringan dari biasanya.

    Sesampainya di jalan sebelum rumahku , sekedar anda tahu bahwa sejak aku mencari kerja aku tinggal di rumah BuDhe Tatik saudara dari Ibu ku. Ada beberapa anak muda bergerombol, ketika aku lewat di depannya, mereka menatapku dengan mata yang seolah-olah mengikuti gerakan pantatku yang kata teman-teman ku memng mengundang mata lelaki untuk meremas dan mendekapnya.

    “Wuih, kalau aku jadi suaminya ga tak bolehin dia pake celana dalam !” Ucap salah satu dari mereka namun terdengar jelas di telingaku.

    “Rai mu ngacengan!” timpal temannya, disambut tawa teman-teman lainya.

    Sampai di rumah pukul 18.30. aku langsung mandi untuk mengusir kepenatan dan panas yang hari itu kurasa sangat menyengat.

    “Gimana hasil kamu hari ini Rin?” ku dengar suara BuDhe Tatik dari dalam kamarnya.

    “Besok aku sudah mulai kerja BuDhe” jawabku.” kerja yang benar jangan melawan sama atasan terima saja perintah atasan karena mencari pekerjaan itu sulit dan yang penting kamu suka dan menikmati apa yang kamu kerjakan” kata-kata dan wejangan dari orang tua pada umumnya namun ada poin tertentu yang terasa ganjil menurutku.

    Sosok BuDhe Tatik adalah Wanita yang dalam berbicara cukup seronok apalagi jika berbicara dengan pemuda di kampungnya sekitar 38 tahun an, cukup seksi dalam penampilannya, suaminya adalah seorang PNS di KMS, dia pun juga tak kalah ngawur kalau berbicara yang berbau saru dengan BuDhe atau teman-temannya. Tak berapa lama setelah ngobrol aku pun beranjak ke kamar,

    Kamarku sendiri adalah bekas ruang tamu yang dipasang sekat dari triplek. Sekitar pukul 22.30 an aku mendengar suara aneh bercampur derit kursi seperti didongong atau ditarik berulang-ulang dari ruang tamu depan kamarku persis, sejenak kuperhatikan secara seksama suara tersebut dan aku penasaran dengan suara tersebut.

    Sedikit kubuka pintu kamarku, betapa kaget setelah mengetahui BuDhe sedang duduk di kursi sambil mengakangkan kakinya sementara PakDhe di depannya sambil memegang kedua kaki BuDhe pada pundak sedangkan pantat nya bergerak maju mundur..

    “Och…u..o..” suara yang keluar dari mulut BuDhe. Seolah menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya, badanku terasa panas dan pikiran yang tak tahu harus bagaimana karena baru kali ini aku benar-benar melihat hal ini live di depan mataku.

    Selama kurang lebih 10 menit kedua orang itu melakukan sambil duduk akhirnya PakDhe menarik kontolnya dari dalam Tempik BuDhe, Yak ampun ternyata kontol nya lumayan gede lebih gede dari pada milik mantan suamiku yang biasa mengocok isi tempikku, akhir-akhir ini aku sering nonton BF saat PakDhe dan Budhe sedang kerja, pernah sekali aku hampir kepergok oleh PakDhe saat aku sedang nonton BF sambil mempermainkan liang nikmatku.

    namun ternyata PakDhe tidak peduli dan mungkin mengetahui bahwa aku seorang wanita yang butuh kesenangan pada salah satu bagian tubuhku, namun saat itu PakDhe hanya tersenyum sambil mengambil sesuatu dari dalam kamarnya yang mungkin tertinggal dan segera pergi lagi.

    Kusaksikan BuDhe mengambil posisi menungging dengan kedua tangan nya memegang kursi di hadapannya “ayo mas cepet keburu tempiknya kering” pinta BuDhe dengan suara yang pelan mungkin agar orang luar tidak mendengar dan mengetahui tapi kenyataanya aku malah menyaksikan dan memperhatikan secara detil apa yang mereka perbuat. Kulihat kali ini PakDhe mengeloco kontolnya sebelum dimasukkan ke tempik yang sudah minta di jejeli tersebut.

    “Ach…ack…sh” suara yang keluar dari mulut laki-laki tersebut. akhirnya kulihat lagi adegan itu dari belakang karena mereka menmbelakangi kamarku. Ada yang berdenyut pada tempikku tanpa terasa tangan ku masuk ke dalam celana dalam yang kupakai, ku tekan pada itilnya “ahk” terasa geli dan benar terangsang tempikku kali ini. Aku tersenyum mendapatkan pengalaman ini.

    “Tempikmu… ue.nak .Tik pe… res… kontol ku” kata kata terputus dari Pakdhe seolah tak kuasa menahan nikmat yang dirasakannya.

    “Lebih cepat… mas… cep… at!” BuDhe pun seakan mengharapkan serangan dari suaminya lebih hebat lagi.

    “A… ach… aku keluar ma… s!” suara BuDhe terdengar setengah berteriak.

    Wanita itu terlihat melemas tapi PakDhe tetap menggenjot dengan lebih giat kali ini tangan nya memegang pantat BuDhe yang bulat mulus itu dan akhirnya laki-laki itupun menekan kontolnya lebih dalam kearah tempik didepannya tersebut. Sambil menahan sesuatu. Ketika konsentrasiku tertuju pada kontol dan tempik yang sedang beradu tersebut tanpa kusadari sambil digenjot BuDhe menoleh ke arah pintu kamarku dan tersenyum,

    “hek”

    aku kaget setengah mati segera ku tutup pelan-pelan pintu kamar dan kembali ke tempat tidurku, beribu pikiran menyeruak dalam benakku antara bingung dan takut karena mungkin kepergok saat mengintip tadi. Aku kecewa karena tidak melihat bagaimana raut muka PakDhe ketika mencapai puncak kepuasan.

    Terasa ada yang basah di selangkanganku saat aku menyaksikan adegan tadi, “yah aku terangsang” terakhir kali aku merasakan nikmatnya berburu nafsu dengan suamiku adalah hampir 4 bulan yang lalu.

    Memang aku mudah terangsang jika melihat hal-hal yang berbau porno. Sering kali aku melakukan masturbasi dengan membayangkan laki-laki yang kekar dan memiliki batang kontol yang kokoh tegak berdiri dan akhirnya aku memasukkan sesuatu ke dalam tempikku yang seolah lapar akan terjangan kontol laki-laki, tapi terkadang aku merasa ada yang kurang dan memang aku butuh kontol yang sebenarnya.

    Tanpa kupungkiri aku butuh yang satu itu. Kulihat jam didinding kamarku menunjukan pukul 11.35, ya ampun besiok aku kan mulai kerja! Sialan gara-gara kontol dan tempik perang diruang tamu akhirnya aku tidur kemalaman! Emang dikamar kurang luas apa? “ah sialan!” umpatku dalam hati.

    Pukul 04.30 aku terbangun, ketika akan membuka pintu kamar aku teringat akan kejadian yang baru aku saksikan semalam, pelan-pelan kubuka ternyata tak kulihat orang diluar, aku langsung menuju dapur untuk memulai aktivitas pagi, terkadang aku harus membantu memasakkan sarapan pagi dan menyapu lantai sebelum menjalankan altivitasku sendiri, aku merasa adalah suatu vyang lumrah karena aku menumpang disini.

    Aku berjalan melewati depan pintu kamar BuDhe yang terbuka lebar, sekali lagi aku terhenyak kali ini aku menyaksikan dua orang sedang tidur tanpa memakai baju sama sekali, kulihat senyum di bibir Budhe Tatik, tanda kepuasan atas perlakuan suaminya tadi malam mungkin.

    Di kamar mandi aku kembali memikirkan kejadian semalam yang membuatku “terus terang cukup terangsang” apalagi jika mengingat kontol yang gede milik PakDhe. “ahh” rupanya tangan ku sudah berada di sela-sela pahaku yang mulus dan bulu hitam yang tampak olehku cukup lebat meski tak terlalu banyak diantara garis melintang ditengahnya.

    tiba-tiba nafasku berburu kala kuteruskan untuk menggosok bagian atasnya, “sialan!” pikirku dalam hati. Kusiram tubuhku untuk mengusir nafsu yang mulai mengusik alam pikiran ku.

    Sebelum berangkat kerja di hari pertamaku, kusempatkan untuk sarapan pagi siapa tahu nanti aku harus kerja keras di kantor.

    “Jaga diri baik-baik Rin” kata BuDhe sambil menepuk pundakku,

    “Eh.. iya.. BuDhe Rinel tahu kok” kataku sambil ngangguk. Kulihat BuDhe baru keluar kamar dengan mengenakan handuk pada bagian susu sampai atas lulutnya wajahnya tampak masih berseri meskipun tampak kecapean.

    “Edan udah jam 7!” pekikku dalam hati.

    “BuDhe aku berangkat dulu” pamit ku.

    “Yo ati-ati Nduk ingat ikuti dengan baik perintah atasan lakukan dengan baik tanpa banyak kesalahan” katanya sambil tersenyum padaku, senyum itu penuh makna sama seperti tadi malam.

    “Enggeh BuDhe… ” aku pun keluar rumah menuju tempat kerjaku yang baru.

    Dari depan kantor itu aku berjalan menuju pos sekuriti,

    “Permisi” aku mendekati seorang sekuriti,

    “Ada yang bias saya Bantu mbak?” Tanya nya dengan sopan. Tubuh yang lumayan atletis tangan yang kekar serta tonjolan di bawah perutnya cukup menantang dibalut celana yang agak ketat di bagian pahanya.

    “Ruangan Ibu Rifda dimana ya?” tanyaku.

    “Bu Rifda Miranti? pasti sampeyan mbak Rinelda!” terlihat senyum dibibirnya masih dengan ramah dan sopan. Aku cuma mengangguk.

    “Tunggu sebentar mbak” sambil mengangkat intercom di depannya, ketika dia berbicara dengan seseorang aku melihat suasana sekeliling

    “Kok sepi ya?” tanyaku dalam hati.

    “Sebentar lagi karyawan Ibu Rifda akan menemui mbak, silahkan menunggu” katanya sambil menunjuk kursi sofa di tengah ruangan yang cukup besar. Ketika aku baru akan meletakkan pantatku aku melihat sesuatu yang ganjil di lingkungan perkantoran ini, tak terlalu banyak orang yang biasa ada pada sebuah perkantoran, kuperhatikan sekuriti tadi kulihat dia berbicara dengan temannya tersenyum-senyum sambil memandang kearahku, tak berapa lama kudengar namaku dipanggil seorang wanita

    “Rinelda?”

    “Saya” jawabku sambil memalingkan muka kea rah datangnya suara tadi,

    “Hai, kamu mau kerja disini?” tanyanya lagi.

    “Lho Agatha, kamu kerja disini ya?” kataku sambil kenbali bertanya

    “Tadi aku disuruh sama bu Rifda untuk menemui kamu, ayo ikut aku!” sambil ngobrol kami pun berjalan menaiki tangga menuju ruangan Bu Rifda.

    “Tunggu sebentar ya” kata Agatha. Pintu di ruangan itu sedikit terbuka ketika dia masuk kulihat didalamnya ada 3 wanita yang menurutku cantik, berbusana mahal dan seksi. Itu mungkin beberapa model yang dimilikinya.

    “Masuk Rin” Agatha membuka pintu lebih lebar. Ternyata didalam ada 2 laki-laki yang sedang melihat 3 wanita didepannya “ nah ini dia cewek baru yang aku dapatkan kemarin di Tunjungan, namanya Rinelda” kata bu Rifda sambil menunjuk ke arahku pada ke dua laki-laki itu.

    “Rin, mas-mas ini dari Jakarta mereka akan menguji kemampuan kamu dalam memakai barang mereka” aku segera mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah desainer atau rekan kerja bu Rifda. Aku mendekat dan berjabat tangan dengan keduanya,

    “Rif, kami perlu kerja di dalam studio” kata laki-laki yang sedari tadi melotot melihat 3 wanita dihadapannya sambil menenteng kamera. Lelaki itu berjalan diikuti oleh ketiga gadis.

    “Tunggu sebentar ya Rin” kata bu Rifda sambil mengajak lelaki yang satunya serta Agatha.

    Aku terdiam sebentar sambil melihat ruangan yang cukup besar tersebut, ketika melewati ruangan yang baru di masuki oleh tiga gadis dan seorang lelaki tadi aku mendengar suara tertawa wanita kegelian dari dalamnya, ku coba untuk mendekat pada ruangan itu, aku semakin penasaran lerja macam apa kok suaranya seperti… Yah aku ingat suara itu mirip desahan BuDhe Tatik semalam! Kucoba lebih dekat untuk mengetahuinya tapi… “Rin?” tiba-tiba Bu Rifda sudah berada di sampingku.

    “Ada yang mau aku tunjukan padamu” katanya sambil berjalan ke ruangan pribadinya, tertulis didepan pintu ruangan tersebut.

    “Mana Agatha? Sama lelaki yang tadi?” tanyaku dalam hati. Didalam ruangan itu terdapat banyak Foto diatas meja.

    “Duduk Rin” katanya mengetahui aku sedang menunggu dipersilahkan.

    “Bu, maaf kamar kecil dimana? Saya kebelet pipis” tanyaku sambil nyengir menahan sesuatu dibawah selakangku.

    “ah..ya..” dia menunjuk kearah belakangnya. Aku langsung bergerak ke sana, masuk kamar kecil itu aku langsung melorotkan celana dalam yang kupakai dan Chessh….” Suara khas air yang keluar dari tempikku, saat ku jongkok aku mendengar samara-samar suara laki-laki.

    “Aah….uh…ya …ayo..terus …sedot…ah nah gitu dong…” setelah itu terdengar suara wanita tertawa, segera lu ceboki tempikku, kuangkat kembali CD, sebentar aku terdiam sambil mencari asal suara tadi, setelah yakin tak kudengar lagi akupun keluar dan menuju ke meja bu rifda sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya pekerjaan disini.

    saat ku berjalan mendekati meja bu Rifda kulihat wanita itu sedang berganti pakaian, kulihat tubuh yang sangat seksi dan mulus, pahanya yang putih dan pantatnya bulat putih cukup memberi bagiku untuk berkesimpulan bahwa dia adalah wanita yang sempurna.

    “Maaf bu” kataku,

    “Oh tidak apa-apa kok Rin, bisa tolong ambilkan itu” katanya sambil menunjuk kearah kursi kerjanya, “ini bu?” kulihat sebentar ini adalah baju yang sering dipakai oleh bintang film luar negri “ah” aku teringat saat aku melihatnya di sebuah film BF. Aku berikan padanya dan dia memakainya dengan cekatan terlihat bahwa ia sudah terbiasa mengenakan pakaian model itu.

    “Kita bekerja dengan scenario dan harus tampil cantik serta se-seksi mungkin karena target penjualan kita adalah kaum Pria” kata nya sambil membenahi pakaianya,

    “Hari ini adalah saat dimana kamu akan menjadi seorang entertainer seperti gadis-gadis diluar tadi” , aku mendengarkannya sambil mengira-ira apa kerjaku sebenarnya;

    “Maaf sebelumnya Agatha di sini sebagai apa bu?” tanyaku,

    “Kenapa?” dia balik bertanya,

    “Kamu mau tahu tugas dia?” katanya sambil mengambil sebuah remote control di laci mejanya,

    “Tugas dia adalah menjamu para tamu dan melayani mereka sebelum mereka memulai kerja yang sebenarnya” katanya sambil menunjuk sebuah televise berukuran raksasa di belakangku, betapa kaget aku melihat apa yang terpampang dihadapanku, ternyata Agatha sedang bergumul dengan laki-laki di

    sebuah ruangan kosong yang hanya di lapisi karpet tebal diseluruh ruangan itu, setengah tak percaya kembali kulihat kea rah bu Rifda, dia hanya tersenyum sambil matanya berbinar-binar seolah bernafsu karena melihat kejadian di layer tersebut, aku segera mengetahui apa yang sedang dan akan kualami maka aku berjalan menuju pintu keluar, tapi apa yang ku dapat pintu itu terkunci! Aku menoleh kearah wanita itu tapi wanita itu hanya tersenyum sambil matanya tetap menyaksikan adegan Agatha dan laki-laki itu dihadapanya.

    “Kamu bisa berteriak kalau kamu mau tapi itu tak akan berguna karena seluruh ruangan disini telah kedap jadi tak akan ada yang mendengar” katanya.

    “Duduklah maka tidak akan terjadi sesuatu padamu atau jika tidak aku panggilkan satpam didepan agar membuatmu diam” kali ini nadanya terdengar sedikit mengancam.

    Aku pun telah paham bahwa aku tak bias berbuat apa-apa, saat terduduk aku dihampiri oleh wanita itu dan tanpa kusadari dia telah menarik tangan ku kebelakang dan mengikatnya dengan tangkas, aku berontak tapi tak bisa karena kursi yang ku duduki besar dan berat, akhirnya aku terdiam.

    “Sudah kita nikmati saja tontonan yang disuguhkan teman SMP kamu itu” katanya, sialan rupanya Agatha telah bercerita banyak tentang aku, Agatha adalah temanku saat duduk di bangku SMP di Malang, dia adalah type cewek yang cukup berani tampil seksi dan punya teman cowok yang cukup banyak, dan dia pun telah kehilangan keperawanannya saat perayaan kelulusan di suatu acara yang diadakan oleh teman-temannya,

    “Kurang ajar, kenapa aku harus melewati hari yang seperti ini?” kataku dalam hati.

    Dari layer raksasa dhadapanku kulihat Agatha sedang duduk di atas pria itu sambil menaik-turunkan pantatnya yang bahenol.

    ‘Oh… oh… ouh… ha… enak maass?” tiba-tiba suara Agatha terdengar sangat keras, rupanya Bu Rifda menikan volume pada remote controlnya.

    “Ga seru kalau tidak ada suaranya ya Rin?” kata wanita itu namun aku tak mempedulikan kata-katanya. Aku menunduk tak mau melihat apa yang ada dilayar TV besar itu, tapi suara yang menggoda nafsu itu tetap terdengar.

    “Setiap aku kesini… kurasa… tempik kamu masih… ouckh… tetap… keset… Th..ah” suara laki itu tersendat-sendat.

    “Tapi kontol mas….kok rasanya.. tam.. baa.. ah… aha…” suara Agatha tak terselesaikan.

    “Jangan munafik Rin kamu past terangsang kan?” lagi suara Rifda terdengar tak kupercaya wanita yang kemarin kutemui ini terlihat anggun dan sopan kini…

    “Perempuan macam apa kamu Rif?” kataku tapi tak kudengar jawaban darinya yang kudengar hanya suara dia sedikit tertawa.

    Tak berapa lama kembali kudengar Agatha berteriak

    “Ack… a… yah… terus… tete… rus… sentak lagi… mas!” kali ini aku mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang saat ini dilakukan laki-laki itu pada Agatha, kulihat Agatha sudah nungging dengan bertumpu pada lututnya sementara laki-laki itu menekan-nekan kontolnya yang besar itu maju-mundur ke arah tempik Agatha yang tampak menganga dan berdenyut-denyut itu, cukup lama mereka saling mengimbangi gerakan maju mundur itu satu sama lainnya, akhirnya…

    “Aku… ke… luar… mas… aih… ya… ah!” nampak Agatha telah mencapai puncak orgasme tubuhnya terlihat sedikit melemah namun si lelaki itu terus mengocok kontolnya yang masih menegang itu sambil tangannya memegang bongkahan pantat Agatha, aku sendiri terangsang melihat semua ini dan merasa ada yang mulai membasah di tempikku, seandainya tanganku tidak di ikat pasti aku sudah memegang itil kecil ku.

    “Ackh… sh… oh… sh… ” nampaknya laki itu sudah memuntahkan pejunya di dalam tempik Agatha. Tiba-tiba Rifda mematikan layer tersebut dan berkata

    “Gimana Rin, apa yang kamu rasakan pada Tempikmu?” seolah mengetahui apa yang aku rasakan.

    “Lepaskan! Aku mau keluar dari tempat ini!” teriakku menutupi rangsangan yang aku rasakan.

    “Keluar? sebentar, ada yang mau aku perlihatkan sama kamu!” lalu dia menekan kembali remote di tangannya kea rah layer raksasa di dan…

    “ya ampun!” ternyata BuDhe Tatik!

    Mengenakan baju berwarna merah menantang seperti yang dipakai oleh Rifda, dia sedang sibuk mengulum kontol seorang laki-laki disebuah ruangan yang hanya terdapat sebuah ranjang yang cukup bagus, ku lihat Pria itu memegang kepala BuDhe agar lebih cepat emutannya, sementara tangan kiri BuDhe mempermain kan tempiknya sendiri.

    “Eh… eh… e… gm… emph… !” suara wanita dilayar itu seperti menikmati kontol yang panjang dan besar di dalam mulutnya.

    “Itu di rekam 2 hari yang lalu” kata Rifda seperti sedang menerangkan sesuatu padaku.

    “Maksudmu?” tanyaku,

    “Lihat dulu baru komentar sayang!” aku pun kembali menyaksikan adegan di depanku itu, belum pernah aku menyaksikan orang yang aku kenal berbuat dengan orang lain seperti yang dilakukan oleh BuDhe dan Agatha.

    “Kontol mu hot banget mas… besar pa… njang… aku… akua… suka… !” kali ini BuDhe nampak gemas memegang kontol besar itu dengan kedua tangannya, kontol Pria itu memang sangat besar dibanding dengan milik PakDhe yang kulihat semalam kelihatan kokoh berdiri dan lebih berotot apalagi kepala kontol Pria ini nampak besar dan mengkilap karena sinar dari kamera, nampak sekali bahwa pria itu sangat menikmati emutan mulut BuDhe, mendengar suara Budhe dan laki-laki itu saling ah..uh.. membuat aku jadi terangsang

    aku jadi salah tingkah karenanya, ku toleh ke arah Rifda ternyata wanita itu sedang sibuk memasukan sesuatu kebawah tubuhnya kutahu dia sedang mencari kenikmatan di tempiknya mengetahui aku melihatnya wanita itu mendekati aku dang menunjukan sebuah tongkat kecil yang mirip… kontol!

    “Kamu akan suka dengan yang seperti ini sayang” katanya sambil menarik kedua kakiku hingga aku terlentang di atas kursi besar itu.

    “Tenang Rin, cari nikmatnya dulu ya” aku diam dan tak terlalu banyak bergerak aku tak tahu mengapa aku diam dengan perlakuan Rifda di hadapanku kali ini, Rifda mengosok-gosokkan kontol mainan itu ke arah selakanganku, aku menggelinjang geli karenanya, aku tahu apa yang akan dilakukannya, dan benar!

    Dia membuka resleting celanaku, sekali lagi aku diam aku terangsang terasa tempikku berdenyut-denyut menginginkan sesuatu. Dengan tangkas Rifda sudah menarik ke bawah celana yang kupakai, diringi suara desahan nikmat yang disuarakan BuDhe Tatik dari layer didepanku

    “Oh… yaa… ya… be… nar… yang situ enak… mas… sh… ah!” kali ini kulihat laki-laki itu sedang menciumi tempik BuDhe yang mengakang memberi ruang yang bebas pada laki-laki itu, terdengar pula suara mulut laki-laki itu berkecipak.

    Nampak bokong BuDhe yang bulat itu diangkat agar mulut laki-laki itu dapat masuk lebih jauh mempermainkan lidahnya. Tanpa kusadari paha dan selakangan ku terasa dingin ternyata Rifda telah sukses melepaskan CD ku.

    “Wah ternyata Jembut kamu tebal juga Rin” kata Rifda kemudian tangannya menyentuh mulut tempikku, terasa hangat tangannya, kutatap matanya seolah ingin kubiarkan apa yang dilakukannya, sudah kepalang basah kubiarkan apapun yang dikerjakannya,

    Saat Rifda sedang sibuk meng emek-emek tempikku dari depan, tiba-tiba lampu ruangan mennjadi sangat terang, dan kulihat ada dua orang laki-laki masing memegang kamera dan mengabadikan suasana di ruangan ini. Tak kusadari ada sentuhan tangan pada pundakku.

    “Rin, rupanya kamu sudah merasakan kenyamanan di ruangan ini” ternyata aku kenal suara laki-laki dari belakangku yah itu suara PakDhe! tanganku berusaha menutupi bagian bawahku yang menganga karena ulah Rifda.

    “Sudah nikmati saja, toh aku tahu kamu butuh yang seperti ini” kata Pakdhe sambil menempelkan sesuatu yang hangat lunak dan membesar ditanganku yang masih terikat kebelakang. Kupegang dan tahu apa yang aku pegang namun terasa makin hangat dan memanjang.

    Aku diam memikirkan semua rentetan dan semua orang yang ada disekitar ku saat ini, saat kuterdiam ternyata Rifda berdiri di depanku dengan menggerakan lidah ke bibir sambil memainkan celah tempiknya dan matanya menatap ke arah PakDhe, laki-laki itu tahu apa yang dinginkan Rifda dan segera berdiri mendekat dengan tangan memegang pantat Rifda.

    “Ayoh, kita bikin janda muda ini tersiksa dan memohon agar tempiknya di isi sesuatu yang hangat! Ha… ha… ha… !” kata Rifda sambil melihatku, tangannya yang cekatan dan terampil mulai mengurut-urut kontol PakDhe yang sudah mulai kembali menegang, sementara tangan PakDhe meremas-remas susu Rifda yang Cuma terbuka pada putingnya sementara aku tetap menatap mereka berdua seolah tak percaya.

    “U… uh” kata Rifda gemas mengocok kontol di tangannya.

    “Sudah, langsung aja masukin kontolmu pak!”

    “Lho Rin, tempik Rifda sudah basah! Kamu ga pengin niih?” Kata PakDhe yang mempermainkan tangannya di sekitar tempik Rifda.

    Kusaksikan gerakan Rifda membalikkan badannya memnbelakangi tubuh PakDhe, dengan cukup sigap pakDhe segera menggiring batang kontol yang dipegangnya kearah tempik Rifda yang berada ditengah bongkahan pantat mulus Rifda yang sudah menganga karena bibir tempiknya di kuak sendiri oleh tangan kanannya sementara tangan kirinya menggosok itil yang sedikit menonjol di bagian atasnya.

    “Hrm ouch… masukin… te… rus… ah sampai men… tock pak!” kata Rifda sambil menarik pantat PakDhe agar segera menekankan kontolnya lebih dalam.

    Kali ini mereka merubah posisinya menyampingiku sehingga tampak susu Rifda bergerak-gerak karena gerakan tubuhnya sementara kontol PakDhe yang sedang berusaha memasuki liang sempit itu semakin didorong kedepan.

    “Ah….” kontol itu sudah tenggelam kedalam tempik rifda PakDhe kemudian menarik kontolnya pelan-pelan tampak olehku buah pelir kontol itu menggelantung.

    “Sabar ya Rif, sebentar… ” kata pakDhe sambil menoleh kea rah ku sambil mengedipkan mata kirinya seolah berkata.”Tunggu giliranmu”.

    “Betapa nikmat kalau kontol itu bersarang pada tempikku” kembali aku sudah dirasuki hawa nafsu yang sedari tadi menghinggapi pikiranku yang mulai tak terkontrol.

    Aku mulai menggepit paha agar tempikku yang terasa gatal dan membasah tak diketahui oleh mereka, andai tangan ku tak terikat mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang nikmat!

    “Eh… ah… mpffh… yang cepat dong… genjot… terus… pak!” teriakan nikmat Rifda sambil menggerakan bongkahan pantatnya kekiri –kanan mengimbangi sentakan PakDhe.

    “Plak… plak… ” suara benturan paha kedua orang didepanku serta kecipak tempik Rifda yang diterjang kontol gede itu seolah bersorak senang.

    Saat ku sedang memperhatikan mereka ikatan pada pergelangan tanganku terasa melonggar sedikit kutari tangan kananku dan terlepas! Sebentar aku bingung apa yang harus kulakukan, namun diluar kesadaran ku saat itu ternyata aku tidak mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri lagi pula disitu ada 2 pria berkamera yang pasti akan mennghentikan ku, yah otakku mungkin sudah dirasuki nafsu.

    Aku butuh keprluan biologis itu! Aku butuh kontol yang hangat dengan terjangan yang sesungguhnya bukan seperti yang selama ini kudapatkan dengan masturbasi! Semakin kuperhatikan secara seksama apa yang dikerjakan PakDhe dab Rifda didepanku, Rifda nampak sangat menikmati genjotan PakDhe dari arah belakang.

    ‘Ay… o.. pak… ayo… terus… kerasin… sentakanmu pak… !”

    “Tempik nakal… nakal… nakal… ” kata PakDhe setiap kali si kontol menerobos tempik Rifda.

    Kulihat tongkat mainan persis kontol yang diletakkan dimeja oleh Rifda, tak kuhiraukan 2 orang berkamera yang sedang mengabadikan setiap gerakan dan erangan nikmat PakDhe dan Rifda, kuambil mainan wanita itu dan mulai kugesekkan pada tempikku, tak kuhiraukan segalanya!
    Aku tersenyum karena aku merasa tak tersiksa sama sekali dengan keadaanku saat ini, kali ini aku bermaksud memasukkan kontol mainan lembut ini pada liang tempikku dan…

    “Eh… auch… ” bersamaan dengan sodokan PakDhe pada tempik Rifda setiap PakDhe menarik kontolnya kutarik pula mainan ini dari tempikku.Saat aku sedang menikmati tontonan didepanku tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuk seorang laki-laki yang tadi bergumul dengan Agatha menghampiriku sambil tersenyum, sambil berjalan dia melepas satu persatu kancing baju dan membuka resleting celananya. Kukeluarkan pelan-pelan kontol mainan dari dalam tempikku.

    Aku membayangkan isi didalam celana itu adalah kontol besar seperti yang dirasakan oleh Agatha tadi, yang pasti akan memberi kenikmatan pada tempikku yang sangat merindukan kontol, kutatap matanya seolah aku memberinya ijin untuk segera menyerang tubuhku.

    aku sadar bahwa semua perbuatanku saat ini akan direkam dan disebar luaskan, aku tak pedulikan itu aku Cuma butuh laki-laki saat ini yang bisa membuatku menggelepar penuh kenikmatan! Ketika Rifda mengetahui laki-laki itu lewat didepannya tangan kanannya memegang kontol laki-laki itu.

    “Tempikku… masih… cukup… ah..ah… untuk… kontolmu… auh… Rudi… say… ang… eh… ” Rifda berkata sambil menikmati sodokan PakDhe. Sebentar laki-laki itu berhenti dan memasukan kontolnya kemulut Rifda.

    “Ech… mpfh… Rud… empfh… di..kont… tol… ” tampak mulut Rifda seperti kewalahan menelan sebuah Pisang yang besar, aku segera bangkit dan menghampiri mereka, yaah aku tak rela jika kontol dihadapanku ini akan di telan juga oleh tempik Rifda dan aku lagi-lagi jadi penonton, Rifda dan PakDhe tidak terlalu kaget melihatku.

    “Oh… rupanya kamu baru bisa lepas dari tali tadi ha… ha… ha!” Rifda tertawa setelah kontol dimulutnya terlepas setelah laki-laki bernama Rudi itu membalikkan diri padaku tampak kontol besar setengah mengacum itu mengarah padaku.

    “Wao… ” Tanpa kuhiraukan si Rudi aku langsung jongkok didepannya dan bersiap mengulum Kontol idamanku itu.

    “Lihat pak… ah… si… ja… ech… janda… tak tahan… juga… a yes… !” kata Rifda

    seolah senang dengan apa yang kuperbuat, kumasukan kedalam mulutku dan kepalaku mulai bergerak maju mundur, kurasa sesuatu yang besar sedang berdenyut-benyut di dalam mulutku,

    “Ach… ternyata pandai juga kamu mempermain kan kontol dengan mulut.

    “Oh… !” tangan Rudi mulai meremas pentil susuku yang mulai mengeras.

    Aku memang pandai melakukan oral sex hal itu pun diakui oleh mantan suamiku dulu bahwa mulutku sangat hebat dal;am hal ciuman bibir dan mengulum kontolnya bahkan sering kali saat oral sex suamiku mengeluarkan spermanya di mulutku.

    “Ehm… ehm… ehm… ” Aku sangat senang dan sangat merindukan batang hangat dan kenyal ini! “Oh… oh… ya… ouh… ” Rudi tampak sangat menyukai kulumanku kupermainkan lidahku pada kepala kontolnya, sambil memberikan Rudi kenikmatan kulihat PakDhe semakin mempercepat genjotannya, tak lama kemudian.

    “Arch… a… ah… aku… sudah… kel… luar… pa… ak… a… ” kata Rifda, matanya

    merem-melek menahan sesuatu yang keluar dari dalam tempiknya. Saat Rifda mulai sedikit lemas ternyata PakDhe mengeluarkan kontolnya dan melihat kearah Rudi seolah mengetahui maksud PakDhe Rudi pelan-pelan menarik kontolnya dari mulutku, yah PakDhe menuju kearahku sedang Rudi menuju tubuh Rifda, aku ragu apakaha aku akan melakukannya dengan orang yang sudah aku anggap sebagai orang tuaku ini,

    namun PakDhe ternyata langsung menarik pantatku hingga tuibuhku telentang pada kursi besar di belakangku dan kontolnya berada tepat didepan tempikku, mengetahui aku sudah terangsang dengan sekali tekan kontol PakDhe segera menerobos lobang tempikku sesaat terasa sakit

    “Adu… h… pelan-pelan… dong PakDhe… !” Teriakku.

    “Ah sorry Rin, lupa aku, tempik kamu sudah lama tak terisi ya! Tahan sebentar ya… kamu tahu ini ..enak..” kata PakDhe sambil menarik kontolnya dari dalam tempikku, aku merasa seluiruh isi tempikku tertarik.

    “Pelan-pelan… ” kataku lagi, tapi ternyata Pakdhe langsung menggenjot kontolnya itu keluar masuk. Tiba-tiba rasa sakit yang kurasakan menjadi rasa geli dan nikmat

    “Ah… a… ayou… lagi PakDhe… terus… sh… haa… ” yang kurasakan tempikku jebol luar dalam namun ennaak sekali, sudah cukup lama bagiku waktu 4 bulan menanti yang seperti ini, aku tak peduli meski ini kudapat dari seorang yang selama ini menampungku. Saat sibuk menikmati sodokan kontol di tempikku sempat kulihat Rudi memompa pantatnya

    sementara Rifda mulutnya terbuka menahan nikmat yang akan dia dapat untuk kedua kalinya dengan posisi miring dan kaki kirinya terangkat sehingga memudahkan kontol gede milik Rudi mengobrak abrik isi tempiknya, tak berapa lama Rifda sudah memekik…

    “Sudah Rud… aku… ah… !” tampak Rifda sudah mengalami orgasme yang keduanya. sementara kulihat muka PakDhe memerah menahan sesuatu

    “Rin… torok… kamu… serr… et… aku tak… tahan… ah” PakDhe rupanya sudah mendapatkan ganjaran karena berani memasukan kontolnya ke milikku yang memang masih peret, dia menarik kontolnya dan mengeluarkan pejunya pada Susuku dan wajahku

    “Ah… ah… ” teriak PakDhe setiap kali cairan itu keluar dari kepala kontolnya.

    “Ya… PakDhe… !” kataku kecewa, aku belum merasa orgasme! Tak kuhiraukan PakDhe sibuk dengan kontolnya yang mulai mengecil, saat kumandang Rudi yang mengocok kontolnya sendiri dia tersenyum padaku dan akhirnya kontol yang cukup gede itu datang padaku, tangan Rudi memegang pantatku.

    aku tahu dia ingin posisi anjing nungging, kubalik tubuhku menghadap sandaran kursi sedang kedua lututku tersangga pinggiran kursi, tak nerapa lama kontol Rudi sudah digesekgesekkan pada pantatku yang putih mulus,

    “Ayoh Rud kamu mau merasakan seperti yang di rasakan PakDhe?” kataku nakal, aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang kulakukan yang pasti aku mendapatkannya saat ini, akhirnya Rudi pun memasukan kontolnya ke dalam tempikku.

    “A… euh… ah… em… ya… ” kontol yang menerobos di bawahku memang terasa sangat gede seolah menyentuh rongga-rongga di dalam tempikku. Pantas Rifda mulut Rifda tak bersuara apa-apa ternyata ini yang dirasakannya.

    “Eh… eh… eh… ” Rudi menekan maju mundur kontolnya sementara tangannya meremas susuku dan bibirnya mencium punggungku, cukup lama Rudi menggenjot tubuhku dari belakang, kini dia memintaku untuk berdiri menghadap tubuhnya dengan mengangkat kaki kiriku dia memasukan kontolnya dari depan

    “Ya… h… he… he..lagi… lagi… ” nafasku terengah-engah menahan serangan Rudi yang belum pernah ku lakukan dengan mantan suamiku dulu. Sensansi yang luar biasa aku dapatkan dari laki-laki ini, sentakannya sangat mantab dan sodokkan kontolnya sangat luar biasa

    “Rud… puaskan… puaskan… a.. ku… kontol… Ter… us… sh… ” kata-kataku tak terkontrol lagi karena tempikku merasakan hal yang sangat luar biasa dan belum pernah aku merasakan yang seperti ini. Akhirnya aku merasa kebelet pipis dan geli bercampur menjadi satu…

    “Aku… ae… kelu… ar Rud… ah..” Puas, aku puas! Jeritku dalam hati ini kontol yang aku harapkan setiap masturbasi, sementara Rudi tetap mengocok kontolnya sambil menahan tubuhku yang terasa lemas agar tak terjatuh,

    “Pepek kamu… mem… mang… enak… ach” akhirnya Rudi menarik kontolnya dari tempikku dan menyemprotkan Spermanya ke mukaku.

    “Ah… hangat… enakkan… Rud?” tampaknya tempikku memuaskan Rudi.

    Cahaya terang dari kamera yang merekam semua tadi tampak meng-close up muka ku yang tampak ceria!

    Akhirnya, aku menikmati semua ini, semua kulakukan dengan senang hati. Karena BuDhe adalah ketua dari semua pekerjaan ini dan Rifda dan Agatha adalah Teman SMPku, sehingga aku bekerja menjadi pemain film blue seperti yang dulu sering kulihat di keping VCD.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • PELUMAS SEX YANG MEMBUAT MEMEKNYA TERASA NIKMAT

    PELUMAS SEX YANG MEMBUAT MEMEKNYA TERASA NIKMAT


    1364 views

    Cerita Sex ini berjudul ” PELUMAS SEX YANG MEMBUAT MEMEKNYA TERASA NIKMAT ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Aku adalah seorang isteri dari seorang karyawan swasta. Aku punya anak dua. Yang kedua kelas satu. Aku sering nungguin anakku yang kedua di sekolahnya, terutama waktu olah raga. Guru olah raga anakku bernama Pak Jono. Ia suka sekali bercanda dan berhumor.

    Tubuhnya tinggi, kurang lebih 175 cm dan berbadan besar dan kekar. Warna kulit agak hitam. Ia baru saja bercerai dengan isteri 4 bulan yang lalu. Jadi ia seorang duda. Selain ia guru olah raga, ia pun pintar memijat. Banyak guru lain minta dipijet olehnya.

    Ketika olah raga seperti biasanya ia memakai celana training. Sambil menunggu anakku aku memperhatikan ia yang sedang olah raga bersama murid-murid kelas dua. Begitu aku memperhatikan diantara selangkangannya aku lihat tonjolan yang memanjang dan besar. Aku berkata dalam hatiku, wuh panjang dan besar sekali barangnya.

    Suamiku hobi dipijat. Tukang pijat langganannya selama ini adalah pemijat tunanetra.
    “Guru olahraga di sekolah anak kita pintar memijat, ngerti urat lagi katanya. Coba saja mas!” kubilangi suamiku.
    “Boleh juga kita panggil ke sini malam minggu depan. Mau enggak dia ngurut malam-malam?”
    “Enggak tahu ya .. Coba aku tanyakan besok ya.”

    Keesokan harinya aku pergi ke sekolahan dan bertemu dengan Pak Jono.
    “Pak, mau enggak mijetin suami saya?” tanyaku. “Tapi kalo bisa malam hari, Pak.”
    “Boleh juga asalkan ongkosnya mahal,” katanya sambil bercanda.
    Setelah suamiku pulang kantor sambil makan malam aku ceritakan padanya bahwa Pak Jono mau.

    “Boleh panggil ke sini tapi malam sekitar jam 22.00,” kata suamiku.
    Sampai waktu yang ditentukan Pak Jono datang ke rumahku. Ia ngobrol dengan suamiku sambil bercanda sehingga baru saja kenal suamiku merasa akrab dengannya. Aku duduk di dekat suamiku menemaninya. Kemudian suamiku menyuruhku merapikan kamar depan dekat ruang tamu.

    Mulailah suamiku dipijet oleh Pak Jono sambil ngobrol ngalor-ngidul. Pak Jono banyak ngebanyol karena memang ia hobi bercanda. Aku nonton TV sambil tiduran di sofa ruang tamu ngedengerin obrolan Pak Jono dan suamiku.

    Suamiku mulai bercerita agak serius dengan suara pelan-pelan.
    “Aku ini tidak kuat dalam dalam hubungan seksual. Kenapa, ya? Jadinya isteriku suka marah-marah kalau hubungan intim. Kalau Pak Jono bagaimana dengan isteri Anda?”
    “Saya sekarang duda sudah 4 bulan. Kalau dulu sebelum cerai saya kebalikan bapak. Ia kewalahan dengan kemampuan saya sampai ia minta cerai.”

    “Wah, hebat kamu ini, Pak.”
    Pak Jono yang biasanya suka bercanda mulai berbicara serius.
    “Mungkin Bapak terlalu lelah, atau mungkin punya Bapak terlalu kecil dan pendek. Bapak urut yang membesarkan dan memanjangkan saja. Saya hanya bisa mengeraskan saja. Kalau memanjangkan dan membesarkan aku tidak bisa,” katanya pada suamiku.

    “Wah, tukang urut yang memanjangkan dan membesarkan itu banyak yang bohong,” kata suamiku.
    “Ada yang bener, Pak. Ada teman saya berhasil dari 13 menjadi 17 cm dan menjadi besar lagi,” kata Pak Jono berusaha meyakinkan. cerita sex perselingkuhan.

    “Pak Jono pernah nyoba enggak?” tanya suamiku selanjutnya.
    “Saya tidak perlu karena punya saya sudah sangat panjang dan besar. Panjangnya 17 cm dan besarnya 4,5 inch,” jawab Pak Jono sambil tertawa. “Kalau punya bapak berapa?”
    “Punya saya panjangnya 12 cm besarnya 2,5 inch.”

    Mendengar obrolan suamiku dan Pak Jono aku berkata dalam hatiku.
    “Wuh… besar dan panjang sekali punya Pak Jono, pantesan tonjolannya panjang dan besar dan itu belum bangun. Apalagi kalau barangnya sudah bangun.”
    Aku jadi berkhayal, kalau seandainya…. Wah, nikmat sekali…

    Setelah mereka selesai aku pura-pura tidur. Kemudian suamiku membangunkan aku.
    “Bagaimana, Mas? Cocok enggak pijetan Pak Jono?” tanyaku setelah Pak Jono pulang.
    “Wah bagus sekali, lebih bagus daripada langganan saya. Sekarang saya mau langganan sama Pak Jono saja. Saya sudah bilang kalau saya mau pijet tiap malam minggu.”

    “Kalau kamu mau juga, boleh coba malam minggu depan. Pijetannya bagus kok. Badanku rasanya enteng dan enak sekali,” kata suamiku
    “Aku mau, tapi malu mas, nanti ia cerita di sekolahan.”
    “Ya enggak sih, nanti kita bilangin jangan cerita-cerita pada orang lain.”

    Keesokan harinya saya ketemu Pak Jono. Sambil tersenyum, ia langsung bertanya padaku.
    “Bagaimana Bu? Cocok enggak Bapak dengan pijetan saya?” tanya Pak Jono padaku.
    “Cocok sekali… Malam minggu depan bapak disuruh suamiku pijet lagi. Bahkan suamiku mau langganan.”
    “Ya.. Bapak sudah bilang sama saya.”

    Setelah suamiku menawarkan untuk diurut oleh Pak Jono, hatiku tidak karuan, membayangkan bermacam-macam, bercampur takut dan ingin merasakan sesuatu. Karena memang aku jarang menemukan kepuasan dengan suami. Selain punya suamiku lemes, barang kecil dan pendek dan tidak tahan lama.

    Hampir-hampir setiap malam aku membayangkan penis punya Pak Jono. Aku berkata dalam hati, barang Pak Jono pasti kehitam-hitaman, besar dan panjang. Biasanya orang yang agak hitam itu kuat, mana badannya tinggi, besar dan kekar. Pokoknya sangat jantan. Kayak apa kalau badan yang besar itu menindihku dan memelukku keras-keras, sementara badanku langsing seperti ini, dan tinggiku hanya 155 cm.

    Apa kuat aku ditindih badan raksasa itu. Apa bisa masuk barang sebesar itu ke lobangku yang kecil ini. Apa tidak mentok kesakitan bila barang yang keras dan panjang ditekan ke lobangku dengan tenaga yang raksasa. Pokoknya aku membayangkan antara takut dan ingin merasakan.

    Kata teman-temanku barang gede dan panjang itu sangat nikmat sekali. Saking nikmatnya, katanya sampai ngeyut ke ubun-ubun.

    Malam ini malam minggu, Pak Jono akan datang. Hatiku berdebar-debar. Jam menunjukkan 21.30. Tak lama kemudian Pak Jono datang. Suami mempersilahkan masuk, dan bilang padanya bahwa aku mau juga dipijet malam ini, dan suamiku minta tidak bercerita macam-macam ke orang lain. Pak Jono menjawab, “Ya, tidak dong, Pak.”

    Suamiku mulai diurut. Kurang lebih jam 23.00 suamiku selesai diurut.
    Sekarang giliran aku yang akan diurut. Aku pakai kain sarung. Suamiku tiduran di sofa di ruang tamu sambil nonton TV.

    Aku mulai tengkurep, hatiku dag-dig-dug. Pak Jono mulai menyingkap kain sarungku di bagian betis dan memegang betisku sambil mengurut pelan-pelan, aku merinding merasakan urutan Pak Jono, karena sebelumnya aku membayangkan sesuatu yang nikmat.

    Kini Pak Jono membisu seribu bahasa tidak seperti biasanya suka bercanda dan berhumor, mungkin menikmati pandangan terhadap betisku yang mulus. Maklum ia menduda 4 bulan. Semakin merinding dan berdebar-debar hatiku ketika Pak Jono meletakkan kakiku ke pahanya. Sambil mengurut ia maju sedikit-sedikit sehingga kakiku menyentuh ke bagian selangkangannya sehingga terasa kakiku menyentuh benjolan yang mulai mengeras.

    Dengan suara pelan dan terpatah-patah Pak Jono bertanya.
    “Paha ibu mau diurut?”

    “Ya pak, memang di bagian itu agak terasa nyilu-nyilu. Pelan ya, Pak,” aku pun menjawab dengan suara pelan.

    Pak Jono mulai menyingkap pelan-pelan sarungku sampai di bawah sedikit pinggulku. Ketika Pak Jono mengurut pahaku sampai ke selangkanganku, aku merintih dengan suara pelan-pelan takut kedengaran suamiku. Pak Jono pun terasa meningkat rangsangannya terasa dari sentuhan tangannya yang kadang-kadang mengurut sambil mengelus dan meremas pahaku apalagi ketika sampai di selangkanganku.

    Semakin timbul sensasi yang luar biasa ketika Pak Jono membuka kain sarungku di bagian atas pinggulku dan memelorotin cdku sedikit ke bawah. Kini ia mulai mengurut sambil meremas-remas pinggulku, dan rangsanganku semakin tinggi, aku merintih dengan suara pelan. Dan Pak Jono tahu kalau terangsang, aku juga tahu kalau Pak jono juga terangsang.

    Aku berkata dalam hatiku: sebelum aku diurut dalam posisi terlentang, aku akan pamit sama Pak Jono untuk buang air kecil sambil aku ingin melihat apakah suami sudak tertidur atau belum.

    Ketika Pak Jono menyuruhku terlentang, aku berkata kepadanya: “Aku mau ke kamar mandi dulu untuk buang air kecil.” Ketika keluar kamar aku lihat suamiku tertidur pulas mungkin karena lelah seharian dan habis diurut.

    Di kamar mandi aku berkata dalam hati. Kalau nanti sarungku disingkap sampai ke selangkanganku dalam posisi terlentang, pasti Pak Jono akan melihat bulu jembutku. Ia akan semakin merangsang. Aku menginginkannya meraba vaginaku dan memasukkan jarinya ke lobang vaginaku.

    Setelah masuk ke kamar, aku bilang bahwa suamiku tertidur lelap. Ketika mendengar kataku Pak Jono semakin bersemangat.

    Kini aku terlentang di hadapan Pak Jono. Dan Pak Jono tidak was-was lagi ia membuka sarungku sampai ke selangkanganku. Aku memenjamkan mata sambil menggigit bibirku.

    Kini Pak Jono tidak memijat lagi tetapi ia mengelus-elus dan meremas-rema pahaku dengan gemesnya. Kini ia melihat bulu jembutku dan mengelus-elus bibir vaginaku, dan semakin tidak tahan rasanya aku ingin memegang barangnya Pak Jono sambil penasaran tapi malu. Pak Jono semakin berani menusukkan jarinya ke lobang vaginaku yang sudah membasah dengan lendir.

    Aku mulai memberanikan diri meraba selangkangan Pak Jono. Dan Pak Jono membuka resleting celananya. Sambil aku melirik ke selangkangannya, Pak Jono mengeluarkan rudalnya. Aku terkejut astaga besar dan panjang sekali. Warnanya kehitam-hitaman, nampak urat-uratnya mengeras, dan kepala rudal jauh lebih besar lagi dari batangnya. Aku menggenggamnya tapi genggamanku tidak muat saking besar.

    Sambil mengelus-elusnya, aku bayangkan kalau rudal yang kepalanya sangat besar ini dimasukkan ke lobangku. Apakah tidak robek lobang vaginaku dan jebol lobang rahimku. Sensasiku semakin meningkat. Perasaanku bercampur ingin menikmati dan takut robek dan jebol.

    Pak Jono kini semakin ganas mengocok lobang vaginaku dengan jarinya, dan aku sangat ingin ditindihi dan disetubuhi tapi takut kalau suami bangun kalau mendengar jeritanku. Sambil mengocok Pak Jono menciumi pipiku. Pelan-pelan ia lalu mengecup bibirku, semakin lama ia semakin ganas mencipoki, aku pun terangsang berat.

    Kemudian ia memelukku dan menindihku sambil berusaha menyingkap sela-sela samping CD-ku untuk memasukkan rudalnya, tapi tidak berhasil masuk. Kemudian ia menekan lagi.
    “Aduh…” jeritku sambil menggigit bibirku tidak tahan.

    Tekanan kedua kalinya ini tidak berhasil memasukkan rudalnya ke lobang vaginaku. Kemudian ia menekan lagi dengan tenaga yang super keras dan hampir masuk, tapi terdengar suara suamiku mengorok. Pak Jono dan aku pun kaget terbangun dan menutupkan sarungku ke seluruh tubuh. Dan aku mengakhiri pijetan.

    Kemudian aku membangunkan suamiku. Pak Jono pun pamit pulang karena memang sudah larut malam. Kemudian aku mengajak suami masuk kamar, aku sudah tidak tahan. Barang suami juga mengeras tidak seperti biasanya. Kini aku menyalurkan rangsanganku dengan suami sambil membayangkan disetubuhi Pak Jono. Malam itu aku benar-benar merasakan puncak orgasme yang luar biasa tidak seperti biasanya, juga suamiku.

    “Ma… Malam ini tidak seperti biasanya. Urutan Pak Jono memang luar biasa membuat kita benar-benar mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Kita minggu depan urut lagi ya, Ma…” kata suamiku.

    Hari-hari aku hidup dalam bayangan: Kalau malam minggu depan suamiku tidak ada di rumah, aku akan menyiapkan minyak pelumas agar dioleskan ke lobang vaginaku. Aku membayangkan barang Pak Jono yang besar dimasukkan sambil melelukku, menyepokiku dan menggenjotku. Membayangkannya saja sangat nikmat apalagi benar-benar dimasukkan. Sambil rasa khawatir kalau lobangku nanti robek dan lobang rahimku jebol.

    Kini malam minggu datang, hatiku berdebar-debar membayangkan sesuatu yang besar dan panjang, membayangkan lobang vaginaku membengkak lebar, dan lobang rahim diterobos barang besar. Pak Jono datang memakan pakaian yang serasi nampak sangat gagah dan manis. Ketika suami ngobrol dengan Pak Jono telpon berdering. Ternyata teman suamiku mengajak ke luar kota untuk mengurus bisnisnya.

    “Ya nanti setelah dipijet,” jawab suamiku.
    Malam ini aku semakin yakin bahwa aku akan disetubuhi dengan Pak Jono.
    “Ma… saya nanti setelah diurut akan pergi ke luar kota,” kata suamiku padaku.
    “Jadi, saya tidak usah dipijat, habis tidak ada Mas.”
    “Tidak apa-apa pijet saja, Pak Jono orangnya baik, aku sudah percaya kok.”

    Mendengar pernyataan suamiku, hatiku girang karena sebentar lagi pasti aku disetubuhi oleh Pak Jono yang berhari-hari aku membayangkannya.

    Setelah suamiku selesai diurut ia mandi. Dan Aku bilang pada Pak Jono, “Tunggu dulu ya pak, minum-minum dulu kopinya. Aku mau menyiapkan pakaian bapak untuk ke luar kota.”

    Setelah suamiku menyiapkan semua yang akan dibawa ke luar kota, ia pamit ke Pak Jono. Aku mengantarkan sampai pintu gerbang.

    Begitu Bapak berangkat hujan turun rintik-ritik. Aku masuk ke ruang tamu dan bilang sama Pak Jono, “Tunggu dulu ya pak, aku pakaian dulu.”

    Aku memakai sarung dan kaos… dan sengaja aku tidak memakai BH dan celana dalam.
    Begitu aku keluar, sorotan mata Pak Jono menatap payudaraku, aku tersenyum. Aku duduk di kursi sebentar. Aku bayangkan bahwa Pak jono duda selama 4 bulan, berarti ia tidak berhubungan selama 4 bulan. Aku yakin ia tidak jajan sembarangan. Aku begitu yakin malam ini aku akan digenjot berkali-kali dan berjam-jam. Memang aku ingin sekali berhubungan badan sepuas-puasnya.

    Sekarang aku memilih kamar untuk urut di bagian belakang, agar jeritanku yang keras nanti tidak terdengar oleh siapapun. Aku mengajak Pak Jono ke kamar belakang, dan hujan turun cukup deras sehingga cuaca dingin mengantarkan impianku, dan tidak akan terdengar suara apa pun kecuali jeritanku, bunyi cipokan yang mengganas, dan bunyi lobang vaginaku yang digenjot oleh kepala rudal besar dan tenaga yang super keras.

    Kini aku berduaan yang sama mengharapkan kepuasan seksual dengan sepuas-puasnya. Pak Jono membuka kain sarungku dan tinggal kaos yang menutupi payudaraku. Ia meremas-remas pahaku. Aku mengelinjang-gelinjang.

    Kemudian Pak Jono membuka celananya. Rudalnya tegang, membesar dan memanjang. Uratnya mengeras dan kepala rudalnya membesar sekali. Ia menciumi pahaku terus ke bibir vaginaku. Aku sudah tidak tahan karena mulai tadi sudah terangsang karena membayangkan kenikmatan yang sebentar lagi akan aku rasakan.

    Ia membuka bajunya dan kaosku. Kini kami berdua telanjang bulat. Hujan turun makin lebat, jam menunjukkan 23.00. Ia meremas-remas tetekku sambil mengocokkan jarinya ke lobang vaginaku.

    “Pak, masukkan… aku sudah tidak tahan.”
    “Aku juga tidak tahan, aku sudah 4 bulan tidak pernah berhubungan badan, aku ingin malam ini benar-benar puas, mungkin aku main sampai pagi,” timpal Pak Jono.

    “Aku juga pak… Aku serahkan semua tubuhku pada Pak Jono. Tapi, oleskan minyak pelumas yang kusiapkan ini ke lobang vaginaku dan ke rudal Bapak agar aku tidak merasakan sakit.”

    Aku siapkan parfum dan minyak pelumas yang harum.
    “Bu… lobang Ibu kecil sekali,” katanya begitu ia mengoleskan minyak pelumas dicampur dengan ludahnya.

    Kini Pak Jono mengangkangkan pahaku lebar-lebar. Pelan-pelan ia menindihiku. Aduh rasanya berat sekali. Ia arahkan rudal besar dan panjang itu lobang vaginaku. Ia menekan, tapi tak berhasil masuk. Kedua kalinya ia menekan lagi dan tidak juga berhasil masuk, aku menjerit kesakitan.

    “Pertama rasanya agak sakit, karena lobang ibu kecil sekali, dan barang saya besar sekali, jauh tidak ngimbang,” katanya merayuku.

    Ketiga kalinya ia mengolesi lobangku dengan minyak pelumas banyak sekali sampai meleleh ke lobang anusku, ia campur air ludahnya. Ia mengolesi juga rudalnya dicampur dengan ludahnya, kemudian ia menekan rudal besar, panjang, hitam dan keras sekali. Ia menekannya dengan tenaga yang super keras, akhirnya masuklah kepala rudal besar itu, dan aku pun menjerit kesakitan.

    Ia terdiam, menahan sejenak, sambil menindihiku dan menciumiku, merayu dan berbisik ke telingaku.
    “Ditahan sakit dahulu ya, nanti Ibu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa.”
    Aku mengangguk.

    “Tahan ya, Bu, aku akan tekan lagi agar masuk semua,” bisiknya lagi.
    Ia menekannya dengan tenaga yang keras, aku tidak tahan.
    “Aduh.. sakit, Pak,” Jeritku tertahan sambil menggigit bibir.

    Akhirnya barang itu trot… bleees… masuk semua. Rasanya rudal itu masuk menembus ke lobang rahimku. Kini beralih dari rasa sakit ke rasa nikmat yang luar biasa.
    “Pak .. rasanya nikmat sekali.”

    Semakin ganaslah Pak Jono menggenjotnya. Nyaring sekali bunyi lobang vaginaku akibat genjotan yang luar biasa. Nikmatnya luar biasa terasa sampai ke ubun-ubun, aku menggigil, meraung-raung kenikmatan.
    “Aah… uuuh… uuh… aku… aku… mau mencapai puncak, Pak…”

    Pak Jono menekan keras-keras. Aku pun mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Pak Jono sangat kuat dan bertahan lama, ia belum mencapai orgasme. Aku sudah lemas, tapi karena Pak Jono meremas-remas kembali tetekku dan menjelati vaginaku, aku mulai terangsang lagi.

    Pak Jono menyuruhku nungging. Ia menusukkan kembali rudalnya dan mengocoknya dan menggenjot dari belakang, bunyinya semakin keras, ceprok… ceprok.. ceprok… sambil ia mengelus-ngelus lobang anusku. Ia ngambil minyak pelumas dan dioleskan ke lobang anusku, jarinya ditusukkan ke lobang anusku.
    “Aduh… Pak!” jeritku.

    Tapi ia pintar sekali menciptakan rangsangan baru. Ia kocok lobang anusku pelan-pelang dengan jarinya, lama-lama aku merasakan nikmat.
    “Enak.. Pak… Nikmat… Pak.”

    Akhirnya Pak Jono menambahi minyak pelumas ke lobang anusku, dan mencabut rudalnya dari vaginaku, ia oles-oleskan kepala rudalnya ke pintu anusku.
    “Hangat rasanya, nikmat Pak, nikmat Pak.”

    Kemudian menusukkan tepat ke lobang anusku dan menekannya. Akhirnya barang besar itu masuk juga. Cepret… prot… ia tekan pelan-pelan hingga separuh penis itu. Ia mendorongku agar aku tengkurep. Begitu tengkurep ia menindihku, menekankan lagi sisa separuhnya. Aduh nikmat sekali rasanya di anus.

    Sampai terasa ada cairan muncrat dari dalam lobang anusku. Ia terus mengocok dan menggejot semakin cepat, aku merasakan nikmat sambil menahan genjotan. Prot… prot… druuuuut. Semakin ganas ia menggenjot sampai aku terkentut-kentut dibuatnya.

    Akhirnya Pak Jono mencapai puncaknya dan muncratlah pejunya memenuhi lobang anusku. Malam itu aku benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Malam Kejam Ketika Diriku Diperkosa

    Cerita Sex Malam Kejam Ketika Diriku Diperkosa


    1363 views

    Perawanku – Cerita Sex Malam Kejam Ketika Diriku Diperkosa, Waktu yang sedang berlangsung saat Wiwin dan Anisya pulang jalan-jalan dari sebuah mal di kota Bandung, kota tempat mereka menuntut ilmu pada sebuah PTN terkemuka. Saat itu kampus mereka sedang liburan semester yang lumayan lama, 8 orang di antara teman-teman mereka yang memilih pulang kampung, namun bagi Wiwin dan Anisya lebih baik untuk tetap tinggal di kota Bandung karena tidak banyak yang dapat mereka kerjakan untuk mengisi waktu liburan di Jakarta kota asal mereka.

    Sampai di tempat kost mereka kira-kira jam 10 malam. Saat itu daerah di sekitarnya sudah sepi begitupula di dalam kost-kostan karena semua penghuninya pulang ke kampung atau kota asal masing-masing untuk memanfatkan waktu liburan kuliah mereka, dan kini tinggallah mereka Menginap saja yang masih bertahan di dalam areal kost yang luas dan besar itu. Walau pelanggan mereka terpaut jauh, dan dahsyatnya karena mereka berada di luar rumah, di kampus mereka juga satu fakultas.

    Wiwin saat ini berusia 26 tahun, sementara Anisya baru berusia 18 tahun. Cerita yang memiliki wajah yang cantik, Wiwin dengan bentuk badan yang mencerminkan sedang nampak anggun dengan penampilan kesehariannya, sedangkan Anisya memiliki tubuh yang mungil dan wajah yang imut-imut. Banyak orang yang tertarik pada mereka, karena tidak ada yang cukup dan pintar, namun mereka juga tidak tajam. Akan tetapi dengan baik pula mereka menolak berbagai ajakan yang ingin menjadikan mereka sebagai kekasih atau orang dewasa dari mereka.

    Wiwin saat ini lebih memilih untuk berbicara dengan skripsinya, sedang Anisya yang baru di mana mereka memilih untuk aktif di organisasi kampus dari pada pacaran atau berhura-hura.
    Sesampainya di kost, Wiwin langsung menuju ke kamar kost dan membuka pintu, sementara Anisya mampir ke kamar mandi yang ada dari kamar kost mereka. Setelah kamar terbuka, Wiwin begitu terdengan terlihatnya kamar mereka sudah seperti habis ada pencuri. Belum lagi lagi, tiba-tiba saja ada kepala Wiwin sudah dipukul dari belakang sampai pingsan.

    Wiwin tidak tahu apa-apa sampai tubuh yang digoncang-goncang seseorang hingga tersadar dan menemukan dia sudah dalam keadaan yang sebenarnya di tempat yang biasa dia duduk untuk belajar dan mulutnya disumpal kain, tidak bisa bersuara. Belum lagi lama dia siuman, matanya terbangun ketika melihat pemandangan di sekitarnya, ia melihat dua kali di hadapan. Yang menyuruhnya bangun, orangnya berbadan tinggi dan seksi berambut gondrong dia hanya pergi celana jeans jeans, badannya telanjang lengkap dengan tatto. Dan satu orang lagi juga berbadan gemuk, berambut acak-acakan juga hanya celana jeans.

    Wajah mereka khas, usia mereka sekitar 40 tahunan. Sementara kamar kost mereka dalam keadaan tertutup rapat, jendela pun yang tadinya agak sedikit terbuka kini telah tertutup rapat. Tidak beberapa lama kemudian mata Wiwin kembali terbelalak dan ingin menjerit, karena kedua orang itu ternyata dikenalnya. Yang membangunkan dia bernama Asan dan satu lagi bernama Thomas atau sering dipangil Liem. Mereka berdua adalah teman dari Henry pemilik kost yang sering nongkrong di tempat itu, pekerjaan mereka tidak jelas.

    Memang beberapa waktu yang lalu Wiwin dan Anisya dikenalkan oleh Henry kepada Asan dan Liem. Karena dengan setengah memaksa Henry, Asan dan Liem ingin dikenalkan dengan Wiwin dan Anisya yang waktu itu baru pulang dari kampus. Rupanya mereka berdua tertarik dengan kecantikan Wiwin dan Anisya. Akan tetapi rupanya cinta mereka bertepuk sebelah tangan, Wiwin dan Anisya lebih sering menghindar untuk bertemu dengan Asan dan Liem. Dan yang membuat hati Wiwin menjerit dan panas adalah begitu sadar sepenuhnya dan mengetahui Asan sedang duduk di pinggir ranjang mereka sambil memangku Anisya yang saat itu sudah tinggal memakai BH dan celana dalamnya saja yang berwarna putih.

    Anisya sambil menangis memohon-mohon minta dilepaskan, air matanya telah membasahi wajahnya yang cantik itu. Tapi si Asan yang badannya jauh lebih besar itu tidak menghiraukannya, dia mulai meremas-remas payudara Anisya yang baru sekepalan tangan orang dewasa itu yang masih terbungkus BH itu, kemudian menjilati leher Anisya.
    Pria itu lalu berkata, Diam, jangan macam-macam atau kupatahkan lehermu, nurut saja kalau mau selamat..!
    Setelah itu dilumatnya dengan rakus bibir indah Anisya dengan bibirnya, Hmp.., cup.., cup..,begitulah bunyinya saat kedua bibir mereka beradu.

    Air liur pun sampai menetes-netes keluar, rupanya lidah Asan bermain di dalam rongga mulut Anisya.
    Sementara itu Liem yang berada di samping Wiwin berkata kepada Wiwin, Hei, elo sudah bangun ya, teman elo ini boleh juga, gue pake dia dulu ya, baru setelah itu giliran elo, nah sekarang elo perhatikan gue baik-baik kalo sampe elo nanti engga bisa muasin nafsu gue, mampus deh elo..! sambil mengelus-elus kepala Wiwin.
    Wiwin mau berontak tapi tidak dapat berbuat apa-apa, Wiwin pun mulai pucat.
    Lalu Asan yang masih memangku Anisya menyudahi serbuan bibirnya dan berkata, Ok Sayang, ini waktunya pesta, ayo kita bersenang-senang!

    Dia menyuruh Anisya berlutut di depannya dan menyuruhnya membukakan celana jeans kumalnya, lalu mengulum batang kemaluannya.
    Sambil menangis Wiwin memohon belas kasih, J.. ja.. angan.. tolong jangan perkosa saya, ambil saja semua barang di sini!
    Belum selesai berkata, tiba-tiba, Pllaakk..! si Asan menampar pipinya dan menjambak rambutnya.
    Dengan paksa Anisya dibuat berlutut di depannya, Masukkan ke dalam mulut elo, hisap atau gue bunuh elo..!
    Terpaksa dengan putus asa dan wajah yang pucat dan gemetar, Anisya membuka celana Asan dan begitu dia menurunkan celana dalam Asan tampaklah kemaluan Asan yang telah membesar dan menegang. Tanpa membuang waktu Asan segera memasukkan kemaluannya itu ke mulut Anisya yang mungil itu. Batang kemaluannya tidak dapat sepenuhnya masuk karena terlalu besar, dengan kasar dia memaju-mundurkan kepala Anisya.

    Hhmpp.., emphh.. mpphh..! begitulah suara Anisya saat mulutnya dijejali dengan kemaluan Asan.
    Liem juga tidak tinggal diam, rupanya nafsu telah memenuhi otaknya, setelah dia melepas celana jeansnya dia berdiri di samping Anisya, menyuruh Anisya mengocokkan batang kemaluannya yang juga telah membesar dengan tangan. Batang kemaluan Liem tidak sebesar temannya, tapi diameternya cukup lebar sesuai dengan tubuhnya. Sekarang Anisya dalam posisi berlutut dengan mulut dijejali kemaluan Asan dan tangan kanannya mengocok batang kemaluan Liem.
    Emmhh.. benar-benar enak emutan gadis cantik ini, lain dari yang lain..! kata Asan.
    Iya, kocokannya juga enak banget, tangannya halus nih..! timpal Liem.
    Beberapa lama kemudian nampak tubuh Asan menegang, seluruh badannya mengejang, dan,A.. akh..! Asan akhirnya berejakulasi di mulut Anisya.

    Cairan putih kental memenuhi mulut Anisya menetes di pinggir bibirnya seperti vampire baru menghisap darah, dan Anisya terpaksa meminum semuanya karena takut ancaman mereka dan juga kuatnya pegangan tangan Asan di kepalanya.
    Setelah itu mereka melepas BH dan CD Anisya, sehingga dia benar-benar telanjang bulat sekarang, tampaklah payudara dan bulu-bulu kemaluannya yang masih halus dan jarang.
    Waw cantik sekali anjing ini. ujar Liem sambil memandangi tubuh bagian dada dan bawah Anisya yang sedang terisak-isak ketakutan.

    Kali ini Liem duduk di pinggir ranjang dan menyuruh Anisya berjongkok di depannya sambil terus memijati dan mengocok batang kemaluan dengan tangannya. Anisya terpaksa menuruti kemauan Liem itu sambil sesekali dipaksa untuk menjilati ujung batang kemaluannya, sehingga Liem mendengus keenakan. Sementara itu si Asan mengambil posisi berbaring di bawah kemaluan Anisya dan menjilati liang vaginanya sambil sesekali menusuk-nusukkan jarinya ke liang kemaluan itu.
    Seketika itu Anisya kaget dan, Ehhgh.., iihh.. iih.. eggmhh..! Anisya pun merintih-rintih jadinya, badannya menggeliat-geliat akibat tusukan jari-jari serta jilatan lidah Asan di kemaluan Anisya.

    Ayo anjing.., kocok terus barang gue..! bentak Liem sambil menampar kepala Anisya.
    Kembali Anisya mengocok kemaluan Liem sambil badannya terus meliak-liuk karena kemalunnya mendapat serangan dari tangan dan lidah Asan. Dari bibirnya pun terus terdengar suaranya merintih-tintih.

    Sekitar 10 menit dikocok, Liem memuncratkan maninya dan membasahi wajah serta rongga mulut Anisya. Kali ini Anisya sudah tidak tahan dengan rasa cairan itu, sehingga dia memuntahkannya. Melihat itu Liem jadi gusar, dia lalu menjambak rambut Anisya dan menampar pipinya sampai dia jatuh ke ranjang.
    Pelacur anjing..! Kurang ajar, berani-beraninya membuang air maniku. Kalo sekali lagi begitu, kurontokkan gigi elo, dengar itu..! bentaknya.

    Asan pun terpaksa menyudahi aktifitasnya dan ikut-ikutan menampar Anisya.
    Goblok..! Gue lagi asyik nikmatin memek elo. Elo jangan macem-macem ya..! bentak Asan.
    Anisya hanya dapat menangis memegangi pipinya yang merah akibat dua kali tamparan itu. Nampak kemarahan Wiwin bangkit karena teman dekatnya diperlakukan begitu. Wiwin meronta-ronta di kursinya, tapi ikatannya terlalu kencang sehingga hanya dapat membuat kursi itu bergoyang-goyang. Melihat reaksi Wiwin si Asan berkata, Kenapa? Elo tidak terima ya pacar elo gue pinjam, tapi sayang sekarang elo nggak bisa ngapa-ngapain, jadi jangan macem-macem ya, ha.. ha.. ha..! Abis ini giliran elo yang gue entot..! Hahaha..!

    Mereka kembali menggerayangi tubuh Anisya, kali ini Asan merentangkan tubuh Anisya di tempat tidur dan membuka lebar kedua pahanya, dan segera mulai memasukkan batang kejantanannya ke liang kemaluan Anisya.
    J.. jangan. Aduh.., tto.. long.., Mbak Wiwin. Ampun Bang..!â pinta Anisya sambil mencoba berontak tapi dengan sigapnya Liem membantu Asan dengan memegangi kedua tangan Anisya.

    Batang kemaluan yang ukurannya besar itu dimasukkannya dengan paksa ke liang kemaluan Anisya yang masih sempit, sehingga dari wajah Anisya terlihat dia menahan sakit yang amat sangat, tangisannya pun semakin keras.
    Setelah hampir seluruh batang kemaluannya terbenam di dalam liang kemaluan Anisya, Asan mulai memaju-mundurkan pantatnya, mulai dengan irama pelan hingga dengan cepat. Keringat pun dengan deras membasahi kedua tubuh itu. Beberapa saat kemudian dari sela-sela kemaluan Anisya mengucur darah segar bercampur dengan cairan bening hingga warnanya berubah menjadi merah muda meleleh membasahi paha Anisya.

    Aakkh.. aahh.. aa. ouhh.. ss.. aakit. ooh. aampuun.. ohh.., begitulah erangan dan teriakan Anisya merasakan sakitnya.
    Rupanya teriakan dan erangan Anisya menambah nafsu dan semangat Asan untuk terus memompakan kemaluannya dengan keras dan cepat hingga badan Anisya pun terbanting-banting dan terguncang-guncang keras. Anisya hanya pasrah mengikuti irama Asan dan kedua tangan Anisya pun kini sudah dilepas oleh Liem.
    Selama beberapa menit disetubuhi oleh Asan, tiba-tiba badan Anisya menegang sampai secara refleks dia memeluk kepala Asan yang sedang asyik menggenjotnya. Dia rupanya mengalami orgasme sampai akhirnya melemas kembali. Asan pun menyudahi gerakan memompanya namun kemaluannya masih tetap tertanam di dalam liang vagina Anisya.
    He.. he.. he.. Baru kali ini kan loe ngerasain pria cokin, gimana rasanya enak engga, jawaabb..! bentak si Asan sambil menarik rambut Anisya.

    Karena takut mereka semakin gila, terpaksa dengan berlinang air mata Anisya menjawab, E.. e.. enak, enak sekali..!
    Jawab lebih keras supaya teman loe dengar pengakuan loe..! kata Liem.
    I.. iya, s.. saya suka sekali bercinta. jawabnya dengan suara terbata-bata.
    Tuh, kamu dengar kan, apa kata teman elo, dia suka dientot, ha.. ha.. ha..! ejek mereka pada Wiwin yang hanya dapat meronta-ronta sambil menangis di kursinya.

    Hatinya benar-benar serasa mau meledak tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.
    Kemudian si Asan mencabut kemaluannya dan membuat posisi badan Anisya gaya posisi anjing, dia kemudian memasukkan kejantanannya yang berukuran 20 cm lebih itu ke pantatnya Anisya hingga terbenam seluruhnya.

    Karena rasa perih dan sakit yang tidak terhingga, maka Anisya berteriak memilukan, Aaakkhh..!
    Lalu dia menariknya lagi, dan dengan tiba-tiba sepenuh tenaga dihujamkannya benda panjang itu di pantat Anisya hingga membuatnya tersentak kaget dan kesakitan sampai matanya membelalak.

    Ooughh..! Anisya mendengus keras menahan rasa perih dari lubang duburnya, seluruh badannya kembali mengeras lolongannya pun kembali terdengan memilukan, Aahh.. ouh.. aah..! Aa.. mpun.., ssakit. Aakhh..!
    Kini Asan meyodomi Anisya dengan irama yang keras dan cepat hingga Anisya menggelepar-gelepar, dan badannya kini mulai melemah dan habis akibat digenjot oleh Asan.

    Tidak beberapa lama Asan akhirnya mencabut kemaluannya dari lubang dubur Anisya dengan kasar. Kembali darah segar mengucur deras dari liang dubur Anisya, sementara Anisya tertelungkup jatuh ke kasur disertai rintihan panjang melemah, Aahh..!
    Namun Asan belum juga puas, kemalunnya masih garang. Kini ditelentangkannya Anisya dan kembali Asan meniduri Anisya dan memasukkan kembali batang kemaluannya ke lubang vagina Anisya yang telah lemas itu, dan kembali Asan menggenjot tubuh lunglai itu.
    Tidak lama Asan pun berejakulasi di rahim Anisya. Lolongan kepuasan keluar dari mulut Asan disaat menyemprotkan spermanya yang jumlahnya banyak itu hingga meluber keluar dari sela-sela kemaluan Anisya. Anisya pun merintih lirih, dan akhirnya bersamaan dengan itu Anisya pun pingsan karena kehabisan tenaga dan rasa sakit yang tidak terhingga.

    Dengan perasaan puas Asan pun merebahkan badannya di samping Anisya yang tergeletak tidak bergerak.
    Akhirnya gue perawanin juga elo. Dasar cewek sombong..! ujarnya sambil mengehela napas dan melirik Anisya.
    Sesudah itu kini Liem yang tadi menjadi penonton mulai mendekati Wiwin yang masih terikat lemas di kursinya.
    Hei, teman elo boleh juga tuh. Nah, sekarang giliran elo yang servise gue. Asal elo tau gue itu naksir berat ama elo, tapi elo menghindar melulu. Gue tau gue jelek dan gue beda ama yang elo bayangkan jadi pacar elo. Buat gue itu engga soal, sekarang gue cuma mau perkosa elo. Udah gitu elo bebas, tapi kalo elo berontak, Mati elo..!
    PLAAK..! sebuah tamparan keras menghantam kepala Wiwin hingga Wiwin yang masih diikat di kursi itu terjatuh bersama kursinya.
    Hmmph..! dengan mulut tersumbat Wiwin berteriak.

    Kemudian dia menarik dan meletakkan tubuh Wiwin mengembalikan ke posisi semula. Dengan pisau dapur milik kedua mahasiswi itu dia merobek-robek baju kaos lengan panjang yang dikenakan oleh Wiwin. Nafas Wiwin tersentak ketika dengan cepat Liem dengan pisaunya melucuti BH dan celana panjang bahan yang dikenakannya. Sekarang Wiwin hanya memakai celana dalamnya yang berwarna putih serta sepasang kaos kaki putih setinggi lutut yang selalu dikenakannya. Payudaranya yang penuh bulat terbuka, tubuhnya putih mulus masih dalam posisi terikat di tempat duduknya.

    Hmph.., hmph..! Wiwin meronta sambil memandang Liem dengan putus asa, matanya memerah dan air matanya mengalir deras membasahi pipinya, wajahnya pucat pasi.
    Karena dia menyadari yang akan terjadi pada dirinya, yaitu sebagai pemuas nafsu bejat.

    Diem brengsek.. kata Liem, PLAK..!sekali lagi tamparan kuat mendarat di pipi Wiwin, membuat kepala Wiwin tersentak.
    Kemudian ia membuka ikatan Wiwin dan membantingnya ke tempat tidur dalam posisi telungkup, dan setelah itu dia merentangkan kedua tangan Wiwin serta melebarkan kedua kaki Wiwin hingga posisi Wiwin kini seperti orang merangkak. Wiwin hanya dapat pasrah mengikuti kemauan Liem. Tepat di hadapannya terdapat kaca rias, setinggi tubuh manusia. Kaca itu biasanya digunakan Wiwin dan Anisya untuk berdandan sebelum pergi kuliah.

    Leim lalu merobek celana dalam Wiwin dengan kasar dan menjatuhkannya ke lantai. Sekarang Wiwin dapat melihat dirinya melalui cermin di depannya telanjang bulat, dan di belakang dilihatnya Liem sedang mengagumi dirinya.
    Gila bener! Gue suka pantat lo. Lo bener-bener oke!

    Liem menampar pantat sekal Wiwin yang sebelah kiri yang membuat Wiwin menjerit kaget.
    Lalu tanpa menunggu lagi, Liem yang mulai dirasuki nafsu sex memperlihatkan penisnya yang sudah keras. Liem hanya membiarkan topi yang masih tetap membungkus kepala Wiwin dan sepasang kaos kaki putih yang masih dikenakan Wiwin, mungkin ini dapat membuat nafsu Liem semakin menjadi. Karena memang dengan mengenakan topi, wajah Wiwin jadi nampak cantik dan lucu seperti komentar kebanyakan teman-temannya.

    Kemudian Liem menyelipkan penisnya di antara kedua kaki Wiwin lewat belakang.
    Ooh.., ampun Pak Liem. Ampunn.., jangann.. jangan! Ampun, jangan..?!Wiwin mulai menangis dan rasa tegang menyeliputi hatinya.
    Sambil menoleh ke belakang dan memandang Liem, Wiwin mencoba untuk meminta belas kasihan. Terlihat air mata meleleh dari matanya. Namun Liem terus mengancam dengan pisau dapur yang masih digenggamnya.

    Liem tidak perduli Wiwin memohon-mohon. Kepala penisnya kemudian menyusuri belahan pantat Wiwin, terus menuju ke bawah, kemudian maju mendekati bibir vaginanya. Setelah tangan si Liem memegang pinggul Wiwin, dengan satu gerakan keras penisnya bergerak maju.
    Arrgghh.., ahh.., Ampun..! Wiwin menjerit-jerit ketika penis Liem mulai membuka bibir vaginanya dan mulai memasuki lubang kemaluannya.

    Kaki Wiwin mengejang menahan sakit ketika penis Liem terus menembus masuk tanpa ampun menusuk-nusuk selaput daranya.
    Bibir tebalnya menganga membentuk huruf O dan mengeluarkan rintihan-rintihan, Oohh.., oouugghh.., aa.. ampuun Bangg..! Aakkhh..!

    Badannya pun tersodok-sodok. Liem terus bergerak memompa maju mundur memperkosa Wiwin. Ketika kepala Wiwin terjatuh lunglai kesakitan, dia menarik kepala Wiwin sehingga kepalanya kembali terangkat dan Wiwin kembali dapat melihat dirinya disetubuhi oleh Liem melalui cermin di depannya.

    Kadang-kadang Liem menampar pantat Wiwin berulang kali, juga dilihatnya payudara Wiwin yang tersentak-sentak setiap kali Liem menyodok penisnya ke dalam vagina Wiwin dan dia hanya dapat pasrah mengerang-ngerang dan merintih. Tiba-tiba Liem mengeluarkan penisnya dari vaginanya. Wiwin langsung meronta dan berlari menuju pintu, berharap seseorang akan melihatnya minta tolong, biarpun dirinya telanjang bulat.

    Tapi tiba-tiba Asan yang ternyata sudah pulih terlebih dahulu menyambar pinggangnya sebelum Wiwin sampai ke pintu depan.
    Ahh, tolong! Tolompphh.., teriakan Wiwin dibungkam oleh tangan Asan, sementara itu Liem mendekat dan memukul Wiwin dengan keras.
    Wiwin pun jatuh terjelembab ke lantai.
    Dasar Bandel ya..! ujar Liem.
    Kemudian Liem mengikat tangan Wiwin menjadi satu ke depan. Setelah itu, Wiwin didorong hingga terjatuh di atas lutut dan sikunya. Sekarang Liem memasukkan penisnya ke mulut Wiwin.

    Mmpphh..! Wiwin mencoba berteriak dengan penis yang sudah masuk di dalam mulutnya.
    Sementara itu Liem dengan tenang terus menggerakkan penisnya di mulut Wiwin. Kedua tangan Liem memegang kepala Wiwin dengan kencangnya menggerak-gerakkan maju dan mundur. Mata Wiwin tertutup dan wajahnya memerah, air matanya masih meleleh turun di pipinya, baru pertama kali dalam seumur hidupnya dia diperlakukan seperti ini.

    Setelah beberapa lama mengocok kemaluannya di rongga mulut Wiwin, terlihat tanda-tanda Liem akan mencapai klimaksnya, gerakan memaju-mundurkan kepala Wiwin semakin cepat.
    Dan, Akkh.. Croot.., croot..! Liem berejakulasi di mulut Wiwin, sperma yang keluar jumlahnya cukup banyak sehingga meluber keluar dari mulut Wiwin.

    Wiwin hanya dapat mendengus-dengus dan dengan terpaksa menelan semua sperma yang dimuntahkan Liem tadi, sementara pegangan tangan Liem di kepala Wiwin semakin kencang, sehingga sulit bagi Wiwin untuk menarik kepalanya.
    Setelah semprotan sperma yang terakhir, barulah Liem mencabut kemaluan dari mulut Wiwin yang kini mulutnya terlihat penuh dengan lendir memenuhi rongga mulutnya hingga ke bibirnya. Dengan napas puas Liem mencapakkan kepala Wiwin hingga telentang di kasur.
    Siap, siap Sayang. Gue musti ngerasain pantat lo yang putih mulus dan sekal ini..! tiba-tiba terdengar suara Asan yang sudah berada di samping Wiwin.

    Wiwin memandang Asan dengan wajah ketakutan. Dia tahu bagaimana Asan memperlakukan Anisya hingga pingsan.
    Kemudian Asan menoleh ke Liem yang duduk di belakangnya untuk istirahat setelah klimaks tadi.
    Ja.. jangan, jangann.. Bang Asan.. saya nggak mau diperkosa di situ Bang..! Ampun Bang. Rasanya ssakit.., kasihani saya Bang..! ujar Wiwin memelas kepada Asan.
    He Anjing. Gue tetep nggak perduli lo mau apa nggak..!

    Asan menarik tubuh Wiwin hingga dia terjatuh di atas sikunya lagi ke lantai, dan mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Kemudian dia menempatkan kepala penisnya tepat di tengah liang masuk anusnya.
    Setelah itu dia membuka belahan pantat Wiwin lebar-lebar.
    Ampun, jangan..! Sakit..! Ampun Bang Asan. Ampun..! Aakkhh..!
    Asan mulai mendorong masuk, sementara Wiwin mejerit-jerit minta ampun. Wiwin meronta-ronta tidak berdaya, matanya terbelalak, hanya semakin menambah gairah Asan untuk terus mendorong masuk penisnya. Wiwin terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis Asan masuk ke anusnya.

    Ampun..! Sakit sekali! Ampun! Ooughh.. iihh..! jerit Wiwin, ketika Asan mulai bergerak pelan-pelan keluar masuk anusnya.
    Buset! Pantat lo emang sempit banget! Lo emang cocok buat beginian! kata Asan sambil mengusap-usap buah pantat Wiwin.
    Sementara itu darah segar terlihat mulai mengalir menetes-netes membasahi paha dan kasur.
    Bener-bener pantat kualitas nomer satu! omel Asan sambil terus memompa kemaluannya.
    Tangisan Wiwin makin keras, Sakit! Sakit sekali! Ampun, sakit! Sakit Pak, ampun..!
    Sementara itu badannya mengejang-ngejang menggelepar-gelepar menahan rasa sakit yang teramat sangat, tubuhnya semakin basah oleh keringatnya.

    Gila, gue bener-bener seneng sama pantat lo! ujar Asan sambil terus menyodomi Wiwin.
    Hingga akhirnya tubuh Asan mengejan keras, kepalanya menengadah ke atas, cengkraman tangan di pinggang Wiwin pun semakin keras dan urat-uratnya pun kini terlihat pertanda sebentar lagi dia akan mencapi klimaksnya.

    Asan berejakulasi di lubang pantat Wiwin yang semakin kepayahan dan tubuhnya melemah. Asan pun dengan menghela napas lega kembali menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Wiwin yang juga terjatuh telungkup badannya lemas dan menahan rasa sakit yang tidak terhingga di lubang duburnya yang kini mengalami pendarahan.

    Suara yang terdengar dalam kamar kost itu hanya tangisan Wiwin, tangisan yang benar-benar menyayat hati, yang membuat Liem kembali bangkit nafsunya. Liem berjongkok membalikkan tubuh Wiwin yang tadinya telungkup menjadi telentang. Kemudian menarik kaki Wiwin, lalu membukanya dan menekuk hingga kedua pahanya menyentuh buah dadanya.

    Kini posisi Wiwin telah siap untuk disetubuhi, Liem meraih penisnya yang telah kembali tegang dan memeganginya, memandang ke arah Wiwin yang memalingkan wajahnya dari Liem, matanya terpejam erat-erat wajahnya yang masih mengenakan topi nampak cantik walau penuh dengan keringat dan air mata. Liem mengarahkan penisnya ke vagina Wiwin, cairan yang keluar dari penisnya membasahi vaginanya, membantu membuka bibir vagina Wiwin. Wiwin mengerang dan merintih, tubuhnya kembali meronta-ronta, giginya menggeretak, Liem nampak menikmati jeritan Wiwin ketika dia menghunjamkan penisnya ke vaginanya yang telah basah oleh darah dan cairan vaginanya.
    Aahhgghh..! Liem mulai memperkosa Wiwin.

    Kaki Wiwin terangkat karena kesakitan dan rintihan terdengar dari tenggorokannya. Tubuhnya mengejang berusaha melawan ketika Liem mulai bergerak dengan keras di vagina Wiwin. Liem menarik penisnya sampai tinggal kepalanya di vagina Wiwin sebelum didorong lagi masuk ke dalam rahimnya. Liem semakin bersemangat mompakan batang kemaluannya di dalam rahim Wiwin.

    Nafsu telah membakar dirinya sehingga gerakannya pun semakin keras, sehingga semakin cepat tubuh Wiwin pun lemas tergoncang-goncang dan tersodok-sodok. Dan suatu ketika dengan kasarnya dicampakkannya topi yang menutupi kepala Wiwin oleh Liem, sehingga tergerailah rambut indah seukuran bahu milik Wiwin. Kini pada setiap hentakan membuat rambut indah Wiwin tergerai-gerai menambah erotisnya gerakan persetubuhan itu. Sambil terus menggenjot Wiwin, bibir Liem kini dengan leluasa melumat dan menjilati leher jenjang Wiwin yang tidak tertutup topi dan menyedot salah satu sisi leher Wiwin.

    Gerakan dan hentakan-hentakan masih berlangsung, iramanya pun semakin cepat dan keras. Wiwin pun hanya dapat mengimbanginya dengan rintihan-rintihan lemah dan teratur,Ahh.. ohh.., ooh.. ohh.. oohh..! sementara tubuhnya telah lemah dan semakin kepayahan.
    Akhirya badan Liem pun menegang dan tidak beberapa lama kemudian Liem berejakulasi di rahim Wiwin. Sperma yang dikeluarkannya cukup banyak. Liem nampak menikmati semburan demi semburan sperma yang dia keluarkan, sambil menikmati wajah Wiwin yang telah kepayahan dan lunglai itu.

    Liem mengerang kenikmatan di atas badan Wiwin yang sudah lemah yang sementara rahimnya menerima semburan sperma yang cukup banyak.
    Aauughh.. oh..! Wiwin pun akhirnya tersentak tidak sadarkan diri dan jatuh pingsan menyusul Anisya temannya yang terlebih dulu pingsan.

    Badan Liem menggelinjang dan mengejan disaat melepaskan semburan spermanya yang terakhirnya dan merasakan kenikmatan itu. Batinnya kini puas karena telah berhasil menyetubuhi dan memperkosa serta merengut keperawanan Wiwin gadis mahasisiwi cantik yang ditaksirnya itu.

    Senyum puas pun terlihat di wajahnya sambil menatap tubuh lunglai Wiwin yang tergelatak di bawahnya. Liem pun ibarat telah memenangkan suatu peperangan, akhirnya terjatuh lemas lunglai tertidur dan memeluk tubuh Wiwin yang tergolek lemah.
    Begitulah malam itu Asan dan Liem telah berhasil merenggut kegadisan dua orang gadis cantik yang ditaksirnya. Waktu pun berlalu, fajar pun hampir menyingsing, kedua tubuh gadis itu masih tidak bergerak. Bekas keringat, cairan sperma kering dan darah mulai kering nampak menghiasi tubuh telanjang tidak berdaya kedua gadis cantik itu.

    Pagi itu saat Asan dan Liem sudah rapih mengenakan pakaian mereka, tiba-tiba Henry sang pemilik kost mendatangi kamar kedua gadis itu. Saat itu dia bersama Acong teman Henry yang juga teman Asan dan Liem.
    Hei.., kalian disini rupanya. ujar Henry.
    Dan seketika matanya terbelalak ketika melihat ke dalam kamar kost dan melihat tubuh kedua gadis telanjang itu tergeletak tidak bergerak.
    Wah elo-elo abis pesta disini ya..? tanya Henry.

    Tanpa menjawab, Liem dan Asan dengan hanya menggunakan lukisan Lelaki Henry dan Acong yang terbengong-bengong.
    Saat Liem dan Asan berjalan lepas kamar kost, mereka melirik ke arah belakang. Rupanya Henry dan Acong sudah tidak terlihat lagi dan kamar kedua gadis itu kembali rapat terkunci. Kini rupanya giliran Henry dan Acong yang berpesta menikmati tubuh kedua gadis malang itu.

    Lakukan rupa-rupanya Henry juga memendam cinta kepada gadis-gadis itu dan kali ini dia dibantu oleh Acong dapat leluasa menikmati tubuh gadis-gadis itu. Kembali tubuh Anisya dan Wiwin yang sudah tidak sadarkan diri menjadi bulan-bulanan. Henry dan Acong pun leluasa berejakulasi di mulut dan rahim gadis-gadis itu sepuas-puasnya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Jadi Gigolo Pemuas Tante Cantik

    Cerita Sex Jadi Gigolo Pemuas Tante Cantik


    1363 views

    Perawanku – Cerita Sex Jadi Gigolo Pemuas Tante Cantik, Di kotaku ini niat utamaku menempuh pendidikan kuliahku, meskipun kedua orang tuaku termasuk keluarga yang kurang mampu. Tapi niatku begitu besar dan lebih tepatnya aku berambisi untuk dapat melanjutkan pendidikan kuliahku ini. Jauh dari keluarga akupun berinisiatif untuk mencari pekerjaan yang bisa menopang hidup selama aku berada di kota besar ini.

    Nama panggilanku Adan dengan umur 19 tahun, awalnya aku bisa membiayai kuliahku dengan cara bekerja sebagai penjaga warnet yang mendapat shift malam. Namun akhirnya aku tidak dapat meneruskan semua itu karena kebutuhanku untuk hidup di kota ini saja begitu besar, padahal aku sudah mensiasatinya dengan cara masak nasi sendiri namun belum bisa normal juga.

    Sampai akhirnya akupun mendapatkan sebuah tawaran dari teman kampusku. Untuk bekerja di sebuah tempat hiburan malam dan akupun tertarik setelah mendengar honor yang bisa aku dapatkan tanpa tahu pekerjaan apa yang harus aku lakukan di tempat itu, sampai akhirnya setelah sampai di tempat itu dan ada seorang wanita yang lebih pantes aku panggil tante saat itulah aku tahu pekerjaanku.

    Rupanya aku harus menjadi gigolo lebih tepatnya karena aku harus melayani wanita tersebut untuk melakukan adegan seperti dalam cerita dewasa. Sebagai cowok normal meskipun baru kali ini berdekatan dengan seorang wanita asing tapi akupun tergoda setelah melihatnya begitu cantik dan juga seksi saat itu juga aku mengenalnya dan memanggilnya tante Soffi.

    Pertama kali berkenalan dengannya dia dengana terus terang berkata kalau sedang jenuh dengan kehidupan rumah tangganya karena itu dia mencari hiburan dan memang baru pertma kali juga dia melakukan hal ini. Akupun menceritakan hal yang sama dan tante Soffi mendengarkan ceritaku dengan seksama bahkan dia memberikan beberapa saran padaku hingga tidak terasa kamipun semakin akrab.

    Malam itu tante Soffi langsung menawarkan untuk aku bersama dengannnya dan akupun mengikuti kemauannya. Bahkan aku lupa kalau malam itu aku datang bersama temanku ke tempat itu, sampai akhirnya aku sedikit gugup ketika memasuki sebuah hotel tapi sebagai mahasiswa aku harus bersikap seolah biasa melakukan hal ini, malu juga jika harus bersikap katro di depan tante Soffi.

    Sampai di dalam kamar hotel aku lihat tante sudah melepas pakaiannya satu persatu ” Ayo Adan.. beri tante ke hangatan sayang…. heeeehhh… ” Dia mendekat dan mencium leherku dengan mesranya membuatku merasa ingin segera melakukan adegan layaknya dalam cerita dewasa, aku memejamkan mata menikmati sentuhan yang di berikan tante Soffi padaku dan terasa geli setiap sentuhan yang dia berikan.

    Kini akupun tidak diam saja dengan lembut aku daratkan bibirku pada bibirnya dan langsung di kulum oleh tante Soffi “Oooouuugghh…. ooouuugghh… aaaaggghhh… Adan… ka.. mu.. aaagggghhh.. te.. rus… sayang.. ” Akupun lebih berani dengan cara menekan tubuh tante Soffi hingga akhirnya kamipun saling bergumul di atas tempat tidur hotel yang empuk.

    Tante Soffi begitu agresif karena sekarang dia sudah berada di atas tubuhku lalu dengan menuntun kontolku dia masukkan pada memeknya. Akupun merasakan nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, aku gigit bibirku menahanya tapi dapat aku dengar tante Soffi sedang tertawa renyah saat itu, lalu diapun melumat bibirku dengan mesranya.

    Ketika aku buka mataku nampak tante Soffi yang sedang bergerak maju mundur di atas tubuhku “Ooouugghh… ooouuugghhh… aaaaaaaagggghhh… aaaaaggggghhhh…  aaaaggghhh…” Dia mengambil tanganku kemudian dia taruh tanganku pada teteknya sendiri, dan akupun meremasnya seperti pemain dalam adegan cerita dewasa yangmemang pernah aku baca sebelumnya.

    Tante Soffi semakin cepat melakukan gerakannya sampai akhirnya akupun merasa kontolku seakan bergerak dalam memeknya. Aku tahu kalau akan segera menumpahkan sperma tapi aku berusaha menahannya “Ooouuugghh… oooouuuggghhh… ooouuuggghhh… aaaaagggghhhh… sayang… aaagghhh.. ” Dia terus bergoyang dan terus melakukan gerakan pantatnya yang begitu menggoda.

    Sampai akhirnya aku rasakan getaran yang semakin keras pada kontolku dan akhirnya tumpah sudah larva hangat dari dalam kontolku. Baru kali ini aku merasakan nikmat yang seperti ini, aku dekap tubuh tante Soffi yang dengan lembut masih memberikan ciuman hangat padaku. Inilah kenikmatan yang kurasakan dari adegan cerita dewasa yang baru pertama kali aku lakukan dengan tante Soffi.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Tante Kartika Butuh Seks

    Cerita Sex Tante Kartika Butuh Seks


    1363 views

    Perawanku – Liburan panjang ini memang sungguh menyenangkan aku masih duduk di kelas 3 SMP beberapa minggu aku
    hanya tinggal dirumah saja dan bergaul kepada tetangga, bermain main disekitar wilayah desa, aku
    tinggal di peinggiran kota Surakarta Jawatengah.

    Ketika itu sedang bermain kerumahnya Bulek Yati aku tidak pernah tau rumah yang satunya sudah
    dikosongkan lama, dan dihuni oleh orang baru adiknya bulek Yati katanya dari jogja dan mulai menetap
    didesaku.

    Aku kemudian menyempatkan diri untuk mampir berkenalan dengan penghuni baru itu. Ternyata di depan
    rumahnya banyak sekali anak-anak bermain dan tampak dua anak wajah baru, dan ternyata adalah kedua
    anak dari warga baru itu.

    Semua anak tampak tertawa-tawa menggoda salah satu dari anak itu. Mereka tertawa kegirangan karena
    melihat anak itu yang ternyata bisu dengan gayanya yang nakal dan sok bisa bicara sehingga menggelikan
    sekali. Akupun langsung tertawa melihat tingkahnya.

    Tak berapa lama kemudian tampak seorang pria berumur tiga puluh lima tahunan keluar dan menyapaku.
    Pria itu ternyata suami adik bulek Yati. Lalu tak lama kemudian mbak Aminah adik bulek Yati keluar dan
    menyapaku.

    “Lho kok Mas Wawan to….Sudah besar ya sekarang, kelas berapa mas?’

    Banyak tetanggaku memanggilku mas biarpun mereka juga lebih dewasa dariku. Hal itu dikarenakan bapakku
    adalah seorang lurah jadi mereka memanggilku demikian mungkin sebagai bentuk rasa hormat mereka
    terhadap bapakku. Daftar Poker Online

    “Eh mbak Aminah.. iya ini, lama nggak ketemu mbak..ini sudah mau lulus SMP mbak” jawabku.
    “Itu anak mbak sama mas ya?” tanyaku.

    “Iya mas…Ya sudah jatah dari yang kuasa mas…Yang besar itu malah tidak bisa ngomong sampai sekarang…

    Tapi ya saya syukuri saja mas”…jawab mbak Aminah dengan tetap tersenyum. Suaminya juga hanya ikut
    tersenyum.

    Setelah aku perhatikan dari tadi ternyata mbak Aminah semakin seksi. Dia memakai daster merah tanpa
    lengan membuat tubuhnya terlihat semakin putih. Rambutnya terurai panjang lurus dengan porsi panyudara
    dan pantatnya yang benar-benar proporsional.

    Kemudian mereka mempersilakanku masuk namun aku menolak dan ingin ikut bermain saja dengan anak-anak.
    Mulai dari sinilah aku berkenalan dengan Eko, anak mbak Aminah yang bisu itu. Eko berumur kira-kira
    tiga belas tahun sepantaran adik kelasku.

    Dia memang usil dan nakal sekali, namun karena ia banyak menggumam banyak omong tidak jelas karena
    kebisuannya, itu membuatnya terlihat lucu sekali.

    Aku senang sekali berkenalan dengan Eko dan kerap sekali aku mengajaknya main ke rumahku buat obat
    stress. Aku juga sering menyuruhnya membantuku beres-beres rumah.

    Mulai dari sinilah aku mengenal sosok dirinya sebagai seorang anak yang berpikiran mesum. Ternyata di
    balik kebisuannya itu tersimpan pikiran mesum yang luar biasa.

    Cerita Sex Tante Kartika Butuh Seks

    Cerita Sex Tante Kartika Butuh Seks

    Ketika itu saat anak-anak masih bersekolah Eko tidak ada teman main dan langsung menuju ke rumahku.
    Aku hanya tinggal dengan ibu, bapak dan tanteku kartika sedangkan dua kakak laki-lakiku sudah kerja
    merantau di Jakarta. Setelah aku kenalkan mereka dengan Eko, mereka tampak senang karena setiap
    gerak-geriknya membuat tertawa.

    Saat ibu memintaku untuk membersihkan kamar mandi, aku langsung mengajak Eko untuk ikut membantuku.
    Aku tidak berpikiran buruk apapun tentang anak itu namun setelah di kamar mandi tidak kusangka dtengah
    aku lagi menyikat kloset ia dengan tidak ada malunya terhadapku.

    Sedang memain-mainkan celana dalam kotor milik tante kartika yang berada di ember cucian. Dia tampak
    senang sekali dan memain-mainkannya. Melihat itu aku langsung marahin dia namun dia hanya tampak biasa
    saja dan malahan tertawa. Aku berpikir kalau dia memang selain bisu, pikirannya juga tidak waras,
    namun namanya juga obat stress.

    Setelah selesai bersih-bersih kami balik lagi menonton televisi. Tante Kartika sedang duduk membaca
    koran di ruang tamu persis sebelah kami menonton televisi. Sepintas aku amati pandangan Eko yang
    mencuri-curi mengintip celana dalam tante Kartika.

    Wah memang anak ini memang benar-benar berpikiran mesum. Tante kartika adalah janda dan berumur
    sepantaran ibu Eko, tubuhnya pun tidak kalah dengan mbak Aminah.

    Tante tinggal di rumahku karena dia tidak memiliki anak dan tidak mau tinggal sendirian di rumahnya di
    Jakarta setelah bercerai dengan suaminya. Aku terkadang juga berpikiran jorok dan berniat mengintip
    tante kalau sedang mandi namun sampai sekarang aku tidak berani melakukannya karena takut ketahuan dan
    malu dengan bapak ibuku.

    Tetapi dengan kehadiran Eko bisu yang berpikiran mesum ini, aku serasa memiliki rekan baru dalam
    berfantasi mesum karena saat melihatnya curi-curi kesempatan mengintip ada perasaan lain dalam hatiku.

    Aku tidak marah dengan tingkah Eko itu, malahan ketika aku membayangkan Eko bisa menyetubuhi tanteku
    itu aku malah semakin bernafsu. Aku sering beronani membayangkan bersetubuh dengan tanteku namun
    perasaan itu tidak senikmat ketika aku membayangkan Eko ngent0tin tanteku. Demi untuk menjaga imejku
    sebagai seorang anak lurah aku tidak boleh berbuat liar apalagi jika berurusan dengan seks dan nafsu
    birahi.

    Untung saja aku bertemu dengan sosok Eko yang memberikanku fantasi seks baru. Aku selalu optimis kalau
    anak itu urat malu dan sopan santunnya sudah putus, jadi mungkin sekali kalau ia bisa ngent0t dengan
    orang dan aku bermimpi sekali untuk bisa mengintipnya langsung ngent0t.

    Setelah itu aku sedikit menjauh dari Eko dan jika ada kesempatan aku membuntutinya ke manapun dia
    pergi. Ketika itu keluargaku sepi dan hanya tanteku yang ada di rumah. Aku berencana membuktikan
    imajinasiku itu tentang kemungkinan bahwa akan ada wanita yang akan memanfaatkan Eko untuk memuaskan
    dirinya.

    Aku yakin tanteku butuh sekali seks dan dia tidak mungkin berbuat nakal karena akan sangat malu dengan
    ayah dan ibuku. Ketika itu aku pamit sama tante Kartika untuk main ke rumah temanku.

    “Tante, aku mau main dulu ke tempat temanku ya…Aku mungkin pulang larut sore karena ada banyak hal
    yang mesti aku selesaikan dengan temanku”.

    “Jangan terlalu malam Gun, aku sendiri ni”

    Itu jawaban yang aku nantikan, sehingga aku bisa merancang skenario dan mendatangkan Eko untuk ke
    rumahku menemani tanteku.

    Aku yakin pasti tante bakalan menggerayangi Eko karena ia bakalan tidak mengadu karena bisu, dan
    lagian aku yakin kalau Eko malahan yang senang dikerjain mengingat otak mesumnya itu. Aku ingin sekali
    melihat dari langsung mereka ngent0t dan aku akan bisa melihat tubuh bagian intim tante Kartika.

    Lalu langsung saja kujawab.

    “suruh aja Eko si bisu itu temenin tante kalau aku pulang terlalu malam, lumayan bisa buat obat stress
    nanti tan..hehe”

    “O yaudah kalau begitu…” jawab tante senyum.

    Aku mengeluarkan motorlu dan berhenti tidak jauh dari desaku. Aku mampir ke sebuah bengkel milik
    tetangga yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Setelah kira-kira satu jam aku di sana aku minta
    diservisin motorku, padahal kedokku hanya ingin nitip motor dan kemudian pulang. Lalu aku pulang
    mengendap-endap dari belakan rumah.

    Aku bersembunyi di dapur dan mengintip segala apa yang terjadi di rumah. Tante ternyata sedang nonton
    video porno. Dia meremas-remas dadanya sendiri dan jarinya ia masukin ke dalam celana dalamnya.

    Rumah tertutup rapat dan tante dengan leluasa menonton video bokep itu di ruang tamu. Aku bernafsu
    sekali melihat pemandangan itu dan aku ingin sekali bersetubuh dengan tanteku. Namun itu hanya akan
    memperkeruh suasana dan lagian itu bukanlah rencanaku.

    Rencanaku hanya ingin berharap kalau Eko bisu benar-benar dipanggil tante dan dikerjainya sehingga aku
    bisa sambil menontonnya langsung sambil beronani.

    Tak berapa lama kemudian tante keluar rumah tanpa mematikan tontonan bokep itu. Aku yakin dia
    memanggil Eko, dan ternyata dugaanku benar. Ia datang bersama Eko dan segera mengunci rapat pintu. Eko
    ngomel-ngomel tidak jelas kegirangan melihat video itu. Aku juga kegirangan sekali melihat rancangan
    skenario imajinasiku itu yang ternyata menjadi kenyataan sebentar lagi.

    Tanteku mengecek menyentuh celana Eko di bagian depan bermaksud mengecek kont0lnya. Ternyata baru
    melototin bokep sebentar kont0l Eko sudah tegak menantang. Eko sepintas malu dan kemudian sedikit
    menutupinya dengan tangan.

    Tante langsung ambil tindakan. Dia langsung merenggangkan pahanya sehingga roknya tersibak, bermaksud
    memamerkan celana dalamnya. Eko langsung melotot kegirangan bercampur sok tengsin melihat itu dan
    jantungku berdebar keras.

    Aku langsung mengendap ke pintu samping menuju kamar di sebelah ruang tamu karena aku tidak begitu
    jelas melihat adegan itu. Setelah sampai di kamar sebelah aku benar-benar melihat dengan jelas adegan
    itu melalui celah-celah ventilasi.

    Tante membuka celana pendek Eko dan terlihat burung hitam Eko yang lumayan besar untuk anak
    seumurannya sudah tegak menantang. Tante langsung melumat kont0lnya itu dan Eko menggeliat kenikmatan.

    Setelah beberapa saat tante menyuruh Eko mlucuti semua pakaian tante. Tante menuntun tangan Eko
    menarik cawat merahnya dan dengan naluri nafsunya Eko langsung melucuti seluruh pakaian tante sampai
    tak ada benang sehelaipun menutupi.

    Benar-benar indah tubuh tanteku ini. Badanya yang sedikit chubby ini dan wajahnya yang ayu sekarang
    benar-benar terlihat telanjang di depan mataku. Kulitnya putih mulus, rambutnya panjang terurai dan
    pantatnya semok sekali serasa pengen kuremas. Aku semakin ingin mengocok kont0lku.

    Tante membuka lebar pahanya dan Eko gemetaran melihat mem3k tante yang bersih tanpa ada bulunya itu.
    Ia menarik kepala Eko dan menyuruhnya menjilati mem3knya itu dan setelahnya tante menggeliat
    kenikmatan. Banyak banget cairan yang keluar dari mem3knya.

    Tante kurang berpengalaman untuk hal pemanasan dan variasi sex, yang ia tahu untuk anak seumurannya
    hanya pengin cepat-cepat menikmati tubuh wanita.

    Eko kemudian berontak dan langsung menindih tubuh tante sambil menusukkan kont0lnya ke lubang basah
    puki tante. Tante kaget namun menikmati saja permainan kasar Eko itu. Takut kalau spermanya keluar di
    dalam, tante langsung mendorong tubuh kecil Eko keluar.

    Ia langsung mengulum kont0lnya dan tak berapa lama mulut tante dipenui sperma Eko yang bermuncratan
    keluar. Eko tergeletak di kasur tipis di depan TV merasa keenakan.

    Tante kemudian mengambil pelumas dan mengoleskannya ke penis Eko dan juga lubang anusnya. Mungkin
    tante tidak bisa memberitahu Agar tidak mengeluarkan spermanya di dalam vaginanya. Maka dari itu tante
    mencoba anal saja.

    Eko kemudian disuruh memasukkan anusnya ke dalam anus tante dengan posisi doggy. Setelah sedikit
    kesusahan akhirnya masuk juga penisnya dan tante merasa sedikit kesakitan tapi Eko tidak peduli. Ia
    terus memompa dengan kencang dan dibarengi suara tepukan pantat tante yang membuatku jadi ingin
    ejakulasi juga.

    Jari-jari tante ikut masuk ke dalam lubang vagina dan setelah beberapa saat cairan mem3knya
    bermuncratan keluar. Ia mengerang lirih takut kedengaran tetangga. Eko juga semakin liar menghajar
    bur1t tante sampai akhirnya ia menyemprotkan lagi spermanya di bur1t tante. Mereka terbaring puas di
    depan televisi sedangkan aku sibuk membersihkan spermaku yang bermuncratan di mana-mana melihat adegan
    itu.

    Tante kemudian menyuruh Eko pulang dan lalu menutup lagi pintu sambil senyum-senyum menuju ke kamar
    mandi membersihkan diri. Lagi-lagi pikiran menyetubuhi tanteku muncul lagi namun aku harus
    menghindarinya, lagian aku sudah puas melihatnya ngent0t dan beronani sampai puas. Aku segera keluar
    rumah dan bergegas pergi ke bengkel lagi.

    Kejadian itu berulang sekitar lima kali sampai saat tanteku kembali ke Jakarta melanjutkan kerjanya di
    sana kalau suasana rumah lagi sepi dan aku selalu merancang skenario yang sama.

    Aku terus membuntuti kisah seks Eko si bisu itu demi untuk fantasi langsungku karena untuk
    mewujudkannya serasa beban menanggung nama baik orang tua. Sampai ketika setelah tante pergi aku
    mendapati kisah seks Eko dengan beberapa wanita di desaku termasuk dengan ibunya sendiri, mbak Aminah.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Bercinta Dengan Ibu Mertuaku

    Cerita Sex Bercinta Dengan Ibu Mertuaku


    1358 views

    Perawanku – Cerita Sex Bercinta Dengan Ibu Mertuaku, Bapak mertuaku (Pak Jimmy, samaran) yang berusia sekitar 58 tahun baru saja pensiun dari pekerjaannya di salah satu perusahaan di Jakarta. Sebetulnya beliau sudah pensiun dari anggota ABRI ketika berumur 55 tahun, tetapi karena dianggap masih mampu maka beliau terus dikaryakan. Karena beliau masih ingin terus berkarya, maka beliau memutuskan untuk kembali ke kampungnya didaerah Malang, Jawa Timur selain untuk menghabiskan hari tuanya, juga beliau ingin mengurusi kebun Apelnya yang cukup luas.

    Ibu mertuaku (Bu Siska, samaran) walaupun sudah berumur sekitar 45 tahun, tetapi penampilannya jauh lebih muda dari umurnya. Badannya saja tidak gemuk gombyor seperti biasanya ibu-ibu yang sudah berumur, walau sudah berumur tetapi berwajah ayu dan menyenangkan untuk dipandang. Penampilan ibu mertuaku seperti itu mungkin karena selama di Jakarta kehidupannya selalu berkecukupan dan telaten mengikuti senam secara berkala dengan kelompoknya.

    Beberapa bulan yang lalu, aku mengambil cuti panjang dan mengunjunginya bersama Istriku (anak tunggal mertuaku) dan anakku yang baru berusia 2 tahun. Kedatangan kami disambut dengan gembira oleh kedua orang mertuaku, apalagi sudah setahun lebih tidak bertemu sejak mertuaku kembali ke kampungnya. Pertama-tama, aku di peluk oleh Pak Jimmy mertuaku dan istriku dipeluk serta diciumi oleh ibunya dan setelah itu istriku segera mendatangi ayahnya serta memeluknya dan Bu Siska mendekapku dengan erat sehingga terasa payudaranya mengganjal empuk di dadaku dan tidak terasa penisku menjadi tegang karenanya.

    Dalam pelukannya, Bu Siska sempat membisikkan Sur…(namaku).., Ibu kangen sekali denganmu”, sambil menggosok-gosokkan tangannya di punggungku, dan untuk tidak mengecewakannya kubisiki juga, “Buuu…, Saya juga kangen sekali dengan Ibu”, dan aku menjadi sangat kaget ketika ibu mertuaku sambil tetap masih mendekapku membisikiku dengan kata-kata, “Suuur…, Ibu merasakan ada yang mengganjal di perut Ibu”, dan karena kaget dengan kata-kata itu, aku menjadi tertegun dan terus saling melepaskan pelukan dan kuperhatikan ibu mertuaku tersenyum penuh arti.

    Setelah dua hari berada di rumah mertua, aku dan istriku merasakan ada keanehan dalam rumah tangga mertuaku, terutama pada diri ibu mertuaku. Ibu mertuaku selalu saja marah-marah kepada suaminya apabila ada hal-hal yang kurang berkenan, sedangkan ayah mertuaku menjadi lebih pendiam serta tidak meladeni ibu mertuaku ketika beliau sedang marah-marah dan ayah mertuaku kelihatannya lebih senang menghabiskan waktunya di kebun Apelnya, walaupun di situ hanya duduk-duduk seperti sedang merenung atau melamun. Istriku sebagai anaknya tidak bisa berbuat apa-apa dengan tingkah laku orang tuanya terutama dengan ibunya, yang sudah sangat jauh berlainan dibanding sewaktu mereka masih berada di Jakarta, kami berdua hanya bisa menduga-duga saja dan kemungkinannya beliau itu terkena post power syndrome. Karena istriku takut untuk menanyakannya kepada kedua orang tuanya, lalu Istriku memintaku untuk mengorek keterangan dari ibunya dan supaya ibunya mau bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya, maka istriku memintaku untuk menanyakannya sewaktu dia tidak sedang di rumah dan sewaktu ayahnya sedang ke kebun Apelnya.

    Di pagi hari ke 3 setelah selesai sarapan pagi, istriku sambil membawa anakku, pamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi mengunjungi Budenya di kota Kediri, yang tidak terlalu jauh dari Malang dan kalau bisa akan pulang sore nanti.
    “Lho…, Jenny (nama istriku), kok Mas mu nggak diajak..?”, tanya ibunya.
    “Laah.., nggak usahlah Buuu…, biar Mas Sur nemenin Bapak dan Ibu, wong nggak lama saja kok”, sahut istriku sambil mengedipkan matanya ke arahku dan aku tahu apa maksud kedipan matanya itu, sedangkan ayahnya hanya berpesan pendek supaya hati-hati di jalan karena hanya pergi dengan cucunya saja.

    Tidak lama setelah istriku pergi, Pak Jimmy pun pamitan dengan istrinya dan aku, untuk pergi ke kebun apelnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya sambil menambahkan kata-katanya, “Nak Suuur…, kalau nanti mau lihat-lihat kebun, susul bapak saja ke sana”. Sekarang yang di rumah hanya tinggal aku dan ibu mertuaku yang sedang sibuk membersihkan meja makan. Untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan tugas yang diminta oleh istriku, kugunakan untuk membaca koran lokal di ruang tamu.

    Entah sudah berapa lama aku membaca koran, yang pasti seluruh halaman sudah kubaca semua dan tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara sesuatu yang jatuh dan diikuti dengan suara mengaduh dari belakang, dengan gerakan reflek aku segera berlari menuju belakang sambil berteriak, “Buuu…, ada apa buuu?”. Dan dari dalam kamar tidurnya kudengar suara ibu mertuaku seperti merintih, “Nak Suuur…, tolooong Ibuuu”, dan ketika kujenguk ternyata ibu mertuaku terduduk di lantai dan sepertinya habis terjatuh dari bangku kecil di dekat lemari pakaian sambil meringis dan mengaduh serta mengurut pangkal pahanya. Serta merta kuangkat ibu mertuaku ke atas tempat tidurnya yang cukup lebar dan kutidurkan sambil kutanya, “Bagian mana yang sakit Buuu”, dan ibu mertuaku menjawab dengan wajah meringis seperti menahan rasa sakit, “Di sini.., sambil mengurut pangkal paha kanannya dari luar rok yang dipakainya”.

    Tanpa permisi lalu kubantu mengurut paha ibu mertuaku sambil kembali kutanya, “Buuu…, apa ada bagian lain yang sakit..?
    “Nggak ada kok Suuur…, cuman di sepanjang paha kanan ini ada rasa sakit sedikit..”, jawabnya.
    “Ooh…, iya nak Suuur…, tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar ibu, biar paha ibu terasa panas dan hilang sakitnya”.
    Aku segera mencari minyak yang dimaksud di meja rias dan alangkah kagetku ketika aku kembali dari mengambil minyak kayu putih, kulihat ibu mertuaku telah menyingkap roknya ke atas sehingga kedua pahanya terlihat jelas, putih dan mulus. Aku tertegun sejenak di dekat tempat tidur karena melihat pemandangan ini dan mungkin karena melihat keragu-raguanku ini dan tertegun dengan mataku tertuju ke arah paha beliau, ibu mertuaku langsung saja berkata, “Ayooo..lah nak Suuur…, nggak usah ragu-ragu, kaki ibu terasa sakit sekali ini lho, lagi pula dengan ibu mertua sendiri saja kok pake sungkan sungkan…, tolong di urutkan paha ibu tapi nggak usah pakai minyak kayu putih itu…, ibu takut nanti malah paha ibu jadi kepanasan.

    Dengan perasaan penuh keraguan, kuurut pelan-pelan paha kanannya yang terlihat ada tanda agak merah memanjang yang mungkin sewaktu terjatuh tadi terkena bangku yang dinaikinya seraya kutanya, “Bagaimana Buuu…, apa bagian ini yang sakit..?
    “Betul Nak Suuur…, yaa yang ituuu…, tolong urutkan yang agak keras sedikit dari atas ke bawah”, dan dengan patuh segera saja kuikuti permintaan ibu mertuaku. Setelah beberapa saat kuurut pahanya yang katanya sakit itu dari bawah ke atas, sambil memejamkan matanya, ibu mertuaku berkata kembali, “Nak Suuur…, tolong agak ke atas sedikit ngurutnya”, sambil menarik roknya lebih ke atas sehingga sebagian celana dalamnya yang berwarna merah muda dan tipis itu terlihat jelas dan membuatku menjadi tertegun dan gemetar entah kenapa, apalagi vagina ibu mertuaku itu terlihat mengembung dari luar CD-nya dan ada beberapa helai bulu vaginanya yang keluar dari samping CD-nya.

    “Ayoo…,doong…, Nak Sur, kok ngurutnya jadi berhenti”, kata ibu mertuaku sehingga membuatku tersadar.
    “Iii…, yaa…, Buuu maaf, tapi…, Buuu”, jawabku agak terbata-bata dan tanpa menyelesaikan perkataanku karena agak ragu.
    “aah… kenapa sih Nak Suuur..?, kata ibu mertuaku kembali sambil tangan kanannya memegang tangan kiriku serta menggoncangnya pelan.
    “Buuu…, Saa…, yaa…, saayaa”, sahutku tanpa sadar dan tidak tahu apa yang harus kukatakan, tetapi yang pasti penisku menjadi semakin tegang karena melihat bagian CD ibu mertuaku yang menggelembung di bagian tengahnya.

    “Nak Suuur..”, katanya lirih sambil menarik tangan kiriku dan kuikuti saja tarikan tangannya tanpa prasangka yang bukan-bukan, dan setelah tanganku diciumnya serta digeser geserkan di bibirnya, lalu secara tidak kuduga tanganku diletakkan tepat di atas vaginanya yang masih tertutup CD dan tetap dipegangnya sambil dipijat-pijatkannya secara perlahan ke vaginanya diikuti dengan desis suara ibu mertuaku, “ssshh…, ssshh”. Kejadian yang tidak kuduga sama sekali ini begitu mengagetkanku dan secara tidak sadar aku berguman agak keras.
    “Buuu…, Saa…yaa”, dan belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dari mulut ibu mertuaku terdengar, “Nak Suuur…, koook seperti anak kecil saja.., siiih?”.
    “Buu…, Saa…, yaa…, takuuut kalau nanti bapak datang”, sahutku gemetar karena memang saat itu aku takut benar, sambil mencoba menarik tanganku tetapi tangan ibu mertuaku yang masih tetap memegang tanganku, menahannya dan bahkan semakin menekan tanganku ke vaginanya serta berkata pelan, “Nak Suuur…, Bapak pulang untuk makan siang selalu jam 1 siang nanti…, tolong Ibuuu…, naak”,terdengar seperti mengiba.

    Sebetulnya siapa sih yang tidak mau kalau sudah seperti ini, aku juga tidak munafik dan pasti para pembaca Situs “Lensa69.net” pun juga tidak bisa menahan diri kalau dalam situasi seperti ini, tetapi karena ini baru pertama kualami dan apalagi dengan ibu mertuaku sendiri, tentunya perasaan takutpun pasti akan ada.
    “Ayooo…lah Nak Suuur…, tolongin Ibuuu…, Naak”, kudengar ibu mertuaku mengiba kembali sehingga membuatku tersadar dan tahu-tahu ibu mertuaku telah memelukku.
    “Buuu…, biar saya kunci pintunya dulu, yaa..?”, pintaku karena aku was-was kalau nanti ada orang masuk, tetapi ibu mertuaku malah menjawab, “Nggak usah naak…, selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi ke rumah Ibu”, serta terus mencium bibirku dengan bernafsu sampai aku sedikit kewalahan untuk bernafas. Semakin lama ibu mertuaku semakin tambah agresif saja, sambil tetap menciumiku, tangannya berusaha melepaskan kaos oblong yang kukenakan dan setelah berhasil melepaskan kaosku dengan mudah disertai dengan bunyi nafasnya yang terdengar berat dan cepat, ibu mertuaku terus mencium wajah serta bibirku dan perlahan-lahan ciumannya bergerak ke arah leher serta kemudian ke arah dadaku.

    Ciuman demi ciuman ibu mertuaku ini tentu saja membuatku menjadi semakin bernafsu dan ketakutanku yang tadipun sudah tidak teringat lagi.
    “Buuu…, boleh saya bukaa…, rok Ibu..? tanyaku minta izin.
    “Suuur…, bol…, eh…, boleh…, Nak, Nak Suur…, boleh lakukan apa saja..”, katanya dengan suara terputus-putus dan terus kembali menciumi dadaku dengan nafasnya yang cepat dan sekarang malah berusaha melepas kancing celana pendek yang ada di badanku. Setelah rok ibu mertuaku terlepas, lalu kulepaskan juga kaitan BH-nya dan tersembulah payudaranya yang tidak begitu besar dan sudah agak menggelantung ke bawah dengan puting susunya yang besar kecoklatan. Sambil kuusapkan kedua tanganku ke bagian bawah payudaranya lalu kutanyakan, “Buuu…, boleh saya pegang dan ciumi tetek…, Ibuu..?
    “Bool…, eh…, boleh…, sayang.., lakukan apa saja yang Nak Sur mau.., Ibu sudah lama sekali tidak mendapatkan ini lagi dari bapakmu…, ayoo.., sayaang”, sahut ibu mertuaku dengan suara terbata-bata sambil mengangkat dadanya dan perlahan-lahan kupegang kedua payudara ibu mertuaku dan salah satu puting susunya langsung kujilati dan kuhisap-hisap, serta pelan-pelan kudorong tubuh ibu mertuaku sehingga jatuh tertidur di kasur dan dari mulut ibu mertuaku terdengar, “ssshh…, aahh.., sayaang…, ooohh…, teruuus…, yaang…, tolong puasiiin Ibuu…, Naak”, dan suara ibu mertuaku yang terdengar menghiba itu menjadikanku semakin terangsang dan aku sudah lupa kalau yang kugeluti ini adalah ibu mertuaku sendiri dan ibu dari istriku.

    “Naak Suuur”, kudengar suara ibu mertuaku yang sedang meremas-remas rambut di kepalaku serta menciuminya, “Ibuu…, ingin melihat punyamu…, Naak”, seraya tangannya berusaha memegang penisku yang masih tertutup celana pendekku.
    “Iyaa…, Buu…, saya buka celana dulu Buuu”, sahutku setelah kuhentikan hisapanku pada payudaranya serta segera saja aku bangkit dan duduk di dekat muka ibu mertuaku. Segera saja ibu mertuaku memegang penisku yang sedang berdiri tegang dari luar celana dan berkomentar, “Nak Suur…, besar betuuul…, dan keras lagi, ayooo…, dong cepaat.., dibuka celananya…, agar Ibu bisa melihatnya lebih jelas”, katanya seperti sudah tidak sabar lagi, dan tanpa disuruh ibu untuk kedua kalinya, langsung saja kulepas celana pendek yang kukenakan.

    Ketika aku membuka CD-ku serta melihat penisku berdiri tegang ke atas, langsung saja ibu mertuaku berteriak kecil, “Aduuuh…, Suuur…, besaar sekali”, padahal menurut anggapanku ukuran penisku sepertinya wajar saja menurut ukuran orang Indonesia tapi mungkin saja lebih besar dari punya suaminya dan ibu mertuaku langsung saja memegangnya serta mengocoknya pelan-pelan sehingga tanpa kusadari aku mengeluarkan desahan kecil, “ssshh…, aahh”, sambil kedua tanganku kuusap-usapkan di wajah dan rambutnya.

    “Aduuuh…, Buuu…, sakiiit”, teriakku pelan ketika ibu mertuaku berusaha menarik penisku ke arah wajahnya, dan mendengar keluhanku itu segera saja ibu mertuaku melepas tarikannya dan memiringkan badannya serta mengangkat separuh badannya yang ditahan oleh tangan kanannya dan kemudian mendekati penisku. Setelah mulutnya dekat dengan penisku, langsung saja ibu mertuaku mengeluarkan lidahnya serta menjilati kepala penisku sedangkan tangan kirinya meremas-remas pelan kedua bolaku, sedangkan tangan kiriku kugunakan untuk meremas-remas rambutnya serta sekaligus untuk menahan kepala ibu mertuaku. Tangan kananku kuremas-remaskan pada payudaranya yang tergantung ke samping.

    Setelah beberapa kali kepala penisku dijilatinya, pelan-pelan kutarik kepala ibu mertuaku agar bisa lebih dekat lagi ke arah penisku dan rupanya ibu mertuaku cepat mengerti apa yang kumaksud dan walaupun tanpa kata-kata langsung saja kepalanya didekatkan mengikuti tarikan kedua tanganku dan sambil memegangi batang penisku serta dengan hanya membuka mulutnya sedikit, ibu mertuaku secara pelan-pelan memasukkan penisku yang sudah basah oleh air liurnya sampai setengah batang penisku masuk ke dalam mulutnya. Kurasakan lidah ibu mertuaku dipermainkannya dan digesek-gesekannya pada kepala penisku, setelah itu kepala ibu ditariknya mundur pelan-pelan dan kembali dimajukan sehingga penisku terasa sangat nikmat. Karena tidak tahan menahan kenikmatan yang di berikan ibu mertuaku, aku jadi mendesis, “ssshh…, aacccrrr…, ooohh”, mengikuti irama maju mundurnya kepala ibu. Makin lama gerakan kepala ibu mertuaku maju mundur semakin cepat dan ini menambah nikmat bagiku.

    Beberapa menit kemudian, ibu mertuaku secara tiba-tiba melepaskan penisku dari mulutnya, padahal aku masih ingin hal ini terus berlangsung dan sambil kembali menaruh kepalanya di tempat tidur, dia menarik bahuku untuk mengikutinya. Ibu langsung mencium wajahku dan ketika ciumannya mengarah ke telingaku, kudengar ibu berkata dengan agak berbisik, “Naak Suuur…, Ibu juga kepingin punya ibu dijilati”, dan sambil kunaiki tubuh ibu mertuaku lalu kutanyakan, “Buuu…, apa boleh…, saya lakukan?”, dan segera saja ibu menjawabnya, “Nak Suuur…, tolong pegang dan jilati kepunyaan ibu…, naak…, ibu sudah lama kepingin di gituin”.

    Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku menurunkan badanku secara perlahan-lahan dan ketika melewati dadanya kembali kuciumi serta kujilati payudara ibu mertuaku yang sudah tidak terlalu keras lagi, setelah beberapa saat kuciumi payudara ibu, aku segera menurunkan badanku lagi secara perlahan sedangkan ibu mertuaku meremas-remas rambutku, juga terasa seperti berusaha mendorong kepalaku agar cepat-cepat sampai ke bawah. Kuciumi dan kujilati perut dan pusar ibu sambil salah satu tanganku kugunakan untuk menurunkan CD-nya. Kemudian dengan cekatan ku lepas CD-nya dan kulemparkan ke atas lantai. Kulihat vagina ibu mertuaku begitu lebat ditumbuhi bulu-bulu yang hitam mengitari liang vaginanya. Mungkin karena terlalu lama aku menjilati perut dan sekitarnya, kembali kurasakan tangan ibu yang ada di kepalaku menekan ke bawah dan kali ini kuikuti dengan menurunkan badanku pelan-pelan ke bawah dan sesampainya di dekat vaginanya, kuciumi daerah di sekitarnya dan apa yang kulakukan ini mungkin menyebabkan ibu tidak sabaran lagi, sehingga kudengar suara ibu mertuaku, “Nak Suuur…, tolooong…, cepaat…, saa.., yaang…, ayooo…, Suuur”.

    Tanpa kujawab permintaannya, aku mulai melebarkan kakinya dan kuletakkan badanku di antara kedua pahanya, lalu kusibak bulu vaginanya yang lebat itu untuk melihat belahan vagina ibu dan setelah bibir vagina ibu terlihat jelas lalu kubuka bibir kemaluannya dengan kedua jari tanganku, ternyata vagina ibu mertuaku telah basah sekali. Ketika ujung lidahku kujilatkan ke dalam vaginanya, kurasakan tubuh ibu menggelinjang agak keras sambil berkata, “Cepaat…, Suuur…, ibu sudah nggak tahaan”.

    Dengan cepat kumasukkan mulut dan lidahku ke dalam vaginanya sambil kujilati dan kusedot-sedot dan ini menyebabkan ibu mulai menaik-turunkan pantatnya serta bersuara, “ssshh…, aahh…, Suuur…, teruuus…, adduuuhh…, enaak…, Suuur”, Lalu kukecup clitorisnya berulang kali hingga mengeras, hal ini membuat ibu mertuaku menggelinjang hebat, “Aahh…, ooohh…, Suuur…, betuuul…, yang itu…, Suuur…, enaak…, aduuuh…, Suuur…, teruskaan…, aahh”, sambil kedua tangannya menjambak rambutku serta menekan kepalaku lebih dalam masuk ke vaginanya. Kecupan demi kecupan di vagina ibu ini kuteruskan sehingga gerakan badan ibu mertuaku semakin menggila dan tiba-tiba kudengar suara ibu setengah mengerang, “aahh…, oooh…, duuuh…, Suuur…, ibuu…, mau.., mauuu…, sampaiii…, Naak…, oooh”, disertai dengan gerakan pantatnya naik turun secara cepat.

    Gerakan badannya terhenti dan yang kudengar adalah nafasnya yang menjadi terengah-engah dengan begitu cepatnya dan tangannyapun sudah tidak meremas-remas rambutku lagi, sementara itu jilatan lidahku di vagina ibu hanya kulakukan sekedarnya di bagian bibirnya saja. Dengan nafasnya yang masih memburu itu, tiba-tiba ibu mertuaku bangun dan duduk serta berusaha menarik kepalaku seraya berkata, “Naak Suuur…, ke siniii…, saayaang”, dan tanpa menolak kuikuti saja tarikan tangan ibu, ketika kepalaku sudah di dekat kepalanya, ibu mertuaku langsung saja memelukku seraya berkata dengan suara terputus-putus karena nafasnya yang masih memburu, “Suuur…, Ibu puas dengan apa yang Nak Suuur…, lakukan tadi, terima kasiih…, Naak”. Ibu mertuaku bertubi-tubi mencium wajahku dan kubalas juga ciumannya dengan menciumi wajahnya sambil kukatakan untuk menyenangkan hatinya, “Buuu…, saya sayang Ibuuu…, saya ingin ibu menjadi…, puu..aas”.

    Setelah nafas ibu sudah kembali normal dan tetap saja masih menciumi seluruh wajahku dan sesekali bibirku, dia berkata, “Naak Suuur…, Ibu masih belum puas sekali…, Suuur…, tolooong puasin ibu sampai benar-benar puaas…, Naak”, seraya kurasakan ibu merenggangkan kedua kakinya. Karena aku masih belum memberikan reaksi atas ucapannya itu, karena tiba-tiba aku terpikir akan istriku dan yang kugeluti ini adalah ibu kandungnya, aku menjadi tersadar ketika ibu bersuara kembali, “Sayaang…, ayooo…, tolooong Ibu dipuasin lagi Suuur, tolong masukkan punyamu yang besar itu ke punya ibu”.
    “Buuu…, seharusnya saya tidak boleh melakukan ini…, apalagi kepada Ibuu”,sahutku di dekat telinganya.
    “Suuur…, nggak apa-apa…, Naak…, Ibu yang kepingin, lakukanlah Naak…, lakukan sampai Ibu benar-benar puas Suuur”, katanya dengan suara setengah mengiba.

    “aahh…, biarlah, kenapa kutolak”, pikirku dan tanpa membuang waktu lagi aku lalu mengambil ancang-ancang dan kupegang penisku serta kuusap-usapkan di belahan bibir vagina ibu mertuaku yang sudah sedikit terbuka. Sambil kucium telinga ibu lalu kubisikkan, “Buuu…, maaf yaa…., saya mau masukkan sekarang, boleh?”.
    “Suur…, cepat masukkan, Ibu sudah kepingin sekali Naak”, sahutnya seperti tidak sabar lagi dan tanpa menunggu ibu menyelesaikan kalimatnya aku tusukkan penisku ke dalam vaginanya, mungkin entah tusukan penisku terlalu cepat atau karena ibu katanya sudah lama tidak pernah digauli oleh suaminya langsung saja beliau berteriak kecil, “Aduuuh…, Suuur…, pelan-pelan saayaang…, ibu agak sakit niiih”, katanya dengan wajah yang agak meringis mungkin menahan rasa kesakitan. Kuhentikan tusukan penisku di vaginanya, “Maaf Buu…, saya sudah menyakiti Ibu…, maaf ya Bu”. Ibu mertuaku kembali menciumku, “Tidak apa-apa Suuur…, Ibu cuma sakit sedikit saja kok, coba lagi Suur..”, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungungku.

    “Buuu…, saya mau masukkan lagi yaa dan tolong Ibu bilang yaa…, kalau ibu merasa sakit”, sahutku. Tanpa menunggu jawaban ibu segera saja kutusukkan kembali penisku tetapi sekarang kulakukan dengan lebih pelan. Ketika kepala penisku sudah menancap di lubang vaginanya, kulihat ibu sedikit meringis tetapi tidak mengeluarkan keluhan, “Buuu…, sakit.., yaa?”. Ibu hanya menggelengkan kepalanya serta menjawab, “Suuur…, masukkan saja sayaang”, sambil kurasakan kedua tangan ibu menekan punggungku. Aku segera kembali menekan penisku di lubang vaginanya dan sedikit terasa kepala penisku sudah bisa membuka lubang vaginanya, tetapi kembali kulihat wajah ibu meringis menahan sakit. Karena ibu tidak mengeluh maka aku teruskan saja tusukan penisku dan, “Bleess”, penisku mulai membongkar masuk ke liang vaginanya diikuti dengan teriakan kecil, “Aduuuh…, Suuur”, sambil menengkeramkan kedua tangannya di punggungku dan tentu saja gerakan penisku masuk ke dalam vaginanya segera kutahan agar tidak menambah sakit bagi ibu.
    “Buuu…, sakit yaa..? maaf ya Buuu”. Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya.
    “Enggak kok sayaang…, ibu hanya kaget sedikit saja”, lalu mencium wajahku sambil berucap kembali, “Suuur…, besar betul punyamu itu”.

    Pelan-pelan kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku yang terjepit di dalam vaginanya keluar masuk dan ibupun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya pelan-pelan sambil berdesah, “ssshh…, oooh…, aahh…, sayaang…, nikmat…, teruuuskan…, Naak”, katanya seraya mempercepat goyangan pantatnya. Akupun sudah mulai merasakan enaknya vaginan ibu dan kusahut desahannya, “Buuu…, aahh…, punyaa Ibu juga nikmat, buuu”, sambil kuciumi pipinya.

    Makin lama gerakanku dan ibu semakin cepat dan ibupun semakin sering mendesah, “Aah…, Suuurr…, ooh…, teruus…, Suur”. Ketika sedang nikmat-enaknya menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya, ibu menghentikan goyangan pantatnya. Aku tersentak kaget, “Buuu…, kenapa? apa ibu capeeek?”, Ibu hanya menggelengkan kepalanya saja, sambil mencium leherku ibu berucap, “Suuur…, coba hentikan gerakanmu itu sebentar”.
    “Ada apa Buuu”, sahutku sambil menghentikan goyangan pantatku naik turun.
    “Suuur…, kamu diam saja dan coba rasakan ini”, kata ibu tanpa menjelaskan apa maksudnya dan tidak kuduga tiba-tiba terasa penisku seperti tersedot dan terhisap di dalam vagina ibu mertuaku, sehingga tanpa sadar aku mengatakan, “Buuu…, aduuuh…, enaak…, Buu…, teruus Bu, oooh…, nikmat Buu”, dan tanpa sadar, aku kembali menggerakkan penisku keluar masuk dengan cepat dan ibupun mulai kembali menggoyangkan pantatnya.
    “oooh…, aah…, Suuur…, enaak Suuur”, dan nafasnya dan nafaskupun semakin cepat dan tidak terkontrol lagi.

    Mengetahui nafas Ibu serta goyangan pantat Ibu sudah tidak terkontrol lagi, aku tidak ingin ibu cepat-cepat mencapai orgasmenya, lalu segera saja kuhentikan gerakan pantatku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya yang menyebabkan ibu mertuaku protes, “Kenapa…, Suuur…, kok berhenti?”, tapi protes ibu tidak kutanggapi dan aku segera melepaskan diri dari pelukannya lalu bangun.

    Tanpa bertanya, lalu badan ibu mertuaku kumiringkan ke hadapanku dan kaki kirinya kuangkat serta kuletakkan di pundakku, sedangkan ibu mertuaku hanya mengikuti saja apa yang kulakukan itu. Dengan posisi seperti ini, segera saja kutusukkan kembali penisku masuk ke dalam vagina ibu mertuaku yang sudah sangat basah itu tanpa kesulitan. Ketika seluruh batang penisku sudak masuk semua ke dalam vaginanya, segera saja kutekan badanku kuat-kuat ke badan ibu sehingga ibu mulai berteriak kecil, “Suuur…, aduuuh…, punyamu masuk dalam sekali…, naak…, aduuuh…, teruuus sayaang…, aah”, dan aku meneruskan gerakan keluar masuk penisku dengan kuat. Setiap kali penisku kutekan dengan kuat ke dalam vagina ibu mertuaku, ibu terus saja berdesah, “Ooohh…, aahh…, Suuur…, enaak…, terus, tekan yang kuaat sayaang”.

    Aku tidak berlama-lama dengan posisi seperti ini. Kembali kehentikan gerakanku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya. Kulihat ibu hanya diam saja tanpa protes lagi dan lalu kukatakan pada ibu, “Buuu…, coba ibu tengkurap dan nungging”, kataku sambil kubantu membalikkan badan dan mengatur kaki ibu sewaktu nungging, “Aduuh…, Suuur…, kamu kok macem-macem sih”, komentar Ibu mertuaku. Aku tidak menanggapi komentarnya dan tanpa kuberi aba-aba penisku kutusukkan langsung masuk ke dalam vagina ibu serta kutekan kuat-kuat dengan memegang pinggangnya sehingga ibu berteriak, “Aduuuh Suuur, oooh”, dan tanpa kupedulikan teriakan ibu, langsung saja kukocok penisku keluar masuk vaginanya dengan cepat dan kuat hingga membuat badan ibu tergetar ketika sodokanku menyentuh tubuhnya dan setiap kali kudengar ibu berteriak, “oooh…, oooh…, Suuur”, dan tidak lama kemudian ibu mengeluh lagi, “Suuur…, Ibu capek Naak…, sudaah Suuur…, Ibuu capeeek”, dan tanpa kuduga ibu lalu menjatuhkan dirinya tertidur tengkurap dengan nafasnya yang terengah-engah, sehingga mau tak mau penisku jadi keluar dari vaginanya.

    Tanpa mempedulikan kata-katanya, segera saja kubalik badan ibu yang jatuh tengkurap. Sekarang sudah tidur telentang lagi, kuangkat kedua kakinya lalu kuletakkan di atas kedua bahuku. Ibu yang kulihat sudah tidak bertenaga itu hanya mengikuti saja apa yang kuperbuat. Segera saja kumasukkan penisku dengan mudah ke dalam vagina ibu mertuaku yang memang sudah semakin basah itu, kutekan dan kutarik kuat sehingga payudaranya yang memang sudah aggak lembek itu terguncang-guncang. Ibu mertuaku nafasnya terdengar sangat cepat, “Suuur…, jangaan…, kuat-kuat Naak…, badan ibu sakit semua”, sambil memegang kedua tanganku yang kuletakkan di samping badannya untuk menahan badanku.

    Mendengar kata-kata ibu mertuaku, aku menjadi tersadar dan teringat kalau yang ada di hadapanku ini adalah ibu mertuaku sendiri dan segera saja kehentikan gerakan penisku keluar masuk vaginanya serta kuturunkan kedua kaki ibu dari bahuku dan langsung saja kupeluk badan ibu serta kuucapkan, “Maaf…, Buu…, kalau saya menyakiti Ibu, saya akan mencoba untuk pelan-pelan”, segera saja ibu berucap, “Suuur nggak apa-apa Nak, tapi Ibu lebih suka dengan posisi seperti ini saja, ayoo…, Suuur mainkan lagi punyamu agar ibu cepat puaas”.
    “Iyaa…, Buuu…, saya akan coba lagi”, sahutku sambil kembali kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku keluar masuk vagina ibu dan kali ini aku lakukan dengan hati-hati agar tidak menyakiti badan ibu, dan ibu mertuakupun sekarang sudah mulai menggoyangkan pantatnya serta sesekali mempermainkan otot-otot di vaginanya, sehingga kadang-kadang terasa penisku terasa tertahan sewaktu memasuki liang vaginanya.

    Ketika salah satu payudara ibu kuhisap-hisap puting susunya yang sudah mengeras itu, ibu mertuaku semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan terdengar desahannya yang agak keras diantara nafasnya yang sudah mulai memburu, “ooohh…, aahh…, Suuur…, teruuus…, oooh”, seraya meremas-remas rambutku lebih keras. Akupun ikut mempercepat keluar masuknya penisku di dalam vaginanya.

    Goyangan pinggul ibu mertuakupun semakin cepat dan sepertinya sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Disertai nafasnya yang semakin terengah-engah dan kedua tangannya dirangkulkan ke punggungku kuat-kuat, ibu mengatakan dengan terbata-bata, “Nak Suuur…, aduuuh…, Ibuuu…, sudaah…, oooh…, mauuu kelluaar”. Aku sulit bernafas karena punggungku dipeluk dan dicengkeramnya dengan kuat dan kemudian ibu mertuaku menjadi terdiam, hanya nafasnya saja yang kudengar terengah-engah dengan keras dan genjotan penisku keluar masuk vaginanya. Untuk sementara aku hentikan untuk memberikan kesempatan pada ibu menikmati orgasmenya sambil kuciumi wajahnya, “Bagaimana…, Buuu?, mudah-mudahan ibu cukup puas.

    Ibu mertuaku tetap masih menutup matanya dan tidak segera menjawab pertanyaanku, yang pasti nafas ibu masih memburu tetapi sudah mulai berkurang dibanding sebelumnya. Karena ibu masih diam, aku menjadi sangat kasihan dan kusambung pertanyaanku tadi di dekat telinganya, “Buu…, saya tahu ibu pasti capek sekali, lebih baik ibu istirahat dulu saja.., yaa?”, seraya aku mulai mengangkat pantatku agar penisku bisa keluar dari vagina ibu yang sudah sangat basah itu. Tetapi baru saja pantatku ingin kuangkat, ternyata ibu mertuaku cepat-cepat mencengkeram pinggulku dengan kedua tangannya dan sambil membuka matanya, memandang ke wajahku, “Jangaan…, Suuur…, jangan dilepas punyamu itu, ibu diam saja karena ingin melepaskan lelah sambil menikmati punyamu yang besar itu mengganjal di tempat ibuuu, jangaan dicabut dulu…, yaa…, sayaang”, terus kembali menutup matanya.

    Mendengar permintaan ibu itu, aku tidak jadi mencabut penisku dari dalam vagina ibu dan kembali kujatuhkan badanku pelan-pelan di atas badan ibu yang nafasnya sekarang sudah kelihatan mulai agak teratur, sambil kukatakan, “Tidaak…, Buuu…, saya tidak akan mencabutnya, saya juga masih kepingin terus seperti ini”, sambil kurangkul leher ibu dengan tangan kananku. Ibu hanya diam saja dengan pernyataanku itu, tetapi tiba-tiba penisku yang sejak tadi kudiamkan di dalam vaginanya terasa seperti dijepit dan tersedot vagina ibu mertuaku, dan tanpa sadar aku mengaduh, “Aduuuh…, oooh…, Buuu”.
    “Kenapa…, sayaang…, enaak yaa?”, sahut ibu sambil mencium bibirku dengan lembut dan sambil kucium hidungnya kukatakan, “Buuu…, enaak sekaliii”, dan seperti tadi, sewaktu ibu mertuaku mula-mula menjepit dan menyedot penisku dengan vaginanya, secara tidak sengaja aku mulai menggerakkan lagi penisku keluar masuk vaginanya dan ibu mertuakupun kembali mendesah, “oooh…, aah…, Suuur…, teruuus…, naak…, aduuuh…, enaak sekali”.

    Semakin lama gerakan pinggul ibu semakin cepat dan kembali kudengar nafasnya semakin lama semakin memburu. Gerakan pinggul ibu kuimbangi dengan mempercepat kocokan penisku keluar masuk vaginanya. Makin lama aku sepertinya sudah tidak kuat untuk menahan agar air maniku tetap tidak keluar, “Buuu…, sebentar lagi…, sayaa…, sudaah…, mau keluaar”, sambil kupercepat penisku keluar masuk vaginanya dan mungkin karena mendengar aku sudah mendekati klimaks, ibu mertuakupun semakin mempercepat gerakan pinggulnya serta mempererat cengkeraman tangannya di punggungku seraya berkata, “Suuur…, teruuuss…, Naak…, Ibuuu…, jugaa…, sudah dekat, ooohh…, ayooo Suuur…, semprooot Ibuu dengan airmuu…, sekaraang”.

    “Iyaa…, Buuu…, tahaan”, sambil kutekan pantatku kuat-kuat dan kami akhiri teriakan itu dengan berpelukan sangat kuat serta tetap kutekan penisku dalam-dalam ke vagina ibu mertuaku. Dalam klimaksnya terasa vagina ibu memijat penisku dengan kuat dan kami terus terdiam dengan nafas terengah-engah.

    Setelah nafas kami berdua agak teratur, lalu kucabut penisku dari dalam vagina ibu dan kujatuhkan badanku serta kutarik kepala ibu mertuaku dan kuletakkan di dadaku.Setelah nafasku mulai teratur kembali dan kuperhatikan nafas ibupun begitu, aku jadi ingat akan tugas yang diberikan oleh istriku.
    “Buuu…, apa ini yang menyebabkan ibu selalu marah-marah pada Bapak..?”, tanyaku.
    “Mungkin saja Suuur…, kenapa Suuur?”, Sahutnya sambil tersenyum dan mencium pipiku.
    “Buuu…, kalau benar, tolong ibu kurangi marah-marahnya kepada Bapak, kasihan dia”, ibu hanya diam dan seperti berfikir.
    Setelah diam sebentar lalu kukatakan, “Buuu…, sudah siang lho, seraya kubangunkan tubuh ibu serta kubimbing ke kamar mandi.

    Setelah peristiwa ini terjadi, ibu seringkali mengunjungi rumah kami dengan alasan kangen cucu dan anaknya Jenny, tetapi kenyataannya ibu mertuaku selalu mengontakku melalui telepon di kantor dan meminta jatahnya di suatu motel, sebelum menuju ke rumahku. Untungnya sampai sekarang Istriku tidak curiga, hanya saja dia merasa aneh, karena setiap bulannya ibunya selalu mengunjung rumah kami.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Bercinta Dengan Ibu Tiriku

    Cerita Sex Bercinta Dengan Ibu Tiriku


    1358 views

    Perawanku – Cerita Sex Bercinta Dengan Ibu Tiriku, Perkenalkan nama saya Lala diusiaku yang 40 tahun ini birahi sexsualku seakan akan bertambah, perkejaanku sebagai ibu rumah tangga setiap paginya bersih bersih rumah, sehabis bersih bersih biasanya melihat acara TV, kalau acaranya tidak ada yang bagus tiduran dikamar tidur, itulah keseharianku sebagai ibu rumah tangga.

    Setelah merebahkan badanku beberapa lam ternyata mata ini tidak mau terpejam. Rumah yang besar ini terasa sangat sepi pada saat-saat seperti ini. Maklum suami bekerja di kantornya pulang paling awal jam 15.00 sore, sedang anakku yang pertama kuliah di sebuah PTN di Bandung.

    Anakku yang yang kedua tadi pagi minta ijin untuk pulang sore karena ada acara extrakurikuler di sekolahnya. Sebagai seorang istri pegawai BUMN yang mapan aku diusia yang 45 tahun mempunyai kesempatan untuk merawat tubuh.

    Teman-temanku sering memuji kecantikan dan kesintalan tubuhku. Namun yang sering membuatku risih adalah tatapan para lelaki yang seolah menelanjangi diriku. Bahkan temen-teman anakku sering berlama-lama bermain di rumahku.

    Aku tahu seringkali mata mereka mencuri pandang kepadaku. Rumahku terletak di pinggiran kota S, kawasan yang kami huni belum terlalu padat. Halaman rumahku memang luas terutama bagian depan sedang untuk bagian samping ada halaman namun banyak ditumbuhi pepohanan rindang.

    Kami membuat teras juga disamping rumah kami. Sedang kamar tidurku dan suamiku mempunyai jendela yang berhadapan langsung dengan halaman samping rumah kami. Belum sempat memejamkan mata aku terdengar suara berisik dari halaman samping rumahku.

    Aku bangkit dan melihat keluar. Kulihat dua anak SMP yang sekolah didekat rumahku. Mereka kelihatan sedang berusaha untuk memetik mangga yang memang berbuah lebat. Tentu saja kau sebagai pemilik rumah tidak senang perilaku anak-anak tersebut.
    Bergegas aku keluar rumah. Seraya berkacak pinggang aku berkata pada mereka, “Dik, jangan dipetik dulu nanti kalau sudah masak pasti Ibu kasih”. Tentu saja mereka berdua ketakutan. Kulihat mereka menundukkan wajahnya.

    Aku yang tadi hendak marah akhirnya merasa iba. “Nggak apa-apa Dik, Ibu hanya minta jangan dipetik kan masih belum masak nanti kalau sakit perut bagaimana” aku mencoba menghibur. Sedikit mereka berani mengangkat wajah.

    Dari dandanan dan penampilan mereka kelihatan bahwa mereka anak orang mampu. Melihat wajah mereka mereka yang iba akhirnya aku mengajak mereka ke dalam rumah. Aku tanya kenapa pada jam-jam belajar mereka kok ada diluar sekolah ternyata pelajaran sudah habis guru-guru ada rapat.

    Setelah tahu begitu aku minta mereka tinggal sebentar karena mungkin mereka belum dijemput. Iseng-iseng aku juga ada teman untuk ngobrol. Benar dugaanku mereka adalah anak-anak orang kaya, keduanya walaupun masih kecil namun aku dapat melihat garis-garis ketampanan mereka yang baru muncul ditambah dengan kulit mereka yang putih bersih.

    Yang satu bernama Doni yang satunya lagi bernama Rio. Ketika ngobrol aku tahu mata-mata mereka sering mencuri pandang ke bagian dadaku, aku baru sadar bahwa kancing dasterku belum sempat aku kancingkan., sehingga buah dadaku bagian atas terlihat jelas.

    Aku berpikir laki-laki itu sama saja dari yang muda sampai yang tua. Semula aku tidak suka dengan perilaku mereka namun akhirnya ada perasaan lain sehingga aku biarkan mata mereka menikmati keindahan payudaraku.

    Aku menjadi menikmati tingkah laku mereka kepada diriku. Bahkan aku mempunyai pikiran yang lebih gila lagi untuk menggoda mereka, aku sengaja membuka beberapa kancing dasterku dengan alasan hari itu sangat panas.

    Tentu saja hal ini membuat mereka semakin salah tingkah. Sekarang mereka bisa melihat dengan leluasa.
    “Hayoo.. pada ngliatin apa!”, Aku pura-pura mengagetkan mereka.

    Tentu saja ini sangat membuat mereka menjadi sangat salah tingkah.

    “Ti.. dak.. kok.. Bu Lala” Doni membela diri.

    “I.. itu acara TV bagus Bu Lala” Rio menambahkan.

    “Nggak apa-apa Ibu tahu kalian melihat tetek Ibu to.. ngaku aja” aku mencoba mendesak mereka.

    “E.. Anu Bu Lala” Rio nampak akan mengatakan sesuatu, namun belum lagi selesai kalimat yang diucapkannya aku kembali menimpali,

    “Mama kalian kan juga punya to, dulu kalian kan netek dari Mama kalian
    “I.. ya Bu Lala”

    Doni menjawab. “Tapi sekarang kami kan sudah nggak netek lagi, lagian punya Mama lain ama punya Bu Lala”
    Rio nampaknya sudah mampu menguasai keadaannya.

    “Lain bagaimana?” Aku menanyakan.

    “Punya Mama nggak sebesar punya Bu Lala” Doni menyahut.

    Kata-kata tersebut membuat aku berpikiran lebih gila lagi.

    Gairahku yang semakin meninggi sudah mengalahkan norma-norma yang ada, aku sudah kehilangan kendali bahwa yang ada di depanku adalah anak-anak polos yang masih bersih pikirannya.

    Aku menarik kursi kehadapan mereka.

    “Doni, Rio kalian mungkin sekarang sudah nggak netek lagi karena kalian sudah besar kalian boleh kok..” aku berkata.
    Tentu saja kata-kataku ini membuat mereka penasaran.

    “Boleh ngapain Bu Lala” sergah Doni.

    “Boleh netek sama Ibu, kalian mau nggak..?” tanyaku walau sebenarnya aku sangat sudah tau jawaban mereka.
    “E.. ma.. u” jawab Rio.

    “Mau sekali dong” Doni menyahut.

    Jawaban mereka membuat aku semakin bergairah. Aku berpikiran hari ini aku akan mendapatkan sensasi dari pria-pria muda ini.
    Aku duduk dihadapan mereka kemudian dengan agak tergesa aku melepaskan daster bagian atasku sehingga kini bagian atas tubuhku hanya tertutupi BH warna krem. Sepertinya mereka sudah tidak sabaran lagi terlihat dari tangan-tangan mereka yang mulai menggerayangi susuku.

    Aku menjadi geli melihat tingkah mereka. “Sabar sayang.. Ibu lepas dulu kutangnya” sambil tersenyum aku berkata. Setelah aku melepas kutang, tumpahlah isinya, sekarang buah dadaku terbuka bebas. Mata mereka semakin melotot memandangi payudaraku.
    Tampaknya mereka bingung apa yang harus mereka lakukan.

    “Ayo dimulai kok malah bengong” aku menyadarkan mereka.

    Mereka bangkit dari duduknya. Tangan mereka kelihatan berebut untuk meremas.

    “Jangan rebutan dong.. ah.. Doni yang kiri.. e yang kanan” perintahku.

    Birahiku semakin meninggi, sementara Doni sudah mulai mendekatkan bibirnya ke putingku Rio masih membelai sambil dipilin-pilin putingku. Rio mulai mengisap-isap putingku.

    Oh betapa seakan perasaanku melayang ke awan, apalagi ketika mereka berdua mengisap secara bersamaan nafasku menjadi tersengal. Tanganku membelai kadang agak sedikit menjambak sambil menekan kepala mereka agar lebih dalam lagi menikmati buah dadaku.

    Mereka semakin menikmati mainan mereka aku semakin terhanyut, aku ingin lebih dari hanya ini. Aku semakin lupa. Ketika baru nikmat-nikmatnya tiba-tiba Rio melepaskan isapannya sambil berkata,

    “Bu Lala kok nggak keluar air susunya?”.

    Aku kaget harus menjawab apa akhirnya kau menjawab sekenanya

    “Rio mau nggak, kalo nggak mau biar Doni saja.. mau nggak?”

    “Mau..” Rio langsung menyahut.

    Doni tidak menggubris dia semakin lahap menikmati buah dadaku.
    Akhirnya aku ingin lebih dari sekedar itu.

    “Don.. Rio.. ber.. henti dulu..” aku meminta.

    “Ada apa Bu Lala?” Doni bertanya.

    “Kita ke kamar saja yuk.. disini posisinya nggak enak” jawabku.

    Kemudian aku berdiri tentu saja daster yang aku pakai merosot kebawah. Mata mereka menatap tubuhku yang sintal dengan penuh nafsu.

    “Ayo..” aku mengajak.

    Aku berjalan ke kamarku hanya menggunakan celana dalam yang berwarna hitam yang kontras dengan kulitku yang putih. Seperti kerbau dicocok hidungnya mereka mengikuti diriku. Sampai di dalam kamar aku duduk di sisi ranjang.

    “Don.. Rio.. sayang lepas saja seragam kalian” pintaku.

    “Tapi Bu Lala” Rio masih agak ragu.

    “Sudahlah turuti saja” aku menyahut.

    Dengan malu-malu mereka mulai melepas baju dan celana seragam mereka. Tampaklah kontol-kontol dari pria-pria muda itu sudah ngaceng.

    Rambut kemaluan mereka tampak belum tumbuh lebat, sedang batang kemaluannya belum tumbuh benar masih agak kecil.
    Namun melihat pemandangan ini libidoku semakin naik tinggi.

    “Bu Lala curang..” Rio berkata.

    “Kok curang bagaimana?” aku bertanya.

    “Bu Lala nggak melepas celana Ibu!” Rio menjawab.

    Gila anak ini, aku tersenyum kemudian bangkit dari dudukku. Celana dalamku kemudian aku lepaskan. Sekarang kami bertiga telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Tatapan mereka tertuju pada benda yang ada dibawah pusarku.

    Bulu yang lebat dan hitam yang tumbuh menarik perhatian mereka. Aku duduk kembali dan agak meringsut ke rangjang lalu menaikkan kakiku dan mengangkangkannya. Memekku terbuka lebar dan tentu saja terlihat isi-isinya.
    Mereka mendekat dan melihat memekku.

    “Ini namanya memek, lain dengan punya kalian” aku menerangkan.

    “Kalian lahir dari sini” aku melanjutkan. Tangan mereka mengelus-elus bibir kemaluanku. Sentuhan ini nikmat sekali.

    “Ini kok ada lobang lagi” Doni bertanya.

    “Lho ini kan lobang buat beol” aku agak geli sambil menerangkan.

    Jari Doni masuk ke lobang vaginaku dan bermain-main di dalamnya. Cairan-cairan tampak semakin membanjiri liang vaginaku.
    Sementara jari Rio kelihatannya lebih tertarik lubang duburku. Jari Rio yang semula mengelus-elus lobang dubur kemudian nampaknya mulai berani memasukkan ke lobang duburku. Aku biarkan kenikmatan ini berlangsung.

    “Ouw.. a.. duh.. e.. nak.. sekali.. nik.. mat.. sa.. yang.. terr.. us” aku merintih.

    Pria-pria muda ini agak lama aku biarkan mengobok-obok lobang-lobangku. Sungguh pria-pria muda ini memberiku kenikmatan yang hebat. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku tanpa bisa berkata-kata hanya rintihan dan nafas yang tersengal-sengal.
    Akhirnya aku mendorong mereka aku bangkit dan menghampiri mereka yang berdiri di tepi ranjang. Aku berjongkok dihadapan mereka sambil kedua tanganku memegang diiringi dengan remasan-remasan kecil pada penis mereka.

    Aku mendekatkan wajahku pada penis Doni aku kulum dan jilati kepala penis muda nan jantan ini. Tampak kedua lutut Doni tergetar. Aku masukkan seluruh batang penis itu kedalam mulutku dan aku membuat gerakan maju mundur.

    Tangan Doni mencengkeram erat kepalaku. Sementara tanganku yang satu mengocok-kocok kontol Rio.

    “Bu Lala.. say.. ya.. ma.. u.. ken.. cing..” Doni merintih.

    Tampaknya anak ini akan orgame aku nggak kan membiarkan hal ini terjadi karena aku masih ingin permainan ini berlanjut. Kemudian aku beralih pada penis Rio.

    Tampak penis ini agak lebih besar dari kepunyaan Doni. Aku mulai jilati dari pangkal sampai pada ujungnya, lidahku menari di kepala penis Rio.

    Aku tusuk-tusuk kecil lobang perkencingan Rio kemudian aku masukkan seluruh batang penis Rio. Jambakan rambut Rio kencang sekali ketika aku semakin mempercepat kulumanku.

    “Wouw.. a.. ku.. ju.. ga.. mo.. ken.. cing.. nih” Rio merintih.

    Aku hentikan kulumanku kemudian aku bangkit dan naik ke atas ranjang lalu aku kangkangkan kakiku lebar-lebar sehingga memekku terbuka lebar.

    “Siapa duluan sayang, itu tititnya dimasukkan ke sini” aku berkata sambil tanganku menunjuk ke lobang vaginaku yang nampak sudah basah kuyup.

    Mereka berpandangan, tampaknya membuat persetujuan. Dan akhirnya Doni duluan yang akan menusukku. Doni naik ke atas ranjang dan mengangkangiku tampak penis yang tegang mengkilat siap menusuk lobang yang pantas menjadi neneknya.

    Aku tuntun penis Doni masuk ke lobang kenikmatanku. Aku tuntun pria muda ini melepas keperjakaannya, memasuki kenikmatan dengan penuh kasih. Dan bless.. batang zakar Doni amblas ke dalam vaginaku.

    “Ah..” aku mendesis seperti orang kepedasan

    “Masukkan.. le.. bih.. da.. lam lagi.. dan genjot.. say.. ang” aku memberi perintah.

    “Iya.. Bu Lala.. e.. naak.. se.. kali” Doni berkata. Aku hanya bisa tersenyum sambil menggigit bibir bagian bawahku. Tampaknya Doni cepat memahami perkataanku dia memompa yang ada dibawahnya dengan seksama.

    Genjotannya semakin lama semakin cepat. Rio yang menunggu giliran hanya tertegun dengan permainan kami. Genjotan Doni kian cepat aku imbangi dengan goyanganku. Dan tampaknya hal ini membuat Doni tidak kuat lagi menahan sperma yang akan keluar.
    Dan akhirnya “Sa.. ya.. mo.. ken.. cing.. la.. gi.. Tak.. ta.. han.. la.. gi..” Doni setengah berteriak. Kakiku aku lipat menahan pantat Doni. Doni merangkul erat tubuhku dan.. cret.. cret.. ser.. cairan hangat membajiri liang kewanitaanku.

    Doni terkulai lemas diatas tubuhku, butiran-butiran keringat keluar dari sekujur tubuhnya.

    “Enak.. se.. ka.. li Bu Lala” Doni berkata.

    “Iya.. tapi sekarang gantian Rio dong sayang” aku berkata.

    Doni mencabut penisnya yang sudah agak mengempis dan terkapar lemas disampingku. “Rio sekarang giliranmu sayang” aku berkata kepada Rio

    “Kamu tusuk Ibu dari belakang ya..”aku memberi perintah. Kemudian aku mengambil posisi menungging sehingga memekku pada posisi yang menantang. Rio naik ke atas ranjang dan bersiap menusuk dar belakang.

    Dan bless.. penis pria muda yang kedua memasuki lobang kenikmatanku yang seharusnya belum boleh dia rasakan seiring dengan melayangnya keperjakaan dia. Tampaknya Rio sudah agak bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar dari dia melihat permainan Doni.

    Rio menggerakkan maju mundur pantatnya. Aku sambut dengan goyangan erotisku. Semakin lama gerakan Rio tidak teratur semakin cepat dan tampaknya puncak kenikmatan akan segera diraih oleh anak ini.

    Dan akhirnya dengan memeluk erat tubuhku dari belakang sambil meremas susuku Rio mengeluarkan spermanya.. cret.. cret.. lubang vaginaku terasa hangat setelah diisi sperma dua anak manis ini.

    Rio terkapar disampingku. Dua anak mengapitku terkapar lemas setelah memasuki dunia kenikmatan. Aku bangkit dan berjalan ke dapur tanpa berpakaian untuk membuatkan susu biar tenaga mereka pulih.

    Setelah berpakaian dan minum susu mereka minta ijin untuk pulang. “Doni, Rio kalian boleh pulang dan jangan cerita kepada siapa-siapa tentang semua ini, kalian boleh minta lagi kapan saja asal waktu dan tempat memungkinkan” aku berkata kemudian mencium bibir kedua anak itu.

    Aku memberi uang jajan mereka masing-masing 50.000 ribu. Dan sampai saat ini mereka telah kuliah, aku masih sering kencan dengan mereka. Aku semakin sayang dengan mereka.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Seks Ngentot dengan Silvi Sepupuku

    Cerita Seks Ngentot dengan Silvi Sepupuku


    1357 views

    Perawanku – Cerita Seks Ngentot dengan Silvi Sepupuku, Ini cerita pengalamanku bercinta dengan saudara sepupu sendiri, namaku Bram, tinggiku 176cm, wajahku menarik kata orang sih, tapi kalo menurutku lumayan tampan juga sih, hehehehe……(narsis dikit).tapi aku belom mau pacaran gara2nya begini, ini kisah nyata.

    Ceritanya dimulai saat aku diterima di sebuah PTN di Surabaya, aku sendiri tinggal di Bogor karena kebetulan aku punya saudara di sana yaitu pak de kakak kandung dari ibu, oleh orang tua ku daripada kos aku di suruh tinggal di rumah pak de, dan ternyata pak de ku juga setuju,alasannya di rumah pak de ngga ada anak laki-laki, di rumah pak de cuman ada empat orang, pak de dan istrinya mbak via trus ama silvi keponakan bu de, pak de anaknya cuman satu yaitu mbak via,kalo umurnya sih lebih tua dari aku sekitar 3 tahunan, udah lama juga sih aku ngga ketemu dia seingat ku mbak via itu orang nya cantik,.

    Singkat cerita setelah beberapa bulan tinggal di rumah pak de aku mulai betah dan kerasan, semua pekerjaan rumah kita bagi ber tiga mbak via, silvi dan aku soalnya ngga ada pembantu padahal pa de orangnya cukup mampu, alasanya mendidik kita supaya bertanggung jawab dan mandiri aku sih ngga masalah. pak de maupun bude baik sama aku, ditambah pula mbak via akrab banget sama aku dan keliatan kalo dia sayang dan perhatian sama aku, maklum sih dia mungkin udah nganggep aku seperti adiknya sendiri bahkan sering juga sih manja sama aku, kemana-mana selalu minta diantar sama aku kalo kebetulan dia ngga pergi sama pacarnya, kalo silvi sendiri masih smu kelas satu, anaknya manis imut lagi dia anaknya penurut, dan manja banget sama aku, aku sering bantuin dia kalo lagi kesulitan ngerjain tugas atau pr dari sekolahnya tapi sering aku godain dia, kalo ada temennya cowok main ke rumah, begitu temennya pulang aku godain pacaran mulu, silvi langsung malu dan langsung jawab ngga kok cuman temen kak, lagian siapa yang mau pacaran, silvi mau konsentrasi belajar dulu kok, sambil mukanya keliatan ngambek gitu, kalo udah gitu langsung aku acak-acak rambutnya sambil ngomong masa sih sambil ketawa ngakak aku.

    silvi langsung nyubitin lenganku aku berusaha menghindar tapi silvi terus aja nyubit sambil ngomong biar kapok kakak ngga godain silvi lagi, kalo udah gini aku peluk dia sampai ngga bisa bergerak, bandel yah silvi udah berani ama kakak, dianya jawab abis kakak godain mulu, kadang saking gemesnya sering juga silvi aku ciumin pipinya sampe merah mukanya karena malu. Kalo udah gitu dia pasti teriak-teriak minta tolong sama mbak via, Mbak via kak Bram nih nakal ganguin silvi terus, tapi aku cuek aja malah aku terusin nyium pipinya kiri kanan abis enak sih meluk cewek imut, kalo mbak via dateng aku baru berhenti nyium pipinya silvi dan ngelepasin pelukan ku, mbak via dateng langsung ngomong anak dua ini bercanda mulu dari tadi, silvi langsung lari ke mbak via trus ngadu, mbak kak bram loh godain silvi terus, tapi anehnya silvi ngga pernah cerita ke mbak via kalo aku sering nyiumin dia, aku jadi penasaran.

    Hari minggu pagi aku habis selesai bersih-bersih rumah dan lagi istirahat, pak de ngomong ke aku mau keluar kota ngajak istrinya mau jengguk saudara yang sakit, beliau titip rumah sama aku katanya kalau aku mau keluar rumah jangan lama-lama dan cepat pulang, karena pak de pulangnya nanti mungkin agak malam.aku meng iyakan lagi pula aku ngga ada acara mungkin aku ngga keluar rumah kok pak de begitu aku bilang ke pak de. Ngga berapa lama pun pak de berangkat. Waktu mau mandi aku ber papasan dengan mbak via dia keliatannya mau pergi, waktu lewat di samping ku tercium harum parfumnya, iseng aku godain dia, hmm…wangi banget nih….pasti mau nge date yah…, pagi-pagi udah pacaran….kataku sambil lalu, mbak via pun langsung nyubitin pinggangku, sambil ngomong dasar kamu bram makanya cari pacar sana jangan di rumah mulu…, aku cuek aja sambil bales jawab aku mau cari pacar kalo cantik dan seksi nya kaya mbak via, enak aja.. mbak kan udah punya cowok bram, aku jawab lagi kalo gitu selingkuh aja sama aku mbak…, aku mau kok …sambil cengar-cengir. Huss kamu itu..udah sana mandi bau tahu mbak mau berangkat nih, ternyata pacarnya udah nunguin di ruang tamu, trus dia ngesun pipi ku, emang udah kebiasaan sih mbak via nge sun pipiku kalo aku godain gitu aku sih seneng-seneng aja, cuman aku gak berani bales ngesun dia.

    Dari belakang aku perhatiin mbak via emang cewek sempurna badan nya tinggi langsing mungkin karena dia sering senam dan berenang kali yah perfect pokoknya deh susah gambarinnya, kalo tingginya sih 168 cm cukup tinggi loh buat ukuran cewe’ kulit nya putih mulus, ditambah wajahnya yang cantik, kapan aku bisa punya cewe kaya dia yah..,pikirku,aku pun masuk kamar mandi tapi pikiranku mulai mikir yang jorok-jorok dan yang aku bayangin ngga lain dan ngga salah siapa lagi kalo bukan mbak via, aku pun mulai ngebayangin lekuk tubuh mbak via, otak ku pun berfantasi lagi enak-enaknya tiba-tiba pintu kamar mandi di gedor,ternyata silvi sambil teriak-teriak dia, kak gantian dong kamar mandi nya silvi mau pup nih…,sialan batin ku, aku tanya ke silvi kenapa ngga pakai kamar mandi di atas aja sih…., kebetulan kamar mandi ada dua di rumah ini, ngga ah males kebelet banget nih soalnya silvi males naik ke atas jawabnya sambil gedor-gedor pintu kamar mandi, cepet dong…, iya iya… jawab ku, ngga jadi enak deh…padahal udah separuh jalan, aku pun akhirnya cuman cuci muka aja trus keluar dari kamar mandi, langsung aja silvi nylonong masuk ke dalam sambil meringis dia nahan pup nya, kasihan juga aku.

    Begitu pintu kamar mandi di tutup aku ganti teriak awas kamu silvi ntar kakak bales, biarin ngga takut weeek…jawab silvi dari dalam. Aku akhirnya jadi males mandi trus ke meja makan buat sarapan yang udah disiapin silvi, silvi emang jago masak dia puji ku dalam hati. Selesai sarapan aku cuci piringku di dapur, kemudian ke ruang tengah mau nonton tv , ternyata silvi sudah ada di sana duduk di sofa , langsung aja iseng ku muncul aku acak-acak rambutnya, dasar anak manja kamu…,ah kakak silvi minta maaf yah…..katanya melas…, aku pun kemudian duduk di sampingnya aku perhatiin dia ternyata imut banget adik sepupuku yang satu ini, cantik juga kulitnya ngga seputih mbak via, tiba-tiba pikiranku yang tadi sempet ilang muncul lagi, aku pun senyum-senyum sendiri ternyata silvi tahu kalo aku perhatiin, trus dia nanya dengan curiga.
    Ngapain kak bram senyum-senyum sendiri sih sambil ngeliatin silvi…., kak bram mau bales silvi yah…, silvi ngaku salah deh kak….,

    Mukanya itu kalo lagi memelas gemesin banget deh. Langsung aku peluk dari belakang dia mulai deh aku ciumin pipinya,silvi diam aja tumben ngga berontak. Lalu aku nanya ke dia, kamu udah pernah di cium cowok…? blom pernah kak, cuman kak bram yang pernah cium silvi…..jawab silvi sambil tertunduk wajahnya, dan pipinya bersemu merah.
    Kok silvi ngga marah di cium sama kakak….? tanya ku lagi.
    Ngga tahu…, jawab silvi sambil nunduk.
    Kok ngga tahu sih…?kata ku sambil terus nyiumin pipi silvi.dan aku mulai menikmati permainan ini, mumpung ngga ada orang.
    Kakak sayang sama silvi, bisikku di telinga silvi, kemudian aku mulai ciumin belakang telinganya dengan lembut trus aku lanjutin ke arah tengkuknya aku gigitin pelan lehernya. Nafas silvi mulai ngga beraturan dan dia diam saja, aku tahu dia menikmatinya juga kadang agak tersenggal dia dan semakin terdunduk kepala sementara matanya terpejam, badannya mulai di sandarin ke dadaku. Aku makin asik nyiumin lehernya, kadang aku jilatin, aku hisap pelan, aku gigit kecil, sengaja aku lama-lamain sampai di terangsang, ciuman ku mulai pindah ke leher depannya, nafas silvi mulai semakin ngga beraturan, dan matanya semakin rapat terpejam, aku udah merasa silvi sudah pasrah aku apain aja, sementara posisiku masih duduk dibelakangnya silvi,aku berhenti sebentar buat ambil nafas,kemudian aku ngelepasin pelukanku sambil menarik silvi kepangkuanku, silvi nurut aja, aku elus rambutnya aku ciumin dahinya semua aku lakuin dengan lembut.
    Aku tanya lagi ke silvi, silvi kok diam aja sih…?
    silvi marah ya sama kakak…? kataku lagi. Silvi membuka matanya, dia mengelengkan kepalanya.
    Kakak sayang sama silvi…, kataku sambil nyium dahi dan matanya yang terlihat sayu itu.

    Silvi juga sayang sama kakak…..,bisiknya pelan. Aku pegang tanganya. Aku mulai lagi cium leher depannya sengaja aku ngga cium bibirnya dulu padahal sebenernya aku tuh udah pingin banget ngelumat bibir mungilnya, tapi aku nunggu sampai silvi pasrah pasti lebih enak pikirku. Kepala silvi bersandar di bahu kiriku, wajahnya semakin bersemu merah, tangannya mulai meremas tanganku,ciuman ku mulai turun agak ke bawah lehernya aku jilatin,hisap dan gigit-gigit kecil,tangan silvi semakin kuat meremas-remas tanganku, ini dia pikirku langsung aja aku kecup pelan bibirnya, aku mulai ciumin bibir mungil itu tanpa ada perlawanan bibir silvi masih terkatup rapat,aku kulum perlahan-lahan bibir nya silvi. Karena posisiku yang kurang nyaman aku berhenti ciumin silvi, aku angkat kepala silvi dari bahuku, lalu aku angkat badannya dari sofa trus aku rebahin di karpet,sementara tv aku matiin,dan silvi sama sekali ngga mau membuka matanya sama sekali mungkin malu aktau gimana aku ngga tahu dan ngga mau tahu kayanya yang penting aku bisa nikmatin silvi. Aku ambil bantal di sofa kemudiaan aku bantail ke kepala silvi, aku ambil posisi di samping kiri silvi sambil setengah rebahan aku elus wajah silvi sambil berbisik ke telinganya,
    kamu cantik sekali silvi,….kakak sayang sama kamu, rayuku.

    Lalu aku kecup keningnya,matanya,hidungnya,ak u terusin kecup bibirnya yang mungil itu, aku mulai gigit pelan bibir bawah silvi,aku hisap bibir bawahnya aku jilatin pelan,aku lakuin itu semua dengan penuh perasaan, ternyata silvi mulai menikmati permainku dia mulai membuka bibirnya meskipun belum membalas ciumanku, mungkin belum bisa karena dia kan blom pernah di cium cowok katanya, aku ngga perduli aku semakin menjadi-jadi langsung aku aku lumat bibir silvi aku masukin lidahku,aku sedot bibirnya pokoknya aku puasin diriku.nafas silvi semakin ngga karuan, sementara itu tanganku mulai merabai tubuh silvi,tangan kananku mulai masuk ke dalam kaosnya perut silvi aku elus jariku memainkan pusarnya, kemudian sengaja aku senggolin pelan ke payudara silvi yang masih tertutup bra nya, tangan ku sudah leleluasa merabai perut silvi kemudian dadanya, terasa sekali di telapak tangan kananku degub jantung silvi yang semakin kencang di dadanya yang terasa mulus dan lembut itu.silvi hanya diam dan pasrah dan aku tahu dia menikmati banget sensasi yang baru pertama dia alami ini.

    aku semakin bernafsu, tangan ku mulai meraba payudara kiri silvi, silvi tersentak kaget tapi tetap memejamkan matanya, tangan kirinya memegang tanganku yang sudah berada di balik kaosnya tetapi tidak berusaha menghentikan atau menghalangi ku cuman memegangi tanganku, aku mulai menekan payudara silvi dengan tidak terlalu keras,kemudian meremasnya perlahan-lahan,lalu aku susupkan tanganku kedalam branya aku gunakan jariku untuk memainkan payudara silvi yang terasa kenyal dan lembut di tanganku itu, badan silvi mulai mengeliat-liat, aku tambah bernafsu,aku tekan perlahan aku main putingnya yang kecil tapi terasa mengeras di jariku, sementara tangan silvi masih memegangi tanganku bahkan mulai meremas-remas tanganku. Aku sudah ngga tahan pingin ngelihat bentuk payudaranya, aku lepasin ciuamku dari bibir silvi, silvi ngelenguh pelan dan hampir seperti berisik, agh….. kepalanya tergolek lemah kadang digoyangkan kearah kiri dan kanan,sementara matanya masih tertutup rapat, bibirnya sedikit terbuka kadang mengeluarkan suara setengah tertahan agh……setiap aku remas dengan lembut payudaranya atau saat aku mainin putingnya. Aku angkat ke dua tangan silvi, aku sejajarin dengan kepalanya,silvi nurut aja,dan dia ngga mau membuka matanya sedikit pun semetara dadanya naik turun mengikuti nafasnya yang semakin cepat.

    Kemudian kedua tanganku mulai meremas payudaranya kiri dan kanan, aku singkap kaosnya sebatas lehernya terlihat kulit silvi yang putih mulus, kemudian aku singkap juga bra nya keatas tersembulah payudara silvi yang mungil ,maklum masih smu kelas satu pula, putih pucat warnanya dan putingnya kecoklatan, langsung aku remas perlahan, aku mainin jari ku di sekitar putingnya kecil tapi terlihat menonjol,kadang aku tekan-tekan lalu aku raba dengan gerakan berputar, silvi semakin mendesah-desah, aghhh……aku semakin ngga tahan aku rebahin tubuhku langsung aku emutin payudara sebelah kanan, aku gigitin pelan, aku jilatin aku hisap putingnya kayanya ngga ada puas-puasnya sementara tangan kananku tetap meremas payudara kirinya kadang aku mainin putingnya. Tangan silvi memeluk kepalaku setiap aku hisap putingnya dan mendesah panjang aghhh………..,kadang rambutku ditarik-tarik,aku semakin menikmati payudara silvi gantian kiri-kanan aku hisap dan sedot putingnya, aku gigitin,ke dua tangan silvi mulai memeluk leherku, dan kadang berbisik

    kakak aduh agh….kak…..akh….h….sss …agh…tangannya meremas-remas pungungku.
    Aku kemudian berhenti aku liat wajah silvi yang menahan kenikmatan.
    Kakak sayang kamu silvi……,kataku, ngga lama kemudian silvi membuka matanya tapi tertunduk
    Silvi juga sayang sama kak bram,…..,tapi silvi malu kak….jawab silvi.Silvi belom pernah kaya gini…,kata silvi, sambil masih tetap memelukku.
    Silvi jangan marah ya sama kakak, kakak udah berbuat ini ke silvi, kataku sambil cium keningnya.
    Silvi diam saja ngga jawab tapi ngga ngelepaisin pelukanku atau pelukannya.
    Kakak cium silvi lagi boleh….., tanyaku.silvi cuman menganggukan kepala.
    Kemudian aku angkat badan silvi keatas badanku,sekarang posisiku berubah aku di bawah sedang silvi di atasku, aku cium bibirnya silvi,
    kok ngga di balas sih ciuman kakak….., tanyaku.
    Ngga bisa kak…silvi blom pernah…….jawab silvi.
    Ya udah ikutin aja kakak yah ………..,kataku
    akhirnya silvi ngikutin aku di balas ciumanku, agak canggung sih tapi lumayan juga….

    tanganku melingkar di leher silvi, sementara silvi kayanya asik sendiri dengan permainan baru nya dia udah mulai nyiumin aku kadang di gigit-gigitnya bibirku, tanganku mengelus punggung silvi, aku buka kaitan bra silvi,dan kayanya silvi udah ngga perduli dia semakin asik aja, setelah terlepas aku coba buka kaos silvi sekalian,agak malu juga sih sih awalnya silvi dia berusaha nutupin payudaranya dengan kedua tangannya tapi aku melakukannya dengan pelan-pelan akhirnya aku angkat tangan silvi aku tarik wajahnya supaya nyium bibirku lagi dia mau akhirnya lepas juga kaos dan bra silvi aku taruh di sampingku, tangan silvi kemudian memeluk leherku, aku kulum bibir silvi dengan lembut, silvi merapatkan pelukanya. Terasa hangat dadaku dihimpit payudara silvi yang mulus hangat, lembut dan kenyal,sudah mulai terangsang lagi dia rupanya. Aku ambil posisi duduk tanpa melepas ciumanku dari bibir silvi, aku bersandar di tepi sofa sementara silvi aku pangku, tanganku mulai merabai payudara silvi lagi yang sekarang sudah tidak ada lagi kain pembatas, buah dada silvi keliatan bergelantung indah, aku lepasin ciumanku dari bibir silvi,sambil ngomong ke silvi, silvi kakak hisap susumu yah….kaya tadi boleh ya….,kataku sambil senyum.

    Silvi nganggukin kepalanya. Langsung aku sedot payudara silvi kiri dan kanan, sementara silvi mendesah-desah keenakan di telingaku,….
    oohh….kaakk…..agh……,se mentara pelukan silvi terasa semakin kencang.
    Kakak……aghh….silvi… geli…ka…agh…….
    kadang dia menggigit leherku karena menahan geli.
    Tangannya menarik-narik rambutku, aku ngga peduli aku terus menghisap payudara silvi, mainin putingnya pakai lidahku, aku jilatin dari atas kebawah kadang berputar-putar, kadang aku hisap semua dari putingnya sampai separuh payudaranya kalo bosan yang kiri aku pindah yang kanan,begitu juga kalo udah bosan yang kanan balik lagi ke payudara yang kiri, silvi terus aja mendesah-desah keenakan.payudara silvi basah karena air ludahku sehingga tampak mengkilat,ada tanda merah bekas gigitan kecil atau bekas kuhisap di payudara silvi,semakin membuatku bernafsu untuk mengeksplorasi tubuh silvi. Sementara tanganku mulai meremas buah pantat silvi, sambil berusaha membuka kaitan roknya,sekalian aku buka resletingnya juga dan kemudiaan aku masukin tanganku kedalam, terasa sekal sekali pantat silvi, sedangkan silvi sendiri kayanya udah ngga sadar. Desahannya membuatku semakin bernafsu dan bernafsu.

    Aghhhhhh….kakak…..uhh…ss ss…agh….
    tangaku akhirnya sampai juga di belahan pantat silvi aku terusin sekalian mengelus vagina silvi dari belakang pertama silvi ngga sadar begitu aku tekan kearah selangkangannya tersentak dia sambil mendesah panjang,
    oouughhhhhhh…..ahh…..kakaa aaak….agh…..
    aku elus-elus daerah kewanitaan silvi, dengan lembut pelan tapi pasti. Silvi pun menggelinjang-gelinjang ngga karuan diatas pangkuanku….tampak dia berusaha menahan rasa itu, sehingga dari mulutnya hanya terdengar, mm…mmmm…..ssss….., aeeegh….sss., uuuhh,kakak….dia berbisik ditelingaku, akhir nya ngga tahan juga dia kayanya. Kemudian aku cium bibirnya, silvi membalas dengan cepat dia mengigit bibirku aku kaget karena silvi menggigitnya terlalu keras. Aku pun akhirnya membaringkan tubuh silvi diatas karpet, silvi terlihat memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. Lalu aku mulai lagi menciumi wajah silvi sambil ke dua tanggannya aku angkat sejajar dengan kepalanya sehingga payudaranya nampak membusung sungguh pemandangan yang sangat menggairahkan,tanganku mulai mengelus-elus payudara silvi lagi,meremas-remasnya, lalu aku jilati lagi hisap dan hisap lagi. Silvi pun semakin menjadi-jadi, kepalaku di tekan-tekan kearah dadanya sambil sekali-kali mengelus rambutku kadang seperti menjambak-jambak rambutku dan erangannya kembali terdengar.
    Ohh…kakak…sss……ogh….

    sementara tanganku mulai merabai paha silvi sambil aku tarik rok silvi kebawah pelan-pelan sampai sebatas lutut, kemudian dengan kakiku aku turunin roknya sampai lepas dan sepertinya silvi tidak sadar akan hal itu, mungkin karena aku sibukan dia dengan cumbuanku di payudaranya sehingga dia sudah ngga sadar lagi dengan apa yang aku lakuin,badan silvi sudah basah dengan keringat membuatku semakin bernafsu, kedua paha silvi aku lebarkan sehingga posisinya terlentang dan aku mulai membelai-belai vagina silvi yang masih tetutup cdnya, terasa basah sekali di sana sampai tembus ke cdnya,jariku mulai mencari belahan vaginanya, aku gesek-gesekan jariku naik turun searah belahan vegina silvi,kadang aku tekan-tekan dilibang vaginanya,silvi semakin mengerang-erang dan mendesah-desah .tangan nya mencengkeram erat tanganku.
    Mmmpp…. oogh… ssshhh……..aaahh…..

    dan perut dan pantatnya naik turun mengikuti gerakan tanganku yang mengelus-elus vaginanya, aku merasakan desakan di celanaku yang terasa keras sekali, aku ganti posisi merangkak di atas tubuh silvi sambil terus menciumi payudaranya kiri dan kanan bergantian sementara tanganku tetap memainkan vagina silvi yang terasa semakin basah akhirnya aku masukin sekalian jariku ke dalam cdnya silvi mencengkram tangan ku tapi terlambat jariku sudah menyentuh bibir vaginanya yang basah sekali itu dan silvi pun hanya bisa pasrah, kemudian aku cium bibirnya silvi membalas ciumanku tangannya mendekap badanku yang sekarang berada tepat di atas badannyanya yang masih berguncang-guncang mengikuti belain jari ku di bibir vaginanya yang terasa basah dan lengket. Nafasnya memburu dan desahannya yang semakin merangsang nafsuku, lalu aku jongkok di sampingnya dan mulai membuka cdnya, tangan silvi mencoba menahanku tapi sepertinya dia sudah kehabisan tenaga akhirnya berhasil aku lepas cd silvi dari ke dua kakinya tanpa susah payah, silvi hanya bisa menutupi mukanya dengan ke dua tangannya.

    Tubuh silvi yang putih mulus terpampang dihadapanku kedua payudaranya nampak membusung sedang perutnya yang rata mulus dan vaginanya basah terlihat jelas didepanku, aku pun ambil posisi berjongkok di antara kedua paha silvi yang ku renggangkan setelah itu aku lepas kaos dan celanaku tinggal mengenakan cd aja yang aku pakai,sementara silvi cuman diam dan ke dua tanggannya masih tetap menutupi mukanya mungkin dia sudah pasrah dengan apa yang aku lakukan.tanganku mulai meremas-remas kedua payudaranya sementara bibirku menciumi perut silvi dan terus turun akhirnya sampai ke vagina silvi aku ciumi lubang vaginanya aku jilatin belahan vaginanya, silvi kembali mendesah-desah dan tangannya mencengkeram tanganku kuat sekali, sambil pantatnya naik turun mengikuti permainanku.

    Ssshhh……..sssshh…..mmmmp phh…….oooghh….
    anuku semakin mengeras, aku makin bernafsu kau lepasin tangan silvi kemudian kedua tanganku mengangkat pantat silvi agak keatas sedikit sehingga ciumanku ke vagina silvi jadi lebih mudah,lidah ku bermain-main di sana, kuhisap semua cairan silvi yang mengalir deras aku gigit-gigit kecil bibir kemaluan silvi, aku mainin kelentit dan klitorisnya dengan bibir dan lidahku,lubang kenikmatan silvi aku masuki dengan lidahku aku jilatin dari atas ke bawah, kadang berputar-putar,silvi semakin menggelinjang-gelinjang, badannya bergetar hebat semantara pantatnya naik turun tangannya memegangi kepalaku , dan kepalanya mengeleng-geleng kekiri dan kanan.
    Ssssshhh…..ssshhhh….eeemmm mphhh…….oooughh…….
    nampaknya silvi hampir mencapai klimaksnya, aku masih ragu untuk meneruskan permainan ini sampai dengan menyetubuhinya, tapi anuku sudah ngga tahan lagi,akhirnya aku lepasin cumbuanku divagina silvi aku tindih dia dengan tubuhku dan silvi langsung memeluk tubuh ku erat sambil membuka matanya yang nampak sayu dan menahan rasa kenikmatan yang luar biasa berbisik dia kepadaku.

    Ohh…kakak….
    payudaranya terasa hangat didadaku, silvi semakin erat memeluk tubuh ku, kemudian aku lebarkan kedua pahanya dan aku tekan anuku tepat diatas vaginanya, silvi mengangkangkan ke dua kakinya sehingga pahanya terbuka lebar,kemudian aku berbisik di telinganya.
    Silvi kakak pingin,….kamu ikutin kakak ya……
    Silvi mengangguk pelan, kemudian aku mulai menggesek-gesekkan punya ku ke vagina silvi,meskipun cuma di gesek-gesek aku berusah untuk menikmati, soalnya aku masih ngga tega kalo harus menyetubuhi silvi juga sih,pantatku mulai turun naik,silvi mengikutinya meskipun kadang iramanya tidak sama,pantatnya mulai naik turun mengikuti gerakanku, silvi kayanya menikmati juga dia mulai lagi mendesah-desah.
    Emmmphhh…..mmmmmphhh…aagh. ….
    kadang aku tekan-tekan anuku ke vagina silvi, dan pantat silvi naik mengikuti gesekan-gesekan anuku di vaginanya. Sambil mendesah. Mmm…..mmmphh…tangannya mengelus-elus punggungku.

    Karena terasa kurang maksimal aku lepasin pelukan silvi dan aku bertopang di ke dua tanganku dan tubuhku aku tarik agak turun kebawah dan terus mengesekkan anuku ke vagina silvi,lumayan enak juga sih aku lakuin semua seperti orang yang sedang bersetubuh cuman bedanya ini cuma sekedar di gesek-gesekin aja tapi cukup lah sementara ini. Silvi semakin melebarkan pahanya vaginanya di gesekin ke anuku kadang dia mengangkat pantatnya tinggi menyambut gerakanku, payudaranya berguncang-guncang badannya semakin basah oleh keringat.
    Kakak…..mmmmpphh oough… sil..vi…mmmph…sssshhh… udah ngga tahan……. tiba-tiba silvi berkata., sambil mendesah.

    Lalu aku balikin badan silvi ke atas badan ku supaya dia lebih leluasa menggesek-gesekkan vaginanya,memang sih tujuanku supaya silvi senang dulu.
    Benar aja begitu silvi di atasku langsungsung ajah dia memelukku sambil tiduran dia menggesek-gesekan vaginanya tepat diats tonjolan cdku yang mulai basah karena cairan vagina silvi, pantatnya bergerak naik turun kadang di goyangin kekiri-kanan, waktu aku berusaha mengangkat tubuhnya supaya aku aku bisa main payudaranya silvi ngga bergeming dia tetap memelukku kuat sambil menggerak-gerakkan pantatya, aku sendiri juga hampir nyampai, kadang ku angkat pantatku ke atas supaya lebih terasa gesekan vagina silvi,
    sssshhh…….sssshhhh…….m mmmmphhhhh……,desah silvi.
    Ngga tahan juga aku, akhirnya aku balikan lagi tubuh silvi, sekarang giliranku kaki silvi aku angkat satu keatas kemudian aku tekan-tekan anuku ke vagina silvi lebih cepat lagi, semakin terasa nikmat, dan silvi semakin mengelinjang-gelinjang, nafasnya semakin tidak beraturan,dadanya naik turun payudaranya bergubcang-guncang,silvi semakin meracau ngga karuan.

    Ooooghh……ka..kak… mmmmphh…sssssshhh…..sssshh …..
    tambah kencang juga aku menekan-nekan anuku ke vagina silvi.tubuh silvi masih mendesah-desah,tiba-tiba bergetar dan pantatnya terangkat tinggi, dia menjerit tertahan.
    Ssshhh…..ssshhh…mmpphhh… .oooougghh……ouuhh…
    lalu tubuh silvi terkulai lemas,silvi sudah klimaks,aku lepas cd ku .Aku rebahin tubuhku diatas tubuh silvi aku peluk erat dia kepalanya agak aku angkat kemudian aku mulai gesekin batang ku ke vagina silvi yang sudah basah kuyup itu tepat diantara belahan vaginanya, kemudian mulai lagi aku gesek-gesekin dan rasanya lebih nikmat silvi sudah terkulai lemas tangannya memelukku aku percepat gesekanku ,dan rasanya sudah mau keluar, aku angkat badanku dan aku arahin ke perutnya dan keluarlah lah seluruh nafsuku disana, aku rebahin tubuhku lagi di tubuh silvi aku peluk silvi erat aku ciumin bibirnya silvi membalas ciumanku, terasa berdenyut denyut di anuku dan terasa hangat di perutku yang menempel di perut silvi yang aku tumpahain cairan ku di sana banyak sekali, silvi mengelus rambut dan punggungku.

    Kemudian aku bisikikan ke telinga silvi.
    Silvi kakak sayang sama kamu….,lalu kembali menciuminya.
    Tiba-tiba terdengar suara bel rumah terdengar nyaring sekali.
    Silvi seperti tersentak dan kaget dia mendorong tubuhku keras dengan kedua tangannya, langsung dia punguti semua pakaiannya dan lari ke dalam masuk ke dalam kamarnya.
    Aku sendiri juga kaget setengah mati, aku langsung masuk kamar mandi, sementara bel rumah masih terus berbunyi, aku ngga perduli…………….

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Tante Aniez Memegang Penisku

    Cerita Sex Tante Aniez Memegang Penisku


    1357 views

    Perawanku – Keluarga kami, bertetangga dengan keluarga Pak Aniez, rumah sebelah, terutama mama dan Bu Aniez, walau usia mereka terpaut jauh, mama berusia 46 sementara Bu Aniez 32 tahun.

    Mama dan Bu Aniez sering belanja bersama atau sekedar jalan-jalan saja. Saya sering dimintai tolong untuk menyetir, walau mereka bisa mengemudi sendiri.

    “Ifan, kamu ada acara, nggak?” kata mama jika nyuruh saya.

    Mengantar mereka, saya suka, karena aku termasuk anak mama. Sayapun menjadi ikut-ikutan akrab dengan Rida, anaknya Bu Aniez yang baru berusia 5 tahun. Rida sering kuajak main. Di balik itu aku mulai senang juga, karena bisa bersama Bu Aniez yang cantik, putih bersih. Nampak anggun dengan pakaian jilbab modis rapat sekali. Di rumahpun dia sering mengenakan jilbab. Tingginya kira-kira 165 cm, tapi masih tinggian saya sedikit, beberapa centimeteran. Wajahnya cantik, mempesona dan indah, betapa indahnya yang tidak nampak, di balik pakaiannya, apalagi di balik beha? Ah pikirku agak galau.

    Lambat laun aku menjadi tertarik dengan Bu Aniez ini, gejala ini baru timbul dua bulan terakhir ini. Kami berdua sering beradu pandang dan saling melempar senyum. Entah senyum apa, aku kurang paham? Paling tidak bagiku atau saya yang terlalu GR. Sering suara memanggil lewat bibirnya yang indah

    “Ifan….” Itu yang menjadi terbayang-banyang, suara sangat merdu bagiku dan menggetarkan relung-relung hatiku.

    Ia di rumah, bersama Rida dan Parmi, pembantunya. Suaminya kerja di luar kota, pulangnya 2 minggu sekali atau kadang lebih.

    Pagi itu saya tidak ada jadwal kuliah, setelah mandi, sekitar pukul 08.00 saya keluar rumah, maksudku cari teman untuk kuajak ngobrol. Suasana sepi rumah-rumah di kompleks perumahan kami, banyak yang sudah tutup karena para tetangga sudah pada pergi kerja. Kalaupun ada, hanya pembantu mereka. Tetapi Bu Aniez, rupanya masih ada di rumah, karena mobilnya masih di carport. Mungkin dia belum berangkat kerja.

    Iseng-iseng aku masuk rumah itu setelah mengetuk pintu tak ada tanggapan. Aku langsung masuk, karena aku sudah terbiasa keluar-masuk rumah ini, bila disuruh mama atau sekedar main dengan Rida. Pagi itu Rida sudah pergi sekolah diantar Parmi. Di dalam rumah, terdengar suara gemercik air dari kamar mandi.

    “Siapa ya?” terdengar suara dari kamar mandi
    “Saya, Bu, Ifan, mau pinjam bacaan” jawabku beralasan.
    “O… silakan di bawah meja… ya”
    “Ya Bu, terima kasih…”kataku

    Sambil duduk di karpet, membuka-buka majalah, saya membayangkan, pasti Bu Aniez telanjang bulat di bawah shower, betapa indahnya. Tiba-tiba pikiran nakalku timbul, aku pingin ngintip, melangkah berjingkat pelan, tapi tak ada celah atau lubang yang akses ke kamar mandi. Justru dadaku terasa gemuruh, berdetak kencang, bergetaran. Kalau ketahuan bisa berabe! Akhirnya kubatalkan niatku mengintipnya, kembali aku membuka-buka buku.

    Beberapa menit kemudian terdengar pintu kamar mandi bergerak, Bu Aniez keluar. Astaga…, Tubuh yang sehari-hari selalu ditutup rapat, kini hanya memakai lilitan handuk dari dadanya sampai pahanya agak ke atas, sembari senyum lalu masuk ke kamarnya. Aku pura-pura mengabaikan, tapi sempat kelihatan pahanya mulus dan indah sekali, dadaku bergetar lebih keras lagi. Wah belum apa-apa, sudah begini. Mungkin aku benar-benar masih anak-anak? Pikirku. Rasa hatiku pingin sekali tahu apa yang ada di kamar itu. Aku pingin nyusul! Perhatianku pada bacaan buyar berantakan, fokusku beralih pada yang habis mandi tadi.

    Dalam kecamuk pikiranku, tiba-tiba Bu Aniez menyapa dari dalam kamar:

    “Kamu nggak kuliah, Fan?” katanya dari dalam kamar
    “Tid..dak, …eh nanti sore, Bu” jawabku gagap, hari itu memang jadwal kuliahku sore.

    Mungkin ia tahu kalau aku gugup, malah mengajak ngomong terus.

    Mengapa aku tidak ikut masuk saja, seperti kata hatiku padahal pintu tidak ditutup rapat. Lalu aku nekad mendekat pintu kamarnya dan menjawab omongannya di dekat pintu. Kemudian aku tak tahan, walau agak ragu-ragu, lalu aku membuka sedikit pintunya.

    “Masuk saja, enggak apa-apa, Fan” katanya

    Hatiku bersorak karena dipersilakan masuk, dengan sikap sesopan-sopannya dan pura-pura agak takut, saya masuk. Dia sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer di depan meja rias.

    “Duduk situ, lho Fan!” pintanya sambil menunjuk bibir ranjangnya.
    “Iya,… Ibu… enggak ke kantor” sambil duduk persis menghadap cermin meja rias.
    “Nanti, jam 10an. Saya langsung ke balaikota, ada audensi di sana, jadi agak siang” katanya lagi.

    Sesaat kemudian dia menyuruh saya membantu mengeringkan rambutnya dan sementara tangannya mengurai-urai rambutnya. Kembali aku menjadi gemetar memegang hairdryer, apalagi mencium bau segar dan wangi dari tubuhnya. Leher belakang, bahu, punggung bagian atasnya yang putih mulus merupakan bangun yang indah. Aku memperhatikan celah di dadanya yang dibalut handuk itu, dadaku bergetar cepat. Tanpa sengaja tanganku menyenggol bahu mulusnya, ”Thuiiing…” Seketika itu rasanya seperti disengat listrik tegangan 220V.

    “Maaf, Bu” kata terbata-bata
    “Enggak pa-pa… kamu pegang ini juga boleh. Daripada kamu lirik-lirik, sekalian pegang” katanya sambil menuntun tangan kananku ke arah susunya, aku jadi salah tingkah.

    Rupanya dia tahu lewat kaca rias, bila saya memperhatikan payudaranya. Dadaku tambah bergoncang. Aku menjadi gemetar, percaya antara ya dan tidak, aku gemetaran memegangnya. Maklum baru kali ini seumur-umur.

    Beberapa saat kemudian dia beranjak dari tempat duduknya, sambil berkata:

    “Kamu sudah pernah sun pacarmu, belum?” tanyanya mengagetkan
    “Ah.. Ibu ada-ada aja, malu….kan…”
    “Ngapain malu, kamu sudah cukup umur lho, berapa umurmu?
    “21 Bu..”

    “Sudah dewasa itu. Kalau belum pernah cium, mau Bu ajari… Gini caranya” katanya sambil memelukkan tangannya pada bahuku.

    Kami berdiri berhadapan, tubuhnya yang dibalut handuk warna pink itu dipepetkan pada tubuhku, nafasnya terasa hangat di leherku. Wanita cantik ini memandangku cukup lama, penuh pesona dan mendekatkan bibirnya pada bibirku, aku menunduk sedikit. Bibirnya terasa sejuk menyenangkan, kami berciuman. Seketika itu dadaku bergemuruh seperti diterpa angin puting beliung, bergetar melalui pori-pori kulitku.

    “Kamu ganteng, bahkan ganteng sekali Fan, bahumu kekar macho. Aku suka kamu.” katanya
    “Sejak kapan, Bu?” kataku di tengah getaran dadaku
    “Sejak… kamu suka melirik-lirik aku kan?!”

    Cerita Sex Tante Aniez Memegang Penisku

    Cerita Sex Tante Aniez Memegang Penisku

    Saya menjadi tersipu malu, memang aku diam-diam mengaguminya juga dan suka melirik perempuan enerjik ini.

    “Ya sebenarnya aku mengagumi Ibu juga” kataku terbata-bata
    “ Tuh… kan?! Apanya yang kamu kagumi?
    “Yeahh, Bu Aniez wanita karier, cantik lagi…” kataku
    “Klop, ya…” sambil mengecup bibirku

    Kembali kami berpagutan, kini bibirku yang melumat bibirnya dan lidah Bu Aniez mulai menari-nari beradu dengan lidahku. Aku mulai berani memeluk tubuhnya, ciuman semakin seru. Sesekali mengecup keningnya, pipinya kemudian kembali mendarat di bibirnya. Karena serunya kami berpelukan dengan berciuman, tanpa terasa handuk yang melilit pada tubuhnya lepas, sehingga Bu Aniez tanpa sehelai kainpun, tapi dia tidak memperdulikan. Rasanya aku tidak percaya dengan kejadian yang aku alami pagi itu.

    Aku mencoba mencubit kulitku sendiri ternyata sakit. Inilah kenyataannya, bukan mimpi. Seorang wanita dengan tubuh semampai, putih mulus, payudaranya indah, pinggulnya padat berisi, dan yang lebih mendebarkan lagi pada pangkal pahanya, di bawah perutnya berbentuk huruf “V” yang ditumbuhi rambut hitam sangat sedap dipandang. Pembaca bisa membayangkan betapa seorang anak remaja laki-laki berhadapan langsung perempuan cantik tanpa busana di depan mata.

    Saya memang sering melihat foto-foto bugil di internet, tapi kali ini di alam nyata. Luar biasa indahnya, sampai menggoncang-goncang rasa dan perasaanku. Antara kagum dan nafsu birahi bergelora makin berkejar-kejaran di pagi yang sejuk itu.

    Bu Aniez membuka kaosku dan celanaku sekalian dengan cedeku. Dalam hitungan detik, kini kami berdua berbugilria, berangkulan ketat sekali, payudaranya yang indah-montok itu menempel dengan manisnya di dadaku, menambah sesak dadaku yang sedang bergejolak. Perempuan mantan pramugari pesawat terbang ini terus merangsek sepertinya sedang mengusir dahaga kelelakian. Penisku ngaceng bukan main kakunya, saya rasa paling kencang selama hidupku. Apalagi jari-jari Bu Aniez yang lentik nan lembut itu mulai menimang-nimang dan mengocok-ngocok lembut. Rasanya nikmat sekali.

    Lambat-laun tubuhnya melorot, sambil tak henti-hentinya menciumiku mulai dari bibir, ke leher, dada dengan pesona permainan lidahnya yang indah di tubuhku. Sampai pada posisi belahan payudaranya dilekatkan pada penisku, digerak-gerakkan, naik-turun beberapa saat. Ah… nikmat sekali.

    Sampai dia terduduk di pinggir ranjang, aku masih berdiri, penisku diraih lidahnya menari-nari di ujungnya, kemudian dikulum-kulum. Rasanya luar biasa nikmatnya, sebuah sensasi yang memuncak. Rasanya sampai sungsum, tulang-tulang dan ke atas di ubun-ubun. Tanganku meraih susunya, keremas-remas lembut, empuk dan sejuk dengan puntingnya yang berwarna merah jingga itu.

    Secara naluri aku pilin-pilin lembut, dia mendesah lirih. Ku rasakan betapa enaknya susunya di kedua telapak tanganku. Setelah sekitar lima menit, dia membaringkan diri di ranjang dengan serta merta aku menindih tubuh molek itu dan dia sambut dengan rangkulan ketat, kami saling membelai, saling mengusap, bergulat dan berguling. Kaki kami saling melilit, dengan gesekan exotic, membuat tititku kaku seperti kayu menempel ketat pada pahanya. Susunya disodorkan pada bibirku, lalu puntingnya ku-dot habis-habisan, saking nafsunya.

    Sementara itu kuremas lembut payudaranya yang sebelah, bergantian kiri-kanan. Kepalaku ditekankan pada dadanya, sehingga mukaku terbenam di antara kedua susunya, sambil kuciumi sejadi-jadinya. Perempuan ayu ini mendesis lembut, lalu tangannya mengelus tak melepas penisku.

    Aku benar-benar tak tahan, dengan permainan ini nafsuku makin menjadi-jadi, saat ini rasanya penisku benar-benar ngacengnya maksimal sepanjang sejarah, keras sekali dan rasanya ingin memainkan perannya. Aku lalu mengambil posisi menindih Bu Aniez yang tidur terlentang. Pada bagian pinggul antara perut dan pangkal paha tercetak huruf V yang ditumbuhi rambut tipis dan rapi.

    Ketika aku mencoba membuka pahanya nampak lobang merekah warna pink. Kuarahkan senjataku ke selakangannya, pahanya agak merapat dan kutekan. Tapi rasanya hanya terjepit pahanya saja, tidak masuk sasaran. Paha putih mulus itu ku buka sedikit, lalu kutekan kembali dan tidak masuk juga. Adegan ini saya lakukan berulang kali, tapi belum berhasil juga. Perempuan dengan deretan gigi indah itu malah ketawa geli. Penisku hanya basah karena kena cairan dari Vnya. Dia masih ketawa geli, saya menjadi kesal dan malu.

    “Tolonginlah… Bu, gimana caranya…” pintaku
    “Kamu keburu nafsu… tapi tak tahu caranya” katanya masih ketawa

    Lalu Bu Aniez memegang penisku kemudian diarahkan pada selakangannya, tepatnya pada lobang kewanitaannya. Pahanya di renggangkan sedikit dan lututnya membentuk sudut kiri-kanan

    “Sekarang tekan, pelan-pelan” bisiknya

    Kuikuti petunjuknya, dan kutekan pinggulku hingga penisku masuk dengan manisnya. Saat kumasukkan itu rasanya nikmat luar biasa, seolah-olah aku memasuki suatu tempat yang begitu mempesona, nyaman dan menakjubkan. Pada saat aku menekan tadi, Bu Aniez mengerang lembut.

    “Ahhh…..Ifan…….” desahnya
    “Kenapa,….. sakit Bu.?.” tanyaku
    “Nggak…sihh, enakan….malah “ jawabnya yang kusambut dengan tekanan penisku yang memang agak seret.
    “Saya juga enakan, Bu.. enak banget”
    “Tarik dan tekan lagi Fan. Burungmu gede mantap….” katanya.

    Aku ikuti arahannya dan gerakan ini menimbulkan rasa sangat nikmat yang berulang-ulang seiring dengan gerakan pinggulku yang menarik dan menekan. Saat aku tekan, pinggul Bu Aniez ditekan ke atas, mungkin supaya alat seks kami lebih ketat melekat dan mendalam. Di bawah tindihanku dia mengoyang-goyangkan pinggulnya dan kedua kakinya dililitkan ketat pada kakiku. Kadang diangkat ke atas, tangannya merangkul bahuku kuat sambil tak hentinya menggoyangkan pinggulnya. Aku melakukan gerakan pinggul seirama dengan gerakannya. Sesekali berhenti, berciuman bibir dan mengedot susunya. Kami benar-benar menyatu. Nikmat abiz!

    “Enak ya Fan, beginian?!” katanya disela-sela kegiatan kami
    “Yah.. enak sekali Bu” kataku

    Kami melakukan manuver gerakan bergulung, hingga Bu Aniez di atasku. Dalam posisi begini ia melakukan gerakan lebih mempesona. Goyangan pinggulnya semakin menyenangkan, tidak hanya naik turun, tetapi juga meliuk-liuk menggairahkan sambil mencuimiku sejadi-jadinya. Kedua tangannya diluruskan untuk menompang tubuhnya, pinggulnya diputar meliuk-liuk lagi.

    Setelah sekitar 15 menit, suasananya semakin panas, sedikit liar. Perempuan berambut sebahu itu makin bergairah dan menggairahkan, susunya disodorkan pada bibirku dan ku santap saja, saya senang menikmati susunya yang montok itu. Dalam menit berikutnya gerakannya makin kuat dan keras sehingga ranjangnya turut bergoyang. Kemudian merebahkan diri telungkup menindihku, dengan suaranya.

    “Ah.. uh… eh…. a….ku…..keluarrr Fan” katanya terengah-engah.

    Aku terpana dengan pemandangan ini, bagaimana tingkahnya saat mencapai puncak, saat orgasme, benar-benar mengasyikkan, wajahnya merona merah jambu. Sebuah pengalaman benar-benar baru yang menakjubkan. Nafasnya terengah-engah saling berburu. Beberapa menit kemudian gerakan pinggulnya makin melemah dan sampai berhenti. Diam sejenak kemudian bergerak lagi “Ah…” orgasme lagi dan beberapa saat kemudian wanita yang susunya berbentuk indah ini terkapar lemas, tengkurap menindih tubuhku.

    Suasananya mendingin, namun aku masih membara, karena penisku masih kuat menancap pada lobang kewanitaan Bu Aniez, kemudian di merebahkan disisiku sambil menghela nafas panjang.

    “Aku puas Fan…”
    “Permainan Ibu hebat sekali” kataku
    “Sekarang ganti kamu, lakukan kayak aku tadi” katanya lagi

    Kemudian aku kembali menunggangi Bu Aniez, dia terlentang pahanya dibuka sedikit. Dan penisku kuarahkan pada selakangannya lagi seperti tadi, disambut dengan tangannya menuntun memasukkan ke Vnya.

    “Tekan Fan! Main sesukamu, tapi jangan terlalu keras supaya nikmat dan kamu tahan lama.” Sambil memelukku erat kemudian mencium bibir.

    Saya mulai memompa wanita cantik bertubuh indah ini lagi, dengan menggerak-gerakkan pinggulku maju-mundur berulang-ulang. Ia menyambut dengan jepitan vaginanya ketat terasa mengisap-isap. Saat kutekan disambut dengan jepitan ini yang seolah dapat merontokkan sendi-sendiku. Dan tentu saja menimbulkan rasa nikmat bukan kepalang. Nikmat sekali! Sampai pada saatnya, beberapa menit kemudian…

    “Aku mau keluar Bu…….” kataku terengah-engah
    “Tahan dulu Sayang, aku juga mau keluar lagi kok… terus digoyang…nih… pentilku didot” katanya terengah-engah juga.

    Aku mengedot susunya dan meremas-remas, sambil memompanya. Sepertinya aku diajak melayang-layang di angkasa tinggi. Setelah beberapa menit, ada sebuah kekuatan yang mendorong mengalir dari dalam tubuhku. Semua tenaga terpusat di satu tempat menghentak-hentak menerobos keluar lewat penisku. Spermaku keluar memancar dengan dahsyatnya, memenuhi lorong birahi milik Bu Aniez, diiringi dengan rasa nikmat luar biasa.

    “Ahh….uh…ehh..”suara erangan kami bersahut-sahutan.

    Nafas kami berdua terengah-engah saling memburu, kejar-kejaran. Betapa nikmatnya perempuan ini walau lebih tua dari saya, tapi dahsyat sekali. Bu Aniez sangat mempesona. Saya memang pernah mengeluarkan sperma dengan cara onani atau mimpi basah, tapi kali ini mani-ku yang memancar dan masuk ke vagina seorang perempuan, ternyata membawa kenikmatan luar biasa dan baru kali ini aku rasakan, dengan dorongan yang menghentak-hentak hebat, apalagi dengan Bu Aniez, seorang perempuan yang aku kagumi kecantikannya. Seolah-olah ujung rambutku ikut merasakan kenikmatan ini. Dahsyat dan menghebohkan!

    Setelah beberapa menit aku terkapar lemas di atas tubuh wanita si kaki belalang itu (ini istilahku; kakinya indah sekali kayak kaki belalang), lalu melihat jam di dinding menunjuk pukul 09.16. Astaga, berarti aku bermain sudah satu jam lebih. Lalu aku mencabut penisku, dan segera ke kamar mandi diikuti Bu Aniez, sambil mencium pipiku.

    “Terima kasih ya Fan” katanya sambil menciumku
    “Sama-sama Bu..” kami kembali berciuman.

    Aku berpakaian kembali, kemudian segera keluar rumah, karena takut kalau-kalau Parmi dan Rida pulang.

    Sore harinya ada kuliah di kampus, selama mengikuti kuliah aku tidak concern pada dosen. Aku selalu teringat pagi itu, betapa peristiwa yang menyenangkan itu berlangsung begitu mulus, semulus paha Bu Aniez. Padahal hari-hari sebelumnya, mendapat senyumannya dan melihat wajahnya yang cantik, aku sudah senang. Tadi kini aku telah merasakan semuanya! Sebuah pengalaman yang benar-benar baru sekaligus negasyikkan. Lalu aku nulis sms.

    “Gimana Bu Aniez, lanjutkan?” teks SMSku
    “Kapan, …Yang….?” jawabnya

    Lalu kami sepakat malam ini dilanjutkan. Mama dan papaku pergi keluar rumah pukul 19.00 ada acara di kantor papa. Sebelum berangkat, saya pamit mama dan aku beralasan pada mama untuk mengerjakan tugas di rumah teman.

    “Mungkin, kalau kemalaman saya tidur di sana Ma” kataku pada mama.

    Semula mama keberatan, tapi akhirnya mengijinkan.

    Aku sudah tidak sabaran, kepingin rasanya ke rumah sebelah. Tapi Bu Aniez bilang kalau datang nanti setelah Rida dan Parmi tidur. Rasanya menunggu kayak setahun.

    Sekitar pukul sembilan malam ada sms masuk dari Bu Aniez

    “Mrka dah tdr, kemarilah…”
    “Aku berangkat, Mi” kataku pada pembantuku, tahunya aku ke rumah teman.
    “Nggak pakai motor Mas..?” tanya Mimi
    “Dijemput temanku diujung jalan” kataku

    Malam itu gerimis, aku berangkat ke rumah sebelah, tapi jalanku melingkar lingkungan dulu untuk kamuflase, agar Mimi tidak curiga.

    Setelah mengambil jalan melingkar, aku langsung masuk rumah dan disambut Bu Aniez dan langsung masuk kamar. Nyonya rumah mengunci pintu, mematikan lampu tengah dan masuk kamar. Rida tidur di kamar sebelah, sedang Parmi tidur di kamar belakang dekat dapur dan akses ke ruang utama di kunci juga. Sehingga cukup aman.

    Lampu meja kamar masih menyala redup, Bu Aniez masuk kamar dan mengunci pintu dengan hati-hati. Dia mengembangkan tangannya dan kami berpelukan kembali. Seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak ketemu. Kami mulai bermain cinta, kucium bibir indah perempuan ini, kamipun mulai hanyut dalam arus birahi. Malam itu ia memakai gaun tidur katun dominasi warna putih berbunga, kubuka kancingnya dan kelepas dengan gemetaran. Beha dan cedenya warna putih dan indah sekali. Diapun mulai membuka kaos lalu celana panjang yang kupakai, kami kembali berpelukan, bercumbu saling beradu lidah dan setiap inci kulit mulusnya kuciumi dengan lembutnya.

    “Kamu tak usah keburu-Buru, waktu kita panjang” katanya
    “Ya, Bu tadi pagi saya takut ketahuan…maka buru-buru.” kataku sambil membuka kait behanya, (agak lama karena belum tahu caranya) dan menarik pita yang melingkar di kedua bahunya.

    Lalu aku menciumi payudaranya wajahku kubenamkan di sela-selanya, sambil mengedot punting susunya bergantian kiri kanan. Saya suka sekali memainkan benda kembar milik Bu Aniez ini. Perempuan cantik itu mulai mendesah lembut. Lalu kutarik cedenye ke bawah melalui kakinya dan diapun menarik juga cedeku, kami saling tarik dan akhirnya kami tanpa busana seperti pagi tadi pagi.

    Kami berdua mulai mendaki gunung birahi, bergandengan tangan bahkan berpelukan menaiki awan-awan nafsu dan birahi yang makin membara. Nafas desah dan leguhan beriring-iringan dengan derai hujan di luar rumah. Kucoba memainkan seperti di bf yang pernah aku lihat. Pahanya kubuka lebar-lebar aku mempermainkan Vnya dengan jemariku, bibir, klitoris, serta lobangnya berwarna merah jambu menggairahkan. Sesekali kumasukkan jariku dilobang itu dan menari-nari di sana.

    Lalu tak ketinggalan lidahku ikut menari di klitorisnya dan mengedot-edot. Kuperlakukan demikian perempuan matang-dewasa itu bergelincangan sejadi-jadinya. Bu Aniezpun tidak kalah dahsyatnya dia mengedot penisku penuh nafsu. Lidahnya menari-nari pada kepala Mr P-ku, berputar-putar dan kemudian diemut, diedot habis-habisan, nikmat sekali. Kami saling memberi kenikmatan, saya sampai kelimpungan.

    “Ayoo…masukkan Fan…, aku tak tahan….” bisiknya terengah-engah, setelah beberapa menit mengedot.

    Saya mulai memasukkan kelelakianku ke dalam lubang kewanitaannya, memompa sepuas-puasnya. Kami berdua benar-benar menikmati malam itu dan ber-seks-ria yang mengasyikkan bersama si tubuh indah putih itu, dengan bentuk pinggul yang menggetarkan itu.

    Pendakian demi pendakian ke puncak kenikmatan kami lalui berdua yang selalu diakhiri kepuasan tiada tara, dengan menghela nafas panjang, nafas kepuasan. Kami terkapar bersama, di atas ranjang. Kami saling mengusap, dan mencium lembut, setelah selakangannya ku bersihkan dengan tisu dari spermaku yang tumpah keluar vaginanya. Kami berbaring berpelukan, masih telanjang, kaki kananku masuk di antara pahanya, sementara paha kirinya kujepit di antara pahaku. Kaki kami saling berlilitan.

    “Fan, sementara aku sendirian….dan kamu ‘belum terpakai…’ kita bisa main kayak gini ya…” katanya sambil mengusap-usap dadaku, setelah keletihan sirna.
    “Ya Bu, saya juga suka kok, bisa belajar sama Bubu Aniez…” kataku yang disambut dengan kecupan dipipiku.
    “Aku jadi ingat Fan, ketika kamu sunat dulu, saya baru saja menempati rumah ini. Ingat nggak?” katanya sambil menimang-nimang tititku.
    “Ingat Bu, waktu itu Bu Aniez manten baru ya… Dan ternyata Bu Aniez yang pakai pertama kali senjataku ini….” jawabku dan dia mengangguk mengiyakan jawabanku sambil tersenyum lebar.

    Malam semakin pekat dan dingin, namun api cumbuan semakin membara. Berbagai gaya telah diperkenalkan oleh Bu Aniez, mulai dari gaya konvensional, 69, dogie sytle, sampai gaya lainnya yang membawa sensasi demi sensasi. Beberapa puncak kenikmatan telah kuraih bersama Bu Aniez. Sayang sekali saya lupa sampai berapa kali aku mencapai puncak kenikmatan. Entah sampai berapa kali aku menaiki Bu Aniez, malam itu? Kulihat Bu Aniez tidur pulas setelah melakukan beberapa kali pendakian berahi yang melelahkan, sampai tak sempat berpakaian kembali. Terngiang olehku sesekali bisikannya setelah tenaganya pulih kembali:

    “Lagi yukk Fan…” kemudian kamipun memulai lagi.

    Pagi telah tiba, dengan pelan aku membuka mata, namun tidak membuat gerakan dan menggeser posisiku pagi itu. Saya terjaga masih berpelukan dengan Bu Aniez dan aku yang hanya berselimut. Sambil kulihat sekitar kamar, pakaianku bercampur dengan pakaian Bu Aniez berantakan di lantai kamar. Wanita cantik itu tersentak ketika melihat jam dinding menunjukkan pukul 05.05, rencananya aku akan pulang subuh tadi, sebelum Parmi bangun, tapi kami keenakan kelonan, tertidur, kesiangan. Apalagi semalaman hampir tidak tidur, mengarungi samudra raya kenikmatan bersama Ibu ayu ini. Lalu aku bertahan, di dalam kamar sampai Parmi mengantar Rida berangkat sekolah.

    Setelah Parmi pergi bersama Rida, aku bersiap pulang tapi sebelumnya kami mandi bersama. Lagi-lagi nafsu menyala-nyala kembali, lalu aku bergulat lagi dengan Bu Aniez, sampai kepuasan itu datang lagi. Aku baru pulang, sekitar pukul 07.30 dan Bu Aniez berangkat kerja dan menitipkan kunci rumah ke saya seperti biasanya dan nanti diambil Parmi.

    Langkah hubungan ini masih berjalan dengan manisnya, tanpa hambatan berarti. Hambatannya hanya, bila di rumahnya situasi tidak memungkinkan, karena ada orang lain atau suaminya di rumah. Lima tahun sudah aku berjalan dalam lorong-lorong kenikmatan yang menyenangkan bersama Bu Aniez. Kalau tidak di rumah, di rumahku juga pernah dan sesekali kami lakukan di hotel, bila kondisi rumah tidak memungkinkan. Di rumah biasanya pagi hari menjelang Bu Aniez berangkat ke kantor, sementara dan Rida dan Parmi ke sekolah.

    Seperti pagi itu aku dapati dia siap berangkat ke kantor, sudah pakai bleser dan celana coklat muda dan kerudung coklat motif Bunga, pakaian seragam kerja. Aku masuk ke rumahnya, langsung berpelukan dan berciuman mesra. Serta merta aku membuka kancing dan membuka celana panjang dan cedenya dengan cepat.

    “Kok tidak tadi… Saya mau berangkat nih…?
    “Tadi bantu mama dulu. Sebentar aja kok Bu, kita sudah dua minggu tidak main” bisikku.

    Dia tidak mau di bad, karena sudah pakaian rapi, nanti pakaiannya kusut, berantakan. Hanya dengan gaya doggie style, dia menunduk, tangannya berpegangan pada bibir meja. Lalu saya masukkan tititku dari belakang. Sudah beberapa menit, menembak tapi saya belum sampai puncak.

    “Saya capek Fan, gini… aja….” katanya terengah-engah sambil berdiri dan tititku tercabut.

    Kemudian perempuan yang masih menggunakan bleser dan kerudung itu duduk di meja, kedua tangannya ke belakang menompang tubuhnya. Sedangkan kedua kakinya diangkat dan ditaruh di atas kedua lenganku, sehingga tempiknya (Vnya), tampak merah merekah menantang. Lalu aku segera memasukkan kembali tititku pada lobang kehormatannya itu.

    “Cepetan keluarkan Fan, terlambat aku nanti….” katanya lirih.
    “Ya Bu” kataku sambil mulai menggenjot kembali.

    Kegiatan ini seperti gerak hidrolis, keluar-masuk, namun nikmatnya luar biasa. Sampai beberapa menit kemudian aku keluarkan dengan tenaga hentakan kuat dan ditandai pancaran spermaku keluar kencang dengan kenikmatan dahsyat pula. Bu Aniez juga mengerang panjang bersaut-sautan, sambil memeluk aku erat sekali dan mencium bibir, kakinya ditautkan pada pinggangku.

    Beberapa menit kemudian selesai, saya mengeluarkan sperma dengan semprotan yang tidak kalah dahsyatnya dari waktu-waktu sebelumnya, mengantar kepada kepuasan, walau terkesan tergesa-gesa. Setelah membersihkan diri, perempuan tinggi semampai itu bergegas memakai celananya kembali. Kemudian aku mencium keningnya lalu dia berangkat ke kantor. Pagi itu rasanya nikmat sekali seperti hari-hari sebelumnya.

    Rasanya saya tidak bosan-bosannya menikmati hubungan ini bersama Bu Aniez. Makanya banyak orang yang suka main beginian, tua muda semuanya, seperti yang sering kita baca dan lihat di media. Kini Bu Aniez bertambah anak, Refa namanya yang berumur empat tahun, mungkin saja dia itu hasil benihku. Sementara lakon itu kini masih berlangsung.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Teman Masa Kecilku

    Cerita Sex Teman Masa Kecilku


    1356 views

    Perawanku – Cerita Sex Teman Masa Masa kecilku di kampung kalau kuingat-ingat menggelikan juga. Kok bisa-bisanya ya waktu aku masih kecil dah pacaran malah sudah berbuat jauh pula. Ceritanya gini. Waktu itu aku tinggal di desa yang jauh dari kota. Anak-anak di desa tidak bermain di mall seperti di kota, lha wong di desa gak ada mall. Yang ada cuma pasar, itu pun tidak setiap hari ada. Pasar ramai pada hari-hari tertentu saja.

    Kami anak anak, waktu itu kalau nggak salah ingat aku masih kelas 6 SD kalau menghabiskan waktu bermain di sawah, dirumah kadang-kadang berenang di sungai. Cari ikan, cari buah-buahan ya apa saja. Kalau malam kami sering main di halaman rumahku yang luas. Kebetulan halaman rumahku seperti memiliki alun-alun kecil di samping rumah, jadi tempat itu dijadikan pusat bermain anak-anak di sekitar rumahku.

    Soal bermain-main rasanya tidak usaha dibahas panjang lebar. Ada satu permainan yang mengesankan dan sampai sekarang masih terus ku ingat , sehingga akhirnya aku tuturkan dalam cerita ini . Kami jika selepas magrib sering berkumpul, anak laki-laki dan perempuan. Umumnya usia kami sebaya antara kelas 5 dan kelas 6 SD.  Agen Obat Kuat Pasutri

    Pada usia segitu, kami belum merasa berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Jadi tidak ada rasa risi misalnya aku laki-laki bermain dengan anak perempuan. Hanya saja mainan khas anak perempuan, kami yang laki-laki tidak memainkannya. Namun ada mainan yang laki perempuan berbaur. Permainan itu adalah main umpet-umpetan atau bersembunyi. Aturan mainnya tidak usah aku jelaskan, karena nanti jadi nglantur. Kuanggap semua pembaca udah tau lah

    Cerita Sex Teman Masa Kecilku

    Cerita Sex Teman Masa Kecilku

    Permainan umpet-umpetan biasa kami mainkan selepas waktu magrib sampai sekitar jam 9. Kuingat benar waktu itu aku merupakan anak yang pandai bersembunyi sehingga aku jarang ditemukan. Ketika giliran aku bersembunyi aku segera berlari ke belakang rumah yang agak gelap. Kebetulan di situ ada lemari yang baru setengah jadi. Posisinya tidak terlalu rapat ke dinding. Diantara celah itulah aku bersembunyi. Rupanya Raisya mengikutiku mencari persembunyian. Ketika aku menyelip diantara lemari dengan dinding dia memaksa ikut pula bersembunyi disitu. Celahnya tidak begitu besar, tetapi untuk dua anak sekecil kami masih bisa muat, tapi ya harus berdiri berhimpitan. Raisya memaksa bersembunyi bersamaku, sehingga badan kami berhimpitan di sela-sela lemari itu. Dia membelakangiku sehingga aku seperti memeluk Raisya dari belakang. Pantatnya yang agak tonggeng menekan bagian kemaluanku. Kami berusaha tidak menimbulkan suara sehingga berdiri mematung. Namun penisku yang tertekan pantat Raisya rupanya memberi rangsangan. Tanpa aku sengaja, penisku jadi menegang.

    “Apaan sih ini keras-keras,” kata Raisya merasa risi, karena penisku menekan pantatnya.
    “Jangan berisik nanti ketauan,” kataku.

    Raisya akhirnya diam, dan aku merasakan kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhku.
    Mungkin karena naluri, aku memeluk Raisya lebih rapat. Padahal pada waktu itu aku belum pernah merasakan nafsu kepada perempuan. Namun karena dorongan naluri saja mungkin maka aku memeluk Raisya lebih rapat, agar kemaluanku lebih tertekan. Raisya diam saja.
    Mungkin sekitar 5 menit sampai terdengar Udin berteriak menyerah baru kami keluar dari persembunyian. Berikutnya aku kembali sembunyi di tempat tadi. Ternyata Raisya kembali mengikutiku. Posisinya sama lagi seperti tadi. Aku kembali memeluk Raisya rapat-rapat, karena rasanya nikmat sekali penisku tertekan pantat Raisya.

    Aku tidak ingat benar asal muasalnya, tetapi ketika tanganku memeluk, aku menyentuh dada Raisya. Ada setumpuk daging empuk. Kemaluanku makin mengeras dan aku gesek-gesekkan. Raisya rupanya risih karena tanganku menyentuh teteknya yang baru tumbuh dan penisku menekan-menekan pantatnya. Tanganku ditepisnya dari wilayah dada dan dia kelihatannya tidak suka aku pegang tetek kecilnya. Kuingat betul waktu itu Raisya hanya mengenakan kaus oblong dan seperti singlet dilapisan dalamnya. Aku lalu mengingatkan Raisya agar tidak berisik. Dia kemudian menurut dan diam, tapi tanganku berusaha disingkirkannya dari susu kecilnya. Tapi aku suka memegang susu kecilnya rasanya kok enak, empuk-empuk gitulah. Dia lalu aku ancam, kalau tanganku tidak boleh memegang dadanya dia akan kutinggal bersembunyi di tempat lain. Raisya yang penakut akhirnya menahan agar aku tidak pergi. Dia akhirnya membiarkan tanganku meremas-remas teteknya. “Jangan keras-keras mas, sakit,” katanya.

    Aku meremasnya pelan=pelan sambil menikmati keempukan tetek kecilnya.
    Lama-lama aku bosan meremas dadanya dari luar. Aku ingin tahu bagaimana sesungguhnya bentuk teteknya. Aku berusaha memasukkan tanganku dari bawah. Belum kesampaian maksudku, Raisya sudah mencegah. Aku kembali mengancam akan meninggalkannya. Dia yang penakut akhirnya menyerah dan membiarkan aku menjulurkan tanganku dari bawah kausnya.

    Ketika aku jamah masih terasa ada penghalang kaus singletnya. Aku lalu menyuruh Raisya untuk mengeluarkan kaus singletnya. Raisya menuruti dan aku segera menggapai buah dada kecil. Waktu itu kurasa lucu sekali, ada daging empuk nyembul sepasang dan ujungnya agak mengeras kecil. Raisya diam saja kuremas-remas, dia hanya mengingatkanku agar jangan terlalu keras meremasnya.
    Kepala Raisya kemudian malah disandarkan ke bahuku. Aku heran, dia bernafas seperti kecapaian habis lari-lari. Aku waktu itu sungguh tidak mengerti.

    Setelah puas, aku mengakhiri meremas-remas dada Raisya. Kami pun lalu kembali berkumpul dengan anak-anak lainnya. Malamnya aku tidak bisa tidur, memikirkan perasaan nikmat meremas tetek si Raisya. Timbul di pikiranku untuk lain waktu melihat bentuknya.

    Kesempatan itu akhirnya datang ketika suatu hari aku bersama Raisya mencari kayu bakar di hutan. Hutan kecil letaknya agak jauh di belakang rumahku. Kami jalan berdua melintasi sawah yang habis dipanen. Di hutan , yang sebetulnya bukan hutan lebat, kami mengumpulkan ranting-ranting kering. Setelah cukup banyak dan diikat agar mudah membawanya kami pun istirahat. Di situ kebetulan ada pohon seri. Kami mengambil buah-buah seri yang sudah merah dan segera melahapnya. Lumayan juga untuk mengatasi haus. Di bawah pohon seri itu cukup bersih karena tidak ada rumput. Tanahnya seingatku ditutupi oleh guguran daun kering, sehingga kami bisa istirahat duduk di bawah kerindangannya.

    Aku teringat oleh keinginanku melihat dada Raisya. Keinginan itu aku sampaikan ke Raisya, tanpa basa-basi. Maklumlah anak-anak tidak mengerti soal merayu dan basa basi. Raisya serta merta menolak keinginanku sambil menutup kedua tangannya ke dadanya. Ah sialan pikirku, bertingkah amat si Raisya. Aku lalu mengeluarkan jurus ancaman. Kalau dia tidak mau memperlihatkan teteknya maka aku tidak mau menemaninya lagi mencari kayu bakar. Kayu bakar memang hanya ada dihutan ini. Kami warga desa umumnya memasak dengan kayu bakar, sehingga jika Raisya tidak mencari kayu bakar dia akan dimarahi ibunya.

    “Ya udah, tapi jangan lama-lama ya aku malu, tau,” katanya yang kuingat waktu itu.
    Raisya lalu kusuruh membuka atasannya.
    Dia membuka atasannya, tapi menutup dadanya dengan baju yang sudah terbuka. Aku tentu saja protes karena tidak bisa melihat. Dibukanya sebentar lalu ditutup lagi. Aku kurang puas dengan melihat sepintas lalu. Aku mau melihatnya sepuas-puasnya.. Kemaluan ku sudah mengeras dari tadi. Setiap aku mengingat dada Raisya aku selalu begini.

    Raisya akhirnya membiarkan aku melihat sepuasnya. Aku bahkan kemudian meraba dan menekan-nekan dada montok tapi masih kecil. Kulihat bentuknya lucu dengan ujung lancip berwarna agak gelap. Puting susunya kelihatannya masih sama besarnya dengan punyaku. “Pelan-pelan mas, sakit kalu diremas kuat-kuat.

    Aku meremas-remas sepuasku dan memperhatikan tetek kecil Raisya dari depan. Tiba-tiba Raisya memelukku dari depan. Aku tidak tahu kenapa dia jadi begitu. Aku protes karena jadi susah melihat dan memegang teteknya, tapi Raisya malah makin erat memelukku. Penisku jadi tertekan perutnya, sehingga rasanya jadi makin keras aja.

    Raisya kubaringkan dikakiku pada posisi bersila. Dia melemas dan mengikuti kemauanku. Mungkin karena tidak sengaja roknya terangkat agak tinggi. Aku lalu menyingkap roknya. Tapi tangan Raisya segera mencegah dan menurunkan kembali roknya.

    Aku waktu itu minta agar Raisya memperbolehkan aku melihat sebentar saja. Mungkin karena dia sudah agak terangsang atau karena takut tidak aku temani cari kayu bakar akhirnya aku boleh menyingkap roknya.

    Raisya mengenakan celana dalam dari katun yang agak longgar, sehingga sebagian kemaluannya terlihat dari samping. Ini membuatku penasaran untuk sekalian melihat kemaluannya. Tanpa bilang apa apa aku berusaha menguak bagian samping celananya untuk melihat bentuk kemaluan Raisya. Raisya terkejut dan tangaku dipegangnya. Aku bilang aku ingin liat sebentar saja. Agak lama akhirnya dia baru melepas tanganku. Aku menguak celana dalamnya . kelihatan belahan memeknya dengan benjolan kemaluan. Aku ingat waktu itu Raisya belum memiliki jembut,ajdi masih pelontos. Diantara belahan itu seperti ada daging tumbuh menyembul. Aku makin penasaran sehingga ingin menguak belahan memeknya. Namun karena celah celana dalamnya tidak begitu besar jadi agak susah melihat celah memek Raisya.

    Aku kemudian menurunkan celana dalamnya. Meski Raisya berusaha menahannya, tetapi akhirnya aku berhasil melepas celana dalamnya.
    Setelah terlepas aku duduk diantara kedua pahanya yang dikangkangkan. Aku puas melihat belahan memek Raisya yang warnanya memerah. Sembulan daging yang muncul diantara memek Raisya tadi rupanya adalah bibir memeknya. Aku baru tau kalau memek perempuan itu adanya dibagian bawah. Tadinya aku kira berada di depan seperti kemaluan laki-laki. Bentuk memek perempuan lucu banget, belahannya terus menyambung sampai ke pantat. Aku lihat dengan melebarkan lipatan memeknya ada lubang kecil. Aku kira disitulah lubang kencing perempuan.

    Raisya protes ketika memeknya aku sibak-sibak, sakit katanya.
    Setelah puas aku mengakhiri permainan itu dan kami kembali pulang menggendong kayu bakar. Raisya menjadi patner tetapku mencari kayu bakar. Jika ada anak lain yang mau ikut kami larang. Sebabnya setiap kami mencari kayu bakar aku selalu membuka memek Raisya. Rasanya kok menyenangkan melihat memeknya berkali-kali. Jadi setiap kali sudah melihat, rasanya seperti lupa jadi ingin lihat lagi keesokan harinya.

    Aku terbiasa melihat memek Raisya, dan Raisya pun sudah tidak lagi mencegah jika aku ingin melihat memeknya. Kami sudah bebas. Satu kali Raisya protes karena dia belum pernah melihat kemaluanku. Aku waktu itu benar-benar malu, untuk menunjukkan kemaluanku ke Raisya. Raisya kemudian mengancam tidak mau lagi membuka baju dan celananya kalau aku tidak memperlihatkan burungku.
    Aku akhirnya menyerah dan memelorotkan celanaku sebentar memperlihatkan burungku yang ngacung lalu buru-buru menutupnya lagi. Raisya tentu saja protes. Akhirnya kami berdua sepakat untuk bersama sama membuka celana. Dengan hitungan 1,2,3 celana kami buka. Raisya tertawa geli melihat burungku. Aku waktu itu sudah sunat, sehingga ada bentuk topi baja di ujung penisku. Mulanya aku tidak mau burungku dipegang Raisya, Tapi karena dia bilang tidak adil. Akhirnya aku menyerah dan membiarkan dia memegang burungku. Burungku dipencet agak kuat. Aku kaget dan menarik tubuhku, karena sakit. Aku minta Raisya memegangnya jangan ditekan kuat-kuat. Akhirnya Raisya memegang agak lembut. Ada rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhku.

    Kuajari Raisya agar menggengam penisku dengan lembut. Dia menuruti dan aku merasa makin nikmat. Mungkin juga karena naluri aku menggenggam tangan Raisya yang sedang menggenggam penisku dan melakukan gerakan mengocok. Padahal aku waktu kelas 6 SD belum tahu soal onani. Rasanya nikmat sekali dikocok tangan Raisya. Dia kuminta melakukan terus sementara aku berusaha memegang teteknya lalu memeknya. Tiba-tiba kenikmatan luar biasa menjalar kelseluruh tubuhku. Aku merasakan denyut-denyut nikmat dan Raisya kuminta menghentikan kocokan. Diujung penisku keluar cairan bening kental, tetapi mungkin cuma 2 tetes. Aku pada waktu itu belum mengalami mimpi basah.

    Kami kemudian sering melakukan adegan seperti itu ketika mencari kayu bakar. Aku bahkan sudah membuat tempat khusus untuk kencan kami, yaitu ditengah semak dan di situ kami gelar lembaran tikar bekas dan dibawahnya dilapisi daun-daun kering. Tempatnya agak jauh ke dalam hutan.
    Suatu kali aku teringat anjing melakukan hubungan kelamin, ketika kami sedang bercumbu. Tapi aku takut memasukkan penisku ke dalam lubang memek Raisya, karena takut tidak bisa lepas seperti anjing yang sering aku lihat. Aku hanya ingin menempelkan ujung penisku ke lubang memek Raisya . Ketika kucoba pertama kali rasanya lebih nikmat. Aku menggeser-geser penisku di memek Raisya sampai aku puas.

    Percumbuan kami terus mengalami kemajuan, sampai akhirnya aku mencoba menutup lubang memek Raisya dengan kepala penisku. Berkali-kali kepala penisku meleset, seperti tidak bisa ditempatkan di memeknya. Aku pun berkali-kali berusaha , sampai akhirnya dengan menguak belahan memek Raisya kepala penisku bisa menutup lubang memek Raisya. Aku tekan-tekan, rasanya nikmat sekali, semakin aku tekan rasanya semakin nikmat. Sementara itu Raisya protes karena dia katanya merasa sakit dan perih. Tapi aku yang dikuasai nafsu tidak perduli, sampai aku mencapai kepuasan.

    Acara mengocok penisku dengan tangan sekarang sudah lagi tidak dilakukan. Aku selalu berusaha menutup kepala penisku ke belahan memek Raisya. Aku mendapat akal agar mudah menutup kepala penisku di lubangnya memek Raisya maka kepala penisku kulumuri ludah. Dengan begitu rasanya lebih mudah bagiku menempatkan kepala penisku sehingga tidak kepeleset kemana-mana. Aku merasa sangat nikmat dan mungkin karena rasa nikmat itu aku menekan penisku makin keras. Aku tidak ingat akan anjing yang kelaminnya tidak bisa lepas sehabis kawin. Rasa nikmat itu membuatku menekan keras dan memaju mundurkan. Rasanya waktu itu aku bisa maju mundur sedikit-sedikit di memek Raisya sampai aku mencapai kepuasan.

    Sudah berapa kali aku dan Raisya melakukan posisi seperti itu sampai akhirnya Raisya tidak terlalu merasa sakit lagi. Anehnya Penisku bisa lebih mudah menancap di memek Raisya meski hanya kepalanya saja. Memek Raisya jika aku tekan-tekan lama-lama seperti mengeluarkan lendir sehingga jadi licin.

    Itulah sebabnya suatu kali aku tidak sengaja menekan terlalu keras ketika melakukan maju mundur sehingga penisku kejeblos ke dalam memek Raisya. Raisya menjerit dan dia menangis kesakitan. Aku pun terkejut, karena merasa penisku tenggelam di memek Raisya. Tapi kok rasanya lebih nikmat. Tiba-tiba aku ingat soal anjing yang penisnya lengket. Buru-buru aku cabut. Ternyata bisa. Kulihat penisku berdarah, meski tidak banyak. Kuperhatikan memek Raisya tidak ada darah meleleh. Aku lalu berpikir mungkin penisku lecet sehingga berdarah. Aku menyekanya dengan lap handuk yang selalu aku bawa untuk menyeka keringat. Kecermati penisku tidak terluka dan tidak ada rasa sakit. Sementara Raisya mengeluh bahwa memeknya terasa perih.

    Aku menduga mungkin memek Raisya yang lecet karena aku terlalu dalam tadi membenamkan penisku. Dia mengambil sapu tangan handuknya dan melap celah memeknya. Terlihat disitu ada sedikit warna merah muda.

    Aku kali itu mengakhiri permainan sebelum aku mencapai kepuasan. Aku terpaksa membopong kayu bakar Raisya, karena katanya dia agak sakit kalau berjalan. Jalannya pada awalnya agak aneh, tetapi lama-kelamaan jadi normal.
    Lebih dari seminggu aku tidak mengulangi adegan menancapkan penisku, meskipun aku punya keinginan kuat. Raisya beralasan memeknya perih.

    Mungkin 10 hari kemudian akhirnya Raisya mau kembali melakukan adegan itu. Penisku agak mudah dimasukkan ke memek Raisya, meski Raisya mengernyit masih agak sakit katanya. Tapi aku merasa kenikmatan luar biasa ketika penisku terasa dicengkam oleh memek Raisya. Aku melakukan gerakan maju mundur berkali-kali sampai akhirnya puas. Penisku sampai melemah di dalam memek Raisya.

    Setelah sekitar 5 kali permainan pada hari-hari berikutnya akhirnya aku lebih mudah memasukkan penisku ke memek Raisya. Ternyata penisku lebih nikmat jika dijepit memek Raisya daripada hanya digenggam-gengam.

    Aku jadi terbiasa melakukan persetubuhan dengan Raisya dan akhirnya menjadi kecanduan. Raisya pun tampaknya sudah mulai menikmati persetubuhan karena pantatnya bergoyang-goyang ketika aku tusuk dengan penisku. Kami biasanya melakukan sampai 2 ronde di dalam hutan. Bahkan malam-malam kami melakukan lagi di bale-bale belakang rumah yang gelap.

    Kami merahasiakan hubungan kami itu, meskipun aku rasanya ingin menceritakan pengalamanku yang mengasyikkan kepada teman-temanku. Tapi aku takut ketahuan, karena teman-temanku bisa saja tidak menjaga rahasia itu.

    Sekitar setahun kemudian keluarga Raisya pindah ke kota, sehingga aku kehilangan patner. Tetapi aku bisa membujuk teman cewekku yang lain untuk melakukan hubungan itu. Rita yang badannya lebih besar dari Raisya berhasil aku setubuhi. Dia mulanya merasa sakit, tapi lama kelamaan dia juga bisa menikmati seperti halnya Raisya.

    Dari pelajaran biologi aku mengetahui kemudian bahwa jika sperma masuk ke dalam memek perempuan bisa menyebabkan kahamilan, aku kemudian membatasi tidak melepas spermaku, ketika suatu kali aku mulai memiliki sperma.

    Ada sekitar 3 cewek yang sudah kusetubuhi di kampungku sampai aku akhirnya meneruskan sekolah di kota meneruskan SMA.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Dengan Adik Kelasku Yang Seksi

    Cerita Sex Dengan Adik Kelasku Yang Seksi


    1354 views

    Perawanku – Cerita Sex Dengan Adik Kelasku Yang Seksi, Tumben banget bel pulang sekolah bunyi gak ngaret kayak biasanya. Suasana pulang yang ricuh tiba-tiba menghening. Ternyata ada si Lusi, anak kelas 1 yang tersohor dengan muka yang cakep banget di tambah body sexy yang terbalut seragam super minim itu sedang lewat.

    Namun suasana bisu itu tiba-tiba memecah lamunku karena langkah sexsy si primadona berparkir di depan tongkrongku yang sedang BT hari itu. Saat itu angin kencang sedang hilir mudik dan tanpa sengaja menyibak rok Lusi, sepintas warna pink dalam rok Lusi terlihat oleh ku yang memang sedang nongkrong di depan Lusi.

    “Woi sadar donk!” teriak kecil Lusi yang membuyarkan tanyaku tentang warna pink tersebut.
    “CD aku tadi keliatan ya?” ceplos Lusi yang membuat muka ku memerah.
    Tanpa sempat memberiku kesempatan berkomentar, Lusi menarik lenganku menuju tempat parkiran. Lusi adalah junior ku di seni, dan hubungan kita memang sangat lengket, namun Lusi menganggapku hanya sebagai kakak saja.

    “Kak, anterin aku pulang donk?” pinta Lusi
    “Lho, emang supir kamu mana?” tanyaku kepada gadis kaya yang pulang pergi di anterin supirnya ini.
    “Supirku lagi nyupirin bonyok, dan di rumah nggak ada orang karena lagi beresin perabotan di rumah baruku.”
    Tanpa banyak tanya lagi, dengan ramah aku memberikan tumpangan. Namun sekarang aku agak horny, karena saat di boncengi Lusi menempelkan badannya ke punggungku dan tangannya memelukku dengan erat. Tidak seperti biasanya jalan Khairil Anwar agak lenggang dan membuat motorku dapat melaju kencang dan sampai dengan cepat di istana Lusi.

    “Kak, jangan pulang dulu yach. Temenin aku dulu dong sebentar, iseng nich sendirian di rumah.” Tawar tuan rumah.
    Setelah berganti baju, Lusi langsung menyodoriku minuman kaleng dan beberapa film American Pie yang sudah di putari di kamarnya. Kamar Lusi begitu luas dan cantik dengan berbagai ornamen pink dan putih khas perempuan. Setanpa dugaanku, Lusi mengganti pakaiannya dengan tanktop putih transparan yang menempel erat ditubuhnya sehingga membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Tanktop mini itu di padukan dengan rok mini putih yang serasi dengan tanktopnya.

    Lusi dan aku duduk berdampingan di kasurnya yang mengarah ke TV. Lusi duduk dengan memeluk erat tangan ku dan menyenderkan kepalanya ke pundakku. Posisi duduk kami benar-benar membuatku horny, apalagi aku merasakan sebuah tonjolan kecil yang menempel di lenganku dalam pelukan Lusi. Dan aku sangat menikmati keempukan dada Lusi yang menghimpit lenganku. Entah sengaja atau tidak, selain Lusi memeluk lenganku, Lusi juga menempatkan telapak tangan ku pada roknya tepat di atas vaginanya.

    Pada saat pemain film American Pie meragakan hubungan sex, nafas Lusi menjadi terengah-terengah dan seperti memburu sesuatu. Tak lama berselang aku merasakan suatu getaran dari penisku dan terasa penisku sedang ereksi. Ternyata pada saat itu Lusi sedang meremas-remas penisku dari luar. Aku terus mendesah tanpa berusaha menepikan tangan mungil Lusi dari penisku. Dan aku semakin mendesah dan menggeliat tatkala Lusi memasukkan tangannya ke celanaku dah terus meremas penisku.

    Di tengah nikmatku, tangan Lusi yang satunya lagi membimbing tanganku untuk masuk ke roknya dan menempatkannya tepat di vaginanya. Dengan tidak mau kalah, aku meremas-remas vaginanya juga. Dan betapa menggelinjangnya Lusi saat jariku kumasukkan ke lubang vaginanya yang membuat vaginanya membasah.

    Kegiatan saling meremas ini berlangsung selama 10 menit sampai akhirnya Lusi melepaskan genggamannya dari penisku dan mengeluarkan tanganku dari roknya. Aku sangat menikmati 10 menit indah itu, dan ingin rasanya mengulanginya lagi.
    “Kak Lusi haus nich, boleh pinjam sedotannya gak?” lirih Lusi memecah lamunku.
    “He…eh…” sahutku yang masih bingung
    Aku bingung karena Lusi tidak menyertakan sedotan di minumanku, tapi kenapa ia justru meminjam sedotan dariku. Yang lebih membuatku bingung, setelah aku iyakan, wajah Lusi berubah menunjukan senyum yang penuh arti.

    Tanpa ada ucapan lagi, tiba-tiba Lusi bangkit dari duduknya dan langsung jongkok di depanku
    “Heh kamu mau ngapain?” sahutku masih dalam bingung.
    “Udah deh, pokoknya kakak bakal keenakan dech…” sahutnya dengan ceplos
    Tanpa menunggu komentar dariku lagi, Lusi dengan sigap langsung membuka sabuk dan seletingku dan menarik celanaku dengan cepat.

    Karena kebiasaan ku yang tidak pernah memakai CD dari kecil, penisku langsung menyumbul keluar saat celanaku di peloroti.
    Tidak sampai menunggu lama. Tangan Lusi langsung meregangkan pahaku, yang membuat selangkanganku terbuka lebar.

    Dengan nafas yang terengah-engah dan nafsu yang membara, tangan Lusi langsung meraih penisku. Penisku semakin mengeras seirama dengan pijatan dan tarikan yang semakin keras dan cepat yang dilakukan Lusi. Tidak hanya saja di pijat, tangan Lusi dengan terampil mengocok penisku. Penisku di kocok dengan sangat cepat sampai aku merasa mengejang dan terengah-engah.

    Sebelum mani ku menyemprot keluar, aku menghentikan gerakan lincah tangan Lusi. Lusi pun langsung menghentikan tangannya, karena ia tahu kalau mani sudah keluar maka penis akan menyusut dan ia tidak bisa meneruskan permainannya.
    Setelah selang 1 menit, Lusi kembali mengawali permainannya lagi. Kali ini ia mengulum penisku. Ia kocok penisku dengan mulutnya. Bahkan biji penisku pun ia lahap habis.

    Karena sedotannya yang kencang di tambah mulutnya yang terus maju mundur, membuat pertahananku goyah. Karena sudah tidak kuat lagi menahan mani yang ingin mendesak keluar dari penisku, maka aku langsung mengeluarkannya. Aku tidak sadar bahwa saat aku menyemprotkan mani, penisku masih di dalam mulut Lusi. Al hasil, kini mulut mungil Lusi penuh dengan maniku yang sekarang mengalir deras keluar dari mulutnya.
    “Lusi maaf ya, saya ngeluarinnya gak bilang-bilang.”

    “Iya nih kak. Lain kali kalo mau ngeluarin maninya, bilang dulu yah. Asin tau mani nya kakak.” Keluh Lusi yang keasinan karena tanpa sengaja menelan maniku.

    “Iya deh…., Lusi kakak haus nih.” Ucap ku kehausan karena kewalahan oleh permainan Lusi.
    Ada saja ulah nya Lusi. Melihat ku kehausan, ia bukannya mengambilkan minuman, malah menyuruhku menghisap putingnya.

    Tindakan kami hanya segitu saja. Karena ternyata Lusi masih perawan dan baru melakukannya dengan saya. Namun setiap salah satu rumah kami kosong, kami melakukan oral sex tersebut lagi. Bahkan, apabila setiap habis latihan seni. Kami melakukannya di kelas yang kosong, atau di kamar mandi sekolah.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Mahasiswi Bisyar

    Mahasiswi Bisyar


    1354 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Mahasiswi Bisyar ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Beberapa bulan lalu aku dapet tugas ke luar daerah. Tepatnya didaerah pinggiran timur kota Bandung. Agar ngirit, kutelepon keponakanku yg kuliah didaerah tersebut. How lucky me, ia bersedia menampungku untuk beberapa hari.

    Singkat cerita, sampailah aku di daerah J*******r, daerah pinggiran Bandung yang terkenal dengan kawasan perguruan tinggi. Kostan keponakanku terletak agak dalam, sehingga aku perlu menyewa ojek untuk sampai kesana. Sesampainya di kostan keponakanku, aku lsg disambut dgn senyum yang ramah dari pengurus kos. Ooh ini mamangnya Ryan ya (nama samaran keponakanku)?, jam berpa dari Jakarta?

    Rupanya keponakanku sudah melaporkan kedatanganku kepada pengurus kos tersebut. Tadi pak jam 8 pagi jawabku. mangga kita masuk kedalam, saya antar ke kamarnya Ryan. Ryan sedang pergi ke tempat kawannya katanya sih mau persiapan Kuliah Lapangan.

    Hmmm nyaman juga disini, pikirku. Lantas sesampainya di kamar ryan aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang yg hanya cukup untuk sendiri. Tak lama aku pun tertidur karena lelah.

    Ketika aku terbangun, jam menunjukkan pukul setengah 4. Ryan belum pulang juga. Iseng aku keluar kamar untuk membeli rokok. Ketika keluar, aku berpapasan dgn beberapa org mahasiswi yg baru pulang kuliah. Dengan lirikan mata nakal kucobna menikmati pemandangan didepanku. Rupanya kostan ini bercampur antara penghuni laki2 dengan penghuni perempuan.

    Sepulang membeli rokok aku langsung mandi dan menelpon Ryan. Dari seberang ia memberitahukan aku bahwa dia tidak pulang malam ini karena tugas persiapan Kuliah Lapangannya masih belum lengkap sehingga ia perlu melengkapiny malam ini jg.

    Setelah aku mandi, aku dudukduduk di teras kamar Ryan sambil menikmati kopi dan rokok. Tiba tiba aku terkejut dengan sapaan lembut seorang perempuan, Ryannya kemana om? Seorang mahasiswi dengan celana pendek hanya sekitar 5 cm dari pangkal pahanya menegurku. Kulitnya putih mulus dan hanya mengenakan kaus yukensi berwarna kuning.

    Eh Ryan masih di Soreang, lg beresin Tugas Kuliah Lapangannya. Mbak siapa ya? . Saya Reni, temen satu Jurusan Ryan. Tadinya mau pinjem buku Manajemen Organisasinya. Coba aja cari di dalam jawabku. Saya masuk ya Om, abis ada tugas yg penting nih, besok harus dikumpulkan katanya.

    Ketika Reni masuk kamar, aku mengikutinya sambil terus menikmati lekuk tubuhnya dari belakang. Pantatnya yg bulat berisi meliuk liuk didepanku. Dadanya jg lumayan besar sehingga sedikit membusung. Dan pemandangan ini cukup membuat si adek sedikit bergerak.

    Coba aja cari di rak bukunya Mbak, kali aja ada jawabku sambil mengambil tempat duduk di tepi ranjang agar aku dapat memandangi dada Reni dengan leluasa. Saking terpananya, aku tak sadar Reni telah menemukan buku yg ia cari, ia pun memergoki aku sedang melongo menatap dadanya.

    Om, bukunya dah ketemu, ngapain sih om bengong begitu? eh .anu nggg. kalo udah ketemu yaaaa. bagus deh jawabku gelagapan sambil berusaha berdiri sambil menyembunyikan tonjolan di balik celana pendekku. heheheh. om kenapa bongkok begitu, malu ya ada yg berdiri! kata Reni sekenanya. Aku pun semakin malu dan semakin terpojok. Eh, nggak kok pegel kelamaan duduk di bis Padahal Jakarta Bandung hanya ditempuh 2 jam

    Ya udah om, Reni ke kamar dulu. Nanti klo udah selesai reni pulangin deh secepatnya. Oke deh saya juga mau tiduran dulu. CApek . oke om, met istirahat ya

    Sepeninggal Reni, kepalaku dipenuhi dgn pikiran yg ngawur. Aku membayangkan dapat meremas toketnya yg bulat dan menjilati selangkangannya yg mulus.

    Tak tahan dengan keadaan pikiranku, lantas aku tiduran dan mulai melorotkan celana pendekku dan akupun melakukan onani sambil membayangkan Reni sedang bercumbu denganku. Hampir lima menit aku onani, tibatiba pintu kamar terbuka karena aku tidak menguncinya terlebih dahulu. Reni terpekik kecil ketika melihat aku sedang terlentang sambil onani.

    Aw, si om ngapain!!! serasa ditimpa balok beton aku terkejut setenga mampus dalam keadaan setengah bugil. mmmh anu, ngak kok, cuma, itu anu ini nih gatel ada semut masuk kali! ujarku sambil berusaha menaikan celana pendeku. hahaha si om kangen kali sama istrinya ya?, om aku cm mau ngambil ini, pulpen aku ketinggalan katanya.

    Om, gede juga hihihihi katanya meledek aku. Aku benarbenar mati kutu. ga tau mau ngapain atau ngomong apa, cuma garuk garuk kepala saja. Kurang ajar ni cewe.

    awas kamu pikirku. ketika ia mengambil pulpennya, kaki Reni menginjak sepatuku yang kusimpan d bawah rak buku rendi sehingga ia terpeleset dan jatuh menimpa tubuhku. aku segera menolong dia bangun, dan ketika aku tolong dia wajah kami hampir beradu.

    Tak tahan lagi kucoba mencium bibirnya, dan dia membalas!!! GOD, ini kesempatan~!!!! cuma sekitar semenit kami saling mengulum bibir, tibatiba ia mendorong aku alau ia berdiri dan berbisik Om kalo mau nanti malem aja Reni kesini. Huaaaaaaaaa ngimpi apa aku semalam!!!! hampir meldak dadaku kegirangan!!! nggak sabar rasanya menunggu malam.

    Jam 10 malam aku ga bisa tidur karena aku sedang menunggu Reni datang. Ga lama ada suara ketukan kecil dan langsung aku terbang menuju pintu untuk membukanya. Reni nepatin janji kan Om, kebetulan si mamang lagi ada rapat d RT. Jadi ga ada yg keliling kamar.

    kata Reni nyerocos sambil masuk dan menutup pintu. Tak lupa aku langsung menguncinya. Om bagi rokoknya ya, punya aku ketinggalan di kamar! katanya sambil menyambar sebatang rokok mild kepunyaanku. gapapa pake aja! sahutku.

    Setelah membakar rokok, tanpa diminta ia menceritakan tentang Rendi, kegiatan di kampus bla bla bla.. Duuuuuh ni cewe, udah tau adek gua udang nendangnendang ia malah cerita ngalor ngidul. Tapi aku sedikit menahan diri agar tidak terkesan napsu. Padahal mah .

    eh Om, udah punya istri khan? udah, tapi kan ga diajak, Reni mau ga jadi istri om buat sementara? Tergantung om Tergantung apa? desakku Tergantung om mau bayar berapa? Jiaaah gua kira gratis, tapi gapapa lah yg penting lendir mengalir pikirku daripada maen perkosa mending mahasiwi bisyar hehe. emang rate kamu berapa?

    Buat om aku kasih 300 deh ampe pagi. Biasanya sih 700 sampe 1 juta om klo sampe pagi, tapi waktu Reni liat punya om tadi Reni kasih diskon gedegedean deh!!! waduh kaya obral mall akhir taun aja. Aku nggak menyahut, malah aku dekati wajahnya dan langsung aku lumat bibirnya yg sedikit tebal tapi seksi. mmmmmhh, hmmmmm..! Reni hanya bergumam seperti itu saat kulumat bibirnya.

    Tangannya pun meraih tanganku agar meremas payudaranya. Sementara sebelah tanganku lagi mengusapusap pahanya yang mulus. Tak tau kapan, tiba tiba tangan Reni sudah mengusap usap penisku dari luar celana pendeku. Penis yg sudah menegang dari tadi sore langsung mencuat mengacung sehingga menekan perutnya.

    Tiba tiba reni terkikik dan melepaskan ciumannya. Ada yg udah ga sabar ya Om? Iya nih kataku sambil melorotkan celana pendekku. Sementara aku melepas celana pendeku, Reni melepaskan pula celana pendeknya, ASTAGA dia memang udah niat, dia ga pake CD. lalu ia pun melepas kaos yukensinya dan meminta aku melepas kaitan Branya. Saat aku lepas kaitan branya, aku mulai menciumi leher belakang dan sekitar ketiak nya, ooooomm aaaahhh sssshhh. mmmm ia kembali berdesah.

    dan sumpah mati, desahannya membuat aku semakin terangsang dan segera membalikan badannya dan langsung kusergap toketnya yg bulat dan kenyal. ouh . ommmm shhhhh ahhhh katanya sambil bergelinjang geli campur nikmat. Tiba tiba badanku didorong dan ia berjongkok lalu meraih penisku. Dalam sekejap penisku sudah masuk seluruhnya dalam mulutnya yg agak lebar. oooohhh shhh mmmm. ennnnakkk Ren, gantian aku yg mendesah.

    Ia terus mengocok penisku dengan mulutnya. sekiar 3 menit ia lakukan BJ. lalu aku angkat badannya ke tempat tidur. langsung aku renggangkan kedua belah kakinya dan aku sergap belahan vaginanya yng merah merekah dan tembem, kujilati permukaan vaginanya dengan rakus sambil sesekali mempermainkan klitorisnya.

    Reni pun bergelinjang gelinjang penuh nikmat diatas ranjang. tibatiba ia duduk dan memeluku eraterat. Wah muncrat ni bocah, pikirku.Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhh oooooooommmm sihhhhhh. lalu terasa ada cairan hangat membasahi perutku.

    Tanpa basa basi kutidurkan dia di kasur dan langsung kutancap memeknya dengan ganas. plak plok plak plok kecrot kecrot suara penis dan vagina yg beradu semakin menambah sensasi dan fantasi seksku dengan Reni. 5 menit kami melakukan MOT dan ku balikan badannya. SHAGGY STYLE.

    ini posisi favoritku, tak menunggu lama langsung kutancap lagi kontolku kedalam liang rahim Reni dan langsung menggenjotnya dengan rakus. aaaahhhh ahhhhaaaahhhh ooohh mmmmhhh. uaaahhhhssshhhhhenak om katanya. 5 menit melakukan shaggy, terasa maniku mau keluar.

    Tapi Reni malah menggoyang terus pantatnya sehinga kontolku semakin linu dan ingin segra memuncratkan lava kemikmatanku.Ren.aku mau kluar, aaaahtahan dulu ommm. reni blom sampe tapi gara2 Reni terus menggoyang tak tahan lagi kusodokkan kontolku semakin kedalam dan aaaaaahhhhhh entah berapa liter yang kusemprotkan kedalam ememk Reni

    Aku pun terduduk lemas, sambil berusaha mengatur napas. Reni tampak kecewa dan ia mengambil handuk yg ada di belakang pintu kamar dan ia mengelapi kontolku yang basah karena cairan vagianya dan spermaku.

    Setelah keriang ia lalu mengisap isap lagi kontolku dengan ganas sehingga dalam tempo yang sesingkatsingkatnya penisku tegak lagi dan siap untuk bertempur lagi. kami terus bertempur sampai jam 4 pagi dan terlelap karna kecapean.

    Pagi hari aku terbangun karena terasa ada yang geli di penisku. Ternyata reni sedang mengulum penis ku. tak berapa lama ia pun menaiki tubuhku dan kami kembali bersetubuh sampai jam setengah delapan pagi. setelah mandi dan berpakaian, kuambil dompet dan menarik lima lembar uang seratus ribuan lalu kuserahkan pada Reni.

    Reni berubah pikiran om, kali ini Reni kasih gratis aja, asal om mau kasih Reni kaya semalam selama om disini dan Ryan blm pulang. Oke sayang, kataku sambil berteriak girang dalam hati. Om seminggu disini dan semoga tugas Ryan ga bereberes. Ih si om, bukannya doain yg bener!.

    Selama 5 hari, selepas melaksanakan tugas kantor, aku selalu bersetubuh dengan Reni. dan ketika hari keenam Ryan pulang dan kami masih melakukannya di kamr REni. Dengan segudang alasan tentunya kepada kepnakanku.

    Nah aganagan sekalian, demikianlah pengalaman seks ku dengan mahasiswi bisyar yang bernama reni, bener bener seru deh

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Sekretaris Nakal Menikmati Tubuh Pak Lilik

    Cerita Sex Sekretaris Nakal Menikmati Tubuh Pak Lilik


    1352 views

    Perawanku – Sebagai direktur perusahaan Pak Lilik mengadakan acara resepsi penikahan nakanya di sebuah hotel
    berbintag 5 di kota Jakarta, karena dapat undangan khusus dari atasan kami bersedia dengan senang hati
    untuk datang dan mengucapkan selamat berbahagia untuk anaknya tentunya.

    Malam itu aku datang dengan teman kuliahku yang bernama Brandon dia kuliahnya di Amerika, sampainya di
    hotel banyak yang datang dengan menggandeng pasangannya masing masing, kadang aku juga merasakan iri,
    karena aku masih jomblo hehe..
    “Selamat malam Pak..” sapa seseorang agak mengagetkanku. Aku menoleh, ternyata Lia sekretarisku yang
    menyapaku. Dia datang bersama tunangannya. Tampak sexy dan cantik sekali dia malam itu, disamping juga
    anggun. Link Alternatif BolaTangkas

    Berbeda sekali jika dibandingkan saat aku sedang menikmati tubuhnya,.. Liar dan nakal. Dengan gaun
    malam yang berdada rendah, belahan buah dadanya yang besar tampak menggoda.

    “Malam Lia” balasku. Mata Brandon tak henti-hentinya menatap Lia, dengan pandangan kagum. Lia hanya
    tersenyum manis saja dilihat dengan penuh nafsu seperti itu. Tampak dia menjaga tingkah lakunya,
    karena tunangannya berada di sampingnya.

    Kamipun lalu berbincang-bincang sekedarnya. Lalu akupun permisi hendak menyapa para undangan lain yang
    datang, terutama para klienku.

    “Malam Pak Robert..” seorang wanita cantik tiba-tiba menyapaku. Dia adalah Santi, istri dari Pak
    Rahman, manajer keuangan di kantorku. Mereka baru menikah sekitar tiga bulan yang lalu.

    “Oh Santi.. Malam” kataku

    “Pak Rahman dimana?”

    “Sedang ke restroom.. Sendirian aja Pak?” tanyanya.

    “Sama teman” jawabku sambil memandangi dia yang malam itu tampak cantik dengan gaun malamnya dengan
    anggun. Belahan gaunnya yang tinggi memamerkan pahanya yang putih menggiurkan. Dadanya walaupun tak
    sebesar Lia, tampak membusung menantang.

    “Makanya, cari istri dong Pak.. Biar ada yang nemenin” katanya sambil tersenyum manis.

    “Belum ada yang mau nih”

    “Ahh.. Bapak bisa saja.. Pasti banyak banget cewek yang mau sama bapak.. Kalau belum married saya juga
    mau lho..” jawabnya menggoda.

    Memang Santi ini rasanya punya perasaan tertentu padaku. Tampak dari cara bicaranya dan cara dia
    memandangku.

    “Oh.. Kalau saya sih mau lho sama kamu biarpun kamu sudah married” kataku sambil menatap wajahnya yang
    cantik.

    “Ah.. Pak Robert.. Bisa aja..” jawabnya sambil tersipu malu.

    Cerita Sex Sekretaris Nakal Menikmati Tubuh Pak Lilik

    Cerita Sex Sekretaris Nakal Menikmati Tubuh Pak Lilik

    “Bener lho mau aku buktiin?” godaku

    “Janganlah Pak.. Nanti kalau ketahuan suamiku bisa gawat” jawabnya perlahan sambil tersenyum.
    “Kalau nggak ketahuan gimana.. Nggak apa khan?” rayuku lagi.

    Santi tampak tersipu malu. Wah.. Aku mendapat angin nih.. Memang aku sejak berkenalan dengan Santi
    beberapa bulan yang lalu sudah membayangkan nikmatnya menyetubuhi wanita ini. Dengan kulit putih, khas
    orang Bandung, rambut sedikit ikal sebahu, bibir tipis, dan masih muda lagi. Dia baru berumur 24
    tahunan.
    “Gimana nih setelah kawin.. Enak nggak? Pasti masih hot y.

    “Godaku lagi.

    “Biasa aja kok Pak.. Kadang enak.. Kadang nggak.. Tergantung moodnya” jawabnya lirih.

    Dari jawabannya aku punya dugaan bahwa Pak Rahman ini tidak begitu memuaskannya di atas tempat tidur.
    Mungkin karena usia Pak Rahman yang sudah berumur dibandingkan dengan dirinya yang masih penuh gejolak
    hasrat seksual wanita muda. Pasti jarang sekali dia mengalami orgasme. Uh.. Kasihan sekali pikirku.

    Tak lama Pak Rahmanpun datang dari kejauhan.

    “Wah.. Pak Rahman.. Punya istri cantik begini kok ditinggal sendiri” kataku menggoda.

    Santi tampak senang aku puji seperti itu. Tampak dari tatapan matanya yang haus akan kehangatan laki-
    laki tulen seperti aku ini.

    “Iya Pak.. Habis dari belakang nih” jawabnya. Tatapan matanya tampak curiga melihat aku sedang
    mengobrol dengan istrinya yang jelita itu. Mungkin dia sudah dengar kabar akan ke-playboyanku di
    kantor.

    “Ok saya tinggal dulu ya Pak Rahman.. Santi” kataku lagi sambil ngeloyor pergi menuju tempat hidangan.

    Akupun mengambil hidangan dan menyantapnya nikmat. Maklum perutku sudah keroncongan, terlalu banyak
    basa-basi dengan para tamu undangan tadi. Kulihat si Brandon masih ngobrol dengan Lia dan tunangannya.
    Ketika aku mencari Santi dengan pandanganku, dia juga sedang mencuri pandang padaku sambil tersenyum.
    Pak Rahman tampak sedang mengobrol dengan tamu yang lain. Memang payah juga bapak yang satu ini, tidak
    bisa membahagiakan istrinya.

    Santi kemudian berjalan mengambil hidangan, dan akupun pura-pura menambah hidanganku.

    “San.. Kita terusin ngobrolnya di luar yuk” ajakku berbisik padanya

    “Nanti saya dicari suami saya gimana Pak..”

    “Bilang aja kamu sakit perut.. Perlu ke toilet. Aku tunggu di luar ya”.

    “Kataku sambil menahan nafsu melihat lehernya yang putih jenjang, dan lengannya yang berbulu halus

    Tak lama Santipun keluar ruangan resepsi menyusulku. Kamipun pergi ke lantai di atas, dan menuju
    toilet. Aku berencana untuk bermesraan dengan dia di sana. Kebetulan aku tahu suasananya pasti sepi.
    Sebelum sampai di toilet, ada sebuah ruangan kosong, sebuah meeting room, yang terbuka. Wah kebetulan
    nih, pikirku. Kutarik Santi ke dalam dan kututup pintunya.
    Tanpa basa-basi lagi, aku cium bibirnya yang indah itu. Santipun membalas bergairah. Tangankupun
    bergerak merambahi buah dadanya, sedangkan tanganku yang satu mencari kaitan retsleting di belakang
    tubuhnya.
    Kulepas gaunnya sebagian sehingga tampak buah dadanya yang ranum hanya tertutup BH mungil berwarna
    krem. Kuciumi leher Santi yang jenjang itu, dan kusibakkan cup BHnya kebawah sehingga buah dadanya
    mencuat keluar.

    Langsung kujilati dengan rakus buah dada itu, aku hisap dan aku permainkan putingnya yang sudah
    mengeras dengan lidahku.

    “Oh.. Pak Robertt..” desah Santi sambil menggeliat.

    “Enak San..”

    “Enak Pak.. Terus Pak..” desahnya lirih.

    Tangankupun meraba pahanya yang mulus, dan sampai pada celana dalamnya. Tampak Santi sudah begitu
    bergairah sehingga celananya sudah lembab oleh cairan kewanitaannya.

    Santipun kemudian tak sabar dan membuka kancing kemeja batikku. Dicium dan dijilatinya putingku.

    Lalu terus ke bawah ke perutku. Kemudian dia berlutut dan dibukanya retsleting celanaku, dan tangannya
    yang lentik berbulu halus itu merogoh ke dalam mengeluarkan kemaluanku dari celana dalamnya. Memang
    kami sengaja tidak mau telanjang bulat karena kondisi yang tidak memungkinkan.
    “Ohh.. Besar sekali Pak Robert.. Santi suka..” katanya sambil mengagumi kemaluanku dari dekat.

    “Memang punya suamimu seberapa?” tanyaku tersenyum menggoda.

    “Mungkin cuma separuhnya Pak Robert.. Oh.. Santi suka..” katanya tak melanjutkan lagi jawabannya
    karena mulutnya yang mungil itu sudah mengulum kemaluanku.

    “Enak Pak?” tanyanya sambil melirik nakal kepadaku. Tangannya sibuk meremas-remas buah zakarku
    sementara lidahnya menjilati batang kemaluanku.

    “Enak sayang.. Ayo isap lagi” jawabku menahan rasa nikmat yang menjalar hebat.

    Dikulumnya lagi kemaluanku, sementara kedua tangannya meremas-remas pantatku. Sangat sexy sekali
    melihat pemandangan itu.

    Seorang wanita cantik yang sudah bersuami, bertubuh padat, sedang berlutut didepanku dengan pipi yang
    menggelembung menghisap kemaluanku.

    Terlebih ketika kemaluanku keluar dari mulutnya, tanpa menggunakan tangannya dan hanya menggerakkan
    kepalanya mengikuti gerak kemaluanku, Santi mengulumnya kembali.”selingkuh teman kantor”

    “Hm.. Kontol bapak enak banget.. Santi suka kontol yang besar begini” desahnya.

    Tiba-tiba terdengar bunyi handphone. Santipun menghentikan isapannya.

    “Iya Mas.. Ada apa?” jawabnya.

    “Lho Mas udah pikun ya.. Khan Santi tadi usah bilang.. Santi mau ke toilet.. Sakit perut.. Gimana sih”
    Santi berbicara kepada suaminya yang tak sabar menunggu. Sementara tangan Santi yang satu tetap meraba
    dan mengocok kemaluan atasan suaminya ini.

    “Iya Mas.. Mungkin salah makan nih.. Sebentar lagi Mas.. Sabar ya..”

    Kemudian tampak suaminya berbicara agak panjang di telpon, sehingga waktu tersebut digunakan Santi
    untuk kembali mengulum kemaluanku sementara tangannya masih memegang handphonenya.

    “Iya Mas.. Santi juga cinta sama Mas..” katanya sambil menutup telponnya.

    “Suamiku sudah nunggu. Tapi biarin aja deh dia nunggu agak lama, soalnya Santi pengin puas dulu”.
    Sambil tersenyum nakal Santi kembali menjilati kemaluanku.

    Aku sudah ingin menikmati kehangatan tubuh wanita istri bawahanku ini. Kutarik tangannya agar berdiri,
    dan akupun tiduran di atas meja meeting di ruangan itu.

    Tanpa perlu dikomando lagi Santi menaiki tubuhku dan menyibak gaun dan celana dalamnya sehingga
    vaginanya tepat berada di atas kemaluanku yang sudah menjulang menahan gairah.

    Santi kemudian menurunkan tubuhnya sehingga kemaluankupun menerobos liang vaginanya yang masih sempit
    itu.

    “Oh.. My god..” jeritnya tertahan.

    Kupegang pinggangnya dan kemudian aku naik-turunkan sehingga kemaluanku maju mundur menjelajahi liang
    nikmat istri cantik Pak Rahman ini. Kemudian tanganku bergerak meremas buah dadanya yang bergoyang
    saat Santi bergerak naik turun di atas tubuhku.

    Sesekali kutarik badannya sehingga buah dadanya bergerak ke depan wajahku untuk kemudian aku hisap
    dengan gemas.

    “Ohh Pak Robertt.. Bapak memang jantan..” desahnya

    “Ayo Pak.. Puaskan Santi Pak..” Santi berkata sambil menggoyang-goyangkan badannya maju mundur di atas
    kemaluanku. Setelah itu dia kembali menggerakkan badannya naik turun mengejar kepuasan bercinta yang
    tak didapatkan dari suaminya.
    Setelah beberapa menit aku turunkan tubuhnya dan aku suruh dia menungging sambil berpegangan pada
    tepian meja. Aku sibakkan gaunnya, dan tampak pantatnya yang putih menggairahkan hanya tertutup oleh
    celana dalam yang sudah tersibak kesamping. Kuarahkan kemaluanku ke vaginanya, dan langsung kugenjot
    dia, sambil tanganku meremas-remas rambutnya yang ikal itu.

    “Kamu suka San?” kataku sambil menarik rambutnya ke belakang.

    “Suka Pak.. Robert.. Suka..”

    “Suamimu memang nggak bisa ya”

    “Dia lemah Pak.. Oh.. God.. Enak Pak.. Ohh”

    “Ayo bilang.. Kamu lebih suka ngentotin suamimu atau aku” tanyaku sambil mencium wajahnya yang
    mendongak ke belakang karena rambutnya aku tarik.

    “Santi lebih suka dientotin Pak Robert.. Pak Robert jantan.. Suamiku lemah.. Ohh.. God..” jawabnya.

    “Kamu suka kontol besar ya?” tanyaku lagi

    “Iya Pak.. Oh.. Terus Pak.. Punya suamiku kecil Pak.. Oh yeah.. Pak Robert besar.. Ohh yeah oh.. God.
    Suamiku jelek.. Pak Robert ganteng. Oh god. Enakhh..” Santi mulai meracau kenikmatan.

    “Oh.. Pak.. Santi hampir sampai Pak.. Ayo Pak puaskan Santi Pak..” jeritnya.

    “Tentu sayang.. Aku bukan suamimu yang lemah itu..” jawabku sambil terus mengenjot dia dari belakang.
    Tangankupun sibuk meremas-remas buah dadanya yang bergoyang menggemaskan.

    “Ahh.. Santi sampai Pak..” Santi melenguh ketika gelombang orgasme menerpanya.

    Akupun hampir sampai. Kemaluanku sudah berdenyut-denyut ingin mengeluarkan laharnya. Kutarik tubuh
    Santi hingga dia kembali berlutut di depanku. Kukocok-kocok kemaluanku dan tak lama tersemburlah
    spermaku ke wajahnya yang cantik. Kuoles-oleskan sisa-sisa cairan dari kemaluanku ke seluruh wajahnya.
    Kemudian Santipun mengulum dan menjilati kemaluanku hingga bersih.

    “Terimakasih Pak Robert.. Santi puas sekali” katanya saat dia membersihkan wajahnya dengan tisu.
    “Sama-sama Santi. Saya hanya berniat membantu kok” jawabku sambil bergegas membetulkan pakaianku
    kembali.

    “Ngomong-ngomong, kamu pintar sekali blowjob ya? Sering latihan?” tanyaku.

    “Santi sering lihat di VCD aja Pak. Kalau sama suami sih jarang Santi mau begitu. Habis nggak nafsu
    sih lihatnya”

    Wah.. Kasihan juga Pak Rahman, pikirku geli. Malah aku yang dapat menikmati enaknya dioral oleh
    istrinya yang cantik jelita itu.

    “Kapan kita bisa melakukan lagi Pak” kata Santi mengharap ketika kami keluar ruangan meeting itu.

    “Gimana kalau minggu depan aku suruh suamimu ke luar kota jadi kita bisa bebas bersama?”

    “Hihihi.. Ide bagus tuh Pak.. Janji ya” Santi tampak gembira mendengarnya.

    Kamipun kembali ke ruangan resepsi. Santi aku suruh turun terlebih dahulu, baru aku menyusul beberapa
    menit kemudian. Sesampai di ruang resepsi tampak Brandon sedang mencari aku.

    “Hey man.. Where have you been? I’ve been looking for you”

    “Sorry man.., I had to go to the restroom. I had stomachache” jawabku.

    Tak lama Santi datang bersama Pak Rahman suaminya.
    “Pak Robert, kami mau pamit dahulu.. Ini Santi nggak enak badan.. Sakit perut katanya”

    “Oh ya Pak Rahman, silakan saja. Istri bapak cantik harus benar-benar dirawat lho..”

    Santi tampak tersenyum mendengar perkataanku itu, sementara wajah Pak Rahman menunjukkan rasa curiga.
    He.. He.. Kasihan, pikirku. Mungkin dia akan syok berat bila tahu aku baru saja menyetubuhi istrinya
    yang cantik itu.

    Tak lama aku dan Brandon pun pulang. Sebelum pulang aku berpapasan dengan Lia, sekretarisku. Aku suruh
    dia untuk mendaftarkan Pak Rahman untuk training di Singapore. Memang baru-baru ini aku mendapat
    tawaran training ke Singapore dari salah satu perusahaan.

    Lebih baik Pak Rahman saja yang pergi, pikirku. Toh memang dia yang mengerjakan pekerjaan itu di
    kantor, sedangkan aku hanya akan menolong istrinya yang cantik mengarungi lautan birahi selama dia
    pergi nanti.

    Tak sabar aku menanti minggu depan datang. Nanti akan aku ceritakan lagi pengalamanku bersama Santi
    bila saatnya tiba. Dengan tidak adanya batas waktu karena terburu-buru, tentu aku akan lebih bisa
    menikmati dirinya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • DENDAM SANG DIREKTUR

    DENDAM SANG DIREKTUR


    1351 views

    Cerita Sex ini berjudul ” DENDAM SANG DIREKTUR ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Dendam Sang Direktur sepagi itu Panji santoro pemilik banyak perusahaan , seorang multi milyuner bahkan masuk kedalam top list orang terkaya di asia , sudah berteriak teriak penuh kemarahan di ruang kerjanya. Kursi empuknya ia tendang hingga berguling , tak puas dengan itu , ia cabut stick golf yg tersimpan di sudut ruangan itu.

    BRAAAAKKKK!!!!! SEBUAH lemari kayu hancur berantakan terkena ayunan keras stick golf Panji , dan satu ayunan lagi dan pecahlah meja kaca di tengah ruangan.

    ruangan kerja yg sebelumnya tertata rapi dan nyaman itu kini hancur berantakan bagai baru terkena ledakan bom , sementara sang boss Panji santoro masih mengamuk , di dekat pintu seorang pria besar menyeramkan hanya diam menyaksikan semua adegan yg terjadi.

    pria besar itu bernama gogon ,bodyguard dan orang kepercayaan Panji santoro. Meski namanya mirip dengan pelawak dengan khas rambut sikatnya , namun sosok gogon yg satu ini jauh dari lucu , sebaliknya terlihat cukup menyeramkan.

    nama gogon sebenarnya adalah sebuah julukan sewaktu pria ini masih jadi preman jalanan , singkatan dari gorilla gondrong.
    keefektifan , ketangguhan , dan kekejaman gogon membuat Panji tertarik utk merekrutnya menjadi anak buah.

    Bisnis Panji santoro sendiri sebenarnya sebagian adalah bisnis legal , namun ada beberapa rahasia kecil dalam bisnisnya yg tak orang lain tahu , dan utk hal semacam itu Panji butuh seseorang utk melakukan dirty job , dan gogon adalah orang yg tepat apalagi kemudian pria besar ini terbukti sangat loyal pada boss nya.

    tiga bulan lalu , Panji membuka lowongan pekerjaan di perusahaannya sebagai sekretaris, karena skretaris sebelumnya telah menikah dan ikut bersama suaminya. Nama besar perusahaan milik Panji membuat banyak pelamar datang berharap sedikit keberuntungan.

    Dan dari sekian banyak pelamar , Panji tertarik pada seorang gadis cantik dengan body aduhai bernama Ana , wajahnya begitu innocent dengan rambut hitam panjang indah terurai layaknya seorang gadis baik baik.

    namun ternyata gadis ini mau melakukan apa saja utk mendapatkan pekerjaan ini , ia tak ragu utk melepaskan seluruh pakaian yg menempel di tubuhnya , membuat mata Panji tak lepas mengagumi tubuh polos nan mulus dihadapannya.

    tak hanya itu , Ana dengan gemulai dan menggoda mendekati Panji , cerpensex.com meraih celana pria itu , menurunkannya dan dengan sigap memasukan kont0l yg sudah menegang ke dalam mulutnya , jilatan lidah Ana ternyata mampu membuat Panji melayang apalgi sedotannya membuat Panji tak mampu bicara apa apa lagi selain kamu diterima Tp itu semua tiga bulan yg lalu, sebelum Panji tahu siapa Ana sebenarnya.

    ternyata Ana adalah mata mata yg dikirim oleh perusahaan pesaing dengan tujuan mencuri beberapa dokumen penting berisi rahasia perusahaan milik Panji dan keadaan makin di perparah karena ternyata dengan kelihaiannya Ana berhasil memalsukan tanda tangan Panji dan membawa lari sejumlah besar uang perusahaan. Semua kejadian itulah yg membuat Panji santoro sepagi itu mengamuk menghancurkan ruangan kantornya sendiri.

    entah merasa lelah atau memang sudah puas mengamuk , Panji kemudian terdiam sesaat ,lalu memandang tajam pada gogon.
    bagai mengetahui apa yg ada dalam pikiran sang boss , gogon maju selangkah dan berkata, saya sudah menemnukannya , boss..!!!kita bisa kesana sekarang juga Panji tersenyum jahat , merapikan pakaiannya dan dengan isyarat tangan ia menyuruh gogon utk mengikutinya.

    Gogon membawa boss Panji ke daerah pinggiran kota , sebuah perumahan yg cukup mewah yg telah diketahui oleh gogon sebagai tempat Ana bersembunyi.

    gogon menunjuk sebuah rumah dengan mobil BMW terpakir di halaman rumah , disinilah tempat Ana bersembunyi. Panji dengan geram memandangi rumah dan mobil mewah dihalaman , tiga bulan lalu Ana belum punya ini semua artinya semua kemewahan yg dinikmati perempuan itu adalah dengan uang Panji.

    gogon memarkir mobil agak jauh dari rumah tadi agar Ana tak menyadari kehadiran mereka.

    Pintu pagar yg tak terkunci lebih memudahkan Panji dan gogon memasuki rumah itu. Panji mengetuk pintu rumah sementara gogon berdiri siaga di sebelahnya.

    yaaasebentar sebuah suara indah yg sudah sangat dikenal Panji terdengar dari dalam. saat pintu dibuka Ana sangat terkejut melihat siapa yg datang , dengan cepat ia berusaha menutup pintu kembali namun gogon lebih cepat lagi ,

    ia bergeral lebih dahulu mendorong pintu dengan keras membuat Ana jatuh terjengkang , gogon bergegas mendekatinya dan menodongkan pistol di kepala gadis itu , sementara Panji memperhatikan sekeliling khawatir ada yg menyaksikan semua kejadian itu , namun suasan disana tetap sepi seperti biasa , semua aman aman saja.

    GOgon membawa Ana ke ruang tengah , dan dibawah todongan pistol ia mendudukan gadis cantik yg ketakutan itu di sofa.
    AnaAnaAna, lama tak jumpa ya kata Panji sambil duduk di samping Ana yg ketakutan. Dalam hati Panji harus mengakui gadis ini semakin kelihatan cantik dalam ketakutannya.

    ammpun..pak..tolong, maaf..saya..saya Ana tak sanggup berkata kata saking ketakutannya.
    ssst!! santai Ana , jangan ketakutan seperti itu. nah , ada siapa lagi di rumah ini..? tanya Panji
    adik saya pak , di lantai atas jawab Ana gemetar
    panggil dia ..

    Ana ragu sejenak , namun intimidasi dari gogon menggunakan pistol membuatnya akhirnya menyerah
    Tika..!!! bisa kesini sebentar ,? panggil Ana dengan suara bergetar
    ya kak!! sebentar sebuah suara indah terdengar dari lantai atas
    dan tak seberapa lama turunlah seorang gadis remaja cantik bahkan lebih cantik dari Ana ,dan gadis itu adalah Tika , adik kandung dari Ana. Tika memang masih SMA , namun kecantikan dan kemolekan tubuhnya telah terbentuk dengan indah khas anak remaja.
    halo..emm Tika kan.?? sini turun.. kata Panji dengan senyum penuh kelicikan

    Tika tentu saja terkejut melihat situasi seperti itu ,ia menuruni tangga dengan bimbang , jelas sekali ia sedang berpikir utk melakukan sesuatu. Namun Panji bisa melihat gelagat Tika karena itu ia menunnjuk pada gogon yg tengah menodongkan pistol pada Ana , dan dengan terpaksa Tika turun mendekat pada mereka.

    Sejenak Panji menikmati keindahan yg ada dihadapannya ,seorang gadis remaja cantik , dengan wajah dan kulit putih mulus ,toket yg proporsional menyembul dibalik tshirtnya ,belahan dadanya yg sedikit terlihat membuat lelaki manapun yg melihat akan naik libidonya , belum lagi kemulusan paha dan kaki indah yg hanya tertutup oleh celana pendek

    Tika , jangan takut begitu , kamu tahu siapa saya ..?? pertanyaan Panji dijawab dengan gelengan kepala Tika
    saya adalah boss kakakmu..emm well , mantan boss kakakmu.. jawab Panji sambil medekati Ana , lalu dengan tiba tiba menjambak rambut mantan sekertarisnya itu membuat Ana tersentak kesakitan

    dan kakakmu ini telah mencuri sejumlah besar uang perusahaan , belum lagi dokumen rahasia perusahaan yg dia jual ke sainganku..
    Tika terlihat sangat terkejut , jelas sekali jika sang kakak tak pernah menceritakan apa yg dilakukannya selama ini.
    dan sekarang saatnya kakakmu mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.. lanjut Panji.
    tta..tp pakuangnya sudah terp..sudah terpakai semua , tp saya pasti ganti pak , asal diberi waktu , saya janji pak..!!! Ana memelas memohon pengampunan pada Panji

    Ana..!!! apa saya terlihat seperti butuh uang ..??? kamu pikir saya jatuh miskin setelahkamu khianatihmm@!!!! kata kata Panji semakin menekan mental Ana
    ooo..kamu akan membayartp tdk dengan uang..!!!! lanjut Panji.
    mmak..maksud bapak..?? tanya Ana tak mengerti..

    Panji tak menjawab pertanyaan Ana , ia lantas mendekati Tika yg terlihat semakin ketakutan.
    Tika sayang , apa kamu sayang sama kakakmu ini..?? tanya Panji
    pak..!! tolong jangan libatkan dia , jangan ganggu dia..!!! biar saya saja yg
    PLAKKKK!!! sebuah tamparan keras di pipi Ana menghentikan kata kata gadis itu , rupanya Ana sudah bisa menduga apa yg ada dalam pikiran mantan boss nya , rasa sakit akibat tamparan dan rasa penyesalan menyebabkan air matanya kini mengalir membasahi wajah cantiknya

    pak..tolong !! jangan bunuh kakak saya , dia cuma keluarga saya satu satunya..saya mohon kini giliran Tika yg memohon.
    Panji tersenyum penuh kemenangan lalu berkata ,
    tenang saja , tak ada yg harus matihari ini, asal kalian berdua menuruti semua perintahku

    Panji semakin mendekati Tika yg terduduk pasrah, khawatir akan keselamatan kakaknya , Tika tak melakukan perlawanan saat Panji meraba raba sekujur tubuhnya , jemari Panji membelai pelan paha mulus Tika seolahsedang mengelus karya seni yg sangat mahal.

    tangan Panji bergerak ke atas menuju tonjolan di dada Tika yg sedari tadi merangsang kelekakiannya, di remas remasnya bergantian kedua toket gadis remaja itu , terasa empuk menjanjikan sebuah kenikmatan yg tiada tara.

    dengan perlahan tshirt Tika ia singkap ke atas , memperlihatkan perut rata gadis manis itu dan terutama toket yg putih bersih masih terlingkupi oleh bra , kedua bukit itu terguncang guncang karena isakan tangis Tika.

    kakak rintih Tika perlahan seolah meminta pertolongan Ana saat Panji begitu asyik membelai perut rata Tika , dan meremas toket yg masih tertutup bra.

    Ana tiba tiba bereaksi saat Panji akan menarik lepas bra adiknya.
    jangan pak!!! saya mohon..!!! jangan ganggu adik saya, saya mohon..!!! lakukan apa saja pada saya tp jangan dia , dia ga tahu apa apasaya mohon!!!

    Panji berhenti menggeraygi tubuh indah Tika lalu beralih pada Ana.
    kamu mau lakukan apa saja demi adikmu ini , ? tanya Panji
    iya pakasal jangan ganggu dia pak jawab Ana perlahan
    Panji pun melepaskan Tika yg kemudian segera merapihkan kembali pakaiannya , ketika ia hendak berlari ke atas , Panji menariknya kembali memerintahkan utk tetap duduk disana.

    baik Anasekarang kamu berdiri dan buka seluruh pakaianmu perintah Panji.
    DEngan patuh Ana berdiri , terdiam sejenak dan kemudian masih dibawah todongan pistol gogon , Ana melepaskan pakaiannya satu persatu hingga telanjang bulat.

    Tika , pernah lihat kakakmu telanjang..? tanya Panji dan dijawab Tika dengan anggukan.
    pernah lihat kakakmu ML..? tanya Panji kemudian sambil tertawa , Tika hanya menunduk risih tak menjawab.
    kamu pernah ML Tika..? tanya Panji lagi dan dijawab dengan gelengan kepala gadis remaja itu.
    hmmm virgin rupanya , baik ..berarti kamu harus lihat ini , anggap saja sex education , hahahaha kata Panji
    baik Ana maupun Tika hanya terdiam tak mampu utk berbuat apa apa.

    baik Ana , kamu sekarang merangkak kemari , cepat!!! perintah Panji

    meski merasa terhina , Ana dengan patuh merangkak mendekati Panji yg sedang melepaskan celananya sendiri, Tika memalingkan muka saat kont0l Panji terbuka tanpa penghalang jelas sekali ia merasa risih.
    menghadap ke adikmu..!!! perintah Panji lagi.

    kini kedua gadis cantik kakak beradik itu telah saling berhadapan , sementara Panji mengambil posisi di belakang Ana , berlutut dan menerobos memek Ana dari belakang yg ternyata tak sesulit yg diperkirakan.

    Ana merintih dan mengerang saat Panji mulai bergerak memasukkan kont0lnya semakin dalam dan mulai memompanya ,sambil terus bergerak maju mundur , tangannya tak henti henti memnggeraygi seluruh tubuh indah Ana , semakin lama rintihan Ana menjadi jeritan kesakitan yg tertahan.

    Panji terus berusaha memasukan kont0lnya semakin dalam sambil terus meremas remas toket Ana , sesekali ia memukul pantat mulus Ana hingga memerah.

    Pada awalnya rintihan Ana seperti kesakitan , namun semakin lama rintihannya berubah menjadi rintihan penuh kenikmatan dan sementara semua adegan itu terjadi , Tika semakin lama semakin terangsang oleh semua itu , tanpa sadar ia ikut meremas remas toketnya sendiri , kadang juga tangannya turun menyentuh memeknya sesekali, semua itu tak luput dari perhatian Panji.

    beberapa lama kemudian Panji mencapai klimaks dan kont0lnya menyemburkan seluruh isinya kedalam tubuh Ana dan gadis cantik itupun tergolek lemas di lantai.

    Tika sendiri ternyata masih terangsang dan tanpa sadar masih meremas remas toketnya sendiri.
    gimana Tika , suka melihat yg tadi?? tanya Panji menyadarkan Tika yg kemudian dengan gerakan canggung kembali berusaha duduk seperti semula.

    ga usah malu , biasa kok yg seperti itu .. kata Panji pada Tika yg terlihat mencuri curi pandang pada kont0l Panji.
    Panji menyadari hal itu , ia pun mendekati gadis remaja itu lalu menyodorkan kont0lnya.
    mau coba jilat ..? Panji menyentuhkan kont0lnya pada pipi Tika, gadis itu hanya memalingkan muka karena risih.
    ga apa apa jilat aja.. lanjut Panji sambil menyentuhkan kont0lnya ke bibir mungil Tika.

    ketika Tika berusaha memalingkan muka menghindar justru malahmenyebabkan gesekan penuh gairah diantara keduanya , sehingga akhirnya Tika pun luluh , bibirnya terbuka sedikit dan lidahnya mencoba menyentuh kont0l dihadapannya.
    masukan aja ke mulut kamu , tp awas kalo berani coba coba gigit!!!

    Tika menjilat jilat penuh keraguan pada awalnya namun lama kelamaan bibirnya membuka semakin lebar dan tanpa ragu lagi Panji mendorong masuk kont0lnya ke mulut gadis manis itu sehingga terlihat penuh.

    nahh..baguss..seperti itu !! ayo jilati lagi , kulum dan sedot kayak kamu makan permen loli kata Panji penuh kenikmatan saat mengajari gadis remaja ini oral sex.

    meskipun masih amatiran dan baru , namun kehangatan mulut seorang remaja apalagi gadis SMA selalu memberikan sensai yg luar biasa hingga akhirnya Panji kembali merasakan dorongan kuat dari dalam tubuhnya , dengan cepat Panji menahan kepala Tika sehingga ia dengan terpaksa menelan seluruh semburan sperma lelaki utk pertama kalinya.

    Tika terlihat gelagapan karena tak siap menerima hal tersebut dan terbatuk batuk kepayahan saat akhirnya kont0l Panji keluar dari mulutnya.

    nah..sekarang..ayo buka pakaian kamu ya ? kata Panji sambil berusaha melucuti pakaian Tika.
    Ana yg setengah sadar berusaha mencegah hal itu , ia tak mau adiknya kehilangan keperwanannya dengan cara seperti ini.
    pak jangan ganggu adik saya pak..!!!! bapak sudah berjanji teriak Ana histeris.
    well, saya bohong kok !! jawab Panji enteng sambil memberi isyarat pada gogon.

    jangan ganggu dia pak..!!! saya mohon dia masih perawan !!! Ana tak bisa menlanjutkan kata katanya lagi karena gogon telah membungkam mulutnya dan menarik gadis malang itu ke salah satu kamar , tak butuh waktu lama sampai terdengar rintihan dan jeritan kesakitan dari Ana.

    gogon memang senang sekali menyiksa perempuan yg disetubuhinya ,jeritan memelas korbannya selalu semakin membuat preman satu ini sangat terangsang.

    sementara masih di ruang depan , Tika tak melakukan perlawanan apapun saat Panji melucuti seluruh pakaiannya , entah pasrah , entah takut mengalami hal yg sama seperti kakaknya atau memang sudah terangsang.

    setelah Tika telanjang bulat barulah Panji melepaskan pakaiannya yg tersisia.

    Panji kemudian duduk di sofa dan menyuruh Tika utk mengambil posisi diatasnya , perlahan gadis itu menurunkan pantatnya sampai kont0l Panji menyeruak mencoba masuk kedalam memek yg masih sempit.

    Panji tersenyum penuh kepuasan saat mengetahui jika Tika memang masih perawan.

    aahhwwa Tika merintih pelan saat kegadisannya terenggut ,darah perawannya semakin memperlancar laju kont0l Panji sementara itu dari dalam kamar jerit tangis kesakitan dari Ana masih terdengar saat gogon terus menindih tubuhnya.

    Panji memandu Tika utk meraih kenikmatan pada sex pertamanya ini ,pantatnya bergerak naik turun membuat toketnya bergoyang menggoda , air mata sempat menetes membasahi pipi , entah kesakitan atau penyesalan.

    Panji tak mempedulikan itu semua , ia malah asyik meremas remas toket indah dihadapannya dan pada satu kesempatan mengulum dengan rakus bukit kembar itu , digigit dan dijilatinya dengan gemas puting gadis perawan yg mulai menikmati sex pertamanya , bagai tak kenal rasa puas Panji terus mengulum dan menyedot toket remaja yg kenyal,empuk dan nikmat tersebut.

    rintihan demi rintihan Tika membuat Panji semakin asyik menikmati tubuh perawan itu , bagai tak kenal lelah ia terus menggenjot dan menindih Tika dengan berbagai posisi , seluruh lekuk tubuh Tika telah habis digerayginya dan ketika semua itu berakhir Tika tak sadarkan diri karena kelelahan.

    hari telah sangat larut saat Panji dan gogon telah puas menikmati tubuh mantan sekretaris dan adiknya itu , kedua gadis cantik itu tak sadarkan diri karena saking lelah, seluruh tenaganya habis . Hal tersebut membuat gogon dengan mudah mengangkat dua tubuh telanjang itu ke dalam mobil dan membawanya pergi,

    kedua gadis itu akan dipersiapkan utk menjamu rekanan bisnis Panji , dan Panji menganggap bahwa itu adalah hal yg paling pantas utk membalaskan pengkhianatan mantan sekertarisnya.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Kisah Pemerkosaan Yang Ngeri

    Cerita Sex Kisah Pemerkosaan Yang Ngeri


    1351 views

    Perawanku – Cerita Sex Kisah Pemerkosaan Yang Ngeri, Ide cerita ini diambil dari teman teman saya , dan salah satu teman saya adalah penggila cerita hot, dari situ saya mencari fakta fakta kisah ini benar benar terjadi, dari warga setempat atau teman dekatnya, mau tau kisah lanjutnya gimana mari kita simak bersama :

    ” Teng..Teng..Teng !!! ” Suara bel bergema ke segala penjuru sekolah

    Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore… dari dalam kelas kuamati sahabat mulai berhamburan keluar dari kelas mereka menuju ke arah tempat parkir motor sekolah.

    ” Ahh.. ! ” Saya mendesah melanjutkan lamunanku sambil mengusap lebam diwajahku, mengusir kegalauan dari dalam hati ini.

    Teringat kejadian sewaktu istirahat, Duta berkelahi denganku.

    ” Freddy, jangan kamu ganggu Claudia ! ” Duta berteriak sambil berjalan ke arahku yang sedang merokok di belakang bangunan sekolah dekat kamar mandi.

    ” Kenapa kamu, Duta ? ” Saya keheranan melihat tingkah Duta, karna kami berteman sedari kecil dan tidak pernah perangainya berubah sekasar ini.

    ” Ah, jangan banyak bacot kamu ! Anggap aza gua ga punya teman seperti kamu !! ” Duta berkata sambil sekonyong-konyong melayangkan tinjunya ke arah wajahku.

    ” Duhk” Kerasnya tinju Duta menghantam wajahku, saya terkejut dan terdiam hanya memandangi wajah sahabatku yang tampak sungguh beringas.. ” Duhk! ” sekali lagi tinjunya melayang memukul pelipisku hingga berdarah…

    Saya berteriak sambil berbalik mendekap tangannya dari belakang

    ” Duta, apa gua ada buat kesalahan ke Claudia ? ”

    Tiba-tiba Claudia muncul entah darimana, dan tangannya memegang lenganku mencoba melepaskan Duta dari dekapanku yang kuat.

    ” Freddy lepaskan Duta, dia baik ! ” Saya tetap bertahan pada posisiku dan kutinju wajah Duta dari belakang karna saya cemas Duta akan mengamuk kembali.

    ” Plak!! ” Claudia menamparku !!!

    Perlahan tapi pasti kulepas dekapanku, kulihat Duta tersimpuh ke tanah. Matanya memerah, dan kudengar ia berkata dengan suara tersendat ” Fred..lebih baik kamu pergi..tinggalin gua dan Claudia disini..

    Saya pun melangkah pelan meninggalkan mereka berdua, karna saya tahu sifat keras sahabatku ini yang bila telah emosi tidak dapat didinginkan.

    ” Fred, sampeyan ora mulih ? Nanti saya kemalaman loh! ” Yati menyapaku, sambil mencoba mencubit kumis tipisku

    akhirnya buyarlah lamunanku tentang tadi siang..

    Saya hanya tersenyum, lalu kugandeng kekasihku menuju ke tempat parkiran motor kuacuhkan pertanyaannya tentang lebam di wajahku dan tentang perkelahianku dengan sahabatku..
    Kunyalakan motor NSR-ku, dan saya pun membawa kami berdua melesat dalam kecepatan yang tinggi ke arah desa kami..

    Malamnya, saya tidak dapat tidur walaupun telah berusaha… semua adalah karna perbuatan Claudia yang membela Duta dan ia telah tidur nyenyak di kamarnya di lantai bawah..

    Claudia adalah Anak Adopsi ibuku yang rindu akan kehadiran anak perempuan…

    Ia diambil dari sebuah panti asuhan di jakarta ( ketika itu kami sekeluarga masih tinggal di jakarta )..
    Ibuku tertarik mengadopsinya karna kasihan melihat nasib anak bayi ini, claudia lahir dari seorang perempuan yang diperkosa oleh orang asing dan kemudian bunuh diri tak lama setelah anaknya lahir.

    Yach benar… kuakui Claudia yang baru berumur 16 tahun yang lebih muda 2 tahun daripadsaya ini cantik.. berkulit putih, wajahnya tirus, berbadan langsing dan tinggi, berhidung mancung ( tipikal arab, mungkin ayahnya orang Arab ).

    Saya tidak terlalu mengenalnya karna sedari 3 tahun sampai kelas 6 SD saya dititipkan ke pamanku yang ada di Bandung, selepas SMP baru saya dan pamanku pindah ke Jakarta tetapi keluargsaya justru pindah ke Cilacap. Jadi kami tak pernah tinggal bersama2, www.bukasex.com , dan jika orangtusaya mengunjungiku kami tidak pernah bertemu karna saya sering keluar untuk bermain dan orang tusaya tidak pernah menginap di rumah pamanku.

    Kembali Anganku melayang….

    1 bulan yang lalu, ibuku menjemputku ke Jakarta karna ia ingin agar saya menyelesaikan kelas 3 SMU ku di kampung.

    Maksudnya adalah menemani ayahku yang telah tua renta, sekaligus menjaga Claudia dari pergaulan yang buruk karna ia telah mulai remaja..

    Ketika saya pulang, saya terkejut karna bisa smelihat kehadiran seorang adik wanita yang cantik lagi dirumah orangtuaku.

    Ia memanggilku dengan sebutan ” Mas ! ”

    Saya merasa lucu, karna perempuan dengan wajah indo ini fasih sekali dengan bahasa jawa dibandingkan dengan saya yang hanya bisa bahasa sunda ( karna tinggal di Bandung )…lama kelamaan Saya juga merasa jatuh cinta terhadap Claudia, sering pakaian dalamnya saya sembunyikan dan saya cium2i sambil bermasturbasi untuk memuaskan nafsuku, dan kadang2 saya bercanda peluk2 dia sambil menjamah2 bagian tubuhnya waktu ayah dan ibuku sedang tidak ada di rumah walau terkadang kutahu itu salah.seharusnya saya telah menganggap dia adalah adikku.

    Dan juga ketika masuk sekolah saya gembira karna Duta, temanku yang dari Bandung ternyata juga pindah satu sekolah denganku..

    Suara rintik hujan..membangunkanku dari mimpi tentang masa laluku..

    saya turun berjalan ke arah dapur untuk menyeduh kopi..

    Sebelum sampai dapur, kulihat Pintu Kamar Claudia terbuka, dan ranjangnya kosong…

    Marah, khawatir akan keselamatan adik kecilku yang cantik segera kuurungkan niatku menyeduh kopi dan kucari ia ke bagian depan di teras halaman rumah. Ternyata ia tidak ada,

    Lalu Saya kembali ke dapur.

    Kutemukan surat kubaca isinya Ya…Tuhanku !

    ” Claudia, ini peringatan terakhir ! telah cukup penolakanmu! Layani ayah kalau tidak akan ayah usir kamu dari rumah!

    Dasar anak pungut! Ayah Tunggu di Kebun Belakang!!! ”

    Kutemukan Claudia meringkuk di depan kamar mandi, tubuhnya gemetaran dan wajahnya pucat pasi..

    Kudekati dia, kupeluk tubuhnya yang gemetaran itu.

    Tiba-tiba Claudia menangis dalam pelukanku,ia merebahkan kepalanya sesenggukan didadaku..
    Saya merasakan ada perasaan nyaman saat memeluknya.

    ” Mas, atur nuwun! ”

    ” Saya ra iso balas budi ke Bapak, karna Bapak wis saya anggap dadi Bapakku dewe! Saya durhaka,mas! ”
    Ia kemudian meraung-raung, dan saya membekap mulutnya karna takut kedengaran tetangga terlebih ibuku.

    ” Kamu mau nama bapak tercemar? ” tanysaya pelan.

    Dia menggeleng lemah, saya gandeng dia ke arah kamarnya. Kuselimuti dia yang masih gemetaran, tampak kulitnya yang telah putih semakin putih karna pucat..

    Claudia pun mencoba tidur kembali karna waktu baru menunjukkan pukul 2.

    Saya menjaganya dengan duduk di samping tempat tidur, cemas akan ayah yang tiba-tiba mendobrak masuk..
    Entah jam berapa, saya terbangun dari tidurku kulihat Claudia masih tertidur dengan lelapnya..
    Desah nafasnya yang lembut membangkitkan gairahku yang selama ini belum pernah kusalurkan ke wanita manapun. Karna selama ini wanita-wanita yang kupacari adalah sebagai gengsi belaka jarang sekali kusentuh, paling jauh hanya berciuman bibir dan memegang payudaranya karna mereka kuanggap sebagai pelengkap dan penjaga gengsi dari hubungan sosial dengan kelompok motorku.

    Masa seorang lelaki tampan tidak mempunyai pacar? Tetapi Claudia ini berbeda…saya mempunyai perasaan yang sama sekali berbeda..

    Saya membungkuk dan kudekatkan wajahku ke arah wajahnya sampai hampir menempel, cantik sekali…
    Tiba-tiba matanya terbuka, mulut Claudia tiba-tiba terbuka seperti orang yang akan menjerit. Kubekap mulutnya dengan tanganku dan saya berbisik kepadanya ” Kulepaskan tanganku, tapi kamu jangan menjerit ! ”

    Tetapi Claudia adikku ini terus saja meronta-ronta, karna kesal dan takut ketahuan akhirnya telah kepalang basah. Saya melepaskan tanganku dan langsung menyumpal bibirnya dengan bibirku, tetapi apa yang kupikirkan tidak berjalan dia menggigit bibirku hingga berdarah. Sambil berusaha melepaskan bibirku dari gigitannya, saya menutup kembali mulutnya dengan tanganku..

    ” Ya Allah ! Tolonglah hambamu ini ! Ya Allah ! Hik…hik ! ” ketika berhasil melepaskan bibirku dar gigitannya sempat kudengar suaranya yang cepat diiringi sesenggukan sambil berlinang air mata. Setan telah menguasai alam pikiranku, tangan kananku bergerak memiting kedua tangannya.. dan kakiku mencoba naik ke perutnya mencopot celana panjang karet yang ia kenakan.

    Dengan susah payah akhirnya berhasil, kini Claudia hanya mengenakan Kaos oblong dengan celana dalam saja.

    Kulihat pahanya yang jenjang dan putih, kemaluannya masih tertutupi celana dalam berwarna krem.

    Dengan cepat, kulepaskan pitinganku di tangannya dan mencoba meraih celana dalam krem itu untuk melepaskannya..

    Claudia histeris ia meronta-ronta meraung-raung tangannya mencakar-cakar dan menampar wajahku. Saya berhasil melepaskan celana dalamnya dengan mudah karna ia hanya fokus berontak ke arah wajahku. Emosi karna kesakitan akibat cakaran dan tamparannya, kutampar wajahnya..

    Claudia langsung terdiam dan sesenggukan, rontaannya melemah. Mungkin ia terkejut dengan kekasaranku, atau ia shock telah kutampar. saya melepaskan bajunya dengan mudah.. kulucuti pula BH berukuran 34B itu..tampak toket Claudia yang putih dan menggunung dengan indah Kubisiki dia ” Kalau kamu tidak mampu membalas budi kepada bapak, balas kepadsaya saja ! ”

    Kuremas payudaranya dan kucium beberapa kali dengan lembut, namun ketika putingnya kuhisap. Ia kembali meronta dan berteriak ” Tolobbbh ! ” Teriakannya berhenti karna kusumpal mulutnya dengan Selimut.

    Tangan kananku bergerak memiting kedua tangan Claudia ke atas kepalanya, tangan kiriku bergerak ke bawah mencoba menemukan lubang kelaminnya.

    Saya sulit bergerak karna rontaannya, kutampar dua kali wajahnya dan Claudia akhirnya terdiam. Kulepas pakaianku, lalu kupeluk dengan erat tubuhnya yang gemetar karna rasa takut yang hebat.

    Kuarahkan kelaminku ke dalam lubang kelaminnya, ” Jlebh!”

    sulit sekali memasukkan kelaminku kedalam lubang kelaminnya karna ini adalah saat pertamaku. setelah 10 menit, usahsaya mulai membuahkan hasil. Ujung Kelaminku mulai masuk ke dalam lubangnya, kulihat kepala Claudia menoleh ke kiri dan kekanan rontaannya semakin hebat.

    Kupaksakan masuk ke liang kelaminnya, meskipun kurasakan perih di ujung kelaminku. Kurasakan ujung kelaminku sulit untuk masuk lebih dalam karna terganjal oleh sesuatu didalam liang kelamin Claudia.
    Kuacuhkan rasa perihku dan kudorong masuk dengan sekuat usaha, ” Sleepp ! ”

    Kelaminku telah masuk semua ke dalam, kurasakan badan Claudia terdorong ke atas sampai mengangkat badanku ia berteriak dengan keras tetapi suara yang keluar tidak terlalu jelas karna tersumpal dengan selimut..

    Kudiamkan kelaminku beberapa saat karna rasa sakit pada kelaminku, mungkin kelaminku lecet akibat perbuatanku sendiri yang kasar.

    Kugoyangkan pinggulku kebelakang dan ke depan, kupompa kelaminku nikmat terasa meskipun masih ada terasa perih sedikit karna terjepit di dalam dinding liang kelamin Claudia. Tidak kurasakan basah sedikitpun, hanya ada rasa hangat yang menyelimuti.

    Detak jantungku berdetak dengan keras seperti sedang lomba lari marathon.

    ” Ooh, Claudia. Akhirnya kau kumiliki ! ”

    Dengan kaku, kucabut kelaminku dari lubang kelamin Claudia lalu kubalikkan tubuhnya membelakangi tubuhku.

    Kumasukkan kembali kelaminku ke dalam liangnya, Claudia telah tidak meronta lagi bahkan matanya terpejam karna sakit, frustasi dan shock akibat pemerkosaan ini.

    Tidak beberapa lama kemudian, saya merasakan ada sensasi aneh ? Ada perasaan yang mendorong, memakssaya untuk mengeluarkan raga ini dari tubuh. Seperti ingin buang air kecil tetapi ini jauh lebih nikmat.

    Apakah ini..? Kudorong dan Kupompa pinggangku lebih kencang dan lebih kuat..Claudia berteriak kembali kesakitan..Dan, nikmatnya kurasakan ketika sesuatu menyembur dari kelaminku menyemprot kedalam liang kelamin Claudia..

    Setelah selesai, saya meminta maaf kepadanya. Ia memukul, mencakar, menamparku sembari menangis dengan histeris. Pintu kamar tiba-tiba terbuka, kulihat sesosok tubuh yang kukenal berdiri dan bertolak pinggang di depan pintu. Ia adalah ayahku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Kusetubuhi Kakak Iparku Tanpa Sengaja

    Cerita Sex Kusetubuhi Kakak Iparku Tanpa Sengaja


    1351 views

    Perawanku – Cerita Sex Kusetubuhi Kakak Iparku Tanpa Sengaja, Bulan Rajab emang musimnya orang kawinan, Bayangkan aja, sehari sampe ada empat undangan, Sampe capek ngedatanginnya. Dah gitu malamnya ada undangan lagi. Kalo nurutin capek badan mah ogah ngedatengin.Berhubung rekan bisnis,walau agak jauh terpaksa harus datang.Habis maghrib dah siap2 berangkat. Liat wajah bini cemberut asem banget sebab gak mau ditinggalin.

    Ya maklum aja dia penakut banget. Diajakin gak mau sebab suka sampe tengah malam.Ya wajar aja,di rumah nanti cuman ada dia dan anak yang masih kecil.Kami gak punya pembantu sih.

    Tapi dengan sedikit rayuan dan penjelasan disertai kecupan di kening,akhirnya dia ngijinin juga.Aku berangkat pake sepeda motor. Jaraknya lumayan sekitar setengah jaman kalo pake motor.Sesampainya disana jam 7 malam pas acara baru dimulai.Acaranya biasa kalo awal2 mah membosankan dan bikin ngantuk.

    Ya biasa ngaji,dan ceramah agama.Tapi yang bikin tetap semangat acara hiburannya,dangdutan euy.Pokoknya dangdut ternama di kotaku lah,artisnya cantik2,seksi2 dan juga berani.

    Inilah acara yang paling dinanti-nantikan.Baik oleh para undangan,maupun yang datang sekedar menonton.Yang datang buanyak ami….r!!!.Beda pas acara pengajian tadi.Hehehehe.Pertama sih dandanan artisnya agak sopan.Tapi makin malem mereka makin berani.Waktu itu aku dipanggil untuk menyumbang lagu.

    Langsung aku naik dan minta salah satu artis paling cantik dan seksi untuk berduet.Gila banget co….y,goyangannya bikin horny.

    Boleh dibilang kagak pake baju dah,coz cuma pake celana pendek sama tanktop sampe aku aja jadi Sambil nyanyi,pantat dia digesek2 ke muka konti gue ci…ng!!!.Tak lupa juga sambil kuselipkan duit gocap di nenen dia yang sekal.Pokoknya asyik abi….z!!!.Malam itu pokoknya seru banget.Sampe abis 400rebu buat nyawer.Tapi kagak rugi lah,coz masih bisa ngusap dan ngelus pantat dan nenen para artis.Akhirnya aku pamitan coz dah jam 12 malam.

    Ya walau acara belum selesai dan makin tambah panas,tapi karena dah sangat malam terpaksa aku pamitan pulang. Sampe rumah sekitar setengah satu malam.Lampu depan rumah doang yang masih nyala.Sedang dalam rumah dah gelap.

    Mungkin istriku dah tidur karena lama dan kesal menunggu.Aku ambil kunci rumah dari saku dan memasukkan motor ke rumah.Lalu aku bersiap wat tidur.Gila ne rumah gelap ami…r!!!.Setelah mengunci rumah aku langsung masuk ke kamar.Karena dah hafal situasi rumah,aku gak sampe kejedot apa lagi kesandung.Pintu kamar ternyata gak dikunci.Lampu kamar juga dah dimatikan.Tapi samar2 kulihat istriku dah tidur pulas sambil ngelonin anakku.

    Ya kebiasaan kami suka matiin lampu kalo mau tidur,coz anakku suka gak bisa tidur kalo terang.Aku tidur samping anakku,sedang istriku sebelahnya anakku.Mataku gak bisa merem karena terbayang sama geolan artis tadi.

    Tak terasa aku jadi ngaceng juga.Akhirnya aku pindah ke samping istriku.Dia tampak pulas sekali.Kupelorotkan kolor dan celana dalamku.Ku kelonin istriku dari samping sambil kuremas nenennya dari luar,kusingkap daster dia dan kupelorotkan CD-nya.

    Pas ku pegang memeknya ada yang aneh. Lho,kok bulu jembinya kagak ada!!!.Padahal malam kemaren masih lebat tuh!!!Ku usap2 memeknya.tak tinggal diam tanganku menerobos kebali BH-nya, anjri….t, tambah aneh, kok jadi agak gedean plus sekel banget.A….h,kagak ambil pusing yang penting bisa ngecrot.Mungkin tadi pas ditinggalin dia cukur jembut dll.Istriku pulas amat.Kuangkat pahanya dari belakang dan kutaruh diatas pahaku yang menyilang ke paha dia satunya lagi. Pas ku kobel memeknya dia terbangun.Mungkin dia kaget.Tapi aku memang suka begitu pas lagi pengen. ntar juga lama2 dia menikmatinya.Jari tengahku kumasukkan ke lobang memeknya.

    Sambil ku kobel kujilati telinganya. Kubayangkan sedang ber asyik ria dengan artis yang tadi. Kok agak gemukkan ya??? rambutnya juga jadi agak pendek!!!.A…h gak penting banget.pokoknya malam ini aku pengen crot sambil ngebayangin ngentot sama wulan artis tadi.Istriku tampak mulai menikmati.Dia seperti menahan nafas tanda dah mulai terangsang.

    Semakin kukobel memeknya,pantatnya gak bisa diam. Lalu kuarahkan kontolku ke lobang memek istriku. Kugesek2 kontolku dilobang memeknya.Tampak istriku semakin menahan nafas.Ketika akan kutekan masuk, dia tampak menghalangi memeknya dengan tangannya, aku yang sudah horny berat gak tinggal diam. kutarik tangannya, tangan kiriku mengarahkan kontolku pas ditengah lobang memek dia.

    Dan dengan hentakan agak keras,kusodok memeknya dari samping,

    slep ble….z!!!!A……kh, peri….h!!!. Deg, kaget banget!!! Kok suaranya lain dengan istriku.

    Memeknya juga seret banget. Suaranya mirip kakak iparku yang selama ini kuidamkan pengen kuentot. Apa ini mungkin??? Sejenak aku mendiamkan kontolku dalam memeknya.Lalu sengan perlahan kupompa kontolku dalam memeknya.Dia tampak merintih dan mendesah.

    Ssss…….sshhhh,a……h,o…..h!!!. Kupompa lagi dan lagi, dia semakin merintih keenakkan, Lalu semakin kupercepat pompaanku dan kemudian dia berteriak tanda orgasme, a…..h,Aa…..!!!Kontolena…..k!!!!.Gila!!! Beneran ne kakak iparku??? Lalu kucabut dan kubalik dia.

    Kurenggangkan kedua pahanya.Kunaiki dia dan kumasukan lg kontolkuBle…..z,kontolku masuk memeknya lagi. Kupompa2 naik turun. Umi, enak gak ngewe sama aa? aku nanya istriku. aku manggil dia umi.A…..kh,sssh…..sssh,o….h, Aldi, ini bukan Evi,ini teteh!!!!.Kata dia sambil merintih dan mendesah nikmat.Anjri…..t,mimpi apa gua kemarin.

    Kagak nyangka bisa ngentot sama Ida kakak iparku.Kakak ipar yang selama ini menjadi objek hayalan kalo lagi nentot sama istriku.Semakin kupompa kontolku dengan keras,semakin Ida merintih dan menjerit tertahan.Sayang,gimana,enak gak ngewe sama aldi,a…..h,enak banget aldi!!!.

    Kontolmu gede banget,sss….sssshhh,o…..h,terus aldi…..!!!!Teh, nikmat gak???a….uw, nikmat aldi….!!!!ssss….. hhh,a…..h!!!.Teteh suka gak ngewe sama aldi???iya aldi….!!!a….h,teteh kesepian banget,dah sembilan bulan teteh gak pernah ngewe!!!.Jawab ida kakak iparku.Ya maklum aja,dia dah lama ditinggal suaminya kerja keluar pulau.Aku semakin mempercepat genjotanku,dan pada hentakan terakhir aku memuntahkan laharku didalam memek ida,crot,crot,cro….t,pejuku keluardan tumpah dengan banyak memenuhi memek ida.

    Ida pun hampir berteriak kalo gak cepat kubekap.untung saja.Dia pun mencapai orgasme hampir berbarengan.Sambil terus menindih dia dan terus menancapkan kontolku,aku bilang sama ida.Te…h,maafin ya!!!.aldi gak sengaja.kukira evi teh,lagian kenapa tidur dikamarku??evi dimana???gak apa2 al,teteh juga suka kok.lagian teteh dah lama pengen ngentot sama kamu.

    Tadi evi nelpon,pengen ditemenin.katanya takut cuma berdua sama anak kamu.tadi anakmu nangis,terus teteh ajak ke kamar diajak tiduran sampe teteh juga ikut ketiduran.O….h gitu teh,terus Evi dimana teh??mungkin dia ketiduran di sofa ruang tamu.Adu….h,maafin aldi teh!!!.Sudah aldi,lagian salah teteh kok.Lalu aku tiduran samping dia.sambil kupeluk kuusap2 dan kukobel lagi memeknya.dia pun mengusap2 kontolku.

    Baru sebentar aja kontolku udah bangun lagi.mungkin efek banyak dari makan sate kambing tadi.Atau mungkin karena semangat karna dapat lobang baru.Kupindahkan anakku ke ujung,biar kami lebih leluasa. Lalu kami saling telanjang dan melakukan pemanasan lagi. Dia nge-BJ kontoku. O…..kh, nikmat banget. Kucipokin juga memeknya. Walau agak anyir tapi karena nafsu terasa sangat enak.Kami melakukan dengan posisi 69.

    Setelah itu kami ngentot sampai puas.Kami melakukan dengan berbagai macam gaya.Diatas ranjang,bahkan dilantai.Dia begitu ganas dan haus akan sex.

    Waktu sembilan bulan bukanlah waktu yang singkat bagi seorang istri tanpa belaian seorang suami.Itulah yang terjadi sama Ida.Kami melakukannya sampai jam 3 lebih.Setelah puas,ida kusuruh tidur di ruang tamu menemani istriku.Aku juga berpesan supaya dia bersikap sebagai mana biasanya.Lagi pula ida orangnya pendiam.Aku menaruh CD bekas membersihkan sisa2 peju dibawah kasur,biar kagak ketahuan.Ida cuman mengangguk aja.

    Sebelum ida keluar,kami berpelukkan dan ciuman,tak lupa kukobel memeknya.Andai waktu masih panjang,ingin aku ngentot sama dia lagi,tapi takut keburu evi bangun.setelah itu aku lalu berbaring. Ada rasa penyesalan dan berdosa sama istriku.

    Tapi semua berawal dari ketidaksengajaan. Akhirnya aku tertidur pulas. besoknya aku dibangunin istriku jam 8 pagi. Ada rasa gak enak dan bersalah waktu melihat dia.Datang jam berapa pah? jam setengah satu mi, papah langsung ke kamar. ternyata cuman ada Ari aja lagi tidur. karna dah ngantuk, papah langsung tidur aja. O….h!!!jawab istriku.

    Semalam teh Ida nginep disini loh, habis umi takut dan kesepian. Oya??!! jawabku pura2 gak tahu. Iya.Sekarang dah balik tadi jam 7 habis sarapan. Udah papah sarapan dulu .Tuh dah umi sediain di meja makan. Du…h, begitu baik istriku. Aku berjanji cukup sekali aja yang terjadi. Semenjak itu kalo teh Ida maen kerumah,kami bersikap biasa aja.Kadang kalo ada kesempatan,dia seakan menantang untuk melakukannya lagi.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • CERITA PANAS SEPUPUKU DAN ADIKNYA MASIH PERAWAN

    CERITA PANAS SEPUPUKU DAN ADIKNYA MASIH PERAWAN


    1350 views

    Cerita Sex ini berjudul ” CERITA PANAS SEPUPUKU DAN ADIKNYA MASIH PERAWAN ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Waktu itu tahun 1996, bulan September, aku baru saja pulang dari KKN di desa, di daerah Kabupaten Blora (sekarang masuk Kabupaten Cepu), dua hari setelah sampai di rumah, ada telepon dari salah satu sepupuku, katanya dia sedang Study Tour ke kotaku. Sepupuku ini masih sekolah di SMUK di daerah Madiun, sebenarnya aku belum pernah bertemu langsung dengan dia, jangan heran ya, sebab dia sepupu jauh sekali.

    Sepupuku ini baru sempat bertemu dengan orang tuaku dan kakakku saja sewaktu mereka pergi ke daerah asal sepupuku di Jawa Timur. Nah, ketika dia Study Tour ke kotaku, dia ingin mampir dan menginap di rumahku, terus dia minta dijemput di depan salah satu bank di dekat Jalan yang jadi trade marknya kotaku. Maka, aku bersama kakakku menjemput dia.

    Jam 4:25 sore, aku sampai di depan bank tersebut. Mobil kuparkir, lalu aku bersama kakakku sambil membawa dua payung menghampiri bisbis yang diparkir di depan bank, agak lama juga aku mencari sepupuku ini, maklum aku belum pernah bertemu dia dan kakakku sendiri agak lupa dengan wajahnya. Setelah kurang lebih 5 menit, akhirnya bertemu juga.

    Kemudian kami pulang ke rumahku, dia senang sekali bisa bertemu denganku. Awalnya dia berencana mau menginap 1 hari tetapi kemudian dirubah jadi 2 hari. Sepupuku ini tidak punya saudara lakilaki, jadi ketika kami bertemu, dia senang sekali dan menganggap aku seperti kakak kandungnya. Selama dia menginap di rumah, dia selalu ingin dekat denganku terus. Aku menganggap biasabiasa saja dan tidak ada pikiran lain.

    Ketika dia mau pulang, dia mau pulang sendirian, orang tuaku sepertinya tidak tega melepas dia pulang sendirian, akhirnya aku disuruh mengantar dia pulang ke Jawa Timur, padahal waktu itu aku sedang berobat jalan karena aku mengidap alergi serpihan kulit manusia (aneh ya..? aku saja dulu tidak percaya).

    Aku harus datang ke dokter pribadiku setiap hari Selasa dan Jumat buat disuntik. Tetapi, menurutku tidak apaapa karena kupikir nanti jika sudah sampai di sana, aku langsung pulang saja pikirku. Jadilah aku mengantar dia pulang ke Jawa Timur. O.. iya, sebelum terlalu jauh aku bercerita, kuperkenalkan dahulu diriku, namaku Padi dan nama sepupuku Ana. Di jalan kami bercerita tentang daerah asalnya yang ternyata ada di kawasan pantai utara Jawa Timur.

    Kami mampir ke Madiun dulu, karena katanya dia mau mengambil bajubajunya yang mau dibawa sekalian dicuci di rumah. Sampai di Madiun, kirakira pukul 5:00 sore, kami menuju tempat kosnya yang sederhana di komplek Akabri. Setelah selesai dengan urusan di Madiun, kami langsung pergi lagi meneruskan perjalanan. Di perjalanan, aku bertanya dengan dia.

    Eh, An.. dari sini sampai ke kotamu berapa lama sih..? tanyaku.
    Ya mungkin kirakira 8 jam Mas.. katanya.
    Dalam hati aku berpikir, Wah, bakalan capek di jalan nih.. sialan

    Waktu berlalu, kirakira pukul 9 malam, kami masih ada di atas bis jurusan ke kotanya. Malam itu kurasakan sangat dingin, apalagi ditambah tiupan angin yang sangat kencang. Di dalam bis yang lumayan penuh itu, aku duduk di kursi kedua dari belakang sejajar dengan Ana. Pintu bis yang ada di sebelah kananku ternyata tidak bisa ditutup, karena kuncinya rusak kata kernetnya.

    Ana yang merasa kedinginan terkena tiupan angin, bingung mau bagaimana sebab dia tidak membawa jaket atau sweater buat penghangat, sedangkan aku sendiri tidak masalah. Kemudian kutawarkan dia untuk pindah tempat duduk di sebelah kananku, yah.. lumayan dia terlindung dari angin oleh badanku.

    Sekitar 10 menit setelah itu, dia bilang katanya dia merasa mengantuk, aku tawarkan dia untuk tidur saja di pangkuanku. Dia mau dan langsung dia rebahkan kepalanya di pahaku, waktu itu aku sebenarnya agak kawatir dengan penumpang lainnya. Janganjangan ada yang berpikiran macammacam tentang kami, meskipun begitu aku akhirnya memutuskan untuk santai saja. Si Ana dengan cepat tertidur dengan pulasnya, tanganku kutaruh di atas punggungnya biar dia merasa lebih hangat.

    Tawaranku untuk tidur di pahaku ternyata berbekas sekali di hati sepupuku ini, sepertinya dia merasa ada sesuatu yang lain yang dirasakannya setelah dia merebahkan kepalanya di pahaku. Mungkin karena dia masih anak SMU yang belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang cowok, tetapi kok ya kebetulan justru dengan kakak sepupunya sendiri.

    Tidak terasa, bis telah memasuki terminal di kotanya. Waktu itu jam 1 pagi. Kami langsung mencari becak untuk pulang ke rumahnya. Sampai di rumahnya yang sederhana (bapaknya bekerja sebagai sipir penjara dan ibunya guru SD), aku langsung disambut oleh Omku. Kami berbincangbincang sejenak sambil nonton MTV.

    Tidak lama kemudian, Omku minta diri untuk tidur. Aku mempersilakan Omku untuk tidur. Aku sendirian yang belum merasa mengantuk dan meneruskan melihat TV. Si Ana sendiri ada di kamarnya sedang bicara dengan adiknya. Kirakira 5 menit kemudian, kudengar ada orang datang masuk ke ruang TV dimana aku berada, yang Ternyata Ana.

    Aku bertanya pada dia, Lho.. An, kamu ngga tidur? Kan udah malem, bahkan pagi nih!
    Lah.. mas sendiri gimana? Kok ngga tidur juga? dia balik bertanya.
    Mas kan udah biasa melek sampai pagi, lagian acaranya bagus nih, MTV music Awards.
    Iya deh tapi Ana boleh nemenin Mas ngga?
    Boleh aja, asal bikinin Mas kopi panas dong
    Ih.. Mas curang.. Oke deh Ana buatin.

    Kemudian dia beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untukku. Sewaktu dia jalan ke dapur, dia melewati ruangan makan yang gelap, sedangkan ruang dapurnya sendiri dibiarkan terang, sebab Omku orangnya suka makan, jadi kalau malam dia sering ke dapur untuk cari makanan.

    Sewaktu dia melewati kamar makan yang kebetulan bisa terlihat dari tempat dudukku, aku agak kaget karena kulihat dasternya kelihatan menerawang terkena cahaya dari dapur.

    Si Ana ini sebenarnya tidak hanya manis tetapi juga cantik, tubuhnya agak gemuk, tinggi sekitar 158 cm, ukuran dadanya berapa ya? Tidak tahu.. Kulitnya sawo matang dan yang paling menarik adalah matanya yang khas cewek Jawa, tidak besar juga tidak kecil. Sekilas kulihat bentuk tubuhnya sewaktu dia melewati ruang makan. Jantungku merasa agak berdebar karena aku kan lakilaki, jadi lihat yang seperti itu kan, ya gimana gitu.

    Selesai dia membuat kopi, segera dia menuju ke arahku, terus dia bergabung nonton MTV. Sejenak aku lupa akan kejadian yang mendebarkan tadi (menurutku lumayan mendebar kan lho).

    Kami berbincangbincang sambil mengomentari pemenangpemenang yang sedang diumumkan di TV.
    Tibatiba dia nyeletuk, Mas.. tadi enak lho tiduran di pangkuannya Mas..
    Kenapa emangnya? Mau lagi ya, sini deketdeket Mas..? kataku.
    Oke deh!

    Kemudian dia mendekat ke arahku dan merebahkan kepalanya di pahaku lagi. Nah, sekarang aku mulai berpikiran macammacam nih, karena kan dia hanya memakai daster dan di dalam dasternya hanya ada CD dan BH saja. Mau tidak mau batangku mulai bereaksi pelanpelan, tetapi dia tidak tahu.

    Masih sekitar 10 menit kami berbincangbincang, tanganku kutaruh di atas pinggulnya, dan kurasa dia tidak keberatan. Lamalama sepertinya dia mengantuk dan mulai sembarangan kalau menjawab pertanyaan atau komentarku.

    An.. geser dikit dong, soalnya pahaku kesemutan nih! Sebentar, ganti pake bantal aja yah?

    Kemudian kuangkat kepalanya, kupindahkan dia ke bantal yang ada di sofa, sedangkan kakinya kuangkat ke atas pahaku. Singkat cerita, dia sudah tertidur dengan pulas.

    Pikiranku mulai keluar pikiran iseng, tanganku aku rabakan di kakinya. Sambil purapura memijat, dari bawah pelanpelan naik ke atas, terus turun lagi, naik lagi lamalama aku memijatnya terlalu naik sampai hampir menyentuh pangkal pahanya. Rupanya dia terbangun.

    Ngapain Mas..?

    Eh.. ngga kok cuman mijitin, kan kamu capek barusan abis naik bis jarak jauh?
    Mmm.., boleh juga.. tapi mijitnya jangan keraskeras ya Mas
    Oke An..

    Nah, aku teruskan kembali memijatnya, tetapi kali ini mijatnya lain, aku kan sedikitsedikit pernah baca tentang pijatan erotis, maka aku mencoba untuk mempraktekkannya sekarang. Pertama kuletakkan tanganku di telapak kakinya, terus kucari simpul yang bisa membangkitkan gairah seksnya.

    Nah, ketemu nih batinku.
    Pelanpelan kupijat bagian itu sambil tanganku yang satunya juga memijatmijat paha kanannya.

    Setengah sadar dia bertanya, Mas, kok enak banget sih pijitannya?
    Tenang aja deh, yang ini belum apaapa, entar ada yang lebih hebat. jawabku.
    Lama kelamaan dia jadi tidak merasa ngantuk, tetapi menikmati pijatanpijatan tanganku sambil mengeluarkan suara lenguhan yang sangat merangsang, Nngggh ngghh enak loh Mas agak naik dikit Mas.. yang ini lho di atas dengkul, ya.. di situ terus.. terus..

    Aku tahu dia tidak sadar kalau sedang aku kerjain. Lamalama kulihat dia sepertinya mau bangkit dari tidurnya. Kemudian waktu kubiarkan, ternyata dia tibatiba memelukku dan berusaha mencium bibirku. Aku sendiri menyambut ciumannya dengan bersemangat.
    Wah, lha ini nih yang kunanti, batinku.

    Ciumannya lumayan dahsyat, sampai lidahnya masuk ke mulutku seperti ular. Lidahku sendiri jadi tidak mau kalah menyambut lidahnya yang masuk ke mulutku (heran juga anak ini kok bisa senekat ini pikirku). Dan ternyata, kok luar biasa ciummannya untuk ukuran anak SMU yang belum pernah pacaran, tangannya melingkar di punggungku dan berusaha masuk ke dalam tshirtku.

    Gerakan tubuhnya terlihat sekali terbakar oleh rangsangan yang kuberikan melalui pijatan tadi, tubuhnya naik turun sambil sesekali bergoyang ke kiri dan ke kanan. Lamalama daster yang dia kenakan tertarik ke atas oleh karena gerakannya tersebut, dan tanganku pun bisa leluasa untuk memegang pantatnya. Dia memakai celana dalam yang tipis berenda.

    Pelanpelan kumasukkan tanganku ke dalam CDnya dari atas. Aku berhasil memegang pantatnya, wah.. seketika aku merasakan suatu gelora dalam diriku, sepertinya aku sendiri mulai terserang rangsangan yang sangat kuat. Aku pijatpijat pantatnya, sementara kami masih saling berpagut, dia sendiri terlihat sangat menikmati pijatan tanganku pada pantatnya.

    Lalu aku mulai menaikkan tanganku, berusaha untuk membuka dasternya. Tanpa hambatan, aku berhasil menaikkan dasternya sampai ke bagian leher, kudorong dia pelanpelan ke belakang, dia berusaha untuk tetap memelukku.

    Aku berbisik padanya, An.. tolong kamu mundur sebentar, aku tolong kamu nglepasin dastermu.
    Dia mengangguk pelan, lalu kubuka dasternya. Kulihat tubuhnya yang mulus hanya ditutupi BH dan CD saja.
    An.. gimana kalo semuanya aku buka? tanyaku.
    Ternyata ia mengangguk mengiyakan, Silakan Mas
    Kubuka pelanpelan BHnya sambil kubelai dua bukit di dadanya dengan lembut.
    Ehm Mas.., Ana sayang sama Mas katanya.
    Aku tidak menjawab perkataannya.

    Kemudian kudekatkan wajahku ke buah dadanya dan mulai mengulumngulum pucuk bukitnya. Dia terlihat sangat menikmati perlakuanku tersebut, matanya terlihat sayu dan sepertinya mengharap yang lebih dari sekedar dikulum pucuk bukitnya.

    Aku menengok ke arah jam dinding yang terletak di atas pintu, jarum menunjukkan pukul 12:08 malam. Aku sempat berpikir, sebenarnya bahaya kalau tibatiba Om atau Tanteku memergoki kami yang sedang asik di sini. Sekejap aku memutar otak, aku lalu berbisik ketelinga Ana.
    An.. kita pindah ke kamarku aja yah?

    Dia tersentak mendengar bisikanku. Aku sendiri kaget, Apaan nih? Kok jadi medadak berubah?

    Aku rasakan ternyata Ana sepertinya tersadar atas apa yang sedang diperbuatnya. Dengan terburuburu, dia menyambar pakaiannya dan berusaha lari menuju kamarnya. Cepat sekali kejadian itu berlalu, aku sendiri tidak sempat melakukan apaapa, aku hanya melongo seperti Mandra diputus Munaroh.

    Gila, pembaca tahu sendiri kan? Lagi enakenak bercumbu, tidak tahunya putus di tengah jalan. Tetapi aku sendiri maklum, sebenarnya Ana adalah anak yang taat beribadah. Dan kuyakin yang barus saja kualami, sebenarnya dia melakukannya di bawah sadar.

    Paginya, aku bangun sekitar pukul 9:00, ternyata aku semalam ketiduran di depan TV. Aku ngucekucek mataku sambil mencari dimana kacamataku, agak lama kucari, tetapi tidak ada.

    Mana ya? aku bergumam pelan.
    Kebetulan Tante yang berjalan melewati ruang TV menuju dapur mendengar gumamanku.
    Cari apa Di? tanya Tanteku.
    Tante liat kacamata Padi ngga?
    Ngga tuh.. mungkin jatuh di bawah meja, coba cari lagi, sambil dia berjalan menuju ke arahku ingin membantu mencari.
    Dicaricari sudah lama, tetap tidak ketemu, Yep.. nanti dicari lagi deh Tante.. biar Padi mandi dulu. kataku.
    Oke lah, nanti Tante bantu lagi carinya.
    Oke Tante.. sahutku.
    Aku bergegas menuju ke kamarku, mengambil peralatan mandiku.

    Kamarku terletak di sebelah kamar Ana, sempat kulihat dari celah kamar yang tidak tertutup semua. Ana masih kelihatan pulas tidurnya. Mungkin dia tidak bisa tidur setelah kejadian tadi malam. Habis mandi aku menuju ke ruang TV lagi untuk mencari kacamataku yang masih sembunyi. Ternyata tante sudah ada di sana sedang nonton TV.

    Aku tanya ke tante, Ketemu ngga kacamatanya Tante?
    Ngga tuh Di.. udah tante cari dimanamana ngga ada, sampaisampai sekalian Tante ngebersihin ruang ini deh.
    Waduh gimana nih susah deh. Aku kan ngga bisa baca kalo ngga pake kacamata, pikirku, Ya apa mau dikata, kalo lagi apes, gini deh jadinya.

    Pukul 9:30, kulihat kamar Ana sudah terbuka, beberapa menit kemudian Reni (ini nama adiknya) bergabung dengan kami di ruang TV sambil membawa nampan berisi 4 gelas teh.

    Aku tanya dia, Kok cuman empat gelasnya Ren?
    Ooo, Papa kan udah berangkat kerja Mas.., jadi Reni bikinnya cuman 4. jawabnya.
    Gitu ya? sahutku.
    Kami lalu berkumpul membicarakan keadaan Kota Tuban, tibatiba si Reni bertanya ke Tante.
    Ma.. kacamata yang di kamar Reni itu punya siapa sih? tanyanya.
    Eit! lha ini dia nih si kacamata.. ternyata ngumpet di sana, spontan aku menyahut, Heh! Itu pasti kacamataku.
    Betul.. itu pasti kacamatanya Mas Padi, Ren! sahut Tante, Sana cepet ambilin!
    Reni lalu berdiri dan mesuk kamar untuk mengambil kacamataku. Aku berpikir, mungkin kacamataku semalam kesangkut di bajunya Ana.

    Sesaat kemudian Reni kembali membawa kacamataku, aku sempat waswas, mogamoga Tante tidak curiga kenapa kok kacamataku sampai bisa mampir kesana. Memang ternyata dia tidak curiga sama sekali.

    Pukul 10:00, Tante pamit mau berangkat ke pasar yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumahnya, si Reni ikut. Aku ditinggal sendirian. 5 menit waktu berlalu, aku mulai bosan, terus aku menuju teras depan ingin merokok. Di teras ternyata ada koran edisi hari itu, aku tertarik untuk membacanya. Kubolakbalik halamannya, tidak ada yang menarik.

    Bosan lagi deh, ngelamun jadinya. Aku teringat kejadian tadi malam.
    Dalam hati aku berpikir, Sekarang di rumah cuman ada aku berdua sama Ana. Wuih! kalo hehehe kalo misalnya aku iseng gimana ya?
    Akhirnya, ternyata aku nekat juga.

    Aku bangkit dari tempat dudukku, masuk ke dalam. Sampai di depan pintu kamarku, aku punya ide. Mmmm harusnya pintu depan kututup ya, terus aku pasangkan kaleng krupuk di bagian dalam, biar kalo kebuka dari luar kalengnya kegeser dan bikin suara brisik. pikirku.
    Cepatcepat kukembali ke ruang tamu dan melakukan rencanaku. Setelah itu, aku kembali lagi ke kamar, hatihati kuintip ke dalam kamarnya Ana, ternyata dia masih pulas tertidur.

    Aku berjingkat masuk ke kamarnya, perlahan aku duduk di samping tidurnya. Dia tidurnya mengorok hingga aku mau tertawa waktu itu, tetapi kutahan karena takut dia terbangun. Dengan hanya diterangi lampu baca (kamarnya tidak ada jendelanya), kupandangi wajahnya lama. 5 menit lebih kupandangi dia, semakin lama semakin manis.

    Gila ya, dengan adik sepupu kok seperti itu? tapi pikirku, Biarin aja lah, isengiseng berhadiah.

    Kemudian aku mulai mencoba membelai rambutnya, pelan tetapi pasti. Dia tidak bereaksi, dia tidurnya brukut (memakai selimutnya sampai menutupi leher). Aku berusaha membuka selimutnya perlahan, kutarik ke bawah dan dia tetap tidak bereaksi. Kumasukkan tanganku ke dalam selimutnya sambil berusaha mencari payudaranya. Dengan tanpa kesulitan, tanganku sudah memegang payudaranya, tetapi masih terhalang dasternya.

    Eit nanti dulu ternyata dia ngga pake BH! Berarti semalam dia ngga pake BHnya lagi dong, wah asik nih pikirku.
    Lalu kumasukkan tanganku melalui lubang di antara kancing dasternya. Tidak susah juga, tanganku sudah memegang daging empuk dengan tonjolan di puncaknya.

    Ana menggeliat, agak keras menggeliatnya, dia terbangun.
    Mampus gua, pikirku.
    Dia melotot sambil teriak, Lepasin dong Mas apaapaan nih Mas?
    Aku gelagapan berusaha mencari alasan, An kamu ngga inget semalem ya?
    Lupain aja Mas! Ana ngga mau lagi, ngga boleh, entar dosa Mas!
    Tapi Ana semalem udah ngelakuin dosa lho kenapa ngga sekalian aja? rayuku.
    Kali ini dia benarbenar marah. Ana teriakteriak menyuruhku keluar dari kamarnya. Aku turut saja, untung letak rumahnya berjauhan dengan tetangga, jadi aku tidak takut teriakannya terdengar tetangganya.

    Wah gagal nih ceritanya.., aku akhirnya hanya merabataba batang kemaluanku yang menganggur karena tidak jadi dipakai. Aku duduk di ruang TV lagi. Melihat acara tarian Bangkok, lumayan lah buat obat, melihat penyanyi Thailand yang cantikcantik. Sebentar kemudian Ana keluar dari kamarnya, dia menuju ke arahku. Aku berusaha tidak peduli, dia lalu duduk di dekatku.

    Katanya, Mas maapin Ana ya? Ana udah bentakbentak Mas
    Ngga papa An.., Mas yang salah. balasku.
    Sebenarnya Ana sayang sama Mas, tapi kita kan masih bersaudara, apalagi nanti kalo ketahuan ama PapaMama kan bisa berabe Mas! jelasnya.
    Ya sudah.. lupain aja An, toh kamu masih muda. Nanti juga pasti ada cowok lain yang lebih pantas buat kamu. lanjutku.
    Iya Mas, Mas Ana mau ngasih sesuatu buat Mas.
    Apa An? tanyaku.
    Liat sini deh Mas.. (dia mulai tidak kaku lagi)

    Aku menoleh ke arahnya, tibatiba dia mendekatkan bibirnya ke arah bibirku.
    Mmpphh
    Plas! jantungku spontan berdegup keras, Kok tautau nyium sih? pikirku, tetapi kunikmati saja, enak sih.

    Pertamanya dia hanya mau mengecup saja, tetapi kulingkarkan tanganku di lehernya, dan kudekap dia. Dengan lembut kukecup bibirnya, dia tidak berontak ternyata, aku pererat dekapanku, dada kami sudah saling menempel. Aku merasakan kalau dia masih belum memakai BHnya.

    Dengan perlahan kubelai punggungnya, dasternya yang terbuat dari sutera terasa halus sekali, sensasinya justru membuatku jadi semakin ON saja. Coba saja pasangan anda disuruh pakai lingerie yang bahannya sutera, ditanggung kalau diraba pasti enak sekali. Lama kami berciuman dengan posisi itu, akhirnya capai juga aku. Kulepas pelukanku dan mengakhiri ciuman.

    Aku berkata pada Ana, Sini An Mas pangku..
    Ngga ah Mas nanti kayak tadi malem deh jadinya!
    Percaya deh sama Mas ngga sampe ngelakuin yang nggangga kok, okey?

    Dia akhirnya mengalah, mungkin dia masih ada rasa ingin juga, dia juga tahu kalau sekarang kami hanya berdua saja di rumah, So? Why not?. Dia duduk di pangkuanku menghadap TV, tanganku bergerak dengan bebas di dadanya.

    Kuraba dadanya sambil berkata, An.. Ana ngga marahmarah lagi nih?
    Biarin lah Mas.. udah terlanjur nih, tapi janji ya jangan kebablasen pintanya.
    Okey An!

    Dari belakang, sambil tanganku membelai payudaranya, kulihat dia memejamkan matanya menikmati belaian tanganku. Tanganku meraba payudaranya dengan hatihati, penuh perasaan aku membelainya, aku sendiri memejamkan mataku jadinya.

    Pelan tapi pasti, tanganku bergerak turun menuju perutnya. Agak dekat dengan Vnya kugunakan kuku jariku yang agak panjang untuk membangkitkan rangsangan di perutnya. Kulirik dia, terlihat dia menahan perutnya dengan membuat kaku daerah itu.

    Dia menikmati perbuatanku, perlahan dasternya kutarik ke atas, dia diam saja, ujung dasternya sudah sampai ke pahanya. Sedikit lagi pasti aku bisa meraih celana dalamnya. Akhirnya sampai juga, CDnya sudah tidak tertutup lagi, sekilas kulihat bercak basah di ujung Vnya. Tanpa berpikir lama, kupindahkan tanganku ke sana, tanganku merasakan memang di daerah itu sudah basah. Kusimpulkan pasti dia sudah terangsang berat.

    Lalu kuselipkan tanganku ke dalam CDnya, tetapi dia kali ini menahan tanganku supaya tidak masuk ke sana. Aku urungkan niatku untuk itu, tanganku hanya menggosokgosok dari luar saja. Kemudian terlihat dia mengeluarkan lenguhan dan badannya menegang, seperti menahan sesuatu. Orgasme rupanya. Lalu badannya melemas lunglai di pelukanku.

    Tanganku yang masih berada di selangkangannya merasakan kalau CDnya bertambah basah. Kemudian Ana memandangiku. Lama kami berpandangan.

    Ana kemudian bicara, Mas, kita lakukan yuk. Ana udah ngga tahan
    Wah, benarbenar kejutan..! Ana tibatiba berubah pikiran. Hal ini tidak akan kusiasiakan. Tanpa bicara lagi, langsung kucium dan kuremas dadanya yang masih tertutup daster.

    Ana melenguh keenakan karena remasan itu. Kemudian aku melepas remasannya. Kupandangi dadanya di balik dasternya, kupandangi seluruh tubuhnya, kulitnya yang sawo matang. Kemudian aku melepas dasternya karena akan merepotkan saja.

    Kini ia polos tanpa satu benang pun menutupi tubuhnya. Kemudian aku membopongnya ke kamar tidurku dan kubaringkan ia di tempat tidur, lalu kuciumi seluruh tubuhnya. Tubuh Ana bergetar hebat, menandakan bahwa dia baru pertama kali ini melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Kemudian aku mencium dan menjilat bagian perutnya dan mulai ke bawah dan mulai meraba serta membuka kedua pahanya degan kedua tanganku.

    Tangan kananku membuka belahan vaginanya sedangkan seluruh bagian mulutku mulai mengolah bibirbibir vaginanya. Tangan kiriku masih meremas buah dadanya yang sebelah kanan. Aku merasakan adanya cairan yang mulai membasahi permukaan bibir vaginanya. Aku terus menyedot dan menggigitgigit perlahan labia mayoranya dengan asyik, sedangkan tangan kiriku sekarang merabaraba klitorisnya dengan cairan pelumas dari lubangnya.

    Asyik sekali, karena terlalu keasyikannya, secara tidak sadar, ada dua tangan menjambak rambutku, aku tidak menghentikan aktivitasku. Mulanya kupikir hanya gerakan kenikmatan yang diterimanya secara erotis.

    Eh, kok tambah lama terasa ada goyangan perlahan di bagian selangkangannya. Begitu pula tanpa kusadari, ada suarasuara nafas tertahan dan jambakan di rambutku bukan lagi jambakan pasif, tetapi mulai membelai dan memegang kupingku. Aku tibatiba sadar. Dia benarbenar menikmatinya. Aku termanggu duduk di antara selangkangannya dan melihat ke arah wajahnya.

    Kok.., berhenti Mas..? suaranya berat perlahan dengan tatapan wajah yang sayu.
    Ehh.. terusin Mas hhh kurang dikit lagi..! suaranya tertahan.

    Aku masih terduduk bingung dan memandangnya dengan pandangan bodoh. Dan yang menjengkelkan, batang kejantananku tidak berkompromi. Dia tegak mengacung, sehingga mencuat di antara kaosku. Kepalanya tampak licin karena cairan bening yang keluar. Sebenarnya batang kejantananku lumayan besar dan panjang, sehingga tampak mencuat tinggi. Tibatiba Ana bangun, dan duduk di hadapanku, memandangku dengan sayu. Tibatiba tangannya mulai bergerak ke arah batangku, dan memegang lama sambil tersengalsengal sehabis melumatnya. Kemudian memandangku perlahan dan meletakkan dirinya telentang di ranjang. Ana berdiri di atas tempat tidur dan berjongkok di depanku. Kemudian dia membuka kedua pahanya dan mengangkat lututnya ke atas sehingga lubangnya terlihat.

    Ia meraba permukaan vaginanya sambil perlahan memandangku dan berkata, Ayo Mas masukin..!

    Aku seperti tersihir, antara bingung dan nafsu, menggerakkan diri untuk berlutut di antara kedua pahanya dan memegang kepala batangku yang licin terkena ludahnya dan mengarahkannya ke lubang merah mengkilat itu. Sejenak aku lupa bahwa dia masih belasan tahun, yang kurasakan secara reflek setelah dikenyot habishabisan olehnya, ialah bahwa ia sudah tidak perawan lagi.

    Dan, Ssleeeppp.. ketat tetapi tidak begitu menjepit dan tanpa hambatan sama sekali (benar dugaanku). Aku menusukkan seluruh panjang batangku ke dalam lubang itu, dan hebatnya seluruh panjangnya batang kejantananku itu masuk total ke dalamnya serta membiarkannya sejenak merasakan denyutan hangatnya.

    Ana melenguh agak keras. Aku khawatir juga karena dia akan merasakan sakit di bagian dalam vaginanya. Tetapi karena malaikat nafsu lebih berkuasa, ya sudah aku santai saja dan mulai menarik batangku itu dari dalam lubangnya dan memasukkannya lagi seluruhnya.

    Entah karena apa, aku tidak begitu merasakan rasa nikmat yang cepat naik. Memang terasa basah, licin dan enak tetapi, ya lebih karena ini memang sedang bersetubuh. Aku mulai berpraktek dengan berbagai macam cara menusuk dan arah tusukan ke dalam lubang vaginanya. Yang mulai mencemaskanku, Ana sama sekali tidak berusaha menahan suaranya.

    Ia mulai melenguh dan mengerang keraskeras ketika aku mulai mempercepat gerakanku. Aku antara cemas dan mulai nikmat, tidak peduli lagi. Lagi pula suaranya mulai merangsangku dan ini membuatku menusuknusuk dengan gerakan yang cepat dan keras.

    Aaahhh aayooo Mass aaduhh cepat Masss..! pintanya dengan nafsu.

    Dia mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya. Bunyi beradunya kemaluan kami mulai terdengar keras, berkecepakkecepak dan aku mulai merasakan lereng gunung telah kucapai. Tinggal mendaki cepat dan sampai di puncak.

    Tibatiba Ana menghentikan gerakanku, dan menutup kedua pahanya sehingga terasa ada jepitan yang luar biasa di sekujur batangku. Kemudian dia memandangku sayu. Aku tahu apa yang dimaksudkannya dan mulai menggenjot lagi. Aku menjepitkan kedua betisnya di antara leherku dan bertumpu pada kedua tangan, sedang aku membentuk busur dengan tubuhku, merapatkan kedua pahaku sehingga terasa batangku membesar dan mulai menusuknusuknya cepat.

    Aaahhh sss terdengar bunyibunyian antara suaranya yang merangsang dan bunyi kecepakan kemaluan kami yang beradu, sedangkan aku sendiri mengeluarkan suara helaan nafas yang cepat.

    Beberapa menit kemudian, aku merasakan aliran yang semakin cepat memenuhi pinggul dan seluruh tubuhku. Keringatku telah mengucur deras.

    Dan, Annn Annaaa aaadduuhhh ssss Ann..! spermaku menyemprot deras ke arah perutnya. Aku mengerang keras dan terus mengocok batang kemaluanku. Kemudian tanganku yang mulai begerak ke arah vaginanya segera menusuknusukannya.

    Lama aku terus menusuknusuk lubangnya karena rasa nikmatnya terus mengalir hingga tidak berapa lama kemudian Anna berkata, Masss aaa Maass ssshhh aaddduuhh..!

    Ana menaikkan pelvisnya dan menerima tusukantusukan terakhirku dengan denyutan dinding vagina yang terasa cepat dan kenyal. Aku menindih tubuhnya yang kecil dan merasakan detak jantung yang cepat di dadanya dan dengusan nafas hangat di ubunubunku. Jariku masih menancap dalam di dalam vaginanya dan merasakan denyutan yang tidak kunjung reda.

    Kemudian aku tergeletak di sampingnya, aku berkata kepada Ana, An kamu sekarang mandi saja ya..? Kayaknya kamu bau deh
    Sialan iya deh, Ana mandi, makasih ya Mas Ana udah dikasih pelajaran sama Mas.
    Samasama An..

    Aku tidak merasa menyesal karena tidak dapat seperti yang kubayangkan (gadis yang benarbenar perawan). Yah, lumayanlah bisa merabaraba kan? Ana lalu berdiri hendak menuju ke kamar mandi, sebelum dia pergi dia menoleh ke arahku lalu menunduk dan menciumku sebentar. Aku belaikan tanganku ke dadanya dan Vnya.

    Dia tersenyum memandangku, lalu bergegas menuju kamar mandi. Saat dia menutup kamar mandi, aku sempat dengar langkah kaki berlari menjauh dari arah pintu ruang tamu. Aku cepatcepat menuju ruang tamu ingin mengetahui siapa yang baru saja dari sana. Sempat kulihat warna bajunya, biru seperti yang dipakai Reni. Mungkinkah..? batinku.

    Aku kembali ke ruang TV, sambil menebaknebak, Apa iya.. tadi itu si Reni, terus kalau benar, berarti dia tahu dong kita lagi ngapain..? Waduh, terlalu serius sih tadi jadinya begini deh.

    Kurang lebih 20 menit, Tante dan Reni datang dari pasar, Tante katanya mau masak Sop buntut dan membuat Rujak cingur. Siang jam 12:30, Ana mengajakku untuk makan. Saat makan, Reni kelihatan agak canggung melihatku, pikiranku lalu menghubungkan dengan peristiwa yang tadi kualami.

    Berarti tadi memang benar Reni.. pikirku.

    Kami tidak bicara banyak saat di meja makan. Akhirnya sore pun tiba, Omku sudah datang sejak jam 3:00 tadi. Aku lewatkan seharian dengan bermain playstation dengan Ana, sedangkan Reni dari tadi berada di dalam kamarnya. Tidak tahu sedang berbuat apa dia, betahbetahnya di dalam kamar terus. Tante sendiri ke rumah tetangga untuk membantu masak, kebetulan tetangga ada yang sedang punya hajat.

    Jam 8:00 malam, aku membacabaca majalah di ruang tamu. Ana dan Reni di ruang TV sedang nonton HBO, tidak tahu apa filmnya. Tante sudah tidur di kamar belakang, lelah sehabis membantu tetangga. Si Om malam ini mendapat tugas jaga malam. Jam 9:00, Ana ke ruang tamu, dia bicara padaku kalau mau tidur duluan, Reni masih mau nonton TV menunggu opera sabun kegemarannya di HBO kata Ana.

    Ana suruh aku menemani Reni di ruang TV, soalnya si Reni anaknya sedikit penakut katanya. Jadi aku pindah ke ruang TV, kubawa majalah yang sedang kubaca. Aku rebahkan badanku di sofa panjang di depan TV. Reni sendiri duduk di kursi favoritnya, tanpa sekali pun menengok ke arahku. Aku teruskan baca artikel yang sempat terputus tadi, sambil sekalisekali aku melihat ke arah televisi. Aku lihat ke arah jam tanganku, ternyata sudah jam 11:13.

    Aku berkata kepada Reni, Ren.. kamu ngga ngantuk?
    Dia tidak menjawab, kuulangi lagi dua kali baru dia menjawab, Belum ngantuk kok Mas, lagian filmnya barusan mulai nih.
    Oke.. kalau gitu Mas pergi tidur dulu ya..?
    Ntar dulu dong Mas, tunggu filmnya abis kan Reni takut nonton sendirian, filmnya agak horor nih! pintanya.
    Sofanya dibuka aja jadiin tempat tidur, Mas tidur di situ aja. katanya lagi.
    Emang bisa Ren..? Oke deh Mas coba.

    Aku coba deh usul Reni, dan aku akhirnya tidur di sofa yang sudah diubah menjadi tempat tidur itu. Tidak tahu berapa lama aku tertidur di situ, tibatiba aku terbangun merasakan tanganku ada yang memegang. Aku buka mataku sedikitsedikit, terlihat olehku Reni memegang tanganku, digosokgosokkannya tanganku ke selangkangannya.

    Terasa olehku bulubulu halus di ujung jariku. Kulirik mukanya, dia mendesah amat pelan. Wajahnya menghadap ke arah televisi, aku jadi curiga, janganjangan?

    Aku lalu mencoba melihat ke layar televisi, ternyata di sana terlihat filmnya sudah bukan HBO lagi. Kesimpulanku, si Reni ternyata suka nonton sampai malam berarti hanya untuk menyetel VCD porno. Wow! berarti kakaknya kalah dong sama adiknya.

    Perlu diketahui, jarak umur antara Ana dengan Reni hanya 1 tahun lebih sedikit, apalagi Reni anaknya agak bongsor, tingginya sepundakku, tidak begitu gemuk tetapi cukup berisi. Singkat kata, aku beruntung kali ini, karena mendapat daun muda nih. Perlahan, tanganku yang masih bebas berusaha melorotkan celana dalamku ke bawah.

    Sementara Reni masih asyik dengan kegiatannya yang semakin lama semakin menjadi, dia seperti terobsesi dengan film dari VCD tersebut. Lenguhannya kadangkadang terdengar keras.

    Lalu perlahanlahan tanganku yang dia pegang kutarik ke arah kemaluanku. Setelah dekat, tanganku yang satunya dengan cepat kurangkulkan ke pinggangnya dan menariknya ke atas tubuhku.

    Dia kaget sekali, hampir dia berontak, tetapi selanjutnya dia justru memegang batang kejantananku dan mulai mengocokngocok dengan lembut. Aku pun lalu mengimbanginya, kuubah posisiku agar lebih enak dengan bersandar ke belakang, ke sandaran sofa. Dia menoleh ke arahku, terlihat wajahnya yang khas ABG, mengingatkanku kepada cewekcewek yang suka nongkrong di mallmall.

    Posisi tubuh kami akhirnya saling berhadapan, dia menggesekkan tubuhnya naik turun. Payudaranya ditempelkan ke dadaku. Nafasnya terdengar keras, khas orang yang sedang terangsang berat, Sshhhsshhsshhss seperti itu deh kalau tidak salah.

    Tshirtnya yang gombrong mulai basah terkena keringatnya, memang malam itu udara terasa sangat panas, aku sendiri juga merasa kepanasan. Aku peluk dia, tanganku kutelusupkan ke dalam tshirtnya dari belakang, sedangkan bibirku tidak tinggal diam begitu saja, kucium belakang kupingnya dengan pelan, kuhembuskan nafas secara perlahan ke daun telinganya.

    Terasa olehku Reni semakin menggila, terasa dari gerakan tubuhnya yang turun naik dengan cepat, digesekkannya dadanya ke dadaku, juga selangkangannya dia gesekgesekkan ke kemaluanku dengan bernafsu. Tanganku yang berada di punggungnya, akhirnya kugeser ke pantatnya, dari atas punggung kugerakkan ke bawah, masuk ke celananya sebelum sampai ke pantat.

    Kuputar ke samping dengan agak cepat, lalu kuteruskan ke pinggang mencari celana dalamnya, kuraba dari luar celana dalamnya, pantatnya yang empuk kuremas dengan gemas. Aku menyesuaikan dengan irama gerakannya yang maju mundur. Kontan dia makin menggila, tangannya naik ke atas, rambutnya menyuguhkan gerakan yang erotis sekali. Dia berusaha menanggalkan tshirtnya.

    Setelah tshirtnya lepas, dia pegang kepalaku, menariknya ke arahnya dan melumat bibirku dengan sangat bernafsu. Reni tidak memakai BH, payudaranya yang berukuran lumayan besar terlihat mengkilat karena basah oleh keringat. Aku menjilatjilat payudaranya, kukulum putingnya yang kecil dan tidak begitu menonjol.

    Dia berteriak pelan, Mas..!
    Aku lalu berpindah ke bibirnya yang mungil, kulumat dengan bernafsu bibirnya itu. Dia mendesah keenakan, akhirnya dia tidak tahan lagi.
    Ayo Mas, kayak yang di VCD itu lho Mas pintanya.
    Kujawab, Yang gimana Ren..?
    Cepetan dong Mas Reni udah ngga tahan nih..
    Emang Reni udah pernah..?
    Belum Mas makanya Reni pengen coba, cepetan dong Mas

    Kami lalu berdiri berhadapan, aku melepas pakaian yang melekat di tubuhku, dia begitu juga melepas semua pakaian di tubuhnya. Dengan bernafsu dia pegang batang kemaluanku untuk dikocokkocok, sensasinya, wuah! Tidak tergambarkan.

    Dipegang oleh anak baru umur 18 tahun! Lalu sebentar kemudian, dia melepas batang kemaluanku dan membalikkan tubuhnya, berpegangan pada lemari buku. Posisinya sekarang agak menungging membelakangiku, pantatnya yang belum begitu besar terlihat kenyal.

    Dari belakang, aku melihat kemaluannya sudah merekah, ada daging yang keluar dari kemaluannya, entah apa itu namanya. Mungkin itu kli yang dinamakan clitoris. Tetapi pemandangan itu menjadikan batang kejantananku menjadi berdenyutdenyut ingin merasakannya.

    Kudekati dia, kugesekgesekkan kepala senjataku ke daging yang menyembul keluar itu. Tangan Reni dengan tergesagesa menarik batang kejantananku untuk segera dimasukkan ke dalam liang kemaluannya.

    Terasa agak sulit untuk memasukinya, kutusukkan dengan keras karena aku sudah sangat bernafsu. Aku melihat ke arah wajahnya. Pandangannya ternyata ke arah layar televisi, sambil sesekali bibirnya mengeluarkan desahandesahan merangsang.

    Gila! pikirku, Dia ternyata maniak sama VCD porno.

    Aku tingkatkan kecepatanku dalam menggoyang. Lamalama aku merasa pinggangku capek, dan aku coba mengarahkan dia untuk mengganti posisi classic, aku tiduran dan dia yang di atasku. Dia menurut. Sambil memegang pantatnya, aku tiduran dan menikmati goyangannya. Badannya terlihat mungil bila dibandingkan dengan tubuhku, suara desahannya terdengar melengking lirih di telingaku.

    Pada puncak kenikmatannya, dia melengkungkan tubuhnya ke belakang, tangannya menahan berat badan tubuhnya dengan gemetar. Rasa hangat yang terasa oleh batang kejantananku menjadi bertambah seiring dengan tercapainya puncak kenikmatannya. Sedangkan aku sendiri belum merasakan puncak. Reni merangkulku dengan lemas. Setelah itu, dia berbisik ke kupingku.

    Makasih ya Mas, Mas telah memberi Reni melebihi dari mbak Ana

    Jreng! Terkuaklah kebenaran peristiwa siang tadi, ternyata memang benar. Reni telah melihatku bermesraan dengan kakaknya. daliam hatiku.
    Loh, jadi tadi Reni ngelihat Mas padi gituan sama mbak Ana to?
    Heeh Mas Reni kepingin, lagian Reni sering ngeliat di VCD. Kayaknya enak banget deh Mas dan ternyata memang bener.
    Oke deh, tapi Mas Padi belom sampai puncak nih.. gimana dong? Kan kasihan Reni udah capek.

    Begini aja Mas dari tadi siang emang Reni udah merencanakan ini, gini rencana Reni, tadi waktu Reni ngeliat Mas sama Mbak Ana gituan, sebenarnya Reni mo ngambil Dompet Mama yang ketinggalan. Trus Reni punya rencana, Reni beli CTM (obat tidur) buat dikasih ke minuman Mama ama Mbak Ana, nah.. tadi Mbak Ana sama Mama udah minum obatnya (dicampur sama teh) masingmasing 3 butir.. hehehe.

    Terus gimana dong? sahutku.
    Sekarang Mbak Ana kan pasti pules banget tidurnya, diapaapain pasti ngga bangun deh. Kan tempat tidur sebelahnya lagi kosong
    Heh! aku spontan tahu apa yang dimaksudkannya, Sip deh! Oke Ren! Sekarang kita pindah aja ke kamarmu
    Ayo..!

    Kemudian kami berdua berdiri dan menuju ke arah kamar Ana. Memang benar Ana tertidur lelap. Hanya iseng saja, aku membuka dasternya dan menyentuh kewanitaannya Ana dan memasukkan jari telunjuk dan tengah.

    Ternyata memang tidak bangun! Hanya saja dia mengeluarkan sedikit lenguhanlenguhan nikmat yang dia rasakan. Kemudian aku mulai memainkan vaginanya sampai basah. Tetap saja Ana tidak bangun sama sekali.

    Mas, udah dong. Kok malah Mbak Ana yang dimaenin. Giliran Reni dooong keluh Reni karena sudah terbalut nafsu yang tinggi.
    Padahal tadi sudah puas. Lagipula aku juga sudah bernafsu karena tadi dalam permainan pertama belum selesai.

    Kemudian aku melepaskan jilatan pada vagina Ana dan berpaling ke Reni ysng sudah mulai memuncak nafsunya. Kemudian aku mulai naik ke atas ranjang dan menidurkan Reni. Secara intense, kami pun mulai pagutan. Tetapi ketika kami berciuman, beda sekali dengan yang pertama.

    Seperti disirap, kucium pipinya, mulutnya, berhenti lama di situ. Mulut kami berpagut seperti memecah ribuan rindu. Lidah kami bermain di sana. Tidak lama kemudian, kuturunkan lidahku ke arah lehernya, dia menggelinjang, matanya terpejam, tangannya bergidik seperti menahan gelombang perasaannya sendiri.

    Ketika putingnya kuraba, dia mulai melenguh. Dengan gerakan halus, aku mulai meremasremas sehingga Reni merasa keenakan. Sementara bibirku sudah beralih, tidak lagi di bibirnya tetapi sudah menjilati telinga, dan lehernya.

    Karena buah dadanya sudah terbuka, mulutku pun bergeser ke puting susunya yang sudah menegang. Ketika kumainkan dengan lidahku, lenguhannya semakin panjang. Tangan kananku pindah ke arah vaginanya dan mulai meremasnya.

    Sambil memainkan klitorisnya, aku terus menjilati kedua payudaranya. Ketika aku merasakan kemaluannya sudah sangat basah, aku mulai bernafsu untuk melakukan foreplay yang lebih lama. Tidak lama kemudian, mulutku menjilat ke arah perut, pinggang dan sasaran terakhir adalah klitorisnya yang merah. Karena tidak tahan, Reni berontak dan ingin merubah posisi.

    Ren, duduk di depan mukaku pintaku sambil menolongnya berpindah posisi.

    Dia pun kemudian duduk dan menempatkan liang kenikmatannya tepat di wajahku. Lidah dan mulutku kembali memberikan kenikmatan baginya. Responnya mengejutnya.

    Aughhh setengah berteriak dan kedua tangannya meremas buah dadanya. Kuhisap dan kujilati terus, semakin basah liang kenikmatannya.

    Tibatiba Reni berteriak, keras sekali, Aahhh ahhh, matanya terpejam dan pinggulnya bergerakgerak di wajahku.
    Aku.. keluar, sambil terus menggoyangkan pinggulnya dan tubuhnya seperti tersentaksentak.

    Mungkin inilah orgasme wanita yang paling jelas kulihat. Dan tibatiba, keluar cairan membanjir dari liang kenikmatannya. Ini bisa kurasakan dengan jelas, karena mulutku masih menciumi dan menjilatinya.

    Aduh Mass.. enak banget. Lemes deh. katanya. Dia terkulai menindihku.
    Enak?, tanyaku.
    Enak banget, kamu pinter yah. Ngga pernah lho aku klimaks kayak tadi.
    Akh, yang bener..? Kamu kan tadi udah ngerasain. kataku mengingatkan pada permainan pertama kami.
    Tapi, uuhh lebih enak yang ini..
    Ternyata Reni masih menikmati sisasisa klimaksnya. Tetapi karena belum puas, langsung saja kujilat kembali liang kemaluannya. Semakin lama semakin asyik dan sangat enak, dan dia pun merintihrintih kecil.
    Mass nakal ahhh kok akkhh dimaenin lagi ouuchh siiich uwuuhh ooo sstt akhs akhs akhs ooohhh aahh sstth, sambil tubuhnya agak bergerak tidak karuan, mungkin jilatanku tidak seberapa tetapi kulihat dia sedang keasyikan menikmati jilatanku.

    Lalu dia berdiri dan menarik tubuhku ke lantai. Di situ kami berciuman lagi, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang hangat di sekitar liang kemaluannya, kuingin batang kemaluanku dimasukkannya ke lubang kemaluannya. Soalnya aku masih ragu. Walaupun tadi sih berani. Tetapi takut si Ana bangun. Kemudian aku memberanikan untuk bicara.

    Ren, aku masukin lagi yaaa Tadi kan belum puass

    Reni tidak menjawab. Dia hanya merintih keenakan. Karena malas bermain sambil berdiri, aku mendorong Reni hingga tertindih oleh badanku. Reni mengerang keras karena vagina tertindih oleh adikku yang sudah menegang tinggi. Kemudian mulai lagi kugerakkan tanganku mencakar halus pinggangnya sampai ke payudaranya. Reni meremas kedua tanganku, menahan geli yang ditimbulkannya.

    Ssshh ssshhh! Reni mendesis berkalikali menahan kenikmatan itu.
    Kembali aku memainkan klitorisnya dengan tanganku, sementara kujilati kedua pahanya.
    Aaahhh ssshhh, Reni mengerang lirih.
    Aku menikmati aroma kewanitaannya yang semerbak bersamaan keluarnya cairan dari liang kemaluannya. Kubenamkan wajahku ke liang kemaluannya sambil menjilati bibir kemaluannya. Klitorisnya yang berwarna merah jambu kukulum sambil kumainkan dengan lidahku. Tubuh Reni menggelinjang bergetar.
    Uuuhffsss aaahhh! Reni menjerit menahan kenikmatan sambil tangannya menggenggam tepi ranjang.
    Kurasakan cairan kemaluannya deras mengalir dan kuhisap dengan penuh kepuasan.

    Masss masukin sekarang.. aku ngga tahan nih.. Reni lirih memohonku untuk segera memasuki tubuhnya.

    Aku segera menempatkan tubuhku di atas tubuhnya yang ramping, seksi serta kencang itu. Berdesir darahku melihat Reni terbaring polos telanjang. Ini bukan kesekian kalinya aku mengaguminya. Badan Reni kurus tetapi kencang dan atletis seperti pelari sprinter tetapi untungnya tidak sampai berotot.

    Maass cepat doong aakkhh.. ngga tahan nih
    Ok, tenang aja..

    Sejenak sempat kudengar Reni mendesis saat meraih kemaluanku.
    Uuu besar dan kuat.. ujarnya setengah berbisik seperti berbicara pada dirinya sendiri.

    Begitu ujung kepala batang kejantananku menempel di bibir kewanitaannya, kurasakan getaran listrik yang mulai menjalar di seluruh tubuhku. Lalu perlahan kudorongkan ke dalam liang kemaluannya.

    Uuhhss yess, Masss uuuffssh, Reni mengerang sambil mendongakkan kepalanya.
    Dengan satu dorongan berikutnya, batang kemaluanku sudah masuk secara penuh ke dalam liang kenikmatan Reni yang hangat dan tebal. Reni mengalungkan kedua tangannya di leherku dan kedua kakinya melingkar di pinggangku.

    Aku mulai gerakan memompa liang kemaluannya.
    Yess ufff Maas Reni menjerit halus sambil memejamkan matanya.
    Gerakanku semakin lama semakin cepat dengan tekanan yang semakin kuat menerobos kedalaman liang kemaluan Reni yang merespon dengan berdenyutdenyut seperti memijit batang kemaluanku.
    Tibatiba Reni membuka matanya dan berbisik lirih, Mas ganti posisi aku mau nih keluar nih..
    Kami segera ganti posisi, badan Reni membalik dalam posisi menungging (doggy style). Katanya dia biasa orgasme dalam posisi ini.

    Aku menuruti permintaan Reni yang jelas dalam posisi ini aku jadi bisa melihat postur Reni lebih lengkap. Biarpun Reni ramping, tetapi dia memiliki pantat yang padat dan berisi sehingga dengan pinggangnya yang ramping makin membuat pantatnya montok. Aku segera mengarahkan batang kemaluanku kembali, kali ini penetrasi dari belakang.

    Srrrt makin lancar penetrasiku kali ini soalnya bagian luar liang kemaluan Reni makin basah.

    Reni menggenggam pegangan ranjang degan kedua tangannya. Aku menciumi lehernya dari belakang sambil kadangkadang menggigit pundaknya. Ternyata Reni sangat aktif dalam posisi ini. Dia semakin aktif bergerak, selain mengikuti gerakan maju mundurku, pinggulnya pun bergoyang mengocok batang kemaluanku.

    Reni pinggul kamu hebat banget, aku berbisik terengahengah.
    Reni menjawabnya dengan eranganerangan, dia menoleh kepadaku sambil menggigit bibir bawahnya. Terlihat peluh membasahi wajahnya yang makin memerah.

    Sesaat kemudian dia berbisik kepadaku, Ouuchhh.. sayang lebih cepat! suaranya diikuti deru nafas yang memburu. Rupanya dia sudah semakin mendekati klimaks.

    Aku pun meresponnya dengan gerakan yang lebih cepat dan keras. Kutusukkan batang kemaluanku makin dalam ke liang kemaluannya seiring perasaan klimaks yang sudah di ambang.

    Aaahhh Uuuh Sssh teruuus Mas ahhh Reni menjerit sambil bergerak makin liar sampai ranjangnya berderikderik.

    Kuteruskan gerakanku dengan mengerahkan sekuat tenaga mengimbangi gerakan liar Reni.
    Ana masih tidur ketika Reni tibatiba menjerit, Aaah uuhhhfffssshhh Masss kepalanya mendongak, tubuhnya bergetar hebat dan kurasakan semburan hangat dari liang kewanitaannya merembes sampai ke buah kemaluanku.

    Aku pun melepaskan jutaan spermaku menyemprot kencang memenuhi karet kondom yang kupakai.
    Uuu yess Reni mengakhiri gelombang kenikmatan dan mengerang sambil menikmati sisasisa orgasmenya.
    Ouuhhh.. Masss, kamu hebat sekali aahh

    Mungkin bisa dibilang ini adalah permainan terbaikku dibandingkan dengan Ana. Kemudian kami pun sempat tertidur berpelukan di kamar Ana.

    Jam 5 pagi Reni balik ke kamarnya dan aku pun tidur di kamarku sendiri. Pukul 10:00, aku bangun dan mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke kotaku. Aku diantar Om ke terminal bus, aku tidak sempat pamit dengan Ana dan Reni karena mereka belum bangun.

    Reni kelelahan karena habis bertempur denganku sepanjang malam, sedang Ana masih terpengaruh CTM. Tante sendiri belum bangun juga. Si Reni memang gila seks. Hari itu hari Kamis, jadwalku adalah harus berobat ke dokter spesialisku.

    Tetapi sial, di jalan perutku terasa sakit, sepertinya diare. Aku terpaksa turun di jalan dan mencari restoran terdekat untuk buang hajat. Sampai di rumahku pukul 8 malam dan itu berarti aku tidak jadi ke dokter. Tetapi aku tetap tersenyum simpul, kalau mengingat baru saja aku mendapatkan dua perawan tingting.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Masih ABG Pembantuku Yang Binal

    Masih ABG Pembantuku Yang Binal


    1350 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Masih ABG Pembantuku Yang Binal ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Aku seorang pedagang umur 35 tahun, istriku 32 tahun guru SMA. kisah ini terjadi dua tahun lalu, tepatnya satu bulan sebelum puasa. Aku mempunyai pembantu namnya Dian.

    orangnya cukup tinggi hampir setinggi aku yaitu kira-kira 165cm, semampai, badanya langsing dengan kedua tetek yang masih sekal dan mencuat dengan ukuran teteknya kira2 34. saya hanya kira-kira aja, karena belum pernah melihatnya.

    Dina sudah bekerja di rumah sejak empat tahun yang lalu, yaitu sejak anak kedua saya lahir. ia sangat sayang sama anak saya. istri saya pun percaya ama dia. karena istri saya bekerja maka semua urusan pengurusan rumah tangga diserahkan kepad si Dina. Dina ini hanya tamat SD sekarang umurnya sudah 17 tahun. lagi segarnya memang.

    Sering Dina ini ketiduran di Sofa keluarga sambil mengendong anak saya sementara istri saya telah tertidur pulas.. dekat sofa atau didepan nya ada TV ukuran 34 Inc.. disamping sofa keluarga ada meja makan.

    saya biasanya suka mengetik hasil transaksi bisnis di meja makan itu sampai larut malam. karean seringnya Dina ketiduran di atas sofa depan TV, lama2 saya memperhatikan ia juga.

    Cantik dan sensual juga si Dina ini pikirku. Dengan kulit bersih sawo matang, rambut terurai panjang sebahu, dan kaki jenjang… selayaknya si Dina tidak pantas jadi pembantu. saya tipe suami yang setia.

    belum pernah merasakan memek dan harumnya gadis lain selain istri ku. oya istriku cukup cantik dengan kulit putih mulus dan bodi bahenol. kalo sedang hubungan intim ia sangat liar sekali. nafsu sex nya sangat kuat. kembali ke DIna. kadang2 waktu ia ketiduran di sofa, belahan dadanya sedikit mengintip.

    pada suatu malam saya lagi pengen maen, namun istri ku lagi dapet bulan. dan seperti biasa si Dian pembantuku, ketiduran dekat sofa yang menghadap ke arah saya. saya iseng menghamprinya, dengan tangan gemetar, takut istri saya bangun.. saya belai rambutnya.

    ia diam aja. trus saya usap2 pipinya,.. eh..eh.. ia diem aja..trus saya mulai raba2 dadanya yang masih dalam bungkus bajunyanya, sementara anaknya ia peluk sambil tidur..saya mulai curiga ia ketiduran atau pura2 tidur.. kemudian saya kecup keningnya terus matanya dan mendarat di bibirnya.. eh,,ia diam aja.

    Saya penasaran… saya mulai isep mulutnya.. dan ia bergerak pelan..saya kaget..kemudian saya lepas ciuman saya… ia tertidur lagi. trus saya cium lagi bibirnya sambil tangan saya membelai-belai teteknya masih dalam bungkus bajunya… saya jadi penasaran.,

    ia betul2 tidur atau tidak..saya takut juga..terus saya duduk di kursi makan menenangkan diri..saya lihat si DIna masih terpenjam matanya..tiba-tiba ia bangun karena anaknya saya dipelukkan bangun minta sisu… trus si dian bikinkan susu anak saya (laki).

    Setelah menyuapin anak saya dengan susu, anak saya tertidur lagi,.. si Dina minta pamit ke saya untuk nidurin anak saya ke kamar anak saya yang nomor satu… saya mengangguk sambil sibuk kerja. setelah satu jam saya lihat si Dina tidak keluar dari kamar anaknya saya.

    saya penasaran, kenapa ia ngak keluar dari kamar anak saya. saya dekati kamar anak saya… dan saya buka pintu pelan2 takut ketahuan istri saya…tiba saya kaget ternyata si Dina tertidur pulas bersama anak saya.. dan yang lebih saya panas dingin adalah roknya tersingkap membuat paha nya mulus terbentang dalam kondisi mengangkang.

    Saya masuk kekamar pelan2. trus saya berdiri disamping ranjang.. saya liaht wajah dina ia betul2 tertidur pulas… saya usap pelan-pelan celana dalam dekat memeknya pelan-pelan, sambil tangan kiri saya mengusap2 teteknya yang menonjol seski… saya terus mengusap2 memeknya,,dan setekah cukup lama saya merasakan celana dalamnya basah. saya kaget ternyata ia menikmati usapan tangan saya.

    Saya mulai curiga jangan2 ia pura tidur. saya menuju mulutnya. saya kecup pelan2 mulutnya sambil tangan saya terus mengusap teteknya. mulutnya saya isep keras. terdengar lenguhan nafasnya…perutnya terangkat. dadanya ia busungkan ke atas.. aku makin penasaran.

    aku buka kancing bajunya diatas dadanya. sekaranag bajunya sebelas atas tersingkap. terlihat dua bukit kembar yang ranum dan montok..saya terkesima. bentuk teteknya indah sekali. masih kenceng. beda ama tetek istriku yang mulai kendor dan tidak begitu besar ukurannya.

    Saya membelai teteknya dengan penuh sayang.. sekali-kali bibir saya mebngusap2 kulit teteknya yang mulus. lagi-lagi ia mendesah pelan. tangan kananku akau selipkan di antara daging tetek dan behanya.. agak sempit, saya berusaha masukin tangan saya.. hmm bukan maen..terasa daging teteknya kenyal dan dingin sejuk sekali.

    saya remas2 tetek berkali sambil tangan saya bergantian meremes2 teteknya. mulut saya terus mengecup bibirnya. lidah saya kadang saya masukin kedalam mulutnya. ada sedikit respon saat lidahku akau masukin kedalam mulutnya. ia sedikit mengisap lidah saya. saya tambah nyakin kayaknya ia pura-pura tidur. meskipun matanya terpenjam, namun napsu nya mulai naik.Cerita Sex Abg

    Saya tak sabaran lagi pengen lihat teteknya secara utuh. saya buka tali BH nya dan sekarang teteknya betul2 dah teanjang. namun untuk jaga2 aku tetap tidak melepas bajunya yang tersingkap.

    hanya bhnya yang saya lepas talinya kemudian saya tarik ke atas sehingga teteknya yang montok itu menyembul keluar. saat itu juga saya langsung menyergap kedua putingnya. saya isep2 bergantian kiri dan kanan,.

    sementara tangan kanan saya terus memasukkain jari tangan saya kedalam memeknya..dia mengelinjang2 dengan pelan. puas mengisap putingnya.

    Kontol saya sudah sangat tegang sekali. saya lepas celana pendek saya. terus memperhatikan mulutnya yang sedikit terbuka, matanya masih terpenjam, kayaknya ia pura2 tidur…trus aku naikin dadanya, posisi ia telentang pasrah.

    Sampai di dadanya, paha saya geser dikit ke atas. terus kontol saya yang udah asngat tegang langsung aku sodorkan kedalam mulutnya. aku masukin dengan paksa kontol ku yang besar dan tegang itu ke mulutnya.. agak susah dn ada sedikit penolakan. tetapi penolakan tersebut tidak begitu kuat.

    saya terus memassukkan kontol saya kedalam mulutnya.. saya majukan pelan-pelan…terasa kontol saya menyentuh giginya..ia mengerakkan giginya..wow..ia betul-betul ngak tidur.. nagk mungkin ia tidur,

    Melihat ia menggerakan giginya sambil menekan kontol saya..ohghhh sensai yang luar bisa…sambil memmaju mundurklan kontol saya kedalam mulutnya, tangan saya yang kiri menjulur ke arah teteknya aku remas2 teteknya wow betul nikmatnya..ia masih perawan pikirku..dan belum pengalaman yang beginian.

    saya ingat istri saya..saya berdiri dari dari atas dadanya kontol saya lepaskan dari mulutnya..namun saya kaget.. pada saat kontol saya lepaskan dari mulutnya pelan2 tiba mulutnya menjepit kontolku. aku agak susah menarik kontolku… namun pelan2 akhirnya kontolku lepas.

    Aku biarkan ia telentang dengan baju tersingkap dan kedua teteknya menyembul bebas dengan seksinya. aku pakai celana dan terus aku kekamar mengintip istri ku..wow ternyata ia tidurnya sangat pulas,… aku tutup pintu kamarku da kembali kekamar anakku yang ada si Dnna.. begitu aku lihat di ranjang, posisi Dina tidak berubah posisinya.. aku semakin dapat angin. kontol masih tegang dan tidak turun2… aku elus memeknya masih pakai celan dalam.

    Memeknya dah basah sekali. aku buka celan dalamnya pelan2 terus, aku pelorotkan sampai ke mata kakinya, aku ngak berani melepas total celana dalamnya. pelan2 aku naikin dia dan kontolku aku arahkan ke lobak memeknya yang bsah itu.. aku bimbing kontol ku yang panjang dan tegang ke arah lobang memeknya. kakinya aku reanggangkan.. lobang memeknya masih sempit.

    kuliahat wajahnya pasarh dan mata nya tetap terpenjemn dan kelihatan mulutnya bergeraka menahan nikmat.. ia pura2 tidur. tetapi saya ngak peduli yang pemting aku lagi masukin kontolku ke memeknya….sempit. dan susah sekali masuk kontolnya. ia mendesah pelan-pelan.

    Badan ku aku rebahkan diatas bdannya. teteknya menekan dadaku.wow nikmat banget.. tiba-tiba tanganya ia rangkulkan ke leherku dan menekan2 pinggulnya ke arah kontol ku yang sedang bersusah payah menuju lobang kenikmatannya.

    pelan2 kontol ku masuk..dan seperti batang kontolku telah amblas. ia merintih2 ngak karuan tetapi dengan mata yang masih terpenjamn. mulutnya aku ciumi lagi dengan ganasnya…ia membalas ciuman ku.

    Sekarang ia dah mulai menghisap2 lidahku dan mengginggit ujung lidah dengan pelan.. napsu ku tak karuan.. ia terus menekan pinggulnya ke arah kontol..tibah ia tersendak oughhh.ooughhh..oughh… bersamaan dengan terasa kontol ku menembus sesuatu.. aku lihat kebawah pada saat aku maju mundurkan kontolku.

    .ada warna merah mudah di batang kotolku yang lagi maju mundur tersebut…aku kaget dan ngak sadar ternyata aku telah memecah perawanya.. tetapi ia kelihatan senyum tipis,

    Wajahnya menegang… ada rasa penyesalan..namun kenikmatan duniawa mengalahkan semuanya.. akhir aku genjot kontol keluar masuk memeknya sambil tanganku tak henti2nya meremas2 kedua tetek nya seksi.. sementara mulutku terus mengisap2 lidahnya dan mencupang lehernya…..

    ough..nikmat.. tiba-tiba ia mengejang bersaman dengan itu akupun menyemburkan air mani panas kelobang memeknya. cukup banya air mani….yang masuk kelobang memeknya..akhir aku lemas.. dan diam-diam aku tarik kontoku dari lubang memeknya.

    aku turun dari ranjang. aku lihat anakku masih tidur pulas. dan pembantuku Dina juag dalam keadaan tidur pulas… dan matanya terpenjamn. aku rapikan pakaiannya setelah celana dalam dan bhnya aku kancingin lagi… aku keluar kamar anakku.. masuk ke kamar tidurku dan kulihat istri tidur dengan pulas., untung ia ngak bangun.

    Besok paginya aku bangun, istriku dah berangkat kerja. kulihat Dina, sikapnya menunjukkan biasa saja…ia sempat tanya ke saya,.. pak semalam aku mimpi aneh deh…kok lain dan anuku terasa perih…terus ia bilang kenapa ada warna merah ya pak di paha dan dalam celananya..ia nanya dengan lugu.. aku pura ngak tahu…namun kelihatan ia puas.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Kekasih Guruku

    Cerita Sex Kekasih Guruku


    1349 views

    Perawanku – Cerita Sex Kekasih Guruku, Aku menurut arahannya, menuju ke tepi meja dan menunggu arahan seterusnya. Cikgu Khir rapat kepada ku. Tangannya menolak daguku ke atas menghala mukanya. Wajah kami bertentangan. Tanpa sebarang kata-kata, cikgu Khir terus mengucup bibir ku. Aku serta merta sedar bahawa inilah peluang ku untuk bersama cikgu yang ku idamkan selama ini. Aku terus memeluk cikgu Khir dan membalas kucupannya. Cikgu Khir juga terus memeluk ku. Tubuh ranum anak muridnya yang masih lengkap berbaju kurung sekolah itu di peluknya penuh nafsu. Seluruh tubuh ku di raba dan diramas terutamanya bontot ku.

    “Cikgu nak ke?” bisik ku perlahan kepadanya.
    “Ye….. boleh?..” tanya Cikgu Khir pula.Tanpa banyak cakap, aku tarik tangan cikgu Khir dan menyuruhnya duduk kembali ke kerusinya. Aku pun berlutut di atas lantai, di kelengkangnya. Aku buka seluar cikgu Khir hingga terlucut ke buku lalinya. Batang lelaki idaman aku mengeras di hadap mata. Wow.. keras betul nampaknya. Lebih keras dari dua batang yang selalu menjamah tubuh ku sebelum itu.

    Aku hisap batang cikgu Khir semahu hati ku. Kepala tedungnya yang kembang berkilat aku kerjakan. Aku jilat dan hisap sampai cikgu Khir menggigil nikmat.

    Sesekali aku stop dan lancapkan batangnya. Cikgu Khir menikmati servis ku dengan asyik sekali. Matanya ghairah memerhatikan kelakuan lucah ku.
    “Sedap tak cikgu?” aku bertanya dengan nada menggoda.
    “Hmmmmm…… Sedap Linaaa… Awak ni bohsia ke… uhhhh… Linaaa?” cikgu Khir bertanya kepada ku dalam kenikmatan.
    “Emmm… entah…. hhommmppphhh… mmpphhh.. hohhhhhhpppp… ” jawab ku ringkas dan terus menyumbat kembali kepala tedung cikgu Khir ke dalam mulut ku.
    “Oohhhhhh Linaaaaa….. Uhhhhhhh….” cikgu Khir mengerang kenikmatan.
    Tangannya kemas memaut kepala ku. Aku tahu, dia dah stim gile tu. Mana taknya, batang cikgu bujang tu aku kolom sampai hampir ke pangkal bulu jembutnya. Pulak tu, yang hisap batangnya tu budak sekolah yang cantik, ranum dan gebu tubuhnya.

    Cikgu Khir menikmati hisapan dan koloman mulut ku. Tangannya memaut semakin erat kepala ku yang bertudung. Aku tarik kepala ku ke belakang, melepaskan dari genggaman tangannya. Batangnya aku lancapkan.
    “Cikgu…. janji ye tak akan buat apa-apa pasal semalam…” aku merayu cikgu Khir.
    “Lina…. Cikgu janji…. ohhhh……” cikgu Khir setuju dalam kenikmatan.
    “Terima kasih cikgu…” aku tersenyum gembira, tangan ku masih lagi tak henti melancapkan batangnya.
    “Tapi…. Lina… ohhh…. selalu macam… ooooohhhh…. niii.. yeeee… ahhhhh…” pinta cikgu Khir dalam keghairahan sekali lagi.
    “Saya sedia bila-bila masa yang cikgu nak… Tubuh saya sekarang untuk cikguuu… ” aku menggodanya.
    “Ohhhhh… Linaaaa…..” Cikgu khir mengerang nikmat.
    “Masuklah ikut mana yang cikgu suka…… ohh… asalkan… cikgu sayang saya…” aku menggodanya walau pun aku sebenarnya semakin berahi ketika itu.

    “Linaaa…. saya tak tahan lagiiiii……..” cikgu Khir memberi amaran. Tangan ku masih lagi melancapkan batangnya. Sesekali aku menghisap dan menjilat sekejap kepala tedungnya yang kembang berkilat.
    “Lepas dalam mulut saya ye cikguu… Cikguuuu… Saya nak air mani cikguhhhmmpppp… hohhh.. hommppp.. Srooottttt…….” batang cikgu terus aku hisap semahu hati ku sebaik aku berbicara menggodanya.
    “Linaaaaaa…. aaahhhhhh……!!! “Cikgu Khir sudah tak dapat bertahan.
    “Hmmmmm.. hofffff… hommpp” aku masih menghisap batangnya, malah semakin kuat ku sedut dan semakin dalam ku benamkan.
    “CruuuuTTTTTTT!!!!!!” akhirnya tekak ku menerima pancutan air mani cikgu Khir yang deras dan panas.
    “Ahhhhhh.. Linaaaaaa!!!! OHhhhhh!!” cikgu khir mengerang hingga terpejam matanya menikmati sedapnya memancutkan air mani dia dalam mulut anak muridnya ni.

    Aku berhenti seketika menikmati batang keras cikgu Khir berdenyut memancutkan air maninya di dalam mulut. Tudung kepala yang ku pakai semakin bercelaru digenggam tangannya yang kegeraman itu. Aku telan air mani cikgu Khir. Mata aku terpejam menikmati air mani cikgu Khir yang masih panas ku teguk perlahan-lahan. Menggigil badan cikgu Khir. kakinya bergetar menikmati batangnya yang masih memancut itu aku hisap dan telan semua isinya. Nikmatnya ku rasakan menghisap batang kekar lelaki yang aku akui, aku cintakan itu. Batangnya yang gagah memancutkan benih itu aku gigit halus kepala tedungya di gigi geraham ku. Gigi geraham ku disimbah air maninya yang semakin berkurangan itu.

    Selepas puas, aku keluarkan batangnya dari mulut ku. Cikgu Khir kelihatan termengah-mengah macam lepas berlari. Aku bangun dari kedudukan aku yang berlutut itu dan terus duduk di ribanya. Secara spontan aku rebahkan tubuh ku di dadanya. Mengusap-usap dadanya yang bidang itu dengan manja. Batangnya yang semakin layu tu aku gesel-geselkan dengan peha ku yang masih berkain uniform sekolah. Aku dakap tubuhnya sambil cikgu Khir mendakap dan memeluk tubuh ku. Kami terlena sejenak. Kehangatan cinta yang selama itu dalam khayalan, akhirnya aku nikmati jua..

    Dalam 5 minit kemudian cikgu Khir mengucup pipi ku membuatkan aku terjaga lalu memandangnya sambil tersenyum.
    “Cikgu…. cikgu suka saya ke?”tanya ku manja.
    “Lina… saya suka awak… ” jawabnya tersenyum.
    “Cikgu nak saya selalu ye…” tanya ku lagi.
    “Kalau awak sudi…” jawabnya.

    Aku membelai batangnya yang separuh sedar. Kelembutan tangan ku melancapkan batangnya membangkitkan kembali keganasan batang cikgu Khir. Kuat betul rupanya batang cikgu Khir. Aku semakin ghairah. Batang yang ku idam-idamkan itu semakin mengeras di dalam gengaman.

    “Cikgu nak ikut mana…” tanya ku menggoda sambil tanganku terus melancapkan batangnya yang semakin keras.
    “Ikut mana-mana pun boleh ke?” tanya cikgu Khir penuh minat.
    “Mana-mana pun boleh cikgu… sayakan untuk cikgu…” kata ku manja sambil terus bangun dari ribanya.

    Aku berdiri di hadapannya. Batangnya kelihatan terus terpacak. Aku selak kain uniform ku ke atas. Aku lorotkan seluar dalam ku hingga tanggal terus ke lantai. Aku angkat kain ku ke atas, mempamerkan peha dan betis ku yang putih melepak. Aku naik terus berlutut di atas kerusinya. Peha ku terkangkang atas tubuhnya. Kelangkang ku betul-betul di atas batangnya yang keras terpacak.

    “Cikgu nak saya sampai bila-bila pun bolehhhh… ooohhhhhhhh….” kata ku dan terus melabuhkan punggungku membuatkan batang cikgu khir yang terpacak itu terbenam masuk ke lubang cipap ku yang basah.

    Aku lepaskan kain uniform yang aku singkap tadi, membuatkannya menutupi bahagian bawah tubuh ku yang sedang menelan batang gagah cikgu Khir. Cikgu Khir memaut pinggangku dan meraba-raba punggung aku. Aku yang berada di atasnya mengemut kuat batangnya yang terbenam dalam cipap.
    “Awak cantiklah Lina..” kata cikgu Khir sambil matanya menatap wajah aku.
    “Uhhh.. cikgu… sukaaa… tak bontot sayaaa… ohhh…” kata ku sambil tubuhku tak henti turun naik.
    “Ohhh… suka Linaaa…. Dah lama sebenarnya… ohhh…. saya mengidammm….” jelas cikgu Khir kenikmatan.

    Tubuhku yang turuun naik di atas tubuhnya membuatkan batang cikgu Khir keluar masuk lubang cipapku dengan galak. Seronok betul cikgu Khir dapat main dengan budak bawah umur yang masih lengkap beruniform sekolah. Aku semakin asyik menikmati lubang cipap ku dimasuki batang cikgu Khir yang keras. Aku ramas dada cikgu Khir, kemutan ku semakin kuat. Nafas ku semakin tidak dapat bertahan. Akhirnya aku kekejangan di atas tubuhnya. Aku benar-benar kepuasan. Aku terus lemah longlai dalam dakapan cikgu Khir sambil batangnya masih ku biarkan dalam cipap. Ohh… aku tak menyesal kalau dia yang buat aku mengandung.
    “Sedap sayanggg…” kata cikgu Khir lembut.
    “Hmmmm…..” kata ku dengan mata yang terpejam di atas dadanya.

    Cikgu Khir mengusap-usap tubuh ku. Punggung ku di usap dan di belai. Sesekali diramasnya geram. Pinggang ku di peluk erat dan bibirnya tak henti mencium muka dan kepala ku yang bertudung.
    “Cikgu…. saya sayang cikguuu… boleh tak cikgu janji satu lagi dengan saya….” pinta ku manja di dalam dakapannya.
    “Apa dia sayangg…” tanya cikgu Khir lembut di telinga ku.
    “Cikgu jangan tinggalkan saya ye…. segalanya saya serah untuk cikguu…” pinta ku kepada cikgu Khir.
    “Baiklah sayanggg… rugi rasanya kalau saya lepaskan perempuan secantik awak ni Lina..” kata cikgu Khir memuji diri ku.

    Aku terus bingkas bangun dari pangkuannya. Aku sekali lagi berdiri di hadapannya. Aku tersenyum memandang batangnya yang keras itu, dilancapkannya laju sambil matanya memandang seluruh tubuh ku. Aku pusingkan tubuh ku membelakanginya. Baju kurung putihku aku selakkan ke atas bontot. Terpamerlah bontot aku yang gebu dan bulat itu menjadi tatapan cikgu Khir. Aku lenggok-lenggokkan bontot ku ke kiri dan ke kanan. Pinggang aku makin lentikkan biar lebih tonggek. Sengaja aku buat cam tu biar dia stim tengok bontot aku yang tengah melenggok-lenggok dalam kain sekolah biru muda tu.

    Cerita Sex Kekasih Guruku

    Cerita Sex Kekasih Guruku

    Cikgu Khir pun bangun dari kerusi. Dia menyelak kainku ke atas. Bontot aku yang tonggek tu di usapnya lembut. Kemudian dia menolak tubuh aku ke depan menyebabkan aku terus tersadai atas mejanya, membiarkan bontotku terpamer kepadanya.

    Belahan bontotku dikuaknya, perlahan-lahan aku rasakan batangnya yang panas mencecah pintu lubang bontot aku. Sedikit demi sedikit cikgu Khir tekan sampai kepala tedungnya tembus masuk ke dalam.

    “Ohhh… masuk bontot saya cikguu…. ” aku merengek macam sundal time tu.
    ” Sabar ye sayanggg.. saya tak nak awak sakit… wow… sedapnya main bontotttt…..” kata cikgu Khir sambil terus menekan batangnya sampai tenggelam sepenuhnya dalam lubang haram tu.
    “Linaa… errr… awak tak kisah ke saya liwat bontot awak ni?….” tanya cikgu Khir ragu-ragu.

    Aku tak menjawab soalan bodohnya. Aku terus sahaja maju mundurkan tubuh ku membuatkan batangnya keluar masuk bontot ku dengan laju. Aku yang menonggeng di meja itu berasa enak diperlakukan sedemikian rupa. Memang bodohlah perempuan yang tak pernah cuba main bontot. Sedap gile… Mula-mula memanglah sakit tapi lama-lama bila dah biasa sedaplah. Lagi pun kalau dia terpancut pun aku bukannya boleh mengandung..

    Cikgu Khir terus menghenjut lubang bontot aku. Tangannya memaut kemas kedua-dua pinggulku. Senak sikit aku rasa sebab dia hayun dengan ganas. Maklumlah, bukan senang nak dapat jolok bontot tubuh pelajarnya yang ranum ni. Lebih-lebih lagi, masih beruniform sekolah pulak tu. Memang dia stim gila. Batang cikgu Khir yang keras tu aku rasakan jauh menerobos lubang bontot ku. Ohhh.. sedapnya..

    “Lina… saya rasa macam nak keluar lah… uuuhhhh….” rintih cikgu Khir tak tahan.
    “Ohhhh.. cikgu…. lepas je dalammm.. ohhhh… bontot sayaaa…” aku merengek memintanya melepaskan air mani.

    “Dalam bontot ke Linaaaaa……..” erangan cikgu Khir makin kuat. Dia makin tak tahan dengan godaan ku sambil hayunan batangnya yang menerobos bontot ku makin laju tak terkawal.
    “Cikguuu… ohh.. pancutkan cikguu… pancuttt…… ahhhh…” aku melaung nikmat.
    “Linaaaa… aahhhhh!!!” erangan cikgu Khir bersama henjutannya yang padu itu akhirnya memancutkan benihnya dengan banyak ke dalam lubang bontot aku.
    “Crruuuut!!!!”

    “Hhoooooo Linaaaa… Sedapnya bontot kamuuuu……” cikgu merengek sedap dengan badannya yang menggigil memerah benihnya.

    Aku melentikkan tubuh ku dan menekan bontot ku ke belakang agar batangnya pancut lebih dalam. Wow.. tak pernah aku rasakan lubang bontot aku dijolok sedalam itu. Sedap gila..

    Lepas dah puas, kami pun pulang kerumah dan cikgu Khir menghulurkan duit Rm10 sebagai duit saguhati. Aku gembira bukan kerana dapat duit, tapi sebab dapat main dengan cikgu yang aku idam-idamkan tu.

    Selepas hari yang bersejarah itu, aku secara rasminya menjadi perempuan simpanan cikgu Khir. Bilik PRS yang dijaganya itu menjadi tempat tetap kami buat projek. Layanan aku yang 1st class memuaskan nafsunya membuatkan dia selalu membelikan ku barangan-barangan yang tak mungkin ku miliki masa zaman sekolah macam gelang, rantai, seluar jeans, kebaya dan banyak lagi.

    Lepas aku lancapkan batang Abang Ayob kat kelas kosong hari tu, dia semakin ketagih. Kami selalu berjumpa selepas sekolah di tempat yang sama. Dari selalu melancapkan batang dia di bontot ku, kegemaran kami beralih pula kepada melancapkan batangnya di peha ku. Biasanya aku akan duduk rapat di sebelahnya dan mengiring menghadap dirinya. Batangnya yang telah menjengah keluar dari seluar sekolahnya itu aku lancapkan. Biasanya ianya akan di akhiri dengan pancutan deras ke peha ku yang gebu. Sudah pasti kain uniform sekolah ku berlendir dengan air maninya.

    Namun, ketagihan ku kepada batang lelaki telah mendorong aku untuk pergi lebih jauh. Tabiat ku yang suka melancap batangnya telah berubah kepada menghisap batangnya. Aku sentiasa menahan geram melihat batang lelaki yang keras itu menegang di dalam genggaman ku. Tekak ku berkali-kali menelan air liur ku sendiri menahan gelora setelah memandang kepala batangnya yang kembang berkilat itu.Lebih-lebih lagi ketika ianya berdenyut-denyut kencang menuntahkan air mani dalam genggaman ku. Ini telah mendorong aku untuk menghisapnya tanpa disuruh. Pertama kali melakukannya, Abang Ayob terpancut-pancut dalam mulut ku walau pun tak sampai seminit aku hisap batangnya. Kusut masai tudung aku selepas di genggam tangannya yang keghairahan melepaskan air mani di dalam mulut ku yang enak menghisap batangnya. Lama kelamaan, Abang Ayob semakin pandai mengawal nafsunya. tapi macam biasalah, bagi betis nak peha, bagi peha nak cipap pulak.

    Akhirnya lubang cipap aku tergadai juga di masuki batang abang Ayob. Hampir selalu juga dia hendak terpancut di dalam, tapi nasib baik aku cepat-cepat tolak dia. Kalau tak, mengandunglah jawabnya.

    Bapak tiri aku pulak, dah sedap dapat lubang bontot, lubang cipap aku macam dah dilupakan. Hari-hari kerja aku kat rumah bila line clear adalah menonggeng untuknya. Kecuali bila aku datang bulan, mulut akulah yang jadi sasaran. Sampailah dia mati akibat kemalangan dihempap bumbung rumah orang yang dibinanya. Kalau tak, selagi dia tak mampos, selagi itulah tubuh aku diratahnya. Kesian jugak sebab dia mati sebelum tobat. Ah, lantak kau lah. Kau bukannya bapak betul aku.

    Begitu juga dengan Abang Ayob. Tapi dia tak matilah, tapi lain pulak ceritanya. Satu hari tu, macam biasalah, lepas dah puas mengongkek, dia mintak nak pancut dalam mulut. Aku pun terus hisap batang dia sampai terpancut-pancut. Menjejeh air liur aku bercampur air mani abang Ayob kat bibir meleleh kat tudung. Lepas main, kita orang keluar dari kelas tu, tapi malangnya cikgu Khir dah menunggu kat luar. Menggigil kepala lutut aku ketakutan. Cikgu yang selalu jadi bahan lancap, kantol kan aku dan Abang Ayob.

    Dia suruh kita orang masuk balik dalam kelas kosong tu. Teruk abang Ayob kena belasah. Cuma tak nampak lebam je lah sebab dia tak bantai kat muka. Abang Ayob menangis macam budak-budak berlutut depan cikgu Khir mintak ampun. Tapi aku tak di apa-apakan, cuma pandangan yang tajam dan sinis dari cikgu Khir sudah cukup buat aku takut setengah mati. Lepas tu dia bagi tahu esok lepas sekolah jumpa dia di bilik PRS dan dia lepaskan aku balik ke rumah. Dia juga bagi peringatan, jangan ponteng sebab kalau tak, keluarga aku akan tahu perkara ni. Aku akur dan terus balik kerumah sementara dia heret abang Ayob ke bilik PRS ketika itu juga.

    Esoknya selepas sekolah, aku jumpa cikgu khir di bilik PRS. Memang selamat rasanya nak bincang perkara yang memalukan macam tu di bilik PRS sebab keadaannya yang tertutup dan kalau kita menjerit kat dalam pun orang kat luar tak akan dengar. Cikgu Khir bagi tau Abang Ayob dibuang sekolah. Aku terkejut dan serta merta takut akan mengalami nasib yang sama. Tetapi cikgu Khir menerangkan, memandangkan perkara ini amat memalukan pihak sekolah, keluarga dan pelajar yang terlibat, biarlah hanya dia seorang sahaja yang tahu cerita sebenar.Cikgu Khir menceritakan Abang Ayob diberi pilihan untuk dibuang sekolah akibat melakukan hubungan seks luar nikah atau pun akibat mencuri barangan sekolah, sudah semestinya itu adalah alasan yang sengaja direka supaya tidak memalukan sesiapa. Dan untuk keselamatan dirinya, Abang Ayob memilih dibuang sekolah atas alasan mencuri barangan sekolah. Sekurang-kurangnya mak bapak dia dan masyarakat tak lah tahu cerita sebenar yang memalukan itu.

    Kemudian Cikgu Khir beralih kepada aku pula. Dia memberi pilihan yang sama juga kepada ku. Aku gugup tidak dapat berkata-kata. Aku hanya tunduk mendengar ceramahnya yang membosankan itu. Secara diam-diam, aku perhatikan wajahnya penuh nafsu. Wajah cikgu Khir yang seringkali menjadi modal ku melancap dan menjadi bayangan kenikmatan sewaktu tubuh aku di bedal arwah bapak tiri ku dan abang Ayob membangkit nafsu ku di situ juga. Diam-diam, jari jemari ku bermain-main di kelengkang menggentel cipap ku yang basah dari luar kain uniform sekolah.

    “Awak dengar tak cakap saya Lina?” Cikgu Khir bertanya kepada ku setelah mendapati aku tidak fokus kepada apa yang diperkatakannya.
    “Err.. yee… yee…. tapi tolonglah cikgu… saya dah tak ada bapak… kesianlah kat mak saya cikgu..” aku merayu kepada cikgu Khir.
    “Ok.. saya bagi awak peluang…. tapi awak mesti lakukan sesuatu untuk saya.” kata cikgu Khir.
    “Apa dia cikgu?” tanya ku gugup.
    “Bangun dan berdiri di sini.. ” arah cikgu Khir sambil menunjukkan arah tepi meja sambil dia juga bangun dari kerusi.
    Cikgu Khir juga selalu mengajak ku keluar ke bandar. Biasanya hari sabtulah selepas aktiviti kokurikulum. Kami biasanya balik malam dan dia hantar aku sampai depan rumah. Mak aku tak kisah sebab dia percaya cikgu Khir. Sebelum sampai rumah tu, seperti biasa cikgu Khir akan bedal aku cukup-cukup. Dia park kereta dia kat kebun sawit pastu kat tepi kereta dia suruh aku menonggeng. Seluar track yang berlubang kat bontot tu memang sengaja aku pakai tiap kali keluar dengan cikgu Khir. Biar dia stim gila babi meradak bontot aku yang sendat dengan seluar track yang licin tu. Aku tahulah cover line, macam lah aku ni bodoh sangat. Aku pakailah baju t yang labuh bila kat tempat awam.Hubungan kami yang tercipta daripada aku tingkatan 4 itu berlarutan hingga aku lepas sekolah. Keputusan SPM aku yang hancus membuatkan aku memilih untuk kerja kilang. Cikgu Khir masih lagi menjalinkan hubungan dengan ku. Jika dulu boleh dikatakan affair antara murid dan guru, tetapi lepas tu bukan affair lagi. Kami
    sepasang kekasih. Walau pun beza umur kami 10 tahun, tapi itu tidak menghalang aku untuk mencintai dia hingga menyerahkan seluruh tubuh ku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Desahan Kenikmatan

    Cerita Sex Desahan Kenikmatan


    1348 views

    Perawanku – Kali ini aku yang berprofesi sebagai bisnismen kayu hasil bumi aku sering terbang antar daerah untuk
    mencari relations dari pulau jawa maupun ke Pulau Kalimantan dan Sulawesi selama 7 minggu untuk urusan
    bisnisku. Tubuhku terasa letih dan stress yang luar biasa aku sungguh ingin bertemu dengan istriku.
    Dari luar ruang tamu nampak terang disinari lampu, berarti isteriku ada di rumah. Di rumah kami
    tinggal 4 orang saja. Aku yang berusia 38, isteriku 31, pembantu laki-laki 52, dan pembantu wanita 44.

    Oh ya, setelah 9 tahun menikah kami belum dikarunia anak. Jadi semakin menjadi-jadilah diriku
    menghabiskan waktu mengurus bisnis karena belum ada urusan lain yang memerlukan perhatianku. Syukurlah
    selama ini bisnisku lancar-lancar saja demikian pula perkawinan kami.

    Ketika hendak kupencet bel kuurungkan siapa tahu pintu tidak dikunci. Tadi gerbang depan dibukakan
    oleh pembantu wanitaku karena kebetulan dia pas lagi mau keluar untuk membuang sampah.

    Setelahnya dia kembali ke kamarnya yang terletak di samping kiri bangunan utama. Pembantu-pembantuku
    kubuatkan kamar di luar. Ukuran rumahku cukup besar dengan masih ditambah tanah yang lumayan luas yang
    kubuat menjadi taman hampir mengelilingi bangunan rumah kecuali sisi kiri karena kepotong kamar-kamar
    pembantu dan jalan samping. Dari gerbang depan ke pintu kira-kira mencapai 25 meter.

    Benar, pintu tidak dikunci dan aku masuk dengan senyap demi membikin isteriku kaget. Aku suka sekali
    dengan permainan kaget-kagetan begini. Biasanya isteriku suka terpekik lalu menghambur ke pelukanku
    dan dibarengi dengan ciuman bertubi-tubi.  Agen Obat Kuat Pasutri

    Itulah santapan rohaniku. Dan itu sering terjadi karena aku sering bepergian dalam waktu lama pula,
    rekorku pernah sampai 3 bulan baru pulang. Pada awal perkawinan kami tidaklah demikian, namun 5 tahun
    belakangan ini yah begitulah. Dampaknya adalah kehidupan seks kami mulai menurun drastis frekuensinya
    maupun kualitasnya.

    Kali ini aku menangkap suasana lain. Memang biasanya sebelum pulang aku memberitahukan isteriku bahwa
    dalam 2 sampai 5 hari bakal pulang. Sengaja kali ini aku tidak memberitahu agar lebih dahsyat
    pekikan-pekikan kangen isteriku itu.

    Di ruang tamu TV menyala agak keras. Lalu aku menuju dapur mengendap-endap siapa tahu isteriku di sana
    dan sekalian mau mengambil air putih. Tidak ada. Ah mungkin lagi tidur barangkali di kamar pikirku.

    Kuletakkan tas koperku di atas meja makan lalu aku mengambil sebotol air dingin di kulkas. Kuletakkan
    pantatku di atas kursi sambil minum. Kuambil sebatang rokok lalu kunyalakan. Ada sekitar 5 menit
    kunikmati asap-asap racun itu sebelum akhirnya kuputuskan untuk naik ke lantai 2 di mana kamar tidur
    kami berada.

    Pelan-pelan kunaiki tangga. Pelan sekali kubuka pintu, namun hanya seukuran setengah kepala. Aku ingin
    mengintip kegiatan isteriku di kamar spesial kami. Apakah lagi lelap dengan pose yang aduhai. Ataukah
    lagi mematut diri di cermin. Ataukah lagi.. Upss!! Berdebar jantungku.

    Cerita Sex Desahan Kenikmatan

    Cerita Sex Desahan Kenikmatan

    Dalam keremangan lampu kamar (kamar lampuku bisa disetel tingkat keterangannya sedemikian rupa)
    kulihat ada 2 manusia. Jelas salah satu sosoknya adalah isteriku, mana mungkin aku pangling. Dia lagi
    mengangkangi seseorang.

    Posisi kepalanya nampak seperti di sekitar kemaluan lawannya. Perasaanku mulai dilanda kekacauan.
    Sulit kudefinisikan. Marah. Kaget. Bingung. Bahkan penasaran.

    Apa yang sedang berlangsung di depan mataku ini? Kepala isteriku nampak naik turun dengan teratur
    dengan ditingkahi suara-suara lenguhan tertahan seorang pria yang menjemput kenikmatan seksual.

    Mungkin saking asiknya mereka berolah asmara terkuaknya pintu tidak mereka sadari.
    Tiba-tiba perasaan aneh menjalari diriku. Darahku berdesir pelan dan makin kencang. Rasa penasaranku
    sudah mulai dicampuraduki dengan gairah kelelakianku yang membangkit.

    Ini lebih dahsyat ketimbang menonton film-film bokep terpanas sekalipun. Kesadaran diriku juga lenyap
    entah kemana bahwa yang di depan mataku adalah isteriku dengan pria yang pasti bukan diriku.

    Sekarang aku lebih ingin menyaksikan adegan ini sampai tuntas. Kontolku mulai mengejang. Posisi mereka
    mulai berbalik. Isteriku mengambil posisi di bawah sementara lawannya ganti di atasnya. Persis sama
    seperti tadi hanya saja sekarang kelihatannya memek isteriku yang dijadikan sasaran. Aku semakin
    ngaceng.

    “Ohh.. Sshh…” suara desisan isteriku berulang-ulang.

    Telaten sekali si pria (aku sudah menangkap sosok lawannya dengan jelas adalah pria) sehingga isteriku
    mulai bergerak meliuk-liuk dan menengadahkan kepalanya berkali-kali.

    “Uuhh.. Eehhss.. Teruss jilatthh.. Pak Minnh.. Ahh.. Uffh..”.

    Plong rasa dadaku demi akhirnya menemukan identitas sang pelaku pria. Pak Aryo pembantu priaku yang
    tua itu.

    Wah.. Wah.. Pantesan tadi aku agak mengenali sosoknya. Belum sempat aku banyak berpikir kesadaranku
    disedot kembali oleh suara-suara kesetanan isteriku dari hasil kerja persetubuhan itu.

    “Yyaahh.. Teruss.. Teruss.. Aahh.. Tusukk.. Tuussuukkhin liidaahhmu Pak.. Yaahh beegittu.. Oohh..”
    Semakin binal kepala isteriku tergolek sana sini. Nampaknya dia sudah berada di awang-awang
    kenikmatan. Aku juga semakin dilanda gairah sehingga tanpa sadar tanganku mulai meremas-remas burungku
    sendiri.

    “Ahh…”

    Ah isteriku akhirnya jebol juga. Aku tahu itu. Tapi nampaknya Pak Aryo masih meneruskan aktivitasnya.
    Sebentar kemudian kaki isteriku diangkatnya ke kedua bahunya yang bidang dan kekar itu (meskipun sudah
    tua tapi tubuh pembantuku masih gagah akibat pekerjaannya yang secara fisik membutuhkan kekuatan).

    Dimainkan jari-jarinya di liang memek isteriku. Lenguhan-lenguhan isteriku kembali terdengar. Semakin
    kencang kocokan jari Pak Aryo pada memek isteriku. Dengan menggelinjang mengangkat-ngangkat paha
    isteriku kembali dibuat mabuk kepayang.

    Akhirnya kulihat batang kemaluan Pak Aryo sudah diarahkan ke lobang kemaluan isteriku. Busseett gede
    juga nih punya si tua bangka. Semakin menggelegak gairahku ketika membayangkan bagaimana memek
    isteriku akan dihujami oleh benda sebesar itu.

    Bless. Masuk. Gleg ludahku tertelan.

    “Oohh.. Eyaahh.. Eenaakk.. Paakk..”.

    Pelan-pelan dipompanya memek isteriku dengan godam si Pak Aryo. Mulai menggila kembali goyangan pantat
    isteriku melayani rangsekan-rangsekan si batang besar itu.

    “Geennjoott.. Yaahh.. Genjoott.. Oohh.. Ennakk Banngeett.. Oohh..”

    Aku menyaksikkan tubuh isteriku terhentak-hentak naik turun akibat sodokan-sodokan yang bertenaga itu.
    Tangan Pak Aryo tak tinggal diam menyenggamai buah dada isteriku yang telah menjulang tegak.

    Wuuhh gila, dahsyat sekali pemandangan yang kusaksikan ini. Setelah hampir 10 menit diangkatlah tubuh
    isteriku dan dibalikkannya menjadi posisi menungging.

    Gaya anjing rupanya dikenal juga oleh Si Tua ini. Kembali liang memek isteriku dihunjam dari arah
    belakang. Konsistensi gerakan kontol yang maju mundur itu beserta lenguhan-lenguhan isteriku semakin
    mengobarkan hasratku.

    “Ahh.. Aahh.. Ssooddooghh.. Kuaatt.. Kuat.. Paakkhh, oohh.. Giillaa..”

    Pompaan Pak Aryo semakin lama dibuat semakin bertenaga dan semakin cepat.

    “Oo hh.. Yaa.. Beggiittuu.. Teruss.. Paakkhh..”

    Kupikir bakalan selesai eh ternyata isteriku sekarang disuruh berdiri, Pak Aryo menyetubuhinya sambil
    berdiri. Tanpa sadar aku menoleh ke lantai bawah ternyata si Pembantu Wanita memergokiku sedang
    mengintip. Karena jengah atau bagaimana Mrs. Aryo merona mukanya lalu menyingkir ke belakang dengan
    tergesa. Pembantuku adalah suami isteri.

    “Yaahh.. Terruuss.. Mauuhh.. Keelluaarr.. Nihh Paakkh..”

    “Aku sebentar laggii.. Juuggaa.. Ibbuu..”

    “Baarrenng.. Yaahh.. Paakkh.. Ohh.. Ohh.. Yaahh.. Uuddaahh”

    Sambil mengejang-ngejang keduanya melepas energi terakhir dan terbesar yang disertai ledakan
    kenikmatan luar biasa. Pak Aryo akhirnya jebol juga pertahanannya. Begitu adegan selesai aku dengan
    perlahan sekali menutup pintunya. Kuturuni perlahan tangga menuju dapur kembali.

    Celanaku masih padat mnggembung tak terkira. Aku senewen ingin menuntaskan hasratku.
    Ketika sampai dapur kulihat Mrs. Aryo sedang duduk termangu. Kami saling menatap dalam keadaan bingung
    dan resah.

    Kudekati dia ketika mulai terisak-isak meneteskan air mata, ingin kutenangkan hatinya. Mungkin
    kejadian tadi telah berulang kali berlangsung selama aku tidak di rumah.

    “Sudah sering kejadianya Mbok?” tanyaku. Dia mengangguk.

    “Maafkan isteriku yah”

    Entah kenapa tiba-tiba mata kami bertatapan kembali. Selama ini dia tidak berani menatapku. Kali ini
    mungkin dia sedang kesepian dan masygul hatinya.

    “Ayo ke kamarmu Mbok.”

    Hasratku masih tinggi dan harus dituntaskan. Kami saat ini sedang masuk dalam situasi kejiwaan yang
    membutuhkan pertolongan satu sama lain. Plus gairah buatku. Ketika sampai kamarnya yang agak sempit
    itu, kusuruh dia duduk di ranjang.

    Kupegang tangannya dan kuelus. Sosok wanita ini sebenarnya tidak terlalu buruk. Kulit terang meskipun
    tidak semulus isteriku tapi lumayan bersih. Tinggi sedang dan hebatnya perut tidak terlalu melambung.

    Tetek cukup besar setelah kusadari saat ini. Dia selalu memakai kebaya dan kain.
    Kepalanya ditimpakan di dadaku. Meskipun dia lebih tua dari aku namun dalam kondisi begini dia
    memerlukan kekuatan dari dada laki-laki. Kubiarkan meskipun dibarengi aroma bumbu dapur.

    Tapi tidak terlalu menyengat. Rambutnya otomatis megenai hidungku. Bau minyak rambut Pomade menyergap
    hidungku. Kucium-kucium dan kuendus-kuendus. Kujalari menuju ke telinga. Diam saja. Ke lehernya. Malah
    terdengar ketawa kegelian. Mulai kuusap lengannya.

    Semakin erat dia mendesakkan tubuhnya ke diriku. Sambil mengusap lengan kanannya naik turun sengaja
    kurenggangkan jariku sehingga menyentuh tipis teteknya. Terus kuulang sampai akhirnya kepalanya mulai
    bergoyang.

    Lalu kuelus langsung teteknya. Gemas aku. Dia mulai mendesah. Kuremas-remas lembut. Mulai melenguh.
    Kubaringkan. Menurut saja. Kubuka bagian dada dari kebayanya. Memang besar miliknya. Kuning agak pucat
    warnanya. Kuhisap-hisap. Menegak-negak kepalanya.

    “Ehhmm.. Eehhf..”

    Kusingkap kainnya dan kuelus pahanya.

    “Ehh.. Ehhshs..”

    Kuselusupkan tanganku jauh menuju pangkal pahanya. Kuusap-usap gundukannya.

    “Ehhss.. Ehhss.. Oohh…” tergolek kanan kiri kepalanya.

    Kutindih dia dengan mengangkangkan kakinya. Mulai kuselusuri dari tetek sampai leher kanan kiri dengan
    lidahku.

    “Oohh.. Paakk.. Oohh..”

    Kurenggut bibirnya yang tebal dengan bibirku. Kumasukkan lidahku menjangkau lidahnya. Pada mulanya
    pasif. Lalu dia mulai mengerti dan kami saling beradu lidah dan ludah. Berkecipak suara kuluman kami.
    Kutekan-tekan bagian bawah diriku sehingga tonjolan burungku menggesek wilayah memeknya. Mengerinjal
    pantatnya.

    “Esshh.. Ehhss.. Oohh…” desahnya berulang-ulang.

    Kami berdiri untuk melepas baju masing-masing setelah kubisikkan keinginanku. Kuamati dari ujung
    rambut sampai kaki. Keteknya dibiarkan berbulu, ah sensasional sekali. Baru kali ini kulihat wanita
    membiarkan keteknya berbulu. Isteriku licin sekali. Jembut mememknya lebat sekali dan cenderung tidak
    rapi. Luar biasa. Karena hasratku yang sudah tinggi sejak tadi langsung kugumul

    Dia dan menjatuhkannya di ranjang. Kujilati kembali mulai dari kening, leher, pipi, tetek, ketek (di
    sini aku berlama-lama karena penasaran sekali dengan rasa bulunya), perut dan memeknya. Kumainkan
    lidahku memutari labia mayoranya.

    “Oohh.. Paakk.. Ohh..”

    Dipegangi kepalaku dan ditekan-tekannya sesuai keinginannya. Kumasuki klitorisnya dengan lidahku. Aku
    tidak jijik kali ini. Hasratku yang menggila telah mengalahkan kebiasaanku selama ini.
    “Esshh.. Ahhss.. Esshh.. Oohh.. Mmass..”

    Dia memanggilku Mas berarti kesadarannya mulai kaca balau. Kuremas pantatnya sebelum akhirnya
    kujebloskan kontolku ke memeknya yang telah banjir bandang itu.

    Kupompa maju mundur tanpa tergesa. Yang penting bertenaga dan merangsek ke dalam. Menggeliat-geliat
    kayak cacing kepanasan si Mrs. Aryo ini. Semakin dikangkangkan pahanya. Kupegang ujung telapak kakinya
    sambil aku terus menyodokinya.

    “Yaahh.. Teruss.. Yangg dalaam .. Masshh.. Ohh.. Ennaakk banngeetts.. Shh.”
    Kubaringkin miring lalu kulipat kaki kanannya ke depan dan kuhujami memeknya dari belakang. Kami
    bersetubuh dalam posisi berbaring miring (kebayangkan?).

    Kuubah posisi menjadi dog-style. Namun dia telungkup sehingga tingkat penetrasinya lebih maksimal.
    Benturan-benturan dengan pantatnya yang bulat membuatku gemas. Kugenjot sedalam-dalamnya memeknya yang
    rimbun itu.

    “Yaahhss.. Ehhssh.. Oohhs…” begitu terus erangnya sambil membeliak-beliak.

    Akhirnya setelah 23 menit kami menegang bersama dan mencurahkan cairan masing-masing berleleran di
    dalam memeknya. Cairan miliknya sampai tumpah ruang merembes keluar memeknya, punyaku juga demikian
    saking tidak tertampungya semprotan maniku.

    Kubiarkan kontolku masih terbenam sambil aku tetap menindihnya. Aku jilatin lagi leher dan pipinya
    sampai kontolku sudah lemas tak berdaya.

    Tanganku masih aktif bergerilya mengusapi buah kembarnya yang masih mengencang. Kujilat-jilat dan
    kuhisap-hisap. Keringat kami campur aduk membanjiri spreinya yang sudah agak kusam itu.

    Sejak saat itu bila aku pulang dari bepergian maka aku mengunjungi Mrs. Aryo terlebih dahulu untuk
    bersetubuh di kamarnya baru masuk rumah setelah maniku terhambur ke memeknya yang mudah basah itu.
    Malah boleh dikata sudah tidak pernah lagi menggauli isteriku sendiri.

    Suatu kali Pak Aryo memergokinya ketika mau ambil rokok, namun aku cuek saja kepalang lagi hot, tapi
    dia mafhum saja. Toh ibaratnya kami seperti tukar pasangan. Pernah terbersit di kepalaku untuk
    melakukan sex party berempat. Tapi gagasan itu belum terlaksana, karena aku masih merasa risih kalau
    rame-rame begitu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Bertemu Cewek Super Sexy Di Tempat Fitnes

    Cerita Sex Bertemu Cewek Super Sexy Di Tempat Fitnes


    1347 views

    Perawanku – Cerita Sex Bertemu Cewek Super Sexy Di Tempat Fitnes, Nama saya Mike ini cerita nyata gue, badan saya atletis ya karena sering fitnes, disini saya akan menceritakan kisah gue sama pacar saya Nelly umur lebih muda dari gue, kesamaan dari kita suka suka fitnes, Nelly dengan badan yang ramping , tinggi, pasti semua cowo yang melihat pacar gue waktu dia fitnes matanya pasti tidak kedip, ya dikarenakan supersexi lah,,

    Disuatu ketika waktu mau fitnes kita berdua mau join ke salah satu klub fitness di sebuah hotel berbintang. Tapi pada saat pendaftaran, kita registrasinya masing-masing sehingga tidak ada yang tau kalo sebenarnya kita itu adalah pasangan. Pada hari pertama kita mulai fitness, gue datang 20 menit lebih awal dibanding Nelly. Gue ganti baju, langsung mulai pemanasan. Saat selesai pemanasan, datanglah Nelly, dia langsung ke kamar ganti untuk bersiap-siap. Gue sudah duduk di sepeda dan memulai latihan. Tampak dari cermin di depan gue, Nelly keluar dari kamar ganti. Sexy banget… dia pakai baju senam model bh yang tipis berwarna biru tua dan hotpants berwana biru muda.

    Samar-samar terlihat putingnya yang menapak dan garis thong di pantatnya. Semua orang yang berada di tempat fitness itu, baik cowo maupun cewe, semua terbengong sesaat. Pasti di pikiran mereka yang cowo, buset nih cewe dari mana, koq ga pernah keliatan, berani banget pake bajunya… Kalo yang cewe pasti berpikiran sirik melihat Nelly. Memang perut Nelly yang rata membuat para cewe lainnya pasti iri.

    30 menit sudah berlalu, baju Nelly sudah mulai basah, putingnya terlihat jelas, garis thong nya sudah mulai jelas menapak. Hampir semua cowo yang lagi fitness di situ melihat ke arah Nelly. Walaupun sambil angkat beban, treadmill dan minum, mereka semua curi-curi melihat Nelly. Ada beberapa cowo berusaha menarik perhatian Nelly, ada juga yang nekat langsung mengajak kenalan. Nelly menanggapinya dengan santai, bahkan berkesan memberi angin kepada cowo-cowo itu. Gue ngelihat dari jauh sambil ketawa dalam hati dan bangga… memang cewe gue itu sexy banget, terbukti dengan kelakuan cowo-cowo itu terhadap Nelly.

    Nelly sedang bersiap untuk sit up, ada instruktur cowo yang membantu memegangi kakinya Nelly. 20x sit up rupanya sudah membuat Nelly tambah berkeringat, tambah kelihatan putingnya, instruktur itu sambil menghitung juga melihat ke arah dada Nelly. Dari jauh gue bisa melihat tonjolan di selangkangan instruktur itu mulai membesar. Pada saat Nelly bangun setelah sit up, thongnya ketarik ke atas, jadi dari belakang jelas terlihat thong hitamnya diatas celana. Pemandangan ini membuat semua cowo yang ada di situ, termasuk gue langsung ngaceng. Nelly selesai fitness lebih dulu dari gue, sambil berjalan meninggalkan ruang fitness, Nelly memandangan sekilas semua cowo dan cewe yang ada di situ dengan senyuman binalnya, dan setelah dia keluar ruangan fitness, cowo-cowo pada ngebahas tentang Nelly.

    Gue papasan ma Nelly pas mau masuk ruang ganti
    ” Sexy banget kamu say… ” kata gue.
    ” Makasih say… kamu ga jealous kan liat aku td diserbu ma mata cowo-cowo di bawah ? ” kata Nelly sambil ngedipin satu matanya.
    ” Ngga dong say, kan aku seneng ngeliatinnya hehehe… btw, td itu baju tersexy kamu ” tanya gue sambil meremas pantat dia.
    ” Mau yang lebih ? kamu kuat ga nahannya ? ” bisik Nelly sembari mengelus kontol gue.
    ” Nahan apanya nih ? ”
    ” Ga jealous dan kontol kamu ga ngaceng mulu, kan malu ma yang fitness lainnya hehehe… ”
    ” let’s see say… ” tantang aku sambil aku penasaran dalam hati…
    ” Gue ke mobil dulu ya say, kamu mandi dulu sampai wangi, terutama kontol kamu itu harus wangi hehehe… ” kata Nelly sambil meninggalkan gue.
    Secepat kilat gue mandi dan beberes karena kontol gue udah ga bisa nahan… udah napsu banget…
    Sampai di parkiran, Nelly sudah menunggu di mobil sambil mendengarkan house musik.
    ” Say, weekend sekarang kita dugem yuk, dah lama nih kita ga dugem ” ajak Nelly.
    ” Hayu aja Nel, mau dugem di mana ? ”
    ” Mana aja, yang penting house musik dan jangan di room, males say kalo Cuma ber 2 trus di room… ”
    ” Sip… Tar diaturin semuanya, yang penting harus tampil sexy ok ” kataku ambil menjalankan mobil keluar dari parkiran.

    Sampai di apartemen, gue langsung menerkam Nelly… kita kissing dengan hot nya di ruang tamu. Gue tinggal sendirian di apartemen ini, jadi kita bebas ngapa-ngapain juga tanpa ada rasa takut kalo ada yang melihat.

    Sambil kissing, tank top Nelly gue buka, rupanya dia udah ga pakai bh. Sekeliling tokednya gue jilatin, kecuali putingnya. Gue hisap pinggiran toked… yang kiri trus yang kanan…
    ” Ahhh ahhh…. say jilat putingnya juga dong… ahh… sshhshshssss…. ayo dong say, emut putingnya… ” kata Nelly
    Gue ga tanggepin desahannya sampai sekitar 5 menit lidah gue bermain di sekitar toked, baru gue jilat putingnya…
    ” Ahhhhhhhhhh….. ssshshsshsss…. enak banget say…. ”

    Rupanya Nelly juga sudah horny banget, gue jilat toked yang kiri, toked kanannya diremes-remes sama tangan dia sendiri.
    Puas dengan toked, lidah gue mulai turun ke bawah. Gue buka rok mininya, gue lempar entah kemana, tinggal g-string ungu dengan bagian depan transparan. Bulu memeknya ga ada, jadi terlihat jelas garis memeknya yang begitu indah…
    Gue jilat pahanya… paha bagian dalam… gue nunggingin Nelly jadi gue bisa jilatin pantatnya…

    Bagian memek gue jilat sesekali…
    ” Say, memeknya dong, masa ga di jilat ” protes Nelly sambil nungging.
    Gue jilatin tali g-stringnya dr belakang sampai ke memek…
    ” Ugh… enak say… memeknya dong…. “
    Gue buka g-stringnya, terlihat bagian memeknya basah banget.. itilnya udah membesar…
    Masih dalam posisi Nelly nungging, gue jilatin belahan pantatnya… dari anus sampai ke memek…
    “ Ahhhhh…. ssshshhshsssssss…. “

    Memeknya gue tusuk-tusuk pakai lidah, memeknya jadi tambah basah… Nelly ganti posisi terlentang sambil mekangkang, supaya gue lebih leluasa ngejilatin memeknya.
    Tangan Nelly bermain di tokednya sendiri… ngeremes-remes sambil mainin putingnya. Kadang-kadang putingnya di cubit-cubit kecil…
    5 menit gue jilatin itilnya, bibir memek sambil nusuk memek pake lidah, kadang lidah gue turun ke anus… Tiba-tiba….

    Cerita Sex Bertemu Cewek Super Sexy Di Tempat Fitnes

    Cerita Sex Bertemu Cewek Super Sexy Di Tempat Fitnes

    “ Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………. say, nyammmmmpppeeeeeeeeee…. “ teriak Nelly sambil ngeremes kuat-kuat tokednya.
    Gue jilatin semuanya…
    Gue kasih kesempatan Nelly menikmati orgasmenya yang pertama… Mukanya itu lho kl lagi orgasme, sexy banget…
    Nelly mulai lagi dengan membuka semua baju dan celana gue sampai gue bugil…
    Dia mulai cium gue, turun ke leher, dada, trus ke paha gue…
    “ Nel, koq kontolnya di lewatin ? “ protes gue.
    “ Biarin… tadi juga memek gue dilewatin… “ kata Nelly sambil menjilatin biji gue…
    Beberapa menit Nelly ngejilatin biji gue sambil sesekali turun ke anus gue…
    “ Enak banget say… kontolnya di jilat dong…. ”
    Mulai dikit demi dikit lidah Nelly menyentuh pangkal kontol gue…
    Sambil ngejilatin kontol gue, Nelly merubah posisi badannya sambil menungging… Tangan kirinya megang kontol gue, tangan kanannya maenin memeknya sendiri…
    Wah… pemandangan yang napsuin…
    Ada kali 10 menit Nelly ngejilatin kontol gue sambil masukin jari dia ke memeknya sendiri…
    Tiba-tiba Nelly bangun dan duduk diatas kontol gue…
    “ Shhhhsssss……. Ahhhh……… gede banget kontolnya say… Shhhshsssssss…. “ teriak Nelly sambil meringis.
    “ Sempit banget memek kamu… koq bisa gini sih ? “ seru gue.
    “ Ada deh sayyyyyyy…. Ssshhhhsssss…. kan memek ini buat kamu, yang penting kamu suka… Ahhhhh Ahhhh Ahhh… “ kata Nelly sambil menggoyangkan pantatnya…
    Nelly terus menggoyangkan pantatnya… naik turun…. diputer ke kiri… diputer ke kanan… sambil kedua tangannya meremas tokednya…
    ” Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh…….. gue keluarrrrr ahhhh…. ahhhh…. ahhh….. ” teriak Nelly dengan kepala menghadap ke atas…

    Ini yang gue suka dari Nelly kalo ngentot, dia pasti mendesah dengan suara keras, membuat gue makin bernapsu…
    Kita ganti posisi, skg Nelly di bawah, kakinya dalam posisi mekangkang…
    Gue pegang kaki kiri dan kaki kanannya… gue goyang pelan-pelan… Tangan kanan Kelly ngeremes tokednya n tangan kirinya ngelus-ngelus itilnya… Goyangan gue makin lama makin cepet.

    ” Ahhhh… Ahhhh…. Ahhhh……. Ahhhhhhhhhhhhh….. ”
    ” Enak Nel ? ” tanya gue.
    Nelly diem aja, dia lagi menikmati orgasmenya yang ke 3…
    Goyangan gue mulai lagi… makin lama makin cepat…
    ” Nel, gue mau keluar, keluarin dimana say ? “
    “ Siniin kontol kamu say, gue mau emut sampe peju kamu abis…. “
    “ Nel, gue mau keluaaaarrrr ahhhhhhh……. “
    Gue cabut kontol gue dari memek Nelly, langsung gue arahin ke mulut dia. Disambutnya kontol gue dengan hisapan yang tiada henti… sampe mulut Nelly penuh dengan peju gue…
    “ Enak banget Nel, gue sayang ma elo… “
    “ Gue juga sayang ma elo Mike… “
    Akhirnya selesai juga pertempuran kita, tidak terlalu lama, paling hanya sekitar 30 menit. Tapi buat kita lebih penting kualitas daripada lamanya ngentot… Toh hasil yang dicapai maksimal, peju Nelly sudah habis dan kontol gue butuh waktu buat isi tenaga lagi.

    Hari jumat sore adalah jadwal kita fitness… ini adalah waktu yang gue tunggu-tunggu. Pengen tau aja, hari ini Nelly mau pake baju apa buat fitness…
    Nelly sampai di tempat fitness duluan, adalah selisih 1 jam ma gue, soalnya ada gawean yang musti gue kerjain dulu…

    Begitu masuk ke ruangan fitness, gue lihat Nelly lagi ngobrol ma 2 cowo yang biasa latihan di situ. Dari jauh terlihat Nelly menggunakan kaos singlet yang agak kebesaran tapi pendek, udelnya sampe kelihatan, dan pakai hot pants putih. Apa istimewanya ya pikir gue… gue langsung ke kamar ganti dan bersiap untuk fitness. Sampainya di ruang fitness, gue lihat Nelly lagi treadmill… Dari belakang gue bisa ngelihat…

    Hmm, ga pake bh… koq ga ada garis g-string ya ? masa dia ga pake daleman lagi, pikir gue. Gue ambil alat treadmill di sebelah Nelly… Busettt…. Itu toket kemana-mana, dari sampingnya Nelly gue bisa melihat puting dan toked dia dengan jelas. Langsung bereaksi adik gue, untung gue hari ini pake kaos yang agak kebesaran, jadi bagian Kontol gue ga kelihatan, kan malu kalo keliatan ngaceng ma yang lain…

    Nelly selesai treadmill lebih dulu dari gue, dia langsung mau latihan untuk mengencangkan selangkangan. Posisi alat itu berhadapan dengan alat yang untuk latihan bisep. Langsung aja gue berhenti treadmill dan menggunakan alat itu, jangan sampai keduluan ma yang lain. Alat yang buat latihan selangkangan itu cara pakainya adalah, Nelly duduk dng posisi tegak, disebelah luar paha ada beban dan Nelly harus mendorong beban itu dengan cara membuka paha sampai mekangkang, trus di tutup lagi pahanya. Pada saat Nelly membuka pahanya, terlihat dengan jelas garis memeknya di balik hotpants putihnya…
    Edaaaannnnnnnn, nih anak berani bener…, Kontol gue udah kenceng, udah ga kepikiran buat ngencengin otot bisep gue… mata gue terus melihat kearah selangkangan Nelly. Kayanya Nelly juga mulai terangsang, ada noda lendir disekitar garis memeknya… Rupanya Nelly kalo dilihatin bodynya yang sexy, dia ikut terangsang…

    Selesai latihan otot selangkangan, Nelly mulai siap-siap untuk sit up. Dan hari ini yang membantu Nelly sit up adalah Lina, instruktur aerobik di tempat fitness itu. Tinggi Lina sepantaran ma Nelly, perut sama-sama rata, tokednya lebih besah dari pada Nelly. Menurut pengamatan gue, 34b sih ada hehehe… Kulitnya lebih hitam sedikit dibanding Nelly. Sambil megangin kaki Nelly, gue lihat, koq matanya Lina melihat ke arah selangkangannya Nelly, trus kadang-kadang melihat ke arah dada nya Nelly. Mustinya instruktur lihatnya ke muka orang yang di bimbingnya ya…

    Selesai latihan fitness, gue lihat Nelly lagi ngobrol ma Lina, mereka ketawa-ketiwi, entah apa yang diomongin. Gue langsung masuk kamar ganti n segera beberes, gue bbm ( BlackBerryMsg ) in Nelly, gue kasih tau kalo gue nunggu di mobil.Begitu Nelly sampai di mobil, gue langsung nanya ma dia

    ” Tadi ngobrol apa ma Lina ? koq keliatannya seru banget ? “ selidik gue.
    “ Gue ngajak Lina dugem bareng, kan biar seru say “ kata Nelly
    “ Lho, dia tar sama siapa ? ma cowonya ? “ tanya gue sambil penasaran.
    “ Ngga say, cowonya lagi ada kerjaan di singapore, jadi besok dia sendirian aja katanya “
    “ Jadi kita jalannya ber 3 nih ? okeh deh… berangkat… ”

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Si Indah Kunikmati Tubuh Indah Yang Montok

    Cerita Sex Si Indah Kunikmati Tubuh Indah Yang Montok


    1346 views

    Perawanku – Nama saya Indah. Orang biasa memanggil “Iin” atau “Indah”. Aku sekarang baru lulus dari sebuah Universitas di Jakarta.

    Saya adalah seorang wanita yang berparas yah tidak akan mengecewakan bagi siapapun yang memandangnya deh. Tinggi badanku saya 171 cm, berat badan 53 kg, biar langsing tapi aku rajin fitness minimal 2 kali seminggu di Gym, jadi ya kulitku kencang dan mulus, berambut hitam lurus sebahu, bermata hitam kecoklatan, dan kulit saya kuning langsat (yah pokoknya kulit orang Indonesia banget deh!) dan asalnya dari Sunda, di Cicaheum, Bandung! tapi tinggalnya di Daan Mogot, Jakarta. Dan saya masih benar-benar “totally virgin” alias perawan asli ketika hal yang akan saya ceritakan ini terjadi!

    Saya tadinya seorang wanita yang normal, maksud saya sifat seksualitas saya itu normal seperti wanita lainnya, suka sama cowok, apalagi yang keren! Walau sekarang masih senang sama cowok, tapi arah seksualitas saya lebih cenderung ke arah seorang lesbian setelah hal ‘itu’ terjadi, jadi saya simpulkan bahwa saya adalah seorang biseksual!

    Siang itu aku seperti biasa, jalan dari rumah ke kampus, biasa bawa tugas-tugas yang setumpuk dari dosen-dosen yang killer-killer. Setelah kuliah (maklum hanya sebentar, ketika itu hari Sabtu, jadi kuliah yang barusan sebenarnya hanya buat pengganti buat selasanya, karena dosennya tidak masuk!) jadi jam 12.30 sudah bubaran. Aku tuh orang yang paling sering diledekin sama teman-temanku karena hanya punya tampang ‘n body doang, tapi tidak punya cowok! (katanya terlalu mikirin belajar, padahal sih kan memang harus).

    Terus, siang itu karena bete banget habis kuliah, ya aku langsung saja pulang! Tapi ketika sudah hampir sampai di rumah aku kepikiran, lebih baik malam minggu begini menyewa beberapa VCD saja di rental dekat rumahku! Tentang rental itu terus terang aku bilang bagus! Tempatnya cukup besar dan terlihat mewah, dan ber-AC, lagi pula harga VCD sewaannya pun tidak terlalu mahal! Ya sudah deh, aku menyewa film-film itu kalau tidak salah sih aku menyewa 6 film!

    Sorenya ketika aku mau menonton film pertama, telpon rumah berdering memecah kesunyian (maklum orang rumah pada pergi! Papa sama mama lagi pulang kampung ke Bandung, terus adikku yang cowok ikutan camping sama klub pecinta alamnya di Garut). Pokoknya benar-benar sendirian deh. Ya sudah, dengan agak malas kuangkat telepon itu, dan ternyata benar seperti yang kuduga, yang menelpon si Mira (dia hanya tinggal berdua dengan kakeknya ditambah pembantu), sobatku sejak semester satu.  Agen Judi Bola

    “Hallo.., ini Indah ya..? Ini aku, Mira..!” katanya.
    “Hallo.., ya ini aku, ada apa lagi nih, Mir..!” jawabku.
    “Gini, Ndah.. aku lupa kalo Mang Eja (pembantunya) yang megang kunci rumahku, padahal tadi pas dia mau berangkat ke rumahnya (di Karawang) aku taruh kuncinya di tasnya, soalnya kebelet pipis, trus aku lupa deh, dan kuncinya kebawa dia..!” katanya panjang.
    “Duh, Mir.. masih cantik kok udah pikun..!” tukasku enteng.
    “Trus, kamu gimana sekarang..?” tanyaku lagi.
    “Ya tau deh bingung banget nih, dia baru balik lagi pas minggu malem, katanya sih gitu..!” Mira memang nadanya waktu itu lagi kesal dan bingung.
    “Gimana kalo aku nginep di rumahmu aja malem ini, Ndah.. masa aku mau nginep di hotel..?” pintanya dengan nada sedikit memelas.

    Rumahnya si Mira sekitar 1 jam jaraknya kalau ditempuh dari rumahku, akhirnya aku sih boleh-boleh saja, paling tidak ada teman deh di rumah! Masa anak gadis sendirian di rumah, di Jakarta Barat lagi, yang terkenal kriminalitasnya. Begitu tukasku dalam hati.

    “Oke deh, Mir.. gue tungguin..! Ati-ati lu, Mir..!” tukasku ringan.

    Aku menunda menonton VCD itu, karena mau mandi dulu, malu biar sama teman sendiri tapi belum mandi. Ketika jam 16.30 tepat, si Mira datang, waktu itu hujan deras, dia tidak membawa payung, ya sudah deh basah kuyup ketika sampai rumah! Aku kasih tahu tentang gadis yang feminim ini, tingginya sekitar 160 cm deh, tapi masih lebih tinggi aku sedikit, penampilannya persis seperti Putri Solo sekali, langsing singset, kulit putih kekuningan, rambut hitam lurus agak panjang dari rambutku, dan waktu itu dia memakai kemeja krem dengan rok sebetis (agak belah sedikit sampai sepaha).

    Ketika dia datang, aku kebetulan baru saja habis mandi, dan hanya memakai handuk di kepala dan longdress buat pakaian orang habis mandi! Biar begitu juga aku selalu pakai BH dan CD-ku dong! Tidak seperti yang di film-film barat, hanya bahu yang menempel di badan saja! Ya sudah, aku suruh dia masuk dan segera mandi, aku pinjamkan dasterku (dia yang minta karena hanya di rumah saja). Aku berdua Mira awalnya sih biasa saja, sama sekali tidak ada tuh perasaan saling suka (secara seksual) sama dia, hanya memang kami saling mengagumi fisik masing-masing.

    Sehbis dia mandi, kami berdua makan Indomie Rebus hangat yang baru kubikin, sungguh nikmat saat itu, udara dingin ditutupi dengan kehangatan dari Mie itu, mengasyikkan! Malamnya kira-kira jam 19.30 baru deh kami menonton VCD yang kusewa siang tadi, judulnya kalau tidak salah sih Wildthings, nah inilah merupakan faktor yang membuat kami jadi ‘lesbo’. Aku sendiri juga kaget, ternyata di CD keduanya, artis Neve Campbell (tidak disangka juga Neve campbell mau akting bercinta sama cewek) sama artis satunya lagi (sorry, lupa nih) itu saling bermain cinta, walaupun disana juga ada aktornya, jadi mereka bercinta bertiga, 2 cewek dan 1 cowok.

    Awalnya kami sih kaget dan agak jijik, melihat 2 cewek saling bersetubuh bugil begitu, walaupun ada juga prianya. Kami terus terpana melihat adegan bagian itu yang berdurasi sekitar 5-10 menit. Dan terus terang, ketika itu aku merasakan sesuatu yang benar-benar lain merasuki perasaanku, mungkin memang juga sudah naluri seksku dari sananya mungkin, yang cenderung bisa jadi lesbian, jadi aku merasa sesuatu yang aku benar-benar ingin rasakan kelembutan seksual seorang wanita. Terasa sekali hasrat seksualku mulai naik, lalu tanpa sengaja aku memegang lengan kanan si Mira, lalu kutatap dalam-dalam tubuhnya.

    Cerita Sex Si Indah Kunikmati Tubuh Indah Yang Montok

    Cerita Sex Si Indah Kunikmati Tubuh Indah Yang Montok

    Ternyata dia yang selama ini kuanganggap biasa saja terlihat menjadi sangat sensual di hadapanku, benar-benar seorang wanita yang anggun. Kulitnya yang sangat mulus (beneran lho..!) membuatku selalu ingin memegangnya, bahkan sempat terbesit bahwa di malam panjang ini aku harus bercinta dengannya, dan keinginan itu semakin menjadi-jadi ketika adegan di VCD itu antara artis wanitanya saling berciuman bibir dengan sangat lembutya, dan saling menjilati tubuh satu sama lain. Tapi ketika itu si Mira tidak merespon, dia hanya balas memegang jemariku saja, dan tiap sebentar melihatku dengan pandangan yang terus terang sangat menggodaku.

    Nafsu seksualku semakin bertambah, keinginan yang teramat dan amat sangat menimpa diriku kala itu, sepertinya aku mulai merasakan bahwa libidoku naik dengan sangat drastis, tapi aku masih dapat menahannya sambil hanya mengelus-elus tangan Mira dan sesekai rambutnya yang cantik itu. Mulailah kucoba untuk mengalihkan perhatiannya, kumatikan lampu yang terang, dan kunyalakan yang redup (walau masih agak terang juga). Lalu mulai aku memegangi dagunya dan menolehkannya pada wajahku, tersentak dia agak terkejut, sungguh! Wajah Mira membuatku sangat naksir padanya, baru kali itu aku rasakan hal seperti itu.

    Dan hal yang membuatku lebih membuat libido semakin membara ketika Mira mengucapkan kata-kata indah kepadaku.

    “Ya ampun, kalo diperhatikan elu tuh sweet banget lo, Ndah! Bodymu juga sensual banget..!” setika itu pula tersentak nafsu seksualku sangat menggebu.

    Mulailah kututup mulut Mira dengan jemariku, tanganku yang satunya lagi mengelus-elus rambutnya. Perlahan-lahan alam bawah sadarku memerintahkanku untuk mencumbu bibirnya yang manis itu. Lalu kulakukan, kukecup dengan penuh mesra, dan seperti yang kuharapkan, Mira akhirnya juga merasakan apa yang sudah kurasakan sejak tadi. Dia akhirya juga jadi ‘horny’ setelah kuperlakukan seperti itu.

    Serentak kami pindah ke kamarku, sambil sedikit berlarian dan tertawa senang. Sampai di kamarku, aku menggodanya dengan mengatakan,

    “Aku.. aku sungguh suka sama kamu Mira, kamu sangat cantik, ayu, dan baik!”

    Dan tampaknya serentak itu pula Mira mulai merasakan libidonya membara! Kami berciuman bibir, dia jelujurkan lidahnya ke bibirku, kusambut lidah dengan lidahku. Kami bercumbu sangat baik, dengan memainkan lidah dan mengulum-ngulumnya (seperti orang sudah terlatih, padahal sih tidak pernah!).

    Tindakan kami terus berlanjut, sementara kami berciuman, Mira perlahan menarik ke atas dasterku, terus hingga perasaanku sangat nikmat kala itu. Dia meraih CD kremku dan membukanya perlahan-lahan. Kubantu dengan sedikit mengatur selangkanganku, dan terlepaslah CD-ku yang mungil itu. Kubalas dia dengan langsung membuka dasternya dari bawah ke atas, kulihat sekarang Mira hanya mengenakan Bra dan CD-nya, itu merupakan stelan pakaian dalamku, karena punyanya basah terkena hujan.

    Dia mencium leherku terus dan menjilati telingaku, aku tetap meraba-raba perutnya yang sudah terbuka itu sesukaku, sungguh kulit yang sangat indah dari yang penah kurasakan.

    Lalu kucium mesra dan kuhisap-hisap pusarnya, hingga dia benar-benar kegelian dan berkata, “Ohh, Indaahh.. uhmm, terus sayang.. oohh..!” desahnya di telinga kiriku pelan, suara serak basahnya yang membuatku semakin ingin memberikan nafsu juga padanya.

    Suara Mira benar-benar membuatku semakin nafsu, tampak kami sedikit berkeringat karena memang agak tegang melakukan ini.

    Kuhisap dan kujilati keringat yang seperti embun itu di pahanya.

    “Ohh, kamu betul-betul bidadari, Mira sayangku..!” tukasku.

    Tak hanya itu, Mira pun membalas dengan membuka restleting daster di punggungku. Lepaslah busana kami berdua, tinggal bra dan CD yang merekat. Kulihat payudaranya tampak mengeras perlahan-lahan, lalu dia sendiri yang membuka bra-nya secara mendadak. Dengan cepat pula dia lepas CD-nya, dia lakukan semua itu di hadapanku. Lalu dia memutari tubuhku dan menulunkupkanku di ranjang sambil menciumi dan menghisap-hisap leher belakangku.

    Dia melepas bra-ku, terus dia ciumi sampai CD-ku terlepas, dan dia lalu menciumi pantatku yang benar-benar seksi. Dijilati selangkanganku antara lubang dubur dengan pantatku, kurasakan sangat nikmat.

    “Ooohh sayang.. teruskan sayang..! Miraa..!”

    Sungguh kurasakan kenikmatan yang teramat sangat, dan juga mulai kurasakan vaginaku mulai basah sedikit demi sedikit. Mira lantas membalikkan tubuhku, kini kami berhadapan, kami mulai lagi berciuman.

    Mira sengaja menindihku dengan menghimpitkan payudaranya ke payudaraku sambil tetap mencumbuiku. Payudaraku yang berukuran 34C itu semakin mengeras akibat tindihan tubuh Mira yang yang sungguh sensual. Tangan Mira satunya meremas-remas lembut puting susuku, yang satunya lagi ia mainkan dalam liang kemaluanku, kurasakan kegelian dengan kenikmatan yang teramat sangat, hingga hampir tak kuasa aku menahannya.

    “Miraa, oh Mira sayang.. ahh.. ahh.. ahh..”

    Hampir satu jam kami melakukan ini, sungguh terasa begitu cepat. Lalu kami berputar posisi, sepertinya Mira lebih sering nonton film BF dan membaca buku-buku seks dari pada aku, sehingga dia tahu banyak style-style yang memberi kenikmatan.
    “Orang bilang sytle ini 69 sayang..” tukasnya.
    Aku sungguh tergoda ketika selangkangan Mira di hadapanku, kucium-cium dan kujilati duburnya, sungguh aroma parfum dicampur bau kulitnya membuatku semakin terangsang.

    Mira melakukan sesuatu yang membuatku sangat merasakan sesuatu yang paling berbeda di dalam hidupku, dia menuangkan coke ke liang kemaluanku, kurasakan dingin. Tiba-tiba puncak kenikmatan datang ketika Mira menjilati vaginaku, memainkan lidah lembutnya di liang peranakanku, dan meniup-niup kecil disertai gigitan-gigitan halus.

    “Ohh.. ahh.. terus, terus, teruskan sayang..! Oooh.. ah..,” kurasakan itulah puncak kenikamatan yang kudapatkan.

    Walaupun vaginaku basah bercampur dengan coke itu, Mira tetap menjilati dan melalapnya. Oh sungguh membuatku tak kuasa menahan kenikmatan itu!

    Aku memang terkadang sering mencukur rambut-rambut yang ada di sekitar vaginaku, jadi hal itu memudahkan Mira menjalankan aksinya. Begitu juga Mira, vaginanya yang ada di hadapan wajahku kucium kecil, lalu kuhisap-hisap dan kujilati. Aku mencoba mengikutinya, yaitu dengan mengigit-gigit kecil dan memasukkan serta memainkan lidahku di liang peranakannya, oh sungguh memuaskan ketika itu. Mira sampai-sampai berkata,

    “Uuhmmf.. sayang.. oh.. Indaah aahh..!” Agen Judi Bola

    Mira dan aku sungguh sedang merasakan betapa nikmatnya bercinta, itulah pengalama pertamaku bercinta, dengan seorang wanita lagi, begitupun Mira.

    Tubuh kami berkeringat, kami saling menjilati kulit dan menjilati keringatnya yang baunya benar-benar menggoda. Lalu kami bertukar posisi, jujur kami sedikit lelah, Mira berbaring di dadaku, kurasakan lembut payudaranya di tangan kananku, sedang tangan kiriku meremas-remas kecil vaginanya, lagi kami berciuman. Aku dan Mira bersetubuh (kendati sesama wanita) dengan cukup melelahkan, semalaman kami bercinta.

    Mulai jam 10 malam sampai pagi, kami tetap berbugil ria berduaan, saling menikmati tubuh, sedikit kami kurangi frekwensi pergerakan, lebih kepada bergerak slowly! Kemudian kuulang lagi, kucium dan kuhisap-hisap serta kujilati kedua Nipples-nya..

    “Ooh payudaramu benar-benar indah, kendati sedikit lebih menggoda payudaraku..,” katanya.

    Kalau aku tidak salah, kami bercinta sekitar 3 jam, kami lelah, lalu tidur berpelukan berdua. Saling mengeratkan tubuh, tapi Mira tak berhenti mencumbu kening, pipi, serta bibirku.

    Ketika terjaga saat jam 4 pagi, kulihat Mira tidur pulas di lengan kananku, kutolehkan wajahku menghadapnya, kucumbui lagi Mira.., sungguh dia terlihat sangat anggun dalam keadaan bugil dan lelah begitu..! Aku mulai merasakan keanehan timbul, karena malam itu baru saja aku bersetubuh dengan sesama jenis, tapi yang kurasakan adalah kenikmatan yang tiada tara!

    “Oh Miraa, sayang..!” kudaratkan lagi bibirku pada bibirnya sambil kuusap-usap rambut panjangnya.

    Pagi harinya Mira terbangun lebih dahulu. Dia bilang dia sudah bangun jam 7, tapi aku baru bangun jam 7.30 pagi. Ketika bangun, kulihat Mira sedang bugil duduk di kursi di kamarku dengan kedua kakinya diangkat dan ditahan dengan kedua tangannya, sehingga menutupi payudaranya, dia menatapku dengan senyuman manis. Kubalas dengan segera bangun ke hadapannya dan lagi-lagi aku menciumi bibir seksinya.

    Aku berkata, “Mira sayang, terima kasih ya, aku benar-benar ngga tau kenapa malam itu, tapi kamu sungguh hebat..! Aku.. aku mencintai kamu, Mir, sungguh..! Aku benar-benar suka kamu..!” ucapku spontan sambil memandangi matanya.

    “Ah sudahlah, Indah sayanng.. aku ngga menyesal kok, kamu juga sangat hebat semalam, baru kali ini juga aku bercinta, sama kamu lagi!
    “Hihihi.. aku, aku juga cinta kamu, sayang, sungguh..!” aku benar-benar terkejut Mira berkata itu, tapi aku sungguh senang.

    Kini kami sungguh sangat lebih akrab dari sebelumnya, dan kami selalu melakukan persetubuhan (benar-benar bugil) dimanapun kami punya kesempatan, sungguh! Aku sangat menikmatinya begitu juga sayangku Mira! kini mereka (teman-teman kampus) tidak dapat ngeledek bahwa aku tidak punya pacar, atau cuma punya tampang ‘n body saja, tapi tidak punya cowok. Kini aku punya, meskipun satu jenis denganku, dia lah Mira yang sangat kusayangi! Inilah kebiasaan baru kami, juga dengan sering berkata,

    “Sayang, sayang, dan sebagainya!”

    Meskipun tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa kami ini lesbian dan telah beberapa kali bercinta.

    Sekian kisah nyata ini dari saya, hanya untuk berbagi pengalaman. Love you all readers! Indah.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Bercinta ABG Yang Kurang PD dengan Payudaranya

    Cerita Sex Bercinta ABG Yang Kurang PD dengan Payudaranya


    1344 views

    Perawanku – Suatu hari telepon di kantorku berbunyi. Saat kuucapkan “halo”, terdengar suara merdu dari seberang sana. “Siang, bisa bicara dengan Pak Vito?” “Ya, saya sendiri, dengan siapa saya bicara?” “Oh, ini Pak Vito? Pak, ini Herlin dari toko *** ” Aku hanya mengiyakan, aku tahu itu adalah sebuah toko handphone di mall ini.

    Aku mengira dia pasti akan membicarakan masalah operasional, atau komplain tentang pengelolaan gedung ini. Ternyata dugaanku meleset. “Ada yang bisa saya bantu Bu Herlin?” Aku biasa memanggil semua orang dengan sebutan Bu, baik masih muda ataupun sudah berumur, sekedar untuk formalitas. “Saya dengar-dengar cerita tentang Bapak, saya ingin bertemu dengan Bapak, kapan Bapak ada waktu?” “Saya selalu ada waktu Bu, silakan datang kapan saja Anda suka.”

    10 menit kemudian, gadis muda berusia 22 tahun ini telah ada didepanku dan menceritakan segala keluhannya. Dia merasa tidak PD dan minder dengan penampilannya, padahal menurutku dia sudah dalam segala hal, dari wajahnya yang cantik, ukuran tubuhnya sangat proporsional, kulitnya yang kuning langsat tanpa noda, hanya saja dadanya kecil, tapi paling tidak nilai totalnya 8 (menurutku). “Apa yang membuat Ibu berpikir demikian? Saya rasa Ibu sudah memiliki segalanya. Saya yang gemuk gini aja PD kok” Dia tersipu sambil berbisik, “Maaf Pak, tolong jangan panggil saya Ibu, saya masih single, panggil saya Herlin.” Aku mengangguk.”Dan jangan panggil aku Pak, panggil aja Vito.” Dia mengangguk. “Dan.., kamu bisa menyimpan rahasia ngga Vito?” Aku memastikan hal itu kepadanya. Kemudian dia menceritakan, bahwa dia minder dengan dadanya yang berukuran hanya 34A.

    Aku cukup kaget, karena sebelumnya aku tidak pernah menjumpai “pasien” yang mempunyai keluhan seperti ini. “Herlin, jujur saja aku baru pertama kali menghadapi keluhan seperti ini. Kamu pasti tahu kan, kalau selama ini aku hanya menangani pasien pasien dengan keluhan yang ‘lumrah’, Aku ngga tau bisa berhasil atau tidak. Lagipula aku punya istri, gimana aku harus menjelaskan ke istriku?” Herlin mengangguk dan tersenyum, “Aku tidak akan menceritakannya kepada siapapun, aku juga malu kalau sampai orang tahu. Dan aku harap kamu mau mencobanya dulu, kita ngga tau hasilnya kalau belum mencoba dulu kan?” Aku berpikir keras sebelum aku menyanggupinya. Herlin tersenyum dan memberikan kartunamanya kepadaku. “Aku tunggu kamu di rumahku malam ini jam delapan.”

    Jam delapan lewat lima menit aku sudah berada di rumah Herlin. Rumahnya tidak begitu besar tapi terasa nyaman dan sejuk.    Agen Obat Kuat Pasutri
    “Kamu tinggal sendiri di sini?” tanyaku. “Ngga, sama temen-temen, tapi pada punya acara sendiri-sendiri ama pacarnya. Makanya aku nyuruh kamu datangnya hari ini, biar dirumah ngga ada orang. Yuk cepetan, nanti keburu temen-temen pulang” Aku mengangguk dan mengikuti Herlin yang melangkah ke kamarnya.

    Kamarnya didominasi warna pink muda, dingin hembusan angin dari AC terasa di kulitku, membuatku merinding. Dengan malu-malu Herlin membuka kaos dan branya, dan aku menyuruhnya tidur terlentang. Sejenak aku agak grogi karena baru pertama kali melihat tubuh wanita selain istiku setengah telanjang, tapi bagaimanapun aku harus melaksanakan kewajibanku. Aku mulai terapi dengan memijit titik-titik darah yang berada di pundak dan dada atasnya. Setelah kurasa darahnya telah mengalir lancar, aku mulai memijit payudaranya dengan pijitan yang lembut.

    Payudaranya kecil tetapi terasa kencang. Herlin memejamkan matanya dan sesekali mengeluarkan lenguhan dan erangan saat tanganku menyentuh putingnya yang berwarna coklat muda itu. Tak kusadari, adikku mulai berdiri. Bagaimanapun juga, aku sebagai manusia normal tetap bisa terangsang, apalagi berada dalam satu ruangan dengan wanita muda yang cantik setengah telanjang dan aku sedang memijit payudaranya. “Vito.., jangan disitu terus dong mijitnya, geli..” Aku terkejut, tanpa kusadari pijitanku lebih sering berada di daerah sekitar putingnya. “Ha? ehm.. iya.. maaf.” Herlin mungkin melihat wajahku yang memerah, dia tertawa dan berkata, “hi..hi..hi.., kenapa? Kamu terangsang ya..? Ngga pa pa deh, aku juga suka kok.. Cuma agak geli aja..” kata-katanya membuatku semakin gugup. “eh.. kayaknya hari ini cukup dulu deh Lin, mungkin besok bisa diterusin..” jawabku. Herlin semakin ngakak, “Vito.. kamu kok lugu banget sih? Nggak pa pa.. terusin aja.. Kenapa? takut ketahuan istri kamu ya?”

    Cerita Sex Bercinta ABG Yang Kurang PD dengan Payudaranya

    Cerita Sex Bercinta ABG Yang Kurang PD dengan Payudaranya

    Herlin merengkuhku dalam pelukannya dan mencium bibirku dengan lembut. Aku terhenyak, tapi dia kembali menarikku dan memagut bibirku dengan penuh nafsu. Dalam kebingunganku dia berbisik, “Vito.., sudah lama aku menantikan hal ini.., begitu lama aku memendamnya.., aku sayang kamu Vito.. Bercintalah denganku Vito..” Aku cuma bisa duduk diam kayak orang bego. “Aku pikir kamu salah orang Lin.. Kalau kamu pikir aku bisa membuat kamu bahagia, kamu bener-bener salah.. Aku gemuk, eemm.. barangku kecil.. terus.. ekonomiku pas-pasan, dan yang terutama, aku sudah punya istri dan anak.. Kamu becanda.. Kamu pasti becanda kan?” tanyaku tak percaya. Herlin tersenyum manis dan berkata, “Vit, biar kujelaskan dulu.., dari dulu aku memang suka dengan pria yang bertubuh gemuk. Aku ngga peduli barangmu kecil atau apa.. kamu lihat juga dong, susuku kan kecil juga. Aku rela jadi istrimu yang kedua, dan lagian aku kan kerja juga, jadi kamu ngga usah bingung masalah perekonomian..” Jelasnya panjang lebar. Herlin menatap mataku dalam-dalam, seakan ingin menunjukkan ketulusan hatinya. Kupeluk dia erat-erat, Herlin menciumi seluruh wajahku, dan kubalas ciumannya dengan tak kalah bernafsu.

    Herlin membuka satu persatu kancing kemejaku lalu tangannya membelai dada dan perutku dengan lembut. Kurasakan bulu ?bulu halus di sekujur tubuhku berdiri. Sentuhan tangannya begitu lembut. Herlin tidak berhenti, dia memelorotkan celana panjang dan celana dalamku, lalu dengan sigap dia memegang adikku yang sudah berdiri tegak. Barangku memang tidak panjang, bahkan bisa dikatakan ukuran mini. Herlin mulai mengelus-elus adikku dan mengocoknya dengan lembut. Jari-jarinya yang lentik terasa dingin saat menyentuh batang kemaluanku. Aku tak mau kalah, kulepaskan celana pendek yang dia kenakan, dan terlihat dia memakai CD semi transparant sehingga terbayang rerimbunan bulu-bulu yang tidak begitu lebat. Kuelus bukit kemaluannya dari luar CD yang ia kenakan, Herlin melenguh, “oouuhh.. Vito.., aku milikmu..” Aku hisap puting susunya yang telah mengeras, lalu aku mainkan dengan lidahku, kupuntir-puntir dengan bibirku sementara tangan kiriku meremas-remas payudaranya yang satu lagi, dan tangan kananku menyelusup masuk di balik CDnya dan membelai bukit kemaluannya. Perlahan kubuka belahan vaginanya, terasa sekali vaginanya telah basah oleh cairan yang keluar terus menerus dari vaginanya.

    Kumainkan kelentitnya dengan jari tengahku, Herlin mengerang dengan sangat keras, merasakan kenikmatan yang dia terima saat ini. “aauuhh..aahh.. oohh teruuss Viit, teruuss.. Aaahh..” Aku terus memainkan kelentitnya sambil terus menyusu padanya, sementara tangannya masih terus mengocok-ngocok kemaluanku dengan lembut, dan sesekali pegangannya agak mengencang, apabila dia merasakan kenikmatan. Aku tak sabar lagi, jari tengahku aku masukkan sedikit demi sedikit ke dalam lubang vaginanya, spontan dia berteriak dan menarik tubuhnya, “jangan..”

    Aku memandangnya dengan perasaan heran, kemudian dia berbisik di telingaku, “I’m still virgin.., aku ngga mau perawanku hilang oleh jari, aku ingin dengan ini,” katanya sambil mengelus kemaluanku.” Lagi-lagi aku terkejut. Aku tidak menyangka masih ada gadis sekarang yang bisa menjaga keperawanannya sampai usia yang cukup matang. Dan lagi-lagi kebimbangan hadir dalam pikiranku, masa aku harus memerawaninya? “Lin, kamu masih perawan?” tanyaku tak percaya. Dia mengangguk. “Aku ingin memberikan mahkotaku ini kepada orang yang ku cintai. Aku sudah bilang, aku rela menjadi istri kedua. Toh nanti pada akhirnya aku akan memberikannya padamu juga, jadi untuk apa kita tunggu lama-lama?” Herlin mengatakan hal ini dengan mantap.

    Sejenak kemudian dia merebahkan dirinya diatas kasur sambil mengangkangkan kakinya lebar-lebar. “Aku siap untuk menerimamu sayang..” Setelah ia mengatakan ini, aku langsung berlutut di depannya dan kupeluk dia erat-erat. Dia menciumi wajahku dan aku memulai mneggesek-gesekkan batang kemaluanku di lipatan vaginanya. Terasa sekali banyaknya cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.

    Perlahan-lahan kutusukkan penisku ke vaginanya, Herlin memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya. Sedikit-sedikit kudorong penisku, dan kurasakan ada yang sedikit mengganjal, lalu kudorong sekuat tenaga, bleess.. “hheegghh..aauuhh..” Herlin menjerit tertahan, dan terasa ada cairan hangat yang membasahi penisku, mengalir keluar ke pangkal pahaku. Lalu aku perlahan mulai menggoyangkan pantatku maju mundur dan terasa jepitan vagina Herlin di penisku. Herlin mulai merasakan nikmat, terlihat dari nafasnya yang memburu dan desahan-desahannya yang membuat suasana bertambah merangsang. “mmhh..mmhh..aauuhh..oohh.. Vitoo.. teruuss.. auuhh..
    Aduh.. Pelan dikit Vito.. ”
    “Herlin.. oohh.. enak banget sayang.. oouuh.. goyangin pantatnya Lin..”
    “Ooouuhh.. aku ngga tahan Vito.. enak banget.. terus.. aahh.. uuhh.. aku.. aku.. ngga tahan lagi.. aahh..Vito..”
    “Jangan ditahan Lin.., keluarin aja.. ”
    “Vitoo.. Auuhh.. aku sayang kamu Vitoo..”
    seerr..seerr..serr.. terasa hangat di penisku saat Herlin mengalami orgasme.
    Aku tetap menggoyangkan pantatku maju mundur semakin cepat sehingga mengeluarkan bunyi-bunyian akibat gesekan penisku dengan vagina Herlin.
    Creep..creep..creek..clopp.. creek..
    Herlin terkulai lamas merasakan kenikmatan yang baru saja dia dapatkan, aku pun merasa akan mencapai klimaks, “Lin, aku.. mau.. keluaarr..”
    “iyaa.. Keluarin aja.. di daleem..” beberapa detik kemudian, aku memuncratkan seluruh energiku di dalam vaginanya
    creett..creett.. cruutt.. creett.. Beberapa kali spermaku menyemprot di dalam vagina Herlin.

    Aku merebahkan diri di samping Herlin, dan selintas kulihat spermaku bercampur darah perawan Herlin mengalir keluar dari vagina Herlin. Kulihat wajah Herlin begitu damai dengan nafas yang masih agak memburu. Beberapa saat kemudian Herlin membuka matanya dan tersenyum kepadaku, sambil memelukku ia berkata, “Vito, jangan tinggalkan aku yah.. Aku sayang banget sama kamu..” Aku hanya mengangguk pelan, walau di hatiku masih terdapat kebimbangan. Sampai aku menulis cerita ini hubunganku dengan Herlin masih tetap berjalan tanpa ada orang yang mengetahuinya.

    Istriku sempat curiga denganku, tetapi setelah kujelaskan bahwa Herlin adalah rekan kerja, dia percaya dan tidak pernah lagi menanyakan hal ini lagi. Untuk para netters yang ingin berbagi pengalaman dengan saya, silakan kirim imel. Begitu juga bagi para netters yang ingin berkonsultasi mengenai pengobatan alternatif, juga dapat menghubungi saya via imel atau telepon langsung. Terima kasih.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • KEPERAWANANKU HILANG DI TANGAN OB

    KEPERAWANANKU HILANG DI TANGAN OB


    1343 views

    Cerita Sex ini berjudul ” KEPERAWANANKU HILANG DI TANGAN OB ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Kuperkenalkan dulu diriku, aku seorang yang berasal dari keluarga sederhana. Namaku Heri, umurku sekarang 23 tahun,aku akan menceritakan awal mula pertama kali melakukan hubungan badan dengan lawan jenis.

    Saat itu usiaku 18 tahun, aku baru saja lulus dari SMK swasta di kotaku, boleh dikata nilai ijazahku sangat memuaskan,lalu aku melamar pekerjaan ke salah satu perusahaan otomotif terkemuka di negeri ini, disaat aku menunggu panggilan kerja, Om ku datang menawarkan pekerjaan buat aku, katanya ada lowongan di tempat om bekerja, tapi posisinya sebagai OB alias office boy.

    waduuh apes banget gue, begitu ada yang nawarin pekerjaan tapi Cuma sebagai OBpikirku, tapi nggak apa dech, itung itung ngisi waktu buat nunggu panggilan kerja. Dihari pertama aku kerja di tempat om ku, sungguh diluar dugaanku. Ternyata karyawan ceweknya cantik2, banyak lagi. Wah kesempatan nih mumpung aku lagi jomblo, siapa tahu ada karayawati om yang mau sama aku,gumamku.

    Aku melihat salah seorang karyawati yang kuketahui bernama Erly, orangnya cantik, putih, tinggi badan kurang lebih 168 cm, ukuran bra kirakira 36 C ditambah bodinya yang aduhai karena dia giat banget fitness,apalagi pantatnya yang besar,kalau dia lagi jalan.

    pantatnya naik turun yang bikin pikiran cowok yang memandangnya ingin meremas pantatnya,pernah suatu hari aku melihatnya diruang rest room,dia sedang menanggalkan blouse atasnya,saat itu aku liat dia Cuma pakai hem warna putih transparant yang seakanakan terlalu kecil buat dia,seakanakan ada yang nggak muat dibalik bajunya,mungkin karena teteknya terlalu gede kali.

    wah..wah..montok banget nih cewek, aku sudah membayangkan bagaimana kalau aku bisa meluk diapastinya angeeeet banget,Aku mulai cari informasi mengenai dia,apa yang dia suka dan apa yang dibencinya,tiap kali bertemu dia,aku selalu menyapanya..diapun membalas sapaanku..ada kemajuan nih pikirku.

    Selang waktu 2 bulan, keakraban kami bukan lagi sebagai atasan dan bawahan,saat aku main kerumahnya diapun menyambutku dengan ramah.

    Sudah saatnya aku mengungkapkan perasaanku kalau aku sayang padanya.Er aku mau ngomong sesuatu sama kamu,sebenarnya aku sudah lama pengin ngomong inidia jawab

    ngomong aja,aku sebenarnya sayang sama kamu, kamu mau kan jadi pacar aku?lalu dengan ekspresi kaget di jawab Her, berarti selama ini kamu salah tafsir tentang kebaikanku ke kamu,aku Cuma nganggap kamu teman,lagian kedudukan kita berbeda,aku sekretaris kantor sedangkan kamu Cuma OBsaat itu aku bagaikan tersambar petir,bukan masalah aku ditolak, tapi dia sudah menghina aku dengan katakata seperti itu.

    Saatnya aku bikin perhitungan sama dia,nggak masalah aku ditolak,tapi aku harus bikin dia takluk sama akubesok harinya kebetulan dia kerja lembur karena dapat banyak tugas dari om ku,seandainya dia aku perkosa.

    jelas sekali kalau dia akan mengadukan aku ke polisi, tapi kalau aku bius, darimana aku bisa dapat Chloroform?akhirnya aku dapat ide, temenku pernah cerita kalau minuman bersoda bermerek s***** dicampur salah satu obat tetes mata I****,bisa bikin orang teler alias pingsan,segera aku membeli minuman serta obat tersebut.

    Begitu aku sampai kantor, aku campur minuman tadi dengan obat tetes mata dengan dosis beberapa 2 tetes, aku pura2 ngasih sama dia minuman tadi, dengan alasan sebagai permintaan maaf atas kelancanganku dan berharap kita masih bisa temenan, awalnya dia nolak,tapi aku bilang ke dia kalau aku nggak ada maksud lainbiar tidak curiga lalu aku pura2 ijin pulang,tapi sebenarnya aku sembunyi di room direksi,aku intip dia dari ruang itu,

    aku liat dia mulai teguk minuman yang aku kasih tadi,ternyata benar juga,dalam hitungan menit dia langsung jatuh pingsan diatas kursi kerjanya,wah inilah kesempatanku,aku datangi dia lalu aku coba bangunin dia,siapa tau dia Cuma tertidur.aku colek tangannya dia diem,lalu aku colek teteknya.

    dia tetep diemehhh ternyata beneran dia pingsan,dia kusandarkan dikursi,aku jongkok didepannya,lalu aku peluk dia erat2,akhirnya apa yang aku impikan selama ini tercapai,awalnya aku remas teteknya yang gede itu dari luar pakaiannya,wihh kenyal banget pentilmu Er,ooohhhenak banget Erly,

    lalu aku mulai mencium bibirnya yang seksi,aku kulum sampai bibirnya memerah,slurpoh enak bangetslurpslurp, aku mulai turun mencumbu lehernya,lalu melepas blousenya, mulai kubuka kancing bajunya satu persatu,wowwwwtiba tiba aku terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat,

    tetek loe gede banget Er,ini beneran tetek? Kok bias segedesemangka gini???lalu aku lanjutin membuka BH nya,wiiiii what a nice tits babe..aku rasa tetekmu ini lebih dari 36 C,atau mungkin

    tepatnya 39 C, American cup size man..pokoknya malam ini loe harus muasin gue,mulai kukulum putingnya yang berwarna merah muda,dan putingnya yang belum nongol,apa mungkin dia sama sekali belum dijamah sama cowok ya? Pikirku,aku mulai menjilati ujung teteknya, kadang aku gigit sampai ada bekas di teteknya,aku makin bergairah saja,aku remas teteknya yang kenyal banget, habisnya kayak bola karet,he..he..

    kukulum2 sampai putingnya mulai mengeras,lalu aku mulai menjilati pusarnya dan akhirnya kulepas roknya yang seksi itu,Erly aku udah nggak sabar nih,pengin masukin kon***ku ke lubang vag***mu, begitu roknya terlepas dari kakinya,kulihat celana dalamnya yang makin bikin aku bertambah gairah,

    dia memakai tounge Gstring(celana dalam seksi yang kayak tali),yang biasa dipake bule saat berjemur di pantai (kayak yang aku liat di tivi),transparan lagi.aku jilati pahanya yang putih mulus,lalu aku sampai pada ujung pangkal pahanya,mulai kuturunkan celana dalamnya,pelanpelan aku menghayati aksiku,

    aku lihat pemandangan yang luar biasa,vag***nya menggelembung kayak seonggok daging,dan mataku tertuju pada klitorisnya yang sedikit basah kemerahan,dengan ditumbuhi bulu halus disekitar organ kewanitaannya.Waduh harus cepetcepet nih masukin barang gue,udah ngaceng keatas giniaku mulai menjilati dengan ganasnya,lalu aku buka bibir kemaluannya,kujilati terus tanpa henti,

    Erly ini saatnya gue masukin tongkol gue ke vag*** loe,kon*** gue udah nggak tahan nih,aku tanggalkan semua pakaianku,kini kami berdua telanjang tanpa sehelai benangpun,aku geser tubuhnya sedikit lalu aku angkat kaki kanannya..aku tempelkan kon***ku ke vaginanya,mulamula kugosokkan pelanpelan mulai dari bibir atas vag***nya yang sudah basah oleh liurku,ini mana sih lubangnya?

    Susah amat nyarinya,pembaca harap maklum, saat itu aku baru pertama kali ngelakuin yang namanya free sex,begitu ketemu,aku tekan maju mundur dengan pelan2,kok sempit banget pikirkuoke,aku akan paksa kont**ku ngambil perawan loe Er..satu..dua..tiii..gaaaaapreeet..preett,kok kayak ada yang sobek?? Tapi apaan ya,awwwww yeskont**ku dah masuk separuh,

    tapi rasanya ada yang ngilu di pusakaku ini,kayak kejepit pintu..tapi bedanya ini rasanya enak banget,kutarik pelanpelan,kudorong lagi..blesssss..akhirnya kont**ku masuk sepenuhnya,lalu mulai kugenjot dia sampai teteknya yang montok itu bergoyang keatas dan kebawah,Er enak banget memiaw

    loe,udah cantik,putih,montok ditambah memiawmu yang sempit ini,beruntung banget aku.kugenjot dia selama setengah jam,Er gue mau kluar nih,kluarin didalem aja ya.langsung kuluberkan spermaku kedalam vag***nya crooottcroott,ohhhohhh begitu kont** aku tarik keluar,ada bekas noda darah dikemaluanku, juga pada memiawnya,ternyata dia masih perawan ooiiii.

    lumayan ML pertama kali dapet bidadari perawan,setelah istirahat 5 menit,kuangkat dia keatas meja,kutaruh dia dengan posisi tengkurap,lalu aku ent*t lagi memiawnya dari belakang,kuremas teteknya,oohhh..opffhh.yesoh my god(biar kayak di film2 porno gitu),enak erterusin ya sayang,aku lebarkan lagi kakinya dengan posisi badan membungkuk diatas meja,

    kupeluk dia sambil terus meremas toketnya yang yahud,sampaisampai genjotanku terdengar suara..creeek..creeekccreeekaku masih belum puas,lalu kurapikan lagi pakaiannya,mulai dari baju, blouse sampai roknya,tapi tanpa BH dan celana dalamnya,gue akan lebih puas kalau ngent*t loe dengan pakaian utuh,biar kayak karyawan kantor yang lagi ngelakuin affair secara sembunyi,

    lalu aku duduk dikursi,kutaruh dia diatasku dengan posisi membelakangiku,tangan kiriku meremas teteknya dari belakang,sedang tangan kananku menelusup kedalam roknya,aku arahkan lagi rudalku kearah vag***nya,dan bleeessohhhenak banget Erly,oohhhngent*t loe dari belakang sambil megang toket loe,

    oohh..nggak tahan neh Er,gue mau keluar lagi nih.croott..croottlegaaa.aku bangun lagi,lalu aku telentangkan dia dilantai,kubuka lagi kancing bajunya,Erly aku pengin ngent*t toket loe nih.kuhisap dulu pentilmu ya,sluuuurp.sluuuurpsegeeeerr.enaaak banget kalo minum susu dari sumbernya,

    lalu kutaruh ludahku ditengah toketnya yang putih mulus itu,biar licin gitu.kutempatkan kont**ku di situ,kutekan toketnya dari samping kiri kanan biar bisa menjepit kont**ku,mulai ku maju mundurkan rudalku,,wowwwww..what incredible tits honey,I d never felt like this before ( ya iyalaaahh,namanya juga baru pertama kali ngesexnya),

    kont**ku Cuma kliatan helmnya,seakanakan kont**ku tertelan sama toketnya erly,,apalagi saat aku duduk diatas tubuhnya,pantatku terasa angeet banget,dan pahaku terasa bergetar saat terbentur toketnya yang montok dan kenyal itu,makin kupercepat gerakanku,makin terasa nikmatploookplokkplookohhhhaohhhhterusin ya sayang,toketmu bener2 luar

    biasa,sambil aku remas pentilmu yang gede dan putih ini,putingmu aku pelintir ya,biar makin nongol keatas,babe,my sperm want to cum.mau kluar nih saying,udah nggak tahan,croootttcrooot.crooottt.spermaku keluar membasahi wajahnya yang cantik,,thanks honeymalam ini gue benerbener puas,loe udah ngelayanin gue sampai kont**ku nggak sanggup berdiri lagi,

    lalu aku ambil tisu sama air buat bersihin dia,lalu kurapikan pakaiannya seakanakan tak terjadi apaapa,nggak terasa sudah 3 jam aku melampiaskan nafsuku sama erly,saat aku hendak keluar dari ruangan tersebuttibatibaterdengar suara seorang cewek yang memanggilku, mas.

    mas heri bangunudah siang nihmau narik nggak.jam segini masih molor,ooohhh sialan ternyata semua Cuma khayalan mimpiku,aku dibangunin sama istriku yang namanya juga erly tapi jauh banget dari apa yang aku impikan tadi,

    dia gendut, pendek,kulitnya item,ditambah lagi kerjanya sebagai penjual jamu gendong, sedangkan aku sendiri bekerja sebagai tukang becak sekian!!!!!

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Ngentot Gadis Malaysia

    Ngentot Gadis Malaysia


    1342 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Ngentot Gadis Malaysia ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2020.

    Perawanku – Ini adalah kisah nyata yang merupakan pengalaman pribadi saya. Nama saya, sebut saja Andre, dan saya bekerja di sebuah perusahaan multi nasional di Jakarta. Beberapa bulan yang lalu perusahaan saya mengadakan workshop regional di Bali. Workshop diadakan di Hard Rock Hotel selama 4 hari, dan yang hadir kebanyakan dari Singapura, Thailand, Malaysia, Hong Kong dan sebagainya.

    Jumlah peserta sekitar 40 orang, dan selama berlangsungnya workshop kami dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari masingmasing sekitar 8 orang. Karena banyaknya aktivitas yang kami lakukan bersama, otomatis kami jadi kenal dengan baik satu dengan lainnya, terutama rekanrekan yang satu kelompok.

    Di kelompok saya ada satu peserta dari Malaysia, namanya Eileen yang menurut saya sangat cantik. Kulitnya putih mulus dan badannya juga sangat seksi. Dari pertama kenal saya sudah tertarik dengannya, dan saya berusaha untuk dapat lebih dekat dengan dia.

    Karena kebetulan kami menangani bagian yang sama, walaupun dia di cabang Kuala Lumpur dan saya Jakarta, banyak hal yang berkaitan dengan pekerjaan yang dapat kami bicarakan. Sehingga dalam 2 hari kami sudah cukup dekat. Dari pembicaraan yang bersifat pekerjaan, pembicaraan kami sampai juga ke yang bersifat pribadi, dan saya mulai mengenal Eileen lebih jauh.

    Eileen ternyata sudah memiliki pacar di Malaysia, dan rencanya tahun depan dia akan menikah. Terus terang, waktu pertama kali mendengar itu saya kecewa, tapi saya berjanji pada diri sendiri kalau saya tidak akan menyerah begitu saja.

    Karena acara kami setiap harinya berlangsung dari pagi hingga sekitar jam 9 malam harinya, otomatis hampir semua kegiatan kami lakukan di hotel. Palingpaling sore harinya kami keluar untuk berbelanja di sekitar Kuta. Hari Rabu malam (hari ketiga) saya tidak dapat tidur. Dan sekitar jam 11 malam saya menelepon kamar Eileen dan mengajak dia keluar untuk berjalanjalan di pantai.

    Di luar dugaan, ternyata dia setuju dan kami pun kemudian ke pantai Kuta yang terletak persis di seberang Hotel. Kami duduk di tepi pantai yang gelap dan berbicara banyak hal sambil memandangi ombak dan bintangbintang.

    Karena suasana pantai yang sangat romantis, perasaan kami terhanyut dan saya memberanikan diri untuk mengutarakan perasaan saya. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan dan dia mengakui bahwa dia juga suka dengan saya.

    Sekitar jam 1 pagi dia mengajak saya balik ke hotel, karena sudah larut malam dan besok paginya masih ada aktivitas lagi walaupun sudah hari terakhir. Saya ajak Eileen untuk tidur di kamar saya, tetapi dengan halus dia menolak, alasannya dia belum siap karena kami baru saling kenal.

    Besok harinya kami berpurapura tidak ada apaapa di antara kami, dan kami pun bekerja dalam kelompok seperti biasanya. Terus terang saya sudah tidak sabar untuk menunggu malam tiba dan berduaan dengan dia lagi. Karena malam terakhir, kantor kami mengadakan acara makan malam di Nusa Dua dan kami baru kembali ke hotel sekitar jam 10 malam.

    Begitu sampai di hotel, saya tanya Eileen apakah saya boleh main ke kamarnya karena rencananya itu adalah malam terakhir saya di Bali. Eileen dengan rekanrekannya baru kembali ke Malaysia hari Minggu, sedangkan saya rencananya kembali ke Jakarta hari Jumat pagi. Eileen bilang boleh, tapi sekitar setengah jam lagi karena dia mau mandi dulu.

    Saya pun kembali ke kamar, mandi dan menunggu dengan tidak sabar. Sekitar jam 10:30 malam, saya ke kamar Eileen. Waktu itu Eileen baru selesai mandi dan rambutnya masih basah.

    Dia mengenakan baju kaos putih yang panjangnya sepaha dan tidak mengenakan celana pendek lagi. Eileen mempersilakan saya duduk di tempat tidur dan dia lalu ke kamar mandi untuk mengeringkan rambutnya.

    Dari tempat tidur saya dapat melihat dia di kamar mandi, dan malam itu Eileen terlihat sangat cantik. Saya tidak tahan lagi, dan kemudian bangun mendekati dia di kamar mandi.

    Saya peluk dia dari belakang dan Eileen berkata, Wait honey, let me finish first. After Im done Ill give you a night that you wont forget.

    Saya pun kembali ke kamar dan duduk di tepi ranjang. Setelah selesai Eileen keluar dan berdiri di depan pintu kamar mandi. Karena baju kaosnya cukup tipis, lekuk badan Eileen terlihat jelas, dan saya tahu kalau dia tidak mengenakan bra di balik baju kaosnya. Putingnya samarsamar terlihat di balik baju kaosnya yang tipis.

    Saya berdiri dan segera menciumnya dengan penuh nafsu. Ternyata dia juga memberikan reaksi yang sama, dan kemudian saya menggendong dia ke ranjang.

    Have you done it before..? tanya saya.
    No, I havent. My boyfriend asked for it many times, but I always told him to wait until were married.. katanya.
    Dia terdiam sejenak dan kemudian berkata, But I think I want to do it with you tonight..
    Wow, sebuah kalimat yang membuat saya serasa melayang.

    Eileen menyuruh saya tiduran, dan dia mulai melepaskan baju kaos dan celana pendek yang saya kenakan. Saya coba untuk membuka baju kaosnya, tapi dia minta saya untuk tunggu dulu.
    Not that fast, honey.. katanya.
    Eileen kemudian menciumi saya dengan penuh nafsu, dan tangannya dimasukkan ke dalam celana dalam saya, dan mulai memainkan kemaluan saya. Saya sudah sangat terangsang dan segera membalikkan tubuhnya sehingga posisi saya sekarang di atas.

    Saya lepas baju kaosnya, dan di depan saya terpampang pemandangan yang sangat indah. Eileen yang telentang dan hanya mengenakan celana dalam putih transparan terlihat begitu menantang. Bulu kemaluannya yang lebat terlihat dengan cukup jelas di balik celana dalamnya.

    Buah dadanya sangat indah dengan puting yang berwarna coklat kemerahan, sangat kontras dengan tubuhnya yang putih mulus. Saya menjilati putingnya dan Eileen terlihat begitu menikmati.

    Take off your underwear please..! katanya.

    Saya lepas celana dalam saya, dan Eileen kemudian memandangi kemaluan saya yang sudah sangat terangsang. Dia meminta saya tiduran dan kemudian mulai menjilati tubuh saya dari atas sampai kemaluan saya. Sungguh luar biasa, dan Eileen ternyata cukup ahli dalam melakukan oral seks. Pasti dia sering melakukannya dengan pacarnya, pikir saya.

    Saya minta dia berubah posisi, sehingga kemaluannya sekarang persis di atas kepala saya. Saya sengaja tidak melepaskan dulu celana dalamnya karena saya ingin menikmati keindahan ini perlahanlahan. Saya jilati selangkangannya dan sekalisekali menyibakkan celana dalamnya, sehingga kemaluannya yang ditumbuhi bulu lebat itu terlihat.

    Kemaluan Eileen sangat harum karena dia baru saja selesai mandi dan memang kelihatan kalau Eileen orangnya sangat bersih. Beberapa menit kemudian dia berdiri dan melepaskan celana dalamnya. Di depan saya adalah pemandangan yang sangat indah, belum pernah saya melihat wanita secantik Eileen tanpa busana di hadapan saya.

    Lets do it, now Honey.. Im so turn on.. pintanya.
    Eileen pun kemudian merebahkan diri dan membuka kedua pahanya lebarlebar. Saya jilati selangkangannya dan kemaluannya.
    Ah.. ah.. come on.. do it now, I cant stand it anymore..
    Saya tidak menghiraukan dia dan kemudian menyibakkan rambut kemaluannya dan mulai menjilati klitorisnya.
    Ah.. please.. please.., do it now.. please..! pintanya.
    Saya terus jilati klitorisnya, dan suara erangannya menjadi semakin keras tanda kalau Eileen sudah sangat terangsang.

    Sebelum Eileen mencapai puncaknya, saya tarik badan Eileen ke sisi tempat tidur. Kakinya dibuka dengan lebar dan saya mencoba untuk memasukkan kemaluan saya ke vaginanya. Walaupun Eileen sudah sangat basah karena terangsang, ternyata kemaluan saya tidak mudah untuk masuk, karena dia belum pernah melakukan ini sebelumnya.

    Honey.. slowly please.. its painful..

    Senti demi senti saya masukkan kemaluan saya sampai akhirnya masuk dengan penuh.

    Oh.. it feels good.. can you move your body now..? katanya.

    Saya pun mulai menggerakkan pinggul, dan dari kemaluannya saya lihat sedikit darah keluar tanda kalau dia memang masih perawan.

    Yes.. yes.. I like it.., faster please.. faster..! katanya.
    Beberapa menit kemudian saya minta dia untuk merubah posisi, dan kami melakukan doggy style. Ternyata Eileen sangat menikmati posisi ini, apalagi posisi ini juga memudahkan saya untuk memegang buah dadanya yang lumayan besar dari belakang.
    Selang beberapa saat, Eileen mengeluarkan teriakan keras, Ah.. ah.. Im coming Honey.. Im coming..

    Saya tahu kalau Eileen sudah orgasme, dan saya pun terus mempercepat gerakan sampai akhirnya saya juga orgasme. Tentunya saya tidak ejakulasi di dalam vaginanya, karena saya tidak mengenakan kondom, dan saya tidak mau dia sampai hamil.

    Setelah itu kami berdua ke kamar mandi dan mencuci bersih tubuh kami yang penuh dengan keringat dan juga sedikit darah Eileen. Selesai mandi kami berendam di bathup sambil berpelukan. Sungguh nikmat rasanya. Malam itu kami tidak tidur sama sekali dan kami berhubungan lagi 2 kali sampai pagi.

    Pagi harinya Eileen meminta saya untuk tidak kembali ke Jakarta hari itu dan menemani dia di Bali sampai hari Minggu. 2 hari berikutnya saya habiskan waktu berkeliling Bali dengan Eileen dan temantemannya. Sayang sekali saya tidak dapat terus berduaan dengan Eileen karena dari sebelumnya dia sudah janji dengan temantemannya untuk liburan di Bali setelah acara kantor selesai.

    Baru malam harinya kami bisa menikmati waktu berdua dan waktu itu terasa amat singkat dan hari Minggu pagi Eileen sudah harus kembali ke Malaysia dan saya ke Jakarta. Sebelum berpisah kami berjanji untuk tetap akan saling berhubungan melalui telpon dan email dan berharap kami dapat melanjutkan hubungan kami.

    Kami pun terus berhubungan melalui telpon dan email sampai sekitar satu setengah bulan kemudian saya menerima email yang sangat mengejutkan. Eileen meminta saya untuk berhenti menelpon dan menulis email ke dia, karena pacarnya sudah mengetahui affair dia dengan saya, dan dia lebih memilih pacarnya karena beberapa alasan yang terus terang, sangat berat untuk saya terima.

    Susah sekali untuk menerima kenyataan itu, dan saya masih terus mengirim email ke dia. Tidak ada satu pun email saya yang dibalas, sampai akhirnya saya sadar bahwa mungkin Eileen memang bukan milik saya. Mungkin suatu hari saya akan mendapatkan seseorang yang dapat memberikan kebahagiaan dan kesenangan seperti yang telah diberikan Eileen kepada saya.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Nikmatnya Saat Di Mandikan Tante Montok

    Cerita Sex Nikmatnya Saat Di Mandikan Tante Montok


    1342 views

    Perawanku – Cerita Sex Nikmatnya Saat Di Mandikan Tante Montok, Perkenalan namaku Rendi. Aku tinggal dikota S Jawa Tengah, tinggiku 169 cm dan berat badanku 57 kg. Aku saat ini kuliah disalah satu universitas ternama di Jateng. Saat ini aku mau langsung cerita pengalamanku saat aku masih duduk kelas 1 SMP tapi aku masih ingat betul ceritanya.

    Saat aku lulus di SD aku mendapat nilai yang sangat memuaskan. Seperti janji ayahku kalau nilaiku baik aku akan dikirim di luar kota yang pendidikannya lebih baik. Disana aku dititipkan dirumah pamanku, om Hari. Dia orang yang sangat kaya raya. Rumahnya sangat megah tapi terletak disebuah desa pinggir kota. Rumahnya terdapat dua lantai dan dilengkapi juga kolam renang yang lumayan besar.

    Om Hari orangnya sangat sibuk, dia mempunyai istri yang sangat cantik namanya Tante Reni, wajahnya mirip dengan Amara. Dia mempunyai anak yang masih kecil. Tante Reni rajin merawat tubuhnya, walapun dia sudah mempunyai satu anak tubuhnya tetap padat berisi ditunjang dengan payudara yang sangat montok kira kira 34B. Hal itu yang membuatku tertarik akan keindahan serta anugrah dari seorang wanita.

    Sesampainya dirumah Om Hari. Aku memasuki pintu rumah yang besar. Disana aku disambut oleh Om Hari dan istrinya. Om Hari menjabat tanganku sedangkan Tante montok menciumku. Aku agak sungkan dengan perlakuan seperti itu. Pembantu disana disuruh membawakan tasku dan mengantarkan sampai di kamarku. Aku mendapat kamar yang 3 kali lipat dari kamar tidurku dirumah.

    Setelah itu aku berkeliling rumah melihat kolam renang serta sempat melihat kamar mandi yang tak terbayang olehku. Disana terdapat tempat cuci tangan dengan cermin yang besar wc, bathup, dan dua shower yang satu dengan kaca buram sedangan yang satu dengan kain yang diputarkan membentuk 1/4 lingkaran (sorry aku nggak tahu namanya). Tempat itu masih dalam satu ruangan tanpa penyekat.

    Sore hari, aku duduk ditepi kolam. Om Hari datang menghampiriku dia bilang mau pergi keluar kota. Dia juga mohon maaf tidak bisa menemaniku. Kami pun mengantarkan sampai pagar rumah. Setelah itu aku kembali duduk menikmati suasana kolam renang. Tiba tiba dari belakang muncul sosok yang sangat menawan. Tante montok dengan baluatan piyama menghampiriku.

    “Ren kamu suka nggak ama rumah ini”
    “Suka banget Tante, kayaknya aku kerasan banget dengan rumah ini tiap sore bisa renang”
    “Kamu suka renang, yuk kita renang bareng, pas waktu ini udara sangat panas”

    Wahhh kebetulan aku bisa renang ama Tante yang bahenol. Waktu bertemu pertama kali aku cuma bisa membayangkan bentuk tubuhnya waktu renang dengan balutan swimsuit. Tapi ketika dia berdiri. Dia membuka piyamanya. Kontan aku tersedak ketika dia hanya memakai Bikini yang sangat sexy dengan warna yang coklat muda. Model bawahannya G-String.

    “Huhuukkk… Aduh Tante aku kira Tante mau telanjang”
    “Enak aja kamu, Om bilang kamu suka bercanda”
    “Tante nggak malu dilihatin ama satpam Tante, Tante pake bikini seperti ini”
    “Ihh ini sudah biasa Tante pake bikini kadang ada orang kampung ngintip Tante”
    “Benar Tante… Tapi sayang aku lupa bawa celana renang”
    “Ah… Nggak apa apa pake aja dulu celana dalam kamu. Nanti aku suruh bi’ Imah suruh beli buat kamu, yuk nyebur…” segera Tante menyeburkan dirinya. Dengan malu malu aku membuka bajuku tapi belum buka celana. Aku malu ama Tante. Lalu dia naik dari kolam. Dia mendekatiku

    “Ayo cepet… Malu ya ama Tante nggak apa apa. Kan kamu keponakan Tante. Jadi sama dengan kakak perempuan kamu.”

    Waktu dia mendekatiku terlihat jelas putingnya menonjol keluar. Maklum nggak ada bikini pake busa. Aku melirik bagian payudaranya. Dia hanya tersenyum.

    Setelah itu dia kembali menarikku. Tanpa basa basi dengan muka tertunduk aku melorotkan celana dalamku. Yang aku takutkan kepala adikku kelihatan kalau lagi tegang menyembul dibalik celana dalamku. Setelah melepas celanaku langsung aku berenang bersama Tante montok.

    Setelah puas renang aku naik dan segera ke kamar mandi yang besar. Aku masuk disana ketika aku ingin menutupnya, tidak ada kuncinya jadi kalau ada orang masuk tinggal buka aja. Aku segera bergegas tempat dengan penutup kain. Aku tanggalkan semua yang tertinggal ditubuhku dan aku membilas dengan air dingin.

    Ketika hendak menyabuni tubuhku. Terdengar suara pintu terbuka, aku mengintip ternyata Tanteku yang masuk. Kontan aku kaget aku berusaha agar tidak ketahuan. Ketika dia membuka sedikit tempatku aku spontan kaget segera aku menghadap ke belakang.

    “Ehhh… Maaf ya Ren aku nggak tahu kalau kamu ada didalam. Habis nggak ada suara sih”

    Langsung segera wajahku memerah. Aku baru sadar kalau Tante montok sudah menanggalkan bikini bagian atasnya. Dia segera menutupinya dengan telapak tangannya. Aku tahu waktu tubuhku menghadap kebelakang tapi kepalaku lagi menoleh kepadanya.

    “Maaf… Juga Tante… Ini salahku” jawabku yang seolah tidak sadar apa yang aku lakukan. Yang lebih menarik telapak tangan Tante tidak cukup menutupi semua bagiannya. Disana terdapat puting kecil berwarna cokelat serta sangat kontras dengan besarnya payudara Tante.

    “Tante tutup dong tirainya, akukan malu”

    Segera ditutup tirai itu. Dengan keras shower aku hidupkan seolah olah aku sedang mandi. Segera aku intip Tanteku. Ternyata dia masih diluar belum masuk tempat shower. Dia berdiri didepan cermin. Disana dia sedang membersihkan muka, tampak payudaranya bergoyang goyang menggairahkan sekali. Dengan sengaja aku sedikit membuka tirai supaya aku dapat melihatnya. Aku bermain dengan adikku yang langsung keras.

    Kukocok dengan sabun cair milik Tante montok. Ketika aku intip yang kedua kali dia mengoleskan cairan disekujur tubuhnya. Aku melihat tubuh Tante mengkilap setelah diberi cairan itu. Aku tidak tahu cairan apa itu. Dia mengoleskan disekitar payudaranya agak lama. Sambil diputar putar kadang agar diremas kecil. Ketika sekitar 2 menit kayaknya dia mendesis membuka sedikit mulutnya sambildia memejamkan mata. Sambil menikmati pemandangan aku konsentrasikan pada kocokanku dan akhirnya… Crot crot…

    Air maniku tumpah semua ke CD bekas aku renang tadi. Yang aku kagetkan nggak ada handuk, lupa aku ambil dari dalam tasku. Aku bingung. Setelah beberapa saat aku tidak melihat Tante montok di depan cermin, tapi dia sudah berada di depan shower yang satunya. Aku tercengang waktu dia melorotkan CDnya dengan perlahan lahan dan melemparkan CDnya kekeranjang dan masuk ke shower. Setelah beberapa kemudian dia keluar. Aku sengaja tidak keluar menunggu Tanteku pergi. Tapi dia menghampiriku.

    “Ren koq lama banget mandinya. Hayo ngapain didalam”

    Kemudian aku mengeluarkan kepalaku saja dibalik tirai. Aku kaget dia ada dihadapanku tanpa satu busanapun yang menempel ditubuhnya. Langsung aku tutup kembali.

    “Rendi malu ya, nggak usah malu akukan masih Tantemu. Nggak papalah?”
    “Anu Tante aku lupa bawa handuk jadi aku malu kalau harus keluar”
    “Aku juga lupa bawa handuk, udahlah kamu keluar dulu aja. Aku mau ambilkan handukmu.”

    Tante montok sudah pergi. Akupun keluar dari shower. Setelah bebrapa menit aku mulai kedinginan yang tadi adikku mengeras tiba tiba mengecil kembali. Lalu pintu terbuka pembantu Tante montok yang usianya seperti kakakku datang bawa handuk, akupun kaget segera aku menutupi adikku. Dia melihatku cuma tersenyum manis. Aku tertunduk malu. Setelah dia keluar, belum sempet aku menutup auratku Tanteku masuk masih tetap telanjang hanya aja dia sudah pake cd model g-string.

    “Ada apa Tante. Kok masih telanjang” jawabku sok cuek bebek padahal aku sangat malu ketika adikku berdiri lagi.
    “Sudah nggak malu ya…, anu Ren aku mau minta tolong”
    “Tolong apa Tante koq serius banget… Tapi maaf ya Tante adik Rendi berdiri”
    Dia malah tertawa.”Idih itu sih biasa kalau lagi liat wanita telanjang” jawab Tante.
    “Begini aku minta Rendi meluluri badan Tante soalnya tukang lulurnya nggak datang”

    Bagai disambar petir. Aku belum pernah pegang cewek sejak saat itu. Pucuk dicinta ulam tiba.

    “Mau nggak…?
    “Mau Tante.”cerita tante montok
    Segera dia berbaring tengkurap. Aku melumuri punggung Tante dengan lulur. Aku ratakan disegala tubuhnya. Tiba tiba handukku terlepas. Nongol deh senjataku, langsung aku tutupi dengan tanganku

    “Sudah biarin aja, yang ada cuma aku dan kamu apa sih yang kamu malukan.”

    Dengan santainya dia menaruh handukku kelantai.

    “Tubuh Tante bagus banget. Walaupun sudah punya anak tetap payudara Tante besar lagi kenceng”

    Aku berbicara waktu aku tahu payudaranya tergencet waktu dia tengkurap. Dan dia hanya tersenyum. Aku sekarang meluluri bagian pahanya dan pantatnya.

    “Ren berhenti sebentar”

    Akupun berhenti lalu dia mencopot cdnya. Otomatis adikku tambah gagah. Aku tetap tak berani menatap bagian bawahnya. Setelah beberapa waktu dia membalikkan badan ke arahku. Lagi lagi aku tersedak melihat pemandangan itu.

    “Ren Adikmu lagi tegang tegangnya nih kayaknya sudah hampir keluar nih.”

    Lalu dia menyuruh aku mengolesinya dibagian payudaranya. Dia suruh aku supaya agak meremas remasnya. Aku pun ketagihan acara itu disana aku melihat puting berwarna coklat muda lagi mengeras. Kadang kadang aku senggol putingnya atau aku sentil. Dia memekik dan mendesah seperti ulat kepanasan.

    “Ren terus remas… Uhuhh remes yang kuat”
    “Tante kok jarang rambutnya dianunya Tante. Nggak kaya Mbak Ana” aku bertanya dan dia hanya tersenyum ketika tanganku beralih di daerah vagina.

    Ketika aku menyentuh vagina Tante montok yang jarang rambutnya. Aku gemetar ketika tanganku menyentuh gundukan itu. Belum aku kasih lulur daerah itu sudah basah dengan sendirinya. Aku disuruhnya terus mengusap usap daerah itu, kadang aku tekan bagian keduanya.

    “Ren pijatanmu enak banget… Terus…”

    Setelah aku terus gosok dengan lembut tiba tiba Tante montok menegang. Serrr serrr, aku mencari sumber bunyi yang pelan tapi jelas. Aku tahu kalau itu berasal dibagian sensitif Tante. Lalu dia terkulai lemas.

    “Makasih ya atas acara lulurannya. Untung ada kamu. Ternyata kamu ahli juga ya”
    “Tentu Tante, kalau ada apa apa bisa andalkan Rendi”

    Lalu dia pergi dari kamar mandi itu. Aku memakai handuk untuk menutupi bagian tubuhku. Aku mengikutinya dari belakang. Ternyata dia berjalan jalan dirumah tanpa sehelai benang pun. Aku pun segera masuk ke kamar tidur yang dipersiapkan, tenyata ada pembantu yang tadi mengambilkan handuk sedang menata pakaianku ke dalam almari.

    “Den, Rendi, tadi kaget nggak ngeliat ibu telanjang” sebelum aku jawab.

    Dia memberitahukan kalau Tante montok itu suka telanjang dan memamerkan tubuhnya ke semua orang baik perempuan maupun laki laki tapi tidak berani kalau ada suaminya. Pembantu itu juga memberitahukan kejadian yang aneh dia sering renang telanjang dan yang paling aneh kadang kadang ketika dia menyirami bunga dia telanjang dada di depan rumah tepatnya halaman depan, padahal sering orang lewat depan rumah.

    “Sudah ganti sana cd ada didalam almari itu tapi kayaknya anunya den Rendi masih amatir” dia menggodaku.

    Setelah melewati beberapa hari akupun sering mandi sama Tante montok bahkan hampir tiap hari. Semakin dipandang tubuhnya makin oke aja. Itu semua pengalaman saya hidup dirumah Tante Reni yang aduhai. Tapi aku kecewa waktu aku meninggalkan rumah itu. Aku disana belum genap satu tahun.

    Karena harus balik lagi ke rumah karena ayah ibuku bekerja diluar kota dan aku harus tunggu bersama kakakku Ana.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Ketika Tidur Pulas Ku Intip Bibiku

    Ketika Tidur Pulas Ku Intip Bibiku


    1341 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Ketika Tidur Pulas Ku Intip Bibiku ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Kulihat bibi tidur tidak berselimut, karena biarpun kamar bibi memakai AC, tapi kelihatan AC-nya diatur agar tidak terlalu dingin. Posisi tidur bibi telentang dan bibi hanya memakai baju daster merah muda yang tipis.

    Dasternya sudah terangkat sampai di atas perut, sehingga terlihat CD mini yang dikenakannya berwarna putih tipis, sehingga terlihat belahan kemaluan bibi yang ditutupi oleh rambut hitam halus kecoklat-coklatan.

    Buah dada bibi yang tidak terlalu besar tapi padat itu terlihat samar-samar di balik dasternya yang tipis, naik turun dengan teratur.Walaupun dalam posisi telentang, tapi buah dada bibi terlihat mencuat ke atas dengan putingnya yang coklat muda kecil. Melihat pemandangan yang menggairahkan itu aku benar-benar terangsang hebat.

    Dengan cepat kemaluanku langsung bereaksi menjadi keras dan berdiri dengan gagahnya, siap tempur. Perlahan-lahan kuberjongkok di samping tempat tidur dan tanganku secara hati-hati kuletakkan dengan lembut pada belahan kemaluan bibi yang mungil itu yang masih ditutupi dengan CD.

    Perlahan-lahan tanganku mulai mengelus-elus kemaluan bibi dan juga bagian paha atasnya yang benar-benar licin putih mulus dan sangat merangsang.Terlihat bibi agak bergeliat dan mulutnya agak tersenyum, mungkin bibi sedang mimpi, sedang becinta dengan paman. Aku melakukan kegiatanku dengan hati-hati takut bibi terbangun.

    Perlahan-lahan kulihat bagian CD bibi yang menutupi kemaluannya mulai terlihat basah, rupanya bibi sudah mulai terangsang juga. Dari mulutnya terdengar suara mendesis perlahan dan badannya menggeliat-geliat perlahan-lahan. Aku makin tersangsang melihat pemandangan itu.Cepat-cepat kubuka semua baju dan CD-ku, sehingga sekarang aku bertelanjang bulat. Penisku yang 19 cm itu telah berdiri kencang menganguk-angguk mencari mangsa.

    Dan aku membelai-belai buah dadanya, dia masih tetap tertidur saja. Aku tahu bahwa puting dan klitoris bibiku tempat paling suka dicumbui, aku tahu hal tersebut dari film-film bibiku. Lalu tanganku yang satu mulai gerilya di daerah vaginanya. Kemudian perlahan-lahan aku menggunting CD mini bibi dengan gunting yang terdapat di sisi tempat tidur bibi.Sekarang kemaluan bibi terpampang dengan jelas tanpa ada penutup lagi.

    Perlahan-lahan kedua kaki bibi kutarik melebar, sehingga kedua pahanya terpentang. Dengan hati-hati aku naik ke atas tempat tidur dan bercongkok di atas bibi. Kedua lututku melebar di samping pinggul bibi dan kuatur sedemikian rupa supaya tidak menyentuh pinggul bibi. Tangan kananku menekan pada kasur tempat tidur, tepat di samping tangan bibi,

    sehingga sekarang aku berada dalam posisi setengah merangkak di atas bibi.Tangan kiriku memegang batang penisku. Perlahan-lahan kepala penisku kuletakkan pada belahan bibir kemaluan bibi yang telah basah itu. Kepala penisku yang besar itu kugosok-gosok dengan hati-hati pada bibir kemaluan bibi.

    Terdengar suara erangan perlahan dari mulut bibi dan badannya agak mengeliat, tapi matanya tetap tertutup. Akhirnya kutekan perlahan-lahan kepala kemaluanku membelah bibir kemaluan bibi.Sekarang kepala kemaluanku terjepit di antara bibir kemaluan bibi. Dari mulut bibi tetap terdengar suara mendesis perlahan, akan tetapi badannya kelihatan mulai gelisah. Aku tidak mau mengambil resiko, sebelum bibi sadar, aku sudah harus menaklukan kemaluan bibi dengan menempatkan posisi penisku di dalam lubang vagina bibi.

    Sebab itu segera kupastikan letak penisku agar tegak lurus pada kemaluan bibi. Dengan bantuan tangan kiriku yang terus membimbing penisku, kutekan perlahan-lahan tapi pasti pinggulku ke bawah, sehingga kepala penisku mulai menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.Kelihatan sejenak kedua paha bibi bergerak melebar, seakan-akan menampung desakan penisku ke dalam lubang kemaluanku.

    Badannya tiba-tiba bergetar menggeliat dan kedua matanya mendadak terbuka, terbelalak bingung, memandangku yang sedang bertumpu di atasnya. Mulutnya terbuka seakan-akan siap untuk berteriak. Dengan cepat tangan kiriku yang sedang memegang penisku kulepaskan dan buru-buru kudekap mulut bibi agar jangan berteriak.

    Karena gerakanku yang tiba-tiba itu, posisi berat badanku tidak dapat kujaga lagi, akibatnya seluruh berat pantatku langsung menekan ke bawah, sehingga tidak dapat dicegah lagi penisku menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan bibi dengan cepat.Badan bibi tersentak ke atas dan kedua pahanya mencoba untuk dirapatkan, sedangkan kedua tangannya otomatis mendorong ke atas, menolak dadaku. Dari mulutnya keluar suara jeritan, tapi tertahan oleh bekapan tangan kiriku.”Aauuhhmm.. aauuhhmm.. hhmm..!” desahnya tidak jelas.

    Kemudian badannya mengeliat-geliat dengan hebat, kelihatan bibi sangat kaget dan mungkin juga kesakitan akibat penisku yang besar menerobos masuk ke dalam kemaluannya dengan tiba-tiba.Meskipun bibi merontak-rontak, akan tetapi bagian pinggulnya tidak dapat bergeser karena tertekan oleh pinggulku dengan rapat.

    Karena gerakan-gerakan bibi dengan kedua kaki bibi yang meronta-ronta itu, penisku yang telah terbenam di dalam vagina bibi terasa dipelintir-pelintir dan seakan-akan dipijit-pijit oleh otot-otot dalam vagina bibi. Hal ini menimbulkan kenikmatan yang sukar dilukiskan.Karena sudah kepalang tanggung, maka tangan kananku yang tadinya bertumpu pada tempat tidur kulepaskan. Sekarang seluruh badanku menekan dengan rapat ke atas badan bibi, kepalaku kuletakkan di samping kepala bibi sambil berbisik kekuping bibi.

    “Bii.., bii.., ini aku Eric. Tenang bii.., sshheett.., shhett..!” bisikku.

    Bibi masih mencoba melepaskan diri, tapi tidak kuasa karena badannya yang mungil itu teperangkap di bawah tubuhku. Sambil tetap mendekap mulut bibi, aku menjilat-jilat kuping bibi dan pinggulku secara perlahan-lahan mulai kugerakkan naik turun dengan teratur.Perlahan-lahan badan bibi yang tadinya tegang mulai melemah.Kubisikan lagi ke kuping bibi,

    “Bii.., tanganku akan kulepaskan dari mulut bibi, asal bibi janji jangan berteriak yaa..?”Perlahan-lahan tanganku kulepaskan dari mulut bibi.Kemudian Bibi berkata,

    “Riic.., apa yang kau perbuat ini..? Kamu telah memperkosa Bibi..!”Aku diam saja, tidak menjawab apa-apa, hanya gerakan pinggulku makin kupercepat dan tanganku mulai memijit-mijit buah dada bibi, terutama pada bagian putingnya yang sudah sangat mengeras.Rupanya meskipun wajah bibi masih menunjukkan perasaan marah, akan tetapi reaksi badannya tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sudah mulai terangsang itu.

    Melihat keadaan bibi ini, tempo permainanku kutingkatkan lagi.Akhirnya dari mulut bibi terdengar suara, “Oohh.., oohh.., sshh.., sshh.., eemm.., eemm.., Riicc.., Riicc..!”Dengan masih melanjutkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan kedua tanganku bertumpu pada tempat tidur, sehingga aku sekarang dalam posisi setengah bangun, seperti orang yang sedang melakukan push-up.Dalam posisi ini, penisku menghujam kemaluan bibi dengan bebas, melakukan serangan-serangan langsung ke dalam lubang kemaluan bibi.

    Kepalaku tepat berada di atas kepala bibi yang tergolek di atas kasur. Kedua mataku menatap ke bawah ke dalam mata bibi yang sedang meram melek dengan sayu. Dari mulutnya tetap terdengar suara mendesis-desis. Selang sejenak setelah merasa pasti bahwa bibi telah dapat kutaklukan, aku berhenti dengan kegiatanku. Setelah mencabut penisku dari dalam kemaluan bibi, aku berbaring setengah tidur di samping bibi.

    Sebelah tanganku mengelus-elus buah dada bibi terutama pada bagian putingnya.

    “Eehh.., Ric.., kenapa kau lakukan ini kepada bibimu..!” katanya.Sebelum menjawab aku menarik badan bibi menghadapku dan memeluk badan mungilnya dengan hati-hati, tapi lengket ketat ke badan.

    Bibirku mencari bibinya, dan dengan gemas kulumat habis. Woowww..! Sekarang bibi menyambut ciumanku dan lidahnya ikut aktif menyambut lidahku yang menari-nari di mulutnya.Selang sejenak kuhentikan ciumanku itu.Sambil memandang langsung ke dalam kedua matanya dengan mesra, aku berkata, ”

    Bii.. sebenarnya aku sangat sayang sekali sama Bibi, Bibi sangat cantik lagi ayu..!”Sambil berkata itu kucium lagi bibirnya selintas dan melanjutkan perkataanku, “Setiaap kali melihat Bibi bermesrahan dengan Paman, aku kok merasa sangat cemburu, seakan-akan Bibi adalah milikku, jadi Bibi jangan marah yaa kepadaku, ini kulakukan karena tidak bisa menahan diri ingin memiliki Bibi seutuhnya.”

    Selesai berkata itu aku menciumnya dengan mesra dan dengan tidak tergesa-gesa.Ciumanku kali ini sangat panjang, seakan-akan ingin menghirup napasnya dan belahan jiwanya masuk ke dalam diriku. Ini kulakukan dengan perasaan cinta kasih yang setulus-tulusnya. Rupanya bibi dapat juga merasakan perasaan sayangku padanya, sehingga pelukan dan ciumanku itu dibalasnya dengan tidak kalah mesra juga.

    Beberapa lama kemudian aku menghentikan ciumanku dan aku pun berbaring telentang di samping bibi, sehingga bibi dapat melihat keseluruhan badanku yang telanjang itu.”Iih.., gede banget barang kamu Ricc..! Itu sebabnya tadi Bibi merasa sangat penuh dalam badan Bibi.” katanya, mungkin punyaku lebih besar dari punya paman.Lalu aku mulai memeluknya kembali dan mulai menciumnya.

    Ciumanku mulai dari mulutnya turun ke leher dan terus kedua buah dadanya yang tidak terlalu besar tapi padat itu. Pada bagian ini mulutku melumat-lumat dan menghisap-hisap kedua buah dadanya, terutama pada kedua ujung putingnya berganti-ganti, kiri dan kanan.Sementara aksiku sedang berlangsung, badan bibi menggeliat-geliat kenikmatan. Dari mulutnya terdengar suara mendesis-desis tidak hentinya.

    Aksiku kuteruskan ke bawah, turun ke perutnya yang ramping, datar dan mulus. Maklum, bibi belum pernah melahirkan. Bermain-main sebentar disini kemudian turun makin ke bawah, menuju sasaran utama yang terletak pada lembah di antara kedua paha yang putih mulus itu.Pada bagian kemaluan bibi, mulutku dengan cepat menempel ketat pada kedua bibir kemaluannya dan lidahku bermain-main ke dalam lubang vaginanya.

    Mencari-cari dan akhirnya menyapu serta menjilat gundukan daging kecil pada bagian atas lubang kemaluannya. Segera terasa badan bibi bergetar dengan hebat dan kedua tangannya mencengkeram kepadaku, menekan ke bawah disertai kedua pahanya yang menegang dengan kuat.

    Keluhan panjang keluar dari mulutnya, “Oohh.., Riic.., oohh.. eunaakk.. Riic..!”Sambil masih terus dengan kegiatanku itu, perlahan-lahan kutempatkan posisi badan sehingga bagian pinggulku berada sejajar dengan kepala bibi dan dengan setengah berjongkok. Posisi batang kemaluanku persis berada di depan kepala bibi. Rupanya bibi maklum akan keinginanku itu, karena terasa batang kemaluanku dipegang oleh tangan bibi dan ditarik ke bawah. Kini terasa kepala penis menerobos masuk di antara daging empuk yang hangat.

    Ketika ujung lidah bibi mulai bermain-main di seputar kepala penisku, suatu perasaan nikmat tiba-tiba menjalar dari bawah terus naik ke seluru badanku, sehingga dengan tidak terasa keluar erangan kenikmatan dari mulutku.Dengan posisi 69 ini kami terus bercumbu, saling hisap-mengisap, jilat-menjilat seakan-akan berlomba-lomba ingin memberikan kepuasan pada satu sama lain.

    Beberapa saat kemudian aku menghentikan kegiatanku dan berbaring telentang di samping bibi. Kemudian sambil telentang aku menarik bibi ke atasku, sehingga sekarang bibi tidur tertelungkup di atasku. Badan bibi dengan pelan kudorong agak ke bawah dan kedua paha bibi kupentangkan.

    Kedua lututku dan pantatku agak kunaikkan ke atas, sehingga dengan terasa penisku yang panjang dan masih sangat tegang itu langsung terjepit di antara kedua bibir kemaluan bibi.Dengan suatu tekanan oleh tanganku pada pantat bibi dan sentakan ke atas pantatku, maka penisku langsung menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan bibi.

    Amblas semua batangku.”Aahh..!” terdengar keluhan panjang kenikmatan keluar dari mulut bibi.Aku segera menggoyang pinggulku dengan cepat karena kelihatan bahwa bibi sudah mau klimaks.

    Bibi tambah semangat juga ikut mengimbangi dengan menggoyang pantatnya dan menggeliat-geliat di atasku. Kulihat wajahnya yang cantik, matanya setengah terpejam dan rambutnya yang panjang tergerai, sedang kedua buah dadanya yang kecil padat itu bergoyang-goyang di atasku.

    Ketika kulihat pada cermin besar di lemari, kelihatan pinggul bibi yang sedang berayun-ayun di atasku. Batang penisku yang besar sebentar terlihat sebentar hilang ketika bibi bergerak naik turun di atasku. Hal ini membuatku jadi makin terangsang.

    Tiba-tiba sesuatu mendesak dari dalam penisku mencari jalan keluar, hal ini menimbulkan suatu perasaan nikmat pada seluruh badanku. Kemudian air maniku tanpa dapat ditahan menyemprot dengan keras ke dalam lubang vagina bibi, yang pada saat bersamaan pula terasa berdenyut-denyut dengan kencangnya disertai badannya yang berada di atasku bergetar dengan hebat dan terlonjak-lonjak.

    Kedua tangannya mendekap badanku dengan keras.Pada saat bersamaan kami berdua mengalami orgasme dengan dasyat. Akhirnya bibi tertelungkup di atas badanku dengan lemas sambil dari mulut bibi terlihat senyuman puas.”Riic.., terima kasih Ric. Kau telah memberikan Bibi kepuasan sejati..!”Setelah beristirahat, kemudian kami bersama-sama ke kamar mandi dan saling membersihkan diri satu sama lain.

    Sementara mandi, kami berpelukan dan berciuman disertai kedua tangan kami yang saling mengelus-elus dan memijit-mijit satu sama lain, sehingga dengan cepat nafsu kami terbangkit lagi. Dengan setengah membopong badan bibi yang mungil itu dan kedua tangan bibi menggelantung pada leherku,

    kedua kaki bibi kuangkat ke atas melingkar pada pinggangku dan dengan menempatkan satu tangan pada pantat bibi dan menekan, penisku yang sudah tegang lagi menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.”Aaughh.. oohh.. oohh..!” terdengar rintihan bibi sementara aku menggerakan-gerakan pantatku maju-mundur sambil menekan ke atas.Dalam posisi ini, dimana berat badan bibi sepenuhnya tertumpu pada kemaluannya yang sedang terganjel oleh penisku, maka dengan cepat bibi mencapai klimaks.

    “Aaduhh.. Riic.. Biibii.. maa.. maa.. uu.. keluuar.. Riic..!” dengan keluhan panjang disertai badannya yang mengejang, bibi mencapai orgasme, dan selang sejenak terkulai lemas dalam gendonganku.Dengan penisku masih berada di dalam lubang kemaluan bibi, aku terus membopongnya. Aku membawa bibi ke tempat tidur.

    Dalam keadaan tubuh yang masih basah kugenjot bibi yang telah lemas dengan sangat bernafsu, sampai aku orgasme sambil menekan kuat-kuat pantatku. Kupeluk badan bibi erat-erat sambil merasakan airmaniku menyemprot-nyemprot, tumpah dengan deras ke dalam lubang kemaluan bibi, mengisi segenap relung-relung di dalamnya.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Dukun Cabul Yang Menikmati Tubuh Pasiennya

    Cerita Sex Dukun Cabul Yang Menikmati Tubuh Pasiennya


    1341 views

    Perawanku – Cerita Sex Dukun Cabul Yang Menikmati Tubuh Pasiennya, ”Din, setelah 2 orang ibu-anak itu, aku mau istirahat.” ujar Mbah Sukmo dari dalam kamar prakteknya setelah memberikan susuk pada seorang pasien. Samsudin bergegas keluar menghampiri dua pasien berikutnya dan mempersilahkan masuk ke ruang praktek Mbah Sukmo. Mbah Sukmo adalah seorang dukun kondang di daerah Jatim.

    Keahliannya sangat tersohor, dari pelet sampai santet. Dari pengelaris sampai jabatan, dia tiada bandingannya. Ruang prakteknya yang dipenuhi oleh benda-benda pusaka, dan segenap wewangian kemenyan serta sesaji bagi iblis sesembahannya menambah keangkeran dukun berusia 60 tahun dengan jambang lebat memenuhi wajahnya. Pasien berikutnya adalah Nyonya Restuwati dan diantar oleh puterinya Lisa.

    Nyonya Restuwati adalah wanita berusia 45 tahun yang sangat anggun. Dia sengaja datang ke Jawa Timur selain untuk menghadiri resepsi karibnya kemarin, juga mengunjungi Sang Dukun yang sakti mandraguna ini. Sengaja dia minta antar puterinya, karena kesibukan suaminya sebagai pengusaha yang mengharuskan melakukan perjalanan bisnis ke Eropa.

    Jilbab kuning yang membungkus kepalanya menambah kanggunan wanita berparas cantik ini. Di sampingnya adalah puteri sulungnya Lisa yang tercatat sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Menurun dari ibunya, Lisa yang masih 18 tahun ini juga memiliki kecantikan yang tidak kalah dengan Sang Ibu. Gadis ini tampil santai dengan kaos merek Zara yang ketat lengkap dengan jeans hitam yang lekat dengan pahanya yang ramping.

    “Silahkan duduk Nyonya Restuwati dan Dik Lisa….” ujar Mbah Sukmo mempersilahkan kedua pasien terakhirnya ini untuk duduk di karpet tepat di depan meja praktiknya.

    Mata sang dukun yang tadinya lelah sontak kembali berbinar. Amboi, cantik benar 2 makhluk ini. Mulus, berdada montok, dan ah….ternyata tidak cuma mata sang dukun yang berbinar, penis Mbah Sukmo pun ikut memberikan sinyal soal santapan malam yang indah dari dua wanita cantik ini. Belum sempat dua pasiennya menyembunyikan kekagetan dengan kemampuan Sang Dukun menebak nama-nama mereka.

    Mbah Sukmo kembali berujar,

    “Nyonya Restuwati tidak usah kuatir. Nyonya pasti bisa jadi anggota dewan tahun ini….Bukankah begitu yang nyonya inginkan?”
    “Be..benar…Mbah Dukun. Gimana Mbah bisa tahu maksud saya?” tanya Nyonya Restuwati makin kaget sekaligus makin percaya pada kesaktian sang dukun.

    Nyonya Restuwati memang salah satu caleg dari parpol pada pemilu tahun ini. Dan di saat peraturan bukan lagi pada nomor urut, melainkan suara terbanyak, membuat sang nyonya menjadi ketar-ketir.

    “Hahahaha…iblis, setan dan jin mengetahui semua maksud di hati.” ujar Mbah Sukmo bangga.
    “Tapi, ini tidak gampang, Nyonya….” ujarnya lagi.
    “Maksud Mbah Dukun? Bagaimana caranya? Apa saja akan saya lakukan untuk itu Mbah.” ujar Nyonya Restuwati tidak sabar.

    “Aura kharisma Nyonya tertutupi oleh tabir gelap sehingga tidak keluar. Harus ada banyak pengorbanan, dan sesembahan agar itu semua keluar. Tapi itu ada ritualnya, bisa diakali, Nyonya tidak perlu kuatir.” Kali ini Mbah Sukmo mulai ngawur.

    Semua kalimatnya sengaja dirancang untuk mendapatkan keuntungan dari dua wanita cantik ini. “Kamu dan puterimu harus total mengikuti ritual yang akan saya siapkan. Sanggup?” “Sanggup,Mbah” “Dik Lisa sanggup membantu Mama?” tanya dukun yang sedang horny ini pada puterinya.

    “Sanggup,Mbah.” Sahut Lisa demi sang mama tercintanya.

    Mulailah Mbah Sukmo komat-kamit sambil melempar kemenyan pada pembakarannya. Matanya tiba-tiba melotot. Dan suaranya menjadi parau.

    “Kalian berdua ikut aku ke ruang sebelah….Sebelumnya Nyonya minum air dalam kendi ini. Air suci dari negeri jin Timur Tengah.” Mbah Sukmo menyodorkan kendi yang memang disiapkan khusus, dengan rerempahan yang mengandung unsur perangsang yang sangat kuat.

    Niat kotornya sudah mulai dijalankan. Di sebelah ruang praktik utama terdapat gentong besar berisi bunga-bunga aneka macam. Dan sebuah dipan kayu, serta meja kecil di dekatnya. Lebih mirip kamar mandi. Mbah Sukmo menyuruh Nyonya Restuwati masuk mendekati gentong. Dan memberi perintah agar Lisa melihat dari depan pintu ruangan.

    “Kita mulai dengan pembersihan seluruh tabir itu, Nyonya. Rapal terus mantra ini dalam hati sambil aku mengguyur badan Nyonya….Mojopahit agung, Ratu sesembahan jagad. Hong Silawe,Hong Silawe. ” lanjut Sukmo.

    Tangannya mengambil gayung di gentong dan mengguyur pada tubuh Nyonya Restuwati. Air kembang pun dalam sekejap membasahi jilbab dan gamis hitam Nyonya Restuwati. Semakin memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh Nyonya ini yang masih ramping dan terjaga.

    “Edan..ngaceng kontolku rek.” batin Mbah Sukmo.

    Tangannya yang satu bergerak menggosok tubuh yang sudah basah itu. Dari ujung kepalan Nyonya Restuwati yang masih terbalut jilbab kuning, dahi, hidung, bibir, leher, dan merambat ke dua gundukan di dada Nyonya Restuwati. Sempat Nyonya Restuwati terkaget dengan sentuhan tangan kasar sang dukun, tapi buru-buru dia konsentrasi lagi dengan rapalannya.

    “Bagus terus konsentrasi Nyonya. Jangan sampai gagal, karena akan percuma ritual kita…Sekarang lepas baju Nyonya biar reramuan kembang ini meresap dalam kulit Nyonya.” Perintah Mbah Sukmo yang langsung dituruti oleh Nyonya yang sudah ngebet jadi anggota dewan ini.

    Nyonya Restuwati benar-benar telanjang bulat sekarang. Tubuh putih mulus dengan kulit yang masih kencang. Melihat mangsanya dalam kendali, Mbah Sukmo semakin berani. Badannya dirapatkan, agar penisnya menempel di belahan pantat Sang Nyonya yang montok. Jemarinya semakin nakal memainkan puting Nyonya Restuwati. Terus turun ke sela-sela paha Nyonya Restuwati, memainkan vagina Sang Nyonya. Setelah 5 menit, tampak tubuh Nyonya Restuwati bergetar, tanda-tanda bahwa ramuan perangsang sudah mulai bekerja.

    Mbah Sukmo menuntun Nyonya Restuwati ke dipan kayu yang ada di ruangan itu dengan semua letupan birahi yang semakin tidak tertahankan. Perhitungannya, tak lama lagi, Sang Nyonya akan tidak mampu berdiri karena melayang di antara alam sadar dan bawah sadarnya. Setelah membaringkan mangsanya, Mbah Sukmo meneruskan rangsangannya.

    Bibir tebalnya terus mencium seluruh tubuh Sang Nyonya. Wewangian kembang membuat nafsunya semakin tidak tertahankan lagi. Bibir dan lidahnya menyerbu bibir vagina Sang Nyonya. Edan, orang kaya emang beda. Jembutnya aja ditata. Wanginya juga beda, batin Mbah Sukmo sesaat setelah melihat vagina Nyonya Restuwati. Nyonya anggun ini mulai terangsang hebat.

    Tubuhnya menggeliat-geliat setiap sapuan lidah Sukmo memutar-mutar klitorisnya. Pantatnya naik turun seakan ingin lidah Mbah Sukmo tertancap lebih dalam.

    “Eeeemmm….”Desah Nyonya Restuwati penuh kenikmatan.
    “Ini saatnya.” Pikir Mbah Sukmo membuka pakaian dan celananya dengan buru-buru lalu naik ke atas dipan, mengambil posisi di sela paha Restuwati.
    “Apa yang Mbah lakukan pada Mama?”Tiba-tiba semua perhatian Mbah Sukmo terbelah oleh pertanyaan Lisa.

    Iya, ada anaknya yang nonton dari tadi. Beda ama ibunya, Lisa tentu saja masih sangat sadar.

    “Tenang cah ayu. Mamamu harus melakukan ritual tertinggi kharisma asmaradana. Aku harus menyatu lewat persenggamaan untuk membongkar tabir jahat pada Mamamu. Mamamu harus ditolong. Kamu mau pengorbanan Mamamu tidak sia-sia bukan,Nduk?”

    “Iya,Mbah.” “Sekarang diam di situ. Dan bantu perjuangan Mbah dan Mama dengan rapalan tadi….” perintah Mbah Sukmo sambil mengembalikan konsentrasinya pada penisnya yang sudah berdiri tegak.

    Urat-urat penisnya semakin membesar, pertanda sudah sangat siap untuk melakukan penetrasi. Kepala penis Mbah Sukmo yang mirip jamur raksasa berwarna hitam itu kini sudah berada di bibir vagina Nyonya Restuwati.

    Bibir vagina yang sudah basah karena cairan itu merekah saat kepala penis Sang Dukun mulai membelah masuk. Mbah Sukmo mengatur napasnya. Perjuangannya untuk menembus vagina Nyonya satu ini ternyata cukup sulit. Diameter penisnya terlalu besar untuk vagina Nyonya Restuwati. Baru kepala penisnya yang mampu masuk.

    “Aaaaah…seret juga milikmu,Restuwati sayang. penis suamimu payah rupanya. Tahan sedikit ya. Mbah akan beri kenikmatan hebat…” bisik Sukmo pada telinga Restuwati.

    Di lingkarkannya tangan gempal Sang Dukun pada pantat montok Nyonya Restuwati. Dadanya bersandar pada dua payudara Restuwati. Dan dengan hentakan keras, dibantu tekanan tangannya, penis Sukmo melesak masuk.

    “Eeeeemmmphmm,…mm..mm.”Desah Restuwati sambil merem melek. Pengaruh ramuan perangsang plus hentakan tadi rupanya membuat sensasi luar biasa bagi Restuwati.

    Sukmo pun merasa nikmat luar biasa. Dibanding milik istri mudanya pun, milik Restuwati masih lebih legit. Mungkin karena orang kota pandai merawat diri, pikir Sukmo sambil menikmati pijatan vagina Restuwati.

    “Plok…plok…plok…plak…plak…plak..” suara perut Mbah Sukmo bertemu kulit putih Restuwati.

    Sesekali Mbah Sukmo menelan ludahnya sendiri melihat batang besarnya yang hitam pekat keluar masuk vagina Restuwati yang putih mulus. Kontras, menimbulkan sensasi yang luar biasa. “Ooooh…Mbah.” Restuwati mengeluh panjang.

    Tubuhnya mengejang hebat. Orgasme melanda wanita molek ini rupanya, batin Sukmo. Terasa cairan hangat mengalir deras membasahi batang penis Sukmo. Sukmo mengejamkan matanya menikmati sensasi hebat ini. Ia sengaja membiarkan Restuwati menggelinjang dalam orgasmenya.

    “Sekarang saatnya,sayang. Jurus entotan mautku. 6 isteriku sendiri tidak ada yang bisa tahan…”Bisik Mbah Sukmo sambil tersenyum setelah melihat orgasme Restuwati sudah reda.

    Sukmo mulai mempercepat genjotannya. Naik turun tanpa lelah. Pantat Restuwati pun mengikuti irama genjotan Mbah Sukmo. Sesekali sengaja dia tarik penisnya hingga hanya menyisakan kepalanya.

    Membuat pantat Nyonya Restuwati terangkat seakan tidak rela barang besar itu keluar dari vaginanya. Mbah Sukmo menarik tubuh Restuwati hingga mengubah posisi menjadi duduk. Sambil memeluk pinggul Restuwati, Sukmo meneruskan sodokannya.

    Restuwati pun mengimbangi dengan meliuk-liukkan pinggulnya. Gerakan pantat Restuwati membuat penis dukun tua itu seperti diremas-remas. Karena hasratnya yang sudah memuncak. Nyonya Restuwati mendorong Sukmo rebah. Dan kini Nyonya anggun itu mengambil kendali dengan liarnya. Rambut panjangnya terurai berkibar-kibar. Peluhnya membuat kulit putihnya seakan mengkilap.

    “Hong Silawe,…uuuggh…mmm..mmmph…Hong Silawe…aaaaahhh…” Dalam gerakan liarnya pun Restuwati tidak lupa membaca manteranya.

    Mbah Sukmo tersenyum dan menikmati itu sebagai pemandangan yang begitu erotis. Dua tangannya meraih dua payudara Restuwati yang terayun turun naik. Meremasnya dengan gemas. Sesekali tubuhnya terangkat untuk memberi kesempatan bibirnya mengulum dua puting yang menggoda itu. Nyonya Restuwati mengerang dengan hebatnya. Sebuah percumbuan yang hebat ini mungkin baru kali ini dia alami seumur hidupnya.

    “Ooooohh….ooohh…uuuggh.Hong….aaaaah…Silawe..Ratu…j agaaaad…aaaah” Restuwati semakin meracau tak karuan.

    Tubuhnya mulai tak kuasa kembali menahan kenikmatan dahsyat ini. Restuwati terus meliuk di atas tubuh tua Sang Dukun. Pantatnya mengayun dengan irama yang semakin kacau. Dan, kedua tangannya memegang rambut panjangnya.

    “Bagus, sayang…terus rapal.rapal…aaah…rapal..kita sampai bareng, Restuwatiku….hhhhmmpphh..”Mbah Sukmo pun merasakan penisnya mulai berkedut.

    Sambil mencengkram keras pinggul Nyonya Restuwati. Mbah Sukmo membantu mempercepat kocokan dari bawah. Tubuh Mbah Sukmo mulai menegang. Dan sambil bangkit mendekap Nyonya Restuwati, Mbah Sukmo mengeluh keras,

    “Aaaaaaaaagghhh…ghh…Restuwati…” “aaaaagggh….mmmmph…mmmp…aaaaah.”Nyonya Restuwati pun menyambut pelukan Sang Dukun.

    Tubuhnya bergetar untuk kedua kalinya. Rupanya inilah kali kedua Restuwati mendapat orgasme hebat di dipan kayu ini. Badan seksi Nyonya yang anggun ini pun ambruk didekapan Sukmo yang masih merem melek menikmati sisa orgasmenya dari caleg cantik ini.

    Dua-tiga menit ia memeluk Restuwati, membiarkan penisnya menikmati hangatnya liang peranakan Restuwati. Setelah menidurkan Nyonya Restuwati yang kelelahan di dipan, Sang Dukun melepaskan penisnya dari vagina Nyonya Restuwati.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Nafsuku Di Puaskan Oleh Anak Bungsu ku

    Cerita Sex Nafsuku Di Puaskan Oleh Anak Bungsu ku


    1341 views

    Perawanku – Cerita Sex Nafsuku Di Puaskan Oleh Anak Bungsu ku, Bukan salahku bila aku masih menggebu-gebu dalam bersangkutan seks, Sayangnya suamiku telah uzur, kami lain umur nyaris 15 tahun, sampai-sampai dia bukan lagi dapat memberi kepuasan kepadaku. Dan bukan salahku pula lantas aku menggali pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk mengisi hasrat seks-ku yang makin menggebu di umur kepala 3 ini.

    Namun sepandai-pandainya aku berselingkuh kesudahannya ketahuan juga. Suamiku marah bukan kepalang memergoki aku berdekapan dengan seorang lelaki muda seraya telanjang bulat di suatu motel. Dan ultimatum pun terbit dari suamiku. Disinilah kisah ewe ini dimulai.

    Aku dilarang olehnya beraktivitas di luar lokasi tinggal tanpa pengawalan. Entah tersebut dengan suamiku ataupun kedua anakku. Tak sedikitpun aku lepas dari pemantauan mereka bertiga. Secara bergantian ketiganya mengawasiku. Tommy anak sulungku yang baru masuk kuliah bisa giliran memantau di pagi hari sebab dia masuk siang.

    Siangnya giliran Bagus yang duduk di ruang belajar dua SMA, guna mengawasiku. Dan malamnya suamiku kena giliran. Tentu saja kegiatan seks-ku juga terganggu total. Hasratku tidak jarang tak terlampiaskan, akibatnya aku tidak jarang uring-uringan. Memang sih aku dapat masturbasi, tapi tidak cukup nikmat. Dua minggu selesai aku masih dapat menahan diri.

    Sebulan selesai aku telah stres berat. Bahkan frekuensi masturbasiku terus bertambah, hingga pernah sehari 10 kali kulakukan. Tapi tetap saja tak pernah menjangkau kepuasan yang total. Aku masih perlu kemaluan laki-laki!

    Seperti pada pagi hari Senin, ketika bangun pagi jam 8 lokasi tinggal sudah sepi. Suamiku dan Bagus telah pergi, dan bermukim Tommy yang terdapat di bawah. Aku masih belum bangkit dari lokasi tidurku, masih malas-malasan guna bangun.

    Tiba-tiba aku tersentak sebab merasa darahku mengalir dengan cepat. Ini memang kebiasaanku ketika bangun pagi, nafsu seks-ku muncul. Sebisanya kutahan-tahan, namun selangkanganku telah basah kuyup. Aku juga segera melorotkan CD-ku dan langsung menyusupkan dua jari tangan kananku ke lubang kemaluanku.

    Aku mendesis pelan ketika kedua jari tersebut masuk, terus kukeluar-masukkan dengan pelan namun pasti. Aku masih asyik bermasturbasi, tanpa menyadari terdapat sesosok tubuh yang sedang menyimak kelakuanku dari pintu kamar yang tersingkap lebar. Dan ketika mukaku menghadap ke pintu aku terkejut menyaksikan Tommy, anak sulungku, sedang memperhatikanku bermasturbasi.

    Tapi herannya aku tidak kelihatan marah sama sekali, tangan kanan masih terus memainkan kemaluanku, dan aku justeru mendesah keras sambil menerbitkan lidahku. Dan Tommy terlihat tenang-tenang saja menyaksikan kelakuanku.

    Aku jadi salah tingkah, tapi menikmati liang vagina yang kian basah saja, aku turun dari lokasi tidur dan berlangsung ke arah Tommy. Anak sulungku tersebut masih tenang-tenang saja, sebenarnya saat turun dari lokasi tidur aku telah melepas pakaian dan sekarang telanjang bulat. Aku yang telah terbuai oleh nafsu seks tak mempedulikan statusku lagi sebagai mamanya.

    Saat kami berhadapan tangan kanan langsung meraba selangkangan anak sulungku itu.

    “Bercintalah dengan Mama, Tommy!” pintaku seraya mengelus-elus selangkangan Tommy yang telah tegang.

    Tommy tersenyum, “Mama tahu, semenjak Tommy berumur 17 Tommy telah sering menginginkan bagaimana nikmatnya kalo Tommy bercinta dengan Mama…”

    Aku terperangah mendengar omongannya.

    “Dan tidak jarang kalo Mama tidur, Tommy telanjangin unsur bawah Mama serta menjilatin kemaluan Mama.”

    Aku tak percaya mendengar ucapan anak sulungku ini.

    “Dan sekarang dengan senang hati Tommy bakal entot Mama hingga Mama puas!”.

    Tommy langsung memegang daguku dan menghirup bibirku dan melumatnya dengan sarat nafsu. Lidahnya menyelusuri rongga mulutku dengan ganas. Sementara kedua tangannya bergerilya ke mana-mana, tangan kiri meremas-remas payudaraku dengan lembut sedangkan tangan kanannya membelai permukaan kemaluanku. Aku langsung pasrah diperlakukan anakku sedemikian rupa, melulu sanggup mendesah dan menjerit kecil. Puas berciuman, Tommy melanjutkan sasarannya ke kedua payudaraku.

    Kedua puting susuku yang masa-masa kecil pernah Tommy hisap, pulang dihisap anak sulungku tersebut dengan lembut. Kedua permukaan payudaraku dijilati hingga mengkilat, dan aku tidak banyak menjerit kecil ketika putingku digigitnya pelan tetapi mesra. Aduh, tak henti-hentinya aku mendesah dampak perlakuan Tommy.

    Ciuman Tommy berlanjut ke perut, dan anakku tersebut pun berjongkok sedangkan aku tetap berdiri. Aku tahu apa yang bakal Tommy kerjakan dan ini ialah bagian di mana aku tidak jarang orgasme. Yah, aku sangat tak tahan bila kemaluanku di oral seks.

    Tommy tersenyum sebentar ke arahku, sebelum mulutnya menghirup permukaan lubang lokasi di mana dia dulu pernah keluar. Lidahnya juga menari-nari di liang vagina mamanya, membuatku melonjak laksana tersetrum. Kedua tanganku terus memegangi kepalanya yang terbenam di selangkanganku, ketika lidahnya menjilati klitorisku dengan lembut.

    Dan benar saja, tak lama lantas tubuhku mengejang dengan hebatnya dan desahanku semakin keras terdengar. Tommy tak peduli, anak sulungku tersebut terus menjilati kemaluanku yang memuncratkan cairan-cairan kental ketika aku berorgasme tadi.

    Aku yang keletihan langsung mengarah ke tempat istirahat dan istirahat telentang. Tommy tersenyum lagi. Anakku tersebut kini melucuti pakaiannya sendiri dan siap guna menyetubuhi mamanya dengan penisnya yang sudah tegang. Tommy bersiap memasukkan penisnya ke lubang vaginaku, dan aku menahannya, “Tunggu sayang, biar Mama kulum burungmu tersebut sebentar.”

    Tommy menurut, di sodorkannya penis yang besar dan keras tersebut ke arah mulutku yang langsung mengulumnya dengan sarat semangat. Penis anakku tersebut kini kumasukkan seluruhnya ke dalam mulutku sedangkan anakku mengelus rambutku dengan rasa sayang. Batangnya yang keras kujilati sampai mengkilap.

    “Sekarang kau boleh entot kemaluan Mama, Tom..” kataku sesudah puas mengulum penisnya. Anakku tersebut mengangguk. Penisnya segera dituntun anakku mengarah ke lubang kemaluan lokasi Tommy lahir. Vaginaku yang basah kuyup mempermudah penis Tommy guna masuk ke dalam dengan mulus.

    “Ahh.. Tomm!” aku mendesah ketika penis Tommy amblas dalam kemaluanku. Tommy kemudian langsung menggenjot tubuhnya dengan cepat, kemudian berubah lambat namun pasti. Diperlakukan begitu kepalaku berputar-putar saking nikmatnya.

    Apalagi Tommy seringkali tidak mempedulikan kepala penisnya menggesek-gesek permukaan kemaluanku sampai-sampai aku kegelian. Berbagai macam posisi diperagakan oleh Tommy, mulai dari gaya anjing hingga tradisional membuatku orgasme berkali-kali.

    Tapi anak sulungku tersebut belum pun ejakulasi membuatku penasaran dan bangga. Ini baru anak yang perkasa. Dan baru ketika aku sedang di atas tubuhnya, Tommy mulai kewalahan. Goyangan pinggulku langsung memacunya untuk menjangkau puncak kenikmatan.

    Dan ketika Tommy mendekap dengan erat, saat tersebut pula air mani anak sulungku tersebut membasahi kemaluanku dengan derasnya, membuatku pulang orgasme guna yang kesekian kalinya. Selangkanganku sekarang sudah banjir tidak karuan bercampur aduk antara mani Tommy dengan cairanku sendiri. Tommy masih memelukku dan menghirup bibirku dengan lembut.

    Dan kami terus bermain cinta hingga siang dan baru berhenti ketika Bagus kembali dari sekolah. Sejak saat tersebut aku tak lagi stress sebab sudah mendapat pelampiasan dari anakku. Setiap ketika aku tidak jarang kali dapat memuaskan nafsuku yang begitu besar.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • AKU TERGODA OLEH GURUKU YANG GANTENG

    AKU TERGODA OLEH GURUKU YANG GANTENG


    1340 views

    Cerita Sex ini berjudul ” AKU TERGODA OLEH GURUKU YANG GANTENG ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Cerita Dewasa Sebut saja namaku Widya (bukan yang sebenarnya), waktu itu aku masih sekolah di sebuah SMA swasta. Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit yang putih kekuningan, bentuk tubuh yang langsing tetapi padat berisi, kaki yang langsing dari paha sampai tungkai, bibir yang cukup sensual, rambut hitam lebat terurai dan wajah yang oval. Payudara dan pantatkupun mempunyai bentuk yang bisa dibilang lumayan.

    Dalam bergaul aku cukup ramah sehingga tidak mengherankan bila di sekolah aku mempunyai banyak teman baik anakanak kelas II sendiri atau kelas I, aku sendiri waktu itu masih kelas II. Lakilaki dan perempuan semua senang bergaul denganku. Di kelaspun aku termasuk salah satu murid yang mempunyai kepandaian cukup baik, ranking 6 dari 10 murid terbaik saat kenaikan dari kelas I ke kelas II.

    Karena kepandaianku bergaul dan pandai berteman tidak jarang pula para guru senang padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi soal pelajaran dan pengetahuan umum yang lain. Salah satu guru yang aku sukai adalah bapak guru bahasa Inggris, orangnya ganteng dengan bekas cukuran brewok yang aduhai di sekeliling wajahnya, cukup tinggi (agak lebih tinggi sedikit dari pada aku) dan ramping tetapi cukup kekar.

    Dia memang masih bujangan dan yang aku dengardengar usianya baru 27 tahun, termasuk masih bujangan yang sangat tingting untuk ukuran zaman sekarang.

    Suatu hari setelah selesai pelajaran olah raga (volley ball merupakan favoritku) aku dudukduduk istirahat di kantin bersama temantemanku yang lain, termasuk cowokcowoknya, sembari minum es sirup dan makan makanan kecil.

    Kita yang cewekcewek masih menggunakan pakaian olah raga yaitu baju kaos dan celana pendek. Memang di situ cewekceweknya terlihat seksi karena kelihatan pahanya termasuk pahaku yang cukup indah dan putih.

    Tibatiba muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja namanya Irfan (bukan sebenarnya) dan kita semua bilang, Selamat pagi Paa..aak, dan dia membalas sembari tersenyum.

    Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volley.

    Aku menjawab, Iya nih Pak, lagi kepanasan. Selesai ngajar, ya Pak. Iya, nanti jam setengah dua belas saya ngajar lagi, sekarang mau ngaso dulu.

    Aku dan temanteman mengajak, Di sini aja Pak, kita ngobrolngobrol, dia setuju.

    OK, bolehboleh aja kalau kalian tidak keberatan!

    Aku dan temanteman bilang, Tidak, Pak., lalu aku menimpali lagi, Sekalisekali, donk, Pak kita dijajanin, lalu temanteman yang lain, Naa..aa, betuu..uul. Setujuu…

    Ketika Pak Irfan mengambil posisi untuk duduk langsung aku mendekat karena memang aku senang akan kegantengannya dan kontan temanteman ngatain aku.

    Alaa.., Widya, langsung deh, deketdeket, jangan mau Pak.

    Pak Irfan menjawab, Ah! Ya, ndak apaapa.

    Kemudian sengaja aku menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan salah satu kakiku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena masih menggunakan celana pendek, jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak Pak Irfan tersenyum dan aku berpurapura minta maaf.

    Sorry, ya Pak.

    Dia menjawab, Thats OK. Di dalam hati aku tertawa karena sudah bisa mempengaruhi pandangan Pak Irfan.

    Di suatu hari Minggu aku berniat pergi ke rumah Pak Irfan dan pamit kepada Mama dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore dengan alasan mau mengerjakan PR bersamasama. Secara kebetulan pula Mama dan papaku mengizinkan begitu saja. Hari ini memang hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba di rumah Pak Irfan, dia baru selesai mandi dan kaget melihat kedatanganku.

    Eeeh, kamu Dya. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?.

    Aku menjawab, Ah, nggak iseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak.

    Lalu dia mengajak masuk ke dalam, Ooo, begitu. Ayolah masuk. Maaf rumah saya kecil begini. Tunggu, ya, saya pake baju dulu. Memang tampak Pak Irfan hanya mengenakan handuk saja. Tak lama kemudian dia keluar dan bertanya sekali lagi tentang keperluanku. Aku sekedar menjelaskan, Cuma mau tanya pelajaran, Pak. Kok sepi banget Pak, rumahnya.

    Dia tersenyum, Saya kost di sini. Sendirian.

    Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu makan siang dan Pak Irfan tanya, Udah laper, Dya?.

    Aku jawab, Lumayan, Pak.

    Lalu dia berdiri dari duduknya, Kamu tunggu sebentar ya, di rumah. Saya mau ke warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau kan?.

    Langsung kujawab, Okok aja, Pak..

    Sewaktu Pak Irfan pergi, aku di rumahnya sendirian dan aku jalanjalan sampai ke ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan, dapurnya hanya terisi seadanya saja. Tetapi tanpa disengaja aku melihat kamar Pak Irfan, pintunya terbuka dan aku masuk saja ke dalam.

    Kulihat koleksi bacaan berbahasa Inggris di rak dan meja tulisnya, dari mulai majalah sampai buku, hampir semuanya dari luar negeri dan ternyata ada majalah porno dari luar negeri dan langsung kubukabuka.

    Aduh! Gambargambarnya bukan main. Cowok dan cewek yang sedang bersetubuh dengan berbagai posisi dan entah kenapa yang paling menarik bagiku adalah gambar di mana cowok dengan asyiknya menjilati vagina cewek dan cewek sedang mengisap penis cowok yang besar, panjang dan kekar.

    Tidak disangkasangka suara Pak Irfan tibatiba terdengar di belakangku, Lho!! Ngapain di situ, Dya. Ayo kita makan, nanti keburu dingin nasinya.

    Astaga! Betapa kagetnya aku sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak wajahnya biasabiasa saja. Majalah segera kulemparkan ke atas tempat tidurnya dan aku segera keluar dengan berkata tergagapgagap, Ti..ti..tidak, eh, eng..ggak ngapangapain, kok, Pak. Maa..aa..aaf, ya, Pak.

    Pak Irfan hanya tersenyum saja, Ya. Udah tidak apaapa. Kamar saya berantakan. tidak baik untuk dilihatlihat. Kita makan aja, yuk.

    Syukurlah Pak Irfan tidak marah dan membentak, hatiku serasa tenang kembali tetapi rasa malu belum bisa hilang dengan segera.

    Pada saat makan aku bertanya, Koleksi bacaannya banyak banget Pak. Emang sempat dibaca semua, ya Pak?.

    Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya, Yaa..aah, belum semua. Lumayan buat isengiseng.

    Lalu aku memancing, Kok, tadi ada yang begituan.

    Dia bertanya lagi, Yang begituan yang mana.

    Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum, Emm.., Ya, yang begituan, tuh. Emm.., Majalah jorok.

    Kemudian dia tertawa, Oh, yang itu, toh. Itu dulu oleholeh dari teman saya waktu dia ke Eropa.

    Selesai makan kita ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak Irfan menawarkan aku untuk melihatlihat koleksi bacaannya.

    Lalu dia menawarkan diri, Kalau kamu serius, kita ke kamar, yuk.

    Akupun langsung beranjak ke sana. Aku segera ke kamarnya dan kuambil lagi majalah porno yang tergeletak di atas tempat tidurnya.

    Begitu tiba di dalam kamar, Pak Irfan bertanya lagi, Betul kamu tidak malu?, aku hanya menggelengkan kepala saja. Mulai saat itu juga Pak Irfan dengan santai membuka celana jeansnya dan terlihat olehku sesuatu yang besar di dalamnya, kemudian dia menindihkan dadanya dan terus semakin kuat sehingga menyentuh vaginaku. Aku ingin merintih tetapi kutahan.

    Pak Irfan bertanya lagi, Sakit, Dya. Aku hanya menggeleng, entah kenapa sejak itu aku mulai pasrah dan mulutkupun terkunci sama sekali. Semakin lama jilatan Pak Irfan semakin berani dan menggila. Rupanya dia sudah betulbetul terbius nafsu dan tidak ingat lagi akan kehormatannya sebagai Seorang Guru. Aku hanya bisa mendesah, aa.., aahh, Hemm.., uu.., uuh.

    Akhirnya aku lemas dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pak Irfan pun naik dan bertanya.

    Enak, Dya?

    Lumayan, Pak.

    Tanpa bertanya lagi langsung Pak Irfan mencium mulutku dengan ganasnya, begitupun aku melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku mengeluselus penis yang perkasa itu. Terasa keras sekali dan rupanya sudah berdiri sempurna.

    Mulutnya mulai mengulum kedua puting payudaraku. Praktis kami berdua sudah tidak berbicara lagi, semuanya sudah mutlak terbius nafsu birahi yang buta. Pak Irfan berhenti merangsangku dan mengambil majalah porno yang masih tergeletak di atas tempat tidur dan bertanya kepadaku sembari salah satu tangannya menunjuk gambar cowok memasukkan penisnya ke dalam vagina seorang cewek yang tampak pasrah di bawahnya.

    Boleh saya seperti ini, Dya?.

    Aku tidak menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku perlahan. Mungkin Pak Irfan menganggap aku setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua kakiku lebarlebar dan duduk di hadapan vaginaku. Tangan kirinya berusaha membuka belahan vaginaku yang rapat, sedangkan tangan kanannya menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vaginaku.

    Kelihatan Pak Irfan agak susah untuk memasukan penisnya ke dalam vaginaku yang masih rapat, dan aku merasa agak kesakitan karena mungkin otototot sekitar vaginaku masih kaku. Pak Irfan memperingatkan, Tahan sakitnya, ya, Dya.

    Aku tidak menjawab karena menahan terus rasa sakit dan, Akhh.., bukan main perihnya ketika batang penis Pak Irfan sudah mulai masuk, aku hanya meringis tetapi Pak Irfan tampaknya sudah tak peduli lagi, ditekannya terus penisnya sampai masuk semua dan langsung dia menidurkan tubuhnya di atas tubuhku. Kedua payudaraku agak tertekan tetapi terasa nikmat dan cukup untuk mengimbangi rasa perih di vaginaku.

    Semakin lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan penis Pak Irfan mengocok vaginaku. Aku terengahengah, Hah, hah, hah,…

    Pelukan kedua tangan Pak Irfan semakin erat ke tubuhku dan spontan pula kedua tanganku memeluk dirinya dan mengeluselus punggungnya. Semakin lama gerakan penis Pak Irfan semakin memberi rasa nikmat dan terasa di dalam vaginaku menggeliatgeliat dan berputarputar.

    Sekarang rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Irfan kemudian agak mengangkatkan badannya dan tanganku ditelentangkan oleh kedua tangannya dan telapaknya mendekap kedua telapak tanganku dan menekan dengan keras ke atas kasur dan ouwww..,

    Pak Irfan semakin memperkuat dan mempercepat kocokan penisnya dan di wajahnya kulihat raut yang gemas. Semakin kuat dan terus semakin kuat sehingga tubuhku bergerinjal dan kepalaku menggeleng ke sana ke mari dan akhirnya Pak Irfan agak merintih bersamaan dengan rasa cairan hangat di dalam vaginaku. Rupanya air maninya sudah keluar dan segera dia mengeluarkan penisnya dan merebahkan tubuhnya di sebelahku dan tampak dia masih terengahengah.

    Setelah semuanya tenang dia bertanya padaku, Gimana, Dya? Kamu tidak apaapa? Maaf, ya.

    Sembari tersenyum aku menjawab dengan lirih, tidak apaapa. Agak sakit Pak. Saya baru pertama ini.

    Dia berkata lagi, Sama, saya juga.

    Kemudian aku agak tersenyum dan tertidur karena memang aku lelah, tetapi aku tidak tahu apakah Pak Irfan juga tertidur.

    Sekitar pukul 17:00 aku dibangunkan oleh Pak Irfan dan rupanya sewaktu aku tidur dia menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Tampak olehku Pak Irfan hanya menggunakan handuk dan berkata, Kita mandi, yuk. Kamu harus pulang kan?.

    Badanku masih agak lemas ketika bangun dan dengan tetap dalam keadaan telanjang bulat aku masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Irfan masuk membawakan handuk khusus untukku. Di situlah kami berdua saling bergantian membersihkan tubuh dan akupun tak canggung lagi ketika Pak Irfan menyabuni vaginaku yang memang di sekitarnya ada sedikit bercakbercak darah yang mungkin luka dari selaput daraku yang robek. Begitu juga aku, tidak merasa jijik lagi memegangmegang dan membersihkan penisnya yang perkasa itu.

    Setelah semua selesai, Pak Irfan membuatkan aku teh manis panas secangkir. Terasa nikmat sekali dan terasa tubuhku menjadi segar kembali. Sekitar jam 17:45 aku pamit untuk pulang dan Pak Irfan memberi ciuman yang cukup mesra di bibirku.

    Ketika aku mengemudikan mobilku, terbayang bagaimana keadaan Papa dan Mama dan nama baik sekolah bila kejadian yang menurutku paling bersejarah tadi ketahuan. Tetapi aku cuek saja, kuanggap ini sebagai pengalaman saja.

    Semenjak itulah, bila ada waktu luang aku bertandang ke rumah Pak Irfan untuk menikmati keperkasaannya dan aku bersyukur pula bahwa rahasia tersebut tak pernah sampai bocor. Sampai sekarangpun aku masih tetap menikmati genjotan Pak Irfan walaupun aku sudah menjadi mahasiswa, dan seolaholah kami berdua sudah pacaran.

    Pernah Pak Irfan menawarkan padaku untuk mengawiniku bila aku sudah selesai kuliah nanti, tetapi aku belum pernah menjawab. Yang penting bagiku sekarang adalah menikmati dulu keganasan dan keperkasaan penis guru bahasa Inggrisku itu.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Indahnya Tubuh Bibi

    Cerita Sex Indahnya Tubuh Bibi


    1340 views

    Perawanku – Terlihat Bibi yang sedang tidur tidak berselimut walaupun kamarnya ber AC tapi dia tidak menginginkan
    untuk memakai selimut karena Acnya sudah diatur sedemikian agar tidak terlalu dingin, hanya memakai
    daster tipis posisi tidur bibi terlentang terlihat CD yang berwarna pink karena dasternya terangkat
    sampai ke perut.

    Kemaluan bibi terlihat nyata dengan rambut tipis kecoklatan, bauh dada bibi terlihat samar samar
    dibalik dasternya naik turun dengan nafas yang teratur putingnya yang menonjol berwarna coklat muda,
    melihat pemandangan seperti itu gairahku sedikit naik.

    Terlihat bibi agak bergeliat dan mulutnya agak tersenyum, mungkin bibi sedang mimpi, sedang becinta
    dengan paman. Aku melakukan kegiatanku dengan hati-hati takut bibi terbangun.

    Perlahan-lahan kulihat bagian CD bibi yang menutupi kemaluannya mulai terlihat basah, rupanya bibi
    sudah mulai terangsang juga. Dari mulutnya terdengar suara mendesis perlahan dan badannya menggeliat-
    geliat perlahan-lahan.

    Aku makin tersangsang melihat pemandangan itu.Cepat-cepat kubuka semua baju dan CD-ku, sehingga
    sekarang aku bertelanjang bulat. Penisku yang 19 cm itu telah berdiri kencang menganguk-angguk mencari
    mangsa.

    Dan aku membelai-belai buah dadanya, dia masih tetap tertidur saja. Aku tahu bahwa puting dan klitoris
    bibiku tempat paling suka dicumbui, aku tahu hal tersebut dari film-film bibiku.

    Lalu tanganku yang satu mulai gerilya di daerah vaginanya. Kemudian perlahan-lahan aku menggunting CD
    mini bibi dengan gunting yang terdapat di sisi tempat tidur bibi.Sekarang kemaluan bibi terpampang
    dengan jelas tanpa ada penutup lagi.

    Perlahan-lahan kedua kaki bibi kutarik melebar, sehingga kedua pahanya terpentang. Dengan hati-hati
    aku naik ke atas tempat tidur dan bercongkok di atas bibi.  Agen Judi Bola

    Kedua lututku melebar di samping pinggul bibi dan kuatur sedemikian rupa supaya tidak menyentuh
    pinggul bibi. Tangan kananku menekan pada kasur tempat tidur, tepat di samping tangan bibi, sehingga
    sekarang aku berada dalam posisi setengah merangkak di atas bibi.

    Tangan kiriku memegang batang penisku. Perlahan-lahan kepala penisku kuletakkan pada belahan bibir
    kemaluan bibi yang telah basah itu. Kepala penisku yang besar itu kugosok-gosok dengan hati-hati pada
    bibir kemaluan bibi. Terdengar suara erangan perlahan dari mulut bibi dan badannya agak mengeliat,
    tapi matanya tetap tertutup.

    Akhirnya kutekan perlahan-lahan kepala kemaluanku membelah bibir kemaluan bibi.Sekarang kepala
    kemaluanku terjepit di antara bibir kemaluan bibi. Dari mulut bibi tetap terdengar suara mendesis
    perlahan, akan tetapi badannya kelihatan mulai gelisah.

    Aku tidak mau mengambil resiko, sebelum bibi sadar, aku sudah harus menaklukan kemaluan bibi dengan
    menempatkan posisi penisku di dalam lubang vagina bibi. Sebab itu segera kupastikan letak penisku agar
    tegak lurus pada kemaluan bibi.

    Dengan bantuan tangan kiriku yang terus membimbing penisku, kutekan perlahan-lahan tapi pasti
    pinggulku ke bawah, sehingga kepala penisku mulai menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.Kelihatan
    sejenak kedua paha bibi bergerak melebar, seakan-akan menampung desakan penisku ke dalam lubang
    kemaluanku.

    Badannya tiba-tiba bergetar menggeliat dan kedua matanya mendadak terbuka, terbelalak bingung,
    memandangku yang sedang bertumpu di atasnya. Mulutnya terbuka seakan-akan siap untuk berteriak.

    Dengan cepat tangan kiriku yang sedang memegang penisku kulepaskan dan buru-buru kudekap mulut bibi
    agar jangan berteriak. Karena gerakanku yang tiba-tiba itu, posisi berat badanku tidak dapat kujaga
    lagi, akibatnya seluruh berat pantatku langsung menekan ke bawah, sehingga tidak dapat dicegah lagi
    penisku menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan bibi dengan cepat.

    Badan bibi tersentak ke atas dan kedua pahanya mencoba untuk dirapatkan, sedangkan kedua tangannya
    otomatis mendorong ke atas, menolak dadaku. Dari mulutnya keluar suara jeritan, tapi tertahan oleh
    bekapan tangan kiriku.

    ”Aauuhhmm.. aauuhhmm.. hhmm..!” desahnya tidak jelas.Kemudian badannya mengeliat-geliat dengan hebat,
    kelihatan bibi sangat kaget dan mungkin juga kesakitan akibat penisku yang besar menerobos masuk ke
    dalam kemaluannya dengan tiba-tiba.

    Meskipun bibi merontak-rontak, akan tetapi bagian pinggulnya tidak dapat bergeser karena tertekan oleh
    pinggulku dengan rapat. Karena gerakan-gerakan bibi dengan kedua kaki bibi yang meronta-ronta itu,
    penisku yang telah terbenam di dalam vagina bibi terasa dipelintir-pelintir dan seakan-akan dipijit-
    pijit oleh otot-otot dalam vagina bibi.

    Hal ini menimbulkan kenikmatan yang sukar dilukiskan.Karena sudah kepalang tanggung, maka tangan
    kananku yang tadinya bertumpu pada tempat tidur kulepaskan.

    Sekarang seluruh badanku menekan dengan rapat ke atas badan bibi, kepalaku kuletakkan di samping
    kepala bibi sambil berbisik kekuping bibi.”Bii.., bii.., ini aku Eric. Tenang bii.., sshheett..,
    shhett..!” bisikku.

    Bibi masih mencoba melepaskan diri, tapi tidak kuasa karena badannya yang mungil itu teperangkap di
    bawah tubuhku. Sambil tetap mendekap mulut bibi, aku menjilat-jilat kuping bibi dan pinggulku secara
    perlahan-lahan mulai kugerakkan naik turun dengan teratur.

    Perlahan-lahan badan bibi yang tadinya tegang mulai melemah.Kubisikan lagi ke kuping bibi, “Bii..,
    tanganku akan kulepaskan dari mulut bibi, asal bibi janji jangan berteriak yaa..?”Perlahan-lahan
    tanganku kulepaskan dari mulut bibi.

    Kemudian Bibi berkata, “Riic.., apa yang kau perbuat ini..? Kamu telah memperkosa Bibi..!”Aku diam
    saja, tidak menjawab apa-apa, hanya gerakan pinggulku makin kupercepat dan tanganku mulai memijit-
    mijit buah dada bibi, terutama pada bagian putingnya yang sudah sangat mengeras.

    Rupanya meskipun wajah bibi masih menunjukkan perasaan marah, akan tetapi reaksi badannya tidak dapat
    menyembunyikan perasaannya yang sudah mulai terangsang itu. Melihat keadaan bibi ini, tempo
    permainanku kutingkatkan lagi.

    Cerita Sex Indahnya Tubuh Bibi

    Cerita Sex Indahnya Tubuh Bibi

    Akhirnya dari mulut bibi terdengar suara, “Oohh.., oohh.., sshh.., sshh.., eemm.., eemm.., Riicc..,
    Riicc..!”Dengan masih melanjutkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan kedua tanganku bertumpu pada
    tempat tidur, sehingga aku sekarang dalam posisi setengah bangun, seperti orang yang sedang melakukan
    push-up.

    Dalam posisi ini, penisku menghujam kemaluan bibi dengan bebas, melakukan serangan-serangan langsung
    ke dalam lubang kemaluan bibi.

    Kepalaku tepat berada di atas kepala bibi yang tergolek di atas kasur. Kedua mataku menatap ke bawah
    ke dalam mata bibi yang sedang meram melek dengan sayu. Dari mulutnya tetap terdengar suara mendesis-
    desis.

    Selang sejenak setelah merasa pasti bahwa bibi telah dapat kutaklukan, aku berhenti dengan kegiatanku.
    Setelah mencabut penisku dari dalam kemaluan bibi, aku berbaring setengah tidur di samping bibi.
    Sebelah tanganku mengelus-elus buah dada bibi terutama pada bagian putingnya.

    “Eehh.., Ric.., kenapa kau lakukan ini kepada bibimu..!” katanya.Sebelum menjawab aku menarik badan
    bibi menghadapku dan memeluk badan mungilnya dengan hati-hati, tapi lengket ketat ke badan. Bibirku
    mencari bibinya, dan dengan gemas kulumat habis.

    Woowww..! Sekarang bibi menyambut ciumanku dan lidahnya ikut aktif menyambut lidahku yang menari-nari
    di mulutnya.
    Selang sejenak kuhentikan ciumanku itu.Sambil memandang langsung ke dalam kedua matanya dengan mesra,
    aku berkata,

    “Bii.. sebenarnya aku sangat sayang sekali sama Bibi, Bibi sangat cantik lagi ayu..!”Sambil berkata
    itu kucium lagi bibirnya selintas dan melanjutkan perkataanku,

    “Setiaap kali melihat Bibi bermesrahan dengan Paman, aku kok merasa sangat cemburu, seakan-akan Bibi
    adalah milikku, jadi Bibi jangan marah yaa kepadaku, ini kulakukan karena tidak bisa menahan diri
    ingin memiliki Bibi seutuhnya.

    “Selesai berkata itu aku menciumnya dengan mesra dan dengan tidak tergesa-gesa.Ciumanku kali ini
    sangat panjang, seakan-akan ingin menghirup napasnya dan belahan jiwanya masuk ke dalam diriku. Ini
    kulakukan dengan perasaan cinta kasih yang setulus-tulusnya.

    Rupanya bibi dapat juga merasakan perasaan sayangku padanya, sehingga pelukan dan ciumanku itu
    dibalasnya dengan tidak kalah mesra juga.Beberapa lama kemudian aku menghentikan ciumanku dan aku pun
    berbaring telentang di samping bibi, sehingga bibi dapat melihat keseluruhan badanku yang telanjang
    itu.

    ”Iih.., gede banget barang kamu Ricc..! Itu sebabnya tadi Bibi merasa sangat penuh dalam badan Bibi.”
    katanya, mungkin punyaku lebih besar dari punya paman.

    Lalu aku mulai memeluknya kembali dan mulai menciumnya. Ciumanku mulai dari mulutnya turun ke leher
    dan terus kedua buah dadanya yang tidak terlalu besar tapi padat itu.

    Pada bagian ini mulutku melumat-lumat dan menghisap-hisap kedua buah dadanya, terutama pada kedua
    ujung putingnya berganti-ganti, kiri dan kanan.Sementara aksiku sedang berlangsung, badan bibi
    menggeliat-geliat kenikmatan.

    Dari mulutnya terdengar suara mendesis-desis tidak hentinya. Aksiku kuteruskan ke bawah, turun ke
    perutnya yang ramping, datar dan mulus. Maklum, bibi belum pernah melahirkan.

    Bermain-main sebentar disini kemudian turun makin ke bawah, menuju sasaran utama yang terletak pada
    lembah di antara kedua paha yang putih mulus itu.Pada bagian kemaluan bibi, mulutku dengan cepat
    menempel ketat pada kedua bibir kemaluannya dan lidahku bermain-main ke dalam lubang vaginanya.

    Mencari-cari dan akhirnya menyapu serta menjilat gundukan daging kecil pada bagian atas lubang
    kemaluannya. Segera terasa badan bibi bergetar dengan hebat dan kedua tangannya mencengkeram kepadaku,
    menekan ke bawah disertai kedua pahanya yang menegang dengan kuat.Keluhan panjang keluar dari
    mulutnya,

    “Oohh.., Riic.., oohh.. eunaakk.. Riic..!”Sambil masih terus dengan kegiatanku itu, perlahan-lahan
    kutempatkan posisi badan sehingga bagian pinggulku berada sejajar dengan kepala bibi dan dengan
    setengah berjongkok.
    Posisi batang kemaluanku persis berada di depan kepala bibi. Rupanya bibi maklum akan keinginanku itu,
    karena terasa batang kemaluanku dipegang oleh tangan bibi dan ditarik ke bawah. Kini terasa kepala
    penis menerobos masuk di antara daging empuk yang hangat.

    Ketika ujung lidah bibi mulai bermain-main di seputar kepala penisku, suatu perasaan nikmat tiba-tiba
    menjalar dari bawah terus naik ke seluru badanku, sehingga dengan tidak terasa keluar erangan
    kenikmatan dari mulutku.Dengan posisi 69 ini kami terus bercumbu, saling hisap-mengisap, jilat-
    menjilat seakan-akan berlomba-lomba ingin memberikan kepuasan pada satu sama lain.

    Beberapa saat kemudian aku menghentikan kegiatanku dan berbaring telentang di samping bibi. Kemudian
    sambil telentang aku menarik bibi ke atasku, sehingga sekarang bibi tidur tertelungkup di atasku.

    Badan bibi dengan pelan kudorong agak ke bawah dan kedua paha bibi kupentangkan. Kedua lututku dan
    pantatku agak kunaikkan ke atas, sehingga dengan terasa penisku yang panjang dan masih sangat tegang
    itu langsung terjepit di antara kedua bibir kemaluan bibi.

    Dengan suatu tekanan oleh tanganku pada pantat bibi dan sentakan ke atas pantatku, maka penisku
    langsung menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan bibi. Amblas semua batangku.

    “Aahh..!” terdengar keluhan panjang kenikmatan keluar dari mulut bibi.Aku segera menggoyang pinggulku
    dengan cepat karena kelihatan bahwa bibi sudah mau klimaks. Bibi tambah semangat juga ikut mengimbangi
    dengan menggoyang pantatnya dan menggeliat-geliat di atasku.  Agen Judi Bola

    Kulihat wajahnya yang cantik, matanya setengah terpejam dan rambutnya yang panjang tergerai, sedang
    kedua buah dadanya yang kecil padat itu bergoyang-goyang di atasku.Ketika kulihat pada cermin besar di
    lemari, kelihatan pinggul bibi yang sedang berayun-ayun di atasku.

    Batang penisku yang besar sebentar terlihat sebentar hilang ketika bibi bergerak naik turun di atasku.
    Hal ini membuatku jadi makin terangsang. Tiba-tiba sesuatu mendesak dari dalam penisku mencari jalan
    keluar, hal ini menimbulkan suatu perasaan nikmat pada seluruh badanku.

    Kemudian air maniku tanpa dapat ditahan menyemprot dengan keras ke dalam lubang vagina bibi, yang pada
    saat bersamaan pula terasa berdenyut-denyut dengan kencangnya disertai badannya yang berada di atasku
    bergetar dengan hebat dan terlonjak-lonjak. Kedua tangannya mendekap badanku dengan keras.

    Pada saat bersamaan kami berdua mengalami orgasme dengan dasyat. Akhirnya bibi tertelungkup di atas
    badanku dengan lemas sambil dari mulut bibi terlihat senyuman puas.”Riic.., terima kasih Ric. Kau
    telah memberikan Bibi kepuasan sejati..!”Setelah beristirahat, kemudian kami bersama-sama ke kamar
    mandi dan saling membersihkan diri satu sama lain.

    Sementara mandi, kami berpelukan dan berciuman disertai kedua tangan kami yang saling mengelus-elus
    dan memijit-mijit satu sama lain, sehingga dengan cepat nafsu kami terbangkit lagi.

    Dengan setengah membopong badan bibi yang mungil itu dan kedua tangan bibi menggelantung pada leherku,
    kedua kaki bibi kuangkat ke atas melingkar pada pinggangku dan dengan menempatkan satu tangan pada
    pantat bibi dan menekan, penisku yang sudah tegang lagi menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.

    “Aaughh.. oohh.. oohh..!” terdengar rintihan bibi sementara aku menggerakan-gerakan pantatku maju-
    mundur sambil menekan ke atas.

    Dalam posisi ini, dimana berat badan bibi sepenuhnya tertumpu pada kemaluannya yang sedang terganjel
    oleh penisku, maka dengan cepat bibi mencapai klimaks.”Aaduhh.. Riic.. Biibii.. maa.. maa.. uu..
    keluuar.. Riic..!” dengan keluhan panjang disertai badannya yang mengejang,

    bibi mencapai orgasme, dan selang sejenak terkulai lemas dalam gendonganku.Dengan penisku masih berada
    di dalam lubang kemaluan bibi, aku terus membopongnya. Aku membawa bibi ke tempat tidur.

    Dalam keadaan tubuh yang masih basah kugenjot bibi yang telah lemas dengan sangat bernafsu, sampai aku
    orgasme sambil menekan kuat-kuat pantatku. Kupeluk badan bibi erat-erat sambil merasakan airmaniku
    menyemprot-nyemprot, tumpah dengan deras ke dalam lubang kemaluan bibi, mengisi segenap relung-relung
    di dalamnya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,