Author: perawanku

  • Memek Bersih Sungguh Nikmat

    Memek Bersih Sungguh Nikmat


    1524 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Memek Bersih Sungguh Nikmat ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Kurasa tidak perlu aku ceritakan tentang nama dan asalku, serta tempat dan alamatku sekarang. Usiaku sekarang sudah mendekati empat puluh tahun, kalau dipikir-pikir seharusnya aku sudah punya anak, karena aku sudah menikah hampir lima belas tahun lamanya.

    Walaupun aku tidak begitu ganteng, aku cukup beruntung karena mendapat isteri yang menurutku sangat cantik. Bahkan dapat dikatakan dia yang tercantik di lingkunganku, yang biasanya menimbulkan kecemburuan para tetanggaku.

    Isteriku bernama Resty. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu keinginan sex yang tinggi. Mungkin para pembaca tidak percaya, kadang-kadang pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melakukan hal itu.

    Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin karena belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat.

    Kegilaan ini dimulai saat hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin karena isteriku yang supel, sehingga cepat akrab dengan mereka.

    Suaminya juga sangat baik, usianya kira-kira sebaya denganku. Hanya isterinya, woow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila adalah bodynya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus.

    Mereka pun sama seperti kami, belum mempunyai anak. Mereka pindah ke sini karena tugas baru suaminya yang ditempatkan perusahaannya yang baru membuka cabang di kota tempatku. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mas Agus dan Mbak Rini. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami seperti saudara saja karena hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya. Fastbet99

    Pada suatu malam, saya seperti biasanya berkunjung ke rumahnya, setelah ngobrol panjang lebar, Agus menawariku nonton VCD blue yang katanya baru dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak karena selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Agus ikut nonton bersama kami.

    “Waduh, gimana ini Gus..? Nggak enak nih..!”
    “Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak bisa dipegang. Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Res diajak sekalian.” katanya menyebut isteriku.
    Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya aku pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah.

    “Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..?” kata isteriku ketika kuajak.

    Akhirnya aku malu juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Agus. Mendingan langsung tidur saja supaya besok cepat bangun. Paginya aku tidak bertemu Agus, karena sudah lebih dahulu berangkat.

    Di teras rumahnya aku hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika aku lewat, dia menanyaiku tentang yang tadi malam. Aku bilang Resty tidak mau kuajak sehingga aku langsung saja tidur.

    Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang sejak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, aku kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya kalau sudah begini aku langsung menarik isteriku ke tempat tidur.

    Mungkin karena sudah biasa Resty tidak banyak protes. Yang luar biasa adalah pagi ini aku benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku seperti kesetanan. Kemaluan Resty kujilati sampai tuntas, bahkan kusedot sampai isteriku menjerit. Edan, kok aku sampai segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi.

    Isteriku sampai terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty langsung memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan saat itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.

    “Mas.., sekarang Mas..!” pinta isteriku memelas.

    Akhirnya aku mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang.

    Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, “Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?”
    Aku diam saja karena malu mengatakan bahwa sebenarnya Rini lah yang menaikkan tensiku pagi ini.

    Sorenya Agus datang ke rumahku, “Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..?” tanyanya setelah kami berbasa-basi.
    “Maksudmu apa Gus..?” tanyaku heran.
    “Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi dia melihat Mas dan Mbak Resty bergulat setelah ngobrol dengannya.”
    Loh, aku heran, dari mana Rini nampak kami melakukannya? Oh iya, baru kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan.
    Agus langsung menambahkan, “Nggak usah malu Mas, saya juga maniak Mas.” katanya tanpa malu-malu.

    “Begini saja Mas,” tanpa harus memahami perasaanku, Agus langsung melanjutkan, “Aku punya ide, gimana kalau nanti malam kita bikin acara..?”
    “Acara apa Gus..?” tanyaku penasaran.
    “Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?”
    “Pesta apaan..? Gila kamu.”
    “Pokoknya tenang aja Mas, kamu cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?”

    Malamnya, menjelang pukul 20.00, Agus bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol tentang masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex.

    Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak aneh kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini, mungkin pengaruh minuman yang dibawakan Agus dari rumahnya.

    Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, aku mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa seperti menyelimuti pendengaranku. Kulihat Agus juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya.

    Aku semakin terangsang, Resty juga semakin bergairah. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tidak berapa lama Resty sudah telanjang bulat, entah kapan aku menelanjanginya.

    Sesaat aku merasa bersalah, kenapa aku melakukan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku.

    Kuperhatikan Agus perlahan-lahan mendudukkan Rini di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini dapat terjadi di dalam rumahku.

    Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya aku sudah menikmati permainan itu. Rini juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang.

    Perlahan-lahan Agus membuka BH Rini, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul setelah penutupnya terbuka.
    “Kegilaan apa lagi ini..?” batinku.

    Seolah-olah Agus mengerti, karena selalu saya perhatikan menawarkan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan mulut terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seolah-olah tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Agus.

    Kemudian kudekati Rini yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan badan yang sedikit gemetar karena memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut. Sementara Agus kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Resty yang biasanya aku lah yang melakukannya.

    Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati daerah kemaluan Rini. Kuelus bagian itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan bagian tersebut sudah mulai basah.

    Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati-hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi bagian yang berada di antara kedua paha Rini ini.

    “Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!” erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya.

    Tetapi aku tidak melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Rini yang memang betul-betul sempurna.

    Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja.

    Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.
    “Sshh.., akh..!” Rini menggelinjang nikmat.
    Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Rini mendesis.

    Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap bagian putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Rini sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.

    Rini memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir aku tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan seperti ini. Sementara di atas Sofa Agus dan isteriku seperti membentuk angka 69.

    Resty ada di bawah sambil mengulum kemaluan Agus, sementara Agus menjilati kemaluan Resty. Napas kami berempat saling berkejaran, seolah-olah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami.

    Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Rini, dia melenguh hebat hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku seperti terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus.

    Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Rini terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya.

    Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Rini.

    Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Rini mendesis, “Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi akhh..!”

    Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin karena selama ini aku hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

    Tanganku sekarang sudah meremas payudara Rini dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Rini pun seperti megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Rini nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya hingga Rini berontak.

    Pelukanku semakin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Agus dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang adalah sebuah petualangan yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Rini.

    Luar biasa kemaluan Rini ini, seperti ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Mata Rini merem melek menikmati permainan ini.

    Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Rini sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat dia berbaring, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Rini juga semakin ketat karena membungkuk.

    Kukangkangkan kaki Rini dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Rini melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya.

    Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Rini membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Rini pun menikmati gaya ini.

    Buah dada Rini bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Rini sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu.

    Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Rini semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.

    Segera aku mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Rini ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Rini telentang di bentangan karpet. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Rini menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Rini.

    Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari mulut Rini semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya.

    Tiba-tiba Rini memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku. Rini menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Rini menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.

    Mulutku terasa asin, ternyata bibir Rini berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat kuat dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Agus dan isteriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya.

    Kulihat Resty tersenyum puas. Sementara Rini tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Rini. Kulihat Rini tidak memperdulikannya.

    Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku terlepas dari kemaluan Rini. Rini tersenyum puas, walau kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tiada tara. Resty juga tersenyum, hanya nampak malu-malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi.

    Hingga saat ini peristiwa itu masih jelas dalam ingatanku. Agus dan Rini sekarang sudah pindah dan kembali ke Jakarta. Sesekali kami masih berhubungan lewat telepon. Mungkin aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Pernah suatu waktu Rini berkunjung ke rumah kami, kebetulan aku tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu dengan isteriku. Seandainya saja..

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Enaknya Dimainkan Puting Payudaraku Oleh Anak Kandung Sendiri

    Cerita Sex Enaknya Dimainkan Puting Payudaraku Oleh Anak Kandung Sendiri


    1843 views

    Perawanku – Cerita Sex Enaknya Dimainkan Puting Payudaraku Oleh Anak Kandung Sendiri, Sejak aku divonis dokter kandungan, tidak boleh memiliki anak lagi, hatiku sangat sedih. Rupanya, Tuhan hanya menitipkan seoang anak saja yang kulahirkan. Rahimku, hanya boleh melahirkan seoang anak laki-laki di rahimku.

    Setelah aku sehat dan kembali dari rumah sakit membawa bayiku, dan bayiku berusia 1 tahun, dengan lemmbut suamiku meminta izin untuk menikah lagi. Alasannya, baginya seorang anak tak mungkin. Dia harus memiliki anak yang lain, laki-laki dan perempuan. Dengan sedih, aku “terpaksa” merelakan suamiku untuk menikah lagi. Parakanku sudah diangkat, demi keselamatanku dan kesehatanku.

    Sejak pernikahannya, dia jarang pulang ke rumah. Paling sekali dalam seminggu. Kini setelah usia anakku 15 tahun, suamiku justru tak pernah pulang ke rumah lagi. Dia telah memiliki 4 orang anak, tepatnya dua pasang dari isteri mudanya dan dua anak lagi dari isterinya yang ketiga. Aku harus puas, memiliki tiga buah toko yang serahkan atas namaku serta sebuah mobil dan sebuah taksi selain sedikit deposito yang terus kutabung untuk biaya kuliah anakku Irvan nanti.

    Irvan sendiri sudah tak perduli pada ayahnya. Malah, kalau ayahnya pulang, kelihatan Irvan tak bersahabat dengannya. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Semoga saja Irvan tidak berdosa pada ayahnya. Setiap malam Aku selalu mengeloni Irvan agar tubuhku tak kedinginan ditiup oleh suasana dingin AC di kamar tidurku. Irvan juga kalau kedinginan, justru merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Irvan memang anak yang manja dan aku menyenanginya.

    Sudah menjadi kebiasaanku, kalau aku tidur hanya memakai daster mini tanpa sehelai kain pun di balik daster miniku. Aku menikmati tidurku dengan udara dinginnya AC dan timpa selimut tebal yang lebar. NIkmat sekali rasanya tidur memeluk anak semata wayangku, Irvan. Kusalurkan belai kasih sayangku padanya. Hanya padanya yang aku sayangi.

    Sudah beberapa kali aku merasakan buah dadaku diisap-isap oleh Irvan. Aku mengelus-elus kepala Irvan dengan kelembutan dan kasih sayang. Tapi kali ini, tidak seperti biasanya. Hisapan pada pentil teteku, terasa demikian indahnya. Terlebih sebelah tangan Irvan mengelus-elus bulu vaginaku. Oh… indah sekali. Aku membiarkannya. Toh dia anakku juga. Biarlah, agar tidurnya membuahkan mimpi yang indah.

    Saat aku mencabut pentil tetekku dari mulut Irvan, dia mendesah.
    “Mamaaaaa…”

    Kuganti memasukkan pentil tetekku yang lain ke dalam mulutnya. Selalu begitu, sampai akhirnya mulutnya terlepas dari tetekku dan aku menyelimutinya dan kami tertidur pulas. Malam ini, aku justru sangat bernafsu. Aku ingin disetubuhi. Ah… Mampukah Irvan menyetubuhiku. Usianya baru 15 tahun. Masih SMP. Mampukah. Pertanyaan itu selalu bergulat dalam bathinku.

    Keesokan paginya, saat Irvan pergi ke sekolah, aku membongkar lemari yang sudah lama tak kurapikan. Di lemari pakaian Irvan di kamarnya (walau dia tak pernah meniduri kamarnya itu) aku melihat beberapa keping CD. Saat aku putar, ternyata semua nya film-film porno dengan berbagai posisi. Dadaku gemuruh.

    Apaah anakku sudah mengerti seks? Apakah dia sudah mencobanya dengan perempuan lain? Atau dengan pelacur kah? Haruskah aku menanyakan ini pada anakku? Apakah jiwanya tidak terganggu, kalau aku mempertanyakannya? Dalam aku berpikir, kusimpulkan, sebaiknya kubiarkan dulu dan aku akan menyelidikinya dengan sebaik mungkin dengan setertutup mungkin.

    Seusai Irvan mengerjakan PR-nya (Disekolah Irvan memang anak pintar), dia menaiki tempat tidur dan memasuki selimutku. Dia cium pipi kiri dan pipi kananku sembari membisikkan: Selamat malam… mama…” Biasanya aku menjawabnya dengan:”Selamat malam sayang…” Tapi kalau aku sudah tertidur, biasanya aku tak menjawabnya. Dadaku gemuruh, apaah malam ini aku mempertanyakan CD porno itu. Akhirnya aku membiarkan saja. Dan…

    Aku kembali merasakan buah dadaku dikeluarkan dari balik dasterku yang mini dan tipis. Irvan mengisapnya perlahan-lahan. Ah… kembali aku bernafsu. Terlebih kembali sebelah tangannya mengelus-elus bulu vaginaku. Sebuah jari-jarinya mulai mengelus klentitku. AKu merasakan kenikmatan. Kali ini, aku yakin Irvan tidak tidur. Aku merasakan dari nafasnya yang memburu. Aku diam saja. Sampai jarinya memasuki lubang vaginaku dan mempermainkan jarinya di sana dan tangan yang satu terus memainkan tetekku. Ingin rasanya aku mendesah, tapi…

    Aku tahu, Irvan menurunkan celananya, sampai bagian bawah tubuhnya sudah bertelanjang. Dengan sebelah kakinya, dia mengangkangkan kedua kakiku. Dan…. Irvan menaiki tubuhku dengan perlahan. Aku merasakan penisnya mengeras. Berkali-kali dia menusukkan penis itu ke dalam vaginaku. Irvan ternyata tidak mengetahui, dimana lubang vagina.

    Berkali-kali gagal. Aku kasihan padanya, karena hampir saja dia putus asa. Tanpa sadar, aku mengangkangkan kedua kakiu lebih lebar. Saat penisnya menusuk bagian atas vaginaku, aku mengangkat pantatku dan perlahan penis itu memasuki ruang vaginaku. Irvan menekannya. Vaginaku yang sudah basah, langsung menelan penisnya.

    Nampaknya Irvan belum mampu mengatasi keseimbangan dirinya. Dia langsung menggenjotku dan mengisapi tetekku. Lalu crooot…croot…croooootttt, spermanya menyemprot di dalam vaginaku. Tubuhnya mengejang dan melemas beberapa saat kemudian. Perlahan Irvan menuruni tubuhku. Aku belum sampai… tapi aku tak mungkin berbuat apa-apa.

    Besok malamnya, hal itu terjadi lagi. Terjadi lagi dan terjadi lagi. Setidaknya tiga kali dalam semingu. Irvan pun menjadi laki-laki yang dewasa. Tak sedikit pun kami menyinggung kejadian malam-malam itu. Kami hanya berbicara tentang hal-hal lain saja. Sampai suatu sore, aku benar-benar bernafsu sekali.

    Ingin sekali disetubuhi. Saat berpapasan dengan Irvan aku mengelus penisnya dari luar celananya. Irvan membalas meremas pantatku. Aku secepatnyake kamar dan membuka semua pakaianku, lalu merebahkan diri di atas tempat di tutupi selimut. Aku berharap, Irvan memasuki kamar tidurku. Belum sempat usai aku berharap, Irvan sudeah memasuki kamar tidurku.

    Di naik ke kamar tidurku dan menyingkap selimutku. Melihat aku tertidur dengan telanjang bulat, Irvan langsung melepas semuapakaiannya. Sampai bugil. Bibirku dan tetekku sasaran utamanya. AKu mengelus-elus kepalanya dan tubuhnya. Sampai akhirnya aku menyeret tubuhnya menaiki tubuhku. KUkangkangkan kedua kakiku dan menuntun penisnya menembus vaginaku.

    Nafsuku yang sudah memuncak, membuat kedua kakiku melingkar pada pinggangnya. Mulutnya masih rakus mengisapi dan menggigit kecil pentil tetekku. Sampai akhirnya, kami sama-sama menikmatinya dan melepas kenikmatan kami bersama. Seusai itu, kami sama-sama minum susu panas dan bercerita tentang hal-hal lain, seakan apa yang baru kami lakukan, buka sebuah peristiwa.

    Malamnya, seisai Irvan mengerjakan PR-nya dia mendatangiku yang lagi baca majalah wanita di sofa. Tatapan matanya, kumengerti apa maunya. Walau sore tadi kami baru saja melakukannya. Kutuntun dia duduk di lantai menghadapku. Setelah dia duduk,aku membuka dasterku dan mengarahkan wajahnya ke vaginaku. AKu berharap Irvan tau apa yang harus dia lakukan, setelah belajar dari CD pornonya.

    Benar saja, lidah Irvan sudah bermain di vaginaku. Aku terus membaca majalah, seperti tak terjadi apa-apa. AKu merasa nikmatr sekali. Lidahnya terus menyedot-nyedot klentitku dan kedua tangannya mengelus-elus pinggangku. Sampa akhirnya aku menjepit kepalanya, karean aku akan orgasme.

    Irvan menghentikan jilatannya Dan aku melepaskan nikmatku. Kemudia kedua kakiku kembali merenggang. AKu merasakan Irvan menjilati basahnya vaginaku. Setelah puas, Irvan bangkir. Aku turun ke lantai. Kini irvan yang membuka celananya dan menarik kepalaku agar mulutku merapat ke penisnya. Penis yang keras itu kujilati dengandiam. Irvan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Kepalaku ditangkapnya dan dileus-elusnya.

    Aku terus menjilatinya dan terus melahap penisnya, sampai spermanya memenuhi mulutku. Sampai akhirnyanormal kembali dan kami duduk bersisian menyaksikan film lepas di TV. Seusai nonton film, aku mengajaknya untuk tidur, karean besok dia harus sekolah, dan aku harus memeriksa pembukuan toko.

    “yuk tidur sayang,” kataku.Irvan bangkit dan menggamit tanganku, lalu kami tertidur pulas sampai pagi.

    Siang itu, aku mendengar Irvan pulang sekolah dan dia minta makan. Kami sama-sama makan siang di meja makan. Usai makan siang, kami sama-sama mengangkat piring kotor dan sama-sama mencucinya di dapur. Irvan menceritakan guru baruya yang sangat disiplin dan terasa agak kejam. Aku mendengarkan semua keluhan dan cerita anakku.

    Itu kebiasaanku, sampai akhirnya aku harus mengetahui siapa Irvan. Aku juga mulai menanyakan siapa pacarnya dan pernah pergi ke tempat pelacuran atau tidak. Sebenarnya aku tahu Irvan tidak pernah pacaran dan tidak pernah kepelacuran dari diary-nya. Kami sama-sama menyusun piring dan melap piring sampai ke ring ke rak-nya, sembari kami terusbercerita.

    “Ma…besok Irvan diajak teman mendaki gunung…boleh engak, Ma?” tanya Irvan meminta izinku sembari tangannya memasuku bagian atas dasterku dan mengelus tetekku.

    “Nanti kalau sudah SMA saja ya sayang…” kataku sembari mengelus penis Irvan.
    “Berarti tahun depan dong, Ma,” katanya sembari mengjilati leherku.
    “Oh… iya sayang… Tahun depan” kataku pula sembari membelai penisnya dan melepas kancing celana biru sekolahnya dan melepas semua pakaiannya sampai Irvan telanjang bulat.
    “Kalau mama bilang gak boleh ya udah. Irvan gak ikut,” katanya sembari melepaskan pula kancing dasterku sampai aku telanjang bulat.

    Ya.. kami terus bercerita tentang sekolah Irvan dan kami sudah bertelanjang bulat bersama.
    “Sesekali kita wisata ke puncak yuk ma…” kata Irvan sembari menjilati leherku dan mengelus tetekku. Aku duduk di kursi kamar dan Irvan berdiri di belakangku. Uh… anakku sudah benar-benar dewasa. Dia ingin sekali bermesraan dan sangat romantis.

    “Kapan Irvan maunya ke puncak?” kataku sembari menkmati jilatannya. Aku pun mulai menuntunnya agar berada di hadapanku.

    Irvan kubimbing untuk naik ke atas tubuhku. Kedua kakinya mengangkangi tubuhku dan bertumpu pada kursi. Panttanya sudah berada di atas kedua pahaku dan aku memeluknya. Kuarahkan murnya untuk mengisap pentil tetekku.

    “Bagaimana kalau malam ini saja kita ke puncak sayang. Besok libur dan lusa sudah minggu. Kita di puncak dua malam,” kataku sembari mengelus-elus rambutnya.
    “Setuju ma. Kita bawa dua buah selimut ma,” katanya mengganti isapan nya dari tetekku yang satu ke tetekku yang lain.
    “Kenapa harus dua sayang. Satu saja..” kataku yang merasakan tusukan penisnya yang mengeras di pangkal perutku.

    “Selimutnya kita satukan biar semakin tebal, biar hangat ma. Dua selimut kita lapis dua,” katanya. Dia mendongakkan wajahnya dan memejamkan matanya, meminta agar lidahku memasuki mulutnya. Aku membernya. Sluuupp… lidahku langsung diisapnya dengan lembut dan sebelah tangannya mengelus tetekku.

    Tiba-tiba Irvan berdiri dan amengarahkan penisnya ke mulutku. Aku menyambutnya. Saat penis itu berada dalam mulutku dan aku mulai menjilatinya dalam mata terpejam Irvan mengatakan:”Rasanya kita langsung saja pergi ya ma. Sampai dipuncak belum sore. Kita boleh jalan-jalan ke gunung yang dekat villa itu,” katanya.

    Aku mengerti maksudenya, agar aku cepat menyelesaikan keinginannya dan kami segera berangkat. Cepat aku menjilati penisnya dan Irvan Meremas-remas rambutku dengan lembut. Sampai akhirnya, Irvan menekan kuat-kuat penisnya ke dalam mulutku dan meremas rambutku juga. Pada tekak mulutku, aku merasakan hangatnya semprotan sperma Irvan beberapa kali. Kemudian dia duduk kembali ke pangkuanku. Di ciumnya pipiku kiri-kanan dan mengecup keningku. Uh… dewasanya Irvan. Au membalas mengecup keningnya dengan lembut.

    Irvan turun dari kursi, lalu memakaikan dasterku dan dia pergi ke kamar mandi. Aku kekamar menyiapkan sesuatu yang harus kami bawa. Aku tak lupamembawa dua buah selimut dan pakaian yang mampu mebnghangatkan tubuhku. Semua siap. Mobil meluncur ke puncak, mengikuti liuknya jalan aspal yang hitam menembus kabut yang dingin.

    Kami tiba pukul 15.00. Setelah check in, kami langsung makan di restoran di tepi sawah dan memesan ikan mas goreng serta lapannya. Kami makan dengan lahap sekali. Dari sana kami menjalani jalan setapak menaik ke lereng bukit. Dari sana, aku melihat sebuah mobil biru tua, Toyota Land Cruiser melintas jalan menuju villa yang tak jauh dari villa kami. Mobil suamiku, ayahnya Irvan. Pasti dia dengan isteri mudanya atau dengan pelacur muda, bisik hatiku.

    Cepat kutarik Irvan agar dia tak melihat ayahnya. Aku terlambat, Irvan terlebih daulu melihat mobil yang dia kenal itu. Irvan meludah dan menyumpahi ayahnya:”Biadab !!!” Begitu bencinya dia pada ayahnya. Aku hanya memeluknya dan mengelus-elus kepalanya. Kami meneruskan perjalanan. Aku tak mau suasana istirahat ini membuatnya jadi tak indah.

    Sebuah bangku terbuat dari bata yang disemen. Kami duduk berdampingan diatasnya menatap jauh ke bawah sana, ke hamparan sawah yang baru ditanami. Indah sekali.
    Irvan merebahkan kepalanya ke dadaku. AKu tahu galau hatinya. Kuelus kepalanya dan kubelai belai.

    “Tak boleh menyalahkan siapapun dalam hidup ini. Kita harus menikmati hidup kita dengan tenang dan damai serta tulus,” kata ku mengecup bibirnya. Angin mulai berhembus sepoi-sepoi dan kabut sesekali menampar-nampar wajah kami. Irvan mulai meremas tetekku , walau masih ditutupi oleh pakaianku dan bra.

    “Iya. Kita harus hidup bahagia. Bahagia hanya untuk milik kita saja,” katanya lalu mencium leherku.
    “Kamu lihat petani itu? Mereka sangat bahagia meniti hidupnya,” kataku sembari mengelus-elus penisnya dari balik celananya. Irvan berdiri, lalu menuntunku beridiri. Aku mengikutinya. Dia mengelus-elus pantatku dengan lembut.

    “Lumpur-lumpur itu pasti lembut sekali, Ma,” katanya terus mengelus pantatku. Pasti Irvan terobsesi dengan anal seks, pikirku. Aku harus memberinya agar dia senang dan bahagia serta tak lari kemana-mana apalagi ke pelacur. Dia tak boleh mendapatkannya dari perempuan jalang.

    Kami mulai menuruni bukit setelah mobil Toyota biru itu hilang, mungkin ke dalam garasi villa. Irvan tetap memeluk pinggangku dan kami memesan dua botol teh. Kami meminumnya di tepi warung.

    “Wah… anaknya ganteng sekali bu. Manja lagi,” kata pemilik warung. Aku tersenyum dan Irvanpun tak melepaskan pelukannya. Sifatnya memang manja sekali.

    “Senang ya bu, punya anak ganteng,” kata pemilik warung itu lagi. Kembali aku tersenyum dan orang-orang yang berada di warung itu kelihatan iri melihat kemesraanku dengan anakku. Mereka pasti tidak tau apa yang sedang kami rasakan. Keindahan yang bagaimana. Mereka tak tahu.

    Setelah membayar, kami menuruni bukit dan kembali ke villa. Angin semakin kencang sore menjelang mahgrib itu. Kami memesan dua gelas kopi susu panas dan membawanya ke dalam kamar. Setelah mengunci kamar, aku melapaskan semua pakaianku. Bukankah tadi Irvan mengelus-elus pantatku? BUkankah dia ingin anal seks? Setelah aku bertelanjang bulat, aku mendekati Irvan dan melepaskan semua pakaiannya.

    Kulumasi penisnya pakai lotion. Aku melumasi pula duburku dengan lotion. Di lantai aku menunggingkan tubuhku. Irvan mendatangiku. Kutuntun penisnya yang begitu cepat mengeras menusuk lubang duburku. Aku pernah merasakan ini sekali dalam hidupku ketika aku baru menikah. Sakit sekali rasanya. Dari temanku aku mengetahui, kalau mau main dri dubur, harus memakai pelumas, katanya. Kini aku ingin praktekkan pada Irvan

    Irvan mengarahkan ujung penisnya ke duburku. Kedua lututnya, tempatnya bertumpu. Perlahan…perlahan dan perlahan… Aku merasakan tusukan itu dengan perlahan. Ah… Irvan, kau begitu mampu memberikan apa yang aku inginkan, bisik hatiku sendiri. Setiap kali aku merasa kesat, aku denga tanganku menambahi lumasan lotion ke batangnya. Aku merasakan penis itu keluar-masukdalam duburku.

    Kuarahkan sebelah tangan Irvan untuk mengelus-elus klentitku. Waw… nimat sekali. Di satu sisi klentitku nikat disapu-sapu dan di sisi lain, duburku dilintasi oleh penis yang keluar masuk sangat teratur. Tak ada suara apa pun yang terdengar. Sunyi sepi dan diam. Hanya ada desau angin, desah nafas yang meburu dan sesekali ada suara burung kecil berkicau di luar sna, menuju sarangnya.

    Tubuh Irvan sudah menempel di punggungku. Sebelah tangannya mengelus-elus klentitku dan sebelah lagi meremas tetekku. Lidahnya menjilati tengkukku dan dan leherku bergantian. Aku sangat beruntung mememiliki anak seperti Irvan. Dia laku-laki perkasa dan penuh kelembutan. Tapi… kenapa kali ini dia begitu buas dan demikian binal? Tapi… Aku semakin menikmati kebuasan Irvan anak kandungku sendiri. Buasnya Irvan, adalah buas yang sangat santun dan penuh kasih.

    Aku sudah tak mampu membendung nikmatku. AKu menjepit tangan Irvan yang masih mengelus klentitku jugamenjepit penisnyadengan duburku. Irvan mendesah-desah…

    “Oh… oh….oooooohh…”

    Irvan menggigit bahuku dan mempermainkan lidahnya di sela-sela gigitannya. Dan remasan pada tetekku terasa begitu nikmat sekali. Ooooooooooohhhh… desahnya dan aku pun menjerit..

    Akhhhhhhhhhhhh……… Lalu aku menelungkup di lantai karpet tak mampu lagi kedua lututku untuk bertumpu.

    Penis Irvan mengecil dan meluncur cepat keluar dari duburku. Irvan cepat membalikkan tubuhku. Langsung aku diselimutinya dan dia masuk ke dalam selimut, sembari mengecupi leherku dan pipiku. Kami terdiam, sampai desah nafas kami normal.

    Irvan menuntunku duduk dan membimbingku duduk di kursi, lalu melilit tubuhku dengan selimut hotel yang tersedia di atas tempat tidur. Dia mendekatkan kopi susu ke mulutku. Aku meneguknya. Kudengar dia mencuci penisnya, lalu kembali mendekat padaku. Dia kecul pipiku dan mengatakan:”Malam ini kita makan apa, Ma?”

    “Terserah Irvan saja sayang.”
    “Setelah makan kita kemana, Ma?” dia membelai pipiku dan mengecupnya lagi.
    “Terserah Irvan saja sayang. Hari ini, adalah harinya Irvan. Mama ngikut saja apa maunya anak mama,” kataku lembut.

    “OK, Ma. Hari ini haerinya Irvan. Besok sampai minggu, harinya mama. Malam ini kita di kamar saja. Aku tak mau ketemu dengan orang yang naik Toyota Biru itu,” katanya geram. Nampaknya penuh dendam. Aku menghela nafas.

    Usai makan malam, kami kembali ke kamar dan langsung tidur di bawah dua selimut yang hangat dan berpelukan. Kami tidur sampai pukul 09.00 pagi baru terbangun.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Supir Ngentot Gadis Cantik Super Mulus

    Cerita Sex Supir Ngentot Gadis Cantik Super Mulus


    1103 views

    Perawanku – Cerita Sex Supir Ngentot Gadis Cantik Super Mulus, Aku lugu dan polos, mungkin ini kelemahan ku saat aku tidur dengan sopirku. Cerita seks ini ak share aja disini. untuk para pembaca sensor , kisah ini nyata dan tidak ada rekayasa…sengaja saya kepingin curhat lewat cerita ini soalnya untuk terus terang ke temen atau saudara atau ortu, ga bisa.. namaku Dita Putri ,usia saat ini 20 asli Bandung,tinggal di daerah Setiabudi Regency,

    dan saat ini kuliah sastra inggris semester 4 di salah satu pts Bandung, kata temen2 kampusku aku termasuk cewek cantik dan beruntung, kenapa? karena bentuk tubuhku(kata temen)bisa dibilang proporsional dan bikin terangsang kaum cowo(semua ini kata temen2 deketku seperti si Nita,Asni,Ruri) tapi sampai sekarang aku belum punya pacar karena ga boleh sama ortu.o ya,di rumah kami tinggal berlima aku dua bersaudara adikku cewek dan aku dan kedua orang tuaku satu lagi pembantu sekaligus sopir pribadi keluargaku sebut saja mang Sardi(maaf,nama samaran)(dia itu usia nya hampir seusia papahku yaitu sekira 50 tahunan)jadi genap berlima semuanya..
    kejadian aneh dan mengasikan itu terjadi kira2 beberapa bulan lalu saat bulan puasa, waktu itu hari jum’at (tanggalnya lupa) kami di rumah hanya berdua yaitu saya sama mang Sardi, sedangkan mamah-papah sama si Danti(nama adikku yg masih smp itu) sedang ke Bogor (berangkat hari jum’at subuh setelah makan sahur) karena papah serah terima jabatan di Pemda Bogor dan mereka menginap selama 3 hari,sedangkan saya mesti kuliah semester pendek, jadi ga bisa ikut, dan di rumah ditemani supir kami mang Sardi karena disuruh papah jagain aku.
    Jadi resmi di rumah yg besar ini(karena saat nulis email ini lagi dirumah) kami berdua, saya dan mang Sardi di ruang bawah. setelah keberangkatan mereka dan makan sahur saya kembali lanjutkan tidur sementara mang Sardi beres2 ruang bawah, nah kejadian anehnya ini berawal ketika saya mau mandi di ruang bawah (karena sowernya deket ruang tamu) saat itu saya mau kuliah jam 8.00, sedangkan saat bangun jam 7.00 saya agak santai saat itu karena selain jarak kampusku deket juga ada mobil civic grand kesayanganku itu yg selalu menemani kemanapun.
    saat mau mandi saya langsung buka daster seperti biasa kalo pake daster saya selalu tidak pake BH dan CD, jadi hanya baju tidur aja, demi kesehatan, begitu menurut mamaku…asal tau aja kalo tubuhku seperti yg dikatakan temen2ku itu betul2 proporsional dg ukuran BH 34A dan pinggul yg agak bulat serta kulitku yang putih mulus tanpa cacat kalo disamain, kata teman2ku aku ini mirip2 sedikit dengan Putri Patricia artis sinetron itu(bukan geer lho) , setelah telanjang gitu saya mencoba buka kran sower tapi ga keluar air alias macet dan saya agak jengkel sambil setengah teriak panggil mang Sardi…..”mang Sardiiii….kesini cepat”,dan dg spontan dia datang tergopoh2, saya lupa saat itu udah telanjang dan pintu ga dikunci, begitu dateng dia, langsung mukanya merah padam karena melihat saya telanjang bulat di hadapannya, saya pun malu spontan tanganku menyambar kain daster di gantungan dan bilang ke dia kalo sower ga jalan, lalu dia terbata2 bilang gini “maaf neng,mamang lupa bukain jet pump di dapur, lalu saya suruh dia “cepet mang bukain udah dingin nih!!”
    lalu dia menganguk dan setengah berlari dia ke dapur, setelah menyala sowernya itu lalu aku semprotkan sower air panas ke bathtub dan aku langsung agak loncat ke bathtub tanpa ada rasa lupa mengunci pintu toilet tersebut, dan setelah aku selesai mandi aku lupa kalo aku juga ga bawa handuk lalu aku panggil mang Sardi tapi saat itu posisiku masih didalam bathtub berbusa tentu saja telanjang, tak lama dia datang dan dengan meminta ijin dia masuk ke toilet dengan hati2 sekali,
    “mang tolong bawain handuk bunga2 yg warna merah di kamar” begitu kataku saat itu, dia menganguk dan langsung ke kamarku lalu saya tersenyum sendirian melihat tingkah laku mang Sardi barusan yg hati2 sekali dan malu2 tertunduk itu, sekilas ada hasrat untuk mengerjainya waktu itu, ga berapa lama dia muncul bawa handuk lalu aku keluar dari bathtub dengan posisi membelakangi dia sehingga yg dia lihat punggung mulusku saat itu(tentu saja saat itu saya masih telanjang bulat) dengan suara agak gemetar dia bilang gini “sudah ya neng ini handuknya!” lalu saya bilang “bentar dulu mang, mendingan mamang yg menghanduki saya biar tahu sekali2 rasanya menghanduki cewe(begitu awalnya saya mengerjainya,o ya asal tau aja kalo mang Sardi itu adalah duda tanpa anak sejak 7 tahun lalu)
    semula dia keliatan kikuk dan ragu2 melakukannya (saya tahu karena liat cermin didepanku walaupun membelakangi dia) dengan wajah tertunduk dan mimik muka yg malu2 lalu dia mengusapkan handuk ke punggungku yg masih berbusa sabun, dan cukup lama dia mengusap2 punggungku…lalu saya bilang “seluruhnya donk mang, dari rambut ke kaki paling bawah” dan “iya…eee..iya neng sebentar” dia terbata2 jawabnya. Sekilas saya sempet tertawa kecil karena merasa seneng udah kerjain dia, lalu dia mengusapkan handuk dari rambut ke leher, lembut sekali.
    bahu punggung dan di posisi pinggang dan bokong (belahan anus) agak lama menghandukinya, sekilas terasa seperti diusap2 lembut dan ada rasa enak ketika dia menghanduki daerah deket anus, lalu ke paha belakang dan terakhir di kaki bawah. Saat itu terlintas saya mau menyudahinya karena mungkin waktu sudah jam 7.30 pikirku, namun entah setan apa yg merasuki aku saat itu sehingga ada pikiran nakal lagi mau mengerjainya lebih, dan secara refleks aku berbalik badan dan saat itu kontan dia terbelalak kaget dengan posisi tubuh telanjangku menghadap dia yg masih memegang handukku itu lalu dia tertunduk dan aku langsung berkata seperti ini “mamang sekarang membersihkan dan menghanduki bagian depan ya mang!!” begitu suruhku sambil agak setengah ketawa(habis ga tahan tingkah laku dia yg kikuk itu)
    lalu diapun menghanduki badan bagian depanku mulai dari rambut lalu wajah (aku tertawa kecil saat dia handuki wajahku) tapi yg aku tahu dia tetap tertunduk, dan setelah wajah ke leher lalu (aku agak deg2an saat itu)dia menghanduki bagian dada kiri kananku agak lama(sejenak dia agak terhenti saat menghanduki daerah dada) dan saat itu juga aku berhenti ketawa2 kecil dan ada rasa aneh yg belum pernah dirasakan saat mang Sardi menghanduki dadaku, soalnya selama ini kalo sama sendiri rasanya biasa2 aja, tapi pas sama orang lain yg menghandukinya jadi agak lain rasanya.
    ada perasaan enak dan nikmat sementara saya seperti dibius saja terpejam beberapa saat tanpa sadar berkata seperti ini “hmmm….hmmm…hmmm” kontan saja mang Sardi bertanya “kenapa neng?neng Dita marah ya sama mamang?”…dia mencoba untuk menegakan kepalanya yang agak melihat ke wajahku yg lebih jangkung dari dia, dan dia semakin berani malah saat itu menatap wajahku ,aku menggeleng dan berkata “ngga mang…saya ga marah cuman…” aku ga meneruskan kata2ku saat itu….lalu dia tanya lagi “cuman apa neng? bilang sama mamang?” suaranya seperti ketakutan kalo2 saya akan memarahinya..lalu saya teruskan kata2ku “cuman ada perasaan enak di elus2 gitu mang!!” jawabku polos saat itu tanpa ada rasa malu kalo ternyata saat itu adalah pertama kali terangsang secara seksual, gilanya lagi oleh pembantu sekaligus sopirku mang Sardi!!!
    Mang Sardi malah senyum setelah saya ungkapkan kepolosanku itu lalu berkata gini “nah…neng…mamang tau sebenarnya kalo neng Dita ini mau mengerjain mamang ya…dan ternyata malahan neng Dita sendiri yang mulai terangsang!!!” begitu katanya dengan logat sunda yang kental sambil tetap tangannya memutar-mutar dadaku kiri kanan dengan handuk, padahal kalo saya lihat udah kering dadaku itu, justru yg masih basah adalah bagian perut dan kemaluanku yg agak masih jarang bulu2nya hanya bulu halus seperti rambut, lalu saya memegang tangan mang Sardi dua2nya dan berkata “cukup mang, Dita kesiangan nih kuliah udah telat dari tadi”, lalu mamang menganguk dan melilitkan handuk itu ke tubuh saya seperti saat dia melilitkan handuk ke tubuh saya saat SD…..dan sebelum dia keluar saya menarik tangan kirinya sambil berkata “jangan bilang sama mamah-papah ya, diem aja nanti deh pulang kuliah dihandukin lagi sama mamang seperti tadi, mau ga?” kataku cepet2, dia cuman menganguk.
    Lalu pas di tempat kuliah saya ga bisa konsentrasi, kepengen cepet pulang selain lapar karena puasa juga kepengen cepet mandi dan dihanduki lagi sama mang Sardi.. Setelah selesai kuliah kira2 jam 12.30 aku bergegas pulang dan sampe di rumah jam 13.00 langsung menuju kamar dan ganti pake daster dengan maksud mau mandi siang sambil membawa handuk saya lihat mang Sardi terbengong-bengong dengan tingkah lakuku itu dan sambil tersenyum saya berkata seperti ini ke dia “mamang handukin lagi Dita ya mang?” dia menganguk setengah tersenyum dan bilang gini
    “neng Dita mandi aja dulu nanti kalo udah selesai panggil mamang, pasti deh mamang nyamperin ke toilet” saya menganguk dan mandi, setelah selesai mandi saya panggil dia dan langsung masuk ke toilet tanpa permisi dan sepintas dia menyambar handukku dan tanpa basa basi saya keluar dari bathtub dan dia menghampiri, kali ini saya langsung menghadapnya dengan telanjang badan tanpa membelakanginya seperti pagi hari tadi, lalu dia langsung menghanduki rambutku yg basah kuyup oleh air dan saat itu kami tidak bicara satu sama lain hanya mungkin kata hati kami masing2 bicara sementara dia handukin rambut leher dan pundak saya , malah terpejam(mungkin saya sedikit menikmatinya) dan yg paling mendebarkan saat mang Sardi menghanduki dadaku kiri kanan itu benar2 lebih mendebarkan ketimbang di pagi hari itu.
    Dan saat bermenit-menit mang Sardi mengusap dadaku kiri kanan dengan handuk tiba2 dia nyeletuk seperti ini “neng Dita, kalo diusapnya tidak pake handuk seperti ini akan lebih nikmat!!!” lalu aku jawab “maksud mamang???langsung pake tangan mamang gitu!!!” dia menganguk seolah minta restu dariku, lalu saya pun menganguk tanda setuju….dan ternyata jauh dari pikiranku lebih nikmat langsung dielus pake tangan mang Sardi ketimbang dielus memakai handuk, sesaat tangan kiri dulu lalu kemudian tangan kanannya menyusul meremas lembut sambil sesekali melintir seperti memainkan volume radio tapeku.
    Dan benar saja nikmat sekali rasanya apalagi ini baru pertama kalinya seorang laki2 menyentuh langsung dengan telapak tangan ke dadaku dan lama-lama makin mengeras saja payudaraku saat itu, tidak sadar ternyata seperti mau pipis rasanya dan geli, nikmat, asik, enak campur aduk jadi satu saat mang Sardi terus mengelus buah dadaku yg belum pernah dielus itu, ternyata kejadianya hampir 1/4 jam kala dia mengelus dadaku ini. Semakin lama semakin tak sadar sambil terpejam saya merapatkan badan ke tubuh mang Sardi dan dia mundur ke belakang, punggungnya menyentuh dinding toilet dan saya terus semakin merapatkannya sambil tetap dia mengelus2 halus buah dada ini kiri kanan, dan posisi itu yang saya ingat, menimbulkan semacam gesekan benda yang mengeras hangat di balik sarungnya(o ya, saya lupa saat itu dia memakai kaos oblong dan kain sarung karena pulang Jum’atan di masjid depan rumahku) mungkin dia ga pake celana kolor karena dari gesekan tubuhku ini terasa sekali semacam kemaluan laki2(yg selama ini saya tau dari film dan cerita2 temen2)
    saat saya terpejam begitu lama2 dia berani menjulurkan lidahnya ke leher saya waktu itu, semula saya mau menghindar tapi tak kuasa untuk menghindarinya dan mencoba untuk menikmatinya, agak geli karena berkumis tapi lucunya posisi dia mendongkak ke atas karena saya lebih jangkung dari dia dan agak berjinjit kakinya dan dia menjilati leher kebawah lalu pundak dan akhirnya di dada, ini lebih nikmat rasanya ketimbang pake tangan dan ga sadar saya mengeluarkan suara”SSSSTT…AHHH… AHHH…. HMMMMMM”mungkin begitu seingatku saat itu.dan itu adalah nikmat dari segala nikmat menurutku saat itu,
    lalu lama2 dia seperti mau berjongkok dan ternyata berjongkok lidahnya menciumi perutku, udel, lalu ke kemaluan ku yang masih jarang berbulu ini,dan ahhhhh….saya tak sadar bersuara agak keras saat dia menciumi kemaluanku ini, karena saat itu benar2 baru pertama kali diciumin seperti itu sama laki2.nikmat sekali rasanya….Lalu terdengar telepon berdering, buru2 saya melepaskan pelukan mang Sardi di pinggang dan berlari ke ruang tengah sambil telanjang bulat dan agak basah tubuhku saat itu,
    basah karena air mandi dan liur mang Sardi, ternyata papah dari Bogor telepon mengabari kalo beliau sudah sampe disana, dan setelah telepon ditutup saya membalikan badan ternyata mang Sardi sudah ada dibelakangku, dia mengikutiku sejak tadi berlari ke ruang tamu ini, dan dia bertanya dari siapa teleponnya,saya jawab dari papah di Bogor, lalu mang Sardi menyuruh saya berpakaian lagi sambil menyodorkan daster yang tadi ditanggalkan di toilet, lalu aku pakaikan dasterku saat itu dan masuk kamar.
    Sepintas saya liat jam 3.30 sore hari lalu aku tertidur di kasur sampe terbangun dengan ketukan di pintu kamar “neng bangun neng udah magrib”begitu terdengar suara mang Sardi di balik pintu kamar, lalu aku ke bawah dan makan di meja makan sementara mang Sardi di dapur, lalu aku panggil, untuk makan sama2 di meja makan, semula dia menolak tapi akhirnya mau juga.
    Setelah makan, badan merasa gerah dan aku bermaksud untuk mandi lagi tepat jam 7.00 malam hari, lalu aku lihat mang Sardi sedang nonton tivi dan aku sengaja ajakin dia untuk sama2 ke toilet, semula dia menolak dengan alasan kalo nanti ketauan sama papah, tapi aku jawab papah di Bogor ini, jadi ga usah takut, akhirnya dia mau juga aku ajak ke toilet, entah kenapa saat itu pikiranku bener2 ngeres sejak mang Sardi siang harinya menciumi sekujur tubuhku.Setelah berada di toilet langsung saja aku masuk ke bathtub sementara mang Sardi saya suruh semburin air hangat yg keluar dari sower untuk disiramin ke sekujur tubuhku (tentu saja aku dalam keadaan telanjang bulat saat itu, ga ada suara , hening, yg terdengar hanya gemericik air disiramin diatas tubuh ini, sambil aku tiduran di bathub menikmati aliran air mang Sardi sepintas terlihat hanya memandang tubuh telanjangku, tapi aku pura2 ga liat, khawatir dia kabur ke luar toilet kalo tahu saya pandangin dia.
    Dan entah kenapa setelah air itu penuh di bathtub, aku punya ide gila untuk mengajak dia mandi bareng2, tapi tentu saja dia menolak(asal tau saja kalo mang Sardi ini orangnya loyal bgt sama keluarga kami)setelah tau dia menolak secara halus akhirnya saya ga kehabisan akal, saya menyuruh dia untuk menyabuni seluruh badan ini, seperti yg dilakukan mang Sardi disaat saya kecil, dan dia setuju.
    Lalu mulailah dia menyabuni mulai dari rambut,leher,bahu,punggung dada kiri kanan,dan berhenti di pinggang, saya tanya “kenapa mamang berhenti??”lalu dia jawab “takut dosa neng,neng Dita kan anak majikan saya neng!!!, nanti saya dikejar2 perasaan itu terus” saya mengerti dari raut mukanya dan menjawab seperti ini “mamang ga usah takut, kan kita cuman berdua, lagipula kalo Dita lakukan sama orang lain ga mungkin, soalnya mamang tau sendiri sifat mamah seperti apa ke Dita!!,sejak mamang ciumin tubuh Dita tadi siang jadi suka terbayang2 sama Dita mang” begitu penjelasanku.
    polos saat itu, dan dia berkata”iya neng, mamang juga tadi siang bener2 khilaf, dan mamang pun udah lama ga seperti ini apalagi neng Dita sekarang ini tambah cantik,putih mulus jauh sekali dibandingkan dengan istri mamang dulu”katanya sedih”lalu tanpa sadar saya berusaha untuk menghiburnya dengan refleks memeluknya dan ga terasa saya malah memegang kemaluannya diluar celananya dan terasa sekali sudah mengeras,tidak terlalu besar tapi saat itu benar2 pertama kali saya memegangnya, walaupun mang Sardi itu usianya 50 tahunan tapi masih keras sekali kemaluannya itu, terasa saat dipegang.
    Dan dia malah balas memelukku saat itu dalam keadaan basah kuyup dengan siraman sower kami saling memeluk sehingga baju oblong yang dipake sama mang Sardi ikut basah juga akhirnya secara diam2 saya bukakan kaos oblongnya sementara dia diam saja, dan terlihatlah dadanya yang berbulu dan kelihatan masih tegap, lebih tegap dibandingkan dengan tubuh papah, dia diam saja saat saya mencoba mengelus dadanya itu(seperti pada film2 porno yang saya tonton sama temen2 kampus) saya sempat bergetar kala mengelus dada yg berbulu itu, lalu secara spontan dia membelai rambut saya yg basah dan tangannya itu dua2nya mengelus pipiku lembut sekali saya cuman terpejam seakan dielus sama papah yg selama ini sibuk dengan pekerjaan kantornya.
    Dan sesaat terdiam saat dia memegang bahu saya dan turun tangannya ke dada yg kiri sementara tangan kanannya mengelus paha dan kemaluan saya, saya sempat diam dan malah memaju mundurkan tubuh saat itu seakan menikmati setiap belaiannya itu, sambil tetap mata ini terpejam dan secara refleks malah saya memeluknya erat sekali.
    Dan tak lama dengan posisi memeluk sambil berdiri itu saya secara perlahan membuka gesper kulitnya seraya menurunkan celana panjang mang Sardi saat itu, dan setelah saya menurunkan celananya yg basah tersiram sower itu kemudian saya juga menurunkan celana kolor nya itu perlahan dan terlihatlah kemaluan laki2nya begitu mengkilat yang baru pertama kali saya lihat secara nyata dan asli di usia saya yang saat itu 19 tahun(sekarang udah 20 tahun), dan setelah terlihat itu dadaku tambah bergetar tak karuan ketika saya mencoba untuk memegangnya secara perlahan, dan dalam gengnggaman saya saat itu begitu hangat kemaluannya dan berdenyut seperti seekor burung, tapi menambah penasaran untuk berbuat lebih jauh tanpa memikirkan lagi yang namanya logika mana majikan mana pembantu.
    Mang Sardi saat itu juga sepintas saya lihat memejamkan mata yang pada akhirnya kami saling membelai, dimana mang Sardi membelai kemaluan saya yg semakin basah dan hangat, sementara saya pun membelai kejantanan mang Sardi yg hangat itu, lama2 saya secara naluri mengocok2nya seperti di film dan mang sardi seperti menikmati kocokan itu hampir sekira 15 menit saya mengocoknya sementara saya telah mencapai puncak kenikmatan ketika mang Sardi memasukan jarinya maju mundur ke dalam kemaluan saya. Dan seperti mau pipis tapi enak dan nikmat rasanya ketika tubuh saya bergetar dan mengeluarkan suara mungkin seperti ini ini yang saya ingat
    “AAAhhhhhh..mmmmm.m.mmmmm..mm. .ennaakk mmaamang”sambil terus tanganku mengocok2 kejantanannnya itu, dan beberapa saat setelah saya merasa di puncak kenikmatan mang Sardi mengeluarkan pipis berwarna putih kental dan hangat belepotan di tanganku waktu itu yg akhirnya saya tau dari buku kalo itu adalah cairan sperma laki-laki, setelah itu dia melepaskan tangannya dari kemaluanku dan saya pun melepaskan kocokan di burungnya dan membersihkan tanganku yg penuh sperma dengan air sower, lalu mang Sardi menyuruhku memakai handuk dan tidur. Akupun naik ke atas dan ganti daster lalu tidur.
    Selintas di jam dinding kamarku jam 9.30 malam, saya ga bisa tidur sama sekali, yg terlintas di bayanganku saat itu hanyalah kejadian demi kejadian hari itu yang betul2 pengalaman mengasikan yg dilakukan kami berdua yaitu saya dengan mang Sardi, dan setelah kejadian itu kami seringkali melakukannya disaat adeku dan ortuku tidak ada di rumah, terkadang mang Sardi saya ajak pura2 mengantarku pake mobil kesayanganku atau mobil papah dan kami melakukannya di berbagai tempat seperti dago, Lembang, Pangalengan dan tempat2 sejuk lainnya.
    tentu saja cari tempat yang aman tidak diketahui banyak orang, tapi sampai saat ini saya masih tulen perawan karena menurut mang Sardi, asal jangan dimasukin burungnya mamang, neng Dita akan tetap perawan, demikian tuturnya, lama-kelamaan saya jadi jatuh cinta sama mang Sardi yang terpaut jauh usia diatasku, karena mungkin saya mencari figur papah yg selama ini kerap sibuk dinas di pekerjaannya. terserah pembaca mau percaya atau tidak tapi yg saya ceritakan ini benar adanya , sudah dulu ya… ya Dita mau bobo nihh udah jam 01.30..
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Gadis Kampus Perawan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Gadis Kampus Perawan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1556 views

    Perawanku – Jadi ini kisahku yang tejadi sekitar 3 tahun yang lalu sat aku sedang masuk kuliah. Waktu itu aku kuliah disalah satu univerSitas terkenal dibandung. Saat aku pertama kali aku masuk kuliah aku sendirian gak punya teman karena aku bukan asli bandung. Namun seiring berjalannya waktu, dan sifatku yang supel aku jadi mempunyai banyak teman. Anak-anak kampusku yang perempuan sangat cantik-cantik sekali, memang bener kalau bandung itu sering disebut lautan bidadari.

    Hingga akhirnya setelah kurang lebih 2 bulan aku kuliah disitu aku melirik satu wanita yang terlihat begitu indah dimataku. Sebut saja namanya Sita, orangnya gak terlalu tinggi, namun dia memilki paras yang cukup menarik buwatku. Juga bentuk lekuk tubuhnya juga sangat indah untuk dinikmati. Bongkahan kedua payudaranya lumayan besar dan pantatnya terlihat sangat padat sekali dibalik celana strit yang selalu dikenakannya saat dikampus.

    Sita -Pandanganku ketika dikampus saat ini hanya tertuju pada Sita. Setiap jam istrirahat aku selalu mencari keberadaan Sita dimana. Hingga aku mencari tau tentang Sita kepada teman-temannya, tapi sekejap aku kecewa mendengar kalau sta udah mempunyai seorang cowok. Namun dalam sekejap semangatku kembai karena ada salah satu teman Sita yang memberitahuku kalau hubungan Sita dengan cowoknya sudah gak harmonis lagi, dan bahkan sekarang Sita juga gak pernah bertemu dengan cowaknya. Aku langsung semringah mendengar berita dari teman dekat Sita itu.

    Dan tibalah wajtunya, saat Sita sedang duduk dikantin sendirian aku langsung saja memberanikan diri untuk nyamperin Sita. Lalu dengan basa-basi akhirnya aku pun bisa sedikit akrab dengan Sita hingga akhirnya ita ngobrol panjang lebar. Untung aja jadwal perkuliahanku dengan Sita bisa sama-sama kosong, jadi aku dan Sita mempunyai waktu yang banyak untuk ngobrol. Waduh hatiku lemas, walaupun sudah jarang ketemu tetapi statusnya masih resmi pacaran. Saat kami berdua ngobrol, dia suka curhat tetapi saya suka mencuri pandangan ke arah buah dadanya yang indah menawan itu.

    Waduh pokoknya bulat tegap dan sedikit runcing, begitu juga kulitnya tidak satupun bekas goresan luka, hanya putih mulus dan pantatnya bulat menantang. Kalau dilihat dari belakang, waduh.. membuat kemaluan saya berdiri tegap dan ingin Kudus Group agen bola rekomendasi kuremas-remas dan ditancap dari belakang. Bayangkan kalau berjalan dia berlenggang-lenggok.

    Dia memiliki rambut yang indah, hitam dan panjang, berhidung mancung, berbibir tipis, alis dan bulu mata yang lentik (tapi seperti cewek bule). Dan memang cewek ini anak seorang yang kaya raya. Dan kami pun menjadi dekat dan akrab, tapi tidak tahu dia itu sukanya bareng dan jalan sama saya saja. Padahal kan banyak teman cewek di kampus itu ataupun cowok yang lain. Yaa.. tapi saya pun sangat senang sekali bisa jalan bareng sama Sita, Dia pun sering mengajak saya main ke rumahnya. Namun itu tidak pernah terjadi, mungkin saya tidak biasa main ke rumah cewek.

    Dan akhirnya dia ingin main ke rumah saya, waduh saya juga bingung karena saya juga belum pernah kedatangan teman cewek apalagi seperti dia, tapi dia terus memaksa saya. Suatu hari di kampus, mata kuliah satu sudah selesai dan harus masuk lagi untuk mata kuliah yang kedua, tapi waktunya sore hari, dan ketika sudah selesai mata kuliah satu, kami pun merasa BT kalau di kampus saja, dan Sita memaksa saya untuk main ke rumah saya, katanya ingin tahu tempat tinggal saya dan sekaligus ingin curhat. Ya untungnya rumah saya itu hanya ada saudara saya (karena saya tidak tinggal bersama orang tua) dan rumah itu milik nenek saya. Oleh karena itu kehidupan saya bebas dan saling cuek sama anggota keluarga lainnya di rumah itu.

    Tidak ada saling curiga atau hal apapun, yang penting tidak saling merugikan satu sama lain. Kami pun berdua pergi ke rumah saya. Siang bolong, ketika sudah sampai di rumah, Sita saya persilakan masuk ke kamar saya dan ternyata saya tidak grogi atas kedatangan cewek cantik ini. Dan ketika baru mengobrol sebentar lalu dia bicara, Edi panas yaah hawa di Bandung sekarang ini. Iya nih! sambil kubawakan minuman dingin yang sangat sejuk sekali. Edi.. boleh nggak saya buka baju, kamu jangan malu Edi, saya masih pake pakaian dalam kok, habis panass siihh.

    Waduh memang saya merasa malu waktu itu dan sedikit deg-degan jantungku. Aduuh gimana kamu ini, emang kamu nggak malu sama aku? bantahku. Tapi kan dia sudah ngomong kalau dia masih memakai pakaian dalam. Kemudian saya keluar kamar sebentar untuk mengambil makanan ringan di lemari es, dan ketika saya memasuki kamar lagi, ya ampun.. pakaian dalam sih pakaian dalam tapi kalau ternyata kalau itu BH yang super tipis dan kelihatan puting susunya.

    Waduh, saya sangat grogi waktu itu dan saya pun sering memalingkan wajah, tapi tidak dapat dipungkiri, kemaluan saya pun berereksi dan aliran darah saya pun mengalir tidak karuan, apalagi hawa sedang panas-panasnya. Ayo sekarang kamu mau curhat lagi? kataku. Nggak sih Edi, saya udah minta putus sama dia (pacarnya-red) dan dia setuju untuk resmi putus. Ya udah.. abis gimana lagi, katanya. Dalam hatiku, asyik dia sudah putus, dan saya pun berpura-pura bersedih, karena memang kasihan melihat wajahnya sedikit pucat dan sedikit menangis. Dia bandar bola sbobet memelukku sambil sedikit bicara kepadaku, tapi itu lho anuku tidak bisa diam dan semakin panas saja suhu tubuhku.

    Ketika kuelus rambut dan punggungnya, eh dia menciumku dan kubalas ciumannya dan dia membalas lagi, semakin lama kami berciuman dan dia memasukkan lidahnya ke mulutku. Waduh, ini benar-benar mengasyikan dan terus terang ini adalah pertama kali bagiku. Dan dia pun mengeluarkan suara desahan yang sangat lembut dan sensual, dan dituntunnya tanganku ke buah dadanya, langsung saja kuremas-remas dan BH-nya pun kubuka.

    Wow, buah dada yang sangat indah, putih, bulat berisi dan mancung serta puting yang bagus, sedikit warna merah di seputar putingnya dan berwarna coklat di puncaknya, sekali-kali kupelentir putingnya dan dia pun mendesah kuat. Ssstthh ha.. hah.. aahh.. okhs Edi, bagus Edi, eenakk, suaranya yang kecil dan merdu. Dia membuka bajuku dan aku kini dibuatnya telanjang, tapi aku hanya pasrah saja, tidak ada rasa malu lagi. Apa kamu sering melakukan ini sama pacar kamu? kataku.

    Iya Edi, tapi nggak sering.. aaksshh.. kata dia sambil mendesah, tanganku diarahkannya ke liang kemaluannya, dan langsung kuelus-elus sambil lidahku menjilat putingnya yang indah itu. Sedikit-sedikit kuselingi dengan gigitan ringan tepat di puncaknya, dan dia menggeliat keenakan. Dan kemaluannya pun basah. Kubuka celananya dan celana dalamnya secara perlahan. Oh iya, kami melakukannya di sofa kamarku tepat di depan TV dan stereo-set. Dan kami lagi sedang mendengarkan lagu-lagu rock barat tahun 70-an, ketika kubuka celana dalamnya, yes.. dia memiliki kemaluan yang bagus, bulu sedikit, dan memang dia masih perawan, dengan pacarnya juga hanya melakukan oral sex.

    Tetapi saya belum berani untuk menjilat kemaluannya, saya hanya mengesekkan tangan saya ke bibir kemaluannya. Eh ternyata dia turun dari sofa dan menghisap batang kemaluanku, Aaakshh.. hsstt oks! dia menjilati biji pelerku dan dia mengisap kemaluanku lagi sambil dipegang dan dikocoknya. Waduuhh.. enak sekalii akkhhss.. aliran-aliran darahku mengalir dengan serentak dan ingin kumasukkan kemaluanku ke liang kemaluannya, tapi apa dia mau?

    Beberapa menit kemudian.. Edi, kamu punya barang gede enggak, kecil enggak, panjang enggak and pendek enggak, tapi bener Edi, saya sangat suka kamu punya barang, katanya sambil berdiri dan lubang kemaluannya dihadapkannya ke wajahku aku semakin tidak kuat saja.

    Langsung saja kujilat liang kemaluannya. Wah agak bau juga nih, tapi bau yang enak. Semakin lama semakin asyik dan sangat enak, dan dia pun merintih-rintih kecil, Uwuuhh oo.. sstt akhs.. akhs.. akhs.. oohh aahh.. sstth, sambil tubuhnya agak bergerak nggak karuan, mungkin jilatanku belum pintar tapi kulihat dia sedang keasyikan menikmati jilatanku. Lalu dia berdiri dan menarik tubuhku ke lantai. Di situ kami berciuman lagi, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang agen bola sbobet hangat di sekitar liang kemaluannya, kuingin batang kemaluanku dimasukkannya ke lubang kemaluannya.

    Soalnya aku masih ragu. Tapi saya memberanikan untuk bicara. kamu masih perawan nggak? Iya.. aksshh.. sstt.. sstt aakhs, katanya. Ternyata dugaanku benar. Tapi sama pacar kamu itu? Iya tapi kalau aku sama dia hanya oral aja, kata Sita. Tapi Edi, gimana kalau kita ini sekarang.. dia tidak melanjutkan pembicaraannya.

    “Okh.. ookh.. okh.. sstt..” dia mencoba untuk memasukan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya dengan bantuan tangannya.

    Dengan begitu, aku pun berusaha untuk memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya, dan secara perlahan kugesekkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dan sedikit demi sedikit kumasukkan kemaluanku, tapi ini hanya sampai kepala aja, dan.. Ooohh aakksshh.. ahh.. ah.. aahh.. oohh.. sset, dia merintih- rintih. Aku terus menggenjot dia. Edi, ternyata pedih juga, aahh! katanya. Tapi teruskan saja Edi… Kulihat wajahnya memang mengkhawatirkan juga, tapi yang kurasakan adalah kenikmatan, meskipun itu masih tersendat-sendat dan sedikit kehangatan, Ookkhhss.. sstt, aduh nikmatnya, kataku.

    Dan memang ada sedikit darah di batang kemaluanku dan yes.. semua batang kemaluanku masuk, dan benar-benar nikmat tiada tara, dan hilanglah perawannya dan perjakaku. “Ssstt.. sstt..” desahannya yang merdu dan menggairahkan apalagi didukung oleh kecantikannya dan mulus kulitnya. Dan kami masih melakukan gaya konvensional dan terus kugenjot naik turun, naik turun dan tumben, aku masih kuat dan menahan kenikmatan ini, karena kalau aku sedang onani, tidak selama ini.

    Di lantai itu kami melakukannya serasa di surga. Assh.. asshh.. aakss.. oohh.. aksh.. sstt, dia menjerit-jerit tapi biarlah kedengaran oleh saudaraku, yang lagi nonton TV di ruang keluarga. Karena pasti suara jeritan Sita ini kedengaran. Terus Edi, aduhh Edi kok enak sih.. aakss ssttss.. katanya sambil merem melek matanya dan bibirnya yang aduhai melongo ke langit dan langsung kujilat lidahnya. Duuhh aahss sstt duh An, aku mau keluar nih! kataku.

    Uuhhss sstt jangan dulu dong Edi.. bentar lagi aja, katanya.

    Tapi memang saya waktu itu sudah nggak kuat, ehh ternyata.. Sss oohh akkhhss.. oohh, duh Edi boleh deh sekarang, kamu dikeluarinnya di sini aja, sambil ditunjukanya ke arah payudaranya. Dan.. Creett.. crooot.. crooot.. crroooot dan air maniku yang banyak itu menyemprot ke payudaranya dan sekitar lehernya.

    Selesailah main-main sama Sita, dan waktu pun menunjukan arah jam 5 lebih dan memang kami sudah telat untuk pergi lagi ke kampus memasuki pelajaran Mata Kuliah kedua. Kami berdua terkulai dan ketiduran di lantai itu dalam keadaan masih telanjang, dan lagu di stereo tape-ku pun sudah lama habis.

    Bangun-bangun sudah hampir jam 19.00, kami pun bergegas berpakaian dan aku pergi ke kamar mandi untuk mandi, sesudah saya selesai mandi dia juga mandi, dan akhirnya kami pergi jalan-jalan sekalian mencari makan. Kami pergi ke daerah Merdeka dan makan. Sesudah itu kami nonton di Bioskop. Di Bandung Indah Plaza (BIP), lupa lagi waktu itu kami nonton apa. Sesudah selesai nonton Sita tidak mau pulang dia ingin menginap di rumah saya.

    Waduh celaka juga nih anak, ketagihan atau dia lagi ada masalah dengan keluarga di rumahnya. Setelah kami berbincang-bincang, ternyata dia tinggal tidak bersama orang tuanya, sama seperti saya. Dan kusuruh dia tidur duluan, kamipun tidur sambil berpelukan terbuai terbawa oleh mimpi indah kami berdua. sejak saat itulah kami resmi berpacaran, dengan begitu makin sering juga kami melakukan perbuatan nikmat seperti yang telah kami lakukan sebelumnya.

  • Diajak Ngentot Sama Tetangga Yang Cantik

    Diajak Ngentot Sama Tetangga Yang Cantik


    1537 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Diajak Ngentot Sama Tetangga Yang Cantik ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Nana, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Boby, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Nana sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.

    Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Boby yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal.

    Nana pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Herman dalam hati Nana karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Nana tentang cinta..

    Suatu siang, Nana sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Nana langsung mengejar mereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Nana terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah.

    Nana langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Surya, anak tetangga depan rumah Nana kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Nana sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya, Surya langsung lari ke arah Nana.

    “Kenapa tante?” tanya Surya.

    “Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Sur…” ujar Nana sambil meringis.

    “Bantu saya berdiri, Sur…” kata Nana.

    “Iya tante,” kata Surya sambil memegang tangan Nana dan dibimbingnya bediri.

    “Sur, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya…” kata Nana.

    “Iya tante,” kata Surya sambil segera menghampiri anak-anak Nana.

    Sementara Nana segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Surya mengantarkan anak-anak Nana ke rumahnya, Nana sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya.

    “Ada obat merah tidak, tante?” tanya Surya.

    “Ada di dalam, Sur,” kata Nana.

    “Kita ke dalam saja…” kata Nana lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.

    Surya dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.

    “Ma, Dono ngantuk,” kata anaknya kepada Nana.

    “Tunggu sebentar ya, Sur. Saya mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang,” kata Nana sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.

    Setelah mengantar mereka tidur, Nana kembali ke tengah rumah.

    “Mana obat merahnya, tante?” tanya Surya.

    “Di atas sana, Sur…” kata Nana sambil menunjuk kotak obat.

    Surya segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas. Tak lama Surya segera kembali dan mulai mengobati lutut Nana.

    “Maaf ya, tante.. Saya lancang,” kata Surya.

    “Tidak apa-apa kok, Sur. Tante senang ada yang menolong,” kata Nana sambil tersenyum.

    Surya mulai memegang lutut Nana dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.

    “Aduh, perih…” kata Nana sambil agak menggerakkan lututnya.

    Secara bersamaan rok Nana agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Surya. Surya terkesiap melihatnya. Tapi Surya pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus Nana menggoda mata Surya untuk melirik walau kadang-kadang.

    Hati Surya agak berdebar.. Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Nana. Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Nana memakai celana pendek.

    Surya biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Nana sambil onani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Nana sangat jelas terlihat. Nana sepertinya sadar kalau mata Surya sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Nana merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Surya sepertinya terkesima dengan sikap Nana tersebut. Surya menjadi malu sendiri..

    “Sudah saya berikan obat merah, tante…” kata Surya.

    “Iya, terima kasih,” kata Nana sambil tersenyum.

    “Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi,” ujar Nana lagi sambil tetap tersenyum.

    Surya, 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Nana. Masih duduk di bangku SMK kelas 1. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Surya adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber.

    “Kenapa kamu nunduk terus, Sur?” tanya Nana.

    “Tidak apa-apa, tante…” ujar Surya sambil sekilas menatap mata Nana lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.

    “Ayo, ada apa?” tanya Nana lagi sambil tersenyum.

    “Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja…” kata Surya sambil tetap menunduk.

    “Lihat apa?” tanya Nana pura-pura tidak mengerti.

    “Lihat.. Mm.. Lihat ini tante,” kata Surya sambil tangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Nana tersenyum mendengarnya.

    “Tidak apa-apa kok, Wan,” kata Nana.

    “Kan hanya melihat.. Bukan memegang,” kata Nana lagi sambil tetap tersenyum.

    “Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tante tadi,” kata Nana lagi sambil tetap tersenyum.

    “Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat,” kata Nana.

    “Benar tante tidak marah?” tanya Surya sambil menatap Nana.

    Nana menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Surya pun jadi ikut tersenyum.

    “Tante sangat cantik kalau tersenyum,” kata Surya mulai berani.

    “Ihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu…” kata Nana.

    “Saya berkata jujur loh, tante,” kata Surya lagi.

    “Kamu sudah makan, Sur?” tanya Nana.

    “Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan,” kata Surya.

    “Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang,” ajak Nana.

    “Baik tante, terima kasih,” kata Surya.

    Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Surya menyentuh kaki Nana. Surya kaget, lalu segera menarik kakinya.

    “Maaf tante, saya tidak sengaja,” kata Surya.

    “Tidak apa-apa kok, Sur…” kata Nana sambil matanya nenatap Surya dengan pandangan yang berbeda.

    Ketika kaki Surya menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Nana merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Nana merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Surya terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh..

    “Kamu sudah punya pacar, Sur?” tanya Nana sambil menatap Surya.

    “Belum tante,” kata Surya sambil tersenyum.

    “Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan,” ujar Surya lagi sambil tetap tersenyum. Nana pun ikut tersenyum.

    “Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadap perempuan?” tanya Nana lagi.

    “Keinginan apa tante?” tanya Surya. Nana tersenyum.

    “Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara…” kata Nana.

    Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.

    “Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?” tanya Nana.

    “Tidak ada, tante,” kata Surya.

    “Tadi tante mau tanya apa?” kata Surya penasaran.

    “Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?” tanya Nana.

    “Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,” kata Nana lagi.

    “Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?” kata Nana lagi.

    “Iya, tante,” kata Surya.

    “Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi…” kata Nana sambil tersenyum.

    “Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus,” kata Surya tanpa ragu.

    “Maksudnya tubuh bagus apa,” tanya Nana lagi. Surya agak ragu untuk menjawab.

    “Ayolah…” kata Nana sambil memegang tangan Surya. Tangan Surya bergetar.. Nana tersenyum.

    “Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus…” kata Surya dengan nafas tersendat.

    “Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja,” kata Nana pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Surya yang terus gemetar.

    “Mm.. Lihat orang sedang begituan…” kata Surya.

    “Begituan apa?” tanya Nana lagi.

    “Ya, lihat orang sedang bersetubuh…” kata Surya.

    Nana kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.

    “Kamu suka tidak film begitu?” tanya Nana.

    “Iya suka, tante?” kata Surya sambil menunduk.

    “Mau coba seperti di film, tidak?” kata Nana.

    Surya diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Nana mendekatkan tubuhnya ke tubuh Surya. Wajahnya di dekatkan ke wajah Surya.

    “Mau tidak?” tanya Nana setengah berbisik.

    Surya tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Nana membelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Surya. Surya tetap diam dan makin gemetar. Nana terus menciumi wajah Surya, lalu akhirnya dilumatnya bibir Surya.. Lama-lama Surya mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Nana.

    “Masukkan tangan kamu ke sini…” kata Nana dengan nafas memburu sambil memegang tangan Surya dan mengarahkannya ke dalam baju Nana.

    “Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, Sur.. Pegang buah dada saya,” kata nana sambil tangannya meremas kontol Surya dari luar celana.

    Sementara tangan Surya sudah masuk ke dalam BH nana dan mulai meremas-remas buah dada Nana.

    “Mmhh.. Terus sayang…” kata Nana.

    “Tangan saya pegal, tante…” kata Surya polos.

    “Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk…” ajak Nana sambil menarik tangan Surya. Sesampainya di dalam kamar..

    “Buka pakaian kamu, Sur…” ujar Nana pun melepas seluruh pakaiannya sendiri.

    “Iya, tante…” kata Surya.

    Nana setelah melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang di tempat tidur. Surya terkesima melihat tubuh telanjang Nana. Seumur-umur Surya, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita di depan mata. Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila onani. Kontol Surya langsung tegang dan tegak..

    “Naik sini, Sur…” kata Nana.

    “Iya, tante…” kata Surya.

    “Sini naik ke atas tubuh saya…” kata Nana sambil mengangkangkan pahanya.

    Surya segera menaiki tubuh telanjang Nana. Nana langsung melumat bibir Surya dan Surya langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementara satu tangan Surya meremas buah dada Nana yang tidak terlalu besar. Sementara kontol Surya sesekali mengenai belahan memek Nana.

    “Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus…” desah Nana sambil memegang tangan Surya yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan mereka bersamaan meremas buah dadanya.

    “Ohh.. Sshh…” kata Nana. Surya pun dengan bernafsu terus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Nana.

    “Sur, jilati memek ya, sayang…” pinta Nana.

    “Tapi saya tidak tahu caranya, tante,” kata Surya polos.

    “Sekarang dekatkan saja wajah kamu ke memek, lalu kamu jilati belahannya…” kata Nana setengah memaksa dengan menekan kepala Surya ke arah memeknya.

    Surya langsung menuruti permintaan Nana. Dijilatinya belahan memek Nana sampai tubuh Nana mengejang menahan nikmat.

    “Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang…” desah Nana sambil meremas kepala Surya.

    “Sur, kamu jilati bagian atas sini…” kata Nana sambil jarinya mengelus kelentitnya.

    Lalu lidah Surya menjilati habis kelentit Nana.. Nana kembali menggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.

    “Teruss.. Sshh.. Ohh…” desah Nana sambil badannya semakin mengejang.

    Pahanya rapat menjepit kepala Surya. Sementara tangannya semakin menekan kepala Surya ke memeknya. Tak lama..

    “Ohh…” desah Nana panjang. Nana orgasme.

    “Sudah, Sur.. Naik sini,” kata Nana.

    Surya lalu menaiki tubuh Nana. Nana lalu mengelap mulut Surya yang basah oleh cairan memeknya. Nana tersenyum, lalu mengecup bibir Surya.

    “Mau tidak kontol kamu saya hisap,” kata Nana.

    “Mau tante,” kata Surya bersemangat.

    “Bangkitlah.. Sinikan kontol kamu,” kata Nana sambil tangannya meraih kontol Surya yang tegang dan tegak.

    Surya lalu mengangkangi wajah Nana. Nana segera mengulum kontol Surya. Tidak hanya itu, kontol Surya lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknya silih berganti. Surya tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.

    “Ohh.. Tantee.. Enaakk…” jerit kecil Surya sambil memompa kontolnya di mulut Nana.

    “Masukkin ke memek,ya sayang…” kata Nana setelah dia beberapa lama menghisap kontol Surya.

    Surya lalu mengangkangi Nana. Sementara tangan Nana memegang dan membimbing kontol Surya ke lubang memeknya.

    “Ayo tekan sedikit, sayang…” kata Nana.

    Surya berusaha menekan kontolnya ke lubang memek Nana sampai akhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Surya berhasil masuk dan mulai memompa memek Nana. Surya merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara pada batang kontolnya.

    “Bagaimana rasanya, Sur?” tanya Nana sambil tersenyum dan menggoyang pantatnya.

    “Ohh.. Sangat enakk, tanttee…” kata Surya tersendat sambil memompa kontolnya keluar masuk memek Nana.

    Nana tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, tiba-tiba tubuh Surya mengejang. Gerakannya makin cepat. Nana karena sudah mengerti langsung meremas pantat Surya dan menekankannya ke memeknya. Tak lama.. Crott.. Croott.. Croott.. Croott..

    “Ohh.. Hohh…” desah Surya. Tubuhnya lemas dan lunglai di atas tubuh Nana.

    “Udah keluar? Bagaimana rasanya?” tanya tante Nana sambil memeluk Surya.

    “Sangat enak, tante…” kata Surya.

    Sejak saat itu Surya sering datang ke rumah Tante Nana jika sedang sepi dan minta jatah lagi.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Skandal Seks Tante Lia Dan Diriku

    Skandal Seks Tante Lia Dan Diriku


    2064 views

    Foto Sex ini berjudul ” Skandal Seks Tante Lia Dan Diriku ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Namaku Rano usiaku baru menginjak 17 tahun dan aku sebentar lagi akan duduk dibangku kuliah, aku akan menceritakan pengalamanku ketika kehilangan keperjakaanku waktu masih duduk dibangku SMA kelas 2.

    Wajahku biasa-biasa aja ngak ada yang istimewa, namun aku memiliki kelebihan mungkin agak luar biasa dibandingkan dengan orang kebanyakan yaitu mempunyai kontol yang lumayan besar lebih kurang 18 cm dengan diameter 4,5 cm. Padahal waktu tidur adek kecil ku itu Cuma 6 cm.

    Cerita ini berawal dari adanya hajatan dirumah nenekku yang dari ibu, kebetulan adik ibuku menikah. Semua keluarga dari ibu bermalam dirumah nenek mulai dua hari sebelum pesta dilangsungkan.
    Rumah nenekku tidak terlalu besar sedangkan keluarga dari ibuku semua berjumlah 14 orang beserta anak-anaknya yang ikut kerumah nenekku, semua datang sekeluarga hanya tanteku yang bernama Tante Lia datang sendiri karena suaminya sedang tugas keluar kota dan belum mempunyai anak. Tante Lia usianya sekitar 36 tahun wajahnya cantik dan tubuhnya sedikit gemuk namun padat terawat maklum orang kaya.

    Karena dirumah udah penuh, maka tante Lia mau menginap di losmen dekat rumah nenekku, aku mengantarnya naik motor, kemudian tanteku memilih kamar VIP yang full AC, malam itu aku pulang dan bermalam dirumah nenekku.
    Pagi harinya aku disuruh mengantarkan makanan ke tante Lia, aku pergi mengantar seorang diri dan kebetulan tante lia baru bangun dari tidurnya.
    “Masuk Rano..”katanya sambil membukakan pintu kamar nya
    “Baik tante”, jawabku sambil masuk dan meletakkan makanan diatas meja dalam kamarnya.
    “Tante terlambat bangun nih… habis semaleman tante ngak bisa tidur… kayaknya losmen ini serem deh Rano, jadi tante agak takut jadinya..”, dia bercerita
    “Eh… tunggu dulu ya… tante mau mandi dulu trus mau bonceng sama rano ke Rumah Ibu, tante males mau naik becak”, sambungnya.
    “baik tante..”, jawabku.

    Tante Lia masuk kek amar mandi sedangkan aku duduk di kursi yang tersedia di dalam kamar losmennya.
    Suara air mengguyur badannya kudengar, dan tiba-tiba otak kotorku berjalan ketika kulihat lobang kunci kamar mandinya. Aku berjalan pelan-pelan menuju kamarmandinya terus aku mengintip kedalam, kulihat tanteku lagi menyabuni seluruh tubuhnya dan aku terpana melihat tubuhya yang mulus dengan buah dada yang besar dan kulihat lagi bulu vaginanya yang rapi, mungkin tante Lia rajin merawat dan mencukur bulu vaginanya, aku menelan ludah dan otomatis kontolku langsung menegang. Agen Bola Terpercaya

    Agak lama aku mengintip tante Lia mandi sambil nafasku ngos-ngosan ngak tahu kenapa sampai akhirnya tante Lia selesai aku cepat-cepat duduk kembali dikursi sambil pura pura SMS. Seolah-olah ngak terjadi apa-apa.

    “Hayo SMS sama pacarnya ya ?” Tiba-tiba terdengar suara tante Lia didepan ku
    “eh enggak tante…masih belum punya pacar “jawabku gugup, maklum orang berbuat salah pasti pikirannya kalut
    “Rano… kamu keluar dulu ya… tante mau ganti baju trus kita berangkat, biar tante mau makan dirumah ibu aja”, kata tanteku.
    Aku keluar dari kamarnya dan menunggu diruang loby sampai akhirnya tanteku datang dan kami berdua berangkat kerumah nenek.

    Malam harinya sekitar jam 9 malam tante lia minta diantarkan ke losmen lagi, dan tante Lia cerita sama ibuku bahwa tante Lia agak ketakutan tidur sendiri di losmen. Dia meminta aku untuk menemaninya, dan ibuku mengizinkannya, jadilah aku malam itu menginap di losmen menemani tante Lia. Berhubung tempat tidurnya single bed maka aku tidur dibawah.

    Tante lia tiduran sambil menerima telpon dari mas Agus suaminya, dari omongannya tante Lia cerita lagi ditemani aku karena takut keadaan losmen yang seram ini menurutnya. Sekitar jam 11 malam aku bangun pingin pipis habis hawa AC membuat ku mau pipis, aku pergi kekamar mandi dan malai pipis… serr… lega rasanya. Setelah aku membasuk kontolku mataku tertuju pada celana dalam berwarna crem yang ada digantungan di kamar mandi.
    Iseng aku memegangnya dan kuperiksa celana dalam itu, lalu karena penasaran kucium celana dalam itu pas dibagian yang menutupi lobang vaginanya, kuhirup aromanya dan serr… darahku mengalir deras dan detak jantungku deg-deggan langsung aja aku horny saat itu, kuulang ulang mencium CD itu dan aku tambah horny saja. Kontolku tegak setegak-tegaknya.

    Dalam pikiranku berkata, wah berarti tante Lia saat ini tidur ngak pake CD dan ketika keluar dari kamar mandi mataku otomatis tertuju pada bawah pusar tante Lia yang saat itu terlentang dengan dengkuran yang halus, namun tidak dapat kulihat dengan jelas karena lampu kamar yang redup. Malam itu aku ngak bisa tidur, terbayang tubuh tante Lia yang lagi mandi juga terbayang Cdnya juga terbayang yang lain-lainnya dengan kontolku yang tegak ngak tidur-tidur… sialan… umpatku dalam hati.

    Kulirik jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, namun mataku ngak bisa terpejam, tiba-tiba aku dengar suara:
    “Ranoo… Rano.”
    Aku pura-pura ngak mendengar.
    “Ran…ranoo”, kali ini suaranya agak keras dan kayak orang gemetaran.
    “Iya tante Lia ada apa?”, tanyaku sambil pura-pura lemas.
    “Tolong Rano tante pinjam selimutnya, ngak tahu nih tante kedinginan..”, balasnya.
    Aku bangun dan berjalan menghampirinya sambil menyerahkan selimut yang aku jadikan alas”, kamu tidur diatas aja rano disamping tante…”
    “Iya tante…”, jawabku, tetapi dadaku tambah deg-degan, maklum otakku mulai ditumbuhi hal-hal porno.
    “Sini selimutnya berduain biar kamu ngak kedinginan”, katanya, seperti kerbau dicucuk hidungnya aku nurut aja memepetkan badanku kedekat tante, maklum selimutnya kecil jadi untuk berdua harus mepet.
    Tante Lia miring membelakangiku sedang aku masih terlentang, kudengar nafasnya teratur dengan halus menandakan dia terlelap lagi, aku menghadap tanteku dan tak sengaja kontolku menyentuh pantatnya, ada desiran aneh didarahku dan rasa hangat dikemaluanku, aku sengaja menyentuhkan kemaluanku di pantatnya dan rasa hangat itu kembali menjalar, semakin kudekatkan dan semakin menempel aku makin merasakan kehangatan itu, aku berhati-hati sekali takut tante Lia terbangun aku menyingkapkan daster bagian belakang tante Lia keatas, oww… terlihat jelas buah pinggulnya yang kembar sangat mulus, maklum belum punya anak, dan diantara dua belah pantatnya aku liat ada sebuah gundukan berbulu dengan garis memanjang ditengahnya. Pikiranku makin tak karuan dan kulihat penisku, nampak diujungnya mengeluarkan cairan bening yang lincin langsung kuoleskan keseluruh ujung kepala penisku.

    Perlahan aku sentuhkan penisku ke gundukan berbulu milik tante Lia, “ohh…”, aku merintih perlahan merasakan sensasi sentuhan penisku pada vagina tante Lia, kugerakkan sedikit pantatku untuk menekan vagina tante Lia, namun aku tidak tahan menahan sesuatu yang hendak meledak keluar dari dalam penisku dan croot… croot… croooot… aku keluar… kupejamkan mataku untuk menikmatinya,
    Kulihat spermaku banyak tumpah dibulu vagina dan paha bagiaan dalam tante lia, karena takut tante Lia terbangun maka aku segera tidur, dengan senyum penuh kepuasan.

    “Rano…bangun udah jam 8 pagi”, sayup kudengar ada orang membangunkanku, aku segera membuka mata dan melihat tante Lia sudah selesai mandi. Tante Lia memakai handuk yang dililitkan didadanya sambil tersenyum tante lia menghampiriku dan duduk disebelahku:
    “Rano tadi malam kamu mimpi ya..?”
    “Eng…”, belum sempat aku menjawab tante lia meneruskan bicaranya.
    “Berarti sekarang kamu sudah aqil balig, kamu harus mandi wajib, tadi pagi di paha dan pantat tante banyak kena tumpahin sperma kamu”, kata tante Lia.
    “Maaf tante… Rano ngak sengaja”, jawabku spontan karena terkejut, “mati aku… Duh malunya…”, bathinku dalam hati.
    “Nah lihat ku… burung kamu bangun mulai tadi…”, kata tante lia sambil matanya melihat kebawah peruntuku.
    Astagaaaaaa… Rupanya semalam aku lupa memasukkan burungku kedalam sangkarnya dan mulai pagi tadi dilihat sama tante Lia.
    “Maaf tante…”, kataku dengan malu-malu sambil menarik celanaku dan memasukkan batangku kedalam Cdku, tiba- tiba.
    “Jangan dimasukkan dulu rano…! rano kan sudah dewasa sekarang… namun rano belum diketahui rano itu sempurna apa tidak…”, kata tante Lia.
    “Sempurna gimana tante..??”, tanyaku sambil menggeruntukan dahiku, untuk yang ini aku memang ngak tahu, bukan pura pura ngak tahu.
    “Kadang ada orang yang sukanya sesama jenisnya sendiri, trus ada yang impoten akhirnya ditinggal pergi sama istrinya, jadi tante pingin tahu Rano sempurna apa tidak, kamu keluarin lagi deh burungnya!”, perintah tante Lia, Akupun spontan mengeluarkan lagi penisku dari dalam celanaku yang kebetulan masih kaku.
    Kulihat Tante Lia menelan ludah sedikit melirik kepenisku, dan tante lia berkata “Rano diam aja ya nanti, Rano pejamkan mata aja kalau takut sakit, ini Cuma tes aja koq…”
    “Baik tante.”

    Aku memejamkan mata, dan aku rasakan tante lia naik keatas tubuhku tanpa melepas handik yang dipakainya, dan kurasakan penisku tertempel oleh benda berbulu dan basah sehingga aku merasa sedikit geli dan terkejut .
    “Emm..”, aku berguman sambil terpejam.
    “Kenapa rano…sakit..??”, agak berbisik suara tante lia dengan nafas sedikit bernafsu.
    “Enggak tante…ngak apa-apa.”
    Ada sedikit gerakan yang dilakukan tante Lia sehingga vaginanya menekan penisku kearah atas trus kebawah dan itu berlangsung beberapa saat, aku merasakan geli yang luar biasa dan aku menggigit bibir bawahku supaya tidak bersuara, aku membuka sedikit mataku ingin melihat wajah tante Lia, ternyata tante Lia memejamkan matanya juga sambil menggigit bibirnya juga, gesekan antara vagina tante Lia dan penisku makin licin sehingga berbunyi “tet… pret… pret… pret…” setiap tante Lia memaju mundurkan vaginanya diatas penisku.
    Kemudian tante Lia berhenti bergerak, dan dengan nafas agak tak teratur bilang:
    “Rano… sekarang tes terakhir ya…”
    “iya tante… Rano siap”.

    Aku merasakan jari tante Lia memegang penisku bagian tengahnya, sesaat kemudian aku merasakan kepala penisku menyeruak suatu lubang yang agak lebar sehingga gampang masuknya, aku merasakannya sambil memejamkan mata dan menikmatinya.
    Ketika baru sepertiga masuk aku merasakan ujung penisku membentur semacam dinding yang berlobang kecil sekali, dan lobang itu kayaknya seperti cincin, kepala penisku terarah kesana dan kurasakan pemilih lobang itu yaitu tante Lia berusaha untuk memasukkan kepala penisku kelobangnya namun agak kesulitan.
    Kurasakan tekanan tante Lia makin kuat terhadap penisku dan sepertinya kulit kepala penisku terkupas oleh cincin itu rasanya nyilu nyilu enak sehingga aku keluar suara.
    “aakh…”
    Tante Lia menghentikan gerakannya .
    “Gimana rano… Sakit..??”
    “Enggak tante ngak apa apa…”
    Tiba-tiba kurasakan lobang cincin itu berkedut-kedut dan meremas perbatasan antara kepala penisku dan batangnya, tadi mungkin kepalanya sudah melewati cincin itu, dan sepertinya kepala penisku diempot oleh benda didalam vagina tante lia.
    “Akh… akh…”, tiba-tiba tante lia bersuara.
    Kembali kurasakan jepitan cincin itu makin kuat dan penisku sepertinya tersiram air hangat didalam vagina tante Lia, akupun kehilangan kendali merasakan jepitan itu dan tidak dapat menahan sesuatu yang akan keluar dari dalam penisku dan aku terpekik akh… Crooot…croot..crot… Sekitar 4 kali cairan itu menyemprot kedalam vagina tante Lia.

    Penisku masih tertanam didalam vagina tante Lia beberapa saat kuliahat tante lia masih memejamkan matanya…
    “Udah tante tesnya…??”, tanyaku.
    “Emm udah… Rano, ternyata kamu laki-laki yang normal”, jawabnya sambil mengangkat pantatnya melepaskan penisku divaginanya, trus tante lia berjalan ke kamar mandi.

    Aku melihat kearah penisku, disana ternyata banyak berlepotan cairan berwarna putih, ada yang kental ada yang bening sebagian lagi ada di bulu-buluku yang masih halus, aku berpikir dalam hati.
    Seandainya tes ini dilakukan setiap hari, mungkin aku tidak adak menolaknya…

    Tamat

  • Pengalaman Ngewek Bercinta Dengan Wanita Hamil – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Pengalaman Ngewek Bercinta Dengan Wanita Hamil – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1785 views

    Perawanku – Aku sangat senang di dalam kantorku aku diangkat menjadi manajer di perusahaan swasta, namaku Satria
    umurku 28 tahun tinggiku 171 cm kata orang aku mirip dengan salah satu atlet basket indonesia Deny
    Sumargo, kisah sexku ini terjadi satu tahun yang lalu, saat ini aku sudah mempunyai istri dan 2 anak
    yang masih kecil kecil. IndoLiveAsia

    Saat pulang dari kerja pukul 11 malam karena hal lembur penutupan bulan, dengan mobilku aku menyusuri
    kawasan perumahan elit kebetulan malam itu gerimis, dengan pelan pelan aku mengendarainya ditengah
    perjalanan kau melihat perempuan yang sedang berdiri dibawah pohon aku merasa kasihan kemudian aku
    hampiri dia dan bertanya.

    “Ibu sedang menunggu apa?”

    Dia memandangku agak curiga tapi kemudian tersenyum. Dalam hati aku memuji, Manis juga ibu ini
    walaupun umurnya kelihatannya di atasku sekitar 34 -36 tahun kalau digambarkan seperti artis Misye
    Arsita dan saat itu perutnya agak membuncit kecil kelihatan sedang hamil muda.

    “Kalau ke manukan naik angkot apa ya Dik?”

    “Wah jam segini sudah habis Bu angkotnya, Gimana kalo saya antar?”

    Dia kelihatan gembira. “Apa tidak merepotkan?”

    “Kebetulan rumah saya juga satu arah dari sini, mari naik!”

    Setelah dia ikut mobilku, Ibu itu bercerita bahwa dia berasal dari Jawa Tengah, dia sedang mencari
    suaminya yang kebetulan baru 2 minggu kerja sebagai sopir bis jurusan Semarang-Surabaya, keperluannya
    ke sini hendak mengabarkan kalau anaknya yang pertama yang berumur 15 tahun kecelakaan dan dirawat di
    rumah sakit sehingga butuh uang untuk perawatan anaknya. Kebetulan alamat yang di tulis oleh suaminya
    tidak ada nomer teleponnya.

    Sesampainya di alamat yang dituju kami berhenti. Setelah di depan rumah ketika akan mengetuk pintu
    ternyata pintunya masih digembok, lalu kami bertanya pada tetangga sebelah yang kebetulan satu
    profesi.

    “Suami Ibu paling cepat 2 hari lagi pulangnya. Baru saja sore tadi bisnya berangkat ke Semarang.
    Kebetulan kami satu PO.”

    Kemudian kami permisi pergi. Kelihatan di dalam mobil dia sedih sekali.

    “Terus sekarang Ibu mau ke mana?” tanyaku.

    “Sebenarnya saya pengin pulang tapi.. pasti saya nanti di marahi mertua saya kalau pulang dengan
    tangan kosong, lagian uang saya juga sudah nggak cukup untuk pulang.

    “Begini saja, Ibu kan rumahnya jauh, capek kan baru nyampek trus pulang lagi.. apalagi kelihatanya ibu
    sedang hamil, berapa bulan?”

    “Empat bulan ini Dik, trus saya harus gimana?”

    “Dalam dua hari ini Ibu tinggal saja di rumah saya, kan nggak jauh dari manukan nanti setelah dua hari
    ibu saya antar ke sini lagi, gimana?”

    “Yah terserah adik saja yang penting saya bisa istirahat malam ini.”

    “Oh ya, boleh kenalan.. nama Ibu siapa dan usianya sekarang berapa?”

    “Panggil saja aku Mbak Dina, dan sekarang aku 35 tahun.”

    Malam itu, dia kusuruh tidur di kamar samping yang biasanya dipakai untuk kamar tamu yang mau
    menginap. Rumahku terdiri dari 3 kamar, kamar depan kupakai sendiri dan isteriku, sedang yang belakang
    untuk anakku yang pertama.

    Malam itu aku tidur nyenyak sekali, kebetulan malam sabtu dan di kantorku hanya berlaku 5 hari kerja
    jadi sabtu dan minggu aku libur. Sebenarnya aku ingin pergi ke Malang tapi karena ada tamu,
    kutangguhkan kepergianku minggu depan.

    Sekitar jam 8 pagi aku bangun, kulihat sudah ada kopi yang sudah agak dingin di meja makan serta
    beberapa kue di piring. Mungkinkah ibu itu yang menyajikan semua ini. Lalu setelah kuteguk kopi itu
    aku bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan kencing. Karena agak ngantuk aku kurang mengawasi apa
    yang terjadi, saat aku selesai kencing aku tidak sadar kalau di bathup Mbak Dina sedang telanjang dan
    berendam di dalamnya.

    Matanya melotot melihat kemaluanku yang menjulur bebas, ketika aku membalik ke samping aku kaget dan
    sempat tertegun melihat tubuh telanjang Mbak Dina, tubuh yang kuning langsat dan mulus itu terlihat
    mengkilat karena basah oleh air dan buah dadanya.. wow besar juga ternyata, 36B.

    Pasti empunya gila seks. Lalu mataku berpindah ke sekitar pusarnya, di atas liang senggamanya tumbuh
    bulu kemaluannya yang lebat. Tak sadar kemaluanku tegak berdiri dan aku lupa kalau belum mengancingkan
    celana.

    Dan Mbak Dina sempat tertegun melihat kejantananku yang lumayan besar, panjangnya 17 cm tapi
    kemudian.. “Aouuww, Dik itunyaa!” kata Mbak Dina sambil menutup buah dadanya dengan tangan serta
    mengapitkan kakinya. Aku baru sadar lalu buru-buru keluar.

    Di kamar aku masih membayangkan keindahan tubuh Mbak Dina. Andai saja aku bisa Menikmati tubuh itu…
    aku malah berpikiran ngeres karena memang sudah lama aku tidak mendapat jatah dari isteriku, ditambah
    lagi situasi di rumah itu hanya kami berdua.

    Lalu timbul niat isengku untuk mengintip lagi ke kamar mandi, ternyata dia sudah keluar lalu kucari ke
    kamarnya. Saat di depan pintu samar-samar aku mendengar ada suara rintihan dari dalam kamar samping,
    kebetulan nako jendela kamar itu terbuka lalu kusibakkan tirainya perlahan-lahan.

    Sungguh pemandangan yang amat syur. Kulihat Mbak Dina sedang masturbasi, kelihatan sambil berbaring di
    ranjang dia masih telanjang bulat, kakinya dikangkangkan lebar, tangan kirinya meremas liang
    kewanitaannya sambil jarinya dimasukkan ke dalam lubang senggamanya, sedang tangan kanannya meremas
    buah dadanya bergantian.

    Sesekali pantatnya diangkat tinggi sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan, wajahnya
    kelihatan memerah dengan mata terpejam.

    “Ouuuhh… Hhhmm… Ssstt…” Aku semakin penasaran ingin melihat dari dekat, lalu kubuka pintu kamarnya
    pelan- pelan tanpa suara aku berjingkat masuk. Aku semakin tertegun melihat pemandangan yang
    merangsang birahi itu. Samar-samar kudengar dia menyebut namaku,

    “Ouhhh Satriaii.. Sss Ahhh..” Ternyata dia sedang membayangkan bersetubuh denganku, kebetulan sekali
    rasanya aku sudah tidak tahan lagi ingin segera Menikmati tubuhnya yang mulus walau perutnya agak
    membuncit, justru menambah nafsuku.

    Lalu pelan-pelan kulepaskan pakaianku satu-persatu hingga aku telanjang bulat. Batang kemaluanku sudah
    sangat tegang, kemudian tanpa suara aku menghampiri Mbak Dina, kuikuti gerakan tangannya meremasi buah
    dadanya. Dia tersentak kaget lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya.

    “Sedang apa Anda di sini!, tolong keluar!” katanya agak gugup.

    “Mbak nggak usah panik.. kita sama-sama butuh.. sama-sama kesepian, kenapa tidak kita salurkan
    bersama,” kataku merajuk sambil terus berusaha mendekatinya tapi dia terus menghindar.

    “Ingat Dik, saya sudah bersuami dan beranak tiga,” Dia terus menghiba.

    “Mbak, saya juga sudah beristri dan punya anak, tapi kalau sekarang terus terang saya sangat terpesona
    oleh Mbak.. Nggak ada orang lain di sini.. cuma kita berdua.. pasti nggak ada yang tahu..
    Ayolah saya akan memuaskan Mbak, saya janji nggak akan menyakiti Mbak, kita lakukan atas dasar suka
    sama suka dan sama-sama butuh, mari Mbak!”

    “Tapi saya sekarang sedang hamil, Dik.. kumohon jangan,” pintanya terus.

    Aku hanya tersenyum, “Saya dengar tadi samar-samar Mbak menyebut namaku, berarti Mbak juga inginkan
    aku.. jujur saja.” Dan aku berhasil menyambar selimutnya, lalu dengan cepat kutarik dia dan kujatuhkan
    di atas ranjang dan secepat kilat kutubruk tubuhnya, dan wajahnya kuhujani ciuman tapi dia terus
    meronta sambil berusaha mengelak dari ciumanku.

    Segera tanganku beroperasi di dadanya. Buah dadanya yang lumayan besar itu jadi garapan tanganku yang
    mulai nakal.

    “Ouughh jangaan Diik.. Kumohon lepaskaan..” rintihnya.

    Tanganku yang lain menjalari daerah kewanitaannya, bulu-bulu lebatnya telah kulewati dan tanganku
    akhirnya sampai di liang senggamanya, terasa sudah basah.

    Lalu kugesek-gesek klirotisnya dan kurojok-rojok dinding kemaluannya, terasa hangat dan lembab penuh
    dengan cairan mani.

    “Uhhh… ssss..” Akhirnya dia mulai pasrah tanpa perlawanan.

    Nafasnya mulai tersengal-sengal.

    “Yaahhh… Ohhh… Jangaaann Diik, Jangan lepaskan, terusss…” Gerakan Mbak Dina semakin liar, dia mulai
    membalas ciumanku bibirku dan bibirnya saling berpagutan. Aku senang, kini dia mulai Menikmati
    permainan ini.

    Tangannya meluncur ke bawah dan berusaha menggapai laras panjangku, kubiarkan tangannya menggenggamnya
    dan mengocoknya.

    Aku semakin beringas lalu kusedot puting susunya dan sesekali menjilati buah dadanya yang masih
    kencang walaupun sudah menyusui tiga anaknya.

    “Yahh… teruuuss, enaakkk…” katanya sambil menggelinjang.

    Kemudian aku bangun, kulebarkan kakinya dan kutekuk ke atas. Aku semakin bernafsu melihat liang
    kewanitaannya yang merah mengkilat.

    Dengan rakus kujilati bibir kewanitaan Mbak Dina.

    “Aaahh.. Ohhh.. enaakkk Diik.. Yaakh.. teruusss..” Kemudian lidahku kujulurkan ke dalam dan kutelan
    habis cairan maninya. Sekitar bulu kemaluannya juga tak luput dari daerah jamahan lidahku maka kini
    kelihatan rapi seperti habis disisir.

    Klirotisnya tampak merah merekah, menambah gairahku untuk menggagahinya.

    “Sudaahhh Dikk.. sekarang.. ayolah sekarang.. masukkan.. aku sudah nggak tahan..” pinta Mbak Dina.

    Tanpa buang waktu lagi kukangkangkan kedua kakinya sehingga liang kewanitaannya kelihatan terbuka.
    Kemudian kuarahkan batang kejantananku ke lubang senggamanya dan agak sempit rupanya atau mungkin
    karena diameter kemaluanku yang terlalu lebar.

    “Pelan-pelan Dik, punya kamu besar sekali.. ahhh…” Dia menjerit saat kumasukkan seluruh batang
    kemaluanku hingga aku merasakan mentok sampai dasar rahimnya. Lalu kutarik dan kumasukkan lagi, lama-
    lama kupompa semakin cepat.

    “Oughhh.. Ahhh.. Ahhh.. Ahhh..” Mbak Dina mengerang tak beraturan, tangannya menarik kain sprei,
    tampaknya dia Menikmati betul permainanku. Bibirnya tampak meracau dan merintih, aku semakin bernafsu,
    dimataku dia saat itu adalah wanita yang haus dan minta dipuaskan, tanpa berpikir aku sedang meniduri
    istri orang apalagi dia sedang hamil.

    “Ouuhh Diik.. Mbak mau kelu.. aaahhh…” Dia menjerit sambil tangannya mendekap erat punggungku.
    Kurasakan,

    “Seerrr… serrr..” ada cairan hangat yang membasahi kejantananku yang sedang tertanam di dalam
    kemaluannya. Dia mengalami orgasme yang pertama.

    Aku kemudian menarik lepas batang kejantananku dari kemaluannya. Aku belum mendapat orgasme. Kemudian
    aku memintanya untuk doggy style. Dia kemudian menungging, kakinya dilebarkan.

    Perlahan-lahan kumasukkan lagi batang kebanggaanku dan, “Sleeep..” batang itu mulai masuk hingga
    seluruhnya amblas lalu kugenjot maju mundur. Mbak Dina menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan
    batang kejantananku.

    “Gimaa.. Mbaak, enak kan?” kataku sambil mempercepat gerakanku.

    “Yahhh.. ennakk.. Dik punyaa kamu enak banget.. Aahhh.. Aaah.. Uuuhh.. Aaahh.. ehhh..” Dia semakin
    bergoyang liar seperti orang kesurupan.

    Tanganku menggapai buah dadanya yang menggantung indah dan bergoyang bersamaan dengan perutnya yang
    membuncit. Buah dada itu kuremas-remas serta kupilin putingnya. Akhirnya Aku merasa sampai ke klimaks,
    dan ternyata dia juga mendapatkan orgasme lagi.

    “Creeett.. croottt.. serrr..” spermaku menyemprot di dalam rahimnya bersamaan dengan maninya yang
    keluar lagi.
    Kemudian kami ambruk bersamaan di ranjang. Aku berbaring, di sebelah kulihat Mbak Dina dengan wajah
    penuh keringat tersenyum puas kepadaku.

    “Terima kasih Dik, saya sangat puas dengan permainanmu,” katanya.

    “Mbak, setelah istirahat bolehkah saya minta lagi?” tanyaku.

    “Sebenarnya saya juga masih pengin, tapi kita sarapan dulu kemudian kita lanjutkan lagi.”

    Akhirnya selama 2 hari sabtu dan minggu aku tidak keluar rumah, Menikmati tubuh montok Mbak Dina yang
    sedang hamil 4 bulan.

    Berbagai gaya kupraktekkan dengannya dan kulakukan di kamar mandi, di dapur dan di meja makan bahkan
    sempat di halaman belakang karena rumahku dikelilingi tembok. Di tanah kubentangkan tikar dan kugumuli
    dia sepuasnya.

    Pada istriku kutelepon kalau aku ada tugas luar kota selama 2 hari, pulangnya hari Senin. Mbak Dina
    bilang selama 2 hari itu dia betul-betul merasakan seks yang sesungguhnya tidak seperti saat dia
    bersetubuh dengan suaminya yang asal tubruk lalu KO. Dan Dia berjanji kalau sedang mengunjungi
    suaminya, dia akan menyempatkan meneleponku untuk minta jatah dariku.

    Minggu malam kuantarkan dia ke kost suaminya tapi hanya sampai ujung gang dan tidak lupa kuberi dia
    uang sebesar Rp 500.000,- sebagai bantuanku pada anaknya yang sedang di rumah sakit. Setelah istriku
    balik ke rumah, dia menghubungiku lewat telepon di kantor dan ketemu di terminal.

    Kami melakukan persetubuhan disalah satu hotel murah di Surabaya atau kadang di Pantai Kenjeran kalau
    malam hari. Hingga kehamilannya menginjak usia 7 bulan kami berhenti, hingga sekarang dia belum
    memberi kabar, kalau dihitung anaknya sudah lahir dan berusia 6 bulan.

  • Cerita Sex Bercinta Dengan Ibu Tiriku

    Cerita Sex Bercinta Dengan Ibu Tiriku


    1236 views

    Perawanku – Cerita Sex Bercinta Dengan Ibu Tiriku, Perkenalkan nama saya Lala diusiaku yang 40 tahun ini birahi sexsualku seakan akan bertambah, perkejaanku sebagai ibu rumah tangga setiap paginya bersih bersih rumah, sehabis bersih bersih biasanya melihat acara TV, kalau acaranya tidak ada yang bagus tiduran dikamar tidur, itulah keseharianku sebagai ibu rumah tangga.

    Setelah merebahkan badanku beberapa lam ternyata mata ini tidak mau terpejam. Rumah yang besar ini terasa sangat sepi pada saat-saat seperti ini. Maklum suami bekerja di kantornya pulang paling awal jam 15.00 sore, sedang anakku yang pertama kuliah di sebuah PTN di Bandung.

    Anakku yang yang kedua tadi pagi minta ijin untuk pulang sore karena ada acara extrakurikuler di sekolahnya. Sebagai seorang istri pegawai BUMN yang mapan aku diusia yang 45 tahun mempunyai kesempatan untuk merawat tubuh.

    Teman-temanku sering memuji kecantikan dan kesintalan tubuhku. Namun yang sering membuatku risih adalah tatapan para lelaki yang seolah menelanjangi diriku. Bahkan temen-teman anakku sering berlama-lama bermain di rumahku.

    Aku tahu seringkali mata mereka mencuri pandang kepadaku. Rumahku terletak di pinggiran kota S, kawasan yang kami huni belum terlalu padat. Halaman rumahku memang luas terutama bagian depan sedang untuk bagian samping ada halaman namun banyak ditumbuhi pepohanan rindang.

    Kami membuat teras juga disamping rumah kami. Sedang kamar tidurku dan suamiku mempunyai jendela yang berhadapan langsung dengan halaman samping rumah kami. Belum sempat memejamkan mata aku terdengar suara berisik dari halaman samping rumahku.

    Aku bangkit dan melihat keluar. Kulihat dua anak SMP yang sekolah didekat rumahku. Mereka kelihatan sedang berusaha untuk memetik mangga yang memang berbuah lebat. Tentu saja kau sebagai pemilik rumah tidak senang perilaku anak-anak tersebut.
    Bergegas aku keluar rumah. Seraya berkacak pinggang aku berkata pada mereka, “Dik, jangan dipetik dulu nanti kalau sudah masak pasti Ibu kasih”. Tentu saja mereka berdua ketakutan. Kulihat mereka menundukkan wajahnya.

    Aku yang tadi hendak marah akhirnya merasa iba. “Nggak apa-apa Dik, Ibu hanya minta jangan dipetik kan masih belum masak nanti kalau sakit perut bagaimana” aku mencoba menghibur. Sedikit mereka berani mengangkat wajah.

    Dari dandanan dan penampilan mereka kelihatan bahwa mereka anak orang mampu. Melihat wajah mereka mereka yang iba akhirnya aku mengajak mereka ke dalam rumah. Aku tanya kenapa pada jam-jam belajar mereka kok ada diluar sekolah ternyata pelajaran sudah habis guru-guru ada rapat.

    Setelah tahu begitu aku minta mereka tinggal sebentar karena mungkin mereka belum dijemput. Iseng-iseng aku juga ada teman untuk ngobrol. Benar dugaanku mereka adalah anak-anak orang kaya, keduanya walaupun masih kecil namun aku dapat melihat garis-garis ketampanan mereka yang baru muncul ditambah dengan kulit mereka yang putih bersih.

    Yang satu bernama Doni yang satunya lagi bernama Rio. Ketika ngobrol aku tahu mata-mata mereka sering mencuri pandang ke bagian dadaku, aku baru sadar bahwa kancing dasterku belum sempat aku kancingkan., sehingga buah dadaku bagian atas terlihat jelas.

    Aku berpikir laki-laki itu sama saja dari yang muda sampai yang tua. Semula aku tidak suka dengan perilaku mereka namun akhirnya ada perasaan lain sehingga aku biarkan mata mereka menikmati keindahan payudaraku.

    Aku menjadi menikmati tingkah laku mereka kepada diriku. Bahkan aku mempunyai pikiran yang lebih gila lagi untuk menggoda mereka, aku sengaja membuka beberapa kancing dasterku dengan alasan hari itu sangat panas.

    Tentu saja hal ini membuat mereka semakin salah tingkah. Sekarang mereka bisa melihat dengan leluasa.
    “Hayoo.. pada ngliatin apa!”, Aku pura-pura mengagetkan mereka.

    Tentu saja ini sangat membuat mereka menjadi sangat salah tingkah.

    “Ti.. dak.. kok.. Bu Lala” Doni membela diri.

    “I.. itu acara TV bagus Bu Lala” Rio menambahkan.

    “Nggak apa-apa Ibu tahu kalian melihat tetek Ibu to.. ngaku aja” aku mencoba mendesak mereka.

    “E.. Anu Bu Lala” Rio nampak akan mengatakan sesuatu, namun belum lagi selesai kalimat yang diucapkannya aku kembali menimpali,

    “Mama kalian kan juga punya to, dulu kalian kan netek dari Mama kalian
    “I.. ya Bu Lala”

    Doni menjawab. “Tapi sekarang kami kan sudah nggak netek lagi, lagian punya Mama lain ama punya Bu Lala”
    Rio nampaknya sudah mampu menguasai keadaannya.

    “Lain bagaimana?” Aku menanyakan.

    “Punya Mama nggak sebesar punya Bu Lala” Doni menyahut.

    Kata-kata tersebut membuat aku berpikiran lebih gila lagi.

    Gairahku yang semakin meninggi sudah mengalahkan norma-norma yang ada, aku sudah kehilangan kendali bahwa yang ada di depanku adalah anak-anak polos yang masih bersih pikirannya.

    Aku menarik kursi kehadapan mereka.

    “Doni, Rio kalian mungkin sekarang sudah nggak netek lagi karena kalian sudah besar kalian boleh kok..” aku berkata.
    Tentu saja kata-kataku ini membuat mereka penasaran.

    “Boleh ngapain Bu Lala” sergah Doni.

    “Boleh netek sama Ibu, kalian mau nggak..?” tanyaku walau sebenarnya aku sangat sudah tau jawaban mereka.
    “E.. ma.. u” jawab Rio.

    “Mau sekali dong” Doni menyahut.

    Jawaban mereka membuat aku semakin bergairah. Aku berpikiran hari ini aku akan mendapatkan sensasi dari pria-pria muda ini.
    Aku duduk dihadapan mereka kemudian dengan agak tergesa aku melepaskan daster bagian atasku sehingga kini bagian atas tubuhku hanya tertutupi BH warna krem. Sepertinya mereka sudah tidak sabaran lagi terlihat dari tangan-tangan mereka yang mulai menggerayangi susuku.

    Aku menjadi geli melihat tingkah mereka. “Sabar sayang.. Ibu lepas dulu kutangnya” sambil tersenyum aku berkata. Setelah aku melepas kutang, tumpahlah isinya, sekarang buah dadaku terbuka bebas. Mata mereka semakin melotot memandangi payudaraku.
    Tampaknya mereka bingung apa yang harus mereka lakukan.

    “Ayo dimulai kok malah bengong” aku menyadarkan mereka.

    Mereka bangkit dari duduknya. Tangan mereka kelihatan berebut untuk meremas.

    “Jangan rebutan dong.. ah.. Doni yang kiri.. e yang kanan” perintahku.

    Birahiku semakin meninggi, sementara Doni sudah mulai mendekatkan bibirnya ke putingku Rio masih membelai sambil dipilin-pilin putingku. Rio mulai mengisap-isap putingku.

    Oh betapa seakan perasaanku melayang ke awan, apalagi ketika mereka berdua mengisap secara bersamaan nafasku menjadi tersengal. Tanganku membelai kadang agak sedikit menjambak sambil menekan kepala mereka agar lebih dalam lagi menikmati buah dadaku.

    Mereka semakin menikmati mainan mereka aku semakin terhanyut, aku ingin lebih dari hanya ini. Aku semakin lupa. Ketika baru nikmat-nikmatnya tiba-tiba Rio melepaskan isapannya sambil berkata,

    “Bu Lala kok nggak keluar air susunya?”.

    Aku kaget harus menjawab apa akhirnya kau menjawab sekenanya

    “Rio mau nggak, kalo nggak mau biar Doni saja.. mau nggak?”

    “Mau..” Rio langsung menyahut.

    Doni tidak menggubris dia semakin lahap menikmati buah dadaku.
    Akhirnya aku ingin lebih dari sekedar itu.

    “Don.. Rio.. ber.. henti dulu..” aku meminta.

    “Ada apa Bu Lala?” Doni bertanya.

    “Kita ke kamar saja yuk.. disini posisinya nggak enak” jawabku.

    Kemudian aku berdiri tentu saja daster yang aku pakai merosot kebawah. Mata mereka menatap tubuhku yang sintal dengan penuh nafsu.

    “Ayo..” aku mengajak.

    Aku berjalan ke kamarku hanya menggunakan celana dalam yang berwarna hitam yang kontras dengan kulitku yang putih. Seperti kerbau dicocok hidungnya mereka mengikuti diriku. Sampai di dalam kamar aku duduk di sisi ranjang.

    “Don.. Rio.. sayang lepas saja seragam kalian” pintaku.

    “Tapi Bu Lala” Rio masih agak ragu.

    “Sudahlah turuti saja” aku menyahut.

    Dengan malu-malu mereka mulai melepas baju dan celana seragam mereka. Tampaklah kontol-kontol dari pria-pria muda itu sudah ngaceng.

    Rambut kemaluan mereka tampak belum tumbuh lebat, sedang batang kemaluannya belum tumbuh benar masih agak kecil.
    Namun melihat pemandangan ini libidoku semakin naik tinggi.

    “Bu Lala curang..” Rio berkata.

    “Kok curang bagaimana?” aku bertanya.

    “Bu Lala nggak melepas celana Ibu!” Rio menjawab.

    Gila anak ini, aku tersenyum kemudian bangkit dari dudukku. Celana dalamku kemudian aku lepaskan. Sekarang kami bertiga telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Tatapan mereka tertuju pada benda yang ada dibawah pusarku.

    Bulu yang lebat dan hitam yang tumbuh menarik perhatian mereka. Aku duduk kembali dan agak meringsut ke rangjang lalu menaikkan kakiku dan mengangkangkannya. Memekku terbuka lebar dan tentu saja terlihat isi-isinya.
    Mereka mendekat dan melihat memekku.

    “Ini namanya memek, lain dengan punya kalian” aku menerangkan.

    “Kalian lahir dari sini” aku melanjutkan. Tangan mereka mengelus-elus bibir kemaluanku. Sentuhan ini nikmat sekali.

    “Ini kok ada lobang lagi” Doni bertanya.

    “Lho ini kan lobang buat beol” aku agak geli sambil menerangkan.

    Jari Doni masuk ke lobang vaginaku dan bermain-main di dalamnya. Cairan-cairan tampak semakin membanjiri liang vaginaku.
    Sementara jari Rio kelihatannya lebih tertarik lubang duburku. Jari Rio yang semula mengelus-elus lobang dubur kemudian nampaknya mulai berani memasukkan ke lobang duburku. Aku biarkan kenikmatan ini berlangsung.

    “Ouw.. a.. duh.. e.. nak.. sekali.. nik.. mat.. sa.. yang.. terr.. us” aku merintih.

    Pria-pria muda ini agak lama aku biarkan mengobok-obok lobang-lobangku. Sungguh pria-pria muda ini memberiku kenikmatan yang hebat. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku tanpa bisa berkata-kata hanya rintihan dan nafas yang tersengal-sengal.
    Akhirnya aku mendorong mereka aku bangkit dan menghampiri mereka yang berdiri di tepi ranjang. Aku berjongkok dihadapan mereka sambil kedua tanganku memegang diiringi dengan remasan-remasan kecil pada penis mereka.

    Aku mendekatkan wajahku pada penis Doni aku kulum dan jilati kepala penis muda nan jantan ini. Tampak kedua lutut Doni tergetar. Aku masukkan seluruh batang penis itu kedalam mulutku dan aku membuat gerakan maju mundur.

    Tangan Doni mencengkeram erat kepalaku. Sementara tanganku yang satu mengocok-kocok kontol Rio.

    “Bu Lala.. say.. ya.. ma.. u.. ken.. cing..” Doni merintih.

    Tampaknya anak ini akan orgame aku nggak kan membiarkan hal ini terjadi karena aku masih ingin permainan ini berlanjut. Kemudian aku beralih pada penis Rio.

    Tampak penis ini agak lebih besar dari kepunyaan Doni. Aku mulai jilati dari pangkal sampai pada ujungnya, lidahku menari di kepala penis Rio.

    Aku tusuk-tusuk kecil lobang perkencingan Rio kemudian aku masukkan seluruh batang penis Rio. Jambakan rambut Rio kencang sekali ketika aku semakin mempercepat kulumanku.

    “Wouw.. a.. ku.. ju.. ga.. mo.. ken.. cing.. nih” Rio merintih.

    Aku hentikan kulumanku kemudian aku bangkit dan naik ke atas ranjang lalu aku kangkangkan kakiku lebar-lebar sehingga memekku terbuka lebar.

    “Siapa duluan sayang, itu tititnya dimasukkan ke sini” aku berkata sambil tanganku menunjuk ke lobang vaginaku yang nampak sudah basah kuyup.

    Mereka berpandangan, tampaknya membuat persetujuan. Dan akhirnya Doni duluan yang akan menusukku. Doni naik ke atas ranjang dan mengangkangiku tampak penis yang tegang mengkilat siap menusuk lobang yang pantas menjadi neneknya.

    Aku tuntun penis Doni masuk ke lobang kenikmatanku. Aku tuntun pria muda ini melepas keperjakaannya, memasuki kenikmatan dengan penuh kasih. Dan bless.. batang zakar Doni amblas ke dalam vaginaku.

    “Ah..” aku mendesis seperti orang kepedasan

    “Masukkan.. le.. bih.. da.. lam lagi.. dan genjot.. say.. ang” aku memberi perintah.

    “Iya.. Bu Lala.. e.. naak.. se.. kali” Doni berkata. Aku hanya bisa tersenyum sambil menggigit bibir bagian bawahku. Tampaknya Doni cepat memahami perkataanku dia memompa yang ada dibawahnya dengan seksama.

    Genjotannya semakin lama semakin cepat. Rio yang menunggu giliran hanya tertegun dengan permainan kami. Genjotan Doni kian cepat aku imbangi dengan goyanganku. Dan tampaknya hal ini membuat Doni tidak kuat lagi menahan sperma yang akan keluar.
    Dan akhirnya “Sa.. ya.. mo.. ken.. cing.. la.. gi.. Tak.. ta.. han.. la.. gi..” Doni setengah berteriak. Kakiku aku lipat menahan pantat Doni. Doni merangkul erat tubuhku dan.. cret.. cret.. ser.. cairan hangat membajiri liang kewanitaanku.

    Doni terkulai lemas diatas tubuhku, butiran-butiran keringat keluar dari sekujur tubuhnya.

    “Enak.. se.. ka.. li Bu Lala” Doni berkata.

    “Iya.. tapi sekarang gantian Rio dong sayang” aku berkata.

    Doni mencabut penisnya yang sudah agak mengempis dan terkapar lemas disampingku. “Rio sekarang giliranmu sayang” aku berkata kepada Rio

    “Kamu tusuk Ibu dari belakang ya..”aku memberi perintah. Kemudian aku mengambil posisi menungging sehingga memekku pada posisi yang menantang. Rio naik ke atas ranjang dan bersiap menusuk dar belakang.

    Dan bless.. penis pria muda yang kedua memasuki lobang kenikmatanku yang seharusnya belum boleh dia rasakan seiring dengan melayangnya keperjakaan dia. Tampaknya Rio sudah agak bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar dari dia melihat permainan Doni.

    Rio menggerakkan maju mundur pantatnya. Aku sambut dengan goyangan erotisku. Semakin lama gerakan Rio tidak teratur semakin cepat dan tampaknya puncak kenikmatan akan segera diraih oleh anak ini.

    Dan akhirnya dengan memeluk erat tubuhku dari belakang sambil meremas susuku Rio mengeluarkan spermanya.. cret.. cret.. lubang vaginaku terasa hangat setelah diisi sperma dua anak manis ini.

    Rio terkapar disampingku. Dua anak mengapitku terkapar lemas setelah memasuki dunia kenikmatan. Aku bangkit dan berjalan ke dapur tanpa berpakaian untuk membuatkan susu biar tenaga mereka pulih.

    Setelah berpakaian dan minum susu mereka minta ijin untuk pulang. “Doni, Rio kalian boleh pulang dan jangan cerita kepada siapa-siapa tentang semua ini, kalian boleh minta lagi kapan saja asal waktu dan tempat memungkinkan” aku berkata kemudian mencium bibir kedua anak itu.

    Aku memberi uang jajan mereka masing-masing 50.000 ribu. Dan sampai saat ini mereka telah kuliah, aku masih sering kencan dengan mereka. Aku semakin sayang dengan mereka.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Melepas Keperawanan Ku

    Cerita Sex Melepas Keperawanan Ku


    1481 views

    Perawanku – Cerita Sex Melepas Keperawanan Ku, Pengalaman pribadiku sekaligus pengalam pertama saat berpacaran dengan pacar pertamaku, aku dan pacarku sama sama kehilangan perawan dan perjakanya, kejadiannya begini saat itu tepatnya hari rabu aku tidak ada kuliah sehingga bebas mau main kemana saja dari pagi sampai malam, pagi itu aku sudah mandi sambil mikir rencana mau kemana hari ini.

    Pacarku Eri sms denganku katanya aku disuruh maen kesana ya udah sehabis makan dan ganti baju aku langsung menstater motorku menuju ke rumah pacarku, selang satu jam dalam perjalanan aku sudah sampai di rumahnya kabetulan juga dia juga libur.

    Kutunggu agak lama setelah memencet bel rumahnya, Eri membukakan pintu depan rumahnya, “lho kok sepi, pada kemana ? tanyaku sambil masuk ke rumahnya, “oh Mama lagi ke Pasar Baru, si adik sudah berangkat pagi ke sekolah, ada PR” katanya.

    “Duduk dulu ya, aku mau pake baju dulu nih, soalnya habis mandi buru-buru ada bel bunyi dan aku yakin pasti kamu yang datang, jadinya cuman sempet pake handuk sama kaos aja”.
    “Pasti belum pake baju dalam ya ? tebakku sambil senyum.

    “Ih dasar cowok, pikirannya yang ngeres-ngeres aja, ” tapi suka kan …hi hi hi. Sambil berjalan ke kamarnya, aku lihat pinggul dan pantat pacarku ini benar-benar aduhai, betisnya putih apalagi pahanya pasti lebih ok dan yang paling memabukkan adalah buah dadanya yang ranum dan montok, kaos ketatnya membungkus payudara indah tanpa bh itu dengan sempurna, memperlhatkan lekukan dada wanita yang sempurna.

    Kebayang waktu kenalan dulu, wih tangannya putih sekali dan mulusnya ampun, banyak cowok yang suka sama dia, tapi namanya cinta nggak bisa diboongin. “Sorry ya agak lama, nih kopi kesukaanmu mas “, aku agak kaget juga “eh makasih ya” kataku sambil kaget dan agak konak lihat pakaiannya,

    Eri cuma make celana pendek tipis batik yogya dan kaos tipis ketat coklat muda tanpa lengan dengan belahan kaos rendah yang memperlihatkan belahan dadanya yang putih dan montok.
    “Aku minum ya, wah masih panas sekali’ kataku sambil megangin mulutku yang kepanasan,
    Eri ketawa ” makanya kira-kira ya kalau mau minum tiup dulu donk, mas”.
    “Wah lihat nih, lidahku sampai merah gini, mesti diobatin nih kalau nggak bisa dioperasi “kataku.

    “Aduh kacian, sini ibu guru lihat dulu” kata Eri sambil duduk disampingku dan memegang mulutku, aku diam dan memperlihatan lidahku yang kepanasan, sementara kuhirup wangi tubuhnya yang habis mandi, hmm. Kudekatkan dudukku pada tubuh Eri, sambil tangannya melihat-lihat lidahku,

    Tanganku memeluk pinggulnya dari samping sambil kulirik belahan dadanya yang putih, montok menantang dan menggairahkan itu. Sambil kupeluk tubuhnya, kurasakan kehangatan tubuh dan payudaranya yang montok membuat kontolku bangkit dan mulai membesar dengan cepat,

    Hingga menyesakkan celana yang kupakai, “idih, kok sampai merah gini” kata Eri, tiba-tiba mulutku dilumat olehnya dan tanpa menunggu lagi sambil tetap kupeluk tubuhnya akaupun gantian memgulum, melumat dan mencium bibir seksinya dengan penuh gairah,
    Satu hal yang kusuka dari pacarku, meskipun dia orangnya pendiam kalau urusan lumat melumat dia jadi sangat ahli sekali, dan lumatan bibir seksinya sungguh sangat menggairahkan. Tiba-tiba Eri mengangkat pantatnya dan duduk diatas pangkuanku,
    Bongkahan pantatnya terasa sangat hangat kenyal dan menekan kontolku yang sudah mengeras, “Ih adikku sudah berdiri, katanya sambil menggoyangkan pantatnya diatas kontolku”.

    Kujilati putting susunya dan ternyata titik inipun sangat mempengaruhi gairahnya, terlihat kedua tangannya dilepas dari pelukannya dan tangannya memegang dan menarik rambut panjangnya kebelakang sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan.
    Tiba-tiba tubuhnya menggelinjang kuat sekali dan memeluktubuhku erat sekali sambil digoyang-goyangkan pantatnya diatas kontol tegakku dan akupun terasa dikeliilingi daging nikmat, dari sepasang dadanya yang montok dan ranum serta dibawah bongkahan pantatnya yang nggak kalah montok dan padat.

    Sejenak dia terdiam sambil tetap memelukku dan dia menggelendot manja diatas pangkuanku, “Mas, kita kemarku yuk, takut di ruang tamu ada yang masuk, lagian disana kan lebih leluasa, tapi aku minta digendong ya ..? pintanya manja.

    Sambil tangannya memelukku, akupun menggendong tubuhnya yang ramping dan montok itu ke kamarnya yang lumayan jauh dari ruang tamu. Setelah menaruh Eri diatas kasur, kuhampiri tape disamping tempat tidurnya dan kusetel lagu Forever In Love-nya Kenny G yang sampai saat ini menjadi lagu kenangan kami berdua.
    Dalam ketegangan kontolku dan nafsu yang sudah naik, kuhampiri Eri, Kucium lembut bibirnya dan seluruh wajahnya mulai dari keningnya, jidat, matanya yang terpejam, hidung dan akhirnya kukecup dan akhirnya kulumat bibir seksinya, tanganku tak tinggal diam mulai dari kaos dan BH-nya kubuka perlahan dan celana dalam hitam kecilnya yang menutupi lembah dan jembut halusnya,

    Sambil terpejam Tangan Eri meraih kancing dan resluting celanaku dan didapatinya kontolku yang sudah tegak berdiri, kubantu melepas baju yang kukenakan sehingga kita berdua telanjang bulat dan hanya celana dalam Eri yang masih dipakainya. Tiba-tiba tubuhku didorongnya, “berdiri dulu sayang, katanya,
    Akupun turun dari tempat tidur dan Eri pun duduk ditepi tempat tidur dan sambil membelai kontolku yang sudah sangat tegang, ” Aku belum pernah lihat titit lelaki dewasa, tetapi punyamu besar sekali mas, sampai-sampai tanganku rasanya mantap sekali memegangnya, boleh aku belai sayang,

    “Tentu, belai ciumi dan manjakan kontol besar ini sayang, kataku. Kontolku sebenarnya nggak terlalu besar ya kira-kira pernah kuukur pakai penggaris panjangnya 15 cm dan bonggolnya sebesar pepsodent ukuran jumbo, yah perfectable size-lah menurut ukuran pacarku.

    Sejak pertama kali mengenal oral sex hingga hari ini, Eri menunjukkan antusias yang sangat tinggi dengan kontolku, matanya sempat terbelalak saat pertama melihat dan memegang kontolku yang sudah ereksi.

    Apalagi saat pertama kali melakukan “karaoke”, istilahku jika ingin di-oral-sex sama pacarku, cara memperlakukan kontolku benar-benar istimewa, saat kutanya emangnya sudah pernah karaoke ya, pacarku marah besar, bagaimana mungkin jawabnya, ciuman bibir aja baru dengan kamu , dan akupun teringat first kiss buatku dan buat dia benar-benar berkesan,
    Habis sama-sama baru sekali itu sih. Sambil duduk dipingggir kasur kubuka pahaku sehingga kontolku yang sudah ereksi terlihat menantang seperti tugu monas, Eri jongkok dibawah sambil membelai perlahan kontolku, jari jemarinya menari-nari sepanjang kontolku mengikuti urat-uratnya yang menonjol sambil sesekali meremas dengan gemas,

    Kulihat payudara Eri sangat menantang dan sesekali kuremas juga susunya. Dari pangkal kontolku, dekat anus, tiba-tiba Eri menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat bonggol kontolku, jilatan itu kemudian berpindah keatas mengikuti batang kontolku,

    Hingga akhirnya kepala kontolku dijilat dan disedot perlahan-lahan. Kurasakan aliran darah mengalir keras disepanjang urat kontolku, dan ketegangannya mungkin sudah mencapai 100%, kepalanya membesar seperti helm tentara,

    Warnanya kemerah-merahan dan berdenyut-denyut nikmat sekali. Sampai akhirnya batang kontolku mulai dilumat dan dimasukkan ke dalam mulutnya, perlahan-lahan hingga kurasakan menyentuh ujung tenggorokannya, sementara masih tersisa sekitar 5 cm.
    “Masukkan semuanya dong, pintaku, “Gimana mau masuk lagi, kontolmu terlalu panjang buat mulutku, katanya sambil melepaskan kulumannya. Akhirnya keluar masuk kontolku dimulutnya, wah rasanya nikmat sekali, mungkin seperti ini rasanya bersenggama, pikirku,
    Kami memang selama ini belum pernah melakukan persetubuhan hingga memasukkan kontolku ke dalam vaginanya, yah hanya sekedar berbugil sambil menjilat dan mengulum alat kelamin dan orgasme tanpa melakukan senggama.

    Suasana pagi yang sejuk, karena jendela kamar yang terbuka ditambah alunan instrumen Kenny.G membuat kami sama-sama terbuai dan lupa dengan segala sesuatunya. Sambil kujamah payudaranya, Eri kutarik dan kurebahkan di atas tempat tidur, wajahnya benar-benar merangsang, matanya berbinar,
    Bibirnya memerah dan payudara sangat kencang dan memadat dengan putting susu yang mengeras. Seperti diawal aku mulai menciumi wajah dan bibirnya kemudian aku turun kebawah, kuciumi dan kujilati mulai dari jari-jemarinya yang putih mulus hingga ke betis indahnya,

    Sambil kubelai dan kusentuh paha mulusnya, tanpa terasa aku menyentuh CD hitamnya dan perlahan kuturunkan dan kulepaskan, Eri diam dan hanya mendesah-desah menahan kenikmatan itu. Sampai di pahanya kubelai dan kuciumi paha mulusnya seinchi demi seinchi kelihatan sekali dia begitu terangsang,

    Sebelum sampai ke pangkal pahanya, aku naik dan mulai menjilati dadanya. Payudara yang putih dan mulus itu kuremas sambil mulai kujilati melingkar hingga sampai ke putingnya kujilati dan kusedot penuh nafsu, Kulihat pinggul dan pantat Eri bergerak dan menggelinjang tak karuan menahan kenikmatan jilatan, sedotan dan remasanku.

    Kujilati kebawah lagi dan sampai ke perut Eri yang sangat mulus dan akhirnya hingga ke bukit indah yang ditumbuhi rumput hitam yang halus dan sangat kontras dengan kemulusan tubuhnya. Kusibakkan bulu-bulu halus yang menutupi vagina pacarku, terlihat bibir vaginanya masih tertutup rapat,namun terlihat disitu ada cairan disekelilingnya, ternyata dia sudah mulai basah.

    Kubuka sedikit dan terlihat kelentitnya berwarna merah jambu, kecil, menonjol dan kelihatan membasah, kuraba perlahan, Eri melenguh keras dan menggoyangkan dan mengangkat pantatnya, Kuraba perlahan dengan jari telunjukku dan akhirnya mulai kujilati dengan ujung lidahku, kembali terdengar erangan dan lenguhannya merasakan nikmat yang luar biasa.
    “Mas, tolong aku sayang, masukkan kontol besarmu ke vaginaku, aku sudah tak tahan lagi menahan kenikmatan ini, pintanya sambil setengah menangis.

    “jangan sayang, kita belum boleh melakukan ini, toh nanti kita juga akan menikah, kataku masih sadar, meskipun aku jiga sudah tidak kuat lagi menahan nafsuku.
    “Biarlah mas, aku rela mmberikan perawanku untukmu sayang, aku sangat mencintaimu dan aku takut kehilangan dirimu, kata Eri, sambil mulai menarik kontolku ke arah vaginanya yang membasah. Kontolku yang sudah agak menurun, mulai bangkit lagi begitu menyentuh bibir vagina Eri, sangat tegang dan begitu membesar.

    Dengan masih deg degan akhirnya sedikit demi sedikit kumasukkan batang kontolku ke dalam vaginanya, saat kucoba menyelipkan kepala kontolku ke mulut vaginanya rasanya peret dan sulit sekali, kulihat Eri sedikit meringis dan membuka mulutnya dan sedikit menjerit, “aaah” ,
    Namun akhirnya kepala kontolku sudah mulai masuk dan mulai kurasakan kehangat vaginya, perlahan kumasukkan seinchi demi seinchi, pada centimeter ke 3 menuju ke 4, Eri tiba-tiba berteriak dan menjerit,

    “Aduh mas sakit sekali, katanya, seperti ada yang menusuk dan nyerinya sampai ke perut”, katanya. “Aku cabut aja ya ?” ” Jangan, biarkan dulu kutahan rasa sakit ini, aku yang sudah merasa kenikmatan yang luar biasa dan sedikit demi sedikit mulai kumasukkan lagi batang kontolku.

    Kulihat Eri meneteskan air mata, namun tiba-tiba dia menggoyangkan pantatnya dan tentunya akhirnya kontolku hampir seluruhnya masuk, kenikmatan yang belum pernah kurasakan, kontolku serasa digigit bibir yang kenyal, hangat, agak lembab dan nikmat sekali.
    Akhirnya kamipun mulai menikmati hubungan badan ini, ” mas rasa sakitnya sudah agak berkurang, sekarang keluar masukkan kontolmu mas, rasanya nikmat sekali. Perlahan aku mulai mengayun batang kontolku keluar masuk ke vagina Eri,
    Kulihat tangannya diangkat dan memegang erat-erat kepalanya dan akhirnya menarik sprei tempat tidurnya, sementara pahanya dia kangkangin lebar-lebar dan mencari-cari pinggulku, hingga akhirnya kakinya melingkar di pantatku dan seolah meminta kontolku untuk dimasukkan dalam-dalam ke vaginanya.

    Beberapa kali ayunan, akhirnya aku agak yakin dia sudah tidak begitu merasakan sakit di vaginanya, dan kupercepat ayuhan kontolku di vaginanya. Eri berteriak-teriak dan tiba merapatkan jepitan kakinya di pantatku,
    Kepala menggeleng-geleng dan tangannya menarik kuat-kuat sprei tempat tidurnya, mungkin dia mau orgasme, pikirku. Tiba-tiba tangannya memelukku erat-erat dan kakinya makin merapatkan jepitannya di pantatku,
    Kurasakan payudara besarnya tergencet dadaku, rasanya hangat dan kenyal sekali, aku diam sejenak dan kubenamkan kontolku seluruhnya di dalam vaginanya. ” Oh, mmmas aku keluar…. Ahhhhhhhhhhhhh ….ahhhhhhhhhhhhh…. ahhhhhhhhhhh,
    Aku merasakan nikmat yang amat sangat, kontolku berdenyut-denyut, rasanya aliran darah mengalir kencang di kontolku, dan aku yakin kontolku sangat tegang sekali dan begitu membesar di dalam vagina Eri, sepertimya aku juga akan mengeluarkan air kejantananku.

    Kubuka sedikit jepitan kaki Eri dipantatku, sambil kubuka lebar-lebar paha Eri, kulihat ada cairan kental berwarna kemerah-merahan dari vagina Eri, kontolku rasanya licin sekali dialiri cairan itu, dan akhirnya dengan cepat aku kayuh kontolku keluar masuk dari vagina Eri, nikmat sekali rasanya.

    Ada mungkin delapan sampai sembilan kayuhan kontolku di vagina Eri, tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang akan meledak dari dalam kontolku dan akhirnya …. Crooot …croooot ….crooot …crooot. Kontolku yang sudah kucabut dari dalam vagina Eri,
    Kudaratkan di atas perut mulusnya dan semburan air kejantananku muncrat sampai ke rambut, pipi,sebagian mulutnya, payudara dan diatas perut Eri, kuurut-urut batang kontolku dan tetesan air maniku berjatuhan di atas jembut halus kekasihku.

    Aku merebahkan diri disamping tubuh mulus Eri, kupeluk dia sambil kubelai rambutnya, Eri terpejam, diam dan tiba-tiba dari ujung kedua belah matanya yang terpejam menetes air mata. Kuseka air matanya dan kupeluk dia erat-erat, dan dia memelukku juga,
    ” Mas, hari ini aku sudah persembahkan kesucianku untukmu, sesuatu yang berharga yang kumiliki telah kuberikan padamu, aku nggak mau kehilangan dirimu dan tak akan kulupakan seumur hidupku peristiwa indah hari ini … Aku sangat mencintaimu mas”.

    Eri bangun dari rebahannya, mengambil saputangan dan membersihkan bercak dari sela-sela vaginya yang telah bercampur dengan cairan kenikmatannya, saputangan biru itu berbercak merah, memenuhi hampir setengah lembar saputangan biru itu.

    “Saputangan ini akan kusimpan selamanya, sebagai tanda buat cinta kita, mas” Aku terdiam, kemudian kubelai rambut indahnya, kukecup keningnya dan kukatakan, ” Hari ini 14 November 1994, aku telah kau berikan sesuatu yang berharga darimu, keperawananmu membuktikan cinta sucimu, aku juga sangat mencintaimu, kuambil keperawananmu dengan keperjakaanku, dan tak kan kulupakan hari ini selama hidupku”.

    Dalam keadaan sama-sama bugil, kupeluk tubuh Eri, kehangatan tubuhnya mengalir ke setiap pori-pori dan diapun meraskan hal yang sama, ” tahun depan aku sudah lulus, selanjutnya aku akan melamarmu dan kita akan menikmati cinta kita selamanya, aku mencintaimu Eri”.
    ” Mas, aku bangga memilikimu, lelaki sepertimu yang memang aku idamkan selama ini”. Keringat yang mengalir di badanku diseka Eri dengan handuk dan dia membersihkan kontolku dengan handuk basah, akupun jadi terangsang lagi,

    ” Ih, si Adik kok bangun lagi, kamu benar-benar perkasa mas”, aku tersenyum, sebenarnya aku masih ingin melakukan sekali lagi tapi jam sudah menunjukkan jam 11.30, aku takut kalau tiba-tiba mamanya pulang. Kugandeng tangan Eri dan membawanya ke kamar mandi dan dibawah guyuran shower kamar mandinya kita mandi bersama,
    Saling menyabuni dan bercanda bersama, Kontolku menjadi tegang saat mandi dan Eri sempat memasturbasi kontolku yang sudah tegang dengan busa sabun, tangannya yang halus sangat lincah mengocok batang kontolku,

    Sekitar lima menitan air maniku sempat keluar lagi dan muncrat sampai ke atas seperti air mancur, Eri tertawa puas, menciumiku dan melanjutkan mandi sampai selesai. Selesai mengeringkan badan, rambutku dikeringkan Eri dengan hairdryernya, kupakai bajuku dan kitapun kembali ngobrol di ruang tamunya, ngopi, ngobrol dan bercanda sambil bermesraan menikmati hari indah itu.

    Kulihat matanya sudah mulai nanar dan sedikit berair, pandangannya mulai agak sayu, kemudian aku mulai beralih menciumi leher putihnya dan sedikit jilatan dibelakang telinga,kelihatannya salah satu titik rangsangnya ini sangat menggairahkan nafsu seks-nya,
    Lebih kebawah lagi, kuraba dari luar bongkahan payudaranya sudah sangat mengeras dan lebih membesar dari biasanya, pelan kuangkat kaosnya dan sepasang penutup BH-nya, payudara yang putih dan montok itupun menyembul dari dalam BH hitam yang dipakainya,
    Sangat kontras sekali dengan dadanya yang sangat putih dan montok itu. Kuciumi dengan rakus payudara montok itu dan kujilati dengan lidahku, sampai akhirnya ke titik pusat dadanya, putting susunya yang sudah tegak seperti penghapus pensil di ujung.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Ngentot Ketika PKL Di Hotel

    Cerita Sex Ngentot Ketika PKL Di Hotel


    9110 views

    Perawanku – Cerita Sex Terbaru – Kisah ini berawal dari tahun 2016, saat itu gw masih berusia 19 tahun, sedang melakukan praktek kerja lapangan di salah satu hotel di Bandung.

    Oia …. nama gw indra. PKLnya oleh personalia hotel, gw ditempatkan di bagian front office sebagai receptionist. Salah satu karyawati (receptionist supervisor) namanya Yanti, tapi semua orang memanggilnya Teteh.

    Usianya saat itu 28 tahun, sudah menikah tapi belum dikaruniai seorang anakpun. Wajah teteh tidak terlalu cantik, tetapi good looking (seperti kebanyakan typikal seorang wanita priangan).Ukuran dadanya sedang tapi padat, tetapi pinggulnya penuh (body gitar kalee).

    Yang paling gw suka dari teteh adalah tidak seperti kebanyakan cewek pada umumnya yang senang bergosip ria, teteh tidak banyak bicara. Jika berbicara tutur katanya sangat halus, pelan namun sangat tegas, dan sangat dihormati oleh bawahannya. Jika selesai bertugas (lepas uniform) pakaiannya pun sopan dan tertutup, selalu memakai celana panjang. Dan dibalik kemeja atau baju atasannya selalu dilapisi kaos dalam sehingga makin menyembunyikan BHnya. Agen Obat Kuat Pasutri

    Selama gw PKL, teteh sangat banyak membantu. Jika dalam satu shift hanya kita berdua, gw terang-terangan bicara sama teteh kalo gw suka sama teteh. Dan teteh hanya tersenyum “Gak boleh … teteh sudah ada yang punya” tegasnya.

    “Teh … kalo putus sama si Akang, hubungi aku yah” gw selalu menggoda. Dan teteh hanya tersenyum.

    Dua bulan kemudian teteh di mutasikan ke Sales Markering Dept. bersamaan dengan selesainya PKL gw. Dua minggu seterusnya, setelah meng-collect data-data atau bahan-bahan untuk makalah di kampus, gw pamit sama teteh.

    Cerita Sex Ngentot Ketika PKL Di Hotel

    Cerita Sex Ngentot Ketika PKL Di Hotel

    “Teh … aku mau pamit, terima kasih buat bimbingannya selama aku praktek disini yah … dan maafin kalo selama ini aku sering menggoda teteh” kata gw diplomatis.

    “Gak papa ndra … teteh senang bisa bantu kamu. Kapan pulang ke Jakarta ?”

    “Besok” sahutku.

    “Bareng aja sama teteh. Besok teteh dinas ke Jakarta, dapat tugas untuk sales call selama 3 hari di Jakarta … naik mobil kantor”

    Besoknya gw pulang ke Jakarta ikut sama teteh, naik mobil espass. Gw di depan sama sopir, teteh sendirian di belakang. Selama di perjalanan kami ngobrol, setiap kali gw nengok ke belakang (saat ngobrol) yang terlihat adalah kaki teteh yang putih mulus dengan betis yg sangat ranum (slurupp). Terkadang jika dia merubah posisi duduknya, terlihat paha mulusnya (duh … kecian neeh adik gw, mencuat/melengkung di sangkarnya).

    Singkat kata kami tiba di hotel pukul 16.00 (saat itu perjalanan Bdg-Jkt memakan waktu kl 4 jam).

    “Teh … bolehkan aku antar sampai teteh c/i di kamar”

    Teteh hanya tersenyum. Udara Jakarta yang panas, ditambah AC mobil yang tidak maksimal, membuat badan teteh dibanjiri keringat. Gw kasihan melihatnya, dan saat itu dalam lift (walaupun berAC) teteh sibuk melap keringat di wajahnya dan leher memakai tissue …. Ya ampun, itulah pemandangan terindah yang pernah gw lihat … badan gw menggigil, napas gw sesak, napsu gw naik … tapi apa daya. (sementara adik gw masih menggeliat-geliat dalam sangkarnya, minta belaian kalee yak ?).

    Setelah semua lagguagenya teteh sudah gw taro di lemari, gw langsung pamit.

    “Teh … aku pulang dulu yah (sambil cipika cipiki), minta kenang-kenangan dong” candaku.

    “Nih … satu kecupan di kening” kata teteh sambil kecup kening gw. Sekali lagi badan gw menggigil, bau badan khas wanita, membuat libidoku naik. Dan tanpa basa basi kucium bibirnya. Teteh melonjak kaget, dan meronta-ronta.

    “Jangan .. ndra …jangan” gumam teteh tidak berdaya. Punggungnya nempel ke dinding dekat pintu keluar. Teteh yang badannya kecil berusaha melepaskan diri dengan meronta-ronta. Mulut gw melakukan sedotan-sedotan liar dari bibir beralih ke leher dan kemudian ke lubang telinganya. Badan teteh menggerinjal hebat. Kemudian bibir gw kembali menutup bibirnya ….. perlawanan teteh mulai melonggar. Degup jantungnya sampai terdengar tidak beraturan. Bibirnya terbuka perlahan dan tangannya melingkar ke leher gw. Desahan nafas teteh mulai memburu. Tangan gw mulai berani memeras bukit kembarnya dibalik blousenya (belakangan baru tahu ternyata teteh memakai t-shirt u can see di dalam blousenya). teteh sudah mulai pasrah dan mulai mengimbangi sedotan bibir gw, lidahnya mulai menari-nari dan bertautan dengan lidah gw. Punggung teteh masih menempel di dinding, kedua tangannya gw angkat ke atas kepalanya. Tampak bulu-bulu halus di bawah ketiaknya, tidak lebat … dan bau khas wanita yang agak soft menyeruak hidung gw … saat membaui ketiak teteh.

    Teteh makin menggerinjal dan dengan pasrah membiarkan gw melucuti semua baju atasannya. BH nya yg warna hitam sengaja tidak gw lepas, Libido gw makin menjadi-jadi kala melihat BH hitamnya teteh. Adik gw yg daritadi berdenyut-denyut makin mengeras ketika sebuah tangan halus mulai membelai-belainya. Tanpa gw sadari teteh sudah berhasil membuka celana berikut hings yg gw pakai. Adik gw bersorak kegirangan manakala tangan halus teteh bermain-main, kadang memijatnya, kadang mengocoknya, bahkan biji-biji gw pun tidak lepas dari permainan tangan teteh.

    Teteh mulai agresif … bertolak belakang dengan kesehariannya yang tenang dan kalem. Badan gw sudah telanjang bulat, demikian pula dengan roknya teteh sudah terbang entah kemana. CD teteh pun berwarna hitam ukuran midi tampak menonjol ditengah-tengahnya. Gw sengaja minta sama teteh agar CD dan BH nya jangan dulu dibuka. Puting teteh yang agak coklat tidak lepas dari sedotan bibir gw, demikian pula bukitnya tidak pernah lepas dari remasan tangan gw, bergantian dengan sedotan bibir teteh ke puting gw.

    “Ndra … pegangin punya teteh …. ohh .. ahh” erang teteh sambil membawa tangan gw ke pangkal pahanya. CDnya sudah mulai basah …. tangan gw mulai menyeruak ke dalam rambut halus teteh, sementara tangan yg satunya bermain-main di pantatnya teteh. Bibir gw mulai menelusuri belakang telinganya. Bibir teteh mulai menjilati leher gw kadang-kadang niup telenga gw.

    “Pindah yu .. ndra ke sofa” teteh menuntun gw menuju sofa. Teteh menyuruhku duduk, dan teteh duduk dipakuan gw menghadap gw. BHnya mulai gw lepas … bukitnya yg padat ranum masih gw remas dan yang satunya gw sedot putingnya. ” ooohh … ndra …. geli … ndra”

    “OOh …. teh … masukin yah …teh” kemudian teteh berdiri sebentar, gw membuka CDnya. Setelah lepas CDnya gw cium …. bau khasnya makin menaikan libido gw. Bulu-bulu halus teteh tampak tidak beraturan di pangkal pahanya berkat tangan gw yg mengacak-ackanya. Teteh menjerit kegelian “ohh … ohhh .. ahhh, masukin aja ndra, teteh udah gak tahan” erangnya.

    Berkali-kali gw coba memasukan adik gw, tetapi selalu meleset … dan gagal terus. Teteh yg sudah gak sabar akhirnya membimbing adik gw untuk memasuki tubuhnya. Bleeessss … ohh akhirnya. Seumur hidup belum pernah terbayangkan nikmatnya burung gw masuk kedalam memeknya teteh. Teteh menjerit …. dan mulai menggerakan pantatnya … kadang naik turun, terkadang melingkar-lingkar. Gesekan demi gesekan membawa kami melayang layang jauh. 10 menit telah berlalu ….

    Teteh menarik pantatnya dan menarik gw ke tempat tidur. Tubuh teteh terlentang, kedua kakinya dibuka lebar.

    “Ayo … ndra … ayo masukin … cepat”

    Gw mulai memasuki tubuhnya …. mulut kami berpagutan dan lidah kami saling membelai. Pinggul gw mulai naik turun dengan cepatnya mengimbangi putaran pantatnya teteh … sehingga terdengar bunyi ciprakan, akibat kocokan batang gw pada kemaluan teteh. Gerakan teteh mulai liar, kedua kakinya dilingkarkan ke pinggang gw.

    “ooohh… ndra …. sssshh ….ohhh …. awww” teteh makin meracau sambil menggigit bibir bawahnya.

    Sambil terus meremas dan kadang-kadang menggigit putingnya … gerakan gw pun terbawa liar.

    “ndra …. kocok teruzzzz ndra …. teteh mau keluar”

    Gw makin mempercepat tempo dan agak kasar. Masih terdengar erang kenikmatan dari mulut teteh.

    “ohhh … ooohh …. ndra ….yang keras …ndra”

    Kemudian kurasakan sensasi yang luar biasa, sepertinya kami akan mencapai bersama-sama, dan Ooooh…. CRett .. crett ….cret …. seperma gw muncrat didalam kemaluannya teteh. Bersamaan dengan terdengarnya jeritan kenikmatan dari mulut teteh “Ndraaaa …. ooh … ohhhh”.

    Sejak saat itu, gw gak pernah lagi bertemu dengan teteh, bahkan komunikasi via telponpun gak pernah. Jika ditelpon ke kantornya … selalu menghindar. Berbagai maca pesan pun tidak pernah dibalasnya. Akhirnya gw nyerah dan berusaha untuk melupakan teteh.

    Tujuh tahun kemudian, tanpa diduga gw bertemu teteh dalam suatu seminar di Jakarta. Rupanya teteh sudah lama tidak bekerja di hotel. Teteh masih seperti yang kukenal 7 tahun yang lalu. Teteh yang kalem dan tidak banyak bicara. Teteh yang tidak pernah meninggalkan senyum khasnya.

    “apa khabar ndra ? Berapa tahun yah kita tidak bertemu ?”

    “Teteh sendiri bagaiman khabarnya ?” gw malah balik bertanya.

    Iiihh… gemes banget deh (dalam hati gw). Adik gw bisa mencium bau yg pernah dikenalnya, karena seketika itu juga langsung bangun.

    Disela-sela coffee break dan lunch, kami banyak menghabiskan waktu dg obrolan-obrolan yang ringan, sambil menanyakan kegiatan masing-masing, tanpa menyinggung kejadian di kamar hotel itu.

    Seminar hanya satu hari, tapi karena selesai pukul 19.00, teteh menginap di hotel yg sama dg tempat seminar. Katanya gak mungkin kalo pulang ke Bandung malam itu juga. “Ndra … besok antar teteh ke gambir yah …” Gw mengangguk dan berharap lebih dari sekedar mengantar.

    “Teh … selesai seminar, kita jalan-jalan yuk !!” timpalku.

    “Nggak ah .. teteh mau istirahat aja di kamar” katanya.

    Selesai seminar, gw memaksa untuk mengantar teteh ke kamarnya. Teteh menolak keras. Tapi setelah di desak dan berjanji tidak akan macam-macam, akhirnya teteh mau.

    Para peserta seminar turun memakai lift menuju lobby, tetapi kami berdua naik lift ke atas menuju lantai 15. Di dalam lift kami diam membisu. Namun tanpa diduga … teteh menubruk gw dan menempelkan bibirnya dibibirku. Dengan cepat gw bisa menguasai diri dan mengimbangi serangan teteh. Tangan kiri teteh masih mendekap map seminar sementara tangan kanannya memegang kepala gw. Tangan kiri gw melingkar pinggangnya dan tangan kanan gw meremas pantatnya. Alamaak … teteh gak pakai Celana Dalam.

    Aktifitas kami berhenti ketika bel lift berbunyi di lantai 7. Rupanya ada 2 orang tamu lain yg akan menuju lantai 12. Dada gw masih deg-degan gak karuan, jakun gw naik turun. Setelah orang tersebut turun di lantai 14 … gw hendak bergerak lagi, tetapi ditahan teteh.

    “Teh … sejak kapan gak pakai Celana Dalam ?” tanyaku dengan napas memburu. Teteh hanya tersenyum …menggoda.

    “Nih … ndra, ambil kunci kamar di dalam tas teteh” kata teteh santai. Gw mulai mencari-cari kunci dalam tas teteh …. alamak …. malah nemu Celana Dalam teteh yang berwarna hitam berenda. CDnya gw tarik keluar dan gw isep, bau khas wanita membuat libidoku makin naik ke ubun-ubun.

    “Hey… kuncinya mana ?” kata teteh yang sudah tiba lebih dulu di depan pintu kamar. Gw sibuk membuka pintu kamar. Napsu kami berbedua sudah tidak bisa ditahan. Ketika pintu tertutup di belakang kami, langsung saja kami berdua terlibat dalam pergulatan yang sangat panas. Tas, map, sepatu, baju dll berserakan di dekat pintu. Bibir kami saling pagut, tangan teteh sudah membelai batang gw, tangan gw sudah menelusuri kesana-kemari. Gw bugil 100% sementara teteh masih memakai BH warna hitamnya, tetapi nenen nya udah keluar dari cupnya.

    Teteh dulu … lain dengan teteh sekarang, kalo dulu masih memakai gaya convensional, tapi sekarang ……..

    Gw menggerinjal kenikmatan, pasalnya batang gw sudah dalam genggamannya dan keluar masuk bibirnya yang mungil. Terkadang di sedot, kadang2 dijilatinya.

    BHnya teteh udah gw buka sepenuhnya ….. teteh yang masih jongkok dan asik dg permainannya gw angkat ke tempat tidur. Posisi kami 69. Teteh dibawah masih nyedot batang gw, dan gw diatas mulai menjilati kemaluannya. Bau teteh (baunya soft, kayaknya dirawat banget tuh kemaluan teteh) mulai menyeruak ke dalam hidung gw.

    10 menit berlalu … posisi kami berubah. Masih rebahan di tempat tidur …. teteh membelakangi gw …. dan gw penetrasi dari belakang. Tangan gw meremas-remas dan memelintir putingnya teteh. Pantat teteh bergerak memutar kadang-kadang naik turun ” ooohhh ndra…enak banget ndra” erangnya. Ganti posisi lain ndra” Gumam teteh sambil melepaskan adik gw. Kemudian Teteh menungging …. tanpa disuruh gw masukin kemaluannya teteh. Berbagai macam style udah kita cobain.

    “Ayo ndra …teteh udah gak tahan … pengen keluar” erangnya

    Teteh terlentang, kakinya dibuka lebar-lebar. Batang gw sudah masuk ke dalam kemaluan teteh. Gerakan kami berirama, pantat gw naik turun, pantat teteh berputar-putar. Makin lama makin liar….. dan makin tidak terkendali.

    Dan akhirnya …. Ahhhhh …. Crett…cret…cret. Semprotan air mani gw begitu kuatnya … hingga membuat teteh menjerit kenikmatan … karena bersama-sama mencapai puncak asmara. Tubuh kami terkulai lemas diatas tempat tidur….. Tak puas-puasnya gw mencium bulu-bulu halus dibawah ketiak teteh. Setelah mandi … kami turun ke coffee shop untuk makan. Selesai makan tanpa membuang waktu kami kembali ke kamar ……. sambil berjalan bergandengan, teteh membisiki gw ….. “Ndra….. teteh gak pake celana dalam …..

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

     

  • Akibat Foto Bugil Aku Ngentot Tante Eva Montok

    Akibat Foto Bugil Aku Ngentot Tante Eva Montok


    2269 views

    Perawanku – Aku baru selesai mandi sore dan mulai membuka buku untuk dibaca. Tetapi kulihat seseorang memasuki halaman dan aku segera menguakkan korden agar lebih jelas siapa yang memasuki halaman itu. Aku kaget dan gembira, ternyata yang datang adalah Eva, temanku yang kuliah di Surabaya, semester pertama, usianya sekitar 19 tahun.

    “Hai, kamu sukanya bikin kejutan. Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau datang?” kataku basa-basi. “Kalau bilang dulu mau nyediain apa..”

    Setelah basa-basi kutawarkan mandi dulu agar hilang capeknya. Selesai mandi, ia membereskan kembali tasnya. Sepintas ia melihat dinding di sekeliling kamarku, yang penuh dengan gambar telanjang. Dia tersenyum dan berkomentar.

    “Bagaimana kalau ada anak-anak yang masuk ke kamar ini”, aku jawab bahwa kamar ini khusus untuk orang yang sudah dewasa.

    “Kalau begitu ada gambar yang lebih porno lagi dong..”

    “Ada, mau lihat?”Sebelum menjawab, kuambilkan beberapa foto porno kegemaranku yang kusimpan di dalam lemari pakaianku.“Mau lihat, nggak apa-apa kok untuk pelajaran aja.”

    Dengan ragu-ragu ia terima juga foto-foto kategori XXX, dan dilihatnya dengan cermat, entah apa yang berkecamuk di dalam hatinya aku tidak tahu, tapi terlihat ekspresinya begitu tenang sekali. Entah karena sudah terbiasa, atau karena begitu pandainya ia menyembunyikan perasaannya.

    “Gimana, komentar dong.”
    “Ada filmnya nggak?”

    “Nggak ada, tapi kalau yang asli justru ada”, kataku sambil bergurau.“Yang asli mana, coba” aku terkejut mendengar pernyataannya, sampai-sampai aku hampir tidak bisa menjawabnya.“Eh, ada tapi itu anu..” aku jadi gugup, sambil kuarahkan jariku ke arah kemaluanku.“Tapi apa Mas..”“Tapi harus ada gantinya, barter gitulah.”“Tapi kalau yang ini aku nggak punya”, sambil ujung jarinya menunjukkan kemaluan pada gambar yang ia pegang.“Yang semacam juga nggak pa-pa”“Yang bener nih”, sambil tangannya bersiap-siap mau memegang daerah terlarangku yang masih terbungkus celana.“He-eh bener”, kujawab saja sekenanya, aku kira hanya gertakan saja dia mau memegang kemaluanku. Betapa kagetku ternyata tangannya benar-benar memegang kemaluanku dari luar celana.

    Aku tidak bisa bilang apa-apa, selain menikmatinya dengan perasaan senang. Secara refleks kuraih kepalanya dan kudekap sambil dalam hati berkecamuk memikirkan peristiwa ini. Kalau pacar atau orang lain aku tidak bingung, tetapi ini adalah temanku yang sewaktu kecil sering bermain bersama. Tetapi karena ia terus mengusap kemaluanku dari luar celana, aku buang pikiran itu jauh-jauh keraguanku. Keputusanku adalah menikmati saja peristiwa ini.

    Kucium keningnya, pipinya dan bibirnya. Sambil kugerayangi punggungnya, lehernya, pinggangnya, pantatnya dan terakhir buah dadanya. Sebagai penjajakan saja apa reaksinya. Ternyata ia diam saja, bahkan semakin keras memegang selangkanganku. Terus kuciumi bibirnya sampai nafasnya memburu. Kubuka kausnya, dan aku melihat kulit tubuh yang tidak pernah terkena matahari itu demikian menimbulkan birahiku. Kubuka BH-nya dan tambah kagum aku atas keindahannya. Kuelus buah dadanya yang kenyal dan sekali-kali kupencet putingnya yang membuat nafasnya makin memburu. Begitu aku berusaha mencium buah dadanya, ia mundur sambil menarik tanganku ke arah tempat tidur.

    Dalam keadaan telentang tampaknya ia sudah siap menerima tindakanku berikutnya, buah dadanya yang menantang bergelantungan. Sebelum aku mendekatkan diri, aku melepaskan pakaianku hingga tuntas, sehingga batang kejantananku yang sudah membesar tergantung-gantung mengikuti gerak dan langkahku. Bersamaan dengan itu ia melepaskan juga pembungkus tubuhnya yang masih tersisa, sehingga kami benar-benar sudah telanjang bulat.

    Tubuhnya benar-benar mulus, tidak ada cacat, payudaranya sedang, masih kencang, puting susunya coklat tua, mendekati hitam, perutnya ramping, lipatan kecil di perutnya menunjukkan belum begitu banyak lemak di situ, pinggulnya sedang, bulu kemaluannya tipis, sehingga bibir kemaluannya yang mengatup dengan rapi terlihat begitu indahnya.

    Ia raih batang kemaluanku, dan aku mendekatkan diri sehingga mudah baginya untuk mengulum dan menjilati batang kejantananku. Sementara tanganku tanpa kusadari sudah meraih bibir kemaluannya yang sudah basah. Kuelus-elus bibir kemaluannya sambil kucari dan sesekali kusentuh klitorisnya. Dan kumasukkan jari tengahnya menggapai dasar kemaluannya. “Jilat kepalanya”, aku berbisik kepadanya. Dengan sigapnya ia segera tahu maksudku. Ia segera mulai menjilati kepala kemaluanku yang semakin membesar saja dan mengkilap oleh jilatan. Rasa geli dan nikmat bercampur jadi satu. Birahiku benar-benar sudah sampai di ujung, ingin segera mengikuti naluriku untuk segera memasukkan ke dalam liang senggamanya. Tetapi nanti dulu, kuciumi dulu tubuh Eva, dari mulai bibir, telinga, leher, buah dada, perut dan liang kewanitaannya.

    Kujilat-jilat klitorisnya yang membuat dia menggelinjang ke kanan kiri tidak karuan, pantatnya dia angkat tinggi-tinggi sehingga aku mempunyai ruang yang baik untuk melakukan kegiatanku menjilati klitorisnya yang sekilas kulihat semakin bengkak dan merah.

    Sampai suatu saat tubuhnya makin menegang sambil berteriak menyebutkan sesuatu yang tidak jelas, bersamaan dengan itu membanjirlah cairan bening dari liang kewanitaannya. “Aku sampai Mas, aku sampai Mas…” begitulah ucapan yang kutangkap dengan nafas terengah-engah.

    Kemudian kuambil posisi untuk menyetubuhinya, kemaluanku yang sudah tegang dan membesar di ujungnya kusiapkan di depan pintu gerbang kewanitaannya. Dengan bimbingan tangannya, kumasukkan kemaluanku sampai habis tertelan oleh liang kenikmatannya. Kembali ia mengerang, sambil memelukku dengan keras. Sejenak kudiamkan saja batang kejantananku di dalam. Kurasakan pijitan liang kewanitaannya sangat membuatku semakin nikmat. Batang kejantananku masih kudiamkan terendam di situ.

    Eva mulai menggerak-gerakkan pinggulnya, sampai kusentuh dasar kemaluannya yang terasa seperti benjolan yang semakin keras menyentuh-nyentuh kepala kemaluanku. Semakin nikmat rasanya, sehingga aku sendiri tidak tahan lagi dengan gesekan dan pijitan dari liang senggamanya sehingga otot-otot pada tubuhku menegang dan bersamaan dengan itu, tanpa kusadari keluar maniku membasahi dan menghangatkan dasar kemaluannya.

    Kurasakan Eva lagi-lagi mencapai orgasme. Kali ini lebih panjang erangannya, semakin kuat ia memelukku dan gerakan tubuhnya semakin tidak teratur.

    Kutancapkan dalam-dalam kemaluanku, hingga kami saling berpelukan. Beberapa detik kemudian kami terkulai. Aku masih belum ingin mencabut kemaluanku yang bersarang dengan damai di liang sorganya. Kubalik tubuhku sehingga ia menjadi menindihku. Eva benar-benar puas dan sangat-sangat kelelahan. Beberapa menit kemudian ia sudah tertidur dengan pulas. Kemaluanku yang sudah melemah masih berada di dalam liang kewanitaannya.

    Aku pun tertidur, dengan perasaan lega. Tengah malam kami bangun dan bermain lagi sampai puas. Tiap bangun bermain lagi. Sampai akhirnya kami benar-benar tertidur hingga jam 10 pagi. Karena di rumah tempat kost-ku cukup tesedia makanan instan. Sehingga hari itu kami bisa melakukan dengan sepuas-puasnya, dan kami merasa tidak perlu lagi memakai baju di dalam rumah. Memasak air, menyapu mencuci piring selalu diselingi dengan adegan percintaan. Sampai sore hari ia berpamitan kembali ke Surabaya melanjutkan kuliahnya.

    Sejak saat itu ia sering ke kotaku. Sampai ia mempunyai pacar dan menikah.

  • Skandal Seks Dalam Hotel

    Skandal Seks Dalam Hotel


    1682 views

    Perawanku.com – Nama saya denny, sekarang saya bekerja sebagai system engineer suatu perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Ceritanya begini. Pada suatu pagi saya ditelepon oleh seorang kawan lama saya yang bernama Herry, yang baru datang dari Bandung untuk suatu keperluan.

    Kebetulan sekali saat itu saya tidak ada kuliah, sehingga dapat bebas pergi ke mana pun. Sesampainya di sana ternyata teman saya telah lama menunggu di kamarnya, dan saya pun masuk, tetapi tidak lama kemudian, Herry pamit kalau dia ada janji mau pergi ke kantor temannya di Jl. Rasuna Said dan saya pun menunggu di kamarnya sampai Herry pulang.

    Ternyata menunggu merupakan suatu yang sangat menjengkelkan, tak terasa telah satu jam kupindah-pindahkan channel televisi dari CNN sampai STAR TV, tapi semua terasa membosankan, sehingga pada suatu ketika bel di kamar berbunyi, ting tong.. ting tong, malas kubuka pintu. Terlihat sesosok tubuh wanita dengan tinggi kurang lebih 167 cm dengan rok span dan pakaian kerja, seksi dengan dada kupikir sekitar 36B.

    “Permisi, mau bertemu Bapak Herry ada?” tanyanya.
    “Mm.. oh Bapak Herry sedang pergi ke Jl. Rasuna Said, ada janji?” tanyaku.
    “Ya.. boleh saya menunggu?” tanyanya.
    “Silakan”, jawabku sambil mengajak dia masuk.
    Wanita itu pun masuk dan duduk di sofa. Jam saat itu menunjukkan pukul 10 pagi.
    “Mbak ini siapa ya?” tanyaku memberanikan diri.
    “Saya Selly, utusan dari cabang Bandung yang menjemput Pak Herry ke mari”, jawabnya.
    “Ooo.. perkenalkan saya Denny, teman Herry.”

    Selly memang sosok wanita ideal. Selain anggun, dia juga cantik, kalau dilihat mirip Drew Barrymore. Jam menunjukkan pukul 11.00, dan Herry belum pulang juga. Aku sudah gelisah juga, soalnya di kamar hotel begini bersama seorang wanita cantik. Perlahan-lahan kuberanikan untuk duduk di sebelah Selly.

    “Mmm.. gimana ya Mbak.. kok belum datang juga Herry”, kataku membuka kebisuan.
    “Ah.. nggak apa kok, kan ada Mas Denny”, jawabnya sambil memegang tanganku.
    Wah lampu hijau nih pikirku. Gila juga nih orang, aku sempat grogi dipegang kayak gitu.
    “Mau ke kamar kecil bentar ya Denn.. di mana sih tempatnya?” tanyanya manja.
    “Di situ tuh”, kataku cuek.
    “Nitip tasnya ya!” katanya lagi, dan Selly pun masuk ke kamar kecil.
    “Awww.. awww.. tolong Den.. ada kecoa..” jeritnya dari dalam kamar mandi.
    Kupikir mana mungkin sih di hotel bintang lima macam begini ada kecoa. Tapi aku bangkit juga menuju kamar mandi. Baru sampai di depan pintu kamar mandi Selly sudah menarik tanganku.
    “Masuk.. sini..” katanya sambil menutup pintu. Kulihat Selly sudah melepaskan rok spannya, hanya tinggal CD sama baju saja. Dan dia pun langsung mencium mulutku. Aku yang belum siap mental malah menghindari ciumannya. “Mana kecoanya?” tanyaku pura-pura bodoh. Habis baru sekali ini sih aku dibegitukan oleh wanita.
    “Ini nih masuk ke dalam celana”, jawabnya cuek.

    Dia terus berusaha menciumi mulutku, lama kelamaan aku terangsang juga. Gantian kuciumi juga mulutnya. Sekitar tiga menit acara pagut-memagut itu pun berlangsung. Kupraktekan cara mencium yang sering kulihat di film porno. Kemudian tanganku pun segera merambah bukit kembarnya dari celah-celah bajunya. Gila benar ini anak, ternyata dia tidak memakai BH. Langsung kumainkan bukit kembarnya dan kupelintir sedikit-sedikit putingnya. Terasa putingnya mengeras, kata orang sih tanda-tandanya sudah terangsang. “Awww.. pelan-pelan dong Den”, protesnya saat kupelintir putingnya. Terus kuciumi lehernya yang jenjang, Selly pun cuma mendesah, “Aah.. hmm.. ahh.. Deenn..” langsung kubuka bajunya dan semakin terpampang jelas gundukan di dadanya yang menggairahkan. Kuciumi kedua bukit kembarnya dan kujilat-jilat putingnya, lagi-lagi dia bergumam, “Terus Den.. ahh.. ouchh..” aku melanjutkan menciumi pusarnya, terus ke bawah pusarnya. Terpampang dengan jelas rambut tipis berbentuk segitiga di pangkal pahanya. Kujilati sepuas-puasnya.

    Setelah itu dia kubimbing duduk di samping bathtub dan duduk di situ. Terus dia kusuruh membuka pahanya. Ooh, seperti ini toh liang kemaluan wanita. Soalnya seumur-umur baru kali ini aku melihat langsung yang asli. Langsung saja kulihat dari dekat. “Kok diliatin doang Denn.. dijilatin donk”, kata Selly. Aku diam saja, terus kusibakan bibir kemaluannya dan terlihat di situ daging yang menonjol. Barangkali ini yang disebut klitoris pikirku. Terus dengan iseng kupelintir daging itu pelan-pelan. “Ahh.. ouhh.. Denn.. ahh.. terus Den.. mainin klitorisku ahh”, wah benar juga pikirku. Terus perlahan kupegangi dalamnya, kok agak lembab dan basah. Wah rupanya Selly terangsang berat nih. Kulihat lebih dekat lagi, tiba-tiba saja tangan Selly membenamkan kepalaku ke dalam pangkal pahanya. “Jilatin dong Den.. ahh.. ahh.. jangan nakal, gitu dong.. masa cuma diliatin aja”, aku pun terus menjilati kedua bibir kemaluannya. Mmm.. terus kujilati juga klitorisnya dan cairan yang ada di situ rasanya asin-asin nikmat dan baunya itu loh bikin batang kemaluanku semakin mengeras saja. Terus kujilati dengan ganas klitorisnya sambil kugigit sedikit. “Ahh.. Denn.. ouchh.. Denyy.. akkhh.. akkuu.. akkh.”

    Terlihat cairan semakin deras saja yang keluar dan Selly semakin membenamkan kepalaku ke dalam kemaluannya. Wah rupanya Selly sudah klimaks nih, “Ahh.. Denn ouchh.. aku keluarr..” katanya. Kujilati semua cairan yang keluar dari kemaluan Selly. Terus dia pun berdiri dan menuju ke tempat tidur. Wah gila nih perempuan, masa aku dianggurin, pikirku. Aku terus mengikuti dia pergi ke tempat tidur. Rupanya dia duduk di samping tempat tidur. “Sini deh Den.. gantian aku yang mainin kontolmu”, katanya. Aku menurut saja dan aku rebahan di tempat tidur dengan kaki di lantai. Terus Selly mulai memainkan kemaluanku dari luar celana dalam. Dia jilati batang kemaluanku yang dari tadi sudah sangat tegang, terus dibukanya CD-ku pakai giginya. “Wah nih orang pasti kebanyakan lihat film-film gituan”, pikirku. Setelah CD-ku lepas, gantian dia mainkan kantong kemaluanku, dia jilati ke atas dan ke bawah. Rasanya sungguh mengejutkan. Terus dia pegangi batangku dengan kedua tangannya dan dijilat-jilatin kepalanya sambil matanya melihat ke arahku. Langsung dia benamkan seluruh batang kemaluanku ke dalam mulutnya dan dikocok-kocok pakai mulutnya yang mungil. “Oohh.. Selly.. akhh.. uhh”, desahku merasakan nikmat di sekujur batangku. Sambil terus mengulum-ngulum batang kemaluanku, dia pun memijit-mijit buah kemaluanku, rasanya linu-linu nikmat.

    Setelah berlangsung 5 menit, Selly pun mulai bosan dengan permainannya. “Den, kita main beneran yuk”, katanya. Aku pun tanpa berpikir langsung menjawab dengan semangat 45, “Ayoo!” Selly langsung duduk di atas pahaku dan memegang batang kemaluanku sambil diarahkan ke dalam lubang kemaluannya. Bless.. seluruh batang kemaluanku masuk ke dalam liang kemaluannya. Terasa lembab dan nikmat tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. “Ahh.. mm.. uhh.. aahh..” desah Selly sambil merem melek menikmati pergesekan batang kemaluanku dengan liang kemaluannya. Tak lupa tangannya pun ikut-ikutan memegangi kedua buah dadanya. “Ohh.. Denny.. akhh.. uhh.. yeahh.. Dennyy.. ahh.” Aku pun dengan reflek mengimbangi permainannya dengan menaik-turunkan batang kemaluanku, sehingga terdengar bunyi pluk.. pluk.. ketika batang kemaluan dan liang kemaluan berbenturan. “Ahh.. oughh.. mmhh.. ahh..” desah Selly.

    Selly pun makin menjadi-jadi, dia pun kemudian memegangi rambut kepalanya dan kurasakan gerakannya semakin liar, “Ahh.. uhh.. ahh.” Aku bantu merangsangnya dengan memegangi kedua payudaranya. Tak lama kemudian Selly pun menjerit, “Dennyy.. ahh.. ouhh.. akuu.. mau.. keluar.. ahh..” Di kepala batang kemaluanku pun terasa ada aliran yang tak dapat dibendung lagi, “Kita keluar sama-sama Sell.. ahh.. ouhh..” Kurasakan cairan hangat menyemprot pada kepala batang kemaluanku dan menyebabkan kepala batang kemaluanku tak dapat menahan aliran yang deras dari dalam batang kemaluanku. “Ahh.. aku keluarr.. Selly”, teriakku. “Akuu.. jugaa.. Denny.. akhh.” Kemudian kami pun lemas dan tertidur sampai pukul 5 sore.

    Sampai tiba-tiba terdengar bunyi bel, tet.. tet.. wah gila nih, Herry pulang. Langsung saja kubangunkan, “Selly.. Sell.. Selly.. bangun..” ternyata Selly tidur dengan nyenyaknya. Aku cuek saja soalnya susah kalau membangunkan orang yang tidur dengan berjuta kenikmatan. Akhirnya pintu hotel kubuka, ternyata wanita bule yang mengetuk pintu. “Excuse me.. Is this Mr. John’s Room, 513?” tanyanya. “Oh.. No, I think.. its beside this room”, jawabku sekenanya dan wanita bule itu pun pergi ke kamar sebelah. Setelah dibel berkali-kali ternyata tidak ada orangnya. Dia pun pergi ke arahku lagi. “He is not in his room”, katanya. “Bisa sa.. ya.. tunggu di sini?” katanya. Wah bisa juga dia ngomong Indonesia, pikirku. “Oh.. sure.. tentu”, kataku. “silakan masuk.” Dia pun duduk di sofa. Karena kamar ini termasuk luas, sekitar 7×7 meter, maka Selly yang tertidur di springbed tak kelihatan.

    “Anda dari mana?” tanyaku membuka pembicaraan.
    “Oh.. I come from USA, Nevada”, katanya.
    “Oh.. Las Vegas”, kataku.
    “Anda sudah menikah?” tanyaku lagi.
    “Ya.. saya.. menikah 2 tahun lalu dan saya sudah cerai selama setahun”, katanya lagi.
    Wah kesepian juga nih cewek, pikirku. Kalau dilihat-lihat wanita ini tingginya sekitar 170-an, wajahnya mirip-mirip Dana Scully-nya X-File, usianya sekitar 30-an. Kalau dilihat bodinya sih mantap juga. Rambutnya sebahu, matanya biru, bibirnya, wah sensual sekali.

    “Can I know your name?” tanyaku.
    “Jessica”, katanya sambil mengulurkan tangan.
    “Denny”, kataku.
    “What is your job Denny?” tanyanya.
    “I’m student”, kataku.
    “What major?” tanyanya.
    “Informatics”, kataku.
    Wah bisa-bisa dua jam cuma nanya masalah sekolah nih pikirku. Harus dihentikan nih. Kuberanikan tanya soal lain. Sambil pindah duduk ke samping Jessica.

    “Can I know something about life?” tanyaku.
    “Yah.. apa? please in Indonesian, cause I think you can not speak fluently in english”, katanya.
    Wah ketahuan deh modalku, pikirku.
    “Ini agak pribadi, nggak apa-apa?” tanyaku.
    “No problem, cause I think kamu orang baik-baik”, katanya.
    “Kalau udah cerai, gimana kamu memenuhi kebutuhan biologismu?” tanyaku.
    “Maksud kamu seks?” tanyanya.
    “Yes..” kataku mantap.
    “Saya bisa main seks kapan saja, dan dimana saja dengan orang yang kusuka, that’s menyebabkan my husband menceraikan saya.”
    Wah gila juga nih cewek pikirku.
    “Kamu pernah main seks Denny?” tanyanya.
    “No..” jawabku.
    Dia pun tersenyum melihatku, terus lihat wanita tergolek di atas ranjang. Wah ketahuan deh kalau menipu.

    “Siapa dia Denny?” tanyanya.
    “She is my sister”, jawabku sembarangan.
    “Oh.. jadi kamu betulan belum pernah ya.. mau belajar sama saya, Denny?” tanyanya.
    “Wah mau sekali Jessy”, kataku mantap.
    “Sini Denny.. kamu ke depanku.. apa your sister tidak marah kalau lihat kita Denny?” tanyanya.
    “Nggak apa-apa Jessy”, kataku sambil mendekat ke depannya. Terus dia membuka bajunya. “Sini Denny.. kamu pegang dada saya”, katanya. Terus kupegangi susunya yang ukurannya 36C.
    “And cium bibirku Denny”, katanya.

    Aku tanpa dikomando langsung menciumi bibir Jessica. Langsung mulut kami beradu, kulumat bibir yang sensual itu dan lidah kami pun saling berbelit, “Ouchh.. mm..” terus aku langsung turun ke lehernya yang jenjang dan dia pun mendesah, “Aahh.. mm.. ouchh.. ssh.. Denn.. kamu membuat akuu.. ahh..” Kulanjutkan ke susunya, kulumat kedua putingnya pakai mulut. “Ahh.. ouhh.. shh.. Dennyy.. oo.. kamu memang nakal baby, yeahh.. ahh..” Terus kubuka rok spannya dan CD-nya, langsung kuturun ke pangkal pahanya. Kujilat habis kemaluannya dengan rakus. “Aahh.. stop Dennyy.. akan kuberikan gaya favoritku kepadamu”, katanya. Padahal sudah basah liang kemaluannya. Sepertinya dia sudah terangsang berat. Langsung saja kulepaskan celana jeans-ku, dan kemudian Jesicca pun membantu melepaskan CD-ku sambil memegang batang kemaluanku yang 7 inchi.

    “Kemaluan yang bagus”, katanya sambil meremas batanganku yang sudah tegang berat. “Coba kamu duduk di kursi ini sayang”, katanya. Aku pun duduk dan terus dia duduk di atas kedua pahaku. Wah asyik juga nih kayaknya. Terus dia memegang kemaluanku yang sudah tegang berat dan dia arahkan ke dalam lubang kemaluannya dan dia pun duduk di atasku, bless.. kemaluanku pun masuk ke dalam liang kemaluan Jesica. Dia lalu menggoyang-goyangkan pinggulnya naik turun. “Ouchh.. yeahh.. mm.. oohh.. ohh.. ini seperti naik kuda saja, Denny”, katanya. “Aakkhh.. oukkhh.” Aku pun mengimbangi dengan menaik-turunkan pinggulku. “Mmm.. akhh.. sshh.. ukhh.. akh.. Denyy.. ukhh.. yeajjhh.. yeahh.. oukhh..” Tiba-tiba saja Jessica teriak-teriak tak keruan dan tak lama kemudian.. “Dennyy.. aku keluaarr..” terasa panas cairan menyembur dari lubang kenikmatan Jessica dan tanpa kulepaskan masih saja kukocok lubang kemaluan Jessica dengan batang kemaluanku. “Yeah.. ouchh Dennyy.. tolong berhenti Denny.. akhh.. ouchh..” masih tetap saja kukocok. Malahan tambah kencang frekuensinya. “Tolong.. hentikan sayang akkhh.. akhh..” Tanggung nih pikirku. Tiba-tiba saja Jessica meronta dan karena sudah diambang klimaks. Begitu Jessica mencabut cengkeraman liang kemaluannya pada batang kemaluanku, langsung saja cairan sperma yang sudah di ujung kepala keluar semua. “Oouchh.. baby..” langsung saja mulut Jesicca menyambar kepala kemaluanku dan dilumatnya habis cairan di kepala kemaluanku.

    Tiba-tiba saja Selly terbangun, “Dennyy.. Dennyy..” aku dan Jessica kaget bukan main. Untungnya aku bisa mengatasi keadaan yang sangat gawat ini.
    “Ada apa sayang? enak ya tidurnya”, kataku tanpa dosa. Untunglah Selly dapat memahami keadaan ini.
    “Denn.. siapa tuh?” tanyanya, dan Jessica pun masih dengan telanjang bulat mendekati Selly dan berjabat tangan.
    “Jessica”, katanya.
    “I’m sorry.. udah ganggu tidurmu ya?” kata Jessica.

    Tanpa berkata apa-apa, Selly malah langsung menciumi Jessica. Wah nggak aku sangka, ternyata si Selly ini biseks dan Jessica mungkin karena terbawa oleh Selly juga mengikuti saja. Kedua wanita itu pun terhanyut dalam permainannya. Aku dari sofa cuma mangamati permainan mereka. Selly kemudian menciumi seluruh leher Jessica dan Jessica pun meraba pantat Selly. Kemudian Selly mencium dan menjilati buah dada Jessica. “Ohh.. uchh.. sshh”, hanya kata itu yang mencuat dari mulut Jessica. Kemudian Selly pun turun ke perut Jessica dan kemudian menjilati dengan rakusnya. Tak lama kemudian Jessica rebah di atas spring bed dan kakinya diletakkan di lantai. Selly kemudian menciumi seluruh permukaan kemaluan Jessica mulai dari bibir-bibirnya. “Kamu memang pemain yang hebat sayang, mm.. ukhh.. ss..” kata Jessica. Selly pun mulai menjilat-jilat dan mengaduk isi kemaluan Jessica tanpa kompromi. Dengan lidahnya dia mulai merangsang seluruh syaraf yang ada di vagina Jessica dan dengan reflek pinggul Jessica pun bergerak-gerak ke atas dan ke bawah mengimbangi jilatan-jilatan yang menimpa pada pangkal pahanya.

    “Aahh.. uhh.. yess.. ohss.. babyy..” jerit Jessica saat Selly menjilati klitorisnya dan menggigit-gigit klitorisnya pelan-pelan. Tampak terlihat kemaluan Jessica bertambah basah saja. Tak lama kemudian mereka pun berhenti dan melihat ke arahku. “Wah gawat, bisa jadi pejantan buat mereka berdua nih”, pikirku khawatir.
    “Hey Denny.. mau gabung?” tanya Selly sambil tersenyum nakal.
    “Ah nggak.. aku liat aja.. udah capek”, jawabku.
    Mereka pun melanjutkan aksinya. Sekarang kayaknya mereka mau 69. Eh tapi tunggu dulu, ternyata Jessica mengambil tas hitamnya di atas meja dan mengambil sesuatu. Oh ternyata dia bawa vibrator yang berbentuk batang kemaluan. “Hi.. Selly.. kamu akan lebih nikmat dengan alat ini”, kata Jessy sambil memberi vibrator ke Selly.

    Kemudian Jessica pun kembali duduk di sampingku. Terlihat Selly langsung menghidupkan vibrator tersebut dan memasukkannya ke dalam liang vaginanya. “Aahh.. ohh.. ujhh.. ss..” jerit Selly kesenangan dengan mainan barunya. “Hai Jessy.. mainan ini bener-bener dahsyat shh.. ohh”, katanya sambil merem-melek. Jessica pun tersenyum di sampingku sambil mengelus-elus batang kemaluanku yang sudah tidur. “Lebih dahsyat pake ini..” sahut Jessica. Wah diperlakukan demikian tentu saja kemaluanku bangkit lagi.

    “Mau lagi Denn?” tanya Jessy.
    “Tidak!” jawabku.
    “Sure?” katanya sambil mulutnya turun mendekati batang kemaluanku dan dia pun nmenjilat-jilat biji kemaluanku dari bawah ke atas. “Please relax Denny”, aku pun sambil tiduran menikmati jilatannya. “Ahh.. ouckhh.. shh.. aku hampir keluar Jessyy..” jerit Selly saat dia mencapai orgasme dengan vibrator.

    Jessy pun sudah nggak menghiraukan jeritan Selly. Dia sudah asyik dengan kemaluanku dan dia mulai menjilati kepala kemaluanku dan memainkan lidahnya di ujungnya. Hal ini membuatku sangat geli dan nikmat. “Jessyy.. sshh, uch..” dan Jessy pun mulai memasuk-keluarkan batang kemaluanku di kerongkongannya dan setelah 10 menit acara kulum batang kemaluan, aku pun menjerit, “Jessyy.. aku mau keluaarr..” dan air maniku pun bercucuran di muka Jessy. “Ah enak sekali”, kata Jessy sambil tersenyum genit. Akhirnya kami bertiga pun tertidur. Sampai akhirnya sekitar pukul 6 pagi terbangun dan kami beriga kembali ke tempat masing-masing.

  • Cerita Sex Ibuku Pun Senang Kusetubuhi

    Cerita Sex Ibuku Pun Senang Kusetubuhi


    1384 views

    Perawanku – Cerita Sex Ibuku Pun Senang Kusetubuhi, Namaku Guntury, aku akan menceritakan pengalaman seks-ku yang luar biasa yang pernah kurasakandan kualami, Sekarang aku kuliah di salah satu universitas terkenal di Bandung, dan tinggal di rumah di kawasan sejuk dan elite di kawasan Bandung utara dengan ibu, adik dan pembantuku.

    Sejak SMA aku dan adikku tinggal bersama nenekku di Bandung, sementara ibu dan ayahku tinggal di Surabaya karena memang ayah mempunyai perusahaan besar di wilayah Jawa Timur. Dan sejak nenek meninggal ibu kemudian tinggal lagi bersama kami, sedangkan ayah hanya pulang sebulan atau dua bulan sekali seperti biasanya sebelum nenekku meninggal. Sebenarnya kami diajak ibu dan ayahku untuk tinggal di Surabaya, namun adik dan aku tidak mau meninggalkan Bandung karena kami sangat suka tinggal di tempat kami lahir.

    Saat itu aku baru lulus SMA dan sedang menunggu pengumuman hasil UMPTN di Bandung, dan karena sehari-hari tidak ada kerjaan, ibu yang saat itu sudah tinggal bersama kami, memintaku untuk selalu menjemputnya dari tempat aerobik dan senam setiap malam. Ibuku memangpandai sekali merawat tubuhnya dengan senam/aerobik dan renang,sehingga walaupun usianya hampir 38 tahun, ibuku masih terlihat seperti wanita 27 tahunan dengan tubuh yang indah dengan kulit putih mulus dandada yang masih terlihat padat dan berisi. Walaupun di wajahnya sudah terlihat sedikit kerutan, tetapi akan hilang bila ibu berdandan, hingga kemudian terlihat seperti wanita 27 tahunan.

    Aku mulai memperhatikan ibuku, karena setiap kujemput dari tempat senamnya, ibuku tidak mengganti pakaian senamnya dulu setelah selesaidan langsung pulang bersamaku, dan baru mandi dan berganti pakaian setelah kami sampai di rumah. Karena setiap hari melihat ibuku dengan dandanan seksinya, otakku mulai membayangkan hal-hal aneh tentang tubuh ibuku. Bagaimana tidak, aku melihat ibuku yang selalu memakai pakaian senam ketat dengan payudara yang indah menonjol dan pantat yang masih padat berisi.

    Suatu hari, saat aku telat menjemput ibuku di tempat senamnya, aku tidak menemukan ibuku di tempat biasanya dia senam, dan setelah aku tanyakan kepada teman ibuku, dia bilang ibuku sedang di sauna, dan bilang agar aku menunggu di tempat sauna yang tidak jauh dari ruangan senam. Aku pun beegegas menuju ruangan sauna, karena aku tidak mau ibuku menunggu terlalu lama.

    Saat sampai di sana, wow.. aku melihatibuku baru keluar dari ruangan hanya dengan memakai handuk yang hanya menutupi sedikit tubuhnya dengan melilitkan handuk yang menutupi dada perut dan sedkit pahanya, sehingga paha ibu yang mulus dan seksi ituterlihat dengan jelas olehku. Aku hanya terdiam dan menelan ludah saatibuku menghampiriku dan bilang agar aku menunggu sebentar.

    Kemudian ibuku membalikkan tubuhnya, dan kemudian terlihatlah goyangan pinggul ibuku saat dia berjalan menuju ruangan ganti pakaian.Tanpa sadar kemaluanku mengeras saat kejadian tadi berlangsung. Akuberani bertaruh pasti semua laki-laki akan terpesona dan terangsang saat melihat ibuku dengan hanya memakai handuk yang dililitkan ditubuhnya.

    Di dalam perjalanan, aku hanya diam dan sesekali melirik ibuku yang duduk di sampingku, dan aku melihat dengan jelas goyangan payudara ibuku saat mobil bergetar bila sedang melalui jalan yang bergelombangatau polisi tidur. Ibuku berpakaian biasa dengan kaos oblong yang agakketat dan celana panjang ketat, dan setiap aku melirik ke paha ibu,terbayang lagi saat aku melihat paha ibuku yang putih mulus tadi ditempat sauna.
    “Guntur.. kok kamu diem aja, dan kenapa celana kamu sayang..?” tanyaibuku mengagetkan aku yang agak melamun membayangkan tubuh ibuku.
    “Enggak Mi.. enggak,” jawabku gugup.

    Kami pun sampai di rumah agak malam, karena aku telat menjemput ibuku. Sesampainya di rumah, ibu langsung masuk ke kamarnya dan sebelum dia masuk ke kamarnya, ibu mencium pipiku dan bilang selamat malam.Kemudian dia masuk ke kamarnya dan tidur.

    Malam itu aku tidak dapat tidur membayangkan tubuh ibuku, gilapikirku dalam hati, dia ibuku, tapi.. akh.. masa bodoh pikirku lagi.Aku mencoba onani untuk “menidurkan burung”-ku yang berontak mintamasuk ke sarangnya. Gila pikirku lagi. Mau mencari cewek malam sih bisa saja, tapi saat itu aku menginginkan ibuku.

    Perlahan-lahan aku keluar kamar dan berjalan menuju kamar ibuku dilantai bawah. Adik perempuanku dan pembantuku sudah tidur, karena saatitu jam satu malam. Otakku sudah mengatakan aku harus merasakan tubuh ibuku, nafsuku sudah puncak saat aku berdiri di depan pintu kamar ibuku. Kuputar kenop pintunya, aku melihat ibuku tidur telentang sangat menantang. Ibuku tidur hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendekyang longgar. Aku berjalan mendekati ibuku yang tidur nyenyak, aku diam sesaat di sebelah ranjangnya dan memperhatikan ibuku yang tidur dengan posisi menantang. Kemaluanku sudah sangat keras dan meronta ingin keluar dari celana pendek yang kupakai.

    Dengan gemetar aku naik ke ranjang ibu, dan mencoba membelai paha ibuku yang putih mulus dan sangat seksi. Dengan tangan bergetar aku membelai dan menelusuri paha ibuku, dan terus naik ke atas. Kemaluanku sudah sangat keras dan terasa sakit karena batang kemaluanku terjepit oleh celanaku. Aku kemudian membuka celanaku dan keluarlah “burung perkasa”-ku yang sudah sangat keras.

    Aku kemudian mencoba mencium leher dan bibir ibuku. Aku mencoba meremas payudara ibuku yang besar dan montok, aku rememas payudara ibu dengan perlahan. Takut kalau ia bangun, tapi karena nafsuku sudah puncak aku tidak mengontrol remasan tanganku ke payudara ibuku.
    Aku kemudian mengocok batang kemaluanku sambil meremas payudara ibu, dan karena remasanku yang terlalu bernafsu, ibu terbangun.
    “Guntur.. kamu.. apa yang kamu lakukan, aku ibumu sayang..” sahut ibuku dengan suara pelan.

    Aku kaget setengah mati, tapi anehnya batang kemaluanku masih keras tidak lemas. Aku takut dan malah makin nekat, terlanjur pikirku.Aku langsung mencium leher ibuku dengan bernafsu sambil terus meremas payudara ibuku. Dalam pikiranku hanya ada dua kemungkinan, menyetubuhi ibuku, kemudian aku kabur atau dia membunuhku.

    “Cukup Guntur.. hentikan sayang.. akh..” kata ibuku.
    Tapi yang membuatku aneh, ibu sama sekali tidak menolak dan berontak. Malah ibu membiarkan bibirnya kucium dengan bebas, dan malah mendesah saat kuhisap leher dan di belakang telinganya, dan aku merasa burungku yang dari tadi sudah keras seperti ada yang menekannya, danternyata itu adalah paha ibuku yang mulus.

    “Sayang kalau kamu mau.. bilang aja terus terang.. Mami mau kok..” kata ibuku di antara desahannya.
    Aku kaget setengah mati, berarti ibuku sangat suka aku perlakukan seperti ini. Aku kemudian melepaskan ciumanku di lehernya, dan kemudian berlutut di sebelah ibuku yang masih berbaring. Batang kemaluanku sudah sangat keras, dan ternyata ibu sangat suka dengan ukuran batang kemaluanku, ibu tersenyum bangga melihat batang kemaluanku yang sudah maksimal kerasnya. Ukuran batang kemaluanku 15 cm dengan diameter kira-kira 4 cm.

    Aku masih dengan gemas meremas payudara ibu yang montok dan masih terasa padat. Aku membuka kaos yang ibu pakai, dan kemudian sambil meremas payudara ibu aku berusaha membuka bra yang ibu pakai. Dan setelah bra yang ibuku kenakan terlepas, kulihat payudara ibu yang besar dan masih kencang untuk wanita seumurnya. Dengan ganas kuremas payudara ibu, sedangkan ibu hanya mendesah keenakan dan menjerit kecil saat kugigit kecil puting payudara ibu. Kuhisap puting payudara ibudengan kuat seperti ketika aku masih bayi. Aku menghisap payudara ibu sambil kuremas-remas hingga puting payudara ibu agak memerah karena kuhisap.

    Payudara ibuku masih sangat enak untuk diremas, karena ukurannya yang besar dan masih kencang dan padat.
    “Guntur kamu dulu juga ngisep susu ibu juga kaya gini..” kata ibukusambil dia merem-melek karena keenakan puting susunya kuhisap dan memainkannya dengan lidahku.

    Ibu menaikkan pinggulnya saat kutarik celana pendeknya. Aku melihat CD yang ibu kenakan sudah basah. Aku kemudian mencium CD ibukutepat di atas kemaluan ibu dan meremasnya. Dengan cepat kutarik CD ibudan melemparkannya ke sisi ranjang, dan terlihatlah olehku pemandanga nyang sangat indah.

    Lubang kemaluan ibuku ditumbuhi bulu halus yang tidak terlalulebat, hingga garis lubang kemaluan ibuku terlihat. Kubuka paha ibu kulebar, aku tidak kuasa melihat pemandangan indah itu. Dan dengan naluri laki-laki kucium dan kuhisap lubang dimana aku lahir 18 tahun lalu.Kujilat klitoris ibuku yang membuat ibuku bergetar dan mendesah dengankuat. Lidahku bermain di lubang senggama ibuku, dan ibuku malah menekankepalaku dengan tangannya agar aku makin tenggelam di dalam selangkangannya.

    Cairan lubang kemaluan ibu kuhisap dan kujilat yang membuat ibu kumakin tak tahan dengan perlakuanku, dia mengelinjang hebat, bergetardan kemudian mengejang sambil menengadah dan berteriak. Aku merasakanada cairan kental yang keluar dari dalam lubang kemaluan ibu, dan aku tahu ibu baru orgasme. Kuhisap semua cairan lubang kemaluan ibukuhingga kering. Ibu terlihat sangat lelah.

    Aku kemudian bangun dan dengan suara pelan karena kelelahan ibu bilang, “Sayang sini Mami isep kontolmu,”
    Dan tanpa di komando dua kali, aku kemudian duduk di sebalah wajahibuku, dan kemudian dengan perlahan mulut ibuku mendekat ke burungkuyang sudah sangat keras. Ibuku membelai batang kemaluanku, tapi diatidak memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya. Padahal jarak antara mulut ibuku dengan batang kemaluanku hanya tinggal beberapa centi saja.

    Aku sudah tidak tahan lagi, dan kemudian kudorong kepala ibuku dandengan leluasa batang kemaluanku masuk ke mulut ibu. Dengan cepat danliar ibuku mengocok batang kemaluanku di dalam mulutnya. Aku sudahtidak tahan lagi, kenikmatan yang kurasakan sangat luar biasa dan tidakdapat kulukiskan dengan kata-kata. Dan akhirnya aku sudah tidak tahanlagi dan, “Cret.. cret.. crett..” maniku kusemprotkan di dalam mulut ibuku.
    Ibu kemudian memuntah kannya dan hanya yang sedikiti dia telan, dan masih dengan liar ibuku membersihkan batang kemaluanku dari sisa-sisa air maniku yang menetes di batang kejantananku. Ibuku tersenyum dankemudian kembali berbaring sambil membuka pahanya lebar-lebar. Ibukutersenyum saat melihat batang kemaluanku yang masih dengan gagahnya berdiri, dan seperti sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam sarangnyayang hangat.

    Aku kemudian mengambil posisi di antara kedua paha ibuku, batang kemaluanku terasa berdenyut saat ibu dengan lembut membelai dan meremas batang kemaluanku yang sudah sangat keras. Dengan tangan yang bergetar,kuusap permukaan lubang kemaluan ibuku yang dipenuhi bulu-bulu halus dan sisa cairan lubang kemaluan yang kuhisap tadi masih membasahi bibir lubang kemaluan ibuku yang terlihat sangat hangat dan menantang.
    “Ayo dong Sayang, kamu kan tahu dimana tempatnya..” kata ibuku pasrah.

    Kemudian tangannya menuntun batang kemaluanku untuk masuk ke dalam lubang kemaluannya. Tanganku bergetar dan batang kemaluanku terasamakin berdenyut saat kepala batang kemaluanku menyentuh bibir lubangkemaluan ibu yang sudah basah. Dengan perasaan yang campur aduk,kudorong pinggulku ke depan dan masuklah batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan ibu yang sudah agak membuka, dan tenggelam sudah batangkemaluanku ke dalam liang senggama milik ibuku.

    Aku merasakan sensasi yang sangat dasyat saat dinding lubang kemaluan ibu seperti memijat batang kemaluanku. Gila.., meski aku pernah ML dengan anak ABG, lubang kemaluan ibuku terasa sangat nikmatdan luar biasa di banding dengan yang lainnya. Aku menggoyang pinggulkunaik-turun diimbangi dengan goyangan pinggul ibuku yang sangat dasyatdan liar. Kami kemudian berganti posisi dengan ibu berada di ataskuhingga ia dapat menduduki batang kemaluanku, dan terasa sekali kenikmatan yang ibu berikan kepadaku. Goyangan yang cepat dan liar dangerakan tubuh yang naik turun membuat tubuhku hanyut ke dalamkenikmatan seks yang kurasakan sangat dasyat.

    Tibalah saat ibuku orgasme, goyangannya makin cepat dan desahannyasemakin tidak karuan, aku dengan nikmat merasakannya sambil kuhisap danmeremas pauyudara ibu yang bergoyang seirama dengan naik-turunnya tubuhibuku menghabisi aku. Ibu mengerang dan mengejang saat kurasakan adacairan hangat yang membasahi batang kejantananku yang masih tertanam didalam lubang kemaluan ibuku.

    Beberapa saat setelah ibu terkulai lemas aku merasakan bahwa aku akan mencapai puncak. Dan dengan goyangan dan tusukan yang menghujam lubang kemaluanibuku, “Cret.. crett.. cret..” air maniku menghambur di dalam lubangkemaluan ibuku. Aku merasakan nikmat yang tidak dapat kukatakan.

    Saat aku masih menikmati sisa-sisa kemikmatan itu, ibu mencium bibirku dan berkata, “Sayang.. Mami lupa kalo Mami enggak pakekontrasepsi. Tadi Mami mau bilang kalo kamu orgasme biar di mulut Mami aja.. tapi Mami kagok..” Aku hanya terdiam dan malah mencium bibir ibuku yang masih menindih tubuhku dengan mesra. Kemudian ibuku berbaring di sampingku,aku memeluk dia dan kami berciuman dengan mesra seperti sepasangkekasih. Kami pun tertidur karena pertempuran yang sangat melelahkan itu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Ngewek Ibu Ibu Suka Arisan Berhadiah – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Ngewek Ibu Ibu Suka Arisan Berhadiah – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1707 views

    Perawanku – Arisan ibu-ibu selalu saja memiliki gosip yang berbagai ragam. Mulai dari gosip berlian, gosip hutan piutang, bahkan gosip seks. Kali ini aku terkejut sekali, ketika seorang teman membisikkan padaku, kalau Ibu Wira itu, suka rumput muda. Justru yang dia sukai adalah laki- laki belasan tahun. Rasany aku kurang percaya. Ap ia? Bu Wira yang sudah berusia lebih 50 tahunmasih doyan laki-laki belasan tahun?

    “Woalaaah…Bu Tuty masya enggak percaya sih?” kata Bu Lina lagi. Aku sudah janda hampir 10 tahun, sejak perkawinan suamiku dengann istri mudanya. Aku tak nuntut apa-apa, keculi Julius putra tunggalku harus bersamaku dan rumah yang kami benagun bersama, menjadi milikku. Aku sakit hati sekali sebenarnya. Justru perkawinan suamiku, karena katanya aku tidak bisa melahirkan lagi, sejak peranakanku diangkat, ketika aku dinyatakan terkena tumor rahim. Suamiku mengakui, kalau permainan seksku masih sangat Ok. Dalam usia 37 tahun, aku masih keliahatan cantik dan seksi.

    Lihat tuh, Bu Tuty. Matanya asyik melirik anak bu Tuty terus tuh,” kata Bu Salmah tetanggaku itu. Kini aku jadi agak percaya, ketika aku melihat dengan jelas, Bu Wira mengedipkan matanya ke putra tunggalku Julius. Rasanya aku mau marah, kenapa Bu Wira mau mengincar putraku yang masih berusia hampir 15 tahun berkisar 12 hari lagi.

    Sepulang dari arisan, aku sengaja mendatangi tetangga yang lain dan secara lembut menceritakan apa yang diceritakan Bu Salmah kepadaku. Tetanggaku itu tertawa cekikikan. Dari ceritanya, suami bu Wira sudah tak sanggup lagi, bahkan suaminya sudah tahu kelakuannya itu. Bu Wira memang suka burung muda, kata mereka. Bahkan putra tetanggaku titu pernah digarap oleh Bu Wira. Karean malu ribut- ribut, lagi pula anaknya yang sudah berusia 18 tahun dibiarkan saja.

    “Laki-laki kan enggak apa-apa bu. Kalau anak perempuan, mungkin perawannya bisa hilang. Kalau anak laki-laki, siapa tahu perjakanya hilang,” kata tetanggaku pula. Bulu kudukku berdiri, mendengarkan celoteh tetanggaku itu. Aku kurang puas denga dua informasi itu. Aku bertandang lagi ke tetanggaku yang lain masih di kompleks perumahan …..(Dirahasiakan) Indah. Tetangku itu juga mengatakan, kalau itu soal biasa sekarang ini. Malamnya aku ngobrol-ngobrol dengan putraku Julius. Julius mengatakan, kalau Tante Wira sudah mengodanya. Bahkan sekali pernah menyalaminya dan mempermainkan jari telunjuknya di telapak tangan putraku. Pernah sekali juga, kata putraku, Tante Wira mengelus burung putraku dari balik celananya, waktu putraku bermain ke rumah Tante Wira.

    Aku sangat terkejut sekali mendengar pengakuan putraku Julius menceritakan tingkah laku Bu Wira. Tapi tetanggaku mengatakan, itu sudah rahasia umum, dan kini masalah itu sudah biasa. Bahkan tetanggaku mengajakku untuk berburu burung muda bersama-sama.

    Malamnya aku tak bisa tidur. AKu sangat takut, kalau putraku akan menjadi korban dari ibu-ibu di kompleks itu. Sudah sampai begitu? Semua sudah menjadi rahasia umum dan tak perlu dipermasalahkan? Lamat-lamat aku memperhatikan putraku. Trnyata dia memang ganteng seperti ayahnya. Persis fotocopy ayahnya. Walau masih 15 tahun, tubuhnya tinggi dan atletis, sebagai seorang pemain basket. Gila juga pikirku.

    Rasa takutku marah-marah kepada Bu Wira, karean aku juga mungkin pernah dia lihat berselingkuh dengan teman sekantorku. Mungkin itu akan jadi senjatanya untuk menyerangku kembali, pikirku. Hingga aku harus menjaga anak laki-lakiku yang tunggal, Julius.

    Ketika Julius pergi naik sepeda mootr untuk membeli sesuatu keperluan sekolahnya, aku memasuki kamarnya. Aku melihat majalah- majalah porno luar negeri terletak di atas mejanya. Ketika aku menghidupkan VCD, aku terkejut pula, melihat film porno yang terputar. Dalam hatiku, aku haru semnyelamatkan putraku yang tunggal ini.

    Sepulangnya dari toko, aku mengajaknya ngobrol dari hati ke hati.

    “Kamu kan sudah dewasa, nak. Mami tidak marah lho, tapi kamu harus jawab sejujurnya. Dari mana kamu dapat majalah-majalah porno dan CD porno itu,” kataku. Julius tertunduk. Lalu menjawab dengan tenang dan malu-malu kalau itu dia peroleh dari teman-temannya di sekolah.

    “Mama marah?” dia bertanya. AKu menggelengkan kepalaku, karena sejak awal aku mengatakan, aku tidak akan marah, asal dijawab dengan jujur. AKu harus menjadikan putra tunggalku ini menjadi teman, agar semuanya terbuka.

    “Kamu sudah pernah gituan sama perempuan?” tanyaku. “Maksud mami?” “Apa kamu sudah pernah bersetubuh dengan perempuan?” tanyaku lagi. Menurutnya secara jujur dia kepingin melakukan itu, tapi dia belum berani. Yang mengejutkan aku, katanya, minggu depan dia diajak kawan- kawannya ke lokalisasi PSK, untuk cari pengalaman kedewasaan. Aku langsung melarangnya secara lembut sebagai dua orang sahabat. Aku menceritakan bagaimana bahaya penyakit kelamin bahkan ***-AIDS. Jika sudah terkena itu, maka kiamatlah sudah hidup dan kehidupannya.

    “Teman-teman Julius, kok enggak kena ***, MI? Padahal menurut mereka, merekaitu sudah berkali-kali melakukannya?’ kata putraku pula. Ya ampun….begitu mudahnya sekarang untuk melakukan hal sedemikian, batinku. “Pokoknya kami tidak boleh pergi. Kalau kamu pergi, Mami akan mati gantung diri,” ancamku. “Tapi Mi?” “Tapi apa?” “Julius akan kepingin juga. Katanya nikmat sekali Mi. Lalu bagaimana dong? Julius kepingin Mi. Katanya kalau belum pernah gituan, berarti belum laki-laki dewasa, Mi?” putraku merengek dan sangat terbuka. Aku merangkul putraku itu. Kuciumi keningnya dan pipinya denga penuh kasih sayang. Aku tak ingin anakku hancur karean PSK dan dipermainkan oleh ibu-ibu atau tante girang yang sering kudengar, bahkan oleh Bu Wira yang tua bangka itu.

    Tanpa terasa airmataku menetes, saat aku menciumi pipi putraku. Aku memeluknya erat-erat. Aku akan gagal mendidiknya, jika anakku semata wayang ini terbawa arus teman-temannya ke PSK sana.

    “Kamu benar-benar merasakannya, sayang?” bisikku. “Iya Mi,” katanya lemah. Aku merasakan desahan nafasnya di telingaku. Yah…malam ini kita akan melakukannya sayang. Asal kamu janji, tidak mengikuti teman-temanmu mencari PSK, kataku tegas. “Berarti aku sama dengan Tony dong, Mi?” “Tony? Siapa Tony?” tanyaku ingin tahu, kenapa dia menyamakan dirinya dengan Tony. Menurut cerita Julius putraku, Tony juga dilarang mamanya mengikuti teman-temannya pergi mencari PSK, walau Tony sudah sempat juga pergi tiga kali bersama teman-teman sekelasnya. Untuk itu, secara diam-diam Tony dan mamanya melakukan persetubuhan. Katanya, Tony memakai kondom, agar mamanya tidak hamil. Aku terkejut juga mendengarnya.

    “Kamu tidak perlu memakai kondom, sayang. Mami yakin, kalau mami tidak akan hamil,” kataku meyakinkannya. Seusai makan malam, Julius tak sabaran meminta agar kami melakukannya. AKu melihat keinginan putra begitu mengebu-gebu. Mungkin dia sudah pengalaman melihat CD Porno dan majalah porno pikirku. AKu secepatnya ke kamar mandi mencuci paginaku dan membuka BH dan CD ku. AKu memakai daster miniku yang tipis. Di kamar mandi aku menyisiri rambutku serapi mungkin dan menyemprotkan parfum ke bagian-bagian tubuhku. Aku ingin, putraku mendapatkan yang terbaik dariku, agar dia tidak lari ke PSK atau tante girang. Putraku harus selamat. Ini satu-satunya cara, karea nampaknya dia sudah sulit dicegah, pengaruh teman-temannya yang kuat. Jiwanya sedang labil-labilnya, sebagai seorang yang mengalami puberitas. Begitu aku keluar dari kamar mandi, putraku sudah menanti di kamar. Dia kelihatan bingung melihat penampilanku malam ini. Tidak seperti biasanya.

    “Kamu sudah siap sayang,” kataku. Putraku mengangguk. Kudekati dia. Kubuka satu persatu pakaiannya. Kini dai telanjang bulat. AKua melapaskan dasterku. Aku juga sudah telanjang bulat. Aku melihat putraku melotot mengamati tubuhku yang telanjang. Mungkin dia belum pernah melihat perempuan telanjang sepertiku di hadapannya. Aku duduk di tempat tidur. Kutarik tangannya agar berdiri di sela-sela kedua kakiku. Aku peluk dia. Aku kecip bibirnya dengan mesara. Pantatnya kusapu-sapu dengan lembut, juga punggungnya. Dengan cepat terasa burungnya bergerak-gerak di perutku. Kujilati lehernya. dia mendesah kenikmatan. Liodahku terus bermain di pentil teteknya. Lalu menjalar ke ketiaknya dan sisi perutnya. Aku merasakan tangan anakku mulai memagang kepalaku. Kuperintahkan dia untuk duduk di pangkal pahaku. Kini dia duduk di pangkal pahaku, dengan kedua kakinya bertumpu ke pinggir tempat tidur. Tiba-tiba aku merebahkan diriku ke tempat tidur. dia sudah berada di atasku. Kuminta agar dia mengisap puting susuku. Mulutnya mulai beraksi. Sementara burungnya terasa semakin keras pada rambut paginaku. Dengan cepat pula, kurebahkan dirinya. Kini aku yang balik menyerangnya. Kujilati sekujur tubuhnya. Batang burungnya, telur yang menggantung di pangkal burungnya. Ku kulum burungnya dan kupermainkan lidahku pada burung itu.

    “Mami…geli,” putraku mendesah. “Tapi enakkan, wayang,” tanyaku. “Enak sekali Mi,” katanya. Aku meneruskan kocokanku pada burungnya. Dia menggelinjang-gelinjang. Kuteruskan kucokanku. Kedua kakinya menjepit kepalaku dan…croot.croot.crooooooot! Spermanya keluar. Kutelan sepermanya dan kujilati batangnya agar spermanya tak tersisa. Aku senagaja memperlihatkannya kepadanya.

    Kini dia menjadi lemas. Terlalu cepat dia keluar. Mungkin sebagai pemula, dia tak mampu mengontrol diri. Kuselimuti dirinya. 20 menit kemudian, setelah nafasnya normal, aku memberinya air minum segelas. Lalu aku membimbingnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kusabuni burungnya dan kulap pakai handuk. Kini kami sudah terbaring berdua di tempat tidur.

    “Enak sayang?” tanyaku. Dia menagngguk. “Tapi Mi, kita kan belum begituan. Katanya kalau begituan, burung Julius masuk ke lubang mem*k Mami,” katanya polos. Aku menganguk. Kamu harus segar dulu. Nanti kita ulangi lagi. Nanti kamu boleh memasukkannya ke lubang Mami, kataku. “Kenapa nanti Mi? Kenapa tidak sekarang?” dia mendesak. Dia sudah begitu menginginkannya pikirku. Langsung kulumat bibirnya. Kujulurkan lidahku ke dala mulutnya. Dia langsung meresponsnya. Kini dia berganti memberikan lidahnya padaku. Aku mengemutnya dengan lembut. Tanganku terus membelai-belai tubuhnya dan burungnya kuelus- elus. Sebentar saja burung itu bangkit.

    “Naiki Mami, sayang,” kataku. Dia naik ke tubuhku. “Masukkan,” pintaku. Dia mencari-cari lubangku. Kuarahkan burungnya dengan tanganku. Setelah burung itu terasa di tengah bibir paginaku, kuminta dia menekannya. Dia menakan burungnya dan langsung masuk, karean paginaku sudah basah. Aku memang sudah sangat lama merindukan ada burung memasuki paginaku. Setelah terhenti 5 tahun perselingkuhanku dengan seorang duda teman sekantorku (sejak dia pindah) aku tak pernah lagi selingkuh. Burung yang besarnya cukup itu, terasa sudah mengganjal di liang paginaku. KUkangkangkan kedua kakiku. Aku membiarkan burung itu tenggelam di dalamnya. Tak lama kemudian, aku merasakan putraku sudah mulai menarik-cucuk burungnya. Aku biarkan saja, walaupun sebenarnya aku sudah agak gatal ingin meresponsnya. Lama kelamaan, aku tak tahan juga. Aku pun meresponnya dengan hati-hati, seakan aku hanya melayaninya saja, bukan karean kebutuhanku. Sambil memompa burungnya, kuarahkan mulutnya untuk mengisap-isap pentil payudaraku. Dia melakukannya. AKu sudah melayang di buatnya. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kenikmatan itu, sementara usia yang 37 tahun, masih membutuhkannya. Kujepit kedua kakiku ke tubuh putraku. Aku orgasme dengan cepat. Aku tidak memperlihatkan, kalau aku sudah orgasme. Perlahan-lahan aku tetap meresponsnya, sampai aku normal kembali.

    “Jangan digenjot dulu, sayang. Mami Capek. Isap saja tetek mami, sayang,” pitaku. Aku tak ingin dia sudah orgasme, sementara aku masih jauh. Dia menjilati tetekku dan mengisap-isapnya. Atas permintaanku, sekali-sekali dia juga menggigit putingku. Libidoku bangkit. Aku mulai melayang. Aku mulai menggoyang tubuhnya dari bawah. Dia merespons dengan kemabli menggejotku, menarik dan mencucuk burungnya ke dalam liang paginaku. Aku mendengar, suara begitu becek pada paginaku. Aku sedikit malu, karena selama ini, aku sudah tidak merawat lagi paginaku. Tapi dia semakin semangat mengocokkan burungnya.

    “Mami…aku sudah mau keluar nih…” katanya. Saat itu aku juga sudah mau muncrat. Aku percepat goyanganku, agar aku lebih dulu sampai pada puncak kenikmatan itu. Dan…dia memelukku erat sekali. Bahuku digigitnya dan sebelah tangannya mencengkeram rambutku. Ternyata kami bisa sama-sama sampai. Aku masih mampu mengatur irama permainan ini, pikirku.

    Aku keringat dan putraku juga berkeringat. Perlahan dia ku baringkan ke sisiku dan aku menyelimuti tubuh kami dengan selimut tipis, sekaligus melap tubuh kami dari keringat. Setelah 15 menit aku bangkit dan meneguk segelas air putih. Segelas kuberikan kepdanya. Julius berjanji untuk merahasiakan ini kepada siapa saja, termasuk kepada teman dekatnya. Walau menurut Julius, temannya sudah berhubungan dengan beberapa wanita di lokalisasi PSK, namun behubungan dengan ibunya jauh lebih nikmat. Aku juga memberi yang terbaik buat putraku, demi keselamatan hidupnya, terhidar dari PSK dan tante giang.

    Aku menyangupi, memberinya cara lain bermain seks, seperti yang dia lihat di CD porno dan majalah-majalah, seperti doggystyle dan sebagainya. Malam itu, Julius juga bersumpah, tidak akan pergi mencari PSK, walau pun teman-temannya menuduhnya laki-laki Kuper dan ketinggalan zaman, karea dia sudah mendapatkannya dariku dengan baik. Sejak saat itu, kami selalu melakukannya secara teratur, tidak serampangan. Tenatu saja di tempat tidur, di dapur, di sofa dan tempat-tempat lai di rumah kami dengan suasana yang indah. Bahkan kami pernah juga melakukannya di hotel, ketika kami wisata ke bogor. Semua orang memuji kegantengan putraku yang wajahnya imut-imut dan manja itu.

    Kini putraku sudah SMA, AKu sudah persis 40 tahun. Orang bilang aku masih tetap cantik, karean aerobik. Sebeanranya, selain aerobik, aku juga melakukan hubungan seks yang sangat terataur.

  • Aku Dan Sepupu Istriku

    Aku Dan Sepupu Istriku


    1860 views


    Perawanku – Hai, Namaku Roy umurku sekitar 35, aku telah beristeri dan mempunyai seorang anak. Semasa ku masih bujang aku sering mempunyai hubungan dengan isteri orang. Aku gemarkan isteri orang kerana pengalaman merka dan aku tidak perlu takut jika mereka hamil atas perbuatanku. O ya sebenarnya aku dari Malaysia.

    Aku kini bertugas sebagai ketua (Pengurus) Di sebuah perusahaan Swasta. Selepas bertunang dengan isteriku disuatu majlis keluarga (pihak isteri) aku terlihat sepupu isteriku bersama tunangannya. Pada pandangan pertama itu aku terus tertarik kepadanya. Usianya ketika itu sekitar 23 tahun masih lagi kuliah. Namun ku pendamkan saja hasratku kerana aku juga cinta pada isteriku. Setelahku bernikah sepupu isteriku juga bernikah tidak lama kemudian. Aku sering membayangkan melakukan hubungan seks dengan sepupu isteri (namanya Linda). Ketika aku bersenggama dengan isteriku aku membayangkan aku bersama Linda. Sosok tubuhnya indah, kulitnya putih mulus, payu daranya besar tapi aku tidak berpeluang memilikinya. Aku hanya bisa mengangan-angankan saja. Aku terus berangan-angan selama dua tahun. Agen Judi Bola Terpercaya

    Pada suatu ketika, sekritariku mohon berhenti dan jawatan itu kekosongan. Kebetulan pula Linda butuh pekerjaan dan aku terus menawarkan jawtan itu kepadanya. Tanpa banyak bicara dia menerima jawatan itu dan kini dia bekerja dibawah tanganku. Impian ku untuk memiliki tubuhnya kian mekar kerana setiap hari aku pasti melihatnya namun aku masih lagi mencari peluang bagai mana bisa aku menidurinya.

    Pada suatu hari aku mendapat tugas untuk keluar kota kerena ada janji dengan pelanggan. Aku lantas meminta Linda untuk ikut bersamaku. Isteri tidak merasa apa-apa kerana Linda adalah sepupunya dan telah berkahwin. Aku menjalankan rancanganku. Aku menempah hanya satu kamar hotel dan memberi alasan bahwa hotel itu telah penuh. Pada mulanya Linda agak keberatan namun aku memujuknya dan mengatakan yang dia bisa tidur di atas katil dan aku pula bisa tidur di sofa.

    Setelah mendaftar masuk ke hotel itu, aku terus kekamar mandi sementara Linda mengeluarkan pakaiannya untuk disimpan dalam almari. Setelah mandi aku keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai towel. Aku sengaja mahu menunjukkan susuk tubuh ku kepadanya. Linda melihatku kaget lantas dia memalingkan mukanya dari ku kerana malu. Aku terus berpakaian dan mengatakan aku ingin keluar sebentar dan menyuruhnya mandi. Lantas aku pun keluar. Lebih kurang lima belas menit aku kembali ke kamar. Apabila aku membuka pintu kamar kelihatan Linda baru keluar dari kamar mandi dan hanya memakai towel dari dada hingga ke pantatnya. Aku jadi tertegun melihat keindahan tubuhnya dengan payudaranya membengkak besar dan indah sekali. Kemudian ku lihat pantatnya yang bulat indah dan kelihatan vaginanya yang montok ketika dia membungkuk membelakangi ku. Judi Slot Joker Gaming

    Linda kaget dengan kehadiharanku tiba-tiba itu. Dia cuba lari kembali ke kamar mandi. Kebetulan aku berada di pintu kamar mandi dan dia terus ke dakapanku. Linda jadi kaku dalam dakapan ku. Aku dapat merasakan kelembutan payudaranya menyentuh dadaku dan terus seperti aliran listrik menjalar ketubuh ku. Nafasku terus tersekat-sekat ku lihat Linda memandang muka ku seperti minta di lepaskan. Aku terus mengucupi bibirnya yang munggil lalu menghisap-hisap lidah. Linda cuba menolak tubuhku tapi ku eratkan dakapanku.

    Selesai saja bibirna ku gomoli akau menghisap cuping telinganya. Linda terus layu dan menjadi pasrah. Aku membisikkan ketelinganya ” Linda aku sememangnya jatuh cinta padamu pada pertemuan pertama dulu.” ” Adakah kau pun cinta pada ku.” Dia diam dan sedikit mengangguk. Aku membaringkan Linda di atas katil lalu aku menyelakkan towel di tubuhnya. Linda cuba menahan perlakuanku namun aku terus saja mencumbui telinganya dan dia terus pasrah. Kini Linda bogel tanpa seurat benang di hadapan ku. Impianku selama dua tahun kini hampir tercapai.

    Aku mengucupi bibirnya sambil menghisap-hisap lidahnya. Linda hanya mengelus-ngelus keenakan.
    “Roy.. aku juga cinta padamu dari mulanya. Aku juga kepingin ingin bersamamu.”
    Aku terus mengucupi lehernya yang putih dan terus meramas-ramas payu daranya yang besar itu. Aku mengihisap-hisap puting sambil menarik nariknya dengan gigiku. Linda mengeliat keenakan.

    Aku menjilat seluruh tubuhnya sambil menggigit kecil. Linda terus mengelus keenakan dan tubuhnya menggeliat-geliat kesedapan. Linda membuka kangkangannya dan kelihatan viginanya yang gebu sedikit ternganga. ada cairan putih pada lubang viginanya dan klitorisnya ku jilat.

    “Ohh.. enaknya sayang ku.” Linda merengek sambil memijat-mijat kepala ku. Agen Sbobet Deposit Pulsa
    “Teruskan sayang..teruskan aku tidak pernah rasakan ini dengan suami ku.” Rupanya suami Linda tidak pernah menjilat klitorisnya. Aku terus menjilatnya hingga Linda mencapai klimaxnya.

    Setelah itu aku menanggalkan pakaianku dan akhir sekali CD ku maka terkeluarlah roketku yang sedang keras umpama besi. Linda terus meremas-remas roketku dan aku menyodorkan ke mulutnya. Linda cuba mengelak dari menghisap penisku.

    “Aku ngak biasa. Suamiku ngak pernah begini.”
    Aku paksakan Linda untuk hisap penisku. Aku sodorkan penisku masuk penuh kemulutnya dan Linda seolah-olah mahu muntah. Namun dia terus kan menghisap penisku. Aku terasa begitu enak sekali dan Linda mengocok-ngocok penisku dengan mulutnya. Setelah hampir lima menit aku membuka kangkangannya lalu menyodorkan penisku ke lubang viginanya. Agak sempit juga lubangnya walaupun telah berkahwin. Linda mengeluh keras. Sakit barangkali.

    “Sayang.. punyamu besar kali.” Keluhnya.
    Aku terus sorong tarik lubang nya makin basah..kecuk-kecak-kecuk-kecak irama sorong tarik jelas sekali. Linda terus mengeluh keras keenakan. Tubuh Linda beberapa kali kejang kerana beberapa kali sampai klimaxnya, aku masih terus menyorong tarik cuma semakin meningkatkan kelujuannya. Sudah hampir setengah jam aku menyorong tarik penisku. Ku lihat Linda sudah kelelahan. Kepala penisnya terasa nyut-nyut dan aku hampir ke klimax. Aku melajukan sorongan dan Linda mendengus keras. Sprott.. sprott.. sprott aku memancutkan spermaku kedalam rahim Linda dan Linda tergeletak kelelahan. Peluh membasahi tubuh kami dan Linda seolah-olah tidak mampu membuka matanya. Aku lantas mengucup dahinya.

    Setelah menyemprot sperma kali pertama penisku masih terus menegang. Aku merasakan aku masih mampu untuk kali kedua. Linda telah begitu Lelah sekali. Kubisikkan ketelinga Linda yang aku ingin menyetubuhinya melalui lubang anusnya. Linda agak keberatan namun dia terlalu letih untuk menolakku. Lantas ku terbalikkannya dan menolak pantatnya supaya tinggi dan kelihatan lubang anusnya yang ketat dan basah kerana cairan viginnya. Aku terus menyorongkan penisku menusuk lubang anusnya. Dia menjerit kesakitan namun tidak berdaya. Aku merasakan suatu keenakan yang amat sangat kerana lubang anus itu sempit dan tidak pernah dimasuki penis. setelah beberapa kali menyorong tarik penis ku Linda mula menikmati keenakkannya dan memintaku meneruskan perlakuanku.

    Aku terus menyorong tarik selama sepuluh menit dan aroma lubang anus mula menusuk hidung ku.. Ahh nikmatnya.. Linda terus menikmati penisku yang keluar dan masuk lubang anusnya. Kini setelah hampir dua puluh menit aku tiba ke klimax kali kedua ku.. tubuh ku kekejangan dan aku menyemprot sisa sperma ku kedalam lubang anusnya. Setelah selesai Linda begitu kelelahan sehingga tidak bisa bangun. Dia bisikkan ke telingaku bahwa dia tidak pernah merasakan kenikmatan bermain sex bersama suaminya dan tambahan pula suaminya mandul.

    Setelah kejadian itu kami terus melakukan hubungan sex sehingga sekarang dan Linda kini hamil enam bulan atas perlakuan kami tanpa pengetahuan suaminya dan isteriku. Suaminya fikir anak itu anaknya.. biarkan saja. Walaupun Linda hamil aku tetap main dengannya samada melalui lubang vagina atau lubang anusnya yang semakin longgar.

  • Cerita Seks Aku jadi berondong tante girang

    Cerita Seks Aku jadi berondong tante girang


    1119 views

    Perawanku – Cerita Seks Aku jadi berondong tante girang, Sebelum membaca silahkan siapkan tisu terlebih dahulu, selamat menikmati, Matahari bersinar sangat terik hari ini aku ada kuliah, tetapi rasanya udara sangat panas, ruang kuliah yang biasanya sejuk menjadi terasa pengap.

    “Wah enaknya selesai kuliah pergi ke Mall,” pikirku.
    Setelah kuliah yang membosankan selesai, aku langsung berangkat ke Mall PondOk Indah,
    “Seharian suntuk mendengarkan dosen berceloteh, tapi setelah berada disini, ahh.. rasanya segar sekali.”

    Kunikmati berjalan-jalan di PIM dan tanpa terasa perutku sudah merasa lapar, aku berjalan menuju ke food court, setelah duduk dan memesan makanan, tiba-tiba mataku tertuju kepada 3 orang Tante yang berada diseberang mejaku.

    “Sexy dan cantik juga,” pikirku.

    Mataku tidak bisa lepas dari 3 Tante tersebut, terutama yang memakai baju ketat warna merah, kuperkirakan umurnya 35-40 th, tingginya kurang lebih 1.60, rambutnya dicat warna, dengan payudara yang besar serta pantat yang bulat ditunjang dengan tubuhnya sexy.

    “Waduh jadi pusing kepala atas dan bawah, nih,” kataku.

    Setelah selesai makan aku langsung menuju ke tOko buku karena takut tambah ‘pusing’, selesai membaca sebuah buku, aku ingin keluar dari tOko buku. Eh.. ternyata Tante-Tante yang tadi, mau masuk ke tOko buku juga, aku langsung mengurungkan niat untuk keluar dari tOko buku, kulihat Tante berbaju merah itu sedang mencari buku sedangkan teman-temannya sedang memilih buku tulis (mungkin untuk anak-anak mereka) kemudian kudekati Tante tersebut dengan sOk yakin.

    “Halo Tante Mila apa khabar.”
    Tante itu terkejut mendengar suaraku.
    “Maaf ya, kayaknya kamu salah orang.”
    Aku pura-pura terkejut, “Aduh maaf Tante, habis dari belakang persis kaya Tanteku sih.”
    Kemudian Tante itu hanya tersenyum dan berkata,
    “Tante atau Tante?”
    Aku kemudian tersenyum dan langsung kualihkan pembicaraan,
    “Lagi cari buku apa Tante? ee.. saya boleh tahu namanya enggakk?”
    “Tante Dewi,” jawabnya.

    Selanjutnya kami mulai berbincang-bincang, tetapi mataku tidak dapat lepas dari payudaranya yang sangat menantang, sampai tiba-tiba ada suara dibelakangku.

    “Waduh, siapa nih?” ternyata teman-temannya Tante Dewi.
    “Oo.. ini keponakanku, eh.. mau kemana kalian?”
    Sambil tertawa mereka menjawab, “Kita enggak mau ganggu reuni keluarga ah, kamu pulang sendiri aja ya Dew”.

    Tante Dewi hanya mengangguk saja tanda setuju, setelah teman-temannya pergi, Tante Dewi mengajakku ke sebuah restoran. Sambil menikmati minuman, Tante Dewi bercerita tentang dirinya, singkat cerita, Tante Dewi baru saja pulang dari kelas Aerobik bersama-sama temannya (pantas bodynya masih yahud) dan sekalian mampir mencari buku untuk anaknya, selain itu dia juga menceritakan kehidupan keluarganya.

    Tante Dewi mempunyai suami yang berada di Kalimantan, sedang membuka usaha perkayuan sejak 3 tahun yang lalu dan hanya pulang setahun sekali karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Sedangkan di rumah Tante Dewi hanya ditemani oleh 2 anak laki-lakinya yang berumur 3 dan 5 tahun serta seorang pembantu dan 1 babysister. Mengetahui hal itu aku langsung berpikir,
    “Wah jarang ML dong Tante, kesempatan nih”.

    Tiba-tiba Tante Dewi berkata, “Tante kayaknya enggak bisa lama-lama, harus pulang karena nanti sore ada arisan, jadi Tante mau siapin semuanya dari sekarang biar ada waktu untuk istirahat.”

    “Baik Tante, ini nomor saya kalau Tante mau ketemu lagi sama saya.”
    “Ok, ini nomor HP Tante, tapi jangan telepon dulu ya, biar Tante yang telepon kamu.”
    Akhirnya kami berpisah dan Tante Dewi berjanji akan menelepon aku.

    Seminggu telah berlalu dan selama itu aku sebetulnya sangat ingin meneleponnya tetapi karena sudah berjanji untuk tidak menghubunginya jadi aku hanya menunggu sambil berharap, sore harinya HPku berbunyi, kulihat nomornya.

    “Ternyata Tante Dewi!” dan langsung kujawab,
    “Halo Tante”
    “Halo juga ini Andre?”
    “Iya, ini Tante Dewi kan?”
    “Iya, kamu ada acara nanti sore?”
    “Enggak ada tante, mau ketemu?”
    “Kita ketemu di Mc Donald Thamrin jam 5 sore, bisa enggak?”
    “Ok Tante, kalau gitu aku siap-siap deh, sekarang sudah jam 4.”
    “Ok Andre, sampai ketemu disana ya.”

    Aku sempat bingung, kok kayaknya Tante Dewi terburu-buru dan tiba-tiba langsung mengajak ketemu.
    “Ah, nanti juga tahu kalau sudah ketemu.”

    Tepat jam 5, kami bertemu dan langsung mencari tempat duduk. Tante Dewi yang memulai pembicaraan, “Kamu bingung ya? Kok tiba-tiba sekali Tante ajak kamu ketemu, sebetulnya enggak ada apa-apa. Cuma ingin ngobrol aja sama kamu, abis teman-teman Tante sedang keluar kota.”

    “Untung pada keluar kota, kalau tidak Andre enggak akan ditelepon sama Tante” jawabku.
    “Iya enggak dong say, nomor kamu sempat hilang, jadi Tante cari-cari dulu untung ketemu, jadi Tante bisa langsung hubungi kamu.”
    Kami mengobrol kurang lebih selama 1/2 jam dan Tante Dewi bicara,
    “Ndre, cari tempat istirahat yuk.”

    Aku nyaris enggak percaya mendengar kalimat yang indah itu, dan langsung aku mengangguk mengiyakan, Tante Dewi hanya tertawa kecil,
    “Kamu kaya anak kecil deh,” kata Tante Dewi. Kemudian kami menuju tempat parkir dan pergi dengan mobilnya mencari tempat yang bisa disewa untuk beberapa jam.
    Setelah memesan dan masuk kamar, Tante Dewi langsung membuka bajunya.
    “Ndre, Tante mandi dulu ya, kalau kamu mau mandi, nyusul aja.”

    Mendengar itu aku langsung secepat kilat membuka baju dan berlari ke kamar mandi, disana aku melihat pemandangan yang sangat indah. Tante Dewi sedang membasuh badannya di bawah shower dan terlihat jelas tubuhnya benar-benar terawat. Walau sudah mempunyai 2 anak tetapi tubuh Tante Dewi sangat terjaga, payudara dengan ukuran kurang lebih 36B masih terlihat kencang, pantat yang bulat dan berisi benar-benar membuat penisku langsung bangun dengan cepat.

    Sambil menyabuni tubuhnya Tante Dewi melirik ke arah selangkanganku dan berkata, “Ndre, lumayan besar juga penis kamu.”
    Sebetulnya ukuran penisku biasa saja hanya 12,5 cm tetapi mungkin karena ngaceng berat jadi terlihat besar.

    “Jadi mandi enggak? Kok bengong aja? Sabunin punggung Tante dong..”
    Aku langsung mendekat dan memeluk Tante Dewi, kuciumi lehernya sambil tanganku menggesekkan klitorisnya.
    “Wah besar nih klitoris Tante dan lebat juga jembutnya” kataku dalam hati, dan ini membuat birahiku semakin tinggi dan semakin ganas. Kujilati leher dan punggung Tante Dewi
    “Ndree.. Tante minta disabunin, kok malah diciumi tapi.. ahh.. terus sayang, Ndre isep tetek Tantee..”

    Aku langsung menuju ke teteknya dan dengan rakus kuhisap putingnya sambil lidahku menggelitik. Tante Dewi semakin menggelinjang dan dia menarik-menarik penisku dengan kuat, sempat kaget dan sakit, tetapi lama kelamaan terasa enak. Setelah puas menghisap payudaranya lalu aku pindah menjilati perutnya, pusarnya dan akhirnya tiba dibukit kecil yang lebat hutannya, mulai kujilati bukit itu dan kuhisap klitorisnya sambil sesekali kugigit pelan.

    “Aah..! Gila kamu Ndre..! Diapakan Tante? Enakk.. sekali sayang,” sambil tangannya menjambak rambutku, Tante Dewi terus mendesah. Kuhisap terus klitoris itu, sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang besar. Terus kulakukan ‘foreplay’ itu, sampai akhirnya aku berdiri dan kutarik tangannya untuk keluar dari kamar mandi dan menuju ke tempat tidur. Kulanjutkan mengisap klitorisnya dan kumasukkan jariku kedalam vaginanya.
    “Aah.. yess.. Ndre terus say”
    “Ughh.. yang kuat say, Tante rasanya mau keluar!”

    Aku semakin semangat memainkan lidahku di klitorisnya dan tidak lama kemudian terdengar erangan yang panjang,
    “Ahh.. Ndree..! Tante keluar..!”
    Terasa di mulutku cairan yang terasa asin dan langsung kujilat sampai habis.
    “Bagaimana Tante?”
    “Thanks Andre kamu bisa buat Tante puas, rasanya sudah lama Tante tidak merasakan orgasme.”

    Kemudian Tante Dewi berbaring dan aku peluk dengan erat, dia merebahkan kepalanya di dadaku, aku mencium keningnya dan dia membalas dengan menciumi bibirku. Lama kami berciuman dengan penuh gairah dan terasa birahinya mulai timbul kembali.
    “Mana penismu say, Tante mau puasin kamu.”

    Tanpa menunggu lagi kusodorkan ‘adikku’ yang dari tadi sudah lama menunggu untuk digarap, dengan tangan yang mungil, Tante Dewi mulai mengocok penisku dan dimasukkan ke mulutnya.
    “Uh.. enak sekali Tante.”
    “Nikmati ya say, ini baru mulai kokm” kata Tante Dewi.
    Sambil mendesah manja, aku merasa ujung penisku dimainkan oleh lidahnya yang terus berputar dan sambil dihisap.
    “Tante sudah.. nanti aku keluarr..!”

    Tanpa memperdulikan kata-kataku dia terus memainkan penis dan bijiku sampai aku akhirnya tidak tahan dan..
    “Tantee.. aku keluar!”
    Tante Dewi melepaskan penisku dari mulutnya dan mengocoknya dengan kuat sambil mulutnya membuka
    “Croot.. croott..!”

    Keluarlah spermaku yang langsung mengenai muka dan masuk ke dalam mulut Tante Dewi yang langsung ditelan. Sambil membersihkan mukanya yang penuh dengan spermaku, mulutnya sesekali mengisap penisku yang mulai mengecil.

    Kemudian kami beristirahat dalam keadaan bugil, 1/2 jam kemudian birahiku timbul kembali, kucumbui secara perlahan Tante Dewi yang masih tertidur, lama-lama terdengar desahan yang sangat menggairahkan,

    “Mmhh.. uh.. Ndre kamu mau lagi?”
    “Iya Tante, enggak pa-pa kan?” tanyaku
    “it’s Ok honey, I’m ready to make love with u”,

    Kami melakukan 69 style, Tante Dewi melepaskan kocokannya dan berdiri diatas selangkanganku. Lalu ia mulai jongkOk sambil mencari penisku untuk dimasukkan ke dalam lubang vaginanya yang telah basah, setelah posisi kami enak dan penisku telah didalam vaginanya dia mulai naik turun dan mendesah dengan hebat.
    “Aah.. ahh.. Ndre enak sekali!”

    Lalu kami berganti posisi menjadi ‘doggy style’, sambil maju mundur penisku di dalam vaginanya kumasukkan juga jempol tanganku kedalam lubang anusnya.
    “Nghh.. Nddre.. terus masukin jarimu ke anus Tante say.”

    Tidak lama kemudian kulepaskan penisku dan kucoba masukkan kedalam lubang anusnya, auw! sempit sekali pelan-pelan kutekan terus.
    “Say.. terus masukin penismu..!”
    Dan akhirnya masuk semua penisku dan kutarik lagi secara perlahan dan kumasukkan lagi dan terus menerus bergantian antara lubang anusnya dengan vaginanya sampai akhirnya.

    “Tante, Andre mau keluar!”
    “Keluarin dimulut Tante saja”

    Kutarik penisku dan kumasukkan kedalam mulutnya sambil dihisap, tangannya memainkan bijiku dan
    “Ahh! croot.. croot..”
    Keluar semua spermaku ke dalam mulutnya dan dia terus mengisap penisku, ngilu rasanya tetapi nikmat sekali.

    “Andre sayang, kamu enggak nyeselkan make love dengan Tante yang sudah tua ini?” tanya Tante Dewi.
    “Ah tidak Tante, Andre malah bersyukur bisa bertemu dengan Tante karena andre mendapat pengalaman baru.”

    Karena kelelahan kami akhirnya tertidur dan tidak lama kami pulang ke rumah masing-masing setelah sebelumnya membuat janji untuk bertemu kembali. Hingga saat ini, terkadang kami masih bertemu tetapi tidak selalu berhubungan intim karena waktu yang kurang tepat.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Bokep Perselingkuhan Gairah Dengan Istri Pak Guru – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Bokep Perselingkuhan Gairah Dengan Istri Pak Guru – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    2778 views

    Perawanku – Tak aku sadari kalau hari itu aku tidur di rumah Pak Iwan (55 tahun) sehingga saat bangun pagi aku begitu kaget karena berada di depan TV. Setelah sedikit mengingat, aku baru sadar kalau aku tadi malam memang sengaja menginap di rumah ini setelah ikut membantu Pak Iwan memasang komputer yang baru dia beli.

    Kulihat jam menunjukkan pukul 07.30, rumah Pak Iwan sangat sepi karena dia sudah berangkat mengajar, dan anaknya juga sudah berangkat sekolah. Biasanya yang ada di rumah hanya Bu Farida (38 tahun) Istri Pak Iwan.

    Setelah membetulkan bantal dan kursi Sofa yang aku tiduri aku segera menuju kamar mandi. Pada saat inilah awal dari perselingkuhanku ini terjadi. Ketika melintas di depan kamar Pak Iwan tkulihat pintunya sedikit terbuka. Tanpa sengaja aku melihat bu Farida sedang melepas handuk karena baru selesai mandi, kulihat tubuhnya sangat bagus dan mulus. Namun ada kejanggalan disini, karena setelah itu dia tidak langsung berpakaian melainkan kembali tidur dengan posisi terltelungkup.

    Akupun mencoba mengintipnya dengan hati-hati dan oh astaga… ternyata dia sedang bermasturbasi dengan menggoyang-goyangkan pantatnya dia atas bantal guling, sehingga tentu saja vaginanya tergesek-gesek oleh bantal itu.

    Melihat pemandangan syur itu aku langsung terangsang, dan sesaat kemudian aku berpikir kalau ini adalah kesempatan bagus, segera saja aku melepas semua pakaianku hingga bugil dan dengan mengendap-endap aku masuk ke dalam kamar. Bu Farida tidak menyadari kehadiranku karena masih asik dengan birahinya dan dalam posisi badan tertelungkup. Cerita Bokep

    Segera aku naik ke ranjang dan langsung mengambil posisi jongkok di belakang pantat Bu Farida yang sedikit nungging. Dari belahan pantatnya kulihat vagina dia sudah basah dan sedikit merekah. Aku segera mencari psisi yang nyaman lalu dengan gerakan cepat segera kurengkuh tubuh Bu Farida dari belakang.

    seperti perkiraanku, dia langsung berontak dan berteriak, namun aku sudah menemukan cara untuk mengantisipasinya. Saat dia meronta tentunya kaki dan tumit jadi agak mengangkang sehingga mulut vaginanya langsung membuka lebar, saat itulah kuluncurkan torpedoku yang sudah siap masuk kedalam vegy Bu Frida,
    Sleppp….. Blezzzt…… cairan yang licin di vaginanya memudahkan aku melakukan penetrasi sehingga dalam sekali dorong Kontolku sudah masuk semua.

    Bu Farida terus berontak tetapi aku tetap memeluknya dengan erat. Karena kesulitan melepaskan diri, dia mengancam berteriak. Tapi aku dengan santai menjawabnya, Silahkan bu berteriak…. kalau orang pada datang aku tinggal bilang saja kalau kita sedang berselingkuh dan mereka pasti percaya karena kita sudah dalam kondisi telanjang, dan saya yakin pada saat itu nama baik ibu dan keluarga akan hancur seketika.

    Pernyataanku itu membuat bu Farida langsung menyerah dan tak lagi berontak, Ya sudahlah Gun…. terserah kamu, tapi kamu janji ya jaga rahasia ini!!!. Tenang saja Bu, aku bisa kok jaga rahasia asalkan ibu tetap melayaniku dengan senang hati…. Dia hanya diam dan pasrah, akupun memulai goyanganku.

    Slepp….sleppp…..ahhh…ahhhh, dengan penuh birahi ku goyangkan pantatku maju mundur sambil kuremas-remas pantat bu Farida yang bahenol banget dan rasanya sungguh nikmat. Semakin lama aku semakin cepat bergoyang dengan sesekali ku berikan hentakan yang keras sebagai variasi lalu beberapa menit kemudian Bu Farida mencapai orgasme pertamanya. Dia merengek dan mengerang nikmat,

    Ohhhh…Ahhhh….Akhhhh… Uhhhh. setelah itu aku berhenti sejenak agar dia bisa menarik nafas dan beristirahat. Bu Farida langsung terkulai lemas, segera saja ku balikkan badannya sehingga terlentang. Kulihat bagian depan tubuhnya sangat mantap. Toketnya yang besar tampak sedikit kendur, namun perutnya masih tampak datar walaupun dia sudah 2 kali melahirkan.

    Aku segera menidurinya dan kucumbui dengan penuh gairah. Dengan jari dan permainan lidah kurangsang bagian-bagian tubuhnya yang sensitif dan akhirnya diapun terangsang. Segera kumanfaatkan hal ini dengan memintanya mengulum kontolku, awalnya dia menolak namun dengan sedikit rayuan diapun mau juga.

    Crupp….cruppp….sleppp…..slepppp. memang mantap sedotannya. Setelah puas akupun segera mengarahkan kontolku ke memeknya. Dengan posisi dia terlentang tidak sulit bagi kontolku untuk menerjang vaginanya yang di tumbuhi oleh jembut hitam yang lebat. Blesset…… ahkh……….. Ohhh….Ohhh….

    Bu Farida langsung mengerang penuh nikmat. Dalam kondisi semacam ini aku merasakan sensasi yang luar biasa, karena sambil bergoyang aku bisa menyaksikan ekspresi wajah bu Farida yang mendesah-desah karena kuentoti. Sesaat kemudian Dia kembali orgasme….. Cruttt…Cruttt….. namun aku tdak berhenti.

    Aku merasa akan mencapai orgasme juga sehingga langsung saja kuminta dia kembali nungging di pinggir tempat tidur. Lalu dalam posisi berdiri dibelakangnya kuarahkan kontolku ke memeknya yang basah…. Blesss.. setelah masuk segera kugoyang dengan sepenuh tenaga. Sesaat kemudian akupun merasakan nikmat yang luar biasaaa, Crotttzzz….. spermaku mengalir dengan deras, nikmat sekali. Cerita dewasa


    Sejak peristiwa itu, Bu Farida sering kuentoti. Dia tidak pernah menolak kapanpun aku mau, bahkan bila kondisi rumahnya sepi dan aman, aku bisa ngentoti Bu Farida sepuas-puasnya.

  • Cerita Sex Masa Kecilku Dengan SPG Cantik Marlena – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Masa Kecilku Dengan SPG Cantik Marlena – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    2892 views

    Perawanku – Hai, perkenalkan.. namaku Andrew xx, anak bungsu pasangan Ronny xx dan Widya xx (samaran). Keduanya pengusaha-pengusaha senior di Indonesia. Meski terlalu kecil untuk bersaing dengan Liem Sioe Liong atau Prajogo Pangestu, tapi kami masih cukup punya namalah di Jakarta.

    Apalagi kalo di lokasi pabrik Papa di Semarang atau konveksi Mama di Tangerang.. Eh, aku lupa. Aku biasa dipanggil Andru, tapi di rumah aku dipanggil A Bee atau Abi. By the way, sebenarnya ini adalah kisah tahun 1990. Ya, ini adalah kisah 15 tahun yang lalu..

    Tahun itu, aku baru naik kelas 2 SMP. Umurku saat itu masih 13 tahun dan akan 14 Desember nanti. Mm.. SMP-ku dulu lumayan ngetop, sekarang ngga terlalu.. sekarang cuma tinggal ngetop mahal dan borjunya aja. Aku sendiri termasuk yang ‘miskin’ di sana, abis aku cuma diantar jemput sama ciecie-ku aja sedang yang laen kadang dianter jemput sama sopir pake mobil sendiri.

    Kakak perempuanku yang sulung, Sinta, tapi dipanggilnya Sian buat temen sekolah/kuliahnya. Cie Sian baru-baru aja mulai kuliah. Usianya waktu itu 18 tahun. Sedang kakak perempuanku yang kedua, Sandra, yang biasa dipanggil Sandra atau Apin, baru masuk SMA dan usianya 15. Hehehe.. kalo berangkat aku dan Cie Pin suka nebeng Cie Sian. Tapi kalo pulang, Cie Pin naik bis sedang aku dijemput Cie Sian. Tapi mulai kelas 2 ini aku sudah bertekat pulang naik metro mini atau bajaj sama temen-temen. Cie Sian cuman tersenyum aja aku bilang gitu..

    Cuma gara-gara naik bis itu, Tante Vi, sekretaris Mama khusus buat di rumah dan gara-gara kekhususannya itu kami suka ejek dia butler alias “kepala pelayan” hehehe- jadi sedikit sewot. Tapi bagusnya, uang sakuku jadi bertambah. Katanya sih buat naik taksi atau makan di jalan kalo laper. Ya, lumayanlah. Buat ukuran anak SMP tahun 1990, yang meskipun di sekolahan termasuk yang miskin, tapi uang sakuku yang duaratus ribu sehari mungkin ngga kebayang sama temen-temenku yang sok kaya. Lagian aku buat apa bilang-bilang.. kalo gini kan ketauan mana yang temen mana yang bukan.. soalnya anak SMP ku itu dari dulunya, juga pada waktu itu, bahkan sampai sekarang. Terkenal matre.

    Well, dan gara-gara kata matre itu pula yang bikin aku bisa ngeseks sama Vonny, anak kelas 3 yang sangat cantik tapi sangat memilih pasangan jalannya itu. Juga sama Mbak Maya, temen SMA nya Cie Pin. Hehehe, untung aja Ci Pin ngga pernah tau sampe sekarang.. pasti heboh waktu itu kalo dia tahu.

    Eh, tapi.. aku pertama kali ngerasain yang namanya ‘ngentot’ bukan sama mereka ini loh.. Pasti kalian ngga pernah kebayang deh sama siapa aku pertama kali ngerasain badan cewek. Oh, bukan sama Tante Vi tadi.. apalagi sama perek atau pelacur (itu sih jijay!hii..) Mau tahu? Sama seorang sales promotion girl bernama Marlena.

    Ceritanya, siang-siang pulang sekolah kami iseng pengen tau seperti apa sih yang namanya Pameran Produk Indonesia (PPI) di silang Monas. Well, kami liat-liat di sana ternyata sepi-sepi aja kecuali di beberapa stand/gedung pameran seperti mobil. Dan di stand itulah saat itu aku tersadar sudah terpisah sendirian dari temen-temenku.. Rese’ nih pada ngga bilang-bilang kalo kehilangan..

    “Siang, Ko.. pulang sekolah ya?” seorang dara putih manis berlesung pipit dan berambut ikal sepundak menegurku dengan senyum yang paaling indah menawan yang pernah kusaksikan seumur hidupku. Aku balas tersenyum pada SPG yang ramah tapi agak sok akrab itu, “Iya Cie..”, Aku panggil dia Cie sebab jelas-jelas usianya lebih tua daripada aku, mungkin 21 atau 22 tahunan. Aku kan masih 13 tahun dan pasti keliatan karena aku kurus, kecil, pendek, dan masi pake celana SMP..

    Cerita Sex – Ciecie itu tertawa sumringah, “Ih, kamu ini pasti langsung kemari abis sekolah.. bandel, ya?!” candanya dengan senyum menggoda. Aku terkekeh juga, meski rada keki dibilang bandel, “Emang iya. Tapi aku kan udah bilang Cie Sian mau kemari..”, Ciecie itu tersenyum ramah, “Ciecie kamu umur berapa?”, “18..”, jawabnya.

    Dia tersenyum, “Mmh ya bolehlah.. berarti kamu ngga kelayapan..”
    Aku tertawa, “Hehehe ciecie bisa aja.. ”
    Lalu aku menudingnya, “Ciecie ini namanya siapa?”
    Dengan gaya bak peragawati, dia membetulkan posisi nametag-nya yang miring sehingga dapat jelas kubaca, “M-a-r-l-e-n-a.. Namanya cantik, Cie..”
    Dia tersenyum, “Aduh makasih banget, tapinya ngga ada recehan nih.. pake brosur aja ya?”
    Aku tersenyum dan mengambil juga brosur yang ia tawarkan.
    “Wow, ni mobil keren juga, nih..” aku sampai bersiul terkagum-kagum pada barang dagangannya.. (well, saat itu teknologi DOHC baru pertama kali muncul di Indonesia.. wajar dong kalo aku saat itu kagum berat..)
    “Iya, dong.. siapa dulu yang jualan” katanya tersenyum sambil menepuk dada.

    Dan saat itulah aku mulai memperhatikan baju kausnya ketatnya yang menonjolkan buah dadanya yang lumayan besar.. hmm.. dan rok mininya yang ketat tipis sepaha itu, seolah-olah bila kakinya terbuka sedikit lebih lebar maka aku dapat melihat celana dalamnya.. Maka tidak usah ditunggu lagi, aku segera mengikuti kemanapun ia bergerak menerangkan presisi dan kemampuan mobil itu, sambil bersyukur jadi orang pendek.

    Hehehee.. Beneran deh, dengan tinggiku saat itu yang 134 cm, kalian seolah-olah bisa mengintip isi rok mini Cie Lena yang tingginya 170 cm lebih dan pake sepatu hak tinggi pula. Makanya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk duduk di dalam mobil sementara ciecie itu menjelaskan dari luar dengan sebelah kaki menginjak sandaran kaki..
    Tapi aku yakin mukaku menjadi kemerah-merahan, sebab ciecie ini dari tadi bagaikan tertawa maklum dan betul-betul sapuan matanya menyapu wajahku terus-menerus.. sampai tiba-tiba aku bagai tersadar dari lamunan..

    “..gimana? udah keliatan belon?”
    aku terkaget-kaget di tempat duduk menatap wajahnya yang tersenyum manis, “apanya, nih?”
    dia tersenyum lalu gerakan matanya menunjuk arah diantara kedua kakinya yang membuka sambil berkata pelan, “..celana dalemnya ciecie..”

    nah, kebayang kan gimana malunya dan merahnya mukaku saat itu ditembak langsung begitu.. untung dia ngomongnya ngga kenceng. Lalu dia mendekatkan diri padaku dan berkata, “dari tadi ciecie liat kamu berusaha liat dalemannya ciecie, jadi tadi ciecie sengaja angkat kaki sedikit biar kamu engga penasaran.. udah liat, kan? Ciecie pake warna coklat muda..”. Aku yakin mukaku semerah kepiting rebus. Tapi Cie Lena tersenyum maklum dan membimbingku bangkit dari tempat duduk sopir dan berkata keras, “Ikut Ciecie ya Ko kecil.. Ciecie akan kasi liat kemampuan ini mobil supaya bisa bilang-bilang sama Papa, ya?”

    Dan seorang pria muda berdasi yang berdiri tidak jauh dari kami tersenyum lebar mendengar ucapannya itu sambil mengacungkan ibu jari. Tapi kulihat Cie Lena cuek aja, malah mengerdipkan sebelah matanya padaku. cerita bokep
    Kami menuju pelataran parkir luar dimana sebuah mobil serupa dipamerkan dan nampaknya bisa dicoba. Cie Lena memintaku duduk di depan sedang dia sendiri menyetir.

    Gugup juga aku waktu liat dia di kursi sopir duduk agak mekangkang sehingga dengan rok mini super pendeknya aku tahu pasti terdapat celah terbuka yang bila aku duduknya maju sedikit pasti aku bisa melihat.. ehmm.. anunya.. yang katanya coklat muda itu..

    Cie Lena tertawa geli melihatku rada panik. Melajukan mobil keluar kompleks silang Monas, ia berkata, “Nah sekarang kamu bisa liat celana dalam Ciecie puas-puas tanpa perlu takut ketauan..”
    Aku sangat malu. Tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk menyandarkan kepalaku ke dashboard sehingga bisa mengintip sesuatu diantara kedua paha mulus ciecie ini..

    Dia tersenyum, “Namamu siapa sih, Say?”
    “A Bee.”
    Dia tersenyum, “Nama yang bagus.”
    Lalu dia menoleh menatapku sebentar, “Kamu belum pernah liat cewek telanjang ya, Say?”
    Aku menggeleng pelan.
    “Pengen tau, ya?” dia tersenyum, “Pasti pernah nyoba ngintipin ciecie-mu ya?”
    Kali ini aku mengangguk pelan.
    Dia tertawa.
    “Mau liat Ciecie telanjang ngga, Say?”
    Aku cuma bisa menelan ludah gugup. Ciecie seseksi ini mau telanjang di depanku?
    Dia tersenyum, “Tapi Say, Ciecie boleh minta duit kamu sedikit ya? Ciecie perlu bayar uang kuliah sama beli buku nih..”
    Aku masih terdiam membayangkan dia telanjang di depanku.. Waah, pasti di antara kakinya itu ada..
    “Kamu boleh liat badan Ciecie semuanya, Say..” katanya memutus lamunanku, “Ciecie sayang sama kamu, abis kamu imut sih..”
    “Ciecie emang butuhnya berapa duit?” aku memberanikan diri bertanya.
    Dia tersenyum dan jarinya menunjuk angka 1..
    “I Pay..”
    Cuma segitu? Yah, kalo cuma segitu sih.. uang sakuku sehari juga lebih dari itu.. Aduh, dengan uang segitu, dia mau telanjang di depanku supaya dia bisa kuliah..
    “Cie..” kataku nekat, gejolak di kepalaku sudah memuncak di napas dan kontolku nih..
    “..tapinya aku boleh cium Ciecie, ya?”
    Cie Lena agak kaget, aku terlalu polos atau kurang ajar, ya?
    Tapi dia tersenyum.
    “Makasih, A Bee Sayang..”

    Lalu, Cie Lena mengarahkan mobil contoh itu ke sebuah tempat di Kota (aku ngga tau namanya, waktu itu kami kan tinggalnya di Pondok Indah sedang sejauh-jauhnya aku main kan cuma di Blok M). Ia memasukkan mobil ke garasi sebuah rumah kecil di pemukiman yang padat dan jalannya ampun deh jeleknyaa..

    Lalu Cie Lena menyilakan aku keluar. Sempat kulihat ia tersenyum pada seorang Empeh-empeh yang lewat, Kudengar ia membahasakan aku ini adik sepupu yang hari ini dititip karena orang tuanya sedang pergi. Wah, kalau sampe sebegitu-begitunya, ini pasti beneran tempat tinggalnya.. Lalu aku mengikutinya masuk ke dalam rumah itu. (Hihihi aku perhatikan ia mengambil anak kunci pintu depan dari balik keset.. Kalo aku maling, habis sudah isi rumah ini..)

    “Ini kontrakan Ciecie..” katanya sambil menunjuk ke ruangan dalam, “Ciecie tinggal berempat di sini.”
    “Yang lainnya kalo ngga kerja ya kuliah..” katanya saat aku bertanya mana yang lain.

    Ia membuka kamarnya dan menyilakan aku masuk sementara ia ke ruangan lain mungkin mengambil minuman. Aku perhatikan kamarnya sangat rapi, mirip seperti kamarnya Ci Sian. Bedanya hanya buku-buku kuliahannya sangat sedikit sedang di kamarnya Ci Sian kemanapun kita memandang isinya buku.. Ah, Ciecie ini memang butuh bantuan banyak.

    Lalu Cie Lena datang membawa minuman. Tersenyum ramah. Meletakkan gelas di meja belajarnya lalu mengunci pintu dan berdiri bersandar di pintu sambil memandangiku. Aku duduk di kursi belajarnya, setengah gugup. Habis ini, aku akan melihat cewek bugil asli-aslian di depanku.. Nampaknya dia sangat mengerti kegugupanku karena ia lalu berjongkok di sampingku dan memelukku erat-erat. Menciumku pelan. Lalu berkata, “Udah siap liat bodi Ciecie?”, Aku mengangguk perlahan. Dia tersenyum dan berdiri sambil membelai pipiku. Ia mulai berdiri menjaga sedikit jarak agar aku bisa melihat semua dengan jelas.

    Sebetulnya kalo dipikir-pikir saat itu ia melakukannya dengan cepat, kok.. Tapi dalam tegangku, semua gerakannya jadi slow motion. Ia mulai dengan membuka kaus ketat tipisnya. Melemparnya ke tempat tidur. Tersenyum lebar, ia menepuk perutnya yang putih kecoklatan itu sambil membuat gerakan menciumku.. Lalu ia menarik sesuatu di belakang rok mininya sehingga terjatuh ia menutupi jemari-jemari kakinya menampakkan celana dalam coklat muda yang tadi ia katakan..

    Sampai di sini, aku tidak kuat duduk.. batang kontolku menegang dan sakit kalo aku tetap duduk. Ia malah mendekat dan memelukku. Mmmhh.. meski jadi sedikit sesak napas, tapi aku sangat senang.. wajahku kini terbenam di antara belahan buah dadanya.. sedang perutnya menempel pada dadaku.. Oh, aku tentu saja balas memeluknya.. dan terpeluk olehku pinggul dan pantatnya yang sekel itu.. Dan saat terpegang olehku celana dalamnya, spontan aku masukkan jari-jariku ke dalamnya, membuatnya menjerit kecil.. “Aih.. ngga sabaran banget sih Ko kecilku ini..”

    Spontan ia melucuti celana dalamnya lalu mengangkat kaki kirinya memeluk pantatku sehingga rambut tipis jembutnya menggesek-gesek perutku.. Aduh ciecie ini.. aku kan pengin liat.. Tapi ia menciumku di pipi dan membimbingku ke cermin yang tertempel di lemarinya memperlihatkan seluruh badan telanjangnya kecuali di sekitar tetek itu.. Aku mengerti. Aku ke belakangnya dan membuka kaitan BH nya sehingga nampak juga akhirnya puncak gunung yang coklat muda indah itu.. membuatku segera menarik tubuhnya menghadapku.. dan mulai meremasinya buah dada itu..

    Ia sedikit melenguh dan terduduk di kursi.. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sehingga dadanya membusung sedang posisi pinggul dan otomatis memeknya tersodor bagai ingin disajikan.. Aku ciumi teteknya itu lalu aku hisap kuat-kuat membuatnya menggelinjang sampai akhirnya dengan satu sentakan ia mendorongku jatuh ke tempat tidurrnya..

    Ia bangkit berdiri setengah membuka pahanya sambil bertolak pinggang menonjolkan dadanya yang masih mancung dan ranum itu..

    Aduh aku ngga kuat lagi. Aku buka celana ku sehingga batang kontolku mencuat keluar dengan bebas mengambil posisi tempur.. kucopot juga bajuku sehingga tinggal singletku. Sementara itu ia hanya tersenyum saja.
    Lalu ia memegang kontolku, yang segera saja semakin tegang dan membesar..
    “Aduh si Ko kecil ini..” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Udah kerangsang, ya?”
    “Iya, cie.. ”
    Dia cuma tercekikik, dengan genggamannya menahan kulit kulup ku agar tidak menutupi kepala kontolku, ia menotol-notolkan telunjuknya pada kepala kontolku.. dan setiap kali jarinya menyentuh kulit kepala kontolku, setiap kali itu aku merasa tersetrum oleh rasa geli-geli yang aneh..
    “Hhh..,” aku sampai mendesah kenikmatan, “Cie, ‘maen’ yuk?”
    Dia menatapku geli..
    “Maen petak umpet?”
    Aku menggeleng tak sabar, “Bukaan. Kayak yang di film-film..”
    “Film apa? Donald Duck?”
    “Be Ef, Cie.. Ngentot..” akhirnya keluar juga kata itu dari mulutku..

    Tapi dia malah menowel hidungku, “Anak bandel, ya? Kecil-kecil udah nonton BF. Kamu udah pernah ‘maen’, ya? sama siapa?”
    Aku menggeleng pelan, “Nonton doang. Pengen sama Ciecie..”
    “Tapi ciecie mana puas ‘maen’ sama kamu. Kamu kan masih anak kecil..”
    Lalu dia menunjuk burung-ku
    “Punya kamu itu kekecilan. Lagian kamu orang kan belum pernah ‘maen’, belon tau harus ngapain..”
    Adduuh.. aku udah kepengen banget niih..
    “Cie Len.. boleh dong, ya? aku kasi Ciecie tiga ratus deh..” aku merengek..

    Dia malah tertawa, “Kamu ini mesti anak orang super kaya.. buang duit kayak buang sampah..”
    Adduuh.. tolong Cie.. cepet dong..
    Dia lalu mencium bibirku sehingga batang kontolku tak urung menyentuh daerah sekitar pangkal pahanya..
    “Duit segitu itu separuh uang kuliah Ciecie satu semester, tau nggak?!”

    Adduuh Ciecie ini gimana sii.. aku udah ngga tahan nii..
    “Cie Len.. ayo dong Cie..”
    Cie Lena menghela napas panjang, lalu menatapku sambil menggigit-gigit bibirnya sebelum akhirnya berkata “Sebetulnya Ciecie ngga pengen begini. Tadinya niat Ciecie sama kamu tuh cuma telanjang aja..”
    “Tapi Ciecie memang butuh uangnya..”
    Lalu ia menghela napas panjang lagi, “Tapi kamu ini masih anak kecil. Ciecie ngga mau ngerusak kamu..”

    Aku menatapnya protes. Ia pasti melihat tatapan protesku, tapi ia nampak berpikir keras. Tapi akhirnya ia menggelengkan kepala lalu mencium bibirku. Lalu tubuh telanjangnya itu menelungkup menindih tubuh telanjangku..Ia menciumiku sementara tangan kirinya menyentuh-sentuh kepala kontolku dan ampun deh rasanya luar biasa.. (ternyata butuh beberapa tahun kemudian baru aku sadar kalo orang belum pernah kepegang cewek, cukup disentuh kepala kontolnya rasanya sudah selangit..)

    Aku meronta, menggelinjang keenakan.. sekaligus tidak puas.. aku ingin ngentot! Dan akhirmya ia memenuhi keinginanku.. ia menjejakkan kaki kirinya di atas ranjang sedang kaki kanannya di lantai, dalam posisi setengah berlutut sehingga kepala kontolku (yang mungkin masi terlalu kecil buat dia karena usiaku toh juga masi kecil) sedikit melesak di antara dua bukit berhutan jarang itu.. Lalu.. ia menekan pantatnya sedang ia membusungkan dadanya dan mendongak sehingga pandanganku hanya berisi payudara dan puting susu kecoklatannya itu.. plus bonus ujung hidungnya..

    Slepp.. nampaknya kepala kontolku sudah mulai melesak masuk.. Ia lalu mengambil posisi berlutut, kedua lututnya tertekuk di atas kasur dan pinggulnya menindihku.. Lalu ia sekali lagi mendesakkan pinggulnya.. Bless.. akhirnya masuk juga.. Aku terpesona merasakan gesekan kontolku dengan dinding dalam memeknya.. Ia tersenyum lagi. Lalu mulai menggoyang-goyangkan pantatnya.. membuat sensasi luar biasa pada setiap gerakannya yang membuat kontolku bergesekan dengan dinding memeknya.. Ohh.. hh.. Badanku rasanya pelan-pelan terbakar oleh perasaan geli-geli yang menjalar yang dingin..

    Lalu ia semakin mempercepat gerakannya. Membuat jalaran geli tadi semakin melebar ke seluruh permukaan kulit tubuhku dan pada saat nampaknya tak tertahankan lagi.. tiba-tiba..

    Srr.. srr.. srr.. kurasakan aku ‘kencing’ dan perasaan geli itu mulai menguap meninggalkan bekas bergetar dingin pada sekujur badanku.. Gerakan Cie Lena berhenti.. Kontolku sudah terlalu lemas sehingga tidak dapat bertahan lebih lama dalam liang memeknya.. Cie Lena memelukku sekali lagi.. Menciumku..

    “Gimana, Bee..? Kesampaian, ya..?” katanya dengan senyum menggoda..
    “Enak kan ‘maen’ sama Ciecie..?”
    Aku.. aku tidak dapat menjawab. Aku menutup mataku saja sambil tersenyum lebar..
    Dan aku pikir dia puas dengan jawaban itu. Soalnya dia mulai menciumku dan memainkan burungku sekali lagi dengan jemari lentiknya..

    Ah.. Cie Lena.

    Sekarang ini, 15 tahun kemudian, dia masih belum menikah dan kini bekerja sebagai karyawanku di sebuah kawasan perkantoran di xx.. Ya tentu saja kami masih sering melakukannya. Tapi mungkin tidak terlalu sering karena kami masing-masing sudah punya pacar. Hanya saja, ketika kenangan atau gairah itu datang, sedang pacarku tidak ada di tempat, aku tahu ke mana aku bisa menyalurkan hasratku.

  • Cerita Bokep Hukuman Nikmat Karena Melihat BH Guru Matematika – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Bokep Hukuman Nikmat Karena Melihat BH Guru Matematika – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1672 views

    Perawanku – Waktu aku kelas satu SMA ada guru matematika yang cantik dan sangat enak jika memberikan pelajaran. Namanya Asmiati umurnya dua puluh sembilan, kulitnya putih halus dan bodynya padat berisi terlebih lagi dia menikah pada usia dua puluh tujuh tapi sekarang janda karna suaminya meninggal waktu usia perkawinan mereka baru tiga bulan karna kecelakaan lalulintas. Yang aku senang dari Bu Asmi adalah jika mengajar ia sering tak sadar kalau bagian atas bajunya agak terbuka sehingga tali BH pada bagian pundaknya sering terlihat oleh aku yang jika pelajarannya selalu mengambil duduk di depan dekat meja guru. BH yang dia gunakan selalu warna hitam dan itu selalu menjadi tontonan gratisku setiap pelajarannya.

    Pagi itu sekitar jam delapan lewat kami sudah dipulangkan karna akan ada rapat guru. Aku agak kesal karna pelajaran kedua matematika artinya aku gak bisa ngeliat pemandangan indah hari ini, dan untuk menghilangkan suntuk aku pun pergi main ketempat kawanku. Aku masih tak tahu aku akan dapat rejeki nomplok.

    Sekitar jam sembilan lewat aku pergi pulang, dan pada saat lewat sekolah aku melihat Bu Asmi sedang menunggu angkot, aku pun mengajaknya
    ” mari saya antar Bu ” ajakku tanpa berharap dia mau
    ” tapi rumah ibu agak jauh ko ” ia mencoba menolak
    ” gak pa-pa kok bu, gak enak sama guru PPKN ” candaku
    setelah berpikir sebentar akhirnya ia mau ” iya deh tapi ibu pegangan ya soalnya ibu pernah jatuh dari motor ”
    ” silahkan Bu ” setelah itu kau menjalankan motorku dengan kecepatan sedang.
    Tangan Bu Asmi yang berpegangan pada pahaku menyebabkan reaksi pada penisku, apalagi jika mengerem pada lampu merah aku merasa ada sesuatu yang empuk menekan dari belakang.

    Sampai dirumahnya yang agak berjauhan dengan rumah-rumah yang lain aku disuruh masuk dulu. Dan ketika sudah duduk di sofa empuk Bu Asmi bicara
    “ibu ganti baju dulu ya ko ”
    setelah itu ia masuk kamar dan menutup pintu mungkin karna kurang rapat sehingga pintu itu terbuka lagi sedikit. Entah setan mana yang masuk kekepala ku sehingga aku memberanikan diri untuk mengintip ke dalam. Di dalam sana aku bisa melihat bagaimana Bu Asmi sedang membuka satu persatu kancing bajunya dan setelah kancing terakhir ia tidak langsung menanggalkan bajunya, tapi itu sudah cukup membuat napasku membuat nafasku memburu karna kau bisa melihat kalau sepasang dadanya yang besar seperti hendak melompat keluar. Karna terlalu asyik pintu itupun terbuka lebar. Aku kaget dan hanya bisa mematung karna ketakutan. Bahkan penisku langsung mengkerut.

    Melihat aku, Bu Asmi tidak terlihat kaget dan tetap membiarkan bajunya terbuka. Setelah itu ia mendekati aku
    ” kamu sering ngeliat BH ibu kan ” tanyanya didekat telingaku
    ” i..iya Bu ” jawabku ketakutan.
    ” kalau gitu ibu kasih kamu hukuman ” lalu ia menarikku dan didudukkan ditepi tempat tidur.
    ” sekarang kamu baring tutup mata dan jangan gerak kalo teriak boleh aja ” katanya dengan suara nafas yang agak memburu.
    Aku pun menurut karna merasa bersalah. Lalu ia membuka retsleting celana sekolahku menurunkan CDnya dan mengelus-elus penisku dengan lembut, setelah penisku tegak lagi dia berjongkok dan menjilatinya.
    “auh.. uh.. uuh ..” rintihku menahan kenikmatan semantara Bu Asmi sibuk dengan aktivitasnya

    “ah .. mmhh.. Bu stop bu” rintihku karna aku merasa seperti mau meledak
    Dia tak menjawab, malah semakin hebat menyedot penisku. Tubuhku semakin mengejang dan tanpa bisa kubendung lagi, muncratlah cairan putih itu dan aku langsung terduduk sambil berpegangan pada tepi ranjang.

    Cerita Sex – Rasanya seperti sedang melayang, ia telan habis spermaku sementara aku masih terduduk kaku, malu takut dan senang bercampur jadi satu. Bu Asmi lalu berdiri dan tersenyum
    “gimana..lebih enak dari pada cuman liat khan..?” sambil kedua tangannya menjambak rambutku
    “iya Bu enak sekali” jawabku mulai berani sambil ikut berdiri.
    Setelah wajah kami berhadapan ia menciumku dengan lembut, lalu membimbingku duduk ditempat tidur. Kami berpelukan dan Asmi kembali menciumku, lalu melumat bibirku sementara tangannya menanggalkan seluruh pakaian ku, dengan tangkas aku mengimbangi gerakan tangan itu sehingga akhirnya kami sama sama tanpa pakaian. Bedanya aku telanjang bulat sementara Asmi masih memakai BH hitamnya karna memang sengaja tak ku lepas.

    Asmi melepaskan ciuman dibibirku lalu mengarahkan kepala ku kebawah yaitu payudaranya, aku segera melepas BH nya dan mulai meremas-remas dadanya, sekali-sekali aku puntir putingnya sehingga ia melenguh panjang. Puas meraba aku lalu menyapu seluruh dadanya dengan lidahku dan menyedot ujung putingnya sambil digigit-gigit sedikit. Hasilnya hebat sekali Asmi bergoyang sambil meracau dengan kata-kata yang tak jelas. Setelah itu Asmi berdiri sehingga aku berhadapan dengan vaginanya, wangi yang baru pernah kucium itu membuatku bertambah panas sehingga kujilati semua permukaan vaginanya yang sudah banjir itu.

    Cerita Dewasa – Setelah itu Asmi merebahkan diri di ranjang tangannya mendekap kepalaku pahanya dibuka. Sehingga memudahkan aku menjilat dan memasukkan lidahku kedalam vaginanya dan menggigit-gigit bagian daging yang merah jambu. Sehingga tubuh Asmi semakin mengejang hebat
    “sshh.. aahh.. terus ko” pintanya diikuti desah nafasnya.
    Sekitar lima menit ku sapu vaginaya aku melepaskan dekapan pada kepalaku dan kembali mengulum bibirnya. Ia lalu meraih penisku
    “masukkan ya ko udah gak tahan” katanya dengan terengah dan membimbing penisku menerobos goa miliknya yang tek pernah lagi merasakan penis semenjak suaminya meninggal.
    Aku merasakan kenikmatan yang kebih hebat dibandingkan saat dimasukkan kemulutnya.
    “slep..slep..slep” kuputar-putar didalam sambil mengikuti goyangan pantat Asmi. sambil kupompa bibir kami terus berperang dan tanganku meraba dan meremas payudaranya dan sekali kali memuntir putingnya.
    “uh..ah..mm..ssh..terus ko..mmh” desahnya sambil meremas pantatku.
    Penisku terasa semakin menegang dan vaginanya semakin hebat berdenyut memijit penisku, tak terasa sudah sepuluh menit kami “bergoyang”.

    “ooh ..mmh.. ah udah gak kuat.. biarin aja di situ ko mmh ..” rintih Asmi terpejam.
    Akupun semakin memperdalam tusukanku dan mempercepat tempo karna juga merasakan sesuatu yang akan keluar.
    “sshh..aarrgghh” jeritnya sambil mencengkram punggungku,
    “aahh..aahh” desahku pada saat yang bersamaan sambil mulutku menyedot kedua puting susunya kuat-kuat secara bergantian.
    Air maniku muncrat bertepatan dengan air hangat yang terasa memandikan penisku didalam vaginanya.Kami menikmati puncak orgasme sampai betul-betul habis, baru aku mencabut penisku setelah sangat lelah dan bebaring di sebelahnya sambil meremas dadanya pelan-pelan.

    Kemudian dia menindihku dari atas dan bertanya “gimana hukuman dari aku ko ..?”
    “enak Bu hukuman terenak didunia makasih ya”
    “ibu yang terima kasih udah lama ibu bendung hasrat, hari ini dan seterusnya ibu akan tumpahkan kekamu semuanya” sambil mencium ku.


    Setelah istirahat beberapa waktu kami kembali melanjutkan aktivitas itu tentu saja dengan tehnik dan gaya yang berbeda-beda. Tak terhitung berapa kali aku melakukannya sewaktu SMA yang jelas jika aku pulang kesana pasti kami melakukan lagi dan lagi. END

  • Cerita Sex Guru Cantik Ajari Cara Oral Sex – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Guru Cantik Ajari Cara Oral Sex – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1869 views

    Perawanku – Namaku Arif, bukan nama sebenarnya. Ini adalah kisah yang baru saja aku alami. Aku adalah siswa dari salah satu SMA negeri terkenal. Saat ini aku duduk di kelas tiga jurusan IPS. Memasuki tahun ajaran baru berarti persiapan buatku untk lebih serius belajar menghadapi ujian akhir.

    Aku tahu aku tidak begitu pintar, maka itu aku selalu mencari cara agar guru-guru bisa membantuku dengan nilai. Cara yang aku gunakan adalah selalu mengajukan diri untuk menjadi kordinator pelajaran di sekolah.

    Pengalaman menjadi kordinator di kelas tiga inilah yang membawa diriku ke pengalaman yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Awalnya aku biasa-biasa saja ketika mendengar aku dipilih menjadi koordinator pelajaran Pendidikan Pancasila. Namun lama-lama aku senang karena ternyata bu Mumum lah yang kembali mengajar kelasku.

    Ya, bu Mumum adalah guru pancasila saat aku kelas 2. Di kelas 2, bu Mumum sering jadi bahan bisik-bisik teman-teman laki2 ku. Bagaimana tidak, di kelasku itu, meja guru yang menghadap ke arah murid-murid, di depannya biasanya khan tertutup, sehingga kaki guru tidak terlihat dari arah murid, nah, di kelasku mejanya depannya tidak tertutup, jadi setiap guru yang duduk selalu kelihatan kaki dan posisi duduknya.

    Diantara semua guru, bu Yosi, bu Rahma, bu Tati dan sebagainya, mereka semua sadar akan keadaan meja itu dan sadar bagaimana harus duduk di kursi itu, hanya bu Mumum mutmainah lah yang tidak sadar.

    Beliau selalu mengajar sambil duduk dan memberikan pelajaran mengenai moral pancasila. Bu Mumum tidak sadar, jika ia duduk selalu agak mengangkang dan hampir setiap dia mengajar anak-anak cowo selalu memaksa duduk di depan supaya bisa lebih jelas melihat paha bu Mumum dan celana dalamnya yang berwarna krem.

    Banyak teman-teman yang diam-diam mengambil foto selangkangan bu Mumum dari bawah meja dengan Handphone, namun hasilnya selalu tidak memuaskan karena gelap. Aku pun termasuk salah seorang dari mereka yang selalu horny lihat paha bu Mumum. Bu Mumum berusia 43 tahun, dari logat bicaranya, beliau orang sunda. Kulitnya putih agak keriput dan kemerahan. Semakin dia tidak memakai make-up, semakin nafsu teman-temanku melihatnya. Karena kulitnya menjadi agak mengkilat.

    Kembali ke ceritaku, aku pun semakin sering berkomunikasi dengan bu Mumum. Dan aku mencari cara agar aku bisa menarik perhatiannya. Sisi positifnya membuat aku terpaksa membaca-baca hal-hal soal moral dan pancasila dan berusaha mencari-cari pertanyaan untuk sekedar aku tanyakan kepada bu Mumum.

    Ini supaya bisa menjadi alasan untukku lebih dekat dengannya. Jika berbicara lebih dekat dengan bu Mumum, aku lihat dari dekat kulitnya yang putih agak berbintik kemerahan dan keriput sedikit disana sini. Pantas saja bu Mumum selalu memakai bedak karena kulitnya akan mengkilat dan berminyak jika polos. Namun semakin membuatku bernafsu, karena pikiran ku udah terkotori dengan pengalaman saat kelas dua.

    Semaksimal mungkin kubuat bu Mumum berpikiran bahwa aku adalah siswa yang sangat tertarik dengan apa yang ia ajarkan, walaupun sebenarnya tujuanku adalah dekat dengan dirinya.

    Suatu hari aku bertanya apakah aku boleh meminjam beberapa buku mengenai nasionalisme yang sering bu Mumum ceritakan padaku. Bu Mumum bilang boleh saja, kalau mau ke rumah. Yes! akhirnya berhasil strategiku. Bu Mumum memberikan alamat rumahnya yang berada di Perumnas dekat SMA tiga di kotaku.

    Malamnya aku tidak bisa tidur, mengatur rencana seperti apa nanti kalau aku di rumah bu Mumum, mudah-mudahan suaminya belum pulang. Besok aku akan ke rumah bu Mumum sepulang sekolah, kudengar suami bu Mumum PNS di departemen pendidikan daerah, mudah-mudahan suaminya belum pulang sekitar jam dua sampai jam empat.

    Esoknya sepulang sekolah aku langsung ke rumah bu Mumum. Tak disangka, saat aku sedang menyetop angkot untuk pergi ke rumah bu Mumum, ternyata bu Mumum juga tengah menunggu angkot.

    “Eh, Rif, mo krumah ibu? ya sudah bareng saja”, aku senang sekali aku bisa pergi sama bu Mumum. Aku duduk bersebelahan bu Mumum di kursi depan angkot. Ooh, pahaku bersentuhan dengan pahanya yang mulus, aku takut ketahuan kalau penisku sudah mulai mengeras, maka aku tutupi dengan tasku.

    Sepanjang perjalanan bu Mumum cerita tentang keluarganya dan terkadang sedikit menanyakan tentang keluargaku. Aku berbohong bahwa aku sudah lama tidak mendapat kasih sayang seorang ibu, karena aku hidup terpisah, lalu aku bilang senang karena aku merasa bisa mendapatkan kenyamanan jika berbicara dan ngobrol dengan bu Mumum, rasanya bu Mumum sudah kuanggap ibu sendiri.

    Bu Mumum terharu dan Memegang tanganku!! Kata beliau, beliau senang mendengarnya lagian menurutnya aku anak yang baik. Dalam benakku, ya, aku memang anak “baik”, yang siap menikmati tubuh ibu. Aduh penisku sampai keluar pelumas saat itu, basah sekali.

    Dua puluh menit kemudian, sampailah kami di rumah beliau. Ternyata dugaanku benar, tidak ada seorangpun di rumah beliau. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu. Bu Mumum bilang tunggu sebentar untuk ganti baju.

    Ganti baju??! dalam benakku aduh ingin sekali aku mengintip beliau ganti baju. Aku deg-degan, mataku mengarah kemana bu Mumum pergi. Beberapa menit bu Mumum keluar. Masih memakai baju gurnya sambil membawa buku. Yah, ternyata hari itu belum waktunya untukku, tapi ini adalah awal dari pengalaman yang sebenarnya.

    Sejak itu aku jadi sering ke rumah bu Mumum dan kenal dengan keluarganya. Akhirnya puncak pegalaman ini, saat aku pura-pura menangis sedih frustasi akibat ayahku mau menikah lagi dan aku tidak setuju, karena itu ayahku mengusirku dan tidak boleh pulang ke rumah. Tentu saja ceritanya aku karang sendiri.

    Bu Mumum sangat bersimpati padaku, saat aku cerita panjang lebar di rumahnya tidak ada siapa-siapa, bu Mumum saat itu memakai daster dan tanpa make-up duduk disebelaku sambil memegang pundakku. Aku menangis pura-pura, bu Mumum menenangkan ku dengan memelukku.

    Mmh, aku menyentuh pinggiran payudara bu Mumum. Akhirnya aku mencium aroma tubuhnya. Aku mempererat pelukanku dan kepalaku aku sandarkan di leher bu Mumum. aku bisa menghirup aroma lehernya. Bu Mumum memelukku erat pula. Secara nekat kuberanikan diriku untuk mencium pipi bu Mumum secara lembut. Dan bilang kalau aku minta maaf tapi aku merasa cuma bisa tenang jika dekat ibu Mumum.

    Bu Mumum bilang tidak apa-apa. Aku pun memberanikan mencium pipinya lagi, tapi kali ini lebih dekat ke pinggiran bibir, cukup lama kutempelkan bibirku di pinggiran bibirnya. Bu Mumum diam saja sambil terus memelukku dan mengelus-elus punggunggu sambil menenangkan. Apakah bu Mumum terasa bahwa penisku yang sudah menegang kutempelkan di pahanya.

    Ku coba menggesek-gesekkan perlahan penisku ke paha bu Mumum. Bu Mumum tahu. Namun beliau diam saja. Aku pegang pipi beliau, tentunya air mataku masih mengalir, sambil aku lekatkan bibirku dengan bibirnya sambil berkata “Ibu…”, bibir bu Mumum tidak terbuka, beliau tetap diam, walaupun bibirku bergerak-gerak mencium bibirnya.

    Berbarengan dengan itu, aku tekan dan gesekkan terus penisku yang sudah basah ke paha bu Mumum. Kami berdua duduk di sofa. Bu Mumum tahu aku sedang apa dan beliau diam saja, mebiarkan ku beronani dengan menggunakan paha dan bibirnya sebagai media masturbasiku.

    Aku gesek-gesekkan terus dan terus, bu Mumun tampaknya memejamkan mata dan tidak berkata apa-apa. OOh pembaca, wajahnya aku ciumi, nafasnya aku hirup, dan pahanya yang besar dan lembut aku tekan-telan dengan penis, gesek terus.. Ooh..terus… Dan akhirnya ouuhh.. Cepat sekali aku ejakulasi.

    Aku pun lemas sambil memeluk ibu Mumum yang hampir posisinya setengah tertidur di sofa akibat aku tekan terus. Bu Mumum pelan-pelan bilang, “udah..? hm?”, kata bu Mumum pelan dan terdengar sayang sekali denganku. Aku minta maaf sekali lagi dan bu Mumum bilang ia mengerti. Tentunya setelah kejadian itu, aku semakin dekat dengan ibu, sampai detik ini.. Suaminya dan teman-temanku tidak tahu hubungan kami.

    Walaupun aku belum sampai berhubungan seks dengan bu Mumum, namun bu Mumum selalu tahu dan bersedia menjadi media onaniku, dengan syarat pakaian kami masih kami kenakan, bu Mumum hanya menyediakan pahanya dan memperbolehkan aku menindihnya dan menekan-nekan penisku ke paha dekat selangkangannya sampai aku dapat klimaks.

    Maka itu, aku selalu membawa celana dalam cadangan saat aku bilang ke bu Mumum kalau aku ingin ke rumah ibu Mumum.

  • Kisah Panas Yang Terjadi Di Dalam Keluarga – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Kisah Panas Yang Terjadi Di Dalam Keluarga – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1794 views

    Perawanku – Keadaan di rumah jadi berubah setelah sebuah pertanyaan terlontar darinya di malam itu. Aku dan Riri telah menikah selama 21 tahun, kami mempunyai seorang anak lelaki, Angga. Riri adalah seorang ibu rumah tangga dan sejauh yang kutahu dia selalu setia.

    Waktu itu kami sedang membaca di atas tempat tidur untuk menghabiskan malam, saat dia menanyakan pertanyaan yang tak terpikirkan itu.

    “Apa kamu pernah menyetubuhi ibu kandungmu?”
    “Pernah apa?” aku bereaksi dengan terkejut.
    “Kamu mendengarnya.” lanjutnya.
    “Waktu kamu muda dan masih ikut orang tua, pernahkah kamu bersetubuh dengan ibu kandungmu?”
    “Pertanyaan seperti apa itu?” tanyaku.
    “Ini bukan pertanyaan mengada-ada.. Kenyataannya itu hal yang kerap terjadi, cuma orang-orang tak mau membicarakannya. Saat kamu muda aku dapat mengerti jika kamu menyimpan rahasia seperti itu, jadi ayahmu tak mengetahuinya, tapi itu sudah berlalu dan kupikir kamu dapat menceritakannya pada isterimu sekarang, kan?” tanyanya.
    “Tidak, aku tak pernah melakukannya dengan ibuku. Dan aku yakin itu hal yang tabu dan melanggar hukum.” aku menegaskan.

    Isteriku terdiam.

    “Yah, jadi itu tak layak dan kemarin aku dengar 99% orang yang menikah mengakui pernah melakukannya.” jawabnya.
    “Jadi, aku harap perkawinan kita salah satu dari yang 1% itu.” kataku.

    Riri memejamkan matanya dan tersenyum.

    “Jadi kamu setidaknya mempunyai fantasi untuk melakukannya kan?” tanyanya.
    “Tidak, aku tak pernah membayangkannya, demi Tuhan dia adalah ibu kandungku!” aku berteriak.

    Isteriku menggelengkan kepalanya.

    “Pembohong.” katanya.
    “Sebagian besar remaja berfantasi untuk menyetubuhi ibunya, ini kenyataan yang umum. Kamu berfantasi untuk menyetubuhi ibumu seperti halnya Angga yang berfantasi untuk menyetubuhiku.”
    “Riri, itu gila, bagaimana kamu dapat beranggapan seperti itu terhadap anakmu sendiri?” tanyaku.
    “Karena itulah kenyataannya.. Angga tak berbeda dengan remaja lain seumurannya yang bermimpi tentang apa yang ada di antara paha ibu mereka saat ayah mereka pergi kerja. Itu benar-benar alami.” katanya.
    “Kamu tak tahu tentang hal itu.” kataku.
    “Sayang, percayalah padaku, aku adalah ibunya dan seorang ibu tahu hal-hal seperti itu.” katanya.
    “Oh, ayolah Ri, kamu bertingkah sepertinya kamu tahu apa yang anak-anak pikirkan.” kataku.
    “Seorang ibu biasanya tahu lebih dari apa yang kamu kira.” katanya.
    “Oh, benarkah, jadi apa yang kamu tahu tentang Angga yang tak kumengerti?” tanyaku jengkel.
    “Aku tahu kalau dia bermasturbasi tiga kali sehari, kadang empat kali. Dia berfantasi sedang menggesekkan penisnya di antara pahaku. Dia mengambil keranjang cucianku saat aku dan kamu sedang pergi dan senang menghirup dan menghisapi celana dalamku yang kotor. Dia juga senang dengan wanita yang berdada besar, terutama yang sedang hamil.. Apa kamu mau tahu lebih banyak lagi?” tanyanya.

    Aku terdiam oleh perkataannya.

    “Bagaimana kamu tahu semua itu?” tanyaku. Riri tersenyum puas.
    “Seorang ibu mempunyai caranya sendiri.” jawabnya
    “Yakin kamu tak membicarakan dengannya tentang hal ini?” tanyaku.
    “Sayang, segera setelah kamu pergi kerja dan melakukan pekerjaan hingga tak begitu memperhatikan Angga dan aku, seorang ibu dan anak mempunyai dunianya sendiri di sini di rumah, yang tak harus diperhatikan oleh seorang anak.” katanya.
    “Riri, kamu dan Angga tidak..” aku tak dapat menyelesaikan.
    “Bersetubuh?” dia berkata dengan tersenyum.
    “Jika aku menyetubuhi anakku sendiri, artinya aku sangat menarik baginya. Itu bukan topik yang akan dibicarakan seorang isteri pada suaminya.” Aku mulai merasakan darahku bergolak.
    “Riri, tolong katakan padaku, ya atau tidak. Apa kamu dan Angga telah melakukannya?” aku mendesaknya.

    Seiring wajahku memerah, isteriku tertawa dan menjulurkan jarinya ke wajahku dengan lembut.

    “Sayang, kamu membuat hal ini jadi rumit. Ini sangat mengganggumu ya?” dia bertanya sambil menahan tawanya.
    “Aku hanya berpikir kalau aku berhak untuk tahu!” kataku.
    “Tidak, kamu tidak perlu mengetahuinya. Sayang, aku mencintaimu, sebagai ayah dan suami, tapi tidak ada tempat di antara hubungan antara seorang ibu dan anaknya. Apa yang terjadi di rumah ini saat kamu pergi bukanlah urusanmu dan tak perlu perhatianmu. Kalau seorang ibu dan anaknya di rumah ini bersetubuh, maka kamu tak berbeda dengan ayah yang lainnya dan tak akan pernah tahu tentang itu.” katanya. Dia memberiku sebuah senyuman hangat.
    “Kamu sudah capek dan kamu punya hari yang sibuk besok. Tidurlah sekarang.” katanya.

    Malam itu aku tak benar-benar bisa tertidur. Pagi harinya, aku bangun seperti biasa dan Riri menyiapkan sarapan untukku dan mengantarku sampai pintu depan. Dia memakai baju terusan yang membuat payudaranya begitu terlihat indah menantang. Aku lihat Angga turun dari tangga dengan mengenakan celana pendek.

    “Dia bangun lebih awal.” kataku.
    “Ya, aku bilang padanya dia bisa bantu ibunya mengecat kuku dan mencuci baju yang kotor.” dia berkata sambil meringis. Perutku melilit.
    “Jadi apalagi yang kalian kerjakan hari ini?” tanyaku curiga.
    “Oh, aku yakin kami akan menemukan sesuatu yang bisa mempererat hubungan kami.” jawabnya sambil tersenyum lebar.
    “Lebih baik kamu segera berangkat, sayang. Kamu nanti bisa terlambat lho.”

    Aku berjalan keluar dengan membanting pintu. Waktu aku berjalan ke mobil, aku dengar isteriku mengunci pintu di belakangku dan berpikir dunia macam apa yang telah dibuat isteriku bersama Angga saat aku tak ada. Tanpa sadar, penisku terasa mengeras dari balik celanaku. Sial, seharusnya aku lebih dekat dengan ibuku!

    Seharian itu aku tak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan. Otakku dibakar oleh beribu pertanyaan. Apakah isteriku dan anakku yang berumur 18 tahun berbuat gila? Akhirnya, siangnya aku ambil telepon dan memutar nomor rumahku agar aku bisa tahu dengan jelas apa yang mereka kerjakan di dunianya. Setelah cukup lama tak ada yang mengangkat, akhirnya terdengar suara isteriku di sana.

    “Hh.. Halo..” Dia berkata. Aku dapat mendengarnya bernafas dengan susah.
    “Halo sayang, ini aku.” jawabku.

    Terdengar suara ganjil berulang-ulang di belakang, seperti suara kulit yang beradu dengan kulit.

    “Sayang, a.. aku tak bis..” dia mencoba bernafas dengan susah.
    “Aku tak bisa bicara sekarang, telepon aku lagi saja nanti.” lanjutnya.

    KLIK!! Dia tutup teeponnya. Perutku tiba-tiba saja jadi terasa mulas. Aku tak pernah membayangkan isteriku akan berselingkuh, apalagi dengan anak kami yang masih remaja. Mungkinkah itu?

    Aku pulang kerja lebih awal hari itu. Aku ingin mengadakan penyelidikan. Aku harus yakin. Aku lalui jalan hanya untuk melihat isteri dan anakku yang keluar dari jalan dengan minivan isteriku. Aku ikuti mereka ke mall pada sisi lain kota ini. Dengan mengendap, aku masuki mall itu dan mengikuti mereka dari belakang.

    Aku terkejut saat melihat mereka berjalan bergandengan tangan dengan mesra, layaknya sepasang kekasih yang sedang belanja. Tingkah laku isteriku seperti seorang gadis remaja saja. Aku mengikuti isteri dan anakku yang berkeliling di seluruh mall ini, bergandengan tangan seperti remaja yang sedang kasmaran. Paling tidak, dia sudak tak muda lagi, umurnya sudah 38 tahun dan sudah menikah dan yang satunya anak muda yang baru berumur 18 tahun. Walaupun begitu, isteriku dapat mengimbanginya. Dia tak pernah semesra itu denganku, tapi benar-benar lain dengan anakku.

    Aku jadi lebih terkejut lagi saat mereka duduk berdua di bangku itu. Lengan isteriku melingkar di pundaknya, membelai mesra rambutnya. Bibirnya mendekat, membisikkan padanya sesuatu yang dapat kukira hanyalah cumbuan tentang seks. Aku tak mahir dalam hal membaca gerak bibir, tapi sungguh jelas sekali kalau yang keluar kebanyakan hanyalah ‘bersetubuh, penis dan vagina’ dari mulut isteriku. Kalau itu belumlah cukup, isteriku melepaskan sandalnya dan menggerakkan kakinya pada betis anakku. Setiap sekali gerakan disertai dengan tiupan dan ciuman ringan di leher anakku.

    Mereka meninggalkan mall dan aku memastikan kalau aku akan mengikuti mereka pulang, tapi mereka tidak pulang. Isteriku mengendarai mobilnya membawa mereka keluar kota sampai ke hutan. Dia berhenti di jalanan yang sedikit berlumpur dan itu membuatku terperanjat saat mengetahui kemana dia akan membawanya. Mereka akan pergi ke bagian rahasia di hutan ini, tempat dimana aku dan isteriku biasanya berkencan dulu.

    Tahu tepatnya tempat itu, aku parkirkan mobilku dan melanjutkan membuntuti mereka dengan berjalan kaki. Lima belas menit kemudian aku menemukan van isteriku terparkir di bawah semak-semak. Aku juga melihat mereka tak mau menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Jendela mobil tertutup rapat dan van itu terlihat bergoncang-goncang. Aku mendekat dan segera saja telingaku menangkap erangan-erangan mesum mereka.

    “Oh, ya.. Lebih keras, sayang, setubuhi ibumu dengan benar!” isteriku merajuk.
    “Oh Tuhan, tekan!! Kerjai vaginaku, sayang!!” dia berteriak.
    “Hahh, dorong penis besarmu lebih dalam lagi.. Oouuhh!!” lanjutnya.

    Dan bila kata-kata tak senonoh itu belumlah cukup, selang beberapa menit kemudian,

    “Oh, rasanya sungguh nikmat dikerjai oleh pria jantan. Ya, begitu, lebih keras lagi.. Leb.. Bih dallaam!! Oh Tuhan aku keluar!! Aku keluar!!”

    Aku tak mampu menerimanya lagi. Yang dapat kulakukan hanya berbalik kemudian lari. Aku lari secepat yang kubisa menuju ke mobilku. Aku masih dapat mendengar isteriku menjerit dan mengerang, suaranya bergema dalam kepalaku. Aku nyalakan mobilku, hatiku mendidih, air mataku keluar. Aku menyetir dengan gila.. Dalam perjalanan pulangku, bayangan tentang anakku yang berada di antara paha isteriku menghantui aku. Apa yang harus kuperbuat?

    Malam itu aku dan isteriku berbaring berdampingan di ranjang perkawinan kami. Dia memegang sebuah majalah dan berpura-pura membacanya. Tak lama kemudian dia meletakkan majalah itu dan menatapku.

    “Sayang, ada sesuatu yang harus kuceritakan padamu.” katanya.
    “Apa?” tanyaku, bersiap untuk hal terburuk, setidaknya dalam hal ini tak ada yang akan mengejutkanku.
    “Aku hamil.” dia berkata dengan senyuman mengembang.

    Tak sekali pun dalam setahun belakangan ini aku menggauli istriku tanpa kondom. Dia tahu itu, aku tahu itu, dan dia pasti juga tahu bahwa aku mengetahuinya.

    “Ini bukan bayiku, kan?” tanyaku. Senyumnya hampir menyerupai seringai.
    “Tidak.” jawabnya.
    “Angga?” kejarku.

    Istriku menjadi serius.

    “Sebelum kamu pergi, biarkan aku mengingatkanmu kalau ayahku adalah seorang pengacara dan jika kamu menceraikanku, kamu tahu bahwa Angga dan aku akan mendapatkan ini semua, segalanya, dan kamu tak mendapatkan apa pun.” ancamnya
    “Sudah berapa lama kalian berdua melakukan ini?” aku bertanya.
    “Kamu tidak perlu tahu itu. Yang harus kamu ketahui sekarang adalah bahwa Angga dan aku telah memutuskan ada hal-hal yang perlu diubah.” katanya.
    “Seperti apa?” tanyaku dengan marah.
    “Yah, pertama, kami akan mempertahankan bayi ini dan ya, ini memang bayiku dengan Angga.” jelasnya.
    “Yang kedua, Angga akan pindah ke kamar ini dan berbagi tempat tidur denganku, dan sebaliknya mulai sekarang kamu tidur di tempat tidurnya Angga.” lanjutnya.

    Aku hanya bisa menahan amarah.

    “Dan yang ketiga, kalau kamu menolak, aku dan Angga akan pindah dan mengontrak sebuah rumah bersama dan menuntut uang cerai darimu.” katanya memojokkanku.
    “Ini gila, kamu adalah istriku..”
    “Ya, dan kamu suamiku, dan akan tetap seperti itu, tapi suami sebenarnya dan kekasihku sekarang adalah Angga. Dan kami memutuskan bahwa kamu harus tetap bekerja seperti biasanya sedangkan Angga dan aku akan tinggal di rumah membuat bayi, kami juga sudah memutuskan ingin mempunyai tiga orang anak lagi.” katanya.
    “Kamu katakan padaku kalau aku bahkan tidak boleh tidur denganmu, isteriku sendiri?” tanyaku tak percaya.
    “Tidak, maaf. Angga dan aku yang akan tidur di ranjang ini mulai sekarang.” Lalu dia memandang ke arah pintu.
    “Angga, cintaku, apa kamu di sana?” panggilnya.

    Anakku masuk ke kamar dengan tas ransel berisi barang-barangnya. Dia memandang pada ibunya dan aku.

    “Maaf, Ayah.” dia berkata dengan menyeringai.
    “Sayang, kenapa kamu tidak pergi dan bersihkan dirimu sebelum naik ke ranjang.” kata isteriku.

    Perutku jadi mulas. Isteriku menatapku tajam.

    “Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin sendirian dengan ayah dari anakku. Ambil barang-barangmu dan pergilah ke kamarmu.” perintahnya.
    “Sayang, tolonglah.. Kita bicarakan hal ini.” aku memohon.
    “Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku minta maaf, Sayang, tapi sekarang kamu bukan lagi seorang kepala rumah tangga.” katanya.
    “Aku akan berusaha, aku bersumpah.” ucapku putus asa.
    “Jangan, Sayang! Kamu boleh berusaha semampumu tapi kamu tidak akan bisa menyamai bahkan hanya separuh dari Angga di atas ranjang. Kamu tak bisa memohon padaku, kamu tak memiliki stamina untuk itu. Suka atau tidak, kamu tidak memiliki barang yang cukup besar untuk pekerjaan itu.. Dan anakmu memilikinya.”

    Serasa sebilah pisau yang merobek hati. Aku bangkit dari tempat tidur dan mengemasi barang-barangku. Angga keluar dari kamar mandi dan menempatkan dirinya di samping ibunya di ranjang. Dia berada di bawahnya dengan cepat, memeluknya erat hingga menekan payudaranya yang besar.

    “Inilah suami baruku. Kemari dan bercintalah dengan isterimu yang sedang hamil” katanya.

    Itu semua serasa mimpi buruk. Aku pandangi mereka berdua di balik selimut. Bisa kukatakan anakku sedang menempatkan dirinya di antara paha ibunya. Aku dapat mendengar mereka berciuman dengan hebatnya. Isteriku muncul dari balik selimut, memandangku.

    “Sayang, dapatkah kamu matikan lampu dan menutup pintunya saat kamu keluar?” pintanya. Aku hanya bisa mematuhinya.

    Malam itu aku rebah di tempat tidurku yang baru dengan mendengarkan teriakan-teriakan yang berasal dari kamar yang semula kutempati bersama isteriku. Erangan isteriku menggema di setiap sudut rumah. Semalaman itu aku dengar rangkaian rintihan tabu mereka. Isteri dan anakku sedang membuat bayi mereka dan akan menamakannya seperti nama ayahnya.

    Tahun demi tahun berlalu dan mereka telah memiliki 3 anak, semuanya laki-laki. Seiring waktu berlalu, anak-anak itu tumbuh jadi remaja, Angga tua telah menemukan seorang wanita muda yang cantik dan atas seijin ibunya boleh dinikahinya.

    Kemudian Angga pindah dan meninggalkan anak-anaknya bersamaku dan ibunya. Dalam beberapa tahun kemudian aku kembali pada kehidupan rumah tanggaku semula, hingga pada suatu malam saat kami sedang rebahan di atas tempat tidur seperti biasa, terdengar ketukan di pintu dan Angga muda, yang sekarang juga telah berumur 18 tahun, berdiri di sana dengan tas ranselnya. Isteriku, yang sekarang berusia lima puluhan meletakkan majalahnya dan kembali menoleh padaku dengan tersenyum.

    “Kemasi barang-barangmu, sayang.” katanya.

    Isteriku kembali menatap tajam padaku.

  • ML Pertamaku Dengan Pacar Kedua

    ML Pertamaku Dengan Pacar Kedua


    1707 views

    Cerita Sex ini berjudul ” ML Pertamaku Dengan Pacar Kedua ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Pengalaman pengalaman berkesanku dalam hidup sangat banyak, dan mereka menghiasi duniaku seindah pelangi setelah hujan turun. Salah satu pengalamanku yang tak dapat kulupakan adalah malam pertamaku bersama Cecilia (Nama samaran).

    Aku bertemu dengannya di Kamasutra Bali, tepatnya bulan Oktober 2004 ketika Glenn Fredly pentas di panggung. Karena begitu penuh sesaknya hall Kamasutra, maka saya bersama 2 orang teman bule saya yang “nakal” ingin mencari angin segar diluar hall…

    Sembari mata ini melihat sekeliling, terlihatlah seorang putri cantik berbaju mini sedang ribet ber-sms ria dan memojok di sebuah pilar, terlihat sekali badannya proporsi banget, dadanya yang ranum dan pahanya yang bersinar putih menyilaukan mataku… Hatikupun berdegup dan muncullah perasaan ingin berkenalan dan tau lebih lanjut mengenai dirinya…. Billy, temanku sangat cepat menangkap perasaanku…

    langsung ia pun spontan berkata, “Hey, that girl over there is cute man… suites you well!… want me to be your smooth operator?…. hell yeah ofcourse right”… dan langsung si Billy dengan luesnya menghampiri wanita cantik nan jelita di pojok tersebut…

    Billy dengan spontan mendekat dengan lagak humor dan sambil memegang HP nya… dia berkata “ Hey I got your SMS,… but, I don’t know what you’re talking about, hehehehe” … spontan kaget si putri cantikpun melihatku yang jelas jelas orang lokal, dan bertanya… “apa’an sih temennya”… si Billy pun langsung mengatakan bahwa ia hanya bercanda… dan sang putri pun akhirnya tersenyum… ahh cantik sekali.

    Nilai 10 dari 10 aku berikan secara sukarela kepadanya. Dari humor tadi percakapan kami mulai berkembang… kami berkenalan dan akhirnya kutau namanya Cecilia, dan iseng iseng terucapkan berbagai pertanyaan seperti “tinggal dimana, ngapain di Bali, pergi ama siapa”…

    Cecil ternyata ada di Bali untuk kerja praktek di hotel megah di Jimbaran, ia ternyata kuliah dari universitas terkenal di Jakarta. Akupun memperkenalkan diriku dan mengapa ada di Bali, pekerjaanku di bidang apa, dan sebagainya…

    Setelah bercakap cakap cukup lama, aku pun mulai melontarkan pertanyaan “besok ngapain”… mengingat besok hari Minggu. Dia pun menjawab dengan ragu, bahwa besok belum pasti mau kemana… dan akupun mengambil kesempatan untuk mengajaknya pergi jalan jalan, namun sebelumnya kontak dia dulu… akhirnya kudapatlah nomor teleponnya… dan aku berjanji akan mencarinya esok.

    Tak lama setelah itu 2 orang bule temanku Mike & Billy datang menghampiri dan menggodaku, mereka mengatakan kepada Cecilia “You guys suites each other… You should go out some time…, and Jason… yeah belief me Jason is a good guy”… Kita berdua Cuma bisa tertawa kecil…

    saat itu juga Mike membisik kepadaku untuk meninggalkan Kamasutra dan pergi ke klub lain… Dengan berat hati aku melambai dan mengucapkan kata “see you tomorrow”… kita pun berangkat ke EMBARGO, dan Mike pun berkata… (terjemahan Indonesia)… kalau udah dapet cewe, jangan terlalu berlama lamaan menggoda… coba untuk jadi “cool” dan ditinggal aja, ntar dia pasti penasaran dan pengen ketemu lagi… dan setelah itu akupun kembali ke hotel dan tidur…

    Malam itu seolah jam berjalan lama sekali, dan hatiku tak tenang… akhirnya kuraih HP dan ku SMS Cecilia dengan perkataan singkat “Hello, thanks yah udah mau kenalan ama gw tadi… besok kita jalan beneran yah”… selang 2 menit tiba tiba hatiku dikagetkan dengan SMS balasan dari Cecil yang isinya “Justru aku yang say thanks, udah diajak kenalan… cu 2morrow”… duhh hati ini dingin rasanya, segeralah diriku terlelap.

    Keesokan harinya langsung kutelepon mobil charteran langganan beserta sopir, dan kusewa AVANZA yg waktu itu sedang baru barunya… dan kuhampiri Cecil di kost nya daerah Jimbaran. Sesampainya di kost, Cecil ternyata bersama teman dekatnya, seorang cewe Bali… batinku merasa kurang enak, kok ada obat nyamuknya.. Rfbet99

    tapi cuek dah, karena saat itu aku terhibur dengan Cecil yang mengenakan tank top putih, ketat sekali dan sebatas pusar, dengan hot pants warna khakis.. uhm terlihat bangat body indah bak foto model ada bersamaku, lalu kita jalan jalan dan menyusuri pantai Tanjung Benoa.

    Eh ternyata teman teman kampus Cecil yang lain sudah menunggu di sana, dan tampak sekali Cecil agak malu malu bersamaku, godaan godaan kecil yang dibisikkan ke telinga Cecil jelas sekali kurasakan adalah tentang ia bersama dengan seorang pria baru kemaren yang bertemu di Kamasutra… hehehe pikir pikir, saat itu diriku juga malu malu kucing…

    sementara teman temannya bermain air, kami berdua saling berbicara santai dan saling kenali diri satu sama lain… hati ini senang sekali merasakan bahwa ada perasaan kasih yang berbalas dari Cecil, dan diri ini merasa PD bahwa Cecil merasakan getar getar cinta pada diriku.

    Sorenya kami kembali ke kost dan teman Cecil pun berpamitan pulang… Cecil dengan agak malu mengajak ke kamar kostnya… dan kita berdua melanjutkan obrolan santai dengan duduk di atas ranjang… tidak lama kemudian, tangannya kugenggam dan kukatakan maksud hatiku untuk ingin mencoba jalan bersamanya menjadi kekasih…

    Cecilpun dengan malu mengatakan bahwa ia mau, tapi ia susah long distance karena ia masih di Bali, sedangkan saya harus balik ke Surabaya…. Karena takut tertolak, apapun alasan kubatalkan dengan kata dan janji manisku kepadanya… setelah itupun kita bergenggaman tangan dgn lebih erat.

    Ketika sudah sampai saatnya malam tiba dan Cecil harus ke hotel tempat ia bekerja praktek,sedangkan aku harus pulang ke hotel untuk menemani 2 orang bule yang gila clubbing kemarin, tiba tiba setitik air mata menetes dan baru kusadari bahwa Cecil menangis…

    kutanyakan alasannya ternyata ia menangis karena besok akan berpisah denganku… oh hatikupun remuk… otomatis tangan ini meraihnya dan memeluknya dari belakang… dan sedikit kurasakan empuknya buah dadanya yang ranum itu…. Akhirnya aku harus meninggalkannya dengan hati yang berat pula…

    Malam itu walaupun diriku bersama 2 orang temanku clubbing ke berbagai tempat, namun kepala ini hanya memikirkan dirinya terus… hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk pulang dan tidur…

    Ke esokan harinya… sama seperti hari sebelumnya, akupun bergegas menjenguk Cecil, namun kali ini aku tidak memanggil mobil charteran lagi,.. melainkan sebuah TAXI, karena jadwal pulang ke Surabaya adalah hari Senin pukul 17.00, dikutip Situs Bokep Terkini.

    Dengan taxi aku meluncur ke kost, dan langsung kutuju kamarnya… Cecil walau dengan mata agak sembab menyambutku dengan senang hati… jelas sekali bahwa ia berusaha senang walaupun hatinya sedih… tak kuat melihat itu, maka akupun langsung membisikinya … “Cil, tau nggak… pesawatku aku delay sampai besok malem”…

    Spontan setelah mendengar itu Cecil berubah expresinya 180 derajat dan melompat kegirangan, dan memelukku… kemudian ia mencium pipiku… akupun kaget dan merasakan kehangatan yg sangat… tak ingin kehangatan itu pergi, maka langsung kupeluk dan akhirnya kucium bibir manisnya… (sopan)… dan kita berciuman cukup lama sampai Cecil makin bergairah…dan akupun mulai memperganas ciumanku… 1 jam lebih kami berciuman dan akhirnya kami pun berciuman dalam posisi tidur…

    Tangan inipun makin lama makin jahil… dan Cecilpun aku angkat tepat diatasku agar ciuman lebih enak… dari sana buah dadanya mulai kuremas remas, dan pantatnya pun ku massage terus menerus…. Melihat ia makin turn on, maka kulepaslah bajunya satu persatu… helai demi helai… dan kusaksikan oh indahnya ciptaan Tuhan… buah dadanya yang kencang, ranum dan kenyal itupun segera kulahap dan kusedot… pakaiankupun mulai ku tanggalkan satu per satu…

    Akhirnya kami telanjang bulat… dan secara tidak sengaja lututku menyentuh daerah kemaluannya, dan ahhh… terasa sedikit licin dan hangat terkena pelumas yang mulai keluar dari kemaluannya… langsun kutarik badannya ke arahku dan kutancapkan barang pusakaku ke kemaluannya… saat itu kurasakan nikmatnya penetrasi tanpa kondom… aahhhh begitu nikmat….

    Kemaluannya, ohhh rasanya seperti perawan… Walau jelas sekali aku tau bahwa ia tidak mungkin seorang perawan… berbagai pujian kulontarkan sambil kami berdua terus bergerak dan mendesah…

    Ketika ia bergerak naik dan turun, kusaksikan buah dada yang bergetar indah, serasa memanggil tanganku untuk bermain… tanpa diperintah tangan ini pun langsung bereaksi dan memassagenya terus… sedang tangan kiriku terus memegang pantatnya yang sangat bulat itu… ototnya terasa padat dan kenyal sekali, seolah ia berlatih keras untuk mendapat tubuh seindah itu…

    wajahnya yang cantik sesekali tersibak rambutnya yang menyelimpang ke depan… berbagai posisi kucoba dan Cecilpun terus mengerang tanpa mempedulikan kamar sebelahnya…

    Akupun pada akhirnya merasa sudah mendekati klimaks, dan akupun berinisiatif untuk mengganti gaya… dari tadi kuperhatikan terdapat sebuah cermin di dekat meja sebelah ranjangnya… ku ajak Cecil menghadap ke cermin dan meja tersebut, dan kutusuk dia dari belakang sambil dia agak menunduk…

    ahh serasa barang pusaka makin terjepit lagi ketika dari posisi agak menunduk tersebut dirinya kupeluk dari belakang dan perlahan kutegakkan badannya… aku menusuk terus dari bawah ke atas dan sambil melihat tubuh indah di cermin itu aku terus meremas buah dadanya… uhh… enak sekali…

    akhirnya akupun klimaks dan tanpa kusangka, saat itupun kurasakan getaran dr tubuh Cecil bak seorang yang kedinginan di kutub utara sedang menggigil… kutanyakan kenapa… ternyata Cecil bilang… “aku sampe ko…. Aku sampe… “ …. Ahhh betapa leganya diriku bisa memuaskan putriku hingga orgasme…

    Setelah itupun kami berdua tergeletak di ranjang dan beristirahat… Semenjak saat itu kami tak henti hentinya bermain cinta di kamar hingga malam ke-esokan harinya …

    Kami berhenti hanya untuk mandi, makan dan minum saja… Berbagai variasi bercinta kami lakukan semua…

    Mulai dari saat itu, tiap 2 minggu sekali selalu kusempatkan diriku ke Bali untuk mengunjungi putriku Cecil… tiap hari Jumat selepas kerja aku berangkat, dan aku kembali ke Surabaya di hari Minggu penerbangan termalam…

    Berbagai petualangan cinta di alam bebas pun kami lakukan di Bali bersama, mulai dari kamar mandi Hotel Hard Rock, di atas bukit Dreamland, sampai di tepi pantai Kuta,

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Merangsang Wanita Ketika Di Jepit Susunya

    Cerita Sex Merangsang Wanita Ketika Di Jepit Susunya


    1038 views

    Perawanku – Cerita Sex Merangsang Wanita Ketika Di Jepit Susunya. Lega rasanya aku melihat pagar rumah kosku setelah terjebak dalam kemacetan jalan dari kampusku, Kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 21.05 yang berarti aku telah menghabiskan waktu satu jam terjebak dalam arus lalu-lintas Jakarta yang begitu mengerikan.

    Setelah memarkir mobilku, bergegas aku menuju ke kamarku dan kemudian langsung menghempaskan tubuh penatku ke ranjang tanpa sempat lagi menutup pintu kamar.

    Baru saja mataku tertutup, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh ketukan pada pintu kamarku yang disertai dengan teriakan nyaring dari suara yang sudah sangat aku kenal.

    “Ko, loe baru pulang yah?” gelegar suara Voni memaksa mataku untuk menatap asal suara itu. “iya, memangnya ada apa sih teriak-teriak?” jawabku sewot sambil mengucek mataku. “Ini gue mau kenalin sepupu gue yang baru tiba dari Bandung” jawabnya sambil tangan kirinya menarik tangan seorang cewek masuk ke kamarku.

    Kuperhatikan cewek yang disebut Voni sebagai sepupunya itu, sambil tersenyum aku menyodorkan tangan kananku kearahnya “Hai, namaku Riko” “Lydia” jawabnya singkat sambil tersenyum kepadaku. Sambil membalas senyumannya yang manis itu, mataku mendapati sesosok tubuh setinggi kira-kira 165 cm, walaupun dengan perawakan sedikit montok namun kulitnya yang putih bersih seakan menutupi bagian tersebut.

    “Riko ini teman baik gue yang sering gue ceritain ke kamu” celetuk Voni kepada Lydia. “Oh..” “Nah, sekarang kan loe berdua udah tau nama masing-masing, lain kali kalo ketemu kan bisa saling memanggil, gue mau mandi dulu yah, daag..” kata Voni sambil berjalan keluar dari kamarku. Aku menanggapi perkataan Voni barusan dengan kembali tersenyum ke Lydia.

    “Cantik juga sepupu Voni ini” pikirku dalam hati. “Lydia ke Jakarta buat liburan yah?” tanyaku kepadanya. “Iya, soalnya bosen di Bandung melulu” jawabnya. “Loh, memangnya kamu nggak kuliah?” “Nggak, sehabis SMA aku cuma bantu-bantu Papa aja, males sih kuliah.” “Rencananya berapa lama di Jakarta?” “Yah.. sekitar 2 minggu deh” “Riko aku ke kamar Voni dulu yah, mau mandi juga ” “Oke deh” Sambil tersenyum lagi dia berjalan keluar dari kamarku.

    Aku memandang punggung Lydia yang berjalan pelan ke arah kamar Voni. Kutatap BH hitamnya yang terlihat jelas dari balik kaos putih ketat yang membaluti tubuhnya yang agak bongsor itu sambil membayangkan dadanya yang juga montok itu.

    Setelah menutup pintu kamarku, kembali kurebahkan tubuhku ke ranjang dan hanya dalam sekejab saja aku sudah terlelap.

    “Ko, bangun dong” Aku membuka kembali mataku dan mendapatkan Voni yang sedang duduk di tepi ranjangku sambil menggoyangkan lututku. “Ada apa sih?” tanyaku dengan nada sewot setelah untuk kedua kalinya dibangunkan. “Kok marah-marah sih, udah bagus gue bangunin. Liat udah jam berapa masih belom mandi!” Aku menoleh ke arah jam dindingku sejenak.

    “Jam 11, emang kenapa kalo gue belum mandi?” “Kan loe janji mau ngetikin tugas gue kemaren” “Aduh Voni.. kan bisa besok..” “Nggak bisa, kan kumpulnya besok pagi-pagi” Aku bergegas bangun dan mengambil peralatan mandiku tanpa menghiraukan ocehan yang terus keluar dari mulut Voni. “Ya udah, gue mandi dulu, loe nyalain tuh komputer!”

    Tulisan di layar komputerku sepertinya mulai kabur di mataku. “Gila, udah jam 1, tugas sialan ini belum selesai juga” gerutuku dalam hati. “Tok.. Tok.. Tok..” bunyi pintu kamarku diketok dari luar. “Masuk!” teriakku tanpa menoleh ke arah sumber suara.

    Terdengar suara pintu yang dibuka dan kemudian ditutup lagi dengan keras sehingga membuatku akhirnya menoleh juga. Kaget juga waktu kudapati ternyata yang masuk adalah Lydia. “Eh maaf, tutupnya terlalu keras” sambil tersenyum malu dia membuka percakapan.

    “Loh, kok belum tidur?” dengan heran aku memandangnya lagi. “Iya nih, nggak tau kenapa nggak bisa tidur” “Voni mana?” tanyaku lagi. “Dari tadi udah tidur kok” “Gue dengar dari dia katanya elo lagi buatin tugasnya yah?” “Iya nih, tapi belum selesai, sedikit lagi sih” “Emang ngetikin apaan sih?” sambil bertanya dia mendekatiku dan berdiri tepat disamping kursiku.

    Aku tak menjawabnya karena menyadari tubuhnya yang dekat sekali dengan mukaku dan posisiku yang duduk di kursi membuat kepalaku berada tepat di samping dadanya.

    Dengan menolehkan kepalaku sedikit ke kiri, aku dapat melihat lengannya yang mulus karena dia hanya memakai baju tidur model tanpa lengan.

    Sewaktu dia mengangkat tangannya untuk merapikan rambutnya, aku dapat melihat pula sedikit bagian dari BHnya yang sekarang berwarna krem muda. “Busyet.. loe harum amat, pake parfum apa nih?” “Bukan parfum, lotion gue kali” “Lotion apaan, bikin terangsang nih” candaku. “Body Shop White Musk, kok bikin terangsang sih?” tanyanya sambil tersenyum kecil.

    “Iya nih beneran, terangsang gue nih jadinya” “Masa sih? berarti sekarang udah terangsang dong” Agak terkejut juga aku mendengar pertanyaan itu. “Jangan-jangan dia lagi memancing gue nih..” pikirku dalam hati. “Emangnya loe nggak takut kalo gue terangsang sama elo?” tanyaku iseng. “Nggak, memangnya loe kalo terangsang sama gue juga berani ngapain?”

    “Gue cium loe ntar” kataku memberanikan diri. Tanpa kusangka dia melangkah dari sebelah kiri ke arah depanku sehingga berada di tengah-tengah kursi tempat aku duduk dengan meja komputerku. “Beneran berani cium gue?” tanyanya dengan senyum nakal di bibirnya yang mungil. “Wah kesempatan nih” pikirku lagi.

    Temukan game dan peluang kemenangan yang lebih mantap! PRAKTIS!

    Aku bangkit berdiri dari dudukku sambil mendorong kursiku sedikit ke belakang sehingga kini aku berdiri persis di hadapannya. Sambil mendekatkan mukaku ke wajahnya aku bertanya ” Bener nih nggak marah kalo gue cium?” Dia hanya tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaanku.

    Tanpa pikir panjang lagi aku segera mencium lembut bibirnya. Lydia memejamkan matanya ketika menerima ciumanku. Kumainkan ujung lidahku pelan kedalam mulutnya untuk mencari lidahnya yang segera bertaut dan saling memutar ketika bertemu.

    Sentuhan erotis yang kudapat membuat aku semakin bergairah dan langsung menghujani bibir lembut itu dengan lidahku. Sambil terus menjajah bibirnya aku menuntun pelan Lydia ke ranjang.

    Dengan mata masih terpejam dia menurut ketika kubaringkan di ranjangku. Erangan halus yang didesahkan olehnya membuatku semakin bernafsu dan segera saja lidahku berpindah tempat ke bagian leher dan turun ke area dadanya.

    Setelah menanggalkan bajunya, kedua tanganku yang kususupkan ke punggungnya sibuk mencari kaitan BH-nya dan segera saja kulepas begitu aku temukan.

    Dengan satu tarikan saja terlepaslah penutup dadanya dan dua bukit putih mulus dengan pentil pink yang kecil segera terpampang indah didepanku. Kuremas pelan dua susunya yang besar namun sayang tidak begitu kenyal sehingga terkesan sedikit lembek. Puting susunya yang mungil tak luput dari serangan lidahku.

    Setiap aku jilati puting mungil tersebut, Lydia mendesah pelan dan itu membuatku semakin terangsang saja.

    Entah bagaimana kabar penisku yang sedari tadi telah tegak berdiri namun terjepit diantara celanaku dan selangkangannya. Putingnya yang kecil memang sedikit menyusahkan buatku sewaktu menyedot bergantian dari toket kiri ke toket kanannya, namun desahan serta gerakan-gerakan tubuhnya yang menandakan dia juga terangsang membuatku tak tahan untuk segera bergerilya ke perutnya yang sedikit berlemak.

    Namun ketika aku hendak melepas celananya, tiba-tiba saja dia menahan tanganku. “Jangan Riko!” “Kenapa?” “Jangan terlalu jauh..” “Wah, masa berhenti setengah-setengah, nanggung nih..” “Pokoknya nggak boleh” setengah berteriak Lydia bangkit dan duduk di ranjang.

    Kulihat dua susunya bergantung dengan anggunnya di hadapanku. “Kasihan ama ini nih, udah berdiri dari tadi, masa disuruh bobo lagi?” tanyaku sambil menunjuk ke arah penisku yang membusung menonjol dari balik celana pendekku. Tanpa kusangka lagi, tiba-tiba saja Lydia meloroti celanaku plus celana dalamku sekalian.

    Aku hanya diam ketika dia melakukan hal itu, pikirku mungkin saja dia berubah pikiran. Tetapi ternyata dia kemudian menggenggam penisku dan dengan pelan mengocok penisku naik turun dengan irama yang teratur.

    Aku menyandarkan tubuhku pada dinding kamar dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia tersenyum sambil terus mengocok batang penisku tetapi semakin lama semakin cepat.

    Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya, walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok penisku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.

    “Lyd.. mau keluar nih..” lirih kataku sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan ini. “Bentar, tahan dulu Ko..”jawabnya sambil melepaskan kocokannya. “Loh kok dilepas?” tanyaku kaget. Tanpa menjawab pertanyaanku, Lydia mendekatkan dadanya ke arah penisku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit penisku dengan dua susunya yang besar itu.

    Sensasi luar biasa aku dapatkan dari penisku yang dijepit oleh dua gunung kembar itu membuatku terkesiap menahan napas. Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok penisku yang terjepit diantara dua susunya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya.

    Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi. “Enak nggak Ko?” tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku.

    “Gila.. enak banget Sayang.. terus kocok yang kencang..” Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah pahanya yang mulus. Sesekali memutar arah ke bagian belakang untuk merasakan pantatnya yang lembut.

    “Ahh.. ohh..” desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya. Kocokan serta jepitan susunya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan. “Lyd.. aku keluar..” Tanpa bisa kutahan lagi semprotan lahar panasku yang kental segera menyembur keluar dan membasahi lehernya dan sebagian area dadanya.

    Seluruh tubuhku lemas seketika dan hanya bisa bersandar di dinding kamar. Aku memandang nanar ke Lydia yang saat itu bangkit berdiri dan mencari tissue untuk membersihkan bekas spermaku. Ketika menemukan apa yang dicari, sambil tersenyum lagi dia bertanya “Kamu seneng nggak” Aku mengangguk sambil membalas senyumannya.

    “Jangan bilang siapa-siapa yah, apalagi sama Voni” katanya memperingatkanku sambil memakai kembali BH dan bajunya yang tadi kulempar entah kemana. “Iyalah.. masa gue bilang-bilang, nanti kamu nggak mau lagi ngocokin gue” Lydia kembali hanya tersenyum padaku dan setelah menyisir rambut panjangnya dia pun beranjak menuju pintu. “Gue bersih-bersih dulu yah, abis itu mau bobo” ujarnya sebelum membuka pintu.

    “Thanks yah Lyd.. besok kesini lagi yah” balasku sambil menatap pintu yang kemudian ditutup kembali oleh Lydia. Aku memejamkan mata sejenak untuk mengingat kejadian yang barusan berlalu, mimpi apa aku semalam bisa mendapat keberuntungan seperti ini. Tak sabar aku menunggu besok tiba, siapa tahu ternyata bisa mendapatkan lebih dari ini.

    Mungkin saja suatu saat aku bisa merasakan kenikmatan dari lubang surga Lydia, yang pasti aku harus ingat untuk menyediakan kondom di kamarku dulu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • 13 Foto Crot di Memek – Foto Ngentot Terbaru 2018

    13 Foto Crot di Memek – Foto Ngentot Terbaru 2018


    3009 views

    Perawanku – 13 Foto Crot Sperma di Dalem Memek Cewek, Postingan ini Perawanku.com dedikasikan buat kalian yang suka keluar di dalem. Crot di dalem memek memang memiliki sensasi kenikmatan yang tak terhingga. Namun resikonya juga tinggi jika kalian melakukannya dengan pacar. Sebaiknya aksi keluar di dalem memek seperti ini cukup kalian lakukan dengan Istri sah saja.

     

  • Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam

    Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam


    2131 views

    Perawanku – Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam, Sejak tadi suara itu mengganggunya. Suara seorang perempuan yang penuh desah kemanjaan itu, seakan memanggil Norman beberapa kali. Dahi Norman berkerut, hatinya bimbang dengan pendengarannya. Menurutnya, tak mungkin ada perempuan yang memanggilnya di tengah malam. Norman sengaja melupakan suara itu.

    Ia mendengar langkah kaki di depan kamarnya, tapi ia tahu itu langkah kaki Susilo, teman satu pondokan. Ia bergegas membuka pintu kamarnya dan memanggil Susilo yang hendak masuk ke kamar sebelah.

    “Sus… jam berapa ini?” tanya Norman.
    “Setengah satu kurang,” jawab Susilo sambil membetulkan celananya. Agaknya ia habis dari kamar mandi untuk buang air. Susilo justru berkata,
    “Kau sendiri kan punya arloji, masa’ masih tanya aku?”
    “Arlojiku mati! Eh, sebentar, Sus!” Norman keluar dari kamarnya, tidak sekadar melongokkan kepala. Ia mendekati Susilo yang berdiri di ambang pintu kamarnya sendiri. Dengan nada herbisik Norman bertanya,
    “Sus, kau tadi waktu ke kamar mandi melihat ada perempuan di sekitar sini?”
    “Maksudmu?” Susilo berkerut dahi.
    “Aku mendengar suara perempuan di samping kamar, la seakan memangil-manggil aku.”
    “Perek. mungkin!” jawab Susilo seenaknya. Norman hanya mendesah.
    “Aku serius, Sus. Dari tadi aku tidak bisa tidur karena mendengar suaranya.” Susilo berpikir sejenak, tubuhnya bersandar pada kusen pintu. Seingatnya, waktu ia ke kamar mandi, ia tidak melihat sekelebat manusia. Pondokan itu sepi. Maklum sudah lewat
    tengah malam. Beberapa mahasiswa yang kost di situ kebanyakan sudah tidur. Kalau toh ada, mereka pasti di dalam kamar menekuni bukunya.
    “Menurutku, kau hanya terngiang-ngiang cewekmu saja,” kata Susilo.
    “Maksudmu, Arni? Ah, suara Arni tidak seperti itu.”
    “Kalau begitu, kau hanya mendengar suara hatimu saja. Halusinasi! Ah, ngapain repot-repot memikirkan suara, kaukan bukan penata rekaman!”
    Susilo masuk, menutup kamarnya. Norman mengeluh dalam desah napas tipis. Ia berhenti sejenak ketika mau masuk ke kamarnya. Matanya memandang sekeliling. Oh, pondokan itu amat sepi. Lengang. Denni yang biasanya masih memutar kaset sampai jauh malam, kali ini agaknya sudah tidur. Lampu di kamarnya telah padam. Lampu-lampu di kamar lain pun padam. Hanya ada dua kamar yang lampunya masih menyala, kamar Mahmud dan kamar Tigor. Mungkin mereka sedang menekuni materi ujiannya untuk besok. Tengkuk kepala meremang lagi, Norman bergidik. Badannya bergerak dalam sentakan halus. Karena, ketika ia masuk ke kainar dan hendak menutup pintu, ia mendengar suara perempuan dalam desah kemanjaan yang memanggilnya.
    “Normaaan…! Normaaan….”
    Lampu kamar Norman sengaja diredupkan. Ia menyalakan lampu biru 10 watt sejak tadi. Menurut kebiasaannya, tidur dengan nyala lampu biru yang remang-remang membuat kesejukan tersendiri dalam hatinya. Namun, kali ini, kesejukan itu tidak ada. Yang ada hanya kegelisahan dari kecamuk hati yang terheran-heran atas terdengarnya suara panggilan itu. Angin malam lewat. Desaunya terasa menerobos dari lubang angin yang ada di atas jendela kamar. Suara itu terdengar lagi setelah dua menit kemudian.
    “Normaaan…! Datanglah…!”
    Dengan berkerut-kerut dahi, Norman bangkit dari rebahannya.
    “Suara itu seperti berada di luar jendela,” pikir Norman. Kemudian, ia mendekati pintu jendela. Ingin membuka jendela, tetapi ragu. Hatinya berkata, “Tidak mungkin ada perempuan di luar jendela. Dari mana ia masuk? Pintu pagar dikunci. Tidak mungkin ia memanjat pagar. Kalau memang ada perempuan yang memanjat pagar, itu nekat namanya.”
    Kemudian, telinga Norman agak ditempelkan pada daunjendela. Tapi yang didengar hanya suara desau angin, gemerisik dedaunan. Kamar Norman memang kamar paling ujung dari sederetan kamar kost-kostan itu. Di samping kamar, di seberang jendela itu, adalah sebidang tanah yang biasa dipakai olah raga. Ada lapangan bulu tangkis, dan meja ping-pong yang jika malam begitu dalam posisi miring, menempel dinding kamar Norman. Tanah yang merupakan fasilitas olah raga itu dikelilingi oleh pagar tembok. Pada bagian atas pagar diberi kawat berduri sebagai penolak tamu tak diundang. Di seberang pagar tembok itu ada pohon rambutan milik tetangga belakang pondokan. Sebagian daun dan dahan pohon itu menjorok ke halaman pondokan, dan meneduhkan bagi mereka yang bermain pingpong jika siang hari.
    Norman sudah tiga menit lebih berdiri di depan jendela, tetapi suara perempuan yang menggairahkan itu tidak terdengar lagi. Maka, ia kembali ke pembaringan dan merebahkan badan.. Ia kelihatan resah. Batinnya bertanyatanya,
    “Mengapa aku mendengar suara itu? Dan, sepertinya memang aku pernah mendengar suara itu. Suara siapa, ya?”
    Ada gonggongan anjing dari rumah belakang pondokan. Gonggongan anjing itu mulanya hanya sesekali. Ditilik dari nada gonggongannya, anjing itu seakan sedang menggoda orang lewat.
    Tetapi, gonggongan anjing itu lama-lama jadi memanjang. Mangalun mendayu-dayu mirip irama orang merintih kesakitan. Suara anjing itu menyatu dengan suara perempuan yang kian jelas di pendengaran Norman.
    “Normaaan…! Norrr…! Lupakah kauuu…? Lupakah kau padaku, Norman…!”
    Norman segera melompat dari pembaringannya, dan membuka jendela. Jantungnya berdetak-detak ketika wajahnya diterpa angin yang berhembus membawa udara dingin. Sekujur tubuhnya merinding. Matanya melebar, karena ia tidak menemukan siapa-siapa di luar jendela kamarnya.Padahal suara tadi jelas terdengar di depan jendela, seakan mulut perempuan itu ditempelkan pada celah jendela supaya suaranya didengar Norman. Tetapi, nyatanya keadaan di luar kamar sepi-sepi saja.
    “Brengsek!” geram Norman. Ia menunggu beberapa saat,
    sengaja membuka jendelanya, sengaja membiarkan angin dingin menerpa masuk ke kamar. Suara perempuan yang penuh desah menggairahkan itu tidak terdengar lagi. Norman mengeluh kesal sambil duduk di kursi belajarnya. Ia menyalakan lampu belajar yang ada di meja kamar. Kamar menjadi terang. Cermin di depan meja belajar menampakkan wajahnya yang sayu. Pintu kamarnya tiba-tiba ada yang mengetuknya dengan lembut. Pelan sekali, seakan pe-ngetuknya sengaja hati-hati supaya suara ketukan tidak didengar penghuni pondokan yang lainnya. Norman melirik ke arah pintu. Membiarkan ketukan itu terulang beberapa kali. Lalu, ia mendengar suaraperempuan di seberang pintunya.
    “Nor…? Normaaan…!”
    “Siapa…?!”
    tanya Norman dengan nada kesal, karena iatahu, bahwa suara perempuan yang mengetuk pintu kamarnya itu sama persis dengan suara yang mengganggunya sejak tadi. Tapi, karena tidak ada jawaban dari pengetuk pintu, Norman berseru lagi,
    “Siapa sih?! Jawab dong!”
    “Aku…!”
    “Aku siapa?! Sebutkan!”
    Norman sudah berdiri walau belum mendekat ke pintu.
    “Kismi….”
    Mata Norman jadi membelalak. Kaget.
    “Kismi…?!”
    desahnya dengan nada heran sekali. Ia mengenal pemilik nama itu, tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau Kismi akan datang, apalagi lewat tengah malam begini. Norman pun akhirnya bergegas membukakan pintu setelah ia sadar, bahwa suara yang sejak tadi memanggilnya itu memang suara Kismi.
    “Sebentar, Kis…!”
    kata Norman, yang kemudian segera membukakan pintu.
    “Hah…?!” Ia terperanjat dengan jantung berdetak-detak.
    Di luar kamarnya, tidak ada siapa-siapa. Sepi. Hanya hembusan angin yang dirasakannya begitu dingin dan membuat tubuhnya merinding lagi. Dalam keadaan bingung dan berdebar-debar itu, Norman masih menyempatkan diri berpaling ke kanan-kiri, mencari Kismi yang menurutnya bersembunyi. Tapi, tak terlihat bayangan atau sosok seseorang yang bersembunyi. Di kamar mandi? Tak mungkin. Kamar mandi terlalu jauh dari kamar Norman jika akan digunakan seseorang untuk berlari dan bersembunyi. Sebelum orang itu sempat bersembunyi, pasti Norman sudah melihatnya lebih dahulu.
    “Kismi…?!”
    Norman mencoba memanggil perempuan yang dikenalnya kemarin malam itu, tetapi tidak ada jawaban. Makin merinding tubuh Norman. dan semakin resah hatinya di sela debaran-debaran mencekam. Karena ditunggu beberapa menit Kismi tidak muncul lagi, bayangannya pun tak terlihat, maka Norman pun segera menutup pintu kamarnya dengan hati bertanya-tanya:
    “Kemana dia?”
    Mendadak gerakan penutup pintu itu terhenti. Mata Norman sempat menemukan sesuatu yang mencurigakan di lantai depan pintu. Aneh, namun membuatnya penasaran.
    “Kapas…?!”
    Hati semakin resah, kecurigaan kian mengacaukan benaknya. Segumpal kapas jatuh di lantai depan pintu. Sedikit bergerak-gerak karena hembusan angin. Ada rasa ingin tahu yang menggoda hati Norman. Maka. dipungutnya kapas itu. Ketika tubuh Norman membungkuk untuk mengambil kapas, tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang. Kapas itu bergerak, terbang. Masuk ke kamar. Gerakan kapas sempat membuat Norman yang tegang terperanjat sekejap. Pintu ditutup, dan kapas itu dipungutnya. Ia segera melangkah ke meja belajarnya, mencari tempat yang terang. Ia memperhatikan kapas itu di bawah penerangan lampu belajarnya.
    “Apakah kapas ini milik Kismi?”
    pikirnya sambil mengamatamati segumpal kapas yang kurang dari satu genggaman. Ada aroma bau harum yang keluar dari kapas itu. Bau harum itu mengingatkan Norman pada jenis parfum yang baru sekali itu ia temukan. Parfum yang dikenakan pada tubuh Kismi.
    “Aneh?! Mengapa Kismi tidak muncul lagi?”
    pikirnya setelah setengah jam lewat tak terdengar suara Kismi maupun ketukan pintu.
    “Mengapa ia hanya meninggalkan kapas ini? Lalu, kapas untuk apa ini? Apakah Kismi sakit? Apakah ia hanya bermaksud mengingatkan kenangan semalam?”
    Norman tertawa sendiri. Pelan. Ia kembali berbaring dengan jantung yang berdebar takut menjadi berdebar indah.Kapas itu  diletakkan di samping bantalnya, sehingga bau harum yang lembut masih tercium olehnya. Pikiran Norman pun mulai menerawang pada satu kenangan manis yang ia peroleh kemarin malam. Kisah itu, sempat pula ia ceritakan kepada Hamsad, teman baiknya satu kampus, dan Hamsad sempat tergiur oleh cerita tentang Kismi.

    ***
    “Siapa yang mengajakmu ke sana?” tanya Hamsad waktu
    itu.
    “Pak Hasan! Mungkin dia ingin men-service aku, supaya
    buku pesanannya cepat kukerjakan. Wah, tapi memang luar
    biasa, Ham,” ujar Norman berseri-seri. “Perempuan itu
    cantiknya mirip seorang ratu!”
    “Kau yang memilih sendiri?” Hamsad tampak bersemangat.
    “Bukan. Dia datang sendiri ke motel-ku. Kurasa, Pak Hasan
    yang memesankan cewek itu untukku. Atau, barangkali
    memang service dari motel itu sendiri, entahlah. Yang jelas,
    dia datang di luar dugaanku. Tak lama kemudian, setelah kami
    berbasa-basi sebentar, datang juga perempuan lain. Tapi,
    kutolak. Aku lebih memilih perempuan pertama. Mulus dan
    sexy sekali dia. Namanya, Kismi. Antik, kan?!”
    “Terus…? Terus bagaimana?” desah Hamsad tergiur.

    8
    “Macan, Mack! Luar biasa romantisnya. Hebat. Baru kali ini
    aku menemukan perempuan cantik yang punya daya rangsang
    yang luar biasa! Tujuh malam bersama dia tanpa keluar dari
    kamar, aku akan betah! Kurasa kau sendiri tidak akan sempat
    mengenakan pakaianmu lagi kalau sudah bersamanya, Ham!”
    Hamsad tertawa ngakak ketika itu. Ia benar-benar
    terperangah cerita Norman. Khayalannya melambung tinggi
    ketika Norman menceritakan detail kehebatan Kismi.
    “Berapa anggaran untuknya?” tanya Hamsad dengan gaya
    kelakar.
    “Aku tidak tahu. Mungkin Pak Hasan-lah yang mengurus
    soal itu. Antara pukul 4 atau 5 pagi, dia pamit. Dia tidak minta
    bayaran padaku. Ketika kutanya tentang uang taksi, dia hanya
    tersenyum, lalu pergi.”
    “Kurasa dia perempuan panggilan kelas atas, Nor!”
    “Menurut dugaanku juga begitu! Tapi, itu kan urusan Pak
    Hasan. Aku mau tanya tentang tarif argo untuk perempuan
    semacam Kismi, ah… nggak enak. Riskan.”
    “Beruntung sekali kau mendapat service seperti itu!”
    “Makanya konsekuensinya aku harus segera menyelesaikan
    naskah pesanan Pak Hasan itu! Siapa tahu selesai itu aku
    dibawanya ke motel tersebut. Kalau ke sana lagi, aku tidak
    ingin mencari perempuan lain. Hanya Kismi yang kubutuhkan,
    dan aku juga menghendaki Motel Seruni, tidak mau Motel
    Mawar, Kenanga, atau yang lainnya. Karena, kenanganku
    bersama Kismi yang pertama kali ada di Motel Seruni itu!”
    ***
    Malam semakin mengalunkan kesunyian, dan kesunyian itu
    sendiri menaburkan perasaan cemas. Sedangkan perasaan
    cemas itu membawa desiran indah bagi sebaris kenangan
    bersama Kismi. Bau harum dari parfum pada kapas semakin
    menggoda khayalan Norman. Khayalan itulah yang
    menumbuhkan rasa rindu, rasa ingin bertemu dan rasa ingin
    bercumbu. Maka, Norman pun menggeliat dengan gelisah.
    Darahnya dibakai’ oleh khayalannya sendiri. Nafsunya
    menghentak-hentak jantung, menuntut suatu perbuatan nyata

    9
    dari birahi yang ada. Norman menjadi bernafsu sekali untuk
    bertemu dengan Kismi.
    “Kismiii…!” erangnya dari sebuah rintih dari kerinduan.
    Dan, kerinduan itu akhirnya menjadi racun pada jiwa Norman.
    Emosinya meluap, meletup-letup, bahkan tak bertakaran lagi.
    Emosi itu bukan hanya sekadar luapan gairah bercinta saja,
    melainkan kebencian, kemarahan, kesedihan, semuanya
    bercampur aduk dan menyiksa jiwa Norman. Ia sempat
    meremat bantalnya kuat-kuat dengan tubuh gemetar, lalu
    ditariknya re-matan itu dan robeklah kain bantal. Isinya
    berhamburan, diremas pula dalam suara yang menggeram.
    Tubuh berkeringat, urat-urat menegang, gemetar dan ia
    menggemeletukkan gigi kuat-kuat dengan mata mendelik.
    Perubahan itu aneh sekali, namun tidak disadari oleh
    Norman. Napasnya terengah-engah seperti orang habis lari
    jauh. Matanya menjadi liar, ia menggeram beberapa kali,
    bahkan mengerang seperti seekor monyet buas yang hendak
    mengamuk.
    Sementara itu, sisa kesadarannya sesekali tumbuh, dan
    membuat Norman mampu meredam gejala anehnya itu. Ia
    sempat bertanya dalam hati, “Mengapa aku jadi begini?
    Mengapa aku benci pada diri sendiri?”
    Masa kesadarannya hilang lagi, kembali ia dalam amukan
    jiwa yang tak terkontrol. Ia mengamuk, berguling-guling di
    ranjangnya. Tangannya mencakar-cakar kasur, membuat
    seprei menjadi tercabik-cabik. Bahkan guling pun diremas,
    digigitnya kuat-kuat bagai beruang lapar. Sampai beberapa
    saat hal itu dilakukan di luar kesadarannya, kemudian ia
    terkulai lemas sambil terengah-engah.
    “Apa sebenarnya yang kualami ini…?! Oh, badanku sakit
    sekali…!” keluhnya lirih, nyaris tanpa suara.
    Plakkk…!
    Norman terkejut. Tiba-tiba ia memukul kepalanya sendiri
    dengan keras. Ia merasa heran, mengapa tangan kanannya
    bergerak sendiri menampar wajahnya. Bahkan kini tangan.

    kanan itu mengejang-ngejang, jarinya membentuk cakar yang
    kokoh.
    “Oh, kenapa tanganku ini?!” Norman menjadi tegang
    dengan mata melotot, memandangi tangan kanannya. Hanya
    tangan kanannya.
    Tangan itu sukar dikendalikan. Norman ingin melemaskan
    otot-ototnya, namun tidak berhasil Bahkan sekarang tangan
    kanannya yang membentuk cakar itu bergerak ke atas.
    Mendekati wajahnya. Norman melawannya, berusaha
    mengendalikan gerakan itu, tetapi tidak berhasil. Tiba-tiba
    gerakan tangan itu begitu cepat menghampiri wajahnya dan
    mencakar wajah itu sendiri.
    “Aaaow…!” Norman berteriak, namun tidak begitu keras,
    karena hanya luapan rasa kagetnya saja. Ia masih
    memandang tangan kanannya dengan mendelik. Tangan itu
    terasa ingin bergerak lagi mencakarnya, dan Norman berusaha
    melawan kekuatan yang ada pada tangan tersebut.
    “Gilaaa…!”
    Norman berteriak keras dan semakin ketakutan oleh
    tangannya sendiri. Ia benar-benar panik dan tak mengerti,
    mengapa tangannya bergerak di luar kemauannya?Dari kamar Susilo, teriakan Norman itu terdengar tidak
    terlalu keras, tapi jelas. Susilo yang belum tertidur nyenyak itu
    menjadi curiga. Ia menelengkan telinganya, menyimak suara
    dari kamar Norman. Dahinya berkerut menandakan perasaan
    anehnya.
    “Sinting dia. Hampir pukul dua pagi masih teriak-teriak
    juga. Ada apa sih?” gerutu Susilo sendirian. Suara gaduh dari
    kamar Norman itu benar-benar mengganggunya, sampaisampai
    ia terpaksa bangkit dan turun dari ranjang.
    Untuk melangkah keluar dari kamar. Susilo ragu-ragu. Ia
    masih menyimak suara gaduh yang mirip seseorang sedang

    11
    bergelut mengalahkan sesuatu. Mulanya Susilo menyangka
    Norman sedang membawa perempuan masuk ke kamarnya,
    namun setelah makin disimak, ternyata suara erangan Norman
    itu tidak mirip seseorang sedang mencumbu kekasihnya. Tapi
    lebih mirip seseorang yang sedang bertengkar.
    Prang…!
    Suara di kamar Norman semakin jelas. Berisik dan gaduh.
    Entah apa yang telah jatuh dan pecah sehingga suaranya
    sempat membuat Susilo tergerak kaget.
    “Aneh. Kenapa aku jadi merinding?” gumam Susilo sambil
    melangkah mendekati pintu. Ia bermaksud mengingatkan
    Norman agar tidak menimbulkan suara gaduh yang
    mengganggu, tapi hatinya menjadi bimbang, dan ia berdesir
    merinding saat hendak membuka pintu.
    Brak…! Prang…!
    Sekali lagi kamar Norman bagai mengalami gempa.
    Agaknya sesuatu telah membuat kamar itu menjadi porakporanda.
    Susilo pun akhirnya keluar dari kamar. ,
    “Astaga…!” Susilo terpekik tertahan. Jantungnya berdesir
    ketika ia melihat sosok manusia berdiri di depan pintu
    kamarnya. Untung saja ia tidak menjerit, karena ia buru-buru
    menyadari bahwa sosok manusia itu adalah Denny.
    Sambil membungkus badannya dengan selimut, Denny
    memandang pintu kamar Norman dan melangkah mendekati
    Susilo. Ia bertanya pelan,
    “Ada apa dia? Ngamuk sama siapa sih?”
    “Mana aku tahu?” Susilo menjawab dengan bisikan.
    Yoppi keluar juga dari kamarnya yang berjarak dua kamar
    dari kamar Norman. Ia bergabung dengan Denny dan Susilo,
    di depan kamar Susilo.
    “Berkelahi dengan siapa si Norman?” tanya Yoppi. Ia
    mengerjap-ngerjapkan mata karena terbangun dari tidurnya.
    “Tadi ia menanyakan tentang perempuan,” kata Susilo. “Ia
    mengaku mendengar suara perempuan memanggilnya.”

    12
    “Perempuan?!” Alis Yoppi yang tebal hampir menyatu
    karena heran. Tangan Yoppi menggaruk-garuk pinggang
    sambil masih mengerjap-ngerjap pertanda masih mengantuk.
    “Wah, gawat. Jangan-jangan dia membawa masuk perek,”
    kata Denny. “Kalau ketahuan ibu kost, nggak enak kita!”
    “Atau, siapa tahu ia berkelahi dengan pencuri?” kata Yoppi.
    Kemudian, Susilo memberanikan diri mengetuk pintu kamar
    Norman. “Nor…?! Nor, ada apa sih? Sudah lewat malam ini,
    Nor!”
    Jawaban yang ada hanya suara Norman yang menggeramgeram
    seakan sedang mengalahkan sesuatu. Ketiga teman
    kost itu menjadi cemas dan makin curiga. Yang menambah
    mereka cemas ialah suara Norman dalam satu teriakan rasa
    sakit.
    “Aaaow…! Uh, uh… uh… hiaaah…!” suara itu sangat jelas.
    “Dobrak saja pintunya,” kata Denny kepada Susilo dan
    Yoppi yang berusaha menggedor pintu kamar Norman.
    “Sialan! Aku jadi merinding sendiri. Aku mencium bau
    wangi,” kata Denny.
    “Aku juga mencium bau parfum enak,” sambung Yoppi.
    “Kurasa benar. Norman memasukkan perek ke dalam
    kamarnya.”
    Itulah yang membuat mereka ragu-ragu. Mereka tidak
    tahu, bahwa di dalam kamar Norman sedang berusaha
    mengalahkan gerakan tangan kanannya yang sepertinya
    bernyawa sendiri itu. Tangan kanan itu sudah ditekan matimatian
    menggunakan tangan kiri, namun gerakannya masih
    belum bisa dikendalikan. Tangan itu seolah-olah sosok
    makhluk tersendiri yang bergerak memukuli wajah Norman
    sendiri. Bahkan, ketika tangan kanan itu bergerak sendiri
    mengambil gunting, Norman berusaha menariknya. Tapi,
    tenaga Norman yang telah digerakkan kekuatan penuh itu
    tidak mampu menarik tangan kanan yang hendak memegang
    gunting. Tangan tersebut seakan mempunyai kekuatan yang
    lebih besar dari seluruh kekuatan tenaga Norman sebenarnya.

    13
    Lalu, ketika gunting itu telah digenggam oleh tangan kanan
    secara kokoh, tiba-tiba gerakan tangan kanannya itu melesat
    ke arah dada. Norman menjerit kesakitan, karena ujung
    gunting itu menancap di bawah pangkal pundaknya. Darah
    mulai mengucur keluar dan Norman masih terengah-engah
    melawan kekuatan tangan kanannya. Tangan yang
    menggenggam gunting itu seakan ingin menusuk-nusuk tubuh
    Norman sendiri dengan tanpa mengenal ampun lagi. Norman
    berusaha menahan dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang
    dikerahkan. Ternyata hal itu tidak mampu. Gunting itu
    bergerak sendiri ke arah dada Norman. Pada waktu itu
    Norman tak ingin ditusuk oleh dirinya sendiri. Ia berusaha
    memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri, sampaisampai
    ia berguling-guling di lantai. Tetapi, pada satu detik
    tertentu, gunting itu berhasil mengenai perutnya. Jubbb…!
    “Aaaow…!” teriaknya. Rasa sakit membuat ia makin
    mendelik. Tapi beruntung sekali gunting itu tidak masuk
    terlalu dalam, hanya beberapa mili dari ujung gunting.
    Brakkk…! Pintu berhasil didobrak oleh Denny dan Susilo.
    Ketigji orang itu terbelalak tegang melihat Norman berusaha
    menikam tubuhnya dengan gunting. Mereka menyangka
    Norman hendak melakukan bunuh diri, sehingga Denny pun
    berteriak,
    “Jangan gila kau, Norman!”
    “Cegah dia! Dia mau bunuh diri!” seraya berkata begitu
    Yoppi mendorong kedua temannya, dan Susilo serta Denny
    segera berusaha menyergap Norman. Saat itu Norman
    menyadari kehadiran ketiga temannya, tetapi ia tidak bisa
    mengendalikan gerakan tangan kanannya.
    “Pergi! Jangan dekati aku, nanti kalian celaka…!” teriak
    Norman.
    Gunting itu sedang ditahan kuat-kuat, karena hendak
    menusuk ulu hatinya. Norman mengerahkan kekuatannya,
    otot lengannya tampak bertonjolan. Namun, bagi mereka yang
    tidak tahu, Norman disangka sedang ragu-ragu untuk
    menusukkan gunting ke dalam tubuhnya.

    14
    “Lepaskan gunting itu! Lepaskan!” teriak Denny. “Jangan
    picik kau, Norman…!”
    Denny berusaha merebut gunting di tangan kanan Norman,
    tetapi baru saja mendekat, tiba-tiba tangan kanan itu bergerak
    di luar kontrol kesadaran Norman. Gunting itu mengibas cepat
    dan mengenai lengan Denny.
    “Aaaow…!” pekik Denny kesakitan.
    “Menjauh! Kalian menjauh dari aku. Ohw… aku tidak bisa
    mengendalikan tangan ini!” teriak Norman sambil berusaha
    mengekang gerakan tangan kanannya.
    “Sergap dari belakang!” teriak Yoppi dalam kepanikan.
    Maka, Susilo pun berusaha menyergap Norman dari
    belakang. Tetapi, sebelum Susilo berhasil mendekap tubuh
    Norman, tubuh itu berputar terbawa gerakan tangan
    kanannya. Gunting terarah lurus ke depan, sementara tangan
    kiri Norman masih memegangi tangan kanannya untuk
    menahan gerakan misterius itu.
    “Aaaow…! Kau melukaiku, Nor…!” teriak Susilo yang
    berhasil tergores dadanya oleh kibasan gunting tajam itu.
    “Aku tidak bisa menahan gerakan tanganku! Oh…. Tolong!
    Lekas tolong akuuu…!”
    Norman mendelik-delik dengan mengerang mengerahkan
    tenaga untuk menahan diri. Ia jatuh berlutut karena berusaha
    semaksimal mungkin menahan gerakan tangan kanannya yang
    kini kembali mengacungkan gunting ke arah dadanya.
    “Pukul dia biar pingsan!” teriak Yoppi, namun ia sendiri tak
    berani maju setelah melihat Susilo dan Denny berdarah karena
    terkena gunting tersebut.
    “Dia kemasukan setan!” pekik Denny yang berlari ke arah
    pintu.
    “Tolong…! Aaaoh… tolong aku… hiaaah…!” Norman
    berusaha habis-habisan menahan gerakan tangan kanannya.
    Dan, tiba-tiba ia menjerit tertahan, “Aaahg…!”
    “Normaaan…!” teriak Susilo di puncak kepanikan.
    Norman membelalakkan mata dalam keadaan berdiri
    dengan lutut menghadap ke arah ketiga temannya. Tubuhnya

    15
    menjadi kejang sesaat, karena waktu itu gunting telah berhasil
    menghunjam dada, menembus sampai ke bagian pangkalnya,
    tepat mengenai jantungnya. Darah pun menyembur ke manamana.
    Wajahnya yang mendelik dan kaku itu terkena percikan
    darah sendiri hingga tampak mengerikan.
    Denny diam tak bergerak. Shock. Susilo berteriak-teriak tak
    karuan dengan mata berkaca-kaca, tak tega menyaksikan
    keadaan Norman. Sementara itu, Yoppi berlari dengan panik
    menggedor setiap pintu kamar sambil berteriak-teriak
    mengagetkan mereka yang sedang tertidur nyenyak.
    “Norman bunuh diri…! Norman mati bunuh diri…!” seru
    Yoppi dengan suara tak tanggung-tanggung lagi kerasnya.
    Perlahan-lahan tubuh Norman limbung. Tangan kanannya
    masih memegangi gunting yang menikam jantungnya sampai
    ke bagian pangkal. Kemudian, tangan kanan itu mulai
    melemas bersama gerakan limbung tubuh Norman. Lalu, ia
    pun tergeletak di lantai yang banjir karena darah. Matanya
    masih mendelik ketika ia menghembuskan napas terakhir di
    depan Denny. Semakin shock Denny menyaksikan kengerian
    itu, semakin pucat sekujur tubuhnya. Ketika teman-teman satu
    pondokan menghambur ke kamar Norman, Denny jatuh
    terkulai tak sadarkan diri.
    Lalu, menyebarkan berita tentang kematian Norman.
    Semua mulut mengatakan, Norman mati bunuh diri. Hamsad,
    sebagai teman dekat Norman yang pernah tinggal sekamar
    dengan Norman, merasa tak yakin jika Norman sampai bunuh
    diri. Dalam rona kesedihan yang dalam, Hamsad menjelaskan
    kepada mereka,
    “Tiga bulan aku pernah tinggal sekamar dengannya, dan
    aku tahu kekerasan hatinya Norman bukan pemuda cengeng.
    Norman cukup tangguh dalam menghadapi kesulitan apa pun.
    Tak mungkin rasanya jika ia mati bunuh diri.”
    “Tapi, aku melihat sendiri saat ia menikamkan gunting itu
    ke arah dadanya,” kata Yoppi meyakinkan.

    16
    Hamsad menghempaskan napas dukanya. Kemudian, ia
    berkata dengan pelan, “Pasti ada sesuatu yang tak beres pada
    dirinya.”
    Tiga hari setelah jenazah Norman dimakamkan di kota
    asalnya, para penghuni pondokan itu masih ramai
    membicarakan tentang kematian Norman. Salah satu di
    antaranya ada yang berpendapat, Norman melakukan hal itu
    karena ada masalah dengan Arni.
    “Mungkin ia takut menghadapi Arni. Mungkin Arni hamil
    dengannya,” tutur Bahtiar kepada teman-temannya yang
    meriung di depan kamar Yoppi. Saat itu, Hamsad juga ada di
    situ dan menyimak beberapa kemungkinan dari mereka.
    “Aku juga punya praduga begitu,” kata Denny. “Tetapi, aku
    telah menghubungi Arni secara pribadi, dan menanyakan hal
    itu.”
    “Lalu, apa kata Arni?” tanya Yoppi.
    “Dia mengaku belum pernah dijamah Norman. Dan,
    memang kenyataannya mereka baru taraf saling menaksir
    saja. Belum berpacaran mutlak, kan?”
    Yang lainnya manggut-manggut. Mereka memang tahu,
    bahwa Norman sedang naksir Arni, mahasiswi seni tari itu.
    Mereka juga tahu, bahwa Arni sedang mempertimbangkan
    untuk menerima kehadiran Norman. Maka, mereka pun
    sepakat, bahwa praduga tentang kehamilan Arni adalah tidak
    benar.
    Susilo yang sejak kematian Norman menjadi orang bego.
    banyak melamun, sering terbengong-bengong di depan
    kamarnya, kali ini ia mulai ikut bicara.
    “Beberapa menit sebelum almarhum meninggal,” kata
    Susilo. “Ia sempat keluar dari kamar. Waktu itu, aku habis dari
    kamar mandi. Almarhum menanyakan tentang suara
    perempuan.”
    Semua mata tertuju pada Susilo. Bahtiar bertanya pelan
    ketika Susilo mengatur pernapasannya. “Suara perempuan
    bagaimana?”

    17
    “Almarhum Norman mendengar suara perempuan
    memanggil-manggilnya. Dan, mencari keluar kamar, lalu
    berpapasan denganku.”
    “Kau sendiri mendengar suara perempuan itu?” tanya Ade,
    yang kamarnya dekat kamar mandi.
    “Tidak,” jawab Susilo sambil menggeleng. “Aku tidak
    mendengar suara apa-apa. Tetapi, sebelum kudengar suara
    gaduh dari kamar Norman, aku sempat mendengar Norman
    seperti bicara dengan seorang perempuan. Aku mendengar ia
    menyebut namanya.”
    “Kau masih ingat nama yang disebutkan Norman?” tanya
    Yoppi.
    Susilo mengangguk dalam tatapan mata menerawang. Lalu,
    ia berkata pelan, “Kismi…!”
    Hanya Hamsad yang terperanjat ketika itu. Yang lain masih
    tertegun tak mengerti maksudnya. Tetapi, Hamsad yang sejak
    tadi menyimak pembicaraan dan pendapat dari mereka, kali ini
    bagai ada sesuatu yang menusuk punggungnya, hingga ia
    menegakkan badan.
    “Kismi…?!” tanyanya kepada Susilo yang tertegun
    dibungkus duka.
    “Ya, Kismi…! Kupikir…, Norman menyuruh perempuan
    menciumnya. Tetapi, setelah kupikir-pikir, ternyata dia tidak
    menyuruh perempuan menciumnya, melainkan menyebutkan
    nama perempuan itu. Kismi.”
    “Kau yakin begitu?” desak Denny.
    Susilo mengangguk. “Ada rangkaian kata lain ketika ia
    mengatakan Kismi. “Sebentar, Kis…? Itu katanya. Setelah itu,
    ia membuka pintu, dan memanggil nama Kismi, sepertinya
    mencari-cari perempuan itu.”
    “Ah, mungkin kau memang salah anggapan,” ujar Bahtiar
    menyangsikan.
    Hamsad buru-buru menyahut, “Tidak! Sus benar. Norman
    memang pernah bercerita padaku tentang Kismi, perempuan
    yang dikenalnya di sebuah motel.”

    18
    “Ooo… jadi, Norman punya cewek baru yang namanya
    Kismi? Begitu?” ujar Denny.
    Kemudian, Hamsad menceritakan apa yang pernah
    diceritakan Norman kepadanya. Ketika itu, mencuatlah
    praduga baru dari mulut Bahtiar,
    “Kalau begitu, dia punya problem dengan Kismi, sehingga
    ia nekat bunuh diri!”
    Sejenak suasana menjadi hening, karena masing-masing
    menekuni analisa dalam benaknya. Beberapa saat setelah
    keheningan itu mencekam, Denny berkata dengan nada
    sedikit menggeram,
    “Aku akan menemui Kismi! Aku merasa ditantang untuk
    mengejar misteri kematian Norman, karena teman kita yang
    malang itu sempat melukaiku dan menikam dirinya sendiri di
    depanku, di depan kau, dan kau juga Yoppi,” seraya Denny
    menuding Susilo dan Yoppi.
    “Kalau ingin mencari dia, datanglah ke motel itu. Kurasa
    bagian front-office pasti mengenal nama Kismi!” ujar Hamsad.
    “Hostes itu menurut Norman termasuk hostes eksklusif, yang
    mungkin biaya pemakaian semalam sama besarnya dengan
    uang semestermu!”
    Denny merasa berhutang budi kepada Norman, karena dulu
    ketika ia sakit, membutuhkan sumbangan darah, Norman-lah
    yang mendonorkan darahnya secara sukarela. Dan, kali ini,
    Denny ingin melacak penyebab kematian Norman yang
    menurutnya punya keganjilan semu. Denny yakin, pasti ada
    tabir misteri di balik kematian Norman. Barangkali juga ada
    hubungannya dengan perempuan malam yang bernama Kismi.
    Atau setidaknya Denny bisa memperoleh informasi dari Kismi
    tentang benar dan tidaknya pada malam itu Kismi datang ke
    pondokan mereka.
    Uang bukan masalah bagi Denny, karena ia memang
    berlimpah uang. Ayahnya direktur sebuah bank ternama di
    ibukota, dan Denny sendiri punya simpanan di beberapa bank.
    Sebenarnya, ia bisa hidup dari uang simpanannya itu. Tak
    perlu kuliah, ia sudah bisa memperoleh pekerjaan. Tetapi,

    19
    ayahnya punya gengsi tinggi, sehingga anaknya dipaksa harus
    memperoleh gelar sarjana penuh yang kelak akan dikirim ke
    Amerika untuk memperdalam study bidangnya. Kalau saja
    Denny mau, tahun-tahun kemarin ia sudah kuliah di Amerika.
    Tapi, Denny belum punya niat untuk ke sana, karena ia
    merasa malu jika ke Amerika hanya modal ijazah SMA saja. Ia
    harus punya modal khusus sebelum ia meraih gelar doktoral di
    Amerika.
    Denny datang ke motel itu bersama Hamsad, sebab
    Hamsad punya dendam tersendiri atas ke-matian Norman,
    sebagai teman dekatnya yang sudah dianggap saudara
    sendiri. Mereka berdua berlagak menjadi tamu yang ingin
    menyewa dua tempat di motel itu.
    “Hanya tinggal satu kamar, Bung,” kata bagian front-office
    kepada Denny. “Maklum, malam minggu begini, biasanya
    harus bocking dulu sehari atau dua hari sebelumnya.”
    Denny memandang Hamsad, seakan meminta
    pertimbangan. Lalu, Hamsad berkata kepada petugas
    tersebut,
    “Tinggal satu, tapi yang sebelah mana, Bung?”
    “Agak jauh dari pantai. Hm… ini, di kamar Melati.” Petugas
    itu menunjuk pada denah dalam brosur.
    “Bagaimana dengan kamar sampingnya? Motel Seruni ini?”
    Sejenak tak ada jawaban dari petugas tersebut. Denny
    menimpali pembicaraan itu,
    “Apakah Motel Seruni juga sudah di-bocking orang?”
    “Belum. Tapi…,” petugas front-office sedikit ragu. Tapi,
    karena Denny memandangnya dengan kerutan dahi pertanda
    merasa aneh, maka petugas itu pun melanjutkan katakatanya,
    “Kamar itu jarang ada yang mau memakainya.”
    “Kenapa?” desak Hamsad.
    “Tempatnya kurang nyaman. AC-nya sering macet, dan
    saluran airnya kadang tersumbat. Hm… belakangan ini
    memang tidak kami tawarkan kepada tamu, sebab kami belum
    sempat membetulkan beberapa kerusakannya. Tapi, kalau

    20
    Bung mau, bisa saja. Di sana juga ada kipas angin, kalaukalau
    AC tidak berfungsi.”
    “Oke!” jawab Hamsad tanpa meminta persetujuan Denny.
    Tapi, kami perlu teman. Kalau ada… tolong panggilkan yang
    bernama Kismi.”
    “Kismi…?!” petugas itu bingung. “Di sini tidak ada yang
    bernama Kismi. Mungkin Bung salah nama.”
    ***
    Bab 3
    Jawaban petugas dianggap hal yang wajar. Pada umumnya
    mereka saling berlagak tidak mengenal perempuan panggilan,
    tidak menyediakan hostes, tidak menyediakan wanita
    penghibur, dan semua itu hanya kamuflase saja. Den-ny dan
    Hamsad sudah tidak heran lagi. Mereka tetap menempati
    kamar-kamar yang telah dipesan. Kamar-kamar itu merupakan
    sebuah bangunan tersendiri, berbentuk semacam rumahrumah
    penduduk yang satu dengan yang lainnya terpisah.
    Bangunan-bangunan tersebut tidak memakai nomor,
    melainkan memakai nama bunga. Dalam setiap rumah motel,
    terisi beberapa perabot rumah tangga, terdiri dari satu ruang
    tamu, satu ruang tidur berukuran besar, dapur, dan kamar
    mandi.
    “Kau di kamair mana? Melati atau Seruni?” tanya Hamsad
    kepada Denny.
    “Aku di Seruni saja. Tapi, bagaimana dengan Kismi? Kalau
    mereka tidak bisa menyediakan perempuan itu, kita sia-sia
    bermalam di sini!”
    “Bisa kita atur lewat telepon, nanti. Biar aku yang bicara.”
    “Kau sendiri mau pakai dia?” tanya Denny.
    “Pakai dan tidak itu urusan nanti. Tapi, kalau Kismi sudah
    datang, segera kau telepon aku melalui kamarmu. Kita akan
    bicara bertiga, siapa tahu bisa menyimpulkan sesuatu yang
    berguna. Aku sendiri tidak perlu perempuan lain. Aku hanya

    21
    ingin bertemu dengan Kismi, ingin melihat seperti apa
    perempuan itu.”
    Mereka masuk ke motel itu memang sudah malam. Pukul 8
    mereka memesan kamar tersebut. Letaknya berseberangan.
    Masing-masing mempunyai bangku taman di bawah payung
    berwarna-warni.
    Telepon di kamar Denny berbunyi. Hamsad yang
    menghubunginya. Kata Hamsad kepada Denny,
    “Aku sudah paksa petugas itu untuk mengirimkan
    penghibur hangat yang bernama Kismi. Kukirimkan ke
    kamarmu. Den.”
    “Apa katanya, Ham?”
    “Yah… mereka mau usahakan. Tapi, mulanya mereka
    ngotot dan tetap tidak mengaku mempunyai ‘anak buah’ yang
    bernama Kismi. Lalu. kubujuk mereka, kucoba untuk
    mencarinya, dan akhirnya mereka suruh kita menunggu, ha ha
    ha…,” Hamsad tertawa.
    “Agaknya Kismi perempuan yang cukup eksklusif,” kata
    Denny dalam tersenyum. “Mungkin tidak semua orang bisa
    menemui Kismi, Ham. Kurasa tarifnya jauh di atas yang lain.”
    ‘Itu kan bisa diatur,” kata Hamsad dalam nada kelakar.
    Suara debur ombak terdengar, karena memang motel itu
    dibangun di kawasan pantai. Adakalanya hembusan angin kian
    bergemuruh, seakan menyatu dengan deru ombak memecah
    karang.
    Di dalam kamarnya, Denny mulai gelisah. Sudah pukul 11
    malam, tak ada perempuan yang datang. Hamsad sempat
    mendatangi kamar Denny, karena berulangkah ia menelepon
    Denny dan menanyakan perempuan pesanannya, Denny
    selalu menjawab, “Belum datang.” Mungkin karena rasa
    penasaran yang menggelitik, maka Hamsad pun datang ke
    kamar Denny itu. Dan, ia membuktikan sendiri bahwa di
    kamar itu Denny sendirian, tanpa teman wanita yang
    diharapkan.
    “Aku sudah menghubungi resepsionis, dan menurutnya
    Kismi sedang dijemput,” kata Hamsad. “Bersabarlah.”

    22
    “Yang harus bersabar aku atau kamu? Kulihat kau yang
    kelihatan nggak sabar lagi, Ham,” kata Denny seraya tertawa
    pelan.
    Hamsad kembali ke kamarnya: kamar Melati. Rupanya ada
    satu keisengan yang ia lakukan di kamarnya itu. Tak jauh dari
    kamarnya, terdapat kamar motel lain. Kamar Mawar. Di kamar
    itu, agaknya penghuninya tidak menyadari kalau lampu terang
    di dalamnya menampakkan sebentuk bayangan dari luar
    kamar yang gelap. Dari jendela dapur, Hamsad
    memperhatikan ruang tidur yang terang di kamar Mawar itu.
    Karena di sana tampak gerakan-gerakan dua orang yang
    bercumbu dalam bentuk bayangan. Dari kamar Denny,
    bayangan itu tak akan terlihat. Tapi, dari kamar Hamsad
    bayangan dua makhluk bercumbu di atas ranjang itu terlihat
    jelas.
    Denny sendiri asyik menikmati acara TV Malaysia yang
    menyajikan film kesukaannya. Ia tidak begitu menghiraukan
    apakah wanita pesanan itu akan hadir atau tidak. Ia juga tidak
    bertanya-tanya dalam hati: mengapa sampai larut malam
    perempuan itu belum muncul? Yang ada dalam pikiran Denny
    saat itu adalah rangkaian cerita film detektif yang menjadi
    kegemarannya.
    Pukul 12 malam lewat dua menit, tiba-tiba TV menjadi
    buram. Seolah-olah salurannya terputus. Layar TV
    menampakkan bintik-bintik seperti semut sedang kenduri.
    Saat itu, barulah Denny menyadari tujuan semula. Ia
    melirik arlojinya dan mendesah. TV dimatikan, ia berbaring
    sambil mulai menerawang pada masa-masa kematian Nomian.
    Bayangan tubuh Norman yang bermandikan darah
    terpampang kembali dalam benaknya. Bergidik badan Denny
    mengingat kengerian itu. Meletup emosinya, ingin mengetahui
    penyebab kematian Norman.
    Debur ombak terdengar samar-samar di sela siulan angin
    pantai. Kali ini, hembusan angin itu terasa cukup aneh. Denny
    sesekali berkerut dahi, karena suara angin yang berhembus itu
    menyerupai lolong serigala menelan malam. Hati Denny

    23
    menjadi gelisah, ada debaran-debaran aneh yang ia rasakan
    ganjil. Tanpa ada sesuatu ia bisa mengalami debaran, dan ini
    adalah hal yang aneh baginya. “Ada apa?” batinnya pun
    bertanya demikian.
    Gagang telepon diangkat. Denny bermaksud menghubungi
    Hamsad, karena makin lama ia merasa semakin merinding dan
    berperasaan resah. Namun, baru saja ia hendak menekan
    nomor telepon kamar Melati, tahu-tahu terdengar suara
    ketukan pintu yang lembut.
    Denny berhenti spontan dari segala geraknya, ia ingin
    menyimak suara ketukan pintu itu. Ternyata, untuk kedua
    kalinya pintu itu terdengar lagi diketuk. Lembut. Sopan. Pasti
    bukan Hamsad, pikir Denny.
    Ia bergegas turun dari ranjang berkasur empuk dan
    berseprei halus lembut. Ia merapikan rambutnya sesaat,
    kemudian segera membukakan pintu.
    “Selamat malam,” sapa seorang perempuan yang memiliki
    sepasang mata indah dan bibir yang sensual.
    “Malam…,” jawab Denny sambil merasakan debar-debar di
    dadanya. Ia sedikit gugup, karena baru kali ini ia melihat
    perempuan cantik yang memiliki nilai kecantikan luar biasa.
    Sungguh mengagumkan dan menggairahkan.
    “Anda yang bernama Kismi?”
    “Benar. Anda yang membutuhkan saya, bukan?” kata Kismi
    dengan suara serak-serak manja. Lalu, ia melontarkan tawa
    yang pelan namun memanjang.
    “Kupikir kau tak akan datang. Kupikir malam ini kau ada
    kencan dengan boss lain,” kata Denny memancing diplomasi.
    “Tidak semua orang bisa kencan denganku. O, ya… siapa
    namamu?”
    “Denny.”
    Kismi tertawa lagi. Pelan dan pendek. Denny berkerut dahi
    sedikit dan bertanya, “Kenapa tertawa?”
    “Namamu seperti nama bekas cowokku yang dulu. Tapi,
    wajahnya jauh lebih tampan wajahmu dan aku yakin hatinya

    24
    lebih lembut darimu,” kata Kismi seraya meletakkan tas kecil
    yang tadi tergantung di pundaknya.
    “Kau mau minum apa? Bir?” tanya Denny seraya membuka
    kulkas yang telah penuh dengan-minuman dan buah-buahan.
    “Aku biasa air putih, yang lainnya tidak,” kata Kismi.
    Kemudian, Denny mengambilkan air putih untuk Kismi.
    Malam melantarkan keheningan yang romantis. Tetapi, bagi
    Denny, malam itu bagai malam yang penuh teka-teki indah.
    Malam itu terasa menghadirkan sesuatu yang meresahkan dan
    membuatnya merinding, tetapi penuh dengan buaian mesra
    dari sang sepi. Tak henti-hentinya Denny menatap Kismi yang
    memang mempunyai nilai kecantikan dan lekuk tubuh
    sintalnya yang eksklusif. Ia mirip seorang ratu. Hadir dengan
    mengenakan gaun longdres putih berenda-renda pada bagian
    perut dan lehernya. Bau parfumnya sangat halus dan lembut.
    Enak dihirup beberapa saat lamanya. Rambutnya yang
    disanggul, sehingga tampak lehernya yang jenjang itu berkulit
    kuning langsat, bagai menantang untuk dikecup. Bibirnya yang
    sensual itu pun sesekali membuat hati Denny deg-degan
    karena menahan gejolak nalurinya yang masih ingin
    dikendalikan.
    Longdres putih itu terbuat dari bahan semacam sutra tipis,
    sehingga begitu membayang jelas lekuk tubuhnya yang sexy
    di balik gaun itu. Berulangkah Denny menelan air liurnya
    sendiri. Ia lebih suka bungkam sambil menikmati kecantikan
    yang luar biasa itu ketimbang harus bicara panjang lebar.
    “Mengapa diam saja?” tegur Kismi yang sudah duduk di
    pembaringan, sementara Denny duduk di meubel dekat
    ranjang, menatap Kismi tak berkedip. “Untuk apa kau kemari
    kalau hanya memandangiku? Kau rugi waktu lho.”
    “Jadi…. Jadi apa yang harus kuperbuat, menurutmu?”
    Denny masih sedikit kikuk dan menggeragap karena ia bagai
    dibuai oleh keindahan yang tiada duanya.
    “Apa perlumu kemari?” tanya Kismi. Denny jadi bingung
    menjawabnya. Sepertinya ada suatu kekuatan magis yang
    membuat Denny lupa segala-galanya dan hanya memikirkan

    25
    keagungan seraut wajah cantik yang siap menyerahkan diri
    padanya.
    “Kau baru pertamakan kemari, bukan?” Kismi mendekat
    sambil menyentil hidung Denny. Pemuda berwajah halus dan
    bersih itu hanya mengangguk. Kismi menyambung lagi,
    “Kau bisa penasaran dan ketagihan lho kalau bermalam di
    sini bersamaku.”
    “Apakah banyak yang… yang seperti itu? ‘Hem…
    maksudku, apakah banyak yang ketagihan padamu?”
    Kismi mengangguk, lalu berkata, “Tapi tidak semua
    kulayani. Aku pilih-pilih jika harus mengulang kemesraan
    dengan mereka. Memang ada yang kulayani lagi, tetapi hanya
    satu-dua.”
    “Termasuk aku?”
    “Mana aku tahu. Kita belum saling menukar kenikmatan,
    bukan?”
    “Kau ingin tahu kehebatanku?” tantang Denny sok berani,
    walau sesekali ini mengusap lengannya karena merinding.
    “Apa kau lelaki yang hebat?” Kismi tak kalah
    menantangnya.
    “Kau ingin buktikan?”
    “Tentu. Hanya pada lelaki yang hebat bercinta aku akan
    tunduk kepadanya. Kalau kau berhasil menundukkan aku,
    maka kau akan hidup berlimpah kemegahan dan
    kebahagiaan.”
    “Kenapa kau berkata begitu? Apakah kau sedang memburu
    pasangan yang sesuai dengan idamanmu?”
    “Tidak terlalu memburu, tapi kalau memang ada yang bisa
    berkenan di hatiku, barangkali dialah yang kupilih untuk
    selamanya…,” kata Kismi sambil merayapkan jari telunjuknya
    ke dagu Denny, kemudian merayap ke bibir Denny, dan Denny
    menyambutnya dengan ujung lidahnya.
    “Oh…,” Kismi mendesah dengan mata mulai membeliak
    sayu. Denny tergugah, dan semakin terbakar naluri
    kejantanannya. Ia mulai memberanikan diri meraba pipi Kismi

    26
    sementara bibir dan lidahnya sibuk menghisap-hisap jarijemari
    Kismi yang sengaja bermain di mulut Denny-
    Tangan Kismi yang kiri berusaha melepas tali gaun yang
    terikat di pundak kanan-kirinya. Simpul tali itu hanya
    ditariknya satu kali, lalu gaun terlepas sebelah. Yang satu
    ditariknya kembali simpul talinya, dan kini gaun lembut itu
    terlepas dari tubuh Kismi. Ia ternyata tidak mengenakan bra di
    balik gaun. Hanya sebentang kepolosan yang halus mulus
    yang ada di balik gaun. Dan kepolosan itu sangat
    menghentak-hentakkan jantung Denny karena kepadatan
    dadanya yang menonjol dalam keindahan yang ideal. Padat,
    besar dan menantang.
    Denny merayapkan tangannya ke leher, terus ke bawah.
    Kepala Kismi terdongak ke atas sambil mendesiskan erangan
    serak-serak manja. Matanya membeliak sayu. Ia masih
    berlutut di hadapan Denny yang duduk di kursi empuk itu.
    Tangan kiri Kismi segera melepas sanggulnya dengan gerakan
    tangan gemulai, maka tergerailah rambut hitam yang punya
    kelembutan bagai benang-benang sutra. Rambut itu ternyata
    sepanjang punggung dan berbentuk lurus tanpa I gelombang.
    Gerakan kepalanya yang mendongak makin ke belakang
    seakan memberi kesempatan Denny untuk mengecup
    lehernya. Denny tak sabar, kemudian ia melepaskan tangan
    kanan Kismi yang masih bermain di mulutnya. Kini bibir dan
    mulut Denny mulai merapat ke leher Kismi, membuat suatu
    kecupan kecil yang membuat Kismi semakin mengerang
    panjang.
    “Ouuuh…! Dennyyy…!”
    Ucapan kata dalam bentuk desah serak memanja itu begitu
    mempengaruhi jiwa Denny. Ia makin dibuai oleh suara yang
    memancing api birahi itu. Denny pun akhirnya memburu tanpa
    bisa menahan diri. Tak ada niat untuk menunda sedikit pun.
    Tak ada hasrat untuk berucap kata apa pun. Denny telah
    mabuk dan lupa segala-galanya.
    Sementara itu, tangan Kismi pun tak mau tinggal diam. Ia
    pandai menyusupkan jemarinya ke lekuk-lekuk tubuh yang

    27
    peka dari seorang lelaki. Ia memang jago. Hebat. Ia memang
    berpengalaman, jauh di atas segala pengalaman Denny.
    “Ooouh… kau terbakar, Sayang…,” bisik Kismi sambil
    menggeliat, bergerak maju bagai menerkam Denny. Pada
    waktu itu, tangan Kismi sudah berhasil melepas kancing baju
    Denny. Bahkan bagian atas tubuh Denny itu sudah tidak
    dibalut selembar benang pun. Denny tidak menyadari keadaan
    dirinya yang sudah demikian. Bahkan ia tidak tahu kalau
    celananya telah terlempar di lantai tak jauh dari kursi empuk
    itu.

    Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam

    Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam

    Satu hal yang disadari Denny adalah keadaan Kismi yang
    polos itu. Keadaan yang terbuka tanpa penghalang seujung
    rambut pun itu kini berada di sandaran kursi. Entah
    bagaimana caranya, Denny tak sadar, tahu-tahu Kismi duduk
    pada bagian atas dari sandaran punggung kursi. Ia duduk
    bagai seorang ratu yang siap memerintah dari singgasananya.
    Kismi mengerang tiada putus-putusnya sambil meremasremas
    kepala Denny yang ada di bawah tempat duduknya. Ia
    biarkan kedua pahanya tersentuh lengan dan ujung pundak
    Denny, karena pada saat itu ia merasakan satu sentuhan
    mesra yang nikmat dan sesekali membuat ia makin kuat
    meremas rambut-rambut di kepala Denny.
    Pekikan-pekikannya menandakan ia telah dikuasai oleh
    gairah birahi yang sesekali mengejutkan dirinya. Dan, tiap
    kejutan, ia memekik keras sambil mengejangkan otot. Denny
    bagai dipaksa tetap mencumbu di sela kepekaannya yang
    utama, dan agaknya itu sangat memabukkan dirinya. Pekikan
    dan erangannya kini makin berubah seperti tangis. Bukan
    tangis kesakitan, melainkan tangis kebahagiaan yang sering
    membuatnya gemas dan geregetan.
    Tak sabar Denny menghadapi kegemasan Kismi, karena ia
    sendiri ingin memperoleh masa-masa kegemasan yang
    melambung jiwanya. Maka, segera Denny mengangkat tubuh
    mulus berkeringat harum itu sambil mulutnya tetap merapat di
    bibir Kismi. Tubuh mulus yang mendebarkan hati itu
    diletakkan di atas ranjang, sehingga terlihat perempuan itu

    28
    lebih leluasa bergerak menggeliat, dan Denny sendiri lebih
    bebas menikmatinya.
    Deburan ombak di pantai terdengar bergemuruh bercampur
    deru angin. Gemuruhnya ombak itu, masih belum sebanding
    dengan gemuruhnya darah Denny yang dibuai kehangatan
    cinta Kismi. Perempuan itu lebih galak dari singa, dan lebih
    buas dari beruang. Tak segan-segan ia menjadi juru mudi
    dalam ‘pelayaran’ itu. Tak ada lelahnya ia menghantar Denny
    ke puncak kebahagiaan yang diharapkan setiap lelaki. Bahkan,
    Denny sempat memekik keras dalam suara tertahan ketika
    Kismi sengaja memancing Denny untuk berlayar lagi. dan
    berlayar terus. Puncak-puncak kebahagiaan Denny telah
    dicapai beberapa kali, tetapi Kismi masih ingin memacu diri
    untuk makin menggila, meremat-re-mat tubuh Denny, mencari
    puncaknya sendiri.
    “Aku lelah, Kismi… oh… berhentilah…!” Denny terengahengah
    dengan bermandikan keringat. Tetapi, Kismi tak mau
    berhenti. Masih saja ia mengerang, mengeluh, mendesah dan
    mendesis di sela setiap gerakannya yang luar biasa hebatnya.
    “Kismi… oh… kita istirahat dulu. Sayang! Aku capek…!”
    Kismi bahkan mengerang berkepanjangan sambil terus
    bergerak seirama dengan kemauan hatinya. Denny hanya
    terengah-engah dan sudah mengalami kesulitan menuju
    ketinggian puncak asmaranya. Akhirnya ia biarkan Kismi
    berlaga seorang diri. Ia biarkan Kismi berbuat apa maunya,
    dan Kismi pun merasa diberi kesempatan. Ia jadi lebih
    menggebu lagi.
    Denny mulai merasa pusing. Matanya berkunang-kunang.
    Napasnya sesak, dan perutnya terasa mual. Namun demikian,
    Kismi masih tetap mendayung sampannya menuju samudera
    kebahagiaan, sehingga mau tak mau Denny pun memekik lagi
    karena tiba di puncak khayalan mesranya. Dalam hati, Denny
    hanya bertanya-tanya dengan lemas, kapan ‘pelayaran’ itu
    akan usai? Haruskah ia menolak dengan kasar, atau
    membiarkan ia jatuh pingsan ditimpa sejuta kenikmatan?
    ***

    29
    Bab 4
    Hamsad menggeragap ketika menyadari dirinya tertidur di
    kursi dapur. Ternyata saat itu matahari telah memancarkan
    sinar paginya yang menghangat di ruang dapur.
    “Astaga…?! Sudah pagi?!” Hamsad segera bergegas ke
    meja di kamar tidur, ia mengambil arlojinya di sana.
    “Busyet! Pukul 7 kurang 10 menit? Apa-apa-an ini?
    Bagaimana dengan Denny?!’
    Tanpa cuci muka. tanpa menyisir rambutnya, Hamsad
    langsung keluar dari kamarnya, menyeberang jalan kecil, dan
    segera mengetuk pintu kamar Denny,
    Beberapa kali pintu kamar itu diketuknya, tapi tidak ada
    jawaban. “Ada apa Denny? Kenapa tidak segera membukakan
    pintu? Apakah ia tertidur seperti aku? Ah.seharusnya tadi
    kutelepon saja dari kamar. Pasti ia terbangun, karena meja
    telepon dekat sekali dengan ranjang.”
    Baru saja Hamsad ingin kembali ke kamarnya untuk
    menelepon Denny. Tiba-tiba pintu kamar itu terdengar dibuka
    seseorang dari dalam. Denny muncul dengan mata menyipit
    dan ta-ngan melintang ke atas, ia menahan sorot matahari
    yang mengenai matanya.
    “Brengsek lu” gerutu Denny sambil bersugut-sungut. Ia
    masuk, membiarkan Hamsad terbengong. Kemudian Hamsad
    juga turut masuk dan mengikuti Denny. Denny
    menelentangkan tubuhnya di ranjang empuk dengan satu
    hempasan yang lemas.
    “Ya, Tuhan…! Mengapa kamu menjadi seperti mayat
    begini. Denny?” Hamsad memandang Denny tak berkedip,
    sedikit tegang. Denny meraih guling dan mendesah.
    “Kamar ini menjadi bau sperma! Brengsek’ Apa yang telah
    kau lakukan semalam. Denny? hei, ? apakah Kismi datang
    kemari?!”
    “Hem…” Denny hanya menggumam, membenarkan dugaan
    Hamsad

    30
    “Oh, dia benar-benar datang? Dan .. dan… kau bercinta
    dengannya?”
    ‘Semalam suntuk!” kata Denny seenaknya dengan mata
    menyipit sayu bagai masih mengantuk.
    “Kenapa kau tak menghubungi aku?!” protes Hamsad
    merasa dongkol.
    ”Tak sempat!”
    “Ah, kau konyol! Aku nggak suka dengan kekonyolan model
    begitu. Den! Kita kemari bukan mencari kenikmatan sepihak!
    Kita kemari untuk…!”
    ’Tidak sempat!” bentak Denny yang merasa dongkol juga
    Hamsad tidak melanjutkan omelannya, takut terjadi
    perselisihan tak sehat, la diam. Memandang keadilan
    sekeliling. Ia menggeleng-gelengkan kepala, merasa heran
    melihat ranjang berserakan, sprei dan selimut tebal seperti
    habis dipakai bertanding adu banteng. Kaos Denny masih
    tergeletak di lantai, dekat kursi empuk itu bersama celananya.
    Hanya celana dalam Denny yang kala itu dikenakan
    Sementara kasur yang acak-acakan itu terlihat banyak noda
    kelembapan yang mengeluarkan bau jorok. Hamsad terpaksa
    menyingkir, tak tahan menghadapi suasana seperti itu.
    Sebelum ia kembali ke kamarnya, ia mengingatkan Denny,
    ‘Kita check out pukul 12 siang ini lho! Jangan lebih’
    Denny hanya menggumam sambil tetap memejamkan
    mata, dan Hamsad pun segera meninggalkan kamar lembap
    ini. Dalam hatinya ia menggerutu dan menyesal setengah
    mati, karena ia tidak berhasil bertemu dengan perempuan
    yang bernama Kismi. Untuk menghalau kedongkolannya itu.
    Hamsad menetralisir diri dengan berkata dalam hati, “Ah. tapi
    Denny kan sudah bertemu dengan Kismi ini. Pasti Denny
    sudah bisa mengorek beberapa rahasia dari Kismi tentang
    Almarhum Norman Tak apalah! Yang penting Denny bisa
    menyimpulkan semua keterangan dari Kismi tentang Norman,”
    Pukul 10. menjelang pagi berakhir, Denny masih tertidur.
    Hamsad menyempatkan diri berjalan ke pantai. Sambil

    31
    melangkah menikmati pemandangan indah dan cuaca cerah.
    Hamsad bertanya-tanya dalam hati.
    “Tapi, mengapa wajah Denny begitu pucat. Persis dengan
    wajah sesosok mayat, la kelihatan lemas dan layu sekali.
    Apakah benar ia telah bercinta dengan Kismi semalaman
    suntuk? Separah itukah ia?”
    Pasir pantai yang putih dan lembut disusurinya. Banyak
    sepasang sejoli yang melangkah sambil bergandengan tangan
    banyak pasangan yang beda usia sangat menyolok. dan sudah
    tentu mereka bukan suami-istri Oom-oom sedang monikmati
    masa santainya bersama daun muda. Ataupun ‘daun muda’
    yang berhasil menggaet oom-oom untuk diperas dompetnya?
    Terkadang Hamsad merasa iri melihat mereka. Yang tua. bisa
    mendapatkan pasangan muda belia dan cantik. Yang beruban
    dan berwajah peot saja bisa memeluk gadis cantik
    menggiurkan, mengapa ia tidak bisa seperti mereka?
    Mungkinkah karena faktor ekonomi yang tidak sepadan
    dengan opa-opa pecandu daun muda itu?
    Dalam masa-masa merenungi kenyataan itu.
    Hamsad teringat kata-kata Almarhum Norman saat ia
    menceritakan tentang kehebatan Kismi.
    “Ia tidak pantas dipajang sebagai wanita penghibur. Kismi
    sungguh anggun. Mirip seorang ratu di zaman Romawi Kuno.
    Hidungnya mancung dan matanya bening, mempunyai
    ketajaman yang berwibawa, tapi enak dipandang. Kalau kau
    berjalan dengan Kismi menyusuri pantai, maka orang-orang
    yang saling mendekap pasangannya itu akan melepaskan
    pelukan mereka, dan mata oom-oom yang ada di sana pasti
    terarah kepada Kismi tanpa berkedip. Kismi mempunyai daya
    magnitisme yang membuat lelaki bisa lupa daratan maupun
    lautan…!”
    Hamsad tertawa sendiri teringat kata-kata Norman.
    Barangkali di pantai inilah yang dimaksud Norman. Di pantai
    itulah seharusnyu Hamsad menggandeng Kismi. agar semua
    mata lelaki akan membelalak ke arah Kismi, dan semua
    pelukan lelaki akan terlepas dari pasangannya. Jika benar

    32
    begitu, oh… alangkah istimewanya wanita yang bernama
    Kismi itu? Pantas rupanya jika petugas motel merahasiakan
    tentang Kismi, dan tidak sembaningau memberikan Kismi
    kepada tamunya. Rupanya Kismi adalah maskot bagi motel
    itu. Kismi adalah sang Primadona yang tidak sembarang lelaki
    boleh menyentuhnya. Mengenai harga keringatnya, sudah
    tentu jauh di atas harga wanita-wanita penghibur yang lain.
    Hamsad digelitik oleh rasa penasaran tentang Kismi. Ia
    bergegas kembali ke kamarnya dan membangunkan Denny
    lewat telepon, karena jam sudah menunjuk pukul 11 siang.
    Tetapi, sebelumnya ia sempat berpapasan dengan seorang
    lelaki separuh baya yang berkumis dan berbadan gemuk, tapi
    bukan gendut.
    “Pak Hasan!” sapa Hamsad. Lelaki itu berpaling ke arah
    Hamsad, lalu tersenyum kaget. Pak Hasan segera melepaskan
    tangannya yang sejak tadi menggandeng wanita bertubuh
    langsing yang berusia sebaya dengan Hamsad.
    “Hei. kau di sini juga. Ham?!” Pak Hasan segera berjabat
    tangan dengan Hamsad.
    “Biasa, Pak. Refresing…!” Hamsad tertawa seirama dengan
    tawa Pak Hasan.
    “Bersama siapa kau di sini. Ham? Maksudku, bukan teman
    cewek, tapi teman lelakimu, Hem… o. ya kau tentu bersama
    Norman, bukan?”
    Hamsad sedikit kikuk untuk menjawab, namun akhirnya ia
    berkata. “Apakah Pak Hasan belum mendengar kabar tentang
    Norman?”
    Lelaki separuh baya yang masih digelayuti perempuan
    muda itu berkerut dahi. mulai curiga.
    ”Ada apa dengan Norman? Aku baru saja kemarin sore
    pulang dari Bandung.”
    “Astaga,..! Kalau begitu, mungkin Pak Hasan belum
    mendengar kabar terakhir tentang Norman”
    “Maksudmu?”
    “Norman… hm… dia telah meninggal. Pak.”

    33
    “Hah…?!” Pak Hasan nyaris terpekik keras. matanya
    mendelik. Mulutnya ternganga kaku sejenak.
    “Dia… dia melakukan kebodohan. Pak.” tambah Hamsad
    dengan nada sendu.
    “Kebodohan?” ‘
    Ya. Dia… bunuh diri!’
    “Astaga…?” makin mendelik lagi Pak Hasan mendengar
    kata-kata itu. Wajahnya tampak tegang dan menjadi pias.
    “Apa masalahnya? Ada apa sih?! Mengapa dia sampai
    melakukan hal itu?r
    Secara singkat Hamsad menceritakan saat-saat Norman
    menikam dirinya dengan gunting dan tepat mengenai
    jantungnya. Keceriaan Pak Hasan kala itu benar-benar
    terganggu dan boleh dikatakan hilang seluruhnya, la menjadi
    murung, duduk di bangku plesteran dari batu berlapis traso. Ia
    kelihatan sedih .sekali.
    “Norman….” gumamnya. “Ah. gila! Padahal dia satusatunya
    penulis andalanku yang baru saja kemarin malam
    kuusulkan oleh perusahaan yang baru untuk mengontrak
    Norman dalam penerbitan tahun ini. Tapi… ah. gila! N’orman
    itu gila apa waras sih? Mengapa ia sampai berani berbuat
    nekat begitu?”
    “Teman-teman satu pondokan tak ada yang mengetahui
    alasan Normali secara pasti, Pak.” kata Hamsad. “Tapi, ada
    tiga orang yang melihat persis saat Norman melakukan
    tindakan nekatnya itu. Dua temannya terluka ketika hendak
    menghalangi tindakan picik itu.”
    Wanita cantik yang duduk di samping Pak Hasan itu ikut
    menampakkan wajah sendu, seakan turut berdukacita atas
    kematian Norman, walau sebenarnya ia sendiri tidak tahu.
    siapa Norman. Dan, setelah menghela napas beberapa kali
    dalam kebungkamannya. Pak Hasan berkata kepada Hamsad.
    “Ham, aku tahu kau teman dekat Nornian. Aku ingin bicara
    denganmu, tapi tidak di sini! Datanglah ke rumahku, atau…
    jangan. Jangan ke rumah, nanti terganggu urusan lain. Hem…
    besok sore, teleponlah aku. Atau kapan saja setempatmu.

    34
    Telepon aku, dan kita tentukan di mana kita harus bertemu
    untuk membicarakan tentang Norman.”
    “Baik. Saya setuju. Pak.”
    “Ah. sial! Mengapa aku harus kehilangan dia?!” gumam Pak
    Hasan yang tampak menyesal sekali atas kematian Norman
    itu.
    Tak enak jika terlalu lama mengganggu Pak Hasan.
    Hamsad pun segera memisahkan diri. Pukul 11 lebih 20 menit,
    ia segera ke kamar Denny. takut Denny berlarut-larut dalam
    tidurnya.
    “Hei, minggat ke mana kau?!” sapa Denny yang rupanya
    justru sedang menengok keadaan di kamar Hamsad.
    “Aku baru saja memesan makanan,” kata Hamsad sambil
    duduk di kursi teras yang terbuat dari rotan.
    Hamsad tidak bicara untuk beberapa saat, karena ia masih
    terheran-heran melihat kepucatan wajah Denny.
    “Kenapa memandangku begitu? Apa aku mirip setan?!”
    “Persis sekali.” jawab Hamsad. “Kau bukan mirip, tapi
    persis setan! Pucat pasi. seperti kertas HVS ukuran kuarto!’
    Hamsad geleng-geleng kepala. Denny hanya nyengir berkesan
    tersipu.
    “Kita tidak buru-buru pulang, kan?” tanya Denny
    mengalihkan perhatian.
    “Tinggal satu setengah jam lagi kita punya ketempatan di
    sini.”
    “Ah, pulang besok saja,’ kala Denny. dan ia bergegas
    masuk ke kamar Hamsad. Begitu keluar sudah membawa dua
    kaleng Green Sands.
    ‘Kau mau pulang besok?” Hamsad sangsi.
    Denny hanya tersenyum-senyum. “Aku ada janji dengan
    Kismi untuk bertemu nanti malam.”
    “Ah, kau gila!” ketus Hamsad sambil membuka kaleng
    Green Sands.
    “Untung bukan kau yang bertemu dengan Kismi. Kalau kau
    bertemu dengan Kismi. maka kau yang akan menjadi gila!”

    35
    Denny tertawa. Wajahnya yang tampak sayu seperti
    dipaksakan untuk ceria.
    “Almarhum Norman pernah bilang begitu padaku.” kata
    Hamsad. “Katanya, aku akan tergila-gila jika bertemu dengan
    Kismi, apalagi sampai bergumul dengan wanita itu, pasti kesan
    itu menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan seumur
    hidupku.”
    “Benar! Kata-kata Norman itu memang benar! Kismi wanita
    istimewa yang mempunyai kehebatan luar biasa. Daya
    tariknya mampu melumpuhkan lututmu, Ham! Wah, aku
    hampir pingsan menikmati kebahagiaan dengannya. Dia
    pandai. Pandai dalam segala hal! Dia akan membuatmu lemas
    lunglai dan tak bisa bergerak lagi oleh cumbuan dan gairah
    birahinya yang berkobar-kobar Gairahnya itu seakan lak bisa
    dipadamkan dalam waktu sekejap. Perlu proses yang cukup
    panjang untuk menurunkan temperatur nafsunya. Sungguh
    melebihi kuda betina yang kokoh dan tangguh.”
    Terbayang dalam khayalan Hamsad. seperti apa
    sebenarnya keadaan Kismi itu. Ia meraba dalam bayangan
    dan akhirnya menciptakan debar-debar penasaran yang
    mengganggu ketenangannya. Denny terus bercerita tentang
    kehebatan Kismi. tentang kecantikan Kismi, dan tentang kesan
    indah yang ia peroleh dari Kismi. Lalu, meluncurlah
    pertanyaan dari mulut Hamsad yang bersifat usil.
    “Berapa banyak ia memeras uangmu untuk semalam
    suntuk Itu?”
    “Tidak sepeser pun!”
    “Ah…!” Hamsad mendesah, pertanda tak percaya.
    “Sungguh, Ham! Dia tidak minta sepeser pun uang duriku!”
    “Betul? Atau. barangkali menyuruhmu membayar di kasir»”
    “Kamu pikir dia dagangan di supermarket?” Denny tertawa
    lepas.
    Hamsad termenung heran.
    “Kok aneh?! Dia tidak minta bayaran? Lalu…? lalu untuk
    apa dia datang?!”

    36
    “Yah… mungkin dia seorang perempuan yang butuh
    hiburan juga,’ kata Denny. “Yang jelas, ketika pukul 4 pagi
    lewat sedikit, ia segera berbenah diri. kemudian mencium
    keningku dan berbisik agar aku kembali lagi pada malam
    berikutnya. Ia akan datang dan tak perlu memikirkan tarif apa
    pun. Dia tersinggung kalau aku bertanya tentang tarif
    cintanya. Dia merasa tidak menjual cinta kepada siapa pun. Ia
    hanya akan datang jika aku pun datang di tempat yang
    sama.”
    Terlintas kejanggalan yang menggelisahkan hati Hamsad
    saat itu. Rasa penasarannya semakin menggebu, dan hasrat
    untuk membuktikan Semua kata-kata Denny itu ditekan kuat.
    disambunyikan rapat-rapat.
    “Jadi kau ingin bermalam lagi?” tanya Hamsad dalam
    kebimbangan.
    “Ya. Kau… kau bisa datang ke kamarku. Kali ini. akan
    kusempatkan untuk meneleponmu jika dia datang. Tapi.
    ingat… aku tidak mau kau mengganggu kemesraan kami’
    Awas lu kalau konyol!”
    ‘Tidak. Aku tidak akan bermalam lagi di sini.”
    “Alaaah… begitu saja sewot!” ledek Denny.
    “Bukan sewot. Kau ingat, nanti malam adalah hari
    perkawinan dosen Biologi kita. Bu Anis.”
    “Astaga! Benar! Aku hampir lupa!”
    ‘Aku harus datang dalam pesta perkawinan itu. Semua
    teman kurasa juga datang, karena Bu Anis adalah satusatunya
    dosen yang paling akrab di hati para mahasiswanya.”
    Denny mauggul-manggut. lalu kelihatan bingung, la
    berkata, “Ya.ya…, Bu Anis nanti malam melangsungkan
    pernikahan. Dan, wah… repot kalau begini, Ham. Kalau aku
    tidak datang, itu sangat keterlaluan. Sebab, Bu Anis itu anak
    dari kakaknya ibuku- Kepada Bu Anis dulu ibuku menitipkan
    aku agar kuliah di kota ini. Dan. kurasa keluargaku pasti
    datang semua. Malulah aku kalau tidak nongol dalam
    perkawinan Bu Anis.”
    ‘Jadi, bagaimana dengan janjimu dengan Kismi?”

    37
    Denny diam sampai beberapa saat lamanya, la dalam
    kebimbangan yang benar-benar menjengkelkan. Setelah
    beberapa saat kemudian akhirnya ia memutuskan agar segera
    pulang saja. Urusan Kismi akan ditunda sampai malam
    berikutnya. Denny menitipkan pesan tulisan kepada bagian
    resepsionis. Pesan itu untuk Kismi yang berisi penundaan
    waktu berkencannya. Maka. siang itu juga mereka check-out
    dari motel tersebut. Denny langsung ke rumah Bu Anis untuk
    membantu persiapan malam perkawinan nanti, sedangkan
    Hamsad kembali ke rumahnya dengan sejumlah pertanyaan
    batin yang menggelisahkan hatinya.
    “Ada sesuatu yang ganjil dari cerita Norman dengan cerita
    Denny. Tapi, di mana letak keganjilan itu. aku belum
    menemukan.” pikir Hamsad ketika sore itu bergegas ke
    pondokan Denny dalam keadaan siap berangkat ke pesta
    perkawinan Bu Anis.
    Di pondokan. Hamsad yakin, banyak mahasiswa yang akan
    datang ke perkawinan Bu Anis, karena di situ banyak teman
    satu kampus dengannya, di antaranya Bahtiar, Ade. dan
    Yoppi. Mulanya Hamsad ingin menghampiri Sonita, cewek
    kampus yang pernah pergi ke pesta ulang tahun salah seorang
    teman bersama Hamsad. Tetapi, Hamsad ragu. sebab Sonita
    belakangan ini kelihatan mengakrabkan diri dengan Bob, dan
    kehadiran Hamsad bisa jadi menimbulkan perkara di antara
    mereka. Karena itu Hamsad lebih setuju untuk pergi bersamasama
    anak-anak pondokan saja. Mungkin lebih seru ketimbang
    harus membawa cewek yang penuh resiko itu.
    “Denny baru saja pergi lagi, Ham.’ kata Ade.
    “Ke mana dia?!”
    “Menjemput Kismi.”
    “Hah…?!” Hamsad terbalalak kaget memandang Yoppi yang
    menjawab pertanyaan tadi. “Dengan siapa ia menjemput
    Kismi?”
    “Tigor. Dia paling bernafsu mendengar cerita Denny
    tentang Kismi. Luar biasa menurutku juga”

    38
    Ada rona ketegangan yang tahu-tahu muncul di wajah
    Hamsad. la memandang Yoppi. Ade dan Bahtiar. Satu persatu
    wajah itu dipandanginya. Kemudian, ia bertanya dengan suara
    pelan, sepertinya tidak ditujukan pada mereka.
    “Jadi… kalian sudah tahu cerita tentang Kismi?”
    Ade tertawa sinis dalam gaya kelakar, *Kau pikir cuma kau
    saja yang boleh mendengar cerita menggairahkan itu? Kami
    juga berhak mendengarnya dong!”
    Bahtiar menimpali, “Kami juga berhak inengkhayalkannya
    dong. Betul, nggak?!” Dan, Ade serta Yoppi menjawab
    serempak. “Betuuul…!”
    Setelah diam sesaat. Hamsad berkala, “Tiba-tiba aku
    mencemaskan Denny?” Hamsad tampak resah.
    “Cemas? Kenapa harus cemas?”
    ‘Entahlah. Perasaan cemas itu juga timbul sebelum malam
    Kematian Norman. Ah, mau ada apa, ya?” gumam Hamsad.
    ***
    Bab 5
    Dengan mengendarai mobil Jeep milik Tigor, Denny
    bernafsu sekali utiluk membawa Kismi pada pesta perkawinan
    Bu Anis. Ia ingin memamerkan Kismi.kepada keluarganya yang
    malam itu berkumpul di gedung, tempat pesta perkawinan itu
    berlangsung. Sedangkan Tigor, adalah salah satu pemuda
    korban khayalan cerita Denny. Tigor penasaran sekali dan
    ingin melihat sendiri seperti apa Kismi itu. Benarkah cerita
    Denny bukan sekadar bualan belaka?
    Pukul 7 malam kurang beberapa menit, mereka tiba di
    bagian resepsionis. Seorang pemuda berdasi kupu-kupu duduk
    di balik meja resepsionis dan menyambut kedatangan Denny
    serta Tigor dengan senyum ramah.
    “Ada yang bisa saya bantu. Bung?” kata resepsionis itu.
    seperti sebuah hafalan.
    “Saya tadi siang titip pesan dengan petugas yang badannya
    sedikit gemuk.”

    39
    “O, maksudnya…. Mas Gagan?’
    ‘Entah siapa dia punya nama, tapi dia bagian resepsionis
    tadi siang. Mungkin sekarang tugasnya telah Anda gantikan,
    ya?’
    ”Benar. Saya tugas malam. Ada pesan apa maksudnya?”
    Denny sedikit bingung menjelaskannya. Lalu, dengan hatihati
    ia ceritakan pertemuannya kemarin malam dengan Kismi.
    Tetapi, petugas itu tampak kebingungan juga.
    “Maaf, kami memang mempunyai wanita-wanita yang…
    yah, sering dipesan oleh para tamu. Tetapi, tidak ada yang
    bernama Kismi. Mmm… mungkin Anda memesannya dari
    motel lain?”
    “Tidak. Saya memesannya dari sini. Dan, perempuan itu
    datang juga ke kamar saya. Maka, saya titip pesan untuknya,
    karena seharusnya hari ini saya masih di sini menunggu dia.
    Tapi, karena ada resepsi perkawinan keluarga, jadi saya
    tinggalkan. Nah, malam ini saya ingin ajak dia untuk
    menghadiri resepsi tersebut,” tutur Denny menjelaskan.
    Sejenak kemudian petugas itu mencari sesuatu dan
    menemukan surat Denny untuk Kismi
    ‘Mungkin ini surat Anda.”
    “Ya. benar! Rupanya belum disampaikan, ya?’
    “Mungkin tak seorang pun dari kami yang mengetahui
    perempuan bernama Kismi, Bung. Dan. kalau begitu, biasanya
    kami tunggu saja di sini Apabila perempuan itu datang, baru
    kami serahkan surat ini.”
    “Dari tadi dia belum datang?” Tigor yang tak sabar mulai
    angkat bicara.
    “Belum. Dalam buku tamu ini juga tidak ada yang
    mencantumkan namanya sebagai Kismi,” jawab petugas
    resepsionis dengan ramah. Sesaat kemudian, ketika Denny
    dan Tigor berbicara bisik-bisik, petugas itu bertanya lagi,
    “Maaf. di mana Anda semalam menginap? Maksud saya. di
    kamar Kenanga atau Flamboyan?”
    “Di kamar Seruni,” jawab Denny.

    40
    Petugas resepsionis itu kelihatan terperanjat sesaat, dan
    buru-buru menyembunyikan perasaan kagetnya itu. Tigor
    sempat mengetahui hal itu, kemudian sedikit berkerut dahi
    karena merasa curiga.
    “Apakah kamar itu sampai sekarang masih kosong?”
    “Saya rasa begitu. Bung?’” resepsionis itu telah berhasil
    menguasai rasa kagetnya, sehingga memberi jawaban ramah
    kepada Denny. Tetapi. Tigor diam-diam memperhatikan wajah
    pemuda tersebut yang tampaknya mulai dihinggapi keresahan.
    “Dia janji jam berapa akan datang?” tanya Tigor kepada
    Denny.
    “Dia tidan menentukan jamnya tapi yang jelas dia pasti
    datang untuk menemuiku kembali.”
    ‘Mmm… barangkali….” petugas itu sedikit, gugup.
    “Barangkali Anda bisa menunggunya jika membooking kamar
    itu lagi. Bung.”
    “Ah, kurang efisien itu!” Denny mendesah. “Atau barangkali
    Bung mau menunggunya?” petugas itu tetap ramah.
    Denny meminta pendapat Tigor. lalu Tigor berkata, “Repot
    pulalah aku! Kau yang punya urusan, kenapa aku yang ikut
    susah. Kau sendirilah yang tunggu dia kalau kau mau!’
    “Kita bicara sebentar di lobby itu yuk…”ajak Denny.
    Kemudian, mereka berdua duduk di sofa yang ada pada lobby
    tersebut.
    Agaknya Denny merengek kepada Tigor agar Tigor mau
    menemani dia menunggu Kismi. Tigor sendiri makin tertarik
    setelah Denny menceritakan kehebatan Kismi di ranjang. Tigor
    makin terbuai oleh cerita Denny tentang kecantikan Kismi
    yang mirip seorang Ratu Mesir Kuno. Maka. Tigor pun
    akhirnya berkata.
    “Kalau kau bohong, aku tak mau berteman lagi dengan
    kaulah! Tapi kalau kau benar, kau boleh anggap aku
    abangmu.”
    “Bah! Abang macam apa kau kalau diam-diam punya minta
    juga dengan kekasih adiknya.” kata Denny menirukan gaya
    Tapanuli.

    41
    ”Eh. siapa bilang aku mau sama cewekmu?”
    ”Eh. siapa bilang begitu, Denny?! Aku cuma ingin tahu,
    seperti apa cewek yang kau agung-agungkan itu. Denny!
    Jangan punya pikiran yang macam-macamlah!” Tigor
    bersungut-sungut, berlagak sewot. Denny tertawa terkekeh
    melihat gaya Tiyor berlagak tersinggung. Buktinya, Tigor
    sendiri segera berkata,
    “Kalau masalah kau mau kasih kesempatan sama aku, itu
    lain persoalan, kan?”
    “Kesempatan apa?”
    “Yang, kesempatan merasakan khayalanmu itulah.,.!” Tigor
    sendiri akhirnya tertawa bersama Denny.
    Sampai pukul 9 malam, Kismi belum datang juga. Tigor
    mulai menggerutu dan merasa ditipu. Denny tidak bisa
    tenang. Gelisah sakali, karena seharusnya saat itu ia sudah
    berada di pesta perkawinan Bu Anis. Ia penasaran kalau tidak
    membawa Kismi ke pesta itu. Ia malu. Dan, ia yakin, bahwa
    Kismi pasti datang sesuai janjinya.
    “Bagaimana ini, Denny? Sudah pukul 10 malam kurang
    sedikit. Apa kita harus tunggu dia sampai pagi, atau
    tinggalkan saja dongengmu itu! Kita ke resepsi sekaranglah!
    Biar aku tak kena marah keluargamu!”
    Kesal sekali hati Denny. la dicekam oleh kebimbangan yang
    menyebalkan. Menunggu Kismi seperti menanti kematian yang
    memuakkan.
    Dan akhirnya Denny pun setuju dengan usul Tigor untuk
    meninggalkan motel itu. Mereka segera melejit ke arah
    gedung pertemuan yang dipakai mengadakan pesta
    perkawinan Bu Anis. Denny yang mengemudikan mobil itu.
    karena Denny yang tahu persis mencari jalan pintas menuju
    gedung pertemuan untuk mempersingkat waktu.
    Tapi. tiha-tiba mobil itu mogok di perjalanan. Berulangkali
    Denny menstarternya, tapi mesin tak mau hidup lagi. Tigor
    mengambil alih kemudi, dan ternyata sama saja.
    “Bah ! Mobil macam apa ini?! Bensin masih ada, oli masih
    ada, air masih ada, kenapa macet!. Ah. macam-macam pula

    42
    mobil ini! Ala. Maaak…! Apa yang rusak ini?!” Tigor
    menggerutu dan ngomel-ngomel sendiri, sedangkan Denny
    diliputi rasa gelisah yang membuatnya menggeram-geram dan
    mendesah-desah tak karuan.
    Tigor mendorong mobil, sementara Denny memegang
    kemudi, tapi hasilnya nol. Dua orang tukang becak dimintai
    bantuan untuk mendorong mobil , tetap saja tak menghasilkan
    apa-apa., Akhirnya tukang becak itu bahkan menyatakan diri
    tidak sanggup dan terlalu jauh meninggalkan becaknya- Tigor
    memberi mereka uang seribu, lalu tinggallah Denny bersama
    Tigor di jalanan yang sepi itu.
    Malam melengangkan udara dingin. Sepertinya mau hujan,
    karena langit mendung, tak berbintang satu pun. Jalanan itu
    adalah jalanan yang jarang dilalui kendaraan karena di
    samping banyak lubang juga karena tak ada penerangan.
    “Denyyy…!’
    Tiba-tiba Denny mendengar seseorang memanggilnya. Ia
    tersentak kaget dan matanya membelalak mencari-cari suara
    tersebut. Tigor sedang mencoba mengutak-atik mesin mobil,
    sehingga ia tidak melihat Denny kelabakan mencari sesuatu.
    Beberapa saat selelah mencoba mengutak-atik mesin, Tigor
    mencoba menstarternya, tapi masih belum bisa hidup mesin
    mobil itu.
    “Kurang ajar!” umpatnya sendiri. “Sudah jam berapa ini,
    Denny? Aku rasa kita sudah terlambat. Mereka sudah pulang
    dari pesta perkawinan Bu Anis.”
    “Bakar saja mobil ini. Gor!” seraya Denny melirik arlojinya
    yang menunjuk pukul 12 tengah malam lewat lima menit.
    “Ah. jangan begitu kau! Kalau mobil itu bagus, kau tidak
    pernah suruh aku bakar, kan? Ini kan namanya insiden kecil!”
    “Mobil rungsokan kau bawa ke mana-mana!” gerutu Denny.
    “Dennyyy…!” suara itu terdengar lugi.
    Tigor ingin mengatakan sesuatu, tapi Denny melarang
    Tigor bicara. “Ssst…! Jangan bicara,” bisik Denny. “Aku
    mendengar suara perempuan memanggilku. Sudah dua kali
    ini, Gor.”

    43
    “Ah, kau macam-macam pula!”
    “Ssst… benar! Diamlah dulu. Dengarkan suara itu, siapa
    tahu ia memanggilku lagi.”
    Tigor hanya menghela napas dan menghempaskannya
    dengan kesal. Ia kesal terhadap mobilnya sendiri, juga kesal
    terhadap tingkah Denny yang menurutnya mengada-ada.
    Tetapi, ketika ia hendak berdiam diri beberapa saat. ia merasa
    tengkuk kepalanya merinding. Bulu-bulunya meremang
    sendiri, dan ia pun bergidik sambil mendesis pelan.
    “Aku jagi merinding, Denny!”
    “Aku juga,” bisik Denny.
    “Celaka! Matilah aku kalau tempat ini ternyata angker…!”
    kata Tigor dengan sedikit tegang, suaranya tak berani keras.
    Deru angin malam pembawa hujan mulai teram
    menyibakkan rambut-rambut mereka. Tigor semakin cemas,
    takut kalau-kalau hujan turun, sementara mereka berhenti di
    jalanan sepi. Kanan-kiri adalah rawa-rawa yang ditanami
    semacam tanaman kangkung atau sejenisnya. Tak jelas
    karenn malam. Yang jelas, mereka jauh dari rumah atau
    bangunan berpenghuni.
    ‘Eh, Denny… kita dorong saja mobil ini. Cari tempat yang
    tidak seram beginilah!”
    Denny setuju. .Mereka mendorong mobil mencari tempat
    yang tidak menyeramkan. Tigor mendorong bagian samping
    sambil mengendalikan stiran mobil. Napas mereka ngosngosan,
    keringat pun mulai beranjuran. Tetapi, keringat
    mereka itu bercampur dengan keringat dingin akibat rasa
    takut yang mencekam.
    Beberapa saat setelah mereka mendorong mobil, Denny
    yang mendorong dari bagian belakang mobil, tiba-tiba
    berhenti melangkah. Ia mendengar suara perempuan
    memanggilnya.
    “Tigor. aku mendengar suara Kismi memanggilku!”
    “Ah, tak ada suara apa-apa.’ Kau jangan macammacamlah!
    Bikin orang sport jantung saja.’” gerutu Tigor

    44
    sambil tetap mendorong mobil. ‘Eh, dorong lagi mobil ini!
    Jangan diam sajalah!”
    Denny mencoba melupakan suara itu. ia mendorong mobil
    lagi. Sampai akhirnya, mereka menemukan sebuah warung di
    pangkalan ojek Ada dua tukang ojek yang ada di situ. dan hati
    Tigor serta Denny sedikit lega. Setidaknya mereka berada di
    antara beberapa orang. Syukur ada yang bisa memperbaiki
    mobil, atau memberi saran yang terbaik bagi Tigor dan Denny.
    Warung itu. terletak pada satu tikungan jalan raya yang
    mempunyai cahaya lampu mercury di salah satu sisi. Sinar
    lampu itu jatuh ke warung dalam keadaan remang-remang,
    tetapi nyala lampu petromaks di warung itu cukup membuat
    penerangan tersendiri di sekitar situ.
    Ternyata dari dua tukang ejek itu, tak ada yang bisa
    diharapkan untuk membetulkan mesin mebil Tigor. Bahkan
    mereka bersikap acuh lak acuh. tak mau memberi saran apa
    pun. Sementara itu, pemilik warung jalanan itu juga tidak tahu
    soal mesin mobil dan tidak punya pandangan yang lebih baik.
    Pemilik warung itu seorang lelaki lanjut usia dengan anak
    lelakinya yang masih belasan tahun. Tigor dan Denny akhirnya
    ngopi di warung itu sambil mencari ide untuk kembali ke
    pondokan mereka.
    ‘Apakah mobil harus dititipkan pada pemilik warung ini?
    Kita pulang naik taksi saja?” usul Tigor. Denny menjawab
    dengan ketus karena dongkol pada nasibnya.
    “Kalau mobilmu mau hilang, silakan saja kau titipkan ke
    warung ini. Esok pagi warung ini sudah tidak ada. Mereka
    jualan pada waktu malam saja.’
    Denny ingin bicara lagi. tetapi kali ini ia mendengar suara
    seseorang berseni di kejauhan memanggilnya.
    “Denny…! Denny. tolong akuuu…!”
    Arah suara itu dari tempat Denny dan Tigor tadi mendoiong
    mobilnya. Denny terperanjat karena ia yakin bahwa Kismi
    sejak tadi sebenarnya menyusul mereka. Kismi tertinggal di
    belakang mereka, dan sekarang agaknya wanita itu mendapat
    kesulitan. Maka. Denny segera melompat keluar dari warung.

    45
    “Hei, mau ke mana kau. Denny?!“ seru Tigor.
    “Kismi menyusul kita. Gor! la tertinggal di belakang kila
    sejak tadi!”
    “Ah, mana mungkin dia berani lewat jalan sepi itu
    sendirian!’ bantah Tigor.
    “Tapi. aku mendengar suaranya memanggilku, la minta
    tolong!”
    Denny segera pergi, kembali ke arah semula. Tigor sangsi
    untuk mengikutinya. Ketika ia memandung jalanan yang gelap
    itu. ia melihat sosok bayangan Denny yang melangkah cepat
    bagai mengejar suara yang memanggilnya. Tetapi. Tigor
    sendiri sejak tadi tidak mendengar suara perempuan.
    Sekalipun tidak pernah. Maka. ia jadi merinding sendiri, dan
    masuk ke warung lagi.
    “Apakah Bapak mendengar suara perempuan berseru dari
    sana. Pak?” tanya Tigor pada pemilik warung.
    “Tidak. Tidak ada suara orang memanggil kok.” jawab
    pemilik warung. “Kamu mendengar. naK?” Ia bertanya kepada
    anak lelakinya.
    “Nggak dengar apa-apa kok. Pak! Nggak ada orang
    perempuan berteriak’” jawab anak lelaki pemilik warung.
    “Nah, temanku itu jangan-jangan sudah gila dia! Nekat
    memburu suara hatinya sendiri! Sinting, dia” Tigor
    menggerutu seenaknya sambil mencomot makanan dan
    melahapnya, la tidak begitu menghiraukan keadaan Denny. Ia
    sendiri merasa merinding dan diganggu oleh perasaan gelisah
    sejak Denny pertama kali mengaku mendengar suara
    perempuan memanggilnya.
    Denny sendiri tidak peduli dengan Tigor. Menurutnya, Tigor
    berlagak tidak mendengar suara Kismi karena ia takut jika
    harus kembali melalui jalan gelap dan sepi itu. Tetapi, Denny
    hanya punya satu konsentrasi, yaitu Kismi. Ia yakin Kismi
    memanggilnya dan ia harus datang dengan segera.
    Tetapi, setelah beberapa langkah ia meninggalkan warung
    itu, langkah kakinya menjadi terhenti Ia mendengar suara
    Kismi memanggilnya di tengah rawa yang penuh tanaman

    46
    sejenis kangkung. Sedangkan, di tengah rawa itu tak terlihat
    bayangan seseorang bergerak mendekat atau menjauh.
    “Dennyyy..! Deimv. lupakah kau padakuuu..?!”
    “Kismii…!” teriak Denny keras ke arah rawa gelap itu.
    Beberapa saat ia menunggu, ternyata tak ada jawaban.
    Jantungnya semakin berdebar-debar, tubuhnya merindng dan
    hatinya gelisah tak menentu.
    “Kismiii…! Di mana kaauu…!” teriak Denny lagi. tapi tetap
    tak ada jawaban.
    Angin bertiup mulai kentang. Denny masih berdiri di tepi
    rawa untuk menunggu kemungkinan terlihatnya Kismi. Ia ingin
    masuk ke tengah rawa-rawa ii u, tetapi ada keraguan sebab ia
    tak melihat bayangan manusia di sana. Tubuhnya dibiarkan
    semakin merinding, ia menganggap itu hal yang wajar karena
    angin bertiup cukup kencang dan membawa udara dingin.
    Tetapi, rasa takutnya itu masih menjadi bahan pemikiran
    Denny. Mengapa jantungnya jadi berdebar-debar dan
    sepertinya dicekam perasaan takut? Apa yang akan terjadi
    sebenarnya?
    Ada sesuatu yang terbang karena terbawa angin. Sesuatu
    itu menempel di telinga Denny. Dengan tersentak kaget Denny
    menangkap benda yang menempel di telinganya. Ia mulai
    terhenyak kaget setelah diketahui benda itu adalah kapas
    putih
    “Kapas dari mana ini?” pikirnya heran. Sekali Lagi tengkuk
    kepalanya merinding. Gumpalan kapas kecil itu sepertinya
    bekas penyumbat hidung atau mulut mayat Karena ia
    mempunyai dugaan begitu, maka jantungnya semakin
    berdebar keras.
    Hanya saja. sewaktu ia mencium bau harum dari kapas
    tersebut, rasa takutnya sedikit berkurang. Bau harum itu
    serupa betul dengan bau parfum di tubuh Kismi. Makin yakin
    Denny jadinya, bahwa Kismi memang ada di sekitarnya. Tapi
    di mana? Ia melangkah semakin menuju tempat asalnya ia
    datang bersama Tigor tadi.

    47
    “Kismiii…?! Kismi, di mana kau?!’ seru Denny sambil
    matanya mencari-cari. Lalu, mulailah ia terbayang masa-masa
    bercumbu bersama Kismi. karena tempat itu sepi dan ia mulai
    berkhayal, seandainya Kismi ada di situ, maka ia tak segansegan
    untuk menggeluti di rerumputan.
    Ingatan bercumbu habis-habisan dengan Kismi membuat.
    Denny mengerang menahan gejolak birahinya. Napasnya
    semakin terengah-engah, dan hasratnya untuk memburu
    kemesraan bersama Kismi menyesakkan pernapasannya.
    “Kismiii..!” Kali ini, Denny mendesah tanpa suara, dan
    meremas-remas sesuatu yang mendatangkan nikmat baginya.
    Di kejauhan, masih terdengar suara Kismi memanggilnya
    dengan suara serak-serak manja, seakan suatu ajakan untuk
    bercumbu di alam bebas itu. Denny semakin terangsang,
    menegang semua otot tubuhnya, mendesis-desis lak
    berkesudahan, Kapas itu sesekali diciumnya sebagai ingatan
    keringat Kismi yang berbau wangi lembut itu. Setiap ia
    mencium wangi kapas itu. birahinya pun semakin bergolak
    menghentak-hentak. Mulutnya mengucap kata “Kismi”
    beberapa kali.
    Namun, pada detik tertentu, Denny mengalami satu
    kejutan yang membuatnya tegang. Tangan kanannya tak
    dapat digerakkan. Kaku. la ingin memegang kepalanya, tapi
    tak bisa. Gerakan kaku tangan kanannya itu membuat Denny
    menarik ke atas untuk menggunakan tangan kiri. Tangan
    kanan itu tiba-tiba terlepas dari pegangan tangan kiri dan
    menampar matanya sendiri. Bahkan kali ini tangan tersebut di
    luar kemauan Denny telah meremat wajahnya sendiri,
    mencakar-cakar hingga wajah Denny pun mulai berdarah.
    ‘Oh ..! Aaaow…! Kenapa tanganku ini? Oh…!” Dan, ia pun
    segera berlari ke arah warung dalam cekaman rasa takut
    sambil menjerit -jerit dicakar tangannya sendiri.
    ***
    Bab 6

    48
    Malam yang hening dan angin yang bertiup ke arah Utara,
    membuat. Tigor berkerut dahi saat meneguk kopi panas.
    Suara Denny terdengar sayup-sayup, sejenak meragukan hati
    Tigor.
    “Ah, tak mungkin itu suara Denny,” pikirnya sendiri, dan ia
    melanjutkan menghirup kopi panasnya.
    Tetapi, beberapa saat kemudian anak pemilik warung itu
    berkata kepada Tigor, “Bang, sepertinya itu suara teman
    Abang.”
    Sekali lagi Tigor berkerut dahi sambil menelengkan kepala,
    menyimak suara yang ada di kejauhan. Pemilik warung yang
    sudah lanjut usia itu juga berkata kepada anaknya,
    “Iya, ya?! Sepertinya itu suara orang yang tadi ke sana, ya,
    Man? Jangan-jangan dia dalam bahaya,” kalimat terakhir
    ditujukan kepada Tigor.
    “Alaaah, Mak! Dia itu suka bercanda. Pak! Ja ngan mau
    percaya dengan lagaknya! Pasti dia main-main saja itu!” Tigor
    tetap tenang, sedangkan pemilik warung dan anaknya
    kelihatan menyimpan kecemasan.
    Denny berusaha mempercepat larinya sambil tangan kirinya
    memegangi tangan kanan supaya tak bergerak. Tapi,
    bagaimanapun juga kekuatan tangan kiri itu tidak sebanding
    dengan tangan kanannya. Sekali lagi tangan kanannya
    bergerak cepat menampar wajah sendiri, kemudian
    mencakarnya dengan ganas dan kuat sehingga sebagian kulit
    wajah Denny mengelupas perih.
    “Aaauw…!” teriak Denny begitu kuat menahan penderitaan
    itu. “Tigooor…! Tigooor…! Aaaow…!”
    Anak pemilik warung segera memandang ke arah jalanan
    yang sepi dan gelap itu. Ia melihat sesosok bayangan manusia
    yang berlari terhuyung-huyung dengan teriakan-teriakan kian
    jelas. Angin yang berhembus kali ini berubah arah,
    bertentangan dengan pelarian Denny, sehingga suara
    teriakannya nyaris terbawa angin seluruhnya. Hanya anak
    pemilik warung itu yang mendengar lebih jelas, sebab ia

    49
    melangkah beberapa meter dari depan warungnya. Ia segera
    meng-huhungi Tigor dan herkata dengan tegang,
    “Bang! Bang, itu teman Abang dalam bahaya! Ia berlari-lari
    menuju kemari!”
    Tigor tertawa dalam gumam. “Dia pasti ketakutan,
    disangkanya ada setan yang mengejarnya! Mampuslah kau!
    Sok berani dia!” Tigor tetap meremehkan temannya itu,
    sehingga anak pemilik warung menjadi jengkel sendiri. Ia
    tinggalkan saja Tigor yang menyepelekan pemberitahuannya.
    Ia kembali melangkah di tempatnya semula dan memandang
    dengan mata menyipit langkah-langkah Denny yang mulai tak
    mampu secepat semula.
    Denny tersungkur jatuh dengan menggeram-geram,
    mengerahkan tenaganya untuk melawan gerakan tangan
    kanannya itu. Tetapi, kekuatannya itu tak mampu menguasai
    tangan kanannya yang hergerak sendiri di luar keinginannya.
    Bahkan kali ini tangan kanan itu menjambak rambutnya
    sendiri, kemudian mengangkat kepala dan membenturkan
    kepalanya sendiri ke tanah. Berkali-kali tangan kanan itu
    membentur-benturkan kepalanya ke tanah hingga kotor dan
    berlumur darah. Sesekali Denny mencoba menahan hentakan
    kepalanya, namun selalu gagal dan akhirnya batu runcing pun
    mengenai keningnya beberapa kali, hingga makin deras darah
    yang mengalir dari wajahnya.
    “Aaaow! Aaaow! Aaaow…!” Denny berteriak kesakitan.
    Kemudian ia berusaha sekuat tenaga untuk bisa herdiri. Dan,
    ia berhasil. Tangan kanannya bergerak kaku melepaskan
    rambutnya. Gerakan kaku itu akibat kekuatan Denny memaksa
    agar tangan tersebut tidak bergerak. Tangan kirinya segera
    menarik turun tangan kanannya dengan kekuatan yang
    terpaksa menguras tenaga.
    Dalam keadaan melawan kekuatan gaib yang lelah merasuk
    dalam tangan kanannya itu, Denny tetap melangkah cepat,
    berlari ke arah warung. Erang dan tangisnya meraung di sela
    kesunyian malam, dan hanya anak pemilik warung yang
    mendengarnya.

    50
    “Man, ngapain kamu di situ?” tegur pemilik warung kepada
    anaknya.
    “Orang itu kesakitan, Pak!” jawab Man dengan perasaan
    ngeri.
    “Astaga…! Kenapa orang itu, Man?!” pemilik warung
    terbengong memandangi Denny dengan mata menyipit. Makin
    lama Denny semakin terlihat jelas dalam hembusan angin,
    seakan ia menyongsong derasnya angin yang menderu.
    “Aaaow…! Tigor…! Tolooong…!”
    Kali ini, Tigor keluar dari warung bertenda plastik itu.
    Denny berlari terhuyung-huyung dan tak tentu arah. Tigor
    masih saja menganggap itu suatu sandiwara atau permainan
    Denny. Ia bahkan berseru di sela tawanya,
    “Hei, mabuk di mana kau?! Macam mana bisa mabuk kalau
    cuma minum kopi, he he he…!”
    “Bang, dia hersungguh-sungguh!” kata anak pemilik
    warung.
    Tigor tiba-tiba menghentikan tawanya. Wajahnya menjadi
    tegang setelah Denny berjarak 7 meter darinya.
    “Denny…?! Kenapa kau, hah?!” Buru-huru Tigor
    menyambut Denny, namun tiba-tiba sewaktu ia hendak
    meraih tuhuh Denny yang berwajah merah karena darah itu,
    tangan kanan Denny menghantam dagu Tigor dengan keras.
    Tigor memekik kesakitan dan terjengkang ke belakang hingga
    jatuh terduduk di tanah. Sedangkan Denny masih mengerang,
    ngotot hingga uratnya keluar semua. Ia menahan gerakan
    tangan kanannya yang ingin menghantam kepalanya sendiri.
    Dan, sekali lagi Denny menjerit kesakitan karena tangan
    kanannya berhasil menghantam kepalanya dengan keras.
    Dua tukang ojek itu segera mendekati Denny, karena
    mereka curiga darah membasah di wajah Denny.
    “Ada apa, Wak…?!” tanya salah seorang tukang ojek
    kepada pemilik warung.
    “Nggak tahu, tuh! Dia tahu-tahu menghajar temannya dan
    memukuli dirinya sendiri!”
    “Gila barangkali, dia!” kata tukang ojek yanj; lain.

    51
    Denny masuk ke warung dengan gerakan kaku dan
    meraung-raung. Tangan kanannya yang masih mengejang
    kaku, seakan-akan bergerak sendiri.
    “Kasihan dia…!” tukang ojek yang jangkung hendak
    menolong Denny dengan cara memegang kedua pundaknya.
    Sayang sekali, sebelum tangan tukang ojek itu menyentuh
    tubuh Denny, tangan kanan itu sudah lebih dahulu mengibas
    dan menampar lelaki jangkung itu dengan keras. Tentu saja
    lelaki jangkung itu terpekik kesakitan dan terhuyung-huyung
    ke belakang.
    “Oh… hooow… hhh! Aaaowh…!” Denny bersuara tak
    karuan, membuat semua orang tak berani mendekati Denny.
    Apalagi dalam keadaan wajah berlumur darah itu Denny
    mendelik-delik dengan liar, oh… menyeramkan sekali. Pemilik
    warung dan anaknya gemetaran, memandang dari luar
    warungnya.
    “Denny…?! Denny, apa yang terjadi, Denny?!” teriak Tigor
    sambil mendekati Denny.
    Mata Denny yang membelalak liar itu memandang sebuah
    sendok garpu di atas piring kotor yang ada di sudut meja.
    Agaknya piring itu bekas orang makan yang belum dicuci.
    Seketika itu, samhil menggeram Denny menahan tangan
    kanannya yang ingin bergerak mengambil garpu makan itu.
    “Denny, apa-apaan kau sebenarnya, Bangsat!” bentak
    Tigor. Ia dalam keadaan panik melihat Denny berlumur darah
    wajahnya Lebih panik lagi setelah Denny terlihat
    menggenggam sebuah garpu makan dengan tangan
    kanannya. Garpu makan diacungkan ke arah diri sendiri.
    Suara Denny menggeram, sementara tangan kirinya
    menahan kuat-kuat gerakan tangan kanannya yang ingin
    menikam diri sendiri.
    “Oh, Tig…, Tigor… tolong aku…! Tangan kananku! Oh,
    tangan ini sukar kukendalikan, dan…. Aaaow…!” Denny
    menjerit lagi karena tangan kanannya berhasil
    menghunjamkan garpu makan itu ke arah pundak kirinya,
    dekat dengan leher.

    52
    Tigor hendak menyergap Denny, namun ia terpaksa
    berpaling dan menghindar seketika, karena dengan cepat
    tangan kanan itu bergerak mengibas dan mengenai pipi Tigor
    hingga berdarah.
    Jubb…!
    “Hughhh…! Krrr… krrr…!”
    “Edan kau! Edaaan…!” teriak Tigor dengan mata makin
    membelalak ketika ia melihat Denny menusukkan garpu
    bermata tiga itu ke arah tenggorokannya. Ia mendelik,
    matanya terbeliak-beliak. Batang garpu masuk terbenam ke
    bagian tengah leher, dan membuat Denny tak mampu bicara
    lagi. Ia seperti kambing yang disembelih seketika.
    Tigor mau menyergap bersama kedua tukang ojek, namun
    masing-masing merasa ciut nyalinya dan takut terkena
    sabetan garpu itu lagi. Tigor hanya bisa berseru.
    “Jangan nekat, Denny! Jangan berpikiran picik! Kismi masih
    bisa kau temani kalau kau hidup, tapi… tapi….”
    “Aaahg…!”
    Tepat pada saat itu Denny mendelik, membungkuk dan
    akhirnya jatuh dengan darah tersembur dari jantungnya yang
    terkena tusukan garpu yang kedua kalinya.
    Anak pemilik warung memeluk ayahnya, tak tega melihat
    peristiwa mengerikan itu. Dan, anak tersebut tak sempat
    melihat, bagaimana susah payahnya Denny mencabut garpu
    yang telah terbenam di jantungnya, kemudian berusaha
    menikam dirinya lagi, dan berhasil mengenai ulu hati. Darah
    semakin menyembur ke makanan atau toples tempat peyek
    kacang. Darah menjadi berceceran di mana-mana.
    Pada saat itu, Denny menjadi melemas. Sepertinya sudah
    tak ada setan yang masuk dalam raganya. Lalu, jatuhlah ia.
    Terkapar dekat bangku warung dengan berlumuran darah tak
    bisa diharapkan lagi. Tigor bermaksud mencari mobil
    ambulans atau mobil darurat untuk membawa Denny ke
    rumah sakit. Tetapi, usaha itu rupanya tak pernah berhasil,
    sebab beberapa saat kemudian, tubuh Denny itu tak mampu
    bergerak lagi. Ia menghembuskan napasnya yang terakhir

    53
    dengan masih sempat menyebut kata: “Kismi” dalam desah
    napas penghabisannya. Maka. meninggallah Denny dengan
    keadaan dan suasana yang amat mengerikan.
    Tigor tidak bisa berbicara sepatah kata pun melihat
    kenyataan itu. Mulutnya seperti dibekukan, kerongkongannya
    kering dan sukar untuk mengeluarkan suara. Lidahnya pun
    seperti terbuat dari besi, kaku sekali untuk digerakkan.
    Seorang tukang ojek mengambil inisiatif, menghubungi pos
    polisi terdekat. Mereka mempunyai kesimpulan yang sama,
    bahwa kematian Denny adalah satu tindakan bunuh diri, tanpa
    campur tangan pihak lain.
    Berita itu sempat membuat Hamsad nyaris jatuh pingsan di
    rumahnya. Ade menghubungi Hamsad pada pagi hari, empat
    jam setelah jenazah Almarhum Denny tiba di pondokan
    mahasiswa. Hamsad merasa dibantai jiwanya dengan berita
    kematian Denny. Bahkan, ketika ia bergabung dengan anakanak
    pondokan, Hamsad sempat berlinang air mata melihat
    wajah-wajah mereka dicekam duka, seakan menunggu giliran
    untuk melakukan bunuh diri yang keji.
    Hamsad terdengar berkata parau kepada Ade, “Setelah
    Norman, Denny. Setelah Denny, siapa lagi?”
    Seperti jenazah Norman dulu. Almarhum Denny pun
    dimakamkan di kota asalnya: Madiun. Hampir semua teman
    kost-nya turut memakamkan Denny ke Madiun. Hanya Tigor
    dan Lukman yang tinggal di pondokan. Tigor merasa tidak
    mampu menghadapi kenyataan tersebut. Tigor lebih merasa
    dibantai jiwanya, karena ia sempat menyepelekan teriakan
    Denny yang meminta tolong pada waktu itu. Rasa sesalnya
    begitu besar, dan membuat Tigor lebih sering mengunci
    mulutnya ketimhang harus bercerita kepada siapa pun yang
    bertanya kepadanya. Sedangkan Lukman, waktu itu dalam
    keadaan sakit. Ia tak bisa ikut menghadiri upacara
    pemakaman jenazah Denny di Madiun. Tetapi, dialah orang
    pertama yang menangis tersengguk-sengguk ketika melihat
    keadaan Denny sudah menjadi mayat. Beruntung waktu itu
    keluarga Denny berkumpul di rumah Bu Anis, sehingga

    54
    Lukman masih bisa mengantarkan jenazah Denny ke rumah
    Bu Anis, namun tidak mampu lagi ikut ke Madiun.
    Tentu saja setiap orang bertanya-tanya: Mengapa kematian
    Denny mempunyai kesamaan dengan kematian Norman?
    Masing-masing mati oleh tangannya sendiri. Bunuh diri. Tapi,
    faktor apa yang membuat mereka bunuh diri, masih belum
    mendapat suatu kesimpulan yang pasti. Ada yang
    mengatakan, pondokan mereka angker dan meminta korban
    entah berapa jumlahnya. Ada lagi yang beranggapan, Denny
    dihampiri roh Norman dan diajaknya pergi dengan cara seperti
    yang dilakukan Norman semasa hidupnya. Sementara yang
    lain mengatakan, itu hanya satu hal yang kebetulan saja.
    Kebetulan Denny punya masalah yang mengerdilkan jiwanya,
    sehingga ia berani melakukan bunuh diri.
    Hanya satu orang yang mempunyai dugaan aneh di dalam
    pertemuan tak resmi yang mereka adakan di kamar Bahtiar,
    dua hari setelah jenazah Denny dimakamkan. Orang yang
    mempunyai dugaan aneh itu adalah Hamsad. Karena dialah
    yang mempunyai firasat buruk pada saat-saat menjelang
    kematian Norman dan Denny.
    “Keduanya sama-sama jatuh cinta pada Kismi,” kata
    Hamsad. Kemudian, mereka memberikan reaksi serupa.
    Bungkam. Benak mereka sama-sama menerawang pada cerita
    Denny tentang Kismi.
    Bahtiar bertanya pada diri sendiri, dengan ucapan yang
    sempat didengar oleh teman-temannya, “Mungkinkah
    keduanya menjadi picik hanya karena jatuh cinta?”
    “Tiap-tiap orang mempunyai ketahanan jiwa yang
    berbeda,” ujar Ade. “Pada saat mencapai klimaks persoalan,
    jiwa manusia mudah menjadi rapuh. Yang terlintas dalam
    logiknya hanya jalan pintas menyelesaikan persoalan tersebut.
    Dan, mungkin bagi kedua korban itu sama-sama sependapat,
    bahwa jalan pintas yang terbaik adalah bunuh diri.”
    Tigor mulai tertarik dengan pembicaraan tersebut. Ia
    berkata dengan suara pelan, masih bernada duka,
    “Wanita itu sebenarnya tidak ada!”

    55
    Kini, semua mata memandang ke arah Tigor. Hanya
    Hamsad yang masih memandang ujung kakinya yang
    melonjor, namun telinganya menyimak kata-kata Tigor. Ia
    mendengar Tigor berkata lagi,
    “Petugas motel itu, aku rasa tidak ada yang kenal dengan
    Kismi. Jadi, kubilang Kismi itu hanya ada dalam khayalan
    mereka.”
    “Dan mereka mati karena khayalannya sendiri, begitu
    maksudmu?” tanya Yoppi.
    “Begitulah! Buktinya petugas motel berkeras untuk
    mengatakan, bahwa di situ tidak ada perempuan yang
    bernama Kismi! Dari pukul 7 malam sampai pukul 10 malam
    aku dan Denny menunggu perempuan itu, nyatanya tidak
    ada!”
    “Denny mengatakan, perempuan itu adalah perempuan
    eksklusif, yang keberadaannya sendiri dirahasiakan oleh
    petugas motel. Barangkali hal itu dimaksud agar reputasi Kismi
    yang sebenarnya tidak jatuh di mata mereka. Mungkin Kismi
    seseorang yang punya reputasi tinggi, punya jabatan
    fungsional, punya karir yang gemilang, sehingga kalau setiap
    orang mengenal dia sebagai perempuan kehausan, alangkah
    memalukan sekali? Karena itu, Denny juga berkata, bukan?
    Bahwa, Kismi bukan perempuan sembarangan yang mudah
    disentuh oleh lelaki. Dia tidak seperti wanita-wanita penghibur
    lainnya, yang sekali panggil pasti akan datang!” celoteh Susilo
    sambil memainkan korek api.
    Siapa sebenarnya Kismi? Di mana tempat tinggalnya?
    Menurut Hamsad, hanya Pak Hasan yang mengetahui hal itu.
    Karena, Norman mengenal Kismi lewat pesanan dari Pak
    Hasan. Hamsad masih ingat cerita Almarhum Norman, bahwa
    ia datang ke motel itu dibawa oleh Pak Hasan sebagai service
    pemancing spirit untuk tulisan yang akan disusun oleh
    Norman. Pak Hasan-lah yang memesankan seorang
    perempuan untuk Norman, karena waktu itu, tahu-tahu
    Norman dihampiri seorang perempuan sedangkan Pak Hasan
    mungkin mengambil perempuan lain untuk dirinya sendiri.

    56
    Jadi, Pak Hasan-lah sebenarnya yang memegang rahasia
    tentang siapa Kismi dan di mana Kismi.
    Tanpa memberitahukan kepada yang lain masalah Pak
    Hasan itu, Hamsad segera menghubungi Pak Hasan melalui
    telepon. Kebetulan, ketika Hamsad jalan-jalan di pantai, ia
    sempat bertemu dengan Pak Hasan dan disuruh
    menghubunginya sewaktu-waktu. Maka, kali ini ia ingin
    membuat janji untuk bertemu di sebuah restoran fast food.
    Pak Hasan sebenarnya punya bahan pembicaraan sendiri.
    Ia ingin berbicara tentang kematian Norman dan tawaran buat
    Hamsad mengenai penulisan tentang buku-buku. Tetapi,
    Hamsad lebih dahulu bertanya,
    “Siapa Kismi itu sebenarnya, Pak?”
    Pak Hasan kelihatan bingung, tak mengerti maksud
    Hamsad. Ia menggumam, “Kismi…?! Maksudmu, Kismi apa
    ini? Kismi makanan atau…?”
    “Norman bunuh diri sejak ia dibawa oleh Bapak ke Motel
    Seruni, dan di sana ia bercinta dengan Kismi.”
    “Ya. Memang aku yang mengajaknya ke motel, tapi dia
    menolak perempuan yang kukirimkan untuknya. Malahan
    perempuan itu bilang, bahwa Norman telah mempunyai
    pasangan sendiri. Mungkin, perempuan itu yang bernama
    Kismi. Tapi, aku tak tahu, Norman dapat dari mana
    perempuan itu.” tutur Pak Hasan kelihatan serius sekali.
    Hamsad masih curiga. “Jadi, Pak Hasan benar-benar tidak
    mengenal perempuan yang bernama Kismi?”
    “Tidak. Mendengar nama itu pun aku baru sekarang.” Pak
    Hasan tertawa pendek. “Kusangka tadinya Kismi itu nama
    makanan. Jadi, tadi aku sedikit bingung.”
    Hamsad tersenyum tawar, kemudian menghempaskan
    napas. Rona duka terlihat samar-samar di wajah itu, membuat
    Pak Hasan berbalik curiga kepada Hamsad.
    “Ada apa sehenarnya, Ham? Apa benar kematian Norman
    karena mengenal perempuan bernama Kismi?”
    ‘Ya. Benar. Tempo hari, ketika saya bertemu Pak Hasan di
    pantai, saya dengan teman saya mencari perempuan yang

    57
    bernama Kismi. Teman saya, Denny, berhasil bertemu dengan
    Kismi, tapi ia tidak sempat berbicara panjang lebar mengenai
    Norman. Ia terbuai dan bergumul dengan Kismi sampai pagi.
    Badannya lemas, wajahnya jadi pucat seperti mayat hidup.
    Beberapa hari yang lalu, Denny pun mati karena bunuh diri.”
    “Hah…?!” Pak Hasan mendelik.
    “Denny menikam leher, jantung dan ulu hatinya dengan
    garpu makan di sebuah warung. Menurut saksi mata, ia
    menghempaskan napas terakhir sambil menyebutkan nama
    Kismi.” Hamsad menelan ludahnya sendiri, seperti memendam
    suatu kepedihan. Pak Hasan melihat kesungguhan di wajah
    Hamsad, dan hal itu membuatnya berdebar-debar.
    Setelah Hamsad menceritakan secara detail tentang
    kematian Norman, juga proses kematian Denny, Pak Hasan
    pun akhirnya berkata, “Misterius sekali. Aku jadi tertarik untuk
    menemui perempuan itu.”
    “Apakah Bapak bisa membujuk petugas motel?”
    “Kenapa tidak!? Pemilik motel itu temanku satu kampung.”
    ***
    Bab 7
    Memang benar. Pemilik motel itu adalah teman sekampung
    dengan Pak Hasan. Tetapi, sayangnya Pak Hasan merasa
    keberatan jika Ham-sad ikut menghadap pemilik motel itu.
    Hamsad hanya diizinkan menunggu di lobby, sementara Pak
    Hasan terlibat pembicaraan dengan pemilik motel di dalam
    kantornya. Sore itu, Hamsad merasa seperti kambing congek,
    terbengong sendirian di lobby. Hatinya dongkol, karena tak
    diizinkan ikut dalam pembicaraan tersebut. Alasan Pak Hasan,
    karena temannya yang menjadi pemilik motel itu dalam
    keadaan cacat, dan ia tak mau orang lain melihat kecacatan
    fisiknya. Mau tak mau Hamsad menerima alasan tersebut.
    Matahari hampir terbenam seluruhnya. Hamsad masih
    berharap, mudah-mudahan ia bisa bertemu dengan
    perempuan yang bernama Kismi di lobby itu. Paling tidak

    58
    melihat perempuan dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan
    Norman dan Denny, dan Hamsad akan berusaha mengenal
    perempuan itu. Sayangnya, tamu-tamu yang memasuki lobby
    tidak satu pun ada yang punya paras cantik dan punya pesona
    mirip ratu Mesir Kuno. Rata-rata perempuan yang masuk ke
    lobby mempunyai paras standar, biasa-biasa saja. Tak ada
    yang istimewa. Kalau tidak istimewa, berarti dia bukan Kismi.
    Sambil merenungkan misteri kematian Norman dan Denny,
    Hamsad berhasil menemukan satu kejanggalan. Kejanggalan
    itu, tempo hari dikatakan rusak AC-nya, dan sering tersumbat
    saluran airnya. Tetapi, nyatanya ketika Hamsad masuk
    menemui Denny, kamar itu ber-AC. Lancar. Timbul rasa curiga
    dalam hati Hamsad, mengapa bagian resepsionis waktu itu
    setengah tidak mengizinkan mereka membocking kamar,
    Seruni? Kamar masih ada dua yang kosong, tapi dikatakan:
    “Tinggal satu kamar yang belum di-bocking.” Ini aneh dan
    janggal bagi Hamsad.
    Kecurigaan kedua, mengapa Norman dan Denny bisa
    bertemu dengan Kismi di kamar itu? Bagaimana dengan kamar
    lain? Apakah Kismi mau datang ke kamar lain juga? Mengapa
    pula Kismi tidak meminta uang lelah kepada Norman dan
    Denny? Bukankah Kismi bekerja sebagai wanita penghibur?
    Bukankah yang dibutuhkan dalam hal itu adalah uang?
    Iseng-iseng, Hamsad mendekati bagian resepsionis. Kali ini
    yang bertugas bukan orang yang dulu, tetapi orang yang
    sebenarnya pernah ditemui Denny dan Tigor. Hanya saja,
    Hamsad tidak tahu tentang pemuda tersebut.
    “Masih ada kamar kosong, Mas?” sapa Hamsad dengan
    ramah.
    “Masih,” jawab bagian resepsionis dengan ramah pula.
    “Mau bocking kamar?” tawarnya. Hamsad hanya tersenyum
    dalam ketenangan sikapnya.
    “Saya tunggu keputusan dari teman saya yang sedang
    menemui pemilik motel ini. Kalau dia mengajak bermalam di
    sini, yah… mau tak mau kami bocking dua kamar.” Padahal

    59
    rencana itu tidak ada dalam pembicaraan Hamsad dengan Pak
    Hasan.
    “Hari ini, agak sepi,” kata petugas resepsionis. “Lain halnya
    jika malam Minggu. Kalau malam-malam seperti ini, apalagi ini
    malam Jumat, biasanya kamar kami banyak yang kosong.
    Kalau Bung jadi bermalam di sini, Bung bisa bebas memilih
    kamar sesuai selera.”
    “O, begitu, ya?! Jadi, bisa saja saya memilih kamar Seruni,
    ya?”
    Pemuda petugas resepsionis itu sedikit menggeragap.
    “Hm… kalau kamar itu, wah… kebetulan tadi siang sudah ada
    yang bocking. Kamar itu sudah diisi, Bung.”
    “Ooo…?!” Hamsad manggut-manggut. “Kalau boleh saya
    tahu, lelaki atau perempuan yang memakai kamar Seruni itu?”
    “Lelaki. Mungkin dia orang seberang.”
    “Sendirian?”
    “Ya. Sendirian. Barangkali sebentar lagi partnernya
    datang.”
    “Apa dia langganan di sini? Maksud saya, sering datang dan
    bermalam di sini dengan seorang perempuan?” makin lama
    pertanyaan Hamsad makin bersifat pribadi. Petugas itu agak
    sulit menjawab. Ia hanya tersenyum-senyum yang a-khirnya
    berkata,
    “Sebenarnya, kami tidak boleh bicara soal itu, Bung. Tapi,
    karena kebetulan tadi saya juga yang menerima tamu itu, jadi
    kalau boleh saya katakan, bahwa saya baru sekali ini bertemu
    dengan orang tersebut. Saya rasa, dia juga baru kali ini
    datang kemari, Bung.”
    Hamsad manggut-manggut sambil menggumam. Petugas
    itu berkata lagi,
    “Kalau Bung mau, bisa memilih kamar yang lain. Kamar
    Seroja juga bagus. Bung. Strategis dan romantis letaknya. Dia
    ada di tepi pantai. Bung bisa melihat ombak dari terasnya.”
    “Kalau saya mau, saya akan memilih kamar Seruni,” kata
    Hamsad pelan, sepertinya sekadar basa-basi saja.

    60
    “Kamar itu jarang dipakai, Bung,” bisik petugas resepsionis,
    nada bicaranya mencurigakan.
    “Kenapa? AC-nya rusak? Saluran airnya tersumbat?”
    Petugas itu tertawa pendek. “Itu hanya alasan kami.
    Sebenarnya, kami menghindari kamar itu dari para tamu.
    Kalau tidak memaksa sama sekali, kami tidak izinkan para
    tamu menggunakan kamar tersebut.”
    “Alasannya?” desak Hamsad semakin penasaran.
    “Kamar itu angker, Bung.” Kali ini suaranya yang berbisik
    namun ditekankan kalimatnya itu, membuat Hamsad menjadi
    merinding seketika. Ia memandang ke arah luar, ternyata
    malam mulai datang. Suasana tak secerah waktu ia tiba di
    motel ini. Dan, suasana malam itu makin membuat Hamsad
    berdebar-debar setelah mendengar jawaban petugas tersebut.
    Sebenarnya Hamsad ingin bertanya lebih lanjut mengenai
    kamar Seruni, sayangnya petugas itu harus menemui tamu
    yang hendak mem-bocking kamar. Hamsad ditinggalkan, dan
    kini ia kembali ke meubel lobby, duduk di sana merenung diri.
    Hatinya menjadi galau. Resah. Batinnya bertanya-tanya,
    “Benarkah kamar itu angker? Jika benar begitu, mengapa
    begitu mudah petugas resepsionis itu mengatakannya
    kepadaku? Seharusnya dirahasiakan. Ini menyangkut prestise
    motel ini sendiri, kan? Ah, kurasa ia mengada-ada. Dengan
    cara begitu, diharapkan aku tidak kecewa dan mau memilih
    kamar lain. Brengsek!
    Itu hanya teknik propagandanya saja!”
    Hamsad mendesah kesal. Pak Hasan terlalu lama ngobrol di
    dalam dengan pemilik motel yang juga sebagai manager.
    Untuk menghilangkan kejenuhannya, Hamsad melangkah
    keluar dari lobby, menikmati udara malam di luar lobby. Dalam
    pikirannya sempat terlintas satu harapan. “Mudah-mudahan
    cewek yang akan datang ke kamar Seruni ituadalah Kismi.
    Kalau benar yang akan melayani tamu di kamar Seruni itu
    Kismi, maka ada baiknya kalau aku menghadangnya di sini.
    Kismi pasti akan berjalan lewat arah sini untuk menuju kamar
    Serani. Mungkin aku bisa menyapanya, setidaknya melihat

    61
    dengan mata kepala sendiri kecantikan yang konon istimewa
    itu.”
    Harapan itu adalah harapan yang sia-sia. Karena, sebelum
    Kismi muncul, Pak Hasan telah keluar dari lobby dan
    melambaikan tangan kepada Hamsad, memanggil. Mereka
    kembali duduk di lobby. Pak Hasan berkata kepada Hamsad,
    “Aku sudah mendesaknya beberapa kali, tapi dia tetap
    mengatakan, tidak ada ‘anak buahnya’ yang bernama Kismi.
    Bahkan ia mengingatkan padaku, agar jangan sekali-kali
    menggunakan kamar Seruni.”
    “Kenapa, katanya?”
    “Kamar itu angker!” bisik Pak Hasan dalam ketegangan.
    Hamsad sedikit terperanjat dan merasa heran, karena
    pernyataan itu sama dengan pernyataan petugas resepsionis
    tadi.
    “Saya tidak yakin, Pak!” kata Hamsad. “Saya rasa itu satu
    cara untuk mempromosikan kamar-kamar lainnya.”
    “Kalau tidak percaya, malam ini juga aku disuruh
    membuktikannya, Ham!”
    “Percuma. Pak. Kamar itu sudah dibocking orang.”
    “Hah…?!” Pak Hasan terperanjat.
    “Jadi, apa rencana kita selanjutnya?” tanya Hamsad dengan
    perasaan masih kesal akibat kegagalan menyelidik tentang
    Kismi.
    “Ham, kita disuruh cek ke beberapa tempat yang
    menampung wanita-wanita penghibur. Terutama di Panti Pijat
    Mahaiani. Karena, wanita-wanita di sana sering diambil kemari
    untuk melayani tamu yang membutuhkannya. Bagaimana
    kalau kita ke sana untuk mencari Kismi?”
    Setelah dipertimbangkan sejenak, Hamsad menjawab, “Kita
    coba saja!”
    Sebenarnya Hamsad tidak begitu bersemangat.’ Dalam
    hatinya ia berkata, “Pasti tidak ada yang bernama Kismi. Kalau
    toh ada, pasti Kismi sedang keluar, sebab kamar Seruni itu
    ada yang menempati. Tapi, coba sajalah. Barangkali ada halhal
    baru yang bisa dijadikan pertimbangan.”

    62
    Dugaan Hamsad menjadi kenyataan. Ia tidak memperoleh
    apa-apa di Panti Pijat Maharani itu. Tidak ada yang bernama
    Kismi, tidak ada yang mengenal Kismi, kendati mereka
    mengaku sering diambil ke Motel Angel Flowers. Kemudian,
    Pak Hasan dan Hamsad menuju ke Panti Pijat Ibu Endang,
    konon terkenal banyak pengunjungnya. Tetapi, di sana juga
    tidak ada yang bernama Kismi.
    Gagal sudah. Malam itu, Hamsad pulang tanpa membawa
    hasil. Hanya sedikit data tentang kamar Seruni yang katanya
    angker itu. Tapi, Hamsad tidak menghiraukan kata-kata
    petugas resepsionis tadi. Kemudian, dalam ketermenungannya
    itu ia mendapatkan gagasan baru. Ia berkata dalam hati. “Aku
    harus bermalam di sana! Barangkali dengan bermalam di
    sana, aku bisa menemukan apa yang kucari. Kismi. Dan, dari
    Kismi aku bisa memperoleh kesimpulan, mengapa kedua
    temanku itu mati bunuh diri? Kapan aku harus ke sana?
    Besok? Ah, jangan! Besok aku ada acara dengan Lista. Cewek
    itu menggemaskan juga sih. Siapa tahu dia mau nyantol
    padaku. Lumayan, kan?”
    Acara yang dimaksud Hamsad adalah menghadiri reuni SMP
    tempat Lista dulu. Acara itu cukup sederhana, namun sudah
    tentu mengesankan bagi mereka yang pernah satu bangku
    dan satu sekolah semasa SMP. Sedangkan Hamsad sendiri,
    tidak mempunyai kesan apa-apa, kecuali mendampingi Lista.
    “Kenapa kau membawaku kemari? Aku kan tidak punya
    kenalan di sini? Mereka tidak mengenalku,” kata Hamsad.
    “Justru aku ingin mengenalkan kamu kepada mereka
    sebagai pacarku,” kata Lista yang berpenampilan tomboy.
    “Apa? Sebagai pacarmu? Pacar cap apa aku ini? Bercinta
    belum sudah mengaku pacaran!”
    “Ah, cuek sajalah! Supaya aku kelihatan laku!”
    “Kenapa kau tidak mencari pacar yang sebenarnya saja?!”
    “Malas! Bikin repot karirku saja!” jawab Lista . seenaknya.
    Yang lebih menyebalkan lagi. dalam pesta reuni itu Lista
    justru asyik ngobrol dengan cowok-cowok bekas teman SMPnya
    yang sekarang, menurut Lista, sudah kelihatan gantengTiraikasih

    63
    ganteng semua. Hamsad merasa dikesampingkan oleh Lista,
    sehingga hampir-hampir ia pulang sendiri tanpa setahu Lista.
    Malam itu, Hamsad hanya memperoleh kedongkolan pergi
    dengan Lista. Ia merasa jera. Tak mau lagi pergi ke mana saja
    dengan Lista. Gadis itu egois. Ia hanya mementingkan diri
    sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Untung saja
    malam itu Hamsad bisa lekas tertidur, sehingga kedongkolan
    hatinya pun cepat reda.
    Hanya saja, esok harinya, Hamsad bangun sedikit siang. Ia
    memang bermaksud tidak kuliah. Malas. Karenanya, ketika
    adiknya membangunkan, Hamsad hanya menggeliat dan tidur
    lagi.
    Tetapi, kali ini ia dibangunkan oleh mamanya karena ada
    seorang teman yang ingin bertemu dengannya. Hamsad
    malas, tapi mamanya memaksa. Bahkan mamanya berkata,
    “Kalau kau ingin jadi pemalas, cari pondokan lain, seperti dulu
    lagi! Jadi, kau bisa bebas mau bertingkah apa saja!”
    Tak tahan mendengar omelan mamanya, Hamsad pun
    turun dari pembaringan. “Siapa yang mencariku?”
    “Temanmu! Bahtiar!”
    Benar. Bahtiar yang datang pagi itu, sekitar pukul 9 kurang.
    Hamsad mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa
    mengantuk. Ia berdiri dengan lesu, bersandar pada kusen
    pintu. Suaranya parau dan malas, “Ada apa, Tiar…?! Bikin
    kagok orang tidur saja kau, ah!”
    Bahtiar tidak langsung menjawab. Ia memandang Hamsad
    yang menguap sambil mengencangkan otot-ototnya.
    Kemudian, Hamsad menghampiri Bahtiar di kursi tamu, duduk
    di depan Bahtiar dengan loyo.
    Mendadak ia jadi curiga melihat Bahtiar berwajah sendu.
    Kecurigaannya itu membuat Hamsad menjadi serius, dan
    bertanya lagi, “Ada apa sih?!”
    “Ham…,” kata Bahtiar sedikit gagap. “Ada… ada korban lagi
    dari teman kita.”
    “Hah…?!” Hamsad terperanjat baru mendengar kata-kata
    itu. “Korban?! Maksudmu?”

    64
    “Tigor, bunuh diri!”
    “Gila!” teriak Hamsad sambil menggebrak meja, untung
    meja kaca itu tak sampai pecah, hanya asbaknya yang
    terpental.
    “Tigor bunuh diri?! Tigor…?!” Hamsad seperti orang tak
    percaya terhadap pendengarannya sendiri. Bahtiar
    mengangguk dalam kesedihan.
    “Peristiwanya terjadi tadi malam, sekitar pukul dua hampir
    pagi,” tutur Bahtiar.
    “Meng… mengapa? Mmmeng… mengapa ia bunuh diri?
    Apa alasannya, Tiar?!” Hamsad gemetar dan napasnya
    terengah-engah. Deburan di dalam dadanya membuat ia
    sedikit gemetar.
    “Kemarin malam, ia penasaran. Ia datang ke motel, tempat
    Norman dan Denny menginap….”
    “Kemarin malam? Bukan tadi malam, kan?” tegas Hamsad.
    “Kalau kemarin malam…? Berarti…? Berarti waktu itu aku ada
    di sana bersama Pak Hasan! Gila betul dia? Jadi… oh, ya…
    aku memang menanyakan kamar Seruni, dan petugas motel
    itu menjawab, bahwa kamar itu ada yang menyewanya. Aku
    tidak tahu kalau orang itu adalah Tigor?! Aaah…! Gila semua!”
    Hamsad bagai orang kesetanan. Matanya yang masih merah
    karena habis bangun dari tidur itu membelalak lebar, penuh
    kemarahan. Tapi, ia tak tahu, kepada siapa ia harus marah?
    Di perjalanan menuju pondokan Tigor dan teman-teman
    yang lainnya, Bahtiar menjelaskan tentang kematian Tigor.
    “Siangnya dia kembali, dan bercerita kepada kami, bahwa
    ia berhasil bertemu dengan wanita yang mengaku bernama
    Kismi. Menurutnya, Kismi memang cantik. Luar biasa
    kecantikannya. Kismi hebat di ranjang. Luar biasa
    kehebatannya. Dan, menurutnya, Kismi muncul setelah lewat
    tengah malam. Pintu kamarnya diketuk, dan ternyata Kismilah
    yang datang.”
    “Tigor memesan Kismi dari siapa?”
    “Ia tidak memesan Kismi. Ia yakin, bahwa Kismi itu setan.
    Ia sengaja ingin bertemu setan di situ, dan usahanya itu

    65
    berhasil, la bahkan bangga, karena bisa menjinakkan setan,
    Kismi bukan hantu yang menakutkan menurut Tigor, justru
    sebaliknya, Kismi hantu yang membuat lelaki betah tinggal
    bersamanya.”
    “Lalu, kenapa Tigor bunuh diri?”
    “Karena ia ingin bertemu dengan Kismi lagi, barangkali! Itu
    dugaan kami. Tigor ingin bertemu Kismi, tapi tidak punya
    uang sewa Seruni yang cukup mahal itu. Kemudian, ia
    mengambil pisau badiknya, dan menusuk-nusuk dirinya sendiri
    sampai beberapa kali. Lukman berhasil memukul tengkuk
    kepala Tigor, dan pingsan. Waktu itu, tubuh Tigor sudah
    berlumur darah. Tetapi, anehnya… tangan kanannya yang
    memegang badik sukar dicabut. Tangan kanannya itu justru
    bergerak sendiri, hampir menikam perut Ade.”
    “Kemudian, bagaimana cara kalian mengatasi?”
    “Tidak ada yang bisa mengatasi! Kami melihat sendiri
    tangan kanan itu menikam ulu hatinya sendiri, padahal Tigor
    dalam keadaan pingsan oleh pukulan Lukman. Dan… dan
    setelah tangan kanan itu merasa puas menikam-nikam
    tubuhnya sendiri, lalu ia berhenti. Lemas. Pisau badiknya
    tergeletak. Waktu itu, Tigor masih sempat terlihat napasnya,
    dan kami melarikan dia ke rumah sakit. Tetapi, di perjalanan
    Tigor menghembuskan napas terakhirnya.” Bahtiar menghela
    napas, sedikit tersendat-sendat, mungkin karena menahan
    duka atas kematian temannya yang tragis itu.
    “Tangan kanan…?!” gumam Hamsad sambil mengemudikan
    mobilnya “Lagi-lagi tangan kanannya! Norman, Denny, dan
    kini Tigor, masing-masing bunuh diri dengan tangan
    kanannya. Masing-masing mempunyai persamaan yang
    sekarang baru kusadari, bahwa tangan mereka bergerak
    dengan sendirinya. Jadi, ada satu kekuatan yang
    menggerakkan tangan kanan mereka, lalu menikam diri
    mereka masing-masing. Oh… mengerikan sekali!”
    Madi,-menurutmu ada satu kekuatan yang merasuk pada
    tangan kanan mereka?” tanya Bahtiar.

    66
    “Kurasa memang begitu. Roh seseorang masuk dalam
    tangan kanan mereka, dan membunuh mereka sendiri.
    Dengan begitu, tak ada orang yang dicurigai oleh pihak yang
    berwajib.”
    Bahtiar bergidik. Lalu, ia menggumam lirih, “Sudah pastikah
    bencana itu datang dari perempuan yang bernama Kismi?” Ia
    melirik Hamsad, seakan meminta pendapat. Hamsad diam
    saja. Lama sekali ia terbungkam sambil mengemudikan
    mobilnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata,
    “Akan kucoba menaklukkan dia!”
    Bahtiar buru-buru berpaling memandang penuh perasaan
    cemas. “Kau., kau hendak mencobanya seperti Tigor?”
    “Yah…!” Hamsad mengangguk sambil mendesah.
    “Kupikirkan dulu cara menaklukkannya, baru akan kutantang
    hantu keparat itu!”
    “Berbahaya, Ham! Jangan coba-coba berjudi dengan
    maut!” bisik Bahtiar merasa ngeri mendengar tekad Hamsad.
    “Kau mau membantuku?” Hamsad melirik Bahtiar.
    “Aku masih ingin hidup beberapa saat,” jawab Bahtiar.
    “Kalau begitu aku akan lakukan hal itu sendiri…!” Hamsad
    berkata dengan tenang, datar, seakan di dalam dadanya telah
    mendidih darah kemarahan yang sukar didinginkan kembali.
    Bahtiar makin ngeri melihat rona wajah Hamsad yang
    memancarkan dendam. Ia bagai seseorang yang sudah siap
    untuk mati.
    ***
    Bab 8
    Tekad Hamsad sudah hulat, ia harus menemui Kismi. Ia
    ingin membuktikan segalanya, dan mencari jawaban yang
    pasti tentang Kismi, juga tentang kematian Norman, Denny,
    dan Tigor. Di dalam hatinya ia menyimpan dendam, dan
    dendam itu yang menuntut pembalasan.
    Karena itu, pukul 4 sore itu, Hamsad sudah membocking
    kamar Seruni. Ia belum tahu, bagaimana caranya menghadapi

    67
    Kismi kalau benar wanita itu adalah hantu. Ia hanya punya
    keyakinan, bahwa ia akan bisa mengatasi Kismi dengan
    beberapa doa yang pernah diajarkan oleh kakeknya ketika ia
    masih di SMP. Ada beberapa doa yang konon bisa untuk
    mengusir hantu. Dulu, Hamsad pernah mendapat pelajaran
    mengusir hantu dari kakeknya, tapi satu kali pun belum
    pernah ia gunakan. Kali ini, ia ingin mencoba kekuatan magis
    dari doa tersebut untuk mengalahkan Kismi.
    Hati Hamsad belum terlalu berdebar-debar, karena ia ingat
    cerita para korban, bahwa Kismi akan muncul pada saat
    tengah malam. Karena sekarang masih pukul 4 lebih, rnaka
    tak ada yang perlu dicemaskan, tak ada yang perlu ditakutkan.
    Yang harus ia lakukan adalah mempersiapkan segala
    sesuatunya, di antaranya menghafal doa pengusir setan itu.
    Debur ombak dan angin senja membaur. Suasana di motel
    itu terasa lengang, sepi, namun terlihat beberapa kesibukan
    manusia yang seakan bergerak dan bekerja tanpa suara
    sedikit pun.
    “Aneh…! Mengapa mereka melangkah bagai tanpa suara?
    Mengapa mobil di jalan raya itu bergerak hanya
    memperdengarkan suaranya yang samar-samar? Alam ini
    menjadi lengang, seperti lorong menuju alam kematian. Oh,
    mungkinkah aku akan menemukan ajalku di sini juga?” pikir
    Hamsad sambil duduk di teras kamar Seruni. Tak lama
    kemudian, terdengar suara adzan magrib sayup-sayup sekali.
    Langit menjadi merah lembayung. Mentari mulai
    menyembunyikan diri.
    Iseng sekali Hamsad duduk sendirian di teras. Kebetulan
    seorang petugas motel yang biasa disebut sebagai room-boy
    sedang melintas di depan teras kamar Hamsad. Orang itu
    sudah tua, tapi gerakannya masih lincah, penuh semangat
    kerja.
    “Pak…!” panggil Hamsad, kemudian melambaikan tangan.
    Pelayan tua itu mendekat dengan senyum ramah.
    “Pak, bisa mencarikan saya makanan kecil?”
    “Maksud, Tuan?”

    68
    “Yah… semacam kacang mete, atau emping.”
    “O, bisa. Di restoran kami tersedia makanan itu. Mau
    kacang mete atau emping?” pelayan tua itu ganti bertanya.
    “Emping saja deh! Atau… emping sama kacang mete juga
    boleh.”
    Pelayan itu mengambilkan pesanan yang telah di pesan
    Hamsad. Waktu itu, Hamsad segera masuk dan memeriksa isi
    kulkas. Oh, lumayan ada dua kaleng bir sebagai selingan. Ia
    mengeluarkan salah satu, dan membukanya sambil matanya
    memandang ke arah TV yang dinyalakan dari tadi.
    Tak berapa lama, pelayan datang membawakan emping
    pesanan Hamsad.
    “Masuk saja, Pak!” teriak Hamsad, malas membukakan
    pintu karena ada acara menarik di TV.
    “Sendirian saja, Tuan?” tanya pelayan itu sambil cengarcengir.
    “Ya. Sendirian. Kenapa, Pak?” pancing Hamsad.
    “Tidak membutuhkan teman buat ngobrol-ngobrol?”
    “Teman perempuan maksudnya?”
    Pelayan berambut uban itu terkekeh sesaat,
    “Kalau teman lelaki sih buat apa, Tuan?”
    Hamsad ikut tertawa sekadarnya. Ia membuka plastik
    emping sambil bertanya, “Apa… apa kamu bisa sediakan
    perempuan cantik, Pak?”
    “O, bisa! Bisa saja, Tuan! Mau cari yang modelnya seperti
    apa?”
    ‘Yang paling cantik. Kalau bisa yang seperti Ratu Mesir
    Kuno!”
    Bapak itu terkekeh lagi. la berdiri dengan sikap
    menghormat, sopan, sekalipun merasa geli dengan kata-kata
    Hamsad, tapi ia tetap sopan.
    “Bisa, Pak?” desah Hamsad. Ia berjalan ke ruang tamu, dan
    duduk di meubel yang ada di situ.
    “Saya belum pernah melihat Ratu Mesir Kuno, Tuan,”
    katanya. “Lagi pula, bagi saya, semua perempuan itu ratu.”

    69
    Hamsad sempat tertawa keras mendengar banyolan
    pelayan tua itu. Ia tertarik untuk mengajaknya bicara,
    sehingga ia perlu mempersilakan bapak itu duduk di kursi.
    “Bapak namanya siapa. Pak?”
    “Saya…, Kosmin. Kalau perlu apa-apa bisa panggil saya
    saja lewat telepon, Tuan.”
    “Ah, paling-paling yang kuperlukan ya soal perempuan itu
    tadi. Pak.”
    “Bisa juga! Tempo hari ada yang memesan perempuan dua
    sekaligus! Tamu itu seorang lelaki yang usianya lebih tua dari
    Tuan, dan ia memakai dua perempuan dalam satu kamar.
    Saya juga yang mencarikan. Dia minta perempuan yang
    separuh baya, tapi masih kelihatan cantik dan montok, saya
    terpaksa mencarikannya ke beberapa tempat yang saya
    kenal….”
    “Berhasil?”
    “Berhasil juga, Tuan.”
    “Kalau begitu, carikan saya yang paling cantik.”
    “Boleh. Kapan saya suruh kemari?” tanya Pak Kosmin
    dengan penuh semangat. Hamsad tersenyum kalem sambil
    mengunyah emping.
    “Cantik sekali, nggak? Kalau nggak cantik sekali, saya
    nggak mau, Pak!”
    “O, ditanggung memuaskan, Tuan! Saya punya kenalan
    yang jarang saya suguhkan pada tamu-tamu di sini. Biasanya
    yang suka pakai dia… beberapa boss dari luar negeri.
    Perempuan itu memang biasanya dibawa ke luar negeri oleh
    boss-boss minyak. Baru seminggu yang lalu ia pulang dari
    Itali.”
    Hamsad makin tertarik, ia memperhatikan Pak Kosmin yang
    bermata cekung itu, lalu bertanya dengan penuh harap,
    “Namanya siapa, Pak?”
    “Gea. Nama lengkapnya saya tidak tahu, tapi ia selalu
    memperkenalkan diri dengan nama: Gea!”

    70
    Hamsad kelihatan mengeluh kecil. Ia kurang menggebugebu.
    Namun, ia membiarkan pelayan itu meneruskan
    promosinya tentang Gea. Setelah itu, baru Hamsad bertanya,
    “Pak Kosmin bisa mencarikan perempuan yang bernama
    Kismi?!”
    Pak Kosmin tampak terperanjat sekalipun berusaha
    disembunyikan. Hamsad mengetahui hal itu, dan ia segera
    mengusap tengkuk kepalanya yang sejak tadi bergidik bulu
    romanya. Sejak tadi! Hanya saja, Hamsad tadi bisa menahan
    diri untuk bersikap biasa-biasa saja.
    “Bagaimana, Pak? Kok malah melamun?” tegur Hamsad
    setelah mengetahui lelaki itu melamun. Wajahnya yang tua
    dan sedikit berkeriput itu kelihatan pias. Ia jadi tidak
    bersemangat lagi, seperti tadi. Ada senyum yang dipaksakan
    untuk tetap ramah. Dan, Hamsad membiarkan perubahan
    tersebut, seakan tidak mengetahuinya.
    “Kalau Pak Kosmin bisa mencarikan atau memanggilkan
    perempuan yang bernama Kismi, saya berani kasih tip banyak
    kepada Pak Kosmin,” tantang Hamsad sambil berlagak
    berseloroh. Pak Kosmin tersenyum hambar.
    “Mengapa harus Kismi?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu
    mempunyai arti lain bagi Hamsad, maka ia pun buru-buru
    bertanya,
    “Jadi, Pak Kosmin sudah mengenal Kismi, kan? Sudah
    pernah melihat Kismi, bukan? Nah, type wanita seperti itulah
    yang saya sukai, Pak. Kalau tidak Kismi, saya tidak mau
    ditemani oleh siapa pun!”
    Lelaki berseragam biru-biru, sebagai seragam pelayan
    motel ini, tampak termenung beberapa saat. Lalu, tiba-tiba ia
    mengajukan pertanyaan yang membuat Hamsad sedikit
    terpojok,
    “Apakah Tuan sudah pernah bertemu dengan Kismi?”
    “Hem… anu… bertemu sih belum pernah, tapi ketiga
    temanku pernah bermalam dengan Kismi. Aku mengetahui
    kecantikannya dari ketiga temanku itu, Pak.”

    71
    “Ooo..,” Pak Kosmin manggut-manggut. “Dan, bagaimana
    dengan ketiga teman Tuan itu?”
    “Mereka merasa bahagia sekali tidur bersama Kismi,” jawab
    Hamsad memaksakan untuk bersikap kalem.
    “Maksud saya, bagaimana nasibnya setelah ia tidur
    bersama Kismi?”
    Nah, pertanyaan ini kembali membuat Hamsad merinding.
    Ia melirik ke arah luar lewat gorden jendela, ternyata alam
    telah menjadi gelap. Terbersit perasaan ngeri dalam hatinya,
    namun ia mampu menutupi dengan caranya sendiri.
    “Mengapa Pak Kosmin menanyakan begitu? Apa
    maksudnya?”
    “Setahu saya,” kata lelaki tua itu. “Siapa pun yang tidur
    bersama Kismi, maka ia akan mati!”
    Ada suatu rasa yang menghentak di hati Hamsad, namun
    Hamsad berusaha menetralkan perasaannya.
    “Mengapa harus mati?” tanya Hamsad masih tetap kalem,
    seakan tidak mau percaya dengan keterangan Pak Kosmin.
    “Kismi itu roh!”
    “Ah…!” Hamsad sengaja mendesah dengan nada tidak
    percaya.
    “Sungguh, Tuan. Dulu, memang ada seorang wanita yang
    bernama Kismi. Dia seorang peragawati, tapi dia juga punya
    jabatan penting dalam suatu perusahaan besar di luar negeri.
    Konon, kesibukannya sebagai peragawati hanyalah sebagai
    penangkal kejenuhannya saja…!”
    Karena Pak Kosmin diam. Hamsad mendesaknya,
    “Ceritakan selengkapnya, Pak. Siapa tahu aku mempercayai
    kata-katamu.”
    “Kismi dibunuh di kamar ini oleh pacarnya. Ternyata
    pacarnya itu orang yang punya penyakit syaraf. Ia dicekik, dan
    tangan kanannya dipotong…!”
    Bergidik Hamsad mendengar cerita itu. Sejak tadi ia sudah
    berdebar-debar, keringat dinginnya sudah tersembul, hanya
    saja ia pandai menampilkan sikap tenang sehingga tidak
    kentara apa yang ia rasa.

    72
    “Kismi memang mempunyai hubungan dengan kepercayaan
    Mesir Kuno,” tambah Pak Kosmin, dan tambahan itulah yang
    membuat Hamsad terbelalak kaget.
    “Mmm… mak… maksud… maksudnya, bagaimana, Pak?
    Bagaimana?” Hamsad sampai meng-geragap.
    “Mayat Kismi sampai sekarang masih utuh, karena
    dimakamkan dalam kotak kaca hampa udara. Ia mempunyai
    cincin berbatu putih kekuning-kuningan. Cincin itu, konon
    pemberian seorang profesor, ahli sejarah, yang menjadi
    gurunya di perguruan tinggi. Cincin itu, berasal dari zaman
    Mesir Kuno. Bukan cincinnya yang saya maksud, melainkan
    batu pada cincin tersebut.”
    “O, begitu?! Lalu… lalu… lalu, khasiat cincin itu sendiri
    apa?”
    “Apabila ia mati, nyawanya masuk ke dalam batu cincin
    tersebut. Kalau ia mengenakan cincin itu lagi, maka ia akan
    hidup. Tetapi, kalau sampai tiga kali ia mati, maka ia akan
    mati selama-lamanya!”
    “Gila…!” gumam Hamsad sepertinya antara mengagumi
    dan tidak percaya.
    Pak Kosmin melanjutkan lagi, “Jadi, karena ia dicekik dan
    tangan kanannya dipenggal, maka ia tak dapat hidup lagi.
    Karena, di jari manis tangan kanannya itulah cincin mistik itu
    dikenakan. Ia terpisah dengan cincin tersebut, maka sama
    saja ia terpisah dari nyawanya. Kemudian, pelayannya yang
    selalu mendampingi Kismi memakamkan mayat Kismi di dalam
    tabung kaca hampa udara, supaya kuman tidak merusak
    jasadnya. Apabila potongan tangan kanan itu disambungkan
    lagi ke lengan Kismi, maka ia akan hidup lagi sebagai manusia
    biasa. Itulah keistimewaan dari Cincin Zippus.”
    Beberapa saat lamanya Hamsad terbengong. Terbayang
    sesuatu yang mustahil menjadi nyata. Dan, ia terkejut ketika
    Pak Kosmin berdiri, mohon pamit.
    “Tunggu, Pak…! Bapak sendiri siapa? Kenapa bisa
    mengetahui riwayat Kismi?”
    “Saya pelayan Kismi…!”

    73
    Dan, tiba-tiba lelaki tua beruban putih itu melangkah keluar
    kamar tanpa membuka pintu lebih dulu. Badannya bagai
    gumpalan asap yang mampu menembus daun pintu yang
    tebal. Hal itu membuat Hamsad tercengang dengan mata
    mendelik dan tubuh gemetar. Ia buru-buru membuka pintu
    untuk mengejar Pak Kosmin, tetapi ternyata lelaki tua itu tidak
    terlihat sama sekali. Di luar hanya ada gelap malam yang sepi.
    Sekujur tubuh Hamsad menjadi merinding dan keringat
    dinginnya pun membasahi semua pakaiannya. Lalu, sesuatu
    yang aneh kembali dialaminya, tak lama berselang dari
    peristiwa itu. Hamsad masih terengah-engah, ia melihat
    arlojinya, dan begitu terkejutnya ia setelah mengetahui,
    bahwa saat itu malam sudah menunjukkan pukul 11 lewat 55
    menit.
    “Gila! Arloji murahan bikin kaget saja!” gerutunya sambil
    gemetar. Ia tak percaya, tapi juga penasaran. Ia menelepon
    bagian resepsionis dan menanyakan jam. Ternyata
    jawabannya sama, “Pukul 11 lewat 55 menit, Tuan!”
    “Astaga…! Kalau begitu aku sudah bicara dengan… dengan
    roh pelayan Kismi itu memakan waktu cukup lama?! Dari
    magrib sampai hampir tengah malam?! Oh, konyol! Terasa
    hanya sebentar! Nyatanya lebih dari lima jam?! Gila! Ini benarbenar
    gila!”
    Malam yang mengalunkan deburan ombak samar-samar itu
    ibarat irama penghantar ke liang kubur. Suasana ganjil yang
    menimbulkan rasa takut mencekam kuat di dalam kamar
    tersebut. Jantung Hamsad berdetak-detak keras, sampai dia
    mengalami sesak napas. Ia berusaha merubah suasana
    tegang di dalam kamar dengan suara TV yang mengalunkan
    lagu-lagu tempo dulu: acara ‘Dari Masa ke Masa’. Dengan
    suara keras dari musik-musik itu, Hamsad sedikit berhasil
    mengatasi cekaman rasa takut yang bagai membekukan
    darahnya itu. Ia membuka kaosnya yang basah oleh keringat
    dingin. Bahkan juga melepas celana panjangnya yang lembab
    karena keringat pula.

    74
    Sekarang, ia merasa panas. Gerah. Padahal AC berjalan
    dengan lancar. Karena tak tahan, Hamsad pun mengguyur
    badannya di kamar mandi. Pada saat itu, ia masih terngiangngiang
    cerita Pak Kosmin, dan terbayang kenyataan
    mengerikan dari Pak Kosmin yang mampu menembus pintu
    tanpa dibuka lebih dahulu. Hamsad tidak percaya kalau
    ternyata sejak tadi berbicara dengan roh. Roh pelayan Kismi.
    Dan, agaknya roh pelayan Kismi itu pun mencari tahu di mana
    tangan kanan Kismi yang dipotong oleh pembunuhnya. Maka,
    timbul kecamuk di hati Hamsad,
    “Kalau aku bisa menemukan tangan atau cincin itu, dan
    bisa menyambungkannya ke lengan jenazah Kismi, mungkin
    perempuan itu akan hidup kembali. Lalu, apa yang kuperoleh
    dari pekerjaan itu? Oh… gila! Cerita itu kenapa mendominir
    otakku? Kenapa aku sangat percaya? Bukankah itu suatu hal
    yang mustahil?” Hamsad berdebat sendiri di dalam hatinya.
    Kemudian, batinnya berkata juga,
    “Jadi, pantas kalau selama ini Norman, Denny, dan Tigor
    mati bunuh diri setelah tidur bersama Kismi. Rupanya roh
    Kismi menaruh dendam kepada lelaki. Roh itu yang ada di
    tangan kanannya, pada batu cincin tersebut. Dan, roh itu yang
    masuk ke dalam tangan kanan Norman, kemudian memaksa
    Norman bunuh diri. Padahal itu adalah tindakan pembunuhan
    dari roh Kismi yang ada di tangan kanannya. Oh, mengerikan
    sekali! Apa jadinya jika roh itu masuk ke tangan kananku…?!”
    sambil berkecamuk demikian di batinnya, Hamsad
    mengangkat tangan kanannya sendiri. Memperhatikan tangan
    kanannya itu dengan hati berdebar-debar. Semakin lama ia
    memperhatikan tangan kanannya, semakin gemetar tangan
    kanan itu. Jantungnya bertambah cepat terpacu. Jari-jemari
    tangan kanannya mengejang. Mulanya bergerak-gerak, lalu
    mengejang semuanya, membentuk cakar.
    “Oh…?! Tangan kananku kaku..?!” katanya terpekik
    ketakutan sendiri. Ia mendelik memperhatikan tangan
    kanannya. Jari-jemari itu gemetar pada saat membentuk cakar
    yang keras dan kaku. Tangan kiri Hamsad buru-buru

    75
    melunakkan tekukan jari-jemari tangan kanannya. Dan,
    Hamsad pun menghempaskan napas. Ternyata tangan
    kanannya mengalami kram sebentar. Kini kembali lemas,
    seperti sediakala.
    Sambil mengenakan handuk, Hamsad terengah-engah
    karena rasa takutnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan
    hanya berbalut handuk, karena pada saat itu ia mendengar
    suara TV berkerosak tak karuan. Ternyata layar TV sudah
    tidak menampilkan gambar apa-apa lagi, kecuali bintik-bintik
    semacam semut berpesta pora. Salurannya bagai ada yang
    memutus, dan suara berisik itu mengganggu pendengaran
    Hamsad. Maka, pesawat TV pun terpaksa dimatikan. Dan, kali
    ini kamar menjadi hening tanpa suara apa pun.
    Hamsad duduk di pembaringan dengan melamun,
    membayangkan sesuatu yang bersimpang siur dalam
    pikirannya. Kacau!
    ***
    Bab 9
    Suara ketukan pintu yang lembut mengejutkan lamunan
    Hamsad. Napasnya terhempas karena rasa kagetnya. Ia
    sempat mencaci sendiri, lalu menyadari bahwa ia lupa
    membayar uang emping dan kacang mete. Setelah mengambil
    uang puluhan ribu dari dompetnya, Hamsad menuju ke ruang
    tamu dengan hanya berbalut handuk tebal.
    Klik…! Pintu dibuka, dan sapaan lembut terdengar,
    “Selamat malam…!”
    Hamsad terbelalak seketika. Darahnya bagai mengalir cepat
    ke bagian kepala. Pucat. Napasnya pun tersentak, seakan
    berhenti seketika. Di depannya, berdiri seorang perempuan
    yang berbadan atletis, tinggi sekitar 168 cm, berbadan padat,
    menonjol namun ideal bagi tubuhnya yang sexy itu. Mulut
    Hamsad bergerak-gerak, namun tak berhasil melontarkan
    sepatah kata pun. Matanya tak bisa berkedip menatap seraut

    76
    wajah klasik, dengan kecantikan yang mirip seorang ratu Mesir
    Kuno. Hidung mancung, bibir ranum tak terlalu lebar, mata
    bulat dengan kebeningan yang tajam meneduhkan, dan
    rambut hitam indah disanggul ke atas, sehingga
    menampakkan lehernya yang tergolong jenjang itu berkulit
    kuning langsat.
    Yang terucap di hati Hamsad hanya kata-kata, “Sudah
    lewat tengah malam…!”
    Perempuan itu tersenyum ramah, indah sekali. Enak
    dipandangi berjam-jam lamanya. Suaranya yang serak-serak
    manja terdengar membuai hati Hamsad yang gemetar.
    “Boleh aku masuk?”
    “Bo… bob… eh, sil… silakan…!” Hamsad menggeragap.
    Jantungnya yang berdetak cepat membuat ia serba gemetar.
    Berulangkah ia menelan napasnya untuk menguasai
    kegugupan yang mengerikan, dan sedikit-sedikit ia mulai
    berhasil menenangkan gemuruh di dalam dadanya.
    Ada bau harum dari parfum yang dikenakan perempuan itu.
    Bau harum itu begitu lembut, klasik, namun membawa kesan
    yang anggun. Perempuan itu mengenakan gaun transparan
    putih tanpa lengan. Tas kulit warna hitam yang bertali rantai
    kuning keemasan tergantung di pundak kirinya. Sepatunya
    berwarna hitam, menapak di lantai. Jelas sekali. Ketika
    melangkah terdengar ketukan sepatunya yang lembut.
    Waktu itu, angin berhembus lebih kencang dari
    sebelumnya. Suara angin itu mengalun bercampur deburan
    ombak. Malam berubah menjadi lebih sunyi lagi, seakan kutukutu
    malam pun tak berani bersuara. Hal itu semakin
    membuat Hamsad dicekam rasa takut, tubuhnya pun menjadi
    merinding semua.
    “Sendirian di sini?” suara serak-serak manja yang
    menggemaskan hati lelaki itu mengacaukan pikiran Hamsad.
    Ia masih diam di pintu, tanpa menutup daun pintu, sehingga
    angin yang berhembus membawa kemisterian itu menerobos
    masuk ke kamar. Ia tak sempat menjawab dengan kata,
    kecuali mengangguk dan menampakkan rasa takutnya. Ada

    77
    niat untuk lari keluar kamar dan berteriak meminta tolong,
    tetapi sikap perempuan itu begitu mengesankan, baik dan
    ramah. Sehingga, hati Hamsad berdiri di batas kebimbangan.
    “Apakah ruangan ini kurang dingin? Kurasa sudah cukup
    sejuk, tak perlu kau tambah dengan cara membiarkan pintu
    terbuka,” katanya sambil menampakkan senyumnya yang
    mengagumkan sekali. Hamsad pun segera menutup pintu,
    namun tak berani menguncinya. Ia jadi seperti orang bego
    berdiri bersandar pada pintu dengan kedua lutut gemetar.
    Detak-detak jantungnya kembali memburu ketika perempuan
    itu melangkah mendekati Hamsad, memandang dengan penuh
    sorot mata yang mempesonakan.
    Luar biasa kecantikan itu. Hamsad baru percaya dengan
    apa yang pernah dikatakan Almarhum Norman, Denny, dan
    Tigor. “Perempuan itu mempunyai kecantikan yang luar biasa.
    Kehebatan di ranjang yang luar biasa pula….” Pantas rasanya
    jika para korban memuji Kismi habis-habisan, karena
    perempuan itu memang patut dipuji dan disanjung. Hanya
    saja, kali ini lidah Hamsad masih kelu, darahnya berdesir
    seakan beredar di seluruh tubuh dengan kacau. Apalagi kali ini
    perempuan itu tepat berada di depannya, oh…. Hamsad
    seperti kehilangan kesempatan untuk menghela napas.
    “Kau sakit?” tanya perempuan itu. “Wajahmu pucat sekali.”
    Kemudian, karena lama sekali Hamsad tidak bisa
    menjawab, perempuan itu menyentuh jari-jemarinya ke pipi
    Hamsad. Lembut sekali. Pelan. Hamsad merasa diusap oleh
    selembar kain sutra yang berbau harum menggairahkan.
    Lutut semakin gemetar, nyaris tak bisa dipakai untuk
    berdiri, karena saat itu, Hamsad merasakan suatu ciuman
    yang hadir dengan sangat pelan. Menempel di pipinya terasa
    menghangat dipermukaan wajah Hamsad. Suara serak-serak
    manja menggemaskan itu terdengar berbisik di telinga
    Hamsad,
    “Kosmin memberitahu kehadiranmu. Aku tahu, kau
    membutuhkan aku, bukan? Kau mencari aku, bukan?” Ia
    segera menarik wajahnya, kini beradu pandang dengan

    78
    Hamsad. Mulut Hamsad masih kaku, sukar digerakkan. Dan,
    perempuan itu berkata lagi,
    “Jangan takut. Aku Kismi, orang yang kau cari. Kau hanya
    memilih aku dari sekian perempuan yang ditawarkan Kosmin.
    Dan, sekarang pilihanmu telah berada di sini, di depanmu.
    Mengapa kau diam saja? Mengapa kau takut? Barangkali
    karena kau mendengar cerita dari Kosmin, lantas kau pikir aku
    akan membunuhmu? Hem…?!”
    Oh, begitu mesranya ia bicara. Sesekali tangannya
    mengusap rambut di kening Hamsad, menyibakkan ke
    belakang dengan tatapan mata penuh curahan rasa kasih.
    “Barangkali kita bisa buat perjanjian,” katanya dengan
    lembut.
    “Ak… aaak… akuuu…,” Hamsad berkata dengan gagap.
    “Akuuu… hm… akkk….”
    “Ssst…!” Kismi menempelkan jari telunjuknya ke bibir
    Hamsad. Ia membisik, “Kecuplah bibirku…! Kecuplah, agar
    rasa takutmu hilang…!”
    Hamsad gundah. Debaran hatinya membuat ia tersengalsengal
    dalam bernapas.
    Kismi memejamkan mata, menyodorkan bibirnya yang
    terperangah menantang. Ia berbisik lagi, “Kecuplah aku…
    kecuplah, supaya rasa takutmu hilang…!”
    Dengan gemetar, Hamsad mendekatkan bibirnya ke bibir
    Kismi. Ia ragu sejenak, tetapi Kis-mi bergerak lebih maju,
    sehingga bibirnya menyentuh bibir Hamsad. Kemudian,
    Hamsad mengecup bibir itu dengan gemetar. Mulanya hanya
    ingin sekejap, tetapi Kismi membalas dengan hangat.
    Mengulumnya, melumatnya penuh gairah. Bahkan ia
    mendesah ketika bibir itu terlepas sekejap. Sebelum Hamsad
    menarik diri, Kismi telah mengulang adegan itu. Semuanya ia
    lakukan dengan lembut, tidak kasar dan rakus. Justru
    kelembutan itulah yang membuat hati Hamsad terasa tersiram
    serpihan salju. Dingin, tenang, dan debarannya pun
    berkurang.

    79
    Perlahan-lahan sekali Kismi melepaskan kecupan itu,
    seakan merasa enggan memisahkan bibirnya dari bibir
    Hamsad. Ketika kecupan itu berhenti, senyum Kismi mekar
    mengagumkan. Hamsad mulai menyunggingkan senyum
    bernada malu. Anehnya, saat itu ia tidak lagi merasa
    berdebar-debar. Ia tidak merasa takut dan gemetar. Ia dalam
    keadaan normal, memandang Kismi seperti memandang
    perempuan biasa. Hamsad sadar, ia berhadapan dengan
    hantu, tapi ia tidak merasa ngeri sedikit pun. Justru ia merasa
    bangga bisa berhadapan muka dengan wanita berwajah mirip
    ratu Mesir Kuno itu. Ia berdecak menyatakan rasa kagumnya
    kepada Kismi.
    “Bagaimana aku harus memanggilmu?” tanya Kismi sambil
    melingkarkan kedua tangannya ke leher Hamsad. Matanya
    berkedip-kedip memandang Hamsad dengan penuh pesona
    mengagumkan.
    “Panggil aku, Hamsad!” jawab Hamsad dengan lancar, tak
    ada kebimbangan, hanya sedikit sisa getaran masih terasa.
    “Aku kagum padamu, Hamsad. Kau manusia yang nekat.
    Kau punya semangat, tapi tidak punya keberanian. Mungkin
    begitulah dalam hidupmu sehari-hari.”
    Hamsad tersipu. Ia tak berkedip menatap Kismi, kemudian
    ia berkata bagai di luar kesabaran, “Cantik sekali…!”
    “Siapa?” tukas Kismi.
    “Kau…,” desah Hamsad, romantis sekali. Kismi mencibir
    manis. Kemudian keduanya sama-sama tertawa. Keduanya
    sama-sama berpelukan, masih di depan pintu.
    “Aneh sekali…,” bisik Hamsad.
    “Apanya yang aneh?”
    “Hatiku jadi berbunga-bunga. Aku bahagia sekali.”
    “Kenapa?” bisik Kismi makin mendesah.
    “Aku bisa bertemu denganmu, dan aku bisa memelukmu,”
    jawab Hamsad. “Padahal aku tahu….”
    “Tahu apa?” tukas Kismi lagi, seakan menggoda.
    “Aku tahu, bahwa kau bukan manusia…!”

    80
    Kismi buru-buru melepaskan pelukannya. Ia kelihatan
    tersinggung. Hamsad menggeragap bingung ketika Kismi
    meninggalkannya. Perempuan itu berjalan ke kamar tidur, dan
    menghempaskan dirinya di tepian ranjang. Wajahnya murung.
    Hamsad serba salah jadinya. Ia mencoba mendekati Kismi dan
    berkata penuh sesal,
    “Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.”
    “Aku tidak tersinggung,” jawab Kismi. Masih murung. “Aku
    sedih jika ada yang mengatakannya begitu. Aku ingin kau
    pura-pura tidak mengetahui siapa aku.”
    “Mengapa begitu?”
    Kismi mendongak, memandang Hamsad yang berdiri di
    sampingnya. Wajah Kismi tepat berada di pinggang Hamsad.
    Perempuan itu berkata dengan nada sedih,
    “Aku datang memenuhi keinginanmu. Aku ingin mengagumi
    lelaki yang punya tekad seperti kamu. Jadi, aku tak ingin
    mendengar kata-kata seperti itu lagi.”
    “Aku berjanji tidak akan mengatakan hal itu lagi, Kismi,”
    kata Hamsad sambil mengusap-usap kepala Kismi. Kepala itu
    pun kemudian rebah di pinggang Hamsad.
    “Aku ingin mencari kebahagiaan. Aku ingin menghibur
    diriku seriang mungkin. Aku…,” Kismi berhenti sejenak,
    mendongak lagi, menatap Hamsad, lalu berkata,”… aku ingin
    hanyut dalam kemesraan.”
    Hamsad mengangguk, “Apakah menurutmu aku bisa
    memberi kemesraan padamu?”
    Tangan Kismi mulai merayap, mengusap-usap paha
    Hamsad yang hanya dibalut handuk itu. Ia bicara bagai
    sedang melamun,
    “Aku tak tahu, apakah kau yang terpilih bagiku. Tetapi, aku
    sangat menyukai lelaki yang punya tekad, daripada yang
    hidup penuh kebimbangan. Biasanya, lelaki yang hidup
    mengandalkan tekad, ia mempunyai naluri bercumbu sangat
    romantis.”
    Hamsad tertawa pelan. “Aku tidak merasakan diriku begitu.
    Kismi,”

    81
    “Tapi aku merasakannya…,” seraya tangan Kismi terus
    merayap pada bagian terpeka bagi seorang lelaki. Hamsad
    membiarkan tangan itu memainkan sesuatu, Ia sibuk
    menekuni hatinya yang berdebar-debar dalam keindahan.
    Lalu, ia sedikit menunduk, mencium kening Kismi. Wajah
    itu buru-buru tengadah ke atas, merenggangkan bibirnya
    dalam desah yang tipis sekali. Hamsad mencium kening dan
    merayap ke hidung Kismi, kemudian merayap lagi perlahanlahan,
    sampai akhirnya mulut Hamsad menyentuh bibir Kismi.
    Lidah Hamsad mempermainkan bibir Kismi yang segar dan
    menggairahkan itu. Kismi mengerang pelan, bagai merengek
    minta sesuatu. Kemudian, Hamsad pun mengecup bibir itu
    pelan-pelan. Lembut sekali. Sementara itu, tangan Kismi yang
    nakal semakin bengal.
    Handuk pembalut pun terlepas dan jatuh di lantai. Hamsad
    membiarkan. Ia masih sibuk menciptakan sejuta desiran indah
    melalui kecupan bibir Kismi. Tapi, kali ini tangan Hamsad pun
    menarik tali gaun yang ada di pundak Kismi. Kedua tali pun
    terlepas, dan gaun transparan itu terkulai jatuh di pangkuan
    Kismi. Tangan Hamsad mulai merayap dengan usapan lembut,
    sentuhan jemarinya bagai mengambang dan justru
    menciptakan debaran halus di hati Kismi.
    “Oh… kau pandai membawaku melayang, Hamsad…,” bisik
    Kismi dalam desahnya. Ia buru-buru memeluk pinggang
    Hamsad. Mengecup pinggang itu, dan menjalar ke manamana.
    Hamsad melepas sanggul rambut Kismi sambil berdesis-
    desis. Rambut itu tergerai sebatas punggung. Lemas
    sekali. Halus, dan berbau harum. Tangannya mengusap-usap
    punggung Kismi dengan gerakan lamban, sedangkan Kismi
    semakin berani menjalarkan lidah dan bibirnya ke ujung
    percintaan Hamsad.
    Di relung keheningan malam, suara desah mereka saling
    memburu. Kismi sering memekik dalam keadaan tubuhnya
    mengejang kaku, sedangkan Hamsad hanya mendesah-desah
    dan tetap menjadi nahkoda ‘pelayaran’ itu. Ia sengaja tidak
    mendorong tubuh selembut sutra itu ke permukaan ranjang.

    82
    Ia biarkan cintanya melayang-layang dengan mengandalkan
    kekuatan kakinya. Kismi sendiri agaknya masih mampu
    menegakkan betisnya, sekalipun ia merasa limbung beberapa
    kali.
    Namun, kehebatan Kismi akhirnya membutuhkan alas bagi
    punggungnya, dan ia menarik Hamsad perlahan-lahan, maka
    jatuhlah mereka di ranjang yang berkasur empuk itu.
    Kecupan-kecupan Hamsad masih membanjir di sekujur tubuh
    Kismi. Napasnya masih mampu berlari sejauh 10 km lagi,
    bahkan lebih. Kismi merasa dirinya diterbangkan oleh amukan
    kasmaran Hamsad, sampai-sampai ia menggelinjang dengan
    brutal karena mengalami masa kejayaan cintanya beberapa
    kali.
    Pada detik-detik yang mendebarkan cinta Hamsad, ia
    semakin ‘berlari’ cepat, mengejar bayangan kasihnya di
    puncak bukit cinta. Ketika ia tiba di sana, ia pun mengerang
    panjang dan mengejang. Kismi ganti mengambil alih ‘kemudi’.
    Kini menjadi nahkoda ‘pelayaran’ malam itu. Dan sebagai
    seorang nahkoda, ia ternyata mempunyai kelincahan
    mempermainkan kemudi. Layar dikembangkan, dayung
    direngkuh, dan bahtera pun melaju makin dipermainkan
    ombak. Hamsad tak sempat berpikir untuk menentukan, Kismi
    bahtera atau ombak? Ia hanya merasakan amukan gelombang
    yang melemparkan ia ke awang-awang. Kismi bagai gulungan
    badai yang mampu menerbangkan Hamsad ke atas
    percintaannya beberapa kali, hingga pekikan dan erangan
    bahagia pun terlontar silih berganti.
    Ketika menyongsong fajar, kasur sudah berubah menjadi
    tanah lembab. Seprei dan selimut tebal tak ubahnya rumput
    yang terbabat, berserakan ke mana-mana. Banjir keringat
    mengguyur tubuh mereka. Napas-napas terpenggal saling
    berhamburan. Tubuh Kismi lunglai di peraduan. Hamsad
    mengusapnya dengan sarung bantal. Tubuh mulus tanpa
    cacat sedikit pun itu dibersihkan dari keringat. Diusap
    perlahan-lahan. Kemudian, dikecupnya beberapa bagian.
    Masih saja tercium bau wangi yang lembut dan

    83
    menggairahkan. Napas Kismi terengah-engah, dadanya yang
    menonjol dalam bentuk indah itu bergerak naik-turun. Ia
    membiarkan Hamsad mengucapnya beberapa kali, terkadang
    mencekam pada titik terpeka, dan Kismi hanya bisa
    mengerang di sela desah napas dan kelunglaian
    persendiannya.
    “Luar biasa…,” gumamnya bercampur dengus napas yang
    terengah-engah. Hamsad diam saja. Masih mengusap-usap,
    masih mencium beberapa tempat, masih pula menatapinya
    penuh rasa kagum dan bangga diri.
    Tangan Kismi meraba keringat Hamsad yang meleleh dari
    leher ke dada. Ia tersenyum, lalu berkata lirih,
    “Kau sungguh luar biasa, Hamsad. Kau… ah, kenapa baru
    sekarang kau kutemukan?”
    Hamsad tersenyum di sela engahan napasnya. “Kau
    memiliki kata dan tanya yang sama dalam benakku. Tapi…
    mengapa kau tampak pucat sekali? Lelah?”
    Kismi mengangguk, tak malu-malu. “Kau juga pucat,
    seperti selembar kertas. Capek?” tanyanya bergantian. Lalu,
    keduanya mengadu wajah sambil tertawa bahagia.
    ‘Hamsad, aku harus pulang sebelum matahari terbit,” bisik
    Kismi.
    “Tak bisakah kau tinggal sampai siang hari?”
    Kismi menggeleng. “Kita harus berpisah,” ucapnya penuh
    sendu. “Tapi, bila lewat tengah malam, kita bisa berjumpa
    lagi, Hamsad.”
    “Oh… tidak! Aku ingin memilikimu sepanjang masa, Kismi!
    Aku ingin mendekapmu, ingin menciummu, tanpa peduli siang
    atau malam.”
    “Hamsad, kau tahu siapa aku, bukan? Kita punya
    perbedaan masa. Kita punya perbedaan alam. Dan, itu tak
    bisa dibantah, Hamsad.”
    “Harus bisa! Aku tidak ingin kehilangan kau, Kismi. Aku…
    ah, terlalu mudah jika aku berkata cinta padamu, bukan? Jadi,
    sebaiknya tak kukatakan, bahwa aku mencintaimu….”
    “Kau sudah mengatakannya. Hamsad.”

    84
    Kemudian, Kismi pun tertawa mengikik geli sambil memijit
    hidung Hamsad. Tangan Hamsad mengibas, dan ia ganti
    memijit hidung Kismi sambil berkata, “Nakal…!”
    Pagi mulai meremang. Kismi bergegas pulang dengan
    wajahnya yang pucat. Hamsad sempat berbisik sedih, “Kapan
    kau datang padaku lagi, Kismi?”
    “Menunggu saatmu pulang kemari,” jawab Kismi. “Hati-hati,
    Hamsad. Mudah-mudahan ia tidak mengancammu.”
    “Siapa…?!” Hamsad merasa heran. Kismi diam saja.
    ***
    Bab 10
    Tubuh yang lunglai itu tergeletak sampai siang hari.
    Hamsad bagai habis mengadakan perjalanan jauh. Tulangtulangnya
    terasa ngilu semua. Ia meninggalkan motel itu
    antara pukul 12 siang. Ia tidak langsung ke rumah, melainkan
    ke kampus, karena hari itu ia punya acara: mengadakan
    audensi dengan salah seorang tokoh bersama dua temannya.
    Namun, ternyata benaknya sudah telanjur dipenuhi oleh
    kesan indah dan manis dari Kismi. Berulangkah’ ia
    mengalihkan pikirannya, tanpa sadar toh kembali juga ke
    masalah Kismi. Ia memang pernah punya perasaan cinta. Ia
    pernah menyukai seorang gadis. Tetapi, tidak seperti kali ini
    perasaan suka kepada gadis yang ia rasakan. Kali ini ia benarbenar
    terpaku oleh perasaan cintanya kepada Kismi. Ia seperti
    belum pernah mengenal cinta sebelumnya. Bahkan, dalam hati
    ia berkata, “Aku seperti anak ingusan yang baru pertama kali
    ini disentuh wanita. Padahal aku sering mencium Reni sewaktu
    di SMA. Aku juga sering berciuman dengan Laila. Bahkan aku
    pernah tidur dengan Pungki. Tetapi, mengapa mereka tidak
    meninggalkan kesan yang mematri di hatiku? Mengapa
    mereka jauh berbeda dengan Kismi? Kesannya begitu kuat,
    membuat aku tak mampu mengalihkan konsentrasiku walau
    sekejap. Oh… luar biasa daya tariknya. Luar biasa kecantikan

    85
    itu. Pantas kalau Norman dan yang lainnya tega melakukan
    bunuh diri demi cintanya yang tak tercapai itu.”
    Dalam perjalanan ke kampus, mendadak Hamsad menjadi
    tegang. Hatinya berdebar-debar setelah ia ingat kematian
    Norman, Denny, dan Tigor. La menggumam sendiri di dalam
    mobilnya, “Mereka mati dengan cara bunuh diri. Mereka
    bunuh diri karena rindu pada Kismi. Mereka rindu, karena
    mereka jatuh cinta pada Kismi. Lalu, bagaimana dengan aku?
    Apakah aku tidak akan berbuat seperti Norman, Denny, dan
    Tigor? Oh, jangan! Jangan sampai aku sepicik mereka. Aku
    harus tegar, tak mau jatuh karena perempuan. Tapi…?”
    Hamsad berkerut dahi. Ia melanjutkan kata-katanya dalam
    bentuk kecamuk di dalam liati.
    “Tapi, Kismi meninggalkan pesan yang misterius. Saat ia
    sebelum pergi, sebelum ia mengecup bibirku yang terakhir
    kali, aku mendengar ia menyuruhku berhati-hati. Ada sebaris
    kata yang aneh. Mudah-mudahan ia tidak mengancammu’.
    Ia…?! Siapa yang dimaksud ‘ia’ oleh Kismi itu? Benarkah diriku
    terancam? Oleh siapa sebenarnya? Kekasih Kismi? Kekasihnya
    yang telah tega membunuhnya itu? Ih, brengsek amat kalimat
    itu. Menghantui pikiranku terus. Siapa sih sebenarnya yang di
    maksud itu…?!”
    “Pucat sekali kau!” tegur Ade di pintu gerbang kampus.
    Waktu itu, Hamsad sedang; menuju ke gedung rektorat
    setelah memarkirkan mobilnya. “Kau habis begadang, ya?
    Atau… sakit?”
    “Apakah aku kelihatan pucat?!”
    “Ya, pucat sekali,” jawab Ade tegas. Hamsad jadi gelisah.
    “Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu, De. Tapi,
    tunggu sebentar, aku punya urusan penting.”
    “Oke. Aku nongkrong di kantin! Kutunggu kau di sana,
    Ham.”
    Ragu-ragu Hamsad jadinya. Wajahnya pucat pasi. Semua
    temannya yang berpapasan dengannya mengatakan begitu.
    Malahan seorang dosen yang berpapasan dengannya juga
    menyarankan, “Pulanglah! Jangan paksakan diri kalau kau

    86
    dalam keadaan sakit. Ilmu bisa dicari sampai tua, tapi nyawa
    seseorang tidak bisa dicari lagi. Sekali hilang, akan selamanya
    hilang.”
    Setelah bertemu dengan temannya yang punya urusan
    sama, Hamsad juga dianjurkan untuk pulang. Justru temannya
    kelihatan cemas dan berkata, “Kau benar-benar seperti mayat,
    Ham. Aku kuatir kau akan mengalami naas di sini! Pulanglah.
    Biar aku yang mengurus masalah kita ini.”
    Hamsad tidak langsung pulang, melainkan langsung ke
    kantin menemui Ade. Di pintu kantin ia berpapasan dengan
    Yoppi. Yoppi pun terkejut melihat Hamsad berwajah pucat
    sekali, ia menegur,
    “Gila kau, Ham! Kau kemanakan darahmu? Kau seperti
    manusia tanpa darah setetes pun, tahu?!”
    “Aku sedang tak enak badan,” ujarnya seraya langsung
    menemui Ade. Yoppi menguntit dari belakang. Begitu Hamsad
    duduk, Yoppi ikut duduk di sampingnya, tapi langsung
    berkata,
    “Demi Tuhan, aku jadi merinding melihat kau berjalan,
    Hamsad! Kau…. Wah, celaka! Kurasa saat ini bukan waktumu
    untuk ngobrol di sini!” Yoppi kelihatan cemas sekali.
    Sedangkan Ade hanya memandang Hamsad dengan
    kecemasan yang disembunyikan.
    “Aku…. Oke-lah, aku akan pulang dan beristirahat. Tetapi,
    sebelumnya ada yang ingin kuta-kakan kepada kalian,” kata
    Hamsad. “Tapi, kumohon kalian bisa merahasiakan. Kumohon
    sekali!”
    Yoppi dan Ade menggumam. Yoppi kelihatan lebih tegang
    dari Ade. Ia juga yang bertanya.
    “Tentang apa itu, Ham?!”
    Hamsad berkata pelan, “Aku telah bertemu dengan Kismi.”
    “Hah…?!” Kini, bukan Yoppi saja yang terpekik kaget,
    melainkan Ade pun jadi tersentak. Duduknya yang semula
    bersandar santai, kali ini bergerak maju dan mata memandang
    Hamsad penuh kecemasan.

    87
    “Kau…?! Kau bertemu dengan Kismi?!” Ade setengah tidak
    percaya.
    “Aku tidur dengan perempuan itu,” tambah Hamsad,
    semakin membuat Yoppi dan Ade menampakkan rasa
    takutnya. “Aku bergumul dengannya. Semalaman kami tak
    tidur. Ia memang hebat, istimewa dan luar biasa segalanya.
    Kecantikannya luar biasa, kekuatannya di ranjang juga luar
    biasa…!”
    “Tunggu, Ham…!” sergah Yoppi. Lalu, Yoppi berkata dalam
    bisikan yang dipertajam, “Dulu, Almarhum Tigor juga
    menceritakan hal itu kepada kami. Dan, malamnya ia bunuh
    diri. Denny pun demikian. Lalu, mengapa sekarang kau
    berkata begitu, Hamsad?! Apakah kau tak menyadari risiko
    berbahaya yang akan menimpamu?!”
    Sebelum Hamsad menjawab, Ade telah berkata, “Aku jadi
    merinding. Sungguh. Aku takut membayangkan kengerian
    yang akan kau alami nantinya. Oh… saat ini aku seperti
    melihat Tigor merenggangkan nyawanya karena tikaman badik
    ke tubuhnya…! Uh, mengerikan sekali, Ham! Sangat
    mengerikan!”
    Getir juga hati Hamsad mendengar kata-kata mereka, Ia
    makin beri debar-debar. Sudah lama ia berhenti merokok,
    namun kali ini ia menyahut rokok Yoppi dan menghisapnya.
    Barangkali ia mencari ketenangan jiwa dengan cara
    menghisap rokok. Namun, natanya ia masih saja kelihatan
    pucat dan tegang.
    “Aku tahu, apa yang dialami mereka yang habis bercinta
    dengan Kismi, tapi aku menjaga kesadaranku untu’k tidak
    berbuat seperti mereka,” kata Hamsad dongan gerak mata
    yang nanar karena hati berdebar-debar.
    “Apakah kau bisa?”
    “Harus bisa! Aku tidak boleh cengeng. Aku harus tegar
    dan…”
    “Norman bukan pemuda cengeng,” sahut Yoppi. “Dia
    pemuda yang tegar dan tidak mengenal kecengengan. Tetapi,
    nyatanya ia rapuh…!”

    88
    “Ia menikam dirinya sendiri dengan gunting,” sahut Ade.
    Kemudian, Yoppi melanjutkan,
    “Ia tidak bisa mengendalikan tangan kanannya yang
    beirgerak sendiri menikam dirinya…! Ham, aku curiga, di balik
    kematian mereka ada kekuatan gaib yang berperan tanpa
    mereka sadari. Kekuatan gaib itu… menurutku, berasal dari
    Kismi.”
    “Benar,” jawab Hamsad tegas.
    “Kalau kau tahu, mengapa kau lakukan?” sela Ade.
    Hamsad menghempaskan napasi “Sudah telanjur, De.
    Semuanya sudah telanjur. Aku tahu, Kismi sebenarnya sudah
    mati…!”
    “Ya, Tuhan…!” keluh Ade.
    “Kismi memang hantu, tetapi Kismi tidak seperti hantu.
    Aku… aku mencintainya, De.”
    “Gila kau!” geram Yoppi. “Kalau terjadi sesuatu padaku,
    kumohon, jangan ada yang mencobanya lagi. Lupakan
    tentang Kismi, dan jangan ada yang tergiur dengan cerita ini,
    juga jangan ada yang terpengaruh dengan cerita Almarhum
    Norman, Denny, maupun Tigor. Berbahaya! Aku akan
    mencoba mengalahkannya dengan caraku sendiri. Kalau aku
    gagal, berarti kalian akan gagal juga jika mencoba
    mengalahkannya…’:”
    Yoppi dan Ade sama-sama diam. Napas mereka terasa
    sesak. Mereka seakan berada di depan calon mayat. Mereka
    merasakan sesuatu kelengangan. Sepertinya, itulah saat -saat
    yang terakhir mereka bertemu dengan Hamsad. Yoppi sendiri
    terlihat begitu sedih dan cemas. Mungkin saat itu ia tak tahan
    menghadapi kenyataan, maka ia segera berdiri. Ia menepuknepuk
    punggung Hamsad. Ingin mengucapkan sesuatu,
    mungkin kata “Selamat jalan”, tetapi mulutnya tak mampu
    mengucap kata apa pun. Yoppi pergi begitu saja dengan
    desah napas yang terdengar oleh Hamsad dan Ade.
    Di rumah, Hamsad sendiri jadi gelisah. Ia dibayang-bayangi
    kenangan manis bersama Kismi di kamar motel itu. Kenangan
    manis itu menghantuinya, membuat ia tak dapat beristirahat

    89
    siang. Beberapa kali ia menelan telur ayam kampung yang
    masih mentah, meminum susu dan madu sebanyakbanyaknya.
    Ia ingin menutupi kepucatan wajahnya, agar tidak
    mencurigakan keluarga. Lalu, ia pun lebih sering mengurung
    diri di kamar. Benaknya berkecamuk terus, membuat ia
    menjadi pusing dan mual.
    Ketika sore hari, Dian, adik perempuannya, minta diantar
    ke rumah teman untuk suatu urusan. Hamsad sebenarnya
    malas keluar rumah. Tetapi, setelah dipikir-pikir, untuk
    menghilangkan kegelisahan yang menteror jiwanya, ia perlu
    mencari penyegar. Suasana di dalam kamar bisa mengurung
    jiwanya pada kenangan manis bersama Kismi. Maka, ia pun
    tidak keberatan mengantar Dian ke rumah temannya.
    Sepanjang perjalanan Hamsad tak banyak bicara. Biasanya
    ia banyak bercerita kepada Dian, baik mengenai teman
    kampusnya, atau mengenai cewek yang ditaksirnya. Dian
    menjadi heran melihat kakaknya murung dan
    menyembunyikan perasaan. “Ada apa, Ham?”
    Hamsad hanya melirik dan berkerut dahi, berlagak bingung.
    Dian melanjutkan kata-katanya, “Ada apa kau murung? Kau
    pucat sekali! Pasti kau punya persoalan! Aku tak yakin kalau
    kau terkena penyakit! Kau pasti punya masalah yang
    membuatmu stres begitu. Ada apa sih?”
    “Tidak ada apa-apa,” jawab Hamsad.
    “Ham, aku memang adikmu. Aku memang lebih muda
    darimu. Tetapi, otakku masih bisa mengungguli otakmu,” kata
    Dian yang kuliah di kedokteran, dua tingkat di bawah Hamsad.
    “Jadi, jangan sepelekan aku! Aku bisa membantu
    memecahkan problemmu. Banyak teman yang suka minta
    pendapat padaku, dan aku bisa mencarikan jalan keluarnya.”
    “Oke. Aku mengakui, kau memang cerdas. Tapi, untuk
    mengutarakan masalahku, aku perlu mempertimbangkan
    masak-masak.”
    “Kenapa begitu? Kau sangsi?”
    “Bukan soal sangsi, tapi ini menyangkut soal pribadi!”

    90
    “Aaah…! Kau mulai tertutup denganku, Ham! Itu tidak
    menguntungkan kamu…!”
    Berulangkali Dian membujuk kakaknya agar membeberkan
    masalah yang ada, tetapi Hamsad masih ragu-ragu. Banyak
    beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, dan itu semua
    membutuhkan tempo yang cukup lama.
    Sampai pulang dari mengantar Dian, Hamsad masih belum
    punya keputusan. Haruskah ia bicarakan masalahnya kepada
    keluarga? Apakah itu tidak akan mengganggu ketenangan
    keluarganya? Bagaimana jika keluarganya tahu, bahwa
    Hamsad di ambang kematian? Sudah tentu hanya akan
    membuat panik. O, tidak! Hamsad tidak mau masalah
    pribadinya membuat panik keluarga. Ia lebih baik
    menyimpannya sendiri, dan menanggung segala risiko
    sendirian. Ia tak ingin melibatkan keluarga.
    Pulang dari mengantar Dian, hari sudah malam. Tadi Dian
    mengajaknya mampir ke supermarket, dan Hamsad setuju.
    Pulangnya sudah cukup malam, dan Hamsad menjadi lebih
    gelisah lagi. Bayangan indah bersama Kismi semakin nyata,
    bahkan sempat membangkitkan gairah kejantanannya. Lalu,
    tiba-tiba ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
    “Lho, kok berhenti? Ada apa?!” tanya Dian merasa sangat
    heran.
    “Apakah kau mendengar seseorang memanggilku?”
    “Tidak,” jawab Dian.
    “Aneh. Dua kali aku mendengar seseorang memanggilku.”
    “Ah, ngaco! Tidak ada suara apa-apa kok! Ayolah,
    buruan…! Nanti papa dan mama ngomel kalau aku pulang
    kemalaman.”
    Hamsad melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya.
    Beberapa saat kemudian, laju mobilnya dikurangi. Ia
    menelengkan kepala, menyimak sesuatu dengan dahi
    berkerut.
    “Tuh, ada yang memanggil namaku berulangkah…!”
    katanya kepada Dian. Tetapi, Dian hanya menggerutu tak
    jelas. Hamsad kembali tancap gas.

    91
    Pada saat itu, ia baru teringat cerita tentang kematian
    Norman, Denny, dan Tigor. Menurut Susilo, sebelum Norman
    melakukan bunuh diri, anak itu juga mendengar suara
    seseorang memanggilnya. Tigor juga bercerita, bahwa Denny
    selalu merasa ada yang memanggilnya. Suara orang yang
    memanggil seperti suara Kismi. Dan, tak berapa lama, Denny
    bunuh diri. Menurut Bahtiar, sebelum Tigor bunuh diri, Tigor
    juga merasa ada yang memanggil-manggil. Konon, suara itu
    membuat Tigor menjadi sangat merindukan Kismi.
    Dan, sekarang? Sekarang Hamsad merasa mendengar
    suara Kismi memanggilnya. Apakah ia pertanda ia akan
    melakukan bunuh diri?!
    “Celaka kalau benar begitu,” geram Hamsad di dalam
    hatinya. “Padahal mereka berbuat bunuh diri seperti di luar
    batas kemauan hatinya. Ada kekuatan gaib yang
    menggerakkan tangan mereka untuk melakukan bunuh diri.
    Apakah aku juga demikian?”
    Ketika sampai di rumah, suara orang memanggilnya itu
    semakin jelas. Hamsad merinding sekujur badan. Ia berusaha
    menjaga, kesadarannya, menegakkan logikanya, tetapi ia juga
    merasa, bahwa dirinya sesekali terasa limbung karena dibuai
    oleh kenangan manis bersama Kismi. Hatinya berdebar-debar,
    seakan menuntut curahan rasa yang ada, yaitu rasa rindu
    kepada Kismi.
    “Gawat…! Aku harus bisa mengatasi emosiku sendiri…,”
    katanya dalam hati.
    Pikirannya berputar mencari cara. Lalu, ditemukan
    beberapa kemungkinan untuk menghindari gelagat yang
    membahayakan itu. Ia harus segera pergi ke pondokan Ade,
    dan meminta bantuannya. Ia tak mau membuat kegaduhan di
    rumah, sehingga keluarganya menjadi panik dan tegang.
    Dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi, Hamsad
    mulai terengah-engah diburu kegelisahan yang menyiksa.
    Rindu ingin bertemu Kismi membuat napasnya sukar dihela. Ia
    mencoba mengendalikan pikirannya agar tertuju pada temanTiraikasih

    92
    teman di pondokan, tetapi pikirannya itu justru menjadi kacau
    balau.
    “Hamsaaad…! Haaamsaaad…!”
    Suara Kismi terdengar memanggilnya sepanjang
    perjalanan. Suara itu jelas sekali mengalun, seakan-akan
    untuk mengajaknya bercumbu. Apalagi suara Kismi terdengar
    serak-serak manja, hati Hamsad semakin berdebar-debar.
    Rindunya mengembang dan meracuni pikirannya. Ia menahan
    perasaan itu sampai keluar keringat dinginnya. Ia menambah
    kecepatan mobilnya supaya segera tiba di pondokan, tetapi
    suara ‘Kismi itu semakin menyiksa jiwanya. Membuat Hamsad
    tegang dan kelabakan. Ia sempat melirik arlojinya, ternyata
    sudah pukul 10 malam lebih 45 menit. Ia hanya menggumam,
    “Hampir tengah malam…!”
    Pintu pagar halaman rumah pondokan itu tertutup
    sebagian. Hamsad tidak sempat turun dari mobil untuk
    membuka pintu halaman itu. Maka. ia langsung menabrak
    pintu tersebut dengan mobilnya, hingga menimbulkan suara
    gaduh yang mengagetkan semua penghuni pondokan itu.
    Dan, mobil berhenti tepat di depan kamar Ade. Sorot
    lampunya menyala terang, menyilaukan.
    Hamsad terengah-engah, masih belum mampu turun dari
    mobil. Kepalanya berdenyut-nyut, namun hatinya semakin
    dicekam rasa ingin bertemu dengan Kismi. Ia terkulai lemas di
    balik stiran mobil. Beruntung mesin mobilnya sempat
    dimatikan, sehingga sedikit aman.
    Para penghuni pondokan itu nyaris marah melihat sebuah
    mobil merusakkan pintu pagar mereka Tetapi, Bahtiar segera
    berteriak,
    “Hamsad…?!”
    “Siapa sih?!” seru yang lain.
    ‘Hamsad…!” jawab Yoppi juga. Ia berlari lebih dahulu
    mendekati mobil Hamsad dan berseru, “Ham…?! Ham, kau
    tidak apa-apa, kan?”
    Hamsad menggeram, “Tolong akuuu…!”

    93
    Yoppi agak ragu ketika hendak membukakan pintu mobil,
    tetapi setelah Bahtiar mendekat dan berkata,
    “Buka pintunya, bawa keluar dia!”
    Maka, Yoppi pun berani membukakan pintu mobil, lalu
    segera membantu Hamsad keluar dari mobil. Hamsad gemetar
    dan mengerang seperti suara orang merengek. Ia menyeringai
    bagai merasakan sesuatu yang amat sakit. Teman-teman yang
    lainnya pun segera mengerumuninya.
    “Tolong aku…! Ouh… tolooong, De…! Aku… aku… ah!”
    Hamsad terpelanting, nyaris jatuh. Kakinya amat lemas dan
    gemetar. Lalu, ia segera digotong ke bangku panjang, depan
    kamar Bahtiar. Ia dibaringkan di sana. Tetapi, mendadak ia
    meronta sambil menggeram, kejang.
    “Aku… oh… tolong jangan dekati aku! Aku ingin mati…!”
    kata-katanya menyeramkan bagi yang mendengar.
    “Ham, ingat! Ingat kau tidak boleh mati atas kemauanmu
    sendiri…! Ingat, Ham…!” kata Yoppi.
    “Aku ingin mati!” ia menggeram dengan ge-regetan.
    Matanya mendelik dan bergerak nanar, seakan mencari
    sesuatu. Dan, pada saat itu Yoppi pun gemetar dan berkata,
    “Celaka! Ia punya emosi untuk bunuh diri! Ia akan
    mengalami nasib seperti Tigor…!”
    Semua mundur, tegang. Napas mereka menjadi sesak, dan
    tubuh mereka merinding semua. Hamsad tersengal-sengal
    sambil menggerang-gerang. Matanya memandang mereka
    dengan liar. Giginya menggemelutuk dan otot-otot tubuhnya
    mulai mengeras. Ia masih sempat berusaha berkata,
    “Tolong aku…! Ouhhh… tolooong…!”
    ***
    Bab 11
    Mereka berkomat-kamit membaca doa dalam upaya
    menyadarkan Hamsad. Tetapi, nalurinya untuk bunuh diri
    semakin kuat dan mengacaukan kesadarannya. Dengan napas

    94
    yang tersendat-sendat dan bibir gemetar, Hamsad berkata
    kepada Ade, karena matanya yang liar itu tertuju pada Ade,
    “Ambil tali…! Tal… tali…!”
    Ade gugup, tak tahu harus mengambil tali ke mana. Yang
    lain juga sibuk mencari tali tanpa mengerti maksud Hamsad.
    Malahan Susilo berseru,
    “Jangan! Jangan beri tali dia! Dia mau gantung diri…!”
    Maka, semua yang sibuk mencari tali berhenti seketika.
    “Kismiii…! Aaaow…!” Hamsad mengerang setelah
    mendesah menyebutkan nama Kismi. Bayangan perempuan
    itu semakin kuat dan seakan meremat hatinya, menciptakan
    rasa sakit yang sukar dipahami.
    Kembali matanya yang nanar itu memandang Yoppi.
    “Taliii… cepat taliii…! Ikat tubuhku di pohon! Ikat kuat-kuat…!
    Oh, tolong…!”
    Barulah mereka mengerti maksud Hamsad yang
    sebenarnya. Dia minta diikat di pohon, supaya segala
    gerakannya terbatas. Maka, mereka sibuk mencari tali untuk
    mengikat tubuh Hamsad. Pada saat itu, terdengar lagi Hamsad
    berkata sambil memejamkan mata kuat-kuat, “Ada di… di
    mobil! Ada di mobilku…! Taliii…!”
    Ade berlari ke arah mobil, dan mendapatkan segulung
    tambang di samping tempat duduk sopir. Di situ juga terdapat
    borgol, gelang besi untuk pencuri, yang diperkirakan milik
    ayah Hamsad yang memang sebagai kepala polisi di sebuah
    resort. Ade membawa serta borgol yang siap digunakan itu.
    Tepat ketika Ade tiba kembali di depan Hamsad, pemuda
    diracun kerinduan itu menggeram sambil berkata,
    “Taaa… tanganku… oh, tanganku mau mengeras…! Ouh…
    tolong, tolong diborgol ke belakang! Cepat, cepat…! Cepat…!”
    Bahtlar merebut borgol dari tangan Ade, lalu ttegera
    memborgol kedua tangan Hamsad. Tangan kanan itu belum
    sempat menjadi kaku ketika ditautkan ke belakang dan
    dijadikan satu dengan tangan kiri, lalu diborgol keduanya.
    Crek…!

    95
    Sambil terengah-engah, Hamsad menyebut “Kismi”
    beberapa kali. Di sela kata-kata Kis-mi itu ia berkata, “Ikat
    aku…! Ikat di pohon mangga, belakang kamar mandi itu…!
    Lekas…, bawa aku ke sana…! Ouh…, Kismi! Aku ingin
    bertemu Kismi…!”
    Lukman yang berbadan besar segera membawa Hamsad ke
    pohon mangga. Yoppi dan Ade membantu mengikat tubuh
    Hamsad, dijadikan satu dengan batang pohon.
    “Ikat yang kuat! Jangan sampai ia bisa bergerak,” kata
    Bahtiar dengan gugup.
    Tali itu cukup panjang. Agaknya Hamsad berhasil
    menyiapkan peralatan yang sederhana itu, sehingga tubuhnya
    berhasil diikat dari dada sampai ke kaki. Ia seperti seorang
    tawanan yang siap dihukum tembak. Sementara Hamsad
    menggeram dan terengah-engah, mulut-mulut yang lainnya
    gemetar tidak berani bicara. Dalam hati mereka timbul
    perasaan macam-macam, antara kasihan, takut dan heran
    bercampur menjadi satu, membuat mereka hanya terbengongbengong
    dengan jantung berdebar-debar.
    Lonceng di gardu ronda terdengar samar-samar satu kali.
    Itu pertanda malam telah melewati pertengahan, dan sepi
    kian menghadirkan kesunyian. Saat itulah, masa-masa
    kemunculan Kismi ke kamar seruni pada motel tersebut.
    Namun, kali ini bukan Kismi yang muncul menemui Hamsad,
    melainkan kerinduannya yang amat menyiksa. Gairah ingin
    bercumbu meluap-luap. Birahi Hamsad bagai membakar jiwa.
    Menuntut satu pelampiasan yang nyata, namun ia tidak
    mampu berbuat apa-apa karena tubuhnya terikat kuat di
    pohon sedangkan kedua tangannya diborgol ke belakang.
    Hamsad mengerang dengan otot leher menjadi bertonjolan
    keluar. Ia menahan gejolak hasratnya yang membara di luar
    kewajaran.
    “Ta… tang… tanganku… tanganku… kakkk… kaku! Iaaa…
    ia mau bergerak sendiri…! Oh… ouh…! Aaaow…!”
    Hamsad memekik tertahan dengan kepala mendongakdongak,
    seakan berusaha keras untuk dapat melepaskan

    96
    tangan kanannya dari borgol. Ia juga menggerak-gerakkan
    badannya, bagai ingin meronta dari ikatan. Tetapi, ia tidak
    berhasil. Ikatan terlalu kuat dan borgol pun cukup kokoh
    menautkan tangan kanan dengan tangan kirinya. Jiwanya
    bagai terbagi dua, antara ingin bunuh diri dan ingin melawan
    hasratnya itu. Akibatnya Hamsad tiada habisnya mengerang,
    menggeram dan meronta-ronta.
    Mereka merasa terharu melihat Hamsad susah payah ingin
    melepaskan diri. Susilo sempat berkata, “Kasihan dia!
    Lepaskan saja…!”
    Saat itu, Hamsad sempat berkata sambil menggeram
    seperti orang kesurupan, “Jang… jangan…! Ouh, yaaah…
    jangan! Jangan lepaskan…! Aaaoh… panggil Kismi! Panggil
    Kismi… oh, aku ingin bertemu dengannya di alam kubur…!
    Kismiii…!” Hamsad mengejang-ngejang. Tangan kanannya
    bergerak-gerak dengan kasar. Ia kelihatan amat menderita
    sekali. Teman-temannya banyak yang membaca doa kembali
    untuk membebaskan Hamsad dari cekaman gaib yang
    mengancam keselamatan itu.
    Sesaat, terdengar lagi Hamsad meminta sesuatu tanpa
    menatap salah seorang. Ia memejamkan mata sambil berkata
    dalam erangan,
    “Tutup mulutku…! Oh…! Tutup mulutku dengan kain…!
    Lekaaas…! Aku ingin berteriaaak…! Lekaaas…!”
    Bahtiar meraih sarung yang ada di tali jemuran dalam.
    Sarung itu segera digunakan untuk menutup mulut Hamsad,
    diikatkan ke belakang, sehingga praktis sarung itu juga
    mengikat kepala Hamsad dengan batang pohon.
    ‘Hidungnya jangan ikut ditutup, Tiar! Biar ia bisa bernapas!”
    saru Lukman dengan perasaan cemas bercampur kasihan.
    Malam menghadirkan desiran angin pembawa embun.
    Dingin. Ada kesan lengang di sela desiran angin itu. Seakan
    angin berhembus tanpa desau dan suara apa pun. Hal itu
    membuat mereka yang ada di depan Hamsad menjadi
    merinding dicekam rasa takut. Apalagi mereka mendengar

    97
    anjing di rumah belakang pondokan itu melolong panjang
    bagai irama menjelang ajal. tubuh mereka semakin bergidik.
    Sementara itu, Hamsad masih meronta-ronta. la berteriak
    keras-keras, namun suaranya teredam kain sarung yang
    menutup mulutnya rapat-rapat. Tangan kanannya makin
    agresif, berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan gelang
    borgol besi itu. Kakinya pun mulai bergerak-gerak, berusaha
    melonjak, dan pundaknya meliuk-liuk, ingin melepaskan diri
    dari ikatan tali yang kuat. Hamsad tak bisa berkata apa-apa.
    Hanya suaranya yang menggeram disekap kain dan matanya
    yang melotot bagai ingin keluar itulah ang membuat temantemannya
    tak berani menatapnya langsung. Doa-doa masih
    diucapkan oieh mereka dengan perasaan sedih. Bahkan Susilo
    mengusap kedua matanya yang mulai berkaca-kaca,
    memandang haru keadaan Hamsad.
    Angin semakin berhembus kencang, merontokkan banyak
    dedaunan dari pohon tersebut. Tak lama kemudian, gerimis
    pun turun. Mereka semakin panik dan serba bingung. Namun,
    saat itu mereka juga menepi menghindari rintikan gerimis di
    ujung dini. Bahkan kali ini, gerimis itu telah berubah menjadi
    hujan yang deras.
    “Lepaskan dia! Dia kehujanan…! Dia menggigil di sana!”
    kata Susilo dengan panik.
    “Tenang, Sus.Itu cara yang dipilihnya,” kata Bahtiar.
    ‘Tapi kita harus tahu perasaan! Itu cara yang tidak
    manusiawi!” bentak Susilo.
    “Kalau dia kita lepaskan, maka ia akan bunuh diri! Apakah
    itu manusiawi?!” balas Bahtiar dalam serentetan bentakan
    kasarnya. Lukman segera melerai percekcokan mereka.
    Gelegar suara petir di angkasa terdengar mengejutkan
    mereka. Hamsad masih berusaha berontak dari ikatan dan
    borgolnya. Jeritannya teredam kain sarung sehingga tak
    terdengar keras. Hujan deras mengguyur tubuhnya di sela
    per-cikan cahaya petir yang menggelegar beberapa kali.
    “Bahaya! Dia bisa tersambar petir jika diam di bawah
    pohon!” kata Susilo sangat tegang. Lama-lama, Susilo tidak

    98
    sampai hati melihat Hamsad diguyur hujan dan petir dalam
    keadaan terikat, lalu ia pun berlari menerobos derasnya hujan
    dan bermaksud membukakan tali pengikat tubuh Hamsad.
    “Sus…! Jangan!” teriak Yoppi.
    Ade segera melompat menyusul Susilo dan menarik kaos
    yang dikenakan Susilo sambil berkata,
    “Kau mau membunuh teman sendiri, hah?! Kau mau
    membiarkan teman bunuh diri?!”
    “Dia bisa mati tersambar petir, tahu?!” Susilo membetot,
    tetap ingin mendekati Hamsad, tetapi Ade menyeret Susilo
    hingga anak itu terpelanting jatuh.
    “Bangsat kau…!” teriak Susilo lepas kontrol.
    Ia hendak memukul Ade, tapi tangannya segera dipegang
    Lukman yang berbadan besar, Lukman menyeret Susilo ke
    teras sambil berkata,
    “Kuasai emosimu, Sus! Saat ini gunakanlah otakmu, jangan
    hanya perasaanmu!”
    Susilo tak dapat berbuat banyak dalam cengkeraman
    Lukman. Akhirnya ia tak tega menghadapi penderitaan
    Hamsad, ia segera masuk ke kamar dan mengunci kamarnya
    dengan kasar.
    Tak berapa lama, hujan pun reda. Gerakan Hamsad mulai
    melemah. Memang masih terlihat napasnya terengah-engah,
    tetapi tangan kanannya yang sejak tadi berusaha ditarik keluar
    dari borgol, kali ini tampak melemas.
    Pukul 12 lewat, saat itu, mereka melihat Hamsad terkulai
    pingsan di tempat. Tetapi, mereka masih belum berani
    melepaskan ikatan pada tubuh Hamsad. Bahtiar berkata,
    “Tigor dulu juga pingsan karena dipukul Lukman, tetapi
    tangan kanannya bisa bergerak sendiri, dan menikam dadanya
    beberapa kali. Jadi, kurasa tangan kanan Hamsad pun bisa
    melakukan hal yang serupa jika kita lepaskan ikatan tali dan
    borgolnya.”
    “Sebaiknya tunggu sampai subuh tiba,” kata Yoppi, dan
    yang lainnya setuju.

    99
    Maka, ketika mendengar suara adzan subuh, mereka baru
    mulai berani melepaskan ikatan Hamsad. Tetapi, borgol itu tak
    dapat dilepaskan, karena mereka tidak tahu di mana Hamsad
    menaruh kunci borgol. Hamsad digotong ke kamar Bahtiar,
    dan mendapat pertolongan sebagaimana mestinya. Tangan
    kanannya berdarah, karena berulangkali memaksakan diri
    untuk lolos dari borgol. Semua mata yang memandangnya
    merasa iba dan semakin kasihan kepada Hamsad. Tetapi,
    ketika Hamsad siuman, ia justru merasa lega karena telah
    selamat dari ancaman maut, yaitu bunuh diri di luar
    kesadaran. Roh yang masuk ke tangan kanannya telah
    berhasil dijerat dengan akalnya, sehingga tangan kanan itu tak
    bisa bergerak sendiri, seperti yang terjadi dalam kasus
    kematian Norman, Denny, dan Tigor.
    Di depan mata mereka, Hamsad memang berhasil lolos dari
    ancaman maut kekuatan gaib tangan kanannya, tetapi apakah
    itu berarti Hamsad menjadi jera? Apakah itu membuat
    Hamsad puas dengan dirinya?
    Tidak! Hamsad masih penasaran. Ia masih menyimpan
    rindu kepada Kismi, walau rindunya itu tidak meracun jiwa.
    Tetapi, karena rindunya itu ia jadi datang kembali ke Motel
    Angel Flowers, dan membocking kamar Seruni. Kamar itu
    masih kosong. Barangkali memang tidak ditawarkan kepada
    tamu lain oleh petugas motel, karena mereka takut tamutamunya
    mengecam akibat kamar angker tersebut. Hanya
    saja, karena Hamsad memaksa untuk menyewa kamar Seruni,
    maka petugas resepsionis tak bisa lagi menghalanginya.
    Kamar itu tetap seperti dua malam yang lalu. bersih,
    teratur rapi. Taplak meja di ruang tamu masih sama,
    berwarna biru muda. Kursi meubel-nya juga masih sama,
    terletak melingkar, menghadap ke dinding kaca depan. Hanya
    saja, letak pot besar yang memuat tanaman sejenis palm itu
    bukan lagi di samping pintu, melainkan ada di sudut ruangan,
    dekat dengan buffet penghias ruangan. Selebihnya tak ada
    yang berubah. Bahkan warna seprei dan selimutnya pun tetap

    100
    sama. Ini semakin mengingatkan Hamsad pada masa-inasa
    indah yang pernah ia lewati bersama Kismi di kamar tersebut.
    Hamsad masuk pada pukul 7 malam dengan tangan dibalut
    perban. Luka pada tangan kanannya itu terasa perih jika tidak
    dibalut perban, seperti seorang petinju yang belum
    mengenakan sarung tinjunya. Dengan dibalut perban begitu,
    rasa perih tersebut berkurang, dan konsentrasi Hamsad tidak
    terlalu terganggu oleh rasa perih.
    Sebelumnya, Hamsad telah menyiapkan segala sesuatunya
    yang diperlukan. Tabungannya diambil sebagian dari bank.
    Lalu, ia membeli sebotol madu asli, susu, telur ayam kampung
    sampai 24 butir, anggur ginseng, super mie, dan beberapa
    obat yang berguna untuk memulihkan kesehatan badan serta
    menjaga stamina tubuh. Hamsad sempat tertawa sendiri
    ketika membeli barang-barang tersebut. Tetapi, ia akhirnya
    tidak peduli, karena semua itu memang ia butuhkan untuk
    memulihkan tenaganya yang nyaris terkuras habis akibat
    pergulatannya melawan emosinya kemarin malam.
    Menunggu sampai lewat tengah malam, adalah pekerjaan
    yang menggelisahkan bagi Hamsad. Ia berbaring sambil
    menyaksikan acara TV, satu-satunya hiburan yang ada di
    kamar tersebut. Sampai tak terasa, ia pun tertidur di tempat.
    Mungkin karena kelelahan yang luar biasa, sehingga ia sampai
    tertidur dan lupa mematikan TV.
    Kalau saja ia tidak mendengar suara orang mandi, mungkin
    ia tidak akan terbangun sampai pagi. Tapi, karena ia
    mendengar desis kran shower di kamar mandi dan
    gemericiknya air, maka ia pun terperanjat bangun. Lalu,
    hatinya bertanya heran, “Siapa yang mandi? Rasa-rasanya aku
    tidak membawa teman?!”
    Buru-buru Hamsad menengok arlojinya di meja, lalu ia
    menggumam, “Oh, pantas. Sudah pukul 12 lewat 23 menit.
    Sudah lewat tengah malam…!”
    Maka, hati Hamsad pun mulai berdebar-debar, karena ia
    tahu bahwa orang yang mandi itu tak lain dari Kismi. Gemetar
    langkahnya ketika ih mengendap-endap mendekati kamar

    101
    mandi yang pintunya tak tertutup itu. Pada saat langkahnya
    makin dekat, kran shower itu berhenti, bagai ada yang
    mematikan. Hamsad semakin berdebar dan merasa heran.
    Tapi, ia nekat mengendap-endap untuk mengintip siapa
    gerangan ynng mandi di tengah malam ini.
    “Jangan seperti pencuri, Hamsad…!” terdengar suara dari
    dalam kamar mandi. Dan, suara itu jelas suara Kismi yang
    serak-serak manja, Hamsad lalu menampakkan diri dengan
    cengar-cengir. Matanya tak berkedip memandang tubuh mulus
    berkulit kuning langsat itu dalam bintik-bintik air yang hendak
    disapu dengan handuk. Mamsad buru-buru masuk dan
    menyahut handuk dari tangan Kismi.
    “Jangan hapus…!”
    “Hamsad…?! Aku dingin…!”
    “Biarkan aku memandangi tubuhmu yang tersiram bintikbintik
    air ini. Oh… begitu indahnya kau dalam keadaan basah
    begini, Kismi…,” bisik Hamsad sambil menatapi tubuh polos itu
    Kismi kepala sampai ke kaki.
    “Konyol kamu, ah!” Kismi berusaha meraih handuk, dan
    Hamsad menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
    Jari-jemari Hamsad meraba tubuh itu, bagai menyentuh
    butiran-butiran airnya dari pundak ke dada. Kismi
    membiarkan, justru tertawa dalam desah, dan terdengar nada
    seraknya yang seakan kemanjaan itu.
    “Maaf, aku membangunkanmu, Hamsad,” kata Kismi sambil
    membiarkan ujung jemari Hamsad merayap samar-samar di
    permukaan kulit tubuhnya.
    “Aku tertidur menunggumu,” kata Hamsad tanpa menatap.
    “Aku tahu, dan aku merasa semakin kagum padamu,
    Hamsad.”
    “Dalam hal apa?” tanya Hamsad setelah mencibir.
    “Tak pernah ada lelaki yang lolos dari dendam Cincin
    Zippus, kecuali kau.”
    Kali ini, Hamsad menatapnya. “Dendam cincin…?!” Hamsad
    memperjelas keheranannya.

    102
    “Setiap lelaki yang bercinta denganku, ia pasti mati oleh
    tangan kanannya sendiri, sebab di tangan kananku itulah
    Cincin Zippus melekat sampai sekarang. Kutukan Cincin Zippus
    akan merasuk dalam tangan kanan lelaki yang bercinta
    denganku, dan lelaki itu pasti akan mati oleh kutukan Zippus,
    yang menggunakan bantuan tangan korban sendiri. Dan,
    kau…?” Kismi tersenyum sambil geleng-geleng kepala. “Kau
    hebat sekali! Kau bisa lolos dari kutukan. Itu
    mengagumkan…!”
    “Kau juga mengagumkan! Perempuan lain bisa kuabaikan,
    tapi kau tidak sama sekali…,” Hamsad tersenyum, Kismi
    mengikik serak, kemudian ia mengecup kening Hamsad.
    Tetapi, balasan Hamsad lebih panas dari lahar gunung berapi.
    Sekujur tubuh Kismi dirayapinya dengan bibir dan lidah,
    membuat Kismi merintih di sela desah, melebarkan tubuhnya,
    memberi kesempatan Hamsad agar lebih leluasa. Lalu, kamar
    mandi itu menjadi arena berpacu bagi napas-napas yang
    memburu puncak kemesraannya.
    ***
    Bab 12 tamat
    Keduanya ternyata memang pasangan yang tak pernah
    mengenal lelah. Banjir keringat bukan penghalang bagi
    mereka untuk terus berpacu. Kali ini, ranjang menjadi
    tumpuan amukan birahi mereka. Seprei kasur menjadi lusuh.
    Morat-marit tak karuan. Kismi mengamuk setiap birahinya
    melambung tinggi, melahirkan pekik dan ringkikan yang serakserak
    manja. Dan, suara itu membuat Hamsad makin
    menggebu-gebu dalam cumbuannya, makin dibakar
    gairahnya, meskipun ia sudah berulangkali melambung tinggi
    mencapai puncak harapannya.
    Di awal dini, akhirnya petualang cinta mereka berhenti.
    Kismi yang memohon agar Hamsad mengakhiri ‘pelayarannya’
    saat itu juga.

    103
    “Hari sudah menjelang pagi, dan kita harus berpisah lagi,
    Hamsad,” kata Kismi memberi pengertian dengan sabar dan
    lembut.
    Hamsad mendesah, seakan tak mengizinkan Kismi pergi. Ia
    memeluk perempuan itu dalam satu rengek kemanjaan
    seorang lelaki. Erat sekali ia memeluk Kismi, sehingga Kismi
    merasa kehadirannya sangat dibutuhkan oleh Hamsad disetiap
    saat. Kismi menjadi haru. Ia mencium Hamsad beberapa kali,
    bahkan kini ia juga memeluknya erat-erat dengan kedua kaki
    menggamit tubuh Hamsad.
    “Aku juga tidak ingin berpisah,” bisik Kismi. ‘Tapi
    keadaanku tidak mengizinkan kasih kita selalu berpadu
    sepanjang hari, bahkan sepanjang masa, Hamsad.”
    “Aku ingin memilikimu, Kismi. Aku ingin membanggakan
    kekasihku kepada mereka!”
    “ltu tidak mungkin, Hamsad. Ada penghalang di antara
    kita.”
    “Aku akan menembusnya, Kismi! Aku akan menghancurkan
    penghalang itu!” ucap Hamsad dalam pelukannya. “Apa pun
    yang harus kutempuh, aku harus bisa memiliki kamu, Kismi.
    Aku tak mau tersiksa seperti kemarin malam lagi. Aku tak
    mau!”
    Kismi merasa kaget, dan bingung juga menggadapi sikap
    lelaki seperti Hamsad. Ia masih memeluk Hamsad,
    membiarkan Hamsad tengkurap di atasnya Tangan Kismi
    mengusap-usap kepala Hamsad dengan lembut, seakan satu
    curahan rasa kasih sayang yang tak ingin berakhir sampai di
    situ.
    Setelah melalui masa bungkam yang mendalam, Kismi pun
    berkata lirih,
    “Carilah potongan tanganku, dan tempelkan pada jasadku,
    maka aku akan hidup kembali dan kita bisa berdua ke mana
    saja, Hamsad.”
    Kali ini, Hamsad menarik wajahnya, ia mengatur jarak
    dengan menggunakan kedua lengan dipakai bertumpu di

    104
    kasur. Ia memandang Kismi yang terbaring di bawahnya, lalu
    bertanya,
    “Bukankah kedua tanganmu dalam keadaan lengkap, tak
    kurang satu apa pun?”
    Kismi menggeleng, wajahnya sendu. “Ini tangan semu.
    Tangan yang ada dalam khayalanmu saja. Jasadku ini juga
    jasad yang ada dalam khayalanmu, Hamsad. Itulah sebabnya
    kukatakan, bahwa di antara kita ada batas penghalang, yaitu
    khayal dan kenyataan! Terkadang manusia tidak bisa
    membedakan keduanya. Kau tidak bisa melihat, bahwa tangan
    kananku ini sebenarnya buntung. Dipotong oleh Rendy, bekas
    kekasihku yang punya penyakit syaraf.”
    “Di mana orang itu sekarang?”
    “Ada di neraka. Kau mau ikut ke neraka?”
    Hamsad menghempaskan napas. Ia masih belum mau
    melepas hubungan kasihnya, dan tetap membiarkan dirinya di
    atas Kismi. Lalu, dengan suara sedikit bimbang ia bertanya,
    “Di mana kau dibunuh oleh Rendy?”
    “Di kamar ini!”
    “Dan, potongan tanganmu di simpan di mana?”
    “Entahlah. Mungkin di kamar ini, mungkin di tempat lain.
    Dibuang begitu saja. Carilah, dan letakkan pada jasadku yang
    bersemayam di dalam kotak kaca, maka rohku yang ada di
    dalam batu Cincin Zippus itu akan membuatku hidup kembali.
    Kematianku yang ketiga nanti, adalah kematian yang sejati.
    Tapi, saat ini, aku masih bisa hidup dan menikmati kehidupan
    selayaknya manusia biasa…!”
    Hamsad mendesah, lalu menegaskan kata, “Akan kucari
    potongan tanganmu itu sampai dapat!”
    “Tapi, hati-hati, Hamsad. Dia ganas! Dia memendam kutuk
    dan dendam! Dialah yang semalam berusaha ingin
    membunuhmu!”
    Merinding juga Hamsad jika teringat peristiwa kemarin
    malam. Tapi, demi teringat kemesraan dan cintanya kepada
    Kismi, Hamsad tetap bertekad untuk mencari potongan tangan
    kanan Kismi. Hanya saja, di mana potongan tangan itu

    105
    dibuang oleh Rendy, atau disembunyikan? Ah… itu satu hal
    yang sulit bagi Hamsad. Sukar ditentukan secara logika.
    Sepanjang siang, Hamsad memikirkannya sambil mondarmandir
    di dalam kamar, terkadang ia meneliti keadaan tanah
    di luar kamar, mencari kemungkinan di mana tangan Kismi
    disembunyikan Rendy.
    Semuanya dilakukan secara diam-diam agar tidak
    menimbulkan kecurigaan orang lain, terutama petugas motel
    itu. Beberapa batu dibongkarnya, dan dikembalikan seperti
    semula jika ternyata tidak terdapat apa yang dicari. Beberapa
    tanah di korek-koreknya, dan dikembalikan seperti semula
    karena tak ada tanda-tanda tangan Kismi di sana.
    “Kamar ini harus kutelusuri lebih dulu,” pikir Hamsad.
    “Mungkin membutuhkan waktu sehari penuh. Kalau memang
    di kamar ini tidak ada, berarti aku harus mencari ke tempat
    lain, mungkin di pinggir sungai, di pinggir selokan, atau… ah,
    memang sulit ditentukan. Tetapi, seandainya aku menjadi
    Rendy, apa yang kulakukan setelah aku membunuh Kismi dan
    memotong tangannya?” Hamsad berpikir keras.
    Membayangkan seandainya dia menjadi Rendy yang
    berpenyakit syaraf, apa yang akan dilakukan terhadap
    potongan tangan itu? Kemudian, batinnya berkata, “Mayat
    akan kutinggalkan, supaya orang-orang terkejut menemukan
    mayat Kismi, lalu tangan itu…? Hm… tangan itu akan
    kuletakkan di tempat tertentu di kamar ini. Tak perlu repotrepot
    membawanya pergi dan membuangnya. Cukup
    diletakkan di suatu tempat, sehingga suatu saat akan ada
    orang yang terkejut menemukan tangan itu. Lalu, ia akan
    berteriak ketakutan, dan aku akan puas mendengarnya!”
    Hamsad menghempaskan tubuhnya, duduk di ruang tamu.
    “Itulah pikiranku jika aku menjadi Rendy yang sinting.
    Sekarang, di mana tangan itu disembunyikan yang kira-kira
    bisa membuat orang terkejut?” Setelah berpikir beberapa saat,
    Hamsad berkata sendiri, “Di almari…! Buffet, kulkas, almari
    dapur dan… dan bawah kasur!”

    106
    Bergegas dia memeriksa tempat-tempat tersebut dengan
    teliti. Ternyata tempat yang diperkirakan itu tidak menyimpan
    tangan Kismi. Ia mendesah kesal. Hatinya berkata,
    “Bagaimana dengan tempat penampungan air closet? Jika ada
    yang membukanya pasti akan menjerit karena melihat
    potongan tangan terapung!”
    Lalu, ia pun memeriksa tempat penampungan air WC, yang
    secara otomatis akan mengguyur closet itu jika habis dipakai
    seseorang. Ternyata di sana juga tidak ada. Hamsad mulai
    kesal. Ia melihat plafon kamar mandi yang terbuka pada
    gagian sudutnya. Hatinya berkata, “Oh, ya, ya…apa salahnya
    jika kuperiksa bagian atas eternit ? Siapa tahu potongan
    tangan itu dilemparkan begitu saja di dalam eternit itu?!”
    Dengan susah payah Hamsad memeriksa langit-langit
    kamar mandi, dan seluruhnya. Isinya tanya kabel-kabel
    instalasi listrik yang malang-melintang. Tak ada potongan
    tangan di sana. Hamsad sudah mencarinya dengan teliti,
    sampai jeluruh pakaian dan tubuhnya menjadi kotor oleh
    debu.
    “Ke mana, ya?” pikirnya sambil garuk-garuk kepala.
    Mendadak, telepon berdering. Petugas resepsionis
    mengingatkan ckeck-out hampir tiba, lalu menanyakan apakah
    Hamsad mau melanjutkan sampai beberapa malam, atau
    cukup untuk hari itu saja? Karena Hamsad digelayut rasa
    penasaran dan tekad untuk menemukan potongan tangan itu
    menggebu-gebu, maka ia bermaksud memperpanjang waktu
    sampai besok siang.
    “Sial! Benar-benar sulit menemukan potongan tangan itu!”
    gerutunya dengan nada kesal. “Ah, sebaiknya aku istirahat
    dulu. Semalaman aku tidak tidur. Siapa tahu setelah bangun
    tidur nanti aku menemukan gagasan yang lebih baik…!”
    Hamsad menyuruh room-boy untuk membereskan
    kamarnya, sementara itu ia mandi, merendam diri di air
    hangat, yang mampu mengurangi rasa capeknya itu.
    Ketika ia merebahkan diri, benaknya terbayang kecantikan
    Kismi dan kehebatan wanita itu di atas ranjang. Alangkah luar

    107
    biasa bangganya jika Hamsad bisa memperistri wanita cantik
    seperti Kismi. Alangkah bahagianya nanti jika ia telah hidup
    bersama Kismi. Angan-angannya pun mulai melambung tinggi,
    menciptakan sejuta keindahan yang ada pada khayalnya.
    Berulangkah hatinya berucap tekad, “Aku harus memiliki dia!
    Aku harus memiliki Kismi. Aku sangat mencintainya…!” Lalu, ia
    pun tertidur.
    Tak diduga ternyata Hamsad tertidur cukup lama. Ketika ia
    bangun, ia mendapatkan alam telah meremang, matahari
    senja tinggal seujung rambut dan memancarkan warna merah
    lembayung di perbatasan samudera. Debur ombak terdengar
    jelas, karena angin senja berhembus tanpa suara. Badannya
    segar dari segala kepenatan, apalagi ia telah meminum susu,
    telur mentah, madu dan lain sebagainya. Namun demikian,
    perutnya toh masih terasa lapar juga, sehingga ia memesan
    makanan untuk pengisi perutnya.
    Sambil menikmati makanannya, Hamsad berpikir-pikir
    tentang potongan tangan Kismi. Tadi siang, semua tempat
    sudah diperiksanya. Kini tinggal bagian dinding dan lantai.
    Maka, seusai menyantap makanannya, Hamsad kembali
    beroperasi, memburu tangan Kismi. Setiap dinding diketuknya
    pelan-pelan, didengarkan suara ketukannya. Jika menggema,
    berarti tempat itu berongga. Besar kemungkinan di situlah
    tangan tersebut disembunyikan. Semua dinding diketuk. Rata.
    Dan, itu memakan waktu cukup lama, karena ia kerjakan
    dengan cermat dan hati-hati.
    Sayang, hasilnya tidak memuaskan. Tidak ada dinding yang
    patut dicurigai. Tak ada rongga di dalam dinding tersebut.
    Bahkan dinding kamar mandi dan dapur pun telah
    diperiksanya, dan hasilnya nihil. Sekarang giliran lantai yang
    menjadi pusat perhatiannya. Saat itu, malam telah lama
    menebarkan kegelapan. Arlojinya menunjukkan pukul 8 lewat
    15 menit.
    Lantai kamar terbuat dari ubin marmer warna putih kebirubiruan.
    Berukuran 40×40 cm tiap lempengan ubin. Dengan
    tekun Hamsad mengetuk-ngetuk setiap ubin, mencari ruangan

    108
    di bawahnya. Dari lantai teras, masuk ke ruang tamu, masuk
    ke ruang tidur dan terus ke kamar mandi, tidak ada ubin yang
    menimbulkan gema jika diketuk. Berarti tidak ada bagian yang
    berongga.
    Sejenak pintu diketuk. Hamsad terperanjat. Ia menggumam
    dalam hati, “Belum lewat tengah malam, mungkinkah Kismi
    datang?”
    Oh, ternyata seorang pelayan restoran yang datang dan
    menyodorkan bon makanan yang dipesan Hamsad. Hempasan
    napas menandakan Hamsad mengalami kelegaan ketika
    mengetahui yang datang pelayan restoran itu. Ia segera
    memberikan selembar uang puluhan ribu tanpa kembali, dan
    pelayan itu pun pergi.
    Ketika ia hendak kembali ke ruang belakang, meneruskan
    pekerjaannya yang menyita waktu itu, ia sedikit merasa heran.
    “Seingatku, pot besar itu kemarin ada di sudut sana,
    kenapa sekarang berada di sini, di dekat pintu? Siapa yang
    memindahkan?” Kemudian, Hamsad tertawa sendiri dan
    menggumam, “Sial! Room-boy yang membereskan kamar
    sewaktu aku mandi siang tadi, pasti telah memindahkannya
    kemari. Dan… ah, pikiranku sekarang mudah curiga. Bukan
    kepada manusia, kepada benda pun punya kecurigaan!
    Gawat! Jangan-jangan aku menjadi sinting!” sambil
    menggumam begitu, ia melangkah ke belakang.
    Sekarang, bagian dapur ia periksa lantainya. Satu demi
    satu diketuknya menggunakan gagang obeng besar yang ia
    ambil dari dalam mobilnya di garasi. Dan ternyata, salah satu
    dari ubin itu menimbulkan gema ketika diketuk. Hamsad mulai
    berdebar-debar. Apa yang dicarinya mulai menumbuhkan
    harapan. Kemudian, ia segera membongkar ubin tersebut
    dengan menggunakan obeng besar dan kunci pas dari dalam
    mobilnya. Kunci digunakan untuk memukul gagang obeng,
    sedangkan mata obeng sendiri berfungsi sebagai alat
    pemotong semen perekat sambungan ubin.
    Lama juga membongkar satu lempeng ubin itu, karena
    semennya cukup keras. Kalau petugas motel mengetahui,

    109
    pasti pekerjaan itu dilarang. Tetapi, Hamsad yang sudah
    telanjur penasaran itu tidak peduli dengan akibatnya. Ia tetap
    membongkar ubin itu dengan sabar, sekalipun sudah
    memakan waktu hampir satu jam lamanya.
    Napas terhempas lega. Ubin sudah berhasil dibongkar.
    Kemudian, dengan hati-hati dan berdebar-debar, ia
    mengangkat ubin tersebut untuk dipindahkan ke sampingnya.
    “Sial…!” cacinya dengan kesal. Di bawah ubin itu memang
    ada rongga, tanah kosong, tetapi di situ ada pipa saluran air
    yang agaknya pernah terpotong dan disambung lagi. Tidak
    ada tangan Kismi, tidak ada tanda-tanda lain. Hanya pipa
    saluran air dengan sambungannya.
    “Uuuh…! Brengsek! Sudah capek-capek membongkar,
    berkeringat, gemetar, eh… isinya pipa air! Konyol!” gerutu
    Hamsad seraya meletakkan kembali ubin tersebut pada
    tempatnya, tanpa menutupnya dengan semen seperti semula.
    Ia terpaksa mandi saat itu juga, karena selain tubuhnya
    berkeringat juga kotor karena tanah. Selesai mandi, ia
    membubuhkan parfum penyegar badan sambil matanya
    melirik ke arloji di meja. Oh, sudah pukul 10 malam lebih 50
    menit?
    “Aku harus bersiap menyambut kedatangan Kismi. Ia akan
    semakin mengagumiku jika aku berpakaian rapi dan
    menunggunya di ruang tamu!” kata Hamsad sendirian, seperti
    orang gila.
    Susu, madu dan telur yang dicampur ginseng, segera
    ditenggaknya habis. Kemudian, ia duduk di meubel tamu,
    santai. Sekaleng bir tersedia di atas meja, depannya. Sebuah
    majalah milik Dian yang tertinggal di mobil bisa dijadikan
    bahan bacaan menunggu lewat tengah malam.
    Penat juga membuang waktu lama dengan duduk-duduk.
    Maka, Hamsad pun pindah tempat. Kali ini ia melonjorkan kaki
    di sofa dengan santai sambil meneruskan membaca majalah.
    Tetapi, pada saat majalahnya menyentuh daun tanaman
    dalam pot, Hamsad jadi terkejut.

    110
    “Aneh. Beberapa jam yang lalu pot ini ada di dekat pintu,
    kok sekarang ada di sini lagi? Siapa yang memindahkan?” Ia
    memperhatikan pot besar berisi tanaman sejenis palm yang
    daunnya mirip daun mangga. Dahinya berkerut ketika
    memperhatikan tanaman tersebut. Jelas tadi ia sempat curiga,
    karena tanaman itu ada di dekat pintu. Sekarang ia semakin
    curiga, karena tanaman itu ada di sudut, dekat dengan sofa
    Tangan Hamsad secara tak sadar mematahkan ujung daun
    tersebut. Dan, ia terbelalak kaget, karena yang keluar dari
    ujung daun itu bukan getah putih, melainkan getah merah.
    Ketika diciumnya, getah itu berbau amis darah.
    Merinding seketika itu juga tubuh Hamsad. Ilerdebar-debar
    hatinya, dan mulai gemetar jari-jemarinya. Satu daun ia
    patahkan lagi dari tangkainya. Klak…!
    “Astaga…?!” Hamsad nyaris memekik keras, karena tangkai
    daun itu mengucurkan getah merah yangberbau amis darah.
    Hamsad sempat terlonjak mundur dengan mata membelalak
    lebar.
    Tetesan darah dari tempat bekas tangkai daun itu
    menjatuhi tanah di bawahnya. Dan, Hamsad teipaksa
    mengerutkan dahi tajam-tajam, mempertegas penglihatannya,
    karena tetesan darah itu jatuh pada sebuah benda yang
    mencuat dari kedalaman tanah pot. Rasa ingin tahunya
    bergumul dengan perasaan takut. Hamsad mendekatkan
    wajah, memperhatikan benda kecil itu.
    “Astaga…?! In… ini., ini ujung kuku…!” Hamsad mencoba
    mengorek tanah itu sedikit-sedikit, maka semakin berdebarlah
    ia, karena kini tampak jelas di kedalaman tanah pot itu
    terdapat jari kelingking manusia yang berkuku panjang, tapi
    indah dan serasi.
    “Ya, ampun…! Pasti di sini tangan Kismi ditanam oleh
    pembunuhnya…!” kata Hamsad dalam hati.
    Maka, segera ia mengorek tanah dalam pot besar itu
    dengan kedua tangannya. Makin dalam semakin jelas
    bentuknya. Sepotong tangan perempuan yang masih utuh,
    tanpa kebusukan. Di jari manisnya melingkar cincin berbatu

    111
    putih kekuning-kuningan. Cincin Zippus. Mungkin karena cincin
    itulah maka tangan yang terkubur di dalam tanah pot itu tidak
    membusuk.
    Hamsad menggali dengan kedua tangannya untuk
    mendapatkan tangan tersebut tanpa ada yang tertinggal.
    Napasnya memburu karena memendam rasa takut dan girang.
    Sampai akhirnya, ia berhasil menggali seluruhnya. Menatapnya
    sesaat, kemudian mengangkatnya pelan-pelan bekas
    potongan sebatas pergelangan tangan lebih sedikit itu, masih
    kelihatan berdarah segar.
    “Benar. Tangan ini sama persis dengan tangan Kismi yang
    sering mengusap-usap,” kata Hamsad pelan sambil
    memperhatikan telapak tangan yang menghadap ke muka.
    Tapi, tiba-tiba tangan itu melesat cepat mencengkeram
    wajah Hamsad.
    “Hah…!Aaah…!”
    Hamsad terpekik dan ketakutan seketika. Jantungnya nyaris
    berhenti berdetak ketika tangan itu bergerak cepat,
    mencengkeram wajahnya. Dengan sekuat tenaga Hamsad
    berusaha melepaskan, menarik tangan itu dan membuangnya
    ke sembarang tempat. Napasnya terengah-engah. Wajahnya
    berdarah karena kuku yang mencengkeramnya. Gerakan
    potongan tangan Kismi yang di luar dugaan itu membuat
    Hamsad menjadi panik dan sangat tegang. Matanya
    membelalak lebar penuh rasa takut. Ia memandang potongan
    tangan yang tergeletak jatuh di sofa, dekat dengan majalah.
    Hamsad melangkah mundur perlahan-lahan mengitari
    meja. Pada saat itu, ia melihat jelas jari tengah dan jari
    telunjuk tangan itu bergerak-gerak, bagai merayap. Kemudian,
    melompat ke meja kaca. Sekali lagi jantung Hamsad nyaris
    berhenti melihat gerakan tangan yang mengerikan itu. la
    bagai susah menelan air ludahnya sendiri. Kakinya gemetar
    dan keringat dinginnya mengucur seketika.
    Desakan rasa takut itu membuat Hamsad bergegas untuk
    melarikan diri. Ia segera melompat dan berlari ke arah pintu
    keluar.

    112
    Plokkk…!
    Tiba-tiba potongan tangan itu melesat dan menempel pada
    leher belakang Hamsad.
    “Aaah… hah…! Hiiih…!” Hamsad meronta-ronta,
    berjingkrak-jingkrak ketakutan dengan tubuh semakin
    merinding. Kuku pada potongan tangan itu terasa menggores
    perih di kulit lehernya, seakan hendak mencekik dari belakang.
    Dengan sekuat tenaga Hamsad menarik tangan itu dan
    membuangnya ke arah pintu. Namun, kali ini tangan tersebut
    tidak mau terlepas dari genggaman Hamsad. Tangan itu justru
    menggenggam tangan Hamsad kuat-kuat, bagai berpegangan.
    Celaka! Hamsad mengibas-ngibaskan dengan gerakan cepat,
    tetapi tangan itu masih lengket pada tangan Hamsad.
    Lalu. dengan menggunakan tangan kanannya, Hamsad
    menarik punggung potongan tangan yang masih berlumur
    tanah itu. Ia berhasil, dan membuangnya ke arah pintu.
    Plokkk…!
    Tangan itu jatuh ke lantai. Mata Hamsad masih mendelik
    memandanginya penuh rasa takut dan jijik. Potongan tangan
    itu bergerak-gerak jarinya, kemudian bagai sebuah mainan ia
    mampu melarikan diri dengan menggunakan jari-jemarinya
    itu. Hamsad segera melompat ke ruang tidur menghindari
    kejaran potongan tangan tersebut. Gerakannya begitu cepat,
    sehingga sewaktu Hamsad hendak haik ke atas ranjang,
    benda menjijikkan itu berhasil melompat dan mencengkeram
    betis Hamsad.
    “Waaaow…!” Hamsad memekik ketakutan. jPotongan
    tangan itu bagai menempel pada celana Hamsad, dan ketika
    hendak dipegang, ia bisa bergerak naik ke paha dengan cepat,
    lalu merambat merambat terus ke punggung. Hamsad
    kebingungan untuk memegang potongan tangan itu. Ia
    berguling-gulingan sambil berteriak ketakutan. Potongan
    tangan itu tidak mau terlepas. Kini justru merayap sampai ke
    leher samping dan mencengkeram lagi.
    “Setaaan…! Hhhah…!” Dengan menggunakan kedua
    tangan, Hamsad berhasil lagi menarik potongan tangan Kismi

    113
    itu dan membuangnya ke arah dinding, bagai dibenturkan
    dengan keras.
    Semakin panik Hamsad menghadapi hal itu, semakin ngeri
    ia melihat tangan tersebut tidak jatuh ke lantai, melainkan
    mampu merayap di dinding seperti seekor cicak. Darah bekas
    potongan tangan menetes ke sana-sini. Sungguh mengerikan.
    Jari-jemari tangan yang sebenarnya lentik dan indah itu kali
    ini bergerak-gerak lagi, bagai merayap di permukaan dinding.
    Hamsad buru-buru masuk ke kamar mandi, dan mengunci
    pintunya.
    “Oh…! Oooh…!” Ia terengah-engah diteror potongan
    tangan bercincin Zippus itu. Napasnya nyaris habis,
    tenggorokannya kering, dan badannya lemas. Ia bersandar
    pada dinding di kamar mandi dalam ketegangan yang
    mencekam Sekarang ia merasa aman. Potongan tangan itu
    tidak dapat masuk ke dalam kamar mandi. Tetapi, sampai
    kapan ia harus mendekam di kamar mandi?
    Tiba-tiba pintu kamar mandi itu diketuk-ketuk dengan
    lembut. Hamsad tersentak kaget, berdiri dari jongkoknya, dan
    menjauhi pintu. Ia tidak berani membukakan, bahkan
    mendekati pintu pun ia tidak berani. Perasaan ngeri membuat
    jiwanya menjadi kerdil dan ingin menangis karena dongkolnya.
    Tok, tok, tok…! Suara pintu diketuk. Hamsad masih diam,
    makin tegang, makin menjauh. Ia berdiri di atas closet yang
    tertutup. Gemetar ketakutan.
    “Hamsad…?! Haaam…?!”
    “O, itu suara Kismi…!” katanya sambil menghempaskan
    napas lega. Berulang-ulang Hamsad menghempaskan napas,
    senang sekali, karena pemilik potongan tangan itu sudah
    datang. Itu berarti waktu sudah menunjukkan lewat tengah
    mulum.
    Hamsad segera turun dari closet. dan membuka pintu
    kamar mandi. “Hahhh…!”
    Rupanya di luar kamar mandi tidak ada Kismi. Yang ada
    hanya potongan tangan itu. Dan bunda tersebut segera
    melesat masuk, menerkam kejantanan Hamsad. Nyawa

    114
    Hamsad bagai melayang ketika itu. Ia memekik kaget,
    kemudian mengerang kesakitan karena alat kejantanannya
    diterkam oleh potongan tangan yang ganas itu.
    “Oh…! Oooh…! Aaaow…!” Hamsad terhuyung-huyung
    dengan badan membungkuk. Kedua tangannya memegangi
    potongan tangan Kismi yang makin lama terasa makin
    meremat alat kejantanannya itu. Hamsad meringis kesakitan
    dengan badan membungkuk, dan kini limbung ke kiri,
    bersandar pada dinding di depan kamar mandi. Potongan
    tangan itu bagai sukar ditarik. dan, apabila ia ditarik, terasa
    makin kuat cengkramannya. Hal itu membuat Hamsad
    semakin mengerang kesakitan dengan mata terpejam kuatkuat.
    “Hamsad…?!” sapa sebuah suara di ruang tamu.
    “Kismiii…!” teriak Hamsad tertahan karena memendam rasa
    sakitnya.
    Kismi muncul dari ruang tamu ke kamar mandi, dan ia
    melihat Hamsad kesakitan sambil memegangi alat
    kejantanannya.
    “Oh… kau…?!” Kismi terperanjat kaget dengan mulut
    terbengong.
    “Aku menemukan… menemukan potongan tanganmu…!
    Tapi, tapi dia meremat… aouuuh…!” Hamsad semakin
    membungkuk dengan kaki merendah karena potongan tangan
    itu semakin menggenggam alat kejantanannya.
    “Lepaskan! Jangan sakiti dia…!” bentak Kismi sambil
    memandang potongan tangannya.
    Beberapa saat kemudian, potongan tangan itu pun
    mengendur. Hamsad buru-buru menariknya. Sempat terlihat
    olehnya jari-jemari potongan tangan itu bergerak-gerak, bagai
    sedang melemaskan otot-ototnya. Hamsad buru-buru
    melemparkannya, dan potongan tangan itu jatuh di lantai.
    Kismi memandang potongan tangannya dengan senyum
    berseri. Ia buru-buru memeluk Hamsad dan menciuminya.
    “Oh… kau telah berhasil! Kau berhasil menemukannya,
    Hamsad…!”

    115
    Yang bisa dilakukan Hamsad hanya uh nyr ringai
    merasakan sisa sakitnya. Tetapi, ia kemudian berkata, “Apa
    yang harus kulakukan?!”
    “Lekas, bawa dia ke tempatku. Cari aku di ruang bawah,
    dan tempelkan potongan tangan itu pada jasadku, Hamsad…!”
    “Aku tidak mau membawanya! Aku tidak mau mati dicekik
    olehnya, Kismi!”
    “Jangan kuatir…!” kemudian Kismi mendekati potongan
    tangannya yang tergeletak telentang di ranjang. Ia berbicara
    dengan potongan tangan itu,
    “Jangan sakiti dia! Dia akan mempertemukan kita!”
    Jari-jemari yang tadinya diam, kini bergerak-gerak, seakan
    sebuah anggukan tanda patuh terhadap perintah Kismi. Lalu,
    Kismi mendekati Hamsad dan berkata,
    “Bawa mobilmu menuju rumahku. Di sana aku tinggal, di
    bekas rumah keluargaku yang sudah pindah ke Amsterdam.
    Ikutilah kunang-kunang, ke mana arahnya, ikuti saja. Nanti
    kau akan menemukan rumah di sebuah bukit. Rumah itu
    sudah tak terawat lagi, tapi di sanalah Kosmin
    menyemayamkan aku di dalam kaca…!”
    Setelah berkata demikian, Kismi mencium pipi Hamsad.
    Hamsad sendiri menunduk memperhatikan alat kejantanannya
    yang dikhawatirkan terluka. Ternyata tidak. Namun, ketika ia
    memandang ke depan, ternyata Kismi telah tiada.
    “Kismiii…?! Kismiii…?!” Hamsad mencoba mencari Kismi,
    dan wanita yang hadir setiap tengah malam itu memang tidak
    ada lagi. Tetapi, Hamsad melihat seekor kunang-kunang
    terbang di sekitar pintu. Hamsad tak tahu persis, apakah
    kunang-kunang itu jelmaan dari roh Kismi atau bukan, tetapi
    ia membiarkan kunang-kunang itu keluar melalui celah sempit,
    dan Hamsad sendiri harus segera mengeluarkan mobil dari
    garasinya.
    Mulanya ia ragu-ragu ketika hendak mengangkat potongan
    tangan. Tetapi, agaknya potongan tangan itu tidak seganas
    tadi. Maka, dibungkusnya potongan tangan itu dengan

    116
    saputangan, kemudian ia pun keluar dari motel dengan
    mengendarai mobilnya.
    Malam bercahaya purnama, sehingga gelap tak terlalu
    pekat. Kunang-kunang terbang di depan mobil. Gerakannya
    cepat, seirama dengan gerakan mobil. Sementara itu,
    saputangan pembungkus potongan tangan Kismi diletakkan di
    jok samping kiri. Perhatian Hamsad tertuju pada gerakan
    kunang-kunang penuntun jalan itu.
    Ia tidak tahu kalau saputangan itu terbuka sendiri.
    Kemudian, jari-jemari potongan tangan bercincin itu bergerakgerak.
    Kini tengkurap, dan merayap perlahan-lahan.
    Ciiit…! Mobil nyaris menabrak pohon, karena Hamsad
    terkejut setelah pahanya terasa dicubit oleh potongan tangan
    tersebut.
    “Brengsek! Kulaporkan kau kepada Kismi kalau
    menggangguku terus!” geram Hamsad dengan jantung
    kembali berdebar-debar. Potongan tangan itu mencolek-colek
    paha, bahkan kini menggelitik di pinggang Hamsad. Sesekali
    Hamsad terpekik dan badannya bergerak kegelian, membuat
    laju mobilnya menjadi limbung.
    “Diam! Jangan ganggu aku!” bentak Hamsad
    memberanikan diri. Potongan tangan itu melompat ke depan
    stiran mobil. Hamsad membiarkan, karena potongan tangan
    itu tidak membuat gerakan yang perlu dikuatirkan. Bahkan,
    ketika kunang-kunang membelok arah, jari telunjuk dari
    potongan tangan itu menuding ke arah kiri, seakan memberi
    tahu agar mobil harus membelok ke arah kiri. Demikian juga
    jika harus ke arah kanan, jari itu menujuk arah kanan.
    Kemudian, tibalah Hamsad di sebuah perbukitan. Jalanan
    menanjak, kanan-kirinya kebun teh. Melewati perkebunan itu,
    ada jalan persimpangan. Jari telunjuk potongan tangan itu
    menuding ke arah kanan, dan Hamsad membelokkan mobilnya
    ke kanan. Tak berapa lama, jari tangan itu mengembang
    semuanya, seakan menyuruh “Stop” pada mobil tersebut.
    Cahaya purnama menampakkan sosok rumah kuno yang
    tinggal reruntuhannya. Menyeramkan sekali. Bentuk

    bangunannya jelas bangunan zaman Belanda. Bagian atapnya
    sudah rusak total, dan pada bagian halamannya telah banyak
    ditumbuhi tanaman liar, termasuk rumput ilalang.
    Kunang-kunang terbang memasuki rumah yang
    menyeramkan itu. Hamsad ragu-ragu. Ia berdiri di samping
    mobil sambil memegangi potongan tangan. Tiba-tiba,
    potongan tangan itu bergerak maju sambil memegangi tangan
    Hamsad, seakan menariknya agar Hamsad segera memasuki
    rumah kuno tanpa penghuni itu.
    Langkah kaki Hamsad terasa gemetar. Ia memasuki rumah
    yang sunyi dan kotor itu. Cahaya pucat rembulan
    meneranginya. Bahkan ada lantai yang longsor ke bawah,
    menuju ruang bawah. Potongan tangan dan kunang-kunang
    menunjukkan jalan menuju lantai bawah, melalui tangga batu
    di balik sebuah dinding kamar. Debar-debar di dalam dada
    Hamsad makin bergemuruh. Ia tetap mengikuti penunjuk
    jalannya yang setia Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah
    peti kaca seukuran tubuh manusia.
    Hamsad terhenyak kaget ketika menegaskan
    penglihatannya, bahwa ternyata di dalam kotak kaca yang
    mirip akuarium itu terdapat tubuh Kismi yang terbaring
    dengan tangan kanan terpotong. Kismi mengenakan gaun
    putih transparan yang sering dikenakan berkunjung ke kamar
    motel.
    Lebih terkejut lagi Hamsad setelah ruangan itu menjadi
    terang. Ada cahaya api yang datang dari arah belakangnya. Ia
    buru-buru berpaling. Oh, ternyata Pak Kosmin memegangi
    obor sebagai penerangnya. Hamsad semakin gemetar, karena
    ia ingat Pak Kosmin mampu menembus daun pintu bagaikan
    asap.
    “Jangan takut, Tuan. Saya tidak akan berbuat jahat…!
    Lakukanlah apa yang harus Tuan lakukan,” kata Pak Kosmin
    yang mempunyai sepasang mata cekung.
    Kemudian, Hamsad membuka tutup kotak kaca itu dengan
    gemetar. Napasnya tertahan, sesekali tersendat-sendat. PelanTiraikasih

    pelan ia letakkan potongan tangan itu ke lengan kanan tubuh
    Kismi.
    Suatu keajaiban membelalakkan mata Hamsad, sambungan
    pada potongan tangan dengan lengan Kismi itu membentuk
    satu cahaya hijau muda. Hijau kekuning-kuningan, mirip
    cahaya fosfor. Cahaya itu berpijar-pijar sejenak, kemudian
    redup. Dan, kini menjadi hilang sama sekali. Obor yang
    dibawa Pak Kosmin mendekat. Mereka memandang potongan
    tangan bercincin Zippus itu, dan ternyata pada sambungan
    tersebut tidak terlihat ada bekas luka sedikit pun
    “Ia telah pulih kembali, Tuan,” bisik Pak Kosmin.
    Hamsad terhentak lagi ketika mata Kismi yang terpejam itu
    terbuka, berkedip-kedip sejenak, kemudian tersenyum
    memandang Hamsad.
    “Jangan takut, Hamsad.,.. Aku Kismi! Aku telah hidup
    kembali!” seraya Kismi mengusap-usap pergelangan
    tangannya yang semula buntung itu.
    “Kau… kau benar-benar hidup…?!”
    Kismi mengangguk, keluar dari kotak kaca, mendekati
    Hamsad, kemudian Hamsad meraba pelan-pelan wajah Kismi.
    Terasa hangat. Lalu, Kismi berkata lirih, “Kau berhak memiliki
    aku, Hamsad…!”
    Mata Hamsad berkaca-kaca karena terharu, kemudian
    tanpa ragu lagi ia memeluk Kismi erat-erat, seakan tak ingin
    berpisah dengan Kismi selama-lamanya. Kismi pun
    menyambut pelukan itu dengan perasaan bahagia yang
    mengharu. Ia sempat meneteskan air mata, dan Hamsad
    mengusapnya sambil berkata,
    “Jangan teteskan air mata. Aku tak ingin kehilangan kau,
    walau hanya setetes air matamu. Aku tak ingin, Kismi…!”
    “Ohhh, Hamsad…!” Aku kagum pada tekadmu! Aku juga
    tidak ingin kehilangan kau…! Tapi….”
    “Tapi, apa, Sayang?”
    “Tapi ada satu risiko jika kau memperistri aku, Hamsad.”
    “Risiko apa?”

    “Aku… aku tak akan mempunyai keturunan…,” bisik Kismi
    dengan perasaan sedih. Hamsad pun berkata lirih sambil
    menatapnya,
    “Aku tak mau peduli tentang itu, yang penting kau jadi
    milikku. Dan… dan kau tak boleh kehilangan apa-apa lagi,
    Kismi!”
    Pelukan itu makin erat. Kemudian, Kismi berkata kepada
    Pak Kosmin, “Terima kasih, pak Kosmin. Dampingilah kami
    dari alammu…!”
    Obor pun padam. Ruangan jadi gelap. Kisimi berlari-lari
    membawa keluar Hamsad dari reruntuhan bekas rumahnya.
    Kemudian, Hamsad bermaksud membawa Kismi kembali ke
    motel untuk sementara waktu, sampai ditemukan tempat
    kontrakan yang layak bagi Kismi yang ternyata seorang
    ilmuwan berotak cerdas. Namun, ketika Kimiiii hendak naik ke
    dalam mobil Hamsad, ia jadi terhenti dengan wajah memanja.
    “Kenapa…?” tanya Hamsad heran.
    “Kiss me…!” katanya seraya menyodorkan pipi, dan
    Hamsad pun mencium pipi itu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Merangsang Bekas Muridku Jadi Korban Nafsu Bejatku

    Cerita Sex Merangsang Bekas Muridku Jadi Korban Nafsu Bejatku


    1473 views

    Perawanku – Namaku Asmiati, tinggi 160 sentimeter, berat 56 kilogram, lingkar pinggang 65 sentimeter. Secara keseluruhan, sosokku kencang, garis tubuhku tampak bila mengenakan pakaian yang ketat terutama pakaian senam. Aku adalah Ibu dari dua anak berusia 44 tahun dan bekerja sebagai seorang guru disebuah SLTA di kota S.

    Kata orang tahi lalat di daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku mirip Minati Atmanegara yang tetap kencang di usia yang semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat dengan olahraga yang teratur.

    Kira2 6 tahun yang lalu saat umurku masih 38 tahun salah seorang sehabatku menitipkan anaknya yang ingin kuliah di tempatku, karena ia teman baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku menyetujuinya. Nama pemuda itu Sandi, kulitnya kuning langsat dengan tinggi 173 cm. Badannya kurus kekar karena Sandi seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Sandi ini pernah menjadi muridku saat aku masih menjadi guru SD.

    Sandi sangat sopan dan tau diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau mengantar kedua anakku jika ingin bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama.

    Aku juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Sandi memperlihatkan sikap yang wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku.    Agen Obat Kuat Pasutri

    Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah S-2 keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan seksku yang masih menggebu-gebu.

    Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku jalankan, sehingga hasrat tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan kepergiannya otomatis aku harus menahan diri.

    Awalnya biasa saja, tapi setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah menunjukkan angka 9. Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar suara pintu dIbuka dari kamar Sandi.

    Kudengar suara langkahnya mendekatiku.

    “Bu Asmi..?” Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Sandi sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus berpura-pura tertidur.

    Cerita Sex Merangsang Bekas Muridku Jadi Korban Nafsu Bejatku

    Cerita Sex Merangsang Bekas Muridku Jadi Korban Nafsu Bejatku

    “Bu Asmi..?” Suara Sandi terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak atau tidak.
    Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai keleher.

    Lalu kurasakan Sandi mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura tertidur kuatur napas selembut mungkin.

    Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian aku merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap diam sampai saatnya tiba.

    Sekarang tangan Sandi sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti amalah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam.

    Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Sandi mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali.

    Tangan kanan Sandi mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Sandi menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku.

    Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Sandi mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri Sandiwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.

    “Sandi!! Ngapain kamu?”

    Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Sandi menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Sandi mecium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Sandi makin keras menekan pundakku, malah sekarang pemuda itu menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak.

    “Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya Bu… ” Sandi melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.
    “Kamu kan bisa denagan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua,” Ujarku lembut.
    “Tapi saya sudah tergila-gila dengan Bu Asmi.. Saat SD saya sering mengintip BH yang Ibu gunakan… Saya akan memuaskan Ibu sepuas-puasnya,” jawab Sandi.
    “Ah kamu… Ya sudah terserah kamu sajalah”

    Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya.

    Lalu Sandi melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku. Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku, kupandangi badanku di cermin.

    Benarkah pemuda seperti Sandi terangsang melihat tubuhku ini? Perduli amat yang penting aku ingin merasakan bagaimana sich bercinta dengan remaja yang masih panas.

    Keluar dari kamar mandi, Sandi persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun.
    “Body Ibu bagus banget.. ” dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.
    “Ibu hebat…,” desisnya.
    “Apanya yang hebat..?” Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Sandi yang panjang seleher.
    “Badan Ibu enggak banyak berubah dibandingkan saya SD dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.
    “Itu karena Ibu teratur olahraga” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. DIbukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.
    Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Sandi minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku.
    “Masukin aja yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu San!” Cegahku sambil menciumnya.
    Sandi tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya ?” godanya.
    “Kamu juga sudah enggak kuatkan sebenarnya San,” Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot.
    Sandi tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Sandi pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Sandi yang besar.
    Berbeda dengan suamiku, Sandi nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.
    Sandi menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Sandi, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah merekah.
    “Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak ‘bercinta’ sama Ibu…,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Sandi, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.
    Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Sandi semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu…, terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya…!!!
    Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Sandi memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.
    “Oohh…,” sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Sandi mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.
    “Saann, penismu enaaak…!!!,” kataku setengah menjerit.
    Sandi tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.
    “Oohh…, toloongg.., gustii…!!!”
    Sandi malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.
    “Aahh, penismu…, oohh, aarrghh…, penismuu…, oohh…!!!”
    Sandi terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Sandi sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.
    “Ibu mau keluar! Ibu mau keluaaar!!” aku menjerit-jerit.
    “Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget ‘bercinta’ sama Ibu!” Sandi menyodok-nyodok semakin kencang.
    “Sodok terus, Saann!!!… Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!”
    “Teruuss…, arrgghh…, sshh…, ohh…, sodok terus penismuuu…!”
    “Oh, ah, uuugghhh… ”
    “Enaaak…, penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss…”
    Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Sandi, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!
    Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin sudah ada lima tahun aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Sandi mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.
    Kuturuti permintaan Sandi. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Sandi mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam vaginaku.
    Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.
    Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Sandi dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Sandi segera menunduk, dikecupnya pipiku.
    “San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar,” kataku terus terang.
    “Emangnya Ibu suka kalau aku cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku.
    Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Sandi mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.
    Sandi melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.
    “Oorrgghh…, aahh…, ennaak…, penismu enak bangeett… Ssann!!”
    Sandi tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Sandi pun kali ini segera akan mencapai klimaks.
    Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Sandi. Pemuda itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.
    Tiba-tiba Sandi menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Sandi langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Sandi memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.
    “Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.
    “Aku hampir keluar!” Sandi bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandi. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.
    “Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.
    “Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Erang Sandi
    “Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.
    “Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”
    “Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”
    “Ah, oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaaar…!”
    “Yaahh teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann…, aku mau keluar, aku mau keluar, vaginaku keenakan, aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…, teruss…, aarrgghh…, ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!”
    Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Sandi menekan kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.
    “Oohhh…!!!” dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.
    Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Sandi memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas.
    “Enak banget,” bisik Sandi beberapa saat kemudian.
    “Hmmm…” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Sandi bergerak-gerak di dalam vaginaku.
    “Vagina Ibu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu…”
    “Apalagi penis kamu…, gede, keras, dalemmm…”
    Sandi bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Sandi menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.
    Sandi lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Sandi karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Sandi mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,
    “Aku bisa enggak puas-puas ‘bercinta’ sama Ibu… Ibu juga suka kan?”
    Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Sandi sebagai jawaban. Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Sandi kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga.
    Hampir tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sehari semalam dengan bekas muridku yang perkasa.
    Sudah seminggu Sandi menjadi” suami”ku. Dan jujur saja aku sangat menikmati kehidupan malamku selama seminggu ini. Sandi benar-benar pemuda yang sangat perkasa, selama seminggu ini liang vaginaku selalu disiramnya dengan sperma segar. Dan entah berapa kali aku menahan jeritan karena kenikmatan luar biasa yang ia berikan.
    Walaupun malam sudah puas menjilat, menghisap, dan mencium sepasang payudaraku. Sandi selalu meremasnya lagi jika ingin berangkat kuliah saat pagi hari, katanya sich buat menambah semangat. Aku tak mau melarang karena aku juga menikmati semua perbuatannya itu, walau akibatnya aku harus merapikann bajuku lagi.
    Malam itu sekitar jam setengah 10-an. Setelah menidurkan anakku yang paling bungsu, aku pergi kekamar mandi untuk berganti baju. Sandi meminta aku mengenakan pakaian yang biasa aku pergunakan ke sekolah. Setelah selesai berganti pakaian aku lantas keluar dan berdiri duduk di depan meja rias. Lalu berdandan seperti yang biasa aku lakukan jika ingin berangkat mengajar kesekolah.
    Tak lama kudengar suara ketukan, hatiku langsung bersorak gembira tak sabar menanti permainan apa lagi yang akan dilakukan Sandi padaku.
    “Masuk.. Nggak dikunci,” panggilku dengan suara halus.
    Lalu Sandi masuk dengan menggunakan T-shirt ketat dan celana putih sependek paha.
    “Malam ibu… Sudah siap..?” Godanya sambil medekatiku.
    “Sudah sayang…” Jawabku sambil berdiri.
    Tapi Sandi menahan pundakku lalu memintaku untuk duduk kembali sembil menghadap kecermin meja rias. Lalu ia berbisik ketelingaku dengan suara yang halus.
    “Bu.. Ibu mau tahu nggak dari mana biasanya saya mengintip ibu?”
    “Memangnya lewat mana..?” Tanyaku sambil membalikkan setengah badan.
    Dengan lembut ia menyentuh daguku dan mengarahkan wajahku kemeja rias. Lalu sambil mengecup leherku Sandi berucap.
    “Dari sini bu..” Bisiknya.
    Dari cermin aku melihat disela-sela kerah baju yang kukenakan agak terbuka sehingga samar-samar terlihat tali BHku yang berwarna hitam. Pantas jika sedang mengajar di depan kelas atau mengobrol dengan guru-guru pria disekolah, terkadang aku merasa pandangan mereka sedang menelanjangi aku. Rupanya pemandangan ini yang mereka saksikan saat itu.
    Tapi toh mereka cuma bisa melihat, membayangkan dan ingin menyentuhnya pikirku. Lalu tangan kanan Sandi masuk kecelah itu dan mengelus pundakku. Sementara tangan kirinya pelan-pelan membuka kancing bajuku satu persatu. Setelah terbuka semua Sandi lalu membuka bajuku tanpa melepasnya. Lalu ia meraih kedua payudaraku yang masih tertutup BH.
    “Inilah yang membuat saya selalu mengingat ibu sampai sekarang,” Bisiknya ditelingaku sambil meremas kedua susuku yang masih kencang ini.
    Lalu tangan Sandi menggapai daguku dan segera menempelkan bibir hangatnya padaku dengan penuh kasih dan emosinya. Aku tidak tinggal diam dan segera menyambut sapuan lidah Sandi dan menyedotnya dengan keras air liur Sandi, kulilitkan lidahku menyambut lidah Sandi dengan penuh getaran birahi. Kemudian tangannya yang keras mengangkat tubuhku dan membaringkannya ditengah ranjang.
    Ia lalu memandang tubuh depanku yang terbuka, dari cermin aku bisa melihat BH hitam yang transparan dengan “push up bra style”.
    Sehingga memberikan kesan payudaraku hampir tumpah meluap keluar lebih sepertiganya. Untuk lebih membuat Sandi lebih panas, aku lalu mengelus-elus payudaraku yang sebelah kiri yang masih dibalut bra, sementara tangan kiriku membelai pussy yang menyembul mendesak CDku, karena saat itu aku mengenakan celana “mini high cut style”.
    Sandi tampak terpesona melihat tingkahku, lalu ia menghampiriku dan menyambar bibirku yang lembut dan hangat dan langsung melumatnya. Sementara tangan kanan Sandi mendarat disembulan payudara sebelah kananku yang segar, dielusnya lembut, diselusupkan tangannya dalam bra yang hanya 2/3 menutupi payudaraku dan dikeluarkannya buah dadaku.
    Ditekan dan dicarinya puting susuku, lalu Sandi memilinnya secara halus dan menariknya perlahan. Perlakuannya itu membuatku melepas ciuman sandi dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalaku kekiri dan kekanan.
    Selepas tautan dengan bibir hangatku, Sandi lalu menyapu dagu dan leherku, sehingga aku meracau menerima dera kenikmatan itu.
    “Saan… Saann… Kenapa kamu yang memberikan kenikmatan ini..”
    Sandi lalu menghentikan kegiatan mulutnya. Tangannya segera membuka kaitan bra yang ada di depan, dengan sekali pijitan jari telunjuk dan ibu jari sebelah kanan Sandi, Segera dua buah gunung kembarku yang masih kencang dan terawat menyembul keluar menikmati kebebasan alam yang indah.
    Lalu Sandi menempelkan bibir hangatnya pada buah dadaku sebelah kanan, disapu dan dijilatnya sembulan daging segar itu. Secepat itu pula merambatlah lidahnya pada puting coklat muda keras, segar menentang ke atas. Sandi mengulum putingku dengan buas, sesekali digigit halus dan ditariknya dengan gigi.
    Aku hanya bisa mengerang dan mengeluh, sambil mengangkat badanku seraya melepaskan baju dan rok kerjaku beserta bra warna hitam yang telah dibuka Sandi dan kulemparkan kekursi rias. Dengan giat penuh nafsu Sandi menyedot buah dadaku yang sebelah kiri, tangan kanannya meraba dan menjalar kebawah sampai dia menyentuh CDku dan berhenti digundukan nikmat yang penuh menentang segar ke atas.
    Lalu Sandi merabanya ke arah vertikal, dari atas kebawah. Melihat CDku yang sudah basah lembab, ia langsung menurukannya mendororng dengan kaki kiri dan langsung membuangnya sampai jatuh ke karpet.
    Adapun tangan kanan itu segera mengelus dan memberikan sentuhan rangsangan pada memekku, yang dibagian atasnya ditumbuhi bulu halus terawat adapun dibagian belahan vagina dan dibagian bawahnya bersih dan mulus tiada berambut. Rangsangan Sandi semakin tajam dan hebat sehingga aku meracau.
    “Saaan.. Sentuh ibu sayang, .. Saann buat.. Ibu terbaang.. Pleaase.”
    Sandi segera membuka gundukan tebal vagina milikku lalu mulutnya segera menjulur kebawah dan lidahnya menjulur masuk untuk menyentuh lebih dalam lagi mencari kloritasku yang semakin membesar dan mengeras. Dia menekan dengan penuh nafsu dan lidahnya bergerak liar ke atas dan kebawah.
    Aku menggelinjang dan teriak tak tahan menahan orgasme yang akan semakin mendesak mencuat bagaikan merapi yang ingin memuntahkan isi buminya. Dengan terengah-engah kudorong pantatku naik, seraya tanganku memegang kepala Sandi dan menekannya kebawah sambil mengerang.
    “Ssaann.. Aarghh..”
    Aku tak kuasa menahannya lagi hingga menjerit saat menerima ledakan orgasme yang pertama, magma pun meluap menyemprot ke atas hidung Sandi yang mancung.
    “Saan.. Ibu keluaa.. aar.. Sann..” Memekku berdenyut kencang dan mengejanglah tubuhku sambil tetap meracau.
    “Saan.. Kamu jago sekali memainkan lidahmu dalam memekku sayang.. Cium ibu sayang.”
    Sandi segera bangkit mendekap erat diatas dadaku yang dalam keadaan oleng menyambut getaran orgasme. Ia lalu mencium mulutku dengan kuatnya dan aku menyambutnya dengan tautan garang, kuserap lidah Sandi dalam rongga mulutku yang indah.
    Tubuhku tergolek tak berdaya sesaat, Sandipun mencumbuku dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuhku yang halus, seraya memberikan kecupan hangat didahi, pipi dan mataku yang terpejam dengan penuh cinta. Dibiarkannya aku menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang hebat. Juga memberi kesempatan menurunnya nafsu yang kurasakan.
    Setelah merasa aku cukup beristirahat Sandi mulai menyentuh dan membelaiku lagi. Aku segera bangkit dan medorong belahan badan Sandi yang berada diatasku. Kudekatkan kepalaku kewajahnya lalu kucium dan kujilati pipinya, kemudian menjalar kekupingnya.
    Kumasukkan lidahku ke dalam lubang telinga Sandi, sehingga ia meronta menahan gairahnya. Jilatanku makin turun kebawah sampai keputing susu kiri Sandi yang berambut, Kubelai dada Sandi yang bidang berotot sedang tangan kananku memainkan puting yang sebelah kiri. Mengelinjang Sandi mendapat sentuhan yang menyengat dititik rawannya yang merambat gairahnya itu, sandipun mengerang dan mendesah.
    Kegiatanku semakin memanas dengan menurunkan sapuan lidah sambil tanganku merambat keperut. Lalu kumainkan lubang pusar Sandi ditekan kebawah dfan kesamping terus kulepaskan dan kubelai perut bawah Sandi sampai akhirnya kekemaluan Sandi yang sudah membesar dan mengeras.
    Kuelus lembut dengan jemari lentikku batang kemaluan Sandi yang menentang ke atas, berwarna kemerahan kontras dengan kulit sandi yang putih kepalanya pun telah berbening air birahi.
    Melihat keadaan yang sudah menggairahkan tersebut aku menjadi tak sabar dan segera kutempelkan bibir hangatku kekepala kontol Sandi dengan penuh gelor nafsu, kusapu kepala kontol dengan cermat, kuhisap lubang air seninya sehingga membuat Sandi memutar kepalanya kekiri dan kekanan, mendongkak-dongkakkan kepalanya menahan keikmatan yang sangat tiada tara, adapun tangannya menjambak kepalaku.
    “Buuu.. Dera nikmat darimu tak tertahankan.. Kuingin memilikimu seutuhnya,” Sandi mengerang.
    Aku tidak menjawabnya, hanya lirikan mataku sambil mengedipkannya satu ke arah Sandi yang sedang kelejotan. Sukmanya sedang terbang melayang kealam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi. Adapun tanganku memijit dan mengocoknya dengan ritme yang pelan dan semakin cepat, sementara lidahku menjilati seluruh permukaan kepala kontol tersebut. Termasuk dibagian urat yang sensitif bagian atas sambil kupijat-pijat dengan penuh nafsu birahi.
    Sadar akan keadaan Sandi yang semakin mendaki puncak kenikmatan dan akupun sendiri telah terangsang. Denyutan memekku telah mempengaruhi deburan darah tubuhku, kulepaskan kumulan kontol Sandi dan segera kuposisikan tubuhku diatas tubuh Sandi menghadap kekakinya.
    Dan kumasukkan kontol Sandi yang keras dan menengang ke dalam relung nikmatku. Segera kuputar memompanya naik turun sambil menekan dan memijat dengan otot vagina sekuat tenaga. Ritme gerakanpun kutambah sampai kecepatan maksimal.
    Sandi berteriak, sementara aku pun terfokus menikmati dera kenikmatan gesekan kontol sandi yang menggesek G-spotku berulang kali sehingga menimbulkan dera kenikmatan yang indah sekali. Tangan Sandipun tak tinggal diam diremasnya pantatku yang bulat montok indah, dan dielus-elusnya anusku, sambil menikmati dera goyanganku pada kontolnya. Dan akhirnya kami berdua berteriak.
    “Buu Dennook.. Aku tak kuat lagi.. Berikan kenikmatan lebih lagi bu.. Denyutan diujung kontolku sudah tak tertahankan”
    “Ibu pandai… Ibu liaarr… Ibu membuatku melayang.. Aku mau keluarr” .
    Lalu Sandi memintaku untuk memutar badan manghadap pada dirinya dan dibalikkannya tubuhku sehingga. Sekarang aku berada dibawah tubuhnya bersandarkan bantal tinggi, lalu Sandi menaikkan kedua kakiku kebahunya kemudian ia bersimpuh di depan memekku. Sambil mengayun dan memompa kontolnya dengan yang cepat dan kuat. Aku bisa melihat bagaimana wajah Sandi yang tak tahan lagi akan denyutan diujung kontol yang semakin mendesak seakan mau meledak.
    “Buu… Pleaass.. See.. Aku akaan meleedaaakkh!”
    “Tungguu Saan.. Orgasmeku juga mauu.. Datang ssayaang.. Kita sama-sama yaa..”
    Akhirnya… Cret.. Cret.. Cret tak tertahankan lagi bendungan Sandi jebol memuntahkan spermanya di vaginaku. Secara bersamaan akupun mendengus dan meneriakkan erangan kenikmatan.
    Segera kusambar bibir sandi, kukulum dengan hangat dan kusodorkan lidahku ke dalam rongga mulut Sandi. Kudekap badan Sandi yang sama mengejang, basah badan Sandi dengan peluh menyatu dengan peluhku. Lalu ia terkulai didadaku sambil menikmati denyut vaginaku yang kencang menyambut orgasme yang nikmat yang selama ini kurindukan.
    Lalu Sandi membelai rambutku dengan penuh kasih sayang kemudian mengecup keningku.
    “Buu.. Thank you, i love you so much.. Terus berikan kenikmatan seperti ini untukku ya..” Bisiknya lembut.
    Aku hanya mengangguk perlahan, setelah memberikan ciuman selamat tidur aku memeluknya dan langsung terlelap. Karena besok aku harus masuk kerja dan masih banyak lagi petualangan penuh kenikmatan yang akan kami lalui.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Tubuh Mulus Ibu Frida

    Cerita Sex Tubuh Mulus Ibu Frida


    1704 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Tubuh Mulus Ibu Frida ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Usiaku yang 21 tahun ini aku akan membagikan pemgalaman indahku yang sempat aku alami, sebut saja Ahmad namaku, cerita sex ini tidak bisa aku lupakan dimana perjaka hilang dengan wanita yang hot, kira kira sudah dua tahun saat aku masih duduk di kelas 2 SMA.

    Riuh didalam kelas SMA 2, aku duduk disamping teman yang bernama Tony, saat itu kami lagi menunggu guru mata pelajaran Bahasa inggris, sebenarnya aku ingin cabut tetapi si Tony melarangku cabut, karena si Tony lagi tidak punya uang.

    Si Tony teman cabut yang paling setia, setiap Tony mengajak ku cabut, aku selalu mengikutinya, karena dia termasuk katagori anak orang kaya. Bapaknya pengusaha dan ibunya kepala dinas, sedangkan aku hidup pas pasan, ayahku buruh lepas dan ibuku warung harian.

    Si Tony kehabisan uang karena dia kalah taruhan bola, kalau dia menang pasti kami sudah cabut, setelah ribut di kelas, terdengar Bapak Kepala sekolah berkata “Selamat pagi anak-anak” kami pun menjawab

    “Pagi pak”.

    “Hari ini bapak indra tidak bisa mengajar, karena orang tuanya meninggal di kampung (pulau jawa), jadi kalian akan di gantikan dengan guru sementara, sebentar lagi ibu Frida akan datang, kalian harus sopan dengan ibu ini, karena ini pertama kali dia mengajar.

    Setelah itu bapak itu langsung keluar setelah mengucapkan salam, kami berikir ibu baru ini pasti cantik dan muda lagi, tidak seperti guru lainnya. Setelah 5 menit berlalu muncullah seorang wanita cantik dengan menggunakan rok span hitam dan baju putih, ternyata sungguh sempurna, badannya seperti gitar kapok, dan bokongnya aduhai, hidung mancung, bibir sexxy.

    Ibu Frida pun langsung menyapa kami dengan suara lembut gemulai, “selamat pagi, saya guru baru yang akan mengajar bahasa inggris selama kurang lebih sebulan, Karena bapak indra baru mendapat musibah” ibu itu berbicara panjang lebar untuk memperkenalkan diri,

    Sedang kan aku hanya melamun dan menghayal ibu Frida, aku berfikir gimana bisa aku menyentuh tubuh ibu yang mulus itu!!! Setelah pelajaran selesai q langsung pulang (cabut) bersama Tony, sepanjang perjalanan q menghayal ibu Frida.

    Keesokan harinya saya datang lebih awal, karena ibu Frida masuk jam pertama, Setelah semua masuk termasuk ibu Frida juga hadir, ibu memberi tugas satu persatu anak anak maju kedepan untuk memperkenalkan diri dalam bahasa inggris, “wah aku cabut ah” karena aku takut untuk maju, soalnya aku buta dalam bahasa inggris.

    Tetapi niat tuk cabut aku batalkan, setelah sebagian maju dan sekarang giliran ku, saat aku maju aku melihat suasana begitu indah di mata ku, paha mulus tidak ada goresan sedikit pun, aku hanya bisa menelan air ludah ku sendiri, “ayo Ahmad perkenalkan diri kamu” ibu Frida berkata.

    Aku pun ngomong patah patah seperti orang di todong pistol di kepala, karena aku memang buta bahasa inggris yang hanya ku tau yes and no, teman ku semua menertawakan ku, karena melihat tingkahku.

    “Ahmad seharusnya kamu ikut pelajaran xtra, atau kamu ikut les” jawab buk Frida,iya buk jawabku, setelah q di persilakan duduk aku mendapat kan sebuah ide biar aku bisa dekat dengan ibu Frida aku di ajarin sama ibu Frida.

    Saat dirumah aku memohon minta les bahasa inggris sama ibu, “tumben kau mau les, sekolah saja jarang masuk, emang berapa biaya lesnya, kalau mahal mahal ibu tidak sanggup, kita ini banyak membutuhkan uang, belum abang mu yang kuliah, dan adikmu masih SD” jawab ibu ku seperti itu.

    Ke esokan harinya aku memberanikan diri untuk bertemu ibu Frida untuk berbicara supaya ibu Frida yang akan mengajariku les, setelah kesana sini aku mencari bu Frida, aku bertemu ibu Frida sendirian dikantin, aku mendekatkan diri dan meminta ibu Frida yang mngajari ku, ibu Frida setuju tetapi aku harus datang kerumah nya, aku pun dengan gembira karena ibu Frida mau mengajari ku dan ibu Frida langsung memberi alamat rumahnya.

    Tepat jam delapan malam, aku berdiri di depan rumah bu Frida,

    “cari siapa ya” seorang gadis sebaya dengan ku, “ada ibu Frida mba” jawabku,

    owh kamu muridnya ya”

    “iya mbak”

    “bentar ya saya panggil kakak saya”, owh ternyata adiknya, tidak lama kemudian ibu Frida pun muncul, “silakan masuk man” saya pun masuk dengan membelakangi ibu Frida, aku terus melihat bodynya yang sexxy, khayalan ku semakin gila melihat bokong bu Frida, seandainya burung ku bisa menempel di bokong nya, uhh enaknya.

    Kami pun duduk diruang tamu, dan memulai pelajaran, tapi sayangnya aku tidak pernah mengerti apa yang di omongin ibu Frida,yang ada di pikiran ku hanya ngentod dan ngentod sama bu Frida. Aku melihat benjolan dada yang dilapisi dengan baju kaos berwarna biru.

    Dan pahanya begitu mulus rasa ingin di jilati, aku hanya bisa menjawab ya bu dan ya bu, dan akhirnya selesai setelah 2 jam kurang, aku pun pulang. Sesampai di kamar aku pun melakukan yang biasa aku lakukan, aku membayangkan ibu Frida bersetubuh dengan ku, dan aku pun finish.

    Sudah pertemuan ke enam saya datang jam 7:20 lebih awal, dan di persilakan duduk tempat seperti biasa, ruang tamu. Orang tua bu Frida kelihatan rapi memakai baju batik, ternyata orang tua bu Frida mau pergi ke undangan.

    Tidak lama kemudian datang cowok lebih tua dari ku, pikiran ku ini pacarnya ibu Frida, aku sangat kecewa dan emosi melihat cowok itu, eh ternyata pacarnya adik bu Frida, bu Frida menyuruh ku untuk duduk di ruang tengah,

    Cowoknya adik bu Frida bersama adiknya bu Frida sambil cerita dan tertawa ribut menurutku, tidak lama kemudian mereka pamit untuk keluar mencari makan. Setengah jam kemudian hujan lebat mengguyur bumi, aku pun berlari keluar untuk meneduhkan motor ku dan bu Frida pun sibuk dengan pakaian yang lupa dia angkat.

    Aku basah semua dan bu Frida pun ikut kebasahan, lalu dia memberi handuk kepada ku dan aku mengeringkan pakaian di kamar mandi, bu Frida datang menghampiriku dengan lilitan handuk putih, q sudah dek dekkan karena nafsu yang ada di kepala.

    Ternyata dia memberi ku celana pendek untuk ku pakai, aku pun langsung memakainya, Dan pakaian ku yang basah di suruh di jemur depan kipas angin didapur termasuk CD ku, aku kaget melihat ibu Frida menyeret kakinya dan ternyata ibu tin jatuh, langsung ku rangkul dia ke kamarnya, ku dudukkan di atas tempat tidur,

    “bu saya urut dikit kakinya bu, karena saya udah biasa mijitin ayah bu” tidak usah,

    ntar lagi juga sehat, jawab bu tin. aku pun memaksa memijitnya, bu tin pun tidak bisa menolak tawaran dari ku, ku usap2 kakinya, begitu licin betisnya, karena dia reflek kesakitan dia mengangkat kaki ke atas kira kira sejengkal, dan aku pun melihat isi dalam yang di hiasi warna biru muda.

    Belutku pun langsung tegak, karena aku tidak pake kolor dan kolor ku pun sedang di jemur, jadi kelihatan benjolan di celana, bu tin tersenyum melihat kontol ku berdiri, ”dasar otak mesum” jawab bu Frida kepadaku,

    “udah kamu tunggu diluar, barang kali baju mu sudah kering” begitu dia mebalikkan badan aku pun langsung memeluk bu tin, bu tin membrontak dan menampar pipiku sangat keras, dan aku langsung menangkap tangannya dan menindih bu tin.

    Karna kakinya sedang sakit dia tidak terlalu banyak melawan, entah apa yang ada di pikiran ku sehingga aku berani berbuat seperti ini, saat itu aku tidak ada pikiran untuk tidak berhenti dan meminta maaf, malah langsung ku cium seluruh mukanya dan kulepas handuk dari tubuhnya. Aku melihat sepasang buah dada yang tidak begitu besar dan tidak pula kecil, ku gesekkan burungku selah kelengkangnya, dia terus memberontak.

    Percuma dia berteriak, suara hujan lebih keras dari suaranya,dengan sekuat tenaga aku memegang tangannya, kulepas tangan kanan ku cepat cepat dan langsung ku buka celana ku dan sudah siap untuk memasukkannya, tetapi masih ada satu masalahku, celana dalamnya belum ke buka, dengan tenaga ntah dari mana ku koyakkan Cdnya dan akhirnya dia tidak di singgahi sehelai benang pun.

    Hanya kulitku yang menyentuh kulitnya, dia sudah terlalu lemah untuk memberontak dan tenaga ku masih penuh. Akhirnya dengan mudah aku memainkan kontolku ke vaginanya, sudah beberapa kali ku coba memasukkan ke vaginanya tidak berhasil,

    Aku tekan kepala kontolku diatas bibir vaginanya dan ku dorong sekuat tenaga dia berteriak dan langsung memelukku dengan erat. Ku dorong sampai pul dan kutarik lagi, dia menangis dan merintih, dan aku pun asik menggoyang dan akhirnya aku keluar.

    Tidak sampai sepuluh kali ku tusuk, kira kira sebanyak enam atau tujuh kali aku sudah keluar, ku keluarkan spermaku di dalam vaginanya, sekitar setengah menit kucabut kontolku, tidak ada darah yang keluar dan perjakaku tamat.

    Aku pun duduk sambil menyesal, apa yang aku perbuat??? Dalam benakku aku berbicara, aku tidak melihat ke belakang, aku tidak tahu reaksinya bagaimana, aku penasaran dan ku lihat dia masih bugil sambil menangis.

    Melihatnya bugil ternyata nafsu ku naik lagi, dan ku cium bibirnya dia tidak melawan, kontolku pun naik lagi, ku masukkan pelan pelan dengan perasaan sambil kujilati susunya, dia pun merintih keenakkan, ku tekan kontolku dan kutarik dan kutekan lagi, lendir dari vaginanya begitu banyak,

    Becek seluruh selangkangannya, aku pun dengan nafsu dan prasaan membelai tubuhnya, dia pun memelukku erat erat,sekitar dua puluh menit kami bersenggama aku pun serasa mau nembak, dan kutembak di dalam lagi, srooott . . . . srooooootttt . . . . . owh nikmatnya. Aku pun bergegas mencari pakaian yang kujemur tadi langsung ku pakai basah basah, hujan pun tidak reda. Ku hidupkan mesin motorku dan ku gas kencang kencang.

    Aku tak habis pikir kenapa aku berani senekad itu, guru yang sudah baik ingin membantu mengajari ku tanpa bayaran sedikit pun. Sesampai di rumah aku langsung mengemasi bajuku dan kabur keluar kampung, aku mampir ke tempat sahabat ku si Tony dan menceritakan kejadiannya, dia tertawa, dan memberiku uang sebanyak tujuh ratus ribu rupiah, dan aku lari ke jambi.

    Di jambi aku bertemu dengan teman sekolahku sewaktu SMP, dan aku menghubunginya melalui FACEBOOK. Si Tony memang sahabat ku, dia selalu membantu saat aku dalam kesulitan. Aku tidak tau apa berita dari kampungku, sekarang aku sudah jauh dari pekanbaru.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Bulan Madu Yang Membawa Bencana

    Cerita Sex Bulan Madu Yang Membawa Bencana


    1520 views

    Perawanku – Cerita Sex Bulan Madu Yang Membawa Bencana, Rini usia 35 tahun profesi karyawati sebuah bank pemerintah. Istri seorang staff di pemda kota terbesar di daerah jawa timur. Wanita dari tiga bersaudara bersaudara ini terlihat cantik dan berhijab. Suaminya Anton dengan usia 38 tahun adalah seorang staff di pemda yang punya kedudukan terjamin di jawa timur.

    Keluarga muda mapan dalam ekonomi ini terlihat bahagia. Tapi kesibukkan masing2 membuat pasangan ini tak dapat menikmati bulan madu. Setelah cuti untuk melangsungkan pernikahan yang bisa terbilang mewah dan besar2an itu, mereka langsung disibukkan dengan kerjaan yang menumpuk selama ditinggal cuti.

    8 bulan usia pernikahan mereka lalui bersama dengan lika liku yg berhasil mereka berdua lalui. Tidak adanya kesempatan untuk bulan madu setelah pernikahan bukan berarti mereka tidak pernah melakukan kegiatan seks. Kedua insan sebenarnya telah sering melakukan seks sejak pertama kali pacaran. Bedanya selama mereka pacaran mereka hanya sebatas petting dan oral, tidak sampai melakukan penetrasi.

    Kegiatan seks mereka setelah menikah pun semakin hangat dan mesra walaupun belum di karuniai buah hati. Bahkan hampir setiap weekend atau setiap hari libur mereka habiskan untuk bercinta.

    “Sayang,,, aku pulang nih” kata anton.

    Anton baru pulang dari kantornya dengan aura yang membahagiakan. Dia ingin memberikan istrinya dengan sebuah kejutan yang pasti akan membuat istrinya sangat gembira.

    “Sayang, kamu dimana?” Tanyanya yang ternyata mendapati rumahnya seperti tak berpenghuni.

    Tiba2 terdengar “iyaa sayaaang, aku masih mandi ini. Tunggu bentar yah” suara sang istri dari kamar mandi.

    “Owh, iya deh sayang. Aku ganti baju dulu deh kalau gitu” kata anton.

    Beberapa saat kemudian mereka tampak bersantai sambil menonton televisi. Keduanya tampak sebagai keluarga yang harmonis dan romantis. Keinginan setiap orang yang telah berkeluarga dimana keharmonisan selalu terjaga.

    “Sayang, aku punya kejutan buat kamu” kata anton.

    “Kejutan apa? Paling bunga lagi kan” ucap rini

    Yap, keluarga ini selalu memberikan kejutan disaat yang tidak pernah terpikirkan. Semua itu dilakukan oleh anton untuk menjaga keutuhan rasa cinta dan kasih sayang diantara mereka. Bahkan tak jarang rini sang istri yang berinisiatif memberikan sebuah kejutan untuk anton.

    “Enggak lah, udah bosen aku kasi bunga terus. Ini lebih spesial dari bunga” kata anton.

    “Apa sih? Bikin penasaran aja” kata rini.

    “Bentar ya, kamu tutup mata dulu gak boleh ngintip. Aku mau ambil kejutannya” kata anton.

    “Ih pake tutup mata segala. Emang apa sih?” Rini pun semakin penasaran.

    “Tutup mata dulu makanya sayang” kata anton yang diikuti sang istri yang menuruti perintah sang suami yang dicintainya.

    Saat kembali dari mengambil kejutan yang ia janjikan kepada rini itu “udah sayang sekarang buka mata” kata anton.

    “Mana kejutannya? Ih mulai bohong nih sekarang” rini melihat anton yang ada didepannya itu kembali tanpa membawa apapun.

    “Ih kata siapa aku bohong. Bentar yah” kata anton sambil mengambil sesuatu dari saku celananya.

    “Ini kejutannya” kata anton sambil menunjukkan sebuah voucher liburan.

    “Kita liburan sayang? Yeeeeee” kata rini.

    “Iya sayang, kita dapat liburan dari atasan aku sayang” kata anton.

    “Wah liburan kemana nih sayang? Ke pulau yah? Yeeeeessss makasih sayang muuuuach” rini yang terlalu gembira itu tiba2 memberikan ciuman yang sangat indah untuk anton.

    “Mmmmh nanti aja ciumnya sayang, nanti ak pengen hehehe” kata anton.

    “Hehehe emang kamu gak mau?” Tanya rini sambil menggoda anton.

    Anton memberikan sebuah paket liburan yang ia dapatkan dari pemberian atasan anton atas kinerja anton yang terbilang sangat baik di kantornya hingga membuat atasan anton memberikan sejumlah penghargaan termasuk paket liburan kepada anton sebagai tanda kebanggaan atasannya terhadap anton. Itulah sebabnya liburan ini anton manfaatkan sebagai bulan madu yang urung ia laksanakan akibat padatnya jadwal pekerjaan mereka.

    “Yaudah kalo gitu besok aku coba minta cuti ke bos buat akhir bulan ini sayang” kata rini.

    Dirinya tak ingin mengecewakan anton yang sudah bersusah payah hingga mendapakan sebuah hadiah dari atasan anton.

    “Iya sayang, semoga kita jadi bulan madu akhir bulan ini yah” kata anton penuh harap.

    “Sekarang sebagai tanda terima kasih aku ke kamu. Aku mau kamu diem gak boleh banyak gerak.” Kata rini.

    Anton menuruti kemauan istrinya itu dan tiba2 istrinya membuka celana pendeknya dan mengeluarkan kontolnya yang masih lemas itu dari sarangnya. “Ih belum bangun tititnya. Sini ak bangunin dulu” kata rani sambil mulai mengocok kontol anton.

    “Aaaaaah enak sayang. Kamu pinter banget muasin suami” kata anton setelah kontolnya masuk ke mulut rini.

    Rini semakin lahap memasukan kontol anton. Bahkan tak banyak bicara rini langsung menarik turun celana pendek sekaligus celana dalam suaminya hingga terlepas.

    Anton sendiri menikmati kebinalan sang istri yang sedang mengoral kontolnya. Bagaimana tidak, saat dirumah pun ia memakai jilbab bahkan saat mereka ngeseks pun rani tetap memakai jilbabnya. Rani tahu dengan ia memakai jilbab anton akan menjadi buas saat diranjang.

    Dan seperti sekarang saat rani menikmati kontol anton pun jilbabnya tetap terpasang di kepalanya. Anton semakin terangsang melihat istrinya. Dan rani pun semakin berani dengan manjilati kantung telurnya hingga ke lubang pantat anton.

    “Uuuuh sayaaang enaaak bangeeet aaaaah aaaah kamu jadi nakal sekarang, aaaah aaah enak sayaaaang” anton kelonjotan menikmati serangan dari lidah rini.

    Rini terus memberikan service mulut yang ia ketahui dan ia terapkan ke suaminya. “Enak sayang? Tititnya udah basah nih hehe mmmhhh sssllrpp sssllrrp” celotehnya dan kembali memberikan oral lagi.

    “Enak banget sayaang uuuh ssshh ssshhh” desah anton.

    Rini pun mengocok kontol anton dengan jilbabnya yang berbahan lembut itu hingga membuat anton makin kelonjotan merasakannya.

    Setelah dirasanya cukup rini pun melepas semua pakaian yang ia kenakan hingga menyisakan jilbab kuning dikepalanya. Anton yang melihat istrinya telanjang dihadapannya ikut melepas kaos yang ia kenakan. Detik berikutnya rani memberikan ciuman pada bibir anton. Mereka tampak sangat romantis melakukan ciuman. Anton memperlakukan rini dengan sangat lembut.

    “Kamu bener2 bikin aku jatuh cinta sayang mmmmh mmmhh” ucap anton disela2 ciuman mereka. Rini pun membalas dengan sebuah senyuman manis. Sementara tangan rani terus mengocok kontol anton yang telah tegak menjulang.

    Anton tak tahan jika hanya berdiam diri menikmati serangan yang dilancarkan oleh istrinya. Tangannya dengan sigap memberikan remasan lembut pada toket rini hingga membuat rini seakan terbang melayang merasakan perlakuan anton.

    Cerita Sex Bulan Madu Yang Membawa Bencana

    Cerita Sex Bulan Madu Yang Membawa Bencana

    “Mmmh sayaaang teruuus aaaaah aaahh aaaauwh isep pentilnya saayaaaang aaaah” desah rini

    Anton langsung melumat toket istrinya, hingga pentil imut berwarna coklat itu mencuat menegang seakan ingin merasakan kelembutan hisapan anton. Rini merasakan sensasi luar biasa dari hisapan yang dilakukan anton pada puttingnya.

    “Saayyyaaaang geliii bangeeet uuuh iseep teruus sayaaang” desah rini. Tangan anton terus turun hingga ke pantat rini dan meremas pantat rini yang indah membulat kencang dan mulus. Cukup lama anton menikmati tubuh rini tanpa penetrasi tapi karena tubuh rini yang terlalu sensitif menerima rangsangan dari anton hingga rini dapat merasakan puncak orgasme.

    “Aaaaaaaarggghh sayaaang akuuu nyampeeeeee aaaaah aaah” erangnya saat orgasme.

    “Wah kamu baru diisep gitu udah keluar sayaang” kata anton.

    “Aku gak tahan sayaaang, gelii banget jadi gak tahaan. Lagian kamu semangat banget ngisepnya” kata rini.

    “Siapa yang gak semangat kalo ngeliat pentil kayak gini sayaaang mmmh mmmh” kata anton diikuti dengan menghisap pentil rini.

    “Aaaauwh udah sayaaang gantian, kamu belum keluar kan” kata rini.

    “Lanjutin di kamar aja kalo gitu, yuk” ajak anton yang ditanggapi dengan sebuah anggukan dan sebuah senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya. Lalu anton menggendong istrinya ke arah kamar pribadi mereka.

    Di kamar itu anton lalu merebahkan tubuh rini di ranjang besar mereka. Dan kini rini yang pasrah menikmati serangan anton, setelah orgasme tadi tubuhnya menjadi lemas. Anton kini mulai menjilati memek istrinya yang bersih terawat dan gundul tanpa bulu.

    Rini kelonjotan menikmati jilatan sang suami “aaaah sayaaaang teruuus uuuuh jilat sayaaang aaah enaakhh” erangnya yang terdengar semakin keras. Sementara rini meremasi toketnya sendiri dan memainkan puttingnya.

    Anton lalu merubah posisinya menjadi saling menjilati kemaluan masing2. Rini yang melihat kontol anton ada di depannya langsung memasukkannya ke mulutnya dan menghisapi dengan kuat.

    “Aaaauwh enaaak sayaaang jilat memek aku sayaaang uuuuh iyaaa disituuuh uuuuh enaaak sayaang” desah rini.

    Puas melihat memek istrinya yang sudah mulai basah mengkilap anton memposisikan dirinya di antara paha rini yang telah dibuka lebar. Rini pun bersiap menyambut kontol sang suami masuk ke memeknya “aaah masukin sayaaang, aku siaaap mmmmmh” erang rini.

    Detik berikutnya kontol anton melesat masuk membelah memek rini tanpa hambatan apapun. Anton merasakan jepitan memek rini yang kencang dan licin disertai ludahnya yang sebelumnya ia jilati.

    “Kamu cantik sayaaang, apalagi kalo lagi kayak gini aaaah” puji anton melihat istrinya menikmati tusukan kontol anton.

    “Aaauwh uuuh uuuhh mmmmh kamu nakaal ihh aaaah enaaak sayaaang” desah rini.

    Rini terus menikmati setiap tusukan dan sensasi yang ditimbulkan dari setiap gesekan di dalam memeknya. Sementara anton mulai meningkatkan tempo tusukannya.

    “Aaah iyaaa sayaang yang kenceeeng uuuh nikmaaat aaaauwh aaaaah aah ssssh enak bangeet” desah rini.

    Detik berikutnya anton sudah berada did bawah sedangkan rini mulai memasukkan kontol anton ke memeknya. “Mmmh saaayaaang enaaak uuuh” erang rini saat kontol itu masuk.
    “Goyang sayaang, uuuhhh enaak” desah anton.

    Rini bak wanita yang sedang menaiki kuda pacu yang sedang berlomba, tapi bedanya rini berlomba menggapai puncak kenikmatan. Jilbab rini yang ada dikepalanya mulai basah terkena keringat birahinya.

    “Aaaauwh saayaaaang kamu seksiii bangeet uuuhh uuhh uuuhh” celoteh anton. Rini tidak menanggapi komentar suaminya dan terus menggenjot kontol sang suami.

    Anton meremasi toket rini yang bergoyang mengikuti irama hentakan genjotannya. “Sayaang aku gak tahaaan mauu keluaar aaah aah aaah” desah rini.

    “Keluarin ajaaa sayaaang uuuh enaak bangeeet memek kamuu” kata anton

    Beberapa detik kemudian anton melihat tubuh istrinya mulai menegang diikuti hentakan orgasmenya srrrrr sssrrrrr sssrrrrr “akuuu nyampeee sayang mmmmh mmhh” kata rini.

    “Enak yah sayang? Sampe kayak gitu orgasmenya” tanya anton.

    “Iyaa sayang aaaah akuuu capek sayaang uuh tapi kamu belum keluar yah?” Kata rini dan disertai goyangan yang masih ia lakukan, seakan rini tak ingin kehilangan rasa kenikmatan yang berada di memeknya.

    “Gapapa sayang, kita istirahat bentar nanti lanjut lagi” anton memang selalu pengertian bagaimana kondisi istrinya. Dia tidak ingin egois menikmati indahnya bercinta sendirian.

    “Ak masi kuat kok sayang, ayo lanjut lagi” ajak rini

    Tanpa banyak bicara rini langsung memposisikan dirirnya dengan menungging di sebelah anton. Anton yang melihat itu segera bangun dan paham apa yang diinginkan itrinya. Dan blees… kontol anton pun masuk ke dalam memek rini.

    Rini yang sudah lelah hanya pasrah menerima tusukan kontol antn yang kian lama kian kencang.

    “Aaaauh saayaaang pelaan2 aaaah aaaah aaah enaak aaah” erang rini.

    “Mmmh enak sayang, memek kamu bikin aku ketagihan” kata anton

    Anton terus memompa memek rini dan meremasi pantatnya yang membulat kencang. Tusukan anton semakin gencar dilakukan hingga membuat erangan rani semakin keras tak kuasa menahan nikmat.

    “Aaaah sayaaang pelan2 akuu bisaa keluaar lagii nantii aaah aaah aaah aaah” desah rini.

    Jeritan erangan rini semakin membakar birahi anton. Ia sangat suka mendengar erangan istrinya yang keras.

    “Saaayyyaaang aku mauu keluar lagii aaah aaah” erang rini.

    “Tahan sayaang akuu jugaa mauu keluuaar uuuhh uuuuh uuh enak banget memek kamu” celoteh anton.

    Dan mereka pun menegang bersamaan, crooot crrroooot crooot sperma anton mengalir deras ke dalam memek rini. “Aaaargh aaaarrgh enaaak sayang” erang anton yang juga merasakan siraman orgasme rini pada kontolnya. Rini pun telungkup lemas setelah orgasmenya dan diikuti anton yang jatuh ke punggung rini. Dan mereka tertidur pulas setelah bercinta hebat.

    Keesokan harinya setelah menjalani rutinitas kesehariannya seperti biasa mereka berkumpul di ruang tengah sembari menonton serial televisi. “Gimana sayang? Bisa cuti kah minggu ini?” Tanya anton.

    “Tadi aku udah bicara sama atasan aku sayang hasilnya di bolehin sayang hehehe jadi kita bisa honey moon minggu ini” jelas rini dengan penuh semangat.

    Setelah obrolan tentang rencana bulan madu mereka pada akhir minggu. Mereka melanjutkan dengan bercinta. Anton memang memiliki hasrat birahi yang sangat tinggi. Apalagi jika melihat rini sang istri birahinya pasti tidak akan pernah surut selama berada disamping rani. Beruntung bagi rini dia memiliki suami yang dapat memuaskan aktivitas seksnya.

    Di akhir minggu saat yang sudah ditentukan untuk bulan madu mereka dalam perjalanan menuju lokasi tempat wisata di selatan pulau jawa timur. Tempat wisata ini berupa sebuah pulau dengan keindahan bawah laut yang menjanjikan. Belum banyak wisatawan yang tau tempat ini. Hanya beberapa penduduk yang menetap tinggal di pulau ini. Sebagian besar pulau ini masih ditumbuh hutan.

    Setiba di pulau dan menginap di sebuah motel di pulau itu, mereka berinisiatif untuk menaruh barang bawaan mereka dan beristirahat sejenak menikmati suasana sunset dari balik motel yang mereka tempati. Suasana romantis ini menambah kemesraan dan kehangatan hubungan mereka.
    Keesokan harinya mereka sepakat berjalan dan berlayar dengan perahu nelayan menyusuri hutan bakau di pulau seberan. Mereka menyewa sebuah perahu nelayan untuk beberapa hari di pulau itu. Nelayan itu bernama Samsir berusia 60 tahun yang merupakan penduduk asli pulau itu.

    Selama perjalanan menyeberangi lautan ke pulau itu pasangan ini amat bersuka cita. sebab mereka lepas dari rutinitas membosankan dan hiruk pikuk kota. Kegiatan yang sangat menjenuhkan itu hilang setelah melihat suasana indah di tempat yang mereka gunakan untuk bulan madu.

    “Wah kalian pasangan baru yah? Lengket banget pak..” kata pak samsir

    Nelayan itu sebenarnya iri melihat kemesraan antara anton dan rani. Bagaimana tidak, faktor ekonomi lah yang menyebabkan pak samsir jarang pulang ke pulau jawa dimana istrinya berada di kampung.

    Pak samsir di tempat wisata itu untuk mencari uang, pekerjaan sebagai nelayan hanyalah sebagai usaha sampingan disaat tempat wisata itu sepi oleh pengunjung. Dan efek dari istri yang berada jauh disana ini mengakibatkan pak samsir tidak ada tempat untuk melampiaskan nafsunya secara halal. Sering sekali pak samsir membayangkan dirinya sedang menyetubuhi pegawai tempat wisata disana tapi kesetiaannya pada istri membuat dia takut mengkhianati istrinya.

    Mereka keasyikan menikmati perjalanan hingga tanpa mereka sadari cuacanya menjadi buruk. Angin kencang di laut itu membuat perahu mereka terombang ambing. Hingga muncullah gelombang besar dan “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!” Teriakan mereka bertiga saat perahunya di hantam gelombang setinggi 5 meter yang menenggelamkan kapal mereka.

    Rini dan Anton terpisah jauh dari perahu yang mereka tumpangi sedangkan perahu mereka masih ada dengan kondisi terbalik dan pak Samsir tak jauh dari perahunya. Rini yang masih shock melihat itu akhirnya pingsan dan hanyut. Beberapa lama kemudian rini dan pak samsir terdampar di pulau yang mereka tuju dalam kondisi pingsan.

    Mereka tergeletak pingsan dan Pak Samsir membangunkan Rini dari pingsannya. Setelah sadar Rini bersama Pak Samsir berusaha mencari Anton, mereka berharap anton juga terdampar di pulau itu. Mereka menyusuri pinggiran pulau dengan perasaan sedih dan kuatir.

    Di tengah pencarian ia berharap menemui penduduk setempat yang menjaga pulau itu dan beberapa gubuk yang ada di sekitar pinggir pulau. Mereka menyusuri pulau itu memastikan anton juga terdampar di pulau itu.

    Hingga malam menjelang mereka tetap tak menemukan Anton. Pak Samsir pun menyarankan rini untuk kembali ke pulau dan melapor pada pihak berwajib. Namun hujan turun dengan derasnya hingga mereka berdua basah kuyup. Malam itu dengan kekhawatiran rini, pak samsir berusaha menenangkan dan berteduh di salah satu gubuk warga.

    Hingga esoknya hujan tetap tak berhenti dan mereka terjebak didalam pulau itu. Pak Samsir berusaha mencari makanan apa saja yang bisa mereka makan agar bisa bertahan “makan dulu non, nanti kita cari suami non rini lagi. Sekarang non makan dulu biar gak sakit” ujar pak samsir yang sedikit iba melihat perasaan rini.
    Hingga akhirnya di hari ke 7 mereka tetap terjebak di pulau yang ternyata tidak berpenghuni dan tetap berusaha mencari Anton. Uasaha mereka tak membuahkan hasil. Rini amat simpati pada sikap dan pengorbanan nelayan itu, sedikit banyak pak samsir tetap berusaha membantunya mencari anton. Pak Samsir pun berusaha membantu Rini mencari suanminya sebab bagaimanapun kejadian ini adalah tanggung jawabnya juga.
    “Non rini kedinginan yah? Kok menggigil gitu” tanya pak samsir.

    “Gak tau pak. Ini badan aku gak enak banget rasanya” jawab rini.

    Ternyata pencarian suami rini ini membuat tubuhnya drop. Selain shock rini juga terus memikirkan keadaan anton suaminya yang entah ada dimana sekarang. Bahkan rini tidak tau apa anton masih selamat atau tidak.

    “Saya cari obat tradisional dulu deh buat non. Daripada nanti kenapa napa non” tawar pak samsir.

    “Iya pak, terima kasih. Maaf sudah terlalu banyak merepotkan bapak” kata rini.

    “Gapapa non ini juga tanggung jawab bapak. Sekalian bapak cari bantuan mungkin ada orang yang datang ke pulau ini” kata pak samsir. “Saya tinggal dulu non” tambahnya

    Pak samsir pun pergi mencari obat tradisional yang mungkin bisa digunakan untuk rini agar kondisinya lebih baik. Hampir setengah hari pak samsir meninggalkan rini di gubuk akhinya ia kembali dengan sebuah ramuan.

    “Ini non diminilum dulu. Mungkin non bisa jadi enakan.” Kata pak samsir dengan memberikan ramuan itu.

    Rini benar2 tidak berpikir negatif karena selama ini pak samsir selalu berbaik hati padanya. Pak samsir sendiri ikhlas dengan senang hati membantu rini yang terkena musibah. Setelah meminum ramuan itu ternyat membuat efek ngantuk yang amat sangat pada rini.

    “Yaudah non tidur aja, saya akan cari makanan buat non” kata pak samsir dan meninggalkan rini yang mulai tertidur.

    Saat kembali dari mencari makanan pak samsir melihat rini yang masih tertidur pulas. Anehnya dia mulai tergoda saat melihat gundukan yan terlihat besar didada rini. Pak samsir berusaha menghilangkan birahinya.

    Setelah menyiapkan makanan untuk rini, pak samsir membangunkan rini. Tetapi setelah berada disamping tubuh rini “aduuuh, cantik banget non rini. toketnya gede lagi, coba kalo istrinya kayak gini udah bapak entot tiap hari ini.” Gumamnya dalam hati.

    Entah setan dari mana pak samsir meremas toket rini dengan lembut. “Mmmmh gede banget. Kenyel lagi” celoteh pak samsir.

    Pak samsir terus meremas dan meraba toket rini yang masih tertidur. Pak samsir semakin tidak bisa menahan lagi nafsunya dan mulai melepaskan semua pakaian yang ia kenakan. Pak samsir sudah tidak peduli lagi dengan kesetiaan yang selalu ia jaga untuk istrinya. Bahkan kondisi rini yang sedang kalut juga sudah tidak ia pikirkan lagi. Yang terpenting sekarang bagaimana memuaskan kontol kesayangannya yang sudah lama tidak merasakan memek wanita. Terlebih wanita seperti rini dapat memberikan imajinasi lebih selama mereka di pulau.

    Setelah menelangi diri, pak samsir lalu mengocok kontolnya di dekat wajah cantik rini yang terbalut jilbab hitamnya. Sedangkan tangannya tak berhenti meremas dada rini. Pak samsir masih takut untuk berbuat lebih jauh.

    “Aaah non rini cantik banget aaaah aaah aaaah aaah enaak” celoteh pak samsir.

    Rini mulai menggeliat saat pak samsir meremasnya dengan sedikit keras. Pak samsir menghentikan sebentar, khawatir rini tau apa yang ia perbuat. Rini terjaga dari tidurnya saat dirasakannya ada yang meremasi toketnya. “PAK SAMSIR, APA YANG BAPAK LA…mmmmh mmh mmmmh” teriaknya yang tertahan oleh sumpalan kontol pak samsir.

    Pak samsir yang panik melihat rini terbangun langsung memasukkan kontolnya sedalam mungkin. Rini yang tidak siap mendapat serangan itu langsung berontak dan memukul mukul tubuh pak samsir. Tapi apa daya rini sendiri masih lemas karena kondisinya sendiri sedang tidak fit jadi usahanya menjadi sia sia. Dan remasan pada toketnya pun semakin menjadi jadi.

    “Maaf non, bapak bener2 gak tahan ngelihat tubuh non. Awalnya tadi bapak cuma mau mejuin wajah non rini. Tapi ternyata non sudah bangun duluan uuuh enaak banget sih mulut non” celotehnya. Rini yang mendengar itu tak kuasa menahan air matanya. Ternyata pak samsir mempunyai sifat bejat yang selalu dipendam. Mendengar perkataan pak samsir rini hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya. Ia tak mau mendapatkan musibah lebih lagi.

    “Non rini kalo mau teriak silahkan aja. Di pulau ini gak ada orang selain kita. Kalo mau lari silahkan toh non rini gak bisa keluar dari pulau ini. Jadi kalo mau selamat mending pasrah aja dan nikmati apa mau bapak. NGERTI!” Ancam pak samsir.

    Akal sehat rini bekerja dan memang tak ada pilihan lain. Sudah seminggu lebih ia tak bisa keluar dari pulau ini. Rini pun hanya mengangguk terpaksa menuruti kemauan pak samsir sambil terus menangis meratapi nasibnya yang selalu tidak pernah mengenakkan.

    “Bagus. Non emang pinter” kata pak samsir sambil kembil memompa mulut wanita berjilbab ini. Rini pun tak banyak melawan mendapat perlakuan seperti itu. Bahkan kini kaos lengan panjang itu mulai disingkap hingga menampakkan toket bulat dan putih itu. Pak samsir juga menyingkap bh putih dan membuat toketnya terbuka.

    “Wah non bener bayangan pak samsir. Toketnya gede banget. Udah kenyel, bulet, kenceng, mulus, putih lagi. Sering di remes yah non? Berapa ukurannya?” Celoteh pak samsir.

    “Mmmmh mmmmh mmmh” desah rini tertahan kontol pak samsir.

    Pak samsir terus meremas dan menarik2 putting rini sembari memompa kontolnya di mulut rini. Sampai pada beberapa saat kemudian pak samsir menghentikan kegiatannya dan mengeluarkan kontolnya yang berwarna hitam dari mulut rini.

    “Sekarang non rini yang pilih mau bapak perkosa atau non yang mau menawarkan diri ke bapak buat dientot” kata pak samsir.

    “Ja.. jangaan pak hiks.. hiks.. jangan permalukan saya pak.. rini mohoon.. rini gak mau” jawabnya sambil menangis.

    Tapi jawaban itu dianggap bahwa dirinya memilih untuk diperkosa. “Hhmmm jadi non lebih milih diperkosa? Baiklah” kata anton

    “Ja..jangan aaaah ampun pak lepasin rini pak aaaah aaah” desah rini saat pak samsir menduduki dadanya dan menempatkan kontolnya d belahan toketnya. Rini memalingkan wajahnya, ia tak mau melihat pak samsir yang sedang mengerjai toketnya.

    “Aaaauwh non rini emang mantep toketnya. Nanti bapak kawinin yah jadi istri bapak yang kedua biar bisa dipejuin tiap hari” celoteh pak samsir yang keenakan.

    Dengan penuh semangat pak samsir menggesek2an di belahan toketnya bahkan sesekali kepala kontolnya menyentuh dagu rini. “Non buka celananya. Lepasin semua” perintah pak samsir.

    Rini pun dengan perlahan mulai melepaskan celana panjang jeans yang ia kenakan diikuti dengan celana dalam putihnya sehingga menampakkan memeknya. Baru kali ini rini memperlihatkan bagian2 tersembunyi dalam tubuhnya kepada orang lain. Sungguh beruntung pak samsir yang bisa memanfaatkan keadaan.

    Pak samsir pun lalu turun ke daerah selangkangan rini. Disana pak samsir mulai menjilati memek rini hingga kelonjotan. “Aaaaah udaaah paakhh cukuup rinii gak mauuu aaaah aaaaah lepasin rini pak” erang rini.

    Dan tiba2 tiga jari pak samsir masuk dengan paksa ke dalam memek rini. Rini pun tersentak kaget merasakan memeknya yang seminggu belum pernah dimasuki kini tiba2 di rogoh oleh pak samsir. “Aaaaauh paaakhh aaah mmmh mmmmmh udaaaah pak” erang rini.

    Pak samsir tidak memperdulikan teriakan erangan rini. Ia terus berkonsentrasi dengan kegiatannya. Dan tak selang lama srrr ssrrrrr ssssrrrr rini orgasme hebat. “Aaaaaaaaaaarrgh rini nyampee pak” teriaknya.

    Orgasme yang telah lama ia rasakan kini ia dapatkan lagi. Sayangnya itu bukan dari suaminya tapi dari nelayan yang telah bernafsu memainkan memeknya. “Enak yah non? Sampai kayak gitu hehehehe” ejek pak samsir.

    “Kalo mau cepet entot aku pak. Sini kalo kontol bapak kuat” tantang rini.

    Rini seakan sudah lupa siapa dirinya. Tapi ia berpikir tak ada gunanya melawan di tempat seperti ini. Lebih baik ia selesaikan nafsu pak samsir agar semuanya cepat berakhir. Sedangkan pak samsir yang di tantang seperti itu tanpa banyak bicara langsung menusuk kontolnya dengan keras dan dalam.

    “Aaaaaaarggh sakiiit bangssssaaaat aaaaah aaaaah aaaah pelan paaakh” teriaknya.

    Rini telah berubah menjadi liar. Kata2 kotor dan kasar yang ia lontarkan sungguh tidak seperti rini yang biasanya, yang selalu sopan dalam berbicara dan bersikap. “Nih non rasaain aaaah enaknya kontol bapak aaaaah aaah sssh uuuhh” komentar pak samsir.

    Dengan kasar terus pak samsir pompa memek wanita berjilbab itu. Dengan segala posisi pak samsir peragakan. Dan sudah berulang kali pula rini mencapai orgasme. Tapi pak samsir belum juga menunjukkan tanda2 akan klimaks.

    Pak samsir meminta rini untuk menungging. Rini sendiri telah kehabisan tenaga meladeni nafsu pak samsir. “Aaaah aaaaah enak banget memeknya non aaaah ahh enak kan di kontolin bapak?” Celoteh pak samsir.
    “Aaaaah aaah ssssh ssssh aaaah aaah” rini hanya bisa mendesah.

    Tiba2 untuk kesekian kalinya rini mulai menegang lagi, jepitan memeknya semakin erat menjepit kontol pak samsir. Dan sssrrrr ssssrrrrr ssssr rini kembali lemas setelah orgasme dan akhirnya pingsan kehabisan tenaga.

    Sementara pak samsir yang akan mencapai klimaks itu terus menggenjot memek rini dan crroooot crrooot crrrooot sperma pak samsir mengalir deras ke dalam rahim rini. Dan malam itu pak samsir menjadikan rini sebagai pemuas nafsunya. Pak samsir terus menggenjot rini dan menyemprotkan spermanya ke toket, perut, punggung, wajah bahkan hingga ke jilbab rini.

    Pagi harinya rini terbangun dari pingsan dan merasakan badannya seperti remuk tanpa tulang. Saat ia membuka mata dia melihat pak samsir tertidur kelelahan disampingnya dengan kontolnya yang masih menancap di memeknya. Dan ia melihat di tubuhnya penuh dengan sperma pak samsir.

    Hingga akhirnya Rini pun menerima Pak Samsir yang terus memberinya kehangatan disaat jiwa nya sedang bimbang kehilangan anton sang suami. Pak Syamsir pun terus memberi kehangatan ragawi dan memberikan kepuasan bathin yang tidak di dapatkan rini dari suaminya.
    Hingga akhirnya suaminya memang di nyatakan hilang dan rini pun menetap di pulau itu dan hidup bersama pak samsir. Menjalani kehidupan yang berbeda.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Wisuda Adik Ku Berakhir Nikmat Dan Bergairah

    Cerita Sex Wisuda Adik Ku Berakhir Nikmat Dan Bergairah


    1385 views

    Perawanku – Cerita Sex Wisuda Adik Ku Berakhir Nikmat Dan Bergairah, Usai wisuda aku masih harus mengantar adikku Feby, orang tua, istri dan kedua anakku ke restoran Sunda untuk merayakan hari bahagia si bungsu bawel itu. Ketika tiba di parkiran, Feby mengangsurkan ponselnya dengan berbisik. Barangkali takut dilihat oleh istriku.

    Bang, sini nih, Vina mau ngomong.. Awas jangan rayurayu ya.. ujarnya.

    Halo.. Vina ya.. Selamat ya Vin, sampai tadi lupa ngucapin selamat, hehe..

    Makasih Bang, makasih banget lo jemputannya.. Hmm.. Ntar kapankapan, Abang Vina undang datang ya.. Kubayangkan Vina dengan senyum manisnya. Dia mau ngundang aku dan keluarga atau aku sendiri ya, pikirku agak surprise. Ah, gue yakin dia ngundang aku sendiri nih! Gak papalah geer dikit.

    OK deh, sayang.. Uppss, baru kenal gue bilang apa tadi?

    Sayang nih.. Ntar ditimpuk sama bini loh Bang..

    Hehehe.. Nice to meet you Vin, salam sama keluarga ya.. kataku, yang ini agak keras agar Feby nggak curiga. Sedang istriku sibuk bermain dengan kedua anakku, jadi nggak perlu kuatir. Ah, sial lagi.. Aku tidak sempat mencatat nomor HPnya. Tapi toh nanti malam masih bisa lihat di ponsel Feby kok, pikirku mulai keluar isengnya. Dua minggu setelah acara wisuda tersebut tiba tiba aku menerima SMS.

    Bang, lagi di mana nih.. Ada acara nggak? Vina Hah? Gak salah nih, pikirku. Dengan pura pura menahan diri, 5 menit kemudian baru aku jawab dengan menelepon langsung. Tengsin dong SMS balik.

    Hai Vin, apa kabar? Aku lagi di Jakarta nih.. Lagi makan nih ama temanteman di.. kataku menyebut suatu tempat di Plaza Senayan.

    Nah, itu dia.. Vina juga lagi di Jakarta nih Bang, lagi boring..

    Lho.. Aku pikir jadi ke Amrik kataku sekenanya.

    Males Bang, Vina lagi di tempat sodara nih.. Abang kapan pulang Bandung?

    Lusa.. Kamu?

    Iya, boleh dong kita pulang bareng.. Vina naik kereta Bang Buset dah, benar kan kata gue, Vina tipe penggoda.

    Hmm.. Gimana ya.. kataku sok ragu, padahal udah pengen banget.

    Kita lihat nanti ya, Vin. Ntar sore Abang telepon kamu. Eh, Feby tahu nggak kamu ada di Jakarta?

    Nggak Bang, mau Vina kasih tahu sama Feby dan istri Abang?

    Haha.. Bukan gitu maksudku, ok deh ntar jam 5 sore Abang telepon kepastiannya ya.. kataku bersorak.

    Lihat Juga:  Cerita Dewasa : Seks Mbak ima (kisah nyata) pengalaman pribadi

    Memang kalau rejeki nggak bakal lari ke manamana. Cepatcepat aku bereskann tugasku di Jakarta. Sebetulnya sore ini juga sudah selesai tapi temanteman di Jakarta seperti biasa suka mengajak main bilyar dan karaoke. Jadi sorry friends, kali ini aku ada urusan penting, mesti cabut. Jam 5 sore aku telepon Vina. Aku bertanya dia sedang apa, kalau boring mengapa tidak jalanjalan bersama saudara atau temantemannya.

    Abang ada acara nggak ntar malam? Ajakin Vina nonton dong? Katanya dari seberang sana.

    Ok Vin, gue takut macet, gimana kalau kita ketemuan di 21?

    Pendek cerita, Vina dengan jeans ketat dan Tshirtnya aku temui di 21. Dia sudah beli tiket untuk berdua. Mentangmentang kaya, tiket saja dibelikan olehnya. Aku tidak ingat apa judulnya. Yang jelas begitu masuk gedung bioskop, aku gandeng tangan Vina seperti yang diinginkannya. Vina memulai sinyal dengan mengatakan sedang boring, ingin jalan dan sebagianya.

    Kubelai rambutnya dan seperti sudah kuduga, dia merebahkan bahunya sepanjang film berputar. Tak ada penolakan ketika jemariku menyusup ke balik Tshirt dan branya. Semua lancar. Ia melenguh ketika kupelintir putingnya dan kuelus perutnya. Ketika jemariku menyusup ke selasela pahanya, ia berbisik..

    Jangan di sini Bang..

    Itu sudah sesuai dengan harapanku dan harapannya. Aku juga sudah tegang sekali ketika keluar dari gedung bioskop. Di dalam mobil, seperti harimau kehausan kami berciuman dengan gairah. Aku suka suara lenguhnya, kepasrahannya ketika kusedot putingnya dan jariku menelusup ke celahcelah memeknya yang sudah basah sekali. Tubuh Vina bergetar. Aku ingin membuatnya menjadi wanita yang sesungguhnya ketika berhubungan intim.

    Vina, Abang pengen jilat memek kamu sayang..

    Hmm.. terus Bang, Vina udah nggak tahann..

    Bulubulu halus memeknya kusibak, kelentitnya yang sudah mengeras sungguh nikmat dikulum. Aromanya sungguh harum dan bentuknya tampak terawat. Tubuhnya sampai bergetar getar menahan nikmat. Tangannya aku arahkan meremas kontolku. Tetapi ternyata dia lebih suka blow job. Pada saat yang sama aku tidak menyianyiakan kesempatan meremas dadanya yang montok. Apa boleh buat, di mobil yang sempit ini harus terjadi pergumulan yang menggairahkan. Aku pastikan tidak ada manusia yang melihat kegaduhan nikmat ini. Jangan sampai kepergok Satpam karena bisa malu.

    Sedotan lidahnya sungguh membuatku melayang jauh. Tanganku tak henti meremas payudaranya yang indah dengan puting kecoklatan yang sudah mengeras. Pada saat lain aku pelintir dan sedot putingnya hingga membuatnya semakin basah. Karena di depan terlau sempit, aku mengajaknya pindah ke jok belakang. Vina dengan tak sabar melepas celana dalam hitamnya. Aku sungguh terangsang melihat wanita dengan CD hitam, sepertinya Vina tahu selera seksku, heheh..

    Lihat Juga:  Tante Diva Yang Montok Tak Dapat Kutahan

    Tampaknya Vina adalah tipe cewek blowjob mania karena ia terus saja mengoral batangku. Kupikir hobinya ini sejalan dengan hobiku mengoral memek cewek. Kuberi isyarat agar ia mengambil posisi 69 dengan aku di bawah. Vina mengangguk lemah. Aku suka melihat matanya yang sayu. Gila, memek si Vina memang OK, masih kelihatan garis vertikalnya dengan kelentit yang sungguh imut dan mengeras. Segera kuremas pantatnya dan kujilat perlahan paha dalamnya sebelum memasuki area memeknya. Vina melenguh hingga aku makin terangsang dengan suaranya yang sendu.

    Ouhh.. Please Johnn.. Kamu apain memekku say, enak bangett!

    Hmm.. hanya suara itu yang keluar dari mulutku sambil menyeruput cairan memeknya yang mulai banjir. Sementara jemari Vina yang halus masih menggenggam kontolku

    Say.. Vina nggak tahan.. Vina mau keluar sayang.. Terus terus.. Isep kacangku.. Ahh!

    Aku memang selalu ingin memuaskan cewekcewek yang making love denganku. Menurutku ini adalah salah satu rahasia cewekcewek selalu ketagihan ngentot denganku. Perlakukanlah wanita dengan gentle, jangan egois. Mereka adalah makhluk yang butuh perhatian dan belaian. Jangan bersikap bodoh meninggalkan mereka meraungraung karena tak terpuaskan. Ada saat tertentu kapan kita membuat mereka tak bisa berhenti. Vina akhirnya mencapai orgasme. Ia terduduk lemah namun tangannya masih menggenggam batangku yang masih ngaceng dan berdenyutdenyut.

    Makasih ya Bang, Abang sungguh lakilaki yang baik! Sekarang Vina pengen memuaskan Abang.. Nah lo, benar kan kataku, jika puas wanita sebetulnya tidak egois.

    Iya Vina cantik, kamu istirahat dulu.. Gak usah terburuburu, kita masih punya waktu sampai besok kan?

    Ih, Abang nakal.. katanya sambil meremas kontolku.

    Sekarang Vina pengen lagi Bang.. Pengen dimasukin sama kontol Abang..

    Tapi kamu kan masih perawan Say..?

    Lho kok Abang tahu sih?

    Kan Abang sudah periksa tadi, hehehe..

    Ihh.. Nakal deh.. Vina jadi malu.. katanya manja.

    Vin, Abang sayang kamu, tetapi untuk memerawani kamu Abang sungguh nggak tega..

    Tapi kan Vina yang mau.. Please Bang.. Vina rela

    Vin, kalau dengan oral saja kamu bisa orgasme, ngapain harus sampai berdarah?

    Lihat Juga:  Fransisca. wanita panlok yang merasakan kenikmatan diperkosa

    Yang benar benar tidak kuduga, Vina menangis. Wah, kacau deh.. Tapi aku tidak ingin bicara lagi. Perlahan kukecup bibirnya, kuhapus airmatanya dan benar pemirsa eh pembaca, gairahnya mulai naik kembali. Segera dikulumnya kontolku. Hmm.. Enak sekali. Dan aku kembali mengajaknya ke posisi VW (Vosisi Wenakk), favoritku mengerjai memek cewek dari belakang alias posisi 69. Aku berkonsentrasi agar kali ini spermaku dapat muncrat di mulutnya. Tipe cewek pehobi blowjob adalah penyelesaian akhir harus di mulutnya. Kusedot kelentit Vina dengan lembut tetapi kuat dan itu cukup membuatnya makin menguatkan sedotannya pada kontolku. Memek Vina memang beraroma perawan, cairannya sungguh kental dan aku senang menelannya. Kontolku berkedutkedut seakan mau muncrat, tetapi kutahan. Aku ingin kali ini aku dan Vina mencapai orgasme bersamaan.

    Ohh.. Johnn.. Fuck me please, pengen keluar say.. Ouhh.. teriaknya.

    Itu adalah pertanda bahwa kurang dari 1 menit lagi dia akan mengalami orgasme. Jadi sebetulnya orgasme bisa diukur alias terukur. Kupercepat sedotanku pada kedelai Vina yang memerah sambil tanganku berusaha meraih payudara dan putingnya. Kuremas untuk memberi extra kenikmatan padanya.

    Auhh.. Johnn.. Vina keluar.. Ahh.. Ahh.. lenguhnya panjang.

    Dan seperti yang kuperhitungkan akhirnya aku juga mengeluarkan pejuku dan muncrat ke wajahnya. Dapat kurasakan mulut Vina menyeruput kontolku dengan cepat. Aku sampai kehabisan katakata untuk melukiskan bagaimana perasaan nikmatku! Kupeluk Vina dan kubelai rambutnya, sambil say thanks! Aku tahu bahwa Vina bakal ketagihan. Aku sebenarnya ingin menceritakan lanjutan perjalanan yang menggairahkanku ke Bandung dengan Vina. Seluruh sensasi yang aku dan Vina dapatkan.

    Ternyata Vina juga menyukai ngentot sambil berdiri. Di beberapa lokasi kami terpaksa berhenti mencari tempat rimbun pepohonan. Vina segera menyender di batang pohon dan dengan nafas terengahengah melepaskan celananya. Posisi yang menggairahkan. Dengan berjongkok aku isep memeknya yang cepat basah itu. Kadang ia menungging dan aku sedot itilnya dari belakang. Aku juga mencapai orgasme dengan menggosokgosok memeknya dengan batangku. Percaya atau tidak bahwa Vina masih tetap perawan sampai akhirnya dia berangkat ke Wisconsin, USA untuk melanjutkan studi. Sekarang aku masih merindukannya. Ia masih sering merngirim SMS dengan untaian kata kata, jilat, jilat dan jilat say.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Aku Menjadi Obyek Masturbasi

    Aku Menjadi Obyek Masturbasi


    1820 views

    Perawanku – Aku memasuki kamarku dan langsung kukunci dari dalam, kulepas T Shirt tanpa lengan yang kupakai dan kulemparkan begitu saja di tempat tidur. Payudaraku yang ranum berwarna sedikit merah muda di puting dan sekitarnya tampak menggairahkan. Bola Tangkas

    Aku memang sejak kecil tidak suka memakai bra hingga kini aku jadi tidak memiliki BH barang satupun, hingga begitu T Shirt kutanggalkan maka payudaraku pun langsung mencuat, ukurannya memang sedang-sedang saja namun bentuknya padat dan menggairahkan hingga dapat membuat setiap lelaki menelan ludah bila memandangnya, apa lagi ditunjang postur tubuhku yang sexy dengan tinggi 170 centimeter, yang cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita.

    Kuperosotkan dan kulepas hot pantsku yang mini model longgar di bagian bawah, hingga tampak jelas CD model G String warna merah yang saat ini kupakai. Bentuknya sangat mini dengan seutas tali nylon yang melilit di pinggangku dan ada ikatan di kiri dan kanan pinggangku yang ramping. Bulu-bulu halus kemaluanku tampak menyibak keluar dari sela sela secarik kain model segi tiga kecil yang tipis ukurannya, tidak lebih dari ukuran dua jari hanya mampu menutupi lubang vaginaku. Bentuk G String yang kupakai memang sangat sexy dan aku sangat suka memakainya, ditambah seutas tali nylon yang melingkar melewati selangkanganku tepat mengikuti belahan pantatku ke atas bagian belakang dan tersambung dengan tali nylon yang melingkar di pinggangku.

    Dengan sekali tarik ikatan di kanan kiri pinggangku, maka tak sehelai benang pun kini menutupi tubuhku, CD kubiarkan tergeletak di lantai. Sambil telanjang bulat aku berjalan menuju lemari mengambil sebuah celana pendek mini yang longgar di bagian bawahnya yang terbuat dari bahan sutera tipis tembus pandang dan ada celah di bagian kiri dan kanannya dan tanpa kancing, hanya menggunakan karet elastis saja. Segera kukenakan sambil menyalakan komputer dan mengakses internet. Celana ini memang enak sekali dipakai di rumah saat tidur, dan aku biasa tidur dalam keadaan seperti ini, tanpa busana lainnya menutupi tubuhku, hanya ada celana pendek seperti yang kukenakan saat ini. Namun tak jarang juga aku tidur tanpa berbusana sama sekali dan langsung menyusup ke dalam selimut. Judi Bola Tangkas

    Seperti biasa, email yang masuk ke mail box-ku sangat banyak. Kubuka satu persatu, bagi pengirim yang belum pernah mengirim email kepadaku langsung kujawab emailnya dan kucantumkan persyaratanku bila ingin berkenalan dan mengobrol lebih lanjut denganku, sedangkan bagi yang sudah pernah kujawab emailnya namun tidak memenuhi persyaratanku tetapi tetap ngotot berkirim email ingin berkenalan lebih lanjut dan ber email ria, langsung saja kuhapus emailnya dengan tanpa memberikan reply. Demikian pula bagi yang mengirimkan pesan dengan menggunakan nomor HP-nya melalui SMS langsung saja kuhapus tanpa perlu membukanya terlebih dahulu. Aku malas membukanya karena membuang-buang waktu dan biaya, toh aku juga tidak bisa membalas pesannya kecuali dengan juga menggunakan SMS, untuk apa aku harus bersusah payah membuang-buang pulsa segala, pikirku.

    Setelah selesai membuka dan membalas semua email yang masuk, kuputus akses dengan internet, namun komputerku tetap kunyalakan karena rencananya nanti selesai mandi aku akan mengaksesnya lagi, karena biasanya akan banyak lagi email yang masuk.

    Kulepas celana yang kupakai dan aku memasuki kamar mandi yang ada dalam kamarku. Kunyalakan air hangat mengisi bathtub kamar mandiku. Sore ini aku ingin berendam sejenak sambil menghilangkan pegal-pegal yang ada di tubuhku. Kutorehkan bath foam secukupnya dalam air hingga berbusa. Saat aku menunggu penuhnya air, tiba-tiba handphoneku berbunyi.

    Kalau kudengar dari deringnya, aku yakin ini datangnya dari salah seorang pembacaku, karena memang bagi pembaca yang sudah memenuhi persyaratanku, nomor handphonenya segera kumasukkan memory dan kukumpulkan dalam satu nada dering khusus. Kuambil hand phoneku yang tergolek di atas meja computer, dari layarnya tampil namanya Amin (nama samaran).

    “Yaa..! Halloo..!”, sapaku setelah menekan tombol Yes.

    “Hallo..! Hai Lia..! Apa kabar..? Lagi ngapain nich?”, sahut Amin dari seberang. Tangkasnet

    “Aku sedang mau mandi nich! Emangnya kenapa dan ada apa menelepon? Entar aja deh kamu telepon aku lagi ya, aku sudah telanjang bulat nich, sudah siap-siap mau berendam”, belum selesai aku berkata, Amin langsung memotong pembicaraanku..

    “Eee.. Eeh! Tunggu dulu dong! Biar saja kamu berendam sambil tetap ngobrol denganku”, pinta Amin.

    “Baiklah”, jawabku menyetujui sambil meraih hands free kemudian aku masuk kembali ke kamar mandi.

    Hand phone kuletakkan di meja wastafel dan kabel hands free menjulur ke arah telingaku, aku pun akhirnya berendam sambil mengobrol dengan Amin menggunakan hands free.

    “Lia! Aku sekarang juga berjalan ke kamar mandi, sekarang di kamar mandi aku melepaskan celana dan CD-ku, kondisiku sekarang juga sudah bugil nich!”, Amin mencoba menjelaskan keadaannya saat itu padaku.

    “Emangnya gue pikirin, lagian ngapain kamu ikutan bugil di sana?”, ujarku.

    “Lia! Aku ingin melakukan onani sambil ngobrol denganmu, kamu tidak keberatan kan? Please! Sekarang penisku sudah selesai kubasahi dan kuoles dengan shampoo, sekarang mulai kuusap-usap sambil mengocok-ngocoknya, kamu juga cerita dong apa yang kamu kerjakan saat ini sambil memberiku rangsangan”, pinta Amin lagi dengan memelas.

    Mendengar penuturan Amin tadi, terus terang aku sempat membayangkan sejenak dan sedikit mulai terangsang hingga tanpa kusadari aku juga sudah mulai meremas-remas payudaraku. Karena aku memakai hands free, maka aku tetap masih bisa mengobrol dengan kedua tanganku tetap bebas bisa beraktifitas. Kuceritakan pada Amin kalau saat ini aku sedang meremas-remas kedua payudaraku yang juga sudah mulai mengeras, puting susuku mendongak ke atas dan mulai kujilati sendiri bergantian kiri kanan, aku merasakan ada aliran yang mengalir keluar dari liang senggamaku, pertanda aku sudah mengalami rangsangan hebat.

    Sementara tangan kiriku tetap meremas-remas payudaraku, tangan kananku mulai turun ke bawah meraba dadaku, mengelus-elus sendiri pusarku, ke bawah lagi ke arah vaginaku sambil mengangkat kedua buah kakiku dan meletakkannya ke samping bathtub hingga posisiku sekarang terkangkang lebar hingga memudahkan tangan kananku mengelus bagian luar vaginaku yang sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu halus. Jari-jariku turun sedikit mengusap-usap bibir vaginaku sambil menggesek-gesekkan klitorisku. Aku mulai melenguh menikmati fantasiku, gesekannya kubuat seirama mungkin sesuai dengan keinginanku. Tiba-tiba kudengar suara teriakan Amin dari seberang sana..

    “Ooo.. Oocch! Liaa..! Aku orgasme nich!”, suaranya makin lirih, rupanya di seberang sana Amin sudah berhasil mencapai puncaknya, gila! Dia sepertinya sangat menikmati penuturanku melalui telepon sambil terus melakukan aktifitasnya sendiri, mendengar suara itu aku menjadi semakin terangsang saja jadinya, jari tengah dan jari manis tangan kananku mulai kumasukkan ke dalam liang vaginaku yang sudah semakin berlendir, sementara jari telunjuk kupakai menggesek-gesek klitorisku. Rasanya benar-benar membuat darahku mengalir ke atas kepalaku. Pertama agak sulit masuk, namun lama-lama setelah melalui beberapa kali gesekan, bibir vaginaku pun semakin merekah sehingga memudahkan jari-jariku masuk menembus liang vaginaku.

    Kumainkan jari-jariku di dalam vagina, kuputar-putar di dalam hingga menyentuh dinding-dinding bagian dalam vaginaku, rasanya tidak kalah dengan batang kemaluan yang pernah masuk dan bersarang dalam liang vaginaku, bahkan lebih hidup rasanya karena bisa kukontrol sesuai dengan keinginanku. Kugaruk-garukkan lembut pada dinding dalam vaginaku, ada kalanya kusentuhkan pada tonjolan sebesar ibu jari yang ada dan tersembul di dalam vaginaku, nikmat sekali rasanya.

    Aku juga sepertinya akan segera mencapai puncak kenikmatan. Sekarang tiga jariku yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kananku kumasukkan seluruhnya ke dalam liang vaginaku, kutarik keluar masuk, kukocok-kocokkan makin cepat, sementara tangan kiriku juga mulai ikut aktif membantu, jari manis dan jari telunjuk tangan kiri kupakai menyibakkan bibir vaginaku, sementara jari tengahnya mengorek-ngorek klitorisku. Kocokan jari-jari tangan kananku semakin cepat. Aku terus melenguh.

    “Ooh.. Oocch! Aa.. Aacch!”, badanku berguncang keras sehingga air dalam bathtub banyak yang tumpah keluar membasahi lantai kamar mandiku.

    Badanku menggigil hebat, sekali lagi aku melenguh panjang, dan aku pun mencapai orgasme. Badanku kini lemas tersandar di punggung bathtub. Dari seberang sana kudengar suara Amin menanyakanku..

    “Gimana Lia, enak enggak?”, Setan.., umpatku dalam hati, masa masih ditanya enak atau enggak?

    “Lia..! Aku sekarang ke rumahmu ya? Kau kujemput dan kita check in terus melakukan hal yang sesungguhnya yuk”, ajak Amin.

    Aku menolak dengan halus ajakan Amin. Setelah berbincang sejenak aku pamit untuk mematikan telepon dengan alasan akan melakukan sesuatu. Akhirnya dengan berat hati Amin pun bersedia mematikan teleponnya, entah berapa banyak pulsa sudah yang dia habiskan untuk melakukan sex by phone denganku sambil beronani.

    Terus terang saja walau sudah agak sering kontak dengan Amin dan kami juga sudah dua kali bertatap muka, aku sedikit pun tidak berminat berhubungan badan dengannya. Tingginya sekitar 165 centimeter, lebih pendek sedikit dariku, badannya agak sedikit gendut, usianya 32 tahun, sudah beristri dan beranak tiga. Wajahnya menurut ukuranku juga tidak ganteng, jadi biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa bagiku. Aku memang juga membutuhkan sarana menyalurkan libidoku namun tidak berarti aku bisa melakukannya dengan siapa saja.

    Dalam permainan sex, aku benar-benar ingin menikmatinya, maka aku juga harus memilih pasangan yang benar-benar bisa menaikkan gairahku. Sudah berkali-kali Amin mengajakku make love (ML) tapi selalu kutolak dengan seribu satu macam alasan, namun aku tetap tidak mengutarakan alasan penolakanku, karena aku yakin dia akan langsung merasa malu dan tersinggung. Maka lewat tulisanku ini, buat seorang pembaca yang kuberi nama samaran Amin, aku mohon maaf dan aku harap kamu juga membaca tulisanku ini dan dapat mengerti.

  • Jilat Memek yang Dilakukan Oleh Pasien yang Kurawat di RS – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    Jilat Memek yang Dilakukan Oleh Pasien yang Kurawat di RS – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018


    2032 views

    Perawanku – Pengalaman sex saya sebenarnya biasa saja. Sebelum menikah dengan suamiku Satya, aku pernah melakukan hubungan sex dengan pacar pertamaku. Karena aku seorang perawat RS, maka aku mempunyai pengalaman melihat dan memegang berbagai macam kemaluan lelaki, sebab saat aku memandikan pasien, maka mau tak mau dan suka tak suka aku membersihkannya.

    Dan kuakui sebenarnya aku mempunyai libido yang di atas rata rata, sebab kalau aku memandikan pasien, sering aku jadi terangsang sendiri. Setelah menikah aku hanya berhubungan dengan Satya, namun kuakui, aku pernah melakukan beberapa kali bercumbu sampai dengan oral sex dengan 2 orang dokter yang baik dan kami saling bersimpati.

    Ada keinginan untuk sampai dengan hubungan sex sesungguhnya tapi sungguh aku dan kedua dokter itu hanya sampai dengan oral saja. Dengan oral kami sama-sama mencapai orgasme walaupun bukan orgasme genital, tapi cukup memberikan kepuasan bagi kami masing masing.

    Keadaan berubah, saat aku bertugas di VIP dan mendapatkan seorang pasien yang sangat simpatik, walaupun sebenarnya awalnya aku kurang suka karena dia adalah seorang pria hitam asal Nigeria yang mondar mandir antara Jakarta dan Lagos.

    Orangnya pendiam tidak banyak bicara, mungkin karena banyak menahan sakitnya. Tubuhnya timggi besar, kulitnya hitam, tapi kelihatan terawat tubuhnya. Dia dirawat disebabkan terserang sakit radang usus yang cukup akut, sehingga selama lebih dari 2 minggu tidak diperkenankan dokter untuk turun dari bed dan dua minggu berikutnya setelah dioperasi baru dinyatakan sembuh total.

    Selama 5 minggu lebih, hampir sepenuhnya aku yang merawat. Aku ditunjuk oleh dokter kepala untuk merawatnya karena dari semua perawat senior hanya aku yang mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Aku dibebaskan dari tugas-tugas lain dan berkonsentrasi sepenuhnya pada pasien VIP ini.

    Pada awalnya tidak ada yang aneh, hubungan kami hanya sebatas antara perawat dan pasien. Pasien yang bernama Jack ini hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris dengan dialek Afrika. Pada awalnya agak sulit juga aku menangkap maksudnya.

    Singkat cerita aku merawatnya dengan tulus sebagai perawat. Selama minggu pertama tugasku tidak begitu banyak, hanya mencek selang infus, mengamati suhu tubuhnya, denyut dan tekanan jantungnya serta menyibin dengan pispot untuk buang air.

    Pada minggu kedua selang mulai dilepas, tugasku bertambah menyuapinya bubur sumsum cair dan membersihkan tubuhnya dengan memandikannya. Dia mulai agak banyak berbicara, bercerita tentang negerinya, bisnisnya dan keluarganya.

    Ternyata dia mempunyai seorang anak dan seorang istri. Dia pun menanyakan tentang aku. Tingkah lakunya benar benar kalem dan sopan, tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya bahwa orang Negro bertemperamen keras atau urakan.

    Kejadian diawali ketika aku jaga malam saat Jack sudah dalam masa penyembuhan setelah operasi pemotongan usus. Aku diminta datang lebih awal seperti biasa untuk memandikan si Negro itu. Tidak seperti biasanya, kali ini penisnya sedikit ereksi saat aku bersihkan.

    Sebenarnya sudah terlalu sering aku melihat berbagai penis, tapi yang hitam legam baru kali ini. Apalagi ukurannya, saat tidak ereksi saja besarnya sudah melebihi punya Satya, malah sedikit lebih panjang. Saat aku perhatikan wajah Jack, dia tenang saja, tapi matanya terpejam seperti menikmati saat penisnya aku bersihkan.

    “Thank’s a lot Rin” katanya berterima kasih setelah selesai. Dan aku cuma tersenyum, senang karena pekerjaanku dihargai. Malamnya setelah tugasku menyuapinya makan malam dan tugas lain selesai, seperti biasa aku menemaninya kalau sedang tidak ingin menonton TV. Saat aku masuk ke kamarnya, Jack sedang membaca pocket book.

    Buku itu langsung diletakkan sambil tersenyum, dan seperti biasa aku duduk di sofa, tapi kali itu Jack meminta aku duduk di kursi sebelahnya. Aku pindah dan kutanyakan keadaannya seperti biasa. (Percakapan kami untuk seterusnya langsung aku terjemahkan dalam bahasa Indonesia).

    “Saya merasa segar, tapi kadang-kadang masih sakit”. ujarnya sambil berusaha mendekatkan tubuhnya ke arahku, tapi aku larang untuk bergerak. Akhirnya kami mengobrol kesana kemari dan dia bertanya, mengapa aku baik sekali terhadapnya, sebab kalau di negaranya perawat tidak sebaik aku, menurutnya. Tentu saja itu adalah tugasku sebagai perawat, karena dengan merawatnya sebaik mungkin, pasien akan lebih tenang dan diharapkan akan cepat pulih.

    “Terima kasih, kamu telah membuat aku cepat sembuh” katanya tanpa ekspresi.
    “Bukan aku, tapi obat dan semangatmu yang membuat kamu cepat baik” sahutku.
    “Setelah aku sembuh nanti, bisa kita berteman?”.

    “Apa mau kamu, orang kaya berteman dengan seorang perawat?”. Kulihat dia terkejut dengan ucapanku yang sekenanya.

    “Berteman tidak ada kata kaya atau miskin, atau dibatasi dengan suku atau bangsa” katanya lirih, sambil meraih tanganku. Kubiarkan tanganku dielus tangan besar dan hitam itu. Kontras sekali kulihat dengan tanganku yang termasuk putih.

    “Boleh aku cium tangan yang telah merawatku selama ini?”. Jack melirikku meminta persetujuan. Kubalas senyumannya dan mengangguk. Jack tersenyum dan mencium tanganku sambil memejamkan matanya. Seterusnya kami teruskan mengobrol dan tanganku terus dibelainya. Jam 10.00 malam, kuanjurkan Jack tidur, dan dia mengerti.

    Tapi aku terkejut saat aku berdiri, ditariknya tanganku dan menarik wajahku. Aku terkejut dan jantungku serasa copot, tapi ternyata Jack tidak mengarah mencium bibirku, Jack mencium keningku sambil mengatakan terima kasih dan selamat malam. Kuucapkan selamat malam juga dan kubalas kutepuk-tepuk pipinya.

    Dua hari setelah itu, ketika aku memandikan Jack pagi-pagi, saat aku masuk kamarnya ternyata Jack masih teridur. Sambil mempersiapkan peralatan mandinya, dia terbangun sambil mengucapkan selamat pagi. Dia bertanya, mengapa tadi malam tidak datang? Aku minta maaf, karena harus membuat laporan para pasien.

    Seperti biasa kami mengobrol sambil aku memandikan raksasa ini. Tapi aku kembali terkejut, ternyata kali ini penisnya dapat ereksi penuh. Aku tercengang dengan ukurannya, dan saat aku bersihkan lipatan di ‘kepala’ (Jack tak disunat), terasa semakin keras, rupanya Jack menikmatinya. Kuperhatikan nafasnya semakin memburu karena terangsang, dan lirih kudengar tarikan panjang nafasnya sambil mendesah.

    Setelah selesai dan aku akan keluar ruangan, diraih dan diciumnya tanganku serta sekali lagi aku ditarik dan kali ini selain keningku, pipiku juga diciumnya. Aku tersenyum dan kubalas ciuman di pipinya. Setelah kejadian itu kami semakin dekat rasanya.

    Hari berikutnya sama seperti sebelumnya, tapi pada hari ketiga setelah kejadian itu, aku sengaja membawa penggaris, aku ingin mengukur panjangnya, penasaran rasanya. Penggaris aku siapkan dan aku masukkan pada buku status pasien.

    Seperti biasa, pagi pagi jam 5.00 aku siap memandikan Jack. Dan kali ini dia sudah bangun dan sudah semakin sehat. Kembali saat aku bersihkan di balik kulit kepala penis yang tidak disunat itu, terasa semakin keras, sengaja aku kocok perlahan supaya lebih maksimal.

    Dan saat saat dia memejamkan matanya, diam-diam aku ambil penggaris yang sudah aku siapkan. Tapi rupanya Jack memperhatikan tingkahku, dia tersenyum lebar hingga aku sedikit malu dibuatnya. “Berapa senti Rin..?” katanya masih tersenyum. “23 senti” jawabku malu, aku benar benar malu.

    Sambil meletakkan penggaris, tangan kananku tanpa sadar terus mengocok pelan- pelan, dan diremasnya lenganku sambil berdesis-desis menikmatinya. Ada rasa kasihan juga, setelah kurangsang ternyata dia terangsang berat.

    Maka tanpa pikir panjang, aku teruskan membelai dan mengocok dengan busa sabun yang semakin banyak. Dan hanya dalam beberapa detik, lenganku dicengkeram kuat dan menyemburlah sperma Jack sambil berdesis tertahan panjang menahan kenikmatan.

    Banyak dan sangat kental sperma yang keluar. Melihat pemandangan itu aku jadi horny juga rasanya, dan aku merasakan celanaku basah. Cepat-cepat aku bersihkan semua, karena aku takut ada orang masuk ke kamar ini. Sebelum aku keluar, Jack sempat mengucapkan terima kasih. “Terima kasih Rin, kamu baik sekali” ujarnya sambil membelai-belai tanganku. Aku balas dengan anggukan dan senyuman.

    Diraihnya wajahku dan diciumnya pipiku dan kali ini bibirku dikecupnya, walaupun hanya ujung bibirku dan hanya sesaat. Sempat dua kali lagi aku mengeluarkan pejunya sebelum akhirnya dia sudah dapat mandi sendiri.

    Namun kejadian berikutnya adalah dua hari sebelum Jack keluar rumah sakit. Pada malam itu seperti biasa dan saat itu tidak banyak laporan yang kubuat saat aku jaga malam dan aku menemaninya sebelum tidur. Saat aku masuk kamarnya dia membaca buku di sofa panjang.

    Kami mengobrol banyak, tentang waktu dia kuliah di Inggris, tentang anaknya dan akhirnya obrolan sampai di momen saat aku mengeluarkan spermanya. Aku katakan bahwa aku kasihan dengannya saat terangsang berat saat itu dan sekali lagi dia mengucapkan terima kasih.

    Setelah waktunya tidur, aku bimbing dia untuk ke tempat tidur. Namun dia tidak langsung ke tempat tidur, tapi malah hanya pindah duduk di sofa tunggal. Aku berdiri dihadapannya. Jack menengadah memandangku sayu. Dengan nada bergetar, dia memintaku untuk mencium, sambil menunjuk kemaluanku.

    Aku bingung untuk menolaknya, takut tersinggung, kalap dan marah. Belum aku menjawabnya, tangannya sudah menyusup ke dalam bajuku mengusap paha luarku. Dan makin ke atas akhirnya menurunkan CDku.

    Tersentak aku, tapi aku tanpa berpikir panjang malah membuka kancing baju seragamku bagian bawah, aku pikir dia hanya akan mencium sesaat saja. Terlepaslah CDku dan disibakkannya bajuku. Aku terdiam mematung. Tapi aku pasrah saja dan saat bibir kemaluanku tersentuh, semakin bergetar tubuhku. Akhirnya aku malah merapatkan kemaluanku ke bibir Jack dan kuangkat satu kakiku di sandaran tangan sofa.

    Dan tanpa sadar aku mulai menggoyangkan pinggulku, supaya Jack lebih leluasa menciumi memekku dan akhirnya aku pun malah dapat menikmati jilat memek ini. Semakin kuat kurasakan lidahnya menari dan menjelajahi seluruh lekuk memekku.

    Aku merasakan cairan epirtelku semakin deras seiring dengan rangsangan yang semakin kuat, semakin nikmat lidah yang sesekali menyelinap ke dalam. Kuelus elus kepala Jack dan akhirnya tubuhku mengejang dan kurapatkan kepala Jack. Dan rupanya Jack tanggap bahwa aku akan mencapai puncak. Orgasme.

    Maka dihisapnya klit-ku kuat-kuat serta ujung lidahnya cepat sekali menggelitik itilku. Nikmat sekali rasanya jilat memek. “Uuhh.” lenguhanku tertahan. Kurapatkan kakiku dengan tubuh mengejang. Setelah Jack selesai melakukan jilat memek, aku lemas dan kurebahkan tubuhku sesaat di bed pasien.

    Aku minta supaya penisnya jangan dimasukkan, Jack memaklumi dan seluruh sisa cairan lendir birahi yang masih ada di sekitar memekku dibersihkan dengan lidahnya. Oh enak sekali jilat memek ini. Namun aku buru buru mengancingkan baju dan CD-ku kukantongi lalu aku segera meninggalkan ruangan inap Jack dengan lari-lari kecil.

    Esoknya aku sulit melupakan peristiwa jilat memek tersebut, tapi nikmat juga untuk dikenang. Paginya seperti biasa aku kontrol. Dan dia sudah kelihatan segar, walaupun tubuhnya masih agak lemah. Terus terang aku ada keinginan dalam hatiku untuk menikmati jilat memek lagi.

    Tapi tidak tahu bagaimana mesti memulainya, malu juga untuk meminta jilat memek lagi.

  • Cerita Sex Kisah Perselingkuhan Dengan Suami Sahabatku

    Cerita Sex Kisah Perselingkuhan Dengan Suami Sahabatku


    1039 views

    Perawanku – Cerita Sex Kisah Perselingkuhan Dengan Suami Sahabatku, Aku duduk terpaku di teras depan rumah angin berhembus dan membelai rambutku. Di sini aku merenung tentang jalan kehidupanku bagaimana bisa aku berselingkuh dengan suami sahabatku sendiri, panggil namaku Meta di usia 25 tahun aku memilki kekasih yang tidak lain adalah suami dari sahabatku sendiri Desi namanya. Aku begitu dekat dengannya mulai dari masa sekolah dulu.

    Sampai akhirnya dia menikah dengan seorang pria yang dia kenal semenjak kuliah, Ardan namanya dia seorang pria yang begitu baik dan setia. Bahkan mereka berdua kerap membuatku cemburu melihat kelakuan keduanya yang selalu romantis. Dan hal itu sering membuatku merasa ingin menjadi Desi bersama melakukan adegan layaknya dalam cerita dewasa bahkan aku sering melirik Ardan secara sembunyi-sembunyi.

    Sebenarnya hal itu juga membuatku sesak dalam hati, tidak mungkin juga aku mencintai suami dari sahabatku sendiri. Dia sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri, begitu juga Desi begitu baik padaku tapi bagaimana jika dia tahu kalau aku sahabatnya mencintai suaminya sendiri. Aku saja tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

    Karena hal itu juga aku harus pintar-pintar menyembunyikan hatiku. Di depan keduanya aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dalam hatiku, seperti hari ini aku sedang berada di rumah Desi karena dia memintaku untuk datang kesini. Dari pertama sampai dirumah ini aku tahu kalau keduanya habis saja melakukan adegan cerita dewasa karena tatapan merewka menandakan hal itu.

    Sebenarnya besok malam ada acara keluarga di rumah Desi, dan hari ini dia menyediakan semuanya sebelum hari H besok. Sampai akhirnya ada yang kurang dari persediaannya ” Meta aku minta tolong kamu beli barang yang kurang ya… ” Akupun beralasan padanya untuk menolak ” Aduh kenapa nggak kamu saja Des….. ” Kataku pada Desi karena aku tahu kalau dia akan menyuruh suaminya juga.

    Diapun mendekat sambil merengek padaku ” Tolong dong sayang… nanti biar kamu bareng mas Ardan soalnya aku sudah capek banget…. ” Kalau sudah begini aku tidak dapat emnolak permintaan Desi, kasihan juga dia merengek seperti itu dan aku tahu kalau dia mesti istirahat untuk acar keluarga besok apalagi kini ada keluarga Ardan yang juga ikut bergabung.

    Aku sudah lama bersahabatan dengan Desi karena itu aku tahu kalau ada acara keluarga dia akan sibuk menyiapkan semuanya. Akhirnya akupun berangkat dengan Ardan suaminya, selama dalam perjalanan aku banyak diamnya sempat aku melihat Ardan melirik ke arahku saat itu jantungku berdegup kencang karena salah tingkah juga berada dalam satu mobil hanya berdua dengan Ardan.

    Sampai di supermarket kamipun langsung membeli semua kebutuhan yang belum Desi beli, dan aku sudah membawa catatan kecil darinya. Ardan dengan setianya mendorong troli belanjaan aku lihat banyak mata yang melihat ke arah kami sampai di kasir akupun hendak membayar sebelum kasir tersebut bilang ” Wah kalian pasangan romantis banget… Baru honeymoon ya Mbak…. ” katanya dengan enteng.

    Sedangkan aku tersipu malu kala itu namun aku lihat Ardan hanya tersenyum menaggapi kata kasir tersebut. Lalu kamipun kembali menuju tempat parkir di mal tersebut, dan aku tidak menyangka sebelumnya karena begitu masuk dalam mobil tiba-tiba Ardan langsung mencium pipiku tapi aku langsung menolak dengan menarik tubuhku kebelakang melihatku seperti itu dia berkata padaku.

    Sambil menatapku dengan tajam ” Aku tahu kalau kamu juga rasakan hal yang sama denganku… Meta aku suka kamu dari dulu.. tapi aku tidak tahu harus bagaiaman menghadapi hal ini… ” Saat itu aku merasa begitu senang dengan perkataan Ardan, rupanya diapun merasakan hal yang sama padaku seperti aku yang mencintainya dari dulu tapi aku hanya bisa menyembunyikan perasaanku.

    Saat itulah aku terdiam ketika Ardan kembali mendaratkan bibirnya pada bibirku, bahkan kini aku membalasnya dengan begitu buasnya. Aku mainkan lidahku dalam rongga mulut Ardan diapun menerima dengan hangatnya ” Ooouughh… aku sayang… kamu …Meta….. sungguh… sa…yang…. ” Sampai akhirnya diapun mendorong tubuhku untuk setengah rebahan pada jok mobil.

    Kamipun saling melumat sedangkan tangan Ardan tidak diam lagi, dia terus menggerayangi tubuhku dan membuatku merasa seperti di awang-awang. karena hal ini adalah salah satu mimpi terindahku yang mejadi kenyataan. Akhirnya dia melorotkan celananya sampai aku lihat kontolnya sudah berada di posisi siap menerkamku dan akupun memberikan jalan untuknya masuk dalam selangkanganku.

    Dengan melebarkan paha akupun siap menerima kontol Ardan, begitu dia melesatkan kontolnya dalam memekku ” Ooouugghh… uuuuggghh…. uuuuggghhh…. aaaaaagggggghhhh…. Ar… dan… sa..yang… aaaagghh… ” dia tersenyum penuh nafsu kemudian kembali mencium seluruh wajahku hingga akhirnya bibirku menjadi santapan bibirnya untuk dia kulum sambil menggoyangku.

    Gerakan pinggul Ardan membuatku menggelinjang pasrah ” Oooouuuuggggggghhhh…. aaaaggggghhh…. aaaaagggggghhhh… oooouuuggghh… sayang… terus… aaaggghh… ” Desahku karena saking nikmatnya di goyang oleh Ardan. Diapun semakin mempercepat goyangan dan henatakan kontolnya pada memekku kembali aku menggeliat menahan nikmatnya kontol Ardan yang seakan menusuk dalam memekku.

    Sampai-sampai akupun di buat blingsatan olehnya dan desahanku semakin menjadi ketika dia memutar kontolnya dalam memekku ” Ooouugghh Ar.. dan… sayang… aaaagggghhh te…rus… aaaagghhhhh…. sayang…… aaaaaggggghh… aku nggak kuat… sayang… aaaggghh…. ” Kataku di bawah tubuh Ardan yang semakin menggila menggoyang pantatnya dan seakan memutar kontolnya dalam memekku.

    Sampai akhirnya aku lihat dia memejamkan mata dan menengadah ke atas, bagai pemain dalam cerita dewasa dia mengejang dan mengerang dengan kerasnya ” Ooouuuuggghhh… Meta… aku… nggak tahan sayang……… aaaaaaggggghh…. aaaggggghh… ” Muncrat sperma hangatnya dalam memeku bahkan memenuhi lubang memekku sampai akhirnya dia terkulai lemas di atas tubuhku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,