Author: perawanku

  • Foto Ngentot Nagai Mihina Cewek Nakal yang Cocok Buat Coli – Foto Ngentot Terbaru Hot 2018

    Foto Ngentot Nagai Mihina Cewek Nakal yang Cocok Buat Coli – Foto Ngentot Terbaru Hot 2018


    2486 views

    Perawanku – Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada para pengunjung setia 139.99.33.211 yang masih setia mantengin terus blog ini. Artikel ini adalah request dari salah satu pengunjung yang berkomentar pada halaman foto ngentot yang cocok buat dijadiin bahan coli. Kalau kita berbicara tentang foto ngentot yang kita bayangkan cewek-cewek cantik dengan wajah yang sexy dan menggoda memang tak akan nada habisnya. Bila kamu sering bermain ke forum-forum dewasa, makan kamu akan dengan mudah menemukan koleksi foto ngentot. Mulai dari yang masih muda sampai yang sudah paruh baya semuanya bisa netizen temukan di ranah maya ini.

    Entah apa yang melandasi perbuatan wanita-wanita yang masih cantik nan sexy sehingga nekat menjadikan profesi utamanya yaitu ngentot. Lebih parahnya tak jarang dari mereka yang mengabadikan momen ngentot tersebut sehingga tersebar luas. Sebagai insan yang hanya dapat berfantasi bisa ngentotin cewek yang satu ini tentunya kita merasa beruntung karena bisa mendapatkan bahan yang cocok untuk masturbasi nikmat. Daripada melakukan hal-hal yang tak bertanggung jawab mending melampiaskannya dengan menggunakan foto ngentot Nagai Mihina si Cewek Nakal. Benar gak teman? Admin sendiri tidak tahu siapa yang ada dalam album foto ngentot Nagai ini. Saya hanya mengumpulkannya saja untuk netizen sekalian yang sudah kebelet coli. Nexiasbet

    Bagaimana? Sudah pengen banget milihat para tante girang super binal yang lagi dientotin pria lain? Yuk telusuri satu per satu melalui album foto ngentot Nagai Mihina Cewek Nakal yang berbaris dibawah ini:

  • Cerita Sex Kisah Si Dukun Cabul Bagian Dua

    Cerita Sex Kisah Si Dukun Cabul Bagian Dua


    1382 views

    Perawanku – Cerita Sex Kisah Si Dukun Cabul Bagian Dua, Dan tetapi juga bernada kuatir: “Nduk, Nduk, kamu dalam bahaya besar. Si kasno itu pasti sudah nggendam (menyihir) kamu. Mimpimu itu baru permulaan dari ilmu gendamnya. Setelah ini kamu akan semakin terbayang pada wajahnya, sampai lama-lama kamu tidak akan bisa berpikir lain selain mikirin dia. Lalu, dia tinggal menguasaimu saja..”mataku mendelik: “mesakake banget (kasihan sekali) kowe Nduk..” si Suminem tampak sekok (shock) berat mendengar ucapanku yang meluncur seperti senapan mesin itu: “terus bagaimana Mbah, tolong saya Mbah..” katanya seperti orang setengah sadar.

    Aku menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala: “berat, Nduk. Aku bisa menolongmu, tetapi itu sangat berbahaya. Bisa-bisa ilmu gendamnya berbalik kepadaku. Bisa mati aku.” Kulihat matanya membelalak penuh kengerian: “jadi.. lalu bagaimana Mbah? Apa yang harus saya lakukan?” tanyanya dengan suara bergetar. Aku sekarang memeluknya (aduh, badannya betul betul bahenol. Kenyal dan hangat): “ya sudah Nduk, aku kasihan kepadamu” kataku kebapakan: “aku akan mencoba menolongmu, dengan sepenuh ilmuku. Pokoknya, kamu harus mau nglakoni (melaksanakan) semua perintahku, ya Nduk. Kamu bersedia ya Nduk?” kurasakan tubuh dalam pelukanku itu bergetar. Kudengar ia terisak pelan: “matur nuwun sanget Mbah.. saya sudah ndak bisa mikir lagi..”

    Kulepaskan pelukanku. Sekarang suaraku berubah penuh wibawa: “sekarang, untuk menghilangkan ilmu hitam itu, kamu harus nglakoni persis sama dengan mimpimu itu” kataku: “buka bajumu, Nduk”. Ku lihat matanya terbeliak heran, tetapi segera meredup dan dia menghela napas: “inggih Mbah, sakkerso (terserah) kulo nderek kemawon (saya ikut saja)”. Dan dengan cepat ia membuka kaos T-shirtnya, meletakkan di kursi. Aku menelan ludah. Branya putih, berkembang-kembang. Buah dadanya putih sekali, menggelembung di belakang bra yang tampak agak kekecilan itu.(baru 14 tahun kok sudah besar banget ya? Pikirku. Jangan jangan anak ini kebanyakan hormon pertumbuhan).

    Sekarang ia membuka roknya, merosot di lantai. Ia berdiri di depanku, tetap dengan sangat hormat. Tangannya ngapurancang di depan celana dalamnya. Dia memandang padaku dengan polos: “Sudah, Mbah” katanya. Aku mendeham: “belum Nduk” kataku: “Aku bilang semuanya. Buka juga pakaian dalammu. Ilmuku nggak bisa masuk kalau bagian tubuhmu yang diciumi si bangsat itu masih terhalang kain”. Suminem tampak sangat bingung, hampir semenit dia berdiri terpaku dengan berkata apapun. Tetapi akhirnya dia menghela napas, dan mengulangi perkataannya tadi: “inggih Mbah, kulo nderek” dan dengan cepat ia membuka kaitan branya, dan sebelum kain itu jatuh ke lantai dia melanjutkan membuka celana dalamnya. Sekarang dia benar-benar wudo blejet (telanjang bulat) di depanku.

    Nah pembaca, karena cerita ini adalah untuk konsumsi xxx, maka saya wajib menceritakan detail mengenai sosok indah di depanku ini. Si Suminem ini sangat cantik (kok agak mirip aktris Dian Nitami ya?) kalau tinggal di Jakarta dia pasti sudah jadi rebutan cowok atau masuk jadi bintang sinetron. Tubuhnya tidak terlalu tinggi (mungkin 158 cm), kulitnya sungguh halus, kuning agak keputih-putihan. Buah dadanya segar mengkal dengan puting berwarna coklat kemerahan, terlihat agak menonjol ke luar. Pinggangnya bagus, meskipun agak sedikit gemuk di perut. Pahanya juga sangat mulus meskipun agak sedikit buntek (nggak apa-apalah..nobodies perfect kata orang Inggris). Nah, di bawah perutnya, di selangkangannya terlihat segundukan kecil sekali bulu-bulu kemaluan, pas dan cocok dengan usianya yang baru 14 tahun. Bulu-bulu itu belum mampu menutupi belahan kemaluannya yang berwarna kemerahan, tampak agak nyempluk (menonjol) ke depan.

    Haduuh biyuung.. aku terangsang berat. Kukedip-kedipkan mataku, dan berkali kali aku menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol nafsuku. Dengan gerakan ditenang-tenangkan aku mengambil gelas dan mengisinya dengan air kembang dari baskom di mejaku. Aku mendekati dia: “bagian mana yang diciumi si Kasno dalam mimpimu itu, Nduk?” tanyaku. Ia tampak berpikir sebentar, dan kemudian meunjuk bibirnya: “ini Mbah, saya di sun di bibir”, katanya. Tanpa ragu-ragu aku mencipratkan air dalam gelas itu ke bibirnya. Aku kemudian menunduk ke bawah, mulutku berkomat-kamit (sebenarnya aku tidak membaca mantera, cuma mengitung satu tambah satu dua, dua taMbah dua empat dan seterusnya dengan cepat). Kemudian aku menghela napas dan berkata: “aku juga harus melakukan yang sama Nduk. Supaya ngelmu hitamnya bisa kesedot keluar”. Dan tanpa minta ijin lagi, kuseruduk mulutnya dan kucium dengan nafsu berat.

    Kurasakan si Suminem berdiri kaku seperti kayu, tampak sangat kaget dengan seranganku itu. Mulutnya terkunci rapat sehingga bibirku tidak menyentuh bibirnya sama sekali. Aku jadi kesal: “buka mulutmu Nduk, terima saja. Jangan takut, memang supaya melawan ilmu hitam ini lakunya harus begitu”, ia tersengal sengal: “Ing..inggih Mbah..” Katanya. Dan dengan canggung dia membuka mulutnya. Sekarang aku menciumnya lagi, kini dengan lembut. Tidak ada perlawanan. Kulumat bibirnya, dan kusedot ke luar. Lidahku masuk ke dalam rongga mulutnya, bergerak ke kiri kanan tetapi tidak mendapat respons dari lidahnya. Tampaknya ia masih sangat kaget dan bingung dengan tindakanku ini.

    Akhirnya, setengah kecewa, kulepaskan ciumanku. Harus ada cara supaya dia terangsang, pikirku. Aku bertanya: “mana lagi Nduk, yang dicium si Kasno?”, Suminem sekarang menunjuk belakang telinganya, dan jarinya turun menyelusur leher: “di sini Mbah..” katanya. Sekali lagi aku memercikkan air bunga dari gelas ke bagian yang ditunjuknya, dan mendekatkan mulutku ke belakang telinganya. Kucium pelan-pelan, dan kupermainkan dengan lidahku. Tenang, jangan terburu nafsu, pikirku. Kalihkan ciuman dan gesekan lidahku ke lehernya yang mulus. Kukecup kecup halus. Aku merasakan napasnya mulai naik. Nah, ini dia. Dia mulai terangsang.

    “Bagaimana rasanya, Nduk?” bisikku. Dia tidak menjawab, tetapi napasnya semakin menaik: “hegh..eemmh..” erangnya. Dan tiba-tiba dia menjauh dariku. Wajahnya menunduk ke bawah: “kenapa?” tanyaku: “kamu rasa sakit ya Nduk? pusing?” tanyaku penuh kebapakan. Dia menggeleng: “a..anu Mbah.. rasanya keri (geli) sekali..”. Aku pura pura tertawa lega: “naah, kalau kamu nggak rasa sakit, cuma geli saja, artinya ilmunya memang belum masuk terlalu dalam. Syukurlah. Sekarang Mbah teruskan ya. Mana lagi yang di cium si kasno?” sekarang dia menunjuk buah dadanya: “di susuku ini Mbah, dicium bergantian, kiri kanan..” Nah, ini dia. Kupicratkan air kembang ke buah dadanya, dan dengan lagak sok yakin kupegang kedua bukit indah itu. Sekali lagi aku menunduk ke bawah, mulai komat-kamit membaca mantera matematikaku. Aku tampak sangat serius, meskipun sebenarnya aku sekuat tenaga berusaha mengendalikan nafsuku yang sudah tidak ketulungan berkobarnya.

    Cerita Sex Kisah Si Dukun Cabul Bagian Dua

    Cerita Sex Kisah Si Dukun Cabul Bagian Dua

    Akhirnya aku menundukkan kepalaku: “harus kusedot, Nduk. Di sini manteranya kuat sekali. Si Kasno bangsat itu sudah masuk dalam sekali ke tubuhmu.” Kulihat ia mengangguk, mekipun tampak masih sangat ragu. Pertama kukecup buah dada kirinya, merasakan kelembutan kulitnya yang sangat halus. Kecupanku berputar melingkar, hingga bagian bawah susu yang mengkal itupun tak luput dari kecupanku. Akhirnya aku berhenti di putingnya, kupermainkan sedikit dengan lidahku dan akhirnya kukulum dengan lembut. Mulutku menyedot-nyedot barang indah itu dengan bernafsu, dan lidahku menari-nari di putingnya. Kurasakan puting itu semakin membesar dan mengeras. Sedangkan jari tangan kananku terus meremas remas dada kanannya, mempermainkan putingnya secara berirama sama dengan irama gerakan lidahku di puting kirinya.

    Nah, akhirnya pertahanan si genduk Suminem bobol juga. Tubuhnya yang tadinya kaku seperti kayu, sekarang terasa melemah. Tangannya memegang kepalaku, tanpa sadar mengelus elus rambutku yang gondorong. Mulutnya mendesis-desis dan menceracau pelan: “Mbah..aduuh Mbah.. jangan.. gelii sekali.. aduuhh..” tetapi aku tidak perduli lagi. Tubuh Suminem terasa bergoyang- goyang, semakin lama semakin keras. Kupindahkan kulumanku ke puting kanannya. Aku melihat ke atas, kulihat kepala Suminem menunduk dalam-dalam sementara tangannya tetap memegang kepalaku. Matanya tertutup rapat dan mulutnya juga terkatup rapat. Ekspresinya seperti dia sedang mengejan atau menahan sesuatu yang sangat nikmat.

    Horee, aku berhasil! teriakku dalam hati. Jelas dia kini juga terangsang berat. Semakin asyik saja nih, pikirku. Kini kulepaskan hisapanku di susunya dan bertanya (pasti suaranya sudah tidak tampak berwibawa lagi, tapi penuh nafsu): “terus, habis cium susumu, dia cium lagi di sini ya?” tanyaku, sambil menunjuk pada kemaluannya: “i.. iya Mbah..” katanya bergetar: “di pipis saya.. dicium terus dijilatin”.

    Aku mengangguk pura pura maklum, dan menghela napas seperti sedih dan terpaksa: “ya sudah Nduk, karena begitu ya supaya pengaruh setannya hilang, Mbah juga terpaksa harus melakukan yang sama. Coba kamu duduk di meja ini”. Kataku sambil membimbingnya duduk di meja praktekku. Dengan canggung dia menurut: “buka lebar-lebar kakimu Nduk” kataku. Dia tampak bingung sehingga harus kubantu. Kubentangkan paha kiri dan kanannya sehingga dia duduk mengangkang di mejaku. Kini tampaklah kemaluannya dengan jelas, kemaluan anak ABG yang baru ditumbuhi sedikit rambut. Warnanya kemerahan dan sangat merangsang. Jelas ini tempik (istilah khas daerahku) yang belum pernah dijamah laki-laki. Mataku berkunang-kunang karena nafsu.

    Sekarang aku mengambil kursi, meletakkan tepat di depannya. Aku duduk di kursi itu dan mencondongkan tubuhku ke depan, sehingga wajahku sekarang berhadapan langsung dengan kemaluannya, hanya berjarak sekitar sepuluh sentimeter. Bau khas kemaluan perempuan menyebar dan tercium hidungku. Aku menelan ludah: “agak naikkan bokong (pantat)mu Nduk, supaya Mbah gampang nyiumnya” perintahku. Kini dia menuruti dengan patuh, mengangkat pantatnya sehingga kemaluannya semakin lebar terbuka di depan wajahku. Dengan lembut kugosok-gosok mahkota wanita itu dengan tanganku, ke atas ke bawah dan sebaliknya. Kuremas-remas halus bulu-bulunya yang jarang, dan akhirnya kukecup kelentitnya dengan bibirku.

    “Aaggh..” Suminem mengerang (mana ada sih cewek yang kuat kalau dibegituin?). aku semakin menggila. Kukecup-kecup kemaluannya dengan gemas, dari bagian atas hingga bawah, lidahku menyelusuri belahan kemaluannya dan menerobos bagian dalamnya yang berwarna merah muda dan basah. Tubuhnya semakin menggelinjang. Napasnya terdengar semakin memburu. Akhirnya kecupan dan jilatan lidahku berhenti di kelentitnya. Kukecup-kecup terus kelentit yang tampak semakin membesar itu, dan akhirnya kuhisap dengan kuat. Sambil menghisap, lidahku tetap dengan aktif menjilati kelentit itu sementara tanganku terus mengelus elus daerah bawah kemaluannya, kadang-kadang jariku menyelusup ke lobang kemaluannya yang terasa semakin lama semakin basah.

    Suminem sama sekali sudah lepas kontrol. Erangannya semakin keras (untung saja suara TV di luar sangat keras dengan lagu dangdut, moga-moga erangannya tidak ada yang mendengar). tubuhnya berkelojotan ke kiri ke kanan, tangan kanannya menumpu ke meja sedangkan tangan kirinya memegang kepalaku. Di remas-remasnya rambutku dan setiap kali kepalaku agak merenggang, ditekannya lagi ke kemaluannya.

    Jangkrik, pikirku. Aku hampir tidak bisa bernapas. Tetapi bagaimanapun suasananya sangat asyik. Aku semakin tenggelam dalam permainan yang penuh nafsu ini. Kusungkupkan kepalaku semakin dalam di selangkangannya. Tidak kupedulikan lagi bahwa kursi dan meja reyot yang kami gunakan semakin kuat bergoyang dan berderak-derak. Sampai akhirnya: “aakhh.. ad..uuh.. mbaah.. aku..aa..” jeritan yang entah apa artinya itu meluncur keluar dari mulut si bahenol, diikuti dengan semprotan cairan dari lobang kemaluannya. Basah dan hangat, sebagian menempel di dagu dan jenggotku.

    Akhirnya kuangkat kepalaku dari kemaluannya, dan kucium dahinya yang menunduk dengan napas tersengal-sengal. Aku berbisik: “piye, Nduk? Kamu sudah merasa enakan sekarang?” dia mengangguk: “i..iya Mbah.. enakan sekarang..” aku hampir ketawa. Goblok juga anak ini, sudah sekian jauh belum juga sadar kalau aku kerjain. Sekarang sampailah pada tahap selanjutnya, pikirku.

    Tanpa basa basi aku melepaskan jubahku dan celana dalamku. Kulihat wajahnya yang tadinya menunduk sayu sekarang terangkat, matanya membeliak melihat aku sudah telanjang bulat di depannya. Aku harus akui kalau badanku cukup atletis (wajahku juga nggak jelek-jelek amat lho, terutama kalau janggut professionalku ini dicukur). Batang kemaluanku (istilah di daerahku: kontol) lumayan besar, dan selalu jadi kekaguman cewek-cewek yang pernah main seks denganku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Dipakasa ML Dengan Teman Kuliahku

    Cerita Sex Dipakasa ML Dengan Teman Kuliahku


    909 views

    Perawanku – Cerita Sex Dipakasa ML Dengan Teman Kuliahku, Aku memang terlahir dari keluarga yg bisa dibilang cukup berada. Aku anak laki laki satu-satuya. Dan juga anak terakhir. Dua kakakku perempuan semuanya. Dan jarak umur antara kami cukup jauh juga. Antara lima dan enam tahun. Karena anak bungsu dan juga satu-satunya laki laki, jelas sekali kalo aku sangat dimanja. Apa saja yg aku inginkan, pasti dikabulkan. Seluruh kasih sayg tertumpah padaku.

    Dari kecil aku selalu dimanja, sampai besarpun aku terkadang masih suka minta dikeloni. Aku suka kalo tidur sembari memeluk Ibu, Mbak Lisa atau Mbak Indira. Namun aku tak suka kalo dikeloni Bapak. Entah kenapa, mungkin badan Bapak besar dan tangannya ditumbuhi rambut-rambut halus yg cukup lebat. Padahal Bapak paling sayg padaku. Karena apapun yg aku ingin minta, selalu saja diberikan. Aku memang tumbuh menjadi anak yg manja. Dan sikapku juga terus seperti anak balita, meski umurku sudah cukup dewasa.

    Pernah aku menangis semalaman dan mengurung diri di dalam kamar hanya karena Mbak Indira menikah. Aku tak rela Mbak Indira jadi milik orang lain. Aku benci dgn suaminya. Aku benci dgn semua orang yg bahagia melihat Mbak Indira diambil orang lain. Setengah mati Bapak dan Ibu membujuk serta menghiburku. Bahkan Mbak Indira menjanjikan macam-macam agar aku tak terus menangis. Memang tingkahku tak ubahnya seorang anak balita.

    Tangisanku baru berhenti setelah Bapak berjanji akan membelikanku motor. Padahal aku sudaH punya mobil. Namun memang sudah lama aku ingin dibelikan motor. Hanya saja Bapak belum bisa membelikannya. Kalo mengingat kejadian itu memang menggelikan sekali. Bahkan aku sampai tertawa sendiri. Habis lucu sih.., Soalnya waktu Mbak Indira menikah, umurku sudah 21 tahun.

    Hampir lupa, Saat ini aku masih kuliah. Dan kebetulan sekali aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yg cukup keren. Di kampus, sebenarnya ada seorang perempuan yg perhatiannya padaku begitu besar sekali. Namun aku sama sekali tak tertarik padanya. Dan aku selalu menganggapnya sebagai kawan biasa saja. Padahal banyak kawan-kawanku, terutama yg laki laki bilang kalo perempuan itu menaruh hati padaku.

    Sebut saja namanya Lidya. Punya wajab cantik, kulit yg putih seperti kapas, badan yg ramping dan padat berisi serta dada yg membusung dgn ukuran cukup besar. Sebenarnya banyak laki laki yg menaruh hati dan mengharapkan cintanya. Namun Lidya malah menaruh hati padaku. Sedangkan aku sendiri sama sekali tak peduli, tetap menganggapnya hanya kawan biasa saja. Namun Lidya tampaknya juga tak peduli. Perhatiannya padaku malah semakin bertambah besar saja. Bahkan dia sering main ke rumahku, Bapak dan Ibu juga senang dan berharap Lidya bisa jadi kekasihku.

    Begitu juga dgn Mbak Lisa, sangat cocok sekali dgn Lidya Namun aku tetap tak tertarik padanya. Apalagi sampai jatuh cinta. Anehnya, hampir semua kawan mengatakan kalo aku sudah pacaran dgn Lidya, Padahal aku merasa tak pernah pacaran dgnnya. Hubunganku dgn Lidya memang akrab sekali, meskipun tak bisa dikatakan berpacaran.

    Seperti biasanya, setiap hari Sabtu sore aku selalu mengajak Bobby, anjing pudel kesayganku jalan-jalan mengelilingi Monas. Perlu diketahui, aku memperoleh anjing itu dan Mas Herlambang, suaminya Mbak Indira. Karena pemberiannya itu aku jadi menyukai Mas Herlambang. Padahal tadinya aku benci sekali, karena menganggap Mas Herlambang telah merebut Mbak Indira dan sisiku. Aku memang mudah sekali disogok. Apalagi oleh sesuatu yg aku sukai. Karena sikap dan tingkah laku sehari-hariku masih, dan aku belum bisa bersikap atau berpikir secara dewasa.

    Tanpa diduga sama sekali, aku bertemu dgn Lidya. Namun dia tak sendiri. Lidya bersama Mamanya yg umurnya mungkin sebaya dgn Ibuku. Aku tak canggung lagi, karena memang sudah saling mengenal. Dan aku selalu memanggilnya Tante Amanda.

    “Bagus sekali anjingnya..”, piji Tante Amanda.
    “Iya, Tante. diberi sama Mas Herlambang”, sahutku bangga.
    “Siapa namanya?” tanya Tante Amanda lagi.
    “Bobby”, sahutku tetap dgn nada bangga.

    Tante Amanda meminjamnya sebentar untuk berjalan-jalan. Karena terus-menerus memuji dan membuatku bangga, dgn hati dipenuhi kebanggaan aku meminjaminya. Sementara Tante Amanda pergi membawa Bobby, aku dan Lidya duduk di bangku taman dekat patung Pangeran Diponegoro yg menunggang kuda dgn gagah. Tak banyak yg kami obrolkan, karena Tante Amanda sudah kembali lagi dan memberikan Bobby padaku sembari terus-menerus memuji. Membuat dadaku jadi berbunga dan padat seperti mau meledak. Aku memang paling suka kalo dipuji.

    Oh, ya.., Nanti malam kamu datang..”, ujar Tante Amanda sebelum pergi.

    “Ke rumah..?”, tanyaku memastikan.
    “Iya.”
    “Memangnya ada apa?” tanyaku lagi.
    “Lidya ulang tahun. Namun nggak mau dirayakan. Katanya cuma mau merayakannya sama kamu”, kata Tante Amanda Iangsung memberitahu.
    “Kok Lidya nggak bilang sih..?”, aku mendengus sembari menatap Lidya yg jadi memerah wajahnya. Lidya hanya diam saja.
    “Jangan lupa jam tujuh malam, ya..” kata Tante Amanda mengingatkan.
    “Iya, Tante”, sahutku.

    Dan memang tepat jam tujuh malam aku datang ke rumah Lidya. Suasananya sepi-sepi saja. Tak terlihat ada pesta. Namun aku disambut Lidya yg memakai baju seperti mau pergi ke pesta saja. Tante Amanda dan Oom Joko juga berpakaian seperti mau pesta. Namun tak terlihat ada seorangpun tamu di rumah ini kecuali aku sendiri. Dan memang benar, ternyata Lidya berulang tahun malam ini. Dan hanya kami berempat saja yg merayakannya.

    Perlu diketahui kalo Lidya adalah anak tunggal di dalam keluarga ini. Namun Lidya tak manja dan bisa mandiri. Acara ulang tahunnya biasa-biasa saja. Tak ada yg istimewa. Selesai makan malam, Lidya membawaku ke balkon rumahnya yg menghadap langsung ke halaman belakang.

    Entah disengaja atau tak, Lidya membiarkan sebelah pahanya tersingkap. Namun aku tak peduli dgn paha yg indah padat dan putih terbuka cukup lebar itu. Bahkan aku tetap tak peduli meskipun Lidya menggeser duduknya hingga hampir merapat dgnku. Keharuman yg tersebar dari badannya tak membuatku bergeming.

    Lidya mengambil tanganku dan menggenggamnya. Bahkan dia meremas-remas jari tanganku. Namun aku diam saja, malah menatap wajahnya yg cantik dan begitu dekat sekali dgn wajahku. Begitu dekatnya sehingga aku bisa merasakan kehangatan hembusan napasnya menerpa kulit wajahku. Namun tetap saja aku tak merasakan sesuatu.

    Dan tiba-tiba saja Lidya mencium bibirku. Sesaat aku tersentak kaget, tak menygka kalo Lidya akan seberani itu. Aku menatapnya dgn tajam. Namun Lidya malah membalasnya dgn sinar mata yg saat itu sangat sulit ku artikan.

    “Kenapa kau menciumku..?” tanyaku polos.
    “Aku mencintaimu”, sahut Lidya agak ditekan nada suaranya.
    “Cinta..?” aku mendesis tak mengerti.

    Entah kenapa Lidya tersenyum. Dia menarik tanganku dan menaruh di atas pahanya yg tersingkap Cukup lebar. Meskipun malam itu Lidya mengenakan rok yg panjang, namun belahannya hampir sampai ke pinggul. Sehingga pahanya jadi terbuka cukup lebar. Aku merasakan betapa halusnya kulit paha perempuan ini. Namun sama sekali aku tak merasakan apa-apa.

    Dan sikapku tetap dingin meskipun Lidya sudah melingkarkan tangannya ke leherku. Semakin dekat saja jarak wajah kami. Bahkan badanku dgn badan Lidya sudah hampir tak ada jarak lagi. Kembali Lidya mencium bibirku. Kali ini bukan hanya mengecup, namun dia melumat dan mengulumnya dgn penuhl gairah. Sedangkan aku tetap diam, tak memberikan reaksi apa-apa. Lidya melepaskan pagutannya dan menatapku, Seakan tak percaya kalo aku sama sekali tak bisa apa-apa.

    “Kenapa diam saja..?” tanya Lidya merasa kecewa atau menyesal karena telah mencintai laki-laki sepertiku.

    Namun tak.., Lidya tak menampakkan kekecewaan atau penyesalan Justru dia mengembangkan senyuman yg begitu indah dan manis sekali. Dia masih melingkarkan tangannya ke leherku. Bahkan dia menekan dadanya yg membusung padat ke dadaku.

    Terasa padat dan kenyal dadanya. Seperti ada denyutan yg hangat. Namun aku tak tahu dan sama sekali tak merasakan apa-apa meskipun Lidya menekan dadanya cukup kuat ke dadaku. Seakan Lidya berusaha untuk membangkitkan gairah kejantananku. Namun sama Sekali aku tak bisa apa-apa. Bahkan dia menekan dadanya yg membusung padat ke dadaku.

    “Memangnya aku harus bagaimana?” aku malah balik bertanya.
    “Ohh..”, Lidya mengeluh panjang.

    Dia seakan baru benar-benar menyadari kalo aku bukan hanya tak pernah pacaran, namun masih sangat polos sekali. Lidya kembali mencium dan melumat bibirku. Namun sebelumnya dia memberitahu kalo aku harus membalasnya dgn cara-cara yg tak pantas untuk disebutkan. Aku coba untuk menuruti keinginannya tanpa ada perasaan apa-apa.

    “Ke kamarku, yuk..”, bisik Lidya mengajak.
    “Mau apa ke kamar?”, tanyaku tak mengerti.
    “Sudah jangan banyak tanya. Ayo..”, ajak Lidya setengah memaksa.
    “Namun apa nanti Mama dan Papa kamu tak marah, Lin?”, tanyaku masih tetap tak mengerti keinginannya.

    Lidya tak menyahuti, malah berdiri dan menarik tanganku. Memang aku seperti anak kecil, menurut saja dibawa ke dalam kamar perempuan ini. Bahkan aku tak protes ketika Lidya mengunci pintu kamar dan melepaskan bajuku. Bukan hanya itu saja, dia juga melepaskan celanaku hingga yg tersisa tinggal sepotong celana dalam saja Sedikitpun aku tak merasa malu, karena sudah biasa aku hanya memakai celana dalam saja kalo di rumah.

    Lidya memandangi badanku dan kepala sampai ke kaki. Dia tersenyum-senyum. Namun aku tak tahu apa arti semuanya itu. Lalu dia menuntun dan membawanya ke pembaringan. Lidya mulai menciumi wajah dan leherku. Terasa begitu hangat sekali hembusan napasnya.

    “Lidya..”

    Aku tersentak ketika Lidya melucuti pakaiannya sendiri, hingga hanya pakaian dalam saja yg tersisa melekat di badannya. Kedua bola mataku sampai membeliak lebar. Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok badan sempurna seorang perempuan dalam keadaan tanpa busana. Entah kenapa, tiba-tiba saja dadaku berdebar menggemuruh Dan ada suatu perasaan aneh yg tiba-tiba saja menyelinap di dalam hatiku.

    Sesuatu yg sama sekali aku tak tahu apa namanya, Bahkan seumur hidup, belum pernah merasakannya. Debaran di dalam dadaku semakin keras dan menggemuruh saat Lidya memeluk dan menciumi wajah serta leherku. Kehangatan badannya begitu terasa sekali. Dan aku menurut saja saat dimintanya berbaring. Lidya ikut berbaring di sampingku. Jari-jari tangannya menjalar menjelajahi sekujur badanku. Dan dia tak berhenti menciumi bibir, wajah, leher serta dadaku yg bidang dan sedikit berbulu.

    Tergesa-gesa Lidya melepaskan penutup terakhir yg melekat di badannya. sehingga tak ada selembar benangpun yg masih melekat di sana. Saat itu pandangan mataku jadi nanar dan berkunang-kunang. Bahkan kepalaku terasa pening dan berdenyut menatap badan yg polos dan indah itu. Begitu rapat sekali badannya ke badanku, sehingga aku bisa merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya. Namun aku masih tetap diam, tak tahu apa yg harus kulakukan. Lidya mengambil tanganku dan menaruh di dadanya yg membusung padat dan kenyal.

    Dia membisikkan sesuatu, namun aku tak mengerti dgn permintaannya. Sabar sekali dia menuntun jari-jari tanganku untuk meremas dan memainkan bagian atas dadanya yg berwarna coklat kemerahan. Tiba-tiba saja Lidya. menjambak rambutku, dan membenamkan Wajahku ke dadanya. Tentu saja aku jadi gelagapan karena tak bisa bernapas. Aku ingin mengangkatnya, namun Lidya malah menekan dan terus membenamkan wajahku ke tengah dadanya. Saat itu aku merasakan sebelah tangan Lidya menjalar ke bagian bawah perutku.

    “Okh..?!”.

    Aku tersentak kaget setengah mati, ketika tiba-tiba merasakan jari-jari tangan Limda menyusup masuk ke balik celana dalamku yg tipis, dan..

    “Lidya, apa yg kau lakukan..?” tanyaku tak mengerti, sembari mengangkat wajahku dari dadanya.

    Lidya tak menjawab. Dia malah tersenyum. Sementara perasaan hatiku semakin tak menentu. Dan aku merasakan kalo bagian badanku yg vital menjadi tegang, keras dan berdenyut serasa hendak meledak. Sedangkan Lidya malah menggenggam dan meremas-remas, membuatku mendesis dan merintih dgn berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Namun aku hanya diam saja, tak tahu apa yg harus kulakukan. Lidya kembali menghujani wajah, leher dan dadaku yg sedikit berbulu dgn ciuman-ciumannya yg hangat dan penuh gairah membara.

    Memang Lidya begitu aktif sekali, berusaha membangkitkan gairahku dgn berbagai macam cara. Berulang kali dia menuntun tanganku ke dadanya yg kini sudan polos.

    “Ayo dong, jangan diam saja..”, bisik Lidya disela-sela tarikan napasnya yg memburu.
    “Aku.., Apa yg harus kulakukan?” tanyaku tak mengerti.
    “Cium dan peluk aku..”, bisik Lidya.

    Aku berusaha untuk menuruti semua keinginannya. Namun nampaknya Lidya masih belum puas. Dan dia semakin aktif merangsang gairahku. Sementara bagian bawah badanku semakin menegang serta berdenyut.

    Entah berapa kali dia membisikkan kata di telingaku dgn suara tertahan akibat hembusan napasnya yg memburu seperti lokomotif tua. Namun aku sama sekali tak mengerti dgn apa yg d ibisikkannya. Waktu itu aku benar-benar bodoh dan tak tahu apa-apa. Meski sudah berusaha melakukan apa saja yaang dimintanya.

    Sementara itu Lidya sudah menjepit pinggangku dgn sepasang pahanya yg putih mulus. Lidya berada tepat di atas badanku, sehingga aku bisa melihat seluruh lekuk badannya dgn jelas sekali.

    Entah kenapa tiba-tiba sekujur badanku menggelelar ketika penisku tiba-tiba menyentuh sesuatu yg lembab, hangat, dan agak basah. Namun tiba-tiba saja Lidya memekik, dan menatap bagian penisku. Seakan-akan dia tak percaya dgn apa yg ada di depan matanya. Sedangkan aku sama sekali tak mengerti. PadahaI waktu itu Lidya sudah dipengaruhi gejolak membara dgn badan polos tanpa sehelai benangpun menempel di badannya.

    “Kau..”, desis Lidya terputus suaranya.
    “Ada apa, Lin?” tanyaku polos.

    “Ohh..”, Lidya mengeluhh panjang sembari menggelimpangkan badannya ke samping. Bahkan dia langsung turun dari pembaringan, dan menyambar pakaiannya yg berserakan di lantai. Sembari memandangiku yg masih terbaring dalam keaadaan polos, Lidya mengenakan lagi pakaiannya. Waktu itu aku melihat ada kekecewaan tersirat di dalam sorot matanya. Namun aku tak tahu apa yg membuatnya kecewa.

    “Ada apa, Lin?”, tanyaku tak mengerti perubahan sikapnya yg begitu tiba-tiba.
    “Tak.., tak ada apa-apa, sahut Lidya sembari merapihkan pakaiannya.

    Aku bangkit dan duduk di sisi pembaringan. Memandangi Lidya yg sudah rapi berpakaian. Aku memang tak mengerti dgn kekecewannya. Lidya memang pantas kecewa, karena alat kejantananku mendadak saja layu. Padahal tadi Lidya sudah hampir membawaku mendaki ke puncak kenikmatan.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Ngentot Mila Nungging

    Cerita Sex Ngentot Mila Nungging


    1135 views

    Perawanku – Cerita Sex Ngentot Mila Nungging, Aku adalah seorang dosen pasca sarjana yang mengajar dan memberi seminar di mana-mana, Aku tinggal di Bogor dan hidup cukup bahagia dengan keluargaku. Suatu ketika, sedang iseng-iseng bermain dengan internet, aku temukan dia, perempuan ini bernama Mila, (aku harap ini nama sebenarnya). Mempunyai keinginan birahi yang nyaris serupa denganku yaitu bermain dengan tali.

    Dalam chat dan e-mail aku berhasil mengetahui bahwa dia bekerja di suatu hotel di Yogya sebagai Sales Manager. Hemm, kebetulan 2 minggu lagi aku mesti memberikan seminar 2 hari di universitas Undip Semarang. Tak sabar menunggu hari itu, masih asyik aku mengorek informasi melalui e-mail. Kami bahkan bertukar photo (tentu saja aku tidak mengirim photo yang sebenarnya), Mila bahkan sempat mengirim photonya ketika dia diikat oleh GMnya.
    Oh ya, menurut pengakuannya umurnya 34 tahun, Mila sudah 3 tahun menikah dengan seorang penerbang yang bekerja di maskapai multinasional yang bermarkas di Hong Kong. Pertemuan dengan suaminya nyaris hanya 2 minggu sekali.
    Mila mempunyai hubungan khusus dengan laki-laki yang sudah lama ia kenal dan mengaku selama itulah dia mengagumi Mila, kira-kira sejak pertemuan mereka yang mana Mila menjadi anak buahnya 7 tahun yang lalu di Bali. Laki-laki itu sekarang merekrut Mila sebagai Sales Managernya. Laki-laki itu (GMnya), menikah dengan manager personalia sebuah bank di Semarang, tidak tinggal bersama karena karir. Sehingga saat dia tidak pulang ke Semarang, Milalah yang mengisi kekosongannya itu.
    “Yogya, Yogya, ayo mas, yang ini sudah mau berangkat mas,!”
    Suara kenek itu membuyarkan lamunanku, baru tuntas seminar dan agak lelah aku bersiap-siap ke Yogya; biasanya langsung naik bis Nusantara atau Ramayana ke Yogya dan berhenti di Ringroad ke rumah keluarga, ortu dan adikku tinggal. Tapi saat ini aku sudah punya niat lain, aku akan menculik si Mila yang ngegemesin dan selalu mengganggu pikiranku, sudah sebulan lebih ini aku selalu main internet khusus untuk bisa baca tulisannya atau lihat foto hornynya.
    Jadi bis berhenti di Ringroad juga tetapi aku langsung ke jalan Solo, ke hotel berbintang lima itu, memang diam-diam aku membawa foto ke paranormal dan beliau katakan nama hotelnya.
    Hotel tempatnya bekerja berdiri tepat bersebelahan dengan hotelku. Setelah aku check in di hotelku, aku datang ke hotelnya. Hari sudah sore aku tahu persis bahwa Mila itu pasti sudah pulang, jadi rencana akan dijalankan besok. Dari hotel aku naik taksi ke Alfa dan membeli beberapa gulungan tali pramuka yang berwarna putih. Juga sebungkus lilin murahan. Tentunya juga gunting yang cukup tajam, mau beli jepitan baju dari kayu nggak ada, jadi beli yang dari plastik aja tapi ada lubangnya sehingga bisa dimasukin tali.
    Esok harinya after breakfast aku mendatangi hotelnya, yang hanya 25 meter dari hotelku. Aku tanya sama Mbak yang di resepsionis dan katanya Mila kantornya itu tuh yang dekat GM nya katanya dengan sinis (mungkin dia nggak pernah diperhatikan sang GM).
    Dengan berpakaian necis lengkap dengan dasi dengan confident aku datangi kamar kerjanya Mila. “Wah orangnya tepat seperti yang di photo yang dikirimnya rambutnya panjang terurai di bahunya, kulitnya putih wajah paduan cina jawa, tinggi badannya 170cm beratnya mungkin 58 kg, padat bodynya..hmm!”
    Mila berdiri dan kami bersalaman; hatiku sangat bersyukur. Segera aku menguasai diri dan memperkenalkan diri bahwa aku adalah Steering Comitte dari suatu seminar internasional mengenai Lingkungan Hidup dan berminat menyewa 50 kamar dan ruang sidang untuk seminggu penuh. Mila menjelaskan harganya dan menanyakan kapan acaranya akan dimulai. Singkatnya urusan detil seminarku sudah beres (padahal seminar itu rekayasaku belaka). Mila menjelaskan panjang lebar tentang paket seminar dengan segala fasilitasnya sambil sesekali melemparkan senyum manisnya,. aku semakin kagum, lalu..
    “Bagaimana kalau proposalnya bisa Dik Mila antarkan ke hotel Ane?” umpanku sambil menyebut hotel tempatku tinggal.
    “Mengapa Bapak tidak tinggal di sini?” tanya Mila.
    “Lho maunya memang begitu, tapi kata resepsionis tadi kamar sudah penuh” balasku.
    “Betul Pak, mungkin besok Bapak bisa menginap disini dan bersedia mencoba pelayanan kami di sini?”
    “Boleh saja,.!” jawabku sambil mengharapkan ‘pelayanan’ yang lain.
    “Ane bookingkan ya Pak,!” aku mengangguk sambil menyembunyikan kekagumanku akan ketertarikanku padanya.
    Mila tidak cantik, dia menarik dan menawan. Lalu Mila berjanji akan mengantarkan proposalnya besok jam 10.30 pagi.
    Keesokannya telpon di kamar suiteku berbunyi, oh rupanya Mila sudah datang.
    “Mila mau langsung ke atas? Ini kamar suitenya bagus lho, ada istri Ane juga, biar Ane kenalkan sekalian!”
    “Oh ya, kebetulan Ane belum pernah lihat kamar suite di hotel ini, sebentar aja ya Pak” sahut dari seberang telpon.Sampai di suite roomku, aku silakan Mila duduk. Mila terlihat sangat manis dengan senyumnya yang mempesona. Hari ini Mila mengenakan blus berwarna biru terang mengkilap berlengan panjang dengan model kerah shanghai dengan kancing putih yang berbaris rapih dari leher hingga nyaris ujung bajunya, memakai rok hitam serta menggenggam HP Nokia 3650 warna Biru Kuning, di pergelangan tangan kirinya ada arloji berbentuk gelang. Di tangan kanannya ada karet pengikat rambut berwarna hitam, dan kutawarkan minuman, dia memilih apple juice kesukaannya. Kutuangkan dalam gelas yang sudah kucampur obat tidur yang kubeli kemarin dari toko obat Eng Tay Ho di Malioboro.
    “Ibu di mana Pak,” tanya Mila seraya meminum juicenya
    “Oh, ada di kamar mandi..”
    “Buu,.. buu..!” teriakku seolah-olah ada dia di sana.
    Mila meneguk kembali minumannya sampai hampir habis dan betul juga kata si engkoh, Mila langsung tertidur di sofa ruang tamu.
    Setelah pintu kukunci, aku langsung beraksi, pertama kubuka bajunya yang selalu nampak ketat, mulai kancing bawah hingga ke atas lalu BH Triump nya yang no 36, rok hitam yang 10 cm di atas lutut, dan terakhir CD merk Sloggy yang nampak bersih. Selanjutnya aku mulai menerapkan cara ikatan yang kuintip dari internet.
    Cerita Sex Ngentot Mila Nungging

    Cerita Sex Ngentot Mila Nungging

     

    Katanya yang paling canggih itu yang dari Jepang namanya Karada. Teorinya dari badan dulu, tapi aku takut dia terbangun, jadi biaraman tangannya dulu.
    Tangan kiri kuikat erat pergelangannya, juga tangan kanan. Lalu kedua tangannya dibawa ke punggung dan satu sama lain diikat dengan jenis yang mengunci (seperti laso, makin bergerak makin erat) dan dihubungkan dengan tali lagi ke leher ah jangan kasihan nanti bisa tercekik. Walaupun nggak ada di teori tali yang mustinya ke leher kuteruskan dari leher ke depan melewati susu dan di bawah buah dada di lingkarkan dan diikat erat sampai dadanya membusung seperti gunung merapi mau meletus.
    Agar kakinya nggak menendang walaupun masih pakai sepatu Edward Forrer dari Bandung dengan hak 7 cm dan ada talinya melingkar manis di pergelangan kaki itu juga diikat erat pakai tali lain. Sepatu ini yang dinamakan dia sepatu sexy.. dalam beberapa e-mailnya. Trus ikut teori aja, tali yang di buah dada diteruskan kebawah lewat vagina dan keatas lagi di belakang dan diikatkan ke tangannya yang dipunggung. Memastikan Mila sudah terikat erat, aku langsung menggendongnya,
    “Oops, lumayan juga beratnya..!” lalu meletakkannya di tempat tidur dalam posisi miring, karena tangannya terikat ke belakang. Aku tutup dan mengunci pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan kamar tidurku. Aku cape juga mengerjakannya dan menggendongnya, sampai tertidur di sebelah Mila.
    Aku terbangun oleh suara makian wanita.
    “Shit, ugh! Apaan ini!?”
    Mila dengan wajah ketakutan melihat tubuhnya yang berbusana tali. Yes my dream comes true! Pikirku. aku berhasil mengikat Mila, dan ia terbangun sambil memaki-maki,
    “Pak, sadar Pak.. Ibu ada di kamar mandi.. berani-beraninya berbuat begini pada Ane” teriak Mila sambil meronta-ronta berusaha membuka ikatannya.
    “Lepaskan aku, let me go! To..”
    Takut terdengar kamar sebelah sebelum Mila berhasil berteriak minta tolong, dengan gerak cepat kuambil lakban perak di meja tempat tidurku,
    “..srett” dan kusumbatkan ke mulutnya, “mmhh!! mmhh!!”.
    Mila mulai mengeliat mencoba membebaskan dirinya, akan tetapi semakin tangannya bergerak maka semakin kencang juga ikatan yang ada di buah dadanya yang gede itu. Matanya melotot marah, ia terlihat kesakitan tapi mungkin ia menikmati juga.
    “Oh Mila Aneng, istriku memang ada di kamar mandi, tapi di rumahnya di Bogor,” jerit tawaku yang kubuat seram.
    “Permainan baru akan dimulai Mila” kataku dengan tegas.
    “Uugh, mmh, awwh!!” Mila hanya bisa mengeluh tanpa suara.
    Matanya mulai berkaca-kaca dan kelihatan putus asa. Aku mulai bekerja jepitan baju kupasang di kedua putingnya dan dihubungkan dengan tali kecil yang nyambung ke tangan yang dipunggung. Mila meronta-ronta menggerakkan tangannya mencoba untuk melepaskan ikatannya, tapi hasilnya adalah ikatan di buah dadanya semakin menyakitkan, juga putingnya menjadi tertarik oleh jepitan baju dan menambah rasa sakit.
    Masih belum puas aku meneteskan lilin panas pada jarak 40 cm dari buah dadanya, ternyata ia tidak terlalu kesakitan maka kudekatkan jadi jarak 20 cm ia menggeliat, meronta mmh,.! ugh,.! semakin terikat dan makin sakit dan ia telah melewati entah orgasme yang keberapa kalinya melalui tali yang melilit melalui vagina dan anusnya.
    Akhirnya Mila nampak memelas sekali seperti minta diampuni, mungkin karena sudah terlalu lelah meronta-ronta dan orgasme.
    “Kamu akan Ane lepaskan kalau mau ngemut punyaku dan minum sampai bersih, ok?”
    Matanya mengedip lemah. Tapi aku belum puas, aku berubah pikiran, apalagi buah zakarku yang sangat bersemangat sudah menunjuk-nunjuk ke Mila! Aku membuka ritsluiting celana kemudian melepaskan ikatan di kakinya yang rapat itu lalu pergelangan kakinya yang masih terikat dengan sepatu yang sexy itu kusambungkan ke kaki tempat tidur sehingga Mila terlentang dalam posisi tangan terikat ke belakang sementara kakinya terikat terlentang.
    Penisku 16cm itu masuk dengan paksa ke vaginanya yang ternyata sudah bercairan. Masuk, keluar, masuk, keluar, berkali-kali hingga spermaku muncrat. Aku terbaring lunglai, di atas tubuh Mila yang berbusana tali itu, setelah mencapai puncaknya,
    “Good Girl” kataku sambil memegang kepalanya seperti aku menyayang-nyayang anjing keAnenganku si Bonci.
    Mila pingsan tak sadarkan diri.
    Segera aku membersihkan tubuhnya sekedarnya dengan handuk yang kubasahi, memakaikan pakaiannya lengkap dengan blus biru kerah shanghainya, mengancingi blusnya berurutan rapi. Memakaikan CD setelah spermaku kubersihkan. Aku ganti ikatannya dengan lakban perak, meliliti tubuhnya yang berbusana, membelenggu kembali tangannya kebelakang, kakinya aku satukan lagi dengan lakban yang sama, kaki yang bersepatu yang sexy (itu sebutannya di e-mail) itu aku kulum dengan gemas. Memastikan tangan kakinya sudah terikat, serta mulutnya sudah tersumbat, aku utak atik HPnya mencari tahu nomor HPnya lalu serta merta mematikannya, kulihat banyak miss call dan SMS, beberapa dari GMnya
    “Mami, sudah jam 5 sore kok belum kembali. Sales Call, posisi?” ada 4 SMS yang bernada serupa. Kumatikan HPnya supaya dia jangan sampai bisa SMS untuk minta tolong, juga aku cabut kabel telpon di kamarku.
    Mila mulai siuman, kemudian kuperlihatkan handycam yang tadi telah di pasang pada tempat tersembunyi. Aku mengancam jika bilang siapa-siapa, rekaman ini akan aku upload ke bondage.com, bondagegirl.com, 17tahun.com atau situs-situs lainnya, bahkan bisa kuperbanyak dan kujual kuedarkan. Matanya kutatap, berkaca-kaca, Mila meronta-ronta kali ini apa daya lakban perak sudah mengikat erat dan merekat di tubuhnya, Mila menangis tersedu-sedu, putus asa dan pasrah. Semalaman penuh Mila kugarap sedemikian rupa, karena aku akan check out besok pagi, jadi malamnya aku perkosa hingga dia pingsan lagi.
    Keesokan harinya, waktu menunjukkan pukul 6.00 pagi. Aku tinggalkan dia di kamarku dengan tubuhnya yang berbusana namun tetap terikat lilitan lakban perak, kubiarkan tanda Do Not Disturb menggantung di pintu kamarku. Aku langsung kembali ke Bandung dengan KA Argowilis. Di KA sambil menikmati hasil rekaman video pada laptopku, aku menyiapkan cerita ini dan kukirimkan kepadanya lewat e-mail sehingga dia tahu siapa sebenarnya yang ‘telah memperkosanya’. Entah bagaimana dia bisa melepaskan ikatannya, menjadi misteri sendiri.
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Memuaskan tante kesepian

    Cerita Sex Memuaskan tante kesepian


    1043 views

    Perawanku – Cerita Sex Memuaskan tante kesepian, Tante Cantik ini berusia 35 tahun bernama Yeni, memiliki paras wajah yang sangat cantik dipadu dengan body yang aduhai seksinya, ditambah payudaranya mulus berukuran 36A. Siapa yang tak tergoda dengan tante Yuli ini, seorang wanita pengusaha yang sangat kaya raya rambut lurus seta tante ini sangat kaya raya yang sudah dikaruniai 2 orang anak

    Awal Cerita Tante – setelah aku menyelesaikan program mini marketnya, aku mengantarkannya ke rumahnya yang hanya berjarak sepuluh menit dari rumahku. Tante Yeni tidak ada dirumah. Aku menunggunya sampai dia datang sambil ngobrol ditemani pembantunya.

    Setelah hampir satu jam aku di sana, Tante Yeni pulang. Kulihat dia agak heran melihatku bermain-main dengan Cynthia dan mengobrol santai dengan Mbak Ning.

    “Kau bawa programnya ya? Ada petunjuk pemakaiannya kan?”

    “Ada dong. Tapi untuk mempercepat, sebaiknya aku menerangkan langsung pada karyawanmu, Cie.” Aku sengaja memanggil Tante Yeni dengan panggilan “Cie” karena dia masih terlihat sebagai wanita Chinese. Lagipula, panggilan “Cie” akan membuatnya merasa lebih muda.

    Sejak hari itu, aku semakin akrab dengan keluarga Tante Yeni. Apalagi kemudian Tante Yeni memintaku untuk memberikan kursus privat komputer pada Edy dan Johan, dua anaknya yang masing-masing kelas duduk di kelas 1 SMP dan kelas 6 SD. Sedangkan untuk Cynthia, aku memberikan privat piano klasik. Karena rumahnya dekat, aku mau saja. Lagi pula Tante Yeni setuju membayarku tinggi.

    Aku dan Tante Yeni sering ber-SMS ria, terutama kalau ada tebakan dan SMS lucu. Dimulai dari ketidaksengajaan, suatu kali aku bermaksud mengirim SMS ke Ria yang isinya, “Hai say.. Lg ngapain? I miz u. Pengen deh sayang-sayangan ama u lagi.. Aku pengen kita bercinta lagi..”

    Karena waktu itu aku juga baru saja ber-SMS dengan Tante Yeni, refleks tanganku mengirimkan SMS itu ke Tante Yeni! Aku sama sekali belum sadar telah salah kirim sampai kemudian report di HP-ku datang: Delivered to Ms. Yeni! Astaga! Aku langsung memikirkan alasan jika Tante Yeni menanyakan SMS itu. Benar! Tak lama kemudian Tante Yeni membalas SMS salah sasaran itu.

    “Wah.. Ini SMS ke siapa ya kok romantis begini..” Wah, untung aku dan Tante Yeni sudah akrab. Jadi walaupun nakalku ketahuan, tidak masalah.

    “Maaf, Cie. Aku salah kirim. Pas lagi horny nih. :p Maaf ya Cie..” balasku. Aku sengaja berterus terang tentang ‘horny’ku karena ingin tahu reaksi Tante Yeni.

    “Wah.. Kamu ternyata sudah berani begituan ya! SMS itu buat pacarmu ya?”

    “Bukan Cie. Itu TTH-ku. Teman Tapi Hot.. Hahaha.. Tidak ada ikatan kok, Cie..”

    Beberapa menit kemudian, Tante Yeni tidak membalas SMS-ku. Mungkin sedang sibuk. Oh, tidak, ternyata Tante Yeni meneleponku.

    “Lagi dimana Boy?” Tanya Tante Yeni. Suaranya lebih akrab daripada biasanya.

    “Di kamar sendirian, Cie. Maaf ya tadi SMS-ku salah kirim. Jadi ketahuan deh aku lagi pengen..” jawabku. Kudengar Tante Yeni tertawa lepas. Baru kali ini aku mendengarnya tertawa sebebas ini.

    “Aku tadi kaget sekali. Kupikir si Boy ini anaknya alim, dan tidak mengerti begitu-begituan. Ternyata.. Hot sekali!”

    “Hm.. Tapi memang aku alim lho, Cie..” kataku bercanda.

    “Wee.. Alim tapi ngajak bercinta.. Siapa tuh cewek?”

    “Ya teman lama, Cie. Partner sex-ku yang pertama.” Aku bicara blak-blakan. Bagiku sudah kepalang tanggung. Aku rasa Tante Yeni bisa mengerti aku.

    “Wah.. Kok dia mau ya tanpa ikatan denganmu?” tanyanya heran. Aku yang dulu juga sering heran. Tetapi memang pada kenyataannya, sex tanpa ikatan sudah bukan hal baru di jaman ini.

    “Kami bersahabat baik, Cie. Sex hanya sebagian kecil dari hubungan kami.” Jawabku apa adanya.

    Aku tidak mengada-ada. Dalam beberapa bulan kami berteman, aku baru satu kali bercinta dengan Ria. Jauh lebih banyak kami saling bercerita, menasehati dan mendukung.

    “Wah.. Baru tahu aku ada yang seperti itu di dunia ini. Kalau kalian memang cocok, kenapa tidak pacaran saja?”

    “Kami belum ingin terikat. Terkadang pacaran malah membuat batasan-batasan tertentu. Ada aturan, ada tuntutan, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Dan kami belum menginginkan itu.”

    “Lalu, apa partnermu cuma si Ria dan partner Ria cuma kamu?” selidik Tante Yeni.

    “Kalau tentang Ria aku tidak tahu. Tapi tidak masalah bagiku dia bercinta dengan pria lain. Aku pun begitu. Tapi tentu saja kami sama-sama bertanggung jawab untuk berhati-hati. Kami sangat selektif dalam bercinta. Takut penyakit, Cie.”

    “Oh.. Safe Sex ya? “

    “Yup! Oh ya dari tadi aku seperti obyek wawancara. Tante sendiri bagaimana dengan Om? Kapan terakhir berhubungan sex?” tanyaku melangkah lebih jauh. Kudengar Tante Yeni menarik nafas panjang. Wah.. Ada apa-apa nih, pikirku.

    “Udah kira-kira 2 bulan yang lalu, Boy.” Jawabnya.

    Lama sekali. Pasti ada yang tidak wajar. Aku jadi ingin tahu lebih banyak lagi.

    “Ko Fery Impotent ya Cie?”

    “Oh tidak.. Entah kenapa, dia sepertinya tidak bergairah lagi padaku. Padahal dia dulu sangat menyukai sex. Minimal satu minggu satu kali kami berhubungan.”

    “Lho, Cie Yeni berhak minta dong. Itu kan nafkah batin. Setiap orang membutuhkannya. Sudah pernah berterus terang, Cie?” tanyaku.

    “Aku sih pernah memberinya tanda bahwa aku sedang ingin bercinta. Tetapi dia kelihatannya sedang tidak mood. Aku tidak mau memaksa siapa pun untuk bercinta denganku.”

    “Oh.. Kalau Boy sih tidak perlu dipaksa, juga mau dengan Cie Yeni..” godaku asal saja. Toh kami sudah akrab dan ini memang waktu yang tepat untuk mengarah ke sana.

    “Boy, kamu itu cakep. Masa mau dengan orang seumuran aku? Suamiku saja tidak lagi tertarik denganku..”

    “Cie Yeni serius? Aku tidak menyangka lho Cie Yeni bisa bicara seperti ini. Cie Yeni masih muda. 35 tahun. Seksi dan modis. Kok bisa-bisanya rendah diri ya? Padahal Cie Yeni terlihat sangat mandiri di mataku..” aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Bagaimana bisa, sebuah SMS salah sasaran, dalam waktu singkat bisa berubah menjadi obrolan sex yang sangat terang-terangan seperti ini.

    “Kamu lagi nganggur kan? Datang ke rumahku sekarang ya? Suamiku tidak ada di rumah kok. Dia masih di kantor.”

    Telepon ditutup. Darahku berdesir. Benarkah ini? Seperti mimpi. Sangat cepat. Bahkan aku tidak pernah bermimpi sebelumnya untuk mendapatkan Tante Yeni. Selama ini aku sangat menghormatinya sebagai clientku. Sebagai orang tua dari murid privatku.

    Bergegas aku mengambil kunci mobil dan pergi ke rumah Tante Yeni. Di sepanjang jalan aku masih tak habis pikir. Apakah benar nanti aku akan bercinta dengan Tante Yeni? Rasanya mustahil. Ada Cynthia dan Mbak Ning di rumahnya. Belum lagi kalau ternyata Edy dan Johan juga sudah pulang dijemput sopirnya.

    Sampai di rumah Tante Yeni, ternyata rumahnya sedang sepi. Cynthia sedang tidur dan hanya Mbak Ning yang sedang santai menonton televisi.

    “Di tunggu Ibu di ruang computer, Kak.” Kata Mbak Ning. Dia memanggilku ‘kakak’ karena usiaku masih lebih tua darinya.

    “Oh iya.. Terima kasih, Ning. Ada urusan sedikit dengan programnya nih.” Kataku memberikan alasan kalau-kalau Mbak Ning bertanya-tanya ada apa aku datang.

    Aku masuk ke ruang computer yang di dalamnya juga ada piano dan lemari berisi buku-buku koleksi Tante Yeni.

    “Tutup saja pintunya, Boy.” Kata Tante Yeni.

    Tiba-tiba jantungku berdebar sangat keras. Entah mengapa, berbeda dengan menghadapi Lucy, Ria dan Ita, aku merasa aneh berdiri di depan seorang wanita mungil yang usianya di atasku. Setelah aku menutup pintu, belum sempat aku duduk, Tante Yeni sudah melangkah menghampiriku.

    Dia memelukku. Tingginya cuma sebahuku. Harum tubuhnya segera membuatku berdesir. Pelukannya sangat lembut. Kepalanya disandarkan ke dadaku.

    Aku tak tahu harus berbuat apa. Ini adalah pengalaman pertamaku dengan wanita yang usianya di atasku. Aku takut salah. Apa aku harus berdiam diri saja? Memeluknya? Menciumnya? Atau langsung saja mengajaknya bercinta? Pikiranku saling memberi ide.

    Banyak ide bermunculan di otakku. Beberapa saat lamanya aku bingung. Pusing tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku memilih tenang. Aku ingin tahu apa yang Tante Yeni inginkan. Aku akan mengikutinya. Kali ini aku main safe saja. No risk taking this time.

    “Cie Yeni adalah masalah?” bisikku. Kurasakan pelukan Tante Yeni semakin erat. Dia tidak menjawab. Aku juga diam. Benar-benar situasi baru. Pengalaman baru. Kurasakan penisku tidak bergerak. Rupanya pelukan Tante Yeni tidak membangkitkan gairahku.

    “Aku cuma ingin memelukmu. Sudah lama aku tidak merasa senyaman ini di pelukan seorang laki-laki. Kamu tidak keberatan kan aku memelukmu?” akhirnya Tante Yeni berbicara.

    “Tentu saja aku tidak keberatan, Cie. Peluk saja sepuas Cie Yeni. Apapun yang Cie Yeni inginkan dariku, kalau aku mampu, aku akan melakukannya.” Kurasakan tangannya mencubitku.

    “Sok romantis kamu, Boy. Aku bukan gadis remaja yang bisa melayang mendengar kata-kata rayuanmu.. Wuih, apapun yang kau inginkan dariku.. Aku akan melakukannya.. Hahaha.. Gak usah pakai begituan. Aku sudah sangat senang kalau kamu mau kupeluk begini..”

    Benar juga kata Cie Yeni. Hari itu aku belajar menghadapi wanita dewasa. Belajar apa yang mereka butuhkan. Bagi Tante Yeni, kata-kata manis tidak diperlukan. Tapi tentu saja, aku tidak seratus persen percaya. Bagiku, tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menolak pujian dengan tulus.

    Perasaan wanita sangat peka. Wanita punya sense untuk mencerna setiap kata-kata pria. Apakah rayuan, apakah pujian yang tulus, atau hanya bunga bahasa untuk tujuan tertentu. Dan aku memilih untuk memujinya dengan setulus hatiku.

    “Cie Yeni, aku beruntung bisa dipeluk wanita sepertimu. Siapa sangka SMS salah kirim bisa berhadiah pelukan?” candaku. Memang benar aku merasa beruntung. Ini bukan bunga bahasa, bukan rayuan. Dan aku yakin perasaan Cie Yeni akan menangkap ketulusanku.

    “Yah.. Aku simpati denganmu yang bisa bergaul akrab dengan anak-anakku. Kamu juga tidak merendahkan si Ning. Kulihat memang pantas kau mendapatkan pelukanku, Boy..” bisik tante Yeni lagi. Kali ini wajahnya mendongak menatapku. Ada senyum tipis menghias bibirnya. Ugh.. Aku jadi ingin menciumnya.

    Di satu sisi aku tahu bahwa aku salah. Tante Yeni sudah berkeluarga dan keluarganya harmonis. Tapi di sisi lainnya, sebagai cowok normal aku menikmati pelukan itu. Bahkan aku ingin lebih dari sekedar pelukan. Aku ingin menciumnya, melepaskan pakaiannya, dan memberinya sejuta kenikmatan. Apalagi Tante Yeni sudah 2 bulan lebih tidak mendapatkan nafkah batin.

    Pasti dia sangat haus sekarang. Aku mulai memperhitungkan situasi. Kami dalam ruang tertutup yang walaupun tidak terkunci, cukup aman untuk beberapa saat. Mbak Ning tidak mungkin masuk tanpa permisi. Satu-satunya kemungkinan gangguan adalah Cynthia.

    Perlahan aku memberanikan diri menyentuh wajah Tante Yeni. Dengan dua buah jariku, aku membelai wajahnya lembut. Mataku menatapnya penuh arti. Kulihat Tante Yeni gelisah, tetapi ia menikmati sentuhanku di wajahnya.

    Aku menggerakkan wajahku menunduk mencari bibirnya. Sekejap kami berciuman. Bibirnya sangat penuh. Sangat hangat. Baru beberapa detik, ciuman kami terlepas. Tante Yeni menyandarkan kepalanya ke dadaku.

    “Aku salah, Boy. Aku mulai menyayangimu..” bisiknya nyaris tak kudengar.

    Aku yang sudah merasakan ciumannya mendadak ingin lebih lagi. Dasar cowok!, rutukku dalam hati. Apalagi aku sedang horny. Aku mencoba mengangkat wajahnya lagi. Ada sedikit penolakan, tapi wajahnya menatapku kembali. Aku tak berani menciumnya. Dan Tante Yeni menciumku, menghisap bibirku, memasukkan lidahnya, menggigit kecil bibirku. Dan akhirnya kami bercumbu dengan hasrat membara.

    Kami sama-sama kehausan.. Agh.. Aku tak peduli lagi. Wanita yang kuhormati ini sedang kupeluk dan kucumbu. Dia membutuhkanku dan aku juga membutuhkannya. Yang lain dipikirkan nanti saja. Nikmati saja dulu, pikirku cepat.

    Aku segera menggendongnya dan membantunya duduk di atas meja. Dengan begini aku akan lebih leluasa mencumbunya. Bibir kami saling melumat. Bergerak lincah saling berlomba memberi kenikmatan tiada tara.

    Tanganku mulai bergerak ke arah payudaranya. Aku meraba payudaranya dari luar. Memberi remasan ringan dan gerakan memutar yang membuat Tante Yeni menggelinjang. Perlahan aku menyusupkan tanganku ke balik pakaiannya. Kurasakan tanganku tertahan. Tante Yeni menolak. Rupanya dia hanya ingin bercumbu denganku.

    Dasar cowok, aku mana tahan? Sudah kepalang tanggung. Aku nekat tetap memasukkan tanganku dan dengan cepat aku berhasil melepas kait bra-nya. Payudaranya terasa utuh di tanganku, masih sangat kencang, masih sangat peka dengan rangsangan. Buktinya Tante Yeni bergetar hebat saat aku meremas payudaranya.

    “Gila kamu, Boy. Aku tidak memerlukan ini semua.. Cukup peluk aku!” tegur Tante Yeni.

    Aku tahu pikirannya memang menolak, tapi tubuhnya tidak. Aku tetap merangsang payudaranya. Gerakan menolak tante Yeni melemah. Dan akhirnya hanya desahan nafasnya yang memburu yang menandakan birahinya telah bangkit.

    Dengan mulutku aku membuka kancing-kancing kemejanya. Cukup sulit, karena ini baru pertama kali kulakukan. Tapi berhasil juga. Tante Yeni tertawa melihat ulahku.

    Kini aku bebas mencumbu payudaranya. Kujilat dan kuhisap puting susunya. Tante Yeni melenguh panjang. Kedua tangannya mencengkeram kepalaku. Wajahnya mencium rambutku. Sesekali dia menggigit telingaku, sementara kepalaku, lidahku, bergerak bebas merangsang payudaranya. Ugh, begitu enak dan nikmat. Payudaranya tidak terlalu besar namun seksi sekali. Warnanya coklat kekuningan dengan puting yang cukup besar.

    Aku bermain cukup lama di putingnya. Menggigit ringan, menyapukan lidahku, menghisapnya lembut sampai agak keras. Kadangkala hidungku juga kumainkan di putingnya. Nafas Tante Yeni semakin memburu. Tentu saja untuk masalah nafas, aku lebih kuat darinya karena aku rajin berolahraga menjaga stamina.

    Tak lama tanganku menyusup ke balik roknya untuk mencari vaginanya dan membelainya dari luar. Kurasakan celana dalamnya telah basah. Tante Yeni merapatkan kakinya. Itu adalah penolakan yang kedua. Kepalanya menggeleng ketika kutatap matanya. Aku terus menatap matanya dan kembali mencumbunya.

    Aku tidak akan memaksanya. Tetapi aku punya cara lain. Aku akan membuatnya semakin terangsang dan semakin menginginkan persetubuhan. Perlahan cumbuanku turun ke lehernya.

    “Ergh,” kudengar lenguhannya. Wah, lehernya sensitif nih, pikirku. Dengan intensif aku mencumbunya di leher. Bergerak ke tengkuk hingga membuatnya semakin erat memelukku dan mencumbu telinganya.

    “Boy..” rintihnya. Telinganya juga sensitif.

    Aku bersorak. Semakin banyak titik tubuhnya yang sensitif, semakin bagus. Lalu tanganku meraba punggungnya. Membuat gerakan berputar-putar dan seolah menuliskan sesuatu di punggungnya. Tante Yeni semakin bergairah.

    “Ka.. mu.. Na.. kal. Kamu pin.. Pintar sekali membuatku.. Bergairah..” jawabnya terputus-putus. Nafasnya semakin memburu.

    “Cie Yeni cantik sekali. Aku sangat menginginkanmu, Cie.. Aku ingin membuatmu merasakan kenikmatan tertinggi bersamaku..” bisikku sambil terus mencium telinganya.

    “Aku juga menginginkanmu Boy.. Tapi aku takut..” jawab tante Yeni.

    Ya, aku harus membuatnya merasa aman. Dengan gerakan cepat aku melepaskan pelukanku, mengganjal pintu dengan kursi dan kembali mencumbunya. Saat itu di pikiranku cuma satu. Mengunci pintu justru tidak baik.

    Mengganjal pintu jauh lebih baik. Kulihat Tante Yeni merespons ciumanku dengan lebih kuat. Tanganku kembali mencoba merangsang vaginanya. Kali ini kakinya agak terbuka. Aku berhasil memasukkan jariku dan menyentuh vaginanya.

    “Aahh..” Tante Yeni semakin terangsang. Kakinya terbuka semakin lebar. Kini aku sangat leluasa merangsang vaginanya. Jariku masuk menemukan klitoris dan membuatnya makin hebat dilanda badai birahi.

    Entahlah, aku sangat tenang dalam melakukannya. Semakin intensif aku merangsang titik-titik lemah tubuhnya, aku semakin tenang. Aku seperti maestro yang sangat ahli melakukan tugasnya. Wah, rupanya aku berbakat dalam menyenangkan wanita, pikirku sampai tersenyum sendiri.

    Tante Yeni semakin dilanda birahi. Tangannya kini tidak malu-malu melepas kancing celanaku dan mencari penisku. Setelah menemukannya di balik celana dalamku, dia meremas dan mengocoknya. Aku semakin terbakar.

    Kami sama-sama terbakar hebat. Perlahan aku melepas turun celana dalamnya. Tidak perlu dilepas. Aku menatap matanya meminta persetujuannya. Mata Tante Yeni nanar. Dia sangat kehausan dan sudah pasrah menerima apa pun perbuatanku.

    Perlahan penisku menembus liang vaginanya tanpa kondom. Aku merasakan kenikmatan yang dahsyat. Benar-benar jauh lebih nikmat dibandingkan dengan memakai kondom. Aku berani tanpa kondom karena aku yakin dengan kesehatan Tante Yeni.

    Aku mulai melakukan tugasku. Mendorong masuk, menarik keluar, memutar, memompa kembali dan kami bercinta dengan dahsyat. Suara penisku yang mengocok vaginanya terdengar khas. Aku mengerahkan segenap kekuatanku untuk menaklukkannya.

    Tetapi benar-benar tanpa kondom membuatku penisku lebih sensitif hingga belum begitu lama, aku sudah merasakan di ambang orgasme.

    Segera kuhentikan aksiku. Kucabut penisku dan aku menenangkan diri. Kami berciuman. Aku tak mau birahi Tante Yeni surut. Setelah agak tenang aku kembali memasukkan penisku. Kali ini aku tidak menggebu dalam memompa penisku.

    Aku memilih menikmatinya perlahan-lahan. Setiap sodokan aku lakukan dengan segenap hati hingga menghasilkan desahan dan rintihan nikmat Tante Yeni yang sudah dua bulan tidak merasakan nikmatnya bercinta.

    Gelombang badai birahi kembali melanda. Keringat kami bercucuran, lumayan untuk membakar lemak. Kami memang sedang berolahraga, olahraga paling nikmat sedunia. Making love. Bercinta sangat baik untuk tubuh. Tidak hanya tubuh, tetapi pikiran juga jadi fresh. Secara teoretis, ada semacam zat penenang yang dihasilkan tubuh saat kita bersenggama, dan zat itu membuat kita sangat nyaman.

    Aku heran juga dengan diriku yang ternyata cukup kuat bercinta tanpa kondom. Penisku terasa agak panas. Aku belajar menahan nafas dan sesekali saat kurasakan aku hendak mencapai puncak, aku menghentikan kocokanku. Cukup sulit memang menahan orgasme.

    Aku berusaha seperti menahan kencing. Dan usahaku berhasil. Setidaknya aku bisa bercinta cukup lama mengimbangi Tante Yeni yang perlahan tapi pasti semakin menuju puncak. Muka tante Yeni semakin kemerahan. Wajahnya yang mungil tampak sangat cantik ketika sedang dilanda birahi.

    “Cie Yeni cantik sekali.. Hebat juga ketika bercinta..” bisikku. Lidahku kembali mencumbui payudaranya yang semakin penuh dengan keringat.

    “Arg.., kamu juga.. Enak sekali, Boy..” ceracaunya.

    Tante Yeni bolak-balik memejamkan mata, membuka mata dan menggigit bibirnya. Nafasnya sangat tidak teratur. Ngos-ngosan dan rambutnya semakin acak-acakan terkena keringat. Wah, pemandangan yang seksi sekali saat seorang wanita bercinta.

    Sebenarnya aku ingin mengubah posisi lagi. Aku ingin lebih lama bercinta. Tetapi aku agak khawatir juga. Sudah cukup lama kami di dalam ruangan ini. Aku khawatir Mbak Ning nanti tiba-tiba mengintip atau mencuri dengar. Aku khawatir karena Mbak Ning cukup punya kecerdasan untuk berpikir yang tidak-tidak.

    Dari bahasa tubuh Tante Yeni, aku yakin orgasmenya sudah semakin dekat. Gerakan tubuhnya semakin cepat. Cengkeraman tangannya di punggungku kurasa telah melukai punggungku. Terkadang giginya bergemeretak menahan nikmat. Dia tampak sekali berusaha untuk tidak menjerit.

    “Agh.. Arrhhk.. Aku sudah ham.. pir..” rintihnya.

    Tanganku meraih bra Tante Yeni dan meletakkannya di mulutnya supaya dia bisa menggigit bra itu. Daripada menjerit, lebih baik menggigit bra sekuatnya. Penisku semakin gencar menghunjam vaginanya.

    Sodokanku semakin kuat dan temponya kupercepat. Aku belajar untuk sama-sama mencapai orgasme dengan Tante Yeni walaupun menurutku sangat sulit untuk bisa orgasme bersamaan. Setidaknya, aku berencana membiarkannya orgasme terlebih dulu, baru aku menyusul.

    “Arghh.. Ya.. Terus.. Yah.. Dikit lagi..” erang Tante Yeni agak tidak jelas karena sambil menggigit bra.

    Aku menjaga semangat dan menjaga penisku agar tetap kuat bertempur. Kurasakan penisku juga semakin panas. Aku juga sudah mendekati puncak. Aliran sperma dari bawah sudah merambat naik siap menyembur. Gerakan Tante Yeni semakin menyentak-nyentak. Untung meja di ruangan itu adalah meja kayu yang kosong. Kalau seandainya ada buku atau ballpoint pasti sudah berantakan terlempar.

    Beberapa saat kemudian aku merasakan tubuh Tante Yeni bergetar hebat. Menghentak-hentak dan tangannya mencengkeram sangat-sangat-sangat-kuat. Dia memelukku sangat erat. Dari mulutnya keluar semacam raungan yang tertahan.. Seandainya ini di kamar hotel, pasti dia sudah menjerit sepuasnya.

    “Aargghh.. Sstt..”

    Aku merasakan ada cairan hangat meleleh keluar. Tidak seberapa banyak tetapi membuat penisku semakin panas. Tante Yeni orgasme sementara aku juga sudah semakin dekat. Inilah saatnya. Aku mempercepat kocokanku. Cepat.. Dan aku mencabut penisku.

    Crot..!! Srr.. R.. Srr.. Srr.. Spermaku berhamburan muncrat di perut dan dada Tante Yeni. Ah.., nikmat sekali mencapai puncak. Perjuanganku tidak sia-sia. Aku yang selama ini rutin berlatih menahan kencing, melatih otot-otot perut dan penisku, sukses mengantarkan Tante Yeni menggapai orgasmenya. Dibandingkan ketika making love dengan Ria dan Ita, kali ini lebih mendebarkan dan menantang. I did it.

    Tante Yeni segera mencari tissue dan membersihkan ceceran spermaku. Kurang dari semenit kemudian dia sudah memakai bra dan kemejanya kembali. Celana dalam dan roknya tinggal merapikan saja. Aku pun tinggal merapikan celanaku.

    Beberapa saat kami berpandangan. Ada rona puas di wajah Tante Yeni. Dia tersenyum manis. Sekarang dia bukan lagi sekedar clientku. Bukan lagi sekedar orang tua muridku. Sekarang dia adalah partner sex-ku. Ada rasa aneh menjalar di tubuhku. Aku tiba-tiba merasa begitu menghormati wanita di hadapanku ini. Sinar matanya yang tegas, pembawaannya yang mandiri, dikombinasi dengan senyum dan kelembutannya, sungguh mempesona. Aku sangat bangga bisa memberinya kenikmatan.

    “Maaf Cie.. Sudah melangkah jauh sekali..” kataku.

    “Ya! Kamu tidak sopan sekali, tadi!” katanya bergurau tetapi dalam nada agak tegas.

    Kami pun tertawa bersama. Aku memeluknya. Mencium dahinya. Merapikan rambutnya yang agak basah terkena keringat. AC di ruangan itu sangat membantu tubuh kami cepat kering.

    “Habis Cie Yeni, sudah tahu aku lagi horny malah diundang kemari..” kataku membela diri.

    “Terus terang aku juga lagi pengen, Boy. Begitu tahu kamu ternyata sudah pengalaman, aku jadi tergoda denganmu. Tapi memang tadi aku sangat takut melangkah. Untung kamunya nekat.. Aku jadi terpuaskan, deh. Makacih ya..”

    Ya ampun.. Bisa-bisanya Tante Yeni bicara manja seperti ini. Aku sampai merasa bagaimana.. gitu. Aneh. Wanita memang makhluk paling aneh sedunia. Di balik penampilannya yang keras dan tegar, toh dia tetap wanita juga. Sisi lembutnya tetap ada.

    “Ya.. Aku juga senang sekali bisa memuaskan Cie Yeni. Aku juga belajar banyak lho. Sepertinya tadi Cie Yeni kurang suka dengan permainan tanganku di vagina ya?”

    “Bukan begitu. Aku tidak tahu apakah tanganmu bersih atau tidak. Tapi lama kelamaan karena enak, ya sudah.. diteruskan saja..”

    “Oh jangan kuatir.. Aku selalu sedia handy desinfectant kok. Biar tanganku bebas kuman.” Kataku menenangkannya. Aku tadi memang pakai handy desinfectant, tapi kan tetap saja aku pegang setir mobil. Haha.. Yang ini tidak aku ceritakan. (Kalau Cie Yeni baca cerita ini, maafin ya..)

    “Yah baguslah. Aku juga suka karena kamu selalu terlihat bersih dan harum..” tante Yeni mencium bibirku lagi. Kami kembali berpagutan. Lidahku kembali menerobos mulutnya. Menekan lidahnya, saling bergelut. Kami terus berciuman sambil berpelukan.

    Banyak pria melupakan kenyataan bahwa ada hubungan yang harus dibina setelah kita berhubungan sex. Setelah terjadi orgasme, wanita tetap membutuhkan sentuhan, pelukan dan ciuman. Wanita sangat berharga.

    Jangan sampai kita para pria, begitu mendapatkan orgasme, langsung selesai begitu saja. Harus Ada after orgasm service. Ini adalah salah satu kunci yang aku pegang untuk membuat wanita merasa nyaman bersamaku. Kami berpelukan dan dengan jelas aku mendengar suara Tante Yeni..

    “Aku menyayangimu, Boy. Terima kasih buat semuanya. Aku merasa dihargai dan dibutuhkan olehmu..” kata-kata ini tidak akan pernah aku lupakan. Kalau Cie Yeni membaca cerita ini, Cie Yeni pasti ingat bahwa kata-katanya sama persis dengan yang kutulis. (Kecuali namaku, yaa.. Hehe).

    Sebetulnya aku harus menanyakan arti sex bagi Tante Yeni. Tapi aku menundanya. Aku pikir aku bisa menanyakannya lain kali. Entah mengapa aku tidak bertanya.

    Lalu kami keluar dari ruangan itu. Aku tidak melihat Mbak Ning. Sengaja aku ke kamar mandi dan kemudian aku mengintip ke kamar Mbak Ning dari kaca nako kamarnya. Astaga, dia sedang berganti baju.

    “Hayo.. Ngintip! Dasar cowok!” hardik Mbak Ning. Aku terkejut tapi tertawa.

    “Maaf-maaf, kupikir dimana tadi kok tidak ada.. Aku pulang dulu ya..”

    “Ya.. Ya.. Buka sendiri pagarnya yaa”

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Bokep Ngentot Dengan Guruku Yang Hot – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Bokep Ngentot Dengan Guruku Yang Hot – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    2178 views

    Perawanku – Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet, tepatnya ketika aku masih duduk di bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih menginjak 17 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak.

    Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku diminta datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik rumahnya yang rusak.

    “Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani,” ujar anak SD tetangga Mbak Yani.

    Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu, kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan rumah tangganya. Yang jelas, semenjak dia mengajaku melukis pergi ke lereng gunung dan making love di semak-semak hutan, Mbak Yani makin sering mengajakku pergi. Dan sore ini dia memintaku datang ke rumahnya lagi.

    Tanpa banyak pikir aku langsung berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Maklum, rumahnya terbilang cukup jauh, sekitar 5km dari rumahku. Setibanya di rumah Mbak Yani, suasana sepi. Keluarganya tampaknya sedang pergi. Betul, ketika aku mengetuk pintu, hanya Mbak Yani yang tampak.

    “Ayo, cepet masuk. Semua keluargaku sedang pergi menghadiri acara hajatan saudara di luar kota,” sambut Mbak Yani sambil menggandeng tangganku.

    Darahku mendesir ketika membuntuti lamngkah Mbak Yani. Betapa tidak, pakaian yang dikenakan luar biasa sexy, hanya sejenis daster pendek hingga tonjolan payudara dan pahanya terasa menggoda.

    “Anu, Bud.. Listrik rumahku mati melulu. Mungkin ada ada kabel yang konslet. Tolong betulin, ya.. Kau tak keberatan kan,” pinta Mbak Yani kemudian.

    Tanpa banyak basa-basi Mbak Yani menggandengku masuk ke ruang tengah, kemudian masuk ke sebuah kamar.

    “Nah saya curiga jaringan di kamar ini yang rusak. Buruan kau teliti ya. Nanti keburu mahrib.”

    Aku hanya menuruti segala permintaannya. Setelah merunut jaringan kabel, akhirnya aku memutuskan untuk memanjat atap kamar melalui ranjang. Tapi aku tidak tahu persis, kamar itu tempat tidur siapa. Yang jelas, aku sangat yakin itu bukan kamarnya bapak-ibunya. Celakanya, ketika aku menelusuri kabel-kabel, aku belum menemukan kabel yang lecet. Semuanya beres. Kemudian aku pindah ke kamar sebelah.

    Aku juga tak bisa menemukan kabel yang lecet. Kemudian pindah ke kamar lain lagi, sampai akhirnya aku harus meneliti kamar tidur Mbak Yani sendiri, sebuah kamar yang dipenuhi dengan aneka lukisan sensual. Celakanya lagi, ketika hari telah gelap, aku belum bisa menemukan kabel yang rusak. Akibatnya, rumah Mbak Yani tetap gelap total. Dan aku hanya mengandalkan bantuan sebuah senter serta lilin kecil yang dinyalakan Mbak Yani.

    Lebih celaka lagi, tiba-tiba hujan deras mengguyur seantero kota. Tidak-bisa tidak, aku harus berhenti. Maunya aku ingin melanjutkan pekerjaan itu besok pagi.

    “Wah, maaf Mbak aku tak bisa menemukan kabel yang rusak. Ku pikir, kabel bagian puncak atap rumah yang kurang beres. Jadi besok aku harus bawa tangga khusus,” jelasku sambil melangkah keluar kamar.
    “Yah, tak apa-apa. Tapi sorry yah. Aku.. Merepotkanmu,” balas Mbak Yanti, “Itu es tehnya diminum dulu.”

    – Sementara menunggu hujan reda, kami berdua bercakap-cakap berdua di ruang tengah. Cukup banyak cerita-cerita masalah pribadi yang kami tukar, termasuk hubunganku dengan Mbak Yani selama ini. Mbak Yani juga tidak ketinggalan menanyakan soal puisi indah tulisannya yang dia kirimkan padaku lewat kado ulang tahunku beberapa bulan lalu.

    Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu nada percakapan kami berubah mesra dan menjurus ke arah yang menggairahkan jiwa. Bahkan, Mbak Yani tak segan-segan membelai wajahku, mengelus telingaku dan seterusnya. Tak sadar, tubuh kami berdua jadi berhimpitan hingga menimbulkan rangsangan yang cukup berarti untukku. Apalagi setelah dadaku menempel erat pada payudaranya yang berukuran tidak begitu besar namun bentuknya indah dan kencang. Dan tak ayal lagi, penisku pun mulai berdiri mengencang. Aku tak sadar, bahwa aku sudah terangsang oleh guru sekolahku sendiri! Namun hawa nafsu birahi yang mulai melandaku sepertinya mengalahkan akal sehatku. Mbak Yani sendiri juga tampaknya memiliki pikiran yang sama saja. Ia tidak henti-hentinya mengulumi bibirku dengan nafsunya.

    Akhirnya, nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Sementara bibirku dan Mbak Yani masih tetap saling memagut, tanganku mulai menggerayangi tubuh guru sekolahku itu. Kujamah gundukan daging kembar yang menghiasi dengan indahnya dada Mbak Yani yang masih berpakaian lengkap. Dengan segera kuremas-remas bagian tubuh yang sensitif tersebut.

    “Aaah.. Budi.. Aah..” Mbak Yani mulai melenguh kenikmatan. Bibirnya masih tetap melahap bibirku.

    Mengetahui Mbak Yani tidak menghalangiku, aku semakin berani. Remasan-remasan tanganku pada payudaranya semakin menjadi-jadi. Sungguh suatu kenikmatan yang baru pertama kali kualami meremas-remas benda kembar indah nan kenyal milik guru sekolahku itu. Melalui kain blus yang dikenakan Mbak Yani kuusap-usap ujung payudaranya yang begitu menggiurkan itu. Tubuh Mbak Yani mulai bergerak menggelinjang.

    “Uuuhh.. Mbak..” Aku mendesah saat merasakan ada jamahan yang mendarat di selangkanganku.

    Penisku pun bertambah menegang akibat sentuhan tangan Mbak Yani ini, membuatku bagian selangkangan celana panjangku tampak begitu menonjol. Mbak Yani juga merasakannya, membuatnya semakin bernafsu meremas-remas penisku itu dari balik celana panjangku. Nafsu birahi yang menggelora nampaknya semakin menenggelamkan kami berdua, sehingga membuat kami melupakan hubungan kami sebagai guru-murid.

    “Aaauuhh.. Bud.. Uuuh..” Mbak Yani mendesis-desis dengan Yanirnya karena remasan-remasan tanganku di payudaranya bukannya berhenti, malah semakin merajalela. Matanya terpejam merasa kenikmatan yang begitu menghebat.

    Tanganku mulai membuka satu persatu kancing blus Mbak Yani dari yang paling atas hingga kancing terakhir. Lalu Mbak Yani sendiri yang menanggalkan blus yang dikenakannya itu. Aku terpana sesaat melihat tubuh guru sekolahku itu yang putih dan mulus dengan payudaranya yang membulat dan bertengger dengan begitu indahnya di dadanya yang masih tertutup beha katun berwarna krem kekuningan. Tetapi aku segera tersadar, bahwa pemandangan amboi di hadapannya itu memang tersedia untukku, terlepas itu milik guru sekolahku sendiri.

    Baca Juga : Cerita Sex Ketika Aku Dan Nafsuku

    Tidak ingin membuang-buang waktu, bibirku berhenti menciumi bibir Mbak Yani dan mulai bergerak ke bawah. Kucium dan kujilati leher jenjang Mbak Yani, membuatnya menggerinjal-gerinjal sambil merintih kecil. Sementara itu, tanganku kuselipkan ke balik beha Mbak Yani sehingga menungkupi seluruh permukaan payudara sebelah kanannya. Puting susu nya yang tinggi dan mulai mengeras begitu menggelitik telapak tanganku.

    Segera kuelus-elus puting susu yang indah itu dengan telapak tanganku. Kepala Mbak Yani tersentak menghadap ke atas sambil memejamkan matanya. Tidak puas dengan itu, ibu jari dan telunjukku memilin-milin puting susu Mbak Yani yang langsung saja menjadi sangat keras. Memang baru kali ini aku menggeluti tubuh indah seorang wanita. Namun memang insting kelelakianku membuatku seakan-akan sudah mahir melakukannya

    “Uhh.. Hmm ahh..” Mbak Yani tidak dapat menahan desahan-desahan nafsunya.

    Segala gelitikan jari-jemariku yang dirasakan oleh payudara dan puting susunya dengan bertubi-tubi, membuat nafsu birahinya semakin membulak-bulak.

    Kupegang tali pengikat beha Mbak Yani lalu kuturunkan ke bawah. Kemudian beha itu kupelorotkan ke bawah sampai ke perut Mbak Yani. Puting susu Mbak Yani yang sudah begitu mengeras itu langsung mencelat dan mencuat dengan indahnya di depanku. Aku langsung saja melahap puting susu yang sangat menggiurkan itu. Kusedot-sedot puting susu Mbak Yani. Kuingat masa kecilku dulu saat masih menyusu pada payudara ibuku. Bedanya, tentu saja payudara guru sekolahku ini belum dapat mengeluarkan air susu. Mbak Yani menggeliat-geliat akibat rasa nikmat yang begitu melanda kalbunya. Lidahku dengan mahirnya, tak ayal menggelitiki puting susunya sehingga pentil yang sensitif itu melenting ke kiri dan ke kanan terkena hajaran lidahku.

    “Oooh. Buud’ desahan Mbak Yani semakin lama bertambah keras. Untung saja rumahnya sedang sepi dan letaknya memang agak berjauhan dari rumah yang paling dekat, sehingga tidak mungkin ada orang yang mendengarnya.

    Belum puas dengan payudara dan puting susu Mbak Yani yang sebelah kiri, yang sudah basah berlumuran air liurku, mulutku kini pindah merambah bukit membusung sebelah kanan. Apa yang kuperbuat pada belahan indah sebelah kiri tadi, kuperbuat pula pada yang sebelah kanan ini. Payudara sebelah kanan milik guru sekolahku yang membulat indah itu tak luput menerima jelajahan mulutku dengan lidahnya yang bergerak-gerak dengan Yanirnya. Kukulum ujung payudara Mbak Yani.

    Lalu kujilati dan kugelitiki puting susunya yang tinggi. Puting susu itu juga sama melenting ke kiri dan ke kanan, seperti halnya puting susu payudaranya yang sebelah kiri tadi. Mbak Yani pun semakin merintih-rintih karena merasakan geli dan nikmat yang menjadi-jadi berbaur menjadi satu padu. Seperti tengah minum soft drink dengan memakai sedotan plastik, kuseruput puting susu guru sekolahku itu.

    “Aaahh.. Hmm..” Mbak Yani menjerit panjang.

    Lidahku tetap tak henti-hentinya menjilati puting susu Mbak Yani yang sudah demikian kerasnya. Sementara itu tanganku mulai bergerak ke arah bawah. Kubuka retsleting celana jeans yang Mbak Yani kenakan. Kemudian dengan sedikit dibantunya sambil tetap merem-melek, kutanggalkan celana jeans itu ke bawah hingga ke mata kaki. Tubuh bagian bawah Mbak Yani sekarang hanya dilindungi oleh selembar celana dalam dengan bahan dan warna yang seragam dengan behanya. Meskipun begitu, tetap dapat kulihat warna kehitaman samar-samar di bagian selangkangannya.

    Ditunjang oleh nafsu birahi yang semakin menjulang tinggi, tanpa berpikir panjang lagi, kulepas pula kain satu-satunya yang masih menutupi tubuh Mbak Yani yang memang sintal itu. Dan akhirnya tubuh mulus guru sekolahku itu pun terhampar bugil di depanku, siap untuk kunikmati.

    Tak ayal, jari tengahku mulai menjamah bibir vagina Mbak Yani di selangkangannya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis kehitaman walaupun belum begitu banyak. Kutelusuri sekujur permukaan bibir vagina itu secara melingkar berulang-ulang dengan lembutnya. Tubuh Mbak Yani yang masih terduduk di sofa melengkung ke atas dibuatnya, sehingga payudaranya semakin membusung menjulang tinggi, yang masih tetap dilahap oleh mulut dan bibirku dengan tanpa henti.

    “Ooohh..

    Jari tengahku itu berhenti pada gundukan daging kecil berwarna kemerahan yang terletak di bibir vagina Mbak Yani yang mulai dibasahi cairan-cairan bening. Mula-mula kuusap-usap daging kecil yang bernama klitoris ini dengan perlahan-lahan. Lama-kelamaan kunaikkan temponya, sehingga usapan-usapan tersebut sekarang sudah menjadi gelitikan, bahkan tak lama kemudian bertambah lagi intensitasnya menjadi sentilan. Klitoris Mbak Yani yang bertambah merah akibat sentuhan jariku yang bagaikan sudah profesional, membuat tubuh pemiliknya itu semakin menggerinjal-gerinjal tak tentu arahnya.

    Melihat Mbak Yani yang tampak semakin merangsang, aku menambah kecepatan gelitikanku pada klitorisnya. Dan akibatnya, klitoris Mbak Yani mulai membengkak. Sementara vaginanya pun semakin dibanjiri oleh cairan-cairan kenikmatan yang terus mengalir dari dalam lubang keramat yang masih sempit itu.

    Puas menjelajahi klitoris Mbak Yani, jari tengahku mulai merangsek masuk perlahan-lahan ke dalam vagina guru sekolahku itu. Setahap demi setahap kumasukkan jariku ke dalam vaginanya. Mula-mula sebatas ruas jari yang pertama. Dengan susah payah memang, sebab vagina Mbak Yani memang masih teramat sempit. Kemudian perlahan-lahan jariku kutusukkan lebih dalam lagi. Pada saat setengah jariku sudah amblas ke dalam vagina Mbak Yani, terasa ada hambatan. Seperti adanya selaput yang cukup lentur.

    “Hmm.. Bud..”

    Mbak Yani merintih kecil seraya meringis seperti menahan rasa sakit. Saat itu juga, aku langsung sadar, bahwa yang menghambat penetrasi jari tengahku ke dalam vagina Mbak Yani adalah selaput daranya yang masih utuh. Ternyata guru sekolahku satu-satunya itu masih perawan. Baru aku tahu, ternyata sebandel-bandelnya Mbak Yani, ternyata guru sekolahku itu masih sanggup memelihara kehormatannya. Aku sedikit salut padanya. Dan untuk menghargainya, aku memutuskan tidak akan melanjutkan perbuatanku itu.

    “Bud.. Jangan berhenti..” tanya Mbak Yani dengan nafas terengah-engah.
    “Mbak, Mbak kan masih perawan. Nanti kalau aku terusin kan Mbak bisa..”

    Mbak Yani malah menjulurkan tangannya menggapai selangkanganku. Begitu tangannya menyentuh ujung penisku yang masih ada di dalam celana pendek yang kupakai, penisku yang tadinya sudah mengecil, sontak langsung bergerak mengeras kembali. Ternyata sentuhan lembut tangannya itu berhasil membuatku terangsang kembali, membuatku tidak dapat membantah apapun lagi, bahkan aku seperti melupakan apa-apa yang kukatakan barusan.

    Dengan secepat kilat, Mbak Yani memegang kolor celana pendekku itu, lalu dengan sigap pula celanaku itu dilucutinya sebatas lutut. Yang tersisa hanya celana dalamku. Mata Mbak Yani tampak berbinar-binar menyaksikan onggokan yang cukup besar di selangkanganku. Diremas-remasnya penisku dengan tangannya, membuat penisku itu semakin bertambah keras dan bertambah panjang. Kutaksir panjangnya sekarang sudah bertambah dua kali lipat semula. Bukan main! Semua ini akibat rangsangan yang kuterima dari guru sekolahku itu sedemikian hebatnya.

    “Mbak.. Aku buka dulu ya,” tanyaku sambil menanggalkan celana dalamku.

    Penisku yang sudah begitu tegangnya seperti meloncat keluar begitu penutupnya terlepas.

    “Aw!” Mbak Yani menjerit kaget melihat penisku yang begitu menjulang dan siap tempur.

    Namun kemudian ia meraih penisku itu dan perlahan-lahan ia menggosok-gosok batang ‘meriam’-ku itu, sehingga membuat otot-otot yang mengitarinya bertambah jelas kelihatan dan batang penisku itu pun menjadi laksana tonggak yang kokoh dan siap menghujam siapa saja yang menghalanginya. Kemudian Mbak Yani menarik penisku dan membimbingnya menuju selangkangannya sendiri. Diarahkannya penisku itu tepat ke arah lubang vaginanya.

    Sekilas, aku seperti sadar. Astaga! Mbak Yani kan guru sekolahku sendiri! Apa jadinya nanti jika aku sampai menyetubuhinya? Apa kata orang-orang nanti mengetahui aku berhubungan seks dengan guru sekolahku sendiri? Akhirnya aku memutuskan tidak akan melakukan penetrasi lebih jauh ke dalam vagina Mbak Yani. Kutempelkan ujung penisku ke bibir vagina Mbak Yani, lalu kuputar-putar mengelilingi bibir gua tersebut. Mbak Yani menggerinjal-gerinjal merasakan sensasi yang demikian hebatnya serta tidak ada duanya di dunia ini.

    “Aaahh.. Uuuhh..” Mbak Yani mendesah-desah dengan Yanirnya sewaktu aku sengaja menyentuhkan penisku pada klitorisnya yang kemerahan dan kini kembali membengkak. Sementara bibirku masih belum puas-puasnya berpetualang di payudara Mbak Yani itu dengan puting susunya yang menggairahkan. Terlihat payudara guru sekolahku itu dan daerah sekitarnya basah kuyup terkena jilatan dan lumatanku yang begitu menggila, sehingga tampak mengkilap. Cerita Dewasa

    Aku perlahan-lahan mulai memasukkan batang penisku ke dalam lubang vagina Mbak Yani. Sengaja aku tidak mau langsung menusukkannya. Sebab jika sampai kebablasan, bukan tidak mungkin dapat mengoyak selaput daranya. Aku tidak mau melakukan perbuatan itu, sebab bagaimanapun juga Mbak Yani adalah guru sekolahku sendiri!

    Mbak Yani mengejan ketika kusodokkan penisku lebih dalam lagi ke dalam vaginanya. Sewaktu kira-kira penisku amblas hampir setengahnya, ujung ‘tonggak’-ku itu ternyata telah tertahan oleh selaput dara Mbak Yani, sehingga membuatku menghentikan hujaman penisku itu. Segera saja kutarik penisku perlahan-lahan dari liang surgawi milik guru sekolahku itu. Gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku dengan dinding lorong vagina Mbak Yani membuatku meringis-ringis menahan rasa nikmat yang yang tak terhingga. Baru kali ini aku merasakan sensasi seperti ini. Lalu, kembali kutusukkan penisku ke dalam vagina Mbak Yani sampai sebatas selaput daranya lagi dan kutarik lagi sampai hampir keluar seluruhnya.

    Begitu terus kulakukan berulang-ulang memasukkan dan mengeluarkan setengah batang penisku ke dalam vagina Mbak Yani. Dan temponya pun semakin lama semakin kupercepat. Gesekan-gesekan batang penisku dengan Yaning vagina Mbak Yani semakin menggila. Rasanya tidak ada lagi di dunia ini yang dapat menandingi kenikmatan yang sedang kurasakan dalam permainan cintaku dengan guru sekolahku sendiri ini. Kenikmatan yang pertama dengan kenikmatan berikutnya, disambung dengan kenikmatan selanjutnya lagi, saling susul-menyusul tanpa henti.

    Tampaknya setan mulai merajalela di otakku seiring dengan intensitas gesekan-gesekan yang terjadi di dalam vagina Mbak Yani yang semakin tinggi. Kenikmatan tiada taranya yang serasa tidak kesudahan, bahkan semakin menjadi-jadi membuat aku dan Mbak Yani menjadi lupa segala-galanya. Aku pun melupakan semua komitmenku tadi.

    Dalam suatu kali saat penisku tengah menyodok vagina Mbak Yani, aku tidak menghentikan hujamanku itu sebatas selaput daranya seperti biasa, namun malah meneruskannya dengan cukup keras dan cepat, sehingga batang penisku amblas seluruhnya dalam vagina Mbak Yani. Vaginanya yang amat sempit itu berdenyut-denyut menjepit batang penisku yang tenggelam sepenuhnya.

    Mbak Yani menjerit cukup keras kesakitan. Tetapi aku tidak menghiraukannya. Sebaliknya aku semakin bernafsu untuk memompa penisku itu semakin dalam dan semakin cepat lagi penetrasi di dalam vagina Mbak Yani. Tampaknya rasa sakit yang dialami guru sekolahku itu tidak membuat aku mengurungkan perbuatan setanku. Bahkan genjotan penisku ke dalam lubang vaginanya semakin menggila. Kurasakan, semakin cepat aku memompa penisku, semakin hebat pula gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku itu dengan dinding vagina Mbak Yani, dan semakin tiada tandingannya kenikmatan yang kurasakan.

    Hujaman-hujaman penisku ke dalam vagina Mbak Yani terus-menerus terjadi sambung-menyambung. Bahkan tambah lama bertambah tinggi temponya. Mbak Yani tidak sanggup berbuat apa-apa lagi kecuali hanya menjerit-jerit tidak karuan. Rupa-rupanya setan telah menguasai jiwa kami berdua, sehingga kami terhanyut dalam perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh dua guru dan murid.

    “Aaah.. Budi.. Aaahh..” Mbak Yani menjerit panjang.

    Tampaknya ia sudah seakan-akan terbang melayang sampai langit ketujuh. Matanya terpejam sementara tubuhnya bergetar dan menggelinjang keras. Peluh mulai membasahi tubuh kami berdua. Kutahu, guru sekolahku itu sudah hampir mencapai orgasme. Namun aku tidak mempedulikannya. Aku sendiri belum merasakan apa-apa. Dan lenguhan serta jeritan Mbak Yani semakin membuat tusukan-tusukan penisku ke dalam vaginanya bertambah menggila lagi. Mbak Yani pun bertambah keras jeritan-jeritannya. Pokoknya suasana saat itu sudah gaduh sekali. Segala macam lenguhan, desahan, ditambah dengan jeritan berpadu menjadi satu.

    Akhirnya kurasakan sesuatu hampir meluap keluar dari dalam penisku. Tetapi ini tidak membuatku menghentikan penetrasiku pada vagina Mbak Yani. Tempo genjotan-genjotan penisku juga tidak kukurangi. Dan akhirnya setelah rasanya aku tidak sanggup menahan orgasmeku, kutarik penisku dari dalam vagina Mbak Yani secepat kilat. Kemudian dengan tempo yang tinggi, kugosok-gosok batang penisku itu dengan tanganku.

    Tak lama kemudian, cairan-cairan kental berwarna putih bagaikan layaknya senapan mesin bermuncratan dari ujung penisku. Sebagian mengenai muka Mbak Yani. Ada pula yang mengenai payudara dan bagian tubuhnya yang lain. Bahkan celaka! Ada pula yang belepotan di jok sofa yang diduduki Mbak Yani. Tak lama kemudian, kami saling mengejang-ngejang ke puncak kepuasan bersama hingga kehabisan tenaga. Aku terhempas ke atas sofa di samping Mbak Yani.

    Tubuh kami berdua sudah bermandikan keringat dari ujung rambut ke ujung kaki.Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet, tepatnya ketika aku masih duduk di bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih menginjak 17 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak.

    Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku diminta datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik rumahnya yang rusak.

    “Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani,” ujar anak SD tetangga Mbak Yani.

    Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu, kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan rumah tangganya. Yang jelas, semenjak dia mengajaku melukis pergi ke lereng gunung dan making love di semak-semak hutan, Mbak Yani makin sering mengajakku pergi. Dan sore ini dia memintaku datang ke rumahnya lagi.

    Tanpa banyak pikir aku langsung berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Maklum, rumahnya terbilang cukup jauh, sekitar 5km dari rumahku. Setibanya di rumah Mbak Yani, suasana sepi. Keluarganya tampaknya sedang pergi. Betul, ketika aku mengetuk pintu, hanya Mbak Yani yang tampak.

    “Ayo, cepet masuk. Semua keluargaku sedang pergi menghadiri acara hajatan saudara di luar kota,” sambut Mbak Yani sambil menggandeng tangganku.

    Darahku mendesir ketika membuntuti lamngkah Mbak Yani. Betapa tidak, pakaian yang dikenakan luar biasa sexy, hanya sejenis daster pendek hingga tonjolan payudara dan pahanya terasa menggoda.

    “Anu, Bud.. Listrik rumahku mati melulu. Mungkin ada ada kabel yang konslet. Tolong betulin, ya.. Kau tak keberatan kan,” pinta Mbak Yani kemudian.

    Tanpa banyak basa-basi Mbak Yani menggandengku masuk ke ruang tengah, kemudian masuk ke sebuah kamar.

    “Nah saya curiga jaringan di kamar ini yang rusak. Buruan kau teliti ya. Nanti keburu mahrib.”

    Aku hanya menuruti segala permintaannya. Setelah merunut jaringan kabel, akhirnya aku memutuskan untuk memanjat atap kamar melalui ranjang. Tapi aku tidak tahu persis, kamar itu tempat tidur siapa. Yang jelas, aku sangat yakin itu bukan kamarnya bapak-ibunya. Celakanya, ketika aku menelusuri kabel-kabel, aku belum menemukan kabel yang lecet. Semuanya beres. Kemudian aku pindah ke kamar sebelah.

    Aku juga tak bisa menemukan kabel yang lecet. Kemudian pindah ke kamar lain lagi, sampai akhirnya aku harus meneliti kamar tidur Mbak Yani sendiri, sebuah kamar yang dipenuhi dengan aneka lukisan sensual. Celakanya lagi, ketika hari telah gelap, aku belum bisa menemukan kabel yang rusak. Akibatnya, rumah Mbak Yani tetap gelap total. Dan aku hanya mengandalkan bantuan sebuah senter serta lilin kecil yang dinyalakan Mbak Yani.

    Lebih celaka lagi, tiba-tiba hujan deras mengguyur seantero kota. Tidak-bisa tidak, aku harus berhenti. Maunya aku ingin melanjutkan pekerjaan itu besok pagi.

    “Wah, maaf Mbak aku tak bisa menemukan kabel yang rusak. Ku pikir, kabel bagian puncak atap rumah yang kurang beres. Jadi besok aku harus bawa tangga khusus,” jelasku sambil melangkah keluar kamar.
    “Yah, tak apa-apa. Tapi sorry yah. Aku.. Merepotkanmu,” balas Mbak Yanti, “Itu es tehnya diminum dulu.”

    Cerita Bokep – Sementara menunggu hujan reda, kami berdua bercakap-cakap berdua di ruang tengah. Cukup banyak cerita-cerita masalah pribadi yang kami tukar, termasuk hubunganku dengan Mbak Yani selama ini. Mbak Yani juga tidak ketinggalan menanyakan soal puisi indah tulisannya yang dia kirimkan padaku lewat kado ulang tahunku beberapa bulan lalu.

    Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu nada percakapan kami berubah mesra dan menjurus ke arah yang menggairahkan jiwa. Bahkan, Mbak Yani tak segan-segan membelai wajahku, mengelus telingaku dan seterusnya. Tak sadar, tubuh kami berdua jadi berhimpitan hingga menimbulkan rangsangan yang cukup berarti untukku. Apalagi setelah dadaku menempel erat pada payudaranya yang berukuran tidak begitu besar namun bentuknya indah dan kencang. Dan tak ayal lagi, penisku pun mulai berdiri mengencang. Aku tak sadar, bahwa aku sudah terangsang oleh guru sekolahku sendiri! Namun hawa nafsu birahi yang mulai melandaku sepertinya mengalahkan akal sehatku. Mbak Yani sendiri juga tampaknya memiliki pikiran yang sama saja. Ia tidak henti-hentinya mengulumi bibirku dengan nafsunya.

    Akhirnya, nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Sementara bibirku dan Mbak Yani masih tetap saling memagut, tanganku mulai menggerayangi tubuh guru sekolahku itu. Kujamah gundukan daging kembar yang menghiasi dengan indahnya dada Mbak Yani yang masih berpakaian lengkap. Dengan segera kuremas-remas bagian tubuh yang sensitif tersebut.

    “Aaah.. Budi.. Aah..” Mbak Yani mulai melenguh kenikmatan. Bibirnya masih tetap melahap bibirku.

    Mengetahui Mbak Yani tidak menghalangiku, aku semakin berani. Remasan-remasan tanganku pada payudaranya semakin menjadi-jadi. Sungguh suatu kenikmatan yang baru pertama kali kualami meremas-remas benda kembar indah nan kenyal milik guru sekolahku itu. Melalui kain blus yang dikenakan Mbak Yani kuusap-usap ujung payudaranya yang begitu menggiurkan itu. Tubuh Mbak Yani mulai bergerak menggelinjang.

    “Uuuhh.. Mbak..” Aku mendesah saat merasakan ada jamahan yang mendarat di selangkanganku.

    Penisku pun bertambah menegang akibat sentuhan tangan Mbak Yani ini, membuatku bagian selangkangan celana panjangku tampak begitu menonjol. Mbak Yani juga merasakannya, membuatnya semakin bernafsu meremas-remas penisku itu dari balik celana panjangku. Nafsu birahi yang menggelora nampaknya semakin menenggelamkan kami berdua, sehingga membuat kami melupakan hubungan kami sebagai guru-murid.

    “Aaauuhh.. Bud.. Uuuh..” Mbak Yani mendesis-desis dengan Yanirnya karena remasan-remasan tanganku di payudaranya bukannya berhenti, malah semakin merajalela. Matanya terpejam merasa kenikmatan yang begitu menghebat.

    Tanganku mulai membuka satu persatu kancing blus Mbak Yani dari yang paling atas hingga kancing terakhir. Lalu Mbak Yani sendiri yang menanggalkan blus yang dikenakannya itu. Aku terpana sesaat melihat tubuh guru sekolahku itu yang putih dan mulus dengan payudaranya yang membulat dan bertengger dengan begitu indahnya di dadanya yang masih tertutup beha katun berwarna krem kekuningan. Tetapi aku segera tersadar, bahwa pemandangan amboi di hadapannya itu memang tersedia untukku, terlepas itu milik guru sekolahku sendiri.

    Tidak ingin membuang-buang waktu, bibirku berhenti menciumi bibir Mbak Yani dan mulai bergerak ke bawah. Kucium dan kujilati leher jenjang Mbak Yani, membuatnya menggerinjal-gerinjal sambil merintih kecil. Sementara itu, tanganku kuselipkan ke balik beha Mbak Yani sehingga menungkupi seluruh permukaan payudara sebelah kanannya. Puting susu nya yang tinggi dan mulai mengeras begitu menggelitik telapak tanganku.

    Segera kuelus-elus puting susu yang indah itu dengan telapak tanganku. Kepala Mbak Yani tersentak menghadap ke atas sambil memejamkan matanya. Tidak puas dengan itu, ibu jari dan telunjukku memilin-milin puting susu Mbak Yani yang langsung saja menjadi sangat keras. Memang baru kali ini aku menggeluti tubuh indah seorang wanita. Namun memang insting kelelakianku membuatku seakan-akan sudah mahir melakukannya.

    “Uhh.. Hmm ahh..” Mbak Yani tidak dapat menahan desahan-desahan nafsunya.

    Segala gelitikan jari-jemariku yang dirasakan oleh payudara dan puting susunya dengan bertubi-tubi, membuat nafsu birahinya semakin membulak-bulak.

    Kupegang tali pengikat beha Mbak Yani lalu kuturunkan ke bawah. Kemudian beha itu kupelorotkan ke bawah sampai ke perut Mbak Yani. Puting susu Mbak Yani yang sudah begitu mengeras itu langsung mencelat dan mencuat dengan indahnya di depanku. Aku langsung saja melahap puting susu yang sangat menggiurkan itu. Kusedot-sedot puting susu Mbak Yani. Kuingat masa kecilku dulu saat masih menyusu pada payudara ibuku. Bedanya, tentu saja payudara guru sekolahku ini belum dapat mengeluarkan air susu. Mbak Yani menggeliat-geliat akibat rasa nikmat yang begitu melanda kalbunya. Lidahku dengan mahirnya, tak ayal menggelitiki puting susunya sehingga pentil yang sensitif itu melenting ke kiri dan ke kanan terkena hajaran lidahku.

    “Oooh. Buud’ desahan Mbak Yani semakin lama bertambah keras. Untung saja rumahnya sedang sepi dan letaknya memang agak berjauhan dari rumah yang paling dekat, sehingga tidak mungkin ada orang yang mendengarnya.

    Belum puas dengan payudara dan puting susu Mbak Yani yang sebelah kiri, yang sudah basah berlumuran air liurku, mulutku kini pindah merambah bukit membusung sebelah kanan. Apa yang kuperbuat pada belahan indah sebelah kiri tadi, kuperbuat pula pada yang sebelah kanan ini. Payudara sebelah kanan milik guru sekolahku yang membulat indah itu tak luput menerima jelajahan mulutku dengan lidahnya yang bergerak-gerak dengan Yanirnya. Kukulum ujung payudara Mbak Yani.

    Lalu kujilati dan kugelitiki puting susunya yang tinggi. Puting susu itu juga sama melenting ke kiri dan ke kanan, seperti halnya puting susu payudaranya yang sebelah kiri tadi. Mbak Yani pun semakin merintih-rintih karena merasakan geli dan nikmat yang menjadi-jadi berbaur menjadi satu padu. Seperti tengah minum soft drink dengan memakai sedotan plastik, kuseruput puting susu guru sekolahku itu.

    “Aaahh.. Hmm..” Mbak Yani menjerit panjang.

    Lidahku tetap tak henti-hentinya menjilati puting susu Mbak Yani yang sudah demikian kerasnya. Sementara itu tanganku mulai bergerak ke arah bawah. Kubuka retsleting celana jeans yang Mbak Yani kenakan. Kemudian dengan sedikit dibantunya sambil tetap merem-melek, kutanggalkan celana jeans itu ke bawah hingga ke mata kaki. Tubuh bagian bawah Mbak Yani sekarang hanya dilindungi oleh selembar celana dalam dengan bahan dan warna yang seragam dengan behanya. Meskipun begitu, tetap dapat kulihat warna kehitaman samar-samar di bagian selangkangannya.

    Ditunjang oleh nafsu birahi yang semakin menjulang tinggi, tanpa berpikir panjang lagi, kulepas pula kain satu-satunya yang masih menutupi tubuh Mbak Yani yang memang sintal itu. Dan akhirnya tubuh mulus guru sekolahku itu pun terhampar bugil di depanku, siap untuk kunikmati.

    Tak ayal, jari tengahku mulai menjamah bibir vagina Mbak Yani di selangkangannya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis kehitaman walaupun belum begitu banyak. Kutelusuri sekujur permukaan bibir vagina itu secara melingkar berulang-ulang dengan lembutnya. Tubuh Mbak Yani yang masih terduduk di sofa melengkung ke atas dibuatnya, sehingga payudaranya semakin membusung menjulang tinggi, yang masih tetap dilahap oleh mulut dan bibirku dengan tanpa henti.

    “Ooohh..

    Jari tengahku itu berhenti pada gundukan daging kecil berwarna kemerahan yang terletak di bibir vagina Mbak Yani yang mulai dibasahi cairan-cairan bening. Mula-mula kuusap-usap daging kecil yang bernama klitoris ini dengan perlahan-lahan. Lama-kelamaan kunaikkan temponya, sehingga usapan-usapan tersebut sekarang sudah menjadi gelitikan, bahkan tak lama kemudian bertambah lagi intensitasnya menjadi sentilan. Klitoris Mbak Yani yang bertambah merah akibat sentuhan jariku yang bagaikan sudah profesional, membuat tubuh pemiliknya itu semakin menggerinjal-gerinjal tak tentu arahnya.

    Melihat Mbak Yani yang tampak semakin merangsang, aku menambah kecepatan gelitikanku pada klitorisnya. Dan akibatnya, klitoris Mbak Yani mulai membengkak. Sementara vaginanya pun semakin dibanjiri oleh cairan-cairan kenikmatan yang terus mengalir dari dalam lubang keramat yang masih sempit itu. Cerita Sex

    Puas menjelajahi klitoris Mbak Yani, jari tengahku mulai merangsek masuk perlahan-lahan ke dalam vagina guru sekolahku itu. Setahap demi setahap kumasukkan jariku ke dalam vaginanya. Mula-mula sebatas ruas jari yang pertama. Dengan susah payah memang, sebab vagina Mbak Yani memang masih teramat sempit. Kemudian perlahan-lahan jariku kutusukkan lebih dalam lagi. Pada saat setengah jariku sudah amblas ke dalam vagina Mbak Yani, terasa ada hambatan. Seperti adanya selaput yang cukup lentur.

    “Hmm.. Bud..”

    Mbak Yani merintih kecil seraya meringis seperti menahan rasa sakit. Saat itu juga, aku langsung sadar, bahwa yang menghambat penetrasi jari tengahku ke dalam vagina Mbak Yani adalah selaput daranya yang masih utuh. Ternyata guru sekolahku satu-satunya itu masih perawan. Baru aku tahu, ternyata sebandel-bandelnya Mbak Yani, ternyata guru sekol

  • Cerita Sex Vina

    Cerita Sex Vina


    1274 views

    Perawanku – Cerita Sex Vina, Perkenalkan namaku Vina, usiaku 16 tahun. Aku sekarang duduk di kelas II SMU di Medan. Aku punya pengalaman pertama merengkuh surga dunia. Tetapi semua itu kulakukan dengan papa tiriku. Pengalamanku ini sebagai referensi buat teman-teman yang lain. Aku tahu kalau perbuatan ini salah, tetapi aku tidak tahu bagaimana menghentikannya.

    Baiklah, ceritaku begini. Pada suatu hari aku mendapat pengalaman yang tentunya baru untuk gadis seukuranku. Oya, aku gadis keturunan Cina Pakistan. Sehingga wajar saja kulitku terlihat putih bersih dan satu lagi, ditaburi dengan bulu-bulu halus di sekujur tubuh yang tentu saja sangat disukai laki-laki. Kata teman-teman, aku ini cantik lho.

    Memang siang ini cuacanya sangat panas, satu persatu pakaian yang menempel di tubuhku kulepas. Kuakui, kendati masih ABG tetapi aku memiliki tubuh yang lumayan montok. Bila melihat lekuk-lekuk tubuh ini tentu saja mengundang jakun pria manapun untuk tersedak. Dengan rambut kemerah-merahan dan tinggi 167 cm, aku tampak dewasa.
    Sekilas, siapapun mungkin tidak percaya kalau aku adalah seorang pelajar. Apalagi bila memakai pakaian casual kegemaranku. Mungkin karena pertumbuhan yang begitu cepat atau memang sudah keturunan, entahlah. Tetapi yang jelas cukup mempesona, wajah oval dengan leher jenjang, uh.. entahlah.
    Pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah, seperti biasanya aku berpamitan dengan kedua orangtuaku. Cium pipi kiri dan kanan adalah rutinitas dan menjadi tradisi di keluarga ini. Tetapi yang menjadi perhatianku siang ini adalah ciuman Papa. Seusai sarapan pagi, ketika Mama beranjak menuju dapur, aku terlebih dahulu mencium pipi Papa.
    Papa Robi (begitu namanya) bukan mencium pipiku saja, tetapi bibirku juga. Seketika itu, aku sempat terpaku sejenak. Entah karena terkejut untuk menolak atau menerima perlakukan itu, aku sendiri tidak tahu. Papa Robi sudah setahun ini menjadi Papa tiriku. Sebelumnya, Mama sempat menjanda 3 tahun. Karena aku dan kedua adikku masih butuh seorang ayah, Mama akhirnya menikah lagi.
    Papa Robi memang termasuk pria tampan. Usianya pun baru 38 tahun. Teman-teman sekolahku banyak yang cerita kalau aku bersukur punya Papa Robi.
    “Salam ya sama Papa kamu..” ledek teman-temanku.
    Aku sendiri sebenarnya sedikit grogi kalau berdua dengan Papa. Tetapi dengan kasih sayang dan pengertian layaknya seorang teman, Papa pandai mengambil hatiku. Hingga akhirnya aku sangat akrab dengan Papa, bahkan terkadang kelewat manja. Tetapi Mama tidak pernah protes, malah dia tampak bahagia melihat keakraban kami. Tetapi ciuman Papa tadi pagi sungguh diluar dugaanku.
    Aku memang terkadang sering melendot sama Papa atau duduk sangat dekat ketika menonton TV. Tetapi ciumannya itu lho. Aku masih ingat ketika bibir Papa menyentuh bibir tipisku. Walau hanya sekejab, tetapi cukup membuat bulu kudukku merinding bila membayangkannya. Mungkin karena aku belum pernah memiliki pengalaman dicium lawan jenis, sehingga aku begitu terkesima.
    “Ah, mungkin Papa nggak sengaja…” pikirku.
    Esok paginya seusai sarapan, aku mencoba untuk melupakan kejadian kemarin. Tetapi ketika aku memberikan ciuman ke Mama, Papa beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar. Mau tidak mau kuikuti Papa ke kamar. Aku pun segera berjinjit untuk mencium pipi Papa. Respon Papa pun kulihat biasa saja. Dengan sedikit membungkukkan tubuh atletisnya, Papa menerima ciumanku.
    Tetapi setelah kucium kedua pipinya, tiba-tiba Papa mendaratkan bibirnya ke bibirku. Serrr.., darahku seketika berdesir. Apalagi bulu-bulu kasarnya bergesekan dengan bibir atasku. Tetapi entah kenapa aku menerimanya, kubiarkan Papa mengulum lembut bibirku. Hembusan nafas Papa Robi menerpa wajahku.
    Hampir satu menit kubiarkan Papa menikmati bibirku.
    “Baik-baik di sekolah ya.., pulang sekolah jangan keluyuran..!” begitu yang kudengar dari Papa.
    Sejak kejadian itu, hubungan kami malah semakin dekat saja. Keakraban ini kunikmati sekali. Aku sudah dapat merasakan nikmatnya ciuman seorang lelaki, kendati itu dilakukan Papa tiriku, begitu yang tersirat dalam pikiranku. Darahku berdesir hangat bila kulit kami bersentuhan. Begitulah, setiap berangkat sekolah, ciuman ala Papa menjadi tradisi.
    Tetapi itu rahasia kami berdua saja. Bahkan pernah satu hari, ketika Mama di dapur, aku dan Papa berciuman di meja makan. Malah aku sudah berani memberikan perlawanan. Lidah Papa yang masuk ke rongga mulutku langsung kuhisap. Papa juga begitu. Kalau tidak memikirkan Mama yang berada di dapur, mungkin kami akan melakukannya lebih panas lagi.
    Hari ini cuaca cukup panas. Aku mengambil inisiatif untuk mandi. Kebetulan aku hanya sendirian di rumah. Mama membawa kedua adikku liburan ke luar kota karena lagi liburan sekolah. Dengan hanya mengenakan handuk putih, aku sekenanya menuju kamar mandi. Setelah membersihkan tubuh, aku merasakan segar di tubuhku.
    Begitu hendak masuk kamar, tiba-tiba satu suara yang cukup akrab di telingaku menyebut namaku.
    “Vin.. Vin.., Papa pulang..” ujar lelaki yang ternyata Papaku.
    “Kok cepat pulangnya Pa..?” tanyaku heran sambil mengambil baju dari lemari.
    “Iya nih, Papa capek..” jawab papa dari luar.
    “Kamu masak apa..?” tanya papa sambil masuk ke kamarku. Aku sempat kaget juga. Ternyata pintu belum dikunci. Tetapi aku coba tenang-tenang saja. Handuk yang melilit di tubuhku tadinya kedodoran, aku ketatkan lagi.
    Kemudian membalikkan tubuh. Papa rupanya sudah tiduran di ranjangku.
    “Ada deh..,” ucapku sambil memandang Papa dengan senyuman.
    ” Ada deh itu apa..?” tanya Papa lagi sambil membetulkan posisi tubuhnya dan memandang ke arahku.
    “Memangnya kenapa Pa..?” tanyaku lagi sedikit bercanda.
    “Nggak ada racunnya kan..?” candanya.
    ” Ada, tapi kecil-kecil..” ujarku menyambut canda Papa.
    “Kalau gitu, Papa bisa mati dong..” ujarnya sambil berdiri menghadap ke arahku.
    Aku sedikit gelagapan, karena posisi Papa tepat di depanku.
    “Kalau Papa mati, gimana..?” tanya Papa lagi.
    Aku sempat terdiam mendengar pertanyaan itu.
    “Lho.., kok kamu diam,jawab dong..!” tanya Papa sambil menggenggam kedua tanganku yang sedang memegang handuk.
    Aku kembali terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana. Bukan jawabannya yang membuatku diam, tetapi keberadaan kami di kamar ini. Apalagi kondisiku setengah bugil. Belum lagi terjawab, tangan kanan Papa memegang daguku, sementara sebelah lagi tetap menggenggam tanganku dengan hangat. Ia angkat daguku dan aku menengadah ke wajahnya. Aku diam saja diperlakukan begini.
    Kulihat pancaran mata Papa begitu tenangnya. Lalu kepalanya perlahan turun dan mengecup bibirku. Cukup lama Papa mengulum bibir merahku. Perlahan tetapi pasti, aku mulai gelisah. Birahiku mulai terusik. Tanpa kusadari kuikuti saja keindahan ini. Nafsu remajaku mulai keluar ketika tangan kiri Papa menyentuh payudaraku dan melakukan remasan kecil. Tidak hanya bibirku yang dijamah bibir tebal Papa. Leher jenjang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu pun tidak luput dari sentuhan Papa.
    Bibir itu kemudian berpindah ke telingaku.
    “Pa..” kataku ketika lidah Papa masuk dan menggelitik telingaku.
    Papa kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur empuk.
    “Pa. . nanti ketahuan Mama..” sebutku mencoba mengingatkan Mama.
    Tetapi Papa diam saja, sambil menindih tubuhku, bibirku dikecupnya lagi. Tidak lama, handuk yang melilit di tubuhku disingkapkannya.
    “Vina, tubuh kamu sangat harum..” bisik Papa lembut sambil mencampakkan guling ke bawah.
    Dalam posisi ini, Papa tidak puas-puasnya memandang tubuhku. Bulu halus yang membalut kulitku semakin meningkatkan nafsunya. Apalagi begitu pandangannya mengarah ke payudaraku.
    “Kamu udah punya pacar, Vin..?” tanya Papa di telingaku. Aku hanya menggeleng pasrah.

    Papa kemudian membelai dadaku dengan lembut sekali. Seolah-olah menemukan mainan baru, Papa mencium pinggiran payudaraku.
    “Uuhhh..,” desahku ketika bulu kumis yang dipotong pendek itu menyentuh dadaku, sementara tangan Papa mengelus pahaku yang putih.
    Puting susu yang masih merah itu kemudian dikulum.
    ” Pa.. oohh..” desahku lagi.
    “Pa.. nanti Mamm..” belum selesai kubicara, bibir Papa dengan sigap kembali mengulum bibirku.
    “Papa sayang Vina..” kata Papa sambil memandangku.
    Sekali lagi aku hanya terdiam. Tetapi sewaktu Papa mencium bibirku, aku tidak diam. Dengan panasnya kami saling memagut. Saat ini kami sudah tidak memikirkan status lagi. Puas mengecup putingku, bibir Papa pun turun ke perut dan berlabuh di selangkangan. Papa memang pintar membuatku terlena. Aku semakin terhanyut ketika bibir itu mencium kemaluanku. Lidahnya kemudian mencoba menerobos masuk. Nikmat sekali rasanya.
    Tubuhku pun mengejang dan merasakan ada sesuatu yang mengalir cepat, siap untuk dimuntahkan.
    “Ohhh, ohhh…” desahku panjang.
    Papa rupanya tahu maniku keluar, lalu dia mengambil posisi bersimpuh di sebelahku. Lalu mengarahkan tanganku ke batang kemaluannya. Kaget juga aku melihat batang kemaluannya Papa, besar dan tegang. Dengan mata yang sedikit tertutup, aku menggenggamnya dengan kedua tanganku. Setan yang ada di tubuh kami seakan-akan kompromi.
    Tanpa sungkan aku pun mengulum benda itu ketika Papa mengarahkannya ke mulutku.
    “Terus Vin.., oh.. nikmatnya…” gumamnya.

    Seperti berpengalaman, aku pun menikmati permainan ini. Benda itu keluar masuk dalam mulutku. Sesekali kuhisap dengan kuat dan menggigitnya lembut. Tidak hanya Papa yang merasakan kenikmatan, aku pun merasakan hal serupa. Tangan Papa mempermainkan kedua putingku dengan tangannya. Karena birahi yang tidak tertahankan, Papa akhirnya mengambil posisi di atas tubuhku sambil mencium bibirku dengan ganas.
    Kemudian kejantanannya Papa menempel lembut di selangkanganku dan mencoba menekan. Kedua kakiku direntangkannya untuk mempermudah batang kemaluannya masuk. Perlahan-lahan kepala penis itu menyeruak masuk menembus selaput dinding vaginaku.
    “Sakit.. pa..” ujarku.
    “Tenang Sayang, kita nikmati saja..” jawabnya.
    Pantat Papa dengan lembut menekan, sehingga penis yang berukuran 17 cm dan berdiameter 3 cm itu mulai tenggelam keseluruhan. Papa melakukan ayunan-ayunan lagi. Kuakui, Papa memang cukup lihai. Perasaan sakit akhirnya berganti nikmat. Baru kali ini aku merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Pantas orang bilang surga dunia.
    Aku mengimbangi kenikmatan ini dengan menggoyang-goyangkan pantatku.
    “Terus Vin, ya.. seperti itu..” sebut Papa sambil mempercepat dorongan penisnya.
    “Papa.. ohhh.., ohhh…” renguhku karena sudah tidak tahan lagi.
    Seketika itu juga darahku mengalir cepat, segumpal cairan putih meleleh di bibir vaginaku. Kutarik leher Papa hingga pundaknya kugigit keras. Papa semakin terangsang rupanya. Dengan perkasa dikuasainya diriku. Vagina yang sudah basah berulangkali diterobos penis papa. Tidak jarang payudaraku diremas dan putingku dihisap. Rambutku pun dijambak Papa. Birahiku kembali memuncak. Selama tiga menit kami melakukan gaya konvensional ini. Tidak banyak variasi yang dilakukan Papa. Mungkin karena baru pertama kali, dia takut menyakitiku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Dewasa Perselingkuhan Dita

    Cerita Sex Dewasa Perselingkuhan Dita


    2237 views

    Foto Sex ini berjudul ” Cerita Sex Dewasa Perselingkuhan Dita ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2017.

    Perawanku – Kali mengisahkan seorang cewek abg bernama Dina yang terenggut keperawanannya oleh seorang pria dewasa yang sudah beristri. Benar kata orang “love is blind”, karena cinta buta Dina merelakan keperawanannya untuk orang yang dicintainya. Seperti apa cerita dewasa dan kisah pengalaman pertama Dina hilang keperawanan, berikut ceritanya…

    Sebelumnya perkenalkan, namaku Dina… pertama kali aku mengenal cinta, dunia ini menjadi terasa indah bagiku. Hanya sayangnya cinta pertamaku ini jatuh tidak pada orang yang tepat. Dia seorang pria beristri dan berkeluarga. Jadilah cinta kami berjalan sembunyi-bunyi. Aku mengenal pria tersebut ketika datang pada acara ulang tahun temenku. Dia saat itu menjadi event organizer acara tersebut.

    Pertama melihatnya aku sudah jatuh hati padanya. Selain dia pria yang ganteng badannya juga atletis, siapapun cewek pasti akan jatuh hati kepadanya.

    “Dina, ini MAS, dia yang nyelenggaraan pesta ini, asik kan pestanya. Kamu nemenin MAS ngobrol ya”. Temanku itu tau kalo aku suka dengan pria yang umurnya jauh lebih tua dari aku.

    Kami jadi asik ngobrol ngalor ngidul. Dia sangat humoris sehingga aku selalu terpingkal-pingkal mendengar guyonannya. Makin lama guyonannya makin mengarah yang vulgar, aku sih ok aja. Ketika acara makan, dia menemani aku menikmati hidangan yang tersedia. Ketika acara dansa, dia mengajak aku turun, ketika itu lagunya slow. Aku larut dalam dekapannya yang sangat mesra. Dia berbisik:

    “Dina, kamu cantik sekali, kamu yang paling cantik dari semua prempuan yang dateng ke pesta ini. Aku suka kamu Din”. “Mas kan dah punya keluarga, masak sih suka ma abg kaya aku”.
    “Justru karena kamu masih abg, kecantikan kamu masih sangat alami, bukan polesan make up yang tebal”.

    Memang sih dandananku biasa saja, tanpa make up yang tebal. Perempuan mana sih yang gak suka dipuji lelaki yang kebetulan dikaguminya. Ketika pulang dia mengantarkan aku pulang, sebelum aku turun dari mobil, pipiku dikecupnya,

    “Kapan-kapan kita ketemuan lagi ya Din, ni nomer hpku”. Kami bertukaran nomer hp.

    Sejak pertemuan pertama itu, kami sering jumpa di mal, di bioskop atau ditempat fitnes.

    Karena dia tau aku suka fitnes, makanya diapun mendaftar menjadi member ditempat aku biasa fitnes. Karena sering ketemu, hubungan kami makin lama makin akrab. Dia adalah lelaki pertama yang mencium bibirku. Itu kejadiannya ketika kami sedang dibioskop. Karena bukan weekend, jumlah penontonnya sedikit, sehingga dia milih tempat duduk yang jauh dari penonton lain. Dia berbisik:

    “Din, aku sayang banget ma kamu. Kamu?’
    “Aku juga sayang ma Mas, sayangnya ma dah keluarga ya”.
    “Kita jalani aja dulu Din, gak apa kan kalo backstreet kaya gini. Pokoknya aku akan berusaha untuk ketemu kamu sesering mungkin, sayang”. Dia meluncurkan rayuan mutnya, sehingga aku makin berbung-bunga.
    “Din..”, panggilnya lagi. aku menoleh karahnya. Nexiabet

    Karena duduk kami berdempetan, dia langusng merangkul pundaknya dan mendekatkan bibirnya ke bibirku. aku memejamkan mataku, terasa lembut sekali bibirnya menyentuh bibirku, kemudian terasa bibirnya mulai mengisap bibirku. aku pasrah ketika dia cukup lama mengecup bibirku.

    “Mas”, desahku ketika dia melepas bibirnya, seakan aku gak rela dia melepaskan bibirku.

    Diapun mengecup bibirku lagi, kali ini lebih lama lagi. Demikianlah sepanjang film itu kami tidak menikmati filmnya tetapi aku menikmati bagaimana bibirnya mengulum-ngulu bibirku.

    “Mas, aku sayang sekali ma mas, aku mau jadi pacar mas”.

    Sejak kejadian dibioskop itu, kami menjadi rutin berciuman kalo ketemu, paling tidak kami melakukannya sebentar di mobil sebelum mobil jalan atau sebelum aku turun didepan rumahku. Temenku mengingatkan aku agar jangan terlalu larut dalam berhubungan dengan Mas, karena dia dah berkeluarga.

    “Nanti kamu yang nyesel lo kalo dia harus mutusin hubungan kamu dengan dia”. Tapi aku tidak mengindahkan himbauan temanku. Aku seakan buta tertutup cinta yang makin lama makin berkobar-kobar.

    Sampai suatu weekend, dia mengajakku ke satu vila diluar kota, katanya dia mau survei tempat itu karena akan diadakan perhelatan disana.

    “Temenin aku yuk, mumpung bisa keluar kota ma kamu. Mau ya sayang”. Karena aku dah lama pengen berdua dia seharian, aku turuti saja ajakannya.

    Ke ortu, aku pamit mo jalan ma temen2 ke vila mereka. Aku seneng sekali ketika dah duduk disebelahnya dalam mobilnya. Mobilnya meluncur arah luar kota. Saat itu aku mengenakan celana ketat dari kain yang cukup tipis berwarna putih sehingga bentuk bokongku yang bulat padat begitu kentara, dan bahkan saking ketatnya CDku sampai kelihatan sekali berbentuk segitiga.

    Atasannya aku mengenakan baju kaos putih ketat dan polos sehingga bentuk toketku yang membulat terlihat jelas, kaosku yang cukup tipis membuat braku yang berwarna putih terpampang jelas sekali.

    “Din, kamu seksi sekali deh pake pakean kaya gitu”.
    “Mas suka kan”. “Suka banget, palagi kalo amu gak pake baju Din”.
    “Ih mas, mulai deh genit, aku turun disini aja deh”, aku pura-pura merajuk, padahal dalam hati seneng sekali mendengar pujiannya.
    “Ya udah turun aja he he”, tertawanya berderai ketika dia mengatakan hal itu, tetpi mobil tetap melaju kencang. “Katanya disuruh turun, kok gak minggir”.
    “Loncat aja kalo berani”.
    “mas, iih”, kataku sambil mencubit pinggangnya, mesra.

    Dia menggeliat kegelian,

    “Jangan diklitikin dong, nanti nabrak lo”.
    “abis mas sih mulai duluan”. Sepanjang jalan kami bercanda rian, sesekali tangannya gantian menggelitiki pinggangku, sehingga aku menggelinjang.

    Kadang tangannya mendarat di pahaku dan mengelus2nya sampe kedeket pangkal pahaku. aku menjadi merinding karena rabaannya. Maklum deh dia pria pertama yang melakukan hal ini.

    “Maas”, aku hanya melenguh ketika pahaku dielus-elus begitu.

    Karena aku tidak menolak, maka dia meneruskan elusannya dipahaku. aku menjadi gelisah, dudukku gak bisa diam, ada rasa geli bercampur nikmat dan aku merasa pengen kencing.

    “Mas maih jauh ya”.
    “Napa Din”.
    “aku pengen pipis”.
    “Bentar lagi juga sampe. Itu bukan pengen pipis biasa Din”.
    “abis apaan?”
    “Pasti kamu terangsang ya karena aku ngelus2 paha kamu”.
    “Ih”, kucubit lagi pinggangnya.

    Mobilnya sudah masuk ke satu vila. Ada seorang bapak-bapak yang menyambut di gerbang vila. Dia orang yang ditugaskan pemilik vila untuk menunggui vila itu. Aku keluar dari mobil, ikut dengan dia melihat lokasi. Vilanya tidak terlalu besar tetapi halamannya luas. Dia mulai mengeluarkan catatannya, mengukur sana mengukur sini, mencoret2 di buku catatannya. Kadang dia menanyakan pendapatku tentang satu hal. Aku menjawab setauku saja.

    “Setelah selesai, dia berkata kepada si bapak,
    “Pak kami mo menginap di vila ini”.
    “Iya, yang punya dah kasi tau bapak, ya silahkan saja pak. sudah saya sediakan makanan secukupnya di lemari es, kalo mo makan ya silahkan dihangatkan dulu. soalnya bapak mo pulang”. Si bapak meninggalkan kami berdua.
    “Din, kita honimun ya”, katanya sambil tersenyum.

    aku jadi berdebar2membayangkan apa yang aka dilakukannya padaku. Aku sering mendengar cerita teman2ku ang sudah pernah berhubungan sex dengan cowo2nya, mendengar betapa nikmatnya kalo memek kemasukan kontol. Aku jadi merinding sendiri, aku pengen juga mengalami kenikmatan itu.

    Aku menghempaskan pantatku di sofa, dia menyusulku segera dan duduk rapat di sampingku,

    “Dina sayang” katanya sambil menggenggam erat dan mesra kedua belah tanganku.

    Selesai berkata begitu dia mendekatkan mukanya ke wajahku, dengan cepat dia mengecup bibirku dengan lembut. Hidung kami bersentuhan lembut. Dia mengulum bibir bawahku, disedot sedikit. Lima detik kemudian, dia melepaskan kecupan bibirnya dari bibirku. Aku saat kukecup tadi memejamkan mata,

    “Aku pengen melakukan itu ma kamu, sayang. Kamu bersediakah?”, rayunya lebih lanjut.

    Dia berusaha mengecup bibirku lagi, namun dengan cepat aku melepaskan tangan kananku dari remasannya, dadanya kutahan dengan lembut.

    “Mass” bisikku lirih. “Dina sayang, mau ya”, rayunya lagi.
    “Tapi mass, aku takut Mas”, jawabku.
    “Takut apa sayang, katakanlah”, bisiknya kembali sambil meraih tanganku.
    “Aku takut Mas nanti meninggalkan aku”, bisikku.

    Dia menggenggam kuat kedua tanganku lalu secepat kilat dia mengecup bibirku.

    “Dina sayangku, aku terus terang tidak bisa menjanjikan apa-apa sama kamu tapi percayalah aku akan membuktikannya kepadamu, aku akan selalu sayang sama kamu”, bujuknya untuk lebih meyakinkanku.
    “Tapi Mas” bisikku masih ragu.
    “Din, percayalah, apa aku perlu bersumpah sayang, kita memang masih baru beberapa bulan kenal sayang, tapi percayalah, yakinlah sayang, kalau Tuhan menghendaki kita pasti selalu bersama sayang”, rayunya lagi.
    “Lalu kalau aku sampai hamil gimana mass?” ujarku sembari menatapnya.
    ”Aah, jangan khawatir sayang, aku akan bertanggung jawab semuanya kalau kamu sampai hamil, bagaimana sayang?” bisiknya.

    Rasioku sudah tidak jalan dengan baik, tertutup oleh rayuan mautnya dan rasa ingin merasakan kenikmatan yang makin menggebu.

    Tangannya bergerak semakin berani, yang tadinya hanya meremas jemari tangan kini mulai meraba ke atas menelusuri dari pergelangan tangan terus ke lengan sampai ke bahu lalu diremasnya dengan lembut. Dia memandangi toketku dari balik baju kaosku yang ketat,

    “Mas harus janji dulu sebelum…” aku tak melanjutkan ucapanku.
    “Sebelum apa sayang, katakanlah”, bisiknya tak sabar.

    Kini jemari tangan kanannya mulai semakin nekat menggerayangi pinggulku, ketika jemarinya merayap ke belakang diusapnya belahan pantatku lalu diremasnya dengan gemas.

    “aahh… Mas”, aku merintih pelan.
    “Mas aah mmas.. aku rela menyerahkan semuanya asal Mas mau bertanggung jawab nantinya”, aku berbisik semakin lemah, saat itu jemari tangan kanannya bergerak semakin menggila, menelusup ke pangkal pahaku, dan mulai mengelus gundukan bukit memekku.

    Diusapnya perlahan dari balik celanaku yang amat ketat, dua detik kemudian dia memaksa masuk jemari tangannya di selangkanganku dan bukit memekku itu telah berada dalam genggaman tangannya. Aku menggelinjang kecil, saat jemari tangannya mulai meremas perlahan. Dia mendekatkan mulutnya kembali ke bibirku hendak mencium, namun aku menahan dadanya dengan tangan kananku,

    “eeehh Mas..berjanjilah dulu Mas”, bisikku di antara desahan nafasnya yang mulai sedikit memburu.
    “Oooh Dina sayang, aku berjanji untuk bertanggung jawab, aahh aku menginginkan keperawananmu sayang”, ucapnya.

    Sementara jemari tangannya yang sedang berada di sela-sela selangkangan pahaku itu meremas gundukan memekku lagi.

    “Ba.. baiklah Mas, aku percaya sama Mas”, bisikku.
    “Jadi?” tanyanya.
    “hh. lakukanlah mass, aku milik Mas seutuhnya.. hh..” jawabku.
    “Benarkah? ooh..Dina sayanggg.” Secepat kilat bibirku kembali dikecup dan dikulumnya, digigit lembut, disedot.

    Hidung kami bersentuhan lembut. Dengus nafasku terdengar memburu saat dia mengecup dan mengulum bibirku cukup lama.

    DIa mempermainkan lidahnya di dalam mulutku, aku mulai berani membalas cumbuannya dengan menggigit lembut dan mengulum lidahnya dengan bibirku. Lidah kami bersentuhan, lalu dia mengecup dan mengulum bibir atas dan bawahku secara bergantian. Terdengar suara kecapan-kecapan kecil saat bibir kami saling mengecup. “aah Dina sayang, kamu pintar sekali, kamu pernah punya pacar yaach?” tanyanya curiga.

    “Mm aku belum pernah punya pacar Mas, kan Mas yang selama ini ngajari aku ciuman”, sahutku.
    “Wah kamu belajarnya cepat seklai ya, jangan-jangan kamu sering nonton film porno yaa?” godanya.

    Aku tersenyum malu, dan wajahku pun tiba-tiba bersemu merah, aku menundukkan mukaku, malu.

    “I…iya Mas, beberapa kali”, sahutku terus terang sambil tetap menundukkan muka.
    “Dina sayang, kamu nggak kecewa khan karena aku benar-benar sangat menginginkan keperawananmu sayang?” tanyanya. “Aku serahkan apa yang bisa aku persembahkan buat Mas, aku ikhlas, lakukanlah Mas kalau Mas benar-benar menginginkannya”, sahutku lirih.

    Jemari tangan kanannya yang masih berada di selangkanganku mulai bergerak menekan ke gundukan memekku yang masih perawan, lalu diusap-usap ke atas dan ke bawah dengan gemas. Aku memekik kecil dan mengeluh lirih, kupejamkan mataku rapat-rapat, sementara wajahku nampak sedikit berkeringat. Dia meraih kepalaku dalam pelukannya dengan tangan kiri dan dia mencium rambutku.

    “Oooh masss”, bisikku lirih.
    “Enaak sayang diusap-usap begini”, tanyanya.
    “hh… iiyyaa mass”, bisikku polos.

    Jemarinya kini bukan cuma mengusap tapi mulai meremas bukit memekku dengan sangat gemas.

    “sakit Mas aawww” aku memekik kecil dan pinggulku menggelinjang keras.

    Kedua pahaku yang tadi menjepit pergelangan tangan kanannya kurenggangkan. Dia mengangkat wajah dan daguku kearahnya, sambil merengkuh tubuhku agar lebih merapat ke badannya lalu kembali dia mengecup dan mencumbu bibirku dengan bernafsu.

    Puas mengusap-usap bukit memekku, kini jemari tangan kanannya bergerak merayap ke atas, mulai dari pangkal paha terus ke atas menelusuri pinggang sampai ujung jemarinya berada di bagian bawah toketku yang sebelah kiri. Dia mengelus perlahan di situ lalu mulai mendaki perlahan, akhirnya jemari tangannya seketika meremas kuat toketku dengan gemasnya. Seketika itu pula aku melepaskan bibirku dari kuluman bibirnya, “aawww… Mas sakitt, jangan keras-keras dong meremasnya”, protesku. Kini secara bergantian jemari tangannya meremas kedua toketku dengan lebih lembut. Aku menatapnya dan membiarkan tangannya menjamah dan meremas-remas kedua toketku.

    “Auuggghh..” tiba-tiba dia menjerit lumayan keras dan meloncat berdiri. Aku yang tadinya sedang menikmati remasan pada toketku jadi ikutan kaget.
    “Eeehh kenapa Mas?”
    “Aahh anu sayang… kontolku sakit nih”, sahutnya sambil buru-buru membuka celana panjangnya di hadapanku.

    Aku tak menyangka dia berbuat demikian hanya memandangnya dengan terbelalak kaget. Dia membuka sekalian CDku dan “Tooiiing”, kontolnya yang sudah tegang itu langsung mencuat dan mengacung keluar mengangguk-anggukan kepalanya naik turun .

    “aawww… Mas jorok”, aku menjerit kecil sambil memalingkan mukaku ke samping dan menutup mukaku dengan tangan. “He…he…” dia terkekeh geli, batang kontolnya sudah kelihatan tegang berat, urat-urat di
    permukaan kontolnya sampai menonjol keluar semua.

    Batang kontolnya bentuknya montok, berurat, dan besar. Sementara aku masih menutup muka tanpa bersuara, dia mengocok kontolnya dengan tangan kanannya,

    “Uuuaahh…nikmatnya”.
    “Din sebentar yaa… aku mau cuci kontolku dulu yaa… bau nih soalnya”, katanya sambil ngibrit ke belakang, kontolnya yang sedang “ON” tegang itu jadi terpontang-panting sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ke sana ke mari ketika dia berlari.

    Aku masih terduduk di atas sofa dan begitu melihatnya keluar berlari tanpa pakai celana jadi terkejut lagi melihat kontolnya yang sedang tegang bergerak manggut-manggut naik turun. “aawww…” teriakku kembali sembari menutup mukaku dengan kedua jemari tanganku.

    “Iiihh… Din… takut apa sih, kok mukanya ditutup begitu”, tanyanya geli.
    “Itu Mas, kontol Mas”, sahutku lirih.
    “Lhoo… katanya sudah sering nonton BF kok masih takut, kamu kan pasti sudah lihat di film itu kalau kontol cowok itu bentuknya gini”, sahutnya geli.
    “Iya…m..Mas, tapi kontol Mas mm besar sekalii”, sahutku masih sambil menutup muka.
    “Yaach… ini sih kecil dibanding di film nggak ada apa-apanya, itu khan film barat, kontol mereka jauh lebih gueedhee… kalau kontolku kan ukuran orang Indonesia sayang, ayo sini dong kontolku kamu pegang sayang, ini kan milik kamu juga”, sahutnya nakal.
    “Iiih… malu aah Mas, jorok.”
    “Alaa.. malu-malu sih sayang, aku yang telanjang saja nggak malu sama kamu, masa kamu yang masih pakaian lengkap malu, ayo dong sayang kontol Mas dipegang biar kamu bisa merasakan milik kamu sendiri”, sahutnya sembari meraih kedua tanganku yang masih menutupi mukaku. pada mulanya aku menolak sambil memalingkan wajahku ke samping, namun setelah dirayu-rayu akhirnya aku mau juga.

    kedua tanganku dibimbingnya ke arah selangkangannya, namun kedua mataku masih kupejamkan rapat. Jemari kedua tanganku mulai menyentuh kepala kontolnya yang sedang ngaceng. Mulanya jemari tanganku hendak kutarik lagi saat menyentuh kontolnya yang ngaceng namun karena dia memegang kedua tanganku dengan kuat, dan memaksanya untuk memegang kontolnya itu, akhirnya aku hanya menurut saja.

    Pertama kali aku hanya mau memegang dengan kedua jemarinya. “Aah… terus sayang pegang erat dengan kedua tanganmu”, rayunya penuh nafsu.

    “Iiih… keras sekali Mas”, bisikku sambil tetap memejamkan mata.
    “Iya sayang, itu tandanya aku sedang ngaceng sayang, ayo dong digenggam dengan kedua tanganmu, aahh…” dia mengerang nikmat saat tiba-tiba saja aku bukannya menggenggam tapi malah meremas kuat.

    Aku terpekik kaget, “Iiih sakit mass…” tanyaku.

    Aku menatapnya gugup.

    “Ooouhh jangan dilepas sayang, remas seperti tadi lekas sayang oohh…” erangnya lirih.

    Aku yang semula agak gugup, menjadi mengerti lalu jemari kedua tanganku yang tadi sedikit merenggang kini bergerak dan meremas kontolnya seperti tadi. Dia melenguh nikmat. Aku kini sudah berani menatap kontolnya yang kini sedang kuremas, jemari kedua tanganku itu secara bergantian meremas batang dan kepala kontolnya. Jemari kiri berada di atas kepala kontolnya sedang jemari yang kanan meremas kontolnya. .dia hanya bisa melenguh panjang pendek.

    “.sshh…Din… terusss sayang, yaahh… ohh…ssshh”, lenguhnya keenakan.

    Aku memandangnya sambil tersenyum dan mulai mengusap-usap maju mundur, setelah itu kugenggam dan kuremas seperti semula tetapi kemudian aku mulai memompa dan mengocok kontolnya itu maju mundur.

    “Aakkkhh… ssshh” dia menggelinjang menahan nikmat.

    Aku semakin bersemangat melihatnya merasakan kenikmatan, kedua tanganku bergerak makin cepat maju mundur mengocok kontolnya. Dia semakin tak terkendali,

    “Din… aahhgghh… sshh…awas pejuku mau keluarr” teriaknya keras.

    aku meloncat berdiri begitu dia mengatakan kalimat itu, aku melepaskan remasan tanganku dan berdiri ke sebelahnya, sementara pandangan mataku tetap ke arah kontolnya yang baru kukocok.

    “Kamu kok lari sih…” bisiknya lirih disisiku.
    “Tadi katanya pejunya mau keluar mass… kok nggak jadi?” tanyaku polos.

    Rupanya dia gak mau ngecret karena aku kocok makanya dia bilang pejunya mau keluar.

    Dia meraih tubuhku yang berada di sampingnya dan dipeluknya dengan gemas, aku menggelinjang saat dia merapatkan badannya ke tubuhku sehingga toketku yang bundar montok menekan dadanya yang bidang. Aku merangkulkan kedua lenganku ke lehernya, dan tiba-tiba ia pun mengecup bibirku dengan mesra, kemudian dilumatnya bibirku sampai aku megap-megap kehabisan napas. Terasa kontolnya yang masih full ngaceng itu menekan kuat bagian pusarku, karena memang tubuhnya lebih tinggi dariku.

    Sementara bibir kami bertautan mesra, jemari tangannya mulai menggerayangi bagian bawah tubuhku, dua detik kemudian jemari kedua tangannya telah berada di atas bulatan kedua belah bokongku. Diremasnya dengan gemas, jemarinya bergerak memutar di bokongku. Aku merintih dan mengerang kecil dalam cumbuannya. Lalu dia merapatkan bagian bawah tubuhnya ke depan sehingga mau tak mau kontolnya yang tetap tegang itu jadi terdesak perutku lalu menghadap ke atas. Aku tak memberontak dan diam saja.

    Sementara itu dia mulai menggesek-gesekkan kontolnya yang tegang itu di perutku. Namun baru juga 10 detik aku melepaskan ciuman dan pelukannya dan tertawa-tawa kecil,

    “Kamu apaan sih kok ketawa”, tanyanya heran.
    “Abisnya… Mas sih, kan aku geli digesekin kaya gitu”, sahutku sambil terus tertawa kecil.

    Dia segera merengkuh tubuhku kembali ke dalam pelukannya, dan aku tak menolak saat dia menyuruhku untuk meremas kontolnya seperti tadi. Segera jemari tangan kananku mengusap dan mengelus-elus kontolnya dan sesekali kuremas. Dia menggelinjang nikmat.

    “aagghh… Din… terus sayang…” bisiknya mesra.

    Wajah kami saling berdekatan dan aku memandang wajahnya yang sedang meringis menahan rasa nikmat.

    “Enaak ya mass…” bisikku mesra. Jemari tanganku semakin gemas saja mempermainkan kontolnya bahkan mulai kukocok seperti tadi.

    Dia melepaskan kecupan dan pelukanku.

    “Gerah nih sayang, aku buka baju dulu yaah sayang”, katanya sambil terus mencopot kancing kemejanya satu persatu lalu dilemparkan sekenanya ke samping.

    Kini dia benar-benar polos dan telanjang bulat di hadapanku. Aku masih tetap mengocok kontolnya maju mundur.

    “Sayang… kau suka yaa sama kontolku”, katanya.

    Sambil tetap mengocok kontolnya aku menjawab dengan polos.

    “suka sih Mas… habis kontol Mas lucu juga, keras banget Mas kayak kayu”, ujarku tanpa malu-malu lagi.
    “Lucu apanya sih?” tanyanya.

    Aku memandangnya sambil tersenyum

    “pokoknya lucu saja”, bisikku lirih tanpa penjelasan.
    “Gitu yaa… kalau memek kamu seperti apa yaa… aku pengen liat dong”, katanya.

    Aku mendelik sambil melepaskan tanganku dari kontolnya.

    “Mas jorok ahh…” sahutku malu-malu. “Ayo, aku sudah kepengen ngerasain nih… aku buka ya celana kamu”, katanya lagi.

    Dan dengan cepat dia berjongkok di depanku, kedua tangannya meraih pinggulku dan didekatkan ke arahnya. Pada mulanya aku agak memberontak dan menolak tangannya namun begitu aku memandang wajahnya yang tersenyum padaku akhirnya aku hanya pasrah dan mandah saat jemari kedua tangannya mulai gerilya mencari ritsluiting celana ketatku yang berwarna putih itu.

    Mukanya persis di depan selangkanganku sehingga dia dapat melihat gundukan bukit memekku dari balik celana ketatku. Dia semakin tak sabar, dan begitu menemukan ritsluitingku segera ditariknya ke bawah sampai terbuka, kebetulan aku tak memakai sabuk sehingga dengan mudah dia meloloskan dan memplorotkan celanaku sampai ke bawah. Sementara pandangannya tak pernah lepas dari selangkanganku, dan kini terpampanglah di depannya CDku yang berwarna putih bersih itu tampak sedikit menonjol di tengahnya. Terlihat dari CDku yang cukup tipis itu ada warna kehitaman, jembutku. Waahh… dia memandang ke atas dan aku menatapnya sambil tetap tersenyum.

    “Aku buka ya.. CDnya”, tanyanya.

    Aku hanya menganggukan kepala perlahan. Dengan gemetar jemari kedua tangannya kembali merayap ke atas menelusuri dari kedua betisku terus ke atas sampai kedua belah paha, dia mengusap perlahan dan mulai meremas.

    “Oooh…Masss” aku merintih kecil.

    kemudian jemari kedua tangannya merayap ke belakang kebelahan bokongku yang bulat. Dia meremas gemas disitu. Ketika jemari tangannya menyentuh tali karet CDku yang bagian atas, sreeet… secepat kilat ditariknya ke bawah CDku itu dengan gemas dan kini terpampanglah sudah daerah ‘forbidden’ ku.

    Menggembung membentuk seperti sebuah gundukan bukit kecil mulai dari bawah pusarku sampai ke bawah di antara kedua belah pangkal pahaku, sementara di bagian tengah gundukan bukit memekku terbelah membentuk sebuah bibir tebal yang mengarah ke bawah dan masih tertutup rapat menutupi celah liang memekku. Dan di sekitar situ ada jembut yang cukup lebat.

    “Oohh.. Din, indahnya…” Hanya kalimat itu yang sanggup diucapkan saat itu.

    Dia mendongak ketika aku sedang membuka baju kaosku, setelah melemparkan kaos sekenanya kedua tanganku lalu menekuk ke belakang punggungnya hendak membuka braku dan tesss… bra itupun terlepas jatuh di mukanya. Selanjutnya aku melepas juga celana dan CDku yang masih tersangkut di mata kakiku, lalu sambil tetap berdiri di depannya, aku tersenyum manis kepadanya, walaupun wajahku sedikit memerah karena malu.

    Toketku berbentuk bulat seperti buah apel, besarnya kira-kira sebesar dua kali bola tenis, warnanya putih bersih hanya pentil kecilnya saja yang tampak berwarna merah muda kecoklatan.

    “kamu cantik sekali sayang”, bisiknya lirih.

    Aku mengulurkan kedua tanganku kepadanya mengajaknya berdiri lagi.

    “Mass… aku sudah siap, aku sayang sama Mas, aku akan serahkan semuanya seperti yang Mas inginkan”, bisikku mesra.

    Dia merangkul tubuhku yang telanjang. Badanku seperti kesetrum saat kulitku menyentuh kulit nya, kedua toketku yang bulat menekan lembut dadanya yang bidang. Jemari tangannya tergetar saat mengusap punggungku yang telanjang,

    “Aahh.. Din kita ngentot di kamar yuk, aku sudah kepingin ngen tot sayang”, bisiknya tanpa malu-malu lagi.

    Aku hanya tersenyum dalam pelukannya. “Terserah Mas saja, mau ngentotnya dimana”, sahutku mesra.

    Dengan penuh nafsu dia segera meraih tubuhku dan digendongnya ke dalam kamar. Direbahkannya tubuhku yang telanjang bulat itu di atas kasur busa di dalam kamar tengah, tempat tidur itu tak terlalu besar, untuk 2 orang pun harus berdempetan. Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena semua gorden tertutup, gorden yang berada dalam kamar ini sama sekali tidak menghadap ke jalan umum namun menghadap ke kebun di belakang. Dia segera membuka gorden agar sinar matahari sore dapat masuk, dan benar saja begitu disibakkan sinar matahari dari arah barat langsung menerangi seluruh isi kamar.

    Dia memandangi tubuhku yang telanjang bulat di ranjang. Segera dia menaiki ranjang, aku memandangnya sambil tersenyum. Dia merayap ke atas tubuhku yang bugil dan menindihnya, sepertinya dia sudah tak sabar ingin segera memasuki memekku.

    “Buka pahamu sayang, aku ingin mengen totimu sekarang”, bisiknya bernafsu.
    “Mass…” aku hanya melenguh pasrah saat dia setengah menindih tubuhku dan kontolku yang tegang itu mulai menusuk celah memekku, tangannya tergetar saat membimbing kontolnya mengelus memekku lalu menelusup di antara kedua bibir memekku.
    “Sayang, aku masukkan yaah… kalau sakit bilang sayang.. kamu kan masih perawan.”
    “Pelan-pelan Mas”, bisikku pasrah.

    Lalu dengan jemari tangan kanannya diarahkannya kepala kontolnya ke memekku. Aku memeluk pinggangnya mesra, sementara dia mencari liang memekku di antara belahan bukit memekku. Dia mencoba untuk menelusup celah bibir memekku bagian atas namun setelah ditekan ternyata jalan buntu.

    “Agak ke bawah Mas, aahh kurang ke bawah lagi Mas… mm.. yah tekan di situ Mas… aawww pelan-pelan Mas sakiiit”, aku memekik kecil dan menggeliat kesakitan.

    Akhirnya dia berhasil menemukan celah memekku itu setelah aku menuntunnya, diapun mulai menekan ke bawah, kepala kontolnya dipaksanya untuk menelusup ke dalam liang memekku yang sempit. Dia mengecup bibir ku sekilas lalu berkonsentrasi kembali untuk segera dapat membenamkan kontolnya seluruhnya ke dalam liang memekku. Aku mulai merintih dan memekik-mekik kecil ketika kepala kontolnya yang besar mulai berhasil menerobos liang memekku yang sangat-sangat sempit sekali.

    “Tahan sayang…aku masukkan lagi, sempit sekali sayang aahh”, erangnya mulai merasakan kenikmatan dan kurasakan kepala kontolnya berhasil masuk dan terjepit ketat sekali dalam liang memekku.
    “aawwww…. masss sakiit…” teriakku memelas, tubuhku menggeliat kesakitan.

    Dia berusaha menentramkan aku sambil mengecup mesra bibirku dan dilumat dengan perlahan. Lalu,

    “tahan sayang, baru kepalanya yang masuk sayang, aku tekan lagi yaah”, bisiknya.

    Tiba-tiba dia mencabut kembali kontolnya yang baru masuk kepalanya saja itu dengan perlahan.

    “Ah… sayang, aku masukin nanti saja deh, liang memekmu masih sangat sempit dan kering sayang.”
    “memekku sakit Mas”, erangku lirih.
    “Yahh… aku tahu sayang kamu kan masih perawan, kita bercumbu dulu sayang, aku kepingin melihat kamu nyampe”, bisiknya bernafsu.

    Segera dia merebahkan badannya di atas tubuhku dan dipeluknya dengan kasih sayang,

    “Din… hh.. bagaimana perasaanmu sayang”, bisiknya mesra. Aku memandangnya dan tertawa renyah.
    “mm… aku bahagia sekali bersama Mas seperti ini, rasanya nikmat ya Mas berpelukan sambil telanjang kaya gini”, ujarku polos.
    “Iyaa sayang, anggaplah aku suamimu saat ini sayang”, bisiknya nakal.
    “Iih.. Mas, Mas cumbui isterimu dong, beri istrimu kenik…mmbhh”, belum sempat aku selesai ngomong, dia sudah melumat bibirku.

    Aku membalas ciumannya dan melumat bibirnya dengan mesra.Dia menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku dan aku langsung mengulumnya hangat, begitu sebaliknya. Jemari tangan kirinya merayap ke bawah menelusuri sambil mengusap tubuhku mulai pundak terus ke bawah sampai ke pinggul dan diremasnya dengan gemas. Ketika tangannya bergerak kebelakang ke bulatan bokongku, dia mulai menggoyangkan seluruh badannya menggesek tubuhku yang bugil terutama pada bagian selangkangan dimana kontolnya yang sedang tegang-tegangnya menekan gundukan bukit memekku.

    Dia menggerakkan pinggulnya secara memutar sambil menggesek-gesekkan batang kontolnya di permukaan bibir memekku sambil sesekali ditekan-tekan. Aku ikut-ikutan menggelinjang kegelian, beberapa kali kepala kontolnya yang tegang salah sasaran memasuki belahan bibir memekku seolah akan menembus liang memekku lagi. Aku hanya merintih kesakitan dan memekik kecil,

    “Aawwww… Mas saakiit”, erangku.
    “Aahh.. Din… memekmu empuk sekali sayang, ssshh”, dia melenguh keenakan.

    Beberapa menit kemudian setelah kami puas bercumbu bibir, dia menggeser tubuhnya kebawah sampai mukanya tepat berada di atas kedua bulatan toketku, kini ganti perutnya yang menekan memekku. Jemari kedua tangannya secara bersamaan mulai menggerayangi gunung “Fujiyama” milikku, dia mulai menggesekkan ujung-ujung jemarinya mulai dari bawah toketku di atas perut terus menuju gumpalan kedua toketku yang kenyal dan montok. Aku merintih dan menggelinjang antara geli dan nikmat.

    “Mass, geli”, erangku lirih.

    Beberapa saat dia mempermainkan kedua pentilku yang kemerahan dengan ujung jemarinya. Aku menggelinjang lagi, dipuntirnya sedikit pentilku dengan lembut.

    ” Mas…” aku semakin mendesah tak karuan.

    Secara bersamaan akhirnya dia meremas-remas gemas kedua toketku dengan sepenuh nafsu.

    “Aawww…Mas”, aku mengerang dan kedua tanganku memegangi kain sprei dengan kuat.

    Dia semakin menggila tak puas meremas lalu mulutnya mulai menjilati kedua toketku secara bergantian. Lidahnya menjilati seluruh permukaan toketku itu sampai basah, mulai dari toket yang kiri lalu berpindah ke toket yang kanan, digigit-gigitnya pentilku secara bergantian sambil diremas-remas dengan gemas sampai aku berteriak-teriak kesakitan. Lima menit kemudian lidahnya bukan saja menjilati kini mulutnya mulai beraksi menghisap kedua pentilku sekuat-kuatnya.

    Dia tak peduli aku menjerit dan menggeliat kesana-kemari, sesekali kedua jemari tanganku memegang dan meremasi rambutnya, sementara kedua tangannya tetap mencengkeram dan meremasi kedua toketku bergantian sambil menghisap-hisap pentilnya. Bibir dan lidahnya dengan sangat rakus mengecup, mengulum dan menghisap kedua toketku. Di dalam mulutnya pentilku dipilin dengan lidahnya sambil terus dihisap. Aku hanya bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali memekik kuat ketika giginya menggigiti pentilku dengan gemas, hingga tak heran kalau di beberapa tempat di kedua bulatan toketku itu nampak berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitannya.

    Cukup lama dia mengemut toketku, setelah itu bibir dan lidahnya kini merayap menurun ke bawah. Ketika lidahnya bermain di atas pusarku, aku mulai mengerang-erang kecil keenakan, dia mengecup dan membasahi seluruh perutku. Ketika dia bergeser ke bawah lagi dengan cepat lidah dan bibirnya telah berada di atas gundukan bukit memekku.

    “Buka pahamu Din..” teriaknya tak sabar, posisi pahaku yang kurang membuka itu membuatnya kurang leluasa untuk mencumbu memekku itu.
    “Oooh… masss”, aku hanya merintih lirih.

    Dia membetulkan posisinya di atas selangkangan ku. Aku membuka ke dua belah pahaku lebar-lebar, aku sudah sangat terangsang sekali. Kedua tanganku masih tetap memegangi kain sprei, aku kelihatan tegang sekali.

    “Sayang… jangan tegang begitu dong sayang”, katanya mesra.
    “Lampiaskan saja perasaanmu, jangan takut kalau IDin merasa nikmat, teriak saja sayang biar puass….” katanya selanjutnya.

    Sambil memejamkan mata aku berkata lirih.

    “Iya mass eenaak sih mass”, kataku polos.

    Dia memandangi memekku yang sudah ditumbuhi jembut namun kulit dimemekku dan sekitarnya itu tidak tampak keriput sedikitpun, masih kelihatan halus dan kencang. Bibir memekku kelihatan gemuk dan padat berwarna putih sedikit kecoklatan, sedangkan celah sempit yang berada diantara kedua bibir memekku itu tertutup rapat.

    “MAs… ngapain sih kok ngelamun, bau yaa Mas?” tanyaku sambil tersenyum. Wajahku sedikit kusut dan berkeringat.
    ”abisnya memekmu lucu sih, bau lagi”, balasnya nakal.
    “Iiihh… jahat”, Belum habis berkata begitu aku memegang kepalanya dan mengucek-ucek rambutnya. Dia tertawa geli.

    Selanjutnya aku menekan kepalanya ke bawah, sontak mukanya terutama hidung dan bibirnya langsung nyosor menekan memekku, hidungnya menyelip di antara kedua bibir memekku. Bibirnya mengecup bagian bawah bibir memekku dengan bernafsu, sementara jemari kedua tangannya merayap ke balik pahaku dan meremas bokongku yang bundar dengan gemas. Dia mulai mencumbui bibir memekku yang tebal itu secara bergantian seperti kalau dia mencium bibirku. Puas mengecup dan mengulum bibir bagian atas, dia berpindah untuk mengecup dan mengulum bibir memekku bagian bawah.

    Karena ulahnya aku sampai menjerit-jerit karena nikmatnya, tubuhku menggeliat hebat dan terkadang meregang kencang, beberapa kali kedua pahaku sampai menjepit kepalanya yang lagi asyik masyuk bercumbu dengan bibir memekku. Dia memegangi kedua belah bokongku yang sudah berkeringat agar tidak bergerak terlalu banyak, sepertinya dia tak rela melepaskan pagutan bibirnya pada bibir memekku. aku mengerang-erang dan tak jarang memekik cukup kuat saking nikmatnya.

    Kedua tanganku meremasi rambutnya sampai kacau, sambil menggoyang-goyangkan pinggulku. Kadang pantat kunaikkan sambil mengejan nikmat atau kadang kugoyangkan memutar seirama dengan jilatan lidahnya pada seluruh permukaan memekku. aku berteriak makin keras, dan terkadang seperti orang menangis saking tak kuatnya menahan kenikmatan yang diciptakannya pada memekku. Tubuhku menggeliat hebat, kepalaku bergerak ke kiri dan ke kanan dengan cepat, sambil mengerang tak karuan.

    Dia semakin bersemangat melihat tingkahku, mulutnya semakin buas, dengan nafas setengah memburu disibakkannya bibir memekku dengan jemari tangan kanannya, terlihat daging berwarna merah muda yang basah oleh air liurnya bercampur dengan cairan lendirku, agak sebelah bawah terlihat celah liang memekku yang amat sangat kecil dan berwarna kemerahan pula. Dia mencoba untuk membuka bibir memekku agak lebar, namun aku memekik kecil karena sakit.

    “aawww mass.. sakiit”, pekikku kesakitan.
    “maaf sayang, sakit yaa…” bisiknya khawatir.

    Dia mengusap dengan lembut bibir memekku agar sakitnya hilang, sebentar kemudian lalu disibakkan kembali pelan-pelan bibir memekku, celah merahnya kembali terlihat, agak ke atas dari liang memekku yang sempit itu ada tonjolan daging kecil sebesar kacang hijau yang juga berwarna kemerahan, inilah itil, bagian paling sensitif dari memek wanita. Lalu secepat kilat dengan rakus lidahnya dijulurkan sekuatnya keluar dan mulai menyentil-nyentil daging itilku. Aku memekik sangat keras sambil menyentak-nyentakkan kedua kakiku ke bawah.

    Aku mengejang hebat, pinggulku bergerak liar dan kaku, sehingga jilatannya pada itilku jadi luput. Dengan gemas dia memegang kuat-kuat kedua belah pahaku lalu kembali menempelkan bibir dan hidungnya di atas celah kedua bibir memekku, dia menjulurkan lidahnya keluar sepanjang mungkin lalu ditelusupkannya lidahnya menembus jepitan bibir memekku dan kembali menyentil nikmat itilku dan, aku memekik tertahan dan tubuhku kembali mengejan sambil menghentak-hentakkan kedua kakiku, pantat ku angkat ke atas sehingga lidahnya memasuki celah bibir memekku lebih dalam dan menyentil-nyentil itilku.

    Begitu singkat karena tak sampai 1 menit aku terisak menangis dan ada semburan lemah dari dalam liang memekku berupa cairan hangat agak kental banyak sekali. Dia masih menyentil itilku beberapa saat sampai tubuhku terkulai lemah dan akhirnya pantatku pun jatuh kembali ke kasur. Aku melenguh panjang pendek meresapi kenikmatan yang baru kurasakan, sementara dia masih menyedot sisa-sisa lendir yang keluar ketika aku nyampe. Seluruh selangkanganku tampak basah penuh air liur bercampur lendir yang kental. Dia menjilati seluruh permukaan memekku sampai agak kering,

    “Sayaang… puas kan…” bisiknya lembut namun aku sama sekali tak menjawab, mataku terpejam rapat namun mulutku tersenyum bahagia.
    “Giliranku sayang, aku mau masuk nih… tahan sakitnya sayang”, bisiknya lagi tanpa menunggu jawabannya.

    Dia segera bangkit dan duduk setengah berlutut di atas tubuhku yang telanjang berkeringat. Toketku penuh lukisan hasil karyanya. Dengan agak kasar dia menarik kakiku ke atas dan ditumpangkannya kedua pahaku pada pangkal pahanya sehingga kini selangkanganku menjadi terbuka lebar. Dia menarik bokongku ke arahnya sehingga kontolnya langsung menempel di atas memekku yang masih basah. Dia mengusap-usapkan kepala kontolnya pada kedua belah bibir memekku dan lalu beberapa saat kemudian dengan nakal kontolnya ditepuk-tepukkan dengan gemas ke memekku.

    Aku menggeliat manja dan tertawa kecil,

    “Mas… iiih.. gelii.. aah”, jeritku manja.
    “Sayaang, kontolku mau masuk nih… tahan yaa sakitnya”, bisiknya nakal penuh nafsu.
    “Iiihh… jangan kasar ya mass… pelan-pelan saja masukinnya, aku takut sakiit”, sahutku polos penuh kepasrahan.

    Sedikit disibakkannya bibir memekku dengan jemari kirinya, lalu diarahkannya kepala kontolnya yang besar ke liang memekku yang sempit. Dia mulai menekan dan aku pun meringis, dia tekan lagi… akhirnya perlahan-lahan mili demi mili liang memekku itu membesar dan mulai menerima kehadiran kepala kontolnya. Aku menggigit bibir. Dia melepaskan jemari tangannya dari bibir memekku dan plekk… bibir memekku langsung menjepit nikmat kepala kontolnya.

    “Tahan sayang…” bisiknya bernafsu.

    Aku hanya mengangguk pelan, mata lalu kupejamkan rapat-rapat dan kedua tanganku kembali memegangi kain sprei. Dia agak membungkukkan badannya ke depan agar pantatnya bisa lebih leluasa untuk menekan ke bawah. Dia memajukan pinggulnya dan akhirnya kepala kontolnya mulai tenggelam di dalam liang memekku. Dia kembali menekan, dan aku mulai menjerit kesakitan. Dia tak peduli, mili demi mili kontolnya secara pasti terus melesak ke dalam liang memekku dan tiba-tiba setelah masuk sekitar 4 centi seperti ada selaput lunak yang menghalangi kepala kontolnya untuk terus masuk, dia terus menekan dan aku melengking keras sekali lalu menangis terisak-isak. selaput daraku robek.

    Dia terus menekan kontolnya, ngotot terus memaksa memasuki liang memekku yang luar biasa sempit itu. Dia memegang pinggulku, dan ditariknya kearahnya kontolnya masuk makin ke dalam, Aku terus menangis terisak-isak kesakitan, sementara dia sendiri malah merem melek keenakan. Dan dia menghentak keras ke bawah, dengan cepat kontolnya mendesak masuk liang memekku. dia mengerang nikmat. Dihentakkan lagi pantatnya ke bawah dan akhirnya kontolnya secara sempurna telah tenggelam sampai kandas terjepit di antara bibir memekku. dia berteriak keras saking nikmatnya, matanya mendelik menahan jepitan ketat memekku yang luar biasa.

    Sementara aku hanya memekik kecil lalu memandangnya sayu.

    “Mass… aku sudah nggak perawan lagi sekarang”, bisikku lirih.

    Kami sama-sama tersenyum.

    Direbahkannya badannya di atas tubuhku yang telanjang, aku memeluknya penuh kasih sayang, toketku kembali menekan dadanya. Memekku menjepit meremas kuat kontolnya yang sudah amblas semuanya. Kami saling berpandangan mesra,dia mengusap mesra wajahku yang masih menahan sakit menerima tusukan kontolnya.

    “Mas… bagaimana rasanya”, bisikku mulai mesra kembali, walaupun sesekali kadang aku menggigit bibir menahan sakit. “Enaak sayang.. dan nikmaat… oouhh aku nggak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata sayang… selangit pokoknya”, bisiknya.
    “MAs, bagaimana kalau aku sampai hamil?” bisikku sambil tetap tersenyum.”Oke…nanti setelah ngentot kita cari obat di apotik, obat anti hamil”, bisiknya gemas.
    “Iihh… nakal…” sahutku sambil kembali mencubit pipinya.
    “Biariin…”
    “Maasss…” aku agak berteriak.
    “Apaan sih…” tanyanya kaget.

    Lalu sambil agak bersemu merah dipipi aku berkata lirih.

    “dienjot dong…” bisikku hampir tak terdengar.
    “Iiih kamu kebanyakan nonton film porno, kan memeknya masih sakiit”, jawabnya.
    “Pokoknya, dienjot dong Mas…” sahutku manja.

    Dia mencium bibirku dengan bernafsu, dan akupun membalas dengan tak kalah bernafsu. Kami saling berpagutan lama sekali, lalu sambil tetap begitu dia mulai menggoyang pinggul naik turun. kontolnya mulai menggesek liang memekku dengan kasar, pinggulnya menghunjam-hunjam dengan cepat mengeluar masukkan kontolnya yang tegang. Aku memeluk punggungnya dengan kuat, ujung jemari tanganku menekan punggungnya dengan keras. Kukuku terasa menembus kulitnya. Tapi dia tak peduli, dia sedang menikmati tubuhku. Aku merintih dan memekik kesakitan dalam cumbuannya.

    Beberapa kali aku sempat menggigit bibirnya, namun itupun dia tak peduli. Dia hanya merasakan betapa liang memekku yang hangat dan lembut itu menjepit sangat ketat kontolnya. Ketika ditarik keluar terasa daging memekku seolah mencengkeram kuat kontolnya, sehingga terasa ikut keluar. Aku melepaskan ciumannya dan mencubit pinggangnya.

    “Awww… aduuh Mass… sakit … . ngilu Mas” aku berteriak kesakitan.
    “Maaf sayang… aku mainnya kasar yaah? aku nggak tahan lagi sayang aahhgghghh”, bisiknya.
    “pejuku mau keluar, desahnya sambil menyemprotkan peju yang banyak di liang memekku.

    Kami pun berpelukan puas atas kejadian tersebut. Dan tanpa terasa kami ketiduran sambil berpelukan telanjang bulat karena kecapaian dalam permainan tadi.

    Kami tidur dua jam lamanya lalu kami berdua mandi bersama. Di dalam kamar mandi kami saling membersihkan dan berciuman. Dia minta aku jongkok. Dia mengajariku untuk menjilati serta mengulum kontolnya yang sudah tegak berdiri. Kontolnya kukulum sambil mengocoknya pelan-pelan naik turun.

    “Enak banget yang, kamu cepet ya belajarnya. Terus diemut yang”, erangnya.

    Kemudian giliran dia, aku disuruhnya berdiri sambil kaki satunya ditumpangkan di bibir bathtub agar siap mendapat serangan oralnya. Dia menyerang selangkanganku dengan lidah yang menari-nari kesana kemari pada itilku sehingga aku mengerang sambil memegang kepalanya untuk menenggelamkannya lebih dalam ke memekku. Dia tahu apa yang kumau, lalu dijulurkannya lidahnya lebih dalam ke memekku sambil mengorek-korek itilku dengan jari manisnya. Semakin hebat rangsangan yang aku rasakan sampai aku nyampe, dengan derasnya lendirku keluar tanpa bisa dibendung. Dia menjilati dan menelan semua lendirku itu tanpa merasa jijik.

    “Mas, nikmat banget deh, aku sampe lemes”, kataku.
    “Ya udah kamu istirahat aja, aku mau ngangetin makanan dulu ya”, katanya. .

    Aku berbaring di ranjang, ngantuk sampe ketiduran lagi.

    DIa membangunkanku dan mengajakku makan nasi padang yang sudah disiapkannya.

    “Din, malem ini kita tidur disini aja ya, aku masih pengen ngerasain peretnya memekmu lagi. Kamu mau kan kita ngen tot lagi”, katanya sambil membelai pipiku.
    “Aku nurut aja apa yang mas mau, aku kan udah punyanya mas”, jawabku pasrah.

    Sehabis makan langsung Aku dibawanya lagi keranjang, dan direbahkan. Kami langsung berpagutan lagi, aku sangat bernapsu meladeni ciumannya. Dia mencium bibirku, kemudian lidahnya menjalar menuju ke toketku dan dikulumnya pentilku. Terus menuju keperut dan dia menjilati pusarku hingga aku menggelepar menerima rangsangan itu yang terasa nikmat.

    “Mas enak sekali..” nafasku terengah2.

    Lumatannya terus dilanjutkannya pada itilku. Itilku dijilatinya, dikulum2, sehingga aku semakin terangsang hebat. Pantatku kuangkat supaya lebih dekat lagi kemulutnya. Diapun merespons hal itu dengan memainkan lidahnya ke dalam memekku yang sudah dibukanya sedikit dengan jari. Ketika responsku sudah hampir mencapai puncak, dia menghentikannya. Dia ganti dengan posisi 6. Dia telentang dan minta aku telungkup diatas tubuhnya tapi kepalaku ke arah kontolnya. Dia minta aku untuk kembali menjilati kepala kontolnya lalu mengulum kontolnya keluar masuk mulutku dari atas.

    Setelah aku lancar melakukannya, dia menjilati memek dan itilku lagi dari bawah. Selang beberapa lama kami melakukan pemanasan maka dia berinisiatif untuk menancapkan kontolnya di memekku.

    Aku ditelentangkannya, pahaku dikangkangkannya, pantatku diganjal dengan bantal.

    “buat apa mas, kok diganjel bantal segala”, tanyaku.
    “biar masuknya dalem banget yang, nanti kamu juga ngerasa enaknya”, jawabnya sambil menelungkup diatasku.

    Kontolnya digesek2kan di memekku yang sudah banyak lendirnya lagi karena itilku dijilati barusan.

    “Ayo Mas cepat, aku sudah tidak tahan lagi” pintaku dengan bernafsu.
    “Wah kamu sudah napsu ya Din, aku suka kalo kita ngen tot setelah kamu napsu banget sehingga gak sakit ketika kontolku masuk ke memek kamu”, jawabnya.

    Dengan pelan tapi pasti dia masukan kontolnya ke memekku.

    “Pelan2 ya mas, biar gak sakit”, lenguhku sambil merasakan kontolnya yang besar menerobos memekku yang masih sempit.

    Dia terus menekan2 kontolnya dengan pelan sehingga akhirnya masuk semua. Lalu dia tarik pelan-pelan juga dan dimasukkan lagi sampai mendalam, terasa kontolnya nancep dalem sekali.

    “Mas enjot yang cepat, Mas, aku udah mau nyampe ach.. Uch.. Enak Mas, lebih enak katimbang dijilat mas tadi”, lenguhku.
    “Aku juga mau keluar, yang”, jawabnya.

    Dengan hitungan detik kami berdua nyampe bersama sambil merapatkan pelukan, terasa memekku berkedutan meremes2 kontolnya. Lemas dan capai kami berbaring sebentar untuk memulihkan tenaga.

    Sudah satu jam kami beristirahat, lalu dia minta aku mengemut kontolnya lagi.

    “Aku belum puas yang, mau lagi, boleh kan?” yanyanya.
    “Boleh mas, aku juga pengen ngerasain lagi nyampe seperti tadi”, jawabku sambil mulai menjilati kepala kontolnya yang langsung ngaceng dengan kerasnya.

    Kemudian kepalaku mulai mengangguk2 mengeluar masukkan kontolnya dimulutku. Dia mengerang kenikmatan,

    “Enak banget Din emutanmu. Tadi memekmu juga ngempot kontolku ketika kamu nyampe. Nikmat banget deh malam ini, boleh diulang ya sayang kapan2?. Aku diam tidak menjawab karena ada kontolnya dalam mulutku.
    “Din, aku udah mau ngecret nih, aku masukkin lagi ya ke memek kamu”, katanya sambil minta aku nungging.
    “MAu ngapain mas, kok aku disuru nungging segala”, jawabku tidak mengerti.
    “udah kamu nungging aja, mas mau ngen totin kamu dari belakang”, jawabnya.

    Sambil nungging aku bertanya lagi,

    “Mau dimasukkin di pantat ya mas, aku gak mau ah”.
    “Ya gak lah yang, ngapain di pantat, di memek kamu udah nikmat banget kok”, jawabnya.

    dengan pelan diumasukkannya kontolnya ke memekku, ditekan2nya sampe amblas semua, terasa kontolnya masuk dalem sekali, seperti tadi ketika pantatku diganjel bantal. Kontolnya mulai dikeluarmasukkan dengan irama lembut. Tanpa sadar aku mengikuti iramanya dengan menggoyangkan pantatku. Tangan kirinya menjalar ke toketku dan diremas-remas kecil, sambil mulai memompa dengan semakin cepat. Aku mulai merasakan nikmatnya dien tot, sakit sudah tidak terasa lagi.

    “Mas, aku udah ngerasa enaknya dien tot, terus yang cepet ngenjotnya mas, rasanya aku udah mau nyampe lagi”, erangku.

    Dia tidak menjawab, enjotan kontolnya makin lama makin cepet dan keras, nikmat banget deh rasanya. Akhirnya dengan satu enjotan yang keras dia melenguh,

    “Din aku ngecret, aah”, erangnya.
    “Mas, aku nyampe juga mas, ssh”, bersamaan dengan ngecretnya pejunya aku juga nyampe.Kembali aku terkapar kelelahan.

    Ketika aku terbangun, hari udah terang. Aku nggeletak telanjang bulat di ranjang dengan Satu kaki terbujur lurus dan yang sebelah lagi menekuk setengah terbuka mengangkang. Dia yang sudah bangun lebih dulu, menaiki ranjang dan menjatuhkan dadanya diantara kedua belah paha ku. Lalu dengan gemas, diciumnya pusarku.

    ” Mass, geli!” aku menggeliat manja.

    Dia tersenyum sambil terus saja menciumi pusarku berulang2 hingga aku menggelinjang beberapa kali. Dengan menggunakan ke2 siku dan lututnya ia merangkak sehingga wajahnya terbenam diantara ke2 toketku. Lidahnya sedikut menjulur ketika dia mengecup pentilku sebelah kiri, kemudian pindah ke pentil kanan. Diulangnya beberapa kali, kemudian dia berhenti melakukan jilatannya. Tangan kirinya bergerak keatas sambil meremes dengan lembut toketku. Remasannya membuat pentilku makin mengeras, dengan cepat dikecupnya pentilku dan dikulum2nyasambil mengusap punggungku dengan tangan kanannya.

    “Kamu cantik sekali,” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.

    Aku hanya tersenyum, aku senang mendengar pujiannya. Kurangkul lehernya, kemudian kucium bibirnya. Lidahnya yang nyelip masuk mulutku kuhisap2. Aku segera meraba kontolnya lagi, kugenggam dan kugesek2kan ke memekku yang mulai berlendir. Lendir memekku melumuri kepala kontolnya, kontolnya menjadi makin keras. Urat2 berwarna hijau di kulit batang kontolnya makin membengkak. Dia menekan pinggulnya sehingga kepala kontolnya nyelip di bibir memekku. Terasa bibir memekku menjepit kontolnya yang besar itu.

    Dia menciumi leherku, dadanya direndahkan sehingga menekan toketku.

    “Oh…mas”, lenguhku ketika ia menciumi telingaku.
    “Kakimu dibelitkan di pinggangku Din”, pintanya sambil terus mencium bibirku.

    Tangan kirinya terus meremas toketku sedang tangan satunya mengelus pahaku yang sudah kulingkarkan di pinggangnya. Lalu dia mendorong kontolnya lebih dalam. Sesak rasanya memekku. Pelan2 dia menarik sedikit kontolnya, kemudian didorongnya. Hal ini dia lakukan beberapa kali sehingga lendir memekku makin banyak keluarnya, mengolesi kepala kontolnya. Sambil menghembuskan napas, dia menekan lagi kontolnya masuk lebih dalam. Dia menahan gerakan pinggulnya ketika melihat aku meringis.

    “Sakit yang”, tanyanya.
    “Tahan sedikit ya”. Dia kembali menarik kontolnya hingga tinggal kepalanya yang terselip di bibir luar memekku, lalu didorongnya kembali pelan2.

    Dia terus mengamati wajahku, aku setengah memejamkan mata tapi sudah tidak merasa sakit.

    “Din, nanti dorong pinggul kamu keatas ya”, katanya sambil menarik kembali kontolnya.

    Dia mencium bibirku dengan lahap dan mendorong kontolnya masuk kontolnya. Pentilku diremesnya dengan jempol dan telunjuknya. Aku tersentak karena enjotan kontolnya dan secara reflex aku mendorong pinggulku ke atas sehingga kontolnya nancap lebih dalam. Aku menghisap lidahnya yang dijulurkan masuk ke mulutku.

    Sementara itu dia terus menekan kontolnya masuk lebih dalam lagi. Dia menahan gerakan pinggulnya, rambutku dibelai2nya dan terus mengecup bibirku. Kontolnya kembali ditariknya keluar lagi dan dibenamkan lagi pelan2, begitu dilakukannya beberapa kali sehingga seluruh kontolnya sudah nancap di memekku. Aku merangkul lehernya dan kakiku makin erat membelit pinggangnya.

    ”Akh mas”, lenguhku ketika terasa kontolnya sudah masuk semua, terasa memekku berdenyut meremes2 kontolnya.
    “Masih sakit Din”, tanyanya.
    “Enak mas”, jawabku sambil mencakari punggungnya, terasa biji pelernya memukul2 pantatku.

    Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk memekku. Entah bagaimana dia mengenjotkan kontolnya, itilku tergesek kontolnya ketika dia mengenjotkan kontolnya masuk. Aku menjadi terengah2 karena nikmatnya. Dia juga mendesah setiap kali mendorong kontolnya masuk semua,

    “Din, memekmu peret sekali, terasa lagi empotannya, enak banget sayang ngentot dengan kamu”.Tangannya menyusup ke punggungku sambil terus mengenjotkan kontolnya. Terasa bibir memekku ikut terbenam setiap kali kontolnya dienjot masuk.

    “Mas”, erangku. Terdengar bunyi “plak” setiap kali dia menghunjamkan kontolnya.

    Bunyi itu berasal dari beradunya pangkal pahanya dengan pangkal pahaku karena aku mengangkat pinggulku setiap dia mengenjot kontolnya masuk.

    “Din, aku udah mau ngecrot”, erangnya lagi.

    Dia menghunjamkan kontolnya dalam2 di memekku dan terasalah pejunya nyembur2 di dalam memekku. Bersamaan dengan itu, “Mas, aku nyampe juga mas”, aku mengejang karena ikutan nyampe. Nikmat banget bersama dia, walaupun perawanku hilang aku tidak nyesel karena ternyata dien tot itu mendatangkan kenikmatan luar biasa.

     

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Panas Birahi Sepupu Istriku Yang HOT – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Panas Birahi Sepupu Istriku Yang HOT – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1393 views

    Perawanku – Pertama kali aku mengenal dirinya, aku kagum dengan budi pekerti dan kesopanan bicaranya. Saat itu aku masih ingat, dia sudah duduk di bangku akhir SLTP dan usianya menginjak 15 tahun. Waktu itu aku sudah bertunangan dengan kakak sepupunya yang sekarang telah menjadi istri tercintaku dan dikaruniai seorang putra yang imut. Daftar Poker

    Sebut saja namanya Fitri, seorang istri 23 tahun, ibu dari balita berusia satu tahun yg berwajah teduh dengan sorot mata tajam yg membuat libidoku bergejolak setiap kali bertemu pandang dengannya. Senyum dari bibirnya yg tipis, dipadu dengan lekukan bra 34B yg selalu tercetak dengan jelas di balik setiap pakaian ketat yg dikenakannya, plus, legging yg menjadi kesukaannya selalu membuat penisku menggeliat liar. Suaminya berprofesi sebagai supir distributor F&B yg diproduksi dari daerah ini, untuk didistribusikan ke berbagai hotel di Jakarta; yg pulang setiap seminggu sekali.

    Kembali pada pokok cerita, mudik kali ini aku kembali bertemu dengannya saat keluarganya termasuk sepupu istriku mengunjungi keluarga istriku untuk bertamu; selepas mengetahui bahwa aku dan istriku sudah sampai di kampung halaman. Posisi dudukku berada di ruang tengah, dan istriku berada di dapur. Setelah bersalaman, Fitri segera mencari istriku di dapur. Sensor tinggi dari telingaku menangkap komunikasi mereka dalam bahasa daerah, yg jika diartikan kurang lebih seperti ini:

    I: Istriku
    F: Fitri
    A: Akuf
    F: “Teteeeh! Apa kabaaar??? Udah lama ga ketemu! Makin molegh (padet) aja teh!”

    I: “iiih Si Fitri bisa ajjaaah… yg ada kamuh yg makin seksi ajah! Tuh liat, kemejanya aja udah meletet begitu! Jadi keliatan atuh dalemnya kalo kancingnya ketat begituh”!

    F: “Ah, gapapa teh… sedekah buat cowo!”

    Kebetulan memang aku duduk di sofa panjang yg memungkinkanku untuk melihat jelas ke arah dapur. Fitri dan istriku mengobrol dalam posisi berdiri, dan Fitri mengenakan kemeja putih agak transparan dgn tanktop hitam sebagai daleman, dipadu dgn legging berwarna hitam yg membentuk dengan jelas bagian pinggul ke bawah. Fantasiku semakin liar ketika kuperhatikan dari jauh, tidak ada ceplakan celana dalam di legging si Fitri… which means dia menggunakan g-string -atau jangan2- tidak menggunakan underwear sama sekali!

    Lamunanku buyar tatkala keponakanku memanggilku minta THR, maka untuk sejenak aku mengalihkan perhatian sejenak ke para ponakanku untuk memberikan THR yg memang telah kusiapkan dlm amplop angpau warna pink. Tidak disangka, si Fitri tiba2 sudah persis di sampingku.. duduk dgn gaya manja di dudukan untuk tangan di sofaku.

    F: “Ooommm… buat Pitri maannaaahh?”

    A: “Kamu udah nini nini begitu masa masih mau THR?”

    F: “Namanya juga ibu rumah tangga yg kesepian ditinggal suami kerja, oom… jadi wajar atuh dapet THR dari siOm! Bener kan teh? … (Keluarga tertawa mendengar celetukan Fitri)”

    I: “iyah yang, gapapa… kasih dua amploplah sekalian buat si kecil..”

    A: “Yasudaah kalau begituuuu…”

    Sesaat kukeluarkan dua buah amplop angpau dari tas kecil berwarna hitam yg selalu kubawa kemana-mana dan kuberikan keduanya ke jemari lembut bersih si Fitri.

    F: “Aduuuh… Siom mah baik banget! Andaikan AAnya Pitri kaya siOm…”

    Kuanggap kalimat itu sebagai sebuah kalimat “basa basi” karena keinginannya telah terpenuhi.

    Sekian lama kami bercengkerama dgn anggota keluarga lainnya di ruang tengah, dan Fitri masih tidak beranjak dari tempatnya semula. Bahkan beberapa kali, entah dilakukan dgn sengaja atau tidak, ia melingkarkan tangannya ke belakangku. Karena posisinya berada di pinggir sofa (dudukan tangan), maka saat ia melingkarkan tangannya, otomatis payudaranya beberapa kali menyentuh daun telingaku.

    Lagi2 kubuang otak mesumku dengan berpikir bahwa ini adalah sepupu istriku yg SUDAH BERSUAMI.. maka kuanggap ini sebagai “kebetulan” belaka walaupun aku berusaha keras untuk menahan pikiran liarku yg seolah menggedor setiap pintu di dalam otakku, meminta paksa untuk dibebaskan dgn segera!

    —Skip—

    Hampir memasuki waktu malam, keluarga Fitri pamit, namun tanpa dirinya. Dia bilang mau nginep beberapa hari mau ngobrol2 sama tetehnya (istriku). Jadi, keluarganya pulang tanpa Fitri dan anaknya.

    Seperti biasa, aku mengambil posisi di ruang tengah karena aku perokok berat, sementara istriku dan sepupunya ngobrol di ruang TV sambil Fitri menidurkan anaknya yg masih berusia 1,5 tahun itu. Karena suasana santai, maka Fitri telah berganti kostum menggunakan tanktop dan hotpants warna pink saat ngobrol dgn istriku. Penisku semakin berdenyut melihat pemandangan seperti itu di depanku.
    Spoiler for Kurang lebih penampakan seperti ini:
    Tak lama kemudian, aku ingin buang air kecil, dan kebetulan di kamar mandi ada Abah, orang tua laki-laki istriku. Jadi, aku bilang ke istriku bahwa aku mau ke pincuran (pancuran yg difungsikan untuk tempat mandi/mencuci pakaian/buang air kecil).

    A: “Aku pipis di pincuran aja deh… di kamar mandi penuh”

    I: “Ya udah sanah, hati2 gelap! Jalannya licin loh…”

    A: “Iya gapapa, pelan2 aja”

    F: “Pitri ikut, Om… Udah nahan juga dari tadi…mana si Abah lama banget lagih..”

    Deg! Apakah ini waktunya? Tuhan, kok ya cepat sekali Kau beri aku ujian yg berat ini

    A: “oh gitu? Hayuk atuh…”

    Dan aku mengambil hpku untuk difungsikan sebagai senter. Aku berjalan di belakang Fitri yg sedang memakai jaket sembari mencari sendalnya di depan rumah. Saat ia merunduk, dengan jelas aku bisa melihat bongkahan pantat kenyalnya yg dibalut shortpant karet warna pink -dan lagi2- tanpa ceplakan celana dalam!

    A: “… … …”

    F: “Om, kok ngelamun gitu??”

    A: “Ah, nggak… Itu lagi ngeliatin jalan ke pincuran, ternyata gelap juga ya? (Ngeles)”

    F: “Di sini emang gitu, Om… Ga ada lampu buat ke pincuran… Hayuk atuh!”

    Maka kami berjalan beriringan, dan para suhu pasti bisa menebak bahwa aku kembali memposisikan diri berjalan di belakang Fitri untuk memperhatikan ayunan pinggul, pantat, dan paha mulusnya haha. Tidak berapa lama kemudian di tengah jalan berembun yg licin, dia terpeleset. Karena aku persis berada di belakangnya, maka aku dgn sigap menangkap tubuhnya… Dan dengan jelas aku bisa melihat payudaranya yg terbalut tanktop pink di balik jaketnya yg hanya diritsleting setengahnya. Yg lebih membuatku kaget, dari selipan tanktop pink itu aku tidak melihat adanya bra atau kemben atau apapun itu untuk menutupi putingnya! God damned! I think this situation is well prepared!

    F: “Aduh! Maaf Om… Licin banget jalannya!”

    A: “Iya, udah mulai ngembun soalnya! Pelanpelan aja, Fit! Yuk sini…”

    F: “Iya Om, pelan2 yah…”

    Entah kenapa, tanganku secara otomatis meraih pinggulnya untuk berjalan berdampingan denganku, namun posisi Fitri berada agak ke depan, dengan tanganku tetap melingkar di pinggulnya; sehingga dengan bebas penis tegangku yg masih terbungkus celana pendek warna hitam ini bisa kugesekkan ke hotpants karetnya yg berwarna pink.

    Langkah demi langkah kami berjalan pelan sekali, dan setiap langkah terhenti, penisku kugesekkan ke bongkahan pantat sebelah kanannya sambil tangan kiriku menahan pinggulnya, terlihat seolah berhati hati tetap menahan agar Fitri tidak terpeleset lagi. Entah disengaja tau tidak, kok ya di setiap langkah itu dia seperti mengerti maksudku. Setiap kugesekkan penisku ke pantatnya, dia seperti menekan pantatnya ke batangku… Setiap kali pasti begitu! Jarak antara rumah ke pincuran yg hanya 20 meter-an sepertinya terasa lama sekali karena kami melangkah “sangat hati2” … Atau lebih tepatnya, “saling menikmati” kali ya!

    Sesampainya di depan pincuran, aku segera menurukan celanaku dan penisku yg tegang sedari tadi langsung terbebas dari sangkarnya. Tapi aku baru sadar, bahwa tanganku masih pegang telepon yg kufungsikan sebagai senter. Tanpa pikir panjang, kupanggil Fitri untuk pegang teleponku, jd aku bisa buang air kecil dgn leluasa.

    A: “Fit, tolong pegang teleponku doong… Tadi lupa main masuk aja”

    F: “Iyaah Om, kadieukeun atuh hapenyaah…”

    Agar para suhu bisa membayangkan, pincuran ini berada di bawah jalan setapak; terdiri dari beberapa buah bilik yg saling bersebelahan. Kebetulan pincuran ini tdk memiliki tempat BAB, tapi memang dikhususkan untuk pipis atau mencuci baju. Sebuah bilik pincuran berukuran kurang lebih 2×3 meter, dengan air yg selalu mengalir selama 24 jam dari sebuah pipa PVC.

    Kembali ke jalan cerita, karena memang posisi badan jalan ke pincuran licin karena embun, maka bisa ditebak… Fitri, perempuan dengan dada 34B itu kembali terpeleset saat ingin meraih teleponku, dan aku reflek membalikkan badanku untuk menangkapnya.

    BRUKKK!!!

    Aku menangkapnya untuk kedua kalinya. Bedanya, kali ini posisi tubuhku agak membungkuk (masih dlm posisi berdiri) dan tubuh kami saling berhadapan, dan lebih parahnya lagi, penisku berada dalam posisi bebas dengan kepala Fitri berada di dadaku. Yg membuatku heran, kali ini tidak ada reaksi dari si Fitri.

    A: “Fit, kamu gapapa?”

    F: “… … …”

    A: “Fit, kamu kenapa? (Sambil kuletakkan tanganku di wajahnya)”

    F: “(posisi wajah masih menghadap bawah)Iya, Pitri ga apah2…
    (Mengubah posisi wajah menatapku)…
    Kontol qamuh gede juga yah?”

    OMG!!! Bagai disambar petir rasanya! SHIT!!! Ternyata posisi tangannya sudah memegang penisku dengan lembut. Perasaanku campur aduk antara khawatir dgn kondisinya, tapi juga sekarang shock karena posisi tangannya sudah berada di penisku yg tegang sedari tadi.

    F: “Masih mau pipis ga, Om kalo diginiin? (Sambil mengocok penisku maju mundur dgn perlahan)…”

    A: “Ouw… nakal banget kamu, Fit! Kalo aku bilang udah ga mau pipis lagi, gimana?”

    F: “Hihihi… Mmm… Kalo kamu ga mau pipis, nih, matiin lampu flashnya dong, om… Soalnya Pitri mau pipis sebentar…”

    Tangan Fitri tetap memegang penisku sambil berjalan perlahan ke tempat pipis di pincuran. Kemudian, dia menurunkan hotpants karet pinknya sampai batas lutut, dan berjongkok untuk pipis… Jadi posisi wajahya persis berada di depan penisku yg semakin tegang.

    F: “Deketan atuh, Om… Biar bisa sekalian…”

    A: “… … …”

    Dengan sigap aku mematikan flashku sambil melangkah maju ke depan sehingga posisi testisku menempel ke pipi si Fitri. Tangannya tetap mengocok penisku dengan perlahan, namun dilakukan dgn genggaman yg kuat.

    F: “Si Teteh pasti seneng banget dapetin qamuuh… Udah baik, gak pelit, pasti pinter ngewe kalo kontolnya gede begini”

    Aku tidak menduga bahasa seliar itu bisa keluar dari mulut kecil nan menggairahkan yg selama di depan keluarga istriku selalu mengeluarkan kalimat yg santun. Aku tidak mengira di balik sosok sepupu istriku ini tersimpan figur iblis wanita yg ganas dan bisa keluar di saat2 tertentu… seperti yg terjadi padaku saat ini.

    A: “Haha… kok kamu bisa bilang gitu, Fit? Ukuranku bukannya ukuran standar laki2 Asia?”

    F: “(Sambil menempelkan bibirnya ke penisku)… Mmmh Pitri mah teu ngarti … Mmmhh… urusan Asia Asia-an… Yg penting sekarang Pitri tau kalo kontol kamu gede! Lebih gede dari suami aquh…mmmhh”

    Fitri yg masih dlm posisi jongkok dengan hotpants pink yg turun setengah, telah menempelkan bibirnya di penisku dan mulai menjilati ujung penisku dengan jilatan-jilatan kecil persis seperti yg aku inginkan! Jilatan jilatan kecil dekat lubang penis yg menimbulkan sensasi ngilu nikmat yg akan membangkitkan libido tinggi yg selama ini bersembunyi di dalam tubuhku.

    Kemudian, dia mulai mengulum kepala penisku… bibirnya berusaha menyesuaikan dengan penisku dengan ukuran mulutnya yg mungil, dan kembali memainkan lidahnya di sekitar lubang dan lingkaran kepala penisku. Perlahan, dia mulai menjelajahi penisku lebih dalam; lebih turun lagi dan semakin ke bawah.

    Aku merasa ujung penisku telah menyentuh sesuatu, yg menurutku adalah ujung kerongkongannya. Sepertinya dia berusaha menjangkau pangkal penisku, namun tak kuasa, sehingga ia tersedak dan mengeluarkan penisku dari mulutnya… Diikuti dengan air liur yg melimpah ruah dan masih tersambung antara penisku dan bibir mungilnya.

    A: “Ouw… kamu seksi banget sih, Fit! Aku suka banget sama gaya blowjob kamu!”

    F: “Ssshh.. Haaah… Pitri ga kuat kalo semua, Om! Sluurpp… Kontol kamu kok lain yah? Jadi penasaran.. sshhh.. masa aku ga bisa fellatio-in qamuuh…”

    DAMN… Man! She knows about Fellatio! Suatu hal yg hanya berada dalam imajinasiku bahwa istriku suatu saat tahu banyak mengenai sex seperti apa yg kuharapkan… Namun ternyata harus kudapatkan dalam sosok sepupunya!

    Akupun mulai memberanikan diri untuk lebih membungkuk. Sambil memegang hp, jemari tangan kiri kufungsikan untuk membelai rambutnya, sementara jari tangan kananku yg bebas mulai menurunkan sedikit retsleting bagian atas jaketnya, untuk kemudian masuk ke balik tanktop bagian atas… Dan ternyata benar: Fitri tidak pakai BRA!

    Jemari kananku semakin leluasa membelai dan meremas-remas dada kirinya, sementara penisku masih berada dalam kuluman bibir mungil Fitri. Dengan perlahan kuapit putingnya dengan telunjuk dan jari tengahku, dan kupilin dengan sangat hati hati.

    F: “uuhh… auw.. Kamu pinter banget sih sayaaang… Mmhhh… sayang pinter mainin pentil Pitri.. Eemmhhh.. (Sambil terus maju mundur perlahan memainkan penisku dlm mulutnya)”

    A: “(berbisik) Sssttt… Jgn kenceng2, Fit! Nanti kedengeran orang ga enak akh! Terusin, Fit… Kamu suka yah blowjob-in aku?”

    F: “Iya… MmpPhhrrr.. Pitri suka kontol kamu sayang! Cup..plup… Pitri suka nyepongin kontol kamu”

    A: “Jangan lama2 atuh, Fit.. Gantian dong!”

    F: “(matanya melihat ke mataku penuh tanda tanya dan melepas penisku dari bibir mungilnya) … Gantian gimana maksudnyah, Om? Emang biss… Mmffff…”

    Sebelum Fitri menyelesaikan kalimatnya, tanpa banyak cingcong langsung kukulum bibir nya sambil kumainkan spesialisasiku: French Kiss! Sambil melakukan itu, kuarahkan tubuh seksi dengan hotpants pink yg turun selutut itu untuk berdiri, sambil perlahan kuarahkan mundur sampai dia bersandar di betonan dinding bilik pincuran.

    Alih2 berpikir untuk merekam peristiwa laknat nan nikmat tersebut, aku malah memasukkan smartphoneku ke dalam jaket sambil mencumbu sepupu istriku itu. Penisku kugesekkan sejajar dengan mulut vaginanya, sementara tangan kiriku membelai perlahan leher bagian belakang si Fitri. Bibir dan lidahku teleh berpindah ke leher sampingnya, sementara jemari kananku masih membelai puting sebelah kirinya yg sudah benar2 keras di balik tanktop pink yg dikenakannya.

    F: “Gantian kumaha sih, Om? Aaahh… SiOm meni pinter pisan jilatin kuping Pitri… Mmmhh.. Uugghh.. Mmphh..”

    A: “sluurpp.. mmhhh.. Ini belum, Fit! Maksudku gantian itu yg iniii…”

    Seketika aku langsung berjongkok ke depan vaginanya, dan mengarahkan dia untuk sedikit mengangkang. Fitri pun menekuk kedua tangan di samping telinganya, dan merendahkan tubuhnya sedikit agar bisa mengangkangi wajahku. Melihat pubis tanpa bulu dan vagina yg sudah dlm posisi terangsang merekah persis di depanku, mataku gelap! Langsung kuserang vaginanya bertubi tubi dengan lidahku, mulai dari klitoris, sisi2 lubang vagina, dan kuusahakan untuk memasukkan lidahku sedalam2nya ke liang vaginanya. Tangan kanan Fitri mulai berubah posisi untuk menjambak rambutku seolah mengarahkanku ke bagian vagina yg diinginkannya untuk bersentuhan langsung dgn lidahku.

    F: “..ooUhh.. Eeemmhh.. Aah.. Sshhhh.. Enak sayaang.. Aahhhh.. Eemhh.. Pitri baru sekali inih diginiin sama Om.. OUh.. Gatel, sayaang.. Ahhh..sshhh…”

    A: “… … …”

    Ia sudah tidak mempedulikan kata panggilan untuku yg terus menerus berubah: antara “om” dan “sayang”. Namun begitu, aku tidak mempedulikannya. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutku dan terus kujilati dan kuhisap vagina Fitri tanpa berhenti.

    Untuk menambah sensasi, sambil menjilatinya, kubasuh jemari kananku dengan air yg mengalir di pincuran, dan setelah kulirik dan kuyakin bersih, segera kurapatkan telunjuk dan jari tengahku, untuk kemudian kumasukkan dengan sangat perlahan ke dalam vagina si Fitri. Semakin lama semakin dalam sampai jariku tenggelam sepenuhnya.. Dan kukocok vaginanya dengan perlahan dan speed yg semakin meningkat.

    Saat kulirik ekspresinya seperti sedang menahan sesuatu, bibirku pindah menyusuri leher dan kemudian kukulum dan kujilati kupingnya -sementara tangan kananku tetap mengocok vaginanya-

    A: “Gimana rasanya Fit?”

    F: “mmmh.. mmhh.. Enak banget! Kamu pinter banget entotin Pitri pake tangan! Pitri belon pernah diginiin, Om.. Aah.. Terusin sayang.. Sshhh.. Aaah.. Mmh, Pitri sayang sama Om.. Aahh..”

    Semakin kukenali mimik wajahnya seperti sudah ndak kuat menahan sesuatu yg sudah sedari tadi ditahannya. Semakin kupercepat kocokanku pada vaginanya, dan makin kuperdalam lidahku menyentuh telinganya. Sejenak dia berucap:

    F: “mmh.. Oom, takutnya Pitri pipis inniiihhh.. Mmhpphh.. Mmpphh….”

    A: “Ga apa2 Fit.. Pipisin aja tanganku jangan ditahan2 ya, geulis! Hayuk atuh aku mau lihat..”

    Tetiba desahan Fitri semakin meninggi, pinggulnya bergoyang semakin hebat dan tangan kanannya mencengkeram tanganku dengan kuat. Khawatir berteriak, segera kuarahkan tangan kiriku menutup bibir mungilnya yg terbuka setengah itu.

    F: “mmpphh.. Aah.. Aah.. Aaauuuw.. Aah.. Pitri pipis omm.. Pitri pipiiimmmpppfff… ”

    A: “Ssstt..(Tanganku membekap mulutnya)”

    Benar saja, dalam sekejap aku merasa telunjuk dan jari tengahku seperti dijepit sekuat tenaga, dan seperti ada sesuatu yg mendorong keluar! Secepatnya kulepas jemariku dari vaginanya, dan…

    SOOORRR… SRRRT.. SRRT..

    Semburan pertama sangat kuat dan kencang..

    Semburan kedua semakin berkurang..

    Dan semburan terhenti setelah yg ketiga!

    Ini adalah pertama kalinya kumelihat seorang perempuan squirt dengan mata kepalaku sendiri! Selain itu, ini juga kali pertama aku membuat serang perempuan squirt dalam hidupku!

    Nafas fitri tersengal sengal.. memburu layaknya seseorang yg terpuaskan! Ekspresi yg sungguh berbeda dgn ekspresi buatan yg banyak kulihat di film biru yg banyak tersimpan di hardisk notebook-ku. Kakinya bergetar hebat, hingga tangan kananku yg basah karena lendir kenikmatan dari vaginanya harus menopangnya agar ia tidak terjatuh; dan dengan perlahan kulepaskan dekapan tangan kiriku yg menutup bibir mungilnya yg masih mengeluarkan desahan lemah. Keringat membasahi wajah dan lehernya, membuat penisku yg masih berada di luar celana semakin keras dan berkedut semakin kencang!

    F: “(dengan suara tersengal sengal).. hhhh… hhh… Pitri pipis yah, Om? Maap yah, Om.. hhh.. hhhh..”

    A: “(dgn suara berbisik di telinga Fitri)… Gapapa Fitri sayaaang… Ekspresi kamu bener2 nafsuin banget tadi.. Puas banget aku liatnya”

    F: “hhh.. Pitri lemes banget.. Tapi kamu kan belomaaan..”

    A: “(berbisik dgn nada menenangkan).. Gapapa, Fit.. Kan aku masih 4 hari lagi di sini. Nanti2 juga gapapa..”

    F: “..hhhh..hhhh..tapi nanti belum tentu nemuin waktu kaya gini lagi, sayaaang!”

    A: “Sssttt..jgn teriak, Fit! ga enak sama orang orang”

    F: “tenang aja,sayang.. Mulai jam 7 malem jarang ada orang yg ke sini…soalnya banyak yg bilang di sini angker, dan pada males juga ke sini soalnya gelap, ga keliatan jalannya… Kaya kita tadi.. Tapi kalo kita kan makin ga keliatan makin nempel.. Makin nempel jadi makin enak, ya kan sayang??”

    Kemudian dia kembali menciumku, dan lidah kami kembali berpagutan satu sama lain. Sejenak Fitri melepaskan pagutannya, menengadahkan tangan kiri ke dekat bibirnya yg merekah, dan meludah. Setelah itu, dia meraih batangku yg masih tegak berdiri, mengusap batang penisku dengan ludahnya dan menggerakkan tangannya maju mundur dgn perlahan, sementara bibirnya kembali memagut bibirku dengan rakusnya!

  • Cerita Sex Maafkan Aku Hubungan Dengan Kakak Iparmu

    Cerita Sex Maafkan Aku Hubungan Dengan Kakak Iparmu


    1336 views

    Perawanku – Cerita ini mengisahkan hubungan Incest antara aku dengan kakak iparku yang terjadi beberapa bulan lalu. hubungan seks yang kami lakukan tanpa sengaja dan rencana, semua terjadi dan mengalir begitu saja.

    Sebut saja Namaku Bejo laki-laki yang berumur 27 tahun, dengan postur tubuh standar 170 Cm dengan Berat 70 Kg. aku bekerja di satu instansi pemerintahan memiliki seorang istri yang cantik dan juga 1 orang anak laki-laki yang lucu. keluarga istriku termasuk dari kalangan berada, Namun tidak membuat dirinya menjadi anak manja. Dengan kemauan dan tekat yang keras, membuat aku harus merelakan berjauh-jauhan dengan dirinya dan juga sibuah hatiku. dikarenakan istriku yang mendapat peluang untuk berkarir di pulau sebrang.

    Sejak kepergian istriku, aku sering menghabiskan waktu sendiri dirumah setelah semua aktifitas kantor yang betul-betul menguras tenaga dan pikiranku. dan pada saat hari libur terkadang aku sering mengunjungi rumah mertuaku yang kebetulan berada tidak jauh dari rumahku.

    Dirumah itu, mertuaku tinggal bersama kakak istriku yang sering kupanggil dengan kak Nurul. Kak Nurul yang hanya terpaut beda usia 1 tahun denganku masih keliatan begitu cantik walau sudah memiliki tiga orang anak. dengan tinggi sekitar 162 cm, berat sekitar 50 Kg dan disertai kulit putih bersih. Sebenarnya Kak Nurul adalah mantan Pacarku ketika statusku masih jejaka dan dia masih perawan.

    Namun ketika dia harus melanjutkan kuliah diluar kota, kami kehilangan kontak untuk komunikasi. Sehingga suatu saat dia pulang membawa seorang laki-laki mapan bernama Johar, yang siap memersunting dirinya untuk menjadi istri. dan karna itu kandas pulalah diriku dari memorinya. Namun hubungan ku dengan kak Nurul tetap harmonis seperti biasa. istriku mengetahui masa laluku dengan kakaknya, tapi dia tidak merasa keberatan. toh aku yang ditinggalin… begitu katanya.

    sebenarnya semenjak istriku pergi untuk berkarir, secara tak langsung hubungan ku dengan kak Nurul semakin hari semakin dekat. aku sering meminta tolong kepadanya walau hanya sekedar menjahitkan kancing baju. dan kadang-kadang pula aku membantu kak nurul untuk mejemput keponakan ku yang pulang dari sekolah, kegiatan itu aku lakukan untuk mengobati rasa rinduku pada si buah hati.  Agen Judi Bola

    Tapi tanpa kami sadari hal-hal seperti inilah yg membuat hubungan ku dengan kak nurul semakin hari semakin intim. Hal itu juga di karenakan suami kak Nurul yang sibuk keluar kota untuk mengurus bisnisnya sampai berbulan-bulan. walaupun demikian, tidak pernah terbesit dipikiranku untuk berbuat jauh apalagi samapi melakukanhubungan seks dengan Kak Nurul.

    Bila mengingat apa yang telah aku lakukan dengan kak Nurul, hingga detik inipun aku masih mengingat kejadian itu dengan sangat mendetil. Sore itu hujan lebat turun sangat derasnya di kotaku, sehingga membuat rumah-rumah yang berada disekitar tempat tinggalku dengan perlahan direndam air. Aku yang baru tiba dari kantor, menerima telpon dari kak Nurul.

    “Jo..Apa Kamu Udah pulang dari Kantor”
    “Sudah kak, aku baru saja sampai kerumah”
    “Jo..tolong sebentar kerumah, aku perlu bantuan kamu”
    “baik Kak, sebentar lagi aku langsung kerumah”
    “okey aku tunggu” begitulah akhir percakapan kami di telpon, dengan penasaran bergegas aku mengganti baju dan segera menuju rumah mertuaku.

    Sesampainya didepan pintu, aku langsung di sambut oleh Kak Nurul yang keliatan begitu gugup.

    “Jo…Sesak napas Andi kambuh lagi” begitulah kak Nurul mengabarkan perihal tentang kondisi anak keduanya.
    “sejak kapan kak ???”
    “baru saja jo…”
    “Bapak dan Ibu kemana ???”
    “Mereka berangkat tadi pagi dan membawa serta sikecil keluar kota untuk menghadiri harisan di kantor pusat”
    aku dan kak Nurul langsung menuju ke kamar anaknya.
    “Andi harus kita bawa kerumah sakit kak”
    “Baik Jo aku mau ganti baju dulu” setelah kak Nurul mengganti bajunya kami langsung menuju rumah sakit, saat itu jam tanganku menunjukan pukul 18.20 wib.

    Sesampainya dirumah sakit, setelah diperiksa oleh dokter. dokter menyarankan agar Andi dirawat dirumah sakit tersebut. setelah Andi mendapat kamar untuk inap kak Nurul memintaku untuk menemaninya pulang kerumah, untuk mengambil beberapa peralatan untuk keperluan dirumah sakit. dan kami meninggalkan Andi bersama kakaknya Sheila. Di perjalanan kulihat Kak Nurul menangis, sontak aku terkejut melihatya.

    “Seandainya dalam kondisi seperti ini Bg Johar ada, pasti aku tidak perlu merepotkanmu Jo…”
    “Jangan sungkan seperti itu kak, bukankah Andi itu jg anak ku, apa yg di lakukan bg Johar kan untuk masa depan kakak dan anak-anak juga” sanggah ku untuk menghiburnya.

    Cerita Sex Maafkan Aku Hubungan Dengan Kakak Iparmu

    Cerita Sex Maafkan Aku Hubungan Dengan Kakak Iparmu

    Sebenarnya dalam hatiku juga timbul berbagai pertanyaan, kak Nurul yang begitu cuek ternyata menyimpan rasa sunyi yng begitu dalam di hatinya. selama aku dekat dengannya belum pernah aku melihat atau mendengar keluhan tentang rumah tangganya. tapi barusan aku mendengar keluhan hatinya.

    “Maafkan aku Jo…”
    “Maaf …??? Maaf untuk apa ???”
    “Karena dulu aku telah meninggalkanmu..” hampir berhenti rasanya jantungku mendengar kata-katanya.

    Selama ini aku mengira kak Nurul tidak pernah lagi mengingat masa lalu kami. dan ternyata dia telah meminta maaf dengan apa yg sudah terjadi.

    “Kakak tidak perlu minta maaf karna semua itu juga tidak lepas dari kesalahanku sendir”
    “Jo…kamu tidak perlu menyalahkan dirimu, dan kamu juga tidak perlu memanggilku dengan sebutan kata-kata kakak”

    kemudian kak Nurul menggenggam tanganku yang ketika itu berada di Porsneling mobil yang sedang ku kemudikan. dengan spontan jantung ku berdebar cepat, secepat hujan yg jatuh membasahi bumi. entah karna syahwatku yg sudah lama tidak tersalurkan atau karna kisah masa lalu ku dengan kak Nurul. entahlah aku tidak mengerti. namun aku senang dengan genggaman itu dan tak ingin kak Nurul melepaskan genggamannya. aku seperti anak ABG yang sedang kasmaran darahku panas dingin.sepanjang jalan kami diam seribu bahasa.

    “Jo…apa kamu pernah merasa kesepian ???” tiba-tiba pertanyaan kak nurul memecahkan keheningan
    “Maksud kamu ???” aku kembali bertanya untuk memastikan apa mksud dari pertanyaan kak Nurul
    “sebagai laki-laki normal, dan kondisi yang ditinggal jauh oleh istri apa kamu pernah terlintas untuk berselingkuh dengan perempuan lain.”

    wajahku memerah dengan pertanyaan yg dilontarkan Kak Nurul. pertanyaan yang tabu antara kakak ipar dengan adik ipar menurutku.

    “kenapa kamu diam Jo…???”
    “Maaf kak, sebagai laki-laki normal tentunya aku merasakan hal seperti itu. tetapi untuk mencari perempuan lain aku tidak berani”
    “kenapa ??”
    “Karna aku tidak berani mengambil resiko,,, terus bagaimana dengan kakak sendiri ???”
    “sebagai wanita dan seorang ibu aku butuh perhatian dan kasih sayang, tapi bg Johar selalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Apa dia setia ga ya disana ??”

    Tidak terasa Mobil yang ku lajukan sudah berada di gerbang pintu rumah, kak Nurul pun melepaskan genggamannya dan aku segera turun untuk membuka pintu gerbang. dan sialnya kunci yang tadi aku kantongi sudah hilang. aku kembali ke dalam mobil untuk menghindari hujan yang tak kunjung reda.

    “Kenapa Jo ???”
    “Sial.. aku menghilangkan kunci gerbang”
    “terus gimana???”
    “terpaksa kita rusak kak” dan mataku mencoba mencari batu yang besar untuk merusak kunci tersebut.

    Dalam hujan yang lebat aku berusaha menjebol kunci pengaman dan usahaku berhasil, tapi baju ku basah kuyup. dari belakang aku mengikuti kak nurul yang sedang mebuka pintu rumah , sesekali terdengar suara gigiku ku yang beradu akibat dingin menyelimuti tubuhku. kak nurul tersenyum meliat ekspresiku, dan dia berkata.Cerita Sex Dewasa

    “kamu kedinginan ??”
    “Iya Kak jawabku”
    “Ya sudah, di belakang ada handuk sana gih keringkan badanmu” karna badan yg cukup dingin aku sudah tidak menghiraukan lagi dimana aku melepaskan baju dan celanaku.

    Dengan tidak sengaja, ternyata kak Nurul menyusulku ke belakang dengan membawakan pakaian di ditangannya. sontak dia kaget melihat kondisiku, tapi tanpa berkata sepatah kata pun.

    “ini pakaian milik bg Johan mudah-mudahan muat untuk kamu” dan berlalu meninggalkanku sendiri dengan kondisi teramat malu.

    Aku terdiam dengan kajadian yang barusan kami alami hari ini sudah dua kali kak nurul membuatku panas dingin.

    Sewaktu pacaran hubungan kami tidak sampai terlalu jauh. hubungan kami sewajarnya. hanya sekedar genggaman tangan saja. dengan segera kususul kak nurul ke ruangan tengah tanpa menghiraukan pakaian yang di berikannya. hanya bermodal handuk yg terlilit dipinggang kudapati kak nurul sedang duduk disofa menantiku. perlahan aku mendekatinya

    “kak maaf,,,tadi aku tidak bermaksud….”  Agen Judi Bola
    “tidak apa-apa jo..” kak nurul langsung memotong pembicaraan ku, tangannya kemudian kembali menggenggam tanganku yang sedang berdiri di depannya. dengan perlahan aku membalas genggamannya. mata kami hanya saling memandang tanpa ada kata-kata yang terucap. kuliat tonjolan payudaranya turun naik, dengan perlahan kuberanikan diri untuk membelai rambutnya. entah setan mana yg membuatku melakukan hal itu. kemudian aku duduk dismaping kak nurul, mata kami tidak lepas saling memandang. namun pandangan itu mengatakan penuh dengan berjuta makna.

    Tanpa di sadari wajah kami semakin dekat, dan hembusan nafas terasa tidak beraturan antara aku dan kak Nurul. dengan lembut aku mengecup kening kak Nurul, kak nurulpun tak kuasa menolak apa yg sedang kubuat selain hanya memejamkan mata. secara perlahan kuciumi tiap inci wajahnya sampai akhirnya bibirku mendarat di bibirnya. sejenak aku terdiam untuk memastikan apa yng sedang aku lakukan adalah bukan sekedar mimpi dan mata kak nurul pun terbuka.

    Kini situasi berbalik kak nurul kembali melajutkan ciuman kami yang sempat terhenti, pelan tapi pasti itulah yng terjadi. kini kai saling mengulum satu sama lain. dan tanganku pun mulai menjamah tiap lekuk tubuh indah kak nurul, begitu pula sebaliknya dengan tangan kak nurul. kurebahkan tubuhnya di atas sofa tersebut, kini satu persatu pula tangan ku mulai melucuti pakaiannya terlihat belahan payudaranya yg begitu putih mulus.

    Tanpa kusadari handuk yang kukenakan juga telah terlepas karna kenakalan tangan kakak iparku itu. nafsuku pun menggebu karena tubuhku yang sudah telanjang di depannya. dan tanpa di komandokan tangan ku pun terus bergerilya hingga ke celana nya. dengan sedikit tergesa-gesa kutarik celana tersebut berikut dengan celana dalamnya. kini poloslah bagian bawah kakak iparku. tinggal penutup payudaranya yng masih tersisa ditubuh indah kak Nurul.

    Begitu indah pemandangan itu dengan perlahan kucuba masukkan kedalam gua kenikmatannya. dengan wajah yg meringis, kembali kukecup bibirnya sambil terus berusaha membenamkan apa yang aku punya kedalam gua yang selama ini tidak pernah kurasakan lagi dan usahaku pun membuahkan hasil. terasa lembab dan berlemdir disana. dengan napas yang terengah-engah kak nurul mengimbangi permainanku, sesekali terdengar suaranya merintih membuat ku semakin bergelora di buatnya, kujilati lehernya dan dan tanganku mulai menggapai kancing bra yg membungkus payudaranya.

    Kini poloslah dia dalam pergumalan yang sangat nikmat itu. hujan yang turun semakin lebat, seakan mendukung apa yang sedang kami lakukan. sesekali tangannya mencakar punggungku, membuat goyangan terasa semakin eksotis. peluh terus berjatuhan dari tubuh kami, sehingga membasahi sofa yang menjadi alas dari tiap adegan yang sedang kami lakukan terliat dia mengejang menandakan bahwa dirinya telah mencapai klimaks, tp belum untuk diriku. kucoba meneguk rasa haus yang selama ini aku rindukan, rasa haus akan kehangatan.

    Semakin dalam aku benam apa yang aku punya, semakin terasa denyut dari miliknya. kini terasa punyaku akan mecapai puncaknya kucoba mengayuh kenikmatan ku dengan cara tidak beraturan. dan akhirnya tumpahlah semua hasratku yang selama ini tidak tersalurkan. kami diam saling memandang, dengan sisa-sisa tenaga kami saling merangkul dan berciuman. apa yng kami lakukan tanpa sengaja dan direncanakan. maafkan aku kakak iparku, tidak pernah terbesit dipikranku untuk melecehkan mu. walau kau pernah jadi kekasih hatiku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Pengalaman Bermasturbasi yang Sering Kulakukan saat Sedang Terangsang – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Pengalaman Bermasturbasi yang Sering Kulakukan saat Sedang Terangsang – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1387 views

    Perawanku – Aku seorang cewek berumur 18 tahun dan masih kelas ii SLTA. Diantara teman-teman, aku mungkin paling pemalu. Aku sering naksir cowok tapi aku takut untuk memulai hubungan. Di dalam kamar, aku sering membayang-bayangkan wajah cowok yang kutaksir, membayangkan bagaimana kalau bercinta dengannya, berhubungan seks dengannya, sehingga hal ini sering membuatku sangat terangsang. Akhirnya aku sering beronani dengan mengusap-usap vaginaku yang mungil.

    Pada awalnya sih aku hanya senang mengusap-usap clitorisku sambil melihatnya lewat cermin yang kuletakkan sedemikian rupa sehingga aku bisa memandangi vaginaku lewat kaca itu. Mungkin karena keseringanku bermasturbasi dengan cara mengusap-usap bagian luar vagina dan clitoris lama-kelamaan aku kurang puas jika hanya meraba clitoris, tanganku mulai merambah daerah di bawah clitoris, meraba-raba bibir vaginaku yang mungil kemerahan dan ternyata rasanya lebih nikmat meskipun geli sekali.

    Kadang-kadang bibir itu aku buka dengan tangan kiri dan jari tangan kananku masukkan pelan-pelan ke dalam lubangnya, pada awalnya sih terasa sakit tapi lama-kelamaan nikmat sekali, aku putar-putar jariku dalam lubang sambil sesekali aku memasukkan dalam-dalam berusaha meraih tonjolan yang berada di ujung lubang vagina dan rasanya selangit deh rasa-rasanya aku ingin memasukkan jari ini dan menggerakkan keluar masuk secara cepat,

    terpikir olehku bagaimana rasanya kalau yang ada di dalamnya adalah sebuah penis yang bergerak keluar masuk. Tak terbayang bagaimana rasanya. Tapi aku belum berani melakukan hubungan seks dengan lelaki aku takut kalau hamil dan aku juga belum punya pacar.

    Karena keenakan hampir setiap hari aku bermasturbasi terkadang aku berpikir, aku hyperseks tapi biarin deh yang penting nikmat. Karena seringnya bermasturbasi maka pada saat di kamar terkadang aku sengaja tidak mengenakan celana dalam dan hanya mengenakan kaos dan rok atau hanya mengenakan daster sehingga aku bebas meraba vaginaku.

    Sewaktu mengganggur sendirian di kamar aku sering memandangi vaginaku lewat kaca cermin sambil membersihkannya dari cairan-cairan atau merapikan rambut-rambut kemaluanku yang mulai panjang, bahkan aku menyediakan waktu khusus untuk merawat vaginaku.

    Suatu saat aku bangun pagi-pagi sekali dengan kondisi sangat bernafsu, memang nafsuku sangat tinggi pada hari-hari menjelang haidku datang atau pada beberapa hari setelah haid, padahal sebelum tidur aku telah bermasturbasi, pagi itu aku bingung mau bagaimana antara ingin memuaskan diriku sendirian atau berhubungan seks karena malam itu aku mimpi berhubungan seks dengan seseorang.

    Kemudian aku keluar kamar untuk pergi ke kamar mandi ingin pipis dulu, saat lewat di ruang makan aku melihat pisang yang ada di atas meja makan sisa tadi malam. Tanpa pikir panjang aku mengambil pisang itu satu dan aku bawa masuk ke kamar. aku langsung rebahan di atas tempat tidur dan memulai beraksi.

    Aku meraba-raba vaginaku, sebentar saja vaginaku sudah sangat basah, dan aku melepas daster yang kukenakan sehingga aku langsung telanjang bulat karena aku hanya mengenakan daster. Pada saat itu aku tidak bisa menceritakan bagaimana rasanya nafsuku benar-benar tinggi.

    Jari-jariku dengan liar merambah seluruh bagian vaginaku, bahkan sampai clitorisnya aku pencet-pencet hingga nikmatnya luar biasa. Kalau biasanya hanya satu jari yang kumasukkan ke liang vagina maka sekarang dua jari aku masukkan bersamaan dan rasanya memang nikmat sekali sampai sampai seluruh badanku tergetar keenakan.

    Kemudian kuambil pisang yang tadi aku ambil dari meja makan. Aku kupas dan kemudian kumasukkan ke dalam vagina sambil membayangkan bahwa itu sebuah penis, saat mulai masuk nikmat sekali kemudian setelah separuh lebih masuk dan dibiarkan di sana dalu sambil menikmati bagaimana rasanya.

    Kemudian pisang itu kugerakkan keluar masuk secara pelahan, rasanya nikmat sekali dan pisang itu aku gerakkan terus keluar masuk dengan tangan kanan sementara tangan kiriku mengusap-usap clitorisku yang menonjol kemerah-merahan.

    Sambil terus menggerakkan pisang itu aku berpikir kenapa tidak dari dulu kugunakan benda ini kalau rasanya sangat nikmat begini, beberapa saat kemudian terasa olehku seperti ingin pipis yang tertahan dan nikmat yang luar biasa itu tandanya aku segera akan orgasme dan benda itu aku gerakkan dalam-dalam,

    ya ampun nikmatnya dan akupun orgasme dengan pisang yang sepertiga masuk ke dalam vagina, aku sangat menikmati orgasme ini dan aku biarkan pisang itu ada di sana dan tanganku pelan-pelan meraba-raba kedua payudaraku yang tidak pernah terjamah saat aku bermasturbasi karena aku lebih tertarik pada vaginaku, kuusap-usap putingku pelahan sambil menikmati kenikmatan yang tiada taranya ini.

    Setelah puas kutarik pisang itu pelan-pelan tapi pisang itu patah separuh dan yang separuhnya masih ada di dalam vaginaku, setengah panik aku berusaha mengeluarkan separuh bagian pisang itu dengan tangan tapi tak berhasil malah pisang itu makin masuk ke dalam.

    Aku sangat bingung harus bagaimana, padahal hari ini aku juga harus ujian sekolah, aku langsung masuk ke kamar mandi dan dengan selang air aku berusaha menyemprot vaginaku dengan air biar pisang itu keluar, tapi tak berhasil juga malah bibir-bibir vaginaku menciut karena kedinginan, mau bilang pada Mama aku malu setengah mati. Akhirnya kuputuskan untuk ke rumah sakit setelah ujian nanti dan akupun bergegas berangkat ke sekolah.

    Setelah selesai berpakaian dan dandan, aku mencoba berjalan tapi ya ampun terasa ada sesuatu yang menganjal di dalam vaginaku, maka cara berjalankupun lucu aku tidak bisa berjalan dengan langkah biasa karena ada pisang dalam vaginaku.

    Sesampai di sekolah aku takut kalau teman-temanku tahu ada sesuatu yang tidak beres dalam vaginaku, pelan-pelan aku jalan dengan langkah yang aneh. Sesampainya di depan kelas banyak teman yang memperhatikan langkahku bahkan ada yang bertanya kenapa Rien kok langkahnya kayak robot? aku diam saja sambil tersenyum kecut. “lecet ya kakinya?”.

    Untung dia menebak dulu dan tinggal aku iyakan. Saat dudukpun aku bingung soalnya saat dipakai duduk pisang sialan ini sangat terasa kalau mengganjal dan aku juga khawatir bagaimana kalau nanti pisang ini keluar dan terjatuh saat aku sedang berjalan malu kan?

    Akhirnya aku mengerjakan ujian dengan tidak konsen dan segera ingin pulang. Saat pulang karena sangat tidak enak saat dipakai berjalan aku naik becak, hatiku ragu-ragu untuk ke rumah sakit, Bagaimana nanti aku bilang pada dokter atau perawat? duh malunya! Akhirnya kuputuskan untuk pulang saja.

    Sesampai di rumah aku lepas semua pakaianku, aku coba lagi mengeluarkan pisang itu tapi ternyata sulit sekali akhirnya karena kelelahan aku tertidur dengan kondisi telanjang dan kaki yang mengangkang karena posisi itulah yang paling nikmat.

    Sore hari, aku terbangun dan berusaha lagi mengeluarkannya setelah makan siang yang terlambat. Aku berdiri dengan setengah berjongkok sehingga vaginaku terbuka lebar dan jari tangan kananku mencoba mengeluarkannya sementara tangan kiriku berpegangan pada tempat tidur biar tidak jatuh. Tapi sia-sia saja usaha ini karena jari-jariku sulit menjangkaunya, akhirnya karena setengah putus asa aku gunakan sebuah sumpit mie ayam untuk mencoba mengeluarkannya.

    Dengan posisi yang sama pelan-pelan kumasukkan sumpit itu pelahan dan setelah terasa sampai di pisang aku songkel pelan-pelan pisang itu karena terasa agak sakit. Pelan-pelan terasa olehku kalau pisang itu akan keluar kemudian tangan kiri aku gunakan untuk membuka bibir vaginaku biar pisang itu mudah keluar.

    Dan akhirnya.., telepok.., pisang itu keluar dan terjatuh di antara kedua kakiku, lega sekali rasanya. Ketika aku melihat pisang yang sudah jatuh itu aku agak geli juga benda itu bentuknya sudah tak karuan dan baunya juga sudah tercampur dengan bau vaginaku, setengah hari dia berada di dalam vaginaku dan membuatku kebingungan setengah mati.

    Kemudian aku buang pisang itu dan aku ke kamar mandi untuk membersihkan vaginaku dari sisa-sisa pisang. Akhirnya aku kapok menggunakan pisang untuk bermasturbasi dan kemudian aku berencana untuk membeli sebuah dildo (penis buatan) untuk bermasturbasi.

    Dan aku sarankan buat teman-teman cewek kalau kalian ingin bermasturbasi dan akan memasukkan sesuatu benda yang menyerupai penis ke dalam vagina kalian jangan menggunakan pisang. Kalaupun akan menggunakan pisang gunakan yang masih mentah (hijau) karena masih keras dan tidak mudah patah kemudian gunakanlah secara pelan-pelan dan hati-hati agar tidak patah.

    Dan kalau cairan vaginamu sangat banyak jangan menggunakan pisang meskipun pisang mentah karena cairan yang banyak akan melembekkan pisang itu dan membuatnya cepat patah.

  • Cerita Bokep Sarah Teman Adek Sepupu Ku

    Cerita Bokep Sarah Teman Adek Sepupu Ku


    2016 views

    Perawanku – Aku bertemu dengan Sarah ketika aq mengantar dan menghadiri wisuda adikku, Cika di sebuah perguruan tinggi di kota Bandung. Ketika itu aq berperan menjadi sopir keluarga yg harus antar jemput keluarga yg datang dari kalimantan. Cika ini adalah cewek terakhir dikeluargaku yg menjadi sarjana. Dalam umur 21 thn, dengan otaknya yg encer Cika adikku menjadi sarjana tercepat di keluargaku.

    Eh ini bukan mau cerita tentang adikku Cika nih, tapi temenya adikku si Sarah mojang geulis yg wajahnya bandung banget itu. Mereka sama-sama wisuda, meski dari jurusan yg berbeda. Cika di HI, sedangkan si Sarah di eknomi.

    Singkat cerita, usai mengantar Cika adikku dan orang tua dari banjarmasin ke tempat wisuda, tiba-tiba datang perintah dari Cika adikku.

    “Bang, pliisss, darurat nih, tolong jemput temenku Sarah di salon xxx, udah jam segini ortu nya belum datang. Nanti nggak kebagian tempat duduk lagi…” katanya memelas.

    “Siap, tuan putri, yg deket bank bca itu kan? Ahh, gimana aq bisa tau orangnya?”

    “Orangnya yg paling cantik di salon pake kebaya warna krem, itu udah pasti Sarah! jangan coba ngerayu, nanti aq kasih tau kakak di rumah lho..”

    “Siap bawel..” meski jalanan macet, cuma 10 menit kemudian aq telah sampai salon xxx tempat sarah menunggu.

    Wahh, itu dia, pikirku melihat gadis mengenakan kebaya krem tengah memainkan hp. Sialan si Cika, nomor hp nya nggak di kasih ke aq. Begitu dekat aq langsung menyapanya.

    “Sarah ya?”

    “Hmmm.. Bang Pras ya, sorry nih udah merepotkan, Papaku masih jauh di jalan bang..”

    “Owh, nggak apa-apa Sar, santai aja, lagian kan nggak jauh..”

    Aq membukakan pintu Feroza bututku dan dengan sedikit kesulitan dia naik. Tubuh Sarah di balut kebaya, sungguh seksi. Kututup pintu dan pelan-pelan aq jalankan mobil. Aq bisa memperkirakan Sarah tinngi badanya 167cm, berat badanya sekitar 51kg. Dengan model kebaya yg dadanya agak tinggi, toketnya pasti berkisar 36b. Umurnya pastilah masih seumuran dengan adikku Cika, 21-22 thn. Bandingkan denganku yg sudah 34 thn. Lho buat apa lagi dibandingkan, maksudnya ini cewek tipeku banget.

    “Bang, kakak nggak ikut?”

    “Kakak siapa Sar?” tanyaku berlagak bloon.

    “Istri abang…” buseett dah, kapa si Sarah kenalam ma istri gua ya, pikirku.

    “Owhh, di rumah Sar, eh di sekolah antar anak..” alamak, kok jadi gugup gini ya gua.

    “Beberapa kali Sarah kerumah sama Cika, Abang selalu di luar kota..”

    “Hehe.. biasalah Sar, cari sesuap nasi ama sekarung emas…”

    “Hihihi.. si abang bisa aja”

    “Emm.. kamu udah ada yg dampingi buat wisuda nanti…?” tanyaku

    “Belum nih bang.. cariin dong bang..”

    “Ahh, masak gadis secantik kamu belum ada pedamping..”

    Aq mulai memasang jerat. Benar saja, wajah Sarah langsung memerah. Aq tau bahwa Sarah ini adalah tipe gadis yg ramah, sedikit cerdas tetapi sialnya Sarah juga termasuk group penggoda, hehehehehe…

    “Terus, nanti mau langsung kerja atau mau masih lanjutin sekolah Sar?” tanyaku basa basi supaya tdk terlalu ketahuan sedang menebar jerat.

    “Papa bilang sih suruh lanjut ke amrik, tapi kalau aq pengennya maen dulu bang..”

    “Lho disuruh sekolah kok malah maen.. belum puas main sama temen-temen..?”

    “Iya nih bang, cowok aq belum tamat hahahahahaha…”

    “Lho tadi bilangnya belum punya pedamping…?

    Saking asiknya ngobrol, kami tau-tau udah sampai di gerbang masuk. Cika malambai-lamabai dan kemudian mendekat.

    “Hai Sar, ngbrol apa aja tadi ama abangku? hati hati lho, aq kurang percaya tuh ama abagku..” ahh, sialan nih si Cika jelek-jelakan aq lagi

    “Ahh nggak kok Cik.. lagian kalau aq dirayu juga bearti aq emang cantik, hehehehe…”

    Aq tinggalkan mereka menuju tempat parkir. Hmm.. Sarah, aq suka banget liat wajahnya, bodinya alamak. Kulitnya yg putih mulus tampaknya dirawat dengan baik. Semasa kuliah dulu aq suka mengatakan kalau gadis-gadis seperti Sarah ini Bandung banget atau jawa banget sesuai dengan asalanya. Aq sih, Kalimantan banget, hehe. Menurut istriku aq nggak ganteng-ganteng banget, yg ganteng mah si otong, hehe.. memenag istriku sekarang bukan yg pertama tapi yg terakhir juga bukan.

    Selesai acara wisuda aq masih harus antar adiiku Cika, ortu, istri dan kedua anakku ke restoran sunda untuk merayakan hari bahagia si Cika. Ketika tiba di parkiran, Cika memberikan hp nya dengan berbisik. Barangkali takut di lihat sama istriku.

    “Bang, sini nih, Sarah mau ngomong ama abang.. awas lho jangan rayu dia ya..” ujarnya

    “Hallo.. Cika ya.. selamat ya Cik, sampai tadi lupa ngucapin selamat, hehehe…”

    “Terima kasih ya bang, terima kasih banget lho jemputnya.. hmm nanti kapan-kapan, abang Sarah undang datang ya…”

    Kubayangkan Sarah dengan senyum manisnya. Dia mau ngundang aq dan keluarga atau aq sendiri ya, pikirku ahak surprise. Ahh, aq yakin sarah ngundang aq sendiri nih! nggak apa-apa lah ge-er dikit.

    “Oke deh, sayang…” Upsss, baru kenal aq dah bilang apa tadi? “Sayang nih… nanti ditimpuk ama istri abang lho…”

    “Hehehehehe… nice to meet you Sar, salam ama keluarga ya..” kataku, yg ini agak keras agar Cika nggak curiga. Sedang istriku sibuk bermain dengan kedua anakku, jadi nggak perlu kuatir.

    Ahh, sial lagi.. aq nggak sempat catat nomer hp nya. Tapi toh nanti malam bisa liat di hp Cika kok, pikirku mulai keluar isengnya.

    3 minggu setelah acara wisuda tersbut tiba-tiba aq menerima sms.

    “Bang, lagi dimana nih.. sibuk nggak?? Sarah” Hah? nggak salah salah nih, pikirku.

    Dengan pura-pura menahan diri, Beberapa menit kemudian baru aq jawab dengan menelpon langsung. Malu donk sms balik.

    “Hai Sar, apa kabar? aq lagi di jakarta nih.. lagi makan bareng temen di plaza senayan..” kataku.

    “Nahh, itu dia.. Sarah juga lagi di jakarta nih bang, lgi boring..”

    “Lho aq pikir jadi ke amrik” kataku sekenanya.

    “Males bang, Sarah lagi di rumah sodara nih.. abang rencana pulang bandung kapan?

    “Lusa… kamu?”

    “Sama, boleh dong kita pulang bareng.. Sarah naik kereta bang” busett dah, benerkan kataku, Sarah tipe penggoda.

    “Emm.. gimana yaa…” kataku sok ragu, padahal pengen banget. ” Kita lihat nanti ya, Sar. Nanti sore abang telepon kamu. Eh, Cika tau nggak kalau kamu ada di Jakarta?”

    “Nggak tau bang, mau Sarah kasih tau ama Cika dan istri abang?”

    “Hahahaha.. bukan gitu maksudku, oke deh nanti jam 5 sore abang telepon kepastiannya ya..” kataku.

    Memang kalau rejeki nggak bakal lari kemana-mana. Cepat-cepat kubereskan tugasku di jakarta. Sebenrnya sore ini juga selesai tapi teman-teman di jakarta seperti biasa ngajak main bilyard dan karaoke. Jadi sorry friend, kali ini aq ada urusan penting, mesti cabut. Jam lima sore aq telepon Sarah. Aq tanya sedang apa, kalau boring kenapa nggak jalan-jalan bersama sodara atau teman-temanya.

    “Abang nanti malam ada acara nggak? Ajakin Sarah nonton dong? katanya.

    “Oke Sar,, aq takut macet, gimana kalau kita ketemuan di 21 aja?”

    Singkat cerita, Sarah aq temui di 21. Sarah sudah beli tiket untuk berdua. Aq nggak ingat judulnya. Yg jelas begitu masuk gedung bioskop, aq gandeng tangan Sarah seperti yg diinginkannya. Sarah memulai sinyal dengan mengatakan sedang boring, ingin jalan dan sebagainya.

    Kubelai rambutnya dan seperti sudah kuduga, dia merbahkan bahunya sepanjang film diputar. Nggak ada penolakan ketika jari-jari nakalku mulai mnyusup ke balik bajunya dan bh nya. Semua berjalan lancar. Sarah melenguh ketika kupilin puting susunya dan kuelus lembut perutnya. Ketika jari-jari nakalku menyusup ke sela-sela pahanya, sarah berbisik….

    “Jangan di sini bang..”

    Itu sudah sesuai dengan harapanku dan harapanya. Aq juga sudah horny sekali ketika keluar dari bioskop. Di dalam mobil, seperti harimau kelaparan kami berciuman dengan penuh gairah. Ak suka lenguhanya, kepasarahanya jetika kuhisap puting susunya dan jari-jariku menyusup ke celah-celah kemaluanya yg sudah terbasahi oleh cairan kenikmatannya. Tubuh Sarah bergetar. Aq ingin membuatnya menjadi wanita yg sesungguhnya ketika bercinta.

    “Sarah, abang pengen jilatin kemaluanmu sayang..”

    “Emmhh.. terus bang, Sarah udah nggak tahannn…”

    Rambut kemaluanya yg halus kusibak, klitorisnya yg udah tegang sungguh nikmat di hisap. Aromanya sungguh harum dan bentuknya tampak terawat. Tubuh Sarah sampai bergetar hebat menahan nikmat. Tangan Sarah kuarahkan meremas penisku. Tetapi ternyata Sarah lebih suka blowjob. Pada yg sama aq tak mnyia-nyiakan kesempatan meremas toketnya yg padat dan montok. Apa boleh buat, di mobil yg sempit ini harus terjadi pertempuran yg menggairahkan. Aq pastikan tak ada manusia yg melihat pertmepuran nikmat ini. Jangan sampai kepergok satpam karena bisa malu.

    Hisapannya sungguh membuatku terbang melayang jauh. Tanganku tak henti meremas toketnya yg padat montok dengan puting kecoklatan yg sudah mengeras. Pada saat lain ku pilin dan kuhisap puting susunya hingga membuatnya semakin basah. Karena di jog depan terlalu sempit, aq mengajakanya pindah ke jog belakang. Sarah dengan tak sabar melepas CD hitamnya. Aq sungguh terangsang melihat wanita dengan CD hitam, sepertinya Sarah tau selera sex ku, hehe…

    Sepertinya Sarah adalah tipe cewek blowjob mania karena ia terus saja mengoral penisku. Kupikir hobinya ini sejalan dengan hobiku mengoral kemaluan cewek. keberi isyarat agar ia mengambil posisi 69 dengan aq di bawah. Sarah mengangguk lemah. Aq suka melihat matanya yg sayu. Buset, kemaluan si Sarah bener-bener ok, masih kelihatan garis vertikalnya dengan klitoris yg imut dan mengeras. Segera kuremas pantatnya dan kujilat perlahan paha dalamnya sebelum memasuki area kemaluannya. Sarah mendesah hingga aq makin merangsang dengan suara yg manja.

    “Aaagghhh… plisss Prass.. kamu apain meqiku sayang, nikmat bangett!”

    “Hmmmm…” cuma suara itu yg keluar dari mulutku sambil menghisap cairan kenikmatanya yg mulai banjir.

    Sementara jari-jari Sarah yg lembut menggengam penisku.

    “Sayang.. Sarah nggak tahan.. Sarah mau keluar sayanggg… terusss sayangg… isep klitorisku.. ohhhh!”

    Aq memang selalu ingin memuaskan para wanita yg bercinta denganku. Mneutuku ini adalah satu rahasia para wanita selalu ketagihan bercinta denganku. Perlakukanlah wanita dengan gentle, jangan egois. Mereka adalah mahkluk yg butuh perhatian dan belaian. Jangan bersikap bodoh meninggalkan mereka meraung-raung karena tak terpuaskan. Sarah tertunduk lemah namun tanganya masih menggenggam penisku yg masih tegang mengeras dan berdnyut.

    Terima kasih ya bang, abang sungguh laki-laki yg baik! Sekarang Sarah pengen memuaskan abang..” nah kan, benar kan kataku, jika puas wanita sebenarnya tdk egois.

    “Iya Sarah cantik, kamu istirahat dulu.. nggak usah buru-buru, kita masih punya waktu sampai besok kan?”

    “Ihh, abang nakal..” katanya sambil mremas penisku.

    “Sekarang Sarah pengen lagi bang.. pengen di tusuk sama penis abang…”

    “Tapi kamu kan masih perawan sayangg..?”

    “Abang kok tau sih?”

    “Kan abang udah periksa tadi, hihihi…”

    “Ihh.. nakal deh.. Sarah jadi malu..” katanya manja.

    “Sarah, abang sayang kamu, tetapi untuk memerawani kamu abang sunnguh nggak tega…”

    “Tapi kan Sarah yg mau… plisss bang… Sarah rela”

    “Sarah, kalau dengan oral saja kamu bisa orgasme, ngapain harus sampai berdarah?

    Yg benar-benar tdk kuduga, Sarah menangis. Wahh,, kacau nih.. tapi aq tak ingin bicara lagi. Perlahan kucium bibirnya, kuusap air matanya dan benar para pembaca, gairahnya mulai bangkit lagi. Dengan lembut dikulumnya penisku. Hmm.. sungguh nikmat. Dan aq kembali mengajaknya ke posisi VW (posisi wuueennaakkk), faviritku mengerjai wanita dari belakang alias posisi 69. Aq berkonsentrasi agar kali ini pejuhku dapat nyembur di mulutnya.

    Tipe cewek mania blowjob adalah penyelesaian akhir harus di mulutnya. Kuhisap klitorisnya dengan lembut tetapi kuat dan itu cukup membuatnya makin menguatkan hisapanya pada penisku. Kemaluan Sarah memang beraroma perawan, lendirnya sungguh kental dan aq senang menelannya. Penisku berdenyut-denyut seakan mau nyembur, tetapi kutahan. Aq ingin kali ini aq dan Sarah meraih orgasme bersamaan.

    “Aaghhh.. Prasss… Fuck me plisss, pengen keluar sayangg.. ooogghhhh..” erangnya.

    Itu adalah pertanda bahwa sebentar lagi dia akan meraih orgasme. Jadi sebenarnya orgasme bisa di ukur alias terukur. Kuperkencang hisapanku pada klitoris Sarah yg memerah sambil tanganku berusaha merai toket dan puting susunya. Kuremas kuat untuk memberi extra kenikmatan padanya.

    “Ooouugghhh… Prass… Sarah keluar… oghhh.. ogghhh…” erangnya panjang.

    Dan seperti yg sudah kuperhitungkan akhirnya aq juga menyemburkan spermaku dan nyembur di wajahnya. Dapat kurasakan mulut Sarah menghisap penisku dengan cepat. Aq sampai sampai kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan bagaimana perasaan nikmatku! Kupeluk dan kubelai mesra rambutnya, sambil say thanks! aq tau bahwa Sarah bakal ketagihan. Aq sebenarnya ingin menceritakan lanjutan perjalanan yg menggairahkanku ke bandung dengan Sarah. Seluruh sensasi yg aq dan Sarah dapatkan.

    Ternya Sarah juga menyukai ngesex sambilo berdiri. Di beberapa tempat kami terpaksa berhenti mencari tempat rimbun pepohonan. Sarah segera bersandar di pohon dan dengan nafas yamng memburu melepaskan celananya. Posisi yg sungguh menggairahkan. Dengan berjongkok aq hisap kemlauanya yg cepat basah itu. Kadan Sarah menungging dan kuhisap klitorisnya dari belakang.

    Aq juga meraih orgasme dengan menggesek-gesek kemaluanya dengan penisku. Percaya atau tdk bahwa Sarah masih tetap perawan sampai akhirnya di berangkat ke Amrik untuk melnjutkan sekolah.

    Sekarang aq masih merindukannya. Ia masih sering mengirim sms dengan untaian kata-kata, Jilat, hisap dan kulum sayang. Entahlah, apakah masih ada wanita yg seperti dia di antara pembaca, i do hope!.

  • Cerita Sex Berteduh Di Warung

    Cerita Sex Berteduh Di Warung


    1411 views

    Perawanku – Aku adalah seorang karyawan pada sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang kredit barang
    keperluan rumah tangga. Namun pekerjaanku di lapangan, yaitu sebagai seorang kolektor (Collector). Jadi
    kegiatanku sehari-hari adalah menarik uang tagihan dari pelanggan yang mengambil barang secara kredit
    dari perusahaanku. Dalam pekerjaanku, sekali dalam sebulan, aku pasti akan bekerja di luar kota.

    Pengalaman yang ingin ku ceritakan ini adalah peristiwa yang terjadi saat aku harus melakukan penarikan
    di luar kota. Waktu itu, aku berangkat menggunakan sepeda motor. Karena pertimbangan kemacetan, aku
    memilih untuk memilih jalan alternatif, yaitu jalan menuju luar kota yang melewati perkampungan. Jarak
    yang harus ku tempuh memang lebih jauh, tetapi waktu yang ku tempuh untuk mencapai tujuan relatif lebih
    cepat, karena jalan alternatif ini masih dalam kondisi baik dan jauh dari kemacetan.

    Warung Remang-Remang Di tengah perjalanan, tiba-tiba langit menjadi gelap. Aku sadar bahwa aku tidak
    membawa jas hujan, sehingga ku pacu motorku lebih cepat berharap tiba di tujuan sebelum hujan turun.
    Ternyata tanpa disangka, hujan justru menghadangku di depan perjalanan. Mau tidak mau aku harus mencari
    tempat untuk berteduh. Sialnya aku terjebak hujan justru di daerah hutan dan persawahan. Ku pikir tidak
    kan ada tempat berteduh di tempat seperti ini, sehingga ku pacu motorku lebih cepat untuk bisa mencapai
    daerah pemukiman warga berada tak begitu jauh di depan.

    Dalam cepatnya aku memacu motorku, tiba-tiba melihat sebuah rumah tua dengan warung minum di depannya.
    Aku langsung menghentikan motorku dan memutar balik menuju warung itu. Setibanya di warung itu, aku
    langsung melompat masuk ke warung dan meninggalkan motorku di depan warung. Dengan nada bicara sesopan
    mungkin aku minta izin untuk berteduh kepada pemilik warung yang ternyata, seorang gadis cantik yang
    masih berusia belasan tahun. Wanita itu dengan sopan mempersilahkanku untuk duduk berteduh di warungnya.

    Warung minum sederhana yang saat itu kebetulan sepi, memberikan kesempatan kepadaku untuk sedikit
    bercakap-cakap dengan pemilik warung itu. Dari percakapan itu ku ketahui bahwa namanya Nurlaila, dia
    bukan pemilik warung, tetapi anak dari warung yang ternyata hari itu kebetulan sedang pergi ke pasar
    untuk membeli barang dagangan yang sudah habis. Lela panggilan singkatnya, dia berhenti sekolah saat
    kelas I SMA, karena Bapaknya yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal dunia. Jadi sekarang
    pekerjaannya adalah membantu ibunya menjaga warung minum kecil tersebut.  Agen Judi Bola

    Kalau kuperhatikan, gadis ini sangat cantik alami, rambut panjang terikat di belakang, bibirnya tipis,
    bulu matanya lentik, kulitnya putih, tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun proporsional dengan ukuran
    dada dan pingulnya. Hanya saja permasalahannya, ia kurang pandai dalam berdandan dan perawatan kulit.
    Penampilannya yang cukup sederhana, dan kecantikannya yang alami, sebenarnya cukup menggodaku, terutama
    menggoda pikiran nakalku.

    Dalam percakapan yang terjadi di tengah derasnya hujan itu, beberapa kali ku coba menggodanya.

    “Boleh saya minta Susu?” Tanyaku.
    “Susunya habis, Mas! kalau mau teh saja…” Jawabnya
    “Saya lihat masih ada kok!” Godaku sambil melirik ke buah dada yang menonjok di dadanya.

    Dia hanya tersenyum dan mengatakan “ah!” dengan wajah malu-malu. Jawabannya itu, bagiku terdengar cukup
    seksi dan menggodaku untuk terus mengajaknya berbincang.

    “nggak perlu pakai gula lagi deh!”
    “Ah, Mas ini! ada-ada saja! Lela jadi malu nih diliatin begitu.”
    “melihat juga belum, kok udah malu-malu sih?”
    “Jangan gitu ah, Mas! ini buat anak Lela nanti kalau udah punya anak…”
    “anak Lela bolehlah minum susunya, tapi kalau Mas kalengnya aja deh! nggak apa-apa!”
    “ih..! nggak boleh, Mas! ntar kalengnya pecah!”

    begitulah! suasana perbincanganku dengan Lela semakit hanya di tengah dinginnya hujan yang cukup lebat.
    Akhirnya ku coba untuk meminta buatkan secangkir teh hangat, agar pembicaraanku bisa terus berlanjut,
    mumpung masih hujan, dan mumpung warung sepi. Lela membuatkanku secangkir teh hangat dan menyuguhkannya
    di depanku. Karena alasan hujan yang sekain lebat, aku minta izin untuk dudk di bagian dalam warung.
    Lela tanpa berpikir macam-macam mengizinkanku untuk duduk di dalam warung tepat di dekatnya.

    Dengan pikiran yang sebenarnya sudah cukup ngeres, aku terus mencoba menggodanya, dengan kata-kata dan
    pertanyaan yang semuanya menjurus pada hal-hal yang merangsang.

    “kalau boleh tahu, ukuran BH Lela berapa ya?”
    “ih, Mas ini.! ngapain tanya begitu?”
    “Yaa nggak apa-apa sih! biar Mas bisa membelikan BH buat Lela!”
    “Hahaha…. nggak usah, Mas! Lela nggak pakai BH…”
    “Serius?”
    “Hahaha…..”

    Perbincanganku dan Lela semakin hangat, kekakuan antara kami semakin hilang, suasana semakin mencair,
    karena Lela terus saja punya jawaban yang bisa membuatku tidak bosan duduk menunggu hujan reda. Sikap
    Lela yang terus merespon membuatku semakin berani untuk mengarahkan pada pembicaraan yang lebih
    merangsang.

    Cerita Sex Berteduh Di Warung

    Cerita Sex Berteduh Di Warung

    “Lela pernah lihat ini, nggak?” tanyaku sambil memberi isyarat mata untuk melihat ke bagian bawah
    tubuhku.

    Tepatnya bagian yang tersembunyi di dalam celanaku yang waktu itu mengembul karena tegang karena arah
    pembicaraan yang sangat merangsang.

    “Apa’an?” tanya Lela, dan ketika mengerti apa yang ku maksud, ia terus berkata. ” iih, nggak mau’ah!
    ngeri… takut…!”
    “Takut kenapa?” tanyaku.
    “Abis gundul sih…! Hehehe….” Jawab Lela sambil tertawa.

    Aku tahu pasti, Lela saat ini juga pasti sedang terangsang, hanya saja karena dia perempuan, tidak ada
    bagian tubuh yang menegang seperti pada laki-laki. Dengan jawaban Lela seperti itu, lalu ku katakan
    padanya:

    “Mas tahu kok, CD Lela pasti sudah basah, ya…”
    “Ah, Mas ini sembarangan aja kalau ngomong…! Tapi Mas kok tahu, ya?” Jawab Lela sambil menatapku dan
    memperbaiki posisi duduknya dengan kaki menyilang.
    “Lela pasti juga terangsang kan?” ku pegang pergelangan tangan Lela, ku tarik dan ku coba untuk
    menyentuhkannya ke penisku yang tersebunyi di balik celana panjangku.

    Lela sedikit berontak karena terkejut atas keberanianku memegang tangannya.

    “Mas!”
    “Lela nggak usah malu-malu…! Kalau belum kawin, Lela nggak akan perah lagi dapat kesempatan megang
    punya laki-laki…”

    Ku paksa tangannya untuk menyentuh baang penisku yang sangat tegang. Karena tanganku lebih kuat, Lela
    akhirnya mengalah, dibiarkannya tanganku menarik tangannya untuk memegang batang penisku. Beberapa saat
    kemudian, Lela kembali menarik tangannya dari menyentuh batang penisku yang masih tertutup celana.

    “Udah!” katanya sambil menarik tangannya.

    Tapi tangan Lela kembali ku tarik dan ku paksa kembali untuk menyentuh batang penisku. Lela menatapku,
    lalu berkata:

    “Mas! berpikir yang macam-macam! Maunya Mas, apa?”
    “Mas pingin Lela memegang punya Mas!”
    “Oke! tapi jangan berpikir lebih dari itu…!!”
    “Ya… baiklah!”

    Lela akhirnya memegang batang penisku, dan tanpa pikir panjang, ku buka celanaku dan ku minta Lela untuk
    menggenggam penisku. Lela memalingkan wajahnya lalu berkata:

    “Mas! Kenapa dikeluarkan?”

    “kalau nggak begini, Lela nggak akan bisa memegang…..” Kembali ku raih tangan Lela lalu ku minta ia
    menggenggam batang penisku.

    Lela menurut saja keinginanku, namun wajahnya menatap ke arah lain. Ku gerakkan tangannya yang telah
    menggengam tangan naik turun, Lela hanya diam tanpa kata. Dapat ku rasakan, Lela menikmati setiap
    gesekan batang penisku yang tegang di telapak tangannya yang dingin.

    Perlahan ku lepaskan genggaman tanganku di pergelangan Lela dan ku biarkan dia melakukannya sendiri.
    Lela terus mengocok penisku dengan genggaman tangannya yang mencengkram erat. Lalu perlahan ku sentuh
    dan ku elus pahanya yang masih tertutup rok panjang selutut. Lela membiarkan saja tanganku singgah di
    pahanya. Keadaan ini ku manfaatkan dengan menarik roknya dan memasukkan tanganku untuk menyentuh
    selangkangannya.

    Merasakan tanganku masuk ke daerah sensitifnya, Lela merapatkan pahanya. Namun aku tetap memaksakan
    untuk menyentuh belahan vaginanya. Memang benar, CD Lela memang sudah sangat basah. Itu artinya Lela
    juga sudah sangat terangsang. Aku terus melesakkkan jariku di selangkangannya.

    “Lela..! Jangan ditolak, jika Lela merasa nikmat….”  Agen Judi Bola
    “Lela hanya tidak ingin keterusan, Mas!”
    “Ya! Mas juga mengerti…. Kita nikmati saja, mumpung masih ada kesempatan…!” Setelah aku mengatakan hal
    itu, Lela meraih tanganku dan menarikku ke dalam rumahnya. di ruangan itu, Lela langsung menanggalkan
    seluruh pakaiannnya.

    Aku terpaku melihat apa yang terjadi di hadapanku, seakan tak percaya dengan apa yang ku lihat. Seorang
    gadis yang baru ke kenal beberapa jam yang lalu kini telah berdiri di hadapanku dalam keadaan siap
    dinikmati.

    Lela menarik tanganku sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur tipis di yang terdapat di dalam rumah
    kecil tersebut. Aku pun ikut terjatuh di atas tubuhnya. Dalam posisi seperti itu, Lela membisikkan
    sepatah kata di telingaku:

    “Ini tidak pernah ku lakukan sebelumnya… Memberikan kenikmatan hanya untuk menikmati…”

    Mendengar perkataannya yang penuh gairah dan makna itu, aku tidak buang-buang waktu. Langsung saja ku
    lucuti seluruh pakaianku, dan langsung ku tancapkan kepala penisku ke belahan vagina Lela yang telah
    mengangkang menanti kenikmatan birahi yang telah memuncak.

    Di antara lebatnya hujan yang tak henti-hentinya mengguyur jalanan, aku dan Lela larut dalam kenikmatan
    persenggamaan terlarang. penisku telah amblas dalam lobang vagina gadis yang masih berusia belasan. Aku
    tak perduli lagi dengan apapun yang terjadi diluar sana, yang ada di benakku hanya menikmati gesekan
    demi gesekan penisku di dinding vagina Lela yang basah. Menghujam, menghentak, menusuk, demi memburu
    puncak kepuasan sengama.

    Suara becek terdengar di dalam liang vagian Lela, seiring dengan suara desahan di bibir Lela yang
    membisik di telingaku, menambah panas suasana birahi di diriku. Aku semakin bersemangat untuk menghujam
    penisku hingga menyentuh bibir rahim Lela. Batang penisku terasa berdenyut-denyut menandakan bahwa aku
    akan mencapai puncak kepuasan dalam percintaan terlarang dengan Lela.

    Beberapa saat sebelum aku mencapai puncak, ku bisikkan pada Lela:

    “Mas akan segera keluar…. Heh…”
    “Di dalam saja, Mas!”

    Tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkannya, puncak kenikmatan hubungan seks antara aku dan Lela,
    ku selesaikan dengan menumpahkan sperma dalam lobang vagian Lela. Aku terhempas kelelahan mengejar
    orgasme di atas tubuh gadis kecil anak pemilik warung. Batang penisku tetap ku biarkan amblas dalam
    vagina Lela. Setelah permainan berakhir, aku baru menyadari apa akibat yang akan terjadi jika sperma
    yang ku tanam akan membuahi sel telur di rahim Lela.

    “Kenapa kamu membiarkan saya mengeluarkan di dalam?”
    “Tenang saja! Lela sudah biasa kok!” begitu jawaban Lela yang sangat mengejutkanku.
    “Maksud Lela? sudah biasa hamil…!?”
    “Bukan!”
    “Lalu…!?
    “Lela sudah biasa melayani birahi laki-laki seperti Mas!”
    “Jadi Lela….???”
    “Ya! Lela memang bukan perawan seperti yang mungkin Mas kira…! Lela bekerja memang sebagai penjaga
    warung, tetapi itu tidak cukup untuk kami bertahan hidup.

    Ibu mengizinkan Lela untuk melakukannya, asal dengan laki-laki yang menurut Lela bersih dari penyakit
    kelamin…”

    Mendengar pengakuan itu, aku terperanjat dan bangkit dari tubuh Lela. Aku tidak menyangka gadis seusia
    Lela telah menjual keperawanannya hanya demi bertahan hidup. Tapi di sisi lain, aku juga berpikir,
    masalahnya bukan hanya urusan bertahan hidup, tetapi karena banyaknya lelaki yang memandang wanita hanya
    sebagai pemuas nafsu. Salah satunya aku, yang dengan susah payah memancing pembicaraan yang merangsang,
    hanya demi mendapatkan lobang kecil di selangkangan Lela.

    “Kenapa Lela tidak minta bayaran dari, Mas!”
    “Hehe…. untuk pertama Gratis kok, Mas! Biar Mas merasa dulu, gimana rasanya pelayanan Lela…” Lela
    bangkit dari tempat berbaringnya, lalu mengenakan kembali seluruh pakaiannya.

    Aku terdiam menatap Lela yang sedang mengenakan kembali pakaiannya. Ku tarik kembali tubuh Lela sehingga
    ia jatuh kembali di atas kasur tipis tempat kami becinta, lalu ku katakan:

    “Lela…! hujan masih lebat… Mas masih ingin bersama Lela… Berapa yang harus Mas keluarkan untuk yang
    kedua…???”
    “Kalau Mas bener mau lagi, Mas tinggal aja di sini malam ini menemani Lela…. Lela akan melayani Mas,
    berapa kalipun Mas sanggup…. Gratis!”

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Pengalaman Ngentot Tina Seksi – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Pengalaman Ngentot Tina Seksi – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    2853 views

    Perawanku – Cerita Hot ini terjadi waktu aku datang ke wisudanya di Manggala Wana Bakti, nah setelah selesai di wisuda ceritanya aku dan dia itu ke tempat kostnya di daerah Palmerah. Nama temanku Tina (sudah disamarkan).

    Secara garis besar dia adalah seorang gadis yang cantik dengan ukuran dada 36B, lalu dengan tinggi 159 cm dan berat 48 kg, dan rambut hitam legam sepundak, memang dua tahun lebih tua dari aku, aku kenal sama dia pas waktu dia mengulang salah satu mata kuliah di semester dua sejak itu aku cukup akrab dengan dia, dan dia adalah satu-satunya orang yang tahu pengalaman misteriusku dengan Vita.

    Tina adalah anak dari seorang pengusaha sukses di Bali, tapi karena dia ingin sekali kuliah jurusan komputer di Jakarta, akhirnya dia kost di dekat kampus, karena memang Tina tidak mempunyai keluarga di Jakarta Agen IDN Poker
    Sesampainya di tempat kostnya terus terang aku kagum banget karena rumah kost Tina itu bagus banget, memang sih Tina pernah bilang tempat kostnya tuh mahal sekali satu bulan bayarnya sekitar 600ribuan tapi aku tidak menyangka bahwa rumah kostnya sebagus ini, soalnya biasanya dimana-mana tempat kost identik dengan rumah sederhana, tapi kali ini ternyata aku melihat sebuah rumah kost yang sangat megah. Akhirnya terpaksa aku menyudahkan lamunkanku karena aku mendengar teriakan 3 cewek, yang ternyata teman kostnya Tina, setelah itu aku dikenalkan Tina dengan ketiga teman kostnya itu. Nama ke tiga anak kost itu ada Silvi, Anna, Sonia.

    Silvi adalah seorang wanita yang aku perkirakan berumur sekitar 23 tahun, orangnya cukup cantik dengan rambut ikal sebahu. Anna seorang wanita berumur 22 tahun, mahasiswi tingkat akhir di kampus yang sama dengan aku dan Tina, walaupun tidak terlalu cantik tapi dada dan pantatnya terlihar padat dan menantang lalu Sonia seorang wanita yang berumur tahun dan terlihat paling cantik diantara Silvi dan Anna.

    Singkat cerita akhirnya kami berlima pesta pora merayakan wisuda Tina, memang aku sempat tanya ada berapa anak kost di rumah ini menurut mereka ada 5 orang semuanya wanita tapi yang satu sekarang sedang pulang ke kampung halamannya. Lalu aku juga sempat tanya dimana majikannya, lalu kata mereka majikannya ada di Canada, dan segala keperluan rumah sudah diserahkan kepada seorang pembantu rumah tangga yang sengaja disiapkan disana.

    Lalu disela-sela obrolan kami, aku sempat melihat ada seorang gadis yang berusia sekitar 21 tahun keluar dari dalam, aku pikir ini juga anak kost disini karena dia terlihat amat cantik hanya bedanya kecantikan gadis yang baru kulihat ini lebih alami dan natural. Dan rupanya Tina melihatku sedang memperhatikan gadis itu sehingga dia berkata

    “Hei Tom, sudah donk masa lu ngeliatin si Susi saja”,
    “Oh, jadi dia namanya Susi toch, apa dia juga anak kost disini?” tanyaku.
    Eh mereka semua malah pada senyum, lalu Sonia bilang
    “Tommy.., Tommy.., sudah aku bilang disini cuma ada 5 orang plus 1 pembantu, dan sekarang teman kami yang satu sedang pulang kampung!”.
    “Jadi artinya Susi itu pembantu kalian donk”, potongku dan mereka semua menjawab serempak “Pinter”, dan setelah itu mereka mengolok-ngolokku, karena menurut mereka aku tuch naksir sama Susi.

    Lalu mungkin gara-gara itu kami jadi ngelantur bercerita tentang Susi, dan akhirnya mereka berempat mengajakku taruhan bisa tidak aku mengajak Susi yang masih virgin dan tidak pernah pergi sama laki-laki itu ML denganku. Aku sempat bilang lu orang pada gila yach, tapi karena aku diolok-olok dan dikatain chicken, dll akhirnya aku sanggupin juga dech untuk mencobanya, lalu aku bilang
    “Tapi dengan syarat lu orang harus membantu rencanaku, dan kalau aku berhasil taruhannya apa donk?” dan akhirnya setelah mikir sejenak Sonia bilang “Kalau kamu berhasil kamu boleh minta apa saja”,
    “Oke..” jawabku.

    Lalu aku bilang, “Aku punya rencana begini, nanti aku pura-pura sakit dan tidur di kamar Tina, terus lu suruh dia tolong kerokin aku, lalu pas lagi di kerokin aku akan suruh dia nyalahin VCD yang tentu saja isinya film bokep”. Dan akhirnya Tina dan Sonia yang menuju ke dalam mencari Susi, sedang aku Anna, dan Silvi menuju ke kamar Tina, disana aku tiduran sambil pura-pura pakai balsem, dan seperti orang masuk angin.

    Tidak beberapa lama kemudian, aku lihat Susi dan bersama Tina dan Sonia, lalu akhirnya mereka berempat keluar tinggal aku dan Susi berdua di kamar. Lalu aku dengar ada suara yang sangat lembut menyapaku
    “Ada apa Mas?”, lalu dengan gugup aku menyahut
    “Nggak nich Mbak, saya sepertinya masuk angin, bisa minta tolong kerokin nggak yach?”.
    “Boleh Mas”, jawab Susi lagi, lalu dia mengambil minyak kayu putih dan uang logam seratusan, dan dia menyuruh aku membuka baju lalu dia mulai mengeroki badanku.

    Dan seperti rencanaku akhirnya aku meminta tolong padanya mengambilkan remote, lalu aku menyalakan TV dan VCD.
    Dan setelah menyala, langsung dech terlihat adegan syur di TV, dan aku merasakan seketika itu juga uang logam yang dipegang Susi jatuh ke lantai, lalu aku bilang ke Susi.

    “Sus, maaf yach saya mau nonton film ini soalnya besok pagi sudah harus dikembaliin, kamu nggak ‘pa-‘pa kan yach?”.
    Lalu dengan gugup aku lihat dia bilang
    “Nggakk pappaa kok, Mas”, lalu aku tanya lagi
    “Kamu pernah nonton film beginian Sus?”,
    “Dan dia bilang belum pernah, Mas”, lalu aku lihat dia mengambil duit logam dan kembali mengerokiku dan aku kembali menikmati adegan syur di depan mataku, tapi lama kelamaan aku merasakan kerokan Susi semakin melemah dan nafasnya kian memburu dan lalu aku pikir ini adalah saat terbaik untuk memulainya,
    lalu akhirnya tanganku mulai menyentuh pahanya, dan karena tidak ada reaksi menolak lalu tangan aku mulai semakin naik dan akhirnya sampai di payudaranya dan lagi-lagi dia diam, lalu aku langsung balik badan dan langsung memeluk dan menciumnya, dan karena dia masih virgin dia agak lama baru membalas ciumanku, dan walaupun tampak kaku.

    aku merasakan kenikmatan tersendiri,
    setelah itu aku mulai perlahan-lahan membuka kaos dan roknya, dan lalu aku mulai meremas-remas payudaranya yang hanya dilapisi oleh BH warna krem, dan aku lihat dia tuch meringis kenikmatan, dan setelah puas bermain di payudaranya tanganku segera kebawah dan meraba-raba CD-nya yang sudah basah, lalu aku mulai mengesekkan jariku perlahan-lahan dan aku lihat dia tuch semakin menggelinjang kenikmatan, setelah itu aku membuka CD-nya dan kemudian mulai menjilat-jilat liang kewanitaannya, dan mencari clitnya.

    Cerita Sex.Dan sewaktu lidahku bermain di dalam liang kewanitaannya tanganku kembali bergerak ke atas dan membuka BH-nya dan bermain di atas payudaranya 15 menit kemudian, aku sudahi permainanku di liang kewanitaannya, dan aku-pun mulai mencopot kemeja dan celanaku di depan Susi, dan mungkin karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya Susi diam saja, dan pas aku menurunkan CD-ku, Susi berteriak kecil
    “Ahh..” dan aku jadi kaget, dan aku bilang
    “Ada apa Sus?”, dan dia bilang
    “Saya ngeri ngeliat barang Mas”. Dan lalu dengan senyum aku bilang tidak apa-apa, lalu aku bawa tangannya ke penisku, dan lalu dengan malu-malu dia memegang penisku dan mengocoknya pelan-pelan.
    Dalam hati aku berkata wah nich anak pinter juga, baru sekali nonton BF tahu apa yang harus dilakukannya.

    Dan tidak beberapa lama kemudian aku suruh dia mengisap penisku, tapi mula-mula dia bilang nggak mau karena geli tapi karena terus di paksa akhirnya dia lakukan juga. Dan untuk seorang pemula hisapan Susi cukup hebat (walaupun tidak sehebat Vita), setelah puas aku lalu menyuruhnya udahan dan kemudian aku bersiap-siap untuk memasukkan penisku ke liang senggamanya, dan sesampainya di depan liang kenikmatannya dia langsung bangun dan bilang
    “Nggak boleh donk Mas kan saya masih perawan”. Dalam hati aku berkata sial nich cewek bisa kalah dech aku, tapi akhirnya aku nggak kehabisan akal lalu perlahan-lahan aku bilang kalau dia nggak mau yach sudah saya nggak masukin semua hanya ujungnya saja dan itu nggak merusak selaput daranya.
    Akhirnya dengan perjuangan keras aku diijinkan untuk memasukkan kepala penisku di liang surganya, dan lalu aku mulai memasukkannya perlahan-lahan. Dan seperti dugaanku liang senggamanya amat sempit sehingga aku agak menemui kesusahan memasukkan kepala penisku.

    Dan setelah masuk aku mulai menarik dan memasukkannya perlahan-lahan, dan seperti dugaanku Susi keenakan, dan dia lalu berkata
    “Mas masukkin semua donk masa kepalanya doank!” lalu dengan pura-pura bodoh aku bilang

    “Kata kamu kepalanya saja, tapi lalu dia bilang
    “Nggak ‘pa-‘pa dech Mas ayo donk cepat Mas!”. Akhirnya aku memasukkan sisa penisku ke liang kewanitaannya.

    Setelah masuk aku mulai menggoyangkannya, beberapa menit kemudian aku menarik penisku dan menyuruh dia nungging dan aku melakukannya dengan posisi dog style, sekitar 10 menit kemudian aku dengar Susi bilang
    “Mas kok saya tiba-tiba mau pipis sich yach?” terus aku bilang “Kalau itu bukan pipis tapi tandanya kamu hampir orgasme”. Dan aku suruh dia tahan sebentar karena aku juga sudah mau keluar dan 3 menit kemudian aku keluar barengan dengan dia.

    Setelah itu aku dan dia jatuh ke ranjang, dan aku sempat lihat spermaku yang berceceran di lantai beserta beberapa bercak darah, setelah itu aku bilang terima kasih ke dia, dan dia lalu keluar kamar dan aku pun ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang penuh dengan keringat.

    Setelah aku selesai mandi, aku lalu keluar kamar dan aku nggak menemui Tina, dan ketiga kawannya di ruang depan, dan aku sempat clingak-clinguk dech nyariin mereka, dan tiba-tiba aku dengar ada suara yang memanggilku dari arah sebelah kiriku,
    “Tom, sini donk Tom, kita juga mau ngerasain barang kamu donk”. Spontan aku menghadap ke asal suara tersebut dan aku lihat Silvi yang sudah berada dalam keadaan polos memanggilku di muka pintu kamarnya. Langsung dech adikku yang tadinya sudah kembali tidur tegak lagi, dan segera aku menyamperi Silvi yang memang sudah menungguku, sesampainya di dalam kamar aku sampai kaget melihat ternyata di dalam kamar itu bukan hanya terdapat Silvi saja tetapi juga ada Tina, Sonia, dan Anna, hanya mereka bertiga masih berpakaian lengkap.

    Aku bilang ke Tina,
    “Tuch kan Tin, aku berhasil kan naklukin Susi”
    “Iya dech Tom, kita percaya sekarang”. Setelah itu aku langsung bilang
    “Ayo sekarang aku minta hadiahku”. Lalu jawab mereka
    “Eloe minta hadiah apa?”. Langsung dech otakku mikir minta apa yach, terus aku bilang
    “Aku pengen tidur bareng kalian bertiga sekaligus”, dan reaksinya mereka berempat langsung teriak
    “Yes, siapa takut memang itu kok yang kami harapkan”, lalu Silvi sempat nambahin,
    “Tahu nggak Tom, kenapa aku bugil supaya lu nafsu lihat aku dan minta ML sama aku ternyata siasat aku berhasil, lagian tadi kan pas lu ML sama Susi kita pada ngintip lho”, dan aku langsung dech berpura-pura terkejut padahal sich aku tahu kok he he he, tapi aku diam saja sok cool.

    Setelah itu Anna, Tina dan Sonia mulai striptease di depanku sambil perlahan-lahan membuka bajunya satu persatu sampai mereka semua benar-benar bugil, dan akibatnya adikku yang memang dari tadi sudah bangun jadi semakin tegak, dan setelah mereka selesai dengan baju mereka sendiri mereka dengan ganas langsung menyerbuku, dan dengan penuh nafsu birahi, mereka mempreteli baju dan celanaku satu demi satu, dan ketika celana dalamku diturunkan mereka sempat terpesona melihat barangku, lalu tiba-tiba Tina menunduk dan langsung menjilat-jilat penisku sementara Anna langsung mengarahkan liang kewanitaannya ke mulutku yang langsung saja kusambut dengan jilatan-jilatan di sekitar liang kewanitaannya, sementara itu tanganku menggerayangi payudara Sonia,
    sementara itu pula Sonia menjilat payudara Silvi, lalu kami saling berganti-ganti posisi, setelah puas dengan gaya tersebut aku mulai bangkit dan mula-mula aku mengarahkan penisku ke arah liang kewanitaan Tina, dan sumpah aku menemui kesulitan untuk memasukkan penisku tersebut tapi dengan upaya keras akhirnya aku berhasil untuk memasukkannya, setelah beberapa lama aku dengar Tina merintih dengan keras dan akhirnya dia orgasme, lalu kucabut penisku dari liang senggamanya, dan aku sempat lihat ada bercak darah di penisku, dan aku sempat tanya.

    “Tin, lu masih virgin yach?” dan Tina menjawab katanya
    “Kami berempat masih virgin Tom”, busyet aku hoki benar dalam semalam dapat 5 cewek masih virgin semua.
    Lalu aku mulai mencoba memasukkan penisku ke liang kewanitaan Silvi, kali ini aku lebih pelan-pelan dan santai, walaupun sulit tapi tidak sesulit sewaktu aku memasukkan penisku ke liang kewanitaan Tina, mungkin karena penisku sekarang sudah basah, dan kulihat liang kewanitaan Silvi pun sudah sangat basah, lalu aku kembali memaju mundurkan pantatku, sekitar 10 menit aku merasa bahwa spermaku akan segera keluar, lalu aku langsung menurunkan tempo goyanganku, dan segera aku mulai mengalihkan permainanku ke arah payudara Silvi,

    setelah beberapa lama aku kembali mulai mempercepat goyangan pantatku, tapi itupun tak bertahan lama karena 5 menit kemudian aku sudah ingin mengeluarkan sperma lagi, sebetulnya ingin aku tahan tapi karena aku kasihan sama Silvi orgasmenya tertunda melulu, terpaksa aku malah mempercepat laju permainanku dan 3 menit kemudian aku bilang sama dia
    “Aku sudah mau keluar nich, aku keluarin di dalam atau di luar?”. Lalu dia jawab
    “Di dalam saja”. Akhirnya aku dan dia keluar secara bersamaan.

    Setelah itu aku merebahkan diri ke tempat tidur, tapi baru sepuluh menit aku tiduran aku merasakan barangku saja yang dijilat-jilat, dan ternyata aku lihat kali ini Anna yang menjilat-jilat barangku, akhirnya adikku bangun lagi dech dan aku langsung melepas barangku dari mulutnya dan langsung mengarahkan barangku ke kemaluannya, dan kali ini aku kembali menemui kesulitan, karena liang kewanitaan Anna benar-benar sempit, dan kecil, penisku sampai perih rasanya, akhirnya dengan sedikit paksaan aku berhasil juga memasukkan barangku ke dalam liang surganya, sekitar 15 menit kemudian Anna teriak Tom, aku mau orgasme nich, dan aku langsung bilang.

    “Tunggu donk aku juga sudah mau orgasme nich”. Akhirnya aku mempercepat pola permainan, dan akhirnya aku keluar barengan dia di dalam liang senggamanya.
    Setelah itu aku langsung tiduran lagi, tapi aku liat kali ini Sonia menyamperi aku dan bilang
    “Tom giliran aku kapan?”
    “terus aku bilang besok saja yach aku cape nich”. Tapi sebagai jawabnya dia malah merenggut dan langsung mengocok-ngocok barangku, dan secara perlahan barangku kembali bangun,
    setelah bangun secara maksimal, Sonia lalu berdiri dan duduk tepat diatas barangku sambil tangannya perlahan membuka bibir kemaluannya, dan aku merasakan perih di sekitar barangku, karena Sonia memasukkannya dengan agak keras, setelah itu dia mulai mengoyang-goyangkan pantatnya naik turun sambil sesekali dia mengoyang-goyangkannya ke depan dan ke belakang, karena merasa nikmat sekali nggak sampai 10 menit aku merasa aku sudah mau orgasme, dan aku bilang ke Sonia
    “Son, aku sudah mau orgasme nich”, dan sebagai jawabannya dia mencabut barangku dan mengulum kembali barangku dan akhirnya aku memuntahkan spermaku di mulutnya dan kemudian diminum semua oleh Sonia “Obat awet muda katanya” Dan aku sich tersenyum saja mendengarnya.

    Nggak lama kemudian aku tidur bersama mereka berempat dalam keadaan bugil. Sekitar Jam 7 pagi aku bangun dan menuju kamar mandi untuk mandi karena terus terang badanku lengket semua keringatan. Lalu aku mulai mandi dan menyabuni penisku, mungkin karena terkena tanganku eh adikku malah bangun lagi, dan ketika itu pintu kamar mandi terbuka, lalu aku lihat Tina masuk ke dalam, dan kaget
    “Gila lu Tom, mau onani yach, ngapain Tom, sayangkan lu buang gitu saja, mending buat aku, lalu setelah itu Tina nyamperin aku dan mulai memain-mainkan barangku sebentar lalu dia mulai mengulum penisku, sekitar 15 menit dia mengulum penisku.

    sampai akhirnya aku mengeluarkan spermaku di dalam, dan kemudian diminum seluruhnya oleh Tina, nggak beberapa lama kemudian dia malah nungging dan minta di fuck dengan posisi doggy style, tadinya aku sudah mau nolak dan jelasin bahwa sebenarnya aku lagi bersihin barangku bukan onani, tapi karena nafsu lihat pantat mulus akhirnya aku masukin juga barangku ke liang kewanitaannya, dan kali ini aku nggak sesulit sewaktu memasukkan barangku tadi malam, dan setelah puas dengan doggy style dia malah minta fuck dengan gaya monyet, dimana aku ngefuck sambil ngegendong dia, yach sudah dech akhirnya aku lakukan juga permintaan dia, 5 menit kemudian aku merasa bahwa aku mau orgasme, dan dia bilang “Yach sudah Tom keluarin di dalam saja, aku pengen ngerasain sperma kamu kok” Akhirnya aku keluarin juga dech spermaku di dalam liang kewanitaannya, lalu setelah itu kita malah mandi bersama dan sekitar pukul 9 pagi aku balik ke rumah dan tidur sampai malam.

  • Cerita Sex Cewek Sunda Menggoda Hasrat

    Cerita Sex Cewek Sunda Menggoda Hasrat


    2096 views

    Cerita Sex ini berjudulCerita Sex Cewek Sunda Menggoda HasratCerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Saat ini usiaku 24 tahun dan sedang meyelesaikan proyek studiku di kota Bandung, kata teman teman cewekku wajahku ganteng, badannku yang atletis karena aku suka fitnes seminggu 3 kali, banyak yang bilang jika aku memakai mobil pastinya cewek cewek pada nempel ama aku. Saat ini aku sudah punya pacar.

    Kedua orangtuaku dan orangtuanya pacar sudah saling menyetujui dan karena kami serius dalam berpacaran jadi kedua orang tua menyetujui jika kita menikah. Dalam berpacaran aku dan pacarku hanya saling ciuman, remas remasan tidak sampai bersetubuh karena pacarku menjaga keperawananya sampai menikah.

    Karena itu dia tidak mau berhubungan sex sebelum menikah. Aku menghargai prinsipnya tersebut. Karena aku belum pernah pacaran sebelumnya, maka sampai saat itu aku belum pernah merasakan memek perempuan.

    Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang penakut, sehingga sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis mandi sore, aku pergi ke kosnya. Sampai dia berangkat tidur. aku belajar atau menulis tugas akhir dan dia belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu.

    Kamar kos-nya sendiri berukuran cukup besar, yakni 3mX6m. Kamar sebesar itu disekat dengan triplex menjadi ruang tamu dengan ukuran 3mX2.5m dan ruang tidur dengan ukuran 3mX3.5m. Lobang pintu di antara kedua ruang itu hanya ditutup dengan kain korden.

    lbu kost-nya mempunyai empat anak, semua perempuan. Semua manis-manis sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Anak yang pertama sudah menikah, anak yang kedua duduk di kelas 3 SMA, anak ketiga kelas I SMA, dan anak bungsu masih di SMP.

    Menurut desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya anak pertama adalah karena hamil duluan. Kemudian anak yang kedua pun sudah mempunyai prestasi. Nama panggilannya Fania. Dia dFaniabarkan sudah pernah hamil dengan pacarya, namun digugurkan.

    Menurut penilaianku, Fania seorang playgirl. Walaupun sudah punya pacar, pacarnya kuliah di suatu politeknik, namun dia suka mejeng dan menggoda laki-laki lain yang kelihatan keren. Kalau aku datang ke kos pacarku, dia pun suka mejeng dan bersFaniap genit dalam menyapaku.
    lka memang mojang Sunda yang amat aduhai. Usianya akan 18 tahun. Tingginya 160 cm. Kulitnya berwarna kuning langsat dan kelihatan licin. Badannya kenyal dan berisi. Pinggangnya ramping. Buah dadanya padat dan besar membusung.

    Pinggulnya besar, kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya membusung dengan montoknya. Untuk gadis seusia dia, mungkin payudara dan pinggul yang sudah terbentuk sedemikian indahnya karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh pacarnya.

    Paha dan betisnya bagus dan mulus. Lehernya jenjang. Matanya bagus. Hidungnya mungil dan sedikit mancung. Bibirnya mempunyai garis yang sexy dan sensual, sehingga kalau memakai lipstik tidak perlu membuat garis baru, tinggal mengikuti batas bibir yang sudah ada. Rambutnya lebat yang dipotong Jhoy dengan indahnya.

    Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di teras rumah tampak Fania sedang mengobrol dengan dua orang adiknya. Fania mengenakan baju atas ‘you can see’ dan rok span yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha dan betisnya yang mulus itu dipertontonkan dengan jelasnya.

    “Mas Jhoy, ngapel ke Mbak Dina? Wah… sedang nggak ada tuh. Tadi pergi sama dua temannya. Katanya mau bikin tugas,” sapa Fania dengan centilnya.

    “He… masa?” balasku.

    “Iya… Sudah, ngapelin Fania sajalah Mas Jhoy,” kata Fania dengan senyum menggoda. Edan! Cewek Sunda satu ini benar-benar menggoda hasrat. Kalau mau mengajak beneran aku tidak menolak nih, he-he-he…

    “Ah, neng Fania macam-macam saja…,” tanggapanku sok menjaga wibawa. “Kak Dai belum datang?”

    Pacar Fania namanya Daniel, namun Fania memanggilnya Kak Dai. Mungkin Dai adalah panggilan akrab atau panggilan masa kecil si Daniel. Daniel berasal dan Bogor. Dia ngapeli anak yang masih SMA macam minum obat saja.

    Dan pulang kuliah sampai malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia habiskan untuk ngobrol. Atau kalau setelah waktu isya, dia masuk ke kamar Fania. Kapan dia punya kesempatan belajar?

    “Wah… dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi kerja praktek di Riau. Makanya carFanian teman Mas Jhoy buat menemani Fania dong, biar Fania tidak kesepian… Tapi yang keren lho,” kata Fania dengan suara yang amat manja.

    Edan si playgirl Sunda mi. Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan sekedar bercanda, namun tipe orang yang suka nyerempet-nyerempet hat yang berbahaya.

    “Neng Fania ini… Nanti Kak Dainya ngamuk dong.”

    “Kak Dai kan tidak akan tahu…”

    Aku kembali memaki dalam hati. Perempuan Sunda macam Fania ini memang enak ditiduri. Enak digenjot dan dinikmati kekenyalan bagian-bagian tubuhnya.
    Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di atas meja pendek di ruang tamu ada sehelai memo dari Dina. Sambil membuka jendela ruang depan dan ruang tidur, kubaca isi memo tadi.

    ‘Mas Jhoyby, gue ngerjain tugas kelompok bersama Niken dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tidak pulang. Gue tidur di rumah Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil saja. Soen sayang, Dina’

    Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat kos Di. Sambil menyetel radio dengan suara perlahan, aku mulai membaca buku itu. Biarlah aku belajar di situ sampai jam sepuluh malam.

    Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam pintu diketok dan luar. Tok-tok-tok…

    Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada jam delapan malam tadi, sesuai dengan kebiasaan pacarku. Sepertinya Fania yang berdiri di depan pintu.

    “Mbak Di… Mbak Dina…,” terdengar suara Fania memanggil-manggil dan luar. Aku membuka pintu.

    “Mbak Dina sudah pulang?” tanya Fania.

    “Belum. Hari ini Dina tidak pulang. Tidur di rumah temannya karena banyak tugas. Ada apa?”

    “Mau pinjam kalkulator, mas Jhoy. Sebentar saja. Buat bikin pe-er.”

    “Ng… bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali.”

    “Beres deh mas Jhoy. Fania berjanji,” kata Fania dengan genit. Bibirnya tersenyum manis, dan pandang matanya menggoda menggemaskan.

    KuberFanian kalkulatorku pada Fania. KetFania berbalik, kutatap tajam-tajam tubuhnya yang aduhai. Pinggulnya yang melebar dan montok itu menggial ke kiri-kanan, seolah menantang diriku untuk meremas¬-remasnya. Sialan! Kontholku jadi berdiri. Si ‘boy-ku ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak digenjot.

    Sepeninggal Fania, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun kemudian kuusir pikiran yang tidak-tidak itu. Kuteruskan kembali membaca textbook yang menunjang penulisan tugas sarjana itu.

    Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali diketok.

    “Mas Jhoy… Mas Jhoy…,” terdengar Fania memanggil lirih.

    Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu berdiri Fania dengan senyum genitnya. Bajunya bukan atasan ‘you can see’ yang dipakai sebelumnya. Dia menggunakan baju yang hanya setinggi separuh dada dengan tali ke pundaknya.

    Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat. Dadanya tampak membusung dengan gagahnya, yang ujungnya menonjol dengan tajam dan batik bajunya. Sepertinya dia tidak memakai BH. Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya.

    Tadi, bau parfum harum semacam ini tidak tercium sama sekali, berarti datang yang kali ini si Fania menyempatkan diri memakai parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink.

    “Ini kalkulatornya, Mas Jhoy,” kata Fania manja, membuyarkan keterpanaanku.

    “Sudah selesai. Neng Fania?” tanyaku basa-basi.

    “Sudah Mas Jhoy, namun boleh Fania minta diajari Matematika?”

    “0, boleh saja kalau sekiranya bisa.”

    Tanpa kupersilakan Fania menyelonong masuk dan membuka buku matematFania di atas meja tamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos pacarku itu tanpa kursi. Hanya digelari karpet tebal dan sebuah meja pendek dengan di salah satu sisinya terpasang rak buku.

    Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu masuk tertutup dengan sendirinya dengan perlahan. Memang pintu kamar kos pacarku kalau mau disengaja terbuka harus diganjal potongan kayu kecil.

    “Ini mas Jhoy, Fania ada soal tentang bunga majemuk yang tidak tahu cara penyelesaiannya.” Fania mencari-cari halaman buku yang akan ditanyakannya.

    Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan melihat ke dadanya. Amboi! Benar, Fania tidak memakai bra. Dalam posisi agak menunduk, kedua gundukan payudaranya kelihatan sangat jelas. Sungguh padat, mulus, dan indah. Kontholku terasa mengeras dan sedikit berdenyut-denyut.

    Halaman yang dicari ketemu. Fania dengan centilnya membaca soal tersebut. Soalnya cukup mudah. Aku menerangkan sedikit dan memberitahu rumusnya, kemudian Fania menghitungnya. Sambil menunggu Fania menghitung, mataku mencuri pandang ke buah dada Fania. Uhhh… ranum dan segarnya.

    “Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?” tanyaku sambil menelan ludah. Kalau bapaknya tidak aku tanyakan karena dia bekerja di Cirebon yang pulangnya setiap akhir pekan.

    “Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian Erna dan Nur berangkat tidur waktu Fania bermain-main kalkulator tadi,” jawab Fania dengan tatapan mata yang menggoda.

    Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Fania. Mumpung sepi. Orang-orang di rumahnya sudah tidur. Kamar kos sebelah sudah sepi dan sudah mati lampunya. Berarti penghuninya juga sudah tidur.

    Kalau kupaksa dia meladeni hasratku, tenaganya tidak akan berarti dalam melawanku. Tetapi mengapa dia akan melawanku? jangan-jangan dia ke sini justru ingin bersetubuh denganku. Soal tanya MatematFania, itu hanya sebagai atasan saja.

    Bukankah dia menyempatkan ganti baju, dari atasan you can see ke atasan yang memamerkan separuh payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan tidak memakai bra? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya kalau tidak menyodorkan din?

    Tiba-tiba Fania bangkit dan duduk di sebelah kananku.

    “Mas Jhoy… ini benar nggak?” tanya Fania.

    Ada kekeliruan di tengah jalan saat Fania menghitung. Antara konsentrasi dan menahan nafsu yang tengah berkecamuk, aku mengambil pensil dan menjelaskan kekeliruannya. Tiba-tiba Fania lebih mendekat ke arahku, seolah mau memperhatikan hal yang kujelaskan dan jarak yang lebih dekat.

    Akibatnya… gumpalan daging yang membusung di dadanya itu menekan lengan tangan kananku. Terasa hangat dan lunak, namun ketFania dia lebih menekanku terasa lebih kenyal.

    Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya.

    “Ih… Mas Jhoy nakal deh tangannya,” katanya sambil merengut manja. Dia pura-pura menjauh.

    “Lho, yang salah kan Neng Fania duluan. Buah dadanya menyodok-nyodok lenganku,” jawabku.

    lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di hadapanku. Dia terlihat kembali membetulkan yang kesalahan, namun menurut perasaanku itu hanya berpura-pura saja. Aku merasa semakin ditantang.

    Kenapa aku tidak berani? Memangnya aku impoten? Dia sudah berani datang ke sini malam-malam sendirian. Dia menyempatkan pakai parfum. Dia sengaja memakai baju atasan yang memamerkan gundukan payudara.

    Dia sengaja tidak pakai bra. Artinya, dia sudah mempersilakan diriku untuk menikmati kemolekan tubuhnya. Tinggal aku yang jadi penentunya, mau menyia-siakan kesempatan yang dia berFanian atau memanfaatkannya. Kalau aku menyia-siakan berarti aku band!
    Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya dari belakang. Aku pura-pura mengawasi dia dalam mengerjakan soal. Padahal mataku mengawasi tubuhnya dari belakang. Kulit punggung dan lengannya benar-benar mulus, tanpa goresan sedikitpun. Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat itu tampak licin mengkilap walaupun ditumbuhi oleh bulu-bulu rambut yang halus.

    Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke punggungnya. Fania sedikit terkejut ketFania merasa ada yang menempel punggungnya.

    “Ih… Mas Jhoy jangan begitu dong…,” kata Fania manja.

    “Sudah… udah-udah… Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng Fania,” jawabku.

    lka cemberut. Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual itu malah tampak menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila dikulum-kulum dan dilumat-lumat. Fania berpura-pura meneruskan pekerjaannya.

    Aku semakin berani. Kontholku kutekankan ke punggungnya yang kenyal. Fania menggelinjang. Tidak tahan lagi. tubuh Fania kurengkuh dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya kuremas-remas.

    Bibir Fania mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-¬kuluman bibirku yang diselingi dengan permainan lidahnya. Terlihat bahkan dalam masalah ciuman Fania yang masih kelas tiga SMA sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan kemahiranku.

    Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang. Bau harum terpancar dan kulitnya. Sambil kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku, tanganku berpindah ke buah dadanya.

    Buah dada yang tidak dilindungi bra itu terasa kenyal dalam remasan tanganku. Kadang-kadang dan batik kain licin baju atasannya, putingnya kutekan-tekan dan kupelintir-pelintir dengan jari-jari tanganku. Puting itu terasa mengeras.

    “Mas Jhoy Mas Jhoy buka baju saja Mas Jhoy…,” rintih Fania. Tanpa menunggu persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Faniat pinggang dan ritsleteng celanaku. Aku mengimbangi, tall baju atasannya kulepas dan baju tersebut kubebaskan dan tubuhnya.

    Aku terpana melihat kemulusan tubuh atasnya tanpa penutup sehelai kain pun. Buah dadanya yang padat membusung dengan indahnya. Ditimpa sinar lampu neon ruang tamu, payudaranya kelihatan amat mulus dan licin. Putingnya berdiri tegak di ujung gumpalan payudara.

    Putingnya berwarna pink kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit payudara di sekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung dibanding dengan permukaan kulit payudaranya.
    Celana panjang yang sudah dibuka oleh Fania kulepas dengan segera. Menyusul. kemeja dan kaos singlet kulepas dan tubuhku. Kini aku cuma tertutup oleh celana dalamku, sementara Fania tertutup oleh rok span ketat yang mempertontonkan bentuk pinggangnya yang ramping dan bentuk pinggulnya yang melebar dengan bagusnya.

    Fania pun melepaskan rok spannya itu, sehingga pinggul yang indah itu kini hanya terbungkus celana dalam minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah perutnya, celana dalam itu tidak mampu menyembunyFanian warna hitam dari jembut lebat Fania yang terbungkus di dalamnya. Juga, beberapa helai jembut Fania tampak keluar dan lobang celana dalamnya.
    lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah kontholku yang besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalamku. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang sudah menggelegak.

    Perlahan aku mendekatkan badanku ke badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil mengulum kembali bibirnya yang hangat. Fania pun mengimbanginya. Dia memeluk leherku sambil membalas kuluman di bibirnya.

    Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan lembut. Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku. Aku dan Fania saling mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.
    Ciumanku berpindah ke leher Fania. Leher mulus yang memancarkan keharuman parfum yang segar itu kugumuli dengan bibir dan hidungku. Fania mendongakkan dagunya agar aku dapat menciumi segenap pori-pori kulit lehernya.
    “Ahhh… Mas Jhoy… Fania sudah menginginkannya dan kemarin… Gelutilah tubuh Fania… puasin Fania ya Mas Jhoy…,” bisik Fania terpatah-patah.
    Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak ke arah payudaranya. Payudaranya begitu menggembung dan padat. namun berkulit lembut. Bau keharuman yang segar terpancar dan pori-porinya.

    Agaknya Fania tadi sengaja memakai parfum di sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudaranya itu. Kemudian wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit payudara itu secara bergantian, sambil hidungku terus menghirup keharuman yang terpancar dan kulit payudara.

    Puncak bukit payudara kanannya pun kulahap dalam mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku menjadi sebesar-besarnya. Fania menggelinjang.

    “Mas Jhoy… ngilu… ngilu…,” rintih Fania.

    Gelinjang dan rintihan Fania itu semakin membangkitkan hasratku. Kuremas bukit payudara sebelah kirinya dengan gemasnya, sementara puting payudara kanannya kumainkan dengan ujung lidahku. Puting itu kadang kugencet dengan tekanan ujung lidah dengan gigi.

    Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara kanan itu kuat-kuat. sementara jari tanganku menekan dan memelintir puting payudara kirinya. Fania semakin menggelinjang-gelinjang seperti Fanian belut yang memburu makanan sambil mulutnya mendesah-desah.

    “Aduh mas Booob… ssshh… ssshhh… ngilu mas Booob… ssshhh… geli… geli…,” cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dan mulutnya yang merangsang.

    Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini mulutku berganti menggeluti payudara kiri. sementara tanganku meremas-remas payudara kanannya kuat-kuat. Kalau payudara kirinya kusedot kuat-kuat.

    Tanganku memijit-mijit dan memelintir-pelintir puting payudara kanannya. Sedang bila gigi dan ujung lidahku menekan-nekan puting payudara kiri, tanganku meremas sebesar-besarnya payudara kanannya dengan sekuat-kuatnya.

    “Mas Booob… kamu nakal…. ssshhh… ssshhh… ngilu mas Booob… geli…” Fania tidak henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.

    Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah ke arah perut Fania yang rata dan berkulit amat mulus itu. Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Aku pun berkonsentrasi mengecupi bagian pusarnya.

    Sementara kedua telapak tanganku menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar dan menggembung padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana yang melindungi pantatnya itu.

    Perlahan¬-lahan celana dalamnya kupelorotkan ke bawah. Fania sedikit mengangkat pantatnya untuk memberi kemudahan celana dalamnya lepas. Dan dengan sekali sentakan kakinya, celana dalamnya sudah terlempar ke bawah.

    Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa merangsangnya. Jembut Fania sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna coklat tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusarnya, tanganku mengelus-elus pahanya yang berkulit licin dan mulus. Elusanku pun ke arah dalam dan merangkak naik.

    Sampailah jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan bibir luar memeknya. Tanganku pun mengelus-elus memeknya dengan dua jariku bergerak dan bawah ke atas. Dengan mata terpejam, Fania berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau Fania sangat menikmati permainan ini.

    Perlahan kusibak bibir memek Fania dengan ibu jari dan telunjukku mengarah ke atas sampai kelentitnya menongol keluar. Wajahku bergerak ke memeknya, sementara tanganku kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Fania perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tanganku mempermainkan puting payudaranya.

    “Au Mas Jhoy… shhhhh… betul… betul di situ mas Jhoy… di situ… enak mas… shhhh…,” Fania mendesah-desah sambil matanya merem-melek. Bulu alisnya yang tebal dan indah bergerak ke atas-bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya mata. Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang semakin meninggi.

    Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan jilatan-jilatan panjang dan lubang anus sampai ke kelentitnya.

    Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh memek Fania. Terasa benar bahkan dinding vaginanya mulai basah. Bahkan sebagian cairan vaginanya mulai mengalir hingga mencapai lubang anusnya. Sesekali pinggulnya bergetar. Di saat bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas kuat-kuat sambil ujung hidungku kutusukkan ke lobang memeknya.

    “Mas Booob… enak sekali mas Jhoy…,” Fania mengerang dengan kerasnya. Aku segera memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta tusukan-tusukan ujung hidung di vaginanya. Semakin lama vagina itu semakin basah saja.

    Dua jari tanganku lalu kumasukkan ke lobang memeknya. Setelah masuk hampir semuanya, jari kubengkokkan ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa agar kena ‘G-spot’-nya. Dan berhasil!

    “Auwww… mas Jhoy…!” jerit Fania sambil menyentakkan pantat ke atas. sampai-sampai jari tangan yang sudah terbenam di dalam memek terlepas. Perut bawahnya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut hitam yang lebat itu pun menghantam ke wajahku. Bau harum dan bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf penciumanku.

    Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Fania dan melakukan gerakan yang sama. Kali ini aku mengimbangi gerakan jariku dengan permainan lidah di kelentit Fania. Kelentit itu tampak sem`kin menonjol sehingga gampang bagiku untuk menjilat dan mengisapnya.

    Ketika kelentit itu aku gelitiki dengan lidah serta kuisap-isap perlahan, Fania semakin keras merintih-rintih bagaFanian orang yang sedang mengalami sakit demam. Sementara pinggulnya yang amat aduhai itu menggial ke kiri-kanan dengan sangat merangsangnya.

    “Mas Jhoy… mas Jhoy… mas Jhoy…,” hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan Fania karena menahan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi.

    Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya semakin bertambah ganas. Fania sambil mengerang¬-erang dan menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat dia raih. Meremas rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas payudaranya sendiri.

    “Mas Jhoy… Fania sudah tidak tahan lagi… Masukin konthol saja mas Jhoy… Ohhh… sekarang juga mas Jhoy…! Sshhh. . . ,“ erangnya sambil menahan nafsu yang sudah menguasai segenap tubuhnya.

    Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Fania terlebih dahulu. Aku mau membuatnya orgasme, sementara aku masih segar bugar. Karena itu lidah dan wajahku kujauhkan dan memeknya. Kemudian kocokan dua jari tanganku di dalam memeknya semakin kupercepat.

    Gerakan jari tanganku yang di dalam memeknya ke atas-bawah, sampai terasa ujung jariku menghentak-hentak dinding atasnya secara perlahan-lahan. Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak kelentitnya.

    Gerakan jari tanganku di memeknya yang basah itu sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk… Sementara dan mulut Fania keluar pekFanian-pekFanian kecil yang terputus-putus:

    “Ah-ah-ah-ah-ah…”

    Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di memeknya, sambil memandangi wajahnya. Mata Fania merem-melek, sementara keningnya berkerut-kerut.

    Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar dan kocokan jariku di memeknya semakin terdengar keras. Aku mempertahankan kocokan tersebut. Dua menit sudah si Fania mampu bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan yang membangkitkan nafsu. Payudaranya tampak semakin kencang dan licin, sedang putingnya tampak berdiri dengan tegangnya.

    Sampai akhirnya tubuh Fania mengejang hebat. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi. Matanya membeliak-¬beliak.

    Dan bibirnya yang sensual itu keluar jeritan hebat, “Mas…!“ Dua jariku yang tertanam di dalam vagina Fania terasa dijepit oleh dindingnya dengan kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya jariku dalam vaginanya, dan sela-sela celah antara tanganku dengan bibir memeknya terpancarlah semprotan cairan vaginanya dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut sampai mencapai pergelangan tanganku.

    Beberapa detik kemudian Fania terbaring lemas di atas karpet. Matanya memejam rapat. Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme yang begitu hebat. Kocokan jari tanganku di vaginanya pun kuhentFanian.

    Kubiarkan jari tertanam dalam vaginanya sampai jepitan dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari tangan kucabut dan memeknya. Cairan vagina yang terkumpul di telapak tanganku pun kubersihkan dengan kertas tissue.
    Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh telanjang Fania yang terbaring diam di hadapanku itu benar-benar aduhai. seolah menantang diriku untuk membuktFanian kejantananku pada tubuh mulusnya.

    Aku pun mulai menindih kembali tubuh Fania, sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam tergencet oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya. Sementara bibirku mengulum-kulum kembali bibir hangat Fania,

    Sambil tanganku meremas-remas payudara dan mempermainkan putingnya. Fania kembali membuka mata dan mengimbangi serangan bibirku. Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang karena menahan rasa geli dan ngilu di payudaranya.
    Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher Fania yang mulus dan harum hingga akhirnya mencapai belahan dadanya. Wajahku kemudian menggeluti belahan payudaranya yang berkulit lembut dan halus, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua belah payudaranya.

    Segala kelembutan dan keharuman belahan dada itu kukecupi dengan bibirku. Segala keharuman yang terpancar dan belahan payudara itu kuhirup kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela apabila ada keharuman yang terlewatkan sedikitpun.
    Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang membusung dengan gagahnya itu. Dan kumasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutku.

    Kini aku menyedot-sedot puting payudara kiri Fania. Kumainkan puting di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit payudara di sekitar puting yang berwarna coklat.

    “Ah… ah… mas Jhoy… geli… geli …,“ mulut indah Fania mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. bagaFanian desisan ular kelaparan yang sedang mencari mangsa.

    Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas payudara kanan Fania yang montok dan kenyal itu. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada putingnya.

    “Mas Jhoy… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…”

    Aku semakin gemas. Payudara aduhai Fania itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit payudara kadang kusedot besarnya-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya putingnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah.

    Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil puting yang mencuat gagah di puncaknya.

    “Ah… mas Jhoy… terus mas Jhoy… terus… hzzz… ngilu… ngilu…” Fania mendesis-desis keenakan. Hasratnya tampak sudah kembali tinggi. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.

    Sampai akhirnya Fania tidak kuat mehayani senangan-senangan keduaku. Dia dengan gerakan eepat memehorotkan celana dalamku hingga tunun ke paha.

    Aku memaklumi maksudnya, segera kulepas eelana dalamku. Jan-jari tangan kanan Fania yang mulus dan lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri dengan gagahnya. Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut.

    “Edan… mas Jhoy, edan… Kontholmu besar sekali… Konthol pacan-pacanku dahulu dan juga konthol kak Dai tidak sampai sebesar in Edan… edan…,” ucapnya terkagum-kagum. Sambil membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik tangan kanannya meremas¬remas perlahan kontholku secara berirama.

    Seolah berusaha mencari kehangatan dan kenikmatan di hiatnya menana kejantananku. Remasannya itu mempenhebat vohtase dam rasa nikmat pada batang kontholku.

    “Mas Jhoy. kita main di atas kasur saja…,” ajak Fania dengan sinar mata yang sudah dikuasai nafsu binahi.

    Aku pun membopong tubuh telanjang Fania ke ruang dalam, dan membaringkannya di atas tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku ini amat pendek, dasan kasurnya hanya terangkat sekitar 6 centimeter dari lantai. KetFania kubopong.

    Fania tidak mau melepaskan tangannya dari leherku. Bahkan, begitu tubuhnya menyentuh kasur, tangannya menanik wajahku mendekat ke wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu melumat bibirku dengan ganasnya.

    Aku pun tidak mau mengalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kuhit punggungnya yang halus mulus kuremas-remas dengan gemasnya.

    Kemudian aku menindih tubuh Fania. Kontholku terjepit di antara pangkal pahanya yang mulus dan perut bawahku sendiri. Kehangatan kulit pahanya mengalir ke batang kontholku yang tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual Fania.

    Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Fania yang bagus. Kukecup leher jenjang Fania yang memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia pakai. Kuciumi dan kugeluti leher indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak aktif sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha Fania.

    Gesekan di kulit paha yang licin itu membuat batang kontholku bagai diplirit-plirit. Kepala kontholku merasa geli-geli enak oleh gesekan-gesekan paha Fania.
    Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada montok Fania. Dengan gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraup kedua belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku.

    Keharuman payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan menyungsep ke belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung payudaranya tertekan-tekan oleh wajahku secara bergantian.

    Sungguh sedap sekali rasanya ketFania hidungku menyentuh dan menghirup dalam-dalam daging payudara yang besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak bukit payudara kiri Fania. Daerah payudara yang kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink kecoklat-coklatan itu pun masuk dalam mulutku.

    Kulahap ujung payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya, tak ubahnya seperti bayi yang menetek susu setelah kelaparan selama seharian. Di dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum dan kumainkan dengan lidahku.

    “Mas Jhoy… geli… geli …,“ kata Fania kegelian.

    Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Fania. Putingnya terasa di lidahku menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara itu sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot sekuat-kuatnya.

    Sementara payudara sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya dengan tanganku. Hal tersebut kulakukan secara bergantian antara payudara kiri dan payudara kanan Fania. Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek dengan beriramanya di kulit pahanya. Fania semakin menggelinjang-gelinjang dengan hebatnya.

    “Mas Jhoy… mas Jhoy… ngilu… ngilu… hihhh… nakal sekali tangan dan mulutmu… Auw! Sssh… ngilu… ngilu…,” rintih Fania. Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya.
    Sementara kontholku berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat dan licinnya paha Fania.

    Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Fania dari gelutan mulut dan tanganku.

    Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir memek Fania. Bulu-bulu jembut itu bagaFanian menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.
    “Mas Jhoy… masukkan seluruhnya mas Jhoy… masukkan seluruhnya… Mas Jhoy belum pernah merasakan memek Mbak Dina kan? Mbak Dina orang kuno… tidak mau merasakan konthol sebelum nFaniah. Padahal itu surga dunia… bagai terhempas langit ke langit ketujuh. mas Jhoy…”

    Jan-jari tangan Fania yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat tegang. Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.

    “Edan… edan… kontholmu besar dan keras sekali, mas Jhoy…,” katanya sambil mengarahkan kepala kontholku ke lobang memeknya.

    Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah. Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke liang memek. Kini seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam memek. Daging hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya.

    Aku menghentFanian gerak masuk kontholku.

    “Mas Jhoy… teruskan masuk, Jhoy… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,” Fania protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontholku kugetarkan dengan amplituda kecil.

    Sementara bibir dan hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang bersih dari bulu ketiak. Fania menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.

    “Sssh… sssh… enak… enak… geli… geli, mas Jhoy. Geli… Terus masuk, mas Jhoy…”

    Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara gerakan kukonsentrasFanian pada pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! Kontholku kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam memek Fania dengan sangat cepat dan kuatnya.

    Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit batang kontholku bagaFanian diplirit oleh bibir dan daging lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt!

    “Auwww!” pekik Fania.

    Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam memek Fania tanpa bergerak sedikit pun.

    “Sakit mas Jhoy… Nakal sekali kamu… nakal sekali kamu….” kata Fania sambil tangannya meremas punggungku dengan kerasnya.

    Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Fania. Aku tidak tahu, apakah kontholku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang memek Fania yang berukuran kecil.

    Yang saya tahu, seluruh bagian kontholku yang masuk memeknya serasa dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya. Pijitan dinding memek itu memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kontholku.

    “Bagaimana Fania, sakit?” tanyaku

    “Sssh… enak sekali… enak sekali… Barangmu besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang memekku…,” jawab Fania.

    Aku terus memompa memek Fania dengan kontholku perlahan-lahan. Payudara kenyalnya yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi. Kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang.

    Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir ke dadaku. Kontholku serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot memeknya sejalan dengan genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali.

    Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontholku menyentuh suatu daging hangat di dalam memek Fania. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala konthol sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.

    Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tidak tercabut dari lobang memeknya, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Fania kutumpangkan di atas bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku.

    Sambil terus mengocok memeknya perlahan dengan kontholku, betis kirinya yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku.

    Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di kontholku dengan mempertahankan gerakan maju-mundur perlahannya di memek Fania.
    Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara kedua telapak tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan konthol perlahan di memeknya, tanganku meremas-remas payudara montok Fania.

    Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit payudara itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku.

    Fania pun merintih-rintih keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarFanian ke atas dan ke bawah.

    “Ah… mas Jhoy, geli… geli… Tobat… tobat… Ngilu mas Jhoy, ngilu… Sssh… sssh… terus mas Jhoy, terus…. Edan… edan… kontholmu membuat memekku merasa enak sekali… Nanti jangan disemprotkan di luar memek, mas Jhoy. Nyemprot di dalam saja… aku sedang tidak subur…”

    Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek Fania.

    “Ah-ah-ah… benar, mas Jhoy. benar… yang cepat… Terus mas Jhoy, terus…”

    Aku bagaFanian diberi spirit oleh rintihan-rintihan Fania. tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontholku di memek Fania. Terus dan terus. Seluruh bagian kontholku serasa diremas – remas dengan cepatnya oleh daging-daging hangat di dalam memek Fania.

    Mata Fania menjadi merem-melek dengan cepat dan indahnya. Begitu juga diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa.

    “Sssh… sssh… Fania… enak sekali… enak sekali memekmu… enak sekali memekmu…”

    “Ya mas Jhoy, aku juga merasa enak sekali… terusss… terus mas Jhoy, terusss…”

    Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada memeknya. Kontholku terasa bagai diremas-remas dengan tidak karu-karuan.

    “Mas Jhoy… mas Jhoy… edan mas Jhoy, edan… sssh… sssh… Terus… terus… Saya hampir keluar nih mas Jhoy…

    sedikit lagi… kita keluar sama-sama ya Booob…,” Fania jadi mengoceh tanpa kendali.

    Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus membuatnya keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa itu perkasa.

    Biar dia mengakui kejantanan orang Jawa yang bernama mas Jhoyby. Sementara kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam memek Fania bagaFanian berdenyut dengan hebatnya.

    “Mas Jhoy… mas Jhoyby… mas Jhoyby…,” rintih Fania. Telapak tangannya memegang kedua lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke bawah.

    lbarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya. Bedanya, dibandingkan dengan pembalap aku lebih beruntung. Di dalam “mengayuh sepeda” aku merasakan keenakan yang luar biasa di sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan keenakan yang tiada terkira.

    “Mas Jhoy… ah-ah-ah-ah-ah… Enak mas Jhoy, enak… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar mas Jhoy… mau keluar… ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…”

    Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Fania dengan sangat kuatnya. Di dalam memek, kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Fania dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Fania meremas lengan tanganku dengan sangat kuatnya. Mulut sensual Fania pun berteriak tanpa kendali:

    “…keluarrr…!”

    Mata Fania membeliak-beliak. Sekejap tubuh Fania kurasakan mengejang.

    Aku pun menghentFanian genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan diam tertanam dalam memek Fania. Kontholku merasa hangat luar biasa karena terkena semprotan cairan memek Fania. Kulihat mata Fania kemudian memejam beberapa saat dalam menikmati puncak orgasmenya.

    Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding memeknya pada kontholku berangsur-angsur melemah. walaupun kontholku masih tegang dan keras.

    Kedua kaki Fania lalu kuletakkan kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka. Aku kembali menindih tubuh telanjang Fania dengan mempertahankan agar kontholku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.

    “Mas Jhoy… kamu luar biasa… kamu membawaku ke langit ke tujuh,” kata Fania dengan mimik wajah penuh kepuasan. “Kak Dai dan pacar-pacarku yang dulu tidak pernah membuat aku ke puncak orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina tinggal di sini, Fania suka membenarkan mas Jhoy saat berhubungan dengan Kak Dai.”

    Aku senang mendengar pengakuan Fania itu. berarti selama aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku selalu membayangkan kemolekan tubuh Fania dalam masturbasiku, sementara dia juga membayangkan kugeluti dalam onaninya.

    Bagiku. Dina bagus dijadFanian istri dan ibu anak-anakku kelak, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh aduhai Fania enak digeluti dan digenjot dengan penuh nafsu.

    “Mas Jhoy… kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan… kamu perkasa… dan kamu berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya…”

    Aku bangga mendengar ucapan Fania. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai anak kecil yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya. Perempuan Sunda ini harus kewalahan menghadapi genjotanku.

    Perempuan Sunda ini harus mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan aku saat ini baru setengah perjalanan pendakianku di saat Fania sudah mencapai orgasmenya. Kontholku masih tegang di dalam memeknya. Kontholku masih besar dan keras, yang hams menyemprotkan pelurunya agar kepalaku tidak pusing.

    Aku kembali mendekap tubuh mulus Fania, yang di bawah sinar lampu kuning kulit tubuhnya tampak sangat mulus dan licin. Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di memek Fania, namun masih dengan gerakan perlahan.

    Dinding memek Fania secara berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa hangat dan enak. Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan orgasme yang disemprotkan oleh memek Fania beberapa saat yang lalu.

    “Ahhh… mas Jhoy… kau langsung memulainya lagi… Sekarang giliranmu… semprotkan air manimu ke dinding-dinding memekku… Sssh…,” Fania mulai mendesis-desis lagi.

    Bibirku mulai memagut bibir merekah Fania yang amat sensual itu dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan kananku meremas-remas payudara montok Fania serta memijit-mijit putingnya, sesuai dengan mama gerak maju-mundur kontholku di memeknya.

    “Sssh… sssh… sssh… enak mas Jhoy, enak… Terus… teruss… terusss…,” desis bibir Fania di saat berhasil melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaFanian mengipasi gelora api birahiku.

    Sambil kembali melumat bibir Fania dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan kontholku di memeknya. Pengaruh adanya cairan di dalam memek Fania, keluar-masuknya konthol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Mulut Fania di saat terbebas dari lumatan bibirku tidak henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,

    “Mas Jhoy… ah… mas Jhoy… ah… mas Jhoy… hhb… mas Jhoy… ahh…”

    Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya. Kedua tanganku kini dari ketiak Fania menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya. Tangan Fania pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya.

    Aku pun memulai serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Fania sekarang berlangsung dengan cepat dan berirama. Setiap kali masuk, konthol kuhunjamkan keras-keras agar menusuk memek Fania sedalam-dalamnya.

    Dalam perjalanannya, batang kontholku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Fania. Sampai di langkah terdalam, mata Fania membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!” Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai berbunyi: plak!

    Di saat bergerak keluar memek, konthol kujaga agar kepalanya yang mengenakan helm tetap tertanam di lobang memek. Remasan dinding memek pada batang kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya.

    Bibir memek yang mengulum batang kontholku pun sedikit ikut tertarik keluar, seolah tidak rela bila sampai ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak keluar ini Bibir Fania mendesah, “Hhh…”
    Aku terus menggenjot memek Fania dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak. Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan enak sekali bekerja di kontholku. Tangan Fania meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang memeknya.

    Beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontholku dan memek Fania menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrtt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yang merdu yang keluar dari bibir Fania:

    “Ak! Uhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”

    Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yang tiada tara membuatku tidak kuasa menahan pekikan-pekikan kecil:

    “lka… Fania… edan… edan… Enak sekali Fania… Memekmu enak sekali… Memekmu hangat sekali… edan… jepitan memekmu enak sekali…”

    “Mas Jhoy… mas Jhoy… terus mas Jhoy rintih Fania, “enak mas Jhoy… enaaak… Ak! Ak! Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”

    Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku. Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan kontholku ke memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yang luar biasa di konthol pun semakin menghebat.

    “Fania… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak mampu menyelesaFanian ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu.

    “Mas Jhoy… mas Jhoy… mas Jhoy! Ak-ak-ak… Aku mau keluar lagi… Ak-ak-ak… aku ke-ke-ke…”

    Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Aku tidak mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding memek Fania mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat kelaminku.

    Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan memek Fania, bersamaan dengan pekFanian Fania, “…keluarrrr…!” Tubuh Fania mengejang dengan mata membeliak-beliak.

    “Fania…!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Fania sekuat-kuatnya, seolah aku sedang berusaha rnenemukkan tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan spermaku pun tak terbendung lagi.

    Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding memek Fania yang terdalam. Kontholku yang terbenam semua di dalam kehangatan memek Fania terasa berdenyut-denyut.

    Beberapa saat lamanya aku dan Fania terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali, sampai-sampai dari alat kemaluan, perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri erat dengan tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam kontholku.

    Cret! Cret! Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih tersisa ke dalam memek Fania. Kali ini semprotannya lebih lemah.

    Perlahan-lahan tubuh Fania dan tubuhku pun mengendur kembali. Aku kemudian menciumi leher mulus Fania dengan lembutnya, sementara tangan Fania mengusap-usap punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku.

    Aku merasa puas sekali berhasil bermain seks dengan Fania. Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan mainku adalah perempuan Sunda yang bertubuh kenyal, berkulit kuning langsat mulus, berpayudara besar dan padat, berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai.

    Tidak rugi air maniku diperas habis-habisan pada pengalaman pertama ini oleh orang semolek Fania.

    “Mas Jhoy… terima kasih mas Jhoy. Puas sekali saya. indah sekali… sungguh… enak sekali,” kata Fania lirih.

    Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya yang indah itu kukecup mesra. Dalam keadaan tetap telanjang, kami berdekapan erat di atas tempat tidur pacarku. Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang, sedang tangannya melingkar ke badanku.

    Baru ketFania jam dinding menunjukkan pukul 22:00, aku dan Fania berpakaian kembali. Fania sudah tahu kebiasaanku dalam mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00 aku pulang ke tempat kost-ku sendiri.

    Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Fania dan melumat-lumat bibirnya beberapa saat.

    “Mas Jhoy… kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Jhoy… Jangan khawatir, kita tanpa Faniatan. Fania akan selalu merahasiakan hal ini kepada siapapun, termasuk ke Kak Dai dan Mbak Dina. Fania puas sekali bercumbu dengan mas Jhoy,” begitu kata Fania.

    Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau diberi kenikmatan secara gratis dan tanpa Faniatan? Akhirnya dia keluar dari kamar dan kembali masuk ke rumahnya lewat pintu samping. Lima menit kemudian aku baru pulang ke tempat kost-ku

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Bokep Perawan Kampus Sexy Bikin Mengairah Semua Pria – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Bokep Perawan Kampus Sexy Bikin Mengairah Semua Pria – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1512 views

    Perawanku – Setelah tiga minggu belajar di kampus ini, ternyata ada mahasiswi baru yang cantik, putih dan bercahaya, pakaiannya juga biasa-biasa saja tetapi semua laki-laki di kelasku, melongok melihat dia. Yaa ampun, cantik benar nih. Jam mata kuliah pertama selesai dan anak-anak laki-laki di kelasku banyak yang kenalan tapi terus terang hanya saya dan temanku berdua bisa dibilang cool, kami hanya keluar dan makan di kantin.

    Saya benar-benar belum punya nyali untuk dekat dengan wanita-wanita di kampus waktu itu. Dan dengan si mahasiswi baru itu pun kenalnya sangat lama sekali. Sebut saja nama panggilannya Lita. Saya yang baru memasuki dunia baru di perkuliahan, dan melihat cewek-cewek di kampus pun begitu menggebu-gebu nafsu birahiku. Tapi saya hanya punya pikiran dan perasaan sama si Lita ini, mungkin banyak cowok lainnya berpikiran dan berperasaan begitu juga, tapi saya tidak PD, dan saya itu bisa dibilang pendiam dan rata-rata menurut teman-teman, saya ini punya wajah lumayan ganteng. Yaa.. itu sih menurut teman-temanku.

    Waktu perkuliahan pun terus berjalan, dan setelah 3 bulan lebih saya mulai akrab dengan Lita ini dan mulai sering ngobrol (sebelumnya hanya kenal senyum saja, ataupun hanya menanyakan tugas mata kuliah). Dan ternyata Dia ini lagi cuti kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta hukum terkenal di Bandung, tapi saya lupa waktu itu dia semester berapa, yang saya ingat waktu itu saya berumur 19 tahun dan dia berumur 22 tahun. Dan ternyata dia sudah punya pacar. Waduh hatiku lemas, walaupun sudah jarang ketemu tetapi statusnya masih resmi pacaran.

    Saat kami berdua ngobrol, dia suka curhat tetapi saya suka mencuri pandangan ke arah buah dadanya yang indah menawan itu. Waduh pokoknya bulat tegap dan sedikit runcing, begitu juga kulitnya tidak satupun bekas goresan luka, hanya putih mulus dan pantatnya bulat menantang. Kalau dilihat dari belakang, waduh.. membuat kemaluan saya berdiri tegap dan ingin kuremas-remas dan ditancap dari belakang. Bayangkan kalau berjalan dia berlenggang-lenggok. Dia memiliki rambut yang indah, hitam dan panjang, berhidung mancung, berbibir tipis, alis dan bulu mata yang lentik (tapi seperti cewek bule). Dan memang cewek ini anak seorang yang kaya raya. Dan kami pun menjadi dekat dan akrab, tapi tidak tahu dia itu sukanya bareng dan jalan sama saya saja. Padahal kan banyak teman cewek di kampus itu ataupun cowok yang lain. Yaa.. tapi saya pun sangat senang sekali bisa jalan bareng sama Lita, Dia pun sering mengajak saya main ke rumahnya. Namun itu tidak pernah terjadi, mungkin saya tidak biasa main ke rumah cewek. Dan akhirnya dia ingin main ke rumah saya, waduh saya juga bingung karena saya juga belum pernah kedatangan teman cewek apalagi seperti dia, tapi dia terus memaksa saya.

    Suatu hari di kampus, mata kuliah satu sudah selesai dan harus masuk lagi untuk mata kuliah yang kedua, tapi waktunya sore hari, dan ketika sudah selesai mata kuliah satu, kami pun merasa BT kalau di kampus saja, dan Lita memaksa saya untuk main ke rumah saya, katanya ingin tahu tempat tinggal saya dan sekaligus ingin curhat. Ya untungnya rumah saya itu hanya ada saudara saya (karena saya tidak tinggal bersama orang tua) dan rumah itu milik nenek saya. Oleh karena itu kehidupan saya bebas dan saling cuek sama anggota keluarga lainnya di rumah itu. Tidak ada saling curiga atau hal apapun, yang penting tidak saling merugikan satu sama lain.

    Kami pun berdua pergi ke rumah saya. Siang bolong, ketika sudah sampai di rumah, Lita saya persilakan masuk ke kamar saya dan ternyata saya tidak grogi atas kedatangan cewek cantik ini. Dan ketika baru mengobrol sebentar lalu dia bicara, Ted panas yaah hawa di Bandung sekarang ini.

    Iya nih! sambil kubawakan minuman dingin yang sangat sejuk sekali.
    Ted.. boleh nggak saya buka baju, kamu jangan malu Ted, saya masih pake pakaian dalam kok, habis panass siihh..
    Waduh memang saya merasa malu waktu itu dan sedikit deg-degan jantungku.
    Aduuh gimana kamu ini, emang kamu nggak malu sama aku? bantahku.

    Tapi kan dia sudah ngomong kalau dia masih memakai pakaian dalam. Kemudian saya keluar kamar sebentar untuk mengambil makanan ringan di lemari es, dan ketika saya memasuki kamar lagi, ya ampun.. pakaian dalam sih pakaian dalam tapi kalau ternyata kalau itu BH yang super tipis dan kelihatan puting susunya. Waduh, saya sangat grogi waktu itu dan saya pun sering memalingkan wajah, tapi tidak dapat dipungkiri, kemaluan saya pun berereksi dan aliran darah saya pun mengalir tidak karuan, apalagi hawa sedang panas-panasnya.
    Ayo sekarang kamu mau curhat lagi? kataku.
    Nggak sih Ted, saya udah minta putus sama dia (pacarnya-red) dan dia setuju untuk resmi putus.
    Ya udah.. abis gimana lagi, katanya.

    Dalam hatiku, asyik dia sudah putus, dan saya pun berpura-pura bersedih, karena memang kasihan melihat wajahnya sedikit pucat dan sedikit menangis. Dia memelukku sambil sedikit bicara kepadaku, tapi itu lho anuku tidak bisa diam dan semakin panas saja suhu tubuhku. Ketika kuelus rambut dan punggungnya, eh dia menciumku dan kubalas ciumannya dan dia membalas lagi, semakin lama kami berciuman dan dia memasukkan lidahnya ke mulutku. Waduh, ini benar-benar mengasyikan dan terus terang ini adalah pertama kali bagiku. Dan dia pun mengeluarkan suara desahan yang sangat lembut dan sensual, dan dituntunnya tanganku ke buah dadanya, langsung saja kuremas-remas dan BH-nya pun kubuka. Wow, buah dada yang sangat indah, putih, bulat berisi dan mancung serta puting yang bagus, sedikit warna merah di seputar putingnya dan berwarna coklat di puncaknya, sekali-kali kupelentir putingnya dan dia pun mendesah kuat, Ssstthh ha.. hah.. aahh.. okhs Ted, bagus Ted, eenakk, suaranya yang kecil dan merdu. Dia membuka bajuku dan aku kini dibuatnya telanjang, tapi aku hanya pasrah saja, tidak ada rasa malu lagi.

    Apa kamu sering melakukan ini sama pacar kamu? kataku.
    Iya Ted, tapi nggak sering.. aaksshh.. kata dia sambil mendesah, tanganku diarahkannya ke liang kemaluannya, dan langsung kuelus-elus sambil lidahku menjilat putingnya yang indah itu. Sedikit-sedikit kuselingi dengan gigitan ringan tepat di puncaknya, dan dia menggeliat keenakan. Dan kemaluannya pun basah. Kubuka celananya dan celana dalamnya secara perlahan.

    Oh iya, kami melakukannya di sofa kamarku tepat di depan TV dan stereo-set. Dan kami lagi sedang mendengarkan lagu-lagu rock barat tahun 70-an, ketika kubuka CD-nya, yes.. dia memiliki kemaluan yang bagus, bulu sedikit, dan memang dia masih perawan, dengan pacarnya juga hanya melakukan oral sex. Tetapi saya belum berani untuk menjilat kemaluannya, saya hanya mengesekkan tangan saya ke bibir kemaluannya. Eh ternyata dia turun dari sofa dan menghisap batang kemaluanku, Aaakshh.. hsstt oks! dia menjilati biji pelerku dan dia mengisap kemaluanku lagi sambil dipegang dan dikocoknya. Waduuhh.. enak sekalii akkhhss.. aliran-aliran darahku mengalir dengan serentak dan ingin kumasukkan kemaluanku ke liang kemaluannya, tapi apa dia mau? Beberapa menit kemudian.. Ted, kamu punya barang gede enggak, kecil enggak, panjang enggak and pendek enggak, tapi bener Ted, saya sangat suka kamu punya barang, katanya sambil berdiri dan lubang kemaluannya dihadapkannya ke wajahku aku semakin tidak kuat saja.

    Langsung saja kujilat liang kemaluannya. Wah agak bau juga nih, tapi bau yang enak. Semakin lama semakin asyik dan sangat enak, dan dia pun merintih-rintih kecil, Uwuuhh oo.. sstt akhs.. akhs.. akhs.. oohh aahh.. sstth, sambil tubuhnya agak bergerak nggak karuan, mungkin jilatanku belum pintar tapi kulihat dia sedang keasyikan menikmati jilatanku. Lalu dia berdiri dan menarik tubuhku ke lantai. Di situ kami berciuman lagi, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang hangat di sekitar liang kemaluannya, kuingin batang kemaluanku dimasukkannya ke lubang kemaluannya. Soalnya aku masih ragu. Tapi saya memberanikan untuk bicara.

    An, kamu masih perawan nggak?
    Iya.. aksshh.. sstt.. sstt aakhs, katanya. Ternyata dugaanku benar.
    Tapi sama pacar kamu itu?
    Iya tapi kalau aku sama dia hanya oral aja, kata Lita.
    Tapi Ted, gimana kalau kita ini sekarang.. dia tidak melanjutkan pembicaraannya.

    Okh.. ookh.. okh.. sstt.. dia mencoba untuk memasukan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya dengan bantuan tangannya. Dengan begitu, aku pun berusaha untuk memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya, dan secara perlahan kugesekkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dan sedikit demi sedikit kumasukkan kemaluanku, tapi ini hanya sampai kepala aja, dan.. Ooohh aakksshh.. ahh.. ah.. aahh.. oohh.. sset, dia merintih- rintih. Aku terus menggenjot dia.
    Ted, ternyata pedih juga, aahh! katanya.
    Tapi teruskan saja Ted…
    Kulihat wajahnya memang mengkhawatirkan juga, tapi yang kurasakan adalah kenikmatan, meskipun itu masih tersendat-sendat dan sedikit kehangatan, Ookkhhss.. sstt, aduh nikmatnya, kataku. Dan memang ada sedikit darah di batang kemaluanku dan yes.. semua batang kemaluanku masuk, dan benar-benar nikmat tiada tara, dan hilanglah perawannya dan perjakaku.

    Ssstt.. sstt.. desahannya yang merdu dan menggairahkan apalagi didukung oleh kecantikannya dan mulus kulitnya. Dan kami masih melakukan gaya konvensional dan terus kugenjot naik turun, naik turun dan tumben, aku masih kuat dan menahan kenikmatan ini, karena kalau aku sedang onani, tidak selama ini. Di lantai itu kami melakukannya serasa di surga. Assh.. asshh.. aakss.. oohh.. aksh.. sstt, dia menjerit-jerit tapi biarlah kedengaran oleh saudaraku, yang lagi nonton TV di ruang keluarga. Karena pasti suara jeritan Lita ini kedengaran. Terus Ted, aduhh Ted kok enak sih.. aakss ssttss.. katanya sambil merem melek matanya dan bibirnya yang aduhai melongo ke langit dan langsung kujilat lidahnya. Duuhh aahss sstt duh An, aku mau keluar nih! kataku. Uuhhss sstt jangan dulu dong Ted.. bentar lagi aja, katanya. Tapi memang saya waktu itu sudah nggak kuat, ehh ternyata.. Sss oohh akkhhss.. oohh, duh Ted boleh deh sekarang, kamu dikeluarinnya di sini aja, sambil ditunjukanya ke arah payudaranya. Dan.. Creett.. cret.. cret.. crret dan air maniku yang banyak itu menyemprot ke payudaranya dan sekitar lehernya. Selesailah main-main sama Lita, dan waktu pun menunjukan arah jam 5 lebih dan memang kami sudah telat untuk pergi lagi ke kampus memasuki pelajaran Mata Kuliah kedua.

    Kami berdua terkulai dan ketiduran di lantai itu dalam keadaan masih telanjang, dan lagu di stereo tape-ku pun sudah lama habis. Bangun-bangun sudah hampir jam 19.00, kami pun bergegas berpakaian dan aku pergi ke kamar mandi untuk mandi, sesudah saya selesai mandi dia juga mandi, dan akhirnya kami pergi jalan-jalan sekalian mencari makan. Kami pergi ke daerah Merdeka dan makan. Sesudah itu kami nonton di Bioskop. Di Bandung Indah Plaza (BIP), lupa lagi waktu itu kami nonton apa. Sesudah selesai nonton Lita tidak mau pulang dia ingin menginap di rumah saya. Waduh celaka juga nih anak, ketagihan atau dia lagi ada masalah dengan keluarga di rumahnya. Setelah kami berbincang-bincang, ternyata dia tinggal tidak bersama orang tuanya, sama seperti saya. Dia tinggal bersama bibinya, dan memang tidak ada perhatian bibinya kepada Lita. Dan kami berdua pulang ke rumah saya dengan membawa makanan ringan, minuman (beer dan Fanta). Sesampainya di rumahku, kami berdua mengobrol lagi sambil menonton TV, dan kusuruh dia tidur duluan, kamipun tidur sambil berpelukan terbuai terbawa oleh mimpi indah kami berdua.

    sejak saat itulah kami resmi berpacaran, dengan begitu makin sering juga kami melakukan perbuatan nikmat seperti yang telah kami lakukan sebelumnya.

  • Cerita Sex Menikmati Rasa Bercumbu

    Cerita Sex Menikmati Rasa Bercumbu


    935 views

    Perawanku – Cerita Sex Menikmati Rasa Bercumbu, Peristiwa ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu di Amerika, Saya kuliah di universitas yang lumayan terkenal di dunia, Berhubung sekolahnya bagus, maka anak-anak Indonesia yang kuliah di sana rata-rata mahasiswa yang pintar. Cewek yang cantik saja cuma beberapa, itupun sudah ada cowoknya semua. Nah awalnya, ada cewek yang baru datang dari Jakarta bernama Vira (nama samaran). Saya sudah sering mendengar cerita dari teman-teman bahwa Vira ini cantik dan suka berpakaian seksi, apalagi di awal Fall semester itu udara masih panas-panasnya.

    Suatu hari di kampus, saya berpapasan dengan teman-teman cewek. Seperti biasa, saya cuma basa-basi saja karena saya memang terkenal cuek di depan cewek-cewek. Setelah basa-basi, saya bilang saya sudah terlambat masuk ke kelas. Ketika balik badan, eh hampir bertabrakan dengan cewek tinggi cantik yang sedang lewat di belakangku. Yang lain langsung tertawa.

    “Alahh Ricky pasti deh disengaja supaya kenalan”, kata cewek-cewek menggodaku. Ternyata itu yang namanya Vira.
    “Alow.., saya Ricky”.
    “Vira”, katanya cuek.

    Setelah hari itu saya tidak pernah lagi bertemu dengan Vira. Sampai suatu hari ketika baru keluar dari kelas, saat jalan pulang saya lihat Vira sedang duduk sendirian merokok di luar gedung English. Ah, kesempatan nih pikirku. Langsung saya hampiri dia. Wah gila deh.., pakaiannya membuatku tidak tahan. Baju minim bertali atasnya dan celana pendek berwarna coklat. Ketika saya didepannya, kelihatan payudaranya yang menonjol dengan tali BH hitamnya yang menambah seksi penampilannya. Wah.., begini rupanya cewek-cewek Jakarta jaman sekarang. Setelah basa-basi sedikit, saya ikutan merokok bersama dia dan bercerita tentang diri kita.

    Tiba-tiba dia bertanya, “Eh Ric.., loe kalau tidak ada kelas lagi jalan yuk.., Saya asli boring banget nih”. Terus setelah bingung mau jalan ke mana, kita memutuskan pergi ke kota H yang jaraknya 2 jam. Katanya dia mau ke mall, pingin shopping.
    Hari itu kita jadi akrab sekali sampai sempat bergandengan tangan di mall. Saya tidak tahu kenapa saya yang awalnya nafsu jadi suka benar kepadanya. Anaknya cuek, asik dan lucu lagi. Apalagi dia senang saja jalan denganku yang termasuk anak “bawah” di kotaku. Mobil sudah butut, duit selalu pas-pasan. Wah.., untung deh kayaknya si Vira ini tidak matre.

    Setelah sebulan jadi teman dekat, suatu malam pulang dari main billiard dia mengajakku ke tempatnya. Dia tinggal bersama tantenya yang sudah berkeluarga dan punya 2 anak. Waktu itu sekitar jam 2 malam. Jadi Om dan Tantenya sudah pada tidur semua. Dia langsung mengajakku ke dapurnya yang sangat besar.
    “Mau beer Ky?”, tawar Vira.
    “Tidak usahlah Vir.., kalau loe mau ya satu berdua saja”, jawabku (saya memang tidak begitu suka yang namanya minuman keras).
    Terus waktu Vira datang membawa beernya.., dia langsung jongkok di depanku yang sedang duduk di kursi. Wah.., lagi-lagi dengan salah satu baju sexynya, pemandangan payudaranya persis di depan mataku. Tanpa sadar penisku sudah naik melihat tonjolan payudara yang putih itu. Karena posisiku yang lagi duduk, maka penisku yang sedang tegak menjadi agak nyangkut. Langsung saya membungkuk sedikit supaya tegangnya tidak begitu menyiksa.

    “Ky.., loe tuh sudah Saya anggap teman dekat Saya disini. Terus terang.., loe tuh satu-satunya yang cuek saja kalau didepan Saya.., makanya saya suka. Cowok lain kan rata-rata suka genit-genit gitu.., ah males banget deh Saya lihat cowok gituan”, kata Vira sambil menatap tajam ke mataku.

    “Jadi teman doang nihh?”, kataku sambil ketawa kecil.
    “Ini baru mau nanya.., loe sama Saya saja mau gak?”, kata Vira sambil tersenyum kecil.
    “Ah canda loe.., Saya tidak ada modal buat pacaran Vir”, saya menanggapinya sambil tersenyum juga.
    “Sudah ah.., kalau tidak mau ya sudah”, kata Vira dengan pura-pura cemberut.
    Tidak tahu ada dorongan dari mana, tiba-tiba jari telunjukku bermain di bahunya. Terus jariku naik menelusuri leher dan telinganya. Saya lihat Vira diam saja menikmati permainan kecilku.
    Setelah beberapa saat saya tanya, “Vir.., Saya boleh cium loe tidak?”.
    “Sekali saja ya Ky..”, katanya dengan senyum nakalnya. Saya bungkukkan badan dan langsung saya cium bibirnya dengan lembut. Pertama kita main bibir saja, terus dia yang mulai memainkan lidah. Setelah beberapa saat dia pegang tanganku sambil menuntunnya ke kamarnya.
    Dengan was-was saya tanya, “Eh Oom loe tidak bangun sebentar Vir?”.
    “Makanya jangan ribut!”, jawab Vira cuek.

    Sampai di kamar, dia duduk duluan di kasurnya yang lumayan besar. Saya jongkok di depannya dan mulai mencium bibirnya lagi. Kali ini tanganku mulai berani memegang payudaranya yang berukuran 34B. Untuk ukuran tubuhnya yang tinggi kurus payudaranya termasuk besar dan pas sekali.
    Tiba-tiba Vira mendorongku menghentikan ciuman dan berbisik, “Ky.., ada satu yang perlu loe tau.., Saya belum pernah lho yang aneh-aneh.., Paling jauh cuma ciuman”.
    Dengan kaget saya langsung bilang, “Ya sudah deh Vir.., tidak usah saja ginian”.
    Dengan cepet Vira memotong omonganku, “Bukan gitu Ky.., Maksud Saya.., ya pelan-pelan saja, Saya juga tidak mau loe ngira Saya beginian sama semua cowok”.
    “Saya tidak peduli juga dengan masa lalu loe Vir.., yang penting sekarang Saya senang sama loe.., Kalau loe dulu sering juga gak apa-apa kok.., kan jadi asik loe sudah pengalaman”, candaku sambil ketawa kecil takut Oom dan Tantenya terbangun.
    “sialan loe!”, katanya ikutan ketawa kecil.

    Tidak berapa lama, saya maju lagi dan mulai mencium Vira. Setelah beberapa menit saya buka bajunya. Tinggal BH silk yang berwarna biru muda. Tanpa melepas BH-nya, payudaranya saya keluarin dan mulai saya pindah ciumin dan mainin kedua payudaranya. Terus terang, sebelum ini belum pernah saya melihat payudara sebagus ini. Penisku menjadi sangat tegang. Apalagi permainan yang pelan-pelan begini membuat suasana makin erotis dan menahan rasa nafsu yang menggebu-gebu membuatku semakin menikmati permainan ini.

    “Vir.., Saya boleh ciumin bawah lu tidak?”, tanya saya hati-hati. Vira hanya mengangguk kecil. Kelihatan diwajahnya bahwa dia juga menikmati sekali permainan saya.
    “Loe tiduran saja Vir”, kata saya sambil berdiri dan membuka baju dan celanaku. Setelah dia telentang saya buka pelan-pelan celananya. Tinggallah celana dalamnya yang juga berwarna biru muda. Saya cium kakinya dari betis naik pelan-pelan ke paha dan berhenti di selangkangannya. Dengan perlahan saya tarik ke bawah celana dalamnya. Ternyata bulu vaginanya tipis dan lurus. Pas sekali nih dalam hati saya. Saya tidak begitu suka vagina yang berbulu lebat. Mulailah saya jilati vaginanya sambil saya masukin lidahku ke dalamnya. Vira diam saja sambil sedikit bergoyang.

    Setelah beberapa menit Vira sudah basah dan saya juga sudah tidak tahan dari tadi cuma tegang saja. Saya ciumi pelan pusarnya naik ke payudaranya terus leher dan melumat bibirnya. Sambil berciuman saya mencoba memasukkan penisku ke vaginanya. Pertama sih pelan eh tahunya tidak masuk-masuk. Penisku tidak terlalu besar, tapi lumayan panjang. Saya mencoba lagi menusukkan penisku, eh tetap saja tidak masuk. “Benar juga nih anak masih perawan”, dalam hatiku. Sambil menciuminya, saya berbisik, “Saya coba agak keras ya Vir?”. Tanpa menunggu jawaban langsung saya coba menerobos lagi dengan lebih keras. Tetap saja tidak bisa.

    Akhirnya setelah kira-kira 10 menit tembus juga pertahanan Vira. Pertama dia tampak kesakitan, tapi lama-lama Vira mulai mendesah-deash kecil keenakan. Tangan kananku disuruhnya menutup mulutnya supaya dia tidak mendesah terlalu keras.
    Sayang gara-gara sudah ereksi sejak tadi, saya cuma bisa bertahan 10 menit.
    “Saya mau keluar nih Vir..” kataku dengan napas yang tidak teratur.
    “Di luar Ky!”, jawabnya cepat.
    Tidak berapa lama saya keluarin sperma saya di perutnya. Saya langsung mengambil tissue dan membersihkan spermaku diperutnya. Vira masih telentang diam di tempat tidur.
    “Loe tidak pa-pa Vir?”, tanyaku kawatir takut dia menyesal.
    “Aduh Ky.., sakit nih kalau saya gerakin”, jawabnya dengan muka meringis.
    “Pelan-pelan saja Vir”, kataku sambil berpakaian lagi.

    Akhirnya Vira berdiri dan ikutan berpakaian.
    “Ky.., loe balik deh.., besok kan ada kelas pagi”, kata Vira tanpa expressi.
    “Iya deh Vir..”, jawabku sambil mencium bibir dan keningnya.
    Dia mengantarkanku sampai di pintu depan dan saya tanpa banyak bicara langsung pergi pulang. Ini pertama kali saya mengambil perawan cewek. Ada perasaan was-was dalam hatiku.

    Besoknya di kampus seperti biasa ketemu Vira di depan Perpustakaan. Saya dengan deg-degan mencoba tersenyum ke Vira. Saat di depanku, dadaku ditonjok dengan keras.
    “Sakit tau!”, kata Vira dengan nada keras. Saya diam saja tidak tahu mau ngomong apa. Eh tahunya dia langsung ketawa terbahak-bahak.
    “Tidak pa-pa kok Ky.., saya tidak marah sama loe.., asal..”, katanya dengan senyum-senyum.
    “Asal apaan?”, tanyaku tidak sabar.
    “Asal loe jadi cowok saya mulai sekarang”, Kata Vira sambil menatap tajam.
    Dengan hati senang saya langsung bilang, “Saya sih sudah nganggep loe cewek saya dari dulu”.
    Akhirnya kita ketawa dan sejak itu Vira mulai belajar seks pelan-pelan dengan saya tentunya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Bercinta Dengan Dokter Terapi Seks Ku

    Bercinta Dengan Dokter Terapi Seks Ku


    1134 views

    Cerita Sex ini berjudulBercinta Dengan Dokter Terapi Seks KuCerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Kata orang, akulah orang yang paling bahagia di dunia. Bayangkan tinggal di Surabaya yang disebut-sebut merupakan kota besar kedua di Indonesia dengan uang banyak, memiliki puluhan perusahaan dan cabang- cabangnya di seluruh Indonesia, isteri cantik dan sexy, dan semua orang mengenalku dengan baik.

    Tapi dalam hati kecilku, aku merasa ada sesuatu yang kurang. Setelah menikah kurang lebih 3 tahun, kami belum dikaruniai anak. Memang kelemahannya ada pada diriku. Walaupun aku ganteng dan berbadan tinggi besar dan tegap, aku selalu mengalami kegagalan saat berhubungan intim dengan isteri. Ya, sekitar dua tahun sebelum kami menikah, aku mengalami kecelakaan lalu lintas.

    Motorku ditabrak dari belakang oleh sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi dan berusaha mendahului motor yang kukendarai. Saat itu ternyata ada mobil yang muncul dari arah berlawanan, sehingga untuk menghindari “adu kambing” truk itu membanting activity ke kiri dan menabrak motorku. Aku terjungkal dan terbanting ke aspal di siang bolong. Untunglah aku tidak cedera.

    Hanya kedua tanganku sedikit tergores dan pantatku sakitnya bukan main. Rupanya aku jatuh terduduk di pinggir jalan aspal dekat trotoar jalan. Seorang bapak yang ikut menyaksikan kecelakaan itu segera memapahku berdiri dan membawaku ke rumah sakit terdekat.

    Sejak itu, jika aku berhubungan intim dengan Lilian, isteriku, aku selalu tidak dapat melaksanakan tugasku dengan baik. Penisku tidak bisa berdiri. Kadang bisa berdiri tapi sebentar belum juga masuk dengan pas.. eh.. sudah menyemprotkan cairan mani.

    Beberapa dokter telah kudatangi. Tapi kesembuhanku belum juga muncul. Tadinya muncul ide agar aku mencoba-coba untuk “jajan” di lokalisasi. “Ah..” pikirku lagi, “Nanti malah kena AIDS atau HIV. Lebih repot lagi kan?”

    Nah, suatu hari aku mendengar dari teman karibku, Hartono, bahwa di Jakarta katanya ada seorang dokter spesialis yang bisa menyembuhkan kelainan-kelainan seks dengan biaya terjangkau dan tanpa efek samping. Lalu dengan persetujuan isteriku, aku pun mengambil cuti selama seminggu untuk berangkat ke sana.

    Karena punya sanak famili yang tinggal di bagian barat Jakarta, aku pun tanpa kesulitan menemukan dokter yang kucari. Tempat prakteknya ternyata terletak di lantai 18 sebuah apartemen mewah di pusat kota. Aku tadinya merasa deg-degan dan agak malu untuk naik ke sana.

    Bagaimana kalau dokter itu menyarankan yang tidak-tidak kepadaku? Lalu.. apakah hasilnya akan maksimal seperti yang kuharapkan? Berbagai pertanyaan lain terus saja bergema dalam hati kecilku.

    Namun bila kuingat raut wajah Lilian yang cemberut dan penuh kekecewaan bila penisku tidak bisa tegang atau baru masuk ke permukaan vaginanya, aku sudah ejakulasi.. wah.. lebih baik aku mencoba saja ke sana deh, siapa tahu ada mujizat yang terjadi. Benar kan?

    Saat aku sampai di ruangan kantor yang amat mewah itu, kulihat seorang gadis cantik yang masih berumur sekitar 22-23 tahun sedang menulis sesuatu dan kemudian memandangku dengan ramah. “Mau ikut terapi, Pak?” ia bertanya dengan seulas senyum di bibirnya yang mungil.

    “Ya, maaf.. Dokternya ada?” tanyaku ragu-ragu. “Hari ini kebetulan Dokter Amy Yip sedang tidak ada pasien..” ujarnya. “Dokter Amy Yip… Kok kayak nama bintang blur mandarin sih, Mbak… apa ia berasal dari Hongkong?”

    “Betul sekali… Memang namanya Yip Chi Mei, ia seorang dokter spesialis terapi seksual asal Indonesia lulusan Hongkong Medical College… dan ia lebih suka dipanggil dengan nama Dokter Amy Yip.” katanya memberi penjelasan.

    Setelah mengisi formulir yang berisi data-data pribadi, aku langsung diantar ke tempat prakter dokter itu. Gadis yang belakangan kuketahui bernama Sally itu kemudian mengetuk pintu ruang praktek Dokter Amy Yip. Pintu pun dibuka dari dalam. Benar saja dugaanku. Di sana berdiri seorang wanita cantik mengenakan blazer hitam dan berumur sekitar 30 tahun. Ia berambut ikal sebahu. Oh ternyata ini dokternya!

    “Maaf Dok… ini ada Bapak Kuntoro dari Surabaya ingin ikut terapi… ini data-data lengkapnya.” ujar Sally sambil memberikan formulir yang sudah kuisi dan mempersilakan aku masuk ke kantor itu. Sally pun berjalan kembali ke meja kerjanya di depan ruangan itu. “Silakan masuk, Pak…” ujar dokter cantik itu. “Baik, terima kasih.” jawabku singkat.

    Setelah kami duduk di dalam ruang praktek itu, Dokter Amy Yip kemudian mulai menanyakan beberapa hal yang amat pribadi padaku. Karena kupikir ia seorang dokter yang harus tahu benar keadaan dari kehidupan seks rumah tanggaku, termasuk bagaimana aku berhubungan intim, aku pun membeberkan semuanya.

    Salah satu pertanyaannya adalah, “Kira-kira Bapak bisa tahan berapa absolutist dalam berhubungan intim dengan isteri?” atau, “Gaya apa yang paling Bapak sukai bila berhubungan intim dengan isteri?”

    Mendengar semua jawabanku, ia pun mengangguk-angguk tanda mengerti. Lalu dengan sorot mata tajam ia memandangku serta berkata, “Pak Kuntoro, saya rasa sebaiknya kita bisa mengadakan terapi seks sekarang juga.

    Di sebelah sana ada ranjang yang bisa Bapak gunakan untuk itu… Di sana saya akan menguji ketahanan Bapak untuk tidak berejakulasi selama beberapa menit… kalo memungkinkan nanti kita bisa berhubungan intim guna proses penyembuhan lebih lanjut.

    Gimana Pak.. apa Bapak setuju?” “Wah… ini toh yang namanya terapi seks. Kalau begini sih pasti aku mau sekali,” pikirku dalam hati.

    Tanpa pikir panjang lagi aku menyahut, “Baiklah… Terserah Dokter saja, gimana baiknya…” Dalam pikiranku tiba-tiba muncul bayangan gimana kira-kira bentuk tubuh Dokter Amy Yip ini nanti kalau ia telanjang. Pikiran seperti ini langsung saja membuat penisku tiba-tiba menegang dan keras.

    Kemudian kami berjalan menuju ranjang terapi yang dimaksud. Setelah aku duduk dengan bersandarkan bantal, dokter cantik itu duduk dengan santai di hadapanku. Ia kemudian dengan sengaja membuka semua baju luarnya.

    Akhirnya yang tertinggal hanya BH dan celana dalamnya. “Pak Kuntoro, silakan Bapak meraba-raba saya… terserah Bapak mau meraba bagian tubuh saya yang mana… nanti kita lihat berapa menit waktu yang Bapak perlukan untuk ejakulasi…” perintahnya. Tentu saja aku mau melakukannya dengan senang hati. Wong yang di depanku, tubuh dokter itu begitu mulus dan putih.

    Payudaranya saja begitu menonjol ke depan. Mungkin ukuran 36B, seperti hendak meloncat keluar dari penutupnya. Dengan pelan kuelus wajah dokter itu, lalu lehernya yang jenjang. Kemudian tangan kananku turun ke bukit kembarnya. Kuraba pelan dan kuremas-remas.

    Lalu tangan kiriku bergerak menuju CD-nya. Namun, sekonyong-konyong ada sesuatu yang mau meledak dalam tubuhku. Aku buru-buru menghentikan rabaan-rabaanku.

    Aku berusaha segera membuka celana panjang yang kukenakan. Namun terlambat sudah. Penis andalanku sudah menyemprot dengan derasnya. Aku hanya bisa mengepalkan tangan sambil menutup mata. “Sialan!” ujarku. Celana panjangku terutama di bagian pangkal paha tentu saja basah tidak karuan.

    “Cuma dua menit kurang 25 detik… saya rasa keadaan ini masih bisa disembuhkan, Pak… Sebelumnya ada pasien saya yang lebih buruk keadaannya… asal Bapak mau telaten berobat tiap hari ke sini…” Dokter Amy Yip menimpali setelah melihat arloji yang dikenakannya.

    Hari itu terapi seks yang harus kujalani selesai sudah. Setelah mengenakan pakaiannya kembali dan kami kembali duduk di meja kerjanya, dokter itu lalu berkata, “Mohon diingat ya, Pak… apa yang kita lakukan barusan hanyalah sebatas untuk terapi… bukan untuk dilakukan di luar jam kerja saya…” Oh, aku mengerti maksudnya.

    Ia tidak mau kuajak kencan di luar praktek terapinya. Itu peraturannya. Ah tidak apa-apa bagiku. Toh aku orangnya setia pada isteriku. Walau Lilian lebih galak dari dokter ini, namun ia kan isteriku dan mantan pacarku. Iya kan?

    Keesokan harinya, masih dengan terapi yang sama. Cuma Dokter Amy kini tidak mengenakan BH. Benar adanya, kedua bukit kembarnya itu begitu besar, kencang dan amat menantang. Putingnya berwarna merah kecoklatan seperti tegak siap untuk disedot.

    Ia berkata, “Silakan Bapak mau meremas atau mengulum atau menjilat payudara saya… terserah… saya hanya ingin tahu Bapak bisa tahan berapa absolutist untuk tidak ejakulasi.” Tanpa menunggu perintah selanjutnya, aku langsung saja meraba dan meremas kedua bukit kembarnya. Kemudian kuarahkan mulutku untuk merasakan nikmatnya payudara itu.

    Aku menghisap, menjilat dan mengulum putingnya. Ia tampak merem-melek menikmatinya. Ternyata dua menit berlalu. Dan kembali aku mengalami ejakulasi. Spermaku tersemprot hebat.

    Untunglah kali ini aku masih sempat membuka reitsleting celanaku dan mengarahkan penisku yang sudah tegang dan membesar itu ke ember khusus untuk hasil sperma terapi. “Dua menit lebih 5 detik… hari ini ada peningkatan, Pak…” jawabnya sambil menyunggingkan senyum setelah semuanya selesai.

    “Besok kita lanjutkan lagi. Jangan kuatir, Pak… Perkiraan saya pada hari keempat nanti… waktu Bapak untuk tahan tidak ejakulasi pasti lebih dari sepuluh menit. Saya jamin, Pak.” Lalu hari itu kami pun berpisah.

    Aku pulang ke auberge tempatku menginap dengan berbagai pikiran tentang harapan kesembuhan selanjutnya yang akan kualami serta terapi apa yang akan dilakukannya besok terhadap diriku.

    Hari ketiga… Kali ini kami berdua benar-benar telanjang bulat. Dokter Amy kini yang mengambil inisiatif. Ia sengaja yang membuka pakaian yang kukenakan sampai aku benar-benar bugil. Lalu kemudian ia membuka pakaiannya sendiri.

    Saat ia melakukannya, matanya tak lepas dari memandang senjataku. Entah apa yang ada di benaknya. Yang pasti saat itu senjataku belum tegang bahkan hingga ia membuka CD-nya. Ketegangan dalam diriku mungkin sedikit banyak tidak membantu dalam merangsang penis yang kumiliki.

    Lalu ia duduk di pinggir ranjang. Kali ini dengan sengaja ia meraih senjataku lalu dikocok-kocoknya dengan pelan tapi pasti. Sementara tanganku diperbolehkan meraba apa saja yang ada di tubuhnya.

    Setelah kocokannya mulai menampakkan hasil, ia pun menunduk dan mengarahkan penisku ke mulutnya. Dengan telaten ia menjilat, menghisap dan mengulum penis ajaibku. Wah… hampir saja aku ingin ejakulasi. Tapi aku berusaha untuk menahannya sebab aku ingin mengetahui rasanya bila ia terus mengobok-obok penisku.

    Ia lalu menyuruhku untuk mengubah posisi. Kini aku disuruhnya untuk menghisap klitorisnya, sedangkan ia dengan penuh semangat terus menghisap dan menjilat-jilat penisku. Karena tidak tahan menghadapi kuluman dan hisapan mulutnya, aku terpaksa harus melepaskan sesuatu yang seperti akan meledak dalam diriku.

    Dan benar.. “Crot.. crot.. crot.. crot..” Dengan derasnya maniku tertumpah di dalam mulut dokter itu. Entah sengaja atau tidak, Dokter Amy Yip tidak mau melepaskan penisku dari mulutnya. Wah..! Setelah semprotan maniku habis, dan penisku dibersihkan dengan tisu di tepi ranjang, kembali ia memberikan evaluasi terapi yang kujalani. “Lumayan…” katanya sambil melirik jam tangan.

    “Sepuluh menit lebih dua detik… Bapak pasti akan sembuh… Saya rasa pada terapi kita yang terakhir akan benar- benar terbukti bahwa kondisi ketahanan penis Bapak untuk tidak terlalu cepat berejakulasi saat berhubungan intim adalah normal- accustomed saja. Bagaimana, Pak… apa Bapak mau melanjutkan terapi yang terakhir besok?”

    Tentu saja aku mau melanjutkannya. Wong disuruh berhubungan intim dengan chargeless saat terapi, siapa yang nggak mau? Aku pun kemudian mengiyakan sarannya itu. Seperti yang kuduga ternyata keesokan harinya Dokter Amy Yip tidak lagi mengenakan apa-apa di balik baju prakteknya.

    Aku pun segera membuka semua pakaianku. Lalu dengan ganas kuserbu tubuhnya yang sudah berbaring menantang di atas ranjang. Pertama kucium keningnya, lalu turun ke bibir, pipi, leher hingga payudaranya yang amat kenyal itu. Di sana kujilat dan kupelintir putingnya yang merah kecoklatan. Ia pun merem-melek.

    Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Kemudian kepalaku bergerak menuju pangkal pahanya. Di sana kembali kujilati bibir vagina dan klitorisnya. Kujulurkan lidahku ke dalam vaginanya sambil tangan kananku terus meremas-remas payudaranya.

    Setelah beberapa menit, ternyata penisku sudah berdiri tegang dan mengeras. Tanpa menunggu diperintah lagi, kuarahkan penisku ke liang kewanitaannya. Dengan sekali sentak, masuklah penisku dengan mudahnya.

    Rupanya ia sudah tidak perawan. Tanpa susah payah aku terus menggenjot dan memompa penisku agar bisa benar-benar memuaskan dirinya. Saat itu aku lupa segalanya, terapi, isteriku yang sedang menunggu dengan harap cemas di Surabaya, pekerjaan di kantor yang menumpuk, dll.

    Pokoknya kesempatan ini tidak bisa dilewatkan. Sementara itu Dokter Amy Yip terus saja menggoyang-goyangkan pantatnya dengan lembut. Ia mencoba untuk mengimbangi serangan gencarku.

    Sekitar lima belas menit berlalu. Dan tiba-tiba saja perasaanku seperti melayang. Aku merasakan kenikmatan luar biasa. “Aku ingin keluar, Dok… sebaiknya di dalam atau…” tanyaku di tengah-tengah kenikmatan yang kurasakan.

    “Di dalam saja Pak… biar nikmat…” jawabnya seenaknya. Rupanya ia pun akan mengalami orgasme. Dan benar, beberapa saat kemudian ia orgasme. Kemaluanku seperti disemprot dalam liang vaginanya. Sementara itu spermaku pun dengan derasnya mengalir ke dalam liang vaginanya.

    Aku pun akhirnya jatuh tertidur di atas tubuhnya. Ternyata dokter itu masih ingat bahwa apa yang kami lakukan adalah terapi. Ia segera melirik arlojinya dan segera membangunkanku.

    “Lima belas menit sepuluh detik… selamat Pak Kuntoro… kondisi Anda kembali normal… bahkan sangat normal..” ujarnya sambil mengenakan pakaiannya kembali dan menyalamiku. Aku yang baru saja keletihan melayani nafsu seksnya dengan cara berhubungan intim tentu saja tertegun. Lima belas menit? Wah hebat. Aku sembuh, Lilian! Aku sembuh! Hampir saja aku meloncat-loncat.

    Setelah membereskan semuanya, aku pun segera pulang ke Surabaya malam itu juga. Betapa bahagianya aku sekarang. Pasti Lilian akan gembira menyambut kesembuhanku. Dan benar dugaanku.

    Saat ini sudah tiga bulan kejadian itu berlalu. Lilian pun mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Menstruasinya sudah terlambat seminggu.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Ronald Belajar Bermain Seks Di Ajari Sama Tante Indah

    Cerita Sex Ronald Belajar Bermain Seks Di Ajari Sama Tante Indah


    1037 views

    Perawanku – Cerita Sex Ronald Belajar Bermain Seks Di Ajari Sama Tante Indah, Pеrkеnаlkаn nаmаku Ronald аku аnаk nоmеr ѕаtu dаri 3 bеrѕаudаrа ауаhku аdаlаh реgаi реrkеbunаn di kоtаku, аku mеmрunуаi mаѕаlаh dimаnа аku ѕеlаlu riѕi аtаu саnggung jikа bеrgаԛul dеngаn wаnitа kесuаli ibuku, ѕоаlnуа dаri mаѕа ѕеkоlаh kеbаnуаkаn tеmаnku аdаlаh соwоk dаn сеwеk hаnуа bеbеrара ѕаjа.

    Sеlаin itu аku mеrаѕа rеndаhdiri dеngаn реnаmрilаn diriku di hаdараn реrеmрuаn. Aku tinggi kuruѕ dаn hitаm, jаuh dаri сiri-сiri реmudа gаntеng. Wаjаhku jеlеk dеngаn tulаng rаhаng bеrѕеgi. Kаrеnа tаmраngku уаng miriр kеling, tеmаn-tеmаnku mеmаnggil аku Pеlе, kаrеnа аku ѕukа mаin ѕераkbоlа

    Tарi ѕеkаliрun аku jеlеk dаn hitаm, оtаkku сukuр еnсеr. Pеlаjаrаn ilmu раѕti dаn fiѕikа tidаk tеrlаlu ѕulit bаgiku. Dаn jugа аku jаgоаn di lараngаn ѕераkbоlа. Pоѕiѕiku аdаlаh kiri luаr. Jikа bоlа ѕudаh tibа di kаkiku реnоntоn аkаn bеrѕоrаk-ѕоrаi kаrеnа itu bеrаrti bоlа ѕudаh ѕukаr dirеbut dаn tаk аkаn аdа уаng bеrаni nеkаd mаin kеrаѕ kаrеnа kаlаu ѕаmраi bеrаdu tulаng kеring, biаѕаnуа mеrеkаlаh уаng jаtuh mеringkuk kеѕаkitаn ѕеmеntаrа аku tidаk mеrаѕа ара-ара.

    Dаn kаlаu ѕudаh dеmikiаn lаwаn аkаn mеnаrik kеkuаtаn kе ѕеkitаr kоtаk реnаlti mеmbuаt реrtаhаnаn bеrlарiѕ, аgаr gаwаng mеrеkа jаngаn ѕаmраi bоbоl оlеh tеmbаkаnku аtаu umраn уаng kuѕоdоrkаn. Hаnуа itulаh уаng biѕа kubаnggаkаn, tаk аdа уаng lаin.

    Tаmраng jеlеk mukа bеrѕеgi, tinggi kuruѕ dаn hitаm ini ѕаngаt mеnggаnggu аku, kаrеnа аku ѕеbеnаrnуа ingin ѕеkаli рunуа расаr. Bukаn расаr ѕеmbаrаng расаr, tеtарi расаr уаng саntik dаn ѕеkѕi, уаng mаu dirеmаѕ-rеmаѕ, diсiроki dаn diреluk-реluk, bаhkаn kаlаu biѕа lеbih jаuh lаgi dаri itu.

    Dаn ini mаѕаlаhnуа. Kоtаku itu аdаlаh kоtа уаng mаѕih kоlоt, араlаgi di lingkungаn tеmраt аku tinggаl. Pеrgаulаn аntаrа lаki-lаki dаn реrеmрuаn уаng ѕеdikit mеnсоlоk mеnjаdi ѕоrоtаn tаjаm mаѕуаrаkаt. Dаn jаdi bаhаn gunjingаn ibu-ibu аntаr tеtаnggа.

    Agen Togel Oh уа mungkin аdа уаng bеrtаnуа mеngара kоk ѕоаl рunуа расаr аtаu tidаk рunуа расаr ѕаjа bеgitu реnting. Yа itulаh. Rаhаѕiаnуа аku ini рunуа nаfѕu ѕуаhwаt bеѕаr ѕеkаli. Entаhlаh, bаrаngkаli аku ini ѕеоrаng Kontol***.

    Mеlihаt ауаm аtаu Kontol mаin ѕаjа, аku biѕа tеgаng. Sеtiар раgi реniѕku kеrаѕ ѕереrti kауu ѕеhinggа hаruѕ dikосоk ѕаmраi munсrаt dulu bаru bеrkurаng kеrаѕnуа. Dаn kаlаu munсrаt bukаn mаin bаnуаknуа уаng kеluаr.

    Mungkin kаrеnа ukurаnku уаng lеbih раnjаng dаri ukurаn rаtа-rаtа. Dаn ѕаbаn mеlihаt реrеmрuаn саntik ѕуаhwаtku nаik kе kераlа. Aраlаgi kаlаu kеlihаtаn раhа. Aku biѕа tаk mаmрu bеrрikir ара-ара lаgi kаlаu gаdiѕ dаn реrеmрuаn саntik itu lеwаt di dераnku. Sеnjаtаku lаngѕung tеgаng kаlаu mеlihаt diа bеrjаlаn bеrlеnggаk-lеnggоk dеngаn раnggul уаng bеrауun kе kiri dаn kе kаnаn. Ngасеng аbiѕ kауаk ѕiар bеrlаgа.

    Diа? Yа diа. Mаkѕudku Lаlа dаn .. Tаntе Indah. Lаlа аdаlаh murid ѕаlаhѕаtu SMU di kоtаku. Kесаntikаnnуа jаdi buаh bibir раrа соwоk lаnаng ѕеаntеrо kоtа. Diа tinggаl dаlаm jаrаk bеbеrара rumаh dаri rumаhku, jаdi tеtаnggаku jugа. Aku ѕеbеnаrnуа ingin ѕеkаli ѕеаndаinуа Lаlа jаdi расаrku, tарi mаnа biѕа.

    Cоwоk-соwоk kеrеn tеrmаѕuk аnаk-аnаk реnggеdе раdа ngаntri ngареlin diа, mеnсоbа mеnjаdikаnnуа расаr. Hаmрir ѕеmuа bаwа mоbil, kаdаng mоbil dinаѕ bараknуа, mаnа mаmрu аku bеrѕаing dеngаn mеrеkа.

    Tеrkаdаng kаmi bеrрараѕаn kаlаu аdа kеgiаtаn RK аtаu kеnduriаn, tеtарi аku tаk bеrаni mеnуара, diа jugа tаmраknуа tidаk tеrtаrik hеndаk bеrtеgurаn dеngаn аku уаng mukа ѕаjа bеrѕеgi dаn hitаm рulа.

    Yа раntаѕlаh, kаrеnа саntik dаn dikеjаr-kеjаr bаnуаk реmudа, bаhkаn оrаng bеrumur jugа, diа jаdi ѕоmbоng, mеntаng-mеntаng. Atаu bаrаngkаli itu hаnуа аlаѕаnku ѕаjа. Yаng bеnаr аdаlаh, аku mеmаng tаkut ѕаmа реrеmрuаn саntik. Bеrdеkаtаn dеngаn mеrеkа аku guguр, mulutku tеrkаtuр gаgu dаn nаfаѕku ѕеѕаk. Itu Lаlа.

    Dаn аdа ѕаtu lаgi реrеmрuаn уаng jugа mеmbuаt аku gеliѕаh jikа bеrаdа di dеkаtnуа. Tаntе Indah. Tаntе Indah tinggаl реrѕiѕ di ѕеbеlаh rumаhku. Suаminуа реmаѕоk уаng mеndаtаngkаn bеbеrара bаhаn kеbutuhаn batubara. Kаrеnа itu diа ѕеring bереrgiаn. Kаdаng kе Jаkаrtа, Kalimantan dаn kе Asia Tengah.

    Bеlum lаmа mеrеkа mеnjаdi tеtаnggа kаmi. Entаhlаh оrаng dаri dаеrаh mаnа ѕuаminуа ini. Tарi аku tаhu Tаntе Indah dаri Padang, dаn diа ini wuаhh mаk ѕungguh-ѕungguh аudzubilе саntiknуа.

    Wаjаh саkер. Putih. Bоdinуа jugа bаguѕ, dеngаn раnggul bеriѕi, раhа kоkоh, mеԛi tеbаl dаn рinggаng rаmрing. Pауudаrаnуа jugа indаh kеnсеng ѕеrаѕi dеngаn bеntuk bаdаnnуа. Pеrnаh di асаrа реntаѕ tеrbukа di kаmрungku kаlа tujuhbеlаѕ аguѕtuѕаn diа mеnуumbаngkаn реrаgааn tаri jаiроngаn. Wаh аku bеtul-bеtul tеrреѕоnа.

    Dаn Tаntе Indah ini tеmаn ibuku. Wаlаu umur mеrеkа bеrѕеliѕih bаrаngkаli 15 tаhun, tарi mеrеkа itu сосоk ѕаtu ѕаmа lаin. Kаlаu bеrgunjing biѕа bеrjаm-jаm, mаklum ѕаjа diа tidаk рunуа аnаk dаn ѕереrti ibuku tidаk bеkеrjа, hаnуа ibu rumаhtаnggа ѕаjа. Tеrkаdаng ibuku dаtаng kе rumаhnуа, tеrkаdаng diа dаtаng kе rumаhku.

    Dаn ѕаtu kеbiаѕааn уаng kulihаt раdа Tаntе Indah ini, diа ѕukа duduk di ѕоfа dеngаn mеnаikkаn ѕеbеlаh аtаu kеduа kаkinуа di lеngаn ѕоfа. Sаtu kаli аku bаru рulаng dаri lаtihаn ѕераkbоlа, ѕааt mеmbukа рintu kudараti Tаntе Indah lаgi bеrgunjing dеngаn ibuku.

    Ruраnуа diа tidаk mеngirа аku аkаn mаѕuk, dаn сераt-сераt mеnurunkаn ѕеbеlаh kаkinуа dаri ѕаndаrаn lеngаn ѕоfа, tарi аku ѕudаh ѕеmраt mеlihаt сеlаh kаngkаngаn kеduа раhаnуа уаng рutih раdаt dаn сеlаnа dаlаm mеrаh jаmbu уаng mеmbаlut kеtаt mеԛinуа уаng bаguѕ сеmbung.

    Aku mеrеguk ludаh, kоntоlku kоntаk bеrdiri. Tаnра biсаrа арарun аku tеruѕ kе bеlаkаng. Dаn ѕеjаk itu реmаndаngаn ѕеkilаѕ itu ѕеlаlu mеnjаdi оbѕеѕiku. Sеtiар mеlihаt Tаntе Indah, аku ingаt kаngkаngаn раhа dаn mеԛi tеbаl dаlаm раgutаn kеtаt сеlаnа dаlаmnуа.

    Oh уа mеngеnаi Tаntе Indah уаng tаk рunуа аnаk. Sауа mеndеngаr ini tеrkаdаng jаdi kеluh-kеѕаhnуа раdа ibuku. Aku tаk tаhu bеnаr mеngара diа dаn ѕuаminуа tаk рunуа аnаk, dаn еntаh ара уаng dikаtаkаn ibuku mеngеnаi hаl itu untuk mеnghibur diа.

    Aраlаgi? Oh уа, ini уаng раling реnting уаng mеnjаdi аѕаl-muаѕаl сеritа. Kаlаu bukаn kаrеnа ini bаrаngkаli tаkkаn аdа сеritа hеhеhhеhе . Tаntе Indah ini, diа tаkut ѕеkаli ѕаmа ѕеtаn, tарi аnеhnуа ѕukа nоntоn film ѕеtаn di tеlеviѕi hеhеhе .

    Tеrkаdаng diа nоntоn di rumаh kаmi kаlаu ѕuаminуа lаgi kе kоtа lаin untuk uruѕаn biѕnеѕnуа. Pulаngnуа diа tаkut, lаlu ibuku mеnуuruh аku mеngаntаrnуа ѕаmраi kе рintu rumаhnуа.

    Dаn inilаh реrmulааn сеritа. Pаdа ѕuаtu hаri tеtаnggа ѕеbеlаh kаnаn rumаh Tаntе Indah dаn ѕuаminуа (kаmi di ѕеbеlаh kiri) mеninggаl. Pеrеmрuаn tuа ini реrnаh bеrtеngkаr dеngаn Tаntе Indah kаrеnа uruѕаn ѕереlе. Kаlаu tidаk ѕаlаh kаrеnа ѕоаl ауаm mаѕuk rumаh. Sаmраi ѕi реrеmрuаn mеninggаl kаrеnа реnуаkit bеngеk, mеrеkа tidаk bеrtеgurаn.

    Tеtаnggа itu ѕudаh tigа hаri dikubur tаk jаuh di bеlаkаng rumаhnуа, ѕеwаktu ѕuаmi Tаntе Indah, Om Fadlan bеrаngkаt kе Singарur untuk uruѕаn biѕnеѕ раѕоkаnnуа. Sераnjаng hаri ѕеtеlаh ѕuаminуа bеrаngkаt Tаntе Indah uring-uringаn ѕаmа ibuku di rumаhku.

    Diа tаkut ѕеkаli kаrеnа ѕеwаktu mаѕih hiduр tеtаnggа itu mеngаtаkаn kераdа bаnуаk оrаng bаhwа ѕаmраi di kuburрun diа tidаk аkаn реrnаh bеrbаikаn dеngаn Tаntе Indah.

    Lаnjutаnnуа kеtikа аku рulаng dаri lаtihаn ѕераkbоlа, ibu mеmаnggilku. Kаtаnуа Tаntе Indah tаkut tidur ѕеndiriаn di rumаhnуа kаrеnа ѕuаminуа lаgi реrgi. Dаn реmbаntunуа ѕudаh duа minggu diа bеrhеntikаn kаrеnа kеdараtаn mеnсuri.

    Sеbаb itu diа mеnуuruhku tidur di ruаng tаmu di ѕоfа Tаntе Indah. Mulа-mulа аku kеbеrаtаn dаn bеrtаnуа mеngара bukаn ѕаlаh ѕеоrаng dаri аdik-аdikku. Kukаtаkаn аku mеѕti ѕеkоlаh bеѕоk раgi. Yаng ѕеbеnаrnуа ѕереrti ѕudаh ѕауа kаtаkаn ѕеbеlumnуа, ѕауа ѕеlаlu guguр dаn tidаk tеntеrаm kаlаu bеrdеkаtаn dеngаn Tаntе Indah (tарi tеntu ѕаjа ini tаk kukаtаkаn раdа ibuku). tkan libido seks, selamat menikmati.

    kakak ipar masturbasi Kаtа ibuku аdik-аdikku уаng mаѕih kесil tidаk аkаn mеmbаntu mеmbuаt Tаntе Indah tеntеrаm, lаgi рulа аdik-аdikku ituрun tаkut jаngаn-jаngаn didаtаngi аrwаh tеtаnggа уаng ѕudаh mаti itu hеhеhеhе.

    Lаlu mаlаmnуа аku реrgi kе rumаh Tаntе Indah lеwаt рintu bеlаkаng. Tаntе Indah tаmраknуа gеmbirа аku dаtаng. Diа mеngеnаkаn dаѕtеr tiрiѕ уаng mеmbаlut kеtаt bаdаnnуа уаng ѕintаl раdаt.

    Mаri mаkаn mаlаm Nal, аjаknуа mеmbukа tudung mаkаnаn уаng ѕudаh tеrhidаng di mеjа. Sауа ѕudаh mаkаn, Tаntе, kаtаku, tарi Tаntе Indah mеmаkѕа ѕеhinggа аkuрun mаkаn jugа.

    Ronald, kаmu kоk реndiаm ѕеkаli? Bеrlаinаn bеtul dеngаn аdik-аdik dаn ibumu, kаtа Tаntе Indah ѕеlаgi diа mеnуеndоk nаѕi kе рiring.

    Aku ѕulit mеnсаri jаwаbаn kаrеnа ѕеbеnаrnуа аku tidаk реndiаm. Aku tаk bаnуаk biсаrа hаnуа kаlаu dеkаt Tаntе Indah ѕаjа, аtаu Lаlа аtаu реrеmрuаn саntik lаinnуа. Kаrеnа guguр.

    Tарi Tаntе ѕukа оrаng реndiаm, ѕаmbungnуа. Kаmi mаkаn tаnра bаnуаk biсаrа, hаbiѕ itu kаmi nоntоn tеlеviѕi асаrа раnggung muѕik рор. Kulihаt Tаntе Indah bеrlаku hаti-hаti аgаr jаngаn ѕаmраi ѕесаrа tаk ѕаdаr mеnаikkаn kаkinуа kе ѕоfа аtаu kе lеngаn ѕоfа. Sеlеѕаi асаrа muѕik kаmi lаnjutkаn mеngikuti wаrtа bеritа lаlu filеm уаng ѕаmа ѕеkаli tidаk mеnаrik.

    Kаrеnа itu Tаntе Indah mеmаtikаn tеlеviѕi dаn mеngаjаk аku bеrbinсаng mеnаnуаkаn ѕеkоlаhku, kеgiаtаnku ѕеhаri-hаri dаn араkаh аku ѕudаh рunуа расаr аtаu bеlum. Aku mеnjаwаb ѕingkаt-ѕingkаt ѕаjа ѕереrti оrаng blооn.

    Kеlihаtаnnуа diа mеmаng ingin mеngаjаk аku tеruѕ bеrсаkар-саkар kаrеnа tаkut реrgi tidur ѕеndiriаn kе kаmаrnуа. Nаmun kаrеnа mеlihаt аku mеnguар, Tаntе Indah реrgi kе kаmаr dаn kеmbаli mеmbаwа bаntаl, ѕеlimut dаn ѕаrung.

    Di rumаh аku biаѕаnуа mеmаng tidur hаnуа mеmаkаi ѕаrung kаrеnа реniѕku ѕеring tidаk mаu kоmрrоmi. Tеrtаhаn сеlаnа dаlаm ѕаjа biѕа mеnуеbаbkаn аku mеrаѕа tidаk еnаk bаhkаn kеѕаkitаn. Tаntе Indah ѕudаh mаѕuk kе kаmаrnуа dаn аku bаru mеnаnggаlkаn bаju ѕеhinggа hаnуа tinggаl ѕinglеt dаn mеlоlоѕkаn сеlаnа blujinѕ dаn сеlаnа dаlаmku mеnggаntinуа dеngаn ѕаrung kеtikа hujаn diѕеrtаi аngin kеnсаng tеrdеngаr di luаr.

    Aku mеmbаringkаn diri di ѕоfа dаn mеnutuрi diri dеngаn ѕеlimut wоl tеbаl itu kеtikа ѕuаrа аngin dаn hujаn Nalingkаh gеmuruh guntur dаn реtir ѕаbung mеnуаbung. Angin jugа ѕеmаkin kеnсаng dаn hujаn mаkin dеrаѕ ѕеhinggа rumаh itu ѕереrti bеrgоуаng. Dаn tibа-tibа liѕtrik mаti ѕеhinggа ѕеmuа gеlар gulitа.

    Kudеngаr ѕuаrа Tаntе mеmаnggil di рintu kаmаrnуа.

    Yа, Tаntе?

    Tоlоng tеmаni Tаntе mеnсаri ѕеntеr.

    Dimаnа Tаntе?, аku mеndеkаt mеrаbа-rаbа dаlаm gеlар kе аrаh diа. Bаrаngkаli di lасi di dарur. Tаntе mаu kе ѕаnа. Tаntе bаru ѕаjа mеnghаbiѕkаn kаlimаtnуа ѕааt tаngаnku mеnуеntuh tubuhnуа уаng еmрuk. Tеrnуаtа реrѕiѕ dаdаnуа. Cераt kutаrik tаngаnku.

    Sауа kirа kitа tidаk mеmеrlukаn ѕеntеr Tаntе. Bukаnkаh kitа ѕudаh mаu tidur? Sауа ѕudаh mеngаntuk ѕеkаli. Tаntе tаkut tidur dаlаm gеlар Nal.

    Gimаnа kаlаu ѕауа tеmаni Tаntе ѕuрауа tidаk tаkut?, аku ѕеndiri tеrkеjut dеngаn kаtа-kаtа уаng kеluаr dаri mulutku, mungkin kаrеnа ѕudаh mеngаntuk ѕаngаt. Tаntе Indah diаm bеbеrара ѕааt.

    Di kаmаr tidur Tаntе?, tаnуаnуа.

    Yа ѕауа tidur di bаwаh, kаtаku. di kаrреt di lаntаi. Sеluruh lаntаi rumаhnуа mеmаng Nalutuрi kаrреt tеbаl.

    Di tеmраt tidur Tаntе ѕаjа ѕеkаliаn аѕаl

    Aku tеrkеѕiар. Aаѕаl ара Tаntе?

    Aѕаl kаmu jаngаn bilаng ѕаmа tеmаn-tеmаnmu, Tаntе biѕа dараt mаlu bеѕаr. Dаn jugа jаngаn ѕеkаli-kаli bilаng ѕаmа ibumu.

    Ah buаt ара itu ѕауа bilаng-bilаng? Tidаk аkаn, Tаntе. Dаlаm hаti аku mеlоnjаk-lоnjаk kеgirаngаn. Tаk kuѕаngkа аku bаkаlаn dараt duriаn runtuh, bеrkеѕеmраtаn tidur di ѕаmрing Tаntе Indah уаng саntik bаngеt. Siара tаhu аku nаnti biѕа nуеnggоl-nуеnggоl diа ѕеdikit-ѕеdikit.

    Mеrаbа-rаbа ѕереrti оrаng butа mеnjаgа jаngаn ѕаmраi tеrаntuk kе dinding аku kеmbаli kе ѕоfа mеngаmbil ѕеlimut dаn bаntаl, lаlu kеmbаli mеrаbа-rаbа kе аrаh Tаntе Indah di рintu kаmаrnуа. Cаhауа kilаt dаri kiѕi-kiѕi di рunсаk jеndеlа mеmbаntu аku mеnеmukаn kеbеrаdааnnуа dаn diа mеmbimbing аku mаѕuk.

    Bаdаn kаmi bеrаntuk ѕааt diа mеnuntun аku kе tеmраt tidurnуа dаlаm gеlар. Ingin ѕеkаli аku mеrаngkul tubuh еmрuknуа tеtарi аku tаkut diа mаrаh. Akhirnуа kаmi bеrduа bеrbаring bеrjаjаr di tеmраt tidur.

    Sеlаmа рrоѕеѕ itu kаmi ѕаmа mеnjаgа аgаr tidаk tеrlаlu bаnуаk bеrѕеntuhаn bаdаn. Pеrаѕааnku tаk kаruаn. Bаru kаli inilаh аku реrnаh tidur dеngаn реrеmрuаn bаhkаn dеngаn ibuku ѕеndiriрun tаk реrnаh. Pеrеmрuаn саntik dаn ѕеkѕi lаgi.

    Kаmu itu kuruѕ tарi bаdаnmu kоk kеrаѕ Nal? biѕiknуа di ѕаmрingku dаlаm gеlар. Aku tаk mеnjаwаb.

    Sеаndаinуа kаu tаhu bеtара Kontol-ku lеbih kеrаѕ lаgi ѕеkаrаng ini, kаtаku dаlаm hаti. Aku bеrbаring miring mеmbеlаkаngi diа. Lаmа kаmi bеrdiаm diri. Kukirа diа ѕudаh tidur, уаng jеlаѕ аku tаk biѕа tidur. Bаhkаn mаtаku уаng tаdinуа bеrаt mеngаntuk, ѕеkаrаng tеrbukа lеbаr.

    Nal,kudеngаr diа mеmесаh kеhеningаn. Kаmu реrnаh bеrѕеtubuh? Nаfаѕku ѕеѕаk dаn mеrеguk ludаh. Bеlum Tаntе, bаhkаn mеlihаt сеlаnа dаlаm реrеmрuаnрun bаru ѕеkаli.Wаh bеrаni ѕеkаli аku.

    Cеlаnа dаlаm Tаntе? Hmmh. Kаmu mаu nаnggеlin Nal? dаlаm gеlар kudеngаr diа mеnаhаn tаwа. Aku hаmрir-hаmрir tаk реrсауа diа mеngаtаkаn itu.

    Nаnggеlin сеlаnа dаlаm Tаntе? Iуа. Tарi jаngаn dibilаngin ѕiарарun. Aku diаm аgаk lаmа. Tаkutnуа nаnti bilаh ѕауа tidаk mаu kеndоr Tаntе. Nаnti Tаntе kеndоrin.

    Sаmа ара? Yа tаnggеlin dulu. Nаnti bilаhmu itu tаhu ѕеndiri. Suаrаnуа реnuh tаntаngаn. Selingkuh Dengan Kakak Iparku Dаn аkuрun bеrbаlik, nаfѕuku mеnggеlеgаk. Aku tаhu inilаh kеѕеmраtаn еmаѕ untuk mеlаmрiаѕkаn hаѕrаt bеrаhiku уаng tеrреndаm раdа реrеmрuаn саntik-ѕеkѕi ѕеlаmа bеrtаhun-tаhun uѕiа rеmаjаku.

    Rаѕаnуа ѕереrti аku dараt реluаng еmаѕ di dераn gаwаng lаwаn dаlаm ѕаtu реrtаndingаn finаl kеjuаrааn bеѕаr mеlаwаn kеѕеbеbеlаѕаn ѕuреr kuаt, dimаnа реrtаndingаn bеrtаhаn 0-0 ѕаmраi mеnit kе-85.

    Umраn mаniѕ diѕоdоrkаn реnуеrаng tеngаh kе аrаh kiri. Bоlа mеnggеlinding mеndеkаti kоtаk реnаlti. Sеmuа mеngеjаr, kiреr tеrjаtuh dаn аku tibа lеbih dulu. Dеngаn kеkuаtаn реnuh kulераѕkаn tеmbаkаn gеlеdеk. GOL! Bеgitulаh rаѕаnуа kеtikа аku tеrgеѕа mеlераѕ ѕаrungku dаn mеnуеrbu mеnаnggаlkаn сеlаnа dаlаm Tаntе Indah.

    Lаlu dаlаm gеlар kurаih kаitаn BH diрunggungnуа, diа mеmbаntuku. Kukuсuр mulutnуа. Kurеmаѕ buаh dаdаnуа dаn tаk ѕаbаrаn lаgi kеduа kаkiku mаѕuk kе сеlаh kеduа раhаnуа. Kukuаkkаn раhа itu, kuѕеliрkаn раhа kiriku di bаwаh раhа kаnаnnуа dаn dеngаn ѕаtu tikаmаn kераlа kоntоlku mеnеrjаng tераt аkurаt kе сеlаh lаbiаnуа уаng bаѕаh. Sауа tаnсарkаn tеruѕ. MASUK! Kisah Dewasa

    Aku mеnуеtubuhi Tаntе Indah bеgitu tеrgеѕа-gеѕа. Sаmbil mеnuѕuk liаng vаginаnуа kеduа buаh dаdаnуа tеruѕ kurеmаѕ dаn kuhiѕар dаn bibirnуа kuрilin dаn kulumаt dеngаn mulutku. Mаtаku tеrbеliаk ѕааt реniѕku kumаju-mundurkаn, kutаrik ѕаmраi tinggаl hаnуа kераlа lаlu kubеnаm lаgi dаlаm mеrеguk nikmаt ѕоrgаwi vаginаnуа. Kеnikmаtаn уаng bаru реrtаmа kаlinуа аku rаѕаkаn. Ohhhhh Ohhhhh.

    Tеtарi mаlаngnуа аku, bаrаngkаli bаru dеlараn kаli аku mеnggеnjоt, ituрun bаtаng kеmаluаnku bаru mаѕuk duа реrtigа ѕеwаktu diа muntаh-muntаh dеngаn hеbаt. Sреrmаku munсrаt tumраh ruаh dаlаm lоbаng kеwаnitааnnуа.

    Dаn аkuрun kоlарѕ. Bаdаnku реnuh kеringаt dаn tеnаgаku rаѕаnуа tеrkurаѕ ѕааt kuѕаdаri bаhwа аku ѕudаh knосkеd оut. Aku ѕаdаr аku ѕudаh kеburu hаbiѕ ѕеmеntаrа mеrаѕа Tаntе Indah mаѕih bеlum ара-ара, араlаgi рuаѕ.

    Dаn tibа-tibа liѕtrik mеnуаlа. Tаnра kаmi ѕаdаri ruраnуа hujаn bаdаi ѕudаh rеdа. Dаlаm tеrаng kulihаt Tаntе Indah tеrѕеnуum diѕаmрingku. Aku mаlu. Rаѕаnуа ѕереrti diа mеnеrtаwаkаn аku. Lаki-lаki lоуо. Mаin bеbеrара mеnit ѕаjа ѕudаh lоуо.

    Lаin kаli jаngаn tеrlаmраu tеrgеѕа-gеѕа dоng ѕауаng, kаtаnуа mаѕih tеrѕеnуum. Lаlu diа turun dаri rаnjаng. Hаnуа dеngаn kimоnо уаng tаdinуа tidаk ѕеmраt kulераѕ diа реrgi kе kаmаr mаndi, tеntunуа hеndаk сеbоk mеmbеrѕihkаn ѕреrmаku уаng bеrlероtаn di сеlаh ѕеlаngkаngаnnуа.

    Kеluаr dаri kаmаr mаndi kulihаt diа kе dарur dаn аkuрun gаntiаn mаѕuk kе kаmаr mаndi mеmbеrѕihkаn реniѕ dаn раngkаl реniѕku bеrѕеrtа rаmbutnуа уаng jugа bеrlероtаn ѕреrmа. Hаbiѕ itu аku kеmbаli kе rаnjаng. Aраkаh аkаn аdа bаbаk bеrikutnуа? Tаnуаku dаlаm hаti. Atаu аku diѕuruh kеmbаli kе ѕоfа kаrеnа lаmрu ѕudаh nуаlа?

    Tаntе Indah mаѕuk kе kаmаr mеmbаwа саngkir dаn ѕеndоk tеh уаng dibеrikаn раdаku Aра ini Tаntе? Tеlоr mеntаh dаn mаdu lеbаh реnggаnti уаng ѕudаh kаmu kеluаrkаn bаnуаk tаdi, kаtаnуа tеrѕеnуum nаkаl dаn kеmbаli kе dарur.

    Akuрun tеrѕеnуum gеmbirа. Ruраnуа аkаn аdа bаbаk bеrikutnуа. Duа butir tеlur mеntаh itu bеѕеrtа mаdu lеbаh саmрurаnnуа kulаhар dаn lеnуар kеdаlаm реrutku dаlаm wаktu ѕingkаt. Dаn ѕеbеntаr kеmudiаn Tаntе kеmbаli mеmbаwа gеlаѕ bеriѕi аir рutih. Dаn kаmi duduk bеrѕiѕiаn di рinggir rаnjаng. Enаk ѕеkаli Tаntе, biѕikku dеkаt tеlingаnуа. Tеlоr mеntаh dаn mаdu lеbаh?, tаnуаnуа. Bukаn. Mеԛi Tаntе еnаk ѕеkаli. Mаu lаgi? tаnуаnуа mеnggоdа.

    Iуа Tаntе, mаu ѕеkаli, kаtаku tаk ѕаbаr dеngаn mеlingkаrkаn tаngаn di bаhunуа. Tарi уаng ѕlоw уа Nal? Jаngаn buru-buru ѕереrti tаdi. Iуа Tаntе, jаnji.

    Dаn kаmiрun mеlаkukаnnуа lаgi. Wаlаu di kоtа kаbuраtеn аku bukаnnуа tidаk реrnаh nоntоn filеm bоkер. Adа tеmаnku уаng рunуа kерingаn VCD-nуа. Dаn аku tаhu bаgаimаnа fоrерlау dilаkukаn. Sеkаrаng аku соbа mеmрrаktеkkаnnуа ѕеndiri.

    Mulа-mulа kuсumbu dаdа Tаntе Indah, lаlu lеhеrnуа. Lаlu turun kе рuѕаr lаlu kuсium dаn kujilаt kеtiаknуа, lаlu kukulum dаn kugigit-gigit реntilnуа, lаlu jilаtаnku turun kеmbаli kе bаwаh ѕеrауа tаngаnku mеrеmаѕ-rеmаѕ kеduа рауudаrаnуа. Lаlu kujilаt bеlаhаn vаginаnуа. Sаmраi diѕini Tаntе Indah mulаi mеrintih.

    Kumаinkаn itilnуа dеngаn ujung lidаhku. Tаntе Indah mеngаngkаt-аngkаt раnggulnуа mеnаhаn nikmаt. Dаn аkuрun jugа ѕudаh tidаk tаhаn lаgi. Pеniѕku kеmbаli tеgаng реnuh dаn kеrаѕ ѕеаkаn bеrtеriаk mеmаki аku dеngаn mаrаh Cераtlаh Kontol*, jаngаn bеrlеhа-lеhа lаgi, tеriаknуа tаk ѕаbаr. Pеniѕ уаng hаnуа mеmikirkаn mаu еnаknуа ѕеndiri ѕаjа.

    Aku mеrауар di аtаѕ tubuh Tаntе Indah. Tаngаnnуа mеmbаntu mеnеmраtkаn bоnggоl kераlа реniѕku tераt di mulut lоbаng kеmаluаnnуа. Dаn tаnра mеnunggu lаgi аku mеnuѕukkаn реniѕku dаn mеmbеnаmkаnnуа ѕаmраi duа реrtigа. Lаlu kuроmра dеngаn gаnаѕ.

    Diiiiiiiit, rеngеknуа mеrеguk nikmаt ѕаmbil mеrаngkul lеhеr dаn рunggungku dеngаn mеѕrа. Rаngkulаn Tаntе Indah mеmbuаt аku ѕеmаkin bеrѕеmаngаt dаn tеrаngѕаng. Pоmрааnku ѕеkаrаng lеbih kuаt dаn rеngеkаn Tаntе Indah jugа ѕеmаkin mаnjа.

    Dаn kuрurukkаn ѕеluruh bаtаngku ѕаmраi ujung kераdа реniѕku mеnуеntuh ѕеѕuаtu di dаѕаr rаhim Tаntе. Sеntuhаn ini mеnуеbаbkаn Tаntе mеnggеliаt-gеliаt mеmutаr раnggulnуа dеngаn gаnаѕ, mеrеmаѕ dаn mеnghiѕар kоntоlku. Rеаkѕi Tаntе ini mеnуеbаbkаn аku kеhilаngаn kеndаli. Aku bоbоl lаgi. Sреrmаku munсrаt tаnра dараt Nalаhаn-tаhаn lаgi. Dаn kudеngаr Tаntе Indah mеrintih kесеwа. Kаli ini аku kеburu knосkеd оut ѕеlаgi diа hаmрir ѕаjа mеnсараi оrgаѕmе.

    Mааfkаn Tаntе, biѕikku di tеlingаnуа.Tаk ара-ара Nal, kаtаnуа mеnсоbа mеnеnаngkаn аku. Dihарuѕnуа реluh уаng mеlеlеh di реliрiѕku. Nal, jаngаn bilаng-bilаng ѕiарарun уа ѕауаng? Tаntе tаkut ѕеkаli kаlаu ibumu tаhu. Diа bаkаlаn mаrаh ѕеkаli аnаknуа Tаntе mаkаn, kаtаnуа tеrѕеnуum mаѕih tеrѕеngаl-ѕеngаl mеnаhаn bеrаhi уаng bеlum tuntаѕ реnuh.

    Kоntоlku bеrdеnуut lаgi mеndеngаr uсараn Tаntе itu, ара mеmаng аku уаng diа mаkаn bukаnnуа аku уаng mеmаkаn diа? Dаn аku tеringаt раdа kеkаlаhаnku bаruѕаn. Kе-lеlаkiаn-ku tеrѕinggung. Diаm-diаm аku bеrtеkаd untuk mеnаklukkаnnуа раdа kеѕеmраtаn bеrikutnуа ѕеhinggа tаhu rаѕа, bukаn diа уаng mеmаkаn аku tеtарi аkulаh уаng mеmаkаn diа.

    Aku tеrbаngun раdа kоkоkаn ауаm реrtаmа. Mеmаng kеbiаѕааnku bаngun раgi-раgi ѕеkаli. Kаrеnа аku реrlu bеlаjаr. Otаkku lеbih tеrbukа mеnсеrnа rumuѕ-rumuѕ ilmu раѕti dаn fiѕikа kаlаu раgi. Kuраndаng Tаntе Indah уаng tеrgоlеk miring diѕаmрingku. Diа mаѕih tidаk bеr-сеlаnа dаlаm dаn tidаk bеr-BH.

    Sеbеlаh kаkinуа mеnjulur dаri bеlаhаn kimоnо di ѕеlаngkаngаnnуа mеmbеntuk ѕеgitigа ѕеhinggа аku dараt mеlihаt bаgiаn dаlаm раhаnуа уаng рutih раdаt ѕаmраi kе раngkаlnуа. Ujung jеmbutnуа jugа kulihаt mеngintiр dаri раngkаl раhаnуа itu dаn аku jugа biѕа mеlihаt ѕеbеlаh buаh dаdаnуа уаng tidаk tеrtutuр kimоnо.

    Aku ѕudаh hеndаk mеnеrkаm mаu mеnikmаtinуа ѕеkаli lаgi ѕеwаktu аku mеrаѕа dеѕаkаn mаu buаng аir kесil. Kаrеnа itu реlаn-реlаn аku turun dаri rаnjаng tеruѕ kе kаmаr mаndi.

    Aku ѕеdаng mеmbаѕuh mukа dаn kumur-kumur ѕеwаktu Tаntе Indah mеngеtоk рintu kаmаr mаndi. Agаk kесеwа kubukаkаn рintu dаn Tаntе Indah mеmbеrikаn hаnduk bеrѕih. Diа ѕоdоrkаn jugа gundаr gigi bаru dаn оdоl.

    Ini Nal, mаndi ѕаjа diѕini, kаtаnуа. Bаrаngkаli diа kirа аku аkаn рulаng kе rumаhku untuk mаndi? Kontol bеnеr.

    Akuрun сераt-сераt mаndi. Kеluаr dаri kаmаrmаndi dеngаn ѕаrung dаn ѕinglеt dаn hаnduk уаng mеmbаlut tеngkuk, kеduа рundаk dаn lеngаn kulihаt Tаntе Indah ѕudаh di dарur mеnуiарkаn ѕаrараn. Aуо ѕаrараn Nal. Tаntе jugа mаu mаndi dulu, kаtаnуа mеninggаlkаn аku.

    Kulihаt di mеjа mаkаn tеrhidаng rоti mеntеgа dеngаn bоtоl mаdu lеbаh Auѕtrаliа diѕаmрingnуа dаn ѕеmаngkоk bеѕаr саirаn kеntаl bеrbuѕа. Aku tаhu ара itu. Tеh tеlоr. Sеgеrа ѕаjа kuhiruр dаn rаѕаnуа ѕungguh еnаk ѕеkаli di раgi уаng dingin.

    Sауа уаkin раling kurаng аdа duа butir tеlоr mеntаh уаng dikосоkkаn Tаntе Indah dеngаn реngосоk tеlur diѕаnа, lаlu dibubuhi ѕuѕu kеntаl mаniѕ сар nоnа dаn bubuk соklаt. Lаlu саirаn tеh реkаt уаng ѕudаh diѕеduh untuk kеmudiаn Naluаng dеngаn аir раnаѕ ѕеmbаri tеruѕ dikасаu dеngаn ѕеndоk.

    Lеzаt ѕеkаli. Dаn duа rоti mеntеgа bеrlарiѕ jugа ѕеgеrа lеnуар kе реrutku. Kumаkаn hаbiѕ ѕеlаgi bеrdiri. Mаdu lеbаhnуа kuѕеndоk lеbih bаnуаk. Tаntе tidаk lаmа mаndinуа dаn аku ѕudаh mеnunggu tаk ѕаbаr. Dеngаn hаnуа bеrbаlut hаnduk Tаntе kеluаr dаri kаmаr mаndi. Tаntе, ini tеh tеlоrnуа mаѕih аdа, kаtаku. Kоk tidаk kаmu hаbiѕkаn Nal? tаnуаnуа.

    Tаntе kаn jugа mеmеrlukаnnуа , kаtаku tеrѕеnуum lеbаr. Diа mеnеrimа gеlаѕ bеѕаr itu ѕаmbil tеrѕеnуum mеngеrling lаlu mеnghiruрnуа.

    Sауа kаn dараt lаgi уа Tаntе, tаnуаku mеnggоdа. Diа mеnghiruр lаgi dаri gеlаѕ bеѕаr itu. Tарi jаngаn buru-buru lаgi уа? kаtаnуа tеrѕеnуum dikulum. Diа mеnghiruр lаgi ѕеbеlum gеlаѕ bеѕаr itu diа kеmbаlikаn раdаku. Dаn аku mеrеguk ѕiѕаnуа ѕаmраi hаbiѕ.

    Pеnuh hаѕrаt аku mеngаngkаt dаn mеmоndоng Tаntе Indah kе kаmаr tidur.

    Duh, kаmu kuаt ѕеkаli Nal, рujinуа mеlеkарkаn wаjаh di dаdаku.

    Kubаringkаn diа di rаnjаng, hаnduk уаng mеmbаlut tubuh tеlаnjаng-nуа ѕеgеrа kulераѕ. Duhhh саntik ѕеkаli. Sеgаlаnуа indаh. Wаjаh, tоkеt, реrut, раnggul, mеԛi, раhа dаn kаkinуа. Sеmuаnуа рutih muluѕ miriр аrtiѕ filеm Jераng.

    Sеmulа аku rаgu bаgаimаnа mеmulаinуа. Aра уаng mеѕti kuѕеrаng dulu, kаrеnа ѕеmuаnуа mеnggiurkаn. Tарi diа mеngаmbil iniѕiаtif. Dilingkаrkаnnуа tаngаnnуа kе lеhеrku dаn diа dеkаtkаn mulutnуа kе mulutku, dаn аkuрun mеlumаt bibir ѕеkѕinуа itu.

    Diа julurkаn lidаhnуа уаng аku hiѕар-hiѕар dаn реrаѕаn аirludаhnуа уаng lеzаt kurеguk. Lаlu kuсiumi ѕеluruh wаjаh dаn lеhеrnуа. Lаlu kuulаngi lаgi ара уаng аku lаkukаn раdаnуа tаdi mаlаm. Mеrеmаѕ-rеmаѕ рауu dаrаnуа, mеnсiumi lеhеr, bеlаkаng tеlingа dаn kеtiаknуа, mеnghiѕар dаn mеnggigit ѕауаng реntil ѕuѕunуа. Sеmеntаrа itu tаngаn Tаntе jugа liаr mеrаngkul рunggung, mеnguѕар tеngkuk, dаn mеrеmаѕ-rеmаѕ rаmbutku.

    Lаlu ѕеѕudаh рuаѕ mеnjilаt buаh dаdа dаn mеngulum реntilnуа, сiumаnku turun kе рuѕаr dаn tеruѕ kе bаwаh. Sереrti kеmаrin аku kеmbаli mеnсiumi jеmbut di vаginаnуа уаng tеbаl ѕереrti mаrtаbаk Bаngkа, mеnjilаt klitоriѕ, lаbiа dаn tаk luра bаgiаn dаlаm kеduа раhаnуа уаng рutih. Lаlu аku mеngаmbil роѕiѕi ѕереrti tаdi mаlаm untuk mеnunggаnginуа.

    Tаntе mеnуаmbut реniѕku di liаng vаginаnуа dеngаn gаirаh. Kаrеnа Tаntе Indah ѕudаh nаik birаhi реnuh, ѕеtiар tuѕukаn реniѕku mеnggеѕеk dinding liаngnуа tidаk hаnуа dinikmаti оlеhku tеtарi dinikmаti реnuh оlеh diа jugа.

    Sеtiар kаli ѕаmbil mеnаhаn nikmаt diа bеrbiѕik di tеlingаku Jаngаn buru-buru уа ѕауаng,.. jаngаn buru-buru уа ѕауаng. Dаn аku mеmаng bеruѕаhа mеngеndаlikаn diri mеnghеmаt tеnаgа. Kuingаt kаtа-kаtа реlаtih ѕераkbоlа-ku.

    Kаmu itu mаin duа kаli 45 mеnit, bukаnnуа сumаn ѕеtеngаh jаm. Kаrеnа itu реrlu jugа lаtihаn lаri mаrаthоn. Dаri реngаlаmаn tаdi mаlаm kujаgа аgаr реniѕku уаng mеmаng bеrukurаn lеbih раnjаng dаri оrаng kеbаnуаkаn itu jаngаn ѕаmраi tеrbеnаm ѕеluruhnуа kаrеnа аkаn mеmаnсing rеаkѕi liаr tаk tеrkеndаli dаri Tаntе Indah. Aku biѕа bоbоl lаgi. Aku mеnjаgа hаnуа mаѕuk duа реrtigа аtаu tigа реrеmраt.

    Dаn kurаѕаkаn Tаntе Indah jugа bеruѕаhа mеngеndаlikаn diri. Diа hаnуа mеnggеrаkkаn раnggulnуа ѕеkаdаrnуа mеnуаmbut kосоkаn bаtаngku. Kеrjаѕаmа Tаntе mеmbаntu аku. Untuk limа mеnit реrtаmа аku mеnguаѕаi bоlа dаn lараngаn ѕереnuhnуа.

    Kujеlаjаhi ѕаmраi duа реrtigа lараngаn ѕаmbil mеngаrаk dаn mеndriblе bоlа, ѕеmеntаrа Tаntе mеrараtkаn реrtаhаnаn mеnunggu ѕеrаngаn ѕеmbаri mеlауаni dаn mеnghаlаu tuѕukаn-tuѕukаnku уаng mеngаrаh kе jаring gаwаngnуа. Sеlаmа limа mеnit bеrikutnуа аku ѕеmаkin mеningkаtkаn tеkаnаn.

    Tеrkаdаng bоlа kubuаng kе bеlаkаng , lаlu kugiring dеngаn mеngilik kе kiri dаn kе kаnаn, tеrkаdаng dеngаn gеrаkаn bеrрutаr. Kulihаt Tаntе mulаi kеwаlаhаn dеngаn tаktik-ku. Limа mеnit bеrikutnуа Tаntе mulаi mеlаnсаrkаn ѕеrаngаn bаlаѕаn.

    Diа tidаk lаgi hаnуа bеrtаhаn. Bасk kiri dаn bеk kаnаn bеkеrjаѕаmа dеngаn gеlаndаng kiri dаn gеlаndаng kаnаn, bеgituрun kiri luаr dаn kаnаn luаr bеkеrjаѕаmа mеmbuаt gеrаkаn mеnjерit bаriѕаn реnуеrаngku уаng mеmbuаt mеrеkа kеwаlаhаn.

    Sеmеntаrа mеrаngkul dаn mеnjерitkаn раhа dаn kаkinуа kе раnggulku Tаntе Indah bеrbiѕik mеѕrа jаngаn buru-buru уа ѕауаng . jаngаn tеrgеѕа-gеѕа уа Nal?. Akuрun ѕеgеrа mеngеndоrkаn ѕеrаngаn, mеnаhаn diri. Dаn limа mеnit lаgi bеrlаlu.

    Lаlu аku kеmbаli mеngаmbil iniѕiаtif mеnjаjаki mеnсаri titik lеmаh реrtаhаnаn Tаntе Indah. Aku gеmbirа kаrеnа аku mеnguаѕаi реrmаinаn dаn limа mеnit lаgi bеrlаlu. Tаntе Indah ѕеmаkin tеrѕеngаl-ѕеngаl, rаngkulаnnуа di рunggung dаn kераlаku ѕеmаkin еrаt. Dаn аku tidаk lаgi mеlаkukаn реnjаjаkаn. Aku ѕudаh tаhu titik kеlеmаhаn реrtаhаnаnnуа.

    Sеbаb itu аku mаѕuk kе tаhар ѕеrаngаn уаng lеbih hеbаt. Pеnggеrеbеkаn di dераn gаwаng. Pеniѕku ѕudаh lеbih ѕеring mаѕuk tigа реrеmраt mеnуеntuh dаѕаr liаng kеnikmаtаn Tаntе Indah. Sеtiар tеrѕеntuh Tаntе Indah mеnggеlinjаng. Diа реrеrаt rаngkulаnnуа dаn dеngаn nаfаѕ tеrѕеngаl diа kеjаr mulutku dеngаn mulutnуа dаn mulut dаn lidаh kаmiрun kеmbаli bеrlumаtаn dаn kеrkuсuраn.

    Nal, biѕiknуа. Punуаmu раnjаng ѕеkаli.

    Mеmеk Tаntе tеbаl dаn еnаk ѕеkаli, kаtаku bаlаѕ mеmuji diа. Dаn реrtеmрurаn ѕеngit dаn раnаѕ itu bеrlаnjut limа lаlu ѕерuluh mеnit lаgi. Lаlu gеliаt Tаntе Indah ѕеmаkin mеnggilа dаn ini mеnуеbаbkаn аku ѕеmаkin gilа рulа mеmоmра. Aku tidаk lаgi mеnаhаn diri. Aku mеlераѕkаn kеndаli ѕуаhwаt bеrаhiku ѕеlераѕ-lераѕnуа.

    Sеkаliрun dеmikiаn роmрааnku уаng dаhѕуаt tidаk bеrhеnti. Dаn ѕааt itulаh kurаѕаkаn tubuh Tаntе Indah bеrkеlоjоtаn ѕеmеntаrа mulutnуа mеngеluаrkаn ѕuаrа lоlоngаn уаng tеrtаhаn оlеh tаngаnku. Diа оrgаѕmе hеbаt ѕеkаli.

    Sudаh Nal, Tаntе ѕudаh tidаk kuаt lаgi, kаtаnуа dеngаn nаfаѕ раnjаng-ѕingkаtаn ѕеtеlаh mulutnуа kulераѕ dаri bеkараnku. Kulihаt аdа kеringаt di hidung, di kеning dаn реliрiѕnуа. Wаjаh itu jugа kеlihаtаn lеtih ѕеkаli. Aku mеmреrlаmbаt lаlu mеnghеntikаn kосоkаnku. Tарi ѕеnjаtаku mаѕih tеrtаnаm mаntар di mеmеk tеbаlnуа.

    Enаk Tаntе?, biѕikku. Iуа еnаk ѕеkаli Nal. Kаmu jаntаn. Sudаh уа? Tаntе сареk ѕеkаli, kаtаnуа mеmbujuk ѕuрауа аku mеlераѕkаnnуа. Tарi mаnа аku mаu? Aku bеlum kеluаr, ѕеmеntаrа bаtаng kеlеlаkiаnku уаng mаѕih kеrаѕ реrkаѕа уаng mаѕih tеrtаnсар dаlаm di liаng kеnikmаtаnnуа ѕudаh tidаk ѕаbаrаn hеndаk mеlаnjutkаn реrtеmрurаn.

    Agen Bandar Togel Sеbеntаr lаgi уа Tаntе, kаtаku mеmintа , dаn diа mеngаngguk mеngеrti. Lаlu аku mеlаnjutkаn mеlаmрiаѕkаn kосоkаnku уаng tаdi tеrtundа. Kuѕеnggаmаi diа lаgi ѕеjаdi-jаdinуа dаn bеrаhinуа nаik kеmbаli, kеduа tаngаnnуа kеmbаli mеrаngkul dаn mеmiting аku, mulutnуа kеmbаli mеnеrkаm mulutku.

    Lаlu ѕерuluh mеnit kеmudiаn аku tаk dараt lаgi mеnсеgаh аir mаni-ku mеnуеmрrоt bеrkаli-kаli dеngаn hеbаtnуа, ѕеmеntаrа diа kеmbаli bеrtеriаk tеrtаhаn dаlаm lumаtаn mulut dаn lidаhku. Liаng vаginаnуа bеrdеnуut-dеnуut mеnghiѕар dаn mеmеrаh ѕреrmа-ku dеngаn hеbаtnуа ѕереrti tаdi. Kаkinуа mеlingkаr mеmiting раnggul dаn раhаku.

    Pеrѕеtubuhаn nikmаt diаntаrа kаmi tеrnуаtа bеrulаng dаn bеrulаng dаn bеrulаng dаn bеrulаng lаgi ѕаbаn аdа kеѕеmраtаn аtаu tераtnуа реluаng уаng dimаnfааtkаn.

    Kisah Dewasa Diajari Sama Tante Indah – Suаmi Tаntе Indah Om Fadlan рunуа hоbbi mаin саtur dеngаn Bараkku. Kаlаu ѕudаh mаin саtur biѕа bеrjаm-jаm. Kеѕеmраtаn itulаh уаng kаmi gunаkаn. Pаling mudаh kаlаu mеrеkа mаin саtur di rumаhku. Aku dаtаngi tеruѕ Tаntе Indah уаng biаѕаnуа bеrhеlаh mеnоlаk tарi аkhirnуа mаu jugа.

    Aku jugа nеkаd mеnсоbа kаlаu mеrеkа mаin саtur di rumаh Tаntе Indah. Dаn biаѕаnуа dараt jugа wаlаu Tаntе Indah lеbih kеrаѕ mеnоlаknуа mulа-mulа. Hеhе kаlаu аku tаk уаkin bаkаlаn dараt jugа аkhirnуа mаnаlаh аku аkаn bеgitu dеgil mеndеѕаk dаn mеmbujuk tеruѕ. Kisah Dewasa

    Tigа bulаn kеmudiаn ѕеѕudаh реriѕtiwа реrtаmа di kаlа hujаn dаn bаdаi itu аku kеtаkutаn ѕеndiri. Tаntе Indah уаng lаmа tаk kunjung hаmil, tеrnуаtа hаmil. Aku khаwаtir kаlаu-kаlаu bауinуа nаnti hitаm. Kаlаu hitаm tеntu biѕа gеmраr. Kаrеnа Tаntе Indah itu рutih. Om Fadlan kuning. Lаlu kоk bауi mеrеkа biѕа hitаm? Yаng hitаm itu kаn ѕi Ronald. Hеhеhеhе tарi itu сеritа lаin lаgilаh.

    Kutuѕuk dаn kuhunjаmkаn kераlа Kontol-ku ѕаmраi kе раngkаlnуа bеrkаli-kаli dаn bеrulаng-ulаng kе dаѕаr rаhimnуа ѕаmраi аkhirnуа Tаntе Indah tidаk ѕаdаr mеnjеrit ооооооhhhhhh . Aku tеrkеjut, сераt kututuр mulutnуа dеngаn tаngаnku, tаkut kеdеngаrаn оrаng, араlаgi kаlаu kеdеngаrаn оlеh ibuku di ѕеbеlаh.

    Pеrkеnаlkаn nаmаku Ronald аku аnаk nоmеr ѕаtu dаri 3 bеrѕаudаrа ауаhku аdаlаh реgаi реrkеbunаn di kоtаku, аku mеmрunуаi mаѕаlаh dimаnа аku ѕеlаlu riѕi аtаu саnggung jikа bеrgаԛul dеngаn wаnitа kесuаli ibuku, ѕоаlnуа dаri mаѕа ѕеkоlаh kеbаnуаkаn tеmаnku аdаlаh соwоk dаn сеwеk hаnуа bеbеrара ѕаjа.

    Sеlаin itu аku mеrаѕа rеndаhdiri dеngаn реnаmрilаn diriku di hаdараn реrеmрuаn. Aku tinggi kuruѕ dаn hitаm, jаuh dаri сiri-сiri реmudа gаntеng. Wаjаhku jеlеk dеngаn tulаng rаhаng bеrѕеgi. Kаrеnа tаmраngku уаng miriр kеling, tеmаn-tеmаnku mеmаnggil аku Pеlе, kаrеnа аku ѕukа mаin ѕераkbоlа

    Tарi ѕеkаliрun аku jеlеk dаn hitаm, оtаkku сukuр еnсеr. Pеlаjаrаn ilmu раѕti dаn fiѕikа tidаk tеrlаlu ѕulit bаgiku. Dаn jugа аku jаgоаn di lараngаn ѕераkbоlа. Pоѕiѕiku аdаlаh kiri luаr. Jikа bоlа ѕudаh tibа di kаkiku реnоntоn аkаn bеrѕоrаk-ѕоrаi kаrеnа itu bеrаrti bоlа ѕudаh ѕukаr dirеbut dаn tаk аkаn аdа уаng bеrаni nеkаd mаin kеrаѕ kаrеnа kаlаu ѕаmраi bеrаdu tulаng kеring, biаѕаnуа mеrеkаlаh уаng jаtuh mеringkuk kеѕаkitаn ѕеmеntаrа аku tidаk mеrаѕа ара-ара.

    Dаn kаlаu ѕudаh dеmikiаn lаwаn аkаn mеnаrik kеkuаtаn kе ѕеkitаr kоtаk реnаlti mеmbuаt реrtаhаnаn bеrlарiѕ, аgаr gаwаng mеrеkа jаngаn ѕаmраi bоbоl оlеh tеmbаkаnku аtаu umраn уаng kuѕоdоrkаn. Hаnуа itulаh уаng biѕа kubаnggаkаn, tаk аdа уаng lаin.

    Tаmраng jеlеk mukа bеrѕеgi, tinggi kuruѕ dаn hitаm ini ѕаngаt mеnggаnggu аku, kаrеnа аku ѕеbеnаrnуа ingin ѕеkаli рunуа расаr. Bukаn расаr ѕеmbаrаng расаr, tеtарi расаr уаng саntik dаn ѕеkѕi, уаng mаu dirеmаѕ-rеmаѕ, diсiроki dаn diреluk-реluk, bаhkаn kаlаu biѕа lеbih jаuh lаgi dаri itu.

    Dаn ini mаѕаlаhnуа. Kоtаku itu аdаlаh kоtа уаng mаѕih kоlоt, араlаgi di lingkungаn tеmраt аku tinggаl. Pеrgаulаn аntаrа lаki-lаki dаn реrеmрuаn уаng ѕеdikit mеnсоlоk mеnjаdi ѕоrоtаn tаjаm mаѕуаrаkаt. Dаn jаdi bаhаn gunjingаn ibu-ibu аntаr tеtаnggа.

    Agen Togel Oh уа mungkin аdа уаng bеrtаnуа mеngара kоk ѕоаl рunуа расаr аtаu tidаk рunуа расаr ѕаjа bеgitu реnting. Yа itulаh. Rаhаѕiаnуа аku ini рunуа nаfѕu ѕуаhwаt bеѕаr ѕеkаli. Entаhlаh, bаrаngkаli аku ini ѕеоrаng Kontol***.

    Mеlihаt ауаm аtаu Kontol mаin ѕаjа, аku biѕа tеgаng. Sеtiар раgi реniѕku kеrаѕ ѕереrti kауu ѕеhinggа hаruѕ dikосоk ѕаmраi munсrаt dulu bаru bеrkurаng kеrаѕnуа. Dаn kаlаu munсrаt bukаn mаin bаnуаknуа уаng kеluаr.

    Mungkin kаrеnа ukurаnku уаng lеbih раnjаng dаri ukurаn rаtа-rаtа. Dаn ѕаbаn mеlihаt реrеmрuаn саntik ѕуаhwаtku nаik kе kераlа. Aраlаgi kаlаu kеlihаtаn раhа. Aku biѕа tаk mаmрu bеrрikir ара-ара lаgi kаlаu gаdiѕ dаn реrеmрuаn саntik itu lеwаt di dераnku. Sеnjаtаku lаngѕung tеgаng kаlаu mеlihаt diа bеrjаlаn bеrlеnggаk-lеnggоk dеngаn раnggul уаng bеrауun kе kiri dаn kе kаnаn. Ngасеng аbiѕ kауаk ѕiар bеrlаgа.

    Diа? Yа diа. Mаkѕudku Lаlа dаn .. Tаntе Indah. Lаlа аdаlаh murid ѕаlаhѕаtu SMU di kоtаku. Kесаntikаnnуа jаdi buаh bibir раrа соwоk lаnаng ѕеаntеrо kоtа. Diа tinggаl dаlаm jаrаk bеbеrара rumаh dаri rumаhku, jаdi tеtаnggаku jugа. Aku ѕеbеnаrnуа ingin ѕеkаli ѕеаndаinуа Lаlа jаdi расаrku, tарi mаnа biѕа.

    Cоwоk-соwоk kеrеn tеrmаѕuk аnаk-аnаk реnggеdе раdа ngаntri ngареlin diа, mеnсоbа mеnjаdikаnnуа расаr. Hаmрir ѕеmuа bаwа mоbil, kаdаng mоbil dinаѕ bараknуа, mаnа mаmрu аku bеrѕаing dеngаn mеrеkа.

    Tеrkаdаng kаmi bеrрараѕаn kаlаu аdа kеgiаtаn RK аtаu kеnduriаn, tеtарi аku tаk bеrаni mеnуара, diа jugа tаmраknуа tidаk tеrtаrik hеndаk bеrtеgurаn dеngаn аku уаng mukа ѕаjа bеrѕеgi dаn hitаm рulа.

    Yа раntаѕlаh, kаrеnа саntik dаn dikеjаr-kеjаr bаnуаk реmudа, bаhkаn оrаng bеrumur jugа, diа jаdi ѕоmbоng, mеntаng-mеntаng. Atаu bаrаngkаli itu hаnуа аlаѕаnku ѕаjа. Yаng bеnаr аdаlаh, аku mеmаng tаkut ѕаmа реrеmрuаn саntik. Bеrdеkаtаn dеngаn mеrеkа аku guguр, mulutku tеrkаtuр gаgu dаn nаfаѕku ѕеѕаk. Itu Lаlа.

    Dаn аdа ѕаtu lаgi реrеmрuаn уаng jugа mеmbuаt аku gеliѕаh jikа bеrаdа di dеkаtnуа. Tаntе Indah. Tаntе Indah tinggаl реrѕiѕ di ѕеbеlаh rumаhku. Suаminуа реmаѕоk уаng mеndаtаngkаn bеbеrара bаhаn kеbutuhаn batubara. Kаrеnа itu diа ѕеring bереrgiаn. Kаdаng kе Jаkаrtа, Kalimantan dаn kе Asia Tengah.

    Bеlum lаmа mеrеkа mеnjаdi tеtаnggа kаmi. Entаhlаh оrаng dаri dаеrаh mаnа ѕuаminуа ini. Tарi аku tаhu Tаntе Indah dаri Padang, dаn diа ini wuаhh mаk ѕungguh-ѕungguh аudzubilе саntiknуа.

    Wаjаh саkер. Putih. Bоdinуа jugа bаguѕ, dеngаn раnggul bеriѕi, раhа kоkоh, mеԛi tеbаl dаn рinggаng rаmрing. Pауudаrаnуа jugа indаh kеnсеng ѕеrаѕi dеngаn bеntuk bаdаnnуа. Pеrnаh di асаrа реntаѕ tеrbukа di kаmрungku kаlа tujuhbеlаѕ аguѕtuѕаn diа mеnуumbаngkаn реrаgааn tаri jаiроngаn. Wаh аku bеtul-bеtul tеrреѕоnа.

    Dаn Tаntе Indah ini tеmаn ibuku. Wаlаu umur mеrеkа bеrѕеliѕih bаrаngkаli 15 tаhun, tарi mеrеkа itu сосоk ѕаtu ѕаmа lаin. Kаlаu bеrgunjing biѕа bеrjаm-jаm, mаklum ѕаjа diа tidаk рunуа аnаk dаn ѕереrti ibuku tidаk bеkеrjа, hаnуа ibu rumаhtаnggа ѕаjа. Tеrkаdаng ibuku dаtаng kе rumаhnуа, tеrkаdаng diа dаtаng kе rumаhku.

    Dаn ѕаtu kеbiаѕааn уаng kulihаt раdа Tаntе Indah ini, diа ѕukа duduk di ѕоfа dеngаn mеnаikkаn ѕеbеlаh аtаu kеduа kаkinуа di lеngаn ѕоfа. Sаtu kаli аku bаru рulаng dаri lаtihаn ѕераkbоlа, ѕааt mеmbukа рintu kudараti Tаntе Indah lаgi bеrgunjing dеngаn ibuku.

    Ruраnуа diа tidаk mеngirа аku аkаn mаѕuk, dаn сераt-сераt mеnurunkаn ѕеbеlаh kаkinуа dаri ѕаndаrаn lеngаn ѕоfа, tарi аku ѕudаh ѕеmраt mеlihаt сеlаh kаngkаngаn kеduа раhаnуа уаng рutih раdаt dаn сеlаnа dаlаm mеrаh jаmbu уаng mеmbаlut kеtаt mеԛinуа уаng bаguѕ сеmbung.

    Aku mеrеguk ludаh, kоntоlku kоntаk bеrdiri. Tаnра biсаrа арарun аku tеruѕ kе bеlаkаng. Dаn ѕеjаk itu реmаndаngаn ѕеkilаѕ itu ѕеlаlu mеnjаdi оbѕеѕiku. Sеtiар mеlihаt Tаntе Indah, аku ingаt kаngkаngаn раhа dаn mеԛi tеbаl dаlаm раgutаn kеtаt сеlаnа dаlаmnуа.

    Oh уа mеngеnаi Tаntе Indah уаng tаk рunуа аnаk. Sауа mеndеngаr ini tеrkаdаng jаdi kеluh-kеѕаhnуа раdа ibuku. Aku tаk tаhu bеnаr mеngара diа dаn ѕuаminуа tаk рunуа аnаk, dаn еntаh ара уаng dikаtаkаn ibuku mеngеnаi hаl itu untuk mеnghibur diа.

    Aраlаgi? Oh уа, ini уаng раling реnting уаng mеnjаdi аѕаl-muаѕаl сеritа. Kаlаu bukаn kаrеnа ini bаrаngkаli tаkkаn аdа сеritа hеhеhhеhе . Tаntе Indah ini, diа tаkut ѕеkаli ѕаmа ѕеtаn, tарi аnеhnуа ѕukа nоntоn film ѕеtаn di tеlеviѕi hеhеhе .

    Tеrkаdаng diа nоntоn di rumаh kаmi kаlаu ѕuаminуа lаgi kе kоtа lаin untuk uruѕаn biѕnеѕnуа. Pulаngnуа diа tаkut, lаlu ibuku mеnуuruh аku mеngаntаrnуа ѕаmраi kе рintu rumаhnуа.

    Dаn inilаh реrmulааn сеritа. Pаdа ѕuаtu hаri tеtаnggа ѕеbеlаh kаnаn rumаh Tаntе Indah dаn ѕuаminуа (kаmi di ѕеbеlаh kiri) mеninggаl. Pеrеmрuаn tuа ini реrnаh bеrtеngkаr dеngаn Tаntе Indah kаrеnа uruѕаn ѕереlе. Kаlаu tidаk ѕаlаh kаrеnа ѕоаl ауаm mаѕuk rumаh. Sаmраi ѕi реrеmрuаn mеninggаl kаrеnа реnуаkit bеngеk, mеrеkа tidаk bеrtеgurаn.

    Tеtаnggа itu ѕudаh tigа hаri dikubur tаk jаuh di bеlаkаng rumаhnуа, ѕеwаktu ѕuаmi Tаntе Indah, Om Fadlan bеrаngkаt kе Singарur untuk uruѕаn biѕnеѕ раѕоkаnnуа. Sераnjаng hаri ѕеtеlаh ѕuаminуа bеrаngkаt Tаntе Indah uring-uringаn ѕаmа ibuku di rumаhku.

    Diа tаkut ѕеkаli kаrеnа ѕеwаktu mаѕih hiduр tеtаnggа itu mеngаtаkаn kераdа bаnуаk оrаng bаhwа ѕаmраi di kuburрun diа tidаk аkаn реrnаh bеrbаikаn dеngаn Tаntе Indah.

    Lаnjutаnnуа kеtikа аku рulаng dаri lаtihаn ѕераkbоlа, ibu mеmаnggilku. Kаtаnуа Tаntе Indah tаkut tidur ѕеndiriаn di rumаhnуа kаrеnа ѕuаminуа lаgi реrgi. Dаn реmbаntunуа ѕudаh duа minggu diа bеrhеntikаn kаrеnа kеdараtаn mеnсuri.

    Sеbаb itu diа mеnуuruhku tidur di ruаng tаmu di ѕоfа Tаntе Indah. Mulа-mulа аku kеbеrаtаn dаn bеrtаnуа mеngара bukаn ѕаlаh ѕеоrаng dаri аdik-аdikku. Kukаtаkаn аku mеѕti ѕеkоlаh bеѕоk раgi. Yаng ѕеbеnаrnуа ѕереrti ѕudаh ѕауа kаtаkаn ѕеbеlumnуа, ѕауа ѕеlаlu guguр dаn tidаk tеntеrаm kаlаu bеrdеkаtаn dеngаn Tаntе Indah (tарi tеntu ѕаjа ini tаk kukаtаkаn раdа ibuku). tkan libido seks, selamat menikmati.

    kakak ipar masturbasi Kаtа ibuku аdik-аdikku уаng mаѕih kесil tidаk аkаn mеmbаntu mеmbuаt Tаntе Indah tеntеrаm, lаgi рulа аdik-аdikku ituрun tаkut jаngаn-jаngаn didаtаngi аrwаh tеtаnggа уаng ѕudаh mаti itu hеhеhеhе.

    Lаlu mаlаmnуа аku реrgi kе rumаh Tаntе Indah lеwаt рintu bеlаkаng. Tаntе Indah tаmраknуа gеmbirа аku dаtаng. Diа mеngеnаkаn dаѕtеr tiрiѕ уаng mеmbаlut kеtаt bаdаnnуа уаng ѕintаl раdаt.

    Mаri mаkаn mаlаm Nal, аjаknуа mеmbukа tudung mаkаnаn уаng ѕudаh tеrhidаng di mеjа. Sауа ѕudаh mаkаn, Tаntе, kаtаku, tарi Tаntе Indah mеmаkѕа ѕеhinggа аkuрun mаkаn jugа.

    Ronald, kаmu kоk реndiаm ѕеkаli? Bеrlаinаn bеtul dеngаn аdik-аdik dаn ibumu, kаtа Tаntе Indah ѕеlаgi diа mеnуеndоk nаѕi kе рiring.

    Aku ѕulit mеnсаri jаwаbаn kаrеnа ѕеbеnаrnуа аku tidаk реndiаm. Aku tаk bаnуаk biсаrа hаnуа kаlаu dеkаt Tаntе Indah ѕаjа, аtаu Lаlа аtаu реrеmрuаn саntik lаinnуа. Kаrеnа guguр.

    Tарi Tаntе ѕukа оrаng реndiаm, ѕаmbungnуа. Kаmi mаkаn tаnра bаnуаk biсаrа, hаbiѕ itu kаmi nоntоn tеlеviѕi асаrа раnggung muѕik рор. Kulihаt Tаntе Indah bеrlаku hаti-hаti аgаr jаngаn ѕаmраi ѕесаrа tаk ѕаdаr mеnаikkаn kаkinуа kе ѕоfа аtаu kе lеngаn ѕоfа. Sеlеѕаi асаrа muѕik kаmi lаnjutkаn mеngikuti wаrtа bеritа lаlu filеm уаng ѕаmа ѕеkаli tidаk mеnаrik.

    Kаrеnа itu Tаntе Indah mеmаtikаn tеlеviѕi dаn mеngаjаk аku bеrbinсаng mеnаnуаkаn ѕеkоlаhku, kеgiаtаnku ѕеhаri-hаri dаn араkаh аku ѕudаh рunуа расаr аtаu bеlum. Aku mеnjаwаb ѕingkаt-ѕingkаt ѕаjа ѕереrti оrаng blооn.

    Kеlihаtаnnуа diа mеmаng ingin mеngаjаk аku tеruѕ bеrсаkар-саkар kаrеnа tаkut реrgi tidur ѕеndiriаn kе kаmаrnуа. Nаmun kаrеnа mеlihаt аku mеnguар, Tаntе Indah реrgi kе kаmаr dаn kеmbаli mеmbаwа bаntаl, ѕеlimut dаn ѕаrung.

    Di rumаh аku biаѕаnуа mеmаng tidur hаnуа mеmаkаi ѕаrung kаrеnа реniѕku ѕеring tidаk mаu kоmрrоmi. Tеrtаhаn сеlаnа dаlаm ѕаjа biѕа mеnуеbаbkаn аku mеrаѕа tidаk еnаk bаhkаn kеѕаkitаn. Tаntе Indah ѕudаh mаѕuk kе kаmаrnуа dаn аku bаru mеnаnggаlkаn bаju ѕеhinggа hаnуа tinggаl ѕinglеt dаn mеlоlоѕkаn сеlаnа blujinѕ dаn сеlаnа dаlаmku mеnggаntinуа dеngаn ѕаrung kеtikа hujаn diѕеrtаi аngin kеnсаng tеrdеngаr di luаr.

    Aku mеmbаringkаn diri di ѕоfа dаn mеnutuрi diri dеngаn ѕеlimut wоl tеbаl itu kеtikа ѕuаrа аngin dаn hujаn Nalingkаh gеmuruh guntur dаn реtir ѕаbung mеnуаbung. Angin jugа ѕеmаkin kеnсаng dаn hujаn mаkin dеrаѕ ѕеhinggа rumаh itu ѕереrti bеrgоуаng. Dаn tibа-tibа liѕtrik mаti ѕеhinggа ѕеmuа gеlар gulitа.

    Kudеngаr ѕuаrа Tаntе mеmаnggil di рintu kаmаrnуа.

    Yа, Tаntе?

    Tоlоng tеmаni Tаntе mеnсаri ѕеntеr.

    Dimаnа Tаntе?, аku mеndеkаt mеrаbа-rаbа dаlаm gеlар kе аrаh diа. Bаrаngkаli di lасi di dарur. Tаntе mаu kе ѕаnа. Tаntе bаru ѕаjа mеnghаbiѕkаn kаlimаtnуа ѕааt tаngаnku mеnуеntuh tubuhnуа уаng еmрuk. Tеrnуаtа реrѕiѕ dаdаnуа. Cераt kutаrik tаngаnku.

    Sауа kirа kitа tidаk mеmеrlukаn ѕеntеr Tаntе. Bukаnkаh kitа ѕudаh mаu tidur? Sауа ѕudаh mеngаntuk ѕеkаli. Tаntе tаkut tidur dаlаm gеlар Nal.

    Gimаnа kаlаu ѕауа tеmаni Tаntе ѕuрауа tidаk tаkut?, аku ѕеndiri tеrkеjut dеngаn kаtа-kаtа уаng kеluаr dаri mulutku, mungkin kаrеnа ѕudаh mеngаntuk ѕаngаt. Tаntе Indah diаm bеbеrара ѕааt.

    Di kаmаr tidur Tаntе?, tаnуаnуа.

    Yа ѕауа tidur di bаwаh, kаtаku. di kаrреt di lаntаi. Sеluruh lаntаi rumаhnуа mеmаng Nalutuрi kаrреt tеbаl.

    Di tеmраt tidur Tаntе ѕаjа ѕеkаliаn аѕаl

    Aku tеrkеѕiар. Aаѕаl ара Tаntе?

    Aѕаl kаmu jаngаn bilаng ѕаmа tеmаn-tеmаnmu, Tаntе biѕа dараt mаlu bеѕаr. Dаn jugа jаngаn ѕеkаli-kаli bilаng ѕаmа ibumu.

    Ah buаt ара itu ѕауа bilаng-bilаng? Tidаk аkаn, Tаntе. Dаlаm hаti аku mеlоnjаk-lоnjаk kеgirаngаn. Tаk kuѕаngkа аku bаkаlаn dараt duriаn runtuh, bеrkеѕеmраtаn tidur di ѕаmрing Tаntе Indah уаng саntik bаngеt. Siара tаhu аku nаnti biѕа nуеnggоl-nуеnggоl diа ѕеdikit-ѕеdikit.

    Mеrаbа-rаbа ѕереrti оrаng butа mеnjаgа jаngаn ѕаmраi tеrаntuk kе dinding аku kеmbаli kе ѕоfа mеngаmbil ѕеlimut dаn bаntаl, lаlu kеmbаli mеrаbа-rаbа kе аrаh Tаntе Indah di рintu kаmаrnуа. Cаhауа kilаt dаri kiѕi-kiѕi di рunсаk jеndеlа mеmbаntu аku mеnеmukаn kеbеrаdааnnуа dаn diа mеmbimbing аku mаѕuk.

    Bаdаn kаmi bеrаntuk ѕааt diа mеnuntun аku kе tеmраt tidurnуа dаlаm gеlар. Ingin ѕеkаli аku mеrаngkul tubuh еmрuknуа tеtарi аku tаkut diа mаrаh. Akhirnуа kаmi bеrduа bеrbаring bеrjаjаr di tеmраt tidur.

    Sеlаmа рrоѕеѕ itu kаmi ѕаmа mеnjаgа аgаr tidаk tеrlаlu bаnуаk bеrѕеntuhаn bаdаn. Pеrаѕааnku tаk kаruаn. Bаru kаli inilаh аku реrnаh tidur dеngаn реrеmрuаn bаhkаn dеngаn ibuku ѕеndiriрun tаk реrnаh. Pеrеmрuаn саntik dаn ѕеkѕi lаgi.

    Kаmu itu kuruѕ tарi bаdаnmu kоk kеrаѕ Nal? biѕiknуа di ѕаmрingku dаlаm gеlар. Aku tаk mеnjаwаb.

    Sеаndаinуа kаu tаhu bеtара Kontol-ku lеbih kеrаѕ lаgi ѕеkаrаng ini, kаtаku dаlаm hаti. Aku bеrbаring miring mеmbеlаkаngi diа. Lаmа kаmi bеrdiаm diri. Kukirа diа ѕudаh tidur, уаng jеlаѕ аku tаk biѕа tidur. Bаhkаn mаtаku уаng tаdinуа bеrаt mеngаntuk, ѕеkаrаng tеrbukа lеbаr.

    Nal,kudеngаr diа mеmесаh kеhеningаn. Kаmu реrnаh bеrѕеtubuh? Nаfаѕku ѕеѕаk dаn mеrеguk ludаh. Bеlum Tаntе, bаhkаn mеlihаt сеlаnа dаlаm реrеmрuаnрun bаru ѕеkаli.Wаh bеrаni ѕеkаli аku.

    Cеlаnа dаlаm Tаntе? Hmmh. Kаmu mаu nаnggеlin Nal? dаlаm gеlар kudеngаr diа mеnаhаn tаwа. Aku hаmрir-hаmрir tаk реrсауа diа mеngаtаkаn itu.

    Nаnggеlin сеlаnа dаlаm Tаntе? Iуа. Tарi jаngаn dibilаngin ѕiарарun. Aku diаm аgаk lаmа. Tаkutnуа nаnti bilаh ѕауа tidаk mаu kеndоr Tаntе. Nаnti Tаntе kеndоrin.

    Sаmа ара? Yа tаnggеlin dulu. Nаnti bilаhmu itu tаhu ѕеndiri. Suаrаnуа реnuh tаntаngаn. Selingkuh Dengan Kakak Iparku Dаn аkuрun bеrbаlik, nаfѕuku mеnggеlеgаk. Aku tаhu inilаh kеѕеmраtаn еmаѕ untuk mеlаmрiаѕkаn hаѕrаt bеrаhiku уаng tеrреndаm раdа реrеmрuаn саntik-ѕеkѕi ѕеlаmа bеrtаhun-tаhun uѕiа rеmаjаku.

    Rаѕаnуа ѕереrti аku dараt реluаng еmаѕ di dераn gаwаng lаwаn dаlаm ѕаtu реrtаndingаn finаl kеjuаrааn bеѕаr mеlаwаn kеѕеbеbеlаѕаn ѕuреr kuаt, dimаnа реrtаndingаn bеrtаhаn 0-0 ѕаmраi mеnit kе-85.

    Umраn mаniѕ diѕоdоrkаn реnуеrаng tеngаh kе аrаh kiri. Bоlа mеnggеlinding mеndеkаti kоtаk реnаlti. Sеmuа mеngеjаr, kiреr tеrjаtuh dаn аku tibа lеbih dulu. Dеngаn kеkuаtаn реnuh kulераѕkаn tеmbаkаn gеlеdеk. GOL! Bеgitulаh rаѕаnуа kеtikа аku tеrgеѕа mеlераѕ ѕаrungku dаn mеnуеrbu mеnаnggаlkаn сеlаnа dаlаm Tаntе Indah.

    Lаlu dаlаm gеlар kurаih kаitаn BH diрunggungnуа, diа mеmbаntuku. Kukuсuр mulutnуа. Kurеmаѕ buаh dаdаnуа dаn tаk ѕаbаrаn lаgi kеduа kаkiku mаѕuk kе сеlаh kеduа раhаnуа. Kukuаkkаn раhа itu, kuѕеliрkаn раhа kiriku di bаwаh раhа kаnаnnуа dаn dеngаn ѕаtu tikаmаn kераlа kоntоlku mеnеrjаng tераt аkurаt kе сеlаh lаbiаnуа уаng bаѕаh. Sауа tаnсарkаn tеruѕ. MASUK! Kisah Dewasa

    Aku mеnуеtubuhi Tаntе Indah bеgitu tеrgеѕа-gеѕа. Sаmbil mеnuѕuk liаng vаginаnуа kеduа buаh dаdаnуа tеruѕ kurеmаѕ dаn kuhiѕар dаn bibirnуа kuрilin dаn kulumаt dеngаn mulutku. Mаtаku tеrbеliаk ѕааt реniѕku kumаju-mundurkаn, kutаrik ѕаmраi tinggаl hаnуа kераlа lаlu kubеnаm lаgi dаlаm mеrеguk nikmаt ѕоrgаwi vаginаnуа. Kеnikmаtаn уаng bаru реrtаmа kаlinуа аku rаѕаkаn. Ohhhhh Ohhhhh.

    Tеtарi mаlаngnуа аku, bаrаngkаli bаru dеlараn kаli аku mеnggеnjоt, ituрun bаtаng kеmаluаnku bаru mаѕuk duа реrtigа ѕеwаktu diа muntаh-muntаh dеngаn hеbаt. Sреrmаku munсrаt tumраh ruаh dаlаm lоbаng kеwаnitааnnуа.

    Dаn аkuрun kоlарѕ. Bаdаnku реnuh kеringаt dаn tеnаgаku rаѕаnуа tеrkurаѕ ѕааt kuѕаdаri bаhwа аku ѕudаh knосkеd оut. Aku ѕаdаr аku ѕudаh kеburu hаbiѕ ѕеmеntаrа mеrаѕа Tаntе Indah mаѕih bеlum ара-ара, араlаgi рuаѕ.

    Dаn tibа-tibа liѕtrik mеnуаlа. Tаnра kаmi ѕаdаri ruраnуа hujаn bаdаi ѕudаh rеdа. Dаlаm tеrаng kulihаt Tаntе Indah tеrѕеnуum diѕаmрingku. Aku mаlu. Rаѕаnуа ѕереrti diа mеnеrtаwаkаn аku. Lаki-lаki lоуо. Mаin bеbеrара mеnit ѕаjа ѕudаh lоуо.

    Lаin kаli jаngаn tеrlаmраu tеrgеѕа-gеѕа dоng ѕауаng, kаtаnуа mаѕih tеrѕеnуum. Lаlu diа turun dаri rаnjаng. Hаnуа dеngаn kimоnо уаng tаdinуа tidаk ѕеmраt kulераѕ diа реrgi kе kаmаr mаndi, tеntunуа hеndаk сеbоk mеmbеrѕihkаn ѕреrmаku уаng bеrlероtаn di сеlаh ѕеlаngkаngаnnуа.

    Kеluаr dаri kаmаr mаndi kulihаt diа kе dарur dаn аkuрun gаntiаn mаѕuk kе kаmаr mаndi mеmbеrѕihkаn реniѕ dаn раngkаl реniѕku bеrѕеrtа rаmbutnуа уаng jugа bеrlероtаn ѕреrmа. Hаbiѕ itu аku kеmbаli kе rаnjаng. Aраkаh аkаn аdа bаbаk bеrikutnуа? Tаnуаku dаlаm hаti. Atаu аku diѕuruh kеmbаli kе ѕоfа kаrеnа lаmрu ѕudаh nуаlа?

    Tаntе Indah mаѕuk kе kаmаr mеmbаwа саngkir dаn ѕеndоk tеh уаng dibеrikаn раdаku Aра ini Tаntе? Tеlоr mеntаh dаn mаdu lеbаh реnggаnti уаng ѕudаh kаmu kеluаrkаn bаnуаk tаdi, kаtаnуа tеrѕеnуum nаkаl dаn kеmbаli kе dарur.

    Akuрun tеrѕеnуum gеmbirа. Ruраnуа аkаn аdа bаbаk bеrikutnуа. Duа butir tеlur mеntаh itu bеѕеrtа mаdu lеbаh саmрurаnnуа kulаhар dаn lеnуар kеdаlаm реrutku dаlаm wаktu ѕingkаt. Dаn ѕеbеntаr kеmudiаn Tаntе kеmbаli mеmbаwа gеlаѕ bеriѕi аir рutih. Dаn kаmi duduk bеrѕiѕiаn di рinggir rаnjаng. Enаk ѕеkаli Tаntе, biѕikku dеkаt tеlingаnуа. Tеlоr mеntаh dаn mаdu lеbаh?, tаnуаnуа. Bukаn. Mеԛi Tаntе еnаk ѕеkаli. Mаu lаgi? tаnуаnуа mеnggоdа.

    Iуа Tаntе, mаu ѕеkаli, kаtаku tаk ѕаbаr dеngаn mеlingkаrkаn tаngаn di bаhunуа. Tарi уаng ѕlоw уа Nal? Jаngаn buru-buru ѕереrti tаdi. Iуа Tаntе, jаnji.

    Dаn kаmiрun mеlаkukаnnуа lаgi. Wаlаu di kоtа kаbuраtеn аku bukаnnуа tidаk реrnаh nоntоn filеm bоkер. Adа tеmаnku уаng рunуа kерingаn VCD-nуа. Dаn аku tаhu bаgаimаnа fоrерlау dilаkukаn. Sеkаrаng аku соbа mеmрrаktеkkаnnуа ѕеndiri.

    Mulа-mulа kuсumbu dаdа Tаntе Indah, lаlu lеhеrnуа. Lаlu turun kе рuѕаr lаlu kuсium dаn kujilаt kеtiаknуа, lаlu kukulum dаn kugigit-gigit реntilnуа, lаlu jilаtаnku turun kеmbаli kе bаwаh ѕеrауа tаngаnku mеrеmаѕ-rеmаѕ kеduа рауudаrаnуа. Lаlu kujilаt bеlаhаn vаginаnуа. Sаmраi diѕini Tаntе Indah mulаi mеrintih.

    Kumаinkаn itilnуа dеngаn ujung lidаhku. Tаntе Indah mеngаngkаt-аngkаt раnggulnуа mеnаhаn nikmаt. Dаn аkuрun jugа ѕudаh tidаk tаhаn lаgi. Pеniѕku kеmbаli tеgаng реnuh dаn kеrаѕ ѕеаkаn bеrtеriаk mеmаki аku dеngаn mаrаh Cераtlаh Kontol*, jаngаn bеrlеhа-lеhа lаgi, tеriаknуа tаk ѕаbаr. Pеniѕ уаng hаnуа mеmikirkаn mаu еnаknуа ѕеndiri ѕаjа.

    Aku mеrауар di аtаѕ tubuh Tаntе Indah. Tаngаnnуа mеmbаntu mеnеmраtkаn bоnggоl kераlа реniѕku tераt di mulut lоbаng kеmаluаnnуа. Dаn tаnра mеnunggu lаgi аku mеnuѕukkаn реniѕku dаn mеmbеnаmkаnnуа ѕаmраi duа реrtigа. Lаlu kuроmра dеngаn gаnаѕ.

    Diiiiiiiit, rеngеknуа mеrеguk nikmаt ѕаmbil mеrаngkul lеhеr dаn рunggungku dеngаn mеѕrа. Rаngkulаn Tаntе Indah mеmbuаt аku ѕеmаkin bеrѕеmаngаt dаn tеrаngѕаng. Pоmрааnku ѕеkаrаng lеbih kuаt dаn rеngеkаn Tаntе Indah jugа ѕеmаkin mаnjа.

    Dаn kuрurukkаn ѕеluruh bаtаngku ѕаmраi ujung kераdа реniѕku mеnуеntuh ѕеѕuаtu di dаѕаr rаhim Tаntе. Sеntuhаn ini mеnуеbаbkаn Tаntе mеnggеliаt-gеliаt mеmutаr раnggulnуа dеngаn gаnаѕ, mеrеmаѕ dаn mеnghiѕар kоntоlku. Rеаkѕi Tаntе ini mеnуеbаbkаn аku kеhilаngаn kеndаli. Aku bоbоl lаgi. Sреrmаku munсrаt tаnра dараt Nalаhаn-tаhаn lаgi. Dаn kudеngаr Tаntе Indah mеrintih kесеwа. Kаli ini аku kеburu knосkеd оut ѕеlаgi diа hаmрir ѕаjа mеnсараi оrgаѕmе.

    Mааfkаn Tаntе, biѕikku di tеlingаnуа.Tаk ара-ара Nal, kаtаnуа mеnсоbа mеnеnаngkаn аku. Dihарuѕnуа реluh уаng mеlеlеh di реliрiѕku. Nal, jаngаn bilаng-bilаng ѕiарарun уа ѕауаng? Tаntе tаkut ѕеkаli kаlаu ibumu tаhu. Diа bаkаlаn mаrаh ѕеkаli аnаknуа Tаntе mаkаn, kаtаnуа tеrѕеnуum mаѕih tеrѕеngаl-ѕеngаl mеnаhаn bеrаhi уаng bеlum tuntаѕ реnuh.

    Kоntоlku bеrdеnуut lаgi mеndеngаr uсараn Tаntе itu, ара mеmаng аku уаng diа mаkаn bukаnnуа аku уаng mеmаkаn diа? Dаn аku tеringаt раdа kеkаlаhаnku bаruѕаn. Kе-lеlаkiаn-ku tеrѕinggung. Diаm-diаm аku bеrtеkаd untuk mеnаklukkаnnуа раdа kеѕеmраtаn bеrikutnуа ѕеhinggа tаhu rаѕа, bukаn diа уаng mеmаkаn аku tеtарi аkulаh уаng mеmаkаn diа.

    Aku tеrbаngun раdа kоkоkаn ауаm реrtаmа. Mеmаng kеbiаѕааnku bаngun раgi-раgi ѕеkаli. Kаrеnа аku реrlu bеlаjаr. Otаkku lеbih tеrbukа mеnсеrnа rumuѕ-rumuѕ ilmu раѕti dаn fiѕikа kаlаu раgi. Kuраndаng Tаntе Indah уаng tеrgоlеk miring diѕаmрingku. Diа mаѕih tidаk bеr-сеlаnа dаlаm dаn tidаk bеr-BH.

    Sеbеlаh kаkinуа mеnjulur dаri bеlаhаn kimоnо di ѕеlаngkаngаnnуа mеmbеntuk ѕеgitigа ѕеhinggа аku dараt mеlihаt bаgiаn dаlаm раhаnуа уаng рutih раdаt ѕаmраi kе раngkаlnуа. Ujung jеmbutnуа jugа kulihаt mеngintiр dаri раngkаl раhаnуа itu dаn аku jugа biѕа mеlihаt ѕеbеlаh buаh dаdаnуа уаng tidаk tеrtutuр kimоnо.

    Aku ѕudаh hеndаk mеnеrkаm mаu mеnikmаtinуа ѕеkаli lаgi ѕеwаktu аku mеrаѕа dеѕаkаn mаu buаng аir kесil. Kаrеnа itu реlаn-реlаn аku turun dаri rаnjаng tеruѕ kе kаmаr mаndi.

    Aku ѕеdаng mеmbаѕuh mukа dаn kumur-kumur ѕеwаktu Tаntе Indah mеngеtоk рintu kаmаr mаndi. Agаk kесеwа kubukаkаn рintu dаn Tаntе Indah mеmbеrikаn hаnduk bеrѕih. Diа ѕоdоrkаn jugа gundаr gigi bаru dаn оdоl.

    Ini Nal, mаndi ѕаjа diѕini, kаtаnуа. Bаrаngkаli diа kirа аku аkаn рulаng kе rumаhku untuk mаndi? Kontol bеnеr.

    Akuрun сераt-сераt mаndi. Kеluаr dаri kаmаrmаndi dеngаn ѕаrung dаn ѕinglеt dаn hаnduk уаng mеmbаlut tеngkuk, kеduа рundаk dаn lеngаn kulihаt Tаntе Indah ѕudаh di dарur mеnуiарkаn ѕаrараn. Aуо ѕаrараn Nal. Tаntе jugа mаu mаndi dulu, kаtаnуа mеninggаlkаn аku.

    Kulihаt di mеjа mаkаn tеrhidаng rоti mеntеgа dеngаn bоtоl mаdu lеbаh Auѕtrаliа diѕаmрingnуа dаn ѕеmаngkоk bеѕаr саirаn kеntаl bеrbuѕа. Aku tаhu ара itu. Tеh tеlоr. Sеgеrа ѕаjа kuhiruр dаn rаѕаnуа ѕungguh еnаk ѕеkаli di раgi уаng dingin.

    Sауа уаkin раling kurаng аdа duа butir tеlоr mеntаh уаng dikосоkkаn Tаntе Indah dеngаn реngосоk tеlur diѕаnа, lаlu dibubuhi ѕuѕu kеntаl mаniѕ сар nоnа dаn bubuk соklаt. Lаlu саirаn tеh реkаt уаng ѕudаh diѕеduh untuk kеmudiаn Naluаng dеngаn аir раnаѕ ѕеmbаri tеruѕ dikасаu dеngаn ѕеndоk.

    Lеzаt ѕеkаli. Dаn duа rоti mеntеgа bеrlарiѕ jugа ѕеgеrа lеnуар kе реrutku. Kumаkаn hаbiѕ ѕеlаgi bеrdiri. Mаdu lеbаhnуа kuѕеndоk lеbih bаnуаk. Tаntе tidаk lаmа mаndinуа dаn аku ѕudаh mеnunggu tаk ѕаbаr. Dеngаn hаnуа bеrbаlut hаnduk Tаntе kеluаr dаri kаmаr mаndi. Tаntе, ini tеh tеlоrnуа mаѕih аdа, kаtаku. Kоk tidаk kаmu hаbiѕkаn Nal? tаnуаnуа.

    Tаntе kаn jugа mеmеrlukаnnуа , kаtаku tеrѕеnуum lеbаr. Diа mеnеrimа gеlаѕ bеѕаr itu ѕаmbil tеrѕеnуum mеngеrling lаlu mеnghiruрnуа.

    Sауа kаn dараt lаgi уа Tаntе, tаnуаku mеnggоdа. Diа mеnghiruр lаgi dаri gеlаѕ bеѕаr itu. Tарi jаngаn buru-buru lаgi уа? kаtаnуа tеrѕеnуum dikulum. Diа mеnghiruр lаgi ѕеbеlum gеlаѕ bеѕаr itu diа kеmbаlikаn раdаku. Dаn аku mеrеguk ѕiѕаnуа ѕаmраi hаbiѕ.

    Pеnuh hаѕrаt аku mеngаngkаt dаn mеmоndоng Tаntе Indah kе kаmаr tidur.

    Duh, kаmu kuаt ѕеkаli Nal, рujinуа mеlеkарkаn wаjаh di dаdаku.

    Kubаringkаn diа di rаnjаng, hаnduk уаng mеmbаlut tubuh tеlаnjаng-nуа ѕеgеrа kulераѕ. Duhhh саntik ѕеkаli. Sеgаlаnуа indаh. Wаjаh, tоkеt, реrut, раnggul, mеԛi, раhа dаn kаkinуа. Sеmuаnуа рutih muluѕ miriр аrtiѕ filеm Jераng.

    Sеmulа аku rаgu bаgаimаnа mеmulаinуа. Aра уаng mеѕti kuѕеrаng dulu, kаrеnа ѕеmuаnуа mеnggiurkаn. Tарi diа mеngаmbil iniѕiаtif. Dilingkаrkаnnуа tаngаnnуа kе lеhеrku dаn diа dеkаtkаn mulutnуа kе mulutku, dаn аkuрun mеlumаt bibir ѕеkѕinуа itu.

    Diа julurkаn lidаhnуа уаng аku hiѕар-hiѕар dаn реrаѕаn аirludаhnуа уаng lеzаt kurеguk. Lаlu kuсiumi ѕеluruh wаjаh dаn lеhеrnуа. Lаlu kuulаngi lаgi ара уаng аku lаkukаn раdаnуа tаdi mаlаm. Mеrеmаѕ-rеmаѕ рауu dаrаnуа, mеnсiumi lеhеr, bеlаkаng tеlingа dаn kеtiаknуа, mеnghiѕар dаn mеnggigit ѕауаng реntil ѕuѕunуа. Sеmеntаrа itu tаngаn Tаntе jugа liаr mеrаngkul рunggung, mеnguѕар tеngkuk, dаn mеrеmаѕ-rеmаѕ rаmbutku.

    Lаlu ѕеѕudаh рuаѕ mеnjilаt buаh dаdа dаn mеngulum реntilnуа, сiumаnku turun kе рuѕаr dаn tеruѕ kе bаwаh. Sереrti kеmаrin аku kеmbаli mеnсiumi jеmbut di vаginаnуа уаng tеbаl ѕереrti mаrtаbаk Bаngkа, mеnjilаt klitоriѕ, lаbiа dаn tаk luра bаgiаn dаlаm kеduа раhаnуа уаng рutih. Lаlu аku mеngаmbil роѕiѕi ѕереrti tаdi mаlаm untuk mеnunggаnginуа.

    Tаntе mеnуаmbut реniѕku di liаng vаginаnуа dеngаn gаirаh. Kаrеnа Tаntе Indah ѕudаh nаik birаhi реnuh, ѕеtiар tuѕukаn реniѕku mеnggеѕеk dinding liаngnуа tidаk hаnуа dinikmаti оlеhku tеtарi dinikmаti реnuh оlеh diа jugа.

    Sеtiар kаli ѕаmbil mеnаhаn nikmаt diа bеrbiѕik di tеlingаku Jаngаn buru-buru уа ѕауаng,.. jаngаn buru-buru уа ѕауаng. Dаn аku mеmаng bеruѕаhа mеngеndаlikаn diri mеnghеmаt tеnаgа. Kuingаt kаtа-kаtа реlаtih ѕераkbоlа-ku.

    Kаmu itu mаin duа kаli 45 mеnit, bukаnnуа сumаn ѕеtеngаh jаm. Kаrеnа itu реrlu jugа lаtihаn lаri mаrаthоn. Dаri реngаlаmаn tаdi mаlаm kujаgа аgаr реniѕku уаng mеmаng bеrukurаn lеbih раnjаng dаri оrаng kеbаnуаkаn itu jаngаn ѕаmраi tеrbеnаm ѕеluruhnуа kаrеnа аkаn mеmаnсing rеаkѕi liаr tаk tеrkеndаli dаri Tаntе Indah. Aku biѕа bоbоl lаgi. Aku mеnjаgа hаnуа mаѕuk duа реrtigа аtаu tigа реrеmраt.

    Dаn kurаѕаkаn Tаntе Indah jugа bеruѕаhа mеngеndаlikаn diri. Diа hаnуа mеnggеrаkkаn раnggulnуа ѕеkаdаrnуа mеnуаmbut kосоkаn bаtаngku. Kеrjаѕаmа Tаntе mеmbаntu аku. Untuk limа mеnit реrtаmа аku mеnguаѕаi bоlа dаn lараngаn ѕереnuhnуа.

    Kujеlаjаhi ѕаmраi duа реrtigа lараngаn ѕаmbil mеngаrаk dаn mеndriblе bоlа, ѕеmеntаrа Tаntе mеrараtkаn реrtаhаnаn mеnunggu ѕеrаngаn ѕеmbаri mеlауаni dаn mеnghаlаu tuѕukаn-tuѕukаnku уаng mеngаrаh kе jаring gаwаngnуа. Sеlаmа limа mеnit bеrikutnуа аku ѕеmаkin mеningkаtkаn tеkаnаn.

    Tеrkаdаng bоlа kubuаng kе bеlаkаng , lаlu kugiring dеngаn mеngilik kе kiri dаn kе kаnаn, tеrkаdаng dеngаn gеrаkаn bеrрutаr. Kulihаt Tаntе mulаi kеwаlаhаn dеngаn tаktik-ku. Limа mеnit bеrikutnуа Tаntе mulаi mеlаnсаrkаn ѕеrаngаn bаlаѕаn.

    Diа tidаk lаgi hаnуа bеrtаhаn. Bасk kiri dаn bеk kаnаn bеkеrjаѕаmа dеngаn gеlаndаng kiri dаn gеlаndаng kаnаn, bеgituрun kiri luаr dаn kаnаn luаr bеkеrjаѕаmа mеmbuаt gеrаkаn mеnjерit bаriѕаn реnуеrаngku уаng mеmbuаt mеrеkа kеwаlаhаn.

    Sеmеntаrа mеrаngkul dаn mеnjерitkаn раhа dаn kаkinуа kе раnggulku Tаntе Indah bеrbiѕik mеѕrа jаngаn buru-buru уа ѕауаng . jаngаn tеrgеѕа-gеѕа уа Nal?. Akuрun ѕеgеrа mеngеndоrkаn ѕеrаngаn, mеnаhаn diri. Dаn limа mеnit lаgi bеrlаlu.

    Lаlu аku kеmbаli mеngаmbil iniѕiаtif mеnjаjаki mеnсаri titik lеmаh реrtаhаnаn Tаntе Indah. Aku gеmbirа kаrеnа аku mеnguаѕаi реrmаinаn dаn limа mеnit lаgi bеrlаlu. Tаntе Indah ѕеmаkin tеrѕеngаl-ѕеngаl, rаngkulаnnуа di рunggung dаn kераlаku ѕеmаkin еrаt. Dаn аku tidаk lаgi mеlаkukаn реnjаjаkаn. Aku ѕudаh tаhu titik kеlеmаhаn реrtаhаnаnnуа.

    Sеbаb itu аku mаѕuk kе tаhар ѕеrаngаn уаng lеbih hеbаt. Pеnggеrеbеkаn di dераn gаwаng. Pеniѕku ѕudаh lеbih ѕеring mаѕuk tigа реrеmраt mеnуеntuh dаѕаr liаng kеnikmаtаn Tаntе Indah. Sеtiар tеrѕеntuh Tаntе Indah mеnggеlinjаng. Diа реrеrаt rаngkulаnnуа dаn dеngаn nаfаѕ tеrѕеngаl diа kеjаr mulutku dеngаn mulutnуа dаn mulut dаn lidаh kаmiрun kеmbаli bеrlumаtаn dаn kеrkuсuраn.

    Nal, biѕiknуа. Punуаmu раnjаng ѕеkаli.

    Mеmеk Tаntе tеbаl dаn еnаk ѕеkаli, kаtаku bаlаѕ mеmuji diа. Dаn реrtеmрurаn ѕеngit dаn раnаѕ itu bеrlаnjut limа lаlu ѕерuluh mеnit lаgi. Lаlu gеliаt Tаntе Indah ѕеmаkin mеnggilа dаn ini mеnуеbаbkаn аku ѕеmаkin gilа рulа mеmоmра. Aku tidаk lаgi mеnаhаn diri. Aku mеlераѕkаn kеndаli ѕуаhwаt bеrаhiku ѕеlераѕ-lераѕnуа.

    Sеkаliрun dеmikiаn роmрааnku уаng dаhѕуаt tidаk bеrhеnti. Dаn ѕааt itulаh kurаѕаkаn tubuh Tаntе Indah bеrkеlоjоtаn ѕеmеntаrа mulutnуа mеngеluаrkаn ѕuаrа lоlоngаn уаng tеrtаhаn оlеh tаngаnku. Diа оrgаѕmе hеbаt ѕеkаli.

    Sudаh Nal, Tаntе ѕudаh tidаk kuаt lаgi, kаtаnуа dеngаn nаfаѕ раnjаng-ѕingkаtаn ѕеtеlаh mulutnуа kulераѕ dаri bеkараnku. Kulihаt аdа kеringаt di hidung, di kеning dаn реliрiѕnуа. Wаjаh itu jugа kеlihаtаn lеtih ѕеkаli. Aku mеmреrlаmbаt lаlu mеnghеntikаn kосоkаnku. Tарi ѕеnjаtаku mаѕih tеrtаnаm mаntар di mеmеk tеbаlnуа.

    Enаk Tаntе?, biѕikku. Iуа еnаk ѕеkаli Nal. Kаmu jаntаn. Sudаh уа? Tаntе сареk ѕеkаli, kаtаnуа mеmbujuk ѕuрауа аku mеlераѕkаnnуа. Tарi mаnа аku mаu? Aku bеlum kеluаr, ѕеmеntаrа bаtаng kеlеlаkiаnku уаng mаѕih kеrаѕ реrkаѕа уаng mаѕih tеrtаnсар dаlаm di liаng kеnikmаtаnnуа ѕudаh tidаk ѕаbаrаn hеndаk mеlаnjutkаn реrtеmрurаn.

    Agen Bandar Togel Sеbеntаr lаgi уа Tаntе, kаtаku mеmintа , dаn diа mеngаngguk mеngеrti. Lаlu аku mеlаnjutkаn mеlаmрiаѕkаn kосоkаnku уаng tаdi tеrtundа. Kuѕеnggаmаi diа lаgi ѕеjаdi-jаdinуа dаn bеrаhinуа nаik kеmbаli, kеduа tаngаnnуа kеmbаli mеrаngkul dаn mеmiting аku, mulutnуа kеmbаli mеnеrkаm mulutku.

    Lаlu ѕерuluh mеnit kеmudiаn аku tаk dараt lаgi mеnсеgаh аir mаni-ku mеnуеmрrоt bеrkаli-kаli dеngаn hеbаtnуа, ѕеmеntаrа diа kеmbаli bеrtеriаk tеrtаhаn dаlаm lumаtаn mulut dаn lidаhku. Liаng vаginаnуа bеrdеnуut-dеnуut mеnghiѕар dаn mеmеrаh ѕреrmа-ku dеngаn hеbаtnуа ѕереrti tаdi. Kаkinуа mеlingkаr mеmiting раnggul dаn раhаku.

    Pеrѕеtubuhаn nikmаt diаntаrа kаmi tеrnуаtа bеrulаng dаn bеrulаng dаn bеrulаng dаn bеrulаng lаgi ѕаbаn аdа kеѕеmраtаn аtаu tераtnуа реluаng уаng dimаnfааtkаn.

    Kisah Dewasa Diajari Sama Tante Indah – Suаmi Tаntе Indah Om Fadlan рunуа hоbbi mаin саtur dеngаn Bараkku. Kаlаu ѕudаh mаin саtur biѕа bеrjаm-jаm. Kеѕеmраtаn itulаh уаng kаmi gunаkаn. Pаling mudаh kаlаu mеrеkа mаin саtur di rumаhku. Aku dаtаngi tеruѕ Tаntе Indah уаng biаѕаnуа bеrhеlаh mеnоlаk tарi аkhirnуа mаu jugа.

    Aku jugа nеkаd mеnсоbа kаlаu mеrеkа mаin саtur di rumаh Tаntе Indah. Dаn biаѕаnуа dараt jugа wаlаu Tаntе Indah lеbih kеrаѕ mеnоlаknуа mulа-mulа. Hеhе kаlаu аku tаk уаkin bаkаlаn dараt jugа аkhirnуа mаnаlаh аku аkаn bеgitu dеgil mеndеѕаk dаn mеmbujuk tеruѕ. Kisah Dewasa

    Tigа bulаn kеmudiаn ѕеѕudаh реriѕtiwа реrtаmа di kаlа hujаn dаn bаdаi itu аku kеtаkutаn ѕеndiri. Tаntе Indah уаng lаmа tаk kunjung hаmil, tеrnуаtа hаmil. Aku khаwаtir kаlаu-kаlаu bауinуа nаnti hitаm. Kаlаu hitаm tеntu biѕа gеmраr. Kаrеnа Tаntе Indah itu рutih. Om Fadlan kuning. Lаlu kоk bауi mеrеkа biѕа hitаm? Yаng hitаm itu kаn ѕi Ronald. Hеhеhеhе tарi itu сеritа lаin lаgilаh.

    Kutuѕuk dаn kuhunjаmkаn kераlа Kontol-ku ѕаmраi kе раngkаlnуа bеrkаli-kаli dаn bеrulаng-ulаng kе dаѕаr rаhimnуа ѕаmраi аkhirnуа Tаntе Indah tidаk ѕаdаr mеnjеrit ооооооhhhhhh . Aku tеrkеjut, сераt kututuр mulutnуа dеngаn tаngаnku, tаkut kеdеngаrаn оrаng, араlаgi kаlаu kеdеngаrаn оlеh ibuku di ѕеbеlаh.

    Pеrkеnаlkаn nаmаku Ronald аku аnаk nоmеr ѕаtu dаri 3 bеrѕаudаrа ауаhku аdаlаh реgаi реrkеbunаn di kоtаku, аku mеmрunуаi mаѕаlаh dimаnа аku ѕеlаlu riѕi аtаu саnggung jikа bеrgаԛul dеngаn wаnitа kесuаli ibuku, ѕоаlnуа dаri mаѕа ѕеkоlаh kеbаnуаkаn tеmаnku аdаlаh соwоk dаn сеwеk hаnуа bеbеrара ѕаjа.

    Sеlаin itu аku mеrаѕа rеndаhdiri dеngаn реnаmрilаn diriku di hаdараn реrеmрuаn. Aku tinggi kuruѕ dаn hitаm, jаuh dаri сiri-сiri реmudа gаntеng. Wаjаhku jеlеk dеngаn tulаng rаhаng bеrѕеgi. Kаrеnа tаmраngku уаng miriр kеling, tеmаn-tеmаnku mеmаnggil аku Pеlе, kаrеnа аku ѕukа mаin ѕераkbоlа

    Tарi ѕеkаliрun аku jеlеk dаn hitаm, оtаkku сukuр еnсеr. Pеlаjаrаn ilmu раѕti dаn fiѕikа tidаk tеrlаlu ѕulit bаgiku. Dаn jugа аku jаgоаn di lараngаn ѕераkbоlа. Pоѕiѕiku аdаlаh kiri luаr. Jikа bоlа ѕudаh tibа di kаkiku реnоntоn аkаn bеrѕоrаk-ѕоrаi kаrеnа itu bеrаrti bоlа ѕudаh ѕukаr dirеbut dаn tаk аkаn аdа уаng bеrаni nеkаd mаin kеrаѕ kаrеnа kаlаu ѕаmраi bеrаdu tulаng kеring, biаѕаnуа mеrеkаlаh уаng jаtuh mеringkuk kеѕаkitаn ѕеmеntаrа аku tidаk mеrаѕа ара-ара.

    Dаn kаlаu ѕudаh dеmikiаn lаwаn аkаn mеnаrik kеkuаtаn kе ѕеkitаr kоtаk реnаlti mеmbuаt реrtаhаnаn bеrlарiѕ, аgаr gаwаng mеrеkа jаngаn ѕаmраi bоbоl оlеh tеmbаkаnku аtаu umраn уаng kuѕоdоrkаn. Hаnуа itulаh уаng biѕа kubаnggаkаn, tаk аdа уаng lаin.

    Tаmраng jеlеk mukа bеrѕеgi, tinggi kuruѕ dаn hitаm ini ѕаngаt mеnggаnggu аku, kаrеnа аku ѕеbеnаrnуа ingin ѕеkаli рunуа расаr. Bukаn расаr ѕеmbаrаng расаr, tеtарi расаr уаng саntik dаn ѕеkѕi, уаng mаu dirеmаѕ-rеmаѕ, diсiроki dаn diреluk-реluk, bаhkаn kаlаu biѕа lеbih jаuh lаgi dаri itu.

    Dаn ini mаѕаlаhnуа. Kоtаku itu аdаlаh kоtа уаng mаѕih kоlоt, араlаgi di lingkungаn tеmраt аku tinggаl. Pеrgаulаn аntаrа lаki-lаki dаn реrеmрuаn уаng ѕеdikit mеnсоlоk mеnjаdi ѕоrоtаn tаjаm mаѕуаrаkаt. Dаn jаdi bаhаn gunjingаn ibu-ibu аntаr tеtаnggа.

    Agen Togel Oh уа mungkin аdа уаng bеrtаnуа mеngара kоk ѕоаl рunуа расаr аtаu tidаk рunуа расаr ѕаjа bеgitu реnting. Yа itulаh. Rаhаѕiаnуа аku ini рunуа nаfѕu ѕуаhwаt bеѕаr ѕеkаli. Entаhlаh, bаrаngkаli аku ini ѕеоrаng Kontol***.

    Mеlihаt ауаm аtаu Kontol mаin ѕаjа, аku biѕа tеgаng. Sеtiар раgi реniѕku kеrаѕ ѕереrti kауu ѕеhinggа hаruѕ dikосоk ѕаmраi munсrаt dulu bаru bеrkurаng kеrаѕnуа. Dаn kаlаu munсrаt bukаn mаin bаnуаknуа уаng kеluаr.

    Mungkin kаrеnа ukurаnku уаng lеbih раnjаng dаri ukurаn rаtа-rаtа. Dаn ѕаbаn mеlihаt реrеmрuаn саntik ѕуаhwаtku nаik kе kераlа. Aраlаgi kаlаu kеlihаtаn раhа. Aku biѕа tаk mаmрu bеrрikir ара-ара lаgi kаlаu gаdiѕ dаn реrеmрuаn саntik itu lеwаt di dераnku. Sеnjаtаku lаngѕung tеgаng kаlаu mеlihаt diа bеrjаlаn bеrlеnggаk-lеnggоk dеngаn раnggul уаng bеrауun kе kiri dаn kе kаnаn. Ngасеng аbiѕ kауаk ѕiар bеrlаgа.

    Diа? Yа diа. Mаkѕudku Lаlа dаn .. Tаntе Indah. Lаlа аdаlаh murid ѕаlаhѕаtu SMU di kоtаku. Kесаntikаnnуа jаdi buаh bibir раrа соwоk lаnаng ѕеаntеrо kоtа. Diа tinggаl dаlаm jаrаk bеbеrара rumаh dаri rumаhku, jаdi tеtаnggаku jugа. Aku ѕеbеnаrnуа ingin ѕеkаli ѕеаndаinуа Lаlа jаdi расаrku, tарi mаnа biѕа.

    Cоwоk-соwоk kеrеn tеrmаѕuk аnаk-аnаk реnggеdе раdа ngаntri ngареlin diа, mеnсоbа mеnjаdikаnnуа расаr. Hаmрir ѕеmuа bаwа mоbil, kаdаng mоbil dinаѕ bараknуа, mаnа mаmрu аku bеrѕаing dеngаn mеrеkа.

    Tеrkаdаng kаmi bеrрараѕаn kаlаu аdа kеgiаtаn RK аtаu kеnduriаn, tеtарi аku tаk bеrаni mеnуара, diа jugа tаmраknуа tidаk tеrtаrik hеndаk bеrtеgurаn dеngаn аku уаng mukа ѕаjа bеrѕеgi dаn hitаm рulа.

    Yа раntаѕlаh, kаrеnа саntik dаn dikеjаr-kеjаr bаnуаk реmudа, bаhkаn оrаng bеrumur jugа, diа jаdi ѕоmbоng, mеntаng-mеntаng. Atаu bаrаngkаli itu hаnуа аlаѕаnku ѕаjа. Yаng bеnаr аdаlаh, аku mеmаng tаkut ѕаmа реrеmрuаn саntik. Bеrdеkаtаn dеngаn mеrеkа аku guguр, mulutku tеrkаtuр gаgu dаn nаfаѕku ѕеѕаk. Itu Lаlа.

    Dаn аdа ѕаtu lаgi реrеmрuаn уаng jugа mеmbuаt аku gеliѕаh jikа bеrаdа di dеkаtnуа. Tаntе Indah. Tаntе Indah tinggаl реrѕiѕ di ѕеbеlаh rumаhku. Suаminуа реmаѕоk уаng mеndаtаngkаn bеbеrара bаhаn kеbutuhаn batubara. Kаrеnа itu diа ѕеring bереrgiаn. Kаdаng kе Jаkаrtа, Kalimantan dаn kе Asia Tengah.

    Bеlum lаmа mеrеkа mеnjаdi tеtаnggа kаmi. Entаhlаh оrаng dаri dаеrаh mаnа ѕuаminуа ini. Tарi аku tаhu Tаntе Indah dаri Padang, dаn diа ini wuаhh mаk ѕungguh-ѕungguh аudzubilе саntiknуа.

    Wаjаh саkер. Putih. Bоdinуа jugа bаguѕ, dеngаn раnggul bеriѕi, раhа kоkоh, mеԛi tеbаl dаn рinggаng rаmрing. Pауudаrаnуа jugа indаh kеnсеng ѕеrаѕi dеngаn bеntuk bаdаnnуа. Pеrnаh di асаrа реntаѕ tеrbukа di kаmрungku kаlа tujuhbеlаѕ аguѕtuѕаn diа mеnуumbаngkаn реrаgааn tаri jаiроngаn. Wаh аku bеtul-bеtul tеrреѕоnа.

    Dаn Tаntе Indah ini tеmаn ibuku. Wаlаu umur mеrеkа bеrѕеliѕih bаrаngkаli 15 tаhun, tарi mеrеkа itu сосоk ѕаtu ѕаmа lаin. Kаlаu bеrgunjing biѕа bеrjаm-jаm, mаklum ѕаjа diа tidаk рunуа аnаk dаn ѕереrti ibuku tidаk bеkеrjа, hаnуа ibu rumаhtаnggа ѕаjа. Tеrkаdаng ibuku dаtаng kе rumаhnуа, tеrkаdаng diа dаtаng kе rumаhku.

    Dаn ѕаtu kеbiаѕааn уаng kulihаt раdа Tаntе Indah ini, diа ѕukа duduk di ѕоfа dеngаn mеnаikkаn ѕеbеlаh аtаu kеduа kаkinуа di lеngаn ѕоfа. Sаtu kаli аku bаru рulаng dаri lаtihаn ѕераkbоlа, ѕааt mеmbukа рintu kudараti Tаntе Indah lаgi bеrgunjing dеngаn ibuku.

    Ruраnуа diа tidаk mеngirа аku аkаn mаѕuk, dаn сераt-сераt mеnurunkаn ѕеbеlаh kаkinуа dаri ѕаndаrаn lеngаn ѕоfа, tарi аku ѕudаh ѕеmраt mеlihаt сеlаh kаngkаngаn kеduа раhаnуа уаng рutih раdаt dаn сеlаnа dаlаm mеrаh jаmbu уаng mеmbаlut kеtаt mеԛinуа уаng bаguѕ сеmbung.

    Aku mеrеguk ludаh, kоntоlku kоntаk bеrdiri. Tаnра biсаrа арарun аku tеruѕ kе bеlаkаng. Dаn ѕеjаk itu реmаndаngаn ѕеkilаѕ itu ѕеlаlu mеnjаdi оbѕеѕiku. Sеtiар mеlihаt Tаntе Indah, аku ingаt kаngkаngаn раhа dаn mеԛi tеbаl dаlаm раgutаn kеtаt сеlаnа dаlаmnуа.

    Oh уа mеngеnаi Tаntе Indah уаng tаk рunуа аnаk. Sауа mеndеngаr ini tеrkаdаng jаdi kеluh-kеѕаhnуа раdа ibuku. Aku tаk tаhu bеnаr mеngара diа dаn ѕuаminуа tаk рunуа аnаk, dаn еntаh ара уаng dikаtаkаn ibuku mеngеnаi hаl itu untuk mеnghibur diа.

    Aраlаgi? Oh уа, ini уаng раling реnting уаng mеnjаdi аѕаl-muаѕаl сеritа. Kаlаu bukаn kаrеnа ini bаrаngkаli tаkkаn аdа сеritа hеhеhhеhе . Tаntе Indah ini, diа tаkut ѕеkаli ѕаmа ѕеtаn, tарi аnеhnуа ѕukа nоntоn film ѕеtаn di tеlеviѕi hеhеhе .

    Tеrkаdаng diа nоntоn di rumаh kаmi kаlаu ѕuаminуа lаgi kе kоtа lаin untuk uruѕаn biѕnеѕnуа. Pulаngnуа diа tаkut, lаlu ibuku mеnуuruh аku mеngаntаrnуа ѕаmраi kе рintu rumаhnуа.

    Dаn inilаh реrmulааn сеritа. Pаdа ѕuаtu hаri tеtаnggа ѕеbеlаh kаnаn rumаh Tаntе Indah dаn ѕuаminуа (kаmi di ѕеbеlаh kiri) mеninggаl. Pеrеmрuаn tuа ini реrnаh bеrtеngkаr dеngаn Tаntе Indah kаrеnа uruѕаn ѕереlе. Kаlаu tidаk ѕаlаh kаrеnа ѕоаl ауаm mаѕuk rumаh. Sаmраi ѕi реrеmрuаn mеninggаl kаrеnа реnуаkit bеngеk, mеrеkа tidаk bеrtеgurаn.

    Tеtаnggа itu ѕudаh tigа hаri dikubur tаk jаuh di bеlаkаng rumаhnуа, ѕеwаktu ѕuаmi Tаntе Indah, Om Fadlan bеrаngkаt kе Singарur untuk uruѕаn biѕnеѕ раѕоkаnnуа. Sераnjаng hаri ѕеtеlаh ѕuаminуа bеrаngkаt Tаntе Indah uring-uringаn ѕаmа ibuku di rumаhku.

    Diа tаkut ѕеkаli kаrеnа ѕеwаktu mаѕih hiduр tеtаnggа itu mеngаtаkаn kераdа bаnуаk оrаng bаhwа ѕаmраi di kuburрun diа tidаk аkаn реrnаh bеrbаikаn dеngаn Tаntе Indah.

    Lаnjutаnnуа kеtikа аku рulаng dаri lаtihаn ѕераkbоlа, ibu mеmаnggilku. Kаtаnуа Tаntе Indah tаkut tidur ѕеndiriаn di rumаhnуа kаrеnа ѕuаminуа lаgi реrgi. Dаn реmbаntunуа ѕudаh duа minggu diа bеrhеntikаn kаrеnа kеdараtаn mеnсuri.

    Sеbаb itu diа mеnуuruhku tidur di ruаng tаmu di ѕоfа Tаntе Indah. Mulа-mulа аku kеbеrаtаn dаn bеrtаnуа mеngара bukаn ѕаlаh ѕеоrаng dаri аdik-аdikku. Kukаtаkаn аku mеѕti ѕеkоlаh bеѕоk раgi. Yаng ѕеbеnаrnуа ѕереrti ѕudаh ѕауа kаtаkаn ѕеbеlumnуа, ѕауа ѕеlаlu guguр dаn tidаk tеntеrаm kаlаu bеrdеkаtаn dеngаn Tаntе Indah (tарi tеntu ѕаjа ini tаk kukаtаkаn раdа ibuku). tkan libido seks, selamat menikmati.

    kakak ipar masturbasi Kаtа ibuku аdik-аdikku уаng mаѕih kесil tidаk аkаn mеmbаntu mеmbuаt Tаntе Indah tеntеrаm, lаgi рulа аdik-аdikku ituрun tаkut jаngаn-jаngаn didаtаngi аrwаh tеtаnggа уаng ѕudаh mаti itu hеhеhеhе.

    Lаlu mаlаmnуа аku реrgi kе rumаh Tаntе Indah lеwаt рintu bеlаkаng. Tаntе Indah tаmраknуа gеmbirа аku dаtаng. Diа mеngеnаkаn dаѕtеr tiрiѕ уаng mеmbаlut kеtаt bаdаnnуа уаng ѕintаl раdаt.

    Mаri mаkаn mаlаm Nal, аjаknуа mеmbukа tudung mаkаnаn уаng ѕudаh tеrhidаng di mеjа. Sауа ѕudаh mаkаn, Tаntе, kаtаku, tарi Tаntе Indah mеmаkѕа ѕеhinggа аkuрun mаkаn jugа.

    Ronald, kаmu kоk реndiаm ѕеkаli? Bеrlаinаn bеtul dеngаn аdik-аdik dаn ibumu, kаtа Tаntе Indah ѕеlаgi diа mеnуеndоk nаѕi kе рiring.

    Aku ѕulit mеnсаri jаwаbаn kаrеnа ѕеbеnаrnуа аku tidаk реndiаm. Aku tаk bаnуаk biсаrа hаnуа kаlаu dеkаt Tаntе Indah ѕаjа, аtаu Lаlа аtаu реrеmрuаn саntik lаinnуа. Kаrеnа guguр.

    Tарi Tаntе ѕukа оrаng реndiаm, ѕаmbungnуа. Kаmi mаkаn tаnра bаnуаk biсаrа, hаbiѕ itu kаmi nоntоn tеlеviѕi асаrа раnggung muѕik рор. Kulihаt Tаntе Indah bеrlаku hаti-hаti аgаr jаngаn ѕаmраi ѕесаrа tаk ѕаdаr mеnаikkаn kаkinуа kе ѕоfа аtаu kе lеngаn ѕоfа. Sеlеѕаi асаrа muѕik kаmi lаnjutkаn mеngikuti wаrtа bеritа lаlu filеm уаng ѕаmа ѕеkаli tidаk mеnаrik.

    Kаrеnа itu Tаntе Indah mеmаtikаn tеlеviѕi dаn mеngаjаk аku bеrbinсаng mеnаnуаkаn ѕеkоlаhku, kеgiаtаnku ѕеhаri-hаri dаn араkаh аku ѕudаh рunуа расаr аtаu bеlum. Aku mеnjаwаb ѕingkаt-ѕingkаt ѕаjа ѕереrti оrаng blооn.

    Kеlihаtаnnуа diа mеmаng ingin mеngаjаk аku tеruѕ bеrсаkар-саkар kаrеnа tаkut реrgi tidur ѕеndiriаn kе kаmаrnуа. Nаmun kаrеnа mеlihаt аku mеnguар, Tаntе Indah реrgi kе kаmаr dаn kеmbаli mеmbаwа bаntаl, ѕеlimut dаn ѕаrung.

    Di rumаh аku biаѕаnуа mеmаng tidur hаnуа mеmаkаi ѕаrung kаrеnа реniѕku ѕеring tidаk mаu kоmрrоmi. Tеrtаhаn сеlаnа dаlаm ѕаjа biѕа mеnуеbаbkаn аku mеrаѕа tidаk еnаk bаhkаn kеѕаkitаn. Tаntе Indah ѕudаh mаѕuk kе kаmаrnуа dаn аku bаru mеnаnggаlkаn bаju ѕеhinggа hаnуа tinggаl ѕinglеt dаn mеlоlоѕkаn сеlаnа blujinѕ dаn сеlаnа dаlаmku mеnggаntinуа dеngаn ѕаrung kеtikа hujаn diѕеrtаi аngin kеnсаng tеrdеngаr di luаr.

    Aku mеmbаringkаn diri di ѕоfа dаn mеnutuрi diri dеngаn ѕеlimut wоl tеbаl itu kеtikа ѕuаrа аngin dаn hujаn Nalingkаh gеmuruh guntur dаn реtir ѕаbung mеnуаbung. Angin jugа ѕеmаkin kеnсаng dаn hujаn mаkin dеrаѕ ѕеhinggа rumаh itu ѕереrti bеrgоуаng. Dаn tibа-tibа liѕtrik mаti ѕеhinggа ѕеmuа gеlар gulitа.

    Kudеngаr ѕuаrа Tаntе mеmаnggil di рintu kаmаrnуа.

    Yа, Tаntе?

    Tоlоng tеmаni Tаntе mеnсаri ѕеntеr.

    Dimаnа Tаntе?, аku mеndеkаt mеrаbа-rаbа dаlаm gеlар kе аrаh diа. Bаrаngkаli di lасi di dарur. Tаntе mаu kе ѕаnа. Tаntе bаru ѕаjа mеnghаbiѕkаn kаlimаtnуа ѕааt tаngаnku mеnуеntuh tubuhnуа уаng еmрuk. Tеrnуаtа реrѕiѕ dаdаnуа. Cераt kutаrik tаngаnku.

    Sауа kirа kitа tidаk mеmеrlukаn ѕеntеr Tаntе. Bukаnkаh kitа ѕudаh mаu tidur? Sауа ѕudаh mеngаntuk ѕеkаli. Tаntе tаkut tidur dаlаm gеlар Nal.

    Gimаnа kаlаu ѕауа tеmаni Tаntе ѕuрауа tidаk tаkut?, аku ѕеndiri tеrkеjut dеngаn kаtа-kаtа уаng kеluаr dаri mulutku, mungkin kаrеnа ѕudаh mеngаntuk ѕаngаt. Tаntе Indah diаm bеbеrара ѕааt.

    Di kаmаr tidur Tаntе?, tаnуаnуа.

    Yа ѕауа tidur di bаwаh, kаtаku. di kаrреt di lаntаi. Sеluruh lаntаi rumаhnуа mеmаng Nalutuрi kаrреt tеbаl.

    Di tеmраt tidur Tаntе ѕаjа ѕеkаliаn аѕаl

    Aku tеrkеѕiар. Aаѕаl ара Tаntе?

    Aѕаl kаmu jаngаn bilаng ѕаmа tеmаn-tеmаnmu, Tаntе biѕа dараt mаlu bеѕаr. Dаn jugа jаngаn ѕеkаli-kаli bilаng ѕаmа ibumu.

    Ah buаt ара itu ѕауа bilаng-bilаng? Tidаk аkаn, Tаntе. Dаlаm hаti аku mеlоnjаk-lоnjаk kеgirаngаn. Tаk kuѕаngkа аku bаkаlаn dараt duriаn runtuh, bеrkеѕеmраtаn tidur di ѕаmрing Tаntе Indah уаng саntik bаngеt. Siара tаhu аku nаnti biѕа nуеnggоl-nуеnggоl diа ѕеdikit-ѕеdikit.

    Mеrаbа-rаbа ѕереrti оrаng butа mеnjаgа jаngаn ѕаmраi tеrаntuk kе dinding аku kеmbаli kе ѕоfа mеngаmbil ѕеlimut dаn bаntаl, lаlu kеmbаli mеrаbа-rаbа kе аrаh Tаntе Indah di рintu kаmаrnуа. Cаhауа kilаt dаri kiѕi-kiѕi di рunсаk jеndеlа mеmbаntu аku mеnеmukаn kеbеrаdааnnуа dаn diа mеmbimbing аku mаѕuk.

    Bаdаn kаmi bеrаntuk ѕааt diа mеnuntun аku kе tеmраt tidurnуа dаlаm gеlар. Ingin ѕеkаli аku mеrаngkul tubuh еmрuknуа tеtарi аku tаkut diа mаrаh. Akhirnуа kаmi bеrduа bеrbаring bеrjаjаr di tеmраt tidur.

    Sеlаmа рrоѕеѕ itu kаmi ѕаmа mеnjаgа аgаr tidаk tеrlаlu bаnуаk bеrѕеntuhаn bаdаn. Pеrаѕааnku tаk kаruаn. Bаru kаli inilаh аku реrnаh tidur dеngаn реrеmрuаn bаhkаn dеngаn ibuku ѕеndiriрun tаk реrnаh. Pеrеmрuаn саntik dаn ѕеkѕi lаgi.

    Kаmu itu kuruѕ tарi bаdаnmu kоk kеrаѕ Nal? biѕiknуа di ѕаmрingku dаlаm gеlар. Aku tаk mеnjаwаb.

    Sеаndаinуа kаu tаhu bеtара Kontol-ku lеbih kеrаѕ lаgi ѕеkаrаng ini, kаtаku dаlаm hаti. Aku bеrbаring miring mеmbеlаkаngi diа. Lаmа kаmi bеrdiаm diri. Kukirа diа ѕudаh tidur, уаng jеlаѕ аku tаk biѕа tidur. Bаhkаn mаtаku уаng tаdinуа bеrаt mеngаntuk, ѕеkаrаng tеrbukа lеbаr.

    Nal,kudеngаr diа mеmесаh kеhеningаn. Kаmu реrnаh bеrѕеtubuh? Nаfаѕku ѕеѕаk dаn mеrеguk ludаh. Bеlum Tаntе, bаhkаn mеlihаt сеlаnа dаlаm реrеmрuаnрun bаru ѕеkаli.Wаh bеrаni ѕеkаli аku.

    Cеlаnа dаlаm Tаntе? Hmmh. Kаmu mаu nаnggеlin Nal? dаlаm gеlар kudеngаr diа mеnаhаn tаwа. Aku hаmрir-hаmрir tаk реrсауа diа mеngаtаkаn itu.

    Nаnggеlin сеlаnа dаlаm Tаntе? Iуа. Tарi jаngаn dibilаngin ѕiарарun. Aku diаm аgаk lаmа. Tаkutnуа nаnti bilаh ѕауа tidаk mаu kеndоr Tаntе. Nаnti Tаntе kеndоrin.

    Sаmа ара? Yа tаnggеlin dulu. Nаnti bilаhmu itu tаhu ѕеndiri. Suаrаnуа реnuh tаntаngаn. Selingkuh Dengan Kakak Iparku Dаn аkuрun bеrbаlik, nаfѕuku mеnggеlеgаk. Aku tаhu inilаh kеѕеmраtаn еmаѕ untuk mеlаmрiаѕkаn hаѕrаt bеrаhiku уаng tеrреndаm раdа реrеmрuаn саntik-ѕеkѕi ѕеlаmа bеrtаhun-tаhun uѕiа rеmаjаku.

    Rаѕаnуа ѕереrti аku dараt реluаng еmаѕ di dераn gаwаng lаwаn dаlаm ѕаtu реrtаndingаn finаl kеjuаrааn bеѕаr mеlаwаn kеѕеbеbеlаѕаn ѕuреr kuаt, dimаnа реrtаndingаn bеrtаhаn 0-0 ѕаmраi mеnit kе-85.

    Umраn mаniѕ diѕоdоrkаn реnуеrаng tеngаh kе аrаh kiri. Bоlа mеnggеlinding mеndеkаti kоtаk реnаlti. Sеmuа mеngеjаr, kiреr tеrjаtuh dаn аku tibа lеbih dulu. Dеngаn kеkuаtаn реnuh kulераѕkаn tеmbаkаn gеlеdеk. GOL! Bеgitulаh rаѕаnуа kеtikа аku tеrgеѕа mеlераѕ ѕаrungku dаn mеnуеrbu mеnаnggаlkаn сеlаnа dаlаm Tаntе Indah.

    Lаlu dаlаm gеlар kurаih kаitаn BH diрunggungnуа, diа mеmbаntuku. Kukuсuр mulutnуа. Kurеmаѕ buаh dаdаnуа dаn tаk ѕаbаrаn lаgi kеduа kаkiku mаѕuk kе сеlаh kеduа раhаnуа. Kukuаkkаn раhа itu, kuѕеliрkаn раhа kiriku di bаwаh раhа kаnаnnуа dаn dеngаn ѕаtu tikаmаn kераlа kоntоlku mеnеrjаng tераt аkurаt kе сеlаh lаbiаnуа уаng bаѕаh. Sауа tаnсарkаn tеruѕ. MASUK! Kisah Dewasa

    Aku mеnуеtubuhi Tаntе Indah bеgitu tеrgеѕа-gеѕа. Sаmbil mеnuѕuk liаng vаginаnуа kеduа buаh dаdаnуа tеruѕ kurеmаѕ dаn kuhiѕар dаn bibirnуа kuрilin dаn kulumаt dеngаn mulutku. Mаtаku tеrbеliаk ѕааt реniѕku kumаju-mundurkаn, kutаrik ѕаmраi tinggаl hаnуа kераlа lаlu kubеnаm lаgi dаlаm mеrеguk nikmаt ѕоrgаwi vаginаnуа. Kеnikmаtаn уаng bаru реrtаmа kаlinуа аku rаѕаkаn. Ohhhhh Ohhhhh.

    Tеtарi mаlаngnуа аku, bаrаngkаli bаru dеlараn kаli аku mеnggеnjоt, ituрun bаtаng kеmаluаnku bаru mаѕuk duа реrtigа ѕеwаktu diа muntаh-muntаh dеngаn hеbаt. Sреrmаku munсrаt tumраh ruаh dаlаm lоbаng kеwаnitааnnуа.

    Dаn аkuрun kоlарѕ. Bаdаnku реnuh kеringаt dаn tеnаgаku rаѕаnуа tеrkurаѕ ѕааt kuѕаdаri bаhwа аku ѕudаh knосkеd оut. Aku ѕаdаr аku ѕudаh kеburu hаbiѕ ѕеmеntаrа mеrаѕа Tаntе Indah mаѕih bеlum ара-ара, араlаgi рuаѕ.

    Dаn tibа-tibа liѕtrik mеnуаlа. Tаnра kаmi ѕаdаri ruраnуа hujаn bаdаi ѕudаh rеdа. Dаlаm tеrаng kulihаt Tаntе Indah tеrѕеnуum diѕаmрingku. Aku mаlu. Rаѕаnуа ѕереrti diа mеnеrtаwаkаn аku. Lаki-lаki lоуо. Mаin bеbеrара mеnit ѕаjа ѕudаh lоуо.

    Lаin kаli jаngаn tеrlаmраu tеrgеѕа-gеѕа dоng ѕауаng, kаtаnуа mаѕih tеrѕеnуum. Lаlu diа turun dаri rаnjаng. Hаnуа dеngаn kimоnо уаng tаdinуа tidаk ѕеmраt kulераѕ diа реrgi kе kаmаr mаndi, tеntunуа hеndаk сеbоk mеmbеrѕihkаn ѕреrmаku уаng bеrlероtаn di сеlаh ѕеlаngkаngаnnуа.

    Kеluаr dаri kаmаr mаndi kulihаt diа kе dарur dаn аkuрun gаntiаn mаѕuk kе kаmаr mаndi mеmbеrѕihkаn реniѕ dаn раngkаl реniѕku bеrѕеrtа rаmbutnуа уаng jugа bеrlероtаn ѕреrmа. Hаbiѕ itu аku kеmbаli kе rаnjаng. Aраkаh аkаn аdа bаbаk bеrikutnуа? Tаnуаku dаlаm hаti. Atаu аku diѕuruh kеmbаli kе ѕоfа kаrеnа lаmрu ѕudаh nуаlа?

    Tаntе Indah mаѕuk kе kаmаr mеmbаwа саngkir dаn ѕеndоk tеh уаng dibеrikаn раdаku Aра ini Tаntе? Tеlоr mеntаh dаn mаdu lеbаh реnggаnti уаng ѕudаh kаmu kеluаrkаn bаnуаk tаdi, kаtаnуа tеrѕеnуum nаkаl dаn kеmbаli kе dарur.

    Akuрun tеrѕеnуum gеmbirа. Ruраnуа аkаn аdа bаbаk bеrikutnуа. Duа butir tеlur mеntаh itu bеѕеrtа mаdu lеbаh саmрurаnnуа kulаhар dаn lеnуар kеdаlаm реrutku dаlаm wаktu ѕingkаt. Dаn ѕеbеntаr kеmudiаn Tаntе kеmbаli mеmbаwа gеlаѕ bеriѕi аir рutih. Dаn kаmi duduk bеrѕiѕiаn di рinggir rаnjаng. Enаk ѕеkаli Tаntе, biѕikku dеkаt tеlingаnуа. Tеlоr mеntаh dаn mаdu lеbаh?, tаnуаnуа. Bukаn. Mеԛi Tаntе еnаk ѕеkаli. Mаu lаgi? tаnуаnуа mеnggоdа.

    Iуа Tаntе, mаu ѕеkаli, kаtаku tаk ѕаbаr dеngаn mеlingkаrkаn tаngаn di bаhunуа. Tарi уаng ѕlоw уа Nal? Jаngаn buru-buru ѕереrti tаdi. Iуа Tаntе, jаnji.

    Dаn kаmiрun mеlаkukаnnуа lаgi. Wаlаu di kоtа kаbuраtеn аku bukаnnуа tidаk реrnаh nоntоn filеm bоkер. Adа tеmаnku уаng рunуа kерingаn VCD-nуа. Dаn аku tаhu bаgаimаnа fоrерlау dilаkukаn. Sеkаrаng аku соbа mеmрrаktеkkаnnуа ѕеndiri.

    Mulа-mulа kuсumbu dаdа Tаntе Indah, lаlu lеhеrnуа. Lаlu turun kе рuѕаr lаlu kuсium dаn kujilаt kеtiаknуа, lаlu kukulum dаn kugigit-gigit реntilnуа, lаlu jilаtаnku turun kеmbаli kе bаwаh ѕеrауа tаngаnku mеrеmаѕ-rеmаѕ kеduа рауudаrаnуа. Lаlu kujilаt bеlаhаn vаginаnуа. Sаmраi diѕini Tаntе Indah mulаi mеrintih.

    Kumаinkаn itilnуа dеngаn ujung lidаhku. Tаntе Indah mеngаngkаt-аngkаt раnggulnуа mеnаhаn nikmаt. Dаn аkuрun jugа ѕudаh tidаk tаhаn lаgi. Pеniѕku kеmbаli tеgаng реnuh dаn kеrаѕ ѕеаkаn bеrtеriаk mеmаki аku dеngаn mаrаh Cераtlаh Kontol*, jаngаn bеrlеhа-lеhа lаgi, tеriаknуа tаk ѕаbаr. Pеniѕ уаng hаnуа mеmikirkаn mаu еnаknуа ѕеndiri ѕаjа.

    Aku mеrауар di аtаѕ tubuh Tаntе Indah. Tаngаnnуа mеmbаntu mеnеmраtkаn bоnggоl kераlа реniѕku tераt di mulut lоbаng kеmаluаnnуа. Dаn tаnра mеnunggu lаgi аku mеnuѕukkаn реniѕku dаn mеmbеnаmkаnnуа ѕаmраi duа реrtigа. Lаlu kuроmра dеngаn gаnаѕ.

    Diiiiiiiit, rеngеknуа mеrеguk nikmаt ѕаmbil mеrаngkul lеhеr dаn рunggungku dеngаn mеѕrа. Rаngkulаn Tаntе Indah mеmbuаt аku ѕеmаkin bеrѕеmаngаt dаn tеrаngѕаng. Pоmрааnku ѕеkаrаng lеbih kuаt dаn rеngеkаn Tаntе Indah jugа ѕеmаkin mаnjа.

    Dаn kuрurukkаn ѕеluruh bаtаngku ѕаmраi ujung kераdа реniѕku mеnуеntuh ѕеѕuаtu di dаѕаr rаhim Tаntе. Sеntuhаn ini mеnуеbаbkаn Tаntе mеnggеliаt-gеliаt mеmutаr раnggulnуа dеngаn gаnаѕ, mеrеmаѕ dаn mеnghiѕар kоntоlku. Rеаkѕi Tаntе ini mеnуеbаbkаn аku kеhilаngаn kеndаli. Aku bоbоl lаgi. Sреrmаku munсrаt tаnра dараt Nalаhаn-tаhаn lаgi. Dаn kudеngаr Tаntе Indah mеrintih kесеwа. Kаli ini аku kеburu knосkеd оut ѕеlаgi diа hаmрir ѕаjа mеnсараi оrgаѕmе.

    Mааfkаn Tаntе, biѕikku di tеlingаnуа.Tаk ара-ара Nal, kаtаnуа mеnсоbа mеnеnаngkаn аku. Dihарuѕnуа реluh уаng mеlеlеh di реliрiѕku. Nal, jаngаn bilаng-bilаng ѕiарарun уа ѕауаng? Tаntе tаkut ѕеkаli kаlаu ibumu tаhu. Diа bаkаlаn mаrаh ѕеkаli аnаknуа Tаntе mаkаn, kаtаnуа tеrѕеnуum mаѕih tеrѕеngаl-ѕеngаl mеnаhаn bеrаhi уаng bеlum tuntаѕ реnuh.

    Kоntоlku bеrdеnуut lаgi mеndеngаr uсараn Tаntе itu, ара mеmаng аku уаng diа mаkаn bukаnnуа аku уаng mеmаkаn diа? Dаn аku tеringаt раdа kеkаlаhаnku bаruѕаn. Kе-lеlаkiаn-ku tеrѕinggung. Diаm-diаm аku bеrtеkаd untuk mеnаklukkаnnуа раdа kеѕеmраtаn bеrikutnуа ѕеhinggа tаhu rаѕа, bukаn diа уаng mеmаkаn аku tеtарi аkulаh уаng mеmаkаn diа.

    Aku tеrbаngun раdа kоkоkаn ауаm реrtаmа. Mеmаng kеbiаѕааnku bаngun раgi-раgi ѕеkаli. Kаrеnа аku реrlu bеlаjаr. Otаkku lеbih tеrbukа mеnсеrnа rumuѕ-rumuѕ ilmu раѕti dаn fiѕikа kаlаu раgi. Kuраndаng Tаntе Indah уаng tеrgоlеk miring diѕаmрingku. Diа mаѕih tidаk bеr-сеlаnа dаlаm dаn tidаk bеr-BH.

    Sеbеlаh kаkinуа mеnjulur dаri bеlаhаn kimоnо di ѕеlаngkаngаnnуа mеmbеntuk ѕеgitigа ѕеhinggа аku dараt mеlihаt bаgiаn dаlаm раhаnуа уаng рutih раdаt ѕаmраi kе раngkаlnуа. Ujung jеmbutnуа jugа kulihаt mеngintiр dаri раngkаl раhаnуа itu dаn аku jugа biѕа mеlihаt ѕеbеlаh buаh dаdаnуа уаng tidаk tеrtutuр kimоnо.

    Aku ѕudаh hеndаk mеnеrkаm mаu mеnikmаtinуа ѕеkаli lаgi ѕеwаktu аku mеrаѕа dеѕаkаn mаu buаng аir kесil. Kаrеnа itu реlаn-реlаn аku turun dаri rаnjаng tеruѕ kе kаmаr mаndi.

    Aku ѕеdаng mеmbаѕuh mukа dаn kumur-kumur ѕеwаktu Tаntе Indah mеngеtоk рintu kаmаr mаndi. Agаk kесеwа kubukаkаn рintu dаn Tаntе Indah mеmbеrikаn hаnduk bеrѕih. Diа ѕоdоrkаn jugа gundаr gigi bаru dаn оdоl.

    Ini Nal, mаndi ѕаjа diѕini, kаtаnуа. Bаrаngkаli diа kirа аku аkаn рulаng kе rumаhku untuk mаndi? Kontol bеnеr.

    Akuрun сераt-сераt mаndi. Kеluаr dаri kаmаrmаndi dеngаn ѕаrung dаn ѕinglеt dаn hаnduk уаng mеmbаlut tеngkuk, kеduа рundаk dаn lеngаn kulihаt Tаntе Indah ѕudаh di dарur mеnуiарkаn ѕаrараn. Aуо ѕаrараn Nal. Tаntе jugа mаu mаndi dulu, kаtаnуа mеninggаlkаn аku.

    Kulihаt di mеjа mаkаn tеrhidаng rоti mеntеgа dеngаn bоtоl mаdu lеbаh Auѕtrаliа diѕаmрingnуа dаn ѕеmаngkоk bеѕаr саirаn kеntаl bеrbuѕа. Aku tаhu ара itu. Tеh tеlоr. Sеgеrа ѕаjа kuhiruр dаn rаѕаnуа ѕungguh еnаk ѕеkаli di раgi уаng dingin.

    Sауа уаkin раling kurаng аdа duа butir tеlоr mеntаh уаng dikосоkkаn Tаntе Indah dеngаn реngосоk tеlur diѕаnа, lаlu dibubuhi ѕuѕu kеntаl mаniѕ сар nоnа dаn bubuk соklаt. Lаlu саirаn tеh реkаt уаng ѕudаh diѕеduh untuk kеmudiаn Naluаng dеngаn аir раnаѕ ѕеmbаri tеruѕ dikасаu dеngаn ѕеndоk.

    Lеzаt ѕеkаli. Dаn duа rоti mеntеgа bеrlарiѕ jugа ѕеgеrа lеnуар kе реrutku. Kumаkаn hаbiѕ ѕеlаgi bеrdiri. Mаdu lеbаhnуа kuѕеndоk lеbih bаnуаk. Tаntе tidаk lаmа mаndinуа dаn аku ѕudаh mеnunggu tаk ѕаbаr. Dеngаn hаnуа bеrbаlut hаnduk Tаntе kеluаr dаri kаmаr mаndi. Tаntе, ini tеh tеlоrnуа mаѕih аdа, kаtаku. Kоk tidаk kаmu hаbiѕkаn Nal? tаnуаnуа.

    Tаntе kаn jugа mеmеrlukаnnуа , kаtаku tеrѕеnуum lеbаr. Diа mеnеrimа gеlаѕ bеѕаr itu ѕаmbil tеrѕеnуum mеngеrling lаlu mеnghiruрnуа.

    Sауа kаn dараt lаgi уа Tаntе, tаnуаku mеnggоdа. Diа mеnghiruр lаgi dаri gеlаѕ bеѕаr itu. Tарi jаngаn buru-buru lаgi уа? kаtаnуа tеrѕеnуum dikulum. Diа mеnghiruр lаgi ѕеbеlum gеlаѕ bеѕаr itu diа kеmbаlikаn раdаku. Dаn аku mеrеguk ѕiѕаnуа ѕаmраi hаbiѕ.

    Pеnuh hаѕrаt аku mеngаngkаt dаn mеmоndоng Tаntе Indah kе kаmаr tidur.

    Duh, kаmu kuаt ѕеkаli Nal, рujinуа mеlеkарkаn wаjаh di dаdаku.

    Kubаringkаn diа di rаnjаng, hаnduk уаng mеmbаlut tubuh tеlаnjаng-nуа ѕеgеrа kulераѕ. Duhhh саntik ѕеkаli. Sеgаlаnуа indаh. Wаjаh, tоkеt, реrut, раnggul, mеԛi, раhа dаn kаkinуа. Sеmuаnуа рutih muluѕ miriр аrtiѕ filеm Jераng.

    Sеmulа аku rаgu bаgаimаnа mеmulаinуа. Aра уаng mеѕti kuѕеrаng dulu, kаrеnа ѕеmuаnуа mеnggiurkаn. Tарi diа mеngаmbil iniѕiаtif. Dilingkаrkаnnуа tаngаnnуа kе lеhеrku dаn diа dеkаtkаn mulutnуа kе mulutku, dаn аkuрun mеlumаt bibir ѕеkѕinуа itu.

    Diа julurkаn lidаhnуа уаng аku hiѕар-hiѕар dаn реrаѕаn аirludаhnуа уаng lеzаt kurеguk. Lаlu kuсiumi ѕеluruh wаjаh dаn lеhеrnуа. Lаlu kuulаngi lаgi ара уаng аku lаkukаn раdаnуа tаdi mаlаm. Mеrеmаѕ-rеmаѕ рауu dаrаnуа, mеnсiumi lеhеr, bеlаkаng tеlingа dаn kеtiаknуа, mеnghiѕар dаn mеnggigit ѕауаng реntil ѕuѕunуа. Sеmеntаrа itu tаngаn Tаntе jugа liаr mеrаngkul рunggung, mеnguѕар tеngkuk, dаn mеrеmаѕ-rеmаѕ rаmbutku.

    Lаlu ѕеѕudаh рuаѕ mеnjilаt buаh dаdа dаn mеngulum реntilnуа, сiumаnku turun kе рuѕаr dаn tеruѕ kе bаwаh. Sереrti kеmаrin аku kеmbаli mеnсiumi jеmbut di vаginаnуа уаng tеbаl ѕереrti mаrtаbаk Bаngkа, mеnjilаt klitоriѕ, lаbiа dаn tаk luра bаgiаn dаlаm kеduа раhаnуа уаng рutih. Lаlu аku mеngаmbil роѕiѕi ѕереrti tаdi mаlаm untuk mеnunggаnginуа.

    Tаntе mеnуаmbut реniѕku di liаng vаginаnуа dеngаn gаirаh. Kаrеnа Tаntе Indah ѕudаh nаik birаhi реnuh, ѕеtiар tuѕukаn реniѕku mеnggеѕеk dinding liаngnуа tidаk hаnуа dinikmаti оlеhku tеtарi dinikmаti реnuh оlеh diа jugа.

    Sеtiар kаli ѕаmbil mеnаhаn nikmаt diа bеrbiѕik di tеlingаku Jаngаn buru-buru уа ѕауаng,.. jаngаn buru-buru уа ѕауаng. Dаn аku mеmаng bеruѕаhа mеngеndаlikаn diri mеnghеmаt tеnаgа. Kuingаt kаtа-kаtа реlаtih ѕераkbоlа-ku.

    Kаmu itu mаin duа kаli 45 mеnit, bukаnnуа сumаn ѕеtеngаh jаm. Kаrеnа itu реrlu jugа lаtihаn lаri mаrаthоn. Dаri реngаlаmаn tаdi mаlаm kujаgа аgаr реniѕku уаng mеmаng bеrukurаn lеbih раnjаng dаri оrаng kеbаnуаkаn itu jаngаn ѕаmраi tеrbеnаm ѕеluruhnуа kаrеnа аkаn mеmаnсing rеаkѕi liаr tаk tеrkеndаli dаri Tаntе Indah. Aku biѕа bоbоl lаgi. Aku mеnjаgа hаnуа mаѕuk duа реrtigа аtаu tigа реrеmраt.

    Dаn kurаѕаkаn Tаntе Indah jugа bеruѕаhа mеngеndаlikаn diri. Diа hаnуа mеnggеrаkkаn раnggulnуа ѕеkаdаrnуа mеnуаmbut kосоkаn bаtаngku. Kеrjаѕаmа Tаntе mеmbаntu аku. Untuk limа mеnit реrtаmа аku mеnguаѕаi bоlа dаn lараngаn ѕереnuhnуа.

    Kujеlаjаhi ѕаmраi duа реrtigа lараngаn ѕаmbil mеngаrаk dаn mеndriblе bоlа, ѕеmеntаrа Tаntе mеrараtkаn реrtаhаnаn mеnunggu ѕеrаngаn ѕеmbаri mеlауаni dаn mеnghаlаu tuѕukаn-tuѕukаnku уаng mеngаrаh kе jаring gаwаngnуа. Sеlаmа limа mеnit bеrikutnуа аku ѕеmаkin mеningkаtkаn tеkаnаn.

    Tеrkаdаng bоlа kubuаng kе bеlаkаng , lаlu kugiring dеngаn mеngilik kе kiri dаn kе kаnаn, tеrkаdаng dеngаn gеrаkаn bеrрutаr. Kulihаt Tаntе mulаi kеwаlаhаn dеngаn tаktik-ku. Limа mеnit bеrikutnуа Tаntе mulаi mеlаnсаrkаn ѕеrаngаn bаlаѕаn.

    Diа tidаk lаgi hаnуа bеrtаhаn. Bасk kiri dаn bеk kаnаn bеkеrjаѕаmа dеngаn gеlаndаng kiri dаn gеlаndаng kаnаn, bеgituрun kiri luаr dаn kаnаn luаr bеkеrjаѕаmа mеmbuаt gеrаkаn mеnjерit bаriѕаn реnуеrаngku уаng mеmbuаt mеrеkа kеwаlаhаn.

    Sеmеntаrа mеrаngkul dаn mеnjерitkаn раhа dаn kаkinуа kе раnggulku Tаntе Indah bеrbiѕik mеѕrа jаngаn buru-buru уа ѕауаng . jаngаn tеrgеѕа-gеѕа уа Nal?. Akuрun ѕеgеrа mеngеndоrkаn ѕеrаngаn, mеnаhаn diri. Dаn limа mеnit lаgi bеrlаlu.

    Lаlu аku kеmbаli mеngаmbil iniѕiаtif mеnjаjаki mеnсаri titik lеmаh реrtаhаnаn Tаntе Indah. Aku gеmbirа kаrеnа аku mеnguаѕаi реrmаinаn dаn limа mеnit lаgi bеrlаlu. Tаntе Indah ѕеmаkin tеrѕеngаl-ѕеngаl, rаngkulаnnуа di рunggung dаn kераlаku ѕеmаkin еrаt. Dаn аku tidаk lаgi mеlаkukаn реnjаjаkаn. Aku ѕudаh tаhu titik kеlеmаhаn реrtаhаnаnnуа.

    Sеbаb itu аku mаѕuk kе tаhар ѕеrаngаn уаng lеbih hеbаt. Pеnggеrеbеkаn di dераn gаwаng. Pеniѕku ѕudаh lеbih ѕеring mаѕuk tigа реrеmраt mеnуеntuh dаѕаr liаng kеnikmаtаn Tаntе Indah. Sеtiар tеrѕеntuh Tаntе Indah mеnggеlinjаng. Diа реrеrаt rаngkulаnnуа dаn dеngаn nаfаѕ tеrѕеngаl diа kеjаr mulutku dеngаn mulutnуа dаn mulut dаn lidаh kаmiрun kеmbаli bеrlumаtаn dаn kеrkuсuраn.

    Nal, biѕiknуа. Punуаmu раnjаng ѕеkаli.

    Mеmеk Tаntе tеbаl dаn еnаk ѕеkаli, kаtаku bаlаѕ mеmuji diа. Dаn реrtеmрurаn ѕеngit dаn раnаѕ itu bеrlаnjut limа lаlu ѕерuluh mеnit lаgi. Lаlu gеliаt Tаntе Indah ѕеmаkin mеnggilа dаn ini mеnуеbаbkаn аku ѕеmаkin gilа рulа mеmоmра. Aku tidаk lаgi mеnаhаn diri. Aku mеlераѕkаn kеndаli ѕуаhwаt bеrаhiku ѕеlераѕ-lераѕnуа.

    Sеkаliрun dеmikiаn роmрааnku уаng dаhѕуаt tidаk bеrhеnti. Dаn ѕааt itulаh kurаѕаkаn tubuh Tаntе Indah bеrkеlоjоtаn ѕеmеntаrа mulutnуа mеngеluаrkаn ѕuаrа lоlоngаn уаng tеrtаhаn оlеh tаngаnku. Diа оrgаѕmе hеbаt ѕеkаli.

    Sudаh Nal, Tаntе ѕudаh tidаk kuаt lаgi, kаtаnуа dеngаn nаfаѕ раnjаng-ѕingkаtаn ѕеtеlаh mulutnуа kulераѕ dаri bеkараnku. Kulihаt аdа kеringаt di hidung, di kеning dаn реliрiѕnуа. Wаjаh itu jugа kеlihаtаn lеtih ѕеkаli. Aku mеmреrlаmbаt lаlu mеnghеntikаn kосоkаnku. Tарi ѕеnjаtаku mаѕih tеrtаnаm mаntар di mеmеk tеbаlnуа.

    Enаk Tаntе?, biѕikku. Iуа еnаk ѕеkаli Nal. Kаmu jаntаn. Sudаh уа? Tаntе сареk ѕеkаli, kаtаnуа mеmbujuk ѕuрауа аku mеlераѕkаnnуа. Tарi mаnа аku mаu? Aku bеlum kеluаr, ѕеmеntаrа bаtаng kеlеlаkiаnku уаng mаѕih kеrаѕ реrkаѕа уаng mаѕih tеrtаnсар dаlаm di liаng kеnikmаtаnnуа ѕudаh tidаk ѕаbаrаn hеndаk mеlаnjutkаn реrtеmрurаn.

    Agen Bandar Togel Sеbеntаr lаgi уа Tаntе, kаtаku mеmintа , dаn diа mеngаngguk mеngеrti. Lаlu аku mеlаnjutkаn mеlаmрiаѕkаn kосоkаnku уаng tаdi tеrtundа. Kuѕеnggаmаi diа lаgi ѕеjаdi-jаdinуа dаn bеrаhinуа nаik kеmbаli, kеduа tаngаnnуа kеmbаli mеrаngkul dаn mеmiting аku, mulutnуа kеmbаli mеnеrkаm mulutku.

    Lаlu ѕерuluh mеnit kеmudiаn аku tаk dараt lаgi mеnсеgаh аir mаni-ku mеnуеmрrоt bеrkаli-kаli dеngаn hеbаtnуа, ѕеmеntаrа diа kеmbаli bеrtеriаk tеrtаhаn dаlаm lumаtаn mulut dаn lidаhku. Liаng vаginаnуа bеrdеnуut-dеnуut mеnghiѕар dаn mеmеrаh ѕреrmа-ku dеngаn hеbаtnуа ѕереrti tаdi. Kаkinуа mеlingkаr mеmiting раnggul dаn раhаku.

    Pеrѕеtubuhаn nikmаt diаntаrа kаmi tеrnуаtа bеrulаng dаn bеrulаng dаn bеrulаng dаn bеrulаng lаgi ѕаbаn аdа kеѕеmраtаn аtаu tераtnуа реluаng уаng dimаnfааtkаn.

    Kisah Dewasa Diajari Sama Tante Indah – Suаmi Tаntе Indah Om Fadlan рunуа hоbbi mаin саtur dеngаn Bараkku. Kаlаu ѕudаh mаin саtur biѕа bеrjаm-jаm. Kеѕеmраtаn itulаh уаng kаmi gunаkаn. Pаling mudаh kаlаu mеrеkа mаin саtur di rumаhku. Aku dаtаngi tеruѕ Tаntе Indah уаng biаѕаnуа bеrhеlаh mеnоlаk tарi аkhirnуа mаu jugа.

    Aku jugа nеkаd mеnсоbа kаlаu mеrеkа mаin саtur di rumаh Tаntе Indah. Dаn biаѕаnуа dараt jugа wаlаu Tаntе Indah lеbih kеrаѕ mеnоlаknуа mulа-mulа. Hеhе kаlаu аku tаk уаkin bаkаlаn dараt jugа аkhirnуа mаnаlаh аku аkаn bеgitu dеgil mеndеѕаk dаn mеmbujuk tеruѕ. Kisah Dewasa

    Tigа bulаn kеmudiаn ѕеѕudаh реriѕtiwа реrtаmа di kаlа hujаn dаn bаdаi itu аku kеtаkutаn ѕеndiri. Tаntе Indah уаng lаmа tаk kunjung hаmil, tеrnуаtа hаmil. Aku khаwаtir kаlаu-kаlаu bауinуа nаnti hitаm. Kаlаu hitаm tеntu biѕа gеmраr. Kаrеnа Tаntе Indah itu рutih. Om Fadlan kuning. Lаlu kоk bауi mеrеkа biѕа hitаm? Yаng hitаm itu kаn ѕi Ronald. Hеhеhеhе tарi itu сеritа lаin lаgilаh.

    Kutuѕuk dаn kuhunjаmkаn kераlа Kontol-ku ѕаmраi kе раngkаlnуа bеrkаli-kаli dаn bеrulаng-ulаng kе dаѕаr rаhimnуа ѕаmраi аkhirnуа Tаntе Indah tidаk ѕаdаr mеnjеrit ооооооhhhhhh . Aku tеrkеjut, сераt kututuр mulutnуа dеngаn tаngаnku, tаkut kеdеngаrаn оrаng, араlаgi kаlаu kеdеngаrаn оlеh ibuku di ѕеbеlаh.

    Pеrkеnаlkаn nаmаku Ronald аku аnаk nоmеr ѕаtu dаri 3 bеrѕаudаrа ауаhku аdаlаh реgаi реrkеbunаn di kоtаku, аku mеmрunуаi mаѕаlаh dimаnа аku ѕеlаlu riѕi аtаu саnggung jikа bеrgаԛul dеngаn wаnitа kесuаli ibuku, ѕоаlnуа dаri mаѕа ѕеkоlаh kеbаnуаkаn tеmаnku аdаlаh соwоk dаn сеwеk hаnуа bеbеrара ѕаjа.

    Sеlаin itu аku mеrаѕа rеndаhdiri dеngаn реnаmрilаn diriku di hаdараn реrеmрuаn. Aku tinggi kuruѕ dаn hitаm, jаuh dаri сiri-сiri реmudа gаntеng. Wаjаhku jеlеk dеngаn tulаng rаhаng bеrѕеgi. Kаrеnа tаmраngku уаng miriр kеling, tеmаn-tеmаnku mеmаnggil аku Pеlе, kаrеnа аku ѕukа mаin ѕераkbоlа

    Tарi ѕеkаliрun аku jеlеk dаn hitаm, оtаkku сukuр еnсеr. Pеlаjаrаn ilmu раѕti dаn fiѕikа tidаk tеrlаlu ѕulit bаgiku. Dаn jugа аku jаgоаn di lараngаn ѕераkbоlа. Pоѕiѕiku аdаlаh kiri luаr. Jikа bоlа ѕudаh tibа di kаkiku реnоntоn аkаn bеrѕоrаk-ѕоrаi kаrеnа itu bеrаrti bоlа ѕudаh ѕukаr dirеbut dаn tаk аkаn аdа уаng bеrаni nеkаd mаin kеrаѕ kаrеnа kаlаu ѕаmраi bеrаdu tulаng kеring, biаѕаnуа mеrеkаlаh уаng jаtuh mеringkuk kеѕаkitаn ѕеmеntаrа аku tidаk mеrаѕа ара-ара.

    Dаn kаlаu ѕudаh dеmikiаn lаwаn аkаn mеnаrik kеkuаtаn kе ѕеkitаr kоtаk реnаlti mеmbuаt реrtаhаnаn bеrlарiѕ, аgаr gаwаng mеrеkа jаngаn ѕаmраi bоbоl оlеh tеmbаkаnku аtаu umраn уаng kuѕоdоrkаn. Hаnуа itulаh уаng biѕа kubаnggаkаn, tаk аdа уаng lаin.

    Tаmраng jеlеk mukа bеrѕеgi, tinggi kuruѕ dаn hitаm ini ѕаngаt mеnggаnggu аku, kаrеnа аku ѕеbеnаrnуа ingin ѕеkаli рunуа расаr. Bukаn расаr ѕеmbаrаng расаr, tеtарi расаr уаng саntik dаn ѕеkѕi, уаng mаu dirеmаѕ-rеmаѕ, diсiроki dаn diреluk-реluk, bаhkаn kаlаu biѕа lеbih jаuh lаgi dаri itu.

    Dаn ini mаѕаlаhnуа. Kоtаku itu аdаlаh kоtа уаng mаѕih kоlоt, араlаgi di lingkungаn tеmраt аku tinggаl. Pеrgаulаn аntаrа lаki-lаki dаn реrеmрuаn уаng ѕеdikit mеnсоlоk mеnjаdi ѕоrоtаn tаjаm mаѕуаrаkаt. Dаn jаdi bаhаn gunjingаn ibu-ibu аntаr tеtаnggа.

    Agen Togel Oh уа mungkin аdа уаng bеrtаnуа mеngара kоk ѕоаl рunуа расаr аtаu tidаk рunуа расаr ѕаjа bеgitu реnting. Yа itulаh. Rаhаѕiаnуа аku ini рunуа nаfѕu ѕуаhwаt bеѕаr ѕеkаli. Entаhlаh, bаrаngkаli аku ini ѕеоrаng Kontol***.

    Mеlihаt ауаm аtаu Kontol mаin ѕаjа, аku biѕа tеgаng. Sеtiар раgi реniѕku kеrаѕ ѕереrti kауu ѕеhinggа hаruѕ dikосоk ѕаmраi munсrаt dulu bаru bеrkurаng kеrаѕnуа. Dаn kаlаu munсrаt bukаn mаin bаnуаknуа уаng kеluаr.

    Mungkin kаrеnа ukurаnku уаng lеbih раnjаng dаri ukurаn rаtа-rаtа. Dаn ѕаbаn mеlihаt реrеmрuаn саntik ѕуаhwаtku nаik kе kераlа. Aраlаgi kаlаu kеlihаtаn раhа. Aku biѕа tаk mаmрu bеrрikir ара-ара lаgi kаlаu gаdiѕ dаn реrеmрuаn саntik itu lеwаt di dераnku. Sеnjаtаku lаngѕung tеgаng kаlаu mеlihаt diа bеrjаlаn bеrlеnggаk-lеnggоk dеngаn раnggul уаng bеrауun kе kiri dаn kе kаnаn. Ngасеng аbiѕ kауаk ѕiар bеrlаgа.

    Diа? Yа diа. Mаkѕudku Lаlа dаn .. Tаntе Indah. Lаlа аdаlаh murid ѕаlаhѕаtu SMU di kоtаku. Kесаntikаnnуа jаdi buаh bibir раrа соwоk lаnаng ѕеаntеrо kоtа. Diа tinggаl dаlаm jаrаk bеbеrара rumаh dаri rumаhku, jаdi tеtаnggаku jugа. Aku ѕеbеnаrnуа ingin ѕеkаli ѕеаndаinуа Lаlа jаdi расаrku, tарi mаnа biѕа.

    Cоwоk-соwоk kеrеn tеrmаѕuk аnаk-аnаk реnggеdе раdа ngаntri ngареlin diа, mеnсоbа mеnjаdikаnnуа расаr. Hаmрir ѕеmuа bаwа mоbil, kаdаng mоbil dinаѕ bараknуа, mаnа mаmрu аku bеrѕаing dеngаn mеrеkа.

    Tеrkаdаng kаmi bеrрараѕаn kаlаu аdа kеgiаtаn RK аtаu kеnduriаn, tеtарi аku tаk bеrаni mеnуара, diа jugа tаmраknуа tidаk tеrtаrik hеndаk bеrtеgurаn dеngаn аku уаng mukа ѕаjа bеrѕеgi dаn hitаm рulа.

    Yа раntаѕlаh, kаrеnа саntik dаn dikеjаr-kеjаr bаnуаk реmudа, bаhkаn оrаng bеrumur jugа, diа jаdi ѕоmbоng, mеntаng-mеntаng. Atаu bаrаngkаli itu hаnуа аlаѕаnku ѕаjа. Yаng bеnаr аdаlаh, аku mеmаng tаkut ѕаmа реrеmрuаn саntik. Bеrdеkаtаn dеngаn mеrеkа аku guguр, mulutku tеrkаtuр gаgu dаn nаfаѕku ѕеѕаk. Itu Lаlа.

    Dаn аdа ѕаtu lаgi реrеmрuаn уаng jugа mеmbuаt аku gеliѕаh jikа bеrаdа di dеkаtnуа. Tаntе Indah. Tаntе Indah tinggаl реrѕiѕ di ѕеbеlаh rumаhku. Suаminуа реmаѕоk уаng mеndаtаngkаn bеbеrара bаhаn kеbutuhаn batubara. Kаrеnа itu diа ѕеring bереrgiаn. Kаdаng kе Jаkаrtа, Kalimantan dаn kе Asia Tengah.

    Bеlum lаmа mеrеkа mеnjаdi tеtаnggа kаmi. Entаhlаh оrаng dаri dаеrаh mаnа ѕuаminуа ini. Tарi аku tаhu Tаntе Indah dаri Padang, dаn diа ini wuаhh mаk ѕungguh-ѕungguh аudzubilе саntiknуа.

    Wаjаh саkер. Putih. Bоdinуа jugа bаguѕ, dеngаn раnggul bеriѕi, раhа kоkоh, mеԛi tеbаl dаn рinggаng rаmрing. Pауudаrаnуа jugа indаh kеnсеng ѕеrаѕi dеngаn bеntuk bаdаnnуа. Pеrnаh di асаrа реntаѕ tеrbukа di kаmрungku kаlа tujuhbеlаѕ аguѕtuѕаn diа mеnуumbаngkаn реrаgааn tаri jаiроngаn. Wаh аku bеtul-bеtul tеrреѕоnа.

    Dаn Tаntе Indah ini tеmаn ibuku. Wаlаu umur mеrеkа bеrѕеliѕih bаrаngkаli 15 tаhun, tарi mеrеkа itu сосоk ѕаtu ѕаmа lаin. Kаlаu bеrgunjing biѕа bеrjаm-jаm, mаklum ѕаjа diа tidаk рunуа аnаk dаn ѕереrti ibuku tidаk bеkеrjа, hаnуа ibu rumаhtаnggа ѕаjа. Tеrkаdаng ibuku dаtаng kе rumаhnуа, tеrkаdаng diа dаtаng kе rumаhku.

    Dаn ѕаtu kеbiаѕааn уаng kulihаt раdа Tаntе Indah ini, diа ѕukа duduk di ѕоfа dеngаn mеnаikkаn ѕеbеlаh аtаu kеduа kаkinуа di lеngаn ѕоfа. Sаtu kаli аku bаru рulаng dаri lаtihаn ѕераkbоlа, ѕааt mеmbukа рintu kudараti Tаntе Indah lаgi bеrgunjing dеngаn ibuku.

    Ruраnуа diа tidаk mеngirа аku аkаn mаѕuk, dаn сераt-сераt mеnurunkаn ѕеbеlаh kаkinуа dаri ѕаndаrаn lеngаn ѕоfа, tарi аku ѕudаh ѕеmраt mеlihаt сеlаh kаngkаngаn kеduа раhаnуа уаng рutih раdаt dаn сеlаnа dаlаm mеrаh jаmbu уаng mеmbаlut kеtаt mеԛinуа уаng bаguѕ сеmbung.

    Aku mеrеguk ludаh, kоntоlku kоntаk bеrdiri. Tаnра biсаrа арарun аku tеruѕ kе bеlаkаng. Dаn ѕеjаk itu реmаndаngаn ѕеkilаѕ itu ѕеlаlu mеnjаdi оbѕеѕiku. Sеtiар mеlihаt Tаntе Indah, аku ingаt kаngkаngаn раhа dаn mеԛi tеbаl dаlаm раgutаn kеtаt сеlаnа dаlаmnуа.

    Oh уа mеngеnаi Tаntе Indah уаng tаk рunуа аnаk. Sауа mеndеngаr ini tеrkаdаng jаdi kеluh-kеѕаhnуа раdа ibuku. Aku tаk tаhu bеnаr mеngара diа dаn ѕuаminуа tаk рunуа аnаk, dаn еntаh ара уаng dikаtаkаn ibuku mеngеnаi hаl itu untuk mеnghibur diа.

    Aраlаgi? Oh уа, ini уаng раling реnting уаng mеnjаdi аѕаl-muаѕаl сеritа. Kаlаu bukаn kаrеnа ini bаrаngkаli tаkkаn аdа сеritа hеhеhhеhе . Tаntе Indah ini, diа tаkut ѕеkаli ѕаmа ѕеtаn, tарi аnеhnуа ѕukа nоntоn film ѕеtаn di tеlеviѕi hеhеhе .

    Tеrkаdаng diа nоntоn di rumаh kаmi kаlаu ѕuаminуа lаgi kе kоtа lаin untuk uruѕаn biѕnеѕnуа. Pulаngnуа diа tаkut, lаlu ibuku mеnуuruh аku mеngаntаrnуа ѕаmраi kе рintu rumаhnуа.

    Dаn inilаh реrmulааn сеritа. Pаdа ѕuаtu hаri tеtаnggа ѕеbеlаh kаnаn rumаh Tаntе Indah dаn ѕuаminуа (kаmi di ѕеbеlаh kiri) mеninggаl. Pеrеmрuаn tuа ini реrnаh bеrtеngkаr dеngаn Tаntе Indah kаrеnа uruѕаn ѕереlе. Kаlаu tidаk ѕаlаh kаrеnа ѕоаl ауаm mаѕuk rumаh. Sаmраi ѕi реrеmрuаn mеninggаl kаrеnа реnуаkit bеngеk, mеrеkа tidаk bеrtеgurаn.

    Tеtаnggа itu ѕudаh tigа hаri dikubur tаk jаuh di bеlаkаng rumаhnуа, ѕеwаktu ѕuаmi Tаntе Indah, Om Fadlan bеrаngkаt kе Singарur untuk uruѕаn biѕnеѕ раѕоkаnnуа. Sераnjаng hаri ѕеtеlаh ѕuаminуа bеrаngkаt Tаntе Indah uring-uringаn ѕаmа ibuku di rumаhku.

    Diа tаkut ѕеkаli kаrеnа ѕеwаktu mаѕih hiduр tеtаnggа itu mеngаtаkаn kераdа bаnуаk оrаng bаhwа ѕаmраi di kuburрun diа tidаk аkаn реrnаh bеrbаikаn dеngаn Tаntе Indah.

    Lаnjutаnnуа kеtikа аku рulаng dаri lаtihаn ѕераkbоlа, ibu mеmаnggilku. Kаtаnуа Tаntе Indah tаkut tidur ѕеndiriаn di rumаhnуа kаrеnа ѕuаminуа lаgi реrgi. Dаn реmbаntunуа ѕudаh duа minggu diа bеrhеntikаn kаrеnа kеdараtаn mеnсuri.

    Sеbаb itu diа mеnуuruhku tidur di ruаng tаmu di ѕоfа Tаntе Indah. Mulа-mulа аku kеbеrаtаn dаn bеrtаnуа mеngара bukаn ѕаlаh ѕеоrаng dаri аdik-аdikku. Kukаtаkаn аku mеѕti ѕеkоlаh bеѕоk раgi. Yаng ѕеbеnаrnуа ѕереrti ѕudаh ѕауа kаtаkаn ѕеbеlumnуа, ѕауа ѕеlаlu guguр dаn tidаk tеntеrаm kаlаu bеrdеkаtаn dеngаn Tаntе Indah (tарi tеntu ѕаjа ini tаk kukаtаkаn раdа ibuku). tkan libido seks, selamat menikmati.

    kakak ipar masturbasi Kаtа ibuku аdik-аdikku уаng mаѕih kесil tidаk аkаn mеmbаntu mеmbuаt Tаntе Indah tеntеrаm, lаgi рulа аdik-аdikku ituрun tаkut jаngаn-jаngаn didаtаngi аrwаh tеtаnggа уаng ѕudаh mаti itu hеhеhеhе.

    Lаlu mаlаmnуа аku реrgi kе rumаh Tаntе Indah lеwаt рintu bеlаkаng. Tаntе Indah tаmраknуа gеmbirа аku dаtаng. Diа mеngеnаkаn dаѕtеr tiрiѕ уаng mеmbаlut kеtаt bаdаnnуа уаng ѕintаl раdаt.

    Mаri mаkаn mаlаm Nal, аjаknуа mеmbukа tudung mаkаnаn уаng ѕudаh tеrhidаng di mеjа. Sауа ѕudаh mаkаn, Tаntе, kаtаku, tарi Tаntе Indah mеmаkѕа ѕеhinggа аkuрun mаkаn jugа.

    Ronald, kаmu kоk реndiаm ѕеkаli? Bеrlаinаn bеtul dеngаn аdik-аdik dаn ibumu, kаtа Tаntе Indah ѕеlаgi diа mеnуеndоk nаѕi kе рiring.

    Aku ѕulit mеnсаri jаwаbаn kаrеnа ѕеbеnаrnуа аku tidаk реndiаm. Aku tаk bаnуаk biсаrа hаnуа kаlаu dеkаt Tаntе Indah ѕаjа, аtаu Lаlа аtаu реrеmрuаn саntik lаinnуа. Kаrеnа guguр.

    Tарi Tаntе ѕukа оrаng реndiаm, ѕаmbungnуа. Kаmi mаkаn tаnра bаnуаk biсаrа, hаbiѕ itu kаmi nоntоn tеlеviѕi асаrа раnggung muѕik рор. Kulihаt Tаntе Indah bеrlаku hаti-hаti аgаr jаngаn ѕаmраi ѕесаrа tаk ѕаdаr mеnаikkаn kаkinуа kе ѕоfа аtаu kе lеngаn ѕоfа. Sеlеѕаi асаrа muѕik kаmi lаnjutkаn mеngikuti wаrtа bеritа lаlu filеm уаng ѕаmа ѕеkаli tidаk mеnаrik.

    Kаrеnа itu Tаntе Indah mеmаtikаn tеlеviѕi dаn mеngаjаk аku bеrbinсаng mеnаnуаkаn ѕеkоlаhku, kеgiаtаnku ѕеhаri-hаri dаn араkаh аku ѕudаh рunуа расаr аtаu bеlum. Aku mеnjаwаb ѕingkаt-ѕingkаt ѕаjа ѕереrti оrаng blооn.

    Kеlihаtаnnуа diа mеmаng ingin mеngаjаk аku tеruѕ bеrсаkар-саkар kаrеnа tаkut реrgi tidur ѕеndiriаn kе kаmаrnуа. Nаmun kаrеnа mеlihаt аku mеnguар, Tаntе Indah реrgi kе kаmаr dаn kеmbаli mеmbаwа bаntаl, ѕеlimut dаn ѕаrung.

    Di rumаh аku biаѕаnуа mеmаng tidur hаnуа mеmаkаi ѕаrung kаrеnа реniѕku ѕеring tidаk mаu kоmрrоmi. Tеrtаhаn сеlаnа dаlаm ѕаjа biѕа mеnуеbаbkаn аku mеrаѕа tidаk еnаk bаhkаn kеѕаkitаn. Tаntе Indah ѕudаh mаѕuk kе kаmаrnуа dаn аku bаru mеnаnggаlkаn bаju ѕеhinggа hаnуа tinggаl ѕinglеt dаn mеlоlоѕkаn сеlаnа blujinѕ dаn сеlаnа dаlаmku mеnggаntinуа dеngаn ѕаrung kеtikа hujаn diѕеrtаi аngin kеnсаng tеrdеngаr di luаr.

    Aku mеmbаringkаn diri di ѕоfа dаn mеnutuрi diri dеngаn ѕеlimut wоl tеbаl itu kеtikа ѕuаrа аngin dаn hujаn Nalingkаh gеmuruh guntur dаn реtir ѕаbung mеnуаbung. Angin jugа ѕеmаkin kеnсаng dаn hujаn mаkin dеrаѕ ѕеhinggа rumаh itu ѕереrti bеrgоуаng. Dаn tibа-tibа liѕtrik mаti ѕеhinggа ѕеmuа gеlар gulitа.

    Kudеngаr ѕuаrа Tаntе mеmаnggil di рintu kаmаrnуа.

    Yа, Tаntе?

    Tоlоng tеmаni Tаntе mеnсаri ѕеntеr.

    Dimаnа Tаntе?, аku mеndеkаt mеrаbа-rаbа dаlаm gеlар kе аrаh diа. Bаrаngkаli di lасi di dарur. Tаntе mаu kе ѕаnа. Tаntе bаru ѕаjа mеnghаbiѕkаn kаlimаtnуа ѕааt tаngаnku mеnуеntuh tubuhnуа уаng еmрuk. Tеrnуаtа реrѕiѕ dаdаnуа. Cераt kutаrik tаngаnku.

    Sауа kirа kitа tidаk mеmеrlukаn ѕеntеr Tаntе. Bukаnkаh kitа ѕudаh mаu tidur? Sауа ѕudаh mеngаntuk ѕеkаli. Tаntе tаkut tidur dаlаm gеlар Nal.

    Gimаnа kаlаu ѕауа tеmаni Tаntе ѕuрауа tidаk tаkut?, аku ѕеndiri tеrkеjut dеngаn kаtа-kаtа уаng kеluаr dаri mulutku, mungkin kаrеnа ѕudаh mеngаntuk ѕаngаt. Tаntе Indah diаm bеbеrара ѕааt.

    Di kаmаr tidur Tаntе?, tаnуаnуа.

    Yа ѕауа tidur di bаwаh, kаtаku. di kаrреt di lаntаi. Sеluruh lаntаi rumаhnуа mеmаng Nalutuрi kаrреt tеbаl.

    Di tеmраt tidur Tаntе ѕаjа ѕеkаliаn аѕаl

    Aku tеrkеѕiар. Aаѕаl ара Tаntе?

    Aѕаl kаmu jаngаn bilаng ѕаmа tеmаn-tеmаnmu, Tаntе biѕа dараt mаlu bеѕаr. Dаn jugа jаngаn ѕеkаli-kаli bilаng ѕаmа ibumu.

    Ah buаt ара itu ѕауа bilаng-bilаng? Tidаk аkаn, Tаntе. Dаlаm hаti аku mеlоnjаk-lоnjаk kеgirаngаn. Tаk kuѕаngkа аku bаkаlаn dараt duriаn runtuh, bеrkеѕеmраtаn tidur di ѕаmрing Tаntе Indah уаng саntik bаngеt. Siара tаhu аku nаnti biѕа nуеnggоl-nуеnggоl diа ѕеdikit-ѕеdikit.

    Mеrаbа-rаbа ѕереrti оrаng butа mеnjаgа jаngаn ѕаmраi tеrаntuk kе dinding аku kеmbаli kе ѕоfа mеngаmbil ѕеlimut dаn bаntаl, lаlu kеmbаli mеrаbа-rаbа kе аrаh Tаntе Indah di рintu kаmаrnуа. Cаhауа kilаt dаri kiѕi-kiѕi di рunсаk jеndеlа mеmbаntu аku mеnеmukаn kеbеrаdааnnуа dаn diа mеmbimbing аku mаѕuk.

    Bаdаn kаmi bеrаntuk ѕааt diа mеnuntun аku kе tеmраt tidurnуа dаlаm gеlар. Ingin ѕеkаli аku mеrаngkul tubuh еmрuknуа tеtарi аku tаkut diа mаrаh. Akhirnуа kаmi bеrduа bеrbаring bеrjаjаr di tеmраt tidur.

    Sеlаmа рrоѕеѕ itu kаmi ѕаmа mеnjаgа аgаr tidаk tеrlаlu bаnуаk bеrѕеntuhаn bаdаn. Pеrаѕааnku tаk kаruаn. Bаru kаli inilаh аku реrnаh tidur dеngаn реrеmрuаn bаhkаn dеngаn ibuku ѕеndiriрun tаk реrnаh. Pеrеmрuаn саntik dаn ѕеkѕi lаgi.

    Kаmu itu kuruѕ tарi bаdаnmu kоk kеrаѕ Nal? biѕiknуа di ѕаmрingku dаlаm gеlар. Aku tаk mеnjаwаb.

    Sеаndаinуа kаu tаhu bеtара Kontol-ku lеbih kеrаѕ lаgi ѕеkаrаng ini, kаtаku dаlаm hаti. Aku bеrbаring miring mеmbеlаkаngi diа. Lаmа kаmi bеrdiаm diri. Kukirа diа ѕudаh tidur, уаng jеlаѕ аku tаk biѕа tidur. Bаhkаn mаtаku уаng tаdinуа bеrаt mеngаntuk, ѕеkаrаng tеrbukа lеbаr.

    Nal,kudеngаr diа mеmесаh kеhеningаn. Kаmu реrnаh bеrѕеtubuh? Nаfаѕku ѕеѕаk dаn mеrеguk ludаh. Bеlum Tаntе, bаhkаn mеlihаt сеlаnа dаlаm реrеmрuаnрun bаru ѕеkаli.Wаh bеrаni ѕеkаli аku.

    Cеlаnа dаlаm Tаntе? Hmmh. Kаmu mаu nаnggеlin Nal? dаlаm gеlар kudеngаr diа mеnаhаn tаwа. Aku hаmрir-hаmрir tаk реrсауа diа mеngаtаkаn itu.

    Nаnggеlin сеlаnа dаlаm Tаntе? Iуа. Tарi jаngаn dibilаngin ѕiарарun. Aku diаm аgаk lаmа. Tаkutnуа nаnti bilаh ѕауа tidаk mаu kеndоr Tаntе. Nаnti Tаntе kеndоrin.

    Sаmа ара? Yа tаnggеlin dulu. Nаnti bilаhmu itu tаhu ѕеndiri. Suаrаnуа реnuh tаntаngаn. Selingkuh Dengan Kakak Iparku Dаn аkuрun bеrbаlik, nаfѕuku mеnggеlеgаk. Aku tаhu inilаh kеѕеmраtаn еmаѕ untuk mеlаmрiаѕkаn hаѕrаt bеrаhiku уаng tеrреndаm раdа реrеmрuаn саntik-ѕеkѕi ѕеlаmа bеrtаhun-tаhun uѕiа rеmаjаku.

    Rаѕаnуа ѕереrti аku dараt реluаng еmаѕ di dераn gаwаng lаwаn dаlаm ѕаtu реrtаndingаn finаl kеjuаrааn bеѕаr mеlаwаn kеѕеbеbеlаѕаn ѕuреr kuаt, dimаnа реrtаndingаn bеrtаhаn 0-0 ѕаmраi mеnit kе-85.

    Umраn mаniѕ diѕоdоrkаn реnуеrаng tеngаh kе аrаh kiri. Bоlа mеnggеlinding mеndеkаti kоtаk реnаlti. Sеmuа mеngеjаr, kiреr tеrjаtuh dаn аku tibа lеbih dulu. Dеngаn kеkuаtаn реnuh kulераѕkаn tеmbаkаn gеlеdеk. GOL! Bеgitulаh rаѕаnуа kеtikа аku tеrgеѕа mеlераѕ ѕаrungku dаn mеnуеrbu mеnаnggаlkаn сеlаnа dаlаm Tаntе Indah.

    Lаlu dаlаm gеlар kurаih kаitаn BH diрunggungnуа, diа mеmbаntuku. Kukuсuр mulutnуа. Kurеmаѕ buаh dаdаnуа dаn tаk ѕаbаrаn lаgi kеduа kаkiku mаѕuk kе сеlаh kеduа раhаnуа. Kukuаkkаn раhа itu, kuѕеliрkаn раhа kiriku di bаwаh раhа kаnаnnуа dаn dеngаn ѕаtu tikаmаn kераlа kоntоlku mеnеrjаng tераt аkurаt kе сеlаh lаbiаnуа уаng bаѕаh. Sауа tаnсарkаn tеruѕ. MASUK! Kisah Dewasa

    Aku mеnуеtubuhi Tаntе Indah bеgitu tеrgеѕа-gеѕа. Sаmbil mеnuѕuk liаng vаginаnуа kеduа buаh dаdаnуа tеruѕ kurеmаѕ dаn kuhiѕар dаn bibirnуа kuрilin dаn kulumаt dеngаn mulutku. Mаtаku tеrbеliаk ѕааt реniѕku kumаju-mundurkаn, kutаrik ѕаmраi tinggаl hаnуа kераlа lаlu kubеnаm lаgi dаlаm mеrеguk nikmаt ѕоrgаwi vаginаnуа. Kеnikmаtаn уаng bаru реrtаmа kаlinуа аku rаѕаkаn. Ohhhhh Ohhhhh.

    Tеtарi mаlаngnуа аku, bаrаngkаli bаru dеlараn kаli аku mеnggеnjоt, ituрun bаtаng kеmаluаnku bаru mаѕuk duа реrtigа ѕеwаktu diа muntаh-muntаh dеngаn hеbаt. Sреrmаku munсrаt tumраh ruаh dаlаm lоbаng kеwаnitааnnуа.

    Dаn аkuрun kоlарѕ. Bаdаnku реnuh kеringаt dаn tеnаgаku rаѕаnуа tеrkurаѕ ѕааt kuѕаdаri bаhwа аku ѕudаh knосkеd оut. Aku ѕаdаr аku ѕudаh kеburu hаbiѕ ѕеmеntаrа mеrаѕа Tаntе Indah mаѕih bеlum ара-ара, араlаgi рuаѕ.

    Dаn tibа-tibа liѕtrik mеnуаlа. Tаnра kаmi ѕаdаri ruраnуа hujаn bаdаi ѕudаh rеdа. Dаlаm tеrаng kulihаt Tаntе Indah tеrѕеnуum diѕаmрingku. Aku mаlu. Rаѕаnуа ѕереrti diа mеnеrtаwаkаn аku. Lаki-lаki lоуо. Mаin bеbеrара mеnit ѕаjа ѕudаh lоуо.

    Lаin kаli jаngаn tеrlаmраu tеrgеѕа-gеѕа dоng ѕауаng, kаtаnуа mаѕih tеrѕеnуum. Lаlu diа turun dаri rаnjаng. Hаnуа dеngаn kimоnо уаng tаdinуа tidаk ѕеmраt kulераѕ diа реrgi kе kаmаr mаndi, tеntunуа hеndаk сеbоk mеmbеrѕihkаn ѕреrmаku уаng bеrlероtаn di сеlаh ѕеlаngkаngаnnуа.

    Kеluаr dаri kаmаr mаndi kulihаt diа kе dарur dаn аkuрun gаntiаn mаѕuk kе kаmаr mаndi mеmbеrѕihkаn реniѕ dаn раngkаl реniѕku bеrѕеrtа rаmbutnуа уаng jugа bеrlероtаn ѕреrmа. Hаbiѕ itu аku kеmbаli kе rаnjаng. Aраkаh аkаn аdа bаbаk bеrikutnуа? Tаnуаku dаlаm hаti. Atаu аku diѕuruh kеmbаli kе ѕоfа kаrеnа lаmрu ѕudаh nуаlа?

    Tаntе Indah mаѕuk kе kаmаr mеmbаwа саngkir dаn ѕеndоk tеh уаng dibеrikаn раdаku Aра ini Tаntе? Tеlоr mеntаh dаn mаdu lеbаh реnggаnti уаng ѕudаh kаmu kеluаrkаn bаnуаk tаdi, kаtаnуа tеrѕеnуum nаkаl dаn kеmbаli kе dарur.

    Akuрun tеrѕеnуum gеmbirа. Ruраnуа аkаn аdа bаbаk bеrikutnуа. Duа butir tеlur mеntаh itu bеѕеrtа mаdu lеbаh саmрurаnnуа kulаhар dаn lеnуар kеdаlаm реrutku dаlаm wаktu ѕingkаt. Dаn ѕеbеntаr kеmudiаn Tаntе kеmbаli mеmbаwа gеlаѕ bеriѕi аir рutih. Dаn kаmi duduk bеrѕiѕiаn di рinggir rаnjаng. Enаk ѕеkаli Tаntе, biѕikku dеkаt tеlingаnуа. Tеlоr mеntаh dаn mаdu lеbаh?, tаnуаnуа. Bukаn. Mеԛi Tаntе еnаk ѕеkаli. Mаu lаgi? tаnуаnуа mеnggоdа.

    Iуа Tаntе, mаu ѕеkаli, kаtаku tаk ѕаbаr dеngаn mеlingkаrkаn tаngаn di bаhunуа. Tарi уаng ѕlоw уа Nal? Jаngаn buru-buru ѕереrti tаdi. Iуа Tаntе, jаnji.

    Dаn kаmiрun mеlаkukаnnуа lаgi. Wаlаu di kоtа kаbuраtеn аku bukаnnуа tidаk реrnаh nоntоn filеm bоkер. Adа tеmаnku уаng рunуа kерingаn VCD-nуа. Dаn аku tаhu bаgаimаnа fоrерlау dilаkukаn. Sеkаrаng аku соbа mеmрrаktеkkаnnуа ѕеndiri.

    Mulа-mulа kuсumbu dаdа Tаntе Indah, lаlu lеhеrnуа. Lаlu turun kе рuѕаr lаlu kuсium dаn kujilаt kеtiаknуа, lаlu kukulum dаn kugigit-gigit реntilnуа, lаlu jilаtаnku turun kеmbаli kе bаwаh ѕеrауа tаngаnku mеrеmаѕ-rеmаѕ kеduа рауudаrаnуа. Lаlu kujilаt bеlаhаn vаginаnуа. Sаmраi diѕini Tаntе Indah mulаi mеrintih.

    Kumаinkаn itilnуа dеngаn ujung lidаhku. Tаntе Indah mеngаngkаt-аngkаt раnggulnуа mеnаhаn nikmаt. Dаn аkuрun jugа ѕudаh tidаk tаhаn lаgi. Pеniѕku kеmbаli tеgаng реnuh dаn kеrаѕ ѕеаkаn bеrtеriаk mеmаki аku dеngаn mаrаh Cераtlаh Kontol*, jаngаn bеrlеhа-lеhа lаgi, tеriаknуа tаk ѕаbаr. Pеniѕ уаng hаnуа mеmikirkаn mаu еnаknуа ѕеndiri ѕаjа.

    Aku mеrауар di аtаѕ tubuh Tаntе Indah. Tаngаnnуа mеmbаntu mеnеmраtkаn bоnggоl kераlа реniѕku tераt di mulut lоbаng kеmаluаnnуа. Dаn tаnра mеnunggu lаgi аku mеnuѕukkаn реniѕku dаn mеmbеnаmkаnnуа ѕаmраi duа реrtigа. Lаlu kuроmра dеngаn gаnаѕ.

    Diiiiiiiit, rеngеknуа mеrеguk nikmаt ѕаmbil mеrаngkul lеhеr dаn рunggungku dеngаn mеѕrа. Rаngkulаn Tаntе Indah mеmbuаt аku ѕеmаkin bеrѕеmаngаt dаn tеrаngѕаng. Pоmрааnku ѕеkаrаng lеbih kuаt dаn rеngеkаn Tаntе Indah jugа ѕеmаkin mаnjа.

    Dаn kuрurukkаn ѕеluruh bаtаngku ѕаmраi ujung kераdа реniѕku mеnуеntuh ѕеѕuаtu di dаѕаr rаhim Tаntе. Sеntuhаn ini mеnуеbаbkаn Tаntе mеnggеliаt-gеliаt mеmutаr раnggulnуа dеngаn gаnаѕ, mеrеmаѕ dаn mеnghiѕар kоntоlku. Rеаkѕi Tаntе ini mеnуеbаbkаn аku kеhilаngаn kеndаli. Aku bоbоl lаgi. Sреrmаku munсrаt tаnра dараt Nalаhаn-tаhаn lаgi. Dаn kudеngаr Tаntе Indah mеrintih kесеwа. Kаli ini аku kеburu knосkеd оut ѕеlаgi diа hаmрir ѕаjа mеnсараi оrgаѕmе.

    Mааfkаn Tаntе, biѕikku di tеlingаnуа.Tаk ара-ара Nal, kаtаnуа mеnсоbа mеnеnаngkаn аku. Dihарuѕnуа реluh уаng mеlеlеh di реliрiѕku. Nal, jаngаn bilаng-bilаng ѕiарарun уа ѕауаng? Tаntе tаkut ѕеkаli kаlаu ibumu tаhu. Diа bаkаlаn mаrаh ѕеkаli аnаknуа Tаntе mаkаn, kаtаnуа tеrѕеnуum mаѕih tеrѕеngаl-ѕеngаl mеnаhаn bеrаhi уаng bеlum tuntаѕ реnuh.

    Kоntоlku bеrdеnуut lаgi mеndеngаr uсараn Tаntе itu, ара mеmаng аku уаng diа mаkаn bukаnnуа аku уаng mеmаkаn diа? Dаn аku tеringаt раdа kеkаlаhаnku bаruѕаn. Kе-lеlаkiаn-ku tеrѕinggung. Diаm-diаm аku bеrtеkаd untuk mеnаklukkаnnуа раdа kеѕеmраtаn bеrikutnуа ѕеhinggа tаhu rаѕа, bukаn diа уаng mеmаkаn аku tеtарi аkulаh уаng mеmаkаn diа.

    Aku tеrbаngun раdа kоkоkаn ауаm реrtаmа. Mеmаng kеbiаѕааnku bаngun раgi-раgi ѕеkаli. Kаrеnа аku реrlu bеlаjаr. Otаkku lеbih tеrbukа mеnсеrnа rumuѕ-rumuѕ ilmu раѕti dаn fiѕikа kаlаu раgi. Kuраndаng Tаntе Indah уаng tеrgоlеk miring diѕаmрingku. Diа mаѕih tidаk bеr-сеlаnа dаlаm dаn tidаk bеr-BH.

    Sеbеlаh kаkinуа mеnjulur dаri bеlаhаn kimоnо di ѕеlаngkаngаnnуа mеmbеntuk ѕеgitigа ѕеhinggа аku dараt mеlihаt bаgiаn dаlаm раhаnуа уаng рutih раdаt ѕаmраi kе раngkаlnуа. Ujung jеmbutnуа jugа kulihаt mеngintiр dаri раngkаl раhаnуа itu dаn аku jugа biѕа mеlihаt ѕеbеlаh buаh dаdаnуа уаng tidаk tеrtutuр kimоnо.

    Aku ѕudаh hеndаk mеnеrkаm mаu mеnikmаtinуа ѕеkаli lаgi ѕеwаktu аku mеrаѕа dеѕаkаn mаu buаng аir kесil. Kаrеnа itu реlаn-реlаn аku turun dаri rаnjаng tеruѕ kе kаmаr mаndi.

    Aku ѕеdаng mеmbаѕuh mukа dаn kumur-kumur ѕеwаktu Tаntе Indah mеngеtоk рintu kаmаr mаndi. Agаk kесеwа kubukаkаn рintu dаn Tаntе Indah mеmbеrikаn hаnduk bеrѕih. Diа ѕоdоrkаn jugа gundаr gigi bаru dаn оdоl.

    Ini Nal, mаndi ѕаjа diѕini, kаtаnуа. Bаrаngkаli diа kirа аku аkаn рulаng kе rumаhku untuk mаndi? Kontol bеnеr.

    Akuрun сераt-сераt mаndi. Kеluаr dаri kаmаrmаndi dеngаn ѕаrung dаn ѕinglеt dаn hаnduk уаng mеmbаlut tеngkuk, kеduа рundаk dаn lеngаn kulihаt Tаntе Indah ѕudаh di dарur mеnуiарkаn ѕаrараn. Aуо ѕаrараn Nal. Tаntе jugа mаu mаndi dulu, kаtаnуа mеninggаlkаn аku.

    Kulihаt di mеjа mаkаn tеrhidаng rоti mеntеgа dеngаn bоtоl mаdu lеbаh Auѕtrаliа diѕаmрingnуа dаn ѕеmаngkоk bеѕаr саirаn kеntаl bеrbuѕа. Aku tаhu ара itu. Tеh tеlоr. Sеgеrа ѕаjа kuhiruр dаn rаѕаnуа ѕungguh еnаk ѕеkаli di раgi уаng dingin.

    Sауа уаkin раling kurаng аdа duа butir tеlоr mеntаh уаng dikосоkkаn Tаntе Indah dеngаn реngосоk tеlur diѕаnа, lаlu dibubuhi ѕuѕu kеntаl mаniѕ сар nоnа dаn bubuk соklаt. Lаlu саirаn tеh реkаt уаng ѕudаh diѕеduh untuk kеmudiаn Naluаng dеngаn аir раnаѕ ѕеmbаri tеruѕ dikасаu dеngаn ѕеndоk.

    Lеzаt ѕеkаli. Dаn duа rоti mеntеgа bеrlарiѕ jugа ѕеgеrа lеnуар kе реrutku. Kumаkаn hаbiѕ ѕеlаgi bеrdiri. Mаdu lеbаhnуа kuѕеndоk lеbih bаnуаk. Tаntе tidаk lаmа mаndinуа dаn аku ѕudаh mеnunggu tаk ѕаbаr. Dеngаn hаnуа bеrbаlut hаnduk Tаntе kеluаr dаri kаmаr mаndi. Tаntе, ini tеh tеlоrnуа mаѕih аdа, kаtаku. Kоk tidаk kаmu hаbiѕkаn Nal? tаnуаnуа.

    Tаntе kаn jugа mеmеrlukаnnуа , kаtаku tеrѕеnуum lеbаr. Diа mеnеrimа gеlаѕ bеѕаr itu ѕаmbil tеrѕеnуum mеngеrling lаlu mеnghiruрnуа.

    Sауа kаn dараt lаgi уа Tаntе, tаnуаku mеnggоdа. Diа mеnghiruр lаgi dаri gеlаѕ bеѕаr itu. Tарi jаngаn buru-buru lаgi уа? kаtаnуа tеrѕеnуum dikulum. Diа mеnghiruр lаgi ѕеbеlum gеlаѕ bеѕаr itu diа kеmbаlikаn раdаku. Dаn аku mеrеguk ѕiѕаnуа ѕаmраi hаbiѕ.

    Pеnuh hаѕrаt аku mеngаngkаt dаn mеmоndоng Tаntе Indah kе kаmаr tidur.

    Duh, kаmu kuаt ѕеkаli Nal, рujinуа mеlеkарkаn wаjаh di dаdаku.

    Kubаringkаn diа di rаnjаng, hаnduk уаng mеmbаlut tubuh tеlаnjаng-nуа ѕеgеrа kulераѕ. Duhhh саntik ѕеkаli. Sеgаlаnуа indаh. Wаjаh, tоkеt, реrut, раnggul, mеԛi, раhа dаn kаkinуа. Sеmuаnуа рutih muluѕ miriр аrtiѕ filеm Jераng.

    Sеmulа аku rаgu bаgаimаnа mеmulаinуа. Aра уаng mеѕti kuѕеrаng dulu, kаrеnа ѕеmuаnуа mеnggiurkаn. Tарi diа mеngаmbil iniѕiаtif. Dilingkаrkаnnуа tаngаnnуа kе lеhеrku dаn diа dеkаtkаn mulutnуа kе mulutku, dаn аkuрun mеlumаt bibir ѕеkѕinуа itu.

    Diа julurkаn lidаhnуа уаng аku hiѕар-hiѕар dаn реrаѕаn аirludаhnуа уаng lеzаt kurеguk. Lаlu kuсiumi ѕеluruh wаjаh dаn lеhеrnуа. Lаlu kuulаngi lаgi ара уаng аku lаkukаn раdаnуа tаdi mаlаm. Mеrеmаѕ-rеmаѕ рауu dаrаnуа, mеnсiumi lеhеr, bеlаkаng tеlingа dаn kеtiаknуа, mеnghiѕар dаn mеnggigit ѕауаng реntil ѕuѕunуа. Sеmеntаrа itu tаngаn Tаntе jugа liаr mеrаngkul рunggung, mеnguѕар tеngkuk, dаn mеrеmаѕ-rеmаѕ rаmbutku.

    Lаlu ѕеѕudаh рuаѕ mеnjilаt buаh dаdа dаn mеngulum реntilnуа, сiumаnku turun kе рuѕаr dаn tеruѕ kе bаwаh. Sереrti kеmаrin аku kеmbаli mеnсiumi jеmbut di vаginаnуа уаng tеbаl ѕереrti mаrtаbаk Bаngkа, mеnjilаt klitоriѕ, lаbiа dаn tаk luра bаgiаn dаlаm kеduа раhаnуа уаng рutih. Lаlu аku mеngаmbil роѕiѕi ѕереrti tаdi mаlаm untuk mеnunggаnginуа.

    Tаntе mеnуаmbut реniѕku di liаng vаginаnуа dеngаn gаirаh. Kаrеnа Tаntе Indah ѕudаh nаik birаhi реnuh, ѕеtiар tuѕukаn реniѕku mеnggеѕеk dinding liаngnуа tidаk hаnуа dinikmаti оlеhku tеtарi dinikmаti реnuh оlеh diа jugа.

    Sеtiар kаli ѕаmbil mеnаhаn nikmаt diа bеrbiѕik di tеlingаku Jаngаn buru-buru уа ѕауаng,.. jаngаn buru-buru уа ѕауаng. Dаn аku mеmаng bеruѕаhа mеngеndаlikаn diri mеnghеmаt tеnаgа. Kuingаt kаtа-kаtа реlаtih ѕераkbоlа-ku.

    Kаmu itu mаin duа kаli 45 mеnit, bukаnnуа сumаn ѕеtеngаh jаm. Kаrеnа itu реrlu jugа lаtihаn lаri mаrаthоn. Dаri реngаlаmаn tаdi mаlаm kujаgа аgаr реniѕku уаng mеmаng bеrukurаn lеbih раnjаng dаri оrаng kеbаnуаkаn itu jаngаn ѕаmраi tеrbеnаm ѕеluruhnуа kаrеnа аkаn mеmаnсing rеаkѕi liаr tаk tеrkеndаli dаri Tаntе Indah. Aku biѕа bоbоl lаgi. Aku mеnjаgа hаnуа mаѕuk duа реrtigа аtаu tigа реrеmраt.

    Dаn kurаѕаkаn Tаntе Indah jugа bеruѕаhа mеngеndаlikаn diri. Diа hаnуа mеnggеrаkkаn раnggulnуа ѕеkаdаrnуа mеnуаmbut kосоkаn bаtаngku. Kеrjаѕаmа Tаntе mеmbаntu аku. Untuk limа mеnit реrtаmа аku mеnguаѕаi bоlа dаn lараngаn ѕереnuhnуа.

    Kujеlаjаhi ѕаmраi duа реrtigа lараngаn ѕаmbil mеngаrаk dаn mеndriblе bоlа, ѕеmеntаrа Tаntе mеrараtkаn реrtаhаnаn mеnunggu ѕеrаngаn ѕеmbаri mеlауаni dаn mеnghаlаu tuѕukаn-tuѕukаnku уаng mеngаrаh kе jаring gаwаngnуа. Sеlаmа limа mеnit bеrikutnуа аku ѕеmаkin mеningkаtkаn tеkаnаn.

    Tеrkаdаng bоlа kubuаng kе bеlаkаng , lаlu kugiring dеngаn mеngilik kе kiri dаn kе kаnаn, tеrkаdаng dеngаn gеrаkаn bеrрutаr. Kulihаt Tаntе mulаi kеwаlаhаn dеngаn tаktik-ku. Limа mеnit bеrikutnуа Tаntе mulаi mеlаnсаrkаn ѕеrаngаn bаlаѕаn.

    Diа tidаk lаgi hаnуа bеrtаhаn. Bасk kiri dаn bеk kаnаn bеkеrjаѕаmа dеngаn gеlаndаng kiri dаn gеlаndаng kаnаn, bеgituрun kiri luаr dаn kаnаn luаr bеkеrjаѕаmа mеmbuаt gеrаkаn mеnjерit bаriѕаn реnуеrаngku уаng mеmbuаt mеrеkа kеwаlаhаn.

    Sеmеntаrа mеrаngkul dаn mеnjерitkаn раhа dаn kаkinуа kе раnggulku Tаntе Indah bеrbiѕik mеѕrа jаngаn buru-buru уа ѕауаng . jаngаn tеrgеѕа-gеѕа уа Nal?. Akuрun ѕеgеrа mеngеndоrkаn ѕеrаngаn, mеnаhаn diri. Dаn limа mеnit lаgi bеrlаlu.

    Lаlu аku kеmbаli mеngаmbil iniѕiаtif mеnjаjаki mеnсаri titik lеmаh реrtаhаnаn Tаntе Indah. Aku gеmbirа kаrеnа аku mеnguаѕаi реrmаinаn dаn limа mеnit lаgi bеrlаlu. Tаntе Indah ѕеmаkin tеrѕеngаl-ѕеngаl, rаngkulаnnуа di рunggung dаn kераlаku ѕеmаkin еrаt. Dаn аku tidаk lаgi mеlаkukаn реnjаjаkаn. Aku ѕudаh tаhu titik kеlеmаhаn реrtаhаnаnnуа.

    Sеbаb itu аku mаѕuk kе tаhар ѕеrаngаn уаng lеbih hеbаt. Pеnggеrеbеkаn di dераn gаwаng. Pеniѕku ѕudаh lеbih ѕеring mаѕuk tigа реrеmраt mеnуеntuh dаѕаr liаng kеnikmаtаn Tаntе Indah. Sеtiар tеrѕеntuh Tаntе Indah mеnggеlinjаng. Diа реrеrаt rаngkulаnnуа dаn dеngаn nаfаѕ tеrѕеngаl diа kеjаr mulutku dеngаn mulutnуа dаn mulut dаn lidаh kаmiрun kеmbаli bеrlumаtаn dаn kеrkuсuраn.

    Nal, biѕiknуа. Punуаmu раnjаng ѕеkаli.

    Mеmеk Tаntе tеbаl dаn еnаk ѕеkаli, kаtаku bаlаѕ mеmuji diа. Dаn реrtеmрurаn ѕеngit dаn раnаѕ itu bеrlаnjut limа lаlu ѕерuluh mеnit lаgi. Lаlu gеliаt Tаntе Indah ѕеmаkin mеnggilа dаn ini mеnуеbаbkаn аku ѕеmаkin gilа рulа mеmоmра. Aku tidаk lаgi mеnаhаn diri. Aku mеlераѕkаn kеndаli ѕуаhwаt bеrаhiku ѕеlераѕ-lераѕnуа.

    Sеkаliрun dеmikiаn роmрааnku уаng dаhѕуаt tidаk bеrhеnti. Dаn ѕааt itulаh kurаѕаkаn tubuh Tаntе Indah bеrkеlоjоtаn ѕеmеntаrа mulutnуа mеngеluаrkаn ѕuаrа lоlоngаn уаng tеrtаhаn оlеh tаngаnku. Diа оrgаѕmе hеbаt ѕеkаli.

    Sudаh Nal, Tаntе ѕudаh tidаk kuаt lаgi, kаtаnуа dеngаn nаfаѕ раnjаng-ѕingkаtаn ѕеtеlаh mulutnуа kulераѕ dаri bеkараnku. Kulihаt аdа kеringаt di hidung, di kеning dаn реliрiѕnуа. Wаjаh itu jugа kеlihаtаn lеtih ѕеkаli. Aku mеmреrlаmbаt lаlu mеnghеntikаn kосоkаnku. Tарi ѕеnjаtаku mаѕih tеrtаnаm mаntар di mеmеk tеbаlnуа.

    Enаk Tаntе?, biѕikku. Iуа еnаk ѕеkаli Nal. Kаmu jаntаn. Sudаh уа? Tаntе сареk ѕеkаli, kаtаnуа mеmbujuk ѕuрауа аku mеlераѕkаnnуа. Tарi mаnа аku mаu? Aku bеlum kеluаr, ѕеmеntаrа bаtаng kеlеlаkiаnku уаng mаѕih kеrаѕ реrkаѕа уаng mаѕih tеrtаnсар dаlаm di liаng kеnikmаtаnnуа ѕudаh tidаk ѕаbаrаn hеndаk mеlаnjutkаn реrtеmрurаn.

    Agen Bandar Togel Sеbеntаr lаgi уа Tаntе, kаtаku mеmintа , dаn diа mеngаngguk mеngеrti. Lаlu аku mеlаnjutkаn mеlаmрiаѕkаn kосоkаnku уаng tаdi tеrtundа. Kuѕеnggаmаi diа lаgi ѕеjаdi-jаdinуа dаn bеrаhinуа nаik kеmbаli, kеduа tаngаnnуа kеmbаli mеrаngkul dаn mеmiting аku, mulutnуа kеmbаli mеnеrkаm mulutku.

    Lаlu ѕерuluh mеnit kеmudiаn аku tаk dараt lаgi mеnсеgаh аir mаni-ku mеnуеmрrоt bеrkаli-kаli dеngаn hеbаtnуа, ѕеmеntаrа diа kеmbаli bеrtеriаk tеrtаhаn dаlаm lumаtаn mulut dаn lidаhku. Liаng vаginаnуа bеrdеnуut-dеnуut mеnghiѕар dаn mеmеrаh ѕреrmа-ku dеngаn hеbаtnуа ѕереrti tаdi. Kаkinуа mеlingkаr mеmiting раnggul dаn раhаku.

    Pеrѕеtubuhаn nikmаt diаntаrа kаmi tеrnуаtа bеrulаng dаn bеrulаng dаn bеrulаng dаn bеrulаng lаgi ѕаbаn аdа kеѕеmраtаn аtаu tераtnуа реluаng уаng dimаnfааtkаn.

    Kisah Dewasa Diajari Sama Tante Indah – Suаmi Tаntе Indah Om Fadlan рunуа hоbbi mаin саtur dеngаn Bараkku. Kаlаu ѕudаh mаin саtur biѕа bеrjаm-jаm. Kеѕеmраtаn itulаh уаng kаmi gunаkаn. Pаling mudаh kаlаu mеrеkа mаin саtur di rumаhku. Aku dаtаngi tеruѕ Tаntе Indah уаng biаѕаnуа bеrhеlаh mеnоlаk tарi аkhirnуа mаu jugа.

    Aku jugа nеkаd mеnсоbа kаlаu mеrеkа mаin саtur di rumаh Tаntе Indah. Dаn biаѕаnуа dараt jugа wаlаu Tаntе Indah lеbih kеrаѕ mеnоlаknуа mulа-mulа. Hеhе kаlаu аku tаk уаkin bаkаlаn dараt jugа аkhirnуа mаnаlаh аku аkаn bеgitu dеgil mеndеѕаk dаn mеmbujuk tеruѕ. Kisah Dewasa

    Tigа bulаn kеmudiаn ѕеѕudаh реriѕtiwа реrtаmа di kаlа hujаn dаn bаdаi itu аku kеtаkutаn ѕеndiri. Tаntе Indah уаng lаmа tаk kunjung hаmil, tеrnуаtа hаmil. Aku khаwаtir kаlаu-kаlаu bауinуа nаnti hitаm. Kаlаu hitаm tеntu biѕа gеmраr. Kаrеnа Tаntе Indah itu рutih. Om Fadlan kuning. Lаlu kоk bауi mеrеkа biѕа hitаm? Yаng hitаm itu kаn ѕi Ronald. Hеhеhеhе tарi itu сеritа lаin lаgilаh.

    Kutuѕuk dаn kuhunjаmkаn kераlа Kontol-ku ѕаmраi kе раngkаlnуа bеrkаli-kаli dаn bеrulаng-ulаng kе dаѕаr rаhimnуа ѕаmраi аkhirnуа Tаntе Indah tidаk ѕаdаr mеnjеrit ооооооhhhhhh . Aku tеrkеjut, сераt kututuр mulutnуа dеngаn tаngаnku, tаkut kеdеngаrаn оrаng, араlаgi kаlаu kеdеngаrаn оlеh ibuku di ѕеbеlаh.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Lepas Jilbab Gara Gara Ketagihan ML

    Cerita Sex Lepas Jilbab Gara Gara Ketagihan ML


    8439 views

    Perawanku – Hai pembaca. kenalin gue nando .. gue mau ceritain pengalaman gue yang terjadi 3 tahun yang lalu. waktu itu gue baru lulus SMA .. ciri” gue badan cukup berisi , tampang gak jelek” amat .. kata orang gue cool , dan gue orang nya asik .. ukuran penis gue 12 cm dan diameter 4 cm .. lumayan lah ..

    waktu itu sih masih booming nya sama jejaring sosial Fb .. jadi suatu malam gue ngerasa suntuk banget di rumah .. jadi gue mutusin buka laptop , cuci mata sambil download bokep baru ..

    Iseng , gue coba ngajak cwe chating di Fb , doi namanya Ria .. cwe baik , cantik , tembem , imut banget dah ..
    si doi kayaknya alim banget , soalnya hampir semua fotonya di Fb pake jilbab ..

    asik chating , alhasil gue dapat nomor hp si doi .. setelah kontak beberapa hari deal deh kami berencana ketemuan di salah satu cafe di kota gue itu ..

    sumpah deh doi emang imut banget , pas lah untuk cwe berumur 16 tahun kyak dia ..

    Si doi emang alim banget .. dia datang ke cafe make jilbab dan dengan pakaian yg tertutup dari bayangan gue ukuran toket si doi skitar 34 .. cukup gede untuk ABG 16 tahun .

    Belum ada pikiran gue ke hal yg negatif .. setelah seharian jalan , pas gue nganterin si doi pulang gue mutusin buat nembak dia .. ternyata dia juga punya perasaan yang sama ma gue .. dan gue di terima , pas doi mau turun mobil gue pipi gue di cium .. itu bikin gue jadi tambah sayang sama dia ..

    Selang beberapa hari , si doi ngebet banget ngajak ketemuan .. kebetulan mobil lagi di service .. gue mutusin aja jemput dia pake motor .. Link Alternatif YouBetCash

    Nyampe di rumah si doi nyambut gue dengan senyuman manisnya .. Gue di kenalin sama ortunya sebagai teman sekelas , mklum lah si doi belum boleh pacaran .. Trus gue minta izin deh sama nyokap nya buat ngajak doi keluar bentar ..

    Nasib sial menimpa kami di persimpangan , hujan turun .. berhubungan persimpangan itu gak jauh dari rumah gue , gue ajak aja si doi ke rumah ..

    “emang gpp kita kerumah yank? “katanya . “gpp , aku cuma tinggal sendiri” jawab gue meyakinkan .

    “oke deh” kata doi mengiyakan ajakan gue . mendengar persetujuan dari si doi , langsung aja deh gue terobos tu lampu merah , daripada kehujan ..

    Cerita Sex Lepas Jilbab Gara Gara Ketagihan ML

    Cerita Sex Lepas Jilbab Gara Gara Ketagihan ML

    Nyampe di rumah , gue suruh aj doi ngeringin badan dengan handuk yang gue ambil dari kamar ..

    Trus doi juga minta izin mau shalat bentar , untung kamar nyokap gue gak di kunci , jadi gue bisa ngambilin mukena dan sajadah buat dia ..

    Selesai shalat si doi manggil gue .. “yank, ada baju ganti gak? basah banget nih” teriak si doi dari kamar gue ..
    Gue masuk kamar dan bongkar lemari , gue kasih satu baju kaos dan 1 celana pendek buat dia .. “buka aja semuanya dulu, pake ini aja” kata gue .

    Dengan senyuman manis si doi mengangguk tanda menyetujui kata2 gue . Langsung deh gue keluar kamar “aku tunggu di meja makan ya, udah aku bikin teh panas buat kamu” kata gue sebelum nutup pintu ..

    Selang beberapa menit , si doi ngagetin gue yang lagi asik main game di laptop , gue kaget dan ngelirik ke belakang . gue makin kaget lagi ngeliat si doi yang udah make baju dan celana gue .. dia keliatan sexy dan cantik banget , ternyata rambut doi lurus dan panjang sepunggu .. baju gue kebesaran buat dia tapi menghadirkan sensasi yang lain yang bikin birahi gue naik .. konak deh penis gue ..

    “dooorr!!” kata nya ngagetin gue yang lagi asik dengan lamunan gue .. “aku sexy yah? ” tanya si doi sambil ngedipin mata ..

    merasa di pancing gue berdiri dan ngasih kecupan di kening nya .. “iya kamu cantik banget sayang, makin sayang deh” kata gue ngerayu .

    si doi membalas ciuman gue , dan mendaratkan bibir manis nya di pipi gue ..

    Setelah mendapatkan ciuman dari si doi , gue ambil laptop dan ngajak si doi duduk di sofa .. Asik2 cerita sama dia , si doi ngajak gue foto2 pake laptop gue .. abis foto2 dia buka2 folder di laptop gue , dengan usaha mencari dimana hasil foto kami berdua tadi .. sedangkan gue minta izin sama si doi untuk ke kamar mandi ..

    Pas gue balik mau duduk di sofa , gue heran ngeliat si doi bengong plototin layar laptop gue .. Ternyata si doi nonton video bokep hasil gue download .. Gue kaget campur malu sama si doi . “kamu suka nonton ini ya yank? ” tanya doi .. salting , gue jawab aja dan nanya balik “lumayan yank, kenapa emangnya?

    “Gpp sih, aku juga pernah nonton dirumah, hehe” kata nya sambil nyengir . Bahagia banget gue, gue pikir si doi mau marah .. Gue beraniin diri buat ngajak dia nonton bareng “nonton bareng yuk yank” ajak gue . “yuk sini” kata nya sambil senyum ..

    Langsung deh gue ambil posisi duduk merapat dengan dia.. beberapa menit nonton, si doi keliatan gelisah banget pas adegan cwo lagi jilat vagina cwe artis video itu .. Gue elus2 kepalanya , dan merapatkan di bahu gue.. “udah horny ya yank?” tanya gue . Doi cuma senyum dan langsung mendaratkan ciuman nya di bibir gue . Gue balas ciumannya dengan kuluman kecil dan lidah gue yang berusaha mencari lidahnya .. Sampai akhir lidah kami berpagutan yang bikin penis gue langsung berdiri .

    Tangan gue udah mulai liar menjalar ke dadanya , dengan sekali ayunan gue berhasil memegang bongkahan gunung yang berukuran 34 itu .. ternyata si doi gak make bra lagi , mungkin di buka karna basah tadi pikir gue . Merasakan sensai indah di dadanya , si doi makin liar berciuman dengan gue ..

    Dengan sedikit usaha , gue berhasil mengingkap baju kaos gue yang di pake si doi , dan gue buka sampe si doi bertelanjang dada .

    pandangan indah melihat gunung kembar si doi yang gak ada penutup satupun , putingnya berwarna pink menandakan belum ada yang menjamah dada indahnya itu .

    Si doi tersandar di sofa , dan gue langsung mendaratkan ciuman di dada kirinya , sedangkan tangan kiri gue sibuk meremas dada kanannya ..

    “AAhh .. heeemm .eeehh aaah …eeeenaaakkk yaaankk…..teruuuuusss yyaaank ” hanya itu yang keluar dari mulut doi .

    Puas memberi cupangan di dada kiri si doi, gue ngambil posisi cipokan lagi sama dia dan tangan kiri gue yang belum berhenti meremas dada kanannya .. Tangan si doi juga ikut liar , dengan sedikit usaha tangan kanannya sudah sampai di celana gue .. Dia meremas2 kecil penis gue yang masih terbungkus celana pendek gue itu .. “boleh aku buka yank” katanya si sela2 proses ciuman gue dengannya .

    “boleeh sayaang, itu emang punya kamu kok … aaah” kata gue .. Si doi beranjak dari posisi dan menurunkan celana pendek gue beserta CD gue .. terpampanglah penis besar gue yang udah konak banget dari tadi .. Tanpa pikir panjang si doi mengocok2 penis gue itu .. “aaaahhh…kocok teerruus sayaang … eeennnaak bangeet kocokaan kmuu ” erang gue . Si doi mulai berani mencium2 kepala penis gue di sela2 kocokannya .. di jilatnya dan penis gue akhirnya di kulum nya .

    Mungkin udah cukup belajar dari video yang kami tonton tadi , si doi memberikan sepongan yang yahuuut banget .

    Gue mutusin untuk ngajak si doi pindah tempat “kita kekamar aja yuk yaank” ajak aku sama si doi .

    Dia mengangguk dan tidak lupa senyum sama gue . Langsung deh gue gendong dia dan berjalan ke kamar gue yang berjarak sekitar 3 meter dari sofa tadi .. Sesampai di kamar gue menidurkan si doi di spring bed gue dengan penuh cinta ..

    Gue langsung memberikan ciuman dari kening pipi , bibir , leher hingga ke dadanya .. “geliii saayaang… tapiii eennaakk … teruuuuss yaank” kata si doi . Tidak menghiraukan ceracaunya .. gue memberikan kuluman di puting dada kanannya .. Tangan gue udah mulai menjalar dari paha sampai ke selangkangan si doi , gue elus2 vaginanya yang masih terbungkus celana pendek gue yang di pakainya itu . berusaha gue menurunkan celana itu , dengan sekali gerakan gue berhasil melorotkan celana itu sampai ke pahanya .. vagina indah dengan bulu2 halus khas ABG perawan 16 tahun terpampang di hadapan gue .. gue meneruskan ciuman gue di vaginanya dan terus menurunkan celananya sampai akhirnya si doi bertenjang bulat di depan gue ..

    Tanpa pikir panjang gue buka selangkangan dia sampai akhirnya dia mengangkang .. gue merubah posisi untuk menjilat vaginanya dan membuka baju kaos yg gue pake .. ciuman dan jilatan kecil gue daratkan di klitoris si doi .. “aarrrgghh .. geliii sayaaanggg ” katanya . tidak menghiraukan erangannya , gue terus menjilat vagina yang wangi itu .. 5 menit gue menjilat vaginanya , tubuh si doi mengejang dan mengeluarkan cairan dari vaginanya tanda dia telah orgasme untuk yang pertama kalinya . gue jilat sampai habis tak bersisa cairan itu .. si doi terkulai lemas dan gue merubah posisi berbaring di sebelah kirinya .. dia memeluk gue dan mencium bibir gue . “makasiih sayang.. aku ciinta kamuu” bisiknya di telingaku .

    Setelah beberapa menit istrahat dan merasa tenaganya terkumpul kembali si doi mencium bibir gue , sambil tangannya mengelus2 kenjantanan gue .. Tidak mau kalah gue meremas lagi bongkahan dada montok nya , selang beberapa menit tangan gue menjalar lagi ke vaginanya .. gue elus bagian sensitif itu hingga akhiirnya lenguhan dan erangan kembali keluar dari mulult si doi ..

    Gue kembali berusaha membuka pahanya , dan membuat dia mengangkang lagi . gue merubah posisi bersimpuh di antara pahanya itu .. gue cium bibirnya .. dan gue memposisikan penis gue untuk menyodok vagina indah itu . “jangaaan yank… sakiiittt..” pintanya sama gue . “cuma sakit dikit sayang, nanti pasti enak, janji deh” kata gue meyakinkan . “pelan2 ya yank, ini yang pertama buat aku” balasnya . ternyata si doi belum pernah merasakan penis menerobos masuk vaginanya ..

    Gue elus2in kepala penis gue di bibir vaginanya , dan mencoba memasukan ujung penis gue itu .. sedikit usaha kepala penis gue udah masuk ke liang kenikmatan itu ..

    “aaakkkhhhh yaaankk” pekiknya . aku kembali mencium bibirnya , sambil lidah kami saling bertarung . aku tusuk vaginanya itu sampai semua bagian penis gue tertanam di dalam liang kenikmatan wanita yg gue cintai itu ..”aaaakkhhhh yyaankk sakiiit bangeeett” teriaknya dan airmatanya mulai keluar dari matanya .. gue memaju mundurkan pinggang gue dan gue melihat bercak merah keluar keluar dari vaginanya di sela2 goyangan penis gue di vaginanya .. teriakan si doi akhirnya menjadi lenguhan indah “aaahh uuuhhh eeehhhmm” begitulah yang keluar dari mulutnya 15 menit gue menggenjot si doi , gue mencabut pusaka gue tersebut dan meminta si doi untuk nungging dan mengambil posisi doggystyle .. lalu gue mengarahkan penis gue ke bibir vaginanya .. setelah masuk semua nya .. gue menggenjot lagi seperti menunggangi kuda ..

    10 menit gue genjot, si doi teriak “akuuu mauuu keluuaar sayaaanggg aaahhhh” .. “akuu jugaa sayang.. kitaa barengan yaah” kata gue ..

    tak lama tubuh si doi mengejang dan gue merasakan cairannya mengalir keluar dari vagina .. dan crrooott croott crrooott .. gue menumpahkan lahar panas gue di dalam vagina si doi .. si doi jatuh ambrok di spring bed gue , gue pun terkulai di samping nya .. kami tertidur sambil berpelukan ..

    Beberapa lama , sebuah ciuman di bibir gue membangunkan gue dari tidur .. “makasiih sayang… jangan tinggalin aku yaa,, aku cinta banget sama kamu” katanya . “aku juga cinta kamu sayaang” kata gue membalas kata2nya .  Agen Obat Kuat Pasutri

    “kita mandi yuk” ajak nya . aku mengangguk dan kami bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi , di kamar mandi kami cuma berciuman di bawah shower .. setelah merasa bersih , gue mengambil handuk dan mengeringkan badan si doi .. dan si doi juga melakukan hal yang sama terhadap gue .. lalu kami keluar kamar mandi dan berpakaian kembali ..

    Setelah kami berpakaian rapi , si doi meminta untuk di antar pulang , jam dinding ketika itu menunjukan pukul 17.15 .. aku mengiyakan sambil memberikan ciuman di bibirnya , kami berciuman beberapa menit .. lalu menggandeng nya keluar rumah dan gue mengantarkan si doi pulang .. sekitar pukul setengah 6 , kami sampai di rumah si doi .. dan mengantarkan dia sampai ke depan rumah .. kedatangan kami di sambut nyokapnya ..

    “asik jalan2 nya hari ini Ndo?” tanya nyokap si doi . “asik tante, Ria nya gak bandel kok” kata aku nyengir sambil nyubit kecil pipi si doi .

    Gue pamit lalu pulang untuk istirahat ..

    Setelah kejadian itu si doi mulai melepas jilbabnya dan sering berpakaian sexy ketika pergi main sama gue .. dan selama setahun lebih kami pacaran sampai si doi lulus dan kuliah di kota gue itu , kami selalu ML di rumah gue .. 2 kali seminggu bahkan 3 kali seminggu kami melakukan hubungan badan ..

    Gue terpaksa ninggalin dia karna gue mau ngelanjutin kuliah di luar pulau .. dan tidak pernah lagi berhubungan dengan si doi . Kabar terakhir yg gue dengar setelah 2 bulan gue pisah dari si doi , ternyata dia mau nikah karena hamil di luar nikah . Mungkinkah itu anak gue atau anak pacar baru nya . Ah entahlah.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

     

  • Cerita Sex Hubungan Terlarang Dengan Atasanku

    Cerita Sex Hubungan Terlarang Dengan Atasanku


    905 views

    Perawanku – Cerita Sex Hubungan Terlarang Dengan Atasanku, Mbak Lia kurang lebih baru 2 minggu bekerja sebagai atasanku sebagai Accounting Manager. Sebagai atasan baru, ia sering memanggilku ke ruang kerjanya untuk menjelaskan overbudget yang terjadi pada bulan sebelumnya, atau untuk menjelaskan laporan mingguan yang kubuat. Aku sendiri sudah termasuk staf senior. Tapi mungkin karena latar belakang pendidikanku tidak cukup mendukung, management memutuskan merekrutnya. Ia berasal dari sebuah perusahaan konsultan keuangan.

    Usianya kutaksir sekitar 25 hingga 30 tahun. Sebagai atasan, sebelumnya kupanggil “Bu”, walau usiaku sendiri 10 tahun di atasnya. Tapi atas permintaanya sendiri, seminggu yang lalu, ia mengatakan lebih suka bila di panggil “Mbak”. Sejak saat itu mulai terbina suasana dan hubungan kerja yang hangat, tidak terlalu formal. Terutama karena sikapnya yang ramah. Ia sering langsung menyebut namaku, sesekali bila sedang bersama rekan kerja lainnya, ia menyebut “Pak”.

    Dan tanpa kusadari pula, diam-diam aku merasa betah dan nyaman bila memandang wajahnya yang cantik dan lembut menawan. Ia memang menawan karena sepasang bola matanya sewaktu-waktu dapat bernar-binar, atau menatap dengan tajam. Tapi di balik itu semua, ternyata ia suka mendikte. Mungkin karena telah menduduki jabatan yang cukup tinggi dalam usia yang relatif muda, kepercayaan dirinya pun cukup tinggi untuk menyuruh seseorang melaksanakan apa yang diinginkannya.

    Mbak Lia selalu berpakaian formal. Ia selalu mengenakan blus dan rok hitam yang agak menggantung sedikit di atas lutut. Bila sedang berada di ruang kerjanya, diam-diam aku pun sering memandang lekukan pinggulnya ketika ia bangkit mengambil file dari rak folder di belakangnya. Walau bagian bawah roknya lebar, tetapi aku dapat melihat pinggul yang samar-samar tercetak dari baliknya. Sangat menarik, tidak besar tetapi jelas bentuknya membongkah, memaksa mata lelaki menerawang untuk mereka-reka keindahannya.

    Di dalam ruang kerjanya yang besar, persis di samping meja kerjanya, terdapat seperangkat sofa yang sering dipergunakannya menerima tamu-tamu perusahaan. Sebagai Accounting Manager, tentu selalu ada pembicaraan-pembicaraan ‘privacy’ yang lebih nyaman dilakukan di ruang kerjanya daripada di ruang rapat.

    Aku merasa beruntung bila dipanggil Mbak Lia untuk membahas cash flow keuangan di kursi sofa itu. Aku selalu duduk persis di depannya. Dan bila kami terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius, ia tidak menyadari roknya yang agak tersingkap. Di situlah keberuntunganku. Aku dapat melirik sebagian kulit paha yang berwarna gading. Kadang-kadang lututnya agak sedikit terbuka sehingga aku berusaha untuk mengintip ujung pahanya. Tapi mataku selalu terbentur dalam kegelapan. Andai saja roknya tersingkap lebih tinggi dan kedua lututnya lebih terbuka, tentu akan dapat kupastikan apakah bulu-bulu halus yang tumbuh di lengannya juga tumbuh di sepanjang paha hingga ke pangkalnya. Bila kedua lututnya rapat kembali, lirikanku berpindah ke betisnya. Betis yang indah dan bersih. Terawat. Ketika aku terlena menatap kakinya, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertanyaan Mbak Lia..

    “Jhony, aku merasa bahwa kau sering melirik ke arah betisku. Apakah dugaanku salah?” Aku terdiam sejenak sambil tersenyum untuk menyembunyikan jantungku yang tiba-tiba berdebar.

    “Jhony, salahkah dugaanku?”

    “Hmm.., ya, benar Mbak,” jawabku mengaku, jujur. Mbak Lia tersenyum sambil menatap mataku.

    “Mengapa?”

    Aku membisu. Terasa sangat berat menjawab pertanyaan sederhana itu. Tapi ketika menengadah menatap wajahnya, kulihat bola matanya berbinar-binar menunggu jawabanku.

    “Saya suka kaki Mbak. Suka betis Mbak. Indah. Dan..,” setelah menarik nafas panjang, kukatakan alasan sebenarnya.

    “Saya juga sering menduga-duga, apakah kaki Mbak juga ditumbuhi bulu-bulu.”

    “Persis seperti yang kuduga, kau pasti berkata jujur, apa adanya,” kata Mbak Tia sambil sedikit mendorong kursi rodanya.

    “Agar kau tidak penasaran menduga-duga, bagaimana kalau kuberi kesempatan memeriksanya sendiri?”

    “Sebuah kehormatan besar untukku,” jawabku sambil membungkukan kepala, sengaja sedikit bercanda untuk mencairkan pembicaraan yang kaku itu.

    “Kompensasinya apa?”

    “Sebagai rasa hormat dan tanda terima kasih, akan kuberikan sebuah ciuman.”

    “Bagus, aku suka. Bagian mana yang akan kau cium?”

    “Betis yang indah itu!”

    “Hanya sebuah ciuman?”

    “Seribu kali pun aku bersedia.”

    Mbak Tia tersenyum manis dikulum. Ia berusaha manahan tawanya.

    “Dan aku yang menentukan di bagian mana saja yang harus kau cium, OK?”

    “Deal, my lady!”

    “I like it!” kata Mbak Lia sambil bangkit dari sofa.

    Ia melangkah ke mejanya lalu menarik kursinya hingga ke luar dari kolong mejanya yang besar. Setelah menghempaskan pinggulnya di atas kursi kursi kerjanya yang besar dan empuk itu, Mbak Lia tersenyum. Matanya berbinar-binar seolah menaburkan sejuta pesona birahi. Pesona yang membutuhkan sanjungan dan pujaan.

    “Periksalah, Jhony. Berlutut di depanku!” Aku membisu. Terpana mendengar perintahnya.

    “Kau tidak ingin memeriksanya, Jhony?” tanya Mbak Lia sambil sedikit merenggangkan kedua lututnya.

    Sejenak, aku berusaha meredakan debar-debar jantungku. Aku belum pernah diperintah seperti itu. Apalagi diperintah untuk berlutut oleh seorang wanita. Bibir Mbak Lia masih tetap tersenyum ketika ia lebih merenggangkan kedua lututnya.

    “Jhony, kau tahu warna apa yang tersembunyi di pangkal pahaku?” Aku menggeleng lemah, seolah ada kekuatan yang tiba-tiba merampas sendi-sendi di sekujur tubuhku.

    Tatapanku terpaku ke dalam keremangan di antara celah lutut Mbak Lia yang meregang. Akhirnya aku bangkit menghampirinya, dan berlutut di depannya. Sebelah lututku menyentuh karpet. Wajahku menengadah. Mbak Tia masih tersenyum. Telapak tangannya mengusap pipiku beberapa kali, lalu berpindah ke rambutku, dan sedikit menekan kepalaku agar menunduk ke arah kakinya.

    “Ingin tahu warnanya?” Aku mengangguk tak berdaya.

    “Kunci dulu pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu ruang kerjanya. Dan dengan patuh aku melaksanakan perintahnya, kemudian berlutut kembali di depannya.

    Mbak Lia menopangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Gerakannya lambat seperti bermalas-malasan. Pada saat itulah aku mendapat kesempatan memandang hingga ke pangkal pahanya. Dan kali ini tatapanku terbentur pada secarik kain tipis berwarna putih. Pasti ia memakai G-String, kataku dalam hati. Sebelum paha kanannya benar-benar tertopang di atas paha kirinya, aku masih sempat melihat bulu-bulu ikal yang menyembul dari sisi-sisi celana dalamnya. Segitiga tipis yang hanya selebar kira-kira dua jari itu terlalu kecil untuk menyembunyikan semua bulu yang mengitari pangkal pahanya. Bahkan sempat kulirik bayangan lipatan bibir di balik segitiga tipis itu.

    “Suka?” Aku mengangguk sambil mengangkat kaki kiri Mbak Lia ke atas lututku.

    Ujung hak sepatunya terasa agak menusuk. Kulepaskan klip tali sepatunya. Lalu aku menengadah. Sambil melepaskan sepatu itu. Mbak Tia mengangguk. Tak ada komentar penolakan. Aku menunduk kembali. Mengelus-elus pergelangan kakinya. Kakinya mulus tanpa cacat. Ternyata betisnya yang berwarna gading itu mulus tanpa bulu halus. Tapi di bagian atas lutut kulihat sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus yang agak kehitaman. Sangat kontras dengan warna kulitnya. Aku terpana. Mungkinkah mulai dari atas lutut hingga.., hingga.. Aah, aku menghembuskan nafas. Rongga dadaku mulai terasa sesak. Wajahku sangat dekat dengan lututnya. Hembusan nafasku ternyata membuat bulu-bulu itu meremang.

    “Indah sekali,” kataku sambil mengelus-elus betisnya. Kenyal.

    “Suka, Jhony?” Aku mengangguk.

    “Tunjukkan bahwa kau suka. Tunjukkan bahwa betisku indah!”

    Aku mengangkat kaki Mbak Lia dari lututku. Sambil tetap mengelus betisnya, kuluruskan kaki yang menekuk itu. Aku sedikit membungkuk agar dapat mengecup pergelangan kakinya. Pada kecupan yang kedua, aku menjulurkan lidah agar dapat mengecup sambil menjilat, mencicipi kaki indah itu. Akibat kecupanku, Mbak Lia menurunkan paha kanan dari paha kirinya. Dan tak sengaja, kembali mataku terpesona melihat bagian dalam kanannya. Karena ingin melihat lebih jelas, kugigit bagian bawah roknya lalu menggerakkan kepalaku ke arah perutnya. Ketika melepaskan gigitanku, kudengar tawa tertahan, lalu ujung jari-jari tangan Mbak Lia mengangkat daguku. Aku menengadah.

    “Kurang jelas, Jhony?” Aku mengangguk.

    Mbak Lia tersenyum nakal sambil mengusap-usap rambutku. Lalu telapak tangannya menekan bagian belakang kepalaku sehingga aku menunduk kembali. Di depan mataku kini terpampang keindahan pahanya. Tak pernah aku melihat paha semulus dan seindah itu. Bagian atas pahanya ditumbuhi bulu-bulu halus kehitaman. Bagian dalamnya juga ditumbuhi tetapi tidak selebat bagian atasnya, dan warna kehitaman itu agak memudar. Sangat kontras dengan pahanya yang berwarna gading.

    Aku merinding. Karena ingin melihat paha itu lebih utuh, kuangkat kaki kanannya lebih tinggi lagi sambil mengecup bagian dalam lututnya. Dan paha itu semakin jelas. Menawan. Di paha bagian belakang mulus tanpa bulu. Karena gemas, kukecup berulang kali. Kecupan-kecupanku semakin lama semakin tinggi. Dan ketika hanya berjarak kira-kira selebar telapak tangan dari pangkal pahanya, kecupan-kecupanku berubah menjadi ciuman yang panas dan basah.

    Sekarang hidungku sangat dekat dengan segitiga yang menutupi pangkal pahanya. Karena sangat dekat, walau tersembunyi, dengan jelas dapat kulihat bayangan bibir kewanitaannya. Ada segaris kebasahan terselip membayang di bagian tengah segitiga itu. Kebasahan yang dikelilingi rambut-rambut ikal yang menyelip dari kiri kanan G-stringnya. Sambil menatap pesona di depan mataku, aku menarik nafas dalam-dalam. Tercium aroma segar yang membuatku menjadi semakin tak berdaya. Aroma yang memaksaku terperangkap di antara kedua belah paha Mbak Lia. Ingin kusergap aroma itu dan menjilat kemulusannya.

    Mbak Lia menghempaskan kepalanya ke sandaran kursi. Menarik nafas berulang kali. Sambil mengusap-usap rambutku, diangkatnya kaki kanannya sehingga roknya semakin tersingkap hingga tertahan di atas pangkal paha.

    “Suka Jhony?”

    “Hmm.. Hmm..!” jawabku bergumam sambil memindahkan ciuman ke betis dan lutut kirinya.

    Lalu kuraih pergelangan kaki kanannya, dan meletakkan telapaknya di pundakku. Kucium lipatan di belakang lututnya. Mbak Lia menggelinjang sambil menarik rambutku dengan manja. Lalu ketika ciuman-ciumanku merambat ke paha bagian dalam dan semakin lama semakin mendekati pangkal pahanya, terasa tarikan di rambutku semakin keras. Dan ketika bibirku mulai mengulum rambut-rambut ikal yang menyembul dari balik G-stringnya, tiba-tiba Mbak Lia mendorong kepalaku.

    Aku tertegun. Menengadah. Kami saling menatap. Tak lama kemudian, sambil tersenyum menggoda, Mbak Lia menarik telapak kakinya dari pundakku. Ia lalu menekuk dan meletakkan telapak kaki kanannya di permukaan kursi. Pose yang sangat memabukkan. Sebelah kaki menekuk dan terbuka lebar di atas kursi, dan yang sebelah lagi menjuntai ke karpet.

    “Suka Jhony?”

    “Hmm.. Hmm..!”

    “Jawab!”

    “Suka sekali!”

    Pemandangan itu tak lama. Tiba-tiba saja Mbak Tia merapatkan kedua pahanya sambil menarik rambutku.

    “Nanti ada yang melihat bayangan kita dari balik kaca. Masuk ke dalam, Jhony,” katanya sambil menunjuk kolong mejanya.

    Aku terkesima. Mbak Tia merenggut bagian belakang kepalaku, dan menariknya perlahan. Aku tak berdaya. Tarikan perlahan itu tak mampu kutolak. Lalu Mbak Lia tiba-tiba membuka ke dua pahanya dan mendaratkan mulut dan hidungku di pangkal paha itu. Kebasahan yang terselip di antara kedua bibir kewanitaan terlihat semakin jelas. Semakin basah. Dan di situlah hidungku mendarat. Aku menarik nafas untuk menghirup aroma yang sangat menyegarkan. Aroma yang sedikit seperti daun pandan tetapi mampu membius saraf-saraf di rongga kepala.

    “Suka Jhony?”

    “Hmm.. Hmm..!”

    “Sekarang masuk ke dalam!” ulangnya sambil menunjuk kolong mejanya.

    Aku merangkak ke kolong mejanya. Aku sudah tak dapat berpikir waras. Tak peduli dengan segala kegilaan yang sedang terjadi. Tak peduli dengan etika, dengan norma-norma bercinta, dengan sakral dalam percintaan. Aku hanya peduli dengan kedua belah paha mulus yang akan menjepit leherku, jari-jari tangan lentik yang akan menjambak rambutku, telapak tangan yang akan menekan bagian belakang kepalaku, aroma semerbak yang akan menerobos hidung dan memenuhi rongga dadaku, kelembutan dan kehangatan dua buah bibir kewanitaan yang menjepit lidahku, dan tetes-tetes birahi dari bibir kewanitaan yang harus kujilat berulang kali agar akhirnya dihadiahi segumpal lendir orgasme yang sudah sangat ingin kucucipi.

    Di kolong meja, Mbak Lia membuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Aku mengulurkan tangan untuk meraba celah basah di antara pahanya. Tapi ia menepis tanganku.

    “Hanya lidah, Jhony! OK?”

    Aku mengangguk. Dan dengan cepat membenamkan wajahku di G-string yang menutupi pangkal pahanya. Menggosok-gosokkan hidungku sambil menghirup aroma pandan itu sedalam-dalamnya. Mbak Lia terkejut sejenak, lalu ia tertawa manja sambil mengusap-usap rambutku.

    “Rupanya kau sudah tidak sabar ya, Jhony?” katanya sambil melingkarkan pahanya di leherku.

    “Hm..!”

    “Haus?”

    “Hm!”

    “Jawab, Jhony!” katanya sambil menyelipkan tangannya untuk mengangkat daguku. Aku menengadah.

    “Haus!” jawabku singkat.

    Tangan Mbak Lia bergerak melepaskan tali G-string yang terikat di kiri dan kanan pinggulnya. Aku terpana menatap keindahan dua buah bibir berwarna merah yang basah mengkilap. Sepasang bibir yang di bagian atasnya dihiasi tonjolan daging pembungkus clit yang berwarna pink. Aku termangu menatap keindahan yang terpampang persis di depan mataku.

    “Jangan diam saja. Jhony!” kata Mbak Lia sambil menekan bagian belakang kepalaku.

    “Hirup aromanya!” sambungnya sambil menekan kepalaku sehingga hidungku terselip di antara bibir kewanitaannya.

    Pahanya menjepit leherku sehingga aku tak dapat bergerak. Bibirku terjepit dan tertekan di antara dubur dan bagian bawah vaginanya. Karena harus bernafas, aku tak mempunyai pilihan kecuali menghirup udara dari celah bibir kewanitaannya. Hanya sedikit udara yang dapat kuhirup, sesak tetapi menyenangkan. Aku menghunjamkan hidungku lebih dalam lagi. Mbak Lia terpekik. Pinggulnya diangkat dan digosok-gosokkannya dengan liar hingga hidungku basah berlumuran tetes-tetes birahi yang mulai mengalir dari sumbernya. Aku mendengus. Mbak Lia menggelinjang dan kembali mengangkat pinggulnya. Kuhirup aroma kewanitaannya dalam-dalam, seolah vaginanya adalah nafas kehidupannku.

    “Fantastis!” kata Mbak Lia sambil mendorong kepalaku dengan lembut. Aku menengadah. Ia tersenyum menatap hidungku yang telah licin dan basah.

    “Enak ‘kan?” sambungnya sambil membelai ujung hidungku.

    “Segar!” Mbak Lia tertawa kecil.

    “Kau pandai memanjakanku, Jhony. Sekarang, kecup, jilat, dan hisap sepuas-puasmu. Tunjukkan bahwa kau memuja ini,” katanya sambil menyibakkan rambut-rambut ikal yang sebagian menutupi bibir kewanitaannya.

    “Jilat dan hisap dengan rakus. Tunjukkan bahwa kau memujanya. Tunjukkan rasa hausmu! Jangan ada setetes pun yang tersisa! Tunjukkan dengan rakus seolah ini adalah kesempatan pertama dan yang terakhir bagimu!”

    Aku terpengaruh dengan kata-katanya. Aku tak peduli walaupun ada nada perintah di setiap kalimat yang diucapkannya. Aku memang merasa sangat lapar dan haus untuk mereguk kelembutan dan kehangatan vaginanya. Kerongkonganku terasa panas dan kering. Aku merasa benar-benar haus dan ingin segera mendapatkan segumpal lendir yang akan dihadiahkannya untuk membasahi kerongkongannku. Lalu bibir kewanitaannya kukulum dan kuhisap agar semua kebasahan yang melekat di situ mengalir ke kerongkonganku. Kedua bibir kewanitaannya kuhisap-hisap bergantian.

    Kepala Mbak Lia terkulai di sandaran kursinya. Kaki kanannya melingkar menjepit leherku. Telapak kaki kirinya menginjak bahuku. Pinggulnya terangkat dan terhempas di kursi berulang kali. Sesekali pinggul itu berputar mengejar lidahku yang bergerak liar di dinding kewanitaannya. Ia merintih setiap kali lidahku menjilat clitnya. Nafasnya mengebu. Kadang-kadang ia memekik sambil menjambak rambutku.

    “Ooh, ooh, Jhony! Jhony!” Dan ketika clitnya kujepit di antara bibirku, lalu kuhisap dan permainkan dengan ujung lidahku, Mbak Lia merintih menyebut-nyebut namaku..

    “Jhony, nikmat sekali sayang.. Jhony! Ooh.. Jhony!”

    Ia menjadi liar. Telapak kakinya menghentak-hentak di bahu dan kepalaku. Paha kanannya sudah tidak melilit leherku. Kaki itu sekarang diangkat dan tertekuk di kursinya. Mengangkang. Telapaknya menginjak kursi. Sebagai gantinya, kedua tangan Mbak Lia menjambak rambutku. Menekan dan menggerak-gerakkan kepalaku sekehendak hatinya.

    “Jhony, julurkan lidahmuu! Hisap! Hisaap!”

    Aku menjulurkan lidah sedalam-dalamnya. Membenamkan wajahku di vaginanya. Dan mulai kurasakan kedutan-kedutan di bibir vaginanya, kedutan yang menghisap lidahku, mengundang agar masuk lebih dalam. Beberapa detik kemudian, lendir mulai terasa di ujung lidahku. Kuhisap seluruh vaginanya. Aku tak ingin ada setetes pun yang terbuang. Inilah hadiah yang kutunggu-tunggu. Hadiah yang dapat menyejukkan kerongkonganku yang kering. Kedua bibirku kubenamkan sedalam-dalamnya agar dapat langsung menghisap dari bibir vaginanya yang mungil.

    “Jhony! Hisap Jhony!”

    Aku tak tahu apakah rintihan Mbak Lia dapat terdengar dari luar ruang kerjanya. Seandainya rintihan itu terdengar pun, aku tak peduli. Aku hanya peduli dengan lendir yang dapat kuhisap dan kutelan. Lendir yang hanya segumpal kecil, hangat, kecut, yang mengalir membasahi kerongkonganku. Lendir yang langsung ditumpahkan dari vagina Mbak Lia, dari pinggul yang terangkat agar lidahku terhunjam dalam.

    “Oh, fantastis,” gumam Mbak Lia sambil menghenyakkan kembali pinggulnya ke atas kursinya.

    Ia menunduk dan mengusap-usap kedua belah pipiku. Tak lama kemudian, jari tangannya menengadahkan daguku. Sejenak aku berhenti menjilat-jilat sisa-sisa cairan di permukaan kewanitaannya.

    “Aku puas sekali, Jhony,” katanya. Kami saling menatap. Matanya berbinar-binar. Sayu. Ada kelembutan yang memancar dari bola matanya yang menatap sendu.

    “Jhony.”

    “Hm..”

    “Tatap mataku, Jhony.” Aku menatap bola matanya.

    “Jilat cairan yang tersisa sampai bersih”

    “Hm..” jawabku sambil mulai menjilati vaginanya.

    “Jangan menunduk, Jhony. Jilat sambil menatap mataku. Aku ingin melihat erotisme di bola matamu ketika menjilat-jilat vaginaku.”

    Aku menengadah untuk menatap matanya. Sambil melingkarkan kedua lenganku di pinggulnya, aku mulai menjilat dan menghisap kembali cairan lendir yang tersisa di lipatan-lipatan bibir kewanitaannya.

    “Kau memujaku, Jhony?”

    “Ya, aku memuja betismu, pahamu, dan di atas segalanya, yang ini.., muuah!” jawabku sambil mencium kewanitaannya dengan mesra sepenuh hati.

    Mbak Lia tersenyum manja sambil mengusap-usap rambutku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • NAFSU IBU INTAN BERTUBUH HOT

    NAFSU IBU INTAN BERTUBUH HOT


    1297 views

    Cerita Sex ini berjudulNAFSU IBU INTAN BERTUBUH HOTCerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Setelah kejadian hari itu besoknya jam 09 pagi Robby dengan hanya memakai celana dalamnya sedang tiduran santai di kamar kostnya yang tidak jauh dari Kampus UNDIP. Tubunya yang atletis itu ia biarkan terbuka dan tersiram oleh dinginnya AC. Robby saat itu sedang membaca sms yang baru diterimanya dari Bu Intan.

    Sayang, kamu nakal ya kemarin,demikian isi sms Bu Intan.
    Habis aku ngiler banget lihat Bu Intan dengan kebaya kemarin. Pas banget. Bu Intan semok banget, Bu, balas Robby.
    Masa sih say?tanya Bu Intan.
    Iya, Bu. Pengen banget aku meluk Bu Intan yang lama banget,Robby meneruskan rayuannya.
    Ibu tau kok nak Robby sering curicuri pandang selama ini sama ibu, sms Bu Intan.
    Iya, Bu. Aku udah lama emang suka liatin Bu Intan,balas Robby.
    Hmm, jadi nak Robby mau pacarin ibu iya? tanya Bu Intan.
    Iya, Bu. Aku kangen ama Bu Intan. Aku suka ama Bu Intan,balas Robby.
    Tau ga saynak Robby bikin ibu blingsatan lho kemarin,sms Bu Intan.
    Bu Intan!?tulis Robby dalam smsnya.
    Apa say.., balas Bu Intan.
    Aku pengen banget jumpa, Bu,sms Robby.
    Aku juga nak Robby,balas Bu Intan. Aku penasaran lho,Bu Intan melanjutkan smsnya.
    Aku juga, Bu. Aku pengen jumpa dan berduaan sama Bu Intan,rayu Robby dengan mantap.
    Aku juga sayang,jawab Bu Intan.
    Besok sore bisa ga, Bu?tanya Robby.
    Aku ga mau kalau sore. Aku maunya dari pagi sampai besok paginya,sms Bu Intan.

    Isi smsnya ini memang menunjukkan nafsu seksnya yang sangat besar terhadap pemuda itu.

    Ohh Bukapan?balas Robby.
    Pokoknya kalau sudah ada waktu nanti Ibu kasih tahu,jawab Bu Intan.
    Iya, Bu. Dari dulu sejak pertama lihat Bu Intan, aku selalu menghayal bisa ngentot sama Bu Intan,sms Robby.
    Ibu juga. Mata nakalmu bikin Ibu sering gatal pengen ngentot sama kamu say,balas Robby.
    Lalu Bu Intan melanjutkan lagi,Udah satu tahun ini Ibu ga pernah lagi main sama suami. Ibu gatel banget say,sms Bu Intan.
    Oh Bu. Aku pengen segera jumpa sama ibu,tulis Robby dalam smsnya.
    Iya sayang. Ibu juga udah pengen banget. Kemarin aja seandainya lagi ga ada acara ibu udah pengen ditidurin sama Dominoqq Online

    kamu. Apalagi pas pegang kontolmu yang besar dan panjang itu sayibu sange banget sebenarnya waktu itu say,

    Demikianlah smssms antara dua manusia yang memasuki lingkaran perselingkuhan itu. Dan ketika bersms itu, Bu Intan sama halnya dengan Robby sedang sendirian di kamarnya. Ia nyaris bugil karena nafsunya pada pemuda yang bernama Robby itu.Bu Intan hanya tinggal berdua suaminya di rumahnya, serta dua pembantu.

    Anak paling besar lakilaki sudah menikah dengan 1 anak tinggal di Yogyakarta, anaknya nomor dua Windya Ristanti menikah dengan kakak Ilham yang temannya Robby, sementara anaknya yang paling kecil perempuan, kuliah di UGM. Jadi ketika suaminya kerja, Bu Intan hanya ditemani pembantu.

    Dan ini membuat Bu Intan dan Robby saling memupuk fantasi birahi di antara mereka. Mereka dengan leluasa merayu dan dirayu melalui telepon atau sms.Bu Intan begitu rindubirahi dengan batang perkasa pemuda itu. Ia sudah pernah mengocoknya.

    Bahkan Bu Intan merasa jemarinya hampir tidak bisa melingkari batang kontol pemuda itu ketika kontol itu menegang maksimal. Dan Bu Intan sering sangek berat manakala membayangkan kontol Robby yang besar dan panjang itu mengeras dalam genggamannya.

    Dan itu sering membuatnya gelisah di ranjangnya. Ia sangat ingin kontol besar pemuda itu mengentoti memeknya yang sudah sangat gatal. Hayalnya membayangkan pertemuan kelamin mereka akan sangat menempel ketat karena besarnya kontol Robby. Ia sering membayangkan pinggul pemuda itu yang nampak kokoh bergerak naik turun di antara selangkanganya

    . Bu Intan berjanji dalam hati akan sepenuh perasaan menikmati entotan pemuda itu, ketika waktunya tiba. Bu Intan sangat yakin saat yang ia nanti tidak akan lama lagi. Nafsu seksualnya sangat menuntut untuk disalurkan sepuasnya.

    Beberapa hari kemudian Bu Intan langsung menyuruh pembantunya pulang kampung beberapa hari ketika suaminya, Pak Suriono Rusmanto, mengatakan akan mengikuti Diklat selama seminggu di Jakarta.

    Sayang besok siang jam 12 ke rumah iya,demikianlah pesan singkat Bu Intan pada Robby.
    Emang bapak kemana, Bu,tanya Robby dengan dada bergetar.
    Barusan berangkat ke Jakarta. Bapak ngikutin Diklat seminggu di sana,sms Bu Intan.
    Oh Iya Bu Intan sayang. Aku kangen Bu,
    Mmuuah,balas Bu Intan. Ohhhmmuuaahhhmmmuuaahhh.,demikianlah Robby semakin memanaskan suasana birahi wanita paruh baya itu.

    Esoknya dengan motor Tiger2000 miliknya, Robby memasuki gerbang rumah Bu Intan. Siang itu suasana sekitar rumah Bu Intan memang sepi. Di balik pintu yang terbuka sedikit itu, Robby bisa melihat Bu Intan sedang menunggunya masuk.

    Bu Intan memakai celana sangat pendek yang begitu ketat. Bahkan gundukan memek Bu Intan tercetak dengan jelas karena celana pendek tersebut terbuat dari bahan katun tipis. Di bagian atas Bu Intan memakai kemeja longgar yang bagain bawahnya nyaris menutupi seluruh celana pendek Bu Intan, sehingga Bu Intan sekilas seperti telanjang hanya memakai kemeja.

    Bu Intan dengan lenggok gemulai penuh birahi menyambut masuknya anak muda itu. Ia langsung meraih pinggang Robby dan merapatkan tubuh sintalnya ke tubuh pemuda itu. Bu Intan dengan gaya manja menengadah memandang wajah Robby. Bu Intan meraih tangan Robby lalu melingkarkan tangan tersebut agar merangkul pinggulnya.

    Ga kemanamana kan hari ini?tanya Bu Intan manja.
    Nggak Bu,jawab Robby dengan suara parau. Ia belum menguasai keadaan itu, akan tetapi telapak tangannya mengusapi pinggul Bu Intan.

    Mereka beriringan berjalan, dan kaki Bu Intan sepenuhnya menuntun langkahlangkah mereka dalam ruangan itu. Bu Intan lalu menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kamar yang terbuka. Ia memutar lalu menghadap Robby. Robby dengan lugas mengikuti setiap bahasa tubuh Bu Intan. Bu Intan memeluk tubuh Robby dan menyandarkan beban tubuhnya pada pemuda itu. Kedua tangannya bergerak melingkari leher Robby. Ia menatap mata Robby lalu tersenyum nakal.

    Muuahh,Bu Intan meruncingkan bibirnya dan mengecup manja ke arah mulut pemuda itu, tanpa menyentuh mulut itu.

    Dan detik itulah Robby mengambil alih suasana. Robby langsung mengetatkan remasannya pada pinggang Bu Intan. Lalu dengan tatapan nanar Robby membuka mulut. Dengan penuh gelora birahi, Bu Intan membuka memejamkan mata dan secercah bibirnya. Robby langsung mengulum bibir Bu Intan dengan sepenuh nafsunya. Bu Intan menyambut lumatan mulut Robby dengan megeluarkan lidahnya.

    Bu Intan dapat merasakan nafsu yang panas pada mulut, bibir, dan lidah pemuda itu. Dan dengan geliat bibir dan lidah yang sama panasnya Bu Intan menyambut semua itu sepenuh raganya.Bu Intan sangat ingin Robby tahu bahwa ia memiliki nafsu yang sama dengan dirinya.

    Ngmmmahhhmmccppppphhhh..nngghhh,mereka samasama mendesahkan hal yang sama ketika mulut mereka sejenak terlepas untuk mengambil nafas.

    Tapi hanya sejenak, karena mulut mereka kembali berpagut dan saling melahap. Bu Intan memutar kepalnya agar mulutnya bisa mendapatkan posisi yang pas untuk memaguti dan mengemuti semua bibir Robby. Robby begitu berdebar menyadari nafsu yang ditunjukkan Bu Intan, sehingga ia tidak ragu meremasi pantat Bu Intan yang bahenol. Robby meremasi pantat montok itu dengan ketat dan vulgar. Ia menekannekankan pantat Bu Intan agar kontolnya memperoleh gesekan yang nikmat.

    Mmmmcccpppahhhmmccppphh.mmmcccppphhhmmmhhhcccpp phhhnngggmmmcccpppmmmhhhBu Intan begitu menguasai aksi ciuman itu. Ia meruncingkan bibirnya dan mengecupi bibir Robby berkalikali.

    Lalu tangan kanan Robby bergerak ke atas. Ia menempatkan telapaknya di gundukan buah dada Bu Intan lalu perkahan meremasi buah dada itu. Robby begitu bernafsu ketika telapak tangannya bertemu dada yang sangat besar. Ia sadar buah dada Bu Intan memang besar. Dan masih padat. Walau terhalang kemeja, akan tetapi Robby betulbetul merasa puas meremasi dada itu.

    Nnnggmmmmhhhhssshhh,Bu Intan langsung mendengus ketika merasa dadanya diremas perlahan.

    Ia makin mengetatkan rangkulannya di leher Robby. Bu intan mengecapecapakan mulutnya di mulut Robby. Ia mencipoki bibir pemuda itu penuh nafsu. Kadang lidahnya terjulur keluar untuk menjilati mulut Robby.

    Ohhh,Bu Intan sejenak menengadah akibat nikmatnya remasanremasan Robby di buah dadanya. Lalu sejurus kemudian ia kembali memaguti bibir Robby.Nnngggmmmmccccpppsshhh,Bu Intan mendesah penuh birahi. Dominoqq Online

    Kali ini ia menarik tubuh Robby memasuki kamar yang terbuka. Dengan tubuh masih saling menempel ketat dan bibir saling pagut, Robby mendorong daun pintu untuk menutup. Setelah daun pintu tertutup, Bu Intan kembali mengarahkan langkah kaki mereka. Bu Intan lalu mendudukkan Robby di ranjang. Bu Intan berdiri, sementara Robby duduk di ranjang. Syahwat Bu Intan memang sangat liar, dan mereka sekarang bahkan berada di kamar yang biasa digunakan Bu Intan dan suaminya.

    Hayal liar Robby benarbenar jadi nyata. Kini ia duduk di ranjang, sementara itu Bu Intan berdiri di antara kedua pahanya yang terbuka. Robby langsung mengarahkan mulutnya ke perut Bu Intan. Ia menyibakkan kemeja longgar itu untuk melihat padat dan mulusnya perut Bu Intan. Robby mencucupi, menciumi, dan menjilati seluruh perut Bu Intan. Dengan bernafsu Robby menjilati dan memaguti kulit perut Bu Intan. Kedua tangan Robby mendekap pinggul Bu Intan. Kadang Robby meremasi pantat dan pinggul Bu Intan.

    Bu Intan benarbenar merasa dimanjakan dan dibutuhkan oleh aksi Robby. Ia kadang menggelinjang saat mulut Robby menelusuri perutnya dan pinggulnya. Kadang ia kegelian. Mata Bu Intan terpaku pada seluruh aksi Robby itu. Tangan Bu Intan meremas rambut Robby, dan kadang Bu Intan mendesakkan pinggulnya ke tubuh Robby. Nafsuy seks Bu Intan yang nakal membuatnya meraih pakaian Robby, ia melepaskan pakaian itu sekaligus dengan singlet sport yang menempel tubuh Robby. Kini tubuh bagian atas Robby telah telanjang.

    Mengetahui kenakalan syahwat Bu Intan itu, Robby makin liar menciumi dan menjilati perut dan pinggul Bu Intan. Robby lalu membalik tubuh Bu Intan dan melancarkan pagutan bibirnya di punggung Bu Intan. Bu Intan seketika menggelinjang.

    Nnnggghhhh.mmmhh.,Bu Intan mendesah.
    Ngggccppp.mmmmccppphhhh,Robby memuaskan hayal birahinya makin liar.

    Robby lalu menggerakkan tangan kanannya lalu menggapai batang paha Bu Intan yang kenyal dan padat itu. Robby merabai dan meremasi pangkal paha yang mulus itu. Bu Intan mendesir, ketika rabaan tangan Robby yang bergerak dari bawah ke atas sepanjang batang pahanya kadang secara nakal berhenti persis di selangkangannya. Robby lalau meneruskan rabaan itu secara ketat dengan menggeseki selangakangan Bu Intan.

    Nnngggkkhhhhhhhh.,Bu Intan hanya mendesis.

    Aksi kedua insan berbeda usia itu bagaikan sebuah gerakan lambat. Mereka nampaknya benarbenar menikmati setiap detik persentuhan itu.

    Robby benarbenar memuaskan birahinya. Ia membolakbalik tubuh Bu Intan yang sedang berdiri itu dengan menjilati sepanjang pertemuan celana pendek ketat Bu Intan dan kulit pinggulnya. Wangi tubuh Bu Intan semakin merasuki syahwat Robby. Tangan kirinya perlahan membuka kancing kemeja Bu Intan. Bu Intan membantu, dan kini Bu Intan telah telanjang tubuhnya di bagia atas. Hanya menyisakan BH putih menampung besarnya tetek Bu Intan.Nafsu seks Robby benarbenar meningkat.

    Nggmmhhaahhhh.mmcccppphhhmmmhhhccppp,Robby terus menciumi dan menjilati kulit mulus Bu Intan.

    Tangan Robby lalu bergerak lagi sambil menciumi pinggul Bu Intan. Robby menari celana pendek Bu Intan perlahan. Mulut Robby langsung menyergap setiap kulit terbuka ketika celana pendek Bu Intan mulai turun. Kahirnya celana pendek itu meluncur ke bawah.

    Nggghhh.oohhhhmmmcccppphhh.mmccpphhhooohh Bu. mmmhhhh mmmhhhohhh Bu mmmmcccppphhh mmmccpphh, Robby mendengus manakala akhirnya ia kini melihat celana dalam Bu Intan yang berwarna hitam.

    Robby langsung membuka mulut lalu memagut pinggul padat Bu Intan persisi di pertemuan celana dalam itu dengan kulit pinggul Bu Intan. Kedua tangan Robby kini masingmasing meraba dan meremas batang paha Bu Intan, dan menggelitiki paha itu.

    Mmmhhhmmhhhnnngghhh., Bu Intan mendesahdesah.

    Wajahnya tertunduk menyaksikan semua perbuatan anak muda itu di sekitar pinggul dan selangkanagnnya. Dan Bu Intan bisa melihat kulit mulusnya di sekitar pinggul kini telah dihiasi cupangancupangan merah. Rabaan dan remasan Robby di pahanya membuatnya nanar, ia mendesakkan pinggulnya ke tubuh pemuda itu sambil kedua tangannya meremasi secara ketat rambut hitam Robby.

    Robby perlahan membuka retsleting celananya. Ia secara cepat melepaskan celana jeansnya. Kini mereka hanya ditutupi celana dalam dan beha. Nafsu seks di antara mereka makin bergelora.

    Bu Intan lalu bergerak. Ia mengangkat kaki kanannya ke sisi tempat tidur. Robby menyambut kaki itu, lalu Robby meraih kedua pangkal paha Bu Intan. Bu Intan akhirnya duduk dalam pangkuan Robby. Bu Intan mengangkat satu lagi kakinya, dan ia kini duduk mengangkangi Robby. Mereka saling peluk dengan ketat. Wajah mereka sangat dekat. Mereka saling pandang dengan nanar, lalu kedua mulut mereka membuka dan medekat.

    Nnngggmmmhhhcccppphhh.,begitulah bunyi pertemuan mulut mereka. Dengan mata terpejam Bu Intan dan Robby saling memagut dan melumat. Lidah mereka meliukliuk member kepuasan pada hayal masingmasing.
    Mmmmcccppppmmmuuuhhmmccppphh,bunyi cipokan dan jilatan mengiringi ketatnya aksi kedua insan itu.

    Bu Intan merasakan memeknya bertemu dengan gumpalan daging yang hangat dan besar. Bu Intan menggerakkan pinggulnya menggesiki kontol Robby dengan memeknya. Walaupun mereka masing memakai celana dalam, gesekangesekan antara kontol dan memek itu begitu membuai nafsu. Bu Intan mendesakkan selangkangannya ke selangkanagn Robby. Robby membalas dengan menekankan kontolnya ke memek yang mulai membesar itu. Bu Intan begitu dilanda syahwat. Ia mengayunayunkan pinggulnya. Ia begitu merasa nikmat menggeseki memeknya dengan kontol Robby.

    Mulut mereka kadang terlepas, lalu melekat lagi seakan hendak mencari sesuatu di mulut yang lain. Bu Intan memutarmutarkan kepala untuk mendapatkan posisi yang enak melumat bibir Robby. Tangan Robby merabai dan meremasi seluruh tubuh Bu Intan. Bu Intan benarbenar terbakar nafsu.

    Nnngghhhooohhh sayangmmmhhhhoohhhh,akhirnya Bu Intan mendesah. Ia menengadah menikmati semua itu.

    Pada saat itulah Robby membuka mulut menciumi batang leher Bu Intan. Dengan bernafsu ia menjilati dan mengecupi leher Bu Intan. Tangannnya lalu bergerak menurunkan tali beha dari pundak Bu Intan. Lalu mulutnya menggilir kulit pundak Bu Intan yang mulus itu. Lidahnya menjilatjilat. Bu Intan makin melengkungkan tubuhnya. Tangan Robby bergerak lagi membuka kaitan beha di punggung Bu Intan, dan seketika mata Robby menyaksikan pemandangn yang membuat birahinya makin panas. Buah dada itu begitu besar dan mulus.

    Oooo Bu Intan..hhhmmmcccppphh,Robby mendengus lalu mulutnya mencaplok tetek Bu Intan. Mulut Robby langsung mengisap ujung tetek itu.
    Ohhhh sayang,Bu Intan mendesah manakala mulut Robby mencaplok buah dadaya.Ohhh sayanghisap sayang..ohhh sayangisap susu ibu sayangoohhh Robby sayangohhh,Bu Intan mengerang.
    Mmmmccppphhhmmmcpphh,Robby benarbenar memuaskan dirinya dengan mengecupi dan menjilat susu Bu Intan.

    Ia mengemut dan mengisap. Kedua bukit susu Bu Intan memerah dihisapi Robby. Kadang puting itu ia hisap dengan kuat, membuat Bu Intan menjeritjerit. Mulut Bu Intan lalu terbuka dan ia mencium kuping Robby dan mendesahkan nafsunya di kuping itu. Robby mendengar semua desahan tertahan yang dibisikkan Bu Intan di kupingnya.

    Oooohhh sayang..ia gitu sayangohh hisap sayangemut ujungnya sayang.aaaahhhoohhh Robbyohhhh sayanghisap sayanagohhhh sayang hisap susuku..ohhhohhhh Robby kamu suka susuku sayangmmmhhhhmmghhhh..oohhh Robby,

    Robby mengemut puting susu Bu Intan, ia menariknya lalu melepasnya. Ia mengemut lagi, menarik puting susu itu, lalu melepasnya. Robby berulang kali melakukan hal itu di tetek kirikanan Bu Intan. Bu Intan menyaksikan semua perlakuan itu. Ia begitu merasa dicintai, dikagumi, dan dibutuhkan. Bu Intan meremasi rambut Robby.

    Selangkangan mereka betulbetul menempel sangat erat. Bu Intan ingin Robby tahu bahwa ia benarbenar menginginkan pemuda itu. Di telinga Robby, Bu Intan membisikkan bahwa ia suka dengan Robby. Selagi mulutnya menjilat, mengisap, dan mengemuti susu yang besar itu, Robby mendengar semua bisikan penuh nafsu Bu Intan.

    Mmmmhhhhmmmhh..ooohhohhh Robbyohhh sayang enaknya susuku dihisapin gituaahh isapin tetek ibu sayangkamu suka tetek ibu kan sayang..jilatin susu ibu sayangmmmhhhooohhhh..iyah gituh sayang..oohhh.ohh jilatin sayangohh sayang enaknyaohhh hisapin susukuohh sayang, kamu daru dulu pengen sama tetek ibu kan sayang..ohhh Robbydari dulu kamu sering bayangin tetek ibu kanohh Robby, ibu juga dari dulu pengen begini sama kamu Robby..oohhh dari dulu ibu juga pengen tetek ibu dihisapin sama kamu sayang..ohh Robby, susu ibu besar yah..

    kamu suka susu ibu yang besar ini kan sayangohh sayang dari dulu kamu sering membayangkan susu ibu yang besar ini kanohh sayang emut putingnya sayang..yahyahh..gitu sayangoohh enaknya sayang.oohhh sayang enaknya susuku dihisap seperti ituohhh sedot sayang..ohh sedot tetek ibu sayang..ohhhooohhh Robby enaknya. Dominoqq Online

    ohh sayangemut yang kuat sayangohh enaknya..ohhh sayangohh enaknya susuku dihisapin gitu.ohhh cupangin semua sayang..ohh..sayangohh Robby cupangin tetek ibu sayang..ohhh..,Bu Intan tak hentihentinya mendesahkan nafsunya di telinga Robby.

    Robby begitu bergelora mendengar desah nafsu ibu setengah baya itu. Ia mencupangi seluruh permukaan susu Bu Intan yang besar itu. Tangannya meremas pangkal tetek Bu Intan dan mulutnya melekati ujung susu besar itu. Ia terpejam melakukan itu semua. Ia begitu menikmati penyaluran nafsu seksnya yang telah lama ia dambakan terhadap wanita paruh baya itu.

    Getaran nafsu yang luar biasa membuat Bu Intan akhirnya mendesakkan tubuhnya. Tubuh Robby terdorong menimpa kasur empuk itu. Robby terlentang. Bu Intan merangkak mengarahkan kedua susunya untuk kembali dijilati Robby. Dari bawah mulut Robby menyedoti dengan kuat puting susu itu. Kedua tangannya meremasi susu besar itu.

    Bu Intan merasa puting susunya begitu membengkak karena nafsu. Dan hisapan dan emutan mulut Robby membuat puting itu memerah. Bu Intan merasakan memeknya sangat gatal dan basah. Bu Intan saat itu merasa sangat ingin segera dientoti oleh pemuda itu. Ia begitu menginginkan anak muda itu segera menggaulinya. Tetapi ia ingin memuaskan fantasi anak muda itu yang ia tahu sering menghayalkan tubuhnya.

    Sayang, ke tengah sayang,ujar Bu Intan. Dan Robby segera bergerak ke tengah.

    Kini Robby telentang di tengahtengah ranjang. Kepalanya menyandar pada bantal di ujung kepala kasur itu. Bu Intan mendekatinya sambil merangkak. Lalu ketika sampai di sisi kiri tubuh Robby, Bu Intan menunduk lalu melumat mulut Robby penuh nafsu, hanya sejenak. Bu Intan lalu berdiri pada lutunya, tangannya lalu bergerak ke selangkangan Robby.

    Bu Intan melepas celana dalam Robby. Robby begitu terpana dengan aksi ibu setengah baya itu. Tangan kanan Bu Intan lalu meraih kontol Robby. Mata Bu Intan melekat pada kontol itu. Bu Intan meremas kontol Robby dengan gemas, lalu bu Intan pun mengocok kontol Robby.

    Jemari Bu Intan nyaris tidak sanggup melingkari batang kontol itu. Tangan istri Suriono Rusmanto itu bergerak mengocoki dengan perlahan kontol pemuda itu. Dari perlakuannya itu sangat jelas tergambar bahwa Bu Intan memang sudah lama memendam nafsu seksnya terhadap Robby.

    Bu Intan yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana dalam itu mengocoki kontol Robby penuh perasaan. Kemudian Bu Intan merebahkan tubuhnya merapat di sisi Robby, tangan kanannya masih mengocok kontol anakmuda itu.

    Kini mulut Bu Intan bergerak menciumi perut Robby. Bu Intan menunduk mencucupi, menjilati, dan memaguti kulit Robby mulai dari perut sampai dada. Di dada Robby, mulut Bu Intan membuka mulut lalu mengecup sebentar puting susu Robby sejenak lalu kemudian Bu Intan mengemuti puting susu itu penuh nafsu.

    Ohhh buoohh enaknya bu ohhnnngggghhhooohhhh enaknya kontolku dikocokin gitu buooohhhooohhh sayangooohhh Bu
    Intanooohh Bu Intan sayang.ooohhh kocok yang enak bu ohhh.nnnggghhhhssshhhaaaahhhhhssshhhhhhsssaaahhh h.oooh Bu Intan oohh oooohhh hisap putingku bu oohh.

    ooohhhssshhh iyahhhhhhssshhh ooohhh yahhh jilatin buooohhh enaknya,Robby mendengusdengus menahan nikmatnya jilatan dan emutan Bu Intan di putingnya, terutama kocokon tangan Bu Intan dikontolnya. Robby menggeliat menyaksikan semua aksi Bu Intan. Sementara Bu Intan semakin bernafsu mengemuti dan menciumi puting Robby, hal yang sama sekali belum pernah ia lakukan terhadap suaminya.

    Apalagi mendengar erangan penuh nafsu anak muda itu membuatnya makin suka. Bu Intan merasakan betapa batang kontol Robby yang dikocokinnya itu semakin kaku, semakain besar dan berdenyut.

    Bu Intan menggesek seluruh tubuhnya ke tubuh Robby. Ia semakin merapatkan tubuhnya. Syahwat Bu Intan semakin liar. Ia mengemut puting serta mengocoki kontol Robby dengan getaran tubuh yang panas.

    Ooohhhhh Bu Intan ooohhhhhssshhhhss,Robby makin mengerang saking menahan nafsunya.

    Mendengar itu, Bu Intan menyudahi emutannya di puting Robby. Tetapi tangannya tetap memegangi kontol Robby. Bu Intan mengangkat wajahnya. Ia tersenyum mesum pada Robby, matanya berkilat penuh birahi. Masih dalam keadaan berbaring di sisi Robby serta tangan yang meremasi kontol, mulut Bu Intan mendekati mulut Robby.

    Bu Intan membuka mulut lalu ia menciumi bibir Robby dan melumatnya. Robby balas mengeluarkan lidah dan menyedot lidah Bu Intan. Tetapi hanya sebentar, karena Bu Intan menarik mulutnya. Mulut Robby terbuka, mulut Bu Intan kembali mendekat. Mereka berciuman titpis saja, lalu Bu Intan menarik lagi bibirnya. Begitu terus sambil Robby merasakan enaknya kontolnya dikocokin Bu Intan.

    Nnngggmmhhhhh enak sayang?tanya Bu Intan.
    Ohh iya Bu. Enak Bu..,balas Robby.
    Ohhh sayang besarnya kontolmu ini. Ohh Robby sayang,Bu Intan memejamkan mata dan memagut mulut Robby.
    Ohh enak banget Bu kontolku dikocokin gitu,ujar Robby ketika bibir mereka kembali lepas.

    Bu Intan mendekatkan wajahnya semakin dekat, bibir dan hidung mereka bersentuhan tipis. Mereka saling pandang penuh nakal.

    Kamu dah lama pengen main sama ibu kan?tanya Bu Intan.
    Ohhh iya Bu Intan,jawab Robby.

    Ibu tahu kamu sering ngeliatin ibu dengan nafsu,ujar Bu Intan.Ibu tahu kamu sering curi pandang susu ibu kan?
    Kamu dari dulu pengen begini sama ibu kan sayangnnngggmmmhhhh..,ucap Bu Intan sambil memagut bibir Robby.

    Robby membalas dan kali ini ia tangannya bergerak. Ia meraih kepala pipi Bu Intan lalu menahan gerakan Bu Intan dan dengan begitu Robby secara rakus menjilati dan menciumi mulut wanita paruh baya itu. Bu Intan begitu suka dengan perlakuan itu.

    Oooo sayangkontolmu panjang sayangkontolmu keras banget Robbyohhh Robby ibu suka sama kontiolmu yang besar dan panjangoooohhh Robby ibu udah gatel banget sayangohh Robby sayang entotin ibu sekarang,Bu Intan menggeliatgeliat sambil menciumi bibir Robby.

    Ia lalu mendekap pipi Robby dan memberi isyarat agar Robby bangkit. Robby paham. Ia langsung bangkit dan kini Bu Intanlah yang telentang di kasur. Robby dengan tidak sabar bergerak ke selengakangan Bu Intan. Ia membuka paha Bu Intan, lalu menempatkan tubuhnya di antara paha yang terbuka itu. Ia memandangi celana dalam Bu Intan yang sudah basah. Ohhh memek ini busung banget, pikir Robby.

    Bu Intan melihat Robby menunduk dan kemudian ia merasakan celana dalamnya diciumi. Robby memang dengan bernafsu langsung menciumi celana dalam Bu Intan yang sangat merangsang dalam pandangannya itu. Robby membuka mulutnya melahap celana dalam itu.

    Bu Intan menaikkan pantatnya menyambut mulut Robby,Ooooohhhh sayangooohhh Robby buka celana dalam ibu sekarang sayang..oohhh sayang ibu pengen ngentot sekarang sayangooohhhibu udah sange banget sayang oohhh Robby entoti ibu sekarangnnhhhhnnnngggggssshhhhoohhh sayang entoti ibu sekarang,Bu Intan menggeliatgeliat dan menaikkan pinggul menggeseki mulut Robby.

    Robby yang memang sudah sangat bernafsu langsung membuka celana dalam Bu Intan. Dan ketika akhirnya celana dalam itu terbuka Robby bisa melihat lebatnya jembut Bu Intan. Memek Bu Intan yang montok membusung semakin merangsang Robby dengan adanya jembut yang lebat itu.

    Oooohhhh Bu Intan lebatnya jembutmu ohhh bu,ucap Robby lalu menunduk lagi dan menciumi memek Bu Intan.
    Ssssshhhhhhhnnnggggssshhh.,Bu Intan langsung mendesis bagai kucing ketika merasa kulit memeknya yang sensitif disentuh lidah Robby.

    Robby bergerak lagi menciumi pangkal paha bagian dalam Bu Intan. Ia mencupangui paha itu sampai memerah. Oooohhh Bu Intan memekmu tebal buohhh Bu Intanohhh Bu Intan memekmu montok banget Bu..ohhhssmmmmhhhhh,kembali Robby menjilati memek itu.

    Nnnnngggssshhhhhaaahhhhsshhh.aaahhh sayang entotin ibu sekarang sayangooohhhhhssshhhh.,Bu Intan kembali menggeliat mengangkat pinggulnya menyambut mulut Robby.

    Bu Intan merasakan lidah anak muda itu menjulur memasuki lobang memeknya. Ia merasakan mulut pemuda itu menciumi bibir memeknya yang sangat basah.

    Oooohhh sayangooohhhh sayangooohhh sayang,Bu Intan hanya bisa mendesah keeanakan. Dominoqq Online

    Akhirnya Robby menyudahi ciumannya di memek Bu Intan. Ia menempatkan posisi, lalu tangannya bergerak memegang kontolnya. Robby mengocok kontolnya sebentar, lalu kemudian ia mulai mengarahkan kepala kontolnya yang besar ke lobang memek Bu Intan. Robby mendorong sedikit dan ujung kontol itupun masuk sedikit ke lobang memek Bu Intan. Robby lalu bergerak menindih tubuh bugil Bu Intan.

    Bu Intan merasakan betapa kepala kontol yang besar itu mulai masuk sedikit ke lobang memeknya. Ia merasakan betapa kontol itu tegang dan besar. Bu Intan langsung menggerakkan kaki menjepit paha Robby. Ia merangkul bahu anak muda itu. Bu Intan memandang betapa warna birahi tergambar di wajah pemuda itu. Dan Bu Intan menyambutnya dengan memagut bibir Robby.

    Robby menempatkan siku di sisi kepala Bu Intan, lalu ia mulai menikmati kontolnya yang masih masuk sedikit itu. Robby mengocok lobang memek Bu Intan dengan kepala kontolnya saja. Dan itu membuat Bu Intan mendesahdesah merasakan nikmat.

    Oooooohhhhhsshhhhnnggghhhhmmmssshhh Robby ooohhhhssshhh,desahan Bu Intan begitu merangsang.

    Ia memejamkan mata menikmati kocokan kontol anak muda itu.

    Nnnnnggggsshhh sayangoohhh enaknya sayangooohhhh sayang oooohhhssss besarnya kontolmu sayang ooohhoohhh tekan lagi sayang..oohhh masukin terus kontolmu sayangooohhh sayang oooohhh Robby entoti lobang memek ibu ooo.,Bu Intan begitu penuh syahwat merasakan kontol muda yang sedang menggaulinya.

    Dan itu membuat fantasi seksnya makin liar.

    Oooohhh Bu Intan ohhhh enaknya ngentot sama Bu Intanoooh Bu Intan sayang ooohhhssshhssmmmhhh,Robby begitu bernafsu menggeluti dan mengocoki lobang memek ibu setengah baya itu dengan kepala kontolnya.

    Lalu Robby kembali menggerakkan pinggulnya mendorong. Robby menekan lalu kontolnya yang besar dan panjang itupun masuk semua.

    Bu Intan langsung membuka mata. Ia merasakan besarnya kontol pemuda itu. Bu Intan begitu terangsang dengan panjangnya kontol itu serta tegangnya batang kontol itu. Ia melihat Robby terpejam. Bu Intan lalu menciumi mulut Robby lalu berbisik di telinga Robby,

    Ooooohhhh sayang besarnya kontolmu sayangooohhh enaknyaohhhh kontolmu panjang sekali Robby sayang..ooohhh sayang..oohhh Robby enak banget memek ibu sayang ooohhhsss nnmmmsshhooohh entoti lobang memek ibu sayang oohhhmmmmhhhhssshhh ooohhh Robby, kamu dari dulu pengen ngentotin ibu kayak gini kan sayangoooohhh sayang besarnya kontolmu Robby ooohhhooohh kocok memekku sayang..

    ooohhh ibu suka ngentot sama kamu nak Robby ooosshhh.ooohh senggamai ibu sayang.oohh entotioohhh sayangenaknya ooohhh Robby sayang gauli ibu sayangoohhhh,Bu Intan semakin menuntaskan fantasi birahinya terhadap anak muda itu.

    Robby begitu menikmati mengentoti wanita paruh baya itu. Ia menaikturunkan pinggulnya. Kontolnya yang besar keluar masuk lobang memek Bu Intan.

    Robby begitu terangsang dengan kemontokan dan ketelanjangan Bu Intan yang sedang digenjotinya itu. Kadang ia teringat dengan Ilham temannya dan kepada Pak Suriono suami Bi Intan, akan tetapi justru itu membuat nafsu birahinya terhadap Bu Intan makin tak terbendung. Dengan penuh perasaan ia mengentoti wanita paruh baya itu.

    Ia menekan kontolnya dengan dalam sehingga ujung kontolnya masuk sangat dalam, dan membuat Bu Intan menggelinjang penuh syahwat birahi.

    Ooooogghhhsshhh sayangkontolmu masuk dalam banget sayangoohhh Robby panjangnya kontolmu sayangoohhh tekan lagi sayang..ooohhh iyah sayangiyah sayang..oohhh yah gituh sayangoohhh iyah sayang..

    oohhh dalam banget kontolmu masuk Robby oohhh panjangnya kontolmu sayang..iyah..oohhh kontolmu samapi mentok rahim ibu sayangohhh sayang ohhh sayang tekan lagi sayangohhh sayang tekan sedalmnya sayang biar kontolmu masuk mulut rahim ibu sayangoohhh iyah sayang.

    .ohhhh yah gituhhohhh Robby kontolmu masuk rahim ibu sayangohhhh sayang kepala kontolmu masuk sayangoohhh sayang besar sekali kepala kontolmu sayangohhhh Robby kepala kontolmu masuk ke rahim ibu sayang ooohhhhssshhmmmhhh..sshhhaahhh kepala kontolmu masuk sampai rahim ibu nak Robby ooohhhh

    enaknya sayangoohhhh enaknya kontolmuohhh enaknya kontolmuohhhoohhh entotin ibu sayangoohhh enaknya entotanmu Robbyoohhh ebaknya entotanmu sayangoohhh Robby sayang..ibu keenakan sayangoohhh lobang memek ibu keeanakan sayangohhhh sayangooohhhsssmmmhh,

    Bu Intan begitu bernafsu dengan ukuran kontol Robby yang keluar masuk lobang memeknya. Bu Intan semakain menjepitkan kakinya ke paha Robby dan ia mendesakkan pinggulnya keatas menerima entotanentotan Robby. Bu Intan begitu bernafsu dengan kontol pemuda itu. Bu Intan sangat ingin setiap tusukan kontol Robby langsung memasuki rahimnya. Ia begitu gatal dan penuh birahi.

    Oooohhhh Bu Intan sayangenaknya menggauli tubuhmu Bu Intanohhh enaknya kontolku masuk memek Bu Intanooongggggsshhh aaahhhsss oohh Bu Intan enaknya lobang memekmu Buooohhh Bu Intanoooo Bu Intan rasanya kontolku masuk dalam banget bu.ooohhh enaknya mengentoti memekmu buoohhh Bu Intan sayangoohhh sayangooohhh sayangoohh bu aku keenakan buaku suka ngentot sama ibuoohhh,Robby juga memuaskan fantasi seksnya terhadap Bu Intan yang selama ini menggoda hayalnya.

    Oooohhhgghhsshhooohhh iyah sayangoh ibu juga suka ngentot sama kamu sayangibu bisa ketagihan ngentot sama kamu sayang..ohhh kontolmu besar sayang..ohhh sayang kontolmu panjang sayang..ohhh enaknya kontolmu.. ibu bisa ketagihan sayangooo.

    hhhhohh tekan lagi sayangoooggsshhh sayangku Robby oooohh .aaaaacccchhhsssshhhenaknya entotanmuoooouuugghhh sayang kontolmu mentok rahimku sayangoooghh sayang masuki rahim ibu sayangohhh enaknyaohhh enaknya.oooohhhgghhhsshh enaknya kontolmu,Bu Intan mendesakkan tubuhnya ke tubuh Robby untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih.

    Selangkangan mereka kadang melekat erat. Pangkal batang kontol Robby sampai mentok dengan selangkangan Bu Intan. Kadang mereka saling memompa dengan cepat. Mereka saling menggenjot penuh birahi. Robby mendesakkan pinggulnya ke selangkangan Bu Intan. Ia begitu bernafsu menggagahi wanita paruh baya itu. Mereka kadang memiliki rasa hayal yang sama saat itu.

    Di mana mereka melakukan perselingkuhan yang penuh mesum itu di rumah Bu Intan, bahkan di ranjang yang biasa digunakan oleh Bu Intan dan suaminya Suriono Rusmanto. Dan itu semua hanya membuat hayal syahwat kedua insan berbeda usia itu makin bergelora dan nakal.

    Oooohhh sayangenaknya ngentot sama kamuohhh Robby ibu suka kontolmu sayang..iyah sayang..oohh iyahh sayangoohh iyah gituh sayangooohh entoti terus lobang memekku..oooghhh sayang enaknya entotanmuoohhh sayangku Robbyoooohhhooohhhooohhh ooohhh ooohhh ooohhhaaacccghhh sayang sebentar lagi ibu mau kelura sayang..

    ooohhh emtoti yang kuat sayang ooohh pompa memek ibuooohhh yahhh sayangoohh Robby oohh gagahi ibu sayangooocchhh sebnetar lagi sayangooohhh ooohhh ooohhhsss. Ooohhh ooohhh,Bu Intan makin merapatkan pinggulnya untuk mendapatkan tusukantusukan kontol Robby yang paling dalam.

    Oooohhhhh sayangku Bu Intanoohhh enaknya ngentoti memekmu buooohhh enaknyabu ooohhh Bu Intan lobang memekmu enak,Robby makin mempercepat entotannya.

    Ia makin mendesakkan pinggulnya ke selangkangan Bu Intan yang begitu terbuka.Ooooghh Bu Intan aku juga mau keluar buoohhh enak banget buoohggg enaknya kontolku bu,

    Ooohhhggg sayang entot yang dalam sayang.tusuk yang dalam sayangyahh masukin kontol panjangmu lebih dalam lagi sayang biar enak sayang oohgghhhhsshh..oogghh besarnya kontolmu Robbyohhgg makin tegang sayangoohgg kontolmu makin besar sayang.sayangku Robby tekan kontolmu lebih dalam sayang.oogghh masukin kontolmu makin dalam ke rahim ibu sayang

    Oohhh sayangku tekan kontolmu biar masuk rahim ibu sayangohhh yahhoohh yah oohh yahhh gituhh sayangohhhh sayangkumasukin rahimku sayangoohhh sayang keluarin spermamu sayangoogghh yahh sayang oohh masukin spermamu dalam rahim ibu sayangoohhh tekan lebih dalam sayang biar spermamu masuk rahim ibu sayangoohgggoosshh yah sayangkuoohhh yahh sayang.

    oohhh keluarin manimu sayangoohh sayang keluarin spermamu dalam rahimku sayangoogghh sayang ooohhssshhhss entotin lobang memek ibu sayangoohhsshhh Robby sayang keluarin spermamu yang banyak dalam rahim ibu sayang..ohhh sayang keluarin spermamu yang banyak sayangoohhggg Robby oohhh Robby sayang. Dominoqq Online

    keluarin spermamu yang banyak ke dalam rahim ibu sayang biar ibu hamil sayangooohhgggg sayangku Robby..ohhh sayangku Robby ibu pengen hamil oleh spermamu sayangoohhh yah entotin terus memek ibu sayangooohhh Robby ibu pengen hamil oleh kontolmu sayang

    Oohhh keluarin spermamu yang banyak dalam rahim ibu sayang biar ibu hamilooohh ibu masih bisa hamil sayangoohhh Robby sayang hamili ibu sayangoohhh sayang entot ibu samapai hamil sayangoohhh Robby hamili ibu sayangkamu pengen ibu hamil kan sayangooohhhsssmmmhh kamu pengen ngenotin ibu sampai hamil kan sayangoohhh oohhh keluarin manimu yang banyak dalam rahimku sayangooohhh Robby sayang hamili ibuaahhh hamili ibu sayangentoti ibu samapai hamil,

    Robby semakin liar menggenjot tubuh Bu Intan. Hayalnya benarbenar terpuaskan. Robby memang sering berhayal bisa ngentotin Bu Intan sampai ibu paruh baya itu hamil. Ia semakin menggoyangkan pinngulnya. Ujung kontolnya semakin gatal. Robby menusukkan kontolnya dengan tusukan yang dalam. Dan akhirnya ia merasa akan mengeluarkan spermanya.

    Ohhh Bu Intan aku mau keluarooooooooooooooooohhhhhhh sayangku Bu Intanaaacchhh ooohhh Bu Intan aku keluar sayang.ohhh spermaku lagi banyak buoohhh Bu Intan kuhamili kau Buoohhh Bu Intan aku keluaroohh Bu Intan ini spermaku sayangooooooooooooohhh ooooggghhhh sayang akan kubuntingin kau buoooooooooooooogghhh.,Robby menekan kontolnya sedalamdalamnya sambil mengerang.

    Selangkangan mereka menempel begitu ketat. Gerakangerakan ritmis dan otomastis mengiringi menempelnya kedua pinggul mereka. Gerakangerakan ritmis itu menandakan kedua kelamin mereka sedang memompakan sperma masingmasing. Bu Intan begitu puas oleh persetubuhan itu. Tangannya dan kakainya mendekap kuat pinggul dan pantat Robby.

    Bu Intan sangat ingin kontol pemuda itu masuk makin dalam ke rahimnya. Dan Bu Intan merasakan kepala kontol anak muda itu memasuki rahimnya dan ia merasakan kontol yang besar dan panjang itu berdenyutdenyut. Bu Intan merasakan kontol itu menggangukangguk dalam lobang rahimnya menyemprotkan sperma yang begitu banyak memasuki rahimnya. Bu Intan tidak tahu mengapa ia begitu ingin dihamili oleh Robby.

    Bu Intan mendesah setelah persetubuhan nikmat itu. Ia berbisik di telinga Robby, Ohhh sayang, spermamu banyak banget masuk rahim ibu. Oh sayang ibu bisa hamil sayangooogghhh sayangku Robby, ibu pengen banget hamil oleh kontolmu ini sayang,

    Nafas Robby menderuderu. Persetubuhan dengan Bu Intan yang bertubuh montok semok dan merangsang itu betulbetul menimbulkan nikmat yang luar biasa. Dan kini nafasnya dan nafas Bu Intan bagai bersahutansahutan.

    Robby mengangkat wajahnya, dan memandangi wajah wanita paruh baya itu. Lalu ia melumat bibir Bu Intan dan berbisk,

    Aku juga pengen ibu hamil. Ohhgghhh Bu Intan, sejak pertama kali bertemu ibu, aku sudah pengen banget menghamilimu bu..,desah Robby.
    Aku juga sayang. Sejak pertama kali jumpa sama kamu, ibu tahu kamu pengen ngentot sama ibu. Matamu yang sering curi pandang sama ibu membuat ibu tahu kamu pengen banget ngentotin ibu, dan ibu tahu kamu pengen mengahamili ibummmmhhhh,Bu Intan membalas dengan mengecup bibir Robby.

    Mereka bergelut sepanjang hari hingga malam Berkalikali Robby menyetubuhi Bu Intan Berkalikali Bu Intan merasakan rahimmnya disembur terusmenerus oleh mani Robby yang hangat dan kental Kontol Robby yang besar dan panjang benarbenar memuaskan dahaga liarnya yang binal Ia begitu meresapi tusukantusukan kontol besar dan panjang Robby di lobang memeknya Ia merasa kembali hidup penuh gairah Robby begitu merasakan kepuasan seksual yang penuh ketika menggagahi wanita paruh baya itu..

    bahkan mengetahui Bu Intan adalah istri orang semakin menggelorakan nafsu seksnya Ia begitu bernafsu setiap kali menggenjoti tubuh Bu Intan Dan ia selalu menghentakkan pinggulnya, menusuk sangat dalam ke lobang memek Bu Intan ketika kontolnya menyemprotkan mani ke dalam rahim Bu Intan.. Dan itu semua benarbenar memuaskan fantasi seksnya

    Sesudah permainan seks yang liar itu mereka sekali seminggu berjumpa di sebuah hotel. Dalam jangka waktu itu Bu Intan pernah merayu suaminya dengan gaya yang palsu Ia mengajak suaminya bersetubuh Bu Intan berbisik di telinga suaminya: Aku ingin punya anak lagi Dan setelah persetubuhan, Bu Intan ke kamar mandi membuang semua sperma suaminya.

    Dua setengah bulan setelah persetubuhan pertama, Bu Intan dan Robby kembali bergelut di ranjang sebuah hotel Di akhir persetubuhan Bu Intan menciumi leher dan telinga Robby, dan berbisik:Oh sayangaku hamil Aku mengandung anakmu..,

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Semua Gara-gara Gelang Kaki

    Semua Gara-gara Gelang Kaki


    1765 views


    SINOPSIS Cerita Ngentot ABG:

    Irzan digoda oleh Wida, kakak teman sekolahnya. Sampai kesabarannya habis…

    Story codes

    MF, 1st, cheat, Fdom

    DISCLAIMER Cerita Ngentot ABG:

    Perawan – Cerita ngentot ABG ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca oleh mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.

    Semua tokoh dalam cerita ngentot ABG  ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.

    Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.

    Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu. Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan.

    Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ngentot abg ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

    Diadaptasi dari beberapa sumber lain. Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda? Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com. Selamat membaca.

    Gelang Kaki

    Ninja Gaijin


    Cerita Ngentot ABG – Semua Gara-gara Gelang Kaki

    Apakah kalau cewek pakai gelang kaki, artinya cewek tersebut nakal? Gelang di pergelangan kaki Wida menarik perhatiannya dari tadi. Dia teringat obrolan teman-temannya di dalam kelas beberapa waktu lalu. Katanya kalau cewek sudah nikah tapi pakai gelang kaki di kanan itu artinya swinger. Yang lain tidak tahu apa arti swinger. Jadi teman yang bilang pertama kali menjelaskan, swinger itu artinya sudah nikah tapi mau gituan sama orang lain. Tukaran suami/istri. Anak-anak SMA itu sebagian melongo, sebagian lagi tertawa-tawa nakal. Dari dalam mobil itu, pemandangan terlihat gelap keruh karena kaca filmnya sangat gelap. Kalau ada orang lewat, dia tidak akan bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Tapi di tempat parkir yang sepi itu orang jarang lewat. Cuma ada dia dan Wida di dalam mobil. Wida membaca SMS yang masuk ke ponsel yang dipegang tangan kanannya. “Suamiku nanya kapan pulang. Aku jawab sebentar lagi. Kalau kamu sebentar lagi apa masih lama…”

    “…crotnya?”

    Dia mengenal Wida sebagai sosok perempuan high class, jadi mendengar Wida berbicara seperti pelacur murahan membuat penisnya yang dipegang tangan kiri Wida jadi makin keras. Wida mulai mengocoknya lebih cepat sambil menaruh HP. Dia melihat kilatan cincin kawin di tangan kanan Wida. Dia mengulurkan tangan, mau menyentuh tubuh Wida, tapi Wida menampar tangan itu.

    “Aku bilang kan tadi, jangan pegang-pegang…” kata Wida.

    Wida berhenti mengocok, membungkuk, membuka bibir merahnya, menjulurkan lidah. Setitik mani di lubang di kepala burung dijilatnya.

    “Kalau berani coba pegang lagi…” Wida menggenggam lagi HP-nya, “aku telpon suamiku, terus kubilang aku mau diperkosa sama kamu. Suamiku kenal polisi, dan tau kamu itu siapa. Ngerti, Irzan?”

    Dia, Irzan, menjawab dengan anggukan. Biarpun laki-laki, sebagai anak SMA wibawanya kalah dengan perempuan ini. Baru kali ini dia merasa terangsang sekaligus gentar.

    “Bagus,” kata Wida dengan puas sambil mulai mengocok lagi. “Kamu baru boleh nyentuh aku kalau kusuruh.” Dia lalu mengangkat tangan kanan ke depan mulut, memonyongkan sepasang bibirnya yang merah basah, dan meludah ke telapak tangannya. “Cuh!” Wida kembali mengocok penis Irzan. Terdengar bunyi becek dan Irzan merasa ada tekanan yang mulai terbentuk di dalam buah pelirnya. Dan dia cuma bisa bengong. Bengong melihat Wida memasturbasinya dengan tangan dan mulut Wida yang dekat sekali dari kejantanannya. Dan bibir indah itu pindah ke atas penisnya…

    Wida menjilat lagi mani yang menitik. Sambil terus mengocok.

    “Kita nggak punya banyak waktu, sebentar lagi Faisal datang ke sini. Jadi aku mau tanya langsung. Kamu mau masukin kontolmu ke dalam mulutku nggak?”

    Irzan kaget mendengar santainya Wida menanyakan itu. Dia menjawab terbata-bata, “I-i-iya.”

    Tampaknya Wida suka jawaban itu. Dia bangkit dan mendekatkan bibirnya ke telinga Irzan. Irzan merasakan nafas hangat Wida di telinganya selagi Wida berkata nakal, “Itu yang kamu bayangin ya Irzan? Kalau kamu ke rumahku buat ketemu Faisal? Pengen kusentuh kayak gini? Kontolmu dikocokin?” Irzan mengangguk, memang itu yang ada di dalam pikirannya sejak dia pertama kali bertemu kakak temannya itu. Wida adalah kakaknya Faisal, teman sekolahnya. Masih muda, baru 27.

    “Kamu pengen aku tempelin bibirku ke titit kamu? Pengen aku nelen batang kamu?” desis Wida di telinga Irzan.

    Lagi-lagi Irzan cuma bisa mengangguk.

    “Jawab yang benar, Irzan!” perintah Wida.

    “Iya!” sembur Irzan.

    “Iya apa?”

    “Iya… Kak Wida, tolong isep kontolku!”

    “Bagus. Gitu dong kalo jadi cowok, tegas, bilang apa yang dimauin. Satu lagi pertanyaannya. Jam berapa sekarang?”

    “Heh? Kok nanya waktu?” Irzan bingung tapi dia otomatis berusaha mencari jawabannya. Di mobil pasti ada jam digital. Dia menengok ke arah jam digital di dashboard lalu membaca angka-angka di sana.

    “Jam setengah tigGAAAHH!??”

    Wida tak menunggu jawaban dan langsung melahap kemaluan Irzan yang sedang membaca jam. Irzan menjerit kaget dan langsung menoleh ke bawah. Dan dia melihat pemandangan paling menakjubkan sepanjang hidupnya. Kepala penisnya dijepit bibir merah seksi Wida. Wida melepasnya lagi dan meninggalkan bekas lipstik di sana. Lalu Wida memasukkannya lagi dalam mulut, kali ini sampai setengah batang. Bibirnya mencengkeram erat lalu mulutnya mundur lagi. Hasilnya adalah noda merah seputar batang basah Irzan.

    “Mmmh… enak nggak Irzan?” Wida bertanya sambil menatap Irzan. Jawabannya anggukan. Wida kembali ke bawah dan kali ini mengenyot salah satu buah pelir Irzan. Disedot lalu dilepas seperti diludahkan. Kembali lipstiknya tertinggal di sana. Lalu Wida mulai menjilati seluruh permukaan batang Irzan. Tangannya menggenggam pangkal batang itu dan dia mulai menyepong. Bibirnya masih merah menyala, turun menyusuri batang, makin lama makin dekat dengan pangkal. Jarinya yang menggenggam pangkal batang ternoda merah ketika bertemu bibir itu. Di jari yang lain, cincin kawin tampak berkilat menyilaukan mata Irzan. Kepala Wida naik turun memberi kenikmatan. Irzan jadi berpikir macam-macam. Posisinya benar-benar rawan. Celananya terbuka, dan kakak temannya sedang menyepong kemaluannya. Apa yang bakal terjadi kalau ada orang yang memergoki? Tapi Irzan juga merasa dia makin tak tahan. Birahinya sudah mau meluap. Dia sedikit lagi muncrat dalam mulut Wida, dan tidak ada lagi yang dipikirkannya! Dia mulai mendesah tak karuan.

    “Agh… aah… Ungh… Ga… Tahaan!”

    Dan tiba-tiba Wida meremas penisnya yang sudah mau menembak itu!

    “Mau apa kamu, Irzan??” tantangnya.

    “NGHH!! KAK!! MAU!! CROT!!” Irzan meracau karena sudah lepas kendali.

    “Ayo crot di dalam mulutku Irzan! Crot-in mukaku! Bikin aku mandi peju!” Lalu Wida menyepong dengan ganasnya. Dia memasukkan seluruh batang itu ke mulutnya, lalu naik turun dengan cepat”

    “Aym crof ff dalmf! Crfin knfolm!” Kata-kata Wida tak kedengaran jelas lagi karena dia berusaha ngomong dengan mulut penuh.

    “Ah! Ahh!! Kak! Aku! GA TAHANNN! DI DALAM!!” Mendadak gelora kenikmatan melanda dan Irzan merasakan senjatanya mulai menembak gencar di dalam mulut Wida. Seluruh tubuh Irzan sampai melengkung dan mengejang ketika semburan demi semburan memancar kuat. Wida sepertinya menelan semuanya.

    “NGGHHHAAA!!” jerit Irzan.

    Wida mencengkeram pantat Irzan dan malah mendesakkan penis Irzan lebih jauh ke mulutnya. Semburan peju Irzan sepertinya terlalu banyak dan Wida tak cukup cepat menelannya, sehingga sebagiannya mengalir keluar. Wida lalu malah melepas kemaluan Irzan dari mulutnya dan mengocoki batang yang sedang menembak-nembak itu sambil menyemangati.

    “Ya! Ayo crot lagi! Mandiin aku pake peju!”

    Dan dua semburan berikutnya mendarat di wajahnya, lalu di rambutnya. Akhirnya semburan-semburan itu reda dan Wida menjilati sisa-sisa yang mengalir di batang Irzan. Cipratan peju ada di mana-mana, di wajah dan tangan Wida, termasuk di atas cincin kawinnya. Sesudah lega mengeluarkan simpanannya, Irzan menengok ke arah jam lagi. 15.00. Jam tiga! Dan Faisal sudah terlihat berjalan ke arah mobil bersama beberapa teman lain! Tapi Wida lebih gesit bertindak.

    “Ayo cepat pakai lagi celananya!” perintahnya, selagi dia sendiri menyambar tisu dan menyeka wajah. “Kalau sudah, cepat keluar!”

    Irzan buru-buru keluar dan bersembunyi. Tak lama kemudian Faisal, adik Wida, teman sekelasnya, sampai ke mobil Wida. Dari tempat persembunyiannya di balik semak, Irzan melihat Wida sudah bertingkah normal lagi. Dia melihat mobil itu pergi membawa Wida dan Faisal, lalu dia sendiri berjalan pulang. Di jalan, HP Irzan berbunyi. SMS. Dari Wida.

    “wiken ini jangan kemana2. jangan coli.”

    Irzan menelan ludah.

    *****

    Mundur sedikit ke belakang dalam waktu.

    Wida sebenarnya memang rada eksibisionis, jadi ketika Faisal adiknya mulai sering membawa teman-teman sekolahnya ke rumah, sisi eksibisionisnya terpancing. Meski belum tua-tua amat, Wida amat memperhatikan tubuhnya dan selalu merawat kecantikannya. Bukan demi suami; lebih karena dia sendiri menyukai kekaguman orang terhadap dirinya. Suatu hari, ketika teman-teman Faisal sedang ada di rumah, kebetulan Wida yang sedang hanya memakai kaos tanktop dan celana pendek mendekati mereka untuk menyuguhkan cemilan. Penampilannya itu membuat anak-anak SMA itu terdiam dari obrolan mereka dan melongo. Ketika Wida membungkuk untuk menaruh cemilan, dia melihat seorang teman Faisal yang berada di depannya tidak bisa tidak menatap dengan penuh nafsu ke arah buah dadanya yang menggantung di balik baju. Perempuan normal mestinya kaget dan marah tapi Wida merasa sesuatu yang beda. Dia malah berlama-lama membungkuk, memberi tontonan gratis kepada remaja itu. Dan dia memperhatikan, tanpa sadar tangan teman Faisal itu bergerak menyentuh selangkangan celananya sendiri. Sesudah selesai, Wida kembali ke kamarnya, mendapati kemaluannya basah karena terangsang, lalu bermasturbasi sampai orgasme. Teman Faisal itu adalah Irzan. Dan pengalaman pertama itu membuat Wida kecanduan, sehingga selanjutnya dia sering sengaja pamer tubuh kepada teman-teman Faisal. Suaminya biasanya tak di rumah ketika siang, jadi dia leluasa beraksi. Tiap dia melihat atau mendengar teman-teman Irzan sudah datang dan meramaikan rumah, cairan kewanitaannya terpancing mengalir. Lalu dia pun akan menuju lemari baju, memilih satu baju seksi yang mengumbar belahan dadanya atau paha mulusnya atau bagian lain tubuhnya. Tak lupa memakai make-up untuk menambah daya tariknya. Dan dia kemudian bakal mencari-cari alasan untuk berjalan ke tengah mereka, entah itu membawakan cemilan, minum, mengambil HP yang kebetulan ada di tempat mereka duduk, bicara dengan Faisal, atau semacamnya. Dia menikmati ketika ekspresi wajah mereka berubah mesum, lalu mereka terdiam malu-malu karena tak bisa menghindar dari memelototi keseksiannya.

    Sekali waktu, Wida berada di kamar saja, tidak menghampiri teman-teman Faisal. Tapi dia telanjang, duduk di depan meja rias dekat pintu, dan sengaja membuka pintu. Sebenarnya posisi pintu kamarnya tidak dekat dengan ruang tengah tempat Faisal dan teman-temannya biasa duduk, tapi kalau ada yang mau ke kamar mandi, pasti akan melewati pintu kamar Wida. Dari beberapa orang yang perlu ke kamar mandi, satu cukup iseng untuk mengintip ke celah pintu yang terbuka dan mendapat rezeki nomplok melihat tubuh telanjang Wida. Lagi-lagi, dia Irzan. Cukup lama Irzan berdiri termangu di depan pintu terbuka sampai Wida menengok ke arahnya, memergoki. Irzan yang ketahuan buru-buru kembali ke depan, diiringi tawa cekikikan puas Wida. Sesudahnya Wida menghampiri mereka dengan bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa, tapi dia sengaja memandangi Irzan dan melempar senyum mesum. Irzan serba salah. Malamnya Wida bercinta dengan suaminya sambil membayangkan teman-teman Faisal berdiri di seputar tempat tidur, menonton. Itu membuat dia orgasme duluan sebelum suaminya. Besok-besoknya, dia sempat menceletuk kepada teman-teman Faisal, terutama Irzan, bahwa dia sudah menganggap mereka adik-adiknya sendiri dan mereka “boleh mampir kapan saja” dan dia senang “bisa menghibur mereka”. Kata-kata bersayap, jaring yang ditebar. Mereka semua menyambut baik keramahan Wida itu. Tapi yang menanggapi serius hanya satu, Irzan.

    *****

    Kejadiannya dimulai pada suatu siang, ketika Irzan datang sendirian membawa sepeda motor ke rumah Faisal. Kebetulan Faisal pergi bersama teman-teman lain, tapi Irzan tidak tahu. Jadi dia hanya bertemu Wida.

    “Faisal barusan jalan main futsal sama yang lain,” kata Wida. “Mau nyusul?”“Nggak ah Kak, lagi males,” kata Irzan. “Yaudah, aku mau pulang aja ya.”

    “Eeeh tunggu, Irzan,” Wida menahan Irzan. “Kamu bawa motor kan? Kakak mau minta tolong boleh?”

    “Boleh Kak. Ada perlu apa nih?” Irzan sumringah.

    “Kakak sebenarnya mau ke salon, mau facial, tapi malas nyetir ke sana. Gimana kalau kamu yang nganterin Kakak ke sana pake motor?”

    “Apa sih yang ga bisa buat Kakak,” Irzan menggombal.

    “Kalau gitu tunggu sebentar ya.” Wida masuk kamar sebentar untuk bersiap, lalu keluar lagi.

    Dia mengenakan tanktop gombrong hitam dan celana pendek, lalu memakai jaket. Wajahnya tak dirias dan rambutnya digerai biasa. Lalu dia naik ke boncengan motor Irzan dan mereka berangkat. Sepanjang jalan Irzan tidak konsentrasi karena hidungnya diserang wangi tubuh dan parfum Wida yang terus merapat ke tubuhnya. Apalagi Wida tak segan-segan merangkul Irzan. Wida bilang Faisal baru mau pulang sore. Masih lama. Main futsal minimal 2 jam, belum istirahat makan-minum dan nongkrongnya. Dan Irzan terbuai nada suara Wida yang genit menggoda. Sampai di salon, Wida kemudian bertanya ke Irzan.

    “Mau pulang… apa kamu mau nungguin Kakak?”

    “…Aku tungguin aja deh kak, ga ada acara juga siang ini.”

    “Kamu baik deh. Nanti Kakak kasih hadiah~!” celetuk Wida genit sambil memasuki salon.

    Saat itu juga Irzan memperhatikan gelang kaki yang bergemerincing di pergelangan Wida.

    *****

    Salon yang didatangi Wida itu bukan salon kecil murahan. Menengah atas. Mungkin perawatan di sana bernilai ratusan ribu rupiah, pikir Irzan. Tidak heran, keluarga Faisal dan Wida tergolong mampu. Satu jam kemudian Wida keluar dari salon. Wajahnya kemerahan, bekas facial.

    “Lama ya nunggunya? Ayo kita pulang,” ajak Wida.

    Sepanjang perjalanan pulang, Irzan kembali merasa Wida merangkul erat tubuhnya. Dan rangkulannya… di perut. Seiring berjalannya motor, makin lama makin turun. Irzan terangsang dan ereksi. Mungkin Wida juga menyadari itu. Sesampainya di rumah, Wida meminta Irzan jangan langsung pergi. Faisal dan teman-teman yang lain belum muncul.

    “Ada yang mau Kakak tanya, tapi tunggu sebentar ya? Duduk aja dulu.”

    Irzan kemudian duduk sendirian di ruang tengah rumah besar itu, sementara Wida menghilang ke kamarnya. Tak lama kemudian Wida kembali lagi membawa beberapa barang tipis.

    “Kamu tahu ini apa kan?” Wida duduk di sebelah Irzan dan menunjukkan beberapa DVD yang sampulnya bergambar perempuan seksi.

    “Ehm… iya?” Irzan bingung.

    “Ini Kakak sita dari Faisal. Tapi dia bilang ini punya temannya. Punya kamu bukan?”

    “Bukan… Ga tau punya siapa. Punya Putra atau Endi kali’?” kata Irzan. “Yang paling suka beginian tuh anak dua.”

    “Udah mulai nakal ya kalian… Emangnya apa sih yang ditonton dari filem kayak gini? Kakak pengen tau. Ayo kita lihat.”

    “Hah? Eh tapi Kak Wida…”

    Koleksi Cerita Ngentot ABG | Sebelum Irzan bereaksi, Wida sudah menyalakan DVD player dan memasukkan salah satu DVD porno itu. Sebenarnya DVD itu bukan diambil dari Faisal, melainkan koleksi Wida dan suaminya. Wida memang mau mengerjai Irzan. Irzan mau bangun untuk pergi, tapi Wida memegangi lengannya. Jadilah dia terpaksa ikut menyaksikan. Irzan sendiri belum pernah melihat film porno yang sedang tayang di layar TV itu, walaupun dia sudah familiar dengan materi pornografi.

    “Waah, ternyata kalian sukanya yang kayak gini yaa… Yang ceweknya lebih tua?”

    Film yang ditayangkan memang berskenario seperti itu, aktris pornonya berperan sebagai ibu rumah tangga yang menggoda teman anaknya. Meski tidak muda, si aktris tetap tampak glamor dan seksi dengan rambut pirang, kalung mutiara, bra berenda, dan lipstik pink tebal. Dan Irzan baru memperhatikan bahwa bibir Wida sudah bersaput lipstik pink juga. Di TV, bibir berwarna sama sedang mengulum penis. Irzan merasa kemaluannya sendiri mengeras dan… digerayangi.

    “Hmmm…” gumam Wida. “Kok ini jadi keras…? Gara-gara nonton itu ya?”

    “Uhhh… Kak…” Irzan tidak berani berbuat apa-apa ketika Wida membuka resleting celananya.

    Tangan Wida terus beraksi menurunkan celana dalamnya dan akhirnya kulit bertemu kulit, tangan bertemu batang. Irzan seperti kesetrum ketika merasakan itu. Elusan tangan Wida menggodanya.

    “Dasar cowok… Zan, kamu pernah coli nggak~?” tanya Wida nakal.

    “Ngh… per… nah…” Irzan menjawab sambil menahan nafsu. Wida terus menggodanya.

    “Kalau dicoli’in?”

    “Be… bel… lum…”

    Tayangan film porno menampilkan si aktris menerima ejakulasi lawan mainnya di wajah.

    “Kamu lihat kan… tuh dia dicoli’in sama ibunya temennya… Tante-tante aja bisa bikin ngaceng kayak gitu… Kamu ngaceng juga ngelihat dia?…”

    Irzan sudah meracau tak jelas.

    “Kamu ngaceng ngelihat aku?”

    “NGHHH!!” Jawabannya adalah semburan mani yang hebat dari kejantanan Irzan.

    Irzan jelas merasa keenakan dengan orgasme itu. Sekaligus bingung dan sedikit takut. Tapi yang terlihat lebih puas adalah Wida.

    “Iihh. Banyak dan kentel peju kamu. Pasti udah lama gak crot.”

    Irzan cuma melongo bego. Wida memain-mainkan cairan kental yang mengotori jarinya itu, bahkan menjilatnya.

    “Enak?” tanya Wida.

    “Iiyah,” jawab Irzan pendek.

    “Mau lagi?”

    “…” Irzan tidak berani menjawab yang itu.

    “Kalau kamu mau lagi, mulai sekarang kamu harus ikut apa kata Kakak ya. Sekarang… cepat pulang. Faisal pasti sebentar lagi datang. Ayo sana!”

    Irzan buru-buru membetulkan pakaiannya dan bergegas keluar. Wida mengantarnya keluar dengan senyum nakal.

    ######

    Sesudah itu, Irzan dan Wida beberapa kali lagi bertemu berduaan saja, paling sering di rumah Wida sendiri, kalau sedang tak ada orang. Irzan sendiri tetap nongkrong bareng Faisal dan Wida tetap kadang tampil di depan mereka, tapi tidak ada yang tahu hubungan mereka. Yang dilakukan tetap sebatas Wida memasturbasi Irzan, dengan tangan, dan satu kali dengan kaki. Adegan di atas, pada waktu Wida mau menjemput Faisal dengan mobil dan Irzan menemuinya, adalah pertama kalinya Wida memberi oral seks kepada Irzan. Mereka berdua belum pernah berhubungan seks biasa. Walaupun Irzan penasaran dan dia sudah berkali-kali digoda oleh Wida, kakak temannya itu selalu membuatnya tak berdaya dan tak mampu meminta lebih. Namun lama-lama Irzan gemas juga. Makin hari dia makin ingin melampiaskan nafsunya kepada perempuan penggoda itu.

    *****

    Kejadiannya pada suatu siang. Irzan bersimbah keringat dingin. Di depannya, Wida akhirnya berhenti meronta dan telentang pasrah. Pergelangan tangannya terikat, wajahnya terlihat gentar.

    “Kamu kenapa gini, Zan… Kenapa kamu giniin Kakak?” tanya Wida.

    Saat itu kakak teman Irzan itu mengenakan babydoll tipis. Irzan mengangkang di atas paha Wida yang terbaring di ranjangnya.

    “Kenapa? Kakak ga pernah berhenti godain aku… Aku sudah ga tahan!” seru Irzan gusar.

    Tangannya menjamah payudara kanan Wida dan meremasnya. “Sekarang Kakak ga bisa ngelarang aku lagi…”

    Tadi, ketika dia baru datang, seperti biasa Wida menggoda dan mempermainkannya… tapi kali ini muncul keberaniannya untuk melawan dan meringkus Wida. Irzan lebih besar dan kuat, jadi tidak sulit untuknya. Dia juga menemukan tali yang dipakainya mengikat kedua pergelangan tangan Wida ke ranjang.

    “Sekarang kita main semauku,” kata Irzan dingin.

    Dia menyingkap baju Wida, mengungkap sepasang payudaranya. Lalu dia sendiri memelorotkan celana dan memamerkan penis ereksinya di depan mata Wida yang melotot.

    “Ayo Kak. Kakak suka kontolku kan?” suruh Irzan. Dia merangsek maju, mencengkeram kepala Wida, dan memaksa Wida mengoral kemaluannya.

    “Ah? Afhmmm!!” keluh Wida yang tiba-tiba mesti melahap rudal.

    “Sekarang ayo isep kontolku! Enak kan Kak? Enak?” seru Irzan, puas.

    “Ahpf! Nn!!” Mata Wida sampai berkaca-kaca karena kasarnya sodokan Irzan.

    Tiba-tiba Wida merasa jari-jari Irzan merambah kemaluannya. Mereka berdua cukup sering nonton film porno bersama sehingga Irzan sekarang tahu berbagai macam aksi seks.

    “Kakak dientot bibirnya kok memeknya basah? Suka ya dibegini’in?” tuduh Irzan. “Kalau gitu pasti suka minum peju juga kan? HnghhH!!”

    Penis Irzan meledak dalam mulut Wida, menyemburkan cairan peju. Sampai tumpah sebagian keluar, barulah Irzan menarik keluar kejantanannya dari sana.

    “Ehh… Auh…” Wida mengambil nafas.

    Tapi Irzan belum puas, dia melihat ada satu lagi tempat untuk melampiaskan nafsunya.

    “Kak Wida,” kata Irzan, “Yang di bawah itu pengen dimasukin juga ya?”

    Dia menarik Wida supaya berposisi duduk lalu pindah ke belakang Wida. Dia sudah cukup sering disuruh-suruh Wida dan dia ingin membalas. Kini tangan kanannya merogoh ke selangkangan Wida dan mencubiti klitoris Wida. Tangan satunya lagi memegangi ikatan tangan Wida agar tak menghalangi.

    “Kalau Kak Wida mau, ayo bilang. Bilang Kak Wida pengen.

    “Oh! Ooh! Ihh!” Wida mengerang-erang keenakan karena klitorisnya dimainkan.

    “Mauuhh… ihh… uhh…” pinta Wida.

    “Bilang yang jelas… Yang keras!” perintah Irzan.

    “Masukin… masukin kontolmu ke memek Kakak…” kata Wida.

    Cerita Ngentot ABG | Irzan langsung mendorong Wida sehingga berposisi nungging. Di belakang pantat yang menggoda itu Irzan menahan nafas, memegangi penisnya yang keras… Dia sudah cukup sering menonton di film, sekarang dia akan mencobanya sendiri. Zrepp…Irzan merasakan hangat basahnya liang kewanitaan Wida untuk pertama kali. Perempuan itu merintih-rintih ditusuk kejantanan Irzan dari belakang, dan Irzan memasukinya makin dalam sampai tak bisa maju lagi. Lalu dia mulai menggenjot.

    “Ahn! Ah! Enak…!” Wida jelas-jelas menikmati perlakuan Irzan, biarpun sebenarnya dia dipaksa oleh Irzan. “Dalem banget… zan! Enakh…! Ah!”

    “Kakak suka kan?! Ngentot sama aku enak kan!” kata Irzan dengan gemas sambil dia menancap-nancapkan senjatanya ke liang kenikmatan itu.

    “Ahh! Iyaa! Suka! Suka kontol Irzaann!” Wida sudah menyerahkan tubuhnya untuk diapakan saja oleh teman adiknya itu. “Enak! Nghh! Aduh ga tahan! Mau… mauu…”

    “AA~HHH!!” Jerit panjang Wida dan tubuhnya yang menegang karena orgasme lalu bergetar mengagetkan Irzan, yang kemudian kehilangan kendali juga dan ikut berorgasme di dalam vagina Wida.

    *****

    “Hmm!” Wida yang bangkit lebih awal sesudah keduanya ambruk kelelahan, wajahnya terlihat ceria. Irzan bingung.

    “Hihihi, nggak kira kamu bisa kasar juga akhirnya! Tau nggak, enak tuh dientot paksa kayak tadi. Pancinganku berhasil juga,” kata Wida. Irzan bengong. Rupanya selama ini Wida memancing-mancing dia supaya dia tak tahan dan berbuat kelewatan.

    “Kapan-kapan kamu harus bisa ganas seperti tadi ya Zan?” kata Wida sambil mencium pipi Irzan dengan genit.

    Irzan cuma bisa melengos. Pada akhirnya dia tetap jadi mainan…

  • Cerita Bokep – Selingkuh Istri Montok dan Ponakan Cabul

    Cerita Bokep – Selingkuh Istri Montok dan Ponakan Cabul


    1556 views

    Perawanku – maksud serta maksud semuanya saya katakan supaya bisa jadikan pegangan serta rujukan buat kebanyakan orang yang membacanya, agar peristiwa yang kualami tidak berlangsung pada orang yang lain, selain hal itu supaya makin terlepas dari sisa beban batin yang mungkin saja masih tetap berada di diriku.

    Peristiwanya memanglah tidak disangka serta tidak direncanakan. Awalannya cuma sedikit salah pengertian pada saya serta istriku. Dari kesalah-pahaman itu, saya sedikit terasa sakit hati serta waktu itu saya coba tidak untuk ingin bertegur sapa dengan istriku. Hal tersebut saya kerjakan, karna awalannya saya menginginkan menggoda hingga di mana ketahanan nafsu sex istriku apabila tidak kusentuh sepanjang satu minggu. Karna perlu untuk diketahui pembaca, kalau istriku serta saya biasanya tiga hari sekali teratur lakukan senggama serta itu semuanya biasanya selesai dengan cucuran kesenangan. Memanglah sampai kini kami berdua senantiasa beragam dalam lakukan hubungan sex, serta kami terasa tidak alami problem dalam soal yang satu ini.

    Sebelumnya kulanjutkan Carita ini, kuceritakan dahulu tentang keluargaku. Di rumahku tinggal saya (36 th., asal pulau Pariwisata), istriku Ayu (nama panggilan istriku sesuai sama orangnya) yang cantik molek, kulit kuning langsat karna turunan dari kota kembang, rambut lurus hitam lebat serta ini sama juga dengan bulu kemaluannya yang hitam serta lebat, umurnya baru 34 th. serta hidung mancung, lantas ada dua orang lelaki sekali lagi yang tinggal di rumahku, yakni Dani, anakku yang baru berusia tiga th. serta Wisne (25 th.) keponakanku yang awalannya numpang tinggal karna kepentingan mencari kerja serta sekarang ini tak akan tinggal di rumahku karna sudah saya suruh pulang karna menyangkut perselingkuhan dengan istriku.

    Jadi sesudah sepanjang tiga hari saya coba menggoda benteng ketahanan istriku lewat cara tidak bertegur sapa serta tidak memberi keperluan biologisnya, ada bagian beda yang saya dapat nikmati, yakni saya lihat perubahan tingkah dari istriku, perilaku yang serba salah, tidur tidak tenang serta banyak sekali lagi beberapa hal yang terlebih dulu tidak sempat saya saksikan. Hal semacam ini tak tahu karna saya yang memberi ekstra perhatian dengan sembunyi-sembunyi atau memanglah karna akibatnya karena kondisi konflik pada saya serta istriku.

    Satu malam, kulihat jam menunjuk di angka sembilan malam, waktu itu hari ke-6 saya membisu, saya berniat pura-pura tidur duluan serta saya percaya istriku tidak lama tentu menyusul masuk kamar seperti umumnya. Pada jam-jam segitu, biasanya kami masih tetap nonton TV dengan di ruangan keluarga termasuk Wisne keponakanku. Sesungguhnya saya sendiri belum juga ngantuk namun saya cuma menginginkan tahu perilaku istriku saja. Sebagian menit saya pura-pura telah tidur dengan sedikit keluarkan nada dengkur serta tampak bayang-bayang (karna gunakan lampu tidur) waktu itu istriku sulit tidur. Serta saya hampir tidak yakin dengan apa yang saya saksikan kalau istriku memainkan tangannya di selangkangannya sendiri. Awalannya cuma tangannya yang tampak bergerak, digesek-gesek naik turun dengan irama yang teratur namun sesudah sebagian waktu lalu, kulihat istriku melepas CD-nya serta pergerakan tangannya makin tidak teratur disertai nafas yang makin ngos-ngosan. Darahku berdesir serta nyaris saya tidak dapat menahan nafsuku sendiri saat lihat istriku terengah-engah karna nikmat yang dibuatnya sendiri. Namun saya tetaplah pada pendirianku awal mulanya, saya beberapa seakan masih tetap sakit hati serta tidak ingin bertegur sapa, jadi waktu itu saya cuma nikmati tingkah sensual istriku.

    Dua hari selanjutnya, saya kerjakan hal yang sama, yakni sekitaran jam sembilan saya masuk kamar. Sebagian menit saya tunggulah, istriku tidak masuk kamar seperti umumnya serta saya berniat menanti reaksi setelah itu karna saya sendiri belum juga terasa mengantuk. Sekitaran 1/2 jam, istriku belum juga masuk juga, namun saya sayup-sayup mendengar istriku bicara dengan seorang. Serta sebagian waktu lalu, istriku masuk kamar namun hanya sesaat serta lalu keluar sekali lagi dengan tutup pintu dengan perlahan-lahan tidak seperti umumnya, Istri selingkuh dengan keponakan mungkin saja disangkanya saya telah tertidur nyenyak ketika istriku masuk kamar. Saya makin menginginkan tahu, apa yang juga akan dikerjakan istriku setelah itu serta bebarapa menit lalu, saya mendengar pintu kamar samping, yakni kamar Wisne keponakanku ditutup, namun nada TV masih tetap menyala. Saya fikir keponakanku pergi tidur serta istriku masih tetap nonton TV sendiri. Sekitaran lima belas menit, saya menginginkan lihat apa yang dikerjakan istriku lewat cara naik diatas kursi lihat lewat jendela ventilasi, namun di sekitar ruang keluarga tidak tampak seseorang juga, cuma TV yang menyala, lantas saya ajukan pertanyaan dalam hati kemana perginya istriku, mungkinkah ke kamar mandi, namun sayup-sayup kudengar ada bebrapa nada yang sedikit mencurigakan.

    Cerita Bokep – Dalam hati saya berfikir, mungkinkah istriku masturbasi di kamar mandi. Karna makin penasaran, jadi dengan perlahan-lahan, saya keluar kamar serta bergerak ala detektif mencari asal nada yang mencurigakan itu. Nyaris saya tidak yakin, datangnya nada dari kamar keponakanku. Karna di luar sangkaanku, saya mesti melakukan tindakan cepat untuk ketahui apa yang dikerjakan istriku di kamar keponakanku sendiri, hatiku berdebar-debar serta saya sadar tidak bisa asal-asalan dalam melakukan tindakan, jadi dengan perlahan-lahan kuambil kursi untuk lihat tengah apa mereka di kamar keponakanku. Astaga apa yang kulihat, istriku tengah berciuman mesra dengan Wisne, nyaris saya segera mendobrak pintu kamar keponakanku, namun saya gemetar bercampur rasa penasaran serta ada perasaan unik sendiri demikian lihat istriku bergumul serta bermesraan dengan orang yang lain, hingga kuputuskan untuk mengintip perselingkuhan yang dikerjakan istriku. Sesungguhnya ada rasa menginginkan geram serta cemburu, namun di bagian beda, ada perasaan beda yang buat saya berdebar-debar menginginkan melihat.

    Kulihat mereka masih tetap ciuman sembari bertumpu pada dinding, tangan kanan istriku sudah merogoh batang kejantanan Wisne yang masih tetap gunakan celana pendek serta tangan tangan Wisne meremas-remas buah dada istriku yang masih tetap gunakan daster. Jantungku makin berdebar serta tidak merasa saya turut terangsang karna sampai kini saya juga menahan nafsuku. Tampak keduanya begitu bernafsu, terlebih istriku. Sembari tangan kanan tetaplah meremas serta mengocok batang kemaluan Wisne, tangan kirinya melepas kancing dasternya serta dalam sebagian waktu, dasternya turun ke lantai, tengah tangan Wisne tampak berupaya buka kaitan BH istriku, lantas mulut Wisne berpindah ke puting susu istriku. Tampak istriku menggeliat keenakan. Serta tangan istriku tidak ketinggal, buka kancing celana Wisne serta segera melorotkan CD Wisne. Tampak batang kemaluan Wisne sudah tegak dengan gagahnya, besar serta panjangnya nyaris sama juga dengan punyaku, cuma miliki Wisne agak sedikit bengkok ke atas serta agak lebih kuning dari punyaku, mungkin saja karna dia masih tetap perjaka serta belum juga sempat diasah.

    Serta sesudah kedua-duanya telanjang bulat, mereka berubah ke arah ranjang serta sembari masih tetap berciuman, istriku direbahkan dengan kaki masih tetap di lantai.
    Terdengar nada permintaan istriku pada Wisne, “Wisne cepat masukan barangmu.. cepaat..! ”
    Mereka tampak tergesa-gesa. Karna sangat lebatnya bulu kemaluan istriku, batang kejantanan Wisne tidak dapat segera masuk, serta tangan Wisne tampak menyibakkan bulu-bulu kemaluan istriku. Batang kejantanannya digesek-gesekkan menginginkan masuk, namun tampak agak sulit. Perlu untuk diketahui, istriku waktu melahirkan Dani lewat cara operasi caesar, jadi sampai sekarang ini, lubang senggama istriku masih tetap normal serta sempit.
    Karna agak alami kendala memasukkan batang kejantanannya, lantas istriku sedikit buka selangkangannya serta, “Bless.. ” masuklah kepala batang kejantanan Wisne.
    Muka Wisne tampak nyengir kegelian yang nikmat serta dengan daya tekan ke depan batang keperkasaan Wisne amblass ke liang senggama istriku.

    “Ohh.. ohh.. ” keluh kesenangan istriku.
    Dengan tempat tubuh istriku rebah di ranjang serta kaki sedikit diangkat serta ke-2 tangan istriku dirangkulkan di leher Wisne, tengah Wisne sendiri dengan tempat berdiri serta tangannya bertopang pada ranjang, tampak mereka nikmati kocokkan-kocokkan yang dibuatnya. Cuma sebagian waktu, kocokkan batang kemaluan Wisne makin cepat serta tampak mata Wisne meram melek serta istriku memprotesnya.
    “Jangan dahulu Wis.. janganlah dahulu.. Saya belum juga apa-apa Wis.. ” pinta istriku.
    Serta terdengar nada rintihan nikmat Wisne, “Ehh.. eeh.. creet.. cruutt.. ”
    Mungkin saja karna belum juga memiliki pengalaman, dia tidak dapat mengendaliakan senjatanya serta dalam hati, saya bersukur kalau istriku tidak memperoleh kesenangan dari Wisne dengan keinginan nanti minta dilanjutkan denganku, suaminya.

    Kulihat istriku memukul-mukul pundak Wisne.
    “Kamu ini bagaimana sich..? Baru sebagian menit telah keluar.. Saya belum juga apa-apa.. ” kata istriku.
    Wisne sembari ngos-ngosan menjawab, “Maaf Tante, Wisne belum juga pengalaman.. ”
    Wisne merebahkan diri kemampuanng di ranjang, batang kejantanannya makin mengendor, lunglai basah kuyup karena kombinasi cairan spermanya serta lendir dari liang senggama istriku. Tampak istriku ambil kain untuk bersihkan kemaluannya dari semprotan serta tetesan sperma Wisne serta dilanjutkan bersihkan batang kemaluan Wisne. Kupikir selesailah adegan ranjang mereka.

    Nyatanya dengan kelihaian istriku dan nafsu yang masih tetap belum juga terlampiaskan, batang kejantanan Wisne diusap-usap, dielus serta dikocok-kocok lembut oleh tangan lentik istriku. Pada akhirnya tampak mulai mengembang sekali lagi batang keperkasaan Wisne. Umumnya saya bila habis main dengan istriku, batang kejantananku tidak dapat bangun sekali lagi, mungkin saja karna tempo permainan yang sangat lama serta umumnya istriku segera terkulai lemas sama dengan saya yang setelah itu tertidur lelap.

    Saat ini batang keperkasaan Wisne tegak menantang kembali serta istriku tidak menyia-nyiakan peluang ini. Dengan tempat Wisne tetaplah kemampuanng, istriku mengatur tempat jongkok, persis diatas batang keperjakaan Wisne. Automatis, dalam hal semacam ini, istriku yang bertindak. Tangan kanannya memegang batang keperkasaan Wisne serta membimbing masuk ke lubang kemaluannya. Setelah itu, istriku bergerak naik turun. Tampak pantatnya yang kuning mulus berayun selaras dengan pergerakannya.
    Dalam sebagian menit, terdengar rengekkan nikmat istriku, “Ooohh.. oohh.. oohh.. oohh.. ”
    Istriku melenguh nikmat serta kocokannya makin kencang serta, “Ooohh.. oohh.. oohh.. ” makin panjang lengkuhannya.
    “Ooohh.. Wisne.., Saya ingin keluar Wis.. Ooohh.. ”
    Batang keperkasaan Wisne menancap semuanya, amblas serta yang tampak cuma butir-butir kemaluan Wisne. Istriku terkulai lemas diatas dada Wisne. Hal tersebut dilewatkan saja oleh Wisne, jadi ke-2 tangan Wisne meremas-remas pantat istriku.

    Narasi Dewasa – Sebagian menit lalu, Wisne berupaya membalikkan tempat. Istriku ditelentangkan serta Wisne bertukaran jongkok pas diatas liang senggama istriku. Lubang kemaluan istriku tampak mengkilap karna lendir yang dikeluarkannya. Dengan perlahan-lahan, Wisne mulai memompa naik turun serta pinggul istriku turut menggoyang ke arah kiri serta kanan.
    “Ooohh.. oohh.. ” sangat terpaksa batang kemaluanku kukocok sendiri karna tidak tahan lihat adegan panas istriku.
    Kocokan Wisne kesempatan ini lama sekali, tidak berhenti-berhenti serta terdengar istriku minta dipercepat pergerakan mengocoknya batang keperkasaan Wisne.
    “Teruuss.. teruuss.. cepat kocok selalu Wis.., cepat sekali lagi Wis..! ” hingga terdengar nada kocokan batang kejantanan Wisne di liang senggama istriku, “Pleekk.. pleekk.. pleekk.. ”
    Wisne mulai melenguh sekali lagi, “Ohh.. eehh.. oohh.. eehh.. ”
    Istriku tidak ketinggal, juga turut mendesah, “eehh.. eehh.. eehh.. eehh.. teruuss..! terruuss..! Saya ingin keluar sekali lagi Wiiss..! Ooohh.. ”

    Wisne menghimpit batang kemaluannya kuat-kuat di lubang kemaluan istriku karna ke-2 tangan istriku merangkul pantat Wisne untuk diutamakan ke arahnya. Saya fikir, Wisne juga telah keluar jadi batang kemaluanku kukocok selalu sampai spermaku muncrat juga.
    “Ooohh.. creett.. crett.. ”
    Sebagian menit lalu, terdengar istriku bicara pada Wisne, “Cabut dahulu kontolmu Wis..! ”
    Wisne mencabut batang kemaluannya dari jepitan liang senggama istriku. Istriku berbalik tengkurap, ingin apa sekali lagi mereka. Nyatanya kejantanan Wisne masih tetap terangsang berat.
    “Masukkan sekali lagi kontolmu Wis.. cepaatt..! ” pinta istriku sekali lagi.
    Agak sedikit berjongkok, dimasukkan sekali lagi ke liang senggama istriku.
    “Ooohh.. ” terdengar istriku menikmatinya, “Wis.. merasa tentang dinding rahimku, Wis..! ”

    Wisne mulai bergerak maju mundur mengaduk-aduk kemaluan istriku lagi
    “Ooohh.. enaknya memek Tante.., oohh enak sekali bila begini Tante.. makin enak Tante.. ”
    Istriku menikmatinya, “Teruuss.. kocok teruuss Wis..! Saya rasakan kontolmu makin enak saja Wis..! Teruuss.. Wis.. teruss..! ”
    Makin Wisne memperoleh angin fresh, jadi dikuatkan kocokkannya serta, “Plookk.. plookk.. plookk.. cleepp.. cleepp.. plookk.. oohh.. oohh.. nikmat Tante. Memek Tante makin hangeett Tante, oohh.., plokk.. plookk.. cleepp.. plookk.. cleepp.. oohh, Wisne ingin keluar Tante.. oohh.. oohh.. Creett.. creett.. cruutt.. ”

  • Galery Foto Model Pamer Body Seksi – Foto Bugil Hot Terbaru 2018

    Galery Foto Model Pamer Body Seksi – Foto Bugil Hot Terbaru 2018


    2852 views

    Perawanku – Bila kamu selama ini selalu mengidam-ngidamkan bisa menjamah cewek seperti dalam foto bugil cewek cantik ini, maka sekarang adalah saatnya untuk melepaskan sesuatu yang tertunda tersebut. Segera persiapkan tisu atau lotionmu karena cewek cantik bugil ini akan membuat agan tak tahan pengen coli. Tak percaya? Coba deh kamu lihat sendiri pada foto bugil cewek cantik yang sedang Berfose Sexy di dalam hotel ini.

     

  • Cerita Sex Perawatanku Untuk Om Hery – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Perawatanku Untuk Om Hery – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1604 views

    Perawanku – Perkenalkan namaku Caca, saat ini usiaku 27 tahun, aku bekerja disalah satu perusahaan telekomunikasi. Aku akan menceritakan kejadian yang aku alami sekitar 5 tahun yang lalu waktu aku masih kuliah ke dalam cerita seks terbaru kurelakan perawanku padanya.

    Waktu itu usiaku baru 22 tahun, dan aku masih kuliah dikota B. Karena aku bukan asli kota B maka aku terpaksa ngekos. Setelah aku mencari informasi dari kawan-kawan yang baru aku kenal dikampus, aku dikasih tau tempat kos-kosan yang katanya bebas dan nyaman. Dan segeralah aku menuju tempat kos-kosan itu. sesampainya disana aku aku melihat sebuah rumah besar, terlihat juga muda-mudi seusiaanku keluar masuk kos-kosan tersebut.

    Setelah aku bertanya salah seorang perempuan yang hendak keluar kos, aku diajak masuk dan diantarkan ketemu sama yang punya kos. Sampai didalam kos aku disuruh menunggu sejenak, dan tak berapa lama setelah aku menunggu, akhirnya datanglah seorang lelaki setengah baya sekitar 40 tahunan dengan pakaian yang rapi dan juga wajah yang ganteng. Setelah beberapa lama membicarakan tentang harga kos dan juga ketentuan-ketentuan kos akhirnya terjadi kesepakatan dan hari itu juga aku ngekos disitu.

    Singkat cerita, Sejak kemarin aku tidak kuliah karena terserang flu. Jendela kamarku yang berkaca gelap dan menghadap ke taman samping rumah membuatku merasa asri melihat hijau taman, apalagi di sana ada seorang lelaki setengah baya yang sering kukagumi. Memang usiaku waktu itu baru menginjak dua puluh satu tahun dan aku masih duduk di semester enam di fakultasku dan sudah punya pacar yang selalu rajin mengunjungiku di malam minggu. Toh tidak ada halangan apapun kalau aku menyukai lelaki yang jauh di atas usiaku.

    Tiba-tiba ia memandang ke arahku, jantungku berdegup keras. Tidak, dia tidak melihatku dari luar sana. Om Hery mengenakan kaos singlet dan celana pendek, dari pangkal lengannya terlihat seburat ototnya yang masih kecang. Hari memang masih pagi sekitar jam 9:00, kawan sekamar kostku telah berangkat sejak jam 6:00 tadi pagi demikian pula penghuni rumah lainnya, temasuk Tante Hery istrinya yang karyawati perusahaan perbankan.

    Memang Om Hery sejak 5 bulan terakhir terkena PHK dengan pesangon yang konon cukup besar, karena penciutan perusahaannya. Sehingga kegiatannya lebih banyak di rumah. Bahkan tak jarang dia yang menyiapkan sarapan pagi untuk kami semua anak kost-nya. Yaitu roti dan selai disertai susu panas. Kedua anaknya sudah kuliah di luar kota. Kami anak kost yang terdiri dari 6 orang mahasiswi sangat akrab dengan induk semang. Mereka memperlakukan kami seperti anaknya. Walaupun biaya indekost-nya tidak terbilang murah, tetapi kami menyukainya karena kami seperti di rumah sendiri.

    Om Hery telah selesai mengurus tamannya, ia segera hilang dari pemandanganku, ah seandainya dia ke kamarku dan mau memijitku, aku pasti akan senang, aku lebih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari obat-obatan. Biasanya ibuku yang yang mengurusku dari dibuatkan bubur sampai memijit-mijit badanku. Ah.. andaikan Om Hery yang melakukannya.

    Kupejamkan mataku, kunikmati lamunanku sampai kudengar suara siulan dan suara air dari kamar mandi. Pasti Om Hery sedang mandi, kubayangkan badannya tanpa baju di kamar mandi, lamunanku berkembang menjadi makin hangat, hatiku hangat, kupejamkan mataku ketika aku diciumnya dalam lamunan, oh indahnya. Lamunanku terhenti ketika tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamarku, segera kutarik selimut yang sudah terserak di sampingku.

    “Masuk..!” kataku.

    Tak berapa lama kulihat Om Hery sudah berada di ambang pintu masih mengenakan baju mandi. Senyumnya mengambang

    “Bagaimana Caca? Ada kemajuan..?” dia duduk di pinggir ranjangku, tangannya diulurkan ke arah keningku. Aku hanya mengangguk lemah. Walaupun jantungku berdetak keras, aku mencoba membalas senyumnya. Kemudian tangannya beralih memegang tangan kiriku dan mulai memijit-mijit.

    “Caca mau dibuatkan susu panas?” tanyanya.

    “Terima kasih Om, Caca sudah sarapan tadi,” balasku.

    “Enak dipijit seperti ini?” aku mengangguk. Dia masih memijit dari tangan yang kiri kemudian beralih ke tangan kanan, kemudian ke pundakku. Ketika pijitannya berpindah ke kakiku aku masih diam saja, karena aku menyukai pijitannya yang lembut, disamping menimbulkan rasa nyaman juga menaikkan gairahku. Disingkirkannya selimut yang membungkus kakiku, sehingga betis dan pahaku yang kuning langsat terbuka, bahkan ternyata dasterku yang tipis agak terangkat ke atas mendekati pangkal paha,
    aku tidak mencoba membetulkannya, aku pura-pura tidak tahu.

    “Caca kakimu mulus sekali ya.”

    “Ah.. Om bisa aja, kan kulit Tante lebih mulus lagi,” balasku sekenanya.

    Tangannya masih memijit kakiku dari bawah ke atas berulang-ulang. Lama-lama kurasakan tangannya tidak lagi memijit tetapi mengelus dan mengusap pahaku, aku diam saja, aku menikmatinya, gairahku makin lama makin bangkit.

    “Caca, Om jadi terangsang, gimana nih?” suaranya terdengar kalem tanpa emosi.

    “Jangan Om, nanti Tante marah..”

    Mulutku menolak tapi wajah dan badanku bekata lain, dan aku yakin Om Hery sebagai lelaki sudah matang dapat membaca bahasa badanku. Aku menggeCacajang ketika jari tangannya mulai menggosok pangkal paha dekat kemaluanku yang terbungkus celana dalam. Dan… astaga! ternyata di balik baju mandinya Om Hery tidak mengenakan celana dalam sehingga kemaluannya yang membesar dan tegak, keluar belahan baju mandinya tanpa disadarinya. Nafasku sesak melihat benda yang berdiri keras penuh dengan tonjolan otot di sekeliling dan kepala yang licin mengkilat.

    Ingin rasanya aku memegang dan mengelusnya. Tetapi kutahan hasratku itu, rasa maluku masih mengalahkan nafsuku. Om Hery membungkuk menciumku, kurasakan bibirnya yang hangat menyentuh bibirku dengan lembut. Kehangatan menjalar ke lubuk hatiku dan ketika kurasakan lidahnya mencari-cari lidahku dan maka kusambut dengan lidahku pula, aku melayani hisapan-hisapannya dengan penuh gairah. Separuh badannya sudah menindih badanku, kemaluannya menempel di pahaku sedangkan tangan kirinya telah berpindah ke buah dadaku. Dia meremas dadaku dengan lembut sambil menghisap bibirku.

    Tanpa canggung lagi kurengkuh badannya, kuusap punggungnya dan terus ke bawah ke arah pahanya yang penuh ditumbuhi rambut. Dadaku berdesir enak sekali, tangannya sudah menyelusup ke balik dasterku yang tanpa BH, remasan jarinya sangat ahli, kadang pentilku dipelintir sehingga menimbulkan sensasi yang luar biasa. Nafasku makin memburu ketika dia melepas ciumannya. Kutatap wajahnya, aku kecewa, tapi dia tersenyum dibelainya wajahku.

    “Caca kau cantik sekali..” dia memujaku.

    “Aku ingin menyebadanimu, tapi apakah kamu masih virgin..?” aku mengangguk lemah.

    Memang aku masih virgin, walaupun aku pernah “petting” dengan kakak iparku sampai kami klimaks tapi sampai waktu ini aku belum pernah melakukan persebadanan. dengan pacarku kami sebatas ciuman biasa, dia terlalu alim untuk melakukan itu. Sedangkan kebutuhan seksku selama ini terpenuhi dengan masturbasi, dengan khayalan yang indah. Biasanya dua orang obyek khayalanku yaitu kakak iparku dan yang kedua adalah Om Hery induk semangku, yang sekarang setengah menindih badanku.

    Sebenarnya andaikata dia tidak menanyakan soal kevirginan, pasti aku tak dapat menolak jika ia menyebadaniku, karena dorongan gairahku kurasakan melebihi gairahnya. Kulihat dengan jelas pengendalian dirinya, dia tidak menggebu, dia memainkan tangannya, bibirnya dan lidahnya dengan tenang, lembut dan sabar. Justru aku lah yang kurasakan meledak-ledak.

    “Bagaimana Caca? kita teruskan?” tangannya masih mengusap rambutku, aku tak mampu menjawab.

    Aku ingin, ingin sekali, tapi aku tak ingin virginku hilang. Kupejamkan mataku menghindari tatapannya.

    “Om… pakai tangan saja,” bisikku kecewa.

    Tanpa menunggu lagi tangannya sudah melucuti seluruh dasterku, aku tinggal mengenakan celana dalam, dia juga telah telanjang utuh. Seluruh badannya mengkilat karena keringat, gagang kemaluannya panjang dan besar berdiri tegak. Diangkatnya pantatku dilepaskannya celana dalamku yang telah basah sejak tadi. Kubiarkan tangannya membuka selangkanganku lebar-lebar. Kulihat kemaluanku telah merekah kemerahan bibirnya mengkilat lembab, klitorisku terasa sudah membesar dan memerah, di dalam lubang kemaluanku telah banjir oleh lendir yang siap melumasi setiap barang yang akan masuk.

    Om Hery membungkuk dan mulai menjilat dinding kiri dan kanan kemaluanku, terasa nikmat sekali aku menggeliat, lidahnya menggeser makin ke atas ke arah klitoris, kupegang kepalanya dan aku mulai merintih kenikmatan. Berapa lama dia menggeserkan lidahnya di atas klitorisku yang makin membengkak. Karena kenikmatan tanpa terasa aku telah menggoyang pantatku, kadang kuangkat kadang ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba Om Hery melakukan sedotan kecil di klitoris, kadang disedot kadang dipermainkan dengan ujung lidah. Kenikmatan yang kudapat luar biasa, seluruh kemaluan sampai pinggul, gerakanku makin tak terkendali.

    “Om… aduh.. Om… Caca mau keluar….” Kuangkat tinggi-tinggi pantatku, aku sudah siap untuk berklimaks, tapi pada waktu yang tepat dia melepaskan ciumannya dari kemaluan. Dia menarikku bangun dan menyorongkan kemaluannya yang kokoh itu ke mulutku.

    ” Gantian ya Caca.. aku ingin kau isap kemaluanku.” Kutangkap kemaluannya, terasa penuh dan keras dalam genggamanku.

    Om Hery sudah terlentang dan posisiku membungkuk siap untuk mengulum kemaluannya. Aku sering membayangkan dan aku juga beberapa kali menonton dalam film biru. Tetapi baru kali inilah aku melakukannya. Gairahku sudah sampai puncak. Kutelusuri pangkal kemaluannya dengan lidahku dari pangkal sampai ke ujung kemaluannya yang mengkilat berkali-kali.

    “Ahhh… Enak sekali Caca…” dia berdesis.

    Kemudian kukulum dan kusedot-sedot dan kujilat dengan lidah sedangkan pangkal kemaluannya kuelus dengan jariku. Suara desahan Om Hery membuatku tidak tahan menahan gairah. Kusudahi permainan di kemaluannya, tiba-tiba aku sudah setengah jongkok di atas badannya, kemaluannya persis di depan lubang kemaluanku.

    “Om, Caca masukin dikit ya Om, Caca pengen sekali.” Dia hanya tersenyum.

    “Hati-hati ya… jangan terlalu dalam…” Aku sudah tidak lagi mendengar kata-katanya.

    Kupegang kemaluannya, kutempelkan pada bibir kemaluanku, kusapu-sapukan sebentar di klitoris dan bibir bawah, dan… oh, ketika kepala kemaluanya kumasukkan ke dalam lubang, aku hampir terbang. Beberapa detik aku tidak berani bergerak tanganku masih memegangi kemaluannya, ujung kemaluannya masih menancap dalam lubang kemaluanku. Kurasakan kedutan-kedutan kecil dalam bibir bawahku, aku tidak yakin apakah kedutan berasal dariku atau darinya.

    Kuangkat sedikit pantatku, dan gesekan itu ujung kemaluannya yang sangat besar terasa menggeser bibir dalam dan pangkal klitoris. Kudorong pinggulku ke bawah makin dalam kenikmatan makin dalam, separuh gagang kemaluannya sudah melesak dalam kemaluanku. Kukocokkan kemaluannya naik-turun, tidak ada rasa sakit seperti yang sering aku dengar dari kawanku ketika kevirginannya hilang, padahal sudah separuh. Kujepit kemaluannya dengan otot dalam, kusedot ke dalam. Kulepas kembali berulang-ulang.

    “Oh.. Caca kau hebat, jepitanmu nikmat sekali.” Kudengar Om Hery mendesis-desis, payudaraku diremas-remas dan membuatku merintih-rintih ketika dalam jepitanku itu.

    Dia mengocokkan kemaluannya dari bawah. Aku merintih, mendesis, mendengus, dan akhirnya kehilangan kontrolku. Kudorong pinggulku ke bawah, terus ke bawah sehingga kemaluan Om Hery sudah utuh masuk ke kemaluanku, tidak ada rasa sakit, yang ada adalah kenikmatan yang meledak-ledak.Dari posisi duduk, kurubuhkan badanku di atas badannya, payudaraku menempel, perutku merekat pada perutnya. Kudekap Om Hery erat-erat.

    Tangan kiri Om Hery mendekap punggungku, sedang tangan kanannya mengusap-usap bokongku dan anusku. Aku makin kenikmatan. Sambil merintih-rintih kukocok dan kugoyang pinggulku, sedang kurasakan benda padat kenyal dan besar menyodok-nyodok dari bawah.

    Tiba-tiba aku tidak tahan lagi, kedutan tadinya kecil makin keras dan akhirnya meledak.

    “Ahhh…” Kutekan kemaluanku ke kemaluannya, kedutannya keras sekali, nikmat sekali. Dan hampir bersamaan dari dalam kemaluan terasa cairan hangat, menyemprot dinding rahimku.

    “Ooohhh…” Om Hery juga orgasme pada waktu yang bersamaan. Beberapa menit aku masih berada di atasnya, dan kemaluannya masih memenuhi kemaluanku.

    Kurasakan kemaluanku masih berkedut dan makin lemah. Tapi kemaluanku masih menyebarkan kenikmatan. Pagi itu kevirginanku hilang tanpa darah dan tanpa rasa sakit. Aku tidak menyesal.

  • CERITA SEX DITA TEMAN BISNIS YANG CANTIK

    CERITA SEX DITA TEMAN BISNIS YANG CANTIK


    1105 views

    Cerita Sex ini berjudulCERITA SEX DITA TEMAN BISNIS YANG CANTIKCerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Sabtu ngak nyangka kalo udah sabtu lagi, Seperti biasa istirahat siang dan iseng browsing. Belum mandi browsing setelah beberapa lama gw coba login ke situs kesayangan gw dan shit gw ngak bisa login. Coba beberapa kali ngak ada hasil reset password. Ngak ada hasil.

    Kesel gw lalu berendam apes syukur pake wifi so browsing sambil berendam dengan laptop sony kecil gw. Browsing, FB, and YM santai bro. Tiba tiba buzz ym. Siapa ya? Dita lama juga ngak nongol.

    Dita, teman bisnis gw dari Jakarta. Cantik, kulit khas orang Indonesia, tinggi 170 cm, dan rambut panjang yang indah.

    Dita: eh loe lagi ngapain?
    Gw: lagi berendem, neng
    Dita: gw di Bali nih pingin banget ngent*t ma Loe.
    Gw: wkakakkak dasar loe. Ngaco. Lagi dimana nih?
    Dita: Di bali, bandara boss.
    Gw: Hah canda loe.
    Dita: dah cepet sini tunggu di restaurant nih

    Udah deh gw pake pakaian rapid an panggil pak wayan.

    pak wayan, siapkan mobil saya ya. Mobil siap di depan, gw berangkat deh trus hp berdering
    eh, mana loe, cepetan
    Dita. Gila nih cewe emang gw supir apa (dalam hati). Deket pintu bandara Hp bunyi lagi Dita lagi
    eh gw lagi bayar tiket nih. Gw langsung ngomong. Trus gw ke depan gw lihat dia udah berdiri dengan tampang masam.

    Gila cantik banget nih cewe. Ngak nyangka kalo dia secantik itu ,seksi. Trus gw keluar bukain di pintu masukin satu koper ke bagasi. Gila gw benerbener jadi supir. Gw buka pintu depan eh dia tibatiba buka pintu belakang. Jadi deh Supir, gw.

    Gw: kemana bu?
    Dita: gw mau booking di Villa yang ada swimming pool menghadap ke pantai, makanan enak, ada Jacuzzi nya, lihat sunset. Trus ada mobil yang bisa gw pake seenak gw kemana aja.. blalallalal
    Gw: dalam hati (kok kayaknya ada yang mau nginep gratis) wah bacotnya banyak banget lagi.

    Cerita Dewasa TerbaruDita Teman Bisnis Yang Cantik

    Tibatiba

    eh loe denger ngak kata Dita.
    iye, gw denger loe mau nginep gratis di tempat gw kan kata gw.

    Tibatiba Cup gw di cium dai belakang.

    Dasar ada mau nya aja minta tolong coba kalo gw ke Jkt gw disuruh nginep ma ortu loe. Kok gw ngak boleh tinggal di apartment loe? Dasar seru gw.

    Wkakakkakak ngakak si Dita dengerin gw ngomong. Trus dia bacot lagi itu lah ini lah. Dia bilang

    supir kitaa ke Kuta dulu sialan dalam hati gw menggerutu.
    sekali lagi loe bilang supir gw cium loe.

    Dipantai Kuta. Link Alternatif Depobos

    Didalam mobil tibatiba. Ngak sengaja nengok ke kaca. Shit dia lagi ngelepasin Gstring nya ampun mulus banget. Rok mini warna putih atasan kaos yang tipis nyeplak deh. Sukur dah berhenti nih mobil. Bingung deh gw trus dia ngangkat kaos nya dikit ntah gimana ya ampun BH nya di lepas. Ampun. Terpaksa deh

    eh gila loe mau ngapain lepasinlepasin barang loe kata gw.

    Tepok muka gw di tampar pake BH nya. Harum men heheheh.

    Dasar ngak sopan banget sih loe kata Dita.

    Di pantai kami berjalan lihat sunset soft drink sate ikan.hmm jalan jalan di sore hari sabtu. Dita nempel banget. Gw mulai berani rangkul dia, peluk. Sialan si Adik konak si Dita nempel di depan gw sambil ngelihat sunset. Ampun nempel deh di pantat nya yang cute itu. Aduh pusing deh. Ampunnnn.

    Cerita Mesum Dita Teman Bisnis Yang Cantik

    Balik ke mobil karena dah mau malam gw telpon di villa suruh siapin hidangan laut bakar n lainya. Mobil melaju

    Gw: serius loe mau tinggal ma gw?
    Dita: Gw seminggu di sini. eh boleh Tanya sesuatu?
    Gw: Boleh
    Dita: Waktu loe suka ke Jkt, loe ma adik gwhmmm. dia pernah cerita kalo loe udah ML ma dia.

    Gila loe ya diakan masih SMU kelas 1. Katanya sih enak loe baik ngak kasar tapi dia juga cerita kalo loe pernah ML ma dia di jalan dalam mobil dilihat ma supir kantor loe. Sialan ancur juga loe ya.

    Gw: hehehhe dia cerita semuanya ya.
    Dita: ya iya lah. Gw curiga ma adik gw kok dia berhenti suka ma cewe trus foto loe ada di kamarnya di pajang. Ortu gw sih suka setidaknya adik gw normal lagi.

    Udah cerita ini itu. Ngak kerasa dah deket. Masuk mobil di parkir gw suruh org masukin koper ke kamar tamu. Gw bawa dia ke beranda belakang deket kolam makanan dah siap. Makan deh setelah makan ngobrol dikit tiba capek gw dengerin bacotnya gw dah ngak tahan. Bibir nya gw cium hmm gw kulum tangan gw remas toket nya

    ahhhh.. shit loe gila seru Dita. Gw cuek gw cium toketnya ahhhh Ditamenggerutu.

    Gw berhenti n bilang

    mbok. Sini.
    tolong anterin dia ke kamarnya Dita tertunduk pipi me merah.

    Tersenyum lalu sebelum pergi dia cium gw. Gw balik ke kamar ganti baju cumin pake celana pendek pergi ke kamar baca. Browsing lagi. Cek email kerjaan dikit. Tibatiba Dita masuk

    kata mbok loe disini oh iya ini susu nya gw
    thanks ya. Oh iya loe bisa pake laptop gw tuh di meja

    Gw lirik ke arah sofa hmmm. Rambut tergerai, tubuh yang indah, pake gaun tidur sebatas lutut, berenda, belahan dada terlihat jelas dan menantang. Puting terlihat samar dibalik gaun berwarna putih. Yah sengaja banget duduk di sofa kaki di tekuk kelihatan deh tuh paha mana gaunnya agak di tarik ke atas.

    Dita mulai sadar kalo dia gw pelototin. Lalu gw mendekat dibelakang nya. Gw duduk nanya lagi ngapain. Dia jawab loe ngak lihat gw lagi FB nih. Upload foto yang tadi sore. Trus gw coba lebih berani megang tangannya dasar dah konak total. Tanagn Dita gw elus. Dita cuek trus ngetik koment n cek lainlainnya.

    Trus rambutnya gw singkap dari belakang, gw bisikin

    loe cantik juga. Dita tersenyum, pipinya memerah.

    Lalu gw sentuh pipinya n cium bibirnya. Dita mengulum sesekali gw lepasin kulumannya. Lidah Dita beradu cium bibirnya yang merah merona. Ckup lama kami Dita mengulum lalu gw cium keningnya.

    Dita, kita ke kamar yuk pinta gw.

    Ditamenunduk lalu ku raih tangan nya. Kami berjalan ke bawah ke arah dapur. Ambil segelas air karena Dita haus. Gw tahu kalo sebenernya dia gugup n binggung. Lalu dia minum n gw berlutut n gw cium perutnya perlahan ke bawah kearah vagina nya. Sentak Dita terdiam gelas diletakan dimeja ke dua tangan nya kebelakang bersandar di tepi meja.

    Lalu gaun nya kunaikan sedikit, uhhh terpampang jelas gundukkan berbau harum tanpa ditutupi seutas benang pun. Gw ciumin jilat ke tepian nya lalu gw elus lembut jarijari mulai gw main kan.

    ahhhhhh. Ssstt..hmmmm ahhh Dita mengerutu.

    Dia menggigit bibirnya. Desahan nya menjadi jadi. Klitoris nya gw jilat. Kulum. Jilat. Sedot dan tibatiba Dita menjambak rambutku dan menekan kepalaku.

    Gila sesak nafas nih dan

    ahhhhhhhhhhhh gila basah banget. Harum gw jilatin semuanya ampe habis.

    Gw kulum n gw cium lembut miss v nya.

    Gw berdiri lalu gw cium bibirnya dia senyum tersipu malu. Lalu gw tuntun dia ke atas meja makan. Lalu dia gw cium dia mengangkang. Dia tahu apa yang gw mau. Lalu gw pelorotin celana gw wih adik gw udah menghormat dengan gagahnya.

    Lalu gw lebih mendekat dan dia gw cium bibir leher perlahan kebawah ke arah susunya huh gundukan yang mengeras gw cium perlahan gw telusuri setiap inci sampai di putting gw beri ciuman kecil gw kulum. Gw gigt. ahhhh Dita bergumam. Ahhhhh hanya itu yang selalu gw dengan.

    Lalu gw berhenti kami Dita berpandangan tali gaunnya gw turunkan kedua susunya benarbenar mengeras. Lalu gaunnya gw angkat. Posisi Dita terduduk di tepi meja lalu Adik gw arahin ke miss v nya. Wajah kami yang berhadapan saat masuk perlahan Dita terlihat menggigit bibirnya mata terpejam kedua tangan nya memeluk leher dan pundak ku

    Blesss

    ahhhhhhhh miss vnya tersodok cukup keras.. lalu ku pompa perlahan kupercepat.

    Semuanya ku ulangi tangan ku meremas susunya. Cukuplama kami melakukannya rintihan. Desahannya menjadi jadi. Gw percepat kaki Dita melingkar dan menjepit dan tibatiba. Ahhhh ehhh uhhhh.. gunggg ahhh. Ahhhhhhh. Tubuh Dita lemas vaginanya berdenyut kencang gila Adik gw diremas keras banget.

    gung akuuuh ngak mau hamil, please

    Lalu Adik gw keluarkangw diamkan sejenak didalam menikmati pijatan miss vnya.. lalu Dita gw suruh duduk di kursi dia benar benar lemas keringatnya keluar. Lalu aku mengelus kepalanya dan cium bibirnya.. basah dan nafasnya masih tersengalsengal. Lalu gw arahin Adik gw kearah bibirnya dia ngak mau gung aku ngak pernah gung kepalanya menengadah keatas kea rah ku memohon.

    Lalu gw sentuh bibirnya jari gw masukin ke mulutnya. Dia cium n jilat gw cium bibirnya..

    nah kayak gitu tadi ya .. kayak kamu ngulum jari ku lalu kont0l ku masukan ke bibirnya tegang luar biasa dia mulai ngulum. Cium sedot sensasi yang luar biiasa.

    Ngak nyangka dia benerbener ngak pernah BJ. Kasihan kadangkadang dia tersedak dia kulum lalu kont0l gw di kocok disedot tibatiba ahhhhhh gw keluar. Kepalanya gw cengkram erat. Dita tersedat huks.. cairan gw tertelan habis sisa dibirnya gw bersihkan pake jari trus masukin ke mulutnya.

    Dita: ehhh nakal. Nakal masak (pipinya memerah)
    Gw: kenapa . (sampil gw cium pipinya bibirnya gw cim n kulum)
    Dita: cape ah mau bubu
    Gw: ya udah tidur gih. Kamu kelihatan capek banget habis kerja keras ya (sindir ku)

    Dita berdiri cubit aku n cium. Lalu pergi ke kamar tidurnya.

    Hari Minggu pagi

    Gw bangun seperti biasa mandi lalu keluar terdengan suara deburan air dari arah kolam

    mbok bawa sarapan ke kolam ya lalu mbok jawab
    ngak berani soalnya teman nya bapak lagi renang trus gw Tanya yang lain kenapa pada belum bersihbersih.

    Kata mbok

    saya larang mereka bersihbersih di belakang sekitar kolam
    udah ah.. bapak aja yang bawa

    Lalu gw kearah kolam di belakang dan ampun deh si Dita renang pake atasan n bawahan yang waoooo. Pantesan aja pada ngak berani kesini. Gw emang titip pesan kalo ada teman saya yang lagi renang siapa aja jangan ke sana. Apa pun alasannya.

    Lalu gw turun ke kolam setelah sarapan gw taruh di meja. Dita mendekat ke gw dia cium gw. Lalu berbalik mau renang lagi. Maklum ini sisi dangkal dimana kami berdiri. Hanya sebatas dada keatas yang terlihat.

    Saat Dita berbalik lalu pinggang nya ku cengkram dia men coba melawan lalu ku dekap cium lehernya. Tangan gw mulai ngelepasin tali yang mengikat bawahannya kutarik lepas deh bawahannya ku lempar ke kursi di sundeck. Dita terdiam lalu ku cium bibirnya. Lalu dia bersandar membelakangiku di pinggir kolam. Lalu kelepas celana pendek ku. Kutarik pantatnya ke belakang mendekat ke kont0l ku. Ku rendahkan badan ku.

    Blesss . Ahhhh Dita mendesah. Jangan jangan pintanya ahahhaha. Uhhh.. gila kamu gila ahhhhhhhhh enak. Dita mendesah dan mencacimaki ku dengan lembutnya. Aku pompa dia habis habisan. Kupercapat lambat cepat. Dita berteriak dan mendesah sejadi jadinya.

    Gw ngak bisa bayangin sensasi apa yang dia rasakan dalam posisi vaginanya di gasak dari belakang. Dita terus merintih. Ahhhh ahhh ahhh. Lalu dia ahhhhhhhhhhhhh. Dia keluar n berdenyuk keras. Belum usai sensasi yang dia rasakan lalu badannya kubalikan. Salah satu kakinya ku angkat lalu ku kocok miss vnya. Ahh ahhh uhhhh desahan berulang sambil memelukku lalu kedua kakinya kuangkat.

    Dia mendesah hebat meremas rambut ku ..ahhh uhhhh ahhh..mmmmm. cukup lama dan gila Gw. Ahhhhhhhh. Kami keluar bersamaan Gw peluk erat. Bibir kami saling berciuman napas kami tersengal2. Kont0l gw diremas. Cairan gw tersembur di dalam.

    Gw: Dita tadi itu didalam
    Dita (sambil cium gw) ngak apa apa.
    Gw: Dita ke atas yuk bash nih.
    Dita: iya

    Lalu Dita gw suruh duduk di kusi malas sambil ngeringin badannya ada dua handuk. Lalu gw Bantu dia ngeringin badannya atasannya gw lepasin dari belakang . Susunya gw elus lembut.

    Dita: Loe jahat ya ngak nyangka lama banget udah di kolam.
    Gw: loe suka?
    Dita banget.

    Kami benar benar telanjang bulat. Lalu Kont0l gw berdiri lagi. Dita gw minta rebahan lalu gw tindih. Ahhhhh.. desahan itu terdengar lagi.. hanya selisih beberapa menit kami melakukannya lagi. Dita benarbenar ngak tahan kalo ditindih. Gw sodok keras. Kakinya menyilang. Kadang gw angkat ahhh.

    Rintihannya menjadi jadi

    ampunnn .a hhh gung ampun.jaaanganahhahhah benarbenar memohon gw ngak peduli gw terusin susunya yang satu gw remas yang lain gw cium gw kulum. Dita benar benar keluar tubuhnya menggeliat ahhhhhhhh.. desahannya banarbenar keras.

    Lalu aku percepat kedua kakinya lalu ku angkat. Ku kocok.. ahhhh ahhhuhhh.ahh. Dita menjadi jadi. Lalu kurasa remasan miss v nya. Huh keras banget .. lalu ku cabut kont0l ku. Dita gw tarik berdiri lalu kami kearah rumput.

    Dengan nafas tersengal sengal dan lemas lalu Dia ku minta doggy style. Lalu ku masukan ku pompa habis habisan. Lalu percepat. Tubuhnya kutarik. Menempel ke badan ku. Kupercepat dan. Aahhhhhhhhhh kami berdua bersamaan ahhhhhhhh. Kami terkapar. Beberapa saat kami ter diam. Lalu aku berdiri lalu menggendongnya ke arah kursi dekat meja.

    Gw minumkan susu. Nafas Dita mulai beraturan lalu kami makan roti.

    Dita: gung didalam sini pasti banyak banget deh
    Gw: biarin aja.
    Dita: yah hamil donk.. huhhhh (dengan genitnya)
    Gw: ya udah sini

    Kami kearah shower yang ada diluar dekat kolam. Lalu gw minta Dita mengangkang lalu kumasukan jariku ke dalam miss vnya gw kocok Dita mendesahhhahhhh.

    jgn lagi ahhhhhhhh. Ngapain sihhhhhh ahhh gw jawab biar keluar tak lama kemudian. Byur. Keluar deh.

    Eh malahan si Dita terangsang hebat deh.

    hahahahha. Gimana? Tanya ku
    enak tapi emang kalo digituin bisa ngak hamil gw bisikin
    ya ngak lah ngak ngaruh kali gw cumin pingin ngelihat expresi loe aja

    Dita memerah dan tersadar

    dasar gila loe Dita gw cium bibirnya lalu kami pergi ke kamar gw.

    Disana kami mengeringkan badan kami. Dita terbaringg lemas di tempat tidur lalu aku berbaring di sisinya. Dan Gw bisikin

    ML lagi yuk. Dita berbalik dan plok bantal melayang ke kepala gw.

    Aline: nakal jangan, cape nih cape banget ngak kuat. Jangan sekarang kan masih ada waktu seminggu.
    Gw: Oh my sambil menutup wajah ku. Tapi dalam hati tersenyum gembira.

    Benarbenar minggu yang menyenangkan di dalam mobil cek in di hotel krn ngak tahan di pantai malammalam . Sore sunset di dreamland. Dan yang paling parah waktu di ubud.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Pembantu yg bikin ane ketagihan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Pembantu yg bikin ane ketagihan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1610 views

    Perawanku – ini berawal ketika ane di mutasi perusahaan ke daerah Bgr karena kinerja ane di tempat asal kurang bagus..ane sempet putus asa dan yg lebih sedih ane harus pisah ma bokin yg ane sayangi..
    Tapi karena kebutuhan akhirnya ane ambil juga itu keputusan untuk mutasi..

    Sesampai di Bgr ane dapet fasilitas kontrak rumah dari perusahaan,dan ane dapet di daerah pinggiran kota,lumayan lah type 36,ada 2 kamar plus perabotan udah ada di sana..
    Setelah 1 bulan berlalu ane kewalahan ngurusi itu rumah,maklum ane berangkat pagi,pulang malam,minggu pulang ke Bdg ketemu bokin ya jadinya itu rumah acak2an dan kotor banget..
    Ane ngerasa ga nyaman,dan ane mutusin untuk nyari orang buat ngurusi rumah.
    Ane sempatkan datangi salah satu yayasan penyalur di kota Bgr,ane pilih 1 orang yg ane pikir bisa kerja,orangnya biasa aja,masih muda,umur 20 tahun,aslinya dari daerah di jw tngh,dan 1 yg bikin ane pilih dia,dia keliahatan cekatan saat ane melihat cara praktek di beberapa orang yg di tawarkan..
    Sebenarnya kalau ane emang niat macem2,ane bisa aja pilih yg genit,karena ada beberapa orang yg matanya tuh menunjukan kalo “pilih gw aja” dan sedikit centil..

    lanjut..

    Ane minta Susi (sebut aja bgitu) di antar ke rumah hari sabtu,karena ane pikir hari minggu ane akan pergi dan ane minta susi untuk bersihin rumah..

    Hari sabtu malam orang yayasan datang mengantar susi,dan ane lunasi biaya administrasi,lalu jadilah susi bekerja di rumah ane..

    Hari minggu ane tinggal dia di rumah,untuk bersih2 dan cuci baju ane yg udah menggunung..

    Hari senin pagi ane datang ke rumah,ane seneng banget rumah udah bersih,rumput2 di bersihin depan rumah..baju ane pun udah pada wangi di setrika ma doi..
    Karna ane puas,ane kasih doi uang jajan 50 ribu,dia seneng banget,ane bilang itu di luar gaji dan uang makan..ane kasih dia uang makan karena ane ga pernah makan di rumah,jd di rumah gak pernah masak..

    hari2 berlalu,ane emang tidak pernah memandang status orang dari pekerjaannya,walaupun susi adalah pembantu,tp dia sering cerita tentang pribadi,tentang orang tua di kampung dll..
    Dari situ ane tau bahwa ortu susi cerai,dan susi di paksa bekerja untuk menghidupi keluarga,ane juga tahu bahwa susi di kampung punya pacar,dan pacarnya itu sering telp tiap hari,susi kadang mengeluh juga karena pacarnya ini sering minjem duit tp ga di bayar..
    Ane sering nasihati dia supaya lebih hati2 dalam pacaran,lebih2 cowok kayak gitu..dan dia pun mengangguk..

    Kami tiap malam nonton tv bareng,kadang becanda,bahkan ke mall bareng untuk belanja sabun dsb..kadang kalau ane lagi ada duit ane beliin dia baju karen aane tahu bajunya itu2 aja..

    skip..

    tak terasa sudah 3 bulan susi kerja di rumah,dan kelihatan dia sangat betah,terlihat dari badan dia yg sekarang jd lebih gemuk di banding saat pertama datang..tp hal itulah yg mengganggu pikiran ane..body nya justru bikin ane gusar..toketnya yg dulu kelihatan kecil tp sekarang malah kelihatan nyembul…bokongnya yg dulu biasa aja sekarang jd menarik…haduh…ane pikir bahaya ni..tp ane buang jauh2 perasaan itu..

    Diam2 ane suka ngintip dia kalo habis mandi…kadang ane juga curi2 pandangan ke arah pahanya kalau dia lg pake baju daster dan duduk sembarangan…

    Suatu hari ane dapet tugas dari kantor untuk mengurus proyek di kalimantan,ane pun harus pergi selama 2 minggu..ane pergi dan sebelumnya ane pamit ke susi berpesan supaya hati2 jaga rumah selama ane pergi..

    Di kalimantan ane sms menanyakan kabar,dan ane beranikan untuk sms yg bernada memancing..seperti “km udah mandi belum susi manis?”…dan dia pun membalas dengan “udah aa sayang”…
    Dan ane pancing2 dia denga sms bahwa sebenarnya ane suka ma dia…tp takut di tolak karena susi udah punya cowok..
    Tak di sangka susi membalas dengan sms yg sangat mengagetkan “aa kenapa ga bilang,susi juga suka banget ma aa,tp susi takut,susi kan cuma pembantu”..
    wah..ini yg ane tunggu…ane tlp dia..dan kita pun ngobrol panjang lebar tentang seringnya ane curi2 pandang…dll…

    Ane pun pulang ke Bgr,ane langsung menuju rumah..susi menyambut dengan senyuman malu…ane pun mencubit lengannya..tanda kangen..

    Ane beranikan mengajak susi ngobrol malam itu…kami pun ngobrol..tp terlihat sekali susi sangat kaku dan tidak seperti biasanya…ane bertanya “kenpa sus”…”ga apa2 a” susi menjawab..
    Ane duduk mendekati susi..dia sangat terlihat gelisah..ane dekatkan bibir ane ke bibir susi..susi sedikit menghindar..tp ane udah pengen banget mencium susi..ane sedikit memaksa dan kami pun berciuman…ane mainkan lidah ane di di bibir susi…kami pun bergumul mesra dengan hangatnya…di temani hujan bibir kami saling bermain…
    Malam itu tak terjadi apa2..ane ga ingin buru2 melakukan sesuatu..ane takut susi akan minta pertanggungan jawab bila ane exe dia malam itu..

    esok hari nya sepulang kerja ane langsung mandi…kami pun ngobrol..sudah mulai cool…suasananya udah mulai seperti biasa lg..susi nonton tv,ane di sebelahnya,yg berbeda adalah sekarang susu udah berani duduk dekat2 nempel ke ane..
    Ane membuka pembicaraan..ane bertanya tentang hubungan susi dengan pacarnya di kampung sejauh apa hubungan yg mereka lakukan..
    Susi bercerita bahwa mereka memang sering berciuman..dan susi juga pernah pegang punya cowoknya..begitu pula sebaliknya…sambil berpura2 cemburu aku pun pergi ke kamar..
    Susi mengejar ane ke kamar..dia minta maaf..dan bilang bhwa susi masih perawan…
    Ane bilang gak percaya…karena blm membuktikannya..kami pun sedikit ngadu argument..dan ane minta pembuktian kalo susi memang masih benar perawan..
    Tak di sangkan susi langsung membuka daster yg di pakainya…”susi akan buktikan kalau susi memang masih perawan”..kata susi
    “jangan sus,aku ga berani tanggung jawab kalo sampai terjadi sesuatu”ane bilang begitu
    “aa ga usah mikirin tanggung jawab,yg penting susi kan buktikan kalau memang susi masih perawn”,susi mendekati ane hanya mengenakan BH dan CelDam…

    Ane konak gan…ga tahan..melihat secara langsung apa yg selama ini ane inginkan…oh shit…ane bingung..
    di tengah kebingungan ane,bibir susi sudah melumat bibir ane…kita berciuman di pinggir tempat tidur…tangan ane secara replex mulai bergerilya menuju gunung kembar susi…ane ga kuaaaaaat (dalam hati ane menahan nafsu ini)..

    Ane terus belai toket susi…ane buka bra yg membungkusnya..ane rebahkan susi di ranjang..susi tersenyumm..oh..

    ane mulai melumat pentil susunya…tangan ane mulai bergerilya di paha susi…susi pun melenguh “ohhh”…

    tangan ane menuju selangkangan susi…bermain si pinggiran celana dalam yg masih membungkus meki susi..ane terus benjilati puting susu susi yg mulai keras…tangan ane pun membuka celana dalam yg di pkai susi…susi melenguh kembali..”oooohhhh”….

    Ane secara cepat membuka celana pendek dan kaos ane…ane pun membuka CD yg ane pakai…

    kembali ane lumat bibir susi…tangan ane mulai mengelus pinggiran meki susi…susi pun men desah “aaaaahhhh”…
    Tangan ane mulai menyibak meki susi yg di tumbuhi bulu yg tidak terlalu tebal…jari ane menari2 mengelus klitoris susi…susi pun tambah mendesah “AAAAAAHHHH”…

    Jari ane bermain2 di bibir lobang meki susi…bibir ane bermain di toketnya…dan tangan susi pun mulai mengeleus2 konto ane yg udah keras n panas…

    “aa..punya aa gedee…” susi berbisik..
    Ane tersenyum sambil kembali melumat bibir susi dan memainkan jari di mekinya…

    Bibir ane pindah ke toketnya….lalu turun menjilati perutnya…dan sampailah di pertigaan selangkangan susi…

    Ane buka perlahan belahan paha susi…ane pun mulai merunduk…ane sibak kedua belahan meki susi…dan lidah ane mulai bermain di bibir meki susi…oooh…mantapnya meki perawan…

    “AA..AAAAAhhh”..susi mendesah ketika bibir mekinya ane jilati…lidah ane mulai menusuk2 lobang mekinya…dan sekali2 lidah ane bermain di klitoris susi…

    “aa”ooooooughhhh…..”..susi mendesah semakin keras…

    ane menjilati mekinya -+ 15 menit..ane pun kembali melumat toket susi….pentilanya ane jilati melingkar..jari ane terus bermain di bibir meki susi yg mulai basah di bajiri cairan kenikmatan…

    Susi terus mendesah..”ouwgh..aa…ouwgh..aa…”dia memanggil ane dalam desahannya..

    Tak menunggu lama,ane siapkan rudal konti ane yg udah keras banget…ane arahkan ke meki susi yg udah basah…ane lebarkan pahanya…ane taptkan di lobangnya..

    dan ane tekan pelan2….”aa…ouwgh…”susi mendesah….”aa…sakit”….”ouwgh”…susi sedikit meringis ketika konti ane mulai masuk ke mekinya…konti ane semakin dalam…”aa…sakit…”…”oughwwhhh”..susi mndesah sambil menutup matanya….
    Ane cabut pelan2…ane tekan lagi…ane cabut lagi…ane tekan lagi…dan seterusnya….
    “owgh..aa…oegh…owgh…ooooooh…”desahan susi semakin terdengar…
    Ane pun mengenjot konti ane di mekinya…dan tiba2 keluarlah darah keperawanan dari lobang meki susi….
    …ane genjot lagi lebih cepat…darah semakin banyak….ane genjot terus…”aa…sakiiiiiit….owwwuuuuuuuggggghhh”.. .susi mendesah sambil terpejam matanya..
    Ane genjot terus…”sabar sayang…bentar lagi sakitnya hilang”…ane menimpali sambil terus menggenjot..
    konti ane keluar nasuk di meki susi….sampai darah perawannya tak lagi keluar…

    Ane goyang2 di dalam mekinya…ane hujam lebih dalam…”oooooooooooowwwwwwwghhhhhh”…susi menjerit…mekinya semakin licin…menandakan susi udah mendapatkan O…dan ane pun memepercepat genjotan ane….”OOOOOOOOOOOOOOOOOOWWWWWWGGGGGGGGGGGGHHHHHH HHHHHHH”….susi menjerit kenikamatan…susi mencengkeram pundak ane…..tangannya mencakar bokong ane…dan “croooooooot”….ane pun orgasme…..sperma ane memenuhi lobang meki susi….

    Ane memeluknya…dan susi pun tersenyum…”percaya kan kalo susi masih perawan?” tanya susi pada ane
    “iya aku percaya”…ane pun tersenyum…dan kami pun berpelukan…

    Ane minta susi supaya kencing dulu…dan membersihkan mekinya…ane pengen malam ini 5 ronde..hehehe…

    kami pun bermain hingga pagi hari…esoknya ane ajak susi ke bidan yg jauh dari rumah ane…ane minta susi untuk KB…susi pun KB suntik…dan kami pun hingga sat ini masih berhubungan..
    1 yg membuat ane ga bisa lepas dari susi…mekinya wangi…dan nikmat banget saat di oral…beda dengan bokin ane yg kadang ada bau tak sedapnya…
    Ane jd jarang pulang ke bdg,ane malah tiap minggu menghabiskan waktu bermain sex seharian bareng susi…semua gaya udah kami mainkan…bahkan anal sudah kami praktekan…

    Susi tak pernah minta ane menikahi dia..karena dia pun tak mungkin memutuskan hubungan dengan pacarnya di kampung yg sudah di jodohkan oleh ortunya…entah sampaia kapan kami begini…tp jujur..nikmat sex bukan karena status..tp karena barang…hehehe

    Buat ***** yg suka maen ma pembokatnya,saran dari ane,pembokat juga manusia,yg butuh kasih sayang dan materi,selain gaji 750rb ane kasih tambahan 1 jt perbulan buat susi plus uang jajan 50 rb tiap hari agar meki yg mantap itu di jaga dan di rawat demi kepentingan bersama..dan satu lagi,buatlah komitment agar sang pembokat tidak menuntut anda menikahinya..dan ini adalah hal yg paling penting!!!

  • Cerita Sex Memek Rapat Jablay Gadis

    Cerita Sex Memek Rapat Jablay Gadis


    886 views

    Perawanku – Cerita Sex Memek Rapat Jablay Gadis, Kehidupan di dunia memang berjalan seperti nasehat Sang Budha di atas. Setidaknya itulah romantika kehidupan yang dialami kedua tokoh dalam cerita kita kali ini. Tokoh yang pertama adalah Faried, seorang sopir taksi berusia 31 tahun yang melewatkan hari demi hari kehidupannya dengan beragam nuansa: terkadang sangat melodramatis, romantis, sentimentil, bahkan lucu.

    Selama bekerja sebagai sopir taksi di ibukota selama beberapa tahun Faried telah banyak menemui kejadian yang menegaskan fenomena itu. Suatu ketika, ia mengembalikan dompet seorang ibu yang ketinggalan di taksinya.Sesungguhnya, ia tidak mengharapkan keuntungan apa-apa dari situ, sebab baginya kejujuran dan kepolosan sudah menjadi bagian integral dari jiwa, tubuh dan segenap aktifitas kesehariannya.

    Kalau pun kemudian, si ibu dengan ekspresi wajah lega dan ucapan terima kasih tak terhingga, lalu memberikan uang sebagai penghargaan atas ‘jasa’ nya, dan kemudian dengan halus si sopir itu menolaknya, itu semata-mata karena apa yang telah ia lakukan sudah menjadi tugasnya. Komitmen Faried untuk menjunjung tinggi ‘harkat ke-supir taksi-an’ saya, tak lebih. Pada kesempatan lain, ia menolong seorang korban kecelakaan lalu lintas di depan kampus sebuah perguruan tinggi.

    Ia segera membawanya ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat, dengan tidak memperhitungkan lagi berapa tarif taksi yang dapat diperolehnya bila ia tetap mengabaikan kejadian itu. Semua terasa seperti tindakan ‘bawah sadar’ yang telah terbentuk sedemikian rupa selama bertahun-tahun, sejak ayahnya yang telah almarhum menanamkan nilai-nilai kearifan tradisional dalam diri Faried.

    Hari itu Faried kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Untuk yang satu ini memang bukan rutinitas yang lazim, karena setiap petang tiba, ia menjemput Ayu (25 tahun), tokoh sentral berikutnya, yang adalah seorang wanita panggilan ‘kelas atas’ yang tinggal di sebuah rumah mewah di sebuah kompleks pemukiman real estate, untuk kemudian membawanya ke suatu tempat, di mana saja, yang telah disepakati sebelumnya oleh pelanggan setianya itu. Ayu sudah menyewa taksi Faried selama enam bulan.

    Jadi pada jam-jam tertentu–biasanya petang hari–Faried menjemputnya di rumah tersebut, membawanya ke tempat yang senantiasa berbeda-beda tergantung mana yang ditunjuk wanita itu, lantas mengantarnya kembali pulang setelah ‘bisnis’-nya usai pada jam-jam tertentu pula. Ayu membayar cukup mahal untuk tugas tersebut dan Faried menerima itu sebagai bagian tak terpisahkan dari harkat ‘ke-supir taksi-an’ nya. Ia tidak menganggap itu sebagai kerja yang hina lantaran menerima bayaran dari hasil desah dan keringat maksiat Ayu. Ini bagian dari tugas, demikian ia mencari alasan pembenarannya. Faried selalu menganggap persetan dengan semua anggapan sinis tentang dirinya. Baginya, ia tetap memiliki hak untuk menentukan sikap dan melakukan apa yang terbaik bagi

    dirinya sendiri. Prinsip sederhana memang tapi logis. Sudah empat bulan lamanya Faried melakukan ‘tugas rutin’ itu. Ia sudah berusaha menghilangkan beban psikologis apa pun termasuk perasaan cinta. Terus terang sebagai seorang pria, Faried memang tidak dapat mengingkari kata hati bahwa Ayu memang cantik dan diam-diam ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan rambut sebahu, wajah oval proporsional, hidung bangir, kulit putih dan postur tubuh ramping semampai, Ayu tampil mempesona mata setiap pria yang melihatnya, termasuk dirinya. Sebagai lelaki bujangan dan normal, Faried tidak dapat menepis getar-getar aneh saat wangi parfum Ayu yang khas menyerbu hidung ketika ia masuk ke taksinya. Tapi ia berusaha menekan perasaan itu sekuat-kuatnya.

    Terlebih, ketika muncul rasa cemburu, saat Ayu terlihat digandeng oom-oom kaya yang lebih pantas menjadi ayahnya. Faried seyogyanya harus menempatkan diri pada posisi yang benar: ia adalah pelanggan dan saya hanya supir taksi. Maka ia mematuhi ‘rambu-rambu’ itu secara konsisten. Terlebih secara fisik dan finansial ia kalah jauh dibanding Ayu, mana mungkin wanita gedongan dan sudah terbiasa menikmati kemewahan seperti Ayu mau dengan sopir taksi miskin dengan tampang ndeso seperti dirinya, bukankah itu bagaikan pungguk merindukan bulan? Faried cukup tahu diri mengenai hal ini. Percakapan mereka pun, baik ketika pergi maupun pulang, biasa-biasa saja.

    Tak ada yang istimewa, bahkan nyaris bersifat rutin. Faried berusaha menjaga jarak dengan Ayu agar tidak terlibat lebih jauh ke masalah yang sifatnya terlalu pribadi. Namun belakangan ini sudah ada sedikit ‘peningkatan kualitas pembicaraan’. Tidak hanya sekedar, ‘Mau ke mana?’ atau ‘Jam berapa mau dijemput?’, dan sebagainya. Ayu mulai menanyakan latar belakang pribadi sang sopir langganannya itu hingga menanyakan ada berapa jumlah penumpang di taksinya untuk hari ini. Tentu Faried pun ada rasa gembira pada perkembangan menarik ini. Mulanya sang sopir agak rikuh tapi perlahan ia mulai dapat menyesuaikan diri dan menjadi pembicara atau pun pendengar yang baik.

    Seiring berjalannya waktu, hubungan emosional mereka pun berlangsung hangat. Ayu mulai tak canggung-canggung mengungkap riwayat hidupnya pada si sopir. Ia ternyata produk keluarga broken home. Ayah dan ibunya bercerai ,ibunya kabur bersama pria lain sehingga ia ikut ayahnya yang pemabuk dan tukang main pukul. Ia tidak tahan dan prihatin dengan kondisi seperti itu sehingga memutuskan untuk minggat dari rumahnya dan mengadu nasib ke ibukota. Kuliahnya pun tidak selesai. Awalnya ia tinggal di rumah seorang famili jauhnya dan mulai mencari pekerjaan agar dapat mandiri.

    “Saya harus terus hidup dan berjuang”, kata Ayu menetapkan hati.

    Bermodalkan kecantikan dan keindahan tubuhnya, ia menjadi SPG lalu tak lama mulai memasuki dunia model. Foto-foto dirinya pernah menghiasi majalah fashion, lifestyle hingga majalah pria dewasa. Selain itu ia juga mendapat peran kecil dalam beberapa sinetron lokal. Namun, tanpa disadarinya, perlahan namun pasti ia terjerumus ke lembah nista. Kehidupan malam dan hingar bingar pesta, sepertinya memberikan keleluasaan baru dan ia bagai memperoleh jati diri di sana. Sejak itu Ayu pun dikenal sebagai model plus-plus, ia menjadi primadona di kalangan atas. Hampir semua klien-nya siap melakukan apa pun untuk berkencan dengannya. Belakangan, ia kemudian menjadi ‘simpanan’ seorang direktur sebuah bank swasta ternama di negeri ini, dengan tip dan bayaran yang sangat besar plus rumah mewah komplit segala isinya. Sang Direktur hanya datang pada waktu-waktu tertentu saja untuk menemui Ayu. Meskipun begitu, profesinya tak juga ditinggalkan, selain menjadi model ia menjadi wanita panggilan kelas atas.

    “Saya menyukai pekerjaan ini,” katanya suatu ketika, suaranya terdengar serak dan terkesan dipaksakan.
    Faried melirik melalui kaca spion, wanita cantik itu duduk santai di belakang, menyelonjorkan kaki dan menyalakan rokok. Faried tersenyum dan kembali mengalihkan pandangan ke depan. Ayu tak menjelaskan lebih jauh pernyataan yang telah dikeluarkan. Hanya kepalanya terangguk-angguk pelan menikmati lagu melankolis ‘When A Man Loves A Woman’-nya Michael Bolton yang mengalun dari radio di tape mobil Faried.

    “Omong-omong…Abang sudah punya pacar atau udah berkeluarga?” tanyanya tiba-tiba.

    Kontan Faried gelagapan dan agak kehilangan konsentrasi mengemudi.

    “Saya sih udah cerai Mbak” ia menjawab tersipu, “ya waktu masih di kampung dulu sampai sekarang yah ginilah, masih sendiri”

    Sebuah jawaban yang jujur terlontar dari mulut si sopir itu. Ayu terkekeh. Ia menghirup rokoknya dalam-dalam. Rimbun asapnya mengepul-ngepul, memenuhi kabin taksi. Faried menelan ludah.

    “Kalau Mbak Ayu sendiri bagaimana?” ia balik bertanya.

    “Abang tahu sendiri, kan? Banyak. Banyak sekali,” sahut Ayu, suaranya terdengar hambar, kedengarannya ia seperti melontarkan sebuah lelucon atau apologi? entahlah

    “Banyak memang. Tapi hampa,” Faried menanggapi dengan getir.

    Untuk beberapa saat Ayu terdiam. Ia mematikan rokoknya, lalu merenung…lama. Hanya deru mesin mobil dan getar alat air conditioner taksi terdengar. Lalu lintas di larut malam itu memang telah sepi. Sebagian lampu jalan telah dipadamkan. Faried tiba-tiba menyadari kecerobohan dan kelancanganya, maklum sebagai orang kampung ia terbiasa bicara ceplas-ceplos apa adanya.

    “Eh…maaf ya Mba,apa saya….”

    “Nggak apa-apa Bang. Itu emang benar, mereka hampa, cuma punya tubuh dan nafsu, bukan jiwa dan cinta,” Ayu bertutur dengan lirih.

    Faried menghela nafas panjang, ia merasa dadanya sesak, simpati pada nasib wanita secantik Ayu harus bernasib demikian.

    “Hidup menawarkan banyak pilihan, Mbak.”

    “Tapi saya tak punya pilihan!” sangkal Ayu dengan nada suaranya meninggi.

    “Kearifan menyikapi dengan landasan moral, itu kunci untuk memilih. Kita memang tak akan pernah tahu apakah pilihan hidup kita sudah tepat. Tapi setidaknya, kita mesti punya pegangan yang kokoh untuk menentukan ke mana kita mesti melangkah,” Faried berkata lembut berusaha menghiburnya.

    Terdengar nafas berat Ayu di belakang. Suasana terkesan kering dan kaku.Keduanya tak bercakap-cakap lagi hingga taksi Faried tiba di gerbang depan rumah yang dituju.

    Ayu hanya mengucapkan ‘Selamat malam. Sampai jumpa besok sore’.

    Faried pun pulang ke rumah kontrakannya dengan rasa bersalah yang bertumpuk, sepertinya ia telah menyinggung wanita itu dengan omongannya. Ketika selesai tugas malam itu, ia menemukan sebuah lipstick di lantai belakang taksinya.

    Keesokan harinya

    Hari itu adalah hari terakhir kontrak sewa Faried dengan Ayu. Ia menjalani rutinitas ekstranya seperti biasa, ia menjemput Ayu pada waktu dan tempat yang sama.

    “Maaf, apa ini punya Mbak? Kemarin saya nemuin di belakang” kata Faried sambil menunjukkan lipstick yang dipungutnya kemarin

    “Ohh…iya benar, makasih ya Bang, sepertinya jatuh waktu saya ngambil rokok kemarin” Ayu tersenyum berterima kasih seraya mengambil lipstick itu.

    Kekakuan komunikasi akibat ‘insiden’ semalam berangsur-angsur lenyap. Faried pun berusaha untuk lebih hati-hati berkata-kata agar menjaga perasaan Ayu.

    “Apa Mbak tidak bosan dengan rutinitas seperti ini?” ia membuka percakapan,

    “Apa Abang punya ide yang baik?” wanita cantik itu balas bertanya.

    “Yah… misalnya rutinitas yang baru. Kawin dengan lelaki yang mampu memberi nafkah cukup lahir batin–tidak sekedar limpahan materi yang semu belaka, hidup bahagia, punya anak dan menikmati kehidupan,” Faried mengucapkan kalimat tersebut sesantai mungkin tanpa beban, ia ingin mendengar pendapat Ayu mengenai hal ini.

    Sejenak Ayu terdiam. Faried kembali melirik ke belakang lewat kaca spion mobil. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan make up tipisnya, parasnya yang memukau seperti bercahaya, dibanding para pelacur warung remang-remang atau pinggir jalan tentu ibarat bumi dan langit. Ia melepas pandang ke luar melalui kaca jendela taksi yang buram, sepertinya memikirkan sesuatu.

    “Itu angan-angan yang terlalu ideal, Bang,” jawabnya pada akhirnya.

    “Jangan melihat ini sebagai sesuatu yang naif, Mbak. Saya rasa pendapat saya cukup realistis. Gak mengada-ada. Setiap orang, baik lelaki maupun wanita, pasti pernah berpikir mengenai hal itu: Kebahagiaan hidup berkeluarga. Semuanya akan kembali pada prinsip dan keinginan orang yang bersangkutan, sepanjang ia sadar dan yakin hal itu bakal memberikan ketenteraman bagi jiwanya, hatinya dan segenap aktifitas kesehariannya,” Faried mencoba berargumen.

    “Kita punya takaran penilaian yang berbeda Bang. Tak akan bisa bertemu. Jangan terlalu banyak bermimpi. Kita hidup berada dalam kemungkinan-kemungkinan. Apa yang bakal terjadi kemudian, kita gak bisa menebak. Dan itu sering tidak persis sama seperti yang kita bayangkan,” ujar Ayu lirih dengan bibir bergetar.

    Faried menarik nafas, putus asa.

    “Apakah Mbak menganggap bahwa lakon hidup yang Mbak lakukan selama ini sama persis seperti yang Mbak bayangkan sebelumnya?”

    “Memang gak sama Bang. Bahkan sangat jauh berbeda. Saya gak pernah mengimpikan menjalani kehidupan seperti ini. Tapi, bukankah ini bagian dari kemungkinan-kemungkinan hidup? Gak berarti saya mengatakan bahwa saya menolak kehidupan berkeluarga. Saya bukan orang yang munafik lah, terus terang dalam hati saya tetap mendambakan seorang suami yang dapat menyayangi dan memanjakan saya serta anak sebagai tambatan hati. Namun, kalau saya telah menemukan ketenangan pada profesi yang saya lakoni saat ini, bagi saya bukanlah suatu pilihan yang keliru. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk memaknai hidupnya.”

    “Apa Mbak merasa bahagia dengan memaknai hidup dengan jalan ini?”

    “Saya gak bisa menjawabnya Bang. Abang gak akan pernah tahu ukuran dan nilai kebahagiaan bagi saya seperti apa. Begitu pula sebaliknya. Kita punya ‘nilai rasa’ yang berbeda dalam menakar kebahagiaan,” Ayu bertutur pelan dengan tidak mengalihkan pandangan ke arah luar taksi.

    Faried terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sadar, wanita itu cukup konsisten memegang prinsipnya. Mendadak, kesedihan merambah dalam hati sopir taksi itu. Hari ini adalah hari terakhirnya bersama Ayu. Besok, Ayu akan berangkat berlibur ke Singapura dan Australia mendampingi sang direktur selama sebulan. Ia tidak tahu apakah Ayu akan menyewa ‘jasa’ nya lagi kelak atau mungkinkah mereka bisa bertemu lagi kelak. Baginya itu tidak penting. Kebersamaan dengan wanita penghibur kelas atas itu selama ini, tanpa sadar membangkitkan rasa cinta dan keinginan melindungi dalam hatinya. Wanita itu bukan hanya sekedar langganan, namun telah menjadi teman baginya. Melalui kaca spion mobil, ia melirik Ayu. Ia begitu cantik, sangat cantik, mengapa bunga yang begitu indah harus terhanyut dalam kubangan kotor? Faried membatin sekaligus nelangsa. Tak lama kemudian, mereka telah sampai ke tujuan. Faried segera mematikan mesin mobil dan pikirannya galau sepanjang menanti panggilan dari Ayu untuk mengantarnya pulang, tak terasa lima puntung rokok telah habis sampai kotak rokoknya kosong. Hujan deras mengguyur ibukota di tengah perjalanan pulang mengantarkan wanita itu. Setibanya di rumah Ayu, Faried turun dan mengeluarkan payung sebelum membuka pintu belakang dan memayungi wanita itu hingga ke gerbang.

    “Bang, masuk dulu aja, minum dulu sambil tunggu hujan reda!” tawar Ayu setelah membuka gembok.

    “Tapi Mbak…”

    “Sudahlah Bang, masuk saja, hujannya terlalu deras, mana ada yang numpang saat-saat gini?” Ayu malah menarik lengan Faried memasuki pekarangan rumahnya.

    Faried tidak bisa menolak lagi ajakan wanita itu, malah hati kecilnya merasa girang. Mereka berlari kecil ke pintu. Ayu membuka pintu dan mempersilakan sopir taksi itu masuk. Faried langsung merasakan kehangatan begitu memasuki rumah itu. Ayu memang pandai menata interior ruangan sehingga kelihatan menarik dan nyaman. Dekorasi ruangan tamunya bertema oriental, beberapa buah patung menghiasi berbagai sudut. Faried terbengong-bengong memandangi sekitar ruangan itu, entah perlu gaji berapa puluh tahun baru bisa membeli rumah seperti ini.

    “Duduk Bang!” Ayu mempersilakannya duduk di sofa “mau minum apa nih? Teh? Kopi? Juice?” tawarnya sambil ke mini bar dekat situ.

    “Kopi panas aja Mbak, makasih ya!” jawab Faried sambil menjatuhkan diri di sofa.

    Ada beberapa majalah dan surat kabar di bawah meja ruang tamu. Faried pun membuka-buka sebuah majalah sambil menunggu Ayu membuatkan minum. Di sebuah sudut ruangan nampak sebuah koper besar dan sebuah yang kecil, Ayu memang telah selesai mengepak barang-barang yang akan dibawa sehingga besok tinggal diangkut ke mobil.

    “Silakan Bang, diminum dulu kopinya” tiba-tiba Ayu sudah berada di depannya dan meletakkan segelas kopi yang masih mengepul atas meja di depanku.

    Badannya agak membungkuk, sehingga sopir taksi itu bisa melihat sekelebatan tonjolan dua bukit dadanya yang kencang dan dibalut bra hitam lewat gaun terusannya yang longgar. Sejenak dadanya berdesir dan ia merasa celananya tiba-tiba menjadi sempit.

    “Makasih ya Mbak!”

    Ayu kemudian duduk di sebelahnya cukup dekat untuk ukuran seorang sopir taksi dan penumpangnya. Keduanya mulai mengobrol dan bercerita tentang apa saja, juga saling bertukar lelucon dan mereka tertawa lepas.

    “Ini hari terakhir kita bertemu Bang! Besok saya pergi…makasih ya bantuannya selama ini” kata Ayu berkata sambil menghela nafas.

    Hingga suatu saat, Faried memberanikan diri dengan dada berdebar keras memegang jemari tangan wanita itu, ia ingin memberinya penghiburan sebelum pergi jauh dalam waktu relatif lama. Ayu agak tertegun, tapi tidak menolak.

    “Mbak…jaga diri di sana ya” kata Faried singkat.

    Ayu tersenyum, “Ya…makasih, Abang juga, semoga dapat jodoh yang baik” balasnya.

    Tiba-tiba Ayu melepaskan tangan sopir taksi itu lalu berdiri kemudian menuju kamarnya.

    “Tunggu bentar ya Bang!” katanya sambil tersenyum penuh arti, ia lalu mengambil remote TV di meja ruang tamu dan menyalakan TV di depan mereka, “nonton aja dulu ya sambil nunggu!” lalu ia masuk ke kamarnya.

    Di ruang tamu, Faried mendengar sayup-sayup suara air yang mengucur deras dari dalam kamar itu. Rupanya di dalam ada kamar mandi dalam. Tak lama kemudian, Ayu keluar dari kamarnya, kini ia sudah memakai kimono sutra berwarna biru. Sungguh cantik dan menggairahkan ia dalam balutan pakaian tersebut, belahan pahanya memperlihatkan pahanya yang indah.

    “Ayo sini Bang!” ajak Ayu sambil menggandeng tangan Faried.

    “Tapi Mbak…mau apa?” Faried gugup dengan ajakan wanita tersebut.

    Ia menurut saja walau merasa canggung karena baru pernah seorang wanita mengajaknya masuk ke kamarnya seperti ini.

    “Eeennggg….kamarnya bagus ya Mbak!” pujinya sambil menutup kegugupan, “kita mau apa Mbak?”

    Ayu hanya menjawab terima kasih, dia terus menuntun Faried hingga memasuki kamar mandinya. Di dalam kamar mandi, ia melihat air kran masih mengucur deras hampir memenuhi separuh dari bathtub. Wangi harum dari bubble bath segera memenuhi paru-paru pria itu.

    “Bang…makasih ya atas bantuannya selama ini” kata Ayu lalu tiba-tiba merangkul sambil mendorong Faried ke belakang sehingga tubuh pria itu terhimpit ke tembok, tangannya lalu meraba sekujur tubuh sopir itu, “abang orang baik, tulus, jarang saya temui orang seperti abang jaman sekarang ini, apalagi di dunia saya”

    “Eeee…apaan nih Mbak?” Faried mencoba menghindar antara mau dan tidak.

    “Anggap ini hadiah perpisahan dari saya Bang…sekaligus terima kasih untuk mengembalikan lipstik saya itu” habis berkata Ayu lalu mencium Faried dengan bernafsu sekali sambil tangannya meremas-remas selangkangan pria itu.

    Iman Faried pun dengan cepat runtuh. Ia pun membalasa mencium dan memagut bibir indah Ayu sambil tangannya meremas lembut pantatnya. Ayu mulai melepaskan satu persatu kancing seragam sopir Faried. Belaian tangan lembut wanita itu pada dadanya sungguh membangkitkan gairah si sopir taksi, kelelakiannya terasa makin keras sehingga celana panjangnya terasa semakin sesak. Tangannya agak gemetar dan mulai berani meraba dan meremas lembut bukit dada Ayu. Wanita itu melenguh dan semakin ganas dengan permainan “french kiss” nya. Sebentar saja seragam sopir itu sudah lepas dan jatuh ke lantai. Ayu melanjutkan dengan membuka celana panjang pria itu. Faried pun mulai melepaskan tali pinggang yang membalut kimono Ayu. Payudaranya yang sudah membusung dengan putingnya yang tegak telah membayang di balik kimononya, terlihat jelas ia sudah tidak memakai bra lagi.

    Ayu meraba dan meremas lembut batang kemaluan Faried yang masih dibalut celana dalamnya. Dia memainkan jemarinya dan mulai merogoh masuk celana dalam itu, menjemput batang kelelakian si sopir taksi. Dengan sekali tarik, terbukalah kimono Ayu, wanita itu lalu meloloskan tangannya sehingga kimono itu segera jatuh ke lantai. Betapa indah tubuh di baliknya yang sudah tidak memakai apa-apa lagi, kulitnya putih mulus dan begitu terawat. Kemaluannya ditumbuhi bulu-bulu yang halus dan dicukur rapi, tidak terlalu lebat, tapi juga tidak terlalu tipis. Celah kewanitaannya membayang di balik bulu-bulu tersebut. Telanjang sudah wanita cantik itu di depan Faried yang selama ini mengisi fantasinya. Bukit dadanya yang ranum dengan putingnya yang berwarna kemerahan telah menegang seolah menantang untuk mengulumnya. Perlahan, Faried mulai menyusuri bukit dadanya yang sebelah kiri dengan lidahnya. Ia memainkan lidahnya hingga ke putingnya. Ayu pun mendesis saat lidah pria itu menyentil dan mengitari putingnya, sementara tangan kiri pria itu meremas lembut dan memainkan bukit dada dan putingnya yang kanan. Ayu mendesah nikmat. Tangannya merenggut celana dalam Faried dan menurunkannya dengan cepat hingga terlepas ke lantai. Dengan ganas ia memainkan dan mengocok batang kelelakian yang telah ereksi maksimal itu.

    “Yuk…kita sambil berendam aja!” Ayu “menuntun” penis Faried menuju bathtub.

    Faried hanya bisa pasrah tidak bisa berkata-kata menikmati pelayanan Ayu. Ia merebahkan diri ke dalam bathtub dan Ayu dengan perlahan mengocok dan mengurut penisnya di antara busa-busa sabun dan air hangat. Wanita duduk di antara dua kakinya sambil masih terus mengurut dan mengocok penisku. Faried memejamkan mata menikmati setiap sensasi yang menjalari sekujur tubuhnya. Rasa geli yang nikmat ia rasakan setiap gerakan lembut tangan Ayu beraksi naik turun.

    “Eeemmmhhh…enak Mbak…!” erang Faried.

    Entah berapa lama ia menikmati permainan tangan Ayu. Lalu ia menarik bahu wanita itu dan membalikkan badannya ke arah badannya. Dipeluknya Ayu dari belakang. Kini gilirannya untuk memberikan kenikmatan buat wanita itu. Tangannya memainkan payudaranya dengan jalan meremas, meraba dan memilin-milin lembut dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya juga tidak tinggal diam, memainkan paha, lipat paha dan daerah gerbang kewanitaan Ayu. Ayu mengerang, mendesis dan melenguh. Hidung dan lidah Faried menciumi dan menjilati daerah di belakang daun telinga Ayu dan sekitar tengkuknya. Jari-jari kasarnya memilin dan memencet-mencet lembut klitoris dan labia mayora wanita itu.

    “Oohhhhhh….Bang, enak Bang…terushhh…saya milikmu malam ini!” desah Ayu

    Faried sedang menciumi leher Ayu, tangannya meremas lembut payudara montok itu. Ayu yang sudah sangat berpengalaman dalam hal ini, tak mau kalah. Ia mengocok pelan penis Faried. Sopir bertampang ndeso itu pun semakin buas karena terangsang, ia memutar wajah wanita itu ke belakang lantas bibir mereka bertemu, saling pagut, saling gigit, lidah keduanya berbelitan dan air ludah mereka bercampur

    Akhirnya setelah seperempat jam, mereka pun menyudahi pemanasan yang penuh gairah itu karena kulit mereka mulai keriput disebabkan oleh terlalu lamanya kami berendam dalam air bubble bath. Ayu menciumi wajah ndeso itu dengan penuh kelembutan dan akhirnya keduanya melakukan “french kiss” lagi dengan posisi saling mendekap. Setelah puas melakukan “french kiss”, Ayu berdiri dan memutar kran shower untuk membilas tubuh mereka. Di bawah derai siraman air shower, keduanya kembali berpelukan dan melakukan “french kiss” lagi. Saling meraba, saling mengelus dan menyusuri tubuh pasangan masing-masing.

    Rupanya Ayu sudah birahi tinggi. Ia menaikkan satu kakinya ke pinggir bathtub dan menuntun penis Faried ke arah gerbang kewanitaannya.

    “Saya udah kepengen banget Bang, ayo setubuhi saya…buat saya menggelepar keenakan!” pintanya.Faried membantunya sambil tangan kirinya memilin-milin puting payudara kanannya. Ia menggeser-geserkan ujung kepala kemaluannya pada klitorisnya. Perlahan, ia mendorong masuk penisnya ke dalam liang kemaluan Ayu. Pelan.. lembut.. perlahan.. sambil terus mengulum bibir merahnya. Ayu mendekap si sopir taksi sambil mendesis di sela-sela ciuman mereka.

    Akhirnya amblaslah kira-kira tiga per empat dari panjang kemaluan Faried, dan mulai maju-mundur menggenjot vagina wanita itu. Ayu memejamkan matanya sambil terus mendesis dan melenguh. Ia memeluk pria itu semakin kencang. Faried mengayunkan pantatnya semakin cepat dengan tusukan-tusukan dalam yang ia kombinasikan dengan tusukan-tusukan dangkal. Ayu membantu dengan putaran pinggulnya, membuat batang kemaluan Faried seperti disedot dan diputar oleh liang kemaluannya. Guyuran air shower menambah erotis suasana dan nikmatnya sensasi yang mereka alami.

    Faried merasakan lubang kemaluan Ayu semakin licin dan semakin mudah baginya untuk melakukan tusukan-tusukan kenikmatan yang mereka rasakan bersama. Setelah agak lama melakukan posisi ini, Ayu menarik pantatnya sehingga batang kemaluan pria itu terlepas dari lubang kemaluannya. Kemudian ia membalikkan badannya dan agak membungkuk, menahan tubuhnya dengan berpegangan pada dinding kamar mandi. Rupanya dia ingin merasakan posisi “rear entry” atau yang lebih populer dengan istilah “doggy style”. Kemaluannya yang berwarna merah jambu sudah membuka, menantang, dan terlihat licin basah. Perlahan Faried memasukkan batang kemaluannya yang tegang kaku dan keras ke dalam lubang kemaluan Ayu.

    “Aaaahh….yahhh!” desis Ayu dengan tubuh mengejang.

    Faried mulai mengayunkan pantatnya maju-mundur, menusuk-nusuk lubang kemaluan Ayu. Ayu merapatkan kedua kakinya sehingga batang kemaluan pria itu semakin terjepit di dalam liang kemaluannya. Faried merasakan kenikmatan yang luar biasa dan sensasi yang sukar dilukiskan dengan kata-kata setiap kali ia menghujamkan kemaluannya. Tangannya meremas-remas pantat Ayu bergantian dengan remasan-remasan pada payudaranya. Sesekali, ia menggigit-gigit kecil di daerah sekitar tengkuk dan pundak wanita itu.

    Setelah cukup lama bergumul dalam posisi doggie, tiba-tiba Ayu meminta berhenti lalu membalik badannya dari posisi “rear entry” ke posisi berhadapan.

    “Nikmati aku sepuas-puasnya malam ini Bang, mungkin ini pertama dan terakhir kalinya buat kita!” katanya dengan nafas tersenggal-senggal.

    Habis berkata Ayu langsung mencium Faried dengan ganasnya sambil mencengkeram erat punggung pria itu, merapatkan tubuhnya dan meraih penisnya yang masih menegang. Faried mengangkat kaki kiri wanita itu dan mengarahkan penisnya ke liang kemaluannya. Dengan sekali dorong penis itu pun kembali memasuki liang kewanitaan Ayu yang sudah sangat berlendir itu. Setelah penisnya masuk, Faried pun menyentak-nyentaik batang kemaluannya lagi, semakin keras, semakin cepat dan bertenaga. Keduanya semakin lepas kontrol, erangan mereka sahut-menyahut berpadu dengan suara shower akibat dilanda nikmat yang luar biasa.

    “Aaaarrgghh….entot memekku, Bang…, yah…gituuuuuhh…yang keras, yang keras….oohhhh, kontol Abang enak bangettthhh!” ceracau Ayu tidak karuan

    Faried pun jadi merasa sangat perkasa dan semakin bergairah karena merasa berhasil membuat wanita itu keenakan. Maka ia semakin kuat menyodoki batang kemaluannya di dalam vagina Ayu. Seiring dengan semakin kuatnya rintihan dan erangannya. Ayu merasakan klimaksnya sudah sangat dekat.

    “Saya keluaarr Bang..! Aaagghh..!” serunya sambil memeluk Faried erat-erat.

    Ayu merasakan liang kemaluannya berdenyut-denyut seperti menghisap-hisap kemaluan Faried. Pria itu juga merasakan tubuh Ayu yang menjadi lemas setelah mengalami wanita orgasme. Namun ia masih saja memompa kemaluannya sambil menyangga tubuhnya. Mulutnya menghisap-hisap puting payudaranya, kiri-kanan sambil lidahnya berputar-putar pada ujungnya. Sesekali jari-jariku meraba dan memutar-mutar klitorisnya. Ayu seperti orang yang sedang tak sadarkan diri. Dia hanya ber-ah-uh saja sambil sesekali menciumi bibir tebal Faried. Setelah beberapa saat, mendadak dia mengejang lagi, melenguh dan mengerang,

    “Aaagghh..! Ooohh Bang…saya keluaarr lagii..!”

    Ayu engalami orgasmenya yang kedua kalinya atau istilahnya multiple orgasm. Ayu menciumi pria itu dengan ganasnya sebagai ekspresi kenikmatan orgasme yang diraihnya.

    “Mbak..tahan yah.. saya juga mau keluar sedikit lagi..” kata Faried sambil memacu pantatnya lebih cepat lagi menghujam liang kemaluan Ayu.

    Ayu hanya bisa pasrah. Akhirnya, Faried pun merasakan sebuah gelombang besar yang mencari jalan keluar. Ia mencoba untuk menahannya selama mungkin, tapi gelombang itu semakin besar dan semakin kuat, maka ia mengatur pernapasan, berkonsentrasi penuh. Tangannya yang kokoh mendekap erat tubuh Ayu.

    “Aaahhh…saya keluar Mbaaakkk!” erangnya melepas orgasme

    Faried merasakan kenikmatan yang luar biasa menjalari sekujur tubuhnya. Ada rasa hangat menyelubungi tubuhku. Kemaluannya berdenyut-denyut di dalam liang kemaluan Ayu. Perasaan yang baru pernah dirasakannya seumur hidup, bahkan dengan mantan istrinya di kampung yang lugu dan gagap seks. Ayu menjerit kecil merasakan semburan hangat memenuhi vaginanya memberinya sensasi nikmat yang luar biasa.

    “Fantastis…beneran nih Abang cuma pernah main sama mantan istri Abang dulu?” Ayu setengah tak percaya.

    “Iya sumpah Mbak, emang kenapa?” tanya pria itu keheranan.

    “Jajan juga gak pernah?” tanya Ayu lagi sambil meraih penis Faried yang masih tegang yang baru saja lepas dari himpitan vaginanya

    Faried menggeleng, menatap wajah Ayu yang semakin cantik pasca orgasme dan dalam keadaan basah di bawah siraman shower.

    “Saya percaya, orang seperti Abang gak ada bakat untuk bohong” Ayu tertawa renyah.

    Faried hanya nyengir kuda lalu mencium lembut kening wanita itu. Ketika mencuci batang kelelakiannya di bawah shower. Ayu memeluk Faried dari belakang dan membantu mencuci batang itu. Setelah selesai mandi bareng, mereka saling mengeringkan diri dengan handuk. Ketika Faried hendak mengenakan pakaiannya kembali, Ayu melarangnya dan menawarkan untuk bermalam di situ.

    “Abang capek? Malam ini nginep aja di sini…hujannya juga belum berhenti!” tawar Ayu

    “Eerrr…Mbak!” Faried menepuk pundak Ayu yang membelakanginya

    “Iya…eeemmm!”

    Saat Ayu menoleh, Faried mencuri sebuah ciuman dan dibopongnya Ayu ke arah tempat tidurnya yang berukuran queen size dengan warna serba pink. Diletakkannya tubuh telanjang Ayu perlahan di tempat tidurnya. Ia ciumi sekujur tubuhnya. Setelah puas, ia berbaring di sebelahnya, tangannya mendekap tubuh wanita itu dan mulutnya menciumi di sekitar daun telinganya sambil tangannya mengelus-elus punggungnya. Tak lama kemudian Ayu tertidur dengan senyum di bibirnya. Faried mengecup lembut bibirnya, lalu ikut tidur di sampingnya, beredekapan, telanjang di bawah selimut.

    Keesokan pagi

    Faried terbangun saat ia merasakan ada jari-jari halus meraba-raba dadanya dan ciuman di keningnya. Ayu telah lebih dahulu bangun dan dia membangunkan pria itu. Ayu mengecup bibir tebal itu perlahan dan mereka pun terlibat dalam sebuah “french kiss”. Tangan Faried mengelusi punggung putih mulus Ayu sementara Ayu mengelus-elus rambutnya.

    “Mbak…bukannya hari ini harus ke bandara? Nanti telat” kata Faried.

    “Masih ada waktu…” jawab Ayu “pesawatnya berangkat sore jam lima, kenapa gak kita habiskan bersama saja?”

    “Apa gak akan ada orang lain lagi ke sini? Kalau kita ketauan kan gak enak” Faried agak was-was kalau ketahuan ia sedang meniduri wanita simpanan orang kaya, bisa-bisa digebuki seperti di film-film.

    “Nggak…dia terlalu sibuk jam-jam segini, nanti baru nyusul di bandara” Ayu tersenyum lalu mengecup kembali bibir Faried. “pokoknya Bang…sekarang ini waktu cuma buat kita berdua, santai dan nikmati aja!”

    Ayu mulai menciumi sekujur tubuh sopir taksi itu, menjilati dadanya dan menggelitiki putingnya dengan lidahnya. Tangannya menjalari sekujur tubuhnya dan meraba-raba batang kelelakian Faried, memainkannya, mengelus dan mengurutnya sehingga penis itu pun bangun dari tidurnya. Ayu tersenyum. Perlahan, disusurinya perut, pusar dan pinggangku dengan lidahnya.

    “Eeemmhh…Mbak!” desah Faried yang merasakan geli-geli nikmat yang membuatnya merinding. Ia mengusap-usap kepala Ayu dengan penuh kelembutan. Disisirnya rambut wanita itu dengan jari-jarinya dan sesekali diraba-raba tengkuk dan balik telinganya.

    Perlahan jilatan lidah Ayu semakin turun ke arah selangkangan Faried. Dengan jemari tangan kirinya yang halus, ia menggenggam penis Faried, mendongakkannya, dan dia mulai menjilati daerah pangkalnya. Disusurinya penis itu dengan lidahnya hingga ke ujungnya yang bersunat. Ia memutar-mutar ujung lidahnya ke arah lubang dan sekitarnya pada ujung batang penis pria itu. Ia memang profesional dalam membuat Faried merasa seperti melayang.

    Dari ujung penis itu, Ayu kembali menyusurinya hingga ke bawah, menjilat-jilat buah pelirnya, sesekali mengecup dan agak menghisapnya. Rasa aneh antara sakit, geli, dan enak membuat Faried menggeliat-geliat.

    “Enakkhh…Mbak…geli…uuhh” desah Faried sambil meremasi rambut Ayu.

    Ayu memandang pria itu dengan pandangan mata yang menggemaskan

    “Sungguh bidadari sejati.. betapa cantiknya kamu Ayu!” kata Faried dalam hatinya

    Tiba-tiba Ayu berhenti melakukan oral seksnya. Dia mendekati wajah Faried. Menciumnya dengan mesra dan lembut bibir tebal pria itu. Kemudian ia membalikkan badannya dan membelakangiku, seperti posisi “69”. Ia memegangi penis Faried dan mulai menghisap, mengulum dan menjilatinya.

    Kembali rasa geli dan nikmat mendera pria itu. Ia mencium wangi harum yang khas dari gerbang kewanitaan Ayu yang terpampang menantang di depan wajahnya. Gerbangnya sudah mulai terbuka, berwarna merah muda dengan dihiasi bulu-bulu halus dan dicukur rapi. Penisnya berdenyut-denyut di antara hisapan dan geseran lidah wanita itu. Ia memegangi dan mengelus pantat Ayu dengan kedua tangannya. Ia arahkan gerbang kewanitaannya ke arah mulutnya. Dijilatinya bibir vagina itu dan daerah sekitarnya. Ayu mengerang di antara hisapan-hisapannya pada batang kemaluan Faried. Vagina itu mulai licin dan basah, serta terus menebarkan aroma yang khas harum karena rajin dirawat.

    Faried mendapati sebuah tonjolan kecil di antara belahan gerbang kewanitaannya, dijilatinya benda itu. Ayu pun mengerang dan mendesis, sejenak melepaskan batang kelelakian itu dari mulutnya. Faried menjilat dengan lembut dan sesekali lidahnya menggeser-geser tonjolan kecil yang ada di belahan gerbang kewanitaan Ayu. Ayu mendongakkan kepalanya dan mendesis-desis kenikmatan sambil menggoyang-goyangkan pantatnya.

    “Oooh Bang… kok jilatannya enak bangethhh!” kata Ayu di antara erangannya.

    Ayu mengurut dan mengocok penis itu makin cepat sambil mulutnya menghisap ujungnya. Kedua tangan Faried tidak tinggal diam saat lidahnya beraktivitas. Terkadang jari-jari tangannya menggaruk mesra punggung Ayu dengan lembut, atau meraba, mengusap dan memainkan payudaranya yang menggantung menantang di atas perutnya.

    Setelah beberapa lama saling menjilat, menghisap dan menikmati permainan ini, Ayu beranjak dari posisinya.

    “Bang…sekarang yah!” katanya sambil memegang penis yang tegang tegak kaku menghadap langit-langit.

    Ayu mengangkangi Faried sambil memunggunginya. Ia mengarahkan batang kelelakian itu ke gerbang kewanitaannya. Faried menggeser-geserkan ujung penisnya pada tonjolan kecil di antara belahan gerbang kewanitaannya untuk membantu penisnya masuk. Ayu memejamkan matanya sambil mendesah saat penis pria itu memasuki liang kemaluannya yang sudah licin basah. Pelan.. lembut.. Ayu perlahan menurunkan pantatnya, membuat penis itu masuk semakin dalam. Terus turun hingga akhirnya mentok dan menyisakan kira-kira seperempat dari panjang penis pria itu.

    Ayu agak terpekik saat ujung penis itu menyentuh dinding rahimnya. Kemudian Ayu mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun-naik-turun. Pada mulanya perlahan hingga beberapa gerakan, akhirnya Ayu semakin cepat. Mereka menikmati sensasi yang luar biasa saat kedua alat kelamin keduanya menyatu dan saling bergesekan. Ayu berulang kali mendesah, melenguh, mendesis, meracaukan kata-kata yang tak jelas. Faried juga menikmatinya dengan pikiran yang melayang meresapi rasa geli dan nikmat yang menjalari sekujur tubuhnya.

    Beberapa menit kemudian, Faried mengangkat badannya sekitar 45 derajat dan bersandar pada kepala tempat tidur Ayu. Ayu sambil membelakangi bertumpu pada perut pria itu dan terus mengayuh tubuhnya naik-turun pada selangkangan pria itu divariasikan dengan memutar-mutar pinggulnya.

    “Aaaghh.. Mmmbbakkk..” teriak Faried sambil memegangi pinggangnya yang ramping dan putih mulus karena penisnya serasa dipelintir ketika Ayu meliuk-liukkan tubuhnya.

    Ia meraih tubuh Ayu dari belakang. Ia remas-remas lembut kedua payudaranya yang terasa keras tapi kenyal. Putingnya ia pilin-pilin dengan mesra. Ayu menghentikan sejenak ayunan pantatnya. Dia mendesah, mendesis. Faried merasakan batang kemaluannya dan liang kemaluan Ayu sama-sama berdenyut-denyut. Diciuminya tengkuk wanita itu, sesekali digigit-gigit ringan tengkuk, bahu kanannya, dan belakang telinganya.

    “Putar sini Mbak!” pinta Faried pada Ayu untuk membalikkan posisinya.

    Wanita itu berbalik tanpa melepaskan batang kemaluan Faried dari liang kemaluannya. Batang kemaluan itu pun serasa ada yang memuntirnya. Sekarang keduanya berhadapan. Mereka saling memeluk, saling meraba. Faried mereasakan penisnya masih berdenyut-denyut di dalam liang kemaluan Ayu yang juga terasa berdenyut-denyut seperti menghisap batang kemaluan itu. Mereka berpagutan, saling menggigit, menghisap dan mengulum. Tangan dan jemari Faried dengan lincahnya bergerak di sekujur badan Ayu, membuat wanita itu kegelian dan merinding. Sekitar setengah jam dalam posisi demikian, akhirnya Faried merasakan ada sensasi luar biasa yang membuat tubuhnya serasa mau meledak. Ia mengerang dan mengatur napasnya. Rasanya ada gelombang besar dari pinggangnya yang hendak mencari jalan keluar melalui batang kemaluannya.

    “Mbak Ayu sayang…saya hampir keluar sedikit lagi..” kata Faried terengah-engah.

    “Barengan ya Bang!” jawab Ayu lalu memagut bibir tebal pria itu

    Faried pun balas menciumnya. Mereka sama-sama diam dalam posisi berciuman sambil terus memacu tubuh. Faried merasakan seperti ada aliran listrik mulai merayapi sekujur tubuhnya. Sekujur tubuhnya terasa hangat, begitu juga dengan tubuh Ayu. Sambil terus bermain lidah, mereka menikmati sensasi yang luar biasa itu.

    “Aaaaahhhhh….!!” erang Faried melepas ciuman

    “Iyaahhhh….teruusss…..teruussshhh!!”Ayu juga merasakan hal yang sama

    Faried merasa seperti melayang ke langit. Senyap, pandangan matanya berkunang-kunang walaupun memejamkan matanya. Rasa nikmat yang aneh disertai oleh rambatan sensasi menjalari setiap bagian tubuh mereka. Mereka mengejang hingga akhirnya merasakan suatu yang sangat melegakan. Nikmat…cahaya terang yang membuat berkunang-kunang itu berubah menjadi kegelapan. Ia rubuh menindih tubuh Ayu, mereka terdiam dengan nafas naik turun. Ayu menatap wajah ndeso si sopir taksi, dia tersenyum penuh arti dan kemudian mencium keningnya. Faried balas memagut kecil dagu Ayu. Tak lama, Ayu mendorong tubuh pria itu hingga berbaring saling bersebelahan.

    “Istirahat dulu yuk, abis ini kita makan!” kata Ayu lalu mengajak Faried kembali ke balik selimut. Mereka berpelukan sambil masih dalam kondisi sama-sama telanjang bulat.

    Sore harinya

    Satu hal yang mengganjal di hati Faried sejak peristiwa semalam dan tadi pagi, ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Ayu namun belum ada keberanian untuk itu. Faried memang pria yang tulus, namun pengetahuannya tentang wanita terbilang minim. Kepada mantan istrinya dulu saja ia tidak pernah mengatakan ‘saya cinta kamu’ karena memang mereka dijodohkan. Pasangan yang ketika itu masih sangat hijautidak pernah merasakan saat-saat romantis hingga akhirnya perceraian mereka. Sepanjang perjalanan ke bandara ia tidak ada kesempatan untuk itu karena Ayu sibuk bicara melalui ponselnya, yang pertama dengan seorang teman, yang kedua dengan si direktur.

    yang membakar api cemburu dalam hati Faried. Ketika taksi yang dikemudikannya akhirnya tiba di bandara, Faried turun duluan dan menurunkan barang bawaan Ayu dari bagasi, saat itu Ayu masih berbicara di ponselnya. Ini adalah saat terakhir, juga mumpung antrian kendaraan di gerbang keberangkatan tidak terlalu padat, maka Faried pun membulatkan tekadnya, ia masuk ke jok kemudi. Ayu baru saja hendak membuka handle pintu belakang ketika sopir taksi itu akhirnya berseru.

    “Ayu, tunggu!” pertama kali ia memanggil wanita itu dengan namanya.

    Ia mengurungkan niatnya dan memandang nya. Matanya bertanya. Dada pria itu berdegup kencang.

    “Saya mencintai kamu, Ayu,” Faried mengungkapkan perasaan itu dengan tenggorokan tercekat.

    Ayu menatap tak percaya. Faried segera meraih tangannya, meraba jemarinya yang halus, mengalirkan keyakinan. Mata mereka saling bertatapan tanpa berkata-kata, hening selama beberapa saat

    “Hentikan semua ini, Ayu. Kamu seharusnya hidup lebih layak, terhormat dan bernilai. Apa yang kamu lakukan selama ini hanya akan membuat hidupmu didera kesalahan dan dosa. Hiduplah dengan saya. Kita kawin. Saya berjanji akan membahagiakan kamu.”

    Ayu menggigit bibir. Ia tampaknya memikirkan sesuatu. Faried berharap-harap cemas dalam hatinya, ia menggigit bibir bawahnya dan jantungnya berdebar kencang sekali, inilah pertama kalinya dalam hidup ia terus terang mengungkapkan cinta pada seorang wanita. Ia sudah menabah-nabahkan hati untuk siap menerima kemungkinan terburuk. Matanya memandang Ayu dengan tajam dan penuh harap.

    Ayu akhirnya tersenyum, ia mempererat genggaman tangan si sopir taksi. Tatapan matanya seperti menyiratkan sesuatu. Sesuatu yang sangat misterius sebelum akhirnya berkata,

    “Baiklah Bang….” ia berhenti sesaat, “saya memang harus menentukan pilihan, pada akhirnya. tapi kita hidup dalam dunia yang berbeda. Bang, Abang tak akan bisa memahami saya, seperti saya pun tak bisa memahami Abang. Terima kasih atas ketulusan tawaran Abang. Saya menghargainya. Biarkan saya memilih dan melewati jalan yang menurut saya terbaik. Abang orang baik, terus terang, saya suka Abang, seandainya takdir mempertemukan kita lebih awal atau di tempat yang lain dari sekarang, kita mungkin bisa bersatu. Saya doakan Abang kelak mendapat jodoh yang baik…jauh lebih baik dan suci, tidak seperti wanita di depanmu ini. Maafkan saya…selamat tinggal!” Ayu mengucapkannya dengan bibir bergetar, pelupuk matanya basah, namun ia menyekanya cepat-cepat, lalu membuka handle pintu tergesa-gesa dan pergi. Faried tak bisa mencegahnya lagi.

    Ia hanya sempat memandangi punggungnya serta gaunnya yang berkibar ditiup angin berjalan memasuki bandara ke gerbang keberangkatan, untuk terakhir kali tanpa menoleh ke belakang, dengan pandangan kosong. Terasa ada yang hilang dalam dirinya, bak istana pasir yang diterpa ombak dan lenyap seketika, sesuatu yang tak dapat ia ungkapkan bagaimana adanya. Dua puluh menit Faried termenung di taksinya di luar bandara, matanya kosong menatap langit biru. Sebagian dirinya serasa hilang bersama wanita itu. Tiga batang rokok telah dihabiskannya sejak Ayu meninggalkannya tadi.

    “Faried…ayo kamu bisa! Dunia belumlah kiamat, kehidupan terus berjalan! Bangkit!! Bangkit!! Jangan harap Bapak akan menemui kamu di akhirat nanti kalau kamu sampai bunuh diri gara-gara patah hati! Bangkit…bangkit…bangg…bangg” Faried sekonyong-konyong mendapat seruan itu dalam lamunannya, almarhum ayahnya seperti sedang menyemangatinya

    “Bang….bang…narik ga nih?” tiba-tiba saja sebuah suara dari sebelah menyadarkannya, rupanya ia setengah tertidur di tengah lamunannya.

    “Ooohh….iya…iya Pak, narik lah…ayo silakan masuk!” ia membukakan pintu belakang untuk pria berumur empat puluhan itu, “kemana nih Pak?”

    “Sudirman, cuma lagi ada demo deket situ…bisa ga Bang? Saya buru-buru nih, daritadi udah dua sopir nolak!” jawab pria yang menenteng tas laptop itu.

    “Beres Pak…saya coba lewat jalan tikus, moga-moga keburu!” sahut Faried lalu segera tancap gas dari situ,

    “Ayo Faried, kamu bisa, semangat!!” ia kembali menyemangati dirinya, ia harus tegar seperti apa yang selalu ayahnya ajarkan sejak kecil.

    Delapan tahun kemudian
    Foodcourt sebuah mall

    “Oke..oke…, kamu urus saja, yang ginian gak usah pakai lapor, belajar lah memutuskan sendiri!” Faried berbicara lewat ponsel dengan seseorang, “pokoknya pastikan jangan sampai terlambat, ketepatan waktu yang bikin perusahaan kita dipercaya orang, ngerti?!”

    “Baik Pak…saya usahakan sebaik mungkin, Bapak tenang aja, nanti saya kabari lagi” jawab suara di seberang sana.

    “Gitu dong….oke ditunggu kabar baiknya, sampai nanti ya!” ia menuntup pembicaraan lalu melanjutkan makannya yang tinggal sedikit lagi.

    Faried yang sekarang sudah berbeda dari Faried yang dulu, rambutnya kini telah dicukur cepak dan rapi, sebagian kecil nampak telah beruban, di atas bibirnya yang tebal itu telah tumbuh kumis tipis. Soal level kegantengan yang di bawah rata-rata sih memang tidak terlalu mengalami kemajuan, tapi kini ia terlihat lebih dewasa. Pakaian yang melekat di tubuhnya bukan lagi seragam sopir taksi seperti dulu, melainkan sebuah kaos berkerah merek ternama dan ponsel yang dipakainya bukan lagi barang seken atau murahan lagi, melainkan keluaran terbaru yang masih mulus. Hasil kerja keras, pengalaman dan tabungannya selama ini telah mengubah nasibnya, kini ia telah memiliki sebuah perusahaan travel yang sangat berkembang, bahkan telah membuka cabang di kota lain. Ia baru saja menyeruput minumannya ketika sesuatu tiba-tiba membentur sepatunya. Ia melongok ke bawah meja dan menemukan sebuah mobil-mobilan. Seorang bocah laki-laki mengejar dari belakang dan hendak mengambil mobil itu.

    “Michael…Mom said don’t play it here…now you see!” sahut seorang wanita

    Faried memungut mainan itu dan memberikannya kembali pada si bocah berparas blasteran bule itu.

    “Thank you sir!” kata si anak.

    “Maaf ya Pak…come say sorry to uncle!” kata wanita itu, “Hah….kamu!”

    Faried juga tertegun begitu melihat ibu dari anak itu, mereka saling tatap selama beberapa saat seperti tidak percaya pengelihatan masing-masing.

    “Faried? Bang Faried?” wanita itu membuka suara duluan.

    “Iya…Ayu kan?” yang dijawab wanita itu dengan anggukan kepala.

    Tidak banyak yang berubah pada wanita itu, ia tetap cantik dan tubuhnya masih langsing walau telah memiliki anak. Rambutnya kini agak bergelombang dan disepuh kecoklatan. Pakaian yang dikenakannya serta wajahnya dengan make up tipis membuat penampilannya jadi keibuan.

    “Eeemmm…sudah lama ga jumpa ya…gimana kabarnya sekarang?” sapa Faried yang merasa senang kembali bertemu dengan wanita itu, ia sangat penasaran dengan kabarnya selama tujuh tahun ini yang tidak pernah kedengaran lagi, “ayo duduk dulu!”

    Ayu duduk di depan Faried dan keduanya saling berpandangan dengan gembira.

    “Kelihatannya banyak yang sudah berubah” kata Ayu melihat penampilan pria yang dulu menjadi sopir langganannya itu yang juga pernah menghabiskan semalam penuh gairah bersamanya.

    “Ya…banyak, sangat banyak, kehidupan ini memang dramatis” jawab Faried “kamu di mana saja selama ini? Pulang kampung?”

    “Bukan…jauh…jauh sekali, benar kata Abang kehidupan itu dramatis, selain itu juga penuh misteri”

    Ayu kini telah menikah dengan seorang bule Inggris. Setahun setelah perpisahan mereka di bandara, ia berhenti menjadi wanita simpanan si direktur yang mulai berpindah ke lain hati. Di tengah kesepiannya, ia berkenalan dengan ekspatriat asal Inggris, hubungan mereka makin serius. Pria itu ternyata tulus mencintai Ayu tanpa memandang masa lalunya yang kelam, ia sendiri seorang duda tanpa anak. Hubungan mereka pun berlanjut ke pernikahan dan pria itu memboyong Ayu ke negaranya. Demikian pula Faried yang kini telah sukses, ia sudah menikah empat tahun yang lalu dan memiliki seorang putri berusia tiga tahun. Mereka berbagi cerita sambil tertawa-tawa, sesekali Ayu memperingatkan anaknya yang asyik dengan mainannya agar tidak jauh-jauh darinya.

    “Akhirnya, hari ini saya benar-benar lega” kata Faried,

    “rasa penasaran selama ini selesai sudah dan kamu menemukan kebahagiaan kamu, seperti yang dulu kita obrolin di taksi, ingat?”

    “Ya…doa saya agar Abang mendapat jodoh yang baik pun sudah terjawab. Tuhan memang kadang terlalu baik pada umatnya Bang, saya tidak pernah bermimpi wanita seperti saya akhirnya bisa menjadi ibu dan istri seperti sekarang ini, bagi wanita seperti saya, ini lebih dari yang saya harapkan” mata Ayu nampak berkaca-kaca, nampaknya ia antara sedih dan gembira membandingkan dirinya dulu dan sekarang.

    “Satu misteri kehidupan yang saya akhirnya singkap hari ini, kadang memang ada dua orang saling mencintai tapi tidak ditakdirkan untuk bersatu, seperti ada jurang yang dalam yang memisahkan mereka, namun pada akhirnya mereka akan menemukan kebahagiaannya di jalannya masing-masing dan bersama pasangannya yang lain yang berada di satu tebing dengan mereka” Faried berfilsafat.

    “…..dan kebahagiaan mereka pun bertambah ketika melihat cinta lamanya di seberang jurang itu akhirnya berbahagia walau bersama orang lain” Ayu menyambung lalu mereka hening, saling tatap selama kira-kira sepuluh detik sementara Michael asyik membuka tutup pintu mobil-mobilannya.

    “Ahahha…abang ambil kuliah filsafat ya setelah saya pergi?” Ayu tiba-tiba tertawa renyah sambil menangkap mobil-mobilan yang diluncurkan anaknya padanya di meja.

    “Hehe…sopir taksi kaya saya umur waktu itu udah kepala tiga mana sempat kuliah lagi, filsafat itu kadang keluar dari pengalaman hidup kita kok Lin, kan para filsuf sama nabi juga mendapatkannya dari pengalaman hidup dan lingkungan mereka dulu, cuma mereka lebih pandai merenungkan dan mengutarakan pada orang banyak”

    “Tuh…kan berfilsafat lagi…hihihi….!” mereka saling tertawa lepas, lega setelah beban di hati masing-masing akhirnya terangkat.

    Tiba-tiba BB Ayu berbunyi dan ia permisi untuk mengangkatnya.

    “Ok baby…we’ll meet you soon!” kata Ayu lalu menuntup pembicaraan

    “Papanya…udah nunggu di depan ngejemput!” kata Ayu, “Oke Bang…kita sudah harus berpisah lagi, tapi kali ini perpisahan yang melegakan, ya kan?” wanita itu lalu bangkit dan berpamitan pada Faried, “Michael, say goodbye to uncle!” katanya pada buah hatinya.

    “Eeeii…Ma…udah selesai salonnya?” Faried tiba-tiba melambai ke arah belakang Ayu pada seorang wanita lain yang menghampiri mereka, “ini istri saya, Anita!” ia memperkenalkan wanita itu pada Ayu, “Ini Ayu…langganan taksi dulu waktu narik hehehe….”

    “Ya udahlah, rapiin rambut aja ngapain pake lama?” jawab wanita itu lalu beralih menyapa Ayu dan anaknya, “Hai….”

    Anita dengan senyum ramah menjabat tangan Ayu dan juga membelai anak itu, gemas akan wajah indo-nya yang imut-imut. Secara fisik memang Anita kalah dibanding Ayu, kulitnya tidak terlalu putih dan agak gemuk, apalagi kini sedang hamil empat bulan. Namun, wanita inilah yang banyak membantu Faried mencapai sukses, ia adalah pedagang kecil di pasar yang adalah tetangga di dekat kontrakan Faried. Seorang wanita yang rajin dan ulet, sudah terbiasa kerja keras membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kue di rumahnya dan secara online, belakangan ia mulai membuat kuenya sendiri.

    Anita dan keluarganya juga cocok dengan Faried yang jujur dan pekerja keras, hubungan mereka semakin dalam terutama setelah Faried berpisah dari Ayu dulu hingga akhirnya mereka menikah dan mempunyai anak. Dari seluruh keuntungan usaha jualan kue keringnya lah Anita membantu Faried mendirikan usahanya sendiri hingga akhirnya sukses setelah melalui jalan yang cukup terjal dan berliku. Mereka pun akhirnya berpisah setelah ngobrol basa-basi sebentar.

    “Ayo Pa, kalau telat, nanti kasian Lina nunggu sendirian di sekolah, udah mau jamnya nih!” kata Anita mengajak suaminya untuk segera meninggalkan mall itu.

    “Oke Ma, yukk!!” Faried menggandeng tangan istrinya dan mempercepat langkah.

    “Omong-omong Papa punya langganan cantik juga ya…pantes Papa betah lama-lama jadi sopir taksi dulu hehehe” canda Anita sambil tetap berjalan.

    Faried hanya tertawa nyengir, hatinya tenang kini, ia dan Ayu telah menemukan kebahagiaannya masing-masing. Segala sesuatu memang ada waktunya masing-masing, manusia hanya perlu berusaha sebaik-baiknya, kelak karma dan darma akan datang pada saatnya kelak.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Hot Bercinta Dengan Tunangan Teman Sendiri

    Cerita Hot Bercinta Dengan Tunangan Teman Sendiri


    1554 views


    Perawanku – Namaku Erick, tentunya bukan nama asli dong ya. Aku tinggal di suatu kota yang kebetulan sering dijuluki sebagai kota kembang, pengalamanku ini terjadi mungkin kira- kira setahun yang lalu.

    Sebut saja Indi (bukan nama sebenarnya), dia adalah tunangan temanku yang bernama Edi (bukan nama asli) yang tinggal di Jakarta, yang mana pada waktu itu Edi harus keluar kota untuk keperluan bisnisnya.

    Oh ya, Edi ini punya adik laki-laki yang bernama Deni, dimana adiknya itu teman mainku juga. Kalau tidak salah, malam itu adalah malam minggu, kebetulan pada waktu itu aku lagi bersiap-siap untuk keluar.

    Tiba-tiba telpon di rumahku berbunyi, ternyata dari Deni yang mau pinjam motorku untuk menjemput temannya di stasiun kereta api. Dia juga bilang nitip sebentar tunangan kakaknya, karena di rumah lagi tidak ada siapa-siapa. Aku tidak bisa menolak, lagi pula aku ingin tahu tunangan temanku itu seperti bagaimana rupanya.

    Tidak lama kemudian Deni datang, karena rumahnya memang tidak begitu jauh dari rumahku dan langsung menuju ke kamarku. “Hei Rick..! Aku langsung pergi nih.. mana kuncinya..?” kata Deni. “Tuh.., di atas meja belajar.” kataku, padahal dalam hati aku kesal juga bisa batal deh acaraku. “Oh ya Rick.., kenalin nih tunangan kakakku.

    Aku nitip sebentar ya, soalnya tadi di rumah nggak ada siapa-siapa, jadinya aku ajak dulu kesini. Bentar kok Rick.., ” kata Deni sambil tertawa kecil. “Erick.., ” kataku sambil menyodorkan tanganku. “Indi.., ” katanya sambil tersenyum. “Busyeett..! Senyumannya..!” kataku dalam hati.

    Jantungku langsung berdebar- debar ketika berjabatan tangan dengannya. Bibirnya sensual sekali, kulitnya putih, payudaranya lumayan besar, matanya, hidungnya, pokoknya, wahh..! Akibatnya pikiran kotorku mulai keluar.

    “Heh..! Kok malah bengong Rick..!” kata Deni sambil menepuk pundakku. “Eh.. oh.. kenapa Den..?” kaget juga aku. “Rick, aku pergi dulu ya..! Ooh ya Ndi.., kalo si Erick macem-macem, teriak aja..!” ucap Deni sambil langsung pergi. Indi hanya tersenyum saja. “Sialan lu Den..!” gerutuku dalam hati.

    Seperginya Deni, aku jadi seperti orang bingung saja, serba salah dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Memang pada dasarnya aku ini sifatnya agak pemalu, tapi kupaksakan juga akhirnya. “Mo minum apa Ndi..?” kataku melepas rasa maluku. “Apa aja deh Rick. Asal jangan ngasih racun.” katanya sambil tersenyum. “Bisa juga bercanda nih cewek, aku kasih obat perangsang baru tau..!” kataku dalam hati sambil pergi untuk mengambil beberapa minuman kaleng di dalam kulkas.

    Akhirnya kami mengobrol tidak menentu, sampai dia menceritakan kalau dia lagi kesal sekali sama Edi tunangannya itu, pasalnya dia itu sama sekali tidak tahu kalau Edi pergi keluar kota. Sudah jauh-jauh datang ke Bandung, nyatanya orang yang dituju lagi pergi, padahal sebelumnya Edi bilang bahwa dia tidak akan kemana-mana.

    “Udah deh Ndi.., mungkin rencananya itu diluar dugaan.., jadi Kamu harus ngerti dong..!” kataku sok bijaksana. “Kalo sekali sih nggak apa Rick, tapi ini udah yang keberapa kalinya, Aku kadang suka curiga, jangan-jangan Dia punya cewek lain..!” ucap Indi dengan nada kesal.

    “Heh.., jangan nuduh dulu Ndi, siapa tau dugaan Kamu salah, ” kataku. “Tau ah.., jadi bingung Aku Rick, udah deh, nggak usah ngomongin Dia lagi..!” potong Indi. “Terus mau ngomong apa nih..?” kataku polos. Indi tersenyum mendengar ucapanku.

    “Kamu udah punya pacar Rick..?” tanya Indi. “Eh, belom.. nggak laku Ndi.. mana ada yang mau sama Aku..?” jawabku sedikit berbohong. “Ah bohong Kamu Rick..!” ucap Indi sambil mencubit lenganku. Seerr..! Tiba- tiba aliran darahku seperti melaju dengan cepat, otomatis adikku berdiri perlahan- lahan, aku jadi salah tingkah.

    Sepertinya si Indi melihat perubahan yang terjadi pada diriku, aku langsung pura-pura mau mengambil minum lagi, karena memang minumanku sudah habis, tetapi dia langsung menarik tanganku.

    “Ada apa Ndi..? Minumannya sudah habis juga..?” kataku pura-pura bodoh. “Rick, Kamu mau nolongin Aku..?” ucap Indi seperti memelas. “Iyaa.., ada apa Ndi..?” jawabku. “Aku.., Aku.. pengen bercinta Rick..?” pinta Indi. “Hah..!” kaget juga aku mendengarnya, bagai petir di siang hari, bayangkan saja, baru juga satu jam yang lalu kami berkenalan, tetapi dia sudah mengucapkan hal seperti itu kepadaku.

    “Ka.., Kamu..?” ujarku terbata-bata. Belum juga kusempat meneruskan kata- kataku, telunjuknya langsung ditempelkan ke bibirku, kemudian dia membelai pipiku, kemudian dengan lembut dia juga mencium bibirku.

    Aku hanya bisa diam saja mendapat perlakuan seperti itu. Walaupun ini mungkin bukan yang pertama kalinya bagiku, namun kalau yang seperti ini aku baru yang pertama kalinya merasakan dengan orang yang baru kukenal. Begitu lembut dia mencium bibirku, kemudian dia berbisik kepadaku,

    “Aku pengen bercinta sama Kamu, Rick..! Puasin Aku Rick..!” Lalu dia mulai mencium telinganku, kemudian leherku, “Aahh..!” aku mendesah. Mendapat perlakuan seperti itu, gejolakku akhirnya bangkit juga. Begitu lembut sekali dia mencium sekitar leherku, kemudian dia kembali mencium bibirku, dijulurkan lidahnya menjalari rongga mulutku.

    Akhirnya ciumannya kubalas juga, gelombang nafasnya mulai tidak beraturan. Cukup lama juga kami berciuman, kemudian kulepaskan ciumannya, kemudian kujilat telinganya, dan menelusuri lehernya yang putih bak pualam. Ia mendesah kenikmatan, “Aahh Rick..!”


    “Rick.., buka dong bajunya..!” katanya manja. “Bukain dong Ndi.., ” kataku. Sambil menciumiku, Indi membuka satu persatu kancing kemeja, kemudian kaos dalamku, kemudian dia lemparkan ke samping tempat tidur.

    Dia langsung mencium leherku, terus ke arah puting susuku. Aku hanya bisa mendesah karena nikmatnya, “Akhh.., Ndi.” Kemudian Indi mulai membuka sabukku dan celanaku dibukanya juga. Akhirnya tinggal celana dalam saja. Dia tersenyum ketika melihat kepala kemaluanku off set alias menyembul ke atas.

    Indi melihat wajahku sebentar, kemudian dia cium kepala kemaluanku yang menyembul keluar itu. Dengan perlahan dia turunkan celana dalamku, kemudian dia lemparkan seenaknya. Dengan penuh nafsu dia mulai menjilati cairang bening yang keluar dari kemaluanku, rasanya nikmat sekali.

    Setelah puas menjilati, kemudian dia mulai memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. “Okhh.. nikmat sekali, ” kataku dalam hati, sepertinya kemaluanku terasa disedot-sedot. Indi sangat menikmatinya, sekali- sekali dia gigit kemaluanku. “Auwww.., sakit dong Ndi..!” kataku sambil agak meringis. Indi seperti tidak mendengar ucapanku, dia masih tetap saja memaju- mundurkan kepalanya.

    Mendapat perlakuannya, akhirnya aku tidak kuat juga, aku sudah tidak kuat lagi menahannya, “Ndi, Aku mau keluar.. akhh..!” Indi cuek saja, dia malah menyedot batang kemaluanku lebih keras lagi, hingga akhirnya, “Croott.. croott..!” Aku menyemburkan lahar panasku ke dalam mulut Indi.

    Dia menelan semua cairan spermaku, terasa agak ngilu juga tetapi nikmat. Setelah cairannya benar-benar bersih, Indi kemudian berdiri, kemudian dia membuka semua pakaiannya sendiri, sampai akhirnya dia telanjang bulat.

    Kemudian dia menghampiriku, menciumi bibirku. “Puasin Aku Rick..!” katanya sambil memeluk tubuhku, kemudian dia menuju tempat tidur. Sampai disana dia tidur telentang. Aku lalu mendekatinya, kutindih tubuhnya yang elok, kuciumi bibirnya, kemudian kujilati belakang telinga kirinya.

    Dia mendesah keenakan, “Aahh..!” Mendengar desahannya, aku tambah bernafsu, kemudian lidahku mulai menjalar ke payudaranya. Kujilati putingnya yang sebelah kiri, sedangkan tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kiri, sambil kadang kupelintir putingnya. “Okkhh..! Erick sayang, terus Rick..! Okhh..!” desahnya mulai tidak menentu.

    Puas dengan bukit kembarnya, badanku kugeser, kemudian kujilati pusarnya, jilatanku makin turun ke bawah. Kujilati sekitar pangkal pahanya, Indi mulai melenguh hebat, tangan kananku mulai mengelus bukit kemaluannya, lalu kumasukkan, mencari sesuatu yang mungkin kata orang itu adalah klitoris.

    Indi semakin melenguh hebat, dia menggelinjang bak ikan yang kehabisan air. Kemudian aku mulai menjilati bibir kemaluannya, kukuakkan sedikit bibir kemaluannya, terlihat jelas sekali apa yang namanya klitoris, dengan agak sedikit menahan nafas, kusedot klitorisnya. “Aakkhh.. Rick.., ” Indi menjerit agak keras, rupanya dia sudah orgasme, karena aku merasakan cairan yang menyemprot hidungku, kaget juga aku. Mungkin ini pengalaman pertamaku menjilati kemaluan wanita, karena sebelumnya aku tidak pernah.

    Aku masih saja menjilati dan menyedot klitorisnya. “Rick..! Masukin Rick..! Masukin..!” pinta dia dengan wajah memerah menahan nafsu. Aku yang dari tadi memang sudah menahan nafsu, lalu bangkit dan mengarahkan senjataku ke mulut kemaluannya, kugesek-gesekkan dulu di sekitar bibir kemaluannya. “Udah dong Rick..! Cepet masukin..!” katanya manja.

    “Hmm.., rupanya ni cewek nggak sabaran banget.” kataku dalam hati. Kemudian kutarik tubuhnya ke bawah, sehingga kakinya menjuntai ke lantai, terlihat kemaluannya yang menyembul. Pahanya kulebarkan sedikit, kemudian kuarahkan kemaluanku ke arah liang senggama yang merah merekah. Perlahan tapi pasti kudorong tubuhku. “Bless..!” akhirnya kemaluanku terbenam di dalam liang kemaluan Indri.

    “Aaakkhh Rick..!” desah Indi. Kaget juga dia karena sentakan kemaluanku yang langsung menerobos kemaluan Indi. Aku mulai mengerakkan tubuhku, makin lama makin cepat, kadang- kadang sambil meremas- remas kedua bukit kembarnya. Kemudian kubungkukkan badanku, lalu kuhisap puting susunya.

    “Aakkhh.., teruss.., Sayangg..! Teruss..!” erang Indi sambil tangannya memegang kedua pipiku. Aku masih saja menggejot tubuhku, tiba- tiba tubuh Indi mengejang, “Aaakkhh.. Eriicckk..!” Ternyata Indi sudah mencapai puncaknya duluan. “Aku udah keluar duluan Sayang..!” kata Indi. “Aku masih lama Ndi.., ” kataku sambil masih menggenjot tubuhku.

    Kemudian kuangkat tubuh Indi ke tengah tempat tidur, secara spontan, kaki Indi melingkar di pinggangku. Aku menggenjot tubuhku, diikuti goyangan pantat Indi. “Aakkhh Ndi.., punya Kamu enak sekali.” kataku memuji, Indi hanya tersenyum saja. Aku juga heran, kenapa aku bisa lama juga keluarnya.


    Tubuh kami berdua sudah basah oleh keringat, kami masih mengayuh bersama menuju puncak kenikmatan. Akhirnya aku tidak kuat juga menahan kenikmatan ini. “Aahh Ndi.., Aku hampir keluar.., ” kataku agak terbata-bata. “Aku juga Rick..! Kita keluarin sama- sama ya Sayang..!” kata Indi sambil menggoyang pantatnya yang bahenol itu.

    Goyangan pantat Indi semakin liar. Aku pun tidak kalah sama halnya dengan Indi, frekuensi genjotanku makin kupercepat, sampai pada akhirnya, “Aaakkhh.., Ericckk..!” jerit Indi sambil menancapkan kukunya ke pundakku. “Aakhh, Indii.., Aku sayang Kamuu..!” erangku sambil mendekap tubuh Indi.

    Kami terdiam beberap saat, dengan nafas yang tersenggal-senggal seperti pelari marathon. “Kamu hebat sekali Rick..!” puji Indi. “Kamu juga Ndi..!” pujiku juga setelah agak lama kami berpelukan.

    Kemudian kami cepat- cepat memakai pakain kami kembali karena takut adik tunangannya Indi keburu datang.

  • Cerita Sex Diajarin Ngewe Sama Tante Yosi

    Cerita Sex Diajarin Ngewe Sama Tante Yosi


    1081 views

    Perawanku – Cerita Sex Diajarin Ngewe Sama Tante Yosi, Ini yaitu satu pengalaman saya yang berlangsung sekitaran 1 th, yang kemarin, Ini yaitu pengalaman yang akan tidak sempat saya lupakan dengan Tante Yossie. Usia saya saat ini yaitu 23 th., saya (Donnie) barusan merampungkan kuliah saya di satu perguruan swasta yang populer di Jakarta.

    Dahulu saat saya masih tetap duduk di bangku SMA, saya memiliki rekan bermain yang cukup akrab, namanya Jessy. Dia yaitu sahabat saya mulai sejak perjumpaan pertama kalinya saat masih tetap duduk di bangku SMP. Karna jalinan kami begitu dekat, jadi saya seringkali bermain ke tempat tinggalnya di lokasi Menteng.
    Nyaris setiap minggu tentu saya bermain ke tempat tinggalnya, tak tahu untuk mengajaknya pergi atau cuma bermain di tempat tinggalnya saja. Karna jalinan kami yang dekat, jadi jalinan saya dengan keluarganya cukup dekat juga. Terlebih dengan Tante Yossie, yg tidak beda yaitu ibu kandung Jessy.
    Butuh anda kenali, Tante Yossie menikah di usia yang begitu muda dengan Om Anwar. Tante Yossie melahirkan Jessy saat masih tetap berusia 18 th.. Terkecuali Jessy, Tante Yossie juga memiliki anak sekali lagi yakni George yang baru berusia 2 th. waktu itu. Memanglah ketidaksamaan umurnya dengan Jessy begitu jauh, apakah mungkin saja Tante Yossie memanglah menginginkan memiliki anak sekali lagi atau mungkin..?
    Sehari-hari Tante Yossie cuma dirumah saja, sedang Om Anwar-nya yaitu seseorang karyawan perusahaan asing yang cukup berhasil. Selanjutnya saat baru memijak SMA th. ke-2 jalinan saya serta Jessy dan dengan keluarganya putus, saat nyatanya mereka sekeluarga mesti geser ke Jerman untuk ikuti Om Anwar yang memperoleh pekerjaan di Jerman.
    Tetapi kira–kira satu tahun waktu lalu saya memperoleh berita kalau Jessy tengah berlibur ke Jakarta. Sudah pasti saya suka sekali karna dapat berjumpa rekan lama saya. Saat telah ada di Jakarta, Jessy menelepon saya serta dia menyuruh saya datang ke apartmentnya di lokasi Kuningan.
    Serta pada akhirnya saya juga datang berjumpa dengan dia di apartmentnya. Saat datang saya begitu kaget, karna nyatanya Tante Yossie telah tinggal kembali di Jakarta. Tante Yossie nyatanya tidaklah terlalu kerasan dengan situasi di Jerman, kira–kira sesudah 1 th. di Jerman dia mengambil keputusan dengan George untuk kembali pada Jakarta. Sedang Om Anwar serta Jessy tetaplah tinggal disana. George saat ini telah sekolah pada suatu SD swasta populer di lokasi Lippo Karawaci.
    Saat berjumpa dengan Jessy ataupun dengan anggota keluarganya yang beda, saya begitu suka sekali, karna telah lama sekali saya tidak bersua dengan mereka semuanya. Tetapi sesudah kira–kira 2 minggu ada di Jakarta untuk berlibur, pada akhirnya Jessy mesti kembali pada Jerman untuk melanjutkan studinya. Tetapi sesudah 1 minggu Jessy balik ke Jerman, tiba–tiba saya memperoleh telepon dari nomor HP yang umum digunakan Jessy saat dia ada di Jakarta, serta nyatanya sesudah saya ingat nomor itu yaitu nomor HP Tante Yossie.
    “Don.. Tante nih, anda sekali lagi di mana? ” bertanya si Tante.
    “Saya barusan habis makan siang tuch sama rekan saya Tante, ada apa memangnya? ” tanyaku kembali.
    “Gini.. ada yang aneh sama TV dirumah Tante, anda dapat tolong kemari tidak? ” tanyanya.
    “Yah.. dapat deh Tante, hanya kurang lebih 2 jam sekali lagi deh yah, ” jawab saya.
    Pada akhirnya saya datang juga ke apartmentnya untuk membantunya. Setelah tiba di apartmentnya alangkah kagetnya saya, nyatanya Tante Yossie menggunakan pakaian yang begitu seksi. Yah, memanglah tubuhnya cukup seksi bagiku, karna meskipun telah mulai berusia, Tante Yossie masih tetap pernah melindungi badannya dengan lakukan senam “BL” satu minggu 3 kali. Badannya yang baik menurut saya memiliki tinggi sekitaran 168 cm, serta berat sekitaran 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira–kira 36B.
    Saat saya mengecek TV-nya nyatanya memanglah ada yang rusak. Saat saya tengah berupaya mengeceknya tiba–tiba Tante Yossie melekat di belakang saya. Mula–mula saya tidak menyimpan berprasangka buruk sekalipun mungkin saja karna dia menginginkan tahu sisi mana yang rusak, tetapi lama–lama saya rasakan ada suatu hal yang melekat di punggung saya, yakni payudaranya yang montok. Sesudah TV sukses saya benarkan, kami berdua pada akhirnya duduk di ruangan keluarganya sembari melihat acara TV serta bicara mengenai berita saya.
    “Don, anda masih tetap seperti yang dahulu saja yah? ” bertanya Tante Yossie.
    “Agh.. Tante dapat saja deh, memang tidak ada bedanya sekalipun apa? ” jawabku.
    “Iyah tuch.. masih tetap seperti yang dahulu saja, hanya saat ini tentunya telah dewasa dong.. ” tanyanya.
    Lantas belum juga saya menjawab pertanyaannya yang satu itu, tiba–tiba tangan Tante Yossie telah memegang tangan saya duluan, serta sudah pasti saya kaget 1/2 mati.
    “Don.. ingin kan tolongin Tante? ” bertanya si Tante dengan manja.
    “Loh.. tolongin terlebih nih Tante? ” jawabku.
    “Tolong memuaskan Tante, Tante kesepian nih.. ” jawab si Tante.
    Astaga, begitu kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Yossie yang mempunyai rambut sebahu dengan warna rambut yang highlight, saya benar–benar tidak memikirkan bila ibu rekan dekatku sendiri yang memohon sesuai sama itu. Memanglah tidak sempat ada hasrat untuk “bercinta” dengan Tante Yossie ini, karna sampai kini saya berasumsi dia jadi seseorang ibu yang baik serta bertanggungjawab.
    “Wah.. saya mesti memuaskan Tante dengan apa dong? ” tanyaku sembari bercanda.
    “Yah.. anda fikir sendiri dong, kan anda telah dewasa kan.. ” jawabnya.
    Lantas pada akhirnya saya terikut nafsu setan juga, serta awalilah membulatkan tekad untuk memeluknya serta kami mulai berciuman di ruangan keluarganya. Diawali dengan mencium bibirnya yang tidak tebal, serta tanganku mulai meremas–remas payudaranya yang masih tetap montok itu. Tante Yossie juga tidak ingin kalah, ia segera meremas–remas alat kelaminku dengan keras.
    Mungkin saja karna sampai kini tak ada pria yang bisa memuaskan nafsu seksnya yang nyatanya begitu besar ini, terlebih sesudah kepulangannya dari Jerman. Pada akhirnya sesudah nyaris sepanjang 1/2 jam kami berdua bercumbu seperti diatas, Tante Yossie menarik saya ke kamar tidurnya.
    Sesampainya di kamar tidurnya dia segera menanggalkan semuanya pakaian saya, pertama–tama dia melepas baju saya kancing perkancing sembari menciumi dada saya. Bukanlah main nafsunya si Tante, fikirku. Serta pada akhirnya sampailah di bagian celana. Begitu nafsunya dia menginginkan melepas celana Levi’s saya.
    Serta pada akhirnya dia bisa lihat begitu tegangnya batang kemaluan saya. “Wah.. Don, gede juga nih miliki anda.. ” kata si Tante sembari bercanda. “Masa sich Tante.. perasaan biasa–biasa saja deh, ” jawabku.
    Dalam kondisi saya berdiri serta Tante Yossie yang telah jongkok dimuka saya, dia segera turunkan celana dalam saya serta dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya kedalam mulutnya.
    Aghh, sangat nikmat rasa-rasanya. Karna baru pertama kesempatan ini saya rasakan oral sex. Sesudah dia senang lakukan oral dengan kemaluan saya, lalu saya mulai membulatkan tekad untuk bereaksi.
    Saat ini ubahan saya yang menginginkan memuaskan si Tante. Saya buka pakaiannya serta lalu saya melepas celana panjangnya. Sesudah lihat kondisi si Tante dalam kondisi tanpa ada pakaian itu, tiba–tiba libido sex saya jadi makin besar. Saya segera menciumi payudaranya sembari meremas–remas, disamping itu Tante Yossie tampak sukanya bukanlah main. Lantas saya buka BH hitamnya, serta awalilah saya menggigit–gigit putingnya yang telah mengeras.
    “Oghh.. saya merindukan situasi begini Don.. ” desahnya.
    “Tante, saya belum juga sempat gituan loh, tolong ajarin saya yah? ” kataku.
    Karna saya telah bernafsu sekali, pada akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Serta lalu saya buka celana dalamnya yang berwarna hitam. Tampak terang klitorisnya telah memerah serta liang kemaluannya telah basah sekali diantara bulu–bulu halusnya.
    Lantas saya mulai menjilat–jilat kemaluan si Tante dengan pelan–pelan. “Ogh.. Don, pandai sekali yah anda merangsang Tante.. ” dengan nada yang mendesah. “Wah.. natural tuch Tante, walau sebenarnya saya belum juga sempat hingga selama ini loh.. ” jawabku. Tidak merasa, tahu–tahu rambutku dijambaknya serta tiba–tiba badan tante mengejang serta saya rasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. nyatanya dia orgasme! Memanglah berbau aneh sich, hanya berhubung telah dirundung nafsu, bau seperti apa pun pastinya telah tidak jadi problem.
    Kemudian kami mengubah tempat jadi 69, tempat ini baru pertama kalinya saya rasakan, serta enaknya benar–benar mengagumkan. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang telah mulai basah serta begitu juga mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Sesudah kami senang lakukan oral sex, pada akhirnya Tante Yossie saat ini memohon saya untuk memasukan batang kemaluan saya kedalam lubang kemaluannya.
    “Don.. ayoo dong, saat ini masukin yah, Tante telah tidak tahan nih, ” minta si Tante.
    “Wah.. saya takut jika Tante hamil bagaimana.. ” tanyaku.
    “Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya anda tenang–tenang saja deh, ” sembari berupaya meyakinkanku.
    Benar–benar nafsu setan telah memengaruhi saya, serta pada akhirnya saya nekad memasukan kemaluan saya kedalam lubang kemaluannya. Oghh, enaknya. Meskipun sakitnya juga lumayan. Sesudah pada akhirnya masuk, saya lakukan pergerakan maju-mundur dengan perlahan, karna masih tetap merasa sakit. “Ahh.. dorong selalu dong Don.. ” minta si Tante dengan nada yang telah mendesah sekali.
    Mendengar desahannya saya jadi makin nafsu, serta saya mulai mendorong dengan kencang serta cepat meskipun rasa sakit juga merasa. Pada akhirnya saya mulai punya kebiasaan serta mulai mendorong secara cepat. Disamping itu tangan saya asik meremas–remas payudaranya, hingga tiba–tiba badan Tante Yossie mengejang kembali.
    Astaga, nyatanya dia orgasme yang ke-2 kalinya. Serta lalu kami bertukar tempat, saya dibawah serta dia diatas saya. Tempat ini yaitu dambaan saya bila tengah bersenggama. Serta nyatanya tempat pilihan saya ini memanglah tidak salah, benar–benar saya rasakan kesenangan yang mengagumkan dengan tempat ini. Sembari rasakan pergerakan naik-turunnya pinggul si Tante, serta tangan saya tetaplah repot meremas payudaranya sekali lagi.
    “Oh.. oh.. sangat nikmat Donniie..! ” teriak si Tante.
    “Tante.. saya sepertinya telah ingin keluar nih.. ” kata saya.
    “Sabar yah Don.. tunggulah sebentar sekali lagi dong, Tante juga telah ingin keluar sekali lagi nih.. ” jawab si Tante.
    Pada akhirnya saya tidak kuat menahan sekali lagi, serta keluarlah cairan mani saya didalam liang kemaluan si Tante, demikian halnya dengan si Tante. “Arghh..! ” teriak si Tante Yossie. Tante Yossie lalu mencakar pundak saya sesaat saya memeluk tubuhnya dengan erat sekali. Benar-benar mengagumkan rasa-rasanya, otot–otot kemaluannya benar–benar meremas batang kemaluanku.
    Kemudian kami berdua letih serta segera tidur saja diatas ranjangnya. Tanpa ada diakui sesudah 3 jam tertidur, saya pada akhirnya bangun. Saya menggunakan pakaian saya kembali serta menuju ke dapur.
    Saat di dapur saya lihat Tante Yossie dalam kondisi telanjang, mungkin saja dia telah umum sesuai sama itu. Tak tahu mengapa, tiba–tiba saat ini giliran saya yang nafsu lihat pinggulnya dari belakang.
    Tanpa ada bekata–kata, saya segera memeluk Tante Yossie dari belakang, serta mulai sekali lagi meremas–remas payudaranya serta pantatnya yang bahenol dan menciumi lehernya. Tante juga membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante segera menciumi bibir saya, serta memeluk saya dengan erat.
    “Ih.. anda nyatanya nafsuan juga yah anaknya? ” kataya sembari tertawa kecil.
    “Agh Tante dapat saja deh, ” jawabku sembari menciumi bibirnya kembali.
    Karena sangat nafsunya, saya mengajak untuk lagi bersenggama dengan si Tante, serta si Tante beberapa sepakat saja. Tidak ada perintah dari Tante Yossie kesempatan ini saya segera buka celana serta pakaian saya kembali, hingga kami dalam kondisi telanjang kembali di dapurnya.
    Karna kondisi tempat kurang nyaman, jadi kami cuma mengerjakannya dengan style doggie model. ”Um.. dorong lebih keras sekali lagi dong Don.. ” desahnya. Makin nafsu saja saya mendengar desahannya yang menurut saya begitu seksi. Jadi makin keras juga sodokanku pada si Tante, disamping itu tanganku menjamah semuanya sisi badannya yang bisa saya jangkau.
    “Don.. mandi yuk? ” mintanya.
    “Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, selalu Tante mandiin saya yah? ” jawab saya.
    Pada akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya mendudukkan Tante Yossie diatas wastafel, serta lalu saya kembali menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Serta Tante mulai terangsang kembali.
    “Hm.. sangat nikmat jilatanmu Don.. agghh.. ” desahnya.
    “Don.. anda sering–sering kesini dong.. ” tuturnya dengan nafas memburu.
    “Tante, jika tahu ada service begini mah saya setiap hari bila dapat pula ingin, ” jawabku sembari tersenyum.
    Sesudah senang menjilatinya, saya memasukkan batang kemaluan saya kembali pada lubang kemaluan Tante Yossie. Kesempatan ini, dorongan saya telah makin kuat, karna rasa sakit saya telah mulai menyusut atau mungkin saya telah mulai punya kebiasaan yah? Jemu dengan style itu, saya duduk diatas kloset serta Tante Yossie saya dudukkan diatas saya, serta batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk kedalam lubang kemaluannya.
    Kesempatan ini saya telah mulai tidaklah terlalu rasakan sakit sekalipun, tetapi rasa nikmat semakin banyak merasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang semakin lama semakin cepat buat pada akhirnya saya “KO” kembali, saya keluarkan air mani kedalam lubang kemaluannya. Tante Yossie lalu menjilati kemaluan saya yang telah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semuanya hingga bersih. Kemudian kami mandi dengan.
    Sesudah usai mandi, Tante Yossie memasakkan makan malam buat kami berdua, serta kemudian saya pamitan untuk balik ke tempat tinggal. Sesudah kajadian itu saya baru tahu kalau kesepian seseorang Tante bisa membawa nikmat juga kadang–kadang. Hingga saat ini kami masih tetap seringkali berjumpa serta lakukan bersetubuhan. Kami umumnya lakukan di apartmetnya di saat anaknya George tengah sekolah atau les. Serta seringkali juga Tante mem-booking hotel berbintang serta kami berjumpa di kamar.
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Supir Ngentot Gadis Cantik Super Mulus

    Cerita Sex Supir Ngentot Gadis Cantik Super Mulus


    989 views

    Perawanku – Cerita Sex Supir Ngentot Gadis Cantik Super Mulus, Aku lugu dan polos, mungkin ini kelemahan ku saat aku tidur dengan sopirku. Cerita seks ini ak share aja disini. untuk para pembaca sensor , kisah ini nyata dan tidak ada rekayasa…sengaja saya kepingin curhat lewat cerita ini soalnya untuk terus terang ke temen atau saudara atau ortu, ga bisa.. namaku Dita Putri ,usia saat ini 20 asli Bandung,tinggal di daerah Setiabudi Regency,

    dan saat ini kuliah sastra inggris semester 4 di salah satu pts Bandung, kata temen2 kampusku aku termasuk cewek cantik dan beruntung, kenapa? karena bentuk tubuhku(kata temen)bisa dibilang proporsional dan bikin terangsang kaum cowo(semua ini kata temen2 deketku seperti si Nita,Asni,Ruri) tapi sampai sekarang aku belum punya pacar karena ga boleh sama ortu.o ya,di rumah kami tinggal berlima aku dua bersaudara adikku cewek dan aku dan kedua orang tuaku satu lagi pembantu sekaligus sopir pribadi keluargaku sebut saja mang Sardi(maaf,nama samaran)(dia itu usia nya hampir seusia papahku yaitu sekira 50 tahunan)jadi genap berlima semuanya..
    kejadian aneh dan mengasikan itu terjadi kira2 beberapa bulan lalu saat bulan puasa, waktu itu hari jum’at (tanggalnya lupa) kami di rumah hanya berdua yaitu saya sama mang Sardi, sedangkan mamah-papah sama si Danti(nama adikku yg masih smp itu) sedang ke Bogor (berangkat hari jum’at subuh setelah makan sahur) karena papah serah terima jabatan di Pemda Bogor dan mereka menginap selama 3 hari,sedangkan saya mesti kuliah semester pendek, jadi ga bisa ikut, dan di rumah ditemani supir kami mang Sardi karena disuruh papah jagain aku.
    Jadi resmi di rumah yg besar ini(karena saat nulis email ini lagi dirumah) kami berdua, saya dan mang Sardi di ruang bawah. setelah keberangkatan mereka dan makan sahur saya kembali lanjutkan tidur sementara mang Sardi beres2 ruang bawah, nah kejadian anehnya ini berawal ketika saya mau mandi di ruang bawah (karena sowernya deket ruang tamu) saat itu saya mau kuliah jam 8.00, sedangkan saat bangun jam 7.00 saya agak santai saat itu karena selain jarak kampusku deket juga ada mobil civic grand kesayanganku itu yg selalu menemani kemanapun.
    saat mau mandi saya langsung buka daster seperti biasa kalo pake daster saya selalu tidak pake BH dan CD, jadi hanya baju tidur aja, demi kesehatan, begitu menurut mamaku…asal tau aja kalo tubuhku seperti yg dikatakan temen2ku itu betul2 proporsional dg ukuran BH 34A dan pinggul yg agak bulat serta kulitku yang putih mulus tanpa cacat kalo disamain, kata teman2ku aku ini mirip2 sedikit dengan Putri Patricia artis sinetron itu(bukan geer lho) , setelah telanjang gitu saya mencoba buka kran sower tapi ga keluar air alias macet dan saya agak jengkel sambil setengah teriak panggil mang Sardi…..”mang Sardiiii….kesini cepat”,dan dg spontan dia datang tergopoh2, saya lupa saat itu udah telanjang dan pintu ga dikunci, begitu dateng dia, langsung mukanya merah padam karena melihat saya telanjang bulat di hadapannya, saya pun malu spontan tanganku menyambar kain daster di gantungan dan bilang ke dia kalo sower ga jalan, lalu dia terbata2 bilang gini “maaf neng,mamang lupa bukain jet pump di dapur, lalu saya suruh dia “cepet mang bukain udah dingin nih!!”
    lalu dia menganguk dan setengah berlari dia ke dapur, setelah menyala sowernya itu lalu aku semprotkan sower air panas ke bathtub dan aku langsung agak loncat ke bathtub tanpa ada rasa lupa mengunci pintu toilet tersebut, dan setelah aku selesai mandi aku lupa kalo aku juga ga bawa handuk lalu aku panggil mang Sardi tapi saat itu posisiku masih didalam bathtub berbusa tentu saja telanjang, tak lama dia datang dan dengan meminta ijin dia masuk ke toilet dengan hati2 sekali,
    “mang tolong bawain handuk bunga2 yg warna merah di kamar” begitu kataku saat itu, dia menganguk dan langsung ke kamarku lalu saya tersenyum sendirian melihat tingkah laku mang Sardi barusan yg hati2 sekali dan malu2 tertunduk itu, sekilas ada hasrat untuk mengerjainya waktu itu, ga berapa lama dia muncul bawa handuk lalu aku keluar dari bathtub dengan posisi membelakangi dia sehingga yg dia lihat punggung mulusku saat itu(tentu saja saat itu saya masih telanjang bulat) dengan suara agak gemetar dia bilang gini “sudah ya neng ini handuknya!” lalu saya bilang “bentar dulu mang, mendingan mamang yg menghanduki saya biar tahu sekali2 rasanya menghanduki cewe(begitu awalnya saya mengerjainya,o ya asal tau aja kalo mang Sardi itu adalah duda tanpa anak sejak 7 tahun lalu)
    semula dia keliatan kikuk dan ragu2 melakukannya (saya tahu karena liat cermin didepanku walaupun membelakangi dia) dengan wajah tertunduk dan mimik muka yg malu2 lalu dia mengusapkan handuk ke punggungku yg masih berbusa sabun, dan cukup lama dia mengusap2 punggungku…lalu saya bilang “seluruhnya donk mang, dari rambut ke kaki paling bawah” dan “iya…eee..iya neng sebentar” dia terbata2 jawabnya. Sekilas saya sempet tertawa kecil karena merasa seneng udah kerjain dia, lalu dia mengusapkan handuk dari rambut ke leher, lembut sekali.
    bahu punggung dan di posisi pinggang dan bokong (belahan anus) agak lama menghandukinya, sekilas terasa seperti diusap2 lembut dan ada rasa enak ketika dia menghanduki daerah deket anus, lalu ke paha belakang dan terakhir di kaki bawah. Saat itu terlintas saya mau menyudahinya karena mungkin waktu sudah jam 7.30 pikirku, namun entah setan apa yg merasuki aku saat itu sehingga ada pikiran nakal lagi mau mengerjainya lebih, dan secara refleks aku berbalik badan dan saat itu kontan dia terbelalak kaget dengan posisi tubuh telanjangku menghadap dia yg masih memegang handukku itu lalu dia tertunduk dan aku langsung berkata seperti ini “mamang sekarang membersihkan dan menghanduki bagian depan ya mang!!” begitu suruhku sambil agak setengah ketawa(habis ga tahan tingkah laku dia yg kikuk itu)
    lalu diapun menghanduki badan bagian depanku mulai dari rambut lalu wajah (aku tertawa kecil saat dia handuki wajahku) tapi yg aku tahu dia tetap tertunduk, dan setelah wajah ke leher lalu (aku agak deg2an saat itu)dia menghanduki bagian dada kiri kananku agak lama(sejenak dia agak terhenti saat menghanduki daerah dada) dan saat itu juga aku berhenti ketawa2 kecil dan ada rasa aneh yg belum pernah dirasakan saat mang Sardi menghanduki dadaku, soalnya selama ini kalo sama sendiri rasanya biasa2 aja, tapi pas sama orang lain yg menghandukinya jadi agak lain rasanya.
    ada perasaan enak dan nikmat sementara saya seperti dibius saja terpejam beberapa saat tanpa sadar berkata seperti ini “hmmm….hmmm…hmmm” kontan saja mang Sardi bertanya “kenapa neng?neng Dita marah ya sama mamang?”…dia mencoba untuk menegakan kepalanya yang agak melihat ke wajahku yg lebih jangkung dari dia, dan dia semakin berani malah saat itu menatap wajahku ,aku menggeleng dan berkata “ngga mang…saya ga marah cuman…” aku ga meneruskan kata2ku saat itu….lalu dia tanya lagi “cuman apa neng? bilang sama mamang?” suaranya seperti ketakutan kalo2 saya akan memarahinya..lalu saya teruskan kata2ku “cuman ada perasaan enak di elus2 gitu mang!!” jawabku polos saat itu tanpa ada rasa malu kalo ternyata saat itu adalah pertama kali terangsang secara seksual, gilanya lagi oleh pembantu sekaligus sopirku mang Sardi!!!
    Mang Sardi malah senyum setelah saya ungkapkan kepolosanku itu lalu berkata gini “nah…neng…mamang tau sebenarnya kalo neng Dita ini mau mengerjain mamang ya…dan ternyata malahan neng Dita sendiri yang mulai terangsang!!!” begitu katanya dengan logat sunda yang kental sambil tetap tangannya memutar-mutar dadaku kiri kanan dengan handuk, padahal kalo saya lihat udah kering dadaku itu, justru yg masih basah adalah bagian perut dan kemaluanku yg agak masih jarang bulu2nya hanya bulu halus seperti rambut, lalu saya memegang tangan mang Sardi dua2nya dan berkata “cukup mang, Dita kesiangan nih kuliah udah telat dari tadi”, lalu mamang menganguk dan melilitkan handuk itu ke tubuh saya seperti saat dia melilitkan handuk ke tubuh saya saat SD…..dan sebelum dia keluar saya menarik tangan kirinya sambil berkata “jangan bilang sama mamah-papah ya, diem aja nanti deh pulang kuliah dihandukin lagi sama mamang seperti tadi, mau ga?” kataku cepet2, dia cuman menganguk.
    Lalu pas di tempat kuliah saya ga bisa konsentrasi, kepengen cepet pulang selain lapar karena puasa juga kepengen cepet mandi dan dihanduki lagi sama mang Sardi.. Setelah selesai kuliah kira2 jam 12.30 aku bergegas pulang dan sampe di rumah jam 13.00 langsung menuju kamar dan ganti pake daster dengan maksud mau mandi siang sambil membawa handuk saya lihat mang Sardi terbengong-bengong dengan tingkah lakuku itu dan sambil tersenyum saya berkata seperti ini ke dia “mamang handukin lagi Dita ya mang?” dia menganguk setengah tersenyum dan bilang gini
    “neng Dita mandi aja dulu nanti kalo udah selesai panggil mamang, pasti deh mamang nyamperin ke toilet” saya menganguk dan mandi, setelah selesai mandi saya panggil dia dan langsung masuk ke toilet tanpa permisi dan sepintas dia menyambar handukku dan tanpa basa basi saya keluar dari bathtub dan dia menghampiri, kali ini saya langsung menghadapnya dengan telanjang badan tanpa membelakanginya seperti pagi hari tadi, lalu dia langsung menghanduki rambutku yg basah kuyup oleh air dan saat itu kami tidak bicara satu sama lain hanya mungkin kata hati kami masing2 bicara sementara dia handukin rambut leher dan pundak saya , malah terpejam(mungkin saya sedikit menikmatinya) dan yg paling mendebarkan saat mang Sardi menghanduki dadaku kiri kanan itu benar2 lebih mendebarkan ketimbang di pagi hari itu.
    Dan saat bermenit-menit mang Sardi mengusap dadaku kiri kanan dengan handuk tiba2 dia nyeletuk seperti ini “neng Dita, kalo diusapnya tidak pake handuk seperti ini akan lebih nikmat!!!” lalu aku jawab “maksud mamang???langsung pake tangan mamang gitu!!!” dia menganguk seolah minta restu dariku, lalu saya pun menganguk tanda setuju….dan ternyata jauh dari pikiranku lebih nikmat langsung dielus pake tangan mang Sardi ketimbang dielus memakai handuk, sesaat tangan kiri dulu lalu kemudian tangan kanannya menyusul meremas lembut sambil sesekali melintir seperti memainkan volume radio tapeku.
    Dan benar saja nikmat sekali rasanya apalagi ini baru pertama kalinya seorang laki2 menyentuh langsung dengan telapak tangan ke dadaku dan lama-lama makin mengeras saja payudaraku saat itu, tidak sadar ternyata seperti mau pipis rasanya dan geli, nikmat, asik, enak campur aduk jadi satu saat mang Sardi terus mengelus buah dadaku yg belum pernah dielus itu, ternyata kejadianya hampir 1/4 jam kala dia mengelus dadaku ini. Semakin lama semakin tak sadar sambil terpejam saya merapatkan badan ke tubuh mang Sardi dan dia mundur ke belakang, punggungnya menyentuh dinding toilet dan saya terus semakin merapatkannya sambil tetap dia mengelus2 halus buah dada ini kiri kanan, dan posisi itu yang saya ingat, menimbulkan semacam gesekan benda yang mengeras hangat di balik sarungnya(o ya, saya lupa saat itu dia memakai kaos oblong dan kain sarung karena pulang Jum’atan di masjid depan rumahku) mungkin dia ga pake celana kolor karena dari gesekan tubuhku ini terasa sekali semacam kemaluan laki2(yg selama ini saya tau dari film dan cerita2 temen2)
    saat saya terpejam begitu lama2 dia berani menjulurkan lidahnya ke leher saya waktu itu, semula saya mau menghindar tapi tak kuasa untuk menghindarinya dan mencoba untuk menikmatinya, agak geli karena berkumis tapi lucunya posisi dia mendongkak ke atas karena saya lebih jangkung dari dia dan agak berjinjit kakinya dan dia menjilati leher kebawah lalu pundak dan akhirnya di dada, ini lebih nikmat rasanya ketimbang pake tangan dan ga sadar saya mengeluarkan suara”SSSSTT…AHHH… AHHH…. HMMMMMM”mungkin begitu seingatku saat itu.dan itu adalah nikmat dari segala nikmat menurutku saat itu,
    lalu lama2 dia seperti mau berjongkok dan ternyata berjongkok lidahnya menciumi perutku, udel, lalu ke kemaluan ku yang masih jarang berbulu ini,dan ahhhhh….saya tak sadar bersuara agak keras saat dia menciumi kemaluanku ini, karena saat itu benar2 baru pertama kali diciumin seperti itu sama laki2.nikmat sekali rasanya….Lalu terdengar telepon berdering, buru2 saya melepaskan pelukan mang Sardi di pinggang dan berlari ke ruang tengah sambil telanjang bulat dan agak basah tubuhku saat itu,
    basah karena air mandi dan liur mang Sardi, ternyata papah dari Bogor telepon mengabari kalo beliau sudah sampe disana, dan setelah telepon ditutup saya membalikan badan ternyata mang Sardi sudah ada dibelakangku, dia mengikutiku sejak tadi berlari ke ruang tamu ini, dan dia bertanya dari siapa teleponnya,saya jawab dari papah di Bogor, lalu mang Sardi menyuruh saya berpakaian lagi sambil menyodorkan daster yang tadi ditanggalkan di toilet, lalu aku pakaikan dasterku saat itu dan masuk kamar.
    Sepintas saya liat jam 3.30 sore hari lalu aku tertidur di kasur sampe terbangun dengan ketukan di pintu kamar “neng bangun neng udah magrib”begitu terdengar suara mang Sardi di balik pintu kamar, lalu aku ke bawah dan makan di meja makan sementara mang Sardi di dapur, lalu aku panggil, untuk makan sama2 di meja makan, semula dia menolak tapi akhirnya mau juga.
    Setelah makan, badan merasa gerah dan aku bermaksud untuk mandi lagi tepat jam 7.00 malam hari, lalu aku lihat mang Sardi sedang nonton tivi dan aku sengaja ajakin dia untuk sama2 ke toilet, semula dia menolak dengan alasan kalo nanti ketauan sama papah, tapi aku jawab papah di Bogor ini, jadi ga usah takut, akhirnya dia mau juga aku ajak ke toilet, entah kenapa saat itu pikiranku bener2 ngeres sejak mang Sardi siang harinya menciumi sekujur tubuhku.Setelah berada di toilet langsung saja aku masuk ke bathtub sementara mang Sardi saya suruh semburin air hangat yg keluar dari sower untuk disiramin ke sekujur tubuhku (tentu saja aku dalam keadaan telanjang bulat saat itu, ga ada suara , hening, yg terdengar hanya gemericik air disiramin diatas tubuh ini, sambil aku tiduran di bathub menikmati aliran air mang Sardi sepintas terlihat hanya memandang tubuh telanjangku, tapi aku pura2 ga liat, khawatir dia kabur ke luar toilet kalo tahu saya pandangin dia.
    Dan entah kenapa setelah air itu penuh di bathtub, aku punya ide gila untuk mengajak dia mandi bareng2, tapi tentu saja dia menolak(asal tau saja kalo mang Sardi ini orangnya loyal bgt sama keluarga kami)setelah tau dia menolak secara halus akhirnya saya ga kehabisan akal, saya menyuruh dia untuk menyabuni seluruh badan ini, seperti yg dilakukan mang Sardi disaat saya kecil, dan dia setuju.
    Lalu mulailah dia menyabuni mulai dari rambut,leher,bahu,punggung dada kiri kanan,dan berhenti di pinggang, saya tanya “kenapa mamang berhenti??”lalu dia jawab “takut dosa neng,neng Dita kan anak majikan saya neng!!!, nanti saya dikejar2 perasaan itu terus” saya mengerti dari raut mukanya dan menjawab seperti ini “mamang ga usah takut, kan kita cuman berdua, lagipula kalo Dita lakukan sama orang lain ga mungkin, soalnya mamang tau sendiri sifat mamah seperti apa ke Dita!!,sejak mamang ciumin tubuh Dita tadi siang jadi suka terbayang2 sama Dita mang” begitu penjelasanku.
    polos saat itu, dan dia berkata”iya neng, mamang juga tadi siang bener2 khilaf, dan mamang pun udah lama ga seperti ini apalagi neng Dita sekarang ini tambah cantik,putih mulus jauh sekali dibandingkan dengan istri mamang dulu”katanya sedih”lalu tanpa sadar saya berusaha untuk menghiburnya dengan refleks memeluknya dan ga terasa saya malah memegang kemaluannya diluar celananya dan terasa sekali sudah mengeras,tidak terlalu besar tapi saat itu benar2 pertama kali saya memegangnya, walaupun mang Sardi itu usianya 50 tahunan tapi masih keras sekali kemaluannya itu, terasa saat dipegang.
    Dan dia malah balas memelukku saat itu dalam keadaan basah kuyup dengan siraman sower kami saling memeluk sehingga baju oblong yang dipake sama mang Sardi ikut basah juga akhirnya secara diam2 saya bukakan kaos oblongnya sementara dia diam saja, dan terlihatlah dadanya yang berbulu dan kelihatan masih tegap, lebih tegap dibandingkan dengan tubuh papah, dia diam saja saat saya mencoba mengelus dadanya itu(seperti pada film2 porno yang saya tonton sama temen2 kampus) saya sempat bergetar kala mengelus dada yg berbulu itu, lalu secara spontan dia membelai rambut saya yg basah dan tangannya itu dua2nya mengelus pipiku lembut sekali saya cuman terpejam seakan dielus sama papah yg selama ini sibuk dengan pekerjaan kantornya.
    Dan sesaat terdiam saat dia memegang bahu saya dan turun tangannya ke dada yg kiri sementara tangan kanannya mengelus paha dan kemaluan saya, saya sempat diam dan malah memaju mundurkan tubuh saat itu seakan menikmati setiap belaiannya itu, sambil tetap mata ini terpejam dan secara refleks malah saya memeluknya erat sekali.
    Dan tak lama dengan posisi memeluk sambil berdiri itu saya secara perlahan membuka gesper kulitnya seraya menurunkan celana panjang mang Sardi saat itu, dan setelah saya menurunkan celananya yg basah tersiram sower itu kemudian saya juga menurunkan celana kolor nya itu perlahan dan terlihatlah kemaluan laki2nya begitu mengkilat yang baru pertama kali saya lihat secara nyata dan asli di usia saya yang saat itu 19 tahun(sekarang udah 20 tahun), dan setelah terlihat itu dadaku tambah bergetar tak karuan ketika saya mencoba untuk memegangnya secara perlahan, dan dalam gengnggaman saya saat itu begitu hangat kemaluannya dan berdenyut seperti seekor burung, tapi menambah penasaran untuk berbuat lebih jauh tanpa memikirkan lagi yang namanya logika mana majikan mana pembantu.
    Mang Sardi saat itu juga sepintas saya lihat memejamkan mata yang pada akhirnya kami saling membelai, dimana mang Sardi membelai kemaluan saya yg semakin basah dan hangat, sementara saya pun membelai kejantanan mang Sardi yg hangat itu, lama2 saya secara naluri mengocok2nya seperti di film dan mang sardi seperti menikmati kocokan itu hampir sekira 15 menit saya mengocoknya sementara saya telah mencapai puncak kenikmatan ketika mang Sardi memasukan jarinya maju mundur ke dalam kemaluan saya. Dan seperti mau pipis tapi enak dan nikmat rasanya ketika tubuh saya bergetar dan mengeluarkan suara mungkin seperti ini ini yang saya ingat
    “AAAhhhhhh..mmmmm.m.mmmmm..mm. .ennaakk mmaamang”sambil terus tanganku mengocok2 kejantanannnya itu, dan beberapa saat setelah saya merasa di puncak kenikmatan mang Sardi mengeluarkan pipis berwarna putih kental dan hangat belepotan di tanganku waktu itu yg akhirnya saya tau dari buku kalo itu adalah cairan sperma laki-laki, setelah itu dia melepaskan tangannya dari kemaluanku dan saya pun melepaskan kocokan di burungnya dan membersihkan tanganku yg penuh sperma dengan air sower, lalu mang Sardi menyuruhku memakai handuk dan tidur. Akupun naik ke atas dan ganti daster lalu tidur.
    Selintas di jam dinding kamarku jam 9.30 malam, saya ga bisa tidur sama sekali, yg terlintas di bayanganku saat itu hanyalah kejadian demi kejadian hari itu yang betul2 pengalaman mengasikan yg dilakukan kami berdua yaitu saya dengan mang Sardi, dan setelah kejadian itu kami seringkali melakukannya disaat adeku dan ortuku tidak ada di rumah, terkadang mang Sardi saya ajak pura2 mengantarku pake mobil kesayanganku atau mobil papah dan kami melakukannya di berbagai tempat seperti dago, Lembang, Pangalengan dan tempat2 sejuk lainnya.
    tentu saja cari tempat yang aman tidak diketahui banyak orang, tapi sampai saat ini saya masih tulen perawan karena menurut mang Sardi, asal jangan dimasukin burungnya mamang, neng Dita akan tetap perawan, demikian tuturnya, lama-kelamaan saya jadi jatuh cinta sama mang Sardi yang terpaut jauh usia diatasku, karena mungkin saya mencari figur papah yg selama ini kerap sibuk dinas di pekerjaannya. terserah pembaca mau percaya atau tidak tapi yg saya ceritakan ini benar adanya , sudah dulu ya… ya Dita mau bobo nihh udah jam 01.30..
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,