
Cerita Sex Ngentot Memek Tante Marry Yang Semok Sampe Crot


Cerita Sex Ngentot Memek Tante Marry Yang Semok Sampe Crot

Perawanku – Aku lihat sekali lagi catatanku. Benar, itu rumah nomor 27. Pasti itu rumah Om Andro, kerabat jauh ayahku. Kuhampiri pintu dan kutekan bel rumahnya. Tidak lama kemudian dari balik pintu muncul muka yang sangat cantik.
“Cari siapa Mas?” tanyanya.
“Apa betul ini rumah Om Andro? nama saya Randi.”
“Oh.. sebentar ya,”
“ Pa.. ini Randinya sudah datang”, teriaknya ke dalam rumah.
Kemudian aku dipersilakan masuk, dan setelah Om Andro keluar dan menyambutku dia pun berkata dengan ramah,
“Randi, ayahmu barusan nelpon, nanyain apa kamu sudah datang. Ini kenalin, anak Om, namanya Rina,”
“ terus anterin Randi ke kamarnya, kan dia cape, biar dia istirahat dulu, nanti baru deh ngobrol-ngobrol lagi.”

Aku datang ke kota ini karena diterima disalah satu Universitas, dan oleh ayah aku disuruh tinggal dirumah Om Andro. Rina ternyata baru kelas 1 SMA. Dia anak tunggal. Badannya tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 165 cm, tapi mukanya sangat lucu, dengan bibir yang agak penuh. Di sini aku diberi kamar di lantai 2, bersebelahan dengan kamar Rina.
Aku sudah 3 bulan tinggal di rumah Om Andro, dan karena semuanya ramah, aku jadi betah. Lebih lagi Rina. Kadang-kadang dia suka tanya-tanya soal pelajaran sekolah, dan aku berusaha membantu. Aku sering mencuri-curi untuk memperhatikan Rina. Kalau di rumah, dia sering memakai daster yang pendek hingga pahanya yang putih mulus menarik perhatianku. Selain itu buah dadanya yang baru mekar juga sering bergoyang-goyang di balik dasternya. Aku jadi sering membayangkan betapa indahnya badan Rina seandainya sudah tidak memakai apa-apa lagi.

Suatu hari pulang kuliah sesampainya di rumah ternyata sepi sekali. Di ruang keluarga ternyata Rina sedang belajar sambil tiduran di atas karpet.
“Sepi sekali, lagi belajar yah? Tante kemana?” tanyaku.
“Eh.. Randi, iya nih, aku minggu depan ujian, nanti aku bantuin belajar yah.., Mami sih lagi keluar, katanya sih ada perlu sampai malem.”
“Iya deh, aku ganti baju dulu.”
Kemudian aku masuk ke kamarku, ganti dengan celana pendek dan kaos oblong. Terus aku tidur-tiduran sebentar sambil baca majalah yang baru kubeli. Tidak lama kemudian aku keluar kamar, lapar, jadi aku ke meja makan. Terus aku teriak memanggil Rina mengajak makan bareng. Tapi tidak ada sahutan. Dan setelah kutengok ke ruang keluarga, ternyata Rina sudah tidur telungkup di atas buku yang sedang dia baca, mungkin sudah lelah belajar, pikirku. Nafasnya turun naik secara teratur. Ujung dasternya agak tersingkap, menampakkan bagian belakang pahanya yang putih. Bentuk pantatnya juga bagus.
Memperhatikan Rina tidur membuatku terangsang. Aku merasa kemaluanku mulai tegak di balik celana pendek yang kupakai. Tapi karena takut ketahuan, aku segera ke ruang makan. Tapi nafsu makanku sudah hilang, maka itu aku cuma makan buah, sedangkan otakku terus ke Rina. Kemaluanku juga semakin berdenyut. Akhirnya aku tidak tahan, dan kembali ke ruang keluarga. Ternyata posisi tidur Rina sudah berubah, dan dia sekarang telentang, dengan kaki kiri dilipat keatas, sehingga dasternya tersingkap, dan celana dalam bagian bawahnya kelihatan.

Celana dalamnya berwarna putih, agak tipis dan berenda, sehingga bulu-bulunya membayang di bawahnya. Aku sampai tertegun melihatnya. Kemaluanku mengeras di balik celana pendekku. Buah dadanya naik turun teratur sesuai dengan nafasnya, membuat kemaluanku semakin berdenyut. Ketika sedang nikmat-nikmat memandangi, aku dengar suara mobil masuk ke halaman. Ternyata Om Andro sudah pulang. Aku pun cepat-cepat naik kekamarku, pura-pura tidur.
Dan aku memang ketiduran sampai agak sore, dan aku baru ingat kalau belum makan. Aku segera ke ruang makan dan makan sendirian. Keadaan rumah sangat sepi, mungkin Om dan Tante sedang tidur. Setelah makan aku naik lagi ke atas, dan membaca majalah yang baru kubeli. Sedang asyik membaca, tiba-tiba kamarku ada yang mengetuk, dan ternyata Rina.
“Randi, aku baru dibeliin kalkulator nih, entar aku diajarin yah cara makainya. Soalnya rada canggih sih”, katanya sambil menunjukkan kalkulator barunya.

“Wah, ini kalkulator yang aku juga pengin beli nih. Tapi mahal. Iya deh, aku baca dulu manualnya. Entar aku ajarin deh, kayaknya sih ga terlalu beda dengan komputer”, sahutku.
“Ya sudah, dibaca dulu deh. Rina juga mau mandi dulu sih”, katanya sambil berlalu ke teras atas tempat menjemur handuk. Aku masih berdiri di pintu kamarku dan mengikuti Rina dengan pandanganku. Ketika mengambil handuk, badan Rina terkena sinar matahari dari luar rumah. Dan aku melihat bayangan badannya dengan jelas di balik daster. Aku jadi teringat pemandangan siang tadi waktu dia tidur.
Kemudian sewaktu Rina berjalan melewatiku ke kamar mandi, aku pura-pura sedang membaca manual kalkulator itu. Tidak lama kemudian aku mulai mendengar suara Rina yang sedang mandi sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Kembali imajinasiku mulai membayangkan Rina yang sedang mandi, dan hal itu membuat kemaluanku kembali mengeras. Karena tidak tahan sendiri, aku segera mendekati kamar mandi dan mencari cara untuk mengintipnya, dan aku menemukannya.
Aku mengambil kursi dan naik di atasnya untuk mengintip lewat celah ventilasi kamar mandi. Pelan-pelan aku mendekatkan mukaku ke celah itu, dan ya Tuhan… aku! Melihat Rina yang sedang menyabuni badannya, mengusap-usap dan meratakan sabun ke seluruh lekuk tubuhnya. Badannya sangat indah, jauh lebih indah dari yang kubayangkan.
Lehernya yang putih, pundaknya, buah dadanya, putingnya yang kecoklatan, perutnya yang rata, pantatnya, bulu-bulu di sekitar kemaluannya, pahanya, semuanya sangat indah. Dan kemaluanku pun menjadi sangat tegang.Tapi aku tidak berlama-lama mengintipnya, karena selain takut ketahuan, juga aku merasa tidak enak mengintip orang mandi. Aku segera ke kamarku dan berusaha menenangkan perasaanku yang tidak karuan.
Malamnya sehabis makan, aku dan Om Andro sedang mengobrol sambil nonton TV, dan Om Andro bilang kalau besok mau keluar kota dengan istrinya seminggu. Dia pesan supaya aku membantu Rina kalau butuh bantuan. Tentu saja aku bersedia, malah jantungku menjadi berdebar-debar. Tidak lama kemudian Rina mendekati kita.
“Randi, tolongin aku dong, ajarin soal-soal yang buat ujian, ayo!” katanya sambil menarik-narik tanganku. Aku tak bisa menolak. Aku pun mengikuti Rina berjalan ke kamarnya dengan diiringi Om Andro yang senyum-senyum melihat Rina yang manja. Beberapa menit kemudian kita sudah terlibat dengan soal-soal yang memang butuh konsentrasi.
Rina duduk sedangkan aku berdiri di sampingnya. Aku bersemangat sekali mengajarinya, karena kalau aku menunduk pasti belahan dada Rina kelihatan dari dasternya yang longgar. Aku lihat Rina tidak pakai beha. Kemaluanku berdenyut-denyut, mengeras di balik celana dan kelihatan menonjol.
Aku merasa bahwa Rina tahu kalau aku suka curi melihat buah dadanya, tapi dia tidak berusaha merapikan dasternya yang semakin terbuka sampai aku bisa melihat putingnya. Karena sudah tidak tahan, sambil pura-pura menjelaskan soal aku merapatkan badanku sampai kemaluanku menempel ke punggungnya. Rina pasti juga bisa merasakan kemaluanku yang tegak. Rina sekarang cuma diam saja dengan muka menunduk.
“Rina, kamu cantik sekali..” kataku dengan suara yang sudah bergetar, tapi Rina diam saja dengan muka semakin menunduk. Kemudian aku meletakkan tanganku di pundaknya. Dan karena dia diam saja, aku jadi makin berani mengusap-usap pundaknya yang terbuka, karena tali dasternya sangat kecil. Sementara kemaluanku semakin menekan pangkal lengannya, usapan tanganku pun semakin turun ke arah dadanya.
Aku merasa nafas Rina sudah memburu seperti suara nafasku juga. Aku jadi semakin nekad. Dan ketika tanganku sudah sampai kepinggiran buah dada, tiba-tiba tangan Rina mencengkeram dan menahan tanganku. Mukanya mendongak kearahku.
“Randi aku mau diapain..” Rintihnya dengan suara yang sudah bergetar. Melihat mulutnya yang setengah terbuka dan agak bergetar-getar, aku jadi tidak tahan lagi. Aku tundukkan muka, kemudian mendekatkan bibirku ke bibirnya.
Ketika bibir kita bersentuhan, aku merasakan bibirnya yang sangat hangat, kenyal, dan basah. Aku pun melumat bibirnya dengan penuh perasaan, dan Rina membalas ciumanku, tapi tangannya belum melepas tanganku. Dengan pelan-pelan badan Rina aku bimbing, aku angkat agar berdiri berhadapan denganku. Dan masih sambil saling melumat bibir, aku peluk badannya dengan gemas. Buah dadanya keras menekan dadaku, dan kemaluanku juga menekan perutnya.
Pelan-pelan lidahku mulai menjulur menjelajah ke dalam mulutnya, dan mengait-ngait lidahnya, membuat nafas Rina semakin memburu, dan tangannya mulai mengusap-usap punggungku. Tanganku pun tidak tinggal diam, mulai turun ke arah pinggulnya, dan kemudian dengan gemas mulai meremas-remas pantatnya. Pantatnya sangat empuk. Aku remas-remas terus dan aku semakin rapatkan kebadanku hingga kemaluanku terjepit perutnya.
Tidak lama kemudian tanganku mulai ke atas pundaknya. Dengan gemetar tali dasternya kuturunkan dan dasternya turun ke bawah dan teronggok di kakinya. Kini Rina tinggal memakai celana dalam saja. Aku memeluknya semakin gemas, dan ciumanku semakin turun. Aku mulai menciumi dan menjilat-jilat lehernya, dan Rina mulai mengerang-erang. Tangannya mengelus-elus belakang kepalaku.
Tiba-tiba aku berhenti menciuminya. Aku renggangkan pelukanku. Aku pandangi badannya yang setengah telanjang. Buah dadanya bulat sekali dengan puting yang tegak bergetar seperti menantangku. Kemudian mulutku pelan-pelan kudekatkan ke buah dadanya. Dan ketika mulutku menyentuh buah dadanya, Rina mengerang lagi lebih keras sambil mendongakkan kepalanya, dan menekan pantat dan dadanya ke arahku. Nafsuku semakin naik. Aku ciumi susunya dengan ganas, putingnya aku mainkan dengan lidahku, dan susunya yang sebelah aku mainkan dengan tanganku.

“Aduuhh.. aahh.. aahh”, Rina semakin merintih-rintih ketika dengan gemas putingnya aku gigit-gigit sedikit.
Badannya menggeliat-geliat membuatku semakin bernafsu untuk terus mencumbunya. Tangan Rina kemudian menelusup kebalik bajuku dan mengusap kulit punggungku.
“Randiii.. aahh.. baju kamu dibuka dong.. aahh..” Akupun mengikuti keinginannya. Tapi selain baju, celana juga kulepas, hingga aku juga cuma pakai celana dalam. Mulutnya kembali kucium dan tanganku memainkan susunya.
Penisku semakin keras karena Rina menggesek-gesekkan pinggulnya sembari mengerang-erang. Tanganku mulai menyelinap ke celana dalamnya. Bulu kemaluannya aku usap-usap, dan kadang aku garuk-garuk. Aku merasa vaginanya sudah basah ketika jariku sampai ke mulut vaginanya. Dan ketika tanganku mulai mengusap clitorisnya, ciumannya di mulutku semakin liar. Mulutnya mengisap mulutku dengan keras.
Clitorisnya kuusap, kuputar-putar, makin lama semakin kencang, dan semakin kencang. Pantat Rina ikut bergoyang, dan semakin rapat menekan, sehingga penisku semakin berdenyut. Sementara clitorisnya masih aku putar-putar, jariku yang lain juga mengusap bibir vaginanya. Rina menggelinjang semakin keras, dan pada saat tanganku mengusap semakin kencang, tiba-tiba tanganku dijepit dengan pahanya,dan badan Rina tegang sekali dan tersentak-sentak selama beberapa saat.
“aahh aahh Randiii.. adduuuhh aahh aahh aahh”,
Dan setelah beberapa saat akhirnya jepitannya berangsur semakin mengendur. Tapi mulutnya masih mengerang-erang dengan pelan.
“Ran.. aku boleh yah pegang punya kamu”, tiba-tiba bisiknya di kupingku. Aku yang masih tegang sekali merasa senang sekali.
“Iyaa.. boleh..” bisikku. Kemudian tangannya kubimbing ke celana dalamku.
“Aahh…” Akupun mengerang ketika tangannya menyentuh penisku. Terasa nikmat sekali. Rina juga terangsang lagi, karena sambil mengusap-usap kepala penisku, mulutnya mengerang di kupingku. Kemudian mulutnya kucium lagi dengan ganas. Dan penisku mulai di genggam dengan dua tangannya, di urut-urut dan cairan pelumas yang keluar diratakan keseluruh batangku.
Badanku semakin menegang. Kemudian penisku mulai dikocok-kocok, semakin lama semakin kencang, dan pantatnya juga ikut digesekkan kebadanku. Tidak lama kemudian aku merasa badanku bergetar, terasa ada aliran hangat di seluruh tubuhku, aku merasa aku sudah hampir orgasme.
“Rinaaa.. aku hampir keluar..” bisikku yang membuat genggamannya semakin erat dan kocokannya makin kencang.
“Aahh.. Rinna.. uuuhh.. aahh..” akhirnya dari penisku memancar cairan yang menyembur kemana-mana. Badanku tersentak-sentak.
Sementara penisku masih mengeluarkan cairan, tangan Rina tidak berhenti mengurut-urut, sampai rasanya semua cairanku sudah diperas habis oleh tangannya. Aku merasa sperma yang mengalir dari sela-sela jarinya membuat Rina semakin gemas. Spermaku masih keluar untuk beberapa saat lagi sampai aku merasa lemas sekali.
Akhirnya kita berdua jatuh terduduk di lantai. Dan tangan Rina berlumuran spermaku ketika dikeluarkan dari celana dalamku. Kita berpandangan, dan bibirnya kembali kukecup, sedangkan tangannya aku bersihkan pakai tissue. Dan secara kebetulan aku melihat ke arah jam.
“Astaga, sekarang sudah jam 11! Wah, sudah malam sekali nih, aku ke kamarku dulu yah, takut Om curiga nanti..” kataku sembari berharap mudah-mudahan suara desahan kita tidak sampai ke kuping orang tuanya. Setelah Rina mengangguk, aku bergegas menyelinap ke kamarku.Malam itu aku tidur nyenyak sekali.

Pagi itu aku bangun kesiangan, seisi rumah rupanya sudah pergi semua. Aku pun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku tidak bisa konsentrasi sedikit pun, yang kupikirkan cuma Rina. Aku pulang ke rumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika aku sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti baju, Rina keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi. Dia mendekat dan mukanya menunduk.
“Randi, kamu ada acara nggak? Temani aku nonton dong..”
“Eh.. apa? Iya, iya aku tidak ada acara, sebentar yah aku ganti baju dulu” jawabku, dan aku buru-buru ganti baju dengan jantung berdebaran. Setelah siap, aku pun segera mengajaknya berangkat. Rina menyarankan agar kita pergi dengan mobilnya. Aku segera mengeluarkan mobil, dan ketika Rina duduk di sebelahku, aku baru sadar kalau dia pakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataku tidak bisa lepas melirik kepahanya.
Sesampainya di bioskop, aku beranikan memeluk pinggangnya, dan Rina tidak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket kupeluk dia dari belakang. Aku tahu Rina merasa penisku sudah tegang karena menempel di pantatnya. Rina meremas tanganku dengan kuat. Kita memesan tempat duduk paling belakang, dan ternyata yang menonton tidak begitu banyak, dan di sekeliling kita tidak ditempati.
Kami segera duduk dengan tangan masih saling meremas. Tangannya sudah basah dengan keringat dingin, dan mukanya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, aku sudah tidak tahan, segera kuusap mukanya, kemudian kudekatkan ke mukaku, dan kita segera berciuman dengan gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang-kadang lidahku digigitnya lembut.
Tanganku segera menyelinap ke balik bajunya. Dan karena tidak sabar, langsung saja kuselinapkan ke balik behanya, dan susunya yang sebelah kiri aku remas dengan gemas. Mulutku langsung dihisap dengan kuat oleh Rina. Tanganku pun semakin gemas meremas susunya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke susu yang kanan, dan Rina mulai mengerang di dalam mulutku, sementara penisku semakin meronta menuntut sesuatu.
Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap-usap dengan arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya kusingkap ke atas, sehingga sambil berciuman, di keremangan cahaya, aku bisa melihat celana dalamnya. Dan ketika tanganku sampai di selangkangannya, mulut Rina berpindah menciumi kupingku sampai aku terangsang sekali. Celana dalamnya sudah basah.
Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalamnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Kuelus-elus pelan-pelan, kuusap dengan penuh perasaan, kemudian kuputar-putar, semakin lama semakin cepat. Tiba-tiba tangannya mencengkram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sambil mendesis-desis. Badannya tersentak-sentak beberapa saat.
“Randi.. aduuuhh.. aku tidak tahan sekali.. berhenti dulu yaahh.. nanti di rumah ajaa..” rintihnya. Aku pun segera mencabut tanganku dari selangkangannya.
“Randi.. sekarang aku mainin punya kamu yaahh..” katanya sambil mulai meraba celanaku yang sudah menonjol.
Kubantu dia dengan kubuka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika akhirnya menggenggam penisku, aku merasa nikmat luar biasa. Penisku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak.
“Randi.. ini sudah basah.. cairannya licin..” rintihnya di kupingku sambil mulai digenggam dengan dua tangan.
Tangan yang kiri menggenggam pangkal penisku, sedangkan yang kanan ujung penisku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala penis dan meratakan cairannya.

“Rina.. teruskan sayang..” kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi.
Aku merasa penisku sudah keras sekali. Rina meremas dan mengurut penisku semakin cepat. Aku merasa spermaku sudah hampir keluar. Aku bingung sekali karena takut kalau sampai keluar bakal muncrat kemana-mana.
“Rina.. aku hampir keluar nih.., berhenti dulu deh..” kataku dengan suara yang tidak yakin, karena masih keenakan.
“Waahh.. Rina belum mau berhenti.. punya kamu ini bikin aku gemes..” rengeknya.
“Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..!” ajakku, dan ketika Rina mengangguk setuju, segera kurapikan celanaku, juga pakaian Rina, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai.
Di mobil tangan Rina kembali mengusap-usap celanaku. Dan aku diam saja ketika dia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari penisku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan penisku makin berdenyut ketika dia bilang, “Nanti aku boleh yah nyiumin ininya yah..” Aku pengin segera sampai kerumah.
Dan, akhirnya sampai juga. Kita berjalan sambil berpelukan erat-erat. Sewaktu Rina membuka pintu rumah, dia kupeluk dari belakang, dan kuciumi samping lehernya. Tanganku sudah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan pantatnya dengan gemas. Rina kubimbing ke ruang keluarga. Sambil berdiri kuciumi bibirnya, kulumat habis mulutnya, dan dia membalas dengan sama gemasnya.
Pakaiannya kulucuti satu persatu sambil tetap berciuman. Sambil melepas bajunya, aku mulai meremasi susunya yang masih dibalut beha. Dengan tak sabar behanya segera kulepas juga. Kemudian roknya, dan terakhir celana dalamnya juga kuturunkan dan semuanya teronggok di karpet.
Badannya yang telanjang kupeluk erat-erat. Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis dengan telanjang bulat. Dan gadis ini adalah Rina yang sering aku impikan tapi tidak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataku. Kemudian tangan Rina juga melepaskan bajuku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalamku, Rina melakukannya sambil memeluk badanku. Penisku yang sudah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya.
Uuuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kita yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bibir kita saling melumat dengan nafas yang semakin memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi susunya dengan bergantian. Tangan Rina juga sudah menggenggam dan mengelusi penisku. Badan Rina bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yang semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dengan bebas.

Kemudian sambil tetap meremasi penisku, Rina mulai merendahkan badannya, sampai akhirnya dia berlutut dan mukanya tepat di depan selangkanganku. Matanya memandangi penisku yang semakin keras di dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penisku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak.
Mulutnya perlahan mulai didekatkan ke kepala penisku. Aku melihatnya dengan gemas sekali. Kepalaku sampai terdongak ketika akhirnya bibirnya mengecup kepala penisku. Tangannya masih menggenggam pangkal penisku, dan mengelusnya pelan-pelan. Mulutnya mulai mengecupi kepala penisku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan penisku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dengan lidah tetap memutari kepala penisku.
Aku semakin mengerang, dan karena tidak tahan, kudorong penisku sampai terbenam kemulutnya. Aku rasa ujungnya sampai ketenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan penisku disedot-sedot dan dimaju mundurkan di dalam mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aku tekan-tekan agar penisku semakin nikmat. Isapan mulutnya dan lidahnya yang melingkar-lingkar membuat aku merasa sudah tidak tahan. Apalagi sewaktu Rina melakukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat.
Ketika akhirnya aku merasa spermaku mau muncrat, segera kutarik penisku dari mulutnya. Tapi Rina menahannya dan tetap menghisap penisku. Maka aku pun tidak bisa menahan lebih lama lagi, spermaku muncrat di dalam mulutnya dengan rasa nikmat yang luar biasa.
Spermaku langsung ditelannya dan dia terus menghisapi dan menyedot penisku sampai spermaku muncrat berkali-kali. Badanku sampai tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Meskipun spermaku sudah habis, mulut Rina masih terus menjilat. Akupun akhirnya tidak kuat lagi berdiri dan akhirnya dengan nafas sama-sama tersengal-sengal kita berbaring di karpet dengan mata terpejam.
“Thanks ya Ran, tadi itu nikmat sekali”, kataku berbisik.
“Ah.. aku juga suka kok.., makasih juga kamu ngebolehin aku mainin kamu.”
Kemudian ujung hidungnya kukecup, matanya juga, kemudian bibirnya. Mataku memandangi tubuhnya yang terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan kuciumi lehernya, dan aku merasa nafsu kami mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi susunya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas susu yang kiri.
Rina mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memainkan susu dan putingnya. Aku terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan aku mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian ke bawah lagi sampai merasakan bulu kemaluannya, kuelus dan kugaruk sampai mulutnya menciumi kupingku.
Pahanya mulai aku renggangkan sampai agak mengangkang. Kemudian sambil mulutku terus menciumi susunya, jariku mulai memainkan clitorisnya yang sudah mulai terangsang juga. Cairan vaginanya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan vaginanya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris dan vaginanya, membuat Rina semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya kuputar-putar terus, juga mulut vaginanya bergantian.
“Ahh.. Randiii.. aahh.. terusss… aahh.. sayaanggg..” mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyang-goyang. Pantatnya juga mulai terangkat-angkat. Aku pun segera menurunkan kepalaku ke arah selangkangannya, sampai akhirnya mukaku tepat di selangkangannya. Kedua kakinya kulipat ke atas, kupegangi dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga vagina dan clitorisnya terbuka di depan mukaku.
Aku tidak tahan memandangi keindahan vaginanya. Lidahku langsung menjulur dan mengusap clitoris dan vaginanya. Cairan vaginanya kusedot-sedot dengan nikmat. Mulutku menciumi mulut vaginanya dengan ganas, dan lidahku kuselip-selipkan ke lubangnya, kukait-kaitkan, kugelitiki, terus begitu, sampai pantatnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaku sampai aku terbenam di selangkangannya. Aku jilati terus, clitorisnya kuputar dengan lidah, kuhisap, kusedot, sampai Rina meronta-ronta. Aku merasa penisku sudah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut.
“Randii.. aku tidak tahan.. aduuhh.. aahh.. enaakk sekaliii.. ” rintihnya berulang-ulang.
Mulutku sudah berlumuran cairan vaginanya yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan. Kemudian kulepaskan mulutku dari vaginanya. Sekarang giliran penisku kuusap-usapkan ke clitoris dan bibir vaginanya, sambil aku duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika penisku digeser-geserkan di vaginanya. Rina juga merasakan hal yang sama, dan sekarang tangannya ikut membantu dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya.

“Rina.. aahh.. enakkk.. aahh..”
“aahh.. iya.. eeennaakkk sekaliii..”
Kita saling merintih. Kemudian karena penisku semakin gatal, aku mulai menggosokkan kepala penisku ke mulut vaginanya. Rina semakin menggelinjang. Akhirnya aku mulai mendorong pelan sampai kepala penisku masuk ke vaginanya.
“Aduuuhh.. Randii.. saakiiitt.. aadduuuhh.. jaangaann..” rintihnya
“Tahan dulu sebentar… Nanti juga hilang sakitnya..” kataku membujuk
Kemudian pelan-pelan penisku aku keluarkan, kemudian kutekan lagi, kukeluarkan lagi, kutekan lagi, kemudian akhirnya kutekan lebih dalam sampai masuk hampir setengahnya. Mulut Rina sampai terbuka tapi sudah tidak bisa bersuara.
Punggungnya terangkat dari karpet menahan desakan penisku. Kemudian pelan-pelan kukeluarkan lagi, kudorong lagi, kukeluarkan lagi, terus sampai dia tenang lagi. Akhirnya ketika aku mendorong lagi kali ini kudorong sampai amblas semuanya ke dalam. Kali ini kita sama-sama mengerang dengan keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka kuciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dengan keras sekali sehingga aku merasa ujung penisku sudah mentok ke dinding vaginanya.
Kita tetap berpelukan dengan erat saling mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kami saling menghisap dengan kuat. Kita sama-sama merasakan keenakan yang tiada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang, maka aku pun mulai menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, semakin cepat, semakin cepat, dan goyangan pantat Rina juga semakin cepat.
“Randii.. aduuuhh.. aahh.. teruskan sayang.. aku hampir niihh..” rintihnya.
“Iya.. nihh.. tahan dulu.. aku juga hampirr.. kita bareng ajaa..” kataku sambil terus menggerakkan penis semakin cepat.
Tanganku juga ikut meremasi susunya kanan dan kiri. Penisku semakin keras, kuhunjam-hunjamkan ke dalam vaginanya sampai pantatnya terangkat dari karpet. Dan aku merasa vaginanya juga menguruti penisku di dalam. Penisku kutarik dan kutekan semakin cepat, semakin cepat.. dan semakin cepat.. dannn..”Raaniii.. aku mau keluar niihh..””Iyaa.. keluarin saja.. Rina juga keluar sekarang niiihh.”Aku pun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut dengan pantat Rina yang terangkat ke atas sampai ujung penisku menumbuk dinding vaginanya dengan keras.
Kemudian pahanya menjepit pahaku dengan keras sehingga penisku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Vaginanya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyirami vaginanya.
“aahh… aahh.. aahh..” kita sama-sama mengerang, dan vaginanya masih berdenyut, mencengkeram penisku, sehingga spermaku berkali-kali menyembur. Pantatnya masih juga berusaha menekan-nekan dan memutar sehingga penisku seperti diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya tidak akan berakhir.
Pantatku masih ditahan dengan tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan vaginanya masih berdenyut meremas-remas penisku dengan enaknya sehingga sepertinya spermaku keluar semua tanpa tersisa sedikitpun.
“aahh.. aahh.. aduuuhh…” Kita sudah tidak bisa bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan.
Ketika sudah mulai kendur, kuciumi Rina dengan penis masih di dalam vaginanya. Kita saling berciuman lagi untuk beberapa saat sambil saling membelai. Kuciumi terus sampai akhirnya aku menyadari kalau Rina sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur.
Aku menyadari bahwa selaput daranya telah robek karena penisku. Dan ketika penisku kucabut dari sela-sela vaginanya memang mengalir darah yang bercampur dengan spermaku. Kita terus saling membelai, dan Rina masih mengisak di dadaku, sampai akhirnya kita berdua tertidur kelelahan dengan berpelukan.
Aku terbangun sekitar jam 11 malam, dan kulihat Rina masih terlelap di sampingku masih telanjang bulat. Segera aku bangun dan kuselimuti badannya pelan-pelan. Kemudian aku segera ke kamar mandi, kupikir shower dengan air hangat pasti menyegarkan. Aku membiarkan badanku diguyur air hangat berlama-lama, dan memang menyegarkan sekali. Waktu itu kupikir aku sudah mandi sekitar 20 menit, ketika aku merasa kaget karena ada sesuatu yang menyentuh punggungku. Belum sempat aku menoleh, badanku sudah dilingkari sepasang tangan.
Ternyata Rina sudah bangun dan masuk ke kamar mandi tanpa kuketahui. Tangannya memelukku dari belakang, dan badannya merapat di punggungku.
“Aku ikut mandi yah..?” katanya.
Aku tidak menjawab apa-apa. Hanya tanganku mengusap-usap tangannya yang ada di dadaku, sambil menenangkan diriku yang masih merasa kaget. Sambil tetap memelukku dari belakang, Rina mengambil sabun dan mulai mengusapkannya di dadaku. Nafsuku mulai naik lagi, apalagi aku juga merasakan susunya yang menekan punggungku.
Usapan tangan Rina mulai turun ke arah perutku, dan penisku mulai berdenyut dan berangsur menjadi keras. Tidak lama kemudian tangan Rina sampai di selangkanganku dan mulai mengusap penisku yang semakin tegak. Sambil menggenggam penisku, Rina mulai menciumi belakang leherku sambil mendesah-desah, dan badannya semakin menekan badanku.
Selangkangan dan susunya mulai digesek-gesekkan ke pantat dan punggungku, dan tangannya yang menggenggam penisku mulai meremas-remas dan digerakkan ke pangkal dan kepala penisku berulang-ulang sehingga aku merasakan kenikmatan yang luar biasa.

“Rina oohh.. nikmat sekali sayang.”
“Randiii uuuhh”, erangnya sambil lidahnya semakin liar menciumi leherku.
Aku yang sudah merasa gemas sekali segera menarik badannya, dan sekarang posisi kita berbalik. Aku sekarang memeluk badannya dari belakang, kemudian pahanya kurenggangkan sedikit, dan penisku diselinapkan di antara pahanya, dan ujungnya yang nongol di depan pahanya langsung di pegang lagi oleh Rina. Tangan kiriku segera meremasi susunya dengan gemas sekali, dan tangan kananku mulai meremasi bulu kemaluannya.
Kemudian ketika jari tangan kananku mulai menyentuh clitorisnya, Rina pun mengerang semakin keras dan pahanya menjepit penisku, dan pantatnya mulai bergerak-gerak yang membuat aku semakin merasa nikmat. Mukanya menengok ke arahku, dan mulutnya segera kuhisap dengan keras. Lidah kami saling membelit, dan jari tanganku mulai mengelusi clitorisnya yang semakin licin. Kepala penisku juga mulai dikocok-kocok dengan lembut.
“Rina aku tidak tahan nih aduuuhh.”
“Iya Ran.. aku juga sudah tidak tahan.. uuuhh.. uuuhh.”
Badan Rina segera kubungkukkan, dan kakinya kurenggangkan. Aku segera mengarahkan dan menempelkan ujung penisku ke arah bibir vaginanya yang sudah menganga lebar menantang.
“Randi.. cepat masukkan sayang cepat uuhh ayoo.” Aku yang sudah gemas sekali segera menekan penisku sekuat tenaga sehingga langsung amblas semua sampai ke dasar vaginanya. Rina menjerit keras sekali. Mukanya sampai mendongak.
“aahh.. kamu kasar sekali.. aduuhh sakit aduuhh..” Aku yang sudah tidak sabar mulai menggerakkan penisku maju mundur, kuhunjam-hunjamkan dengan kasar yang membuat Rina semakin keras mengerang-erang. Susunya aku remas-remas dengan dua tanganku.
Tidak lama kemudian Rina mulai menikmati permainan kita, dan mulai menggoyangkan pantatnya. Vaginanya juga mulai berdenyut meremasi penisku. Aku menjadi semakin kasar, dan penisku yang sudah keras sekali terus mendesak dasar vaginanya. Dan kalau penisku sedang maju membelah vaginanya, tanganku juga menarik pantatnya ke belakang sehingga penisku menghunjam dengan kuat sekali. Tapi tiba-tiba Rina melepaskan diri.
“hh sekarang giliranku aku sudah hampir sampai.” katanya. Kemudian aku disuruh duduk selonjor di lantai di antara kaki Rina yang mulai menurunkan badannya. Penisku yang mengacung ke atas mulai dipegang Rina, dan di arahkan ke bibir vaginanya.
Tiba-tiba Rina menurunkan badannya duduk di pangkuanku sehingga penisku langsung amblas ke dalam vaginanya. Kita sama-sama mengerang dengan keras, dan mulutnya yang masih menganga kuciumi dengan gemas.
Kemudian pantatnya mulai naik turun, makin lama makin keras. Rina melakukannya dengan ganas sekali.
Pantatnya juga diputar-putar sehingga aku merasa penisku seperti dipelintir.
“Randii.. aku.. aku.. sudah.. hampirrr, uuuhh…” Erangnya sambil terus menghunjam-hunjamkan pantatnya. Mulutku beralih dari mulutnya ke susunya yang bulat sekali. Putingnya kugigit-gigit, dan lidahku berputar menyapu permukaan susunya. Susunya kemudian kusedot dan kukenyot dengan keras, membuat gerakan Rina semakin liar.

Tidak lama kemudian Rina menghunjamkan pantatnya dengan keras sekali dan terus menekan sambil memutar pantatnya.
“Sekaranggg aahh sekaranggg Randi, sekaranggg”, Rina berteriak-teriak sambil badannya berkelojotan.
Vaginanya berdenyutan keras sekali. Mulutnya menciumi mulutku, dan tangannya memelukku sangat keras. Rina orgasme selama beberapa detik, dan setelah itu ketegangan badannya berangsur mengendur.
“Ran, makasih yah.., sekarang aku pengin ngisep boleh yah..?” katanya sambil mengangkat pantatnya sampai penisku lepas dari vaginanya. Rina kemudian menundukkan mukanya dan segera memegang penisku yang sangat keras, berdenyut, dan ingin segera memuntahkan air mani. Mulutnya langsung menelan senjataku sampai menyentuh tenggorokannya.
Tangannya kemudian mengocok pangkal penisku yang tidak muat di mulutnya. Kepalanya naik turun mengeluar-masukkan penisku. Aku benar-benar sudah tidak tahan. Ujung penisku yang sudah sampai di tenggorokannya masih aku dorong-dorong. Tanganku juga ikut mendesakkan kepalanya. Lidahnya memutari penisku yang ada dalam mulutnya.
“Rina isap terus terusss hampirr terusss yyyaa sekaranggg sekarangg.. issaapp..”, Rina yang merasa penisku hampir menyemburkan sperma semakin menyedot dengan kuat.Dan…
“aahh.. sekaranggg.. sekaranggg.. issaappp..” spermaku menyembur dengan deras berkali-kali dengan rasa nikmat yang tidak berkesudahan. Rina dengan rakusnya menelan semuanya, dan masih menyedot sperma yang masih ada di dalam penis sampai habis. Rina terus menyedot yang membuat orgasmeku semakin nikmat. Dan setelah selesai, Rina masih juga menjilati penisku, spermaku yang sebagian tumpah juga masih di jilati.
Kemudian setelah beristirahat beberapa saat, kami pun meneruskan mandi sambil saling menyabuni. Setiap lekuk tubuhnya aku telusuri. Dan aku pun semakin menyadari bahwa badannya sangat indah. Setelah itu kami tidur berdua sambil terus berpelukan.
Pagi-pagi ketika aku bangun ternyata Rina sudah berpakaian rapi, dan dia cantik sekali. Dia mengenakan rok mini dan baju tanpa lengan yang serasi dengan kulitnya yang halus. Dia mengajakku belanja ke Mall karena persediaan makanan memang sudah habis. Maka aku pun segera mandi dan bersiap-siap.
Di perjalanan dan selama berbelanja kita saling memeluk pinggang. Siang itu aku menikmati jalan berdua dengannya. Kita belanja selama beberapa jam, kemudian kita mampir ke sebuah Café untuk makan siang. Di dalam mobil dalam perjalanan pulang kita ngobrol-ngobrol tentang semua hal, dari masalah pelajaran sekolah sampai hal-hal yang ringan.
Ketika ngobrol tentang sesuatu yang lucu, Rina tertawa sampai terpingkal-pingkal, dan saking gelinya sampai kakinya terangkat-angkat. Dan itu membuat roknya yang pendek tersingkap. Aku pun sembari menyetir, karena melihat pemandangan yang indah, meletakkan tanganku ke pahanya yang terbuka.
“Ayo.. nakal yah..” kata Rina, bercanda.
“Tapi suka kan?” kataku sambil meremas pahanya. Kami pun sama-sama tersenyum. Mengusap-usap paha Rina memang memberi sensasi tersendiri, sampai aku merasa penisku menjadi tegang sendiri.
“Randi.. sudah kamu nyetir saja dulu, tuh kan itunya sudah bangun.. pingin lagi yah? Rina jadi pengin ngelusin itunya nih..” kata Rina menggodaku. Aku cuma senyum menanggapinya, dan memang aku sudah kepingin mencumbunya lagi.
“Randi, bajunya dikeluarin dong dari celana, biar tanganku ketutupan. Dipegang yah?” Aku semakin nyengir mendengarnya. Tapi karena memang kepingin, dan memang lebih aman begitu dari pada aku yang meneruskan aksiku.
Sambil menyetir aku pun mengeluarkan ujung bajuku dari celanaku. Kemudian tanpa menunggu, tangan Rina langsung menyelinap ke balik bajuku, ke arah selangkanganku. Tangannya mencari-cari penisku yang semakin tegang.
“Ati-ati, masih siang nih, kalau ada orang nanti tangan kamu ditarik yah!” kataku. Rina diam saja, dan kemudian tersenyum ketika tangannya menemukan apa yang dicari-cari. Tangannya kemudian mulai meremas penisku yang masih di dalam celana. Penisku semakin tegang dan berdenyut-denyut.
Karena terangsang juga, Rina mulai berusaha membuka ritsluiting celanaku, dan kemudian menyelinapkan tangannya, dan mulai memegang kepala penisku. Cairan pelumas yang mulai keluar diusap-usapkan ke kepala dan batang penisku.

“Randi.. aku pengin ngisep ininya.. aku pengin ngisep sampai kamu keluar dimulutku..” katanya sambil agak mendesah. Aku juga ingin segera merasakan apa yang dia ingini. Yang ada di otakku adalah segara sampai di rumah, dan segera mencumbunya.
Tapi harapan kita ternyata tidak segera terwujud karena sesampainya di rumah, ternyata orang tua Rina sudah pulang. Kita cuma saling berpandangan dan tersenyum kecewa.
“Eh, sudah pada pulang yah..” Rina menyapa mereka.
“Iya nih, ada perubahan acara mendadak. Makanya sekarang cape banget. Nanti malem ada undangan pesta, makanya sekarang mau istirahat dulu. Kamu masak dulu saja ya sayang.. sudah belanja kan?” kata maminya Rina.
“Iya deh, sebentar Rina ganti baju dulu. Eh, Randi, katanya kamu pengin belajar masak, ayo, sekalian bantuin aku”, kata Rina sambil tersenyum penuh arti. Aku cuma mengiyakan dan ke kamarku ganti pakaian dengan celana pendek dan T-shirt. Kemudian aku ke dapur dan mengeluarkan belanjaan dan memasukkannya ke lemari es.
Tidak lama kemudian Rina menyusul ke dapur. Dia pun sudah berganti pakaian, dan sekarang memakai daster kembang-kembang. Tante juga ikut-ikutan menyiapkan bahan makanan dan Rina mulai mengajariku memasak.
“Sudah Mami istirahat saja sana, kan ini juga sudah ada yang ngebantuin..” kata Rina.
“Iya deh, emang Mami cape banget sih, sudah yah, Mami mau coba istirahat saja”, kata Maminya Rina sambil keluar dari dapur. Aku yang sedang memotongi sayuran cuma tersenyum. Setelah beberapa saat, Rina tiba-tiba memelukku dari belakang, tangannya langsung ditelusupkan ke dalam celanaku dan memegang penisku yang masih tidur.
“Eh.. kok ininya bobo lagi.. Rina bangunin yah?” tangannya dikeluarkan kemudian Rina mengambil salad dressing yang ada di depanku, masih sambil merapatkan badannya dari belakangku.
Kemudian salad dressingnya dituangkan ke tangannya, dan langsung menyelinap lagi ke celana dan dioleskan ke penisku yang langsung menegang. Sambil merapatkan badannya, susunya menekan punggungku, Rina mulai meremasi penisku dengan dua tangannya. Nikmat yang aku rasakan sangat luar biasa. Aku segera melingkarkan tangan ke belakang, meremas pantatnya yang bulat itu.
Tanganku aku turunkan sampai ke ujung dasternya, kemudian kusingkapkan ke atas sambil meremas pahanya dengan gemas. Ketika sampai di pangkal pahanya, aku baru menyadari kalau Rina ternyata sudah tidak memakai celana dalam. Maka tanganku menjadi semakin gemas meremasi pantatnya, dan kemudian menelusuri pahanya ke depan sampai ke selangkangannya. Jari-jariku segera membuka belahan vaginanya dan mulai memainkan clitorisnya yang sudah sangat basah terkena cairan yang semakin banyak keluar dari vaginanya. Tangan Rina juga semakin liar meremas, meraba dan mengocok penisku.
“Rina.. sana diliat dulu, apa Om dan Tante memang sudah tidur..” kataku berbisik karena merasa agak tidak aman.
Rina kemudian melepaskan pegangannya dan keluar dapur.
Tidak lama kemudian Rina kembali dan bilang semuanya sudah tidur. Aku segera memeluk Rina yang masih ada di pintu dapur, kemudian pelan-pelan pintu kututup dan Rina kupepet ke dinding. Kita berciuman dengan gemasnya dan tangan kita langsung saling menelusup dan memainkan semua yang ditemui. Penisku langsung ditarik keluar oleh Rina dan aku segera menyingkap dasternya ke atas, kemudian kaki kirinya kuangkat ke pinggulku, dan selangkangannya yang menganga langsung kuserbu dengan jari-jariku.
Tangan Rina menuntun penisku ke arah selangkangannya, menyentuhkan kepala penisku ke belahan vaginanya dan terus-terusan menggosok-gosokkannya. Untuk mencegah agar Rina tidak mengerang, mulutnya terus kusumbat dengan mulutku. Kemudian karena sudah tidak tahan, aku segera mengarahkan penisku tepat ke mulut vaginanya, dan menekan pelan-pelan, terus ditekan, terus ditekan sampai seluruh batangnya amblas.
Kaki Rina satunya segera kuangkat juga ke pinggangku, sehingga sekarang dua kakinya melingkari pinggangku sambil kupepet di dinding. Kita saling mengadu gerakan, aku maju-mundurkan penisku, dan Rina berusaha menggoyang-goyangkan pantatnya juga. Vaginanya berdenyutan terasa meremasi batang penisku. Tidak lama kemudian aku merasa Rina hampir orgasme.
Denyutan vaginanya semakin keras, badannya semakin tegang dan isapan mulutnya di mulutku semakin kuat. Kemudian aku merasa Rina orgasme. Kontraksi otot vaginanya membuat penisku merasa seperti diurut-urut dan aku juga merasa hampir mencapai orgasme. Setelah orgasme, gerakan Rina tidak liar lagi, dia cuma mengikuti gerakan pantatku yang masih menghunjam-hunjamkan penisku dan mendesakkan badannya ke dinding.

Kemudian sementara penisku masih di dalam dan kaki Rina masih di pinggangku, aku melangkah ke arah meja dapur dan duduk di salah satu kursi, sehingga sekarang Rina ada di pangkuanku dengan punggung menyandar di meja dapur. Selama beberapa saat kita cuma berdiam diri saja. Rina masih menikmati sisa kenikmatan orgasmenya dan menikmati penisku yang masih di dalam vaginanya.
Sementara aku menikmati sekali posisi ini, dan menikmati melihat Rina ada di pangkuanku. Tanganku mengusap-usap pahanya dan menyingkapkan dasternya ke atas sampai melihat bulu kemaluan kami yang saling menempel. Belahan vaginanya kubuka dan aku melihat pemandangan yang sangat indah. Penisku hanya kelihatan pangkalnya karena seluruh batangnya masih di dalam vagina Rina, dan di atasnya aku melihat clitorisnya yang sangat basah.
Jari-jariku mulai mengusap-usap clitorisnya sampai Rina mulai mendesis-desis lagi, dan pantatnya mulai bergerak lagi, berputar dan mendesakkan penisku menjadi semakin masuk. Aku merasa vaginanya mulai berdenyutan lagi meremas-remas penisku. Karena gemas, kadang-kadang clitorisnya kupelintir dan kucubit-cubit.
Kemudian dasternya kusingkap semakin ke atas sampai aku melihat susunya yang menantangku untuk segera memainkannya. Dengan tak sabar segera susunya yang kiri kulumat dengan mulutku, yang membuat kepala Rina mendongak merasakan kenikmatan itu. Sambil melumati susunya, lidahku juga memainkan putingnya yang sudah sangat tegang. Kadang-kadang putingnya juga kugigit-gigit kecil dengan gemas. Tanganku dua-duanya meremasi pantatnya yang bulat.
“Ya Tuhan Randiii aahh aahh”, rintihnya di kupingku, sambil kadang menjilati dan menggigit kupingku.
“Randii.. aahh.. aku hampir dapet lagii.. ahh.., terus gitu sayang”, rintihnya dengan gerakan yang semakin liar.
Pantatnya semakin keras menekan dan berputaran, yang membuat penisku juga seperti dipelintir dengan lembut.
Aku pun menuruti dan terus memberikan kenikmatan dengan terus memainkan susunya bergantian yang kiri dan kanan, dan tanganku juga ikut memainkan puting susunya, sampai Rina tiba-tiba menggigit kupingku dengan keras dan setelah menghentakkan pantatnya dia memelukku dengan eratnya.
“hh Randdiii.. hh. hh.” Aku merasakan Rina orgasme untuk kedua kalinya dan lebih hebat dari yang pertama.
Denyutan vaginanya keras sekali dan berlangsung selama beberapa detik, dan kenikmatan yang aku rasakan membuatku merasa sudah hampir orgasme. Tapi setelah orgasme, ternyata Rina masih ingat keinginannya untuk menghisap penisku.
“Randi.. jangan dikeluarin dulu.. nanti di mulutku saja yah”.
Maka setelah turun dari pangkuanku, Rina segera jongkok di depanku dan langsung mengulum penisku. Lidahnya memutari batangnya dan mulutnya menyedot-nyedot membuat aku merasa orgasmeku sudah sangat dekat. Tanganku memegang belakang kepala Rina, dan kutekan agar penisku semakin masuk di mulutnya, kemudian aku juga membantu memasuk-keluarkan penisku di mulutnya, dan
“aahh Rina aku keluarrr terus isaappp.. aahh..” dan memang Rina dengan lahapnya terus menghisap spermaku yang langsung berhamburan masuk ke tenggorokannya. Penisku yang masih mengeluarkan sperma terus disedot dan dikenyot-kenyot dan pangkal penisku juga terus-terusan dikocok-kocok. Orgasmeku kali ini kurasakan sangat luar biasa.
Setelah itu kita kembali berciuman, dan kembali meneruskan memasak.
“Randi.. makasih yah, tapi aku belum puas, habis kurang bebas sih, entar malem lagi yah..!” aku yang merasa hal yang sama cuma mengangguk.
“Ran, aku nanti malem pengin menikmati seluruh tubuhmu.”
“Maksudmu..? apa selama ini belum?”
“Aku pengin melakukan hal yang lain sama kamu.., tunggu saja..”
“Ihh.. apaan sih.., Rina jadi merinding nih”, kata Rina sambil memperlihatkan bulu-bulu tangannya yang memang berdiri, dan sambil tersenyum aku mengelusi tangannya. Kemudian badannya kupeluk dari belakang dengan lembut. Aku merasa bahagia sekali.


Perawanku – Perkenalan namaku Rendi.aku mau memperkenalkan jati diriku. Aku tinggal dikota S Jawa Tengah, tinggiku 169 cm dan berat badanku 52 kg. Aku saat ini kuliah disalah satu universitas ternama di Jateng. Saat ini aku
langsung cerita pengalamanku saat aku masih duduk kelas 1 SMP tapi aku masih ingat betul ceritanya.
Saat aku lulus di SD aku mendapat nilai yang sangat memuaskan. Seperti janji ayahku kalau nilaiku baik aku akan dikirim di luar kota yang pendidikannya lebih baik. Disana aku dititipkan dirumah pamanku, om Hari. Dia orang yang sangat kaya
raya.
Rumahnya sangat megah tapi terletak disebuah desa pinggir kota. Rumahnya terdapat dua lantai dan dilengkapi juga kolam renang yang lumayan besar. Om Hari orangnya sangat sibuk, dia mempunyai istri yang sangat cantik namanya Tante Reni, wajahnya mirip dengan Amara. Dia mempunyai anak yang masih kecil. Tante Reni rajin merawat tubuhnya, walapun dia sudah mempunyai satu anak tubuhnya tetap padat berisi ditunjang dengan payudara yang sangat montok kira kira 34B.
Hal itu yang membuatku tertarik akan keindahan serta anugrah dari seorang
wanita.Sesampainya dirumah Om Hari. Aku memasuki pintu rumah yang besar. Disana aku
disambut oleh Om Hari dan istrinya. Om Hari menjabat tanganku sedangkan Tante
menciumku. Aku agak sungkan dengan perlakuan seperti itu. Pembantu disana
disuruh membawakan tasku dan mengantarkan sampai di kamarku.
Aku mendapat kamar yang 3 kali lipat dari kamar tidurku dirumah. Setelah itu aku berkeliling rumah
melihat kolam renang serta sempat melihat kamar mandi yang tak terbayang olehku.
Disana terdapat tempat cuci tangan dengan cermin yang besar WC, bathup, dan dua
shower yang satu dengan kaca buram sedangan yang satu dengan kain yang
diputarkan membentuk 1/4 lingkaran (sorry aku nggak tahu namanya.
Tempat itu masih dalam satu ruangan tanpa penyekat.
Sore hari, aku duduk ditepi kolam. Om Hari datang menghampiriku dia bilang mau pergi keluar kota. Dia juga mohon maaf tidak bisa menemaniku. Kami pun mengantarkan sampai pagar rumah. Setelah itu aku kembali duduk menikmati suasana kolam renang. Tiba tiba dari belakang muncul sosok yang sangat menawan. Tante
dengan baluatan piyama menghampiriku.
“Ren kamu suka nggak ama rumah ini”
“Suka banget Tante, kayaknya aku kerasan banget dengan rumah ini tiap sore bisa renang”
“Kamu suka renang, yuk kita renang bareng, pas waktu ini udara sangat panas”
Wahh kebetulan aku bisa renang ama Tante yang bahenol. Waktu bertemu pertama kali aku cuma bisa membayangkan bentuk tubuhnya waktu renang dengan balutan swimsuit. Tapi ketika dia berdiri. Dia membuka piyamanya. Kontan aku tersedak ketika dia hanya memakai Bikini yang sangat sexy dengan warna yang coklat muda.
Model bawahannya G-string.
“Huhuukk.. Aduh Tante aku kira Tante mau telanjang”
“Enak aja kalau kamu, Om bilang kamu suka bercanda”
“Tante nggak malu dilihatin ama satpam Tante, Tante pake bikini seperti ini”
“Ihh ini sudah biasa Tante pake bikini kadang ada orang kampung ngintip Tante”
“Benar Tante.. Tapi sayang aku lupa bawa celana renang”
“Ah.. Nggak apa apa pake aja dulu celana dalam kamu. Nanti aku suruh bi’ Imah
suruh beli buat kamu, yuk nyebur..” segera Tante menyeburkan dirinya. Dengan
malu malu aku membuka bajuku tapi belum buka celana. Aku malu ama Tante. Lalu
dia naik dari kolam. Dia memdekatiku

“Ayo cepet.. Malu ya ama Tante nggak apa apa. Kan kamu keponakan Tante. Jadi
sama dengan kakak perempuan kamu.”
Waktu dia mendekatiku terlihat jelas putingnya menonjol keluar. Maklum nggak ada
bikini pake busa. Aku melirik bagian payudaranya. Dia hanya tersenyum.
Setelah itu dia kembali menarikku. Tanpa basa basi dengan muka tertunduk aku
melorotkan celana dalamku. Yang aku takutkan kepala adikku kelihatan kalau lagi
tegang menyembul dibalik celana dalamku. Setelah melepas celanaku langsung aku
berenang bersama Tante.
Setelah puas renang aku naik dan segera ke kamar mandi yang besar. Aku masuk
disana ketika aku ingin menutupnya, tidak ada kuncinya jadi kalau ada orang
masuk tinggal buka aja. Aku segera bergegas tempat dengan penutup kain. Aku
tanggalkan semua yang tertinggal ditubuhku dan aku membilas dengan air dingin.
Ketika hendak menyabuni tubuhku. Terdengar suara pintu terbuka, aku mengintip
ternyata Tanteku yang masuk. Kontan aku kaget aku berusaha agar tidak ketahuan.
Ketika dia membuka sedikit tempatku aku spontan kaget segera aku menghadap ke
belakang.
“Ehh.. Maaf ya Ren aku nggak tahu kalau kamu ada didalam. Habis nggak ada suara
sih”
Langsung segera wajahku memerah. Aku baru sadar kalau Tante sudah menanggalkan
bikini bagian atasnya. Dia segera menutupinya dengan telapak tangannya. Aku tahu
waktu tubuhku menghadap kebelakang tapi kepalaku lagi menoleh kepadanya.
“Maaf.. Juga Tante.. Ini salahku” jawabku yang seolah tidak sadar apa yang aku
lakukan. Yang lebih menarik telapak tangan Tante tidak cukup menutupi semua
bagiannya. Disana terdapat puting kecil berwarna cokelat serta sangat kontras
dengan besarnya payudara Tante.

“Tante tutup dong tirainya, akukan malu”
Segera ditutup tirai itu. Dengan keras shower aku hidupkan seolah olah aku
sedang mandi. Segera aku intip Tanteku. Ternyata dia masih diluar belum masuk
tempat shower. Dia berdiri didepat cermin. Disana dia sedang membersihkan muka,
tampak payudaranya bergoyang goyang menggairahkan sekali. Dengan sengaja aku
sedikit membuka tirai supaya aku dapat melihatnya. Aku bermain dengan adikku
yang langsung keras. Kukocok dengan sabun cair milik Tante. Ketika aku intip
yang kedua kali dia mengoleskan cairan disekujur tubuhnya. Aku melihat tubuh
Tante mengkilap setelah diberi cairan itu. Aku tidak tahu cairan apa itu. Dia
mengoleskan disekitar payudaranya agak lama. Sambil diputar putar kadang agar
diremas kecil. Ketika sekitar 2 menit kayaknya dia mendesis membuka sedikit
mulutnya sambildia memejamkan mata. Sambil menikmati pemandangan aku
konsentrasikan pada kocokanku dan akhirnya.. Crot crot..
Air maniku tumpah semua ke CD bekas aku renang tadi. Yang aku kagetkan nggak ada
handuk, lupa aku ambil dari dalam tasku. Aku bingung. Setelah beberapa saat aku
tidak melihat Tante di depan cermin, tapi dia sudah berada di depan shower yang
satunya. Aku tercengang waktu dia melorotkan CDnya dengan perlahan lahan dan
melemparkan CDnya kekeranjang dan masuk ke shower. Setelah beberapa kemudian dia
keluar. Aku sengaja tidak keluar menunggu Tanteku pergi. Tapi dia menghampiriku.
“Ren koq lama banget mandinya. Hayo ngapain didalam”
Kemudian aku mengeluarkan kepalaku saja dibalik tirai. Aku kaget dia ada
dihadapanku tanpa satu busanapun yang menempel ditubuhnya. Langsung aku tutup
kembali.
“Rendi malu ya, nggak usah malu akukan masih Tantemu. Nggak papalah?”
“Anu Tante aku lupa bawa handuk jadi aku malu kalau harus keluar”
“Aku juga lupa bawa handuk, udahlah kamu keluar dulu aja. Aku mau ambilkan
handukmu.”
Tante sudah pergi. Akupun keluar dari shower. Setelah bebrapa menit aku mulai
kedinginan yang tadi adikku mengeras tiba tiba mengecil kembali. Lalu pintu
terbuka pembantu Tante yang usianya seperti kakakku datang bawa handuk, akupun
kaget segera aku menutupi adikku. Dia melihatku cuma tersenyum manis. Aku
tertunduk malu. Setelah dia keluar, belum sempet aku menutup auratku Tanteku
masuk masih tetap telanjang hanya aja dia sudah pake CD model g-string.

“Ada apa Tante. Kok masih telanjang” jawabku sok cuek bebek padahal aku sangat
malu ketika adikku berdiri lagi.
“Sudah nggak malu ya.., anu Ren aku mau minta tolong”
“Tolong apa Tante koq serius banget.. Tapi maaf ya Tante adik Rendi berdiri”
Dia malah tertawa.”Idih itu sih biasa kalau lagi liat wanita telanjang” jawab
Tante.
“Begini aku minta Rendi meluluri badan Tante soalnya tukang lulurnya nggak
datang”
Bagai disambar petir. Aku belum pernah pegang cewek sejak saat itu. Pucuk
dicinta ulam tiba.
“Mau nggak..?
“Mau Tante.”
Segera dia berbaring tengkurap. Aku melumuri punggung Tante dengan lulur. Aku
ratakan disegala tubuhnya. Tiba tiba handukku terlepas. Nongol deh senjataku,
langsung aku tutupi dengan tanganku
“Sudah biarin aja, yang ada cuma aku dan kamu apa sih yang kamu malukan.”
Dengan santainya dia menaruh handukku kelantai.
“Tubuh Tante bagus banget. Walaupun sudah punya anak tetap payudara Tante besar
lagi kenceng”
Aku berbicara waktu aku tahu payudaranya tergencet waktu dia tengkurap. Dan dia
hanya tersenyum. Aku sekarang meluluri bagian pahanya dan pantatnya.
“Ren berhenti sebentar”
Akupun berhenti lalu dia mencopot CDnya. Otomatis adikku tambah gagah. Aku tetap
tak berani menatap bagian bawahnya. Setelah beberapa waktu dia membalikkan badan
ke arahku. Lagi lagi aku tersedak melihat pemandangan itu.

“Ren Adikmu lagi tegang tegangnya nih kayaknya sudah hampir keluar nih.”
Lalu dia menyuruh aku mengolesinya dibagian payudaranya. Dia suruh aku supaya
agak meremas remasnya. Aku pun ketagian acara itu disana aku melihat puting
berwarna coklat muda lagi mengeras. Kadang kadang aku senggol putingnya atau aku
sentil. Dia memekik dan mendesah seperti ulat kepanasan.
“Ren terus remas.. Uhuhh remes yang kuat”
“Tante kok jarang rambutnya dianunya Tante. Nggak kaya Mbak Ana” aku bertanya
dan dia hanya tersenyum ketika tanganku beralih di daerah vagina.
Ketika aku menyentuh vagina Tante yang jarang rambutnya. Aku gemetar ketika
tanganku menyentuh gundukan itu. Belum aku kasih lulur daerah itu sudah basah
dengan sendirinya. Aku disuruhnya terus mengusap usap daerah itu, kadang aku
tekan bagian keduanya.
“Ren pijatanmu enak banget.. Terus..”
Setelah aku terus gosok dengan lembut tiba tiba Tante menegang. Serr serr, aku
mencari sumber bunyi yang pelan tapi jelas. Aku tahu kalau itu berasal dibagian
sensitif Tante. Lalu dia terkulai lemas.
“Makasih ya atas acara lulurannya. Untung ada kamu. Ternyata kamu ahli juga ya”
“Tentu Tante, kalau ada apa apa bisa andalkan Rendi”
Lalu dia pergi dari kamar mandi itu. Aku memakai handuk untuk menutupi bagian
tubuhku. Aku mengikutinya dari belakang. Ternyata dia berjalan jalan dirumah
tanpa sehelai benang pun. Aku pun segera masuk ke kamar tidur yang dipersiapkan,
tenyata ada pembantu yang tadi mengambilkan handuk sedang menata pakaianku ke
dalam almari.
“Den, Rendi, tadi kaget nggak ngeliat ibu telanjang” sebelum aku jawab.
Dia memberitahukan kalau Tante itu suka telanjang dan memamerkan tubuhnya ke
semua orang baik perempuan maupun laki laki tapi tidak berani kalau ada
suaminya. Pembantu itu juga memberitahukan kejadian yang aneh dia sering renang
telanjang dan yang paling aneh kadang kadang ketika dia menyirami bunga dia
telanjang dada di depan rumah tepatnya halaman depan, padahal sering orang lewat
depan rumah.

“Sudah ganti sana CD ada didalam almari itu tapi kayaknya anunya den Rendi masih
amatir” dia menggodaku.
Setelah melewati beberapa hari akupun sering mandi sama Tante bahkan hampir tiap
hari. Semakin dipandang tubuhnya makin oke aja. Itu semua pengalaman saya hidup
dirumah Tante Reni yang aduhai. Tapi aku kecewa waktu aku meninggalkan rumah
itu. Aku disana belum genap satu tahun. Karena harus balik lagi ke rumah karena
ayah ibuku bekerja diluar kota dan aku harus tunggu bersama kakakku Ana.
bagaimana Dengan Cerita Seks Ini Gan ?

Perawanku – Beginilah anak jaman sekarang guys , yang mana pada jam pulang sekolah siswa ini bukan langsung pulang kerumahnya , melainkan siswa ini melakukan HisMek alias ( Hisap Memek ) , anak sekolah belakangan ini suka begitu ya guys , alasannya ada jam tambahan di sekolah , ehh rupanya jam tambahannya mesum di sekolah .
Hahahaha jaman sekarang sudah mulai gila ya guys , tanda-tanda mau kiamat kali yakkkk !!!
Berikut kami sajikan foto Siswa HisMek ini ya guys :












Perawanku – Cerita Sex Ngentot Tante Bohay Kesepian Sampai NambahIbu kost ku sebut saja namanya tante Nita. Memang sebaiknya di panggil Tante Nita karena dandanan nya seperti tante, tidak terlalu tua, tapi bukan seorang tante girang, hanya tante yang kebetulan ingin mendapatkan kehangatan sex yang berbeda, sensasi berbeda dengan laki-laki yang lebih muda.

Cerita Sex Ngentot Tante Bohay Kesepian Sampai Nambah


Perawanku – Dimana pun kapan pun pasti anak muda itu kebanyakan doyan sama pacaran,apalai gejolak anak remaja dipengaruhi bnyak faktor.Saatnya hapus juga bahwa anak-anak tidak bisa luapkan isi hati,buktinya waktu kecil saja aku dah main-main cinta monyet sama anak pedagang mainan.
Tampangnya walau masih kecil kelihatan banget kalau dia seorang penyayang,dari mulai berangkat sekolah sampai pulangpun aku selalu bareng.Aku berharap semoga aku bisa mendapat cowok seperti sosok kecil yang berada tepat disampingku.Tak lupa dia selalu menggandeng tanganku.Ortu kamipun merasa aneh karena walau kita kecil kami berdua banyak menemukan kecocokan.Ini juga paling yang menyebabkan aku harus melepas lajangku yaitu Menikah Pada usia belia,tak kupungkiri membuatku mendapat Kepuasan seks.
Cerita bokep ini pun kemudian berawal dari pertemuanku dengan Ronald. Ceritanya begini : Aku menikah pada usia sangat belia, yakni 22 tahun. Aku tak sempat melanjutkan kuliah, karena aku pada usia tersebut sudah dinikahkan olah orang tua, karena ayah memiliki hutang judi yang banyak dengan seorang laki-laki playboy “kampungan”. Aku menikah dengan sang playboy, usianya sangat renta sekali, 65 tahun pada saat aku dinikahinya. Setahun aku hidup sekasur dengan dia, selama itu pula aku tidak pernah merasakan apa yang dinamakan nikmat seksual.
Padahal, kata teman-teman, malam pertama malam yang paling indah. Sedangkan untuk aku, malam pertama adalah malam neraka !!!. Ternyata, Burhan, suamiku itu mengidap penyakit diabetes (kadar gula darah yg tinggi), yang sangat parah, hingga mengganggu kejantanannya diatas ranjang. Selama lima tahun kami menikah, selama itu pula aku digaulinya hanya dengan mencumbu, mencium, dan meng-elus-elus saja, selebihnya hanya keluhan-keluhan kekecewaan saja.Burhan sering merangsang dirinya dengan memutar film-film porno yang kami saksikan berdua sebelum melakukan aktifitas seksual. Tapi apa yang terjadi ? Burhan tetap saja loyo, tak mampu merangsang penisnya agar bisa ereksi, tapi justru aku yang sangat amat terangsang, konyol sekali. Aku mendapat pelajaran seksual dari film-film yang diputar Burhan.
Aku sering berkhayal, aku disetubuhi laki-laki jantan. Aku sering melakukan masturbasi ringan untuk melampiaskan hasrat seksualku, dengan berbagai cara yang kudapat dari khayalan-khayalanku.Pada suatu hari, Burhan harus terbaring di rumah sakit yang disebabkan oleh penyakitnya itu. Selama hampir satu bulan dia dirawat di RS, aku semakin terasa kesepian selama itu pula. Pada suatu hari aku harus pergi menebus obat di sebuah apotek besar, dan harus antre lama. Selama antre aku jenuh sekali. Tiba-tiba aku ingin keluar dari apotek itu dan mencari suasana segar. Aku pergi ke sebuah Mall dan makan dan minum disebuah restauran. Disitu aku duduk sendiri disebuah pojok. Karena begitu ramainya restauran itu, sehingga aku mendapat tempat yang belakang dan pojok. Setelah beberapa saat aku makan, ada seorang anak muda ganteng minta ijin untuk bisa duduk dihadapan aku.Karena mungkin hanya bangku itu yang satu-satunya masih tersisa. Dia ramah sekali dan sopan, penuh senyum. Singkat cerita, kami berkenalan, dan ngobrol ngalor-ngidul, hingga suatu waktu, dia membuka identitas dirinya. Dia masih bujang, orang tuanya tinggal di luar negeri. Di Jakarta dia tinggal bersama adik perempuannya yang masih di bangku SMU.

Hampir satu jam kami ngobrol. Dalam saat obrolan itu, aku memberikan kartu namaku lengkap dengan nomor teleponnya. Cowok itu namanya Ronald, badannya tegap tinggi, kulitnya sawo matang, macho tampaknya. Sebelum kami berpisah, kami salaman dan janji akan saling menelpo kemudian.Sewaktu salaman, Ronald lama menggenggap jemariku seraya menatap dalam-dalam mataku diiringi dengan sebuah senyum manis penuh arti. Aku membalasnya, tak kalah manis senyumku. Kemudian kami berpisah untuk kembali kekesibukan masing-masing. Dalam perjalanan pulang, aku kesasar sudah tiga kali.Sewaktu aku nyetir mobil, pikiranku kok selalu ke anak muda itu ? kenapa hanya untuk jalan pulang ke kawasan perumahanku aku nyasar kok ke Ciputat, lalu balik kok ke blok M lagi, lantas terus jalan sambil mengkhayal, eh…..kok aku sudah dikawasan Thamrin. Sial banget !!! Tapi Ok lho ?! Sudah satu minggu usia perkenalanku dengan Ronald, setiap hari aku merasa rindu dengan dia. Suamiku Burhan masih terbaring di rumah sakit, tapi kewajibanku mengurusi Burhan tak pernah absen. Aku memberanikan diri menelpon Ronald ke HP nya.
Ku katakan bahwa aku kanget banget dengan dia, demikian pula dia, sama kangen juga dengan aku.Kami janjian dan ketemu ditempat dulu kami bertemu. Ronald mengajak aku jalan-jalan, aku menolak, takut dilihat orang yang kenal dengan aku. Akhirnya kami sepakat untuk ngobrol di tempat yang aman dan sepi, yaitu; ” Hotel”. Ronald membawa aku ke sebuah hotel berbintang. Kami pergi dengan mobilnya dia. Sementara mobilku ku parkir di Mall itu, demi keamanan privacy. Di hotel itu kami mendapat kamat di lantai VII, sepi memang, tapi suasananya hening, syahdu, dan romantis sekali. ” Kamu sering kemari ?” tanyaku, dia menggeleng dan tersenyum. ” Baru kali ini Tante ” sambungnya. ” Jangan panggil aku tante terus dong ?! ” pintaku.Lagi-lagi dia tersenyum. ” Baik Yulia ” katanya. Kami saling memandang, kami masih berdiri berhadapan di depan jendela kamar hotel itu. Kami saling tatap, tak sepatahpun ada kata-kata yang keluar. Jantungku semakin berdebar keras, logikaku mati total, dan perasaanku semakin tak karuan, bercampur antara bahagia, haru, nikmat, romantis, takut, ah…..macam-macamlah!!!.
Tiba-tiba saja, entah karena apa, kami secara berbarengan saling merangkul, memeluk erat-erat. Ku benamkan kepalaku di dada Ronald, semakin erat aku dipeluknya. Kedua lenganku melingkar dipinggangnya. Kami masih diam membisu. Tak lama kemudian aku menangis tanpa diketahui Ronald, air mataku hangat membasahi dadanya. ” Kamu menangis Yulia ? ” Tanyanya. Aku diam, isak tangisku semakin serius. ” kanapa ? ” tanyanya lagi. Ronals menghapus air mataku dengan lembutnya.” Kamu menyesal kemari Yulia ?” tanya Ronald lagi. Lagi-lagi aku membisu. Akhirnya aku menggeleng. Dia menuntunku ketempat tidur. Aku berbarin di bagian pinggir ranjang itu. Ronald duduk disebelahku sambil membelai-belai rambutku. Wah….rasanya selangit banget !.Aku menarik tangan Ronald untuk mendekapku, dia menurut saja. Aku memeluknya erat-erat, lalu dia mencium keningku. Tampaknya dia sayang padaku. Ku kecup pula pipinya.Gairah sex ku semakin membara, maklum sekian tahun aku hanya bisa menyaksikan dan menyaksikan saja apa yang dinamakan ” penis” semnatar belum pernah aku merasakan nikmatnya.

Ronald membuka kancing bajunya satu persatu. Kutarik tangannya untuk memberi isyarat agat dia membuka kancing busananku satu persatu. Dia menurut. Semakin dia membuka kancing busanaku semakin terangsang aku.Dalam sekejap aku sudah bugil total ! Ronal memandangi tubuhku yang putih mulus, tak henti-hentinya dia memuji dan menggelengkan kepalanya tanda kekagumannya. Lantas diapun dalam sekejap sudah menjadi bugil. Aduh……jantan sekali dia. Penisnya besar dan ereksinya begitu keras tampaknya. Nafasku semakin tak beraturan lagi.Ronald mengelus payudaraku, lalu……mengisapnya. Oh…..nikmat dan aku terangsang sekali. Dia menciumi bagian dadaku, leherku. Aku tak kalah kreatif, ku pegang dan ku elus-elus penisnya Ronald. Aku terbayang semua adegan yang pernah ku saksikan di film porno. Aku merunduk tanpa sadar, dan menghisap penisnya Ronald. Masih kaku memang gayaku, tapi lumayanlah buat pemula. Dia menggelaih setiap kujilati kepala penisnya.Jari jemari Ronald mengelus-elus kemaluanku, bulu memekku di elus-elus, sesekali manarik-nariknya. Semakin terangsang aku. Basah tak karuan sudah vaginaku, disebabkan oleh emosi sex yang meluap-luap.Aku lupa segalanya. Akhirnya, kami sama-sama mengambil posisi ditengah-tengah ranjang. Aku berbarimng dan membuka selangkanganku, siap posisi, siap digempur.
Ronald memasukkan penisnya kedalam vaginanku, oh….kok sakit, perih ?, aku diam saja, tapi makin lama makin nikmat. Dia terus menggoyang-goyang, aku sesekali meladeninya. Hingga….cret…cret…cret…air mani Ronald tumpah muncrat di dalam vaginaku.Sebenarnya aku sama seperti dia, kayaknya ada yang keluar dari vaginaku, tapi aku sudah duluan, bahkan sudah dua kali aku keluar. Astaga, setelah kami bangkit dari ranjang, kami lihat darah segar menodai seprei putih itu. Aku masih perawan !!! Ronald bingung, aku bingung. Akhirnya aku teringat, dan kujelaskan bahwa selama aku menikah, aku belum pernah disetubuhi suamiku, karena dia impoten yang disebabkan oleh sakit kencing manis. ” Jadi kamu masih perawan ?! ” Tanyanya heran. Aku menjelaskannya lagi, dan dia memeluk aku penuh rasa sayang dan kemesraan yang dalam sekali. Kami masih bugil, saling berangkulan, tubuh kami saling merapat.Aku mencium bibir nya, tanda sayangku pula. Seharusnya kegadisanku ini milik suamiku, kenapa harus Ronald yang mendapatkannya? Ah….bodo amat ! aku juga bingung !

Hampir satu hari kami di kamar hotel itu, sudah tiga kali aku melakukan hubungan sex dengan anak muda ini.Tidak semua gaya bisa ku praktekkan di kamar itu. Aku belum berpengalaman ! Tampaknya dia juga begitu, selalu tak tahan lama !! Tapi lumayan buat pemula .Setelah istirahat makan, kami tudur-tiduran sambil ngobrol, posisi masig dengan busana seadanya. Menjelang sore aku bergegas ke kamar mandi. membrsihkan tubuh. Ronald juga ikut mandi. Kami mandi bersama, trkadang saling memeluk, saling mencium, tertawa, bahkan sedikit bercanda dengan mengelus-elus penisnya. Dia tak kalah kreatif, dimainkannya puting payudaraku, aku terangsang……dan…….oh,….kami melakukannya lagi dengan posisi berdiri. Tubuh kami masih basah dan penuh dengan sabun mandi. Oh nikmatnya, aku melakukan persetubuhan dalam keadaan bugil basah di kamar mandi. Ronal agak lama melakukan senggama ini, maklum sudah berapa ronde dia malakukannya,. kini dia tampak tampak sedikit kerja keras.Dirangsangnya aku, diciuminya bagian luar vaginaku, dijilatinya tepinya, dalamnya, dan oh….aku menggeliat kenikmatan.Akupun tak mau kalah usaha, ku kocok-kocok penis Ronald yang sudah tegang membesar itu, ku tempelkan ditengah-tengah kedua payudaraku, kumainkan dengan kedua tetekku meniru adegan di blue film VCD.
Tak kusangka, dengan adegan begitu, Ronald mampu memuncratkan air maninya, dan menyemprot ke arah wajahku. Aneh sekali, aku tak jijik, bahkan aku melulurkannya kebagian muka dan kurasakan nikmat yang dalam sekali. ” Kamu curang ! Belum apa-apa sudah keluar !” Seruku.” Sorry, enggak tahan….” Jawabnya. Kutarik dia dan kutuntun ****** ronal masuk ke memekku, kudekap dia dalam-dalam, kuciumi bibirnya, dan kugoyang-goyang pinggulku sejadinya. Ronald diam saja, tampak dia agak ngilu, tapi tetap kugoyang, dan ah….aku yang puas kali ini, hingga tak sadar aku mmencubit perutnya keras-keras dan aku setengah berteriak kenikmatan, terasaada sesuatu yang keluar di vaginaku, aku sudah sampai klimaks yang paling nikmat.Setelah selesai mandi, berdandan, baru terasa alat vitalku perih. Mungkin karena aku terlalu bernafsu sekali. Setelah semuanya beres, sebelum kami meninggalkan kamar itu untuk pulang, kami sempat saling berpelukan di depan cermin. Tak banyak kata-kata yang kami bisa keluarkan. Kami membisu, saling memeluk. ” Aku sayang kamu Yulia ” Terdenga suara Ronald setengah berbisik, seraya dia menatap wajahku dalam-dalam. Aku masih bisu, entah kenapa bisa begitu. Diulanginya kata-kata itu hingga tiga kali. Aku masih diam.Tak kuduga sama sekali, aku meneteskan airmata, terharu sekali. ” Aku juga sayang kamu Ron ” Kataku lirih.” Sayang itu bisa abadi, tapi cinta sifatnya bisa sementara ” Sambungku lagi.

Ronald menyeka air mataku dengan jemarinya. Aku tampak bodoh dan cengeng, kenapa aku bisa tunduk dan pasrah dengan anka muda ini ? Setelah puas dengan adegan perpisahan itu, lantas kami melangkah keluar kamar, setelah check out, kami menuju Blok M dan kami berpisah di pelataran parkir. Aku sempat mengecup pipinya, dia juga membalasnya dengan mencium tanganku. Ronald kembali kerumahnya, dan aku pulang dengan gejolak jiwa yang sangat amat berkecamuk tak karua.Rasa sedih, bahagia, puas, cinta, sayang dan sebaginya dan sebagainya. Ketika memasuki halaman rumahku, aku terkejut sekali, banyak orang berkumpul disana. Astaga ada bendera kuning dipasang disana. Aku mulai gugup, ketika aku kemuar dari mobil, kudapati keluarga mas Burhan sudah berkumpul, ada yang menangis. Ya ampun, mas Burhan suamiku sudah dipanggil Yang Kuasa. Aku sempat dicerca pihak keluarganya, kata mereka aku sulit dihubungi. Karuan saja, HP ku dari sejak di Hotel kumatikan hingga aku dirumah belum kuhidupkan. Kulihat mas Burhan sudah terbujur kaku ditempat tidur.Dia pergi untuk selamanya, meninggalkan aku, meninggalkan seluruh kekayaannya yang melimpah ruah. Kini aku jadi janda kaya yang kesepian dalam arti yang sebenarnya.

Tiga hari kemudian aku menghubungi Ronald via HP, yang menjawab seorang perempuan dengan suara lembut. Aku sempat panas, tapi aku berusaha tak cemburu. Aku mendapat penjelasan dari wanita itu, bahwa dia adik kandungnya Ronald. Dan dijelaskan pula bahwa Ronald sudah berangkat ke Amerika secara mendadak, karena dipanggil Papa Mamanya untuk urusan penting.Kini aku telah kehilangan kontak dengan Ronald, sekaligus akan kehilangan dia. Aku kehilangan dua orang laki-laki yang pernah mengisi hidupku. Sejak saat itu sampai kini, aku selalu merindukan laki-laki macho seperti Ronald. Sudah tiga tahun aku tak ada kontak lagi dengan Ronald, dan selama itu pula aku mengisi hidupku hanya untuk shopping, jalan-jalan, nonton, ah…macam-macamlah. Yang paling konyol, aku menjadi pemburu anak-anak muda ganteng. Banyak sudah yang kudapat, mulai dari Gigolo profesional hingga anak-anak sekolah amatiran.Tapi kesanku, Ronald tetap yang terbaik !!! Dalam kesendirianku ini . . . Segalanya bisa berubah .. . Kecuali, Cinta dan kasihku pada Ronad, Aku tetap menunggu, sekalipun kulitku sampai kendur, mataku lamur, usiaku uzur, ubanku bertabur, dan sampai masuk kubur, Oh….Ronald, kuharap engkau membaca kisah kita ini. Ketahuilah, bahwa aku kini menjadi maniak seks yang luar biasa, hanya engkau yang bisa memuaskan aku Ron ?


Perawanku – Aku tiba di Jepang pertama kali pada awal Februari. Saat itu kota kecil tempat aku belajar tengah tertutup oleh timbunan salju. Sewaktu mencari apartemen yang kemudian kutinggali, aku hanya tahu bahwa ibu pemilik apartemennya masih muda dan sangat cantik. Waktu itu dia mengantarku menengok keadaan apartemen. Dia mengenakan celana jean dan jaket bulu yang longgar dengan mengenakan penutup kepala yang menyatu dengan jaket yang dia kenakan.
Sesudah menandatangani kontrak sewa, aku tidak pernah berjumpa lagi dengannya hingga akhir Maret. Walaupun dia tinggal di rumah besar yang hanya berada di samping kanan apartemen yang kusewa, namun kesibukanku di kampus membuatku selalu pulang malam. Juga kebiasaan orang yang hidup di negara empat musim, pada musim dingan rumah besar itu selalu menutup pintu dan jendelanya rapat-rapat. Pada akhir pekan, waktu kuhabiskan di dalam apartemen dengan menonton kaset video.
Pembayaran uang sewa apartemen kulakukan dengan transfer uang lewat bank ke rekening dia. Dari situlah aku jadi hafal namanya: Yumiko Kawamura.
Yumiko ternyata sangat mengundang hasrat lelaki. Aku baru menyadarinya pada akhir bulan April. Waktu itu hari Jumat, tanggal 30 April. Aku lupa pergi ke bank untuk membayar sewa apartemen. Sementara kalau menunggu hari Senin, hari sudah menunjukkan tanggal 3 Mei. Padahal sesuai perjanjian, uang sewa bulan berikutnya harus sudah dibayarkan selambat-lambatnya pada hari terakhir bulan sebelumnya. Maka pada malam itu aku membawa uang sewa apartemen ke rumahnya barangkali dia mau menerima uangnya secara langsung.
Dia sendiri yang membukakan pintu rumahnya saat itu. Aku mengemukakan alasanku, mengapa sampai aku menyalahi kontrak perjanjian, yakni tidak membayar lewat bank. Ternyata dia berkata, hal tersebut tidak menjadi masalah. Lewat bank atau langsung diantarkan, baginya tidak ada pengaruhnya. Hanya orang Jepang biasanya tidak mau repot-repot atau belum tentu punya waktu sehingga mereka membayar uang sewa melalui transfer otomatis antarrekening bank.
Waktu Yumiko menemuiku tersebut, aku terpesona dengan kecantikan dan kemolekan bentuk tubuhnya. Tinggi tubuhnya sekitar 167 cm. Rambutnya tergerai sebahu. Wajahnya putih mulus dengan bentuk mata, alis, hidung, dan bibir yang indah. Dari celada jean ketat dan sweater yang dia kenakan, aku dapat melihat jelas postur tubuhnya. Pinggangnya berlingkar sekitar 58 cm. Pinggulnya melebar indah, ukuran lingkarnya tidak kurang dari 98 cm. Payudaranya amat montok dan membusung indah, lingkarnya sekitar 96 cm. Kalau dibawa ke ukuran BH Indonesia pasti dia memakai BH dengan ukuran 38. Suatu ukuran payudara yang enak diciumi, disedot-sedot, dan diremas-remas. Dari samping kulihat payudaranya begitu menonjol dari balik sweater yang dikenakannya.
Melihat dia sewaktu membelakangiku, aku terbayang betapa nikmatnya bila tubuh kenyal indah tersebut digeluti dari arah belakang. Perlu diketahui, aku masih single. Walaupun aku gemar menonton video porno dan melakukan masturbasi, namun aku belum pernah melakukan hubungan sex dengan pacar-pacarku.
Sejak mengetahui bahwa sewa apartemen dapat dibayarkan secara langsung, aku memutuskan untuk tidak membayar lewat transfer bank lagi. Alasannya, aku dapat menghemat ongkos transfer. Di samping itu aku dapat menatap wajah cantik dan tubuh aduhai Yumiko.
Bulan Mei, udara di kotaku sudah tidak terlalu dingin lagi. Sudah berubah menjadi sejuk. Yumiko Kawamura pada hari Sabtu atau Minggu sering terlihat bekerja di halaman. Kadang dia memotong rumput, memangkas pepohonan kecil, atau merapihkan pot-pot tanamannya. Aku paling suka menatap tubuhnya bila dia membelakangi jendela apartemenku. Sungguh merupakan sosok yang enak digeluti. Apalagi bila dia sedang menunggingkan pinggulnya yang padat, hal itu membuatku teringat pada adegan perempuan Jepang yang sedang digenjot dalam posisi menungging pada video-video kaset permainan sex yang sering kupinjam dari persewaan.

Lama-lama aku tahu sedikit tentang keluarga dia. Umur Yumiko adalah 30 tahun. Anaknya dua, perempuan semua. Yang pertama berumur tujuh tahun, yang kedua lima tahun. Suaminya bekerja di kota lain, pulangnya pada akhir pekan. Sabtu dini hari dia tiba di rumah, dan berangkat lagi hari Minggu tengah malam.
Di hari penutup bulan Mei, hari Senin, aku berniat membayar sewa apartemen di petang hari. Karena itu aku pulang dari kampus lebih awal dari biasanya. Saat itu tiba di apartemen baru jam 17:00. Sesudah menyimpan tas punggung, aku pergi ke rumah Yumiko Kawamura. Kuketuk pintu, namun tidak ada jawaban dari dalam. Kupencet bel yang terpasang di kusen pintu. Kutunggu sekitar satu menit, namun tidak ada suara apapun dari dalam rumah. Agaknya sedang tidak ada orang di rumah. Mungkin Yumiko dan anak-anaknya sedang ke supermarket. Akhirnya aku kembali ke apartemen dan mandi. Sehabis mandi aku menonton TV, sampai akhirnya aku tertidur di depan TV.
Aku terbangun jam setengah delapan malam. Kutengok rumah Yumiko dari jendela apartemen. Lampu-lampu rumahnya sudah menyala. Berarti mereka sudah datang. Akupun membawa amplop berisi uang sewa apartemen. Kupencet tombol bel pintunya, seraya mengucap, “Gomen kudasai.”
Sejenak hening, namun kemudian terdengar sahutan, “Hai. Chotto matte kudasai.”
Terdengar suara langkah di dalam rumah menuju pintu. Kemudian pintu terbuka. Aku terpana. Di hadapanku berdiri Yumiko dengan hanya mengenakan baju kimono yang terbuat dari bahan handuk sepanjang hanya 15 cm di atas lutut. Paha dan betis yang tidak ditutupi kimono itu tampak amat mulus. Padat dan putih. Kulitnya kelihatan licin, dihiasi oleh rambut-rambut halus yang pendek. Pinggulnya yang besar melebar dengan aduhainya. Pinggangnya kelihatan ramping. Sementara kimono yang menutupi dada atasnya belum sempat dia ikat secara sempurna, menyebabkan belahan dada yang montok itu menyembul di belahan baju. Payudara yang membusung itu dibalut oleh kulit yang putih mulus. Lehernya jenjang. Beberapa helai rambut terjuntai di leher putih tersebut. Sementara bau harum sabun mandi terpancar dari tubuhnya. Agaknya dia sedang mandi, atau baru saja selesai mandi. Tanpa sengaja, sebagai laki-laki normal, kontholku berdiri melihat kesegaran tubuhnya.
“A… Bobby-san. Watashi no imoto to omotteta…,” sapanya membuyarkan keterpanaanku. Agaknya aku tadi dikiranya adik perempuannya. Pantas… dia berpakaian seadanya.
Untuk selanjutnya, percakapanku dengannya kutulis di sini langsung dalam bahasa Indonesia saja agar semua pembaca mengetahuinya, walaupun percakapan yang sebenarnya terjadi dalam bahasa Jepang.
“Kawamura-san, maaf… saya mau membayar sewa apartemen,” kataku.
“Hai, dozo… Silakan duduk di dalam, dan tunggu sebentar,” sahutnya.
Aku berjalan mengikutinya menuju ruang tamu. Kuperhatikan gerak tubuhnya dari belakang. Pinggul yang besar itu meliuk ke kiri-kanan mengimbangi langkah-langkah kakinya. Edan! Ingin rasanya kudekap tubuh itu dari belakang erat-erat. Ingin kutempelkan kontholku di liatnya gundukan pantatnya. Dan ingin rasanya kuremas-remas payudara montoknya habis-habisan.
Aku duduk di bantal duduk yang disediakan mengelilingi meja tamu. Sementara dia naik tangga menuju lantai dua. Langkah-langkah betis indah di anak-anak tangga itu tidak pernah lepas dari tatapan liar mataku. Empat menit kemudian dia turun dari lantai dua. Baju yang dikenakan sudah ganti. Sekarang dia mengenakan baju kimono tidur putih yang berbahan licin. Diterpa sorot lampu, kain tersebut mempertontonkan tonjolan buah dada sehingga tampak membusung dengan gagahnya. Dia tidak mengenakan bra di balik kimono tidurnya, sehingga kedua puting payudaranya tampak jelas sekali tercetak di bahan kimononya.
“Ingin minum apa? Kopi, teh, atau bir?” tanya Yumiko.
“Teh saja,” jawabku. Selama ini aku memang belum pernah minum bir. Bukan aku antialkohol atau menganggap bahwa bir itu haram, namun hanya alasan takut ketagihan minuman alkohol saja.
Yumiko kemudian membawa baki berisi poci teh hijau dan sebuah cangkir untukku. Untuk dia sendiri, diambilnya satu cangkir besar dan tiga botol bir dari kulkas. Kemudian aku pun menikmati teh khas Jepang tersebut, sementara dia menikmati bir.
“Kok sepi? Anak-anak apa sudah tidur?” tanyaku.
“Mereka sedang main ke rumah adik perempuan saya. Tadi perginya bersama-sama saya. Lalu saya pulang duluan karena harus ke supermarket dulu untuk membeli sayur dan buah. Mungkin sebentar lagi mereka akan tiba, diantar oleh adik perempuan.”
“Oh… pantas, tadi saya ke sini tidak ada orang. Sepi.”
“Bobby-san berasal dari mana? Tai? Malaysia? Filipina?”
“Saya dari Indonesia.”
“Indonesia…,” Yumiko tampak berpikir, “… dengan Pulau Bali?”
“A… itu. Bali adalah salah satu pulau dari Indonesia.”
“O ya? Sungguh pulau yang indah. Saya belum pernah ke sana, namun ingin dapat mengunjungi Bali. Saya mempunyai brosurnya.”

Yumiko beranjak dari duduknya dan mengambil suatu buku tipis tentang pulau Bali dari rak buku. Pada posisi membelakangiku, aku menatap liar ke tubuhnya. Mataku berusaha menelanjangi tubuhnya dari kain kimono mengkilat yang dia kenakan. Pinggangnya ramping. Pinggulnya besar dan indah. Kemudian betis dan pahanya yang putih mulis tampak licin mengkilap di bawah sorot lampu TL. Betapa harum dan sedapnya bila betis dan paha tersebut diciumi dan dijilati.
Yumiko kemudian membuka brosur tentang pulau Bali tersebut di atas meja tamu. Dia bertanya-tanya tentang gambar yang ada dalam brosur tersebut sambil kadang-kadang meneguk bir. Kini dari mulutnya yang indah tercium wanginya bau bir setiap kali dia mengeluarkan suara. Kupikir sungguh kuat dia meminum bir. Tiga gelas besar sudah hampir habis diteguknya. Perhatian dia ke foto-foto di brosur dan bir saja. Ngomongnya kadang agak kacau, mungkin karena pengaruh alkohol. Namun bagiku adalah kesempatan menatapnya dari dekat tanpa rasa risih. Dia tidak menyadari bahwa belahan kain kimono di dadanya mempertontonkan keindahan gumpalan payudara yang montok dan putih di kala dia agak merunduk. Edan, ranumnya! Kontholku pun menegang dan terasa hangat. Sebersit kenikmatan terasa di saraf-saraf kontolku.
Kring… kring… Tiba-tiba telpon berdering.
Yumiko bangkit dan berjalan menuju pesawat telpon. Pengaruh kebanyakan minum bir mulai terlihat pada dirinya. Jalannya agak sempoyongan.
“Sialan…,” makiku dalam hati karena dering telpon tersebut memutus keasyikanku melihat kemontokan payudaranya.
Yumiko terlibat pembicaraan sebentar di pesawat telpon. Kemudian kembali lagi ke bantal duduknya semula dengan jalan yang sempoyongan.
“Anak-anak tidak mau pulang,” Yumiko menjelaskan isi pembicaraan telponnya. “Malam ini mereka bermalam di rumah adik perempuan saya. Besok mereka diantarnya langsung ke sekolah mereka.”
Yumiko menuangkan bir ke gelasnya lagi. Sudah gelas yang keempat. Edan juga perempuan Jepang ini. Jalannya sudah sempoyongan namun masih terus menambah bir.
“Bobby-san sudah menikah?” tanyanya.
“Belum,” jawabku.
“Sudah ada pacar?”
“Sudah. Saat ini masih kuliah di Indonesia.”
“Syukurlah. Nikmati masa pacaran. Masa pacaran adalah masa yang indah. Bagaimana permainan cinta sang pacar?”
Kunilai kata-kata Yumiko semakin mengacau. Semakin berada di alam antara sadar dan tidak sadar.
“Permainan cinta?”
“Iya… permainan sex.”
“Saya belum pernah melakukan hubungan sex, termasuk dengan pacar saya. Kebanyakan perempuan di negara saya masih menjaga kegadisan sampai dengan menikah.”
Yumiko tertawa lirih mendengar kata-kataku. Suara tawanya amat menantang kejantananku. “Di Jepang gadis-gadis sudah melakukan hubungan sex dengan pacar mereka pada usia 17 atau 18 tahun. Kalau belum melakukan hal tersebut, mereka belum merasa menjadi orang dewasa. Mereka akan diejek kawan-kawannya masih sebagai anak ingusan.”
“O… begitu. Baru tahu saya…”
“Kalau begitu Bobby-san masih perjaka?”
“Saya tidak tahu masih disebut perjaka atau tidak. Saya belum pernah melakukan hubungan sex. Namun sejak usia 15 tahun saya suka melakukan masturbasi untuk mengatasi kebutuhan sex saya.”
Yumiko tertawa lagi. Tawa yang membangkitkan hasrat. Sialan. Aku diejek sebagai anak ingusan oleh pemilik bibir ranum sensual itu. Ingin rasanya kubuktikan kedewasaan dan kejantananku. Ingin rasanya kulumat habis-habisan bibir merekah itu. Ingin rasanya kusedot-sedot payudara aduhai itu dengan penuh kegemasan. Dan ingin rasanya kuremas-remas pantat kenyal Yumiko itu sampai dia menggial-gial keenakan. Agar dia kapok.
“Kenapa tidak cari pacar yang dapat diajak berhubungan sex sekarang-sekarang ini? Bobby-san ganteng, badan tinggi-tegap dan berpenampilan jantan. Kalau di sini cari pacar, pasti banyak perempuan Jepang yang mau. Sayang kalau energi pada usia muda tidak dinikmati.” Omongan Yumiko semakin ngelantur. Pasti karena kebanyakan minum bir. “Sebab kalau Bobby-san berumur tua sedikit, energi akan berkurang. Atau bahkan loyo seperti suami saya. Baru main empat atau lima menit sudah jebol pertahanannya. Dan langsung mendengkur, tidak memperdulikan saya yang baru setengah jalan… Dasar laki-laki payah.”
Nah, benar terkaanku. Dia mulai tidak sadar. Bicaranya tambah mengacau. Kebiasaan orang Jepang, kalau mulaihilang kesadarannya karena kebanyakan minum bir, apa yang dia pendam dalam hati akan dia keluarkan satu per satu.
Ibu Pemilik Apartemen Di Jepang Yumiko Kawamura Bangkitkan Hasrat Seksku Part 1
Yumiko menenggak bir lagi. Habislah gelas yang keempat. Dan dia mengisinya kembali sampai penuh. Padahal matanya sudah merah dan kelihatan mengantuk. Namun dalam kondisi demikian kulihat keayuan aslinya. Mata mungil yang setengah tertutup kelopak mata itu tampak sangat bagus. Terus terang aku menyukai perempuan bermata sipit, contohnya perempuan Jepang, Cina, atau Korea. Bibir Yumiko yang sensual dan berwarna merah muda tanpa polesan lipstik itu mengeluarkan keluhan-keluhan tentang keloyoan suaminya dalam masalah sex. Namun biarlah dia mengoceh, bagiku yang terpenting adalah menatap bibir merekah itu tanpa rasa risih karena yakin si empunya dalam keadaan tidak tersadar. Wuih… enak sekali kalau bibir ranum tersebut dilumat-lumat.
“A… Bobby-san. Gomen… sampai lupa ke masalah utama. Sebentar, saya ambilkan kuitansi untuk pembayaran apartemen… ”
Yumiko Kawamura menenggak bir lagi.

“Kawamura-san. Daijobu desu ka?” aku mengkhawatirkan kesadarannya karena dia sudah kebanyakan minum bir.
“Daijobu desu. Saya sudah terbiasa minum bir banyak-banyak. Semakin banyak minum bir dunia terasa semakin indah.”
Yumiko beranjak dari duduknya. Dia mencoba berdiri, namun sempoyongan terjatuh. Aku bersiap-siap menolongnya, namun dia berkata, “Mo ii desho. Daijobu…”
Yumiko berusaha berjalan menuju rak buku. Namun baru menapak dua langkah… Gedebrug! Dia terjatuh seperti yang kukhawatirkan. Untung tangannya masih sempat sedikit menjaga badannya sehingga dia tidak terbanting di lantai kayu. Walaupun lantai kayu tersebut ditutup karpet, namun akan cukup sakit juga bila badan sampai jatuh terbanting di atasnya. Namun tak ayal, betis kanan Yumiko masih membentur rak kayu.
“Ak… ittai…,” dia berteriak kesakitan.
Aku segera menolongnya. Punggung dan pinggulnya kuraih. Kubopong dia ke atas karpet bulu yang tebal. Kuletakkan kepalanya di atas bantal duduk. Dalam waktu seperti itu, tercium bau harum sabun mandi memancar dari tubuhnya. Kimono atasnya terbuka lebih lebar sehingga mataku yang berada hanyasekitar 10 cm dari payudaranya melihat dengan leluasa kemontokan gumpalan daging kenyal di dadanya. Alangkah merangsangnya. Nafsuku pun naik. Kontholku semakin tegang. Dan ketika aku menarik tangan dari pinggulnya, tanganku tanpa sengaja mengusap pahanya yang tersingkap. Paha itu hangat, licin, dan mulus.
“Ittai…,” sambil masih pada posisi tiduran tangannya berusaha meraih betisnya yang terbentur rak tadi. Namun pengaruh banyaknya bir yang sudah dia minum membuatnya tak mampu meliukkan badannya dalam menggapai betis. Kulihat bekas benturan tadi membuat sedikit memar di betis yang putih indah itu.
Aku pun berusaha membantunya. Kuraih betis tersebut seraya meminta permisi, “Sumimasen…” Kuraba dan kuurut bagian betis yang memar tersebut.
“Ak… ittai…,” Yumiko meringis kesakitan. Namun kemudian dia bilang, “So-so-so-so-so… Betul bagian situ yang sakit. Ah… enak… Ah… ah… terus… terus…”
Lama-lama suaranya hilang. Sambil terus memijit betis Yumiko, kupandang wajahnya. Matanya sekarang terpejam. Nafasnya jadi teratur, dengan bau harum bir terpancar dari udara pernafasannya. Dia sudah tertidur. Kantuk akibat kebanyakan minum alkohol sudah tidak mampu dia tahan lagi. Aku semakin melemahkan pijitanku, dan akhirnya kuhentikan sama sekali.
Aku pun bingung. Apa yang harus aku lakukan? Kuambil uang sewa apartemen dari saku kemeja dan kuletakkan di atas meja tamu di samping cangkir tehku. Terus bagaimana dengan kuitansi pembayarannya?
Kupandangi Yumiko yang tengah tertidur. Alangkah cantiknya wajah dia. Lehernya jenjang. Daging montok di dadanya bergerak naik-turun dengan teratur mengiringi nafas tidurnya, seolah menantang kejantananku. Dan dada tersebut tidak dilindungi bra sehingga putingnya menyembul dengan gagahnya dari balik kain kimononya. Pinggangnya ramping, dan pinggulnya yang besar melebar dengan indahnya. Kain kimono yang mengkilap tersebut tidak mampu menyembunyikan garis segitiga celana dalamnya yang kecil. Sungguh kontras, celana dalam minim membungkus pinggul yang maksimum. Celana dalam yang di antara dua pahanya terlihat membelah. Pasti di situ letak lobang memeknya.
Terbayang dengan apa yang ada di balik celana dalamnya, kontholku menjadi semakin tegang. Apalagi paha yang putih mulusnya dipertontonkan dengan jelas oleh kimono bagian bawah yang tersingkap. Dan paha tersebut tersambung dengan betis yang indah.
Edan! Melihat lekuk-liku tubuh aduhai yang tertidur itu nafsuku naik. Terbangunkah dia bila kutiduri? Beranikah aku? Teman-teman Jepangku yang tertidur karena kebanyakan minum bir biasanya akan pulas sampai sekitar satu atau dua jam. Apakah Yumiko juga begitu? Akankah dia terbangun bila tubuhnya kugeluti tanpa memasukkan konthol ke liang memeknya?
Hasratku semakin memuncak. Kuelus betis indah Yumiko. Kemudian sedikit kuremas itu untuk memastikan bahwa dia cukup pulas. Ternyata dia tidak terbangun. Keberanianku bertambah. Kusingkapkan bagian bawah kimononya sampai sebatas perut. Kini paha mulus itu terhampar di hadapanku. Paha yang menantang kejantananku. Di atas paha, beberapa helai bulu jembut keluar dari celana dalamnya yang minim. Sungguh kontras warnanya. Jembutnya berwarna hitam, sedang tubuhnya berwarna putih.
Kueluskan tanganku menuju pangkal pahanya sambil kuamati wajah Yumiko. Dia tidak terbangun. Kueluskan perlahan ibu jariku di bagian celana yang mempertontonkan belahan bibir memeknya. Tiba-tiba jari-jari tangannya bergerak seperti tersentak. Aku kaget. Segera kuhentikan aksiku karena khawatir bila Yumiko terbangun. Namun dia tetap tertidur dengan nafas yang teratur.
Keberanianku muncul kembali. Kini kuciumi paha mulus tersebut berganti-ganti, kiri dan kanan, sambil tanganku mengusap dan meremasnya perlahan-lahan. Kedua paha tersebut secara otomatis bergerak membuka agak lebar. Namun si empunya tetap tertidur. Bau harum yang terpancar dari pahanya membimbing hasrat kejantananku untuk meneruskan pendakian.
Dia sedang tertidur pulas! Dia sedang tidak tersadar! Dia sedang di bawah pengaruh alkohol! Kenapa aku harus takut?
Aku berjalan ke pintu dan menguncinya dari dalam, untuk berjaga-jaga kalau ada orang dari luar mau masuk. Kemudian aku melepas celana dalamku. Celana dalam kulipat dan kumasukkan ke dalam kantong celana pendek yang kupakai. Celana pendek yang kukenakan adalah longgar dan terbuat dari bahan yang tipis dan lemas, sehingga tanpa lindungan celana dalam kontolku dapat bergerak bebas di salah satu lobang kakinya yang memang lebar.
Kemudian kuhampiri Yumiko yang tertidur pulas. Kembali kuciumi dan kujilati paha dan betis mulus yang berbau harum tersebut. Setelah beberapa saat kukeluarkan konthol dari lobang kanan celana pendekku. Kontholku sudah begitu tegang. Kutempelkan kepala kontholku di paha mulus tersebut. Rasa hangat mengalir dari paha Yumiko ke kepala kontholku. Kemudian kugesek-gesekkan kepala konthol di sepanjang pahanya. Rasa geli, hangat, dan nikmat menyelimuti sel-sel kontholku. Kontholku terus kugesek-gesekkan di paha sambil agak kutekan. Semakin terasa nikmat. Konthol semakin tegang. Nafsu seks-ku semakin tinggi.
Aku semakin nekad. Kulepaskan ikatan baju kimono tidur Yumiko, dan kusingkapkan baju itu ke kiri dan kanan. Tergoleklah tubuh mulus Yumiko tanpa helaian kimono menghalanginya. Tubuh moleknya sungguh membangkitkan birahi. Payudara yang besar membusung, pinggang yang ramping, dan pinggul yang besar melebar dengan bagusnya. Payudaranya menggunung putih, putingnya berdiri tegak berwarna pink kecoklat-coklatan, dan dikelilingi oleh warna coklat kulit payudara di sekitarnya sampai dengan diameter sekitar dua setengah centimeter.

Perlahan-lahan kucium payudara montok Yumiko. Hidungku mengendus-endus kedua payudara yang berbau harum sambil sesekali mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahku. Kemudian puting payudara kanannya kulahap ke dalam mulutku. Badannya sedikit tersentak ketika puting itu kugencet perlahan dengan menggunakan lidah dan gigi atasku. Aku pun terperanjat. Namun dia tetap tertidur. Kini kusedot-sedot puting payudaranya secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak kuperkuat sedotanku. Kuperbesar daerah lahapan bibirku. Kini puting dan payudara sekitarnya yang berwarna kecoklatan itu semua masuk ke dalam mulutku. Kembali kusedot daerah tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Yang penting perlahan-lahan tanpa irama yang menyentak, agar dia tidak terbangun. Namun walaupun tetap tertidur, mimik wajah Yumiko tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan.
Kedua payudara harum itu kuciumi dan kusedot-sedot secara berirama. Kontholku bertambah tegang. Sambil terus menggumuli payudara dengan bibir, lidah, dan wajahku, aku terus menggesek-gesekkan konthol di kulit pahanya yang halus dan licin. Rasa nikmat dan hanya merembes dari kontholku ke sel-sel otak di kepalaku. Dan mulut kecil di kepala kontholku ikut-ikutan mencari rasa geli dan nikmat lewat kecupan-kecupan kecilnya nya di permukaan mulus kulit paha Yumiko.
Kubenamkan wajahku di antara kedua belah gumpalan dada Yumiko. Kemudian perlahan-lahan bergerak ke arah bawah. Kugesek-gesekkan wajahku di lekukan tubuh yang merupakan batas antara gumpalan payudara dan kulit perutnya. Kiri dan kanan kuciumi dan kujilati secara bergantian. Keharuman yang terpancar dari badannya kuhirup dengan rakusnya, dengan habis-habisan, seolah tidak rela bila ada bagian kulit tubuh yang terlewatkan barang satu milimeter pun.
Kecupan-kecupan bibirku, jilatan-jilatan lidahku, dan endusan-endusan hidungku pun beralih ke perut dan pinggang Yumiko. Sementara gesekan-gesekan kepala kontholku kupindahkan ke betisnya. Bibir dan lidahku menyusuri perut sekeliling pusarnya yang putih mulus. Kemudian wajahku bergerak lebih ke bawah. Dengan nafsu yang menggelora kupeluk pinggulnya secara perlahan-lahan. Kecupanku pun berpindah ke celana dalam tipis yang membungkus pinggulnya tersebut. Kususuri pertemuan antara kulit perut dan celana dalam. Kemudian ke arah pangkal paha. Kujilat helaian-helaian rambut jembutnya yang keluar dari celana dalamnya. Lalu kuendus dan kujilat celana dalam pink itu di bagian yang tidak mampu menyembunyikan lekuk belahan bibir memeknya. Kuhirup kuat-kuat bau khas yang terpancar dari balik celana dalam yang membuat nafsuku semakin meronta-ronta.
Setelah cukup puas, aku mengakhiri kecupan dan jilatanku di celana dalam sekitar memeknya tersebut.
Aku bangkit. Dengan posisi berdiri di atas lutut kukangkangi tubuh mulus yang begitu menggairahkan tersebut. Kontholku yang tegang kemudian kutempelkan di kulit payudara Yumiko. Kepala konthol kugesek-gesekkan di kehalusan kulit payudara yang menggembung montok itu. Kembali rasa geli, hangat, dan nikmat mengalir di syaraf-syaraf kontholku. Sambil kukocok batangnya dengan tangan kananku, kepala konthol terus kugesekkan di gumpalan daging payudaranya, kiri dan kanan. Rasa nikmat semakin menjalar. Aku ingin berlama-lama merasakannya.
Setelah sekitar dua menit aku melakukan hal itu, nafsuku yang semakin tinggi mengalahkan rasa takut. Kulepas celana pendekku. Tampak kontholku yang besar dan panjang berdiri dengan gagahnya. Kuraih kedua belah gumpalan payudara mulus Yumiko yang montok itu. Aku berdiri di atas lutut dengan mengangkangi pinggang ramping Yumiko dengan posisi badan sedikit membungkuk. Batang kontholku kemudian kujepit dengan kedua gumpalan payudaranya. Kini rasa hangat payudara Yumiko terasa mengalir ke seluruh batang kontholku.

Perlahan-lahan kugerakkan maju-mundur kontholku di cekikan kedua payudara Yumiko. Kekenyalan daging payudara tersebut serasa memijit-mijit batang kontholku, memberi rasa nikmat yang luar biasa. Di kala maju, kepala kontholku terlihat mencapai pangkal lehernya yang jenjang. Di kala mundur, kepala kontholku tersembunyi di jepitan payudaranya. Lama-lama gerak maju-mundur kontholku bertambah cepat, dan kedua payudara montoknya kutekan semakin keras dengan telapak tanganku agar jepitan daging kenyal di batang kontholku semakin kuat. Aku pun merem melek menikmati enaknya jepitan payudara indah.
Bibir Yumiko pun mendesah-desah tertahan, “Ah… hhh… hhh… ah…” Mungkin walaupun tetap dalam keadaan tertidur pulas, dia merasa geli dan ngilu-ngilu enak di kedua gumpalan payudaranya yang kutekan-tekan dengan telapak tanganku dan kukocok dengan kontholku.
Bibir mungil di kepala kontholku pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut membasahi belahan payudara Yumiko. Oleh gerakan maju-mundur kontholku di dadanya yang diimbangi dengan tekanan-tekanan dan remasan-remasan tanganku di kedua payudaranya, cairan itu menjadi teroles rata di sepanjang belahan dadanya yang menjepit batang kontholku. Cairan tersebut menjadi pelumas yang memperlancar maju-mundurnya kontholku di dalam jepitan payudaranya. Dengan adanya sedikit cairan dari kontholku tersebut aku merasakan keenakan dan kehangatan yang luar biasa pada gesekan-gesekan batang dan kepala kontholku dengan kulit payudara indahnya.
“Hih… hhh… edan… edan… Luar biasa enaknya…,” aku tak kuasa menahan rasa enak yang tak terperi.
Sementara nafas Yumiko dalam tidurnya menjadi tidak teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirnya yang sensual, yang kadang diseling desahan lewat hidungnya, “Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…”
Desahan-desahan Yumiko baik yang lewat hidung maupun lewat bibir semakin menuntun nafsuku untuk menaiki suatu perjalanan pendakian yang indah. Gesekan-gesekan maju-mundurnya kontholku di jepitan gumpalan payudaranya semakin cepat. Kontholku semakin tegang dan keras. Kurasakan pembuluh darah yang melalui batang kontholku berdenyut-denyut, menambah rasa hangat dan nikmat yang luar biasa.
“Sugoi… edan… oh… hhh…,” erangan-erangan keenakan keluar tanpa kendali dari mulutku. “Sugoi… sugoi… Enak sekali, Yumiko… Heh… rasa cewek Jepang luar biasa… Hhh… enaknya payudara Jepang… hhh… enaknya gesekan kulit mulus Jepang… ah… Enaknya… mulusnya… hangatnya… enak sekali payudara Jepang…”
Aku menggerakkan maju-mundur kontholku di jepitan payudara Yumiko dengan semakin cepatnya. Rasa enak yang luar biasa mengalir dari konthol ke syaraf-syaraf otakku. Kulihat wajah Yumiko Kawamura. Walupun tertidur, namun alis matanya yang bagus bergerak naik turun seiring dengan desah-desah perlahan bibir sensualnya akibat tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di buah dadanya. Ada sekitar lima menit aku menikmati rasa keenakan luar biasa di jepitan payudaranya itu.

Payudara sebelah kanannya kulepas dari telapak tanganku. Tangan kananku lalu membimbing konthol dan menggesek-gesekkan kepala konthol dengan gerakan memutar di kulit payudaranya yang halus mulus. Sambil jari-jari tangan kiriku terus meremas payudara kiri Yumiko, kontholku kugerakkan memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di sekitar pusarnya, kepala kontholku kugesekkan memutar di kulit perutnya yang putih mulus, sambil sesekali kusodokkan perlahan di lobang pusarnya. Rasa hangat, nikmat, dan bercampur geli menggelitiki kepala kontholku.
Keberanianku semakin tinggi. Sekarang kedua tanganku mencopot celana dalam minimnya. Pinggul yang melebar indah itu tidak berpenutup lagi. Kulit perut yang semula tertutup celana dalam tampak jelas sekali. Licin, putih, dan amat mulus. Di bawah perutnya, jembut yang hitam lebat menutupi daerah sekitar lobang kemaluannya. Kedua paha mulus Yumiko kemudian kurenggangkan lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perut tadi terkuak, mempertontonkan alat kemaluannya. Bibir memek Yumiko nampak berwarna coklat tua bersemu pink.
Aku pun mengambil posisi agar kontholku dapat mencapai alat kemaluan Yumiko dengan mudahnya. Dengan tangan kanan memegang batang konthol, kepalanya kugesek-gesekkan ke jembut Yumiko. Rasa geli menggelitik kepala kontholku. Kemudian kepala kontholku bergerak menyusuri jembut menuju ke memeknya. Kugesek-gesekkan kepala konthol ke sekeliling bibir memeknya. Terasa geli dan nikmat. Kemudian kepala konthol kugesekkan agak ke arah lobang. Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding mulut lobang kemaluan itu menjadi basah. Kugetarkan perlahan-lahan kontholku sambil terus memasuki lobang memek. Kini seluruh kepala kontholku yang berhelm pink tebenam dalam jepitan mulut memek Yumiko. Jepitan mulut memek itu terasa hangat dan enak sekali. Sementara getaran perlahan dengan amplituda kecil tanganku pada batang konthol membuat kepala kontholku merasa geli dan nikmat dalam sentuhan-sentuhannya dengan dinding lobang memek.

Kembali dari mulut Yumiko keluar desisan kecil tanda nikmat tak terperi.
Kontholku semakin tegang. Sementara dinding mulut memek Yumiko terasa semakin basah. Perlahan-lahan kontholku kutusukkan lebih ke dalam. Kini tinggal separuh batang yang tersisa di luar. Tusukan kuhentikan untuk memastikan bahwa Yumiko tidak terbangun. Setelah yakin dia tidak terbangun, kembali secara perlahan kumasukkan kontholku ke dalam memek. Terbenam sudah seluruh batang kontholku di dalam memek Yumiko. Sekujur batang konthol sekarang dijepit oleh daging hangat yang basah di dalam memek Yumiko dengan sangat enaknya.
Sesaat aku diam. Kulihat ekspresi wajah Yumiko kembali mengendur. Artinya dia tidak terbangun. Kemudian secara perlahan-lahan kugerakkan keluar-masuk kontholku ke dalam memeknya. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam memek hanya kepala konthol saja. Sewaktu masuk seluruh konthol terbenam di dalam memek sampai batas pangkalnya. Rasa hangat dan enak yang luar biasa kini seolah memijiti seluruh bagian kontholku. Aku menyukai rasa nikmat ini. Aku terus memasuk-keluarkan kontholku ke lobang memeknya. Namun semua gerakanku kujaga tidak menghentak-hentak agar Yumiko tidak terbangun. Dalam keadaan tetap tertidur alis matanya terangkat naik setiap kali kontholku menusuk masuk memeknya secara perlahan. Bibir segarnya yang sensual sedikit terbuka, sedang giginya terkatup rapat. Dari mulut sexy itu keluar desis kenikmatan, “Sssh… sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…”
Aku terus mempertahankan kenikmatan yang mengalir lewat batang kontholku dengan mengocok perlahan-lahan memek perempuan Jepang tersebut. Enam menit sudah hal itu berlangsung. Lama-lama aku membutuhkan kocokan yang agak menghentak-hentak agar dapat mengakhiri perjalanan pendakian tersebut. Namun bila kocokan itu kulakukan ke memek Yumiko bisa-bisa dia terbangun. Jadi kocokan yang menghentak-hentak pada konthol harus kulakukan di luar memeknya.
batang konthol itu kulakukan. Aku kembali memasukkan seluruh kontholku ke dalam memeknya. Kembali kukocok secara perlahan memeknya. Kunikmati kehangatan daging dalam memeknya. Kurasakan enaknya jepitan otot-otot memek pada kontholku.
Kubiarkan kocokan perlahan tersebut sampai selama dua menit. Kembali kutarik kontholku dari memek Yumiko. Namun kini tidak seluruhnya, kepala konthol masih kubiarkan tertanam dalam mulut memeknya. Sementara batang konthol kukocok denganjari-jari tangan kananku dengan cepatnya. Walaupin sudah berhati-hati, namun kepala konthol itu menggelitiki dinding memek dengan amplituda kecil tetapi berfrekuensi tinggi akibat kocokan tanganku di batangnya. Hal tersebut menyebabkan rasa enak tak terperi. Geli, hangat, dan nikmat.

Rasa enak itu agaknya dirasakan pula oleh Yumiko. Terbukti walaupun dalam keadaan tidur, dia mendesah-desah akibat sentuhan-sentuhan getar kepala kontholku pada dinding mulut memeknya, “Sssh… sssh… zzz… ah… ah… hhh…”
Tiga menit kemudian kumasukkan lagi seluruh kontholku ke dalam memek Yumiko. Dan kukocok perlahan. Kunikmati kocokan perlahan pada memeknya kali ini lebih lama. Sampai kira-kira empat menit. Lama-lama aku tidak puas. Kupercepat gerakan keluar-masuk kontholku pada memeknya, namun tetap kujaga agar jangan menyentak-sentak. Kurasakan rasa enak sekali menjalar di sekujur kontholku. Aku sampai tak kuasa menahan ekspresi keenakanku. Sambil tertahan-tahan, aku mendesis-desis, “Subarashii… subarashii… sugoi… sugoi… edan… enaknya… Edan, hangatnya memek Jepang… Edan jepitan memeknya… Yumiko… memekmu luar biasa… Edan… nikmatnya…”
Gerakan keluar-masuk secara cepat itu berlangsung sampai sekitar empat menit. Kemudian rasa gatal-gatal enak mulai menjalar di sekujur kontholku. Berarti beberapa saat lagi aku akan mengalami orgasme. Ke mana harus kusemprotkan? Yang jelas jangan di dalam memeknya. Dapat diketahui Yumiko nantinya. Apalagi kalau Yumiko sampai hamil dan terlahir anak Indonesia.
Kucopot kontholku dari memek Yumiko. Segera aku berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhnya agar kontholku mudah mencapai payudaranya. Kembali kuraih kedua belah payudara montok itu untuk menjepit kontholku yang berdiri dengan amat gagahnya. Agar kontholku dapat terjepit dengan enaknya, aku agak merundukkan badanku. Kemudian kontholku kukocokkan maju-mundur di dalam jepitan buah dada aduhai itu. Cairan dinding memek Yumiko yang membasahi kontholku kini merupakan pelumas yang pas dalam memberi keenakan luar biasa pada gesekan-gesekan kontholku dan kulit buah dada yang mulus itu.
“Edan… Yumiko. Edan… luar biasa… Enak sekali… Payudaramu kenyal sekali… Payudaramu indah sekali… Payadaramu montok sekali… Payudaramu mulus sekali… Oh… hangatnya… Sssh… nikmatnya… Tubuhmu luarrr biasa…”, aku merintih-rintih keenakan.
Sementara di dalam tidurnya Yumiko mendesis-desis keenakan, “Sssh… sssh… sssh…” Giginya tertutup rapat. Alis matanya bergerak ke atas ke bawah.

Aku mempercepat maju-mundurnya kontholku. Aku memperkuat tekananku pada payudaranya agar kontholku terjepit lebih kuat. Rasa enak menjalar lewat kontholku. Rasa hangat menyusup di seluruh kontholku. Karena basah oleh cairan memek, kepala kontholku tampak amat mengkilat di saat melongok dari jepitan buah dada Yumiko. Leher konthol yang berwarna coklat tua dan helm konthol yang berwarna pink itu menari-nari di jepitan payudaranya. Lama-lama rasa gatal yang menyusup ke segenap penjuru kontholku semakin menjadi-jadi.
Semakin kupercepat kocokan kontholku pada payudara Yumiko. Rasa gatal semakin hebat. Rasa hangat semakin luar biasa. Dan rasa enak semakin menuju puncaknya. Tiga menit sudah kocokan hebat kontholku di payudara montok itu berlangsung. Dan ketika rasa gatal dan enak di kontholku hampir mencapai puncaknya, aku menahan sekuat tenaga benteng pertahananku sambil mengocokkan konthol di kempitan payudara indah Yumiko dengan sangat cepatnya. Rasa gatal, hangat, dan enak yang luar biasa akhirnya mencapai puncaknya. Aku tak kuasa lagi membendung jebolnya tanggul pertahananku.
“Yumiko…!” pekikku dengan tidak tertahankan. Mataku membeliak-beliak.
Jebollah pertahananku. Rasa hangat dan nikmat yang luar biasa menyusup ke seluruh sel-sel kontholku saat menyemburkan cairan sperma.
Crot! Crot! Crot! Crot!
Spermaku menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, sampai menghantam rahang bagus Yumiko. Sperma tersebut berwarna putih dan kelihatan sangat kental. Dari rahang sperma yang banyak sekali itu mengalir turun ke arah leher Yumiko yang putih dan jenjang.
Sperma yang tersisa di dalam kontholku pun menyusul keluar dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya lemah. Semprotan awal hanya sampai pangkal batang leher mulus Yumiko, sedang yang terakhir hanya jatuh di atas belahan payudaranya.
Sejenak aku terdiam. Aku menikmati akhir-akhir kenikmatan pada penghujung pendakianku ini.
“Sugoi… luar biasa… Yumiko, nikmat sekali tubuhmu…,” aku bergumam lirih. Baru kali ini aku mengalami kenikmatan sex yang indah luar biasa. Diri bagai terlempar ke langit ketujuh. Jauh lebih indah daripada masturbasi dengan menghadapi gambar artis sexy yang bugil.
Setelah nafsuku menurun, kontholku pun mengecil. Kulepaskan payudara Yumiko dari raupan telapak tanganku. Kontholku sekarang tergeletak di atas belahan payudaranya. Suatu komposisi warna yang kontras pun terlihat, batang kontholku berwarna coklat dengan kepala konthol berhelm pink, sedang kulit payudara montok Yumiko adalah putih mulus. Masih tidak puas aku memandangi payudara indah yang terhampar di depan mataku tersebut. Kemudian mataku memandang ke arah pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang melebar indah. Terus tatapanku jatuh ke memeknya yang dikelilingi oleh bulu jembut hitam jang lebat. Kubayangkan betapa enaknya bila bermain sex dalam kesadaran penuh dengan Yumiko. Aku dapat menggeluti dan mendekap kuat tubuhnya yang benar-benar menantang kejantanan. Aku dapat mengocok memeknya dengan kontholku dengan irama yang menghentak-hentak kuat. Dan aku dapat menyemprotkan spermaku di dalam memeknya sambil merengkuh kuat-kuat tubuhnya di saat orgasmeku.
“Engh…” Tiba-tiba Yumiko menggeliatkan badannya.

Aku terkejut dan tersadar. Cepat-cepat aku meraih celana pendekku dan berlindung di belakang meja tamu. Sebentar menunggu reaksi, namun Yumiko tertidur kembali dengan nafas yang teratur. Aku segera mengelap konthol dengan tissue yang ada di atas meja, dan memakai celana pendek. Sementara kubiarkan celana dalamku tetap di dalam saku celana pendek agar aku kontholku segera tertutup kembali.
Kemudian beberapa lembar tissue kuambil untuk mengelap spermaku yang berleleran di rahang, leher, dan buah dada Yumiko. Ada yang tidak dapat dilap, yakni cairan spermaku yang sudah terlajur jatuh di rambut kepalanya.
“Ah, nggak apa-apalah. Masak dia tahu. Dia kan hilang kesadarannya. Mungkin juga dia baru terbangun besok pagi,” demikian pikirku.
Celana dalam pink kupakaikan kembali ke pinggul Yumiko. Dan… edan! Kontholku mulai berdiri lagi melihat kemolekan tubuh Yumiko. Namun aku tidak boleh melakukannya lagi. Salah-salah dia terbangun. Cukup sudah sekali aku menikmati tubuhnya di saat dia tertidur pulas oleh pengaruh alkohol sehingga berlangsung aman. Daripada aku menanggung resiko lagi.

Kurapihkan kembali baju kimono tidurnya. Tissue-tissue bekas pengelap konthol dan sperma di tubuh Yumiko kukumpulkan menjadi satu. Akan kusimpan sebagai kenang-kenangan bahwa aku sudah berhasil menggeluti tubuh perempuan Jepang yang molek walaupun dia dalam keadaan tertidur. Akhirnya aku memutuskan kembali ke apartemenku sendiri, meninggalkan Yumiko yang tertidur pulas di atas karpet di samping meja tamu. Sempat kulirik jam dinding di ruang tamu Yumiko, jarum jam menunjukkan pukul sembilan kurang seperempat. Kututup pintu rumah Yumiko sambil bergumam lirih, “Terimakasih atas servis kenikmatannya, Yumiko-san.”


Perawanku – Mempunyai Kontol yang besar sudah menjadi idaman para pria terlebih lagi menjadi sudah menjadi kesayangan para wanita. Wanita mana yang tidak mendambakan memeknya di sobek oleh kontol yang besar, Semua wanita pasti ingin merasakannya.
Seperti wanita wanita berikut ini di Jebol oleh Kontol yang gede-gede meringis kenikmatan bos ku :




























Perawanku – Kejadian ini bermula secara tidak sengaja waktu aku nginap di desa A, yaitu paginya hari Sabtu yang ternyata merupakan hari pasaran untuk desa A sehingga aku tidak melepaskan kesempatan untuk melihat keramaian di pasar…begitu asiknya memperhatikan barang dagangan yang ada tanpa sengaja menabrak ibu yang belanja, sehingga semuanya tumpah termasuk gelas yang baru dibelinya…..
Karena merasa bersalah maka saya memaksa untuk mengganti gelas tersebut, nama ibu itu sebut saja Ibu Mirna dengan usia kira2 41 tahun dan setelah menyebutkan letak rumahnya yaitu di ujung jalan desa belok ke kiri, saya berkata akan datang sore nanti untuk mengganti gelas yang pecah.

Jam 4 sore setelah mandi, langsung berangkat ke rumah Ibu Mirna dan ternyata rumah tersebut terletak di ujung jalan yang cukup sepi, ditemui oleh seorang lali-laki yang berusia kira2 50 Th yaitu bapak Najib yang ternyata suami Ibu Mirna setelah menjelaskan maksud kedatangan saya, terjadilah obrolan yang semakin akrab.
Setelah dipanggil keluarlah ibu Mirna membawa minuman dan kue, dan tanpa sengaja saya memperhatikan dan tergetarlah hati, karena dengan memakai kebaya yang sedikit ketat dan rambut basah sehabis mandi, terlihat kecantikan khas wanita desa dengan kulit putih dan bodi yang kencang walau telah berusia 41 tahun, dan yang membuat mata melotot adalah belahan buah dadanya yang kelihatan montok sekali.
Tanpa terasa waktu makan malam telah tiba, dan mereka memaksa saya untuk ikut makan malam, setelah makan Pak Najib pamit untuk menghadiri pertemuan di desa sebelah untuk urusan pengairan sawah, dan saya dipersilahkan untuk berbincang dengan ibu. Rumah tersebut sepi karena anak pertama yang sudah kelas 1 SMA sedang camping, anak kedua yang SMP sedang belajar dirumah teman dan sikecil sedang di rumah Saudara, suatu kebetulan yang tidak terduga.
Sepanjang obrolan mata tidak pernah lepas dari tubuh dan dada ibu Mirna, dan akhirnya ibu Mirna bertanya, “Dik Amar matanya ngeliat apasih?” sambil malu saya berkata jujur bahwa saya kagum akan kecantikannya. “Orang desa gini kok dikatakan cantik, dikota pasti banyak yang cantik?” kata bu Mirna.
“Iya sih bu…tapi ibu lain, karena walau udah punya anak tiga tapi badan masih bagus, khususnya…….?” Saya berhenti berkomentar. “Khususnya apa dik?” desaknya. “Maaf bu…itu tetek ibu besar dan masih kencang?” Ibu Mirna terlihat malu sambil berusaha menutup dengan tangannya…..dan akhirnya pembicaraan mengarah ke hal yang berbau porno.

“Oh ya dik Amar punya anak berapa dan istri usia berapa?” tanya bu Mirna. “Satu usia 2 tahun, dan istri usia 27 tahun saya sendiri 29 tahun?” jawab saya. “Wah sedang panas-panasnya dong?” lanjutnya. “Panas apanya bu?” saya berusaha memancing pembicaraan ke arah yang lebih hot, karena saya merasa horny dan bagaimana caranya bisa merasakan bersetubuh dengan wanita setengah baya.
“Ah dik Amar berlagak nggak tau…..?” kata bu Mirna sambil tersipu. “Ibu juga kelihatan segar, pasti kebutuhan itunya juga hot?” pancing saya terus. Tapi ibu Mirna malah kelihatan sedih….sehingga saya bertanya, “kok jadi kelihatan sedih bu?”.
Akhirnya bu Mirna cerita bahwa kebutuhan bathinnya sejak dua tahun ini jarang terpenuhi, yaitu sejak suaminya jatuh dari pohon kelapa, kejantanan suaminya jarang sekali bisa maksimal. “Maaf bu…..padahal menurut saya orang seusia ibu pasti sedang puber kedua?” “Yah memang begitu dik…..tapi harus ibu tahan?” “Gimana caranya?” lanjut saya “Ya dengan mencari kesibukan di ladang…..sehingga malamnya capek terus tertidur?” Lanjutnya.
“Wah kalo saya bisa pusing….karena saat ini baru pisah 4 hari dengan istri saya juga udah gak tahan ????” kata saya sambil bergeser duduk mendekat. “Dik Amar sih gampang, kan di hotel pasti juga nyediain?” katanya. “Dik Amar kok gak dengerin sih….” kata bu Mirna sambil menepuk paha saya.
Tangan bu Mirna saya pegang…sambil berkata, “abis ada pemandangan yang lebih bagus”, sambil mata terus memandang ke belahan dadanya. “Ah nakal dik Amar ini?” kata bu Mirna. Akan tetapi tangannya tetap saya pegang sambil saya remas, karena diam saja berarti kesempatan nih. Terus tangan saya beralih kepahanya…. “jangan dik?” kata bu Mirna tanpa berusaha menolak.
Dan akhirnya saya beranikan untuk menciumnya, bu Mirna mundurkan kepalanya berusaha menolak… tetapi setelah saya pegang kedua tangannya sambil menatap, akhirnya bu Mirna memejamkan matanya sambil mulutnya sedikit terbuka. Langsung saya cium bibirnya perlahan…dan lama kelamaan ibu Mirna memberikan respon dengan membalas ciuman saya.
Tangan saya langsung tidak bisa diam membiarkan tetek yang begitu menggairahkan, perlahan saya pegang teteknya..sambil sedikit meremas…. “ah..ah jangan dik” tapi tangan bu Mirna malah menekankan tangan saya ke teteknya. Ciuman saya terus turun ke lehernya sambil berusaha memasukkan tangan ke belahan dadanya, bu Mirna semakin mendesah?
“ah…uh…ah terus dik, enak?” kata bu Mirna. Saya semakin bernafsu…sehingga kancing baju bu Mirna langsung saya lepas? “jangan dik…ntar keterusan?” kata bu Mirna. “Oh bu…saya udah gak bisa nahan bu, tolonglah? kita sama-sama butuhkan bu?” kata saya.

Akhirnya bu Mirna menyerah..membiarkan mulut saya menyedot puting susunya yang semakin menegang…… “ah…ah….ahhhh dik nikmat dik, terus dik?” desahnya. Sementara tangan kanan meremas susu sebelah kanan, mulut terus menjilat dan menyedot yang sebelah kiri….. “ahhhhh…uhhh…..ahhhhh dik udah dik? ibu nggak tahan”.
Tapi tangan bu Mirna malah mengandeng tangan saya ke arah pahanya, yang entah kapan kebayanya udah disingkapkan…..tangan saya langsung ke gundukan memeknya yang masih tertutup cd, dan terasa jembutnya keluar dari samping cdnya. Tangan saya terus menggosok-gosok memek bu Mirna…….. “ah…ahhhh…ahhhh dik terus dik terus…enak banget?” desahnya dengan logat jawa yang kental.
Akhir dengan seijin bu Mirna…..cd itu saya pelorotin, sehingga terpampanglah memek bu Mirna yang menggunung dan empuk tersebut, dengan bernafsu langsung saya gesek memek tersebut…sambil berusaha menemukan itilnya, terdengar ibu Mirna semakin mendesah tidak karuan….. “dik ahhhh enaaaaak dik…enaaaaaakkkkk banget”.
Dan ciuman saya terus bergerak turun…..akhirnya terciumlah bau khas memek wanita, yang membuat saya semakin bernafsu, dan langsung saya jilat memek yang kemerah-merahan tersebut. “ahhh berhenti dik…jangannnnn?” kata bu Mirna setelah tahu saya telah menjilat memeknya…… saya berhenti dan bertanya, “kenapa harus berhenti bu?”.
“Jangan dijilat dik memek ibu….jijik dan jorok” kata bu Mirna. “Emang bapak dulu ndak pernah jilatin memek ibu?” kata saya. “Ndak…?” kata bu Mirna. “Wah rugi bu?” kataku sambil terus meremas tetek dan menusukkan jari tengah saya ke lubang memek. “Rugi kenapa dik?” tanya bu Mirna.
“Rasanya nggak kalah sama ngentotin memek ibu….dan juga bikin tambah nafsu” kata saya sambil langsung menjilat memek bu Mirna…..setelah menjilat bibir memek langsung lidah saya masuk mengelitik lubang memek yang semakin basah oleh lender kenikmatan…….lidah terus kuputar dirongga memek sehingga menambah kenikmatan….
“ahhh…ahhhhhh dik…….uhhhhh….ahhhhh…nikmat banget dik? terus dik…terus..jilatin memek ibu….ya disitu dik…terus ….terus…..” Saat itil bu Mirna aku jilatin dan aku sedot……. “ahhhhh…ahhhhhh….uhhhh…..uuuuuhhhhh dik Irfaaannnnnn ibu mau keluar…ahhhhhhhhh dikkkkkkkkkkk ibu keluar….” kepala saya langsung ditekan kememek bu Mirna dengan keras…..dan terasa dilidah lendir hasil dari orgasme ibu Mirna. Ibu Mirna memejamkan mata merasakan kenikmatan yang baru didapatnya…….sambil berkata.
“benar dik Amar ternyata memek kalo dijiliat dan disedot rasanya nikmat banget…..” Tiba-tiba ada suara orang datang dari halaman rumah, dan tergesa-gesa kami merapikan baju…….sedangkan cd bu Mirna langsung diumpetin kekolong kursi,….ternyata anak bu Mirna yang kedua pulang dari tempat belajarnya.
Setelah anaknya masuk…..langsung bu Mirna ngomel kenapa kok anaknya pulang cepat nggak sperti biasanya ? “Ibu belum puas ya…?” Goda saya. Ibu tersipu sambil berkata…….”iya sih abis sudah lama ibu tidak merasakan hal seperti ini……..apalagi memek ibu pengin di entot pakai ****** dik Amar biar sama2 bisa puas…kan dik Amar belum keluar?” kata bu Mirna.

“Iya sih bu….nanggung rasanya kontolku ini? tapi udahlah bu…karena malam ini saya harus ke kota nginep di hotel, dan lagian anak ibu juga sudah pulang. Tapi yang jelas saya senang bisa memuaskan hasrat ibu…..” sambil tangan saya meremas buah dadanya. “Ahhhh..dik Amar, tapi rasanya tidak adil kalo Cuma ibu yang mendapat kepuasan…..kalo gitu ibu besok ke kota dan mampir ke hotel boleh nggak dik?” kata bu Mirna.
“Boleh…boleh bu? tapi benar ya bu….iya besok jam 10 pagi” kata bu Mirna sambil tersenyum. Jam 10 pagi, pintu kamar hotel diketuk orang dan ternyata bu Mirna menepati janji datang, langsung saya peluk dan saya cium….. “ah dik Amar kok gak sabaran sih?” kata bu Mirna.
Saya nggak peduli…langsung saya lucuti semua pakaian yang dikenakan ibu Mirna, hingga terpampang tubuh telanjang yang begitu menggairahkan, kubimbing ibu Mirna ke ranjang dang langsung saya emut dan saya remas buah dada yang begitu montok dan empuk tersebut?
“aaaaaaahhhhhhhh dik……..dilepas dong bajunya” kata bu Mirna sambil tanggannya melepas baju yang saya kenakan, sekarang kami sama2 telanjang. Kembali saya cium bibir bu Mirna…terus turun kesemua lekuk tubuhnya..

“ahhhhh….uhhhhh…hisap tetek ibu ……hisap?” mulutku langsung pindah ke susu bu Mirna….sambil tangan menggesek-gesek memek yang terasa kenyal dan hangat, “ahhhhh…..uhhhhhh…..dik……nikmat ……dik…..ib….uuu sudah lama nggak merasakan ngentot…terus…..teruuuuuusssss dik?”.
Ciuman saya terus turun ke perut dan akhirnya sampai ke gundukan memek yang begitu merangsang…..langsung saya jilat….dan saya sedot itil bu Mirna, sambil menggeser posisi ke 69, dan bu Mirna pun tanpa diminta langsung menngemut ****** saya….. “uhhhhh nikmat sekali buuuuu?” ****** saya terus diemut keluar masuk mulut bu Mirna sambil dipijat…..
“uhhhhh….ahhhhhhh….enak sekali buuuuu”, saya juga tidak mau kalah, langsung saya putar lidah saya di memek bu Mirna……sambil tangan saya sedikit menusuk-nusuk anusnya. “aduhhhhhh dik….apalagi ini……enaaaaaak banget dik….. ahhhhhhhh……. ahhhhhhhhhh”, tiba2 ibu Mirna mengejang dan terasalah cairan yang keluar membasahi bibir, yang langsung aku sedot hingga habis.
Aku biarkan bu Mirna istirahat sejenak…sambil terus memainkan putting susunya yang masih menegang……setelah beberapa saat, mulai saya hujami tubuh bu Mirna dengan ciuman sehingga ibu Mirna kembali memberikan reaksi yang lebih panas……..
“ahhhhhh….uuuhhhhhhh….dik, ayo dik entotin memek ibu…..ibu sudah kangen di kentot…..ahhhhhhhhh”, sayapun memutar tubuh bu Mirna untuk mengambil posisi doggy, hingga tampaklah gundukan memek ibu Mirna yang menantang, dengan perlahan kumasukkan batang penisku secara perlahan…karena terdengar ibu Mirna menjerit seraya berkata.

“perlahan dik….. memek ibu sudah lama gak di kentot……” perlahan aku masuk dan keluarkan kontol….hingga akhirnya semuanya amblas ke dalam memek bu Mirna ……dan reaksi bu Mirna sungguh diluar perkiraan karena dengan goyangan pantatnya yang besar…kontol saya terasa ditarik dan dipijit dengan nikmatnya…..
“ahhhhhh….uuuuuuuhhhhhhhh…buuuuu…ueenna aaak sekali memek ibu?” Dan saya pun tak mau kalah dengan mengambil strategi 3:1, tiga kali tusukan setangah ****** dan sekali tussukan ****** hingga amblas ke memek bu Mirna…… sepuluh menit kemudian desahan bu Mirna semakin keras…..
“ahhhhhhh dik…memek ibu enak banget…..uhhhhhh ****** adik enaakk banget……uhhhh..ahhhhhh.uuuuuuuuu..ahhhhhh” “Terus dik…memek ibu udah nggak kuat…….dik…..dik …dik Amar……ibu kekkeeluaaaarrrrrr…..ahhhhhhhhhh”, desahan bu Mirna semakin panjang seiring keluarnya lendir kenikmatan.
Setelah istirahat sejenak…bu Mirna langsung mengurut penis dan mengemutnya dengan lincah sekali. “ahhhhh bu……uuuhhhhhh nikmat sekali bu?” desah saya. kemudian bu Mirna berhenti sambil berkata “dik Amar sesuai janji ibu semalem….maka hari ini ibu akan memberikan kenimatan yang tidak terlupakan bagi ****** dik Amar?”.
Ibu Mirna langsung mengambil posisi di atas…setelah mengurut kontolku beberapa saat….bu Mirna langsung ngangkang dengan membimbing kontolku untuk memasuki lubang memeknya……..terasa sekali perbedaan dengan entotan yang pertama tadi, kali ini memek bu Mirna terasa lebih seret dan terasa lebih hangat. “oooooohhhhhh……ahhhhhh……uhhhhhhhh bu enankkkkkk sekali memeeeeek ibu……..ohhhhhh ****** saya ibu apain…..uuhhhhhh nikmat banget bu?”.
Ibu Mirna hanya menjawab dengan desahan nafsnya…… “ahhhhhhh…….uuuuuuhhhhhh dik…memek ibu juga nikmat sekali…….”, pantat bu Mirna masih terus bergoyang dengan sekali-kali diangkat, sehinggga membuat kontolku terasa sangat nikmat…..melebihi yang aku rasakan dengan istri.

“ooooooohhhhhhhh…..uuuuuuhhhhhh ennnnnaaakkkk sekali bu………”, nggak percuma aku menginginkan entot dengan wanita berumur 35-42 tahunan karena memang berbeda permainan sex mereka, mungkin karena lebih berpengalaman…seperti bu Mirna yang memeknya terasa sekali empotannnya kataku dalam hati.
“Ahhhhhhhh…..uuuhhhhhhhhhibu aku udah gak tahan” “sebentar dik Amar, bareng sama ibu…”, kata bu Mirna sambil terus menggoyang pantat dan menaikkan turunkan sambil mendesah…. “ahhhhh…..dikkkk ..uuuuuuuhhhhh ibu enaaak sekali….ahhhhhh dik ibu juga mau keluar……..”.
“ya bu aku juga…….ahhhhhhhhh………”, Ibu Mirna mengejang dan terasa lendir membahasi memeknya. “terus goyang…bu ….terus ….nikmat buuuuuuuu…ahhhhhhhhhhhhh”, aku menyemprotkan pejuku kedalam memek bu Mirna secara kuat, akhirnya kami tertidur, hingga jam 12 siang kami makan dan terus melanjutkan ke babak kedua.
Karena waktu tugas di kota S tinggal 3 hari, maka dua hari kemudian kami janjian untuk mengulangi kenikmatan seperti kemarin karena bu Mirna belum puas di kentot, itulah pengalaman saya yang pertama dan mungkin yang terakhir, karena saat ini saya sudah tidak bekerja di tempat yang lama.


Perawanku – “Yesss….” Teriakku dalam hati karena cuti panjangku telah di acc kemarin oleh kantor dan waktunya sekarang aku untuk liburan. Segera aku pulang dari kantor untuk menuju ke pulang ke rumah dengan gembira. Sudah terbayang dalam bahwa esok hari aku akan liburan menuju lombok. Ya betul PULAU LOMBOK, pulau dengan keindahan alam yang begitu mempesonakanku sampai saat ini. Bersama LISA…
1 minggu sebelumnya…
Pekerjaan kantor amat sangat menumpuk pagi itu. Closing akhir tahun dengan deadline 2 hari memaksaku untuk ambil lembur secara penuh sampai jam 12 malam dan terkadang aku sampai menginap di kantor agar deadline pekerjaanku selesai. Akupun juga telah menyiapkan beberapa pasang baju kerja apabila aku sampai menginap di kantor esoknya telah memiliki baju yang baru.

Tenaga dan pikiranku terkuras. Selama 2 hari tersebut aku terus bekerja, bekerja, dan bekerja tanpa mengenal waktu. Sampailah pada saat waktu penyerahan laporan via email kepada principal perusahaan Pak Rommy. Sungguh saat-saat yang menegangkan dimana seluruh waktu, pikiran, dan tenaga telah kucurahkan ke pekerjaan ku itu. 2 hari sudah ku lampaui. Aku dan pak Rommy merupakan teman apabila diluar kantor. Seringkali kami sering kongkow di cafe-cafe dengan beberapa teman kantor kami.

Pada suatu ketika di jam kantor. Telepon mejaku berbunyi mengagetkanku.
“Pak Jay, dipanggil Pak Rommy di ruangan. Harap segera menghadap” kata sekretaris Pak Rommy, Bu Rina.
“Siap Bu, saya segera meluncur ke ruangan Pak Rommy” kemudian aku tutup ganggang telepon. Kemudian aku dengan segera menuju ruangan Pak Rommy dengan tenang. Kemudian aku buka ketok pintu ruangannya. Tok..Tok..Tok..

“Masuk!!!” Teriak pak Rommy dari dalam ruangan. Jantungku serasa mau lepas pada saat Pak Rommy berteriak. Dengan segera aku pun masuk keruangan Pak Rommy dan duduk dipan beliau. “Jay laporan lu dah gw terima. Masih banyak yang mesti direvisi, ada beberapa angka yang ga matching. Lu benerin dulu deh laporan lu” kata Pak Rommy tanpa basa-basi.

“Baik pak segera akan saya koreksi laporan saya tersebut”. Jawabku dengan canggung meskipun Pak Rommy terkesan santai. Aku sangat menghormati beliau meskipun umur kami hanya berpaut 1 tahun dan meskipun kami sering jalan bareng dengannya.
“Tapi overall gw dah acc laporan lu. Kesalahan lu cuma minor aja. Ga terlalu signifikan. Tapi gw harap lu selesaiin. Tolong lu selesaiin cepet yah sebelum audit.” katanya.
“Baik pak, sore ini akan saya selesaikan laporan saya. Mohon ijin pak saya hendak menyelesaikan laporan saya. Terima kasih pak apabila laporan saya sudah bapak acc” jawabku dengan tenang karena laporanku tersebut memuaskan beliau.
“Ya sudah, gw tunggu laporan lu.” Kata pak Rommy sambil tersenyum.

Akhirnya laporan closing bulananku diterima oleh principal meskipun dengan ada sedikit revisi di beberapa laporan. Overall principalku tersebut menerima dengan baik laporan yang telah aku buat. Dan akhirnya bonus bulanan tersebut akan di transfer pada awal minggu depan hari senin.
Aku sangat bangga dengan hasil yang telah kucapai tersebut. Sehingga aku ingin sekali memberikan reward kepada diriku sendiri. akhirnya aku putuskan untuk mengajukan cuti kepada principalku melalui memo. Memang sudah menjadi prosedur kantor apabila kita hendak mengajukan cuti harus menggunakan memo yang telah disediakan kantor. Memo aku ajukan ke principal untuk cuti 5 hari, dan aku sangat berharap cutiku tersebut disetujui oleh principalku.

Disaat memo telah ku kirimkan ke principal aku menjadi bingung kemana aku akan pergi liburan, mengingat bonus yang aku dapatkan lumayan besar. Phuket, Singapore, dan KL menjadi pilihanku untuk luar negeri. Tetapi aku sudah pernah ke tempat-tempat tersebut. Kuputuskan untuk berlibur di indonesia saja daripada mesti ke luar negeri. Banyak tempat belum aku explore di negeri sendiri.

Akupun akhirnya browsing di internet untuk mencari destinasi liburanku kali ini. Raja Ampat, Ora Beach Maluku, Bali dan Lombok menjadi pertimbanganku. Sempat membuatku bingung adalah aku akan menghabiskan liburanku kali ini dengan siapa. Dalam hati ku berkata buat apa pergi liburan apabila hanya sendiri. Mengingat aku sebenarnya mudah bosan apabila sedang sendiri. Ah nanti saja aku pikirkan itu. Sekarang aku fokus untuk menentukan tujuan liburanku.

Malam harinya aku tidak dapat tidur, sebenarnya lebay banget mau liburan aja bingung tinggal pilih destinasi tapi aku ingin liburanku kali ini berbeda dengan biasanya. Yang biasanya aku pergi dengan backpaker tapi kali ini aku ingin berbeda. Aku ingin liburan dengan fasilitas yang aga sedikit wah. Sempat terpikir Bali karena disana banyak Villa-villa yang mewah dengan fasilitas private pool. Tapi aku bimbang karena Bali sudah begitu penuh dan ramai. Dan sudah beberapa kali aku ke Bali. Akhirnya aku urungkan Bali. Akhirnya aku putuskan untuk habiskan waktu liburanku di Lombok.
Lagi-lagi aku galau mau nginep dimana, sama siapa dan berapa lama. Ahh capek benar mau liburan aja banyak galaunya. Maaf yah pembaca, memang sang penulis ini banyak galaunya daripada enggaknya. Aku buka website yang menawarkan villa-villa di lombok. Pada saat aku buka Tripadvisor mataku tertuju kepada Villa yang sepertinya sesuai dengan keinginanku. Tempat tersebut sangat sepi, tenang, dan fasilitasnya pun lengkap. Dan aku lihat harga pun tidak terlalu mahal tidak seperti di Bali.

Terlalu panjang yah bacanya? Maaf yah pembaca. Penulis masih nubie. Penulis lagi belajar untuk membentuk sebuah situasi yang bisa di bayangkan oleh pembaca.
Esok paginya aku telepon hotel tersebut. Ku putuskan untuk membooking selama 3 hari 2 malam. Dan sisa cutiku akan aku pergunakan untuk istirahat total di rumah. Dan akhirnya tanggal yang aku minta kebetulan sedang avaiable. Dan aku memilih villa type deluxe pool. Urusan hotel beres. Aku belum terpikir untuk membeli tiket pesawat ke Lombok, tau sendirilah kalo masalah sama siapa masih galau . Akhirnya akupun berangkat ke kantor dengan menggunakan mobil butut yang setia menemaniku.
Macetnya Jakarta telah menyambutku pagi itu. Meskipun aku sengaja berangkat ke kantor sedikit lebih siang. Tetap saja kemacetan ini membuatku sedikit kesal. Ku nyalakan rokok untuk menemaniku di kemacetan, tiba-tiba HPku berbunyi. LISA nama yang keluar ketika ku lihat layar HPku itu. Dalam hatiku ada apa Lisa tiba-tiba telepon…

Perawanku – Cerita kali ini menceritakan tentang seorang pria yang bernama Dodi yang suka kepada teman wanita sekantornya. Teman wanita dari Dodi itu adalah tunangan teman sekantor Dodi yang bernama Fredi. Dan Dodi pun tidak memperdulikan status mereka yang sudah bertunangan itu. Nah guys, ingin tau kelanjutan Cerita Dewasa selanjutnya? Lansung saja yuk kita baca dan simak baik-baik Cerita Sex ini.

Aku mengenal salah satu wanita dikantorku bernama Devinta, dia adalah sosok wanita yang aku kenal baru saja. Tapi entah mengapa aku sudah jatuh hati dengan dia. Mungkin saja aku jatuh cinta karena kecantikannya, selain cantik dia juga wanita yang ramah dan flexybel. So, dengan kepribadianya dia mempunyai banyak teman, namun mayoritas temannya adalah Pria. Meskipun belum lama mengenalku Devinta sendiri sudah sangat akrab sekali denganku. Oh iya guys, Devinta ini memiliki tubuh yang sangat ideal sekali.
Dia mempunyai tinggi badan 169 cm dengan berat badan 56 kg, dengan berat badan dan tinggi yang ideal body-nya terlihat sangat sexy. Ditambah lagi Devinta juga mempunyai payudara yang lumayan indah, payudara yang tidak begitu besar, tapi terlihat padat dan bulat. Apalagi pantat Devinta sangat semok, kenyal dan kencang, hal itu menambah kesempurnaan Devinta. Hari demi hari aku-pun semakin dekat dengan dia, tapi kedekatanku itu agak membuatku kecewa, Karena Devinta adalah kekasih temanku yang bernama Fredi dan sebentar lagi akan bertunangan. Huh. Tapi meskipun Devinta akan bertunangan, tapi tidak merubah kedekatan dengan teman-teman Pria-nya termasuk aku. Rasa cintaku kepada Devinta pun tidak pernah hilang.

Jujur saja guys, aku selalu berharap agar hubungan Devinta agar bubar. Tapi nampaknya harapanku kepada Devinta sedikit menemui titik terang, karena akhir-akhir ini aku dan dia selalu mengerjakan tugas kantor bersama, so, otomatis kita semakin dekat dong.hehehe. Pekerjaan yang kita kerjakan bersama membuat aku selalu bersama Devinta. Tak jarang aku mendapatkan momen berdua dengan Devinta. Dan aku pun memberanikan diri untuk sedikit menunjukan rasa sukaku kepada Devinta, tidak kusangka ternyata Devinta pun juga merasakaan hal yang sama juga.
Sampailah suatu hari aku melihat Devinta sedang duduk dan aku melihat nya sedang memandangi handphone-nya dengan sangat serius dan fokus. Hal itu membuatku penasaran dan aku langsung menuju ketempat dia duduk, dengan cara mengendap-endap karena aku ingin tau apa yang dilihat oleh Devinta. Sesampainya ditempat Devinta, ternyata dia sedang membaca artikel cerita sex disalah satu situs dewasa. Kemudian secara refleks akupun langsung mengagetkan dia“ Ouhhhh… kamu suka baca begituan ya Dev, pantes aja kelihatan serius sekali..hahaha ?? ” tanyaku mengagetkan Devinta.

Secara refleks, Devinta pun langsung menutup Handphone-nya dan berkata,
“ Kamu kok tiba-tiba disini, emang kamu dari mana, kok aku gak tau kedatanganmu Dod?? ” tanya Devinta dengan terkejut.
“ Udah deeeh gak usah malu-malu, lanjutin aja bacanya ” ujarku.
“ Enggak aahh ada kamu ” balas Devinta.
“ Gak papa kok, kadang aku juga suka baca yang begituan kok ” ucapku.
“ Aaahhh kamu ternyata sama aja Dod….” ucapnya,
“ Emang kalau baca aja, nanti kalau sudah horny kamu ngapain Dev?? ” tanyaku.
“ Ya gak ngapa-ngapain to Dod, ya mau ngapain lagi ” jawab Devinta.
“ Aaaahhh yang bener, cewek kalau horny kan biasanya minta disetubuhi Dev ? ” cetusku sambil mendekatkan tubuhku kepada Devinta.
“ Iyaah bener juga siiih kata kamu Dod ” jawab Devinta sambil tertawa.
Dan kemudian Devinta mengatakan sesuatu yang sangat mengagetkan hatiku.
“ Kamu udah punya pacar Dod..? ” tanya Devinta.
“ Eh, belom.. nggak laku Dev.. mana ada yang mau sama Aku..? ” jawabku sedikit berbohong.
“ Ah bohong Kamu Dod..! ” ucap Devinta sambil mencubit lenganku.
Secara tiba- tiba aliran darahku-pun seperti mengalir dengan cepat, otomatis titikupun berdiri dengan perlahan, aku jadi salah tingkah. Sepertinya Devinta melihat perubahan yang terjadi pada diriku, aku langsung pura-pura mau mengambil minum lagi, karena memang minumanku sudah habis, tetapi dia langsung menarik tanganku.

“ Ada apa Dev..? Minumannya sudah habis juga..? ” kataku pura-pura bodoh.
“ Dod, Kamu mau nolongin Aku..? ” ucap Devinta seperti memelas.
“ Iyaa.., ada apa Dev..? ” jawabku.
“ Aku.., Aku.. pengen bercinta Dod..? ” pinta Devinta.
“ Hah..! ”
kaget juga aku mendengarnya, bagai petir di siang hari, bayangkan saja, baru juga satu jam yang lalu kami berkenalan, tetapi dia sudah mengucapkan hal seperti itu kepadaku.
“ Ka.., Kamu..? ” ujarku terbata-bata.
Belum juga kusempat meneruskan kata- kataku, telunjuknya langsung ditempelkan ke bibirku, kemudian dia membelai pipiku, kemudian dengan lembut dia juga mencium bibirku. Aku hanya bisa diam saja mendapat perlakuan seperti itu. Walaupun ini mungkin bukan yang pertama kalinya bagiku, namun kalau yang seperti ini aku baru yang pertama kalinya merasakan dengan orang yang baru kukenal. Begitu lembut dia mencium bibirku, kemudian dia berbisik kepadaku.

“ Aku pengen bercinta sama Kamu, Dod..! Puasin Aku Dod..! ” Lalu dia mulai mencium telinganku, kemudian leherku, “ Aahh..! ” aku mendesah.
Mendapat perlakuan seperti itu, gejolakku akhirnya bangkit juga. Begitu lembut sekali dia mencium sekitar leherku, kemudian dia kembali mencium bibirku, dijulurkan lidahnya menjalari rongga mulutku. Akhirnya ciumannya kubalas juga, gelombang nafasnya mulai tidak beraturan. Cukup lama juga kami berciuman, kemudian kulepaskan ciumannya, kemudian kujilat telinganya, dan menelusuri lehernya yang putih bak pualam. Ia mendesah kenikmatan.
“ Aahh Dod..! ” dessahnya,
Mendengar desahannya, aku semakin bernafsu, tanganku mulai menjalar ke belakang, ke dalam Kaosnya. Kemudian kuarahkan menuju ke pengait BH-nya, dengan sekali sentakan, pengait itu terlepas. Kemudian aku mencium bibirnya lagi, kali ini ciumannya sudah mulai agak beringas, mungkin karena nafsu yang sudah mencapai ubun- ubun, lidahku disedotnya sampai terasa sakit, tetapi sakitnya sakit nikmat.
“ Dod.., buka dong bajunya..! ” katanya manja.

“ Bukain dong Dev.., ” kataku. Sambil menciumiku,
Devinta membuka satu persatu kancing kemeja, kemudian kaos dalamku, kemudian dia lemparkan ke samping tempat tidur. Dia langsung mencium leherku, terus ke arah puting susuku. Aku hanya bisa mendesah karena nikmatnya.
“ Akhh.., Dev. ” desahku,
Kemudian Devinta mulai membuka tali pinggangku dan celanaku dibukanya juga. Akhirnya tinggal celana dalam saja. Dia tersenyum ketika Melihat kepala kemaluanku off set alias menyembul ke atas. Devinta Melihat wajahku sebentar, kemudian dia cium kepala kemaluanku yang menyembul keluar itu. Dengan perlahan dia turunkan celana dalamku, kemudian dia lemparkan seenaknya. Dengan penuh nafsu dia mulai menjilati cairan bening yang keluar dari kemaluanku, rasanya nikmat sekali. Setelah puas menjilati, kemudian dia mulai memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya.
“ Okhh.. nikmat sekali, ” kataku dalam hati,
Sepertinya kemaluanku terasa disedot-sedot. Devinta sangat menikmatinya, sekali- sekali dia gigit kemaluanku.

“ Auwww.., sakit dong Dev..! ” kataku sambil agak meringis.
Devinta seperti tidak mendengar ucapanku, dia masih tetap saja memaju- mundurkan kepalanya. Mendapat perlakuannya, akhirnya aku tidak kuat juga, aku sudah tidak kuat lagi menahannya,“ Dev, Aku mau keluar.. akhh..! ” Devinta cuek saja, dia malah menyedot batang kemaluanku lebih keras lagi, hingga akhirnya,
“ Croott.. croott.. croott.. !!! ”
Aku menyemburkan Spermaku ke dalam mulut Devinta. Dia menelan semua cairan spermaku, terasa agak ngilu juga tetapi nikmat. Setelah cairannya benar-benar bersih, Devinta kemudian berdiri, kemudian dia membuka semua pakaiannya, sampai akhirnya dia telanjang bulat.
Kemudian dia menghampiriku, menciumi bibirku.

“ Puasin Aku Dod..! ” katanya sambil memeluk tubuhku,
Kemudian dia menuju tempat tidur. Sampai disana dia tidur telentang. Aku lalu mendekatinya, tubuhnya yang elok, kuciumi bibirnya, kemudian kujilati belakang telinga kirinya. Dia mendesah keenakan,
“ Ssss… Uhhhh… Aahh…. ” Mendengar desahannya, aku tambah bernafsu, kemudian lidahku mulai menjalar ke payudaranya. Kujilati putingnya yang sebelah kiri, sedangkan tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kanan, sambil kadang kupelintir putingnya.
“ Okkhh..! Dodi sayang, terus Dod..! Okhh..! ” desahnya mulai tidak menentu.
Puas dengan bukit kembarnya, badanku kugeser, kemudian kujilati pusarnya, jilatanku makin turun ke bawah. Kujilati sekitar pangkal pahanya, Devinta mulai Devenguh hebat, tangan kananku mulai mengelus Vaginanya, lalu kumasukkan, mencari sesuatu yang mungkin kata orang itu adalah Itil. Devinta semakin Devenguh hebat, dia menggelinjang bak ikan yang kehabisan air. Kemudian aku mulai menjilati bibir kemaluannya, kukuakkan sedikit bibir kemaluannya, terlihat jelas sekali apa yang namanya Itil, dengan agak sedikit menahan nafas, kusedot Itilnya.

“ Aakkhh.. Dod.., ” Devinta menjerit agak keras,
Rupanya dia sudah orgasme, karena aku merasakan cairan yang menyemprot hidungku, kaget juga aku. Mungkin ini pengalaman pertamaku menjilati kemaluan wanita, karena sebelumnya aku tidak pernah. Aku masih saja menjilati dan menyedot Itilnya.
“ Dod..! Masukin Dod..! Masukin..! ” pinta dia dengan wajah memerah menahan nafsu.
Aku yang dari tadi memang sudah menahan nafsu, lalu bangkit dan mengarahkan kejantananku ke mulut kemaluannya, kugesek-gesekkan dulu di sekitar bibir kemaluannya.
“ Udah dong Dod..! Cepet masukin..! ” katanya manja.
Hemmm… rupanya ini cewek nggak sabaran banget ya ( kataku dalam hati ).Kemudian kutarik tubuhnya ke bawah, sehingga kakinya menjuntai ke lantai, terlihat kemaluannya yang menyembul. Pahanya kulebarkan sedikit, kemudian kuarahkan kemaluanku ke arah liang senggama yang merah merekah. Perlahan tapi pasti kudorong tubuhku.
“ Bless..! ” akhirnya kemaluanku terbenam di dalam liang kemaluan Devinta.
“ Aaakkhh Dod..! ” desah Devinta.

Kaget juga dia karena sentakan kemaluanku yang langsung menerobos kemaluan Devinta. Aku mulai mengerakkan tubuhku, makin lama makin cepat, kadang- kadang sambil meremas- remas kedua payudaranya. Kemudian kubungkukkan badanku, lalu kuhisap puting susunya.
“ Aakkhh.., teruss.., Sayangg..! Teruss..! ” erang Devinta sambil tangannya memegang kedua pipiku.
Aku masih saja menggejot tubuhku, tiba- tiba tubuh Devinta mengejang,
“ Aaakkhh…! ”
Ternyata Devinta sudah mencapai puncaknya duluan.
“ Aku udah keluar duluan Sayang..! ” ucapnya,
“ Aku masih lama Dev.., ” kataku sambil masih menggenjot tubuhku.
Kemudian kuangkat tubuh Devinta ke tengah tempat tidur, secara spontan, kaki Devinta melingkar di pinggangku. Aku menggenjot tubuhku, diikuti goyangan pinggul Devinta.
“ Aakkhh Dev.., punya Kamu enak sekali. ” kataku memuji,
Devinta hanya tersenyum saja. Aku juga heran, kenapa aku bisa lama juga keluarnya. Tubuh kami berdua sudah basah oleh keringat, kami masih mengayuh bersama menuju puncak kenikmatan. Akhirnya aku tidak kuat juga menahan kenikmatan ini.

“ Aahh Dev.., Aku hampir keluar.., ” kataku agak terbata-bata.
“ Aku juga Dod..! Kita keluarin sama- sama ya Sayang..! ” kata Devinta sambil menggoyang pantatnya yang semok dan kenyal itu.
Goyangan pinggul Devinta semakin liar. Aku pun tidak kalah sama halnya dengan Devinta, frekuensi genjotanku makin kupercepat, sampai pada akhirnya,
“ Aaakkhh…! ” jerit Devinta sambil menancapkan kukunya ke pundakku.
“ Aakhh, Devinta.., Aku sayang Kamuu..! ” erangku sambil mendekap tubuh Devinta.
Kami terdiam beberap saat, dengan nafas yang tersenggal-senggal seperti pelari marathon yang berlari beberapa Kilometer.
“ Kamu strong sekali ya Dod, makasih ya Dod udah muasin aku …. emuaaachhh…! ” puji Devinta sembari mengecup bibirku
“ Iya Dev, aku juga makasih banget karena hari ini kamu udah buat aku puass juga, emuuuuachhh… ” pujiku sembari kubalas ciuman kecilnya tadi.
Singkat cerita setelah kami melakukan hubungan intim tadi, kamipun berpelukan erat dan sejenak menghela nafas. Tak lama kemudian kami-pun bergegas merapikan diri dan memakai pakaian kami, karena kami takut kejadian skandal kami dipergoki tunangannya. Sejak kejadian itu kamipun sering melakukan hubungan sex dimana saja selama ada kesempatan, dan sampai sekarang hubungan kami masih berlanjut.


Perawanku – Mungkin suasana seperti itulah yang dirasakan oleh kedua sejoli dalam galeri foto ini. Merangsang, Merasakan nikmat dan gemetar seluruh tubuh.
Dan bagi bos ku yang lagi pengen siapkan saja lotion nya atau Alatkontrasepsi nya atau yang sudah ada pasangan atau sudah punya pacar bisa langsung telfon pacarnya janjian dimana di hotel mana? Tapi sebelum itu kita lihat dulu bos ku 2 sejoli ini yang lagi asik bercinta Hot banget buat nambah gaya imajinasi bos nanti waktu sama pasangan bos ku :















Cerita Dewasa Panas Tukar Pasangan ini Berjudul ”Dapat Nikmati Istri Orang Di Kampung ” Bikin Ngaceng Gan ,Basah – Basah Memek Lu Sis.
Perawanku – Jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 10 lewat 12. berarti sekitar 10 menit lagi pesawt yang ditumpangi kiyat akn mendarat.

Minggu pagi itu aku sudah menunggu di bandara polonia menunggu kedatangan kawanku saat di Jakarta dulu. Kiyat adalah seorang pemuda keturunan Chinese berusia 33 tahun sebaya denganku, hanya saja tubuhnya lebih tinggi dan besar daripada aku, aku hanya 170 dengan berat 60 kgsementara
dia 185 dan berat 90 kg. dijakarta kami bertetangga . rumah orangtuanya dan orangtuaku bersebelahan dan orangtuanya adalah mantan majikan dari istriku.
Yah istriku adalah mantan pembantu rumah tangga pada keluarga kiyat. Tetapi meskipun dia pembantu tetapi wajahnya sangat jelita dan bodynya sintal persis ayu azhari, makanya aku pacarin dia , mirah namanya saat ini berusia 27 tahun.
2 bulan Menjelang aku menikahinya,mirah berhenti bekerja dan setelah menikah kami merantau ke medan.
Rupanya rezekiku memang disini. Bisnis ku berkembang dan sekarang aku punya rumah sendiri yanglumayan megah serta mobil camry keluaran terbaru.
Kiyat sahabatku ini kebetulan sedang ada bisnis dipekanbaru,setelah urusan selesai ia berniat mampir ketempatku karena kebetulan tidak jauh hanya lk ½ jam penerbangan. Aku menunggunya diruang
kedatangan sambil merokok.
Tak berselang lama kulihat sosok yang kukenal celingukan di pintu kedatangan. Aku melambai , ia melihat dan tersenyum.Bergegas kami mendekat dan berangkulan. Maklum sudah lima tahun kamiberpisah. Diperjalanan menuju rumahku kami banyak bercerita tenatang masa lalu dan sekarang .
rupanya ia masih betah melajang. Belum ada yang cocok katanya. Jam 11.30 kami sampai dirumahku, ia takjub memandangirumahku.
“ hebat kau sudah jadi orang kaya rupanya “.
“ ah belum seberapa dibandingmu “ aku merendah.
“ wah… mirah, sudah lama kita ngga ketemu gimana kabarmu? Sudah ada momongan?
“ baik koh.. belum tuh.” Saut istriku.
“ wah kalian payah masa udah lama kawin belum punya anak , gimana sih lu son “ sindirnya padaku.
Akau hanya nyengir, belum dikasih yat, yah sabar ajalah.
Malamnya sekitar habis maghrib aku dan kiyat keluar menikmati pemandangan kota berastagi. Sekitar jam 9 setelah puas berkeliling kami pun pulang.
Diperjalanan saat lampu merah, didepan mobil kami berhenti sebuah motoe tiger ditumapngi sepasang muda – mudi. Yang membuat kami terbelalak adalah si perempuan yang berkaos puti dan bercelana jeans chatter , bawah kaos terangkat keatas sementara celana nya tertarik kebawah sehingga menampakkan belahan pantatnya yang mulus putih.
Kiyat terlongo menyaksikan sambil berdecak “ wuih…. Ikutin son” serunya ketika
lampu menyala hiaju. Kamipun membuntuti perlahan dibelakang motornya,
namun ternyata di perempatan depan mereka berbelok arah sementara kami
terus lurus “ yah…” kecewa kiyat.
Sampai dirumah kami menonton tv, sementara istriku pamit tidur. Saat asik menonton acara tv, kiyat berbisik, son kita ke lokalisasi yuk,
“ ngapain lu, udeh malem nih “ sahutku.
“ aduh… ngaceng terus nih , gara – gara cewek tadi “ “ ha…ha..ha.. “ aku tertawa.
Tiba – tiba muncul fantasiku yang sangat lama kupendam dan pernah dua kali kuutarakan pada
istriku, dan istriku setuju. Namun niat itu belum kami jalani karenamasih ragu.
“ hm… kucoba aja sekarang” bhatinku. “ sebentar yat aku kekamar dulu “ pamitku. Aku masuk kamar, ternyata istriku belum tidur.
Kuutarakan saja niat ku yang terpendam selama ini pada istriku .” mam…kamu masih ingetkan tentang fantasi kita dahulu ? “ pancingku “hmm.. ya kenapa ?” sahut istriku.
“ gimana kalo kita lakukan aja sekarang?”usulku. “sekarang?.. dengan siapa ?” Tanya mirah.
“ kiyat lagi kelimpungan, gara – gara liat pantat cewe dijalan, sekarang lagi konak.
Kasihan tuh “ “ kiyat.. tapi ..” istriku ragu ragu.
“ ah… sudah.. taka pa – apa “ rayuku. Istriku akhirnya setuju.” Nti kalo dia masuk kamar,kamu pura – pura tidu, terus pamerin inimu “ kataku menepuk memeknya.
Lalu kuperosotkan cd nya. “ ih.. kok dibuka sekarang?” kata mirah. “ biar gampang” sahutku. Akupun keluar kamar menemui kiyat diruang keluarga.
“ wah.. istriku udeh tidur. Ngga bisa tuh yat kita keluar” pura-puraku. Terus gimana gue dong?” wajah kiyat memelas campur belingsatan. Aku senyum “ begini aja,,kalo cewek diluar sana kan kotor, gimana kalo yang bersih aja “ kataku “ maksud lo?” tanyanya aku membisikkan fantasiku kepada kiyat .” ah…gila lo, bisa dibejek gue ama
bini lo.”
‘ lo tenang aja , bini gue kalo tidur udeh kaya orang mati.Ada bom meledak disamping juga gak bakal bangun ‘ bujukku.
“ ah..serius lo?” kiyat tak yakin. Kutarik tangan kiyat bangun dari kursi menuju kamar. Kubuka pintu kamar. Kiiyat terlongo melihat pemandangan didalam kamr. Diranjang mirah yang pura pura tidur , dasternya terangkat keatas sampai dada dan tidak mengenakan celana dalam.
Otomatis selangkangannya yang berbulu lebat terpampang. Sementara sepasang buah dadanya yang
montok mengintip sedikit dari bawah daster yang tersingkap.
“ wah ..mulus banget binilu, lebat lagi bulunya ‘ kiyat menelan liurnya menyaksikan itu.
‘ udeh… jangan lama lama . buka pakaian lu’ kataku.
Kiyat sgera membuka semua pakaiannya. “ aku tertegun melihat ******
kiyat yang sudah sangat tegang besar dan panjangnya melebihi punyaku, berurat pula disekelilingnya.kiyat mendekati istriku yang sedang ngangkang mempertontonkan auratnya.
Dielusnya memek istriku lalu diciuminya. ‘ wangi son ‘ katanya. Dibukanya bibir kemaluan istriku, tampaklah bagian dalamnya yang berwarna pink. Dijilatinya bagian dalam bibir kemaluan istriku kanan dan kiri.kulihat istriku menahan gairahnya mendapat cumbuan.
Kiyat seamkin dalam memasukkan lidahnya menjilati kacang istriku. Istriku yang tak kuat mendesah perlahan. Kiyat tetap nekat menjilati memek istriku bahkan kini semua mulutnya terbenam di selangkangan istriku. Istriku bangun dan duduk tak kuasa menerima rangsangan itu, berpura pura kaget .
“ loh koh kiyat ngapain, loh udah telanjang. Ih..gede amat barangnya “ kiyat berdiri ditepi ranjang mempertontonkan barangnya yang mengacung bergerak- gerak. Kulihat ukurannya melewati pusarnya. Wah kalo masuk kememek istriku bisa mentok tuh kerahimnya. Kiyat melangkah perlahan mendekati istriku dan berada
diantara kedua paha istriku.
“ koh.. mau ngapain “ pura- pura istriku. Kiyat hanya senyum sambil mengelus kedua paha istriku.
“ ih..geli ah.. tuh ngacung acung lagi barangnya “ kiyat yang sudah tak tahan mendorong
tubuh istriku kekasur lalu menindihnya .
mulutnya menciumi mulut istriku yang disambut istriku , lidah mereka saling melibat .
tangan kiri istriku meremas remas batang kemaluan kiyat yang semakin tegang. Kiyat melepas ciuman dimulut istriku, kedua tangannya melepas daster yang dipakai istriku , lalu tangan kirinya menyelusup kebalik punggung mirah melepas kaitan BH dan melepaskannya.
Kini istriku terbaring menelentang,kedua tangannya terentang mempertunjukkan ketiaknya yang bersih sementara dua bukit didadanya yang berukuran 38 dengan putting merah dadu berguncang pelan akibat gerakan nya. Kiyat melongo berdecak kagum.” Gila… tau kaya gini bodilu, dulu 2 gue embat “ istriku tersenyum “
sekarang juga sama aja kok “ sahutnya. Jemari kiyat memilin putting istriku bergantian dan meremas bukit yang mengkal tersebut. Lalu perlahan mulutnya menyusuri buah dada istriku dan melumatnya. ‘ akhh..”
desah istriku. Kiyat merenggangkan kedua paha istriku dan memperhatikan gundukan kecil berbulu lebat . ditempelkannya batang kejantanannya dimulut kemaluan istriku , perlahan dotekan dan blesss masuklah batang
kontolnya kedalam benda kesayanganku.
Perlahan digoyangnya tubuh istriku yang montok . aku betul betul horny melihat tersebut. Serasa mimpi , khayalanku terlaksana juga. Kontan saja kontolku pun mngacung tegang
didalam celana menyaksikan istriku melayani lelaki lain dihadapanku.
Ada lebih kurang 20 menit berlalu Tubuh montok istriku yang putih mulus mulai di basahi keringat. Dalam posisi missionaries, badan istriku
didekap erat oleh kiyat. Kedua tangan kiyat menyelusup lewat ketiak istriku sesekali diangkat ketika mulut kiyat melumat buah dada dan putting istriku.
Sementara kulihat bagian bawah kiyat merapat diselangkangan istriku. Sesekali tampak merenggang memperlihatkan rambut rambut pada kemaluan mereka yang saat ini saling bertautan. Sesekali pula kulihat batang kiyat yang kini mulai basah oleh lender istriku terangkat lalu menghujam kembali kelubang surga istriku.
Tiba-tiba istriku melenguh “ uhhh.. akhuu muuu kelluarhh .. oh.hh” dan nampak merah padam muka istriku pertanda dia orgasme telah sampai. Sesaat terdiam mereka lau istriku mendorong perlahan tubuh kiyat menjauhi
selangkangannya.

Kiyat mencabut kontolnya. Istriku mengambil kain di kasur dan mengelap cairan dimemeknya. Etelah kering kembali telentang. Kiyat berujar kepadaku “wahh.. enak luh barangnya.. sedep betul son
binilu, sori ya..” katanya sambil cengengesan dan hendak memulai kembali
kegiatan mereka.
Diangkatnya kaki kanan istriku dan disampirkan dipundak kiyat, lalu kiyat memasukkan batangnya menerobos liang istriku. Setelah masuk semua , kembali digoyagkannya kemaluan istriku. Istriku menggoyangkan pantatnya mengimbangi gerakan kiyat.
Tak lama berselang kiyat melenguh, “ ohh.. gue mau keluar saying. Dimana..?” “ didalam saja
saying, biar enak “ sahut istriku. Kiyat mendorong lebih dalam batangnya hingga masuk rahim istriku. “ aw… jangan dalem dalem masuk kerahim ntar
“ kata istriku tapi kiyat tak perduli dia akan sampai malah ditekan
terus.
Istriku berusaha mendorong pinggul kiyat tapi kiyat menekan terus dan “ ohhhh….” Rupanya ia sudah melepas spermanya didalam rahim istriku.
Beberapa saat kiyat mencabut kontolnya yang berlepotan sperma mereka. Istriku ngedumel pelan. Koh kiyat gimana sih udah dibilang jangan dalem eh malah diteken. Masuk deh kerahim nih”.
“ kan biar lu cepet punya anak
“ kata kiyat. Aku hanya mesem saja . istriku berlalu kekamar mandi
membersihkan dirinya.
” Thankyou ya son, elu udah kasih kesenangan buat gue “ kiyat masih terengah engah mengucapkan kepadaku. Aku kembali senyum.
Namun kontolku masih kenceng sekali , aku tak tahan dan membuka seluruh pakaianku, telanjang bulat. Ketika mirah keluar dari kamar mandi langsung kudorong kekasur dan kusetubuhi. Kiyat berlalu kekamar mandi

Perawanku – Cuaca malam itu sungguh tidak bersahabat diman sejak jam sebelas tadi hujan gak kunjung berhenti deras
sekali disertai petir yang menyambar, di depan pintu kamar periksa ada pak Yoga, dia seorang dokter
yang sedang piket terlihat dia sedang asyk membaca buku. Umurnya yang kepala tiga masih nampak cakep
dan gagah.
Hampir delapan tahun dia bekerja di rumah sakit ini, dia mempunyai istri yang masih muda dikarunia dua
anak yang masih lucu lucu, karena sudah delpan tahun bekerja disini maka kesepian udah menjadi
makanannya setiap hari apabila dia saat jaga terdengar suara aneh sosok bayangan tapi hal itu di buat
biasa karena sudah kebal.
Pak dokter Yoga masih terus juga membaca buku yang sengaja dia bawa dari rumah. Hening sekali suasana
di sana, bunyi yang terdengar hanya bunyi rintik hujan, angin. Tak lama kemudian terdengar bunyi lain
di lorong itu, sebuah suara orang melangkah, suara itu makin mendekat sehingga mengundang perhatian
dokter itu.
“Siapa tuh ya, malem-malem ke sini ?” tanya dokter Yoga dalam hati.
Suara langkah makin terdengar, dari tikungan lorong muncul lah sosok itu, ternyata seorang gadis
cantik berpakaian perawat dan berjilbab lebar. Di luar seragamnya dia memakai jaket cardigan pink
berbahan wol untuk menahan udara dingin malam itu. Suster itu ternyata berjalan ke arahnya.
“Permisi, Pak” sapanya pada Yoga dengan tersenyum manis.
“Malam Sus, lagi ngapain nih malem-malem ke sini” balas Yoga.
“Ohh…hehe…anu Pak abis jaga malam sih, tapi belum bisa tidur, makannya sekalian mau keliling-keliling
dulu”
Dokter Yoga bingung sebab tidak tahu kalau suster itu juga jaga. Maka Yoga bertanya, “Oh iya kok saya
rasanya baru pernah liat Sus disini yah ?” tanya Yoga.
“Iya Pak, saya baru pagi tadi sampai disini, pindahan dari rumah sakit *****” jawabnya, “jadi sekalian
mau ngenal keadaan disini juga
“Oo…pantes saya baru liat, baru toh” kata Pak dokter Yoga. Agen Obat Kuat Pasutri
“Emang bapak kira siapa ?” tanyanya lagi sambil menjatuhkan pantatnya pada bangku panjang dan duduk di
sebelah Yoga.
“Wow, hoki gua” kata pria itu dalam hati kegirangan.
“Dikirain suster ngesot yah, hahaha” timpal dokter Yoga mencairkan suasana. “Hehehe dikira suster
ngesot, nggak taunya suster cantik” sambung Yoga lagi tertawa untuk menghangatkan suasana.
“Kalau ternyata memang iya gimana Pak” kata gadis itu dengan suara pelan dan kepala tertunduk yang
kembali membuat pria itu merasa aneh.
Tiba-tiba gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tangan dan tertawa cekikikan.
“Hihihi…bapak dokter ini lucu ah, sering jaga malam kok digituin aja takut” tawanya.
“Wah-wah suster ini kayanya kebanyakan nonton film horror yah, daritadi udah dua kali bikin kita nahan
napas aja” kata Pak Yoga.
“Iya nih, suster baru kok nakal ya, awas Bapak laporin loh” kata Yoga menyenggol tubuh samping gadis
itu. Sebentar kemudian suster itu baru menghentikan tawanya, dia masih memegang perutnya yang
kegelian.
“Hihi…iya-iya maaf deh pak, emang saya suka cerita horror sih jadi kebawa-bawa deh” katanya.
“Sus kalau di tempat gini mending jangan omong macem-macem deh, soalnya yang gitu tuh emang ada loh”
sahut dakter Yoga dengan wajah serius.
“Iya Pak, sori deh” katanya “eh iya nama saya Farah Puspita, panggil aja Farah, suster baru disini,
maaf baru ngenalin diri…emmm Bapak dokter siapa yah?” sambil melihat ke dokter itu.
“Kalau saya Suherman, tapi biasa dipanggil Yoga aja, saya yang jadi dokter jaga di sini malam” pria
setengah baya itu memperkenalkan diri.
“Omong-omong Sus ini sudah lama di RS ini?” tanya si dokter.

Cerita Sex Menghamili Suster Polos
“Ya belum sih” kata Suter Farah.
“Pantas baru saya lihat, saya sudah lihat namanya dalam jadwal tapi baru inilah saya lihat orangnya.
Cantik!” kata Yoga sambil memandang wajah cantik yang sedang mengobrol dengannya itu.
Malam itu dokter Yoga merasa beruntung sekali mendapat teman ngobrol seperti suster Farah, biasanya
suster-suster lain paling hanya tersenyum padanya atau sekedar memberi salam basa-basi. Maklumlah
mereka semua tahu kalau dokter Yoga sudah beristri dan punya dua anak.
Mereka pun terlibat obrolan ringan, pria itu tidak lagi mempedulikan buku bacaannya dan mengalihkan
perhatiannya pada suster Farah yang ayu itu. Sejak awal tadi dokter Yoga sudah terpesona dengan gadis
ini.
Pria normal mana yang tidak tertarik dengan gadis berkulit putih mulus berwajah kalem seperti itu,
rambut hitamnya disanggul ke belakang tampak terbayang walau tertutup dengan jilbab panjangnya yang
putihnya, tubuhnya yang padat dan montok itu lumayan tinggi (168 cm), pakaian perawat dengan bawahan
rok panjang itu menambah pesonanya.
Suster Farah sendiri baru berusia 24 tahun dan belum menikah. Untuk gadis secantik Farah sebenarnya
tidak begitu susah mendapat pasangan ditambah lagi dengan bodinya yang montok dan padat, tentu banyak
lelaki yang mau dengannya.
Tapi sejauh ini belum ada pria yang cocok di hati Suster Farah. Sebagai wanita alim berjilbab dia
sangat menjaga pergaulannya dengan lawan jenis. Namun malam ini dia gelisah juga melihat dokter Yoga
yang tampan dan gagah itu.
Sayang dia sudah beristri, keluh Suster Farah dalam hati. Namun hati kecilnya tidak dapat dibohongi
bahwa dia suka pada dokter Yoga itu.
Yoga, si dokter, makin mendekatkan duduknya dengan gadis itu sambil sesekali mencuri pandang ke arah
belahan dadanya membayang di balik baju panjang dan jilbab panjangnya.
Suasana malam yang dingin membuat nafsu pria itu mulai bangkit, apalagi Pak Yoga sudah seminggu tidak
ngentot istrinya karena lagi datang bulan dan walaupun istri Yoga lebih cantik dari Suster Farah, tapi
dalam hal bodinya tentu saja kualitasnya kalah dengan suster muda di sebelahnya ini.
Semakin lama dokter Yoga semakin berani menggoda suster muda yang alim itu dengan guyonan-guyonan
nakal dan obrolan yang menjurus ke porno. Suster Farah sendiri sepertinya hanya tersipu-sipu dengan
obrolan mereka yang lumayan jorok itu.
“Terus terang deh Sus, sejak Sus datang kok disini jadinya lebih hanget ya” kata Yoga sambil
meletakkan tangannya di lutut Farah dan mengelusnya ke atas sambil menarik rok panjang suter berjilbab
itu sehingga pahanya mulai sedikit tersingkap.
“Eh…jangan gitu dong Pak, mau saya gaplok yah ?!” Farah protes tapi kedua tangannya yang dilipat tetap
di meja tanpa berusaha menepis tangan pria itu yang mulai kurang ajar.
“Ah, Sus masa pegang gini aja gak boleh, lagian disini kan sepi gini, dingin lagi” katanya makin
berani, tangannya makin naik dan paha yang mulus itupun semakin terlihat.
“Pak saya marah nih, lepasin gak, bapak kan sudah punya istri, saya itung sampai tiga” wajah Farah
kelihatannya BT, matanya menatap tajam si dokter yang tersenyum mesum.
“Jangan marah dong Sus, mendingan kita seneng-seneng, ya?” sahut Dokter Yoga, entah sejak kapan tiba-
tiba saja pria tidak tau malu itu sudah di sebelahnya .
Dokter jaga itu dengan berani merangkul bahu Farah dan tangan satunya menyingkap rok suster muda itu
di sisi yang lain. Suster itu tidak bergeming, tidak ada tanda-tanda penolakan walau wajahnya masih
terlihat marah.
“Satu…” suster itu mulai menghitung namun orang itu malah makin kurang ajar, dan tangannya makin nakal
menggerayangi paha yang indah itu, “dua…!” suaranya makin serius.
Entah mengapa suster itu tidak langsung beranjak pergi atau berteriak saja ketika dilecehkan seperti
itu. Si pria yang sudah kerasukan nafsu itu menganggapnya sandiwara untuk meninggikan harga diri
sehingga dia malah semakin nafsu.
“Tig…” sebelum suster Farah menyelesaikan hitungannya dan bergerak, si dokteritu sudah lebih dulu
mendekapnya dan melumat bibirnya yang tipis.
“Mmm…mmhh !” suster itu berontak dan mendorong-dorong Yoga berusaha lepas dari dekapannya namun
tenaganya tentu kalah darinya, belum lagi dokter Yoga juga mendekapnya serta menaikkan rokknya lebih
tinggi lagi. Farah merasa hembusan angin malam menerpa paha mulusnya yang telah tersingkap, juga
tangan kasar dokter itu mengelusinya yang mau tak mau membuatnya terangsang.
“Aahh…jangan…mmhh !” Farah berhasil melepaskan diri dari cumbuan si dokter tapi cuma sebentar, karena
ruang geraknya terbatas bibir mungil itu kembali menjadi santapan Yoga.
Lalu tangan Pak Yoga mulai meremas-remas dadanya yang masih tertutup seragam suster dan jilbab
lebarnya – Yoga dapat merasakan kalau tetek suster alai mini masih kencang dan padat pertanda belum
pernah dijamah lelaki lain – sementara tangan satunya tetap mengelus paha indahnya yang menggiurkan.
Farah terus meronta, tapi sia-sia malah pakaian bawahnya semakin tersingkap dan jilbab lebar perawat
itu nyaris copot. Pak Yoga melepaskan jaket cardigan pinknya suster Farah sehingga tinggal baju
seragam perawatnya yang terlihat.
Lama-lama perlawanan suster Farah melemah, sentuhan-sentuhan pada daerah sensitifnya telah meruntuhkan
pertahanannya. Birahinya bangkit dengan cepat apalagi suasananya sangat mendukung dengan hujan yang
masih mengguyur dan dinginnya malam.
Ditambah lagi hati kecil suka dengan dokter Yoga. Bulu kuduk Farah merinding merasakan sesuatu yang
basah dan hangat di lehernya. Ternyata dokter Yoga itu sedang menjilati lehernya yang jenjang dengan
menyingkapkan jilbab panjang suster alim itu, lidah itu bergerak menyapu daerah itu sehingga
menyebabkan tubuh Farah menggeliat menahan nikmat.
Mulut Farah yang tadinya tertutup rapat-rapat menolak lidah Yoga kini mulai membuka. Lidah kasap si
doketr itu langsung menyeruak masuk ke mulut suster berjilbab itu dan meraih lidahnya mengajaknya
beradu lidah.
Farah pun menanggapinya, lidahnya mulai saling jilat dengan lidah pria itu, liur mereka saling
tertukar. Sementara Pak Yoga mulai melucuti kancing bajunya dari atas dan sekaligus mencopot jilbab
panjang suster Farah.
Tangan perkasa dokter itu menyusup ke dalam cup branya, begitu menemukan putingnya benar-benar masih
kencang dan padat, belum terjamah lelaki lain lalu langsung dimain-mainkannya benda itu dengan
gemasnya.
Di tengah ketidak-berdayaannya melawan dokter brengsek itu, Farah semakin pasrah membiarkan tubuhnya
dijarah. Tangan doketr Yoga menjelajah semakin dalam, dibelainya paha dalam gadis itu hingga menyentuh
selangkangannya yang masih tertutup celana dalam.
Sementara baju atasan Farah juga semakin melorot sehingga terlihatlah bra biru di baliknya.
“Kita ke dalam aja biar lebih enak” kata Pak Yoga.
“Kamu emang kurang ajar yah, kita bisa dapet masalah kalau gak lepasin saya !” Farah masih
memperingatkan dokter itu.
“Udahlah Sus, kurang ajar- kurang ajar, kan lu juga suka ayo !” Yoga narik lengan suster itu bangkit
dari kursi. “Sus, seneng-seneng dikit napa? Dingin-dingin gini emang enaknya ditemenin cewek cantik
kaya Sus” lanjut Pak Yoga.
Dokter Yoga menggelandang suster alim itu ke ruang periksa pasien tempat mereka berjaga. Farah disuruh
naik ke sebuah ranjang periksa yang biasa dipakai untuk memeriksa pasien. Selanjutnya pria itu
langsung menggerayangi tubuh Virna yang terduduk di ranjang.
Yoga menarik lepas celana dalam gadis alim itu hingga terlepas, celana itu juga berwarna biru, satu
stel dengan branya. Kemudian ia berlutut di lantai, ditatapnya kemaluan suster alim itu yang ditumbuhi
bulu-bulu yang lebat, bulu itu agaknya rajin dirawat karena bagian tepiannya terlihat rapi sehingga
tidak lebat kemana-mana.
Farah dapat merasakan panasnya nafas pria itu di daerah sensitifnya. Pak Yoga mempreteli kancing baju
atasnya yang tersisa, lalu bra itu disingkapnya ke atas. Kini terlihatlah payudara suster Farah yang
berukuran sedang sebesar bakpao dengan putingnya berwarna coklat.
“Uuuhh…Pak!” desah Faraha ketika lidah Pak Yoga menelusuri gundukan buah dadanya. Lidah itu bergerak
liar menjilati seluruh payudara yang kencang dan padat itu tanpa ada yang terlewat, setelah basah
semua, dikenyotnya daging kenyal itu, puting mungil itu digigitinya dengan gemas.
“Aahh !” tubuh Farah tiba-tiba tersentak dan mendesah lebih panjang ketika dirasakannya lidah panas
Yoga mulai menyapu bibir vaginanya lalu menyusup masuk ke dalam. Maklum Yoga sudah pengalaman
merangsang wanita.
Farah sebagai gadis alim sebenarnya jijik melakukan hal ini dengan dokter Yoga ini, tapi rupanya
libidonya membuatnya melupakan perasaan itu sejenak. Mulut Pak Yoga kini merambat ke atas menciumi
bibirnya, sambil tangannya tetap menggerayangi payudaranya.
Kemudian dokter itu kembali menghisap memek suster ini, si dokter makin membenamkan wajahnya di
selangkangan Farah, lidahnya masuk makin dalam mengais-ngais liang kenikmatan suster muda itu
menyebabkan Farah menggelinjang dan mengapitkan kedua paha mulusnya ke kepalanya Yoga.
“Nah, sekarang tinggal kita mulai Sus” kata Pak Yoga membuka pakaiannya “pokoknya malam ini Bapak
bakal muasin Sus hehehe!”
Farah tertegun melihat pria gagah itu sudah telanjang bulat di hadapannya, tubuhnya terbilang kekar,
penisnya yang sudah menegang itu lumayan besar juga dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat.
Dia naik ke ranjang ke atas tubuh gadis alim itu, wajah mereka saling bertatapan dalam jarak dekat.
Kali tanpa penghalang sebab jilbab panjang suster alim itu sudah dicopot dokter Yoga. Pak Yoga begitu
mengagumi wajah cantik Farah, dengan bibir tipis yang merah merekah, hidung bangir, dan sepasang mata
indah yang nampak sayu karena sedang menahan nafsu.
“Pak, apa ga pamali main di tempat ginian ?” tanya Farah.
“Ahh…iya sih tapi masabodo lah, yang penting kita seneng-seneng dulu hehehe” habis berkata dia
langsung melumat bibir gadis itu. Mereka berciuman dengan penuh gairah, Farah yang sudah tersangsang
berat itu melingkarkan tangannya memeluk tubuh Pak dokter Yoga.
Ia masih memakai seragam susternya yang sudah terbuka dan tersingkap di mana-mana, bagian roknya saja
sudah terangkat hingga pinggang sehingga kedua belah pahanya yang jenjang dan mulus sudah tidak
tertutup apapun.
Pak Yoga sudah seminggu lamanya tidak menikmati kehangatan tubuh wanita sebab istrinya lagi datang
bulan sehingga dia begitu bernafsu berciuman dan menggerayangi tubuh Farah. Mendapat kesempatan
bercinta dengan gadis seperti Farah bagaikan mendapat durian runtuh.
Belum pernah dia merasakan yang sesintal dan montok ini, bahkan istrinya pun tidak ada apa-apanya bila
dibandingkan dengannya meskipun lebih cantik dari pada Suster Farah.
Setelah lima menitan berciuman sambil bergesekan tubuh dan meraba-raba, mereka melepas bibir mereka
dengan nafas memburu.
Pak Yoga mendaratkan ciumannya kali ini ke lehernya. Kemudian mulutnya merambat turun ke payudaranya,
sebelumnya dibukanya terlebih dulu pengait bra yang terletak di depan agar lebih leluasa menikmati
dadanya.
“Eemmhh…aahhh…aahh !” desahnya menikmati hisapan-hisapan dokter jaga itu pada payudaranya, tangannya
memeluk kepala yang rambutnya lebat dan hitam itu.
Farah merasakan kedua putingnya semakin mengeras akibat rangsangan yang terus datang sejak tadi tanpa
henti. Sambil menyusu, pria itu juga mengobok-obok vaginanya, jari-jarinya masuk mengorek-ngorek liang
senggamanya membuat daerah itu semakin basah oleh lendir.
“Bapak masukin sekarang yah, udah ga tahan nih !” katanya di dekat telinga Farah.
Suster Farah hanya mengangguk. Pak Yoga langsung menempelkan penisnya ke mulut vagina gadis alim itu.
Terdengar desahan sensual dari mulut gadis itu ketika Pak Yoga menekan penisnya ke dalam.
“Uuhh…sempit banget Sus, masih perawan ga sih ?” erang pria itu sambil terus mendorong-dorongkan
penisnya.
Farah mengerang kesakitan dan mencengkram kuat lengan pria itu setiap kali penis itu terdorong masuk
ke dalam memeknya yang masih rapet itu. Setelah beberapa kali tarik dorong akhirnya penis itu
tertancap seluruhnya dalam vagina suster alim itu. Darah mengalir dari memek suter alim itu.
“Weleh-weleh, enaknya, legit banget Sus kalau masih perawan” komentar pria itu, “Belum pernah ngentot
ya Sus sebelumnya, kalo boleh tau ?”
Sebagai jawabannya Farah menarik wajah pria itu mendekat dan mencium bibirnya, agaknya dia tidak
berniat menjawab pertanyaan itu.
Pak Yoga mulai menggoyangkan pinggulnya memompa vagina gadis itu. Desahan tertahan terdengar dari
mulut Farah yang sedang berciuman. Pria itu memulai genjotan-genjotannya yang makin lama makin
bertenaga.
Lumayan juga sudah seusia hampir kepala empat tapi penisnya masih sekeras ini dan sanggup membuat
gadis alim itu menggelinjang. Dia mahir juga mengatur frekuensinya agar tidak terlalu cepat kehabisan
tenaga.
Sambil menggenjot mulutnya juga bekerja, kadang menciumi bibir gadis itu, kadang menggelitik
telinganya dengan lidah, kadang mencupangi lehernya. Suster Farah pun semakin terbuai dan menikmati
persetubuhan beda jenis ini.
Dia tidak menyangka pria seperti dokter itu sanggup membawanya melayang tinggi. Pria itu semakin
kencang menyodokkan penisnya dan mulutnya semakin menceracau, nampaknya dia akan segera orgasme.
“Malam masih panjang Pak, jangan buru-buru, biar saya yang gerak sekarang !” kata gadis perawat itu
tanpa malu-malu lagi.
Pak Yoga tersenyum mendengar permintaan suster itu. Merekapun bertukar posisi, Pak Yoga tiduran
telentang dan Farah menaiki penisnya. ceritasexdewasa.org Batang itu digenggam dan diarahkan ke vaginanya, Farah lalu
menurunkan tubuhnya dan desahan terdengar dari mulutnya bersamaan dengan penis yang terbenam dalam
vaginanya.
Mata Pak Yoga membeliak saat penisnya terjepit diantara dinding kemaluan Farah yang sempit. Ia mulai
menggerakkan tubuhnya naik turun dengan kedua tangannya saling genggam dengan pria itu untuk menjaga
keseimbangan.
“Sssshhh…oohh…yah…aahh !” Farah mengerang sambil menaik-turunkan tubuhnya dengan penuh gairah.
Tangannya meraih ujung roknya lalu ditariknya ke atas seragam yang berupa terusan itu hingga terlepas
dari tubuhnya. Seragam itu dijatuhkannya di lantai sebelah ranjang itu, tidak lupa dilepaskannya pula
bra yang masih menyangkut di tubuhnya sehingga kini tubuhnya yang sudah telanjang bulat terekspos
dengan jelas.
Sungguh suster Farah memiliki tubuh yang sempurna, buah dadanya montok dan proporsional, perutnya rata
dan kencang, pahanya juga indah dan mulus, sebuah puisi kuno melukiskannya sebagai kecantikan yang
merobohkan kota dan meruntuhkan negara.
Kembali Farah dan dokter jaga itu memacu tubuhnya dalam posisi woman on top. Farah demikian liar
menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Pak dokter Yoga, dia merasakan kenikmatan saat penis itu
menggesek dinding vagina dan klitorisnya.
“Ayo manis, goyang terus…ahh…enak banget !” kata Pak Yoga sambil meremasi payudara gadis itu.
Wajah Farah yang bersemu merah karena terangsang berat itu sangat menggairahkan di mata Pak Yoga
sehingga dia menarik kepalanya ke bawah agar dapat mencium bibirnya.
Akhirnya Farah tidak tahan lagi, ia telah mencapai orgasmenya, mulutnya mengeluarkan desahan panjang.
Pak Yoga yang juga sudah dekat puncak mempercepat hentakan pinggulnya ke atas dan meremasi payudara
itu lebih kencang.
Ia merasakan cairan hangat meredam penisnya dan otot-otot vagina suster alim itu meremas-remasnya
sehingga tanpa dapat ditahan lagi spermanya tertumpah di dalam dan membanjir, maklum sudah seminnggu
gak dikeluarkan.
Setelah klimaksnya selesai tubuh Farah melemas dan tergolek di atas tubuh dokter itu. Virna yang baru
berusia 24 tahun itu begitu kontras dengan pria di bawahnya yang lebih pantas menjadi bapaknya, yang
satu begitu ranum dan segar sementara yang lain sudah agak tua.
“Asyik banget Sus, udah selama seminggu saya gak ginian loh !” ujar Pak Yoga dengan tersenyum puas.
“Gile nih malem, ga nyangka bisa dapet yang ginian” dia seperti masih belum percaya hal yang
dialaminya itu.
Ketika sedang asyik memandangi Farah, tiba-tiba Pak Yoga nafsunya bangkit lagi dan minta jatah sekali
lagi. Tangan Yoga terus saja menggerayangi tubuh Farah, kadang diremasnya payudara atau pantatnya
dengan keras sehingga memberi sensasi perih bercampur nikmat bagi gadis itu.
Sedangkan Pak Yoga sering menekan-nekan kepala gadis itu sehingga membuat Farah terkadang gelagapan.
“Gila nih doketer, barbar banget sih” kata Farah dalam hati.
Walau kewalahan diperlakukan seperti ini, namun tanpa dapat disangkal Farah juga merasakan nikmat yang
tak terkira. Tak lama kemudian Yoga menyiorongkan penisnya lalu berpindah ke mulut Farah.
Farah kini bersimpuh di depan pria yang senjatanya mengarah padanya menuntut untuk diservis olehnya.
Farah menggunakan tangan dan mulutnya bergantian melayani penis itu hingga akhirnya penis Yoga meledak
lebih dulu ketika ia menghisapnya.
Sperma si doketr langsung memenuhi mulut gadis itu, sebagian masuk ke kerongkongannya sebagian meleleh
di bibir indah itu karena banyaknya. Pria itu melenguh dan berkelejotan menikmati penisnya dihisap
gadis itu.
Tak lama kemudian Pak Yoga pun menyemburkan isi penisnya dalam kocokan Farah, cairan itu mengenai
wajah samping dan sebagian rambutnya. Tubuh Farah pun tak ayal lagi penuh dengan keringat dan sperma
yang berceceran.
“Sus hebat banget, sepongannya dahsyat, saya jadi kesengsem loh” puji Yoga ketika beristirahat
memulihkan tenaga.
“Sering-sering main sini yah Sus, saya kalau malem kan sering kesepian hehehe” goda Pak Yoga.
Farah tersenyum dengan hanya melihat pantulan di cermin, katanya, “Kenapa nggak, saya puas banget
malem ini, mulai sekarang saya pasti sering mendatangi dokter”
Jam telah menunjukkan pukul setengah dua kurang, berarti mereka telah bermain cinta selama hampir satu
setengah jam.
Farah pun berpamitan setelah memakai jaket pinknya dan memakai kembali jilbab putih panjangnya.
Sebelum berpisah ia menghadiahkan sebuah ciuman di mulut. Yoga membalas ciuman itu dengan bernafsu,
dipeluknya tubuh padat dan montok itu sambil meremas pantatnya selama dua menitan.
“Nakal yah, ok saya masuk dulu yah !” katanya sebelum membalik badan dan berlalu.
Lelah sekali Yoga setelah menguras tenaga dengan perawat alim yang cantik itu sehingga selama sisa
waktu itu agak terkantuk-kantuk. Setelah pagi mereka pun pulang dan tertidur di tempat masing-masing
dengan perasaan puas.
Setiap kali kalau ada jadwal piket bersama, mereka selalu ngentot. Dokter Yoga bermaksud menjadikan
Suster Farah yang alim berjilbab sebagai istri keduanya, oleh sebab itu dokter Yoga tidak memakai alat
kontrasepsi apa pun jika ngentot dengan Suster Farah.
Yoga ingin wanita alim itu hamil, hingga terpaksa mau menikah dengannya sebagai istri keduanya. Hebat
Dokter Yoga!
cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,


Perawan – kenikmatan pagi ini bener2 susah di gambarkan hingga terlelap dalam keadaan tanpa busana sedangkan wanitaku ini masih asik mengelus2 dadaku,saat terbangun rasa2 tak percaya karna yang ku alami pagi ini lebih indah dari mimpi2 yang ada…bener kata salah satu host di acara2 reality show,”ketika seseorang jatuh cinta,realita lebih indah dari mimpi” hahahaha…
ku lihat jam dinding udah menunjukan jam 11 hanya menggunakan boxer ketat pemancing ibu2 ini aku mencari2 kemana nih bidadari yang memberikan kenikmatan pagi tadi,ternyata beliau sedang asik dengan acara gosip pagi ini yang ga jelas apa ceritanya…dari belakang kulingkarkan tangan ku di leher nya dan mngececup mesra ubun dan pundaknya…
“terima kasih cintaku” kata2 itu yang bisa kuungkapkan…dengan wajah tersipu malu buk el membalas mencium pipiku
“ga malu apa ngomong cinta ama emak2,hahahha”
Cerita Mesum Bergambar | pagi menjelang siang itu aku menemaninya menonton acara gosip yang akupun tak tau siapa yang di bicarakan host nya ini,aku bersandar pada pinggiran tangan sofa setengah tiduran sedangkan buk el bersandar pada dadaku…mulai dari bahu hingga punggung tangannya tak hentinya2 ku elus,dan sesekali menciumi tepian bibir buk el…ya aku suka baunya,satu jam sudah buk el bangkit dari pelukanku.
“ibuk cuci piring dlu dika”…dengan menengadahkan kepalanya,serta merta kusambut dengan gigitan lembut pada bibir tebalnya itu…memang benar laki2 ini syahwat nya ga mesti ada angin dan hujan…kapan saja bisa bangkit karna memang seperti itulah kodrat nya…baru saja sekitar 5 menitan di tinggal buk el dan lagi asik merokok dan tiduran di sofa nafsu ini bangkit lagi…aku berjalan ke arah dapur..
punggung sampai pantat wanita ku ini jadi santapan mataku lagi…perlahan ku berjalan mendekati,dia menoleh dan sadar akan kedatangan ku…tangan ku melingkar di pinggangnya dan satu lg menyibak an rambutnya ke samping…kepala ku bertengger di bahu wanita setengah baya ini…
“issshhh baru juga ditinggal sebentar kok datang2 ada yg mancung ya hihihihi”
“abis keinget terus ama pantat semok ini sih,apalagi bau yang keluar dari sana hhhmmmmmffff ga bisa dika lupain”
“kok pantat bau gtu mau dika ciumin,ga kebauan apa”
tanpa menjawab pertanyaan nya tangan ku mencoba menurunkan rok kembang yang digunakannya buk el membantu dengan sedikit menyunggingkan pantatnya ke belakang…daging besar dengan sejuta kenikmatan yang tersimpan itu kembali menyuguhkan keindahan nya…
“buuukkkk,mulai besok klo ada dika jangan pake rok lagi mau ga”…dengan suara ku buat merayunya,seperti anak kecil yang merayu ibunya minta di belikan mainan.
“ibuk kan malu dika,celana dalam ibu jelek2 semua”
“dika kan ga mau sama celana dalam nya,tapi sama isi dalamannya hihihi” sambil ku cium telinganya..
“hhhhmmmmm iya deh buat uda awak yang gagah ko apo se di agiah ma (iya deh buat uda ku ini yang gagah apa saja pasti di turuti)”
tanpa membuka celana dalam nya posisi kepala ku sudah sejajar dengan pantat semok idamanku ini…ku ciumi dari luar celana dalamnya pinggiran nya paha belakangnya aku menghirup dalam setiap sensai dari bau yang ada di sana…sssssssshhhhhhh hhhmmmmmmfffff ibuk mulai merasakannya paha nya sedikit di renggangkan…perlahan kusingkapkan pinggiran celana dalam nya itu hingga menampakkan belahan pantat yang paling ku suka bau nya…buk el paham dengan keinginanku siku nya di tempelkan ke bak cuci piring dan pantatnya semakin mendorong ke belakang…mulai dari bagian atas belahan nya hidung ku turun perlahan kebawah sambil menghirup aromanya…jempolku perlahan membuka lipatan itu hmmmmm baunya langsung menusuk hidungku…bau khas dari lubang pantat buk el….kudorong hidungku hingga mencapai lubangnya ku ingin selalu menciumi bau ini pikirku…akkkkkhhhhhhh buk el mendesah sedikit keras…setelah puas lidah ku kembali menjilati dan menari di sana sesekali ku hisap lobang pantat itu buk el gemetaran menerima serangan lidahku tangan nya berusaha menggapai kepala ku tapi tak kunjung dapat…
akkkkkhhhh ssssssshhhhh ondehh dikkaaaa taruiihh nakkkhhhh taruihhhhh…lamak bannhhaaa rasonyhooooo… jilekan taruih lubang lancirik el tu udaaaaaa aaakkkkkkkhhhhh (akkkkhhhh ssssshhhh ondeh dikaaaa teruuussshhh naaaakkkhhh teruuussshhhh…enak beneerr rasanyaaa…jilatin terus lobang pantat el tu udaaaa aaakkkkhhh)dia mulai memanggil ku dengan uda bertambah semangatlah lidah ini menari di sana…ku angkar sedikit kepala ku..
“bia dika jilekan tiok hari lubang lancirik ko…
dika suko bana jo baunnyo…ndak ka pueh2 dika mambaunan jo manjileknyo do el…(biar dika jilatin tiap hari lubang pantat ini…dika suka sekali baunya..ga bakalan puas dika menciumi ama menjilati nya el) akupun mengubah ibu menjadi sebutan namanya…
“aaakkkkhhh ssshhhh iyo udaaa…lubang itu punyo uda sadonyo di badan el kini untuak udhhhaaa akkkkhhhhh lamakkkk nyooooo….(akkkkhhhh sshshhhhh iya udaa…lobang itu punya uda semuanya di badan el sekarang milik uddhhhaaaa akkkkhhhh enakkk nyaaaa) pantat nya menjadi liar tak karuan…
20 menitan lidahku menari di sana…ku berbaring di bawah pantatnya dan kedua tangan ku menarik pantat nya kebawah…sekarang posisi ku tertidur di lantai dapur dan buk el dengan posisi mengangkangi kepala ku…bau dari sisa air liur ku dan bau dari meqinya buk el terasa keras di hidungku…buk el sedikit binggung mungkin cara ini tak pernah dia lakukan dan dalam adat kami perempuan mengangkangi kepala laki2 seperti ini masih aneh…walau dalam posisi bercinta sekalipun…jengger hitam itu dan lobang nya yang sedikit menganga kunikmati terlebih dahulu…
ku raba halus dengan hidungku dan kubenamkan sedalam dalamnya…buk el dengan kedua tangannya langsung memegang rambutku dan meremas nya…akkkkhhhh enaknyaaa…ku jilati jengger ayam kehitaman itu sesekali lidahku menerobos liang kenikmatannya bunyi dari hisapanku terdengar sangat merdu..buk semakin kewalahan tak hanya diam pantat nya maju mundur menikmati sensasi yang baru di rasakannya ini…mukaku habis belepotan air liurku sendiri karna meqi nya menyusuri seluruh wajahku…akkkhhhh ondeeehh mandeeeee lamaaakkk…
teruuusssshhh uda hebaaat manjilek an ipam elll…akkkkkhhhh (terussshhh uda hebaat menjilati meqi elll…akkkkhhhh) remasan di rambutku semakin keras pantat nya tak mau diam…tapi jilatan kupun tak mau kalah…aku tak mau wanitaku ini orgasme sekarang..ku hentikan jilatan ini…posisi buk el kembali ku buat menungging dengan tangan nya memegang pinggiran cucian piring…hmmmmm paha besar ini,pantat semok ini dan wanita bertubuh besar ini sungguh sangat indah dalam posisi ini…otong sudah siap untuk “bekerja” kepalanya ku gesekan ke belahan meqi buk el…agar kepalanya tau inilah lubang yang memberikannya kenikmatan…perlahan kepalanya kudorong…
seperti perkataannya pagi td…agar rasa ketika penis ku memasuki meqi nya semakin nikmat…aaakkkkhhhhh panjangnyhaaaa…kugoyang perlahan hingga sensasi nya benar2 kurasakan..akkkhhhh nikkhhhmaaattthhhh suara buk el sedikit keras tapi aku tak peduli malah semakin menikmatinya…karna dari dapur cukup jauh untuk sampai keluar…
“jan baranti udaa…goyang yang kancanggg…akkkkhhhh akkkhhhh sssshhhh ipam el kalamak an di antak model ikkhhooooo akkkkhh akkkhhhh (jangan berenti uda…goyang yang kencang…akkkhhh akkkkhhhh ssshhhh ipam el keenakan di tusuk seperti innniiii akkkkhhhh akkkkhhhh)keluar masuk penis ku ke dalam ipamnya buk el sangat indah di pandang…ohhh buk el sungguh nikmat tubuhmu wanitaku…akkkkhhhh akkkhhh akupun mulai hilang kendali sekarang kami bukan lagi mendesah seperti setengah berteriak…el ipam el yo sabana lamaaaakk…akkkkhhhh panatat buk el hilang kendali kiri kanan memutar…
sambil mengerang keenakan…goyanganku semakin cepat…bahkan sedikit menghantam…buk el terdorong ke depan tapi desahan nya semakin menjadi jadi..ondeeehhh akkkhhhh…laaaammaaaakkkk godhhoookkk udaaa dikaaaa kooo yo lamaaakkkhhh akkkkhhhh ell nio nembak udhaaa…el nio manembaaakkk akkkkhhhh…yang capek udaaaa akkkkkkhhhh (ondeeehhh akkkkhhhh….lamaaaaakkkkk konthhhtoolll udaaa dikkaaa ennaakkkhhh akkkhhh el mau sampai udhhaa…el mau nembaaakkk akkkhhhh…yang cepat udaaa akkkhhh…)
akupun merasakan hal yang sama kepala penisku terasa sangat geli tulang2ku serasa ngilu semuanya…iyooo ell udaaa nio sampai lo…akkkhh akkkhhh akkhhh pepek el lamaaakkkhhh akkkhhhh…
buk el terpekik sedikit lebih keras akkkkkkkhhhhhhhh uuuuuuggggghhhhhh hhhmmmmmfffff…wanitaku ku ini mencapai puncaknya…di waktu bersamaan penisku menembakan isi nya sekencang2nya…nnngggggghhhhhh..eeeelllllll….akkkkkhhhhh…kami mengerang bersamaan tangan ku meremas keras pinggul wanita berbadan gempal ini…ku benamkan sedalam2nya penisku…beberapa saat kemudia ku tarik penis ku dan menghela nfas panjang..akkkhhh sungguh bener nikmat…buk el sedikit gemetaran waktu akan meluruskan punggung nya…kubalikan dan kupeluk mesra seerat2nya tanganku melingkar di lehernya…peluh kami bersatu badan kami seperti satu..
buk el pun memeluk sangat erat pinggangku…”terima kasih cintaku…istri gelapku…”ucapku ditelinganya…kepalanya semakin terbenam di leherku dengan nafas yang belum teratur…
“iyooo uda,godok uda lamak bana rasonyo..el alah lamo ndak pernah marasoan iko lai…(iyaa uda,kontol uda lamak bana rasonyo..)”kutuntun dia ke kursi dapur dan kuangku tubuh nya yang bertelanjang bulat dalam keadaan masih tanpa busana…sedang asik2 nya menikmati keadaan ini…bagai suara petir suara pak amin berteriak dari depan rumah…
“el…el…kasiko lah sabanta…uda ado paralu…(el…el..kesini sebentar..uda ada perlu..) bagai pencuri yang di tangkap maling…kami dengan sangat buru2 membenahi sisa2 persetubuhan ini…hingga buk el lupa dengan celana dalam cream yang bertali longgar itu
mulai hari itu hampir setiap sore kami saling memuaskan diri…dan mulai saat itu setiap kami berduaan buk el memanggil ku uda…dan setiap ada gw d rumah buk el hanya menggunakan baju u can see yang ku belikan dan celana dalam…karna jika kami sedang tidak bercinta buk el dan aku selalu tidur2an di kamarku atau di sofa ruang tamu…pokok nya mulai hari itu aku dan buk el selalu sama2 ingin nempel satu sama lain..tapi ketika pekerjaan nya sudah beres…memang wanita yang bener2 pinter dalam mengurus rumah dan mengurus si otong hahahaha…aku selalu suka bau aroma keringatnya…sngguh bagai candu buatku…
terkadang kami d kamar buk el asik menonton tv dengan mengangkat tangannya ke atas..aku yang selalu menempel d belakangnya dan asik menciumi ketek nya…sungguh saat itu dunia begitu terasa indah…kami hanya terpisah ketika gw kerja atau waktunya jam tidur…karna jika dia sudah pulang..tidak berapa lama aku yang akan menyusul ke rumahnya…ngobrol2 dengan pak amin…
suatu hari pulang dari bekerja aku sudah membawa beberapa kantong pakaian beberapa untuk pak amin dan terkhusus untuk buk el ku ini…tapi ketika sampai d rumah tidak ada orang…ah mungkin dia sudah pulang…malamnya aku membawakannya ke rumah pak amin…
pak amin sangat senang ku belikan bebrapa potong kemeja batik..dan buk el kubelikan baju daster dan beberapa pakaian lainnya..pak amin tak henti2nya berterima kasih sedang buk el tersenyum sangat senang ku belikan oleh2 begitu…ketika pak amin pamit ke belakang kubisikan kepadanya…
“di rumah ada baju spesial menanti istriku ini…besok dika pulang kerja di pakai ya…dika letak an di lemari kamar…”
“hah spesial..baju apa sih uda,sampai ga di bawa langsung”sambil berbisik kepadaku…
“ada deh pokoknya pasti bagus d badan ibu”
keesokan harinya ketika gw sampai d rumah buk el membukakan pintu dan menggunakan daster sambil tersenyum malu2…ketika pintu di tutup daster itu di buka dan wooooowwww baju yang kubelikan semalam,baju transparan yang hanya sampai setengah pantatnya berwarna unggu…
lengkap dengan celana dalam G-string nya yang berwarna sama dan juga transparant,sebenernya hampir sama tak menggunakan baju karna sangat transparant…aku berdecak kagum tak menyangka bener2 membuat gairah ku meledak…
“ondeh mak..yo sexy bana bini si dika ko pakai iko…(ondeh mak…bener2 sexy istri si dika memakai ini)” buk el hanya malu2 ketika ku ucapkan itu…
dia langsung memeluk ku…
“mokasi banyak yo uda denai…laki denai yang gagah ko…lai rancak el pakai iko da..?”(makasi banyak ya uda denai (saya,aku,gw,ana)…laki denai yang gagah ini..bagus ga el memakai pakaian ini?)
“ndak cuma rancak do el,sexy rancak kamek sadonyo bacampua hahaha..”(ga cuma bagus el,sexy bagus kamek semuanya bercampur hahahha)tangan ku tak henti2nya meremas2 bokong besar dan indah nya itu hmmmmm…hmmmmm hanya itu desahan buk el dan meremas kepala belakang ku…sore itu dengan nafsu mengebu2 kembali ku setubuhi wanita berpantat besar ini dengan menggunakan pakaian barunya itu…
suatu malam lagi asik2 mengobrol bertiga di teras belakangnya rumah pak amin…gw menggunakan singlet dan boxer lapang…karna sudah dekat dengan keluarga ini jadi pak amin jg tak kebertan karna dia jg ga tau klo di balik boxer ini tak ada satupun penutup..
sedangkan buk el memakai daster selutut dan sepertinya tak menggunakan bra…karna memang kursi pangjangnya tidak terlalu panjang jadi klo duduk bertiga akan saling merapat…jadi aku hanya berdiri di tengah2 pintu antara rumah dan teras belakang nya pak amin di bagian ujung sana dan buk el d ujung arah ke pintu…mungkin karna tak enak pak amin menyarankan duduk…
“ga usah lah pak sempit klo bertiga itu…”dengan berbasa basi…
“gpp dika duduk aja…geser sini dikit buk biar dika bisa duduk”ucap pak amin…
“iya gpp dika duduak aja sini”timpal buk el,sama ibuk nya sendiri kok malu…sini duduk…”jadilah kami bertiga duduk berdempetan di kursi itu…memang dasar otak ku ga beres…
karna dempetan gtu betis ku sengaja sesekali ku gesekan ke kaki buk el…kami seperti tak takut padahal di sebelahnya ada pak amin…karna buk tidak menghindar malah ikut menggesekan betisnya…sedang asik2 mengobrol bertiga tiba2 dari luar terdengar suara panggilan…pak amin…pak amin…permisi pak…
“sepertinya suara pak rt tuh…tunggu sebentar ya dika ujar pak amin…ketika pak amin dan pak rt mengobrol di teras depan..aku langsung memeluk buk el sambil mencium leher nya…hari itu memang panas jadi keringat mengalir di leher nya…ku ciumi dan ku jilati setiap tetes keringatnya..sambil sebelah tanganku meremas2 payudara besar seperti pepaya itu…hmmmmffff ujar buk el..udah dika nanti bapak masuk…
memang setan klo ke jalan yang jelek pasti ngasih jalan…dari samping tempat duduk itu ada sebuah jendela yang tembus hingga ke ruang tamunya dan di kiri kanan teras rumah belakang buk el hanya ladang pak amin dan semak belukar…aku masuk dan menyingkap sedikit tirainya kira2 pas dari teras belakang untuk melihat keruang tamu…ketika kembali kebelakang buk el hanya menggeleng2kan kepala…
“ayoo el nungging…liat ke ruang tamu klo2 pak amin masuk bisikku”
buk el juga sepertinya menginginkan ini…dia mengintip dr jendela ke arah ruang tamu nya…sebelah kakinya ku angkat ke kursi panjang tadi..daster nya dengan sigap ku singgkap..ternyata wanita setengah tua ini tak menggunakan celana dalam juga hahahha…mulai lah aksiku…
ketika ku ciumi lobang pantat nya itu bau nya semakin tajam karna berkeringat…”ibuk ndak mandi tadi sore do uda..jaan lai babaun bana tu mah…akkkkhhhh…(ibuk ga mandi tadi sore dika…jadi itu bau banget….akkkkhhhh)…aku tak peduli malah bau ini semakin membuat ku nafsu…akkkhh…hmmmmfff…buk el menutup mulut dengan tangan nya agar tak kelepasan….semakin ku renggang kan lobang pantat nya dengan jempolku…lidahku menusuk2 lobang tainya itu…akkkkhhhh…..akkkkhhhh…ssshhhhh erengan buk el tertahan pantat nya semakin di maju mundurkan seirama dengan tusukan lidahku…memang pantat ini tak pernah membuatku bosan ucapku dalam hati…
lidahku mengusap panjang pantat besar itu…mulai dari tepian meqinya buk el sampai ujung garis pantat nya…buk el semakin menaikan pantat besarnya itu..hhhmmmfffff..
“lagi uda jilat seperti itu…aakkkhhhh…”ku ulangi beberapa kali..setiap ku ulangi pantat buk el semakin terangkat tinggi…lagi asik2 menjilati buk el terkaget dan menurunkan pantat nya dengan cepat…bruukk..pantatnya tanpa sengaja menekan keras batang hidungku…teryata pak amin masuk dan kami kembali duduk dan agak merenggang seperti tak terjadi apa2…
“dika pak rt minta tolong nganterin dia karna ada urusan,jadi pak amin pergi dlu ya…gpp klo bapak tinggal…?
“jangan lah pak dika pulang jg..lagian udh jam 9…” akupun pamit berbarengan dengan kepergian pak amin dan pak rt…saat ku lihat pak amin sudah menjauh, buru aku berlari lagi ke rumah pak amin…
“buk…buk…buka pintunya ini dika…setngah berbisik…” buk el membukakan pintu…nah lho kok balik lagi..?
tanpa banyak omong aku langsung masuk ke rumah dan menutup dan mengunci pintunya..
“iya ada yang ketinggalan buk,langsung ku peluk tubuh gempal itu,tanpa membuang waktu ku turunkan boxer yang ku pakai…kami saling berciuman dengan liar…
buk el menjulur2kan lidahnya..ku hisap dalam..begitu juga sebaliknya…bibir tebal nya ku hisap…hmmmfff..hhhmmmfff…dasternya ku angkat hingga ke dada buk el…payudara besar itu ku remas2 penuh nafsu…akkhhh..mmmffff…buk el mengerang enak…tangan buk el tak mau diam..dia asik mengocok2 si otong yg sudah keras sedari tadi…
“el kontol dika di kasi ludah biar enak…” buk el meludahkan tangannya dan mulai mengocok si otong lagi..akkkhhh…
“uda…el mau minum air ludah uda…” buk el pun membuka mulutnya…kepalanya sedikit di turunkan..hingga kepala ku jadi lebih tinggi dari mulutnya…ku kumpulkan lalu ku biarkan mengalir turun hingga ludah itu masuk semua ke mulut buk el…hmmmmfff buk el meminum nya dengan nikmat…kami kembali berciuman…karna sadar tak tau kapan pak amin balik aku dengan cepat menarik nya…
ketika akan di rebahkan buk el malah minta aku yg tiduran…buk el mengambil posisi WOT…tak langsung memasukan nya buk el memainkan dan mengesekan kepala kontolku di sekitaran meqi dan lobang pantatnya…akkkkhhhh enaaakkkk…desahku…dan plop…buk el dengan cepat memasukan si otong ke meqi nya…dan langsung menaik turunkan pantatnya dengan cepat dan sedikit kasar..hingga payudara besar itu terombang ambing dengan kencang dan suara peersetubuhan itu terdengar nyaring..plookk…plokk…plokk…
“akkkkhhhh…akkkhhh…shhhhh…lamaak uda…lamaaakk…godok uda sampai ka ujuang paruikkhh ellllhhh..akkkkhhhh…(akkkhhh…akkkhhhh..ssshhh..enak uda…enaaakkk..kontol uda sampai ke ujung perut ellhhh..akkkkhhh)ku angkat sedikit tubuhku dan menarik kepalanya..kini kepalanya tepat di atas ku…sedangkan pantat nya masih terus bergoyang dan sesekali ku bantu dari bawah…akkkhhh…akkkhhh laaammmhhhaakk udhhaaa….nafas nya menerpa wajahku…ohhh nikmatnya…
“el…udah awiiihh…uda nio minum ludah el…akkkhhh..nio minum yang banyak..akkkhh…”(el..uda haus…uda pengen minum lludah el..akkkhhh…mau minum yang banyak..akkkhhh)
buk el hanya membuka mulutnya dan membiarkan ludah nya mengalir deras turun ke arahku…karna dalam kondisi kami saling menggoyang ludah nya tak hanya masuk ke mulutku tapi juga menyiram sebagian wajahku..akkhhh…lai lamak aia ludah el uda…aakkkkhhh shhhh…hhhmmmffff…(enak kah air ludah el uda…akkkhhh sssshhhh…hhmmmmfff)
“lai el..lamak bana…uda sukkhhaaa…” buk el semakin ganas menaikan turunkan pantatnya..suara peraduan kami semakin nyaring di ruangan itu…setelah beberapa lama…
“panek uda…gantian el di bawah yo…”(capek uda…gantian el di bawah ya.) aku pun langsung merubah posisi…dengan sigap ku lebarkan paha besar itu…plop..aku pun menggoyangnya dengan ganas..satu tangan ku bertumpu di sebelah kepalanya..dan satu lg meremas2 payudaranya…aku menggoyang dengan cepat dan saling berciuman…hhhmmmffff hmmmmfff….ssshhhhh…hanya itu suara desahan kami…setelah beberapa menit buk el semakin tak karuan…pantatnya ikut bermain….aku tau ini saatnya wanita ini orgasme…akkkhhh..udaaa….el mau sampaiii…akkkkhhhh..cepat uda..cepaaatthhhhh…tangan nya ikut membantu menekan2 pantatku…akupun begitu…menghantam2 keras liang kenikmatan buk el…
hingga suara peraduan kami seperti alunan musik di ruangan itu…peluh sudah membasahi tubuh kami berdua…dan buk el meremas2 pantatku tak karuan…aku menggoyang begitu keras dan akkkkkkkkkkhhhhhhhhhhhhh…….buk el menggerang keras…akkkkkkhhhhhh kaluuuuuuaaaannyooooooo aaaakkkkkhhhhhh……akupun merasakan hal yg sama….ku tekan sedalam dalamnya…iyyyhhhggggoooo…uda nembhaaaakk lo ellllhhhh…..aakkkkhhhh…kami terkapar bersama dan badan ku masih menindih tubuh gempal nya itu…dan peluh kami seperti habis mandi…hanya beristirahat sebentar aku langsung berdiri dan menggunakan boxer ku..buk el masih berbaring di lantai rumah nya itu…kembali ku tindih dan ku peluk erat…
“tubuh mu sangat2 memuaskan ku el…tubuh mu benar2 memberikan kenikmatan” dan ku kecup dahi mata dan bibir tebal nya itu…aku pun melangkah pulang dengan peluh kenikmatan untuk teman tidurku…ooohhh buk el tubuh mu benar2 memuaskan ku…
aku dan buk el sama2 keranjingan untuk terus bermesraan…seperti tak kenal waktu…malam itu buk el dan pak amin mengingatkan bahwa seminggu lebih lagi acara kawinan anak kakaknya akan di adakan.menjadi sebuah kebiasaan di daerah ku..jika jarak waktu segitu sanak keluarga akan ikut membantu…
tapi pak amin ingin mengajak aku untuk ikut serta membantu…dan buk el menyarankan bagaimana klo aku ikut bersamaan dengan mereka ke sana..kebetulan aku memiliki mobil jadi bisa sekalian…pak amin hanya menyerahkan semuanya kepadaku…hmmmmm ini mah sekali dayung 1,2 perempuan tertiduri pikirku hahahaha…aku ingin sekali mengiyakan ajakan mereka saat itu tapi ya aku harus lapor pada atasan dlu untuk ambil cuti dalam waktu 1 minggu…
puncuk di cinta ulam pun tiba cuti ku di setujui oleh atasan,malam selanjut nya kembali ku beri tahu keluarga pak amin dan buk el klo aku bisa ikut bersama dengan mereka untuk membantu acara keluarga tersebut…buk el tampak kegirangan dengan keputusanku tersebut,terlebih aku yang memang menginginkan moment seperti ini…saat itu hanya bisa membayangkan kedua kakak beradik itu memakai pakaian kebaya yang sudah pasti membungkus sempurna pantat2 bahenol itu…oh iya acara pernikahan keluarga nya buk susi di adakan di tempat mereka tinggal,daerah bersuhu dingin yang hanya berjarak sekitar 2-3 jam dari kotaku…
simbol utama kota ini adalah jam gadang…malam sebelum kami berangkat semua sudah di persiapkan di karenakan tinggal di sana dalam waktu seminggu…tapi ketika membantu buk el dan pak amin menyiapkan barang bawaan nya aku kembali tergoda dengan wanita setengah baya ini ketika melihat tetesan keringat di lehere dan lengan nya di tambah aroma khas yang memancar dari tubuh beliau..
membuat nafsu ku kembali mengebu2…aku memikirkan cara melampiaskan nafsu syahwat ku ini..tapi tak kunjung membuahkan ide…akkkhhh berpikirlah…berpikirlah…tetapi setan kali ini tak berpihak padaku tapi otak ku di buat buntu…
“eh dika udah nyiapin bawaannya belom..?kok malah sibuk2 di sini…” ucap buk el seketika…
“belum sih buk,rencana sehabis dari sini baru siap2”
“kok belum sih,ya udah sana buruan biar besok bisa berangkat pagi…takutnya klo berangkat siang kita terkena macet…”
dengan ide2 buntu aku terpaksa pulang dan mempersipkan semuanya…lagi asik2 milih baju untuk di bawa,di pintu depan terdengar suara buk el memanggil…dika…dika…dalam hati ngomong sendiri…biasanya singa yang berburu rusa…tapi sekarang rusanya yang mendekati sang singa…hahahha…dengan sigap ku bukakkan pintu…ternyata buk el si suruh pak amin untuk datang ke sini,mana tau ada yang bisa d bantu…
tanpa membuang waktu tangan wanita bertubuh besar itu ku tarik kedalam…sisa2 peluh nya masih terlihat di dahi dan leher nya…tapi aroma itu tak mau hilang seperti senantiasa menggodaku…ku peluk dan kubenamkan hidung ini di leher beraroma tajam itu…hmmmmmfffff nikmatnya…buk el hanya tersenyum2 kecil sambil mengusap kepala belakangku..leher itu kuciumi dan kujilati hingga aroma peluh di lehernya berganti menjadi bau air liur ku…
ku ajak bimbing tangan nya ke kamar peraduan kami..sesampainya di kamar dengan lembut ku kecup mesra bibir tebal tanpa gincu itu..hmmmfff buk el menutup kedua matanya menikmati ciuman lembut penuh gairah itu…tubuh ini memang sudah terbiasa ku nikati tapi aku tak mau menikmatinya dengan terburu2 setiap persetubuhan ingin ku lakukan dengan selembut mungkin agar semua terasa begitu nikmat…
buk el membuka sedikit mulutnya aroma segar dari rongga mulutnya begitu ku nikmati…perlahan bibir bawah nya ku jilati dan ku hisap dengan mesra hingga menimbulkan suara…tangan buk el meraba2 sekujur tubuhku…hingga memilin2 kecil puting susuku…membuat semua bulu d tubuhku berdiri…lidah ku mulai menyusuri rongga mulutnya…
mulai dari barisan giginya hingga langit2nya di gelitik2 kecil oleh lidahku…buk el mulai membalas ciumanku…saat ini kami saling hisap dan bertukar air liur…hmmmmmffff…hhhhmmmmfff kami benar2 menikmati nya..akhir2 ini aku seperti tergila2 dengan bibir tebal dan merekah itu hampir setiap berduaan bibir itu pasti ku lumat2 mesra,buk el juga seperti tak menolak perlakuan ku itu…
kami entah seperti apa saat itu…walau kami tak setiap hari bercinta tapi yang pasti setiap hari kami selalu seperti orang yang baru mengenal kenikmatan bermesraan yang tak mengenal waktu…nafsunya saat itu kumainkan dengan perlahan walau tau waktu kami tak banyak…
pepaya gantung yang menggoda itu ku gigit2 kecil di bagian areola nya…saat mulutku menjilati dan memainkan payudara kirinya tangan kanan ku memilin2 kecil gunung kembar lainnya…akkkkhhhhh sedooottt yang keras suamikhuuuuu akkkhhhhh…kepala bagian belakang ku di usap2 dan di remas2 lembut..akkkhhhh hhmmmmmfff sssshhhhh hanya itu erengan beliau…suuuamhhiiiku ini memang hebaaattthhh akkkhhh…
karna memang waktu tak mengizinkan ami untuk berbugil ria mlm ini dari balik daster nya kuturunkan celana dalam buk el…dan masih dalam keadaan berdiri,pantat besar dan menggoda itu ku remas2 lembut oooohhhh padat dan benar2 berisi pikirku…sesekali terlunjuk ku menyusuri belahan bokong yang ku damba2kan itu..sesekali pantat itu mengedut dan mengetat…ohhhh aku tak dapat mengutarakan kesenangan itu…
masih terasa sisa2 peluh yang membasahi belahan pantat yang aduhai itu…ku tarik telunjuk ku hhhhhmmmmmffff…ku hirup dalam2 aroma yang sedikit berbau itu…hhhhhhmmmmfffff aaaaakkkkkhhhhhh entah kenapa aku mendesah saat kuciumi aroma di telunjuk ku ini, aroma ini membuat birahi ku mengebu2….
“baun lubang lancirik bini si dika ko yo bana lamaaakkk…dika nio mambaunan iko tiok hari…bisuak2 klo el ka rumah,el jan mandi nak…dika nio mancium2 baun iko tiok hari sampai pueehhhh…aakkkkaahhh (bau lobang pantat istri si dika ini benar2 enaaakkk…dika mau membaui ini tiap hari…besok2 klo el ke rumah,el jangan mandi ya…dika mau mencium2 bai ini tiap hari sampai bener2 puaaassshhh..akkkkhhhh).
buk el semakin memeluk ku erat ketika kata2 vulgar itu ku lontarkan…
“jan kan baun itu uda…badan jo sado yang ado di diri el ko ka sadonyo untuak uda…(jangankan bau itu uda..badan dan semua yang diri el ini semuanya untuk uda )…tangan ku mulai menyingkap ke atas daster buk el hingga ke perutnya…ku ikat supaya tidak turun lagi…hhhhmmmm bulu2 hitam di antara kedua belah pahanya itu ku gesek2 lembut…akkkkhhhhh buk el ikut memainkan pantatnya sesuai irama gesekan tanganku…hhmmmffff hhhmmmmmffff hhhhmmmmffff…masih dalam keadaan berdiri mulutku turun perlahan menyusuri perut besar wanita setengah baya ini yang lidahku ku julurkan hingga ikut membasahinya…posisiku kini pas berjongkok di depan ipam (meqi) berbulu itu…hhmmmmmfffff tangan buk el menekan2 bagian belakang kepala ku…aku sangat2 mengerti keinginan wanitaku ini…hidungku mulai mengelitiki bulu2 itu,,aaakkkkhhhhh buk el semakin mengangkangi kakinya…ku gesek2 atas bawah kiri dan kanan…ku hirup dalam2 aroma sanggu ini…tepian ipam(meqi) nya yang sedikit kehitaman itu tak luput dari ciumanku…akkkkhhhhh…buk el perlahan menggoyang pantat nya naik turun hingga kemaluannya itu seperti menciumi seluruh wajahku…tanganku menyusup dari samping dan ikut memegangi dan meremas2 patatnya…seperti aku sedang memeluk pinggang nya…posisi kami sungguh2 sangat erotis saat itu…wajahku sudah mulai basah oleh lendir birahi ipam buk el…tapi aku juga semakin bersemangat di buat nya…ku angkat wajahku…
“el sayangku..nunggiang yo sayang…(el sayangku…nungging ya sayangg…)” buk el menganguk,dengan posisi menungging sambil berdiri dan tangan memegang tepian jendela yang d tutupi tirai itu…lidahku menyusup ke balik celah hitam dan berbau tajam itu…hmmmmfff bau ini sungguh2 aroma yang membangkitkan birahi ku…setelah puas ku ciumi lidahku menjulur dari bagian atas garis belahannya hingga ke sekitar lubang panat dan meqi nya….sesaat juga sebelah tangan nya menggapai kepalaku…akkkhhhh gelllhhiinyyaaaa nikmhhaaattt..aaakkkhhh berulang kali kumainkan lidahku…dengan kedua jempolku ku buka lebar belahan nya…bentuk loabng ini..akkkhhhhh si otong berkedut2 semakin kuat…ku julurkan panjang2 lidah ku dan kubenamkan sedalamnya…akkkkkhhhh buk el sedikit terpekik…tangan nya semakin menekan keras kepalaku…pahanya semakin di buka lebar…
jilekan taruih udhhaaa…akkkkhhhh..lamaaaakkk banhhaaa aaakkkhhh… (jilatin terus udhhaaa..akkkkhhh…bener2 ennnhaakkk akkkhhh..)ketika sedang asik menjilatinya… dari depan rumah pak amin memanggil2… “el…el…uda ka kadai pai mangopi dulu yo…kok nio pulang ambiak kunci ka kadai yo.. (el..el..uda ke kedai mau ngopi dulu ya..kalau mau jemput kunci ke warung ya)…tapi dasar otakku tak beres…aku semakin cepat menjilat2i keseluruhan belahan itu..hingga buk el mengerang tertahan..nnnnggggghhhhhhh…entah apa yang di pikirkan kan..dengan posisi menungging seperti ini dia membuka sedikit tirai jendela kamarku..seperti tak takut keliatan…
“iyho dhhaa…bekoh el japuuiikkhhh…tanpa sadar dia sedikit mengerang ketika menjawabnya…alamak buk el kelepasan pikirku…
“sedang manga kau el..baa kok tatahan model tu suaro kau… (kamu lagi ngapain el…kenapa seperti tertahan begitu suara mu).. “ikhhoo da haaa…barang2 si dika barek barekkhh hmmmm…jadi sasak angok dek nyo….hhhaaaahhh seperti menghembuskan keras2 nafasnya… (innhhii da haa…barang2 di dika berat beratthh hmmmm…jadi nafas ikut ngos2an…hhhaaaaaahh)
“gila bener2 pinter mengeles wanita setengah baya berpantat besar ini pikirku…entah pemikiran dari mana saat itu…mungkin kegilaan ini yang membuat ku ikut2an…ku geser kesamping dan berdiri…lalu pura2 berjalan dari sisi buk el…saat posisi si otong ku kira pas dengan ipamnya itu ku tusuk perlahan demi perlahan maju…otomatis pak amin melihat kedatanganku dari belakang…
“maaf yo pak amin..barang2 agak banyak saketek (maaf ya pak amin…barang2 ku sedikit lebih banyak) seakan tak terjadi apa2…bener2 gila perbuatan ku dan buk el kali ini…untung saja pinggiran bawah jendela agak tinggi sehinnga hanya sebatas ulu hatiku yang keliatan dari luar…tangan buk el menggapai pahaku dan meremas nya kuat…aakkkkhhhh…
wajah beliau menunduk sambil mendesah tertahan…hhhmmmmffff laaaammhhaaaaakkkk godhhoookk uda lamaaaakkk aaakkkhhhh…(hhmmmmmfff ennhhhaaakkk kontoooolll uda ennnaaaaakkkhhh akkkhhhh)dengan berbisik pelan…aku sengaja hanya mendorong sepelan2 mungkin agar kenikmatan itu sama2 kami rasakan…pak amin bener2 tak menyadari perbuatan kami ini dan tak ada rasa curiga…mungkin dia berpikir tak mungkin anak muda seperti ku macam2 dengan istrinya yang sudah tua…padahal kenyataannya…tubuh istrinya ini selalu kudamba2kan dari dulu…
“yo lah el..kok lah siap turuik se ka kadai…(ya udah el..kalau sudah siap datang saja ke warung) sambil tubuh kurus itu berlalu berjalan ke arah ujung gang…
akkkkkkkhhhhhh….buk el melepas erengan tertahannya…niikkhhmaatttthhh…kontooolll uda manyyassakkk di pepek elll….aaakkkkhhhhh (nikkhhhmaattthhh..kontoooll uda sangat penuh di pepek elll…akkkkhhh)saat tirainya tertutup aku pun mulai menggoyang sambil mata ku tak lepas memandangi peraduan kami…akkkhhh akkkhhhh…hhhmmmmfff…plok…plookk…sesekali bunyi itu keluar saat ku keraskan hantaman ku…aakkkkhhhh…hhhmmmmfffff…aakkkkhhhh…kami sama2 mengerang keenakan…pindah yuk da,ajak beliau karna sudah kecapean ku hantam berdiri begini…tanpa melepas si otong dari sarang nikmatnya ini…ku peluk kedua payudara besar itu sambil ku tarik badan buk el kebelakang…saat itu posisi buk el dengan punggungnya menempel di dadaku dan otongku juga meniru hal yang sama..hhhmmmffff…ku ajak berjalan perlahan ke atas kasur peraduan kami…saat sampai di tepian kasurku tubuhnya kudorong dengan tubuhku jadilah saat itu kelamuan kami masih menempel dan badannya ku tindih dari belakang…kuciumi sebentar leher nya…ku lepas jepitan memek yang nikmat itu…buk el pun membalikan badannya…pahanya di renggangkan selebar2nya…kedua tangannya ikut memegangi pahanya hingga terbuka lebar…ohhh indahnya kemaluan wanita ini..tebal dan berjengger di hiasi bulu2 tebal di sekitarnya…ku ciumi sedikit dan mulai ku posisikan tubuhku di atasnya…saat kontol ku perlahan memasuki lubang kenikmatannya kaki buk el melingkar di belakang pinggangku dan tangan nya memelukku dengan erat…hinngga tubuhku tertarik keras ke arahnya dan si otong dengan cepat melesat masuk menerobok liang kenikmatanku itu…akkkkkkhhhhhh setengah berteriak kami sama2 mengerang….hhhhmmmmfffffff…mennthhhookk da….akkkkhhhh mulai kugoyang2 sedikit cepat kemaluanku…akkkhhhh hhhmmmfff…akkkkhhhh…buk el mengerang2 sambil memeluku erat…
Cerita Mesum Bergambar
“el suko bana godok uda dika kkkoohhhhh…sampai ka ujuuaanngghhh hhhmmmmfff…(el suka sekali kontol uda dika innhhhiii…sampai ke ujuunnggghhh hhmmmm…)goyanganku semakin ku percepat..ku angkat wajahku lalu kuciumi wajah wanita yang sedang ku tindih ini…akkkhhh aakkkkhhh akkkkhhh…
“el sampaii…el sampaii…el sampaiii erengnya..akkkhhh…lammhhaaaakkk…akkkhhh…jepitan kakinya semakin menguat pantat nya sedikit terangkat….aaaaakkkkkkhhhhhh…dia mengerang keras…wanitaku ini mencapai puncak kenikmatanya…hhhhhmmmmmfffff….
di saat yang sama kepala kontolku ikut merasakan geli yang amat sangatt…karna dalam kondisi dia menjepit pinggangku aku hanya menggoyang seperti mengayak kemaluannya…wajahnya semakin beringas ku ciumi…”aaaaaaakkkkkkkhhhhhhh aku mengerang keras tepat di wajahnya…hhhhnnngggggghhhhh…rudalku memuntahkan semua isinya sampai tak bersisa…ku tekankan dalam2 kontolku…hhhhggggnnnnhhhhh ennnhhaaaakkkk….kami sama2 menikmati puncak kenikmatan ini…dengan posisi aku menindih buk el,peluh dan badan kami menjadi satu yang hanya di batasi daster buk el yang sebatas perut…setelah gelombang kenikmatan kami mereda jepitan kaki buk perlahan melemah…dan akhirnya terlepas…tapi aku masih ingin menikmati moment ini sebentar lagi..kemaluan kami masih sama2 menempel erat ku balikkan badan ku serentak dengan tubuh tinggi besar di bawah ku ini…kali ini dia yang berada di atasku…buk el mangangkat kepala nya..ku belai2 tepian rambut dari kening hingga pipinya…ku tatap kedua bola mata wanita bertubuh tinggi besar ini dalam2…
“aku mencintaimu elnawati,” kata itu terucap dari dalam hatiku..hingga suara ku begitu mendalam…wajahnya bersemu merah karna senang dengan senyum dia hanya memelukku erat… (Bersambung lagi)

Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Vaginanya Sempit dan Basah ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

Perawanku – Kami sering melakukan kegiatan seks jika ada kesempatannya kadang kami bercinta di kamar Rika kadang juga dikamarku, dia yang umurnya sudah 23 tahun berceriata saat hilang kegadisannya waktu dia kelas SMA, intinya dia hilang keperawanan dijebak oleh pacarnya sendiri, saat perayaan ulang tahunnya yang ke 17 dia dibuat mabuk oleh pacarnya dan di perkosa bareng bareng bersama teman temannya.
Paginya setelah sadar dia di antar pulang dan pacar maupun kedua temannya menghilang entah kemana. Setelah lulus SMA akhirnya dia memutuskan untuk kuliah di Bali jurusan hotel dan tourisme.
Sejak kuliah di Bali pun dia sudah beberapa kali melakukan sex dengan beberapa teman kuliah-nya. Hubungan kami pun cuma sebagai teman, tidak lebih, hubungan kami berdasarkan suka sama suka. Mungkin karena usia ku yang lebih muda.
Hanya saja aku dapat prRikalege untuk tubuhnya kapan saja aku mau. Hubunganku dengan Rika pun tidak diketahui oleh Silvi kakaknya yang sudah bekerja di salah satu hotel di kawasan Jimbaran.
Silvi, tidak kalah cantiknya dengan Rika. Keduanya memiliki kulit yang putih bersih. Silvi lebih dewasa dalam pembawaan dan enak juga diajak ngobrol. Karena Silvi juga cantik aku sering bercanda dengan Rika mengatakan ingin tahu rasanya bila berhubungan dengan Silvi. Rika kadang tertawa dan kadang marah kalo aku berkata begitu. Walau marah, Rika akan hilang kemarahannya kalau kucumu lagi.
Seperti halnya sore itu, Ketika aku baru pulang kuliah, kulihat kamar Rika terbuka tetapi tidak ada orang didalamnya. Karena situasi kost yang sepi akupun masuk ke kamarnya dan mendengar ada yang sedang mandi dan akupun menutup pintu kamar Rika. Sudah seminggu lebih aku menginap di Denpasar karena sedang ujian akhir.
Setelah pintu kututup, kupanggil Rika yang ada dikamar mandi.
“Vi, lagi mandi yah? tanyaku basa-basi.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Akupun melanjutkan.
“Kamu marah yah Vi?, Maaf yah aku gak kasih tahu kamu kalo aku mau nginep di Denpasar. Hari ini aku mau buat kamu puas Vi. Aku akan cium kamu, bikin kamu puas hari ini. Aku aka.
“Mandi kucing kan kamu Vi mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.” Rayuku.
Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi.
“Vi, ingat film yang dulu kita tonton kan. Aku akan bikin kamu puas beberapa kali hari ini sebelum kau rasakan penisku ini Vi. Aku akan cium vaginamu sampai kau menggelinjang puas dan memohon agar aku memasukkan penisku”.
Terdengar suara batuk kecil dari dalam kamar mandi.
“Vi, kututup pintu dan gordennya yah Vi”. Akupun berbalik dan menutup gorden jendela yang memang masih terbuka.
Ketika gorden kututup, kudengar pintu kamar mandi terbuka. Akupun tersenyum dan bersorak dalam hati. Setelah aku menutup gorden akupun berbalik. Dan ternyata, yang ada dalam kamar mandi itu adalah Silvi, kakak Rika, yang baru saja selesai mandi keluar dengan menggunakan bathrope berwarna pink dan duduk diatas tempat tidur dengan kaki bersilang dan terlihat dari belahan bathropenya.
Kaki yang putih terawat, betisnya yang indah terlihat terus hingga ke pahanya yang putih, kencang dan seksi sangat menantang sekali untuk dielus.
Belum lagi silangan bathrope di dadanya agak kebawah sehingga terlihat dada putih dan belahan payudaranya. Kukira ukuran Branya sedikit lebih besar dari Rika, karena aku belum pernah menyentuhnya.
“Rika sedang ke Yogya, dia sedang Praktek kerja selama 2 bulan” Kata Silvi sambil memainkan tali bathrope-nya.
“Jadi selama ini kamu suka make love ya sama Rika, padahal aku percaya kamu tidak akan begitu sama adikku”
“Maaf Mbak, aku gak tahu kalo yang didalam itu Mbak Silvi” Kataku sambil mataku memandang wajah Silvi.
Rambutnya yang hitam sepundak tergerai basah. Dada yang putih dengan belahan yang terlihat cukup dalam. Paha yang putih mulus dan kencang hingga betis yang terawat rapih. Kalau menurutku Silvi boleh mendapat angka 8 hingga 8,5.
“Lalu kalo bukan Mbak kenapa?, Kamu enggak mau mencium Mbak, buat Mbak puas, emandikucingkan Mbak seperti yang kamu bilang tadi?” Tanya Silvi memancingku.
“Aku sih mau aja Mbak kalo Mbak kasih” Jawabku langsung tanpa pikir lagi sambil melangkah ke tempat tidur.
Sebab sebagai laki-laki normal aku sudah tidak kuat menahan nafsuku melihat sesosok wanita cantik yang hampir pasti telanjang karena baru selesai mandi. Belum lagi pemandangan dada dan putih mulus yang sangat menggoda.
“Kamu sudah lama make love dengan Rika, Ren?” Tanya Silvi ketika aku duduk di sebelah kirinya. Aku tidak langsung menjawab, setelah duduk di sebelahnya aku mencium wangi harum tubuhnya.
“Tubuh Mbak harum sekali”, kataku sambil mencium lehernya yang putih dan jenjang.
Silvi menggeliat dan mendesah ketika lehernya kucium, mulutku pun naik dan mencium bibirnya yang mungil dan merah merekah. Silvi pun membalas ciumanku dengan hangatnya. Perlahan kumasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya dan lidah kami pun saling bersentuhan, hal itu membuat Silvi semakin hangat.

Perlajan tangan kiriku menyelusup ke dalam bath robenya dan meraba payudaranya yang kenyal. Sambil terus berciuman kuusap dan kupijat lembut kedua payudaranya bergantian. Payudaranya pun makin mengeras dan putingnyapun mulai naik. Sesekali kumainkan putingnya dengan tanganku sambil terus melumat bibirnya.
Aku pun mengubah posisiku, kurebahkan tubuh Silvi di tempat tidur sambil terus melumat bibirnya dan meraba payudaranya. Setelah tubuh Silvi rebah, perlahan mulutku pun turun ke lehernya dan tanganku pun menarik tali pengikat bathrope-nya.
Setelah talinya terlepas kubuka bathropenya. Aku berhenti mencium lehernya sebentar untuk melihat tubuh wanita yang akan kutiduri sebentar lagi, karena aku belum pernah tubuh Silvi tanpa seutas benang sedikitpun. Sungguh pemandangan yang indah dan tanpa cela sedikit pun.
Payudaranya yang putih dan tegak menantang berukuran 36 C dengan puting yang sudah naik sangat menggairahkan.
Pinggang yang langsing karena perutnya yang kecil. Bulu halus yang tumbuh di sekitar selangkangannya tampak rapi, mungkin Silvi baru saja mencukur rambut kemaluannya. Sungguh pemandangan yang sangat indah.
“Hh” Desah Silvi membuyarkan lamunanku, Aku pun langsung melanjutkan kegiatanku yang tadi terhenti karena mengagumi keindahan tubuhnya.
Kembali kulumat bibir Silvi sambil tanganku mengelus payudaranya dan perlahan-lahan turun ke perutnya.
Ciumanku pun turun ke lehernya. Desahan Silvi pun makin terdengar. Perlahan mulutku pun turun ke payudaranya dan menciumi payudaranya dengan leluasanya. Payudaranya yang kenyal pun mengeras ketika aku mencium sekeliling payudaranya.
Tanganku yang sedang mengelus perutnya pun turun ke pahanya. Sengaja aku membelai sekeliling vaginanya dahulu untuk memancing reaksi Silvi.
Ketika tanganku mengelus paha bagian dalamnya, kaki Silvi pun merapat. Terus kuelus paha Silvi hingga akhirnya perlahan tanganku pun ditarik oleh Silvi dan diarahkan ke vaginanya.
“Elus dong Ren, Biar Mbak ngerasa enak Ren” Ucapnya sambil mendesah.
Bibir vagina Silvi sudah basah ketika kesentuh. Kugesekan jariku sepanjang bibir kemaluan Silvi, dan Silvi pun mendesah. Tangannya meremas kepalaku yang masih berada di payudaranya.
“Ahh, terus Ren”, Pinggulnya makin bergyang hebat sejalan dengan rabaan tanganku yang makin cepat. Jari-jariku kumasukkan kedalam lubang vaginanya yang semakn basah.
“Ohh Ren enak sekali Ren”, desah Silvi makin hebat dan goyangan pinggulnya makin cepat.
Jariku pun semakin leluasa bermain dalam lorong sempit vagina Silvi. Kucoba masukan kedua jariku dan desahan serta goyangan Silvi makin hebat membuatku semakin terangsang.
“Ahh Ren”, Silvi pun merapatkan kedua kakinya sehingga tanganku terjepit di dalam lipatan pahanya dan jariku masih terus mengobok-obok vaginanya Silvi yang sempit dan basah.
Remasan tangan Silvi di kepalaku semakin kencang, Silvi seperti sedang menikmati puncak kenikmatannya. Setelah berlangsung cukup lama Silvi pun melenguh panjang jepitan tangan dan kakinya pun mengendur.
Kesempatan ini langsung kupergunakan secepat mungkin untuk melepas kaos dan celana jeansku. Penisku sudah tegang sekali dan terasa tidak nyaman karena masih tertekan oleh celana jeansku.
Setelah aku tinggal mengunakan CD saja kuubah posisi tidur Silvi. Semula seluruh badan Silvi ada di atas tempat tidur, Sekarang kubuat hanya pinggul ke atas saja yang ada di atas tempat tidur, sedangkan kakinya menjuntai ke bawah.
Dengan posisi ini aku bisa melihat vagina Silvi yang merah dan indah. Kuusap sesekali vaginannya, masih terasa basah. Akupun mulai menciumi vaginanya. Terasa lengket tapi harum sekali. Kukira Silvi selalu menjaga bagian kewanitaannya ini dengan teratur sekali.
“Ahh Ren, enak Ren”, racau Silvi. Pinggulnya bergoyang seiring jilatan lidahku di sepanjang vaginanya. Vagina merahnya semakin basah oleh lendir vaginanya yang harum dan jilatanku. Desahan Silvi pun makin hebat ketika kumasukkan lidahku kedalam bibit lubang vaginanya. Rika pun menggelinjang hebat.
“Terus Ren”, desahnya. Tanganku yang sedang meremas pantatnya yang padat ditariknya ke payudara. Tnagnku pun bergerak meremas-remas payudaranya yang kenyal. Sementara lidahku terus menerus menjilati vaginanya. Kakinya menjepit kepalaku dan pinggulnya oun bergerak tidak beraturan. Sepuluh menit hal ini berlangsung dan Silvi pun menalami orgasme yang kedua.
“Ahh Ren, aku keluar Ren”, aku pun merasakan cairan hangat yang keluar dari vaginanya. Cairan itu pun kujilat dan kuhabiskan dan kusimpan dalam mulutku dan secepatnya kucium bibir Silvi yang sedang terbuka agar dia merasakan cairannya sendiri.
Lama kami berciuman, dan perlahan posisi penisku sudah berada tepat didepan vaginanya. Sambil terus menciumnya kugesekkan ujung penisku yang mencuat keluar CD ku ke bibir vaginanya. Tangan Silvi yang semula berada disamping bergerak ke arah penisku dan menariknya. Tangannya mengocok penisku perlahan-lahan.
“Besar juga punya kamu Ren, panjang lagi” Ucap Silvi di sela-sela ciuman kami.
Sambil masih berciuman aku melepaskan CDku sehingga tangan Silvi bisa leluasa mengocok penisku. Setelah lima menit akupun menepis tangan Silvi dan menggesekkan penisku dengan bibir vaginanya. Posisi ini lebih enak dibandingkan dikocok.
Perlahan aku mulai mengarahkan penisku kedalam vaginanya. Ketika penisku mulai masuk, badan Silvi pun sedikit terangkat. Terasa basah sekali tetapi nikmat. Lobang vaginanya lebih sempit dibandingkan Rika, atau mungkin karena lubang vaginanya belum terbiasa dengan penisku.
“Ahh Rensha.. Begitu sayang, enak sekali sayang” Racaunya ketika penisku bergerak maju mundur. Pinggul Silvi pun semakin liar bergoyang mengimbangi gerakanku. Akupun terus menciumi bagian belakang lehernya.
“Ahh..” desahnya semakin menjadi. Akupun semakin bernafsu untuk terus memompanya. Semakin cepat gerakanku semakin cepat pula goyangan pinggul Silvi. Kaki Silvi yang menjuntai ke bawah pun bergerak melingkari pinggangku. Akupun mengubah posisiku sehingga seluruh badan kami ada di atas tempat tidur.
Setelah seluruh badan ada diatas tempat tidur, akupun menjatuhkan dadaku diatas payudara besar dan kenyalnya. Tanganku pun bergerak ke belakang pinggulnya dan meremas pantatnya yang padat.
Goyangan Silvi pun semakin menjadi-jadi oleh remasan tanganku di pantatnya. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur dengan cepat dan goyangan pinggul Silvi yang semakin liar.
“Ren.. Kamu hebat Ren.. Terus Ren.. Penis kamu besar keras dan panjang Ren.. Terus Ren.. Goyang lebih cepat lagi Ren..” begitu racau Silvi di sela kenikmatannya.
Aku pun semakin cepat menggerakkan pinggulku. Vagina Slvi memang lebih enak dari Rika adiknya. Lebih sempit sehingga penisku sangat menikmati berada di dalam vaginanya. Goyangan Silvi yang makin liar, desahan yang tidak beraturan membuatku semakin bernafsu dan mempercepat gerakanku.
“Mbak aku mau keluar Mbak” Kataku.
“Di dalam aja Ren biar enak” desah Silvi sambil tangannya memegang pantatku seolah dia tidak mau penisku keluar dari vaginanya sedikitpun.
“Ahh” Desahku saat aku memuntahkan semua cairanku kedalam lubang rahimnya.

Tangan Silvi menekan pantatku sambil pinggulnya mendorong keatas, seolah dia masih ingin melanjutkan lagi, matanya pun terpejam. Aku pun mencium bibir Silvi. Dengan posisi badanku masih diatasnya dan penisku masih dalam vaginanya. Mata Silvi terbuka, dia membalas ciuman bibirku hingga cukup lama. Badannya basah oleh keringatnya dan juga keringatku.
“Kamu hebat Ren, aku belum pernah sepuas ini sebelumnya” Kata Silvi.
“Mbak juga hebat, vagina Mbak sempit, legit dan harum lagi.” Ucapku.
“Memang vagina Rika enggak” senyumnya sambil menggoyangkan pinggulnya.
“Sedikit lebih sempit Mbak punya dibanding Rika” jawabku sambil menggerakkan penisku yang masih menancap di dalamnya. Tampaknya Silvi masih ingin melanjutkan lagi pikirku.
“Penis kamu masih keras Ren?” tanya Silvi sambil memutar pinggulnya.
“Masih, Mbak masih mau lagi?” tanyaku
“Mau tapi Mbak diatas ya” Kata Silvi.
“Cabut dulu Ren”
Setelah dicabut, mulut Silvi pun bergerak dan mencium penisku, Silvi mengulum penisku terlebih dahulu sambil memberikan vaginanya padaku. Kembali terjadi pemanasan dengan posisi 69. Desahan-desahan Silvi, vagina Silvi yang harum membuatku melupakan Rika sementara waktu.
Hari itu sejak pukul lima sore hingga esok paginya aku bercinta dengan Silvi, entah berapa kali kami orgasme. Dan itu pun berlangsung hampir setiap malam selama Rika belum kembali dari Praktek Kerjanya di yogya selama 2 bulan lebih. Kupikir mumpung Rika tidak ada kucumbu saja kakaknya dulu.
Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.


Cerita lendir 2017 ini merupakan lanjutan dari Part I yang bisa kamu baca DISINI. Jika sudah, maka langsung saja baca lanjutan cerita lendir 2017 berikut ini:
Perawan – Rasa penat dan kelelahan seharian ditambah pengaruh obat menyebabkan Yanti tertidur nyenyak – tidur yang sangat menyenangkan karena disertai dengan mimpi menunggu tunangannya di landasan udara. Sebentar lagi pesawatnya mendarat dan ia akan menikmati lagi kehangatan pelukan tunangannya itu. Yanti menoleh kekiri kekanan karena di rasakannya ada yang aneh dan tak biasa di pangkalan udara itu. Aneh sekali airport yang biasa selalu ramai hiruk pikuk kini begitu sepi, tak ada penumpang yang berdiri didepan meja untuk check in, tak ada para pengantar, tak ada kuli yang menawarkan jasa mengangkat koper, tak ada petugas douane, beberapa orang yang berada disitu koq aneh sekali tak ada yang bercakap cakap.
Apakah matanya yang salah lihat atau panca inderanya terganggu semacam fata morgana ?. Yanti berusaha menggerakkan tangan kirinya untuk mengusap matanya namun tak berhasil entah mengapa, dicobanya dengan tangan kanan namun hasilnya serupa.
Cerita Lendir 2017 | Dicobanya menggelengkan kepala namun entah mengapa di rasakan berat seolah membawa ember terisi air dijunjung diatas kepala, oooh apa yang terjadi. Mendadak hidungnya tersengat oleh bau yang tak disenanginya, bau rokok yang memang selalu dijauhinya kini seolah olah tak mau hilang dari hidungnya, dan bukan itu saja bahkan bau tembakau yang menyengat kemudian menerobos masuk mulutnya. Bau tembakau yang sangat dibencinya itulah yang akhirnya membuatnya sadar dan betapa terkejutnya Yanti ketika dilihat keadaan sebenarnya yang sedang dialaminya.
Ternyata memang benar kedua lengannya sukar digerakkan karena direjang erat dikiri kanan oleh Warso dan Udin. Keduanya sambil menyeringai mesum mennyekal menekan kedua pergelangan tangannya kekasur diatas kepalanya. Sedangkan bau rokok yang tercium dalam keadaan mimpi adalah dari mulut Tholil yang melekat di bibirnya dan berulang ulang mendorong masuk lidahnya yang basah kedalam mulutnya sendiri. Yanti berusaha bangun dan berteriak sekuatnya namun semua sia sia, kakinya menendang seadanya kekiri kekanan namun gerakan itu hanya membuat roknya semakin tersingkap dan ternyata pergelangan kakinya yang langsing itupun kini berada dalam cengkraman tangan Tholil yang kuat sehingga sukar bergerak.
“Emmpfffh, apa apaan, too, toolooong, sialaaan, bangs…aemmppffh, jaangaaan, nnnnggaa maaauu, emppppfh, aauw lepaaaskaan”, Yanti berusaha berteriak sejadinya meminta tolong dan mengharap teriakannya akan didengar.
Ternyata ketiga lelaki jahanam itu sedemikian kuatnya seolah diberi kekuatan tenaga tambahan oleh iblis, sehingga meskipun kini Yanti telah sadar sepenuhnya dan pulih dari obat tidur penenang namun semua rontaannya sia sia saja. Karena kedua tangannya tak dapat melindungi sama sekali maka hanya dalam waktu singkat Tholil kini telah duduk diatas perutnya yang demikian datar langsing sehingga Yanti merasakan sukar bernafas. Jari tangan Tholil kini mulai membuka sisa kancing blus Yanti yang masih tertutup dan sebegitu blus itu terbuka Tholil dengan kasar menarik BH Santi berukuran 34C sehingga langsung terlepas menampakkan kedua buah dadanya yang sedemikian sempurna. Udin dan Warso langsung melotot melihat betapa indahnya pemandangan pegunungan dihadapan mata mereka :
“Waah, baguuus betul tetek si neng, pasti enak diremas dan di enyot nih. Boleh engga gan nyicipin nyusu duluan?”, tanya Warso dan Udin hampir bersamaan kepada Tholil.
“Kalian harus sabar nunggu, pasti ntar gue bagi daging montok, tapi sekarang mesti ditelanjangin dulu nih cewek”, dengus Tholil sambil dengan rakusnya melahap bibir manis Yanti, sementara kedua tangannya mencakup kedua bola di dada Yanti sambil meremas remas.
Cerita Lendir 2017 | Yanti semakin liar meronta dan air mata mulai mengalir disudut matanya, menyadari keadaan yang mengerikan sedang dihadapinya. Selama berpacaran Yanti belum pernah lebih dari ciuman tersembunyi ketika menonton adegan romantis dikegelapan ruangan bioskop. Tunangannya pun penuh pengertian dan hanya sesekali saja menyentuh dan meremas buas dadanya dari luar blusnya, tak pernah dikasari apalagi dibuka BH-nya seperti saat ini. Teriakan dan jeritan Yanti kembali teredam oleh ciuman ganas Tholil dan rasa mual mulas mulai muncul kembali, kali ini bukan karena obat yang dimasukkan di makanan tapi karena rasa takut dan jijik ketika Tholil memasukkan lidah kasar di mulutnya yang kecil itu. Ludah Tholil tercium sangat bau memuakkan kini ikut tercampur dengan ludahnya sendiri sementara buah dadanya terasa sakit diremas oleh tangan Tholil yang kasar.
Gerakan kedua kaki Yanti yang menendang tak teratur kekiri kanan dan keatas justru memberikan kesempatan para pemerkosanya untuk melepaskan dengan paksa secabik celana dalam string yang melindungi auratnya terakhir. Disaat Yanti menendang dengan kedua kakinya agak keatas maka pinggulnya pun ikut naik sedikit sehingga Warso yang mempunyai tangan paling panjang segera merenggut cd string Yanti berwarna ungu muda itu yang langsung robek. Kini Yanti sang jururawat ayu manis telah telanjang bulat seperti bayi yang baru dilahirkan, isak tangisnya semakin menjadi, menyadari sebentar lagi akan kehilangan miliknya yang paling berharga. Dicobanya dengan kekuatan tenaga seorang wanita yang masih ingin membela kehormatannya meronta melepaskan diri dari malapetaka yang mengancam. Sejenak Yanti berhasil melepaskan kedua tangannya dari cengkraman Warso dan Udin dan langsung di cobanya mencakar muka Tholil, namun Tholil dengan sigap dapat menduga maksud gerakan Yanti dan ditangkapnya kedua nadi yang langsing itu dan ditekannya ke kasur disamping kepala Yanti.
“Eh, kalian gimana sih engga becus masa kalah tenaga dengan cewek, ayoh rejeng lagi tangannya, awas kalo lepas lagi semua perjanjian akan dibatalkan !”, bentak Tholil dengan maksud perjanjian pemghapusan hutang anak buahnya.
“Oke, oke boss , jangan takut , nih cewek akan gue ringkus sampe engga berkutik lagi”, demikian jawaban Udin yang langsung bersama Warso kembali mengambil alih tugas memegang nadi Yanti.
Keduanya berpandangan dan saling mengangguk, kemudian Warso meraih saku celananya yang terletak dilantai, dikeluarkannya tali rami yang kuat dan diikatnya kedua pergelangan tangan Yanti lalu diletakkannya diatas kepala, sehingga kedua ketiak Yanti terpampang.
“Wah, ketiaknya bagus boss, engga ada bulunya sama sekali, emang lain nih perawat dari kota”, ujar Warso sambil mengelus ketiak Yanti yang segera ditiru oleh Udin, menimbulkan rasa geli tak terkira pada Yanti.
“Mulutnya perlu ditutup lakban apa engga boss ?”, tanya Udin kepada Tholil, karena sementara itu Yanti masih saja berteriak minta tolong.
“Kalian goblok amat sih, masa ditutup lakban , kan lebih baik kalo disumpel sama rudal gue”, jawab Tholil sementara itu mengurangi tindihannya di perut Yanti hanya dengan maksud melepaskan celana dalam boxernya. Aksi Tholil itu segera juga di ikuti oleh kedua anak buahnya, sehingga sesaat kemudian tak hanya Yanti yang bugil melainkan ketiga lelaki yang sedang menjarahnya.
Yanti menatap dengan mata membesar di pengaruhi rasa ketakutan dan ngeri karena meskipun sebagai jururawat sudah terbiasa melihat dan merawat tubuh pria sebagai pasiennya, namun belum pernah di saksikannya penis penis sebesar dan sepanjang itu. Semuanya terlihat mulai mengacung mengangguk didepannya, hitam legam penuh pembuluh darah seolah memberi salam dan meminta permisi untuk membantai kegadisannya.
Tholil kini menggeser tubuhnya kearah kepala korbannya, dipegangnya penis hitamnya dan disodorkan dihadapan mulut Yanti yang tentu saja menolak dan menutup serapat mungkin sambil melengoskan kepalanya kesamping.
“He he he, pake malu malu nih si neng, pasti orang kota seneng makan sosis ya, ini cobain sosis desa asli yang bisa bikin neng ketagihan”, celoteh Tholil sambil mengusapkan penisnya ke bibir dan ke pipi Yanti yang amat halus. Rasa jijik Yanti tak dapat diuraikan kata kata, namun penolakannya tak berlangsung lama karena Tholil menutup hidung bangir Yanti sehingga tak dapat bernafas. Sekaligus dipilin, dicubit dan ditariknya puting susu Yanti menyebabkan rasa ngilu dan :
“Aaaaauw, sakiiff……ouuf, eemmffh”, teriakan sakit Santi langsung teredam oleh kemaluan Tholil.
“Naaah, begitu pinter ya si neng, ayo kulum, jilaaaat, iseeep yang rajin, ntar dapet hadiah joghurt alami, aaah ini kan babak permulaan dan lubang pertama yang abang perkosa, babak berikut segera nyusul, ooooh terus”, demikianlah dengusan Tholil yang merem melek merasakan hangatnya mulut Yanti menyelubungi kemaluannya.
Sebagai jururawat Yanti sangat memperhatikan soal kebersihan, bukan saja kemaluan sendiri namun tunangannya pun selalu dianjurkan dimana mungkin untuk selalu membersihkan ujung kepala kemaluannya setelah kecing agar tidak berbau pesing. Kini mulutnya sendiri dijejal dipenuhi oleh penis besar yang berbau tidak enak, bahkan bulu kemaluan Tholil yang lebatpun berbau asam entah sudah berapa lama tak dibersihkan dicuci tuntas. Yanti berusaha melepehkan mendorong keluar penis yang sedang menyiksa rongga mulutnya itu dengan lidahnya, namun hal ini tentu saja tak diizinkan oleh Tholil bahkan dorongan lidah Yanti disalah tafsirkannya sebagai gerakan menyapu dan menjilat kepala kejantanannya.
“Ooooh, iya iya iyaaaa teruuuus, anak manis pinteeer bangeeet, abang nggga lama lagi mau keluaaaar niih”, terdengar geraman suara Tholil yang kini justru memegang erat kepala Yanti sehingga tak dapat bergerak lagi. Sekaligus Tholil mendorong penisnya sedalam mungkin sehingga masuk sekitar sepertiganya, tapi itu sudah cukup dalam untuk ukuran mulut Yanti yang memang sangat mungil. Ujung penis Tholil kini mendesak dan menyentuh dinding tenggorokan Yanti sehingga Yanti betul betul kelabakan sukar bernafas dan semakin menggelepar di ranjang seperti ikan kekurangan air. Air matanya semakin deras mengalir di kedua pipinya, namun hal ini sama sekali tak menimbulkan rasa kasihan para pemerkosanya, bahkan sebaliknya.
Koleksi Cerita Lendir 2017 | Warso dan Udin kini semakin memberanikan diri mereka untuk mengambil bagian dalam penjarahan gadis kota yang malang itu. Kedua pergelangan tangan Yanti yang telah terikat tali rami diatas kepalanya kini direntangkan lalu diikat kekaki ranjang, sehingga ketiaknya semakin terentang lebar dijadikan sasaran ciuman, gelitikan dan jilatan Udin dan Warso. Tak puas sampai disini saja keduanya dengan penuh nafsu meremas memijit kedua gunung didada Yanti, tak luput pula putingnya yang semakin mencuat keatas diusap, dipilin, ditarik, dan sekaligus dicubit diantara jari jari mereka yang kasar. Bergantian pula mulut dan lidah kedua kuli pegawai Tholil menyupangi ketiak Yanti yang harum, diselang seling dengan gigitan gemas sehinga ketiak Yanti penuh bercak merah.
“Oooouh, ngga tahaaan lagi nih, neng denok bapak mau banjir nih, minuuuum ya semuaaaanya”, seperti kesurupan Tholil menekan pinggulnya ke wajah Yanti, alat kemaluannya berdenyut denyut dan semburan lahar sperma hangat menyemprot kedalam mulut Yanti.
Tholil yang dengan sengaja telah beberapa hari tak menggauli istrinya mempunyai cadangan sperma cukup banyak, dan kini mulai disumbangkannya di mulut yang masih perawan itu. Yanti tak dapat berbuat apa apa didalam kekuasaan ketiga lelaki yang sedang kesetanan itu, kerongkongannya dipenuhi cairan kental hangat agak asin sepat dan berbau hanyir. Yanti berusaha menahan nafasnya dan masih menolak untuk menelan tapi begitu banyak cairan aneh yang belum pernah dirasakannya itu terkumpul didepan kerongkongan dan tenggorokannya itu sehingga ia hanya mempunyai pilihan : tersedak dan terselak oleh benih kelakian Tholil atau terpaksa ditelannya. Akhirnya mau tak mau ditelannya cairan hanyir yang dirasakan sangat menjijikkan itu dan benar benar dirasakannya sangat tersiksa dan terhina sehingga hampir saja di muntahkannya kembali.
Namun untuk itu Tholil tak memberikan kesempatan sama sekali : penisnya yang begitu besar menutup seluruh rongga mulut Yanti sehingga seluruh laharnya terpaksa di telan oleh korbannya itu. Setelah dirasakan denyutan rudalnya telah berhenti dan Yanti telah kehabisan nafas barulah dilepaskan cekalannya pada kepala perawat secantik bidadari itu. Yanti hanya sanggup menangis terisak isak sambil masih merasakan sengatan bau yang aneh di mulutnya, namun segera Tholil kembali menciumnya dengan ganas dan mencampurkannya dengan ludahnya yang didalam penciuman Yanti tak kalah baunya dengan cairan lahar panasnya.
“Hhmmm, gimana neng rasanya semprotan sosis abang, enak kan – ayoh ngaku deh jangan malu malu”, tanya Tholil penuh kepuasan; “sekarang gantian abang mau minum cairan madu kenikmatan dari neng Yanti nih”, sambungnya di sertai seringai serigalanya. Yanti yang merasa mulai lemas namun terus terusan dirangsang oleh Warso dan Udin tidak langsung memahami apa maksud kalimat Tholil terakhir itu. Ia hanya berusaha sia sia melepaskan kedua tangannya yang terikat erat di kedua ujung kaki ranjang diatas kepalanya, namun apa artinya rontaan gadis seperti Yanti ?
Dirasakannya Tholil kini beralih menggeserkan badannya yang berbulu lebat itu kebawah, kedua tangan kasar berbulu menepis tangan Warso dan Udin yang sedang asyiknya bermain di puting Yanti. Kini remasan, pilinan, pijitan dan cubitan di putingnya terasa semakin ngilu dan menyakitkan, karena birahi Tholil semakin meningkat melihat indahnya hiasan alamiah dada Yanti.
Buah dada yang biasanya tersembunyi dibalik BH berukuran 34C itu tidak terlalu besar namun sangat sesuai dengan proporsi tubuh seorang wanita Asia khususnya Indonesia. Terlihat sangat padat montok tanpa terlihat ngondoy sedikitpun kearah bawah, bahkan justru seolah olah menonjol membusung kedepan seolah olah sangat bangga menjadi atribut kewanitaan Yanti. Kedua bukit daging yang sangat elastis di dalam remasan Tholil itu dihiasi pula oleh puting kerucut berwarna coklat muda kemerah-merahan dengan areola berwarna coklat muda pula. Yanti tak sanggup menahan rintihan keluar dari bibirnya yang setengah terbuka ketika Tholil terus menerus memilin dan bahkan kini menggigit gigit dan menjilati puting sedemikian peka, menyebabkan puting itu terasa membengkak.
Sementara itu Warso dan Udin menukar siasatnya dan menjilati telinga Yanti dari kiri kanan menyebabkan kegelian sukar ditahan, akibatnya Yanti makin menggeliatkan bagian badannya yang masih bebas yaitu kedua kakinya. Tholil semakin menurunkan badannya dan jilatan lidahnya kini telah mencapai perut yang datar langsing, makin turun menciumi pusar, mengendus di bawah pusar, mencupangi , menjilati menggigiti bagian dalam paha dan selangkangan, untuk akhirnya……Yanti berusaha mati matian menahan rasa aneh yang muncul di tubuhnya yang sehat sebagaimana wanita dewasa : rasa muak, jijik dan benci terhadap semua bibir ketiga laki laki yang bergantian menciumnya, mual tergadap cairan kejantanan yang terpaksa harus ditelannya, geli atas hembusan nafas panas di kedua liang telinganya, geli atas usapan dan cupang cupangan di ketiaknya, geli dan ngilu tercampur sakit di buah dada dan terutama putingnya yang di pilin, di remas, di cubit, ditarik tarik dan di gigit gigit dengan ganas.
Semua rasa itu kini makin bertambah dengan rasa malu tak terkira ketika Tholil semakin memusatkan rangsangan di bagian bawah tubuhnya. Bulu tengkuknya ikut berdiri merasakan kecupan, jilatan dan gigitan di perut bawahnya, di lipatan pahanya, bagian dalam pahanya dan kini beralih ke selangkangannnya. Dicobanya sekuat tenaga merapatkan kedua pahanya yang putih mulus, namun apakah daya gadis remaja di kerubuti tiga lelaki kasar. Selain besarnya tenaga Tholil menguakkan pahanya sehingga tak sanggup dikatupnya lagi, juga Udin dan Warso yang kini tak perlu lagi memegangi tangan Yanti yang telah terikat disudut kaki ranjang ikut membantu mencekal pergelangan kakinya lalu dipaksa ditekuk keatas dan kesamping.
Koleksi Cerita Lendir 2017 | Terbukalah semua bagian intim si perawan dihadapan muka Tholil, dan dengan disertai geraman ibarat binatang buas disentuhnya aurat Yanti yang belum pernah tersentuh jari lelaki manapun, termasuk tunangannya. Karena kuatnya tenaga Warso dan Udin sebagai kuli kuli kasar perkebunan dibandingkan dengan tenaga Yanti maka keduanya cukup hanya memakai satu tangan saja merejang pergelangan kaki Yanti yang langsing. Warso yang berada disebelah kanan Yanti memakai tangan kirinya untuk meremas remas buah dada Yanti sebelah kanan sementara tangan kanannya merejang pergelangan kaki kanan Yanti dan ditariknya semaksimal mungkin kesamping.
Tak cukup sampai disini saja – kini telapak kaki Yanti yang juga sedemikian halus terawat kulitnya dijilat jilatnya kemudian jari jari kaki kanan Yanti dimasukkan kemulut dan dikulum kulumnya pula. Hal yang sama dilakukan oleh Udin yang berada disebelah kiri badan Yanti yang semakin meliuk meliuk meronta sekuatnya karena kegelian.
“Jangaaaan paak, jangaaan, lepasin saya, ngga mau diginiin, lepaaas, toloooong, ampuuuun, udaaaah”, kembali teriak Yanti memenuhi ruangan namun tak ada seorang pun disaat itu yang akan mendengarnya. Hampir semua penduduk desa itu sedang menikmati hidangan musik dangdut dan goyangan pinggul ngebor artis terkenal dari ibukota.
“He he he, coba ya bapak periksa apa benar masih ada jururawat dari ibukota yang masih perawan, bapak inspeksi ya apa selaput bentuk bulan sabit masih menutupi goa surgawi si neng”, kembali Tholil mengeluarkan silat lidahnya yang disambut dengan anggukan kepala Udin dan Warso sebagai tanda setuju.
Tholil mengusap usap bukit Venus Yanti yang hanya tertutup sedikit oleh bulu kemaluan halus karena Yanti memang selalu merawat dan mencukurnya setiap minggu. Celah kemaluan yang begitu merangsang mata lelaki terlihat masih terlihat merapat, bibir kemaluan berwarna kemerah merahan seolah masih malu membuka, mengingatkan buah duren berdempetan belum terbuka atau kerang laut yang masih mengatup.
Wajah Tholil dengan seringai cabulnya semakin lama semakin mendekati bukit Venus itu, dengusan nafasnya yang panas ibarat serigala keleparan terasa semakin menghembus belahan kenikmatan Yanti.
Jururawat ayu cantik itu semakin ketakutan menghadapi nasib yang tak akan terelakkan lagi, inikah perasaan seorang gadis dizaman purba yang akan dijadikan korban persembahan untuk dewa angkara murka ? Pernah dibacanya pelbagai kisah di Mesir sebelum puncak kekuasaan Faraoh atau keganasan suku Viking yang selalu mengorbankan perawan murni kepada dewa Odin. Bagaimanapun rontaan yang dicobanya tak sanggup mengatasi tenaga tiga pria setengah baya yang terbiasa dengan pekerjaan kasar di perkebunan atau sebagai serdadu.
Tholil kini meletakkan ibu jari dan telunjuknya dikiri kanan celah yang sebentar lagi akan dijarahnya itu, dibukanya celah ditengah bukit Venus itu dengan amat perlahan lahan seolah takut merusak sesuatu yang sangat berharga. Bagian dalam dari celah itu terkuak memperlihatkan panorama yang selalu menjadi impian setiap lelaki : dinding celah berwarna merah jambu muda dihiasi pembuluh darah halus bak rambut. Dinding itu agak berkilat akibat cairan pelumas alami yang mau tak mau akan keluar sendiri jika seorang wanita dirangsang.
Dibagian atas tengah yang lebih berwarna merah gelap terlihat lubang amat kecil yang pasti berhubungan ke kandung kemihnya. Dibawahnya terlihat pula celah yang dikiri kanannya terlindungi selaput tipis warna merah jambu agak mirip bulan sabit – inilah yang dicari cari oleh Tholil. Dengan tak sabar dan penuh kerakusan dikecupnya celah surgawi Yanti yang kini telah terbuka karena kiri kanannya ditahan oleh telunjuk dan ibu jari Tholil. Dijulurkannya lidahnya yang kasar untuk merasakan kehalusan selaput lendir celah perawan yang sebentar lagi akan dicicipinya penuh kehausan. Yanti yang belum pernah mengalami intim dengan lelaki – apalagi telanjang bulat dipaksa membuka selangkangan aurat kewanitaannya – mencoba mati matian mengatupkan lagi pahanya – namun tak mampu melawan kekuatan kuli² di kiri kanannya yang menahan posisi memalukannya itu.
Cerita Lendir Terbaru 2017 | Terasa seluruh paha betisnya kaku kejang kesemutan karena terus menerus dipaksa mengangkang maksimal disamping merasa geli karena pahanya pun diusap usap. Terlebih lagi rasa malu Yanti ketika dirasakan lidah Tholil mulai memasuki liang sanggamanya, menyapu mengusap – menyelinap kebagian lebih dalam lagi mendekati batas antara kegadisan dan kedewasaan seorang wanita. Mendadak dirasakannya sapuan lidah itu mencari mengalihkan tujuan dan kini menyentuh daging kecil diujung atas vaginanya, daging kecil ibarat butir jagung sangat peka kini menjadi sasaran lidah , bibir dan gigi gigi tajam Tholil. Ibarat tersentuh aliran listrik voltage tinggi Yanti melentingkan badannya karena dirasakannya geli tak terkira, bibir yang selama ini hanya merintih dan melenguh lemah kembali mengeluarkan jeritan melengking :
“Auw jangaan pak, jangaan, toloooong, saya mau diapaiiin, ampuuuun, aampuuun, udaaaah paaak, lepasin, kasihani saya pak, auuuw”, teriakan Yanti terdengar memilukan, namun hanya menambah semangat ketiga lelaki yang memperoleh gadis si ayu.
Bunyi kecipak mulut dan lidah Tholil tak kalah serunya menimpali keluhan memelas Yanti :”Mmmmmh, legiiit amat nih jagung muda, mana maniiiis lagi, hhhmh bapak mesti hemaat nih pakenya engga boleh sembarangan”, celoteh Tholil penuh kepuasan menikmati geliatan rontaan Yanti tanpa memperdulikan jeritan jeritan yang makin melemah.
Jeritan itu pun kita semakin tersendat terputus putus karena ketika melihat Tholil telah memusatkan perhatiannya dibagian badan bawah korbannya, maka Udin dan Warso kini mempunyai lebih banyak kebebasan dibagian atas badan Yanti. Bergantian Warso dan Udin merajah mulut mungil Yanti, menciuminya dengan rakus, memasukkan lidah mereka yang tak kalah baunya kerongga mulut Yanti, sementara tangan mereka meremas remas buah dada. Disaat Udin menyerang mulut Yanti maka Warso menciumi ketiak , leher dan buah dada si perawat yang semakin memerah penuh cupangan, dan putingnya semakin menegak mencuat akibat jilatan dan gigitan ganas, demikian sebaliknya. Geli, nyeri, ngilu , sakit dan nikmat tak henti hentinya dirasakan oleh Yanti yang semakin lemas pasrah.
Gelombang demi gelombang rangsangan menghantam menyerbu benteng pertahanan Yanti yang semakin menipis, badan sehat wanita dewasa memang di”atur” oleh alam untuk pada saat tertentu mempersiapkan diri menerima benih pria. Oleh karena itu percuma sajalah Yanti melawan semua naluri alamiahnya itu , baik secara fisik maupun mental – betapapun perlawanan di bawah kesadaran masih memberontak, namun dari bawah kesadaran itu pula akan muncul gejolak badaniah lain yang akan mengalahkan semuanya.
“Aaauuuuuw, ennggggaaaa mauu, jangaaan, aaaaaahh, tolooooong, geliiiii, aaaaaah, emmmmhh, lepaaaaaaa, oooooh, jangaaaan paak, tolooooong, aauuuuw”, desahan Yanti dengan rontaan dan geliatan semakin lemah dan lemas.
Tholil merasakan semakin bertambahnya cairan pelicin keluar dari lubang vagina korbannya, dan sebagai pria pengalaman ia merasakan pula perubahan rasa cairan itu : semula terasa asam dan perlahan lahan berubah menjadi lebih sepat. Ini tanda tak dapat dipungkiri lagi bahwa sang betina telah disiapkan oleh alam untuk bersatu badan dengan sang jantan. Tholil memberikan tanda kepada kedua konconya untuk melepaskan cengkraman mereka dipergelangan kaki Yanti, di raihnya kedua betis si bidadari dan diletakkkannnya paha mulus itu di atas pundaknya. Ibarat hewan persembahan yang tinggal menunggu penyembelihan Yanti hanya pasrah lemas diperlakukan demikian, hanya sekali dua dipukulkan tumit kakinya yang mungil itu ke punggung Tholil.
Dengan penuh kepuasan dan rasa kemenangan ditatapnya wajah Yanti yang meskipun kini terlihat kuyu dengan rambut tergerai tak teratur, wajah yang tetap ayu manis cantik sebentar lagi pasti akan meringis bergolek kekanan kekiri jika merasakan sakit tak terkira. Tholil memegang kemaluannya yang telah mengeras membesar maksimal, diarahkannya kedalam celah licin basah oleh lendir kewanitaan, perlahan tapi pasti kejantanan itu memasuki gerbang surgawi yang diapit oleh bibir kemaluan berbulu halus. Bibir kemaluan Yanti dipaksa untuk membuka, dipaksa untuk merekah dan alat pemerkosa berkepala helm seperti jamur itu mendesak masuk : milimemeter demi milimeter dibelahnya dinding vagina sang gadis ibarat pentungan daging penuh air mani.
Yanti merintih, meratap dan memohon dikasihani, memohon agar milik satu satunya itu jangan direnggut, air matanya mengalir deras disertai :
“Aduuuuuh, aaaaaah, nyerriiiiiii, sakiiiiiiiiit paak, ampuuuuuun, udaaaaah, sakiiiiit, tolooong, jangaaaan diterusin, auuuuuuuuuww……”. Tholil kembali memberikan tanda kepada kedua anak buahnya untuk kini melepaskan ikatan tangan Yanti karena ia ingin merasakan rontaan dan terutama cakaran kuku seorang gadis yang direnggut keperawanannya. Dan memang betul : sebegitu lekas kedua tangan terlepas, meskipun masih terasa kaku kesemutan Yanti berusaha mencakar muka Tholil, namun sia sia karena muka Tholil telah melekat dengan muka Yanti dan bibirnya yang tebal dower dengan kumis kaku kasar ibarat ijuk menutup mulut Yanti. Teriakan dan tangisan Yanti kini teredam sehingga hampir tak terdengar dan si perawat cantik itu didera oleh rasa sakit tak terkira dikemaluannya.
Sebagai lelaki yang sudah sangat pengalaman dalam merenggut kegadisan wanita muda Tholil semakin lama semakin mahir mengendalikan hawa nafsunya, semakin mahir merasakan kapan senjatanya yang besar itu mulai menyentuh selaput dara seorang gadis. Selaput dara yang sangat peka itu tidak di terobosnya sekaligus sebagaimana anak muda ingusan atau suami yang tak punya pengalaman, namun selalu disentuh ditekan tekannya sehingga terasa sangat sakit ngilu. Tholil mempunyai kecenderungan sadis untuk menikmati wajah wanita – apalagi seorang gadis – yang dilanda rasa sakit saat menerima tusukan rudalnya yang besar dan lebar itu. Apalagi kali ini adalah wajah cantik jelita seorang perawat kota : wajah Yanti yang menengadah keatas atau menoleh kekiri kekanan , wajah penuh air mata dan mulut mungil bibir basah terbuka mengeluarkan rintihan memilukan merasakan siksaan sementara hidung bangir mancung kembang kempis menahan isak tangis :
“Sakiiiiiit, paaaak, ampuuuuun, auuuuuw, udaaaah pak, kasihani saya paaaaak, ngggaaa tahaaaan paaak, udaaaah dong, aaamppuuuun”, namun semua laki laki disitu hanya tertawa.
Sekitar seperempat jam Tholil mempermainkan senjatanya menyiksa selaput tipis yang sedemikian sensitif sebelum akhirnya dengan geraman penuh kemenangan ditembusnya keperawanan Yanti. Saat pecah robeknya keperawanannya Yanti tak berdaya lagi menahan diri : raungan dan jeritan memenuhi ruangan, disusul dengan rintihan tangis – dan disaat itu Yanti dengan sekuat tenaga menancapkan kukunya dipunggung Tholil, kemudian tanpa disadari sendiri digigitnya sekuat tenaga bahu Tholil yang kekar penuh otot itu. Tholil hanya tersenyum bangga, dicekalnya kedua pergelangan tangan Yanti, ditekannya ke kasur, diangkatnya tubuh bagian atasnya sendiri sehingga gigitan Yanti lepas. Kini dimulainya gerakan maju mundur pinggulnya yang berarti disiksanya lubang surgawi yang bari diterobosnya itu : Yanti merasakan betapa perihnya luka dari selaput daranya yang bari sobek dan kini luka masih terbuka itu digosok gosok oleh benda asing, maju mundur , maju mundur tanpa terhenti semakin lama semakin cepat dan akhirnya………
Bagaikan gunung merapi yang telah lama memendam lahar panas kini meletus dan menyemburkan laharnya itu ke luar membanjiri vagina dan rahim Yanti. Selama menyemburkan spermanya itu Tholil tak berhenti bergerak, bahkan tetap menjedug jedug mulut rahim yang saat itu juga sangat peka.
Namun Yanti sudah sedemikian lemah dan hanya dapat pasrah merasakan tubuhnya di perkosa habis habisan , diharapkannya agar semua mimpi buruk ini lekas berlalu namun yang terjadi justru sebaliknya : dari tengah selangkangannya yang sedang disiksa itu muncul perlahan lahan rasa lain yang aneh. Ada rasa hangat sedikit ngilu gatal menyebabkan keinginan agar gerakan maju mundur yang baru saja dialaminya dan sangat menyakitkan itu bahkan terulang kembali, justru seolah meminta dan menagih diteruskan dan jangan dihentikan.
Yanti tidak mengerti “pengkhianatan” tubuhnya terhadap perkosaan yang baru dialaminya. Rasa sangat jijik , muak dan kebencian terhadap para pemerkosanya kini tercampur rasa keinginan untuk ditaklukkan kembali, merasakan ketidak berdayaan dikuasai dan direjang sehingga tak berkutik sama sekali. Disaat Tholil ambruk menindih tubuhnya setelah orgasmus dan ejakulasi justru Yanti melingkarkan kakinya yang mulus itu ke pinggang si pemerkosanya, seolah tak ingin melepaskan penis yang masih tertancap di vaginanya. Tanpa disadari Yanti menggeser pinggulnya kekiri kekanan, kemudian bergoyang berputar dengan lemah seperti menginginkan agar “kegatalan”nya di “obati” dengan gerakan maju mundur yang mungkin memberikan kesan seperti “menggaruk”.
Tholil sendiri merasakan ada denyutan dan remasan halus di kemaluannya yang sebetulnya mulai “tidur” didalam liang vagina Yanti dan ini sama sekali belum pernah dialaminya ketika menggagahi wanita manapun termasuk para istrinya apalagi oleh seorang gadis yang baru saja di perkosa habis habisan. Tholil mengangkat tubuh atasnya dan meperhatikan wajah Yanti yang penuh keringat dan kelihatan tak sadar dengan dengusan dan rintihan halus dari hidung serta mulut yang begitu mungil. Betapa luar biasa bidadari kota ini pikirnya – perempuan ini agaknya houri yang turun dari firdaus untuk selalu memenuhi hasrat birahi laki laki. Diawasinya wajah yang sedemikian ayu manis selalu menimbulkan hasrat hewaniah lawan jenisnya , dan diingatnya bahwa setelah mulut dan vagina masih ada satu lagi lubang yang masih dapat diperawaninya malam ini.
Namun apakah tubuh bidadari ini akan masih kuat untuk mengalami pembantaian sekali lagi dimalam ini , apakah lebih baik menunggu esok hari ? Namun diingatnya lagi bahwa malam ini adalah kesempatan yang mungkin takkan terulang atau kembali lagi : hampir semua penduduk desa sedang absen karena menikmati goyangan ngebor pantat artis Imul Laracitra di desa tetangga. Tholil perlahan lahan bangun melepaskan Yanti dari tindihannya dan kedua anak buahnya pun menghentikan kegiatan sexual mereka seolah olah mulai menduga apa rencana juragan mereka berikutnya. Keduanya menyeringai bergantian dan Udin mengambil kesempatan bertanya :
“Mau diapain lagi nih si nok bahenol Yanti ini gan, boleh ikut ngicipin engga boss ?”.
“Jangan coba coba berpikiran kotor lu, disini cuma gue yang boleh menggarap perawat kota ini, ingat apa perjanjian pelunasan hutang kalian, apa mau dibatalkan hah !” , demikian bentak Tholil seolah tak sadar bahwa benaknya pun pada saat ini tak lain hanya terisi pikiran kotor.
Kedua anak buahnya menggerutu namun sadar berada di fihak lemah akibat hutang mereka yang telah berlarut menumpuk di lintah darat penguasa desa itu. Tholil tak mau bahwa ada benih lain tercampur di rahim si bidadari cantik ini – jika Yanti sampai hamil maka pasti adalah hasil bibitnya, tak ada campuran dengan lelaki lain. Namun sedikit rasa terima kasih Tholil terhadap kedua anak buahnya yang telah membantunya malam ini dan rupanya iblis ikut memberikannya sedikit pertimbangan untuk memberikan sedikit extra bonus :
“Begini deh, gue bagi juga kenikmatan untuk kalian – silahkan bergantian menjarah mulut gadis ini tapi jangan sampai banjir di dalam , kalian boleh semprot dan mandikan wajahnya dengan air myni kalian. Awas kalo sampai ada yang banjir di dalam mulut gue akan batalkan penghapusan hutangnya, faham ?”.
“Okee boss, akuuur, beres deh dijamin mantab siraman di muka si neng , pasti akan jadi obat awet muda wajahnya”, hampir bersamaan kedua kuli itu menjawab majikan mereka.
Kemudian mereka berunding siapakah yang akan mulai dengan perkosaan mulut Yanti di babak kedua – akhirnya Warso mengalah : Udin memulai dan Warso berikutnya. Tubuh Yanti yang langsing bahenol dan masih lemas lunglai setengah pingsan itu kini dibalik tengkurap, kemudian kedua lengannya ditekuk di sikunya, demikian pula kakinya di tekuk di lututnya. Akibatnya kini tubuh Yanti dalam posisi merangkak seperti serdadu yang sedang latihan, hanya bedanya Tholil ikut campur dengan menarik lipatan paha Yanti keatas sehingga pantatnya menungging keatas. Dalam posisi ini terlihatlah vagina Yanti yang licin mengkilat dan basah oleh cairan pelumasnya sendiri tercampur dengan lahar Tholil yang secara perlahan agak mengalir meleleh keluar.
Namun yang lebih jelas lagi terlihat adalah lingkaran lubang anus Yanti berwarna coklat kemerah merahkan bagaikan kuncup bunga yang masih sangat rapat, dihiasi dengan kerut kerut yang menandakan masih utuhnya fungsi otot otot pengunci lubang paling rahasia dan intim ini. Tholil hanya dapat menduga duga betapa akan kerasnya tangis dan teriakan kesakitan Yanti jika disodominya – ketiga istri dan wanita lain didesa itu yang pernah disodominya hampir semuanya meraung raung ibarat hewan disembelih bahkan setengahnya betul betul pingsan lebih dari satu jam.
Tholil mengambil lotion untuk bayi yang telah diambilnya di apotik beberapa hari lalu dan di-oleskannya pelumas yang harum itu di seluruh kepala penisnya yang disunat bahkan juga seluruh batang kemaluannya karena diameternya akan sukar sekali diterima oleh diameter anus Yanti.
Namun Tholil bertekad : Yanti akan dperkosa ketiga lubangnya malam ini, Yanti akan diajarinya untuk takluk dan tunduk sepenuhnya sebagai calon istrinya, Yanti harus menerima nasibnya secara pasrah untuk melayani keinginan seksualnya , Yanti akan diajari mengalami derita sakit tapi nikmat ! Cukup dengan membayangkan itu semua kemaluan Tholil kembali membesar menegang dan mengeras, siap tunaikan tugas berikut, terakhir, namun mungkin yang terberat malam ini : memasuki lubang tersempit ditubuh molek Yanti.
Masih dalam keadaan hanya setengah sadar Yanti merasakan tubuhnya menungging dengan pantat semakin tinggi ke atas, lalu dirasakan ada jari jari mengoleskan cairan agak dingin di lubang anusnya. Hal ini membuatnya sadar dan ingin berontak namun tubuhnya kembali dipegangi dari dua arah oleh Warso dan Udin sehingga tak dapat berkutik atau membebaskan diri dari posisi tak nyaman itu. Ketika Yanti berusaha untuk menepiskan jari jari yang kurang ajar di anusnya itu mendadak kedua tangannya diputar di telikung dan direjang kebelakang punggungnya sehingga mulai terasa sakit di sendi bahunya menyebabkan Yanti merintih. Yanti merasakan kedua pergelangan tangannya di rejang oleh jari jari kuat dan kasar sehingga tak dapat bergerak dan sekaligus anusnya dimasuki oleh sebuah jari yang licin. Naluri alamiah Yanti memeperingatkannya apa yang mungkin akan terjadi dan isak tangisnya mulai muncul kembali :
“Jangaaaaan, jangaaaan, aduuuuh, enggaaa maaaau disitu, jangaaaaan , toloooong, ampuuuuun, kasihaniiii doong, ya Allaaah, ampuuuun, enggaaaa maauuuuu, auuuuuw, auuuuw, ngiluuuuu”, Yanti meliuk liukkan badannya tak berdaya ketika dirasakannya bukan hanya satu melainkan dua jari Tholil memasuki anusnya dan berusaha melebarkan lubang duburnya.
Ketika Yanti berteriak sekuat kuatnya tiba tiba rambutnya dijambak kebelakang oleh Warso dan mulutnya yang terbuka lebar di masuki oleh penis Udin yang juga cukup panjang dan besar dan sangat berbau pesing tak enak.
Yanti merasakan tubuhnya seolah bukan lagi miliknya : mulutnya dijarah oleh penis yang memualkan, payu daranya terutama putingnya di pilin dan di cubiti serta ditarik tarik oleh jari jari Warso , dan duburnya dipaksa dilebarkan oleh dua buah jari Tholil. Mendadak kedua jari yang menyiksanya itu ditarik keluar sehingga Yanti menarik nafas agak lega, namun hal ini tidak berlangsung lama karena kini dirasakannya sebuah benda lain menekan mencoba memasuki anusnya.
Yanti mulai sadar bahwa benda asing itu adalah alat kejantanan Tholil yang belum lama ini merenggut merobek selaput kegadisannya. Kini alat kejantanan yang sama berusaha merebut keperawanannya yang kedua – ya Allah toloong, jangan biarkan hal ini! Yanti merasakan kemaluan Tholil terus menekan, mendorong dan mendesak berusaha mengalahkan pertahanan otot dubur yang secara alamiah sangat kuat mengunci lubang paling intim di tubuh manusia itu.
Otot berbentuk lingkaran itu kini dipaksa untuk membuka bukan dengan cara alamiah melainkan cara kasar perkosaan dan meskipun telah di berikan lotion pelumas yang biasa dipakai oleh bayi, namun tetap saja bertahan mati matian melawan benda asing yang ingin masuk. Yanti tak tahu lagi apa yang terasa di tubuhnya saat itu , jijik dan mual dengan kemaluan Udin yang bau di mulutnya, putingnya terasa membesar lebih dari tiga kali akibat cubitan dan gigitan ganas pemerkosa, dan nyeri sakit tak terkira di duburnya yang sedang dipaksa melebar diluar ukuran normal.
Tholil mendesak dan mencoba melesakkan kemaluannya sekuat tenaganya namun belum ada kemajuan meskipun dengan dorongan semaksimal mungkin sementara Yanti hampir pingsan menahan sakit tak terkira. Oleh karena itu Tholil menukar taktiknya dan selain mendorong kejantanannya ia kini meraba raba ke selangkangan Yanti lalu ia mengusap usap kelentit Yanti yang masih sangat peka akibat rangsangan bibir, lidah dan giginya tadi.
Diluar kemampuan dan keinginannya otot otot vagina Yanti berkontraksi lalu relaks kembali kontraksi dan relaks – hal sama terjadi dengan otot otot lingkar sekitar anusnya. Dan justru pada saat otot otot lingkar sekitar anusnya sedikit relaks maka Tholil menekan kepala penisnya sekuat tenaga , akibatnya …. blesssss, bagian kepala penis berbentuk seperti topi helm serdadu masuk membelah dan memerawani lubang dubur yang sempit itu.
Yanti berteriak dan menjerit jerit sekuat isi paru parunya namun tak dapat keluar karena mulutnya dipenuhi oleh batang kemaluan Udin, yang keluar hanyalah rintihan :
“Aooouuufffhhh, empfhhhhhh, sssssskkkkkttttt, mmmppppn, jjjjjjnnnggggggnnn, ennggggghhhhhh”,
dan akhirnya tak ada suara lagi yang keluar. Rupanya Yanti telah kelenger tak dapat lagi menahan siksaan yang sedang diderita tubuhnya, dan pada saat bersamaaan Udin menarik keluar batang rudalnya yang langsung menyemburkan sperma membasahi wajah Yanti yang telah layu itu. Namun Tholil masih saja asyik menjarah dan memasukkan penisnya semakin dalam, semakin dalam akhirnya biji pelirnya menempel dengan bongkahan pantat Yanti.
Kini mulailah dimaju mundurkannya pinggulnya dengan ritme gonta ganti, terkadang halus perlahan menggoyang kekiri kekanan dan memutar seolah sedang menggoda korbannya, tak lama kemudian diganti dengan ritme ganas stakkato seolah olah bor listrik sedang menghantam dinding beton. Kini Udin menjambak rambut Yanti dengan kasar dan pada saat bersamaan Tholil menghantamkan senjatanya sedalam mungkin – dan akibatnya Yanti melenguh perlahan dan mulai sadar lagi.
Kesempatan ini tak dibiarkan begitu saja oleh Warso yang masih ingin meminta jatahnya : diangkatnya dagu Yanti dan di lekatkannya batang penisnya di bibir yang setengah terbuka. Telah habis sama sekali rupanya tenaga Yanti untuk melawan dan dimakluminya tugas apa yang masih harus dipenuhinya : dengan air mata berlinang dibiarkannya penis Warso yang tak begitu panjang namun lebih lebar diameternya daripada milik Udin memasuki rongga mulutnya, maju mundur maju mundur maju semakin dalam sehingga menyentuh lagi kerongkongannya sehingga hampir Yanti terbatuk batuk.
Dengan wajah yang tetap cantik meskipun acak acakan Yanti pasrah menerima sodokan dari depan dan belakang, dari depan menyebabkannya sukar bernafas dan ingin muntah sedangkan sodokan dari belakang sangat menyakitkan anusnya yang terasa sangat panas pedih seperti disayat sayat pisau silet.
Bagaikan telah sepakat satu sama lain kedua lelaki pemerkosa itu makin mempercepat ritme hunjaman mereka ke mulut dan anus Yanti untuk akhirnya disertai geraman penuh kepuasan keduanya menumpahkan cairan sperma mereka : Tholil didalam rektum dan Warso di wajah dan rambut Yanti. Isakan tangis Yanti yang menimbulkan rasa iba mengiringi ambruk tubuhnya tertelungkup ke ranjang – hanya gerakan halus pernafasan disertai sesenggukan menandakan bahwa perawat malang itu masih hidup.
Ketiga lelaki setengah baya yang telah menjarah jururawat malang itu habis habisan kini memapang Yanti nenuju kamar mandi , dimandikannya tubuh langsing namun sintal bahenol itu sehingga bersih dari bekas sperma, ludah dan darah keperawanannya, dipakaikan lagi bh dan cd baru dari lemari pakaian, lalu baju tidur yang bersih pula, kemudian diletakkan hati hati diranjang dan ditutupi dengan selimut. Yanti yang merasa seolah tubuhnya tak bertulang sama sekali langsung jatuh tidur kembali, sedangkan ketiga pemerkosanya perlahan lahan meninggalkannya, menutup dan mengunci pintu dari luar kemudian menghilang di kegelapan malam dengan motor motor mereka.
Selama 3 hari Yanti tak dapat melayani pasien di Puskesmas karena sakit demam – ia hanya bangun keluar ranjang untuk makan minum. Di hari ke empat desa itu geger karena perawat Yanti menghilang entah kemana, semua barang miliknya ditinggal, koper dan tasnya masih berada di lemari. Hanya tas kecil yang selalu terisi KTP, kartu kartu penting lain dan juga uang tunai tak ada, demikian pula sepatunya tak ditemukan.
Ini merupakan indikasi bahwa Yanti telah meninggalkan desa itu secara diam diam dan berusaha menghapuskan kenangan mengerikan yang dialaminya. Tak dapat di bayangkan betapa marahnya Tholil karen mangsa yang baru sempat diperkosa sekali dan diimpikannya akan menjadi istrinya yang ke 4 lolos dari cengkramannya. Diadukannya hal ini ke pusat namun disitu pun tak ada yang tahu kemana perginya Yanti si perawat.
Tunangan Yanti pun mendadak kembali ke tanah air karena mendengar peristiwa menghilangnya Yanti – di kamar kostnya pun tak ada yang hilang , semua lengkap hanya penghuninya ibarat masuk ke dalam bumi tak ada jejaknya. Usaha pencarian Yanti setelah berbulan bulan akhirnya dihentikan tanpa hasil dan setelah lebih dari setahun perlahan lahan semuanya mulai melupakan individu Yanti ini ; tunangannya pun sudah mempunyai pacar baru.
Di desa yang menjadi saksi bisu peristiwa perkosaan Yanti itu setengah tahun kemudian mengalami beberapa kejutan : Udin si mandor perkebunan mengalami kecelakaan mobil dan terluka sangat parah dan langsung meninggal. Warso si buruh perkebunan karet di gigit ular berbisa yang entah muncul begitu saja dan langsung menghilang lagi dan karena sangat terlambat mencari pertolongan akhirnya dihari yang sama juga meninggal.
Tholil dalam tahun yang sama mengidap tumor di otak – tak langsung meninggal tapi perlahan lahan fungsi tubuhnya memburuk – dimulai dengan lumpuh kakinya, kemudian sukar untuk bicara, sukar menelan, sukar bernafas, sebelum akhirnya meninggal dalam keadaan kurus kering dalam tahun berikutnya.
########################
EPILOG
Di sebuah RS cukup besar dan modern di salah satu negara Eropa bekerja pasangan suami istri dokter Indo dan jururawat berasal dari Indonesia. Keduanya terlihat sangat serasi , sang dokter spesialis bedah cakep dan ganteng sedangkan istrinya jururawat di bagian penyakit dalam ayu cantik penuh keramahan kesabaran, sehingga keduanya sangat disenangi dan dihormati disitu , baik oleh rekan kerja maupun para pasien orang orang bulé.
Keduanya ibarat sudah ditakdirkan untuk bertemu dan menjadi pasangan sejoli : sang dokter yang sedang liburan di Indonesia mengendarai mobil di tengah malam menjelang pagi setelah pulang seminar. Tak biasanya ia mengambil jalan memotong desa tanpa melewati jalan besar – dan ditengah jalan diantara desa desa yang jarang diterangi lampu dilihatnya seorang gadis berdiri dipinggir jalan.
Cerita Lendir Terbaru 2017 | Gadis itu sangat cantik namun terlihat sedang dilanda kesedihan tidak terkira – sang dokter merasa sangat heran namun bersedia mengantarkan si gadis ketempat kostnya. Seminggu kemudian si dokter dengan orangtua dulunya berasal dari Indonesia tapi sudah lama tinggal di LN kembali ke Eropah – dan duduk disampingnya dalam pesawat adalah gadis cantik yang ditemukannya ditengah malam. Keduanya semula ingin menikah di Indonesia namun karena keduanya berbeda agama maka banyak sekali rintangan birokrasi yang harus diatasi.
Oleh karena itu mereka akhirnya menikah di luar negeri : di sebuah negara di Eropah , dimana sama sekali tak ada masalah apakah pasangan calon suami istri berbeda agama atau bahkan sama sekali tak beragama. Agama adalah urusan pribadi – setiap individu harus mempertanggung jawabkan bagaimana kehidupannya kepada Yang Maha Agung – tak perlu di campur adukkan dengan urusan negara apalagi urusan untuk menikah. Konsekwensi jika berbeda agama adalah harus ditanggung oleh pribadi masing masing – negara harus bersikap netral dan tak boleh ikut campur.
Sang suami tak pernah dan tak mau bertanya mendalam tentang latar belakang kehidupan istrinya : yang terpenting adalah saling mencintai setulusnya. Keduanya selalu berpendapat apa yang telah berlalu biarkanlah berlalu, tujukan hidup ke masa depan dan selalu berusaha untuk optimis.
Sang suami tak pernah menyinggung apakah isrinya masih perawan atau tidak sebagaimana masih sering dijadikan masalah oleh para pria munafik – bagi pasangan yang mencintai satu sama lain dengan setulusnya maka nilai sehelai selaput berbentuk bulat sabit adalah dapat diabaikan. Sang istri juga tak pernah menyinggung bagaimana kehidupan sang suami dimasa lalu – apakah karena ia hidup remaja di Barat sudah sering melakukan sex dengan wanita lain. Yang penting adalah sejak menikah maka keduanya harus saling mencintai dan setia terhadap satu sama lain , itu adalah resep sederhana untuk bahagia di masa depan.


Perawanku – Kali ini menceritakan pengalaman nyataku ketika aq masih umur 14 thn. Aq yang baru saja lulus dari bangku sekolah SD bingung mau kemana, untuk melanjutkan sekolah tidak mungkin sebab bapakku sudah 1 thn yang lalu meninggal. Sedangkan ibuku hanya penjual nasi bungkus di sekolahan dan kedua kakakku pergi entah kemana. Sebab sejak pamitan mau merantau ke lombok nggak pernah ada kabar bahkan sampai bapak meninggal pun juga nggak tau. Adik perempuanku yang masih duduk di bangku kelas 2 SD juga membutuhkan biaya.Akhirnya aq hanya bisa main-main saja sebab aq anak laki-laki satu-satunya aq mau kerja masih belum kuat dan takut untuk pergi merantau tanpa ada yang mengajak.
Pada suatu ketika ada saudara dari bapakku yang datang dengan seorang tamu laki-laki. Kata pakdeku dia membutuhkan orang yang mau menaga rumahnya dan merawat taman. Setelah aq berfikir panjang aq akhirnya mau dengan mempertimbangkan keadaan ibuku.
Berangkatlah aq ke kota malang tepatnya di perumahan daerah kampus. Aq sangat kagum dengan rumah majikan baruku ini, disamping rumahnya yang besar halamannya juga luas. Majikanku ini bernama pak Johan, Pak johan ini jajaran direksi di sebuah bang ternama di kota Malang, ia mempunya 2 anak perempuan yang satu baru saja berkeluarga dan yang bungsu masih duduk dibangku SMA kelas 3 namanya Indri, umurnya sekitar 18 tahunan. Sedangkan istri pak Johan membuka usaha sebuah toko buasana yang juga terbilang sukses di kota tersebut, dan masih ada satu pembantu wanita pak Johan namanya Bi Asih yang usianya sekitar 28 thn. Joker388
Teman Indri banyak sekali setiap sabtu malam selalu datang kerumah kadang pulang sampai larut malam, hingga aq tidak bisa tidur sebab harus menunggu mbak Indri pulang untuk mengunci gerbang, kadang juga begadang sampai jam 4 pagi. Mungkin kecapean atau memang ngantuk usai begadang sabtu malam minggu, yang jelas pagi itu mbak Indri masih terkunci dari dalam. Aq tak peduli sebab bagiku bukan tugasku untuk membuka kamar mbak Indri, aq hanya ditugasi menjaga rumah ketika pak Johan dan istrinya sedang kerja dan merawat taman saja.
Pagi itu pak Johan dan istrinya pamitan mau keluar kota untuk urusan pekerjaan, katanya baru pulang minggu malam sehingga dirumah itu tinggal aq, bi Asih dan mbak Indri. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi tapi mbak Indri masih belum bangun juga dan bi Asih sudah selesai memasak.
“Yoyok, aq mau ke pasar dulu tolong pintu gerbang di kunci”
“Iya Bi…!” jawabku sambil menyiram bunga didepan rumah. Setelah bi Asih pergi aq segera mengunci pintu gerbang.
Selesai menyiram bunga aq bermaksud mematikan kran yang berada di belakang rumah. Sesampai di depan kamar mandi aq mendengar ada suara air berkecipung kulihat kamar mbak Indri sedikit terbuka bearti yang mandi mbak Indri. Tiba-tiba timbul niat untuk mengintip mbak Indri. Aq mencoba mengintip dari lubang kunci, ternyata tubuh mbak Indri putih mulus dan toketnya terlihat padat dan kenyal, kuamati terus saat mbak Indri mengguyurkan air ketubuhnya, dengan perasaan dag dig dug aq masih belum beranjak dari tempatku semula.

Baru kali ini aq melihat tubuh seorang wanita tanpa tertutup sehelai benang. Sambil terus mengintip, tanganku juga memegangi batang kemaluanku yang memang sudah mengeras, kulihat mbak Indri menyabuni seluruh tubuhnya aq nggak melewatkan begitu saja sambil tanganku terus memegangi batang kemaluanku.
Aq cepat-cepat pergi, sebab mbak Indri sudah selesai mandinya namun karena gugup aq langsung masuk ke kamar WC yang memang berada di samping kamar mandi, disitu aq sembunyi sambil terus memegangi batang kemaluanku yang sejak tadi masih keras.
Lumayan lama aq berada di dalam wc sambil terus membayangkan yang baru aja kulihat, sambil terus merasakan nikmat aq tak tau kalau bi Asih berada didepanku. Aq baru tersadar saat bi Asih menegurku
“HAyooo.. ngapain kamu”
Aq kaget cepat-cepat kututp reseleting celanaku, sungguh betapa malunya aq.
Eng.. nggak Bi…” jawabku gugup sambil cepat-cepat keluar dari wc. Sialan aq lupa ngunci pintunya, geruruku sambil cepat-cepat pergi.
Esok harinya usai menyiram bunga, aq bermaksud ke belakang untuk mematikan kran, tapi karena ada bi Asih mencuci kuurungkan niat itu.
“Kenapa kok kembali?” tanya bi Asih.
“Ah.. nggak Bi…” jawabku sambil terus negeloyor pergi.
“Lho kok nggak kenapa? sini aja nemeni bibi nyuci, lagian kerjaanmu kan dah kelar, bantu bibi nyiramin air ke baju yang aka dibilas” pinta bi Asih.
Akhirnya aq pun menuruti permintaan bi Asih. Entah sengaja memancing atau memang kebiasaan bi Asih setiap mencuci selalu menaikan jariknya diatas lutut, melihat pemandangan seperti itu, jantungku langsung berdegup begitu kencang.
‘Mulusnya paha bi Asih ini’ kataku dlam hati, lalu bayanganku mulai jorok dan berimajinasi untuk bisa menggerayangi paha mulu bi Asih.
“Hehh! kenapa melihatnya begitu!” Tanya bi Asih membuyarkan lamunanku.
“Ehh.. ngg.. enggak Bi” jawabku gugup.
“Sebentar Bi, aq mau buang air besar” kataku, lalu aq segera masuk kedalam wc, tapi kali ini aq tak lupa mengunci pintu wc.
Di dalam wc aq hanya bisa membayangkan paha mulu bi Asih sambil memegangi batang kemaluanku yang memang sudah mengeras cuma waktu itu aq nggak merasakan apa-apa, cuma batang kemaluan ini tegang aja. Akhirnya aq keluar dan kulihat bi Asih masih mencuci.

“Ngapain kamu tadi didalam Yok?” tanya bi Asih.
“Ahh nggak Bi cuma buang air besar aja kok” jawabku sambil menyiramkan air pada cucian bi Asih.
“Ahh yang bener? aq tau kok, aq tadi sempat ngintip kamu, aq penasaran jangan-jangan kamu melakukan seperti kemarin eeeee… nggak taunya benar” kata bi Asih. Agen Joker388
“Haaahh..? jadi bibi ngintip aq?” tanyaku sambil menunduk malu.
Tanpa banyak bicara aq langsung pergi.
“Lho… kok pergi, Yok? sini belum selesai nyucinya, tenan aja Yok aq nggak akan cerita kepada siapa-siapa, kamu nggak usah khawatir dan malu sama bibi” panggil bi Asih.
Kuurungkan niatku untuk pergi.
“Ngomong-ngomong gimana sih rasanya kalau kamu melakukan seperti tadi Yok? tanya bi Asih.
“Ahh nggak Bi” jawabku dengan malu-malu.
“Nggak gimana, Yok?” tanya bi Asih seolah-olah mau menyelidiki aq.
“Sudah lah Bi jangan diterusin aq malu”
“Malu sama siapa? lha wong disini cuma ada kamu sama bibi kok, mbak Indri juga sekolah, Pak Johan kerja?” kata bi Asih.
“Ya malu sama bibi lah, sebab bibi udah tau milikku” jawabku.
“Oalahhh gitu aja kok malu, sebelum tau milikmu aq sudah pernah tau sebelumnya milik mantan suamiku dulu, nikmat ya?”
“Apanya bi yang nikmat?” tanyaku
“Ya rasanya to…?” gurau bi Asih tanpa memperdulikan aq yang malu kepadanya.
“Sini Yok….” kata bi Asih sambil meyuruhku untuk mendekat, tiba-tiba tangan bi Asih memegang kemaluanku.
“Jangan Bi…!!!” sergahku sambil berusaha meronta, namun karena pegangannya kuat rasanya sakit kalau terus kupaksakan untuk meronta.

Akhirnya aq hanya terdiam saja ketika bi Asih memegang batang kemaluanku dari luar celanaku. Pelan pelan aq mulai menikmati pegangan tangan bi Asih pada kemaluanku. Aq hanya bisa diam sambil terus merem melek merasakan nikmatnya pegangan tangan bi Asih. Lalu bi Asih mulai melepas kancing celanaku dan melorotkan kebawah. Batang kemaluanku sudah mulai mengeras dan tanpa rasa jijik bi Asih berjongkok didepanku dan menjilati batang kemaluanku.
“Aachh Bi… geliiii” kataku sambil memegangi kepala bi Asih.
BI asih tak perduli dia terus saja menjilati batang kemaluanku, bi Asih lalu membuka kancing bajunya sendiri tapi tak semuanya, kuliat pemandangan yang menymebul di hadapanku yang masih terbungkus BH dengan ragu-ragu kepegangi. Tanpa merasa malu, bi Asih membuka tali BH nya dan membiarkan aq terus memegangi payudara bi Asih, dia mendesah sambil tanganya memegangi batang kemaluanku. Tanpa malu dan ragu ku kulum puting bi Asih.
“Oocchhh.. Yok… teruss Yok….”
Aq masih terus melakukan perintah bi Asih, setelah itu bi Asih memasukkan batang kemaluanku kedalam mulutnya. Aq hanya bisa mendesah sambil memegangi kepala bi Asih.
“Bi aq seperti mau pipis” lalu bi Asih segera melepaskan kulumannya dan menyingkapkan jaritnya yang bash, kuliat bi Asih tidak memakai CD.
“Sini Yok…” bi Asih mengambil posisi duduk, lalu aq mendekat. “Sini.. masukkan batangmu kesini” sambil tanganya menunjuk memeknya.
Dibimbingnya batang kemaluanku untuk masuk kedalam lubang memek bi Asih.
“Terus Yok keluarin, dan masukkin lagi ya….”
“Ya Bi…” kuturuti permintaan bi Asih, lalu aq merasakan seperti pipis, tapi rasanya sungguh nikmat sekali.
Setelah itu aq menyandarkan tubuhku pada dinding.
“Yok… gimana, tau kan rasanya sekarang?” tanya bi Asih sambil membenarkan tali BH nya.
“Iya Bi,,,,” jawabku.
Esok harinya setiap isi rumah menjalankan aktivitasnya, aq selalu melakukan adegan ini dengan bi Asih. Saat itu hari sabtu, kami nggak nyangka kalau mbak Indri pulang lebih awal. Saat kami tenga asyik ngentot, mbak Indri memergoki kami.
“Hah? apa yang kalian lakukan! kurang ajar! Awas nanti aq laporin sama papa mama, kalian!”

Melihat mbak Indri kami gugup dan bingung.
“Jangan mbak.. ampuni kami mbak” rengek bi Asih.
“Jangan laporin kami sama tuan, Mbak”
Aq pun juga takut kalau sampai dipecat, akhirnya kami menangis di depan mbak Indri, mungkin mbak Indri iba melihat kami berdua.
“Ya sudah jangan di ulang lagi perbuatan kalian!!! ” bentak mbak Indri.
“Ii.. iyaa mbak” jawab kami berdua.
Esok harinya seperti biasa mbak Indri selalu bangun siang kalau hari minggu, saat itu bi Asih juga sedang belanja sedangkan Pak Johan dan istrinya pergi ke gereja, saat aq menyiram bunga di taman, dari belakang kudengan mbak Indri memanggilku,
“Yookk!! cepat kesini!! teriak mbak Indri.
“Iya Mbak” aq pun bergegas kebelakang tapi aq tak menemukan mbak Indri.
“Mbak.. mbak Indri” pangilkku sambil mencari-cari mbak Indri.
“Yok tolong ambilin handuk dikamarku! aq tadi lupa nggak bawa handuk” teriak mbak Indri yang ternyata di dalam kamar mandi.
“Iya mbak…”
Aq pun segera mengambilkan handuk dikamarnya, setelah kuambilkan handuknya,
“Ini mbak handuknya” kataku sambil menunggu di depan pintu kamar mandi.
“MANA CEPAT…”
“Iya mbak, tapi…”
“Tapi apa!!!! pintunya dikunci….”

Aq bingung gimana cara memberikan handuk ini pada mbak Indri yang ada di dalam kamar mandi? Belum sempat aq berfikir, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Aq kaget hampir nggak percaya mbak Indri bugil di hadapanku.
“Mana handuknya” pinta mbak Indri.
“Ii… ini mbak” keberikan handuk itu pada mbak Indri.
“Kamu sudah mandi, Yok?” tanya mbak Indri sambil mengambil handuk yang keberikan.
“Be.. bbelum mbak”
“Kalau belum, ya… sini masuk sekalian mandi bareng sama aq” kata mbak Indri.
Belum sempat aq terkejut akan ucapan mbak Indri, tiba-tiba aq sudah berada dalam satu kamar mandi dengan mbak Indri, aq hanya bengong ketika mbak Indri melucuti kancing bajuku dan melepas celanaku, aq baru sadar ketika mbak Indri memegang batang kemaluanku.
“Mbak….” sergahku.
“Sudah nurut aja perintahku, kalau nggak mau aq laporin perbuatanmu dengan bi Asih pada papa” anacam mbak Indri
Aq nggak bisa apa-apa, sebagai laki-laki normal tentu perbuatan mbak Indri membangkitkan birahiku, sambil mbak Indri bermain-main di bawah perutku, bibir mbak Indri mencium bibirku, aq pun membalasnya dengan ciuman lembut. Llau kuciumi payudara mbak Indri yang padat dan kenyal. Mbak Indri mendesah, “Ooogghhh” Kuciumi, lalu aq tertuju pada selangkangan mbak Indri, kulihat bukit kecil ditengah-tengah paha mbak Indri yang ditumbuhi bulu-bulu halus, belum begitu lebat aq mencoba memegangnya. Mbak Indri diam saja, lalu aq mengarahkan bibirku diantara selangkangan mbak Indri.
Sebentar Yok..” kata mbak Indri, lalu mbak Indri mengambil posisi duduk dilantai kamar mandi yang memang cukup luas dengan kaki di kangkangkan lebar, ternyata mbak Indri memberi keleluasaan padaku untuk terus menciumi memeknya.
Melihat kesempatan itu tidak kusia-siakan, aq langsung memainkan memek mbak Indri dengan mulutku dan lidahku.
“Oougghh… Yok… Yok” erangan mbak Indri, aq merasakan ada cairan yang keluar dari lubang memek mbak Indri.
Melihat erangan nikmat mbak Indri kulepaskan ciumanku pada memek mbak Indri, seperti yang diajarkan bi Asih kumasukkan jari-jariku pada lubang memek mbak Indri. Mbak indri semakin mendesah,

“Oogghh Yok… teruss Yok….” desah mbak Indri.
Lalu kuarahkan batang kemaluanku pada memek mbak Indri. Slheebbb.. slheebbb… batang kemaluanku dengan mudah masuk dalam lubang mbak Indri, ternyata mbak Indri sudah tak perawan, kata bi Asih seorang dikatakan perawan kalau pertama kali berstubuh dengan laki-laki dari memeknya akan mengeluarkan darah, sedang saat kumasukkan batang kemaluanku ke dalam lubang memek mbak Indri tidak kutemukan darah.
“Keluar masuk lagi batang kemaluanku seperti yang pernah kulakukan pada bi Asih sebelumnya.
“Mbak.. aq… mau keluarr mbak…”
“Keluarin didalam aja Yok…”
“Oogghh… mbak….”
“Yok… terus Yok….”
Saat aq sudah mulai keluar, kebenamkan selutuh batang kemaluanku kedalam memek mbak Indri, lalu gerakanku semakin cepat dan cepat.
“Oooogghhhh… teruss… Yokkk…”
Kulihat mbak Indri menikmati gerakanku sambil memegangi rambutku, tiba-tiba kurasakan ada cairan hangat menyembur batang kemaluanku saat itu juga aq juga merasakan ada yang keluar dar kemaluanku sungguh nikmat rasanya. Kami berdua masih terus berpelukkan keringat tubuh kami bersatu, lalu mbak Indri menciumku.
“Makasih Yok kamu hebat” bisik mbak Indri.
“Tapi aq takut mbak” kataku.
“Apa yang kamu takutkan, aq puas, kamu jangan takut, aq nggak bakal bilang sama papa” kata mbak Indri.
Lalu kami mandi bersama dengan tawa dan gurauan kepuasan.
Sejak saat itu setiap hari aq harus melayani 2 wanita, kalau dirumah hanya ada aq dan bi Asih, maka aq melakukannya dengan bi Asih. Sedang setiap hari minggu aq harus melayani mbak Indri, bahkan kalau malam hari semua sudah tidur, tak jarang mbak Indri mencariku diluar rumah tempat aq jaga dan di situ kami melakukannya.


Perawanku – Aku bertemu dengan Sarah ketika aq mengantar dan menghadiri wisuda adikku, Cika di sebuah perguruan tinggi di kota Bandung. Ketika itu aq berperan menjadi sopir keluarga yg harus antar jemput keluarga yg datang dari kalimantan. Cika ini adalah cewek terakhir dikeluargaku yg menjadi sarjana. Dalam umur 21 thn, dengan otaknya yg encer Cika adikku menjadi sarjana tercepat di keluargaku.
Eh ini bukan mau cerita tentang adikku Cika nih, tapi temenya adikku si Sarah mojang geulis yg wajahnya bandung banget itu. Mereka sama-sama wisuda, meski dari jurusan yg berbeda. Cika di HI, sedangkan si Sarah di eknomi.
Singkat cerita, usai mengantar Cika adikku dan orang tua dari banjarmasin ke tempat wisuda, tiba-tiba datang perintah dari Cika adikku.
“Bang, pliisss, darurat nih, tolong jemput temenku Sarah di salon xxx, udah jam segini ortu nya belum datang. Nanti nggak kebagian tempat duduk lagi…” katanya memelas.
“Siap, tuan putri, yg deket bank bca itu kan? Ahh, gimana aq bisa tau orangnya?”
“Orangnya yg paling cantik di salon pake kebaya warna krem, itu udah pasti Sarah! jangan coba ngerayu, nanti aq kasih tau kakak di rumah lho..”
“Siap bawel..” meski jalanan macet, cuma 10 menit kemudian aq telah sampai salon xxx tempat sarah menunggu.
Wahh, itu dia, pikirku melihat gadis mengenakan kebaya krem tengah memainkan hp. Sialan si Cika, nomor hp nya nggak di kasih ke aq. Begitu dekat aq langsung menyapanya.
“Sarah ya?”
“Hmmm.. Bang Pras ya, sorry nih udah merepotkan, Papaku masih jauh di jalan bang..”
“Owh, nggak apa-apa Sar, santai aja, lagian kan nggak jauh..”
Aq membukakan pintu Feroza bututku dan dengan sedikit kesulitan dia naik. Tubuh Sarah di balut kebaya, sungguh seksi. Kututup pintu dan pelan-pelan aq jalankan mobil. Aq bisa memperkirakan Sarah tinngi badanya 167cm, berat badanya sekitar 51kg. Dengan model kebaya yg dadanya agak tinggi, toketnya pasti berkisar 36b. Umurnya pastilah masih seumuran dengan adikku Cika, 21-22 thn. Bandingkan denganku yg sudah 34 thn. Lho buat apa lagi dibandingkan, maksudnya ini cewek tipeku banget.
“Bang, kakak nggak ikut?”
“Kakak siapa Sar?” tanyaku berlagak bloon.
“Istri abang…” buseett dah, kapa si Sarah kenalam ma istri gua ya, pikirku.
“Owhh, di rumah Sar, eh di sekolah antar anak..” alamak, kok jadi gugup gini ya gua.
“Beberapa kali Sarah kerumah sama Cika, Abang selalu di luar kota..”
“Hehe.. biasalah Sar, cari sesuap nasi ama sekarung emas…”
“Hihihi.. si abang bisa aja”
“Emm.. kamu udah ada yg dampingi buat wisuda nanti…?” tanyaku
“Belum nih bang.. cariin dong bang..”
“Ahh, masak gadis secantik kamu belum ada pedamping..”
Aq mulai memasang jerat. Benar saja, wajah Sarah langsung memerah. Aq tau bahwa Sarah ini adalah tipe gadis yg ramah, sedikit cerdas tetapi sialnya Sarah juga termasuk group penggoda, hehehehehe…

“Terus, nanti mau langsung kerja atau mau masih lanjutin sekolah Sar?” tanyaku basa basi supaya tdk terlalu ketahuan sedang menebar jerat.
“Papa bilang sih suruh lanjut ke amrik, tapi kalau aq pengennya maen dulu bang..”
“Lho disuruh sekolah kok malah maen.. belum puas main sama temen-temen..?”
“Iya nih bang, cowok aq belum tamat hahahahahaha…”
“Lho tadi bilangnya belum punya pedamping…?
Saking asiknya ngobrol, kami tau-tau udah sampai di gerbang masuk. Cika malambai-lamabai dan kemudian mendekat.
“Hai Sar, ngbrol apa aja tadi ama abangku? hati hati lho, aq kurang percaya tuh ama abagku..” ahh, sialan nih si Cika jelek-jelakan aq lagi
“Ahh nggak kok Cik.. lagian kalau aq dirayu juga bearti aq emang cantik, hehehehe…”
Aq tinggalkan mereka menuju tempat parkir. Hmm.. Sarah, aq suka banget liat wajahnya, bodinya alamak. Kulitnya yg putih mulus tampaknya dirawat dengan baik. Semasa kuliah dulu aq suka mengatakan kalau gadis-gadis seperti Sarah ini Bandung banget atau jawa banget sesuai dengan asalanya. Aq sih, Kalimantan banget, hehe. Menurut istriku aq nggak ganteng-ganteng banget, yg ganteng mah si otong, hehe.. memenag istriku sekarang bukan yg pertama tapi yg terakhir juga bukan.
Selesai acara wisuda aq masih harus antar adiiku Cika, ortu, istri dan kedua anakku ke restoran sunda untuk merayakan hari bahagia si Cika. Ketika tiba di parkiran, Cika memberikan hp nya dengan berbisik. Barangkali takut di lihat sama istriku.
“Bang, sini nih, Sarah mau ngomong ama abang.. awas lho jangan rayu dia ya..” ujarnya
“Hallo.. Cika ya.. selamat ya Cik, sampai tadi lupa ngucapin selamat, hehehe…”
“Terima kasih ya bang, terima kasih banget lho jemputnya.. hmm nanti kapan-kapan, abang Sarah undang datang ya…”
Kubayangkan Sarah dengan senyum manisnya. Dia mau ngundang aq dan keluarga atau aq sendiri ya, pikirku ahak surprise. Ahh, aq yakin sarah ngundang aq sendiri nih! nggak apa-apa lah ge-er dikit.
“Oke deh, sayang…” Upsss, baru kenal aq dah bilang apa tadi? “Sayang nih… nanti ditimpuk ama istri abang lho…”
“Hehehehehe… nice to meet you Sar, salam ama keluarga ya..” kataku, yg ini agak keras agar Cika nggak curiga. Sedang istriku sibuk bermain dengan kedua anakku, jadi nggak perlu kuatir.
Ahh, sial lagi.. aq nggak sempat catat nomer hp nya. Tapi toh nanti malam bisa liat di hp Cika kok, pikirku mulai keluar isengnya.
3 minggu setelah acara wisuda tersbut tiba-tiba aq menerima sms.

“Bang, lagi dimana nih.. sibuk nggak?? Sarah” Hah? nggak salah salah nih, pikirku.
Dengan pura-pura menahan diri, Beberapa menit kemudian baru aq jawab dengan menelpon langsung. Malu donk sms balik.
“Hai Sar, apa kabar? aq lagi di jakarta nih.. lagi makan bareng temen di plaza senayan..” kataku.
“Nahh, itu dia.. Sarah juga lagi di jakarta nih bang, lgi boring..”
“Lho aq pikir jadi ke amrik” kataku sekenanya.
“Males bang, Sarah lagi di rumah sodara nih.. abang rencana pulang bandung kapan?
“Lusa… kamu?”
“Sama, boleh dong kita pulang bareng.. Sarah naik kereta bang” busett dah, benerkan kataku, Sarah tipe penggoda.
“Emm.. gimana yaa…” kataku sok ragu, padahal pengen banget. ” Kita lihat nanti ya, Sar. Nanti sore abang telepon kamu. Eh, Cika tau nggak kalau kamu ada di Jakarta?”
“Nggak tau bang, mau Sarah kasih tau ama Cika dan istri abang?”
“Hahahaha.. bukan gitu maksudku, oke deh nanti jam 5 sore abang telepon kepastiannya ya..” kataku.
Memang kalau rejeki nggak bakal lari kemana-mana. Cepat-cepat kubereskan tugasku di jakarta. Sebenrnya sore ini juga selesai tapi teman-teman di jakarta seperti biasa ngajak main bilyard dan karaoke. Jadi sorry friend, kali ini aq ada urusan penting, mesti cabut. Jam lima sore aq telepon Sarah. Aq tanya sedang apa, kalau boring kenapa nggak jalan-jalan bersama sodara atau teman-temanya.
“Abang nanti malam ada acara nggak? Ajakin Sarah nonton dong? katanya.
“Oke Sar,, aq takut macet, gimana kalau kita ketemuan di 21 aja?”
Singkat cerita, Sarah aq temui di 21. Sarah sudah beli tiket untuk berdua. Aq nggak ingat judulnya. Yg jelas begitu masuk gedung bioskop, aq gandeng tangan Sarah seperti yg diinginkannya. Sarah memulai sinyal dengan mengatakan sedang boring, ingin jalan dan sebagainya.
Kubelai rambutnya dan seperti sudah kuduga, dia merbahkan bahunya sepanjang film diputar. Nggak ada penolakan ketika jari-jari nakalku mulai mnyusup ke balik bajunya dan bh nya. Semua berjalan lancar. Sarah melenguh ketika kupilin puting susunya dan kuelus lembut perutnya. Ketika jari-jari nakalku menyusup ke sela-sela pahanya, sarah berbisik….
“Jangan di sini bang..”
Itu sudah sesuai dengan harapanku dan harapanya. Aq juga sudah horny sekali ketika keluar dari bioskop. Di dalam mobil, seperti harimau kelaparan kami berciuman dengan penuh gairah. Ak suka lenguhanya, kepasarahanya jetika kuhisap puting susunya dan jari-jariku menyusup ke celah-celah kemaluanya yg sudah terbasahi oleh cairan kenikmatannya. Tubuh Sarah bergetar. Aq ingin membuatnya menjadi wanita yg sesungguhnya ketika bercinta.
“Sarah, abang pengen jilatin kemaluanmu sayang..”
“Emmhh.. terus bang, Sarah udah nggak tahannn…”
Rambut kemaluanya yg halus kusibak, klitorisnya yg udah tegang sungguh nikmat di hisap. Aromanya sungguh harum dan bentuknya tampak terawat. Tubuh Sarah sampai bergetar hebat menahan nikmat. Tangan Sarah kuarahkan meremas penisku. Tetapi ternyata Sarah lebih suka blowjob. Pada yg sama aq tak mnyia-nyiakan kesempatan meremas toketnya yg padat dan montok. Apa boleh buat, di mobil yg sempit ini harus terjadi pertempuran yg menggairahkan. Aq pastikan tak ada manusia yg melihat pertmepuran nikmat ini. Jangan sampai kepergok satpam karena bisa malu.

Hisapannya sungguh membuatku terbang melayang jauh. Tanganku tak henti meremas toketnya yg padat montok dengan puting kecoklatan yg sudah mengeras. Pada saat lain ku pilin dan kuhisap puting susunya hingga membuatnya semakin basah. Karena di jog depan terlalu sempit, aq mengajakanya pindah ke jog belakang. Sarah dengan tak sabar melepas CD hitamnya. Aq sungguh terangsang melihat wanita dengan CD hitam, sepertinya Sarah tau selera sex ku, hehe…
Sepertinya Sarah adalah tipe cewek blowjob mania karena ia terus saja mengoral penisku. Kupikir hobinya ini sejalan dengan hobiku mengoral kemaluan cewek. keberi isyarat agar ia mengambil posisi 69 dengan aq di bawah. Sarah mengangguk lemah. Aq suka melihat matanya yg sayu. Buset, kemaluan si Sarah bener-bener ok, masih kelihatan garis vertikalnya dengan klitoris yg imut dan mengeras. Segera kuremas pantatnya dan kujilat perlahan paha dalamnya sebelum memasuki area kemaluannya. Sarah mendesah hingga aq makin merangsang dengan suara yg manja.

“Aaagghhh… plisss Prass.. kamu apain meqiku sayang, nikmat bangett!”
“Hmmmm…” cuma suara itu yg keluar dari mulutku sambil menghisap cairan kenikmatanya yg mulai banjir.
Sementara jari-jari Sarah yg lembut menggengam penisku.
“Sayang.. Sarah nggak tahan.. Sarah mau keluar sayanggg… terusss sayangg… isep klitorisku.. ohhhh!”
Aq memang selalu ingin memuaskan para wanita yg bercinta denganku. Mneutuku ini adalah satu rahasia para wanita selalu ketagihan bercinta denganku. Perlakukanlah wanita dengan gentle, jangan egois. Mereka adalah mahkluk yg butuh perhatian dan belaian. Jangan bersikap bodoh meninggalkan mereka meraung-raung karena tak terpuaskan. Sarah tertunduk lemah namun tanganya masih menggenggam penisku yg masih tegang mengeras dan berdnyut.
Terima kasih ya bang, abang sungguh laki-laki yg baik! Sekarang Sarah pengen memuaskan abang..” nah kan, benar kan kataku, jika puas wanita sebenarnya tdk egois.
“Iya Sarah cantik, kamu istirahat dulu.. nggak usah buru-buru, kita masih punya waktu sampai besok kan?”
“Ihh, abang nakal..” katanya sambil mremas penisku.
“Sekarang Sarah pengen lagi bang.. pengen di tusuk sama penis abang…”
“Tapi kamu kan masih perawan sayangg..?”

“Abang kok tau sih?”
“Kan abang udah periksa tadi, hihihi…”
“Ihh.. nakal deh.. Sarah jadi malu..” katanya manja.
“Sarah, abang sayang kamu, tetapi untuk memerawani kamu abang sunnguh nggak tega…”
“Tapi kan Sarah yg mau… plisss bang… Sarah rela”
“Sarah, kalau dengan oral saja kamu bisa orgasme, ngapain harus sampai berdarah?
Yg benar-benar tdk kuduga, Sarah menangis. Wahh,, kacau nih.. tapi aq tak ingin bicara lagi. Perlahan kucium bibirnya, kuusap air matanya dan benar para pembaca, gairahnya mulai bangkit lagi. Dengan lembut dikulumnya penisku. Hmm.. sungguh nikmat. Dan aq kembali mengajaknya ke posisi VW (posisi wuueennaakkk), faviritku mengerjai wanita dari belakang alias posisi 69. Aq berkonsentrasi agar kali ini pejuhku dapat nyembur di mulutnya.
Tipe cewek mania blowjob adalah penyelesaian akhir harus di mulutnya. Kuhisap klitorisnya dengan lembut tetapi kuat dan itu cukup membuatnya makin menguatkan hisapanya pada penisku. Kemaluan Sarah memang beraroma perawan, lendirnya sungguh kental dan aq senang menelannya. Penisku berdenyut-denyut seakan mau nyembur, tetapi kutahan. Aq ingin kali ini aq dan Sarah meraih orgasme bersamaan.
“Aaghhh.. Prasss… Fuck me plisss, pengen keluar sayangg.. ooogghhhh..” erangnya.
Itu adalah pertanda bahwa sebentar lagi dia akan meraih orgasme. Jadi sebenarnya orgasme bisa di ukur alias terukur. Kuperkencang hisapanku pada klitoris Sarah yg memerah sambil tanganku berusaha merai toket dan puting susunya. Kuremas kuat untuk memberi extra kenikmatan padanya.
“Ooouugghhh… Prass… Sarah keluar… oghhh.. ogghhh…” erangnya panjang.
Dan seperti yg sudah kuperhitungkan akhirnya aq juga menyemburkan spermaku dan nyembur di wajahnya. Dapat kurasakan mulut Sarah menghisap penisku dengan cepat. Aq sampai sampai kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan bagaimana perasaan nikmatku! Kupeluk dan kubelai mesra rambutnya, sambil say thanks! aq tau bahwa Sarah bakal ketagihan. Aq sebenarnya ingin menceritakan lanjutan perjalanan yg menggairahkanku ke bandung dengan Sarah. Seluruh sensasi yg aq dan Sarah dapatkan.
Ternya Sarah juga menyukai ngesex sambilo berdiri. Di beberapa tempat kami terpaksa berhenti mencari tempat rimbun pepohonan. Sarah segera bersandar di pohon dan dengan nafas yamng memburu melepaskan celananya. Posisi yg sungguh menggairahkan. Dengan berjongkok aq hisap kemlauanya yg cepat basah itu. Kadan Sarah menungging dan kuhisap klitorisnya dari belakang.
Aq juga meraih orgasme dengan menggesek-gesek kemaluanya dengan penisku. Percaya atau tdk bahwa Sarah masih tetap perawan sampai akhirnya di berangkat ke Amrik untuk melnjutkan sekolah.
Sekarang aq masih merindukannya. Ia masih sering mengirim sms dengan untaian kata-kata, Jilat, hisap dan kulum sayang. Entahlah, apakah masih ada wanita yg seperti dia di antara pembaca, i do hope!.


Perawanku – Kisah ini kisah nyata dari gw, seorang mahasiswa universitas swasta di daerah grogol. Kisah ini bermula waktu gw beli hp blackberry,gw punya adik kelas anak akuntansi, awalnya hubungan gw ama dia biasa aja, ampe gw punya bb, gw add PIN dia, akhirnya gw sering curhat masalah cewek gw ama dia.
Sebut saja nama adik kelas gw ini Dita, juju raja gw sange banget ngeliat dia, ngeliat cara dia berpakaian. Kalo di tongkrongan kampus, dia duduk suka keliatan belahan pantatnya.
Suatu malem, gw BBMan ama dia, curhat2 gt, ternyata dia baru putus ama cowoknya,
“bang, gw baru putus ama cowok gw” kata dia
Kemudian gw dengan bijaksananya memberi nasihat agar dia tabah,
Dan iseng iseng, gw nanya ama dita
“dit, tapi lo ga pernah ngapa2in kan ama cowok lo?” kata gw
“maksudnya bang? Tanya dita
“yaa kaya anak muda pacaran lah gimana” kata gw
Akhirnya Dita jelasin dia sering petting ama cowoknya, setiap ketemu cowoknya minta di sepongin.

*disini pikiran nakal gw main, berarti dia nakal, daripada selama ini dia cuma bacol gw, akhirnya gw beranikan diri buat spik spik
Hari selasa, waktu itu dia lagi kuliah di gedung K lt.5, dan waktu itu gw BBMin dia, gw bilang gw baru putus padahal mah speak doing alias boong
Dan gw ngajak dia nonton, waktu itu gw ama dia nonton orphan di pelangi (plasa semanggi)
Cerita Bokep – Pas nonton gw curi2 liat toket dia, maklum dia pake baju yg agak keliatan belahannya. Gw inget banget dia pake baju putih ketat banget, BH item tapi pake cardigan abu abu.

Selesai nonton gw berniat mau pulang, sesampai di mobil, di parkiran basement, dia curhat gitu tentang dia ama cowoknya *jujur aja gw bodo amat dia mau curhat, gw cuma pengen nikmatin toket ama memeknya* sambil dia curhat di nyenderin kepalanya di bahu gw.
Dan gw pun sedikit konak J hehehehe
Gw lupa di parkiran basement banyak satpam yang suka mondar mandir, akhirnya gw cabut dari mal itu, gw naik tol, menuju bekasi, karena rumah gw ama dia di daerah bekasi,

Dari mulai keluar mal ampe masuk tol dia terus nyenderin kepalanya di bahu gw
“gapapa kan bang gw pinjem bahu lo? Ga ada yg marah kan” Tanya dia
“gapapa lah dit, gw kan dah putus, lupa ya lo?” sambung gw Cerita Dewasa
Akhirnya dia terus curhat, gw juga curhat, gw mulai colongan pegang2 tangan dia, elus2 rambut dia,
Akhirnya gw sampe di depan rumahnya, salah satu komplek terbesar dan terelit lah di daerah bekasi, tuh komplek gede banget, dan satpamnya jarang mondar mandir *girang*

Tiba tiba dita bilang
“bang, makasih ya bang, gw boleh peluk lo ga bang?” Tanya dia
*dalam hati gw, silahkan dit lo peluk gw, lo pake gw, lo puasin gw* haha
Akhirnya gw ama dia pelukan, dan gw nekat buat nyium bibir nya. Asli gw deg deg an banget, untung si dita nanggepin ciuman gw, akhirnya gw ciuman lama ama dia.
jujur gw sange berat, dan gw beraniin diri buat megang toketnya, sebenernya bukan megang, tapi ngelus halus.
dan dia no respon
akhirnya gw nanya ama dia
“gapapa dit?”
“gapapa bang, woles aja” kata dita
mungkin begini lah kalo cewek habis putus, masih labil *bijaksana ya gw, tapi tetep aja sange ga bisa di tahan bos*
akhirnya gw grepe toket dia lumayan lama, gw remes tuh toket sambil gw jilatin lehernya
“ahhh bangggg” desah dita
“dit , gw buka ya?” tanya gw
“ahh, heeh bang” jawab dita sambil ngedesah
akhirnya gw buka cardigan dia, dan kaos nya,
wuhuuuu toketnya mulus sekali di balut BH bewarna hitam
tanpa basa basi, gw menuju toketnya
tapi tiba tiba dita bilang
“bang, tapi jangan bilang siapa2 ya bang”
“woles dit, gila aja gw bilang2” jawab gw

akhirnya gw jilatin pentilnya yg udah tegang. sambil ngeliatin mukanya dita yg merem melek gw makin sange.
“ahhhhhh banh pelan pelannn bangg” desah dita
dan gw arahin tangan dita ke arah ****** gw.
secara otomatis dita ngebuka resleting celana dry gw,hehe
dengan berdiri tegak, ****** gw berada di alam terbuka *lebay*
“dit, kocokin dit” pinta gw
“heehhh” kata dita sambil ngedesah
akhirnya gw dikocokin ama dita, gw mulai ngedesah keenakkan, sambil jari jari tangan kiri gw bergentanyan di daerah pantat dia, karena dia pake baju kecil banget, jadi waktu dia kocokkin gw, bajunya keangkat dan keliatan belahan pantatnya.
dita akhirnya nyepongin gw tanpa gw suruh,
“ahhh terus dit aah erhhh” kali ini gw yang ngedesah

tanpa sadar gw udah mau keluar,
“Dit, udahan dulu dit, gw udah mau keluar” pinta gw
“ya udah bang, jangan lama-lama, ga enak di depan rumah” kata dia
ya udah akhirnya dia kocokin gw sambil di sepong tuh gw,
“CROT CROT CROT”
akhirnya gw keluarin peju peju gw di dalem mulut dia. dia pun buka pintu mobil dan ngebuang peju gw di jalan *hardcore juga nih cewek, kalo tiba-tiba ada yg liat gimana*
setelah beres2, gw nanya ke dita
“Dit , sorry yaa”
“Gapapa bang, yaelah woles aja kali bang, gw juga ga nolak kan” kata dita

“tapi tadi lo bilang ga enak di depan rumah, berarti kalo di tempat lain boleh dong,hehe” tanya gw nakal
“hahaha, ya udah bang, thank you bang ya” dita berusaha ga jawab, dan mengalihkan topik,haha
akhirnya si dita pulang, dan gw pun pulang, senang banget hari itu gw bisa nikmatin bacol gw di kampus
selama gw kuliah , gw ama dia jadi TTMan, tapi sekarang udah jarang, karena gw udah fokus skripsi doain skripsi gw ya . END

Perawanku –Di jaman sekarang ini mencari Gadis perawan itu macem mencari Jerami di tumpukan Jarum bos ku sakit sakit susah Tapi ujung” nya enak :D.
Tapi tidak dengan Gadis jepang ini, tidak mau kalah dari yang lain gadis perawan jepang ini Pamer toket sintal mulus nya lo bos ku, minta di emut kali ya bos ku :





















Perawanku – Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam, Sejak tadi suara itu mengganggunya. Suara seorang perempuan yang penuh desah kemanjaan itu, seakan memanggil Norman beberapa kali. Dahi Norman berkerut, hatinya bimbang dengan pendengarannya. Menurutnya, tak mungkin ada perempuan yang memanggilnya di tengah malam. Norman sengaja melupakan suara itu.
Ia mendengar langkah kaki di depan kamarnya, tapi ia tahu itu langkah kaki Susilo, teman satu pondokan. Ia bergegas membuka pintu kamarnya dan memanggil Susilo yang hendak masuk ke kamar sebelah.
***
“Siapa yang mengajakmu ke sana?” tanya Hamsad waktu
itu.
“Pak Hasan! Mungkin dia ingin men-service aku, supaya
buku pesanannya cepat kukerjakan. Wah, tapi memang luar
biasa, Ham,” ujar Norman berseri-seri. “Perempuan itu
cantiknya mirip seorang ratu!”
“Kau yang memilih sendiri?” Hamsad tampak bersemangat.
“Bukan. Dia datang sendiri ke motel-ku. Kurasa, Pak Hasan
yang memesankan cewek itu untukku. Atau, barangkali
memang service dari motel itu sendiri, entahlah. Yang jelas,
dia datang di luar dugaanku. Tak lama kemudian, setelah kami
berbasa-basi sebentar, datang juga perempuan lain. Tapi,
kutolak. Aku lebih memilih perempuan pertama. Mulus dan
sexy sekali dia. Namanya, Kismi. Antik, kan?!”
“Terus…? Terus bagaimana?” desah Hamsad tergiur.
8
“Macan, Mack! Luar biasa romantisnya. Hebat. Baru kali ini
aku menemukan perempuan cantik yang punya daya rangsang
yang luar biasa! Tujuh malam bersama dia tanpa keluar dari
kamar, aku akan betah! Kurasa kau sendiri tidak akan sempat
mengenakan pakaianmu lagi kalau sudah bersamanya, Ham!”
Hamsad tertawa ngakak ketika itu. Ia benar-benar
terperangah cerita Norman. Khayalannya melambung tinggi
ketika Norman menceritakan detail kehebatan Kismi.
“Berapa anggaran untuknya?” tanya Hamsad dengan gaya
kelakar.
“Aku tidak tahu. Mungkin Pak Hasan-lah yang mengurus
soal itu. Antara pukul 4 atau 5 pagi, dia pamit. Dia tidak minta
bayaran padaku. Ketika kutanya tentang uang taksi, dia hanya
tersenyum, lalu pergi.”
“Kurasa dia perempuan panggilan kelas atas, Nor!”
“Menurut dugaanku juga begitu! Tapi, itu kan urusan Pak
Hasan. Aku mau tanya tentang tarif argo untuk perempuan
semacam Kismi, ah… nggak enak. Riskan.”
“Beruntung sekali kau mendapat service seperti itu!”
“Makanya konsekuensinya aku harus segera menyelesaikan
naskah pesanan Pak Hasan itu! Siapa tahu selesai itu aku
dibawanya ke motel tersebut. Kalau ke sana lagi, aku tidak
ingin mencari perempuan lain. Hanya Kismi yang kubutuhkan,
dan aku juga menghendaki Motel Seruni, tidak mau Motel
Mawar, Kenanga, atau yang lainnya. Karena, kenanganku
bersama Kismi yang pertama kali ada di Motel Seruni itu!”
***
Malam semakin mengalunkan kesunyian, dan kesunyian itu
sendiri menaburkan perasaan cemas. Sedangkan perasaan
cemas itu membawa desiran indah bagi sebaris kenangan
bersama Kismi. Bau harum dari parfum pada kapas semakin
menggoda khayalan Norman. Khayalan itulah yang
menumbuhkan rasa rindu, rasa ingin bertemu dan rasa ingin
bercumbu. Maka, Norman pun menggeliat dengan gelisah.
Darahnya dibakai’ oleh khayalannya sendiri. Nafsunya
menghentak-hentak jantung, menuntut suatu perbuatan nyata
9
dari birahi yang ada. Norman menjadi bernafsu sekali untuk
bertemu dengan Kismi.
“Kismiii…!” erangnya dari sebuah rintih dari kerinduan.
Dan, kerinduan itu akhirnya menjadi racun pada jiwa Norman.
Emosinya meluap, meletup-letup, bahkan tak bertakaran lagi.
Emosi itu bukan hanya sekadar luapan gairah bercinta saja,
melainkan kebencian, kemarahan, kesedihan, semuanya
bercampur aduk dan menyiksa jiwa Norman. Ia sempat
meremat bantalnya kuat-kuat dengan tubuh gemetar, lalu
ditariknya re-matan itu dan robeklah kain bantal. Isinya
berhamburan, diremas pula dalam suara yang menggeram.
Tubuh berkeringat, urat-urat menegang, gemetar dan ia
menggemeletukkan gigi kuat-kuat dengan mata mendelik.
Perubahan itu aneh sekali, namun tidak disadari oleh
Norman. Napasnya terengah-engah seperti orang habis lari
jauh. Matanya menjadi liar, ia menggeram beberapa kali,
bahkan mengerang seperti seekor monyet buas yang hendak
mengamuk.
Sementara itu, sisa kesadarannya sesekali tumbuh, dan
membuat Norman mampu meredam gejala anehnya itu. Ia
sempat bertanya dalam hati, “Mengapa aku jadi begini?
Mengapa aku benci pada diri sendiri?”
Masa kesadarannya hilang lagi, kembali ia dalam amukan
jiwa yang tak terkontrol. Ia mengamuk, berguling-guling di
ranjangnya. Tangannya mencakar-cakar kasur, membuat
seprei menjadi tercabik-cabik. Bahkan guling pun diremas,
digigitnya kuat-kuat bagai beruang lapar. Sampai beberapa
saat hal itu dilakukan di luar kesadarannya, kemudian ia
terkulai lemas sambil terengah-engah.
“Apa sebenarnya yang kualami ini…?! Oh, badanku sakit
sekali…!” keluhnya lirih, nyaris tanpa suara.
Plakkk…!
Norman terkejut. Tiba-tiba ia memukul kepalanya sendiri
dengan keras. Ia merasa heran, mengapa tangan kanannya
bergerak sendiri menampar wajahnya. Bahkan kini tangan.
kanan itu mengejang-ngejang, jarinya membentuk cakar yang
kokoh.
“Oh, kenapa tanganku ini?!” Norman menjadi tegang
dengan mata melotot, memandangi tangan kanannya. Hanya
tangan kanannya.
Tangan itu sukar dikendalikan. Norman ingin melemaskan
otot-ototnya, namun tidak berhasil Bahkan sekarang tangan
kanannya yang membentuk cakar itu bergerak ke atas.
Mendekati wajahnya. Norman melawannya, berusaha
mengendalikan gerakan itu, tetapi tidak berhasil. Tiba-tiba
gerakan tangan itu begitu cepat menghampiri wajahnya dan
mencakar wajah itu sendiri.
“Aaaow…!” Norman berteriak, namun tidak begitu keras,
karena hanya luapan rasa kagetnya saja. Ia masih
memandang tangan kanannya dengan mendelik. Tangan itu
terasa ingin bergerak lagi mencakarnya, dan Norman berusaha
melawan kekuatan yang ada pada tangan tersebut.
“Gilaaa…!”
Norman berteriak keras dan semakin ketakutan oleh
tangannya sendiri. Ia benar-benar panik dan tak mengerti,
mengapa tangannya bergerak di luar kemauannya?Dari kamar Susilo, teriakan Norman itu terdengar tidak
terlalu keras, tapi jelas. Susilo yang belum tertidur nyenyak itu
menjadi curiga. Ia menelengkan telinganya, menyimak suara
dari kamar Norman. Dahinya berkerut menandakan perasaan
anehnya.
“Sinting dia. Hampir pukul dua pagi masih teriak-teriak
juga. Ada apa sih?” gerutu Susilo sendirian. Suara gaduh dari
kamar Norman itu benar-benar mengganggunya, sampaisampai
ia terpaksa bangkit dan turun dari ranjang.
Untuk melangkah keluar dari kamar. Susilo ragu-ragu. Ia
masih menyimak suara gaduh yang mirip seseorang sedang
11
bergelut mengalahkan sesuatu. Mulanya Susilo menyangka
Norman sedang membawa perempuan masuk ke kamarnya,
namun setelah makin disimak, ternyata suara erangan Norman
itu tidak mirip seseorang sedang mencumbu kekasihnya. Tapi
lebih mirip seseorang yang sedang bertengkar.
Prang…!
Suara di kamar Norman semakin jelas. Berisik dan gaduh.
Entah apa yang telah jatuh dan pecah sehingga suaranya
sempat membuat Susilo tergerak kaget.
“Aneh. Kenapa aku jadi merinding?” gumam Susilo sambil
melangkah mendekati pintu. Ia bermaksud mengingatkan
Norman agar tidak menimbulkan suara gaduh yang
mengganggu, tapi hatinya menjadi bimbang, dan ia berdesir
merinding saat hendak membuka pintu.
Brak…! Prang…!
Sekali lagi kamar Norman bagai mengalami gempa.
Agaknya sesuatu telah membuat kamar itu menjadi porakporanda.
Susilo pun akhirnya keluar dari kamar. ,
“Astaga…!” Susilo terpekik tertahan. Jantungnya berdesir
ketika ia melihat sosok manusia berdiri di depan pintu
kamarnya. Untung saja ia tidak menjerit, karena ia buru-buru
menyadari bahwa sosok manusia itu adalah Denny.
Sambil membungkus badannya dengan selimut, Denny
memandang pintu kamar Norman dan melangkah mendekati
Susilo. Ia bertanya pelan,
“Ada apa dia? Ngamuk sama siapa sih?”
“Mana aku tahu?” Susilo menjawab dengan bisikan.
Yoppi keluar juga dari kamarnya yang berjarak dua kamar
dari kamar Norman. Ia bergabung dengan Denny dan Susilo,
di depan kamar Susilo.
“Berkelahi dengan siapa si Norman?” tanya Yoppi. Ia
mengerjap-ngerjapkan mata karena terbangun dari tidurnya.
“Tadi ia menanyakan tentang perempuan,” kata Susilo. “Ia
mengaku mendengar suara perempuan memanggilnya.”
12
“Perempuan?!” Alis Yoppi yang tebal hampir menyatu
karena heran. Tangan Yoppi menggaruk-garuk pinggang
sambil masih mengerjap-ngerjap pertanda masih mengantuk.
“Wah, gawat. Jangan-jangan dia membawa masuk perek,”
kata Denny. “Kalau ketahuan ibu kost, nggak enak kita!”
“Atau, siapa tahu ia berkelahi dengan pencuri?” kata Yoppi.
Kemudian, Susilo memberanikan diri mengetuk pintu kamar
Norman. “Nor…?! Nor, ada apa sih? Sudah lewat malam ini,
Nor!”
Jawaban yang ada hanya suara Norman yang menggeramgeram
seakan sedang mengalahkan sesuatu. Ketiga teman
kost itu menjadi cemas dan makin curiga. Yang menambah
mereka cemas ialah suara Norman dalam satu teriakan rasa
sakit.
“Aaaow…! Uh, uh… uh… hiaaah…!” suara itu sangat jelas.
“Dobrak saja pintunya,” kata Denny kepada Susilo dan
Yoppi yang berusaha menggedor pintu kamar Norman.
“Sialan! Aku jadi merinding sendiri. Aku mencium bau
wangi,” kata Denny.
“Aku juga mencium bau parfum enak,” sambung Yoppi.
“Kurasa benar. Norman memasukkan perek ke dalam
kamarnya.”
Itulah yang membuat mereka ragu-ragu. Mereka tidak
tahu, bahwa di dalam kamar Norman sedang berusaha
mengalahkan gerakan tangan kanannya yang sepertinya
bernyawa sendiri itu. Tangan kanan itu sudah ditekan matimatian
menggunakan tangan kiri, namun gerakannya masih
belum bisa dikendalikan. Tangan itu seolah-olah sosok
makhluk tersendiri yang bergerak memukuli wajah Norman
sendiri. Bahkan, ketika tangan kanan itu bergerak sendiri
mengambil gunting, Norman berusaha menariknya. Tapi,
tenaga Norman yang telah digerakkan kekuatan penuh itu
tidak mampu menarik tangan kanan yang hendak memegang
gunting. Tangan tersebut seakan mempunyai kekuatan yang
lebih besar dari seluruh kekuatan tenaga Norman sebenarnya.
13
Lalu, ketika gunting itu telah digenggam oleh tangan kanan
secara kokoh, tiba-tiba gerakan tangan kanannya itu melesat
ke arah dada. Norman menjerit kesakitan, karena ujung
gunting itu menancap di bawah pangkal pundaknya. Darah
mulai mengucur keluar dan Norman masih terengah-engah
melawan kekuatan tangan kanannya. Tangan yang
menggenggam gunting itu seakan ingin menusuk-nusuk tubuh
Norman sendiri dengan tanpa mengenal ampun lagi. Norman
berusaha menahan dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang
dikerahkan. Ternyata hal itu tidak mampu. Gunting itu
bergerak sendiri ke arah dada Norman. Pada waktu itu
Norman tak ingin ditusuk oleh dirinya sendiri. Ia berusaha
memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri, sampaisampai
ia berguling-guling di lantai. Tetapi, pada satu detik
tertentu, gunting itu berhasil mengenai perutnya. Jubbb…!
“Aaaow…!” teriaknya. Rasa sakit membuat ia makin
mendelik. Tapi beruntung sekali gunting itu tidak masuk
terlalu dalam, hanya beberapa mili dari ujung gunting.
Brakkk…! Pintu berhasil didobrak oleh Denny dan Susilo.
Ketigji orang itu terbelalak tegang melihat Norman berusaha
menikam tubuhnya dengan gunting. Mereka menyangka
Norman hendak melakukan bunuh diri, sehingga Denny pun
berteriak,
“Jangan gila kau, Norman!”
“Cegah dia! Dia mau bunuh diri!” seraya berkata begitu
Yoppi mendorong kedua temannya, dan Susilo serta Denny
segera berusaha menyergap Norman. Saat itu Norman
menyadari kehadiran ketiga temannya, tetapi ia tidak bisa
mengendalikan gerakan tangan kanannya.
“Pergi! Jangan dekati aku, nanti kalian celaka…!” teriak
Norman.
Gunting itu sedang ditahan kuat-kuat, karena hendak
menusuk ulu hatinya. Norman mengerahkan kekuatannya,
otot lengannya tampak bertonjolan. Namun, bagi mereka yang
tidak tahu, Norman disangka sedang ragu-ragu untuk
menusukkan gunting ke dalam tubuhnya.
14
“Lepaskan gunting itu! Lepaskan!” teriak Denny. “Jangan
picik kau, Norman…!”
Denny berusaha merebut gunting di tangan kanan Norman,
tetapi baru saja mendekat, tiba-tiba tangan kanan itu bergerak
di luar kontrol kesadaran Norman. Gunting itu mengibas cepat
dan mengenai lengan Denny.
“Aaaow…!” pekik Denny kesakitan.
“Menjauh! Kalian menjauh dari aku. Ohw… aku tidak bisa
mengendalikan tangan ini!” teriak Norman sambil berusaha
mengekang gerakan tangan kanannya.
“Sergap dari belakang!” teriak Yoppi dalam kepanikan.
Maka, Susilo pun berusaha menyergap Norman dari
belakang. Tetapi, sebelum Susilo berhasil mendekap tubuh
Norman, tubuh itu berputar terbawa gerakan tangan
kanannya. Gunting terarah lurus ke depan, sementara tangan
kiri Norman masih memegangi tangan kanannya untuk
menahan gerakan misterius itu.
“Aaaow…! Kau melukaiku, Nor…!” teriak Susilo yang
berhasil tergores dadanya oleh kibasan gunting tajam itu.
“Aku tidak bisa menahan gerakan tanganku! Oh…. Tolong!
Lekas tolong akuuu…!”
Norman mendelik-delik dengan mengerang mengerahkan
tenaga untuk menahan diri. Ia jatuh berlutut karena berusaha
semaksimal mungkin menahan gerakan tangan kanannya yang
kini kembali mengacungkan gunting ke arah dadanya.
“Pukul dia biar pingsan!” teriak Yoppi, namun ia sendiri tak
berani maju setelah melihat Susilo dan Denny berdarah karena
terkena gunting tersebut.
“Dia kemasukan setan!” pekik Denny yang berlari ke arah
pintu.
“Tolong…! Aaaoh… tolong aku… hiaaah…!” Norman
berusaha habis-habisan menahan gerakan tangan kanannya.
Dan, tiba-tiba ia menjerit tertahan, “Aaahg…!”
“Normaaan…!” teriak Susilo di puncak kepanikan.
Norman membelalakkan mata dalam keadaan berdiri
dengan lutut menghadap ke arah ketiga temannya. Tubuhnya
15
menjadi kejang sesaat, karena waktu itu gunting telah berhasil
menghunjam dada, menembus sampai ke bagian pangkalnya,
tepat mengenai jantungnya. Darah pun menyembur ke manamana.
Wajahnya yang mendelik dan kaku itu terkena percikan
darah sendiri hingga tampak mengerikan.
Denny diam tak bergerak. Shock. Susilo berteriak-teriak tak
karuan dengan mata berkaca-kaca, tak tega menyaksikan
keadaan Norman. Sementara itu, Yoppi berlari dengan panik
menggedor setiap pintu kamar sambil berteriak-teriak
mengagetkan mereka yang sedang tertidur nyenyak.
“Norman bunuh diri…! Norman mati bunuh diri…!” seru
Yoppi dengan suara tak tanggung-tanggung lagi kerasnya.
Perlahan-lahan tubuh Norman limbung. Tangan kanannya
masih memegangi gunting yang menikam jantungnya sampai
ke bagian pangkal. Kemudian, tangan kanan itu mulai
melemas bersama gerakan limbung tubuh Norman. Lalu, ia
pun tergeletak di lantai yang banjir karena darah. Matanya
masih mendelik ketika ia menghembuskan napas terakhir di
depan Denny. Semakin shock Denny menyaksikan kengerian
itu, semakin pucat sekujur tubuhnya. Ketika teman-teman satu
pondokan menghambur ke kamar Norman, Denny jatuh
terkulai tak sadarkan diri.
Lalu, menyebarkan berita tentang kematian Norman.
Semua mulut mengatakan, Norman mati bunuh diri. Hamsad,
sebagai teman dekat Norman yang pernah tinggal sekamar
dengan Norman, merasa tak yakin jika Norman sampai bunuh
diri. Dalam rona kesedihan yang dalam, Hamsad menjelaskan
kepada mereka,
“Tiga bulan aku pernah tinggal sekamar dengannya, dan
aku tahu kekerasan hatinya Norman bukan pemuda cengeng.
Norman cukup tangguh dalam menghadapi kesulitan apa pun.
Tak mungkin rasanya jika ia mati bunuh diri.”
“Tapi, aku melihat sendiri saat ia menikamkan gunting itu
ke arah dadanya,” kata Yoppi meyakinkan.
16
Hamsad menghempaskan napas dukanya. Kemudian, ia
berkata dengan pelan, “Pasti ada sesuatu yang tak beres pada
dirinya.”
Tiga hari setelah jenazah Norman dimakamkan di kota
asalnya, para penghuni pondokan itu masih ramai
membicarakan tentang kematian Norman. Salah satu di
antaranya ada yang berpendapat, Norman melakukan hal itu
karena ada masalah dengan Arni.
“Mungkin ia takut menghadapi Arni. Mungkin Arni hamil
dengannya,” tutur Bahtiar kepada teman-temannya yang
meriung di depan kamar Yoppi. Saat itu, Hamsad juga ada di
situ dan menyimak beberapa kemungkinan dari mereka.
“Aku juga punya praduga begitu,” kata Denny. “Tetapi, aku
telah menghubungi Arni secara pribadi, dan menanyakan hal
itu.”
“Lalu, apa kata Arni?” tanya Yoppi.
“Dia mengaku belum pernah dijamah Norman. Dan,
memang kenyataannya mereka baru taraf saling menaksir
saja. Belum berpacaran mutlak, kan?”
Yang lainnya manggut-manggut. Mereka memang tahu,
bahwa Norman sedang naksir Arni, mahasiswi seni tari itu.
Mereka juga tahu, bahwa Arni sedang mempertimbangkan
untuk menerima kehadiran Norman. Maka, mereka pun
sepakat, bahwa praduga tentang kehamilan Arni adalah tidak
benar.
Susilo yang sejak kematian Norman menjadi orang bego.
banyak melamun, sering terbengong-bengong di depan
kamarnya, kali ini ia mulai ikut bicara.
“Beberapa menit sebelum almarhum meninggal,” kata
Susilo. “Ia sempat keluar dari kamar. Waktu itu, aku habis dari
kamar mandi. Almarhum menanyakan tentang suara
perempuan.”
Semua mata tertuju pada Susilo. Bahtiar bertanya pelan
ketika Susilo mengatur pernapasannya. “Suara perempuan
bagaimana?”
17
“Almarhum Norman mendengar suara perempuan
memanggil-manggilnya. Dan, mencari keluar kamar, lalu
berpapasan denganku.”
“Kau sendiri mendengar suara perempuan itu?” tanya Ade,
yang kamarnya dekat kamar mandi.
“Tidak,” jawab Susilo sambil menggeleng. “Aku tidak
mendengar suara apa-apa. Tetapi, sebelum kudengar suara
gaduh dari kamar Norman, aku sempat mendengar Norman
seperti bicara dengan seorang perempuan. Aku mendengar ia
menyebut namanya.”
“Kau masih ingat nama yang disebutkan Norman?” tanya
Yoppi.
Susilo mengangguk dalam tatapan mata menerawang. Lalu,
ia berkata pelan, “Kismi…!”
Hanya Hamsad yang terperanjat ketika itu. Yang lain masih
tertegun tak mengerti maksudnya. Tetapi, Hamsad yang sejak
tadi menyimak pembicaraan dan pendapat dari mereka, kali ini
bagai ada sesuatu yang menusuk punggungnya, hingga ia
menegakkan badan.
“Kismi…?!” tanyanya kepada Susilo yang tertegun
dibungkus duka.
“Ya, Kismi…! Kupikir…, Norman menyuruh perempuan
menciumnya. Tetapi, setelah kupikir-pikir, ternyata dia tidak
menyuruh perempuan menciumnya, melainkan menyebutkan
nama perempuan itu. Kismi.”
“Kau yakin begitu?” desak Denny.
Susilo mengangguk. “Ada rangkaian kata lain ketika ia
mengatakan Kismi. “Sebentar, Kis…? Itu katanya. Setelah itu,
ia membuka pintu, dan memanggil nama Kismi, sepertinya
mencari-cari perempuan itu.”
“Ah, mungkin kau memang salah anggapan,” ujar Bahtiar
menyangsikan.
Hamsad buru-buru menyahut, “Tidak! Sus benar. Norman
memang pernah bercerita padaku tentang Kismi, perempuan
yang dikenalnya di sebuah motel.”
18
“Ooo… jadi, Norman punya cewek baru yang namanya
Kismi? Begitu?” ujar Denny.
Kemudian, Hamsad menceritakan apa yang pernah
diceritakan Norman kepadanya. Ketika itu, mencuatlah
praduga baru dari mulut Bahtiar,
“Kalau begitu, dia punya problem dengan Kismi, sehingga
ia nekat bunuh diri!”
Sejenak suasana menjadi hening, karena masing-masing
menekuni analisa dalam benaknya. Beberapa saat setelah
keheningan itu mencekam, Denny berkata dengan nada
sedikit menggeram,
“Aku akan menemui Kismi! Aku merasa ditantang untuk
mengejar misteri kematian Norman, karena teman kita yang
malang itu sempat melukaiku dan menikam dirinya sendiri di
depanku, di depan kau, dan kau juga Yoppi,” seraya Denny
menuding Susilo dan Yoppi.
“Kalau ingin mencari dia, datanglah ke motel itu. Kurasa
bagian front-office pasti mengenal nama Kismi!” ujar Hamsad.
“Hostes itu menurut Norman termasuk hostes eksklusif, yang
mungkin biaya pemakaian semalam sama besarnya dengan
uang semestermu!”
Denny merasa berhutang budi kepada Norman, karena dulu
ketika ia sakit, membutuhkan sumbangan darah, Norman-lah
yang mendonorkan darahnya secara sukarela. Dan, kali ini,
Denny ingin melacak penyebab kematian Norman yang
menurutnya punya keganjilan semu. Denny yakin, pasti ada
tabir misteri di balik kematian Norman. Barangkali juga ada
hubungannya dengan perempuan malam yang bernama Kismi.
Atau setidaknya Denny bisa memperoleh informasi dari Kismi
tentang benar dan tidaknya pada malam itu Kismi datang ke
pondokan mereka.
Uang bukan masalah bagi Denny, karena ia memang
berlimpah uang. Ayahnya direktur sebuah bank ternama di
ibukota, dan Denny sendiri punya simpanan di beberapa bank.
Sebenarnya, ia bisa hidup dari uang simpanannya itu. Tak
perlu kuliah, ia sudah bisa memperoleh pekerjaan. Tetapi,
19
ayahnya punya gengsi tinggi, sehingga anaknya dipaksa harus
memperoleh gelar sarjana penuh yang kelak akan dikirim ke
Amerika untuk memperdalam study bidangnya. Kalau saja
Denny mau, tahun-tahun kemarin ia sudah kuliah di Amerika.
Tapi, Denny belum punya niat untuk ke sana, karena ia
merasa malu jika ke Amerika hanya modal ijazah SMA saja. Ia
harus punya modal khusus sebelum ia meraih gelar doktoral di
Amerika.
Denny datang ke motel itu bersama Hamsad, sebab
Hamsad punya dendam tersendiri atas ke-matian Norman,
sebagai teman dekatnya yang sudah dianggap saudara
sendiri. Mereka berdua berlagak menjadi tamu yang ingin
menyewa dua tempat di motel itu.
“Hanya tinggal satu kamar, Bung,” kata bagian front-office
kepada Denny. “Maklum, malam minggu begini, biasanya
harus bocking dulu sehari atau dua hari sebelumnya.”
Denny memandang Hamsad, seakan meminta
pertimbangan. Lalu, Hamsad berkata kepada petugas
tersebut,
“Tinggal satu, tapi yang sebelah mana, Bung?”
“Agak jauh dari pantai. Hm… ini, di kamar Melati.” Petugas
itu menunjuk pada denah dalam brosur.
“Bagaimana dengan kamar sampingnya? Motel Seruni ini?”
Sejenak tak ada jawaban dari petugas tersebut. Denny
menimpali pembicaraan itu,
“Apakah Motel Seruni juga sudah di-bocking orang?”
“Belum. Tapi…,” petugas front-office sedikit ragu. Tapi,
karena Denny memandangnya dengan kerutan dahi pertanda
merasa aneh, maka petugas itu pun melanjutkan katakatanya,
“Kamar itu jarang ada yang mau memakainya.”
“Kenapa?” desak Hamsad.
“Tempatnya kurang nyaman. AC-nya sering macet, dan
saluran airnya kadang tersumbat. Hm… belakangan ini
memang tidak kami tawarkan kepada tamu, sebab kami belum
sempat membetulkan beberapa kerusakannya. Tapi, kalau
20
Bung mau, bisa saja. Di sana juga ada kipas angin, kalaukalau
AC tidak berfungsi.”
“Oke!” jawab Hamsad tanpa meminta persetujuan Denny.
Tapi, kami perlu teman. Kalau ada… tolong panggilkan yang
bernama Kismi.”
“Kismi…?!” petugas itu bingung. “Di sini tidak ada yang
bernama Kismi. Mungkin Bung salah nama.”
***
Bab 3
Jawaban petugas dianggap hal yang wajar. Pada umumnya
mereka saling berlagak tidak mengenal perempuan panggilan,
tidak menyediakan hostes, tidak menyediakan wanita
penghibur, dan semua itu hanya kamuflase saja. Den-ny dan
Hamsad sudah tidak heran lagi. Mereka tetap menempati
kamar-kamar yang telah dipesan. Kamar-kamar itu merupakan
sebuah bangunan tersendiri, berbentuk semacam rumahrumah
penduduk yang satu dengan yang lainnya terpisah.
Bangunan-bangunan tersebut tidak memakai nomor,
melainkan memakai nama bunga. Dalam setiap rumah motel,
terisi beberapa perabot rumah tangga, terdiri dari satu ruang
tamu, satu ruang tidur berukuran besar, dapur, dan kamar
mandi.
“Kau di kamair mana? Melati atau Seruni?” tanya Hamsad
kepada Denny.
“Aku di Seruni saja. Tapi, bagaimana dengan Kismi? Kalau
mereka tidak bisa menyediakan perempuan itu, kita sia-sia
bermalam di sini!”
“Bisa kita atur lewat telepon, nanti. Biar aku yang bicara.”
“Kau sendiri mau pakai dia?” tanya Denny.
“Pakai dan tidak itu urusan nanti. Tapi, kalau Kismi sudah
datang, segera kau telepon aku melalui kamarmu. Kita akan
bicara bertiga, siapa tahu bisa menyimpulkan sesuatu yang
berguna. Aku sendiri tidak perlu perempuan lain. Aku hanya
21
ingin bertemu dengan Kismi, ingin melihat seperti apa
perempuan itu.”
Mereka masuk ke motel itu memang sudah malam. Pukul 8
mereka memesan kamar tersebut. Letaknya berseberangan.
Masing-masing mempunyai bangku taman di bawah payung
berwarna-warni.
Telepon di kamar Denny berbunyi. Hamsad yang
menghubunginya. Kata Hamsad kepada Denny,
“Aku sudah paksa petugas itu untuk mengirimkan
penghibur hangat yang bernama Kismi. Kukirimkan ke
kamarmu. Den.”
“Apa katanya, Ham?”
“Yah… mereka mau usahakan. Tapi, mulanya mereka
ngotot dan tetap tidak mengaku mempunyai ‘anak buah’ yang
bernama Kismi. Lalu. kubujuk mereka, kucoba untuk
mencarinya, dan akhirnya mereka suruh kita menunggu, ha ha
ha…,” Hamsad tertawa.
“Agaknya Kismi perempuan yang cukup eksklusif,” kata
Denny dalam tersenyum. “Mungkin tidak semua orang bisa
menemui Kismi, Ham. Kurasa tarifnya jauh di atas yang lain.”
‘Itu kan bisa diatur,” kata Hamsad dalam nada kelakar.
Suara debur ombak terdengar, karena memang motel itu
dibangun di kawasan pantai. Adakalanya hembusan angin kian
bergemuruh, seakan menyatu dengan deru ombak memecah
karang.
Di dalam kamarnya, Denny mulai gelisah. Sudah pukul 11
malam, tak ada perempuan yang datang. Hamsad sempat
mendatangi kamar Denny, karena berulangkah ia menelepon
Denny dan menanyakan perempuan pesanannya, Denny
selalu menjawab, “Belum datang.” Mungkin karena rasa
penasaran yang menggelitik, maka Hamsad pun datang ke
kamar Denny itu. Dan, ia membuktikan sendiri bahwa di
kamar itu Denny sendirian, tanpa teman wanita yang
diharapkan.
“Aku sudah menghubungi resepsionis, dan menurutnya
Kismi sedang dijemput,” kata Hamsad. “Bersabarlah.”
22
“Yang harus bersabar aku atau kamu? Kulihat kau yang
kelihatan nggak sabar lagi, Ham,” kata Denny seraya tertawa
pelan.
Hamsad kembali ke kamarnya: kamar Melati. Rupanya ada
satu keisengan yang ia lakukan di kamarnya itu. Tak jauh dari
kamarnya, terdapat kamar motel lain. Kamar Mawar. Di kamar
itu, agaknya penghuninya tidak menyadari kalau lampu terang
di dalamnya menampakkan sebentuk bayangan dari luar
kamar yang gelap. Dari jendela dapur, Hamsad
memperhatikan ruang tidur yang terang di kamar Mawar itu.
Karena di sana tampak gerakan-gerakan dua orang yang
bercumbu dalam bentuk bayangan. Dari kamar Denny,
bayangan itu tak akan terlihat. Tapi, dari kamar Hamsad
bayangan dua makhluk bercumbu di atas ranjang itu terlihat
jelas.
Denny sendiri asyik menikmati acara TV Malaysia yang
menyajikan film kesukaannya. Ia tidak begitu menghiraukan
apakah wanita pesanan itu akan hadir atau tidak. Ia juga tidak
bertanya-tanya dalam hati: mengapa sampai larut malam
perempuan itu belum muncul? Yang ada dalam pikiran Denny
saat itu adalah rangkaian cerita film detektif yang menjadi
kegemarannya.
Pukul 12 malam lewat dua menit, tiba-tiba TV menjadi
buram. Seolah-olah salurannya terputus. Layar TV
menampakkan bintik-bintik seperti semut sedang kenduri.
Saat itu, barulah Denny menyadari tujuan semula. Ia
melirik arlojinya dan mendesah. TV dimatikan, ia berbaring
sambil mulai menerawang pada masa-masa kematian Nomian.
Bayangan tubuh Norman yang bermandikan darah
terpampang kembali dalam benaknya. Bergidik badan Denny
mengingat kengerian itu. Meletup emosinya, ingin mengetahui
penyebab kematian Norman.
Debur ombak terdengar samar-samar di sela siulan angin
pantai. Kali ini, hembusan angin itu terasa cukup aneh. Denny
sesekali berkerut dahi, karena suara angin yang berhembus itu
menyerupai lolong serigala menelan malam. Hati Denny
23
menjadi gelisah, ada debaran-debaran aneh yang ia rasakan
ganjil. Tanpa ada sesuatu ia bisa mengalami debaran, dan ini
adalah hal yang aneh baginya. “Ada apa?” batinnya pun
bertanya demikian.
Gagang telepon diangkat. Denny bermaksud menghubungi
Hamsad, karena makin lama ia merasa semakin merinding dan
berperasaan resah. Namun, baru saja ia hendak menekan
nomor telepon kamar Melati, tahu-tahu terdengar suara
ketukan pintu yang lembut.
Denny berhenti spontan dari segala geraknya, ia ingin
menyimak suara ketukan pintu itu. Ternyata, untuk kedua
kalinya pintu itu terdengar lagi diketuk. Lembut. Sopan. Pasti
bukan Hamsad, pikir Denny.
Ia bergegas turun dari ranjang berkasur empuk dan
berseprei halus lembut. Ia merapikan rambutnya sesaat,
kemudian segera membukakan pintu.
“Selamat malam,” sapa seorang perempuan yang memiliki
sepasang mata indah dan bibir yang sensual.
“Malam…,” jawab Denny sambil merasakan debar-debar di
dadanya. Ia sedikit gugup, karena baru kali ini ia melihat
perempuan cantik yang memiliki nilai kecantikan luar biasa.
Sungguh mengagumkan dan menggairahkan.
“Anda yang bernama Kismi?”
“Benar. Anda yang membutuhkan saya, bukan?” kata Kismi
dengan suara serak-serak manja. Lalu, ia melontarkan tawa
yang pelan namun memanjang.
“Kupikir kau tak akan datang. Kupikir malam ini kau ada
kencan dengan boss lain,” kata Denny memancing diplomasi.
“Tidak semua orang bisa kencan denganku. O, ya… siapa
namamu?”
“Denny.”
Kismi tertawa lagi. Pelan dan pendek. Denny berkerut dahi
sedikit dan bertanya, “Kenapa tertawa?”
“Namamu seperti nama bekas cowokku yang dulu. Tapi,
wajahnya jauh lebih tampan wajahmu dan aku yakin hatinya
24
lebih lembut darimu,” kata Kismi seraya meletakkan tas kecil
yang tadi tergantung di pundaknya.
“Kau mau minum apa? Bir?” tanya Denny seraya membuka
kulkas yang telah penuh dengan-minuman dan buah-buahan.
“Aku biasa air putih, yang lainnya tidak,” kata Kismi.
Kemudian, Denny mengambilkan air putih untuk Kismi.
Malam melantarkan keheningan yang romantis. Tetapi, bagi
Denny, malam itu bagai malam yang penuh teka-teki indah.
Malam itu terasa menghadirkan sesuatu yang meresahkan dan
membuatnya merinding, tetapi penuh dengan buaian mesra
dari sang sepi. Tak henti-hentinya Denny menatap Kismi yang
memang mempunyai nilai kecantikan dan lekuk tubuh
sintalnya yang eksklusif. Ia mirip seorang ratu. Hadir dengan
mengenakan gaun longdres putih berenda-renda pada bagian
perut dan lehernya. Bau parfumnya sangat halus dan lembut.
Enak dihirup beberapa saat lamanya. Rambutnya yang
disanggul, sehingga tampak lehernya yang jenjang itu berkulit
kuning langsat, bagai menantang untuk dikecup. Bibirnya yang
sensual itu pun sesekali membuat hati Denny deg-degan
karena menahan gejolak nalurinya yang masih ingin
dikendalikan.
Longdres putih itu terbuat dari bahan semacam sutra tipis,
sehingga begitu membayang jelas lekuk tubuhnya yang sexy
di balik gaun itu. Berulangkah Denny menelan air liurnya
sendiri. Ia lebih suka bungkam sambil menikmati kecantikan
yang luar biasa itu ketimbang harus bicara panjang lebar.
“Mengapa diam saja?” tegur Kismi yang sudah duduk di
pembaringan, sementara Denny duduk di meubel dekat
ranjang, menatap Kismi tak berkedip. “Untuk apa kau kemari
kalau hanya memandangiku? Kau rugi waktu lho.”
“Jadi…. Jadi apa yang harus kuperbuat, menurutmu?”
Denny masih sedikit kikuk dan menggeragap karena ia bagai
dibuai oleh keindahan yang tiada duanya.
“Apa perlumu kemari?” tanya Kismi. Denny jadi bingung
menjawabnya. Sepertinya ada suatu kekuatan magis yang
membuat Denny lupa segala-galanya dan hanya memikirkan
25
keagungan seraut wajah cantik yang siap menyerahkan diri
padanya.
“Kau baru pertamakan kemari, bukan?” Kismi mendekat
sambil menyentil hidung Denny. Pemuda berwajah halus dan
bersih itu hanya mengangguk. Kismi menyambung lagi,
“Kau bisa penasaran dan ketagihan lho kalau bermalam di
sini bersamaku.”
“Apakah banyak yang… yang seperti itu? ‘Hem…
maksudku, apakah banyak yang ketagihan padamu?”
Kismi mengangguk, lalu berkata, “Tapi tidak semua
kulayani. Aku pilih-pilih jika harus mengulang kemesraan
dengan mereka. Memang ada yang kulayani lagi, tetapi hanya
satu-dua.”
“Termasuk aku?”
“Mana aku tahu. Kita belum saling menukar kenikmatan,
bukan?”
“Kau ingin tahu kehebatanku?” tantang Denny sok berani,
walau sesekali ini mengusap lengannya karena merinding.
“Apa kau lelaki yang hebat?” Kismi tak kalah
menantangnya.
“Kau ingin buktikan?”
“Tentu. Hanya pada lelaki yang hebat bercinta aku akan
tunduk kepadanya. Kalau kau berhasil menundukkan aku,
maka kau akan hidup berlimpah kemegahan dan
kebahagiaan.”
“Kenapa kau berkata begitu? Apakah kau sedang memburu
pasangan yang sesuai dengan idamanmu?”
“Tidak terlalu memburu, tapi kalau memang ada yang bisa
berkenan di hatiku, barangkali dialah yang kupilih untuk
selamanya…,” kata Kismi sambil merayapkan jari telunjuknya
ke dagu Denny, kemudian merayap ke bibir Denny, dan Denny
menyambutnya dengan ujung lidahnya.
“Oh…,” Kismi mendesah dengan mata mulai membeliak
sayu. Denny tergugah, dan semakin terbakar naluri
kejantanannya. Ia mulai memberanikan diri meraba pipi Kismi
26
sementara bibir dan lidahnya sibuk menghisap-hisap jarijemari
Kismi yang sengaja bermain di mulut Denny-
Tangan Kismi yang kiri berusaha melepas tali gaun yang
terikat di pundak kanan-kirinya. Simpul tali itu hanya
ditariknya satu kali, lalu gaun terlepas sebelah. Yang satu
ditariknya kembali simpul talinya, dan kini gaun lembut itu
terlepas dari tubuh Kismi. Ia ternyata tidak mengenakan bra di
balik gaun. Hanya sebentang kepolosan yang halus mulus
yang ada di balik gaun. Dan kepolosan itu sangat
menghentak-hentakkan jantung Denny karena kepadatan
dadanya yang menonjol dalam keindahan yang ideal. Padat,
besar dan menantang.
Denny merayapkan tangannya ke leher, terus ke bawah.
Kepala Kismi terdongak ke atas sambil mendesiskan erangan
serak-serak manja. Matanya membeliak sayu. Ia masih
berlutut di hadapan Denny yang duduk di kursi empuk itu.
Tangan kiri Kismi segera melepas sanggulnya dengan gerakan
tangan gemulai, maka tergerailah rambut hitam yang punya
kelembutan bagai benang-benang sutra. Rambut itu ternyata
sepanjang punggung dan berbentuk lurus tanpa I gelombang.
Gerakan kepalanya yang mendongak makin ke belakang
seakan memberi kesempatan Denny untuk mengecup
lehernya. Denny tak sabar, kemudian ia melepaskan tangan
kanan Kismi yang masih bermain di mulutnya. Kini bibir dan
mulut Denny mulai merapat ke leher Kismi, membuat suatu
kecupan kecil yang membuat Kismi semakin mengerang
panjang.
“Ouuuh…! Dennyyy…!”
Ucapan kata dalam bentuk desah serak memanja itu begitu
mempengaruhi jiwa Denny. Ia makin dibuai oleh suara yang
memancing api birahi itu. Denny pun akhirnya memburu tanpa
bisa menahan diri. Tak ada niat untuk menunda sedikit pun.
Tak ada hasrat untuk berucap kata apa pun. Denny telah
mabuk dan lupa segala-galanya.
Sementara itu, tangan Kismi pun tak mau tinggal diam. Ia
pandai menyusupkan jemarinya ke lekuk-lekuk tubuh yang
27
peka dari seorang lelaki. Ia memang jago. Hebat. Ia memang
berpengalaman, jauh di atas segala pengalaman Denny.
“Ooouh… kau terbakar, Sayang…,” bisik Kismi sambil
menggeliat, bergerak maju bagai menerkam Denny. Pada
waktu itu, tangan Kismi sudah berhasil melepas kancing baju
Denny. Bahkan bagian atas tubuh Denny itu sudah tidak
dibalut selembar benang pun. Denny tidak menyadari keadaan
dirinya yang sudah demikian. Bahkan ia tidak tahu kalau
celananya telah terlempar di lantai tak jauh dari kursi empuk
itu.
Satu hal yang disadari Denny adalah keadaan Kismi yang
polos itu. Keadaan yang terbuka tanpa penghalang seujung
rambut pun itu kini berada di sandaran kursi. Entah
bagaimana caranya, Denny tak sadar, tahu-tahu Kismi duduk
pada bagian atas dari sandaran punggung kursi. Ia duduk
bagai seorang ratu yang siap memerintah dari singgasananya.
Kismi mengerang tiada putus-putusnya sambil meremasremas
kepala Denny yang ada di bawah tempat duduknya. Ia
biarkan kedua pahanya tersentuh lengan dan ujung pundak
Denny, karena pada saat itu ia merasakan satu sentuhan
mesra yang nikmat dan sesekali membuat ia makin kuat
meremas rambut-rambut di kepala Denny.
Pekikan-pekikannya menandakan ia telah dikuasai oleh
gairah birahi yang sesekali mengejutkan dirinya. Dan, tiap
kejutan, ia memekik keras sambil mengejangkan otot. Denny
bagai dipaksa tetap mencumbu di sela kepekaannya yang
utama, dan agaknya itu sangat memabukkan dirinya. Pekikan
dan erangannya kini makin berubah seperti tangis. Bukan
tangis kesakitan, melainkan tangis kebahagiaan yang sering
membuatnya gemas dan geregetan.
Tak sabar Denny menghadapi kegemasan Kismi, karena ia
sendiri ingin memperoleh masa-masa kegemasan yang
melambung jiwanya. Maka, segera Denny mengangkat tubuh
mulus berkeringat harum itu sambil mulutnya tetap merapat di
bibir Kismi. Tubuh mulus yang mendebarkan hati itu
diletakkan di atas ranjang, sehingga terlihat perempuan itu
28
lebih leluasa bergerak menggeliat, dan Denny sendiri lebih
bebas menikmatinya.
Deburan ombak di pantai terdengar bergemuruh bercampur
deru angin. Gemuruhnya ombak itu, masih belum sebanding
dengan gemuruhnya darah Denny yang dibuai kehangatan
cinta Kismi. Perempuan itu lebih galak dari singa, dan lebih
buas dari beruang. Tak segan-segan ia menjadi juru mudi
dalam ‘pelayaran’ itu. Tak ada lelahnya ia menghantar Denny
ke puncak kebahagiaan yang diharapkan setiap lelaki. Bahkan,
Denny sempat memekik keras dalam suara tertahan ketika
Kismi sengaja memancing Denny untuk berlayar lagi. dan
berlayar terus. Puncak-puncak kebahagiaan Denny telah
dicapai beberapa kali, tetapi Kismi masih ingin memacu diri
untuk makin menggila, meremat-re-mat tubuh Denny, mencari
puncaknya sendiri.
“Aku lelah, Kismi… oh… berhentilah…!” Denny terengahengah
dengan bermandikan keringat. Tetapi, Kismi tak mau
berhenti. Masih saja ia mengerang, mengeluh, mendesah dan
mendesis di sela setiap gerakannya yang luar biasa hebatnya.
“Kismi… oh… kita istirahat dulu. Sayang! Aku capek…!”
Kismi bahkan mengerang berkepanjangan sambil terus
bergerak seirama dengan kemauan hatinya. Denny hanya
terengah-engah dan sudah mengalami kesulitan menuju
ketinggian puncak asmaranya. Akhirnya ia biarkan Kismi
berlaga seorang diri. Ia biarkan Kismi berbuat apa maunya,
dan Kismi pun merasa diberi kesempatan. Ia jadi lebih
menggebu lagi.
Denny mulai merasa pusing. Matanya berkunang-kunang.
Napasnya sesak, dan perutnya terasa mual. Namun demikian,
Kismi masih tetap mendayung sampannya menuju samudera
kebahagiaan, sehingga mau tak mau Denny pun memekik lagi
karena tiba di puncak khayalan mesranya. Dalam hati, Denny
hanya bertanya-tanya dengan lemas, kapan ‘pelayaran’ itu
akan usai? Haruskah ia menolak dengan kasar, atau
membiarkan ia jatuh pingsan ditimpa sejuta kenikmatan?
***
29
Bab 4
Hamsad menggeragap ketika menyadari dirinya tertidur di
kursi dapur. Ternyata saat itu matahari telah memancarkan
sinar paginya yang menghangat di ruang dapur.
“Astaga…?! Sudah pagi?!” Hamsad segera bergegas ke
meja di kamar tidur, ia mengambil arlojinya di sana.
“Busyet! Pukul 7 kurang 10 menit? Apa-apa-an ini?
Bagaimana dengan Denny?!’
Tanpa cuci muka. tanpa menyisir rambutnya, Hamsad
langsung keluar dari kamarnya, menyeberang jalan kecil, dan
segera mengetuk pintu kamar Denny,
Beberapa kali pintu kamar itu diketuknya, tapi tidak ada
jawaban. “Ada apa Denny? Kenapa tidak segera membukakan
pintu? Apakah ia tertidur seperti aku? Ah.seharusnya tadi
kutelepon saja dari kamar. Pasti ia terbangun, karena meja
telepon dekat sekali dengan ranjang.”
Baru saja Hamsad ingin kembali ke kamarnya untuk
menelepon Denny. Tiba-tiba pintu kamar itu terdengar dibuka
seseorang dari dalam. Denny muncul dengan mata menyipit
dan ta-ngan melintang ke atas, ia menahan sorot matahari
yang mengenai matanya.
“Brengsek lu” gerutu Denny sambil bersugut-sungut. Ia
masuk, membiarkan Hamsad terbengong. Kemudian Hamsad
juga turut masuk dan mengikuti Denny. Denny
menelentangkan tubuhnya di ranjang empuk dengan satu
hempasan yang lemas.
“Ya, Tuhan…! Mengapa kamu menjadi seperti mayat
begini. Denny?” Hamsad memandang Denny tak berkedip,
sedikit tegang. Denny meraih guling dan mendesah.
“Kamar ini menjadi bau sperma! Brengsek’ Apa yang telah
kau lakukan semalam. Denny? hei, ? apakah Kismi datang
kemari?!”
“Hem…” Denny hanya menggumam, membenarkan dugaan
Hamsad
30
“Oh, dia benar-benar datang? Dan .. dan… kau bercinta
dengannya?”
‘Semalam suntuk!” kata Denny seenaknya dengan mata
menyipit sayu bagai masih mengantuk.
“Kenapa kau tak menghubungi aku?!” protes Hamsad
merasa dongkol.
”Tak sempat!”
“Ah, kau konyol! Aku nggak suka dengan kekonyolan model
begitu. Den! Kita kemari bukan mencari kenikmatan sepihak!
Kita kemari untuk…!”
’Tidak sempat!” bentak Denny yang merasa dongkol juga
Hamsad tidak melanjutkan omelannya, takut terjadi
perselisihan tak sehat, la diam. Memandang keadilan
sekeliling. Ia menggeleng-gelengkan kepala, merasa heran
melihat ranjang berserakan, sprei dan selimut tebal seperti
habis dipakai bertanding adu banteng. Kaos Denny masih
tergeletak di lantai, dekat kursi empuk itu bersama celananya.
Hanya celana dalam Denny yang kala itu dikenakan
Sementara kasur yang acak-acakan itu terlihat banyak noda
kelembapan yang mengeluarkan bau jorok. Hamsad terpaksa
menyingkir, tak tahan menghadapi suasana seperti itu.
Sebelum ia kembali ke kamarnya, ia mengingatkan Denny,
‘Kita check out pukul 12 siang ini lho! Jangan lebih’
Denny hanya menggumam sambil tetap memejamkan
mata, dan Hamsad pun segera meninggalkan kamar lembap
ini. Dalam hatinya ia menggerutu dan menyesal setengah
mati, karena ia tidak berhasil bertemu dengan perempuan
yang bernama Kismi. Untuk menghalau kedongkolannya itu.
Hamsad menetralisir diri dengan berkata dalam hati, “Ah. tapi
Denny kan sudah bertemu dengan Kismi ini. Pasti Denny
sudah bisa mengorek beberapa rahasia dari Kismi tentang
Almarhum Norman Tak apalah! Yang penting Denny bisa
menyimpulkan semua keterangan dari Kismi tentang Norman,”
Pukul 10. menjelang pagi berakhir, Denny masih tertidur.
Hamsad menyempatkan diri berjalan ke pantai. Sambil
31
melangkah menikmati pemandangan indah dan cuaca cerah.
Hamsad bertanya-tanya dalam hati.
“Tapi, mengapa wajah Denny begitu pucat. Persis dengan
wajah sesosok mayat, la kelihatan lemas dan layu sekali.
Apakah benar ia telah bercinta dengan Kismi semalaman
suntuk? Separah itukah ia?”
Pasir pantai yang putih dan lembut disusurinya. Banyak
sepasang sejoli yang melangkah sambil bergandengan tangan
banyak pasangan yang beda usia sangat menyolok. dan sudah
tentu mereka bukan suami-istri Oom-oom sedang monikmati
masa santainya bersama daun muda. Ataupun ‘daun muda’
yang berhasil menggaet oom-oom untuk diperas dompetnya?
Terkadang Hamsad merasa iri melihat mereka. Yang tua. bisa
mendapatkan pasangan muda belia dan cantik. Yang beruban
dan berwajah peot saja bisa memeluk gadis cantik
menggiurkan, mengapa ia tidak bisa seperti mereka?
Mungkinkah karena faktor ekonomi yang tidak sepadan
dengan opa-opa pecandu daun muda itu?
Dalam masa-masa merenungi kenyataan itu.
Hamsad teringat kata-kata Almarhum Norman saat ia
menceritakan tentang kehebatan Kismi.
“Ia tidak pantas dipajang sebagai wanita penghibur. Kismi
sungguh anggun. Mirip seorang ratu di zaman Romawi Kuno.
Hidungnya mancung dan matanya bening, mempunyai
ketajaman yang berwibawa, tapi enak dipandang. Kalau kau
berjalan dengan Kismi menyusuri pantai, maka orang-orang
yang saling mendekap pasangannya itu akan melepaskan
pelukan mereka, dan mata oom-oom yang ada di sana pasti
terarah kepada Kismi tanpa berkedip. Kismi mempunyai daya
magnitisme yang membuat lelaki bisa lupa daratan maupun
lautan…!”
Hamsad tertawa sendiri teringat kata-kata Norman.
Barangkali di pantai inilah yang dimaksud Norman. Di pantai
itulah seharusnyu Hamsad menggandeng Kismi. agar semua
mata lelaki akan membelalak ke arah Kismi, dan semua
pelukan lelaki akan terlepas dari pasangannya. Jika benar
32
begitu, oh… alangkah istimewanya wanita yang bernama
Kismi itu? Pantas rupanya jika petugas motel merahasiakan
tentang Kismi, dan tidak sembaningau memberikan Kismi
kepada tamunya. Rupanya Kismi adalah maskot bagi motel
itu. Kismi adalah sang Primadona yang tidak sembarang lelaki
boleh menyentuhnya. Mengenai harga keringatnya, sudah
tentu jauh di atas harga wanita-wanita penghibur yang lain.
Hamsad digelitik oleh rasa penasaran tentang Kismi. Ia
bergegas kembali ke kamarnya dan membangunkan Denny
lewat telepon, karena jam sudah menunjuk pukul 11 siang.
Tetapi, sebelumnya ia sempat berpapasan dengan seorang
lelaki separuh baya yang berkumis dan berbadan gemuk, tapi
bukan gendut.
“Pak Hasan!” sapa Hamsad. Lelaki itu berpaling ke arah
Hamsad, lalu tersenyum kaget. Pak Hasan segera melepaskan
tangannya yang sejak tadi menggandeng wanita bertubuh
langsing yang berusia sebaya dengan Hamsad.
“Hei. kau di sini juga. Ham?!” Pak Hasan segera berjabat
tangan dengan Hamsad.
“Biasa, Pak. Refresing…!” Hamsad tertawa seirama dengan
tawa Pak Hasan.
“Bersama siapa kau di sini. Ham? Maksudku, bukan teman
cewek, tapi teman lelakimu, Hem… o. ya kau tentu bersama
Norman, bukan?”
Hamsad sedikit kikuk untuk menjawab, namun akhirnya ia
berkata. “Apakah Pak Hasan belum mendengar kabar tentang
Norman?”
Lelaki separuh baya yang masih digelayuti perempuan
muda itu berkerut dahi. mulai curiga.
”Ada apa dengan Norman? Aku baru saja kemarin sore
pulang dari Bandung.”
“Astaga,..! Kalau begitu, mungkin Pak Hasan belum
mendengar kabar terakhir tentang Norman”
“Maksudmu?”
“Norman… hm… dia telah meninggal. Pak.”
33
“Hah…?!” Pak Hasan nyaris terpekik keras. matanya
mendelik. Mulutnya ternganga kaku sejenak.
“Dia… dia melakukan kebodohan. Pak.” tambah Hamsad
dengan nada sendu.
“Kebodohan?” ‘
Ya. Dia… bunuh diri!’
“Astaga…?” makin mendelik lagi Pak Hasan mendengar
kata-kata itu. Wajahnya tampak tegang dan menjadi pias.
“Apa masalahnya? Ada apa sih?! Mengapa dia sampai
melakukan hal itu?r
Secara singkat Hamsad menceritakan saat-saat Norman
menikam dirinya dengan gunting dan tepat mengenai
jantungnya. Keceriaan Pak Hasan kala itu benar-benar
terganggu dan boleh dikatakan hilang seluruhnya, la menjadi
murung, duduk di bangku plesteran dari batu berlapis traso. Ia
kelihatan sedih .sekali.
“Norman….” gumamnya. “Ah. gila! Padahal dia satusatunya
penulis andalanku yang baru saja kemarin malam
kuusulkan oleh perusahaan yang baru untuk mengontrak
Norman dalam penerbitan tahun ini. Tapi… ah. gila! N’orman
itu gila apa waras sih? Mengapa ia sampai berani berbuat
nekat begitu?”
“Teman-teman satu pondokan tak ada yang mengetahui
alasan Normali secara pasti, Pak.” kata Hamsad. “Tapi, ada
tiga orang yang melihat persis saat Norman melakukan
tindakan nekatnya itu. Dua temannya terluka ketika hendak
menghalangi tindakan picik itu.”
Wanita cantik yang duduk di samping Pak Hasan itu ikut
menampakkan wajah sendu, seakan turut berdukacita atas
kematian Norman, walau sebenarnya ia sendiri tidak tahu.
siapa Norman. Dan, setelah menghela napas beberapa kali
dalam kebungkamannya. Pak Hasan berkata kepada Hamsad.
“Ham, aku tahu kau teman dekat Nornian. Aku ingin bicara
denganmu, tapi tidak di sini! Datanglah ke rumahku, atau…
jangan. Jangan ke rumah, nanti terganggu urusan lain. Hem…
besok sore, teleponlah aku. Atau kapan saja setempatmu.
34
Telepon aku, dan kita tentukan di mana kita harus bertemu
untuk membicarakan tentang Norman.”
“Baik. Saya setuju. Pak.”
“Ah. sial! Mengapa aku harus kehilangan dia?!” gumam Pak
Hasan yang tampak menyesal sekali atas kematian Norman
itu.
Tak enak jika terlalu lama mengganggu Pak Hasan.
Hamsad pun segera memisahkan diri. Pukul 11 lebih 20 menit,
ia segera ke kamar Denny. takut Denny berlarut-larut dalam
tidurnya.
“Hei, minggat ke mana kau?!” sapa Denny yang rupanya
justru sedang menengok keadaan di kamar Hamsad.
“Aku baru saja memesan makanan,” kata Hamsad sambil
duduk di kursi teras yang terbuat dari rotan.
Hamsad tidak bicara untuk beberapa saat, karena ia masih
terheran-heran melihat kepucatan wajah Denny.
“Kenapa memandangku begitu? Apa aku mirip setan?!”
“Persis sekali.” jawab Hamsad. “Kau bukan mirip, tapi
persis setan! Pucat pasi. seperti kertas HVS ukuran kuarto!’
Hamsad geleng-geleng kepala. Denny hanya nyengir berkesan
tersipu.
“Kita tidak buru-buru pulang, kan?” tanya Denny
mengalihkan perhatian.
“Tinggal satu setengah jam lagi kita punya ketempatan di
sini.”
“Ah, pulang besok saja,’ kala Denny. dan ia bergegas
masuk ke kamar Hamsad. Begitu keluar sudah membawa dua
kaleng Green Sands.
‘Kau mau pulang besok?” Hamsad sangsi.
Denny hanya tersenyum-senyum. “Aku ada janji dengan
Kismi untuk bertemu nanti malam.”
“Ah, kau gila!” ketus Hamsad sambil membuka kaleng
Green Sands.
“Untung bukan kau yang bertemu dengan Kismi. Kalau kau
bertemu dengan Kismi. maka kau yang akan menjadi gila!”
35
Denny tertawa. Wajahnya yang tampak sayu seperti
dipaksakan untuk ceria.
“Almarhum Norman pernah bilang begitu padaku.” kata
Hamsad. “Katanya, aku akan tergila-gila jika bertemu dengan
Kismi, apalagi sampai bergumul dengan wanita itu, pasti kesan
itu menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan seumur
hidupku.”
“Benar! Kata-kata Norman itu memang benar! Kismi wanita
istimewa yang mempunyai kehebatan luar biasa. Daya
tariknya mampu melumpuhkan lututmu, Ham! Wah, aku
hampir pingsan menikmati kebahagiaan dengannya. Dia
pandai. Pandai dalam segala hal! Dia akan membuatmu lemas
lunglai dan tak bisa bergerak lagi oleh cumbuan dan gairah
birahinya yang berkobar-kobar Gairahnya itu seakan lak bisa
dipadamkan dalam waktu sekejap. Perlu proses yang cukup
panjang untuk menurunkan temperatur nafsunya. Sungguh
melebihi kuda betina yang kokoh dan tangguh.”
Terbayang dalam khayalan Hamsad. seperti apa
sebenarnya keadaan Kismi itu. Ia meraba dalam bayangan
dan akhirnya menciptakan debar-debar penasaran yang
mengganggu ketenangannya. Denny terus bercerita tentang
kehebatan Kismi. tentang kecantikan Kismi, dan tentang kesan
indah yang ia peroleh dari Kismi. Lalu, meluncurlah
pertanyaan dari mulut Hamsad yang bersifat usil.
“Berapa banyak ia memeras uangmu untuk semalam
suntuk Itu?”
“Tidak sepeser pun!”
“Ah…!” Hamsad mendesah, pertanda tak percaya.
“Sungguh, Ham! Dia tidak minta sepeser pun uang duriku!”
“Betul? Atau. barangkali menyuruhmu membayar di kasir»”
“Kamu pikir dia dagangan di supermarket?” Denny tertawa
lepas.
Hamsad termenung heran.
“Kok aneh?! Dia tidak minta bayaran? Lalu…? lalu untuk
apa dia datang?!”
36
“Yah… mungkin dia seorang perempuan yang butuh
hiburan juga,’ kata Denny. “Yang jelas, ketika pukul 4 pagi
lewat sedikit, ia segera berbenah diri. kemudian mencium
keningku dan berbisik agar aku kembali lagi pada malam
berikutnya. Ia akan datang dan tak perlu memikirkan tarif apa
pun. Dia tersinggung kalau aku bertanya tentang tarif
cintanya. Dia merasa tidak menjual cinta kepada siapa pun. Ia
hanya akan datang jika aku pun datang di tempat yang
sama.”
Terlintas kejanggalan yang menggelisahkan hati Hamsad
saat itu. Rasa penasarannya semakin menggebu, dan hasrat
untuk membuktikan Semua kata-kata Denny itu ditekan kuat.
disambunyikan rapat-rapat.
“Jadi kau ingin bermalam lagi?” tanya Hamsad dalam
kebimbangan.
“Ya. Kau… kau bisa datang ke kamarku. Kali ini. akan
kusempatkan untuk meneleponmu jika dia datang. Tapi.
ingat… aku tidak mau kau mengganggu kemesraan kami’
Awas lu kalau konyol!”
‘Tidak. Aku tidak akan bermalam lagi di sini.”
“Alaaah… begitu saja sewot!” ledek Denny.
“Bukan sewot. Kau ingat, nanti malam adalah hari
perkawinan dosen Biologi kita. Bu Anis.”
“Astaga! Benar! Aku hampir lupa!”
‘Aku harus datang dalam pesta perkawinan itu. Semua
teman kurasa juga datang, karena Bu Anis adalah satusatunya
dosen yang paling akrab di hati para mahasiswanya.”
Denny mauggul-manggut. lalu kelihatan bingung, la
berkata, “Ya.ya…, Bu Anis nanti malam melangsungkan
pernikahan. Dan, wah… repot kalau begini, Ham. Kalau aku
tidak datang, itu sangat keterlaluan. Sebab, Bu Anis itu anak
dari kakaknya ibuku- Kepada Bu Anis dulu ibuku menitipkan
aku agar kuliah di kota ini. Dan. kurasa keluargaku pasti
datang semua. Malulah aku kalau tidak nongol dalam
perkawinan Bu Anis.”
‘Jadi, bagaimana dengan janjimu dengan Kismi?”
37
Denny diam sampai beberapa saat lamanya, la dalam
kebimbangan yang benar-benar menjengkelkan. Setelah
beberapa saat kemudian akhirnya ia memutuskan agar segera
pulang saja. Urusan Kismi akan ditunda sampai malam
berikutnya. Denny menitipkan pesan tulisan kepada bagian
resepsionis. Pesan itu untuk Kismi yang berisi penundaan
waktu berkencannya. Maka. siang itu juga mereka check-out
dari motel tersebut. Denny langsung ke rumah Bu Anis untuk
membantu persiapan malam perkawinan nanti, sedangkan
Hamsad kembali ke rumahnya dengan sejumlah pertanyaan
batin yang menggelisahkan hatinya.
“Ada sesuatu yang ganjil dari cerita Norman dengan cerita
Denny. Tapi, di mana letak keganjilan itu. aku belum
menemukan.” pikir Hamsad ketika sore itu bergegas ke
pondokan Denny dalam keadaan siap berangkat ke pesta
perkawinan Bu Anis.
Di pondokan. Hamsad yakin, banyak mahasiswa yang akan
datang ke perkawinan Bu Anis, karena di situ banyak teman
satu kampus dengannya, di antaranya Bahtiar, Ade. dan
Yoppi. Mulanya Hamsad ingin menghampiri Sonita, cewek
kampus yang pernah pergi ke pesta ulang tahun salah seorang
teman bersama Hamsad. Tetapi, Hamsad ragu. sebab Sonita
belakangan ini kelihatan mengakrabkan diri dengan Bob, dan
kehadiran Hamsad bisa jadi menimbulkan perkara di antara
mereka. Karena itu Hamsad lebih setuju untuk pergi bersamasama
anak-anak pondokan saja. Mungkin lebih seru ketimbang
harus membawa cewek yang penuh resiko itu.
“Denny baru saja pergi lagi, Ham.’ kata Ade.
“Ke mana dia?!”
“Menjemput Kismi.”
“Hah…?!” Hamsad terbalalak kaget memandang Yoppi yang
menjawab pertanyaan tadi. “Dengan siapa ia menjemput
Kismi?”
“Tigor. Dia paling bernafsu mendengar cerita Denny
tentang Kismi. Luar biasa menurutku juga”
38
Ada rona ketegangan yang tahu-tahu muncul di wajah
Hamsad. la memandang Yoppi. Ade dan Bahtiar. Satu persatu
wajah itu dipandanginya. Kemudian, ia bertanya dengan suara
pelan, sepertinya tidak ditujukan pada mereka.
“Jadi… kalian sudah tahu cerita tentang Kismi?”
Ade tertawa sinis dalam gaya kelakar, *Kau pikir cuma kau
saja yang boleh mendengar cerita menggairahkan itu? Kami
juga berhak mendengarnya dong!”
Bahtiar menimpali, “Kami juga berhak inengkhayalkannya
dong. Betul, nggak?!” Dan, Ade serta Yoppi menjawab
serempak. “Betuuul…!”
Setelah diam sesaat. Hamsad berkala, “Tiba-tiba aku
mencemaskan Denny?” Hamsad tampak resah.
“Cemas? Kenapa harus cemas?”
‘Entahlah. Perasaan cemas itu juga timbul sebelum malam
Kematian Norman. Ah, mau ada apa, ya?” gumam Hamsad.
***
Bab 5
Dengan mengendarai mobil Jeep milik Tigor, Denny
bernafsu sekali utiluk membawa Kismi pada pesta perkawinan
Bu Anis. Ia ingin memamerkan Kismi.kepada keluarganya yang
malam itu berkumpul di gedung, tempat pesta perkawinan itu
berlangsung. Sedangkan Tigor, adalah salah satu pemuda
korban khayalan cerita Denny. Tigor penasaran sekali dan
ingin melihat sendiri seperti apa Kismi itu. Benarkah cerita
Denny bukan sekadar bualan belaka?
Pukul 7 malam kurang beberapa menit, mereka tiba di
bagian resepsionis. Seorang pemuda berdasi kupu-kupu duduk
di balik meja resepsionis dan menyambut kedatangan Denny
serta Tigor dengan senyum ramah.
“Ada yang bisa saya bantu. Bung?” kata resepsionis itu.
seperti sebuah hafalan.
“Saya tadi siang titip pesan dengan petugas yang badannya
sedikit gemuk.”
39
“O, maksudnya…. Mas Gagan?’
‘Entah siapa dia punya nama, tapi dia bagian resepsionis
tadi siang. Mungkin sekarang tugasnya telah Anda gantikan,
ya?’
”Benar. Saya tugas malam. Ada pesan apa maksudnya?”
Denny sedikit bingung menjelaskannya. Lalu, dengan hatihati
ia ceritakan pertemuannya kemarin malam dengan Kismi.
Tetapi, petugas itu tampak kebingungan juga.
“Maaf, kami memang mempunyai wanita-wanita yang…
yah, sering dipesan oleh para tamu. Tetapi, tidak ada yang
bernama Kismi. Mmm… mungkin Anda memesannya dari
motel lain?”
“Tidak. Saya memesannya dari sini. Dan, perempuan itu
datang juga ke kamar saya. Maka, saya titip pesan untuknya,
karena seharusnya hari ini saya masih di sini menunggu dia.
Tapi, karena ada resepsi perkawinan keluarga, jadi saya
tinggalkan. Nah, malam ini saya ingin ajak dia untuk
menghadiri resepsi tersebut,” tutur Denny menjelaskan.
Sejenak kemudian petugas itu mencari sesuatu dan
menemukan surat Denny untuk Kismi
‘Mungkin ini surat Anda.”
“Ya. benar! Rupanya belum disampaikan, ya?’
“Mungkin tak seorang pun dari kami yang mengetahui
perempuan bernama Kismi, Bung. Dan. kalau begitu, biasanya
kami tunggu saja di sini Apabila perempuan itu datang, baru
kami serahkan surat ini.”
“Dari tadi dia belum datang?” Tigor yang tak sabar mulai
angkat bicara.
“Belum. Dalam buku tamu ini juga tidak ada yang
mencantumkan namanya sebagai Kismi,” jawab petugas
resepsionis dengan ramah. Sesaat kemudian, ketika Denny
dan Tigor berbicara bisik-bisik, petugas itu bertanya lagi,
“Maaf. di mana Anda semalam menginap? Maksud saya. di
kamar Kenanga atau Flamboyan?”
“Di kamar Seruni,” jawab Denny.
40
Petugas resepsionis itu kelihatan terperanjat sesaat, dan
buru-buru menyembunyikan perasaan kagetnya itu. Tigor
sempat mengetahui hal itu, kemudian sedikit berkerut dahi
karena merasa curiga.
“Apakah kamar itu sampai sekarang masih kosong?”
“Saya rasa begitu. Bung?’” resepsionis itu telah berhasil
menguasai rasa kagetnya, sehingga memberi jawaban ramah
kepada Denny. Tetapi. Tigor diam-diam memperhatikan wajah
pemuda tersebut yang tampaknya mulai dihinggapi keresahan.
“Dia janji jam berapa akan datang?” tanya Tigor kepada
Denny.
“Dia tidan menentukan jamnya tapi yang jelas dia pasti
datang untuk menemuiku kembali.”
‘Mmm… barangkali….” petugas itu sedikit, gugup.
“Barangkali Anda bisa menunggunya jika membooking kamar
itu lagi. Bung.”
“Ah, kurang efisien itu!” Denny mendesah. “Atau barangkali
Bung mau menunggunya?” petugas itu tetap ramah.
Denny meminta pendapat Tigor. lalu Tigor berkata, “Repot
pulalah aku! Kau yang punya urusan, kenapa aku yang ikut
susah. Kau sendirilah yang tunggu dia kalau kau mau!’
“Kita bicara sebentar di lobby itu yuk…”ajak Denny.
Kemudian, mereka berdua duduk di sofa yang ada pada lobby
tersebut.
Agaknya Denny merengek kepada Tigor agar Tigor mau
menemani dia menunggu Kismi. Tigor sendiri makin tertarik
setelah Denny menceritakan kehebatan Kismi di ranjang. Tigor
makin terbuai oleh cerita Denny tentang kecantikan Kismi
yang mirip seorang Ratu Mesir Kuno. Maka. Tigor pun
akhirnya berkata.
“Kalau kau bohong, aku tak mau berteman lagi dengan
kaulah! Tapi kalau kau benar, kau boleh anggap aku
abangmu.”
“Bah! Abang macam apa kau kalau diam-diam punya minta
juga dengan kekasih adiknya.” kata Denny menirukan gaya
Tapanuli.
41
”Eh. siapa bilang aku mau sama cewekmu?”
”Eh. siapa bilang begitu, Denny?! Aku cuma ingin tahu,
seperti apa cewek yang kau agung-agungkan itu. Denny!
Jangan punya pikiran yang macam-macamlah!” Tigor
bersungut-sungut, berlagak sewot. Denny tertawa terkekeh
melihat gaya Tiyor berlagak tersinggung. Buktinya, Tigor
sendiri segera berkata,
“Kalau masalah kau mau kasih kesempatan sama aku, itu
lain persoalan, kan?”
“Kesempatan apa?”
“Yang, kesempatan merasakan khayalanmu itulah.,.!” Tigor
sendiri akhirnya tertawa bersama Denny.
Sampai pukul 9 malam, Kismi belum datang juga. Tigor
mulai menggerutu dan merasa ditipu. Denny tidak bisa
tenang. Gelisah sakali, karena seharusnya saat itu ia sudah
berada di pesta perkawinan Bu Anis. Ia penasaran kalau tidak
membawa Kismi ke pesta itu. Ia malu. Dan, ia yakin, bahwa
Kismi pasti datang sesuai janjinya.
“Bagaimana ini, Denny? Sudah pukul 10 malam kurang
sedikit. Apa kita harus tunggu dia sampai pagi, atau
tinggalkan saja dongengmu itu! Kita ke resepsi sekaranglah!
Biar aku tak kena marah keluargamu!”
Kesal sekali hati Denny. la dicekam oleh kebimbangan yang
menyebalkan. Menunggu Kismi seperti menanti kematian yang
memuakkan.
Dan akhirnya Denny pun setuju dengan usul Tigor untuk
meninggalkan motel itu. Mereka segera melejit ke arah
gedung pertemuan yang dipakai mengadakan pesta
perkawinan Bu Anis. Denny yang mengemudikan mobil itu.
karena Denny yang tahu persis mencari jalan pintas menuju
gedung pertemuan untuk mempersingkat waktu.
Tapi. tiha-tiba mobil itu mogok di perjalanan. Berulangkali
Denny menstarternya, tapi mesin tak mau hidup lagi. Tigor
mengambil alih kemudi, dan ternyata sama saja.
“Bah ! Mobil macam apa ini?! Bensin masih ada, oli masih
ada, air masih ada, kenapa macet!. Ah. macam-macam pula
42
mobil ini! Ala. Maaak…! Apa yang rusak ini?!” Tigor
menggerutu dan ngomel-ngomel sendiri, sedangkan Denny
diliputi rasa gelisah yang membuatnya menggeram-geram dan
mendesah-desah tak karuan.
Tigor mendorong mobil, sementara Denny memegang
kemudi, tapi hasilnya nol. Dua orang tukang becak dimintai
bantuan untuk mendorong mobil , tetap saja tak menghasilkan
apa-apa., Akhirnya tukang becak itu bahkan menyatakan diri
tidak sanggup dan terlalu jauh meninggalkan becaknya- Tigor
memberi mereka uang seribu, lalu tinggallah Denny bersama
Tigor di jalanan yang sepi itu.
Malam melengangkan udara dingin. Sepertinya mau hujan,
karena langit mendung, tak berbintang satu pun. Jalanan itu
adalah jalanan yang jarang dilalui kendaraan karena di
samping banyak lubang juga karena tak ada penerangan.
“Denyyy…!’
Tiba-tiba Denny mendengar seseorang memanggilnya. Ia
tersentak kaget dan matanya membelalak mencari-cari suara
tersebut. Tigor sedang mencoba mengutak-atik mesin mobil,
sehingga ia tidak melihat Denny kelabakan mencari sesuatu.
Beberapa saat selelah mencoba mengutak-atik mesin, Tigor
mencoba menstarternya, tapi masih belum bisa hidup mesin
mobil itu.
“Kurang ajar!” umpatnya sendiri. “Sudah jam berapa ini,
Denny? Aku rasa kita sudah terlambat. Mereka sudah pulang
dari pesta perkawinan Bu Anis.”
“Bakar saja mobil ini. Gor!” seraya Denny melirik arlojinya
yang menunjuk pukul 12 tengah malam lewat lima menit.
“Ah. jangan begitu kau! Kalau mobil itu bagus, kau tidak
pernah suruh aku bakar, kan? Ini kan namanya insiden kecil!”
“Mobil rungsokan kau bawa ke mana-mana!” gerutu Denny.
“Dennyyy…!” suara itu terdengar lugi.
Tigor ingin mengatakan sesuatu, tapi Denny melarang
Tigor bicara. “Ssst…! Jangan bicara,” bisik Denny. “Aku
mendengar suara perempuan memanggilku. Sudah dua kali
ini, Gor.”
43
“Ah, kau macam-macam pula!”
“Ssst… benar! Diamlah dulu. Dengarkan suara itu, siapa
tahu ia memanggilku lagi.”
Tigor hanya menghela napas dan menghempaskannya
dengan kesal. Ia kesal terhadap mobilnya sendiri, juga kesal
terhadap tingkah Denny yang menurutnya mengada-ada.
Tetapi, ketika ia hendak berdiam diri beberapa saat. ia merasa
tengkuk kepalanya merinding. Bulu-bulunya meremang
sendiri, dan ia pun bergidik sambil mendesis pelan.
“Aku jagi merinding, Denny!”
“Aku juga,” bisik Denny.
“Celaka! Matilah aku kalau tempat ini ternyata angker…!”
kata Tigor dengan sedikit tegang, suaranya tak berani keras.
Deru angin malam pembawa hujan mulai teram
menyibakkan rambut-rambut mereka. Tigor semakin cemas,
takut kalau-kalau hujan turun, sementara mereka berhenti di
jalanan sepi. Kanan-kiri adalah rawa-rawa yang ditanami
semacam tanaman kangkung atau sejenisnya. Tak jelas
karenn malam. Yang jelas, mereka jauh dari rumah atau
bangunan berpenghuni.
‘Eh, Denny… kita dorong saja mobil ini. Cari tempat yang
tidak seram beginilah!”
Denny setuju. .Mereka mendorong mobil mencari tempat
yang tidak menyeramkan. Tigor mendorong bagian samping
sambil mengendalikan stiran mobil. Napas mereka ngosngosan,
keringat pun mulai beranjuran. Tetapi, keringat
mereka itu bercampur dengan keringat dingin akibat rasa
takut yang mencekam.
Beberapa saat setelah mereka mendorong mobil, Denny
yang mendorong dari bagian belakang mobil, tiba-tiba
berhenti melangkah. Ia mendengar suara perempuan
memanggilnya.
“Tigor. aku mendengar suara Kismi memanggilku!”
“Ah, tak ada suara apa-apa.’ Kau jangan macammacamlah!
Bikin orang sport jantung saja.’” gerutu Tigor
44
sambil tetap mendorong mobil. ‘Eh, dorong lagi mobil ini!
Jangan diam sajalah!”
Denny mencoba melupakan suara itu. ia mendorong mobil
lagi. Sampai akhirnya, mereka menemukan sebuah warung di
pangkalan ojek Ada dua tukang ojek yang ada di situ. dan hati
Tigor serta Denny sedikit lega. Setidaknya mereka berada di
antara beberapa orang. Syukur ada yang bisa memperbaiki
mobil, atau memberi saran yang terbaik bagi Tigor dan Denny.
Warung itu. terletak pada satu tikungan jalan raya yang
mempunyai cahaya lampu mercury di salah satu sisi. Sinar
lampu itu jatuh ke warung dalam keadaan remang-remang,
tetapi nyala lampu petromaks di warung itu cukup membuat
penerangan tersendiri di sekitar situ.
Ternyata dari dua tukang ejek itu, tak ada yang bisa
diharapkan untuk membetulkan mesin mebil Tigor. Bahkan
mereka bersikap acuh lak acuh. tak mau memberi saran apa
pun. Sementara itu, pemilik warung jalanan itu juga tidak tahu
soal mesin mobil dan tidak punya pandangan yang lebih baik.
Pemilik warung itu seorang lelaki lanjut usia dengan anak
lelakinya yang masih belasan tahun. Tigor dan Denny akhirnya
ngopi di warung itu sambil mencari ide untuk kembali ke
pondokan mereka.
‘Apakah mobil harus dititipkan pada pemilik warung ini?
Kita pulang naik taksi saja?” usul Tigor. Denny menjawab
dengan ketus karena dongkol pada nasibnya.
“Kalau mobilmu mau hilang, silakan saja kau titipkan ke
warung ini. Esok pagi warung ini sudah tidak ada. Mereka
jualan pada waktu malam saja.’
Denny ingin bicara lagi. tetapi kali ini ia mendengar suara
seseorang berseni di kejauhan memanggilnya.
“Denny…! Denny. tolong akuuu…!”
Arah suara itu dari tempat Denny dan Tigor tadi mendoiong
mobilnya. Denny terperanjat karena ia yakin bahwa Kismi
sejak tadi sebenarnya menyusul mereka. Kismi tertinggal di
belakang mereka, dan sekarang agaknya wanita itu mendapat
kesulitan. Maka. Denny segera melompat keluar dari warung.
45
“Hei, mau ke mana kau. Denny?!“ seru Tigor.
“Kismi menyusul kita. Gor! la tertinggal di belakang kila
sejak tadi!”
“Ah, mana mungkin dia berani lewat jalan sepi itu
sendirian!’ bantah Tigor.
“Tapi. aku mendengar suaranya memanggilku, la minta
tolong!”
Denny segera pergi, kembali ke arah semula. Tigor sangsi
untuk mengikutinya. Ketika ia memandung jalanan yang gelap
itu. ia melihat sosok bayangan Denny yang melangkah cepat
bagai mengejar suara yang memanggilnya. Tetapi. Tigor
sendiri sejak tadi tidak mendengar suara perempuan.
Sekalipun tidak pernah. Maka. ia jadi merinding sendiri, dan
masuk ke warung lagi.
“Apakah Bapak mendengar suara perempuan berseru dari
sana. Pak?” tanya Tigor pada pemilik warung.
“Tidak. Tidak ada suara orang memanggil kok.” jawab
pemilik warung. “Kamu mendengar. naK?” Ia bertanya kepada
anak lelakinya.
“Nggak dengar apa-apa kok. Pak! Nggak ada orang
perempuan berteriak’” jawab anak lelaki pemilik warung.
“Nah, temanku itu jangan-jangan sudah gila dia! Nekat
memburu suara hatinya sendiri! Sinting, dia” Tigor
menggerutu seenaknya sambil mencomot makanan dan
melahapnya, la tidak begitu menghiraukan keadaan Denny. Ia
sendiri merasa merinding dan diganggu oleh perasaan gelisah
sejak Denny pertama kali mengaku mendengar suara
perempuan memanggilnya.
Denny sendiri tidak peduli dengan Tigor. Menurutnya, Tigor
berlagak tidak mendengar suara Kismi karena ia takut jika
harus kembali melalui jalan gelap dan sepi itu. Tetapi, Denny
hanya punya satu konsentrasi, yaitu Kismi. Ia yakin Kismi
memanggilnya dan ia harus datang dengan segera.
Tetapi, setelah beberapa langkah ia meninggalkan warung
itu, langkah kakinya menjadi terhenti Ia mendengar suara
Kismi memanggilnya di tengah rawa yang penuh tanaman
46
sejenis kangkung. Sedangkan, di tengah rawa itu tak terlihat
bayangan seseorang bergerak mendekat atau menjauh.
“Dennyyy..! Deimv. lupakah kau padakuuu..?!”
“Kismii…!” teriak Denny keras ke arah rawa gelap itu.
Beberapa saat ia menunggu, ternyata tak ada jawaban.
Jantungnya semakin berdebar-debar, tubuhnya merindng dan
hatinya gelisah tak menentu.
“Kismiii…! Di mana kaauu…!” teriak Denny lagi. tapi tetap
tak ada jawaban.
Angin bertiup mulai kentang. Denny masih berdiri di tepi
rawa untuk menunggu kemungkinan terlihatnya Kismi. Ia ingin
masuk ke tengah rawa-rawa ii u, tetapi ada keraguan sebab ia
tak melihat bayangan manusia di sana. Tubuhnya dibiarkan
semakin merinding, ia menganggap itu hal yang wajar karena
angin bertiup cukup kencang dan membawa udara dingin.
Tetapi, rasa takutnya itu masih menjadi bahan pemikiran
Denny. Mengapa jantungnya jadi berdebar-debar dan
sepertinya dicekam perasaan takut? Apa yang akan terjadi
sebenarnya?
Ada sesuatu yang terbang karena terbawa angin. Sesuatu
itu menempel di telinga Denny. Dengan tersentak kaget Denny
menangkap benda yang menempel di telinganya. Ia mulai
terhenyak kaget setelah diketahui benda itu adalah kapas
putih
“Kapas dari mana ini?” pikirnya heran. Sekali Lagi tengkuk
kepalanya merinding. Gumpalan kapas kecil itu sepertinya
bekas penyumbat hidung atau mulut mayat Karena ia
mempunyai dugaan begitu, maka jantungnya semakin
berdebar keras.
Hanya saja. sewaktu ia mencium bau harum dari kapas
tersebut, rasa takutnya sedikit berkurang. Bau harum itu
serupa betul dengan bau parfum di tubuh Kismi. Makin yakin
Denny jadinya, bahwa Kismi memang ada di sekitarnya. Tapi
di mana? Ia melangkah semakin menuju tempat asalnya ia
datang bersama Tigor tadi.
47
“Kismiii…?! Kismi, di mana kau?!’ seru Denny sambil
matanya mencari-cari. Lalu, mulailah ia terbayang masa-masa
bercumbu bersama Kismi. karena tempat itu sepi dan ia mulai
berkhayal, seandainya Kismi ada di situ, maka ia tak segansegan
untuk menggeluti di rerumputan.
Ingatan bercumbu habis-habisan dengan Kismi membuat.
Denny mengerang menahan gejolak birahinya. Napasnya
semakin terengah-engah, dan hasratnya untuk memburu
kemesraan bersama Kismi menyesakkan pernapasannya.
“Kismiii..!” Kali ini, Denny mendesah tanpa suara, dan
meremas-remas sesuatu yang mendatangkan nikmat baginya.
Di kejauhan, masih terdengar suara Kismi memanggilnya
dengan suara serak-serak manja, seakan suatu ajakan untuk
bercumbu di alam bebas itu. Denny semakin terangsang,
menegang semua otot tubuhnya, mendesis-desis lak
berkesudahan, Kapas itu sesekali diciumnya sebagai ingatan
keringat Kismi yang berbau wangi lembut itu. Setiap ia
mencium wangi kapas itu. birahinya pun semakin bergolak
menghentak-hentak. Mulutnya mengucap kata “Kismi”
beberapa kali.
Namun, pada detik tertentu, Denny mengalami satu
kejutan yang membuatnya tegang. Tangan kanannya tak
dapat digerakkan. Kaku. la ingin memegang kepalanya, tapi
tak bisa. Gerakan kaku tangan kanannya itu membuat Denny
menarik ke atas untuk menggunakan tangan kiri. Tangan
kanan itu tiba-tiba terlepas dari pegangan tangan kiri dan
menampar matanya sendiri. Bahkan kali ini tangan tersebut di
luar kemauan Denny telah meremat wajahnya sendiri,
mencakar-cakar hingga wajah Denny pun mulai berdarah.
‘Oh ..! Aaaow…! Kenapa tanganku ini? Oh…!” Dan, ia pun
segera berlari ke arah warung dalam cekaman rasa takut
sambil menjerit -jerit dicakar tangannya sendiri.
***
Bab 6
48
Malam yang hening dan angin yang bertiup ke arah Utara,
membuat. Tigor berkerut dahi saat meneguk kopi panas.
Suara Denny terdengar sayup-sayup, sejenak meragukan hati
Tigor.
“Ah, tak mungkin itu suara Denny,” pikirnya sendiri, dan ia
melanjutkan menghirup kopi panasnya.
Tetapi, beberapa saat kemudian anak pemilik warung itu
berkata kepada Tigor, “Bang, sepertinya itu suara teman
Abang.”
Sekali lagi Tigor berkerut dahi sambil menelengkan kepala,
menyimak suara yang ada di kejauhan. Pemilik warung yang
sudah lanjut usia itu juga berkata kepada anaknya,
“Iya, ya?! Sepertinya itu suara orang yang tadi ke sana, ya,
Man? Jangan-jangan dia dalam bahaya,” kalimat terakhir
ditujukan kepada Tigor.
“Alaaah, Mak! Dia itu suka bercanda. Pak! Ja ngan mau
percaya dengan lagaknya! Pasti dia main-main saja itu!” Tigor
tetap tenang, sedangkan pemilik warung dan anaknya
kelihatan menyimpan kecemasan.
Denny berusaha mempercepat larinya sambil tangan kirinya
memegangi tangan kanan supaya tak bergerak. Tapi,
bagaimanapun juga kekuatan tangan kiri itu tidak sebanding
dengan tangan kanannya. Sekali lagi tangan kanannya
bergerak cepat menampar wajah sendiri, kemudian
mencakarnya dengan ganas dan kuat sehingga sebagian kulit
wajah Denny mengelupas perih.
“Aaauw…!” teriak Denny begitu kuat menahan penderitaan
itu. “Tigooor…! Tigooor…! Aaaow…!”
Anak pemilik warung segera memandang ke arah jalanan
yang sepi dan gelap itu. Ia melihat sesosok bayangan manusia
yang berlari terhuyung-huyung dengan teriakan-teriakan kian
jelas. Angin yang berhembus kali ini berubah arah,
bertentangan dengan pelarian Denny, sehingga suara
teriakannya nyaris terbawa angin seluruhnya. Hanya anak
pemilik warung itu yang mendengar lebih jelas, sebab ia
49
melangkah beberapa meter dari depan warungnya. Ia segera
meng-huhungi Tigor dan herkata dengan tegang,
“Bang! Bang, itu teman Abang dalam bahaya! Ia berlari-lari
menuju kemari!”
Tigor tertawa dalam gumam. “Dia pasti ketakutan,
disangkanya ada setan yang mengejarnya! Mampuslah kau!
Sok berani dia!” Tigor tetap meremehkan temannya itu,
sehingga anak pemilik warung menjadi jengkel sendiri. Ia
tinggalkan saja Tigor yang menyepelekan pemberitahuannya.
Ia kembali melangkah di tempatnya semula dan memandang
dengan mata menyipit langkah-langkah Denny yang mulai tak
mampu secepat semula.
Denny tersungkur jatuh dengan menggeram-geram,
mengerahkan tenaganya untuk melawan gerakan tangan
kanannya itu. Tetapi, kekuatannya itu tak mampu menguasai
tangan kanannya yang hergerak sendiri di luar keinginannya.
Bahkan kali ini tangan kanan itu menjambak rambutnya
sendiri, kemudian mengangkat kepala dan membenturkan
kepalanya sendiri ke tanah. Berkali-kali tangan kanan itu
membentur-benturkan kepalanya ke tanah hingga kotor dan
berlumur darah. Sesekali Denny mencoba menahan hentakan
kepalanya, namun selalu gagal dan akhirnya batu runcing pun
mengenai keningnya beberapa kali, hingga makin deras darah
yang mengalir dari wajahnya.
“Aaaow! Aaaow! Aaaow…!” Denny berteriak kesakitan.
Kemudian ia berusaha sekuat tenaga untuk bisa herdiri. Dan,
ia berhasil. Tangan kanannya bergerak kaku melepaskan
rambutnya. Gerakan kaku itu akibat kekuatan Denny memaksa
agar tangan tersebut tidak bergerak. Tangan kirinya segera
menarik turun tangan kanannya dengan kekuatan yang
terpaksa menguras tenaga.
Dalam keadaan melawan kekuatan gaib yang lelah merasuk
dalam tangan kanannya itu, Denny tetap melangkah cepat,
berlari ke arah warung. Erang dan tangisnya meraung di sela
kesunyian malam, dan hanya anak pemilik warung yang
mendengarnya.
50
“Man, ngapain kamu di situ?” tegur pemilik warung kepada
anaknya.
“Orang itu kesakitan, Pak!” jawab Man dengan perasaan
ngeri.
“Astaga…! Kenapa orang itu, Man?!” pemilik warung
terbengong memandangi Denny dengan mata menyipit. Makin
lama Denny semakin terlihat jelas dalam hembusan angin,
seakan ia menyongsong derasnya angin yang menderu.
“Aaaow…! Tigor…! Tolooong…!”
Kali ini, Tigor keluar dari warung bertenda plastik itu.
Denny berlari terhuyung-huyung dan tak tentu arah. Tigor
masih saja menganggap itu suatu sandiwara atau permainan
Denny. Ia bahkan berseru di sela tawanya,
“Hei, mabuk di mana kau?! Macam mana bisa mabuk kalau
cuma minum kopi, he he he…!”
“Bang, dia hersungguh-sungguh!” kata anak pemilik
warung.
Tigor tiba-tiba menghentikan tawanya. Wajahnya menjadi
tegang setelah Denny berjarak 7 meter darinya.
“Denny…?! Kenapa kau, hah?!” Buru-huru Tigor
menyambut Denny, namun tiba-tiba sewaktu ia hendak
meraih tuhuh Denny yang berwajah merah karena darah itu,
tangan kanan Denny menghantam dagu Tigor dengan keras.
Tigor memekik kesakitan dan terjengkang ke belakang hingga
jatuh terduduk di tanah. Sedangkan Denny masih mengerang,
ngotot hingga uratnya keluar semua. Ia menahan gerakan
tangan kanannya yang ingin menghantam kepalanya sendiri.
Dan, sekali lagi Denny menjerit kesakitan karena tangan
kanannya berhasil menghantam kepalanya dengan keras.
Dua tukang ojek itu segera mendekati Denny, karena
mereka curiga darah membasah di wajah Denny.
“Ada apa, Wak…?!” tanya salah seorang tukang ojek
kepada pemilik warung.
“Nggak tahu, tuh! Dia tahu-tahu menghajar temannya dan
memukuli dirinya sendiri!”
“Gila barangkali, dia!” kata tukang ojek yanj; lain.
51
Denny masuk ke warung dengan gerakan kaku dan
meraung-raung. Tangan kanannya yang masih mengejang
kaku, seakan-akan bergerak sendiri.
“Kasihan dia…!” tukang ojek yang jangkung hendak
menolong Denny dengan cara memegang kedua pundaknya.
Sayang sekali, sebelum tangan tukang ojek itu menyentuh
tubuh Denny, tangan kanan itu sudah lebih dahulu mengibas
dan menampar lelaki jangkung itu dengan keras. Tentu saja
lelaki jangkung itu terpekik kesakitan dan terhuyung-huyung
ke belakang.
“Oh… hooow… hhh! Aaaowh…!” Denny bersuara tak
karuan, membuat semua orang tak berani mendekati Denny.
Apalagi dalam keadaan wajah berlumur darah itu Denny
mendelik-delik dengan liar, oh… menyeramkan sekali. Pemilik
warung dan anaknya gemetaran, memandang dari luar
warungnya.
“Denny…?! Denny, apa yang terjadi, Denny?!” teriak Tigor
sambil mendekati Denny.
Mata Denny yang membelalak liar itu memandang sebuah
sendok garpu di atas piring kotor yang ada di sudut meja.
Agaknya piring itu bekas orang makan yang belum dicuci.
Seketika itu, samhil menggeram Denny menahan tangan
kanannya yang ingin bergerak mengambil garpu makan itu.
“Denny, apa-apaan kau sebenarnya, Bangsat!” bentak
Tigor. Ia dalam keadaan panik melihat Denny berlumur darah
wajahnya Lebih panik lagi setelah Denny terlihat
menggenggam sebuah garpu makan dengan tangan
kanannya. Garpu makan diacungkan ke arah diri sendiri.
Suara Denny menggeram, sementara tangan kirinya
menahan kuat-kuat gerakan tangan kanannya yang ingin
menikam diri sendiri.
“Oh, Tig…, Tigor… tolong aku…! Tangan kananku! Oh,
tangan ini sukar kukendalikan, dan…. Aaaow…!” Denny
menjerit lagi karena tangan kanannya berhasil
menghunjamkan garpu makan itu ke arah pundak kirinya,
dekat dengan leher.
52
Tigor hendak menyergap Denny, namun ia terpaksa
berpaling dan menghindar seketika, karena dengan cepat
tangan kanan itu bergerak mengibas dan mengenai pipi Tigor
hingga berdarah.
Jubb…!
“Hughhh…! Krrr… krrr…!”
“Edan kau! Edaaan…!” teriak Tigor dengan mata makin
membelalak ketika ia melihat Denny menusukkan garpu
bermata tiga itu ke arah tenggorokannya. Ia mendelik,
matanya terbeliak-beliak. Batang garpu masuk terbenam ke
bagian tengah leher, dan membuat Denny tak mampu bicara
lagi. Ia seperti kambing yang disembelih seketika.
Tigor mau menyergap bersama kedua tukang ojek, namun
masing-masing merasa ciut nyalinya dan takut terkena
sabetan garpu itu lagi. Tigor hanya bisa berseru.
“Jangan nekat, Denny! Jangan berpikiran picik! Kismi masih
bisa kau temani kalau kau hidup, tapi… tapi….”
“Aaahg…!”
Tepat pada saat itu Denny mendelik, membungkuk dan
akhirnya jatuh dengan darah tersembur dari jantungnya yang
terkena tusukan garpu yang kedua kalinya.
Anak pemilik warung memeluk ayahnya, tak tega melihat
peristiwa mengerikan itu. Dan, anak tersebut tak sempat
melihat, bagaimana susah payahnya Denny mencabut garpu
yang telah terbenam di jantungnya, kemudian berusaha
menikam dirinya lagi, dan berhasil mengenai ulu hati. Darah
semakin menyembur ke makanan atau toples tempat peyek
kacang. Darah menjadi berceceran di mana-mana.
Pada saat itu, Denny menjadi melemas. Sepertinya sudah
tak ada setan yang masuk dalam raganya. Lalu, jatuhlah ia.
Terkapar dekat bangku warung dengan berlumuran darah tak
bisa diharapkan lagi. Tigor bermaksud mencari mobil
ambulans atau mobil darurat untuk membawa Denny ke
rumah sakit. Tetapi, usaha itu rupanya tak pernah berhasil,
sebab beberapa saat kemudian, tubuh Denny itu tak mampu
bergerak lagi. Ia menghembuskan napasnya yang terakhir
53
dengan masih sempat menyebut kata: “Kismi” dalam desah
napas penghabisannya. Maka. meninggallah Denny dengan
keadaan dan suasana yang amat mengerikan.
Tigor tidak bisa berbicara sepatah kata pun melihat
kenyataan itu. Mulutnya seperti dibekukan, kerongkongannya
kering dan sukar untuk mengeluarkan suara. Lidahnya pun
seperti terbuat dari besi, kaku sekali untuk digerakkan.
Seorang tukang ojek mengambil inisiatif, menghubungi pos
polisi terdekat. Mereka mempunyai kesimpulan yang sama,
bahwa kematian Denny adalah satu tindakan bunuh diri, tanpa
campur tangan pihak lain.
Berita itu sempat membuat Hamsad nyaris jatuh pingsan di
rumahnya. Ade menghubungi Hamsad pada pagi hari, empat
jam setelah jenazah Almarhum Denny tiba di pondokan
mahasiswa. Hamsad merasa dibantai jiwanya dengan berita
kematian Denny. Bahkan, ketika ia bergabung dengan anakanak
pondokan, Hamsad sempat berlinang air mata melihat
wajah-wajah mereka dicekam duka, seakan menunggu giliran
untuk melakukan bunuh diri yang keji.
Hamsad terdengar berkata parau kepada Ade, “Setelah
Norman, Denny. Setelah Denny, siapa lagi?”
Seperti jenazah Norman dulu. Almarhum Denny pun
dimakamkan di kota asalnya: Madiun. Hampir semua teman
kost-nya turut memakamkan Denny ke Madiun. Hanya Tigor
dan Lukman yang tinggal di pondokan. Tigor merasa tidak
mampu menghadapi kenyataan tersebut. Tigor lebih merasa
dibantai jiwanya, karena ia sempat menyepelekan teriakan
Denny yang meminta tolong pada waktu itu. Rasa sesalnya
begitu besar, dan membuat Tigor lebih sering mengunci
mulutnya ketimhang harus bercerita kepada siapa pun yang
bertanya kepadanya. Sedangkan Lukman, waktu itu dalam
keadaan sakit. Ia tak bisa ikut menghadiri upacara
pemakaman jenazah Denny di Madiun. Tetapi, dialah orang
pertama yang menangis tersengguk-sengguk ketika melihat
keadaan Denny sudah menjadi mayat. Beruntung waktu itu
keluarga Denny berkumpul di rumah Bu Anis, sehingga
54
Lukman masih bisa mengantarkan jenazah Denny ke rumah
Bu Anis, namun tidak mampu lagi ikut ke Madiun.
Tentu saja setiap orang bertanya-tanya: Mengapa kematian
Denny mempunyai kesamaan dengan kematian Norman?
Masing-masing mati oleh tangannya sendiri. Bunuh diri. Tapi,
faktor apa yang membuat mereka bunuh diri, masih belum
mendapat suatu kesimpulan yang pasti. Ada yang
mengatakan, pondokan mereka angker dan meminta korban
entah berapa jumlahnya. Ada lagi yang beranggapan, Denny
dihampiri roh Norman dan diajaknya pergi dengan cara seperti
yang dilakukan Norman semasa hidupnya. Sementara yang
lain mengatakan, itu hanya satu hal yang kebetulan saja.
Kebetulan Denny punya masalah yang mengerdilkan jiwanya,
sehingga ia berani melakukan bunuh diri.
Hanya satu orang yang mempunyai dugaan aneh di dalam
pertemuan tak resmi yang mereka adakan di kamar Bahtiar,
dua hari setelah jenazah Denny dimakamkan. Orang yang
mempunyai dugaan aneh itu adalah Hamsad. Karena dialah
yang mempunyai firasat buruk pada saat-saat menjelang
kematian Norman dan Denny.
“Keduanya sama-sama jatuh cinta pada Kismi,” kata
Hamsad. Kemudian, mereka memberikan reaksi serupa.
Bungkam. Benak mereka sama-sama menerawang pada cerita
Denny tentang Kismi.
Bahtiar bertanya pada diri sendiri, dengan ucapan yang
sempat didengar oleh teman-temannya, “Mungkinkah
keduanya menjadi picik hanya karena jatuh cinta?”
“Tiap-tiap orang mempunyai ketahanan jiwa yang
berbeda,” ujar Ade. “Pada saat mencapai klimaks persoalan,
jiwa manusia mudah menjadi rapuh. Yang terlintas dalam
logiknya hanya jalan pintas menyelesaikan persoalan tersebut.
Dan, mungkin bagi kedua korban itu sama-sama sependapat,
bahwa jalan pintas yang terbaik adalah bunuh diri.”
Tigor mulai tertarik dengan pembicaraan tersebut. Ia
berkata dengan suara pelan, masih bernada duka,
“Wanita itu sebenarnya tidak ada!”
55
Kini, semua mata memandang ke arah Tigor. Hanya
Hamsad yang masih memandang ujung kakinya yang
melonjor, namun telinganya menyimak kata-kata Tigor. Ia
mendengar Tigor berkata lagi,
“Petugas motel itu, aku rasa tidak ada yang kenal dengan
Kismi. Jadi, kubilang Kismi itu hanya ada dalam khayalan
mereka.”
“Dan mereka mati karena khayalannya sendiri, begitu
maksudmu?” tanya Yoppi.
“Begitulah! Buktinya petugas motel berkeras untuk
mengatakan, bahwa di situ tidak ada perempuan yang
bernama Kismi! Dari pukul 7 malam sampai pukul 10 malam
aku dan Denny menunggu perempuan itu, nyatanya tidak
ada!”
“Denny mengatakan, perempuan itu adalah perempuan
eksklusif, yang keberadaannya sendiri dirahasiakan oleh
petugas motel. Barangkali hal itu dimaksud agar reputasi Kismi
yang sebenarnya tidak jatuh di mata mereka. Mungkin Kismi
seseorang yang punya reputasi tinggi, punya jabatan
fungsional, punya karir yang gemilang, sehingga kalau setiap
orang mengenal dia sebagai perempuan kehausan, alangkah
memalukan sekali? Karena itu, Denny juga berkata, bukan?
Bahwa, Kismi bukan perempuan sembarangan yang mudah
disentuh oleh lelaki. Dia tidak seperti wanita-wanita penghibur
lainnya, yang sekali panggil pasti akan datang!” celoteh Susilo
sambil memainkan korek api.
Siapa sebenarnya Kismi? Di mana tempat tinggalnya?
Menurut Hamsad, hanya Pak Hasan yang mengetahui hal itu.
Karena, Norman mengenal Kismi lewat pesanan dari Pak
Hasan. Hamsad masih ingat cerita Almarhum Norman, bahwa
ia datang ke motel itu dibawa oleh Pak Hasan sebagai service
pemancing spirit untuk tulisan yang akan disusun oleh
Norman. Pak Hasan-lah yang memesankan seorang
perempuan untuk Norman, karena waktu itu, tahu-tahu
Norman dihampiri seorang perempuan sedangkan Pak Hasan
mungkin mengambil perempuan lain untuk dirinya sendiri.
56
Jadi, Pak Hasan-lah sebenarnya yang memegang rahasia
tentang siapa Kismi dan di mana Kismi.
Tanpa memberitahukan kepada yang lain masalah Pak
Hasan itu, Hamsad segera menghubungi Pak Hasan melalui
telepon. Kebetulan, ketika Hamsad jalan-jalan di pantai, ia
sempat bertemu dengan Pak Hasan dan disuruh
menghubunginya sewaktu-waktu. Maka, kali ini ia ingin
membuat janji untuk bertemu di sebuah restoran fast food.
Pak Hasan sebenarnya punya bahan pembicaraan sendiri.
Ia ingin berbicara tentang kematian Norman dan tawaran buat
Hamsad mengenai penulisan tentang buku-buku. Tetapi,
Hamsad lebih dahulu bertanya,
“Siapa Kismi itu sebenarnya, Pak?”
Pak Hasan kelihatan bingung, tak mengerti maksud
Hamsad. Ia menggumam, “Kismi…?! Maksudmu, Kismi apa
ini? Kismi makanan atau…?”
“Norman bunuh diri sejak ia dibawa oleh Bapak ke Motel
Seruni, dan di sana ia bercinta dengan Kismi.”
“Ya. Memang aku yang mengajaknya ke motel, tapi dia
menolak perempuan yang kukirimkan untuknya. Malahan
perempuan itu bilang, bahwa Norman telah mempunyai
pasangan sendiri. Mungkin, perempuan itu yang bernama
Kismi. Tapi, aku tak tahu, Norman dapat dari mana
perempuan itu.” tutur Pak Hasan kelihatan serius sekali.
Hamsad masih curiga. “Jadi, Pak Hasan benar-benar tidak
mengenal perempuan yang bernama Kismi?”
“Tidak. Mendengar nama itu pun aku baru sekarang.” Pak
Hasan tertawa pendek. “Kusangka tadinya Kismi itu nama
makanan. Jadi, tadi aku sedikit bingung.”
Hamsad tersenyum tawar, kemudian menghempaskan
napas. Rona duka terlihat samar-samar di wajah itu, membuat
Pak Hasan berbalik curiga kepada Hamsad.
“Ada apa sehenarnya, Ham? Apa benar kematian Norman
karena mengenal perempuan bernama Kismi?”
‘Ya. Benar. Tempo hari, ketika saya bertemu Pak Hasan di
pantai, saya dengan teman saya mencari perempuan yang
57
bernama Kismi. Teman saya, Denny, berhasil bertemu dengan
Kismi, tapi ia tidak sempat berbicara panjang lebar mengenai
Norman. Ia terbuai dan bergumul dengan Kismi sampai pagi.
Badannya lemas, wajahnya jadi pucat seperti mayat hidup.
Beberapa hari yang lalu, Denny pun mati karena bunuh diri.”
“Hah…?!” Pak Hasan mendelik.
“Denny menikam leher, jantung dan ulu hatinya dengan
garpu makan di sebuah warung. Menurut saksi mata, ia
menghempaskan napas terakhir sambil menyebutkan nama
Kismi.” Hamsad menelan ludahnya sendiri, seperti memendam
suatu kepedihan. Pak Hasan melihat kesungguhan di wajah
Hamsad, dan hal itu membuatnya berdebar-debar.
Setelah Hamsad menceritakan secara detail tentang
kematian Norman, juga proses kematian Denny, Pak Hasan
pun akhirnya berkata, “Misterius sekali. Aku jadi tertarik untuk
menemui perempuan itu.”
“Apakah Bapak bisa membujuk petugas motel?”
“Kenapa tidak!? Pemilik motel itu temanku satu kampung.”
***
Bab 7
Memang benar. Pemilik motel itu adalah teman sekampung
dengan Pak Hasan. Tetapi, sayangnya Pak Hasan merasa
keberatan jika Ham-sad ikut menghadap pemilik motel itu.
Hamsad hanya diizinkan menunggu di lobby, sementara Pak
Hasan terlibat pembicaraan dengan pemilik motel di dalam
kantornya. Sore itu, Hamsad merasa seperti kambing congek,
terbengong sendirian di lobby. Hatinya dongkol, karena tak
diizinkan ikut dalam pembicaraan tersebut. Alasan Pak Hasan,
karena temannya yang menjadi pemilik motel itu dalam
keadaan cacat, dan ia tak mau orang lain melihat kecacatan
fisiknya. Mau tak mau Hamsad menerima alasan tersebut.
Matahari hampir terbenam seluruhnya. Hamsad masih
berharap, mudah-mudahan ia bisa bertemu dengan
perempuan yang bernama Kismi di lobby itu. Paling tidak
58
melihat perempuan dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan
Norman dan Denny, dan Hamsad akan berusaha mengenal
perempuan itu. Sayangnya, tamu-tamu yang memasuki lobby
tidak satu pun ada yang punya paras cantik dan punya pesona
mirip ratu Mesir Kuno. Rata-rata perempuan yang masuk ke
lobby mempunyai paras standar, biasa-biasa saja. Tak ada
yang istimewa. Kalau tidak istimewa, berarti dia bukan Kismi.
Sambil merenungkan misteri kematian Norman dan Denny,
Hamsad berhasil menemukan satu kejanggalan. Kejanggalan
itu, tempo hari dikatakan rusak AC-nya, dan sering tersumbat
saluran airnya. Tetapi, nyatanya ketika Hamsad masuk
menemui Denny, kamar itu ber-AC. Lancar. Timbul rasa curiga
dalam hati Hamsad, mengapa bagian resepsionis waktu itu
setengah tidak mengizinkan mereka membocking kamar,
Seruni? Kamar masih ada dua yang kosong, tapi dikatakan:
“Tinggal satu kamar yang belum di-bocking.” Ini aneh dan
janggal bagi Hamsad.
Kecurigaan kedua, mengapa Norman dan Denny bisa
bertemu dengan Kismi di kamar itu? Bagaimana dengan kamar
lain? Apakah Kismi mau datang ke kamar lain juga? Mengapa
pula Kismi tidak meminta uang lelah kepada Norman dan
Denny? Bukankah Kismi bekerja sebagai wanita penghibur?
Bukankah yang dibutuhkan dalam hal itu adalah uang?
Iseng-iseng, Hamsad mendekati bagian resepsionis. Kali ini
yang bertugas bukan orang yang dulu, tetapi orang yang
sebenarnya pernah ditemui Denny dan Tigor. Hanya saja,
Hamsad tidak tahu tentang pemuda tersebut.
“Masih ada kamar kosong, Mas?” sapa Hamsad dengan
ramah.
“Masih,” jawab bagian resepsionis dengan ramah pula.
“Mau bocking kamar?” tawarnya. Hamsad hanya tersenyum
dalam ketenangan sikapnya.
“Saya tunggu keputusan dari teman saya yang sedang
menemui pemilik motel ini. Kalau dia mengajak bermalam di
sini, yah… mau tak mau kami bocking dua kamar.” Padahal
59
rencana itu tidak ada dalam pembicaraan Hamsad dengan Pak
Hasan.
“Hari ini, agak sepi,” kata petugas resepsionis. “Lain halnya
jika malam Minggu. Kalau malam-malam seperti ini, apalagi ini
malam Jumat, biasanya kamar kami banyak yang kosong.
Kalau Bung jadi bermalam di sini, Bung bisa bebas memilih
kamar sesuai selera.”
“O, begitu, ya?! Jadi, bisa saja saya memilih kamar Seruni,
ya?”
Pemuda petugas resepsionis itu sedikit menggeragap.
“Hm… kalau kamar itu, wah… kebetulan tadi siang sudah ada
yang bocking. Kamar itu sudah diisi, Bung.”
“Ooo…?!” Hamsad manggut-manggut. “Kalau boleh saya
tahu, lelaki atau perempuan yang memakai kamar Seruni itu?”
“Lelaki. Mungkin dia orang seberang.”
“Sendirian?”
“Ya. Sendirian. Barangkali sebentar lagi partnernya
datang.”
“Apa dia langganan di sini? Maksud saya, sering datang dan
bermalam di sini dengan seorang perempuan?” makin lama
pertanyaan Hamsad makin bersifat pribadi. Petugas itu agak
sulit menjawab. Ia hanya tersenyum-senyum yang a-khirnya
berkata,
“Sebenarnya, kami tidak boleh bicara soal itu, Bung. Tapi,
karena kebetulan tadi saya juga yang menerima tamu itu, jadi
kalau boleh saya katakan, bahwa saya baru sekali ini bertemu
dengan orang tersebut. Saya rasa, dia juga baru kali ini
datang kemari, Bung.”
Hamsad manggut-manggut sambil menggumam. Petugas
itu berkata lagi,
“Kalau Bung mau, bisa memilih kamar yang lain. Kamar
Seroja juga bagus. Bung. Strategis dan romantis letaknya. Dia
ada di tepi pantai. Bung bisa melihat ombak dari terasnya.”
“Kalau saya mau, saya akan memilih kamar Seruni,” kata
Hamsad pelan, sepertinya sekadar basa-basi saja.
60
“Kamar itu jarang dipakai, Bung,” bisik petugas resepsionis,
nada bicaranya mencurigakan.
“Kenapa? AC-nya rusak? Saluran airnya tersumbat?”
Petugas itu tertawa pendek. “Itu hanya alasan kami.
Sebenarnya, kami menghindari kamar itu dari para tamu.
Kalau tidak memaksa sama sekali, kami tidak izinkan para
tamu menggunakan kamar tersebut.”
“Alasannya?” desak Hamsad semakin penasaran.
“Kamar itu angker, Bung.” Kali ini suaranya yang berbisik
namun ditekankan kalimatnya itu, membuat Hamsad menjadi
merinding seketika. Ia memandang ke arah luar, ternyata
malam mulai datang. Suasana tak secerah waktu ia tiba di
motel ini. Dan, suasana malam itu makin membuat Hamsad
berdebar-debar setelah mendengar jawaban petugas tersebut.
Sebenarnya Hamsad ingin bertanya lebih lanjut mengenai
kamar Seruni, sayangnya petugas itu harus menemui tamu
yang hendak mem-bocking kamar. Hamsad ditinggalkan, dan
kini ia kembali ke meubel lobby, duduk di sana merenung diri.
Hatinya menjadi galau. Resah. Batinnya bertanya-tanya,
“Benarkah kamar itu angker? Jika benar begitu, mengapa
begitu mudah petugas resepsionis itu mengatakannya
kepadaku? Seharusnya dirahasiakan. Ini menyangkut prestise
motel ini sendiri, kan? Ah, kurasa ia mengada-ada. Dengan
cara begitu, diharapkan aku tidak kecewa dan mau memilih
kamar lain. Brengsek!
Itu hanya teknik propagandanya saja!”
Hamsad mendesah kesal. Pak Hasan terlalu lama ngobrol di
dalam dengan pemilik motel yang juga sebagai manager.
Untuk menghilangkan kejenuhannya, Hamsad melangkah
keluar dari lobby, menikmati udara malam di luar lobby. Dalam
pikirannya sempat terlintas satu harapan. “Mudah-mudahan
cewek yang akan datang ke kamar Seruni ituadalah Kismi.
Kalau benar yang akan melayani tamu di kamar Seruni itu
Kismi, maka ada baiknya kalau aku menghadangnya di sini.
Kismi pasti akan berjalan lewat arah sini untuk menuju kamar
Serani. Mungkin aku bisa menyapanya, setidaknya melihat
61
dengan mata kepala sendiri kecantikan yang konon istimewa
itu.”
Harapan itu adalah harapan yang sia-sia. Karena, sebelum
Kismi muncul, Pak Hasan telah keluar dari lobby dan
melambaikan tangan kepada Hamsad, memanggil. Mereka
kembali duduk di lobby. Pak Hasan berkata kepada Hamsad,
“Aku sudah mendesaknya beberapa kali, tapi dia tetap
mengatakan, tidak ada ‘anak buahnya’ yang bernama Kismi.
Bahkan ia mengingatkan padaku, agar jangan sekali-kali
menggunakan kamar Seruni.”
“Kenapa, katanya?”
“Kamar itu angker!” bisik Pak Hasan dalam ketegangan.
Hamsad sedikit terperanjat dan merasa heran, karena
pernyataan itu sama dengan pernyataan petugas resepsionis
tadi.
“Saya tidak yakin, Pak!” kata Hamsad. “Saya rasa itu satu
cara untuk mempromosikan kamar-kamar lainnya.”
“Kalau tidak percaya, malam ini juga aku disuruh
membuktikannya, Ham!”
“Percuma. Pak. Kamar itu sudah dibocking orang.”
“Hah…?!” Pak Hasan terperanjat.
“Jadi, apa rencana kita selanjutnya?” tanya Hamsad dengan
perasaan masih kesal akibat kegagalan menyelidik tentang
Kismi.
“Ham, kita disuruh cek ke beberapa tempat yang
menampung wanita-wanita penghibur. Terutama di Panti Pijat
Mahaiani. Karena, wanita-wanita di sana sering diambil kemari
untuk melayani tamu yang membutuhkannya. Bagaimana
kalau kita ke sana untuk mencari Kismi?”
Setelah dipertimbangkan sejenak, Hamsad menjawab, “Kita
coba saja!”
Sebenarnya Hamsad tidak begitu bersemangat.’ Dalam
hatinya ia berkata, “Pasti tidak ada yang bernama Kismi. Kalau
toh ada, pasti Kismi sedang keluar, sebab kamar Seruni itu
ada yang menempati. Tapi, coba sajalah. Barangkali ada halhal
baru yang bisa dijadikan pertimbangan.”
62
Dugaan Hamsad menjadi kenyataan. Ia tidak memperoleh
apa-apa di Panti Pijat Maharani itu. Tidak ada yang bernama
Kismi, tidak ada yang mengenal Kismi, kendati mereka
mengaku sering diambil ke Motel Angel Flowers. Kemudian,
Pak Hasan dan Hamsad menuju ke Panti Pijat Ibu Endang,
konon terkenal banyak pengunjungnya. Tetapi, di sana juga
tidak ada yang bernama Kismi.
Gagal sudah. Malam itu, Hamsad pulang tanpa membawa
hasil. Hanya sedikit data tentang kamar Seruni yang katanya
angker itu. Tapi, Hamsad tidak menghiraukan kata-kata
petugas resepsionis tadi. Kemudian, dalam ketermenungannya
itu ia mendapatkan gagasan baru. Ia berkata dalam hati. “Aku
harus bermalam di sana! Barangkali dengan bermalam di
sana, aku bisa menemukan apa yang kucari. Kismi. Dan, dari
Kismi aku bisa memperoleh kesimpulan, mengapa kedua
temanku itu mati bunuh diri? Kapan aku harus ke sana?
Besok? Ah, jangan! Besok aku ada acara dengan Lista. Cewek
itu menggemaskan juga sih. Siapa tahu dia mau nyantol
padaku. Lumayan, kan?”
Acara yang dimaksud Hamsad adalah menghadiri reuni SMP
tempat Lista dulu. Acara itu cukup sederhana, namun sudah
tentu mengesankan bagi mereka yang pernah satu bangku
dan satu sekolah semasa SMP. Sedangkan Hamsad sendiri,
tidak mempunyai kesan apa-apa, kecuali mendampingi Lista.
“Kenapa kau membawaku kemari? Aku kan tidak punya
kenalan di sini? Mereka tidak mengenalku,” kata Hamsad.
“Justru aku ingin mengenalkan kamu kepada mereka
sebagai pacarku,” kata Lista yang berpenampilan tomboy.
“Apa? Sebagai pacarmu? Pacar cap apa aku ini? Bercinta
belum sudah mengaku pacaran!”
“Ah, cuek sajalah! Supaya aku kelihatan laku!”
“Kenapa kau tidak mencari pacar yang sebenarnya saja?!”
“Malas! Bikin repot karirku saja!” jawab Lista . seenaknya.
Yang lebih menyebalkan lagi. dalam pesta reuni itu Lista
justru asyik ngobrol dengan cowok-cowok bekas teman SMPnya
yang sekarang, menurut Lista, sudah kelihatan gantengTiraikasih
63
ganteng semua. Hamsad merasa dikesampingkan oleh Lista,
sehingga hampir-hampir ia pulang sendiri tanpa setahu Lista.
Malam itu, Hamsad hanya memperoleh kedongkolan pergi
dengan Lista. Ia merasa jera. Tak mau lagi pergi ke mana saja
dengan Lista. Gadis itu egois. Ia hanya mementingkan diri
sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Untung saja
malam itu Hamsad bisa lekas tertidur, sehingga kedongkolan
hatinya pun cepat reda.
Hanya saja, esok harinya, Hamsad bangun sedikit siang. Ia
memang bermaksud tidak kuliah. Malas. Karenanya, ketika
adiknya membangunkan, Hamsad hanya menggeliat dan tidur
lagi.
Tetapi, kali ini ia dibangunkan oleh mamanya karena ada
seorang teman yang ingin bertemu dengannya. Hamsad
malas, tapi mamanya memaksa. Bahkan mamanya berkata,
“Kalau kau ingin jadi pemalas, cari pondokan lain, seperti dulu
lagi! Jadi, kau bisa bebas mau bertingkah apa saja!”
Tak tahan mendengar omelan mamanya, Hamsad pun
turun dari pembaringan. “Siapa yang mencariku?”
“Temanmu! Bahtiar!”
Benar. Bahtiar yang datang pagi itu, sekitar pukul 9 kurang.
Hamsad mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa
mengantuk. Ia berdiri dengan lesu, bersandar pada kusen
pintu. Suaranya parau dan malas, “Ada apa, Tiar…?! Bikin
kagok orang tidur saja kau, ah!”
Bahtiar tidak langsung menjawab. Ia memandang Hamsad
yang menguap sambil mengencangkan otot-ototnya.
Kemudian, Hamsad menghampiri Bahtiar di kursi tamu, duduk
di depan Bahtiar dengan loyo.
Mendadak ia jadi curiga melihat Bahtiar berwajah sendu.
Kecurigaannya itu membuat Hamsad menjadi serius, dan
bertanya lagi, “Ada apa sih?!”
“Ham…,” kata Bahtiar sedikit gagap. “Ada… ada korban lagi
dari teman kita.”
“Hah…?!” Hamsad terperanjat baru mendengar kata-kata
itu. “Korban?! Maksudmu?”
64
“Tigor, bunuh diri!”
“Gila!” teriak Hamsad sambil menggebrak meja, untung
meja kaca itu tak sampai pecah, hanya asbaknya yang
terpental.
“Tigor bunuh diri?! Tigor…?!” Hamsad seperti orang tak
percaya terhadap pendengarannya sendiri. Bahtiar
mengangguk dalam kesedihan.
“Peristiwanya terjadi tadi malam, sekitar pukul dua hampir
pagi,” tutur Bahtiar.
“Meng… mengapa? Mmmeng… mengapa ia bunuh diri?
Apa alasannya, Tiar?!” Hamsad gemetar dan napasnya
terengah-engah. Deburan di dalam dadanya membuat ia
sedikit gemetar.
“Kemarin malam, ia penasaran. Ia datang ke motel, tempat
Norman dan Denny menginap….”
“Kemarin malam? Bukan tadi malam, kan?” tegas Hamsad.
“Kalau kemarin malam…? Berarti…? Berarti waktu itu aku ada
di sana bersama Pak Hasan! Gila betul dia? Jadi… oh, ya…
aku memang menanyakan kamar Seruni, dan petugas motel
itu menjawab, bahwa kamar itu ada yang menyewanya. Aku
tidak tahu kalau orang itu adalah Tigor?! Aaah…! Gila semua!”
Hamsad bagai orang kesetanan. Matanya yang masih merah
karena habis bangun dari tidur itu membelalak lebar, penuh
kemarahan. Tapi, ia tak tahu, kepada siapa ia harus marah?
Di perjalanan menuju pondokan Tigor dan teman-teman
yang lainnya, Bahtiar menjelaskan tentang kematian Tigor.
“Siangnya dia kembali, dan bercerita kepada kami, bahwa
ia berhasil bertemu dengan wanita yang mengaku bernama
Kismi. Menurutnya, Kismi memang cantik. Luar biasa
kecantikannya. Kismi hebat di ranjang. Luar biasa
kehebatannya. Dan, menurutnya, Kismi muncul setelah lewat
tengah malam. Pintu kamarnya diketuk, dan ternyata Kismilah
yang datang.”
“Tigor memesan Kismi dari siapa?”
“Ia tidak memesan Kismi. Ia yakin, bahwa Kismi itu setan.
Ia sengaja ingin bertemu setan di situ, dan usahanya itu
65
berhasil, la bahkan bangga, karena bisa menjinakkan setan,
Kismi bukan hantu yang menakutkan menurut Tigor, justru
sebaliknya, Kismi hantu yang membuat lelaki betah tinggal
bersamanya.”
“Lalu, kenapa Tigor bunuh diri?”
“Karena ia ingin bertemu dengan Kismi lagi, barangkali! Itu
dugaan kami. Tigor ingin bertemu Kismi, tapi tidak punya
uang sewa Seruni yang cukup mahal itu. Kemudian, ia
mengambil pisau badiknya, dan menusuk-nusuk dirinya sendiri
sampai beberapa kali. Lukman berhasil memukul tengkuk
kepala Tigor, dan pingsan. Waktu itu, tubuh Tigor sudah
berlumur darah. Tetapi, anehnya… tangan kanannya yang
memegang badik sukar dicabut. Tangan kanannya itu justru
bergerak sendiri, hampir menikam perut Ade.”
“Kemudian, bagaimana cara kalian mengatasi?”
“Tidak ada yang bisa mengatasi! Kami melihat sendiri
tangan kanan itu menikam ulu hatinya sendiri, padahal Tigor
dalam keadaan pingsan oleh pukulan Lukman. Dan… dan
setelah tangan kanan itu merasa puas menikam-nikam
tubuhnya sendiri, lalu ia berhenti. Lemas. Pisau badiknya
tergeletak. Waktu itu, Tigor masih sempat terlihat napasnya,
dan kami melarikan dia ke rumah sakit. Tetapi, di perjalanan
Tigor menghembuskan napas terakhirnya.” Bahtiar menghela
napas, sedikit tersendat-sendat, mungkin karena menahan
duka atas kematian temannya yang tragis itu.
“Tangan kanan…?!” gumam Hamsad sambil mengemudikan
mobilnya “Lagi-lagi tangan kanannya! Norman, Denny, dan
kini Tigor, masing-masing bunuh diri dengan tangan
kanannya. Masing-masing mempunyai persamaan yang
sekarang baru kusadari, bahwa tangan mereka bergerak
dengan sendirinya. Jadi, ada satu kekuatan yang
menggerakkan tangan kanan mereka, lalu menikam diri
mereka masing-masing. Oh… mengerikan sekali!”
Madi,-menurutmu ada satu kekuatan yang merasuk pada
tangan kanan mereka?” tanya Bahtiar.
66
“Kurasa memang begitu. Roh seseorang masuk dalam
tangan kanan mereka, dan membunuh mereka sendiri.
Dengan begitu, tak ada orang yang dicurigai oleh pihak yang
berwajib.”
Bahtiar bergidik. Lalu, ia menggumam lirih, “Sudah pastikah
bencana itu datang dari perempuan yang bernama Kismi?” Ia
melirik Hamsad, seakan meminta pendapat. Hamsad diam
saja. Lama sekali ia terbungkam sambil mengemudikan
mobilnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata,
“Akan kucoba menaklukkan dia!”
Bahtiar buru-buru berpaling memandang penuh perasaan
cemas. “Kau., kau hendak mencobanya seperti Tigor?”
“Yah…!” Hamsad mengangguk sambil mendesah.
“Kupikirkan dulu cara menaklukkannya, baru akan kutantang
hantu keparat itu!”
“Berbahaya, Ham! Jangan coba-coba berjudi dengan
maut!” bisik Bahtiar merasa ngeri mendengar tekad Hamsad.
“Kau mau membantuku?” Hamsad melirik Bahtiar.
“Aku masih ingin hidup beberapa saat,” jawab Bahtiar.
“Kalau begitu aku akan lakukan hal itu sendiri…!” Hamsad
berkata dengan tenang, datar, seakan di dalam dadanya telah
mendidih darah kemarahan yang sukar didinginkan kembali.
Bahtiar makin ngeri melihat rona wajah Hamsad yang
memancarkan dendam. Ia bagai seseorang yang sudah siap
untuk mati.
***
Bab 8
Tekad Hamsad sudah hulat, ia harus menemui Kismi. Ia
ingin membuktikan segalanya, dan mencari jawaban yang
pasti tentang Kismi, juga tentang kematian Norman, Denny,
dan Tigor. Di dalam hatinya ia menyimpan dendam, dan
dendam itu yang menuntut pembalasan.
Karena itu, pukul 4 sore itu, Hamsad sudah membocking
kamar Seruni. Ia belum tahu, bagaimana caranya menghadapi
67
Kismi kalau benar wanita itu adalah hantu. Ia hanya punya
keyakinan, bahwa ia akan bisa mengatasi Kismi dengan
beberapa doa yang pernah diajarkan oleh kakeknya ketika ia
masih di SMP. Ada beberapa doa yang konon bisa untuk
mengusir hantu. Dulu, Hamsad pernah mendapat pelajaran
mengusir hantu dari kakeknya, tapi satu kali pun belum
pernah ia gunakan. Kali ini, ia ingin mencoba kekuatan magis
dari doa tersebut untuk mengalahkan Kismi.
Hati Hamsad belum terlalu berdebar-debar, karena ia ingat
cerita para korban, bahwa Kismi akan muncul pada saat
tengah malam. Karena sekarang masih pukul 4 lebih, rnaka
tak ada yang perlu dicemaskan, tak ada yang perlu ditakutkan.
Yang harus ia lakukan adalah mempersiapkan segala
sesuatunya, di antaranya menghafal doa pengusir setan itu.
Debur ombak dan angin senja membaur. Suasana di motel
itu terasa lengang, sepi, namun terlihat beberapa kesibukan
manusia yang seakan bergerak dan bekerja tanpa suara
sedikit pun.
“Aneh…! Mengapa mereka melangkah bagai tanpa suara?
Mengapa mobil di jalan raya itu bergerak hanya
memperdengarkan suaranya yang samar-samar? Alam ini
menjadi lengang, seperti lorong menuju alam kematian. Oh,
mungkinkah aku akan menemukan ajalku di sini juga?” pikir
Hamsad sambil duduk di teras kamar Seruni. Tak lama
kemudian, terdengar suara adzan magrib sayup-sayup sekali.
Langit menjadi merah lembayung. Mentari mulai
menyembunyikan diri.
Iseng sekali Hamsad duduk sendirian di teras. Kebetulan
seorang petugas motel yang biasa disebut sebagai room-boy
sedang melintas di depan teras kamar Hamsad. Orang itu
sudah tua, tapi gerakannya masih lincah, penuh semangat
kerja.
“Pak…!” panggil Hamsad, kemudian melambaikan tangan.
Pelayan tua itu mendekat dengan senyum ramah.
“Pak, bisa mencarikan saya makanan kecil?”
“Maksud, Tuan?”
68
“Yah… semacam kacang mete, atau emping.”
“O, bisa. Di restoran kami tersedia makanan itu. Mau
kacang mete atau emping?” pelayan tua itu ganti bertanya.
“Emping saja deh! Atau… emping sama kacang mete juga
boleh.”
Pelayan itu mengambilkan pesanan yang telah di pesan
Hamsad. Waktu itu, Hamsad segera masuk dan memeriksa isi
kulkas. Oh, lumayan ada dua kaleng bir sebagai selingan. Ia
mengeluarkan salah satu, dan membukanya sambil matanya
memandang ke arah TV yang dinyalakan dari tadi.
Tak berapa lama, pelayan datang membawakan emping
pesanan Hamsad.
“Masuk saja, Pak!” teriak Hamsad, malas membukakan
pintu karena ada acara menarik di TV.
“Sendirian saja, Tuan?” tanya pelayan itu sambil cengarcengir.
“Ya. Sendirian. Kenapa, Pak?” pancing Hamsad.
“Tidak membutuhkan teman buat ngobrol-ngobrol?”
“Teman perempuan maksudnya?”
Pelayan berambut uban itu terkekeh sesaat,
“Kalau teman lelaki sih buat apa, Tuan?”
Hamsad ikut tertawa sekadarnya. Ia membuka plastik
emping sambil bertanya, “Apa… apa kamu bisa sediakan
perempuan cantik, Pak?”
“O, bisa! Bisa saja, Tuan! Mau cari yang modelnya seperti
apa?”
‘Yang paling cantik. Kalau bisa yang seperti Ratu Mesir
Kuno!”
Bapak itu terkekeh lagi. la berdiri dengan sikap
menghormat, sopan, sekalipun merasa geli dengan kata-kata
Hamsad, tapi ia tetap sopan.
“Bisa, Pak?” desah Hamsad. Ia berjalan ke ruang tamu, dan
duduk di meubel yang ada di situ.
“Saya belum pernah melihat Ratu Mesir Kuno, Tuan,”
katanya. “Lagi pula, bagi saya, semua perempuan itu ratu.”
69
Hamsad sempat tertawa keras mendengar banyolan
pelayan tua itu. Ia tertarik untuk mengajaknya bicara,
sehingga ia perlu mempersilakan bapak itu duduk di kursi.
“Bapak namanya siapa. Pak?”
“Saya…, Kosmin. Kalau perlu apa-apa bisa panggil saya
saja lewat telepon, Tuan.”
“Ah, paling-paling yang kuperlukan ya soal perempuan itu
tadi. Pak.”
“Bisa juga! Tempo hari ada yang memesan perempuan dua
sekaligus! Tamu itu seorang lelaki yang usianya lebih tua dari
Tuan, dan ia memakai dua perempuan dalam satu kamar.
Saya juga yang mencarikan. Dia minta perempuan yang
separuh baya, tapi masih kelihatan cantik dan montok, saya
terpaksa mencarikannya ke beberapa tempat yang saya
kenal….”
“Berhasil?”
“Berhasil juga, Tuan.”
“Kalau begitu, carikan saya yang paling cantik.”
“Boleh. Kapan saya suruh kemari?” tanya Pak Kosmin
dengan penuh semangat. Hamsad tersenyum kalem sambil
mengunyah emping.
“Cantik sekali, nggak? Kalau nggak cantik sekali, saya
nggak mau, Pak!”
“O, ditanggung memuaskan, Tuan! Saya punya kenalan
yang jarang saya suguhkan pada tamu-tamu di sini. Biasanya
yang suka pakai dia… beberapa boss dari luar negeri.
Perempuan itu memang biasanya dibawa ke luar negeri oleh
boss-boss minyak. Baru seminggu yang lalu ia pulang dari
Itali.”
Hamsad makin tertarik, ia memperhatikan Pak Kosmin yang
bermata cekung itu, lalu bertanya dengan penuh harap,
“Namanya siapa, Pak?”
“Gea. Nama lengkapnya saya tidak tahu, tapi ia selalu
memperkenalkan diri dengan nama: Gea!”
70
Hamsad kelihatan mengeluh kecil. Ia kurang menggebugebu.
Namun, ia membiarkan pelayan itu meneruskan
promosinya tentang Gea. Setelah itu, baru Hamsad bertanya,
“Pak Kosmin bisa mencarikan perempuan yang bernama
Kismi?!”
Pak Kosmin tampak terperanjat sekalipun berusaha
disembunyikan. Hamsad mengetahui hal itu, dan ia segera
mengusap tengkuk kepalanya yang sejak tadi bergidik bulu
romanya. Sejak tadi! Hanya saja, Hamsad tadi bisa menahan
diri untuk bersikap biasa-biasa saja.
“Bagaimana, Pak? Kok malah melamun?” tegur Hamsad
setelah mengetahui lelaki itu melamun. Wajahnya yang tua
dan sedikit berkeriput itu kelihatan pias. Ia jadi tidak
bersemangat lagi, seperti tadi. Ada senyum yang dipaksakan
untuk tetap ramah. Dan, Hamsad membiarkan perubahan
tersebut, seakan tidak mengetahuinya.
“Kalau Pak Kosmin bisa mencarikan atau memanggilkan
perempuan yang bernama Kismi, saya berani kasih tip banyak
kepada Pak Kosmin,” tantang Hamsad sambil berlagak
berseloroh. Pak Kosmin tersenyum hambar.
“Mengapa harus Kismi?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu
mempunyai arti lain bagi Hamsad, maka ia pun buru-buru
bertanya,
“Jadi, Pak Kosmin sudah mengenal Kismi, kan? Sudah
pernah melihat Kismi, bukan? Nah, type wanita seperti itulah
yang saya sukai, Pak. Kalau tidak Kismi, saya tidak mau
ditemani oleh siapa pun!”
Lelaki berseragam biru-biru, sebagai seragam pelayan
motel ini, tampak termenung beberapa saat. Lalu, tiba-tiba ia
mengajukan pertanyaan yang membuat Hamsad sedikit
terpojok,
“Apakah Tuan sudah pernah bertemu dengan Kismi?”
“Hem… anu… bertemu sih belum pernah, tapi ketiga
temanku pernah bermalam dengan Kismi. Aku mengetahui
kecantikannya dari ketiga temanku itu, Pak.”
71
“Ooo..,” Pak Kosmin manggut-manggut. “Dan, bagaimana
dengan ketiga teman Tuan itu?”
“Mereka merasa bahagia sekali tidur bersama Kismi,” jawab
Hamsad memaksakan untuk bersikap kalem.
“Maksud saya, bagaimana nasibnya setelah ia tidur
bersama Kismi?”
Nah, pertanyaan ini kembali membuat Hamsad merinding.
Ia melirik ke arah luar lewat gorden jendela, ternyata alam
telah menjadi gelap. Terbersit perasaan ngeri dalam hatinya,
namun ia mampu menutupi dengan caranya sendiri.
“Mengapa Pak Kosmin menanyakan begitu? Apa
maksudnya?”
“Setahu saya,” kata lelaki tua itu. “Siapa pun yang tidur
bersama Kismi, maka ia akan mati!”
Ada suatu rasa yang menghentak di hati Hamsad, namun
Hamsad berusaha menetralkan perasaannya.
“Mengapa harus mati?” tanya Hamsad masih tetap kalem,
seakan tidak mau percaya dengan keterangan Pak Kosmin.
“Kismi itu roh!”
“Ah…!” Hamsad sengaja mendesah dengan nada tidak
percaya.
“Sungguh, Tuan. Dulu, memang ada seorang wanita yang
bernama Kismi. Dia seorang peragawati, tapi dia juga punya
jabatan penting dalam suatu perusahaan besar di luar negeri.
Konon, kesibukannya sebagai peragawati hanyalah sebagai
penangkal kejenuhannya saja…!”
Karena Pak Kosmin diam. Hamsad mendesaknya,
“Ceritakan selengkapnya, Pak. Siapa tahu aku mempercayai
kata-katamu.”
“Kismi dibunuh di kamar ini oleh pacarnya. Ternyata
pacarnya itu orang yang punya penyakit syaraf. Ia dicekik, dan
tangan kanannya dipotong…!”
Bergidik Hamsad mendengar cerita itu. Sejak tadi ia sudah
berdebar-debar, keringat dinginnya sudah tersembul, hanya
saja ia pandai menampilkan sikap tenang sehingga tidak
kentara apa yang ia rasa.
72
“Kismi memang mempunyai hubungan dengan kepercayaan
Mesir Kuno,” tambah Pak Kosmin, dan tambahan itulah yang
membuat Hamsad terbelalak kaget.
“Mmm… mak… maksud… maksudnya, bagaimana, Pak?
Bagaimana?” Hamsad sampai meng-geragap.
“Mayat Kismi sampai sekarang masih utuh, karena
dimakamkan dalam kotak kaca hampa udara. Ia mempunyai
cincin berbatu putih kekuning-kuningan. Cincin itu, konon
pemberian seorang profesor, ahli sejarah, yang menjadi
gurunya di perguruan tinggi. Cincin itu, berasal dari zaman
Mesir Kuno. Bukan cincinnya yang saya maksud, melainkan
batu pada cincin tersebut.”
“O, begitu?! Lalu… lalu… lalu, khasiat cincin itu sendiri
apa?”
“Apabila ia mati, nyawanya masuk ke dalam batu cincin
tersebut. Kalau ia mengenakan cincin itu lagi, maka ia akan
hidup. Tetapi, kalau sampai tiga kali ia mati, maka ia akan
mati selama-lamanya!”
“Gila…!” gumam Hamsad sepertinya antara mengagumi
dan tidak percaya.
Pak Kosmin melanjutkan lagi, “Jadi, karena ia dicekik dan
tangan kanannya dipenggal, maka ia tak dapat hidup lagi.
Karena, di jari manis tangan kanannya itulah cincin mistik itu
dikenakan. Ia terpisah dengan cincin tersebut, maka sama
saja ia terpisah dari nyawanya. Kemudian, pelayannya yang
selalu mendampingi Kismi memakamkan mayat Kismi di dalam
tabung kaca hampa udara, supaya kuman tidak merusak
jasadnya. Apabila potongan tangan kanan itu disambungkan
lagi ke lengan Kismi, maka ia akan hidup lagi sebagai manusia
biasa. Itulah keistimewaan dari Cincin Zippus.”
Beberapa saat lamanya Hamsad terbengong. Terbayang
sesuatu yang mustahil menjadi nyata. Dan, ia terkejut ketika
Pak Kosmin berdiri, mohon pamit.
“Tunggu, Pak…! Bapak sendiri siapa? Kenapa bisa
mengetahui riwayat Kismi?”
“Saya pelayan Kismi…!”
73
Dan, tiba-tiba lelaki tua beruban putih itu melangkah keluar
kamar tanpa membuka pintu lebih dulu. Badannya bagai
gumpalan asap yang mampu menembus daun pintu yang
tebal. Hal itu membuat Hamsad tercengang dengan mata
mendelik dan tubuh gemetar. Ia buru-buru membuka pintu
untuk mengejar Pak Kosmin, tetapi ternyata lelaki tua itu tidak
terlihat sama sekali. Di luar hanya ada gelap malam yang sepi.
Sekujur tubuh Hamsad menjadi merinding dan keringat
dinginnya pun membasahi semua pakaiannya. Lalu, sesuatu
yang aneh kembali dialaminya, tak lama berselang dari
peristiwa itu. Hamsad masih terengah-engah, ia melihat
arlojinya, dan begitu terkejutnya ia setelah mengetahui,
bahwa saat itu malam sudah menunjukkan pukul 11 lewat 55
menit.
“Gila! Arloji murahan bikin kaget saja!” gerutunya sambil
gemetar. Ia tak percaya, tapi juga penasaran. Ia menelepon
bagian resepsionis dan menanyakan jam. Ternyata
jawabannya sama, “Pukul 11 lewat 55 menit, Tuan!”
“Astaga…! Kalau begitu aku sudah bicara dengan… dengan
roh pelayan Kismi itu memakan waktu cukup lama?! Dari
magrib sampai hampir tengah malam?! Oh, konyol! Terasa
hanya sebentar! Nyatanya lebih dari lima jam?! Gila! Ini benarbenar
gila!”
Malam yang mengalunkan deburan ombak samar-samar itu
ibarat irama penghantar ke liang kubur. Suasana ganjil yang
menimbulkan rasa takut mencekam kuat di dalam kamar
tersebut. Jantung Hamsad berdetak-detak keras, sampai dia
mengalami sesak napas. Ia berusaha merubah suasana
tegang di dalam kamar dengan suara TV yang mengalunkan
lagu-lagu tempo dulu: acara ‘Dari Masa ke Masa’. Dengan
suara keras dari musik-musik itu, Hamsad sedikit berhasil
mengatasi cekaman rasa takut yang bagai membekukan
darahnya itu. Ia membuka kaosnya yang basah oleh keringat
dingin. Bahkan juga melepas celana panjangnya yang lembab
karena keringat pula.
74
Sekarang, ia merasa panas. Gerah. Padahal AC berjalan
dengan lancar. Karena tak tahan, Hamsad pun mengguyur
badannya di kamar mandi. Pada saat itu, ia masih terngiangngiang
cerita Pak Kosmin, dan terbayang kenyataan
mengerikan dari Pak Kosmin yang mampu menembus pintu
tanpa dibuka lebih dahulu. Hamsad tidak percaya kalau
ternyata sejak tadi berbicara dengan roh. Roh pelayan Kismi.
Dan, agaknya roh pelayan Kismi itu pun mencari tahu di mana
tangan kanan Kismi yang dipotong oleh pembunuhnya. Maka,
timbul kecamuk di hati Hamsad,
“Kalau aku bisa menemukan tangan atau cincin itu, dan
bisa menyambungkannya ke lengan jenazah Kismi, mungkin
perempuan itu akan hidup kembali. Lalu, apa yang kuperoleh
dari pekerjaan itu? Oh… gila! Cerita itu kenapa mendominir
otakku? Kenapa aku sangat percaya? Bukankah itu suatu hal
yang mustahil?” Hamsad berdebat sendiri di dalam hatinya.
Kemudian, batinnya berkata juga,
“Jadi, pantas kalau selama ini Norman, Denny, dan Tigor
mati bunuh diri setelah tidur bersama Kismi. Rupanya roh
Kismi menaruh dendam kepada lelaki. Roh itu yang ada di
tangan kanannya, pada batu cincin tersebut. Dan, roh itu yang
masuk ke dalam tangan kanan Norman, kemudian memaksa
Norman bunuh diri. Padahal itu adalah tindakan pembunuhan
dari roh Kismi yang ada di tangan kanannya. Oh, mengerikan
sekali! Apa jadinya jika roh itu masuk ke tangan kananku…?!”
sambil berkecamuk demikian di batinnya, Hamsad
mengangkat tangan kanannya sendiri. Memperhatikan tangan
kanannya itu dengan hati berdebar-debar. Semakin lama ia
memperhatikan tangan kanannya, semakin gemetar tangan
kanan itu. Jantungnya bertambah cepat terpacu. Jari-jemari
tangan kanannya mengejang. Mulanya bergerak-gerak, lalu
mengejang semuanya, membentuk cakar.
“Oh…?! Tangan kananku kaku..?!” katanya terpekik
ketakutan sendiri. Ia mendelik memperhatikan tangan
kanannya. Jari-jemari itu gemetar pada saat membentuk cakar
yang keras dan kaku. Tangan kiri Hamsad buru-buru
75
melunakkan tekukan jari-jemari tangan kanannya. Dan,
Hamsad pun menghempaskan napas. Ternyata tangan
kanannya mengalami kram sebentar. Kini kembali lemas,
seperti sediakala.
Sambil mengenakan handuk, Hamsad terengah-engah
karena rasa takutnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan
hanya berbalut handuk, karena pada saat itu ia mendengar
suara TV berkerosak tak karuan. Ternyata layar TV sudah
tidak menampilkan gambar apa-apa lagi, kecuali bintik-bintik
semacam semut berpesta pora. Salurannya bagai ada yang
memutus, dan suara berisik itu mengganggu pendengaran
Hamsad. Maka, pesawat TV pun terpaksa dimatikan. Dan, kali
ini kamar menjadi hening tanpa suara apa pun.
Hamsad duduk di pembaringan dengan melamun,
membayangkan sesuatu yang bersimpang siur dalam
pikirannya. Kacau!
***
Bab 9
Suara ketukan pintu yang lembut mengejutkan lamunan
Hamsad. Napasnya terhempas karena rasa kagetnya. Ia
sempat mencaci sendiri, lalu menyadari bahwa ia lupa
membayar uang emping dan kacang mete. Setelah mengambil
uang puluhan ribu dari dompetnya, Hamsad menuju ke ruang
tamu dengan hanya berbalut handuk tebal.
Klik…! Pintu dibuka, dan sapaan lembut terdengar,
“Selamat malam…!”
Hamsad terbelalak seketika. Darahnya bagai mengalir cepat
ke bagian kepala. Pucat. Napasnya pun tersentak, seakan
berhenti seketika. Di depannya, berdiri seorang perempuan
yang berbadan atletis, tinggi sekitar 168 cm, berbadan padat,
menonjol namun ideal bagi tubuhnya yang sexy itu. Mulut
Hamsad bergerak-gerak, namun tak berhasil melontarkan
sepatah kata pun. Matanya tak bisa berkedip menatap seraut
76
wajah klasik, dengan kecantikan yang mirip seorang ratu Mesir
Kuno. Hidung mancung, bibir ranum tak terlalu lebar, mata
bulat dengan kebeningan yang tajam meneduhkan, dan
rambut hitam indah disanggul ke atas, sehingga
menampakkan lehernya yang tergolong jenjang itu berkulit
kuning langsat.
Yang terucap di hati Hamsad hanya kata-kata, “Sudah
lewat tengah malam…!”
Perempuan itu tersenyum ramah, indah sekali. Enak
dipandangi berjam-jam lamanya. Suaranya yang serak-serak
manja terdengar membuai hati Hamsad yang gemetar.
“Boleh aku masuk?”
“Bo… bob… eh, sil… silakan…!” Hamsad menggeragap.
Jantungnya yang berdetak cepat membuat ia serba gemetar.
Berulangkah ia menelan napasnya untuk menguasai
kegugupan yang mengerikan, dan sedikit-sedikit ia mulai
berhasil menenangkan gemuruh di dalam dadanya.
Ada bau harum dari parfum yang dikenakan perempuan itu.
Bau harum itu begitu lembut, klasik, namun membawa kesan
yang anggun. Perempuan itu mengenakan gaun transparan
putih tanpa lengan. Tas kulit warna hitam yang bertali rantai
kuning keemasan tergantung di pundak kirinya. Sepatunya
berwarna hitam, menapak di lantai. Jelas sekali. Ketika
melangkah terdengar ketukan sepatunya yang lembut.
Waktu itu, angin berhembus lebih kencang dari
sebelumnya. Suara angin itu mengalun bercampur deburan
ombak. Malam berubah menjadi lebih sunyi lagi, seakan kutukutu
malam pun tak berani bersuara. Hal itu semakin
membuat Hamsad dicekam rasa takut, tubuhnya pun menjadi
merinding semua.
“Sendirian di sini?” suara serak-serak manja yang
menggemaskan hati lelaki itu mengacaukan pikiran Hamsad.
Ia masih diam di pintu, tanpa menutup daun pintu, sehingga
angin yang berhembus membawa kemisterian itu menerobos
masuk ke kamar. Ia tak sempat menjawab dengan kata,
kecuali mengangguk dan menampakkan rasa takutnya. Ada
77
niat untuk lari keluar kamar dan berteriak meminta tolong,
tetapi sikap perempuan itu begitu mengesankan, baik dan
ramah. Sehingga, hati Hamsad berdiri di batas kebimbangan.
“Apakah ruangan ini kurang dingin? Kurasa sudah cukup
sejuk, tak perlu kau tambah dengan cara membiarkan pintu
terbuka,” katanya sambil menampakkan senyumnya yang
mengagumkan sekali. Hamsad pun segera menutup pintu,
namun tak berani menguncinya. Ia jadi seperti orang bego
berdiri bersandar pada pintu dengan kedua lutut gemetar.
Detak-detak jantungnya kembali memburu ketika perempuan
itu melangkah mendekati Hamsad, memandang dengan penuh
sorot mata yang mempesonakan.
Luar biasa kecantikan itu. Hamsad baru percaya dengan
apa yang pernah dikatakan Almarhum Norman, Denny, dan
Tigor. “Perempuan itu mempunyai kecantikan yang luar biasa.
Kehebatan di ranjang yang luar biasa pula….” Pantas rasanya
jika para korban memuji Kismi habis-habisan, karena
perempuan itu memang patut dipuji dan disanjung. Hanya
saja, kali ini lidah Hamsad masih kelu, darahnya berdesir
seakan beredar di seluruh tubuh dengan kacau. Apalagi kali ini
perempuan itu tepat berada di depannya, oh…. Hamsad
seperti kehilangan kesempatan untuk menghela napas.
“Kau sakit?” tanya perempuan itu. “Wajahmu pucat sekali.”
Kemudian, karena lama sekali Hamsad tidak bisa
menjawab, perempuan itu menyentuh jari-jemarinya ke pipi
Hamsad. Lembut sekali. Pelan. Hamsad merasa diusap oleh
selembar kain sutra yang berbau harum menggairahkan.
Lutut semakin gemetar, nyaris tak bisa dipakai untuk
berdiri, karena saat itu, Hamsad merasakan suatu ciuman
yang hadir dengan sangat pelan. Menempel di pipinya terasa
menghangat dipermukaan wajah Hamsad. Suara serak-serak
manja menggemaskan itu terdengar berbisik di telinga
Hamsad,
“Kosmin memberitahu kehadiranmu. Aku tahu, kau
membutuhkan aku, bukan? Kau mencari aku, bukan?” Ia
segera menarik wajahnya, kini beradu pandang dengan
78
Hamsad. Mulut Hamsad masih kaku, sukar digerakkan. Dan,
perempuan itu berkata lagi,
“Jangan takut. Aku Kismi, orang yang kau cari. Kau hanya
memilih aku dari sekian perempuan yang ditawarkan Kosmin.
Dan, sekarang pilihanmu telah berada di sini, di depanmu.
Mengapa kau diam saja? Mengapa kau takut? Barangkali
karena kau mendengar cerita dari Kosmin, lantas kau pikir aku
akan membunuhmu? Hem…?!”
Oh, begitu mesranya ia bicara. Sesekali tangannya
mengusap rambut di kening Hamsad, menyibakkan ke
belakang dengan tatapan mata penuh curahan rasa kasih.
“Barangkali kita bisa buat perjanjian,” katanya dengan
lembut.
“Ak… aaak… akuuu…,” Hamsad berkata dengan gagap.
“Akuuu… hm… akkk….”
“Ssst…!” Kismi menempelkan jari telunjuknya ke bibir
Hamsad. Ia membisik, “Kecuplah bibirku…! Kecuplah, agar
rasa takutmu hilang…!”
Hamsad gundah. Debaran hatinya membuat ia tersengalsengal
dalam bernapas.
Kismi memejamkan mata, menyodorkan bibirnya yang
terperangah menantang. Ia berbisik lagi, “Kecuplah aku…
kecuplah, supaya rasa takutmu hilang…!”
Dengan gemetar, Hamsad mendekatkan bibirnya ke bibir
Kismi. Ia ragu sejenak, tetapi Kis-mi bergerak lebih maju,
sehingga bibirnya menyentuh bibir Hamsad. Kemudian,
Hamsad mengecup bibir itu dengan gemetar. Mulanya hanya
ingin sekejap, tetapi Kismi membalas dengan hangat.
Mengulumnya, melumatnya penuh gairah. Bahkan ia
mendesah ketika bibir itu terlepas sekejap. Sebelum Hamsad
menarik diri, Kismi telah mengulang adegan itu. Semuanya ia
lakukan dengan lembut, tidak kasar dan rakus. Justru
kelembutan itulah yang membuat hati Hamsad terasa tersiram
serpihan salju. Dingin, tenang, dan debarannya pun
berkurang.
79
Perlahan-lahan sekali Kismi melepaskan kecupan itu,
seakan merasa enggan memisahkan bibirnya dari bibir
Hamsad. Ketika kecupan itu berhenti, senyum Kismi mekar
mengagumkan. Hamsad mulai menyunggingkan senyum
bernada malu. Anehnya, saat itu ia tidak lagi merasa
berdebar-debar. Ia tidak merasa takut dan gemetar. Ia dalam
keadaan normal, memandang Kismi seperti memandang
perempuan biasa. Hamsad sadar, ia berhadapan dengan
hantu, tapi ia tidak merasa ngeri sedikit pun. Justru ia merasa
bangga bisa berhadapan muka dengan wanita berwajah mirip
ratu Mesir Kuno itu. Ia berdecak menyatakan rasa kagumnya
kepada Kismi.
“Bagaimana aku harus memanggilmu?” tanya Kismi sambil
melingkarkan kedua tangannya ke leher Hamsad. Matanya
berkedip-kedip memandang Hamsad dengan penuh pesona
mengagumkan.
“Panggil aku, Hamsad!” jawab Hamsad dengan lancar, tak
ada kebimbangan, hanya sedikit sisa getaran masih terasa.
“Aku kagum padamu, Hamsad. Kau manusia yang nekat.
Kau punya semangat, tapi tidak punya keberanian. Mungkin
begitulah dalam hidupmu sehari-hari.”
Hamsad tersipu. Ia tak berkedip menatap Kismi, kemudian
ia berkata bagai di luar kesabaran, “Cantik sekali…!”
“Siapa?” tukas Kismi.
“Kau…,” desah Hamsad, romantis sekali. Kismi mencibir
manis. Kemudian keduanya sama-sama tertawa. Keduanya
sama-sama berpelukan, masih di depan pintu.
“Aneh sekali…,” bisik Hamsad.
“Apanya yang aneh?”
“Hatiku jadi berbunga-bunga. Aku bahagia sekali.”
“Kenapa?” bisik Kismi makin mendesah.
“Aku bisa bertemu denganmu, dan aku bisa memelukmu,”
jawab Hamsad. “Padahal aku tahu….”
“Tahu apa?” tukas Kismi lagi, seakan menggoda.
“Aku tahu, bahwa kau bukan manusia…!”
80
Kismi buru-buru melepaskan pelukannya. Ia kelihatan
tersinggung. Hamsad menggeragap bingung ketika Kismi
meninggalkannya. Perempuan itu berjalan ke kamar tidur, dan
menghempaskan dirinya di tepian ranjang. Wajahnya murung.
Hamsad serba salah jadinya. Ia mencoba mendekati Kismi dan
berkata penuh sesal,
“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.”
“Aku tidak tersinggung,” jawab Kismi. Masih murung. “Aku
sedih jika ada yang mengatakannya begitu. Aku ingin kau
pura-pura tidak mengetahui siapa aku.”
“Mengapa begitu?”
Kismi mendongak, memandang Hamsad yang berdiri di
sampingnya. Wajah Kismi tepat berada di pinggang Hamsad.
Perempuan itu berkata dengan nada sedih,
“Aku datang memenuhi keinginanmu. Aku ingin mengagumi
lelaki yang punya tekad seperti kamu. Jadi, aku tak ingin
mendengar kata-kata seperti itu lagi.”
“Aku berjanji tidak akan mengatakan hal itu lagi, Kismi,”
kata Hamsad sambil mengusap-usap kepala Kismi. Kepala itu
pun kemudian rebah di pinggang Hamsad.
“Aku ingin mencari kebahagiaan. Aku ingin menghibur
diriku seriang mungkin. Aku…,” Kismi berhenti sejenak,
mendongak lagi, menatap Hamsad, lalu berkata,”… aku ingin
hanyut dalam kemesraan.”
Hamsad mengangguk, “Apakah menurutmu aku bisa
memberi kemesraan padamu?”
Tangan Kismi mulai merayap, mengusap-usap paha
Hamsad yang hanya dibalut handuk itu. Ia bicara bagai
sedang melamun,
“Aku tak tahu, apakah kau yang terpilih bagiku. Tetapi, aku
sangat menyukai lelaki yang punya tekad, daripada yang
hidup penuh kebimbangan. Biasanya, lelaki yang hidup
mengandalkan tekad, ia mempunyai naluri bercumbu sangat
romantis.”
Hamsad tertawa pelan. “Aku tidak merasakan diriku begitu.
Kismi,”
81
“Tapi aku merasakannya…,” seraya tangan Kismi terus
merayap pada bagian terpeka bagi seorang lelaki. Hamsad
membiarkan tangan itu memainkan sesuatu, Ia sibuk
menekuni hatinya yang berdebar-debar dalam keindahan.
Lalu, ia sedikit menunduk, mencium kening Kismi. Wajah
itu buru-buru tengadah ke atas, merenggangkan bibirnya
dalam desah yang tipis sekali. Hamsad mencium kening dan
merayap ke hidung Kismi, kemudian merayap lagi perlahanlahan,
sampai akhirnya mulut Hamsad menyentuh bibir Kismi.
Lidah Hamsad mempermainkan bibir Kismi yang segar dan
menggairahkan itu. Kismi mengerang pelan, bagai merengek
minta sesuatu. Kemudian, Hamsad pun mengecup bibir itu
pelan-pelan. Lembut sekali. Sementara itu, tangan Kismi yang
nakal semakin bengal.
Handuk pembalut pun terlepas dan jatuh di lantai. Hamsad
membiarkan. Ia masih sibuk menciptakan sejuta desiran indah
melalui kecupan bibir Kismi. Tapi, kali ini tangan Hamsad pun
menarik tali gaun yang ada di pundak Kismi. Kedua tali pun
terlepas, dan gaun transparan itu terkulai jatuh di pangkuan
Kismi. Tangan Hamsad mulai merayap dengan usapan lembut,
sentuhan jemarinya bagai mengambang dan justru
menciptakan debaran halus di hati Kismi.
“Oh… kau pandai membawaku melayang, Hamsad…,” bisik
Kismi dalam desahnya. Ia buru-buru memeluk pinggang
Hamsad. Mengecup pinggang itu, dan menjalar ke manamana.
Hamsad melepas sanggul rambut Kismi sambil berdesis-
desis. Rambut itu tergerai sebatas punggung. Lemas
sekali. Halus, dan berbau harum. Tangannya mengusap-usap
punggung Kismi dengan gerakan lamban, sedangkan Kismi
semakin berani menjalarkan lidah dan bibirnya ke ujung
percintaan Hamsad.
Di relung keheningan malam, suara desah mereka saling
memburu. Kismi sering memekik dalam keadaan tubuhnya
mengejang kaku, sedangkan Hamsad hanya mendesah-desah
dan tetap menjadi nahkoda ‘pelayaran’ itu. Ia sengaja tidak
mendorong tubuh selembut sutra itu ke permukaan ranjang.
82
Ia biarkan cintanya melayang-layang dengan mengandalkan
kekuatan kakinya. Kismi sendiri agaknya masih mampu
menegakkan betisnya, sekalipun ia merasa limbung beberapa
kali.
Namun, kehebatan Kismi akhirnya membutuhkan alas bagi
punggungnya, dan ia menarik Hamsad perlahan-lahan, maka
jatuhlah mereka di ranjang yang berkasur empuk itu.
Kecupan-kecupan Hamsad masih membanjir di sekujur tubuh
Kismi. Napasnya masih mampu berlari sejauh 10 km lagi,
bahkan lebih. Kismi merasa dirinya diterbangkan oleh amukan
kasmaran Hamsad, sampai-sampai ia menggelinjang dengan
brutal karena mengalami masa kejayaan cintanya beberapa
kali.
Pada detik-detik yang mendebarkan cinta Hamsad, ia
semakin ‘berlari’ cepat, mengejar bayangan kasihnya di
puncak bukit cinta. Ketika ia tiba di sana, ia pun mengerang
panjang dan mengejang. Kismi ganti mengambil alih ‘kemudi’.
Kini menjadi nahkoda ‘pelayaran’ malam itu. Dan sebagai
seorang nahkoda, ia ternyata mempunyai kelincahan
mempermainkan kemudi. Layar dikembangkan, dayung
direngkuh, dan bahtera pun melaju makin dipermainkan
ombak. Hamsad tak sempat berpikir untuk menentukan, Kismi
bahtera atau ombak? Ia hanya merasakan amukan gelombang
yang melemparkan ia ke awang-awang. Kismi bagai gulungan
badai yang mampu menerbangkan Hamsad ke atas
percintaannya beberapa kali, hingga pekikan dan erangan
bahagia pun terlontar silih berganti.
Ketika menyongsong fajar, kasur sudah berubah menjadi
tanah lembab. Seprei dan selimut tebal tak ubahnya rumput
yang terbabat, berserakan ke mana-mana. Banjir keringat
mengguyur tubuh mereka. Napas-napas terpenggal saling
berhamburan. Tubuh Kismi lunglai di peraduan. Hamsad
mengusapnya dengan sarung bantal. Tubuh mulus tanpa
cacat sedikit pun itu dibersihkan dari keringat. Diusap
perlahan-lahan. Kemudian, dikecupnya beberapa bagian.
Masih saja tercium bau wangi yang lembut dan
83
menggairahkan. Napas Kismi terengah-engah, dadanya yang
menonjol dalam bentuk indah itu bergerak naik-turun. Ia
membiarkan Hamsad mengucapnya beberapa kali, terkadang
mencekam pada titik terpeka, dan Kismi hanya bisa
mengerang di sela desah napas dan kelunglaian
persendiannya.
“Luar biasa…,” gumamnya bercampur dengus napas yang
terengah-engah. Hamsad diam saja. Masih mengusap-usap,
masih mencium beberapa tempat, masih pula menatapinya
penuh rasa kagum dan bangga diri.
Tangan Kismi meraba keringat Hamsad yang meleleh dari
leher ke dada. Ia tersenyum, lalu berkata lirih,
“Kau sungguh luar biasa, Hamsad. Kau… ah, kenapa baru
sekarang kau kutemukan?”
Hamsad tersenyum di sela engahan napasnya. “Kau
memiliki kata dan tanya yang sama dalam benakku. Tapi…
mengapa kau tampak pucat sekali? Lelah?”
Kismi mengangguk, tak malu-malu. “Kau juga pucat,
seperti selembar kertas. Capek?” tanyanya bergantian. Lalu,
keduanya mengadu wajah sambil tertawa bahagia.
‘Hamsad, aku harus pulang sebelum matahari terbit,” bisik
Kismi.
“Tak bisakah kau tinggal sampai siang hari?”
Kismi menggeleng. “Kita harus berpisah,” ucapnya penuh
sendu. “Tapi, bila lewat tengah malam, kita bisa berjumpa
lagi, Hamsad.”
“Oh… tidak! Aku ingin memilikimu sepanjang masa, Kismi!
Aku ingin mendekapmu, ingin menciummu, tanpa peduli siang
atau malam.”
“Hamsad, kau tahu siapa aku, bukan? Kita punya
perbedaan masa. Kita punya perbedaan alam. Dan, itu tak
bisa dibantah, Hamsad.”
“Harus bisa! Aku tidak ingin kehilangan kau, Kismi. Aku…
ah, terlalu mudah jika aku berkata cinta padamu, bukan? Jadi,
sebaiknya tak kukatakan, bahwa aku mencintaimu….”
“Kau sudah mengatakannya. Hamsad.”
84
Kemudian, Kismi pun tertawa mengikik geli sambil memijit
hidung Hamsad. Tangan Hamsad mengibas, dan ia ganti
memijit hidung Kismi sambil berkata, “Nakal…!”
Pagi mulai meremang. Kismi bergegas pulang dengan
wajahnya yang pucat. Hamsad sempat berbisik sedih, “Kapan
kau datang padaku lagi, Kismi?”
“Menunggu saatmu pulang kemari,” jawab Kismi. “Hati-hati,
Hamsad. Mudah-mudahan ia tidak mengancammu.”
“Siapa…?!” Hamsad merasa heran. Kismi diam saja.
***
Bab 10
Tubuh yang lunglai itu tergeletak sampai siang hari.
Hamsad bagai habis mengadakan perjalanan jauh. Tulangtulangnya
terasa ngilu semua. Ia meninggalkan motel itu
antara pukul 12 siang. Ia tidak langsung ke rumah, melainkan
ke kampus, karena hari itu ia punya acara: mengadakan
audensi dengan salah seorang tokoh bersama dua temannya.
Namun, ternyata benaknya sudah telanjur dipenuhi oleh
kesan indah dan manis dari Kismi. Berulangkah’ ia
mengalihkan pikirannya, tanpa sadar toh kembali juga ke
masalah Kismi. Ia memang pernah punya perasaan cinta. Ia
pernah menyukai seorang gadis. Tetapi, tidak seperti kali ini
perasaan suka kepada gadis yang ia rasakan. Kali ini ia benarbenar
terpaku oleh perasaan cintanya kepada Kismi. Ia seperti
belum pernah mengenal cinta sebelumnya. Bahkan, dalam hati
ia berkata, “Aku seperti anak ingusan yang baru pertama kali
ini disentuh wanita. Padahal aku sering mencium Reni sewaktu
di SMA. Aku juga sering berciuman dengan Laila. Bahkan aku
pernah tidur dengan Pungki. Tetapi, mengapa mereka tidak
meninggalkan kesan yang mematri di hatiku? Mengapa
mereka jauh berbeda dengan Kismi? Kesannya begitu kuat,
membuat aku tak mampu mengalihkan konsentrasiku walau
sekejap. Oh… luar biasa daya tariknya. Luar biasa kecantikan
85
itu. Pantas kalau Norman dan yang lainnya tega melakukan
bunuh diri demi cintanya yang tak tercapai itu.”
Dalam perjalanan ke kampus, mendadak Hamsad menjadi
tegang. Hatinya berdebar-debar setelah ia ingat kematian
Norman, Denny, dan Tigor. La menggumam sendiri di dalam
mobilnya, “Mereka mati dengan cara bunuh diri. Mereka
bunuh diri karena rindu pada Kismi. Mereka rindu, karena
mereka jatuh cinta pada Kismi. Lalu, bagaimana dengan aku?
Apakah aku tidak akan berbuat seperti Norman, Denny, dan
Tigor? Oh, jangan! Jangan sampai aku sepicik mereka. Aku
harus tegar, tak mau jatuh karena perempuan. Tapi…?”
Hamsad berkerut dahi. Ia melanjutkan kata-katanya dalam
bentuk kecamuk di dalam liati.
“Tapi, Kismi meninggalkan pesan yang misterius. Saat ia
sebelum pergi, sebelum ia mengecup bibirku yang terakhir
kali, aku mendengar ia menyuruhku berhati-hati. Ada sebaris
kata yang aneh. Mudah-mudahan ia tidak mengancammu’.
Ia…?! Siapa yang dimaksud ‘ia’ oleh Kismi itu? Benarkah diriku
terancam? Oleh siapa sebenarnya? Kekasih Kismi? Kekasihnya
yang telah tega membunuhnya itu? Ih, brengsek amat kalimat
itu. Menghantui pikiranku terus. Siapa sih sebenarnya yang di
maksud itu…?!”
“Pucat sekali kau!” tegur Ade di pintu gerbang kampus.
Waktu itu, Hamsad sedang; menuju ke gedung rektorat
setelah memarkirkan mobilnya. “Kau habis begadang, ya?
Atau… sakit?”
“Apakah aku kelihatan pucat?!”
“Ya, pucat sekali,” jawab Ade tegas. Hamsad jadi gelisah.
“Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu, De. Tapi,
tunggu sebentar, aku punya urusan penting.”
“Oke. Aku nongkrong di kantin! Kutunggu kau di sana,
Ham.”
Ragu-ragu Hamsad jadinya. Wajahnya pucat pasi. Semua
temannya yang berpapasan dengannya mengatakan begitu.
Malahan seorang dosen yang berpapasan dengannya juga
menyarankan, “Pulanglah! Jangan paksakan diri kalau kau
86
dalam keadaan sakit. Ilmu bisa dicari sampai tua, tapi nyawa
seseorang tidak bisa dicari lagi. Sekali hilang, akan selamanya
hilang.”
Setelah bertemu dengan temannya yang punya urusan
sama, Hamsad juga dianjurkan untuk pulang. Justru temannya
kelihatan cemas dan berkata, “Kau benar-benar seperti mayat,
Ham. Aku kuatir kau akan mengalami naas di sini! Pulanglah.
Biar aku yang mengurus masalah kita ini.”
Hamsad tidak langsung pulang, melainkan langsung ke
kantin menemui Ade. Di pintu kantin ia berpapasan dengan
Yoppi. Yoppi pun terkejut melihat Hamsad berwajah pucat
sekali, ia menegur,
“Gila kau, Ham! Kau kemanakan darahmu? Kau seperti
manusia tanpa darah setetes pun, tahu?!”
“Aku sedang tak enak badan,” ujarnya seraya langsung
menemui Ade. Yoppi menguntit dari belakang. Begitu Hamsad
duduk, Yoppi ikut duduk di sampingnya, tapi langsung
berkata,
“Demi Tuhan, aku jadi merinding melihat kau berjalan,
Hamsad! Kau…. Wah, celaka! Kurasa saat ini bukan waktumu
untuk ngobrol di sini!” Yoppi kelihatan cemas sekali.
Sedangkan Ade hanya memandang Hamsad dengan
kecemasan yang disembunyikan.
“Aku…. Oke-lah, aku akan pulang dan beristirahat. Tetapi,
sebelumnya ada yang ingin kuta-kakan kepada kalian,” kata
Hamsad. “Tapi, kumohon kalian bisa merahasiakan. Kumohon
sekali!”
Yoppi dan Ade menggumam. Yoppi kelihatan lebih tegang
dari Ade. Ia juga yang bertanya.
“Tentang apa itu, Ham?!”
Hamsad berkata pelan, “Aku telah bertemu dengan Kismi.”
“Hah…?!” Kini, bukan Yoppi saja yang terpekik kaget,
melainkan Ade pun jadi tersentak. Duduknya yang semula
bersandar santai, kali ini bergerak maju dan mata memandang
Hamsad penuh kecemasan.
87
“Kau…?! Kau bertemu dengan Kismi?!” Ade setengah tidak
percaya.
“Aku tidur dengan perempuan itu,” tambah Hamsad,
semakin membuat Yoppi dan Ade menampakkan rasa
takutnya. “Aku bergumul dengannya. Semalaman kami tak
tidur. Ia memang hebat, istimewa dan luar biasa segalanya.
Kecantikannya luar biasa, kekuatannya di ranjang juga luar
biasa…!”
“Tunggu, Ham…!” sergah Yoppi. Lalu, Yoppi berkata dalam
bisikan yang dipertajam, “Dulu, Almarhum Tigor juga
menceritakan hal itu kepada kami. Dan, malamnya ia bunuh
diri. Denny pun demikian. Lalu, mengapa sekarang kau
berkata begitu, Hamsad?! Apakah kau tak menyadari risiko
berbahaya yang akan menimpamu?!”
Sebelum Hamsad menjawab, Ade telah berkata, “Aku jadi
merinding. Sungguh. Aku takut membayangkan kengerian
yang akan kau alami nantinya. Oh… saat ini aku seperti
melihat Tigor merenggangkan nyawanya karena tikaman badik
ke tubuhnya…! Uh, mengerikan sekali, Ham! Sangat
mengerikan!”
Getir juga hati Hamsad mendengar kata-kata mereka, Ia
makin beri debar-debar. Sudah lama ia berhenti merokok,
namun kali ini ia menyahut rokok Yoppi dan menghisapnya.
Barangkali ia mencari ketenangan jiwa dengan cara
menghisap rokok. Namun, natanya ia masih saja kelihatan
pucat dan tegang.
“Aku tahu, apa yang dialami mereka yang habis bercinta
dengan Kismi, tapi aku menjaga kesadaranku untu’k tidak
berbuat seperti mereka,” kata Hamsad dongan gerak mata
yang nanar karena hati berdebar-debar.
“Apakah kau bisa?”
“Harus bisa! Aku tidak boleh cengeng. Aku harus tegar
dan…”
“Norman bukan pemuda cengeng,” sahut Yoppi. “Dia
pemuda yang tegar dan tidak mengenal kecengengan. Tetapi,
nyatanya ia rapuh…!”
88
“Ia menikam dirinya sendiri dengan gunting,” sahut Ade.
Kemudian, Yoppi melanjutkan,
“Ia tidak bisa mengendalikan tangan kanannya yang
beirgerak sendiri menikam dirinya…! Ham, aku curiga, di balik
kematian mereka ada kekuatan gaib yang berperan tanpa
mereka sadari. Kekuatan gaib itu… menurutku, berasal dari
Kismi.”
“Benar,” jawab Hamsad tegas.
“Kalau kau tahu, mengapa kau lakukan?” sela Ade.
Hamsad menghempaskan napasi “Sudah telanjur, De.
Semuanya sudah telanjur. Aku tahu, Kismi sebenarnya sudah
mati…!”
“Ya, Tuhan…!” keluh Ade.
“Kismi memang hantu, tetapi Kismi tidak seperti hantu.
Aku… aku mencintainya, De.”
“Gila kau!” geram Yoppi. “Kalau terjadi sesuatu padaku,
kumohon, jangan ada yang mencobanya lagi. Lupakan
tentang Kismi, dan jangan ada yang tergiur dengan cerita ini,
juga jangan ada yang terpengaruh dengan cerita Almarhum
Norman, Denny, maupun Tigor. Berbahaya! Aku akan
mencoba mengalahkannya dengan caraku sendiri. Kalau aku
gagal, berarti kalian akan gagal juga jika mencoba
mengalahkannya…’:”
Yoppi dan Ade sama-sama diam. Napas mereka terasa
sesak. Mereka seakan berada di depan calon mayat. Mereka
merasakan sesuatu kelengangan. Sepertinya, itulah saat -saat
yang terakhir mereka bertemu dengan Hamsad. Yoppi sendiri
terlihat begitu sedih dan cemas. Mungkin saat itu ia tak tahan
menghadapi kenyataan, maka ia segera berdiri. Ia menepuknepuk
punggung Hamsad. Ingin mengucapkan sesuatu,
mungkin kata “Selamat jalan”, tetapi mulutnya tak mampu
mengucap kata apa pun. Yoppi pergi begitu saja dengan
desah napas yang terdengar oleh Hamsad dan Ade.
Di rumah, Hamsad sendiri jadi gelisah. Ia dibayang-bayangi
kenangan manis bersama Kismi di kamar motel itu. Kenangan
manis itu menghantuinya, membuat ia tak dapat beristirahat
89
siang. Beberapa kali ia menelan telur ayam kampung yang
masih mentah, meminum susu dan madu sebanyakbanyaknya.
Ia ingin menutupi kepucatan wajahnya, agar tidak
mencurigakan keluarga. Lalu, ia pun lebih sering mengurung
diri di kamar. Benaknya berkecamuk terus, membuat ia
menjadi pusing dan mual.
Ketika sore hari, Dian, adik perempuannya, minta diantar
ke rumah teman untuk suatu urusan. Hamsad sebenarnya
malas keluar rumah. Tetapi, setelah dipikir-pikir, untuk
menghilangkan kegelisahan yang menteror jiwanya, ia perlu
mencari penyegar. Suasana di dalam kamar bisa mengurung
jiwanya pada kenangan manis bersama Kismi. Maka, ia pun
tidak keberatan mengantar Dian ke rumah temannya.
Sepanjang perjalanan Hamsad tak banyak bicara. Biasanya
ia banyak bercerita kepada Dian, baik mengenai teman
kampusnya, atau mengenai cewek yang ditaksirnya. Dian
menjadi heran melihat kakaknya murung dan
menyembunyikan perasaan. “Ada apa, Ham?”
Hamsad hanya melirik dan berkerut dahi, berlagak bingung.
Dian melanjutkan kata-katanya, “Ada apa kau murung? Kau
pucat sekali! Pasti kau punya persoalan! Aku tak yakin kalau
kau terkena penyakit! Kau pasti punya masalah yang
membuatmu stres begitu. Ada apa sih?”
“Tidak ada apa-apa,” jawab Hamsad.
“Ham, aku memang adikmu. Aku memang lebih muda
darimu. Tetapi, otakku masih bisa mengungguli otakmu,” kata
Dian yang kuliah di kedokteran, dua tingkat di bawah Hamsad.
“Jadi, jangan sepelekan aku! Aku bisa membantu
memecahkan problemmu. Banyak teman yang suka minta
pendapat padaku, dan aku bisa mencarikan jalan keluarnya.”
“Oke. Aku mengakui, kau memang cerdas. Tapi, untuk
mengutarakan masalahku, aku perlu mempertimbangkan
masak-masak.”
“Kenapa begitu? Kau sangsi?”
“Bukan soal sangsi, tapi ini menyangkut soal pribadi!”
90
“Aaah…! Kau mulai tertutup denganku, Ham! Itu tidak
menguntungkan kamu…!”
Berulangkali Dian membujuk kakaknya agar membeberkan
masalah yang ada, tetapi Hamsad masih ragu-ragu. Banyak
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, dan itu semua
membutuhkan tempo yang cukup lama.
Sampai pulang dari mengantar Dian, Hamsad masih belum
punya keputusan. Haruskah ia bicarakan masalahnya kepada
keluarga? Apakah itu tidak akan mengganggu ketenangan
keluarganya? Bagaimana jika keluarganya tahu, bahwa
Hamsad di ambang kematian? Sudah tentu hanya akan
membuat panik. O, tidak! Hamsad tidak mau masalah
pribadinya membuat panik keluarga. Ia lebih baik
menyimpannya sendiri, dan menanggung segala risiko
sendirian. Ia tak ingin melibatkan keluarga.
Pulang dari mengantar Dian, hari sudah malam. Tadi Dian
mengajaknya mampir ke supermarket, dan Hamsad setuju.
Pulangnya sudah cukup malam, dan Hamsad menjadi lebih
gelisah lagi. Bayangan indah bersama Kismi semakin nyata,
bahkan sempat membangkitkan gairah kejantanannya. Lalu,
tiba-tiba ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Lho, kok berhenti? Ada apa?!” tanya Dian merasa sangat
heran.
“Apakah kau mendengar seseorang memanggilku?”
“Tidak,” jawab Dian.
“Aneh. Dua kali aku mendengar seseorang memanggilku.”
“Ah, ngaco! Tidak ada suara apa-apa kok! Ayolah,
buruan…! Nanti papa dan mama ngomel kalau aku pulang
kemalaman.”
Hamsad melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya.
Beberapa saat kemudian, laju mobilnya dikurangi. Ia
menelengkan kepala, menyimak sesuatu dengan dahi
berkerut.
“Tuh, ada yang memanggil namaku berulangkah…!”
katanya kepada Dian. Tetapi, Dian hanya menggerutu tak
jelas. Hamsad kembali tancap gas.
91
Pada saat itu, ia baru teringat cerita tentang kematian
Norman, Denny, dan Tigor. Menurut Susilo, sebelum Norman
melakukan bunuh diri, anak itu juga mendengar suara
seseorang memanggilnya. Tigor juga bercerita, bahwa Denny
selalu merasa ada yang memanggilnya. Suara orang yang
memanggil seperti suara Kismi. Dan, tak berapa lama, Denny
bunuh diri. Menurut Bahtiar, sebelum Tigor bunuh diri, Tigor
juga merasa ada yang memanggil-manggil. Konon, suara itu
membuat Tigor menjadi sangat merindukan Kismi.
Dan, sekarang? Sekarang Hamsad merasa mendengar
suara Kismi memanggilnya. Apakah ia pertanda ia akan
melakukan bunuh diri?!
“Celaka kalau benar begitu,” geram Hamsad di dalam
hatinya. “Padahal mereka berbuat bunuh diri seperti di luar
batas kemauan hatinya. Ada kekuatan gaib yang
menggerakkan tangan mereka untuk melakukan bunuh diri.
Apakah aku juga demikian?”
Ketika sampai di rumah, suara orang memanggilnya itu
semakin jelas. Hamsad merinding sekujur badan. Ia berusaha
menjaga, kesadarannya, menegakkan logikanya, tetapi ia juga
merasa, bahwa dirinya sesekali terasa limbung karena dibuai
oleh kenangan manis bersama Kismi. Hatinya berdebar-debar,
seakan menuntut curahan rasa yang ada, yaitu rasa rindu
kepada Kismi.
“Gawat…! Aku harus bisa mengatasi emosiku sendiri…,”
katanya dalam hati.
Pikirannya berputar mencari cara. Lalu, ditemukan
beberapa kemungkinan untuk menghindari gelagat yang
membahayakan itu. Ia harus segera pergi ke pondokan Ade,
dan meminta bantuannya. Ia tak mau membuat kegaduhan di
rumah, sehingga keluarganya menjadi panik dan tegang.
Dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi, Hamsad
mulai terengah-engah diburu kegelisahan yang menyiksa.
Rindu ingin bertemu Kismi membuat napasnya sukar dihela. Ia
mencoba mengendalikan pikirannya agar tertuju pada temanTiraikasih
92
teman di pondokan, tetapi pikirannya itu justru menjadi kacau
balau.
“Hamsaaad…! Haaamsaaad…!”
Suara Kismi terdengar memanggilnya sepanjang
perjalanan. Suara itu jelas sekali mengalun, seakan-akan
untuk mengajaknya bercumbu. Apalagi suara Kismi terdengar
serak-serak manja, hati Hamsad semakin berdebar-debar.
Rindunya mengembang dan meracuni pikirannya. Ia menahan
perasaan itu sampai keluar keringat dinginnya. Ia menambah
kecepatan mobilnya supaya segera tiba di pondokan, tetapi
suara ‘Kismi itu semakin menyiksa jiwanya. Membuat Hamsad
tegang dan kelabakan. Ia sempat melirik arlojinya, ternyata
sudah pukul 10 malam lebih 45 menit. Ia hanya menggumam,
“Hampir tengah malam…!”
Pintu pagar halaman rumah pondokan itu tertutup
sebagian. Hamsad tidak sempat turun dari mobil untuk
membuka pintu halaman itu. Maka. ia langsung menabrak
pintu tersebut dengan mobilnya, hingga menimbulkan suara
gaduh yang mengagetkan semua penghuni pondokan itu.
Dan, mobil berhenti tepat di depan kamar Ade. Sorot
lampunya menyala terang, menyilaukan.
Hamsad terengah-engah, masih belum mampu turun dari
mobil. Kepalanya berdenyut-nyut, namun hatinya semakin
dicekam rasa ingin bertemu dengan Kismi. Ia terkulai lemas di
balik stiran mobil. Beruntung mesin mobilnya sempat
dimatikan, sehingga sedikit aman.
Para penghuni pondokan itu nyaris marah melihat sebuah
mobil merusakkan pintu pagar mereka Tetapi, Bahtiar segera
berteriak,
“Hamsad…?!”
“Siapa sih?!” seru yang lain.
‘Hamsad…!” jawab Yoppi juga. Ia berlari lebih dahulu
mendekati mobil Hamsad dan berseru, “Ham…?! Ham, kau
tidak apa-apa, kan?”
Hamsad menggeram, “Tolong akuuu…!”
93
Yoppi agak ragu ketika hendak membukakan pintu mobil,
tetapi setelah Bahtiar mendekat dan berkata,
“Buka pintunya, bawa keluar dia!”
Maka, Yoppi pun berani membukakan pintu mobil, lalu
segera membantu Hamsad keluar dari mobil. Hamsad gemetar
dan mengerang seperti suara orang merengek. Ia menyeringai
bagai merasakan sesuatu yang amat sakit. Teman-teman yang
lainnya pun segera mengerumuninya.
“Tolong aku…! Ouh… tolooong, De…! Aku… aku… ah!”
Hamsad terpelanting, nyaris jatuh. Kakinya amat lemas dan
gemetar. Lalu, ia segera digotong ke bangku panjang, depan
kamar Bahtiar. Ia dibaringkan di sana. Tetapi, mendadak ia
meronta sambil menggeram, kejang.
“Aku… oh… tolong jangan dekati aku! Aku ingin mati…!”
kata-katanya menyeramkan bagi yang mendengar.
“Ham, ingat! Ingat kau tidak boleh mati atas kemauanmu
sendiri…! Ingat, Ham…!” kata Yoppi.
“Aku ingin mati!” ia menggeram dengan ge-regetan.
Matanya mendelik dan bergerak nanar, seakan mencari
sesuatu. Dan, pada saat itu Yoppi pun gemetar dan berkata,
“Celaka! Ia punya emosi untuk bunuh diri! Ia akan
mengalami nasib seperti Tigor…!”
Semua mundur, tegang. Napas mereka menjadi sesak, dan
tubuh mereka merinding semua. Hamsad tersengal-sengal
sambil menggerang-gerang. Matanya memandang mereka
dengan liar. Giginya menggemelutuk dan otot-otot tubuhnya
mulai mengeras. Ia masih sempat berusaha berkata,
“Tolong aku…! Ouhhh… tolooong…!”
***
Bab 11
Mereka berkomat-kamit membaca doa dalam upaya
menyadarkan Hamsad. Tetapi, nalurinya untuk bunuh diri
semakin kuat dan mengacaukan kesadarannya. Dengan napas
94
yang tersendat-sendat dan bibir gemetar, Hamsad berkata
kepada Ade, karena matanya yang liar itu tertuju pada Ade,
“Ambil tali…! Tal… tali…!”
Ade gugup, tak tahu harus mengambil tali ke mana. Yang
lain juga sibuk mencari tali tanpa mengerti maksud Hamsad.
Malahan Susilo berseru,
“Jangan! Jangan beri tali dia! Dia mau gantung diri…!”
Maka, semua yang sibuk mencari tali berhenti seketika.
“Kismiii…! Aaaow…!” Hamsad mengerang setelah
mendesah menyebutkan nama Kismi. Bayangan perempuan
itu semakin kuat dan seakan meremat hatinya, menciptakan
rasa sakit yang sukar dipahami.
Kembali matanya yang nanar itu memandang Yoppi.
“Taliii… cepat taliii…! Ikat tubuhku di pohon! Ikat kuat-kuat…!
Oh, tolong…!”
Barulah mereka mengerti maksud Hamsad yang
sebenarnya. Dia minta diikat di pohon, supaya segala
gerakannya terbatas. Maka, mereka sibuk mencari tali untuk
mengikat tubuh Hamsad. Pada saat itu, terdengar lagi Hamsad
berkata sambil memejamkan mata kuat-kuat, “Ada di… di
mobil! Ada di mobilku…! Taliii…!”
Ade berlari ke arah mobil, dan mendapatkan segulung
tambang di samping tempat duduk sopir. Di situ juga terdapat
borgol, gelang besi untuk pencuri, yang diperkirakan milik
ayah Hamsad yang memang sebagai kepala polisi di sebuah
resort. Ade membawa serta borgol yang siap digunakan itu.
Tepat ketika Ade tiba kembali di depan Hamsad, pemuda
diracun kerinduan itu menggeram sambil berkata,
“Taaa… tanganku… oh, tanganku mau mengeras…! Ouh…
tolong, tolong diborgol ke belakang! Cepat, cepat…! Cepat…!”
Bahtlar merebut borgol dari tangan Ade, lalu ttegera
memborgol kedua tangan Hamsad. Tangan kanan itu belum
sempat menjadi kaku ketika ditautkan ke belakang dan
dijadikan satu dengan tangan kiri, lalu diborgol keduanya.
Crek…!
95
Sambil terengah-engah, Hamsad menyebut “Kismi”
beberapa kali. Di sela kata-kata Kis-mi itu ia berkata, “Ikat
aku…! Ikat di pohon mangga, belakang kamar mandi itu…!
Lekas…, bawa aku ke sana…! Ouh…, Kismi! Aku ingin
bertemu Kismi…!”
Lukman yang berbadan besar segera membawa Hamsad ke
pohon mangga. Yoppi dan Ade membantu mengikat tubuh
Hamsad, dijadikan satu dengan batang pohon.
“Ikat yang kuat! Jangan sampai ia bisa bergerak,” kata
Bahtiar dengan gugup.
Tali itu cukup panjang. Agaknya Hamsad berhasil
menyiapkan peralatan yang sederhana itu, sehingga tubuhnya
berhasil diikat dari dada sampai ke kaki. Ia seperti seorang
tawanan yang siap dihukum tembak. Sementara Hamsad
menggeram dan terengah-engah, mulut-mulut yang lainnya
gemetar tidak berani bicara. Dalam hati mereka timbul
perasaan macam-macam, antara kasihan, takut dan heran
bercampur menjadi satu, membuat mereka hanya terbengongbengong
dengan jantung berdebar-debar.
Lonceng di gardu ronda terdengar samar-samar satu kali.
Itu pertanda malam telah melewati pertengahan, dan sepi
kian menghadirkan kesunyian. Saat itulah, masa-masa
kemunculan Kismi ke kamar seruni pada motel tersebut.
Namun, kali ini bukan Kismi yang muncul menemui Hamsad,
melainkan kerinduannya yang amat menyiksa. Gairah ingin
bercumbu meluap-luap. Birahi Hamsad bagai membakar jiwa.
Menuntut satu pelampiasan yang nyata, namun ia tidak
mampu berbuat apa-apa karena tubuhnya terikat kuat di
pohon sedangkan kedua tangannya diborgol ke belakang.
Hamsad mengerang dengan otot leher menjadi bertonjolan
keluar. Ia menahan gejolak hasratnya yang membara di luar
kewajaran.
“Ta… tang… tanganku… tanganku… kakkk… kaku! Iaaa…
ia mau bergerak sendiri…! Oh… ouh…! Aaaow…!”
Hamsad memekik tertahan dengan kepala mendongakdongak,
seakan berusaha keras untuk dapat melepaskan
96
tangan kanannya dari borgol. Ia juga menggerak-gerakkan
badannya, bagai ingin meronta dari ikatan. Tetapi, ia tidak
berhasil. Ikatan terlalu kuat dan borgol pun cukup kokoh
menautkan tangan kanan dengan tangan kirinya. Jiwanya
bagai terbagi dua, antara ingin bunuh diri dan ingin melawan
hasratnya itu. Akibatnya Hamsad tiada habisnya mengerang,
menggeram dan meronta-ronta.
Mereka merasa terharu melihat Hamsad susah payah ingin
melepaskan diri. Susilo sempat berkata, “Kasihan dia!
Lepaskan saja…!”
Saat itu, Hamsad sempat berkata sambil menggeram
seperti orang kesurupan, “Jang… jangan…! Ouh, yaaah…
jangan! Jangan lepaskan…! Aaaoh… panggil Kismi! Panggil
Kismi… oh, aku ingin bertemu dengannya di alam kubur…!
Kismiii…!” Hamsad mengejang-ngejang. Tangan kanannya
bergerak-gerak dengan kasar. Ia kelihatan amat menderita
sekali. Teman-temannya banyak yang membaca doa kembali
untuk membebaskan Hamsad dari cekaman gaib yang
mengancam keselamatan itu.
Sesaat, terdengar lagi Hamsad meminta sesuatu tanpa
menatap salah seorang. Ia memejamkan mata sambil berkata
dalam erangan,
“Tutup mulutku…! Oh…! Tutup mulutku dengan kain…!
Lekaaas…! Aku ingin berteriaaak…! Lekaaas…!”
Bahtiar meraih sarung yang ada di tali jemuran dalam.
Sarung itu segera digunakan untuk menutup mulut Hamsad,
diikatkan ke belakang, sehingga praktis sarung itu juga
mengikat kepala Hamsad dengan batang pohon.
‘Hidungnya jangan ikut ditutup, Tiar! Biar ia bisa bernapas!”
saru Lukman dengan perasaan cemas bercampur kasihan.
Malam menghadirkan desiran angin pembawa embun.
Dingin. Ada kesan lengang di sela desiran angin itu. Seakan
angin berhembus tanpa desau dan suara apa pun. Hal itu
membuat mereka yang ada di depan Hamsad menjadi
merinding dicekam rasa takut. Apalagi mereka mendengar
97
anjing di rumah belakang pondokan itu melolong panjang
bagai irama menjelang ajal. tubuh mereka semakin bergidik.
Sementara itu, Hamsad masih meronta-ronta. la berteriak
keras-keras, namun suaranya teredam kain sarung yang
menutup mulutnya rapat-rapat. Tangan kanannya makin
agresif, berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan gelang
borgol besi itu. Kakinya pun mulai bergerak-gerak, berusaha
melonjak, dan pundaknya meliuk-liuk, ingin melepaskan diri
dari ikatan tali yang kuat. Hamsad tak bisa berkata apa-apa.
Hanya suaranya yang menggeram disekap kain dan matanya
yang melotot bagai ingin keluar itulah ang membuat temantemannya
tak berani menatapnya langsung. Doa-doa masih
diucapkan oieh mereka dengan perasaan sedih. Bahkan Susilo
mengusap kedua matanya yang mulai berkaca-kaca,
memandang haru keadaan Hamsad.
Angin semakin berhembus kencang, merontokkan banyak
dedaunan dari pohon tersebut. Tak lama kemudian, gerimis
pun turun. Mereka semakin panik dan serba bingung. Namun,
saat itu mereka juga menepi menghindari rintikan gerimis di
ujung dini. Bahkan kali ini, gerimis itu telah berubah menjadi
hujan yang deras.
“Lepaskan dia! Dia kehujanan…! Dia menggigil di sana!”
kata Susilo dengan panik.
“Tenang, Sus.Itu cara yang dipilihnya,” kata Bahtiar.
‘Tapi kita harus tahu perasaan! Itu cara yang tidak
manusiawi!” bentak Susilo.
“Kalau dia kita lepaskan, maka ia akan bunuh diri! Apakah
itu manusiawi?!” balas Bahtiar dalam serentetan bentakan
kasarnya. Lukman segera melerai percekcokan mereka.
Gelegar suara petir di angkasa terdengar mengejutkan
mereka. Hamsad masih berusaha berontak dari ikatan dan
borgolnya. Jeritannya teredam kain sarung sehingga tak
terdengar keras. Hujan deras mengguyur tubuhnya di sela
per-cikan cahaya petir yang menggelegar beberapa kali.
“Bahaya! Dia bisa tersambar petir jika diam di bawah
pohon!” kata Susilo sangat tegang. Lama-lama, Susilo tidak
98
sampai hati melihat Hamsad diguyur hujan dan petir dalam
keadaan terikat, lalu ia pun berlari menerobos derasnya hujan
dan bermaksud membukakan tali pengikat tubuh Hamsad.
“Sus…! Jangan!” teriak Yoppi.
Ade segera melompat menyusul Susilo dan menarik kaos
yang dikenakan Susilo sambil berkata,
“Kau mau membunuh teman sendiri, hah?! Kau mau
membiarkan teman bunuh diri?!”
“Dia bisa mati tersambar petir, tahu?!” Susilo membetot,
tetap ingin mendekati Hamsad, tetapi Ade menyeret Susilo
hingga anak itu terpelanting jatuh.
“Bangsat kau…!” teriak Susilo lepas kontrol.
Ia hendak memukul Ade, tapi tangannya segera dipegang
Lukman yang berbadan besar, Lukman menyeret Susilo ke
teras sambil berkata,
“Kuasai emosimu, Sus! Saat ini gunakanlah otakmu, jangan
hanya perasaanmu!”
Susilo tak dapat berbuat banyak dalam cengkeraman
Lukman. Akhirnya ia tak tega menghadapi penderitaan
Hamsad, ia segera masuk ke kamar dan mengunci kamarnya
dengan kasar.
Tak berapa lama, hujan pun reda. Gerakan Hamsad mulai
melemah. Memang masih terlihat napasnya terengah-engah,
tetapi tangan kanannya yang sejak tadi berusaha ditarik keluar
dari borgol, kali ini tampak melemas.
Pukul 12 lewat, saat itu, mereka melihat Hamsad terkulai
pingsan di tempat. Tetapi, mereka masih belum berani
melepaskan ikatan pada tubuh Hamsad. Bahtiar berkata,
“Tigor dulu juga pingsan karena dipukul Lukman, tetapi
tangan kanannya bisa bergerak sendiri, dan menikam dadanya
beberapa kali. Jadi, kurasa tangan kanan Hamsad pun bisa
melakukan hal yang serupa jika kita lepaskan ikatan tali dan
borgolnya.”
“Sebaiknya tunggu sampai subuh tiba,” kata Yoppi, dan
yang lainnya setuju.
99
Maka, ketika mendengar suara adzan subuh, mereka baru
mulai berani melepaskan ikatan Hamsad. Tetapi, borgol itu tak
dapat dilepaskan, karena mereka tidak tahu di mana Hamsad
menaruh kunci borgol. Hamsad digotong ke kamar Bahtiar,
dan mendapat pertolongan sebagaimana mestinya. Tangan
kanannya berdarah, karena berulangkali memaksakan diri
untuk lolos dari borgol. Semua mata yang memandangnya
merasa iba dan semakin kasihan kepada Hamsad. Tetapi,
ketika Hamsad siuman, ia justru merasa lega karena telah
selamat dari ancaman maut, yaitu bunuh diri di luar
kesadaran. Roh yang masuk ke tangan kanannya telah
berhasil dijerat dengan akalnya, sehingga tangan kanan itu tak
bisa bergerak sendiri, seperti yang terjadi dalam kasus
kematian Norman, Denny, dan Tigor.
Di depan mata mereka, Hamsad memang berhasil lolos dari
ancaman maut kekuatan gaib tangan kanannya, tetapi apakah
itu berarti Hamsad menjadi jera? Apakah itu membuat
Hamsad puas dengan dirinya?
Tidak! Hamsad masih penasaran. Ia masih menyimpan
rindu kepada Kismi, walau rindunya itu tidak meracun jiwa.
Tetapi, karena rindunya itu ia jadi datang kembali ke Motel
Angel Flowers, dan membocking kamar Seruni. Kamar itu
masih kosong. Barangkali memang tidak ditawarkan kepada
tamu lain oleh petugas motel, karena mereka takut tamutamunya
mengecam akibat kamar angker tersebut. Hanya
saja, karena Hamsad memaksa untuk menyewa kamar Seruni,
maka petugas resepsionis tak bisa lagi menghalanginya.
Kamar itu tetap seperti dua malam yang lalu. bersih,
teratur rapi. Taplak meja di ruang tamu masih sama,
berwarna biru muda. Kursi meubel-nya juga masih sama,
terletak melingkar, menghadap ke dinding kaca depan. Hanya
saja, letak pot besar yang memuat tanaman sejenis palm itu
bukan lagi di samping pintu, melainkan ada di sudut ruangan,
dekat dengan buffet penghias ruangan. Selebihnya tak ada
yang berubah. Bahkan warna seprei dan selimutnya pun tetap
100
sama. Ini semakin mengingatkan Hamsad pada masa-inasa
indah yang pernah ia lewati bersama Kismi di kamar tersebut.
Hamsad masuk pada pukul 7 malam dengan tangan dibalut
perban. Luka pada tangan kanannya itu terasa perih jika tidak
dibalut perban, seperti seorang petinju yang belum
mengenakan sarung tinjunya. Dengan dibalut perban begitu,
rasa perih tersebut berkurang, dan konsentrasi Hamsad tidak
terlalu terganggu oleh rasa perih.
Sebelumnya, Hamsad telah menyiapkan segala sesuatunya
yang diperlukan. Tabungannya diambil sebagian dari bank.
Lalu, ia membeli sebotol madu asli, susu, telur ayam kampung
sampai 24 butir, anggur ginseng, super mie, dan beberapa
obat yang berguna untuk memulihkan kesehatan badan serta
menjaga stamina tubuh. Hamsad sempat tertawa sendiri
ketika membeli barang-barang tersebut. Tetapi, ia akhirnya
tidak peduli, karena semua itu memang ia butuhkan untuk
memulihkan tenaganya yang nyaris terkuras habis akibat
pergulatannya melawan emosinya kemarin malam.
Menunggu sampai lewat tengah malam, adalah pekerjaan
yang menggelisahkan bagi Hamsad. Ia berbaring sambil
menyaksikan acara TV, satu-satunya hiburan yang ada di
kamar tersebut. Sampai tak terasa, ia pun tertidur di tempat.
Mungkin karena kelelahan yang luar biasa, sehingga ia sampai
tertidur dan lupa mematikan TV.
Kalau saja ia tidak mendengar suara orang mandi, mungkin
ia tidak akan terbangun sampai pagi. Tapi, karena ia
mendengar desis kran shower di kamar mandi dan
gemericiknya air, maka ia pun terperanjat bangun. Lalu,
hatinya bertanya heran, “Siapa yang mandi? Rasa-rasanya aku
tidak membawa teman?!”
Buru-buru Hamsad menengok arlojinya di meja, lalu ia
menggumam, “Oh, pantas. Sudah pukul 12 lewat 23 menit.
Sudah lewat tengah malam…!”
Maka, hati Hamsad pun mulai berdebar-debar, karena ia
tahu bahwa orang yang mandi itu tak lain dari Kismi. Gemetar
langkahnya ketika ih mengendap-endap mendekati kamar
101
mandi yang pintunya tak tertutup itu. Pada saat langkahnya
makin dekat, kran shower itu berhenti, bagai ada yang
mematikan. Hamsad semakin berdebar dan merasa heran.
Tapi, ia nekat mengendap-endap untuk mengintip siapa
gerangan ynng mandi di tengah malam ini.
“Jangan seperti pencuri, Hamsad…!” terdengar suara dari
dalam kamar mandi. Dan, suara itu jelas suara Kismi yang
serak-serak manja, Hamsad lalu menampakkan diri dengan
cengar-cengir. Matanya tak berkedip memandang tubuh mulus
berkulit kuning langsat itu dalam bintik-bintik air yang hendak
disapu dengan handuk. Mamsad buru-buru masuk dan
menyahut handuk dari tangan Kismi.
“Jangan hapus…!”
“Hamsad…?! Aku dingin…!”
“Biarkan aku memandangi tubuhmu yang tersiram bintikbintik
air ini. Oh… begitu indahnya kau dalam keadaan basah
begini, Kismi…,” bisik Hamsad sambil menatapi tubuh polos itu
Kismi kepala sampai ke kaki.
“Konyol kamu, ah!” Kismi berusaha meraih handuk, dan
Hamsad menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
Jari-jemari Hamsad meraba tubuh itu, bagai menyentuh
butiran-butiran airnya dari pundak ke dada. Kismi
membiarkan, justru tertawa dalam desah, dan terdengar nada
seraknya yang seakan kemanjaan itu.
“Maaf, aku membangunkanmu, Hamsad,” kata Kismi sambil
membiarkan ujung jemari Hamsad merayap samar-samar di
permukaan kulit tubuhnya.
“Aku tertidur menunggumu,” kata Hamsad tanpa menatap.
“Aku tahu, dan aku merasa semakin kagum padamu,
Hamsad.”
“Dalam hal apa?” tanya Hamsad setelah mencibir.
“Tak pernah ada lelaki yang lolos dari dendam Cincin
Zippus, kecuali kau.”
Kali ini, Hamsad menatapnya. “Dendam cincin…?!” Hamsad
memperjelas keheranannya.
102
“Setiap lelaki yang bercinta denganku, ia pasti mati oleh
tangan kanannya sendiri, sebab di tangan kananku itulah
Cincin Zippus melekat sampai sekarang. Kutukan Cincin Zippus
akan merasuk dalam tangan kanan lelaki yang bercinta
denganku, dan lelaki itu pasti akan mati oleh kutukan Zippus,
yang menggunakan bantuan tangan korban sendiri. Dan,
kau…?” Kismi tersenyum sambil geleng-geleng kepala. “Kau
hebat sekali! Kau bisa lolos dari kutukan. Itu
mengagumkan…!”
“Kau juga mengagumkan! Perempuan lain bisa kuabaikan,
tapi kau tidak sama sekali…,” Hamsad tersenyum, Kismi
mengikik serak, kemudian ia mengecup kening Hamsad.
Tetapi, balasan Hamsad lebih panas dari lahar gunung berapi.
Sekujur tubuh Kismi dirayapinya dengan bibir dan lidah,
membuat Kismi merintih di sela desah, melebarkan tubuhnya,
memberi kesempatan Hamsad agar lebih leluasa. Lalu, kamar
mandi itu menjadi arena berpacu bagi napas-napas yang
memburu puncak kemesraannya.
***
Bab 12 tamat
Keduanya ternyata memang pasangan yang tak pernah
mengenal lelah. Banjir keringat bukan penghalang bagi
mereka untuk terus berpacu. Kali ini, ranjang menjadi
tumpuan amukan birahi mereka. Seprei kasur menjadi lusuh.
Morat-marit tak karuan. Kismi mengamuk setiap birahinya
melambung tinggi, melahirkan pekik dan ringkikan yang serakserak
manja. Dan, suara itu membuat Hamsad makin
menggebu-gebu dalam cumbuannya, makin dibakar
gairahnya, meskipun ia sudah berulangkali melambung tinggi
mencapai puncak harapannya.
Di awal dini, akhirnya petualang cinta mereka berhenti.
Kismi yang memohon agar Hamsad mengakhiri ‘pelayarannya’
saat itu juga.
103
“Hari sudah menjelang pagi, dan kita harus berpisah lagi,
Hamsad,” kata Kismi memberi pengertian dengan sabar dan
lembut.
Hamsad mendesah, seakan tak mengizinkan Kismi pergi. Ia
memeluk perempuan itu dalam satu rengek kemanjaan
seorang lelaki. Erat sekali ia memeluk Kismi, sehingga Kismi
merasa kehadirannya sangat dibutuhkan oleh Hamsad disetiap
saat. Kismi menjadi haru. Ia mencium Hamsad beberapa kali,
bahkan kini ia juga memeluknya erat-erat dengan kedua kaki
menggamit tubuh Hamsad.
“Aku juga tidak ingin berpisah,” bisik Kismi. ‘Tapi
keadaanku tidak mengizinkan kasih kita selalu berpadu
sepanjang hari, bahkan sepanjang masa, Hamsad.”
“Aku ingin memilikimu, Kismi. Aku ingin membanggakan
kekasihku kepada mereka!”
“ltu tidak mungkin, Hamsad. Ada penghalang di antara
kita.”
“Aku akan menembusnya, Kismi! Aku akan menghancurkan
penghalang itu!” ucap Hamsad dalam pelukannya. “Apa pun
yang harus kutempuh, aku harus bisa memiliki kamu, Kismi.
Aku tak mau tersiksa seperti kemarin malam lagi. Aku tak
mau!”
Kismi merasa kaget, dan bingung juga menggadapi sikap
lelaki seperti Hamsad. Ia masih memeluk Hamsad,
membiarkan Hamsad tengkurap di atasnya Tangan Kismi
mengusap-usap kepala Hamsad dengan lembut, seakan satu
curahan rasa kasih sayang yang tak ingin berakhir sampai di
situ.
Setelah melalui masa bungkam yang mendalam, Kismi pun
berkata lirih,
“Carilah potongan tanganku, dan tempelkan pada jasadku,
maka aku akan hidup kembali dan kita bisa berdua ke mana
saja, Hamsad.”
Kali ini, Hamsad menarik wajahnya, ia mengatur jarak
dengan menggunakan kedua lengan dipakai bertumpu di
104
kasur. Ia memandang Kismi yang terbaring di bawahnya, lalu
bertanya,
“Bukankah kedua tanganmu dalam keadaan lengkap, tak
kurang satu apa pun?”
Kismi menggeleng, wajahnya sendu. “Ini tangan semu.
Tangan yang ada dalam khayalanmu saja. Jasadku ini juga
jasad yang ada dalam khayalanmu, Hamsad. Itulah sebabnya
kukatakan, bahwa di antara kita ada batas penghalang, yaitu
khayal dan kenyataan! Terkadang manusia tidak bisa
membedakan keduanya. Kau tidak bisa melihat, bahwa tangan
kananku ini sebenarnya buntung. Dipotong oleh Rendy, bekas
kekasihku yang punya penyakit syaraf.”
“Di mana orang itu sekarang?”
“Ada di neraka. Kau mau ikut ke neraka?”
Hamsad menghempaskan napas. Ia masih belum mau
melepas hubungan kasihnya, dan tetap membiarkan dirinya di
atas Kismi. Lalu, dengan suara sedikit bimbang ia bertanya,
“Di mana kau dibunuh oleh Rendy?”
“Di kamar ini!”
“Dan, potongan tanganmu di simpan di mana?”
“Entahlah. Mungkin di kamar ini, mungkin di tempat lain.
Dibuang begitu saja. Carilah, dan letakkan pada jasadku yang
bersemayam di dalam kotak kaca, maka rohku yang ada di
dalam batu Cincin Zippus itu akan membuatku hidup kembali.
Kematianku yang ketiga nanti, adalah kematian yang sejati.
Tapi, saat ini, aku masih bisa hidup dan menikmati kehidupan
selayaknya manusia biasa…!”
Hamsad mendesah, lalu menegaskan kata, “Akan kucari
potongan tanganmu itu sampai dapat!”
“Tapi, hati-hati, Hamsad. Dia ganas! Dia memendam kutuk
dan dendam! Dialah yang semalam berusaha ingin
membunuhmu!”
Merinding juga Hamsad jika teringat peristiwa kemarin
malam. Tapi, demi teringat kemesraan dan cintanya kepada
Kismi, Hamsad tetap bertekad untuk mencari potongan tangan
kanan Kismi. Hanya saja, di mana potongan tangan itu
105
dibuang oleh Rendy, atau disembunyikan? Ah… itu satu hal
yang sulit bagi Hamsad. Sukar ditentukan secara logika.
Sepanjang siang, Hamsad memikirkannya sambil mondarmandir
di dalam kamar, terkadang ia meneliti keadaan tanah
di luar kamar, mencari kemungkinan di mana tangan Kismi
disembunyikan Rendy.
Semuanya dilakukan secara diam-diam agar tidak
menimbulkan kecurigaan orang lain, terutama petugas motel
itu. Beberapa batu dibongkarnya, dan dikembalikan seperti
semula jika ternyata tidak terdapat apa yang dicari. Beberapa
tanah di korek-koreknya, dan dikembalikan seperti semula
karena tak ada tanda-tanda tangan Kismi di sana.
“Kamar ini harus kutelusuri lebih dulu,” pikir Hamsad.
“Mungkin membutuhkan waktu sehari penuh. Kalau memang
di kamar ini tidak ada, berarti aku harus mencari ke tempat
lain, mungkin di pinggir sungai, di pinggir selokan, atau… ah,
memang sulit ditentukan. Tetapi, seandainya aku menjadi
Rendy, apa yang kulakukan setelah aku membunuh Kismi dan
memotong tangannya?” Hamsad berpikir keras.
Membayangkan seandainya dia menjadi Rendy yang
berpenyakit syaraf, apa yang akan dilakukan terhadap
potongan tangan itu? Kemudian, batinnya berkata, “Mayat
akan kutinggalkan, supaya orang-orang terkejut menemukan
mayat Kismi, lalu tangan itu…? Hm… tangan itu akan
kuletakkan di tempat tertentu di kamar ini. Tak perlu repotrepot
membawanya pergi dan membuangnya. Cukup
diletakkan di suatu tempat, sehingga suatu saat akan ada
orang yang terkejut menemukan tangan itu. Lalu, ia akan
berteriak ketakutan, dan aku akan puas mendengarnya!”
Hamsad menghempaskan tubuhnya, duduk di ruang tamu.
“Itulah pikiranku jika aku menjadi Rendy yang sinting.
Sekarang, di mana tangan itu disembunyikan yang kira-kira
bisa membuat orang terkejut?” Setelah berpikir beberapa saat,
Hamsad berkata sendiri, “Di almari…! Buffet, kulkas, almari
dapur dan… dan bawah kasur!”
106
Bergegas dia memeriksa tempat-tempat tersebut dengan
teliti. Ternyata tempat yang diperkirakan itu tidak menyimpan
tangan Kismi. Ia mendesah kesal. Hatinya berkata,
“Bagaimana dengan tempat penampungan air closet? Jika ada
yang membukanya pasti akan menjerit karena melihat
potongan tangan terapung!”
Lalu, ia pun memeriksa tempat penampungan air WC, yang
secara otomatis akan mengguyur closet itu jika habis dipakai
seseorang. Ternyata di sana juga tidak ada. Hamsad mulai
kesal. Ia melihat plafon kamar mandi yang terbuka pada
gagian sudutnya. Hatinya berkata, “Oh, ya, ya…apa salahnya
jika kuperiksa bagian atas eternit ? Siapa tahu potongan
tangan itu dilemparkan begitu saja di dalam eternit itu?!”
Dengan susah payah Hamsad memeriksa langit-langit
kamar mandi, dan seluruhnya. Isinya tanya kabel-kabel
instalasi listrik yang malang-melintang. Tak ada potongan
tangan di sana. Hamsad sudah mencarinya dengan teliti,
sampai jeluruh pakaian dan tubuhnya menjadi kotor oleh
debu.
“Ke mana, ya?” pikirnya sambil garuk-garuk kepala.
Mendadak, telepon berdering. Petugas resepsionis
mengingatkan ckeck-out hampir tiba, lalu menanyakan apakah
Hamsad mau melanjutkan sampai beberapa malam, atau
cukup untuk hari itu saja? Karena Hamsad digelayut rasa
penasaran dan tekad untuk menemukan potongan tangan itu
menggebu-gebu, maka ia bermaksud memperpanjang waktu
sampai besok siang.
“Sial! Benar-benar sulit menemukan potongan tangan itu!”
gerutunya dengan nada kesal. “Ah, sebaiknya aku istirahat
dulu. Semalaman aku tidak tidur. Siapa tahu setelah bangun
tidur nanti aku menemukan gagasan yang lebih baik…!”
Hamsad menyuruh room-boy untuk membereskan
kamarnya, sementara itu ia mandi, merendam diri di air
hangat, yang mampu mengurangi rasa capeknya itu.
Ketika ia merebahkan diri, benaknya terbayang kecantikan
Kismi dan kehebatan wanita itu di atas ranjang. Alangkah luar
107
biasa bangganya jika Hamsad bisa memperistri wanita cantik
seperti Kismi. Alangkah bahagianya nanti jika ia telah hidup
bersama Kismi. Angan-angannya pun mulai melambung tinggi,
menciptakan sejuta keindahan yang ada pada khayalnya.
Berulangkah hatinya berucap tekad, “Aku harus memiliki dia!
Aku harus memiliki Kismi. Aku sangat mencintainya…!” Lalu, ia
pun tertidur.
Tak diduga ternyata Hamsad tertidur cukup lama. Ketika ia
bangun, ia mendapatkan alam telah meremang, matahari
senja tinggal seujung rambut dan memancarkan warna merah
lembayung di perbatasan samudera. Debur ombak terdengar
jelas, karena angin senja berhembus tanpa suara. Badannya
segar dari segala kepenatan, apalagi ia telah meminum susu,
telur mentah, madu dan lain sebagainya. Namun demikian,
perutnya toh masih terasa lapar juga, sehingga ia memesan
makanan untuk pengisi perutnya.
Sambil menikmati makanannya, Hamsad berpikir-pikir
tentang potongan tangan Kismi. Tadi siang, semua tempat
sudah diperiksanya. Kini tinggal bagian dinding dan lantai.
Maka, seusai menyantap makanannya, Hamsad kembali
beroperasi, memburu tangan Kismi. Setiap dinding diketuknya
pelan-pelan, didengarkan suara ketukannya. Jika menggema,
berarti tempat itu berongga. Besar kemungkinan di situlah
tangan tersebut disembunyikan. Semua dinding diketuk. Rata.
Dan, itu memakan waktu cukup lama, karena ia kerjakan
dengan cermat dan hati-hati.
Sayang, hasilnya tidak memuaskan. Tidak ada dinding yang
patut dicurigai. Tak ada rongga di dalam dinding tersebut.
Bahkan dinding kamar mandi dan dapur pun telah
diperiksanya, dan hasilnya nihil. Sekarang giliran lantai yang
menjadi pusat perhatiannya. Saat itu, malam telah lama
menebarkan kegelapan. Arlojinya menunjukkan pukul 8 lewat
15 menit.
Lantai kamar terbuat dari ubin marmer warna putih kebirubiruan.
Berukuran 40×40 cm tiap lempengan ubin. Dengan
tekun Hamsad mengetuk-ngetuk setiap ubin, mencari ruangan
108
di bawahnya. Dari lantai teras, masuk ke ruang tamu, masuk
ke ruang tidur dan terus ke kamar mandi, tidak ada ubin yang
menimbulkan gema jika diketuk. Berarti tidak ada bagian yang
berongga.
Sejenak pintu diketuk. Hamsad terperanjat. Ia menggumam
dalam hati, “Belum lewat tengah malam, mungkinkah Kismi
datang?”
Oh, ternyata seorang pelayan restoran yang datang dan
menyodorkan bon makanan yang dipesan Hamsad. Hempasan
napas menandakan Hamsad mengalami kelegaan ketika
mengetahui yang datang pelayan restoran itu. Ia segera
memberikan selembar uang puluhan ribu tanpa kembali, dan
pelayan itu pun pergi.
Ketika ia hendak kembali ke ruang belakang, meneruskan
pekerjaannya yang menyita waktu itu, ia sedikit merasa heran.
“Seingatku, pot besar itu kemarin ada di sudut sana,
kenapa sekarang berada di sini, di dekat pintu? Siapa yang
memindahkan?” Kemudian, Hamsad tertawa sendiri dan
menggumam, “Sial! Room-boy yang membereskan kamar
sewaktu aku mandi siang tadi, pasti telah memindahkannya
kemari. Dan… ah, pikiranku sekarang mudah curiga. Bukan
kepada manusia, kepada benda pun punya kecurigaan!
Gawat! Jangan-jangan aku menjadi sinting!” sambil
menggumam begitu, ia melangkah ke belakang.
Sekarang, bagian dapur ia periksa lantainya. Satu demi
satu diketuknya menggunakan gagang obeng besar yang ia
ambil dari dalam mobilnya di garasi. Dan ternyata, salah satu
dari ubin itu menimbulkan gema ketika diketuk. Hamsad mulai
berdebar-debar. Apa yang dicarinya mulai menumbuhkan
harapan. Kemudian, ia segera membongkar ubin tersebut
dengan menggunakan obeng besar dan kunci pas dari dalam
mobilnya. Kunci digunakan untuk memukul gagang obeng,
sedangkan mata obeng sendiri berfungsi sebagai alat
pemotong semen perekat sambungan ubin.
Lama juga membongkar satu lempeng ubin itu, karena
semennya cukup keras. Kalau petugas motel mengetahui,
109
pasti pekerjaan itu dilarang. Tetapi, Hamsad yang sudah
telanjur penasaran itu tidak peduli dengan akibatnya. Ia tetap
membongkar ubin itu dengan sabar, sekalipun sudah
memakan waktu hampir satu jam lamanya.
Napas terhempas lega. Ubin sudah berhasil dibongkar.
Kemudian, dengan hati-hati dan berdebar-debar, ia
mengangkat ubin tersebut untuk dipindahkan ke sampingnya.
“Sial…!” cacinya dengan kesal. Di bawah ubin itu memang
ada rongga, tanah kosong, tetapi di situ ada pipa saluran air
yang agaknya pernah terpotong dan disambung lagi. Tidak
ada tangan Kismi, tidak ada tanda-tanda lain. Hanya pipa
saluran air dengan sambungannya.
“Uuuh…! Brengsek! Sudah capek-capek membongkar,
berkeringat, gemetar, eh… isinya pipa air! Konyol!” gerutu
Hamsad seraya meletakkan kembali ubin tersebut pada
tempatnya, tanpa menutupnya dengan semen seperti semula.
Ia terpaksa mandi saat itu juga, karena selain tubuhnya
berkeringat juga kotor karena tanah. Selesai mandi, ia
membubuhkan parfum penyegar badan sambil matanya
melirik ke arloji di meja. Oh, sudah pukul 10 malam lebih 50
menit?
“Aku harus bersiap menyambut kedatangan Kismi. Ia akan
semakin mengagumiku jika aku berpakaian rapi dan
menunggunya di ruang tamu!” kata Hamsad sendirian, seperti
orang gila.
Susu, madu dan telur yang dicampur ginseng, segera
ditenggaknya habis. Kemudian, ia duduk di meubel tamu,
santai. Sekaleng bir tersedia di atas meja, depannya. Sebuah
majalah milik Dian yang tertinggal di mobil bisa dijadikan
bahan bacaan menunggu lewat tengah malam.
Penat juga membuang waktu lama dengan duduk-duduk.
Maka, Hamsad pun pindah tempat. Kali ini ia melonjorkan kaki
di sofa dengan santai sambil meneruskan membaca majalah.
Tetapi, pada saat majalahnya menyentuh daun tanaman
dalam pot, Hamsad jadi terkejut.
110
“Aneh. Beberapa jam yang lalu pot ini ada di dekat pintu,
kok sekarang ada di sini lagi? Siapa yang memindahkan?” Ia
memperhatikan pot besar berisi tanaman sejenis palm yang
daunnya mirip daun mangga. Dahinya berkerut ketika
memperhatikan tanaman tersebut. Jelas tadi ia sempat curiga,
karena tanaman itu ada di dekat pintu. Sekarang ia semakin
curiga, karena tanaman itu ada di sudut, dekat dengan sofa
Tangan Hamsad secara tak sadar mematahkan ujung daun
tersebut. Dan, ia terbelalak kaget, karena yang keluar dari
ujung daun itu bukan getah putih, melainkan getah merah.
Ketika diciumnya, getah itu berbau amis darah.
Merinding seketika itu juga tubuh Hamsad. Ilerdebar-debar
hatinya, dan mulai gemetar jari-jemarinya. Satu daun ia
patahkan lagi dari tangkainya. Klak…!
“Astaga…?!” Hamsad nyaris memekik keras, karena tangkai
daun itu mengucurkan getah merah yangberbau amis darah.
Hamsad sempat terlonjak mundur dengan mata membelalak
lebar.
Tetesan darah dari tempat bekas tangkai daun itu
menjatuhi tanah di bawahnya. Dan, Hamsad teipaksa
mengerutkan dahi tajam-tajam, mempertegas penglihatannya,
karena tetesan darah itu jatuh pada sebuah benda yang
mencuat dari kedalaman tanah pot. Rasa ingin tahunya
bergumul dengan perasaan takut. Hamsad mendekatkan
wajah, memperhatikan benda kecil itu.
“Astaga…?! In… ini., ini ujung kuku…!” Hamsad mencoba
mengorek tanah itu sedikit-sedikit, maka semakin berdebarlah
ia, karena kini tampak jelas di kedalaman tanah pot itu
terdapat jari kelingking manusia yang berkuku panjang, tapi
indah dan serasi.
“Ya, ampun…! Pasti di sini tangan Kismi ditanam oleh
pembunuhnya…!” kata Hamsad dalam hati.
Maka, segera ia mengorek tanah dalam pot besar itu
dengan kedua tangannya. Makin dalam semakin jelas
bentuknya. Sepotong tangan perempuan yang masih utuh,
tanpa kebusukan. Di jari manisnya melingkar cincin berbatu
111
putih kekuning-kuningan. Cincin Zippus. Mungkin karena cincin
itulah maka tangan yang terkubur di dalam tanah pot itu tidak
membusuk.
Hamsad menggali dengan kedua tangannya untuk
mendapatkan tangan tersebut tanpa ada yang tertinggal.
Napasnya memburu karena memendam rasa takut dan girang.
Sampai akhirnya, ia berhasil menggali seluruhnya. Menatapnya
sesaat, kemudian mengangkatnya pelan-pelan bekas
potongan sebatas pergelangan tangan lebih sedikit itu, masih
kelihatan berdarah segar.
“Benar. Tangan ini sama persis dengan tangan Kismi yang
sering mengusap-usap,” kata Hamsad pelan sambil
memperhatikan telapak tangan yang menghadap ke muka.
Tapi, tiba-tiba tangan itu melesat cepat mencengkeram
wajah Hamsad.
“Hah…!Aaah…!”
Hamsad terpekik dan ketakutan seketika. Jantungnya nyaris
berhenti berdetak ketika tangan itu bergerak cepat,
mencengkeram wajahnya. Dengan sekuat tenaga Hamsad
berusaha melepaskan, menarik tangan itu dan membuangnya
ke sembarang tempat. Napasnya terengah-engah. Wajahnya
berdarah karena kuku yang mencengkeramnya. Gerakan
potongan tangan Kismi yang di luar dugaan itu membuat
Hamsad menjadi panik dan sangat tegang. Matanya
membelalak lebar penuh rasa takut. Ia memandang potongan
tangan yang tergeletak jatuh di sofa, dekat dengan majalah.
Hamsad melangkah mundur perlahan-lahan mengitari
meja. Pada saat itu, ia melihat jelas jari tengah dan jari
telunjuk tangan itu bergerak-gerak, bagai merayap. Kemudian,
melompat ke meja kaca. Sekali lagi jantung Hamsad nyaris
berhenti melihat gerakan tangan yang mengerikan itu. la
bagai susah menelan air ludahnya sendiri. Kakinya gemetar
dan keringat dinginnya mengucur seketika.
Desakan rasa takut itu membuat Hamsad bergegas untuk
melarikan diri. Ia segera melompat dan berlari ke arah pintu
keluar.
112
Plokkk…!
Tiba-tiba potongan tangan itu melesat dan menempel pada
leher belakang Hamsad.
“Aaah… hah…! Hiiih…!” Hamsad meronta-ronta,
berjingkrak-jingkrak ketakutan dengan tubuh semakin
merinding. Kuku pada potongan tangan itu terasa menggores
perih di kulit lehernya, seakan hendak mencekik dari belakang.
Dengan sekuat tenaga Hamsad menarik tangan itu dan
membuangnya ke arah pintu. Namun, kali ini tangan tersebut
tidak mau terlepas dari genggaman Hamsad. Tangan itu justru
menggenggam tangan Hamsad kuat-kuat, bagai berpegangan.
Celaka! Hamsad mengibas-ngibaskan dengan gerakan cepat,
tetapi tangan itu masih lengket pada tangan Hamsad.
Lalu. dengan menggunakan tangan kanannya, Hamsad
menarik punggung potongan tangan yang masih berlumur
tanah itu. Ia berhasil, dan membuangnya ke arah pintu.
Plokkk…!
Tangan itu jatuh ke lantai. Mata Hamsad masih mendelik
memandanginya penuh rasa takut dan jijik. Potongan tangan
itu bergerak-gerak jarinya, kemudian bagai sebuah mainan ia
mampu melarikan diri dengan menggunakan jari-jemarinya
itu. Hamsad segera melompat ke ruang tidur menghindari
kejaran potongan tangan tersebut. Gerakannya begitu cepat,
sehingga sewaktu Hamsad hendak haik ke atas ranjang,
benda menjijikkan itu berhasil melompat dan mencengkeram
betis Hamsad.
“Waaaow…!” Hamsad memekik ketakutan. jPotongan
tangan itu bagai menempel pada celana Hamsad, dan ketika
hendak dipegang, ia bisa bergerak naik ke paha dengan cepat,
lalu merambat merambat terus ke punggung. Hamsad
kebingungan untuk memegang potongan tangan itu. Ia
berguling-gulingan sambil berteriak ketakutan. Potongan
tangan itu tidak mau terlepas. Kini justru merayap sampai ke
leher samping dan mencengkeram lagi.
“Setaaan…! Hhhah…!” Dengan menggunakan kedua
tangan, Hamsad berhasil lagi menarik potongan tangan Kismi
113
itu dan membuangnya ke arah dinding, bagai dibenturkan
dengan keras.
Semakin panik Hamsad menghadapi hal itu, semakin ngeri
ia melihat tangan tersebut tidak jatuh ke lantai, melainkan
mampu merayap di dinding seperti seekor cicak. Darah bekas
potongan tangan menetes ke sana-sini. Sungguh mengerikan.
Jari-jemari tangan yang sebenarnya lentik dan indah itu kali
ini bergerak-gerak lagi, bagai merayap di permukaan dinding.
Hamsad buru-buru masuk ke kamar mandi, dan mengunci
pintunya.
“Oh…! Oooh…!” Ia terengah-engah diteror potongan
tangan bercincin Zippus itu. Napasnya nyaris habis,
tenggorokannya kering, dan badannya lemas. Ia bersandar
pada dinding di kamar mandi dalam ketegangan yang
mencekam Sekarang ia merasa aman. Potongan tangan itu
tidak dapat masuk ke dalam kamar mandi. Tetapi, sampai
kapan ia harus mendekam di kamar mandi?
Tiba-tiba pintu kamar mandi itu diketuk-ketuk dengan
lembut. Hamsad tersentak kaget, berdiri dari jongkoknya, dan
menjauhi pintu. Ia tidak berani membukakan, bahkan
mendekati pintu pun ia tidak berani. Perasaan ngeri membuat
jiwanya menjadi kerdil dan ingin menangis karena dongkolnya.
Tok, tok, tok…! Suara pintu diketuk. Hamsad masih diam,
makin tegang, makin menjauh. Ia berdiri di atas closet yang
tertutup. Gemetar ketakutan.
“Hamsad…?! Haaam…?!”
“O, itu suara Kismi…!” katanya sambil menghempaskan
napas lega. Berulang-ulang Hamsad menghempaskan napas,
senang sekali, karena pemilik potongan tangan itu sudah
datang. Itu berarti waktu sudah menunjukkan lewat tengah
mulum.
Hamsad segera turun dari closet. dan membuka pintu
kamar mandi. “Hahhh…!”
Rupanya di luar kamar mandi tidak ada Kismi. Yang ada
hanya potongan tangan itu. Dan bunda tersebut segera
melesat masuk, menerkam kejantanan Hamsad. Nyawa
114
Hamsad bagai melayang ketika itu. Ia memekik kaget,
kemudian mengerang kesakitan karena alat kejantanannya
diterkam oleh potongan tangan yang ganas itu.
“Oh…! Oooh…! Aaaow…!” Hamsad terhuyung-huyung
dengan badan membungkuk. Kedua tangannya memegangi
potongan tangan Kismi yang makin lama terasa makin
meremat alat kejantanannya itu. Hamsad meringis kesakitan
dengan badan membungkuk, dan kini limbung ke kiri,
bersandar pada dinding di depan kamar mandi. Potongan
tangan itu bagai sukar ditarik. dan, apabila ia ditarik, terasa
makin kuat cengkramannya. Hal itu membuat Hamsad
semakin mengerang kesakitan dengan mata terpejam kuatkuat.
“Hamsad…?!” sapa sebuah suara di ruang tamu.
“Kismiii…!” teriak Hamsad tertahan karena memendam rasa
sakitnya.
Kismi muncul dari ruang tamu ke kamar mandi, dan ia
melihat Hamsad kesakitan sambil memegangi alat
kejantanannya.
“Oh… kau…?!” Kismi terperanjat kaget dengan mulut
terbengong.
“Aku menemukan… menemukan potongan tanganmu…!
Tapi, tapi dia meremat… aouuuh…!” Hamsad semakin
membungkuk dengan kaki merendah karena potongan tangan
itu semakin menggenggam alat kejantanannya.
“Lepaskan! Jangan sakiti dia…!” bentak Kismi sambil
memandang potongan tangannya.
Beberapa saat kemudian, potongan tangan itu pun
mengendur. Hamsad buru-buru menariknya. Sempat terlihat
olehnya jari-jemari potongan tangan itu bergerak-gerak, bagai
sedang melemaskan otot-ototnya. Hamsad buru-buru
melemparkannya, dan potongan tangan itu jatuh di lantai.
Kismi memandang potongan tangannya dengan senyum
berseri. Ia buru-buru memeluk Hamsad dan menciuminya.
“Oh… kau telah berhasil! Kau berhasil menemukannya,
Hamsad…!”
115
Yang bisa dilakukan Hamsad hanya uh nyr ringai
merasakan sisa sakitnya. Tetapi, ia kemudian berkata, “Apa
yang harus kulakukan?!”
“Lekas, bawa dia ke tempatku. Cari aku di ruang bawah,
dan tempelkan potongan tangan itu pada jasadku, Hamsad…!”
“Aku tidak mau membawanya! Aku tidak mau mati dicekik
olehnya, Kismi!”
“Jangan kuatir…!” kemudian Kismi mendekati potongan
tangannya yang tergeletak telentang di ranjang. Ia berbicara
dengan potongan tangan itu,
“Jangan sakiti dia! Dia akan mempertemukan kita!”
Jari-jemari yang tadinya diam, kini bergerak-gerak, seakan
sebuah anggukan tanda patuh terhadap perintah Kismi. Lalu,
Kismi mendekati Hamsad dan berkata,
“Bawa mobilmu menuju rumahku. Di sana aku tinggal, di
bekas rumah keluargaku yang sudah pindah ke Amsterdam.
Ikutilah kunang-kunang, ke mana arahnya, ikuti saja. Nanti
kau akan menemukan rumah di sebuah bukit. Rumah itu
sudah tak terawat lagi, tapi di sanalah Kosmin
menyemayamkan aku di dalam kaca…!”
Setelah berkata demikian, Kismi mencium pipi Hamsad.
Hamsad sendiri menunduk memperhatikan alat kejantanannya
yang dikhawatirkan terluka. Ternyata tidak. Namun, ketika ia
memandang ke depan, ternyata Kismi telah tiada.
“Kismiii…?! Kismiii…?!” Hamsad mencoba mencari Kismi,
dan wanita yang hadir setiap tengah malam itu memang tidak
ada lagi. Tetapi, Hamsad melihat seekor kunang-kunang
terbang di sekitar pintu. Hamsad tak tahu persis, apakah
kunang-kunang itu jelmaan dari roh Kismi atau bukan, tetapi
ia membiarkan kunang-kunang itu keluar melalui celah sempit,
dan Hamsad sendiri harus segera mengeluarkan mobil dari
garasinya.
Mulanya ia ragu-ragu ketika hendak mengangkat potongan
tangan. Tetapi, agaknya potongan tangan itu tidak seganas
tadi. Maka, dibungkusnya potongan tangan itu dengan
116
saputangan, kemudian ia pun keluar dari motel dengan
mengendarai mobilnya.
Malam bercahaya purnama, sehingga gelap tak terlalu
pekat. Kunang-kunang terbang di depan mobil. Gerakannya
cepat, seirama dengan gerakan mobil. Sementara itu,
saputangan pembungkus potongan tangan Kismi diletakkan di
jok samping kiri. Perhatian Hamsad tertuju pada gerakan
kunang-kunang penuntun jalan itu.
Ia tidak tahu kalau saputangan itu terbuka sendiri.
Kemudian, jari-jemari potongan tangan bercincin itu bergerakgerak.
Kini tengkurap, dan merayap perlahan-lahan.
Ciiit…! Mobil nyaris menabrak pohon, karena Hamsad
terkejut setelah pahanya terasa dicubit oleh potongan tangan
tersebut.
“Brengsek! Kulaporkan kau kepada Kismi kalau
menggangguku terus!” geram Hamsad dengan jantung
kembali berdebar-debar. Potongan tangan itu mencolek-colek
paha, bahkan kini menggelitik di pinggang Hamsad. Sesekali
Hamsad terpekik dan badannya bergerak kegelian, membuat
laju mobilnya menjadi limbung.
“Diam! Jangan ganggu aku!” bentak Hamsad
memberanikan diri. Potongan tangan itu melompat ke depan
stiran mobil. Hamsad membiarkan, karena potongan tangan
itu tidak membuat gerakan yang perlu dikuatirkan. Bahkan,
ketika kunang-kunang membelok arah, jari telunjuk dari
potongan tangan itu menuding ke arah kiri, seakan memberi
tahu agar mobil harus membelok ke arah kiri. Demikian juga
jika harus ke arah kanan, jari itu menujuk arah kanan.
Kemudian, tibalah Hamsad di sebuah perbukitan. Jalanan
menanjak, kanan-kirinya kebun teh. Melewati perkebunan itu,
ada jalan persimpangan. Jari telunjuk potongan tangan itu
menuding ke arah kanan, dan Hamsad membelokkan mobilnya
ke kanan. Tak berapa lama, jari tangan itu mengembang
semuanya, seakan menyuruh “Stop” pada mobil tersebut.
Cahaya purnama menampakkan sosok rumah kuno yang
tinggal reruntuhannya. Menyeramkan sekali. Bentuk
bangunannya jelas bangunan zaman Belanda. Bagian atapnya
sudah rusak total, dan pada bagian halamannya telah banyak
ditumbuhi tanaman liar, termasuk rumput ilalang.
Kunang-kunang terbang memasuki rumah yang
menyeramkan itu. Hamsad ragu-ragu. Ia berdiri di samping
mobil sambil memegangi potongan tangan. Tiba-tiba,
potongan tangan itu bergerak maju sambil memegangi tangan
Hamsad, seakan menariknya agar Hamsad segera memasuki
rumah kuno tanpa penghuni itu.
Langkah kaki Hamsad terasa gemetar. Ia memasuki rumah
yang sunyi dan kotor itu. Cahaya pucat rembulan
meneranginya. Bahkan ada lantai yang longsor ke bawah,
menuju ruang bawah. Potongan tangan dan kunang-kunang
menunjukkan jalan menuju lantai bawah, melalui tangga batu
di balik sebuah dinding kamar. Debar-debar di dalam dada
Hamsad makin bergemuruh. Ia tetap mengikuti penunjuk
jalannya yang setia Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah
peti kaca seukuran tubuh manusia.
Hamsad terhenyak kaget ketika menegaskan
penglihatannya, bahwa ternyata di dalam kotak kaca yang
mirip akuarium itu terdapat tubuh Kismi yang terbaring
dengan tangan kanan terpotong. Kismi mengenakan gaun
putih transparan yang sering dikenakan berkunjung ke kamar
motel.
Lebih terkejut lagi Hamsad setelah ruangan itu menjadi
terang. Ada cahaya api yang datang dari arah belakangnya. Ia
buru-buru berpaling. Oh, ternyata Pak Kosmin memegangi
obor sebagai penerangnya. Hamsad semakin gemetar, karena
ia ingat Pak Kosmin mampu menembus daun pintu bagaikan
asap.
“Jangan takut, Tuan. Saya tidak akan berbuat jahat…!
Lakukanlah apa yang harus Tuan lakukan,” kata Pak Kosmin
yang mempunyai sepasang mata cekung.
Kemudian, Hamsad membuka tutup kotak kaca itu dengan
gemetar. Napasnya tertahan, sesekali tersendat-sendat. PelanTiraikasih
pelan ia letakkan potongan tangan itu ke lengan kanan tubuh
Kismi.
Suatu keajaiban membelalakkan mata Hamsad, sambungan
pada potongan tangan dengan lengan Kismi itu membentuk
satu cahaya hijau muda. Hijau kekuning-kuningan, mirip
cahaya fosfor. Cahaya itu berpijar-pijar sejenak, kemudian
redup. Dan, kini menjadi hilang sama sekali. Obor yang
dibawa Pak Kosmin mendekat. Mereka memandang potongan
tangan bercincin Zippus itu, dan ternyata pada sambungan
tersebut tidak terlihat ada bekas luka sedikit pun
“Ia telah pulih kembali, Tuan,” bisik Pak Kosmin.
Hamsad terhentak lagi ketika mata Kismi yang terpejam itu
terbuka, berkedip-kedip sejenak, kemudian tersenyum
memandang Hamsad.
“Jangan takut, Hamsad.,.. Aku Kismi! Aku telah hidup
kembali!” seraya Kismi mengusap-usap pergelangan
tangannya yang semula buntung itu.
“Kau… kau benar-benar hidup…?!”
Kismi mengangguk, keluar dari kotak kaca, mendekati
Hamsad, kemudian Hamsad meraba pelan-pelan wajah Kismi.
Terasa hangat. Lalu, Kismi berkata lirih, “Kau berhak memiliki
aku, Hamsad…!”
Mata Hamsad berkaca-kaca karena terharu, kemudian
tanpa ragu lagi ia memeluk Kismi erat-erat, seakan tak ingin
berpisah dengan Kismi selama-lamanya. Kismi pun
menyambut pelukan itu dengan perasaan bahagia yang
mengharu. Ia sempat meneteskan air mata, dan Hamsad
mengusapnya sambil berkata,
“Jangan teteskan air mata. Aku tak ingin kehilangan kau,
walau hanya setetes air matamu. Aku tak ingin, Kismi…!”
“Ohhh, Hamsad…!” Aku kagum pada tekadmu! Aku juga
tidak ingin kehilangan kau…! Tapi….”
“Tapi, apa, Sayang?”
“Tapi ada satu risiko jika kau memperistri aku, Hamsad.”
“Risiko apa?”
“Aku… aku tak akan mempunyai keturunan…,” bisik Kismi
dengan perasaan sedih. Hamsad pun berkata lirih sambil
menatapnya,
“Aku tak mau peduli tentang itu, yang penting kau jadi
milikku. Dan… dan kau tak boleh kehilangan apa-apa lagi,
Kismi!”
Pelukan itu makin erat. Kemudian, Kismi berkata kepada
Pak Kosmin, “Terima kasih, pak Kosmin. Dampingilah kami
dari alammu…!”
Obor pun padam. Ruangan jadi gelap. Kisimi berlari-lari
membawa keluar Hamsad dari reruntuhan bekas rumahnya.
Kemudian, Hamsad bermaksud membawa Kismi kembali ke
motel untuk sementara waktu, sampai ditemukan tempat
kontrakan yang layak bagi Kismi yang ternyata seorang
ilmuwan berotak cerdas. Namun, ketika Kimiiii hendak naik ke
dalam mobil Hamsad, ia jadi terhenti dengan wajah memanja.
“Kenapa…?” tanya Hamsad heran.
“Kiss me…!” katanya seraya menyodorkan pipi, dan
Hamsad pun mencium pipi itu.

Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Ereksi Yang Luar Biasa ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

Perawanku – Panggil saja Dehlan umurnya 18 tahun wajahnya lumayan cakep untuk ukurang orang jawa, setelah dia lulus dari SMK dia bertekat untuk mengadu nasib di Ibu kota, dengan uang secukupnya dan alamat rumah yang ingin ditujunya, Mbak Desilah yang menampung Dehlan nantinya dimana berjalan untuk mencari pekerjaan yang cocok buat dia.
Desi, wanita yang di panggil mbak oleh Dehlan ini adalah wanita berumur 25 tahun.
Wajahnya tidak jelek tapi juga tidak cantik, biasa biasa saja tapi manis khas perempuan jawa.
” Jatinegara jatinegara…. ” suara pedagang asongan yang membuyarkan lamunan Dehlan.
” wahh…. akhirnya nyampe juga ” batin Dehlan sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 08:20, yang berarti sudah hampir jam stengah sembilan.
Dehlan pun lalu turut berdesak desakan dengan penumpang kereta yang laen untuk keluar dari kereta MATARMAJA yang membawanya dari kampung halamannya ke kota Jakarta.
Sesampainya Dehlan di jakarta, dia langsung mencari taksi untuk mengantarnya menuju alamat mbak Desi.
inilah pengalaman pertama Dehlan jauh dari rumah, dan pengalaman pertama dia juga naik taksi.
Dehlan memang pemuda yang cerdas dan supel, jadi walaupun ini pengalaman pertamanya di kota besar tapi dia tidak kelihatan kampungan ataupun kiku.
di stopnyalah taksi kosti jaya yang sedang melintas di depat stasiun Jatinegara.
” mau kemana mas? ” tanya sang sopir taksi yang di berhentikan Dehlan.
” bisa antar saya ke alamat ini pak? ” jawab Dehlan dengan logat jawanya sambil menyerahkan secarik kertas alamat mbak Desi.
” oh, iya mas bisa. silahkan masuk. ” jawab sang sopir taksi sambil menyerahkan kebali kertas yang di berikan Dehlan.
lalu Dehlan pun masuk ke dalam taksi, tapi dia memilih untuk duduk di kursi depan samping pengemudi.
Taksipun mulai jalan sesaat setelah Dehlan masuk.
Setelah mobil berjalan sekitar setengah jam di padatnya jalan ibu kota, akhirnya sampai juga Dehlan di alamat yang di tuju.
” sudah sampai mas. alamat yang mas cari masuk ke gang itu. ” kata sang sopir taksi sambil menunjuk ke arah sebuah gang di seberang jalan.
” oh iya mas, terima kasih.” ” taksinya berapa mas?” jawab Dehlan sambil merogoh dompet di kantongnya.
” 25 ribu mas.” kata sang sopir sambil menunjukkan angka argo yang tertera.
Setelah membayar dan keluar dari taksi lalu Dehlan pun menyebrang dan berjalan masuk ke gang yang tadi di tunjukkan sang sopir taksi.
sambil berjalan menyusuri gang sempit yang hanya muat untuk 2 motor itu, Dehlan mengeluarkan lagi secarik kertas yang berisi alamat mbak Desi.
” Rt 5, Rw 3, kontrakan bercat hijau punya Pak Said.” baca si Dehlan.
setelah berjalan dan bertanya sana sini akhirnya Dehlan menemukan Kontrakan yang di carinya.
” tapi kok sepi ya, mbak Desi kemana?” batin Dehlan sambil melangkah masuk ke halaman kontakan yang berderet ada 8 pintu itu.
” kontrakan mbak Desi pintu yang mana ya.” batin Dehlan karena di kertas alamat tidak tertulis pintu berapanya.
Saat Dehlan sedang melamun karena bingung tiba tiba saja dia di kejutkan oleh sebuah suara yang menegurnya.
” nyari siapa ya dik?” suara yang menegur Dehlan.
Dehlan pun berbalik kearas suara itu dan dilihatnya seorang ibu2 memakai daster biru sambil menggendon bayi.
” nyari kontrakan mbak Desi buk, yang sebelah mana ya?” jawab Dehlan.
” mbak Desinya lg nggak ada mas, lg kepasar. td katanya mau ada sodaranya yang datang dari kampung. klo boleh tau mas ini siapa ya?” jawab sang ibu berdaster biru.
” saya sodaranya mbak Desi dari kampung buk.” jawab Dehlan masih dengan logat medoknya.
” oooo….. nah itu dia mbak Desi.” jawab si ibu berdaster biru lagi sambil menunjuk ke arah perempuan yang sedang menenteng belanjaan.
Dehlan lalu melihat ke arah yang di tunjuk sang ibu itu tadi.

” DEHLAN…. dah lama ko?” tanya si mbak yang menenteng belanjaan yang ternyata mbak Desi itu.
” b.b.b.baru saja mbak.” jawab Dehlan terbata bata karena setengah nggak percaya klo wanita itu mbakDesi yang sedang di carinya.
Dehlan tertegun nenatap sosok Desi yang sekarang beda dengan yang dia ingat dulu di kampung.
Desi sekarang yang dilihat Dehlan adalah wanita yang manis dan sexy dengan balutan kaos ketat warna putih yang menonjolkan payudaranya yang montok walau tidak terlalu besar di padu dengan rok jeans span selutut makin menambah manis wanita ini.
” oh iya buk, kenalin ini Dehlan sodara saya dari kampung.” kata Desi kepada wanita berdaster biru mengenalkan si Dehlan.
lalu Dehlan dan si ibu berjabat tangan sambil tersenyum sopan.
” ayo masuk ko, mari bu.” kata Desi mengajak Dehlan masuk sambil berpamitan kepada ibu berdaster biru.
lalu Desi membuka kunci pintu dan masuk ke kontrakan yang ternyata berada di paling ujung deretan kontrakan itu di ikuti Dehlan.
” ya beginilah kontrakan mbak ko, alakadarnya.” si Desi menunjukkan keadaan kontrakannya.
kotrakan Desi adalah kontrakan satu ruangan, lumayan luas dengan kamar mandi di dalam.
di dalamnya lumayan lengkap ada tivi, kulkas, springbed ukuran jumbo dan peralatan2 laennya.
” trus ntar aku tidur dimana.” batin Dehlan setelah melihat2 ruangan kontrakan Desi.
saat Dehlan melamun tiba2 dia di kagetkan suara Desi yang menyuruhnya mandi trus istirahat.
mendengar perintah Desi, Dehlan pun lalu meletakkan tas ranselnya di depan rak tivi mengambil handuk peralatan mandi lalu menuju kamar mandi.
sesampainya di kamar mandi Dehlan pun kembali bingung, karena kamar mandinya nggak ada pintunya.
“ah bodo amat” batin Dehlan karena dia pengen buru2 mandi trus langsung tidur karena capek habis perjalanan jauh.
selesai mandi dan berganti pakaian lalu Dehlan pun pamit buat istirahat tidur.
“tidurnya di ranjang aja ko.” kata Desi.
“iya mbak.” jawab Dehlan sambil merebahkan diri ke springbed embuk bercover biru muda.
tak terasa Dehlan sudah tertidur hampir 6 jam. Dehlan terbangun karena mendengar suara orang sedang mandi.
sampai di sini Dehlan belum punya pikiran macam macam.
setelah selesai mandi dengan menggunakan daster warna ungu, lalu Desi mengajak Dehlan untuk makan.
” ayo makan ko. td mbak gk tega mo ngbangunin kamu. kamunya nyenyak banget tidurnya.”
” iya mbak.” jawab Dehlan.
merekapun lalu makan masakan Desi yang di masak tadi waktu Dehlan sedang tidur.
sambil makan merekapun bercakap2 mengakrabkan diri, sambil Desi Menanyakan keadaan di kampung.
maklum, Desi sudah hampir 4 tahun nggak pulang kampung.
nggak terasa merekapun sudah semakin akrab dan waktupun tak terasa sudah larut malam.
” aku tidur di mana mbak?”
” di mana aja ko, klo mau di kasur bareng mbak juga boleh.”
DEG….. Dehlan terkejut dengan jawaban Desi.
” aku tidur di bawah aja lah mbak, di depan tivi.”
” ok lah terserah kamu.” jawab Desi.
hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tak terasa Dehlan sudah 4 bulan numpang di kontrakan Desi.
selama 4 bulan itu juga Dehlan sudah mondar mandir kesana kemari melamar kerja bermodalkan ijasah SMK, tapi sayang belum juga mendapatkan pekerjaan.
dan selama 4 bulan itu jugalah si Dehlan lama2 mempunyai hasrat terpendam dengan mbak Desi.
bagaimana tidak, selama 4 bulan mereka tinggal berdua dengan kamar mandi yang gak ada pintunya dan kadang merekapun tidur seranjang berdua.
di tambah lagi dengan gaya berpakaian Desi yang terbilang berani kalo di dalam kontrakan.
kadang Desi suka memakai hot pants yang super pendek dan ketat, baju tidur yang tipis merangsang, bahkan sering juga Desi hanya memakai kaos oblong yang kebesaran tanpa memakai bawahan, hingga kadan2 CD nya terexpost mata elang Dehlan.
di tambah lagi kamar mandi yang tak berpintu itu kadang membuat Dehlan tambah blingsatan menahan konak.
karena pernah beberapa kali Dehlan tanpa sengaja memergoki Desi lagi telanjang di kamar mandi begitu pula sebaliknya.
kalau sudah nggak tahan Dehlan terpaksa onani diam2 di tengah malam sambil membayangkan Desi.
tanpa Dehlan sadari sebenarnya Desi pun juga sama. diam2 Desi pun juga sering di landa birahi karena pernah beberapa kali memergoki Dehlan yang sedang mandi.
Desi selalu terbayang kontol Dehlan yang lumayan besar dan panjang itu walaupun sedang tidak ereksi.
setelah selama 4 bulan itu mereka hanya memendam nafsu masing2 tanpa ada yang berani mengungkapkan.
akhirnya pada suatu hari kejadian itu di mulai dan terjadi juga.
waktu itu di suatu pagi.
jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, Desi bangun dari tempat tidur langsung bergegas ke kamar mandi karena mau berangkat kerja.
sesampainya di kamar mandi Desi langsung melepas baju tidurnya yang berupa daster tipis itu skalian BH dan CD nya.
sejenak Desi mematut dirinya di cermin mengagumi tubuhnya yang montok.
“ah… sudah terlalu panjang.” batin Desi melihat bulu memeknya yang sudah mulai panjang.
Desi memang tipe wanita yang nggak mau atau risih kalo bulu memeknya panjang. dia lebih suka dengan memeknya yang gundul tanpa sehelapuni bulu jembut.
dengan begitu daging memeknya yang tebal tembem semakin kelihatan dengan belahan memek yang masih rapat dan clitarisnya ya besar itu semakin menantang.
segera Desi mengambil silet cukur, sambil duduk mengangkang di bak mandi Desi mulai mencukur habis bulu jembutnya.
selesai mencukur bulu jembut lalu Desi membasuh memeknya untuk membersihkan bulu jembut yg menempel sehabis di cukur.
waktu menyiram dan membersihkan bulu jembut yang habis di cukur tiba2 saja birahi melandanya.

di letakkannya gayung yg di pegangnya sambil makin mengangkangkan kakinya Desi mulai meraba2 memeknya sendiri.
di putar2kannya jempol tangan kirinya di clitaorisnya yang semakin keras dan membesar, sambil tangan kanannya meremas2 payudaranya sebelah kiri.
seiring rangsangan di clitoris memek Desi mulah basah dengan cairan kawinnya sendiri.
” uuuuuh…… hhhhmmmmm………”
” ooh….sssstttt….. oh… yeah….. ennmakkk…..”
pelan2 mulai keluar desahan Desi tangan kirinya yang tadi bermain di clitorisnya kini sudah berpindah ke lubang memeknya. di usap2 memeknya sambil sesekali jari tengahnya menyusup mengorek2 belahan memeknya.
makin lama makin basah dan makin cepat pula tangan kirinya mengusap2 memeknya sendiri, sambil tangannya yang kanan berpegangan pada kran air takut terjatuh.
” ooooohhhgmmm…… iyyyyy….. eeennakkk……”
tapi tiba2 Desi menghentikan aktifitasnya. dia ingin merasakan yang lebih enak dengan posisi yang lebih nyaman.
Desi mengintip ke ruangan kontrakannya memastikan kalau Dehlan masih tidur. lalu dia berjalan telanjang bulat berjingkat lalu lansung naik ke tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi ketelanjangannya.
sebelum melanjutkan masturbasinya Desi mengambil sesuatu dari laci yang ada di samping tempat tidur. dan ternyata yang di ambilnya adalah sebuah dildo berukuran sedang dengan vibrator.
pelan2 di arahkannya dildo itu ke lubang memeknya, di usap2 kannya di situ sampai memeknya kembali basah kuyup dg cairan kawinnya.
pelan tapi pasti sambil terpejam dildo itupun mulai masuk ke lubang memeknya. di diamkan di nikmati keberadaannya sebentar di dlm memeknya sebelum mulai di gerakkan keluar masuk.
Desi mulai mendesah lagi seiring dildo mengobok2 lobang memeknya.
“ssssstttttt……mnmmmmm…….oh oooogh….. yesss……..
aaaaagrhg…… ooh…. enak…. nikmat banget…. hhhhuuuug……..
memmmek…. enaaaak mmmmeem….ekku…… hiiiiaaaaa……
ggggatttteell…..”
desah Desi yang makin lama makin keras tak terkontrol. tubuhnya mengelijang2 seperti cacing kepanasan. masih kuran puas lalu Desi menghidupkan fibrator dildonya.
“ngngngngngng…….”
bunyi vibrator dildo yang bergetar mengobok2 lubang memeknya. desahan Desi sekarang makin keras, malah bisa di sebut jeritan2 kecil.
tubuhnya mengelijang2, matanya terpejam menikmati deraan knikmatan di selangkangannya. karena gerakannya tanpa dia sadari bahwa selimut yang tadi di pakai buat menutupi tubuhnya sekarang hilang entak kemana.
sengga tubuh telanjang, kakinya yang terkangkang dengan dildo ya dia pegang keluar masuk dan bergetar di memeknya tak lagi tertutupi.
“oooooohhhh………aaaaaiiiiihhi…….
mmmmmm……
yyyyeeess….
enak bbbanggget mmmmemeeekkkkuuuuhh…..
desah Desi yang makin dan semakin keras.
tanpa Desi sadari bahwa desahannya telah membangunkan Dehlan dari tidurnya.
terbangun dari tidurnya karena desahan Desi yang makin keras lalu Dehlan bangun dan melihat ke arah ranjang tempat asalnya suara itu.
betapa terkejutnya Dehlan nenjumpai sesosok wanita mengangkan di tempat tidur mendesah2 birahi sambil mencucukan dildo keluar masuk ke memeknya.
tertegun Dehlan melihat pemandangan seperti itu, sehingga pelan tapi pasti birahi mulai menguasainya.
karena sudah gk kuat menahan birahi lalu Dehlan dengan cepat mengeluarkan kontolnya dari celananya dan mulai mengocok pelan sambil menikmati siaran langsung Desi.
pelan tapi pasti kontol Dehlan mulai ereksi sempurna. karena kurang nyaman lalu Dehlan skalian lepas celana dan bajunya telanjang bulat juga, sambil terus mengurut2 kontolnya mencari kenikmatannya sendiri.
bersamaan dg itu tiba2 saja Desi membuka matanya. melotot seakan mau keluar bola matanya. mulutnya meracau tidak karuan.
“oooogghhh….. aaaaaaaaa…… aku utt…. ennnakk…… yeeeeaaa……
eeekkk…koo….. huhhuhhuh……. nggggapppaii…..mmmmmm…….
kammmmuuu….. a aaa….. akku keeee…..llu……
ooooooh…… iiiiyyyyyaaaaaaa…….
ekkkkooooo………
tubuh Desi mengelijang2 tanda dia mau orgasme yang dahsyat. dan……
crot…. crot…. crot…. crot…..
aaaaaaaaaaaahhhhh…….
Desipun orgasme dengan dahsyatnya tanpa sanggup dia hentikan walapun dia tahu Dehlan sedang melihatnya orgasme sambil telanjang bulat mengocok2 kontolnya.
hhhhhhg….. dengus nafas Desi menikmati sisa2 orgasmenya sambil mengeluarkan dildo yang mengentot memeknya sambil tepejam dan masih mengangkang.
entah setan mana yang menghinggapi Dehlan sehingga dia pelan2 naek ke atas ranjang, memposisikan tubuhnya di tengah2 kangkangan Desi lalu memegang kotolnya dan dengan satu dorongan langsung membenampan ke memek Desi yang baru saja orgasme dengan dahsyat.
tersentak Desi merasakan ada sesuatu yang menerobos masuk lobang memeknya. Desi merasakan perih di memeknya karena kontol Dehlan di masukkan dengan paksa dan cepat. lg pula kontol Dehlan lebih besar dah panjan dari pada dildo yang baru di pakai Desi.
sehingga Desi bisa merasakan kalau kontol Dehlan masuk terlalu dalam sampai tembus pintu rahimnya.
mata Desi melotot, mencoba meronta tapi apa daya. tubuhnya lemah tanpa daya karena baru mendapat orgasme yang sangat dahsyat.
setelah memasukkan kontolnya ke memek Desi, Dehlan tidak langsung mengocoknya melaindah didiamkan terbenam sambil menikmati kedutan memek Desi yang baru orgasme.
” DEHLAN..!!! apa yang kamu lakuin???. cabut.!!….” Desi mencoba menghardik Dehlan.
” gila kamuu u… ko….. cabut ko… please… mbak hhhhmmmmm……
tanpa memperdulikan perintah Desi pelan2 Dehlan mulai menggenjot Desi. pertama pelan lalu makin lama makin kencang makin lama makin beringas.
” ooooohhh….. kontolku enak mbak…… huuuhhh…… enaaaakkk….. mbaaakkk……
memmmee…… uhhh….sssrrt……” Dehlan mendesah meracau.
” stooopppssphhh….. aaaaahhh… hhhhhiih……” kata Desi sambil terus meronta melawan tapi juga mendesah.
“uddddaaaa….aaaaahhhh……. aaaammmpun ko…… kontolmu tembus rahhhimku kooo…….
plok plok plok plok……
clep clep clep clep clep…….
suara selangkangan meraka beradu bertumbukan.
Desi meronta tapi sebenarnya dia juga merasakan nikmat yang teramat sangat sehingga Desipun merasa hampir mendapatkan orgasme lagi.
“ooh…. memekmu dahsyaaaatttt mmmmmm……. mbbaaak……
ayooooo…… aku mau keluar….. aaaaarrrsgggtttthg…….” desah Dehlan.
seketika juga Desi terkejut.
“..jjjjjaaaa…..nggaaaan……….. aaaaaahhhh…….. ssssrr……”
tiba2 tubuh Desi mengejang, tangan dan kakinya memeluk Dehlan dengan erat, pinggulnya bergetar hebat tanda Desi sedang orgasme.
” aaakkuuu…. kelluaaa…… oooorrgghh…….” dan… crot crot crot crot crot……….
Dehlan orgasme juga hampir bermaan dengan Desi. menyemprotkan banyak sperma langsung ke rahim Desi.
” hhhhii…..uuuuh…… nikmat mbak……” guman Dehlan.
” aaaaah…hhh…… jaangan di dalam…. nanti aku hamil…..” kata Desi pelan, melarang Dehlan tapi sudah terlambat, Dehlan telah menanamkan benihnya di rahim Desi.
mereka masih bepelukan dengan kontol Dehlan masih menancap di memek Desi.
” kamu kok tega2 nya ko ama mbak?” kata Desi pelan sambil menahan marah.
Dehlan hanya diam menjawab.
pelan2 tetes bening air mata keluar dari sudut bening mata Desi.
akhirnya setelah lelah bergulat mereka berdua tertidur berpelukan, dan Desipun nggak jadi berangkat kerja.
Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

Perawanku – Cerita Sex Main Dengan Bapa Mertua, Aku seorang isteri muda umur 23 tahun, Sudah 2 tahun aku berkahwin dengan seorang lelaki yang bernama Azman, Azman bekerja sebagai penyelia syarikat dan sentiasa bekerja di berbagai cawangan. Mungkin kerana kesibukannya kami belum lagi dikurnia cahaya mata.
Aku sering keseorangan di rumah. Bapa mertuaku yang tinggal seorang diri sejak kematian ibu mertuaku sering mengunjungi rumahku. Kebiasaannya dia datang semasa suamiku di rumah. Pada suatu petang bapa mertuaku berkunjung semasa Azman pergi outstation.
“Bapa saja nak tengok kaulah Lia, kalau sunyi boleh bapa temankan,” jawab bapa mertuaku.
Selepas makan malam bapa mertuaku berehat di ruang tamu. Waktu itu bapa mertuaku memakai kain sarung saja. Oleh kerana keadaan bilik agak panas kipas angin dipasang laju. Aku diajaknya berbual-bual. Sebagai menantu yang baik aku melayan bapa mertuaku berbual. Sambil berbual-bual terselak kain bapa mertuaku kerana ditiup angin dari kipas yang laju. Aku ternampak balak bapa mertuaku terpacak keras di celah paha. Tak kusangka sama sekali..! Dalam hidupku, tak pernah kulihat balak yang sebegitu besar saiznya. Aku hanya biasa melihat balak suamiku yang bersaiz kecil.
Bapa mertuaku buat-buat tak tahu saja. Balak bapa mertuaku nampaknya berada di dalam keadaan yang sungguh tegang. Spontan saja cipapku mengemut dan nafsuku bangkit. Lebih lebih lagi aku baru saja bersih dari haid dan tak sempat didatangi oleh suami ku. Jika bersama pun suamiku tidak memberi perhatian kepada hubungan kami. Di fikirannya hanya kerja. Terasa mendidih darahku pada waktu itu. Bagai gunung berapi yang siap sedia memuntahkan lahar panasnya.
Aku rasa balak bapa mertuaku jadi tegang sebab dia asyik perhatikan pakaianku. Aku hanya mengenakan pakaian gaun malam tanpa apa-apa pun di dalam, maklumlah cuaca begitu panas. Sebenarnya telah menjadi kebiasaanku bila mengenakan gaun malam aku tidak memakai bra dan seluar dalam. Memang kebiasaanku bila berada di rumah bersama suamiku. Aku terlupa bahawa yang bersamaku kali ini adalah mertuaku bukan suamiku. Saiz buah dadaku yang berukuran 36 B sudah pasti telah mencuit hati mertuaku. Patutlah semasa aku menghidangkan makanan, bapa mertua asyik merenung lurah bukit kembarku yang agak terdedah kerana leher gaun yang kupakai agak luas.
Kerana tidak dapat menahan nafsu, aku terus menuju ke bilikku dan meninggalkan bapa mertua di ruang tamu untuk menonton berita perdana di TV. Desakan nafsuku yang meluap-luap itu telah menyebabkan aku terkocoh-kocoh mengejar tilam untuk segera melayan denyutan cipapku. Setiba di dalam bilik, aku pun menghumbankan badan ke katil dan terus menyelak gaun tidur. Bahagian bawahku terdedah tanpa seurat benang.
Aku mengangkang seluas yang mungkin dan mulalah bermain dengan biji kelentitku. Alangkah bahagianya kalau Azman mempunyai konek besar seperti kepunyaan bapa mertuaku. Aku terus leka dibuai khayalan yang sebegitu rupa. Sambil menjolok jariku ke dalam gua keramatku aku membayangkan batang balak yang besar berurat-urat sedang keluar masuk menujah taman laranganku. Kupejam mataku sambil melayan imaginasi seksku. Kurapatkan kedua-dua pahaku dengan jariku masih tetap di dalam lubang cipapku. Kubelai kelentitku dan kuraba-raba mesra. Terasa cairan hangat meleleh keluar membasahi lurah merkahku. Sungguh enak dan lazat kurasa.
Rupa-rupanya pintu bilik ku tadi bukan saja tidak kukunci malahan ianya ternganga luas. Tanpa kusedari, bapa mertuaku telah mengekoriku ke bilik. Ketika aku sedang leka melayani runtunan nafsu, dia dengan jelasnya dapat menonton segala tingkah lakuku. Berderau darahku melihat bapa mertuaku sedang berdiri di muka pintu. Sesosok tubuh lelaki tua yang berkulit hitam legam sedang bertelanjang bulat di situ. Batang balaknya yang juga hitam legam itu terpacak keras berurat-urat. Bulu-bulu yang sudah mulai memutih kusut masai seperti tak terurus. Tangan kanannya sedang kemas menggenggam balaknya yang sudah keras terpacak. Aku terkejut dan teramat malu. Aku tergamam hingga aku terlupa bahawa tanganku masih lagi melekat pada mutiara nikmatku.
Bapa mertuaku bertindak pantas meraih kesempatan terhadap aku yang masih terpinga-pinga. Dia terus menerpa dan mencelapak kangkangku yang sudah sedia terbuka luas. Pahaku dipegang kemas hingga aku tak mampu melindungi cipapku. Mukanya disembam ke taman rahsiaku. Cipapku yang telah basah dijilat-jilat dengan lidahnya. Bibir cipapku yang lembut menjadi sasaran jilatannya. Bila kelentitku yang sememangnya telah tegang dijilatnya aku hanya mampu meraung kesedapan. Terangkat-angkat punggungku menahan geli dan nikmat. Selama dua tahun kami berkahwin suamiku tak pernah melakukan seperti apa yang mertua aku sedang lakukan. Suamiku patut belajar dari bapanya cara memuaskan isteri.
Mungkin terlalu geram melihat cipap muda berbulu nipis di depannya, mertuaku seperti dirasuk menggomol dan menggosok mukanya ke seluruh cipapku. Habis mukanya berlepotan dengan lendir yang banyak keluar dari cipapku. Lidahnya makin ganas meneroka lubang cipapku yang mula ternganga menunggu diisi. Gerakan lidah maju mundur dalam lorong nikmatku sungguh sedap. Belum pernah aku merasa senikmat ini. Hanya erangan saja yang keluar dari mulutku.
Gerakan-gerakan ganas pada cipapku membuat aku tak dapat bertahan lagi. Cairan panas tersembur keluar dari cipapku. Aku mengalami orgasme yang pertama. Muka mertuaku makin basah dengan lendir dari cipapku. Aku lemah longlai penuh lazat. Lelaki separuh abad yang berkulit hitam dipanah matahari ini sungguh mahir melayanku. Badan tuanya masih kelihatan berotot-otot kekar kerana setiap hari beliau menggunakan tulang empat keratnya bersawah. Tenaganya masih kuat dan mampu mengalahkan suamiku, anaknya. Nafsunya juga amat tinggi, mungkin kerana telah bertahun tidak bersama perempuan sejak kematian ibu mertuaku.
Melihat mataku yang kuyu, mertuaku mula merangkak ke atas tubuhku. Badanku dipeluk kemas sementara mulutnya pula telah berjaya menyusukan puting payudara ku. Dinyonyot putingku bergilir-gilir kiri kanan. Aku masih cuba menolak badannya yang berotot keras itu tapi mertuaku lebih tangkas. Kedua tanganku ditekan ke tilam. Aku tak berdaya berbuat apa-apa lagi. Aku hanya mampu meronta melawan kudrat bapa mertuaku yang lebih kuat.
“Bapa, jangan. Saya menantu bapa, isteri anak bapak,” rayuku.
“Tak apa, anggap saja bapa suamimu sekarang,” bapa mertuaku bersuara.
Bapa mertuaku merapatkan bibir lebamnya ke bibirku. Dihisap dan disedut bibirku yang comel. Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku pasrah saja menunggu tindakan selanjutnya dari bapa mertuaku. Aku tergeletak pasrah di tilam dengan kakiku terkangkang luas.
“Lia, sudah lama bapak geram pada Lia. Kecantikan dan gerak geri Lia meruntuhkan iman bapa,” bisik mertuaku di telingaku.
Aku hanya diam tak bersuara. Melihat keadaanku yang pasrah tak melawan itu maka bapa mertuaku mula bertindak. Aku terasa ada gerakan-gerakan di celah kangkangku. Cipapku terasa disondol-sondol oleh satu benda bulat. Benda bulat keras bergerak pantas di celah alur cipapku yang telah basah dari tadi. Tiba-tiba benda bulat panjang mula terbenam ke dalam rongga cipapku. Bapa mertuaku mula menghayunkan pinggulnya maju mundur. Mertuaku menggunakan segala pengalamannya bagi menakluk menantunya yang masih muda dan bertenaga. Jika kekuatan tenaga yang diadu mungkin dia akan dahulu menyerah kerana itu mertuaku mengguna segala muslihat dan pengalaman yang dipunyainya. Ibarat pendekar tua yang banyak ilmu yang sedang bertarung dengan pendekar muda yang penuh bertenaga. Hanya dengan taktik dan teknik yang ampuh saja mampu mengalah pendekar muda yang banyak tenaga.
Bapa mertuaku hanya memasukkan separuh saja balaknya ke dalam cipapku. Dilakukan gerakan maju mundur dengan cepat sekali. Sungguh cepat dan laju hingga aku terasa sensasi nikmat yang amat sangat. Aku rasa G-spot ku diteroka dengan penuh kepakaran oleh mertuaku. Hanya erangan demi erangan saja yang keluar dari mulutku. Aku tak mampu berfikir lagi. Otakku kosong, yang aku rasa hanya nikmat semata-mata.
Selepas lima minit mertuaku mula menekan perlahan balaknya yang keras itu. Akhirnya seluruh batang balaknya terbenam dalam lubang cipapku. Terbeliak mataku menerima balak besar dan panjang. Terasa senak diperutku dihentak oleh balak bapa mertuaku. Suamiku tak pernah mampu meneroka sedalam ini. Aku cuba menyesuaikan diri dengan balak besar hingga perasaan nikmat dan lazat bertambah-tambah menyelinap ke seluruh urat sarafku.
“Lubang Lia sungguh sempit, padat rasanya. Belum pernah bapa rasa lubang ketat macam ni,” puji bapa mertuaku.
Aku hanya tersenyum mendengar pujian mertuaku. Aku tak pasti pujian itu ikhlas atau hanya pujian palsu lelaki yang sedang dikuasi nafsu. Mula merasai lubang cipapku yang sempit dan hangat, bapa mertuaku mulalah menghenjutku dengan rakus. Dari gelagat keganasannya itu jelaslah bahawa selama ini dia memang geram terhadap diriku. Apalagi ibu mertuaku telah lama meninggal. Sudah lama bapa mertuaku berpuasa hubungan kelamin. Dendam nafsu yang ditanggung selama ini dilampiaskan sepuas-puasnya pada diriku yang masih muda dan solid.
Akalku cuba menafikan tetapi nafsuku tak dapat menolak akan kehebatan bapa mertuaku. Balaknya yang besar dan berurat-urat itu memberi kenikmatan berganda berbanding zakar suamiku yang kecil. Biar otakku menolak tapi cipapku mengalu-alu kehadiran batang besar dan panjang. Kehadirannya di dalam perutku amat ketara kurasakan. Malahan kesan penangan yang sebegitulah yang selama ini aku dambakan. Gerakan kasar dan penuh penguasaan seperti inilah yang amat aku berahikan. Semakin lama semakin pasrah aku zahir dan batin.
Bagi menyeimbangkan perlawanan maka aku mula mengurut dan mengemut batang besar mertuaku. Otot-otot cipapku meramas secara berirama balak yang terbenam dalam terowong nikmatku. Aku ayak-ayak punggungku bagi menambahkan lagi kenikmatan bersama.
“Lubang Lia hangatlah. Lia padai kemut, sedaplah Lia,” mertuaku memujiku lagi.
Seluruh jiwa ragaku mulai kecundang terhadap tuntutan nafsu yang maha sedap itu. Tanpa segan silu mulutku tak putus-putus merengek dan mengerang. Aku mengaku akan kehebatan bapa mertuaku. Tiada lagi rasa berdosa dan penyesalan. Nikmat dan lazat saja yang kurasai waktu ini.
“Bapa sedaplah, laju lagi pak,” tanpa sadar aku bersuara.
Mendengar suara rengekanku meminta maka makin laju bapa mertuaku mengerjakanku. Badanku dirangkul kemas, bukit kembarku diramas dan dihisap. Ladangku yang subur dibajak sejadi-jadinya oleh mertuaku. Kehebatannya mengalahkan suamiku yang juga anaknya sendiri. Kesuburan ladangku dapat dirasai mertuaku. Digemburnya ladangku sepuas-puasnya. Jelaslah bahawa suamiku sendiri gagal menandingi kemampuan bapanya. Mungkin sebab itulah dia gagal menghamilkan aku.
Dinding cipapku digeser-geser oleh kepala dan batang mertuaku. Otot-otot cipapku menjerut rapat batang besar. Terasa seperti melekat dinding cipapku dengan balak mertuaku. Bila ditarik balaknya aku rasa seperti isi cipapku turut sama keluar. Aku menggelupur kesedapan. Aku seperti melayang di kayangan. Otot-otot badanku menjadi kejang, kakiku mendakap erat badan mertuaku dan tanganku mencakar-cakar belakang bapa mertuaku kerana teramat nikmat. Akhirnya mencurah-curah air nikmatku menyirami kepala konek mertuaku. Aku lesu kelemasan.
“Bapa hebat, Azman tak sehebat Bapa,” aku memuji kemampuan mertuaku.
Setelah cukup rata membajak, bapa mertuaku pun mulalah menyemburkan benih zuriatnya ke dalam rahimku. Terbeliak biji mataku menikmati kesedapan setiap pancutan yang dilakukannya. Kepanasan cecair benih lelaki tua disambut dengan ledakan nafsuku sendiri. Menggeletar seluruh tubuhku menikmati tadahan benih-benih zuriat yang cukup banyak menyemai rahimku yang subur. Aku terkulai layu penuh nikmat.
Selepas itu kami sama-sama terdampar keletihan setelah mengharungi kepuasan bersama. Bertelanjang bulat kami tidur berpelukan hingga ke pagi. Tengahhari esoknya sekali lagi bapa mertuaku menyemai benih yang mampu membuncitkan perut aku. Kali ini dia menghenjut aku bagi tempoh yang lebih lama dari semalam. Malahan cecair benihnya juga lebih banyak dan lebih pekat. Hampir seminit aku terpaksa menadah perahan nafsunya. Dua kali aku klimaks sepanjang pertarungan itu. Batang besar hitam itu membuat aku terkapar lesu kesedapan. SungguHPun bentuknya hodoh hitam berurat-urat tetapi membuat aku ketagih untuk menikmatinya.
Telefon di ruang tamu berdering. Dengan perasaan agak malas aku menyambutnya. Di hujung sana suamiku memberitahu bahawa dia akan terus ke Sarawak dan akan berada di sana selama sebulan. Bapa mertuaku tersenyum sumbing mendengar khabar tersebut. Aku pula jadi serba salah kerana selama tempoh itu kelak aku bakal ditiduri oleh seorang lelaki tua yang hitam legam lagi tidak kacak. Tetapi aku akui mainan seksnya cukup hebat mengalahkan orang muda.
Dua bulan kemudian aku mulai muntah-muntah. Mertuaku tersenyum senang kerana benih yang disemainya telah tumbuh. Suamiku juga gembira kerana akan menimang cahaya mata tetapi dia tidak tahu bahawa anak yang kukandung adalah adiknya sendiri.


Perawanku – Ini adalah sebuah cerita seks guru les private dan tante kesepian ibu dari murid lesnya. Ya, perselingkuhan yang membuat keduanya saling berbagi kenikmatan seks yang membawa mereka ke puncak kenikmatan birahi. Simak cerita lengkapnya berikut ini!
Kenangan Indah Waktu Kuliah di Jawa Tengah. Ini adalah cerita dari kisah nyata saya waktu kuliah di Jawa Tengah sekitar tahun 1992.Nama saya Rudy,banyak orang menilai saya pria simpatik dengan kemamuan berpikir cemerlang.Kebutuhan hidup menjadi kendala saya saat itu, uang pas-pasan dari orang tua kadang2 kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya.
Kurang dari 6 bulan saya belajar di kota ini, cukup banyak tawaran dari beberapa teman untuk memberikan les privat matematika dan IPA bagi adik-adik mereka yang masih duduk di sekolah lanjutan. Keberuntungan datang bertubi-tubi, bahkan tawaran datang dari bunga kampus kami, sebut saja Indah untuk memberikan les privat bagi adiknya yang masih duduk di kelas 2 SLTP swasta ternama di kota dimana saya kuliah.
Keluarga Indah adalah keluarga yang sangat harmonis, ayahnya bekerja sebagai kepala kantor perwakilan (Kakanwil) salah satu departemen, berumur kurang lebih 46 tahun, sementara itu ibunya, biasa saya panggil Tante Stella, adalah ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan keluarganya. Konon kabarnya Tante Stella adalah mantan ratu kecantikan di kota kelahirannya, dan hal ini amat saya percayai karena kecantikan dan bentuk tubuhnya yang masih sangat menarik diusianya yang ke 36 ini. Adik Indah murid saya bernama Noni, amat manja pada orangtuanya, karena Tante Stella selalu membiasakan memenuhi segala permintaannya.
Dalam satu minggu, saya harus memberikan perlajaran tambahan 3 kali buat Nona, walaupun sudah saya tawarkan bahwa waktu pertemuan tersebut dapat dikurangi, karena sebenarnya Nona cukup cerdas, hanya sedikit malas belajar. Tetapi Tante Stella malah menyarankan untuk memberikan pelajaran lebih dari yang sudah disepakati dari awalnya.
Setiap saya selesai mengajar, Tante Stella selalu menunggu saya untuk membicarakan perkembangan anaknya, tekadang ekor matanya saya tangkap menyelidik bentuk badan saya yang agak bidang menurutnya. Melewati satu bulan saya mengajar Noni, hubungan saya dengan Tante Stella semakin akrab.
Suatu ketika, kira-kira bulan ketiga saya mengajar Noni, saya datang seperti biasanya jam 16:00 sore. Saya mendapati rumah Bapak Gatot sepi tidak seperti biasanya, hanya tukang kebun yang ada. Karena sudah menjadi kewajiban, saya berinisiatif menunggu Noni, minimal selama waktu saya mengajar. Kurang lebih 45 menit menunggu, Tante Stella datang dengan wajah cerah sambil mengatakan bahwa Noni sedang menghadiri pesta ulang tahun salah seorang temannya, sehingga hari itu saya tidak perlu mengajar. Tetapi Tante Stella tetap minta saya menunggu, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan saya.
Ketika Tante Stella memanggil untuk masuk ke dalam rumahnya, alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Stella telah memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Stella masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam “BL” seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira-kira 36D.
Mula-mula saya tidak menaruh curiga sama sekali, pembicaraan hanya berkisar masalah perkembangan pendidikan Noni. Tetapi lama kelamaan sejalan dengan cairnya situasi, Tante Stella mulai bercerita tentang kesepiannya di atas ranjang. Terus terang saya mulai bingung mengimbangi pembicaraan ini, saya hanya terdiam, sambil berhayal entah kamana.
“Rud, kamu lugu sekali yah..?” tanya Tante Stella.
“Agh… Tante bisa aja deh, emang biar nggak lugu harus gimana..?” jawab saya.
“Yah… lebih dewasa Dong..!” tegasnya.
Lalu, tiba-tiba tangan Tante Stella sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.
“Rud… mau kan tolongin Tante..?” tanya si Tante dengan manja.
“Loh… tolongin apalagi nih Tante..?” jawab saya.
“Tolong puaskan Tante, Tante kesepian nih..!” jawab si Tante.
Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Stella yang memiliki rambut sebahu. Saya benar-benar tidak membayangkan kalau ibu bunga kampus saya, bahkan ibu murid saya sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk “bercinta” dengan Tante Stella ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.
“Wah… saya harus memuaskan Tante dengan apa dong..?” tanya saya sambil bercanda.
“Yah… kamu pikir sendirilah, kan kamu sudah dewasa kan..?” jawabnya.
Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulai memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas-remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Stella juga tidak mau kalah, dia langsung meremas-remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini.
Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu, Tante Stella menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya, dia langsung melucuti semua baju saya, pertama-tama dia melepas kemeja saya sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya, sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi’s saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya.
“Wah… Rud, gede juga nih punya kamu…” kata si Tante sambil bercanda.
“Masa sih Tante..? Perasaan biasa-biasa saja deh..!” jawab saya.
Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Stella yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghhh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.
Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba-tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas-remas, sementara itu Tante Stella terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit-gigit putingnya yang sudah mengeras.
“Oghh… saya merindukan suasana seperti ini Rud..!” desahnya.
“Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah..?” kata saya.
Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitoris-nya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu-bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat-jilat kemaluan si Tante dengan pelan-pelan.
“Ogh… Rud, pintar sekali yah kamu merangsang Tante…” dengan suara yang mendesah.
Tidak terasa, tahu-tahu rambutku dijambaknya dan tiba-tiba tubuh Tante mengejang dan saya merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah… ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, karena berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apa pun tentunya sudah tidak menjadi masalah.

Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar-benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Stella sekarang meminta saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.
“Rud… ayoo Dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih..!” pinta si Tante.
“Wah… saya takut kalo Tante hamil gimana..?” tanya saya.
“Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang-tenang aja deh..!” sambil berusaha meyakinkan saya.
Benar-benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukkan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya.. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan.
“Ahhh… dorong terus Dong Rud..!” pinta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali.
Mendengar desahannya, saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas-remas payudaranya, sampai tiba-tiba tubuh Tante Stella mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya.
Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar-benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.
“Oh… oh… nikmat sekali Rudy..!” teriak si Tante.
“Tante… saya kayaknya sudah mau keluar nih..!” kata saya.
“Sabar yah Rud… tunggu sebentar lagi, Tante juga udah mau keluar lagi nih..!” jawab si Tante.
Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante.
“Arghhh..!” teriak Tante Stella.
Tante Stella kemudian mencakar pundak saya, sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot-otot kemaluannya benar-benar meremas batang kemaluan saya.
Setelah itu kami berdua letih, tanpa disadari kami telah sejam bersenggama, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke ruang keluarga. Ketika melihat Tante Stella dalam keadaan telanjang menuju ke dapur, mungkin dia sudah biasa seperti itu, entah kenapa, tiba-tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata-kata, saya langsung memeluk Tante Stella dari belakang, dan mulai lagi meremas-remas payudaranya dan pantatnya yang montok serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.
“Ih… kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya..?” kataya sambil tertawa kecil.
“Agh… Tante bisa aja deh..!” jawab saya sambil menciumi bibirnya kembali.
Karena sudah terlalu nafsu, saya mengajaknya untuk sekali lagi bersenggama, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Stella, kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di ruang keluarga. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya dogie style.

“Um… dorong lebih keras lagi dong Rud..!” desahnya.
Semakin nafsu saja saya mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokan saya kepada si Tante, sementara itu tangan saya menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.
“Rud… mandi yuk..!” pintanya.
“Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah..?” jawab saya.
Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya duduk di atas closed, dan kemudian saya menarik Tante Stella untuk menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.
“Hm… nikmat sekali jilatanmu Rud… agghhh..!” desahnya.
“Rud… kamu sering-sering ke sini Rud..!” katanya dengan nafas memburu.
Setelah puas menjilatinya, saya angkat Tante Stella agar duduk di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini rasa nikmatnya lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat saya akhirnya “KO” kembali. Saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Stella kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.
Setelah selesai mandi, saya pamit pulang karena baru tersadar bahwa perbuatan saya amat berbahaya bila diketahui oleh Bapak Gatot, Indah teman sekampus saya, apalagi Noni murid saya itu. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan persetubuhan, tetapi tidak pernah lagi di rumah, Tante memesan kamar hotel berbintang dan kami bertemu di sana.

Cerita Sex ini berjudul ” CERITA DEWASA ENAKNYA NGENTOT WANITA ARAB ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

Perawanku – Aku mendapat tugas ke sebuah kota kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Ada sebuah peluang proyek baru disana. Aku berangkat dengan seorang Direktur. Setelah bertemu dengan para pejabat yang berwenang dan mengutarakan tujuan kedatangan kami, maka Direktur tersebut pulang terlebih dahulu karena masih ada urusan lain di Jakarta. Tinggalah aku disana mengurus semua perijinan sendirian saja.
Hotel tempatku menginap adalah sebuah hotel yang tidak terlalu besar, namun bersih dan enak untuk tinggal. Letaknya agak sedikit di pinggiran kota, sepi, aman, dan transport untuk kemanamana relatif mudah.
Aku mendapat kamar dilantai 2 yang letaknya menghadap ke laut. Setiap sore sambil beristirahat setelah seharian berputarputar dari satu instansi ke instansi lainnya aku duduk di teras sambil melihat laut.
Para karyawan hotel cukup akrab dengan penghuninya, mungkin karena jumlah kamarnya tidak terlalu banyak, sekitar 32 kamar. Aku cukup akrab dan sering duduk di lobby, ngobrol dengan tamu lain atau karyawan hotel. Kadangkadang dengan setengah bercanda aku ditawari selimut hidup oleh karyawan hotel, mulai dari room boy sampai ke security.
Mereka heran selama hampir 3 minggu aku tidak pernah bawa perempuan. Aku tersenyum saja, bukan tidak mau bro, tapi pikiranku masih tersita ke pekerjaan.
Tak terasa sudah 3 minggu aku menginap di hotel. Karena suratsurat yang diperlukan sudah selesai, aku bisa sedikit bernafas lega dan mulai mencari hiburan. Tadi malam aku kembali dapat merasakan kehangatan tubuh perempuan setelah bergumul selama 2 ronde dengan seorang gadis panggilan asal Manado. Aku mendapatkannya dari security hotel.
Meskipun orangnya cantik dan putih, tetapi permainannya tidak terlalu istimewa karena barangnya terlalu becek dan sudak kendor, tapi lumayanlah buat mengurangi sperma yang sudah penuh.
Dua hari lagi aku akan pulang. Transportasi di daerah ini memang agak sulit. Untuk ke Jakarta aku harus ke ibukota propinsi dulu baru ganti pesawat ke Jakarta. Celakanya dari kota ini ke ibukota propinsi dalam 1 minggu hanya ada 4 penerbangan dengan twin otter yang kapasitasnya hanya 17 seat. Belum lagi cadangan khusus buat pejabat Pemda yang tibatiba harus berangkat. Aku yang sudah booking seat sejak seminggu yang lalu, ternyata masih masuk di cadangan nomor 5.
Alternatifnya adalah dengan menaiki kapal laut milik Pelni yang makan waktu seharian untuk sampai ibukota propinsi. Rencanaku kalau tidak dapat seat pesawat terpaksa naik kapal laut.
Sore itu aku ngobrol dengan security, yang membantu mencarikan perempuan, sambil dudukduduk di cafe hotel. Kami membicarakan gadis Manado yang kutiduri tadi malam. Kubilang aku kurang puas dengan permainannya.
Tibatiba saja pandanganku tertuju pada wanita yang baru masuk ke cafe. Wanita itu kelihatan bertubuh tinggi, mungkin 168 cm, badannya sintal dan dadanya membusung. Wajahnya kelihatan bukan wajah Melayu, tapi lebih mirip ke wajah Timur Tengah. Security itu mengedipkan matanya ke arahku.
Bapak berminat ? Kalau ini dijamin oke, Arab punya, katanya.
Wanita tadi merasa kalau sedang dibicarakan. Ia menatap ke arah kami dan mencibir ke arah security di sampingku.
Anis, sini dulu. Kenalan sama Bapak ini, kata security itu.
Aku mau ke karaoke dulu, balas wanita tadi. Ternyata namanya Anis. Anis berjalan kearah meja karaoke dan mulai memesan lagu.
Ruangan karaoke tidak terpisah secara khusus, jadi kalau yang menyanyi suaranya bagus lumayan buat hiburan sambil makan. Tapi kalau pas suara penyanyinya berantakan, maka selera makan bisa berantakan. Untuk karaoke tidak dikenakan charge, hanya merupakan service cafe untuk tamu yang makan disana.
Dekatin aja Pak, temani dia nyanyi sambil kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi, kata security tadi kepadaku.
Aku berjalan dan duduk didekat Anis. Kuulurkan tanganku, Boleh berkenalan ? Namaku Jokaw.
Anis, jawabnya singkat dan kembali meneruskan lagunya. Suaranya tidak bagus cuma lumayan saja. Cukup memenuhi standard kalau ada pertunjukan di kampung.
Beberapa lagu telah dinyanyikan. dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mike ke tamu cafe di dekatnya.

Sendirian saja nona atau , kataku mengawali pembicaraan.
Panggil saja namaku, ANIS, Anis, katanya.
kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Anis berasal dari Gorontalo. Ia memang berdarah Arab. Menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk badannya sintal dan kencang dengan payudaranya terlihat dari samping membusung padat.
Kutawarkan untuk mengobrol di kamarku saja. Lebih dingin, karena berAC, dan lebih rileks serta privacy terjaga. Ia menurut saja. kami masuk ke dalam kamar. Security tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya kearahku.
Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV. Anis masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi.
Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Anis seorang janda gantung, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah 2 tahun meninggalkannya namun Anis tidak diceraikan. ia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini.
Dikta ini dia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di cafe. dari tadi siang koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.
Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tandatanda penolakan. aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahanlahan tangan kiriku menuju kedadanya. Sebelum tangan kiriku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya, Mau apa kamu, Jokaw ? Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.
Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku.
Ayolah Anis, 2 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang lakilaki, kataku mulai merayunya.
Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya.
Akhh, tidak.. Jangan.., rintihnya.
Ayolah Nis, mungkin punyaku tidak sebesar punya suami Arabmu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam.
Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapiapi. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celana.
Kududukan ia ditepi ranjang. Aku berdiri didepannya. tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya kejantananku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos.
Mulutnya kemudian menciumi kejantananku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada kejantananku. Kini ia mengocok kejantananku dengan mengulum kejantananku dan menggerakan mulutnya maju mundur. Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku.
Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya.
Aku tak mau menumpahkan sperma dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara aku duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.
Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir vaginanya. Lubang vaginanya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri.
Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya, sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya ke kepakalu. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai.
Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan, Sllruup… Kembali ia menjilat dan mencium penisku beberapa saat. Ia naik keatas ranjang dan duduk diatas dadaku menghadapkan vaginanya di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta aku agar menjilat vaginanya dalam posisi demikian.
Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang vaginanya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku.
Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.
Ia bergerak kesamping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka branya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati. Kadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih Jokaw, ayo kita lakukan permainan ini, Masukan sekarang…
Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkan ke lubang vaginanya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan vaginanya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali.
Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus vaginanya. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Anis kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.
Kukocokkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebarlebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya.
Jokaw.. Kencangkan dan cepat masukkan, rintihnya.
Kepala penisku sudah melewati bibir vaginanya. Kudorong sangat pelan. Vaginanya sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal ia sudah punya anak dan menurut ceritanya penis suaminya satu setengah kali lebih besar dari penisku. Aku berpikir bagaimana caranya agar penis suaminya bisa menembus vaginanya.
Penisku kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian penisku seluruhnya sudah menembus lorong vaginanya. Aku merasa dengan kondisi vaginanya yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini aku akan kalah kalau aku mengambil posisi di atas. Mungkin kalau ronde kedua aku dapat bertahan lebih lama. Akan kuambil cara lain agar aku tidak jebol duluan.
Kugulingkan badannya dan kubiarkan dia menindihku. Anis bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Aku mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya penisku tidak mengecil.
Anis merebahkan tubuhnya, merapat didadaku. Kukulum payudaranya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengusdengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur.
Luar biasa vagina wanita Arab ini, dalam kondisi aku dibawahpun aku harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus pada permainan ini.
15 menit sudah berlalu sejak penetrasi. Agaknya Anis sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Ia memandangku, kemudian mencium leher dan telingaku.
Ouhh.. jokaw, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kami masih bertahan. Yeesshh.. Tahan dulu, sebentar lagi.. Aku…
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu kini saatnya beraksi. Kukencangkan otot penisku dan gerakan tubuh Anispun semakin liar. Akupun mengimbangi dengan genjotan penisku dari bawah. Ketika ia bergerak naik, pantatku kuturunkan dan ketika ia menekan pantatnya ke bawah akupun menyambutnya dengan mengangkat pantatku.
Kepalanya bergerak kesana kemari. Rambutnya yang hitam lebat acakacakan. sprei sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang. bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. Ranjangpun ikut bergoyang mengikutu gerakan kami. Suaranya berderakderak seakan hendak patah. Akupun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan.
Semenit kemudian..
Aaggkkhh.. Nikmat.. Ouhh.. Yeahh, Anis memekik.
Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan aliran kenikmatan mendesak lubang penisku. Aku tidak tahan lagi. Ketika pantatnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat pantatku.
Ouhh.. An.. Nis. Aku tidak tahan lagi.. Aku sampaiihh!
Ia memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. pantatnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat.
Jokaw.. Ouhh Jokaw.. Aku juga…
Kakinya mengunci kakiku dan badannya mengejang kuat. dengan kaki saling mengait aku menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding vaginanya saling berbalasan dengan denyutan dipenisku.
Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisasisa kenikmatan. ketika sisasisa denyutan masih terjadi badannya menggetar. Ia berbaring diatas dadaku sampai akhirnya penisku mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari vaginanya. Sebagian sperma mengalir keluar dari vaginanya di atas perutku. Anis berguling ke samping setelah menarik napas panjang.
Luar biasa kamu Kaw. Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan ia sering mengambil posisi di atas. tapi kami sanggup membawaku terbang ke angkasa, katanya sambil mengelus dadaku.
Akupun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar lakilaki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benarbenar sempit, kataku balas memujinya.
Memang kalau tadi aku harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit aku pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik bro!
Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya?
Nggak ah, asli Indonesia lho…
Ia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dam kaus tanpa lengan. Ia mengenakan kemejaku, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam.
Ia duduk membelakangiku. Tubuhnya disandarkan di bahuku. Mulutku sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepalaku.
Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku?tanyaku.
Aku dulu pernah kerja di apotik, jadi aku tahu pasti cara mengatasinya. Aku selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Aku sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi. Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya. katanya enteng.
Jadi ia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja aku tadi tidak berlaku konyol dengan memakai kondom. Mungkin saja sejak ditinggal suaminya ia sudah beberapa kali bercinta dengan lakilaki. Tapi apa urusanku, aku sendiri juga melakukannya. yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku.
Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas. hampir sejam kami duduk menikmati sunset. Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan kejantananku yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas dadanya.
Hmmhh.., ia bergumam.
Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin, kataku.
Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamarku.
I want more, honey! kataku.
kami bersamasama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Anis di ranjang. Kubuka kausku dan aku berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya.
Anis mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuhku dan ditariknya celana pendekku. Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di selangkanganku. Aku mengusapusap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. Peniskupun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan.
Lima menit ia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai. Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan aku berjongkok di depan kakinya.
Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir vaginanya kubuka. Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam vaginanya yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuanku. Kaki dan badannya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku.
Ouhh.. Jokaw.. Kamu.. Gila.. Gila.. Jangan.. Cukup Kaw! ia berteriak.
Aku tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam vaginanya membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir vaginanya.
Jokaw.. Maniak kamu.., ia masih terus memekik setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir vagina dan klitorisnya.
Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian vaginanya. Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya.
Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Aku masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini. Meskipun untuk ronde kedua aku yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjagajaga akan kuransang dia sampai mendekati puncaknya. yang pasti aku tak mau kalah ketika bermain dengannya. Kurang lebih sepuluh menit aku melakukannya.
Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika klitorisnya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengekrengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun aku masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama.
Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. tangan kanannya memegang kepalaku dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremasremas payudaranya sendiri.
Aku duduk di dadanya. Kini ia yang membrikan kenikmatan pada penisku melalui lidah dan mulutnya. Dikulumnya penisku dalamdalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang penisku.
Dilepaskannya penisku dan kini dijepitnya dengan kedua payudaranya sambil diremasremas dengan gundukan kedua dagingnya itu. Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga peniskupun bergesekan dengan kulit kedua payudaranya.
Kuubah posisiku dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar payudaranya. Anis kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok penisku dengan menggesekannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hatihati.
Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. kami segera berciuman dengan ganas sampai terengahengah. Penisku yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya.
Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku.
Jokaw.. Ayo.. Masukk.. Kan!
Tangannya menggenggam penisku dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Aku mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil inisiatif untuk membuka lebarlebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hatihati kucoba memasukan penisku kedalam liang vaginanya. Masih sulit juga untuk menembus bibir vaginanya. tangannya kemudian membuka bibir vaginanya dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan penisku ke vaginanya.
Begitu melewati bibir vaginanya, maka kurasakan lagi sebuah lorong yang sempit. Perlahanlahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian penisku sudah menerobos kedalam liang vaginanya.
Aku bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada vaginanya lebih banyak. Ketika kurasakan vaginanya sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Anis masih bergerak pelan, bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya.

Kupercepat gerakanku dan Anis bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak liar. Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku memeluk punggungnya kemudian mengencangkan penisku dan menggenjotnya lagi dengan cepat.
Kubisikkan untuk berganti posisi menjadi doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat berbaring tengkurap. Pantatnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam penisku dan segera menyusupkannya kedalam vaginanya.
Kugenjot lagi vaginanya dengan menggerakkan pantatku maju mundur dan berputar. Kurebahkan badanku di atasnya. kami berciuman dengan posisi samasama tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya.
Aku menusuk vaginanya dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir sepuluh menit permainan kami yang kedua ini, Anis semakin keras berteriak dan sebentarbentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.
Anis berbalik terlentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku.
Ia menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langitlangit mulutku. Aku menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya.
kami berguling sampai Anis berada di atasku. Anis menekankan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk ke lorong kenikmatannya.
Ouhh.. Anis, desahku setengah berteriak.
Anis bergerak naik turun dan memutar. Perlahanlahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka penisku seperti disedot sebuah pusaran.
Anis mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepalaku mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku. Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri.
Anis bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. kaki kirinya kujepit dengan kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. dalam posisi ini ditambah dengan gerakan pantatnya terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan didadaku dan bibirnya mengecup putingku.
Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencaricari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.
Anis kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselangseling. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku masuk terbenam dalamdalam menyentuh rahimnya.
kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua kakiku dijepit dengan kedua kakinya. Anis menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakan pantatnya maju mundur sambil menekan kebawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku.
Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan pantatnya, namun tidak menghentakhentak. darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat disekujur tubuhku.
Ouhh.. Sshh.. Akhh! Desisannyapun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan.
Tahan Nis, turunkan tempo.. Aku masih lama lagi ingin merasakan nikmatnya bercinta denganmu.
Aku menggeserkan tubuhku ke atas sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Aku sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku.
Jokaw.. Ouhh.. Aku tidak tahan lagi! ia mendesah. Kugelengkan kepalaku memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi.
Aku bangkit dan duduk memangku Anis. Penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot PC. Ia semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku.
Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini aku yang harus bergerak aktif.
Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun penisku hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan penisku sampai mentok. Ia merintihrintih, namun karena posisi tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Kini aku sepenuhnya yang mengendalikan permainan, ia hanya dapat pasrah dan menikmati.
Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku. Kugulingkan tubuhku, kini aku berada diatasnya kembali.
Kuangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku. Kutarik badannya sehingga selangkangannya dalam posisi menggantung merapat ke tubuhku. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kananku.
Dengan posisi duduk melipat lutut aku menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian kuhentakkan dengan keras. Iapun berteriak dengan keras setiap aku menggenjotnya dengan keras dan cepat. Kepalanya bergerakgerak dan matanya seperti mau menangis. Kukembalikan kakinya pada posisi semula.
Aku masih ingin memperpanjang permainan untuk satu posisi lagi.
kakiku keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan kakiku. Vaginanya semakin terasa keras menjepit penisku. Aku bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu.
Anis kelihatan sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turunku kupercepat dan semakin lama semakin cepat.
Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat lubang penisku. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul. Akupun sudah puas dengan berbagai posisi dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya.
Kurapatkan tubuhku di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan kakiku. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat. Kubisikan, OK baby, kini saatnya…
Ia memekik kecil ketika pantatku menekan kuat ke bawah. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Ia menyambut gerakan pantatku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahuku.
Satu aliran yang sangat kuat sudah sampai di ujung lubang penisku. Kutahan tekanan penisku ke dalam vaginanya. Gelombanggelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam vaginanya bergantian dengan denyutan pada penisku seakanakan saling meremas dan balas mendesak.
Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersamasama sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.
Anis.. Ouhh.. Yeaahh!!
Ahhkk.. Lakukan Jokaw.. Sekarang!!
Akhirnya aliran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam vaginanya. Kutekan penisku semakin dalam di vaginanya. Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik.
Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya eraterat dan tangannya menekan kepalaku di atas dadanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot PCku. Iapun kembali mengejang dan bergetar setiap otot PCku kugerakkan.
Napas dan katakata penuh kenikmatan terdengar putusputus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara yang terdebgar. hanya ada napas yang panjang tersengalsengal yang berangsurangsur berubah menjadi teratur.
Lima belas menit kemudian kami berdua sudah bermain dengan busa sabun di kamar mandi. Kami saling menyabuni dengan sesekali melakukan cumbuan ringan. Setelah mandi barulah kami merasa lapar setelah dua ronde kami lalui. Sambil makan Anis menelpon familinya, kalau malam ini ia tidak pulang dengan alasan menginap di rumah temannya. Tentu saja ia tidak bilang kalau temannya adalah seorang lakilaki bernama Jokaw.
Malam itu dan malam berikutnya tentu saja tidak kami lewatkan dengan siasia. Mandi keringat, mandi kucing, mandi basah dan tentunya mandi kenikmatan menjadi acara kami berdua.
Esoknya setelah mengecek ke agen Merpati ternyata aku masih mendapat seat penerbangan ke kota propinsi, seat terakhir lagi. Ketika chek out dari hotel kusisipkan selembar dua puluh ribuan ke tangan security temanku. Ia tersenyum.
Terima kasih Pak, katanya sambil menyambut tasku dan membawakan ke mobil.
Kapan kesini lagi, Pak? kalau Anis nggak ada, nanti akan saya carikan Anis yang lainnya lagi, bisiknya ketika sudah berangkat ke bandara.
Anis mengantarku sampai ke bandara dan sebelum turun dari mobil kuberikan kecupan mesra di bibirnya. Sopir mobil hotel hanya tersenyum melihat tingkah kami.
Setahun kemudian aku kembali lagi ke kota itu dan ternya Anis tidak berada di kota itu lagi. Ketika kutelpon ke nomor yang diberikannya, penerima telepon menyatakan tidak tahu dimana sekarang Anis berada. Dengan bantuan security temanku maka aku mendapatkan perempuan lainnya, orang Jawa Tinur. Lumayan, meskipun kenikmatan yang diberikannya masih di bawah Anis, arabian Girl who has passion as like as Arabian horse.
Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.


Perawan – Salam para pembaca cerita dewasa horor sekalian. Tanpa banyak cingcong silahkan baca cerita dewasa horor yang terinspirasi dari manga ini. Selamat menikmati!
Langit mulai berwarna jingga sore itu. Aku yang baru pindah ke kamar kost baruku, kini sedang sibuk mengatur ruangan yang nantinya akan kupakai selama beberapa tahun.
Perkenalkan namaku Tomi. Umurku kini 18 tahun. Aku kini adalah seorang mahasiswa di perguruan tinggi swasta di jakarta. Kota metropolitan yang terkenal kejam, kata orang. Sebelumnya aku tinggal bersama mama dan kakakku. Tapi karena kesibukanku kuliah, kini aku menyewa sebuah kamar kost tak jauh dari kampus. Kata mamaku supaya bisa lebih konsentrasi.
Kebetulan aku mendapatkan kamar kost yang cukup murah tarifnya. Enam ratus ribu sebulan, fasilitasnya antara lain kamar mandi dalam, AC, kasur, meja dan sebuah lemari kecil. Kamarku terletak di lantai dua, dan terletak di ujung lorong. Agak aneh pikirku kenapa bisa semurah ini, karena rata-rata tarif kost di jakarta untuk fasilitas yang sama mencapai depalan ratus ribu hingga satu juta rupiah perbulan. Akupun tidak sempat bertanya pada kawan-kawan satu kost. Peduli setan pikirku.
Badanku lelah sekali megangkut barang-barangku walaupun tak seberapa banyak. Aku membawa satu unit TV, pakaian, dan setumpuk buku. Mungkin karena aku jarang berolahraga.
Aku berbaring di kasur yang belum kupasangi sprei baru. Aku memandang ke sekeliling ketika rasa kantuk mulai menghinggapiku. Tak sadar aku tertidur.
Dalam mimpiku aku mendengar seorang perempuan sedang menangis tersedu-sedu. Menyedihkan sekali mendengarnya. Aku berjalan menyusuri lorong menuju sebuah ruangan tempat suara itu berasal. Ketika aku membuka ruangan itu ternyata itu adalah kamar kostku sekarang, suara tangisan itu menghilang. Aneh sekali, mengapa suara itu berasal dari sini, pikirku. Aku masuk ke dalam ruangan itu. Aku mengenal betul dekorasi kamar kostku. Ada meja di sudut kanan yang telah kuletakkan beberapa buku novel favoritku. Kuambil salah satu buku dan kubalik beberapa halaman,lalu kuletakkan kembali. Disudut kanan ada lemari tempatku membereskan pakaianku. Kubuka lemari itu dan kutemukan pakaianku di dalamnya. Benar-benar sangat identik dengan kamar kostku, tak ada satupun yang berbeda.
Suara tangisan itu terdengar kebali, sangat jelas. Suara itu bergaung di telingaku dan memang berasal dari dalam kamarku. Namun aku belum bisa memastikan asal suaranya.
halo
. Ada orang? tanyaku.
Suara tangisan itu tak menjawab panggilanku. Rasa penasaranku muncul, siapa sebenarnya perempuan itu dan apa yang dilakukannya di dalam kamarku.
Perlahan rasa takut mulai menghampiriku. Kurasakan bulu di tengkukku mulai bergetar.
halo
, kenapa kamu menangis
? aku memberanikan diri bertanya dengan suaraku yang kini bergetar. Suara tangisan itu mulai mengarah ke kamar mandiku.
Perlahan-lahan kudekati pintu kamar mandiku. Apakah ada seseorang di salam sana, tanyaku dalam hati. Aku mendekat dan mecoba meraih gagang pintu kamar mandi. Sangat perlahan, ak begitu ragu untuk membukanya.
Senti demi senti tanganku mulai mendekat ke gagang pintu yang berwarna kuning itu. Dan sesaat sebelum aku menyentuhnya, tiba-tiba
Crekkk
..Crekkkk
Crekkkk
Gagang pintu itu memutar. Seperti ada seseorang yang mencoba membukanya dari dalam.
Aku bergerak menjauh. Rasa takut sudah menyelimutiku.
Aku merayap mundur di atas ranjangku ketika tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
haloooo
. Siapa di sana
. Suaraku mulai terdengar parau.
Sosok bayangan manusia terpantul di dinding. Sebentar lagi aku akan mengetahui siapa sebenarnya yang berada di kamar mandiku.
Piiiipppp
. Piiiipppp
. Piiiipppp
. Piiiipppp
. Piiiipppp
.
Jam wekerku berbunyi. Cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela yang gordennya lupa kututup tadi malam. Suara kerumunan orang yang lewat di gang depan kostku terdengar riuh.
Hanya mimpi, pikirku.
Aku mengintip keluar jendela, menikmati cahaya mentari pagi, sambil mengucek mataku yang masih lengket pada pelipisnya. Masih teringat jelas mimpiku semalam. Aku sangat jarang bermimpi buruk, karenanya mimpi tadi malam sangat membekas di batinku. Aku menoleh ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Rasa gentar yang kurasakan dalam mimpiku sudah tidak kurasakan lagi saat ini.
Mana ada hantu di pagi hari, pikirku.
Aku segera bangkit, melepaskan pakaianku untuk bergegas mandi. Kini aku sudah sepenuhnya telanjang. Aku sedikit merenggangkan tubuhku untuk mengusir rasa pegal yang belum juga menghilang.
Pakaianku yang sudah berlumuran peluh kulemparkan kedalam keranjang di sebelah meja. Mungkin karena mimpi tadi malam, sehingga keringatku mengucur deras.
Cerita Dewasa Horor | Aku berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan melakukan ritual masturbasi dipagi hari. Kehidupanku sebagai remaja memang cukup nakal, pikirku. Aku sudah berkali-kali melakukan hubungan sex dengan teman sekelasku waktu SMA dulu. Mungkin karena kecanduan akan kenikmatan itu sehingga hampir setiap pagi aku bermasturbasi ria.
Kugenggam gagang pintu kamar mandi dan kuputar. Kutarik pintu kamar mandinya agar terbuka dan saat itu aku memekik tertahan.
Ada seorang wanita dalam kamar mandiku
Aa
..s..ss
siapa..ka.mu
kataku terbata-bata sambil menutupi kemaluanku yang terpampang karena aku tidak lagi mengenakan celana. Pintu kamar mandi spontan kututup. Wanita itu juga tampak terkejut melihat kehadiranku karena kulhat wanita itu juga tak berbusana.
Mana mungkin ada wanita yang masuk ke dalam kamarku diam-diam dimalam hari. Karena kuyakin pintu kamar sudah aku kunci. Apakah dia sudah berada di kamar ini sebelum aku masuk?, pikirku. Tak mungkin, menurut penuturan ibu kost, kamar ini sudah kosong selama sebulan lebih.
Jadi siapa wanita itu sebenarnya.
Aku merangkak naik ke atas rajangku dan menutupi diriku yang tak berbusana dengan bantal.
Teringat kembali banyangan akan mimpiku semalam. Suara tangisan wanita misterius yang kudengar. Apakah berasal dari dia? Siapa dia? Darimana asalnya?. Beribu pikiran menghampiriku, namun tak satupun bisa kujawab.
Aku menatap tajam kearah pintu kamar mandi yang masih dalam keadaan tertutup. Bulu tengkukku mulai merinding, namun jelas bukan karena suhu AC yang dingin. Serasa seperti air dingin menguyur tubuhku.
kamu bisa lihat aku
.? Kata suara dari dalam kamar mandi.
sss
..siapa kamu? suaraku terbata-bata ketika aku bertanya balik.
Tiba-tiba sosok bayangan mulai menembus pintu kamar mandi. Wanita itu melayang menghampiriku. Tubuhnya tinggi semampai, payudaranya cukup besar. Kunilai umurnya sekitar 18 tahun sama sepertiku.
jangan mendekat
stop kataku.
Ia tersenyum ramah melihat diriku yang sedang dirundung ketakutan.
jangan takut
. Kamu beneran bisa lihat aku ya
? dia bertanya lagi,
Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
namaku Reni
dulu aku tinggal di kamar ini
. Katanya. Aku masih terdiam membisu, tak tau apa yang harus kukatakan. yah
.. sebelum aku meninggal sebulan yang lalu katanya.
Dadaku terasa sesak, aku sulit bernapas. Jantungku berdebar tak menentu, seakan sebentar lagi melompat keluar dari dadaku. Aku mencoba mengatur nafas sebisaku, mengusir rasa takutku. Tapi kusadari aku tak memiliki daya untuk itu. Sesosok hantu asli kini duduk di ranjangku.
Oh tuhan
cobaan apa yang engkau berikan kepadaku. Selama aku hidup aku tidak pernah melihat, bertemu, dan menyaksikan secara langsung seperti apa hantu itu. Kini tanpa persiapan mental, tiba-tiba yang asli hadir di depan mataku.
Cerita Dewasa Horor | Aku mencoba untuk tegar menghadapi semua ini. Tanganku yang masih gemetaran terlihat jelas. Kurasakan darah seperti berhenti mengalir diwajahku. Wajahku kini pucat seperti dinding-dinding perkantoran.
jangan ganggu
. Please
aku masih mau hidup
kataku.
hihihi
maaf ya kalo kehadiranku menggangu kamu. Aku gak maksud sama sekali kok katanya.
kamu mau apa? tanyaku dengan suara yang masih bergetar.
jangan takut
aku disini terjebak, gak bisa kemana-mana
kenapa? tanyaku.
Ia menunduk, wajahnya berubah menjadi sedih. Seakan mengingat kejadian dimana ia meninggal.
aku meninggal sebulan yang lalu, dikamar mandi itu. Waktu itu aku baru ingin mandi, dan tiba-tiba aku terpeleset, aku jatuh dan kepalaku terbentur bibir kloset. Darahku mengalir dari luka di kepalaku. Aku terbaring lemas, tidak bisa berbuat apa-apa. Gak lama setelah itu aku meninggal katanya.
Air mata mulai menetes dipipinya.
jangan menangis
.kataku.
Ia mengusap air matanya dengan kedua tangan.
kamu kost di sini karena mau kuliah ya? tanyanya.
Aku mengangguk tanpa menjawab.
aku dulu juga sama
. Impianku dulu, aku mau kuliah disini dan punya pacar.., tapi sekarang semua itu udah gak mungkin bisa
katanya.
Kini ia memandangku. Wajahnya cantik sekali, rambutnya panjang sepinggang. Tubuhnya sangat indah dengan payudara besar yang mengacung. Putingnya berwarna pink pucat. Kulitnya sangat mulus, kuning langsat.
kenapa kamu telanjang
tanyaku. Wajahku kini memerah. Aku memalingkan pandanganku darinya.
aku kan meninggal pas lagi mandi
. Katanya.
namaku Reni
. Kamu siapa
katanya sambil mengulurkan tangan padaku.
Dengan ragu-ragu aku mengulur tanganku menyambut salamnya. Perlahan-lahan kini tanganku sudah sangat dekat dengan tangannya. Tangan kami bersentuhan, tangannya terasa hangat.
Masa sih hantu punya tubuh, pikirku. Kok bisa-bisanya salaman. Peduli amat pikirku.
aku Tomi
. Jawabku singkat.
salam kenal ya
. Kata Reni.
Ia mendekatkan diri kearahku, kini ia duduk disampingku yang masih memeluk bantal dengan erat.
kamu terganggu ya dengan kehadiran aku
? tanya Reni.
Aku mengangguk pelan. Ia menunduk, sekan menyesali kehadirannya.
maaf
. Bukan bermaksud menyinggung. Aku Cuma takut, karena aku belum pernah lihat hantu kataku.
iya
.. bukan salahmu kok
sebelumnya belum pernah ada yang bisa melihatku, akupun juga kaget waktu kamu membuka pintu dan bisa melihatku. Katanya.
aku boleh minta tolong ngak? tanya Reni.
minta tolong apa
ucapanku mulai jelas. Rasa takut yang tadi menghampiriku perlahan mulai menghilang.
arwahku terjebak disini karena masih ada keinginan yang belum kesampaian. Katanya.
Aku terdiam mendengarkan ceritanya.
sewaktu aku sekarat, aku berpikir
. Kenapa aku harus mati sekarang, padahal aku masih perawan. Katanya.
kamu mau ngak berhubungan sex sama aku
. Sekali aja
supaya arwahku bisa tenang dan bisa naik ke akhirat
kata Reni.
Cerita Dewasa Horor | Mataku terbelalak. Mulutku terkatub menahan tawa. Jari telunjukku kini mengarah ke tubuh Reni.
itu alasannya? Hahaha
kataku. Rasa takutku sudah menghilang sama sekali setelah mendengarkan ceritanya.
Ihhhh
.. kamu kok ketawain aku sih
ayo dong
please
setubuhi aku,.. masa aku harus terjebak disini selamanya
. Cuma kamu yang bisa lihat dan sentuh aku, jadi Cuma kamu yang bisa nolong aku
.. please
matanya berbinar-binar memandangku.
kok hantu bisa bersentuhan sama manusia sih
.. tanyaku.
Ia mengangkat bahu.
aku juga heran
. Makanya
Cuma kamu yang bisa nolong aku
. Please
ya.. mau ya
., sekali aja ngesex sama aku
.pintanya.
Wajahku mulai serius. Kugenggam tangannya yang berada di samping tubuhku, dan kuletakkan bantal yang sedari tadi kupeluk erat.
kamu serius
.., aku ini udah ga perjaka lho
. Kataku.
iya
serius
gapapa deh
. Mau perjaka mau ngak
.pokoknya perawan aku buat kamu
katanya tersenyum.
Aku mendekatkan wajahku kearahnya. Kurasakan aroma hembusan nafasnya yang begitu harum layaknya remaja seusianya. Ia merangkulkan tangannya keleherku dan mengecup bibirku.
Mmmmm
Ahh
. Lidah kami beradu. Kuraba tubuhnya yang tak tertutup sehelai benang pun. Kupilin puting susunya yang telah mengeras.
Ahhhh
geli
.. Ahh
.. desahnya.
toket kamu besar banget
.. Mmmm
kataku sambil tetap melumat bibirnya yang lembut.
Lidah kami beradu, tampak ia masih canggung dan kaku dalam menerima rangsanganku, mungkin karena dia memang masih perawan semasa hidup.
Perlahan tapi pasti dia mulai menikmati apa yang aku lakukan terhadapnya. Ia mulai bisa mengimbangi permainanku. Dilumatnya bibirku dengan liar ketika ia mengusap punggungku dengan kedua tangannya yang lembut.
Perlahan ciumanku turun kelehernya. Kujilat lehernya dengan lidahku dan ia mendesah.
Ahhh
Ssssshhh
. Nikmat banget
.. Ahhh
ceracaunya.
tubuh kamu sexy banget Ren
.Ahh
.. aku menjilat lehernya. Kukecup lehernya dengan kuat dan ia mengeliang liar. Tampak bekas cupanganku yang merah menghiasi lehernya yang jenjang.
Kini hasratku melakukan hubungan sex dengannya sudah sangat menggebu-gebu. Tekadku adalah untuk memberikan kepuasan dalam satu hubungan sex yang menjadi impiannya.
Perlahan jilatanku mulai menjalar ke bahunya.
Ahhhhhhh
Mmmmmm..Ahhh
. desahnya. Nafasnya mulai memburu ketika sapuan lidaku mulai mengeksplorasi setiap detil tubuhnya.
Kujilat lipatan ketiak dan bahunya. Ia terus mendesah, menahan rangsangan yang datang bertubi-tubi. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas.
Ahhh
. Jilatin lagi donk
. Ahh
. Enak banget. Katanya.
Jilatanku kini mendarat di ketiaknya yang mulus. Tak ditumbuhi sehelai bulu pun. Perlahan jilatanku bergerak menuju lengan, siku, tangan, dan jemarinya.
Sssshhh
. Ahhh
. Enak
kau pinter banget nyenengin aku
.. katanya.
Aku tak berkata apapun. Kulanjutkan menghujani tubuhnya dengan sapuan lidahku.
Ia mendekap kepalaku ketika aku menjilati payudaranya yang lebut. Kujilati seluruh bagian payudaranya selagi jemari tanganku memilin lembut putingnya yang kemerahan.
Ooooowhhhh
..Ahhhhh
desahnya.
Rangsanganku di payudaranya sepertinya membuatnya tak dapat menahan diri. Tubuhnya menggeliat liar ketika aku menghisap putingnya yang mengeras. Kuhisap dengan kuat kedua putingnya bergantian.
Ahhhhhhh
..terus
.Ahhh
.. enak banget
.
Rangsanganku kini beranjak dari dadanya. Perlahan kujilat seluruh lekuk tubuhnya yang indah.
Kulitnya yang kuning langsat benar-benar seperti kanvas putih yang belum dilukis. Sungguh indah tuhan menciptakan seorang wanita.
baca juga cerita dewasa horor lainnya: Bakso Enak Ala Pak Fahri
Kujilat pusarnya sementara tanganku meremas kuat kedua payudaranya yang mengacung.
Ohhh
..Shhh
Ahhhhhh
.. jangan berhenti sayang
. Ia mengeliat dengan liar. Seakan sangat haus dengan rangsangan.
Jilatanku mulai turun ke vaginanya. Belahan daging berwarna kemerahan itu sungguh indah. Tak ditumbuhi sehelai bulu pun. Tak seperti kebanyakan wanita yang sudah kutiduri selama ini. Apalagi jika dibandingkan dengan wanita-wanita panggilan yang sering kugunakan menyalurkan hasrat biologisku.
Kukecup lubang vaginanya dengan mulutku dan kumainkan lidahku disana.
Ohhhh
.Ohhhh
. Ahhh
Ahhh
.. terus sayang
.. ceracaunya ketika ia mengeliang tak tentu arah.
Cairan kewanitaanya kini mulai membasahi vaginanya yang kemerahan. Gurih sekali rasanya.
Kulihat tonjolan daging sebesar biji jagung di atas lubang vaginanya.
Kujilat klitorisnya sambil kutekan kuat dan sesekali kugigit pelan.
Ahhhhhhhhhhhhhh
.Ahhhhhhhhhhhhhhhh
ia semakin tidak terkendali. Desahannya kini mulai berubah mirip sebuah teriakan nikmat.
Kuhentikan rangsanganku pada klitorisnya.
Ahhh
.. Ah
. Kok berhenti sayang
? tanya Reni.
Sssssttt
jangan keras-keras
nanti ada yang dengar
kataku.
Ia pun tersenyum.
yang bisa dengar aku kan Cuma kamu
.. katanya.
ohh gitu ya
oke deh kulanjutkan
. Kataku.
Cukup lama foreplay yang kulakukan pada tubuhnya. Berharap pengalaman sexnya yang pertama kali dan terakhir cukup untuk memuaskan harapannya.
Penisku sudah menegang, keras sekali. Seakan meronta ingin menerobos masuk ke liang vagina berwarna kemerahan itu.
Kugenggam penisku dan kuarahkan ke liang vaginanya. Reni yang terkulai lemas terlihat sudah siap menerima penisku. Ia tersenyum.
ayo masukin sayang
.. puasin aku
. Katanya.
Aku tersenyum dan mengangguk. Kutekan perlahan penisku masuk ke lubang kenikmatan itu.
Aaaaaakkkhh
ia memekik tertahan. Menahan rasa sakit ketika penisku mengoyak selaput daranya.
Kucabut penisku yang baru sekitar satu sentimeter masuk kedalam vaginanya, lalu kutekan lagi. Kini semakin dalam.
Aaaaa
.. sakit
. Pekiknya.
sabar ya
. Memang begini kalau masih perawan kataku berusaha menenangkannya.
Kuulangi gerakanku. Perlahan-lahan kutekan penisku. Makin lama makin dalam. Sampai kini seluruh penisku sudah tertanam dalam vaginanya.
Ahhh
memek kamu rapet banget Ren
.nikmat bangetkataku.
Ssssshhhh
Ahhh
.. desahnya.
Tampak ia masih menahan rasa sakitnya ketika penisku yang besar menerobos bagian paling sensitivnya.
Kugerakkan perlahan penisku, maju mundur.
Ahhh
Ahhhh
. Ahhh
.. Reni mendesah seirama dengan gerakanku.
Kupertahankan ritme gerakanku sampai ia cukup menikmati sensasi pada vaginanya.
Ahhhh
lebih cepat sayang
.. aku udah gak tahan
. Ceracaunya.
Kupercepat gerakanku menusuk vaginanya.
Ahh
Ahhh
.. Ahhh
. ia kembali mendesah. Menahan kenikmatan yang kini sudah mengambil alih dirinya. Raut wajah menahan rasa sakit kini sudah tak namak lagi pada wajahnya yang cantik.
Aku mempercepat lagi irama gerakanku. Kini penisku sudah menghujam kuat di vaginanya. Berkali-kali kutekan penisku dengan liar.
Ahhhh
.. Ahhhh
enak
. Ba
nget
. Ahhh
ceracaunya.
Hasratku semakin menggelora. Nafsu birahi sudah mengambil alih nalar dan logikaku. Tak peduli manusia atau hantu, tubuh indah ini tak akan aku sia-siakan begitu saja, pikirku.
Hujaman penisku di vaginanya membuat tubuh Reni bergerak maju mundur. Ranjangku bergerak liar seakan tak mampu menahan luapan nafsu yang menguasai pikiranku.
Ahhhh
Ahhhhh
terussssss
ceracaunya.
Kurasakan cengkeraman vaginanya mulai menguat. Vaginanya berdenyut, menciptakan sensasi nikmat tiada tara pada batang penisku.
Nafsu yang sudah menguasaiku membuatku semakin liar. Kuhujamkan penisku berkali-kali ke dalam liang vaginanya. Menciptakan bunyi khas seperti genangan air yang di lewati langkah kaki.
Ahhhhhhh
Ahhhhh
. Terus sayang
.Ahhh
. tubuh Reni mengeliang kuat.
Aku sudah tak mampu lagi membendung nafsu birahiku. Kurasakan spermaku sudah berada di ujung penisku. Tak lama lagi spermaku akan keluar, pikirku. Kutahan nafsuku, aku ingin Reni mecapai orgasme terlebih dahulu.
Pikiranku melayang, setelah persetubuhan ini berakhir Reni akan pergi dari ruangan ini. Perasaanku mulai berkecamuk. Seakan tidak rela wanita ini pergi dari kehidupanku.
Tubuh Reni menegang kuat.
Aaaaahhhh
..Aaaaahh
.. hampir sampai
.. pekiknya.
Kuhujamkan penisku semakin kuat kedalam vaginanya. Tubuh reni bergerak maju mundur. Ia mengeliang tak tentu arah.
Keringat sudah mengalir deras ditubuhku. Entah sampai kapan aku mampu menahan spermaku tetap didalam, pikirku.
Ahhhhhhhhhhhhhhh
Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Reni melenguh panjang. Orgasmenya yang kunantikan sejak tadi akhirnya datang. Aku yang sudah tak kuasa menahan gejolak denyutan pada penisku segera mempercepat gerakanku. Mengejar puncak kenikmatan yang sebentar lagi kuraih.
Ahh
. Sssssshh
.Ahh
aku mendesah pelan. Khawatir akan ada orang yang mendengar desahanku. Kuhujamkan penisku sedalam mungkin keliang vaginanya.
(sfx : Croooootttt
Croooottt
.Croooottttt)
Spermaku tumpah dalam rahim Reni. Hasrat yang mengebu-gebu dalam diriku kini telah terlampiaskan. Kurasakan denyutan vaginanya masih belum berhenti. Aku belum mengeluarkan penisku yang masih menancap erat di vaginanya.
Kupandangi vagina Reni. Bercak merah menghiasi bibir vaginanya. Darah keperawanan itu menjadi bukti bahwa harapannya kini telah terwujud.
makasih ya Tom
kamu udah nolongin aku
katanya dengan nafas yang masih terengah.
aku gak tau apa jadinya kalau kamu gak datang ke kamar ini
mungkin aku terjebak disini selamanya
lanjutnya.
apa kamu sekarang sudah akan pergi? tanyaku.
ya
.. maaf ya sudah ganggu kamu
.. kata Reni.
ngak kok
maaf ya tadi aku takut
sekarang ngak lagi
. Kamu benar-benar fantastic kataku
Reni tersenyum mendengarnya.
Tubuh Reni kini berpendar. Menyala seperti kunang-kunang dimalam hari. Perlahan, pendaran itu mulai pecah. Titik demi titik cahaya itu terbang dan menguap ketika sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kamarku.
Sesaat sebelum cahaya itu hilang sepenuhnya aku mendengar suaranya.
terima kasih
.
Aku masih bersimpuh di ranjangku tanpa busana. Aku memandang kosong ke ranjangku.
Tanpa kusadari air mataku menetes. Seakan tidak rela Reni meninggalkanku.
Kuusap air mata itu. Karena aku yakin,itu adalah yang terbaik baginya. Sungguh aneh pikirku, aku yang sudah menganggap kegiatan sex seperti hal yang biasa. Aku yang sudah bergonta ganti lawan sex sampai tak dapat kuingat lagi jumlahnya. Kini menangis karena kehilangan seseorang yang baru saja kukenal.
Apakah ini yang namanya cinta?.
Pertanyaan itu tak mampu kujawab.
Cukup lama aku termenung saat itu sampai kuputuskan untuk bergegas menuju kampus.
Hari pertamaku dikampus berjalan membosankan. Tutorial pengenalan kampus tak kuhiraukan. Sampai saat dimana aku pulang. Kembali ke kamar kost, tempat dimana kenanganku dengan Reni berawal.
Kubuka kunci kamarku dan bergegas masuk ke dalam ruangan kamar yang kurasakan begitu hampa tanpa kehadiran Reni.
Aku melemparkan tasku keranjang dan duduk di sudutnya. Memandang ke langit sore itu yang sudah mulai gelap. Mengenang kembali raut wajah Reni yang tidak mungkin kulupakan.
kamu sudah pulang
.?
Terdengar suara seorang wanita dibelakangku.
Aku tersentak dan menoleh kearah suara itu berasal.
Kulihat Reni sedang berdiri, memandang dan tersenyum kepadaku.
Air mataku kembali menetes tak terbendung. Kuhampiri dia dan kupeluk erat tubuhnya.
jangan pergi
.kataku.
aku gak akan kemana-mana kok
.. kata Reni.
tapi kamu bilang kamu bakal pergi setelah harapanmu terkabul? tanyaku.
Reni tersenyum dan menggelengkan kepala.
harapanku telah berubah
., sewaktu kita berhubungan sex tadi pagi, aku berharap bisa mengulangi hal itu lagi sama kamu
katanya.
jadi kamu akan tetap disini
? tanyaku.
Reni mengangguk.
sampai kapan?
sampai kamu melupakan aku
katanya.
Aku memeluk tubuh Reni erat-erat. Bagiku baru kali ini ada wanita yang begitu berarti dalam hidupku. Well . Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?
Jawabku, SIAPA YANG TAU .
-END-

Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Pacarku ABG Binal ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

Perawanku – Aku seorang mahasiswa yang baru pertama masuk di perkuliahan perkenalkan namaku Nugroho aku sudah mempunyai cewek tapi masih kelas 3 SMA yang dulunya pacarku saat jamannya SMA, dia mempunyai wajah yang cantik seksi dan sebagai idola di sekolahnya, semua tubuhnya seksi dengan pinggang yang langsing pinggul yang menggoda.
Tapi sungguh, dengan keadaan tubuh seperti itu, tidak ada pria yang bisa menahan napsunya jika melihatnya sedang telanjang bulat.
Tentu saja.Kejadian ini kualami kalau tidak salah hari Kamis. Aku barus saja menjemputnya pulang sekolah jam setengah dua siang. Biasanya sich dia bawa motor sendiri, cuman hari itu entah kenapa dia berangkat sekolah naik becak.
Jadinya saat pulang sekolah dia menelponku minta dijemput. Panas sekali hari itu. Saat sampai di rumahnya aku tidak langsung pulang. Aku mampir sejenak buat sekedar menghilangkan rasa haus. Aku duduk di ruang tamu, di sofa yangpanjang, sementara dia mengganti baju sekolahnya dengan gaun santai.
Entah model apa bajunya, yang jelas dia memakai kaos dengan celana pendek yang berbahan kaos juga. Dia tampak seksi sekali dengan dandanan seperti itu. Dia balik sambil membawa segelas sirup dingindan kemudian tiduran di sofa dengan posisi kepalanya di pangkuanku.
Kami pun berbasa-basi, saling menanyakan kabar masing-masing. Karena memang kita sudah lama tidak ketemu. Aku barusan pulang dari Jogja, tinggal di sana beberapa hari. Dia orangnya memang gampang sekali kangen sama pacarnya. Ditinggal beberapa hari saja sudah sepertisebulan hebohnya. Dan kalau dia sedang kangen, rugi aku kalau tidak ada di sisinya. Tau maksudnya kan?
Lalu kami mulai bercerita tentang kegiatan kami masing-masing selama ini sambil sesekali saling mencumbu, berciuman dan berpagutan mesra. Saling memainkan lidah. Kubiarkan mulutnya melumat bibirku. Kubiarkan giginya menggigit lembut bibirku. Judi Bola Online
Kurasakan lidahnya menari-nari di dalam mulutku. Napasnya yang lembut mendera wajahku. Oh ya, aku paling suka “kissing” dengannya saat dia sedang makan coklat. Rasanya jadi tambah enak. Dan seperti biasa kalau kami sedang berasyik masyuk, kedua belah tanganku selalu menari-nari di tubuhnya.
Selalu! Orang dianya sendiri yang minta buat dijamah. “Pokoknya kalau kamu sedang mencumbuku, sekalian dech tangan kamu ngerjain tubuhku. Biar tidak nanggung.
Tapi harus di bagian yang sensitif. Seperti di daerah sini, sini dan di sini!” katanya kepadaku suatu waktu sambil tangannya menunjuk leher, dada dan bawah perutnya. Enak katanya. Akunya sich oke-oke aja. Siapa yang bakal menolak ditawarin kerjaan seperti itu.
Mulailah pekerjaanku. Kudekatkan kepalaku ke lehernya, kukecup perlahan leher itu kemudian kugigit perlahan. Dia mendongakkan kepalanya tanda dia merasa kegelian. Kucium daerah telinganya dan kukulum bagian telinga yang menggelambir.
Dia mendesah perlahan dan kemudian melingkarkan kedua tangannya ke leherku. Tangan kananku pun berusaha menopang punggungnya agar tubuhnya sedikit tegak dan tangan kiriku segera kumasukkan ke balik bajunya, mengakibatkan kaosnya terangkat sampai ke perut.
Tanganku menyentuh kulitnya yang halus. Menyusup ke punggungnya untuk melepas tali BH-nya. Dan mulailah tanganku menjelajahi bukit barisan itu. Kuremas payudaranya, terasa lembut sekali, diapun merintih. Kupilin putingnya, dia mengerang.
Kutarik puting itu dan diapun mendesah. “Ahh..!” Kuputar-putar jariku di sekitar puting itu “Sshhh..!” Dia mengerang merasakan kenikmatan itu. Kuremas-remas buah dada itu berulangkali, kucubit bukit itu. Rasanya kenyal sekali. Nggak bakalan bosan walaupun tiap hari aku disuruh menyentuhnya.
Lalu tanganku pun turun menyusuri perutnya, menuju hutan tropis. Masuk ke dalam celana dalamnya yang terbuat dari kain satin dengan sedikit renda pada bagian vaginanya. Kutemukan tumpukan kecil daging yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Kugunakan jari telunjuk dan jari manisku untuk membelah labianya yang masih terasa liat sementara jari tengahku kumasukan sedikit ke dalam liang senggamanya.
“Mmhhh…” Dia kegelian. Kedua kakinya nampak terjulur lurus, sedikit menegang.
Kucari seonggok daging kecil diantaranya. Bagian yang mampu mengantarkan seorang wanita merasakan apa arti hidup yang sesungguhnya. Setelah kutemukan mulai tanganku memainkannya. Kusentuh klitoris itu lembut sekali, namun akibatnya sungguh luar biasa.

Tubuhnya menggelinjang hebat dengan kedua kaki terangkat ke atas menggapai-gapai di udara. Dia melenguh dengan mata terpejam dan lidah yang menjilati bibirnya. Langsung kulumat mulutnya. Dia pun membalas dengan ganas.
“Uuhhhh…” Lalu tangan kiriku berusaha menarik klitorisnya, kupencet, kusentil, kupetik, kugesek dengan jari tengahku. Dia memang paling suka disentuh klitorisnya. Dan kalau sudah disentuh, bisanya seperti orang sakau. Mendesah, mengerang, dan menggigil.
Pernah suatu ketika aku ditelpon supaya datang ke rumahnya cuma untuk “memainkan” klitorisnya. Ya, ampuun… setelah puas bermain api, kami pun mencari air untuk menyiramnya. Ehh.. sorry, ngelantur. Tak lama kemudian dia mengajakku ke lantai dua.
“Mas, naik ke atas yuk?” “Mo ngapain?” tanyaku.
“Ke kamarnya Mbak Dian, di sini panas. Ada AC di sana.” “Boleh!” aku setuju.
Kami pun naik ke lantai dua. Satu persatu anak tangga itu kami lewati dan kami pun masuk ke kamar Mbak Dian. Aku langsung tiduran di tempat tidur, sementara dia menyalakan AC-nya. Lalu dia rebah di sampingku. Kami bercerita lagi dan bercumbu lagi. Kali ini kulepas kaosnya,
setumpuk daging segar menggunung di dadanya yang tertutup BH semi transparan seolah ingin melompat keluar. Waw, menantang sekali dan kemudian dengan kasar kusentakkan BH itu hingga terlepas, lalu terhamparlah pemandangan alam.
Nampak Sindoro Sumbing yang berjejer rapi. Bergelanyut manja di dadanya. Putingnya yang berwarna coklat kemerahan kokoh tegak ke atas mengerling ke arahku menantang untuk kunikmati. Payudaranya betul-betul indah bentuknya, terbungkus kulit kuning langsat tanpa cacat sedikitpun, yang tampak membias jika terkena cahaya, yang menandakan payudara itu masih sangat kencang.
Maklum payudara perawan yang rajin merawat tubuh. Namun dengan payudara seperti itu, jangankan menyentuh, cuma dengan memandangnya saja kita akan segera tahu kalau payudara itu diremas akan terasasangat lembut di tangan.
Kudekatkan wajahku ke dadanya. Mulutku kubuka untuk menikmati kedua payudaranya. Bau harum khas tubuhnya semerbak merasuk ke dalam hidungku. Kuhisap salah satu putingnya, kugigit-gigit kecil. Lidahku bergerak memutar di sekitar puting susunya.
Dia mengejang kegelian. Menjambak rambutku dan ditekankan kepalaku ke dadanya. Wajahku terbenam di sana. Kugigit sedikit bagian dari bukit itu dan kusedot agak keras. Nampaklah tanda merah di sana.
Puas kunikmati dadanya, mulailah ada hasrat yang menuntut untuk berbuat lebih. Tampak juga di wajah Rirrie. Matanya menatapku sayu. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Kalau dia dalam keadaan seperti ini, dapat dipastikan diasedang terangsang berat. Dan aku yakin kemaluannya pasti sudah basah.
Aku bertanya padanya, “Rie, sekali-kali kita ngewek yuk!” “Ah, tidak mau ah!” dia menolak.
“Kenapa?” tanyaku. “Aku malu,” jawabnya.
“Malu sama siapa?” tanyaku lagi.
“Aku malu diliat bugil. Aku malu kamu liat anuku.” terangnya.
“Lho, kamu ini aneh. Masa hampir tiap hari kupegang memek kamu, cuma ngeliat malah tidak boleh?” tanyaku keheranan.
“He..” dia tertawa manja. Otakku bekerja mencari akal.
“Atau gini aja, kamu ambil selimut buat nutupin tubuh kamu. Ntar kita cari gaya yang bikin memek kamu nggak keliatan,” usulku sembarangan, nggak taunya dia setuju.
“Iya dech Mas”
Aku girang setengah mati. Lalu dia pun turun ke bawah mengambil selimut. Tak lama kemudian dia sudah ada di hadapanku lagi dengan sebuah selimut batik di tangannya. Lalu selimut itu diserahkannya kepadaku.
“Nah, sekarang kamu lepas semua pakain kamu!” perintahku.
Dia pun segera melepas semua pakaiannya. Sungguh anggun cara dia melepas pakaian. Perlahan namun pasti. Apalagi saat dia mengangkat
kedua tangannya untuk melepas penjepit rambut yang menyebabkan rambutnya terurai indah menutupi sebagian pundaknya. Oh, cantik sekali dia. Berdiri telanjang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Layaknya seorang bidadari.
Dengan payudara yang kencang mengantung indah, dengan bulu halus yang tertata rapi menghiasi bagian bawah perutnya. Dan ketika sadar dirinya telanjang bulat, secepat kilat dia merampas selimut yang ada di tanganku dan digunakanya untuk menutupi tubuhnya. Kusuruh dia untuk naik ke atas tempat tidur dalam posisi merangkak membelakangiku.
Aku segera melepas seluruh pakaianku. Dia menengok ke belakang dan tak sengaja menatap penisku yang sudah tegang berat dan langsung memalingkan wajah. Jengah. Sambil merajuk manja. “Ihhh…”
Walaupun kami sering bercumbu tapi kami belum pernah saling mempertontonkan alat vital masing-masing. Kalau saling pegang atau sekedar nyentuh sich sering. Makanya jangan heran kalau dia jengah waktu melihat penisku. Dan lagi dia itu orangnya pasif.
Penginnya “dikerjain” melulu, tapi kalau disuruh “ngerjain” suka ogah- ogahan. Padahal sebenarnya dia senang sekali kalau disuruh memegang penisku. Tapi itulah dia, dia yang seorang Rirrie yang penuh dengan tanda tanya. Yang aku pun masih suka bingung untuk mengikuti jalan pikirannya.
Aku pun segera mendekat membawa seluruh amunisi yang kupunya. Siap dalam duel berdarah. Kuangkat sedikit selimut yang menutupi pantatnya dan harum birahi yang amat kusukai dari vaginanya menyebar. Tanganku pun masuk ke balik selimut itu.
Mencari daerah jajahan yang harus dikuasai. Meraba-raba sampai akhirnya kutemukan gundukan itu. Terasa benar bulu kemaluannya di jariku.
“Aowww… iiihhh! Mas nakal!” Dia protes ketika aku berusaha mencabut beberapa helai bulu kemaluannya. Sebelumnya buat para pembaca, aku melakukan ini semua tanpa melihat ke arah vaginanya. Bayangkan, bagaimana sulitnya.
Soalnya aku belum pernah menatap langsung vagina sekarang ini. Mulai kupusatkan perhatianku di daerah selangkangannya. Vaginanya terasa basah. Pasti dia sudah sangat terangsang. Dan kucari letak lubangnya dengan jariku.
“Ah, geli Mas!” dia tersentak ketika tak sengaja tanganku menyentuh klitorisnya.
“Hore ketemu…!!!” aku teriak kegirangan.
Akhirnya kutemukan lubang itu. Kumasukkan seperempat jari telunjukku ke dalam vaginanya. Sebentar kuputar-putar disana. Pinggulnya bergerak-gerak tanda dia kegelian. Lalu kutarik kembali dan kini pelan-pelan kusorongkan rudalku untuk mencoba menembus dimensi itu. Saat pertama penisku menyentuh vaginanya, secara refleks dia mengatupkan kedua kakinya.
“Dasar perawan..” kataku di dalam hati.
Lalu perlahan kucoba merenggangkan kakinya. Terasa ada penolakan halus disana.
“Ayo dong sayang, direngganging sedikit kakinya. Katanya pengen di entotin.”
Dia nurut, perlahan dia mulai mengangkangkan kedua kakinya. Rudalku pun kembali mencari sasarannya. Mulai menempel di bibir vaginanya. Terasa hangat di situ.
“Aduh Mas, aku deg-degan nich” “Udah kamu tenang aja dech!”
Perlahan tanganku mencoba untuk membuka tabir itu. Kugunakan jemari tanganku untuk menguak vagina itu. Sedikit terbuka. Dan kucoba memasukkan penisku. “Bless!” Kepala rudalku mulai masuk, membuat Rirrie mengerang kesakitan, membuatnya sedikit tidak nyaman.
“Aduh, Mas, sakit nich!” dia merintih.
Kepalanya mendongak ke atas dengan mimik menahan rasa sakit. “Tahan sebentar ya sayang! Sakitnya paling cuma sebentar kok.” Kasihan juga sich melihat dia begitu. Tapi demi kenikmatan itu apa boleh buat.
Namun saat kepala rudalku mulai menguak masuk vaginanya, terasa ada energi yang sangat kuat dari dalam vaginanya mencoba untuk menyedot penisku agar masuk ke dalam vagina itu. Sampai pinggulku tertarik maju membuat seluruh penisku melesak ke dalam lubang itu. “Sleep…”
“Ah, Mas sakit nich!” “Tapi kok enak ya Mas?”
“Makanya kalo pengen lebih enak jangan ribut terus!” kataku.
“Enak tapi kok aneh ya Mas? Kayak ada yang ngganjel,” dia ngomong sekenanya.
Aku pun tertawa.
“Kamu santai aja dong, jangan tegang gitu.”
Dia menuruti perintahku. Dan sensasi yang belum pernah kami rasakan mulai meresap di diri kami. Penisku rasanya seperti diremas-remas lembut sekali oleh suatu benda asing yang hangat dan basah tak dikenal, disedot-sedot oleh vaginanya.
Duh.. nikmatnya luar biasa. Mataku sampai nanar menahan kenikmatan itu. Lembab namun terasa sangat nyaman. Mulai kugerakkan maju mundur pinggangku, kugenjot penisku perlahan dan kemudian sedikit demi sedikit kupercepat genjotanku, kadang-kadang kupelankan sambil kubenamkan sedalam- dalamnya ke lubang vaginanya sampai dia menjerit,
“Mas.. Mas aduh yang ini sich enak banget.. tusuk lagi dong yang keras Mas!” Rirrie memohon.
Langsung saja kuturuti permintaannya. penisku bergesekan dengan dinding vaginanya yang membuahkan kenikmatan tersendiri bagi kami. Mengakibatkan bunyi berdecak yang mengiringiku menuju sejuta kenikmatan.
Tidak lama kemudian Ririe mendesah hebat sambil badannya bergerak ke sana-kemari, cepat sekali, badannya meliuk-liuk, tangannya meremas- remas sprei tempat tidur hingga acak-acakan. Agen Sbobet
“Uuuhh.. enak sekali Mas.. pelanin dong nyodoknya,” rintih Rirrie. Kuturuti kemauanya.
“Uh!” nikmat sekali rasanya.

Kupompa perlahan-lahan sambil kunikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhku. Sebentar-sebentar dia menggoyangkan pinggulnya, seolah-olah ingin agar penisku juga merasakan kenikmatan itu. Kedua belah tanganku bergerak kesana kemari menjelajahi bagian belakang tubuhnya. Kujambak rambutnya dan kudongakkan kepalanya.
Kubungkukan badanku lalu kuciumi punggungnya. Kujilati leher itu. Kutampar perlahan pantat Rirrie. Dia menjerit kecil. Tanganku pun mengarah ke depan menyambar payudaranya yang menggelantung tak berdaya.
Manggut- manggut mengikuti gerakan badannya. Membuatku semakin horny. Payudaranya terasa lebih keras dari biasanya. Mungkin karena dia sedang dalam kondisi terangsang puncak.
Kuremas-remas dengan kasar. Kupilin-pilin putingnya dan, “Plop…” ya ampun puting itu terlepas. Rambutnya yang panjang melambai-lambai mengikuti irama genjotanku. Matanya terlihat amat sayu dan sebentar- sebentar terpejam. Hingga akhirnya…
“Adduuhh.. Rirrie tidak kuat lagi Mas..” “Rirrie pengen pipis..”
“Masss.. aaakhh..”
Kurasakan dia menekan vaginanya sedalam mungkin sambil menggoyang- goyangkan pinggulnya dan mengatupkan kedua kakinya yang membuat penisku semakin keras terjepit.
Namun sungguh, tindakannya justru makin menambah nikmat gesekan yang kurasakan. Tubuhnya tersentak dan berdiri tegak membelakangiku. Kepalanya disandarkan di bahuku.
“Masss.. enak sekalii.. Hmmm..”
Lalu kulihat kepalanya mendongak ke atas dan kedua bola matanya membalik seperti orang kesurupan. Tangannya bergerak ke belakang memeluk tubuhku. Dan menekan kuat tubuhku seolah ingin menyatukan dengan tubuhnya.
Intensitas denyutan vaginanya semakin tinggi dan kekuatan menyedotnya pun bertambah besar. Yang menyebabkan penisku terasa semakin tertarik di liang senggamanya. Kupercepat lagi genjotanku. Dan akhirnya…
“Ohhh… aaakhhh.. ouch… Mas enak!”
Teriakannya keluar seiring orgasme yang dicapainya. “Seerrr…” cairan bening pun keluar membasahi liang senggamanya. Banjir. Kurasakan suhu di sekitar situ bertambah panas. Sekian lama berlalu tapi Rirrie masih terus memejamkan matanya dan menekan kuat pinggulnya.
Menggerak-gerakannya kekiri dan kekanan. Mencoba untuk menyerap segala kenikmatan yang baru pernah dirasakanya. Dia meracau tak karuan. Saat orgasme yang dialaminya berakhir, dia pun terkulai
lemas.
Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan mata terpejam. Dalam posisi nungging. penisku terlepas dari vaginanya. Tubuhnya bermandikan keringat. Semakin menambah pesona kecantikan tubuhnya. Tak sengaja aku melihat daerah selangkangannya. Ternyata bentuk vaginanya bagus sekali.
Vaginanya yang berwarna merah jambu nampak merekah sedikit monyong dan labia minora-nya nampak sedikit menjorok keluar. Mungkin karena tadi rudalku berkali-kali membombardir pertahanannya.
Vagina itu berdenyut-denyut dan berkilat terkena cahaya. Sedikit darah keluar dari dalam vaginanya perlahan turun mengalir ke pahanya. Ternyata dia masih benar-benar perawan. Kubiarkan dia untuk mengatur detak jantungnya. Agar mampu menghimpun kembali energi yang secara mendadak dikeluarkannya. Sepertinya dia agak shock. Maklum, pengalaman pertama.
“Mas… yang barusan itu enak sekali.” Dia berbisik sambil menatapku dengan senyum kecil di sudut bibirnya. Senyum penuh kepuasan.
Lalu kurebahkan tubuhnya sehingga dia dalam posisi tengkurap tidur, aku pun merebahkan tubuhku menindih punggungnya. Tanganku bergerak kembali ke arah selangkangannya. Becek sekali di sana. Kucari kembali letak liang senggama itu.
“Ayo sayang buka kembali surga kamu,” pintaku.
Perlahan dia mengangkangkan kembali kedua kakinya. Dan kini giliranku untuk memetik kemenangan itu. Begitu melihat Rirrie membuka sedikit saja selangkangannya, semangatku langsung membara lagi. Kuambil ancang-ancang untuk memasukkan kembali penisku.
Satu.. dua.. tiga.. dan, “Bleess…” dengan mudahnya penisku menembus vaginanya. Tanpa permisi dan karena sudah tidak sabar langsung kugenjot dengan kecepatan tinggi. Tak lama kemudia kurasakan seluruh urat nadiku menegang dan darah mengalir ke satu titik. Aku akan mencapai orgasme.
“Rie, Mas mau keluar nich..” “Gantian Ya?”
“Iya Mas, dienak-enakin lho!”
Rirrie berkata sambil kembali mengatupkan kedua kakinya. Terasa dia sedikit mengejan untuk memberi kekuatan di daerah perutnya yang mengakibatkan otot-otot di sekitar vaginanya kembali mencengkeram kuat.
Semakin kupacu genjotanku dan akhirnya pada saat akan terjadi titik kulminasi kuangkat tubuhku dan kutarik penisku keluar dari vaginanya dan langsung kubalikan tubuh Rirrie dan kuraih tangan kanannya lalu kusuruh dia mengocok penisku. Kutarik kepalanya mendekati penisku. Penisku seperti dipompa sampai bocor.
Air maniku pun menyembur kencang dalam genggaman tangannya. Mengenai wajahnya. Aku melenguh. Kulihat air maniku menetes di sprei tempat tidur.
Air maniku sepertinya tidak mau berhenti. Tanganya yang lembut terus mengurut penisku dengan cepat, mengusap-usap kepala rudalku dengan ibu jarinya. Sampai air mani terakhir menetes di tangannya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sampai terasa ke tulang sumsum.
“Enak Mas?” tanya Rirrie. Aku mengangguk.

“Belum pernah aku merasakan yang se.pertii.. ini,” jawabku terbata- bata.
Aku merasa tubuhku lelah sekali. Lemas tak berdaya. Rirrie mendekatkan wajahnya ke rudalku, dan dengan sangat-sangat lembut dikecupnya kepala rudalku berkali-kali sambil berkata, “Kamu benda kecil tapi bisa bikin orang gede kepayahan.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Rirrie memandangku dengan mesra sambil menebarkan senyum penuh pesona. Aku langsung roboh di atas tubuhnya. Menindih tubuhnya. Kugigit perlahan lehernya.
Kujilat dagunya. Kukecup lembut bibirnya. Rirrie memeluk aku sambil mengecup lembut pundakku.
“Mas kapan-kapan kita ngewek lagi ya Mas?” pintanya.
“Iya sayang. Suatu saat kita bakal ngewe lagi.. Kita cari gaya yang lainnya,” jawabku perlahan.
“Sekarang Mas pengen bobo dulu. Mas kecapean nich,” aku memohon. “Iya dech Mas,” balasnya.
“Mas.. Rirrie tambah sayang dech sama Mas.”
Dan aku pun mendapatkan ciuman paling hangat di bibir dalam sejarahku bersamanya. Lalu tangannya turun ke bawah memegang penisku yang sudah lembek dan meremas-remasnya dengan lembut sampai dia terlelap.
Kemudian kupeluk tubuhnya, kukecup keningnya lembut dengan berjuta perasaan yang ada. Dengan sisa kekuatan yang ada, kuangkat badanku dan balik posisi badanku hingga kepalaku berada di antara selangkangannya. Kukecup lembut vagina itu.
Kujilat sedikit lendir yang membasahinya. Kunikmati sebentar pesona vaginanya dengan mulutku. Lalu akupun memejamkan mata. Kami pun tertidur meninggalkan senyum kepuasan di bibir kami.
Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.



Perawanku – Karena jabatan suamiku sudah tidak mungkin lagi naik di perusahaannya, untuk menambah penghasilan kami, aku meminta ijin kepada Mas Hadi untuk bekerja, mengingat pendidikanku sebagai seorang Accounting sama sekali tidak kumanfatkan semenjak aku menikah.
Pada dasarnya suamiku itu selalu menuruti keinginanku, maka tanpa banyak bicara dia mengijinkan aku bekerja, walaupun aku sendiri belum tahu bekerja di mana, dan perusahaan mana yang akan menerimaku sebagai seorang Accounting, karena aku sudah berkeluarga.
“Bukankah kamu punya teman yang anak seorang Direktur di sini?” kata suamiku di suatu malam setelah kami melakukan hubungan badan.
“Iya… si Yanthi, teman kuliah Ridha..!” kataku.
“Coba deh, kamu hubungi dia besok. Kali saja dia mau menolong kamu..!” katanya lagi.
“Tapi, benar nih.. Mas.. kamu ijinkan saya bekerja..?”
Mas Hadi mengangguk mesra sambil menatapku kembali.
Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku.
“Terimakasih.. Mas.., mmhh..!” kusambut ciuman mesranya.
Dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang lagi, dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang ketiga. Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Hingga kami lelah dan tanpa sadar kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masing-masing.
Perlu kuceritakan di sini bahwa Rendy, anak kami tidak bersama kami. Dia kutitipkan ke nenek dan kakeknya yang berada di lain daerah, walaupun masih satu kota. Kedua orangtuaku sangat menyayangi cucunya ini, karena anakku adalah satu-satunya cucu laki-laki mereka.
Siang itu ketika aku terbangun dari mimpiku, aku tidak mendapatkan suamiku tidur di sisiku. Aku menengok jam dinding. Rupanya suamiku sudah berangkat kerja karena jam dinding itu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku teringat akan percakapan kami semalam. Maka sambil mengenakan pakaian tidurku (tanpa BH dan celana dalam), aku beranjak dari tempat tidur berjalan menuju ruang tamu rumahku, mengangkat telpon yang ada di meja dan memutar nomor telpon Yanti, temanku itu.
“Hallo… ini Yanti..!” kataku membuka pembicaraan saat kudengar telpon yang kuhubungi terangkat.
“Iya.., siapa nih..?” tanya Yanti.
“Ini.. aku Ridha..!”
“Oh Ridha.., ada apa..?” tanyanya lagi.
“Boleh nggak sekarang aku ke rumahmu, aku kangen sama kamu nih..!” kataku.
“Silakan.., kebetulan aku libur hari ini..!” jawab Yanti.
“Oke deh.., nanti sebelum makan siang aku ke rumahmu. Masak yang enak ya, biar aku bisa makan di sana..!” kataku sambil sedikit tertawa.
“Sialan luh. Oke deh.., cepetan ke sini.., ditunggu loh..!”
“Oke.., sampai ketemu yaa.. daah..!” kataku sambil menutup gagang telpon itu.
Setelah menelepon Yanti, aku berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi itu aku melepas pakaianku semuanya dan langsung membersihkan tubuhku. Namun sebelumnya aku bermasturbasi sejenak dengan memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri sambil pikiranku menerawang mengingat kejadian-kejadian yang semalam baru kualami. Membayangkan penis suamiku walau tidak begitu besar namun mampu memberikan kepuasan padaku. Dan ini merupakan kebiasaanku.

Walaupun aku telah bersuami, namun aku selalu menutup kenikmatan bersetubuh dengan Mas Hadi dengan bermasturbasi, karena kadang-kadang bermasturbasi lebih nikmat.
Singkat cerita, siang itu aku sudah berada di depan rumah Yanti yang besar itu. Dan Yanti menyambutku saat aku mengetuk pintunya.
“Apa khabar Rida..?” begitu katanya sambil mencium pipiku.
“Seperti yang kamu lihat sekarang ini..!” jawabku.
Setelah berbasa-basi, Yanti membimbingku masuk ke ruangan tengah dan mempersilakan aku untuk duduk.
“Sebentar ya.., kamu santailah dahulu, aku ambil minuman di belakang…” lalu Yanti meninggalkanku.
Aku segera duduk di sofanya yang empuk. Aku memperhatikan ke sekeliling ruangan ini. Bagus sekali rumahnya, beda dengan rumahku. Di setiap sudut ruang terdapat hiasan-hiasan yang indah, dan pasti mahal-mahal. Foto-foto Yanti dan suaminya terpampang di dinding-dinding. Sandi yang dahulu katanya sempat menaksir aku, yang kini adalah suami Yanti, terlihat semakin ganteng saja. Dalam pikirku berkata, menyesal juga aku acuh tak acuh terhadapnya dahulu. Coba kalau aku terima cintanya, mungkin aku yang akan menjadi istrinya.
Sambil terus memandangi foto Sandi, suaminya, terlintas pula dalam ingatanku betapa pada saat kuliah dulu lelaki keturunan Manado ini mencoba menarik perhatianku (aku, Yanti dan Sandi memang satu kampus). Sandi memang orang kaya. Dia adalah anak pejabat pemerintahan di Jakarta. Pada awalnya aku pun tertarik, namun karena aku tidak suka dengan sifatnya yang sedikit sombong, maka segala perhatiannya padaku tidak kutanggapi. Aku takut jika tidak cocok dengannya, karena aku orangnya sangat sederhana.
Lamunannku dikagetkan oleh munculnya Yanti. Sambil membawa minuman, Yanti berjalan ke arah aku duduk, menaruh dua gelas sirup dan mempersilakanku untuk minum.
“Ayo Rid, diminum dulu..!” katanya.
Aku mengambil sirup itu dan meminumnya. Beberapa teguk aku minum sampai rasa dahaga yang sejak tadi terasa hilang, aku kembali menaruh gelas itu.
“Oh iya, Mas Sandi ke mana?” tanyaku.
“Biasa… Bisnis dia,” kata Yanti sambil menaruh gelasnya. “Sebentar lagi juga pulang. Sudah kutelpon koq dia, katanya dia juga kangen sama kamu..!” ujarnya lagi.
Yanti memang sampai sekarang belum mengetahui kalau suaminya dahulu pernah naksir aku. Tapi mungkin juga Sandi sudah memberitahukannya.
“Kamu menginap yah.. di sini..!” kata Yanti.
“Akh… enggak ah, tidak enak khan..!” kataku.
“Loh… nggak enak gimana, kita kan sahabat. Sandi pun kenal kamu. Lagian aku sudah mempersiapkan kamar untukmu, dan aku pun sedang ambil cuti koq, jadi temani aku ya.., oke..!” katanya.
“Kasihan Mas Hadi nanti sendirian..!” kataku.
“Aah… Mas Hadi khan selalu menurut keinginanmu, bilang saja kamu mau menginap sehari di sini menemani aku. Apa harus aku yang bicara padanya..?”
“Oke deh kalau begitu.., aku pinjam telponmu ya..!” kataku.
“Tuh di sana…!” kata Yanti sambil menujuk ke arah telepon.
Aku segera memutar nomor telpon kantor suamiku. Dengan sedikit berbohong, aku minta ijin untuk menginap di rumah Yanti. Dan menganjurkan Mas Hadi untuk tidur di rumah orangtuaku. Seperti biasa Mas Hadi mengijinkan keinginanku. Dan setelah basa-basi dengan suamiku, segera kututup gagang telpon itu.
“Beres..!” kataku sambil kembali duduk di sofa ruang tamu.
“Nah.., gitu dong..! Ayo kutunjukkan kamarmu..!” katanya sambil membimbingku.
Di belakang Yanti aku mengikuti langkahnya. Dari belakang itu juga aku memperhatikan tubuh montoknya. Yanti tidak berubah sejak dahulu. Pantatnya yang terbungkus celana jeans pendek yang ketat melenggak-lenggok. Pinggulnya yang ramping sungguh indah, membuatku iseng mencubit pantat itu.
“Kamu masih montok saja, Yan..!” kataku sambil mencubit pantatnya.
“Aw.., akh.. kamu. Kamu juga masih seksi saja. Bisa-bisa Mas Sandi nanti naksir kamu..!” katanya sambil mencubit buah dadaku.
Kami tertawa cekikikan sampai kamar yang dipersiapkan untukku sudah di depan mataku.
“Nah ini kamarmu nanti..!” kata Yanti sambil membuka pintu kamar itu.
Besar sekali kamar itu. Indah dengan hiasan interior yang berseni tinggi. Ranjangnya yang besar dengan seprei yang terbuat dari kain beludru warna biru, menghiasi ruangan ini. Lemari pakaian berukiran ala Bali juga menghiasi kamar, sehingga aku yakin setiap tamu yang menginap di sini akan merasa betah.
Akhirnya di kamar itu sambil merebahkan diri, kami mengobrol apa saja. Dari pengalaman-pengalaman dahulu hingga kejadian kami masing-masing. Kami saling bercerita tentang keluhan-keluhan kami selama ini. Aku pun bercerita panjang mulai dari perkimpoianku sampai sedetil-detilnya, bahkan aku bercerita tentang hubungan bercinta antara aku dan suamiku. Kadang kami tertawa, kadang kami serius saling mendengarkan dan bercerita. Hingga pembicaraan serius mulai kucurahkan pada sahabatku ini, bahwa aku ingin bekerja di perusahan bapaknya yang direktur.
“Gampang itu..!” kata Yanti. “Aku tinggal menghubungi Papa nanti di Jakarta. Kamu pasti langsung diberi pekerjaan. Papaku kan tahu kalau kamu adalah satu-satunya sahabatku di dunia ini..” lanjutnya sambil tertawa lepas.
Tentu saja aku senang dengan apa yang dibicarakan oleh Yanti, dan kami pun meneruskan obrolan kami selain obrolan yang serius barusan.
Tanpa terasa, di luar sudah gelap. Aku pun minta ijin ke Yanti untuk mandi. Tapi Yanti malah mengajakku mandi bersama. Dan aku tidak menolaknya. Karena aku berpikir toh sama-sama wanita.Sungguh di luar dugaan, di kamar mandi ketika kami sama-sama telanjang bulat, Yanti memberikan sesuatu hal yang sama sekali tidak terpikirkan.
Sebelum air yang hangat itu membanjiri tubuh kami, Yanti memelukku sambil tidak henti-hentinya memuji keindahan tubuhku. Semula aku risih, namun rasa risih itu hilang oleh perasaan yang lain yang telah menjalar di sekujur tubuh. Sentuhan-sentuhan tangannya ke sekujur tubuhku membuatku nikmat dan tidak kuasa aku menolaknya. Apalagi ketika Yanti menyentuh bagian tubuhku yang sensitif.
Kelembutan tubuh Yanti yang memelukku membuatku merinding begitu rupa. Buah dadaku dan buah dadanya saling beradu. Sementara bulu-bulu lebat yang berada di bawah perut Yanti terasa halus menyentuh daerah bawah perutku yang juga ditumbuhi bulu-bulu. Namun bulu-bulu kemaluanku tidak selebat miliknya, sehingga terasa sekali kelembutan itu ketika Yanti menggoyangkan pinggulnya.
Karena suasana yang demikian, aku pun menikmati segala apa yang dia lakukan. Kami benar-benar melupakan bahwa kami sama-sama perempuan. Perasaan itu hilang akibat kenikmatan yang terus mengaliri tubuh. Dan pada akhirnya kami saling berpandangan, saling tersenyum, dan mulut kami pun saling berciuman.
Kedua tanganku yang semuala tidak bergerak kini mulai melingkar di tubuhnya. Tanganku menelusuri punggungnya yang halus dari atas sampai ke bawah dan terhenti di bagian buah pantatnya. Buah pantat yang kencang itu secara refleks kuremas-remas. Tangan Yanti pun demikian, dengan lembut dia pun meremas-remas pantatku, membuatku semakin naik dan terbawa arus suasana. Semakin aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dibalasnya ciumanku itu dengan bernafsu pula.
Hingga suatu saat ketika Yanti melepas ciuman bibirnya, lalu mulai menciumi leherku dan semakin turun ke bawah, bibirnya kini menemukan buah dadaku yang mengeras. Tanpa berkata-kata sambil sejenak melirik padaku, Yanti menciumi dua bukit payudaraku secar bergantian. Napasku mulai memburu hingga akhirnya aku menjerit kecil ketika bibir itu menghisap puting susuku. Dan sungguh aku menikmati semuanya, karena baru pertama kali ini aku diciumi oleh seorang wanita.
“Akh.., Yaantiii.., oh..!” jerit kecilku sedikit menggema.
“Kenapa Rid.., enak ya..!” katanya di sela-sela menghisap putingku.
“Iya.., oh.., enaaks… teruus..!” kataku sambil menekan kepalanya.
Diberi semangat begitu, Yanti semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut dan mesra. Tangan kirinya menahan tubuhku di punggung.
Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Aku teringat akan suamiku yang sering melakukan hal serupa, namun perbedaannya terasa sekali, Yanti sangat lembut memanjakan tubuhku ini, mungkin karena dia juga wanita.
Setelah tangan itu berada di kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek kelentitku yang masih tersembunyi, maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar.
Ketika jari itu menyentuh kelentitku yang mengeras, semakin asyik Yanti memainkan kelentitku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku. Aku menggelinjang hebat ketika rasa geli campur nikmat menjamah tubuhku. Pori-poriku sudah mengeluarkan keringat dingin, di dalam liang vaginaku sudah terasa ada cairan hangat yang mengalir perlahan, pertanda rangsangan yang sungguh membuatku menjadi nikmat.

Ketika tanganku menekan bagian atas kepalanya, bibir Yanti yang menghisap kedua putingku secara bergantian segera berhenti. Ada keinginan pada diriku dan Yanti mengerti akan keinginanku itu. Namun sebelumnya, kembali dia pada posisi wajahnya di depan wajahku. Tersungging senyuman yang manis.
“Ingin yang lebih ya..?” kata Santi.
Sambil tersenyum aku mengangguk pelan. Tubuhku diangkatnya dan aku duduk di ujung bak mandi yang terbuat dari porselen. Setelah aku memposisikan sedemikian rupa, tangan Yanti dengan cekatan membuka kedua pahaku lebar-lebar, maka vaginaku kini terkuak bebas. Dengan posisi berlutut, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Aku menunggu perlakuannya dengan jantung yang berdebar kencang.
Napasku turun naik, dadaku terasa panas, begitu pula vaginaku yang terlihat pada cermin yang terletak di depanku sudah mengkilat akibat basah, terasa hangat. Namun rasa hangat itu disejukkan oleh angin yang keluar dari kedua lubang hidung Yanti. Tangan Yanti kembali membelai vaginaku, menguakkan belahannya untuk menyentuh kelentitku yang semakin menegang.
Agak lama Yanti membelai-belai kemaluanku itu yang sekaligus mempermainkan kelentitku. Sementara mulutnya menciumi pusar dan sekitarnya. Tentu saja aku menjadi kegelian dan sedikit tertawa. Namun Yanti terus saja melakukan itu.
Hingga pada suatu saat, “Eiist… aakh… aawh… Yanthhii… akh… mmhh… ssh..!” begitu suara yang keluar dari mulutku tanpa disadari, ketika mulutnya semakin turun dan mencium vaginaku.
Kedua tangan Yanti memegangi pinggul dan pantatku menahan gerakanku yang menggelinjang nikmat.
Kini ujung lidahnya yang menyentuh kelentitku. Betapa pintar dia mempermainkan ujung lidah itu pada daging kecilku, sampai aku kembali tidak sadar berteriak ketika cairan di dalam vaginaku mengalir keluar.
“Oohh… Yantii… ennaakss… sekaalii..!” begitu teriakku.
Aku mulai menggoyangkan pinggulku, memancing nikmat yang lebih. Yanti masih pada posisinya, hanya sekarang yang dijilati bukan hanya kelentitku tapi lubang vaginaku yang panas itu. Tubuhku bergetar begitu hebat. Gerakan tubuhku mulai tidak karuan. Hingga beberapa menit kemudian, ketika terasa orgasmeku mulai memuncak, tanganku memegang bagian belakang kepalanya dan mendorongnya. Karuan saja wajah Yanti semakin terpendam di selangkanganku.
“Hissapp… Yantiii..! Ooh.., aku.. akuu.. mau.. keluaar..!” jeritku.
Yanti berhenti menjilat kelentitku, kini dia mencium dan menghisap kuat lubang kemaluanku.
Maka.., “Yaantii.., aku.. keluaar..! Oh.., aku.. keluar.. nikmaathhs.. ssh..!” bersamaan dengan teriakku itu, maka aku pun mencapai orgasme.
Tubuhku seakan melayang entah kemana. Wajahku menengadah dengan mata terpejam merasakan berjuta-juta nikmat yang sekian detik menjamah tubuh, hingga akhirnya aku melemas dan kembali pada posisi duduk. Maka Yanti pun melepas hisapannya pada vaginaku.
Dia berdiri, mendekatkan wajahnya ke hadapan wajahku, dan kembali dia mencium bibirku yang terbuka. Napasku yang tersengal-sengal disumbat oleh mulut Yanti yang menciumku. Kubalas ciuman mesranya itu setelah tubuhku mulai tenang.
“Terimakasih Yanti.., enak sekali barusan..!” kataku sambil tersenyum.
Yanti pun membalas senyumanku. Dia membantuku turun dari atas bak mandi itu.
“Kamu mau nggak dikeluarin..?” kataku lagi.
“Nanti sajalah.., lagian udah gatel nih badanku. Sekarang mending kita mandi..!” jawabnya sambil menyalakan shower.
Akhirnya kusetujui usul itu, sebab badanku masih lemas akibat nikmat tadi. Dan rupanya Yanti tahu kalau aku kurang bertenaga, maka aku pun dimandikannya, disabuni, diperlakukan layaknya seorang anak kecil. Aku hanya tertawa kecil. Iseng-iseng kami pun saling menyentuh bagian tubuh kami masing-masing. Begitupula sebaliknya, ketika giliran Yanti yang mandi, aku lah yang menyabuni tubuhnya.
Setelah selesai mandi, kami pun keluar dari kamar mandi itu secara bersamaan. Sambil berpelukan, pundak kami hanya memakai handuk yang menutup tubuh kami dari dada sampai pangkal paha, dan sama sekali tidak mengenakan dalaman. Aku berjalan menuju kamarku sedang Yanti menuju kamarnya sendiri. Di dalam kamar aku tidak langsung mengenakan baju. Aku masih membayangkan kejadian barusan. Seolah-olah rasa nikmat tadi masih mengikutiku.
Di depan cermin, kubuka kain handuk yang menutupi tubuhku. Handuk itu jatuh terjuntai ke lantai, dan aku mulai memperhatikan tubuh telanjangku sendiri. Ada kebanggaan dalam hatiku. Setelah tadi melihat tubuh telanjang Yanti yang indah, ternyata tubuhku lebih indah. Yanti memang seksi, hanya dia terlalu ramping sehingga sepintas tubuhnya itu terlihat kurus. Sedangkan tubuhku agak montok namun tidak terkesan gemuk.
Entah keturunan atau tidak, memang demikianlah keadaan tubuhku. Kedua payudaraku berukuran 34B dengan puting yang mencuat ke atas, padahal aku pernah menyusui anakku. Sedangkan payudara Yanti berukuran 32 tapi juga dengan puting yang mencuat ke atas juga.
Kuputar tubuhku setengah putaran. Kuperhatikan belahan pantatku. Bukit pantatku masih kencang, namun sudah agak turun, karena aku pernah melahirkan. Berbeda dengan pantat milik Yanti yang masih seperti pantat gadis perawan, seperti pantat bebek.
Kalau kuperhatikan dari pinggir tubuhku, nampak perutku yang ramping. Vaginaku nampak menonjol keluar. Bulu-bulu kemaluanku tidak lebat, walaupun pernah kucukur pada saat aku melahirkan. Padahal kedua tangan dan kedua kakiku tumbuh bulu-bulu tipis, tapi pertumbuhan bulu kemaluanku rupanya sudah maksimal. Lain halnya dengan Yanti, walaupun perutnya lebih ramping dibanding aku, namun kemaluannya tidak menonjol alias rata. Dan daerah itu ditumbuhi bulu-bulu yang lebat namun tertata rapi.
Setelah puas memperhatikan tubuhku sendiri (sambil membandingkan dengan tubuh Yanti), aku pun membuka tasku dan mengambil celana dalam dan Bra-ku. Kemudian kukenakan kedua pakaian rahasiaku itu setelah sekujur tubuhku kulumuri bedak. Namun aku agak sedikit kaget dengan teriakan Yanti dari kamarnya yang tidak begitu jauh dari kamar ini.
“Rida..! Ini baju tidurmu..!” begitu teriaknya.
Maka aku pun mengambil handuk yang berada di lantai. Sambil berjalan kukenakan handuk itu menutupi tubuhku seperti tadi, lalu keluar menuju kamarnya yang hanya beberapa langkah. Pintu kamarnya ternyata tidak dikunci. Karena mungkin Yanti tahu kedatanganku, maka dia mempersilakan aku masuk.
“Masuk sini Rid..!” kataya dari dalam kamar.
Kudorong daun pintu kamarnya. Aku melihat di dalam kamar itu tubuh Yanti yang telanjang merebah di atas kasur. Tersungging senyuman di bibirnya. Karena aku sudah melangkah masuk, maka kuhampiri tubuh telanjang itu.
“Kamu belum pake baju, Yan..?” kataku sambil duduk di tepi ranjang.
“Akh.., gampang… tinggal pake itu, tuh..!” kata Yanti sambil tangannya menunjuk tumpukan gaun tidur yang berada di ujung ranjang.
Lalu dia berkata lagi, “Kamu sudah pake daleman, ya..?”
Aku mengangguk, “Iya..!”
Kuperhatikan dadanya turun naik. Napasnya terdengar memburu. Apakah dia sedang bernafsu sekarang.., entahlah.
Lalu tangan Yanti mencoba meraihku. Sejenak dia membelai tubuhku yang terbungkus handuk itu sambil berkata, “Kamu mengairahkan sekali memakai ini..!”
“Akh.., masa sih..!” kataku sambil tersenyum dan sedikit menggeser tubuhku lebih mendekat ke tubuh Yanti.

“Benar.., kalo nggak percaya.., emm.. kalo nggak percaya..!” kata Yanti sedikit menahan kata-katanya.
“Kalo nggak percaya apa..?” tanyaku.
“Kalo nggak percaya..!” sejenak matanya melirik ke arah belakangku.
“Kalo nggak percaya tanya saja sama orang di belakangmu… hi.. hi..!” katanya lagi.
Segera aku memalingkan wajahku ke arah belakangku. Dan.., (hampir saja aku teriak kalau mulutku tidak buru-buru kututup oleh tanganku), dengan jelas sekali di belakangku berdiri tubuh lelaki dengan hanya mengenakan celana dalam berwarna putih yang tidak lain adalah Mas Sandi suami Yanti itu. Dengan refleks karena kaget aku langsung berdiri dan bermaksud lari dari ruangan ini. Namun tangan Yanti lebih cepat menangkap tanganku lalu menarikku sehingga aku pun terjatuh dengan posisi duduk lagi di ranjang yang empuk itu.
“Mau kemana.. Rida.., udah di sini temani aku..!” kata Yanti setengah berbisik.
Aku tidak sempat berkata-kata ketika Mas Sandi mulai bergerak berjalan menuju aku. Dadaku mulai berdebar-debar. Ada perasaan malu di dalam hatiku.
“Halo.., Rida. Lama tidak bertemu ya…” suara Mas Sandi menggema di ruangan itu.
Tangannya mendarat di pundakku, dan lama bertengger di situ.
Aku yang gelagapan tentu saja semakin gelagapan. Namun ketika tangan Yanti dilepaskan dari cengkramannya, pada saat itu tidak ada keinginanku untuk menghindar. Tubuhku terasa kaku, sama sekali aku tidak dapat bergerak. Lidahku pun terasa kelu, namun beberapa saat aku memaksa bibirku berkata-kata.
“Apa-apaan ini..?” tanyaku parau sambil melihat ke arah Yanti.
Sementara tangan yang tadi bertengger di bahuku mulai bergerak membelai-belai. Serr.., tubuhku mulai merinding. Terasa bulu-bulu halus di tangan dan kaki berdiri tegak.
Rupanya Sentuhan tangan Mas Sandi mampu membangkitkan birahiku kembali. Apalagi ketika terasa di bahuku yang sebelah kiri juga didarati oleh tangan Mas Sandi yang satunya lagi. Perasaan malu yang tadi segera sirna. Tubuhku semakin merinding. Mataku tanpa sadar terpejam menikmati dalam-dalam sentuhan tangan Mas Sandi di bahuku itu.
Pijatan-pijatan kecil di bahuku terasa nyaman dan enak sekali. Aku begitu menikmati apa yang terasa. Hingga beberapa saat kemudian tubuhku melemas. Kepalaku mulai tertahan oleh perut Mas Sandi yang masih berada di belakangku. Sejenak aku membuka mataku, nampak Yanti membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meremas pelan kedua payudaranya secara bergantian. Tersungging senyuman di bibirnya.
“Nikmati Rida..! Nikmati apa yang kamu sekarang rasakan..!” suara Yanti masih sedikit membisik.
Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Mas Sandi yang mulai mendarat di daerah atas payudarara yang tidak tertutup. Mataku masih terpejam.
“Ini.. kan yang kamu inginkan. Kupinjamkan suamiku..!” kata Yanti lagi.
Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Yanti yang masih dengan posisinya.
“Ayo Mas..! Nikmati Rida yang pernah kamu taksir dulu..!” kata Yanti lagi.
“Tentu saja Sayang.., asal.. kamu ijinkan..!” kata suara berat Mas Sandi.
Tubuhnya dibungkukkan. Kemudian wajahnya ditempelkan di bagian atas kepalaku. Terasa bibirnya mencium mesra daerah itu. Kembali aku memejamkan mata. Bulu-buluku semakin keras berdiri. Sentuhan lembut tangan Mas Sandi benar-benar nikmat. Sangat pintar sekali sentuhan itu memancing gairahku untuk bangkit. Apalagi ketika tangan Mas Sandi sebelah kanan berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku itu.
“Oh.., Mas.., Maas… jangaan… Mas..!” aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Mas Sandi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh.
Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku. Aku sudah terbius suasana.
Mas Sandi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran disentuhnya, dan aku mendesah nikmat ketika leherku mulai dicium mesra oleh Mas Sandi. Sementara desahan-desahan kecil terdengar dari mulut Yanti.
Aku melirik sejenak ke arah Yanti, rupanya dia sedang masturbasi. Lalu aku memejamkan mata lagi, kepalaku kutengadahkan memberikan ruangan pada leherku untuk diciumi Mas Sandi. Persaanku sudah tidak malu-malu lagi, aku sudah kepalang basah. Aku lupa bahwa aku telah bersuami, dan aku benar-benar akan merasakan apa yang akan kurasakan nanti, dengan lelaki yang bukan suamiku.
“Buka ya.. BH-nya, Rida..!” kata Mas Sandi sambil melepas kancing tali BH-ku dari punggung.
Beberapa detik BH itu terlepas, maka terasa bebas kedua payudaraku yang sejak tadi tertekan karena mengeras. Suara Yanti semakin keras, rupanya dia mencapai orgasmenya. Kembali aku melirik Yanti yang membenamkan jari manis dan jari telunjuknya ke dalam vaginanya sendiri. Nampak dia mengejang dengan mengangkat pinggulnya.
“Akh.., nikmaats… ooh… nikmaatts.. sekalii..!” begitu kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Dan tidak lama kemudian dia terkulai lemas di ranjang itu. Sementara Mas Sandi sibuk dengan kegiatannya.
Kini kedua payudaraku sudah diremasi dengan mesra oleh kedua telapak tangannya dari belakang. Sambil terus bibirnya menjilati inci demi inci kulit leherku seluruhnya. Sedang enak-enaknya aku, tiba-tiba ada yang menarik celana dalamku. Aku membuka mataku, rupanya Yanti berusaha untuk melepas celana dalamku itu. Maka kuangkat pantatku sejenak memudahkan celana dalamku dilepas oleh Yanti. Maka setelah lepas, celana dalam itu juga dibuang jauh-jauh oleh Yanti.
Aku menggeser posisi dudukku menuju ke bagian tengah ranjang itu. Mas Sandi mengikuti gerakanku masih dari belakang, sekarang dia tidak berlutut, namun duduk tepat di belakang tubuhku. Kedua kakinya diselonjorkan, maka pantatku kini berada di antara selangkangan milik Mas Sandi. Terasa oleh pantatku ada tonjolan keras di selangkangan. Rupanya penis Mas Sandi sudah tegang maksimal.
Lalu Yanti membuka lebar-lebar pahaku, sehingga kakiku berada di atas paha Mas Sandi. Lalu dengan posisi tidur telungkup, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku, dan apa yang terjadi…
“Awwh… ooh… eeisth.. aakh..!” aku menjerit nikmat ketika kembali kurasakan lidahnya menyapu-nyapu belahan vaginaku, terasa kelentitku semakin menegang, dan aku tidak dapat mengendalikan diri akibat nikmat, geli, enak, dan lain sebagainya menyatu di tubuhku.
Kembali kepalaku menengadah sambil mulutku terbuka. Maka Mas Sandi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tahu maksudku. Dari belakang, bibirnya langsung melumat bibirku yang terbuka itu dengan nafsunya. Maka kubalas ciuman itu dengan nafsu pula. Dia menyedot, aku menyedot pula. Terjadilah pertukaran air liur Mas Sandi dengan air liurku. Terciuma aroma rokok pada mulutnya, namun aroma itu tidak mengganggu kenikmatan ini.
Kedua tangan Mas Sandi semakin keras meremas kedua payudaraku, namun menimbulkan nikmat yang teramat, sementara di bawah Yanti semakin mengasyikkan. Dia terus menjilat dan mencium vaginaku yang telah banjir. Banjir oleh cairan pelicin vaginaku dan air liur Yanti.
“Mmmhh… akh… mmhh..!” bibirku masih dilumati oleh bibir Mas Sandi.
Tubuhku semakin panas dan mulai memberikan tanda-tanda bahwa aku akan mencapai puncak kenikmatan yang kutuju. Pada akhirnya, ketika remasan pada payudaraku itu semakin keras, dan Yanti menjilat, mencium dan menghisap vaginaku semakin liar, tubuhku menegang kaku, keringat dingin bercucuran dan mereka tahu bahwa aku sedang menikmati orgasmeku. Aku mengangkat pinggulku, otomatis ciuman Yanti terlepas. Semakin orgasmeku terasa ketika jari telujuk dan jari manis Yanti dimasukkan ke liang vaginaku, kemudian dicabutnya setengah, lalu dimasukkan lagi.
Perlakuan Yanti itu berulang-ulang, yaitu mengeluar-masukkan kedua jarinya ke dalam lubang vaginaku. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa nikmat dan enak pada saat itu.
“Aakh… aawhh… nikmaatss… terus.. Yantii.. oooh… yang cepaat.. akh..!” teriakku.
Tubuh Mas Sandi menahan tubuhku yang mengejang itu. Jarinya memilin-milin puting susuku. Bibirnya mengulum telingaku sambil membisikkan sesuatu yang membuatku semakin melayang. Bisikan-bisikan yang memujiku itu tidak pernah kudengar dari Mas Hadi, suamiku.
“Ayo cantik..! Nikmatilah orgasmemu.., jangan kamu tahan, keluarkan semuanya Sayang..! Nikmatilah.., nikmatilah..! Oh.., kamu cantik sekali jika orgasme..!” begitu bisikan yang keluar dari mulut Mas Sandi sambil terus mengulum telingaku.
“Aakh.. Maass, aduh.. Yanti.., nikmaats… oh… enaaks.. sekali..!” teriakku.
Akhirnya tubuh kejangku mulai mengendur, diikuti dengan turunnya kenikmatan orgasmeku itu.
Perlahan sekali tubuhku turun dan akhirnya terkulai lemas di pangkuan Mas Sandi. Lalu tubuh Yanti mendekapku.
Dia berbisik padaku, “Ini.. belum seberapanya Sayaang.., nanti akan kamu rasakan punya suamiku..!” sambil berkata demikian dia mencium keningku.
Mas Sandi beranjak dari duduknya dan berjalan entah ke arah mana, karena pada saat itu mataku masih terpenjam seakan enggan terbuka.

Entah berapa lama aku terlelap. Ketika kusadar, kubuka mataku perlahan dan mencari-cari Yanti dan Mas Sandi sejenak. Mereka tidak ada di kamar ini, dan rupanya mereka membiarkanku tertidur sendiri. Aku menengok jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Segera aku bangkit dari posisi tidurku, lalu berjalan menuju pintu kamar. Telingaku mendengar alunan suara musik klasik yang berasal dari ruangan tamu. Dan ketika kubuka pintu kamar itu yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tamu, mataku menemukan suatu adegan dimana Yanti dan suaminya sedang melakukan persetubuhan.
Yanti dengan posisi menelentang di sofa sedang ditindih oleh Mas Sandi dari atas. Terlihat tubuh Mas Sandi sedang naik turun. Segera mataku kutujukan pada selangkangan mereka. Jelas terlihat penis Mas Sandi yang berkilat sedang keluar masuk di vagina Yanti. Terdengar pula erangan-erangan yang keluar dari mulut Yanti yang sedang menikmati hujaman penis itu di vaginanya, membuat tubuhku perlahan memanas. Segera saja kuhampiri mereka dan duduk tepat di depan tubuh mereka.
Di sela-sela kenikmatan, Yanti menatapku dan tersenyum. Rupanya Mas Sandi memperhatikan istrinya dan sejenak dia menghentikan gerakannya dan menengok ke belakang, ke arahku.
“Akh… Mas.., jangan berhentiii doong..! Oh..!” kata Yanti.
Dan Mas Sandi kembali berkonsentrasi lagi dengan kegiatannya. Kembali terdengar desahan-desahan nikmat Yanti yang membahana ke seluruh ruangan tamu itu. Aku kembali gelagapan, kembali resah dan tubuhku semakin panas. Dengan refleks tanganku membelai vaginaku sendiri.
“Oh.. Ridhaa.., nikmat sekaallii.. loh..! Akuu… ooh… mmh..!” kata Yanti kepadaku.
Aku melihat wajah nikmat Yanti yang begitu cantik. Kepalannya kadang mendongak ke atas, matanya terpejam-pejam. Sesekali dia gigit bibir bawahnya. Kedua tangannya melingkar pada pantat suaminya, dan menarik-narik pantat itu dengan keras sekali. Aku melihat penis Mas Sandi yang besar itu semakin amblas di vagina Yanti. Samakin mengkilat saja penis itu.
“Oh Mas.., aku hampiir sampaaii..! Teruus… Mas… terus..! Lebih keras lagiih.., oooh… akh..!” kata Yanti.
Yanti mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya, Mas Sandi terus dengan gerakannya menaik-turunkan tubuhnya dalam kondisi push-up.
“Maass.., akuuu… keluaar..! Aakh… mhh… nikmaats.., mmh..!” kata Yanti lagi dengan tubuh yang mengejang.
Rupanya Yanti mencapai orgasmenya. Tangannya yang tadi melingkar di pantat suaminya, kini berpindah melingkar di punggung.
Mas Sandi berhenti bergerak dan membiarkan penis itu menancap dalam di lubang kemaluan Yanti.
“Owhh… banyak sekali Sayang.. keluarnya. Hangat sekali memekmu..!” kata Mas Sandi sambil menciumi wajah istrinya.
Dapat kubayangkan perasaan Yanti pada saat itu. Betapa nikmatnya dia. Dan aku pun belingsatan dengan merubah-rubah posisi dudukku di depan mereka. Beberapa saat kemudian, Yanti mulai melemas dari kejangnya dan merubah posisinya. Segera dia turun dari sofa ketika Mas Sandi mencabut penis dari lubang kenikmatan itu. Aku melihat dengan jelas betapa besar dan panjang penis Mas Sandi. Dan ini baru pertama kali aku melihatnya, karena waktu tadi di dalam kamar, Mas Sandi masih menutupi penisnya dengan celana dalam.
Dengan segera Yanti menungging. Lalu segera pula Mas Sandi berlutut di depan pantat itu.
“Giliranmu… Mas..! Ayoo..!” kata Yanti.
Tangan Mas Sandi menggenggam penis itu dan mengarahkan langsung ke lubang vagina Yanti. Segera dia menekan pantatnya dan melesaklah penis itu ke dalam vagina istrinya, diikuti dengan lenguhan Yanti yang sedikit tertahan.
“Owwh… Maas… aakh..!”
“Aduuh… Yantii.., jepit Sayangh..!” kata Mas Sandi.
Lalu kaki Yanti dirapatkan sedemikian rupa. Dan segera pantat Mas Sandi mulai mundur dan maju.Ufh.., pemandangan yang begitu indah yang kulihat sekarang. Baru kali ini aku menyaksikan sepasang manusia bersetubuh tepat di depanku secara langsung. Semakin mereka mempercepat tempo gerakannya, semakin aku terangsang begitu rupa. Tanganku yang tadi hanya membelai-belai vaginaku, kini mulai menyentuh kelentitku.
Kenikmatan mulai mengaliri tubuhku dan semakin aku tidak tahan, sehingga aku memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri. Aku sendiri sangat menikmati masturbasiku tanpa lepas pandanganku pada mereka. Belum lagi telingaku jelas mendengar desahan dan rintihan Yanti, aku dapat membayangkan apa yang dirasakan Yanti dan aku sangat ingin sekali merasakannya, merasakan vaginaku pun dimasukkan oleh penis Mas Sandi.
Beberapa saat kemudian Mas Sandi mulai melenguh keras. Kuhentikan kegiatanku dan terus memperhatikan mereka.
“Aakhh… Yantii… nikmaats… aakh… aku keluaar..!” teriak Mas Sandi membahana.
“Oh… Maas… akuu… juggaa… akh..!”
Kedua tubuh itu bersamaan mengejang. Mereka mencapai orgasmenya secara bersama-sama.
Penis Mas Sandi masih menancap di vagina Yanti sampai akhirnya mereka melemas, dan dari belakang tubuh Yanti, Mas Sandi memeluknya sambil meremas kedua payudara Yanti. Mas Sandi memasukkan semua spermanya ke dalam vagina Yanti.
Lama sekali aku melihat mereka tidak bergerak. Rupanya mereka sangat kelelahan. Di sofa itu mereka tertidur bertumpukan. Tubuh Yanti berada di bawah tubuh Mas Sandi yang menindihnya. Mata mereka terpejam seolah tidak menghiraukan aku yang duduk terpaku di depannya. Hingga aku pun mulai bangkit dari dudukku dan beranjak pergi menuju kamarku. Sesampai di kamar aku baru sadar kalau aku masih telanjang bulat. Maka aku pun balik lagi menuju kamar Yanti di mana celana dalam dan BH yang akan kupakai berada di sana.
Selagi aku berjalan melewati ruang tamu itu, aku melihat mereka masih terkulai di sofa itu. Tanpa menghiraukan mereka, aku terus berjalan memasuki kamar Yanti dan memungut celana dalam dan BH yang ada di lantai. Setelah kukenakan semuanya, kembali aku berjalan menuju kamarku dan sempat sekali lagi aku menengok mereka di sofa itu pada saat aku melewati ruang tamu.
Sesampai di kamar, entah kenapa rasa lelah dan kantukku hilang. Aku menjadi semakin resah membayangkan kejadian yang baru kualami. Pertama ketika aku dimasturbasikan oleh suami istri itu. Dan yang kedua aku terus membayangkan kejadian di mana mereka melakukan persetubuhan yang hebat itu. Keinginanku untuk merasakan penis Mas Sandi sangat besar. Aku mengharapkan sekali Mas Sandi sekarang menghampiri dan menikmatiku. Namun itu mungkin tidak terjadi, karena aku melihat mereka sudah lelah sekali.
Entah sudah berapa kali mereka bersetubuh pada saat aku terlelap tadi. Aku semakin tidak dapat menahan gejolak birahiku sendiri hingga aku merebahkan diri di kasur empuk. Dengan posisi telungkup, aku mulai memejamkan mata dengan maksud agar aku terlelap. Namun semua itu sia-sia. Karena kembali kejadian-kejadian barusan terus membayangiku. Secara cepat aku teringat bahwa tadi ketika mereka bersetubuh, aku melakukan masturbasi sendiri dan itu tidak selesai. Maka tanganku segera kuselipkan di selangkanganku. Aku membelai kembali vaginaku yang terasa panas itu.
Dan ketika tanganku masuk ke dalam celanaku, aku mulai menyentuh klitorisku. Kembali aku nikmat. Aku tidak kuasa membendung perasaan itu, dan jariku mulai menemukan lubang kemaluanku yang berlendir itu. Dengan berusaha membayangkan Mas Sandi menyetubuhiku, kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang itu dalam-dalam. Kelembutan di dalam vaginaku dan gesekan di dinding-dindingnya membuatku mendesah kecil.
Sambil mengeluar-masukkan jari tengahku, aku membayangkan betapa besar dan panjangnya penis Mas Sandi. Beda sekali dengan penis Mas Hadi yang kumiliki. Kemaluan Mas Sandi panjang dan besarnya normal-normal saja. Sedangkan milik Mas Sandi, sudah panjang dan besar, dihiasi oleh urat-uratnya yang menonjol di lingkaran batang kemaluannya. Itu semua kulihat tadi dan kini terbayang di dalam benakku.
Beberapa menit kemudian, ketika ada sesuatu yang lain di dalam vaginaku, semakin kupercepat jari ini kukeluar-masukkan. Sambil terus membayangi Mas Sandi yang menyetubuhiku, dan aku sama sekali tidak membayangkan suamiku sendiri. Setiap bayangan suamiku muncul, cepat-cepat kubuang bayangan itu, hingga kembali Mas Sandi lah yang kubayangkan.
Tanpa sadar, ketika aku akan mencapai orgasme, aku membalikan badan dan aku memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang vaginaku. Dalam keadaan telentang aku mengangkangkan selebar mungkin pahaku. Kini dua jariku yang keluar masuk di lubang vaginaku. Maka kenikmatan itu berlanjut hebat sehingga tanpa sadar aku memanggil-manggil pelan nama Mas Sandi.

“Akh… sshh… Masss… Sandii… Okh… Mass.. Mas.. Sandi.. aakkh..!” itulah yang keluar dari mulutku.
Seer… aku merasa kedua jariku hangat sekali dan semakin licin. Aku mengangkat ke atas pinggulku sambil tidak melepas kedua jariku menancap di lubang vaginaku. Beberapa lama tubuhku merinding, mengejang, dan nikmat tidak terkira. Sampai pada akhirnya aku melemas dan pinggulku turun secara cepat ketika kenikmatan itu perlahan berkurang.
Aku mencabut jari jemariku dan cairan yang menempel di jari-jari itu segera kujilati. Asin campur gurih yang kurasakan di lidahku. Dengat mata yang terpejam-pejam kembali aku membayangkan penis Mas Sandi yang sedang kuciumi, kuhisap, dan kurasakan. Cairan yang asin dan gurih itu kubayangkan sperma Mas Sandi. Ohhh.., nikmatnya semua ini.
Dan setelah aku puas, barulah kuhentikan hayalan-hayalanku itu. Kutarik selimut yang ada di sampingku dan menutupi sekujur tubuhku yang mulai mendingin. Aku tersenyum sejenak mengingat hal yang barusan, gila… aku masturbasi dengan membayangkan suami orang lain.
Pagi harinya, ketika aku terjaga dari tidurku dan membuka mataku, aku melihat di balik jendela kamar sudah terang. Jam berapa sekarang, pikirku. Aku menengok jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku kaget dan bangkit dari posisi tidurku. Ufh.., lemas sekali badan ini rasanya. Kukenakan celana dalamku. Karena udara sedikit dingin, kubalut tubuhku dengan selimut dan mulai berdiri.
Ketika berdiri, sedikit kugerak-gerakan tubuhku dengan maksud agar rasa lemas itu segera hilang. Lalu dengan gontai aku berjalan menuju pintu kamar dan membuka pintu yang tidak terkunci.
Karena aku ingin pipis, segera aku berjalan menuju kamar mandi, sesampainya di kamar mandi segera kuturunkan celana dalamku dan berjongkok. Keluarlah air hangat urine-ku dari liang vagina. Sangat banyak sekali air kencingku, sampai-sampai aku pegal berjongkok. Beberapa saat kemudian, ketika air kencingku habis, segera kubersihkan vaginaku dan kembali aku mengenakan celana dalamku, lalu kembali pula aku melingkari kain selimut itu, karena hanya kain ini yang dapat kupakai untuk menahan rasa dingin, baju tidur yang akan dipinjamkan oleh Yanti masih berada di kamarnya.
Aku keluar dari kamar mandi itu, lalu berjalan menuju ruangan dapur yang berada tidak jauh dari kamar mandi itu, karena tenggorokanku terasa haus sekali. Di dapur itu aku mengambil segelas air dan meminumnya.
Setelah minum aku berjalan lagi menuju kamarku. Namun ketika sampai di pintu kamar, sejenak pandangan mataku menuju ke arah ruang tamu. Di sana terdapat Mas Sandi sedang duduk di sofa sambil menghisap sebatang rokok. Matanya memandangku tajam, namun bibirnya memperlihatkan senyumnya yang manis. Dengan berbalut kain selimut di tubuhku, aku menghampiri Mas Sandi yang memperhatikan aku. Lalu aku duduk di sofa yang terletak di depannya. Aku membalas tatapan Mas Sandi itu dengan menyunggingkan senyumanku.
“Yanti mana..?” tanyaku padanya membuka pembicaraan.
“Sedang ke warung sebentar, katanya sih mau beli makanan..!” jawabnya.
“Mas Sandi tidak kerja hari ini..?”
“Tidak akh.., malas sekali hari ini. Lagian khan aku tak mau kehilangan kesempatan..!” sambil berkata demikian dengan posisi berlutut dia menghampiriku.
Setelah tepat di depanku, segera tangannya melepas kain selimut yang membungkusi tubuhku. Lalu dengan cepat sekali dia mulai meraba-raba tubuhku dari ujung kaki sampai ujung pahaku. Diperlakukan demikian tentu saja aku geli. Segera bulu-bulu tubuhku berdiri.
“Akh… Mas..! Gellii..!” kataku.
Mas Sandi tidak menghiraukan kata-kataku itu.
Kini dia mulai mendaratkan bibirnya ke seluruh kulit kakiku dari bawah sampai ke atas. Perlakuannya itu berulang-ulang, sehingga menciptakan rasa geli campur nikmat yang membuatku terangsang. Lama sekali perlakuan itu dilakukan oleh Mas Sandi, dan aku pun semakin terangsang.
“Akh… Mas..! Oh.., mmh..!” aku memegang bagian belakang kepala Mas Sandi dan menariknya ketika mulut lelaki itu mencium vaginaku.
Semakin aku mengangkangkan pahaku, dengan mesranya lidah Mas Sandi mulai menjilat kemaluanku itu. Tubuhku mulai bergerak-gerak tidak beraturan, merasakan nikmat yang tiada tara di sekujur tubuhku.
Aku membuang kain selimut yang masih menempel di tubuhku ke lantai, sementara Mas Sandi masih dengan kegiatannya, yaitu menciumi dan menjilati vaginaku. Aku menengadah menahan nikmat, kedua kakiku naik di tumpangkan di kedua bahunya, namun tangan Mas Sandi menurunkannya dan berusaha membuka lebar-lebar kedua pahaku itu. Karuan saja selangkanganku semakin terkuak lebar dan belahan vaginaku semakin membelah.
“Akh.. Mas..! Shh.. nikmaats..! Terus Mass..!” rintihku.
Kedua tangan Mas Sandi ke atas untuk meremas payudaraku yang terasa sudah mengeras, remasan itu membuatku semakin nikmat saja, dan itu membuat tubuhku semakin menggelinjang. Segera aku menambah kenikmatanku dengan menguakkan belahan vaginaku, jariku menyentuh kelentitku sendiri. Oh.., betapa nikmat yang kurasakan, liang kemaluanku sedang disodok oleh ujung lidah Mas Sandi, kedua payudaraku diremas-remas, dan kelentitku kusentuh dan kupermainkan. Sehingga beberapa detik kemudian terasa tubuhku mengejang hebat disertai perasaan nikmat teramat sangat dikarenakan aku mulai mendekati orgasmeku.
“Oh… Mas..! Aku… aku… akh.., nikmaats… mhh..!” bersamaan dengan itu aku mencapai klimaksku.
Tubuhku melayang entah kemana, dan sungguh aku sangat menikmatinya. Apalagi ketika Mas Sandi menyedot keras lubang kemaluanku itu. Tahu bahwa aku sudah mencapai klimaks, Mas Sandi menghentikan kegiatannya dan segera memelukku, mecium bibirku.
“Kamu sungguh cantik, Ridha.., aku cinta padamu..!” sambil berkata demikian, dengan pinggulnya dia membuka kembali pahaku, dan terasa batang kemaluannya menyentuh dinding kemaluannku.
Segera tanganku menggenggam kemaluan itu dan mengarahkan langsung tepat ke liang vaginaku.
“Lakukan Mas..! Lakukan sekarang..! Berikan cintamu padaku sekarang..!” kataku sambil menerima setiap ciuman di bibirku.
Mas Sandi dengan perlahan memajukan pinggulnya, maka terasa di liang vaginaku ada yang melesak masuk ke dalamnya. Gesekan itu membuatku kembali menengadah, sehingga ciumanku terlepas. Betapa panjang dan besar kurasakan. Sampai aku merasakan ujung kemaluan itu menyentuh dinding rahimku.
“Suamimu sepanjang inikah..?” tanyanya.
Aku menggelengkan kepala sambil terus menikmati melesaknya penis itu di liang vaginaku.
Beberapa saat kemudian sudah amblas semua seluruh batang kemaluan Mas Sandi. Aku pun sempat heran, kok bisa batang penis yang panjang dan besar itu masuk seluruhnya di vaginaku. Segera aku melipatkan kedua kakiku di belakang pantatnya. Sambil kembali mencium bibirku dengan mesra, Mas Sandi mendiamkan sejenak batang penisnya terbenam di vaginaku, hingga suatu saat dia mulai menarik mundur pantatku perlahan dan memajukannya lagi, menariknya lagi, memajukannya lagi, begitu seterusnya hingga tanpa disadari gerakan Mas Sandi mulai dipercepat. Karuan saja batang penis yang kudambakan itu keluar masuk di vaginaku. Vagina yang seharusnya hanya dapat dinikmati oleh suamiku, Mas Hadi.

Di alam kenikmatan, pikiranku menerawang. Aku seorang perempuan yang sudah bersuami tengah disetubuhi oleh orang lain, yang tidak punya hak sama sekali menikmati tubuhku, dan itu sangat di luar dugaanku. Seolah-olah aku sudah terjebak di antara sadar dan tidak sadar aku sangat menikmati perselingkuhan ini. Betapa aku sangat mengharapkan kepuasan bersetubuh dari lelaki yang bukan suamiku. Ini semua akibat Yanti yang memberi peluang seakan sahabatku itu tahu bahwa aku membutuhkan ini semua.
Beberapa menit berlalu, peluh kami sudah bercucuran. Sampailah aku pada puncak kenikmatan yang kudambakan. Orgasmeku mulai terasa dan sungguh aku sangat menikmatinya. Menikmati orgasmeku oleh laki-laki yang bukan suamiku, manikmati orgasme oleh suami sahabatku. Dan aku tidak menduga kalau rahimku pun menampung air sperma yang keluar dari penis lelaki selain suamiku.

Perawanku – Seperti biasa kali ini aku akan menceritakan tentang pengalaman aku kali ini. Singkat kata dihari terakhir ujian, rasanya suntuk banget dech. Agak mendung memasuki tempat kost-kostan-ku. Perlahan aku membuka pintu kamarku, Baru aku mau memasuki kamar kost-ku. Mang Udin melintas.

” Non,.. ” Geli banget liat dia cengengesan begitu,. Terlebih aku belum melakukan pembalasan pada Mang Udin,..
” Apa Mang Ujang ?? ” Tanya-ku malas-malasan,..
” Nama saya Udin Non, bukan Ujang,.. ” Protesnya,..
” Ah sama aja,.. kan emang Ujang artinya pembantu kan ?? ” Jawab-ku
” Yeah, si non, Ujang nama non,.. bukan artinya pembantu,.. ” Terangnya,..
” Owh, gitu,.. terus kenapa Mang Udin,. ” Aku ingin cepat-cepat masuk, sebal melihat mukanya yang jelek itu,..
” Gapapa non, kangen aja,.. ” Dia cengengesan, dia kira bagus kali ya,..
Aku melangkah masuk dalam kamar,.. kukunci rapat-rapat biar Mang Ujang, eh Mang Udin gak masuk ke dalam lagi kayak kejadian waktu itu,.. tunggu aja Mang Udin, seminggu lagi ya,..
Singkat kata, yang gak perlu aku certain gimana susahnya ujian aku, akhirnya seminggu kemudian, hari kamis waktu itu, temen-temen waktu SMU-ku datang ke tempat-ku,. Yang satu namanya Adel yang ini tipe cewek yang bener-bener cerewet, 100x lebih bawel daripada aku,chubby-chubby gitu tapi tetep seksi,.. rambutnya di cat coklat,.. yang satunya lagi nama Erlin, tapi kita biasa manggil dia Lili,.. sama cerewetnya sama aku, cantik dech orangnya dan rambutnya juga masih panjang seperti dulu, kesannya anggun..

Kalau aku ?? Gak usah diceritain dech ya,. dah sering banget, tar jadi narsis galleri lagi, hohoho^^
Nah kebayang gak gimana rame-nya kamar kost aku, ada 3 orang cewek bawel yang udah sekitar 3 bulan-an gak ketemu,. Dan kayaknya gak kan menarik juga buat diceritain kan,.. masa u mau denger kita gosipin cowok-cowok, tar pada minder lagi,.. hehehe,..
Ampe akhirnya aku ngungkapin ide gila buat ngerjain Mang Udin itu,.. pertamannya Lili menolak ide gila itu,. Beda dengan Adel yang penasaran dengan penis impotent-nya Mang Udin,..
” Yakin Dell ?? ” tanya Lili,.. mukanya gak yakin gitu,..
” Yakin lah, itung-itung bantuin temen hahaha,.. “
” Mang punya rencana pa Dell ?? ” Tanya-ku penasaran,..

Adel pun membisik kami bertiga,..Mendengar idenya yang gila itu Aku dan Lili langsung tertawa,..
” Tapi lu ya yang banyak godain,.. ” Lili masih tertawa menodong Adel,.
” Iya dech beres,… ” Adel ikut tertawa-tawa,..
Maka Operasi Balas Dendam pun dimulai,..
” Mang Udin, tolong donk,.. ” Aku memanggil Mang Udin yang kebetulan lewat, padahal sebenarnya memang sengaja sudah kutunggu,..
” Loh ada apa non, ” Iya buru-buru mendekat, pasti bukan karena dia pembantu yang rajin, tapi melihat ku yang hanya mengenakan handuk membebat tubuh-ku,..
” Itu Mang Udin, Air dikamar Mandi mati,.. ” Rajuk-ku,..
” Tar Mang Udin periksa diatas,.. ” Katanya, matanya itu udah kayak mau nerkam aja,..
” Itu Mang Udin, Shower aku aja kali yang mati, soalnya di Wastafel nyala koq,.. “
” OW, yawda Mang Udin masuk ya, periksa,.. ” Wajahnya itu seolah mengatakan, ” Nah gini donk, ini yang gue tunggu,.. “

Namun Mang Udin begitu terkejut setelah memasuki kamar-ku itu, Adel dan Lili berdiri disebelah kursi yang biasa kupakai untuk main komputer dan browsing DS,. Keduanya tersenyum manja menatap Mang Udin,..
” Duduk sini donk Mang,.. ” Goda Adel,.Sementara aku menutup pintu kamar-ku
” Keran,.. ” , ” Saya mau benerin keran,.. ” Kata Mang Udin, pura-pura… dasar bandot yang suka pura-pura,..
” Tar aja, sini dulu duduk,.. “
Mang udin seperti kebinggungan, menarik nafas sebelum kemudian melangkah ke arah kursi, dan duduk diatasnya,..
Mang Udin sekarang duduk di kursi, wajahnya tampak binggung namun juga ada guratan bahagia dalam senyumannya, bagaimana tidak, didepannya berdiri tiga orang gadis cantik yang notabenenya masih mahasiswi dengan hanya handuk yang membebat tubuh kami bertiga,..

Adel yang memang paling gila diantara kami langsung menggoda mang Udin,..
” Mang Udin ya ?? ” goda Adel sambil duduk di paha Mang Udin,..
Mimik Mang Udin tampak seperti orang yang serba salah, ia mengganguk sambil menjawab dengan gelagapan,..
” I…I ya neng, neng siapa ya ?? ” Tanya-nya, tampaknya ia masih malu-malu kucing, padahal biasanya gak tau malu,..
” Ah, Mang Udin, ini kan temen aku, kenalin donk,.. ” Goda-ku, sekaligus sebal melihat gaya-nya yang sok alim itu,..
” Udin neng,.. ” Sambat Mang Udin, sambil menyalami Adel,..
” Adel,.. ” Adel senyum menggoda,..tangannya melepas kancing-kancing baju Mang Udin,..
” Mang udin Mang Udin, mang Udin suka ga diginiin ?? ” Goda Adel sambil membelaikan jemarinya di dada Mang Udin,..
Ekspersi kaget Mang Udin yang gak biasa, benar-benar membuat perut ku melilit menahan tawa, Adel memang benar-benar nekad mengoda Mang Udin seperti ini,..Lili yang sendari tadi tampak grogi langsung tertawa lepas, malah ikut-ikutan menggoda Mang Udin,..
” Mang Udin badannya kuat ya,.. ” Bisik Lili tepat di depan telinga Mang Udin
” Oh iya donk Dek,.. ” Jawabnya dengan logat Madura,.. sementara ia sedikit menarik wajahnya tak tahan merasakan hembusan nafas Lili di telinganya,..
” Buka ya Mang Udin,.. ” Adel hanya pura-pura saja, sementara ia dan Lili sudah memelorotkan celana Mang Udin, hingga penisnya yang lemah itu menggantung.

Adel dan Lili menahan tawa, sama seperti aku,.. Adel meraih tangan Mang Udin meminta Mang Udin melepaskan handuk-nya, iseng Mang Udin juga langsung melepaskan kaitan handuk Lili,..
” Aduh si Mamang,.. ” Lili seperti kaget, melihat keusilan Mang Udin,..
” Hehehehe,.. ” Mang Udin membalas dengan cengengesannya,..
” Mang udin mau ?? ” Tanya Adel,..menunjuk penis Mang Udin yang masih terkulai lemah
” Apa aja mau dech Neng,.. ” Mang Udin cengengesan
Adel menunduk dan meraih penis itu dengan tangannya, lidahnya dijulurkan keluar, dan tubuh Mang Udin bergetar hebat saat lidah Adel menyentuh penisnya itu,..
” Duh Mang Udin, seneng ya ?? ” Ejek-ku,.
” Iya donk Non, hehehe,.. ” Seperti yang kuduga, begitu aku mendekat Mang Udin langsung menarik handuk-ku,..
” Biar telanjang semua,.. ” Katanya cengengesan,.
Aku hanya tersenyum saja melihat tingkahnya, sambil tertawa dalam hati menunggu balas dendam-ku beberapa saat lagi,..
Mang udin mulai berani dan memagut bibir Lili, Lili sendiri awalnya ingin menolak namun tak jadi, ia membiarkan Mang Udin menciumnya sementara Adel lebih sibuk dengan usaha-nya dan memang paling bersemangat untuk membuktikan “Ketidak-perkasaan” mang Udin itu, ia menggunakan lidahnya memainkan penis Mang Udin, sesekali mengulumnya tanpa rasa jijik sedikit pun, memang yang satu ini agak-agak hyperseks,..

Ia mengulum kepala penis Mang Udin yang nanggung antara keras dan gak itu,.. sementara tangannya sibuk mengocok batang kemaluannya,.. aku membantu Adel dengan memainkan buah zakar Mang Udin, dan aku memang selalu tertarik dengan bentuk puting mang Udin yang selalu mengacung, aku memainkan putingnya yang lucu itu dengan lidah-ku membelai dadanya hingga mulai basah sementara Mang Udin masih sibuk memagut Lili, yang terlihat fine-fine aja menerima ciuman Mang Udin yang benernya gak enak, dan asal-asalan, sementara juga tangan Mang Udin tak membiarkan sepasang buah dada Lili yang menggantung didekatnya itu,…
Tangannya memainkan buah dada Lili, meremas-remasnya perlahan hingga sedikit kasar, yang membuat Lili sesekali merintih,.. cukup lama juga kami berempat dalam keadaan itu, namun penis Mang Udin tak kunjung berdiri, malah bergetar-getar dan menumpahkan spermanya ke dada Adel,..
” Masih kuat Mang ?? ” Tanya Adel,..
” Iya Mang Kalo gak kuat jangan dipaksa,.. ” Ejek-ku, dengan nada halus,..
” Iya loh Mang nanti impoten,.. ” Kata Lili,
” Aduh Neng-neng ini, tenang itu belum apa-apa,..”
” Bener nich mang ?? ” Tanya Adel
” Bener dech non,.. “
” Yawda sini Mang ayo tiduran,.. ” Adel membimbing Mang Udin ke kasur-ku,..
Adel berdiri sebelum memberikan vaginanya itu tepat diwajah Mang Udin, Mang Udin dengan sigap menggerakan lidahnya membelai vagina Adel itu, lidahnya menyapu-nyapu, sementara aku menggangu Mang Udin dengan membelai-belai dada-nya dengan jemari-ku, sesekali aku menggunakan lidah-ku itu membelai puting-nya itu,..

Tubuhnya bergetar-getar menerima rangsangan demikian rupa, namun ia juga hanya bisa mendesah-desah tertahan, dan sedang sibuk menggerakan lidahnya di vagina Adel, sesekali Adel mendesah-desah nikmat, memang aku tahu benar kalau itu salah satu keahlian Mang Udin, selain permainan tangannya,.. tapi ya hanya 2 itu yang bagus dari Mang Udin, yang lainnya sich gak, apalagi junior-nya yang gak bisa tegak,..
” Ehmmm, Mang Udin,.. ” Adel mendesah-desah, aku sedikit menahan tawa juga melihat ekspresi wajah teman-ku itu,..
Sementara Lili mulai memainkan penis Mang Udin dengan tangannya, sepertinya ia sangat tertarik dengan penis Mang Udin yang memiliki kepala penis yang disunat, tapi pendek dan lembek seperti itu,.. ia tersenyum-senyum sendiri sambil memainkan penis itu dengan tangannya, sambil sesekali memainkan lidahnya di buah zakar penis itu,..
” Mang Udin enak gak ?? ” Tanya Lili,..
” Enn-ennak Non,.. lagi,.. ” Jawab Mang Udin disela permainan Lidahnya untuk Adel..
” Kalo gitu bikin keras donk,.. ” Lili senyum-senyum terhalang oleh tubuh Adel,.
Mang Udin sepertinya pura-pura tak mendengar dan meneruskan permainan lidahnya itu,.
Sementara aku dan Lili sekarang sibuk merangsang penis Mang Udi, sesekali terlihat ingin mengeras namun tak lama kemudian kembali lembek dan terkulai, aku dan Lili hanya senyum-senyum sendiri, melihat lemasnya penis Mang Udin itu, sementara tangan kami berdua saling bergantian memainkan penis Mang Udin mulai dari batangnya hingga buah zakarnya itu,..

Penis itu tiba-tiba gemetaran, tak lama kemudian tubuh Mang Udin ikut-ikutan menjadi kaku, sementara penisnya mulai menumpahkan cairan kental, aku tertawa-tawa saja melihatnya, demikian juga dengan Lili,..
” Mang Udah keluar ya ?? ” Goda-ku,..
” Belum Neng, itu sich cuma dikit aja,.. “
” OH gitu,.. ” Jawab-ku pura-pura bodoh,..
” Mang Udin kuat ya,.. ” Adel pura-pura memuji,.. di sela desahannya,..
” Iya donk neng, Udin,.. ” Katanya bangga,..
” Adel mau nyobain ya ?? ” Kata Adel lagi, mimik wajah Mang Udin langsung berubah serius, seperti orang yang kebinggungan
” Yawda,.. ” Katanya pasrah,.
Adel merangkak turun, ia menarik penis Mang Udin yang terkulai lemah itu, ia memandang Mang Udin dengan ragu-ragu,..
” Ini bisa Mang ?? ” Tanya Adel,..
” Tergantung rangsangannya,.. ” Ia mengelak,..
Adel hanya tersenyum, dan menindih penis itu, dengan tangannya ia membimbing penis itu tepat di mulut vagina-nya, sementara perlahan ia mulai menggerakan tubuhnya membalur penis Mang Udin diantara tangannya dan mulut vaginanya,

Pasti menarik gaya Adel itu andai penis Mang Udin bisa mengeras, aku dan Lili pun berpindah mencium Mang Udin, namun wajah mang Udin malah seperti orang yang sedang menahan rasa ngilu,..sementara tangan-ku, menarik tangan Mang Udin ke dada-ku, perlahan Mang Udin mulai meremas dada-ku itu, sambil membalas ciuman Lili, tangannya meremas payudara-ku, memainkan puting-ku, hingga aku sedikit mendesah menahan rasa yang diberikan oleh Mang Udin,.
Melihat reaksi-ku Mang Udin seperti diatas angin, tangannya mulai bergerak turun menuju belahan vagina-ku, merenggangkannya dan menyentuh daerah sensitife-ku itu dengan tangannya,.. merasakan belaian tangannya di titik itu sedikit membuat tubuh-ku merinding, namun aku tak mau ketinggalan mengerjai Mang Udin, aku pun menarik tangannya dari lubang kemaluan-ku itu, bis aku kan gampang banget naik-nya..
Aku menyodorkan saja dada-ku kemulutnya, Mang Udin melepaskan ciumannya dari Lili, dan memainkan dada-ku itu dengan lidahnya, sentuhan lidahnya yang memainkan puting-ku membuat-ku merinding juga, terlebih sesekali gigitan pelannya itu,.. Namun bukan Mang Udin kalau cepat puas, seolah melupakan rasa sakit yang mimiknya masih terekam jelas diwajahnya itu, tak dapat dari aku, tangan Mang Udin bergerilya ke lubang kewanitaan Lili,.. Lili hanya diam saja, membiarkan tangan Mang Udin bermain disana,..

Wajah Lili pun mulai berubah, wajahnya yang merona merah, sementara Mang Udin masih cukup dapat membagi konsentrasinya memainkan lidahnya di dada-ku dan tangannya di vagina Lili, sementara Adel makin asyik mengerjai Mang Udin meremas-remas kantung kemaluannya itu sambil terus memainkan penis Mang Udin diantara tangan dan bibir kemaluannya itu,. Membuat Mang Udin tak bertahan lama..
Tubuh Mang Udin kembali bergetar-getar hebat, ia gemetaran tapi wajahnya seperti orang yang sedang menahan rasa sakit,..Penis Mang Udin kembali mengeluarkan cairan spermanya itu, ia merintih-rintih menahan sakit menghentikan gerakan tangannya di vagina-ku dan vagina Lili, ia seperti orang yang sedang begitu menahan rasa ngilu,.. sementara Adel pun langsung turun, melihat penis Mang Udin yang seperti mengkerut itu, wajah Adel tampak puas mengerjai Mang Udin seperti itu,..
” Wah jangan-jangan Mang Udin emang impotent nich,.. ” Aku menyambar kesempatan yang dibuat oleh Adel,..
” Eh enak aja, ini kan belum keras aja,. ” Elak Mang Udin,
” Tapi ini kan udah ampe keluar lagi Mang,.. ” Tanya Lili, seperti biasa dengan gaya-nya yang polos,..
” Ya itu sich sial aja Non,.. ” Kata Mang Udin
” Ah yang bener Mang,.. ” Adel mengunakan jarinya menekan-nekan penis Mang Udin yang lemah itu,..
” Iya bener Non,.. ” Katanya menahan rasa sakit,..
” Kalau gitu aku mainin lagi ya Mang,.. ” Ancam ku, menarik penis Mang Udin, seperti ingin mengocoknya,..
” Ampun dech Non ampun,..Iya Mang Udin Impotent ” Kata Mang Udin tak tahan, kalang kabut, penisnya kian layu setelah terpaksa 3 kali memuntahkan spermanya terlebih dengan penisnya yang tak bisa keras itu, kata dia sich sedikit ngilu,.

” Nah, Mang Udin mulai sekarang jangan suka iseng-iseng bawa orang luar lagi ya,.. ” Kataku, sambil membelai wajahnya,..
” Iya Non, gak lagi suer dech,.. “
” Nah Mang Udin juga gak mungkin kan cerita keimpotenaan Mang Udin kesebar,.. ” Kata-ku lagi,..
” Iya Non, Mang Udin negrti musti gimana, Janji,.. ” Wajahnya masih ditekuk
” Ya kalau gitu Mang Udin mandi dulu sana,.hehehe.. ” Adel mentertawai penis Mang Udin yang sekarang benar-benar terkulai lemah tak berdaya,..
” Gak dimandiin Non ?? ” Tanya Mang Udin masih tak tahu malu,..
” Tar ya Mang, kalau udah bisa tegak anu-nya,.. ” Lili ikut-ikutan mentertawai Mang Udin yang akhirnya mau mengakui kalau dia Impoten,..
Dengan wajah yang Diteguk, Mang Udin keluar dari kamar-ku, dan kami bertiga pun tertawa lebar penuh dengan kepuasaan sehabis mengerjai Mang Udin,..
