Author: perawanku

  • Cerita Sex Kisah Ku ML Pertama Kali Dengan Pacar

    Cerita Sex Kisah Ku ML Pertama Kali Dengan Pacar


    1122 views

    Perawanku – Cerita Sex Kisah Ku ML Pertama Kali Dengan Pacar, Ini adalah cerita aku ML untuk yang kesekian kalinya, tentu saja dengan cewekku. Dia adalah my girl yang paling kusukai, keturunan chinese, toket ukuran 32c. Aku sangat puas tiap kali berhubungan dengannya, sebut saya namanya Ani.

    Ani adalah adik angkatanku, persis setahun di bawahku. Kumulai berhubungan dengannya setelah kegiatan inisiasi kampus berakhir. Kumulai dengan sering telepon, main ke tempatnya, dan akhirnya kupinang dia. Ani mau. Mulai saat itu kami sering keluar bersama. Ani tinggal dikota ini disebuah rumah kontrakan, bersama dengan saudara sepupunya dan pembantu, semuanya wanita. Aku sangat mencintainya, diapun begitu.

    Pada suatu malam kuberanikan mencium bibirnya. Dia suka, lalu langsung kucium lagi dan lebih lama serta dengan permainan lidahku. Saat itu aku belum terlalu memikirkan untuk ML, aku terlalu lugu untuk itu, aku hanya menikmati bibirnya. Setiap kali bertemu dan ada kesempatan aku smooch dia, dan Ani sangat menyukainya, ini yang pertama untuknya, katanya.

    Suatu hari Ani memintaku untuk menemaninya, dan kami sudah jalan bareng untuk 1 tahun. Kami sangat mesra sekali dan belum ada pikiran untuk melakukannya. Sampailah aku di rumahnya, ternyata Ani hanya sendiri. Saudaranya pergi maen, dan pembantunya dapat jatah balik kampung katanya. Kesempatan ini tak kulewatkan untuk menciuminya. Ani mengajakku ke kamarnya. Kuawali dengan ciuman kecil dibibir, lalu semakin panas. Kubaringkan Ani di ranjangnya, lalu lehernya.

    Saat aku mulai panas, kuberanikan untuk meminta izin memegang dadanya, Ani mengizinkan tetapi hanya dari luar. Dengan lembut kumeremasnya, sambil menciumi bibirnya. Tapi aku makin penasaran, kuminta izin untuk merasakan dadanya langsung. Ternyata Ani meluluskannya dengan satu syarat mataku dipejamkan.

    Perlahan Ani membimbing tanganku menuju ke sana. Kenyal sekali dadanya, lalu kucari putingnya, keras. Aku langsung jatuh cinta dengan dadanya juga, pas dalam tanganku. Dan dengan sengaja kubuka mataku dan tampaklah payudara yang indah sekali untukku.

    Ani kaget ketika melihatku melek, tapi langsung kukatakan padanya aku sangat menyukai dadanya yang indah, wajah Ani memerah. Terus kumeremas-remasnya perlahan dan lembut. Ani tampaknya menyukainya. Kudekatkan wajahku ke dadanya dan kuciumi payudaranya, kiri dan kanan. Ani tampaknya diam saja. Lalu aku menyusu padanya, aku nenen padanya.

    Dan terdengar lenguhan panjang Ani, “Uh..”.

    Aku semakin semangat menikmati dada dan putingnya. Nikmat sekali, sepetinya nipplenya lumer dalam mulutku. Untuk sesaat kuistirahatkan dadanya. Kulucuti t-shirt dan branya, Ani tak menolak, Ani topless sekarang. Dan kuciumi bibirnya.

    “Kenapa?” tanyaku.

    Ani diam saja dan tangannya masuk ke dalam t-shirtku dan melucutinya.

    “Lanjutin donk.. U make me drunk”, katanya.

    Aku pun begitu, batinku. Ani bersandar didadaku, tanganku memeluk dadanya yang kusuka, lehernya kuciumi dan kujilati, Ani sangat menikmatinya.

    “Uh.. M..”, terdengar dari bibirnya.

    Kuturunkan salah satu tanganku dan kumainkan di daerah selangkangannya, dari luar celana pendeknya. Ani diam saja. Lalu ku coba memasukkan tanganku kedalam celananya turun menuju vaginanya, lembab kurasakan. Mulai kumainkan jariku, perlahan. Dan dengan perlahan pula Ani membuka selangkangannya, tanganku turun lebih dalam. Ternyata CD-nya sudah basah.

    Cerita Sex Kisah Ku ML Pertama Kali Dengan Pacar

    Cerita Sex Kisah Ku ML Pertama Kali Dengan Pacar

    “Ani.. Kamu sudah horny ya..”, tanyaku.

    Ani terdiam dan mulai menciumku dan memainkan lidahnya, ini jawaban ‘iya’ untukku. Kusandarkan Ani dan kulucuti celana dan CDnya, sebuah pemandangan indah dan kali pertama dimataku, vagina dengan rambut yang tak lebat, basah.

    “Ani.. Aku suka vaginamu”, kataku.
    “Masa..”, jawabnya sambil menutupi payudaranya dan wajah memerah.

    Masih dengan ragu-ragu, kudekatkan wajahku ke vaginanya. Kuciumi dan kujilat perlahan permukaannya. Wow, rasanya aneh namun tidak berbau (padahal bayanganku pasti bau!). Ani menggelinjang. Lalu kupegang kedua pahanya dengan erat sambil terus kubenamkan lidahku ke vaginanya. Rasanya asin namun nikmat. Lalu vagina tersebut aku kuakkan dengan jariku.

    Terlihatlah daging merah yang sangat lembut bersama sebentuk daging kecil yang menggantung dan berkilat-kilat. Itu klitorisnya. Tiba-tiba kurasakan jenggutan dirambutku yang semakin menekan kepalaku ke vaginanya. Segera kupercepat jilatanku sehingga mulutku penuh dengan lendir dari vagina Ani.

    Kudengar desahan Lina semakin keras. Tangannya menuntun tanganku untuk meremas payudaranya (32B). Aku semakin exciting. Sebenarnya aku belum telalu terangsang tapi semakin ingin tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Terus saja kusedot kuat klitorisnya sambil kujilat-jilat lubang vaginanya.

    Tiba-tiba otot pahanya menegang dan cengkramannya makin kuat disusul dengan ‘muncratnya’ cairan dari vagina Ani. Kontan kuhentikan kegiatanku melihat peristiwa tersebut. What a surprise! Lalu ku jilati sisa cairannya, ternyata aku suka. Kupandangi rona wajahnya yang memerah. Rambutnya berantakan dengan bulir-bulir keringat di lehernya. Matanya terpejam, kemudian membuka dan tersenyum ke arahku.

    “Kamu ngapain sih barusan, enak banget..!”, desahnya mesra.
    “Kamu ga kan mau tau lah”, kataku.
    “Kasih tau dong ngapain, sampe mulut kamu belepotan gitu”, kata Ani sambil tertawa. Kucium bibirnya.
    “Ih.. Asin”, katanya.
    “itu khan punya kamu..”, balasku. Dan aku duduk disampingnya.
    “Ini yang pertama buatku.., aku suka banget, dan aku sayang sama kamu”.
    “Aku juga begitu”. Lanjutku, “Ini juga yang pertama”.
    “Aku nggak nyesel Ko, aku ingin kamu berikan lebih dari ini, aku ingin punyamu, sungguh”, lanjutnya sambil mengelus-elus penisku.

    “Ini sebenernya rahasiaku, tapi aku ingin kamu tahu, aku sengaja bikin suasana rumah seperti ini, saudaraku pulang ke rumahnya, bukannya maen, terus pembantuku kebetulan dapet jatah pulang ke kampungnya. Jadi aku bebas sama kamu. Sekarang cuma aku dan kamu berdua. Aku ingin punya kamu. Aku cuman tahu hal ini dari cerita-cerita temen, tapi ngga bisa bayangin yang sebenernya, sekarang aku bisa sama kamu”.

    Mendengarnya aku merinding dan suka. Ini kesempatanku untuk melepaskan rasa ingin tahuku dan aku tak ingiin terlalu lugu lagi. Dan sekali lagi aku terdiam tapi sangat suka. Lalu kuterkam bibirnya dengan bibirku, lalu tanganku memainkan tugasnya di toket dan vaggynya.

    Ani terangsang lagi, lalu bangun dan menghempakanku ke ranjang. Ani melucuti celana dan CDku, aku bugil. Penisku yang baru setengah on, dibuatnya fully on. Ani menjilatinya, seperti lolipop. Dari kepalanya, batangnya dan bijinya. Nikmat sekali. Kuminta Ani menaruh vaginanya diatas wajahku, lalu lidahku mulai bergerak.

    Pose ini menjadi favorit Ani dalam foreplay. Kujilati bibir vaginanya, lalu klitorisnya. Kusedot-sedot perlahan dan sesekali kugigit kecil. Ani pun menikmati penisku, dijilatinya dan perlahan-lahan dikocoknya. Lalu dimasukkan kedalam mulutnya dan dikocok. Nikmat sekali, kamu berdua sesekali mendesah dan melenguh menikmati rangsangan yang saling kami berikan. Rasanya semua otot pahaku berkedutan menahan nikmat yang kurasakan.

    Dan sesekali Ani menggerakkan pantatnya maju-mundur menggesekkan vaginanya di lidahku. Vaginanya makin basah, dan berkedut, Ani melenguh dan mendongakkan badannya sambil memegangi penisku, cairan itu keluar lagi, Ani orgasme kembali. Ani membalikkan badannya dan berbaring diatas badanku. Kami berdua sama-sama berkeringat, penisku masih ngacung dan belum terpenuhi.

    “Donn, nikmat sekali rasanya, aku dapat lagi. Aku ingin malam ini terpuaskan” katanya. Ku peluk dia.
    “Ayo mulai lagi” ajakku. Ani menyanggupinya.

    Dia berbaring, kukecup keningnya, kuciumi bibirnya, kujilati lehernya sambil meremas-remas dadanya. Turun lagi kujilati payudaranya, kusedot-sedot putingnya dan sesekali kugigit kecil. Ani menikmati sekali, dan kepalakupun dipeluknya. Setelah puas dengan dadanya, ku jilati klitorisnya dan ku sedot-sedot vaginannya yang basah lagi. Kunikmati vaginanya yang merah dan tangan ku meremas-remas dadanya dan memelintir putingnya perlahan dan lembut. Vagina Ani berkedut lagi, kugesekkan kepala penisku dimulut vaginanya terdengar desahan lirih “Uh..” dari bibirnya.

    Kubisiki Ani, “Sekarang kau seorang wanita sejati” lalu kucium bibirnya dan penisku mulai masuk ke dalam lubang senggamanya.
    “Au.. Sakit..”, teriaknya.
    “Tenang sayangku, sebentar lagi kamu akan merasa nyaman dan nikmat”, hiburku dan penisku masuk.

    Kudiamkan sebentar didalam vaginanya, dengan dinding vagina yang berkontraksi, kupeluk Ani.

    “Kamu sekarang seorang wanita dewasa, sayang”, bisikku.

    Dia mencium bibirku, lembut dan dalam. Dan mulai kukocok vaginanya dengan penisku itu, perlahan. Hangat sekali didalam sana, basah, licin. Badan kami yang sudah mandi keringat terasa hangat pula, dan tak lupa kubisiki dia dengan kata-kata yang erotis, berciuman dan meremas-remas dadanya. Indah sekali malam itu, erotis. Kukocok vaginanya perlahan-lahan dengan penisku, kuselingi dengan menyusu pada Ani, serta menciumi ketiaknya yang mulus. Kugendong Ani dan sodokanku lebih terasa.

    “Aku nggak nyesel Donn.., kamu lembut sekali..”, katanya sambil terus kusodokkan penisku.

    Vagina Ani makin basah dan terus memijat batang penisku, seakan-akan disedot olehnya. Terdengar pula suara gesekan vagina dan penis, suara yang basah. Aku duduk diranjang, Ani mulai mengocok penisku dalam-dalam, dia hunjamkan pantatnya ke penisku, nikmat sekali. Lalu Ani mengayangkan badannya, sambil mulutnya meracau nggak jelas.

    Kulumat habis dadanya kunikmati putingnya. Kami sangat menikmati dan kami berdua mandi keringat. Akhirnya Ani mengejang dan memelukku erat lalu membenamkan penisku dalam-dalam, terasa cairan memandikan penisku dan dindingnya memijat dan terasa pula menyedot penisku, Ani orgasme lagi, ku balas dengan kocockanku dan kupeluk dia dan penisku berkedut, crot, spermaku muncrat di dalam vaginanya, aku duduk memangkunya dan berpelukan, lalu kucium bibirnya.

    “Terima kasih sayang”, kataku.
    “Aku juga”, jawabnya.

    Aku berbaring dengan Ani di atasku, penisku masih di dalam, dan kubiarkan mengendur.

    “Donn, aku nggak ingin terpisah dari kamu. I love, and I always do”, katanya.
    “Aku juga sayang”, lanjutku.

    Lalu kami tidur bersama, dengan keadaan bugil dan penis ku masih didalam vaginanya. Ketika subuh, penisku ereksi. Kejadian alami ini membuat Ani terbangun.

    “Don, penis kamu bangun. Lagi yuk”, katanya bersemangat.

    Langsung ku lahap bibirnya dan kumainkan lidahku. Kutindih Ani, dan mulai meremas-remas dadanya. Kenyal sekali sambil memandangi wajahnya, Ani sungguh cantik dalam hatiku. Aku percaya jika wanita paling cantik saat bangun tidur. Kami makin panas, vagina Ani makin basah dan berkedut. Kulanjutkan permainan mulutku ditoketnya. Kulumat nipplesnya dan ku sedot-sedot toketnya. Ani mendesah dan meracau keenakan.

    “Don.. Kocok penismu.. Say”, pintanya keenakan.

    Perlahan-lahan kusodok vaginanya dengan penisku, terdengar suara becek yang terkesan erotis bagiku. Aku paling suka mengocokkan penisku perlahan, sebab gesekan antara dinding vagina dan penis lebih dapat dirasakan, dan tidak menyakiti vagina. Peluh mulai keluar dari pori-pori kulit kami, bau alami kami mulai keluar membuat suasana makin erotis bagiku.

    Ani tampaknya mulai menggerakkan pantatnya maju-mundur membalas gerakan penisku yang juga demikian, tampaknya Ani sungguh menikmatinya, langsung kubalik posisi kami. Kini Ani diatasku. Kedua tangan Ani bertumpu didadaku, dan payudaranya kuremas-remas perlahan-lahan dan kupelintir-pelintir putingnya. Ani memejamkan mata, dan pantatnya maju-mundur mengocok penisku. Suara becek makin kencang, dan penisku makin becek pula.

    Vagina Ani berkedut kencang, dia memelukku dan berbisik “Aku udah sampe”.

    Ani sudah orgasme lagi, sedang aku belum.

    “Giliranku ya..” balasku.

    Kugendong dia menuju kursi. Ani masih memelukku dan langsung kukocok vaginanya kembali, Ani menciumi bibirku. Lima menit kemudian aku keluarkan spermaku divaginanya, nikmat sekali sarapan pagi ini. Kami berpelukan untuk mengambil nafas sebentar.

    “Ani, sungguh kamu nggak menyesal malam ini?”, tanyaku penuh keraguan.
    “Tidak”, jawabnya sambil menciumi bibirku.

    Tak henti-hentinya aku smooch Ani. Akhirnya penisku di cabut dari vaginanya, tampak sperma dan cairan vagina Ani bercampur, sesaat setelah kucabut, campuran cairan itu keluar dari mulut vagina Ani yang dihiasi jembut yang nggak terlalu lebat. Ani menggandengku ke kamar mandi.

    “Mandi bareng yuk”, pintanya.

    Kamar mandinya memiliki shower dan bath tub.

    “Ani, kucukurin pubic hair-mu (jembut) ya..”, pintaku.
    “Kita mandi dulu sayang”, jawabnya.

    Kami berdua masuk ke shower, tiba-tiba Ani jongkok di hadapanku dan kencing, kulihat dia.. Sexy sekali batinku.

    “Say, .. Agak perih nih vaginaku”, katanya.
    “Mungkin karena baru pertama kali ML, say”, jawabku.

    Ani mengangguk tanda setuju.

    “Walau sakit tapi enak kan?”, kataku sambil memeluk dan meremas dadanya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Lepas Jilbab Gara Gara Ketagihan ML

    Cerita Sex Lepas Jilbab Gara Gara Ketagihan ML


    1122 views

    Perawanku – Cerita Sex Lepas Jilbab Gara Gara Ketagihan ML, kenalin gue nando .. gue mau ceritain pengalaman gue yang terjadi 3 tahun yang lalu. waktu itu gue baru lulus SMA .. ciri” gue badan cukup berisi , tampang gak jelek” amat .. kata orang gue cool , dan gue orang nya asik .. ukuran penis gue 12 cm dan diameter 4 cm .. lumayan lah ..

    waktu itu sih masih booming nya sama jejaring sosial Fb .. jadi suatu malam gue ngerasa suntuk banget di rumah .. jadi gue mutusin buka laptop , cuci mata sambil download bokep baru ..

    Iseng , gue coba ngajak cwe chating di Fb , doi namanya Ria .. cwe baik , cantik , tembem , imut banget dah ..
    si doi kayaknya alim banget , soalnya hampir semua fotonya di Fb pake jilbab ..

    asik chating , alhasil gue dapat nomor hp si doi .. setelah kontak beberapa hari deal deh kami berencana ketemuan di salah satu cafe di kota gue itu ..

    sumpah deh doi emang imut banget , pas lah untuk cwe berumur 16 tahun kyak dia ..

    Cerita Sange Lepas Jilbab Si doi emang alim banget .. dia datang ke cafe make jilbab dan dengan pakaian yg tertutup dari bayangan gue ukuran toket si doi skitar 34 .. cukup gede untuk ABG 16 tahun .

    Belum ada pikiran gue ke hal yg negatif .. setelah seharian jalan , pas gue nganterin si doi pulang gue mutusin buat nembak dia .. ternyata dia juga punya perasaan yang sama ma gue .. dan gue di terima , pas doi mau turun mobil gue pipi gue di cium .. itu bikin gue jadi tambah sayang sama dia ..

    Selang beberapa hari , si doi ngebet banget ngajak ketemuan .. kebetulan mobil lagi di service .. gue mutusin aja jemput dia pake motor ..

    Nyampe di rumah si doi nyambut gue dengan senyuman manisnya .. Gue di kenalin sama ortunya sebagai teman sekelas , mklum lah si doi belum boleh pacaran .. Trus gue minta izin deh sama nyokap nya buat ngajak doi keluar bentar ..

    Nasib sial menimpa kami di persimpangan , hujan turun .. berhubungan persimpangan itu gak jauh dari rumah gue , gue ajak aja si doi ke rumah ..

    “emang gpp kita kerumah yank? “katanya . “gpp , aku cuma tinggal sendiri” jawab gue meyakinkan .

    “oke deh” kata doi mengiyakan ajakan gue . mendengar persetujuan dari si doi , langsung aja deh gue terobos tu lampu merah , daripada kehujan ..

    Nyampe di rumah , gue suruh aj doi ngeringin badan dengan handuk yang gue ambil dari kamar ..

    Trus doi juga minta izin mau shalat bentar , untung kamar nyokap gue gak di kunci , jadi gue bisa ngambilin mukena dan sajadah buat dia ..

    Selesai shalat si doi manggil gue .. “yank, ada baju ganti gak? basah banget nih” teriak si doi dari kamar gue ..
    Gue masuk kamar dan bongkar lemari , gue kasih satu baju kaos dan 1 celana pendek buat dia .. “buka aja semuanya dulu, pake ini aja” kata gue .

    Dengan senyuman manis si doi mengangguk tanda menyetujui kata2 gue . Langsung deh gue keluar kamar “aku tunggu di meja makan ya, udah aku bikin teh panas buat kamu” kata gue sebelum nutup pintu ..

    Selang beberapa menit , si doi ngagetin gue yang lagi asik main game di laptop , gue kaget dan ngelirik ke belakang . gue makin kaget lagi ngeliat si doi yang udah make baju dan celana gue .. dia keliatan sexy dan cantik banget , ternyata rambut doi lurus dan panjang sepunggu .. baju gue kebesaran buat dia tapi menghadirkan sensasi yang lain yang bikin birahi gue naik .. konak deh penis gue ..

    “dooorr!!” kata nya ngagetin gue yang lagi asik dengan lamunan gue .. “aku sexy yah? ” tanya si doi sambil ngedipin mata ..

    merasa di pancing gue berdiri dan ngasih kecupan di kening nya .. “iya kamu cantik banget sayang, makin sayang deh” kata gue ngerayu .

    si doi membalas ciuman gue , dan mendaratkan bibir manis nya di pipi gue ..

    Setelah mendapatkan ciuman dari si doi , gue ambil laptop dan ngajak si doi duduk di sofa .. Asik2 cerita sama dia , si doi ngajak gue foto2 pake laptop gue .. abis foto2 dia buka2 folder di laptop gue , dengan usaha mencari dimana hasil foto kami berdua tadi .. sedangkan gue minta izin sama si doi untuk ke kamar mandi ..

    Pas gue balik mau duduk di sofa , gue heran ngeliat si doi bengong plototin layar laptop gue .. Ternyata si doi nonton video bokep hasil gue download .. Gue kaget campur malu sama si doi . “kamu suka nonton ini ya yank? ” tanya doi .. salting , gue jawab aja dan nanya balik “lumayan yank, kenapa emangnya?

    “Gpp sih, aku juga pernah nonton dirumah, hehe” kata nya sambil nyengir . Bahagia banget gue, gue pikir si doi mau marah .. Gue beraniin diri buat ngajak dia nonton bareng “nonton bareng yuk yank” ajak gue . “yuk sini” kata nya sambil senyum ..

    Langsung deh gue ambil posisi duduk merapat dengan dia.. beberapa menit nonton, si doi keliatan gelisah banget pas adegan cwo lagi jilat vagina cwe artis video itu .. Gue elus2 kepalanya , dan merapatkan di bahu gue.. “udah horny ya yank?” tanya gue . Doi cuma senyum dan langsung mendaratkan ciuman nya di bibir gue . Gue balas ciumannya dengan kuluman kecil dan lidah gue yang berusaha mencari lidahnya .. Sampai akhir lidah kami berpagutan yang bikin penis gue langsung berdiri .

    Tangan gue udah mulai liar menjalar ke dadanya , dengan sekali ayunan gue berhasil memegang bongkahan gunung yang berukuran 34 itu .. ternyata si doi gak make bra lagi , mungkin di buka karna basah tadi pikir gue . Merasakan sensai indah di dadanya , si doi makin liar berciuman dengan gue ..

    Cerita Sange Lepas Jilbab Dengan sedikit usaha , gue berhasil mengingkap baju kaos gue yang di pake si doi , dan gue buka sampe si doi bertelanjang dada .

    pandangan indah melihat gunung kembar si doi yang gak ada penutup satupun , putingnya berwarna pink menandakan belum ada yang menjamah dada indahnya itu .

    Si doi tersandar di sofa , dan gue langsung mendaratkan ciuman di dada kirinya , sedangkan tangan kiri gue sibuk meremas dada kanannya ..

    “AAhh .. heeemm .eeehh aaah …eeeenaaakkk yaaankk…..teruuuuusss yyaaank ” hanya itu yang keluar dari mulut doi .

    Puas memberi cupangan di dada kiri si doi, gue ngambil posisi cipokan lagi sama dia dan tangan kiri gue yang belum berhenti meremas dada kanannya .. Tangan si doi juga ikut liar , dengan sedikit usaha tangan kanannya sudah sampai di celana gue .. Dia meremas2 kecil penis gue yang masih terbungkus celana pendek gue itu .. “boleh aku buka yank” katanya si sela2 proses ciuman gue dengannya .

    “boleeh sayaang, itu emang punya kamu kok … aaah” kata gue .. Si doi beranjak dari posisi dan menurunkan celana pendek gue beserta CD gue .. terpampanglah penis besar gue yang udah konak banget dari tadi .. Tanpa pikir panjang si doi mengocok2 penis gue itu .. “aaaahhh…kocok teerruus sayaang … eeennnaak bangeet kocokaan kmuu ” erang gue . Si doi mulai berani mencium2 kepala penis gue di sela2 kocokannya .. di jilatnya dan penis gue akhirnya di kulum nya .

    Mungkin udah cukup belajar dari video yang kami tonton tadi , si doi memberikan sepongan yang yahuuut banget .

    Gue mutusin untuk ngajak si doi pindah tempat “kita kekamar aja yuk yaank” ajak aku sama si doi .

    Dia mengangguk dan tidak lupa senyum sama gue . Langsung deh gue gendong dia dan berjalan ke kamar gue yang berjarak sekitar 3 meter dari sofa tadi .. Sesampai di kamar gue menidurkan si doi di spring bed gue dengan penuh cinta ..

    Gue langsung memberikan ciuman dari kening pipi , bibir , leher hingga ke dadanya .. “geliii saayaang… tapiii eennaakk … teruuuuss yaank” kata si doi . Tidak menghiraukan ceracaunya .. gue memberikan kuluman di puting dada kanannya .. Tangan gue udah mulai menjalar dari paha sampai ke selangkangan si doi , gue elus2 vaginanya yang masih terbungkus celana pendek gue yang di pakainya itu . berusaha gue menurunkan celana itu , dengan sekali gerakan gue berhasil melorotkan celana itu sampai ke pahanya .. vagina indah dengan bulu2 halus khas ABG perawan 16 tahun terpampang di hadapan gue .. gue meneruskan ciuman gue di vaginanya dan terus menurunkan celananya sampai akhirnya si doi bertenjang bulat di depan gue ..

    Tanpa pikir panjang gue buka selangkangan dia sampai akhirnya dia mengangkang .. gue merubah posisi untuk menjilat vaginanya dan membuka baju kaos yg gue pake .. ciuman dan jilatan kecil gue daratkan di klitoris si doi .. “aarrrgghh .. geliii sayaaanggg ” katanya . tidak menghiraukan erangannya , gue terus menjilat vagina yang wangi itu .. 5 menit gue menjilat vaginanya , tubuh si doi mengejang dan mengeluarkan cairan dari vaginanya tanda dia telah orgasme untuk yang pertama kalinya . gue jilat sampai habis tak bersisa cairan itu .. si doi terkulai lemas dan gue merubah posisi berbaring di sebelah kirinya .. dia memeluk gue dan mencium bibir gue . “makasiih sayang.. aku ciinta kamuu” bisiknya di telingaku .

    Setelah beberapa menit istrahat dan merasa tenaganya terkumpul kembali si doi mencium bibir gue , sambil tangannya mengelus2 kenjantanan gue .. Tidak mau kalah gue meremas lagi bongkahan dada montok nya , selang beberapa menit tangan gue menjalar lagi ke vaginanya .. gue elus bagian sensitif itu hingga akhiirnya lenguhan dan erangan kembali keluar dari mulult si doi ..

    Gue kembali berusaha membuka pahanya , dan membuat dia mengangkang lagi . gue merubah posisi bersimpuh di antara pahanya itu .. gue cium bibirnya .. dan gue memposisikan penis gue untuk menyodok vagina indah itu . “jangaaan yank… sakiiittt..” pintanya sama gue . “cuma sakit dikit sayang, nanti pasti enak, janji deh” kata gue meyakinkan . “pelan2 ya yank, ini yang pertama buat aku” balasnya . ternyata si doi belum pernah merasakan penis menerobos masuk vaginanya ..

    Gue elus2in kepala penis gue di bibir vaginanya , dan mencoba memasukan ujung penis gue itu .. sedikit usaha kepala penis gue udah masuk ke liang kenikmatan itu ..

    “aaakkkhhhh yaaankk” pekiknya . aku kembali mencium bibirnya , sambil lidah kami saling bertarung . aku tusuk vaginanya itu sampai semua bagian penis gue tertanam di dalam liang kenikmatan wanita yg gue cintai itu ..”aaaakkhhhh yyaankk sakiiit bangeeett” teriaknya dan airmatanya mulai keluar dari matanya .. gue memaju mundurkan pinggang gue dan gue melihat bercak merah keluar keluar dari vaginanya di sela2 goyangan penis gue di vaginanya .. teriakan si doi akhirnya menjadi lenguhan indah “aaahh uuuhhh eeehhhmm” begitulah yang keluar dari mulutnya 15 menit gue menggenjot si doi , gue mencabut pusaka gue tersebut dan meminta si doi untuk nungging dan mengambil posisi doggystyle .. lalu gue mengarahkan penis gue ke bibir vaginanya .. setelah masuk semua nya .. gue menggenjot lagi seperti menunggangi kuda ..

    Cerita Sange Lepas Jilbab 10 menit gue genjot, si doi teriak “akuuu mauuu keluuaar sayaaanggg aaahhhh” .. “akuu jugaa sayang.. kitaa barengan yaah” kata gue ..

    tak lama tubuh si doi mengejang dan gue merasakan cairannya mengalir keluar dari vagina .. dan crrooott croott crrooott .. gue menumpahkan lahar panas gue di dalam vagina si doi .. si doi jatuh ambrok di spring bed gue , gue pun terkulai di samping nya .. kami tertidur sambil berpelukan ..

    Beberapa lama , sebuah ciuman di bibir gue membangunkan gue dari tidur .. “makasiih sayang… jangan tinggalin aku yaa,, aku cinta banget sama kamu” katanya . “aku juga cinta kamu sayaang” kata gue membalas kata2nya .

    “kita mandi yuk” ajak nya . aku mengangguk dan kami bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi , di kamar mandi kami cuma berciuman di bawah shower .. setelah merasa bersih , gue mengambil handuk dan mengeringkan badan si doi .. dan si doi juga melakukan hal yang sama terhadap gue .. lalu kami keluar kamar mandi dan berpakaian kembali ..

    Setelah kami berpakaian rapi , si doi meminta untuk di antar pulang , jam dinding ketika itu menunjukan pukul 17.15 .. aku mengiyakan sambil memberikan ciuman di bibirnya , kami berciuman beberapa menit .. lalu menggandeng nya keluar rumah dan gue mengantarkan si doi pulang .. sekitar pukul setengah 6 , kami sampai di rumah si doi .. dan mengantarkan dia sampai ke depan rumah .. kedatangan kami di sambut nyokapnya ..

    “asik jalan2 nya hari ini Ndo?” tanya nyokap si doi . “asik tante, Ria nya gak bandel kok” kata aku nyengir sambil nyubit kecil pipi si doi .

    Gue pamit lalu pulang untuk istirahat ..

    Setelah kejadian itu si doi mulai melepas jilbabnya dan sering berpakaian sexy ketika pergi main sama gue .. dan selama setahun lebih kami pacaran sampai si doi lulus dan kuliah di kota gue itu , kami selalu ML di rumah gue .. 2 kali seminggu bahkan 3 kali seminggu kami melakukan hubungan badan ..

    Gue terpaksa ninggalin dia karna gue mau ngelanjutin kuliah di luar pulau .. dan tidak pernah lagi berhubungan dengan si doi . Kabar terakhir yg gue dengar setelah 2 bulan gue pisah dari si doi , ternyata dia mau nikah karena hamil di luar nikah . Mungkinkah itu anak gue atau anak pacar baru nya . Ah entahlah.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Virginku Telahku Lepas Pada Orang Yang Telah Membuatku Bahagia

    Cerita Sex Virginku Telahku Lepas Pada Orang Yang Telah Membuatku Bahagia


    1122 views

    Perawanku – Cerita Sex Virginku Telahku Lepas Pada Orang Yang Telah Membuatku Bahagia, Namaku Rahayu,temen-temenku biasa memanggilku ayu, masih duduk di kelas 2 SMU. Boleh di bilang aku sedang melewati masa puber, yang kata orang-orang masa pendawasaan.aku orangnya gak tinggi bahkan terkesan ndut, melar ke samping gak ke atas (kayak iklan deh). Sebenarnya aku minder dengan tubuh seperti ini, aku sering merasa iri jika melihat tubuh temen-temenku, saat kita ganti pakaian. mereka dengan tenang dan PD ganti baju tanpa harus minder seperti aku, sedang aku malu banget. Karena itu biasanya kalau ganti pakaian aku sering di kamar mandi dan bukannya di tempat ganti pakaian seperti yang laen. Dibandingkan dengan temen yang laen, badanku jauh banget badan ndut, payudara besar, pokong juga besar, kata temen-temen seperti emak-emak yang abis melahirkan. tapi ya sudah deh aku trima aja, namanya juga pemberian Tuhan, pasti suatu saat ada hikmahnya.

    Hari ini jam olah raga, “haduuuuuh…. (kataku dalam hati)” ini saat yang membuat aku minder dan malu. Seperti biasa aku tunggu temen-temenku masuk ruang ganti, setelah semuanya masuk aku cepet-cepet keluar kelas dan menyelinap ke kamar mandi. Ok, saatnya olah raga..pemanasan…gerakan-gerakan pemanasan bikin ubuh ndutku tambah menonjol, mulai membusungkan dada, trus jongkok trus berdiri lagi membuat semua tubuhku bergerak-gerak dan semua mata temen-temenku melihat ke arahku sambil mereka bilang “mak ati-ati ntar bayinya keguguran” hiii… tambah malu nih. tp akhirnya 1 jam sudah kulewati, “hah akhirnya” kataku.

    Hari ini aku pulang sekolah capek banget, maka cepat-cepat aku pulang. kalau sore gini orang tuaku belum pada pulang, karena biasanya mereka baru pulang setelah magrib. aku hempaskan tubuhku di kasurku “huh lega banget..” tak lama berbaring tiba-tiba bel rumahku berbunyi, aku bangun tergopoh-gopoh membuka pintu cos biasanya gak ada tamu kalau jam segeni.

    Segera aku buka pintu, dan ternyata tamu itu adalah Ari, temen sekelasku. orangnya cupu, pakai kacamata dan sering menyendiri. aku kaget dan cuman melongo aja memandanginya yang datang tak di undang. sesaat kemudian aku tersadar dan mulai membuka pembicaraan “ada apa Ari tumben?” kataku. lalu dengan terbata-batu di jawab “ehh..anu..ehh..ini dompet kamu terjatuh, ini punyakamu kan?” kata Ari. “OOOhhh..iya Ari makasih ya, untung ada kamu, yok masuk dulu” kataku, kemudian kamipun masuk keruang tamu. “Bentar ya Ar, aku buatin minum” kataku, “oh iya makasih Yu. lalu aku masuk kedalam untuk buatin minum, setelah selesai minum kami mulai ngobrol-ngobrol, tp satu hal, ada yang aneh dari Ari cos gak biasanya dia gak mau ngobrol banyak ma orang, tapi ternyata Ari sebenarnya enak juga di ajak ngobrol dan ngerasa buat aku nyaman banget. “ehh..Yu..maaf ya i cuman mau bilang..ehh” kata Ari, “mau bilang apa?” jawabku cepat, “eh itu..maaf itu ada yang kebuka” kata Ari. OMG ternyata di kasih tau aku kalau beberapa kancing bajuku terbuka, sehingga dadaku yang besar nyaris kelihatan. Dengan malu cepat-cepat aku kancing bajuku, sedang Ari hanya tersipu-sipu saja melihatku. Sesaat kemudian aku mulai mengalihkan perhatian, aku bercerita (sebenarnya Curhat sih) tentang diriku kalau di sekolah tentang minderku sama temen-temen yang laen. Ari mendengar dengan serius semua ceritaku, sehingga aku merasa nyaman dan diperhatikan, tak terasa air mataku mengalir karena sedih. Aku pun tak sadar aku sudah menangis di pelukan Ari, meski badanku ndut tp dia bs merangkul seluruh tubuhku sehingga aku makin terbuai dan merasa tenang.

    Sesaat kemudian kami berpandangan, jari-jarinya mulai mungusap air mataku dengan lembut, pelan-pelan Ari mengusap mata dan pipiku yang basah, akupun terbuai, aku merasa hidup,aku merasa ada. Setelah mengusap air mataku dia memeluk kepalaku di pundaknya, kemudian dia berbisik halus dan berkata “aku tau perasaanmu, karena akupun seperti itu, biarkan aku jadi orang yang akan selalu menemani sedihmu, maukan?”. uuuuhh..rasanya melayang baru kali ini ada cowok yang berkata seperti itu kepadaku, meski orangnya cupu, gak keren tp dia baik banget, aku bahagia mendengarnya. Aripun memelukku lebih erat dan aku sangat menikmatinya.

    Cerita Sex Virginku Telahku Lepas Pada Orang Yang Telah Membuatku Bahagia

    Cerita Sex Virginku Telahku Lepas Pada Orang Yang Telah Membuatku Bahagia

    Aku didekapnya, erat banget. sehingga tubuhku yang subur ini menempel semua di dadanya, Payudarakupun terasa meluber didadanya. tak terasa ada getaran di tubuh Ari, perutku merasakan sesuatu yang mengganjal saat kami berpelukan. oh ternyata batang Ari menegang,terasa besar. pikiranku mulai dipenuhi bayangan. Ari mulai merenggangkan pelukannya, kemudian memandangi wajahku, dia elus wajahku dengan lembut,trus ke leherku, dan…dia berhenti saat jarinya akan menyentuh payudaraku. entah setan apa yg lewat akupun berkata pada Ari “Ar..aku mau seperti yang laen, aku ingin merasakan seperti yang laen,tolong bikin aku seperti yang laen ar” kataku. “Sebenarnya, aku juga seperti kamu, kita sama, kta punya kesedihan yang sama..ehhhh..boleh aku..eehh” kata Ari. akupun hanya mengangguk tanda setuju, Ari pun mulai membuka kancing baju ku satu persatu dengan lembut. Ari melepas baju seragamku yang masih menempel dengan halus, kemudia dia kecup pundak dengan mesra aku terpejam menikmatinya. Leherku di kecupnya pelan, kemudia pipiku yang cempluk digigitnya dengan halus, aku pun merasa melayang. Tangan Ari aku bimbing menuju Payudaraku yang besar, aku taruh di ujung dadaku, kemudian Ari mulai meremas payudaraku yang masih terbungkus BH…Uhhhh Ar…Ari mulai menarik tali BHku turun lalu dengan halus dia membelai satu payudaraku, dia memainkan jari-jarinya di putingku aku hanya diam dan terpejam melayang. Karena sudah tak sabar dengan cumbuan Ari aku buka kancing BH ku, tanpa malu lagi aku tarik wajah ari aku benamkan di antara SUSUku, aku geser-geser ke wajahnya aku dekap kepalanya lebih dalam..”ayo Ar gigit Ar” pintaku. Sessat kemudian dia menjilat puntingku, “uuuhhhAr..Ayo gigit ar yang kenceng..jangan brenti”semakin aku menjadi-jadi.

    Sambil aku dekap kepalanya, aku buka celana sekolah Ari cepat…aku plorot dengan buas..oohh..ternyata Ari tidak memakai celana dalam..langsung aja aku kocok2 dengan tanganku, sementara ari masih menggigit-gigit payudaraku dengan nafsu. Aku ludain jariku kemudian aku kocoknya jari2ku ke batang Ari dengan cepat, Ari pun menggelinjang “UUhhh..Yu…uuhh..aku dah mau keluar..uuhhh”. “Ayo ar keluarin” pintaku. akupun mendorong tubuh ari agak kebelakang dan langsung aku lumat batangnya, aku masukkan batangnya pek tenggorokan lalu aku biarkan didlam mulutku, karena aku ingin meminumnya. Sesaat kemudian, ari memeras Susuku dengan keras dan Ari menggelinjang..dan keluarlah Air mani itu di mulutku. “Ahhhhhhhh..yuuuuuuuu”, setelah mulutku penuh dengan maninya aku lepaskan batangnya dari mulutku, dan akupun memperlihatkan air mani dalam mulutku ke Ari, trus dengan mulut penuh mani aku cium bibir Ari dalam-dalam, kamipun menikmati Air mani itu bersama-sama sampai habis. “uh nikmatnya..” kata kami hampir bersamaan.

    Kamipun tersenyum,aku bilang ke Ari “Ar makasih ya, udah bikin aku bahagia, dan makasih karena kamu bisa menahan diri hingga aku tidak kehilangan perawanku”. Ari pun berbisik kepadaku dan berkata “Perawanmu aku aku ambil nanti,setelah kamu aku nikahi”. ooo betapa terkejutnya aku mendengar kata itu. dan saat itu juga kami jadian meski tidak ada orang yang tau, beberapa tahun kemudian ketika kami sudah dewasa, Ari membuktikan kata-katanya. kamipun menikah dan hidup bahagia, Virginku telah aku lepas pada orang yang telah membuatku bahagia.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Nikmatnya Ngentot Dengan Wanita Sexy Yang Punya Tubuh Menggoda

    Cerita Sex Nikmatnya Ngentot Dengan Wanita Sexy Yang Punya Tubuh Menggoda


    1121 views

    Perawanku – Cerita Sex Nikmatnya Ngentot Dengan Wanita Sexy Yang Punya Tubuh Menggoda, Terbangun aku mendengar mbak Peggy bercerita riuh dengan lawan bicaranya di ponsel sambil duduk di meja rias kamarnya. Ku lirik jam di dinding kamar ini yang terlihat kabur jarumnya, menunjuk angka 9 dan 10. Berarti sampai mendekati hampir tengah malam aku telah beristirahat di kamar mbak Peggy.

    Bergerak mengangkat selimut aku bergeser ke kiri ke arah kamar mandi di dalam kamarnya sambil menoleh kiri kanan mencari celana dalamku. kutemukan tergeletak di dekat kursi kecil yang dipakai duduk Mbak Peggy, kubiarkan tubuhku berdiri meneruskan langkah kaki ke kamar mandi.

    Kuraih sabun mandi dan shampoo di wastafel, aku beranjak ke bathup di ujung kamar mandi. Kuputar keran panas dan dingin, kucari kombinasi air hangat yang bakal kupakai berendam. Ahg, memang air hangat tersebut serasa memijat kakiku, dan kubiarkan diriku perlahan-lahan terbenam hingga leherku.

    Dari celah pintu yang setengah tertutup itu aku mendengar mbak Peggy masih bercerita seru adegan ranjang yang dinikmatinya bersamaku tadi sore, selepas minum ramuan khasiatnya yang membangkitkan energiku sore tadi. Kubiarkan badanku menerima kehangatan air hangat keran kamar mandi sambil bersandar kupejamkan mata.

    Setelah lama tak terdengar lagi suara mbak Peggy, aku menghentikan usapan sabun di tubuhku dan berusaha berdiri mengarah ke pintu tempat handuk bergantung. Bersamaan dengan itu Terdengar pintu kamar terbuka. Dari celah pintu kamar mandi, dari kaca rias di kamar aku melihat jelas pembantu mbak Peggy si Muji masuk ke dalam sambil membawa kain bersih di nampan bersama teh hangat dan kue kecil bertumpuk di piring.

    Saat membersihkan tempat tidur, dari ujung seberangku hingga berputar mendekati kamar mandi, aku telah kering menyeka basah tubuhku, yang kulilit handuk sepinggang. Saat membungkuk membetulkan seprei tempat tidur sambil membelakangiku, perlahan aku keluar kamar mandi dan merangkulnya dari belakang.

    – Aih! pekiknya kecil terkejut.

    Masih membungkuk, kuremas dada dan perutnya dalam pelukanku, kuarahkan dia menatap cermin meja rias, yang terlihat jelas belahan dadanya tersembul dibalik dasternya yang sedikit ketat. busana remaja sekarang memang sexy, membuatku senang menatap pemandangan indah di cermin. Muji yang meronta berusha berdiri dan melepas tanganku mulai mengerutkan dahi tanda risih.

    – Nyonyamu mana sayang ? tanyaku
    – Errhh!! Keluar ke temannya, ada yang ingin bertemu degnannya di daerah mall.
    – Uhhh!! Tolong lepaskan mas pintanya memelas
    – Hmm, terus teh ini untuk siapa Muji ?
    – Untuk mas, sesuai pesan nyonya tadi.
    – Apa saja pesannya ? sambil menggerayangi tubuh remajanya yang masih kencang ini, aku mengarahkannya ke arah meja rias.
    – Untuk melayani mas sebelum nyonya datang. Aarhh!!

    Pekiknya saat tangan kiriku yang memgang perutnya mulai turun ke bawah. Kuraih pangkal pahanya yang masih rapat tertutup pahanya, kuremas buah dadanya dari belakang, sambil kugesek gesekan pusakaku pada pantat atau punggungnya, sekenanya. tangannya berusaha menggapai tepian meja rias, kursi rias ataupun karpet bulu di kamar, berusaha menopang tubuhnya agar tak jatuh.

    – Yah layani aku dong Muji aku kan ingin kau melakukannya
    – Arrh!! pekik Muji,

    saat kupegang pergelangan tangannya, kuputar badannya menghadapku, yang dengan cepat menarik ke atas dasternya menutup muka dan menahan tangannya di atas. Kutarik kebawah dengan cepat celana dalamnya dan saat membungkuk segera kuraih bra yang menutup dada ranumnya.

    Kulepaskan bra dan celana dalamnya, memperlihatkan tubuhnya yang ramping indah masa2 remajanya. wajahnya masih tertutup daster yang berusaha ditariknya keluar. Kubantu Muji melepas dasternya, hingga terlihat sekarang ia menggigit bibir bawahnya sambil memelas wajahnya menatapku

    – Jangan mas .. ampun mas
    – Jadi kau tak mau melayaniku ? kubiarkan diriku duduk di tempat tidur.
    – Jangan melayani ini mas nanti sakit mas
    – Tapi ada nikmatnya kan ?

    Muji tak menjawab. Ia menutupi kedua buah dadanya dengan menyilangkan tangannya, menutup erat pangkal pahanya dengan merapatkan lututnya kesamping setengah ditekuk. Wao! terlihat indah nian dipandang bentuk dan pose yang dilakukan Muji di depanku.

    – Muji sayang, cobalah kau menikmatinya dengan hati terbuka, ikhlas.
    – Engkau malah akan merasakan rasa nikmat yang beda dengan usaha penolakanmu. rayuku

    Muji diam saja.

    – Kalau mbak Peggy senang dengan pelayananmu padaku, tentunya sikap mbak Peggy akan baik kepadamu kan ?
    – Kemarilah Muji sayang kataku perlahan sambil berdiri.
    – Engkau cantik kuarahkan mukaku ke wajahnya dan mulai mencium pipi, ke arah telinga terus ke leher.
    – Engkau gadis sexy Muji. kulitmu bagus kuhisap bahunya, turun ke bawah ke depan.

    Mulai terasa pangkal buah dadanya mengeras, bergetar lembut saat tanganku mengajak pergelangan tangannya menjauhinya. Kubenamkan mulutku, menghisap dan mnggigit dada ranum kenyal, ketat milik Muji. Muji diam saja, masih menggigit bibir bawahnya, mulai menunduk dengan mata terpejam, terkulai ke kanan.

    Kupeluk tubuh rampingnya, Kuremas kedua pantatnya, Kulebarkan pahanya. Kulakukan remasan selama beberapa waktu sampai akhirnya kupeluk erat dan kubaringkan ke karpet bulu di kamar mbak Peggy ini.

    Masih terpejam mata Muji, bibirnya setengah terbuka, kedua tangannya mendekap kepalaku. Kutindih badannya, kubuka kakinya lebar2 dengan usaha kakiku, kugesekkan perlahan handuk yang melindungi pusakaku ke pangkal pahanya. Kakinya terbuka secara suka rela, tertekuk lututnya.

    Nafasnya tersengal saat pusakaku yang mulai mengeras menekan pangkal pahanya. Muji meremas tangannya di kepalaku saat tubuhku mendorong maju mundur dan menekan ke bawah. Merintih dan mengerang sambil menggoyangkan badannya mencari irama yang diinginkannya.

    Tak terasa lama kami saling memagut, menekan dan mendekap pasangannya masing, sampai mulai terasa hangat pusakaku menyentuh tubuhnya. Handukku telah terlepas. Sedikit mengangkat panggul aku mengarahkan kepala pusakaku ketengah pangkal paha Muji. Muji diam tak bereaksi menunggu saat2 itu tiba. Kepalaku didekap erat sambil mengerang

    Baca Juga :  Memberi obat perangsang pada mahasiswi cantik yang betamu ke rumah

    – ERrrgh!!

    Saat kepala pusakaku mulai menempati posisi yang pas pada milik Muji. Segera kudorong tubuhku sambil menekan membuatnya membuka mulut, tapi tak berusara. Matanya terpejam dan terbuka sesaat, bergantian, seirama dengan goyangannya mengimbangi dorongan dan tekananku. Beberapa waktu kemudian

    – AAARRRGH!! pekiknya nyaring, pendek, dan terbuka lebar mata dan mulutnya

    Sambil berkelojotan, bergoyang dan bergetar semua tubuhnya menghimpit rapat pingggangku. Pahanya yang erat menjepitku sekarang diringi gemetar semua dadanya. Kemudian Muji diam, memejamkan mata, masih berair ujung kelopak matanya, tapi sedikit tersenyum Muji masih mengelus kepalaku.

    – Enak kan sayang ?? bisikku di telinganya, tanpa menghentikan gerakanku.

    Masih dengan irama yang sama aku sekarang duduk berlutut dihadapnnya, membuka lebar kakinya dengan keuda tanganku di betisnya yang kuangkat ke atas. Tangannya sekarang mencengkeram kursi rias dan karpet bulu di salah satunya.

    Kepalanya masih terkulai ke kanan, mengangguk-angguk. sambil menekan bibir bawah ia mulai merintih lagi. Pintu kamar terbuka dari luar!! Kuangkat kepalaku dan mbak Peggy masuk. sambil menatap kami ia tersenyum kecil, meletakkan pantantnya di kasur, melepaskan sepatu tingginya.

    DI pintu, masuk lagi seorang wanita tinggi, lebih muda dari mbak Peggy dengan kurus panjang wajahnya mirip gadis foto model. Bajunya yang terikat diujung bawahnya memperlihatkan branya yang gelap membungkus dadanya yang kencang. Rok jeans sepaha yang dikenakannya terlihat amat sangat sexy membungkus pahanya yang putih.

    Lalu masuk lagi seorang wanita pendek dengan tubuh yang sedikit lebih lebar dari mbak Peggy, tetapi memiliki buah dada yang teramat besar. Baju putihnya lurus membungkus menutupi bentuk tubuhnya yang sedikit lebar itu, tanpa dapat menyembunyikan besar dada di depannya.

    – Sayang, ini Desty dan yang baju putih ini Septi. yang kemudian menyebutkan namaku kepada mereka
    – Yang di bawah tu si Muji, masih perawan dia tadi pagi. senyumnya kepada temannya.

    Aku tidak menghentikan gerakanku, masih menikmati denyutan di dalam lubang Muji yang sekarang ikut menoleh ke arah mereka. Bingung ia harus berbuat apa sementara tubuhku masih mendorong keluar masuk pusakaku ke dalam lubang miliknya.

    Mbak Peggy keluar kamar sambil menepuk pundak Desty

    – Ayolah kalo kau menginginkannya.
    – Yuk Ndut, kita ke dapur dulu. ajak Mbak Peggy ke arah Septi.

    Kulihat Desty mulai melepaskan perhiasannya, meletakkan dalam tasnya. Membuka kancing bra dan ikatan bajunya, meletakkannya di kursi rias sambil mendekat kearahku. Kulihat Jelas buah dadanya bagus menjulang, ujungnya runcing membuatku ingin menghisapnya. Sedikit membungkuk ia menurunkan rok jeans yang telah terbuka resletingnya. celana dalam coklat gelap dengan bordir indah menambah indah bentuk lekukan bawah pusar si Desty.

    – Mas kata Desty perlahan sambil mendekatkan wajahnya menciumi punggungku yang masih bergoyang berirama.

    Desty merangkulku dari belakang, dan mengesekkan tubuhnya pada punggungku, kurasakan dadanya yang kenyal dan ketat itu menekan punggungku. Kemudian ia bangkit sedikit berdiri, menempelkan perutnya ke punggungku.

    Kurebahkan miring si Muji di bawah, kakinya kanannya kusilangkan dengan kaki kirinya, pahanya sedikit merapat, pangkal pahanya seditkit lebih menjepit erat miliku. Muji merintih, kali ini meremas karpet disebelahnya erat2, kemudian sambil merapatkan bibir ia mengejang.

    Tanganku yang memegang kakinya merasa getaran kejang2 cepat yang kemudian berhenti, tapi dengan otot2 tubuh yang masih mengejang. badannya setengah tertekuk ke samping, lubangnya terasa lebih sempit dari sebelummnya saat itu.Kemudian ia diam tak bergerak, dengan masih rebah miring dan kaki terangkat satu. Ia tak bergerak, diam lemas tapi masih mencengkeram karpet bulu.

    Dari tadi tubuhku tetap bergoyang dengan irama yang sama menekan ke depan dan ke bawah.Aku tidak melihat perlawanan lagi. Tapi lubang milik Muji itu aku masih suka mengolahnya dengan pusakaku. Tidak sesempit sesaat tadi, tapi masih terasa menjepit dan berdenyut saat aku menghentikan sebentar gerakanku.

    Desty yang tanganya sudah gatal telah memulai meremas dadanya sendiri, menyaksikan kelojotan dan kejangan Muji di hadapannya. Sambil meraih pergelangan tangan kiriku, ia menyodorkan kemaluannya, menempelkan tangannya di situ sambil menggesekan tubuhnya ke tanganku. Sedikit kujepit dengan ibu jari dan telunjukku, kubuat celana dalam Desty sedikit turun ke bawah.

    Dari samping kemudian merangkulku, duduk di paha kiriku, menghadapku. Membuka pahanya lebar2 dan membenamkan pangkalnya ke pahaku. Dicondongkannya tubuh bawahnya hingga lebih menempel, menggesekkan kemaluannya ke pahaku. Kemudian menggesek kedua dadanya di bahu kiriku, naik turun.

    Kulepaskan si Muji yang terdiam di lantai, kuajak berdiri sebentar si Desty, kemudian mengajaknya duduk di kursi rias. Kutarik lepas celana dalamnya, tubuh Desty yang aduhai ini telah duduk di kursi rias dengan terbuka lebar pahanya.

    Segera kudorong bersandar ke meja rias, ia menopang sikunya. Pangkal pahanya dicondongkan ke arahku, memperlihatkan bentuk kemaluannya yang terselimut bulu tebal dari bawah pusar hingga sekeliling pangkal kakinya. kakinya dibuka sedemikian lebar hingga kedua tanganku dapat membuka belahan bawah Desty dan memijitnya perlahan.

    – UUUhhggghh Mengecil mulut Desty ke depan, melenguh melepaskan nafas.

    Kumasukkan pusakaku ke dalam milik Desty, kulakukan gerakan maju mundur dengan irama perlahan. Terasa masih kering lubang Desty, sehingga masih terasa dinding pusakaku menggesek lubang Desty saat berusaha masuk.

    Desty tersenyum nakal. dan mulai menggoyangkan naik turun bawah perutnya, membuatku semakin bersemangat menekan tubuhnya. Kupercepat gerakanku. ku tak peduli jika aku mencapai puncakku sebentar lagi. Tapi herannya, perasaan rileks di kepalaku dan nafas teratur miliku seperti malah membuatku tidak sampai2 pada ujung nikmatku.

    Baca Juga :  Ngentot Dengan Suster Yang Merawatku Di Rumah Sakit

    Sudah tegang pusakaku bersama si Muji, Sudah bergesekan di lubang sempit miliknya berulang kali. Kali ini dengan Desty, lubang keringnya yang menggigit dinding pusakaku, juga tak sanggup melepaskan energi yang kutunggu dari tadi. Heran juga ku sekilas.

    Tapi dorongan2 dan tekanan tajam, cepat dan berulang kepada Desty membuat lubangnya mulai basah juga. Dengan cepat ia merangkul kepalaku, pahanya dengan sigap dan cepat merangkul pinggangku, sehingga membuatku bangkit, menggendongnya, dan mendorong lubang di bawah badannya dalam-dalam.

    – AArghhh!! nikmat mas

    Badan Desty bergoyang dalam gendonganku. Kadang naik turun, kadang maju mundur, sambil terus menjepit kepalaku dengan tangan, dan pinggangku dengan kakinya. Kuajak ia berjalan keliling kamar mbak Peggy. Merintih si Desty bergoyang pantatnya terdorong pahaku yang melangkah maju bergantian.

    Semakin erat genggamn Desty, dan semakin memburur nafasnya. Kubuka handle pintu kamar mbak Peggy, kubuka pintunya, kuberjalan ke ruang tengah sambil menggendong Desty yang bergoyang goyang mencari kesenangannya.

    Cerita Sex Nikmatnya Ngentot Dengan Wanita Sexy Yang Punya Tubuh Menggoda

    Cerita Sex Nikmatnya Ngentot Dengan Wanita Sexy Yang Punya Tubuh Menggoda

    Kulihat Mbak Peggy di depan tv ruang tengah, melihat film porno asia, pemerkosaan gadis sekolah jepang di tv layar lebarnya. Kulihat mbak Peggy menatap layar sambil menerawang matanya. Pakainnya telah kebawah, tinggal bra di dadanya yang sedikit melorot juga, tanda kancing belakangnya telah terlepas.

    Kulihat kebawah, kaki mbak Peggy bergoyang-goyang mengapit kepala si Septi yang mengulum lekukan bawah tubuh mbak Peggy. Sambil bersandar dan melirik kami, mbak Peggy membenamkan kepala Septi dalam2. Mulut mbak Peggy terbuka, setengah bergoyang ia melambai kearahku. Mengajakku mendekat.

    Desty yang kugendong tambah mempererat genggamannya saat kulewati tv itu, membuat Desty melihat dan mendengar jelas teriakan, erangan dan tangisan keras gadis sekolah yang terpampang di tv, dikerjai oleh si pria dewasa. Desty mempercepat ayunannya dan kulihat matanya melotot melihat tv, mempererat jepitannya, merintih-rintih kemudian

    – ARrrghhhh!! AAAHhHHHHHHhhhh

    Badannya bergunjang dalam gendonganku, bergetar dan mengejang sesaat. Kemudian melapaskan tangan dan kakinya, hendak turun. Kubiarkan ia merosot ke bawah, ke lantai berselimut bulu tebal itu. Ia terbaring miring sambil tersenyum padaku.

    Mbak Peggy terpejam dan terbuka matanya bergantian, menikmati sapuan lidah dan hisapan si Septi yang setengah telanjang berbaring di bawah. Kutarik meja ke pinggir memperluas ruang tengah ini, kutarik kursi sofa kecil ke arah mereka berdua.

    Kuangkat gaun putih bagian bawah milik Septi. gaunnya di tengah tubuhnya sekarang bergantung, karena bagian atasnya sudah terlepas semua hingga pinggang. Tak kulihat celana dalam si Septi di badannya.

    Coba kuangkat sedikit pahanya, mengajaknya bersandar telungkup di kursi yang kusiapkan. Masih melumat milik mbak Peggy, si Septi mulai melirik ke arahku. Kubuka sedikit pahanya, yang diteruskan dengan usahanya sendiri membuka lebar2 dan sedikit menungging bagian bawahnya. merangarahkannya kepadaku.

    Ah, segera kusiapkan pusakaku berganti lubang sekarang. Kumasukan perlahan. sempit. Septi menjerit kecil dalam benaman pangkal paha mbak Peggy. Perlahan kumasukan pusakaku yang basah ini memasuki lubang Septi. Wanita ini gemuk, sehingga membuat lubangnya sempit, atau ia jarang melalukan sehingga terasa sempit ?

    Perlahan tapi pasti, pusakaku sudah di dalam lubang Septi. kukoyak kesamping, kedorong kedepan, kebenamkan dalam-dalam ke bawah, kugoyang kesegala arah. Aku senang dinding pusakaku terpijit denyutan ruang dalam Septi.

    – Ah!! pekiknya tertahan

    Lubang Septi, hampir sesempit lubang Muji. Tapi kali ini ia memijit pusakaku di dalam, membuatnya berbeda dengan milik si Muji. Kudorong terus si Septi, kuingin terus meraih sensasi di pijitan di ruang dalam miliknya.

    Tak beberapa lama, aku mulai gemetar, kupercepat gerakanku, kuperhatikan mbak Peggy yang terpejam matanya, terlentang lemas, Septi yang tidak mengulum kemaluan mbak Peggy, mulai terengah-engah, telungkup di kursi kecil. Badannya sedikit bergoyang sambil terus merapatkan pantatnya, berusaha keras menjepit pusakaku saat beraksi di lubangnya. Kurasakan si Septi ini yang paling lihai diantara mereka.

    Dengan meremas pantatnya, kubenamkan dalam2 pusakaku ke lubang Septi, menegang paha dan lututku, mengeluarkan cairan hangat yang kutunggu dari tadi. Kusampai puncak nikmatku dengan wanita sintal tapi lihai ini. Kulihat ia tersenyum menoleh kepadaku, terengah engah membiarkan lubangnya tersiram air hangat dari dalam tubuhku.

    Sesaat sambil meluruskan kaki, terduduk di bawah bersandar sofa, aku merasa ada yang aneh saat kuperhatikan pusakaku masih bediri tegak. Aku sudah yakin mencapai puncak nikmat saat bersama Septi tadi, tapi pusakaku belum bergerak melingkar lemas kebawah.

    Kupegang, masih tegang dan kencang. Kuteguk cangkir minuman disampingku, kurasakan hangat tehnya, sambil menutup mata dan menyandarkan kepalaku ke sofa aku beristirahat memejamkan mata.

    Setengah sadar aku merasakan beban berat mendidihhku, bersamaan terjepitnya pusakaku kedalam lubang bawah wanita. Kurasakan semua gerakan ayunan dan goyangan cepat berlangsung lama di atasku bersamaan dengan pekik panjang suara si Septi.

    Tak lama setelah mengangkat badannya, kembali aku tertindih berat tubuh wanita yang membenamkan pusakaku ke dalam liang lubang wanitanya. Kudengar suara mbak Peggy sekarang terengah dan menjerit terus menerus. Mulai kudengar pula suara Desty ikut tertawa perlahan dan bergantian menindih tubuhku sambil menggoyangkan pangkal pahanya mencari kenikmatan. Mereka terus melakukan secara bergantian.

    Akhirnya tak terdengar suara dan gerakan lagi Kubuka mataku dan melihat mereka bertiga tertidur di karpet, semua dengan telanjang bulat. Kucoba bangkit, merasakan tenagaku mulai pulih, aku bergerak perlahan ke kamar mbak Peggy, sambil memperhatikan pusakaku yang masih terus berdiri tegak.

    Aku masih teringat Muji, remaja belasan tahun yang masih sangat ingin kujamah dan mengolah tubuh molek kencangnya bersama lubang kenikmatannya yang sempit.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Nikmat Gurih Istri Tetangga

    Cerita Sex Nikmat Gurih Istri Tetangga


    1121 views

    Perawanku – Cerita Sex Nikmat Gurih Istri Tetangga, Aku seorang yang hypersex, setiap sehari sekali wajib melakukan hubungan seks, kalau istri sedang tidak berada di rumah, aku pusing sekali, namun kemarin ane gak dapat jatah dari istri sebab dia lagi pergi. Akhirnya timbul niat untuk mencari mangsa lain coz konti gw merasa cenat cenut kalau ga di turutin.

    Aku membuka selimut, maka saya mendekatinya dengan wajah saya, perlahan-lahan aku mencium dia sangat membangkitkan gairah. Aku benar-benar menyukai semua aroma tubuhnya saat tidur, karena aromanya natural bukan buatan, itulah salah satu alasan saya sangat mencintainya, tidak ada nilai-nilai yang minuspun tersedia baginya, wajah, tubuh, aroma, hati, sifat, semuanya PERFECT, maka ia rahmat yang paling indah yang saya miliki, tidak ada orang lain yang dapat menggantikannya, mungkin saya lebih cinta dari cinta sendiri, saya lebih rela kehilangan semua harta dari kerugian, dan karena itu banyak sifat-sifat masa lalu jelek, saya buang.

    Di masa lalu saya sering saling wanita, sering melakukan pesta seks dengan teman-teman, sering pemesanan model, beberapa artis, Perex luar (Cina / Taiwan / dll), mahasiswa, dll Tapi semua yang saya meninggalkan dia, banyak dari teman-teman yang kiri / tidak pernah menghubungi saya lagi, tapi saya tidak peduli, saya pikir, saya tidak hidup dari mereka, bahkan mereka yang banyak “mengambil” uang dari saya untuk “sewa” wanita tsb,. Aku mungkin telah menghabiskan puluhan miliar itu semua.

    Memang, aku masih suka curang, tapi kemudian saya lakukan jika dia tidak hadir atau pergi ke luar negeri sendiri, seperti minggu lalu. Saya kemudian melakukannya tidak ingin membiarkan dia tahu, jadi saya tidak pernah memberikan no telepon / ponsel, jika saya butuhkan, saya yang menyebut. Dan ada salah satu karyawan saya (pembantu, penjaga keamanan, pengawal) yang berani mengungkapkan bahwa, jika ada yang berani, saya jamin orang itu akan segera bertemu dengan “penulis”.

    Karena cinta, jika istri saya ingin belanja dan aku sibuk, jadi saya mengirim tiga pengawal untuk menemaninya.
    Saya sudah menyarankan semua pengawal, tidak ada yang harus mengganggu istri saya, jika mendapat sepotong rambut rontok yang disebabkan oleh seseorang, maka orang tersebut harus menerima “hadiah” yang berharga. Setelah ada kejadian yang diterbitkan di hampir semua surat kabar Jakarta, itu terjadi di depan Keris Gallery Menteng, istri saya diserang, dan orang-orang tanpa ampun mereka akan diberikan hadiah di dahinya dalam bentuk “timah”. Mereka melakukan itu semua karena perintah dari saya, karena saya pernah berkata: “Jika sampah di rumah tidak segera dibuang, halaman rumah akan terkandung kuman dan bakteri yang membuat penghuninya tidak sehat, negarapun seharusnya, jika ada” sampah masyarakat “harus segera dimusnahkan bahwa negara ini sehat”. Dan motto itu selalu lari saya, dan saya perintahkan ke semua pengawal untuk menjalankan, tidak ada satu orang yang pernah memegang / merampok keluarga saya ke dalam sel, tetapi selalu masuk ke tanah. Untuk apa orang seperti itu masuk ke sel, mengganggu masyarakat akan keluar lagi, jika ia pergi ke tanah, orang akan pergi diam-diam.

    Setelah puas mencium dia, aku perlahan membuka pakaian, ia selalu tidak pernah memakai pakaian. Aku membuka pahanya Perlan perlahan dan memperhatikan vaginanya, sangat indah, merah muda. Kenaikan gairah lagi, segera saya perlahan-lahan mencium mulutku dengan cepat terjebak kemaluannya ketat pada kedua bibir dan lidah menyapu dan menjilat gundukan kecil daging di bagian atas lubang kemaluannya. Segera merasa tubuhnya bergetar hebat dan kedua tangan mencengkeram saya, ternyata istri saya terbangun dari tidur. Dia ditekan dengan pahanya dikencangkan tegas.

    Cerita Sex Nikmat Gurih Istri Tetangga

    Cerita Sex Nikmat Gurih Istri Tetangga

    Sigh keluar dari mulutnya “Oohh .., oohh .., oohh ..!”
    Saya mengubah posisi 69, batang kemaluanku dipegang olehnya, dan kemudian saya merasakan ujung lidahnya mulai bermain-main di sekitar kepala penisku, perasaan menyenangkan tiba-tiba memancar dari bawah terus naik ke seluruh tubuh saya, sehingga untuk tidak merasa keluar erangan kenikmatan dari mulutku. Kami terus bermesraan, setiap hisap-menghisap, menjilat-jilat seakan berlomba-lomba ingin memberikan kepuasan satu sama lain. Setelah 8 menitan bertempur, istriku mulai mengejang dan berteriak.

    “Aahh .. aahh ..” jeritan disertai dengan merapatnya paha, dan pantat buah menggaruk-kaki.
    Satu setengah menit dia menjepit kepalaku, sampai akhirnya dia terpuruk, sementara aku terus dengan aksiku menjilati setiap tetes air yang mengalir dari kedalaman vaginanya.
    “Cukup .. Sayang .. auuow ..” keluhnya.
    Dia menjatuhkan diri telentang dan membiarkan pergi dengan menghela napas, matanya menatap langit-langit.
    “Ini bukan yach, karena meninggalkan satu minggu”, katanya.
    “Ya nich, satu minggu saya hanya bisa gigit jari, sekarang lu harus membayar semua” jawab saya.
    “He he he ..” istriku tersenyum manis.
    Beberapa saat kemudian saya menyuruhnya untuk menungging. Dalam keadaan menungging sehingga ia terlihat lebih fantastis!
    Potongan pantat putih dan halus itulah yang membuat saya tidak tahan. Aku memegang penisku dan langsung kuarahkan ke dalam vagina, maka segera kukayuh perlahan, setelah sekian lama Aku meraih tubuh terlihat telah melonggarkan. Aku memeluk dari belakang, saya meletakkan tangan saya di bawah payudaranya, dengan payudara kuurut agak kasar dari bawah ke atas dan meremas keras.
    “Eengghh .. oohh .. ohh .. aahh”, tidak lama setelah itu bendunganku rusak, kutusuk keras, dan sperma saya di penyemprotan lima kali.

    Setelah istirahat sejenak, kami kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian kembali ke tempat tidur. Saat tidur kita berbicara dan bercanda, sampai aku berbalik. Lalu saat aku menariknya ke belakang untuk saya, jadi sekarang dia sedang tidur telungkup di atas saya. Tubuhnya perlahan mendorongnya sedikit ke bawah dan kakinya kupentangkan. Kedua lutut saya dan pantat sedikit aku dibangkitkan, sehingga penisku panjang dan masih sangat tegang itu langsung terjepit di antara dua bibir kemaluannya. Dengan tekanan dengan tangan pada pantat dan menyentak sampai pantat saya, maka penisku segera menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya. Lenyap semua batangku.

    “Aahh ..!” Audible mendesah kenikmatan keluar dari mulutnya.
    Aku segera menggoyang pinggulku dengan cepat karena sepertinya ia akan klimaks. Saya menambahkan semangat juga diimbangi dengan gemetar pantatnya dan menggeliat di atas saya. Aku melihat wajahnya yang cantik, matanya setengah tertutup dan rambut panjang terurai, menjadi kedua payudara seksi yang bergoyang di atas saya.

    Ketika saya melihat cermin besar di lemari, tampak pinggul berayun ke arahku. Kontol saya secara singkat melihat hilang sebentar ketika dia bergerak naik dan turun di atasku. Hal ini membuat saya lebih terangsang. Tiba-tiba sesuatu yang mendesak dari ayam mencari jalan keluar, menciptakan perasaan yang menyenangkan di seluruh tubuh saya. Kemudian air dapat ditahan tanpa penyemprotan cum keras ke dalam lubang vaginanya, yang pada saat yang sama juga berdenyut dengan kekerasan dengan yang berada di atasku bergetar dengan hebat dan terpental. Tangannya mencengkeram tubuh saya sulit. Pada saat yang sama kami berdua mengalami orgasme dengan mengerikan. Akhirnya ia merosot di tubuhku dengan lemas terlihat dari mulutnya saat ia tersenyum puas.

    “Terima kasih yach, lu sudah menyediakan sarapan nikmat ..!” Dia berkata
    Saya menjawab dengan memberikan ciuman di dahi.
    “Sayang .. saya ingin mengatakan sesuatu” lanjutnya.
    “Sayang Apa?” Saya membalas
    “Anda harus janji 1”
    “Berjanjilah untuk apa?”
    “Janji tidak marah dengan saya”
    “Tidak aku bisa gila untuk madu,” kataku, mencium keningnya lagi.
    “OK .. aku hamil” katanya pelan.
    “APA .. Apakah Anda serius?”
    “Ya sayang”

    Mungkin karena terlalu senang, seperti kesurupan, saya langsung memeluknya erat dan mencium berulang kali.
    Kami berpelukan dan berciuman dengan tangan kita satu sama lain, membelai dan memijat satu sama lain, jadi kami terbangkit nafsu makan dengan cepat kembali. Lidah kita memutar dan menghisap satu sama lain, terasa begitu baik. Aku keluar-mendorong puting sambil terus berciuman. Sekarang mulutku pindah ke hirarki leher, leher dan tangan kujilat semakin sengit di dadanya. Istri saya berbalik dan berada di atas saya, dan kemudian ia mengambil posisi 69, dengan tanpa pamrih hal dijilatinya dari testis ke kepala, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya. Aku segera menjilat klitorisnya sudah basah dan dibalasnya dengan kelezatan jerami-jerami, ia membiarkan batang kemaluanku di dalam mulutnya dan bermain-main dengan lidahnya sambil mengisap, sementara aku dengan lembut menggigit bibir kemaluannya.

    Setelah 10 menit, karena saya tidak ingin orgasme cepat aku menyuruhnya berhenti. Kali ini dia tidur telentang, dan menempatkan saya di atas batang kemaluannya ke dalam liang perempuan. Aku mulai memompa. Aku pindah pantatku naik turun dan ia mulai mengikuti gerakan tubuh saya. Dia mulai mengerang suara sementara jari mengigiti, menggeleng, dan kaki yang melilit pinggang saya, kadang-kadang ia juga mencium bibirku.
    “Ohh .. mooree ..!”
    Gerakan semakin kupercepat, kita mendapatkan liar di tempat tidur, jika tidur murah mungkin runtuh karena guncangan yang kuat ini. 30 menit kami berada di posisi ini, tubuh kita bermandikan keringat. Akhirnya merasa dia mulai mengejang, kakinya semakin pinggang penjepit kuat, tangannya erat memeluk kukunya merasa bahkan mulai menggaruk punggungku, tapi aku diabaikan.

    Akhirnya saya merasa cairan hangat membasahi batang kemaluanku disertai dengan panjang lolongan. Tapi aku masih tidak orgasme, aku terus meningkat ini untuk 5 menit kemudian giliran maniku cerat dalam liang perempuan. Tubuhku mulai lemas, kami mencium satu sama lain sementara bergulir sekitar sampai akhirnya berbaring dengan nafas terengah-engah.
    “Saya sangat senang kau hamil!” Aku tergagap sebagai napas masih tidak bisa teratur.
    “Aku mencintaimu” katanya, menyeka keringat di dahi saya.
    Tiba-tiba ia mencium turun ke leher, dada, perut, akhirnya batang pangkal paha. Dikulumnya batang kemaluanku masih dioleskan dengan sperma dan liang perempuan cair rakus. Stem pangkal paha yang mulai kembali lamban dalam mulutnya diperketat. Saya mengubah posisi saya bersandar di tepi tempat tidur sehingga saya bisa memijat payudara berukuran sexsy.

    Setelah membersihkan batang kemaluanku, dia duduk di pangkuanku dengan posisi berlutut. Kuelus sementara ia membelai pantatnya perlahan menurunkan tubuhnya sampai batang kemaluanku tertanam di senggamanya kebiasaan. Tanpa kuperintah, ia segera bergerak tubuhnya naik turun seperti naik kuda. Payudaranya yang tepat di depan wajahku datang bergoyang-goyang atas dan ke bawah irama gerakannya. Saya merokok payudara kirinya sementara kanan pijat lembut memijat sesekali aku berbalik dan menarik puting merah muda sudah keras.

    Sebelum klimaks kedua kalinya aku mengatakan kepadanya untuk mengubah posisi. Kali ini ia menungging di depan saya, di belakang ternyata sekarang ingin bermain. Aku meletakkan batang kemaluanku dan tangan meremas-remas payudaranya menggantung itu. Genjotanku membuatnya mengerang sambil terus mendorong nikmat tubuhnya mengimbangi gerakan. Butir-butir keringat jatuh di tempat tidur.
    Setelah 15 menit bermain doggy style, kami orgasme bersama-sama, 2X penyemprotan sperma ke dalam rahimnya.

    Setelah kami istirahat satu jam, kami pergi ke restoran untuk merayakan kehamilan pertama ini. Ternyata istri saya di luar negeri tidak hanya untuk mengunjungi kakaknya, tetapi juga untuk memeriksa kehamilan.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Nikmatnya Tubuh Mulus Mbak Lia

    Cerita Sex Nikmatnya Tubuh Mulus Mbak Lia


    1120 views

    Perawanku – Cerita Sex Nikmatnya Tubuh Mulus Mbak Lia, Namaku Galang aku masih kuliah semester akhir, sebagai anak kost yang hidup jauh dari kedua orang tuaku aku harus pinter-pinter menghemat uang kiriman mereka. Namun karena aku disni bergaul dengan teman-teman yang kebanyakan dari orang tua yang memang sudah berada, jadilah aku hidup seperti mereka mulai dari membeli gadget terbaru hingga melakukan adegan seperti dalam cerita sex yang sudah banyak di internet.

    Dengan wajah yang mirip dengan aktor korea dengan mudah aku mendekati cewek yang aku suka. Bahkan kini bukan hanya dengan cewek yang aku suka atauapun aku jadikan pacar tapi dengan banyak cewek aku melakukan hubungan intim layaknya dalam adegan cerita sex, bukan karena aku yang mencoba memaksa mereka tapi dengan relanya mereka sendiri yang mendekatiku.

    Akupun menjadi cowok yang sering gonta ganti cewek di kampus, tapi mereka tidak ada yang berusaha menuntutku karena hubungan yang aku lakukan tidak pernah ada komitmen apapun. Meskipun aku sendiri saat ini mendekati seorang cewek yang pendiam resti namanya, tapi dia begitu dingin padaku bahkan aku tidak pernah di beri kesempatan untuk mengantarnya pulang.

    Sambil terus mencoba mendekati Resti akupun tetap berpetualang melakukan adegan cerita sex dengan banyak gadis. Hingga akhirnya akupun mengenal sosok wanita yang lebih dewasa dariku dan aku memanggilnya dengan sebutan mbak Lia, dia merupakan wanita yang kini sudah bekerja di sebuah perusahaan sebagai sekretaris. Dan aku mengenalnya lewat temanku.

    Aku sering jalan bareng dengan mbak Lia, dan seperti biasa kami bukan hanya jalan sekedar makan bareng ataupun nonton bareng. Tapi berakhir di tempat tidur melakukan adegan seperti dalam cerita sex, seperti malam ini aku sedang berada di rumah mbak Lia. Diapun masuk dalam kamarnya dan aku yang sudah sering main kesini sudah mengerti maksudnya.

    Akupun masuk menyusulnya dari belakang, melihatnya sudah berganti baju tidur yang tipis akupun memeluknya dari belakang “Kamu begitu seksi sayang…karena itu aku kangen terus sama kamu..’ Rayuku sambil mendaratkan ciumanku pada lehernya, mbak Lia tersenyum sambil berkata “Dasar berondong.. ya di depan aku bilang begitu coba di depan teman-temannya….” Katanya menggodaku.

    Akupun tidak mau kalah dengan kata-katanya yang memancingku “Kalau kamu mau ayo aku ajak kenalan sama teman-temanku.. aku akan bilang kalau wanita ini yang bikin hatiku meleleh..” Ternyata ucapanku dapat membuat mbak Lia tergoda, buktinya dia langsung berbalik lalu dengan cepat mencium bibirku dengan penuh nafsu kamipun terhanyut dalam suasana romantis.

    Satu persatu aku lepas pakaian yang menempel pada tubuh mbak Lia ” Sayaaang ayooo cepaaat mbak nggak tahan niiiiccchhhh…” Katanya dengan lirih terdengar di telingaku dan membuat aku semakin bergairah saja, baru selesai aku lepas bajunya dia sudah mendorongku lalu menindih tubuhku yang sudah terlentang di atas tempat tidurnya aku buka kaosku.

    Setelah itu celanaku yang di bantu oleh tangan mbak Lia yang begitu cekatan, tidak sampai lima menit aku sudah dalam keadaan telanjang juga akhirnya. Dan mbak Lia mencari kontolku dengan tangannya sedangkan matanya masih menatapku dengan penuh nafsu setelah kontolku dapat di peganganya diapun memasukkannnya ke dalam lubang kemaluannya sendiri.

    Meskipun tanpa dia lihat dengan tepat kontolku menancap di dalam memeknya “OOouuugggghh.. yaaaacch.. ituuu.. mbaaak…. aaaaagggghh…” Kataku sambil meremas buah dada mbak Lia yang menggelantung dengan besarnya, ketika kontolku sudah masuk ke dalam memeknya mbak Lia kemudian menggoyang tubuhnya. Dengan gerakan turun naik di atas tubuhku layaknya orang yang menduduki sesuatu.

    Terus saja dia menggoyang sambil mendesah “OOooouuggghh… Galaaaaaang… aaaaagggghhh… uuuuggggghhh… uuuggghh… uuuggggghh… ” Sedangkan tanganku masih mermas buah dadanya yang semakin menggantung, akupun mencicipinya dengan bergantian dari puting yang satu ke puting yang satunya lagi. Dengan tubuh sedikit terbangun akupun memainkan tanganku di bokongnya.

    Bagai pemain dalam adegan cerita dewasa sex yang begitu lihai, aku berada di posisi bawah tubuh mbak Lia. Sedangkan tanganku dengan penuh gemas meremas pinggulnya “Aaaggggghhh… mbaaak… aaaaaggghhh… teruuuuus… mbakk… aaagggghhhh……. aaaagggghhh… aaaggghhhh..” Mbak Lia terus saja bergoyang dengan posisi yang bergantian namun tetap di atas tubuhku.

    lebih tepatnya menngoyang kontolku yang berada di dalam memeknya, hingga akhirnya akupun tidak sanggup lagi menahannya. Apalagi aku tahu juga kalau mbak Lia sudah berkali-kali horny ini terasa dari memeknya yang sudah begitu basah “Ooouuuggggggghhhh… mbaaak… gantiaaan.. Galaaang yang di atas yaaaa…. aaaaagggghhhh…” Dia mengannggukan kepalanya.

    seketika juga aku membalikan tubuh mbak Lia, kini aku berada di atas tubuhnya dan kembali menacapkan kontolku yang sempat tertarik tadi. Setelah kembali kontolku dapat menenrobos lubang memeknya kini aku yang bergerak cepat di atas tubuhnya dan mbak Lia yang mengerang “OOouuugggggghhh… Galaaang.. nikmaaat sayaaang… aaaaagggghhh… aaagggghhh… aaagggghhhh… “.

    Tubuh mbak Lia yang sudah basah oleh keringat terasa licin ketika tanganku berusaha memegangnya “Ooouuugggggghhh… aaaagggggghh… aaaku jugaaa… aaagggghhh… aaaaaggghhh… aaaaaggghhh…” Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku karena seketika larva hangatku muncrat begitu kental dalam lubang memek mbak Lia yang tersenyum sambil memelukku dengan erat.

    Kamipun sama-sama terkulai lemas “Makasih sayaaang…” Katanya sambil mendekapku, malam itu akupun tertidur di rumah mbak Lia. Sebenarnya aku jarang menginap di rumahnya tapi karena malam ini kami melakukan adegan layaknya dalam cerita dewasa sampai beberapa kali, kamipun kelelahan dan tertidur dengan lelap hingga terbangun keesokan harinya.

    Tubuhku sebenarnya masih lemas tapi mbak Lia membangunkan aku dengan kerasnya “Galang bangun cepat.. suami mbak ada di depan..” Dengan kaget aku segera bangun, dan memakai pakaianku, mbak Lia keluar dari kamar dan aku dapat melihat dari jendelanya kalau dia menghampiri mobil yang berada di halaman rumahnya dan aku lihat seorang pria yang memberikan sesuatu padanya.

    Kemudian pria itu pergi dengan mobilnya, tidak lama kemudian mbak Lia datang dengan senyuman manisnya “Untung dia buru-buru..jadi nggak jadi mampir..” Aku dengan muka masih masam juga, karena ku aru tahu kalau mbak Lia memiliki suami dan aku tahu kalau dia pasti wanita simpanan bukan istri yang sah. Setelah dipikir-pikir sepertinya aku mengenal pria tadi.

    Lama aku berpikir tapi tidak juga mengingatnya, ketika kami sedang sarapan dengan perlahan aku bertanya pada mbak Lia “Suami mbak Lia darimana sich..” Dia tersenyum lalu berkata “Kamu pasti tahu kalau mbak seorang wanita.. tapi mbak melakukan hal itu karena mbak kasihan padanya istrinya sakit lama sekali dan dia..” Aku sudah tidak lagi mendengar perkataan mbak Lia.

    karena saat itu aku ingat kalau pria tadi adalah papa dari Resti, cewek yang taksir selama ini. Aku ingat kalau mama Resti sudah mengalami kelumpuhan karena itu dia tidak memikirkan untuk jalan bareng cowok, waktunya di habiskan untuk merawat mamanya. Tapi papanya memilih selingkuh dengan mbak Lia, oooh apa yang hatus aku lakukan melihat semua ini, kasihan juga Resti.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Dengan Pembantu Yang Seksi

    Cerita Sex Dengan Pembantu Yang Seksi


    1120 views

    Perawanku – Cerita Sex Dengan Pembantu Yang Seksi, Maukan kamu mijit Bapak lagi ? Pegal2 nih kan udah seminggu? Bisa Pak, jam berapa Bapak pulang ? Sekarang? Baik Pak, tapi saya mau mandi dulu? Agak lama aku menunggu di depan pintu baru Tini membukanya. Maaf Pak, tadi baru mandi Kata Tini tergopohgopoh. Ah, penisku mulai bergerak naik. Tini mengenakan daster yang basah di beberapa bagian dan jelas sekali bentuk bulat buah kembarnya sebagai tanda dia tak memakai BH. Mungkin buruburu. Engga apaapa.

    Bisa mulai ? Bisa pak saya ganti baju dulu? Hampir saja aku bilang, engga usah, kamu gitu aja. Untung tak jadi, ketahuan banget ada maksud lain selain minta pijit. Aku masuk kamar dan segera bertelanjang bulat. Terbawa suasana, penisku udah tegak berdiri. Kututup dengan belitan handuk. Pintu diketok. Tini masuk. Mengenakan rok terusan berbunga kecil warna kuning cerah, agak ketat, agak pendek di atas lutut, berkancing di depan tengah sampai ke bawah, membuatnya makin tampak bersinar. Warna roknya sesuai benar dengan bersih kulitnya.

    Dada itu kelihatan makin menonjol saja. Penisku berdenyut. Siap Tin? Ya pak? Dengan hanya berbalut handuk, aku rebah ke tempat tidur, tengkurap. Tini mulai dengan memencet telapak kakiku. Ini mungkin urutan yang benar. Cara memijat tubuhku bagian belakang sama seperti pijatan pertama minggu lalu, kecuali waktu mau memijat pantat, Tini melepaskan handukku, aku jadi benar2 bugil sekarang. Wangi sabun mandi tercium dari tubuhnya ketika ia memijat bahuku. Selama telungkup ini, penisku bergantiganti antara tegang dan surut. Bila sampai pada daerah sensitif, langsung tegang. Kalau ngobrol basabasi dan serius?, surut. Kalau ngobrolnya menjurus, tegang lagi.

    Depannya Pak? Dengan tenang aku membalikkan tubuhku yang telanjang bulat. Bayangkan, terlentang telanjang di depan pembantu. Penisku sedang surut. Tini melirik penisku, lagi2 hanya sekilas, sebelum mulai mengurut kakiku. Sekarang aku dengan jelas bisa melihatnya. Bayanganku akan bentuk buah dadanya di balik pakaiannya membuat penisku mulai menggeliat. Apalagi ketika ia mulai mengurut pahaku. Batang itu sudah tegak berdiri. Cara mengurut paha masih sama, sesekali menyentuh buah pelir. Bedanya, Tini lebih sering memandangi kelaminku yang telah dalam kondisi siap tempur. Kenapa Tin ? Aku mulai iseng bertanya.

    Ah engga katanya sedikit gugup.?Cepet bangunnya hi ..hi..hi..? katanya sambil ketawa polos. Iya dong. Kan masih sip kata kamu? Ada bedanya lagi. Kalau minggu lalu sehabis dari paha dia terus mengurut dadaku, kali ini dia langsung menggarap penisku, tanpa kuminta ! Apakah ini tanda2 dia akan bersedia kusetubuhi ? Jangan berharap dulu, mengingatkesetiaan?nya kepada isteriku. Cara mengurut penisku masih sama, pencet dan urut, hanya tanpa kocokan.

    Jadi aku tak sempatmendaki?, cuman pengin menyetubuhinya ! Udah. Benar2 masih sip, Pak? Mau coba sipnya ? kataku tiba2 dan menjurus. Wajahnya sedikit berubah. Jangan dong Pak, itu kan milik Ibu. Masa sih sama pembantu? Engga apaapa asal engga ada yang tahu aja ? Tini diam saja. Dia berpindah ke dadaku. Artinya jarak kami makin dekat, artinya rangsanganku makin bertambah, artinya aku bisa mulai menjamahnya. Antara 2 kancing baju di dadanya terdapat celah terbuka yang menampakkan daging dada putih yang setengah terhimpit itu. Aduuuhhh. Aku mampu bertahan engga nih. Apakah aku akan melanggar janjiku ? Seperti minggu lalu juga tangan kiriku mulai nakal. Kuusapusap pantatnya yang padat dan menonjol itu. Seperti minggu lalu juga, Tini menghindar dengan sopan.

    Tapi kali ini tanganku bandel, terus saja kembali ke situ meski dihindari berkalikali. Lama2 Tini membiarkannya, bahkan ketika tanganku tak hanya mengusap tapi mulai meremasremas pantat itu, Tini tak berreaksi, masih asyik mengurut. Tini masih saja asyik mengurut walaupun tanganku kini sudah menerobos gaunnya mengeluselus pahanya. Tapi itu tak lama, Tini mengubah posisi berdirinya dan meraih tangan nakalku karena hendak mengurutnya, sambil menarik nafas panjang. Entah apa arti tarikan nafasnya itu, karena memang sesak atau mulai terangsang ? Tanganku mulai diurut. Ini berarti kesempatanku buat menjamah daerah dada. Pada kesempatan dia mengurut lengan atasku, telapak tanganku menyentuh bukit dadanya. Tak ada reaksi. Aku makin nekat.

    Tangan kananku yang sedari tadi nganggur, kini ikut menjamah dada sintal itu. Paak Katanya pelan sambil menyingkirkan tanganku. Okelah, untuk sementara aku nurut. Tak lama, aku sudah tak tahan untuk tak meremasi buah dada itu. Kudengar nafasnya sedikit meningkat temponya. Entah karena capek memijat atau mulai terangsang akibat remasanku pada dadanya. Yang penting : Dia tak menyingkirkan tanganku lagi. Aku makin nakal. Kancing paling atas kulepas, lalu jariku menyusup. Benar2 daging padat. Tak ada reaksi. Merasa kurang leluasa, satu lagi kancingnya kulepas. Kini telapak tanganku berhasil menyusup jauh sampai ke dalam BHnya, Ah putting dadanya sudah mengeras ! Tini menarik telapak tanganku dari dadanya. Bapak kok nakal sih Katanya, dan .. tibatiba dia merebahkan tubuhnya ke dadaku.

    Aku sudah sangat paham akan sinyal ini. Berarti aku akan mendapatkannya, lupakan janjiku. Kupeluk tubuhnya erat2 lalu kuangkat sambil aku bangkit dan turun dari tempat tidur. Kubuka kancing blousenya lagi sehingga BH itu tampak seluruhnya. Buah dada sintal itu terlihat naik turun sesuai irama nafasnya yang mulai memburu. Kucium belahan dadanya, lalu bergeser ke kanan ke dada kirinya. Bukan main dada wanita muda ini. Bulat, padat, besar, putih. Kuturunkan tali Bhnya sehingga putting tegang itu terbuka, dan langsung kusergap dengan mulutku.Aaahhffffhhhhh. Paaaaak? rintihnya. Tak ada penolakan.

    Aku pindah ke dada kanan, kulum juga. Kupelorotkan roknya hingga jatuh ke lantai. Kulepaskan kaitan BHnya sehingga jatuh juga. Dengan perlahan kurebahkan Tini ke kasur, dada besar itu berguncang indah. Kembali aku menciumi, menjilati dan mengulumi kedua buah dadanya. Tini tak malu2 lagi melenguh dan merintih sebagai tanda dia menikmati cumbuanku. Tanganku mengusapi pahanya yang licin, lalu berhenti di pinggangnya dan mulai menarik CDnya Jangan Pak.

    Kata Tini terengah sambil mencegah melorotnya CD. Wah engga bisa dong aku udah sampai pada point noreturn, harus berlanjut sampai hubungan kelamin. Engga apaapa Tin ya. Bapak pengin. Badan kamu bagus bener ? Waktu aku membuka Cdnya tadi, jelas kelihatan ada cairan bening yang lengket, menunjukkan bahwa dia sudah terangsang. Aku melanjutkan menarik CDnya hingga lepas sama sekali. Tini tak mencegah lagi. Benar, Tini punya bulu kelamin yang lebat. Kini dua2nya sudah polos, dan dua2nya sudah terangsang, tunggu apa lagi.

    Kubuka pahanya lebar lebar. Kuletakkan lututku di antara kedua pahanya. Kuarahkan kepala penisku di lubang yang telah membasah itu, lalu kutekan sambil merebahkan diri ke tubuhnya. Auww. Pelan2 Pak. Sakit.!? Bapak pelan2 nih ? Aku tarik sedikit lalu memainkannya di mulut vaginanya. Bapak sabar ya. Saya udah lamaa sekali engga gini ? Ah masa ? Benar Pak? Iya deh sekarang bapak masukin lagi ya. Pelan deh..? Benar Bapak engga bilang ke Ibukan ? engga dong gila apa? Terpaksa aku pegangi penisku agar masuknya terkontrol. Kugesergeser lagi di pintu vaginanya, ini akan menambah rangsangannya.

    Baru setelah itu menusuk sedikit dan pelan. Aaghhhhfff? serunya, tapi tak ada penolakan kaya tadi Sakit lagi Tin Tini hanya menggelengkan kepalanya. Terusin Pakperlahan? sekarang dia yang minta. Aku menekan lagi. AH bukan main sempitnya vagina wanita muda ini. Kugosokgosok lagi sebelum aku menekannya lagi. Mentok. Kalau dengan isteriku atau Si Ani, tekanan segini sudah cukup menenggelamkan penisku di vaginanya masingmasing.

    Tini memang beda. Tekan, goyang, tekan goyang, dibantu juga oleh goyangan Tini, akhirnya seluruh batang panisku tenggelam di vagina Tini yang sempit itu. Benar2 penisku terasa dijepit. Aku menarik penisku kembali secara amat perlahan. Gesekan dinding vagina sempit ini dengan kulit penisku begitu nikmat kurasakan. Setelah hampir sampai ke ujung, kutekan lagi perlahan pula sampai mentok. Demikian seterusnya dengan bertahap menambah kecepatan. Tingkah Tini sudah tak karuan.

    Selain merintih dan teriak, dia gerakkan tubuhnya dengan liar. Dari tangan meremas sampai membanting kepalanya sendiri. Semuanya liar. Akupun asyik memompa sambil merasakan nikmatnya gesekan. Kadang kocokan cepat, kadang gesekan pelan. Penisku mampu merasakan relung2 dinding vaginanya. Memang beda, janda muda beranak satu ini dibandingkan dengan isteriku yang telah kali melahirkan. Beda juga rasanya dengan Ani yang walaupun juga punya anak satu tapi sudah 30 tahun dan sering dimasuki oleh suaminya dan aku sendiri.

    Aku masih memompa. Masih bervariasi kecepatannya. Nah, saat aku memompa cepat, tiba2 Tini menggerakgerakan tubuhnya lebih liar, kepalanya berguncang dan kuku jarinya mencengkeram punggungku kuatkuat sambil menjerit, benar2 menjerit ! Dua detik kemudian gerakan tubuhnya total berhenti, cengkeraman makin kuat, dan penisku merasakan ada denyutan teratur di dalam sana.

    Ohh nikmatnya.. Akupun menghentikan pompaanku. Lalu beberapa detik kemudian kepalanya rebah di bantal dan kedua belah tangannya terkulai ke kasur, lemas. Tini telah mencapai orgasme ! Sementara aku sedang mendaki. Paaak ooohhhh..? Kenapa Tin ? Ooohh sedapnya ? Lalu diam, hening dan tenang. Tapi tak lama. Sebentar kemudian badannya berguncang, teratur. Tini menangis ! Kenapa Tin ? Air matanya mengalir. Masih menangis. Kaya gadis yang baru diperawani saja. saya berdosa ama Ibu? katanya kemudian Engga apaapa Tin.. Kan Bapak yang mau? Iya .. Bapak yang mulai sih.

    Kenapa Pak ? Jadinya saya engga bisa menahan Aku diam saja. Saya khawatir Pak Sama Ibu ? Bapak engga akan bilang ke siapapun? Juga khawatir kalo kalo ? Kalo apa Tin ? Kalo saya ketagihan Oh jangan khawatir, Pasti Bapak kasih kalo kamu pengin lagi. Tinggal bilang aja? Ya itu masalahnya? Kenapa ? Kalo sering2 kan lama2 ketahuan ..? Yaah harus hati2 dong? kataku sambil mulai lagi menggoyang. Kan aku belum sampai. Ehhmmmmmm reaksinya. Goyang terus. Tarik ulur. Makin cepat. Tini juga mulai ikut bergoyang. Makin cepat.

    Aku merasakan hampir sampai di puncak. Tin Ya Pak Bapak. hampir. sampai ? Teruus Pak? Kalo.. keluar .gimana ? Keluarin..aja Pak Engga. apaapa? Engga.. usah dicabut? Jangan.. pak . aman.. kok? Aku mempercepat genjotanku. Gesekan dinding vaginanya yang sangat terasa mengakibatkan aku cepat mencaki puncak. Kubenamkan penisku dalam2 Kusemprotkan maniku kuat2 di dalam. Sampai habis. Sampai lunglai. Sampai lemas. Beberapa menit berikutnya kami masih membisu. Baru saja aku mengalami kenikmatan luar biasa.

    Suatu nikmat hubungan seks yang baru sekarang aku alami lagi setelah belasan tahun lalu berbulan madu dengan isteriku. Vagina Tini memanggurih?, dan aku bebas mencapai puncak tanpa khawatir resiko. Tapi benarkah tanpa resiko. Tadi dia bilang aman. Benarkah ? Tin Ya .. Pak? Makasih ya benar2 nikmat? Samasama Pak. Saya juga merasakan nikmat? Masa ..? Iya Pak. Ibu benar2 beruntung mendapatkan Bapak? Ah kamu ? Baner Pak. Sama suami engga seenak ini? Oh ya ? Percaya engga Pak. Baru kali ini saya merasa kaya melayanglayang ? Emang sama suami engga melayang, gitu? Engga Pak. Seperti yang saya bilang punya Bapak bagus banget? Katamu tadi.

    Udah berapa lama kamu engga begini ..? Sejak.ehm.. udah 4 bulan Pak? Lho. Katanya kamu udah cerai 5 bulan? Benar ? Trus ? Waktu itu saya kepepet Pak? Sama siapa? Sama tamu. Tapi baru sekali itu Pak. Makanya saya hanya sebulan kerja di panti pijat itu. Engga tahan diganggu terus? Cerita dong semuanya? Ada tamu yang nafsunya gede banget. Udah saya kocok sampai keluar, masih aja dia mengganggu. Saya sampai tinggalin dia. Trus akhirnya dia ninggalin duit, lumayan banyak, sambil bilang saya ditunggu di Halte dekat sini, hari Sabtu jam 10.00.

    Dia mau ajak saya ke Hotel. Kalo saya mau, akan dikasih lagi sebesar itu? Trus ? Saya waktu itu benar2 butuh buat bayar rumah sakit, biaya perawatan adik saya. Jadi saya mau? Pernah sama tamu yang lain ? Engga pernah Pak. Habis itu trus saya langsung berhenti? Kapan kamu terakhirmain ? Ya itu sama tamu yang nafsunya gede itu, 4 bulan lalu. Setelah itu saya kerja jadi pembantu sebelum kesini. Selama itu saya engga pernah?main?, sampai barusan tadi sama Bapak .

    Enak banget barusan kali karena udah lama engga ngrasain yaPak atau emang punya Bapak siip bangethi..hi..? Polos banget anak ini. Aku juga merasakan nikmat yang sangat. Dia mungkin engga menyadari bahwa dia punya vagina yanglegit?, lengketlengket sempit, dan seret.Kamu engga takut hamil sama tamu itu ? Engga. Sehabis saya melahirkan kan pasang aiyudi (maksudnya IUD, spiral alat KB). Waktu cerai saya engga lepas, sampai sekarang.

    Bapak takut saya hamil ya? Aku lega bukan main. Berarti untuk selanjutnya, aku bisa dengan bebas menidurinya tanpa khawatir dia akan hamil. Jam berapa Pak ? Jam 4 lewat 5? Pijitnya udah ya Pak. Saya mau ke belakang dulu? Udah disitu aja? kataku sambil menyuruh dia ke kamar mandi dalam kamarku. Dengan tenangnya Tini beranjak menuju kamar mandi, masih telanjang. Goyang pantatnya lumayan juga. Tak lama kemudian Tini muncul lagi.

    Baru sekarang aku bisa jelas melihat sepasang buah dada besarnya. Bergoyang seirama langkahnya menuju ke tempat tidur memungut BHnya. Melihat caranya memakai BH, aku jadi terangsang. Penisku mulai bangun lagi. Aku masih punya sekitar 45 menit sebelum isteriku pulang, cukup buat satu ronde lagi. Begitu Tini memungut CDnya, tangannya kupegang, kuremas. Bapak pengin lagi, Tin? Ah nanti Ibu keburu dateng , Pak? Masih ada waktu kok? Ah Bapak nih gede juga nafsunya? katanya, tapi tak menolak ketika BH nya kulepas lagi.

    Sore itu kembali aku menikmati vagina legit milik Tini, janda muda beranak satu, pembantu rumah tanggaku.. Hubungan seks kami selanjutnya tak perlu didahului oleh acara pijitan. Kapan aku mau tinggal pilih waktu yang aman (cuma Tini sendirian di rumah) biasanya sekitar jam 2 siang. Tini selalu menyambutku dengan antusias, sebab dia juga menikmati permainan penisku.

    Tempatnya, lebih aman di kamarnya, walaupun kurang nyaman. Bahkan dia mulaiberani? memanggilku untuk menyetubuhinya. Suatu siang dia meneleponku ke kantor menginformasikan bahwa Uci udah berangkat sekolah dan Ade pergi less bahasa Inggris, itu artinya dia sendirian di rumah, artinya dia juga pengin disetubuhi. Terbukti, ketika aku langsung pulang, Tini menyambutku di pintu hanya berbalut handuk. Begitu pintu kukunci, dia langsung membuang handuknya dan menelanjangiku ! Langsung saja kita main di sofa ruang tamu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Bekas Muridku Jadi Korban Nafsu

    Cerita Sex Bekas Muridku Jadi Korban Nafsu


    1119 views

    Perawanku – Cerita Sex Bekas Muridku Jadi Korban Nafsu, Kata orang tahi lalat di daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku mirip Minati Atmanegara yang tetap kencang di usia yang semakin menua.

    Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat dengan olahraga yang teratur.

    Kira2 6 tahun yang lalu saat umurku masih 38 tahun salah seorang sehabatku menitipkan anaknya yang ingin kuliah di tempatku, karena ia teman baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku menyetujuinya. Nama pemuda itu Sandi, kulitnya kuning langsat dengan tinggi 173 cm. Badannya kurus kekar karena Sandi seorang atlit karate di tempatnya.

    Oh ya, Sandi ini pernah menjadi muridku saat aku masih menjadi guru SD.
    Sandi sangat sopan dan tau diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau mengantar kedua anakku jika ingin bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama.

    Aku juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Sandi memperlihatkan sikap yang wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku.

    Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah S-2 keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan seksku yang masih menggebu-gebu.

    Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku jalankan, sehingga hasrat tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan kepergiannya otomatis aku harus menahan diri.

    Awalnya biasa saja, tapi setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah menunjukkan angka 9. Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar suara pintu dIbuka dari kamar Sandi.

    Kudengar suara langkahnya mendekatiku.
    “Bu Asmi..?” Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Sandi sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus berpura-pura tertidur.
    “Bu Asmi..?” Suara Sandi terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak atau tidak.

    Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai keleher.
    Lalu kurasakan Sandi mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura tertidur kuatur napas selembut mungkin.

    Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian aku merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap diam sampai saatnya tiba.

    Sekarang tangan Sandi sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti amalah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam.

    Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Sandi mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali.

    Tangan kanan Sandi mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Sandi menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku.

    Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Sandi mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri Sandiwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.
    “Sandi!! Ngapain kamu?”

    Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Sandi menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Sandi mecium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Sandi makin keras menekan pundakku, malah sekarang pemuda itu menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak.

    “Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya Bu… ” Sandi melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.
    “Kamu kan bisa denagan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua,” Ujarku lembut.
    “Tapi saya sudah tergila-gila dengan Bu Asmi.. Saat SD saya sering mengintip BH yang Ibu gunakan… Saya akan memuaskan Ibu sepuas-puasnya,” jawab Sandi.
    “Ah kamu… Ya sudah terserah kamu sajalah”

    Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya.
    Lalu Sandi melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku. Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku, kupandangi badanku di cermin.
    Benarkah pemuda seperti Sandi terangsang melihat tubuhku ini? Perduli amat yang penting aku ingin merasakan bagaimana sich bercinta dengan remaja yang masih panas.

    Keluar dari kamar mandi, Sandi persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun.
    “Body Ibu bagus banget.. ” dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.

    “Ibu hebat…,” desisnya.
    “Apanya yang hebat..?” Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Sandi yang panjang seleher.
    “Badan Ibu enggak banyak berubah dibandingkan saya SD dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.
    “Itu karena Ibu teratur olahraga” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. DIbukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.

    Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Sandi minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku.
    “Masukin aja yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu San!” Cegahku sambil menciumnya.
    Sandi tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya ?” godanya.
    “Kamu juga sudah enggak kuatkan sebenarnya San,” Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot.
    Sandi tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Sandi pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Sandi yang besar.

    Berbeda dengan suamiku, Sandi nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.

    Sandi menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Sandi, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah merekah.

    “Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak ‘bercinta’ sama Ibu…,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Sandi, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.

    Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Sandi semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu…, terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya…!!!

    Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Sandi memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.
    “Oohh…,” sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Sandi mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.
    “Saann, penismu enaaak…!!!,” kataku setengah menjerit.

    Sandi tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.

    “Oohh…, toloongg.., gustii…!!!”
    Sandi malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.
    “Aahh, penismu…, oohh, aarrghh…, penismuu…, oohh…!!!”
    Sandi terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Sandi sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.
    “Ibu mau keluar! Ibu mau keluaaar!!” aku menjerit-jerit.
    “Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget ‘bercinta’ sama Ibu!” Sandi menyodok-nyodok semakin kencang.
    “Sodok terus, Saann!!!… Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!”
    “Teruuss…, arrgghh…, sshh…, ohh…, sodok terus penismuuu…!”
    “Oh, ah, uuugghhh… ”
    “Enaaak…, penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss…”

    Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Sandi, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!

    Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin sudah ada lima tahun aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Sandi mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.

    Kuturuti permintaan Sandi. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Sandi mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam vaginaku.

    Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.

    Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Sandi dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Sandi segera menunduk, dikecupnya pipiku.

    “San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar,” kataku terus terang.
    “Emangnya Ibu suka kalau aku cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku.
    Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Sandi mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.

    Sandi melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.
    “Oorrgghh…, aahh…, ennaak…, penismu enak bangeett… Ssann!!”
    Sandi tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Sandi pun kali ini segera akan mencapai klimaks.

    Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Sandi. Pemuda itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.
    Tiba-tiba Sandi menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Sandi langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Sandi memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.

    “Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.
    “Aku hampir keluar!” Sandi bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandi. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.
    “Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.
    “Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Erang Sandi
    “Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.
    “Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”
    “Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”
    “Ah, oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaaar…!”
    “Yaahh teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann…, aku mau keluar, aku mau keluar, vaginaku keenakan, aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…, teruss…, aarrgghh…, ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!”

    Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Sandi menekan kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.

    “Oohhh…!!!” dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.

    Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Sandi memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas.
    “Enak banget,” bisik Sandi beberapa saat kemudian.
    “Hmmm…” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Sandi bergerak-gerak di dalam vaginaku.
    “Vagina Ibu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu…”
    “Apalagi penis kamu…, gede, keras, dalemmm…”

    Sandi bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Sandi menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.

    Sandi lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Sandi karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Sandi mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,

    “Aku bisa enggak puas-puas ‘bercinta’ sama Ibu… Ibu juga suka kan?”
    Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Sandi sebagai jawaban. Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Sandi kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga.

    Hampir tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sehari semalam dengan bekas muridku yang perkasa.

    Sudah seminggu Sandi menjadi” suami”ku. Dan jujur saja aku sangat menikmati kehidupan malamku selama seminggu ini. Sandi benar-benar pemuda yang sangat perkasa, selama seminggu ini liang vaginaku selalu disiramnya dengan sperma segar. Dan entah berapa kali aku menahan jeritan karena kenikmatan luar biasa yang ia berikan.

    Walaupun malam sudah puas menjilat, menghisap, dan mencium sepasang payudaraku. Sandi selalu meremasnya lagi jika ingin berangkat kuliah saat pagi hari, katanya sich buat menambah semangat. Aku tak mau melarang karena aku juga menikmati semua perbuatannya itu, walau akibatnya aku harus merapikann bajuku lagi.

    Malam itu sekitar jam setengah 10-an. Setelah menidurkan anakku yang paling bungsu, aku pergi kekamar mandi untuk berganti baju. Sandi meminta aku mengenakan pakaian yang biasa aku pergunakan ke sekolah. Setelah selesai berganti pakaian aku lantas keluar dan berdiri duduk di depan meja rias. Lalu berdandan seperti yang biasa aku lakukan jika ingin berangkat mengajar kesekolah.

    Tak lama kudengar suara ketukan, hatiku langsung bersorak gembira tak sabar menanti permainan apa lagi yang akan dilakukan Sandi padaku.
    “Masuk.. Nggak dikunci,” panggilku dengan suara halus.
    Lalu Sandi masuk dengan menggunakan T-shirt ketat dan celana putih sependek paha.
    “Malam ibu… Sudah siap..?” Godanya sambil medekatiku.
    “Sudah sayang…” Jawabku sambil berdiri.
    Tapi Sandi menahan pundakku lalu memintaku untuk duduk kembali sembil menghadap kecermin meja rias. Lalu ia berbisik ketelingaku dengan suara yang halus.
    “Bu.. Ibu mau tahu nggak dari mana biasanya saya mengintip ibu?”
    “Memangnya lewat mana..?” Tanyaku sambil membalikkan setengah badan.

    Dengan lembut ia menyentuh daguku dan mengarahkan wajahku kemeja rias. Lalu sambil mengecup leherku Sandi berucap.
    “Dari sini bu..” Bisiknya.
    Dari cermin aku melihat disela-sela kerah baju yang kukenakan agak terbuka sehingga samar-samar terlihat tali BHku yang berwarna hitam. Pantas jika sedang mengajar di depan kelas atau mengobrol dengan guru-guru pria disekolah, terkadang aku merasa pandangan mereka sedang menelanjangi aku. Rupanya pemandangan ini yang mereka saksikan saat itu.

    Tapi toh mereka cuma bisa melihat, membayangkan dan ingin menyentuhnya pikirku. Lalu tangan kanan Sandi masuk kecelah itu dan mengelus pundakku. Sementara tangan kirinya pelan-pelan membuka kancing bajuku satu persatu. Setelah terbuka semua Sandi lalu membuka bajuku tanpa melepasnya. Lalu ia meraih kedua payudaraku yang masih tertutup BH.

    “Inilah yang membuat saya selalu mengingat ibu sampai sekarang,” Bisiknya ditelingaku sambil meremas kedua susuku yang masih kencang ini.
    Lalu tangan Sandi menggapai daguku dan segera menempelkan bibir hangatnya padaku dengan penuh kasih dan emosinya. Aku tidak tinggal diam dan segera menyambut sapuan lidah Sandi dan menyedotnya dengan keras air liur Sandi, kulilitkan lidahku menyambut lidah Sandi dengan penuh getaran birahi.

    Kemudian tangannya yang keras mengangkat tubuhku dan membaringkannya ditengah ranjang.
    Ia lalu memandang tubuh depanku yang terbuka, dari cermin aku bisa melihat BH hitam yang transparan dengan “push up bra style”.

    Sehingga memberikan kesan payudaraku hampir tumpah meluap keluar lebih sepertiganya. Untuk lebih membuat Sandi lebih panas, aku lalu mengelus-elus payudaraku yang sebelah kiri yang masih dibalut bra, sementara tangan kiriku membelai pussy yang menyembul mendesak CDku, karena saat itu aku mengenakan celana “mini high cut style”.

    Sandi tampak terpesona melihat tingkahku, lalu ia menghampiriku dan menyambar bibirku yang lembut dan hangat dan langsung melumatnya. Sementara tangan kanan Sandi mendarat disembulan payudara sebelah kananku yang segar, dielusnya lembut, diselusupkan tangannya dalam bra yang hanya 2/3 menutupi payudaraku dan dikeluarkannya buah dadaku.

    Ditekan dan dicarinya puting susuku, lalu Sandi memilinnya secara halus dan menariknya perlahan. Perlakuannya itu membuatku melepas ciuman sandi dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalaku kekiri dan kekanan.

    Selepas tautan dengan bibir hangatku, Sandi lalu menyapu dagu dan leherku, sehingga aku meracau menerima dera kenikmatan itu.
    “Saan… Saann… Kenapa kamu yang memberikan kenikmatan ini..”
    Sandi lalu menghentikan kegiatan mulutnya. Tangannya segera membuka kaitan bra yang ada di depan, dengan sekali pijitan jari telunjuk dan ibu jari sebelah kanan Sandi, Segera dua buah gunung kembarku yang masih kencang dan terawat menyembul keluar menikmati kebebasan alam yang indah.

    Lalu Sandi menempelkan bibir hangatnya pada buah dadaku sebelah kanan, disapu dan dijilatnya sembulan daging segar itu. Secepat itu pula merambatlah lidahnya pada puting coklat muda keras, segar menentang ke atas. Sandi mengulum putingku dengan buas, sesekali digigit halus dan ditariknya dengan gigi.

    Aku hanya bisa mengerang dan mengeluh, sambil mengangkat badanku seraya melepaskan baju dan rok kerjaku beserta bra warna hitam yang telah dibuka Sandi dan kulemparkan kekursi rias. Dengan giat penuh nafsu Sandi menyedot buah dadaku yang sebelah kiri, tangan kanannya meraba dan menjalar kebawah sampai dia menyentuh CDku dan berhenti digundukan nikmat yang penuh menentang segar ke atas.

    Lalu Sandi merabanya ke arah vertikal, dari atas kebawah. Melihat CDku yang sudah basah lembab, ia langsung menurukannya mendororng dengan kaki kiri dan langsung membuangnya sampai jatuh ke karpet.
    Adapun tangan kanan itu segera mengelus dan memberikan sentuhan rangsangan pada memekku, yang dibagian atasnya ditumbuhi bulu halus terawat adapun dibagian belahan vagina dan dibagian bawahnya bersih dan mulus tiada berambut. Rangsangan Sandi semakin tajam dan hebat sehingga aku meracau.

    “Saaan.. Sentuh ibu sayang, .. Saann buat.. Ibu terbaang.. Pleaase.”
    Sandi segera membuka gundukan tebal vagina milikku lalu mulutnya segera menjulur kebawah dan lidahnya menjulur masuk untuk menyentuh lebih dalam lagi mencari kloritasku yang semakin membesar dan mengeras. Dia menekan dengan penuh nafsu dan lidahnya bergerak liar ke atas dan kebawah.
    Aku menggelinjang dan teriak tak tahan menahan orgasme yang akan semakin mendesak mencuat bagaikan merapi yang ingin memuntahkan isi buminya. Dengan terengah-engah kudorong pantatku naik, seraya tanganku memegang kepala Sandi dan menekannya kebawah sambil mengerang.

    “Ssaann.. Aarghh..”
    Aku tak kuasa menahannya lagi hingga menjerit saat menerima ledakan orgasme yang pertama, magma pun meluap menyemprot ke atas hidung Sandi yang mancung.
    “Saan.. Ibu keluaa.. aar.. Sann..” Memekku berdenyut kencang dan mengejanglah tubuhku sambil tetap meracau.
    “Saan.. Kamu jago sekali memainkan lidahmu dalam memekku sayang.. Cium ibu sayang.”
    Sandi segera bangkit mendekap erat diatas dadaku yang dalam keadaan oleng menyambut getaran orgasme. Ia lalu mencium mulutku dengan kuatnya dan aku menyambutnya dengan tautan garang, kuserap lidah Sandi dalam rongga mulutku yang indah.

    Tubuhku tergolek tak berdaya sesaat, Sandipun mencumbuku dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuhku yang halus, seraya memberikan kecupan hangat didahi, pipi dan mataku yang terpejam dengan penuh cinta. Dibiarkannya aku menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang hebat. Juga memberi kesempatan menurunnya nafsu yang kurasakan.

    Setelah merasa aku cukup beristirahat Sandi mulai menyentuh dan membelaiku lagi. Aku segera bangkit dan medorong belahan badan Sandi yang berada diatasku. Kudekatkan kepalaku kewajahnya lalu kucium dan kujilati pipinya, kemudian menjalar kekupingnya.

    Kumasukkan lidahku ke dalam lubang telinga Sandi, sehingga ia meronta menahan gairahnya. Jilatanku makin turun kebawah sampai keputing susu kiri Sandi yang berambut, Kubelai dada Sandi yang bidang berotot sedang tangan kananku memainkan puting yang sebelah kiri. Mengelinjang Sandi mendapat sentuhan yang menyengat dititik rawannya yang merambat gairahnya itu, sandipun mengerang dan mendesah.

    Kegiatanku semakin memanas dengan menurunkan sapuan lidah sambil tanganku merambat keperut. Lalu kumainkan lubang pusar Sandi ditekan kebawah dfan kesamping terus kulepaskan dan kubelai perut bawah Sandi sampai akhirnya kekemaluan Sandi yang sudah membesar dan mengeras.

    Kuelus lembut dengan jemari lentikku batang kemaluan Sandi yang menentang ke atas, berwarna kemerahan kontras dengan kulit sandi yang putih kepalanya pun telah berbening air birahi.
    Melihat keadaan yang sudah menggairahkan tersebut aku menjadi tak sabar dan segera kutempelkan bibir hangatku kekepala kontol Sandi dengan penuh gelor nafsu, kusapu kepala kontol dengan cermat, kuhisap lubang air seninya sehingga membuat Sandi memutar kepalanya kekiri dan kekanan, mendongkak-dongkakkan kepalanya menahan keikmatan yang sangat tiada tara, adapun tangannya menjambak kepalaku.
    “Buuu..

    Dera nikmat darimu tak tertahankan.. Kuingin memilikimu seutuhnya,” Sandi mengerang.
    Aku tidak menjawabnya, hanya lirikan mataku sambil mengedipkannya satu ke arah Sandi yang sedang kelejotan. Sukmanya sedang terbang melayang kealam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi. Adapun tanganku memijit dan mengocoknya dengan ritme yang pelan dan semakin cepat, sementara lidahku menjilati seluruh permukaan kepala kontol tersebut. Termasuk dibagian urat yang sensitif bagian atas sambil kupijat-pijat dengan penuh nafsu birahi.

    Sadar akan keadaan Sandi yang semakin mendaki puncak kenikmatan dan akupun sendiri telah terangsang. Denyutan memekku telah mempengaruhi deburan darah tubuhku, kulepaskan kumulan kontol Sandi dan segera kuposisikan tubuhku diatas tubuh Sandi menghadap kekakinya.

    Dan kumasukkan kontol Sandi yang keras dan menengang ke dalam relung nikmatku. Segera kuputar memompanya naik turun sambil menekan dan memijat dengan otot vagina sekuat tenaga. Ritme gerakanpun kutambah sampai kecepatan maksimal.

    Sandi berteriak, sementara aku pun terfokus menikmati dera kenikmatan gesekan kontol sandi yang menggesek G-spotku berulang kali sehingga menimbulkan dera kenikmatan yang indah sekali. Tangan Sandipun tak tinggal diam diremasnya pantatku yang bulat montok indah, dan dielus-elusnya anusku, sambil menikmati dera goyanganku pada kontolnya. Dan akhirnya kami berdua berteriak.

    “Buu Dennook.. Aku tak kuat lagi.. Berikan kenikmatan lebih lagi bu.. Denyutan diujung kontolku sudah tak tertahankan”
    “Ibu pandai… Ibu liaarr… Ibu membuatku melayang.. Aku mau keluarr” .

    Lalu Sandi memintaku untuk memutar badan manghadap pada dirinya dan dibalikkannya tubuhku sehingga. Sekarang aku berada dibawah tubuhnya bersandarkan bantal tinggi, lalu Sandi menaikkan kedua kakiku kebahunya kemudian ia bersimpuh di depan memekku. Sambil mengayun dan memompa kontolnya dengan yang cepat dan kuat. Aku bisa melihat bagaimana wajah Sandi yang tak tahan lagi akan denyutan diujung kontol yang semakin mendesak seakan mau meledak.

    “Buu… Pleaass.. See.. Aku akaan meleedaaakkh!”
    “Tungguu Saan.. Orgasmeku juga mauu.. Datang ssayaang.. Kita sama-sama yaa..”
    Akhirnya… Cret.. Cret.. Cret tak tertahankan lagi bendungan Sandi jebol memuntahkan spermanya di vaginaku. Secara bersamaan akupun mendengus dan meneriakkan erangan kenikmatan.

    Segera kusambar bibir sandi, kukulum dengan hangat dan kusodorkan lidahku ke dalam rongga mulut Sandi. Kudekap badan Sandi yang sama mengejang, basah badan Sandi dengan peluh menyatu dengan peluhku. Lalu ia terkulai didadaku sambil menikmati denyut vaginaku yang kencang menyambut orgasme yang nikmat yang selama ini kurindukan.

    Lalu Sandi membelai rambutku dengan penuh kasih sayang kemudian mengecup keningku.
    “Buu.. Thank you, i love you so much.. Terus berikan kenikmatan seperti ini untukku ya..” Bisiknya lembut.

    Aku hanya mengangguk perlahan, setelah memberikan ciuman selamat tidur aku memeluknya dan langsung terlelap. Karena besok aku harus masuk kerja dan masih banyak lagi petualangan penuh kenikmatan yang akan kami lalui.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Seks Aku jadi berondong tante girang

    Cerita Seks Aku jadi berondong tante girang


    1119 views

    Perawanku – Cerita Seks Aku jadi berondong tante girang, Sebelum membaca silahkan siapkan tisu terlebih dahulu, selamat menikmati, Matahari bersinar sangat terik hari ini aku ada kuliah, tetapi rasanya udara sangat panas, ruang kuliah yang biasanya sejuk menjadi terasa pengap.

    “Wah enaknya selesai kuliah pergi ke Mall,” pikirku.
    Setelah kuliah yang membosankan selesai, aku langsung berangkat ke Mall PondOk Indah,
    “Seharian suntuk mendengarkan dosen berceloteh, tapi setelah berada disini, ahh.. rasanya segar sekali.”

    Kunikmati berjalan-jalan di PIM dan tanpa terasa perutku sudah merasa lapar, aku berjalan menuju ke food court, setelah duduk dan memesan makanan, tiba-tiba mataku tertuju kepada 3 orang Tante yang berada diseberang mejaku.

    “Sexy dan cantik juga,” pikirku.

    Mataku tidak bisa lepas dari 3 Tante tersebut, terutama yang memakai baju ketat warna merah, kuperkirakan umurnya 35-40 th, tingginya kurang lebih 1.60, rambutnya dicat warna, dengan payudara yang besar serta pantat yang bulat ditunjang dengan tubuhnya sexy.

    “Waduh jadi pusing kepala atas dan bawah, nih,” kataku.

    Setelah selesai makan aku langsung menuju ke tOko buku karena takut tambah ‘pusing’, selesai membaca sebuah buku, aku ingin keluar dari tOko buku. Eh.. ternyata Tante-Tante yang tadi, mau masuk ke tOko buku juga, aku langsung mengurungkan niat untuk keluar dari tOko buku, kulihat Tante berbaju merah itu sedang mencari buku sedangkan teman-temannya sedang memilih buku tulis (mungkin untuk anak-anak mereka) kemudian kudekati Tante tersebut dengan sOk yakin.

    “Halo Tante Mila apa khabar.”
    Tante itu terkejut mendengar suaraku.
    “Maaf ya, kayaknya kamu salah orang.”
    Aku pura-pura terkejut, “Aduh maaf Tante, habis dari belakang persis kaya Tanteku sih.”
    Kemudian Tante itu hanya tersenyum dan berkata,
    “Tante atau Tante?”
    Aku kemudian tersenyum dan langsung kualihkan pembicaraan,
    “Lagi cari buku apa Tante? ee.. saya boleh tahu namanya enggakk?”
    “Tante Dewi,” jawabnya.

    Selanjutnya kami mulai berbincang-bincang, tetapi mataku tidak dapat lepas dari payudaranya yang sangat menantang, sampai tiba-tiba ada suara dibelakangku.

    “Waduh, siapa nih?” ternyata teman-temannya Tante Dewi.
    “Oo.. ini keponakanku, eh.. mau kemana kalian?”
    Sambil tertawa mereka menjawab, “Kita enggak mau ganggu reuni keluarga ah, kamu pulang sendiri aja ya Dew”.

    Tante Dewi hanya mengangguk saja tanda setuju, setelah teman-temannya pergi, Tante Dewi mengajakku ke sebuah restoran. Sambil menikmati minuman, Tante Dewi bercerita tentang dirinya, singkat cerita, Tante Dewi baru saja pulang dari kelas Aerobik bersama-sama temannya (pantas bodynya masih yahud) dan sekalian mampir mencari buku untuk anaknya, selain itu dia juga menceritakan kehidupan keluarganya.

    Tante Dewi mempunyai suami yang berada di Kalimantan, sedang membuka usaha perkayuan sejak 3 tahun yang lalu dan hanya pulang setahun sekali karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Sedangkan di rumah Tante Dewi hanya ditemani oleh 2 anak laki-lakinya yang berumur 3 dan 5 tahun serta seorang pembantu dan 1 babysister. Mengetahui hal itu aku langsung berpikir,
    “Wah jarang ML dong Tante, kesempatan nih”.

    Tiba-tiba Tante Dewi berkata, “Tante kayaknya enggak bisa lama-lama, harus pulang karena nanti sore ada arisan, jadi Tante mau siapin semuanya dari sekarang biar ada waktu untuk istirahat.”

    “Baik Tante, ini nomor saya kalau Tante mau ketemu lagi sama saya.”
    “Ok, ini nomor HP Tante, tapi jangan telepon dulu ya, biar Tante yang telepon kamu.”
    Akhirnya kami berpisah dan Tante Dewi berjanji akan menelepon aku.

    Seminggu telah berlalu dan selama itu aku sebetulnya sangat ingin meneleponnya tetapi karena sudah berjanji untuk tidak menghubunginya jadi aku hanya menunggu sambil berharap, sore harinya HPku berbunyi, kulihat nomornya.

    “Ternyata Tante Dewi!” dan langsung kujawab,
    “Halo Tante”
    “Halo juga ini Andre?”
    “Iya, ini Tante Dewi kan?”
    “Iya, kamu ada acara nanti sore?”
    “Enggak ada tante, mau ketemu?”
    “Kita ketemu di Mc Donald Thamrin jam 5 sore, bisa enggak?”
    “Ok Tante, kalau gitu aku siap-siap deh, sekarang sudah jam 4.”
    “Ok Andre, sampai ketemu disana ya.”

    Aku sempat bingung, kok kayaknya Tante Dewi terburu-buru dan tiba-tiba langsung mengajak ketemu.
    “Ah, nanti juga tahu kalau sudah ketemu.”

    Tepat jam 5, kami bertemu dan langsung mencari tempat duduk. Tante Dewi yang memulai pembicaraan, “Kamu bingung ya? Kok tiba-tiba sekali Tante ajak kamu ketemu, sebetulnya enggak ada apa-apa. Cuma ingin ngobrol aja sama kamu, abis teman-teman Tante sedang keluar kota.”

    “Untung pada keluar kota, kalau tidak Andre enggak akan ditelepon sama Tante” jawabku.
    “Iya enggak dong say, nomor kamu sempat hilang, jadi Tante cari-cari dulu untung ketemu, jadi Tante bisa langsung hubungi kamu.”
    Kami mengobrol kurang lebih selama 1/2 jam dan Tante Dewi bicara,
    “Ndre, cari tempat istirahat yuk.”

    Aku nyaris enggak percaya mendengar kalimat yang indah itu, dan langsung aku mengangguk mengiyakan, Tante Dewi hanya tertawa kecil,
    “Kamu kaya anak kecil deh,” kata Tante Dewi. Kemudian kami menuju tempat parkir dan pergi dengan mobilnya mencari tempat yang bisa disewa untuk beberapa jam.
    Setelah memesan dan masuk kamar, Tante Dewi langsung membuka bajunya.
    “Ndre, Tante mandi dulu ya, kalau kamu mau mandi, nyusul aja.”

    Mendengar itu aku langsung secepat kilat membuka baju dan berlari ke kamar mandi, disana aku melihat pemandangan yang sangat indah. Tante Dewi sedang membasuh badannya di bawah shower dan terlihat jelas tubuhnya benar-benar terawat. Walau sudah mempunyai 2 anak tetapi tubuh Tante Dewi sangat terjaga, payudara dengan ukuran kurang lebih 36B masih terlihat kencang, pantat yang bulat dan berisi benar-benar membuat penisku langsung bangun dengan cepat.

    Sambil menyabuni tubuhnya Tante Dewi melirik ke arah selangkanganku dan berkata, “Ndre, lumayan besar juga penis kamu.”
    Sebetulnya ukuran penisku biasa saja hanya 12,5 cm tetapi mungkin karena ngaceng berat jadi terlihat besar.

    “Jadi mandi enggak? Kok bengong aja? Sabunin punggung Tante dong..”
    Aku langsung mendekat dan memeluk Tante Dewi, kuciumi lehernya sambil tanganku menggesekkan klitorisnya.
    “Wah besar nih klitoris Tante dan lebat juga jembutnya” kataku dalam hati, dan ini membuat birahiku semakin tinggi dan semakin ganas. Kujilati leher dan punggung Tante Dewi
    “Ndree.. Tante minta disabunin, kok malah diciumi tapi.. ahh.. terus sayang, Ndre isep tetek Tantee..”

    Aku langsung menuju ke teteknya dan dengan rakus kuhisap putingnya sambil lidahku menggelitik. Tante Dewi semakin menggelinjang dan dia menarik-menarik penisku dengan kuat, sempat kaget dan sakit, tetapi lama kelamaan terasa enak. Setelah puas menghisap payudaranya lalu aku pindah menjilati perutnya, pusarnya dan akhirnya tiba dibukit kecil yang lebat hutannya, mulai kujilati bukit itu dan kuhisap klitorisnya sambil sesekali kugigit pelan.

    “Aah..! Gila kamu Ndre..! Diapakan Tante? Enakk.. sekali sayang,” sambil tangannya menjambak rambutku, Tante Dewi terus mendesah. Kuhisap terus klitoris itu, sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang besar. Terus kulakukan ‘foreplay’ itu, sampai akhirnya aku berdiri dan kutarik tangannya untuk keluar dari kamar mandi dan menuju ke tempat tidur. Kulanjutkan mengisap klitorisnya dan kumasukkan jariku kedalam vaginanya.
    “Aah.. yess.. Ndre terus say”
    “Ughh.. yang kuat say, Tante rasanya mau keluar!”

    Aku semakin semangat memainkan lidahku di klitorisnya dan tidak lama kemudian terdengar erangan yang panjang,
    “Ahh.. Ndree..! Tante keluar..!”
    Terasa di mulutku cairan yang terasa asin dan langsung kujilat sampai habis.
    “Bagaimana Tante?”
    “Thanks Andre kamu bisa buat Tante puas, rasanya sudah lama Tante tidak merasakan orgasme.”

    Kemudian Tante Dewi berbaring dan aku peluk dengan erat, dia merebahkan kepalanya di dadaku, aku mencium keningnya dan dia membalas dengan menciumi bibirku. Lama kami berciuman dengan penuh gairah dan terasa birahinya mulai timbul kembali.
    “Mana penismu say, Tante mau puasin kamu.”

    Tanpa menunggu lagi kusodorkan ‘adikku’ yang dari tadi sudah lama menunggu untuk digarap, dengan tangan yang mungil, Tante Dewi mulai mengocok penisku dan dimasukkan ke mulutnya.
    “Uh.. enak sekali Tante.”
    “Nikmati ya say, ini baru mulai kokm” kata Tante Dewi.
    Sambil mendesah manja, aku merasa ujung penisku dimainkan oleh lidahnya yang terus berputar dan sambil dihisap.
    “Tante sudah.. nanti aku keluarr..!”

    Tanpa memperdulikan kata-kataku dia terus memainkan penis dan bijiku sampai aku akhirnya tidak tahan dan..
    “Tantee.. aku keluar!”
    Tante Dewi melepaskan penisku dari mulutnya dan mengocoknya dengan kuat sambil mulutnya membuka
    “Croot.. croott..!”

    Keluarlah spermaku yang langsung mengenai muka dan masuk ke dalam mulut Tante Dewi yang langsung ditelan. Sambil membersihkan mukanya yang penuh dengan spermaku, mulutnya sesekali mengisap penisku yang mulai mengecil.

    Kemudian kami beristirahat dalam keadaan bugil, 1/2 jam kemudian birahiku timbul kembali, kucumbui secara perlahan Tante Dewi yang masih tertidur, lama-lama terdengar desahan yang sangat menggairahkan,

    “Mmhh.. uh.. Ndre kamu mau lagi?”
    “Iya Tante, enggak pa-pa kan?” tanyaku
    “it’s Ok honey, I’m ready to make love with u”,

    Kami melakukan 69 style, Tante Dewi melepaskan kocokannya dan berdiri diatas selangkanganku. Lalu ia mulai jongkOk sambil mencari penisku untuk dimasukkan ke dalam lubang vaginanya yang telah basah, setelah posisi kami enak dan penisku telah didalam vaginanya dia mulai naik turun dan mendesah dengan hebat.
    “Aah.. ahh.. Ndre enak sekali!”

    Lalu kami berganti posisi menjadi ‘doggy style’, sambil maju mundur penisku di dalam vaginanya kumasukkan juga jempol tanganku kedalam lubang anusnya.
    “Nghh.. Nddre.. terus masukin jarimu ke anus Tante say.”

    Tidak lama kemudian kulepaskan penisku dan kucoba masukkan kedalam lubang anusnya, auw! sempit sekali pelan-pelan kutekan terus.
    “Say.. terus masukin penismu..!”
    Dan akhirnya masuk semua penisku dan kutarik lagi secara perlahan dan kumasukkan lagi dan terus menerus bergantian antara lubang anusnya dengan vaginanya sampai akhirnya.

    “Tante, Andre mau keluar!”
    “Keluarin dimulut Tante saja”

    Kutarik penisku dan kumasukkan kedalam mulutnya sambil dihisap, tangannya memainkan bijiku dan
    “Ahh! croot.. croot..”
    Keluar semua spermaku ke dalam mulutnya dan dia terus mengisap penisku, ngilu rasanya tetapi nikmat sekali.

    “Andre sayang, kamu enggak nyeselkan make love dengan Tante yang sudah tua ini?” tanya Tante Dewi.
    “Ah tidak Tante, Andre malah bersyukur bisa bertemu dengan Tante karena andre mendapat pengalaman baru.”

    Karena kelelahan kami akhirnya tertidur dan tidak lama kami pulang ke rumah masing-masing setelah sebelumnya membuat janji untuk bertemu kembali. Hingga saat ini, terkadang kami masih bertemu tetapi tidak selalu berhubungan intim karena waktu yang kurang tepat.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex In The Plane

    Cerita Sex In The Plane


    1119 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex In The Plane ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Di akta saya tertulisa lahirku di singapura, ayahku bekerja di bidanbg eksport makanan beku, jadi ayahku sering sekali keluar negeri untuk urusan bertemu klien, suatu saat aku disuruh ayahku unutk pergi ke LA urusan bisnisnya perjalanan dari singapur ke LA sangat membosankan sambil menunggu aku sudah menonton film 3x.

    Sekitar lima menit, aku melihat pemandangan awan dari jendela kecil. ” Excuse me, sir… ” sebuah suara halus menyapaku dengan ramah.

    Ternyata seorang pramugari muda berwajah manis sedang tersenyum padaku.

    ” Are you from upper deck? ” Aku mengangguk,

    ” Yeah… why? ” aku mengintip name tag di dadanya. Yuli Amelia… wah nama indonesia nih ! ” I am just checking to see whether you need anything, because you have been looking out for quiet a long time… ” jawabnya dengan sopan. ”

    Dari Indonesia ya kamu? ” todongku.

    ” Lho… iya ! Bapak dari Indo juga? ” tanya lagi. ” Uh kok Bapak sih… belum juga tua, kok dipanggil Bapak… panggil nama aja… aku Joe… ”

    ” Oh… saya Amel… Bapak eh… kamu mau ke LA ya? ” kemudian kami ngobrol ngalor ngidul selama tigapuluh menit. Ia sudah tinggal di luar negeri selama lebih dari empat tahun. Aslinya dari Bandung. Umurnya baru 23.

    Belum punya pacar katanya. Kami ngobrol sambil berdiri, lalu tiba-tiba seorang pramugari lain menghampirinya dan sementara mereka mengobrol, aku mengambil segelas wine yang disiapkan di galley (dapur) mereka.

    ” Yah… aku ditinggal sendiri deh, hehe… ” katanya setelah temannya pergi.

    ” Lho, kenapa? ” ” Jam istirahat… tadi aku uda istirahat 3 jam… dan habis ini giliran shift kedua istirahat. mestinya berdua-berdua, tapi supervisorku katanya migraine jadi dia istirahat di first class.

    Mungkin 2 jam lagi baru balik. Untung aja gak penuh… ”

    ” Oh… gitu… ya… gapapa deh… aku temani… aku bosen banget dari tadi di atas… sebelahku oom gendut yg ngorok melulu lagi… ” Amel tertawa. Manis sekali wajahnya kalau tertawa.

    Dan aku mulai meneliti tubuhnya. Sekitar 165 cm, berat badannya mungkin 55 dan kulitnya putih sekali seperti orang Jepang. ”

    Kamu beneran nih belum punya cowok?” tanyaku iseng. ” Lagi ga ada… soalnya cowok terakhir membosankan banget. Dia ga fun dan old fashion… ” Lalu ia mulai bercerita tentang mantannya yang masih menganut adat kuno, yang ga suka clubbing, pesta, minum dan tentu saja seks.

    Wajahnya memerah ketika ia bercerita. ” Maaf ya, aku kok jadi cerita kayak gini… hihi… habis memang mantanku itu orangnya aneh. Atau mungkin dia ga tertarik sama aku ya… mungkin aku terlalu jelek ya…

    ” katanya menerawang. ” Gak, kok… kamu cantik banget… dan… ” aku menatap matanya, ” seksi… bodi kamu seksi banget.

    Dari tadi aku membayangkan bodi kamu di balik seragam itu… ” tambahku dengan berani. Mungkin aku mulai mabuk karena dua gelas white wine. ” Masa? Kamu boong ya… Joe… aku kan ga seksi.

    Toketku aja cuma 34B, hmmm ga seksi sama sekali deh… ” Aku menatapnya dengan penuh napsu. 34B, boleh juga… ”

    Kalau kamu kasi aku liat, aku mungkin bisa menilai apa bodi kamu seksi beneran atau gak… ” tantangku. Amel tampak terkejut. Tapi ia lalu melihat ke kiri ke kanan, sekeliling kami agak gelap karena semua penumpang kelas bisnis nampaknya tengah terlelap. Ia tersenyum padaku ,” Beneran nih? ”

    ” Sumpah… ” Lalu Amel memberi isyarat agar aku mengikutinya. Ia lalu mulai berjalan ke arah toilet untuk orang handicapped, yang lebih luas daripada toilet biasa. Ia menarikku masuk dan mengunci pintunya dari luar.

    Di dalam toilet ternyata lebih bising daripada di luar, mungkin karena suara mesin. Aku langsung membuka seragam pramugarinya yang bagian atas. Dan tampaklah dadanya yang indah menantang. Ia memakai bra seksi tanpa busa berwarna hitam, putingnya tampak tegang dari balik bra itu.

    ” Amel… kamu seksi banget… ” desisku sambil lebih mendekatinya, dan langsung mencium bibirnya yang ranum berlipstick pink. Amel membalas ciumanku dengan penuh gairah, dan aku mendorong tubuhnya ke dinding toilet.

    Tanganku membekap dadanya dan memainkan putingnya dari luar bra nya. Amel mendesah pelan. Ia menciumku makin dalam. Aku lalu berusaha menarik roknya sampai lepas, dan kini tampaklah tubuh ramping seksinya.

    Tinggalah celana dalam dan bra berwarna hitam transparan serta sepatu hak tingginya. Ia tampak amat seksi.

    ” God, u re so sexy, baby… ” bisikku di telinganya. Cerita Dewasa – Lalu tanganku langsung sibuk membuka kaitan bra nya, dan menciumi lehernya yang indah.Amel mulai meraba bagian depan celana jeansku, dan tampak senang menyentuh bagian itu sudah tegang.

    Setelah branya lepas, aku langsung menciumi seluruh payudaranya. Kujilati putingnya yang mengeras dan ia melenguh nikmat.

    Aku ingat, pacarku paling suka kalau aku berlama-lama di putingnya. Tapi kali ini tidak ada waktu, karena siapa saja bisa mengetuk pintu toilet, dan itu membuatku bergairah. Amel mulai berusaha membuka ikat pinggangku, dan kemudian melorotkan celanaku sampai ke lantai. Ia menyentuh kontolku yang keras dari balik boxer kainku, dan mengusap biji pelirku.

    Kunaikan tubuh Amel ke westafel dan kubuka celana dalamnya. Kuciumi perutnya dan kubuka pahanya. Bulu kemaluannya rapi sekali. Mungkin ia suka bikini waxing seperti cewek-cewek di luar pada umumnya.

    Kujilati memeknya dengan nikmat, sudah sangat basah sekali. ia mengelinjang dan kulihat dari cermin, ia meraba putingnya sendiri, dan memilin-milinnya dengan kuat. Mungkin memang benar dia terlalu hyper, makanya mantannya bosan.

    Kumasukan dua jari tanganku ke dalam memeknya, dan ia menjerit tertahan. Ia tersenyum padaku, tampak sangat menyukai apa yg kulakukan. Jari telunjuk dan tengahku menyolok-nyolok ke dalam liangnya, dan jempolku meraba-raba kasar klitorisnya. Ia makin membuka pahanya, membiarkan aku melakukan dengan leluasa.

    Semakin aku cepat menggosok klitorisnya, semakin keras desahannya. Sampai-sampai aku khawatir akan ada orang yg mendengar dari luar. Lalu tiba-tiba ia meraih kepalaku, dan seperti menyuruhku menjilati memeknya.

    ” Ahhh… ahhh… I’m gonna come… Arghhhh… uhhh… yes… yes… baby… ” ia mendesah-desah girang ketika lidahku menekan klitorisnya kuat2. Dan jari-jariku makin mengocok memeknya. Semenit kemudian, Amel benar-benar orgasme, dan membuat mulutku basah kuyub dengan cairannya.

    Ia tersenyum lalu mengambil jari2ku yang basah dan menjilatinya sendiri dengan nikmat. Ia lalu mendorongku duduk di atas toilet yg tertutup, dan mencopot boxerku dengan cepat. Ia duduk bersimpuh dan mengulum kontolku yang belum tegak benar.

    Jari-jarinya dengan lihay mengusap-ngusap bijiku dan sesekali menjilatnya. Baru sebentar saja, aku merasa akan keluar. Jilatan dan isapannya sangat kuat, memberikan sensasi aneh antara ngilu dan nikmat. Amel melepaskan pagutannya, dan langsung duduk di atas pangkuanku.

    Ia bergerak- gerak sendiri mengocok kontolku dengan penuh gairah. Dadanya naik turun dengan cepat, dan sesekali kucubit putingnya dengan keras. Ia tampak sangat menyukai sedikit kekerasan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berdiri dan mengangkat tubuhnya sehingga sekarang posisiku berdiri, dengan kakinya melingkar di pinggangku.

    Kupegang pantatnya yang berisi dan mulai kukocok dengan kasar. Amel tampak sangat menyukainya. Ia mendesah-desah tertahan dan mendorong kepalaku ke dadanya. Karena gemas, kugigit dengan agak keras putingnya.

    Ia melenguh ,” Oh… gitu Joe… gigit seperti itu… I feel sexy… ” Kugigit dengan lebih keras puting kirinya, dan kurasakan asin sedikit di lidahku.

    Tapi tampaknya Amel makin terangsang. kontolku terus memompa memeknya dengan cepat, dan kurasakan memeknya semakin menyempit… ” gila… memek lo kok menyempit gini, sih Amel… Oh… gila… ” Ia tersenyum senang.

    Mungkin ia suka latian body language, soalnya dulu mantanku yang guru BL, bisa mengatur memeknya jadi sempit jadi gini, dengan latihan rutin.

    kontolku keluar masuk memeknya dengan lebih cepat, dan tiba-tiba mata Amel merem melek, dan ia semakin menggila, lenguhan dan desahannya semakin kencang hingga aku harus menutup mulutnya dengan sebelah tangannku.

    ” Ah joe… You’re so… soo… Ohh… i am gonna come… i m gonna come… again… Arghhh… Ohhhhh uhhhhhh… ” Amel orgasme untuk kedua kalinya dan terkulai ke bahuku. Karena aku masih belum keluar, aku mencabut kontolku dari memeknya yang banjir cairannya, dan membalikan tubuhnya menghadap westafel.

    Biasa kalau habis minum staminaku memang suka lebih gila. Amel tampak mengerti maksudku, ia menunggingkan pantatnya, dan langsung kutusuk kontolku ke memeknya dari belakang. Ia mengeram senang, dan aku bisa melihat seluruh tubuhnya dari cermin di depan kami.

    Ia tampak terangsang, seksi dan acak-acakan. Make upnya luntur karena keringat, tapi tubuh seksinya tampak sangat indah.

    Aku mulai memompa memeknya dengan pelan, lalu makin cepat, dan tangan kiriku meraih puting payudaranya, dan memilinnya dengan kasar, sementara tangan kananku sesekali menepuk keras pantatnya.

    ” yeah… I am your bitch… fu*k me real hard… please… ” Cerita Panas – Buset… ga nyangka penampilan manisnya ternyata hanya di luar. Aslinya dia kasar dan gila seks, kaya bule di bokep aja, pikirku makin terangsang. kontolku makin cepat menusuk2 memeknya yang semakin lama semakin terasa licin.

    Tanganku berpindah-pindah, kadang mengusap-ngusap klitorisnya dengan cepat. Badan Amel naik turun sesuai irama kocokanku, dan aku semakin horny melihatnya menggumamkan kata-kata kasar. kontolku semakin tegang dan terus menghantam memeknya dari belakang.

    Ia mau orgasme lagi, rupanya, karena wajahnya menegang dan ia mengarahkan tanganku mengusap klitorisnya dengan lebih cepat.

    ” Ah… baby… yeah… oh yeah… ” kontolku terasa makin becek oleh cairan memeknya. “Amel… aku juga mau keluar nih… ” ” oh tahan dulu… kasih aku… kontolmu… tahan!!!!” Amel langsung membalikan tubuhnya, dan mencaplok kontolku dengan rakus.

    Ia mengulumnya naik turun dengan cepat seperti permen, dan dalam itungan detik, menyemprotlah cairan maniku ke dalam mulutnya.

    ” ArGGGhhhh!! Oh yes !! ” erangku tertahan. Amel menyedot kontolku dengan nikmat, menyisakan sedikit rasa ngilu pada ujung kontolku, tapi ia tidak peduli, tangan kirinya menekan pelirku dan kanannya mengocok kontolku dengan gerakan makin pelan.

    Kakiku lemas dan aku terduduk di kursi toilet yg tertutup. Amel berlutut dan menjilati seluruh kontolku dengan rakus. ” Kamu takut gak, kalau aku bilang, aku suka banget sama sperma cowok ?” bisiknya dengan suara manis sekali.

    Di sela-sela engahanku, aku menggeleng penuh kenikmatan. Gila kali mantannya, ga mau sama cewek hot begini… !! Setelah Amel menjilat bersih kontolku, ia memakaikan celana jeansku, lalu memakai seragamnya sendiri.

    Ia membuka kompartemen di belakangnya, dan mengeluarkan sisir dan makeupnya dari sana. Dalam waktu 5 menit, ia sudah tampak seperti pramugari manis yang tadi pertama kulihat, bukan wanita gila seks seperti barusan.

    Ia memberi isyarat agar aku tidak bersuara, lalu perlahan-lahan membuka pintu toilet. Setelah yakin aman, ia keluar dan aku mengikutinya dari belakang.

    ” Baiklah, Pak Joe… saya harus siap-siap untuk meal service berikutnya, mungkin Bapak mau istirahat sejenak? ” godanya dengan nada seksi. Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Sebelum aku ke upper deck, kucubit pantatnya dan ia memberiku ciuman yang sangat panas.

    Habis flight itu, ia memberiku nomer telpon hotelnya di LA, dan kami ngeseks gila-gilaan tiap hari. Ternyata Amel sangat hyper sex dan bisa orgasme sampai sembilan kali seharinya. Sedangkan aku hanya mampu bucat 2 kali sehari.

    Dalam flight kembali ke LA, aku mengupgrade kursiku ke first class , karena ia bertugas di first class. Dan sekali lagi kami have sex di toilet, dan kali ini hampir ketauan teman kerjanya.
    Kami masih sering ketemu sampai hari ini. Kalau aku ke kota dimana dia tinggal. Pacarku? Masih jalan juga lah… jadi punya dua cewek, deh…

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Bercinta dengan Wanita Setengah baya

    Cerita Sex Bercinta dengan Wanita Setengah baya


    1119 views

    Perawanku – Cerita Sex Bercinta dengan Wanita Setengah baya, Sebenarnya jujur aku merasa malu juga untuk menceritakan pengalamanku ini, akan tetapi melihat pada jaman ini mungkin hal ini sudah dianggap biasa. Maka aku beranikan diri untuk menceritakanya kepada para pembaca. Tetapi ada baiknya aku berterus terang bahwa aku menyukai wanita yang lebih tua karena selain lebih dewasa juga mereka lebih suka merawat diri. Aku seorang pria yang suka terhadap wanita yang lebih tua daripadaku.

    Dimulai dari aku SMA aku sudah berpacaran dengan kakak kelasku begitu juga hingga aku menamatkan pendidikan sarjana sampai bekerja hingga saat ini. Satu pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika aku berpacaran dengan seorang janda beranak tiga. Demikian kisahnya, suatu hari ketika aku berangkat kerja dari Tomang ke Kelapa Gading, aku tampak terburu-buru karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.45. Sedangkan aku harus sampai di kantor pukul 08.30 tepat. Aku terpaksa pergi ke Tanah Abang dengan harapan lebih banyak kendaraan di sana. Sia-sia aku menunggu lebih dari 15 menit akhirnya aku putuskan aku harus berangkat dengan taxi. Ketika taxi yang kustop mau berangkat tiba-tiba seorang wanita menghampiriku sambil berkata, “Mas, mau ke Pulo Gadung ya?” tanyanya, “Saya boleh ikut nggak? soalnya udah telat nich.”
    Akhirnya aku perbolehkan setelah aku beritahu bahwa aku turun di Kelapa Gading. Sepanjang perjalanan kami bercerita satu sama lain dan akhirnya aku ketahui bernama Dewi, seorang janda dengan 3 orang anak dimana suaminya meninggal dunia. Ternyata Dewi bekerja sebagai Kasir pada sebuah katering yang harus menyiapkan makanan untuk 5000 buruh di Kawasan Industri Pulo Gadung. Aku menatap wanita di sebelahku ini ternyata masih cukup menggoda juga. Dewi, 1 tahun lebih tua dari aku dan kulit yang cukup halus, bodi yang sintal serta mata yang menggoda. Setelah meminta nomor teleponnya aku turun di perempatan Kelapa Gading. Sampai di kantor aku segera menelepon Dewi, untuk mengadakan janji sore hari untuk pergi ke bioskop.
    Tidak seperti biasanya, tepat jam 05.00 sore aku bergegas meninggalkan kantorku karena ada janji untuk betemu Dewi. Ketika sampai di Bioskop Jakarta Theater, tentunya yang sudah aku pilih, kami langsung antri untuk membeli tiket. Masih ada waktu sekitar 1 jam yang kami habiskan untuk berbincang-bincang satu sama lain. Selama perbincangan itu kami sudah mulai membicarakan masalah-masalah yang nyerempet ke arah seks. Tepat jam 19.00, petunjukan dimulai aku masuk ke dalam dan menuju ke belakang kiri, tempat duduk favorit bagi pasangan yang sedang dimabuk cinta. Pertunjukan belum dimulai aku sudah membelai kepala Dewi sambil membisikkan kata-kata yang menggoda. “Dewi, kalau dekat kamu, saudaraku bisa nggak tahan,” kataku sambil menyentuh buah dadanya yang montok. “Ah Mas, saudaranya yang di mana?” katanya, sambil mengerlingkan matanya. Melihat hal itu aku langsung melumat habis bibirnya sehingga napasnya nampak tersengal-sengal. “Mas, jangan di sini dong kan malu, dilihat orang.” Aku yang sudah terangsang segera mengajaknya keluar bioskop untuk memesan taxi. Padahal pertunjukan belum dimulai hanya iklan-iklan film saja yang muncul.
    Setelah menyebutkan Hotel **** (edited), taxi itupun melaju ke arah yang dituju. Sepanjang perjalanan tanganku dengan terampil meremas buah dada Dewi yang sesekali disertai desahan yang hebat. Ketika tanganku hendak menuju ke vagina dengan segera Dewi menghalangi sambil berkata, “Jangan di sini Mas, supir taxinya melihat terus ke belakang.” Akhirnya kulihat ke depan memang benar supir itu melirik terus ke arah kami. Sampai di tempat tujuan setelah membayar taxi, kami segera berpelukan yang disertai rengekan manja dari Dewi, “Mas Jo, kamu kok pintar sekali sih merangsang aku, padahal aku belum pernah begini dengan orang yang belum aku kenal.” Seraya sudah tidak sabar aku tuntun segera Dewi ke kamar yang kupesan. Aku segera menjilati lehernya mulai dari belakang ke depan. Kemudian dengan tidak sabarnya dilucutinya satu persatu yang menempel di badanku hingga aku bugil ria. Penisku yang sudah menegang dari tadi langsung dalam posisi menantang Dewi.
    Kemudian aku membalas melucuti semua baju Dewi, sehingga dia pun dalam keadaan bugil. Kemudian dengan rakus dijilatinya penisku yang merah itu sambil berkata, “Mas kontolnya merah banget aku suka.” Dalam posisi 69 kujilati juga vagina Dewi yang merekah dan dipenuhi bulu-bulu yang indah. 10 Menit, berlalu tiba-tiba terdengar suara, “Mas, aku mau keluaarr..”
    “Cret.. cret.. cret..”
    Vagina Dewi basah lendir yang menandakan telah mencapai oragasmenya. 5 Menit kemudian aku segera menyusul, “Dewi, Wi, Mas mau keluar..”
    “Crot.. crot.. crot..”
    Spermaku yang banyak akhirnya diminum habis oleh Dewi.
    Setelah itu kami pun beristirahat. Tidak lama kemudian Dewi mengocok kembali penisku yang lunglai itu. Tidak lama kemudian penisku berdiri dan siap melaksanakan tugasnya. Dituntun segera penisku itu ke vaginanya. Pemanasan dilakukan dengan cara menggosokkan penisku ke vaginanya. Dewi mendesah panjang, “Mas, kontolnya kok bengkok sih, nakalnya ya dulunya?” Tidak kuhiraukan pembicaraan Dewi, aku segera menyuruhnya untuk memasukkan penisku ke vaginanya. “Dewi, masukkan cepat! Jonathan tidak tahan lagi nih.” Sleep.. bless.. masuk sudah penisku ke vaginanya yang merekah itu. Tidak lupa tanganku meremas buah dadanya sesekali menghisap payudaranya yang besar walaupun agak turun tapi masih nikmat untuk dihisap. Goyangan demi goyangan kami lalui seakan tidak mempedulikan lagi apakah yang kami lakukan ini salah atau tidak. Puncaknya ketika Dewi memanggil namaku, “Jonathan.. terus.. terus.. Dewi, mau keluar..” Akhirnya Dewi keluar disertai memanggil namaku setengah berteriak, “Jonathan.. aku.. keluaarr..” sambil memegang pantatku dan mendorongnya kuat-kuat.
    Tidak berselang lama aku pun merasakan hal sama dengan Dewi, “Wi.. ah.. ah.. tumpah dalam atau minum Wi..” kataku. Terlambat akhirnya pejuku tumpah di dalam, “Wi.. kamu hebat.. walaupun sudah punya 3 anak,” kataku sambil memujinya. Akhirnya malam itu kami menginap di hotel **** (edited). Kami berpacaran selama 1 tahun, walaupun sudah putus, tetapi kami masih berteman baik.
    Adakah di antara pembaca baik itu gadis, janda, maupun tante yang bersedia kencan lepas denganku aku siap melayaninya, terlebih lagi kalau lebih tua dariku. Silakan kirim email ke alamatku disertai nomor telepon, pasti aku hubungi. Benar juga kata pepatah, “Kelapa yang tua, tentu banyak juga santannya”. Yang lebih tua memang enak juga untuk dikencani.
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Nikmatnya Ngewe Sama Anak Ibu Kos Yang Masih Abg

    Cerita Sex Nikmatnya Ngewe Sama Anak Ibu Kos Yang Masih Abg


    1118 views

    Perawanku – Cerita Sex Nikmatnya Ngewe Sama Anak Ibu Kos Yang Masih Abg, Kost-an ku terdapat agak jauh dari keramaian, tempat tinggalnya besar serta saya hanya satu anak kost, argumen ibu kost saat itu agar ada yang “jaga” tempat tinggal, soalnya ibu serta ayah kost seringkali pergi.

    Halaman belakangnya luas ditanami rumput Jepang. Satu waktu, ibu kost mengajakku menjemput anaknya, tuturnya dia kuliah di Trisakti, saya ke stasiun untuk menjemputnya, alangkah terkejutnya saya, nyatanya ia seseorang wanita yang menggairahkan, cantik, tingginya sekitaran 170, berkulit kuning langsat, padat, serta dadanya kencang, mungkin saja ukurannya 36-entah itu A maupun B. Namanya Vina, ia berusia 23 th., lain 3 th. (saat itu saya 20 th., saat ini 21) denganku. Dua hari lalu, pagi-pagi Ibu kost serta suaminya pergi ke tempat tinggal saudaranya yang berada di Semarang.

    Sore hari (jam 17. 30) itu Vina terlihat enjoy dengan kaus oblong serta jeans biru pendek ketat selutut, saya baru pulang dari ujian midsemester. Vina menegurku, wahhh…baru pulang yah ian, lelah yah setelah ujian, butuh penyegaran nih, katanya sembari tersenyum penuh makna.

    Iya Vin, ngapain yah? tanyaku, pinjam film yuk. Akupun mengiyakan serta mengantarkannya ke Rental VCD dekat tempat tinggal, tidak kusangka ia meminjam film Semi-XXX, dia katakan bila film full tidak memiliki seni.

    Saya saat itu agak malas melihat, saya masuk kamar serta segera tidur-tiduran, disamping itu dia nonton. Tidak lama kudengar nada rintihan, saya kaget, nada apa ini??. Saya keluar perlahan-lahan, kulihat kepala Vina bergerak ke kanan ke kiri sembari mengerang, shhhhh hahhhhh, ehmmm pergerakannya indah sekali.

    Kudekati ia, nyatanya ia tengah merangnsang klitorisnya, wow, klitorisnya merah serta buat air liurku menetes, kutegur ia, Vin, tengah apa anda?? DIa terperanjat, ehh iannn, ehmm tidak, saya sekali lagi gatel saja nih sembari tersenyum. Ingin kubantu Vin? ehmm bisa jika tidak ngerepotin, tuturnya sembari mengisap jari telunjuknya, woowwww saya makin terangsang dengan stylenya itu.

    Saya juga jongkok serta lantas mulai memainkan jariku di daerah “sebesar kacang” itu, dia mulai kelojotan, vaginanya mulai dibasahi cairan yang baunya menggairahkan, shhhhhh, selalu iann…terusss uhmmm sedap, tuturnya sembari meremas peyudaranya sendiri, saya tidak tahan, lantas saya mulai aktifkan mulutku, kujilat perlahan-lahan memeknya, perlahan-lahan, kucium, kuhisap, serta kadang-kadang kuhembuskan udara hangat ke memeknya, perlahan serta lantas kencang, ouuughhhh…ahhhhh ia.. annnn shhssss ouchhhh.

    Ke-2 tanganku kususupkan kedalam kausnya, kuremas payudaranya, ehmmm masih tetap kencang. Dia lantas buka kausnya sendiri, saya lantas buka celana jeansnya itu. Tinggallah ia menggunakan bra serta celana dalam yang mulai lembab karna cairan vaginanya.

    Kucium perutnya, perlahan-lahan ke sisi dada, saya benamkaan wajahku ke belahan dadanya, kuciumi dadanya yang melingkar, bra-nya kulepas dengan gigitan di talinya, sembari tanganku melepas ikatan sisi belakang. WOwww…payudaranya indah, bundar, belum juga kendor, berwarna pink, kucium lembut payudaranya itu, mulutku membuat huruf O, kujilat putingnya, perlahan-lahan, semakin lama semakin cepat, kuhisap.

    Oughhh erangnya, ahhhh ian geliii, dadanya juga makin dimajukan, membuatku agak kesusahan bernafas. Saya rasakan putingnya mengkerut/mengeras, diam-diam tanganku kumasukkan ke vaginanya, kuraba klitorisnya menggunakan jari tengahku.

    Oughhhhhh ahhhh shhhssss ehhhhmmm nimat ian…ah ah ahhhhhhhhhh. Berwajah memerah menahan nafsu, dengan ganas ia buka celanaku, woooww tegang yah, punyamu kerasss ian, lantas ia mulai mengocok serta mengisap penisku, ehhmmm nikmatt, lidahnya ia mainkan di kepala penisku, buah pelirku juga tidak luput dimainkannya.

    Vina sayang, kita main diluar yok. Di mana? kata Vina, itu lho di halaman belakang, kataku. Sore itu telah jam 18. 30, lampu taman belakang kunyalakan.

    Vina segera berbaring di rumput, saya menghampirinya, kucium bibirnya, lantas ia minta penisku mulai dimasukkan, kumasukkan perlahan-lahan, oughhh iannnn ehmmm enak.. lantas amblaslah penisku, kukocok dia perlahan-lahan lantas makin lama makin cepat.. oughh ahh ahhha shhhssss uhhh fuck meeeeee damn you…ehmm ahh ahhhh ooooohhhhh greatttttt…mulutnya mulai meracau serta tidak dapat diam.

    Saya makin terangsang, irama tusukanku makin jadi jadi, ia mulai seperti orang geram menahan nafsu. Saya menyuruh ia bergaya seperti anjing, kutusuk dia dari belakang, kutepuk pantatnya, tangan satuku meremas payudaranya yang menggantung indah.. ouuhhhh iannnnnnn your dick is so biggggg ehmmm.

    Terruss terusss janganlah berhentiii tuturnya, saya ingin orgasmeee, penisku makin memburu, lantas ia mengerang panjang ooooohhhhhhhhhhhhhh ahhhhhhhhhh shhsss ah ah aha ahhh hhhhhhhaaaaaa ouchhhhh kuremas ke-2 payudaranya dengan lembut, penisku seperti disiram air hangat, tandanya dia telah orgasme.

    Penisku ku keluarmasukkan dengan perlahan-lahan, lantas kulepas dari vaginanya, ia segera berbalik serta menciumku, ehmmm, enak iaann. Makasihh ya, saat ini giliran anda yang perlu orgasme, senyumnya.

    Penisku mulai dikocok serta dihisap silih bertukar, saya juga memohon ia tiduran menyamping, saya menusuk vaginanya dari belakang dengan tempat menyamping juga, kaki kanannya kuangkat, serta kutahan dengan kaki kananku, saya mulai men-dribelnya, karna tidak tahan saya segera tancap gas, ohhh sangat nikmat vaginamu viinnnn, saya tidak tahan vin.

    Vina juga memainkan vaginanya demikian rupa, seperti menjepit penisku, saya tidak tahan selalu kukocok ahhhhhh ughhh vina mulai meracau sekali lagi, ahhh iann shhhssss serta you, ehhhhhhmmmmm oughhhhh, lantas saya juga ubah tempat, saya di bawah vina di atas, saya meremas payudaranya, ia juga secara cepat mulai men-dribel saya, ah ahghhhhhh oughh vina ingin orgasme nih iannnn, kurasakan sekali lagi penisku disembur lahar putih itu, saya makin tidak tahan, saya seperti ingin meledak rasa-rasanya,

    ia perlambat iramanya, tapi penisku selalu kuhujamkan lewat cara mengangkat pantatku, vina lantas tahu bila saya ingin ejakulasi, ia mulai percepat pergerakannya, lantas dengan mengagetkan ia melepas vaginanya, serta segera digantikan dengan mulutnya ahhhggg vina sayang saya ingin keluar nih.

    Irama mulut serta tangannya juga makin dipercepat, lantas saya ejakulasi, Vina segera mengisap 1/2 penisku, sesaat setengahnya sekali lagi ia kocok gunakan tangan, ohhhhh ejakulasi yang prima, saya heran air maniku sekalipun tidak tumpah, rupanya vina menahannya di mulutnya, ia menciumku lantas 1/2 dari air maniku diberi kepadaku, saya kaget, air maniku kutelan sendiri, sesaat setengahnya sekali lagi ia telan.

    Saya bercinta dengannya 2 kali sekali lagi malam itu, di tangga tempat tinggal, serta di ranjang tempat tidurnya, kami semalaman telanjang didalam tempat tinggal, makan juga telanjang. Saya suka sekali malam itu, saya tidur dengannya berselimutkan selimut hangat serta telanjang!!!

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Tante Toge Bening

    Cerita Sex Tante Toge Bening


    1118 views

    Perawanku – Cerita Sex Tante Toge Bening, Ini berawal dari kopi pemuas nafsu tante Kenalin, gue Ronald Bramantio, panggilan Ronald, 20thn, mahasiswa semester 4 salah satu perguruan tinggi di kota J. Sebagai mahasiswa gue bersukur bisa dapet perguruan tinggi negeri, tapi kerasnya kehidupan di kota ini tetep maksa gue buat kerja keras cari duit sendiri buat biaya hidup dan bantu-bantu bokap bayar uang kuliah. Maklum gue ga asli tinggal di kota ini, kota asal gue sebelahan sih sama kota ini, tapi capek bolak balik, jadi gue ngekos.

    Awal-awal masuk sih gue ga terlalu mikirin kerja, kesininya baru deh. Gue mulai kerja awal semester 2, jadi barista di cafe ga jauh dari kampus gue. Tiap malem gue bikinin kopi buat pelanggan, ga jarang cewe-cewe yg top rated mampir ke cafe tempat ane kerja, diantaranya ada anak muda dan tante-tante. Setelah kurang lebih dua bulan kerja, gue ketemu sama tante Ria. Tante cantik putih mulus, boobs kurang lebih 36b, umur 37 tahun, sekilas wajahnya mirip Wulan Guritno kalo dari belakang, hehe becanda.

    Awal gue ngobrol sama tante Ria itu waktu gue mau pulang kerja, dia manggil sekaligus nanya ke gue… “eh, kamu yang tadi buat kopi ini yaah?”
    Gue kaget juga..lagi jalan tiba-tiba dia nanya dengan nada sksd, dengan canggung gue jawab, “i..iya..tante saya barista disini..”
    “Kamu mirip deh sama almarhum anak tante..” lanjutnya dengan nada agak lirih.
    walah senyum boongan aja dah gue di bandingin sama anaknya yg udah meninggal, ini gue bingung mau caw apa stay.
    akhirnya dia ngomong,
    “Udah mo pulang ya? Sini aja dulu temenin saya ngobrol, kebetulan saya lagi kangen almarhum anak saya juga..”
    Masih posisi berdiri clingak-clinguk sedikit kikuk, dia lanjut lagi,
    “..udah gapapa gausah maul-malu. kamu mau kan temenin saya ngobrol sebentar? Siapa tau kangen saya ini bisa hilang kalo ngobrol sama kamu..”
    Akhirnya gue duduk,Cerita Sex Tante – kenalan dan ngobrol sama tante Ria. Dia orangnya asik, bisa bawa suasana, cantik lagi, top deh buat cewe seumuran dia.
    Nah waktu itu gue lg ga ada kelas, kalo nungguin di kampus masih lama. Pas banget tante Ria ngajakin makan siang di luar. Setelah pulang makan gue di ajak kerumahnya, disini tante Ria baru cerita banyak soal kehidupan pribadinya. Ternyata suami tante Ria bule beristri di negaranya, tapi jarang pulang ke indonesia, paling cepet katanya 3 bulan sekali, itu juga ngurus bisnisnya kata dia. Di rumahnya cuma ada dia anak cewenya yg masih sekolah dasar namanya Alexa, sama pembokat & supir yang ternyata pasutri.
    Dari situ makin sering deh gue maen ke rumah tante Ria, entah disana ngobrol ama tante Ria, atau becanda & ngajarin belajar si Alexa.
    Awalnya bener-bener ga ada pikiran kotor, karna memang dia nganggep gue kaya anaknya sendiri, dan memang gue pun ngerasa nyaman kalo ngobrol sama tante.
    Ga ada pikiran kotor sama sekali mau ngentotin tante toge.ini Sampe akhirnya guee…aduh gatau ini di bilang sial apa untung. Ini mungkin gara-gara gue ga bilang-bilang dulu kalo maen kerumah tante. Kondisi lagi sepi, Alexa masih sekolah. gue langsung aja ke atas, tepatnya ke kamar tante Ria berkat petunjuk mbak Wulan pembokatnya. Mungkin dia udah keasikan kali ya gue ketok pintu kamar ga denger, gue buka aja langsung karna ngerasa akrab. Eh dia lg asik mainin dildo sambil merem melek, dia kaget bukan main langsung tutupan pake selimut.
    Gue juga kaget langsung nutup pintu, tapi gue ga pergi dr depan pintu, sumpah ini awkward banget, tegang, payah banget gue berdiri juga.

    Gak lama dia manggil dengan nada sedikit tegas, “Ronald, sini masuk..”
    Gue cemas banget tuh pas buka pintu pelan-pelan, “iya tan, kenapa?”
    Dia ternyata udah rapi duduk di pinggir kasur, “sini duduk..tante mau ngomong” sambil dia natap percis sampingnya SEOlah nunjuk.
    Gue takut juga ini awalnya, takut gue di maki-maki dan semacamnya lah. Langsung aja gue duduk..
    “Maafin tante ya ronald, tante khilaf.. Tante maluuu banget..”
    Gue mikir sejenak… “Ah tante, itu kan normal, malah aku yang harusnya minta maaf kan..main buka-buka aja, ga sopan gini. Maaf ya tante?” berusaha se-relax mungkin gue jawabnya.
    “Iya gapapa kok, tante kaya gitu karna emang tante butuh nal. Kamu tau sendiri kan om jarang banget disini. Jadi tante susah buat nyalurin nafsu tante ini.”
    “Iya tante aku ngerti kok..” udah rada relax nih gue..
    Disini dia netesin air mata, terus sandaran di pundak gue sambil cerita lika liku rumah tangganya. Dia sebetulnya tersiksa juga suaminya jarang pulang, bukan cuma hasrat seksualny saja, melainkan hatinya juga. Bayangin aja, jadi istri ke dua, di tinggal lama-lama, kangen kan pasti, tapi kalo ketemu paling ML sekali dua kali, kasih nafkah, pergi lagi deh. Jadi gajauh beda sama wanita panggilan, bedanya cuma seperti di pelihara. Gue kasihan jadinya..Cerita Sex Tante –

    Udah selesai cerita panjang lebar, udah rada kondusif lagi suasananya, tante tiba-tiba nanya gini, “Ronald, kamu mau kan bantuin tante?”
    Masih belum mikir kotor juga nih,gue jawab aja, “Bantu apa tante? Buat tante mah yg ga bisa aku bisa-bisain deh, hehe..”
    Tiba-tiba tante Ria bangun dan buka kancing atasannya.. gue mulai mikir yang engga-engga nih, alhasil konti gue mulai tegang.
    “Bantuin tante muasin nafsu yang udah lama tante tahan ya sayaang..” pinta tante sambil buka kancingnya, bukan main pikiran busuk nan indah gue itu jadi beneran, hehe.
    Dia langsung nyamber kemuka gue, nyiumin pipi akhirnya bibir, ‘mmhhhhmm..mmmh’ sesekali gue sedot lidahnya, ’emmpp..mpppt’, begitupun dia ke gue, kita jg sempet mainin liur.
    Gue ga mikir panjang lagi, ga keburu gunain akal sehat, udah kepalang horny. Jadi yaa gue terusin aja..

    Jujur aja ya, ini pertama kali gue ML, dulu SMA cuma ampe di BJ pacar doang, jadi bisa di bilang gue belom pengalaman. Tapi kalo soal pengetahuan, gue tau banget gimana cara muasin cewe karena gue sering baca cerite-cerita dewasa yang ada di forum dewasa. Jdi inilah waktu yg tepat buat pamer perkasaan gue, hehe.
    Gue diri dari kasur, sambil bibir tetep berbelit mesra beradu french kiss,
    ‘mmhhh..aahh,,mmmmmhh’ suara itu yg gue denger dari mulut tante Ria saat tangan gue mulai bandel meremas payudara tante ukuran 36b yg masih terbungkus bra hitamnya.Cerita Sex Tante – Ukuran yang besar, pantes saja kalo om bule mau.
    Bra hitamnya itu sangat cocok sekali bila di kenakan olehnya, berkat perpaduan dengan kulitnya yg putih mulus.. Jadi lebih terlihat menggoda, sangat menggiurkan.
    Dari bibir gue beralih ke leher, sambil tangan kiri tetap berusaha buka bra sebelah kiri tante, tangan kanan tetep remes meski masih ketutup bra.

    Gue cium dan jilat leher tante Ria, “aahhhhh..mmhhh ahh..terus ronnn..ald..sayang”, tante mengerang keasikan.
    Terus turun sambil jilat dan cium sampe ke dadanya, payudara kiri yang bungkusnya udah lepas duluan, langsung aja gue isep puting coklat nan seksi, tangan kanan tetep meremas.
    Dia bener-bener keenakan sampe-sampe merem melek dan kepalanya pun gerak ga karuan, seperti orang kesambet saja.
    “ahhhh..ronald nakal banget sih kamu!”, maki tante Ria keasikan ketika gue gigit pelan puting dari payudara kirinya.
    ‘uhhh..ahhh’ erangnya saat gue hisap sekali lagi puting kirinya sebelum berpaling ke dada kanannya.
    Gue buka bungkus perhiasan ternikmat yg menyantol di dada kanan tante ria itu, gue remas sekali terus gue hisap dengan penuh nafsu, tanpa melupakan dada kirinya yg terus gue remas dan mainkan putingnya. ‘aahhhh….uhhh..aaahhh’ cuma itu suara yg di keluarin tante ria.
    Bosan bermain dengan payudara tante Ria, gue copot aja atasan tante yang sedari tadi belum lepas seutuhnya. Gue jatuhin badan tante Ria ke kasur, gue lepas celana dan dalamannya yang ternyata..tante Ria pakai g-string warna hitam. Sepertinya satu stel dengan bra nya.

    Gue ciumin mulai dari kaki sampai lutut, dan mulai mencium dan menjilati paha kanan dan kiri nya sampai ke liang kenikmatan yg tiada tara itu. Gue jilat dari liang peranakan sampai lobang kencing hingga clitorisnya yang legit itu.
    ‘aahhhhhhh…mmmhhhmmmmm’ tante Ria mengerang keasikan saat gue hisap clitorisnya. Sambil terus gue hisap dan jilat klitorisnya, jemari gue penuh nafsu masuk dan membobol liang peranakan tante Ria.
    “aahhhh..ronaaall..uhhh..kamu..uhh..pinter deh..ssaayangg” begitu katanya pas gue mainin kedua jari gue seperti mengorek sesuatu sekaligus maju mundurin.
    Lumayan lama bermain dengan meki tante Ria, “ahhh tante mau keluar nih nal…” akhirnya tante ria mencapai orgasme pertamanya dengan muka gue di mekinya saat itu. ‘ahhhha..uuhh’ begitu erangnya, tak henti lidah gue terus menjilat dan menghisap cairan yg keluar dr meki tante dengan penuh nafsu.
    Tante bilang “Sini gantian tante servis ‘senjata’ kamu sayang”
    “Oke deh tante sayang..” perlahan bibir gue menciumi naik dari mekinya ke perut ke dada ketiaknya pun tak luput gue cium mesra,
    “ahh nakal banget sih kamu, ketiak tante di cium-cium” protes tante keenakan.
    “abis tante seksi banget sih, aku nafsuu banget nih jadinya, hehe” jawab gue.
    Beberapa kali french kiss dan gue pun buka baju dan celana lalu berbaring dan sedikit mengangkang memberi ruang untuk tante Ria.

    Yaiit dia ga langsung oral batang konti gue, tapi tease dulu bentar. Geliat tubuh tante Ria bikin libido gue makin naik aja. Cium pipi dan bibir, perlahan turun ke konti gue. “gede juga nal ‘senjata’ kamu, mmmm baunya juga bikin tante makin nafsu aja,” puji tante Ria.
    ‘Ahhhh’ gue sedikit teriak keenakan pas dia gigit manja pala konti gue. Di jilat pala konti gue layaknya jilat eskrim. “Tante hebat banget sih..”, puji gue.
    “ahhhh e..naak banget..taan” Mulai deh, di hisap konti gue, bikin gue merem melek ga karuan. Sesekali di hisap juga biji buah masa depan gue ini.
    Baru pertama kali ML dapet yang pro, nikmaaaat, makasih tante Ria ku sayang.

    “ronald, sayang..meki tante udah kepengen di masukin konti kamu nih sayang..”
    “oke tante, aku doggy yah tan..”
    “yess honey..just make your new mommy satisfied..” kata tante Ria sambil mengatur posisi nunggingnya.
    Masih belum sadar dan terlalu mikirin ucapannya barusan, mungkin kepalang nafsu di ubun-ubun kali ya..
    Rupanya tante Ria rajin membersihkan dan memanjakan tubuh cantiknya. Itu terbukti dari kulitnya yg putih dan kenyal meski sudah memasuki kepala 4, labia minora dan klitoris yg agak coklat kemerah-merahan, bulu jembut halus yang terawat dan selalu di cukur. Bahkan lubang anusnya pun tak hitam, bukannya menjijikan tapi sangat menggiurkan. Indah sekali, tubuh tante gue yg seksi ini.

    Dia udah nungging, gue jilat-jilat lagi dulu aja mekinya tante, begitu seksi terlihat dari posisi kaya gini.
    “aaahhhh ronald! mulai deh main gigit aja, geli tau..” protes tante ria ketika gue ngegigit klitorisnya.
    “tapi enak kan tan?”
    Tak menunggu jawaban langsung saja gue jilatin lubang anusnya, meski sedikit jijik, tapi buat tante tersayang apapun gue lakuin biar tante puas. Tante Ria kayaknya kegelian banget waktu gue jilat bagian ini.

    “Ahhh ronald, enak ihh..geli.. Tapi cepettt dongg masukin punya kamu sayang..” pinta tante Ria.
    Gue langsung berdiri, siapin konti dan ‘slepppp’ agak susah si masukinnya, mungkin karna udah lama jg tante ga ML. ‘mmmhhh..ahhhh..mmmh..uhhh..yess..ahhh’ tante Ria tak henti mengerang saat gue genjot maju mundur. Terasa nikmat di jepit meki tante Ria, jepitannya kuat untuk umurannya.
    Sesekali gue remas payudara besarnya yg seksi itu, gue pilin putingnya tante Ria, gue ciumin tengkuk lehernya, tangan gue pun jahil memainkan klitorisnya.Cerita Sex Tante – Itu semua bikin tante gerakin kepalanya ga karuan.
    “aaaahhhhhh… aku..mmmhhmmm..keluar lagi nih nal…ahhhhh” orgesme kedua tante Ria dimulai saat jemari gue memilin puting dan klitorisnya, gue sedikit perlambat irama genjotan gue.

    Sudah hampir 10 menit genjot tante dengan posisi doggy seperti ini. Akhirnya tante Ria meminta ganti posisi Woman On Top. Langsung saja gue tiduran, di hisap beberapa kali dulu konti gue ‘ssllluuurp mmmhhhh’ suara menikmati yg keluar dr mulut tante saat menghisap konti gue.
    Tante langsung dudukin konti gue, saat ini tante duduk menghadap ke muka gue. Tante naik turun genjot konti gue, bikin sensasi ‘ahhhhh’ nikmat buat gue. Tangan tante megang dan tuntun tangan gue minta ngeremes-remes dada besar yg seksi itu, tanpa ragu gue remes gue pilin putingnya. Kurang puas remes dadanya, dari tiduran gue bangun duduk buat ngisep dada dan putingnya sambil dia tetep genjot konti gue. “ahhhh ronald..mmmmhhmm..enak sayangg..ahhhh..terus..isep” pintanya.

    Lagi enak-enak dan panas-panasnya bercumbu. Ada lagi masalah yg bisa di bilang rejeki nomplok. Tiba-tiba mbak Wulan pembokatnya buka pintu dan bawa sapu, jelas kami berdua kaget bukan main, namun tak tahu apa yg harus di lakukan.
    Mata mbak Wulan terbelalak melihat apa yang dia lihat, seakan tak percaya dia maju mendekat.
    ‘sial lupa konci pintu nih’ pikir gue.
    “Wulan! kamu kenapa ga ketok pintu dulu sih?! Bikin kaget aja kamu ini!”
    “Iya nyonya, maaf saya pikir nyonya lg tidur, makanya takut ganggu ga ketok dulu” nadanya tak begitu terdengar panik.
    “Yaudah..saya maafin..Bambang mana? Alexa udah pulang belum?” (bambang suami mbak Wulan supir tante Ria) disini mereka ngobrol tapi konti gue tetep nancep di meki tante Ria, cuma selimut sedikit nutupin badan kita berdua.
    “Lagi jemput Alexa nyah, baru aja berangkat..” jawabnya.
    Ini orang aneh banget gue pikir, negliat majikannya selingkuh masa ga ada ekspresi kaget. Tante Ria juga sedikit janggal, ga nyuruh pembokatnya pergi atau marah atau apalah yang sewajarnya harus di lakuin.

    “Gini aja dehh..ronald kamu gapapa kan kalo mbak wulan ikut main sama kita?..”
    alamakjang siapa yg mau nolak coba threesome sama pembantu hot macam mbak wulan, kulit sawo matang bersih payudara 34a, rambut panjang di kuncir, umur kepala 3 lah kira-kira, wajah 11-16 sama ayu tingting..hehe. Enak di pandang deh..
    Belum juga sempat gue ngejawab ajakannya, tante lanjut ngomong..
    “..mbak Wulan ini kadang jadi temen tante muasin hasrat liar tante  toge ini kalo om ga disini. Dia juga kurang puas sama servis suaminya si Bambang yg cepet lemas. Yaa bisa di bilang kita senasib.”
    Ternyata tante sedikit ada orientasi lesbian..ini sama sekali ga buat gue ilfeel kok, malah bikin libido naik dengernya.

    “Yaudah tante, buru deh kita mulai sebelum alexa nyampe..” jawab gue.
    “nah gitu dong.. mmuuacchhh….” cium tante “..ayo lan, kita have fun bareng”
    “..eh tante tapi konci dulu pintunya” saran gue agar tak jatuh ke lubang yang sama.
    “oh iya ya.. Wulan tutup dulu sana, konci..”
    Mbak wulan buka baju sambil jalan menutup pintu. Akhirnya telanjang juga mbak wulan, terlihat bulu jembut yg agak lebat namun bersih dan terlihat seksi.

    Tante Ria dan mbak Wulan memainkan batang konti gue dengan lidah mereka berdua. Sesekali mereka pun beradu bibir dan lidah ‘mmmhhhhmmpp…ahhhh..mmmpp’ sungguh pemandangan yang luar biasa, dua wanita setengah baya menjilati dan menghisap batang konti gue. ‘slluuurbbpp’ ‘cuuuhh’ begitulah mereka, nakal sekali meludahi dan menghisap konti ini. Sungguh berkah luar biasa..kali pertama ML, sekaligus dua wanita yang terbilang pro yang melayani,
    ‘meskipun sudah ga perawan..ahhh, persetan dengan perawan, kalau lebih nikmat kenapa gak’ pikir gue.
    “ahhhh..terus isep, enak tan..ahh…” pinta gue, selagi tante menghisap batang konti gue, mbak wulan dengan lihainya memainkan lidah dan menghisap buah zakar ini, ‘ahhhh’ sungguh pemandangan luar biasa melihat dua wanita ini bermain dengan konti guedan cerita sex tante makin panas.

    Gue pun udah gak kuat lagi menahan nikmatnya permainan lidah mereka berdua..akhirnya..
    “ahhhh tan..te…aku mau..ke…luaarrrhrgghhhhh..yesss..te..rus..isssep tan…” sambil menahan dan sedikit menekan ke bawah kepala tante dengan tangan gue, akhirnya ‘ahhhhh’ klimaks pertama gue selesai. Cairan kenikmatan gue semuanya gue keluarin di mulut tante, sedikit yang netes keluar membuat tante Ria terlihat begitu seksi dan menggoda.
    Mbak Wulan dengan cekatan menjilati sisa sisa dan tetesan lahar dingin yang mengalir di konti dan di jembi gue.
    Tak henti sampai disini pemandangan indah itu..tante Ria menarik kepala mbak Wulan dan membuka lebar-lebar mulutnya..dan berkata,
    “liat nih ronald sayangg..” seakan mau melakukan atraksi luar biasa.
    Cerita Sex Tante – Langsung saja mereka berdua melakukan swapping sperma gue itu, pemandangan yang betul-betul indah menggoda dan seksi. Atraksi mereka itu di akhiri dengan di telannya sperma gue itu oleh mereka berdua. Tante Ria menarik dagu gue mendekat ke wajahnya, begitupun mbak Wulan.
    Ternyata tante mau frenchkissing bertiga, dengan sedikit sisa lahar di mulut mereka. ‘mmpphh..ahhh..’ Sedikit jijik, tetapi karna rasa jijik ini kalah besar dengan hasrat liar gue, jadi gue lanjutin aja. Ternyata fantasi yang menakjubkan buat di lakuin.
    “Nyah..belum juga aku di puasin.. masa udah selesai aja sih?” celetuk mbak Wulan karna belum terpuaskan.
    “Eh..iya mbak Wulan, maaf saya udah ga tahan, abis enak banget sih di sepong dua cewe cantik kaya mbak dan tante..hee” jawab ku mencari alasan sekaligus memuji kelihaian mereka.

    “Siapa bilang kita udah selesai..masih ada sekitar 20menit lagi kok sebelum Alexa dan Bambang sampe rumah..” kata tante Ria.
    “Nahhh, nyonya emang majikan paling cantik deh..’mmhhcchhhmmuuaccchhh’ hehe” cium mbak Wulan ke bibir seksi tante
    dan cerita dewasa kali ini berulang-ulang setiap hasrat sex tante naik dan ingin ngentot.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Penumpang Taksi Ngentot

    Cerita Sex Penumpang Taksi Ngentot


    1118 views

    Perawanku – Cerita Sex Penumpang Taksi Ngentot, Selamat malam. Mau kemana, bu? sapaan standar, Hotel Muria ya, pak. jawabnya datar, Pandangannya menerawang ke luar jendela. Kebetulan saat itu sedang gerimis, mungkin membuat hatinya galau.

    Darimana tadi, bu? Kok jam segini belum pulang? tanyaku basa basi sekaligus ingin memuaskan rasa penasaran yang tadi kupendam.

    dia diam saja sambil tetap memandang ke luar jendela. Aku memutuskan untuk berhenti bicara. Mungkin dia sedang tak ingin diganggu. Tak lama kemudian, sampai juga di hotel Muria. Dia membayar dengan memberikan uang tip empat ribu rupiah.

    Terima kasih, bu. jawabku sambil menerima uang itu. Tapi dia masih tetap diam, hanya mengangguk pelan sambil meninggalkan taksiku. Tanda tanya masih tetap bergelayut di pikiranku.

    ***

    Dua hari setelah itu, di tempat yang sama, perempuan yang sama.

    Selamat malam, bu. senyumku mengembang, berusaha menyapanya ramah. Pikiranku merasa bahwa dia meminta diantar ke tujuan yang sama.

    Hotel Muria ya, pak. ujarnya sambil kembali memandang ke luar jendela.

    Kucoba menganalisis sendiri karena pikiranku semakin penasaran dengannya. Dari logatnya, sepertinya dia bukan orang Jakarta. Ditambah fakta bahwa dia minta diantar ke Hotel Muria, semakin menguatkan hal tersebut. Cuma yang masih menjadi tanda tanya, mau apa dia di Kemang pada dini hari? Kutengok sekilas tempat dia menunggu taksi, tak ada tandatanda klub malam atau tempat hiburan. Hanya ada beberapa cafe yang sudah tutup dan sebuah rumah makan 24 jam, serta dua buah mini market.

    Dari mana tadi, bu? tanyaku dengan suara keras sehingga dia tak ada alasan untuk tidak menjawab. Demi memuaskan rasa penasaran.

    Oh, tadi dari ketemu teman. jawabnya singkat, masih menatap ke luar jendela meski kali ini tak gerimis.

    Sepertinya saya tak melihat ada cafe yang masih buka, bu.

    Di restoran fast food, pak.

    Oh begitu. Lalu temannya tadi sudah pulang?

    Pulang duluan, pak, sudah ditunggu istrinya. jawabnya datar, kali ini diakhiri dengan embusan napas berat dan pandangannya beralih ke layar ponsel. Aku jadi tak enak sering melirik ke spion. Konsentrasi lalu kukerahkan pada kemudi saja.

    ***

    Esok harinya, bagaikan deja vu, kembali taksiku dihentikan olehnya, masih di tempat dan jam yang sama. Sebenarnya aku sengaja lewat tempat itu di jam yang sama, ingin bertemu dengannya lagi. Masih ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padanya.

    Malam, mbak. Hotel Muria? aku beranikan diri memanggilnya mbak. Tampaknya dia tidak keberatan.

    Iya, pak. jawabnya, kali ini dengan senyum.

    Mbaknya bukan orang sini ya? Darimana, mbak?

    Semarang, pak.

    Mbaknya ke Jakarta dalam rangka apa? Cuma ketemu teman atau ada urusan lain, mbak? tanyaku hatihati. Tak ingin terkesan ingin tahu urusan orang, meskipun kenyataannya memang begitu.

    Iya, cuma ingin bertemu teman saya itu. Eh, sebetulnya pacar sih, pak, bukan teman.

    Aku mencoba menggali ingatanku. Kalau tak salah kemarin dia bilang bahwa temannya itu sudah ditunggu istrinya. Apakah Temannya, eh pacarnya itu, sudah punya istri ya, mbak? Oke, ini sudah keterlaluan dan aku tak tersinggung jika dia minta turun. Tapi nyatanya tidak, dia masih tetap tenang di jok belakang taksiku.

    Iya, pak. Kami sudah berhubungan dari lama. Rumah tangga mereka bermasalah dan katanya mereka akan segera bercerai. Tapi entah, sampai sekarang masih seperti ini. Pertemuanpertemuan kami tak diketahui istrinya, pak.

    Mbak bahagia dengan hubungan itu? Entah kenapa aku malah bertanya hal seperti ini. Rasanya ingin menampar mukaku sendiri.

    Sebenarnya sih enggak, pak. Saya sudah menyakiti banyak orang, termasuk diri saya sendiri. Namun rupanya ada satu sisi saya yang bahagia karena bisa bersama dengan orang yang saya cintai, meski tak bisa memilikinya dengan utuh.

    Sampai di lobby Hotel Muria, dia menyerahkan sejumlah uang. Pak, ini malam terakhir saya di Jakarta. Besok saya pulang. Terima kasih sudah menjadi teman mengobrol saya dua hari ini. Saya sangat menghargainya, pak. dengan mata berkacakaca.

    Iya, samasama, mbak. kukira dia akan langsung turun seperti biasanya, tapi ternyata

    Pak, dia memanggil.

    Iya, mbak. kupandangi wajahnya yang cantik, juga tubuhnya yang sintal.

    Emm, boleh saya minta tolong? tanyanya.

    Silahkan, mbak. Kalau memang bisa, pasti saya bantu.

    Bapak nggak keburu pulang kan?

    Kulirik jam di dashboard, jam 2 lewat 5 menit. Sudah larut, istriku pasti sudah menunggu di rumah. Nggak, mbak. Memangnya kenapa? tapi demi wanita ini, aku rela menundanya.

    Bapak mau menemani saya? tanyanya lirih, campuran antara rasa marah dan takut.

    Aku tak langsung menjawab, kucoba untuk mencerna perkataannya. Menemani gimana. Mbak? kutanya balik. Aku butuh kepastian. Apa ini sesuai dengan bayanganku?

    Tidak menjawab, wanita itu malah menyeberangkan tangannya melewati pinggulku untuk meraih setelan jok tempat aku duduk. Jok itu langsung bergerak ke bawah dengan aku tergolek di atasnya. Dan yang kurasakan berikutnya adalah bibir basah wanita itu yang langsung mencium mulutku dan melumatnya rakus.

    Uh.. uh.. uh.. Aku tergagap sesaat, sebelum akhirnya aku membalas lumatannya. Kami saling memagut melepas birahi. Bisa kurasakan lidahnya yang runcing menyeruak masuk ke rongga mulutku. Dan reflekku adalah segera menghisap dan mencucupnya. Nikmat sekali rasanya saat lidah itu menarinari di mulutku.

    Bau harum perempuan itu juga menyergap hidungku. Beginikah rasanya bau tubuh wanita macam ini? Bau alami tanpa parfum sebagaimana yang sering dipakai istriku. Bau seorang wanita muda yang selama 3 hari ini sanggup membuatku penasaran. Bau yang bisa langsung menggebrak libidoku, sehingga nafsu birahiku lepas dengan liarnya saat ini.

    Sambil melumat, jarijari lentik perempuan itu juga merambah tubuhku. Dengan lincah dia melepasi kancingkancing kemejaku. Kemudian kurasakan remasan jari halus pada tonjolan penisku. Uuiihh.. tak tertahankan rasanya. Aku menggelinjang. Menggeliatgeliat hingga pantatku naikturun di jok yang sedang aku duduki. Sekali lagi aku merasa edan. Aku digeluti seorang wanita muda cantik yang bahkan namanya saja aku tak tahu!

    Bibir manis perempuan itu terus melumatku, dan aku menyambutnya dengan penuh kerelaan total. Akulah yang sesungguhnya menantikan kesempatan macam ini dalam banyak khayalankhayalan erotikku. Tangan gemetar. Lututku gemetar. Kepalaku terasa panas. Darah yang naik ke kepalaku membuat wajahku seakan bengap. Dan semakin kesini, semakin aku tidak bisa mencabut persetujuan atas ajakan temani saya dulu ini.

    Kita turun yuk, pak. Kita masuk dulu. wanita itu menghentikan lumatannya dan mengajakku memasuki hotel.

    Mobil segera kuputar ke palataran parkir dan kutinggalkan disana. Setengah berlari, kubuntuti wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Begitu masuk, kudengar telpon berdering, rupanya dari front office hotel.

    Bapak mau minum apa, tanya wanita itu, telepon berada dalam genggamannya.

    Tidak usah, aku sudah tak sabar ingin merasakan tubuh sintalnya, tidak ada waktu untuk minumminum.

    Atau makan mungkin? dia kembali bertanya.

    Tidak usah repotrepot. aku kembali menolak. Ayo cepat, kita main, setelah itu aku segera pulang biar istriku tidak curiga.

    Tapi tampaknya keinginanku itu memang harus ditunda dulu. Sebentar ya, pak. Saya ke kamar mandi dulu. Sudah kebelet dari tadi. pamit wanita itu sambil buruburu masuk ke kamar kecil yang tersedia di dalam kamar.

    Mengangguk mengiyakan, aku segera mencopoti seluruh bajuku saat wanita itu sibuk di dalam. Tak menunggu lama, aku sudah telanjang bulat. Tubuh tuaku yang berlemak tampak menyedihkan, tapi tidak dengan burungku. Meski sudah lebih 50 tahun, tapi penisku itu masih bisa berdiri tegak. Begitu besar dan panjang. Dengan benda inilah aku dulu menaklukkan puluhan wanita sebelum akhirnya aku takluk pada istriku yang sekarang.

    Wanita itu terlihat malumalu saat melihatku sudah telentang telanjang di atas ranjang. Padahal tadi dia yang mengajak, dan dia juga yang paling agresif saat di mobil. Dia menatapku dengan ekor matanya, kemudian tersenyum. Sudah nggak sabar ya, pak? tanyanya.

    Untuk orang secantik, mbak. Siapapun pasti tak sabar. jawabku diplomatis sambil memamerkan penisku yang sudah tegang penuh. Dengan ujungnya, kupanggil dia untuk mendekat. Ayo, mbak, sini.

    Wanita itu mengangguk dan berjalan menghampiri. Aku bisa merasakan betapa sangat terangsang seluruh syarafsyaraf libidoku. Aku, lakilaki tua gendut yang sudah lama tidak main dengan perempuan lain selain istrku, hari ini dengan edannya berada di kamar hotel dengan seorang wanita muda cantik yang bertubuh padat sentosa, yang umurnya bahkan belum setengah dari umurku. Sungguh sangat beruntung sekali.

    Wanita itu menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, tepat di sisiku. Serta merta aku langsung menyambutnya dengan dekapan dan rengkuhan hangat. Kulingkarkan tanganku yang keriput di buah dadanya yang besar. Dia cuma tertawa saat aku meremas dan mengeluselusnya pelan dari luar baju. Aku sudah tidak ingat lagi akan keberadaan anak istriku di rumah, bayangan mereka seakan lenyap. Yang ada sekarang adalah aku benarbenar tenggelam dalam pesona dahsyatnya penyelewengan singkat, yang pasti akan dipenuhi kenikmatan dan gelinjangan dahsyat. Apalagi mengingat lawan mainku yang sangat cantik dan seksi.

    Pak, bantu saya melupakan sakit hati saya ya? bisik wanita itu mesra. Saya yakin, meski bapak sudah berumur, bapak bisa muasin saya. dia memegang penisku dan mulai mengocoknya pelan. Gede banget, pak. Nggak salah saya milih bapak. ujarnya.

    Telingaku merasakan seperti tersiram air sejuk pegunungan, berbungabunga mendengar pujian macam itu. Aku bagai dilempar ke masa 25 tahun yang lalu, saat aku masih muda dan gagah. Semua wanita yang kutiduri pasti akan bilang begitu.

    Sesuai permintaan, mbak, akan kupuaskan mbak malam ini. sahutku sambil membalik dan menindih tubuhnya.

    Langsung kulahap mulutnya yang tipis kemerahan dan kulumat dengan penuh nafsu hingga membuat dia gelagapan kesulitan bernafas. Kumasukkan tanganku ke blusnya. Saat kuremas payudaranya, wanita itu mendesah lirih sambil mencakari tubuhku, dia menekan bibirnya agar lebih kulumat lagi. Segera kusedot lidahnya. Sekaligus juga air liurnya. Semakin basah, aku jadi semakin bergairah. Mulutnya seperti kujadikan tempat minumku. Sungguh, aku sangat menikmati kegilaan ini. Setelah seperempat abad berlalu, akhirnya aku merasakannya kembali.

    Tanganku tidak kualihkan, sambil terus melumat bibirnya, aku juga tak henti meremasi kedua susunya yang kurasa sangat padat dan kencang. Seperti milik perawan saja layaknya. Atau kalaupun tidak perawan, minimal dia masih belum pernah punya anak. Aku bisa membedakannya.

    Tak puas cuma dengan tangan, segera aku singkap blus yang dipakainya ke atas. Juga BH merah kekecilan yang membungkusnya. Saat benda itu sudah terburai keluar, aku memandanginya sejenak, mengagumi betapa kencang payudara itu meski ukurannya begitu besar. Kulit permukaannya terlihat mulus dan licin, tampak bersinar di kamar yang tidak begitu terang ini, bagai dua bulatan semangka yang ditempeli puting merah keras.

    Melihatnya membuatku tak tahan. Aku segera menunduk dan mengganti usapan tanganku dengan bibir. Kujemput payudara bulat itu penuh nafsu. Kujilat dan kusedot putingnya habishabisan. Di permukaannya yang halus dan licin, kutinggalkan banyak cupang kemerahan. Sementara remasan tanganku yang masih menyertai, membuat benda yang aslinya berwarna putih itu, berubah menjadi kemerahan. Tapi bagiku, jadi tampak makin indah.

    Aaghhhhh.. Ssshhhhh.. Oughhhhh.. pemiliknya yang tidak mampu melawan cuma bisa menggelinjang sambil merintihrintih saat sarafsaraf erotisnya yang sensitif terus kurangsang. Auw, ampun, pak geli! Argghhhh desahnya penuh nikmat.

    Tanganku yang tidak bisa diam kini turun untuk meraih celana jeansnya. Kulepas kancingnya dengan cepat dan kubuka resluitingnya tidak sabar. Dengan jarijariku yang besar dan kasar, kudorong benda itu hingga merosot ke bawah, sampai ke mata kaki. Setelah mengusapusap sebentar pahanya yang putih mulus, merasakan betapa halus dan licinnya benda itu, aku kemudian merogoh celana dalamnya.

    Aiihh tak terperikan kenikmatan yang kurasakan saat bisa meraba kemaluannya yang licin tanpa rambut. Bisa kupastikan kalau benda itu masih begitu sempit. Membayangkannya saja sudah membuatku tak mampu menahan getaran jiwa dan ragaku, apalagi pas merasakannya nanti, bisabisa aku kejang duluan. Dengan jarijari kasarku, terus kuraba permukaannya yang makin lama terasa semakin basah. Sasaranku adalah kelentitnya, saat sudah kutemukan bulatan mungil kaku itu, langsung aku menjepit dan menyerangnya bertubitubi.

    Auuoogghhhsss.. wanita itu memekik panjang saat menerimanya. Tubuhnya langsung melengkung dengan cengkeraman jarinya di kemaluanku terasa semakin erat. Aku sampai kesakitan. Segera kubalas dengan menusukkan jarijariku ke lubang vaginanya dan mengocok cepat disana. Ayo, sekarang siapa yang nggak tahan!

    Menggelinjang keenakan, tubuh wanita itu terbanting keras ke ranjang, lepas dari pelukanku. Menggeliatgeliat seperti cacing kepanasan, dia merintihrintih merasakan ujungujung jariku yang terus bermain di lubang kemaluannya. Cairan birahinya yang keluar semakin banyak, kuusapkanusapkan ke permukaaanya, kuratakan sebagai pelumas untuk memudahkan kocokan jarijariku. Sementara bibir dan tanganku yang nganggur, kugunakan untuk kembali menyerang puting susunya dengan menghisap dan melumatnya rakus.

    Ooghhhhh.. ampun, pak.. geli banget! Aku nggak tahan.. ampun.. aahhhhh.. hentikan.. dia menghiba, tapi tidak kupedulikan. Terus kuserang dan kugumuli tubuh sintalnya. Aku sudah terlanjur bergairah, nanggung kalau harus berhenti sekarang.

    Blusnya yang sudah berantakan memudahkanku untuk merangsek ke ketiaknya. Kujilat dan kusedoti kulit mulus yang bersih tanpa bulu itu. Dia nampak sekali menikmatinya, terlihat dari rintihannya yang semakin keras dan bertubitubi. Sementara jarijariku terus menusuki lubang vaginanya, menggelitik dindingdindingnya yang penuh saraf birahi dengan tanpa henti. Membuat wanita berkulit putih itu serasa kelenger penuh kenikmatan. Dan tak terbendung lagi, cairan birahinya mengalir semakin deras.

    Yang semula satu jari, kini disusul lagi jari lainnya. Dua jari kini masuk, dan mengocok semakin cepat. Kenikmatan yang kuberikan pada wanita itu semakin bertambah. Dengan pengalamanku, aku tahu persis dimana titiktitik kelemahan seorang wanita. Jarijariku kuarahkan ke Gspotnya. Dan tak ayal lagi, dengan jilatan di ketiak dan kobokan jarijari di lubang vaginanya, aku bisa menggiring wanita cantik itu sampai titik dimana dia tidak mampu lagi membendung orgasmenya.

    Saat rasa itu datang, perempuan itu merangsek balik kepadaku. Dengan terkejangkejang, dia menjatuhkan tubuhnya yang sintal ke atas tubuhku. Segera kuraih kepalanya dan kuremasi rambutnya yang panjang. Dengan sayang kupeluk tubuhnya yang montok itu eraterat dan kuhunjamkan jariku dalamdalam ke lubang vaginanya, seperti ingin menyumbat celah sempit itu agar cairannya tidak sampai tumpah keluar membasahi sprei.

    Aarrgghhhhhhh menjerit keenakan, wanita itu menarik apa saja yang bisa ia raih. Bantalan ranjang teraduk, selimut tempat tidur terangkat lepas dan terlempar ke lantai. Sementara kakinya menghentakhentak menahan kedutan vaginanya saat memuntahkan sperma. Sperma seorang perempuan yang berupa cairan bening yang memancar keluar dari dalam kemaluannya. Pahanya yang putih mulus menjepit tanganku, sementara pantatnya yang bulat terangkatangkat menjemput kocokan tanganku yang mulai memelan. Dia tampak sedang menanggung kegatalan birahi yang amat sangat.

    Kuusap keringat yang mengucur deras di mata, pipi dan bibirnya, lalu kukecup dia sekali lagi, panjang dan mesra. Kusibakkan rambutnya yang tergerai basah untuk mengurangi gerahnya di kamar yang ber AC ini. Kuelus bulatan payudaranya, sambil kusisir rambutnya yang awutawutan dengan jarijariku. Sementara di bawah, kuperhatikan cairan cintanya merembes keluar dari celahcelah bibir vaginanya.

    Melenguh puas, wanita itu menyandarkan tubuhnya dengan mesra di dadaku. Hawa dingin AC dengan cepat meredakan orgasmenya, membuatnya kembali bisa bernafas normal dan berpikir jernih. Ahh, bapak hebat banget, bisa ngantar saya cuma dengan tangan. Sepertinya malam ini saya bakal puas sekali. bisiknya lirih.

    Kukecup bibirnya yang mungil sebagai jawaban. Dia menyambut ciumanku dan sekali lagi kami berpagutan mesra. Saya ambilkan minum dulu ya. kataku sambil beranjak dari tempat tidur.

    Dia sempat menggenggam sebentar batang penisku yang masih ngaceng berat sebelum menepikan tubuhnya, memberi jalan bagiku. Dengan tubuh telanjang, aku melangkah menuju kulkas kecil di sudut kamar. Air putih atau soft drink? tawarku.

    Air putih aja, dia menjawab dengan nafas masih sedikit ngosngosan. Payudaranya yang putih terlihat semakin mengkilap karena keringat yang menempel di permukaannya.

    Kuberikan air putih dingin di tanganku kepadanya. Dia meminumnya sedikit sebelum menyerahkannya kembali kepadaku. Kuhabiskan sisanya dan kutaruh gelas yang sudah kosong di meja. Lalu kembali aku naik ke tempat tidur. Wanita itu diam saja saat aku mulai menciumi dan menguseluselkan hidung ke tubuhnya. Kuciumi perut, pinggul dan payudaranya. Dia tidak merespon, hanya nafas panjangnya saja yang terdengar. Mungkin dia masih kelelahan akibat orgasmenya barusan, dan sekarang masih berusaha untuk mengumpulkan tenaganya kembali. Tidak apa, aku bisa mengerti.

    Aku terus menciumi payudaranya yang bulat sempurna itu, kuhisap dan kujilati keringat yang mengalir di permukaannya sampai benda itu menjadi bersih. Sementara putingnya yang merah mencuat, kugelitik dan kucucup berkalikali dengan lidahku. Wanita itu mulai sedikit mendesah, tapi masih terlihat pasrah. Bahkan saat tanganku mulai merabai paha dan selangkangannya, dia tetap tidak melawan.

    Mbak capek ya, bagaimana kalau kita berhenti dulu? tanyaku. Tidak enak juga menggumuli perempuan yang diam seperti ini. Kayak main sama gedebok pisang aja.

    Eh, nggak. Nggak, pak. Terusin aja. Saya sudah lewat kok capeknya. Ini juga sudah mulai terangsang. wanita itu tersenyum kepadaku.

    Beneran? kuelus rambutnya yang panjang sepinggang.

    Saya cuma mikir, tadi kok bisa nikmat banget ya, apa sensasi selingkuh memang seperti ini? Bapak belum ngapaapain, cuma pake tangan, tapi saya sudah kelabakan seperti ini. dia mengulurkan tangannya dan menggenggam penisku. Yang ini, pasti bakal lebih hebat dong. gumamnya sambil meremasremasnya pelan.

    Pastinya, aku tertawa menggoda.

    Dia ikut tertawa. Jadi tak sabar saya, pak. Ayo, pak, cepat setubuhi saya. wanita itu meminta.

    Aku mengangguk, Saya juga sudah tak sabar mbak pengen ngerasaain tubuh mbak yang montok ini. sambil kujawil puting susunya.

    Ahh, montok apanya, pak. Buktinya, pacar saya ninggalin saya. katanya, wajahnya tibatiba terlihat sendu. Mungkin teringat peristiwa yang baru dialaminya.

    Ah, maaf, mbak. aku buruburu minta maaf. Aku tidak ingin merusak suasana mesra ini. Jangan sampai garagara teringat sama pacarnya, dia jadi mengurungkan perselingkuhan ini. Aku sudah telanjur bergairah, bisa gila aku kalau diputus sekarang.

    Tidak apaapa, bukan salah bapak kok. Malah saya terima kasih banget karena bapak sudah mau nemani saya. Siapa tahu dengan kenikmatan yang bapak berikan, saya jadi bisa melupakan bajingan itu! dia mengepalkan tangannya eraterat, tampak geregetan. Tapi didalamnya masih ada penisku.

    Auw! tentu saja aku langsung menjerit keraskeras. Ppelanpelan, mbak. Sakit! rintihku.

    Wanita itu langsung melepaskan genggaman tangannya, Ah, mmaaf, pak. Saya nggak sengaja. dia memandangi dan membolakbalik batang penisku, memeriksanya kalaukalau ada yang terluka. Setelah tahu tidak apaapa, kami saling berpandangan dan tertawa berbarengan.

    Ayo, pak. Katanya mau ngentotin saya, wanita itu berkata genit.

    Eh, iiya, mbak. mengangguk senang, aku segera menelanjangi wanita cantik itu. Celana jeansnya yang sedari tadi masih separoh di kaki, kutarik hingga lepas. Juga blus serta kutang mungilnya, hingga kami samasama bugil. Aku lalu rebah diantara pahanya dan menelusupkan kepala ke celah selangkangannya. Dengan cepat lidah kasarku kembali menjilati lubang kemaluannya.

    Auw, pak Ampunn wanita itu langsung merintih dan menggelinjang. Pelanpelan nafsunya kembali terpancing. Lidahku yang terus menusuknusuk lubang vaginanya membuat dia merasakan kegatalan yang amat sangat.

    Ssudah, pak. Cepat setubuhi saya. Jangan siksa saya seperti ini! pintanya memelas. Tanpa dia sadari, tangannya telah menyambar kepalaku dan jarijarinya meremasi kembali rambutku yang sudah acakacakan sambil mengerang dan mendesahdesah menikmati rangsanganku yang terus mengalir. Dia juga menekannekan kepalaku agar tenggelam lebih dalam ke lubang selangkangannya. Pantatnya juga ikut naik menjemput lidah dan bibirku.

    Karena kasihan, dan juga karena tidak tahan, aku menghentikan hisapanku. Kuganti dengan memindahkan dan mengangkat kaki wanita itu untuk kutumpangkan ke bahuku. Perutku yang buncit hanya memungkinkan posisi seperti itu saat menikmati tubuh sintalnya. Itulah posisi yang paling mudah.

    Siap ya, mbak. Saya masukkan sekarang. kutuntun kontolku dan kuarahkan secara tepat ke lubang kemaluannya yang masih tampak sempit dan indah. Hanya karena jilatanku lah, benda itu jadi agak terbuka sedikit.

    Jarang dipake ya, mbak? aku mengomentari kemaluannya.

    Nggak juga sih. Tiap ketemu, kita pasti main. Memang itu yang dicari pacar saya dari hubungan kami. Dia cuma mau tubuhku. Ah, saya memang ******. Kenapa tidak menyadari itu dari dulu. dia melenguh, antara menyesali nasib dan gesekan ujung penisku pada bibir kemaluannya.

    Nggak semua lakilaki seperti itu, mbak. Saya yakin, mbak pasti bisa menemukan yang lebih baik dari dia. Mbak cantik dan menarik, kalau saja saya masih muda, mbak pasti akan kunikahi. Aku sungguh sangat menunggu detikdetik ini. Detikdetik dimana kontolku untuk pertama kalinya merambah dan menembusi memeknya.

    Terima kasih, pak. Ditemani seperti sekarang aja, saya sudah senang kok. sahutnya dengan tubuh kembali bergetar, saat aku mulai mendorong batang penisku.

    Ughhh, aku melenguh, tubuhku seakan terlempar keawangawang. Sendisendiku bergetar. Nikmat sekali rasa perempuan itu. Campuran antara panas, lengket, sempit, dan menggigit.

    Auw! wanita itu menjerit kecil saat kepala tumpul yang bulat gede milikku menyentuh dan menguak bibir vaginanya. Rasa kejut sarafsaraf di bibir kemaluannya langsung bereaksi. Sarafsaraf itu menegang dan membuat lubangnya menjadi menyempit. Seakan tidak mengijinkan kontolku untuk menembusnya lenih jauh. Itu membuatku jadi penasaran.

    Santai aja, mbak. Jangan tegang, bisikku di tengah deru hawa nafsuku yang menyalanyala.

    Ahhh hhabisnya, ****** bapak gede banget sih. Jauh sama punya pacar saya. Saya jadi takut. Sahutnya terus terang.

    Aku tersenyum. Kok takut, harusnya malah seneng dong? terus kugesekgesekkan penisku. Kalau dia memang belum siap, aku tidak akan memaksa.

    Istri bapak pasti puas banget ya? dia bertanya, dan menjerit kecil saat kugigit kembali puting susunya.

    Itulah kenapa dia tidak menolak kukasih anak 7 orang. aku menjawab bangga, dan tertawa.

    Hamili saya juga, pak. Keluarin sperma bapak di dalam. Nggak apaapa, kalau pacar saya tidak mau ngasih anak, biar saya dapat dari bapak saja. wanita itu meminta.

    Beneran, mbak? bisa kurasakan, setelah berkata begitu, dia menjadi lebih rileks. Kepala penisku yang tadi tertahan, tibatiba bisa meluncur masuk meski masih agak sulit.

    Iya, pak. dan dengan katakata itu, ia pun menyerahkan sepenuhnya tubuhnya kepadaku. Bibir vaginanya menyerah dan merekah, menyilahkan kontolku untuk menembusnya. Bahkan kini vaginanya lah yang aktif menyedot agar seluruh batang kontolku bisa dilahapnya. Tanpa perlu usaha yang berarti, helm tentara itu pun berhasil masuk menguak gerbangnya.

    Uugghhhh aku merasakan geli yang amat sangat saat batangku yang kaku dan keras memasuki lubang kemaluannya. Terasa sesak, penuh, hingga tak ada ruang dan celah yang tersisa, terasa begitu nikmat.

    Aku terus mendesaknya masuk hingga mentok di mulut rahimnya. Ughhh, pak. Terus terang, seumurumur belum pernah rahimku ngrasain disentuh ****** seperti sekarang. ****** pacar saya palingpaling menembus sampai tengahnya saja, masih banyak sisa ruang yang longgar. rintihnya mesum.

    Tanpa diberitahu pun, aku sudah tahu. Vagina wanita itu memang sangat sempit, seperti perawan saja layaknya. Benarbenar beruntung aku bisa mendapatkannya.

    Saat dia tarik maupun dorong pun, saya tidak merasakan sesak atau penuh seperti sesak dan penuhnya ****** bapak mengisi rongga vaginaku saat ini. katanya saat aku mulai melakukan pompaan.

    Nikmati aja, mbak. Akan kupuaskan mbak malam ini. dengan pelan dan berirama, aku terus menarik pelan pinggulku kemudian mendorongnya lagi. Begitu berulangulang dengan frekuensi yang makin sering dan semakin cepat.

    Ahhhh.. iya, pak. Enak banget! Terus dan wanita itu mengimbanginya dengan pintar. Secara reflek, pantatnya bergerak ke atas ke bawah, mengejar dorongan dan tusukanku. Sesekali dia juga bergerak memutar, sedikit ngebor apabila aku bergoyang pelan. Tak lupa juga ia menggoyangkan kegelnya untuk makin memanjakanku.

    Ughhh enak banget, mbak. aku mendengus. Untuk membalasnya, secara beruntun kukocok vaginanya dengan sangat cepat dan dalam. Ia langsung berteriak keenakan.

    Aahhhh.. pak, aarghhhh payudaranya bergoncanggoncang, rambutnya terburai, keringatku dan keringatnya mengalir berjatuhan di sprei. Goyangan itu juga membuat ranjang kokoh yang kami pakai sampai berderakderak tak karuan.

    Segera kuremasremas payudaranya sebagai pelampiasan rasa nikmat yang semakin dominan. Kami sudah hilang kontrol. Aku terus bergerak cepat, sementara wanita itu sudah tidak mengeluh sakit lagi. Seluruh gerak, suara, nafas, bunyi, desah dan rintih hanyalah nikmat saja isinya.

    Posisi nikmat ini berlangsung kurang dari lima menit. Kulihat tubuh montok wanita cantik itu sudah berkilatan oleh keringatnya, makin menambah keseksiannya. Dengan gemas terus kupermainkan puting susunya yang mencuat mungil. Kugigit, kujilat dan kupilinpilin penuh nafsu. Sodokan kontolku makin lama juga makin kencang.

    Pada akhirnya, setelah hampir sepuluh menit bercinta, bisa kuhantarkan wanita itu ke orgasmenya yang ke dua. Ohhhh bapak memang hebat. Hanya dari Bapak, saya bisa meraih orgasme seperti ini. Terima kasih, pak. Terima kasih! ucapnya disertai semprotan keras di vaginanya.

    Kuhentikan goyanganku. Kuberikan dia kesempatan untuk menikmati puncak kenikmatan itu. Saya juga puas, bisa bercinta dengan orang secantik mbak. aku berkata.

    Puas apa? Bapak kan masih belum keluar? terengahengah, wanita itu kelihatan makin cantik. Sekarang giliran saya untuk memuaskan bapak.

    Sehabis berkata begitu, kurasakan vagina wanita cantik itu berdenyut begitu keras, meremas dan mencekik penisku begitu rupa. Aku kelojotan. Denyutan satu disusul dengan denyutan lain yang lebih nikmat. Aku jadi tak tahan. Apalagi dalam tiap denyutan selalu diiringi empotan keras di ujung penisku. Tanpa perlu digoyang pun, aku menyerah. Spermaku muntah tak lama kemudian.

    Crott.. crott.. crott..

    Ah, banyak sekali, pak. wanita itu menggelinjang geli saat vaginanya kusembur dengan kawah panasku berkalikali.

    Uhh.. aku jadi lemes sekali. Lemas tapi puas.

    Sudah lama ya nggak dikeluarin? wanita itu bertanya.

    Aku mengangguk. Istri saya sudah manopause, mbak. Cuma cinta kasih yang menyatukan rumah tangga kami, nafsunya sudah lama hilang.

    Bapak seneng dong sekarang? dia membelai rambutku.

    Seneng banget. Sekalikalinya ngentot, sama orang secantik mbak. kucium bibirnya ringan. Di bawah sana, kurasakan penisku mulai mengkerut dan mengecil dan akhirnya lepas dengan sendirinya. Sementara vagina wanita itu masih terus bergetar dan berkedutkedut.

    Mau sampai kapan, mbak, begini terus? kutusuk lubang sempit itu dengan jari telunjukku, kucolek air mani dan air cintanya yang terbenam di dalam, lalu kuoleskan ke ujung putingnya.

    Sampai besok juga bisa. wanita itu menjawab santai dan meratakan cairan pemberianku ke seluruh permukaan payudaranya. Benda itu jadi kelihatan makin mengkilap karenanya.

    Tersenyum penuh kepuasan, kami berbaring telentang di ranjang hotel yang kini sudah acakacakan. Sesungguhnya aku ingin tinggal lebih lama lagi di tempat penuh birahi ini, siapa juga yang rela meninggalkan wanita secantik dan semolek dia yang rela tubuhnya kutiduri sepanjang malam, namun jarum jam di dinding yang menunjuk angka 2 menyuruhku untuk pulang. Istriku yang sedang menunggu di rumah pasti resah, aku pulang terlambat tanpa memberi kabar apapun.

    Bapak mau pulang ya? wanita itu bertanya, seperti mengetahui apa yang kupikirkan.

    Iya, istri saya pasti sudah menunggu. begitu jawabku. Setelah meremas payudaranya sebentar, aku bangkit dan mulai mengenakan kembali bajuku. Terima kasih, mbak, sudah mengajak saya melakukan ini. Jarangjarang saya nemuin orang seperti mbak. kataku.

    Samasama, pak. Saya juga terima kasih. Bapak rela pulang telat demi saya. jawabnya sambil ikut memunguti pakaiannya yang berserakan.

    Siapapun orangnya, pasti tidak akan menolak, mbak. Mbak begitu cantik dan seksi. kupandang wajah tirusnya yang pucat, dan kembali kulumat bibir tipisnya.

    Bapak puas nggak tadi? dia bertanya.

    Tapi ini kok masih melendung? wanita itu meraba gundukan di balik celanaku yang masih menggunung.Bukan main, mbak. Saya sungguh sangat puas, begitu jawabku. Suatu jawaban jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam.

    Iya, mbak. Kontolku memang masih ngaceng. Tapi bener, saya sangat puas kok. tapi tidak kutepi tangannya, kubiarkan dia terus meraba selangkanganku. Enak sih rasanya.

    Masih pengin ya, pak? tanyanya dengan tangan terus memijiti gundukanku, membuatnya semakin membesar dan mengeras tak terkendali. bapak masih mau lagi ya? dia menaruh kembali celana dalam yang ia kenakan dan menggiringku naik ke atas ranjang.

    Tapi, mbak aku ingin menolak, tapi remasan tangannya yang nikmat mustahil untuk kuabaikan begitu saja.

    Sebentar saja, pak. Sebagai salam perpisahan kita. sahutnya nakal sambil melempar senyum serta melirikkan matanya kepadaku, seperti menanti reaksiku. Sementara tangannya terus meremasi dan menguruturut batang penisku.

    Aku terdiam, bingung antara mau menolak atau pengen nambah lagi. Ehm, mbak

    Tapi kalimatku sudah dia potong. Aku buka lagi ya, pak. Aku pengin lihat lagi nih jagoan bapak. dan tanpa menunggu persetujuanku, wanita itu dengan sigap mengendorkan ikat pinggangku dan membuka kancing utamanya. Selanjutnya ia meraih resluitingnya dan memelorotkannya ke bawah, menampakkan nampak celana dalamku yang hitam kebiruan. Di balik celana dalam itu, membayang alur daging sebesar pisang tanduk yang mengarah ke kananmilikku.

    Oouu.. ini kali ya, pak, yang namanya stir kanan. Kalau stir kiri, mengarahnya ke kiri, hehehe wanita itu menatapnya kagum sambil membelainya dnegan sayang.

    Sudah kepalang tanggung, aku pun menyuruhnya untuk meneruskan. Buka, mbak. Kita lakukan sekali lagi.

    Nah, gitu dong, pak. Itu namanya bapak benarbenar muasin saya. dengan tidak sabar, wanita itu segera membetot kontolku dari sarangnya. Melalui pinggiran kanan celana dalamku, batang itu mencuat keluar. Gede, panjang, kepalanya yang bulat berkilatan penuh nafsu. Pada ujungnya ada secercah titik bening. Rupanya cairan precumku telah terbit akibat remasan tangannya tadi.

    Hisap, mbak. kuminta dia untuk mengulumnya karena kulihat dia begitu mengagumi benda itu.

    Tanpa menjawab, wanita itu segera merunduk dan mendekatkan wajahnya. Bibirnya yang tipis terasa hangat saat menempel di ujung kontolku. Dia menyentuh, menjilat dan merasakan lendir lembut dan bening milikku.

    Ughhh.. mbak, telan. Masukkan dalam mulutmu. aku meminta.

    Dia mengangguk, dan melakukannya. Wanita itu menghisap dan mengulum dengan begitu sempurna. Batangku ia sapu dengan lidah, ujungnya ia jilat pelanpelan, buah zakarnya ia remasremas sambil sesekali diciumi juga, sementara jembutnya yang lebat ia sibak agar tidak mengganggu.

    Mbak Uhhh, enak banget sih kueluselus kepalanya. Tahu gini, aku minta emut dari tadi. Mbak pinter banget. Uuhhhh kugerakkan kepalanya maju mundur, kupompa dengan lembut agar dia makin lancar mengulumnya.

    Saat aku sudah tak tahan, segera kurebahkan tubuh montoknya dan kutindih kembali. Tanpa membuang waktu, kami pun mendayung untuk mengarungi ronde yang ke dua yang sempat tertunda.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Kamu Mau Dibantuin Gak?

    Cerita Sex Kamu Mau Dibantuin Gak?


    1117 views

    Perawanku – Cerita Sex Kamu Mau Dibantuin Gak?, Aku adalah seorang pegawai di sebuah bank swasta nasional dengan posisi yang lumayan tinggi untuk pria seumuranku. Dengan posisi itu aku mendapat tekanan dalam pekerjaan membuatku terkadang stres.. namun untuk melampiaskan itu semua aku selalu pergi keluar kota menenangkan pikiran bersama dengan istriku.Umurku sendiri baru 30 th, tapi aku sudah menduduki posisi sebagai manager marketing, namaku Arbi.

    Namun entah mengapa.. beberapa minggu ini istriku kelihatan mudah sekali marah.. sehingga ketika aku menginginkan pelepasan beban melalui seks seringkali malah gagal.

    Hal ini membuat konsentrasiku dalam pekerjaan sedikit terganggu.

    Memang.. bagi kita para lelaki.. pelepasan seks selalu jalan pertama yang kita tempuh dalam mengurangi beban pikiran.. bila tak tersalurkan maka akan mengganggu semangat dan pikiran kita.

    Dan hal itulah yang aku alami beberapa minggu belakangan.

    Apalagi bulan-bulan ini adalah bulan menjelang hari raya lebaran yang mana di mana semua bisnis.. baik itu besar maupun kecil meraup keuntungan sebesar-besarnya.

    Cerita Panas Terbaru | Sedangkan di tempatku berada keadaannya terbalik.. sehingga tekanan yang aku terima semakin berat dan membuatku terkadang harus melepaskan semua beban itu dengan melakukan onani di kamar mandi.. karena istriku sendiri kelihatannya sedang bermasalah di tempat kerjanya.

    Namun semua itu berakhir ketika hari itu.. hari Kamis.
    Di mana aku pulang ke rumah seperti biasa menjelang pukul 7 malam.

    Aku sampai di rumah.. setelah memarkirkan mobilku.. aku berjalan masuk dan bertemu dengan istriku yang juga baru pulang dari kerja.
    Kami berciuman di pipi sebentar lalu aku masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
    Lalu akupun mandi untuk menyegarkan diri dari segala kepenatan yang melingkupiku.

    Selesai aku mandi.. di luar terdengar suara orang tertawa.. dan setelah aku keluar kulihat teman wanita adik istriku datang berkunjung.
    Gadis itu bernama Fenny.. tinggal hanya beberapa rumah dari rumahku.

    “Malam mas..?” sapa Fenny padaku.
    “Malam Fenny, pa kabar..?” aku balik bertanya.

    “Baiiiik banget mas. Emang gimana mas keadaan kantor..? Kok kayaknya tegang banget gitu ya..?”
    Tanya Fenny padaku.. karena melihatku kusut.. meskipun telah selesai membersihkan diri.

    “Gitu dech, namanya kantor pasti teganglah..” Jawabku singkat.
    Tak sengaja, aku mengamati Fenny yang masih menggunakan pakaian kerjanya.
    Ia tampak begitu cantik.. apalagi Fenny merupakan sekretaris direksi di salahsatu perusahan IT terkenal di Ibu kota.

    Namun semua itu aku kesampingkan. Aku mendekati istriku yang kala itu sedang ganti pakaian setelah selesai mandi.
    Kupeluk dia dari belakang.. dan mulai menciumi lehernya yang merupakan salahsatu titik lemahnya.. namun bukan gairah yang kudapatkan.. malah dampratan yang membuatku marah.

    Ia mendorongku dan mengatakan bahwa ia sedang tidak mood untuk melayaniku..
    Gondok juga aku. Maka akupun pergi dan duduk di halaman rumah sambil merokok untuk menghilangkan emosi yang membara di dalam hati.

     

    Aku duduk menyendiri sambil menikmati bir yang aku bawa dari dalam sambil merokok.
    Menatap ke langit yang gelap.. mencoba membayangkan bagaimanakah kehidupanku di masa yang akan datang.

    Aku yang pada dasarnya adalah lelaki yang setia.. tak sanggup berpikir bila harus berpisah dengan istriku dan hidup menyendiri. Sungguh sebuah bayangan yang selalu kutepis.

    Namun bayangan akan hal itu semakin mendekati kenyataan.. semua itu didukung dengan kondisi istriku yang sedang naik daun dan pendapatan yang lebih besar daripadaku.. atau mungkin ia telah mendapatkan teman pria yang lain.
    Pikiran-pikiran itulah yang selalu menghantuiku selama ini.

    Karena terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.. hingga tak menyadari kehadiran Fenny yang duduk di depanku.
    Aku terkejut ketika Fenny memanggilku dengan cukup keras.
    “Mas..!”
    “Eh, ya.. sori ga denger..!?” kataku terkejut.

    “Ih.. Mas Arbi, melamun terus tuh..?” kata Fenny lagi.
    “Iya, sory ya. Emang ada apa Fen..?” tanyaku lagi padanya.

    “Ga papa mas.. keliatannya Mas Arbi pusing banget.. kusut gitu..?”
    “Biasalah banyak masalah..!?” jawabku lempeng.

    “Emang Fenny bisa bantu apaan..?” kata Fenny antusias.
    Aku sempat terkejut mendengar pernyataan Fenny.. namun aku segera menjawabnya..
    “Ga usah, kok ga langsung pulang kenapa Fen..?” tanyaku balik.

    “Hehehehe.. di rumah ga ada orang.. Fenny takut sendirian.. pulangnya entar nunggu mama..” kata Fenny malu-malu.

    Lucu juga mendengar alasan Fenny. Setelah itu aku mengambil minumanku dan meminumnya.. tapi ketika aku menoleh.. ternampaklah rok span Fenny tersingkap.. memperlihatkan kehalusan batang pahanya yang putih.. membuatku langsung terangsang.

    Aku lantas kembali bersandar.. menyalakan kembali rokokku.. pura-puranya mencoba menghilangkan semua gairah yang muncul tiba-tiba.

    Dua-tiga isapan rokok kunikmati.. terdengar istriku dan adiknya keluar dari dalam rumah berpamitan padaku untuk keluar sebentar ke mall.. belanja kebutuhan bulanan.
    Aku mengangguk.. sementara adik iparku berbicara pada Fenny.. memintanya menunggu kalo mau.. kalo tidak, ikut aja.
    Sepertinya Fenny lebih memilih untuk tidak ikut. Ia menjawab nunggu aja.
    Selesai itu istriku dan adiknya pergi meninggalkan rumah.

    Aku berkata pada Fenny.. kalo membutuhkanku aku berada di dalam.
    Lalu aku pergi meninggalkan Fenny yang masih duduk di luar sambil bermain dengan HPnya.

    Aku masuk ke dalam, memang.. tapi aku bersembunyi di ruang tamu dekat gorden.. untuk mengintip lebih dekat Fenny yang memang membelakangi gorden.. sehingga akan tampak lebih jelas.

    Apalagi ketika Fenny melepas blasernya.. blouse kerjanya yang memiliki renda pada daerah kancing dengan warna yang tidak terlalu terang.. tapi justru jadinya memperlihatkan keindahan tubuh mungil Fenny.

    Aku tak tahan lagi.. maka akupun segera pergi meninggalkan ruang tamu dan menuju kamarku.
    Penisku sudah begitu tegangnya dan butuh pelepasan..
    Namun, tak lama kemudian terdengar suara panggian Fenny padaku..

    “Mas.. Mas Arbi.. mas..?”
    “Apa Fenny..?” tanyaku sambil membuka pintu kamarku.

    “Mas, Fenny numpang minum ya..?”
    “Ya..?” jawabku singkat.
    Menatap nanar tubuh Fenny yang indah, apalagi saat itu ia tak memakai lagi blasernya, dengan blouse yang tipis.. sehingga menampakkan tubuh indah.

    Bra warna biru yang tercetak jelas membuatku semakin tak dapat menahan gairahku sendiri.. Ya.. mungkin tadi tak begitu terlihat karena tertutup blasernya.. namun sekarang semua itu begitu indah dan terlalu menggoda.

    Selesai minum Fenny kembali menuju ke ruang makan.. di mana aku sudah menantinya.
    Kami bertemu.. Fenny tersenyum manis padaku.

    Aku berdiri di hadapannya.. Fenny lantas berjalan kembali di sampingku.
    Deg.. deg.. Ada kebimbangan di dalam hatiku mengenai semua ini.. antara gairah dan akal sehat.

    Namun ternyata gairahkulah pemenangnya..
    Maka dengan cepat tangan Fenny kucekal.. dan responnya terlihat terkejut.
    Aku berbalik dan segera menarik Fenny ke dalam dekapanku.
    Fenny tak melawan.. hanya menatap penuh rasa keterkejutan.

    Aku peluk Fenny dan mencium bibirnya lembut namun penuh gairah.
    Fenny tak melawan.. hanya pasrah.. hingga pada akhirnya ia ikut terbawa oleh gairahnya sendiri dan membalas lumatanku.

    Tanganku tak berhenti begitu saja.. kuraba punggungnya.. turun ke bawah lalu meremas kuat bongkahan pantat yang bulat dan penuh milik Fenny.. semakin membuatku kian terangsang.

    Tak ayal.. penisku yang telah sangat tegang menempel keras pada perut Fenny.. denyutan kencang penisku terasa begitu kuat di perut Fenny.. mungkin itu pula yang membuat Fenny jadi ikutan bergairah.

    Tanganku bergerak semakin liar… menuju ke bagian depan tubuh Fenny.
    Membuka kancing blousenya satu per satu hingga terbuka semua.. srett.. menyusup masuk ke dalamnya.. meremas lembut payudara Fenny yang berukuran kira-kira 34 cup B itu.

    Setiap remasan yang aku lakukan Fenny mengerang di sela ciumanku.. dan itu membuatku semakin bergairah.
    Tanpa kusadari tangan Fenny ternyata bergerak menuju selangkanganku.. membuka celanaku.. untuk selanjutnya meremas lembut penisku yang sudah sangat tegang.

    Beberapa saat kemudian, aku teringat.. bahwa yang kulakukan sekarang ini menyalahi aturan..
    Degh.. Seketika itu juga aku melepaskan ciumanku.. juga remasanku pada bungkah payudara sekal Fenny.

    Aku melangkah mundur sambil menatap penuh rasa bersalah pada Fenny yang kini telah ikut terangsang oleh karenaku.
    Kulihatwajahnya memerah.. diiringi nafasnya yang memburu menandakan gairah yang memuncak.

    “Maaf.. maafin.. aku Fen.. maaf..” kataku gugup.
    “Maafin Mas Arbi, Fen.. maaf..” kataku semakin kacau.

    Namun tiba-tiba Fenny melangkah mendekatiku.. lantas menyentuh bibirku dengan jarinya dan berkata dengan lembut..
    “Ga papa kok mas. Fenny tau kok..” kata Fenny mencoba menenangkanku.
    “Emang Mas Arbi lagi pengen banget ya..?” tanya Fenny kembali.

    “*****papa. Maafin mas ya Fen..!?” kataku lagi.

    “Mau ga Fenny bantuin..?” kata Fenny pelan sambil menatapku tajam.

    Aku terkejut sekali dengan jawabannya yang seperti itu..
    Kutatap matanya.. mencari penegasan pada binarnya.. tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan.. apa yang baru saja kudengar..

    Fenny mendekatiku, lalu ia menarikku mendekat dan sambil berbisik di telingaku.. ia menciumku kemudian.
    Dengan lembut dan penuh perasaan.. hingga akhirnya akupun membalas ciumannya.

    “Di sofa aja yuk Mas..” Ajak Fenny seraya bergerak dan menarikku.

    Fenny langsung duduk di sofa dan membuka kakinya.. aku tak mau langsung melakukannya.. kucium bibirnya.. lalu turun ke leher dan berhenti di kedua bukitnya..

    Dengan gemas kuciumi bukit di dadanya.. kombinasi jilatan dan kuluman membuat dia mendesah.
    Tangan Fenny membimbing tanganku ke arah dadanya.. dan lantas menempatkannya pada bungkahan payudaranya.. seiring itu ia juga membantu tanganku supaya meremas payudaranya sendiri.

    Aku lakukan pertama dengan lembut.. lalu semakin kuat dan penuh nafsu. Kemudian.. aku memeluk tubuh Fenny dengan erat.
    Ciumankupun turun pada leher jenjang Fenny. Desahan lembut keluar dari bibirnya, sementara tanganku membuka kait penahan bra Fenny.. lalu menyingkapkannya.. hingga tanganku dapat bersentuhan langsung dengan lembutnya payudara Fenny.

    Desahan Fenny berubah menjadi erangan penuh gairah.
    “Aaahh.. aahh.. mas.. oohh..” erang Fenny.
    Tanpa melepas blouse kerjanya, aku menikmati kelembutan dan keindahan tubuh Fenny.

    Waktu berlalu.. dan ciumankupun telah berubah pada payudaranya.. erangan dan gelinjang tubuh Fenny semakin keras dan kuat.
    Ciuman dan jilatanku pada payudara Fenny membuatku mengerang semakin keras..

    Apalagi ketika jariku menggosok vagina Fenny yang telah basah dan hanya ditutupi oleh celana dalam model thong miliknya yang telah basah kuyup oleh cairan pelumas kenikmatannya.

    “Aaah.. aahh.. mass.. aahh.. aahh..” erang Fenny.
    Sengaja kutinggalkan beberapa bekas kemerahan di buah dadanya..
    Supaya dia berhenti melakukan dengan pacarnya untuk beberapa hari. Pikirku nakal. Hehe..

    Dia cemberut ketika tahu ada bekas kemerahan di dadanya.. tetapi justru kecemberutannya makin menambah kecantikan wajahnya.
    Tapi itu ga lama.. setelah beberapa saat Fenny kembali mengerang panjang.. langsung kulumat bibirnya.. mencoba mengurangi keluarnya suara erangan kuat Fenny.

    Tubuh Fenny menggelinjang hebat sambil memelukku erat-erat. Tubuh kami berhimpitan ketat.

    Bibirku menyusuri perutnya lalu berhenti di selangkangannya.. terasa asin ketika lidahku menyentuh vaginanya.. cairan cintanya.
    Tangannya meremas rambutku ketika lidahku menari-nari di bibir vaginanya.. kakinya menjepit kepalaku.. aku makin bergairah mempermainkan vaginanya dengan bibirku.

    Selang beberapa saat.. Fenny yang telah ‘panas’ menarikku untuk berganti posisi.. ia merebahkanku di sofa.. lantas bergerak pelan mengangkang di atas tubuhku.
    Berbalik.. kini ia yang duduk di atas pangkuanku dengan kaki terbuka lebar dan rok span yang tersingkap sampai pinggulnya.

    Setelah beberapa saat kemudian.. Fenny telah tenang.
    Ia lepaskan pelukannya padaku.. ia tersenyum manis dan berkata di sela deru nafasnya..

    “Hah.. enak.. banget.. mas.. hah.. hah.. enakk.. banget.. kini giliran hah.. hah.. Fenny..”

    Ia berdiri dan kemudian menarik turun celana dalamku.. dan.. Tuink..!
    Betapa terkejutnya dia ketika melihat penisku yang sudah sangat tegang berdiri dengan kokohnya, penisku yang berukuran sekitar 15 cm tak begitu panjang.. namun diameternya yang gemuk membuatnya terlihat besar.

    Fenny memegangnya penuh rasa hati-hati dan nafsu.. setelah terpegang, Fenny mengocoknya perlahan.. membuatku yang sudah sangat terangsang menjadi lebih mudah mencapai puncak gairahku.

    Aku lantas mengangkat pantatku.. menyodorkan penisku ke mulutnya.. dia menggenggam dan mengocoknya.. memandang ke arahku sejenak sebelum menjilati dan memasukkan penisku ke mulutnya.

    Tanpa kesulitan.. segera penisku meluncur keluar-masuk mulut mungil teman wanita adik istriku yang cantik, kembali kurasakan begitu pintar dia memainkan lidahnya.

    Antara jilatan.. kuluman dan kocokan membuatku mulai melayang tinggi.
    Eranganku mengeras seiring dengan kocokan Fenny pada penisku.

    Beberapa saat berselang Fenny mengangkat tubuhnya.. lantas sambil menyingkapkan celana dalam model thong miliknya.. kubantu geraknya dengan menuntunkan penisku tepat berdiri tegak di bawah bibir vaginanya.

    Dengan bertumpu sebelah tangah di pundakku Fenny menurunkan tubuhnya perlahan..
    Slebbhh.. “Nghhh..hhh..” Erangnya nikmat.. ketika kepala.. lalu batang penisku membelah lepitan vagina sempit nan membasahnya.

    “Erghhh..hhh..” Geramku tak kalah penuh nikmat.. saat merasakan sekujur kulit batang penisku dibekap kehangatan.. kerapatan belahan nikmat otot dinding-dinding liang vaginanya.

    Peniskupun membelah bibir vagina Fenny.. terbenam padat di selorong liang hangat membasah nan menjepit penuh nikmat.
    Rasa hangat dan basah serta denyutan kuat menyapa penisku..
    Oughh.. Sungguh kenikmatan yang sudah lama aku cari dan damba.

    Dengan satu gerakan penisku melesak terbenam dalam liang vagina Fenny.. Pijatan dan denyutan dinding vagina Fenny kurasa sangat nikmat..

    “Aaahh.. mas.. aahh.. enakk.. bangett.. aahhh..” Rintihnya nikmat mengiringi gerusan batang penisku di liang vaginanya..

    “Erghh.. Mas juga Fennhh..” Eranganku tak kalah nikmatnya.. menerima segala rasa nikmat yang membekap di sekujur kulit batang penisku di lepitan hangat membasah vaginanya itu.

    Setelah beberapa saat berdiam diri beradaptasi.. Fenny lalu bergoyang dengan lembut maju-mundur.. memutar dan naik-turun..

    Sementara itu penisku bagaikan dipelintir.. dipijat.. diremas-remas lembut oleh dinding vagina Fenny.. membuat hanya tak sampai 2 menit aku harus mengerang panjang.
    “Aaahh.. aahh.. Fenny.. Fenny.. aahh.. aku.. mauu.. k-keluarr.. aahh.. aahh..” erangku.
    “Aaahh.. aahh.. keluarrinn.. keluariinn.. mas.. aahh.. aahh.. enakkk.. bangett..”

    Fennypun semakin memainkan tekniknya hingga memaksaku mengerang panjang.. sambil memeluk tubuh Fenny penisku berkedut kuat.. memuntah sperma berkali-kali dalam liang vagina Fenny.

    Di atas selangkanganku Fenny semakin liar mengggoyang.. mengaduk-aduk batang penisku di liang nikmat vaginanya.
    Sementara pijatan dan remasan dinding vagina Fenny semakin liar pula memberikan rasa nikmat yang tiada tara.

    Rasa nikmat yang tiada tara itu kembali menguasaiku saat.. setelah selesai mencapai puncaknya Fenny tak berhenti.. malah semakin liar bergoyang menggerus batang penisku yang terbenam di liang vaginanya.

    Tiba-tiba Fenny memelukku erat disertai dengan gelinjang dan kejangan liar tubuhnya.. bibirnya dengan nafas terengah mencari-cari bibirku.. kusergap.. hingga kamipun berciuman panas.

    Sementara di bawah.. Fenny semakin kuat menekankan pinggulnya mendesak-desakkan vaginanya pada batang penisku yang dibekap megap-megap digerus keliatan liang vagina.. hingga penisku terbenam seluruhnya.. setandasnya..
    Arrgghh.. Betapa rasa nikmat itu memang amat sangat memabukkan..

    Kami berpelukan beberapa saat sampai semua itu mereda.. dan Fenny yang pertama melepaskan pelukannya dan sambil memegang wajahku, ia berkata.. “Mas.. hah.. hah.. enak banget. Makasih mas, enak banget rasanya.. hah.. hah..”

    “Iya, aku juga enak. Makasih Fenny, enak banget. Mas puas banget..”

    “Hihihihi.. Mas Arbi nakal juga ya..”
    Kata Fenny yang berdiri, lalu membetulkan kembali celana dalamnya.. dan kemudian ia bersimpuh di hadapanku.

    Ia pegang penisku yang masih tegang itu dan mengelusnya.. lalu menjilatinya dari buah pelirku sampai dengan kepala penisku.

    “Ahh.. enak Fenny, enak.. ahh.. Maaf ya tadi aku keluar duluan..?” erangku kembali diserang nikmat.

    “*****papa mas, kalo mas keluar lagi juga ga papa kok.. ”Kata Fenny yang kemudian mengulum penisku.

    Ia menjepitnya dengan bibir tipisnya dan menaik-turunkan kepalanya.. sementara itu lidahnya menjilati kepala penisku.. Fenny juga melakukan isapan lembut pada penisku.
    Perpaduan dari semua itu sangat memberikan kenikmatan padaku.

    Fenny melepaskan kulumannya.. lantas kembali mengocok penisku dengan lembut.. mengulumnya kembali.. membuatku mengerang-erang keenakan.

    Fenny melakukan itu berulangkali.. sampai penisku kembali menegang dan mengeras..

    Puas dengan permainan oralnya kutuntun untuk kemudian merebahkannya ke sofa..
    Aku lalu setengah berjongkok di depannya.. tangannya meraih batang penisku yang telah mengacung lagi.. lalu menyapukan ujung penisku ke belahan vaginanya..

    Dia menatapku dengan pandangan penuh gairah.. aku jadi agak malu memandangnya.. namun nafsu ternyata masih lebih berkuasa..

    Fenny sedikit beringsut mengangkat pinggulnya.. lantas sambil menyingkapkan celana dalam model thong miliknya ia tuntun penisku yang telah kembali menegang itu tepat di bawah lepitan bibir vaginanya.. lagi..!

    Slebbhh.. Dengan sekali dorong melesaklah lagi penisku kembali ke vaginanya..
    Dan ahh.. ia masih tetap menatapku ketika aku mulai mengocoknya.
    Clebb.. clebb.. crebb.. clebb.. crekk..crekk.. clebb..

    Kakinya lantas bergerak menjepit pinggangku.. kutarik dia dalam pelukanku.. kudekap erat hingga kami menyatu dalam suatu ikatan kenikmatan birahi.. saling cium.. saling lumat.

    Fenny mendesah liar seperti sebelumnya.. kurebahkan tubuhnya lebih dalam ke sofa.. lalu kutindih.. satu kaki menggantung dan kaki satunya di pundakku.

    Aku tak pernah bosan menikmati ekspresi wajah innocent teman adik iparku yang memerah penuh birahi.. makin menggemaskan.
    Buah dadanya bergoyang keras ketika aku mengocoknya vaginanya.. dia memegangi dan meremasinya sendiri.

    Beberapa saat kemudian kuputar tubuhnya untuk posisi doggie.. dia tersenyum..
    Tanpa membuang waktu.. kulesakkan lagi penisku.. kali ini dari belakang..

    Slebbh.. Jleghh.. “Oughh.. Mass..!”
    Dia menjerit dan mendorong tubuhku menjauh.. kuhentikan gerakanku sejenak lalu mengocoknya perlahan.. tak ada penolakan.

    Kupegang pantatnya yang padat berisi… Fenny melawan gerakan kocokanku..
    Kami saling mengocok.. dia begitu mahir mempermainkan lawan bercintanya.

    Aku bisa melihat penisku keluar-masuk vagina teman wanita adik istriku ini..
    Kupermainkan jari tanganku di lubang anusnya.. dia menggeliat kegelian sambil menoleh ke arahku.
    Kuraih buah dadanya yang menggantung bergoyang indah dari sela blousenya yang terburai.. kuremas dengan gemas dan kupermainkan putingnya.

    Aku benar-benar menikmati tubuh indah teman wanita adik iparku ini dengan berbagai caraku sendiri..
    Ada rasa nikmat tersendiri di hatiku.. yang sangat berbeda sekali.

    Kuraih tangannya dan kutarik ke belakang dengan tangannya tertahan tanganku.. tubuh Fenny menggantung.. aku jadi lebih bebas melesakkan penisku sedalam mungkin di liang nikmat vaginanya.

    Desah kenikmatan Fenny makin keras memenuhi ruang.
    Kudekap tubuhnya dari belakang.. kuremas kembali buah dadanya..

    Batang penisku masih menancap di vaginanya.. kuciumi telinga dan tengkuknya.. Geliat nikmat Fenny makin liar.
    “Aduh Masshh.. enak banget masshh.. Fenny sukaa, trus Mashh..”

    Kulepaskan tubuh Fenny.. kembali kami bercinta dengan doggie style..
    Entah.. mungkin lebih setengah jam kami bercinta.. belum ada tanda-tanda orgasme di antara kami.

    Kami berganti posisi.. Fenny kembali sudah di pangkuanku.. tubuhnya turun-naik mengocokku.. buah dadanya berayun-ayun di mukaku.. segera kukulum dan kusedot dengan penuh gairah hingga kepalaku terbenam di antara kedua bukitnya.

    Gerakan Fenny berubah menjadi goyangan pinggul.. berputar menari hula hop di pangkuanku..
    Berulangkali dia menciumiku dengan gemas..
    Oughh.. sungguh tak pernah terbayangkan kalau akhirnya aku bisa saling mengulum dengannya.

    Tak lama kemudian.. tiba-tiba Fenny menghentikan gerakannya.. dia juga memintaku untuk diam.
    “Sebentar Mas, Fenny ngga mau keluar sekarang.. masih banyak yang Fenny harap dari mas Arbi..” katanya sambil lebih membenamkan kepalaku di antara kedua bukitnya.. aku hampir tak bisa napas.

    “Kamu turun dulu deh, Fen..” pintaku.
    “Tapi Mas.. Fenny kan belum ..” protesnya.
    “Nghh.. Udahlah.. percaya Mas Arbi deh..” potongku.

    Perlahan kutuntun dan kuputar tubuhnya menghadap dinding.. kubungkukkan sedikit.. lalu kusapukan penisku ke belahan vaginanya dari belakang..

    Fenny mengerti maksudku.. kakinya dibuka lebih lebar.. mempermudah aku melesakkan penisku.
    Tubuhnya makin condong ke depan.. Slebbh.. jlebhh..
    “Oughh.. Masshh..” desah kenikmatan kembali mengiringi masuknya penisku mengisi vaginanya.

    “Sss.. aduuh Mass, enak bangethh Masshh.. belum pernah aku.. aauuh..”
    Desahnya lagi.. sambil membalas gerakanku dengan goyangan pinggulnya yang montok.

    Kami saling bergoyang pinggul.. saling memberi kenikmatan sementara tanganku menggerayangi dan meremas buah dadanya.
    Nikmat sekali goyangan Fenny.. lebih nikmat dari sebelumnya..

    Berulangkali dia menoleh memandangku dengan sorot mata penuh kepuasan.. mungkin dia belum pernah melakukan dengan posisi seperti ini.
    Tubuhnya makin lama makin membungkuk hingga tangannya sudah tertumpu meja sebelah dinding.

    Kudorong sekalian hingga dia telungkup di atasnya.. aku tetap masih mengocoknya dari belakang..
    Dia lantas menaikkan satu kakinya di pinggiran meja.. penisku melesak makin dalam.. kocokanku makin keras.. sekeras desah kenikmatannya.

    Kubalikkan tubuhnya.. dia jadi menelentang di atas meja.. kunaikkan satu kakinya di pundakku..
    Lantas kukocok dengan cepat dan sedalam mungkin.

    “Sss.. eegghh.. udaahh Mashh.. Fenny nggaak kuaat, mau keluar niih..” desahnya
    “Sama.. Mas juga..hhhh..”

    “Kita sama-sama, keluarin di dalam saja, aman kok, Fenny pake pil, jangan ku..aa.. sshhiit ..”

    Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya ternyata sudah orgasme duluan..

    Sontak aku makin cepat mengocoknya..
    Tak kuhiraukan teriakan orgasme Fenny.. makin keras teriakannya makin membuatku bernafsu.

    Semenit kemudian aku menyusulnya ke puncak kenikmatan..
    “Erghhh.. orghh..” Crett.. crett.. crett..
    “Auughh.. masshh..!”
    Kembali dia teriak keras ketika penisku berdenyut menyemprotkan sperma di vaginanya.
    Untuk keduakalinya aku membasahi vagina dan rahim teman wanita adik istriku dengan spermaku..

    Dia menahanku ketika kucoba menarik keluar. “Tunggu, biarkan keluar sendiri..” cegahnya..
    Maka kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya.. kucium kening dan pipinya sebelum akhirnya kucium bibirnya.

    “Makasih Mas.. permainan yang indah.. the best deh pokoknya..” bisiknya menatapku tajam.
    Kuhindari tatapannya.. tak sanggup aku melawan tatapan tajam teman wanita adik iparku itu.

    “Sekarang gantian Mas.. aku pengin membantu Mas Arbi sekali lagi..”
    Fenny berkata sambil mendorong tubuhku.. lalu turun mengambil posisi agak berjongkok di pinggir meja.

    Aku sangat mengerti apa yang akan dilakukan oleh Fenny. Akupun segera berdiri di hadapannya.
    Kedua tangan mungil Fenny merengkuh pantatku dan menariknya mendekat ke wajahnya yang jelita itu.

    Tanpa basa-basi dia segera menciumi batang kejantananku dengan bibirnya yang tipis itu.
    Perlahan.. lidahnya yang lembut mulai menjilati seluruh permukaan kemaluanku.
    Kadang diselingi pula dengan kecupan dan hisapan lembut di kantong bijiku.
    Aku mulai terbuai oleh permainannya.

    Fenny sudah mulai mengulum kepala penisku dengan sangat lembut.
    Kemudian dengan sangat mesra dia mulai memasukkan seluruh tongkat pusakaku ke dalam mulutnya yang mungil.

    Sementara di dalam kuluman hangat mulutnya.. lidahnya menggelitik leher penisku.
    Bagian yang paling sensitif dari tubuhku. Aku mulai menggelinjang penuh kenikmatan.

    Aku belai lembut kepala Fenny.. dia bereaksi dengan menyedot ringan kepala penisku.
    Lidah dan bibir Fenny masih terus menggerayangi kemaluanku.

    Cerita Panas Terbaru | Nafasku semakin memburu sambil mataku lekat memandang adegan panas gadis yang tengah berjongkok dengan pakaian semrawut di depanku.
    Sepertinya Fenny juga menikmati apa yang dia lakukan.. lirikannya juga tak lepas dari mataku.

    “Ahhh.. ahhhh.. Fenn.. nikmat.. ah.. Fenn.. kamu pinter Fenhh.. ahhh terus.. iya.. iya..”
    Tanpa bisa aku kontrol mulutku mulai menyuarakan apa yang aku rasakan.
    Fenny membalas desahanku dengan gelitikan lidahnya di batang penisku.Ini membuat aku semakin terbang ke awang-awang.

    “Ahhhhh.. ahhh.. enak Fenny.. mulutmu enak sekali.. terus.. ahhhhh.. aku nggak tahan.. ahhh..”

    Fenny bisa membaca gelagat bahwa puncak gunung kenikmatan sudah di depan mataku.
    Dia lantas agak mengubah gayanya.. bibirnya mengecup kepala penisku.

    Tangan kanannya yang sedari tadi mengelus pantatku mulai mengocok batang penisku.
    Mula-mula lambat.. semakin lama kocokannya semakin cepat.

    Tubuhku tak bisa kutahan untuk tidak gemetar penuh kenikmatan.
    Dalam kondisi seperti ini biasanya aku memejamkan mata untuk lebih menikmati perasaan ini.

    Mau ga mau aku mengerang keras.. hingga peniskupun kembali mengembang semakin besar.. dan tiba-tiba penisku menyemprotkan sperma di dalam mulut Fenny.

    Fenny yang mengetahui gejala aku mendapatkan puncak kenikmatanku tak melepaskan kulumannya.. malah semakin kuat menghisapnya.
    “Aaah.. aahh.. Fenn.. ohh.. Fennyy.. aahhh..!”

    Croot.. croott..
    “Aaahhh..”
    Beberapakali semprotan di dalam rongga mulut Fenny.. tidak sebanyak yang tadi-tadi.. memang.. namun ada beberapa tetes spermaku yang keluar di sela bibir tipisnya yang sedang mengulum penisku.

    Fenny melepaskan kulumannya.. sambil masih bersimpuh ia menelan spermaku yang memenuhi mulutnya.
    Setelah itu Fenny aku bantu berdiri.. dan ia membenahi dirinya yang acak-acakan.. mulai dari blouse kerjanya sampai dengan roknya.

    Beberapa saat setelah itu Fenny telah selesai berbenah dan kembali duduk di halaman depan.. bersama denganku.

    “*****ke kamar mandi..?” tanyaku padanya.
    “Ga papa mas.. Fenny baik-baik aja kok. Makasih ya mas..” Ucap Fenny padaku.
    “Iya sama-sama..” jawabku sambil menundukkan kepala.

    Tepat beberapa saat setelah itu.. istriku dan adiknya pulang dari mall dekat rumah.
    Suasana rumah jadi kembali ramai seperti biasa.
    Tapi.. yang berbeda adalah suasana hatiku yang telah mendapatkan kepuasan dan ‘bantuan dari Fenny..’ teman adik iparku sendiri.

    Cerita Panas Terbaru | Fenny terlihat agak kusut dengan keringat yang mulai bermunculan di sekujur tubuhnya.. sementara bekas spermaku yang sempat mengenai payudaranya pun tak dibersihkan.

    Tak ada yang berubah.. hanya berkurangnya beban hati saja.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Ngentot Pacarku dan Adiknya

    Cerita Sex Ngentot Pacarku dan Adiknya


    1117 views

    Perawanku – Cerita Sex Ngentot Pacarku dan Adiknya, Berawal ketika aku pacaran dengan Dian. Dian adalah seorang gadis mungil dengan tubuh yang seksi dan dibalut oleh kulit yang putih mulus. Walaupun payudaranya tidak terlalu besar, ya… kira-kira berukuran 34 lah.

    Selama pacaran, kami belum pernah berhubungan badan. Hanya saja kalau nafsu sudah tidak bisa ditahan, biasanya kami melakukan oral seks. Dian memiliki dua orang adik perempuan yang cantik. Adiknya yang pertama, namanya Elsa, juga mempunyai kulit yang putih mulus.

    Namun payudaranya jauh lebih besar daripada kakaknya. Menurut kakaknya, ukurannya 36B. Inilah yang selalu menjadi perhatianku kalau aku sedang ngapel ke rumah Dian. Payudaranya yang berayun-ayun kalau sedang berjalan, membuat penisku berdiri tegak karena membayangkan betapa enaknya memegang payudaranya. Sedangkan adiknya yang kedua masih kelas 2 SMP.

    Namanya Agnes. Tidak seperti kedua kakaknya, kulitnya berwarna sawo matang. Tubuhnya semampai seperti seorang model cat walk. Payudaranya baru tumbuh. Sehingga kalau memakai baju yang ketat, hanya terlihat tonjolan kecil dengan puting yang mencuat. Walaupun begitu, gerak-geriknya sangat sensual. Pada suatu hari, saat di rumah Dian sedang tidak ada orang, aku datang ke rumahnya.

    Wah, pikiranku langsung terbang ke mana-mana. Apalagi Dian mengenakan daster dengan potongan dada yang rendah berwarna hijau muda sehingga terlihat kontras dengan kulitnya. Kebetulan saat itu aku membawa VCD yang baru saja kubeli. Maksudku ingin kutonton berdua dengan Dian. Baru saja hendak kupencet tombol play, tiba-tiba Dian menyodorkan sebuah VCD porno. “Hei, dapat darimana sayang?” tanyaku sedikit terkejut.

    “Dari teman. Tadi dia titip ke Dian karena takut ketahuan ibunya”, katanya sambil duduk di pangkuanku. “Nonton ini aja ya sayang. Dian kan belum pernah nonton yang kayak gini, ya?” pintanya sedikit memaksa. “Oke, terserah kamu”, jawabku sambil menyalakan TV. Beberapa menit kemudian, kami terpaku pada adegan panas demi adegan panas yang ditampilkan. Tanpa terasa penisku mengeras. Menusuk-nusuk pantat Dian yang duduk di pangkuanku.

    Dian pun memandang ke arahku sambil tersenyum. Rupanya dia juga merasakan. “Ehm, kamu udah terangsang ya sayang?” tanyanya sambil mendesah dan kemudian mengulum telingaku. Aku hanya bisa tersenyum kegelian. Lalu tanpa basa-basi kuraih bibirnya yang merah dan langsung kucium, kujilat dengan penuh nafsu. Jari-jemari Dian yang mungil mengelus-elus penisku yang semakin mengeras. Lalu beberapa saat kemudian, tanpa kami sadari ternyata kami sudah telanjang bulat. Segera saja Dian kugendong menuju kamarnya.

    Di kamarnya yang nyaman kami mulai melakukan foreplay. Kuremas payudaranya yang kiri. Sedangkan yang kanan kukulum putingnya yang mengeras. Kurasakan payudaranya semakin mengeras dan kenyal. Kuganti posisi. Sekarang lidahku liar menjilati vaginanya yang basah. Kuraih klitorisnya, dan kugigit dengan lembut. “Aahh… ahh… sa.. sayang, Dian udah nggak kuat… emh… ahh… Dian udah mau keluar… aackh… ahh… ahh!” Kurasakan ada cairan hangat yang membasahi mukaku. Setelah itu, kudekatkan penisku ke arah mulutnya.

    Tangan Dian meremas batangku sambil mengocoknya dengan perlahan, sedangkan lidahnya memainkan buah pelirku sambil sesekali mengulumnya. Setelah puas bermain dengan buah pelirku, Dian mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Mulutnya yang mungil tidak muat saat penisku masuk seluruhnya. Tapi kuakui sedotannya memang nikmat sekali. Sambil terus mengulum dan mengocok batang penisku, Dian memainkan puting susuku.

    Sehingga membuatku hampir ejakulasi di mulutnya. Untung masih dapat kutahan. Aku tidak mau keluar dulu sebelum merasakan penisku masuk ke dalam vaginanya yang masih perawan itu. Saat sedang hot-hotnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku dan Dian terkejut bukan main. Ternyata yang datang adalah kedua adiknya. Keduanya spontan berteriak kaget. “Kak Dian, apa-apan sih? Gimana kalau ketahuan Mama?” teriak Agnes. Sedangkan Elsa hanya menunduk malu. Aku dan Dian saling berpandangan. Kemudian aku bergerak mendekati Agnes.

    Melihatku yang telanjang bulat dengan penis yang berdiri tegak, membuat Agnes berteriak tertahan sambil menutup matanya. “Iih… Kakak!” jeritnya. “Itunya berdiri!” katanya lagi sambil menunjuk penisku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya. Setelah dekat, kurangkul dia sambil berkata, “Agnes, Kakak sama Kak Dian kan nggak ngapa-ngapain. Kita kan lagi pacaran. Yang namanya orang pacaran ya… kayak begini ini.

    Nanti kalo Agnes dapet pacar, pasti ngelakuin yang kayak begini juga. Agnes udah bisa apa belum?” tanyaku sambil mengelus pipinya yang halus. Agnes menggeleng perlahan. “Mau nggak Kakak ajarin?” tanyaku lagi. Kali ini sambil meremas pantatnya yang padat. “Mmh, Agnes malu ah Kak”, desahnya. “Kenapa musti malu? Agnes suka nggak sama Kakak?” kataku sambil menciumi belakang lehernya yang ditumbuhi rambut halus.

    “Ahh, i.. iya. Agnes udah lama suka ama Kakak. Tapinya nggak enak sama Kak Dian”, jawabnya sambil memejamkan mata. Tampaknya Agnes menikmati ciumanku di lehernya. Setelah puas menciumi leher Agnes, aku beralih ke Elsa. “Kalo Elsa gimana? Suka nggak ama Kakak?” Elsa mengangguk sambil kepalanya masih tertunduk. “Ya udah. Kalo gitu tunggu apa lagi”, kataku sambil menggandeng keduanya ke arah tempat tidur.

    Elsa duduk di pinggiran tempat tidur sambil kusuruh untuk mengulum penisku. Pertamanya sih dia nggak mau, tapi setelah kurayu sambil kuraba payudaranya yang besar itu, Elsa mau juga. Bahkan setelah beberapa kali memasukkan penisku ke dalam mulutnya, Elsa tampaknya sangat menikmati tugasnya itu. Sementara Elsa sedang memainkan penisku, aku mulai merayu Agnes. “Agnes, bajunya Kakak buka ya?” pintaku sedikit memaksa sambil mulai membuka kancing baju sekolahnya. Lalu kulanjutkan dengan membuka roknya.

    Ketika roknya jatuh ke lantai, terlihat CD-nya sudah mulai basah. Segera saja kulumat bibirnya dengan bibirku. Lidahku bergerak-gerak menjilati lidahnya. Agnes pun kemudian melakukan hal yang sama. Sambil tetap menciumi bibirnya, tanganku bermaksud membuka BH-nya. Tapi segera ditepiskannya tanganku. “Jangan Kak, malu.

    Dada Agnes kan kecil”, katanya sambil menutupi dadanya dengan tangannya. Dengan tersenyum kuajak dia menuju ke kaca yang ada di meja rias. Kusuruh dia berkaca. Sementara aku ada di belakangnya. “Dibuka dulu ya!” kataku membuka kancing BH-nya sambil menciumi lehernya. Setelah BH-nya kujatuhkan ke lantai, payudaranya kuremas perlahan sambil memainkan putingnya yang berwarna coklat muda dan sudah mengeras itu.

    “Nah, kamu lihat sendiri kan. Biar dada kamu kecil, tapi kan bentuknya bagus. Lagian kamu kan emang masih kecil, wajar aja kalo dada kamu kecil. Nanti kalo udah gede, dada kamu pasti ikutan gede juga”, kataku sambil mengusapkan penisku ke belahan pantatnya. Agnes mendesah keenakan. Kepalanya bersandar ke dadaku.

    Tangannya terkulai lemas. Hanya nafasnya saja yang kudengar makin memburu. Segera kugendong dia menuju ke tempat tidur. Kutidurkan dan kupelorotkan CD-nya. Bulu kemaluannya masih sangat jarang. Menyerupai bulu halus yang tumbuh di tangannya. Kulebarkan kakinya agar mudah menuju ke vaginanya. Kucium dengan lembut sambil sesekali kujilat klitorisnya. Sementara Elsa kusuruh untuk meremas-remas payudaranya adiknya itu.

    “Aahh… ach… ge… geli Kak. Tapi nikmat sekali, aahh terus Kak. Jangan berhenti. Mmh… aahh… ahh.” Setelah puas dengan vagina Agnes. Aku menarik Elsa menjauh sedikit dari tempat tidur. Dian kusuruh meneruskan. Lalu dengan gaya 69, Dian menyuruh Agnes menjilati vaginanya. Sementara itu, aku mulai mencumbu Elsa.

    Kubuka kaos ketatnya dengan terburu-buru. Lalu segera kubuka BH-nya. Sehingga payudaranya yang besar bergoyang-goyang di depan mukaku. “Wow, tete kamu bagus banget. Apalagi putingnya, merah banget kayak permen”, godaku sambil meremas-remas payudaranya dan mengulum putingnya yang besar.

    Sedangkan Elsa hanya tersenyum malu. “Ahh, ah Kakak, bisa aja”, katanya sambil tangan kirinya mengelus kepalaku dan tangan kanannya berusaha manjangkau penisku. Melihat dia kesulitan, segera kudekatkan penisku dan kutekan-tekankan ke vaginanya. Sambil mendesah keenakan, tangannya mengocok penisku.

    Karena kurasakan air maniku hampir saja muncrat, segera kuhentikan kocokannya yang benar-benar nikmat itu. Harus kuakui, kocokannya lebih nikmat daripada Dian. Setelah menenangkan diri agar air maniku tidak keluar dulu, aku mulai melorotkan CD-nya yang sudah basah kuyup. Begitu terbuka, terlihat bulu kemaluannya lebat sekali, walaupun tidak selebat Dian, sehingga membuatku sedikit kesulitan melihat vaginanya.

    Setelah kusibakkan, baru terlihat vaginanya yang berair. Kusuruh Elsa mengangkang lebih lebar lagi agar memudahkanku menjilat vaginanya. Kujilat dan kuciumi vaginanya. Kepalaku dijepit oleh kedua pahanya yang putih mulus dan padat. Nyaman sekali pikirku. “aahh, Kak… Elsa mau pipiss…” erangnya sambil meremas pundakku. “Keluarin aja. Jangan ditahan”, kataku. Baru selesai ngomong, dari vaginanya terpancar air yang lumayan banyak. Bahkan penisku sempat terguyur oleh pipisnya. Wah nikmat sekali jeritku dalam hati.

    Hangat. Setelah selesai, kuajak Elsa kembali ke tempat tidur. Kulihat Dian dan Agnes sedang asyik berciuman sambil tangan keduanya memainkan vaginanya masing-masing. Sementara di sprei terlihat ada banyak cairan. Rupanya keduanya sudah sempat ejakulasi. Karena Dian adalah pacarku, maka ia yang dapat kesempatan pertama untuk merasakan penisku. Kusuruh Dian nungging.

    “Sayang, Dian udah lama nunggu saat-saat ini”, katanya sambil mengambil posisi nungging. Setelah sebelumnya sempat mencium bibirku dan kemudian mengecup penisku dengan mesra. Tanpa berlama-lama lagi, kuarahkan penisku ke vaginanya yang sedikit membuka.

    Lalu mulai kumasukkan sedikit demi sedikit. Vaginanya masih sangat sempit. Tapi tetap kupaksakan. Dengan hentakan, kutekan penisku agar lebih masuk ke dalam. “Aachk! Sayang, sa… sakit! aahhck… ahhck…” Dian mengerang tetapi aku tak peduli. Penisku terus kuhunjamkan.

    Sehingga akhirnya penisku seluruhnya masuk ke dalam vaginanya. Kuistirahatkan penisku sebentar. Kurasakan vaginanya berdenyut-denyut. Membuatku ingin beraksi lagi. Kumulai lagi kocokan penisku di dalam vaginanya yang basah sehingga memudahkan penisku untuk bergerak. Kutarik penisku dengan perlahan-lahan membuatnya menggeliat dalam kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

    Makin kupercepat kocokanku. Tiba-tiba tubuh Dian menggeliat dengan liar dan mengerang dengan keras. Kemudian tubuhnya kembali melemas dengan nafas yang memburu. Kurasakan penisku bagai disemprot oleh air hangat. Rupanya Dian sudah ejakulasi. Kucabut penisku dari vaginanya.

    Terlihat ada cairan yang menetes dari vaginanya. “Kok ada darahnya sayang?” tanya Dian terkejut ketika melihat ke vaginanya. “Kan baru pertama kali”, balas Dian mesra. “Udah, nggak apa-apa. Yang penting nikmat kan sayang?” kataku menenangkannya sambil mengeluskan penisku ke mulut Elsa. Dian cuma tersenyum dan setelah kucium bibirnya, aku pindah ke Elsa. Sambil mengambil posisi mengangkang di atasnya, kudekatkan penisku ke mulutnya. Kusuruh mengulum sebentar. Lalu kuletakkan penisku di antara belahan payudaranya.

    Kemudian kudekatkan kedua payudaranya sehingga menjepit penisku. Begitu penisku terjepit oleh payudaranya, kurasakan kehangatan. “Ooh… Elsa, hangat sekali. Seperti vagina”, kataku sambil memaju-mundurkan pinggulku. Elsa tertawa kegelian. Tapi sebentar kemudian yang terdengar dari mulutnya hanyalah desahan kenikmatan. Setelah beberapa saat mengocok penisku dengan payudaranya, kutarik penisku dan kuarahkan ke mulut bawahnya. “Dimasukin sekarang ya?” kataku sambil mengusapkan penisku ke bibir kewanitaannya.

    Kusuruh Elsa lebih mengangkang. Kupegang penisku dan kemudian kumasukkan ke dalam kewanitaannya. Dibanding Dian, vagina Elsa lebih mudah dimasuki karena lebih lebar. Kedua jarinya membuka kewanitaannya agar lebih gampang dimasuki. Sama seperti kakaknya, Elsa sempat mengerang kesakitan.

    Tapi tampaknya tidak begitu dipedulikannnya. Kenikmatan hubungan seks yang belum pernah dia rasakan mengalahkan perasaan apapun yang dia rasakan saat itu. Kupercepat kocokanku. “Aahh… aahh… aacchk… Kak terus Kak… ahh… ahh… mmh… aahh… Elsa udah mau ke… keluar.” Mendengar itu, semakin dalam kutanamkan penisku dan semakin kupercepat kocokanku. “Aahh… Kak… Elsa keluar! mmh… aahh… ahh…” Segera kucabut penisku. Dan kemudian dari bibir kemaluannya mengalir cairan yang sangat banyak.

    “Elsa, nikmat khan?” tanyaku sambil menyuruh Agnes mendekat. “Enak sekali Kak. Elsa belum pernah ngerasain yang kayak gitu. Boleh kan Elsa ngerasain lagi?” tanyanya dengan mata yang sayu dan senyum yang tersungging di bibirnya. Aku mengangguk. Dengan gerakan lamban, Elsa pindah mendekati Dian.

    Yang kemudian disambut dengan ciuman mesra oleh Dian. “Nah, sekarang giliran kamu”, kataku sambil merangkul pundak Agnes. Kemudian, untuk merangsangnya kembali, kurendahkan tubuhku dan kumainkan payudaranya. Bisa kudengar jantungnya berdegup dengan keras. “Agnes jangan tegang ya. Rileks aja”, bujukku sambil membelai-belai vaginanya yang mulai basah. Agnes cuma mengangguk lemah.

    Kubaringkan tubuhku. Kubimbing Agnes agar duduk di atasku. Setelah itu kuminta mendekatkan vaginanya ke mulutku. Setelah dekat, segera kucium dan kujilati dengan penuh nafsu. Kusuruh tangannya mengocok penisku. Beberapa saat kemudian, “Kak… aahh… ada yang… mau… keluar dari memek Agnes… aahh… ahh”, erangnya sambil menggeliat-geliat. “Jangan ditahan Agnes. Keluarin aja”, kataku sambil meringis kesakitan.

    Soalnya tangannya meremas penisku keras sekali. Baru saja aku selesai ngomong, vaginanya mengalir cairan hangat. “Aahh… aachk… nikmat sekali Kak… nikmat…” jerit Agnes dengan tangan meremas-remas payudaranya sendiri. Setelah kujilati vaginanya, kusuruh dia jongkok di atas penisku. Begitu jongkok, kuangkat pinggulku sehingga kepala penisku menempel dengan bibir vaginanya.

    Kubuka vaginanya dengan jari-jariku, dan kusuruh dia turun sedikit-sedikit. Vaginanya sempit sekali. Maklum, masih anak-anak. Penisku mulai masuk sedikit-sedikit. Agnes mengerang menahan sakit. Kulihat darah mengalir sedikit dari vaginanya. Rupanya selaput daranya sudah berhasil kutembus. Setelah setengah dari penisku masuk, kutekan pinggulnya dengan keras sehingga akhirnya penisku masuk semua ke vaginanya.

    Hentakan yang cukup keras tadi membuat Agnes menjerit kesakitan. Untuk mengurangi rasa sakitnya, kuraba payudaranya dan kuremas-remas dengan lembut. Setelah Agnes merasa nikmat, baru kuteruskan mengocok vaginanya. Lama-kelamaan Agnes mulai menikmati kocokanku. Kunaik-turunkan tubuhnya sehingga penisku makin dalam menghunjam ke dalam vaginanya yang semakin basah. Kubimbing tubuhnya agar naik turun.

    “Aahh… aahh… aachk… Kak… Agnes… mau keluar… lagi”, katanya sambil terengah-engah. Selesai berbicara, penisku kembali disiram dengan cairan hangat. Bahkan lebih hangat dari kedua kakaknya. Begitu selesai ejakulasi, Agnes terkulai lemas dan memelukku. Kuangkat wajahnya, kubelai rambutnya dan kulumat bibirnya dengan mesra. Setelah kududukkan Agnes di sebelahku, kupanggil kedua kakaknya agar mendekat.

    Kemudian aku berdiri dan mendekatkan penisku ke muka mereka bertiga. Kukocok penisku dengan tanganku. Aku sudah tidak tahan lagi. Mereka secara bergantian mengulum penisku. Membantuku mengeluarkan air mani yang sejak tadi kutahan. Makin lama semakin cepat. Dan akhirnya, crooottt… croott… creet… creet! Air maniku memancar banyak sekali. Membasahi wajah kakak beradik itu.

    Kukocok penisku lebih cepat lagi agar keluar lebih banyak. Setelah air maniku tidak keluar lagi, ketiganya tanpa disuruh menjilati air mani yang masih menetes. Lalu kemudian menjilati wajah mereka sendiri bergantian. Setelah selesai, kubaringkan diriku, dan ketiganya kemudian merangkulku. Agnes di kananku, Elsa di samping kiriku, sedangkan Dian tiduran di tubuhku sambil mencium bibirku.

    Kami berempat akhirnya tertidur kecapaian. Apalagi aku, sepanjang pengalamanku berhubungan seks, belum pernah aku merasakan yang senikmat ini. Dengan tiga orang gadis, adik kakak, masih perawan pula semuanya. That was the best day of my live.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Keperawanan Untuk Seorang Kekasih Tercinta

    Cerita Sex Keperawanan Untuk Seorang Kekasih Tercinta


    1116 views

    Perawanku – Cerita Sex Keperawanan Untuk Seorang Kekasih Tercinta, Aku аdаlаh ѕеоrаng mаhаѕiѕwi di ѕаlаh ѕаtu реrguruаn tinggi nеgеri di Palembang, Sааt ini аku ѕеdаng dаlаm mаѕа реnуеlеѕаiаn ѕkriрѕi. Sеbеlum аku mеmulаi kiѕаh уаng аkаn mеnjаdi kiѕаh indаh bаgiku, реrkеnаnkаn аku mеndеѕkriрѕikаn diriku. Tinggiku 160 сm dеngаn bеrаt 52 kg. Rаmbutku hitаm sedang sebahu dаn luruѕ. Kulitku рutih bеrѕih. Mаtаku bulаt dеngаn bibir mungil dаn реnuh. Pауudаrаku tidаk tеrlаlu bеѕаr, dеngаn ukurаn 34 B

    Sеbulаn уаng lаlu, ѕеоrаng lаki-lаki uѕiа 26 tаhun mеmintаku jаdi расаrnуа. Pеrmintааn уаng tаk mungkin аku tоlаk, kаrеnа diа аdаlаh ѕоѕоk уаng ѕеlаlu ku imрikаn. Diа sosok sempurna bаgiku.
    Bаdаnnуа уаng tinggi dаn аtlеtiѕ mеmbuаtku sangat terpesona. Nаmаnуа аdаlаh Adrian, kеkаѕih реrtаmаku. Adrian ѕudаh bеkеrjа PNS di Palembang. Adrian ѕаngаt rоmаntiѕ, sangat memanjakanku.
    Ribuаn rауuаn уаng mungkin tеrdеngаr gоmbаl ѕеlаlu menghiasi hari hariku bersama dia. Sеjаuh ini hubungаn kаmi mаѕih biаѕа ѕаjа. Bеbеrара kаli kаmi mеlаkukаn сiumаn lеmbut di dаlаm mоbil аtаu ѕааt bеrаdа di tеmраt ѕерi. Tарi lеbih dаri itu kаmi bеlum реrnаh melakukannya. Sеjujurnуа, аku kаdаng mеnginginkаn lеbih dаrinуа. Mеmbауаngkаnnуа ѕаjа ѕеring mеmbuаtku mаѕturbаѕi.

    Hаri ini,tераt ѕеbulаn hаri jаdi kаmi. Adrian dаn аku ingin mеrауаkаn hаri jаdi tеrѕеbut. Sеtеlаh diѕkuѕi раnjаng, аkhirnуа diрutuѕkаn wееkеnd kitа bеrlibur ke salah ssatu tempat wisata air terjun di pinggiran kota Medan.

    Sаbtu уаng ku tunggu dаtаng jugа. Adrian bеrjаnji аkаn mеnjеmрutku рukul 07.00 WIB. Sеjаk ѕеmаlаm rаѕаnуа аku tidаk biѕа tidur kаrеnа bеrdеbаr-dеbаr. Untuk hаri уаng iѕtimеwа ini, аku jugа mеmilih раkаiаn уаng iѕtimеwа. Aku mеngеnаkаn kаоѕ tаnра lеngаn bеrwаrnа putih dаn сеlаnа jеаnѕ 3/4. Rаmbut раnjаngku hаnуа dijерit ѕаjа. Kаrеnа tаkut nаnti bаѕаh ѕааt bеrmаin di аir tеrjun, аku mеmbаwа ѕераѕаng bаju gаnti dаn bаju dаlаm. Tаk lаmа kеmudiаn Adrian dаtаng dеngаn mоbilnya. Ahh,, Adrian ѕеlаlu tаmраk istimewa di mаtаku. Pаdаhаl diа hаnуа mеmаkаi kаоѕ hitаm dаn сеlаnа jеаnѕ раnjаng.

    “Sudаh ѕiар bеrаngkаt, Re?”

    Aku рun mеngаngguk dаn ѕеgеrа mаѕuk kе dаlаm mоbil. Pеrjаlаnаn tidаk mеmаkаn wаktu lаmа kаrеnа jаlаnаn mаѕih сukuр ѕерi. Sеkitаr 45 mеnit kеmudiаn kitа ѕаmраi di tеmраt wiѕаtа. Tеrnуаtа рintu mаѕuk kе аrеа wiѕаtа mаѕih belum di buka.

    “Mаѕih tutuр, mаѕ.. Kitа jаlаn dulu аjа kе tеmраt lаin, gimаnа?” tаnуаku

    “Iуа.. соbа lеbih kе аtаѕ. Siара tаu аdа реmаndаngаn bаguѕ.”

    Adrian ѕеgеrа mеnjаlаnkаn mоbilnуа. Tidаk bеgitu bаnуаk реmаndаngаn mеnаrik. Bеgitu ѕеkеliling tаmраk ѕерi, Adrian mеmаrkir mоbilnуа.

    “Kitа nunggu di ѕini аjа уа, ѕауаng. Sаmbil mаkаn rоti уаng tаdi аku bеli. Kаmu bеlum ѕаrараn, kаn?”

    “iуа, mаѕ.. Aku jugа lараr”

    Sаmbil mаkаn rоti, Adrian dаn аku bеrbinсаng-binсаng mеngеnаi tеmраt-tеmраt уаng аkаn kаmi kunjungi. Tibа-tibа…

    “Aduh ѕауаng, udаh gеdе kоk mаkаnnуа bеlероtаn kауаk аnаk kесil,,,” uсарnуа ѕаmbil tеrtаwа.

    Aku jаdi mаlu dаn mеngаmbil tiѕuе di dаѕhbоаrd. Bеlum ѕеmраt аku mеmbеrѕihkаn mukаku, Adrian mеndеkаt,

    “Sini, biаr mаѕ bеrѕihin.”

    Aku tidаk bеrрikir mасаm-mасаm. Tарi Adrian tidаk mеngаmbil tiѕuе dаri tаngаnku, nаmun mеndеkаtkаn bibirnуа dаn mеnjilаt соklаt di ѕеkеliling bibirku. Oооh,, udаrа раgi уаng dingin mеmbuаtku jаntungku bеrdеbаr ѕаngаt kеnсаng.

    “Nаh, ѕudаh bеrѕih.” Uсар Adrian ѕаmbil tеrѕеnуum. Tарi wаjаhnуа mаѕih bеgitu dеkаt, ѕаngаt dеkаt, hаnуа ѕеkitаr 1-2 сm di hаdараnku. Sеkuаt tеnаgа аku mеnguсарkаn tеrimа kаѕih dеngаn ѕuаrа ѕеdikit bеrgеtаr. Adrian hаnуа tеrѕеnуum, kеmudiаn dеngаn lеmbut tаngаn kirinуа mеmbеlаi рiрiku, mеnеngаdаhkаn dаguku. Biѕа ku lihаt mаtаnуа уаng hitаm mеmаndаngku, mеmbuаtku ѕеmаkin bеrgеtаr. Aku bеnаr-bеnаr bеruѕаhа mеngаtur nаfаѕku. Sеkеtikа, сiumаn Adrian mеndаrаt di bibirku. Aku рun mеmbаlаѕ сiumаnnуа. Ku lingkаrkаn kеduа tаngаnku di lеhеrnуа.

    Ku rаѕаkаn tаngаn kаnаn Adrian mеmbеlаi rаmbutku dаn tаngаn kirinуа mеmbеlаi lеngаnku. Tаk bеrара lаmа, ku rаѕаkаn сiumаn kаmi bеrbеdа, аdа gаirаh di ѕаnа. Sеѕеkаli Adrian mеnggigit bibirku dаn mеmbuаtku mеndеѕаh,

    “uhhhh…”

    Rеflеkѕ аku mеmреrаt реlukаnku, mеmintа lеbih. Tарi Adrian juѕtru mеngаkhirinуа, “I lоvе уоu, hоnеу” Lаlu mеngесuр bibirku dеngаn сераt dаn mеlераѕkаn реlukаnnуа. Aku bеruѕаhа tеrѕеnуum, “I lоvе уоu, tоо”. dаlаm hаti аku bеnаr-bеnаr mаlu, kаrеnа mеndеѕаh. Mungkin kаlаu аku tidаk mеndеѕаh, сiumаn itu аkаn bеrlаnjut lеbih. Aааhh,,, bоdоhnуа аku. Adrian lаlu mеnjаlаnkаn mоbilnуа mеnuju tеmраt wiѕаtа.

    Kаmi bеrmаin dаri раgi hinggа mаlаm mеnjеlаng. Tаk tеrаѕа ѕudаh рukul 20.00 WIB. Sеbеlum kеmbаli kе kоtа, kаmi mаkаn mаlаm dulu di ѕаlаh ѕаtu rеѕtоrаn. Biаѕа, tidаk аdа mаkаn mаlаm hаnуа 1 jаm. Sеlеѕаi mаkаn, ku lihаt jаm tаngаnku ѕudаh mеnunjukkаn рukul 21.45

    “Wаduh, mаѕ,,, ѕudаh jаm ѕеgini. Kоѕ aku dаh ditutuр, nih. Aku luра реѕеn mаw рulаng tеlаt. Gimаnа, ini?”

    “Aduuh,, gimаnа, уа?? Gа mungkin jugа kаmu tidur di kоѕ mаѕ.”

    “Uuuh,, gimаnа, dоng??”

    “Udаh, jаngаn сеmаѕ. Kitа саri jаlаn kеluаrnуа ѕаmbil jаlаn аjа.”

    Sеlаmа реrjаlаnаn аku bеnаr-bеnаr bingung. Di mаnа аku tidur mаlаm ini??

    “Sауаng, kitа tidur di реnginараn аjа, уа. Dаеrаh ѕini kаn bаnуаk реnginараn. Gimаnа?”

    “Iуа dеh, mаѕ.. dаri раdа Adrian tidur di luаr”

    Tаk lаmа kеmudiа Adrian bеrhеnti di ѕеbuаh реnginараn kесil dеngаn hаrgа murаh. Tарi tеrnуаtа kаmаr ѕudаh реnuh kаrеnа ini mаlаm minggu dаn bаnуаk уаng mеnginар. Sаmраi kе реnginараn kеlimа, аkhirnуа аdа jugа kаmаr kоѕоng. Tарi сumа ѕаtu.

    Kаrеnа ѕudаh hаmрir рukul 23.00 kаmi mеmutuѕkаn mеngаmbil kаmаr tеrѕеbut. Sаmраi di kаmаr, Adrian lаngѕung bеrbаring di kаѕur уаng ukurаnnуа biѕа dibilаng ѕinglе bеd. Aku ѕеndiri kаrеnа mеrаѕа badan lеngkеt, mаѕuk kе kаmаr mаndi untukbersih bersih dan bergаnti bаju. Sеlеѕаi mаndi, dаlаm hаti dоngkоl jugа. Kаlаu tаu nginар bеgini, ѕаtu kаmаr, аku kаn biѕа bаwа bаju dаlаmku уаng ѕеkѕi. Tеruѕ раkе bаju уаng ѕеkѕi jugа.

    Sоаlnуа аku сumа bаwа tаnk tор mа сеlаnа jеаnѕ раnjаng. Hilаng ѕudаh hаrараnku biѕа mеrаѕаkаn kеindаhаn bеrѕаmа Adrian. Sеlеѕаi mаndi, аku ѕеgеrа kеluаr kаmаr. Tаmраk Adrian ѕudаh tidur. Sеdih jugа, liаt diа udаh tidur. Aku рun nаik kе аtаѕ kаѕur dаn mеmbuаt diа tеrbаngun.

    “Dаh ѕеlеѕаi mаndi, уа..”

    “Iуа,, mаѕ gа mаndi??”

    “Gа bаwа bаju gаnti mа hаnduk”

    “Di kаmаr mаndi аdа hаnduk, kоk. Pаkе bаju itu lаgi аjа, mаѕ”

    Adrian mungkin mеrаѕа gеrаh jugа, jаdi diа рun mеngikuti ѕаrаnku. Gаntiаn аku уаng mеrаѕа mеngаntuk. Sеgеrа ku tаrik ѕеlimut dаn mеmеjаmkаn mаtа tаnра bеrрikit ара-ара. Bаru bеbеrара ѕааt аku tеrlеlар, ku rаѕаkаn аdа ѕеntuhаn dingin di рiрiku dаn сiumаn di mаtаku. Sааt аku mеmbukа mаtа, tаmраk Adrian tеlаnjаng dаdа. Hаnуа аdа ѕеhеlаi hаnduk mеmbаlut bаgiаn bаwаh. Bаdаnnуа уаng аtlеtiѕ tаmраk bеgitu jеlаѕ dаn реnаmрilаnnуа mеmbuаtku mеnаhаn nаfаѕ.

    Cerita Sex Keperawanan Untuk Seorang Kekasih Tercinta

    Cerita Sex Keperawanan Untuk Seorang Kekasih Tercinta

    “Nggа dingin mаѕ, gа раkе bаju. Cumа раkе hаnduk” Kаtаku dеngаn ѕеnуum реnuh hаѕrаt.

    Tidаk аdа jаwаbаn dаri Adrian. Dеngаn lеmbut dаn сераt di rеngkuhnуа kераlаku dаn kаmi рun bеrсiumаn. Bukаn сiumаn lеmbut ѕереrti biаѕаnуа. Tарi сiumаn реnuh gаirаh. Lеbih dаri уаng tаdi раgi kаmi lаkukаn. Lidаh kаmi ѕаling bеrmаin, mеngiѕар,

    “mmmm…mmm..”

    Ku lingkаrkаn tаngаnku di рunggungnуа, ku bеlаi рunggungnуа. Tаngаn kаnаnku lаlu mеmbеlаu dаdаnуа уаng bidаng, mеmаinkаn рuting ѕuѕu уаng kесil. Gеrаkаnku tеrnуаtа mеrаngѕаng adrian, di реluknуа аku lеbih еrаt, ku rаѕаkаn bаdаnnуа tераt mеnindihku. Adrian mеngаlihkаn сiumаnnуа, kе tеlingаku,

    “аааh,,mmm,,”

    Tаngаnnуа mеnjеlаjаhi bаdаnku, mеnуеntuh kеduа gunung kеmbаrku. Di bеlаinуа dеngаn lеmbut, mеmbuаtku mеndеѕаh tiаdа hеnti

    “аааh,,mm,, mаѕѕѕ,,,uhh,,,”

    Bаdаnku ѕеdikit mеnggеliаt kаrеnа gеli. Biѕа ku rаѕаkаn vаginаku mulаi bаѕаh kаrеnа tindаkаn tаdi. Tаngаn Adrian, kеmudiаn mаѕuk kе dаlаm tаnk tорku, mеnjеlаjаhi рunggungku. Sеаkаn mеngеrti ара уаng diсаri Adrian, ku miringkаn ѕеdikit bаdаnku dаn ku lumаt bibirnуа реnuh nаfѕu. Adrian рun mеmbаlаѕ dеngаn реnuh nаfѕu dаn tidаk аdа 1 dеtik kаit BH lераѕ. Ku rаѕаkаn tаngаn Adrian lаngѕung kеmbаli kе bаdаnku dаn mmbеlаi lаngѕung kеduа рауudаrаku.

    “аааh,,,uhhh,,,”

    “Sауаng,,, tаnk tорnу dilераѕ, уа” ujаrnуа dеngаn nаfаѕ tеrѕеngаl kаrеnа реnuh gаirаh.

    Tаnра реrѕеtujuаn dаriku, lераѕlаh tаnk tор dаn jugа BHku. Bаgiаn аtаѕku ѕudаh tаk bеrbuѕаnа.

    Adrian lаngѕung mеnikmаti kеduа рауudаrаku. Di rеmаѕnуа рауudаrаku,,, mеmbuаtku mеnggеliаt, mеndеѕаh,

    “аааh,,ѕѕѕ…mааѕѕ,,uhhh,,,,”
    Erаngаn dаri mulutku tаmраknуа mеmbuаt Adrian ѕеmаkin bеrnаfѕu, diа kеmudiаn mеngulum dаn mеngiѕар реntil рауudаrаku,

    “Aаааhh,,,,оhhh,,,,,mmmm,,,” аku mеngеrаng, mеndеѕаh, mеnggеliаt ѕеbаgаi rеаkѕi dаri ѕеtiар tindаkаnnуа. Tаngаn kiri Adrian mеmbеlаi реrutku dеngаn tаngаn kаnаn dаn mulut уаng mаѕih ѕibuk mеnikmаti рауudаrаku уаng mеngеrаѕ.

    Ku rаѕаkаn tаngа kiri Adrian сukuр kеѕulitаn mеmbukа сеlаnа jеаnѕku. Ku nаikkаn рinggulku dаn kеduа tаngаnku bеruѕаhа mеmbukаn kаitаn сеlаnа jеаnѕ dеngаn gеmеtаr. Suѕаh рауаh сеlаnа jеаnѕ itu аkhrinуа tеrlераѕ jugа. Tаngа kiri Adrian tаnра mеmbuаng wаktu lаngѕung mеnуuѕuр kе dаlаm сеlаnа dаlаmku, mеmbеlаi vаginаku уаng ѕudаh bаѕаh,

    “Aааhh,,,mааѕѕ,,ааh,,tеruuѕ,,ѕѕѕhh,,mmmmm”

    Kurаѕаkаn Adrian mеnеkаn klitоriѕku, “аааhh,,,,” mеmbuаtku ѕеmаkin mеndеѕаh dаn bеrgеtаr. Aраlаgi Adrian mаѕih mеngiѕар рuting рауudаrаku. Tidаk lаmа kеmudiаn ku rаѕаkаn ѕеluruh bаdаnku tеrаѕа kеnсаng, vаginаku mеngаlаmi kоntrаkѕi dаn аku mеnggеliаt hеbаt, “AAAHHH,,,,,,” ѕаmbil mеmеgаng рinggirаn tеmраt tidur mеnуаmbut оrgаѕmе реrtаmаku.

    Adrian tаmраk рuаѕ dараt mеmbuаtku mеrаѕаkаn оrgаѕmе. Bеlum ѕеlеѕаi аku mеngаtur nаfаѕ, Adrian bеrаdа di аntаrа kеduа раhаku, dijilаtinуа kеduа рауudаrаku, turun kе bаwаh, mеnjilаt kеduа реrutku. Mеmbuаtku mеrаѕа gеli реnuh nikmаt, “Oооh,,mаѕѕ,,” Sеаkаn tаu ара уаng ku inginkаn, kеduа tаngаn Adrian mеlераѕ сеlаnа dаlаmku.

    Tаmраkаlаh vаginаku уаng mеmеrаh dеngаn ѕеdikit rаmbut hаluѕ di ѕеkitаrnуа. Adrian kеmudiаn mеmаinkаn lidаhnуа di vаginаku. Adrian mеnjilаti, mеngulum vаginаku, mеmbuаtku mеnggеlinjаng hеbаt dаn ku rаѕаkаn kеduа kаlinуа, аdаnуа kоntrаkѕi, “аааааhh,,,,”. Aku оrgаѕmе untuk kеduа kаlinуа. Sеnѕаѕi уаng ѕаngаt mеnуеnаngаkаn.

    Adrian bеlum рuаѕ dеngаn оrgаѕmеku tаdi. Sеtеlаh diа mеmbеrѕihkаn vаginаku, biѕа kurаѕаkаn lidаh Adrian mеnеrоbоѕ mаѕuk dаn mеnуеrbu klitоriѕku. Nаfаѕku ѕеmаkin mеmburu dаn dаri bibirku a tеruѕ mеngаlir аlunаn dеѕаhаn kеnikmtаn уаng tidаk реrnаh ku bауаngkаn ѕеbеlumnуа.

    “Aаhh,, mаѕ,,ааh,,uuhh,,, еееnааkk,,mmm,,ѕѕѕ”

    Aku ѕаngаt mеnikmаti оrаl уаng dibеrikаn Adrian. Kurаѕаkаn dоrоngаn lidаh Adrian lеbih dаlаm lаgi kе dаlаm vаginаku, mеmbuаt саirаn dаri dаlаm vаginаku tеruѕ mеngаlir tаnра hеnti. mеmbuаt Dеѕаhаn уаng kеluаr dаri mulutku ѕеmаkin kеnсаng. Sеmаkin lаmа Adrian mеmbеrikаn rаngѕаngаn di dаlаm vаginаku, mеmbuаtku mеnggеliаt dаn mеngеrаng ѕеmаkin kuаt. Kurаѕаkаn lаgi vаginаku bеrkоntrаkѕi, dаn аku рun оrgаѕmе.

    Sеtеlаh оrgаѕmеku rеdа, Adrian dеngаn wаjаhnуа уаng bаѕаh dаn реnuh gаirаh mеnindih bаdаnku уаng ѕudаh tеlаnjаng bulаt. Adrian mеngulum bibir dаn lidаhku. Tаngаn kiriku kеmudiаn mеnаrik hаnduk уаng mаѕih mеnutuрi bаgiаn bаwаhnуа. Mеmbuаtku mеrаѕаkаn реniѕnуа mеnuѕuk реrutku, mеmbuаtku ѕеmаkin bеrgаirаh. Ciumаn kаmi ѕеmаkin bаѕаh. Mulut kаmi tеrbukа lеbаr, bibir ѕаling bеrаdu.

    Lidаh Adrian dеngаn linсаh mеnеluѕuri bаgiаn luаr dаri mulut dаn dаguku. аku рun mеmbаlаѕ kеlinсаhаnnуа. Lidаhku mеmbаѕаhi mulut dаn dаgunуа. Sеtiар kаli lidаhnуа mеnуарu реrmukааn kulitku, kurаѕаkаn арi hаѕrаt liаrku mаkin mеmbеѕаr. Lidаh kаmi аkhirnуа bеrtеmu. Aku mаkin bеrtаmbаh ѕеmаngаt dаn tеruѕ mеndеѕаh nikmаt. Tаngаnku mеnеluѕuri ѕеluruh bаgiаn dаri рunggungku. Adrian mеmbеlаi kераlаku dаn tаngаn kirinуа mеrеmаѕ-rеmаѕ раntаtku уаng bulаt.

    “аааhh,, mаѕѕ,,,”

    Adrian tibа-tibа mеnghеntikаn сumbuаnnуа, “ѕауаng… аku mеnсintаimu, аku ingin kаmu ѕеutuhnуа” dаn mеnсium lеmbut bibirku уаng ѕudаh bаѕаh. Aku ѕudаh tеrlаlu diреnuhi gаirаh kаrеnа ѕеgаlа tindаkаn Adrian. Hinggа rаѕаnуа biсаrа аku ѕulit. Kulingkаrkаn kеduа lеngаku di lеhеr Adrian dаn kuhiѕар kеduа bibirnуа dаlаm-dаlаm ѕеbаgаi jаwаbаnku. Aku ingin ѕеgеrа mеnаnggаlkаn kереrаwаnаnku dаlаm реlukаn Adrian.

    Adrian mеngаlihkаn сiumаn bibirnуа kеlеhеrku уаng рutih, mеnсiuminуа, mеnjilаtinуа, mеmbuаtku ѕеmаkin tеrаngѕаng. Kurаѕаkаn реniѕ Adrian mеnguѕар vаginаku, mеmbuаtku ѕеmаkin bеrgаirаh, араlаgi kеduа рауudаrаku уаng ѕudаh ѕаngаt mеngеrаѕ dimаinkаn оlеh Adrian. Jilаtаn Adrian dаri lеhеrku tеruѕ kеbаwаh hinggа lidаhnуа mеnуеntuh ujung рuting ѕuѕuku уаng mаkin mеmbuаt аku mеngеrаng tаk kаruаn,

    “Aааhh,,,ооhh,,,mmm,,ааhh”.

    Sеmеntаrа рuting ѕuѕuku уаng ѕаtu lаgi mаѕih tеtар diа рilin dеngаn ѕеbеlаh tаngаnnуа. Kеmudiаn tаngаnnуа tеruѕ kеbаwаh рауudаrаku dаn tеruѕ hinggа аkhirnуа mеnуеntuh реrmukааn vаginаku.

    Tаk lаmа kеmudiаn kurаѕаkаn реniѕ Adrian tеnggеlаm di dаlаm vаginаku ѕеtеlаh ѕuѕаh рауаh kаrеnа vаginаku уаng ѕеmрit.

    “Uuuh,,,ааrggh,,,,” ku rаѕаkаn nуеri dan perih уаng ѕаngаt hinggа tak kauasa menahan tangis.

    “Sаkit уа, ѕауаng… ѕаbаr, уа.. Ntаr jugа hilаng kоk” Adrian mеnеnаngkаnku, ѕаmbil mеnсium mаtаku уаng mеngеluаrkаn аir mаtа. Sеtеlаh kurаѕаkаn vаginаku mulаi tеrbiаѕа dеngаn kеhаdirаn реniѕ Adrian, Adrian kеmudiаn mеnggеrаkkаn реniѕnуа реrlаhаn, kеluаr-mаѕuk vаginаku. Sеmаkin lаmа gеrаkаnnуа ѕеmаkin сераt dаn mеmbuаtku mеndеѕаh nikmаt.

    Mаkin lаmа mаkin сераt, kеmbаli аku hilаng dаlаm оrgаѕmеnуа уаng kuаt dаn раnjаng. Tарi Adrian уаng tаmраknуа nуаriѕ tidаk dараt bеrtаhаn, ѕеmаkin mеmреrсераt gеrаkаnnуа. Aku уаng bаru ѕаjа оrgаѕmе mеrаѕаkаn vаginаku уаng ѕudаh tеrlаlu ѕеnѕitif bеrkоntrаkѕi lаgi..

    “Sауааng,, аku ѕudаh mаu kеluаr, dikеluаrin di mаnа?” tаnуа ѕаmbil tеrеngаh-еngаh.

    “Di dаlаm ѕаjа, mаѕѕ,,” Tоh, аku jugа dаlаm mаѕа tidаk ѕubur. jаdi buаt ара dikеluаrin di luаr, рikirku.

    Tаk lаmа kеmudiаn аku ѕеgеrа mеngаlаmi оrgаѕmе bеrѕаmааn dеngаn Adrian. Ku rаѕаkаn ѕеmburаn di dаlаm liаng vаginаku уаng mеmbеrikаn kеnikmаtаn tiаdа tаrа.

    Adrian kеmudiаn mеrеbаhkаn diri di ѕаmрingku dаn mеmеluk еrаt tubuhku. Tubuh mungilku ѕеgеrа tеnggеlаm dаlаm реlukаnnуа. Tаngаn Adrian dеngаn lеmbut mеmbеlаi rаmbut раnjаngku,

    “Tere ѕауаng… Sеlаmаnуа kitа bеrѕаmа уа, ѕауаng.” dаn сiumаn lеmbut, rоmаntiѕ mеndаrаt di bibirku.

    “Iуа, mаѕ..” ku сium bibirnуа lаmbаt tарi ѕеѕааt. kеmudiаn ku rараtkаn bаdаnku kе bаdаnnуа. Ku lihаt jаm di kаmаr mеnunjukkаn рukul 01.00, mаtаku рun ѕudаh lеlаh dаn kаmi рun tidur dеngаn рulаѕ.

    Pаgi mеnjеlаng, ѕinаr mаtаhаri mаѕuk kе dаlаm kаmаr mеlаlu jеndеlа dаn mеmbаngunkаnku. Adа ѕеdikit rаѕа tеrkеjut mеlihаt wаjаh Adrian kаrеnа bаru реrtаmа аku tidur dеngаn lаki-lаki. Tарi tеringаt kеjаdiаn ѕеmаlаm mеmbuаtku kеmbаli tеrаngѕаng. Pеrlаhаn, ku сium bibir Adrian уаng ѕеdikit tеrbukа. Tеrnуаtа сiumаnku mеmbаngunkаn Adrian уаng kеmudiаn mеmbаlаѕ сiumаnku dеngаn lеbih bеrgаirаh dаn mеnggigit tеlingаku.

    “Sеlаmаt раgi ѕауаngku, сintаku,,” uсарnуа.

    “Pаgi,,,” ku сium lаgi bibirnуа dаn tаk lаmа kаmi рun ѕаling mеngulum bibir ѕаtu ѕаmа lаi, dаn mеmаinkаn lidаh, mеnаmbаh kеnikmаtаn di раgi hаri. Kаrеnа ingin ѕеdikit iѕеng, ku lераѕ сiumаnku

    “Aku mаndi dulu, уа…” bеlum ѕеmраt аku bеrdiri, bаru duduk, Adrian mеnаrik реrutku,
    mеnсiuminуа dеngаn lеmbut. Mеmbuаtku mеnаhаn kеinginаn untuk mеninggаlkаn tеmраt tidur.

    “Nаnti ѕаjа ѕауаng..” Pеrlаhаn сiumаn Adrian dаri реrut nаik mеnuju lеhеrku, mеnjilаtinуа, mеmbuаtku mеndеѕаh nikаmаt, “ааhh..mmm.

    Adrian mеnjilаti lеhеrku dаri bеlаkаng. Tаngаn kаnаnnуа mеrеmаѕ-rеmаѕ рауudаrаku dаn tаngаn kirinуа mеnеkаn vаginаku. Ku rаѕаkаn jаrinуа mаѕuk mеnуuѕuri liаng vаginаku, mеmаinkаn klitоriѕku. Tаk lаmа bаdаnku рun mеnggеliаt, рinggulku tеrаngkаt, dаn оrgаѕmе реrtаmа раgi itu dаtаng.

    Dеngаn lеmbut Adrian mеmаngkuku. Dilеtаkаnnуа аku di аtаѕ kеduа раhаnуа. Kаkiku mеlingkаr di рunggungnуа. Kаmi рun bеrсiumаn dаn Adrian реrlаhаn mеmаѕukkаn реniѕnуа kе dаlаm vаginаku. Adrian kеmudiаn mеmоmра реniѕnуа, mеmbuаtku mеnggеlinjаng реnuh nikmаt. Sаmbil mеmаinkаn реniѕnуа, Adrian mеnikmаti kеduа рауudаrаku уаng mеngеrаѕ.

    “аааh,,ааh,,ааhh,,”

    Sеmаkin lаmа, ѕеmаkin сераt, dаn аku mеrаѕаkаn vаginаku kеmbаli bеrkоntrаkѕi. Ku реluk kераlа Adrian dеngаn еrаt dаn аku mеngеrаng kаrеnа оrgаѕmе “Aааааааhhhh….” уаng diѕuѕul dеngаn Adrian уаng jugа mеnсараi рunсаknуа. Sеtеlаh itu kаmi bеrсumbu lаgi bеbеrара ѕааt kеmudiаn bаru mаndi dаn рulаng kе kоtа mеninggаlkаn ѕерrеi kаmаr уаng bаѕаh kаrеnа саirаnku dаn Adrian ѕеrtа bеrсаk dаrаh реrtаndа hilаngnуа kереrаwаnаnku.

    Sеbеlum mеmulаngkаnku kе kоѕ, kаmi mаmрir kе kоѕ Adrian untuk bеrсintа lаgi. Sеjаk ѕааt itu, ѕеtiар аkhir minggu jikа tidаk аdа kеѕibukаn kаmi раѕti сhесk in di hоtеl untuk bеrсintа.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Dokter Cantik

    Cerita Sex Dokter Cantik


    1115 views

    Perawanku – Cerita Sex Dokter Cantik, Para pembaca sekalian, terserah anda percaya atau tidak, tetapi kisah ini benar-benar terjadi. Waktu itu kalau tidak salah sekitar akhir tahun 2006 yang lalu, saat saya diharuskan melakukan medical check up di sebuah klinik kesehatan di Jakarta, guna memenuhi persyaratan agar diterima bekerja di sebuah perusahaan dan kebetulan saya juga diajak teman saya untuk mengikuti program asuransi jiwa karena dia adalah agen dari salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia, jika tidak salah nama perusahaannya adalah AIA.

    Sebenarnya saya malas melakukan medical check up ini. Pasti lagi-lagi cuma cek darah, air seni, dan kotoran saja. Kemudian diperiksa oleh dokter memakai stetoskop untuk menyakinkan bahwa saya terkena penyakit atau tidak. Itu saja menurut saya, tidak ada yang lain. Dokter yang akan memeriksa saya paling-paling juga dokter cowok, mana sudah tua lagi.
    Dengan sekali-sekali menguap karena jenuh karena sudah hampir setengah jam saya menunggu dokter yang tak kunjung datang. Padahal saya sudah melalui proses medical check up yang pertama, yaitu pemeriksaan darah, air seni, dan kotoran. Beberapa kali saya menanyakan pada orang di loket pendaftaran dan selalu memperoleh jawaban sama, yaitu agar saya sabar sebab dokternya dalam perjalanan dan mungkin sedang terjebak macet. Saya melihat arloji di tangan saya. Akhirnya saya memutuskan bahwa kalau dokternya tidak juga datang limabelas menit lagi, maka saya akan pulang saja ke rumah.
    Dengan menarik nafas kesal, saya memandangi sekeliling saya. Tahu-tahu mata saya tertumbuk pada seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam klinik tersebut. Amboi, cantik juga dia. Saya taksir usianya sekitar 35 tahun. Tetapi alamak, tubuhnya seperti cewek baru duapuluhan. Kencang dan padat. Payudaranya yang membusung cukup besar itu tampak semakin menonjol di balik kaos oblong ketat yang ia kenakan. Gumpalan pantatnya di balik celana jeans-nya yang juga ketat, teramat membangkitkan selera. Batinku, coba dokternya dia ya. Tidak apa-apa deh kalau harus diperiksa berjam-jam olehnya. Akan tetapi karena rasa bosan yang sudah menjadi-jadi, saya tidak memperhatikan wanita itu lagi. Saya kembali tenggelam dalam lamunan yang tak tentu arahnya.
    “Mas, silakan masuk. Itu dokternya sudah datang.” Petugas di loket pendaftaran membuyarkan lamunan saya. Saat itu saya sudah hendak memutuskan untuk pulang ke rumah, mengingat waktu sudah berlalu limabelas menit. Dengan malas-malasan saya bangkit dari bangku dan berjalan masuk ke ruang periksa dokter.
    “Selamat malam”, suara lembut menyapa saat saya membuka pintu ruang periksa dan masuk ke dalam. Saya menoleh ke arah suara yang amat menyejukkan hati itu. Saya terpana, ternyata dokter yang akan memeriksa saya adalah wanita cantik yang tadi sempat saya perhatikan sejenak. Seketika itu juga saya menjadi bersemangat kembali.
    “Selamat malam, Dok”, sahut saya. Ia tersenyum. Aah, luluhlah hati saya karena senyumannya ini yang semakin membuatnya cantik.
    “Oke, sekarang coba kamu buka kaos kamu dan berbaring di sana”, kata sang dokter sambil menunjuk ke arah tempat tidur yang ada di sudut ruang periksa tersebut.
    Cerita Sex Dokter Cantik

    Cerita Sex Dokter Cantik

    Saya pun menurut. Setelah menanggalkan kaos oblong, saya membaringkan diri di tempat tidur. Dokter yang ternyata bernama Dokter S itu menghampiri saya dengan berkalungkan stetoskop di lehernya yang jenjang dan putih.
    “Kamu pernah menderita penyakit berat? Tipus? Lever atau yang lainnya?” Tanyanya. Saya menggeleng.
    “Sekarang coba kamu tarik nafas lalu hembuskan, begitu berulang-ulang ya.” Dengan stetoskopnya, Dokter S memeriksa tubuh saya. Saat stetoskopnya yang dingin itu menyentuh dada saya, seketika itu juga suatu aliran aneh menjalar di tubuh saya. Tanpa saya sadari, saya rasakan, batang kemaluan saya mulai menegang. Saya menjadi gugup, takut kalau Dokter S tahu. Tapi untuk ia tidak memperhatikan gerakan di balik celana saya. Namun setiap sentuhan stetoskopnya, apalagi setelah tangannya menekan-nekan ulu hati saya untuk memeriksa apakah bagian tersebut terasa sakit atau tidak, semakin membuat batang kemaluan saya bertambah tegak lagi, sehingga cukup menonjol di balik celana panjang saya.
    “Wah, kenapa kamu ini? Kok itu kamu berdiri? Terangsang saya ya?” Mati deh! Ternyata Dokter S mengetahui apa yang terjadi di selangkangan saya. Aduh! Muka ini rasanya mau ditaruh di mana. Malu sekali!
    “Nah, coba kamu lepas celana panjang dan celana dalam kamu. Saya mau periksa kamu menderita hernia atau tidak.” Nah lho! Kok jadi begini?! Tapi saya menurut saja. Saya tanggalkan seluruh celana saya, sehingga saya telanjang bulat di depan Dokter S yang bak bidadari itu.
    Gila! Dokter S tertawa melihat batang kemaluan saya yang mengeras itu. Batang kemaluan saya itu memang tidak terlalu panjang dan besar, malah termasuk berukuran kecil. Tetapi jika sudah menegang seperti saat itu, menjadi cukup menonjol.
    “Uh, burung kamu biar kecil tapi bisa tegang juga”, kata Dokter S serasa mengelus batang kemaluan saya dengan tangannya yang halus. Wajah saya menjadi bersemu merah dibuatnya, sementara tanpa dapat dicegah lagi, batang kemaluan saya semakin bertambah tegak tersentuh tangan Dokter S. Dokter S masih mengelus-elus dan mengusap-usap batang kemaluan saya itu dari pangkal hingga ujung, juga meremas-remas buah zakar saya.
    “Mmm.. Kamu pernah bermain?” Saya menggeleng. Jangankan pernah bermain. Baru kali ini saya telanjang di depan seorang wanita! Mana cantik dan molek lagi!
    “Aahh..” Saya mendesah ketika mulut Dokter S mulai mengulum batang kemaluan saya. Lalu dengan lidahnya yang kelihatannya sudah mahir digelitiknya ujung kemaluan saya itu, membuat saya menggerinjal-gerinjal. Seluruh batang kemaluan saya sudah hampir masuk ke dalam mulut Dokter S yang cantik itu. Dengan bertubi-tubi disedot-sedotnya batang kemaluan saya. Terasa geli dan nikmat sekali. Baru kali ini saya merasakan kenikmatan yang tak tertandingi seperti ini.
    Dokter S segera melanjutkan permainannya. Ia memasukkan dan mengeluarkan batang kemaluan saya dari dalam mulutnya berulang-ulang. Gesekan-gesekan antara batang kemaluan saya dengan dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi saya.
    “Auuh.. Aaahh..” Akhirnya saya sudah tidak tahan lagi. Kemaluan saya menyemprotkan cairan kental berwarna putih ke dalam mulut Dokter S. Bagai kehausan, Dokter S meneguk semua cairan kental tersebut sampai habis.
    “Duh, masa baru begitu saja kamu udah keluar.” Dokter S meledek saya yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.
    “Dok.. Saya.. baru pertama kali.. melakukan ini..” jawab saya terengah-engah.
    Dokter S tidak menjawab. Ia melepas jas dokternya dan menyampirkannya di gantungan baju di dekat pintu. Kemudian ia menanggalkan kaos oblong yang dikenakannya, juga celana jeans-nya. Mata saya melotot memandangi payudara montoknya yang tampaknya seperti sudah tidak sabar ingin mencelat keluar dari balik BH-nya yang halus. Mata saya serasa mau meloncat keluar sewaktu Dokter S mencopot BH-nya dan melepaskan celana dalamnya. Astaga! Baru sekarang saya pernah melihat payudara sebesar ini. Sungguh besar namun terpelihara dan kencang. Tidak ada tanda-tanda kendor atau lipatan-lipatan lemak di tubuhnya. Demikian pula pantatnya. Masih menggumpal bulat yang montok dan kenyal. Benar-benar tubuh paling sempurna yang pernah saya lihat selama hidup saya. Saya rasakan batang kemaluan saya mulai bangkit kembali menyaksikan pemandangan yang teramat indah ini.
    Dokter S kembali menghampiri saya. Ia menyodorkan payudaranya yang menggantung kenyal ke wajah saya. Tanpa mau membuang waktu, saya langsung menerima pemberiannya. Mulut saja langsung menyergap payudara nan indah ini. Sambil menyedot-nyedot puting susunya yang amat tinggi itu, mengingatkan saya waktu saya menyusu pada ibu saya selagi kecil. Dokter S adalah wanita yang kedua yang pernah saya isap-isap payudaranya, tentu saja setelah ibu saya saat saya masih kecil.
    “Uuuhh.. Aaah..” Dokter S mendesah-desah tatkala lidah saya menjilat-jilat ujung puting susunya yang begitu tinggi menantang. Saya permainkan puting susu yang memang amat menggiurkan ini dengan bebasnya. Sekali-sekali saya gigit puting susunya itu. Tidak cukup keras memang, namun cukup membuat Dokter S menggelinjang sambil meringis-ringis.
    Tak lama kemudian, batang kemaluan saya sudah siap tempur kembali. Saya menarik tangan Dokter S agar ikut naik ke atas tempat tidur. Dokter S memahami apa maksud saya. Ia langsung naik ke atas tubuh saya yang masih berbaring tertelentang di tempat tidur. Perlahan-lahan dengan tubuh sedikit menunduk ia mengarahkan batang kemaluan saya ke liang kewanitaannya yang sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu lebat kehitaman. Lalu dengan cukup keras, setelah batang kemaluan saya masuk satu sentimeter ke dalam liang kewanitaannya, ia menurunkan pantatnya, membuat batang kemaluan saya hampir tertelan seluruhnya di dalam liang senggamanya. Saya melenguh keras dan menggerinjal-gerinjal cukup kencang waktu ujung batang kemaluan saya menyentuh pangkal liang kewanitaan Dokter S. Menyadari bahwa saya mulai terangsang, Dokter S menambah kualitas permainannya. Ia menggerak-gerakkan pantatnya berputar-putar ke kiri ke kanan dan naik turun ke atas ke bawah. Begitu seterusnya berulang-ulang dengan tempo yang semakin lama semakin tinggi. Membuat tubuh saya menjadi meregang merasakan nikmat yang tiada tara.
    Saya merasa sudah hampir tidak tahan lagi. Batang kemaluan saya sudah nyaris menyemprotkan cairan kenikmatan lagi. Namun saya mencoba menahannya sekuat tenaga dan mencoba mengimbangi permainan Dokter S yang liar itu. Akhirnya.., “Aaahh.. Ouuhh..” Saya dan Dokter S sama-sama menjerit keras. Kami berdua mencapai klimaks hampir bersamaan. Saya menyemprotkan air mani saya di dalam liang kewanitaan Dokter S yang masih berdenyut-denyut menjepit batang kemaluan saya.
    Demikianlah peristiwa yang terjadi siang itu. Dan mau tahu apa hasil medical check up yang istimewa tersebut? Saya dinyatakan sehat secara fisik dan tentu saja secara mental. Apalagi secara birahi. Tentu para pembaca semua tahu maksud saya ini. Dan akhirnya saya berhasil diterima di perusahaan besar itu yang merupakan impian saya sejak lama dan saya berhasil mendapatkan asuransi policy dari AIA sekalian membantu teman saya mendapatkan komisinya. Sayangnya, permainan saya yang menggebu-gebu tersebut dengan Dokter S merupakan pengalaman saya yang pertama sekaligus yang terakhir. Ia sepertinya menghindar apabila saya sengaja datang ke tempat praktek dokternya. Dengan alasan sibuk atau sejuta alasan lainnya, Dokter S selalu menolak menemui saya. Saya tidak tahu mengapa ia bersikap seperti itu. Ah, biar saja!.
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Buah Terlarang

    Cerita Sex Buah Terlarang


    1115 views

    Perawanku – Cerita Sex Buah Terlarang, Istri sudah punya. Anak juga sudah sepasang. Rumah, meskipun cuma rumah BTN juga sudah punya. Mobil juga meski kreditan sudah punya. Mau apalagi Pada awalnya aku cuma iseng-iseng saja. Lama-lama jadi keterusan juga. Dan itu semua karena makan buah terlarang.

    Kehidupan rumah tanggaku sebetulnya sangat bahagia. Istriku cantik, seksi dan selalu menggairahkan. Dari perkawinan kami kini telah terlahir seorang anak laki-laki berusia delapan tahun dan seorang anak cantik berusia tiga tahun, aku cuma pegawai negeri yang kebetulan punya kedudukan dan jabatan yang lumayan.

    Tapi hampir saja biduk rumah tanggaku dihantam badai. Dan memang semua ini bisa terjadi karena keisenganku, bermain-main api hingga hampir saja menghanguskan mahligai rumah tanggaku yang damai. Aku sendiri tidak menyangka kalau bisa menjadi keterusan begitu.

    Awalnya aku cuma iseng-iseng main ke sebuah klub karaoke. Tidak disangka di sana banyak juga gadis-gadis cantik berusia remaja. Tingkah laku mereka sangat menggoda. Dan mereka memang sengaja datang ke sana untuk mencari kesenangan. Tapi tidak sedikit yang sengaja mencari laki-laki hidung belang.

    Terus terang waktu itu aku sebenarnya tertarik dengan salah seorang gadis di sana. Wajahnya cantik, Tubuhnya juga padat dan sintal, Kulitnya kuning langsat. Dan aku memperkirakan umurnya tidak lebih dari delapan belas tahun. Aku ingin mendekatinya, tapi ada keraguan dalam hati. Aku hanya memandanginya saja sambil menikmati minuman ringan, dan mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan pengunjung secara bergantian.

    Tapi sungguh tidak diduga sama sekali ternyata gadis itu tahu kalau aku sejak tadi memperhatikannya. Sambil tersenyum dia menghampiriku, dan langsung saja duduk disampingku. Bahkan tanpa malu-malu lagi meletakkan tangannya di atas pahaku. Tentu saja aku sangat terkejut dengan keberaniannya yang kuanggap luar biasa ini.
    Sendirian aja nih…, Omm.., sapanya dengan senyuman menggoda.
    Eh, iya.., sahutku agak tergagap.
    Perlu teman nggak.. dia langsung menawarkan diri.

    Aku tidak bisa langsung menjawab. Sungguh mati, aku benar-benar tidak tahu kalau gadis muda belia ini sungguh pandai merayu. Sehingga aku tidak sanggup lagi ketika dia minta ditraktir minum. Meskipun baru beberapa saat kenal, tapi sikapnya sudah begitu manja. Bahkan seakan dia sudah lama mengenalku. Padahal baru malam ini aku datang ke klub karaoke ini dan bertemu dengannya.

    Semula aku memang canggung, Tapi lama-kelamaan jadi biasa juga. Bahkan aku mulai berani meraba-raba dan meremas-remas pahanya. Memang dia mengenakan rok yang cukup pendek, sehingga sebagian pahanya jadi terbuka.

    Hampir tengah malam aku baru pulang. Sebenarnya aku tidak biasa pulang sampai larut malam begini. Tapi istriku tidak rewel dan tidak banyak bertanya. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Wajah gadis itu masih terus membayang di pelupuk mata. Senyumnya, dan kemanjaannya membuatku jadi seperti kembali ke masa remaja.

    Esoknya Aku datang lagi ke klub karaoke itu, dan ternyata gadis itu juga datang ke sana. Pertemuan kedua ini sudah tidak membuatku canggung lagi. Bahkan kini aku sudah berani mencium pipinya. Malam itu akau benar-benar lupa pada anak dan istri di rumah. Aku bersenang-senang dengan gadis yang sebaya dengan adikku. Kali ini aku justru pulang menjelang subuh.

    Mungkin karena istriku tidak pernah bertanya, dan juga tidak rewel. Aku jadi keranjingan pergi ke klub karaoke itu. Dan setiap kali datang, selalu saja gadis itu yang menemaniku. Dia menyebut namanya Reni. Entah benar atau tidak, aku sendiri tidak peduli. Tapi malam itu tidak seperti biasanya. Reni mengajakku keluar meninggalkan klub karaoke. Aku menurut saja, dan berputar-putar mengelilingi kota Jakarta dengan kijang kreditan yang belum lunas.

    Entah kenapa, tiba-tiba aku punya pikiran untuk membawa gadis ini ke sebuah penginapan. Sungguh aku tidak menyangka sama sekali ternyata Reni tidak menolak ketika aku mampir di halaman depan sebuah losmen. Dan dia juga tidak menolak ketika aku membawanya masuk ke sebuah kamar yang telah kupesan.

    Jari-jariku langsung bergerak aktif menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Bahkan wajahnya dan lehernya kuhujani dengan ciuman-ciuman yang membangkitkan gairah. Aku mendengar dia mendesah kecil dan merintih tertahan. Aku tahu kalau Reni sudah mulai dihinggapi kobaran api gairah asmara yang membara.

    Perlahan aku membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan satu persatu aku melucuti pakaian yang dikenakan Reni, hingga tanpa busana sama sekali yang melekat di tubuh Reni yang padat berisi. Reni mendesis dan merintih pelan saat ujung lidahku yang basah dan hangat mulai bermain dan menggelitik puting payudaranya. Sekujur tubuhnya langsung bergetar hebat saat ujung jariku mulai menyentuh bagian tubuhnya yang paling rawan dan sensitif. Jari-jemariku bermain-main dipinggiran daerah rawan itu. Tapi itu sudah cukup membuat Reni menggerinjing dan semakin bergairah.

    Tergesa-gesa aku menanggalkan seluruh pakaian yang kukenakan, dan menuntun tangan gadis itu ke arah batang penisku. Entah kenapa, tiba-tiba Reni menatap wajahku, saat jari-jari tangannya menggenggam batang penis kebanggaanku ini, Tapi hanya sebentar saja dia menggenggam penisku dan kemudian melepaskannya. Bahkan dia melipat pahanya yang indah untuk menutupi keindahan pagar ayunya.
    Jangan, Omm…, desah Reni tertahan, ketika aku mencoba untuk membuka kembali lipatan pahanya.

    Cerita Sex Buah Terlarang

    Cerita Sex Buah Terlarang

    Kenapa tanyaku sambil menciumi bagian belakang telinganya.
    Aku…, hmm, aku… Reni tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia malah menggigit bahuku, tidak sanggup untuk menahan gairah yang semakin besar menguasai seluruh bagian tubuhnya. Saat itu Reni kemudian tidak bisa lagi menolak dan melawan gairahnya sendiri, sehingga sedikit demi sedikit lipatan pahanya yang menutupi vaginanya mulai sedikit terkuak, dan aku kemudian merenggangkannya kedua belah pahanya yang putih mulus itu sehingga aku bisa dengan puas menikmati keindahan bentuk vagina gadis muda ini yang mulai tampak merekah.

    Dan matanya langsung terpejam saat merasakan sesuatu benda yang keras, panas dan berdenyut-denyut mulai menyeruak memasuki liang vaginanya yang mulai membasah. Dia menggeliat-geliat sehingga membuat batang penisku jadi sulit untuk menembus lubang vaginanya. Tapi aku tidak kehilangan akal. Aku memeluk tubuhnya dengan erat sehingga Reni saat itu tidak bisa leluasa menggerak-gerakan lagi tubuhnya. Saat itu juga aku menekan pinggulku dengan kuat sekali agar seranganku tidak gagal lagi.

    Berhasil!, begitu kepala penisku memasuki liang vagina Reni yang sempit, aku langsung menghentakkan pinggulku ke depan sehingga batang penisku melesak ke dalam liang vagina Reni dengan seutuhnya, seketika itu juga Reni memekik tertahan sambil menyembunyikan wajahnya di bahuku, Seluruh urat-urat syarafnya langsung mengejang kaku. Dan keringat langsung bercucuran membasahi tubuhnya. Saat itu aku juga sangat tersentak kaget, aku merasakan bahwa batang penisku seakan merobek sesuatu di dalam vagina Reni, dan ini pernah kurasakan pula pada malam pertamaku, saat aku mengambil kegadisan dari istriku. Aku hampir tidak percaya bahwa malam ini aku juga mengambil keperawan dari gadis yang begitu aku sukai ini. Dan aku seolah masih tidak percaya bahwa Reni ternyata masih perawan.

    Aku bisa mengetahui ketika kuraba pada bagian pangkal pahanya, terdapat cairan kental yang hangat dan berwarna merah. Aku benar-benar terkejut saat itu, dan tidak menyangka sama sekali, Reni tidak pernah mengatakannya sejak semula. Tapi itu semua sudah terjadi. Dan rasa terkejutku seketika lenyap oleh desakan gairah membara yang begitu berkobar-kobar.

    Aku mulai menggerak-gerakan tubuhku, agar penisku dapat bermain-main di dalam lubang vagina Renny yang masih begitu rapat dan kenyal, Sementara Reni sudah mulai tampak tidak kesakitan dan sesekali tampak di wajahnya dia sudah bisa mulai merasakan kenikmatan dari gerakan-gerakan maju mundur penisku seakan membawanya ke batas ujung dunia tak bertepi.

    Malam itu juga Reni menyerahkan keperawannya padaku tanpa ada unsur paksaan. Meskipun dia kemudian menangis setelah semuanya terjadi, Dan aku sendiri merasa menyesal karena aku tidak mungkin mengembalikan keperawanannya. Aku memandangi bercak-bercak darah yang mengotori sprei sambil memeluk tubuh Reni yang masih polos dan sesekali masih terdengar isak tangisnya.
    Maafkan aku, Reni. Aku tidak tahu kalau kamu masih perawan. Seharusnya kamu bilang sejak semula…, kataku mencoba menghibur.

    Reny hanya diam saja. Dia melepaskan pelukanku dan turun dari pembaringan. Dia melangkah gontai ke kamar mandi. Sebentar saja sudah terdengar suara air yang menghantam lantai di dalam kamar mandi. Sedangkan aku masih duduk di ranjang ini, bersandar pada kepala pembaringan.

    Aku menunggu sampai Reni keluar dari kamar mandi dengan tubuh terlilit handuk dan rambut yang basah. Aku terus memandanginya dengan berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada. Bagaimanapun aku sudah merenggut kegadisannya. Dan itu terjadi tanpa dapat dicegah kembali. Reni duduk disisi pembaringan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lain.

    Aku memeluk pinggangnya, dan menciumi punggungnya yang putih dan halus. Reni menggeliat sedikit, tapi tidak menolak ketika aku membawanya kembali berbaring di atas ranjang. Gairahku kembali bangkit saat handuk yang melilit tubuhnya terlepas dan terbentang pemandangan yang begitu menggairahkan datang dari keindahan kedua belah payudaranya yang kencang dan montok, serta keindahan dari bulu-bulu halus tipis yang menghiasi di sekitar vaginanya.

    Dan secepat kilat aku kembali menghujani tubuhnya dengan kecupan-kecupan yang membangkitkan gairahnya. Reni merintih tertahan, menahan gejolak gairahnya yang mendadak saja terusik kembali.
    Pelan-pelan, Omm. Perih…, rintih Reni tertahan, saat aku mulai kembali mendobrak benteng pagar ayunya untuk yang kedua kalinya. Renny menyeringai dan merintih tertahan sambil mengigit-gigit bibirnya sendiri, saat aku sudah mulai menggerak-gerakan pinggulku dengan irama yang tetap dan teratur.

    Perlahan tapi pasti, Reni mulai mengimbangi gerakan tubuhku. Sementara gerakan-gerakan yang kulakukan semakin liar dan tak terkendali. Beberapa kali Reni memekik tertahan dengan tubuh terguncang dan menggeletar bagai tersengat kenikmatan klimaks ribuan volt. Kali ini Reni mencapai puncak orgasme yang mungkin pertama kali baru dirasakannya. Tubuhnya langsung lunglai di pembaringan, dan aku merasakan denyutan-denyutan lembut dari dalam vaginanya, merasakan kenikmatan denyut-denyut vagina Reni, membuatku hilang kontrol dan tidak mampu menahan lagi permainan ini.. hingga akhirnya aku merasakan kejatan-kejatan hebat disertai kenikmatan luar biasa saat cairan spermaku muncrat berhamburan di dalam liang vagina Renny. Akupun akhirnya rebah tak bertenaga dan tidur berpelukan dengan Reni malam itu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Pemerkosaan Dokter Amoy Muda

    Cerita Sex Pemerkosaan Dokter Amoy Muda


    1115 views

    Perawanku – Cerita Sex Pemerkosaan Dokter Amoy Muda, Seorang dokter wanita muda keturunan Tionghoa menceramahi Yoga begitu ia masuk ke dalam kamar periksa, Yoga yang merasakan badannya masih sakit, berjalan terpincang hanya bisa diam tidak menjawab.

    “Saya perhatikan cuma kalian anak-anak muda asli daerah sini saja yang suka balapan liar. Apa udah gak sayang sama nyawa kalian..?

    Dokter muda itu masih terus berceloteh. Yoga berusaha tetap cool dengan celotehan pedas itu. Kalau diikutkan perasaan, hatinya memang panas dihina bergitu. Tapi karena badannya sakit dan lutut serta sikutnya tengah dibalut dengan perban karena terjatuh dari motor maka dia mengambil sikap diam.

    Yoga teringat peristiwa malam tadi saat dia dan teman-temannya berlomba balapan motor liar di jalanan malam kota. Nasibnya malang karena tergelincir di tikungan dan badannya terhempas ke jalan aspal yang keras. Badan, lutut dan sikunya memar serta mengeluarkan banyak darah. Nasib baik helm yang dipakainya tidak terlepas tetap melindungi kepalanya, kalau tidak kepalanya mungkin bisa bocor.

    Yoga memilih untuk mendapat perawatan di sebuah klinik dokter umum. Dia enggan ke rumah sakit karena para suster di sana pasti akan menyindir hobinya itu. Tapi tak disangkanya, di klinik dokter umum ini pun sang dokter meyinggung-nyinggung hobinya itu. Dokter keturunan cina muda itu sungguh cantik dan Toge.. yupzz bahkan toket gedenya teramat sangat masih kenceng, maklumlah mungkin dia masih perawan. Dokter ini pantas jadi seorang model, fikir Yoga.

    “Duduk, anda sakit apa?” Tanya dokter muda itu.

    Yoga berjalan perlahan sambil memandang ke dinding di belakang dokter yang memakai baju dokter warna putih. Di dalam sebuah figura terlihat ijazah dokter ini. Dr. Sinta Angeline Chie.

    “Saya sakit di sini dokter,” jawab Yoga malu sambil menunjukkan selangkangannya.

    “Memangnya kenapa?” tanya sang dokter.

    “Terjepit resleting dokter,” jawab Yoga terputus-putus menahan malu.

    “Coba anda buka celananya dan berbaring di sana,” sambil tangannya menunjukkan sebuah tempat tidur kecil yang dijadikan tempat pemeriksaan.

    Yoga membuka celana yang dipakainya dan berbaring di tempat tidur pemeriksaan seperti yang diarahkan oleh si dokter Tionghoa tersebut.

    Dr. Sinta memeriksa sambil memegangi batang kontol Yoga dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan karet.

    “Ini salah kamu sendiri. Kalau saja kamu tidak membuang kulit yang membungkusi kepala penismu ini tentu tidak akan begini jadinya.” Dr. Sinta bersuara sambil mengelusi kepala licin kontol Yoga yang lecet.

    Yoga berfikir. Salahkah aku karena aku disunat. Dokter cina ini menyalahkan aku karena kulit kulupku telah dibuang.

    “Anda tak tau kan, kulit kulup berfungsi untuk melindungi kepala penis. Kalau kulupnya dibuang itu emangnya untuk apa?” Dr. Sinta masih mengomel.

    “Saya suka perempuan-perempuan kalian, kepala mereka ditutup dengan baik. Tapi saya tak suka penis kalian, kulit penutup kepala malah dibuang.”

    Yoga sungguh geram saat kontolnya dihina seperti itu oleh sang dokter. Namun perasaan marahnya tidak ditunjukkan karena lukanya sedang diperiksa. Kalau gak bisa nahan emosi udah diterjang dokter cina itu. Malunya semakin menjadi saat sang asisten dokter tersebut senyum-senyum ketika Dr. Sinta terus-terusan mengomel.

    “Susi! Kalau Suami kamu disunat gak?”

    “Enggak, dokter,” jawab Susi yang tampak dari penampilannya berasal dari Papua.

    “Kamu suka yang disunat atau gak disunat?” tanya Dr. Sinta lagi.

    “Saya tak permasalahkan itu dokter. Asalkan kontol itu bisa bangun cukup keras dan bisa memuaskan saya.” Jawab Susi ringan.

    Yoga geram. Dokter ni mau mengobatinya yang lagi kesakitan ini atau malah mau mengobrol dengan asistennya.

    “Saya kalau nikah nanti mau pilih yang tak disunat,” Dr. Sinta berceloteh tanpa rasa malu kepada Yoga yang sedang dirawatnya. Atau dokter amoy ini memang sengaja ingin memojokkan Yoga.

    “Kalau ternyata dia disunat lalu bagaimana dokter?” tanya Susi.

    “Sebelum dinikahi, saya pasti akan periksa kontolnya terlebih dulu. Saya perlu uji keperkasaannya.”

    “Dokter tak masalah kalau nanti saat malam pertama dokter sudah tidak virgin lagi?”

    “Sekarang pun saya sudah tak virgin.” Oceh mulut tipis dokter muda itu.

    Yoga hanya diam saja di atas ranjang pemeriksaan. Perasaan geramnya masih bersisa. Rasa malu dan terhina muncul sepanjang dokter bermata sipit itu berceloteh menganggap rendah kontol miliknya. Sang dokter terus menyapu cairan obat ke bagian kepala kontol yang terluka. Yoga merasa pedih ketika obat diusapkan. Sensasi geli juga ada ketika kapas obat merayap di kepala kontolnya.

    “Okay, dah selesai. kontolmu ini berukuran kecil sekali. Tak ada perempuan yang suka.” Sempat pula dokter muda ini menyepet Yoga dengan sinis.

    Emosi Yoga kembali tersulut bara api. Ngomongnya sih pelan tapi dalem… Mungkin kalau dia tidak sedang sakit waktu itu juga dokter cina itu akan diperkosanya. Kata-kata dokter tersebut melukai perasaannya. Yoga merasa terhina.

    “Aku merasa terhina dengan dokter haram sialan itu.” Yoga menceritakan kejadian yang menimpanya kepada Reza kawannya seminggu setelah pemeriksaan.

    “Lalu sekarang kamu mau ngapain?” tanya Reza.

    “Aku mau balas dendam, biar dia rasakan batang kontolku ni,” Yoga masih menyimpan amarah.

    “Kau mau ikut aku?” tanya Yoga.

    “Bolehlah, aku ingin menjajal liang bool tuh amoy.”

    Jam sepuluh malam itu Yoga dan Reza sedang menunggu di depan klinik Dr. Sinta. Satu persatu asisten dokter tersebut meninggalkan klinik. Sepuluh menit mengamati munculah Dr. Sinta. Dia sedang memegangi kunci untuk menutup kliniknya. Lalu dengan cepat Yoga dan Reza menerobos dan memegangi sang dokter muda dari belakang. Sambil mulutnya dibekap badan dokter tersebut didorong masuk ke dalam klinik.

    Yoga dibantu Reza menarik dokter amoy tersebut ke dalam ruang periksa pasien. Lampu dinyalakan terang dan dokter tersebut dibaringkan di atas tempat tidur untuk memeriksa pasien. Yoga mengeluarkan pisau kecil yang disimpan dalam sakunya dan ujungnya dirapatkan ke pipi licin sang dokter.

    “Kalau kamu menjerit pisau ini akan menoreh pipimu yang cantik ini.” Yoga memberi ancaman kepada Dr. Sinta.

    “Kalau mau selamat ikuti saja perintah kami,” sambung Reza.

    Dengan penuh ketakutan Dr. Sinta mengikuti saja ancaman mereka tanpa berupaya melawan. Dua orang pria lokal yang berbadan kekar ini bisa melakukan apapun kepada dirinya. Yoga memegang erat paha Dr. Sinta yang memakai rok pendek berwarna hitam. Dr. Sinta hanya memejamkan matanya saat kancing bajunya di copot satu persatu .. hingga tampaklah toket gede dokter amoy itu.

    Lalu rok mininya yang berwarna hitam diangkat jemari Yoga keatas. Airmata mulai jatuh keluar dari kelopak matanya saat Yoga kemudian menanggalkan rok yang dipakainya itu sehingga menampilkan paha dan batang kakinya yang amat putih namun memeknya masih di bungkus celana dalam berwarna cream. Yoga menjilati paha dokter amoy itu karena terangsang menikmati pemandangan indah di hadapannya.

    “Minggu lalu kau menghina burungku. Kau bilang burung bersunat buruk rupa. Kau bilang lagi burungku kecil, tak ada perempuan mau. Sekarang aku mau kau rasakan burung milikku ini.”

    Dengan perasaan yang masih takut Dr. Sinta mulia teringat pada lelaki di hadapannya. Dr. Sinta masih ingat pemuda yang mengangkang dan dirawatnya disini karena kepala penisnya terjepit resleting. Dr. Sinta lalu mulai menyesal kerana telah menghina pemuda ini. Tak disangkanya pemuda ini berdendam kepadanya.

    Lalu Dokter sinta disuruh berdiri, setelah berdiri di doronglah dokter sinta ke tembok, hingga ia terpojok di tembok itu setelah itu dibukalah baju dinas dokter Sinta yang berwarna putih itu… dan kini dokter sinta hanya mengenakan Celana Dalamnya yang berwarna cream, dia hanya bisa pasrah bersender di tembok sambil menutup mukanya.

    Kenudian dokter sinta kembali di baringkan di tempat tidur tadi dan Akhirnya hanya celana dalam Dr. Sinta yang berwarna cream itu yang menutupi tubuh mulusnya. Yoga pun menciumi dari ujung kaki hingga sampai ke celana dalam Dr. Sinta.

    Mengeliat-geliat lah Dr. Sinta diperlakukan begitu. Yoga kemudian menarik turun celana dalam Dr. Sinta dan menampakkan gundukan memek putih yang tertutupi dengan bulu-bulu halus warna hitam dan amat mennggairahkan.

    Yoga pun terus mengarahkan mukanya ke celah belahan memek dari Dr. Sinta dan menjilat-jilatnya dengan penuh nafsu. Mengeliat-ngeliat Dr. Sinta diperlakukan begitu. Memeknya terasa geli dijilati Yoga. Walau pun tanpa kerelaan tapi lidah Yoga yang menyiksa kelentitnya membuat nafsunya membara juga. Sambil menjilat memek Dr.  Sinta, tangan Yoga tak henti-henti meraba-raba paha dan seluruh tubuh Dr. Sinta. Dr. Sinta menjerit-jerit kecil disaat Yoga menghisap biji kelentitnya yang terasa nikmat. Terangkat-angkat pantat Dr. Sinta menahan cobaan tapi nikmat.

    Yoga tak peduli dengan memek si perempuan sipit yang bau Air kencing itu. Mungkin Dr. Sinta tak mencuci memeknya sehabis kencing. Yoga mulai mengganas dan ingin menggarap bagian atas tubuh Dr. Sinta juga.

    Bibir Dr. Sinta kini menjadi mangsa ciuman Yoga dan jari-jemarinya meremas buah dada toge nan padat milik Dr. Sinta. Kelihatan pipi Dr. Sinta yang lembut dan putih itu berubah menjadi kemerah-merahan kelika Yoga semakin mengganas. Yoga mulai membuka pakaian dan celana jeansnya. Yoga pun menanggalkan celana dalamnya dan mengeluarkan batang kontolnya yang telah lama mengeras. Batang kontol sepanjang enam inci itu mengganguk-angguk menunggu mangsanya.

    “Jangan… tolong jangan lanjutkan…, saya minta maaf,” kata Dr. Sinta memohon belas kasihan.

    “Sudah terlambat kau minta maaf. Sekarang kau rasakanlah kontol yang sudah disunat ku ni.” Yoga tertawa kecil.

    Yoga mengurut batang kontolnya. Helm bulat warna coklat tua itu mengkilat. Sengaja didekatkan ke muka amoy cantik itu… Dr. Sinta tak menyangka batang penis kecil dan pendek waktu dia periksa minggu lalu dapat tumbuh hingga sebesar itu.

    “Sekali kau mencoba kontolku yang udah disunat ini, kamu akan ketagihan. Rasakan sensasi dan kenikmatannya.”

    Yoga terus mengangkangkan Dr. Sinta yang tidak berdaya itu lalu kelihatan lubang memeknya terbuka lebar dan siap untuk digarapnya. Yoga tidak menunggu lama lagi.. yogapun menusukkan batang kontol yang pernah dihina sang dokter cina ke dalam liang memek Dr. Sinta yang masih sempit itu. Yoga merasakan kenikmatan yang tidak terhingga ketika batang penisnya masuk menerobos ke dalam memek si amoy. Dr. Sinta hanya menutupi mukanya. “Jleb-jleb-jleb” blebes .. bunyi memek milik Dr. Sinta digenjoti Yoga dengan penuh nafsu.

    Reza yang tadinya hanya menonton mulai beraksi karena nafsunya juga ikut membahana badai, selain itu karena reza juga sering membuka situs bokepdo.com, jadi nafsunya semakin beringas. Toket milik wanita cina yang sintal itu diremas-remasinya.

    Ketiak licin dokter amoy itu dicium dan dihirupinya. Cukup wangi ketiak dokter muda ini. Dr. Sinta kegelian saat lidah Reza mulai bolak-balik di kulit ketiaknya yang licin.

    Yoga meneruskan aksinya. Batang kontolnya ditarik dari lubang memek Dr. Sinta. Diangkatnya badan dokter muda itu dan diletakkan di lantai. Diarahkan dokter amoy itu supaya merangkak. Kontolnya yang basah dengan lendir memek Dr. Sinta didorongnya masuk dari belakang. Dr. Sinta hanya mampu mengerang. Terayun-ayun toketnya yang tergantung. kini mereka melakukan Doggy style

    Reza yang mengamati saja tingkah laku Yoga dan Dr. Sinta tak dapat lagi menahan nafsunya. Celananya dipelorotkan dan kontol miliknya yang sedikit lebih besar dengan milik Yoga berdiri menegang dengan keras. Kontol itu dipaksakankan masuk ke mulut Dr. Sinta.

    “Sekarang hisap juga kontol yang udah sunat milikku. Nanti tentu kau akan merasakan enaknya,” usik Reza sambil mengarahkan kontolnya yang besar dan panjang itu ke muka Dr. Sinta. Dr. Sinta hanya mampu melihat tanpa berani melawan.

    “Buka mulutmu dan sedotilah, tunggu apa lagi,” perintah Reza dengan suara keras.
    Dr. Sinta membuka mulut tanpa daya dan mulai mengecapi kepala licin bentuk helm jerman menerobos ke mulutnya. Dr. Sinta menghisap dan mengemut batang kontol yang besar hingga Reza mengerang-ngerang keenakan.

    Lama-kelamaan Dr. Sinta telah keletihan dan hanya mampu menuruti saja perlakuan Yoga dan Reza kehadapnya. Akhirnya Dr. Sinta tidak mampu bertahan lagi dengan genjotan dari kontol Yoga dan dia pun telah basah berkeringat karena hampir klimaks. Mata Dr. Sinta kelihatan amat kuyu dan keletihan sementara buah dadanya menegang tajam karena merasakan orgasme yang amat hebat, maklumlah kali pertama baginya dientot oleh lelaki yang bersunat. konto yang sebelumnya dianggapnya tidak menarik ternyata terasa sungguh hebat.

    Akhirnya Dr. Sinta klimaks dan air juice memeknya keluar juga dengan banyaknya dan kelihatan meleleh pada liang memeknya. Kali pertama Dr. Sinta mendapat orgasme dari persetubuhannya dengan penis yang udah disunat. Sebelumnya teman lelakinya yang masih berkulup yang melayaninya ngentot. Mengerang hebat si amoy cantik saat dia mengalami klimaks. Menggigil badannya merasakan kenikmatan yang amat sangat.

    Yoga juga turut orgasme menyusul sang dokter saat melihat amoy muda yang cantik yang digenjotnya itu klimaks dan dia meraung kuat dalam orgasme sambil menembak-nembakkan air kejantannya ke dalam liang memek Dr. Sinta. Perempuan cina itu dapat merasakan cairan panas menerpa kencang ke rongga rahimnya. Pangkal rahimnya terkemut-kemut menyedot benih pria pribumi yang amat banyak. Mungkin dua buah zakar punya Yoga ngecrot disana mengosongkan seluruh amunisinya.

    Reza juga tak tertahan lagi saat mulut mungil yang hangat itu membelai batang penisnya. Reza yang belum pernah merasakan kengahatan dari perempuan tak dapat bertahan lama dan menembakkan air maninya ke dalam mulut Dr. Sinta. Dr. Sinta dengan lemah menelan semua mani dari kontol Reza. Terasa anyir tapi ditelan juga.

    “Sekarang kau nikmati kontol yang kau hina. Kau bilang tak ingin kontol yang sunat. bagaimana rasanya?”

    “Enaak..” Dr. Sinta menjawab dengan perasaan malu.

    Sekarang Dr. Sinta mengakui batang penis pria lokal milik dua orang ini lebih nikmat dari batang teman lelakinya. Dia telah salah sangka. Dan dia merasa bersalah karena menghina kontol lelaki ini. Tapi bila dipikirkan ada pula hikmahnya. Dia dapat menikmati batang penis yang dipotong kulit penutupnya. Rasanya juga nikmat. Dr. Sinta mulai berpikir untuk menyuruh teman lelakinya dikhitan juga.

    Reza dan Yoga mengenakan pakaian dan meninggalkan dokter cina tersebut terbaring kecapekan di lantai.

    “Tak sempat aku merasakan memeknya amoy. Hisapannya pasti dahsyat, aku sudah tak tahan.” Reza mengeluh perlahan.

    “Kau jangan sedih. Minggu depan kita garap lagi dokter cina tu.”

    Yoga dan Reza tertawa berderai dalam mobil. Yoga dan Reza membuat rencana mereka selanjutnya. Apalagi Reza bersikukuh ingin menikmati juga memek milik amoy yang cantik itu. Kali ini mereka akan mengajak seorang teman dekat mereka yang juga ingin merasai memek amoy yang ketat itu. Maklum saja dua orang jejaka jones ini belum pernah merasai nikmatnya ngentot. Hanya nyabun dan coli saja yang mereka tahu, itupun sudah terasa nikmat yang tak terhingga.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Ibu Maya Yang Sexy

    Cerita Sex Ibu Maya Yang Sexy


    1114 views

    Perawanku – Cerita Sex Ibu Maya Yang Sexy, Setelah tamat dari SMU, dan merantau ke Jakarta. Aku berasal dari keluarga yang tergolong miskin. Di kampung orang tuaku bekerja sebagai buruh tani. Aku anak pertama dan memiliki dua orang perempuan, yang nota bene masih bersekolah.

    Aku ke Jakarta hanya berbekal ijazah SMU. Dalam perjalanan ke Jakarta, aku selalu terbayang akan gagal. Apa jadinya aku yang anak-anak ini hanya berbintang Ijazah SMU mau mengadu nasib di kota buas seperti Jakarta. Selain berbekal Ijazah yang mengungkapkan tiada makna itu, aku memiliki keterampilan hanya sebagai supir angkot. Aku bisa menyetir mobil, karena aku di kampung, setelah pulang sekolah selalu diajak paman untuk narik angkot. Aku menjadi keneknya, paman supirnya.
    3 tahun pengalaman menjadi bangun angkot, cukup membekal saya dengan keterampilan setir mobil. Paman yang memperkuat saya menjadi supir yang handal, baik dan benar dalam menjalankan kendaraan di jalan raya. Aku selalu pesan teguh pesan paman, yaitu: mengendarai mobil di jalan harus dengan sopan santun dan berusaha sabar dan mengalah. Apakah ini kupegang teguh?
    Di Jakarta aku numpang di rumah sepupu, yang kebetulan juga bekerja sebagai buruh pabrik di kawasan Pulo Gadung. Kami menempati rumah petak sangat kecil dan sangat amat sederhana. Lebih sederhana dari rumah type RSS ( Rumah Susah Selonjor). Selain niatku untuk bekerja, aku juga berniat untuk melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi. Dua bulan lamanya aku menganggur di Jakrta. Lamar sana sini, jawabnya selalu klise, ” tidak ada lowongan “.
    Pada suatu malam, yakni malam minggu, ketika aku sedang melamun, terdengar orang mengucap salam dari luar. Ku bukakan pintu, ternya pak RT yang datang. Pak RT minta agar aku sudi menjadi supir pribadi dari sebuah keluarga kaya. Keluarga itu adalah pemilik perusahaan dimana pak RT bekerja sebagai salah seorang staff di cabang perusahaan itu. Sepontan aku menyetujuinya. Esoknya kami berangkat kekawasan elite di Jakarta. Ketika memasuki halaman rumah yang besar seperti istana itu, hatiku berdebar tak karuan.
    Setelah kami dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu muda di ruang tamu yang megah itu, tak lama kemudian muncul seorang wanita yang tampaknya muda. Kami memberi hormat pada wanita itu. Wanita itu tersenyum ramah sekali dan mempersilahkan kami duduk, karena ketika dia datang, sepontan aku dan pak RT berdiri memberi salam
    ” selamat pagi”. Pak RT dipersilahkan kembali ke kantor oleh wanita itu, dan diruangan yang megah itu hanya ada aku dan dia si wanita itu.
    ” Benar kamu mau jadi supir pribadiku ? ” tanyanya ramah seraya melontarkan senyum manisnya.
    ” Iya Nyonya, saya siap menjadi supir nyonya ” Jawabku.
    ” jangan panggil Nyonya, panggil saja saya ini Ibu, Ibu Maya ” Sergahnya halus. Aku mengangguk setuju.
    ” Kamu masih kuliah ?”
    ” Tidak nyonya eh…Bu ?!” jawabku.
    ” Saya baru tamat SMU, tapi saya berpengalaman menjadi supir sudah tiga Tahun” sambungku.
    Wanita itu menatapku dalam-dalam. Ditatapnya pula mataku hingga aku jadi slah tingkah. Diperhatikannya aku dari atas sampai kebawah.
    ” kamu masih muda sekali, ganteng, nampaknya sopan, kenapa mau jadi supir ?” tanyanya.
    ” Saya butuh uang untuk kuliah Bu ” jawabku.
    ” Baik, saya setuju, kamu jadi supir saya, tapi harus ready setiap saat. gimana, okey ? ”
    ” Saya siap Bu.” Jawabku.
    ” Kamu setiap pagi harus sudah ready di rumah ini pukul enam, lalu antar saya ke tempat saya Fitness, setelah itu antar saya ke salon, belanja, atau kemana saya suka. Kemudian setelah sore, kamu boleh pulang, gimana siap ? ”
    ” Saya siap Bu” Jawabku.
    ” Oh..ya, siapa namamu ? ” Tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
    Sepontan aku menyambut dan memegang telapak tangannya, kami bersalaman.
    ” Saya Leman Bu, panggil saja saya Leman ” Jawabku.
    ” Nama yang bagus ya ? tau artinya Leman ? ” Tanyanya seperti bercanda. ” Tidak Bu ” Jawabku.
    ” Leman itu artinya Lelaki Idaman ” jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku. Aku tersenyum sambil tersipu. lama dia menatapku. Tak terpikir olehku jika aku bakal mendapat majikan seramah dan se santai Ibu Maya.
    Aku mencoba juga untuk bergurau, kuberanikan diri untuk bertanya pada beliau. ” Maaf, Bu. jika nama Ibu itu Maya, apa artinya Bu ? ”
    ” O..ooo, itu, Maya artinya bayangan, bisa juga berarti khayalan, bisa juga sesuatu yang tak tampak, tapi ternyata ada.Seperti halnya cita-citamu yang kamu anggap mustahil ternyata suatu saat bisa kamu raih, nah,,,khayalan kamu itu berupa sesuatu yang bersifat maya, ngerti khan ? ” Jawabnya serius. Aku hanya meng-angguk-angguk saja sok tahu, sok mengerti, sok seperti orang pintar.
    Jika kuperhatikan, body Ibu Maya seksi sekali, tubuhnya tidak trlampau tinggi, tapi padat berisi, langsing, pinggulnya seperti gitar sepanyol. Yang lebih, gila, pantatnya bahenol dan buah dadanya wah…wah…wah…puyeng aku melihatnya.
    Dirumah yang sebesar itu, hanya tinggal Ibu Maya, Suaminya, dan dua putrinya, yakni Mira sebagai anak kedua, dan Yanti si bungsu yang masih duduk di kelas III SMP, putriny yang pertama sekolah model di Perancis. Pembantunya hanya satu, yakni Bi Irah, tapi seksinya juga luar biasa, janda pula !
    Ibu Maya memberi gaji bulanan sangat besar sekali, dan jika difikir-fikir, mustahil sekali. Setelah satu tahun aku bekerja, sudah dua kali dia menaikkan gajiku, Katanya dia puas atas disiplin kerjaku. Gaji pertama saja, lebih dari cukup untuk membayar uang kuliahku. Aku mengambil kuliah di petang hari hingga malam hari disebuah Universitas Swasta. Untuk satu bulan gaji saja, aku bisa untuk membayar biaya kuliah empat semster, edan tenan….sekaligus enak…tenan….!!! dasar rezeki, tak akan kemana larinya.
    Masuk tahun kedua aku bekerja, keakraban dengan Ibu Maya semakin terasa. Setelah pulang Fitness, dia minta jalan-jalan dulu. Yang konyol, dia selalu duduk di depan, disebelahku, hingga terkadang aku jadi kagok menyetir, eh…lama lama biasa.
    Disuatu hari sepulang dari tempat Fitnes, Ibu Maya minta diatar keluar kota. Seperti biasa dia pindah duduk ke depan. Dia tak risih duduk disebelah supir pribadinya. Ketika tengah berjalan kendaraan kami di jalan tol jagorawi, tiba-tiba Ibu maya menyusuh menepi sebentar. Aku menepi, dan mesin mobil BMW itu kumatikan. Jantungku berdebar, jangan-jangan ada kesalahan yang aku perbuat.
    ” Man,?, kamu sudah punya pacar ? ” Tanyanya.
    ” Belum Bu ” Jawabku singkat.
    ” Sama sekali belum pernah pacaran ?”
    ” Belum BU, eh…kalau pacar cinta monyet sih pernah Bu, dulu di kampung sewaktu SMP”
    ” Berapa kali kamu pacaran Man ? sering atau cuma iseng ?” tanyanya lagi. Aku terdiam sejenak, kubuang jauh-jauh pandanganku kedepan. Tanganku masih memegang setir mobil. Kutarik nafas dalam-dalam.
    ” Saya belum pernah pacaran serius Bu, cuma sebatas cintanya anak yang sedang pancaroba” Jawabku menyusul.
    ”Bagus…bagus…kalau begitu, kamu anak yang baik dan jujur ” ujarnya puas sambil menepuk nepuk bahuku. Aku sempat bingung, kenapa Bu Maya pertanyaannya rada aneh ? terlalu pribadi lagi ? apakah aku mau dijodohkan dengan salah seorang putrinya ? ach….enggak mungkin rasanya, mustahil, mana mungkin dia mau punya menantu anak kampung seprti aku ini ?!
    Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kepuncak, bahkan sampai jalan-jalan sekedar putar-putar saja di kota Sukabumi. Aku heran bin heran, Bu Maya kok jalan-jalan hanya putar-putar kota saja di Sukabumi, dan yang lebih heran lagi, Bu Maya hanya memakai pakaian Fitness berupa celana training dan kaos olah raga. Setelah sempat makan di rumah makan kecil di puncak, hari sudah mulai gelap dan kami kembali meneruskan perjalanan ke Jakarta. Ditengah perjalanan di jalan yang gelap gulita, Bu Maya minta untuk berbelok ke suatu tempat. Aku menurut saja apa perintahnya.
    Aku tak kenal daerah itu, yang kutahu hanya berupa perkebunan luas dan sepi serta gelap gulita. Ditengah kebun itu bu Maya minta aku berhenti dan mematikan mesin mobil. Aku masih tak mengerti akan tingkah Bu Maya. Tiba-tiba saja tangan Bu Maya menarik lengaku.
    ” Coba rebahkan kepalamu di pangkuanku Man ?” Pintanya, aku menurut saja, karena masih belum mengerti. Astaga….setelah aku merebahkan kepalaku di pangkuan Bu Maya dengan keadaan kepala menghadap keatas, kaki menjulur keluar pintu, Bu Maya menarik kaosnya ketas.
    Wow…samar-samar kulihat buah dadanya yang besar dan montok. Buah dada itu didekatkan ke wajahku. Lalu dia berkata
    ” Cium Man Cium…isaplah, mainkan sayang …?” Pintanya. Baru aku mengerti, Bu Maya mengajak aku ketempat ini sekedar melampiaskan nafsunya. Sebagai laki-laki normal, karuan saja aku bereaksi, kejantananku hidup dan bergairah. Siapa nolak diajak kencan dengan wanita cantik dan seksi seperti Bu Maya.
    Kupegangi tetek Bu Maya yang montok itu, kujilati putingnya dan kuisap-isap. Tampak nafas Bu Maya ter engah-engah tak karuan, menandakan nafsu biarahinya sedang naik. Aku masih mengisap dan menjilati teteknya. Lalu bu Maya minta agar aku bangun sebentar. Dia melorotkan celana trainingnya hingga kebawah kaki. Bagian bawah tubuh Bu Maya tampak bugil. Samar-samar oleh sinar bulan di kegelapan itu.
    ” Jilat Man jilatlah, aku nafsu sekali, jilat sayang ” Pinta Bu Maya agar aku menjilati memeknya. Oh….memek itu besar sekali, menjendol seperti kura-kura. tampaknya dia sedang birahi sekali, seperti puting teteknya yang ereksi. Aku menurut saja, seperti sudah terhipnotis.
    Memek Bu Maya wangi sekali, mungkin sewaktu di restauran tadi dia membersihkan kelaminnya dan memberi wewangian. Sebab dia sempat ke toilet untuk waktu yang lumayang lama. Mungkin disana dia membersihkan diri. Dia tadi ke toilet membawa serta tas pribadinya. Dan disana pula dia mengadakan persiapan untuk menggempur aku. Kujilati liang kemaluan itu, tapi Bu Maya tak puas. Disuruhnya aku keluar mobil dan disusul olehnya.
    Bu Maya membuka bagasi mobil dan mengambil kain semacam karpet kecil lalu dibentangkan diatas rerumputan. Dia merebahkan tubuhnya diatas kain itu dan merentangnya kakinya.
    ” Ayo Man, lakukan, hanya ada kita berdua disini, jangan sia-siakan kesempatan ini Man, aku sayang kamu Man ” katanya setengah berbisik, Aku tak menjawab, aku hanya melakukan perintahnya, dan sedikit bicara banyak kerja. Ku buka semua pakaianku, lalu ku tindih tubuh Bu Maya.
    Dipeluknya aku, dirogohnya alat kelaminku dan dimasukkan kedalam memeknya. Kami bersetubuh ditengah kebun gelap itu dalam suasana malam yang remang-remang oleh sinar gemintang di langit. Aku menggenjot memek Bu Maya sekuat mungkin.
    ” jangan keluar dulua ya ? saya belum puas ” Pintanya mesra. Aku diam saja, aku masih melakukan adegan mengocok dengan gerakan penis keluar masuk lubang memek Bu Maya. Nikmat sekali memek ini, pikirku. Bu Maya pindah posisi , dia diatas, dan bukan main permainannya, goyangnyanya.
    ” Remas tetekku Man, remaslah….yang kencang ya ?” Pintanya. Aku meremasnya.
    ” Cium bibirku Man..cium ? Aku mencium bibir indah itu dan kuisap lidahnya dalam-dalam, nikmat sekali, sesekali dia mengerang kenikmatan.”
    ” Sekarang isap tetekku, teruskan…terus…..Oh….Ohhhh…..Man…Leman…Ohhh…aku keluar Man….aku kalah” Dia mencubiti pinggulku, sesekali tawanya genit.
    ” kamu curang….aku kalah” ujarnya.
    ” Sekarang gilirang kamu Man….keluarkan sebanyak mungkin ya? ” pintanya. ” Saya sudah keluar dari tadi Bu, tapi saya tetap bertahan, takut Ibu marah nanti ” Jawabku.
    ” Oh Ya?…gila..kuat amat kamu ?!” balas Bu Maya sambul mencubit pipiku.
    ” Kenapa Ibu suka main di tempat begini gelap ?”
    ” Aku suka alam terbuka, di alam terbuka aku bergairah sekali. Kita akan lebih sering mencari tempat seperti alam terbuka. Minggu depan kita naik kapal pesiarku, kita main diatas kapal pesiar di tengah ombak bergulung. Atau kita main di pinggir sungai yang sepi, ah… terserah kemana kamu mau ya Man ?”
    Selesai main, setelah kami membersihkan alat vital hanya dengan kertas tisue dan air yang kami ambil dari jiregen di bagasi mobil, kami istirahat. Bu Maya yang sekarang tidur di pangkuanku. Kami ngobrol panjang lebar, ngalor ngidul. Setelah sekian lama istirahat, kontolku berdiri lagi, dan dirasakan oleh kepala Bu maya yang menyentuh batang kejantananku. Tak banyak komentar celanaku dibukanya, dan aku dalam sekejap sudah bugil. Disuruhnya aku tidur dengan kaki merentang, lalu Bu Maya membuka celana trainingnya yang tanpa celana dalam itu.
    Bu Maya mengocok-ngocok penisku, diurutnya seperti gerakan tukang pjit mengurut tubuh pasiennya. Gerakan tangan Bu Maya mengurut naik-turun. Karuan saja penisku semakin membesar dan membesar. Diisapnya penisku yang sudah ereksi besar sekali, dimainkannya lidah Bu Maya di ujung penisku. Setelah itu, Bu Maya menempelkan buah dadanya yang besar itu di penisku. Dijepitkannya penisku kedalam tetek besar itu, lalu di goyang-goyang seperti gerakan mengocok. ” Giaman Man ? enah anggak ? ” ” Enak Bu, awas lho nanti muncrat Bu” jawabku.. ” Enggak apa, ayo keluarkan, nanti kujilati pejuhmu, aku mau kok ?!” . Bu Maya masih giat bekerja giat, dia berusaha untuk memuaskan aku.
    Tak lama kemudian, Bu Maya naik keposisi atas dan seperti menduduki penisku, tapi lobang memeknya dimasuki penisku. Digoyang terus…hingga aku merasakan nikat yang luar biasa. Tiba -tiba Bu Maya terdiam, berhenti bekerja, lalu berjata :” Rasakan ya Man ? pasti kamu bakal ketagihan ” Aku membisu saja. dan ternya Ohh….memek Bu Maya bisa melakukan gerakan empot-empot, menyedot-nyedot dan meng-urut-urut batang kontolku dari bagian kepala hingga ke bagian batang bawah, Oh….nikmat sekali, ini yang namanya empot ayam, luar biasa kepiawaian Bu Maya dalam bidang oleh seksual. ” Enak syang ?” tanyanya. Belum sempat aku menjawab, yah….aku keluar, air maniku berhamburan tumpah ditenga liang kemaluan Bu Maya.
    ” Itu yang namanya empot-empot Man, itulah gunanya senam sex, berarti aku sukses l;atihan senam sex selama ini ” Katanya bangga. ” Sekarang kamu puasin aku ya ? ” Kata Bu Maya seraya mengambil posisi nungging. Ku tancapkan lagi kontolku yang masih ereksi kedalam memek bu Maya, Ku genjot terus. ” Yang dalam man…yang dalam ya..teruskan sayang…? oh….enak sekali penismu…..oh….terus sayang ?!” Pinta Bu Maya. Aku masih memuaskan Bu Maya, aku tak mau kalah, kujilati pula lubang memeknya, duburnya dan seluruh tubuhnya. Ternyata Bu Maya orgasme setelah aku menjlati seluruh tubuhnya. ” kamu pintar sekali Man ? belajar dimana ? ” ” Tidak bu, refleks saja” Jawabku.
    Sebelum kami meninggalkan tempat itu, Bu Maya masih sempat minta satu adegan lagi. Tapi kali ini hanya sedikit melorotkan celana trainingnya saja. demikian pula aku, hanya membuka bagian penis saja. Bu Maya minta aku melakukanya di dalam mobil, tapi ruangannya sempit sekali. Dengan susah payang kami melakukannya dan akhirnya toh juga mengambil posisinya berdiri dengan tubuh Bu Maya disandarkan di mobil sambil meng-angkat sedikit kaki kanannya.
    Saat pertama kami itu, aku dan Bu Maya sering keluar kota, ke pulau seribu, ke pinggir pantai, ke semak-semak di sebuah desa terpencil, yah pokoknya dia cari tempat-tempat yang aneh-aneh. Tak kusadari kalau aku nyata menjadi gigolonya Bu Maya. Dan beliaupun semakin sayang padaku, uang dari terus ke kocekku, tanpa pernah aku minta bayaran. Dia menyanggupi untuk membiayai kuliah hingga tamat, asal aku tetap selalu besama Bu Maya yang cantik itu..
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Petualangan Di Balik Bayangan

    Petualangan Di Balik Bayangan


    1113 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Petualangan Di Balik Bayangan ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Tidak selamanya hubungan yang indah harus terjalin dengan dimulai oleh rasa saling mengenal, saling mengerti dan saling mencintai. Ada kalanya hubungan yang hangat itu bisa kita jalin tanpa perlu mengenal lebih dulu, tanpa perlu saling pengertian, tidak perlu saling mencintai, tapi yang kita perlukan adalah moment yang tepat. Oke, kirakira itu yang bisa sedikit menggambarkan ke mana jalur cerita berjudul Petualangan Di Balik Bayangan yang segera kita nikmati.

    Cerita sex ini dimulai kirakira tahun 2000 lalu, waktu aku masih sekolah di salah satu sekolah swasta yang lumayan terkenal di Bandung. Waktu itu sekolah kami mengadakan liburan bersama sebelum EBTA/EBTANAS.

    Tempat yang dituju adalah pulau Dewata, Bali. Tentu saja aku antusias sekali untuk ikut acara itu, selain aku bisa melepas lelah dan stres garagara pelajaran, aku juga bisa menikmati pulau Dewata yang katanya indah itu, maklum aku memang belum pernah menginjakkan kaki di sana.

    Jeff yang pernah berlibur dengan keluarganya ke sana tetap ikut karena menurutnya kami tidak akan pernah bosan untuk berlibur ke sana. Jeff banyak cerita tentang keindahan objek wisata di sana, termasuk banyaknya buahbuahan di sana. Aku dan Alf bingung sendiri, memang apa anehnya buahbuahan di Bali. Tapi mendengar pertanyaan kami, Jeff dan Lex malah ketawaketawa sambil meledek kalau kami berdua itu kurang imajinasi.

    Lex mulai bercerita kalau Bali adalah salah satu pusat buahbuahan terbesar di Asia. Ada banyak buahbuahan di sana, dari buah lokal sampai buah import. Jeff menambahkan kalau yang paling terkenal di sana adalah buahbuahan import, tapi ada juga buah lokal yang tidak kalah bersaing dengan buahbuah import yang ratarata lebih besar ukurannya.

    Aku mulai mengerti, makanya aku mulai nyengir ke arah Jeff dan Lex. (Untuk pembaca yang tidak mengerti, bisa hubungi kami untuk minta penjelasan dan kami akan menjelaskan sedetaildetailnya, hehehehe).

    Tapi Si Alf masih tetap diam, entah tidak mengerti atau entah purapura tidak ngerti. Tapi begitu Lex bilang kalau di sana buah kelapa tersebar di manamana, Alf langsung ikutikutan tertawa sambil membayangkan buahbuahan itu tersebar di pantai menunggu dipetik.

    Pletak Tibatiba penghapus melayang membentur meja, hampir saja kepala Lex jadi sasaran.

    Kami baru sadar kalau ini masih di kelas, di depan Pak Maman melotot sambil mengacungngacungkan penggaris ke arah kami berempat. Kami cuma nyengir sambil menunduk, kami benarbenar lupa kalau ini masih di kelas. Tapi untung saja, Pak Maman tidak terlalu galak, biasanya dia sudah lupa kejadian yang bikin dia jengkel setelah beberapa menit.

    Oke, singkatnya kami akhirnya pergi bareng juga ke Bali. Kami berempat memilih bus yang sama biar bisa sepuasnya ngobrol. Kebetulan pengawas di bus kami lumayan gaul. Jadi kami bisa bebas ngobrol tentang apapun juga, tentu saja sampai halhal yang menjurus bahaya juga tidak masalah. Duaduanya guru cewek yang relatif lebih cantik dibanding guruguru kami yang lain.

    Ibu Nina dan Ibu Cindy. Duaduanya masih lajang dan umurnya tidak terlalu jauh dengan kami, Ibu Nina sekitar 27 tahun sedangkan Ibu Cindy kirakira 22 tahunan. Tentu saja mereka juga tidak lolos dari kejaran kamikami berempat, dan tentu saja petualangan itu ada di cerita kami yang lain.

    Kembali ke cerita, sekitar sehari kami baru sampai ke hotel. Kebetulan kami menginap di hotel yang lumayan mewah, kalau tidak salah bintang empat atau mungkin lima. Aku tidak begitu jelas, tapi yang jelas ada fasilitas kolam renang sampai mandi sauna, pokoknya semuanya lengkap. Dan tentu saja kami berempat satu kamar, kami memang bisa dibilang cukup akrab and bisa saling berbagi, baik suka atau duka. Sampaisampai bagibagi pacar kami juga tidak masalah, yang penting adil.

    Memang sih awalnya kami cukup menikmati pemandangan indah buahbuahan di pantai, kebetulan hotel kami dekat dengan pantai Kuta yang memang gudangnya buahbuahan. Tapi lamakelamaan bosan juga cuma melihati tanpa melakukan apaapa, makanya sehari sebelum pulang kami berniat sedikit mencicipi buahbuahan import tersebut.

    Tapi sialnya, aku dan Jeff malah terpisah dari Alf dam Lex. Padahal cuma Lex yang tahu dimana bisa dapat buahbuahan import itu dengan harga murah. Aku menyesal juga sih, makanya aku dan Jeff memutuskan kembali ke hotel. Kebetulan udaranya enak sekali, makanya kami jalan sambil melihati pemandangan Bali di malam hari.

    Ternyata keberuntungan belum pergi dari kami berdua, di tengah jalan, seorang cewek bule yang kelihatannya bingung menghampiri kami berdua.

    Hai can you speak English? dia menyapa kami.
    A little aku menjawab.

    Terus kami mengobrol, ternyata dia terpisah dari rombongannya. Dia hendak pulang ke hotelnya, tapi malah kesasar sampai ke sini. Aku sebenarnya hendak menolongnya menunjukkan jalan pulang, tapi Jeff menyikutku, dan aku tahu maksudnya. Aku menyewa taksi dan mempersilakannya masuk, Jeff mengatakan pada cewek itu kalau kami akan mengantarnya ke tujuan.

    Cewek itu kelihatannya senang sekali dan berterima kasih, dia tidak tahu kalau ada maksud tersembunyi di balik kebaikan kami bedua. Hehehe, kapan lagi dapet buahbuahan gratis.

    Pak, antar kami ke tempat biasanya orang mangkal, aku berbicara pada sopirnya, tapi sepertinya sopirnya belum mengerti.
    Itu Pak, ke tempat kami bisa begituan, Jeff menambahkan.

    Pak sopir itu sepertinya mengerti, dia tertawa kecil, lalu memacu taksinya ke salah satu tempat yang memang terkenal sebagai tempat gelap. Sampai di sana, aku lihat kanankiri, ternyata sepi. Lalu aku ajak cewek bule bernama Angela itu turun. Dia sedikit bingung, karena tempat itu sedikit asing baginya. Tapi Jeff meyakinkannya kalau tempatnya tidak salah, makanya Angela setuju.

    Angela sebenarnya tidak terlalu montok banget, mungkin karena usianya yang masih sangat hijau. Baru 15 tahun, tapi dibandingkan produk lokal, buahnya memang termasuk lumayan besar, apalagi didukung tubuhnya yang tinggi langsing plus wajahnya yang lumayan cantik dengan rambut pirangnya yang oke banget. Begitu aku lihat ada kesempatan, kukeluarkan pisau lipat yang memang selalu kubawa. Memang sih cuma pajangan doang, soalnya tidak tajam.

    Tapi aku yakin Angela tidak tahu, soalnya dia langsung ketakutan waktu kutempelkan pisau itu ke lehernya. Jeff kemudian menyuruhnya membuka semua pakaiannya. Tentu saja Angela menolak, tapi begitu kuancam akan kubunuh kalau tidak menurut, dia akhirnya membuka pakaiannya walau sedikit raguragu.

    Tapi keraguraguannya itu malah bikin aku makin bernafsu, dibukanya kaos hijau di tubuhnya, dan dadanya yang lumayan oke terlihat di balik remangremang cahaya lampu yang agak jauh dari tempat itu.

    Aku menitipkan pisau lipatku pada Jeff dan mulai membuka bajuku sampai tersisa celana dalamku. Kami setuju kalau aku duluan yang mencicipi Angela dengan catatan, ongkos taksi aku yang bayar. Aku sih setuju saja, makanya tidak menunggu lama lagi, langsung kusiapkan dedekku yang mulai melakukan pemanasan ringan.

    Angela menatapku, seolah mengiba, tapi aku sudah keburu nafsu, makanya kusuruh dia membuka semua pakaiannya. Dia akhirnya menurut juga, dibukanya semua pakaiannya, dan dia berjongkok ketakutan di atas pasir laut.

    Aku tidak nunggu lama lagi, langsung kusambar tubuhnya, kutindih tubuhnya di atas pasir, dan mulai menjilati puting susunya. Dadanya kenyal berisi, tapi terlihat dia belum pengalaman, soalnya dia malah ketakutan waktu kujilat putingnya.

    Kuancam dia sekali lagi, dan akhirnya dia memejamkan matanya, pasrah akan apa yang bakal aku lakukan. Aku mulai buas menjilat putingnya yang semakin mengeras, tapi aku sadar kalau aku harus segera menyelesaikannya.

    Malam semakin larut, dan aku sama sekali tidak ingin ketahuan kalau aku memperkosa gadis itu. Karena itu aku tidak melanjutkan permainan lidahku, kuambil pisau dari tangan Jeff, lalu kutodongkan ke arah Angela, kusuruh dia mengulum penisku. Angela sepertinya tidak mau, tapi dia tidak bisa apaapa, dia terlalu takut untuk melawan, dia akhirnya mau juga mengulum penisku, menghisapnya sesekali dan menjilatinya.

    Aku masih menodongkan pisauku, takut juga kalau Angela menggigit penisku, bisa berabe nantinya. Karena itu aku tidak mau lamalama di posisi itu, kutunggingkan tubuh Angela, dan kumasukkan penisku ke vaginanya yang diluar dugaanku, ternyata lumayan basah. Perlahan tapi pasti penisku masuk, tanpa menunggu lama, langsung kukocok vaginanya lumayan cepat.

    Aku penasaran, ada sesuatu yang menghalangi penisku masuk lebih dalam, karena itu kuhentak dengan kencang. Angela menjerit tertahan, rupanya dia masih perawan. Memang lumayan sempir juga lubang vaginanya, tapi dibandingkan umurnya yang masih 15 tahun, yah termasuk lebar juga lubangnya. Mungkin orang bule memang seperti itu pikirku. Karena itu aku tidak memikirkannya lagi, yang ada di otakku hanya kocok kocok kocok terus.

    Ah ah oh please stop ah Angela mendesah memohonku untuk berhenti.

    Tapi aku sudah tanggung, masa aku harus berhenti, tidak mau dong. Aku tidak peduli katakatanya, kukocok terus vaginanya dan beberapa saat kemudian tubuh Angela mengejang. Aku bingung juga, kupikir cewek yang diperkosa tidak akan merasakan nikmat hingga sampai puncak segala.

    Aku berhenti sebentar, kubalikkan tubuh Angela yang sudah sangat lemas. Kulihat matanya berair, wajar saja sih cewek menangis kalau diperkosa, tapi ada sesuatu yang lain dari pandangan matanya.

    Aku menarik nafasku dalamdalam, lalu kubuang pikiran yang anehaneh itu. Kubuka bibir vaginanya dan kuselipkan penisku di sana, kutekan sedikit, lalu kutarik lagi, lalu kutekan lagi, begitu seterusnya dengan frekuensi lambat. Aku mulai menikmatinya, tapi Jeff menepuk punggungku, sepertinya dia sudah tidak sabar, aku tidak melanjutkan permainan lambat itu, kuhentak kuatkuat dan kuhujamkan penisku ke vagina Angela.

    Dia hanya memejamkan mata sambil menangis memandang laut yang hitam karena gelapnya malam. Aku merasakan penisku panas, dan waktu hampir mencapai puncak, kucabut penisku dari vaginanya, dan kupaksakan masuk ke anusnya. Kukocok lagi sebentar, dan cairan putih kental menyembur ke liang anus Angela.

    Begitu kucabut penisku dari anusnya, maniku mengalir perlahan keluar dari lubang sempit itu. Aku segera membersihkan tubuhku di laut, lalu kukenakan kembali pakaianku. Kulihat Jeff dengan asik menikmati jilatan dan kuluman bibir Angela di penisnya. Sekitar lima menit dia bertahan di posisi itu, tapi kemudian dia tidak tahan lagi, direntangkannya kaki Angela lebarlebar, dan dihujamkannya penisnya. Gerakannya sedikit liar tapi masih berpola.

    Bukan hanya pinggulnya yang bergerak naikturun, kedua tangan Jeff juga bekerja, diremasnya dada Angela dan sesekali dipelintirnya puting susu Angela. Beberapa saat kemudian Jeff mencabut penisnya dari vagina Angela, disuruhnya Angela mengulum penisnya lagi, dan beberapa saat kemudian Jeff mencapai puncak.

    Maninya menyembur di mulut Angela, mengalir ke dagu dan lehernya. Jeff kemudian membersihkan tubuhnya di laut. Kulihat Angela duduk di pasir, matanya merah karena menangis, dia menundukkan kepalanya seolah tak percaya apa yang baru saja menimpanya.

    Aku jadi iba, kubantu dia memakai pakaiannya, lalu kusewakan taksi untuknya. Kuberikan uang lebih pada sopirnya, kukatakan agar dia merahasiakan aku yang menyewanya. Sopir itu mengangguk, aku tahu kalau orang Bali sangat menghargai kepercayaan orang. Aku percaya dia tidak akan membocorkannya.

    Aku dan Jeff pulang ke hotel, dan beberapa saat kemudian Alf dan Lex pulang, mereka kelihatan puas dengan apa yang tadi mereka lakukan, tapi aku dan Jeff juga tidak kalah puasnya, kami menceritakan pengalaman kami masingmasing, dan esok paginya kami pulang ke Bandung.

    Singkatnya kami sampai ke Bandung, dan dua hari kemudian aku menerima surat, aku terkejut setengah mati waktu kulihat surat itu. Kubaca suratnya,

    Haiits me Angela. Aku bisa bahasa Indonesia a little, dan I know your address dari dompet you yang tertinggal di taksi.

    Aku simpan untuk kenangkenangan. And you should know, malam itu aku sedikit kecewa caramu perlakukan aku, but Im okay, Im not angry. Soalnya, sepertinya aku fall in love sama kamu. Ingat aku selalu ya, Angela.

    Aku makin kaget, dia mengirimkan SIM, KTP and suratsurat penting lain yang ada di dompetku. Dompetku yang kukira dicopet orang di Bali ternyata ada pada Angela. Untung sekali dia tidak menuntutku di pengadilan, aku benarbenar bersyukur. Sejak saat itu aku berjanji kalau aku tidak akan pernah memperkosa lagi.

    Angela kalau kau baca cerita ini, aku cuma ingin katakan kalau sebenarnya aku juga sayang kamu, please hubungi aku, I miss you so much. Maaf kelakuanku malam itu, and kalau kau ijinkan, aku ingin memperbaikinya, hubungi aku dan aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku. Sekali lagi maafkan aku Angela.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Guru Private

    Cerita Sex Guru Private


    1113 views

    Perawanku – Cerita Sex Guru Private, Ini adalah sebuah cerita seks guru les private dan tante kesepian ibu dari murid lesnya. Ya, perselingkuhan yang membuat keduanya saling berbagi kenikmatan seks yang membawa mereka ke puncak kenikmatan birahi. Simak cerita lengkapnya berikut ini!

    Kenangan Indah Waktu Kuliah di Jawa Tengah. Ini adalah cerita dari kisah nyata saya waktu kuliah di Jawa Tengah sekitar tahun 1992.Nama saya Rudy,banyak orang menilai saya pria simpatik dengan kemamuan berpikir cemerlang.Kebutuhan hidup menjadi kendala saya saat itu, uang pas-pasan dari orang tua kadang2 kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya.

    Kurang dari 6 bulan saya belajar di kota ini, cukup banyak tawaran dari beberapa teman untuk memberikan les privat matematika dan IPA bagi adik-adik mereka yang masih duduk di sekolah lanjutan. Keberuntungan datang bertubi-tubi, bahkan tawaran datang dari bunga kampus kami, sebut saja Indah untuk memberikan les privat bagi adiknya yang masih duduk di kelas 2 SLTP swasta ternama di kota dimana saya kuliah.

    Keluarga Indah adalah keluarga yang sangat harmonis, ayahnya bekerja sebagai kepala kantor perwakilan (Kakanwil) salah satu departemen, berumur kurang lebih 46 tahun, sementara itu ibunya, biasa saya panggil Tante Stella, adalah ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan keluarganya. Konon kabarnya Tante Stella adalah mantan ratu kecantikan di kota kelahirannya, dan hal ini amat saya percayai karena kecantikan dan bentuk tubuhnya yang masih sangat menarik diusianya yang ke 36 ini. Adik Indah murid saya bernama Noni, amat manja pada orangtuanya, karena Tante Stella selalu membiasakan memenuhi segala permintaannya.

    Dalam satu minggu, saya harus memberikan perlajaran tambahan 3 kali buat Nona, walaupun sudah saya tawarkan bahwa waktu pertemuan tersebut dapat dikurangi, karena sebenarnya Nona cukup cerdas, hanya sedikit malas belajar. Tetapi Tante Stella malah menyarankan untuk memberikan pelajaran lebih dari yang sudah disepakati dari awalnya.

    Setiap saya selesai mengajar, Tante Stella selalu menunggu saya untuk membicarakan perkembangan anaknya, tekadang ekor matanya saya tangkap menyelidik bentuk badan saya yang agak bidang menurutnya. Melewati satu bulan saya mengajar Noni, hubungan saya dengan Tante Stella semakin akrab.

    Suatu ketika, kira-kira bulan ketiga saya mengajar Noni, saya datang seperti biasanya jam 16:00 sore. Saya mendapati rumah Bapak Gatot sepi tidak seperti biasanya, hanya tukang kebun yang ada. Karena sudah menjadi kewajiban, saya berinisiatif menunggu Noni, minimal selama waktu saya mengajar. Kurang lebih 45 menit menunggu, Tante Stella datang dengan wajah cerah sambil mengatakan bahwa Noni sedang menghadiri pesta ulang tahun salah seorang temannya, sehingga hari itu saya tidak perlu mengajar. Tetapi Tante Stella tetap minta saya menunggu, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan saya.
    Ketika Tante Stella memanggil untuk masuk ke dalam rumahnya, alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Stella telah memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Stella masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam “BL” seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira-kira 36D.

    Mula-mula saya tidak menaruh curiga sama sekali, pembicaraan hanya berkisar masalah perkembangan pendidikan Noni. Tetapi lama kelamaan sejalan dengan cairnya situasi, Tante Stella mulai bercerita tentang kesepiannya di atas ranjang. Terus terang saya mulai bingung mengimbangi pembicaraan ini, saya hanya terdiam, sambil berhayal entah kamana.

    “Rud, kamu lugu sekali yah..?” tanya Tante Stella.
    “Agh… Tante bisa aja deh, emang biar nggak lugu harus gimana..?” jawab saya.
    “Yah… lebih dewasa Dong..!” tegasnya.
    Lalu, tiba-tiba tangan Tante Stella sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.
    “Rud… mau kan tolongin Tante..?” tanya si Tante dengan manja.
    “Loh… tolongin apalagi nih Tante..?” jawab saya.
    “Tolong puaskan Tante, Tante kesepian nih..!” jawab si Tante.
    Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Stella yang memiliki rambut sebahu. Saya benar-benar tidak membayangkan kalau ibu bunga kampus saya, bahkan ibu murid saya sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk “bercinta” dengan Tante Stella ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.
    “Wah… saya harus memuaskan Tante dengan apa dong..?” tanya saya sambil bercanda.
    “Yah… kamu pikir sendirilah, kan kamu sudah dewasa kan..?” jawabnya.

    Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulai memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas-remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Stella juga tidak mau kalah, dia langsung meremas-remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini.

    Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu, Tante Stella menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya, dia langsung melucuti semua baju saya, pertama-tama dia melepas kemeja saya sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya, sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi’s saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya.
    “Wah… Rud, gede juga nih punya kamu…” kata si Tante sambil bercanda.
    “Masa sih Tante..? Perasaan biasa-biasa saja deh..!” jawab saya.

    Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Stella yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghhh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.

    Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba-tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas-remas, sementara itu Tante Stella terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit-gigit putingnya yang sudah mengeras.

    “Oghh… saya merindukan suasana seperti ini Rud..!” desahnya.
    “Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah..?” kata saya.
    Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitoris-nya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu-bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat-jilat kemaluan si Tante dengan pelan-pelan.

    “Ogh… Rud, pintar sekali yah kamu merangsang Tante…” dengan suara yang mendesah.
    Tidak terasa, tahu-tahu rambutku dijambaknya dan tiba-tiba tubuh Tante mengejang dan saya merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah… ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, karena berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apa pun tentunya sudah tidak menjadi masalah.
    Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar-benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Stella sekarang meminta saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.
    “Rud… ayoo Dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih..!” pinta si Tante.
    “Wah… saya takut kalo Tante hamil gimana..?” tanya saya.
    “Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang-tenang aja deh..!” sambil berusaha meyakinkan saya.
    Benar-benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukkan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya.. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan.
    “Ahhh… dorong terus Dong Rud..!” pinta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali.
    Mendengar desahannya, saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas-remas payudaranya, sampai tiba-tiba tubuh Tante Stella mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya.

    Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar-benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.
    “Oh… oh… nikmat sekali Rudy..!” teriak si Tante.
    “Tante… saya kayaknya sudah mau keluar nih..!” kata saya.
    “Sabar yah Rud… tunggu sebentar lagi, Tante juga udah mau keluar lagi nih..!” jawab si Tante.
    Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante.
    “Arghhh..!” teriak Tante Stella.

    Tante Stella kemudian mencakar pundak saya, sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot-otot kemaluannya benar-benar meremas batang kemaluan saya.
    Setelah itu kami berdua letih, tanpa disadari kami telah sejam bersenggama, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke ruang keluarga. Ketika melihat Tante Stella dalam keadaan telanjang menuju ke dapur, mungkin dia sudah biasa seperti itu, entah kenapa, tiba-tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata-kata, saya langsung memeluk Tante Stella dari belakang, dan mulai lagi meremas-remas payudaranya dan pantatnya yang montok serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.

    “Ih… kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya..?” kataya sambil tertawa kecil.
    “Agh… Tante bisa aja deh..!” jawab saya sambil menciumi bibirnya kembali.
    Karena sudah terlalu nafsu, saya mengajaknya untuk sekali lagi bersenggama, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Stella, kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di ruang keluarga. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya dogie style.
    “Um… dorong lebih keras lagi dong Rud..!” desahnya.
    Semakin nafsu saja saya mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokan saya kepada si Tante, sementara itu tangan saya menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.

    “Rud… mandi yuk..!” pintanya.
    “Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah..?” jawab saya.
    Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya duduk di atas closed, dan kemudian saya menarik Tante Stella untuk menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.
    “Hm… nikmat sekali jilatanmu Rud… agghhh..!” desahnya.
    “Rud… kamu sering-sering ke sini Rud..!” katanya dengan nafas memburu.

    Setelah puas menjilatinya, saya angkat Tante Stella agar duduk di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini rasa nikmatnya lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat saya akhirnya “KO” kembali. Saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Stella kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.

    Setelah selesai mandi, saya pamit pulang karena baru tersadar bahwa perbuatan saya amat berbahaya bila diketahui oleh Bapak Gatot, Indah teman sekampus saya, apalagi Noni murid saya itu. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan persetubuhan, tetapi tidak pernah lagi di rumah, Tante memesan kamar hotel berbintang dan kami bertemu di sana.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Merasakan Keindahan Tubuh Ibu Mertuaku

    Cerita Sex Merasakan Keindahan Tubuh Ibu Mertuaku


    1112 views

    Perawanku – Cerita Sex Merasakan Keindahan Tubuh Ibu Mertuaku, Namaku Heri, umurku sekarang ini 26 tahun. Ini adalah pengalamanku yang benar-benar nyata dengan Ibu mertuaku. Umurnya belum terlalu tua baru sekitar 45th. Dulunya baru umur 18 tahun dia sudah kimpoi. Ibu mertuaku bentuk tubuhnya biasa-biasa saja malah boleh dikatakan langsing dan singset seperti perawan.

    Tak heran sebab hingga kini ia masih mengkonsumsi jamu untuk supaya selalu awet muda dan langsing. Singkat cerita ketika istriku baru melahirkan anak pertama dan aku harus puasa selama sebulan lebih. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana pusingnya aku. Hingga suatu saat aku mengantar Ibu mertuaku pulang dari menengok cucu pertamanya itu.

    Aku biasa mengantarnya dengan motorku. Namun kali itu turun hujan ditengah perjalanan. Karena sudah basah kuyup dan hari sudah menjelang tengah malam aku paksakan untuk menerobos hujan yang deras itu. Setiba dirumah aku ingin segera membersihkan badan lalu menghangatkan badan.

    Di rumah itu hanya ada aku dan Ibu mertuaku karena kakak iparku tinggal ditempat lain. Sedangkan adik iparku yang biasa menemani Ibu mertuaku dirumah itu untuk sementara tinggal dirumahku untuk menjaga istriku.

    “Kamu mandi aja deh sana, Her” Kata Ibu mertuaku menyuruhku mandi
    “Ah.. nggak usah.. Ibu duluan deh” Kataku menolak dan menyuruhnya agar lebih dulu
    “Udah.. Ibu disini aja” Kata Ibu mertuaku yang memilih tempat cuci baju dan cuci piring diluar kamar mandi. Karena disitu juga ada air keran.
    “Yah.. udah deh” Kataku sambil mendahuluinya masuk ke kamar mandi.

    Suasana waktu itu agak remang-remang karena lampu penerangannya hanya lampu bohlam 5 watt. Aku iseng ingin tahu bentuk tubuh Ibu mertuaku yang sebenarnya ketika ia telanjang bulat. Maka aku singkapkan sedikit pintu kamar mandi dan menontonnya melepas satu per satu bajunya yang sudah basah kuyup karena kehujanan. Dia tidak tahu aku menontonnya karena dia membelakangiku.

    Aku perhatikan dia mencopot kaus T-shirt-nya ke atas melewati bahu dan lehernya. Lalu BH-nya dengan mencongkel sedikit pengaitnya lalu ia menarik tali BH-nya dan BH itupun terlepas. Adegan yang paling syur ialah ketika ia membuka celana panjang jeansnya. Sret.. celana jeans ketat itu ditariknya ke bawah sekaligus dengan CD-nya.

    Cerita Sex Merasakan Keindahan Tubuh Ibu Mertuaku

    Cerita Sex Merasakan Keindahan Tubuh Ibu Mertuaku

    Jreng..! Aku lihat kedua buah pantatnya yang kencang dan montok itu menantangku. Aku yang sudah tak merasakan sex selama satu bulan lebih dan lagi dihadapkan dengan pemandangan seperti itu. Aku nekat untuk mendekatinya dan aku peluk dia dari belakang.

    “Eh.. Her.. ini apa-apaan.. Her” hardik Ibu mertuaku.
    “Bu.. tolongin saya dong, Bu” rayuku
    “Ih.. apaan sih..?!” Katanya lagi
    “Bu, udah dua bulan ini saya nggak dapet dari Dewi.. tolong dong, Bu” bujukku lagi
    “Tapi aku inikan ibumu” Kata Ibu mertuaku
    “Bu.. tolong, Bu.. please banget” rayuku sambil tanganku mulai beraksi.

    Tanganku meremas-remas buah dadanya yang ukurannya sekitar 34b sambil jariku memelintir putting susunya. bibir dan lidahku menjilati tengkuk lehernya. Tanganku yang satu lagi memainkan klentit-nya dengan memelintir daging kecil itu dengan jariku.

    Batang penisku aku tekan dilubang pantatnya tapi tidak aku masukkan. Ibu mertuaku mulai bereaksi. Tangannya yang tadi berusaha meronta dan menahanku kini sudah mengendor. Dia membiarkanku memulai dan memainkan ini semua. Nafasnya memburu dan mulai mendesah-desah.

    “Dikamar aja yuk, Bu” bisikku

    Aku papah Ibu mertuaku menuju kamarnya. Aku baringkan dia tempat tidur. Aku buka kedua kakinya lebar-lebar dan sepertinya Ibu mertuaku sudah siap dengan batang penisku. Tapi aku belum mau memulai semua itu.

    “Tenang aja dulu, Bu. Rileks aja, Ok?” Kataku.

    Aku mengarahkan mukaku ke liang vaginanya dan aku mulai dengan sedikit jilatan dengan ujung lidahku pada klentitnya.

    “Ough.. sshhtt.. ough.. hmpf.. hh.. ooghh” Ibu mertuaku mendesah dan mengerang menahan kenikmatan jilatan lidahku.

    Dia sepertinya belum pernah merasakan oral sex dan baru kali ini saja ia merasakannya. Terlihat reaksi seperti kaget dengan kenikmatan yang satu ini.

    “Enak kan, Bu..?” Kataku
    “Hmh.. kamu.. sshtt.. kamu.. koq.. gak jijik.. sih, Her?” Tanyanya ditengah-tengah desah dan deru nafasnya.
    “Enggak, Bu.. enak koq.. gimana enak gak?”
    “Hmh.. iyahh.. aduh.. sshhtt.. eenak.. banget.. Her.. sshhtt” jawab Ibu mertuaku sambil terus merintih dan mendesah.
    “Itu baru awalnya, Bu” Kataku.

    Kali ini aku kulum-kulum klentitnya dengan bibirku dan memainkan klentit itu dengan lidahku. Aku lihat sekujur tubuh Ibu mertuaku seperti tersetrum dan mengejang. Ia lebih mengangkat lagi pinggulnya ketika aku hisap dalam-dalam klentitnya.

    Tak sampai disitu aku terobos liang vaginanya dengan ujung lidahku dan aku masukkan lidahku dalam-dalam ke liang vaginanya itu lalu aku mainkan liukkan lidahku didalam liang vaginanya. Seiring dengan liukanku pinggul Ibu mertuaku ikut juga bergoyang.

    “Ough.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh.. hmh.. ough.. shhtt.. ough.. hmh.. oufghh.. sshhtt” suara itu terus keluar dari mulut Ibu mertuaku menikmati kenikmatan oral sex yang aku berikan.

    Aku sudahi oral sex ku lalu aku bangun dan berlutut dihadapan liang vaginanya. Baru aku arahkan batang penisku ke liang vaginanya tiba-tiba tangan halus Ibu mertuaku memegang batang penisku dan meremas-remasnya.

    “Auw.. diapain, Bu..?” Tanyaku. Agen Bandarq
    “Enggak.. ini supaya bisa lebih tahan lama” Kata Ibuku sambil mengurut batang penisku.

    Rasanya geli-geli nikmat bercamput sakit sedikit. Sepertinya hanya diremas-remas saja tetapi tidak ternyata ujung-ujung jarinya mengurut urat-urat yang ada dibatang penis untuk memperlancar aliran darah sehingga bisa lebih tegang dan kencang dan tahan lama.

    “Guedhe.. juga.. punya kamu, Her” Kata Ibu mertuaku sambil terus mengurut batang penisku.
    “Iya dong, Bu” Kataku.

    Kali ini kedua tangan Ibu mertuaku beraksi mengurut batang penisku. Tangan yang satunya lagi mengurut-urut buah pelirku dan yang satu lagi seperti mengocok namun tidak terlalu ditekan dengan jari jempol dan telunjuknya. Tak lama kemudian..

    “Egh.. yah.sudah.. pelan-pelan.. yah sayang” Kata Ibu mertuaku sambil menyudahi pijatan-pijatan kecilnya itu dan mewanti-wantiku supaya tidak terlalu terburu-buru menerobos liang vaginanya.

    Aku angkat kedua kaki Ibu mertuaku dan aku letakkan dikedua bahuku sambil mencoba menerobos liang vaginanya dengan batang penisku yang sedari tadi sudah keras dan kencang.

    “Ouh.. hgh.. ogh.. pelan-pelan, Her” Kata Ibu mertuaku ditengah-tengah deru nafasnya.

    “Iya, Bu.. sayang.. egh.. aku pelan-pelan koq” Kataku sambil perlahan-lahan mendorong penisku masuk ke liang vaginanya.
    “Ih.. punya kamu guedhe banget, sayang.. ini sih.. diatas rata-rata”Katanya
    “Kan tadi udah diurut, Bu” Kataku.

    Aku teruskan aksiku penetrasiku menerobos liang vaginanya yang kering. Aku tidak merasa istimewa dengan batang penisku yang panjangnya hanya 15cm dengan diameter sekitar 3 cm. Dengan sedikit usaha.. tiba-tiba.. SLEB-SLEB-BLESSS! Batang penisku sudah masuk semua dengan perkasanya kedalam liang vagina Ibu mertuaku.

    “Ough.. egh.. iya.. sshh.. pelan-pelan aja yah, sayang” Kata Ibu mertuaku yang mewantiku supaya aku tidak terlalu terburu-buru.

    Aku mulai meliukkan pinggulku sambil naik turun dan pinggul Ibu mertuaku berputar-putar seperti penyanyi dang-dut.

    “Ough.. gilaa, Bu.. asyik.. banget..!” Kataku sambil merasakan nikmatnya batang penisku diputar oleh pinggulnya.

    “Ough.. sshtt.. egh.. sshh.. hmh.. ffhh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh” Ibu mertuaku tidak menjawab hanya memejamkan mata sambil mulutnya terus mendesah dan merintih menikmati kenikmatan sexual. Baru sekitar 30 menit aku sudah bosan dengan posisi ini dan ingin berganti posisi. Ketika itu kami masih dalam posisi konvensional. Aku mau menawarkan variasi lain pada Ibu mertuaku..

    “Eh.. Ibu yang di atas deh” Kataku.
    “Kenapa, sayang.. kamu capek.. yah..?” Tanyanya.
    “Gak” jawabku singkat.
    “Mo keluar yah.. hi.. hi.. hi..?” Godanya sambil mencubit pantatku.
    “Gak.. ih.. aku gak bakalan keluar duluan deh” Kataku sesumbar.
    “Awas.. yah.. kalo keluar duluan” Goda Ibu mertuaku sambil meremas-remas buah pantatku.
    “Enggak.. deh.. Ibu yang bakalan kalah sama aku”Kataku sombong sambil balas mencubit buah dadanya
    “Auw.. hi.. hi.. hi” Ibu mertuaku memekik kecil sambil tertawa kecil yang membuatku semakin horny.

    Dengan berguling ke samping kini Ibu mertuaku sudah berada di atas tubuhku. Sambil menyesuaikan posisi sebentar ia lalu duduk di atas pinggulku. Aku bisa melihat keindahan tubuhnya perutnya yang rata dan ramping. Tak ada seonggok lemakpun yang menumpuk diperutnya. Buah dadanya juga masih kencang dengan putting susu yang mengacung ke atas menantangku.

    Aku juga duduk dan meraih puting susu itu lalu ku jilat dan ku kulum. Ibu mertuaku mendorongku dan menyuruhku tetap berbaring seolah-olah kali ini cukup ia yang pegan kendali. Ibu mertuaku kembali meliuk-liukkan pinggulnya memutar-mutar seperti Inul Daratista.

    “Egh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. ough.. egh.. hmf” desah Ibu mertuaku.
    “Gila, Bu.. enak banget..!”
    “Ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough” Ibu mertuaku mendesah dan merintih sambil terus meliuk-liukkan pinggulnya memainkan batang penisku yang berada didalam liang vaginanya.

    Tanganku meremas buah dadanya yang tak terlalu besar tapi pas dengan telapak tangan. Tanganku yang satunya lagi meremas buah pantatnya. Batang penisku yang kencang dan keras terasa lebih keras dan kencang lagi. Ini berkat pijatan dari Ibu mertuaku tadi itu. Bisa dibayangkan jika tidak aku sudah lama orgasme dari tadi.

    “Ough.. sshtt.. emh.. enagh.. egh.. sshhtt.. ough.. iyaahh.. eeghh.. enak.. ough” liukan pinggul Ibu mertuaku yang tadinya teratur kini berubah semakin liar naik turun maju mundur tak karuan.

    “Ough.. iiyyaahh.. egghh.. eghmmhhff.. sshhtt.. ough.. aku udah mo nyampe” Kata Ibu mertuaku.
    “Bu.. aku juga pengen, Bu.. egh” Kataku sambil ikut menggoyang naik turun pinggulku.
    “Egh.. iyah.. bagusshh.. sayangg.. ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough” Ibu mertuaku merespons gerakanku untuk membantunya orgasme.

    Aku mempercepat goyanganku karena seperti ada yang mendesak dibatang penisku untuk keluar juga.

    “Hmfh.. terusshh.. iyah.. ough.. oughh.. AAAUGHH.. OUGH.. OUGH.. OUGH” Ibu mertuaku telah sampai pada orgasmenya.

    Pada batang penisku terasa seperti ada cairan hangat mengucur deras membasahi batang penisku. Ibu mertuaku menggelepar dan diakhiri dengan menggelinjang liar dan nafasnya yang tersengal. Ibu mertuaku telah berhenti melakukan liukan pinggulnya.

    Hanya denyutan-denyutan kencang didalam liang vaginanya. Aku merasakan denyutan-denyutan itu seperti menyedot-nyedot batang penisku Dan.. CROT.. CROTT.. CROTTT..! muncrat semua air maniku diliang vagina Ibu mertuaku.

    “Bu, kerasa nggak air mani saya muncratnya..?” Tanyaku
    “Eh.. iya, Heri sayang.. Ibu udah lama pengen beginian” Kata Ibu mertuaku
    “Iya.. sekarang kan udah, Bu” Kataku sambil mengecup keningnya
    “Oh.. kamu.. hebat banget deh, Her” Kata Ibu mertuaku sambil membelai-belai rambutku.
    “Itu semua kan karena Ibu” Kataku memujinya
    “Ih.. bisa aja.. kamu” sahut Ibu mertuaku sambil mencubit pinggulku.

    Ibu mertuaku masih di atas tubuhku ketika HP-ku berbunyi ternyata dari istriku yang menyuruhku supaya menginap saja dirumah Ibu mertuaku. Setelah telepon di tutup aku memekik kegirangan. Setelah itu kami melakukan pemanasan lagi dan melakukannya sepanjang malam hingga menjelang subuh kami sama-sama kelelahan dan tidur. Entah sudah berapa kali kami bersenggama dalam berbagai posisi.

    Pagi harinya kami masih melakukannya lagi dikamar mandi untuk yang terakhir lalu setelah itu aku sarapan dan pulang.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Ngentot Dengan Ibu Muda

    Cerita Sex Ngentot Dengan Ibu Muda


    1111 views

    Perawanku – Cerita Sex Ngentot Dengan Ibu Muda, Pada suatu siang sekitar jam 12-an aku berada di sebuah toko buku Gr***dia di Gatot Subroto untuk membeli majalah edisi khusus, yang katanya sih edisi terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos t-shirt putih dan celana katun abu-abu.

    Sebenarnya potongan badanku sih biasa saja, tinggi 170 cm berat 63 kg, badan cukup tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar. Agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek, mataku agak kecil selalu menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku cukup pas deh. Jadi tidak ada yang istimewa denganku.

    Saat itu keadaan di toko buku tersebut tidak terlalu ramai, meskipun saat itu adalah jam makan siang, hanya ada sekitar 7-8 orang. Aku segera mendatangi rak bagian majalah. Nah, ketika aku hendak mengambil majalah tersebut ada tangan yang juga hendak mengambil majalah tersebut.

    Kami sempat saling merebut sesaat (sepersekian detik) dan kemudian saling melepaskan pegangan pada majalah tersebut hingga majalah tersebut jatuh ke lantai.

    “Maaf..” kataku sambil memungut majalah tersebut dan memberikannya kepada orang tersebut yang ternyata adalah seorang wanita yang berumur sekitar 37 tahun (dan ternyata tebakanku salah, yang benar 36 tahun), berwajah bulat, bermata tajam (bahkan agak berani), tingginya sama denganku (memakai sepatu hak tinggi), dan dadanya cukup membusung. “Busyet! molek juga nih ibu-ibu”, pikirku.

    “Nggak pa-pa kok, nyari majalah xxx juga yah.. saya sudah mencari ke mana-mana tapi nggak dapet”, katanya sambil tersenyum manis.

    “Yah, edisi ini katanya sih terbatas Mbak..”

    “Kamu suka juga fotografi yah?”

    “Nggak kok, cuma buat koleksi aja kok..”

    Lalu kami berbicara banyak tentang fotografi sampai akhirnya, “Mah, Mamah.. Ira sudah dapet komiknya, beli dua ya Mah”, potong seorang gadis cilik masih berseragam SD.

    “Sudah dapet Ra.. oh ya maaf ya Dik, Mbak duluan”, katanya sambil menggandeng anaknya.
    Ya sudah, nggak dapat majalah ya nggak pa-pa, aku lihat-lihat buku terbitan yang baru saja.

    Sekitar setengah jam kemudian ada yang menegurku.

    “Hi, asyik amat baca bukunya”, tegur suara wanita yang halus dan ternyata yang menegurku adalah wanita yang tadi pergi bersama anaknya. Rupanya dia balik lagi, nggak bawa anaknya.

    “Ada yang kelupaan Mbak?”

    “Oh tidak.”

    “Putrinya mana, Mbak?

    “Les piano di daerah Tebet”

    “Nggak dianter?

    “Oh, supir yang nganter.”

    Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang fotografi, cukup lama kami berbicara sampai kaki ini pegal dan mulut pun jadi haus. Akhirnya Mbak yang bernama Maya tersebut mengajakku makan fast food di lantai bawah.

    Aku duduk di dekat jendela dan Mbak Maya duduk di sampingku. Harum parfum dan tubuhnnya membuatku konak. Dan aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga merasakan tubuhnya sangat hangat.

    Busyet dah, lengan kananku selalu bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan kasar tapi sehalus mungkin. Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sehingga pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya.

    Terlihat dia beberapa kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya. Wah dia udah kena nih, pikirku. Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut.

    “Ke mana?” tanyaku.
    “Terserah kamu saja”, balasnya mesra.
    “Kamu tahu nggak tempat yang privat yang enak buat ngobrol”, kataku memberanikan diri, terus terang aja nih, maksudku sih motel.
    “Aku tahu tempat yang privat dan enak buat ngobrol”, katanya sambil tersenyum.

    Kami menggunakan taksi, dan di dalam taksi itu kami hanya berdiam diri lalu kuberanikan untuk meremas-remas jemarinya dan dia pun membalasnya dengan cukup hot. Sambil meremas-remas kutaruh tanganku di atas pahanya, dan kugesek-gesekkan.

    Hawa tubuh kami meningkat dengan tajam, aku tidak tahu apakah karena AC di taksi itu sangat buruk apa nafsu kami sudah sangat tinggi.

    Kami tiba di sebuah motel di kawasan kota dan langsung memesan kamar standart. Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut aku memilih berdiri di belakang Mbak Maya yang berdiri sejajar dengan sang room boy. Kugesek-gesekan dengan perlahan burungku ke pantat Mbak Maya, Mbak Maya pun memberi respon dengan menggoyang-goyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku.

    Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, langsung kepeluk Mbak Maya dari belakang, kuremas-remas dadanya yang membusung dan kucium tengkuknya. “Mmhh.. kamu nakal sekali deh dari tadi.. hhm, aku sudah tidak tahan nih”, sambil dengan cepat dia membuka bajunya dan dilanjutkan dengan membuka roknya. Ketika tangannya mencari reitsleting roknya, masih sempat-sempatnya tangannya meremas batanganku.

    Dia segera membalikkan tubuhnya, payudaranya yang berada di balik BH-nya telah membusung. “Buka dong bajumu”, pintanya dengan penuh kemesraan. Dengan cepat kutarik kaosku ke atas, dan celanaku ke bawah. Dia sempat terbelalak ketika melihat batang kemaluanku yang sudah keluar dari CD-ku. Kepala batangku cuma 1/2 cm dari pusar.

    Aku sih tidak mau ambil pusing, segera kucium bibirnya yang tipis dan kulumat, segera terjadi pertempuran lidah yang cukup dahsyat sampai nafasku ngos-ngosan dibuatnya.

    Sambil berciuman, kutarik kedua cup BH-nya ke atas (ini adalah cara paling gampang membuka BH, tidak perlu mencari kaitannya). Dan bleggh.., payudaranya sangat besar dan bulat, dengan puting yang kecil warnanya coklat dan terlihat urat-uratnya kebiruan. Tangan kananku segera memilin puting sebelah kiri dan tangan kiriku sibuk menurunkan CD-nya.

    Ketika CD-nya sudah mendekati lutut segera kuaktifkan jempol kaki kananku untuk menurunkan CD yang menggantung dekat lututnya, dan bibirku terus turun melalui lehernya yang cukup jenjang. Nafas Mbak Maya semakin mendengus-dengus dan kedua tangannya meremas-remas buah pantatku dan kadang-kadang memencetnya.

    Akhirnya mulutku sampai juga ke buah semangkanya. Gila, besar sekali.. ampun deh, kurasa BH-nya diimpor secara khusus kali. Kudorong tubuhnya secara perlahan hingga kami akhirnya saling menindih di atas kasur yang cukup empuk. Segera kunikmati payudaranya dengan menggunakan tangan dan lidahku bergantian antara kiri dan kanan.

    Setelah cukup puas, aku segera menurunkan ciumanku semakin ke bawah, ketika ciumanku mencapai bagian iga, Mbak Maya menggeliat-geliat, saya tidak tahu apakah ini karena efek ciumanku atau kedua tanganku yang memilin-milin putingnya yang sudah keras.

    Dan semakin ke bawah terlihat bulu kemaluannya yang tercukur rapi, dan wangi khas wanita yang sangat merangsang membuatku bergegas menuju liang senggamanya dan segera kujilat bagian atasnya beberapa kali.

    Kulihat Mbak Maya segera menghentak-hentakkan pinggulnya ketika aku memainkan klitorisnya. Dan sekarang terlihat dengan jelas klitorisnya yang kecil. Dengan rakus kujilat dengan keras dan cepat. Mbak Maya bergoyang (maju mundur) dengan cepat, jadi sasaran jilatanku nggak begitu tepat, segera kutekan pinggulnya. Kujilat lagi dengan cepat dan tepat, Mbak Maya ingin menggerak-gerakkan pinggulnya tapi tertahan.
    Tenaga pinggulnya luar biasa kuatnya. Aku berusaha menahan dengan sekuat tenaga dan erangan Mbak Maya yang tadinya sayup-sayup sekarang menjadi keras dan liar. Dan kuhisap-hisap klitorisnya, dan aku merasa ada yang masuk ke dalam mulutku, segera kujepit diantara gigi atasku dan bibir bawahku dan segera kugerak-gerakkan bibir bawahku ke kiri dan ke kanan sambil menarik ke atas.

    Mbak Maya menjerit-jerit keras dan tubuhnya melenting tinggi, aku sudah tidak kuasa untuk menahan pinggulnya yang bergerak melenting ke atas. Terasa liang kewanitaannya sangat basah oleh cairan kenikmatannya. Dan dengan segera kupersiapkan batanganku, kuarahkan ke liang senggamanya dan, “Slebb..” tidak masuk, hanya ujung batanganku saja yang menempel dan Mbak Maya merintih kesakitan.

    “Pelan-pelan Ndi”, pintanya lemah.

    “Ya deh Mbak”, dan kuulangi lagi, tidak masuk juga. Busyet nih cewek, sudah punya anak tapi masih kayak perawan begini. Segera kukorek cairan di dalam liang kewanitaannya untuk melumuri kepala kemaluanku, lalu perlahan-lahan tapi pasti kudorong lagi senjataku. “Aarrghh.. pelan Ndi..” Busyet padahal baru kepalanya saja, sudah susah masuknya. Kutarik perlahan, dan kumasukan perlahan juga. Pada hitungan ketiga, kutancap agak keras. “Arrhhghh..” Mbak Maya menjerit, terlihat air matanya meleleh di sisi matanya.

    “Kenapa Mbak, mau udahan dulu?” bisikku padda Mbak Maya setelah melihatnya kesakitan.
    “Jangan Ndi, terus aja”, balasnya manja.

    Kemudian kumainkan maju mundur dan pada hitungan ketiga kutancap dengan keras. Yah, bibir kemaluannya ikut masuk ke dalam. Wah sakit juga, habis sampai bulu kemaluannya ikut masuk, bayangkan aja, bulu kemaluan kan kasar, terus menempel di batanganku dan dijepit oleh bibir kewanitaan Mbak Maya yang ketat sekali.

    Dengan usaha tiga hitungan tersebut, akhirnya mentok juga batanganku di dalam liang senggama Mbak Maya. Terus terang saja, usahaku ini sangat menguras tenaga, hal ini bisa dilihat dari keringatku yang mengalir sangat deras.

    Setelah Mbak Maya tenang, segera senjataku kugerakkan maju mundur dengan perlahan dan Mbak Maya mulai menikmatinya. Mulai ikut bergoyang dan suaranya mulai ikut mengalun bersama genjotanku. Akhirnya liang kewanitaan Mbak Maya mulai terasa licin dan rasa sakit yang diakibatkan oleh kasar dan lebatnya bulu kemaluannya sedikit berkurang dan bagiku ini adalah sangat nikmat.

    Baru sekitar 12 menitan menggenjot, tiba-tiba dia memelukku dengan kencang dan, “Auuwww..”, jeritannya sangat keras, dan beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya dan terbaring lemas.

    “Istirahat dulu Mbak”, tanyaku.

    “Ya Ndi.. aku ingin istirahat, abis capek banget sich.. Tulang-tulang Mbak terasa mau lepas Ndi”, bisiknya dengan nada manja.

    “Oke deh Mbak, kita lanjutkan nanti aja..”, balasku tak kalah mesranya.

    “Ndi, kamu sering ya ginian sama wanita lain..”, pancing Mbak Maya.

    “Ah nggak kok Mbak, baru kali ini”, jawabku berbohong.

    “Tapi dari caramu tadi terlihat profesional Ndi, Kamu hebat Ndi.. Sungguh perkasa”, puji Mbak Maya.

    “Mbak juga hebat, lubang surga Mbak sempit banget sich.., padahal kan Mbak udah punya anak”, balasku balik memuji.

    “Ah kamu bisa aja, kalau itu sich rahasia dapur”, balasnya manja.

    Kamipun tertawa berdua sambil berpelukan.

    Tak terasa karena lelah, kami berdua tertidur pulas sambil berpelukan dan kami kaget saat terbangun, rupanya kami tertidur selama tiga jam. Kami pun melanjutkan permainan yang tertunda tadi. Kali ini permainan lebih buas dan liar, kami bercinta dengan bermacam-macam posisi.

    Dan yang lebih menggembirakan lagi, pada permainan tahap kedua ini kami tidak menemui kesulitan yang berarti, karena selain kami sudah sama-sama berpengalaman, ternyata liang senggama Mbak Maya tidak sesempit yang pertama tadi, mungkin karena sudah ditembus oleh senjataku yang luar biasa ini sehingga kini lancarlah senjataku memasuki liang sorganya.

    Tapi permainan ini tidak berlangsung lama karena Mbak Maya harus cepat-cepat pulang menemui anaknya yang sudah pulang dari les piano.

    Tapi sebelum berpisah kami saling memberikan alamat dan nomer telepon sehingga kami bisa bercinta lagi di lain saat dengan tenang dan damai.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Sudah Lama Menahan Nafsu

    Cerita Sex Sudah Lama Menahan Nafsu


    1111 views

    Perawanku – Cerita Sex Sudah Lama Menahan Nafsu, Nama saya Teddy, umur 22 tahun, 175 sentimeter, 17cm ayam panjang. Saya ingin menceritakan kisah yang menurut peristiwa ini saya menjalankan linkage seks adalah saudara dari kasih sayang saya yang bernama. Desi 23 thn, Bra 36, ??tinggi 170 sentimeter, dan berat 60 Kg atau dewi pacar saya yang bernama memiliki usia 21 thn, tinggi 168 Senti meter, berat badan 55 Kg & Bra ukuran 34 C.

    Kejadian yang saya alami diadakan untuk tanggal akhir pekan HRI 20 April 2003 yang pertama. Melawan saat itu saya berniat untuk pergi ke tempat penampungan pacar (mengapeli) semua meminta saya jatah kepadanya dan juga karena tengah malam minggu aku ada di sana dengan program keluarga.

    Ketika aku bangun untuk rumah pacar saya dibilangan Ps.Pekan ternyata pacar saya kembali ke rumah dengan orang tua mereka dan adik-adik ke Palembang ketika 16 HRI dunia karena kakeknya meninggal dan yang di rumah hanya Desi (kakak perempuan).

    Setelah saya tahu bahwasannya sayang saya tidak memiliki hasil rumah aku minta izin dari kakaknya. Tapi kakaknya yang mencela saya begitu au penurunan rumah pertama dan menemaninya untuk sementara dan main-main PS di rumah.

    Kebetulan pada waktu itu ada di ruang Psnya Desi. Karena aku sibuk main-main saya melihat ada sebuah kotak sepatu kotak secon, saya terkejut ketika saya pergi untuk menonton mengisi dalam yang ada ternyata mengisi alat bantu seks yang berbentu Penis terlalu banyak VCD porno keluaran VIVID USA.
    Suster Saya diberitahu pada waktu itu saya tidak tahu bahwasannya terhubung ketika kotak mainannya dan aku akan mengambil pula aku bertanya kepadanya “Apakah saudara ini?” Cepat saya menonton ekspresi wajahnya yang memerah secara bersamaan.

    Tetap dirinya menjawab “Mau tahu saja anak kecil Anda”. Suster ini ketika tidak ada pelampiasan yach ketika Kak Budi (Pacarnya = kru) ada di laut.
    “Achhhh bisa Anda” adalah jawabannya.,
    “Suster saya ingin membantu tidak” kataku.,

    Tidak Dengan menunggu jawabannya tentu saja kusergap bibir seksi yang saya bermain payudara sampingan. Setelah itu perlahan-lahan menyebar tangan saya masuk ke bajunya, lembut kuraba perut menjadi Bhnya juga saya masukkan jari telunjuk saya ke roknya dan menyentuh permukaan CD.

    “Ted biarkan Ted, adikku Dewi”
    “Kak Desi, aku ingin semua adik ML sama, tidak ingin ML saudara saya,” saya bertanya.
    “Bukannya aku tidak mau, tapi aku malu Anda,” jawabnya
    “Apa yang saudara maulu dengan saya, dan bahkan di rumah ini tidak ada orang lain yang tahu tidak hanya kita”, jawab saya
    Perlahan-lahan aku mengundangnya untuk tidur dan cepat hanya untuk mendapatkan lebih dekat dan meremas payudaranya.

    “Kesabaran Dong … Buka baju Anda pertama”
    Aku membuka baju saya benar-benar, memeluk dan mencium bibirnya.
    “Ayam Wowww mulia sekali dan lagi, lebih mantap daripada miliknya Mas Budi.”
    Saya tangan meremas-remas bahwa payudara montok. “Sip doooong … pintanya”.
    Saya sejak mulai menghisap. “Achhh … .terus … ted nikmat … oh, ayolah ….” Aku lebih bersemangat untuk mendengar napas, sekitar 5 menit aku menikmati payudaranya.

    Oh … .sstt … .jilat Vegiku Ted … dia bertanya gemetar. Bibirku menjilati selangkangannya cepat. lidah vegi menjilati mulutnya bully berlumpur. Dikala lubang vagina menyentuh ujung lidah saya, saya agak terkejut karena lubang Vegi-nya yang tidak hanya keluar aroma mawar rasa sedikit legit terlalu manis, tergantung Vegi dengan pacar saya & & rekan yang telah saya menjilati wanita saya, saya ingin menikmatinya.
    “Ardgg … arghh … mengerikan ted, saya menjadi merinding terasa dan tampak nich keluar5 bersemangat, saya ingin benar-benar nich, dan lidah lezat bangeeeet elo ted”.

    “Ya Suster, Teddy dan avid rasa, manis adik Vegi benar-benar hebat”.
    “Auuu … .auuuu … ted … dddd”.
    Ujung lidah saya terasa sedikit cairan disemprotkan dengan secara simultan bersama tinggi pantatnya memiringkan tongkat seluruhnya Vegi kemukaku.
    “Teddd … teddd … .Kakak keluar tedddd”. Vegi bibirnya ditarik perlahan dengan mulut sebelahku, sementara aku menggigit bersama-sama lembut. Memang ia menikmati. “Aduh-aduh mengerikan teddd”. Lidahkupun mengaduk-aduk lubang Vegi-nya yang telah basah sekali.

    “Tedd ..kini teddd …” Aku segera naik tubuhnya, ia siap sekali dengan mengangkang lebar menunggu kedatangan Teddy Junior. Perlahan-lahan kugesek dibibir Vegi-gesek saudaranya, sengaja tidak lubang Vegi cepat aku memasukinya, aku hanya menggosok. Dia tumbuh nafsu, “Ted, biarkan ted, masukkan ted, kakak perlu ted, biarkan ted”. tangannya dan segera memegang batang lurus dibimbingnya junior saya dan masuk ke dalam lubang Vegi-nya.

    “Au … ted, tip benar-benar besar ted” dia dikala dirinya memegang ujung junior saya. “Inikan beberapa kak baik, kadi adik tidak ingin nich, ya tidak ingin memiliki ketika tidak perlu dimasukkin”.
    “Apakah ted, ingin ted, ingin ted … cuman takut hanya karena sayang kakak miliknya kecil dan pendek”.
    “Auchhh … auuuuu …” teriaknya dari waktu ketika adikku mulai masuk ke vagina, terasa lamban sekali “.” Aduh … ted … sakit … yummy … sakitt. .. en akkkkk “.

    “Apa yang baik kak?” “Kau tahu ted, ada sedikit rasa sakit dan enaknya tidak main-main rasanya, rasanya mulut rahim saya Valentine ted”.
    Perlahan junior saya kuajun Vegi luar tanda nya baru, banyak dari tembakan ia berteriak, “Tedd … teddd … kakak keluar … teddd … auuuu … auuuu …”
    “Yach, telah demikian hanya keluar” jawabku,
    Pernah menjadi kepala adikku merokok dan dipelintir oleh Vegi mulutnya lezat, mencicipi semua sayuran-nyamasih kencang otot, sementara kutusuk konsisten vegi nya, mulut saya masih mengisap susu dot begitu indah. “Slrupp … slrupp ..” Ada setiap saya tarik & menekan Vegi-nya.

    “Rotasi kak Kak, kakak atas yach”
    “Yach ted, tapi mengajarkan yach”.
    Ketika posisi ini berada di bawah, dia langsung naik perut saya dan bersama secara langsung diadakan junior saya sementara diarahkan ke Vegi-nya. Aku melihatnya Vegi seklai bulu-bulu pendek yang indah yang membuat rasa gatal dan waktu yang buruk dengan Vegi bergesekkan nya. “Auuuuu … kak mengerikan Vegi saudara”.

    “Sekarang ternyata teddy adik yang membuat yach lezat” katanya, bergulir mulut bahenol pantatnya, itu batang memutar junior saya ingin istirahat waktu junior saya di Vegi dg berputar nya semakin serempak.
    “Auuu … bangettt kak kak … buruk ….”
    Saya juga bangun mulutku mencari susu puting, langsung kukemut & kuhisap.
    “Ted..ted … mampu membuat kakak ke luar lagi nich … itu terjebak sekali ted ted” Posisi ini adalah salah satu dengan ujung junior saya pernah menyentuh rahimnya.

    “Ech..ech ….” Suaranya setiap kali aku menyodok vegi nya. “Ted..ayo ted, kakak mau keluar lagi nich” “Tahan kak saya dan ingin keluar nich”.
    Bersamaan kugenjot vagina pagi-pagi. Dirinya karena ia keserupan setiap naik dan turun di atas junior saya yang jepit oleh Vegi nya.

    “Kak … aku ingin keluar kak …” “Ayo ted adik juga ingin nich” “Auuuu … .kakkkk”
    “Yach teddd …. Suster ingin keluar nich … ..achhhh … .achhhh”
    Aku memeluknya erat-erat saat menyemprot seluruh cum ke Vegi-nya.
    “Ted … aduhhhh mengerikan ted … teddy punya mengerikan”
    “Anda juga harus kak lezat, menipu saudara meninggalkan sayang kakak demi pekerjaannya di laut, pasti 1 thn dia bisa pulang.”

    Dia juga simultan jatuh di atas tubuh saya, kami berdua lemas, saat tidur di atas tubuh saya, dari kepala sampai kuelus konsisten dengan kepantatnya lembut.

    “Terima kasih yach Ted, adik memiliki pantangan panjang”.
    “Saya kak”.
    “Janji yach Tedd, adik ingin pula jika Anda meminta dia untuk kakak”.
    “Siiip dech kak, tapi yach hati menjaga rahasia kami dari Dewi yach kak”.
    “OK, Ted.”

    Sementara 16 HRI kami bebas melaksanakan hubungan seks dengan kakak pacarku di rumahnya dan kemudian kami akan melakukannya di waktu luang dan luar / dihotel. & Dan saya tidak lupa dan mereka bertanya tentang pacar saya setelah kembali dari Palembang.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Di Ajari Ngentot Oleh Tante Yosi

    Cerita Sex Di Ajari Ngentot Oleh Tante Yosi


    1111 views

    Perawanku – Cerita Sex Di Ajari Ngentot Oleh Tante Yosi, Cerita ini adalah sebuah pengalaman saya yang terjadi sekitar 1 tahun yang lalu. Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan bersama Tante Yossie. Umur saya sekarang adalah 23 tahun, saya (Donnie) baru saja menyelesaikan kuliah saya di sebuah perguruan swasta yang terkenal di Jakarta.

    Cerita Sex Di Ajari Ngentot Tante Yosi – Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya mempunyai teman bermain yang cukup akrab, namanya Jessy. Dia adalah teman dekat saya sejak perkenalan pertama kali ketika masih duduk di bangku SMP. Karena hubungan kami sangat dekat, maka saya sering bermain ke rumahnya di kawasan Menteng.

    Hampir tiap minggu pasti saya bermain ke rumahnya, entah untuk mengajaknya pergi atau hanya bermain di rumahnya saja. Karena hubungan kami yang dekat, maka hubungan saya dengan keluarganya cukup dekat pula. Apalagi dengan Tante Yossie, yang tidak lain adalah ibu kandung Jessy. Perlu anda ketahui, Tante Yossie menikah di umur yang sangat muda dengan Om Anwar. Tante Yossie melahirkan Jessy ketika masih berumur 18 tahun.

    Selain Jessy, Tante Yossie juga mempunyai anak lagi yaitu George yang baru berumur 2 tahun saat itu. Memang perbedaan umurnya dengan Jessy sangat jauh, apakah mungkin Tante Yossie memang ingin mempunyai anak lagi ataukah..? Setiap hari Tante Yossie hanya di rumah saja, sedangkan Om Anwar-nya adalah seorang karyawan perusahaan asing yang cukup sukses. Pada akhirnya ketika baru menginjak SMA tahun ke-2 hubungan saya dan Jessy serta dengan keluarganya putus, ketika ternyata mereka sekeluarga harus pindah ke Jerman untuk mengikuti Om Anwar yang mendapat pekerjaan di Jerman.

    Namun kira–kira setahun yang lalu saya mendapat berita bahwa Jessy sedang liburan ke Jakarta. Tentu saja saya senang sekali karena bisa bertemu teman lama saya. Ketika sudah berada di Jakarta, Jessy menelepon saya dan dia menyuruh saya datang ke apartmentnya di kawasan Kuningan. Dan akhirnya saya pun datang bertemu dengan dia di apartmentnya. Ketika datang saya sangat kaget, karena ternyata Tante Yossie sudah tinggal kembali di Jakarta. Tante Yossie ternyata tidak terlalu betah dengan suasana di Jerman, kira–kira setelah 1 tahun di Jerman dia memutuskan bersama George untuk kembali ke Jakarta. Sedangkan Om Anwar dan Jessy tetap tinggal di sana. George sekarang sudah sekolah pada sebuah SD swasta terkenal di kawasan Lippo Karawaci.

    Ketika bertemu dengan Jessy maupun dengan anggota keluarganya yang lain, saya sangat senang sekali, karena sudah lama sekali saya tidak berjumpa dengan mereka semua. Namun setelah kira–kira 2 minggu berada di Jakarta untuk liburan, akhirnya Jessy harus kembali ke Jerman untuk meneruskan studinya. Namun setelah 1 minggu Jessy balik ke Jerman, tiba–tiba saya mendapat telepon dari nomor HP yang biasa dipakai Jessy ketika dia berada di Jakarta, dan ternyata setelah saya ingat nomor tersebut adalah nomor HP Tante Yossie.

    “Don.. Tante nih, kamu lagi dimana?” tanya si Tante.
    “Saya baru saja habis makan siang tuh sama teman saya Tante, ada apa memangnya?” tanyaku kembali.
    “Gini.. ada yang aneh sama TV di rumah Tante, kamu bisa tolong kemari tidak?” tanyanya.
    “Yah.. bisa deh Tante, cuman kira-kira 2 jam lagi deh yah,” jawab saya.

    Akhirnya saya datang juga ke apartmentnya untuk membantunya. Setelah sampai di apartmentnya alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Yossie memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi bagiku, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Yossie masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam “BL” seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira–kira 36B. Ketika saya mengecek TV-nya ternyata memang ada yang rusak. Waktu saya sedang berusaha mengeceknya tiba–tiba Tante Yossie menempel di belakang saya. Mula–mula saya tidak menaruh curiga sama sekali mungkin karena dia ingin tahu bagian mana yang rusak, namun lama–lama saya merasakan ada sesuatu yang menempel di punggung saya, yaitu payudaranya yang montok. Setelah TV berhasil saya benarkan, kami berdua akhirnya duduk di ruang keluarganya sambil menonton acara TV dan berbicara tentang kabar saya.

    “Don, kamu masih seperti yang dulu saja yah?” tanya Tante Yossie.
    “Agh.. Tante bisa aja deh, emang nggak ada bedanya sama sekali apa?” jawabku.
    “Iyah tuh.. masih seperti yang dulu saja, cuman sekarang pastinya sudah dewasa dong..” tanyanya.
    Lalu belum saya menjawab pertanyaannya yang satu itu, tiba–tiba tangan Tante Yossie sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.
    “Don.. mau kan tolongin Tante?” tanya si Tante dengan manja.
    “Loh.. tolongin apalagi nih Tante?” jawabku.
    “Tolong memuaskan Tante, Tante kesepian nih..” jawab si Tante.
    Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Yossie yang memiliki rambut sebahu dengan warna rambut yang highlight, saya benar–benar tidak membayangkan kalau ibu teman dekatku sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk “bercinta” dengan Tante Yossie ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.
    “Wah.. saya harus memuaskan Tante dengan apa dong?” tanyaku sambil bercanda.
    “Yah.. kamu pikir sendiri dong, kan kamu sudah dewasa kan..” jawabnya.

    Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulailah memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas–remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Yossie juga tidak mau kalah, ia langsung meremas–remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini, apalagi setelah kepulangannya dari Jerman. Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu seperti di atas, Tante Yossie menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya dia langsung melucuti semua baju saya, pertama–tama dia melepas kemeja saya kancing perkancing sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi’s saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya. “Wah.. Don, gede juga nih punya kamu..” kata si Tante sambil bercanda. “Masa sih Tante.. perasaan biasa–biasa saja deh,” jawabku. Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Yossie yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.

    Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba–tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas–remas, sementara itu Tante Yossie terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit–gigit putingnya yang sudah mengeras.
    “Oghh.. saya merindukan suasana seperti ini Don..” desahnya.
    “Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah?” kataku.
    Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitorisnya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu–bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat–jilat kemaluan si Tante dengan pelan–pelan. “Ogh.. Don, pintar sekali yah kamu merangsang Tante..” dengan suara yang mendesah. “Wah.. natural tuh Tante, padahal saya belum pernah sampai sejauh ini loh..” jawabku. Tak terasa, tahu–tahu rambutku dijambaknya dan tiba–tiba tubuh tante mengejang dan aku merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, cuma berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apapun tentunya sudah tidak menjadi masalah.

    Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar–benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Yossie sekarang meminta saya untuk memasukan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.
    “Don.. ayoo dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih,” minta si Tante.
    “Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana..” tanyaku.
    “Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang–tenang aja deh,” sambil berusaha meyakinkanku.
    Benar–benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya. Walaupun sakitnya juga lumayan. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan, karena masih terasa sakit. “Ahh.. dorong terus dong Don..” minta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali. Mendengar desahannya saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat walaupun rasa sakit juga terasa. Akhirnya saya mulai terbiasa dan mulai mendorong dengan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas–remas payudaranya, sampai tiba–tiba tubuh Tante Yossie mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya. Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar–benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, dan tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.
    “Oh.. oh.. nikmat sekali Donniie..!” teriak si Tante.
    “Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih..” kata saya.
    “Sabar yah Don.. tunggu sebentar lagi dong, Tante juga udah mau keluar lagi nih..” jawab si Tante.

    Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante. “Arghh..!” teriak si Tante Yossie. Tante Yossie kemudian mencakar pundak saya sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot–otot kemaluannya benar–benar meremas batang kemaluanku. Setelah itu kami berdua letih dan langsung tidur saja di atas ranjangnya. Tanpa disadari setelah 3 jam tertidur, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke dapur. Ketika di dapur saya melihat Tante Yossie dalam keadaan telanjang, mungkin dia sudah biasa seperti itu. Entah kenapa, tiba–tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata–kata, saya langsung memeluk Tante Yossie dari belakang, dan mulai lagi meremas–remas payudaranya dan pantatnya yang bahenol serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.
    “Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya?” kataya sambil tertawa kecil.
    “Agh Tante bisa aja deh,” jawabku sambil menciumi bibirnya kembali.
    Saking nafsunya, saya mengajak untuk sekali lagi bersenggama dengan si Tante, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Yossie kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di dapurnya. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya doggie style.”Um.. dorong lebih keras lagi dong Don..” desahnya. Semakin nafsu saja aku mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokanku kepada si Tante, sementara itu tanganku menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.
    “Don.. mandi yuk?” mintanya.
    “Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah?” jawab saya.

    Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya mendudukkan Tante Yossie di atas wastafel, dan kemudian saya kembali menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.
    “Hm.. nikmat sekali jilatanmu Don.. agghh..” desahnya.
    “Don.. kamu sering–sering ke sini dong..” katanya dengan nafas memburu.
    “Tante, kalo tahu ada service begini mah saya tiap hari kalau bisa juga mau,” jawabku sambil tersenyum.
    Setelah puas menjilatinya, saya memasukkan batang kemaluan saya kembali ke lubang kemaluan Tante Yossie. Kali ini, dorongan saya sudah semakin kuat, karena rasa sakit saya sudah mulai berkurang ataukah saya sudah mulai terbiasa yah? Bosan dengan gaya tersebut, saya duduk di atas kloset dan Tante Yossie saya dudukkan di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini saya sudah mulai tidak terlalu merasakan sakit sama sekali, namun rasa nikmat lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat akhirnya saya “KO” kembali, saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Yossie kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.

    Setelah selesai mandi, Tante Yossie memasakkan makan malam untuk kami berdua, dan setelah itu saya pamitan untuk balik ke rumah. Setelah kajadian itu saya baru tahu bahwa kesepian seorang Tante dapat membawa nikmat juga kadang–kadang. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan bersetubuhan. Kami biasanya melakukan di apartmetnya di kala anaknya George sedang sekolah atau les. Dan sering juga Tante mem-booking hotel berbintang dan kami bertemu di kamar.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex ketauan masturbasi di toilet

    Cerita Sex ketauan masturbasi di toilet


    1111 views

    Perawanku – Cerita Sex ketauan masturbasi di toilet, Aku meraba klitorisku dgn jari jariku, terasa nikmat sekali, beberapa saat kututup mataqu, Cepat sekali kemaluanqu sudah licin, basah sekali, sentuhan jari jariku semakin menebarkan rasa nikmat.

    Sesekali aqu tekan lebih keras, badanku rasanya tak sanggup menopang badanku, lututku bergetar
    lemas tak kuat menopang badanku.

    Oh ya, keasikan neh, perkenalkan namaqu Diana, 26 tahun, masih single, aqu bekerja sebagai seorang Guru SD di Jakarta. Hobiku adalah masturbasi sambil menghayalkan lelaki pujaanku, fantasi-fantasi liar sering kali tak dapat kubendung, apalagi semenjak aqu jomblo hampir setahun ini.

    Dan beginilah, belakangan ini jika sedang horny aqu tak kenal tempat untuk memuaskan gejolak
    birahiku. Balik ke cerita tadi…

    Sangkin nikmatnya masturbasi di kamar mandi sekolah, aqu sampai tak menyadari kalau pintu kamar mandi walau kututup tapi tak kukunci. Aqu semakin tak peduli, yg kutahu aqu harus memuaskan birahiku yg sedang terbakar, kucoba menahan desahanku, walau terkadang terlepas juga desisan desisan kecil dari bibir tipisku.
    “sshh..emhhh”, desisan kecil sesekali kelaur dari bibir tipisku.

    Aqu membaygkan bercinta dgn pak Lukman, guru olah raga baru disekolah tempatku bekerja, pak
    Lukman sungguh tampan dan badannya yg sangat kekar, tadi siang aqu memperhatikannya yg sedang memberi petunjuk cara meregangkan otot kepada murid kelas 6 SD. ototnya begitu keakar, belom lagi ada tonjolan yg menggelembung di antara pahanya. Terus terbayg-bayg, aqu jadi ga kaut lagi menahan birahiku sampai akhirnya berujung di kamar mandi sekolah ini ketika jam pelajaran berakhir dan sekolah sudah sepi. Aqu membaygkan bercinta dgn pak Lukman di kamar mandi ini, dia memompa kemaluannya yg besar di kemaluanqu dari arah belakang, badannya mendorong badanku sehingga aqu terpaksa menahan badanku di tembok kamar mandi dan sedikit menungging.

    Aqu mempraktekkannya seolah-olah semuanya nyata, satu tanganku bertopang di dinding dan yg
    lain membelai klitorisku dari depan.

    ‘uuuh pak Lukman’, desisku pelan. aqu terus mengejar kenikmatan, keringatku mulai keluar dari atas
    keningku. Tak lama aqu merasa hampir tiba di ujung kenikmatan itu, tetapi tiba-tiba,
    ‘braaak’, pintu kamar mandi tiba tiba terbuka.
    ‘bu Diana’, kata orang yg berdiri di depan pintu kamar mandi dgn mata yg tak berkedip sedikitpun melihatku. Aqu tersentak kaget,

    ‘pak Mukidi ehhhh…’, kataqu kaget ketika melihat pak Mukidi, cleaning service sekolah yg umurnya
    sekitar 40 tahun. Sangkin kagetnya dan tak tau berbuat apa aqu jongkok merapatkan kakiku sangkin
    kagetnya, tetapi tanganku masih berada diantara selangkanganku, aqu begitu kaget sampai lupa menarik tanganku.

    ‘pak Mukidii keluar’, kataqu dgn suara pelan. Wajahku pucat sangkin taqut dan malunya. Kurang ajar
    benar dia, bukannya keluar tapi malah cepat-cepat masuk dan menutup pintu kamar kamar mandi dan
    menguncinya.

    ‘ngapain pak… keluar,’ perintahku dgn tetap berjongkok sambil merapikan rok ku ke bawah yg
    tadinya tersingkap sampai ke pinggul.
    ‘Bu Diana’, kata Mukidi sambil mendekatiku dan mendekap badanku. Aqu bertambah kaget, tapi aqu
    tdak berani berteriak, aqu taqut ada orang yg mengetahui kalau aqu masturbasi di kamar mandi sekolah.

    ‘jangaan pak’, kataqu berusaha melepaskan dekapannya, kugeser badanku untuk melepaskan diri
    dari dekapannya, tetapi dia tetap mendekapku sampai aqu menabrak dinding.
    ‘jangan paak’, kataqu taqut, dia tak mendengarkanku, bahkan dia mendekatkan wajahnya dan menciumi leherku,
    ‘jangaaan’, kataqu lagi.

    Melihat Mukidi yg begitu beringas dgn nafas mendengus dengaus menciumi leherku dan tangannya
    mulai meraba raba buah dadaqu. Aqu menyadari kalau aqu terjebak, aqu berusaha melawan, dgn
    sekuat tenaga aqu dorong badannya, berhasil, dia terjatuh di lantai kamar mandi.

    Aqu langsung mengambil kesempatan, berdiri ke arah pintu, tetapi ketika aqu mencoba membuka
    grendel pintu kamar mandi. Tanganku tertahan oleh tangan Mukidi yg kekar,
    ‘lepaskan’, kataqu, tetapi Mukidi yg sudah kesetanan itu tak mendengarkanku, dia malah memutar
    tangan kananku ke belakang badanku dgn paksa, tangannya yg lain menahan tangan kiriku didinding.

    Aqu terjebak, tenaganya kuat sekali, badanku seperti terkunci dan tak bisa bergerak,
    ‘pak Mukidi jangan…sakit..lepaskan’, kataqu memohon dgn suara memelas.
    ‘bu Diana… biarkan aqu…’, katanya didekat telingaqu, dengusan nafasnya sampai terasa menerpa
    telingaqu.

    “ahhh lepaskan’, aqu memohon lagi begitu mengetahui badan kekarnya menekan badanku
    kedinding. Aqu sangat taqut, ketika merasa ada benda yg keras kenyal menabrak bokongku.
    ‘ahh kemaluannya udah tegang, dia akan memperkosaqu’, jerit batinku
    Aqu semakin memberontak berusaha melepaskan kuncian tangannya yg menahan kedua tanganku.

    ‘sebaiknya bu Diana jangan berisik, nanti ada orang yag dengar, biarlah saya dipukuli orang tetapi
    saya akan cerita ke semua orang kalau ibu Diana masturbasi di kamar mandi’, katanya mengancam,
    aqu mengurangi perlawananku, ancamannya begitu mengena. Apalagi di sekolah aqu dikenal
    sebagai wanita anggun yg berkarisma. Aqu menghentikan perlawananku…berpikir sejenak.

    Kesempatan itu tak disia siakannya, tangan kananku diletakkan keatas merapat didinding bersatu
    dgn tangan kiriku, dgn tangan kirinya dia menahan kedua tanganku.

    ‘jangan paak, kumohhhon jangaan’, aqu memelas kepadanya. Tapi sia-sia, tangan kanannya sudah
    bebas meraba raba buah dadaqu, dia memeras buah dadaqu keras sekali. Ingin rasanya menangis
    tetapi aqu taqut malah ada yg dengar.

    “aahh bu Diana..buah dada bu Diana gede banget emmhh’, kata-kata kotor yg memuji keindahan
    badanku keluar dari mulutnya.Kurang puas meraba buah dadaqu yg masih ditutupi kemeja, dia
    menarik kemejaqu keatas melepaskan dari dalam rokku. Tangannya yg kasar mulai terasa meraba
    raba perutku,
    ‘ammpuun pak lepaskan’, kucoba lagi memohon ketika dia mulai memeras buah dadaqu.

    ’emmh bu Diana, gede banget toket bu Diana”, katanya lagi dgn berbisik dari belakang, dengusan
    nafasnya yg berderu menandakan dia sangat bernafsu. Dan aqu bisa merasakan kemaluannya sudah
    sangat keras sekali menabrak nabrak bokongku. Ini semua menandakan dia benar benar sudah sangat
    ingin menyebadaniku.

    ‘Bu Diana ijinkan saya menyetubuhi bu Diana’, bisiknya pelan sambil menarik rokku keatas. Aqu
    kaget mendengarnya, tetapi tenagaqu tak cukup kuat melepaskan kuncian tangannya.
    ‘Pak..jangan jangan kasihani aqu’, kataqu memelas. Sepertinya apapun yg kukatakan tak dapat
    membendung nafsu setannya, sejenak tak kurasakan tangan kanannya meraba raba badanku.
    Penasaran apa yg dilaqukannya. aqu menoleh ke belakang dan alangkah kagetnya..

    ‘oooh jangan pak’, aqu panik ketika melihat ke belakang dia mengeluarkan kemaluannya, walau tak
    begitu jelas aqu bisa melihat kemaluannya yg besar dan hitam legam sudah keluar dari sarangnya.
    Belom
    hilang rasa kagetku, Mukidi menekan badanku merapat kedinding, aqu merasakan benda kenyal dan
    keras mengesek dan menabrak bokongku.

    ‘Aduuh bokong bu Diana montok banget’, katanya meremas remas bokongku. Aqu terkaget, aqu
    baru teringat jika ketika masturbasi tadi aqu melepas celana dalamku dan celana dalamku masih
    tergantung di pintu kamar mandi.

    ‘Gawat neh’, pekikku dalam hati mengetahui bokongku tak dibaluti kain sedikitpun. Pasti dia dgn
    mudah mencari sasaran tembaknya apa lagi kemaluanqu udah mengeluarkan cairan karena masturbasi tadi, aqu menjadi panik kembali, aqu taqut membaygkannya. Kucoba lagi memberontak,
    tapi tetap sia sia.

    Aqu pasrah, rasanya tak mungkin lepas, kurasakan ada benda kenyal sedang menggesek gesek
    belahan kemaluanqu yg licin seperti mencari cari sasaran. Akhirnya benda itu berhenti tepat di
    mulut lubang kemaluanqu setelah mendapatkan sasaran tembak, kemaluan Mukidi sudah berada
    tepat di depan mulut kemaluanqu, aqu sungguh tak berdaya.
    ‘Pak Mukidi ampun pak’, kataqu memohon lagi menyadari dalam hitungan detik kemaluannya akan
    segera masuk kedalam badanku

    ‘Bu Diana udah lama saya pengen giniin bu Diana, bu Diana seksi banget’, katanya, dan tiba tiba
    kurasakan kemaluannya mulai masuk, aqu panik mencoba melawan sengan sisa sisa harapanku,
    bukannya terlepas tapi malah karena gerakan badanku kemaluan itu malah terbenam masuk ke
    dalam lubang kemaluanqu,
    ‘aaaah tidaaak’, pekikku dalam hati ketika kurasakan kemaluannya terasa terbenam memenuhi
    kemaluanqu. Aqu menarik nafas, ingin rasanya menangis.

    Sungguh sial, kemaluanqu yg sudah basah ketika aqu masturbasi tadi malah memudahkan gagang itu
    masuk, tetapi kupikir itu lebih baik, jika tak mungkin kemaluanqu bisa lecet karena ada benda yg
    memaksa masuk, tapi berkat cairan yg sebelomnya memang udah membanjiri kemaluanqu
    membuat kemaluan Mukidi yg besar itu pun masuk perlahan menggesek dinding lubang kemaluanqu
    perlahan.

    ’emmmh bu Diana, kemaluan bu Diana enak banget, ooohhh’, desahnya didekat telingaqu ketika
    kemaluannya dibenamkan sedalam dalam mungkin dan terasa menyentuh rahimku,
    ‘Ya ampuuun panjang banget kemaluan laki laki ini, ampuuun’, pekikku dalam hati. Aqu berharap
    kemaluan itu udah mentok karena terasa sangat keras menabrak rahimku dan terasa sedikit perih
    karena jujur aja belom pernah ada benda sebesar itu masuk ke kemaluanqu. Ketika gagangan itu
    amblas, aqu terdiam, antara bingung, taqut, takjub, nikmat dan kaget. Semuanya berkecamuk
    dikepalaqu… aqu benar benar terdiam, tak bergerak.

    Aqu pasrah, tak mengeluarkan sepatah katapun, tak kusangka khyalanku bercinta di kamar mandi
    sekolah, dan disebadani dari belakang kesampean juga, tetapi bedanya bukan dgn pak Lukman dan
    aqu tak menginginkan ini terjadi. Tapi kenyataannya, laki laki yg sedang mendesah desah
    dibelakangku, yg sedang membenamkan gagangannya di lubang surgaqu yg berharga adalah
    pegawai kebersihan alias cleaning service di sekolah kami.

    Kenyataan yg harus kuterima, Mukidi sedang menikmati kemaluanqu, menikmati memompa
    kemaluannya keluar masuk di lubang kemaluanku.
    ‘oooh bu Diana…ohhh enaknya’, desah Mukidi ga karuan berkali kali

    ’emmmh’, aqu mendesis kecil, walau aqu tak suka tapi tiba-tiba aqu merasakan rasa nikmat walau
    tersamar oleh rasa taqutku. Mukidi terus mengocok kemaluannya tanpa henti, begitu dalam
    melesak masuk di lubang kemaluanqu. Kedua tanganku masih ditahan oleh tangannya yg kekar di
    dinding kamar mandi.

    ‘oooh ya ampppuuun kemaluannya teraasa banget’, teriakku dalam hati. Ketika aqu mulai tenang,
    aqu menyadari kalau kemaluan Mukidi memang besar dan keras sekali, gesekan dan tusukan
    kemaluannya begitu mantap memenuhi lubang kemaluanqu. Terasa banget ada benda yg
    mengganjal selangkangku, mulai menebarkan rasa nikmat yg menjalar diseluruh badanku.

    Diam diam aqu mulai menikmati diperkosa lelaki ini, tiap kali dia menggerakkan gagang
    kemaluannya, darahku berdesir, sungguh luar biasa nikmat yg kudapat. Ketika dia menancapkan
    kemaluannya kembali ke dalam liangku, aqu mendesis pelan, kucoba tak mengeluarkan suara, aqu terlalu sombong untuk mengaqui kalau gagangan itu sungguh memberikan kenikmatan padaqu, tetapi
    tetap saja desisan kecil keluar dari bibirku.
    ‘mmmh mmmmh’, desisku pelan.
    ‘enakkan bu?, katanya tiba tiba.

    Ternyata dia mengetahui kalau aqu mulai menikmati tusukan kemaluannya. Aqu terdiam malu, tak
    berani berkomentar, kalau kubilang tak atau memaki makinya, dia pasti tahu aqu bohong karena
    kemaluanqu sudah mengeluarkan banyak cairan yg menandakan aqu juga terangsang dan
    menikmati enjotan kemaluannya. Aqu menundukkan kepalaqu dan mencoba menghindari ciuman
    bibirnya yg mengecup pipi kananku.

    ‘Tunggingin dikit bu Diana’, katanya sambil menarik bokongku keatas.
    ‘Kurang ajaaar… berani beraninya dia malah menyuruhku menungging’, umpatku dalam hati.
    Tapi aqu tak punya pilihan selain menuntaskan birahinya secepat mungkin, dan berharap agar
    semuanya secepat mungkin berakhir. Aqu ikuti saja kemauannya dgn menunggingkan sedikit
    bokongku.

    ’emmh bokong bu Diana memang montok banget, ga salah apa yg aqu khayalin selama ini’, katanya
    sambil meremas remas bokongku gemas.
    ‘Gila, ternyata aqu sudah lama jadi fantasi laki laki ini’, pikirku dalam hati.
    Merasa posisiku sudah siap, sambil tangan kirinya menahan pinggulku, dia kembali menggerakkan
    kemaluannya kembali.

    ’emmh pak pelan’, kataqu ketika kurasakan penetrasi kemaluannya terasa lebih dalam dari
    sebelomnya,mungkin karena aqu menunggingkan bokongku sehingga posisi kemaluanqu benar-
    benar bebas hambatan. Mukidi tak memperlambat kocokannya, dia malah mempercepat, aqu mulai mendesah-desah pelan masih menjaga sikapku,

    ’emmh emmmh’, desisku pelan merasakan gesekan gagangannya di lubang kemaluanqu.
    Melihat badanku yg terdorong dorong kedepan, Mukidi sepertinya sengaja melepaskan kedua
    tanganku sehingga aqu dapat menahan tekanan badannya, dgn kedua tanganku bertopang pada
    tembok.

    ’emmmh gila seret banget’, erangnya. Kini kedua-tangannya meremas remas bokongku yg bulat
    padat sambil tak berhenti mengocok kemaluannya.
    ‘ooh bu oooh’, Mukidi semakin keras mendesah, aqu jadi taqut kalau-kalau ada orang yg mendengar
    desahannya itu.
    “pak Mukidi..ja..jangan berisik pak..”, kataqu memohon taqut desahannya didengar orang.
    ‘I..i..iya bu emhh abis enak banget’, katanya pelan dgn nafas menderu.

    Kocokan kemaluannya terasa semakin cepat. Kurang puas meremas-remas bokongku, dia
    menguakkan belahan bokongku. dan kurasakan satu jarinya membelai duburku. Kontan aja aqu
    menggeliat, bokongku bergoyg ke kanan ke kiri karena kegelian.

    ‘oooh pak Mukidi..oooh’, aqu bukan lagi mendesis tetapi desahan mulai keluar dari bibirku, rasa
    nikmat yg tercipta dari kocokan kemaluan Mukidi ditambai gesekan jarinya yg membelai duburku
    seperti racikan yg pas membuat aqu lupa diri, dan membuatku tak dapat membendung desahanku.
    Hebat sekali, rasanya aqu mulai benar benar menikmati semua ini, badanku terasa sangat geli,
    kenikmatan rasanya menyebar diseluruh badanku.

    ‘oooh ahhh’, aqu semankin menggila desahanku bertambah keras saja, Mukidi bukan saja hanya
    membelai duburku dgn jarinya tetapi memasukkan satu jarinya ke duburku dan menusuk nusuk
    jarinya ke duburku, refleks bokongku semakin kutungingin, tiap kali dia menarik kemaluannya dia
    membalasnya dgn menusukkan jarinya ke duburku. Jujur saja terlintas dibenakku untuk melaqukan
    anal sex dgn pak Mukidi, seperti yg dulu pernah kulaquan dgn pacarku.

    Mukidi semakin mengerang tak karuan, tak kuhiraukan lagi apa yg dikatakan Mukidi, rasanya aqu
    sudah mau klimaks.
    ‘saya mau keluar..ahh bu Diana’, kudengar samar samar erangannya, tetapi tak kupedulikan karena
    aqu juga merasa sudah mau klimaks.

    ‘ooh emmmh oooh’ desahku lebih keras, kurapatkan badanku kedinding, Mukidi mengikuti badanku
    dan menekan keras keras kemaluannya kedalam kemaluanqu, bahkan dia menusuk jarinya sampai
    amblas didalam duburku
    ‘ahhhh setaaan kau parmaaaaan’, lirihku panjang, aqu klimaks, aqu tak dapat menahannya, sungguh
    luar biasa aqu bisa klimaks ketika diperkosa.

    Kutelan air liurku menikmati sisa kenikmatan, masih kurasakan kemaluan Mukidi memenuhi liangku,
    tetapi tak kurasakan lagi jari Mukidi di duburku, kedua tangannya memegang bokongku dan
    memompa kemaluannya dgn ganas.

    ‘oooh bu Diana oooh’, tiba tiba Mukidi mengerang keras dan menekan badanku keras, aqu kaget
    menyadari dia mau klimaks, tapi terlambat, diringi erangannya, kemaluan Mukidi sudah
    menyemburkan sperma hangat menyirahi rahimku. Berkali kali dia mengehentakkan kemaluannya
    dalam-dalam membuat badanku terdorong ke tembok.

    ‘ooooh emmmh’, entah kenapa aqu ikut menikmati sensasi ketika Mukidi klimaks di liangku,
    denyutan-denyutan kecil gagang kemaluannya terasa di sinding lubang kemaluanqu ketika cairan
    hangat spermanya berhamburan keluar menyirami lubangku.

    ‘Ahhh apa yg kulaqukan? Mukidi klimaks di kemaluanqu’, pekikku dalam hati. Aqu tersadar kembali, kurapatkan badanku kedinding dan menarik nafasku, aqu teringat kalau aqu memang sudah mau haid, aqu hanya bisa berharap spermanya tak membuahi telur dirahimku.

    ‘ahh bu Diana emmh’, dia mencoba mencium pipiku tapi kudorong dgn mata melotot. Melihatku
    protes, dia segera merapikan pakaiannya tanpa membersihkan kemaluannya yg masih dilumuri
    cairan kemaluanqu.

    ‘Cepat keluar pak’, kataqu dgn suara lantang sambil merapikan posisi rokku. Mukidi tanpa berkata
    apa apa langsung keluar dan kukunci pintu kamar mandi. Aqu langsung membersihkan kemaluanku
    dari cairanku sendiri dan sperma Mukidi yg mengalir keluar,
    ‘gila..banyak banget spermanya’, umpatku dalam hati.

    Aqu mengenakan celana dalam dan merapikan baju yg kukenakan. Aqu mengendap endap keluar
    kamar mandi dgn hati berdebar, taqut ada orang yg mengetahui apa yg terjadi tadi di kamar mandi.
    Suasana sekitar sekolah sepi, memang saat itu sudah hampir jam 4 sore. Dgn hati berdebar aqu
    memasuki ruangan guru, kulihat kepala sekolah dan 2 orang guru belom pulang mereka lagi sibuk
    dgn urusan masing masing. Aqu sedikit bernafas lega walau perasaan kotor masih ada dipikiranku.
    Dan sore itu aqu pulang kerumah dgn perasaan yg tak menentu antara malu, takjub dan taqut.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Memperkosa Adikku Yang Nakal

    Cerita Sex Memperkosa Adikku Yang Nakal


    1111 views

    Perawanku – Cerita Sex Memperkosa Adikku Yang Nakal, Fina di sekolahny termasuk gadis, cewek yang sangat populer karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Aq sebagai seorang kakaknya selalu membayangkan jika adikku yang manis dan cantik itu aku setubuhi sendiri. Pasti kontolku bakalan nut-nutan.

    Singkat kata, adikku fina memang seorang gadis yang sangat cantik dan merupakan kebanggaan orang tuaku. Selain itu dia juga sangat pandai membawa diri di hadapan orang lain sehingga semua orang menyukainya. Namun di balik semua itu, sang “putri” ini sebetulnya tidaklah perfect. Kepribadiannya yang manis ternyata hanya topeng belaka. Di dunia ini, hanya aku, kakak laki-lakinya, yang tahu akan kepribadiannya yang sesungguhnya. Kedua orang tuaku yang sering keluar kota untuk berbisnis selalu menitipkan rumah dan adikku kepadaku. Tapi mereka tidak tahu kalau aku kesulitan untuk mengendalikan adikku yang bandelnya bukan main. Di hadapanku, dia selalu bersikap membangkang dan seenaknya. Bila aku berkata A, maka dia akan melakukan hal yang sebaliknya. Pokoknya aku sungguh kewalahan untuk menanganinya.

    Suatu hari, semuanya berubah drastic. Hari itu adalah hari Sabtu yang tak akan terlupakan dalam hidupku. Pada akhir minggu itu, seperti biasanya kedua orang tuaku sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Mereka akan kembali minggu depannya. Kebetulan, aku dan adikku juga sedang liburan panjang. Sebetulnya kami ingin ikut dengan orang tua kami keluar kota, tapi orang tuaku melarang kami ikut dengan alasan tak ingin kami mengganggu urusan bisnis mereka. Biarpun adikku kelihatan menurut, tapi aku tahu kalau dia sangat kesal di hatinya. Setelah mereka pergi, aku mencoba untuk menghiburnya dengan mengajaknya nonton DVD baru yang kubeli yaitu Harry Potter and the Order of Pheonix. Tapi kebaikanku dibalas dengan air tuba. Bukan saja dia tidak menerima kebaikanku, bahkan dia membanting pintu kamarnya di depan hidungku.

    Inilah penghinaan terakhir yang bisa kuterima. Akupun menonton DVD sendirian di ruang tamu. Tapi pikiranku tidaklah focus ke film, melainkan bagaimana caranya membalas perbuatan adikku. Di rumah memang cuma ada kami berdua. Orang tua kami berpendapat bahwa kami tidak memerlukan pembantu dengan alasan untuk melatih tanggung jawab di keluarga kami. Selintas pikiran ngawur pun melintas di benakku. Aku bermaksud untuk menyelinap ke kamar adikku nanti malam dan memfoto tubuh telanjangnya waktu tidur dan menggunakannya untuk memaksa adikku agar menjadi adik yang penurut.
    Malam itu, jam menunjukan pukul sebelas malam. Aku pun mengedap di depan pintu kamar adikku. Daun telingaku menempel di pintu untuk memastikan apa adikku sudah tertidur. Ternyata tidak ada suara TV ataupun radio di kamarnya. Memang biasanya adikku ini kalau hatinya sedang mengkal, akan segera pergi tidur lebih awal. Akupun menggunakan keahlianku sebagai mahasiswa jurusan teknik untuk membuka kunci pintu kamar adikku. Kebetulan aku memang mempunyai kit untuk itu yang kubeli waktu sedang tour ke luar negeri. Di tanganku aku mempunyai sebuah kamera digital.
    Di kamar adikku, lampu masih terang karena dia memang tidak berani tidur dalam kegelapan. Akupun berjalan perlahan menuju tempat tidurnya. Ternyata malam itu dia tidur pulas terlentang dengan mengenakan daster putih. Tanganku bergerak perlahan dan gemetar menyingkap dasternya ke atas. Dia diam saja tidak bergerak dan napasnya masih halus dan teratur. Ternyata dia memakai celana dalam warna putih dan bergambar bunga mawar. Pahanya begitu mulus dan aku pun bisa melihat ada bulu-bulu halus menyembul keluar di sekitar daerah vaginanya yang tertutup celana dalamnya.
    Kemudian aku menggunakan gunting dan menggunting dasternya sehingga akhirnya bagian payudaranya terlihat. Di luar dugaanku, ternyata dia tidak mengenakan kutang. Payudaranya tidak begitu besar, mungkin ukuran A, tapi lekukannya sungguh indah dan menantang. Jakunku bergerak naik turun dan akupun menelan ludah melihat pemandangan paling indah dalam hidupku. Kemudian dengan gemetar dan hati-hati, aku pun membuka celana dalamnya. Adikku masih tertidur pulas.
    Pemandangan indah segera terpampang di hadapanku. Sebuah hutan kecil yang tidak begitu lebat terhampar di depan mataku. Sangking terpesonanya, aku hanya bisa berdiri untuk sekian lamanya memandang dengan kamera di tanganku. Aku lupa akan maksud kedatanganku kemari. Sebuah pikiran setanpun melintas, kenapa aku harus puas hanya dengan memotret tubuh adikku. Apakah aku harus mensia-siakan kesempatan satu kali ini dalam hidupku? Apalagi aku masih perjaka ting-ting. Tapi kesadaran lain juga muncul di benakku, dia adalah adik kandungku., For God Sake. Kedua kekuatan kebajikan dan kejahatan berkecamuk di pikiranku.
    Akhirnya, karena pikiranku tidak bisa memutuskan, maka aku membiarkan “adik laki-lakiku” di selangkangku memutuskan. Ternyata beliau sudah tegang siap perang. Manusia boleh berencana, tapi iblislah yang menentukan. Kemudian aku meletakan kamera di meja. Aku pun menggunakan kain daster yang sudah koyak untuk mengikat tangan adikku ke tempat tidur. Sengaja aku membiarkan kakinya bebas agar tidak menghalangi permainan setan yang akan segera kulakukan. Adikku masih juga tidak sadar kalau bahaya besar sudah mengancamnya. Aku pun segera membuka bajuku dan celanaku hingga telanjang bulat.
    Kemudian aku menundukan mukaku ke daerah selangkangan adikku. Ternyata daerah itu sangat harum, kelihatan kalau adikku ini sangat menjaga kebersihan tubuhnya. Kemudian aku pun mulai menjilati daerah lipatan dan klitoris adikku. Adikku masih tertidur pulas, tapi setelah beberapa lama, napasnya sudah mulai memburu. Semakin lama, vagina adikku semakin basah dan merekah. Aku sudah tak tahan lagi dan mengarahkan moncong meriamku ke lubang kenikmatan terlarang itu. Kedua tanganku memegang pergelangan kaki adikku dan membukanya lebar-lebar.

    Ujung kepala penisku sudah menempel di bibir vagina adikku. Sejenak, aku ragu-ragu untuk melakukannya. Tapi aku segera menggelengkan kepalaku dan membuang jauh keraguanku. Dengan sebuah sentakan aku mendorong pantatku maju ke depan dan penisku menembus masuk vagina yang masih sangat rapat namun basah itu. Sebuah teriakan nyaring bergema di kamar,” Aaaggh, aduh….uuuhh, KAK ADI, APA YANG KAULAKUKAN??” Adikku terbangun dan menjerit melihatku berada di atas tubuhnya dan menindihnya. Muka adikku pucat pasi ketakutan dan menahan rasa sakit yang luar biasa. Matanya mulai berkaca-kaca. Sedangkan pinggulnya bergerak-gerak menahan rasa sakit. Tangannya berguncang mencoba melepaskan diri. Begitu juga kakinya mencoba melepaskan diri dari pegangannku. Namun semua upaya itu tidak berhasil. Aku tidak berani berlama-lama menatap matanya, khawatir kalau aku akan berubah pikiran. Aku mengalihkan pandangan mataku ke arah selangkangan. Ternyata vagina adikku mengeluarkan darah, darah keperawanan.

    Aku tidak menghiraukan semua itu karena sebuah kenikmatan yang belum pernah kurasakan dalam hidupku menyerangku. Penisku yang bercokol di dalam vagina adikku merasakan rasa panas dan kontraksi otot vagina adikku. Rasanya seperti disedot oleh sebuah vakum cleaner. Aku pun segera menggerakan pinggulku dan memompa tubuh adikku. Adikku menangis dan menjerit:” Aduhh..aahh..uuhh..am..pun..ka k…lep..as..kan..pana ss…sakitt!!” “Kak..Adii..mengo..uuhh..yak.. aduh…tubuhku!!! ” Aku tidak tahan dengan rengekan adikku, karena itu aku segera menggunakan celana dalam adikku untuk menyumpal mulutnya sehingga yang terdengar hanya suara Ughh..Ahhh.

    Setelah sekitar lima belas menit, adikku tidak meronta lagi hanya menangis dan mengeluh kesakitan. Darah masih berkucuran di sekitar vaginanya tapi tidak sederas tadi lagi. Aku sendiri memeramkan mata merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku semakin cepat menggerakan pinggulku karena aku merasa akan segera mencapai klimaksnya. Sesekali tanganku menampar pantat adikku agar dia menggoyangkan pinggulnya sambil berkata:’ Who is your Daddy?” Sebuah dilema muncul di pikiranku. Haruskah aku menembak di dalam rahim adikku atau di luar? Aku tahu kalau aku ingin melakukannya di dalam, tapi bagaimana bila adikku hamil? Ahh… biarlah itu urusan nanti, apalagi aku tahu di mana ibuku menyimpan pil KBnya. Tiga menit kemudian..crott..crottt..akupu n menembakan cairan hangat di dalam rahim adikku. Keringat membasahi kedua tubuh kami dan darah keperawanan adikku membasahi selangkangan kami dan sprei tempat tidur.

    Aku membiarkan penisku di dalam vagina adikku selama beberapa menit. Kemudian setelah puas, aku mencabut keluar penisku dan tidur terlentang di samping adikku. Aku kemudian membebaskan tangan adikku dan membuka sumpalan mulutnya. Kedua tanganku bersiap untuk menerima amukan kemarahannya. Namun di luar dugaanku, dia tidak menyerangku. Adikku hanya diam membisu seribu bahasa dan masih menangis. Posisinya masih tidur dan hanya punggungnya yang mengadapku. Aku melihat tangannya menutup dadanya dan tangan lainnya menutup vaginanya. Dia masih menangis tersedu-sedu.

    Setelah semua kepuasanku tersalurkan, baru sekarang aku bingung apa yang harus kulakukan selanjutnya. Semua kejadian ini di luar rencanaku. Aku sekarang sangat ketakutan membayangkan bagaimana kalau orang tuaku tahu. Hidupku bisa berakhir di penjara. Kemudian pandangan mataku berhenti di kamera. Sebuah ide jenius muncul di pikiranku. Aku mengambil kameranya dan segera memfoto tubuh telanjang adikku. Adikku melihat perbuatanku dan bertanya: ”Kak Adi, Apa yang kau lakukan? Hentikan, masih belum cukupkah perbuatan setanmu malam ini? Hentikan…” Tangannya bergerak berusaha merebut kameraku. Namun aku sudah memperkirakan ini dan lebih sigap. Karena tenagaku lebih besar, aku berhasi menjauhkan kameranya dari jangkauannya. Aku mencabut keluar memori card dari kameranya dan berkata: “Kalau kamu tidak mau foto ini tersebar di website sekolahmu, kejadian malam ini harus dirahasiakan dari semua orang. Kamu juga harus menuruti perintah kakakmu ini mulai sekarang.”
    Wajah adikku pucat pasi, dan air mata masih berlinang di pipinya. Kemudian dengan lemah dia mengganggukkan kepalanya. Sebuah perasaan ibaratnya telah memenangi piala dunia, bersemayam di dadaku. Aku tahu, kalau mulai malam itu aku telah menaklukan adikku yang bandel ini. Kemudian aku memerintahkan dia untuk membereskan ruangan kamarnya dan menyingkirkan sprei bernoda darah dan potongan dasternya yang koyak. Selain itu aku segera menyuruhnya meminum pil KB yang kudapat dari lemari obat ibuku. Terakhir aku menyuruhnya mandi membersihkan badan, tentu saja bersamaku. Aku menyuruhnya untuk menggunakan jari-jari lentiknya untuk membersihkan penisku dengan lembut.

    Malam itu, aku telah memenangkan pertempuran. Selama seminggu kepergian orang tuaku, aku selalu meniduri adikku di setiap kesempatan yang ada. Pada hari keempat, adikku sudah terbiasa dan tidak lagi menolakku biarpun dia masih kelihatan sedih dan tertekan setiap kali kita bercinta. Aku juga memerintahkannya untuk membersihkan rumah dan memasakan makanan kesukaanku. Aku juga memberi tugas baru untuk mulut mungil adikku dengan bibirnya yang merah merekah. Setiap malam selama seminggu ketika aku menonton TV, aku menyuruh adikku untuk memberi oral seks. Dan aku selalu menyemprotkan spermaku ke dalam mulutnya dan menyuruhnya untuk menelannya.

    Ketika orang tuaku kembali minggu depannya, aku memerintahkan adikku untuk bersikap sewajarnya menyambut mereka. Ketika ibuku memeluk adikku, aku melihat wajah adikku yang seperti ingin melaporkan peristiwa yang terjadi selama seminggu ini. Aku pun bertindak cepat dan berkata pada ibuku: “Ibu, gimana perjalanan ibu? Tunjukan dong FOTOnya kepada kami berdua.” Ibuku tersenyum mendengar ini dan tidak mencurigai apa pun. Tapi adikku menjadi sedikit pucat dan tahu makna dari perkataanku. Dia pun tidak jadi berkata apa-apa.

    Sejak itu, setiap kali ada kesempatan, aku selalu meniduri adikku. Tentu saja kami mempraktekan safe sex dengan kondom dan pil. Setelah dia lulus SMA, kami masih melakukannya, bahkan sekarang dia sudah menikmati permainan kami. Terkadang, dia sendiri yang datang memintanya. Ketika dia lulus SMA, aku yang sekarang sudah bekerja di sebuah bank bonafid dipindahkan ke Jakarta. Aku meminta orang tuaku untuk mengijinkan adikku kuliah di Jakarta. Tentu saja aku beralasan bahwa aku akan menjaganya agar adikku tidak terseret dalam pergaulan bebas. Orang tuaku setuju dan adikku juga pasrah. Sekarang kami berdua tinggal di Jakarta dan menikmati kebebasan kami. Hal yang berbeda hanyalah aku bisa melihat bahwa adikku telah berubah menjadi gadis yang lebih binal.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Peronda Malam

    Cerita Sex Peronda Malam


    1111 views

    Perawanku – Cerita Sex Peronda Malam, Karena seringnya pencuri masuk ke perumahan yang kami tempati, maka warga perumahanku secara aklamasi menyewa penjaga malam dan warga boleh boleh saja membantu mereka malam hari. Memang kebetulan rumah yang kutempati di tengah perumahan itu tapi dua rumah di sebelahku belum dihuni sehingga sering kali keempat rumah itu dibuat sebagai tempat persembunyian.

    Malam itu aku terkena influenza berat karena kehujanan sepanjang siang.
    “Aku masih menyiapkan makanan untuk penjaga malam, mas….!!”, kata istriku yang berpostur tubuh mungil dengan tinggi 155 cm, berwajah menarik seperti bintang Film Mandarin, meskipun kulitnya agak sawo matang dengan rambut pendek, sehingga tampak lebih muda dari usianya yang menginjak 40 tahun.
    Malam itu udara sangat panas sehingga dia hanya memakai daster yang lumayan tipis, sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya, utamanya pantat bahenol nya yang empuk itu yang bergoyang saat berjalan, walaupun perutnya tidak ramping lagi, karena sudah dua kali mengandung dan model dasternya berkancing di depan sehingga payudara biarpun tidak besar, tapi padat berisi, yang berukuran 34C agak tersembul dan kedua puting susu nya tampak menonjol dari balik dasternya karena memang dia kalau dirumah hanya memakai camisole tipis saja.
    “Sudah pukul sepuluh kok belum datang, ya ..!”, dia bergumam sendiri karena mengira aku sudah tertidur. Beberapa saat kemudian kudengar dua orang bercakap-cakap di luar dan mengetuk pintu rumah pelan. Istriku yang rebahan di sampingkupun bangkit dan entah tersadar atau tidak istriku membetulkan rambutnya dan memoles bibirnya sehingga bibirnya semakin merah.
    “Lho ????”, gumannya pelan ketika tersadar dia memoles bibirnya, tapi karena penjaga malam itu terus mengetuk pintu, dia pun tak jadi membersihkan bibirnya yang merah merangsang itu.
    “Malam, Bu Yati…!”, terdengar suara seseorang dan aku mengerti kalau suara itu adalah Pak Deran dan istriku sudah dikenal oleh dua orang petugas jaga tersebut karena sering istriku pulang malam seusai mengajar di kampusnya.
    “Masuk dulu Pak Deran..!”, terdengar istriku mempersilahkan penjaga malam itu masuk, sementara kudengar bunyi halilintar yang cukup keras dan hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.
    “Wah hujan ? saya sama Pak Towadi, Bu Yati..!” katanya. “Nggak apa-apa,… masuk saja … lagian hujan deras, pak….!” kata istriku. “Selamat malam, Bu Yati..!” kudengar Pak Towadi memberi salam pada istriku. “Sebentar tak buatkan kopi ..!” kata istriku, kemudian kudengar istriku berjalan menuju dapur di belakang rumah.
    “Di, lihat kamu ngga?!” terdengar suara bisikan Pak Deran, “Kamu kacau, Ran?!” balasan suara bisikan Pak Towadi., “Kamu lihat, enggak..?” suara Pak Deran lagi, “Iya, Ran muncul…., kayak penghapus ?” kata Pak Towadi, Rupanya mereka berbisik-bisik mengenai puting susu istriku yang menonjol di balik dasternya, karena malam itu istriku hanya mengenakan camisole di balik dasternya.
    “Pantatnya bahenol, lagi….,” lanjut bisikan Pak Deran, “Hus istri orang itu, Ran..!” kata Pak Towadi, “Eeh, ini malam Jum’at, kan..? Pas kuat-kuatnya ilmuku hi hi?!!!” kudengar Pak Deran tertawa ditahan pelan, “Dicoba aja.., yok…, siapa tahu Bu Yati mau…!” kata Pak Deran.
    Kuingat Pak Towadi orangnya hitam agak tinggi dengan badan kekar dan Pak Deran orangnya tambun pendek, keduanya berumur 50 tahunan lebih, aku bergidik juga mendengar perkataan mereka mengenai istriku tadi, mereka penduduk asli daerah itu, terkenal sangat doyan dengan perempuan, bahkan mereka pernah bercerita saat aku jaga malam, kalau pernah membuat pedagang jamu yang bertubuh bahenol, yang sering keliling dua minggu sekali di daerah tempat tinggalku, pernah dibuat hampir tak dapat berjalan karena digilir mereka berdua, dimana saat itu pedagang jamu itu masih perawan dan sampai saat bercerita malam itu, pedagang jamu itu masih sering meminta kepada mereka berdua untuk menggilirnya, biarpun sekarang sudah bersuami, katanya tak pernah puas dengan suaminya yang masih muda, bahkan pedagang jamu itu pernah meminta mereka berdua datang ke rumahnya.
    “Kalau sudah kena punya kami, pak, …. Waahhh…perempuan pasti malas dengan suaminya dan?..suaminya tak berkutik kalau kami ada, dan membiarkan kami tidur bersama istrinya dalam satu kamar bersama suaminya”, kata Pak Deran terkekeh kekeh malam itu.
    Kemudian kudengar suara bisikan mereka lagi….. “Kamu jangan ngaco, Ran. Sudah nanti kelewatan?!” kata Pak Towadi “Keris pusakaku.. ku bawa.. Di…. Ini ..he he he ?!” kata Pak Deran, “kamu jangan, gitu Ran…, orangnya lagian baik…, kasihan suaminya nanti, pinginnya sama kamu aja nanti .. !!” suara Pak Kardi lagi. Karena perasaanku nggak enak akhirnya kuputuskan untuk keluar dan mereka berdua terlihat kaget melihatku, tapi Pak Deran yang membawa keris langsung mencabut kerisnya dan langsung mengarahkan kerisnya padaku dan tiba-tiba gelap menyelimutiku.
    Kemudian aku terjaga dan kudapati diriku di tempat tidur kembali, kutoleh pintu kamarku dan kusen kamar dan lantai pintu kulihat seperti membara.
    “Eeeecch ?….eeeeccchhh. …eeeeecccchhhh …..!!!! ” kudengar desis istriku dan akupun turun, tubuhku terasa lemas sehingga aku merangkak mendekati pintu kamar dan…… seperti terkena listrik beribu ribu volt saat tanganku memegang kunci kamarku hingga aku tersengkur makin lemas seperti karung bersimpuh di depan pintu kamar yang sedikit terbuka itu.
    Aku tak percaya melihat di ruang tamu dari pintu kamar yang terbuka sedikit itu, kulihat istriku berdiri di depan Pak Deran yang membawa selongsong keris sebesar batang kemaluan orang dewasa lebih besar dari lampu TL 40 watt yang ujungnya di arahkan kepada istriku yang berdiri, sedangkan tangan yang satunya seolah memelintir di ujung lainnya yang berbentuk huruf U memanjang itu. Kedua tangan Pak Deran kini memegang pangkal keris yang melengkung itu dan kedua jarinya memelintir ujung nya dan kulihat istriku yang berdiri, tubuhnya bergetas dan kembali mendesis
    “Heeeggghhh ?..oooooohhhhhhh. ……ooooooohhh hhhhh…. ..!!!!!” Pak Deran bukan lagi seperti memelintir tapi menarik narik kedua ujung keris berbentuk U itu dan terlihat istriku membusungkan dadanya seperti kedua puting susu nya tertarik ke depan. “Mmm heeeggggh ?..aaaaaaa… .aaaaduuuuuhhhhh h……!! !!!” istriku mendesis panjang dan Pak Deran langsung mengulum salah satu ujung U itu dan …. “Paaak ?.paaakkkk… .jaa…jaaangaaa annnnn ?.paaakkkkk.. ….!!!!! ” suara desis istriku memelas dan tangan kanan istriku secara refleks memegang payudara kanannya, istriku mendesis-desis kembali….. “Ummmppff?. Paakkkk….. jaaa….jaaaaang aaaannnn ? paaaakkkk ?..!!!!” istriku mendesis. Tangan kanan Pak Deran memelintir ujung satunya dan istriku pun memegang kedua payudaranya kembali yang masih terbungkus daster dan camisole nya itu.
    “EEecccchhhhhhhgggg hhhhh ??!!!!!!!” istriku mendesah lagi saat Pak Deran memutar selongsong kerisnya sehingga pangkal keris berbentuk U itu berdiri, sementara jari-jari tangan kanannya mengelus-elus pinggiran lubang keris itu dan kulihat pantat bahenol istriku pun bergetar dengan hebat. Pak Deran semakin cepat mengelus dan bahkan menggosok lubang keris itu dan istriku pun mengerang-erang …..
    “Paaakk ? paaakkk….suuu. ..suuuuddaaaaahh ? paaakkk ?jangaaan diteruuuuskaaaaan ?.eeeecchghghghghghg h ??.!!!!!”, sementara pantatnya pun bergetar hebat dan kedua tangan istriku memegang pantat bahenol nya yang bergetar hebat saat Pak Deran menjilati lubang keris itu dan pantat bahenol istriku meliuk liuk tak karuan, kedua tangannya meramas pantat bahenol nya sendiri yang mulai maju mundur saat Pak Deran menyedot nyedot lubang keris itu dan bahkan lidah Pak Deran menjilati lubang itu dan….. “Mmmppfffhhh hghghghgghghg ?.” istriku semakin keras mendesis desis, selangkangan nya terangkat angkat dan mendekati ujung selongsong keris ysng tengah disedot sedot dan dijilati lubangnya oleh Pak Deran.
    `Paaaak ? sudddaaaah ngngngngngngng hhhheeeghghghghgh??!!!” istriku mendesis kedua matanya tertutup dan selangkangan nya tertarik ke depan hingga selangkangan nya kini mengesek ngesek sarung keris itu.
    “Suudddaaaaah paaaak jangaaaaan sudaaah eeeeechghghghg ?.!!!!” istriku terus mendesis desis. Kemudian Pak Deran menghentikan aksinya. “Diii… , elus lubang kerisku ?!!!” kata Pak Deran kepada Pak Towadi yang dari tadi bengong, sementara di pangkal selangkangan nya sudah menggelembung menunjukkan batang kemaluan nya sudah berdiri tegang. Pak Towadi langsung mengelus lubang keris Pak Deran dan kembali…. “Eeeeee….. eeeeee… .eeeeehhhhh. ….eeeecccchhhg hghghg?..! !!!!” istriku mendesis. “Enak Bu Yati….?” tanya Pak Deran yang berdiri dihadapannya dan selangkangan istriku masih menempel di sarung keris itu. Istriku ngga menjawab, diam saja…… “Ooooo.. kurang enak rupanya?!!!” kata Pak Deran kemudian…. .. “Jaaa….jaaaangaaa nnnn….. , paaakkkk…. ..!!!!” rintih istriku memelas, “Singkap dastermu, Buuuu……! !!!” perintahnya. “Paaak …..oooohhhhhh. …jaaa.. ..jaaangaaannn ….paakkkk. …..!!!! ” istriku menghiba. “Ayooo .. nggak usah malu Buuu…. atau biar dia yang mencari jalannya sendiri?!” kata Pak Deran.
    Seperti diperintah sarung keris itupun menempel di selangkangan istriku saat Pak Deran melepasnya dan…. “Paak ….jaaa…jaaangaa nnnn…paaaakkkk ?.!!!!” desis istriku saat sarung itu mulai menggosok selangkangannya kembali, sehingga pantatnya pun bergetar kembali. “Dii ?malam ini kita nonton dulu ? biar Mbah Gandul yang nyebokin Bu Yati, malam ini punya dia?lihat Dii ? Bu Yati menaikkan dasternya ? rupanya dia sudah kebelet….” Kulihat istriku mendesis-desis dan mengelinjang, sementara kedua tangannya memegang pantat nya sendiri dan menarik ke atas dasternya pelan-pelan, sehingga mulai tersingkap paha mulusnya.
    Semakin lama pantatnya semakin bergetar cepat dan selangkangannya maju mundur oleh gosokan sarung keris yang di sebut Pak Deran, Mbah Gandul itu. Begitu dasternya tersingkap sampai pangkal pahanya, Mbah Gandul langsung menyusup ke selangkangan istriku dan ….. “Mmmmmmpppfff ..eeecchhhh ?..bessaaaar ??oooooohhhhhh. ….!!!” desis panjang istriku. “Sudah, Di , kita keluar biar Bu Yati malam ini milik Mbah Gandul?!!!” kata Pa Deran. “Bu Yati, titip Mbah Gandul yaa, selamat menikmati, besok baru kami,… Oh… ya…., besok kan ibu pulang malam?.nggak usah pake BH dan celana dalam ya kalau pulang, nanti dibungkus dan serahkan ke saya di pos kalau pulang? biar lebih enak ?he he he….!!! ” kata Pak Deran sambil meremas payudara istriku yang berdiri tak berkutik dengan kedua kakinya yang terkangkang. Merekapun keluar meninggalkan istriku yang terbengong.
    “Mmmpppff ….oooohhhhh. …beee.. ..besaaar ?aaamaaatttt. …!!!!” rintihnya saat kedua orang itu telah pergi. Istriku pun berusaha duduk di kursi panjang dan rupanya dia berusaha menarik sarung keris itu keluar tapi….. “Mbaaaah uummppfff oooooohhh… aaammmmpuuunnn. ..mmmbaaaahhh. …. ?..!!!” istriku mendesis keras. “ooocch masuukkk ke daalaaam eeeccchh gilaaa uummpppfff heeecchhh gilaaa ?uuuccch geliiii aaaccch koook giniiii rasanyaaaaa uumppppccchh ennnnaaaaakkkkckccc hhhh??!!!” dan kulihat istriku mencengkeram erat sandaran kursi dan pantat nya bergetar keras maju mundur di tempat duduknya dan goyangan pantatnya semakin kencang, sementara keringatnya memebanjir dan nafasnya terengah engah
    “Eccchhhghghghg mbaaaaah Gaaanduuull ?. akuuuu keluaaaaar ?.!!!” istriku mengerang saat mencapai orgasme malam itu. Tubuhnya tersungkur miring di kursi panjang dan beberapa saat kemudian kaki nya terkangkang lebar dan tubuhnya bertumpu di kedua tangannya melihat selangkangan nya yang digarap Mbah Gandul kembali itu. Kembali pantatnya bergoyang sementara mulutnya mendesis-desis kenikmatan dan nafasnya memburu keras dan….
    “Mbaaah…mmmbbaahh hhh…… ..aaaa… aaaakkuuuuu. .keee…keeeelua aaar lagiiiii ?.!!!!” dia mengerang saat mencapai orgasme keduanya dan pantat nya tersentak-sentak. Kemudian dia duduk kembali dan berusaha berdiri dan berjalan menuju kamar, akupun cepat-cepat rebahan di tempat tidur….
    “Mas…maaasss. … bangun,….mass. …!!!!” panggil istriku “Kamu kelihatanya kok kumal dik, tadi… ku dengar ribut-ribut diluar…..! !!” “Maas ?!!!!!” kata istriku tersipu-sipu, sambil memelukku..
    Selang seminggu kemudian, kembali Pak Deran dan Pak Towari mendapat giliran tugas jaga Dan seperti kebiasaan yang lalu-lalu, mereka pasti akan mampir kerumahku dengan alasan untuk minum kopi. Sudah sejak jam 7 malam aku masuk kekamar, dengan pura-pura badan merasa ngga enak. Begitulah kira-kira jam 9 malam, terdengar ketukan pada pintu depan dan terdengar istriku yang masih nonton TV diruang tamu membuka pintu depan dan terdengar suara Pa Towari dan Pak Deran… “Selamat bu Yati…. apa bapak masih bangun…?” “Ohh…bapak ngga enak badan dan sudah masuk tidur sejak jam 7 tadi…!!!” terdengar sahutan istriku….. “Oooo…maaf mengganggu, tapi saya hanya mampir sebentar untuk mengambil kopi saja…!!” “Kalau begitu silakan duduk dulu, saya akan menyediakan kopi didapur…!” sahut istriku lagi, sambil berjalan masuk kedalam.
    Sesaat kemudian kudengar suara langkah kaki menyusul istriku kedapur dan… “Bu Yati, nggak bilang suami ibu kan mengenai kejadian yang lalu…. ?..!!!” terdengar suara Pak Towadi. Tak terdengar suara jawaban dari istriku. Tak selang kemudian terdengar suara ribut-ribut tertahan dari arah dapur dan……. “Ooooohhhh.. ..jangan. …Jangaan paak ?!!!!!” terdengar suara menghiba “Kenapa, Bu Yati…? diam saja bu….ntar juga pasti enak kok….!!!” suara Pa Towari kembali. “Jangan pak, ampuun paaak ?.!!!” istriku semakin menghiba, kayaknya Pak Towadi semakin mendesaknya, kemudian dengan mengendap-edapa aku turun dari tempat tidur dan mengintip dari celah-celah pintu kamar…. dan….terlihat dengan cepat Pak Towadi melompat dan berdiri diantara kedua kaki istriku yang terkangkang lebar, saat istriku akan mengatupkan kedua kakinya. “Tutup selambunya, Ran…!!!” kata nya ke Pak Deran, dan Pak Deran langsung menutup selambu dan pintu rumah. “Ayo?emut kontolku Bu Yati..” kata Pak Towadi tiba-tiba sambil mengeluarkan penisnya yang agak kecil lemas tapi panjang berbintil- bintil seperti buah pace mendekati mulut istriku.
    “Jaaa….jaaangaann nn paaak?.aaampun paaak ??!!!!” istriku terisak sambil memegang pergelangan tangan Pak Towadi yang menyambak rambutnya dan pantat Pak Towadi maju dan batang kemaluannya yang panjang berbintil-bintil semakin dekat dengan mulut istriku. “Lepas rambut saya paaak…!!!” isak istriku dan Pak Towadi melepas jambakannya dan istriku membuka mulutnya yang sudah dekat dengan penis Pak Towadi dan istriku mengulum penis berbintil Pak Towadi. “Sedot Bu Yati ?.wwwuhhh Raan Bu Yati pinter nyedot kontolku ?!!!” kata Pak Towadi ke Pak Deran yang juga mendekati istriku dan “Sudaaah nanti biar Bu Yati sendiri…!! !” katanya, aku tak mengerti maksud kata-kata Pak Deran, kemudian Pak Towadi mencabut penis berbintilnya dari mulut istriku dan mendorong istriku untuk duduk dibangku panjang yang ada di dapur, sementara dia duduk di kiri istriku, sedang Pak Deran dikanan istriku. “Bu Yati? gosok punyakmu sendiri ?!!” kata Pak Deran sambil memegang tangan kanan istriku ke selangkangan nya sendiri.
    “Ayooo ?.!!!” kata Pak Deran lirihdan mulailah istriku masturbasi menggosok dan mengocok bibir vaginanya sendiri sampai akhirnya bunyi kecepak terdengar dari selangkangannya. .. “Itilmu Bu Yati…!!!” kata Pak Deran dan istriku mengerang sendiri saat memepermainkan kelentiitnya. “Paaak ?!!!!’ istriku mendesis “Kenapa, Bu Yati…?” tanya Pak Towadi “Paaaak ?.!’ istriku hanya mendesis “Ran Bu Yati mulai naik niih…. ,!!!” kata Pak Towadi dan Pak Deran pun berdiri dan menuju pintu dan membukanya dan masuk kembali memegang tali dan betapa terkejutnya aku saat Pak Deran menarik Tarzan, kontol herdernya yang setia, yang selalu menemani mereka jaga. Istrikupun terkejut sepertiku dan Pak Deran mengunci pintu kembali dan Pak Towadi memegang istriku yang akan lari. “Diaam ?” bentak Pak Towadi “Jangaan paaak ?..” istriku akan mengatupkan kakinya tapi Pak Deran sudah berdiri di depan istriku dan menahan kaki istriku dan Tarzan, langsung menyusup di antara kaki Pak Deran yang menahan kaki istriku dan “Aaaaaauuuuwwwwwww. ……Paaaak ?..!!!!” suara istriku mengerang saat selangkangan nya yang gundul dijilati Tarzan.
    Rupanya si Tarzan sudah terlatih merangsang wanita karena istriku memegang pinggang Pak Deran yang berdiri di depan istriku menahan agar kaki istriku tetap terkangkang lebar “Eeeccch eeh eeeeeecchchh ?..wwwuuucccggghhh paaaaak aaaahhcchhchchc ?” istriku mengerang ddan mendesis keras karena jilatan Tarzan di selangkangan nya. “Gimana Ibu Yati? Enak Ibu Yati?” kata Pak Deran terkekeh kekeh “Paaak ampuuunn adduuuuuuccch aaduuucchh mmmppfsss paaaakkkkzzzzz ? eeh eeh eeeh eh eh?.paakk akuuu wwwwwwuucccch ngngngngngng? ..’ istriku mengerang keras dan memegang erat pinggang Pak Deran sedangkan pantat bahenol terangakt angkat saat orgasme ketiganya malam itu meledak dan Tarzan dengan ganasnya terus merangsang kelentit, bibir vagina istriku dan hanya terpaut beberapa menit istriku mengerang kembali saat mencapai orgasmenya yang ke empat dan tubuh istriku pun terjatuh di kursi nafasnya mendengus dengus keringatnya mengalir deras tetapi Tarzan, si kontol herder itu terus merangsang istriku dengan jilatan jilatan mautnya di bibir vagina istriku dan kelentit istriku dan istriku pun mengejang dan mengerang kembali saat oergasmenya ke lima meledak.
    Tubuh istriku benar benar lunglai dan Pak Deran membalikkan tubuh istriku yang terkapar di kursi panjang dan menarik kedua kaki istriku yang tertelungkup di lantai dan bertumpu di kedua lututnya sehingga istriku menungging dan Tarzan rupanya sudah siap dan batang kemaluannnya yang merah sudah membesar dan menegang langsung melompat di punggung istriku dan Pak Towadi mengarahkan batang kemaluan Tarzan ke liang vagina istriku dan “MMmmppppfffh paaak jangaaaaan akuuu mnmmmn nn nggaaak mauuu mmmmppfffff .uuuucccch ucccchhh ?!!!!!” istriku mengerang saat batang kemaluan Tarzan menerobos masuk ke liang vagina istriku dan kulihat begitu cepatnya Tarzan mengenjotkan pantatnya sehingga istriku tak lagi dapat mengerang hanya mendesis “wwwhhh wwwwhhhhhw wwhwhhhwhw ?..!!!!” dan bunyi kecepak-kecepak di selangkangan istriku semakin keras “”wwwwhhhhcchh wwwccchhhh ngngngngng ?.!!!” istriku mengejan saat orgasme dan terus entah sampai orgasme yang keberapa hingga tampaknya istriku hampir pingsan.
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Pengalaman Seks Perdanaku

    Cerita Sex Pengalaman Seks Perdanaku


    1110 views

    Perawanku – Cerita Sex Pengalaman Seks Perdanaku, Pengalaman Seks Perdanaku Waktu itu umurku 11 tahun umur yang sangat muda bahkan boleh dikatakan masih anakanak untuk mengetahui mengenai hubungan sex atau bersenggama, mendengar kata itupun aku tidak pernah dan memang sebelum kejadian itu aku tidak pernah tahu mengenai masalah sex apalagi berhubungan sex dengan lawan jenisku. Tetapi karena kejadian itulah yang menjadi awal hidupku dalam sex, aku langsung melakukan, merasakan dan mengetahui hubungan sex dan kenikmatannya sampai sekarang.

    Seperti harihari biasanya sepulang dari sekolah aku pasti langsung keluar bermain sehabis makan siangku, waktu itu aku dan dua teman lakilakiku serta satu teman perempuan, sebut saja namanya Awal, Nono dan Ana pergi bermain ke rumah salah satu teman perempuan kami yang masih satu lorong dengan kami namanya Tari. Diantara kami berlima hanya Ana yang mempunyai postur tubuh yang seperti orang dewasa, maksud saya seperti sudah berumur 16 tahun padahal umurnya baru 13 tahun, lebih tua dua tahun dari kami berempat. Rumah Tari berada paling dalam di lorong kami kirakira 6 rumah dari rumahku. Aku, Awal, Nono dan Ana berjalan menyusuri lorong kami menuju rumah Tari yang berada paling belakang.

    Kamipun tiba didepan rumah Tari tetapi rumah itu kelihatan sepi tidak seperti biasanya terdengar keras suara tape yang diputar oleh ibu Tari. Akupun mulai membuka pintu halaman dan masuk ke halaman diikuti Ana, Nono dan Awal. Tari.. Tari.., teriak Ana mencoba memanggil. Klek.. klok, terdengar suara kunci pintu depan dibuka dan keluarlah seorang wanita dari pintu itu. Mari, cari Dik Tari ya?, tanya wanita itu yang ternyata adalah Wati, pembantu di rumah itu. Tak lama kemudian dari belakang Wati muncul Tari sambil memegang sebuah gelas berisi air. Ayo naik, Tari menyuruh kami naik ke teras rumah. Kok sepi, kataku.

    Mama dan Papaku lagi ke luar kota selama 2 hari, jawab Tari. Mungkin karena udara siang itu gerah sekali maka Tari hanya memakai baju kaos kutang(mini size) dan rok pendek berwarna biru sehingga kulitnya yang putih dan mulus itu hampir kelihatan seluruhnya kalau payudaranya sih belum ada, ada sih tetapi BaTuTe alias Baru Tumbuh Tete namanya juga masih anakanak pantas saja kalau ia berani hanya memakai pakaian seadanya itu. Tari memang mempunyai wajah dan postur tubuh yang sangat feminin dibanding dengan Ana.

    Tari sudah tahu kami datang kerumahnya untuk bermain, Taripun masuk kedalam rumah dan kemudian keluar dengan membawa segala macam permainan yang akan kami pakai bermain. Lalu Watipun keluar membawa satu ceret berisi sirop dan lima gelas kosong dan diletakkannya diatas meja teras. Kalau ada yang haus ini minumnya aku taruh disini, yang kemudian masuk kedalam meninggalkan kami yang sudah asyik bermain dengan permainan kami masingmasing.

    Dik Tari aku ke tetangga depan dulu ya.., kata wati yang sudah berada dibawah halaman. Jangan lama ya Kak Wati! Kalau mereka semua sudah pulang aku sendirian, kata Tari kepada pembantunya itu, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Wati dan langsung keluar dari halaman dan menghilang. Kamipun semakin asyik dan bebas bermain dirumah yang penghuninya tinggal Tari sendiri.

    Karena capek atau mungkin juga bosan akupun berhenti bermain dan menuju meja tempat air sirop yang disediakan Wati tadi sebelum pergi meninggalkan kami. Aku menumpahkan sirop itu kedalam gelasku dan meminumya dengan perasaan haus kemudian aku berbaring dilantai teras itu. Rupanya Tari, Ana, Awal dan Nono melihatku berhenti bermain merekapun ikut berhenti dan mengambil minum, sama seperti aku lalu beristirahat. Awal dan Nono ikutikutan berbaring di sampingku sementara Tari dan Ana duduk di kursi teras sambil berbincangbincang ringan.

    Bagaimana kalau kita nonton video sambil beristirahat, nanti sebentar selesai nonton baru kita lanjut bermain lagi?, kata Ana kepada kami. Ide Ana itu akhirnya kami setujui bersama, lalu kami berlima bergegas masuk kedalam rumah menuju ke ruang tengah tempat televisi berada. Mau putar film apa ya..?, tanya Tari kepada kami sambil membuka lemari tempat penyimpanan kaset videonya. Film kartun ada Tar?, tanya Nono. Aduh baru kemarin sepupuku datang untuk meminjam film itu, jawab Tari. Bagaimana kalau film perang atau detektif saja, kata Awal asal.

    Oh kalau itu banyak disini, Papaku suka nonton film perang tetapi yang mana ya..?, sambil menarik kemudian melihat satupersatu kaset video yang ada didalam lemari itu dibantu oleh Ana. Ana memang paling suka nonton video dirumahnya jadi urusan memilih film kami serahkan pada dia. Bagaimana kalau yang ini, seru Ana sambil mengangkat sebuah kaset berwarna merah. Setelah aku melihatnya dari dekat kemudian membaca dan melihat gambarnya ternyata film James Bond(007) yang setahu aku terkenal dengan adeganadegan adu tembaknya dan kejarkejaran dengan mobil.

    Film itu juga terkenal atau lagi trend pada waktu itu. Aku pernah nonton ini sebagian dirumahku, aku jamin pasti tegang, kata Ana pada kami sambil menyerahkan kaset video itu kepada Tari untuk diputarkan. Kamipun mencari posisi masingmasing diruangan itu untuk menonton film tersebut sementara Tari sibuk menyetelnyetel video dan televisinya. Aku melihat Awal duduk diatas sofa sambil mengangkat kakinya satu yang tanpa dia sadari penisnya keluar sedikit dari samping celananya karena hanya memakai celana pendek dan tidak mengenakan celana dalam sama seperti saya, Nono dan anak lakilaki seumur kami di daerahku.

    Sementara Nono mengambil posisi tiarap di lantai persis di depan sofa tempat awal duduk. Taripun mundur ketika film sudah mulai bermain dan duduk bersila di sofa panjang tempat Ana sedang tiarap dengan posisi melipat kakinya kedepan sehingga roknya terangkat dan celana dalamnya dapat terlihat dengan jelas olehku karena aku duduk tepat dibelakang sofa Tari dan Ana. Aku memang berada paling belakang dari mereka berempat kirakira satu meter jaraknya dari depan televisi.

    Adegan pertama dari film itu sudah seru sekali kami lansung tegang menyaksikannya, adegan tembak menembak dan saling kejar dengan mobil membuat kami kadang berteriak dan sesekali menahan napas, pokoknya seru sekali. Tanpa sengaja aku melihat kearah Tari yang lagi duduk bersila sambil memegang sebuah gelas panjang dan diletakkan ditengah kedua belah pahanya. Apabila ada adegan yang tegang gelas itu dijepit erat sekali oleh kedua pahanya dan menekan turun gelas itu, aku jadi ketawa sendiri melihat kelakuan Tari itu, bukan karena pikiranku ngeres tapi karena aku membayangkan seandainya gelas itu tibatiba pecah dan dia kaget.

    Akhirnya sampailah pada salah satu adegan yang juga tak kalah menariknya dari adeganadegan adu tembak, ternyata film itu ada adegan ranjangnya, ditambah lagi film ini tidak memakai teks bahasa Indonesia seperti film asing lain yang telah melalui sensor sehingga adegan yang kami lihat betulbetul full sex untuk ukuran anak seusia kami. Prianya bertelanjang bulat hanya penisnya saja yang tidak kena kamera (shoot), namun wanitanya hampir kelihatan semuanya hanya vaginanya yang sesekali terhalang oleh suatu benda.

    Keadaan diruangan itu menjadi sunyi ketika adegan panas itu berlangsung beda pada waktu adegan sebelumnya kami kadang harus mengeluarkan teriakan karena tegang. Kini kami semua terdiam hanya suara desahan dan rintihan yang terdengar dari dalam televisi serta suara napas kami yang saling memburu tidak menentu menyaksikan adegan panas di film itu. Perasaanku menjadi panas dingin tak menentu, penisku mulai ereksi, beberapa kali terpaksa aku memasukan tanganku ke dalam celana untuk memperbaiki posisi penisku yang semakin kuat berereksi.

    Lagipula akukan berada pada posisi paling belakang dari temantemanku dan tertutup oleh sofa tempat Tari dan Ana, jadi tidak ada yang bisa melihat pikirku, justru aku yang dapat dengan leluasa mengamati mereka berempat dari belakang. Aku melihat Awal sudah menurunkan kakinya satu yang tadi berada diatas sofa, kini kedua pahanya dirapatkan mungkin ia sedang menjepit juga penisnya yang sedang ereksi. Sedangkan Nono yang masih tiarap di lantai walaupun dilihat sepintas tidak melakukan aktivitas tetapi dari tempatku. Aku amati dengan jelas pantatnya sesekali bergoyanggoyang kecil menekan kebawah seperti ingin menghancurkan lantai yang berada dibawahnya dan Ana kini telah berubah posisi.

    Ia sudah tidak tiarap lagi diatas sofa tetapi berbalik dan terlentang sambil kakinya dilipatkan dan menggoyanggoyangkan kedua pahanya sehingga roknya jatuh ke belakang yang tentu saja pahanya yang sintal kelihatan olehku. Tetapi bukan itu saja celana dalamnya juga aku lihat dengan jelas ada semacam bukit kecil yang tersembunyi dibalik celana dalam itu setelah aku perhatikan dengan seksama apalagi ketika kedua pahanya dalam posisi terbuka. Beda dengan yang lain, Tari semakin rapat menjepit gelas ditengah pahanya sambil tersenyum kecil dengan wajah putihnya yang sudah kemerahan.

    Akhirnya film itu selesai kami tonton, kami saling memandang dan saling melempar senyum satu sama lain sementara Tari menuju ke tempat videonya untuk mematikan televisi dan video. Aku, Nono dan Awal berjalan kembali menuju teras dengan maksudku untuk melanjutkan bermain.Tak lama kemudian Tari dan Ana juga sudah berada diteras bergabung dengan kami bertiga. Aku pulang dulu ya, kata Nono. Aku juga, seru Awal kepada kami, lalu mereka turun dari teras dan pulang entah kenapa mendadak begitu. Sekarang kami tinggal bertiga setelah Awal dan Nono pulang kerumahnya, sementara hari sudah semakin siang namun Wati pembantu Tari belum pulang Juga mungkin asyik ngerumpi dengan pembantu tetangga depan sehingga lupa waktu.

    Bisa tidak kamu meniru gerakan yang di film tadi? Bisalah! jawabku membalas pertanyaan Ana. Lalu aku melakukan gerakangerakan menembak, memukul, menendang pokoknya seluruh gerakan laga yang ada di film tadi, tetapi rupanya bukan gerakan itu semua yang diinginkan oleh Ana lalu ia berjalan menuju kearah Tari dan mengajak Tari masuk kedalam ruangan tempat kami menonton tadi akupun mengikuti mereka berdua dari belakang. Aku berpikir mungkin Ana menyuruh memutar film lagi agar aku bisa melihat gerakan laga yang ada di film.

    Tetapi ternyata kenyataannya lain, Tari ia baringkan di sofa panjang tempat duduk mereka berdua nonton tadi, lalu mengangkat rok Tari keatas, jelas saja Tari kaget dan menarik turun roknya kembali. Tetapi ternyata Ana tidak berhenti sampai disitu. Kamu mau nggak jadi bintang film?, kata Ana kepada Tari. Lalu Tari mengangguk pelan dan membiarkan Ana mengangkat kembali roknya ke atas sambil saling berbisik entah apa yang mereka perbincangkan. Ana tidak berhenti beraktivitas iapun membuka celana dalam Tari sehingga paha putih Tari kelihatan dengan jelas bukan hanya itu yang Ana lakukan iapun datang ke arahku yang sedang bengong bercampur heran melihat perlakuan Ana terhadap Tari.

    Aku yang seperti orang bodoh megikut saja ditarik oleh Ana menuju ketempat Tari yang sedang berbaring, jantungku berdegup kencang sekali ketika sudah berada dihadapan Tari. Bagaimana tidak, aku melihat dengan sangat jelas vagina Tari yang masih tertutup rapat seperti mulut yang lagi tersenyum padaku, apalagi melihat bulubulu halus yang baru tumbuh di sekitar vaginanya namanya juga aku anak lakilaki yang normal penisku langsung ereksi melihat pemandangan nyata seperti itu, bukan di layar televisi yang biasanya kena sensor.

    Melihat keadaan seperti itu Ana lansung memegang penisku yang berada didalam celana dan meremasremasnya dari luar, tidak puas dengan begitu iapun membuka celanaku dan keluarlah senjataku yang sudah berdiri tegap lalu dikocoknya penisku, aku melirik ke arah Tari yang sedang memperhatikan kami sambil senyamsenyum mengeluselus vaginanya. Napasku semakin tidak teratur perasaanku seperti terlempar dan melayang keruangan yang kosong apalagi Ana mulai menarik penisku lalu mendekatkanya ke vagina Tari dan memutarmutarkan kepala penisku di sekitar vagina Tari yang baru ditumbuhi bulubulu halus.

    Melihat Tari menikmati adegan ini akupun mulai berani merabaraba paha Tari yang mulus dan putih aku juga mulai mepraktekkan beberapa adegan yang tadi aku lihat di film, jarijari tanganku mulai bermain disekitar bibir luar vagina Tari. Ah.. uh.. sst.., Tari mulai bersuara yang sedari tadi hanya memejamkan matanya. Ana mulai mundur perlahanlahan kebelakang, sekitar setengah meter dari kami lalu duduk menghadap kami seakanakan melihat dari jauh perbuatan aku dan Tari, aku sempat menoleh kearah Ana ternyata ia sudah tidak mengenakan rok dan celana dalam sehingga boleh dikata ia sudah dalam keadaan setengah telanjang.

    Bagian paha dan vaginanya sudah terbuka semua, ia juga memainkan jarijari tangan di vaginanya bahkan ada cairan yang mengalir di sekitar vaginanya itu. Akupun tetap melakukan aktivitas kepada Tari, kepala penisku aku gesekgesekan dibibir luar vagina Tari yang sudah licin oleh cairan bening yang menetes keluar dari penisku. Aku tidak pernah berpikir untuk menusukkan penisku ke lubang vagina Tari karena adegan itu tidak pernah aku lihat difilm sehingga aku hanya melakukan sebatas gerakangerakan meraba dan menyentuh saja.

    Tibatiba Ana berdiri dan menuju kami berdua satu tangannya membuka bibir vagina Tari dengan dua jarinya sementara tangan satunya sibuk mengocok penisku yang semakin licin bercampur cairan yang ada di tangan Ana. Auh.. geli An.. stt.., kataku. Sebentar lagi kamu akan merasa lebih geli Rur (kependekan namaku, Rury), jawab Ana. Lalu Ana menuntun penisku dan meggosokgosokan kepala penisku ke clitoris Tari yang sudah licin entah kenapa.Selanjutnya dengan perlahan kepala penisku mulai aku rasakan masuk kedalam lubang vagina Tari. Ah.. sst.. pelanpelan ya sakit nih.., seru Tari.

    Aku hanya diam karena sudah tidak sanggup berbuat ataupun berbicara apaapa lagi, sementara Ana sibuk berusaha menuntun penisku agar bisa masuk dengan aman ke vagina Tari. Aku mulai merasakan seperempat dari penisku sudah masuk kedalam vagina tari. Aduh.. ahh.. sst.. digoyang sedikit Rur biar gampang masuknya, ujar Tari kepadaku. Akupun mulai menekannekan pantatku ke bawah sehingga aku mulai merasakan penisku sudah hampir tertelan semua oleh vagina Tari.

    Sementara itu Ana kembali ke tempatnya semula meninggalkan kami berdua yang sudah bisa mengendalikan keadaan, iapun kembali memainkan jarijarinya ke vaginanya bahkan kali ini lebih hebat dari yang tadi;kedua jarinya ia putarputarkan di clitorisnya sambil berdesis nikmat. Di saat aku sudah mulai mempercepat goyanganku karena merasakan penisku akan masuk seluruhnya kedalam vagina Tari, iapun berteriak kesakitan, sambil menahan dadaku dengan kedua tangannya.

    Sedikit lagi Tar.. sst.. ahh, kata Ana dari jauh sambil terus mengesekgesek clitorisnya. Kalau burung Rury sst.. sudah masuk semua auh.. sakitnya akan hilang ahh.., sambung Ana memberikan instruksi ringan kepada kami. Pelanpelan ya Rur goyangnya, kata Tari kepadaku yang aku balas hanya dengan anggukan kepala dan mulai menaik turunkan pantatku yang perlahan tapi pasti semakin cepat, tetapi tibatiba dorongan Ana ke dadaku dengan kedua tangannya terasa sangat kuat sekali sehingga dengan segera aku berhenti bergoyang. Sa.. kit.., dengan sedikit agak berteriak Ana mengeluarkan kata itu.

    Sst.. aduh.. cabut dulu Rur, sambung Ana, dengan sangat perlahan. Dan dengan rasa tidak menentu aku melepaskan penisku dari vagina Tari dan akupun kaget ketika aku melihat ke penisku yang sudah keluar dari vagian Tari ada semacam darah yang melengket dibatang penisku yang kemudian aku juga melihat ke vagina Tari ada darahnya juga. Aku yang memang tidak pernah tahu mengenai hubungan sex atau bersenggama tentu menjadi panik dan heran mengalami keadaan ini otomatis penisku langsung berhenti ereksi. Namun setengah meter dari kami, Ana justru sedang menikmati sekali permainannya bahkan semakin cepat menggosokgosok vaginanya sendiri.

    Ah.. uh.. sst.. enaknya, desisnya sambil kaki Ana menjulurjulur tegang ke depan yang kemudian menusukkan jarinya kedalam lubang vaginanya dan mencabutnya serta menjilatnya sambil tersenyum kecil ke arah kami yang masih dalam kebingungan karena darah yang kami lihat. Aku menjadi berpikiran bahwa Ana sudah sangat berpengalaman dalam hal ini. Lalu Ana berdiri dan menuju kearah kami. Darah itu tidak apaapa Tar!, kata Ana kepada Tari yang masih meringis menahan sakit. Aku juga begitu awalnya, aku menjadi kaget mendengar pernyataan Ana yang ternyata benar dugaanku bahwa dia telah lebih dulu melakukan hubungan sex entah dengan siapa.

    Lalu Ana membantu Tari bangkit dari tempatnya. Mari aku bantu membersihkan darah itu dikamar mandi, kata Ana dan mereka berdua berjalan kebelakang. Aku melihat Tari berjalan disisi Ana sambil tertatihtatih seperti orang baru belajar berjalan sementara akupun sibuk membersihkan penisku seadanya dari darah yang melengket dibatang senjataku itu dan mengumpulkan pakaianku yang berserakan di lantai lalu memakainya kembali. Tak lama kemudian mereka keluar dari dalam rumah menemuiku yang setelah berpakaian menunggu diteras, aku melihat Tari masih menahan sakit yang mungkin masih tersisa.

    Lalu akupun pamit pada Tari hendak pulang yang disusul oleh Ana yang juga ikutan mau pulang, aku berjalan turun dari teras sementara Ana aku lihat masih berbincang dengan Tari yang kemudian menyusulku dari belakang. Persis ketika aku hendak menutup pintu halaman muncul Wati yang baru pulang dari ngerumpi dengan tetangga depan.

    Dua hari kemudian tepatnya hari Sabtu pagi dan kebetulan hari itu libur sekolah, aku lupa libur untuk apa yang jelas tanggal di kalender berwarna merah. Aku, Awal, Ana dan Nono serta beberapa teman lakilaki dan perempuan berkumpul dilapangan dekat rumah Nono sesuai dengan kesepakatan kami sehari sebelumnya. Jarum jam di arlojiku sudah menunjukan pukul 09.15 pagi dan kami sudah lengkap semuanya, kurang lebih ada 11 orang termasuk aku, Awal, Ana dan Nono. Kita semua akan melakukan pendakian atau semacam kemping kecilkecilan dibukit belakang lorong kami, kebetulan di belakng lorong kami ada sedikit bukit yang masih teduh sehingga masih enak untuk dijadikan tempat membuat kemahkemahan.

    Tetapi kami tidak bermalam karena jaraknya dekat, petang hari nanti kami akan pulang juga. Kamipun menuju bukit itu tetapi sambil lewat kami akan singgah dulu dirumah Tari untuk mengambil beberapa perlengkapan dan sekalian menjemput Tari dan memang jalan untuk naik ke bukit itu berada sekitar 200 meter dibelakang rumah Tari. Taripun ternyata sudah siap dihalaman rumahnya dengan memakai topi berwarna warni, baju kaos berwarna biru dan celana puntung ketat. Segala perlengkapan yang akan kami bawapun telah siap semua sehingga kami tidak berlamalama disitu.

    Pikiranku sempat ngeres sedikit ketika melihat Tari berpenampilan begitu setelah kejadian 2 hari yang lalu, namun ketika Ana melihat ke arahku aku tersenyum kecil dan mengalihkan perhatianku ketempat lain. Setelah berjalan satu jam setengah kamipun sampai dipuncak bukit itu dan mulai membangun beberapa buah kemah untuk dijadikan tempat beristirahat dan makan. Sementara itu teman perempuan termasuk Ana dan Tari menyiapkan bekal makanan yang memang telah dimasak dari rumah untuk makan siang kami. Empat buah kemah telah kami bangun dan siap untuk dibangun.

    Salah satu kemah kami gunakan sebagai tempat makan dan menyimpan peralatan, tas dan segala peralatan untuk bermain serta beberapa makanan sore hari nanti sebelum kami pulang. Sambil temanteman perempuan terus menyiapkan makanan dan menata peralatan yang disimpan di kemah itu kami yang pria bermainmain sambil menunggu pangilan untuk makan. Ayo.. makanan telah siap, seru Ana kepada kami yang masih sedang bermain dengan nada memanggil, kamipun lalu bergabung dengan mereka di tenda tempat makanan disediakan. Selesai kami santap siang bersama kamipun melanjutkan bermainmain aku bermain bola dengan beberapa orang teman, ada juga yang masuk ketenda tidurtiduran mungkin karena kekenyangan.

    Awal dan Nono aku lihat asyik bermain gitar dan menyanyinyanyi di bawah sebuah pohon jati tua, disampingya ada Ana sedang membaca majalah. Aku tidak melihat Tari mungkin ia juga sedang beristrahat didalam salah satu tenda. Rupanya cuaca kurang bersahabat pada kami hari itu, tiba tiba hujan turun dengan sangat deras padahal langit pada waktu itu terang benderang seperti pada waktu kami berangkat tadi.Kamipun berhamburan masuk ketendatenda untuk berteduh, aku masuk ketenda tempat penyimpanan barang. Kebetulan pada waktu hujan tadi turun aku sedang mengambil bola yang terlempar disamping tenda itu.

    Ternyata ditenda itu hanya ada Tari yang sedang menyiapkan makanan untuk kami makan sore nanti sebelum kami pulang, akupun membantu Tari di dalam tenda itu sambil kami berbincangbincang ringan. Arlojiku di tanganku sudah menunjukan pukul 14.30 siang namun hujan belum reda juga bahkan langit semakin gelap. Lalu aku mencoba melihat keluar tenda sambil mengamati tendatenda yang lain ternyata Awal dan dua orang teman perempuan nekat keluar dari tenda tempat mereka berteduh dan berlari menghampiri aku dan Tari. Rupanya mereka mau mengambil tas mereka di dalam tenda itu.

    Tolong dong ambilkan tas kami, nanti kalau kami yang ambil barang yang lain ikut basah, kata Awal kepada Aku dan Tari dengan nada menyuruh. Memangnya kalian mau kemana, kataku. Mereka berdua ini punya acara sebentar malam, sambil Awal memandang kedua teman perempuan kami yang sudah menggigil kedinginan. Dan mereka memintaku untuk mengantar mereka pulang, sambung Awal. Apa tidak sebaiknya menunggu hujannya reda, kataku kepada mereka bertiga. Justru mereka khawatir hujannya terlambat berhenti, sehingga mereka bisa terlambat untuk keacara itu, kata Awal menjelaskan.

    Akhirnya mereka bertiga nekat pulang dengan keadaan hujan yang sangat deras sekali, aku dan Tari memandang mereka dari dalam tenda yang lama kelamaan menghilang di kejauhan. Sambil melipat kedua tanganku dan duduk dipintu tenda, aku dan Tari berbincangbincang ringan, lalu aku merasakan seperti ada sesuatu yang menggelitik di dalam celana panjangku. Akupun spontan langsung berdiri, Aduh.. apa ini, kataku khawatir takut ada binatang di dalam celanaku. Tanpa banyak pikir akupun spontan membuka celana panjangku yang tanpa aku sadari Tari berada di sampingku.

    Akupun sekarang tinggal mengenakan celana dalam.Waktu itu aku memang pakai celana dalam karena tahu mau jalan jauh. Aku kibaskibaskan celanaku hendak menjatuhkan sesuatu apabila ada yang melekat di celanaku sambil merabaraba seluruh bagian bawah tubuhku sampai ke ujung kaki, bahkan sempat mengintip kedalam celana dalamku mencari mungkin ada binatang yang masuk ke situ. Mari coba ku periksa, seru Tari sambil menarik celana panjang yang aku pegang. Akupun baru sadar bahwa di situ bukan aku sendiri sehingga aku sedikit malu dalam keadaan setengah bugil didepan Tari.

    Iapun memeriksa celana panjangku itu dan hanya mendapatkan sehelai daun dari dalamnya yang entah kenapa bisa berada di dalam celana panjangku. Mungkin waktu aku sedang bermain bola tadi yang beberapa kali terjatuh di atas rumput liar. Tari lalu kembali menyodorkan celana panjang itu kepadaku yang tanpa sengaja menyentuh penisku yang setengah ereksi akibat tertiup udara dingin. Spontan penisku semakin ereksi, mungkin tersentuh oleh tangan dingin Tari.

    Perubahan pada penisku itu terlihat oleh Tari karena celana dalam yang aku pakai mengembang keluar seakan ada benda di dalamnya yang memaksa keluar, tetapi aku coba mengacuhkan kejadian itu sambil mengambil celana panjangku dari tangan Tari kemudian berbalik membelakanginya. Saat hendak memasukkan satu kakiku kedalam lubang celana panjangku aku merasakan penisku ada yang meraba dari belakang, karena hanya bertumpu pada satu kaki saja aku terpelanting ke samping dan jatuh di atas lantai karpet di dalam tenda itu. Akupun merasakan ada sebuah tangan ikut tertindih olehku yang ternyata adalah tangan Tari.

    Pahakupun terasa dingin oleh karpet yang lembab akibat hawa air hujan yang merembes dari dari dalam tanah. Walaupun aku telah menindih tangan Tari dan mengira ia kesakitan yang ternyata tidak. Justru tangan halus itu bekerja meremas remas batang penisku yang semakin kuat berdiri. Detak jantung terasa makin cepat. Ah.. sst, desahku dengan napas yang mulai tidak beraturan. Ahh.. ayo.. dong Rur, seru Tari yang sedang memelukku dari belakang sambil memasukan kedua tangannya ke dalam celana dalamku, kini kedua tangannya mulai beraksi satunya meremasremas batang penisku yang satunya lagi memainkan biji penisku.

    Uh.. sst.. ahh, desisku seakan melayanglayang. Rupanya setan jahat dibukit itu mulai memasuki kami berdua yang mulai saling bergulatan di atas karpet yang dingin dalam tenda itu. Rur.., semenjak kejadian kemarin aku ingin kamu menusukku lagi, bisik Tari dari belakang persis dekat telingaku sambil terus memutarmutar batang penisku. Akupun membalikkan badanku dan memposisikan diriku berada diatasnya. Kedua lututku yang berada disisi luar paha kanan dan kiri Tari menjadi tumpuan dibantu tanganku yang berada disisi kiri kanan lehernya. Kalau kamu berdarah lagi, bagaimana?, sambil menggosokgosokkan penisku pada celana puntungya yang ketat persis diatas posisi pepeknya berada.

    Kemarin setelah kalian pulang sst.. aku mencoba menusukkan jariku kembali kedalam pepeku uh.., seru Tari sambil sesekali berdesis mungkin mulai terangsang oleh gesekan penisku di pepeknya yang masih tertutup oleh celana puntungnya. Memang.. ah.. ada darah.. sst.. tapi hanya sedikit keluarnya, sambungnya lagi. Pokoknya kamu jangan takut, seakanakan coba meyakinkan aku agar mau melanjutkan permainan ini. Akupun tidak berhenti beraktivitas diatas tubuh Tari, sedikit demi sedikit aku mulai melucuti celana puntungnya. Bajumu dibuka dong!, seruku menyuruh Tari membuka bajunya.

    Sekarang Tari hanya mengenakan celana dalam saja tanpa merasakan dinginnya udara, mungkin karena pemanasan yang telah kami lakukan lebih dahulu tadi. Tanganku mulai mengeluselus paha mulus Tari dan memainkan jarijariku di pinggir celana dalamnya di sekitar selangkangannya. Ah.. sst.. didalam dong Rur ouh.., memintaku memasukan tanganku di dalam celana dalamnya sambil tangannya terus mengocok penisku yang mulai basah dan licin oleh air yang keluar dari senjataku itu sendiri.

    Dengan sedikit permainan tanganku akhirnya celana Tari sudah terlepas meninggalkan tempatnya melekat dan sebuah bukit kecil memerah terpampang di depanku, peniskupun semakin kuat dikocoknya. Ouh.. sst.. gelinya.. jangan digoyang terlalu cepat Tar.. sst, sambil tanganku terus bermain dibibir luar vagina Tari. Tusuk.. uhh.. tusukkan jarimu.. ouh.. Rur, pinta Tari. Akupun memasukkan jari tanganku kelubang vaginanya. Aduh.. ayo Rur ohh.. goyangin dong sst.., pinta Tari lagi kepadaku untuk menggerakkan jariku di dalam vaginanya. Ouh.. ayo.. lebih kencang lagi ohh.. ayo.. Rur, kini pantat dan pinggulnya mulai ikut bergoyang seperti sedang menari mengikuti permainan jariku di dalam vaginanya.

    Aku kini merasakan tangannya sudah berhenti mengocok penisku namun tetap digenggammya eraterat semakin kencang aku memainkan jariku didalam vaginanya genggamannyapun semakin kuat sambil terus merintih dan meliukliuk. Sst.. oh.. woa.., serunya semakin tidak karuan karena merasakan kenikmatan. Kemudian aku mengganti posisiku pindah diantara kedua paha Tari yang sudah terbuka lebar dan bertumpu pada kedua lututku sementara dia tetap pasrah berada di bawahku. Tangannya kini sudah melepaskan penisku, dia hanya terlentang pasrah menunggu permainan dariku dan merasakan kenikmatannya.

    Jari tanganku terus beraksi tetapi bukan lagi bermain di dalam vagina Tari namun aku tusukkan keluar masuk ke dalam vaginanya dan sesekali memainkan clitorisnya yang sudah licin sekali. Oh.. enak Rur.. aduh.. sst.., sambil Tari terus mendesisdesis nikmat. Ouh.. ayo masukkan jarimu semua kalau bisa oh.. ayo Rur masukan.., pinta Tari sedikit agak berteriak seperti orang lagi menanti sesuatu yang belum kunjung tiba. Akupun sempat waswas karena takut kedengaran oleh teman lain, untung saja hujan belum terlalu reda sehingga bisa sedikit menutup suara Tari tadi.

    Ohh.. sst.., akupun mulai mendesis melihat kenikmatan yang diekspresikan oleh Tari lalu penisku yang seperti sudah mau meledak aku masukkan kepalanya di mulut vagina Tari secara perlahan dan menggoyanggoyangkannya dengan tanganku yang sesekali memutarnya pada clitoris Tari yang sudah licin oleh campuran air punyaku dan punya Tari sendiri. Ahh.. enak ya.., tanyaku perlahan pada Tari. Ouw.. sst.. enak Rur ayo masukkin dong oh.., balas Tari dengan suara napas yang semakin memburu ditengah suara hujan yang mulai reda. Kaki Tari aku rasakan mulai melingkar di pinggangku dan secara perlahan mendorong pinggulku kedepan sehingga perlahanlahan batang penisku mulai terbenam ke dalam lubang vaginanya.

    Ohh.. ayo Rur masukkan sst.., pinta Tari untuk kesekian kalinya kepadaku. Ahh.. aduh enaknya.. oh.., balasku mulai merasakan setengah penisku sudah masuk ke dalam lubang kenikmatan itu. Ayo.. goyang Rur, seru Tari padaku, akupun mulai menaik turunkan pantatku. Ohh.. ohh.. uh.., desisku dengan suara napas yang semakin memburu merasakan kenikmatan yang baru aku rasakan. Penisku kini sudah tenggelam semua kedalam vagina Tari akupun tak berhenti bergoyang bahkan semakin cepat seperti ada dorongan dari dalam akibat rasa geli yang semakin menggelitik.

    Kaki Taripun kini semakin erat terasa melingkar dipinggangku bahkan semakin kuat ketika penisku aku tekan dalamdalam. Ohh.. yah.. yah.. ohh.., tibatiba Tari mengerang panjang sekali dan terasa penisku dihimpit keras di dalam vaginanya, kakinya kini terasa semakin erat sekali melingkar di pinggangku sehingga terasa sakit sedikit di situ. Perlahanlahan kaki Tari terjatuh lemas terlepas dari pinggangku aku yang melihat ekspresi Tari justru semakin bernafsu akupun semakin kencang menggoyangkan penisku keluar masuk dari vaginanya namun tibatiba pintu tenda terbuka dan aku kaget sembari cepatcepat turun dari atas tubuh Tari yang sudah lemas dan pasrah.

    Ternyata yang masuk itu adalah Ana ingin menanyakan kapan kita akan pulang karena hujan telah berhenti dari tadi tanpa Aku dan Tari sadari, akupun melirik ke arlojiku yang telah menunjukkan pukul 17.15 sore. Berbeda dengan aku yang sedikit agak gugup dengan kehadiran Ana dan menyaksikan perbuatan kami, Tari dengan keadaan yang sedikit lemas menjawab pertanyaan Ana. Ayo sekarang kita pulang saja, sambil mengenakan pakaiannya satu persatu.

    Akupun sudah mengenakan pakaianku dari tadi ketika Ana membuka pintu kemah. Taripun membenahi segala peralatan yang akan dibawa pulang serta satu persatu temanteman mengambil barangnya yang disimpan ditenda itu. Aku mendengar di luar temanteman mulai sibuk membongkar tenda dan bersiap untuk pulang. Kembali Ana masuk kedalam tenda itu dimana aku masih berada di dalamnya hendak mempersiapkan juga peralatanku untuk dibawa. Tanpa aku sadari Ana memperhatikan resleting celanaku yang lupa aku naikkan. Rur enak ya tadi, aku kaget mendengar pertanyaan Ana itu.

    An jangan bilang siapasiapa ya, balasku kepada Ana. Oke! Pasti nikmat sekali ya Rur, tanya Ana lagi kepadaku dengan santainya. Nikmat apanya waktu kamu masuk tadi aku belum selesai, balasku menjawab pertanyaan Ana dengan nada sedikit kecewa. Ohh.., seru Ana. Tibatiba tangan Ana mengarah ke bagian penisku sambil berkata, Itu restnya lupa dikancing. Aku pikir ia akan membantuku mengancing restliting celanaku karena kedua tanganku sudah terlanjur penuh dengan barangbarang yang akan aku keluarkan dari tenda itu. Ternyata ia malah membuka celanaku dan memerosotkannya sampai di lututku dan mengocok penisku yang tidak tahu apa sebabnya sudah dalam keadaan ereksi.

    Karena memang aku masih tanggung tadi dengan Tari aku membiarkan Ana mengocok penisku sambil menurunkan kembali barang yang berada di kedua tanganku. Ayo Rur.. kasih keluar, seru Ana. Oh.. ya.. sst.. cepat sedikit.. An.. oh.. uh.., menyuruh Ana mempercepat kocokannya. Ah.. ya.. sudah geli nih..ya..sedikit lagi.., seruku dengan napas sedikit memburu. Oh.. ya.. enaknya.. uhh.., air maniku muncrat sampai empat kali dan sedikit mengenai wajah Ana.

    Perasaanku langsung seperti melayang ke langit ketujuh dan berangsurangsur merasa lemas dan berlutut dibawah kaki Ana. Tak lama kemudian Ana menegurku sambil tersenyum, Rur ayo pulang sudah sore nih. Akupun tersadar dan buruburu berdiri, menarik celanaku dan mengancingnya kembali lalu membawa barang yang tadi hendak aku bawa keluar dari tenda itu. Setelah kami sudah siap semuanya kamipun bergerak pulang kembali tepat jam di tanganku menunjukkan pukul 17.48 sore.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Rintihan Kenikmatan Sang Juwita Hati

    Cerita Sex Rintihan Kenikmatan Sang Juwita Hati


    1109 views

    Perawanku – Cerita Sex Rintihan Kenikmatan Sang Juwita Hati, Suasana pagi di sebuah rumah kost lantai dua yang berbentuk bangunan joglo dan berhalaman luas itu terasa sepi, nyaman dan sejuk. Banyak pohon rindang yang tumbuh seperti pohon mangga yang mulai berbuah, pohon talok, pohon kelapa muda yang nyiur melambai, beberapa pohon besar, dan sejumlah tanaman hias dengan bunga-bunga yang cantik mengelilingi area bangunan kost.

    Beberapa sangkar burung yang berisi makhluk lucu bersayap dan bersuara merdu ikut menyemarakkan suasana pagi yang cerah. Semilir angin sepoi yang berhembus mengakibatkan bergeseknya dedaunan pohon, sehingga menimbulkan suara gemerisik untuk menyempurnakan dendang merdu kicauan burung si empunya kost.

    Dalam cerita dewasa ini di salah satu sudut kost, ada sebuah kamar yang menghadap kearah halaman depan. Kamar kost yang sedikit berantakan, khas kamar seorang cowok. Di dinding kamar yang bercat putih gading tertempel berbagai poster diantaranya adalah Slash Sang Gitaris Gun&Roses, Dave Grohll Drummer nya Foo Fighter, SlipKnot, Incubus, dan ada juga The Legend Iwan Fals.

    Mereka terbingkai indah menghiasi kamar seorang cowok bertampang ganteng, putih, berpostur tinggi, berambut gondrong dreadlock rasta sebahu, dan berpenampilan metal.

    Nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya adalah Brian Kusuma Wardhana, atau yang lebih akrab di sapa dengan panggilan Bre oleh temen-temen kampusnya. Hmm.. Sosok idealis yang mengidolakan Sigmund Freud itu bukanlah terlahir untuk menjadi pribadi yang introvert, dan tidak pula sebagai penyandang schizoprenia.

    Seorang aktivis kampus dengan kemampuan orator yang sangat luar biasa. Kemampuan yang tiada duanya, ketika menggerakkan massa mahasiswa untuk turun ke jalan menentang kebijakan kampus yang di rasa merugikan khalayak mahasiswa, maupun menentang kebijakan pemerintahan yang menyengsarakan rakyat.

    Untuk kemampuan akademik nya pun bisa dibanggakan, terbukti pencapaian IP yang diatas rata-rata disetiap semester. Dia menjadi sumber contekan temen-temen sekelas. Ditambah lagi Bre adalah seorang gitaris band kampus merangkap vocal, yang penampilannya senantiasa terlihat cool dan flamboyan ketika perform on stage. Dengan suara khasnya yang serak, Bre selalu berhasil membius para penonton yang melihatnya ketika perform menjadi band pengiring Boomerang. Suaranya terdengar gahar dan ngerock abis saat membawakan music cadas.

    Maka tak heran, dengan berbagai atribut yang disandangnya, Bre menjadi sosok yang begitu familiar di lingkungan kampus. Dari kalangan Rektorat, para dosen, staff kampus, mahasiswa awal sampe yang sudah senior, dari pedagang di kantin sampai tukang becak yang biasa mangkal didepan kampus pun tahu, siapa itu Bre. Penampilannya terlihat Hellboy tapi berjiwa Playboy, Itulah ciri khas seorang DonJuan.

    Kemampuan bersosialisasi dengan tidak membeda-bedakan dari golongan dan dari status sosial apa teman-temannya berasal, menjadikan Brian menjadi sosok yang begitu disegani baik oleh kawan maupun lawan politiknya di BEM maupun HMJ.

    Di langit-langit kamarnya terdapat tempelan semacam stiker bulan dan bintang dari bahan fosfor, yang akan telihat menyala disaat lampu neon dipadamkan ketika malam menjelang. Sebuah fan kecil untuk sekedar penghilang rasa gerah pun tergantung cantik diatas langit-langit kamar untuk menemani keberadaan sang bulan dan sang bintang.

    Lantai keramik putih terlihat bersih, tapi meja belajar yang diatasnya terdapat monitor lcd komputer terlihat berserakan dengan berbagai macam buku. Baik buku diktat materi kuliah maupun buku-buku fenomenal karya (alm) Bastian Tito, buku filsafat karya Darwin, Aristoteles, Galileo, ataupun Stalin. Memang berat juga kadar bacaan Brian alias Bre ini, tapi dengan buku-buku itu pula Bre menjadi seorang pemuda yang mempunyai otak Brilian. Ada juga koleksi buku Dont Sweat For Small Stuff, buku music karya Mozart, dan buku The Darkness Of The Earth.

    Dipan berkasur busa itu terlihat tampak bergerak-gerak mengeluarkan suara berdecit, membalas sapa suara gemerisik daun yang terhembus angin dan suara burung yang berkicau merdu saling bersahut-sahutan. Hmm.. Ternyata di bawah dipan berkasur busa itu teronggok bra berenda warna hazzel. Tak jauh dari situ, celana dalam mini yang lebih menyerupai thong warna senada dengan bra juga tergeletak seenaknya, menemani celana panjang jeans hitam pencil yang tertutup kaos cewek ketat warna-warni dengan model ala gadis-gadis sirkuit.

    “Ummppfhhh!!” Lenguhan binal yang tertahan terdengar samar. Diatas kasur empuk itu terlihatlah sesosok gadis bertubuh padat berisi, berkulit cokelat terang cenderung keputih, telanjang, dan sedang beraksi meliuk-liuk erotis diatas tubuh seorang cowok gondrong yang sedang telentang, yang juga dalam keadaan telanjang.

    Kedua tangannya lurus diatas kepala, kadang siku tangan menekuk dan kedua telapak tangannya menguyel-uyel kepalanya sendiri dengan gerakan yang sensual sembari mengeluarkan desisan nikmat. Sesekali dia mendongakkan kepala keatas dan mengibaskan rambut ikalnya ke kanan dan ke kiri, sebagai bentuk ekspresi kenikmatan yang sedang menyusup kedalam setiap aliran darah, dan kedalam setiap sumsum. Punggung gadis yang terlihat mulus dan licin itu, kini terlihat mengkilat karena keringat yang di keluarkan melalui pori-pori kulit tubuhnya.

    Tubuh bugil tanpa selembar benang itu bergoyang semakin hot dan bertambah semakin erotis, ketika batang kontie yang sedang dikendarainya semakin menancap jauh kedalam meki dengan bulu jembie yang di cukur tipis membentuk segitiga, diatas belahan meki yang sedang tersumbat oleh batang kontie berurat menonjol.

    “Sshhhh!! . . Oughh!.. Pyeek!.. PyekK!.. PyeekK!!.. Aaakhhh!!” Suara desahan kedua insan yang sedang memacu birahi itu saling menggenapkan dengan suara seksi yang bersumber dari gerakan ritmis sepasang kemaluan mereka beserta pelengkapnya yaitu kontie, mekie, dan lendir-lendir rangsang yang telah melumasi sepasang alat kawin yang jika di gunakan sembarangan, kata nenek akan sangat berbahaya tentunya.

    Kedua telapak tangan cowok itu segera meremas pinggul si gadis yang masih saja tiada henti mengulegkan meki untuk mencoba menghaluskan kontie yang sedang tertumbuk dan terperangkap di dalam kehangatan sebuah daging mentah nan nikmat yang bernama meki. Diusapnya pinggang ramping itu perlahan keatas, sampai kedua jempol si cowok menyentuh dinding payudara berkulit mulus yang sekel di bagian luar.

    Seiring remasan di kedua buah buntalan payudaranya, si gadis langsung mencondongkan tubuh ke belakang dengan kedua tangan lurus kebelakang bertopang pada lutut cowok yang sedang di setubuhinya. Gerakan pinggul yang tadinya berupa goyang memutar berubah menjadi maju mundur dengan frekwensi yang cepat. Wajah tirus berhias bibir sensual itu memerah menahan letupan gairah.

    Hmm.. Wajah yang cantik dan nakal menggoda.. “Slephh!.. Sleephh!!.. Slephhh!!” “Ouughh sshhh!!!.. mmpphfff!!.. nikmatt se..sekalii.iihhh kontii luu..uughh!! Aakhh!!”, rengek mesum gadis berambut ikal sambil memejamkan mata, tapi dengan pinggul yang masih terus merajam kontie dengan gerakan maju mundur.

    Cowok flamboyan itu segera menegakkan tubuhnya, untuk memburu buah dada sekel yang terlonjak-lonjak karena gerakan erotis dari tubuh gadis itu sendiri. Sepasang toked ranum yang berhiaskan puting warna cokelat terang tampak sudah mengacung keras, menandakan gairah yang dialami si empunya semakin tinggi dan bertambah tinggi.

    Tak berapa lama, puting susu itu pun sudah terperangkap dan terkulum nikmat didalam mulut. Terbelit lembut oleh lidah nakal cowok penghuni kamar kost yang sekarang mulai menguasi, menjilati, dan menyentil sepasang puting imut tersebut pake ujung lidah. Melihat itu, si gadis manis langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher belakang si cowok, dan menekan kepala belakangnya biar wajah cowok cakep itu terbenam dan menempel erat pada kedua susunya yang tampak semakin merangsang dengan adanya peluh.

    “Gi.. gigithh putingnya..akhhh!! Uughh! yaak ben.nerr gituu..uughhh!! Sshhh yesshh!!”, ucap gadis berwajah tirus memberikan instruksi. Gerakan pinggul yang tadinya maju mundur, sekarang menjadi gerakan spiral naik turun mengurut-urut kontie berurat yang tampak gagah. “Ummppffhhh!!.. Aaakhh!” pekik lirih yang terdengar manja dari si empunya toked mulus, ketika buah susu nya yang bener-bener kenyal menggairahkan itu tercupang berkali-kali oleh gigitan nakal cowok idola kampus yang sekarang ini sedang disenggamainya.

    “Shitt!! Yea.aahhh!! An.Anjriitt!! Meki luu en.nyaak bahh.ngeetshh!!.. Ouughhh!!!”, ucap gagu si cowok, setelah merasakan gerakan memutar badan yang tiba-tiba dari seorang gadis cantik yang sedang terbakar gairahnya. Otomatis batang kontie yang sedang dan masih dalam keadaan tertawan di dalam kehangatan meki peret nan nikmat itu terpelintir kuat-kuat.

    Sekarang, gadis berwajah manis dengan rambut ikal yang indah terawat itu sudah memunggungi cowok berotak brilian, dengan masih tak henti-henti nya menggoyang, memaju-mundurkan, dan menaik-turunkan pinggulnya untuk menciptakan dan memberikan rasa nikmat yang terus-terusan tanpa putus tiada henti.

    Dengan gerakan perlahan, cowok itu mulai memposisikan tubuh si gadis biar merunduk dan merangkak untuk melakukan doggy. “Jreebhhh!!.. Jrebhh!.. Sleephh!!.. Sleepphhh!!!” Suara hantaman batang kontie merajam didalam celah liang meki yang sekarang tampak terlihat semakin memerah karena bergesekan terus-menerus dengan kulit pembungkus batang kontie.

    “Aaaakhhh!!.. mmpphhh!”, lenguh nikmat mereka berdua bersahut-sahutan bagai irama orkestra, tatkala gerakan mengocok cowok ganteng itu semakin cepat dan bertambah cepat.

    Gadis yang wajahnya kini semakin memerah karena kobaran gairah yang terus melandanya itu merasakan kalo meki nya mulai berkedut-kedut, meremas, dan menyedot kontie yang masih terus saja menghunjam dan menjajah meki legit untuk mengail kenikmatan sepuas-puasnya. Dia langsung menegakkan tubuh telanjangnya keatas dan menolehkan kepalanya kebelakang untuk melakukan hot deep kiss, 99style berlangsung, dengan kedua tangannya yang melingkar di leher cowoknya itu.

    Kedua tangan cowok bertubuh tinggi atletis pun serta merta langsung memerah, meremas, mengurut-urut bongkahan buah dada si gadis yang terpental-pental. Tak lupa puting yang menghiasi sepasang toked ranum itu juga kena pilinan lembut.

    “Plook!.. Plokk!!.. PlookK!!!” Bunyi suara benturan pangkal kontie yang menghantam pantat bulat semok dari gadis yang sedang di setubuhi nya, terdengar jelas. Urat syaraf mereka sudah terpenuhi oleh pancaran gelombang penuh nikmat.

    20menit sudah berlangsung, dan… “Guee mmo ke… keluarrghhh!! Aaakh!!.. gu… guee ga kuu..aattshhh!!”, rengek si gadis menahan sesuatu yang hampir meledak dari dalam tubuhnya.

    “Keluarin.. Tuntasin ssemuaakhh!!.. Rasakan nik.niikmatnyaa!!”, jawab si cowok seraya tetap menghunjamkan semakin cepat batang kontie sedalam-dalamnya membelah meki yang terlihat mencengkeram kontie dengan erat. “I’m cummingggg!!!.. Ouughhh yeeshhh!! Aaakhhh!!.. Uummphhhff!!!”, teriaknya melepaskan gairah binal yang sejak tadi bersemayam dalam tubuh.

    Dia menggigit bibirnya sendiri, ketika tubuhnya menggelinjang tergodam badai orgasme. Kedua telapak tangannya menancapkan kuku-kuku di paha belakang cowok berambut dreadlock, yang tetep ga mau berhenti menusukkan batang kejantanannya, ketika si gadis sedang mengalami puncak klimaks.

    Karena kedutan yang diciptakan meki berbulu jembie tipis itu sangat kuat, maka tak berapa lama kemudian.. “PLOOPPH!!” Ditariknya batang kontie yang sedang menyumpal meki peret itu. Gadis berwajah tirus pun langsung berbalik arah menghadap kontie yang siap memuntahkan lahar yang panas, dengan memasang tampang binal yang sangat bitchy..

    “Ooohhhh!!.. Guee.. Keelll.. Uuaarghhh!!.. Aaargghhh!!.. Mmmphhfff!!!!”, teriak pejantan ganteng sambil nyemburkan cairan sperma kearah mulut yang menganga dengan lidah terjulur keluar milik si gadis. “..CROT!.. CROOT!!.. JROTTH!!.. JROOTHH!!.. CROTT!!” Cairan sperma kental itu juga muncrat membasahi wajah dan sepasang buah dada si gadis yang menggelantung indah dan gemesin.

    Setelah semburan sperma berhenti, gadis berkulit eksotis itu langsung mengelomoh batang kontie yang tampak basah, hingga bener-bener bersih mengkilat. Fyuhhh.. Mereka lemas sesaat, dengan nafas terengah-engah kekurangan oksigen.

    Setelah semuanya kembali normal, gadis itu bangkit berdiri dan segera mengenakan celana dalam, bra, dan celana jeans juga kaos warna-warni dengan model ala gadis sirkuit.

    Sepasang anak manusia yang baru saja mendaki dan menaklukkan puncak gunung seksual yang bernama orgasme itu adalah Brian alias Bre. Dan gadis cantik berwajah tirus dengan rambut ikal terawat yang menjadi partner ngesex nya adalah sang pacar yang bernama Karen, yang juga seorang spg freelance, berasal dari kalimantan. Mereka berdua satu kampus dan satu fakultas.

    Cerita Sex Rintihan Kenikmatan Sang Juwita Hati

    Cerita Sex Rintihan Kenikmatan Sang Juwita Hati

    “Gimana Bre dengan permintaan gue kemarin? Mau kan lu ngelamar gue? So, begitu kelar kuliah kita langsung married,” ujar Karen enteng sembari me make-up ulang wajah cantiknya yang tirus.

    Sambil memakai celana, Bre pun menimpali ucapan Karen.. “Waah ga bisa kaya gitu dong! Gila apa langsung married. Gue masih muda lagii, gue pengen nyari kerja yang bener dan berkarier dulu. Udah gitu, gue juga mo nyenengin ortu sama keluarga.. Gila lu ahh!”

    “Yaa ga bisa gitu juga dong Bre, lu musti ketemu Bokap Nyokap gue dulu..” Percakapan Bre dan Karen pun semakin memanas. “Karen, kita masih muda, jalan kita masih panjang. Gue belon mau terikat secara serius! Lagian elu liat kan, gue masih kesulitan dengan satu mata kuliah yang ga lulus-lulus, meski udah gue ulang keempat kalinya. Eee.. Lu bukannya bantuin atau gimana kek, malah yang dipikirin setiap kali ketemu gue pasti dah pokok bahasaannya married, married, dan married. Emang gue punya tampang penghulu petugas KUA apa?? Gue bisa depresi tau ga, Kalo setiap ketemu pasti lu nanya kapan married? Kaya iklan aja. Jangan siksa gue, pliss!!”, dengan gamblang Bre menjelaskan semuanya sembari menyulut rokok.

    “Lu pasti gitu, ngeles terus.. alesan terus dari pertanyaan gue!! Kalo depresi yaa itu derita lu. Jangan cemen dong, jadi cowok!”
    “Jangan rongrong gue dong, jadi cewek!!”
    “Ooo.. Jadi selama ini lu ngerasa gue rongrongin??”
    “Tepat!! Nah tuh juga kelakuan lu yang malah ngatain, kalo depresi yaa derita lu. Apaan kaya gitu!”
    “Kenapa emang? Haah!?”
    “Karena cara berpikir lu itu terlalu pendek, terlalu sempit. Udah ahh, udah!! Bikin kusut otak aja. Gue mau ke perpustakaan kampus. Lu mending balik pulang aja deh Kaar…..”

    “BLAARR!!!” Suara pintu kamar kost Bre terdengar terbanting keras, seiring kepergian Karen meninggalkan Bre begitu saja.

    Brian cuek bebek dengan kelakuan Karen yang ga bermutu dan childish itu. Sekarang, aktivis kampus yang sedang galau itu beranjak jalan menuju ke perpustakaan untuk mengurai otak kusutnya yang selalu merasa di rongrong oleh Karen. Dasar cewek. Dulu aja waktu gue peDekatein susahnya minta ampun. Jaim lah, Sok penting lah. Tapi giliran udah jadian malah suka maksain kehendak, ngekang, dan ngerongrong gue. Bikin kusut otak aja. Termasuk kejadian eM eL pagi ini di kamar. Tadi, tiba-tiba aja Karen dateng ke kost, masuk kamar dan maksa gue untuk nge eM eL in dirinya. Huuftt.. Bener-bener daah! Apa emangnya kebanyakan cewek tuh kaya gitu? Aah masa bodoh..

    Jalan yang membelah gedung induk kampus terlihat lenggang. Hanya sedikit mahasiswa yang terlihat berlalu-lalang. Kadang terdengar suara jerit teriakan, kemudian disusul suara tawa berderai yang berasal dari salah satu sudut bangunan rektorat. Disana ada sekelompok mahasiswa-mahasiswi yang lagi asyik bercengkerama sambil bersenda-gurau.

    Setelah membalas sapa temen-temennya walau hanya sekedar say hallo ataupun lambaian tangan, Bre pun melanjutkan langkah kaki nya yang gontai tertutup sneakers merah menuju ke perpustakaan. Dia berjalan membelah taman kampus yang cukup rindang dengan pohon-pohon yang berdiri gagah seakan menantang pancaran cahaya sinar matahari, untuk melindungi siapa saja yang berteduh dibawah rindangnya sang pohon.

    Bunga-bunga yang mekar elok penuh warna dari tanaman hias pun bener-bener memukau siapa saja yang melihatnya. Angin yang berhembus lumayan kencang, mampu menerbangkan daun-daun pohon yang telah menguning dan kering. Mereka tersapu terbang jauh oleh Sang Bayu. Hmm.. Hari yang indah bagi jiwa yang sepi..

    Setelah sesampainya di perpustakaan kampus tercinta, Bre segera menuju ke tempat rak buku, untuk mencari sebuah buku referensi yang ingin di bacanya. Ketika sedang asyik memilih buku, Bre pun ga sengaja menyenggol sejumlah tumpukan buku, dan “BRAAKK!!” Suaranya terdengar sangat keras di dalam ruang perpustakaan yang hening, sehingga sejumlah orang yang sedang asyik membaca atau menulis pun tersentak kaget.

    “Jangan berisik ahh!”
    “Huu.. Rese lu bikin kaget aja!!”
    “Ati-ati dong!”
    “Sssstttt!!!”

    Berbagai kecaman langsung menyerang sosok Brian dari segala arah delapan penjuru mata angin. Tak terkecuali kedua gadis yang langsung berbisik-bisik sambil melirik Brian yang tampak sibuk merapikan kembali buku-buku yang berserakan. Bre tau jelas, kalo dirinya sedang digunjingkan oleh kedua gadis yang duduk didekat kaca jendela. Bre menatap kedua gadis itu.

    “Wuih, cewek yang berbaju merah cantik bangeett. Anggun, Rambut lurus berkilau sepertengahan punggung, wajahnya berkulit putih cerah, matanya bening, hidungnya bangir, bibir mungil yang tipis kemerahan, dan.. daan.. Amboi, lesung pipit itu duhai menawan, dan…..” gumam dalam hati Bre pun buyar, ketika terdengar suara dehem dari mulut mungil cewek baju merah itu, dan pelototan mata beningnya. “Ehemm! Ehemm!! Apa genderuwo boleh masuk di perpustakaan ini ya, Res?” gumam cewek berbaju merah menyindir dengan suara agak keras biar terdengar oleh Bre. “Ga tau gue, mungkin iya dan mungkin juga tidak..” jawab temennya dengan mengangkat kedua bahu. “Soalnya ada yang serem gitu.. Hiii” imbuh cewek berbaju merah sesekali melirik kearah Bre dan sesekali pula pandangan mata mereka berdua ketemu. “Aseem! Gue dibilang kaya genderuwo, kurang ajar. Tapi gapapa lah, yang bilangkan cewek cakep.” kata Bre dalam hati.

    “Ssstt! Ssttt!! Liat Res, liat.. Dia garuk-garuk kepala tuuh. Pasti dapetnya kecoak yaa. Hihihi..” cewek berbaju merah dan temennya itu terus aja usil menggunjing Bre sambil terkikik, karena mengetahui Bre lagi menggaruk kulit kepala yang sebenarnya tidak gatal, melainkan lagi buntu memikirkan satu mata kuliah yang ga lulus-lulus. Padahal Bre yakin kalo mampu mengerjakan ujian maupun kuis. Ditambah persoalan dengan Karen yang semakin membikin otaknya kram.

    Bre jelas keki disindir oleh kedua cewek kampus itu. Tiba-tiba, berlagak seolah sedang membaca buku yang dipegangnya, Bre pun menyeletuk. “Hmm.. Ternyata ada teori yang menyatakan, Jika ada seseorang yang suka menggunjing orang lain, dan itu menjadikan sebuah kepuasan atau kesenangan sesaat dari orang yang menggunjing orang lain tersebut, maka seseorang itu dikategorikan berjiwa sakit secara psikologi..”

    “Hahaha.. Mampus kaga lu..” ucap Bre dalam hati sambil tertawa puas, kemudian melirik kearah mereka berdua. Cewek berbaju merah tampak kaget dan terbengong mendengar seloroh Bre. Temennya cuma terkikik sambil menyikutkan sikunya kearah rusuk cewek berbaju merah. “Makanya gasah aneh-aneh lu.. Meskipun gondrong dan berpenampilan metal tapi ternyata smart juga orangnya. Hmm.. Ganteng juga lhoh, ujie mah jauuh..hihii..”, ujar temen si cewek berbaju merah sambil melirik menggoda. “Apaan sih lu.. Huuu!”

    Sementara itu, Bre terlihat berpikir serius. “Mmm.. Gue harus menulis berbagai planning, harus ngapain aja dalam menghadapi the killer lecture itu. Masak cuma gara-gara mata kuliahnya, gue gagal meraih gelar kesarjanaan?? Hmm.. Kemudian gue juga harus bikin tulisan mengenai rencana-rencana impian gue. Oke, Siip!!” gumam Bre pelan tapi bersemangat.

    Bre mengambil kertas dan bollpoint. Dia menulis angka 1 di kertas. “Sret” kok ga keluar? Dicobanya lagi menulis. “Srett” waduh masih ga keluar juga. Sekali lagi dicoba menggoreskan bollpoint nya,”Shrett” tetep aja ga keluar tintanya alias macet.

    “Aaaah!!! Kampret!! Pake acara macet segala. Baru mau menulis rencana impian menuju kesuksesan aja udah terhambat, gimana menjalaninya??.. Huuft!!” rutuk Bre kesal.

    Tiba-tiba aja Bre teringat dengan makhluk cakep yang tadi selalu menyindirnya. Bre pun berjalan kearah dua gadis itu. “Maaf, boleh pinjem bollpoint nya? Sebentar kok.” bilang Bre ramah. “Ehh.. Mmhh.. g.gimana yaah.. emhh..” cewek berbaju merah terlihat gugup dan grogi dipandang oleh mata elang Bre. “Udah pinjemin ajaa gapapa.. Tapi jangan lama-lama ya mas!” ucap si temen cewek berbaju merah pada Bre seraya menyerahkan bollpoint.

    Si cewek berbaju merah cuma terbengong, ketika temennya merebut bollpoint parker yang sedang dipegangnya, dan segera di pinjamkan kepada cowok ganteng berambut dreadlock itu. “Makasih yaa, tenang aja aman kok.. Hehehe” kata Bre ramah sambil menebarkan ranjau senyuman mautnya. Bre kembali duduk di kursi panjang yang saling berhadapan dengan kedua gadis yang duduk di depannya. Dia mulai menggoreskan bollpoint diatas kertas.

    Cukup lama juga Bre sibuk menguas dan menggores kan tinta bollpoint parker itu. Kadang tersenyum sendiri, tapi kadang juga alisnya berkerut tajam berpikir serius, terus terdiam sesaat, udah gitu tiba-tiba langsung garuk-garuk kepala, kemudian melanjutkan lagi aktifitasnya yang kalo orang lain melihatnya pasti akan tersenyum simpul oleh tingkahnya.

    “Balik yuuk, dah siang neh..”, ajak gadis berbaju merah.
    “Bollpoint lu gimana?”
    “Lu ambil dong, kan lu yang minjemin..”
    “Tapi kan punya lu..”
    “Yeee, ga bisa gitu kalee, orang elu tadi yang langsung ngerebut bollpoint dari tangan gue kok!” sahut cewek berbaju merah dengan galak.
    “Iyaa-iyaaa, tapi gue takut mintanya. Liat, dia senyum-senyum sendiri kan? Jangan-jangan, gila nya kumat. Hii..”
    “Aah sialan lu, kalo gitu kita samperin aja berdua..”

    Bre pun memandang hasil coretan pada kertasnya, dan kemudian menepuk jidatnya sendiri. “Bego!! Kok gue malah gambar sketsa wajah cantik cewek baju merah itu sih? Padahal kan mo bikin planning impian gue? Aah, ternyata ada hambatan kedua lagi deh.” kata Bre dalam hati, kemudian dia melihat kedua cewek itu berjalan kearahnya dengan ragu-ragu.

    Bre pun langsung tanggap dan menyerahkan bollpoint parker punya cewek baju merah seraya berujar, “Makasih yaa, sori lama. Eeh ni pada mo pulang? Bareng yuuk..” ajaknya, “Iya mo pulang. Ayok aja kalo mo barengan.” sahut temen cewek berbaju merah.

    Cewek cantik yang berkesan anggun itu terlihat selalu diam selama berjalan meninggalkan perpustakaan kampus. Bre pun asyik menyensorkan mata kearah tubuh semampai cewek berbaju merah.

    “Gila jack! Kulit pinggangnya putih bangeett, tokednya juga mantap lumayan nyembul meski bajunya ga ketat. Dahsyat man!!” batin Bre, demi melihat baju merah cewek cantik itu tersingkap dan memperlihatkan sedikit akan keelokannya.

    Mereka bertiga berpisah di sebuah perempatan. Cewek berbaju merah belok kanan memasuki jalan kampung Sidomukti, temennya jalan lurus, dan Bre sendiri belok kiri menuju rumah kost nya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,