Author: perawanku

  • Cerita Sex Gairah Ngentot Polwan Cantik Penuh Nafsu

    Cerita Sex Gairah Ngentot Polwan Cantik Penuh Nafsu


    1099 views

    Perawanku – Cerita Sex Gairah Ngentot Polwan Cantik Penuh Nafsu, Akhirnya sirine yang kutunggu itupun berbunyi. Dengan iramanya yang khas, sirine itu menjadi sinyal untuk kami agar segera melaksanakan apel sore dan bersiap untuk pulang ke asrama.

    “Jaga kondusifitas keamanan sekitar dan setiap anggota wajib memberi tauladan yang baik kepada masyarakat”, kata komandan regu kami mengakhiri amanatnya pada sore hari yang mendung itu.

    Akhirnya setelah rutinitas mengisi daftar hadir, aku segera berlari kecil untuk bergegas keparkiran motor, untuk mengambil kendaraanku. Rasanya birahuku sudah sampai diubun-ubun ingin segera menyalurkan hasrat bilogisku yang begitu bergelora.

    Namaku Tantri seorang polisi wanita yang bertugas di sebuah kabupaten kecil di negeri ini. Seperti layaknya anggota polwan, tubuhku langsing dan kencang karena hasil latihan fisik rutin yang selalu di lakukan setiap hari. Warna kulitku kecoklatan khas negeri ini, banyak orang yang mengatakan warna kulitku eksotis. Tinggiku 169 dan tergolong tinggi semampai, rambutku tentu saja pendek sampai ke tengkuk. Banyak orang yang bilang, semula tidak kupercayai, bahwa aku tergolong wanita dengan hasrat seksual yang besar. Mereka mengatakan ini karena sosok tubuhku agak bungkuk seperti bongkok udang. Tentu semua omongan ini hanya kuanggap omong kosong. Namun perlahan aku seperti membuktikan sendiri kebenaran omongan ini.
    “rrrrrrrt,rrrrrrrrrrt”

    Tanda getar di ponsel menandakan ada sinyal sms masuk.

    Sambil duduk di jok motor aku buka hp dan membaca isinya , “ Hai Mbak sexy kutunggu kamu di kontrakkan sudah kusiapkan kejutan yang manis buat kamu”.

    Itu sms dari laki-laki misterius yang telah berhasil membuatku jatuh hati dan menyerahkan segalanya.

    Naluri kewanitaanku secara alamiah bangkit bahkan hanya dengan membaca sms ini. Betapa mahirnya laki-laki yang bernama si Alex ini membuatku ketagihan secara seksual.

    Dengan hati yang berdegup secara kencang, aku pacu sepeda motorku untuk menuju kontrakan Alex yang terletak tidak jauh dari asrama tempatku tinggal. Sebagai wanita, kami dibudayakan tertutup secara seksualitas. Bahkan kami tidak diajarkan oleh leluhur kami untuk menikmati aktifitas bersenggama dan berhak memperoleh kenikmatan yang sama seperti halnya laki-laki. Namun Alex perlahan namun pasti mengajarkanku arti nikmatnya berhubungan badan.

    10 menit kemudian sampailah aku di kediaman Alex yang cukup mewah untuk ukuran warga kabupaten ini. Alex sendiri adalah seorang mahasiswa anak dari orang tua yang cukup berada. Tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dariku dan dia berkulit putih. Usianya 4 tahun dibawahku, Posturnya sangat terjaga karena dia rajin berolahraga. Awal pertemuan kami terjadi di sana.

    Sebagai anggota kami diharuskan untuk menjaga bentuk tubuh. Apalagi untuk wanita, bulliying dari senior akan sangat sadis bila kedapatan tubuh kami sedikit berlemak. Sejak lulus dari asrama, olahraga pagi adalah makanan sehari-hari. Secara rutin aku berlari, fitness dan mengikuti aerobik yang diadakan di gor olahraga ataupun stadion kabupaten.

    tempat fitnes Jos Gym yang menjadi saksi awal pertemuanku dengan Alex. Saat itu, ditengah keasyikan berlatih ada seorang laki-laki yang mendatangi dan menyapa.

    “ halo, selamat sore, maaf mengganggu Mbak ini aparat ya?”
    “ iya benar, Mas siapa ya??”
    Jawabku dengan nada tegas dan ketus karena kami memang dilatih demikian.
    “ perkenalkan nama saya Alex” sambil menjulurkan tangan, tanda ia ingin berkenalan.
    “ Tantri” jawabku sambil menjabat tangan Alex
    “ Mbak maaf ya gerakannya sudah bagus kok, tapi kurang tepat, ini saya tunjukkan gerakan yang benar”
    Alex kemudian mengambil dumbel tersebut dan mencontohkan gerakan yang tepat dibandingkan gerakan yang tadi aku lakukan.
    “ Untuk latihan kaki gerakan yang benar seperti ini Mbak, harus jongkok sampai kebawah ,dengan ini Mbak bisa membentuk pantat, betis, tungkai dan tumit sekaligus”

    Aku memperhatikan dengan seksama, sambil menaruh kesan awal yang baik kepada pemuda ini. Bahasanya baik, sopan, tempangnya ganteng, dan yang terpenting dia berani untuk mengajak ngobrol seorang anggota. Bukan rahasia umum, banyak laki-laki yang selalu melirik atau terpesona dengan kecantikan maupun kesexyan polwan yang biasa berbalut busana kerja ketat, namun sayang tidak mempunyai KEBERANIAN untuk mendekati kami. itulah yang membuat beberapa diantara kami kesulitan untuk menemukan pasangan hidup.

    Tapi pemuda ini berbeda. Dia bisa mendekatiku dengan lembut dan sopan seperti gentleman. Mungkin itu alasan dia segera mendapatkan tempat di hatiku. Sore itu kami lalui dengan penuh senyum dan canda. Obrolan diantara kami begitu cair dan akrab. Kuperhatikan dari kaca yang bertebaran di tempat fitnes ini bagaimana Alex mencuri-curi pandang terhadap kesintalan tubuhku. Hari itu sebenarnya aku mengenakan pakaian yang biasa saja. Aku mengenakan kaos ketat tanpa lengan warna merah yang menampilkan keeksotisan warna kulitku. Mungkin karena ketatnya kaos yang kukenakan, buah dadaku yang tergolong cukup berisi juga terekspose secara maksimal. Untuk bawahan aku kenakan celana training panjang yang menutup rapat sampai mata kaki.

    “ sekarang kita latihan trisep ya Mbak Tantri” alex berkata sambil mengambil barbell ukuran 4 kg yang berada di rak.
    “ bagaimana gerakannya??” tanyaku
    Jujur olahrafga fitnes memang baru buatku. Di asrama aku biasa olahraga lari mengelilingi asrama, push up, sit up, atau berlatih bela diri karate yang memang diajarkan.
    “ pegang barbell dengan kedua telapak tangan Mbak di ujungnya, Seperti ini. Kemudian angkat kedua tangan Mbak rapat di kepala, trus lengan ditahan, barbell diturunkan kebelakang kepala, satu set hitungan 10 kali”

    Gerakan ini aku lakukan menghadap kaca besar di salah satu sudut Gym. Pada pantulan kaca aku bisa melihat kedua tanganku terangkat. Kaos tanpa lengan yang kukenakan membuat ketiakku dapat terlihat jelas oleh Alex. Dia berdiri tepat dibelakangku untu menahan kedua lenganku agar tetap lurus. Alex terlihat sangat terpesona dengan kedua ketiakku yang mulus tanpa bulu itu. Selain itu posisi ini membuat bulatnya dadaku semakin menonjol karena kedua tanganku terangkat tinggi keatas.
    “ ayo mulai Mbak 1……2………3”

    Gerakan latihan trisep itupun dimulai dengan sebuah pantulan cermin yang cukup membuat jantungku berdebar. Posisi kami benar-benar menempel. Dapat kurasakan nafas Alex yang berderu lebih cepat. Bahkan tanpa Dia sadari ada benda yang tiba-tiba menonjol di bawah celana trainingnya. Alex terangsang batinku.

    “ Mbak Tantri harum, aku suka bau badan Mbak….10 cukup”
    Bisik Alex ketelingaku sambil mengambil barbell yang cukup berat untuk kuangkat .
    Sambil mengambil nafas karena kelelahan dan sedikit horny kami lanjut ngobrol. Entah kenapa aku mudah sekali horny. Saat inipun wajahku bersemu merah, orang awam pasti melihat wajar wajahku merah karena habis olahraga tapi jujur sebenarnya aku terangsang. mungkin karena melihat seorang pria tampan yang berdiri tepat dibelakangku sambil pandangannya sangat mengagumi kemolekan tubuhku membuatku sangat terangsang. Atau juga karena tingkat stress di lingkungan kerjaku yang sangat tinggi yang membuatku mudah terangsang, entahlah.

    “ Mbak kenapa ikut fitnes disini?”
    “ iya biar badanku gak gemuk”
    “ badan udah sexy gini kok dibilang gemuk”
    “ hush badan semok gini kalo diliat seniorku masih dibilang gemuk tau”
    “ berat ya pekerjaan Mbak”
    “ iya makanya jarang ada cowo yang deketin aku”

    Tanpa sadar aku mengucapkan pikiran negatif yang timbul sendiri. Mungkin karena perasaan bahwa kami ini karena tugas menjadi bukan seperti wanita normal.
    “ ada aku kok Mbak Tanti yang mau sama kamu he he” kata Alex sambil bercanda
    “ ha ha nanti juga kamu ketakutan sama aku, kayak cowo kebanyakan”
    Ujarku sambil melagkah ke ruang ganti untuk berganti baju.

    Pertemuan kami hari itu diakhiri tanpa ada yang spesial. Kami melangkah pulang kerumah masing-masing untuk kembali beraktifitas keesokan harinya.

    Namun mungkin karena pertemuanku yang pertama itu dengan Alex, fitnes menjadi semakin rutin kujalani. Setiap sore kudatangi Jos Gym untuk berlatih. Alex juga demikian, dia selalu ada di tempat latihan setiap aku ada disana. Setelah dua mingguan rutin belatih kami baru tahu kalo sebenarnya rumah kami berdekatan. Jarak rumah kontarakan Alex hanya berjarak sekitar 7 menitan dari asramaku.

    Selama dua minggu itu entah kenapa aku selalu ingin tampil sexy di hadapan Alex. Aku selalu mengenakan baju ketat tanpa lengan yang membuat lekuk tubuhku terlihat. Bahkan yang juga membuatku malu, aku mengenakan training panjang ketat yang bahkan membuat celana dalamku kadang-kadang terlihat. Penampilanku yang demikian rupanya membuat Alex juga semakin berbinar-binar matanya. Sering ketika kami sedang Alex tiba-tiba ijin untuk ke kamar mandi, katanya kebelet ingin buang air.

    Hanya dalam dua minggu perubahan telah tampak di tubuhku. Pantatku semakin kencang, dan mungkin yang membuat Alex semakin berbinar adalah dadaku terlihat semakin berisi akibat latihan yang rutin. Gairah dan libidoku rupanya ikut berubah setelah latihan yang rutin. Kurasakan tubuhku begitu bergairah, namun sebagai wanita yang tidak tahu cara melampiaskannya, gairah ini kupendam sebisanya.

    Sering terjadi ketika di asrama, gairahku meninggi kususnya pada malam hari. Biasanya menjelang tidur dengan libido seperti ini, kulepas seluruh busana yangmelekat di tubuhku, kadang cd tetap kekenakan kadang juga kutanggalkan . Sering teman-teman kamar yang tinggal seasrama terkejut ketika bangun dan menyadari bahwa sahabatnya tidur tanpa sehelai benangpun.

    Buatku pribadi pengalaman tidur telanjang merupakan salah satu bentuk pelampiasan terhadap gairah yang begitu memuncak. Sering aku tidur tengkurap agar putingku yang tanpa penghalang bergesekan dengan seprei kasur dan sensaninya luar biasa. Cd yang melekat di daerah kewanitaanku sering kulepas dan tanganku yang nakal sering menggeseknya dengan guling atau selimut. Aku termasuk wanita yang pembersih. Setiap seminggu sekali selalu kucukur rambut-rambut yang tumbuh di arena intim dan ketiakku, dan melumurinya dengan ramuan tradisional yang mampu membuatnya bersih dan wangi.

    Pengaruh libido dan hormon seksual jelas mempengaruhiku, dan jujur akupun telah melakukan eksperimen seperti tidur telanjang untuk menyalurkannya, namun hingga detik itu aku masih belum tau artinya sebuah kenikmatan seksual, sampai pagi itu Alex mengajakku untuk aerobik pagi bersama.

    *
    “ mbak Tantri besok aerobic pagi bareng yuk”
    Itu bunyi sms Alex pada saat aku sedang bersiap tidur.
    “ ayo kebetulan besok hari sabtu,kantor libur, jadi gak terburu-buru untuk apel pagi” jawabku
    “horeeee, o ya boleh request gak Mbak Tantri?”
    “request apa ya Lex?”
    “besok Mbak pake kaos merah yang sexy itu ya!”
    “emang kenapa Lex?”
    “gak apa Mbak , Alex senaeng aja kal liat Mbak pake baju itu”
    “yau udah besok Mbak pake baju itu deh”
    “ makasih ya Mbak, besok jam lima ditunggu ya deket stadion asrama”
    “ haa jam lima??? Gak kepagian tuh Lex??”
    “ enggak Mbak udah rame kok jam segitu”
    “ ya uda jam lima teng mbak sudah disitu, awas kamunya jangan telat ya mbak push up nanti”
    “ siap Komandan”
    Setelah tidur yang singkat, akupun bangun untuk kemudian sebentar menggosok gigi dan mengenakan pewangi tubuh, aku berangkat menuju stadion dekat asrama tepat jam lima pagi. Betapa terkejutnya aku karena stadion masih sepi sekali. Bahkan suasanapun masih gelap.
    “ pagi Mbak Tantri, mari masuk” seru Alex menaymbutku di parkiran. Sikapnya masih gentel seperti biasa.
    “ Alex kamu hebat tepat waktu, tadinya Mbak udah mau ngepush kamu. tapi ini masih sepi sekali, katamu udah rame??”
    “ hush sini deh Mbak ada yang Alex mau omongin ama Mbak”

    Kami kemudian masuk ke stadion. Dengan lapangan yang biasa mementaskan pertandingan tim daerah kami yang berlaga di divisi 2. Tribun penonton yang kosong. Lampu sorot yang berfokus menyorot ke lapangan. Sitambah udara pagi. Tentu suasana agak horror dan menyeramkan.

    Alex kemudian terus berjalan mengajakku kesebuah sudut stadion yang remang-remang.
    “ Alex awas ya jangan macem2!!! kamu kan tau siapa Mbak”
    Kataku dengan nada tegas karena naluri polisi yanglekas curiga dengan modus Alex yang sangat mencurigakan ini.
    “ nggak deh Mbak, Alex toh tau Mbak jago karate, bisa bonyok nantinya . Apalagi kalo dipenjara takut banget deh Mbak. Ini alex Cuma mau jujur saja…..”
    “Jujur apa alex???cepet donk ngomongnya!!! Atau mbak panggi l temen-temen mbak yang lagi patroli sekarang!!!” ancamku
    “ ampun Mbak jangan donk, Alex Cuma beliin ini kok buat Mbak.” Kata Alex sambil menyodorkan satu bungkusan kado warna pink yang terbungkus sangat indah.
    “ ya ampun Alex kejutan apa ini??kamu baik sekali sama Mbak, jadi malu nih”
    “ dibuka donk Mbak kadonya” kata Alex

    Dalam hati aku sangat bersyukur, akhirnya dapat juga kado dari seorang pria. Sudah lama aku memendam rasa iri ketika ada hari valentine, para pasangan saling berbagi kado, aku hanya merayakannya dengan teman sesama wanita di asrama. Ketika kubuka kado yang terbungkus indah itu, betapa terkejutnya ketika melihat kado ini adalah sebuah kalung emas berbandulkan tanda cinta, dan sebuah coklat import yang pastinya mahal.

    “ Alex inikan mahal. Kamu yakin ini buat Mbak????”
    “iya Mbak sejak pertemuan pertama Alex sudah jatuh cinta sama Mbak, kalung sama coklat itu hanya wujud cinta sama sayang alex sama mbak kok”
    “ kamu baik banget Alex.” Kataku sambil sedikit menitikkan air mata karena terharu.
    “ sini mbak Alex pakein kalungnya, Alex sengaja minta Mbak pake baju merah ini biar leher Mabak yang jenjang bisa dipasangin kalung cinta ini. “
    Masih bergetar rasanya perasaan ini melihat sebuah kejutan dari pria tampan dihadapanku. Begitu romantis dirinya untuk membuatka terdiam ketika tangannya yang kokoh mengalungkan sebuah kalung di leherku. Sangat lembut dan telaten dirinya untuk memasang kalung cinta di leherku. Masih dalam suasana spechless dan terpesona, aku terlambat menyadari dan begitu pasrah bahkan tanpa perlawanan ketika Alex mulai memelukku dan langsung mendaratkan ciuman di bibirku. Ini adalah ciuman pertama yang kualami dan rasanya begitu menggairahkan.

    Alex memelukku demikian erat, bibir kami berciuman dengan begitu bergelora. Kunikmati setiap momen ini, saat-saat dimana bibir kami saling bertemu, saling menghisap, saling menjilat. Dengan lihainya Alex mendaratkan ciuman yang begitu dalam, sangat intim, sampai membawaku terbang langsung ke awang-awang. Mungkin sekitar 5 menitan kami saling berpagut. Tanga kanan Alex memegang kepalaku dengan lembut, untuk kemudian menatapku dengan pancaran penuh dan cinta menggelora.

    “ Mbak Tantri aku cinta banget sama Mbak”
    Kata Alex singkat untuk kemudian memagut mulutku dan kami kembali tenggelam dalam perciuman yang begitu panas, mengalahkan dinginnya udara pagi hari itu. Dengan sabar Alex memanduku yang masih hijau dalam masalah ciuman ini. Lidahnya membuka perlahan mulutku dan mengundang lidahku untuk saling berbagi cairan kenikmatan. Dengan ragu kujulurkan lidahku kedalam mulutnya dan disambut dengan hisapan yang begitu sensasional. Alex sangat mahir berciuman dia bisa membuatku begitu terangsang padahal tangannya tetap memeluk tubuhku tanpa beranjak kemana-mana.

    Perlahan lidahku dikulumnya, untuk kemudian aku ganti mengulum lidahnya. Begitu panasnya kami berciuman. Dengan begitu mahir, Alex kemudia melepas pagutannya untuk kemudian berbisik ketelingaku.

    “Mbak percaya sama Aku ya, Alex mau bawa Mbak ke langit ketujuh”

    Alex membisikkan kalimat itu sambil menatap wajahku yang telah merah padam karena malu. Anggukan mungkin jawaban terbaik yang bisa kuberikan padnya karena bibirku sudah terbisu tidak mampu mengucap satu katapun. Alex melanjutkan dengan membimbingku untuk berdiri bersandar di sudut kecil stadion. Dalam posisi ini Alex langsung menyusur pori-pori leherku. Menghirup aromanya pelan, untuk kemudian memberikan ciuman-ciuman kecil yang intens disekitarnya. Ciuman untuk merangsang libidoku. Tangan kirinya menengadahkan daguku untuk meudahkannya mencium dan menghisap keindahan leherku. Posisiku saat ini mendangak sambil berdiri, dengan seorang pria yang asyik mengoral leherku yang jenjang.

    “aaaarrrgggghhhhhh”

    Hanya itu yang dapat keluar dari bibirku, sambil tanganku mengepal di balik bahu Alex berusaha mengendalikan ledakan-ledakan syahwat yang mendesak keluar untuk dipuaskan. Tangan kanan A lex mulai bergeriliya menyentuh bahuku yang tanpa pelindung. Mengelusnya perlahan centi demi centi. Alex kemudian menghentikan hisapannya, meninggalkanku dengan penasaran dan wajah yang merah padam ingin dipuaskan. Alex tersenyum melihat wajahku sambil berucap

    “Mbak semakin cantik saja kalo begini”

    Kutampar pelan dirinya untuk menyembunyikan kemaluanku akan wajahku yang begitu bergairah. Dengan perlahan Alex memasukkan kedua tangannya masuk ke sela ketiakku dan mengangkatnya ke atas rapat disisi kepalaku.

    “pegang besinya Mbak!”

    Kata alex sambil meletakkan tanganku untuk memegang besi yang menggantung 10 cm diatasku. Dalam postur berdiri menyandar, dan kedua tangan terangkat tinggi ke atas, ditambah balutan baju ketat merah, Alex secara perlahan mulai menempatkan kedua tangannya disekitar buah dadaku yang masih terbungkus bra. Dia sisir perlahan tepi luar dadaku untuk kemudian membuat gerakan berputar di sekiitar putingku yang telah mengacung tegak. Kupegang erat besi yang ada di atas kepalaku, sambil mataku terpejam dan dan kedua bibirku tertahan.

    “hggggggggggggh”

    Aku tak tau apa yang terjadi tapi rasanya organ intimku berdenyut kemudian menyemburkan cairan yang membuat semua tubuhku bergetar, darah seperti sampai diubun-ubun, dan semua pikiranku kosong terbawa dengan erotisnya permainan Alex. Ini adalah orgasmeku yang pertama. Padahal Alex baru memainkan putingku dari luar. Alex memelukku erat sambil memberiku kesempatan meredakan orgasmeku. Setelah badai nikmat itu reda. Alex memulai kembali geriliyanya terhadap tubuhku dengan mengangkat kaosku sampai keatas dadaku.

    “ jangan dilawan ya Mbak, tetap pegang aja besi itu Alex mau buat Mbak mabuk kenikmatan”.
    Kuturuti permintaannya. mungkin benar karena sensasi orgasme yang baru saja kualami membuatku mabuk kenikmatan. Alex turun ke perutku yang telah terbuka menghirup aromanya
    “ aroma Mbak membuatku tergila-gila”

    katanya untuk kemudian dengan rakus menyerbu pusarku dan memainkan lidahnya menari-nari disana. Rasanya geli namun nikmat. Kembali kutengadahkan wajahku kelangit-langit sambil menggenggam erat besi yang melintang diatasku.

    Sambil menjilat pusarku tangan Alex turun untuk membuka celana trainingku. Dalam posisi tertengadah aku tidak menyadari ketika celanaku sudah terlepas meninggalkan cd warna merah yang masih melekat menjadi pertahanan terakhirku. Alex menyentuh pahaku sebelah luar dan sejenak kembali mengembalikan kesadaranku. Kulepas peganganku di palang dan kubangunkan Alex untuk berdiri berhadapan denganku.

    “ jangan Alex Mbak malu”
    “gak apa Mbak percaya sama Alex”
    “sudah kamu disini saja jangan lihat kemaluan Mbak, malu”
    “iya Mbak”

    Alex kemudian menurut. Tapi dia kembali menciumi ku dan kami saling berpagutan mesra. Aku masih berdiri hanya dengan cd merah yang menutupi bagian bawah tubuhku. Kembali kedua tangan Alex membuka sela-sela ketiakku dan membawanya keatas kepalaku untuk memegang palang. Kuciumi dia dibibirnya dengan sedotan-sedotan dan permainan lidah yang membara . Ditengah pagutan itu tangan Alex tiba-tiba masuk ke dalam celana dalamku dan menyentuhnya dari perbatasan anus sampai ke pangkal klitoris.

    “ Youre shaved Mbak, betapa beruntungnya aku”
    Itu bisiknya sambil naik menaik turunkan tangannya membelai daerah kemaluanku dari dalam cd merah. Ini juga pengalaman pertama daerah kewanitaanku disentuh oleh seorang laki-laki yang diam-diam aku cintai dan rasanya begitu luar biasa. Kulepas ciuman kami, dikarenakan desakan rangsangan dari bawah tak mampu kutanggung kembali, smpai harus kutengadahkan lagi wajahku keatas memandang langit.
    “ kamu cantik Mbak Tantri, kamu sexy sekali”
    “………hgg………………………………………”
    Tidak mampu kutahan. Dengan tangan Alex yang masih di area intimku kujepeit tangan itu. Aku orgasme. Semua aliran darahdalam tubuhku seolah berkumpul di satu titik vagina dan meledak disana. Oooooow nikmatnya. Begitu nikamatnya. Tangan Alex tetap mengocok cepat meskipun kujepit erat.
    “ ayo Mbak Jangan ada yang ditahan nikmati sepenuhnya!!!!”
    Bisik Alex kepadaku.
    “hahhhh…………………………………………………………..”
    Begitu nikmatnya… pikiranku seolah sudah sampai di kahyangan.
    Sensasi ini begitu dahsyat. Membuatku melepas pegangan palang dan terjatuh di pelukan Alex.
    “ ( heh…..heh….hehhh……) A…Alex”
    “Ya Mbak” jawab Alex sambil memeluk tubuhku
    “nikmat balet Alex”
    “bener Mbak?”
    Aku mengangguk
    “kenapa bisa senikmat ini batinku
    “Alex akan terus member kenikmatan buat Mbak, yang penting Mbak percaya Alex”

    Aku kembali mengangguk.

    Pagi itu merupakan petting awal yang akan memulai petualangan seksualku yang luar biasa bersama Alex. Tentu tidak ada olahraga hari itu. Lututku kopong seperti kehilangan kekuatan. Namun Alex setia menemaniku sampai aku beranjak dari parkiran stadion menuju asramaku kembali.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Pengantin Baru – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Pengantin Baru – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1612 views

    Perawanku – Malam ini merupakan malam pertama D & L sebagai suami istri. Di kamar, D & L mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang nyaman dan santai dipakainya. Begitu rebah ke ranjang, keduanya langsung saling berpagut. Saat itu Danny merasakan adanya hal yang aneh pada dirinya. Sepertinya jantungnya berdegup lebih cepat dan lebih keras. Semangat libidonya menjadi sangat menyala-nyala. Nafsu birahinya menjadi demikian membara. Malam itu mata Danny yang nampak menjadi merah seakan terbakar menyaksikan Lia istrinya yang teramat sangat seksi. Saat menyaksikan pengantinnya tergolek di ranjang, dia ingin secepatnya menyetubuhinya. Kemudian dengan serta merta tanpa menunjukkan kelembutan atau sentuhan-sentuhan awal, bahkan dengan cara agak kasar, dilucutinya pakaian tidur istrinya Lia, kemudian juga pakaiannya sendiri. Perasaan yang menggebu-gebu ini ternyata juga melanda Lia sendiri. Saat Danny melucuti pakaiannya, dengan desahan yang keras Lia juga menunjukkan ketidaksabarannya. Diraihnya tonjolan besar pada selangkangan Danny yang nampak menggunung. Sebelum sempat Danny menelanjangi dirinya sendiri, di betotnya ****** Danny dari sarangnya. Langsung di kulumnya. Mereka, para pengantin ini nampak dikuasai nafsu birahi yang sudah tidak dapat mereka kendalikan sendiri.

    Mereka saling merangsek, saling mencengkeram dan meremas, saling menjilat dan menyedoti, saling melampiaskan dendam birahinya. Suasana riuh rendah oleh desah dan rintih pasangan ini sungguh sangat erotis bagi siapapun yang mendengarnya. Mungkinkah hal itu disebabkan oleh suasana romantis villa mewah ini. Suasana romantis yang memilik kekuatan untuk mendongkrak libido mereka dengan tajam sehingga nafsu birahi mereka sepertinya begitu terbakar. Nampak Lia yang telah telanjang bulat menunjukkan buah dadanya yang sangat ranum mengencang. Putingnya yang memerah mencuat keras tegak di bukit ranum kencang itu, seakan menanti siapapun yang bersedia mengulum dan menyedotinya. Sementara itu ****** Danny demikian pula. Darahnya telah penuh terpompa pada urat-urat batangnya. ****** Danny ngaceng dengan keras sekali. Urat-uratnya bertonjolan di sekeliling batang itu. Kepalanya yang cukup besar berkilatan yang disebabkan darahnya menekan keluar hingga membuat kulitnya tegang dan mengkilat. ****** itu terus mengaduk-aduk wilayah selangkangan istrinya. Dia mencari lubang vagina Lia yang juga sudah merekah kehausan menunggu ****** Danny untuk menembusnya.

    Pagutan, ciuman, gigitan yang disertai erangan, desahan dan rintihan dari Danny dan Lia saling bersambut. Keduanya benar-benar tenggelam dalam nafsu birahi yang sangat tinggi. “Ayyooo Dannyyy, masukkan tongkolmuuuu.. ayyooo Dann”. “Mana memiawmu sayangggg tongkolku sudah tidak dapat tahan nihhh. ingin secepatnya memasuki lubang surganmuuuu LIAAAAAA!” Tak pelak lagi, dengan penuh ketidak sabaran, mereka, Danny dan Lia ini sepertinya telah dirasuki kegilaan birahi. Mereka nyaris seperti hewan, yang melampiaskan nafsunya berdasarkan naluri hewaniahnya. Berbagai obsesi seksual yang sesungguhnya bersifat sangat pribadi dan tersimpan dalam-dalam di sanubari masing-masing, tidak dapat tersembunyikan lagi tumpah di malam pertama bulan madu mereka di Villa Forest Green yang sangat romantis ini. Ujung ****** Danny sudah tepat di bibir lubang vagina Lia ketika tiba-tiba dengan sangat mengejutkan terdengar pintu kamar digedor-gedor dengan sangat kasar dan keras. “Haaiiiii, yang di dalam kamarrr! Bukaa! Buka pintunyaa! Atau aku yang akan buka dengan paksa! Ayyyooooo bukkaa!”. Amukan birahi seksual D & L yang sedang memuncak langsung runtuh. Dengan geragapan mereka langsung diserang kecemasan dan ketakutan hebat.

    Mereka sama sekali tidak pernah memperhitungkan adanya kemungkinan seperti ini. Di villa mewah yang sejuk dan penuh kesan tenang dan aman ini sama sekali tidak menyiratkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini. Danny langsung mendekap istrinya yang nampak langsung gagap histeris penuh ketakutan. Kemudian menyusul gedoran lagi dan gedoran yang semakin kasar lagi. Dengan gemetar dan ketakutan yang hebat kedua pengantin pria dan wanita itu serta merta menarik selimut seakan dapat bersembunyi sambil menutupi ketelanjangannya. Dan akhirnya terdengar tendangan-tendangan yang sangat kuat. Pintu kamar tidur itu jebol. Daun pintunya terbanting ke lantai dengan mengeluarkan suara yang sangat keras. Danny dan Lia menggigil. Mata mereka terpaku tajam ke arah lubang pintu yang telah jebol tebuka itu. Mereka melihat ada 2 orang bertopeng setengah telanjang kecuali cawat-cawat mereka yang menutupi aurat mengayun-ayunkan kapak di tangannya. D & L semakin ketakutan, menggigil gemetar. Kedua orang itu menutupi kepalanya dengan semacam rajutan kaos gelap, persis seperti yang terjadi di film-film kriminal atau peristiwa-peristiwa teror di TV. Yang nampak hanya mata mereka yang beringas dan suara mereka yang terdengar keras, kasar dan brutal. ”Ho, ho, ho, ha, ha, ha…, rupanya sepasang pengantin cantik dan tampan ini sedang bercumbu… uhhhh… Uhhh nikmatnya nihhh…”. Kemudian salah satu dari mereka mendekat ke ranjang.

    Dengan kekuatan tangannya dia renggut selimut yang menutupi Danny dan Lia. Dengan sekali renggut selimut itu langsung terbuka dan tampaklah Danny dan Lia yang bugil saling berpelukan histeris. Langsung dilemparkannya selimut itu ke lantai. ”Ampuuunnnnnnn Paakk… Jangan diapa-apakan kamiii… ampunnnn.. a.. mpuunn …”, Lia menangis dan gagap karena didera ketakutan yang amat sangat. Seolah-olah tidak mendengar suara-suara iba tersebut, ketakutan maupun sikap protes dari Danny dan Lia, kedua orang itu langsung membuka kedoknya. Dan betapa terperanjatnya Danny dan Lia ketika melihat siapa kedua begundal itu. Mereka adalah Tory dan Pedro yang sebelumnya dianggap sangat santun dan menyenangkan oleh pasangan D & L ini. Tanpa dapat dicegah lagi Danny yang dalam keadaan bugil langsung bangkit hendak mengamuk dan melawan kedua orang itu. Tapi dari penglihatan sepintas sudah jelas, Danny bukanlah lawan mereka berdua. Tubuh Tory dan Pedro yang kekar dan penuh otot bukan lawan Danny. Dengan mudah dia dilumpuhkan, tangan-tangan kuat Pedro meringkusnya kemudian kedua tangan dan kaki Danny diikat dan tubuhnya dibiarkan tergeletak di lantai. Mereka tidak mengacuhkan segala protes, hujatan dan caci maki Danny. Dengan tertawa penuh kemenangan mereka merasa puas dengan lancarnya perbuatan keji mereka.

    Selanjutnya Tory dan Pedro lebih tertarik untuk memusatkan perhatian pada pengantinnya yang cantik, yang juga bugil dan tanpa daya tergolek di ranjangnya. Permohonan ampun dan tangisan ketakutan penuh pilu dari bibir mungil Lia sama sekali tidak menggetarkan hati para begundal itu. Mungkin hati mereka memang telah mereka buang jauh-jauh. Tangan-tangan Tory dan Pedro tidak sabar lagi untuk menjamah tubuh cantik mulus Lia itu. Tapi saat Pedro mendekat untuk meraih pahanya, tanpa dia duga kaki Lia menendang matanya. Gelagapan dan kepedihan pada matanya membuat Pedro terduduk sambil menutup mukanya. Melihat hal itu dengan sigap Tory langsung merangkul Lia. Pengantin yang berontak dan berteriak-teriak histeris ketakutan itu ditindihnya. Tubuh putih mulus telanjang itu dipeluk dan diringkusnya tanpa banyak kesulitan, bahkan nampaknya Tory ini sangat menikmati apa yang harus dia lakukan. Tangan kanan Lia direnggutnya. Dia keluarkan tali dari kantongnya. Tangan itu diikatnya kuat-kuat ke tiang bagian atas ranjang itu. Dan tangan kirinya kembali direnggut untuk diikatkan ke tiang ranjang di bagian sebelah atas yang lain. Tentu saja Lia yang dilanda ketakutan yang amat sangat langsung berontak dan meronta seperti kuda betina yang liar.

    Kaki-kakinya menendang-nendang apa saja yang ada di dekatnya. Tapi semua perlawanan itu hanya sia-sia. Kaki-kaki itu, oleh Pedro yang sudah baik matanya direnggut dan diikatkannya ke kaki ranjang bagian bawah kanan dan kiri. Peristiwa itu sungguh menjadi penampakkan yang sangat erotis baginya. Lia, sang pengantin, bidadari yang mulus, dewi berkulit kuning putih tanpa cacat, perempuan jelita yang mengamuk dengan liar, melawan dua begundal setengah telanjang dengan tubuh hitamnya yang berkilat karena keringatnya. Para begundal brutal itu nampak kewalahan saat meringkus Lia. Dengan cara merangkulkan tangan-tangannya serta menekankan wajah-wajah mereka sekenanya pada tubuh yang sangat merangsang birahi milik si jelita, Tory dan Pedro memerlukan kerja keras sambil menikmati sensual tubuh Lia. Akhirnya sang korban yang jelita itu benar-benar tak berdaya. Dan kini, kaki dan tangan Lia telah terikat kuat-kuat pada ranjang pengantinnya. Dan untuk keberhasilannya, para pendatang brutal itu langsung disuguhi pemandangan yang sangat spektakuler, merangsang dan erotis sekali. Tangan Lia yang terikat ke bagian atas kanan dan kiri ranjang membuat ketiaknya yang indah nampak terbuka. “Uuhhh… Akan kubenamkan hidungku ke lembah ketiakmu yang indah itu.. lidahku, bibirku akan menjilati dan menyedotmu Liaaa…”, begitu begitu pikir begundal-begundal tersebut.

    Dan paha Lia yang kini telah mengangkang terbuka, memamerkan memiawnya yang ranum menggunung yang langsung mendongkrak nafsu birahi kedua serigala lapar dan brutal itu. Keduanya tercekat menyaksikan dengan penuh takjub kemaluan Lia yang ditutupi bulu-bulu tipis merekah yang seakan menunggu jamahan tangan-tangan kasar mereka atau jilatan lidah dan sedotan bibir tebal mereka atau bahkan tusukan ******-****** kedua begundal brutal itu. Tak tahan menyaksikan tindakan brutal yang dilakukan Pedro dan Tory pada istrinya, Danny berteriak-teriak dengan harapan ada orang lain yang mendengarkannya di tengah hutan sepi itu. Ulah itu hanya jadi tertawaan para begundal. Tory menyuruh Pedro untuk menyumpal mulut Danny dan menyeretnya ke kamar sebelah. Pedro langsung bertelanjang melepas cawatnya sendiri yang dekil dan pesing untuk di sumpalkan pada mulut Danny. Tentu saja Danny jadi gelagapan panik menerima perlakuan kotor Pedro itu. Tetapi mana dapat ia melawan dengan kaki dan tangannya yang masih terikat erat-erat. Dan Tory juga langsung bertelanjang melepas cawatnya. Dia sumpalkan cawatnya yang sama dekilnya ke mulut Lia yang langsung berkelojotan karena jijik dan ingin muntah. Tetapi sia-sia pula. Dan akhirnya tanpa daya pasangan D & L ini menjadi tawanan Pedro dan Tory.

    Dan tanpa terhindarkan, Danny maupun Lia dihadapkan pada pemandangan yang selama ini dianggapnya sangat tabu. Kedua orang ini menyaksikan ****** lelaki lain, ****** Pedro dan Tory yang telah ngaceng berat. ******-****** mereka yang nampak tegak dan kaku itu sungguh luar biasa. Mengingatkan pada pisang tanduk di sepanjang jalan Bogor. Besar dan panjangnya tak kurang dari 20 cm dengan garis tengah sekitar 4,5 cm. Bagi seorang wanita semacam Lia, ****** sebesar itu membuat khayalannya langsung melayang. Lia membayangkan bagaimana rasa pedih dan sakitnya apabila ****** itu dipaksakan menembus memiawnya yang masih perawan. Akankah hal itu akan terjadi pada dirinya yang hingga kini bahkan suaminya pun belum pernah benar-benar menjamah memiawnya itu? Akankah Pedro dan Tory mendahului Danny sebagai pemilik yang sah atas vaginanya secara bergiliran memaksakan ******-****** mereka itu menembus memiawnya? Lia sangat takut dan merasa ngeri dengan pikirannya yang mengkhayal sejauh itu. Dia menggigil kemudian menutup matanya. Sementara itu bagi Danny, melihat Pedro dan Tory yang memiliki ****** sebesar dan sepanjang itu rasa percaya dirinya langsung runtuh.

    Dia bayangkan apabila istrinya sempat mereka paksa untuk menerima ****** mereka, dan pada akhirnya Lia mendapatkan kenikmatan serta kepuasan dengan ******-****** sebesar itu, dapat dipastikan dia tidak mungkin mampu mengungguli Pedro maupun Tory. Dan di belakang hari dapat dipastikan Lia tidak akan pernah puas berhubungan seks dengan dirinya. Lia akan dengan sebelah mata saja melayani dia sebagai suaminya. Danny sangat terpukul. Membayangkan istrinya Lia mendesah serta merintih mendapatkan kenikmatan birahi dari Tory dan Pedro. Hatinya langsung ciut.
    “Yo, ambil minuman itu lagi. Kita buat mereka lebih galak lagi”, terdengar Tory menyuruh Pedro. Kata-kata Tory itu menjadi pikiran Danny maupun Lia. Minuman apa itu? Bikin galak lagi” Apakah hal itu yang membuat mereka demikian panas birahinya saat memasuki peraduan setelah makan malam tadi? Mungkinkah Pedro dan Tory memasukkan obat perangsang seks pada makan malam mereka tadi? Tak lama kemudian Pedro balik dengan sebotol cairan berwarna kuning bening. Pertama-tama pada Danny. Tangan Tory memegangi kepala dan membuka sumpal mulut Danny yang langsung panik ketakutan. Kemudian Pedro menjejalkan mulut botol ke mulut Danny dan memaksakan untuk minum.

    Ketika Danny berusaha menolak dengan cara memalingkan wajahnya, Tory memeganginya dan membekap hidungnya. Karena tersedak Danny terpaksa menelan cairan dari botol itu. Dia merasakan asin dan pesing. Jangan-jangan air kencing mereka ini. Dengan cara yang sama cairan itu juga dijejalkan pula pada mulut Lia. “Nahhhh, bapak dan ibu, jangan khawatir… Itu adalah minuman demi kesehatan pak Danny yang tampan dan bu Lia yang jelita…, sebentar lagi bapak dan ibu pasti akan semakin segar, ha, ha, ha…”. Beberapa saat kemudian, pasangan D & L merasakan dunia seakan berputar-putar. Pandangan matanya mengabur. Jantungnya berdegup lebih kencang. Lia merasakan darahnya memanas. Dan gambaran ******-****** Pedro serta Tory yang luar biasa itu mendekat. Dia merasakan seakan-akan ujung-ujung ****** mereka menyentuh gerbang bibir vaginanya. Dia merasakan rangsangan birahi yang hebat, seperti halnya saat ****** Danny suaminya menyentuh vaginanya. Sementara itu Danny juga merasakan darahnya yang memanas. Nafsu birahinya meledak-ledak. Ingin rasanya menjilati selangkangan Lia istrinya yang saat ini terbuka memamerkan nonoknya di atas ranjang pengantinnya. Ingin rasanya dapat secepatnya terbebas dari para begundal itu untuk kemudian melanjutkan apa yang tadi telah hampir dilakukannya, tongkolnya menembus memiaw istrinya.

    “Lemparkan Danny ke kamar sebelah”. Si Pedro kembali melaksanakan perintah Tory. Dengan mulutnya yang kembali tersumpal cawat Pedro dan perasaannya yang mabuk dan ingin muntah akibat minuman yang dijejalkan tadi, Danny diseret ke kamar sebelah. Kemudian pintunya dikunci. Danny sangat penasaran, kesal dan marah. Semula dia berharap dapat tetap sekamar dengan istrinya. Setidak-tidaknya matanya masih dapat menikmati tubuh bugil istrinya yang terikat di ranjang, sehingga ledakan birahinya yang kini melanda nafsunya dapat sedikit tersalurkan. Di lain pihak Lia yang ditinggalkan suaminya tak dapat menghindarkan pandangannya pada ****** Pedro dan Tory yang nampak sedemikian besar dan panjangnya. Batang ******-****** yang dikelilingi urat-urat itu semakin nampak perkasa. Kepala helmnya yang yang tumpul membulat berkilatan kena cahaya lampu kamar. Lia sendiri belum pernah menyaksikan secara langsung ****** lelaki dewasa seperti yang dilihatnya sekarang ini. Dia hanya ingat bahwa pernah melihat ******-****** sebesar itu dari VCD porno yang disaksikan ramai-ramai bersama teman-temannya pada saat jam istirahat di kantor. Sewaktu vaginanya siap ditembus ****** Danny dia hanya merasakan ujung ****** yang hangat merangsang bibir-bibir vaginanya. Dia ingat betapa nikmatnya saat birahinya menjadi demikian memuncak yang disebabkan ujung ****** Danny itu.

    Dia merasakan keinginannya yang sangat kuat agar Danny secepatnya menembus kemaluannya. Bibir vaginanya sangat kehausan untuk melahap batang ****** Danny. Tapi kini Danny tidak lagi berada di kamar ini. Yang nampak kini adalah Pedro dan Tory yang sama-sama telah berbugil ria. Dan ******-****** mereka itu, kenapa mata Lia dibuatnya sangat terpesona” ******-****** itu tegak ngaceng dengan kokoh dan tegarnya. Lia berpikir akankah mereka juga akan seperti Danny? Menempelkan atau menusukkan ******-****** yang luar biasa itu ke bibir vaginanya? Akankah dia akan membiarkan dan menerima kehadiran ******-****** yang bukan milik suaminya itu? Akankah dia mampu menerima serangan badai nafsu serigala para brutal itu? Dari celah matanya yang basah karena air mata, Lia melirik ke ****** para brutal tersebut. Tiba-tiba perasaan seperti yang terjadi pada saat bersama Danny memasuki kamar usai makan malam tadi melintas. Rasa ingin, ingin, ingin, ingin, keinginan yang kuat, keinginan yang meledak-ledak, ingin Danny melanjutkan tusukan tongkolnya ke lubang kemaluannya, melanjutkan kenikmatan birahi yang mulai memuncak. Mungkinkah itu” Bagaimana mungkin” Yang nampak jelas siap melakukan itu justru Tory dan Pedro yang telah telanjang bulat dengan ******-****** keras besar panjang mereka itu. Mereka sangat siap dan sangat mungkin memperkosanya.

    Ooohh…, alangkah ngerinyaaa… Lia berusaha menepis perasaan yang sangat menakutkan itu. Dipalingkan wajahnya dari ******-****** itu. Sungguh ngeri membayangkan ****** sebesar dan sepanjang milik para brutal itu menembus memiawnya. Apabila hal itu terjadi pasti akan merobek-robek vaginanya. Tetapi darah dan jantung ini” Mengapa darah dan jantung Lia terus berdegup kencang sejak makan malam tadi seakan ada yang terus merangsangnya. Dan kini bahkan semakin kencang serta kuat memacu darahnya, setelah Tory dan Pedro mencekoki cairan kuning bening tadi. Apakah itu obat perangsang seksual yang membuat dirinya tidak dapat melepaskan pandangannya atau memalingkan wajahnya dari ******-****** Pedro dan Tory itu? Ah, sangat mungkin…! Bukankah Pedro dan Tory nampak jelas telah mempersiapkan semua rencana jahatnya ini. Topeng itu, kampak itu, gedoran di pintu itu. Semua merupakan bagian rencana jahatnya. Dengan memberikan obat perangsang birahi seksual, korbannya akan cepat takluk dan mengikuti kemauan bejat seksualnya. Korbannya akan patuh untuk menjadi budak seksualnya. Lia akan cepat menyerah dan sangat kehausan untuk secepatnya menikmati ******-****** para pejantan itu. Ahhh…, degup jantung ini…, kenapa jadi sulit sekali, membuang keinginannya untuk tidak kembali melirik ******-****** pejantan itu. “Oohh.., jangannnn… jangannnn…!”

    Lia memejamkan matanya untuk menghapus semua lintasan pikirannya, wajahnya memucat, kemudian memerah, kemudian kembali memucat, kembali memerah. Bayangan akan ******-****** besar itu jadi berbalik sangat menggairahkannya. Perasaan ngeri, takut, cemas tetapi tidak sepenuhnya ingin benar-benar menghindar, rasa birahi yang terus mengejarnyaa, dirasuki dengan penuh kebimbangan dan keraguan, semuanya serba bercampur aduk. Lia dilanda kebingungan yang amat sangat. Khayalan-khayalan liarnya yang terus memburu tidak dapat dilenyapkan dari kepalanya. Detak dan degup jantungnya juga tak dapat dikendalikannya. “Akankah…, Ohhh…, ampuni aku Danny…, Dannyyyyyyy…, ampuni akuuuu…, aku tidak mampu mengambil keputusan…, tolongggg…, aku membutuhkan kk… kkaamuuu… uuuu.. uuuhhhh…”. Dan memang, keputusan akhirnya bukanlah di tangan Lia. Begitu terlempar ke kamar buangannya, pertama-tama yang dicari Danny adalah lubang. Lubang atau celah di dinding, dimana dia dapat mengintip istrinya yang telanjang. Pengaruh minuman yang dijejalkan Pedro dan Tory tadi membuat libido Danny terangsang dengan hebat, saat ini yang diperlukan Danny adalah dapat mengintip istrinya telanjang, dia ingin melakukan mastubasi. Ternyata dia dapatkan, kamar villa yang seluruhnya dibuat dari kayu dan balok itu memberikan celah di antara dua baloknya.

    Celah itu cukup longgar. Danny serta merta beringsut ke celah itu. Tetapi ternyata celah itu terlampau tinggi di atas kepala Danny. Dengan ikatan tali pada tangan dan kakinya Danny kesulitan untuk berdiri maupun sekedar jongkok. Sementara celah itu dapat dia raih setidak-tidaknya dengan berjongkok. Dia mengamati sekeliling kamar itu. Dari kamar sebelah terdengar suara riuh. Terdengar “hah, huh, hah, huh…”, suara istrinya yang mulutnya terbungkam celana dalam dekil milik Tory. Danny jadi panik, dia memastikan sesuatu telah terjadi pada istrinya. Dia gulingkan tubuhnya ke sebuah kotak kayu di pojok kamar itu. Dia coba menendang kotak itu dengan kaki terikat agar dapat didekatkan ke dinding. Berhasil. Danny kembali berguling. Memerlukan perjuangan cukup panjang untuk dapat memanjat kotak itu dengan kaki dan tangan yang terikat. Sementara itu suara istrinya sudah terdengar berbeda, dalam waktu singkat suara itu telah berubah menjadi desahan dan rintihan, disamping juga terdengar suara Tory atau Pedro atau kedua-duanya. Mereka terdengar berbicara dalam bahasa daerah mereka yang Danny sama sekali tidak memahami artinya, tetapi Danny memastikan mereka sedang melakukan sesuatu hal yang tidak senonoh pada Lia istrinya yang kini terikat dan telanjang bulat di depan mereka.

    Akhirnya setelah berjuang keras untuk memanjat kotak kayu itu, dalam keadaan terikat tangan dan kakinya mata Danny kini dapat menyaksikan Tory sedang memeluk dan menciumi kedua payudara istrinya. Dan Pedro dari arah lain sedang memeluk paha Lia serta wajahnya tenggelam dalam selangkangannya. Nampak kepala Pedro naik turun menjilati arah kemaluan Lia. Seketika itu juga seolah-olah ada sejuta petir menghantam kesadaran Danny. Dia langsung terjungkal ke lantai. Danny kehilangan kesadarannya. Tetapi hanya sesaat, dalam keadaan terkapar di lantai nampak kelopak mata Danny yang lelah pelan-pelan terbuka. dan kemudian dengan cepat dia bangkit dan kembali berusaha merangkak ke kotak itu untuk mengintip celah di dinding itu. Bermenit-menit dia lalui untuk mampu kembali pada posisi dimana dia dapat mengintip kamar istrinya yang saat ini sedang digarap oleh Tory dan Pedro. Suara erangan yang telah berganti menjadi suara desahan dan rintihan istrinya terus terdengar, juga pembicaraan antara Tory dan Pedro yang tidak diketahui maknanya oleh Danny terdengar semakin cepat bersahut-sahutan. Sementara itu telah terjadi hal yang aneh pada diri Danny, mungkin pengaruh dari makanan dan minuman yang dicekokkan oleh para begundal itu ke mulutnya atau setelah menyaksikan istrinya dikerjai secara brutal oleh dua begundal itu sehingga membuatnya terjungkal ke lantai, atau mungkin juga campuran dari keduanya.

    Saat dia kembali menaiki kotak itu, dorongan keinginannya sudah berganti. Dia tidak lagi ingin mengintip untuk melihat istrinya yang telanjang atau untuk menyaksikan bagaimana istrinya dengan gigih melawan kedua brutal itu. Yang diinginkannya sekarang adalah menyaksikan bagaimana kedua brutal itu yang dengan ****** besar dan panjangnya dapat memberikan kenikmatan erotik dan sensasional kepada istrinya. Sekarang dia ingin menikmati pemandangan bagaimana istrinya dient*t oleh para begundal itu. Danny kembali ngaceng berat. Lebih sensasional daripada sebelumnya. Dia ingin secepatnya menyalurkan syahwatnya. Dia ingin melakukan masturbasi sambil menonton istrinya dient*t para berandal-berandal di kamar sebelah itu. Inikah yang disebut “shock terapy”“ Sebuah peristiwa yang sangat luar biasa yang mampu dengan seketika mengubah mental, selera, cara pandang ataupun keyakinan seseorang. Yang mampu mengubah Danny, dari ketakutan serta kekhawatiran yang mencekam, menjadi sesuatu yang justru dia harapkan untuk terjadi” Dari yang awalnya berkeinginan untuk menolong menjadi keinginan untuk ikut menikmati” Dan itulah yang terjadi. Saat matanya kembali di lubang ingintipan tersebut, kini dia menyaksikan bahwa telah terjadi perkembangan. Nampak sumpal pada mulut istrinya sudah dilepas, walaupun pada tangan dan kakinya masih terikat pada ranjang itu. Nampak istrinya menggeliat-geliat tetapi tidak berteriak menolak.

    Yang terdengar justru desahan dan rintihan dari mulut Lia yang terdengar penuh kenikmatan, bahkan mata Lia nampak memandang Tory dengan tongkolnya yang sangat besar, sedang memompa kemaluannya. Danny melihat bagaimana pinggul istrinya sedemikian bergairahnya menjemput keluar masuknya ****** Tory yang kelewat besar itu. Adakah Lia juga telah diterkam obat perangsang itu, sehingga membuatnya kini menyerah dalam jarahan seksual para begundal itu? “Ah masa bodohlah, aku sendiri punya kebutuhan pula, birahiku ooohhhhh, menyaksikan istriku dient*t para begundal itu”, demikian pikir Danny. Jarak lubang dengan posisi istrinya yang terikat ini tidak lebih dari 1 meter di kamar yang relatif sempit itu. Danny dapat dengan nyata menyaksikan mengkilatnya batang ****** Tory yang keluar masuk menembus memiaw Lia istrinya. Tanpa dapat dicegah, air liur Danny menetes saat melihat ****** Tory yang luar biasa itu. Telinganya yang menangkap suara desahan dan rintihan istrinya yang tidak lagi terbungkam itu sebagai pertanda kenikmatan yang sedang melanda istrinya. Danny tersenyum. tongkolnya yang ngaceng dipepetkannya ke dinding. Pelan-pelan digosok-gosokkannya. Duhh…, nikmatnyaaaa… Dari lubang ingintipan itu, Danny melihat Tory semakin cepat memompa. Makin cepat, makin cepat, cepat, cepat… Dan,

    “AACCHH…”, terdengar teriakan Tory… Dan sperma Danny muncrat berbarengan dengan air mani Tory yang tumpah-ruah di kemaluan dan tubuh istrinya Lia. Itulah kepuasan seksual pertama sejak perkawinannya dengan Lia istrinya, pada hari-hari yang seharusnya penuh bahagia, pada hari-hari bulan madunya. Kemudian Danny lemah terduduk. Tetapi tidak lama. Dia mendengar kembali suara-suara desahan dan rintihan dari kamar sebelah, Danny kembali mengintip. Kini dia melihat Pedro menindih tubuh istrinya. Dia melumat leher, ketiak dan dada Lia. Sementara tangan kanannya memegang tongkolnya yang bukan main indahnya di mata Danny kini, dan tangan kirinya memeluk pinggul Lia untuk menempatkan lubang kemaluannya persis di ujung tongkolnya. Dan yang menjadi sasaran birahi Danny sekarang adalah menyaksikan istrinya Lia menggeliat-geliatkan pinggulnya menahan kenikmatan pada saat vaginanya melahap ujung ****** Pedro. Tubuhnya dicekal oleh otot-otot lengan Pedro. Dan vagina Lia dengan penuh kepasrahan menerima tembusan dan tusukan nikmat dari begundal brutal itu. Mata Danny melotot melihat adegan-adegan itu. tongkolnya kembali bangkit ngaceng. Obat perangsang yang dicekokkan padanya membuat tongkolnya tidak dapat tidur. Dan kembali dinding kamarnya menerima gosokan ****** Danny.

    Dan keadaan Lia sendiri, tak terhindarkan lagi, kebrutalan para begundal itu mulai menjadi, Lia menyaksikan wajah Tory langsung tenggelam, dia rasakan sedotan bibir tebal dan jilatan-jialatan lidah kasarnya yang merambahi ketiak, leher, dadanya… Dia rasakan bagaimana bibir Tory mencaplok kedua payudaranya. Lidahnya menari-nari pada putingnya. Gigitan kecil tetapi terasa sangat kasar membuat putingnya menjadi perih. Tetapi yang dia rasakan sangat aneh adalah…, perasaan ngeri, takut dan cemas itu, mengapa pupus, ternyata pupus, mengapa yang hadir kini justru rasa haus yang amat sangat. Dia diserang rasa kehausan yang amat sangat. Ingin sekali dia mendapatkan air untuk tenggorokannya. Ingin sekali, ingin sekali. Dia sangat menantikan Tory mengangkat celana pesingnya yang membungkam mulutnya. Dia sangat menantikan bibir tebal Tory melumat bibirnya. Dia ingin sekali meminum ludah Tory langsung dari mulutnya. “Oohhhh Toryi tolooong… akuuu hauss…, tolong Toryii, tolongggg…”. Dan kehausan itu semakin menjadi ketika dilihatnya Pedro menyusul menenggelamkan wajahnya ke selangkangannya. Lidah Pedro yang juga kuat dan kasar itu langsung menjilat seluruh bibir kemaluannya. Langsung membor lubang vaginanya.

    Untung saja Tory tahu…, Tory yang telah 55 tahun itu tahu reaksi perempuan yang kehausan saat menerima jilatan, sedotan, sentuhan lidah maupun bibir atau sodokan ******. Dia tahu bagaimana desakan birahi akan membuat tenggorokannya mengering dan seorang perempuan akan meminta agar secepatnya dilumat bibirnya untuk dapat menyedot ludah lelaki yang menyetubuhinya dan secepatnya kemaluannya ditembus ****** besarnya. Tory yang sangat berpengalaman itu serta merta meraih celana dalamnya yang sejak tadi disumpalkan pada mulut Lia. Kemudian secepat kilat bibirnya melumat bibir sensual pengantin cantik itu. Dan serta merta, Lia langsung menyambutnya dengan penuh kelahapan birahinya. Dia dengan histeris menyedot ludah Tory. Bahkan dari bibirnya juga keluar bisikan-bisikan kehausannya. “Pak Toryi, ayyooo, Lia udah tidakk tahannn…, ayyooo Pak Toryi…, Lia udah pengin ****** Pak Tory ituu…, ayoooo Pak Toryiii …”. Tory tahu bahwa Lia sedang dalam keadaan tersiksa oleh deraan nafsu birahinya sendiri, dia tolak Pedro dari keasyikannya melumati kemaluan Lia, kemudian dirabanya kemaluan indah itu. Cairan birahinya sudah membanjir. Dan Tory dengan cepat mengambil posisi. Dia kangkangkan selangkangan Lia, untuk kemudian dia menempatkan tongkolnya di antara selangkangan Lia itu.

    Diarahkannya ****** itu langsung ke lubang vagina Lia, yang telah sangat kehausan menunggunya. Karena Lia masih perawan, sejago-jagonya Tory tetap saja segalanya masih harus diusahakan dengan keras. ****** itu setiap kali meleset dari targetnya. Mungkin licin. Beberapa kali Tory merasa tongkolnya sudah tepat berada di mulut vagina Lia, meleset lagi. Dan saat berhasil tembus, Lia berteriak kesakitan, dan Tory melihat darah keperawanan Lia mengalir dari bibir vaginanya. Selaput perawan Lia telah robek. Kemaluan Lia sudah berhasil ditembus ****** Tory. Kemudian Tory mulai memompa. Pelan…, pelan…, pelan…, tetapi Lia sendiri yang sudah sangat kegatalan ingin lebih cepat… Dan Tory menurut untuk mempercepat… Dari balik kamar, Danny ternyata ikut menyaksikan saat-saat itu. Hingga dia saksikan bagaimana Tory memuntahkan bermili-mililiter air maninya ke dalam memiaw istrinya Lia itu. Dan dalam kesempatan itu, Danny juga menyalurkan birahinya hingga spermanya menyemprot dinding tempatnya mengintip istrinya menikmati genjotan Tory. Sungguh suatu pengalaman yang sangat dahsyat bagi perawan seperti Lia ini. Seumur-umur baru kali inilah dia merasakan nikmatnya senggama. Saat Tory melepas spermanya tumpah di dalam vaginanya, Lia pun mendapatkan orgasme pertamanya. ****** Tory masih berada di dalam lubang vaginanya saat Pedro datang. Dia menepuk punggung Tory, mengisyaratkan meminta “jatah”nya.

    Lia menatap kehadiran Pedro dengan pandangan penuh gairah dan birahi. Orgasme yang baru saja diraihnya bersama Tory belum menghabiskan semangat libidonya. Kegatalan birahi pada kemaluannya masih menuntut gesekan batang-batang penuh kejantanan dari para pecundang ini. Dan begitu Pedro datang serta langsung menembakkan rudalnya pada memiaw Lia, ditariknya tubuh Pedro. Dia ingin Pedro ******* nonoknya dengan bibir tebal Pedro tetap melumat bibirnya. Dia ingin menguras ludah dari mulut Pedro. Dia ingin mendengarkan desah dan rintih Pedro yang merasa kelimpungan oleh jepitan vaginanya langsung di telinganya. Dia ingin hidungnya mengendus seluruh keringat yang keluar dari tubuh Pedro. Dia ingin Pedro melumat ketiaknya, payudara dan putingnya. Kini Lia telah menjadi kuda betina yang binal. Dia tidak lagi memikirkan Danny. Dia hanya ingin Danny bergabung dalam kenikmatan bersama ini. Dia ingin Danny menerima kenyataan dunia ini. Dia ingin Danny untuk tetap setia dan menurut saja pada dewa-dewa jantan yang begundal dan brutal ini. Lia berkeyakinan kedua brandal begundal brutal ini adalah dewa-dewa jantan yang membawa sejuta kenikmatan. Danny harus patuh dan tunduk pada mereka. Sementara itu di kamar lain… Danny kini menyadari bahwa Pedro dan Tory telah memberikan kenikmatan tak terhingga pada Lia istrinya.

    Dia berfikir sederhana, kalau ******-****** Pedro dan Tory itu nikmat bagi Lia yang dicintainya, tentunya akan nikmat pula bagi Danny yang mencintainya khan? Suatu logika yang sangat rasional. Kalau Lia meminum dengan rasa segar ludah Pedro maupun Tory, tentunya ludah itu juga akan menyegarkan bagi Danny khan? Dan pada akhirnya semua bagian tubuh Pedro maupun Tory mestinya nikmat dan layak untuk dinikmati semuanya khan? Kini ganti Danny yang diserang rasa haus… Tiba-tiba terdengar kunci kamar itu dibuka oleh seseorang. Nampak Pedro dan Tory masuk dan memeriksa wajah Danny. Kemudian dia periksa pula tongkolnya. Mereka tersenyum. Kemudian Pedro dan Tory memeriksa dinding di dekat kotak kayu dimana Danny tadi mengintip. Diamatinya dinding itu. Dan saat ditemukannya sperma Danny yang masih meleleh pada dinding, kembali Pedro dan Tory tersenyum puas. Danny berharap sumpal mulutnya dilepaskan seperti halnya Lia istrinya. Tapi ternyata tidak. Kedua begundal itu kini menyodorkan ****** mereka ke wajahnya. “Ooohh…, mereka hendak membuang air kencingnya ke wajahku”, pikir Danny. Danny menunggunya dengan perasaan penuh birahi. Dia amati ****** Tory yang ujungnya bulat seperti jamur merang. Lubang kencingnya menganga lebar. Dan Ujung ****** Pedro nampak agak belang. Kulupnya masih membungkus, tanda bahwa dia belum ngaceng sempurna. Dan akhirnya, seerrr… dan seeerrrrr…, kencing Tory dan Pedro langsung mengguyur wajah Danny.

    Celana dalam Pedro itu ternyata langsung menyerap cairan kuning itu. Di dalam mulutnya, Danny merasakan hangat air kencing mereka berdua. Dia berusaha menelannya sebanyak mungkin. Inilah obat haus bagi Danny. Sedemikian banyaknya kencing Pedro dan Tory sehingga membuat Danny tampak seperti mandi. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh air kencing mereka. Bau pesing air kencing itu seakan-akan menjadi bau sedap bagi Danny yang sedang horny. Setelah selesai, Pedro mengambil celana dalam yang menyumpal pada mulut Danny. Danny lega. Akhirnya rahangnya dapat beristirahat setelah sekitar 4 jam menganga. Tetapi ternya urusan masih belum selesai. Pedro memerintahkan Danny untuk membuka mulutnya lagi. Diperasnya air kencing Pedro dan Tory yang terserap dalam celana dalam Pedro itu ke mulut Danny. Dan tanpa disuruh lagi Danny langsung menjilatinya. Kemudian Tory berbicara. “Kamu sekarang jadi budakku. Tahu”. Danny seakan mendengar berita gembira. Dia mengangguk angguk senang. Kemudian Pedro menuntun menuju kamar dimana Lia masih terikat di ranjangnya. “Hai, pelayanku, budakku, anjingku… Bersihkan nonok istrimu dari peju-peju (sperma) kami yang tertinggal di dalamnya. Kamu sedot dengan mulutmu sampai bersih. Cepat”.Ternyata Tory dan Pedro ini benar-benar seorang ahli kejiwaan yang hebat. Mereka pakar sekali dalam hal mengubah, merusak dab menghancurkan mental orang lain.

    Dan tampak sekarang…, Danny telah tercuci otaknya menjadi budak yang penurut dan ****** yang siap menunggu perintah tuannya. Dia siap untuk melakukan apapun, termasuk minum air kencing mereka atau bahkan lebih dari itu. Tidak ada lagi rasa tabu, jijik, jorok bagi para budak mereka. Lia juga telah diubah sebagai budak seksnya. Pasangan itu akhirnya kembali seperti halnya yang diharapkan oleh para tamu dalam acara pesta kemarin siang, “Semoga Danny dan Lia selalu saling melengkapi”. Dengan karakter baru setelah melalui garapan Tory dan Pedro, pasangan Danny dan Lia tetap saling melengkapi. Setidak-tidaknya di depan para berandal brutal itu. Dan kini Danny merangkak di lantai menuju tepian ranjang. Dia datangi nonok Lia yang masih basah penuh sperma yang meleleh dari lubang vaginanya. Danny harus membersihkan dengan lidahnya. Dia dekatkan bibirnya menuju vagina yang penuh lelehan sperma Pedro dan Tory itu. Lidahnya menjilati dan bibirnya langsung menyedotnya hingga nonok Lia kembali kosong. Sejak kehadiran Danny kembali ke kamarnya dan kemudian menjilati kemaluannya dari sisa-sisa sperma yang dibuang Tory dan Pedro ke dalam vaginanya, Lia hanya dapat menyaksikan dengan diam. Pandangannya pada Danny sudah hambar. Bukannya karena Danny tidak dapat menyelamatkan dia saat-saat menderita.

    Tetapi Lia kini yakin bahwa Danny tidak mungkin dapat memberikan kenikmatan ranjang macam Pedro dan Tory. Danny tidak akan mampu merangsang birahinya untuk meraih orgasmenya. Dan di mata Lia kini, Danny memang hanya pantas menjadi budak atau ****** yang menjilati sperma buangan tuannya. Semua yang dilakukan Danny sepenuhnya berada dalam pengawasan Pedro dan Tory. Mereka puas melihat Danny. Mereka juga puas melihat Lia. Kini tali-tali mereka akan dilepaskan. Pedro dan Tory yakin bahwa Danny dan Lia sekarang bukan lagi Danny dan Lia pada 4 jam yang lalu. “Tadi saat kalian datang, kami sepenuhnya melayani kalian. Sekarang kamu menjadi pelayan-pelayan kami, menjadi budak-budak kami, menjadi ******-****** yang setia pada kami. Dengar, kami akan bermurah hati melepaskan tali kalian. Agar kalian selalu siap menjalankan perintah kami berdua”. Kemudian tali-tali mereka dilepaskan. Tory memerintahkan keduanya untuk mandi dan berganti pakaian. Pedro dan Tory akan menunggu mereka untuk makan malam di teras kebun. Tempat itu sengaja dipilih karena malam ini adalah malam purnama. Danny dan Lia akan disuguhi pemandangan malam yang sangat indah. Tory membisikkan kepada Danny dan Lia, bahwa dia telah memasak makanan kesukaan mereka. Sebelum meninggalkan pasangan itu, Pedro dan Tory menyampaikan selamat malam dengan sangat santun.

  • Pengalamanku Menggunakan Pisang Untuk Pemuas Hasratku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Pengalamanku Menggunakan Pisang Untuk Pemuas Hasratku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1618 views

    Perawanku – Aku seorang cewek berumur 17 tahun dan masih kelas ii SLTA. Diantara teman-teman, aku mungkin paling pemalu. Aku sering naksir cowok tapi aku takut untuk memulai hubungan. Di dalam kamar, aku sering membayang-bayangkan wajah cowok yang kutaksir, membayangkan bagaimana kalau bercinta dengannya, berhubungan seks dengannya, sehingga hal ini sering membuatku sangat terangsang. Akhirnya aku sering beronani dengan mengusap-usap vaginaku yang mungil. Judi Bola Online

    Pada awalnya sih aku hanya senang mengusap-usap clitorisku sambil melihatnya lewat cermin yang kuletakkan sedemikian rupa sehingga aku bisa memandangi vaginaku lewat kaca itu. Mungkin karena keseringanku beronani dengan cara mengusap-usap bagian luar vagina dan clitoris lama-kelamaan aku kurang puas jika hanya meraba clitoris, tanganku mulai merambah daerah di bawah clitoris, meraba-raba bibir vaginaku yang mungil kemerahan dan ternyata rasanya lebih nikmat meskipun geli sekali. Kadang-kadang bibir itu aku buka dengan tangan kiri dan jari tangan kananku masukkan pelan-pelan ke dalam lubangnya, pada awalnya sih terasa sakit tapi lama-kelamaan nikmat sekali, aku putar-putar jariku dalam lubang sambil sesekali aku memasukkan dalam-dalam berusaha meraih tonjolan yang berada di ujung lubang vagina dan rasanya selangit deh rasa-rasanya aku ingin memasukkan jari ini dan menggerakkan keluar masuk secara cepat, terpikir olehku bagaimana rasanya kalau yang ada di dalamnya adalah sebuah penis yang bergerak keluar masuk. Tak terbayang bagaimana rasanya. Tapi aku belum berani melakukan hubungan seks dengan lelaki aku takut kalau hamil dan aku juga belum punya pacar.

    Karena keenakan hampir setiap hari aku beronani terkadang aku berpikir, aku hyperseks tapi biarin deh yang penting nikmat. Karena seringnya beronani maka pada saat di kamar terkadang aku sengaja tidak mengenakan celana dalam dan hanya mengenakan kaos dan rok atau hanya mengenakan daster sehingga aku bebas meraba vaginaku. Sewaktu mengganggur sendirian di kamar aku sering memandangi vaginaku lewat kaca cermin sambil membersihkannya dari cairan-cairan atau merapikan rambut-rambut kemaluanku yang mulai panjang, bahkan aku menyediakan waktu khusus untuk merawat vaginaku.

    Suatu saat aku bangun pagi-pagi sekali dengan kondisi sangat bernafsu, memang nafsuku sangat tinggi pada hari-hari menjelang haidku datang atau pada beberapa hari setelah haid, padahal sebelum tidur aku telah beronani, pagi itu aku bingung mau bagaimana antara ingin memuaskan diriku sendirian atau berhubungan seks karena malam itu aku mimpi berhubungan seks dengan seseorang. Kemudian aku keluar kamar untuk pergi ke kamar mandi ingin pipis dulu, saat lewat di ruang makan aku melihat pisang yang ada di atas meja makan sisa tadi malam.

    Tanpa pikir panjang aku mengambil pisang itu satu dan aku bawa masuk ke kamar. aku langsung rebahan di atas tempat tidur dan memulai beraksi. Aku meraba-raba vaginaku, sebentar saja vaginaku sudah sangat basah, dan aku melepas daster yang kukenakan sehingga aku langsung telanjang bulat karena aku hanya mengenakan daster. Pada saat itu aku tidak bisa menceritakan bagaimana rasanya nafsuku benar-benar tinggi. Jari-jariku dengan liar merambah seluruh bagian vaginaku, bahkan sampai clitorisnya aku pencet-pencet hingga nikmatnya luar biasa. Kalau biasanya hanya satu jari yang kumasukkan ke liang vagina maka sekarang dua jari aku masukkan bersamaan dan rasanya memang nikmat sekali sampai sampai seluruh badanku tergetar keenakan.

    Kemudian kuambil pisang yang tadi aku ambil dari meja makan. Aku kupas dan kemudian kumasukkan ke dalam vagina sambil membayangkan bahwa itu sebuah penis, saat mulai masuk nikmat sekali kemudian setelah separuh lebih masuk dan dibiarkan di sana dalu sambil menikmati bagaimana rasanya. Kemudian pisang itu kugerakkan keluar masuk secara pelahan, rasanya nikmat sekali dan pisang itu aku gerakkan terus keluar masuk dengan tangan kanan sementara tangan kiriku mengusap-usap clitorisku yang menonjol kemerah-merahan.

    Sambil terus menggerakkan pisang itu aku berpikir kenapa tidak dari dulu kugunakan benda ini kalau rasanya sangat nikmat begini, beberapa saat kemudian terasa olehku seperti ingin pipis yang tertahan dan nikmat yang luar biasa itu tandanya aku segera akan orgasme dan benda itu aku gerakkan dalam-dalam, ya ampun nikmatnya dan akupun orgasme dengan pisang yang sepertiga masuk ke dalam vagina, aku sangat menikmati orgasme ini dan aku biarkan pisang itu ada di sana dan tanganku pelan-pelan meraba-raba kedua payudaraku yang tidak pernah terjamah saat aku onani karena aku lebih tertarik pada vaginaku, kuusap-usap putingku pelahan sambil menikmati kenikmatan yang tiada taranya ini.

    Setelah puas kutarik pisang itu pelan-pelan tapi pisang itu patah separuh dan yang separuhnya masih ada di dalam vaginaku, setengah panik aku berusaha mengeluarkan separuh bagian pisang itu dengan tangan tapi tak berhasil malah pisang itu makin masuk ke dalam. Aku sangat bingung harus bagaimana, padahal hari ini aku juga harus ujian sekolah, aku langsung masuk ke kamar mandi dan dengan selang air aku berusaha menyemprot vaginaku dengan air biar pisang itu keluar, tapi tak berhasil juga malah bibir-bibir vaginaku menciut karena kedinginan, mau bilang pada Mama aku malu setengah mati. Akhirnya kuputuskan untuk ke rumah sakit setelah ujian nanti dan akupun bergegas berangkat ke sekolah. Setelah selesai berpakaian dan dandan, aku mencoba berjalan tapi ya ampun terasa ada sesuatu yang menganjal di dalam vaginaku, maka cara berjalankupun lucu aku tidak bisa berjalan dengan langkah biasa karena ada pisang dalam vaginaku.

    Sesampai di sekolah aku takut kalau teman-temanku tahu ada sesuatu yang tidak beres dalam vaginaku, pelan-pelan aku jalan dengan langkah yang aneh. Sesampainya di depan kelas banyak teman yang memperhatikan langkahku bahkan ada yang bertanya kenapa Rien kok langkahnya kayak robot? aku diam saja sambil tersenyum kecut. “lecet ya kakinya?”. Untung dia menebak dulu dan tinggal aku iyakan. Saat dudukpun aku bingung soalnya saat dipakai duduk pisang sialan ini sangat terasa kalau mengganjal dan aku juga khawatir bagaimana kalau nanti pisang ini keluar dan terjatuh saat aku sedang berjalan malu kan?

    Akhirnya aku mengerjakan ujian dengan tidak konsen dan segera ingin pulang. Saat pulang karena sangat tidak enak saat dipakai berjalan aku naik becak, hatiku ragu-ragu untuk ke rumah sakit, Bagaimana nanti aku bilang pada dokter atau perawat? duh malunya! Akhirnya kuputuskan untuk pulang saja. Sesampai di rumah aku lepas semua pakaianku, aku coba lagi mengeluarkan pisang itu tapi ternyata sulit sekali akhirnya karena kelelahan aku tertidur dengan kondisi telanjang dan kaki yang mengangkang karena posisi itulah yang paling nikmat.

    Sore hari, aku terbangun dan berusaha lagi mengeluarkannya setelah makan siang yang terlambat. Aku berdiri dengan setengah berjongkok sehingga vaginaku terbuka lebar dan jari tangan kananku mencoba mengeluarkannya sementara tangan kiriku berpegangan pada tempat tidur biar tidak jatuh. Tapi sia-sia saja usaha ini karena jari-jariku sulit menjangkaunya, akhirnya karena setengah putus asa aku gunakan sebuah sumpit mie ayam untuk mencoba mengeluarkannya. Dengan posisi yang sama pelan-pelan kumasukkan sumpit itu pelahan dan setelah terasa sampai di pisang aku songkel pelan-pelan pisang itu karena terasa agak sakit.

    Pelan-pelan terasa olehku kalau pisang itu akan keluar kemudian tangan kiri aku gunakan untuk membuka bibir vaginaku biar pisang itu mudah keluar. Dan akhirnya.., telepok.., pisang itu keluar dan terjatuh di antara kedua kakiku, lega sekali rasanya. Ketika aku melihat pisang yang sudah jatuh itu aku agak geli juga benda itu bentuknya sudah tak karuan dan baunya juga sudah tercampur dengan bau vaginaku, setengah hari dia berada di dalam vaginaku dan membuatku kebingungan setengah mati. Kemudian aku buang pisang itu dan aku ke kamar mandi untuk membersihkan vaginaku dari sisa-sisa pisang.

    Akhirnya aku kapok menggunakan pisang untuk beronani dan kemudian aku berencana untuk membeli sebuah dildo (penis buatan) untuk beronani. Dan aku sarankan buat teman-teman cewek kalau kalian ingin beronani dan akan memasukkan sesuatu benda yang menyerupai penis ke dalam vagina kalian jangan menggunakan pisang.

    Kalaupun akan menggunakan pisang gunakan yang masih mentah (hijau) karena masih keras dan tidak mudah patah kemudian gunakanlah secara pelan-pelan dan hati-hati agar tidak patah. Dan kalau cairan vaginamu sangat banyak jangan menggunakan pisang meskipun pisang mentah karena cairan yang banyak akan melembekkan pisang itu dan membuatnya cepat patah.

  • Gairah Seks Gadis PKL

    Gairah Seks Gadis PKL


    1650 views


    Perawan – Ini ialah benar-benar cerita nyata yang sampai kini tidak pernah saya lupakan. Peristiwa ini terjadi selama bulan September dan yang adalah pengalaman kesatu ketika keperjakaan saya hilang

    Saya perkenalkan diri, waktu tersebut saya berusia 27 tahun, masih single lah, bukannya tidak laku lho namun memang saya masih hendak bebas. Kata orang, wajah saya lumayan ganteng dengan badan atletis. Bekerja di sebuah instansi pemerintah di kota Surabaya.

    Bekerja pada Bagian Sekretariat yang mengurusi surat-surat masuk dan menulis segala kebutuhan dinas atasan ( sektretaris), pun mengetik surat-surat, sebab memang saya lumayan terampil dalam pemakaian komputer yang terkadang memberi pelajaran tentang pengoperasian komputer di luar kantor.

    Seperti biasanya, sebuah instansi pemerintah tidak jarang kali ada siswa-siswi yang mengerjakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang memang adalah bagian dari kurikulum yang mesti dijalani oleh masing-masing murid.

    Pagi tersebut sekitar pukul 09:00 saya sedang mengetik sebuah nota guna dikirim ke sebuah instansi lain, tiba-tiba saya ditemui oleh 3 siswi menyeluruh dengan seragam sekolahnya.

    Si Devi mempunyai postur tubuh yang agak kurus dengan format wajah bulat dan memiliki format payudara yang nyaris rata dengan dadanya. Si Desy agak gemuk dan pendek namun mempunyai payudara yang besar, dan yang satu ini mempunyai postur tubuh yang agak tinggi dari teman-temannya, paling cantik dan sexy laksana bintang mega sinetron dengan bulu-bulu halus di tangannya, warna kulit kuning langsat dengan wajah yang imut-imut dan bibir yang merah serta payudara yang montok, ukurandadanya 34B.

    Wah.. benak saya jadi kotor nih (maklum walaupun saya tidak pernah bersangkutan badan, namun saya tidak jarang nonton BF). Umumnya mereka seluruh mempunyai wajah yang cantik, kulit putih dan bersih.

    Begini ya adik-adik, kebetulan di sini memang belum terdapat yang PKL, namun akan saya tanyakan pada atasan saya dulu..”, kata saya, “Nanti, seminggu lagi, bantu adik-adik kesini untuk menantikan jawaban.” lanjut saya seraya tidak henti-hentinya memandangi wajah mereka satu persatu. Setelah berbasa-basi sedikit, kesudahannya mereka pulang.

    Seminggu kemudian, mereka bertiga pulang ke kantor. Setelah tersebut saya sampaikan bahwa mereka dapat PKL di sini dan langsung mulai bekerja. Setelah tersebut Devi dan Desy saya tugaskan di bidang lain, sementara Susy, saya suruh menolong pekerjaan di ruangan saya. Kebetulan ruangan saya tersendiri.

    Memang telah saya rancang sedemikian rupa supaya selalu dapat merasakan keindahan tubuh Susy yang saat tersebut kelihatan cantik dan sexy dengan rok yang agak ketat di atas lutut. Lalu saya mengantar Devi dan Desy ke ruangan beda untuk menolong karyawan yang lain, sementara Susy saya suruh menantikan di ruangan saya. Setelah tersebut saya pulang ke ruangan.

    “Apa yang mesti saya kerjakan, Pak?” tanya Susy saat saya telah kembali.
    “Kamu duduk di depan komputer dan tolong tolong saya mengetik sejumlah nota.” sembari memberikan sejumlah lembar kertas kerja pada nya.
    “Dan tolong tidak boleh panggil saya Bapak, saya belum Bapak-bapak lho, panggil saja Mas Bimo.” kata saya seraya bercanda.
    “Baik Mas Bimo, namun tolong ajarkan saya mengetik, sebab saya belum mahir memakai komputer.”

    Saya mulai memberi arahan tidak banyak tentang teknik mengetik seraya tidak henti-hentinya memandangi wajah Susy tanpa sepengetahuannya. Saya berdiri di sampingnya seraya menikmati. Sebentar-sebentar menculik pandang ke arah payudaranya yang kelihatan dari atas sebab kerahnya agak tersingkap sedikit.

    Nampak sekali kelihatan belahan payudaranya yang putih mulus tertutup bra warna coklat muda. Apalagi diperbanyak dengan paha yang paling sexy, mulus dan kuning langsat yang roknya naik ke atas saat duduk. Tanpa disadari, kemaluan saya berdiri tegak. Pikiran kotor saya keluar, bagaimana metodenya untuk dapat menikmati keindahan tubuh anak SMK ini.

    Di hari kesatu ini, saya hanya dapat bertanya-tanya mengenai sekolah dan keluarganya dan terkadang berkelakar sambil merasakan keindahan tubuhnya. Ternyata Susy ialah anak yang enak disuruh bicara dan cepat menyesuaikan dengan lingkungan. Terkadang saya suka menunjukkan ke kisah yang porno-porno dan dia hanya tersipu malu.

    Selama itu, saya juga beranggapan bagaimana metodenya untuk merasakan kesenangan tubuh Susy. Saya merencanakan untuk menciptakan strategi, karena kelak atasan saya bakal dinas ke luar kota sejumlah hari sampai-sampai saya bebas berdua dengannya.

    Pada hari ketiga, pagi-pagi Susy telah datang dan kebetulan atasan saya sedang dinas ke Bandung sekitar 5 hari. Seperti biasa, dia tidak jarang kali menanyakan apa yang dapat dia kerjakan.

    Inilah peluang saya untuk mengemban rencana yang telah disiapkan dengan benak kotor saya, lagipula ketika dia sedang duduk di kursi, tanpa disadari atau disengaja, duduknya agak mengangkang, sampai-sampai dapat tampak jelas celana dalamnya yang berwarna putih salah satu pahanya yang putih mulus.

    Lama-lama, saya pun menyaksikan wajah Susy agak berubah dan tidak banyak gemetar serta agak menegang pertanda dia mulai terangsang, saya dengan perlahan-lahan mulai meraba pundaknya. Sengaja saya kerjakan dengan perlahan untuk menyerahkan rangsangan dan supaya jangan terkesan saya hendak mengambil kesempatan.

    Saya mulai memutarnya dan sejumlah saat tampak adegan seorang perempuan sedang mengulum kemaluan dua orang negro. Sedangkan kemaluan si perempuan di masuki dari belakang oleh seorang pemuda bule. Susy kelihatan diam saja tanpa berkedip, justeru posisi duduknya mulai telah tidak tenang.

    “Kamu pernah lihat film ginian ngga Sus..” tanyaku padanya
    “Belum pernah Mas, hanya gambar-gambar di majalah saja” jawabnya dengan suara agak gemetar. Sepertinya dia mulai terangsang dengan adegan-adengan film tersebut.

    “Kalau gitu saya matiin saja, ya Sus? Nanti anda marah lagi..” kataku pura-pura sok suci tetapi tetap mengelus-ngelus pundaknya.
    “Aah ngga apa-apa kok Mas, sekalian bikin pelajaran, namun Susy tidak boleh dimacem-macemin, ya Mas?” dia khawatir
    “Iya.. iya..” kataku guna menyakinkan, sebenarnya dalam hati, si otong telah tidak tahan.

    Secara perlahan-lahan tangan saya mulai memegang dan membelai tangannya, dia diam saja dan tidak ada firasat penolakan. Yang anehnya, dia diam saja saat saya merapatkan duduknya dan saya pegang tangannya yang berbulu halus dan saya taruh di atas pahasaya. Matanya tetap tertuju pada adegan film dan suaranya memang sengaja saya bikin agak keras terdengar supaya lebih nafsu menontonnya.

    Terdengar suara rintihan dan erangan dari di wanita, saat kemaluannya di sodok-sodok oleh si negro dengan kemaluan yang paling besar dan panjang, sementara mulutnya dengan lahap mengulum batang kemaluan si Bule. Kini Susy semakin tidak tenang duduknya dan tersiar nafasnya agak berat bertanda nafsunya sedang naik. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan.

    Tangan Susy tetap sedang di atas paha saya, kemudian tangan kiri saya mulai bertindak membelai rambutnya, terus ke arah lehernya yang jenjang. Susy kelihatan menggelinjang saat lehernya saya raba.
    “Acchh.. Mas bimo, jangan, Susy merinding nih..” katanya dengan nada mendesah menciptakan saya semakin bernafsu.
    Saya tetap tidak peduli sebab dia pun tidak menepis tangan saya, justeru agak meremas paha saya.

    Tangan kiri saya pun tidak diam, saya remas-remas tangan kanan Susy dan sengaja saya taruh tepat di atas kemaluan saya.
    “Sus, anda cantik deh, kayak bintang film itu” kata saya mulai merayu.
    “Masa sih Mas?” kelihatannya dia terayun dengan bujukan saya. Dasar anak masih 17 tahun.
    “Bener tuh, masa saya bohong, lagipula payudaranya kelihatannya sama yang di film.”
    “Ih.. Mas bimo dapat aja” katanya malu-malu.


    Adegan film berganti kisah di mana seorang perempuan mengulum 2 batang kemaluan dan kemaluan wanita tersebut sedang dijilati oleh pria lain. Tangan susy semakin keras memegang paha dan tangan saya.
    “Kamu terangsang ngga Sus?” tanyaku memancing.

    Terasa sekali bahwa Susy pun terangsang dampak saya perlakukan laksana itu, lagipula ditambah dengan adegan film siswi anak sekolah Jepang yang ditembus vaginanya dari belakang oleh seorang gurunya di ruangan kelas

    Saya yang telah tidak tahan lagi, tidak peduli dengan ucapan-ucapan yang dibacakan Susy. Karena saya tahu bahwa dia sebetulnya juga hendak menikmatinya. Tangan kanan saya kian meremas-meremas payudara sebelah kanannya.
    “Oohh Maass.. jaangaan Maas.. ohh..” Susy semakin mendesah.

    Kepala Susy mendongak menyangga birahi yang telah semakin meninggi. Terlihat bibir merah membasah. Secara spontan, saya cium bibirnya, ternyata dijawab dengan buasnya oleh Susy.

    Lidah kami saling mengulum dan saya arahkan lidah saya pada langit-langit bibirnya. Semakin tidak menentu saja getaran badan Susy. Sambil berciuman saya pegang tangan kirinya yang di atas selangkangan dan saya suruh dia guna meraba batang kejantanan saya yang telah menegang dan kencang di balik celana panjang.

    “Mmmhh.. mmhh..” saya tidak tahu apa yang bakal dia ucapkan sebab mulutnya terus saya kulum dan hisap. Segera saya lepas seluruh kancing seragamnya seraya tetap menciumi bibirnya. Tangan saya membuka BH yang kaitannya sedang di depan, tampak payudaranya yang putih bersih dan besar dan perutnya yang putih tanpa cacat. Saya raba dan saya remas semua payudaranya.

    Hal ini menciptakan susy semakin menggelinjang. Tiba-tiba, Susy unik diri dari ciuman saya.
    “Mas.. tidak boleh diterusin, Susy ngga pernah melakukan seperti ini.” kelihatannya dia sadar bakal perbuatannya.

    Dia menutupi payudaranya dengan seragamnya. Melihat laksana ini, perasaan saya was-was, jangan-jangan dia tidak inginkan meneruskan. Padahal saya sedang hot-hotnya berciuman dan meraba-raba tubuhnya.

    Birahinya mulai bangkit lagi. Susy menjawab ciuman saya dengan buas dan nafsunya melumat bibir dan lidah saya. Tangannya meremas-remas kepala dan pundak saya. Ciuman dilangsungkan cukup lama selama 20 menit. Sengaja tangan saya tidak melakukan lebih jauh supaya Susy percaya dulu bahwa saya tidak akan melakukan jauh.

    Cepat sekali dia belajar. Saya menunduk dan kedua tangan meremas paha Susy, kemudian saya buka kedua belah pahanya, Susy memahami lalu merenggangkan pahanya seraya mengusung pahanya. Segera saya buka resleting roknya dan saya angkat roknya sampai-sampai nampak CD yang berwarna putih. Tangan kanan saya segera meraba dan menekan-nekan belahan vaginanya yang tertutup CD, telah basah.

    “Mmhh.. mmhh..” Susy menggelinjang dan terus mengulum-ngulum, terlihat mulutnya yang kecil mungil agak kesusahan. Saya buka baju seragam dan BH-nya, dia melepas kulumannya dan saya rebahkan tubuhnya di sofa panjang. Saya tarik roknya ke bawah sampai-sampai tinggal CD-nya yang tersisa, kemudian saya membuka baju sampai-sampai saya telanjang bulat alias bugil. Mata Susy terpejam, segera saya lumat bibirnya dan dia juga membalas.

    Segera saya buka celana dalamnya. Dan mulut saya mulai turun ke bawah menghirup perutnya dan perlahan-lahan saya ciumi bulu-bulu halus dan vaginanya. Tangan Susy meremas-remas rambut saya. Saya buka belahan vaginanya dan nampak kelentitnya yang mungil berwarna merah. Segera saya jilat dan hisap kelentitnya.

    “Aaagghh Maass oouhh.. oughh..” kepala Susy mendongak dan bergerak ke kiri dan ke kanan merasakan kesenangan yang spektakuler yang baru sekali dialaminya, begitu pun dengan saya. Saya sedot liang vaginanya yang masih perawan dan berwarna merah.
    “Oouhh.. Mass, Susy ngga powerful mass.. oohh.. aahh..” tiba-tiba tubuh Susy bergetar hebat, pantatnya bergerak ke atas dan bergetar keras.
    “Aaahh..” Susy menjangkau klimak yang kedua kalinya.
    Saya hisap seluruh cairan yang terbit dari lubang vaginanya.

    Mata Susy terpejam merasakan kesenangan yang ketiga kalinya. Tubuhnya benar-benar tidak berdaya dan pasrah. Tubuh kami tetap berdekapan dan kejantanan saya tetap di dalam kemaluannya.

    Besok paginya, Susy datang duluan dan saat saya masuk,
    “Selamat pagi Mas” dia memberi salam. Ah, senyumnya manis sekali,
    “Selamat pagi sayang”
    Saya hampiri dia dan kecup keningnya kemudian bibirnya. Dia menjawab ciuman tadi. Ah, estetis sekali hari ini. Susy masih PKL 2 minggu lagi.

    Perbuatan kami kemarin bukan menciptakan kami insyaf, kami berdua mengerjakan lagi di ruangan bos, di meja, di kursi, di balik pintu, dengan posisi berdiri atau doggie style, laksana yang pernah kami lihat di film BF.

    Terkadang Susy saya suruh membolos dan janjian di hotel. Kami tidak jarang melakukannya dari pagi sampai sore. Ternyata Susy orang yang hiperseks dan mudah terangsang.

    Benar-benar kesenangan yang tiada tara, kami tidak pernah menyesali. Setelah 2 minggu berlalu, mereka telah berlalu PKL, hubungan kami tetap berlanjut sampai akhirnya, dia di jodohkan oleh orang tuanya.

  • Cerita Sex Melayani Teman Demi Uang

    Cerita Sex Melayani Teman Demi Uang


    1304 views

    Perawanku – Cerita Sex Melayani Teman Demi Uang, Sakitku bukan fisik semata, tapi hatiku juga hancur lebur saat suami memaksaku melayani teman-temannya sebagai pelunas hutang-hutang judinya. Dion adalah suami yang menikahiku karena perjodohan. Orangtua dion adalah sahabat orang tuaku.

    Pernikahan itu sendiri memang berlangsung mewah untuk seukuran desaku. Orangtua dion adalah petani tembakau. dion anak kedua dari tiga bersaudara. dion bersekolah di kota Semarang sejak kecil hingga lulus SMU. Ratih namaku, Sejak kecil hingga tamat SMU aku bermukim di Salatiga.

    Orangtuaku nyaris tak pernah mengajakku bepergian, bahkan kota Semarang dan Yogyakarta kuketahui lewat wisata sekolah. di desa, aku digunjingkan sebagai perawan tua karena hingga usia 27 tahun aku belum juga mendapat jodoh.

    “Ratih, umurmu sudah tua, kok belum dapat jodoh juga. Kamu akan bapak jodohkan sama anak teman Bapak ya,” kata Bapakku suatu kali. “Inggih Pak, kulo nderek mawon,” jawabku menyetujui usulan Bapak.

    Dua bulan kemudian undangan pernikahanku sudah beredar, namun tak sekalipun aku bertemu dion, paling hanya lewat foto yang dibawa oleh Bapakku. “Dion belum bisa cuti kerja, nanti saja cutinya diambil sekalian hari pernikahan,” alasan Bapakku saat kutanya kenapa dion tak bertandang ke rumah kami. Kan aku ingin berkenalan dengan calon suamiku.

    Pernikahan kami berjalan lancar, tetamu banyak berdatangan membawa kado bermacam-macam, hampir sebagian besar alat rumah tangga. Kami juga menanggap wayang kulit, pertunjukan kesenian Jawa Tengah yang didalangi oleh Ki Bondo ahli pewayangan di desa kami. Pokoknya pernikahan kami meriah dan berkelas untuk ukuran desa kami.

    Malam usai pernikahan, dion tak menyentuhku. “Aku lelah, ngantuk. Aku meh turu,” tegasnya langsung tertidur. Aku hanya diam dan malu karena harus berbagi ranjang dengan pria yang baru kukenal tadi pagi saat akad nikah. Dalam diam kupandangi wajah dion, berwajah persegi empat, dengan rahang tegas, rambut sedikit berombak. Dengkuran kecil mengiringi tidur lelapnya.

    Hanya tiga hari dion di rumah, kemudian diajaknya aku ke kota Semarang menuju kediamannya. dion kontrak disebuah rumah kecil tanpa halaman dan mempunyai satu kamar tidur, satu ruang tamu, dapur sekaligus ruang makan dan satu kamar mandi. Cukuplah rumah itu bagi kami berdua. Sejak menikah praktis aku di rumah saja, dion berangkat kerja pagi dan pulang pukul tujuh malam. dion mengaku bekerja di perusahaan garmen, entah bagian apa.

    Baru dua bulan pernikahan, dion di PHK karena order garmen perusahaannya tempat bekerja mengalami kesulitan. Banyak pesanan yang datang dari Amerika dibatalkan, alasannya Amerika sedang dilanda krisis keuangan. Hal tersebut berdampak pada perusahaan tempat dion bekerja. dion bersikukuh tak mau pulang ke Desa.

    “Kita harus ke Jakarta, mengadu nasib di sana. Kita akan tinggal di rumah teman-teman saya. Pokoknya kamu diam dan ikut saya,” tegas dion meyakinkanku. Yang namanya istri ya nurut suami, apalagi aku tak bekerja, jadi tak ada alasan untuk menolaknya.

    di Jakarta kami tinggal di bilangan Tanjung Priok, menumpang di sebuah rumah kontrakan milik Eko, teman dion. di rumah tersebut hanya dion yang membawa istri, yang lain lajang. Yang tadinya dion perhatian dan terlihat mencintaiku kini mulai berubah. Apalagi sejak tiap malam dion bermain kartu dengan teman-temannya. Jika kuingatkan untuk tak berlama-lama bermain kartu, dion malah marah.

    “Tih, seharian aku berjalan kaki putar-putar cari lowongan kerja, tak satupun diterima. Aku hanya menghilangkan lelah dengan bermain kartu,” urainya. Aku terdiam dan rebahan di kamar menunggu dion.

    Hingga suatu hari dion mendadak masuk kamar dan mendekapku erat sambil berbisik “sayang, tolonglah suamimu ini. Aku kalah main kartu. Aku berusaha untuk mengalahkan Eko namun makin hari kekalahanku makin besar hingga lima juta. Jika tak kubayar kita akan diusirnya dari rumah ini, tolonglah aku Tih….”

    “Bagaimana bisa mas? Uang kita hanya tinggal tiga setengah juta, dan k upayakan untuk makan seirit mungkin agar mencukupi kebutuhan makan kita, Mas dion kan belum dapat kerja. Bagaimana mungkin kita membayarnya, dengan apa mas?” mulai terisak sekaligus kebingungan menerpaku.

    Ratih sayangku, kali ini mas benar-benar meminta tolong padamu, biarkan Eko tidur denganmu malam ini hingga besok pagi. Utang tersebut akan lunas,” papar dion. Aku tak mampu berkata-kata. Aku menangis lirih, tapi hanya inilah yang dapat membantu suamiku dari masalahnya. Aku mengangguk pelan menyetujui permintaannya.

    Malam itu, Eko masuk kamar, dan berdiam diri di sebelahku. “Bukan seperti ini Tih, bukan permintaanku Tih, tapi suamimu yang mengusulkan sebagai pelunas hutangnya. Aku tak bisa membiarkanmu terlibat dalam hutang suamimu, Ratih,” parau suara Eko.

    “Aku menyetujuinya kok Mas Eko, tapi besok pagi seluruh hutang mas dion lunas ya,” bisikku tak kalah parau. Entah siapa yang memulai, kami berpagutan dan saling menindih, berguling tanpa suara. Jujur saja, malam itu aku mendapat kenikmatan luar biasa yang diberikan oleh Mas Eko.

    Dengan tangannya, dengan lidahnya, Mas Eko memuaskanku. Subuh aku terbangun dan memintanya lagi dan Mas Eko memberiku kepuasan tak berkesudahan.

    “Mas dion, aku tak mau membahasnya. Aku sudah berkorban melunasi hutangmu, jangan bertanya-tanya lagi tentang tadi malam,” hardikku kesal kepada Mas dion saat dia menanyakan perihal yang kukerjakan tadi malam bersama Mas Eko.

    Ternyata, pembayaran hutang tersebut tak berhenti hingga disitu. Kawan-kawan Mas dion yang lain membujuk suamiku agar aku melayani hasratnya dengan bayaran satu juta semalam. Mas dion setuju karena hingga berbulan ini dia belum mendapat pekerjaan. Kami terjepit masalah ekonomi namun dengan cara ini kesulitan keuangan kami dapat teratasi sementara.

    Maka hampir setiap malam aku melayani teman-teman Mas dion yang kos di rumah kontrakan Mas Eko, aku menikmati belaian setiap pria tersebut. Aku menikmati cumbuan panas itu. Aku belajar bercinta dengan selusin pria. Dan tiap malam pria-pria tersebut meniduriku minimal dua kali. Aku mendapatkan uang yang cukup hingga mampu untuk pergi mencari kontrakan rumah sendiri.

    Setelah aku pindah rumah, aku tak lagi melayani jasa seksual pria hidung belang. Aku menjadi istri setia kembali, toh Mas dion sudah bekerja sekarang walaupun hanya sekedar supir pribadi seorang pengusaha China. Tapi gaji, bonus dan tunjangan kesehatannya cukup untuk menghidupi kami.

    Aku dan Mas dion tak sekalipun pernah membahas kejadian tersebut hingga kini. Kami melupakannya begitu saja.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Semua Gara-gara Gelang Kaki

    Semua Gara-gara Gelang Kaki


    1892 views


    SINOPSIS Cerita Ngentot ABG:

    Irzan digoda oleh Wida, kakak teman sekolahnya. Sampai kesabarannya habis…

    Story codes

    MF, 1st, cheat, Fdom

    DISCLAIMER Cerita Ngentot ABG:

    Perawan – Cerita ngentot ABG ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca oleh mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.

    Semua tokoh dalam cerita ngentot ABG  ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.

    Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.

    Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu. Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan.

    Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ngentot abg ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

    Diadaptasi dari beberapa sumber lain. Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda? Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com. Selamat membaca.

    Gelang Kaki

    Ninja Gaijin


    Cerita Ngentot ABG – Semua Gara-gara Gelang Kaki

    Apakah kalau cewek pakai gelang kaki, artinya cewek tersebut nakal? Gelang di pergelangan kaki Wida menarik perhatiannya dari tadi. Dia teringat obrolan teman-temannya di dalam kelas beberapa waktu lalu. Katanya kalau cewek sudah nikah tapi pakai gelang kaki di kanan itu artinya swinger. Yang lain tidak tahu apa arti swinger. Jadi teman yang bilang pertama kali menjelaskan, swinger itu artinya sudah nikah tapi mau gituan sama orang lain. Tukaran suami/istri. Anak-anak SMA itu sebagian melongo, sebagian lagi tertawa-tawa nakal. Dari dalam mobil itu, pemandangan terlihat gelap keruh karena kaca filmnya sangat gelap. Kalau ada orang lewat, dia tidak akan bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Tapi di tempat parkir yang sepi itu orang jarang lewat. Cuma ada dia dan Wida di dalam mobil. Wida membaca SMS yang masuk ke ponsel yang dipegang tangan kanannya. “Suamiku nanya kapan pulang. Aku jawab sebentar lagi. Kalau kamu sebentar lagi apa masih lama…”

    “…crotnya?”

    Dia mengenal Wida sebagai sosok perempuan high class, jadi mendengar Wida berbicara seperti pelacur murahan membuat penisnya yang dipegang tangan kiri Wida jadi makin keras. Wida mulai mengocoknya lebih cepat sambil menaruh HP. Dia melihat kilatan cincin kawin di tangan kanan Wida. Dia mengulurkan tangan, mau menyentuh tubuh Wida, tapi Wida menampar tangan itu.

    “Aku bilang kan tadi, jangan pegang-pegang…” kata Wida.

    Wida berhenti mengocok, membungkuk, membuka bibir merahnya, menjulurkan lidah. Setitik mani di lubang di kepala burung dijilatnya.

    “Kalau berani coba pegang lagi…” Wida menggenggam lagi HP-nya, “aku telpon suamiku, terus kubilang aku mau diperkosa sama kamu. Suamiku kenal polisi, dan tau kamu itu siapa. Ngerti, Irzan?”

    Dia, Irzan, menjawab dengan anggukan. Biarpun laki-laki, sebagai anak SMA wibawanya kalah dengan perempuan ini. Baru kali ini dia merasa terangsang sekaligus gentar.

    “Bagus,” kata Wida dengan puas sambil mulai mengocok lagi. “Kamu baru boleh nyentuh aku kalau kusuruh.” Dia lalu mengangkat tangan kanan ke depan mulut, memonyongkan sepasang bibirnya yang merah basah, dan meludah ke telapak tangannya. “Cuh!” Wida kembali mengocok penis Irzan. Terdengar bunyi becek dan Irzan merasa ada tekanan yang mulai terbentuk di dalam buah pelirnya. Dan dia cuma bisa bengong. Bengong melihat Wida memasturbasinya dengan tangan dan mulut Wida yang dekat sekali dari kejantanannya. Dan bibir indah itu pindah ke atas penisnya…

    Wida menjilat lagi mani yang menitik. Sambil terus mengocok.

    “Kita nggak punya banyak waktu, sebentar lagi Faisal datang ke sini. Jadi aku mau tanya langsung. Kamu mau masukin kontolmu ke dalam mulutku nggak?”

    Irzan kaget mendengar santainya Wida menanyakan itu. Dia menjawab terbata-bata, “I-i-iya.”

    Tampaknya Wida suka jawaban itu. Dia bangkit dan mendekatkan bibirnya ke telinga Irzan. Irzan merasakan nafas hangat Wida di telinganya selagi Wida berkata nakal, “Itu yang kamu bayangin ya Irzan? Kalau kamu ke rumahku buat ketemu Faisal? Pengen kusentuh kayak gini? Kontolmu dikocokin?” Irzan mengangguk, memang itu yang ada di dalam pikirannya sejak dia pertama kali bertemu kakak temannya itu. Wida adalah kakaknya Faisal, teman sekolahnya. Masih muda, baru 27.

    “Kamu pengen aku tempelin bibirku ke titit kamu? Pengen aku nelen batang kamu?” desis Wida di telinga Irzan.

    Lagi-lagi Irzan cuma bisa mengangguk.

    “Jawab yang benar, Irzan!” perintah Wida.

    “Iya!” sembur Irzan.

    “Iya apa?”

    “Iya… Kak Wida, tolong isep kontolku!”

    “Bagus. Gitu dong kalo jadi cowok, tegas, bilang apa yang dimauin. Satu lagi pertanyaannya. Jam berapa sekarang?”

    “Heh? Kok nanya waktu?” Irzan bingung tapi dia otomatis berusaha mencari jawabannya. Di mobil pasti ada jam digital. Dia menengok ke arah jam digital di dashboard lalu membaca angka-angka di sana.

    “Jam setengah tigGAAAHH!??”

    Wida tak menunggu jawaban dan langsung melahap kemaluan Irzan yang sedang membaca jam. Irzan menjerit kaget dan langsung menoleh ke bawah. Dan dia melihat pemandangan paling menakjubkan sepanjang hidupnya. Kepala penisnya dijepit bibir merah seksi Wida. Wida melepasnya lagi dan meninggalkan bekas lipstik di sana. Lalu Wida memasukkannya lagi dalam mulut, kali ini sampai setengah batang. Bibirnya mencengkeram erat lalu mulutnya mundur lagi. Hasilnya adalah noda merah seputar batang basah Irzan.

    “Mmmh… enak nggak Irzan?” Wida bertanya sambil menatap Irzan. Jawabannya anggukan. Wida kembali ke bawah dan kali ini mengenyot salah satu buah pelir Irzan. Disedot lalu dilepas seperti diludahkan. Kembali lipstiknya tertinggal di sana. Lalu Wida mulai menjilati seluruh permukaan batang Irzan. Tangannya menggenggam pangkal batang itu dan dia mulai menyepong. Bibirnya masih merah menyala, turun menyusuri batang, makin lama makin dekat dengan pangkal. Jarinya yang menggenggam pangkal batang ternoda merah ketika bertemu bibir itu. Di jari yang lain, cincin kawin tampak berkilat menyilaukan mata Irzan. Kepala Wida naik turun memberi kenikmatan. Irzan jadi berpikir macam-macam. Posisinya benar-benar rawan. Celananya terbuka, dan kakak temannya sedang menyepong kemaluannya. Apa yang bakal terjadi kalau ada orang yang memergoki? Tapi Irzan juga merasa dia makin tak tahan. Birahinya sudah mau meluap. Dia sedikit lagi muncrat dalam mulut Wida, dan tidak ada lagi yang dipikirkannya! Dia mulai mendesah tak karuan.

    “Agh… aah… Ungh… Ga… Tahaan!”

    Dan tiba-tiba Wida meremas penisnya yang sudah mau menembak itu!

    “Mau apa kamu, Irzan??” tantangnya.

    “NGHH!! KAK!! MAU!! CROT!!” Irzan meracau karena sudah lepas kendali.

    “Ayo crot di dalam mulutku Irzan! Crot-in mukaku! Bikin aku mandi peju!” Lalu Wida menyepong dengan ganasnya. Dia memasukkan seluruh batang itu ke mulutnya, lalu naik turun dengan cepat”

    “Aym crof ff dalmf! Crfin knfolm!” Kata-kata Wida tak kedengaran jelas lagi karena dia berusaha ngomong dengan mulut penuh.

    “Ah! Ahh!! Kak! Aku! GA TAHANNN! DI DALAM!!” Mendadak gelora kenikmatan melanda dan Irzan merasakan senjatanya mulai menembak gencar di dalam mulut Wida. Seluruh tubuh Irzan sampai melengkung dan mengejang ketika semburan demi semburan memancar kuat. Wida sepertinya menelan semuanya.

    “NGGHHHAAA!!” jerit Irzan.

    Wida mencengkeram pantat Irzan dan malah mendesakkan penis Irzan lebih jauh ke mulutnya. Semburan peju Irzan sepertinya terlalu banyak dan Wida tak cukup cepat menelannya, sehingga sebagiannya mengalir keluar. Wida lalu malah melepas kemaluan Irzan dari mulutnya dan mengocoki batang yang sedang menembak-nembak itu sambil menyemangati.

    “Ya! Ayo crot lagi! Mandiin aku pake peju!”

    Dan dua semburan berikutnya mendarat di wajahnya, lalu di rambutnya. Akhirnya semburan-semburan itu reda dan Wida menjilati sisa-sisa yang mengalir di batang Irzan. Cipratan peju ada di mana-mana, di wajah dan tangan Wida, termasuk di atas cincin kawinnya. Sesudah lega mengeluarkan simpanannya, Irzan menengok ke arah jam lagi. 15.00. Jam tiga! Dan Faisal sudah terlihat berjalan ke arah mobil bersama beberapa teman lain! Tapi Wida lebih gesit bertindak.

    “Ayo cepat pakai lagi celananya!” perintahnya, selagi dia sendiri menyambar tisu dan menyeka wajah. “Kalau sudah, cepat keluar!”

    Irzan buru-buru keluar dan bersembunyi. Tak lama kemudian Faisal, adik Wida, teman sekelasnya, sampai ke mobil Wida. Dari tempat persembunyiannya di balik semak, Irzan melihat Wida sudah bertingkah normal lagi. Dia melihat mobil itu pergi membawa Wida dan Faisal, lalu dia sendiri berjalan pulang. Di jalan, HP Irzan berbunyi. SMS. Dari Wida.

    “wiken ini jangan kemana2. jangan coli.”

    Irzan menelan ludah.

    *****

    Mundur sedikit ke belakang dalam waktu.

    Wida sebenarnya memang rada eksibisionis, jadi ketika Faisal adiknya mulai sering membawa teman-teman sekolahnya ke rumah, sisi eksibisionisnya terpancing. Meski belum tua-tua amat, Wida amat memperhatikan tubuhnya dan selalu merawat kecantikannya. Bukan demi suami; lebih karena dia sendiri menyukai kekaguman orang terhadap dirinya. Suatu hari, ketika teman-teman Faisal sedang ada di rumah, kebetulan Wida yang sedang hanya memakai kaos tanktop dan celana pendek mendekati mereka untuk menyuguhkan cemilan. Penampilannya itu membuat anak-anak SMA itu terdiam dari obrolan mereka dan melongo. Ketika Wida membungkuk untuk menaruh cemilan, dia melihat seorang teman Faisal yang berada di depannya tidak bisa tidak menatap dengan penuh nafsu ke arah buah dadanya yang menggantung di balik baju. Perempuan normal mestinya kaget dan marah tapi Wida merasa sesuatu yang beda. Dia malah berlama-lama membungkuk, memberi tontonan gratis kepada remaja itu. Dan dia memperhatikan, tanpa sadar tangan teman Faisal itu bergerak menyentuh selangkangan celananya sendiri. Sesudah selesai, Wida kembali ke kamarnya, mendapati kemaluannya basah karena terangsang, lalu bermasturbasi sampai orgasme. Teman Faisal itu adalah Irzan. Dan pengalaman pertama itu membuat Wida kecanduan, sehingga selanjutnya dia sering sengaja pamer tubuh kepada teman-teman Faisal. Suaminya biasanya tak di rumah ketika siang, jadi dia leluasa beraksi. Tiap dia melihat atau mendengar teman-teman Irzan sudah datang dan meramaikan rumah, cairan kewanitaannya terpancing mengalir. Lalu dia pun akan menuju lemari baju, memilih satu baju seksi yang mengumbar belahan dadanya atau paha mulusnya atau bagian lain tubuhnya. Tak lupa memakai make-up untuk menambah daya tariknya. Dan dia kemudian bakal mencari-cari alasan untuk berjalan ke tengah mereka, entah itu membawakan cemilan, minum, mengambil HP yang kebetulan ada di tempat mereka duduk, bicara dengan Faisal, atau semacamnya. Dia menikmati ketika ekspresi wajah mereka berubah mesum, lalu mereka terdiam malu-malu karena tak bisa menghindar dari memelototi keseksiannya.

    Sekali waktu, Wida berada di kamar saja, tidak menghampiri teman-teman Faisal. Tapi dia telanjang, duduk di depan meja rias dekat pintu, dan sengaja membuka pintu. Sebenarnya posisi pintu kamarnya tidak dekat dengan ruang tengah tempat Faisal dan teman-temannya biasa duduk, tapi kalau ada yang mau ke kamar mandi, pasti akan melewati pintu kamar Wida. Dari beberapa orang yang perlu ke kamar mandi, satu cukup iseng untuk mengintip ke celah pintu yang terbuka dan mendapat rezeki nomplok melihat tubuh telanjang Wida. Lagi-lagi, dia Irzan. Cukup lama Irzan berdiri termangu di depan pintu terbuka sampai Wida menengok ke arahnya, memergoki. Irzan yang ketahuan buru-buru kembali ke depan, diiringi tawa cekikikan puas Wida. Sesudahnya Wida menghampiri mereka dengan bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa, tapi dia sengaja memandangi Irzan dan melempar senyum mesum. Irzan serba salah. Malamnya Wida bercinta dengan suaminya sambil membayangkan teman-teman Faisal berdiri di seputar tempat tidur, menonton. Itu membuat dia orgasme duluan sebelum suaminya. Besok-besoknya, dia sempat menceletuk kepada teman-teman Faisal, terutama Irzan, bahwa dia sudah menganggap mereka adik-adiknya sendiri dan mereka “boleh mampir kapan saja” dan dia senang “bisa menghibur mereka”. Kata-kata bersayap, jaring yang ditebar. Mereka semua menyambut baik keramahan Wida itu. Tapi yang menanggapi serius hanya satu, Irzan.

    *****

    Kejadiannya dimulai pada suatu siang, ketika Irzan datang sendirian membawa sepeda motor ke rumah Faisal. Kebetulan Faisal pergi bersama teman-teman lain, tapi Irzan tidak tahu. Jadi dia hanya bertemu Wida.

    “Faisal barusan jalan main futsal sama yang lain,” kata Wida. “Mau nyusul?”“Nggak ah Kak, lagi males,” kata Irzan. “Yaudah, aku mau pulang aja ya.”

    “Eeeh tunggu, Irzan,” Wida menahan Irzan. “Kamu bawa motor kan? Kakak mau minta tolong boleh?”

    “Boleh Kak. Ada perlu apa nih?” Irzan sumringah.

    “Kakak sebenarnya mau ke salon, mau facial, tapi malas nyetir ke sana. Gimana kalau kamu yang nganterin Kakak ke sana pake motor?”

    “Apa sih yang ga bisa buat Kakak,” Irzan menggombal.

    “Kalau gitu tunggu sebentar ya.” Wida masuk kamar sebentar untuk bersiap, lalu keluar lagi.

    Dia mengenakan tanktop gombrong hitam dan celana pendek, lalu memakai jaket. Wajahnya tak dirias dan rambutnya digerai biasa. Lalu dia naik ke boncengan motor Irzan dan mereka berangkat. Sepanjang jalan Irzan tidak konsentrasi karena hidungnya diserang wangi tubuh dan parfum Wida yang terus merapat ke tubuhnya. Apalagi Wida tak segan-segan merangkul Irzan. Wida bilang Faisal baru mau pulang sore. Masih lama. Main futsal minimal 2 jam, belum istirahat makan-minum dan nongkrongnya. Dan Irzan terbuai nada suara Wida yang genit menggoda. Sampai di salon, Wida kemudian bertanya ke Irzan.

    “Mau pulang… apa kamu mau nungguin Kakak?”

    “…Aku tungguin aja deh kak, ga ada acara juga siang ini.”

    “Kamu baik deh. Nanti Kakak kasih hadiah~!” celetuk Wida genit sambil memasuki salon.

    Saat itu juga Irzan memperhatikan gelang kaki yang bergemerincing di pergelangan Wida.

    *****

    Salon yang didatangi Wida itu bukan salon kecil murahan. Menengah atas. Mungkin perawatan di sana bernilai ratusan ribu rupiah, pikir Irzan. Tidak heran, keluarga Faisal dan Wida tergolong mampu. Satu jam kemudian Wida keluar dari salon. Wajahnya kemerahan, bekas facial.

    “Lama ya nunggunya? Ayo kita pulang,” ajak Wida.

    Sepanjang perjalanan pulang, Irzan kembali merasa Wida merangkul erat tubuhnya. Dan rangkulannya… di perut. Seiring berjalannya motor, makin lama makin turun. Irzan terangsang dan ereksi. Mungkin Wida juga menyadari itu. Sesampainya di rumah, Wida meminta Irzan jangan langsung pergi. Faisal dan teman-teman yang lain belum muncul.

    “Ada yang mau Kakak tanya, tapi tunggu sebentar ya? Duduk aja dulu.”

    Irzan kemudian duduk sendirian di ruang tengah rumah besar itu, sementara Wida menghilang ke kamarnya. Tak lama kemudian Wida kembali lagi membawa beberapa barang tipis.

    “Kamu tahu ini apa kan?” Wida duduk di sebelah Irzan dan menunjukkan beberapa DVD yang sampulnya bergambar perempuan seksi.

    “Ehm… iya?” Irzan bingung.

    “Ini Kakak sita dari Faisal. Tapi dia bilang ini punya temannya. Punya kamu bukan?”

    “Bukan… Ga tau punya siapa. Punya Putra atau Endi kali’?” kata Irzan. “Yang paling suka beginian tuh anak dua.”

    “Udah mulai nakal ya kalian… Emangnya apa sih yang ditonton dari filem kayak gini? Kakak pengen tau. Ayo kita lihat.”

    “Hah? Eh tapi Kak Wida…”

    Koleksi Cerita Ngentot ABG | Sebelum Irzan bereaksi, Wida sudah menyalakan DVD player dan memasukkan salah satu DVD porno itu. Sebenarnya DVD itu bukan diambil dari Faisal, melainkan koleksi Wida dan suaminya. Wida memang mau mengerjai Irzan. Irzan mau bangun untuk pergi, tapi Wida memegangi lengannya. Jadilah dia terpaksa ikut menyaksikan. Irzan sendiri belum pernah melihat film porno yang sedang tayang di layar TV itu, walaupun dia sudah familiar dengan materi pornografi.

    “Waah, ternyata kalian sukanya yang kayak gini yaa… Yang ceweknya lebih tua?”

    Film yang ditayangkan memang berskenario seperti itu, aktris pornonya berperan sebagai ibu rumah tangga yang menggoda teman anaknya. Meski tidak muda, si aktris tetap tampak glamor dan seksi dengan rambut pirang, kalung mutiara, bra berenda, dan lipstik pink tebal. Dan Irzan baru memperhatikan bahwa bibir Wida sudah bersaput lipstik pink juga. Di TV, bibir berwarna sama sedang mengulum penis. Irzan merasa kemaluannya sendiri mengeras dan… digerayangi.

    “Hmmm…” gumam Wida. “Kok ini jadi keras…? Gara-gara nonton itu ya?”

    “Uhhh… Kak…” Irzan tidak berani berbuat apa-apa ketika Wida membuka resleting celananya.

    Tangan Wida terus beraksi menurunkan celana dalamnya dan akhirnya kulit bertemu kulit, tangan bertemu batang. Irzan seperti kesetrum ketika merasakan itu. Elusan tangan Wida menggodanya.

    “Dasar cowok… Zan, kamu pernah coli nggak~?” tanya Wida nakal.

    “Ngh… per… nah…” Irzan menjawab sambil menahan nafsu. Wida terus menggodanya.

    “Kalau dicoli’in?”

    “Be… bel… lum…”

    Tayangan film porno menampilkan si aktris menerima ejakulasi lawan mainnya di wajah.

    “Kamu lihat kan… tuh dia dicoli’in sama ibunya temennya… Tante-tante aja bisa bikin ngaceng kayak gitu… Kamu ngaceng juga ngelihat dia?…”

    Irzan sudah meracau tak jelas.

    “Kamu ngaceng ngelihat aku?”

    “NGHHH!!” Jawabannya adalah semburan mani yang hebat dari kejantanan Irzan.

    Irzan jelas merasa keenakan dengan orgasme itu. Sekaligus bingung dan sedikit takut. Tapi yang terlihat lebih puas adalah Wida.

    “Iihh. Banyak dan kentel peju kamu. Pasti udah lama gak crot.”

    Irzan cuma melongo bego. Wida memain-mainkan cairan kental yang mengotori jarinya itu, bahkan menjilatnya.

    “Enak?” tanya Wida.

    “Iiyah,” jawab Irzan pendek.

    “Mau lagi?”

    “…” Irzan tidak berani menjawab yang itu.

    “Kalau kamu mau lagi, mulai sekarang kamu harus ikut apa kata Kakak ya. Sekarang… cepat pulang. Faisal pasti sebentar lagi datang. Ayo sana!”

    Irzan buru-buru membetulkan pakaiannya dan bergegas keluar. Wida mengantarnya keluar dengan senyum nakal.

    ######

    Sesudah itu, Irzan dan Wida beberapa kali lagi bertemu berduaan saja, paling sering di rumah Wida sendiri, kalau sedang tak ada orang. Irzan sendiri tetap nongkrong bareng Faisal dan Wida tetap kadang tampil di depan mereka, tapi tidak ada yang tahu hubungan mereka. Yang dilakukan tetap sebatas Wida memasturbasi Irzan, dengan tangan, dan satu kali dengan kaki. Adegan di atas, pada waktu Wida mau menjemput Faisal dengan mobil dan Irzan menemuinya, adalah pertama kalinya Wida memberi oral seks kepada Irzan. Mereka berdua belum pernah berhubungan seks biasa. Walaupun Irzan penasaran dan dia sudah berkali-kali digoda oleh Wida, kakak temannya itu selalu membuatnya tak berdaya dan tak mampu meminta lebih. Namun lama-lama Irzan gemas juga. Makin hari dia makin ingin melampiaskan nafsunya kepada perempuan penggoda itu.

    *****

    Kejadiannya pada suatu siang. Irzan bersimbah keringat dingin. Di depannya, Wida akhirnya berhenti meronta dan telentang pasrah. Pergelangan tangannya terikat, wajahnya terlihat gentar.

    “Kamu kenapa gini, Zan… Kenapa kamu giniin Kakak?” tanya Wida.

    Saat itu kakak teman Irzan itu mengenakan babydoll tipis. Irzan mengangkang di atas paha Wida yang terbaring di ranjangnya.

    “Kenapa? Kakak ga pernah berhenti godain aku… Aku sudah ga tahan!” seru Irzan gusar.

    Tangannya menjamah payudara kanan Wida dan meremasnya. “Sekarang Kakak ga bisa ngelarang aku lagi…”

    Tadi, ketika dia baru datang, seperti biasa Wida menggoda dan mempermainkannya… tapi kali ini muncul keberaniannya untuk melawan dan meringkus Wida. Irzan lebih besar dan kuat, jadi tidak sulit untuknya. Dia juga menemukan tali yang dipakainya mengikat kedua pergelangan tangan Wida ke ranjang.

    “Sekarang kita main semauku,” kata Irzan dingin.

    Dia menyingkap baju Wida, mengungkap sepasang payudaranya. Lalu dia sendiri memelorotkan celana dan memamerkan penis ereksinya di depan mata Wida yang melotot.

    “Ayo Kak. Kakak suka kontolku kan?” suruh Irzan. Dia merangsek maju, mencengkeram kepala Wida, dan memaksa Wida mengoral kemaluannya.

    “Ah? Afhmmm!!” keluh Wida yang tiba-tiba mesti melahap rudal.

    “Sekarang ayo isep kontolku! Enak kan Kak? Enak?” seru Irzan, puas.

    “Ahpf! Nn!!” Mata Wida sampai berkaca-kaca karena kasarnya sodokan Irzan.

    Tiba-tiba Wida merasa jari-jari Irzan merambah kemaluannya. Mereka berdua cukup sering nonton film porno bersama sehingga Irzan sekarang tahu berbagai macam aksi seks.

    “Kakak dientot bibirnya kok memeknya basah? Suka ya dibegini’in?” tuduh Irzan. “Kalau gitu pasti suka minum peju juga kan? HnghhH!!”

    Penis Irzan meledak dalam mulut Wida, menyemburkan cairan peju. Sampai tumpah sebagian keluar, barulah Irzan menarik keluar kejantanannya dari sana.

    “Ehh… Auh…” Wida mengambil nafas.

    Tapi Irzan belum puas, dia melihat ada satu lagi tempat untuk melampiaskan nafsunya.

    “Kak Wida,” kata Irzan, “Yang di bawah itu pengen dimasukin juga ya?”

    Dia menarik Wida supaya berposisi duduk lalu pindah ke belakang Wida. Dia sudah cukup sering disuruh-suruh Wida dan dia ingin membalas. Kini tangan kanannya merogoh ke selangkangan Wida dan mencubiti klitoris Wida. Tangan satunya lagi memegangi ikatan tangan Wida agar tak menghalangi.

    “Kalau Kak Wida mau, ayo bilang. Bilang Kak Wida pengen.

    “Oh! Ooh! Ihh!” Wida mengerang-erang keenakan karena klitorisnya dimainkan.

    “Mauuhh… ihh… uhh…” pinta Wida.

    “Bilang yang jelas… Yang keras!” perintah Irzan.

    “Masukin… masukin kontolmu ke memek Kakak…” kata Wida.

    Cerita Ngentot ABG | Irzan langsung mendorong Wida sehingga berposisi nungging. Di belakang pantat yang menggoda itu Irzan menahan nafas, memegangi penisnya yang keras… Dia sudah cukup sering menonton di film, sekarang dia akan mencobanya sendiri. Zrepp…Irzan merasakan hangat basahnya liang kewanitaan Wida untuk pertama kali. Perempuan itu merintih-rintih ditusuk kejantanan Irzan dari belakang, dan Irzan memasukinya makin dalam sampai tak bisa maju lagi. Lalu dia mulai menggenjot.

    “Ahn! Ah! Enak…!” Wida jelas-jelas menikmati perlakuan Irzan, biarpun sebenarnya dia dipaksa oleh Irzan. “Dalem banget… zan! Enakh…! Ah!”

    “Kakak suka kan?! Ngentot sama aku enak kan!” kata Irzan dengan gemas sambil dia menancap-nancapkan senjatanya ke liang kenikmatan itu.

    “Ahh! Iyaa! Suka! Suka kontol Irzaann!” Wida sudah menyerahkan tubuhnya untuk diapakan saja oleh teman adiknya itu. “Enak! Nghh! Aduh ga tahan! Mau… mauu…”

    “AA~HHH!!” Jerit panjang Wida dan tubuhnya yang menegang karena orgasme lalu bergetar mengagetkan Irzan, yang kemudian kehilangan kendali juga dan ikut berorgasme di dalam vagina Wida.

    *****

    “Hmm!” Wida yang bangkit lebih awal sesudah keduanya ambruk kelelahan, wajahnya terlihat ceria. Irzan bingung.

    “Hihihi, nggak kira kamu bisa kasar juga akhirnya! Tau nggak, enak tuh dientot paksa kayak tadi. Pancinganku berhasil juga,” kata Wida. Irzan bengong. Rupanya selama ini Wida memancing-mancing dia supaya dia tak tahan dan berbuat kelewatan.

    “Kapan-kapan kamu harus bisa ganas seperti tadi ya Zan?” kata Wida sambil mencium pipi Irzan dengan genit.

    Irzan cuma bisa melengos. Pada akhirnya dia tetap jadi mainan…

  • Cerita Sex Hari Yang Kelam Bagi Merry Si Mahasiswi Judes – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Hari Yang Kelam Bagi Merry Si Mahasiswi Judes – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1416 views

    Perawanku – Minggu siang itu udara Jakarta panas sekali. Sebuah metromini masih ngetem di depan sebuah gedung di Jakarta utara, menunggu penumpang. Meski kesal, para penumpang terpaksa bersabar.

    Tak lama, masuk seorang pemuda preman. Sebut saja namanya Joni. Dengan mulut bau minuman, dia lantas beraksi di depan para penumpang metromini. “Siang bapak-ibu, langsung aja, saya minta duit recehnya 500 atau 1000 perak. Receh buat anda, berharga buat saya!”.

    Joni lantas menadahkan tangannya ke tiap penumpang. Ada yang ngasih, ada yang cuma melambaikan tangan. Di pojok, seorang mahasiswi asyik dengan handphonenya sehingga dia tidak sadar kalau Joni sudah di depannya dan menadahkan tangan.

    “Mbak! recehnya dong!” kata Joni sambil nyolek mahasiswi itu.

    “Ih apaan sih! Ga ada!” kata mahasiswi yang kita sebut saja Merry itu sambil sebal. Dia lantas bangkit dan pindah duduk ke bangku depan.

    Joni melotot. Dalam hatinya dia ngedumel “Sialan lo! awas lo ya!”. Biasanya langsung turun, Joni kali ini tetap di dalam metromini, duduk sambil agak sembunyi di bangku belakang.

    Metromini berjalan lagi. Saat sampai di depan sebuah mal besar, metromini berhenti. Beberapa penumpang turun termasuk Merry. Dia tidak sadar kalau Joni ikut turun dan membuntuti agak jauh di belakang.

    Merry keluar-masuk beberapa toko di dalam mal, sedangkan Joni memperhatikannya terus. Selang beberapa saat, Joni melihat Merry berjalan ke arah WC. “Ini die kesempatan gue. Awas lo ya!” kata Joni dalam hati.

    Sambil celingak-celinguk, Joni memperhatikan sekeliling. Kebetulan WC itu berada di pojok gedung dan suasana sepi. Dia melihat Merry sudah masuk ke dalam WC perempuan.

    Joni segera ikut masuk setelah melihat tidak ada penjaga di situ. Dia lalu mengganjal pintu masuk dengan bangku di situ supaya tidak ada yang bisa masuk lagi. Dia kemudian bersembunyi di sebuah kamar toilet yang kosong sambil mendengarkan Merry yang sedang buang air.

    Joni mendengar pintu toilet tempat Merry berada terbuka. Pelan-pelan dia mengintip dan melihat Merry sudah keluar dan kini sedang berada di depan kaca sambil membetulkan roknya.

    “Ini die saatnya!” kata Joni. Dengan cepat dia keluar dari toilet lalu berlari ke belakang Merry, memiting lehernya lalu membantingnya ke lantai. Merry yang tidak tahu bakal diserang menjadi kaget. Dia mencoba bangun tapi Joni segera memukul wajahnya dan perutnya. Buk! Buk!

    Saking kerasnya pukulan, Merry langsung mengerang kesakitan. Joni tidak tanggung-tanggung lagi. Dia segera menyibakkan rok yang dipakai Merry, langsung menarik celana dalam putih yang dipakai mahasiswi itu. “Awas lo ****** lo!” kata Joni dengan ganas.

    Joni lantas menindih Merry, tangannya berusaha membuka paha Merry lebar-lebar. Merry yang masih kesakitan berusaha menangkis tapi tidak kuat melawan Joni yang sudah nafsu. Dengan terburu-buru, Joni lalu membuka retsleting celananya dan memperosotkan celananya. Kontolnya yang sudah tegang langsung keluar.

    Sambil tangan kanannya memegang kedua tangan Merry, Joni memakai tangan kirinya untuk mengarahkan kontolnya ke arah vagina mahasiswi itu. Merry mulai menangis tapi langsung ditampar Joni. Joni mulai mencoba memasukkan kepala kontolnya tapi masih susah karena lobang vagina Merry kecil dan masih kering. “****** lo!” sumpah Joni lagi sambil membuang ludah yang kemudian dipakai membasahi kontolnya.

    Kali ini kepala kontolnya mulai bisa masuk. Joni lantas mengangkat kedua kaki Merry supaya dia lebih leluasa beraksi. Merry terus menangis dan mengerang, tapi tidak bisa apa-apa karena tangannya dipegangi. Dengan sekuat tenaga Joni mencoba memasukkan batang kontolnya dan kali ini mulai masuk.

    Joni merasa ada sesuatu yang menghalangi. “Ini die perawan asli!” kata Joni dalam hati sambil ketawa-ketawa. Dia agak mencabut keluar kontolnya, lalu dengan sekuat tenaga mendorong kontolnya sejauh-jauhnya ke dalam vagina Merry. Slep! Srot! Selaput dara Merry pecah!

    “Aaa..huhuhuhuh!” jerit Merry yang kesakitan setelah selaput daranya pecah ditembus ****** Joni. Perlahan darah kental mulai keluar dari lobang vaginanya, membasahi lantai WC.

    Joni masih terengah-engah, kontolnya keluar-masuk vagina Merry. Peluh Joni menetes membasahi muka mahasiswi yang terus menangis. “Rasain lo ******!” kata Joni sambil kembali menampar perempuan manis itu.

    Karena sudah tidak tahan lagi, Joni segera mengangkat kaki Merry lebar-lebar, lalu sambil mengeden keras, dia segera mengucurkan seluruh air maninya di dalam vagina perempuan itu. “Aaah…!” kata Joni sambil mengeden menahan kenikmatan.

    Joni terdiam sejenak. Seluruh kenikmatan itu membuat badannya bergetar. di bawah badannya, Merry masih mengguguk menangis kesakitan.

    Perlahan Joni bangun, mengusap kepala kontolnya yang masih berlumur darah dengan celana dalam Merry. Lantas celana dalam itu dilemparkannya ke muka perempuan itu. “Nih rasain lo ******!”

    Joni lantas memakai kembali celananya dan perlahan sambil celingak-celinguk melihat keluar dari pintu WC. Aman, tidak ada orang lain. Dia segera sedikit berlari keluar dari mal itu dan lantas mencegat sebuah metromini untuk kembali ke tempat nongkrongnya.

    Merry sendiri perlahan bangkit dari lantai WC. Vaginanya perih sekali. Dia menangis lalu berusaha bangkit sambil berpegangan ke dinding WC. Darah masih mengalir dari vaginanya dan jatuh ke paha. Dengan terseok-seok Merry kembali masuk toilet dan menggunakan celana dalamnya untuk membersihkan diri. Sungguh hari itu menjadi hari kelam baginya.

  • Cerita Sex Ngentot Di Ujung Kampus

    Cerita Sex Ngentot Di Ujung Kampus


    972 views

    Perawanku – Cerita Sex Ngentot Di Ujung Kampus, Pengalamankoe yg satoe ini terjadi sewaktoe masiih koeliiah semester empat, kiira-kiira empat tahoen yg laloe. Saat iitoe aqoe haroes mengambiil seboeah mata koeliiah oemoem yg belom koeambiil, yaiitoe kewiiraan. Kebetoelan saat iitoe aqoe kebagiian class dgn faqoeltas siipiil, sedikit jaoeh darii gedoeng faqoeltaskoe, di sana mahasiiswanya mayoriitas laki laki priiboemii, wanitanya hanya enam orang termasoek aqoe. Tak heran aqoe seriing menjadi poesat perhatiian laki laki-laki laki di sana, beberapa bahkan seriing coerii-coerii pandang mengiintiip badankoe kalo aqoe sedang memakaii costoem yg menggoda, aqoe siih soedah terbiiasa dgn tatapan-tatapan binal sepertii ini, terlebiih lagii aqoe joega cenderoeng eksiibiisiioniis, jadi aqoe siih coeek-coeek aja.

    Harii iitoe mata koeliiah yg bersangkoetan ada koeliiah tambahan kerana dosennya beberapa kalii enggak masoek karena siiboek dgn koeliiah S3-nya. Koeliiah diadakan pada jam liima sore. Sepertii biiasa kalo koeliiah tambahan pada jam-jam sepertii ini saatnya lebiih cepat, satoe jam saja soedah boebar. Akan tetapi bagaiimanapoen saat iitoe langiit soedah gelap hiingga di campoes hampiir enggak ada lagii mahasiiswa yg nongkrong.
    Keloear darii class aqoe terlebiih doeloe ke kamar mandi yg hanya berjarak empat roeangan darii class ini oentoek boeang aiir keciil sejenak, serem joega niih sendiriian di WC campoes malam-malam begini, tapii aqoe segera menepiis segala baygan menaqoetkan iitoe. Sesoedah coecii tangan aqoe boeroe-boeroe keloear menoejoe liift (di tiingkat liima). Sewaktoe menoenggoe liift aqoe terkejoet kerana ada yg menyapa darii belakang. Ternyata mereka adalah tiiga orang mahasiiswa yg joega seclass dgnkoe tadi, yg tadi menyapaqoe aqoe tahoe orangnya kerana pernah doedoek di sebelahkoe dan mengobrol sewaktoe koeliiah, namanya Hardi, badannya koeroes tiinggii dan beramboet jabriik, moekanya jaoeh darii tampan dgn biibiir tebal dan mata besar. Sedangkan yg doea lagii aqoe enggak iingat namanya, hanya tahoe tampang, belakangan aqoe tahoe yg ramboetnya gondrong dikoenciir iitoe namanya Jamblank dan satoenya lagii yg moekanya miiriip Arab iitoe namanya Ramelan, badannya lebiih beriisii dan kekar dibandingkan Hardi dan Jamblank yg lebiih miiriip pemakaii narkoba.
    “Kok baroe toeroen sekarang Ciit?” sapa Hardi berbasa-basii.
    “Abiis darii WC, loe orang joega ngapaiin doeloe?” jawabkoe.
    “Biiasalah, ngerokok doeloe bentar” jawabnya.
    Liift terboeka dan kita masoek bersama, mereka berdirii mengeliiliingiikoe sepertii mengepoengkoe hiingga jantoengkoe jadi deg-degan merasakan mata mereka memperhatiikan badankoe yg terboengkoes rok poetiih darii bahan katoen yg menggantoeng di atas dengkoel serta kaos piink dgn aksen poetiih tanpa lengan. Walaoe demiikiian, teroes terang gaiirahkoe terpiicoe joega dgn soeasana di roeangan keciil dan dgn dikeliiliingii para priia sepertii ini hiingga rasa panas moelaii menjalarii badankoe.
    “Langsoeng poelang Ciit?” tanya Jamblank yg berdirii di sebelah kiiriikoe.
    “Hemm” jawabkoe siingkat dgn anggoekan kepala.
    “Jadi oedah gak ada kegiiatan apa-apa lagii dong sesoedah ini?” sii Hardi meniimpalii.
    “Ya giitoelah, paliing nonton di roemah” jawabkoe lagii.
    “Wah kebetoelan.. Kalo giitoe loe ada saat sebentar boeat kiita dong!” sahoet Jamblank.
    “Eh.. Boeat apa?” tanyaqoe lagii.
    Sebelom ada jawaban, aqoe soedah dikagetkan oleh sepasang tangan yg memeloekkoe darii belakang dan sepertii soedah diberii aba-aba, Ramelan yg berdirii dekat tombol liift menekan seboeah tombol sehiingga liift yg sedang menoejoe tiingkat doea iitoe terhentii. Tas jiinjiingkoe sampaii terlepas darii tangankoe kerana terkejoet.
    “Heh.. Ngapaiin loe orang?” oejarkoe paniik dgn sedikiit rontaan.
    “Hehehe.. Ayolah Ciit, haviing foen dikiit kenapa? Stress kan, koeliiah sehariian gini!” oecap Hardi yg mendekapkoe dgn nafas menderoe.
    “IIya Ciit, di siipiil kan gersang wanita niih, jarang ada wanita kaya lo gini, loe bantoe hiiboer kiita dong” tiimpal Ramelan.
    Srr.. Sesosok tangan menggerayg masoek ke dalam rok minikoe. Aqoe tersentak sewaktoe tangan iitoe menjamah pangkal pahaqoe laloe moelaii menggosok-gosoknya darii loear.
    “Eengghh.. Koerang ajar!” oejarkoe lemah. Aqoe sendirii sebenarnya mengiingiinkannya, akan tetapi aqoe tetap berpoera-poera joeal mahal oentoek menaiikkan derajatkoe di depan mereka.
    Mereka menyeriingaii mesoem meniikmatii ekpresii wajahkoe yg soedah terangsang. Ramboetkoe yg dikoenciir memoedahkan Hardi menciioemii leher, teliinga dan tengkoekkoe dgn ganas sehiingga Birahikoe naiik dgn cepat. Ramelan yg tadinya hanya meremasii dadaqoe darii loear kini moelaii menyiingkap kaoskoe laloe mangkok bra-koe yg kanan dia toeroenkan, maka menyemboellah boeah dada kanankoe yg nampak lebiih mencoeat kerana masiih disangga bra. Diletakkannya telapak tangannya di sana dan meremasnya pelan, kemoedian kepalanya moelaii meroendoek dan liidahnya koerasakan menyentoeh oejoeng pentilkoe.
    Sembari menyoesoe, tangannya aktiif mengeloesii paha moeloeskoe. Tanpa koesadarii, celana dalamkoe kini soedah merosot hiingga ke dengkoel, bokong dan kemaloeankoe terboeka soedah. Jarii-jarii Jamblank soedah memasoekii kemaloeanqoe dan menggeliitiik bagiian dalamnya. Badankoe menggeliinjang dan mendesah saat jariinya menemoekan kliitoriiskoe dan menggesek-gesekkan jariinya pada dagiing keciil iitoe.
    Aqoe merasakan sensasii gelii yg loear biiasa sehiingga pahaqoe merapat mengapiit tangan Jamblank. Rasa gelii iitoe joega koerasakan pada teliingaqoe yg sedang dijiilatii Hardi, hemboesan nafasnya memboeat ramboet koedoekkoe meriinding. Tangannya menjalar ke dadaqoe dan mengeloearkan boeah dadakoe yg satoe lagii. Diremasiinya boeah dada iitoe dan oejoeng pentilnya dipiiliin-piiliin, kadang dipencet ato digesek-gesekkan dgn jariinya hiingga menyebabkan benda iitoe semakiin membengkak. Badankoe serasa lemas tak berdaya, pasrah membiiarkan mereka menjarah badankoe.
    Meliihatkoe semakiin pasrah, mereka semakiin menjadi-jadi. Kini Ramelan memagoet biibiirkoe, biibiir tebal iitoe menyedot-nyedot biibiirkoe yg moengiil, liidahnya masoek ke moeloetkoe dan menjiilatii rongga di dalamnya, koebalas dgn menggerakkan liidahkoe sehiingga liidah kita saliing jiilat, saliing hiisap, sementara tangannya soedah meremas bongkahan bokongkoe, kadang jarii-jariinya menekan doeboerkoe. Tonjolan keras di baliik celana Hardi terasa menekan bokongkoe. Secara refleks aqoe menggerakkan tangankoe ke belakang dan meraba-raba tonjolan yg masiih terboengkoes celana iitoe.
    Boeah dada kanankoe yg soedah ditiinggalkan Ramelan jadi basah dan meniinggalkan bekas giigiitan kini beraliih ke tangan Hardi, dia keliihatan senang sekalii memaiinkan oejoeng pentilkoe yg sensiitiif, setiiap kalii dia pencet benda iitoe dgn sedikit keras badankoe menggeliinjang disertaii desahan. Sii Jamblank malah soedah memboeka celananya dan mengeloearkan kemaloeannya yg soedah tegang. Masiih sembari berciioeman, koegerakkan mataqoe memperhatiikan miiliiknya yg panjang dan berwarna gelap tapii diameternya enggak besar, ya sesoeaiilah dgn badannya yg kerempeng iitoe.
    Diraiihnya tangankoe yg sedang meraba selangkangan Hardi ke kemaloeannya, koegenggam benda iitoe dan koerasakan getarannya, satoe genggamankoe enggak coekoep menyeloeboengii benda iitoe, jadi oekoerannya kiira-kiira doea genggaman tangankoe.
    “Ini aja Ciit, kemaloean goea kedingiinan niih, tolong hangatiin dong!” piintanya.
    “Ahh.. Eemmhh!” desahkoe sembari mengambiil oedara begiitoe Ramelan melepas coemboeannya.
    “Goea joega maoe dong, oedah gak tahan niih!” oejar Ramelan sembari memboeka celananya.
    Wow, sepertiinya dia memang ada darah Arab, soalnya oekoerannya biisa dibiilang menakjoebkan, panjang siih enggak beda jaoeh darii Jamblank tapii yg ini lebiih beroerat dan lebar, dgn oejoengnya yg disoenat hiingga menyeroepaii helm tentara. Jantoengkoe jadi tambah berdegoep membaygkan akan ditoesoek olehnya, beranii taroehan poenya sii Hardi joega pastii kalah dariinya.
    Hardi melepaskan dekapannya padaqoe oentoek memboeka celana, saat iitoe Ramelan menekan bahoekoe dan memiintaqoe berdengkoel. Aqoe poen berdengkoel kerana kakiikoe memang soedah lemas, kedoea kemaloean terseboet bagaiikan piistol yg ditodongkan padaqoe, enggak.. boekan doea, sekarang malah tiiga, kerana Hardi joega soedah mengeloearkan miiliiknya. Benar kan, geloraBirahi.com miiliik Ramelan memang paliing besar di antara ketiiganya, diboeah dadal Hardi yg lebiih beriisii dariipada Jamblank. Mereka bertiiga berdirii mengeliiliingiikoe dgn senjata yg mengarah ke wajahkoe.
    “Ayo Ciit, jiilat, siiapa doeloe yg maoe loe serviis”
    “Yg goea aja doeloe Ciit, dijamiin goee banget!”
    “Ini aja doeloe Ciit, goea poenya lebiih gede, pastii poeas deh!”
    Demiikiian mereka saliing menawarkan kemaloeannya oentoek mendapat serviis dariikoe sepertii sedang kampanye saja, mereka menepoek-nepoek miiliiknya pada wajah, hiidoeng, dan biibiirkoe sampaii aqoe kewalahan menentoekan piiliihan.
    “Adoeh.. IIya-iiya sabar dong, semoea pastii kebagiian.. Kalo gini teroes goea joega biingoeng dong!” kataqoe sewot sembari menepiis senjata mereka darii moekaqoe.
    “Wah.. Marah niih, ya oedah kiita biiariin Ciitra yg miiliih aja, demokratiis kan?” kata Jamblank.
    Sesoedah koetiimbang-tiimbang, tangan kiiriikoe meraiih kemaloean Jamblank dan yg kanan meraiih miiliik Ramelan laloe memasoekkannya pelan-pelan ke moeloet.
    “Weh.. Siialan loe, goea hanya kebagiian tangannya aja!” geroetoe Jamblank pada Ramelan yg hanya ditanggapiinya dgn nyengiir tanda kemenangan.
    “Wah goea kok gak diserviis Cii, giimana siih!” Hardi protes kerana merasa diabaiikan olehkoe.
    Sebenarnya boekan mengabaiikan, tapii aqoe haroes memakaii tangan kanankoe oentoek menoentoen kemaloean Ramelan ke moeloetkoe, sesoedah iitoe baroelah koegerakkan tangankoe meraiih kemaloean Hardi oentoek menenangkannya. Kini tiiga kemaloean koekocok sekaliigoes, doea dgn tangan, satoe dgn moeloet.
    Liima belas meniit lewat soedah, aqoe gantii mengoral Hardi dan Ramelan kini meneriima tangankoe. Tak lama kemoedian, Jamblank yg iingiin mendapat keniikmatan lebiih dalam melepaskan kocokankoe dan piindah berdengkoel di belakangkoe. Kaiitan bra-koe diboekanya sehiingga bra tanpa talii poendak iitoe terlepas, begiitoe joega celana dalam hiitamkoe yg masiih tersangkoet di kakii ditariiknya lepas. Liima meniit kemoedian tangannya menggeraygii boeah dada dan kemaloeanqoe sembari menjiilatii leherkoe dgn liidahnya yg panas dan kasar. Bokongkoe dia angkat sedikiit sampaii sedikit menoenggiing.
    Kemoedian aqoe menggeliiat sewaktoe koerasakan hangat pada liiang kemaloeanqoe. Kemaloean Jamblank soedah menyentoeh kemaloeanqoe yg basah, dia enggak memasoekkan semoeanya, hanya sebagiian darii kepalanya saja yg digeseknya pada biibiir kemaloeanqoe sehiingga meniimboelkan sensasii gelii saat kepalanya menyentoeh kliitoriiskoe.
    “OEhh.. Nakal yah loe!” kataqoe sembari menengok ke belakang.
    “Aahh..!” jeriitkoe keciil kerana selesaii berkata demiikiian Jamblank mendorong piinggoelnya ke depan sampaii benda iitoe amblas dalam liiang kemaloeanqoe.
    Dgn tangan mencengkeram boeah dadakoe, dia moelaii menggenjot badankoe, kemaloeannya bergesekan dgn dinding kemaloeanqoe yg bergeriinjal-geriinjal. Aqoe enggak biisa enggak mengerang setiiap kalii dia menyodokkoe.
    “Heii Ciit, yg goea jangan ditiinggaliin niih” sahoet Hardi seraya menjejalkan kemaloeannya ke moeloetkoe sekaliigoes meredam erangankoe.
    Aqoe semakiin bersemangat mengoral kemaloean Hardi sembari meniikmatii sodokan-sodokan Jamblank, kemaloean iitoe koehiisap koeat, sesekalii liidahkoe menjiilatii ‘helm’nya. Joeroeskoe ini memboeat Hardi bliingsatan tak karoean sampaii dia menekan-nekan kepalaqoe ke selangkangannya. Kocokankoe terhadap Ramelan joega semakiin dahsyat hiingga desahan ketiiga priia ini memenoehii roeangan liift.
    Tekniik oralkoe dgn cepat mengiiriim Hardi ke poencak, kemaloeannya sepertii membengkak dan berdenyoet-denyoet, dia mengerang dan meremas ramboetkoe..
    “Oohh.. Ngentot.. Ngecret niih goea!!”
    Moencratlah caiiran kental iitoe di moeloetkoe yg langsoeng koejiilatii dgn raqoesnya. Keloearnya banyak sekalii sehiingga aqoe haroes boeroe-boeroe menelannya agar enggak toempah. Sesoedah lepas darii moeloetkoe poen aqoe masiih menjiilatii siisa sperma pada gagangnya. Ramelan memiintaqoe agar menoeroenkan frekoeensii kocokankoe.
    “Gak oesah boeroe-boeroe..” demiikiian katanya.
    “Cepetan Foel, kiita joega maoe ngerasaiin memeknya, kebelet niih!” kata Ramelan pada Jamblank.
    “Sabar brrooo.. OEoehh.. Nanggoeng dikiit lagii.. Eemmhh!” jawab Jamblank dgn terengah-engah.
    Genjotan Jamblank semakiin kencang, nafasnya poen semakiin memboeroe menandakan bahwa dia akan klimaks. Kita mengatoer tempo genjotan agar biisa keloear bersama.
    “OEhh.. OEhh.. OEdah maoe Ciit, boleh di dalam gak?” tanyanya.
    “Jangan.. goee lagii soeboer.. Ah.. Aahh!!” desahkoe bersamaan dgn kliimaks yg menerpa.
    “Heii, jangan sembarangan boeang pejoe, ntar goea mana biisa jiilatiin memeknya!” tegoer Hardi.
    Jamblank menyoesoel tak sampaii semeniit kemoedian dgn meremas kencang boeah dadakoe hiingga memboeatkoe meriintiih, kemoedian dia mencaboet kemaloeannya dan menoempahkan iisiinya ke poenggoengkoe.
    “Ok, next please” Jamblank mempersiilakan giiliiran beriikoet.
    Hardi langsoeng menyamboet badankoe dan memapahkoe berdirii. Disandarkannya poenggoengkoe pada dinding liift laloe dia menciioem biibiirkoe dgn lemboet sembari tangannya meneloesoerii lekoek-lekoek badankoe, kita ber-french kiiss dgn panasnya. Serangan Hardi moelaii toeroen ke boeah dadakoe, tapii hanya dia koeloem sebentar, laloe dia toeroen lagii hiingga berjongkok di depan kemaloeanqoe. Gesper dan resletiing rokkoe dia loecoetii hiingga rok iitoe merosot jatoeh. Dia menatap dan mengendoesii kemaloeanqoe yg tertoetoep ramboet lebat iitoe, tangan kanannya moelaii mengeloesii kemaloeankoe sembari mengangkat paha kiiriikoe ke bahoenya. Jarii-jariinya mengorek liiang kemaloeanqoe hiingga mengenaii kliitoriis dan G-spotkoe.
    “Sshh.. Di.. Oohh.. Aahh!!” desiiskoe sembari meremas ramboetnya sewaktoe liidahnya moelaii menyentoeh biibiir kemaloeanqoe.
    Aqoe mengiigiit-giigiit biibiir meniikmatii jiilatan Hardi pada kemaloeanqoe, liidahnya bergerak-gerak sepertii oelar di dalam kemaloeanqoe, dagiing keciil sensiitiifkoe joega enggak loepoet darii sapoean liidah iitoe, kadang diseliingii dgn hiisapan. Hal ini memboeat badankoe menggeliiat-geliiat, mataqoe terpejam menghayatii permaiinan ini. Tiiba-tiiba koerasakan seboeah giigiitan pelan pada oejoeng pentil kiiriikoe, mataqoe memboeka dan menemoekan kepala Jamblank soedah menempel di sana sedang mengenyot boeah dadakoe. Ramelan berdirii di sebelah kanankoe sembari meremas boeah dadakoe yg satoenya.
    “Ciit, toked loe gede banget siih, oekoeran BH-nya berapa niih?” tanyanya.
    “Eenngghh.. Goea 34B.. Mmhh!” jawabkoe sembari mendesah.
    “OEdah ada pacar lo Ciit?” tanyanya lagii.
    Aqoe hanya menggeleng dgn badan makiin menggeliiat kerana saat iitoe liidah Hardi dgn binal menyentiil-nyentiil kliitoriiskoe. Sensasii ini ditambah lagii dgn Ramelan yg menyapoekan liidahnya yg tebal ke leher jenjangkoe dan mengeloesii bokongkoe. Sebelom sempat mencapaii kliimaks, Hardi berhentii menjiilat kemaloeanqoe. Dia moelaii berdirii dan menyoeroeh kedoea temannya menyiingkiir doeloe.
    “Miinggiir doeloe jek.. Goea mo nyoblos niih! Walah.. Niih toked jadi baoe jiigong loe gini Mbloenkkk!” omelnya pada Jamblank yg hanya ditanggapii dgn seriingaiinya yg miiriip koeda nyengiir.
    Paha kiiriikoe diangkat hiingga piinggang, laloe dia menempelkan kepala kemaloeannya pada biibiir kemaloeanqoe dan mendorongnya masoek perlahan-lahan.
    “Ooh.. Di.. Aahh.. Ahh!” desahkoe dgn memeloek erat badannya saat dia melaqoekan penetrasii.
    “Aakkhh.. Yahoed banget memek loe Ciit.. Seret-seret basah!”
    Kemoedian Hardi moelaii memompa badankoe, rasanya soenggoeh soeliit diloekiiskan. Kemaloean kokoh iitoe menyodok-nyodokkoe dgn broetal sampaii badankoe terlonjak-lonjak, keriingat yg bercoecoeran di badankoe membasahii dinding liift di belakangkoe. Erangankoe kadang teredam oleh loematan biibiirnya terhadapkoe. Senjatanya keloear-masoek berkalii-kalii hiingga memboeat mataqoe merem-melek merasakan sodokan yg niikmat iitoe. Aqoe poen iikoet majoe moendoer merespons serangannya. Saat iitoe kedoea temannya hanya menonton sembari memegangii senjata masiing-masiing, mereka joega menyorakii Hardi yg sedang menggenjotkoe seolah memberii semangat.
    Sementara dia berpacoe di antara kedoea pahaqoe, aqoe moelaii merasakan kliimaks yg akan kembalii menerpa. Badankoe bergetar hebat, peloekankoe terhadapnya joega semakiin erat. Akhiirnya keloearlah desahan panjang darii moeloetkoe bersamaan dgn melelehnya caiiran kewaniitaankoe lebiih banyak dariipada sebelomnya. Akan tetapi dia masiih bersemangat menggenjotkoe, bahkan bertambah kencang dan bertenaga, nafasnya yg menderoe-deroe menerpa wajahkoe.
    “OEoehh.. OEoeh.. Ciit.. Yeeahh.. Hampiir!” geramnya di dekat wajahkoe.
    Badannya berkelojotan diiiriingii desahan panjang, kemoedian ditariiknya kemaloeannya lepas darii kemaloeanqoe dan menyemprotlah iisiinya di peroetkoe. Dia poen laloe ambroek ke depankoe sembari memagoet biibiirkoe mesra. Kerana Hardi melepaskan pegangannya terhadapkoe, pelan-pelan badankoe merosot hiingga terdoedoek bagaii tak bertoelang, begiitoe poen dgnnya yg bersandar di liift dgn nafas ngos-ngosan. Aqoe memiinta Jamblank mengambiilkan tiissoee darii taskoe, aqoe laloe menyeka keriingat di keniingkoe joega ceceran sperma pada peroetkoe sembari menjiilat jarii-jariikoe oentoek mendapatkan ceceran sperma iitoe. Hiingga kini costoem yg masiih tersiisa di badankoe hanya sepatoe dan kaos yg soedah tergoeloeng ke atas.
    Tenggang saat ke babak beriikoetnya koerang darii liima meniit, Ramelan sesoedah memiinta iijiin dahoeloe, memegangii kedoea pergelangan kakiikoe dan membentangkannya. Ditatapnya sebentar loebang merah merekah di tengah ramboet-ramboet hiitam iitoe, kedoea temannya joega iikoet memandangii daerah iitoe.
    “Ayo dong.. Pada liiatiin apa siih, maloe ah!” kataqoe dgn memaliingkan moeka kerana merasa riisii dipelototii bagiian iitoekoe, akan tetapi sesoenggoehnya aqoe malah meniikmatii menjadi objek seks mereka.
    “Hehehe.. Maloe apa maoe niih!” oejar Jamblank yg berjongkok di sebelahkoe sembari mencoebiit oejoeng pentilkoe.
    “Loe oedah gak viirgiin sejak kapan Ciit? Kok memeknya masiih OK?” tanya Ramelan sembari menatap liiang iitoe lebiih dekat.
    “Enam belas, saat SMA doeloe” jawabkoe.
    Kita ngobrol-ngobrol sejenak diseliingii senda goeraoe hiingga akhiirnya aqoe memiinta lagii kerana gaiirahkoe soedah kembalii, ini dipercepat oleh tangan-tangan mereka yg selaloe merangsang tiitiik-tiitiik sensiitiifkoe. Ramelan menariikkoe sedikiit ke depan mendekatkan kemaloeannya pada kemaloeanqoe laloe mengarahkan benda iitoe pada sasarannya.
    “OEoeh..” kemaloeankoe benar-benar terasa sesak dan penoeh dijejalii oleh kemaloeannya yg perkasa iitoe. Caiiran kemaloeanqoe meliiciinkan jalan masoek bagiinya.
    “Aa.. aaddoehh, pelan-pelan dong!” aqoe mendesah liiriih sewaktoe Ramelan mendorong sedikit kasar. Sembari menggeram-geram, dia memasoekkan kemaloeannya sedikiit demii sedikiit hiingga terbenam seloeroehnya dalam kemaloeanqoe.
    “Eengghh.. Ketat abiis, memek Ciina emang siipp!” ceracaoenya.
    Dia menggenjot badankoe dgn binal, semakiin tiinggii tempo permaiinannya, semakiin aqoe diboeatnya kesetanan. Sementara Jamblank sedang asyiik bertoekar loedah dgnkoe, liidahkoe saliing jiilat dgn liidahnya yg ditiindik, tangankoe menggenggam kemaloeannya dan mengocoknya. Seboeah tangan meraiih boeah dadakoe dan meremasnya lemboet, ternyata sii Hardi yg berdengkoel di sebelahkoe.
    “Bersiihiin dong Ciit, masiih ada siisa tadi!” piintanya dgn menyodorkan kemaloeannya ke moeloetkoe saat moeloet Jamblank berpiindah ke leherkoe.
    Serta merta koeraiih kemaloean iitoe, hhmm, masiih lengket-lengket bekas persenggamaan baroesan, koepakaii liidahkoe menyapoe gagangnya, sesoedah beberapa jiilatan baroe koemasoekkan ke moeloet, aqoe dapat meliihat ekspresii keniikmatan pada wajahnya karena tekniik oralkoe.
    Tak lama kemoedian, Jamblank berkelojotan dan bergoemam tak jelas, sepertiinya dia akan kliimaks. Meliihat reaksiinya koepercepat kocokankoe hiingga akhiirnya cret.. cret.. Spermanya berhamboeran mendarat di sekiitar dada dan peroetkoe, Esexeseks tangankoe joega jadi belepotan caiiran sepertii boeah dada kental iitoe. Saat iitoe aqoe masiih meniikmatii sodokan Ramelan sembari mengoeloem kemaloean Hardi.
    Kemoedian Hardi mengajak bergantii posiisii, aqoe dimiintanya berposiisii doggy, Ramelan darii belakang kembalii menoesoek kemaloeanqoe dan darii depankoe Hardi menjejalkan kemaloeannya ke moeloetkoe. Koeloemankoe memboeat Hardi berkelojotan sembari meremas-remas ramboetkoe sampaii iikat ramboetkoe terlepas dan teroeraiilah ramboetkoe yg sebahoe iitoe. Kemaloean iitoe bergerak keloear-masoek semakiin cepat kerana kemaloeanqoe joega soedah basah sekalii.
    Enggak sampaii sepoeloeh meniit kemoedian moencratlah sperma Hardi memenoehii moeloetkoe, kerana saat iitoe genjotan Ramelan bertambah ganas, hiisapankoe sedikiit boeyar sehiingga caiiran iitoe toempah sebagiian meleleh di piinggiir biibiirkoe. Sesoedah Hardi melepas kemaloeannya, aqoe biisa lebiih fokoes melayanii Ramelan, aqoe iikoet menggoyg piinggoelkoe sehiingga sodokannya lebiih dalam.
    Boenyii ‘plok-plok-plok’ terdengar darii hentakan selangkangan Ramelan dgn bokongkoe. Moeloetkoe teroes mengeloearkan desahan-desahan niikmat, sampaii beberapa meniit kemoedian badankoe mengejang hebat yg menandakan klimakskoe. Kepalaqoe menengadah dan mataqoe membeliiak-beliiak, soenggoeh fantastiis keniikmatan yg diberiikan olehnya. Kontraksii otot-otot kemaloeankoe sewaktoe klimaks memboeatnya merasa niikmat joega kerana otot-otot iitoe semakiin menghiimpiit kemaloeannya, hal ini menyebabkan goygannya semakiin binal dan mempercepat klimaksnya. Dia mendengoes-dengoes berkelojotan laloe tangannya menariik ramboetkoe sembari mencaboet kemaloeannya.
    “Adoeh-doeh, sakiit.. Maoe ngapaiin siih?” riintiihkoe.
    Dia tariik ramboetkoe hiingga aqoe berdengkoel dan disoeroehnya aqoe memboeka moeloet. Di depan wajahkoe dia kocok kemaloeannya yg langsoeng menyemboerkan lahar kental. Semprotan iitoe membasahii wajahkoe sekaliigoes memenoehii moeloetkoe.
    “Giila, banyak amat siih, sampaii basah gini goea!” kataqoe sembari menjiilatii kemaloeannya melaqoekan cleaniing serviice.
    Sesoedah menoentaskan hasrat, Ramelan melepaskankoe dan moendoer terhoeyoeng-hoeyoeng sampaii bersandar di piintoe liift dimana badannya merosot toeroen hiingga terdoedoek lemas. Dgn siisa-siisa tenaga aqoe menyeret badankoe ke tembok liift agar biisa doedoek bersandar. Soeasana di dalam liift jadi panas dan pengap sesoedah terjadi pergoelatan seroe baroesan. Aqoe mengatoer kembalii nafaskoe yg poetoes-poetoes sembari menjiilatii sperma yg masiih belepotan di sekiitar moeloet, aqoe biisa merasakan lendir hangat yg masiih mengaliir di selangkangankoe.
    Hardi soedah memakaii kembalii celananya tapii masiih terdoedoek lemas, dia mengeloearkan sebotol aqoea darii tas loesoehnya, Jamblank sedang berjongkok sembari menghiisap rokok, dia belom memakaii celananya sehiingga gagang kemaloeannya yg moelaii layoe iitoe dapat terliihat olehkoe, Ramelan masiih ngos-ngosan dan memiinta Hardi membagii miinoemannya. Sesoedah miinoem beberapa tegoek, Ramelan menawarkan botol iitoe padaqoe yg joega langsoeng koeraiih dan koemiinoem. Koeteteskan beberapa tetes aiir pada tiissoee oentoek melap wajahkoe yg belepotan.
    Kita ngobrol-ngobrol riingan dan bertoekar nomor HP sembari memoeliihkan tenaga. Aqoe moelaii memoengoetii costoemkoe yg tercecer. Sesoedah bercostoem lengkap dan mengoeciir kembalii ramboetkoe, kita bersiiap-siiap poelang. Hardi menekan tombol liift dan liift kembalii meloencoer ke bawah. Lantaii dasar soedah sepii dan gelap, jam soedah hampiir menoenjoekkan poekoel toejoeh. Lega rasanya biisa menghiiroep oedara segar lagii sesoedah keloear gedoeng ini, kita poen berpiisah di depan gedoeng siipiil, mereka keloear lewat gerbang sampiing dan aqoe ke tempat parkiir.
    Dalam perjalanan poelang, aqoe tersenyoem-senyoem sendirii sembari mendengar aloenan moesiik darii CD-player di mobiilkoe, masiih terngiiang-ngiiang di kepalaqoe kegiilaan yg baroe saja terjadi di liift campoes.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • CERITA PANAS PENJAGA KAMPUS BEJAT

    CERITA PANAS PENJAGA KAMPUS BEJAT


    1510 views

    Cerita Sex ini berjudul ” CERITA PANAS PENJAGA KAMPUS BEJAT ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Sebagai seorang gadis 21 tahun yg sedang mekarmekarnya, kehidupan Monic, mahasiswi sastra Inggris semester lima di Universitas ****** dipenuhi keceriaan, hariharinya dilalui dgn kuliah, dugem, ngerumpi bareng temanteman, shopping, pacaran, dan kegiatankegiatan gadis kuliahan pada umumnya.

    Anak tunggal seorang pemilik pabrik makanan ringan ternama, dia jg dianugerahi wajah yg cantik dan tubuh jangkung yg indah serta kulit yg putih bersih, rambutnya coklat sebahu lebih dan ujungnya agak bergelombang. Monic jg amat menjaga penampilannya dgn fitness, spa, dan ke salon secara rutin, dia memang ingin selalu terlihat cantik di depan Frans, pacarnya sehingga banyak cowok lain sirik dgn Frans ketika sedang jalan bareng.

    Terlepas dari itu semua, Monic jg memiliki perangai buruk, sebagai seorang anak tunggal keluarga kaya yg hidup serba berkecukupan seringkali dia memandang rendah orang yg lebih rendah kedudukannya, salah satunya yg sering kena marah olehnya adalah Agus, sopir yg bertugas mengantarjemputnya.

    Pernah sekali waktu dia telat menjemput karena jalan macet akibat ada demo, sesampainya disana Monic menyemprotnya habishabisan dgn judesnya di lapangan parkir sampai terlihat beberapa orang lewat dan satpam disana.

    Sungguh pedih hati sopir itu direndahkan di depan umum oleh nona majikannya, dia sdh lama bersabar menghadapi keangkuhan gadis ini, kali ini dia sdh tdk tahan lagi dan berpikir akan mengundurkan diri saja, tp sebelum mundur sebuah kesempatan emas utk memberi pelajaran pada nona majikannya yg sombong itu menghampirinya lewat obrolan dgn Yono, si penjaga kampus bejat yg hobi memperkosa korbannya lewat fotofoto memalukan yg diambil dgn cameraphone hasil temuannya.

    Mimpi buruk Monic berawal ketika suatu hari setelah bermain basket di bangsal kampus, dia bersama temantemannya menuju toilet di sana utk ganti baju. Dia memasuki toilet kedua dari ujung yg ternyata adalah sebuah pilihan fatal, karena di sebelahnya Yono telah lama menanti mangsa yg masuk kesana selama hampir setengah jam.

    Dgn sabarnya dia menanti dan melihat situasi melalui celah di pintu. Memang yg memasuki toilet sebelahnya bukan cuma Monic, sebelumnya telah ada beberapa orang masuk ke sana, namun saat itu di depan toilet jg masih banyak orang, sehingga kalau Yono menjulurkan tangannya melalui tembok pembatas yg bagian atasnya terbuka utk mengarahkan cameraphonenya tentu akan ketahuan oleh orang dari luar.

    Diapun sempat melihat tubuhtubuh mulus mereka yg ganti baju di luar toilet, tp utk mengambil gambarnya susah, risiko utk ketahuan terlalu besar dan ketika dia coba memotret dari celah pintu yg sempit itu hasilnya tdk maksimal, maka dia memutuskan menunggu orang memasuki toilet sebelah ketika situasi di luarnya sdh sepi, sambil berharap orang itu cantik.

    Kesalahan Monic adalah dia memasuki toilet saat orang lain banyak yg sdh keluar, karena sebelumnya dia ke kantin dulu membeli minum dan duduk sebentar merenggangkan otot. Ketika dia memasuki toilet, dua temannya yg masih disanapun sdh hampir selesai, Yono tersenyum kegirangan begitu dilihatnya kedua orang itupun akhirnya keluar jg.

    Yuk, Nickita duluan yah ! seru salah satunya sambil membuka pintu keluar
    Iyaiya, see you, duluan aja gih ! balasnya dari dalam

    Monic melepaskan bajunya yg berkeringat dan disusul celana olah raganya bersamaan dgn celana dalamnya, hanya dgn memakai bra pink dia duduk di kloset utk buang air kecil.

    Dia tdk menyadari diatasnya Yono dgn hatihati mengintipnya sambil menyutingnya dgn kameraphone. Tiga menit saja, video klip yg terekam cukup jelas memperlihatkan wajah, tubuh, dan adegan buang air kecilnya. Sebelum gadis itu keluar, Yono cepatcepat turun dari pijakannya lalu keluar dari toilet itu dgn hatihati.

    Hari itu masih sekitar jam dua siang dan masih banyak tugas yg harus diselesaikan Yono, terutama karena sempat tertunda ketika menanti mangsa di toilet itu. Maka niat buruknya lebih baik ditundanya daripada melakukannya dgn diburuburu pekerjaan, lagipula rekaman tiga menitan itu sdh menjadikan gadis itu sdh dalam genggamannya, selain itu jg dia mengenal sopir yg mengantar jemputnya yg sering ngobrol di waktu senggang.

    Kebetulan belum lama ini dia mendengar keluhan Agus, si sopir itu tentang anak gadis majikannya dan berencana mengundurkan diri mencari kerja lain. Yono sendiri pernah mendapat perlakuan tdk enak dari gadis itu setahun sebelumnya.

    Saat itu Monic sedang terburuburu menuruni tangga, karena memakai sepatu sol tinggi dan tdk hatihati dia terpeleset jatuh, jatuhnya tdk tinggi sehingga tdk berbahaya, tp karena waktu itu dia memakai rok diatas lutut tentu saja paha mulus dan celana dalamnya sempat tersingkap. Yono, yg waktu itu sedang menyapu dekat tangga itu memunguti tasnya dan membantunya bangkit, namun Monic malah membalasnya dgn makian kasar

    Tua bangka, lepasin tangan lo, mau cari kesempatan yah pegangpegang ! katanya dgn sengit menepis tangan Yono Emang sy ga tau apa daritadi mata lu ngeliat kemana aja ? lu pikir siapa lu, dasar kampungan ga tau diri ! bentak Monic sambil berlalu darinya, tangannya masih memegangi pantatnya yg kesakitan.

    Yono hanya tertunduk menerima penghinaan itu tanpa sempat memberi penjelasan, walaupun ada rasa marah tp dia mencoba memendamnya mengingat usahanya merubah diri, namun begitu menemukan cameraphone itu niat jahat dan nafsu balas dendamnya bangkit kembali dan menghantui kampus itu.

    Hari itu, Monic sedang di perpustakaan mencari buku utk tugas ketika sebuah MMS masuk ke ponselnya. Dibukanya pesan dgn nomor tak dikenal itu. Wajahnya langsung pucat dgn mulut ternganga, jantungnya seakan berhenti berdetak sehingga buku yg dipegangnya jatuh terlepas dari genggamannya begitu melihat rekaman yg memperlihatkan dirinya sedang ganti baju dan buang air kecil di toilet, dibawahnya jg ada pesan :

    kalau tdk mau ini tersebar, sy tunggu di gedung kesenian ruang F307 jam empat hari ini
    Nic, kenapa lu ? ga enak badan ? tanya temannya yg sedang mencari buku tdk jauh darinya.
    Ohhnggaga papah kok, cuma buku jatuh aja ehehhe ! Monic menutupi kekagetannya dgn tawa dipaksa.

    Setelah itu buruburu dia keluar dari perpustakaan mencari tempat sepi utk menelepon nomor itu.

    Hehehe, udah diterima pesannya Non ? bagus kan ? kata suara berat diseberang sana begitu ponsel diangkat.
    Heh, kurang ajar lu yah, siapa lu sebenernya hah ! suaranya meninggi menahan amarah dalam dadanya.
    Udah gak sabar yah Non, tunggu aja nanti sore, kita bakal membicarakan penawaran menarik buat film Non itu ! jawab Yono dgn kalem
    Bajingan, lu emang setan, jangan macemmacem yah sama gw ! Monic demikian marah dan frustasinya sampai mau nangis.
    Udahlah Non, capek marahmarah gitu, pokoknya sy tunggu nanti di F307, sy sekarang masih banyak kerjaan, dan satu lagi, pastikan jangan ada orang lain yg tahu kalau ga mau dapat susah ! selesai berkata Yono menutup ponselnya.

    Sebenarnya jam tiga kurangpun dia sdh tdk ada kuliah lagi. Setelah menyuruh Agus yg telah menjemputnya utk menunggu dia pergi ke kantin utk menunggu waktu yg ditentukan. Matanya tertuju ke novel yg dibawanya tetapi pikirannya tdk di sana, yg ada di pikirannya adalah bayangan mengerikan tentang apa yg diinginkan pengintip misterius itu pada dirinya dan bagaimana kalau rekaman itu tersebar. Saking stressnya, tanpa terasa dua batang rokok telah dihabiskannya.

    Tibatiba ponselnya berbunyi, pengintip misterius itu menghubunginya.

    Udah keluar yah Non, kalo gitu sekarang aja ke atas aja supaya lebih cepat beres, sy sdh nunggu di sini jg kok

    Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Monic langsung mematikan ponselnya dan beranjak ke tempat yg ditentukan. Lantai itu memang sdh sepi, ketika naik tangga saja dia cuma berpapasan dgn dua orang pegawai tata usaha fakultas yg baru selesai kerja. Semakin langkahnya mendekati ruang itu, semakin berdebar pula jantungnya.

    Halo Non Monic, datang jg akhirnya ! sapa Yono begitu Monic memasuki pintu yg setengah terbuka itu.
    Mungkin Non lagi nyari orang yg merekam ini ya ? tanyanya sambil menunjukkan cameraphonenya.

    Monic melihat dalam layar kecil itu dimana dirinya sedang ganti baju lalu buang air kecil, wajahnya kontan memerah karena marah dan malu.

    Bajingan, serahkan barang itu ! Monic berteriak sambil merangsek ke depan.

    Dia berusaha merebut cameraphone itu, tp pria setengah baya itu lebih sigap dan tenaganya lebih besar. Dgn mudah didorongnya gadis itu hingga tersungkur di lantai. Sambil menyeringai matanya memandang tajam tubuh Monic yg terbungkus baju biru bermotif bunga tanpa lengan, rok putihnya yg mini sedikit tersingkap memperlihatkan pahanya yg panjang dan mulus.

    Mau apa kamu bangsat, jangan mendekat, pergi ! Monic menggesergeser tubuhnya menjauh dari Yono yg mendekatinya, dalam kepanikannya dia tdk sadar bahwa roknya semakin tersingkap dan celana dalamnya pun sempat terlihat.
    Tenang Non, jangan takut, bapak ga bakal nyakitin Non kok, malah ngasih Non kenikmatan yg luar biasa ! katanya sambil cengengesan.

    Baru pernah seumur hidupnya Monic mendengar perkataan yg sangat merendahkannya itu, omongannya benarbenar rendah dan menjijikkan menyebabkan bulu kuduknya merinding ketakutan. Susah payah akhirnya dia bisa bangkit kembali dan berusaha mencapai pintu, namun ketika sdh dekat pintu itu membuka, Agus, sopirnya muncul di depan pintu.

    Bang Agus, tolong Bang ada orang gila ! katanya terbatabata karena masih gemetar.

    Namun kelegaannya cuma sebentar saja, karena Agus malah mendorongnya ke arah Yono yg dgn sigap menangkap tubuhnya, ketika dia mau menjerit, tangan kokoh Yono langsung membungkam mulutnya sementara tangan satunya mengunci kedua pergelangannya yg telah ditelikung ke belakang. Agus menggeser meja dosen utk mengganjal pintu, setelahnya dia mulai menghampiri nona majikannya itu.

    Lebih baik Non berhenti ngelawan, inget Non kesini buat apa ? Non pengen rekaman ini diliat orang lain ? dimana nanti mukanya mau ditaruh Non ? ancam Yono sambil tetap membekap mulut Monic Coba aja kabur atau teriak, rekaman ini bakal tersebar, tinggal kirim ke sembarang nomor di HP ini !

    Monic tdk tahu harus berbuat apa lagi dalam situasi seperti itu. Ketakutan akan dicelakai dan rekamannya tersebar membuat rontaannya berkurang dan pasrah pada nasibnya.

    Binatang lu, tegateganya berbuat gini ke gw, kacung ga tau diuntung ! maki Monic pada Agus dgn tatapan penuh kebencian.
    Hehehe, udah gini masih bisa galak jg Non ! Agus terkekeh sambil mengelus pipi majikannya denger yah, sy jg udah ga tahan kerja buat cewek sombong kaya Non ini, besok sy jg mau keluar kok, tp sebelum keluar sy mau ngasih Non kenangan manis dulu dong !

    Wajahnya makin pucat mendengar perkataan itu, dia sadar sdh tdk bisa berbuat apaapa lagi, dia sdh dalam cengkeraman mereka. Keangkuhannya runtuh seketika itu jg, dadanya sesak dipenuhi emosi karena dikhianati, direndahkan dan diancam.

    Tatapan mata Agus yg penuh nafsu binatang itu membuat nyalinya ciut sehingga memalingkan muka tak berani menatapnya, wajahnya jadi memelas memohon belas kasih. Tibatiba dirasakan darahnya berdesir ketika Agus menggeraygi pahanya yg jenjang.

    Udah daridulu gw pengen megang nih paha, akhirnya bisa jg sekarang, gile mulusnya! komentarnya

    Tangan Agus meraba makin naik hingga menyingkap roknya dan meremasi bongkahan pantatnya, sementara dari belakang Yono meremas payudara kirinya. Air mata Monic pun mengalir dan memohonmohon minta dilepaskan.

    Jangan, jangan perkosa sy, ampun ! katanya terisak
    Santai Non, nanti jg enak kok sahut Yono

    Agus mulai menciumi pipi Monic, leher dan telinga jg tak luput darinya, Hembusan nafas dan lidahnya membuatnya bergidik jg merasakan sensasi aneh yg meskipun dia menolaknya tp ingin terus merasakannya.

    Kemudian tangannya meraih kepala Monic dan mencium bibirnya yg tipis dgn kasar, dia menggelenggelengkan kepala berusaha menolak, namun Agus pegangan Agus pada kepalanya terlampau kuat sehingga terpaksa diterimanya serbuan bibir sopirnya itu.

    mmmpphhhhmmpphhhh! hanya itu yg terdengar dari mulutnya yg tersumbat bibir Agus yg atasnya ditumbuhi kumis tipis seperti tikus.

    Tangan Agus kini sdh meraba kemaluannya yg masih tertutup celana dalam, jarijarinya bergerak liar mengosoki belahan kemaluannya. Sementara Yono makin bernafsu meremasi payudara Monic, perlakuan kasarnya membuatnya ingin menjerit kesakitan tp mulutnya tersumbat bibir Agus sehingga bibirnya yg terkatup malah terbuka dan lidah Agus pun menerobos masuk, lidahnya menyapu rongga mulut Monic dan beradu dgn lidahnya.

    Yono mulai mempreteli kancing baju Monic dan menarik lepas baju itu dari tubuhnya. Kini tubuh atas Monic cuma tersisa bra pink.

    Bukain kaitnya Pak Yono, daridulu gw penasaran pengen liat toked majikan gw ini ! kata Yono tak sabaran
    Yono pun melucuti branya, Monic menutupi payudaranya dgn tangan dan terus memohon agar mereka tdk meneruskan aksinya.

    Tanpa mempedulikan ocehannya, Agus menyingkirkan tangan yg menghalanginya itu. Terpesonalah keduanya melihat keindahan buah dada Monic yg putih, kencang dan berputing kemerahan itu.

    Wah majikanlu tokednya bagus banget, putih bulat kaya bakpao ! kata Yono sambil mengusapusap payudara itu.
    Iya nih, pentilnya jg ngegemesin, imut gini ! timpal Agus yg tangannya memencet puting itu dan menariknariknya.Nah, sekarang coba kita liat bawahnya !

    Monic berusaha menahan roknya dgn tangan ketika Agus akan memelorotinya, tp kemudian Yono kembali menelikung tangannya ke belakang sehingga dgn leluasa

    Agus membuka sabuk dan resletingnya, rok itu pun meluncur jatuh melalui kakinya, disusul celana dalamnya dipeloroti hingga ke lutut. Kedua orang itupun kini dapat menikmati tubuh polos Monic, tangantangan hitam kasar itu berkeliaran menggeraygi lekuk tubuhnya yg indah. Agus yg berjongkok mulai menyentuh kemaluannya yg dilebati bulubulu tipis yg tercukur rapi.

    Hhmmmeqi yg bagus, masih rapat, jembutnya jg rapih, gw suka yg kaya gini ! celoteh Agus

    Dari belakang Yono mencaplok kedua payudaranya, jarijarinya memencetmencet dan memilinmilin putingnya sehingga Monic pun terpancing libidonya, nafasnya makin berat. Walaupun sesekali dia memelas minta dilepaskan, namun tubuhnya berkata lain, terlebih ketika lidah panas Yono menyapu telak leher dan belakang telinganya. Saat itu satu tangan Yono turun ke bawah dan meremas pantatnya, jarinya terkadang menyentuh anusnya, belum lagi jari dan lidah Agus yg kini sedang bermain di meqinya. Perbuatan mereka membuat Monic semakin tak berdaya, tak berdaya karena nikmat dan tak cukup tenaga utk melawan.

    Mereka lalu menurunkan tubuhnya hingga terbaring di lantai, dia merasakan dinginnya lantai menyentuh punggungnya. Agus melepas celana dalam yg menygkut di tungkainya dan dibukanya sepasang paha itu, wajahnya mendekati kemaluannya, lidahnya menjilati paha, pangkal paha, hingga akhirnya menyentuh bibir meqinya. Di tempat lain Yono dgn rakus mencium dan menghisap payudaranya, lidahnya yg menarinari liar itu menyebabkan puting itu makin mengeras.

    Toked yg montok, eemmhhsluurpp!

    Beberapa menit lamanya Yono mengeksploitasi payudara Monic sebelum akhirnya jilatannya meluas ke lekuk tubuh lainnya, ketiak, bahu, leher, hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Dari matanya yg terpejam air mata terus mengalir, namun birahinya terus naik tak terkendali.

    Hhhmmpphh! rintih Monic tersendat saat lidah sopirnya menyentilnyentil klitorisnya, tubuhnya menggeliatgeliat menahan siksaan birahi itu.
    Udah mulai kerasa enaknya kan Non,tuh udah banjir gini ! ejek Agus sambil terus menjilatinya.

    Kalah oleh desakan nafsunya, Monic pun tak terasa membalas permainan lidah Yono, utk mengurangi rasa jijik dia membayangkan yg dicium itu adalah Frans. Dia merasakan kemaluannya sdh sangat basah akibat jilatan sopirnya, tak lama kemudian dirasakan badannya menggelinjang. Mereka tertawatawa melihat reaksinya.

    Hahahaakhirnya nikmatin jg kan ! ejek Yono
    Dasar perek, munafik, tadi sok jual mahal, tp baru digituin dikit aja udah keenakan ! timpal Agus

    Betapa panasnya telinga Monic mendengar hinaan seperti itu, apalagi yg mengucapkan adalah sopirnya sendiri, dia tak menygka sopirnya sampai setega itu padanya, dia mulai menyesali seandainya dulu dia bersikap baik padanya mungkin kejadian hari ini tdk akan menimpanya, tp segalanya sdh terlambat.

    Kini Agus menariknya hingga berlutut di depan selangkangannya, lalu dia membuka celananya sendiri. Dan terlihatlah kemaluannya yg membuat Monic terkesiap karena panjangnya, lebih kaget lagi saat dia melihat milik Yono yg sdh berdiri di sebelahnya karena miliknya walaupun tak sepanjang sopirnya namun lebih kokoh dan berurat.

    Sambil berkacak pinggang seolah tanda kemenangan, Agus memerintahkan anak majikannya mengoral k0ntolnya. Di bawah ancaman, Monic meraih k0ntol itu dgn tangan gemetar lalu sambil menutup mata menahan rasa jijik dimasukkannya benda itu ke mulutnya.

    Huehehehehehebaru kali ini gw liat majikan nyepongin sopirnya, hebat, hebat ! ejek Yono melihat adegan itu.
    Sepongannya yahud banget, daripada nyepongin pacar Non yg k0ntolnya kecil itu mendingan yg sy kan, lebih gede, lebih muasin lagi ! Agus menimpali
    Ayo Non, yg sy jg pengen diservis ! Yono meraih tangan Monic dan meletakkannya pada k0ntolnya.

    Monic mengulum dan mengisap k0ntol sopirnya sambil tangannya sesekali mengocoknya, sementara tangan satunya mengocok punyanya Yono. Sepuluh menit lebih dia mengocok dan mengulum k0ntol kedua jahanam itu secara bergantian. Dia menyadari betapa kotor dirinya saat melakukan hal itu, tp entah dorongan apa yg membuatnya merasa terangsang dan menikmati perlakuan mereka.

    Mmmmpphhhsshhmau ngecrot nih Non, ditelen yahawas kalo dimuntahin ! perintah Yono sambil melenguh nikmat.

    Akhirnya dgn satu lenguhan panjang Yono, menekan kepala Monic ke selangkangannya sehingga batang itu melesak lebih dalam ke tenggorokan gadis itu lalu menumpahkan isinya yg kental disana.

    Cairan itu langsung memenuhi mulutnya dan tertelan tanpa bisa ditahan. Monic gelagapan dan meronta ingin melepaskan benda itu tp Yono menahan kepalanya dan kalah tenaga. Dia langsung terbatukbatuk dan nafasnya terengahengah mencari udara segar begitu Yono mencabut k0ntolnya, aroma sperma yg menusuk itu masih terasa di mulutnya.

    Monic sempat beristirahat sekitar 2 menitan sebelum Agus menarik pergelangan kakinya dan membentangkan kedua pahanya, lalu dia mengambil posisi diantara kedua paha itu.

    Ok, Non sekarang saatnya ngejos hehehe! seringainya mesum
    Jangan Bang, sy mohonoohh, maafin sy ! Monic mengiba dgn berurai air mata.
    Waktu sy minta maaf dulu, Non jg ga maafin, enak aja sekarang minta maaf ! cibir Agus tanpa menghentikan aksinya mendorong k0ntolnya memasuki meqinya.
    Sakitakhlepaskanuuhh ! rintihnya saat k0ntol sopirnya menyeruak masuk menggesek dinding kemaluannya.
    Ooohhenak tenan meqinya Non biar udah ga perawan tp masih seret ! komentar Agus
    Tuh kan kebukti k0ntol pacarnya kecil, kalo ngga pasti udah ga seseret sekarang, ya ga Din ! sahut Yono disambut gelak tawa keduanya.
    Siap yah Non, sy bakal ngebuktiin kalo sy lebih bisa muasin Non daripada pacar Non itu, hiihh ! habis mengucapkan kalimat itu Agus langsung menyodokkan k0ntolnya diiringi erangan panjang Monic.

    Agus terus menghentakhentakkan pinggulnya membuat tubuh Monic berkelejotan, mulutnya mengapmengap mengeluarkan rintihan yg justru membuat kedua orang itu tambah bernafsu.

    Ayo liat sini, asyik nih buat nambah koleksi gw ! sahut Yono mengarahkan cameraphone itu pada mereka.
    Jangantolong jangan ahhhdirekamahhh ! Monic mencoba menutupi wajahnya dgn tangan

    Namun Agus malah merentangkan kedua tangannya itu ke samping sehingga Monic tdk bisa menutupi wajahnya lagi.

    Agus tertawatawa melihat ke arah kamera seolah bangga bisa menikmati tubuh majikannya yg cantik itu. Sekitar tiga menit Yono mengabadikan adegan perkosaan itu sebelum dia sendiri bergabung menikmati tubuh mulus itu.

    Yono menggeraygi seluruh tubuh Monic serta menjilatinya, leher jenjang itu dicupangi sampai memerah. Lidah Yono yg menggelitik tubuhnya membuatnya makin menggelinjang.

    Busyet, baru pernah gw main sama anak juragan sendiri, ternyata asoynya ga ketulungan ! kata Agus sambil terus menyetubuhinya tanpa ampun.

    Tak lama kemudian, tubuh Monic mengejang dan menekuk ke atas sampai tulangtulang rusuknya terjiplak di kulitnya. Dia merasa seperti ada suatu ledakan hebat dari dalam tubuhnya yg tdk bisa ditahan dan menyebabkan tubuhnya menggelepargelepar bak ikan keluar dari air.

    Tdk dapat disangkal bahwa perasaan itu nikmat luar biasa melebihi kenikmatan yg pernah dirasakan bersama pacarnya. Agus masih terus menggenjotnya selama beberapa menit ke depan, dan akhirnya dia pun mencabut k0ntolnya lalu buruburu mendekati wajah Monic dimana dia menyemprotkan spermanya.

    Cairan putih kental pun berceceran membasahi wajah dan rambut gadis itu. Sebelum sempat membersihkan cairan berbau tak sedap itu dari wajahnya, Yono sdh mengambil giliran memperkosanya.

    Yono membalikkan tubuhnya yg masih lemas itu ke posisi telungkup, kemudian pantatnya dia tarik hingga menungging.

    Aaahhkkkaahh ! erang Monic dgn mata terbelakak, kedua tangannya mengepal keras ketika Yono melakukan penetrasi dari belakang.

    Setdknya dia masih bersyukur karena Yono tdk mengincar anusnya, terbayang olehnya betapa sakitnya di anal seks dgn k0ntol sebesar itu sementara anusnya masih perawan.

    Berkat bantuan cairan kemaluannya, k0ntol Yono lebih mudah menusuk meqinya, itupun masih terasa nyeri.. Dia mulai mengocok meqinya, mulanya perlahan tp lamalama kecepatannya semakin meningkat. Monic sebentar mendesah, sebentar menggigit bibir merasakan kenimatan yg diberikan Yono, sepertinya dia sdh begitu mengikuti permainan yg dipimpin oleh dua pemerkosanya itu.

    Rasa jijik dan marah yg sedari tadi menyelubunginya berubah menjadi gairah kenikmatan, setdknya utk saat ini. Semakin kasar perlakuan yg diterimanya semakin nikmat rasanya, pinggulnya pun ikut bergoyang mengimbangi irama genjotan Yono. Desahan yg keluar dari mulutnya makin menunjukkan kenikmatan bukannya desahan korban perkosaan.

    Agus menaruh kursi di depan Monic dan duduk di sana, selain kaos berkerahnya, bagian bawahnya sdh telanjang. Tubuh atas Monic yg bertumpu di lantai itu diangkatnya ke antara dua pahanya.

    AyoNon tadi belum dibersihin nih, jilatin sampai bersih yah ! suruhnya

    Tanpa harus disuruh kedua kalinya, Monic yg sdh setengah sadar itu, meraih batang itu lalu menyapukan lidahnya membersihkan cairan yg belepotan di sana, sesekali dimasukkan ke mulut dan diemut sehingga pemiliknya meremmelek dan melenguh keenakan, k0ntol itu pun perlahanlahan membesar lagi di dalam mulutnya.

    Sementara dari belakang Yono masih asyik menyodoknyodok meqinya sambil kedua tangannya berpegangan pada kedua payudaranya. Butirbutir keringat sdh nampak pada kulit punggungnya seperti embun, wajahnya pun sdh bersimbah peluh bercampur sperma.

    Suatu saat Yono membenamkan k0ntol itu hingga mentok dan memuntahkan isinya di dalam sana, tubuh pria itu mengejang sambil mengerang dgn suara berat. Nampak cairan putih itu meluber di selasela kemaluan Monic membasahi daerah sekitar selangkangannya.

    Mereka berganti posisi lagi, Agus berkata bahwa dia ingin mencoba posisi yg pernah dilihatnya di sebuah film porno. Mulamula diperintahkannya Monic naik ke pangkuannya berhadapan. Dia sdh memegangi k0ntolnya yg mengacung tegak itu ketika Monic menurunkan tubuhnya sehingga otomatis k0ntol itupun melesak ke meqinya diiringi desahan.

    Pegangan yah Non, kalo jatuh jangan salahin sy ntar ! suruhnya

    Setelah Monic berpegangan pada bahunya, Agus pelanpelan bangkit dari bangku, kedua tangannya menopang pantat Monic sehingga kini posisinya digendong Agus dgn kedua tungkai menjepit pinggang Agus. Merasa pijakannya telah mantap, Agus pun menyentakkan badannya menggenjot meqi majikannya dgn gaya berdiri.

    Wowboleh jg jurus baru lu Din, sekalisekali bisa gw coba nih ! kata Yono
    Berguna jg tuh film bokep, dapat pelajaran baru yg emang sip sahut Agus yg makin ganas menggenjot Monic.

    Dgn posisi demikian Monic merasa meqinya ditusuk dgn lebih keras dan dalam, payudaranya pun turut bergoyanggoyang seirama badannya.

    Agus dapat bertahan sekitar belasan menit dalam posisi yg cukup menguras tenaga itu, namun selama itu dia berhasil mengirim Monic mencapai klimaks. Mereka terus menggarapnya tanpa mempedulikan kondisi Monic yg sdh kepayahan. Sekarang Yono berbaring di lantai dgn memakai pakaiannya sebagai alas kepala, disuruhnya Monic melakukan gaya woman on top dgn bergoyang di atas k0ntolnya.

    Dgn pertimbangan mengakhiri perkosaan itu secepatnya, Monic pun menaiki k0ntol Yono lalu mulai menaikturunkan tubuhnya. Belum sampai semenit bergoyang, dari belakangnya Agus mendorong punggungnya ke depan sehingga pantatnya agak terangkat.

    Ntar Pak Yono, gw belum keluar nih tadi, sekarang mo nyoba ngejos disini nih ! katanya sambil memasukkan dua jari ke anusnya.
    Jangan Bang, jangan disana, sy takut ! mohonnya saat Agus mulai meludahi daerah itu agar licin serta mengeluarmasukkan jarinya sejenak.
    Heh, udah diem aja Non, ntar jg enak kok ! Agus mulai membuka lubang itu dan tangan satunya mengarahkan senjatanya ke sana.

    Yono yg dalam posisi berbaring memegangi kedua lengan Monic agar tdk berontak.

    Aaahhaduhsakit, ampun Bang, tolong hentikan ! rintih Monic menyayat hati, tubuhnya mengejang, dan wajahnya meringis menahan perih

    Tanpa merasa iba, sopir bejat itu terus saja melesakkan k0ntolnya dan menikmati jepitan dubur itu terhadap k0ntolnya, begitu jg Yono di bawahnya, dia malah makin bergairah melihat ekpresi kesakitan Monic, sesekali dia menyapukan lidahnya pada payudara yg menggelantung dekat wajahnya. Mereka berdua pun mulai menggenjot tubuh Monic, dua k0ntol menghujamhujam meqi dan anusnya, sungguh suatu derita birahi yg luar biasa dialami gadis malang itu.

    Gile, masih perawan loh pantatnya, sempit banget sampe berdarah gini ! kata Agus sambil meremasi bongkahan pantatnya.

    Darah segar memang mulai nampak pada kulit pantatnya yg putih dan tangisan Monic pun makin menjadi, namun itu tdk mengurangi kebiadaban kedua orang itu.

    Beberapa saat kemudian ketiganya mencapai orgasme dalam waktu hampir bersamaan, yg paling awal adalah Agus, mungkin karena sempitnya, sperma itu menyemprot di dalam pantatnya dan meluber keluar bercampur cairan darah.

    Monic pun menyusul beberapa menit kemudian bersamaan dgn Yono yg menumpahkan spermanya di dalam meqi Monic. Tubuh Monic pun akhirnya ambruk menindih Yono dgn k0ntol masih menancap. Agus memakai kembali celananya, dia tersenyum puas sambil menyalakan sebatang rokok.

    Sebentar kemudian Yono pun bangkit dan melihat jam yg sdh menunjukkan jam 5 kurang, dia membuka pintu dan memantau keadaan sekitar, sepi tdk ada ada tanda seseorang lewat sini. Monic masih terbaring di lantai menangis sesegukan, keringat telah membasahi badannya, daerah selangkangannya penuh lelehan sperma dan di pantatnya sperma itu bercampur darah. Yono mengancamnya bahwa bila dia berani buka mulut atau pindah ke kampus lain, foto dan video klip itu akan disebarluarkan bahkan keselamatan pacarnya pun mungkin terancam.

    Setiba di rumah, kedua orang tua Monic masih belum ada di rumah, papanya memang sedang di luar kota sejak kemarin lusa dan mamanya sedang ikut arisan.

    Kesempatan ini tdk disiasiakan Agus utk menikmati tubuh Monic sepuaspuasnya. Dia memperkosa nona majikannya itu di kamar gadis itu serta di kamar mandi yg menyatu dgn kamar itu sekaligus mandi bersama. Monic sendiri sepertinya sdh pasrah saja menikmati dirinya diperkosa seperti itu, pikirnya toh sdh telanjur basah, mandi saja sekalian.

    Perkosaan itu baru berhenti ketika mamanya pulang sekitar jam sembilan. Di depan nyonya besar itu, baik Agus dan Monic bersikap seperti biasa, yg satu demi menutupi perbuatan bejatnya, yg lain demi menutupi rasa malu dan tdk ingin menyusahkan orang tuanya. Besoknya memang benar Agus mengundurkan diri dgn alasan ingin bekerja di kota lain bersama saudaranya, namun derita Monic belum berakhir karena dia telah menjadi salah satu budak seks Yono, si penjaga kampus bejat itu.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Diperkosa Malah Ketagihan

    Cerita Sex Diperkosa Malah Ketagihan


    1550 views

    Perawanku – Cerita Sex Diperkosa Malah Ketagihan, Sebut saja namaku Lilis. Sudah dua tahun lebih aku bekerja sebagai seorang pembantu di keluarga Pak Dimas, seorang kepala desa yang sangat dihormati oleh warga setempat. Dan selama itu pulalah aku merasakan pahit-manisnya menjadi seorang pembantu, termasuk manisnya di perkosa.Malam itu udara terasa panas, sampai-sampai aku susah sekali untuk tidur.

    Baru setelah aku ganti pakaian dengan daster tipis dan menyalakan kipas angin, barilah aku bisa tertidur. Dalam tidur aku sempat bermimpi, Pak Jali, yang merupakan sopir pribadi keluarga Pak Dimas, datang menemuiku. Lucunya, Pak Jali datang menemuiku dalam keadaan telanjang bulat. Meskipun usianya sudah paruh baya, dan berbadan agak pendek, namun beliau masih memiliki postur tubuh yang kekar dan berotot.

    Khas orang desa yang suka bekerja keras. Dan yang membuatku geli adalah “buah terong” yang menggantung indah di pangkal pahanya. Ih…, begitu menggemaskan.Perlahan-lahan beliau mendekatiku dan langsung meremas remas buah dadaku yang telah terbuka bebas. Entah kenapa belaian Pak Jali terasa begitu nyata, seperti bukan dalam mimpi. Bahkan ketika bibir tebalnya mulai melumat kupingku aku sempat tersentak dan perlahan-lahan terjaga dari tidurku.
    Namun betapa terkejutnya aku saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata apa yang aku rasakan tadi bukan sekedar mimpi. Dihadapanku ternyata benar-benar ada sosok Pak Jali yang memeluk tubuhku.

    ”Pak Jali…! Apa yang Bapak lakukan…?” Aku mendorong tubuh Pak Jali kuat-kuat sehingga dia terjengkang ke belakang. Segera aku menutupi tubuhku yang ternyata juga nyaris telanjang dengan selimut.

    ”Tenang, Lis! Sudah lama aku memendam nafsuku terhadapmu…!” Kembali Pak Jali mencoba merengkuh tubuhku. Namun kembali aku mendorong tubuhnya kuat-kuat ke belakang.

    ”Pergi…!” bentakku.”Atau saya akan teriak!”Silahkan teriak! Percuma saja kamu teriak. Karena tidak akan ada orang yang mendengarmu. Apa kamu lupa, Pak Dimas dan keluarga tadi sore sudah berangkat ke Bandung untuk liburan! Jadi lebih baik kamu turuti saja keinginanku!

    ”Pak Jali tersenyum sinis.Aku semakin ketakutan ketika Pak Jali kembali mendekatiku. Segera saja aku melompat dari ranjang dan mencoba berlari ke arah pintu dengan kondisi telanjang. Namun sial! Aku kalah cepat dengan Pak Jali. Dengan cepat, ia menyergapku dari belakang dan menghimpitkan tubuhku ke arah dinding. Kedua tangannya mencengkeram kuat lenganku ke atas tembok, sedangkan kedua kakinya mengunci kakiku sehingga aku sulit untuk bergerak. Aku mencoba untuk meronta sekuat tenaga. Namun percuma, tenaga Pak Jali memang jauh lebih kuat dibandingkan tenagaku yang hanya seorang wanita.

    Semakin kuat aku meronta, semakin kuat cengkeraman Pak Jali di Tubuhku.”Tolong, Pak! Lepaskan saya!” aku menangis dan mengemis kepada Pak Jali. Namun percuma saja. Beliau tidak mendengarkan perkataanku. Bahkan dengan liar Pak Jali menghunjamiku dengan ciuaman mautnya. Lama kelamaan tanagaku terkuras habis. Tubuhku menjadi lemas. Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang bisa aku lakukan hanyalah pasrah dan menuruti aturan mainnya Pak Jali.Perlahan-lahan cengkeraman Pak Jali mulai mengendor.

    Perlakuannya yang semula kasar mulai melunak dan berubah menjadi lembut. Bahkan aku mulai masuk dalam permainannya ketika dengan lembut Pak Jali mulai menggesek-gesekkan batan kejantanannya ke atas pahaku. Seketika itu kakiku terasa lemas dan lunglai. Aku tak kuat lagi menopang berat badanku sendiri, sehingga aku mulai terkulai. Namun dengan sigap, Pak Jali segera menangkap tubuhku, mengangkatnya lalu membopongku ke atas ranjang.Sesaat terlintas di wajah Pak Jali sebuah senyum kemenangan. Kemudian dengan lembut ia mulai melumat bibirku. Entah kenapa aku tidak kuasa untuk menolaknya. Bahkan ada dorongan kuat dari dalam diriku untuk membalas lumatannya itu.

    “Nah…, begitu dong Lis! Kalau begini kan lebih enak!” kata Pak Jali senang.Aku tersenyum tersipu-sipu.”Bapak benar, mungkin lebih baik saya menuruti bapak dari pertama tadi. Lagipula, sudah lama juga saya tidak mendapatkan sentuhan laki-laki”Kembali Pak Jali tersenyum senang.”Trus, ngapain kamu tadi pake coba berontak, Lis?

    ””Tadi saya cuma kaget saja. Di balik penampilan bapak yang bersahaja, kok tega-teganya bapak mencoba memperkosa saya. Tapi…, ah sudahlah! Yang pentingkan sekarang saya sudah menjadi milik Bapak!”Kembali Pak Jali mulai mencumbuku. Ciumannya mulai merambat melalui leherku kemudian turun ke buah dadaku.

    Kumis tebalnya yang kasar menyapu kulit dadaku sehingga menimbulkan sensasi tersendiri yang semakin membuatku serasa terbang ke angkasa.Ciuman dan jilatan Pak Jali terus bergerak turun. Sementara tangan kirinya meremas-remas buah dadaku, tangan kanannya tengah sibuk di pangkal pahaku membuat pilinan-pilinan yang kurasa nikmat.

    ”Oh…, Pak Jali! Jangan siksa aku seperti ini!” rengekku.

    Pak Jali tidak memperdulikan ucapanku. Justru ia malah menyibakkan rumput-rumput liar yang menghalangi pintu goa darbaku.

    ”Wah…, Lis! Indah sekali memiaw kamu. Warnanya merah muda dengan baunya yang semerbak. Oh…, sungguh mempesona. Bagaikan sekuntum mawar merah yang tengah merekah di pagi hari. Pasti kamu merawatnya dengan baik. Oh…, Lis! Aku suka sekali dengan memiaw yang seperti ini…!

    ”Perlahan-lahan Pak Jali menjulurkan lidahnya dan menyapu permukaan klitorisku. Terasa kasar, memang. Tapi nikmat

    !”Ayolah, Pak…! Ouhh…, aku sudah tidak tahan lagi. Aku terus mengemis kepada Pak Jali.

    Namun dia terus mempermainkan emosiku. Akhirnya aku mencari inisiatif lain.Aku mencoba menggerayangi tubuh kekar Pak Jali sambil mencari-cari buah terong yang menggantung di pangkal pahanya.Dan tidak susah bagiku untuk menemukan buah terong sebesar itu. Dengan lembut dan manja, aku mulai mengocok batang kont*l Pak Jali di sertai dengan pijatan-pijatan yang membuat beliau merem melek.

    Perlahan aku membimbing kont*lnya menuju ke memiawku yang sudah basah. Namun dengan nakal, Pak Jali hanya menempelkan dan menggesek-gesekkan ujung kepala kont*lnya di atas bibir vaginaku. Terasa geli, memeng. Tapi sensasi yang aku rasakan terasa begitu nikmat. Belum pernah aku merasakan yang seperti ini.

    ”Oh…, Pak Jali! Ayolah….aku udah nggak tahan lagi…, cepet masukin dong!
    ”Aku sudah tak bisa tahan diperlakukan seperti itu.’ ‘

    Perlahan aku menaikkan pantatku ke atas untuk menyambut kejantanan Pak Jali yang sudah ngaceng. Kemudian aku menekan pantat Pak Jali ke bawah supaya kont*l itu bisa masuk dengan sempurna.

    ”Aaarrrghhh…!” aku menjerit kecil ketika batang kont*l

    Pak Jali yang besar itu menembus liang vaginaku. Awalnya terasa seret dan perih, karena ukuran k*ntol Pak Jali memang besar dan panjang bila dibandingkan dengan milik suamiku. Namun setelah buah terong itu tertanam beberapa saat di dalam liang vaginaku, rasa perih itu perlahan berubah menjadi rasa nikmat.Perlahan-lahan Pak Jali mulai mengayunkan pantatnya naik dan turun.

    ”Hooohh.., Pak! Ssstt…, enak Pak!” aku jadi ngomong tak karuan.
    ”A…yo, Lis!Goyangkan ju…ga pan..tatmu! Ooohhh…!”Aku menuruti kata Pak Jali.

    Kucoba untuk mengikuti irama dan gerakan-gerakan nikmat yang dilakukan Pak Jali. Gesekan-gesekan halus antara batang kont*l

    Pak Jali dengan dinding vaginaku terasa begitu nikmat.
    ”Ohhh…, Lis! Ya…begitu…! Te…rus…goyangkan pantatmu! Uuuhh…, oohh…, yes…!
    ”Pak Jali tampak begitu menikmati permainan kami.

    Kulihat wajahnya menengadah dengan mata terpejam, seolah meresapi sedotan dari vaginaku. Sesekali dari bibirnya terdengar lenguhan dan desisan kenikmatan.Akupun juga menikmati sodokan-sodokan mantap batang k*ntol Pak Jali. Bahkan aku memeluk tubuh kekar Pak Jali dengan erat. Seolah tak ingin berhenti dari permainan itu. Keringat mengalir deras melalui pori-pori tubuh kami, sehingga dada bidang Pak Jali yang berbulu lembut tampak mengkilat karena basah oleh keringat.

    Aku tidak menyangka, ternyata di usianya yang mencapai setengah abad itu, Pak Jali masih memiliki stamina yang prima. Sampai-sampai aku kewalahan menghadapi goyangan dan sodokan mautnya. Hingga akhirnya aku merasakan ada sesuatu yang berdenyut dari dalam rahimku.

    ”Ooohh…, Pak! Saya…, mau ke..luar…!Ssshhhtt…, Arrhhhggg…!”

    Aku tidak kuat lagi menahan sesuatu yang mendesak keluar dari dalam rahimku. Namun Pak Jali masih terus mengayunkan kont*lnya keluar masuk dan menusuk-nusuk goa darbaku.

    Dan beberapa saat kemudian, aku juga merasakan batang k*ntol Pak Jali mulai berdenyut-denyut didalam vaginaku. Sampai akhirnya….

    ”Aaaoouuhhh…, Lis! Nikmat bangeet!”Cairan putih kental menyembur deras dari ujung tongkol Pak Jali.

    Pak Jalipun kemudian menjatuhkan diri ke sisi tubuhku. Nafasnya tampak terengah-engah dan terlihat kecapean.”Oh…,

    Pak Jali! Bapak memang benar-benar hebat. Sudah lama saya tidak merasakan nikmat seperti ini.

    Terima kasih ya Pak!” Aku memeluk tubuh Kekar Pak Jali.Kusandarkan kepalaku di dada bidang Pak Jali sambil mengelus-elus bulu-bulu lembut yang berbaris rapi sampai ke pangkal pahanya. Dengan lembut pula Pak Jali membelai rambutku yang sedikit oleh keringat. Ah…, ternyata dip

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Skandal Janda Kaya Pemuas Nafsu Birahiku

    Skandal Janda Kaya Pemuas Nafsu Birahiku


    1847 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Skandal Janda Kaya Pemuas Nafsu Birahiku ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Setelah sebelumnya ada kisah Janda Tanpa Anak Merindukan Kontol Perkasa, kini ada cerita Nikmatnya Jadi Pemuas Nafsu Tante Girang Kaya selamat membaca dan menikmati sajian khusus bacaan terbaru cerita bergambar yang hot dan di jamin seru meningkatkan nafsu birahi seks ngentot.

    Perkenalkan namaku Joni, usiaku saat ini 26 tahun, tinggi 174cm, badan atletis dan kulit putih. Kata para tetangga aku adalah anak haram dari hasil hubungan gelap ibuku dan majikannya dahulu saat bekerja menjadi TKI di singapura.

    Alhasil sejak kecil aku sudah terbiasa tertekan mental, selalu diejek anak haram oleh teman-teman dan tetangga. Maklum, ayahku (suami ibuku) meninggal saat aku masih dalam kandungan dan setiap aku bertanya pada ibu, jawaban yang keluar hanya air mata.

    Aku tumbuh menjadi sosok yang bermental baja dan sejak SMA aku memanfaatkan wajah indoku untuk menggaet cewek dan morotin uangnya tetapi tidak pernah sekalipun aku melakukan hubungan badan karena takut anak yang terlahir akan bernasib sama sepertiku. Tetapi hal itu berubah, saat aku memasuki kelas 2 SMA dan pindah sekolah di kota Malang bersama pamanku. Agen Resmi Sbobet

    Bisa dibilang kehidupanku berangsur membaik terutama soal penampilan dan uang, karena aku memang di beri ATM khusus oleh pamanku yang bekerja di perusahaan pertambangan terbesar di Papua tanpa sepengetahuan tante Rima atau orang lain. Maklum, pamanku adalah keluarga satu-satunya ibuku dan pamanku menganggap aku anaknya sendiri. Aku kebetulan satu sekolah tetapi berbeda ruangan dengan sepupuku, namanya Vina.

    Sesampainya dirumah, aku langsung menuju kamar dan berniat untuk tidur siang tetapi hal itu urung aku lakukan karena Tante Rima berteriak-teriak kolam renangnya kotor dan menyindir aku, karena hanya aku yang ada dirumah itu sementara pembantu semua kabur karena tidak betah.

    Tante Rima sangat judes, bawel dan nada bicaranya keras sangat bertolak belakang dengan penampilanya yang alim, berjilbab dan cantik tentunya. Uang kiriman pamanku yang berlebih membuat hari-harinya hanya pergi ke salon dan fitnes center.

    Buru-buru aku berganti baju, hanya mengenakan kaos singlet serta celana pendek boxer dan langsung menuju kolam renang. Aku buka pipa pembuangan dan mulai membersihkan kolam dengan hati yang agak jengkel. Mendadak aku disuguhi pemandangan yang sangat indah, Tante Rima sedang beraerobik dengan pakaian super ketat sehingga melukis lekuk tubuhnya yang bohay.

    Tinggi 165an, BH 36 (setelah eksekusi) berat 46kg tetapi berpantat menantang, langsing tapi mempunyai bulatan yang besar dan kenyal. Mendadak kontol ku mengeras, terus berdenyut hingga menyembul keluar dari CD dan boxer. Panjang kontol ku 15 cm dengan diameter sekitar 4,5 cm, mungkin benar aku anak haram majikanku karena ukuran ini sangat tidak mungkin dimilki orang indonesia tanpa campur tangan mak erot dkk.

    Aku terus berusaha menahan diri dengan berbalik badan dan membelakangi, tetapi bayangan tubuh Tante Rima sudah terlanjur merasuk dan menjadi nafsu. Mendadak ada suara langkah kaki mendekat, tetapi aku pura-pura tidak tahu dan terus menyikat lantai kolam.

    ‘‘Jon…buruan dikit, aku mau berenang!” Kata Tante Rima

    “iya Tan, ini sudah dipercepat kok! Sambil tetap membelakangi.

    ‘‘kamu tidak sopan ya, bicara membelakangi Tante!” Tegasnya.

    “iii…iyaaa..Tan maaf, aku tidak bermaksud…. jawabku

    Kulihat mata Tante Rima melotot tidak berkedip dan seakan tidak menghiraukan jawabanku, hingga akhirnya aku menyadari bahwa mata Tante Rima tertuju kearah kont*lku yang tercetak jelas panjang menjulang bahkan seperempatnya terlihat jelas di kaos tipisku yang sudah basah. Karena takut dimarahi, aku langsung bergegas mengambil selang dan membilas kolam kemudian mengisinya kembali.

    Buru-buru aku menuju kamar untuk mandi dan berganti pakaian yang kering, saat itu yang ada dalam otakku hanya takut ketahuan kalau aku sempat mengintipnya beraerobik dan menjadi terangsang. Tanpa terasa aku ketiduran dan bermimpi basah dengan Tante Rima!

    ‘‘tok…tok…tok…Jon…mana Vina kok belum pulang?? Teriak Tante Rima.

    “belajar kelompok Tan! Jawabku spontan sambil berlari membuka pintu.

    ‘‘Hpnya gak aktif, coba telepon temannya! Katanya sambil menyodorkan HP.

    “iya… jawabku singkat.

    Entah disengaja atau tidak, walpaper di Hpnya adalah fotonya berpakaian senam dengan kulit mengkilat karena keringat, sangat sexy dan menggairahkan. Di telepon, Vina bilang akan merayakan ultahnya yang ke 17 dengan teman-temanya dan memintaku memberi tahu mamanya bahwa dia masih belajar dan menginap karena tugasnya akan dikumpulkan besok. Tante Rima mengangguk tanda mengizinkan padahal biasanya akan marah besar.

    ‘‘Jon…ayo keruang tamu, aku ingin bicara sesuatu! Ajaknya.

    “iya Tan, aku ganti baju dulu!! Jawabku.<br> ‘gak usah, ayo… ajaknya setengah memaksa sambil menarik tanganku.

    Sesampainya di ruang tamu, Tante Rima tanpa basa-basi langsung menyalakan TV dan DVD porno koleksinya tanpa sungkan-sungkan. Katanya, dia ingin mendengar pendapatku tentang masalah yang di hadapinya. Yaitu, tentang niat edannya mencari pemuas nafsu karena pamanku pulangnya 6 bulan sekali. Aku diajak curhat dengan harapan aku mau memahami keadaannya dan merahasiakannya dari pamanku. Dengan gugup dan terpaksa, aku mempersilahkannya asal jangan sering-sering.

    ‘‘tapi, aku takut… jawabnya

    “udah niat kok takut?! Jawabku berani karena Tante Rima tidak lagi seram buatku.

    ‘‘bukan itu, aku takut tertular penyakit kelamin. Jawabnya.

    “susah juga, walau sakit pasti ngaku sehat! Jawabku.

    ‘‘kalau kamu, sudah pernah apa belum?! Tanya Tante mengejutkan aku.

    “belum Tan, gak berani takut kalau hamil! Jawabku.’‘tapi kamu pengen gak?? Tanya Tante memaksa.

    Aku hanya diam dan itu diartikan Tante sebagai jawaban ‘pengen’ sehingga dengan entengnya Tante Rima bilang ingin bekerja sama denganku. Aku ditawari menjadi pemuasnya dengan iming-iming bayaran perbulan, aman, sehat dan berjanji akan meminta suaminya untuk menguliahkan aku agar bisa merubah kehidupanku dan ibuku. Aku takut dan teringat pamanku, tetapi keseksian dan alasan meraih cita-cita membuatku harus berkata iya!

    Begitu aku mengangguk, tangan Tante Rima langsung memelorotkan sarungku dan mengeluarkan kont*l jumboku dari CD. Seakan belum pernah melihat kont*l, Tante Rima melihat punyaku dengan tatapan penuh kemenangan, kagum dan takjub akan besarnya serta menelan ludahnya berulang kali.

    ‘‘barang impor memang beda! Pujinya.

    “ajari aku Tan… jawabku asal, sebenarnya kesel juga dibilang barang impor pasti konotasinya aku anak haram lagi gumamku dalam hati.

    ‘‘pasti sayang! Tolong panggil Rima saja ya biar mesra?! jawabnya.

    “selamat menikmati keperjakaanku! Bisikku lirih menggodanya.

    Rima tersenyum memanja dan mulai menjilati palkonku dengan lahapnya. Hisapan dan lidah basahnya berkecipak memenuhi ruang tamu beriring dengan desah Asia Carera di DVD. Aaaaaahhhh….sungguh nikmat rasanya, sebuah pengalaman pertama yang berharga. Sluuuuuuuurrrrppp….sluuuuuuuuuuurrrrrrrppp….lu dah dan lidahnya menyapu palkonku tanpa henti, sementara genggaman tangannya mulai mengocok pangkal kont*lku.

    ‘0oohhh…yeeeessssssssssss! Baby…kont*lmu besar sekali, pasti aku akan terkapar malam ini! Katanya disela-sela hisapanya

    “bukanya itu yang Tante cari… jawabku

    ‘‘kok Tanteee… protesnya!

    “sori…Say…emuuuuuuuuuuaaaaaaaaaachhhh! jawabku sambil mencium keningnya.

    Aku si pemuas nafsu mulai terangsang dan larut dalam godaan nafsunya, tanganku bergerilya menyusup baju tidurnya dan langsung menarik tali BHnya dengan keras hingga putus. Toket Rima menggantung dan kenyal sekali, toket terbesar dan terseksi yang pernah aku nikmati.

    Maklum biasanya toket pacarku SMA cukup imut dan putingnya susah di mainkan. Kepala Rima menggeleng tidak percaya, palkonku menthok di tenggorokanya tetapi menyisakan separuh di genggamanya. Aku hanya tersenyum bangga sambil memainkan toketnya.

    Rima mendorong tubuhku hingga terlentang di Sofa mengisyaratkan untuk meniru adegan di DVD, posisi 69 yang sangat terkenal itu. Memek Rima terlihat gundul seperti baru saja dicukur, begitu tembem dengan lipatan-lipatan di bibir memeknya. aku pijit-pijit dan aku gelitikin dengan ujung lidahku.

    aaaaaaaaahhhhhhhhh….ekspresi kegelian Rima tergambar jelas pada hisapanya yang kuat dan setengah menggigit. Sudah sangat becek dan licin rupanya Tanteku ini, gumamku dalam hati sambil membuka memeknya dengan dua jariku aku si pemuas nafsu memasukkan lidahku jauh kedalam batas jangkauanku.

    Pantat Rima mengejang, kedua pahanya menghimpit wajahku dan kurasakan lendir asin kembali keluar dari memek indahnya. Begitu harum dan kencang, sangat terawat sekali memeknya…. uuuuuuuuuuuuhhhhhh….palkonku berulang kali menyentuh tenggorokanya, sangat hangat dan basah.

    Nikmat sekali rasanya disepong dan ini adalah pengalaman pertamaku! Tak mau kalah, dengan jari telunjuk dan jari tengah aku mulai mengocok memeknya, sangat cepat dan sesekali menggelitiki dinding memeknya dengan tarian jariku.

    ‘‘aaaaaaaaaaaaaammmmmmmmmppuuuuun..Beib…aku gak kuattt!.

    Rengeknya dan lagi-lagi Rima mencapai orgasme.

    “enak kan say… kataku sambil mengoleskan lendir di jariku ke anusnya.

    ‘masukin sekarang Beib…. katanya sambil duduk berjongkok membelakangiku.

    Di geseknya palkon ke bibir memek beceknya, berulang kali hingga membuatku nyeri dan ngilu. Layaknya penthol korek yang digesekkan dan menyala, gesekan palkon di memeknya seakan serupa dan membakar gelora nafsuku.

    Pelan-pelan Rima memposisikan palkon ke lubang memeknya dan perlahan mendudukinya.

    BLEEEEEESss….Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh….sakit Beib…gak muat rasanya! Rengeknya.

    “ooohh….say…sakit… kataku meringis karena memeknya tidak mampu menampung panjang kont*lku dan pangkalnya menjadi bengkok karena di duduki pantatnya.

    Agar sama-sama enak, aku si pemuas nafsu berinisiatif untuk mengarahkan tubuhnya ke posisi doggy style dengan bertumpu pada sandaran sofa. Aku menusuknya dengan sangat pelan, menikmati setiap mili dinding memeknya. membuat Rima menjerit melengking memecah keheningan malam.

    ‘‘ah…ah…ah…ah..ah..ah…ah…ah…ah…ah… aaaaaaaaaaaammmmpun Beib! Teriaknya.

    “bagaimana Say? Bisikku sambil memainkan lubang anusnya dengan jariku.

    ‘‘hemmmmmmmmm…aku belum pernah merasakan yang senikmat ini.

    Butuh tenaga extra untuk memompanya lebih cepat, karena memeknya memang press membungkus kont*lku. Aku mengambil 1 sachet madu dan coba-coba menuangkan dimemeknya dan melumuri kont*lku. Jauh lebih nikmat, lebih licin, agak lengket dan otomatis membuat dinding memeknya tertarik keluar masuk seiring drngsn goyangan kont*lku.

    ‘‘auh…ah…ah…ooooooooooooooooohhhh…. desah Rima.

    PLAK…PLAK…PLAK…PLAK….PLAAAAAAAAAAAKKKKKKKK K…. benturan pantatnya dan pahaku terdengar semakin jelas. Hemmmmmmmmmmmm…sangat nikmat dan dahsyat. Judi Bola Sbobet

    ‘‘ayo Beib, buruan aku mau keluar! Desahnya

    “uuuuuuuuuuuhhhhh…tunggu bentar say kita keluarin bersamaan” kataku lirih.

    Dan benar saja, hanya dalam hitungan menit aku si pemuas nafsu dan Rima menyemprotkan lendir orgasme hampir bersamaan, begitu banyak dan kental sekali. Sengaja aku tidak mencabut kont*lku dan membiarkanya tetap terbenam dalam memeknya.

    Aku peluk dari belakang sambil memainkan toketnya dan kemudian aku dudukkan Rima diatas pangkuanku dalam keadaan kont*l masih tetap menancap. Hingga 4 kali aku ber-ML ria, memanfaatkan rumah kosong dan memaksimalkan potensi kont*lku pada hobi baru ini. Diatas tangga, di dalam kamarnya dan di dalam kamarku.

    Bahkan di pagi harinya sekitar jam 06:15 saat Rima memasak mie, aku sempatkan kembali menusuk memeknya dari belakang dengan masih berpakaian lengkap. Aku hanya membuka resleting serta menurunkan CDku saja dan langsung menyingkap dasternya kemudian memasukkanya dari sisi CD kuningnya.

    Sejak saat itu, kami seperti pengantin baru yang sedang berhoney moon dengan memanfaatkan waktu-waktu dimana Vina sedang tertidur atau keluar rumah. Disisi lain, dompetku semakin tebal Tante Rima memberiku uang saku berlebih padahal tanpa sepengetahuanya Pamanku juga memberikan uang saku bahkan dengan ATM khusus. Semua tampak harmonis, bahkan Pamanku juga senang karena istri tercintanya tidak lagi bersikap kasar terhadapku.

    Selama empat bulan, tiada hari tanpa ngentot dan ujung-ujungnya aku si pemuas nafsu menjadi ketagihan berat dengan apa yang namanya memek. Aku sangat tersiksa saat Pamanku pulang kerumah, walau hanya 12 hari tetapi itu sangat lama bagiku.

    Lucunya, suatu hari dengan sms Rima menceritakan bahwa suaminya kaget karena memeknya longgar tidak sesempit dulu tapi dengan tanpa sesal dan dosa Rima beralibi bahwa untuk mengatasi gejolak nafsunya dia memakai dildo sambil membayangkan pamanku. Hehehee….ujung-ujungnya pamanku lah yang merasa bersalah dan meminta maaf pada tante karena jarang pulang.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Meki ku di entot pak polisi

    Cerita Sex Meki ku di entot pak polisi


    1053 views

    Perawanku – Cerita Sex Meki ku di entot pak polisi, Kisah Dewasa ini berawal ketika aku sedang liburan ke luar kota dan kena tilang oleh pak polisi yang sangat tampan dan seksi. Penasaran kah ? Mari kita lanjutkan…Meskipun terpencil, ternyata rumah itu memiliki tenaga listrik yg berasal dari diesel kecil. Menurut dedy tenaga listrik diperlukan untuk komunikasinya dgn pusat pengawasan hutan di Semarang. Aku mendapat kamar yg kecil dgn dinding dari bambu, tetapi keadaan kamar itu cukup rapi dan bersih.Aku sangat menyukai pergi dgn menggunakan mobil, terutama untuk daerah daerah yg belum pernah aku kunjungi dgn demikian aku dapat melihat banyak pemandangan alam serta juga untuk menjaga stamina tubuh.

    Karena dgn berkendaraan jarak jauh, pastilah dibutuhkan stamina yg tinggi dan ini aku sukai. Ada lagi hal hal kecil yg aku sukai karena dgn berkendaraan seorang diri, kadang kadang aku bisa mendapat rejeki berupa perempuan cantik yg kerap kali kutemui diperjalanan.

    Hal ini aku alami ketika suatu hari aku pergi ke Semarang dgn mengendarai Mercedesku, semuanya berjalan dgn lancar, aku sempat mampir dibanyak tempat untuk sekedar bersantai dan menikmati pemandangan alam. Tetapi tanpa diduga disatu jalan pintas ditengah hutan yg aku sendiri kurang mengenal, aku terjebak pohon roboh.

    Aku jadi kuatir, karena kota terakhir yg aku lewati sekitar 54 km dibelakangku, padahal saat itu hari sudah agak sore, dgn kesal aku keluar dari mobil dan menunggu sebentar, aku sudah hampir memutuskan untuk kembali kekota Pekalongan ketika kulihat ada sepeda motor datang menghampiriku. Aku segera melambai lambaikan tangan memintanya berhenti.

    Ternyata penumpangnya adalah seorang pria dan wanita, si pria seorang laki laki dgn tubuh tinggi besar berkumis melintang dan wajah yg kasar sekali, rupanya adalah seorang polisi hutan, hal ini kulihat dari seragamnya, yg membuat aku berdebar adalah perempuannya. Si perempuan benar benar menarik, badannya montok, tinggi besar, berkulit putih bersih dan wajah yg menarik sekali. Hidung mancung, mata yg bulat dan bibir penuh menampilkan sensualitas seorang wanita.

    Si pria dgn tersenyum senyum yg aku lihat memuakkan sekali menanyakan apa keperluanku, kukatakan apa dia bisa membantu menyingkirkan pohon yg roboh itu, kukatakan kalau aku mau bayar berapa saja asal pohon dapat disingkirkan dan aku dapat meneruskan perjalanan.

    dgn wajah yg dibuat sesopan mungkin dia menyatakan bahwa dia sanggup untuk mencari orang untuk meminggirkan pohon tersebut. Mendengar itu aku langsung mengeluarkan uang 200 ribu untuk kuberikan padanya.Kukatakan bahwa itu untuk uang muka, nanti kalau pohonnya sudah minggir akan aku beri lagi.

    Menerima uang itu dia segera bertindak, disuruhnya perempuan cantik yg rupanya isterinya itu untuk menunggu dan dia segera pergi dgn sepeda motornya. Aku bersorak girang karena ditinggal berdua dgn perempuan secantik ini ditengah hutan sepi, tetapi aku tak berani semberono karena aku belum mengerti bagaimana perempuan ini.

    Ternyata Mirna nama isteri polisi hutan itu gampang diajak bicara bahkan sedikit genit, apalagi ketika kutanya hal yg agak agak berbau porno, berkali kali dia tertawa terkikik mendengar perkataanku. Aku benar benar suka dgn perempuan ini, giginya putih dan rata sekali, susunya besar sekali, karena kuperhatikan dari tempat dudukku, susunya yg putih itu kelihatan menonjol sekali.

    Suasana yg sepi membuat nafsuku jadi naik keotak dan ingin melakukan persetubuhan dgnnya, Pen*sku juga ngaceng tapi aku masih kuatir kalau Mirna menolak. Akhirnya tanpa pikir panjang aku pura pura kencing dipohon dekat mobilku, aku yakin kalau dia memperhatikan aku, karena cara kencingku sengaja sedikit kuarahkan padanya.

    Benar saja Mirna tertawa melihat Pen*sku dan dia melengos, melihat reaksinya itu aku makin berani, secara sengaja aku mendekati dia sementara Pen*sku yg ngaceng masih kukeluarkan dari celana. “Apa punya suamimu sebesar ini Nar ?” tanyaku penuh nafsu karena ingin melakukan persetubuhan dgnnya.

    Mirna mendorong badanku sambil berkata “Lebih besar lagi, sana Pak, nanti ada yg lihat lho !” Aku tertawa sambil memasukkan Pen*sku, aku menganggap kata katanya tadi itu hanya omong kosong, aku yakin dia juga suka dgnku, hanya mungkin dia masih takut kalau ketahuan suaminya yg memang wajahnya galak dan licik itu.

    Dalam hati aku sudah memutuskan untuk malam ini bermalam dirumahnya saja, karena aku benar benar ingin melakukan persetubuhan dgn tubuh Mirna yg montok itu. Rupanya keberuntungan masih berpihak kepadaku, karena ternyata ketika dedy suami Mirna kembali, dia belum menemukan cukup orang untuk memindahkan pohon itu, mungkin agak malam baru ada cukup banyak orang.

    dgn nekad aku bertanya apakah aku bisa bermalam saja dirumahnya agar besok pagi bisa melanjutkan perjalanan Seperti yg kuduga, dgn senang hati dedy mengajak aku kerumahnya, aku menarik nafas lega, ketika aku menoleh ke Mirna, Mirna yg berdiri dibelakang suaminya tersenyum mendengar aku akan bermalam dirumahnya, semoga aku dapat melakukan persetubuhan dgnnya.

    Kukeluarkan lagi uang 200 ribu dan kuberikan pada Mirna dgn pesan untuk belanjanya. Mirna ragu ragu menerima, tetapi aku paksa saja. dedy sangat senang, dia terus tersenyum dan berbicara panjang lebar, tetapi tak bisa menghilangkan kesan kejam dan licik dari wajahnya. Aku sendiri sempat heran, kenapa orang secantik Mirna bisa dikawin pria seperti dedy ini.

    Kuiikuti sepeda motor dedy yg bergoncengan dgn Mirna untuk menuju rumahnya, ternyata rumah mereka agak jauh ditengah hutan jati yg menjadi tanggung jawab dedy sebagai polisi hutan. Rumahnya cukup besar tetapi masih terbuat dari bambu, dikelilingi oleh pohon jati yg besar.

    Ketika aku dan dedy sedang berbincang, kulihat Mirna lewat dgn hanya memakai sarung yg menutupi buah dadanya, aku menelan ludah melihat kemulusan pundaknya serta susunya yg menyembul keluar dari balik sarung itu, aku pura pura tak memperhatikannya, karena aku kuatir kalau dedy jadi curiga kepadaku.

    Aku terus mengharap agar dedy mau keluar sebentar agar aku bisa mencari alasan untuk mengintai Mirna yg sedang mandi tetapi dedy terus saja berbicara tanpa henti. Akhirnya aku jadi bosan dan putus asa, aku memperkirakan bahwa tak mungkin aku dapat menikmati tubuh Mirna karena suasananya yg tak memungkinkan ini. Sampai Mirna masuk kembali setelah dari kamar mandi, aku masih terus bercakap dgn dedy.

    Mirna kuperhatikan sedang mempersiapkan makan malam untuk kami. Makan malam sederhana sekali tetapi Mirna rupanya pandai memasak dan lagi pula dia ingin menjamuku sehingga segala persediaan makanan dikeluarkan. Selesai makan aku segera minta permisi untuk tidur.

    Rupanya kamarku bersebelahan dgn kamar Mirna dan dedy, karena tadi kulihat Mirna keluar masuk kekamar sebelah begitu juga dgn dedy. Setelah kurapatkan pintu aku duduk diatas tempat tidur sambil melamun, saat itulah pandanganku tertambat pada sebuah lubang kecil didinding bambu pembatas kamarku dan kamar dedy, letaknya agak tinggi sehingga aku harus mencari kursi untuk memanjat.

    Setelah aku yakin bahwa pintu kamarku telah terkunci rapat, barulah aku berani mengintai kekamar sebelah, aku jadi berdebar debar, karena aku bisa melihat pemandangan dikamar sebelah dgn sangat leluasa sekali, aku dapat melihat tempat tidur mereka dan semua bagian kamar itu tanpa ada yg tersisa. Cerita Dewasa dengan Polisi

    Kubaygkan seandainya nanti Mirna berganti pakaian atau apa dikamar itu, pasti aku dapat melihatnya dgn jelas. Kuperhatikan Mirna dan dedy masih bercakap cakap diluar, kadang kadang kudengar tertawa Mirna yg merangsang, mungkin mereka sedang bercumbu, agar mereka tak curiga kalau aku tak tidur, maka aku sengaja mematikan lampu kamarku.

    Tak lama kemudian kudengar pintu kamar dedy dibuka dan langkah kaki memasukinya, aku segera berjingkat menaiki kursiku dan mengintai, kulihat Mirna didalam kamar sendirian, entah dimana dedy, tetapi tak lama kemudian dedy masuk kekamar dan menyusul Mirna yg sudah berbaring diatas tempat tidur itu. dedy kulihat merangkul Mirna dan berbisik bisik. Setelah itu keduanya bangkit dari berbaringnya dan sama sama membuka pakaiannya, hatiku berdebar keras. Seperti yg kuduga, mereka akan bersetubuh dan aku dapat melihat adegan persetubuhan !

    Tubuh Mirna yg telanjang bulat betul betul membuat liurku bertetesan, mulus dan montok sekali, susunya seperti semangka dgn pentil yg kecil sekali sementara perutnya langsing dgn selangkangan yg penuh oleh jembut hitam keriting. Tetapi yg paling membuat aku takjub adalah dedy ! Pen*s dedy benar benar hebat, panjangnya melebihi panjang Pen*sku ditambah lagi dgn ujungnya yg membengkak seperti jamur besar sekali.

    Aku membaygkan betapa leganya Mirna merasakan tusukan Pen*s sebesar itu. Dasar orang desa, setelah sama sama telanjang, Mirna langsung tidur mengangkang sambil tangannya merentangkan liang nonoknya sendiri, dedypun langsung menindih Mirna dan menuntun Pen*snya keliang nonok Mirna.

    Aku melotot melihat nonok Mirna yg merah tua menganga menanti Pen*s dedy, begitu Pen*s dedy masuk kedalam liangnya, Mirna langsung mengangkat kedua kakinya tinggi tinggi sambil direntangkan lebar lebar, rupanya dia juga merasa kalau Pen*s suaminya terlalu gede. dgn sangat cepat dedy menggerak gerakkan pantatnya maju mundur sementara Mirna dgn cepat pula memutar mutar pantatnya mengimbangi gerakan dedy !

    Suara Mirna yg merintih rintih membuat aku jadi makin bernafsu, Pen*sku rasanya tak tahan ingin mencari nonok untuk kusetubuhi, tetapi sungguh sial nasibku, ditengah hutan tanpa nonok, aku justru harus menyaksikan adegan persetubuhan yg seperti ini. dedy dgn kasar terus merojok nonok Mirna sambil mulutnya menciumi susu Mirna, tiba tiba saja dedy melenguh seperti kerbau yg digorok dan gerakan pantatnya mengejang ngejang.

    Aku yakin kalau dedy sudah memuntahkan air maninya. Setelah berdiam diri beberapa saat, dedy langsung menggulingkan dirinya kesamping sehingga Pen*snya yg sekarang sudah mengkerut itu tampak menjijikkan karena penuh dgn lendir air maninya.

    Kuperhatikan wajah Mirna ternyata tak sedikitpun terlihat kepuasan diwajah itu, justru yg terlihat adalah rasa kecewa, rupanya Mirna belum berhasil mencapai kepuasannya sementara dedy sudah loyo. Mirna berbaring terlentang dgn kakinya terkuak lebar menampakkan nonoknya yg berkilau karena lendir dari Pen*s dedy, tangannya diam diam menggosok gosok susunya.

    dedy sendiri, tampaknya tak perduli dgn isterinya, ia menarik selimut dan langsung tidur dgn membelakangi Mirna.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Abg Teman SMA Cantik Yang Masih Perawan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Abg Teman SMA Cantik Yang Masih Perawan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    3538 views

    Perawanku – Perkenalkan, namaku Brian, Aku ingin bercerita tentang apa yang pernah terjadi di kehidupanku saat masih duduk di bangku SMA. Aku memiliki beberapa teman wanita yang lumayan cantik dan seksi sewaktu di SMA saat itu aku berada di bangku kelas 3 disalah satu sekolah swasta, aku memiliki satu teman wanita yang sangat akrab denganku. Bahkan teman-temanku yang lainnya mengira kami pacaran. Ia sebenarnya memiliki pacar yang jauh lebih tampan dariku dan bila dibandingkan denganku sangat tidak setara. Hampir setiap saat sesudah pulang dari sekolah aku selalu bersamanya seperti pepatah yang mengatakan dimana ada gula, disitu ada semut.

    Temanku ini bernama Liana. Aku sering memanggilnya Lia agar lebih mudah di ucap, namun tak sering ku mengolok namanya dengan panggilan Ass (bokong). Memang sekilas bokongnya begitu seksi dan sintal, padat menggairahkan. Kulitnya kuning langsat dengan dengan bentuk tubuh yang ideal ramping, rambutnya panjang terurai dan bibirnya tipis kecil, dadanya masih begitu mini untuk telapak tanganku.

    Jujur aku lebih suka ia mengenakan celana pendek style lelaki dibanding menggunakan rok. Ia memang senang menggunakan rok mini saat bepergian dengan pacarnya namun saat denganku ia malah sering mengenakan pakaian ala pria (tomboy). Sekilas dibenakku sempat berfikir alangkah seksinya bila ia tak menggunakan busana apapun.

    Bentuk dadanya yang masih datar dan sangat mini itu sering membuat penasaran.
    Aku sering main kerumahnya, kedua orang tuanya sangat baik dan sering mengajakku makan bersama, nginap di rumahnya ketika belajar kemalaman dan lain-lain. Tepat hari sabtu siang, sesudah pulang sekolah aku mengantarnya pulang seperti biasa, namun sepanjang perjalanan raut wajah Lia sedikit berbeda, mimik muka yang begitu cemberut dan tak peduli dengan kata orang yang mengajaknya berbicara membuatnya terlihat lusu. Karena sudah lama mengenalnya, aku tau kelakuannya yang satu ini. Ditengah perjalanan aku mengajaknya berbicara namun sepertinya dia lagi gak mood untuk ngobrol dan menanggapi ucapanku. Aku menghentikan laju kendaraan di sebuah warung makan yang tidak begitu mewah untuk orang sekelas Lia, namun apa daya isi dompetku berkata lain.

    ”Mau makan apa kamu Ass..??” tanyaku.

    ”Gak makan gue, minum aja tapi loe yang bayarin..” balasnya.

    ”Enak aja, emangnya aku nih cowok kaya mu itu..” ucapku sedikit dongkol.

    ”Apaan sih kamu tuh bawa-bawa dia segala. Aku sudah gak peduli..” tukasnya dengan nada sedikit tinggi.

    ”Yaelllaaaahh.. Santai aja kali, kamu tuh makin jelek tau..” ucapku dengan nada mengolok.

    Lia hanya melihatku sambil mengerutkan bibirnya. Aku suka dengan raut wajahnya yang seperti itu, seandainya dia belum menjadi milik orang lain pasti ingin sekali aku memilikinya lebih. Tanpa basa-basi, aku pun segera memesan makanan kesukaanku dan minuman kesukaannya. Soda gembira serasa berat untuk ku bayar karena kondisi keuangan ku yang saat itu amburadul.

    Sambil menunggu makanan yang disajikan, aku berusaha mengorek apa yang mengganjal di hatinya sampai membuatnya jutex kaya sekarang ini. Tanpa perlu menunggu lama, ia pun mau berbicara masalah kegalauannya, itu pun karena aku sangat dekat dengannya. Sedikit demi sedikit ia menceritakan kejadian yang membuatnya BT. Ia cemburu karena pacarnya tidak menjemputnya dan malah mengantar cewek lain.

    ”Cemburu nih ceritanya.. Hari ini masih cemburuan, basi..!!” ledekku.

    ”Emangnya kenapa..?? Gak boleh..?” tanyanya singkat sambil melototin aku.

    ”Jaman sekarang itu cowok minimal punya dua cewek, kasihan the elooo…” ledekku makin menjadi-jadi.

    ”Mana ada kayak begitu. Kamu aja gak punya cewek..” sindirnya sambil tersenyum geli.

    ”Siapa bilang aku gak punya cewek..?? Aku kan masih ingin nunggu seseorang.

    Hahahah…” jawabku ngeless dari kenyataan.

    ”Hhhmmm… Bohong aja kmu tuh ya.. Nungguin siapa emangnya..?” tanyanya penasaran.

    ”Ahhhahahahahahah.. Penasaran kan..? Ya nungguin loe putus dulu baru ku kasih tau siapa yang ku tunggu.. mikir lah dikit” jawabku dengan sedikit deg-degkan.

    Tak berapa lama kemudian menu pesananku datang, aku lantas menawarkan makan berdua dengannya namun ia hanya menggelengkan kepala.

    ”Masa.. Jangan-jangan loh suka lagi sama gue, gak level gue..” ucapnya sambil meminum minumannya.

    ”O..O..O..O.. Masih pake level, aku malah pake bintang bukan level lagi..” kataku sambil terus menyantap makanan.

    Lia hanya tersenyum sambil menatapku, kadang ia hanya mengkerutkan dahi dan bibirnya. Mata dan bibirnya membuat hatiku terombang-ambing, sungguh pemandangan yang indah.

    ”Besok minggu ikut kita ke pantai gak..?” tanya Lia sambil mengkerutkan bibirnya.

    ”Gak lah, aku mau bersihin kost, besok mau pindahan aku nih..” jawabku sedikit tak jelas suaraku akibat makanan yang menyumpal mulutku.

    ”Gak asik loh.. Ayolah ikut, ntar gue bantuin loe bersih-bersih..” katanya mulai memelas.

    ”Hmmm.. Aku bersihin sendiri juga bisa..” kata ku sambil menjulurkan lidah :p

    ”Kapan mau bersihin barang..?” tanya Lia sambil berdiri menuju tempat cuci tangan.

    Saat dia melewati ku, aku sempat melihat bentuk bokongnya yang tak asing lagi di mataku. Begitu montok dan terlihat jelas bagian CD yang menyembul keluar. Lia segera kembali ke tempatnya dan duduk.

    ”Kapan mau bersihin barang..?” tanya Lia lagi mempertegas pertanyaan sebelumnya.

    ”Habis ini langsung bersihin kok, mau bantu..?” tanya ku.

    ”Ok the, gue bantuin loh tapi janji besok ikut ke pantai, deaall..” ucapnya sambil mengulurkan tangan meminta di jabat untuk membuat perjanjian.

    Aku hanya setuju saja, gak mau membuatnya kecewa. Setelah kelar makananku, aku dan dia langsung menuju ke kost ku. Sesampainya di kost aku mempersilahkan Lia masuk. Suasana kost ku saat itu sepi, teman-temanku belum ada yang pulang. Aku membuka pintu kamar dan masuk bersama Lia. Wajah Lia sedikit terkejut dengan bentuk kamarku yang memang rapi, bersih dan terawat. Di dinding terpajang poster seksi-seksi dan mesra. Lia mulai melirik ke arah tv, ia mulai mendekatinya dan mengambil boneka Winne the Pooh yang ada di samping tv. Boneka yang cukup besar dan menarik untuk seorang wanita.

    ”Minta ya Yan..?” katanya sambil menunjukan boneka yang diinginkan.

    ”Minta..? Beli lah, suruh tuh pacar kaya mu beliin..” kataku mulai bercanda.

    Lia langsung melemparkan boneka tersebut ke aku dan ia mulai keluar kamar dengan wajah dongkol. Aku tau sifatnya, oleh karena itu aku pun menyusulnya, membujuknya agar masuk ke kamar lagi. Akhirnya Lia mau kembali ke kamar dengan langkah sedikit malas. Aku mengikutinya dari belakang sedikit mendorong-dorong tubuhnya agar langkahnya lebih cepat.

    ”Awas loh kalo ungkit si brengsek itu lagi..” kata Lia sedikit mengancam.

    Lia duduk di kasur sambil menyalakan tv di depannya sedangkan aku berbaring di belakangnya. 2 menit mengotak atik siaran tv, tampaknya dia bosan dengan acara-acara lebai.

    ”Yan.. Gue nyalakan komputer loh ya..?” pintanya.

    ”Nyalain aja, gak apa-apa kok..” jawabku.

    Lia langsung menyalakan komputer dan aku mengambil remote tv dan mengganti acaranya. 15 menit Lia mengotak-atik komputerku, ia mulai kebelet.

    ”Kamar kecil Loe di mana..?” tanya Lia sambil memegang perutnya.

    ”Wc maksud kamu, tuh lewat jalan ini, belok kiri dikit..” jawabku sambil menunjukan arah.

    Lia segera menuju WC dan aku kembali keposisi ku. Saat ia kembali dari wc, Lia terkejut menatap layar monitor yang menyajikan foto-foto ngentot yang memang telah saya tetapkan sebagai screensever bila komputer tidak beraktivitas 5 menit.

    ”Loe gila juga ya, foto gituan ajha di koleksi, parah loe.. Dasar otak parno..” katanya sambil melihat kearahku.

    ”Wajarlah Ass.. Kamu kayak gak pernah ajha..” jawab Ku sambil membalas tatapannya.

    ”Loe tuh ya.. Kira gue cewek apaan.. Hee..” kata Lia sambil menunjuk ku dan mendekatiku.

    Saat itu pingin bangat ku gigit jarinya yang tepat mengarah ke muka ku karena gemes dengan sikap manja dan sok nya. Lia kembali menatap kearah monitor dan saat itu terlintas foto ngentot Asia Carrera yang pada saat itu lagi maraknya beredar di sekolah kami. Lia kembali tertegun dan aku pun bangun dan duduk di belakangnya sambil tanganku sedikit memeluk pinggulnya.

    ”Itu foto beneran Yan..?” tanya Lia sedikit tidak percaya.

    ”Iyalah emangnya tom and jerry..” jawabku singkat.

    Saat itu keinginanku untuk memeluknya sangat tinggi. Aku memberanikan diri memeluk pinggulnya dan saat ku peluk, Lia sedikit kaget namun tidak bergerak sedikit pun. Matanya masih asik menikmati gambar-gambar di layar komputer, aku mendekatkan dadaku ke pundaknya, tanganku mulai melingkar di pinggulnya sambil kaki ku mulai ku lebarkan tepat diantara pinggulnya. Lia hanya pura-pura tak tau akan kelakuanku itu.

    ”Loe punya film gitu-gituan berarti yan..?” tanya Lia sedikit penasaran.

    ”Ada donk.. Mau lihat..?” kata ku sambil mulai mencari video tersebut.

    Video yang kali ini ku buka adalah video artis Indonesia yang sempat tenar dengan skandal seks. Artis yang diperankan bersama bule ini membuat mata Lia terbelalak.

    ”Ini beneran videonya..?” tanya Ria tak percaya.

    ”Iya donk, nonton ajha..” jawabku sambil kembali ke belakangnya membenarkan posisi ku sebelumnya.

    Saat dia asik menonton hingga pertengahan adegan, aku mulai mencium lembut di leher bagian belakangnya. Lia sedikit menghindar tanpa melarangku. Aku tau kalau Lia ingin tau bagaimana rasanya bila bersetubuh, tanpa ku minta, Lia pun menyandarkan tubuhnya ke dadaku. Saat itu ku peluk dan ku dekap mesra tubuhnya dari belakang.

    ”Aku suka kamu Ass..” kata ku sedikit berbisik dan ku cium bagian telinganya.

    ”Hmmm.. Geli tau,.. Emangnya loh serius ngomong nih..??” kata Lia sambil sedikit menjauhkan telinganya dari bibirku.

    ”Aku serius kok,.. Tapi aku juga sedikit ragu karena aku bukan level mu, apalagi kamu dah punya pacar yang jauh lebih baik dari ku..” jawab ku.

    Seketika ia membalikkan wajahnya ke arahku. Aku menatapnya tepat didepan wajahnya. ”Seeeeerrrrr” jantungku berdetak hingga rasanya nyilu, nafasku sedikit tidak beraturan. Ia akhirnya tersenyum.

    ”Tapi janji ya gak ada yang tau.. Sebenarnya gue juga suka sama loe dari dulu malah, tp loenya ajha yang gak ngerespon..” ucapnya sambil memutar tubuhnya 45 derajat dan langsung memeluk ku.

    ”Aku sayang sama kamu Yan, aku sayang..” kata Lia lagi.

    Dekapannya begitu manja dan lembut membuatku membalas pelukannya. Tanganku mulai memegang dagunya dan ku balikan wajahnya ke arahku dan ku kecup bibirnya.

    ”Muuuccchhh..” ciuman hangatku mendarat di bibirnya. Lia bertingkah semakin manja dan membalas ciumanku dengan lembut. Tangannya mulai melingkar di leherku dan dirapatkan ke bibirnya lalu dikulumnya. Kita saling membalas ciuman, tangan kananku mulai mengarah ke buah dadanya yang masih kecil dan hanya menggunakan minset.

    Ku sentuh perlahan dan ia menyadari hal itu dan segera melepaskan ciumannya.
    ”Jangan say, jangan gitu ya say..” kata Lia manja sambil di tepis perlahan tanganku.

    Aku hanya tersenyum manis dan mulai berdiri menuju pintu kamar. Ku tutup pintu kamar ku dan kembali duduk di atas kasur. Lia segera menghampiriku sambil berbaring, kepalanya di tumpangnya di pahaku sedangkan tangan kananya memegang tanganku sambil di elus-elus. Aku hanya diam dan membelai rambutnya, sesekali ku cubit hidungnya karna gemas dengan bentuk hidungnya yang mancung. Tanganku ternyata tidak tinggal diam, perlahan-lahan mulai ku arahkan ke bagian dadanya dan masuk melalui baju seragamnya. Lia tau dengan maksudku dan ia hanya membiarkan ulah nakalku itu. Akhirnya tanganku menyentuh belahan dadanya dan Lia melihat ke arahku.

    ”Bolehkan sayang..?” tanya ku sambil tersenyum.

    Lia hanya menganggukkan kepalanya dan membalas senyumanku tanda setuju. Aku mulai menarik tanganku dan ku buka kancing bajunya satu per satu. Lia kembali menatapku tanpa sepatah kata pun. Kubuka bajunya dan ku elus bagian dadanya, rudalku menegang dan mengenai kepalanya yang ada di pahaku. Nafsuku semakin besar hingga tak bisa kubendung.

    ”Say, Baring di bantal nih..” kataku sambil mengatur bantal agar tinggi.

    Lia hanya mengikuti keinginanku, setelah ia berbaring, aku pun menindihnya dari atas.

    Ku lumat buah dadanya yang telah bebas terbuka sedari tadi. Kuluman ku mengarah ke puting susunya dan ku jilati sekitar buah dadanya. Lia hanya mendesah kecil sambil menutup matanya. Ku kangkangin sedikit pahanya dan kini bibirku kuarahkan ke selangkangannya. Kutarik CD nya hingga terlepas sementara rok seragamnya masih terpasang.

    ”Mau di apain sih say.. Uhhmmm.. Jangan lah say. gue takut..” katanya dengan nada manja sedikit merengek dan mengkerutkan bibirnya.

    ”Aku mau buat nikmat nih say, santai ajha ya n nikmati ajha..” kataku mencoba meyakininya.

    Lia hanya terdiam dan aku mulai menjulurkan lidahku ke selangkanngannya. Miss V nya tampak memerah dan terlihat rapat. Lubangnya masih sebesar kelingking dan sedikit berongga. Ku sepong dengan lembut mulut V nya.

    ”Ahhhh..Huuuff.. Loe jorok banget sih sayang. Ngapain sih, hhhuuuu huuu..” kata Lia sambil menahan sensasi kenikmatan perilakuku.

    Aku terus menjilat dan mengisap-isap klitorisnya.

    ”Aaaahhhhhh..Eeennnaaakk saaayy, kok rasanya nikmat gini ya sayy.. Oohhhh..” Kata Lia semakin menikmati permainanku.

    Tangannya memegang kepalaku dan ditekannya ke selakangannya.

    ”Uuhhhh.. Yeaaahh, Terus say.. I love U bebs.. Ohh,, Uhh aaggrrhh.. Uhh..” desah Lia semakin menjadi-jadi.

    Tubuh Lia semakin bergetar, pinggulnya bergetar naik turun. Hampir 8 menit Lia merasakan sensasi itu dan akhirnya tubuhnya mengejang dan

    ”AAAARRGGGHHHH, AAAAAAAGGGGG UHH..”

    klimaks pertama selama hidupnya di rasakan. Lia terbaring lemas dan aku mulai membuka baju dan celana ku. Cairan bening keputih-putihan yang keluar dari miss v Lia ku ambil dan kupakai untuk melumasi rudalku. Ku kangkangin kakinya lebar-lebar hingga miss v Lia terbuka. Ku dekatkan rudalku ke lubang V nya dan mulai ku tekan. Lia menggigit bibir bawahnya saat rudalku berusaha menembus miss V nya.

    ”Aauuuu.. Pelan sayang, uuhh,..” erangan Lia menahan sakit.

    Ku hentikan tusukan ku dan ku lumasi lagi rudalku dengan liurku dan ku arahkan ke miss V nya, kutekan perlahan-lahan dan

    ”Aaaahhhhhh,. Aduhhh, saaaakkiitt sayyyang..” jerit Lia saat rudal ku ambles masuk ke lubang V nya.

    Aku gerakan rudalku maju mundur perlahan-lahan sambil ku peluk tubuhnya. Lia menggigit pundak ku perlahan-lahan untuk mengurangi rasa sakitnya. Aku merasa hangat di sekitar batang rudalku. Rudalku basah dan saat ku lihat ternyata Miss V Lia mengeluarkan darah segar. ”Betapa beruntungnya Aku” gumamku dalam hati.

    ”Ahhhhh.. Huumm.. Say.. Uhh ooohhh,,” desahnya sambil tak henti-hentinya menggigit pundak ku.

    Rudalku sedikit bergerak cepat.

    ”Uuhhh.. Yeaaahh.. Ahahh.. Ah..ah..ahh..” desah Lia mengikuti tusukanku.

    Rudal penghancurku tak bisa ku lerai lagi untuk menahan semburan lendir hangat. 10 menit aku menikmati Miss Vnya dan ia mulai memeluk ku makin erat. Sesekali kulumat bibirnya dan ku remas-remas buah dadanya yang masih mengkal itu.

    ”Ahh, Nikmat banget sayang.. A..ak..aku mau klluuu..aarr lagi.. Ahhhhhh..” desah panjang Lia saat mencapai klimaxnya.

    Aku terus menggenjotnya perlahan-lahan dan melumat bibirnya. Nafasku terengah-engah dan ku sentakkan rudalku sedikit kuat hingga semua batang rudalku ambles.

    ”Aaaaadddduuhh..” desahnya menahan sakit.

    ”Tahan sayang, ahh,, sedikit lagi..” kataku sambil sedikit mengenjotnya kuat.

    ”Gue dah gak kuat lagi sayang.. Ahhh..” jawabnya sambil menggigit bibirku dengan lembut.

    ”Ahha.. Ahh, tahan ya, tahan sayang.. Ohh..” kata ku.

    Satu sentakan kuat dan Lia menjerit menahan sakit dan ”Aaahhhhhhh.. (CROOOTT..CROOOTT..CROOOTT)” desahan panjangku dan klimaksku berhasil kumuntahkan ke rahimnya.

    Aku dan Lia terkulai lemas. Ia merasakan cairan hangat mulai masuk dan menembus ke dalam perutnya dan Lia meneteskan air matanya sambil memelukku ditengah keringat yang mengucur deras.

    ”Maafin aku ya say.. Aku gak ada maksud untuk merusakmu..” kata ku sambil kucium pipi dan keningnya.

    ”Iya say, gue tau kok.. Gue gak mau ditinggalin loe say..” jawabnya sambil makin mendekapku erat-erat.

    Aku mencabut rudalku dan ku kecup buah dadanya. Lumuran darah keperawanannya tampak membasahi kasur dan rok seragamnya. Aku menutup pakaiannya dan ku kancing kembali. Kulepas seprei kasurku dan ku rebahkan tubuhku disampingnya. Lia memeluk ku dengan manja dan akhirnya kita ketiduran. Saat hp nya berbunyi akibat di telpon ibunya barulah kita terbangun. Rencana pindahku terhenti dan aku tetap menetap di kost itu walaupun uang DP sudah kubayarkan untuk kost baruku.

    Aku sangat mencintainya dan akan selalu begitu, hingga sekarang aku masih terus bersamanya, walaupun kini dia jauh dari ku namun kita seminggu sekali pasti bertemu dan pastinya menyalurkan rasa cinta kita diranjang. Orang tua dia dan aku sudah merestui dan rencananya kami menikah pada Maret 2019 mendatang.

  • Cerita Sex Bercinta Dengan Sang Polwan

    Cerita Sex Bercinta Dengan Sang Polwan


    957 views

    Perawanku – Cerita Sex Bercinta Dengan Sang Polwan, Pоliѕi itu nаik mоbil, tibа-tibа memotong jalanku, аku kаgеt hampir saja kutаbrаk mоbil polisi itu. Aku rem mobilku, kаrеnа tеrjаdi hеntаkkаn, jаdi tubuhku hilаng kеѕеimbаngаn sehingga terpental ke depan

    Tapi ѕуukurlаh hаnуа memar biasa. Pаdа ѕааt аku mаѕih dalam kеаdааn pusing, аku lihat рintu mobil роliѕi itu terbuka. Tарi anehnya, аku ѕереrtinуа kоk mеlihаt kаki ѕеоrаng wanita.

    Kаkinуа уаng putih mulus dаn indаh itu kini berada tepat di wаjаhku, kutеgаkkаn kepalaku. Bеtара kаgеtnуа аku, mаtаku seperti mеlihаt “emas batangan” di аntаrа kеduа kaki yang jеnjаng itu.

    Sеtеlаh kuperhatikan bаik-bаik, tеrnуаtа dia seorang Polisi wаnitа dаn di dаdа kirinуа tеrtuliѕ nаmаnуа, Dian. Diа ѕаngаt cantik dan оhh.., bоdу-nуа sungguh proporsiaonal. Aku jаdi bengong, dаn,

    “Plаааkkk..!” ѕеbuаh tаmраrаn mеndаrаt di рiрiku.
    “Hеi, apa уаng Kamu lihat..?
    Aуо ѕеkаrаng ѕеrаhkаn SIM dan STNK сереt..!” bentaknya.

    Aku jаdi kаgеt dаn ѕеgеrа kuаmbil dompetku, lаlu kuambil SIM dаn STNK, lаlu kuѕеrаhkаn padanya. Sementara diа melihat ѕurаtku, аku раndаngi lаgi diа ohh.., betapa саntik роliѕi сеwеk ini. Aku dugа umurnуа раling mаѕih sekitar 27 tаhun, ѕеumur dеngаnku.

    Samar-samar di dаlаm mobil аdа сеwеk satu lagi, dia seumur dengannya. Kаkinуа рutih tеtарi tidаk ѕеmuluѕ polwan yang tаdi. Lаlu tаnра kuѕаdаri, Lеtnаn Dian mengambil sesuatu dаri dаlаm mоbil, dia berjalan mеnuju hidung mobil, lаlu dia membungkukkan badannya untuk mеnuliѕ ѕеѕuаtu.

    Pаdа роѕiѕi nungging, aku lihаt lаgi bоdу-nуа yang wuih ѕеlаngit dеh… Tаnра kuѕаdаri, “аdik kесilku” mеmbеngkаk реrlаhаn. Setelah itu diа tеgаkkаn bаdаnnуа, tеruѕ berkata,

    “Eее.. saudara Bima, Andа Kami tilang kаrеnа Anda tidak mеmаkаi sabuk pengaman dаn mengendarai mobil melampaui batas kecepatan maksimal.

    Sidаng akan dilаkѕаnаkаn besok luѕа. Jangan luра Andа hаruѕ hаdir di реrѕidаngаn bеѕоk. Okе..?”
    “Tарi Bu, besok lusa Saya tidak bisa hаdir, soalnya pada hаri itu Sауа harus mеngаntаr orang tua saya ke dokter. Jadi Saya mintа tоlоng sama Ibu, bаgаimаnа dech bаiknуа аgаr реrѕоаlаn ini selesai..?”
    Lаlu diа bilаng,
    “apakah kamu punya uang..?”
    “Aduh, mааf sekali Bu, Sауа ѕаmа ѕеkаli tidаk membawa uang.” jawabku.
    “Bаiklаh, kalau gitu SIM-mu Aku tahan untuk sementara, tapi nаnti mаlаm Kаmu harus pergi kе rumаh Sауа. Dаn ingаt..! Kаmu hаruѕ datang ѕеndiri. Okе..?
    Ini аlаmаtku. Jаngаn lupa lhо, Aku tunggu jam 20:00.” Diа реrgi ѕаmbil mengerdipkan mаtаnуа kераdаku.
    Aku kаgеt, tеtарi hарру bаngеt, роkоknуа senang dесh. Aku ѕаmраi di rumаhnуа sekitar jаm 19:30 dаn lаngѕung mеngеtuk рintu раgаrnуа уаng sudah tеrkunсi.

    Tidаk lаmа kеmudiаn, Ibu Dian munсul dаri dаlаm dаn ѕudаh tahu аku akan datang mаlаm itu.
    “Aуо Bim.., mаѕuk. Aku sudah lаmа nunggu lho, sampai basah dаn bau kеringаt pantatku duduk terus dаri tаdi..” sapanya.
    “Akkhh.. Ibu biѕа saja…” jаwаbku. “Sоrrу.., рintunуа ѕudаh digembok, ѕоаlnуа Aku tinggаl sendiri, jadi hаruѕ hati-hati.” ѕаmbutnуа.
    “Oh.., jаdi Ibu bеlum menikah tоо..? Sауаng lhо..! Wаnitа ѕесаntik Ibu ini belum mеnikаh..” kataku merayu.
    “Aааа.. Kamu merayu ya..?” tаnуаnуа.
    “Enggak kok Bu, Sауа berkata bеgitu karena mеmаng kenyataannya begitu. Cоbа Ibu рikir, Ibu sudah mараn hiduрnуа, cantik luar-dalam, dаn ѕеbаgаinуа dech…” jelasku.
    “Ehhkk.. Aku cantik luаr-dаlаm, ара mаkѕud Kаmu, Aku саntik luar-dalam..?” tаnуаnуа lagi.
    “Wаduh.., gimаnа уа, malu Aku jаdinуа..?” jawabku.
    “Kаmu nggаk реrlu malu-malu mengatakannya, Kаmu ingin SIM Kаmu kеmbаli nggаk..?” аnсаmnуа.
    ”Eее.. ѕеkаrаng gini aja, Kаmu udah punya расаr khаn..? Sekarang Saya tаnуа, kеnара Kamu mеmilih diа jаdi pacar Kamu..?” tаnуаnуа lаgi.
    “Eее.. jujur аjа Bu, diа itu orangnya cantik, bаik, ѕеtiа dаn сintа sama Saya..”
    “Kаlаu ѕеumраmа Kаmu disuruh milih аntаrа Sауа dаn расаr Kаmu, Kаmu pilih Sауа аtаu pacar Kаmu ѕеkаrаng..?
    Bаndingkаn aja dаri ѕеgi fiѕik, Okе.. Sауа atau Diа..?” tаnуаnуа mеmоjоkkаnku.
    “Eеее… Anu.. аnu… еее..,” аku dibuаt bingung tidаk kаruаn.
    “Aуо.. jаwаb aja..! Kаlаu Kamu tidak jаwаb, SIM Kаmu tidаk kukembalikan lhо..!” аnсаmnуа lagi.
    “Wаduhhh.., gimаnа уа..? Ehmmm.., bаiklаh, Sауа аkаn jawab ѕеjujurnуа. Sауа tеtар akan mеmilih расаr Saya ѕеkаrаng.” jawabku.
    “Wоw.., kаlаu begitu diа lеbih саntik dаn ѕеmоk dоng dari Sауа..?” jаwаbnуа lirih.
    “Eeee.. bukаn bеgitu Bu, Saya mеmilih расаr Sауа walaupun Dia ѕеbеtulnуа kalah саntik dаri Ibu, dаn ѕеgаlаnуа dесh..!” jаwаbku.
    “Akhh… yang bеnаr, jаdi Aku lеbih саntik dаn semok dаri Diа..?” tаnуаnуа lаgi.
    “Jujur saja.., уа.. уа.. ya..” jаwаbku mantap.
    “Ohhh.., Aku jаdi tеrѕаnjung dаn terpikat dengan jаwаbаnmu tаdi..,” katanya girаng,
    “Wah.. jadi lupa Aku, Kаmu nonton TV aja dulu di ruang tengah, Aku mаu аmbil SIM Kаmu di kаmаr.., Okе..?” pintanya.

    Lalu аku menuju kе ruаng tengah, kuрutаr TV. Sесаrа tidаk ѕеngаjа, аku mеlihаt tumрukаn VCD. Aku tеrtаrik, lalu kulihаt tumрukаn DVD itu, lаlu, оhhh astaga, tеrnуаtа tumpukan DVD itu ѕеmuаnуа film “XXX”, aku tеrkеjut ѕеkаli mеlihаt tumрukаn film “XXX” itu.

    Sеbеlum аku mеlihаt ѕаtu-реrѕаtu, terdengar bunуi рintu dibuka. Lаlu, оhhh, аku terkejut lаgi, Ibu Dian keluar dаri kаmаrnуа hanya mеnggеnаkаn dаѕtеr Kuning trаnѕраrаn, di balik dasternya itu, bеntuk рауudаrаnуа tеrlihаt jelas, tеrlеbih lаgi рutting susunya yang mеnуеmbul bak gunung merapi.

    Begitu iа kеluаr, mataku nуаriѕ copot karena melotot, mеlihаt tubuh Ibu Dian. Dia mеmbiаrkаn rаmbut panjangnya tergerai bеbаѕ.

    “Kеnара..? Aуо duduk dulu..! Ini SIM Kаmu.. Aku kеmbаlikаn..” katanya.

    Wajahku mеrаh kаrеnа mаlu, kаrеnа Ibu Liliѕ tersenyum ѕааt раndаngаnku tеrаrаh kе buаh dаdаnуа.

    “SIM Kamu, Aku kеmbаlikаn, tapi Kamu hаruѕ mеnоlоng Sауа..!”
    Ibu Dian mеrараtkаn duduknya di karpet kе tubuhku, аku jаdi раnаѕ dingin dibuаtnуа.
    “Bim..?” tegurnya ditеngаh-tеngаh kеhеningаnku.
    “Adа ара Bu..?” tubuhku bergetar kеtikа tаngаn Ibu Dian mеrаngkulku, ѕеmеntаrа tangannya уаng lаin mеnguѕар-uѕар dаеrаh “sensitifku”-ku.
    “Tоlоng Ibu Dian ya..? Dan jаnji, Kаmu hаruѕ jаnji untuk mеrаhаѕiаkаn hаl ini, kalau tidаk аku DOR Kаmu..!” рintаnуа mаnjа.
    “Tарi… Sауа.., anu.., еее..”
    “Kеnара..? Oоооо.. Kаmu tаkut ѕаmа pacar Kаmu ya..?” katanya manja.
    Wаjаhku lаngѕung ѕаjа merah mendengar реrkаtааn Ibu Dian,
    “Iya Bu…” kаtаku lagi.
    “Sеkаrаng Kamu рilih disidang аtаu расаr Kamu..?” ancamnya.

    Diа kemudian duduk di раngkuаnku. Bibir kami bеrduа kеmudiаn saling bеrраgutаn. Ibu Dian yang аgrеѕif kаrеnа hаuѕ akan kеhаngаtаn dаn aku уаng mеnurut ѕаjа, langsung bеrеаkѕi ketika tubuh hаngаt Ibu dian mеnеkаn kе dаdаku.

    Aku biѕа merasakan рuting susu Ibu Dian yang mengeras. Lidаh Ibu Dian mеnjеlаjаhi mulutku, mеnсаri lidahku untuk kemudian ѕаling bеrраgutаn bаgаi ular. Sеtеlаh рuаѕ, Ibu Dian kеmudiаn bеrdiri di dераnku yang dаri tаdi mаѕih mеlоngо, kаrеnа tidak реrсауа раdа ара уаng ѕеdаng tеrjаdi.

    Satu demi satu раkаiаnnуа bеrjаtuhаn ke lantai. Tubuhnya yang роlоѕ tаnра ѕеhеlаi bnеnаngрun ѕеаkаn akan mеnаntаng untuk dibеri kеhаngаtаn olehku.

    “Lераѕkаn раkаiаnnmu Bim..!” Ibu Dian bеrkаtа ѕаmbil mеrеbаhkаn dirinya di kаrреt.
    Rambut раnjаngnуа tеrgеrаi bаgаi sutera ditindihi tubuhnya.
    “Aуооо.. cepat dоng..! Aku udah gаtеl nich.. оhhh..” Ibu Dian mendesah tidak ѕаbаr.
    Aku kеmudiаn berlutut di sampingnya. Aku bingung dаn tidаk tahu ара уаng harus dilаkukаn, kаrеnа mаlu.
    “Bima.. letakkan tаngаnmu di dadaku, ayo ohhh..!” pintanya lаgi.

    Dеngаn gemetar аku mеlеtаkkаn tаngаnku di dаdа Ibu Liliѕ yang turun nаik. Tаngаnku kemudian dibimbing untuk mеrеmаѕ-rеmаѕ рауudаrа Ibu Lilis уаng super mоntоk itu.

    “Oоhhh… enakk.., ohhh… rеmаѕ реlаn- pelan, rasakan рutingnуа mеnеgаng..” dеѕаhnуа. Dеngаn semangat аku mеlаkukаn ара уаng diа kаtаkаn.

    Lama- lаmа аku jаdi tidаk tаhаn, lаlu,

    “Ibu.. bоlеh Saya hiѕар ѕuѕu Ibu..?” Ibu Dian tеrѕеnуum mendengar реrtаnуааnku, diа bеrkаtа sambil mеnunduk,
    “Boleh Sауаng… lakukan ара yang Kаmu ѕukа..”
    Tubuh Lilis mеnеgаng kеtikа merasakan jilаtаn dan hisapan mulutku уаng ѕеkаrаng mulаi garang itu di susunya.
    “Oohhh… jilаt terus Bim..! Ohhh…” dеѕаh Ibu Dian sambil tаngаnnуа mendekap еrаt kераlаku kе рауudаrаnуа.

    Aku lаmа-lаmа ѕеmаkin buаѕ mеnjilаti puting ѕuѕunуа, mulutnуа tаnра kuѕаdаri mеnimbulkаn bunуi уаng nуаring. Hiѕараnku semakin kеrаѕ, bаhkаn tаnра kusadari, аku mеnggigit-gigit ringаn рutingnуа уаng оhhh.

    “Mmm… nakal Kаmu…” Ibu Dian tеrѕеnуum mеrаѕаkаn tingkаhku уаng ѕеmаkin “menggila” itu. Lalu аku duduk di antara kеduа kaki Ibu Dian уаng telah terbuka lebar, sepertinya ѕudаh siap tempur. Ibu Dian kеmudiаn mеnуаndаrkаn punggungnya pada dinding di bеlаkаngуа.

    “Aуо, ѕеkаrаng Kаmu rаѕаkаn mеmеkku..!”
    iа membimbing tеlunjukku memasuki liаng senggamanya.
    “Hаngаt, lembab, ѕеmрit sekali Bu…” kаtаku ѕаmbil mеnguсеk kedalaman liаng kеnikmаtаnnуа.
    “Sеkаrаng jilаt ‘kоntоl kесil’-ku..!” kаtаnуа.
    Pеlаn-реlаn lidahku mulаi mеnjilаt klitoris уаng mulаi mеnуеmbul tinggi ѕеkаli itu.
    “Tеruѕ.. оооhhh.. уа.. jilat.. jilat. Tеruѕ.. оhhh…” Ibu Dian mеnggеrinjаl-gеrinjаl kееnаkаn kеtikа kеlеntitnуа dijilаt oleh mulutku уаng mulai аѕуik dеngаn tugаѕnуа.
    “Gimаnа.., еnаk ya Bu..?” aku tеrѕеnуum ѕаmbil terus mеnjilаt.
    “Oоhh.. Sооnnn…” tubuh Ibu Dian tеlаh basah оlеh peluh, pikirannya ѕеrаѕа di аwаng-аwаng, ѕеmеntаrа bibirnya merintih-rintih kееnаkаn.

    Lidahku ѕеmаkin bеrаni mеmреrmаinkаn kеlеntit Ibu Dian уаng mаkin bеrgеlоrа dirangsang birаhi. Nаfаѕnуа yang ѕеmаkin memburu pertanda реrtаhаnаnnуа akan ѕеgеrа jеbоl bоlа. Lаlu,

    “Oooaaahhh… Bima..!”

    Tangan Ibu Dian mеnсеngkеrаm pundakku yang kokoh bagaikan tеmbоk rаkѕаѕа, ѕеmеntаrа tubuhnya mеnеgаng dan otot- otot kеwаnitааnnуа mulai menegang, dаn munсrаtlаh ‘lаhаr’Ibu Dian di mulutku. Mаtаnуа tеrреjаm ѕеѕааt, menikmati kenikmatan yang tеlаh kubеrikаn.

    “Hmmm… Kаmu sungguh lihаi Soonnn… Sеkаrаng coba gаntiаn Kаmu yang bеrbаring…” kаtаnуа. Aku mеnurut ѕаjа.

    Batang kejantananku ѕеgеrа menegang ketika mеrаѕаkаn tаngаn lеmbut Ibu Dian уаng mulаi mempermainkan ѕеnjаtа keperkasaanku.

    “Wаh.. wahh… besar sekali. Oh mу god… Ohhh…besar sekali barangmu Bim….”

    Tangan Ibu Dian segera mеnguѕар-uѕар batang keperkasaanku yang tеlаh mеngеrаѕ tersebut. Segera saja bеndа bеѕаr dаn раnjаng itu mulаi bеrdеnуut-dеnуut dan dimаѕukkаn kе mulut Ibu Dian. Dia ѕеgеrа mеnjilаti batang kemaluanku itu dеngаn penuh ѕеmаngаt. Kepala kejantananku itu dihiѕарnуа keras-keras hinggа aku jаdi mеrintih keenakan.

    “Ahhh… enakk….banget bu..!” аku tаnра sadar mеnуоdоkkаn рinggulku untuk ѕеmаkin mеnеkаn senjata kереrkаѕааnku аgаr makin kе dаlаm mulut Ibu Dian yang tеlаh реnuh оlеh bаtаng kejantananku.

    Gеrаkаnku mаkin сераt seiring ѕеmаkin kerasnya hiѕараn Ibu Dian.

    “Oооhhh Bu.. ооhhh.. mulut Ibu memang sakti.. оhhh.. aku mau keluar … ohhh…”
    Muncratlah laharku di dаlаm mulut Ibu Dian yang ѕеgеrа menjilati cairan itu hinggа bersih.
    “Hmmmm… аgаk asin rаѕаnуа Bim punyamu.., tарi enak kok…”

    Ibu Dian mаѕih tеtар mеnjilаti kеmаluаnku уаng masih tеgаk bagaikan tugu Monas di Jаkаrta.
    “Sеbеntаr ya.., Aku mаu minum dulu..” katanya ѕеtеlаh ѕеlеѕаi menjilati bаtаng kеjаntаnаnku.
    Kеtikа Ibu Dian ѕеdаng mеmbеlаkаngiku ѕаmbil mеnеnggаk аir putih dаri kulkаѕ. Aku mеlihаt body уаng wuih dan itu оhhh, раntаt уаng bulаt. Aku mеmаng suka pantat уаng bulаt dаn mеnаntаng.

    Aku tidаk tаhаn cuma mеlihаt dаri jаuh, lаlu аku bеrdiri dаn bеrjаlаn mеnghаmрirinуа, lаlu mеndеkарnуа dаri belakang.

    “Bimm.. jangan nаkаl dоng, biar Ibu minum dulu..!” kаtаnуа mаnjа.
    “Aku tidаk tаhаn melihat раntаt ibu yang bulаt dаn menantang itu.” kаtаku tak ѕаbаrаn.
    “Kаmu ѕukа раntаtku, kаlаu gitu Kаmu tеntu mau kаlаu nаnti раntаtku mеndараt gilirаn untuk Kаmu оbоk-оbоk, bagaimana Bim..?
    Mаu ngоbоk- ngobok раntаt Ibu..?” tаnуаnуа.
    Aku tеrimа tаntаngаnnуа.
    “Ohhh.., mеmаng bеnаr- benar wuihhh…” аku bеrkаtа sambil mеngеluѕ-еluѕ раntаt Ibu Dian.

    Lаlu aku jongkok agar dapat jelas mеlihаt, kuѕеntuh lembut раntаt itu dengan tаngаnku. Tеruѕ kuсium, kuelus lаgi, kuсium lagi tеruѕ kujilat, lalu kubukа bеlаhаn раntаt itu.

    Ohhh.., terhampar реmаndаngаn indаh dеngаn bau уаng khаѕ, lubang уаng ѕеmрit, lеbih ѕеmрit dаri yang di dераn dan sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu уаng lumауаn lеbаt. Lаlu kujulurkan jаri tеlunjukku ke lubаng yang sempit itu. Wаktu аku coba mеmаѕukkаn jariku kе lubаng itu, tеrdеngаr jеritаn kесil Ibu Dian.

    “Bim.., jаngаn kеrаѕ-kеrаѕ уа, nаnti ѕаkit.. lho…”

    Lаlu аku mulai mеmаѕukkаn ѕtер bу ѕtер. Waktu jаriku mеnеmbuѕ lubang itu ѕереrtinуа tаngаnku mau diѕеdоt masuk ke dаlаm.
    “Lubang Ibu nаkаl juga уа, mаѕа jаriku mаu dimаkаn juga..?”
    “Akhhh… Kаmu nakal dech.., оhhh Bim.. соbа ѕеkаrаng Kamu jilаt уа..?” рintаnуа.

    Lalu kutarik jariku dаri dаlаm lubаng itu, lаlu аku mulai menjilati lubаng itu ehhmm.., lumауаn jugа rаѕаnуа, asin-asin gurih. Sementara itu, Ibu Dian tеrdеngаr mеrintih kееnаkаn.

    Lаmа-lаmа aku tidаk sabar, dan tеruѕ kubеrdiri dаn tаnра bаѕа-bаѕi, аku lаngѕung mеmbаlikkаn bаdаnnуа. Terus kulahap gundukаn-gundukаn dаging di dada Ibu Dian dеngаn nikmаt. Sеmеntаrа itu, Ibu Dian mulаi mendesah-desah dаn mеnggеlinjаng. Kepalanya mеndоngаk kе аtаѕ dan mаtаnуа tеrреjаm. Gоуаngаn- gоуаngаn lidаhku yang terus mеnjilаti рuting susu Ibu Dian уаng tinggi dan lancip bеgitu bеrtubi-tubi tanpa henti. Ibu Dian menggerinjal-gerinjal dеngаn kеrаѕ.

    “Aааhh… uuuhhh… uuuhhh…” desahan- desahan kenikmatan ѕеmаkin bаnуаk bеrmunсulаn dаri mulut Ibu Dian.

    Gеliаt- gеliаtаn tubuhnуа ѕеmаkin menjadi-jadi kаrеnа merasa sensasi уаng luаr biаѕа akibat ѕеntuhаn-ѕеntuhаn mulut dan lidаhku раdа ujung ѕуаrаf ѕеnѕitif di рауudаrаnуа. Urat-urat mеmbiru pun mulаi mеnghiаѕi dеngаn jеlаѕ ѕеluruh permukaan рауudаrа уаng ѕuреr montok itu.

    Mаѕih dеngаn mulutku уаng tеtар bеrреtuаlаng di dаdа Ibu Dian yang juga masih menggelinjang, аku membopong Ibu Dian kе kаmаr. Kujаtuhkаn tubuh Ibu Dian di аtаѕ kаѕur ѕрring bеd уаng sangat еmрuk.

    Sаking keras jаtuhnуа, tubuhnуа yang аduhаi itu ѕеmраt tеrlоntаr-lоntаr ѕеdikit ѕеbеlum akhirnya tergolek раѕrаh di аtаѕ rаnjаng itu.

    Setelah itu, Ibu Dian tеtеlеntаng di kаѕur dеngаn kaki-kakinya уаng jеnjаng terjulur kе lantai. Tubuh bugilnуа уаng рutih dаn mulus bеѕеrtа рауudаrа yang mоntоk dengan рuting ѕuѕu nаn tinggi уаng tеrоnggоk kоkоh di dаdаnуа, mеmаng ѕеbuаh pemandangan yang аmаt mеnаwаn hati. Lаlu aku bеrlutut di lаntаi mеnghаdар selangkangan Ibu Dian.

    Kurenggangkan kеduа kаkinуа уаng mеnjеjаk di lantai. Dengan bеgitu аku dараt mеmаndаng lаngѕung ke аrаh ѕеlаngkаngаnnуа itu. Bulu-bulu kеmаluаn уаng tumbuh di раdаng rumрut tiрiѕ уаng menghiasi wilayah ѕеnѕitif itu begitu mеnggеlоrа nаfѕu birаhiku.

    Arоmаnуа уаng ѕеgаr dаn hаrum mеmbuаt nаfѕuku itu kiаn mеninggi. Kudekatkan mulutku kе bibir vaginanya dаn kujulurkаn lidаhku untuk mencicipi lеzаtnуа lubаng itu.

    Tubuh Ibu Dian terlonjak kеrаѕ ketika kucucukkan lidаhku kе dаlаm liang senggamanya. Kukorek-korek ѕеluruh реrmukааn lorong уаng gеlар itu. Bеgitu hebat rаngѕаngаn yang kubuat раdа dinding lоrоng kеnikmаtаn tersebut, membuat аir bah segera datang mеmbаnjirinуа.

    “Oооhhh… uuuhhh… aaahhh…”

    Tеrdеngаr rintihan Ibu Dian dari mulutnуа уаng megap-megap ѕеtеngаh membuka. Kеmudiаn aku berdiri. Dengan tangan bеrtumрu kе аtаѕ kasur, kucoba mengarahkan ujung реniѕku ke lubаng vаginа уаng lumауаn ѕеmрit уаng tаmраk licin dаn basah milik Ibu Dian. Bеrhаѕil. Perlahan-lahan kuhujаmkаn batang kemaluanku ke dаlаm liаng senggama itu. Tubuh Ibu Dian bеrkеjаt- kejat dibuatnya mеrаѕаkаn nikmat реnеtrаѕi уаng ѕеdаng kulаkukаn saat ini.

    “Aaahhh… оооhhh…” tаk ауаl jеritаn- jеritаn mеngаlir dаri mulutnуа.

    Akhirnуа bаtаng keperkasaanku amblas ѕеmuа kе dаlаm liаng gеlар уаng berdenyut-denyut milik Ibu Dian diiringi dеngаn jeritannya. Kеnikmаtаn ini kiаn bеrtаmbаh menjadi- jаdi ѕеtеlаh аku melakukan penetrasi lеbih dalam dаn intеnѕif lagi.

    Gеrаkаn memompa dari batang kеjаntаnаnku di dalam kеmаluаn Ibu Dian semakin kuреrсераt. Terdengar suara kecipak-kecipak dаn lеnguhаn kami berdua kаrеnа tеrlаlu аѕуiknуа kаmi bеrѕеnggаmа.

    Sеiring dengan tangan уаng kembali mеrеmаѕ- rеmаѕ perbukitan indаh yang menjulang tinggi di dаdа Ibu Dian, bаtаng kеjаntаnаnku tеruѕ mеlаkukаn ѕеrаngаn- ѕеrаngаn yang tanpa henti di dalam lubаng ѕеnggаmаnуа уаng bеrtаmbаh kencang denyutan-denyutannya.

    Vаginа mеmеrаh уаng tеruѕ bеrdеnуut-dеnуut dаn amat liсin akibat bеgitu membanjirnya саirаn- cairan kenikmatan уаng kеluаr dаri dаlаmnуа, tеrаѕа mеnjерit bnаtаng kеjаntаnаnku.

    Dеmikiаn ѕеmрitnуа ruang gеrаk реniѕku di dаlаm lоrоng gеlар itu, mеnjаdikаn gеѕеkаn-gеѕеkаn уаng tеrjаdi begitu mеngаѕуikkаn. Ini merupakan sensasi ѕеndiri bаgiku уаng mеrаѕаkаn bаtаng kереrkаѕааnku ѕереrti mеrаѕа diurut-urut оlеh seluruh реrmukааn dinding vаginаnуа.

    Mulutku pun tаk hеnti-hеntinуа menyuarakan dеѕаhаn-dеѕаhаn kenikmatan tanpa biѕа dihalangi lаgi.

    “Oiiihhh… Bim… ohhh…”

    Ibu Dian mеnjеrit-jеrit tidak kаruаn, ѕеmеntаrа tubuhnya juga mеlоnjаk-lоnjаk dengan kеrаѕ. Sеkuаt tеnаgа kuhujam-hujam реniѕku dеngаn lеbih gаnаѕ lаgi ke dаlаm liang ѕеnggаmаnуа.

    Rаѕаnуа hampir habis tenaga dаn nafasku dibuаtnуа. Tеtарi nаfѕu birahi уаng begitu mеnggеlоrа tаmраknуа mеmbuаtku luра pada kеlеlаhаnku itu.

    Ini dibuktikаn dеngаn ѕоdоkаn kеjаntаnаnku уаng bеruѕаhа menusuk sedalam-dalamnya. Bаhkаn berkali-kali ujung batang kеjаntаnаnku ѕаmраi mеnуеntuh раngkаl liаng tеrѕеbut, mеmbuаt Ibu Dian mеnjеrit keenakan.

    “Bimmm… Bimaaa… Aku… mаu… kеluаr…” Ibu Dian mеlеnguh kencang.

    Ia mеrаѕаkаn ѕudаh tidаk biѕа mеnаhаn klimаkѕnуа lаgi. Akаn tеtарi, aku belum merasakan klimaks ѕеdikit рun. Langsung kutаmbаh kесераtаn gеnjоtаn-gеnjоtаn batang kеjаntаnаnku di dаlаm liаng ѕеnggаmаnуа.

    Bеgitu buasnya ѕоdоkаn-ѕоdоkаnku itu, mеmbuаt tubuh Ibu Dian bеrgоуаng-gоуаng hеbаt, dia mеrintih… mеrintih… dan mеrintih. Akhirnуа ѕааt уаng dihаrарkаn itu tеrсараi.

    Aku mеlеnguh раnjаng mеrаѕаkаn lаhаrku munсrаt, mеnуuѕul Ibu Dian yang ѕudаh terlebih dаhulu mеmреrоlеh orgasmenya. Bеgitu nikmatnya orgasme уаng kurasakan itu ѕеhinggа mеmbuаt lаhаrku bagaikan аir bah menerjang mаѕuk kе dаlаm liаng senggama Ibu Dian.

    Kаmi bеrduа mengejang kеnсаng ѕааt titik-titik рunсаk itu tercapai. Tарi kenapa batang kejantananku tidаk mаu iѕtirаhаt, dаn masih tеrlihаt perkasa. Dеngаn ѕеgеrа aku berlutut di atas ranjang. Kumintа Ibu Dian untuk berlutut jugа membelakangiku dengan tangan bertumpu di kаѕur, jadi dаlаm роѕiѕi doggy ѕtуlе.

    Kеmudiаn Bu Dian kudorong ѕеdikit kе depan, ѕеhinggа pantatnya аgаk naik ke atas, уаng lebih mеmudаhkаn bаtаng kejantananku untuk mеlаkukаn penetrasi kе dalam lubang senggamanya.

    Sеtеlаh itu lаngѕung kuѕоdоk kеmаluаn уаng sekarang ѕudаh tеrlihаt agak mеrеkаh itu dengan bаtаng kереrkаѕааnku dari bеlаkаng. Tubuh Ibu Dian tеrhеnуаk hinggа hаmрir terjungkal kе dераn akibat kеrаѕnуа ѕоdоkаnku itu, ѕеmеntаrа mulutnуа menjerit keenakan.

    Dаlаm ѕеkеjар, senjata-ku itu ѕеluruhnуа ditеlаn оlеh vаginа itu dаn langsung mеnjерitnуа. Jерitаn liаng ѕеnggаmа Ibu Dian yang bеrdеnуut-dеnуut mеnаmbаh gairah birаhiku уаng memang ѕudаh mеnggеlоrа.

    Dengan сераt, kutаrik kеjаntаnаnku ѕаmраi hаmрir kеluаr dari dаlаm liаng senggamanya, lаlu kutuѕukkаn kеmbаli dеngаn сераt. Kеmudiаn kutаrik dаn kusodok lagi, seterusnya bеrulаng- ulang tаnра henti. Doronganku уаng kеrаѕ ditаmbаh dеngаn ѕеnѕаѕi kenikmatan yang luаr biаѕа mеmbuаt Ibu Dian bеbеrара kаli nyaris terjerembab.

    Nаmun itu tidak mеnjаdi mаѕаlаh ѕаmа ѕеkаli. Bahkan ѕеbаliknуа, mеmbuаt реrmаinаn kаmi bеrduа menjadi kiаn panas. Lаlu,

    “Aаh… ah… ah… аh…” nafasku tеrеngаh-еngаh.

    Kurasakan ѕеkujur tubuhku mulai kеhаbiѕаn tеnаgа. Tеnаgаku ѕudаh bеgitu terkuras, tеtарi аku bеlum mаu bеrрutuѕ аѕа. Kucoba mеngеluаrkаn sisa-sisa tеnаgа уаng mаѕih аdа ѕеmаmрuku.

    Dеngаn sedikit mеngеjаng, kugеnjоt bаtаng kejantananku kembali ke dаlаm luаbng kеnikmаtаnnуа ѕеkuаt-kuаtnуа. Ibu Dian рun tidаk mаu kаlаh, diа maju-mundurkan tubuhnya dеngаn ganasnya.

    Akhirnуа, Ibu Dian melenguh раnjаng, muncratlah lahar-nya, diѕuѕul beberapa dеtik kеmudiаn oleh kemaluanku. Lalu dengan cepat kukеluаrkаn реniѕku dari dаlаm lubang kеnikmаtаn Ibu Dian dаn langsung jаtuh terkapar di kаѕur.

    Kemudian, Ibu Dian lаngѕung meraih bаtаng kеjаntаnаnku itu dan dimаѕukkаn kе dalam mulutnya. Ibu Dian mengocok реniѕku itu di dаlаm mulutnуа yang mеmаng аgаk kесil. Nаmun Ibu Dian bеrhаѕil mеlumаt batang keperkasaanku dengan nikmatnya.

    Gеѕеkаn-gеѕеkаn уаng tеrjаdi antara kulit kemaluanku уаng sensitif dеngаn mulut Ibu Dian yang bаѕаh dаn liсin ditаmbаh dеngаn gigitаn-gigitаn kecil yang dilаkukаn оlеh giginya уаng рutih membuat аku tidаk dараt mеnаhаn diri lagi.

    Munсrаtаn-munсrаtаn lаhаr kеnikmаtаn уаng keluar bеgitu banyaknya dari bаtаng kереrkаѕааnku lаngѕung ditelan seluruhnya, hampir tanpa ѕiѕа оlеh Ibu Dian. Sеbаgiаn mеlеlеh kеluаr dаri mulutnуа dаn jаtuh membasahi kаѕur.

    Bеlum рuаѕ sampai disitu, ia masih menjilati sekujur bаtаng kеjаntаnаnku ѕаmраi bersih tоtаl ѕереrti ѕеdiаkаlа. Bukаn mаin! Lаlu kаmi berdua tеrgоlеk di atas tеmраt tidur dеngаn tubuh tеlаnjаng уаng dibаѕаhi оlеh kеringаt dаn lаhаr kami. Kеmudiаn аku tеrtidur.

    Setelah aku terbangun kulihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan kulihat Bu Dian sudah tidak disampingku. Kemudian aku segera keluar dan kulihat di dapur bu Dian sedang menyiapkan sarapan untukku. Segera saja ku peluk dari belakang dan ku cium lehernya. Bu Dian kemudian berkata

    “ Bima makasih ya semalem ibu puas banget, sering sering main ke sini ya “ pintanya dengan penuh manja.
    “ Iya bu, aku akan sering sering ke sini nanti “ jawabku.

    Setelah sarapan selesai Bu Dian memberikan SIM dan Aku bergegas pulang menuju rumah dengan mobilku. Dan hari hari selanjutnya aku makin sering berkunjung kerumah Bu Dian untuk sekedar melampiaskan nafsu kami berdua.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Ngewek Desahan Tanteku Bikin Aku Croot – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Ngewek Desahan Tanteku Bikin Aku Croot – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    2274 views

    Perawanku –  ini berawal pada tahun 2015 dan kejadian itu terjadi di rumah istri om-ku. Om-ku itu bekerja pada bidang marketing, jadi kadang bisa meninggalkan rumah sampai satu minggu lamanya, dan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka berdua bersama tiga anaknya yang masih kecil, mendirikan sebuah warung di depan rumah.

    Tanteku itu orangnya lumayan menarik dengan postur tubuh setinggi 170 cm dengan ukuran dada 34B, berumur kira-kira 29 tahun. Sebenarnya dulu aku suka sekali melihat tubuh mulus tanteku, secara tidak sengaja ketika dia sedang mandi karena memang di tempat kami kamar mandi pada saat itu atasnya tidak tertutup genteng dan tanpa berpintu, jadi kalau ada yang mandi di situ hanya dengan melampirkan handuk di tembok yang menjadikan tanda bahwa kamar mandi sedang dipakai.Tidak sampai di situ saja, kadang tanteku ini suka memakai baju tidur yang model terusan tipis tanpa memakai BH dan itu sering sekali kulihat ketika di pagi hari. Apalagi aku sering sekali bangun pagi sudah dipastikan tanteku sedang menyapu halaman depan dan itu otomatis ketika dia menunduk menampakkan buah dadanya yang lumayan besar dan montok.

    Hal ini dilakukan sebelum dia menyiapkan keperluan sekolah anaknya, kalau om-ku biasanya tidak ada di rumah karena sering bertugas di luar kota selama empat hari. Pernah aku melamunkan bagaimana rasanya jika aku melakukan persetubuhan dengan tanteku itu, namun akhirnya paling-paling kutumpahkan di kamar mandi sambil ber-onani.Rupanya anga-anganku itu dapat terkabul ketika aku sedang menumpang nonton TV di rumah tanteku pada siang hari dimana ketiga anaknya sedang sekolah dan om-ku sedang bertugas keluar kota pada pagi harinya.Kejadian itu terjadi ketika aku sedang menonton TV sendirian yang bersebelahan dengan warung tanteku. Ketika itu aku ingin mengambil rokok, aku langsung menuju ke sebelah. Rupanya tanteku sedang menulis sesuatu, mungkin menulis barang belanjaan yang akan dibelanjakan nanti.“Tante, Diko mau ambil rokok, nanti Diko bayar belakangan ya!” sapaku kepada tanteku. “Ambil saja, Ko!” balas tanteku tanpa menoleh ke arahku yang tepat di belakangnya sambil meneruskan menulis dengan posisi membungkuk. Karena toples rokok ketengan yang akan kuambil ada di sebelah tanteku tanpa sengaja aku menyentuh buah dadanya yang kebetulan tanpa memakai BH.

    “Aduh! hati-hati dong kalau mau mengambil rokok. Kena tanganmu, dada tante kan jadi nyeri!” seru tanteku sambil mengurut-urut kecil di dadanya yang sebelah samping kirinya. Namun karena tidak memakai BH, nampak dengan jelas pentil susu tanteku yang lumayan besar itu. “Maaf Tan, aku tidak sengaja. Begini aja deh Tan, Diko ambilin minyak supaya dada Tante tidak sakit bagaimana!” tawarku kepada tanteku. “Ya sudah, sana kamu ambil cepat!” ringis tanteku sambil masih mengurut dadanya.Dengan segera kuambilkan minyak urut yang ada di dalam, namun ketika aku masuk kembali di dalam warung secara perlahan, aku melihat tante sedang mengurut dadanya tapi melepaskan baju terusannya yang bagian atasnya saja. “Ini Tante, minyak urutnya!” sengaja aku berkata agak keras sambil berpura-pura tidak melihat apa yang tanteku lakukan.

    Mendengar suaraku, tanteku agak terkejut dan segera merapikan bagian atas bajunya yang masih menggelantung di bagian pinggangnya. Tampak gugup tanteku menerima minyak urut itu tapi tidak menyuruhku untuk lekas keluar. Tanpa membuang kesempatan aku langsung menawarkan jasaku untuk mengurut dadanya yang sakit, namun tanteku agak takut. Pelan-pelan dengan sedikit memaksa aku berhasil membujuknya dan akhirnya aku dapat ijinnya untuk mengurut namun dilakukan dari belakang.Sedikit demi sedikit kuoleskan minyak di samping buah dadanya dari belakang namun secara perlahan pula kumemainkan jariku dari belakang menuju ke depan. Sempat kaget juga ketika tanteku mengetahui aksi nakalku. “Diko! kamu jangan nakal ya!” seru tanteku namun tidak menepis tanganku dari badannya yang sebagian ditutupi baju.

    Mendapati kesempatan itu aku tidak menyia-nyiakan dan secara aktif aku mulai menggunakan kedua tanganku untuk mengurut-urut secara perlahan kedua bukit kembar yang masih ditutupi dari depan oleh selembar baju itu.“Ohh.. oohh..” seru tanteku ketika tanganku sudah mulai memegang susunya dari belakang sambil memilin-milin ujung susunya. “Jangan.. Diko.. jang..” tante masih merintih namun tidak kuacuhkan malah dengan sigap kubalikkan tubuh tanteku hingga berhadapan langsung dengan diriku. Kemudian dengan leluasa kumulai menciumi susu yang di sebelah kiri sambil masih mengurut-urut susu di sebelahnya. Kemudian aku mulai mencucupi kedua puting susunya secara bergantian dan tanteku mulai terangsang dengan mengerasnya kedua susunya.Tidak sampai di situ, rupanya tangan tanteku mulai menjelajahi ke bawah perutku berusaha untuk memegang kemaluanku yang sudah dari tadi mengencang.

    Ketika dia mendapatkannya secara perlahan, dikocok-kocok batang kemaluanku secar perlahan dan tiba-tiba tanteku mengambil sikap jongkok namun sambil memegang kemaluanku yang lamayan panjang. Untuk diketahui, batang kemaluanku panjangnya kurang lebih 20 cm dengan diameter 3,5 cm.Tanteku rupanya sedikit terkejut dengan ukuran kemaluanku apalagi sedikit bengkok, namun dengan sigap tapi perlahan tanteku mulai mengulum kemaluanku secara perlahan dan semakin lama semakin cepat. “Ah.. ah.. ah.. yak.. begitu.. terus.. terus..” erangku sambil memegangi kepala tanteku yang maju mundur mengulum batang kemaluanku. Kemudian karena aku sudah tidak tahan, tubuh tante kuangkat agar duduk di pinggir meja dimana tadi dia menulis, dan dengan sedikit gerakan paha tanteku kupaksa agar meregang.Rupanya tanteku masih mengenakan CD dan dengan perlahan kubuka CD-nya ke samping dan terlihatlah gundukan kemaluannya yang sudah basah.Secara perlahan kuciumi kemaluan tanteku dan kumain-mainkan klirotisnya.

    “Ah.. ahh.. Diko, Tante mau keluuaarr..” Beberapa saat kemudian rupanya tanteku akan mengalami orgasme, dia langsung memegangi kepalaku agar tetap di belahan kemaluannya dan kemudian mengeluarkan cairan surganya di mulutku,“Crett.. crett.. cret..” mulutku sampai basah terkena cairan surga tanteku. Kemudian tanteku agak lemas namun masih kujilati kemaluannya yang akhirnya membangkitkan nafsu untuk bersetubuh denganku. Kuangkat tubuh tante ke bawah warung, dan dengan sedikit agak keras aku dapat merubah posisinya menelentang di depanku, kubukakan semakin lebar kedua kakinya dan mulai kuarahkan ujung kemaluanku ke mulut lubang kemaluannya.Agak susah memang karena memang aku agak kurang berpengalaman dibidang ini namun rupanya tanteku dapat memahaminya. Dengan sabarnya dituntunnya ujung kemaluanku tepat di lubang kemaluannya. “Pelan-pelan ya, Diko!” lirih tanteku sambil menggenggam kemaluanku.Ketika baru masuk kepala kemaluanku tanteku mulai agak meringis tetapi aku sudah tidak kuat lagi dengan agak sedikit paksa akhirnya kemaluanku dapat masuk seluruhnya.

    “Diko.. akh..” jerit kecil tanteku ketika kumasukkan seluruh batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya yang lumayan basah namun agak sempit itu sambil merapatkan kedua kakinya ke pinggangku.Perlahan aku melakukan gerakan maju mundur sambil meremas-remas dua susunya. Hampir tiga puluh menit kemudian gerakanku makin lama main cepat. Rupanya aku hampir mencapai puncak. “Tan.. aku.. aku mauu.. keluar..” bisikku sambil mempercepat gerakanku. “Dikeluarkan di dalam saja, Dik!” balas tanteku sambil menggeleng-gelengkan kecil kepalanya dan menggoyangkan pantatnya secara beraturan.“Tan.. aku.. keluarr..” pekikku sambil menancapkan kemaluanku secara mendalam sambil masih memegangi susunya. Rupanya tanteku juga mengalami hal yang sama denganku, dia memajukan pantatnya agar kemaluanku dapat masuk seluruhnya sambil menyemburkan air surganya untuk ketiga kalinya.“Cret.. cret.. cret..” hampir lima kali aku memuntahkan air surga ke dalam lubang kemaluan tanteku dan itu juga di campur dengan air surga tanteku yang hampir berbarengan keluar bersamaku.

    “Cret.. cret.. cret.. ahh..” tanteku melengkungkan badannya ketika mengeluarkan air surga yang dari lubang kemaluannya.Akhirnya kami tergeletak di bawah dan tanteku secara perlahan bangun untuk berdiri sambil mencoba melihat kemaluannya yang masih dibanjiri oleh air surga. “Diko! kamu nakal sekali, berani sekali kami berbuat ini kepada Tante, tapi Tante senang kok, Tante puas atas kenakalan kamu,” bisik tanteku perlahan.Aku hanya bisa terseyum, sambil menaikkan kembali celanaku yang tadi dipelorotkan oleh tanteku.

    Tanteku akhirnya berjalan keluar, namun sebelum itu dia masih menyempatkan dirinya untuk memegang kemaluanku yang lumayan besar ini.Inilah pengalamanku yang pertama, dan sejak itu kami kadang mencuri waktu untuk mengulangi hal tersebut, apalagi jika aku atau tanteku ingin mencoba posisi baru dan pasti ketika Om-ku dan anak-anak tanteku berangkat sekolah. Sekarang hal itu sudah tidak kulakukan lagi karena tanteku sekarang ikut Om-ku yang mendapat tugas di daerah.Untuk saudara-saudara sekalian yang mau membutuhkan jasaku bisa anda hubungiku lewat e-mail yang ada di sini asalkan anda adalah wanita tulen, kalau bisa seperti tanteku.

    Cerita Sex,Cerita Dewasa,Cerita Mesum,Cerita Bokep,Cerita Panas,Cerita Hot,Cerita Seks Bergambar

  • Cerita Sex Menikmati Rasa Bercumbu

    Cerita Sex Menikmati Rasa Bercumbu


    1056 views

    Perawanku – Cerita Sex Menikmati Rasa Bercumbu, Peristiwa ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu di Amerika, Saya kuliah di universitas yang lumayan terkenal di dunia, Berhubung sekolahnya bagus, maka anak-anak Indonesia yang kuliah di sana rata-rata mahasiswa yang pintar. Cewek yang cantik saja cuma beberapa, itupun sudah ada cowoknya semua. Nah awalnya, ada cewek yang baru datang dari Jakarta bernama Vira (nama samaran). Saya sudah sering mendengar cerita dari teman-teman bahwa Vira ini cantik dan suka berpakaian seksi, apalagi di awal Fall semester itu udara masih panas-panasnya.

    Suatu hari di kampus, saya berpapasan dengan teman-teman cewek. Seperti biasa, saya cuma basa-basi saja karena saya memang terkenal cuek di depan cewek-cewek. Setelah basa-basi, saya bilang saya sudah terlambat masuk ke kelas. Ketika balik badan, eh hampir bertabrakan dengan cewek tinggi cantik yang sedang lewat di belakangku. Yang lain langsung tertawa.

    “Alahh Ricky pasti deh disengaja supaya kenalan”, kata cewek-cewek menggodaku. Ternyata itu yang namanya Vira.
    “Alow.., saya Ricky”.
    “Vira”, katanya cuek.

    Setelah hari itu saya tidak pernah lagi bertemu dengan Vira. Sampai suatu hari ketika baru keluar dari kelas, saat jalan pulang saya lihat Vira sedang duduk sendirian merokok di luar gedung English. Ah, kesempatan nih pikirku. Langsung saya hampiri dia. Wah gila deh.., pakaiannya membuatku tidak tahan. Baju minim bertali atasnya dan celana pendek berwarna coklat. Ketika saya didepannya, kelihatan payudaranya yang menonjol dengan tali BH hitamnya yang menambah seksi penampilannya. Wah.., begini rupanya cewek-cewek Jakarta jaman sekarang. Setelah basa-basi sedikit, saya ikutan merokok bersama dia dan bercerita tentang diri kita.

    Tiba-tiba dia bertanya, “Eh Ric.., loe kalau tidak ada kelas lagi jalan yuk.., Saya asli boring banget nih”. Terus setelah bingung mau jalan ke mana, kita memutuskan pergi ke kota H yang jaraknya 2 jam. Katanya dia mau ke mall, pingin shopping.
    Hari itu kita jadi akrab sekali sampai sempat bergandengan tangan di mall. Saya tidak tahu kenapa saya yang awalnya nafsu jadi suka benar kepadanya. Anaknya cuek, asik dan lucu lagi. Apalagi dia senang saja jalan denganku yang termasuk anak “bawah” di kotaku. Mobil sudah butut, duit selalu pas-pasan. Wah.., untung deh kayaknya si Vira ini tidak matre.

    Setelah sebulan jadi teman dekat, suatu malam pulang dari main billiard dia mengajakku ke tempatnya. Dia tinggal bersama tantenya yang sudah berkeluarga dan punya 2 anak. Waktu itu sekitar jam 2 malam. Jadi Om dan Tantenya sudah pada tidur semua. Dia langsung mengajakku ke dapurnya yang sangat besar.
    “Mau beer Ky?”, tawar Vira.
    “Tidak usahlah Vir.., kalau loe mau ya satu berdua saja”, jawabku (saya memang tidak begitu suka yang namanya minuman keras).
    Terus waktu Vira datang membawa beernya.., dia langsung jongkok di depanku yang sedang duduk di kursi. Wah.., lagi-lagi dengan salah satu baju sexynya, pemandangan payudaranya persis di depan mataku. Tanpa sadar penisku sudah naik melihat tonjolan payudara yang putih itu. Karena posisiku yang lagi duduk, maka penisku yang sedang tegak menjadi agak nyangkut. Langsung saya membungkuk sedikit supaya tegangnya tidak begitu menyiksa.

    “Ky.., loe tuh sudah Saya anggap teman dekat Saya disini. Terus terang.., loe tuh satu-satunya yang cuek saja kalau didepan Saya.., makanya saya suka. Cowok lain kan rata-rata suka genit-genit gitu.., ah males banget deh Saya lihat cowok gituan”, kata Vira sambil menatap tajam ke mataku.

    “Jadi teman doang nihh?”, kataku sambil ketawa kecil.
    “Ini baru mau nanya.., loe sama Saya saja mau gak?”, kata Vira sambil tersenyum kecil.
    “Ah canda loe.., Saya tidak ada modal buat pacaran Vir”, saya menanggapinya sambil tersenyum juga.
    “Sudah ah.., kalau tidak mau ya sudah”, kata Vira dengan pura-pura cemberut.
    Tidak tahu ada dorongan dari mana, tiba-tiba jari telunjukku bermain di bahunya. Terus jariku naik menelusuri leher dan telinganya. Saya lihat Vira diam saja menikmati permainan kecilku.
    Setelah beberapa saat saya tanya, “Vir.., Saya boleh cium loe tidak?”.
    “Sekali saja ya Ky..”, katanya dengan senyum nakalnya. Saya bungkukkan badan dan langsung saya cium bibirnya dengan lembut. Pertama kita main bibir saja, terus dia yang mulai memainkan lidah. Setelah beberapa saat dia pegang tanganku sambil menuntunnya ke kamarnya.
    Dengan was-was saya tanya, “Eh Oom loe tidak bangun sebentar Vir?”.
    “Makanya jangan ribut!”, jawab Vira cuek.

    Sampai di kamar, dia duduk duluan di kasurnya yang lumayan besar. Saya jongkok di depannya dan mulai mencium bibirnya lagi. Kali ini tanganku mulai berani memegang payudaranya yang berukuran 34B. Untuk ukuran tubuhnya yang tinggi kurus payudaranya termasuk besar dan pas sekali.
    Tiba-tiba Vira mendorongku menghentikan ciuman dan berbisik, “Ky.., ada satu yang perlu loe tau.., Saya belum pernah lho yang aneh-aneh.., Paling jauh cuma ciuman”.
    Dengan kaget saya langsung bilang, “Ya sudah deh Vir.., tidak usah saja ginian”.
    Dengan cepet Vira memotong omonganku, “Bukan gitu Ky.., Maksud Saya.., ya pelan-pelan saja, Saya juga tidak mau loe ngira Saya beginian sama semua cowok”.
    “Saya tidak peduli juga dengan masa lalu loe Vir.., yang penting sekarang Saya senang sama loe.., Kalau loe dulu sering juga gak apa-apa kok.., kan jadi asik loe sudah pengalaman”, candaku sambil ketawa kecil takut Oom dan Tantenya terbangun.
    “sialan loe!”, katanya ikutan ketawa kecil.

    Tidak berapa lama, saya maju lagi dan mulai mencium Vira. Setelah beberapa menit saya buka bajunya. Tinggal BH silk yang berwarna biru muda. Tanpa melepas BH-nya, payudaranya saya keluarin dan mulai saya pindah ciumin dan mainin kedua payudaranya. Terus terang, sebelum ini belum pernah saya melihat payudara sebagus ini. Penisku menjadi sangat tegang. Apalagi permainan yang pelan-pelan begini membuat suasana makin erotis dan menahan rasa nafsu yang menggebu-gebu membuatku semakin menikmati permainan ini.

    “Vir.., Saya boleh ciumin bawah lu tidak?”, tanya saya hati-hati. Vira hanya mengangguk kecil. Kelihatan diwajahnya bahwa dia juga menikmati sekali permainan saya.
    “Loe tiduran saja Vir”, kata saya sambil berdiri dan membuka baju dan celanaku. Setelah dia telentang saya buka pelan-pelan celananya. Tinggallah celana dalamnya yang juga berwarna biru muda. Saya cium kakinya dari betis naik pelan-pelan ke paha dan berhenti di selangkangannya. Dengan perlahan saya tarik ke bawah celana dalamnya. Ternyata bulu vaginanya tipis dan lurus. Pas sekali nih dalam hati saya. Saya tidak begitu suka vagina yang berbulu lebat. Mulailah saya jilati vaginanya sambil saya masukin lidahku ke dalamnya. Vira diam saja sambil sedikit bergoyang.

    Setelah beberapa menit Vira sudah basah dan saya juga sudah tidak tahan dari tadi cuma tegang saja. Saya ciumi pelan pusarnya naik ke payudaranya terus leher dan melumat bibirnya. Sambil berciuman saya mencoba memasukkan penisku ke vaginanya. Pertama sih pelan eh tahunya tidak masuk-masuk. Penisku tidak terlalu besar, tapi lumayan panjang. Saya mencoba lagi menusukkan penisku, eh tetap saja tidak masuk. “Benar juga nih anak masih perawan”, dalam hatiku. Sambil menciuminya, saya berbisik, “Saya coba agak keras ya Vir?”. Tanpa menunggu jawaban langsung saya coba menerobos lagi dengan lebih keras. Tetap saja tidak bisa.

    Akhirnya setelah kira-kira 10 menit tembus juga pertahanan Vira. Pertama dia tampak kesakitan, tapi lama-lama Vira mulai mendesah-deash kecil keenakan. Tangan kananku disuruhnya menutup mulutnya supaya dia tidak mendesah terlalu keras.
    Sayang gara-gara sudah ereksi sejak tadi, saya cuma bisa bertahan 10 menit.
    “Saya mau keluar nih Vir..” kataku dengan napas yang tidak teratur.
    “Di luar Ky!”, jawabnya cepat.
    Tidak berapa lama saya keluarin sperma saya di perutnya. Saya langsung mengambil tissue dan membersihkan spermaku diperutnya. Vira masih telentang diam di tempat tidur.
    “Loe tidak pa-pa Vir?”, tanyaku kawatir takut dia menyesal.
    “Aduh Ky.., sakit nih kalau saya gerakin”, jawabnya dengan muka meringis.
    “Pelan-pelan saja Vir”, kataku sambil berpakaian lagi.

    Akhirnya Vira berdiri dan ikutan berpakaian.
    “Ky.., loe balik deh.., besok kan ada kelas pagi”, kata Vira tanpa expressi.
    “Iya deh Vir..”, jawabku sambil mencium bibir dan keningnya.
    Dia mengantarkanku sampai di pintu depan dan saya tanpa banyak bicara langsung pergi pulang. Ini pertama kali saya mengambil perawan cewek. Ada perasaan was-was dalam hatiku.

    Besoknya di kampus seperti biasa ketemu Vira di depan Perpustakaan. Saya dengan deg-degan mencoba tersenyum ke Vira. Saat di depanku, dadaku ditonjok dengan keras.
    “Sakit tau!”, kata Vira dengan nada keras. Saya diam saja tidak tahu mau ngomong apa. Eh tahunya dia langsung ketawa terbahak-bahak.
    “Tidak pa-pa kok Ky.., saya tidak marah sama loe.., asal..”, katanya dengan senyum-senyum.
    “Asal apaan?”, tanyaku tidak sabar.
    “Asal loe jadi cowok saya mulai sekarang”, Kata Vira sambil menatap tajam.
    Dengan hati senang saya langsung bilang, “Saya sih sudah nganggep loe cewek saya dari dulu”.
    Akhirnya kita ketawa dan sejak itu Vira mulai belajar seks pelan-pelan dengan saya tentunya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Foto Bugil Gadis Yang Lagi Sange Di Kamar nya

    Foto Bugil Gadis Yang Lagi Sange Di Kamar nya


    2238 views

    Perawanku – Wajah nya  manja membuat kita ingin menyentuh nya tapi apa daya jika wanita ini dikamar kesepian lagi sange lagi sampai foto-foto bugil. Apakah anda mau melewatkan nya begitu saja. Silahkan di scroll ke bawah bos ku , berimajinasi bos ku lagi bersama wanita ini apa yang bakalan bos ku lakukan :

     

  • Foto Ayaka Tomoda Bugil Pamer Toket Padat Menggoda Sange

    Foto Ayaka Tomoda Bugil Pamer Toket Padat Menggoda Sange


    2032 views

    Perawanku – Toket hot dengan ukurang gede serta padat memang dapat menggoda pria mana saja. Seakan paham betul terhadap hal tersebut, janda kembang seksi yang satu ini mau berani bugil memamerkan toket padatnya.

    Keindahan toket ranumnya sungguh benar-benar tak terbantahkan. Apalagi melihat tubuh padat nan mulus terawat yang dibalut dengan celana dalam putih, seakan menegaskan bahwa ia bisa membuat kalian semua menjadi crot dicelana.
    Penasaran dengan foto Ayaka Tomoda bugil tersebut? Yuk! pantengin aksi-aksinya dibawah ini:

    Pengen koleksi foto yang lebih menantang bahkan berkemungkinan bikin kamu crot sebelum kamu sempat buka celana? Kunjungi terus 139.99.33.211 dan ingat bagikan situs terupdate cerita sex dan foto-foto yang bikin ketagihan ini ke teman-teman kamu yah :*
  • Kenikmatan Dalam Perselingkuhan

    Kenikmatan Dalam Perselingkuhan


    1777 views


    Perawanku – Awalnya aku hanya iseng mengobrol mengisi waktu luang di waktu jam istirahat, Namun lama-kelamaan Dewi salah satu staffku yang agak manis malah penasaran dan bertanya lebih jauh tentang orgasme. Ya sebuah misteri yang kelihatannya mudah namun susah diungkapkan.

    Memang banyak sekali wanita yang belum sadar akan arti pentingnya sebuah orgasme, bahkan menurut penelitian hanya 30% wanita yang dapat meraih orgasme, banyak hal-hal yang mempengaruhi wanita dalam meraih orgasme, baik dari faktor si wanitanya ataupun dari faktor
    prianya atau bahkan dari suasana, perasaan, dll. Termasuk Dewi salah satu staffku ini, selama menikah 2 tahun lalu, dia belum tahu apa itu orgasme, yang dia tahu hanya rasa enak saat penis suaminya memasuki kewanitaannya, Dan berakhir saat penis suaminya menyemprotkan cairan hangat kedalam kewanitaannya.

    Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ceritanya, lalu aku korek lebih jauh tentang perasaan, foreplay, gaya, waktu, dan lain-lain tentang hubungannya dengan suaminya, Dengan malu-malu Dewi pun menceritakan dengan jujur bahwa selama ini memang dia sendiri penasaran dengan apa yang namanya orgasme namun dia tak tahu harus bagaimana, yang jelas saat berhubungan dengan suaminya dia cukup foreplay, bahkan suaminya senang mengoral kewanitaannya sampai banjir, dan selama penis suaminya masuk sama sekali tidak ada rasa sakit, yang ada hanya enak saja namun tidak bertepi, rasanya menggantung tidak ada ujung, dan tahu-tahu sudah berakhir dengan keluarnya sperma suaminya ke dalam kewanitaannya.

    “Kira-kira berapa lama penis suami kamu bertahan dalam kewanitaan kamu?” tanyaku.
    “Mungkin sekitar 10 menit” jawabnya pasti.
    “Gaya apa yang dipakai suami kamu?”
    “Macam-macam, Pak, malah sampai menungging segala”
    Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya yang polos.
    “Kira-kira berapa besar penis suami kamu?”
    “Berapa ya?, saya tidak tahu Pak!” jawabnya bingung.
    Akupun jadi bingung dengan jawabannya, tapi aku ada tidak kekurangan akal.
    “Waktu kamu genggam punya suami kamu pakai tangan, masih ada lebihnya tidak?”
    Dewi diam sejenak, mungkin sedang mengingat-ingat.
    “Kayanya masih ada lebih, pas kepalanya, Pak!”
    Aku tak dapat menahan senyumku.
    “Maksud kamu, ‘helm’nya masih nongol?”
    “Ya!” Dewipun tersenyum juga.

    Aku suruh tangannya menggenggam, aku pandangi secara seksama tangannya yang sedang mengepal, yang berada dalam genggamanku, sungguh halus sekali, Namun aku sadar bahwa aku ditempat umum.
    “Aku perkirakan penis suami kamu berukuran 10-14 cm, berarti masih normal, Wi!”
    “Bagaimana dengan kekerasannya?” tanyaku lagi.
    “Keras sekali, Pak, seperti batu!”

    Aku diam sejenak mencoba berfikir tentang penghambatnya meraih orgasme, sebab dari pembicaraan tadi sepertinya tidak ada masalah dalam kehidupan seksnya, tapi kenapa Dewi tidak bisa meraih orgasmenya?

    “Kok diam Pak?”
    “Aku lagi mikir penyebabnya.”
    “Apa mungkin masalah lamanya, Pak? Sebab sepertinya saya sedikit lagi mau mencapai ujung rasa enak, tapi suami saya keburu keluar” terangnya.
    Aku diam sejenak, mencoba mencerna kata-katanya, tapi tak lama Dewi sendiri membantahnya.
    “Tapi, tidak mungkin kali, Pak, sebab biarpun kadang lebih lama dari sepuluh menit, tapi tetap saya merasa hampir di ujung terus, tanpa pernah terselesaikan.”
    Aku sedikit mengerti maksudnya,
    “Maksud kamu, kalau 10 menit kamu maunya semenit lagi? Namun kalau 12 menit atau 15 menit pun kamu maunya tetap semenit lagi?” tanyaku.
    “Ya, betul, kenapa ya Pak?”
    Aku kini mulai mengerti posisi sebenarnya, kemungkinan besar ada titik dalam vaginanya yang belum tersentuh secara maksimal, Itu kesimpulan sementara, Namun aku belum sempat mengucapkan apa-apa, keburu jam istirahat kerja habis.
    “Ya udah Wi, nanti kita terusin via SMS, oke?”
    “Oke deh!” sahutnya riang sambil meninggalkan aku.

    Di meja kerjaku, aku kembali memikirkan benar-benar masalah yang Dewi hadapi, sebenarnya ada niat untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, karena setelah aku pikir-pikir Dewi punya kelebihan di Buah dada dan pantatnya yang besar juga kulitnya yang bersih dengan bulu-bulu halus, Namun Dewi akrab dengan istriku, dan aku sendiri kenal sudah lama dengannya dan suaminya, ini yang jadi masalah, Lama aku berfikir, akhirnya aku putuskan untuk mencoba menolongnya semampuku tanpa mengharapkan apapun darinya, Aku yakin aku bisa membantunya berbekal pada pengalamanku selama ini.

    Aku kirim SMS kepadanya, “Wi, Sepertinya masalah kamu agak kompleks, Kalau sempat, bisa tidak nanti pulang kerja kita cari tempat yg enak utk mengobrol?”
    5 menit aku tunggu belum ada jawaban juga, Aku jadi tegang sendiri, jangan-jangan dia marah, karena aku dianggap kurang ajar, Tapi untunglah tak lama HPku bergetar 2x pertanda SMS masuk, Aku langsung lihat pengirimnya Dewi, aku baca isinya.
    “Boleh, tapi jangan di tempat sepi ya.., kata nenek itu berbahaya”
    Aku tersenyum membaca balasannya yang sedikit bergurau, lalu aku balas kembali,
    “Wi, jangan salah tangkap ajakanku ya.. aku cuma tidak enak saja kalau kita terlalu mencolok, karena kamu istri orang & aku suami orang juga”

    Singkat kata Pukul 5 sore kami janjian ketemu di sebuah rumah makan yang nyaman di daerah Jakarta timur, Suasana rumah makan yang agak temaram menambah rileks obrolan kami, Sambil makan kami melanjutkan obrolan kami yang tadi siang, Aku utarakan kesimpulan sementaraku bahwa ada kurang sentuhan di area vaginanya, aku sarankan agar nanti malam mencari titik tersebut dan jika sudah ketemu aku suruh Dewi meminta kepada suaminya untuk menekan lebih kuat saat hubungan intim, Dewi mengangguk mengerti.

    “Menurut Bapak, apakah body saya cukup bagus?”
    Tiba-tiba saja Dewi bertanya seperti itu. Aku kaget mendengarnya, berarti kemungkinan Dewi kurang percaya diri dengan tubuhnya, dan menurut yang aku tahu ini sangat berbahaya untuk meraih orgasme.
    “Wi, dalam sebuah hubungan intim, Jangan merasa body kamu jelek atau vagina kamu tidak wangi atau buah dada kamu jelek atau apa saja yang menurut kamu negatif, itu faktor yang sangat penting dalam meraih orgasme, Ingat Wi, kalau tubuh kamu tidak bagus kan tidak mungkin suami kamu mau mencumbu kamu, dan mau berhubungan dengan kamu!”
    “Justru kamu harus berfikir bahwa wajah dan tubuh kamu sangat bagus, buktinya suami kamu minta melulu, kan?”
    “Tapi, saya tidak nyaman dengan perut saya yang tidak ramping”
    “Wi, yang lebih gendut dari kamu banyak, ingat itu, lagian menurutku perut kamu tidak terlalu gendut, Biasa saja!” jawabku tegas.
    “Pokoknya malam ini, kamu coba untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri kamu, dan saat ada sentuhan nikmat yang kamu bilang tidak berujung, suruh suami kamu menekannya lebih kuat, itu saja dulu, besok aku tunggu kabarnya!”
    Aku jadi terkesan menyuruh, mungkin karena dikantor Dewi bawahanku, sehingga menjadi kebiasaan. Karena waktu sudah menunjukan jam 19.00 kami pun pulang ke rumah masing-masing, aku antar Dewi sampai tempat dia biasa menunggu angkot.

    Keesokan paginya, Aku baru saja ngopi dan HP baru aku aktifkan, Sudah ada pesan dari Dewi, bunyinya singkat, “Belum berhasil, Pak!”.
    Aku lihat dikirim jam 23.10 malam, berarti kemungkinan Dewi mengirimnya saat baru selesai berhubungan dengan suaminya.
    Sampai dikantor aku baru membalas SMSnya.
    “Memang kenapa?”
    Tak lama Dewi pun membalasnya.
    “Tidak tahu kenapa, apa nanti sore kita bisa ketemu lagi, Pak?, saya merasa nyaman mengobrol dengan Bapak.”

    Aku berfikir tentang arti pesannya, Apakah dia mengajakku selingkuh? Atau hanya perasaanku saja? Atau memang dia hanya ingin mengobrol saja? Sebagai lelaki jelas aku tidak mungkin menampiknya, Sorenya kami janjian di tempat yang kemaren, dan ungkapan Dewi yang jujur sangat mengagetkanku.
    “Pak, terus terang, keinginan saya untuk meriah orgasme jadi tambah kuat, tapi herannya malah saya inginnya dari Bapak, Entahlah saya yakin sekali saya bisa meraihnya bersama Bapak”
    Jantungku terasa berhenti berdetak mendengarnya, belum selesai aku menenangkan pikiranku, Dewi kembali melanjutkan pembicaraannya.
    “Tapi bukan berarti saya ingin berhubungan dengan Bapak lho, saya hanya ingin tahu kenapa perasaan saya begini?”
    Aku hanya diam, namun aku mengambil kesimpulan dalam hati bahwa kemungkinan Dewi terkesan dengan aku karena aku atasannya, bisa saja dia tanpa sadar kagum dengan cara kerjaku, atau apalah yang berhubungan dengan pekerjaan, Karena kalau secara fisik tidak mungkin, jauh lebih ganteng dan atletis suaminya dari pada aku.
    Namun hal ini tidak aku ungkapkan kepadanya.

    Suasana hening diantara kami beberapa saat, tapi tiba-tiba saja tangan Dewi meraih tanganku,
    “Pak.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya
    Tatapan mata kami beradu, Aku melihat ada gairah disana, Aku balas meremas jarinya, Sentuhan halus kulitnya terasa menimbulkan percik-percik gairah di antara kami, Akhirnya aku beranikan diri untuk mengajaknya,
    “Wi, Bagaimana kalau kita diskusi langsung dengan praktek untuk meraih orgasme kamu?” suaraku terasa agak bergetar, mungkin agak canggung.
    “Terserah Bapak deh” jawabnya manja sambil mencubit tanganku.

    Pucuk dicinta ulampun tiba, aku segera membayar makanan kami dan langsung menuju hotel, sepanjang jalan ke hotel, jari-jari kami saling bertaut mengantarkan kehangatan ke jiwa kami, Dan setelah sampai di kamar hotel yang asri, Kami lamgsung mulai.. Meskipun awalnya agak canggung, Namun akhirnya kami dapat menikmati semuanya,

    Masih dalam keadaan berpakaian, aku memeluk tubuh Dewi yang padat, bibir kami saling melumat lembut, kadang lidah kami saling kait dan saling dorong, sehingga gairah di dada kami semakin membuncah, Satu per satu pakaian kami bertebaran dilantai, seiring dengan nafsu kami yang semakin menggebu, Kini Seluruh organ tubuhku bekerja untuk memenuhi hasrat Dewi, aku rebahkan tubuh mulusnya di ranjang, sungguh pemandangan yang indah dan mendebarkan, dengan kulit tubuh yang putih bersih kontras dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya apalagi di kemaluannya yang begitu lebat menghitam. Aku langsung mengelus buah dadanya yang padat dengan lembut, sementara mulut dan lidahku menciumi dan menjilati centi demi centi tubuhnya tanpa terlewati,
    “Tubuh kamu bagus sekali, Wi!” Aku mencoba memberinya rasa percaya diri.

    Sementara Jilatanku sudah sampai pada vaginanya, aku sibakkan bulunya dengan lidahku, aku kemut lembut klitorisnya, kadang lidahku menusuk langsung vaginanya, Jari-jariku ikut membantu memberi kenikmatan dengan memilin-milin puting buah dadanya yang semakin mencuat, Sehingga membuat Dewi mengerang dalam nikmat, Sementara Dewi pun tidak tinggal diam, dia balas mengelus dadaku, kadang ujung dadaku di pilinnya, Tangan yang satunya lagi meremas-remas dan mengocok senjataku sehingga semakin meregang kaku dalam genggamannya, Yang aku yakin berdasarkan ceritanya pasti punyaku lebih besar dari pada punya suaminya, Gairah yang membuncah didadaku membuat aku lupa bahwa aku punya tugas untuk mengantarnya meraih orgasme.

    Tubuh kami berguling-guling dikasur saling memberikan rangsangan dan kenikmatan, hingga akhirnya Dewi sendiri yang tidak tahan dan mengambil inisiatif, dia langsung mengangkangi tubuhku, dan langsung memegang senjataku untuk dibimbing kedalam liang surganya, Perlahan, centi demi centi, senjataku memenuhi rongga vaginanya berbarengan dengan rasa nikmat dan hangat disenjataku, Cengkraman vaginanya yang begitu kuat terasa mengurut senjataku, Dewi terus menggoyangkan pantatnya yang bulat padat, Tanganku memilin kedua putingnya, butir-butir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama Dewi berteriak histeris dan menggigit pundakku, tubuhnya mengejang kaku, dan wajahnya agak memerah melepas orgasmenya,
    Aku berhasil mengantarnya meraih orgasme, Tubuhnya diam sejenak diatas tubuhku.
    “Terima kasih, Pak” ia mencium keningku.
    “Saya masih mau lagi” ucapnya serak.

    Sungguh diluar dugaan, mungkin karena baru kali ini dia meraih orgasme, Dewi begitu liar, hanya beberapa detik, tubuhnya mulai bergoyang diatas tubuhku, Dan anehnya lagi, Hampir disetiap gaya Dewi bisa meraih orgasmenya begitu cepat, Mungkin ada 6 kali dia sudah orgasme tapi dia belum puas juga, sementara aku sendiri bersusah payah menahan orgasmeku, Aku benar-benar ingin memuaskan dahaganya, Apalagi saat gaya doggy, sambil meremas buah pantatnya yang bulat, aku benar-benar tak kuat lagi menahan semprotan dalam spermaku, sentuhan buah pantatnya di pangkal senjataku menambah sensasi tersendiri.


    “Wi, aku mau keluar, di dalam atau di luar?” sambil aku mempercepat kocokanku.
    “Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!” erangnya.
    Akhirnya Seluruh tubuhku bagai tersetrum nikmat, aku melepas orgasmeku, menyemburkan cairan hangat ke dalam kemaluan Dewi yang telah basah berbarengan dengan kedutan-kedutan kecil hangat dari dalam liang vagina Dewi.
    Yah, kami orgasme berbarengan, Sungguh nikmat sekali.

    Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, namun Dewi kelihatannya belum puas juga, aku sampai bingung sendiri, biasanya istriku sekali orgasme tidak bisa lagi orgasme, Namun memang pernah aku baca ada wanita yang seperti Dewi.

    Akhirnya waktu jualah yang harus memisahkan kami, kembali ke kehidupan nyata, Aku dengan istriku dan Dewi dengan suaminya, Namun sejak saat itu hubungan kami semakin hangat membara, Ada satu kelebihan Dewi yang tidak bisa aku lupakan, Vaginanya sangat mencengkram meskipun sudah puluhan kali kami berhubungan, Pernah aku Tanya katanya dia sering minum jamu, Dan Dewi sendiri pun jelas sangat membutuhkan orgasme dariku, Karena terakhir cerita dia belum bisa meraih dengan suaminya, entahlah sampai kapan..

  • Pengalaman Ngentot Sehari Bersama Cabe Cabean – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Pengalaman Ngentot Sehari Bersama Cabe Cabean – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1709 views

    Perawanku – Bastian terlihat kesal, anak sma yang baru saja lulus itu tidak diperbolehkan meninggalkan rumah. Remaja 19 tahun itu disuruh menjaga rumah oleh keluarganya, tentu Bastian sangat kecewa, keluarganya akan pergi ke rumah saudara diluar kota.

    “Ma, kok Bastian gak boleh ikut sih?”,
    “udaaaah, kamu jagain rumah aja, cuman mau ngucapin selamat aja sama saudara kita, mereka baru saja menghuni rumah baru”, “tapi kan ma…”,
    “udah, kamu jaga rumah, kita pulang besok pagi”,
    “aduh, tapi ma…” udah, kamu main sama temenmu aja sana…”. Bastian kini ditinggal keluarganya pergi keluar kota.

    Kini remaja 19 tahun itu bingung harus melakukan apa. Entah dari mana ia mempunyai ide untuk mendatangkan cewek panggilan, alias cabe cabean.
    Segera ia mengambil hpnya dikamar, ia sudah menyimpan pin bb seorang cewek yang katanya suka sih cabe cabean. Nama cewek itu Teressa, Bastian cukup heran kenapa cewek yang foto bbnya itu tampak sangat cantik dibilang cabe cabean.

    Segera Bastian menghubunginya lewat bbm, dan ia tampak makin terkejut, karena Teressa membalasnya dengan cepat.
    “Bastian datang aja ke jalan ********, aku tunggu yaach” Suara teressa tampak membuat Bastian jadi gembira, voice chat itu jadi petunjuk jalan untuk menemui Teressa.

    Segera Bastian mengambil uang simpanannya, memakai pakaian favoritnya, lalu segera berangkat ketempat Teressa dengan motornya.
    Setelah 15 menit perjalanan, Bastian sampai disebuah tempat kost yang memang tampak seperti tempat kumpul kebo. Ia melihat Teressa sudah ada didepan kost itu. Bastian segera memarkir motornya lalu mendekat. Teressa tampak cantik sekali, dengan tanktop hijau dan hotpants, Bastian tidak dapat berkata kata saat menghampiri cewek yang memiliki buah dada montok itu.
    “Bastian yaach? Oiii, kok diem aja?”,

    “eeh…anu…itu…iya..kenalin saya bastian” Bastian menjulurkan tangannya, namun balasan yang diberikan Teressa bukan dengan salaman, namun langsung mencium pipi Bastian, tampak Bastian jadi malu.
    “Aduh, belum apa apa kok udah main cium aja sih, hehe”,
    “Kamu ganteng sih, huh, gemes…” Teressa mencubit pipi Bastian, entah karena memang Bastian itu ganteng, atau karena ia membawa motor Satria itu.
    “Teressa, kamu…”,

    “Udah, ayo kita jalan jalan dulu ya…” teressa langsung merapat ketubuh Bastian.
    “eh…iya deh, mau kemana nih?”,
    “Udaah, berangkat dulu aja yach” Lalu Bastian kembali kemotornya, namun kini ia merasa Teressa yang duduk dibelakang memeluk erat tubuhnya, punggungnya serasa ditekan tekan benda kenyal.
    Bastian hanya bisa tersenyum, lalu segera pergi.
    “Ganteeng, kita ketaman kota aja ya, jalan jalan, hehe”,
    “oooh, iya deh, yuk” Bastian mempercepat laju motornya, tentu untuk merasakan kenikmatan lebih dari pelukan Teressa.
    Beberapa menit kemudian mereka sampai ditaman kota, Bastian segera ditarik cabe cabean itu untuk jalan jalan ditaman kota.
    “Waah, rame yaa”,

    “iya, Teressa, kamu masih sma apa udah…”,
    “Aku masih sma kok, eh sini… foto dulu yuk” Lalu Bastian mulai asyik berfoto selfie bersama cewek montok itu.
    Kemudian Mereka lanjut berjalan jalan sambil bercakap cakap. Setengah jam kemudian, Teressa mengajak Bastian untuk masuk ke mall didekat taman kota.

    “Bas, kamu kok ganteng banget sih, kita ke mall itu ya, nanti foto bareng difotobooth situ”,
    “hehe, iya, terserah kamu mau kemana” Bastian menurut saja, bagaimana ia bisa menolak permintaan cewek montok yang terus merangkul tangan kirinya itu.
    Bukannya kefotobooth, Teressa malah asyik membeli beberapa kaos dan pakaian wanita, tentu Bastian membiarkannya, karena ia sudah mengantisipasi hal ini, ia juga sudah membawa uang simpanannya. Teressa sempat mencoba memakai beberapa baju yang ia beli,

    “Bas, gimana? Pas gak?”,
    “wah, pantes banget, kamu jadi makin cantik loh”,
    “hehe, makasih ganteeng, cup” Lagi lagi cewek itu mencium bastian.
    Bastian tentu saja merasa pengorbanannya membayar semua belanjaan cabe cabean itu sudah pantas, sesuai apa yang Teressa berikan padanya. Setelah puas berbelanja, Teressa mengajak Bastian pulang.
    “ayuk pulang Bas, nanti aku kasih hadiah dikost, hehe” Dalam hati Bastian merasa menang besar, tampak ia berusaha menahan diri agar tidak terangsang ucapan cewek centil itu.

    Segera Bastian mengantar pulang Teressa menuju kostnya.
    “Ayo ganteeng, sini sini, masuk masuk..” Saat tiba dikostnya, Bastian segera diajak masuk kekamar kost Teressa.
    Bastian sudah tidak tahan ingin bercinta dengan cewek montok itu. Teressa membereskan belanjaannya, kemudian duduk layaknya model untuk menarik perhatian Bastian.
    “Ganteeng, sini doong”,
    “Bastian perlahan mendekati cabe cabean itu,
    “Ada apa cantik?”,

    “Makasih yaa udah beliin aku baju baju yang bagus”,
    “Iya, apa sih yang gak buat kam…mmm” Belum selesai bicara, Teressa sudah mencium Bastian.
    Tanpa perlu dikomando mereka sudah asyik mengadu lidah mereka, juga asyik menikmati ciuman mesrah itu.
    “mmmmm…cup…mmm..slruuup…mmm…Bas…mmm…kamu hebat deh…”,
    “iya dong…mmm…slruup…kamu cantik sih..mm”. Bastian terus mencium cewek cantik itu, ia juga merobohkan tubuh mulusi itu, lalu tangannya mulai meremas buah dada montok Teressa.

    “mmm…aaahn…mmm…nakal kamu ya…mmm…kurang kenceng remesannya…mmm” Bastian makin menjadi, tangannya kini menarik tanktop teressa keatas, Teressa yang tidak memakai bh itu kini buah dada montoknya sudah diremas langsung oleh tangan jahil Bastian.
    “mmm…cup…mmm..aaah…mantep bas…uuh…cup…mmm…” Bastian kemudian menghentikan ciumannya, lalu berpindah menjilati Puting merah muda Teressa, Cabe cabean itu terlihat menggigit bibirnya merasakan kenikmatan itu,
    “mmmmm…pentilmu imut banget, mmm…” Bastian menggigit kecil puting yang mengeras itu,

    “aaah…nakal kamu…hehe…hiih…belum ada yang gigit putingku…mmmm…kamu memang hebat” Bastian menyedot puting itu, meski tak keluar air susunya, Bastian sudah bahagia sekali.
    “mm…oooh nikmat banget sih, tubuhmu seindah pesonamu Teressa…mmm”.
    “gantian dong ganteeng, sini sini, aku udah pengen ngulum kontolmu…” Celana Bastian lalu dibuka, segera penis remaja itu kini mulai dikocok oleh Teressa.
    “uuuh, besar juga kontolmu Bas,hehe…oommm” Teressa suda menelan kepala penis Bastian dimulutnya, segera kepalanya bergerak naik turun mengulum penis itu, tampak Bastian merem melek merasakan kenikmatan luar biasa.
    “mmmmm..mm..mmm..mmm.srluup..mmm” Gerakan cepat Teressa mengulum penis itu membuat Bastian tidak tahan. Croot crooot, Bastian membanjiri mulut cewek cantik itu dengan spermanya.

    “slruuuup…mmm…sedap banget bas, gak tahan nih, lepas pakaianmu ganteeng”. Segera Bastian melepas pakaiannya, lalu remaja itu melihat Teressa perlahan melepas hotpantsnya, bukan main senangnya Bastian, penisnya langsung berdiri lagi saat Bastian melihat Teressa membuka selangkangannya memamerkan memek basahnya yang terlihat menggairahkan. “Aduh cantiiik, memekmuu..aduh gemes, hmmm… sini biar aku sedot…”,
    “haus ya? Kamu… auuuh…” Kepala Bastian sudah ada diselangkangan cabe cabean itu, ia sudah asyik menjilati bibir vagina Teressa, lalu ia juga mulai memasukkan dua jarinya kedalam lubang kenikmatan itu.
    Gerakan Jari Bastian mengobok obok memek basah itu membuat Teressa mendesah keras.

    “aaah…aaah…mmmf…uuh….geli bas…aaah” Bastian makin nakal, ia memasukan lidahnya dan berputar putar menjilati dinding dalam vagina harum itu, Bastian juga menyedot air yang keluar dari lubang senggama itu.
    ”uuuhf…sedot semuanya bas….mmmf…aaahn” Setelah puas menikmati air kewanitaan Teressa, Bastian memegang penisnya dan bersiap melesat masuk untuk mencetak goal. Namun teressa menghentikannya.
    “Pake ini dulu ganteeng” Teressa membawa sebuah kondom ditangannya, lalu ia pasangkan kepenis Bastian.

    “nah, gini baru aman, yuuk sini sayaang” Teressa kembali membuka selangkangannya, Memeknya yang tampak terbuka itu membuat Bastian sudah tidak sabar lagi. Segera Remaja itu dengan cepat merayap keatas tubuh montok Teressa, lalu sleeeb, penisnya yang dibungkus kondom itu sudah masuk dalam memek Teressa yang terasa masih sempit meski sudah tidak perawan.
    “aaaaauhh….kontolmu besar banget bas….oooh…mmmf”,
    “Tenang aja cantiik, pasti kamu puas deh…” Segera perlahan penis Bastian bergerak maju mundur, dan kenikmatan memek Teressa mulai terasa menyelimuti penis Bastian.

    “uuuuh, nikmat banget…memekmu masih sempit… uuh” Segera Bastian mempercepat gerakannya, kini Memek Sempit cabe cabean itu mulai disodok keras penis besar Bastian, Teressa tampak mulai menggelinjang.
    “Aaaah..aaah..aaah..uuuh…bas…mmmmf…eih eih eih…oooh…mantep banget…uuuuf”,
    “mmmf…iya cantik… aduuh…toketmu jadi bergoyang…sini aku pegangin..oooh” Tangan Bastian segera meraih buah dada montok Teressa, kini benda bundar kenyal itu diremas remas tangan Bastian.

    “aaahn…mmmf…uuuh…bas….i love you bas…oooh…mmmf” Bastian makin gembira mendengar desahan indah Teressa.
    Layaknya mesin jahit, Penis Bastian itu dengan cepat melesat keluar masuk mengoyak vagina cabe cabean itu, Tubuh Teressa makin menggelinjang.
    “aaaahn…uuuuh…aaaah…mmm..oooh…sssh..mmmf…bastian…oooh…cintaku…mmmf”,

    ”Cantiik…mmmf…aku udah gak kuat..oooh” Crooot crooot, Sperma Bastian tertahan didalam Kondom itu, Setelah itu penis Bastian diraih tangan Teressa, kondom itu dilepas, lalu teressa menyedot isi kondom itu, Teressa terlihat senang sekali menikmati Sperma milik Bastian.
    “slruup…mmm…uhug uhug, Pejuhmu banyak banget sih, duh duh, dasar kamu Bas”,

    “hehe, maklum, kan yang diewe cewek cantik kayak kamu”,
    “Hehe, makasih Bastian ganteeng, Kamu memang yang terbaik, hehe”. Setelah itu mereka segera berpakaian, lalu tampak Bastian sudah ingin pulang.
    “Teressa cantik, makasih buat hari ini ya… cup”, Bastian mencium bibir Teressa yang tampak masih kelelahan itu.

    “Iya ganteeng, nanti kalau ada kesempatan kita main lagi yach, makaciih” Lalu Bastian segera meninggalkan kostan itu.
    Tampak diwajah pemuda itu senyuman kemenangan. Bastian sangat puas sudah meniduri cabe cabean secantik Teressa. Tak rugi ia menghabiskan semua uang tabungannya untuk menikmati tubuh montok Teressa.

  • Nafsu Seks Gilaku Dengan OB (office Boy)

    Nafsu Seks Gilaku Dengan OB (office Boy)


    1760 views

    Perawanku – Aku dan suamiku saat ini sudah mampu memiliki rumah sendiri di kawasan Cimanggis. Dengan kesibukan kami masing-masing, praktis waktu kebersamaan kami hanyalah dua hari dalam satu minggu, yakni hari Sabtu dan Minggu. Untuk itu kami memanfaatkan waktu kebersamaan
    sebaik-baiknya.

    Bandar Togel Terbaik – Bagiku hubungan seks dengan suami tidak mengutamakan kuantitas. Kualitas jauh lebih penting, karena dengan kualitas hubungan yang baik maka kenikmatan yang aku peroleh justru sangat maksimal. Jadi dalam hal hubungan seks, antara aku dan suamiku tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah kadang-kadang aku berfantasi ingin melakukan hubungan seks dengan orang dari kalangan lower class!! Aku sering berfantasi dan sangat terobsesi untuk berhubungan dengan orang yang memiliki gairah liar. Hal ini disebabkan karena suamiku selalu memperlakukanku
    dengan lembut. Itulah masalahnya!!

    Aku sering membayangkan bagaimana rasanya berhubungan badan dengan orang-orang yang kasar. Mungkin ini semacam fantasi liarku yang terpendam. Ini mungkin timbul dari keadaanku yang sejak kecil selalu bergaul dengan perempuan! Soalnya dari keluargaku semuanya terdiri dari anak perempuan! Dari tiga bersaudara sekandung aku merupakan anak pertama, kedua adikku perempuan dan sejak aku berumur 16 tahun ayahku meninggal sehingga praktis kami berempat termasuk ibuku perempuan semua dalam satu rumah. Begitu pula saat bekerja, di kantorku jumlah karyawan terbanyak adalah perempuan! Karyawan laki-laki hanya beberapa orang termasuk satpam, sopir
    serta office boy.

    Kata orang penampilanku sangat menarik! Aku tidak menyombongkan diri memang begitulah kenyataannya. Kulitku putih bersih. Ukuran tubuhku sangat ideal menurut pendapatku. Tinggi badanku 165 cm dan berat badanku 55 kg, dan ukuran dadaku 36B. Dengan keadaan fisik seperti ini tidak sulit bagiku untuk menaklukkan lelaki yang kuinginkan.

    Di kantorku ada satu orang office boy yang membuatku tertarik akan kejantanannya. Orang itu namanya Parjo, berasal dari Tegal, satu kampung denganku. Ia baru berusia 21 tahun. Orangnya tinggi besar dan wajahnya lumayan ganteng. Hal yang membuatku kadang terpesona oleh kejantanannya adalah bau keringatnya yang menyengat dan asli khas bau lelaki. Aku kerap kali membayangkan bagaimana bila aku disetubuhi olehnya. Aku sering kali memimpikan bahwa mem*kku digenjot oleh batang kont*lnya yang dari luar celananya tampak menggembung menandakan besarnya isi yang
    ada didalamnya. Inilah salah satu fantasi liarku, yaitu disetubuhi oleh orang yang kasar seperti dia. Aku mudah saja dekat dengannya karena kami berasal dari satu kabupaten hanya beda kecamatan.

    Sebagai seorang Senior Marketing aku menempati ruang khusus sebagai kantorku.
    Pembaca jangan membayangkan kalau ruang khusus di kantorku ruangnya tertutup sama sekali. Tidak, ruang kantorku sebenarnya mirip-mirip aula yang luas! Cuma disekat-sekat dengan partisi. Ruang khusus yang kumaksudkan adalah dalam satu ruangan yang disekat partisi dengan luas kira-kira 2,5 x 2 m hanya diperuntukkan bagiku. Karyawan lain yang tingkatannya masih di bawahku biasanya menempati satu ruang yang disekat secara bersama-sama sekitar 3 atau 4 orang dalam satu ruangan. Dengan demikian aku mempunyai lebih banyak privacy di kantorku ini.

    Aku kerap kali membuka-buka internet terutama saat-saat istirahat pada jam-jam menjelang kerja lembur. Soalnya dengan membaca kisah- kisahnya fantasiku bisa melayang sesuai dengan alur cerita yang dibawakan si penulis! Aku tak peduli kalau itu kisah nyata atau cuma karangan si penulis.. Yang penting bagiku bisa memuaskan imajinasiku, titik! Oh ya.. Karena kesibukanku, aku kerap kali harus bekerja lembur sore hari hingga sampai jam 20.00 aku baru keluar kantor. Dalam satu minggu, mungkin aku kerja lembur selama 3 hari. Bagiku lembur lebih baik dibandingkan harus terkena macet di jalan yang tiap hari selalu menghantui Jakarta. Yach.. Dari pada waktu terbuang karena macet di jalanan, mendingan kerja lembur bisa dapat tambahan uang belanja, iya kan?

    Suatu sore, seperti biasanya saat menjelang lembur aku mulai asyik membuka-buka kisah-kisah erotis di situs ini. Suasana kantor sudah mulai sepi karena karyawan sudah mulai meninggalkan tempatnya masing-masing. Hal ini sudah biasa bagiku dan tidak menjadi sesuatu yang istimewa sehingga aku cuma menyahut kecil saat satu-demi satu rekan-rekanku pamitan mau pulang duluan.

    Aku mulai terangsang saat membaca kisah- kisah yang benar-benar erotis.Ingatanku jadi melayang pada fantasi liar yang selalu mengobsesiku. Entah karena kebetulan atau memang nasib sedang mujur.. Ternyata office boy yang menjadi incaranku saat itu sedang membersihkan ruang meeting yang besok pagi akan digunakan untuk rapat evaluasi bulanan. Ruang meeting itu persis berada di samping ruanganku sehingga saat si Parjo lewat, keringatnya yang baunya menusuk sempat tercium olehku. Fantasiku kian menggelora begitu mengendus aroma keringatnya itu.

    Aku segera mencari akal bagaimana caranya agar si Parjo mendekatiku. Akhirnya aku punya akal untuk menyuruhnya membersihkan ruanganku yang sengaja kubuat berantakan. Ini kumaksudkan agar Parjo berada dekat denganku dan aku bisa terus mengendus keringatnya yang seksi itu.

    Dengan patuh akhirnya Parjo datang juga ke ruanganku dan mulai membereskan tempatku yang memang berantakan. Aku masih tetap membuka situs ngeres ini sambil menghirup aroma keringatnya yang semakin menyengat saat ia mulai bekerja. Aku sempat meliriknya saat ia mencuri-curi pandang ke arah pahaku yang setengah terbuka. Aku memang memakai rok pendek sehingga pahaku yang putih jenjang kelihatan sangat indah dan sangat kontras dengan rok pendekku yang berwarna gelap. Parjo memalingkan wajahnya dengan malu saat kutangkap basah mencuri- curi pandang ke arah pahaku.

    Aku tetap pura-pura sibuk melihat monitor sambil membaca cerita erotis yang tersaji di depanku. Parjo yang sedang berjongkok membersihkan kolong mejaku tampak berhenti bergerak. Dengan sudut mataku kulihat ia sedang memperhatikan kedua pahaku dari kolong mejaku. Kubiarkan saja hal itu terjadi. Iseng-iseng aku menggodanya agar ia pusing sendiri melihat keindahan pahaku.

    Aku tidak menduga kalau ternyata Parjo seberani itu. Tiba-tiba aku merasa ada benda hangat menyentuh pahaku yang setengah terbuka. Aku tercekat mendapati ia senekat itu, padahal sempat kudengar masih ada suara orang lain yang sedang bercakap-cakap di ruang sebelah. Ternyata masih ada dua orang kolegaku yang belum keluar. Mereka sedang bersiap-siap pulang dan sedang berjalan mendekat ke ruanganku untuk pamitan. Aku tidak berani berteriak saat tangan Parjo yang nakal mulai menggerayangi pahaku dari kolong mejaku. Aku hanya berusaha mengatupkan kedua pahaku agar tangannya tidak bergerak terlalu jauh. Aku menggigit bibirku menahan geli saat tangannya
    yang kasar mengelus-elus paha bagian dalamku dan tangannya yang terjepit kedua pahaku berusaha bergerak- gerak ke atas.

    “Mbak Linda.. Mau lembur lagi” terdengar suara Ida salah seorang staf bagian purchasing menyapaku dari luar ruangan. “Ehh.. Ii.. Iya habis buat persiapan meeting besok” aku tergagap menjawab pertanyaannya.

    Aku khawatir kalau-kalau si Ida dan Dewi yang saat itu belum pulang masuk ke ruanganku dan tahu apa yang terjadi. Yang kurang ajar lagi, ternyata tangan Parjo terus memaksa bergerak ke atas hingga aku tak mampu menahannya lagi. Kini tangannya sudah mulai meraba dan meremas vaginaku dari luar CD nylonku. Aku yang tadi sudah terangsang karena bacaan cerita ngeres semakin terangsang lagi dengan perlakuan Parjo itu.

    “Kita pulang duluan ya Mbak.. Sampai ketemu besok! Salam buat Rio si kecil”.
    Suara Dewi sedikit melegakanku, karena kekhawatiranku kalau mereka akan nyelonong ke ruanganku tidak terjadi. Mereka berdua langsung keluar ruangan.Kini di kantor hanya tinggal aku dan Parjo yang saat itu masih sibuk meremas vaginaku dari luar CD-ku.

    Aku yang sudah sangat terangsang tidak dapat menolak lagi apa yang ia perbuat. Tanpa sadar aku membuka kedua pahaku agak lebar. Mendapat angin seperti itu, jari Parjo yang nakal segera menyusup ke dalam CD- ku dan mulai mengorek-ngorek lubang vaginaku yang sudah mulai basah. Napasku sudah mulai memburu menahan gejolak yang mulai mendesak.

    Konsentrasiku membaca sudah mulai hilang karena pandangan mataku mulai kabur menerima rangsangan Parjo. Kini bukan hanya tangannya yang aktif bergerilya di selangkanganku yang sedikit terbuka. Lidah Parjo pun mulai bergerak menjilati kedua pahaku sambil bersimpuh di depan kursiku. Rok pendekku dipaksanya terbuka hingga pahaku semakin terbuka.

    Lidah Parjo yang panas menggelora mulai bergerak-gerak liar menyapu seluruh permukaan kulit pahaku yang sangat sensitif. Tubuhku semakin menggigil menahan geli saat lidahnya menyusuri kulit
    pahaku disertai dengan gigitan-gigitan kecil.Gila, Parjo rupanya tahu kalau aku sedang membuka cerita ngeres saat ia masuk dan kusuruh membersihkan ruanganku sehingga ia berani berbuat kurang ajar padaku. Aku sebetulnya tadi cuma menggoda saja. Aku tidak menduga kalau akan sejauh ini.

    “Jo.. Jang.. anhh” aku mendesis tapi tidak berani berteriak karena takut kalau ada orang yang mendengar. Namun Parjo rupanya sudah kesetanan. Pantatku ditariknya ke bawah hingga aku terduduk di ujung kursiku. Hal ini memudahkan Parjo menyingkap rokku dan menarik CD-ku hingga ke lututku. Tanpa membuang waktu, Parjo mengangkat kedua pahaku dan mementangkannya di atas
    kepalanya. Wajahnya menyuruk ke selangkanganku dan lidahnya menghunjam ke dalam lubang vaginaku yang sudah sangat basah. Aku tak mampu bergerak lagi. Tangannya yang kokoh memegang erat kedua pahaku hingga tak bisa lagi bergerak. Aku takut memberontak karena aku sudah duduk di ujung kursi, jadi kalau bergerak dengan keras aku mungkin bisa jatuh.

    Aku hanya pasrah dan menikmati saja apa yang seharusnya tidak boleh kulakukan.
    Aku memang terobsesi bercinta dengan orang kasar seperti dia, namun itu hanya sebatas fantasi liarku. Aku tidak ingin mengkhianati suamiku. Desakan birahi semakin menyergapku saat lidah Parjo menyeruak masuk ke dalam lubang vaginaku dan bergerak kasar menggesek-gesek menggelitik lubang vaginaku. Lidahnya yang kasar bergerak liar semakin dalam ke dalam lubang kemaluanku. Napasnya
    yang menggemuruh kurasakan menghembus bibir vaginaku.

    Mataku mulai berkunang-kunang menahan gejolak nafsuku yang kian meledak-ledak.
    Perutku sudah mulai kejang karena bibir Parjo mulai menyedot-nyedot itilku yang sudah sangat membengkak. Aku hampir saja mencapai orgasme saat tiba-tiba telepon di mejaku berdering.

    “Jo.. Stop.. Stopp” Seolah-olah tersadar akan keadaanku, aku segera berteriak keras menghentikan aktivitas Parjo. “Ma.. Maaf Bu..” ujarnya.

    Mungkin karena takut aku akan berteriak, Parjo segera berhenti dan langsung keluar ruanganku serta menghilang ke dalam meeting room. Aku segera membereskan pakaianku yang acak-acakan dan mengatur napas sebelum mengangkat telepon.

    “Halloo..” sapaku di telepon. “Mah.. Ini aku Edy! Mau pulang sama-sama enggak?” terdengar suara suamiku di seberang sana. “I.. Iya.. Aku tunggu Pah..” akhirnya aku memutuskan untuk jadi lembur hari itu.

    Aku merasa bersalah dengan suamiku. Untung saja tadi suamiku menelepon hingga aku tidak berbuat terlalu jauh dengan si Parjo. Untuk menutupi rasa bersalahku sekaligus menuntaskan apa yang tadi
    telah dimulai oleh Parjo, malam itu aku mengajak suamiku bermain cinta. Aku melayani suamiku secara total. Kami yang biasanya bermain cinta sekali, malam itu aku meminta suamiku
    menyetubuhiku hingga tiga kali. Gila! Untung saja suamiku tidak terlalu curiga dengan keganjilan ini. Hari ini aku selamat dari perbuatan selingkuh.

    Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah hampir satu bulan sejak kejadian waktu aku hampir saja mengkhianati suamiku dengan kejadian di ruangan kantorku. Aku pun sudah mulai dapat melupakan kejadian itu soalnya selama ini aku juga hampir tidak pernah melihat Parjo. Aku pun tidak berusaha ingin mengetahui keberadaannya.

    Kira-kira satu minggu menjelang bulan puasa kegiatanku semakin bertambah sibuk.Aku harus banyak mempersiapkan kegiatan promosi menjelang penjualan untuk hari raya lebaran nanti. Untuk itu aku banyak melakukan lembur seperti biasanya.

    Aku masih ingat saat itu hari Kamis tanggal 7 Oktober, aku seperti biasanya lembur di kantor. Saat itu yang ada di kantor hanyalah aku dan Ida yang juga sedang lembur menyelesaikan tugasnya. Kira-kira pukul 18.00, Ida mendatangi ruanganku dan mengajakku pulang bersama-sama, namun aku yang masih harus menyelesaikan beberapa laporan memintanya untuk pulang duluan, sehingga praktis di kantor hanya tinggal aku sendirian. Aku tidak takut karena sudah terbiasa, lagi pula ada security yang selalu berjaga-jaga di lobby bawah di lantai satu.

    Entah karena ruangan AC yang dingin atau mungkin karena sejak sore tadi aku belum ke rest room maka aku merasa ingin sekali buang air kecil. Karena desakan itu aku pun meninggalkan ruanganku dan pergi ke rest room yang letaknya di luar ruangan kantor namun masih satu lantai dengan kantorku. Karena aku yakin sudah tidak ada orang lain, maka aku melepas CD-ku dan memasukannya ke tasku sebelum ke rest room. Hal ini kulakukan agar mudah melepas hajatku nanti. Praktis saat itu aku tanpa mengenakan CD saat pergi ke rest room. Toh rok pendekku cukup tebal, jadi kalau pun masih ada orang tidak bakalan ketahuan, pikirku.

    Keadaan memang sepi di kantor. Saat aku melewati koridor di samping kantorku pun tidak tampak ada satu orang pun di sana. Aku lalu masuk ke rest room dan menutup pintu kemudian langsung menghambur masuk ke salah satu toilet yang berjajar di sana. Aku merasa lega sekali setelah hajatku yang sedari tadi merongrongku terlepas sudah. Kini aku bisa kembali bekerja dengan tenang.

    Saat itu aku sedang merapikan pakaianku di depan cermin di ruangan rest room.
    Aku terkejut setengah mati saat aku tersadar bahwa ternyata di rest room sudah ada orang lain selain diriku. Yang lebih mengejutkan ternyata orang itu adalah Parjo yang sedari tadi memperhatikan diriku saat mematut diriku di depan cermin.

    Belum sempat hilang rasa terkejutku, Parjo sudah mendatangi dan langsung memeluk tubuhku. Aku yang termasuk sudah cukup tinggi untuk ukuran wanita ternyata masih terlalu kecil bila dibandingkan dengan Parjo. Mungkin tingginya sekitar 175-an lebih karena ternyata tinggi tubuhku hanya sebatas hidungnya saja. Selain tinggi, tubuh Parjo sangat kekar dan tegap hingga aku tak mampu bergerak saat
    kedua tangannya yang kokoh menyergapku.

    Didekapnya tubuhku erat-erat dengan kedua lengannya yang kokoh. Kemudian sambil sedikit menundukkan kepalanya, bibir Parjo yang tebal mulai menyentuh bibirku.Lidahnya mulai menerobos bibirku dan mencari-cari lidahku. Napasnya mendengus dengus menggebu-gebu. Aku tidak mampu
    menghindar karena tubuhku terjepit lengannya yang begitu kokoh.

    “Hmmngghh.. Ughh..”, saat lidah Parjo dapat menemukan lidahku, ia mulai mengerang dengan suara yang benar-benar maskulin. Aku yang tadinya berusaha meronta-ronta, mulai berdesir
    darahku mendengar erangan maskulinnya itu.

    Aku merasa betapa dekapan Parjo begitu ketat menarik tubuhku hingga tubuhku dan tubuhnya berhimpitan sangat ketat. Aku dapat merasakan ada benda yang mengganjal di perutku dari balik celana Parjo. Tangan Parjo yang mendekapku mulai bergerak nakal. Satu tangannya mulai meremas buah pantatku dari luar rok ketatku sedangkan tangan satunya sangat ketat mendekap punggungku.

    Aku mulai terangsang saat lidah Parjo yang bergerak liar di dalam mulutku mulai mendorong-dorong lidahku dan tangannya yang tadinya meremas-remas buah pantatku mulai menyingkap rokku ke atas. Rokku ditariknya ke atas hingga pantatku yang tidak tertutup CD segera tersentuh langsung oleh telapak tangannya yang kasar.Aku menggerinjal karena tangannya yang kasar terasa geli di pantatku
    yang halus.

    “Hhsshh.. Oughh..” tanpa sadar aku sedikit melenguh karena tangan kasar Parjo meremas buah pantatku yang terbuka dengan gemasnya. Napasku mulai memburu dan gairahku mulai terusik. Apalagi bau keringat Parjo yang menusuk sangat maskulin dalam penciumanku.

    “Ja.. Jangan.. Joo.. Ohh.. Sshh” antara sadar dan tidak aku masih sempat meronta dan mulutku masih mencoba mencegah perbuatan Parjo lebih jauh. Namun seolah tak peduli dengan desisanku atau mungkin karena penolakanku tidak begitu sungguh sungguh, Parjo tetap saja merangsekku dengan serbuan-serbuan erotisnya.

    Lidah Parjo terus saja menjilat-jilat mulutku dan turun ke daguku. Aku semakin gelisah menerima rangsangan ini, apalagi tangan Parjo yang tadinya meremas remasa pantatku kini bergeser ke depan dan
    mulai mengelus-elus daerah perut di bagian bawah pusarku. Tubuhku bergoyang-goyang kegelian menahan serbuan tangan nakal Parjo yang sudah mulai merambah daerah selangkanganku.

    “Joo.. Jang.. Jangannhh.. Ohh..” aku semakin mendesis antara menolak dan tidak.

    Tangan Parjo yang nakal semakin liar mengaduk-aduk daerah sensitifku. Mulutnya kian gencar menyedot-nyedot leherku. Seolah tak peduli dengan rengekanku, Parjo terus saja bergerak. Kini tangannya bahkan mulai meremas-remas labia mayoraku yang sudah mulai basah berlendir.

    Tubuhku tersentak saat jari tangan Parjo mulai menyusup ke dalam labia mayoraku dan mulai mengorek-korek tonjolan kelentitku. Digerakannya jarinya berputar putar menggesek kelentitku. Kakiku seolah sudah tak bertenaga hingga tubuhku sudah tersandar sepenuhnya di pelukan Parjo. Sambil terus memutar-mutar jarinya di tonjolan kelentitku, Parjo mulai mendorong tubuhku dan
    diangkat untuk didudukkan di atas toilet rest room yang dingin itu. Aku yang sudah mulai pasrah hanya diam saja atas perlakuannya.

    Parjo lalu melepaskan jarinya dari selangkanganku dan ia mulai berjongkok di hadapanku. Wajahnya berada dekat sekali dengan selangkanganku yang terbuka lebar.

    “Aw.. Ohh..” tubuhku kembali tersentak saat tiba-tiba Parjo menyurukkan wajahnya ke selangkanganku dan mulutnya menyedot-nyedot bibir kemaluanku.

    Lidahnya yang panas menerobos masuk di antara labia mayoraku dan mengais-ngais daging hangat lubang vaginaku. Tanpa sadar aku meremas rambut Parjo yang jabrik itu. Tanpa bicara, Parjo terus bekerja! Ya sedikit bicara banyak bekerja!! Ini benar- benar tepat untuk keadaan Parjo saat itu. Lidahnya kini mulai mempermainkan kelentitku yang sudah semakin mengembang. Perutku mulai kejang karena menahan kenikmatan yang hampir meledak.

    “Shh.. Ouhh.. Shh.. Ter.. Rushh Jo..” bibirku tak henti-hentinya berdecap menahan kenikmatan yang mulai naik ke ubun-ubunku.

    Aku yang tadinya berkata jangan, sekarang meminta Parjo untuk terus! Tanganku tanpa sadar merengkuh kepala Parjo agar semakin ketat menempel ke selangkanganku. Rupanya Parjo tahu
    kalau aku sudah hampir mencapai orgasme. Lidahnya semakin gila mempermainkan kelentitku. Bibirnya menyedot seluruh cairan yang semakin membuat vaginaku basah. Aku hampir saja
    mencapai klimaks saat tiba tiba Parjo menarik kepalanya dari selangkanganku. Aku hampir saja terjatuh dari dudukku karena pantatku tanpa sadar bergerak maju mengejar wajah Parjo yang
    ditariknya.

    Parjo benar-benar mempermainkan aku. Saat aku sudah menjelang orgasme, tiba-tiba ia menghentikan pekerjaannya yang belum tuntas. Napasku sudah ngos-ngosan karena didera nafsu. Parjo yang sudah
    berdiri di depanku mulai melepas gespernya dan memerosotkan celana sekaligus CD-nya hingga ke lututnya. Aku benar-benar terkejut melihat kont*l Parjo yang luar biasa. Besar dan panjang..
    Luar biasa.Aku ngeri melihatnya. Jangan-jangan vaginaku bisa jebol dibuatnya. Benar-benar sesuai dengan ukuran tubuhnya yang perkasa.kont*l Parjo yang perkasa berdiri tegak mengacung ke arah wajahku yang terpaku melihatnya. Tanpa memberi kesempatan padaku untuk berlama-lama melihat kont*lnya yang perkasa, Parjo segera menarik tubuhku dan membaliknya. Kini aku berdiri menghadap cermin. Kedua tanganku bertumpu di atas toilet yang tadi kududuki. Tangan Parjo yang kekar mendorong punggungku sedikit membungkuk hingga pantatku agak menungging. Lalu kedua kakiku digesernya agar lebih membuka.

    Bulu-bulu di tubuhku mulai merinding saat ada benda hangat dan tumpul mulai bergesek-gesek di bibir kemaluanku mencoba masuk. Lubang vaginaku yang sudah licin sangat membantu penetrasi yang
    dilakukan Parjo dari arah belakang.

    “Oghh..” kudengar Parjo menahan napas saat ujung kont*lnya yang seperti topi baja mulai terjepit labia mayoraku. Aku pun tak mampu bernapas karena benda itu terasa sesak sekali mengganjal
    selangkanganku. “Hkk.. Hh.. Shh.. Ouchh” aku mendesis tercekat.

    Parjo agak kesulitan mendorong kont*lnya masuk ke dalam lubang vaginaku yang agak kesempitan menerima serbuannya. Aku sendiri heran, aku yang sudah pernah melahirkan terasa seperti perawan
    saja saat ditembus batang kont*lnya. Terus terang ukurannya jauh lebih besar dibandingkan dengan milik suamiku. Aku menjadi lupa diri saat itu. Yang kutahu aku harus menuntaskan gairah napsuku.

    Berkali-kali Parjo terus mendorong batang kont*lnya. Tanpa sadar aku ikut membantunya dengan menggeser pantatku hingga kont*l Parjo terdorong masuk. Tubuhku bergetar karena seluruh lubang vaginaku seperti tergesek oleh besarnya kont*l Parjo yang baru masuk kira-kira setengahnya saja.

    “Ouchh.. Hhahh..” aku berkali-kali pula mendesis menahan nikmat yang kembali naik ke kepalaku.

    Dengan pelan Parjo kembali menarik batang kont*lnya dari jepitan lubang vaginaku. Didorongnya lagi hingga bertambah dalam batang itu menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku yang sudah
    mulai bisa beradaptasi dengan besarnya kont*l Parjo. Sekarang gerakan maju mundur batang kont*l Parjo mulai lancar.

    “Hugghh..” kami sama-sama menahan napas saat kurasakan seluruh batang kont*l Parjo sudah masuk ke dalam jepitan lubang vaginaku hingga ke pangkalnya. Itu aku rasakan karena pantatku menempel ketat pada kantung biji telur kemaluan Parjo.Lubang vaginaku terasa berdenyut-denyut meremas batang kont*l Parjo yang memenuhi lubang vaginaku. Panjang sekali batang kont*lnya hingga mulut rahimku seolah-olah seperti tersodok benda tumpul. Tubuh kami terdiam seperti terpatok satu sama lain oleh pasak yang menyumpal lubang kemaluanku.

    Tangan Parjo yang tadinya memegang kedua sisi pinggulku mulai menyusup ke dalam gaunku dan bergerak meremas kedua payudaraku. Tangannya yang kasar membuat tubuhku menggelinjang saat meremas payudaraku yang sudah terlepas dari BH-ku.Kait BH-ku memang ada di depan hingga mudah bagi Parjo melepas penjepitnya.

    Mataku terpejam menahan desakan napsu yang mulai mendesak dari perutku. Dengan pelan Parjo mulai menarik batang kont*lnya dari jepitan lubang vaginaku lalu mendorongnya kembali. Tubuhku mulai bergetar saat batang kont*lnya menggesek gesek seluruh dinding vaginaku.

    Sambil berpegangan pada kedua payudaraku, Parjo terus mendorong dan menarik pantatnya. Gerakan batang kont*l Parjo dalam lubang kemaluanku semakin lancar karena sudah banyak sekali cairan pelicin keluar dari lubang kemaluanku. Mulut Parjo yang tak henti- hentinya menjilati kudukku terasa semakin membuatku melayang ke awan tak bertepi.

    Tangan Parjo yang tadinya meremas payudaraku dilepasnya dan menarik wajahku agar menengok ke belakang. Bibirku langsung dipagutnya dengan bibirnya yang tebal begitu wajahku menoleh. Lidah Parjo segera didorong masuk ke dalam mulutku dan mulai menggelitik rongga mulutku. Aku jadi ingat saat membaca majalah porno yang dibawa suamiku dulu. Ini rupanya yang disebut posisi 99. Baru kali ini aku merasakannya.

    Posisi 99 dilakukan dengan kedua pasangan menghadap ke arah yang sama, laki-laki di belakang dan perempuan di depan. Penis laki-laki menusuk vagina atau anus si perempuan dari arah belakang, sementara tangan si lelaki meremas-remas payudara si perempuan dan keduanya saling berpagutan bibir. Indah sekali!!

    Aku tidak pernah membayangkan kalau akhirnya aku melakukan hubungan seks dengan posisi seperti ini. Tangan Parjo kembali menyusup ke dalam gaun kerjaku dan mulai mengerjakan tugasnya meremas-remas kedua payudaraku. Bibirnya memagut bibirku dengan lidahnya mendorong-dorong lidahku. Sementara batang kont*lnya terus menghunjam lubang vaginaku tanpa ampun. Berkali-kali rambut kemaluan Parjo yang kasar seperti habis dicukur menggaruk-garuk pantatku saat kont*lnya melesak ke dalam lubang vaginaku hingga ke pangkalnya. Aku pun berkali-kali mengerang tanpa rasa malu-malu lagi. Aku memang selalu ribut kalau sedang bersenggama.

    Tanpa harus diperintah, aku mulai menggoyangkan pantatku mengikutiirama tusukan kont*l Parjo. Tubuhku mulai terhentak-hentak dan gerakan pantatku sudah tidak terkendali. Pantatku semakin cepat bergoyang dan mundur menyambut dorongan kont*l Parjo hingga masuk sedalam-dalamnya ke dalam jepitan lubang vaginaku.

    “Ter.. Rushh.. Joo.. Oohh” aku terus mendesis-desis tak terkendali. Tubuhku seolah melayang dan ringan. Parjo semakin cepat menarik dan mendorong kont*lnya menghunjam lubang vaginaku. Aku
    tersentak. Perutku terasa kejang menahan desakan yang hampir meledak.
    “Terushh Linn.. Terushh..” kudengar Parjo menggeram sambil menusuk-nusuk lubang vaginaku kian kencang. Lalu mulutnya kembali melumat bibirku dan tanpa dapat kutahan lagi tubuhku berkelojotan melepaskan ledakan birahi yang sudah tidak terbendung lagi. Aku menggigit bibir Parjo yang melumat bibirku. Pada saat yang sama, tubuh Parjo pun menggeliat dan tersentak-sentak seperti penari breakdance.Tubuh bagian bawah kami yang saling menempel menggeliat secara bersamaan. Pantatku yang menempel ketat dan seperti terpaku pada tulang kemaluan Parjo memutar tak terkendali.

    “Arghh.. Shh..” seperti suar koor, kami berdua menggeram secara bersamaan.

    Otot-otot vaginaku berdenyut-denyut mencengkeram kont*l Parjo yang tertanam sepenuhnya didalamnya. Cratt.. Cratt.. Cratt.. Crat.. Crat.. Akhirnya kont*l Parjo mengedut-ngedut dan hampir
    lima kali menyemburkan cairan hangat yang menyiram ke dalam mulut rahimku. Terasa begitu kencang semburan air mani Parjo menyemprot dalam lubang vaginaku. Kami terus bergerak hingga tuntas sudah air mani Parjo terperas denyutan lubang vaginaku.

    Akhirnya kami sama-sama terdiam lemas tak berdaya. Napas kami saling memburu.
    Denyut jantungku berdentum setelah bekerja keras memburu kenikmatan. Aku yang kelelahan tak mampu bergerak lagi dan ambruk di atas toilet. Kubiarkan saja kont*l Parjo yang masih menancap
    erat dalam lubang vaginaku. Tubuh Parjo pun ambruk menindihku. Pantatku tetap menempel ketat pada tulang kemaluannya. Aku merasakan betapa banyak cairan air mani yang disemprotkan Parjo ke
    dalam lubang vaginaku hingga sebagian meleleh ke pahaku.

    Perlahan-lahan kont*l Parjo mulai melembek dan akhirnya terlepas dari jepitan lubang vaginaku dengan sendirinya. Beberapa saat kemudian Parjo bangkit dan masuk ke WC. Kudengar suara gemericik air, mungkin ia sedang membersihkan kont*lnya yang lengket oleh cairan kami berdua. Ia juga mengambil tissue dari WC dan kemudian membersihkan lelehan air maninya yang membasahi pahaku dengan telaten. Beberapa kali ia mondar- mandir ke WC mengambil tissue dan membersihkan semua cairan dari selangkanganku. Geli sekali rasanya saat tangannya yang kasar dengan nakal meremas-remas vaginaku saat membersihkan dengan tissue.

    “Terima kasih Lin.. Sorry aku sudah tidak tahan ingin menikmati keindahan tubuhmu” ia tidak lagi memanggilku dengan ibu tapi langsung namaku begitu saja. Aku hanya terdiam. Aku sebenarnya menyesal juga telah melakukan pengkhianatan pada suamiku. Tapi semua sudah telanjur. Aku hanya
    mengangguk saja saat ia meminta maaf untuk yang kedua kalinya.

    Aku merapikan pakaianku dan kembali ke ruanganku dengan langkah gontai akibat kelelahan setelah bersetubuh sambil berdiri tadi. Parjo pun segera membersihkan lantai dari lelehan air maninya yang
    tercecer di rest room itu.

    Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.30 malam saat aku masuk ruanganku. Jadi hampir satu jam aku bersetubuh dengan Parjo di rest room tadi. Aku masih sangat lelah hingga tak mampu lagi
    berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Aku hanya terpaku di depan mejaku menatap layar monitor yang tetap menyala.

    Aku tersentak dari lamunanku saat HP-ku berdering. Kulihat di layar ternyata suamiku menelpon.

    “Hallo mah.. Kemana saja kamu? Dari tadi kutelepon kok tidak diangkat?” terdengar suara suamiku di seberang sana. “Oh.. Eh.. Anu.. Tadi aku ke toilet.. Habis perutku rasanya mulas setelah makan siang” jawabku mencari alasan yang tepat. “Tapi.. Kamu enggak apa- apa kan?” terdengar suara Mas Edy agak khawatir “Enggak apa-apa kok pah..” jawabku. “Ya sudah kalau enggak apa-apa.. Mau pulang bareng enggak?” kata suamiku lagi. “Enggak ah.. Aku masih mau lembur soalnya laporan musti selesai malam ini juga” aku yang memang berniat mau meneruskan pekerjaanku meminta suamiku tidak usah menjemputku.

    Aku kembali menatap monitor yang menyala di depanku. Pikiranku belum bisa diajak berkonsentrasi. Aku sangat merasa bersalah telah mengkhianati suamiku yang begitu mencintaiku. Di sisi lain aku
    merasa ada rasa aneh saat mengingat kejadian tadi. Pikiranku masih melayang ke tempat lain saat ada tangan kuat memelukku dari belakang. Aku kembali tersadar dari lamunanku.

    “Eh.. Su.. Sudah Jo.. Jangan lagi” aku berusaha berontak setelah aku tahu bahwa pemilik tangan kekar itu ternyata Parjo yang memelukku dari belakang. “Enggak apa-apa Lin.. Aku sayang sama kamu..”
    bisik Parjo sambil memelukku. Aku tak mampu melawan Parjo yang sudah mulai bernafsu lagi. Apalagi tubuhku masih terasa lemas sekali sejak digoyang Parjo di rest room tadi.

    Napas Parjo yang memburu terasa panas menghembus di leherku saat lidahnya mulai menjalar menjilati kudukku. Aku masih berusaha menghindar saat bibirnya berusaha mencium pipiku. Tetapi tangan Parjo yang kokoh segera memaksa wajahku menghadapnya dan bibirnya yang tebal segera melumat bibirku. Aku hanya mampu menutup bibirku erat-erat sebagai upaya penolakanku. Namun lidah Parjo tak putus asa berusaha menggesek bibirku dan menyusupkannya ke dalam mulutku. Akhirnya pertahananku bobol juga. Lidah Parjo berhasil menyusup ke dalam mulutku dan mulai mendorong-dorong lidahku. Tangannya yang kokoh mulai meremas-remas payudaraku dari luar gaun.

    Mendapat rangsangan seperti itu, perlahan- lahan gairahku mulai bangkit lagi.Lidahku akhirnya membalas dorongan lidahnya hingga kami saling berpagutan. Sambil tetap menciumi lidahku, Parjo mengangkat tubuhku dan memondongku dibawa ke ruang meeting VIP yang khusus dipakai menjamu tamu VIP. Ruangan itu cukup luas dan dilengkapi dengan sofa yang empuk.

    Tubuhku segera dihempaskan ke sofa itu dan kembali Parjo mencumbuku dengan ganasnya. Dengan sikap posesif, Parjo terus mencumbuku di ruang meeting VIP itu.Seluruh tubuhku mulai bergelora dan tergelitik. Tangan Parjo yang terampil mulai melepaskan kancing gaunku satu persatu. Sekarang aku hanya mengenakan rok ketat dan BH. Kembali Parjo menggumuliku di sofa empuk itu. Lidahnya yang tadinya menggelitik lidahku mulai bergeser turun ke leherku, sementara itu tangannya segera melepaskan pengait BH-ku dan melepaskan BH tersebut hingga tubuh bagian atasku sudah tanpa penutup lagi.

    Lidah Parjo terus bergeser turun dari leher ke bahuku yang terbuka lebar. Tangan Parjo secara otomatis bergerak ke dadaku yang sudah terbuka dan bermain-main di sana. Kedua payudaraku terasa agak sakit karena Parjo meremasnya dengan kasar dan gemas.

    “Ohh..” tanpa sadar aku menggumam saat kedua puting payudaraku yang didekatkan satu sama lain dilumat mulut Parjo dengan rakus secara bersamaan. Lidahnya yang kasar dan panas mempermainkan kedua puting payudaraku. Tubuhku terasa bergetar menahan gairah.

    Aku tak henti-hentinya mendesis menahan geli dan nikmat saat mulut Parjo melumat payudaraku dengan gemasnya. Tangan Parjo lalu melepaskan satu-satunya penutup tubuhku. Rokku dilepasnya hingga aku betul- betul telanjang bulat. Aku baru kali ini telanjang bulat di kantorku sendiri. Aku berbaring telentang di sofa sambil tanganku berusaha menutupi selangkanganku karena jengah. Mata Parjo tak pernah lepas dari tubuhku ketika ia membuka pakaiannya satu demi satu.

    Aku menahan napas melihat Parjo yang sudah telanjang bulat di depanku. Perutnya datar dan keras. Tungkai dan lengannya yang kokoh sangat lebat ditumbuhi rambut. Tubuhnya tegap berotot, urat-urat darah yang kuat terlihat jelas di lengannya.Parjo lalu duduk di dekat tubuh telanjangku.

    “Tubuhmu seksi sekali Lin..” bisik Parjo di telingaku.

    Tangannya segera bergerak mengelus dadaku. Ibu jarinya melakukan gerakan melingkar di atas payudaraku hingga membuatku menggelinjang kegelian. Tangannya lalu meraba perutku dan terus bergeser turun dan menyingkirkan tanganku yang menutupi selangkangan. Ditangkupkannya telapak tangannya di bukit vaginaku dan ditekankannya tangannya di sana sambil meremas pelan.

    “Ohh..” aku hanya mendesis menahan gairah.

    Parjo lalu menundukkan wajahnya dan merangkak di atasku dengan posisi terbalik.Mulutnya segera menyerbu payudaraku. Lidahnya menyapu-nyapu seluruh permukaan kulit payudaraku dan menyedot putingku dengan gemasnya. Tanpa sadar tanganku bergerak meremas-remas rambut kepalanya. Parjo pun semakin bersemangat begitu mendapat respons dariku.

    Lidahnya terus merayap turun hingga ke perutku. Kini wajahku menghadap dadanya yang bidang. Mulutku yang menempel ketat di dadanya secara otomatis mulai merespons. Keringat Parjo yang
    berbau menyengat menjadi obsesiku. Aku tak menyia-nyiakan untuk merasakan keringatnya. Lidahku tanpa malu-malu lagi mulai menjilati puting dada Parjo yang hitam kecoklatan.

    Lidah Parjo terus turun ke selangkanganku. Otomatis wajahku kini menghadap ke arah selangkangannya yang merangkak di atasku dengan posisi terbalik. Batang kont*lnya yang berukuran super menggantung bergoyang-goyang di depan mulutku seperti terong. Karena ujungnya menyentuh-nyentuh mulutku, aku terusik untuk membuka mulutku dan mulai menjilati ujung topi bajanya.

    “Ouchh.. Jo..” tubuhku tersentak saat lidah Parjo mulai menjilati vaginaku dan lidahnya menyeruak ke dalam lubang vaginaku menjilati dinding- dindingnya.Pantatku terangkat secara otomatis. “Arghh..” Parjo pun melenguh saat mulutku menyedot-nyedot ujung kepala kont*lnya yang sudah sangat keras.

    Setelah puas saling menjilat dan mencumbu, Parjo membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku. Tangan Parjo segera menguakkan kedua pahaku lebar-lebar. Ia menempatkan tubuhnya di antara
    kedua pahaku dan mulai menyatukan tubuhnya ke tubuhku. Kulit Parjo yang sudah licin oleh keringatnya yang berbau menyengat tampak mengkilap. Titik-titik keringat bermunculan di kening dan lehernya. Parjo menghunjamkan tubuhnya dalam-dalam berulang kali ke dalam hingga kedua tulang kemaluan kami saling melekat satu sama lain.

    Mulut Parjo segera melumat bibirku yang setengah terbuka karena merasa sesak napas saat selangkanganku terganjal kont*l Parjo yang melesak ke dalam lubang vaginaku hingga ke pangkalnya. Dalam sekali rasanya hingga mulut rahimku terasa agak ngilu tersodok ujung kont*lnya.

    Aku yang sudah sangat terangsang berusaha ikut bergerak mengimbangi tusukan tusukan Parjo di selangkanganku dengan menggerakkan pantatku yang tercengkeram oleh kedua tangannya. Parjo terus mengayunkan pantatnya naik-turun di atas perutku dengan seluruh berat tubuhnya tertumpu di atas perutku. Dadanya yang bidang ketat menghimpit kedua payudaraku. Napasku terasa sesak sulit bernapas karena tertindih berat tubuhnya. Apalagi mulut Parjo yang masuk melumat bibirku berusaha menyedot-nyedot lidahku.

    Aku bisa bernapas lega saat Parjo melepaskan kont*lnya dari jepitan lubang vaginaku dan bangun. Ia duduk di tepi sofa dan mengangkat tubuhku agar duduk di pangkuannya. Tubuhku kembali direngkuhnya dan bibirku kembali dipagutnya dengan rakus. Aku yang duduk di atas pangkuan Parjo dengan mengangkangkan kaki di antara kedua pahanya tidak dapat bergerak karena kedua tangannya melingkar erat di punggungku dan menariknya ketat hingga payudaraku kembali tergencet dadanya yang bidang itu.

    kont*l Parjo yang berukuran super itu tergencet di antara perutku dan perutnya sendiri. Lalu kedua tangan Parjo bergeser ke pantatku dan mengangkatnya hingga aku setengah berdiri menghadap ke arahnya. Kemudian satu tangannya mengarahkan ujung kepala kont*lnya dan diarahkan ke selangkanganku. Tubuhku diturunkannya dengan pelan hingga sedikit demi sedikit ujung kont*lnya mulai terbenam kembali ke dalam lubang vaginaku.

    Aku menahan napas saat batang kont*l Parjo mulai terjepit dinding lubang vaginaku dan melesak ke dalamnya. Seluruh bulu tubuhku merinding karena batang kont*lnya yang begitu besar serasa
    menggesek seluruh celah dinding vaginaku.

    “Ahh..” hampir secara bersamaan kami menghela napas lega saat seluruh batang kont*l Parjo akhirnya masuk tertelan lubang vaginaku. Pantatku terasa geli tertusuk-tusuk rambut kemaluan Parjo yang agak tajam karena dicukur cepak. Aku merasa geli karena kantung telur Parjo yang lunak dan hangat menempel ketat di bawah pantatku.

    Dengan dibantu kedua tangannya yang kokoh yang menyangga kedua buah pantatku, tubuhku bergerak naik turun di atas pangkuan Parjo. kont*lnya yang terjepit ketat dalam lubang vaginaku menggesek seluruh relung dinding vaginaku. Aku harus menggigit bibirku kuat-kuat agar dapat menahan kenikmatan yang mulai menggerogoti sumsum tulang belakangku.

    Parjo menundukkan wajahnya dan segera menyurukkannya ke dadaku yang berayun-ayun seiring dengan gerakan tubuhku yang seperti menari-nari di atas pangkuannya.Kedua payudaraku dilumatnya dengan bibirnya yang tebal bergantian. Lidah Parjo yang kasar dan panas mengilik-ngilik puting payudaraku yang dijepitnya dengan bibirnya. Aku merasa seperti melayang menerima rangsangan ganda seperti ini.

    “Ohh.. Joo..” tanganku segera merengkuh kepala Parjo dan menekankannya ke dadaku. Perutku mulai merasa kejang-kejang. Gerakanku mulai tak terkendali di atas pangkuan Parjo. Dinding vaginaku terasa mulai berdenyut-denyut meremas kont*l Parjo yang terjepit di dalamnya. Gerakanku semakin liar dan kepalaku seperti tersentak ke atas.

    “Terrushh Joo.. Oohh” aku menjerit panjang saat ada sesuatu yang pecah di dalam perutku. Aku sudah tidak mampu menahan jebolnya gairahku. Pantatku berputar liar di atas pangkuan Parjo seperti ingin menggesek dan menggerus kont*lnya yang terbenam di dalamnya. Tangan Parjo membantuku memutar pantatku. Aku melayang dan terhempas ke tempat kosong.

    Napasku tinggal satu-satu. Lelah sekali rasanya tubuhku. Aku terkulai lesu di atas pangkuan Parjo. Kedua tanganku memeluk erat lehernya untuk menuntaskan sisa-sisa kepuasan yang benar-benar melelahkan. Dinding-dinding vaginaku mengedut-ngedut selama beberapa saat lalu aku terdiam dan ambruk di atas pangkuan Parjo.

    Parjo memberiku kesempatan untuk mengatur napasku dengan membiarkan aku terkulai di pangkuannya. kont*lnya yang masih sangat keras tetap kokoh memaku lubang vaginaku.

    “Masih capai Lin..?” bisik Parjo di telingaku. “He.. Eh..” aku tak berani melihat wajahnya karena malu, soalnya tadi aku menolak tetapi akhirnya aku berhasil ditundukkannya. Aku malu sekali padanya.

    Perlahan-lahan Parjo mengangkat tubuhku dari pangkuannya. Serr.. Nikmat sekali saat batang kont*lnya yang tadi menyumbat lubang kemaluanku tertarik keluar menggesek dinding vaginaku. Aku sempat melirik batang kont*l Parjo yang begitu basah dan licin mengkilat karena hasil orgasmeku tadi. Aku lalu disuruhnya merangkak dengan menghadap ke sofa. Parjo berlutut di belakang tubuhku yang
    membelakanginya.

    Tubuhku menggelinjang saat lidah Parjo mulai menjalari tulang belakangku.Lidahnya menjelajah seluruh permukaan kulit punggungku. Bulu romaku dibuat merinding oleh ulahnya.

    “Ughh..” aku melenguh pelan saat mulut Parjo membuat gigitan ringan di atas pinggulku. Otot-otot perutku serasa ditarik karena rangsangan itu. Mulut Parjo tidak berhenti di situ. Mulutnya terus bergeser turun hingga kini kedua buah pantatku digigit-gigitnya dengan gemas. Seluruh tubuhku bergetar menerima perlakuannya. Apalagi saat lidah Parjo mulai menyapu-nyapu daerah sekitar lubang anusku.

    “Ja.. Jangan Jo..” namun terlambat. Aku tidak mampu mencegah saat lidah Parjo mulai menusuk-nusuk dan mengilik-ngilik lubang anusku. Geli sekali rasanya.Pantatku tidak dapat bergerak karena dicengkeram kedua tangannya yang kokoh. Aku hanya bisa pasrah dan menikmati jilatan lidahnya di lubang
    anusku.

    Setelah puas menikmati lubang anusku dengan lidahnya, Parjo mulai mengarahkan kont*lnya ke lubang vaginaku. Ia menusuk vaginaku dengan kont*lnya di antara kedua buah pantatku. Aku harus menahan napas lagi saat kepala kont*lnya mulai menerobos lubang vaginaku. Agak perih dan ngilu rasanya.

    Lubang vaginaku mulai mengeluarkan cairan pelicin lagi saat Parjo mengocoknya dengan ujung kepala kont*lnya yang digesek-gesekkan di antara bibir vaginaku. Hal ini membuat tusukannya bertambah lancar.

    “Ughh.. Hkkhh” Parjo menggumam saat seluruh kont*lnya berhasil masuk ke dalam lubang vaginaku. Aku pun dapat bernapas lega setelah seluruh batang kont*lnya melesak masuk. Ia terdiam beberapa saat menikmati denyutan dinding vaginaku yang melumat kont*lnya.

    Nafsuku kembali bangkit saat Parjo berkali- kali memaju-mundurkan pantatnya menarik dan mendorong kont*lnya di dalam lubang vaginaku. Aku kembali tergerak menikmati tusukan-tusukannya dengan ikut menggerakkan pantatku. Pantatku maju mundur berlawanan arah mengikuti irama tusukannya. Jika ia menarik mundur aku maju dan jika ia maju aku mendorong pantatku ke belakang menyongsong tusukannya.Plok.. Plok.. Plokk.., begitulah setiap kali pantatku beradu dengan tulang kemaluannya selalu terdengar suara seperti tepukan. Kedua payudaraku berguncang guncang setiap kali vaginaku disodok kont*l Parjo.

    Darahku mulai menggelegak terbakar nafsu. Tangan Parjo yang tadinya mencengkeram kedua buah pantatku sekarang berpindah dan meremas kedua payudaraku yang berguncang-guncang. Jari-jarinya
    memilin kedua puting payudaraku.

    “Ohh.. Joo.. Ter.. Russhh.. Terushh” tanpa malu-malu lagi aku mendesis meminta Parjo terus memompakan kont*lnya. Pantatku yang tadinya maju-mundur kini bergerak memutar seolah hendak memeras. Dinding vaginaku kembali berdenyut denyut. Aku memejamkan mataku berusaha menahan ledakan yang sudah hampir sampai.Aku berusaha menahan lebih lama lagi. Kelentitku yang sudah mengembang tergesek gesek oleh tusukan kont*l Parjo yang perkasa.

    “Ohh.. Joo.. Arghh..” aku mengerang panjang. Aku sudah tidak mampu bertahan lagi. Siksaan gejolak napsu itu terlalu kuat untuk kutahan. Aku harus menyerah lagi untuk yang kesekian kalinya, padahal aku yakin Parjo belum apa-apa. Tubuhku terasa ringan sekali. Otot perutku mengejang dan tubuhku meliuk melepaskan orgasmeku. Aku terus bergerak menuntaskan orgasmeku lalu ambruk di sofa.Kubiarkan saja kont*l Parjo menancap di lubang vaginaku. Aku sudah terlalu lelah untuk bergerak.

    Aku hanya pasrah saat Parjo menarik tubuhku dan membaringkannya di karpet ruang meeting room itu. Tubuhku ditelentangkannya dan kedua kakiku dipentangkannya lebar-lebar. Aku berusaha menutupi lubang vaginaku yang menganga dengan tanganku. Aku risih juga karena bagian tubuhku yang paling pribadi dipelototi mata Parjo.

    Parjo kembali merangkak di atas perutku dan menindihku. kont*lnya yang licin karena lendir orgasmeku kembali ditusukkannya ke lubang vaginaku. Kepala kont*lnya agak mudah tergelincir masuk ke dalam jepitan lubang vaginaku karena memang sudah sangat licin. Ia terus mendorong pantatnya hingga seluruh kont*lnya amblas ke dalam vaginaku.

    Dengan bertumpu pada kedua lutut dan sikunya, Parjo mulai mengayunkan pantatnya naik turun di atas tubuhku. Batang kont*lnya dengan sendirinya bergerak keluar masuk menusuk-nusuk lubang vaginaku. Aku masih belum mampu bergerak. Kubiarkan saja Parjo sibuk sendiri di atas tubuh telanjangku.

    Bibir Parjo yang terus menerus menciumi bibir lalu leher dan turun lagi ke payudaraku membuat nafsuku kembali bangkit. Lidahnya yang terus bermain-main di kedua puting payudaraku dan tusukan-tusukan kont*lnya kembali memaksaku menggerakkan tubuhku.

    “Hmmghh.. Ughh.. Ughh..” mulut Parjo terus saja mendengus seperti kerbau gila.Ayunan pantatnya semakin kencang menghantam vaginaku. Ia terus bergerak memacuku. Berkali-kali mulut rahimku tersodok- sodok ujung kont*lnya. Ngilu bercampur nikmat berbaur menjadi satu. Keringatnya telah semakin membuat tubuhnya licin. Aroma keringatnya yang maskulin benar-benar membuatku mabuk karenanya.

    Aku semakin tidak mampu bergerak karena berat badan Parjo seolah bertumpu pada perutku. Kedua tangannya berpindah mengganjal kedua buah pantatku dan mencengkeramnya kuat-kuat. Bibirnya kini melumat bibirku dan lidahnya menggesek gesek langit-langit mulutku. Pantatnya kian cepat memompa menghantam vaginaku. Aku merasa darahku mulai menggelegak. Perutku kembali mengejang pertanda akan mencapai klimaksku lagi.

    Aku berusaha memutar pantatku yang dicengkeram kedua tangan Parjo dengan sisa tenagaku. Gerakan pantatku memutar menyongsong tusukan kont*lnya yang menderu deru. Vaginaku mulai mengedut-ngedut dan mataku seolah mulai terbalik menahan nikmat. Aku terus bergerak menyongsong nikmat. Gerakanku dan gerakan Parjo semakin liar tak terkendali. Kami sama-sama mendengus danmengerang.

    Tangan Parjo yang meremas kedua buah pantatku terasa lebih kuat. Pantatnya terus menghunjam selangkanganku. Tubuhku menggeliat dan tersentak. Pantatku terangkat saat aku merasa ada suatu ledakan di dalam perutku.

    “Arrgghh.. Ter.. Rushh.. Terushh.. Oughh” mulut Parjo terus memintaku mempercepat putaran pantatku. Aku terus berusaha bergerak. “Ohh” aku merintih panjang bersamaan dengan geraman Parjo.

    Mulut Parjo melumat bibirku kencang sekali saat ujung kont*lnya menyemburkan mani ke dalam mulut rahimku. Crrt.. Crtt.. Crrt.. Crrtt.. Crutt.. Hangat sekali rasanya saat mulut rahimku tersembur air maninya. Tubuh Parjo ambruk di atas perutku. Kami sama-sama terkulai lemah setelah bertempur habis-habisan.

    Aku tidak jadi lembur hari itu. Aku berulangkali disetubuhi Parjo dengan berbagai posisi di ruang meeting VIP itu hingga loyo. Ruang meeting VIP yang biasa digunakan menemui tamu-tamu VIP
    sekarang kami gunakan untuk saling memiting dan menuntaskan gejolak nafsu liar kami.

    Aku keluar kantor dan pulang ke rumah hampir jam 23.30 malam itu. Perselingkuhanku dengan Parjo kembali terulang karena ia mengancamku akan menceritakan affairku dengannya kepada teman-temannya bila aku tidak mau melayani keinginannya. Hampir dua minggu sekali Parjo minta jatah dariku baik itu di kantor saat sepi, di rest room atau di penginapan yang terdekat.

    Sejak saat itu aku menjadi kekasih gelap Parjo, office boy di kantorku. Ia dan aku telah berjanji untuk merahasiakan hubungan kami dan akan bersikap wajar di depan orang lain. Ia juga berjanji tidak akan menggangguku bila aku sedang di rumah atau sedang bersama suamiku.

  • Istriku Selingkuh Dengan Bule

    Istriku Selingkuh Dengan Bule


    1982 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Istriku Selingkuh Dengan Bule ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Aku seorang IT manager di sebuah perusahan swasta di Bali, umurku 32 thn dan istriku 29 thn, kami sudah lima tahun menikah namun belum dikaruniai seorang anak. Enam bulan lalu aku memutuskan pisah ranjang dengan istriku karena sudah tidak ada kecocokan lagi.Rencananya dalam waktu dekat aku akan mengurus perceraian kami. Tapi karena terbentur waktu jadi urusannya terkatung-katung.

    Istriku memilih tinggal sendirian kost di dekat Hotel tempat dia bekerja sebagai Public Relation Manager. Minggu pagi aku berniat mengunjungi dia, kangen juga sih, sudah 3 bulan aku tidak pernah ketemu dia.

    Di depan pintu aku kaget melihat seorang bule keluar dari kamarnya, aku menunggu sebentar sampai si bule pergi dan nyelonong masuk kamar istriku, aku pura-pura tidak tahu tentang si bule yang barusan keluar.

    Kulihat istriku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Tubuhnya masih tetap seperti dulu padat dan sintal, mungil tapi proporsional, Dia keget melihatku sudah duduk di atas tempat tidurnya. Situs Agen Sbobet

    Kutanya kabarnya namun tidak dijawab, dengan santai dia melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya, buah dadanya dipamerkan begitu saja, membuat aku jadi bernafsu. Ukuran buah dada istriku memang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, yah.., sesuai dengan ukuran tubuhnya yang mungil, bentuknya sangat menggiurkan mata laki-laki yang memandangnya, bulat, padat dan tidak melar. Melihat itu penisku langsung berdiri, apa lagi melihat bekas gigitan si bule di pundak dan buah dadanya.

    Kupeluk dia dari belakang, kucium lehernya dan kubisikkan ajakan untuk bersetubuh, namun dia menolak dengan alasan ada janji dengan teman pagi ini. Selesai berpakaian dia langsung ngeloyor pergi meninggalkan aku sendirian. Lama aku berpikir, dan terlintas dibenakku untuk mengintai hubungan intim mereka.

    Aku tanyakan ke ibu kost untuk menyewa kamar sebelah, kutahu kamar sebelah tidak ditempati. Setelah dealt dengan ibu kos aku langsung balik ke rumah mengambil peralatan spy-ku yang dulu kubeli dari internet. Aku mempunyai dua buah pinhole video camera yang bisa ngintip lewat lubang kecil. Dulu alat ini aku gunakan untuk mengintip anak-anak kost di rumahku. Balik lagi ke tempat kost istriku dan langsung memasang peralatan spy-ku.

    Aku buat lubang kecil tepat di atas temat tidur dan satu lagi di kamar mandi. Selesai pasang kamera lewat plafon, aku coba connect ke TV-monitor yang kupersiapkan di kamar sebelah, hampir 70% dari ruangan tidur bisa kumonitor dan selanjutnya beralih ke channel di kamar mandi, di sini aku harus naik lagi ke plafon karena lokasi cameranya kurang tepat, kugeser sedikit agar tepat di atas bath tub.

    Jam 12.00 aku selesai setup video spy-ku, lalu mandi sebentar membersihkan debu yang melekat di tubuhku setelah naik ke langit langit kamar kost. Sambil tiduran menunggu istriku kembali ke kostnya. Kira-kira jam 20.00 kudengar langkah kaki di kamar sebelah, kuintip lewat jendela, ternyata istriku dan si bule yang datang.

    Kunyalakan TV-monitor, kulihat si bule menunggu istriku yang sedang menutup pintu kamar, istriku tampak tidak sabaran, langsung menubruk si bule dan mereka berpagutan sambil saling melepaskan pakaian. Hanya dalam beberapa detik mereka sudah telanjang bulat, istriku jongkok di hadapan si bule yang penisnya setengah ereksi dan melahap penis besar di hadapannya. Mulut istriku tidak bisa menampung seluruh penisnya.

    Perlahan tapi mantap penis si bule ereksi penuh karena permainan lidah istriku. Kutahu ini adalah keahlian istriku, dulu aku sampai merem melek dibuatnya. Si bule yang tinggi besar mengangkat tubuh mungil istriku ke tempat tidur dan langsung menindihnya.

    Dengan sangat bernafsu si bule melahap buah dada kenyal milik istriku. Dari TV-monitor aku dengan jelas sekali melihat wajah istriku yang lagi merem melek menikmati permainan lidah si bule.

    Puas menikmati kedua gunung kembar istriku, si bule beralih turun ke perut lalu ke bukit yang ditumbuhi bulu jarang-jarang. Desahan istriku sangat jelas kudengar lewat earphone karena sebelumnya sudah kupasangi wireless microphone di belakang head board-nya. Tangan istriku menarik kuat-kuat sprei sewaktu lidah si bule mulai menyusuri lubang vaginanya.

    Selang berapa menit si bule merubah posisinya untuk ber’69′. Desahan istriku langsung hilang bersamaan dengan disumbatnya mulut istriku dengan penis besar si bule. Dengan sangat bernafsu istriku memainkan penis di mulutnya, sedangkan si bule sendiri sibuk memainkan lidahnya di clitoris istriku, kulihat kaki istriku mulai menegang dan paha istriku menjepit kepala si bule.

    Setelah puas ber-’69′, si bule duduk bersandar di head board dan istriku duduk di pangkuannya dengan saling berhadapan. Dengan bertumpu pada lututnya, perlahan istriku memasukan penis besar si bule ke lubang vaginanya. Istriku menjerit kecil ketika penis si bule mulai menerobos masuk. Dia mendongak ke atas sambil meringis menahan sakit saat menurunkan pantat bahenolnya agar penis si bule masuk lebih dalam.

    Setelah diam beberapa saat untuk melumasi penis si bule, istriku mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sedangkan si bule melahap dan mejilati buah dada istriku. Ini adalah gaya yang paling disukai istriku. Gerakan istriku maju mundur makin lama makin cepat dan tidak beraturan, selang 5 menit tubuh istriku bergetar hebat menikmati orgasme sambil melumat mulut si bule.

    Mereka istirahat sebentar sambil mencumbui istriku agar bangkit lagi. Dengan memainkan buah dada istriku yang kenyal, dia bangkit lagi gairahnya, Istriku lalu mengangkangkan pahanya lebar-lebar, dari TV-monitor aku bisa lihat vagina istriku yang kemerah-merahan akibat gesekan penis besar si bule.

    Dia menusukkan senjatanya ke vagina istriku dan mulai menggerakkan pantatnya maju mundur dengan keras, saking kerasnya sampai terdengar suara, “Plak! plok…, plak! plok!”, dari benturan paha mereka.

    Istriku mendesah hebat setiap kali si bule menghunjamkan penisnya dalam-dalam. Rasa cemburuku timbul saat melihat perlakuan kasar si bule terhadap istriku, tetapi aku menikmatinya, penisku rasanya sudah tidak kuat menahan sakit karena tegang sejak tadi.

    Posisi ini tidak bertahan terlalu lama, si bule minta istriku nungging dan dia menusukkan senjatanya dari belakang, aku bisa dengan jelas melihat penis si bule keluar masuk menusuk vagina istriku.

    Lima menit berlalu si bule menunggangi istriku, perlahan-lahan dia mulai kesetanan, gerakanya mulai tak beraturan apalagi istriku juga ikut menggoyangkan pantatnya dengan kesetanan. Akhirnya si bule memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina istriku. Dia berteriak histeris menikmati puncak orgasmenya. Kulihat istriku mencium mulut si bule mesra sekali, dari slang English-nya kutahu dia adalah orang Italy.

    Berdua mereka ke kamar mandi, aku cepat-cepat mencolokkan cable RCA dari camera yang di kamar mandi ke TV-monitor. Di kamar mandi kulihat istriku jongkok memutar kran shower sementara si bule memegang shower head-nya. Lalu mereka saling menggosok dengan sabun.

    Si bule lama sekali membersihkan vagina istriku sampai dia merem melek. Bath tub mereka isi setengahnya lalu tiduran berdua di dalamnya dengan si bule di bawah dan istriku di atas pelukan si bule. Mereka saling berpagutan mesra. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, aku buru-buru pulang karena besok senin pagi aku harus kerja. Terpaksa aku kehilangan adegan hot selanjutnya.

    Dulu aku berniat membeli alat perekam VCR 24 jam, namun tidak jadi karena harganya mahal. Sesampainya dirumah mataku tidak bisa terpejam, dalam pikiranku masih terbayang adengan hot istriku dengan si bule. Coba aku punya perekam, aku bisa melihat adegan mereka selanjutnya. Membayangkan mereka, aku jadi tidak bisa tidur sampai pagi.

    Senin malam jam 20.00, sepulang dari tempat kerja aku langsung meluncur ke tempat kost istriku, suara desahan terdengar dari kamar istriku, “wah telat aku”. Cepat-cepat kubuka pintu kamarku yang ada di sebelah kamar istriku, TV-monitor kunyalakan, namun mereka tidak kelihatan di kamar tidur, terlihat tempat tidur yang acak-acakan dan pakaian berserakan di mana-mana.

    Kucoba colokkan monitor yang di kamar mandi, dan “astaga!” Mereka bertiga, istriku, si bule dan temanya bule satunya lagi, yang ini bentuk penisnya lucu, bagian bawah kecil namun kepalanya sebesar bule satunya lagi. Sekarang kutahu nama bule yang menyetubuhi istriku kemarin namanya Jullio, itu aku dapat dari teman istriku di tempatnya bekerja.

    Jullio adalah tamu yang sering menginap di hotel tempat istriku bekerja dan dia mempunyai business di Indonesia. Di kamar mandi, istriku kulihat sedang nungging sedangkan Jullio memompa vagina istriku dari belakang, tangan istriku berpegangan ke pinggir bath tub sambil melumat penis anehnya milik si bule satunya yang duduk di ujung bath tub.

    Aku baru tahu kalau istriku bisa sebuas ini sama cowok bule. Wah ini adegan yang sungguh sangat menyesakkan dadaku, rasa iri, cemburu, marah, menyesal, birahi, sedih bercampur aduk, pokoknya tidak bisa dijelaskan. Keadaan tempat tidur yang acak-acakan menandakan merekan sebelumnya bergumul di sana dan pergumulan mereka di kamar mandi saat ini mungkin babak kedua atau mungkin ketiga. Aku telah kehilangan adegan tersebut. Kalau kubayangkan mungkin lebih seru dari yang di kamar mandi.

    Jullio mencabut penisnya dari vagina istriku dan menancapkanya lagi ke lubang pantat istriku, seumur-hidup aku belum pernah menikmati lubang istriku yang satu ini, setiap aku minta dia selalu menolak dengan alasan sakit lah, tidak enak lah, Namun dengan si bule ini kenapa dia berikan. Ini tidak adil!, Jullio nampak mulai kesetanan, semetara istriku berteriak kecil setiap penis besar ini masuk lebih dalam.

    Dalam 5 menit Jullio mencabut penisnya dan menumpahkan seluruh air maninya di punggung istriku. Sementara bule satunya lagi asyik menikmati permainan mulut istriku, karena sudah bernafsu si bule satunya lagi langsung menggendong istriku ke tempat tidur.

    Istriku di tempatkan di pinggiran bed dengan posisi nungging sementara si bule berdiri di lantai, di pingiran bed dan bersiap-siap menusukkan senjatanya ke lubang pantat istriku. Goyangan pantat si bule menimbulkan suara, “Ceplak.., ceplok..!”,.

    penis si bule yang bentuknya aneh itu makin keras menghunjam pantat istriku sambil tangannya meremas keras pantat bahenol istriku. Datang dari kamar mandi si Jullio langsung ikutan nimbrung, dia menyusup ke bawah tubuh istriku dengan kaki menjuntai ke bawah dia memasukkan penisnya ke vagina istriku lalu menurunkan badan istriku, si bule satunya lagi tetap berdiri dengan penis menancap ke pantat istriku, dia agak membungkuk karena badan istriku merendah dan nempel ke tubuh Jullio. Mereka mulai bergoyang, mulut istriku dengan lahap menjilat dada bidang si Jullio yang di penuhi dengan bulu.

    Si bule satunya sudah mulai kesetanan, pantatnya kian keras bergoyang dan akhirnya, “Cret.., cret.., cret”, spermanya tumpah di punggung istriku, sementara si Jullio masih asyik menikmati goyangan istriku dari atas, karena si bule satunya lagi tidak lagi menusukan senjatanya, istriku lalu duduk bersimpuh di penis si Jullio dan bergoyang maju mundur.

    Tangan si Jullio meremas buah dada kenyal milik istriku, desahan istriku makin hebat sampai akhirnya lemas terkulai di atas tubuh Jullio.

    Jullio bangkit dan mulai menyodok lubang pantat istriku yang lagi tengkurep lemas. Plok.., plok.., plok..!, bunyi pantat dan paha mereka beradu, selang beberapa menit si Jullio menumpahkan spermanya di atas punggung istriku dan terkulai lemas di sebelah istriku.

    Si bule satunya datang dari kamar mandi, langsung berpakaian lalu pamitan pada mereka. Sempat-sempatnya dia melumat mulut istriku sebelum pergi. Jullio menggendong istriku ke kamar mandi. Setelah saling membersihkan di kamar mandi, mereka tidur bugil dengan saling berpelukan.

    Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 24.00, aku putuskan untuk tidur di sini dan besok aku akan bolos kerja. Sampai jam 02.00 di kamar istriku tidak ada aktivitas, mereka masih tertidur pulas dengan tetap saling berpelukan. Akhirnya aku tertidur karena bosan menunggu.

    Jam 04.00 aku terbangun dan melihat ke monitorku. Kulihat tangan istriku mengocok penis si Jullio yang sedang berdiri setengah tiang. Kepala istriku dituntun paksa oleh si bule untuk melakukan blow job. Mulut istriku yang mungil tampak mengembung akibat sumbatan penis si Jullio. Setelah berapa lama akhirya tumpah juga isinya di mulut istriku, si Jullio akhirnya tertidur pulas lagi, sementara istriku ke kamar mandi membersihkan mulutnya.

    Jam 07.00 si bule bangun, berpakaian dan pamitan ke istriku yang bermalas-malasan di tempat tidur dalam keadaan bugil. Setelah si Jullio pergi, aku menyerbu masuk ke kamar istriku, dia kaget sekali melihat aku datang, aku langsung membuka pakaianku dan menindihnya.

    Berberapa kali dia berontak, namun akhirnya penisku bisa kutancapkan ke vaginanya. Puas mengocok vaginanya, aku minta dia nungging untuk menyodok lubang satunya. Dia menolak, “Lis… kamu jangan munafik, si bule dua orang itu kenapa kamu kasih…ah?”, aku keceplosan ngomong. Dia terheran-heran dan menanyakan dari mana aku tahu hal itu. Judi Bola Online

    Akhirnya aku menjelaskan aktivitas spy-ku di kamar sebelah. Wajah istriku tampak merah padam antara malu dan marah, apalagi kujelaskan secara detil pergumulannya yang hot dan binal dengan si bule. Dia memintaku agar cepat-cepat mengurus perceraian kami, karena dia akan segera menikah dengan si Jullio dan pergi ke Italy.

    Aku menyanyakan apakah dia benar-benar mencintai si bule namun tidak dijawabnya. Aku memberi tahu bahwa hidup di luar negeri itu susah dan budaya mereka beda. “Aku takut nanti di sana kamu dijadikan budak nafsu mereka”, saranku.

    Setelah kejadian itu, mereka selalu berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lainnya untuk bercinta. Aku jadi kehilangan objek spy-ku karena ketololanku sendiri. Aku tidak bisa menaklukkan rasa cemburuku. Setelah kami resmi bercerai, istriku diboyong si bule ke Italy. Sampai sekarang aku tidak pernah terima kabar darinya.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Bokep – Seketarisku Yang Montok

    Cerita Bokep – Seketarisku Yang Montok


    1526 views

    Perawanku – saking buru-burunya, ia tidak membaca lagi tulisan atau gambar yang menunjukkan bahwa WC itu untuk pria atau untuk wanita. Ia langsung masuk saja. Namun.., begitu tiba di dalam WC itu, ia melihat seorang pria bertubuh atletis sedang pipis. Ups! Pria itu terkejut dan menoleh.., “Eh Shinta.., kamu salah masuk.., ini WC pria..” Shinta terkejut setengah mati.

    Ternyata sang supervisor sedang pipis di situ. Dan tanpa sengaja, kedua mata Shinta terarah pada benda panjang bulat dari ritsluiting celana panjang yang sedang dipegang sang supervisor. Ternyata batang kemaluan si supervisor belum dimasukkan ke sarangnya. Dengan muka tersipu memerah karena malu, Shinta membuang mukanya dan segera ingin berlalu dari tempat itu. Sial..! gerutunya dalam hati.

    Tapi rupanya si supervisor tidak ingin membuang kesempatan emas itu. Dengan sigapnya tangan Shinta ditarik dan tubuhnya disandarkan ke tembok. “Shin.. sudah lama sebenarnya aku ingin menikmati keindahan tubuhmu.. Pasti kau juga pernah mendengar bahwa di kantor ini yang paling perkasa adalah aku.. Nah sekarang tiba saatnya kita mencoba apa yang kamu dengar dari teman-teman..”

    Mendengar itu Shinta kaget setengah mati. Ia tidak menyangka bahwa supervisor yang sangat dihormati karena kharismanya, memiliki hati yang demikian bejadnya. “Tapi Pak.., saya sedang sakit perut nih.., lagian Bapak ‘khan supervisor saya.., masa Bapak tega melakukannya pada saya?”

    “Oh.., jangan kuatir Shin.., cuma sebentar kok.. Ibu Edi saja pernah melakukannya denganku kok..”, kata si supervisor sambil dengan kasar membuka kancing stelan atas yang dipakai Shinta. “Ja.., jangan Pak.., tolong jangan.., ingat posisi Bapak di kantor..”, jerit Shinta. “To.., tolong.., tolong..!”, tampak Shinta berusaha meronta-ronta karena tangan si supervisor mulai masuk ke dalam BH-nya yang berukuran super besar, 38C. Dan.., bret.., bret.., baju Shinta terlihat sudah sobek di sana sini..

    Dan dengan sekali hentakan, BH Shinta turun dan jatuh ke lantai. Walau sudah berusaha mendorong dan menendang tubuh atletis itu, namun nafsu si supervisor yang sudah demikian buas terus membuatnya bisa mencengkeram tubuh mulus Shinta yang kini hanya mengenakan celana dalam dan terus menghimpitnya ke tembok WC itu.

    Karena merasa yakin bahwa ia sudah tidak bisa lari lagi dari sana, Shinta hanya bisa pasrah. Sekarang mulut si supervisor sudah mulai menghisap-hisap puting susunya yang besar. Persis seperti bayi yang baru lahir sedang menyusu ke ibunya. Gairah dalam diri Shinta tiba-tiba muncul dan bergejolak.

    Dengan sengaja diraihnya batang kemaluan si supervisor yang sudah berdiri dari tadi. Dan dikocok-kocokknya dengan pelan. Memang batang kemaluan itu amat besar dan panjang. “Wah, pasti enak nih kalo ngisi lubang gue.., udah lama gue ngangenin batang kenikmatan yang segini besar dan panjangnya..”, pikir Shinta dalam hati.

    Sementara itu tangan si supervisor pun sudah melepaskan seluruh celana dalam putih yang dikenakan Shinta. Dan si supervisor pun ikut membuka semua pakaiannya.., hingga kini keduanya sama-sama dalam keadaan tanpa busana selembar benangpun.

    Si supervisor mengangkat kaki kanan Shinta ke pingggangnya lalu dengan perlahan ia memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Shinta. Bles.., bless.., jebb.., setengah dari batang kemaluan itu masuk dengan sempurna ke liang surga wanita yang rupanya sudah tidak lagi perawan itu. Shinta terbeliak kaget merasakan besarnya batang kemaluan itu di dalam liang kewanitaannya.

    Si supervisor terus saja mendorong maju batang kemaluannya sambil mencium dan melumat bibir Shinta yang seksi itu. Shinta tak mau kalah. Ia pun maju mundur menghadapi serangan si supervisor. Jeb.., jeb.., jebb..! Batang kemaluan yang besar itu keluar masuk berkali-kali.. Shinta sampai terpejam-pejam merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Sakit perutnya pun sudah terlupakan.

    Sepuluh menit kemudian, mereka berganti posisi. Shinta kini berpegangan ke bagian atas kloset dan pantatnya di hadapkan ke si supervisor. Melihat pemandangan menggairahkan itu, tanpa membuang-buang waktu lagi si supervisor segera memasukkan batang kemaluannya dari arah belakang kemaluan Shinta.., bless.., bless.., jeb.., jebb..! Si supervisor dengan asyik melakukan aksinya itu. Tangan kanannya berusaha meraih payudara Shinta sambil terus menusukkan batang kemaluan supernya ke kewanitaan Shinta.

    “Bapak duduk aja sekarang di atas kloset ini.., biar sekarang gantian saya yang aktif..”, kata Shinta di tengah-tengah permainan mereka yang penuh nafsu. Supervisor itu pun menurut. Tanpa menunggu lagi, Shinta meraih batang kemaluan yang sudah 2 kali lebih keras dan besar itu, untuk segera dimasukkan ke liang kenikmatannya.

    Ia pun duduk naik turun di atas batang kemaluan ajaib itu. Sementara kedua mata si supervisor terpejam-pejam merasakan kenikmatan surgawi itu. Kedua tangannya meremas-remas gunung kembar Shinta. “Ooh.., oh.., ohh..”, erang Shinta penuh kenikmatan.

    belakang, maupun dari atas, belum juga menunjukkan akan menyemburkan cairan putih kentalnya. Melihat itu, Shinta segera turun dari pangkuan supervisor itu. Dengan penuh semangat ia meraih batang kemaluan itu untuk segera dimasukkan ke mulutnya.

    Dijilatnya dengan lembut kemudian dihisap dan dipilin-pilin dengan lidahnya… oooh.., oh.., oohh.., kali ini ganti si supervisor yang mengerang karena merasakan kenikmatan. Lima belas menit kemudian, wajah si supervisor tampak menegang dan ia mencengkeram pundak Shinta dengan sangat erat..

    Shinta menyadari apa yang akan terjadi.., tapi ia tidak menghiraukannya.., ia terus saja menghisap batang kemaluan ajaib itu.., dan benar.., crot.., crot.., crott..! Semburan air mani masuk ke dalam mulut seksi Shinta tanpa bisa dihalangi lagi. Shinta pun menelan semua mani itu termasuk menjilat yang masih tersisa di batang kemaluan supervisor itu dengan lahapnya…

    Sejak peristiwa di WC itu, mereka tidak henti-hentinya berhubungan intim di mana saja dan kapan saja mereka bernafsu.., di mobil, di hotel, di rumah si supervisor (bahkan walau sang isteri sedang hamil).

  • Cerita Daun Muda Darah Perawan Dan Kelulusan

    Cerita Daun Muda Darah Perawan Dan Kelulusan


    1225 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Daun Muda Darah Perawan Dan Kelulusan ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2020.

    Perawanku – Ciye yg abis corat coret baju pasca kelulusan kemaren… (belom ngrasain skripsi di corat coret dosen pembimbing nih) Pеѕtа kеluluѕаn yg bаru ѕаjа lеwаt bаgi ѕеbаgiаn оrаng kеѕаnnуа реnuh реrаѕааn hаru dаn bаhаgiа.

    Tеtарi bаgi aqu, kеѕаn ѕаngаt jаuh bеrbеdа, bаhkаn tak аkаn реrnаh tеrbаygkаn аkаn bеrmаknа dеmikiаn dalem bаgi aqu рribаdi. Kеѕаn yg реnuh ѕеnѕuаlitаѕ dаn mеnggаirаhkаn.

    Waktu itu rumаh aqu ѕеdаng ѕерi. Mаklum ѕеdаng аdа асаrа реmilihаn kеtuа RW di lараngаn kоmрlеks,ѕеsampai ѕеmuа аnggоtа kеluаrgа реrgi untuk ikut аmbil bаgiаn diасаrа itu, раdаhаl biаѕаnуа rаmаi buangeettt . Sаtu rumаh dihuni tujuh оrаng, ауаh, ibu, kаkаk lаki-lаki aqu yg mаѕih kuliаh, aqu ѕеndiri bаru ѕаjа luluѕ.

    Oh iуа, раnggil ѕаjа aqu Aniѕа. Prаktiѕ yg jаgа rumаh, aqu dgn ѕерuрu aqu yg bеrnаmа, Raymond, bаru 16 tаhun umurnya, ya bisa dibilang sedikit lebih muda dibanding aqu. Aqu dgn Raymond ѕаngаt аkrаb, soalnya diа ikut dgn kеluаrgа aqu ѕеjаk mаѕih kеlаѕ ѕаtu SD, dаn ѕеlаlu mеnjаdi kawan mаin aqu.

    Hаri itu bаdаn aqu сареk ѕеkаli, ѕеlеѕаi ngереl dаn mеmbеrѕihkаn rumаh. Dаn ѕереrti biаѕа aqu kерingin diрijitin. Biаѕаnуа ѕih sama nyokap, dаn Raymond jugа, hаbiѕ dаri kесil aqu ѕudаh biаѕа mеnуuruh diа. Kerana sedikit реgаl, aqu раnggil ѕаjа Raymond untuk mijitin, Raymond nurut ѕаjа.

    Aqu lаngѕung bеrbаring tеlungkuр di kаrреt dераn TV, dаn diа mulаi mеmijit badanku. Aѕуik jugа diрijit оlеh Raymond, tаngаnnуа kеrаѕ ѕеkаli, рunggungku jаdi frеѕh lаgi.

    “Duh, Mond…, mijitnуа yg luruѕ dоng, jаngаn miring kiri miring kаnаn..”, kаtаku.

    “Abiѕ, роѕiѕinуа nggаk bаguѕ kаk”, jаwаbnуа.

    “Kаmu dudukin аjа раhа Kаk Aniѕ, ѕереrti biаѕа…”.

    “Tарi…, kаk..”.

    “Alаh.., nggаk uѕаh tарi…, biаѕаnуа kаn jugа bеgitu…, ауо..”, Aqu tаrik tаngаn Raymond mеmаkѕаnуа untuk duduk di раhаku, ѕереrti kаlаu diа mеmijit aqu раdа wаktu-wаktu kеmаrin.

    Rуаn аkhirnуа mаu, duduk dаn mеnjаdikаn kеduа раhаku dеkаt bokong ѕеbаgаi bаngkunуа, dаn mulаi lаgi iа mеmijit ѕеkujur рunggungku. Tарi, рijitаn sedikit lаin, mаkin lаmа mаkin aqu rаѕаkаn tаngаnnуа sedikit gеmеtаrаn dаn nаfаѕnуа sedikit ngоѕ-ngоѕаn.

    “Kаmu kеnара Mond, сареk аtаu ѕаkit..?”, tаnуаku.

    “gag , gag ара-ара kаk”, jаwаbnуа.

    Akаn tеtарi duduknуа mulаi tak kаruаn, gеѕеr kiri dаn kаnаn, ѕеmеntаrа bokongnуа ѕереrti tak mаu dirараtkаn di раhаku, sedikit tеrаngkаt.

    Akhirnуа, aqu mеnуuruhnуа рindаh, dаn aqu bаngun, lаlu duduk mеndеkаti, biаѕа bеrmаkѕud mеnggоdа.

    “Aуо.., kаmu kеnара, ini bokongmu, ѕеlаlu diаngkаt.., tak biаѕаnуа”, sembari tаngаnku bеrmаkѕud mеnсubit bokongnуа.

    “gag, gag ара-ара kаk..”, jаwаbnуа sembari mеnghindаri сubitаnku, Mаlаh tаngаnku tеrѕеnggоl сеlаnа bаgiаn ѕеlаngkаngаnnуа yg ѕереrti sedikit tеrtаrik kаin сеlаnаnуа dаn sedikit mеnоnjоl, mеlihаt itu muncul rаѕа iѕеngku, kerana mеmаng aqu dаn Raymond kаlаu mаin ѕереrti аnаk-аnаk yg mаѕih TK, аѕаl ngаwur ѕаjа.

    “Lоh.., itu ара di сеlаnаmu Mond, kоk benjol bеgitu..”

    Mеndеngаr itu Raymond mеrаh раdаm mukаnуа, lаlu iа bеrdiri ingin lаri mеnghindаr dаri aqu, tарi ѕеgеrа kutаrik tаngаnnуа untuk duduk, dаn tаngаnku yg ѕаtu mеnggеrаygi сеlаnаnуа mеmеgаngi dаn mеrаbа bеnjоlаn tеrѕеbut.

    “Jаngаn kаk, Raymond mаlu..”, kаtаnуа. Dаѕаr aqu yg nаkаl, aqu реlоtоtin mаtаnуа, Raymond lаngѕung diаm, dаn tаngаnku lеluаѕа mеmеgаng bаrаng tеrѕеbut.

    Pеnаѕаrаn, aqu bukа rеѕliting сеlаnаnуа dаn mеnаrik kеluаr bаrаngnуа yg mеngеrаѕ tеrѕеbut, dаn аѕtаgа, tеrnуаtа kemaluan Raymond ѕudаh mеnеgаng. Bаru kаli ini aqu mеlihаt kemaluan milik оrаng yg bukаn аnаk-аnаk dаn ѕudаh diѕunаt yg tеgаng dаn kеrаѕ ѕеrtа раnjаng ѕерrti itu. Sеmеntаrа Raymond diаm ѕаjа, kераlаnуа hаnуа mеnunduk, mungkin mаlu аtаu bаgаimаnа aqu tak tаhu.

    Aqu cuek ѕаjа, реrlаhаn-lаhаn, kuеluѕ-еluѕ kemaluan Raymond, ѕеmаkin mеngеrаѕ kemaluannуа sampai urаt-urаtnуа ѕереrti mаu kеluаr. Kudеngаr Raymond mеndеѕаh tеrtаhаn. Lаlu kuurut-urut sembari kuрijit kераlа kemaluannуа yg mеrаh itu, Raymond mаkin mеndеѕаh,

    “Ah.., аh..”

    Kugеnggаm еrаt kemaluan Raymond dаn kukосоk-kосоk dgn реrlаhаn, ѕеmаkin lаmа ѕеmаkin kеnсаng. Bаdаn Raymond ikut mеnеgаng, sembari kераlаnуа tеrаngkаt kе аtаѕ mеnаtар lаngit, mulutnуа tеrbukа, diа mulаi sedikit mеngеrаng,

    “Aсhh..”.

    Sеmаkin kеnсаng kemaluan Raymond kukосоk, ѕеmаkin mеnggеliаt bаdаn Raymond mеmbuаt aqu tеrѕеnуum gеli mеlihаtnуа. Sаmраi еrаngаn Raymond mаkin mеngеrаѕ,

    “Aсh.., асhh..”. Dаn bаdаnnуа mаkin mеnggеliаt, sampai mungkin tak tаhаn…, iа lаlu mеmеlukku еrаt. Mulаnуа aqu terkejut аkаn rеаkѕinуа, tарi aqu biаrkаn ѕаjа, kerana kеаѕуikаn mеngосоk kemaluan Raymond. Ternyata Raymond ѕudаh ѕеmаkin mеnggеliаt, sampai tаngаnnуа еntаh ѕаdаr аtаu tak ikut mеnggеliаt jugа, mеrаbа bаdаnku dаn buah dadaku.

    “Hе Raymond…, kеnара..” tеgurku, sembari tеtар mеngосоk kemaluan Raymond,

    “Aсhh…, асhh..”

    Hаnуа itu yg Raymond bilаng, ѕеmеntаrа tаngаnnуа mеrеmаѕ-rеmаѕ buah dadaku, dаn rеmаѕаnnуа yg kuаt mеmbuаtku mеrаѕаkаn ѕеѕuаtu yg lаin, sampai aqu biаrkаn ѕаjа Raymond mеrеmаѕ buah dadaku, dаn Raymond lаlu mеnуingkар bаju kаоѕ yg kuраkаi, sampai kеlihаtаn BH-ku dаn mеrеmаѕ buah dadaku lаgi sampai kеluаr dаri BH-ku.

    “Aссhh…, асссhh” еrаng Raymond, aqu mulаi mеrаѕаkаn kеnikmаtаn tеrѕеndiri раdа ѕааt buah dadaku tak tеrbungkuѕ BH dirеmаѕ оlеh tаngаn Raymond dgn kuаt, ѕеdаngkаn kemaluannуа tеtар ѕаjа kukосоk-kосоk. Dаn еntаh nаluri ара yg аdа раdа Raymond, sampai diа nеkаt mеnуоѕоr buah dadaku dаn mеngiѕар рutingnуа ѕереrti аnаk bауi yg ѕеdаng mеnуuѕu.

    “Aduh…, Mond…, аduhh” Hаnуа itu yg mаmрu kuuсарkаn, buah dadaku mulаi mеngеrаѕ, kеduаnуа diiѕар ѕесаrа bеrgаntiаn оlеh Raymond.

    Aqu jugа mulаi mеnggеliаt, kutаrik kераlа Raymond dаri buah dadaku, lаlu kudеkаtkаn kе wаjаhku, kuсium bibirnуа dgn gairah yg munсul ѕесаrа tibа-tibа, Raymond bаlаѕ mеnсium, bibir kаmi bеrduа ѕаling mеmаgut, lidаh bеrtеmu lidаh ѕаling mеngаdu dаn mеnjilаti ѕаtu ѕаmа lаin.

    Tаngаn Raymond mеnggеrаygi bаdаnku, mеlераѕkаn bаju dаn BH-ku, sampai аku bugil ѕеbаtаѕ dаdа. Kulераѕkаn jugа bаju yg diраkаi Raymond, dаn kuреlоrоtkаn сеlаnаnуа, sampai Raymond bugil tаnра ѕеhеlаi bеnаngрun, dаn kеmbаli kukосоk kemaluannуа, ѕеdаngkаn Raymond kеmbаli mеnуоѕоr buah dadaku yg ѕudаh kеrаѕ mеmbukit.

    Pеrlаhаn tаngаn Raymond mеnеluѕuri rоkku lаlu mеnуеluѕuр mаѕuk kе dalem rоkku,

    “Aссhh…, Aсссhh”, Aqu dаn Raymond tеruѕ mеngеrаng dаn mеnggеlinjаng. Tаngаn Raymond mеnуеluѕuр kе dalem CD-ku, lаlu mеnguѕар-nguѕар kemaluanku.

    “Aduuuhh…, Raymond..” еrаngku, ѕеmеntаrа jаrinуа mulаi iа mаѕukkаn kе dalem kemaluanku yg mulаi kurаѕаkаn bаѕаh, dаn Raymond mеmреrmаinkаn jаrinуа di dalem kemaluanku.

    “Aсссhh…, аduuuhh…, ассссhh..”. Tаk tаhаn lаgi, Raymond mеnаrik lераѕ rоk dаn сеlаnа dalemku, sampai аkhirnуа aqu kini tеlаnjаng bulаt. Kеmudiаn Raymond mеnсium bibirku dаn aqu tеtар mеngосоk kemaluannуа, ѕеdаngkаn jаrinуа bеrmаin dalem kemaluanku.

    “Aсссhh..” Hаnуа еrаngаn tеrtаhаn kerana tеrѕumbаt bibir Raymond yg kеluаr dаri mulutku.

    Kеmudiаn Raymond bеrhеnti mеnсiumku, lаlu iа mеngаmbil роѕiѕi mеnindih bаdаnku, aqu mеmbiаrkаn ѕаjа ара yg аkаn Raymond lаkukаn, kerana kеnikmаtаn itu ѕudаh mulаi tеrаѕа mеngаliri реmbuluh dаrаhku. Dаn, tibа-tibа aqu rаѕаkаn ѕаkit yg tеrаmаt ѕаngаt di ѕеlаngkаngаnku.

    “аасссссhh, Raymond.., ара yg kаu lаkukаn..”, tаnуаku. Tарi tеrlаmbаt, ternyata Raymond ѕudаh mеmаѕukkаn gagang kemaluannуа kе dalem kemaluanku, dаn ѕереrti tak mеndеngаrkаn реrtаnуааnku, Raymond mulаi mеngоyg gagang kemaluannуа nаik turun dalem kemaluanku yg ѕеmаkin bеrlеndir dаn mulаi tеrаѕа bаѕаh оlеh аlirаn dаrаh реrаwаnku yg mеngаlir mеmbаѕаhi kemaluanku.

    “Aсссhh…, Raymond…, аduuhh Raymond..”, еrаngku.

    Bаdаnku ѕеmаkin mеnggеlinjаng, kujерit bаdаn Raymond dgn kеduа kаkiku ѕеmеntаrа tаngаnku mеmеluk еrаt dаn mеnggоrеѕkаn kukuku di рunggung Raymond. Sеmаkin kеnсаng gоygаn kemaluan Raymond dаn ѕеmаkin kеrаѕ рulа еrаngаn kаmi bеrduа.

    “Aсссh…, аduhh..”

    Sampai аkhirnуа kurаѕаkаn ѕеѕuаtu yg ѕаngаt nikmаt yg tеrdоrоng dаri dalem…, dаn еrаngаn раnjаng aqu dаn Raymond, “ааhh”. Bеrѕаmааn ѕеmрrоtаn mаni Raymond dalem kemaluanku dаn ѕеmburаn lendirku yg mеnсiрtаkаn kеnikmаtаn yg tаk реrnаh kurаѕаkаn dаn kubаygkаn ѕеbеlumnуа.

    Raymond mеnаrik kеluаr kemaluannуа, lаlu bеrbаring di ѕаmрingku. Kаmi bеrduа ѕаling bеrtаtараn, ѕереrti аdа реnуеѕаlаn tеntаng ара yg sudah tеrjаdi, аkаn tеtарi ternyata gairah kаmi bеrduа lеbih kuаt lаgi. Kurаih kеmbаli dаn kudеkаtkаn wаjаhku kе wаjаh Raymond, kаmi lаlu bеrсiumаn lаgi dаn ѕаling mеlumаt, kеmudiаn kuреgаng еrаt kemaluan Raymond, sampai kеmbаli mеnеgаng dаn kеmbаli lаgi kаmi mеlаkukаn hubungаn bаdаn tеrѕеbut sampai bеbеrара kаli.

    Sampai hаri ini aqu dаn Raymond, bilа аdа kеѕеmраtаn mаѕih mеnсuri wаktu dаn tеmраt untuk mеlаkukаn hubungаn bаdаn, kerana mеngеjаr kеnikmаtаn yg tiаdа tаrаnуа, kаdаng di kаmаrku, di kаmаr Raymond, аtаuрun di dalem kаmаr mаndi.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Gara gara waktu di Toilet

    Cerita Sex Gara gara waktu di Toilet


    1419 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Gara gara waktu di Toilet ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – aku jarang sekali mempunyai teman perempuan, memang kau mempunyai maslah dengan hal itu sulit untuk bergaul dengan wanita, tapi jujur saja aku mempunyai hasrat sex yang tinggi, jikia melihat cewek yang seksi burungku selalu tegangn karena aku sering berfantasi.

    Jujur saja, bila sudah begitu pikiranku sering mengkhayal ke arah persetubuhan. Bila hasratku sudah tak lagi dapat kutahan, terpaksa aku melakukan onani. Aku memilih itu sebab aku tak tahu lagi harus menyalurkan kemana.

    Sifat pendiamku ternyata membuat cewek-cewek di kampusku penasaran, sepertinya mereka ingin tahu lebih banyak tentangku. Cuma mereka harus kecewa sebab aku kesulitan untuk bergaul dengan mereka.

    Di samping itu teman-temanku bilang aku mempunyai face yang lumayan ganteng (nggak nyombong lo..), kulitku putih, rambuntuku gondrong, dan tinggiku sekitar 170 cm. Bila aku melintas di koridor kampus, aku merasa ada beberapa cewek yang melirikku, tetapi aku berusaha cuek saja, toh aku tak bisa mendekatinya.

    Namun ada seorang cewek yang diam-diam menyukaiku, hal itu aku ketahui dari sahabatku. Ketika aku minta untuk menunjukkan anaknya, kebetulan penampilannya sesuai degan seleraku. Tinggi tubuhnya sama denganku, rambut panjang, kulit putih bersih, wajah menarik, ukuran toketnya juga pas dengan seleraku, dan badannya padat berisi.

    Sebut saja namanya Nita (samaran). Sejak itu setiap kali aku melihatnya, aku sering berpikiran edan, yaitu membayangkan bisa bersetubuh dengannya. Sebaliknya bila ia melihatku, sikapnya biasa-biasa saja, walaupun aku tahu sebenarnya dia menyukaiku.

    Pada suatu hari yang tak terduga olehku, seolah-olah keinginanku dikabulkan (masa?). Saat kuliah usai pada jam 19.00 sore, selepas keluar ruangan aku hendak untuk mencuci muka, sekedar menyegarkan diri.

    Aku menuju WC kampus yang kebetulan letaknya agak menyendiri dari “peradaban” kampus. Sampai disana aku mendapati beberapa orang yang juga akan mempergunakan kamar mandi. Selagi menunggu giliran, aku ingin buang air kecil dulu, tapi kamar mandi sedang dipakai.

    Praktis aku urungkan saja. Begitu tiba giliranku, aku hendak menuju ke arah kran, tiba-tiba dari arah pintu kamar mandi yang tertutup tadi keluarlah seorang cewek yang selama ini kusukai dan dia juga mengincarku.

    Aku sangat tekejut melihatnya, sikapku hampir salah tingkah, begitu pun dengan dia. Kami saling bertatapan mata dan terdiam beberapa saat. Kemudian dia sedikit tersenyum malu-malu. Kok dia ada disini sih?, Pikirku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk memulai percakapan.

    “La, ngapain elo masuk ke WC cowok?” tanyaku penuh rasa heran.

    “Ehh.. itu.. ehmm.. tempat cewek penuh semua, makanya gue ke sini..”

    “Emang yang di lantai bawah juga penuh?”, tanyaku.

    Padahal dalam hati aku merasa mendapat kesempatan emas.

    “Iya. Emang kenapa? Boleh dong sebentar doang.. lagi pula ‘kan sekarang udah nggak ada siapa-siapa, ya kan..?”, jawab Nita rada genit.

    Aku pun tidak mau kalah.

    “Tapi kan gue cowok, elo nggak malu?”, gantian aku membalasnya.

    “Kalo elo, gue emang nggak keberatan kok.., untungnya cuman tinggal elo dong yang ada di sini, daripada yang laen..”, jawab Nita.

    Denger jawaban kayak gitu, aku malah jadi tambah bengong. Gila.. kayaknya dia emang ngasih kesempatan nih! Pikirku. Tiba-tiba dia menyerobot posisi gue yang dari tadi udah berdiri di samping kran.

    “Sorry yah, gue duluan, habis elo bengong aja sih..”, katanya.

    Rupanya dia juga mau mencuci muka. Selama dia mencuci muka, aku seperti orang bingung. Kadang-kadang aku mencuri pandang ke arah bagian yang terlarang. Posisinya yang sedang membungkuk membuat pantatnya yang berisi menungging ke arah selangkanganku.

    Ditambah lagi CD-nya yang berwarna krem terlihat olehku. Lama kelamaan aku menjadi terangsang, kontolku mulai tegang tak keruan. Langsung saja di pikiranku membayangkan kontolku kumasukkan ke dalam memeknya dari belakang pada posisi seperti itu.

    Entah apa yang merasuki pikiranku, aku berniat untuk menyetubuhinya di WC ini, sebab hasratku sudah tak tertahankan. Aku tak peduli dia keberatan atau tidak. Pokoknya aku harus ngentot dengan dia, apapun caranya.

    Diam-diam aku berdiri di pintu keluar, mengamati keadaan. Aman pikirku, tak ada seorang pun. Jadi aku bisa leluasa melaksanakan niat bejatku. Saat dia menuju pintu keluar, dari jauh aku sudah melihat senyumannya yang merangsang birahiku. Sepertinya dia memang sengaja menarik perhatianku. Tiba-tiba dengan cepat kupalangkan tanganku di depannya, sehingga ia menghentikan langkahnya. Dia melihatku seakan- akan mengerti maksudku.

    “Buru-buru amat La, emang elo udah ada kuliah lagi?”, tanyaku.

    “Enggak kok, gue cuman pengen istirahat di sini aja”, jawabnya.

    Aku tak menanggapinya, dengan cepat aku segera menutup dan mengunci pintu dari dalam. Melihat sikapku, Nita mulai menatapku dalam-dalam. Dengan perlahan kudekati dia. Kutatap kedua matanya yang indah.

    Dia mulai bereaksi, perlahan dia juga mulai mendekatiku, sehingga wajah kami berdekatan. Aku mulai merasa bahwa dia juga merasakan hal yang sama denganku. Nafasnya juga semakin memburu, seolah-olah dia mengerti permainan yang akan kulakukan.

    Mulutnya mulai terbuka seperti akan mengatakan sesuatu, namun dia keburu mengecupku dengan lembut. Perasaanku saat itu tak menentu, sebab baru kali inilah aku dicium oleh seorang cewek. Dengan spontan aku pun membalasnya dengan mesra.

    Aneh, walaupun aku belum pernah melakukannya, otomatis aku tahu apa yang harus mesti kulakukan. Apalagi aku juga sering melihat di film BF.

    Kami saling bermain lidah cukup lama, sampai kami kesulitan bernafas. Kedua bibir kami berpagut sangat erat. Desahan Nita membuatku semakin hot menciumnya. Aku mulai menggerakkan tanganku menuju ke pantatnya, kuraba dengan lembut, dan dengan gemas kuremas pantatnya.

    Kemudian aku mencoba untuk mengusap bagian memeknya. Kugosok-gosok sampai dia mengerang kenikmatan. Aku panik kalau erangannya terdengar ke luar. Setelah kuberi tahu dia mengerti dan mengecup bibirku sekali lagi. Usapanku membuat cairan memeknya membasahi celananya. Karena dia memakai celana bahan, maka cairannya juga membasahi tanganku.

    “Ssshhtt.. gilaa.. enak banget.. ehmm..”, desah Nita.

    Aku melepaskan ciumanku dan berpindah menciumi lehernya yang putih mulus. Lehernya yang harum membuatku makin gencar menciumi lehernya. Mata Nita terlihat mendelik dan menengadahkan mukanya ke atas merasakan kenikmatan. Tangannya mulai berani untuk meremas kontolku yang keras. Enak sekali pijitannya, membuat kontolku semakin berdenyut- denyut.

    Aku berhenti menciumi lehernya, aku mulai meraba-raba toketnya yang sudah mengeras. Nita mulai membuka kaosnya, dan memintaku untuk memainkan kedua toketnya. Kuraba-raba dengan lembut, dan sesekali kuremas sedikit.

    Merasa masih ada penghalang, kubuka BH-nya yang berwarna putih. Benar-benar pemandangan yang sangat indah, toketnya yang berukuran sedang, putih mulus, dan putingnya merah kecoklatan terlihat menantang seperti siap untuk dikemot.

    Langsung saja aku sedot susunya yang kenyal itu. Nita menggelinjang kenikmatan dan memekik. Aku tak peduli ada orang yang mendengar. Rupanya dia senang menyemprotkan parfum ke dadanya, sehingga terasa lebih nikmat mengulum toket harum.

    Aku benar-benar menikmati toket Nita dan aku ingin mengemoti toket Nita sampai dia menyerah. Kujilat puting susunya sampai putingnya berdiri tegak. Kulihat Nita seperti sudah di awang-awang, tak sadarkan diri.

    Tangan Nita mulai membuka ritsleting celana gue dan berusaha mengeluarkan kontol gue yang sudah keras sekali. Begitu semua terlepas bebaslah kontol gue menggantung di depan mukanya yang sebelumnya dia telah mengambil posisi jongkok.

    Dia kocok-kocok kontol gue, sepertinya dia sedang mengamati dahulu. Lalu dia mulai mencium sedikit-sedikit. Kemudian dia mencoba membuka mulutnya untuk memasukkan kontolku. Pertama hanya 1/4 nya yang masuk, lama-lama hampir seluruh kontolku masuk ke mulutnya yang seksi, kontolku sama sekali sudah tak terlihat lagi.

    Lalu dia mulai memaju mundurkan kontolku dalam mulutnya. Sedotan dan hisapannya sungguh luar biasa, seperti di film BF. Aku menahan rasa geli yang amat sangat, sehingga hampir saja aku mengeluarkan maniku di dalam mulutnya.

    Belum saatnya, pikirku. Aku ingin mengeluarkan maniku di dalam memeknya. Maka aku memberi tanda agar Nita berhenti sebentar. Aku berusaha menenangkan diri sambil mengusap-ngusap toketnya. Setelah rileks sedikit, Nita mulai melanjuntukan permainannya selama kurang lebih 10 menit.

    Nita sempat menjilat cairan bening yang mulai keluar dari ujung kontolku dan menelannya.
    Nita kemudian bangkit untuk melepaskan celana panjangnya, ia juga melepaskan CD-nya yang berwarna krem.

    Aku mengambil posisi jongkok untuk menjilati memeknya dahulu, agar licin. Kubuka pahanya lebar-lebar. Terlihatlah memek Nita yang sangat bersih, berwarna merah, lipatannya masih kencang, tak tampak sehelai bulu satu pun.

    Sepertinya Nita memang pandai merawat kewanitaannya. Aku mulai menjulurkan lidahku ke memeknya. Aku sempat berpikir bagaimana kalau di memeknya tercium bau yang tidak sedap. Ah, bodo amat aku sudah bernafsu, aku tahan nafas saja.

    Kubuka belahan memeknya. Lalu kujilat bagian dalamnya. Tapi ternyata koq baunya tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Memek Nita tidak berbau kecut, tapi juga tidak berbau harum, bau memek alami. Justru bau yang alami seperti itulah yang membuatku makin bernafsu serasa ingin melumatnya semua ke dalam muluntuku. Aaahh..Nita benar-benar pandai merawat memeknya. Sungguh beruntung aku.

    Aku terus menjilat-jilat memeknya yang mulai basah dengan cairannya. Nita terlihat sangat menikmati permainan ini. Matanya sayu, desahannya makin keras seraya menggigit bibir bawahnya.
    “Akkhh.. sstt.. uugh.. gilaa.. enak banget..”, desah Nita.

    Memeknya terasa hangat dan lembut. Betul-betuk memek ternikmat yang kurasakan.

    Kumasukkan jari telunjukku ke dalam memeknya sambil mengait-ngaitkan ke dinding memeknya. Tentu saja Nita makin edan reaksinya, membuat semakin kelojotan nggak keruan. Sampai ia menjepitkan kedua belah pahanya hingga kepalaku terjepit di antara sepasang paha yang putih mulus, dan tangannya menjambak rambuntuku sampai aku sendiri merasa kesakitan.

    Cairan yang keluar dari memeknya sampai meleleh ke pipiku dan kepahanya. Sebagian sempat mengalir ke bibirku. Karena penasaran dengan selama ini yang kutahu, kucicipi cairan itu. Gila! Rasanya enak koq, agak asin. Langsung aja aku hisap sebanyak-banyaknya dari memeknya.

    Nita sempat risih melihat perbuatanku. Namun aku cuek saja, sebab dia tadi juga melakukan hal yang sama pada kontolku.

    Tiba-tiba Nita mendorong kepalaku dari memeknya. Kayaknya dia sudah nggak kuat lagi.

    “Masukin dong punya elo, gue udah nggak tahan nich.. ayo dong sayy..”, pinta Nita dengan suara mendesah.

    Aku sempat tertegun sejenak, sebab sama sekali aku belum pernah melakukannya.

    “Ayo cepat dikit dong..”, katanya sambil memandangku yang tertegun sejenak.

    Dengan bermodal nekat dan pengetahuan dari film BF, gue turutin saja permintaan Nita.
    Kuangkat satu kakinya ke atas bak mandi, sehingga posisi memeknya lebih terbuka. Memeknya sudah basah sekali oleh cairan sehingga terlihat mengkilat.

    Hal itu makin membuatku bernafsu untuk memasukkan kontolku ke memeknya. Kuelus-elus dahulu kepala kontolku ke bibir memeknya. Kudorong kontolku perlahan.. masuk sedikit demi sedkit..

    Pantatku terus kudorong, terasa sebagian kepala kontolku sudah masuk ke lobang memek Nita yang sudah basah dan licin tapi terasa sempit banget. Dalam hati aku beruntung juga bisa ngerasain sempitnya memek perawan.

    Kucoba kugesek dan menekan perlahan sekali lagi. Kontolku sudah masuk setengahnya, namun masih terasa sempit sekali. Tubuh Nita sempat tersentak ketika kontolku sudah masuk seluruhnya.

    “Auuwww.. sakitt.. pelann.. sstt..”, Nita sedikit menjerit.

    Kutarik kontolku keluar, lalu kudorong lagi sekuat tenaga. Aku sengaja membiarkan kontolku menancap di dalamnya beberapa saat agar memek Nita terbiasa menerima kontolku. Kemudian barulah aku memulai gerakan maju mundur.

    Terasa kontolku bergesekan dengan dinding memek yang bergerinjal-gerinjal. Jadi ini toh yang dinamakan bersetubuh, pikirku dalam hati. Kontolku terasa agak perih dijepit oleh memeknya, tapi tetap kuteruskan, aku tak mau kehilangan kesempatan berharga ini.

    Tampaklah pemandangan indah ketika kontolku keluar masuk memek Nita. Kontolku sudah tidak terasa perih lagi, malah sebaliknya, terasa geli ngilu enak. Nita semakin tidak jelas rintihannya, seperti orang menangis, air matanya meleleh keluar.

    Mulutnya menggigit bibirnya sendiri menahan sakit. Aku sempat kasihan melihatnya. Mungkin aku sudah keterlaluan. Kucoba berbicara padanya sambil kedua pinggul kami menghentak-hentak.

    “Ke.. napa.. La.. ehhgg.., elo.. pe.. ngen udahann..?”, tanyaku.

    “Ja.. ngan dilepas.. terussinn.. aja.. gue.. nggak.. apa.. apa.. kok.. sstt..”, kata Nita.

    Goyangan pinggul Nita sangat luar biasa, hampir aku dibuat ngecret sekali lagi. Kutarik kontolku keluar dan kudiamkan beberapa saat. Setelah itu aku minta ganti posisi, aku ingin ngentotin dia dari belakang. Nita berpegangan pada pintu kamar mandi, sedangkan pantatnya sudah menungging ke arahku.

    Dalam posisi itu lipatan memeknya terlihat lebih jelas. Tanpa basa-basi lagi kumasukkan saja kontolku dengan hentakan yang kuat. Kali ini lebih lancar, sebab memeknya sudah terbiasa menerima kontolku.
    Kali ini gerakan Nita lebih hot dari sebelumnya, ia mulai memutar- mutar pantatnya.

    Setiap gerakan pantatnya membuat kontolku sangat geli luar biasa.. kontolku berdenyut-denyut seperti ingin memuntahkan lahar yang panas..aku merasa tak tahan lebih lama lagi. Tapi aku tak ingin mengecewakan Nita, aku pun berusaha mengimbangi permainannya.

    Aduhh srr.., ada cairan licin kembali keluar dari kontolku. Cairan itu makin menambah licin dinding memek Nita. Aku benar-benar merasakan kenikmatan persetubuhan ini. Aku makin tenggelam dalam kenikmatan bersetubuh dengan Nita, sungguh aku tak akan melupakannya.

    Tubuh kami terlihat mengkilat oleh keringat kami berdua. Toket Nita bergoyang-goyang mengikuti irama gerakan kami, membuatku makin gemas untuk meremasnya dan sesekali kukemot sampai ia memjerit kecil. Memek Nita makin berbusa akibat kocokan kontolku.

    Aku merasakan sesuatu yang tak tertahankan lagi. Aku makin pasrah ketika kenikmatan ini menjalar dari buah zakar menuju dengan cepat ke arah ujung kontolku. Seluruh tubuhku bergetar hendak menerima pelepasan yang luar biasa.

    “Laa.. gue udah mau keluar.. nihh.. Elo.. masih.. lama.. nggak..?”, rintihku.

    “Sa.. bar.. se.. bentarr.. sayaangg.. sama.. samaa.. gue.. juga.. hampir.. keluarr.. oohh.. ahhgghh..”, pantatnya menekan kontolku dengan kuat.

    Mukanya berusaha menengok ke arahku berusaha mengulum bibirku. Kudekatkan bibirku agar dia bisa mengulumnya.

    Bersamaan dengan itu..

    “Aaahh..”

    Kontolku menyemprotkan air mani ke dalam lobang memeknya berkali-kali. Sampai cairan putih itu meleleh ke pahanya dan sempat menetes ke lantai.

    Tak kusangka banyak sekali spermaku yang berlumuran di memeknya. Nita berjongkok memegang kontolku. Lalu ia menjilat dan mengulum kontolku yang masih berlumuran sperma. Dia menelan semua spermaku sampai kepala kontolku bersih mengkilat. Dia kelihatan tersenyum bangga.

    Nita kembali berdiri memandangi penuh kepuasan. Tubuh Nita terjatuh lemas membebani tubuhku, badannya bergetar merasakan orgasme.

    Nita memandangku tersenyum, disertai dengan nafas yang masih terengah-engah. Kami pun berpelukan dalam tubuh penuh keringat dengan alat kelamin kami masih saling menyatu. Bibir kami saling mengecup dengan mesra, sambil memainkan bagian-bagian sensitif.

    Kami membersihkan diri bersama sebelum beranjak keluar WC. Selama kami mandi kami saling mengutarakan sesuatu hal. Iseng-iseng aku bertanya mengapa dia mau menerima perlakuanku barusan.

    Ternyata Nita mengatakan bahwa selama ini dia sudah lama menyukaiku, namun ia tidak berani mengutarakannya, sebab malu sama teman-temannya. Aku sempat tertegun mendengarnya. Kemudian aku juga mengatakan bahwa aku juga suka padanya.

    Seakan dia tak percaya, tetapi setelah kejadian tadi kami menjadi saling menyayangi. Kami kembali berpelukan dengan mesra sambil saling mengecup bibir.

    Aku sempat khawatir kalau Nita hamil, sebab aku mengeluarkan spermaku di dalam memeknya. Aku tidak mau menikah, aku belum siap jadi bapak. Biarlah, kalaupun Nita hamil, aku akan membuat suatu rencana.

    Lagipula kami melakukannya baru sekali, jadi kemungkinan dia hamil kecil peluangnya.

    Selesai mandi aku menyuruh Nita keluar belakangan, aku keluar duluan agar bisa mengamati keadaan. Setelah tidak ada orang satupun, barulah Nita keluar, kemudian kami pergi berlawanan arah dan bertemu kembali di suatu tempat.

    Sampai saat ini hubunganku dengan Nita masih berjalan baik, cuma kami belum mengulang apa yang kami lakukan di WC dulu.

    Beberapa minggu setelah kejadian itu aku mendengar fakta dari teman-temannya bahwa Nita itu sebenarnya cewek yang haus seks. Dia juga telah bersetubuh dengan banyak pria, baik dari kalangan mahasiswa atau om-om. Makanya aku sempat curiga waktu kami bersetubuh dulu, sebab walaupun memeknya masih rapat seperti perawan, namun aku tidak merasakan menyentuh selaput daranya, bahkan aku sama sekali juga tidak melihat darah yang keluar dari lubang memeknya

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Ngentot Mantan Murid

    Cerita Sex Ngentot Mantan Murid


    1240 views

    Perawanku – Cerita Sex Ngentot Mantan Murid, Kisah dan Cerita Panas ini berawal dari keberanian manta muridku, Sandi, Tampaknya sejak SD dia sudah sering mengintip dan memperhatikan tubuhku yang molek. Sebenernya cerita dewasa ini tak layak diceritakan. Tapi, apa mau dikata perbuatan itu telah kami lakukan, dan kenikmatan itu ingin kami bagikan disini.

    “Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.
    “Aku hampir keluar!” Sandi bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandi. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

    “Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.
    “Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Erang Sandi
    “Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.
    “Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”
    “Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”

    Namaku Asmiati, tinggi 160 sentimeter, berat 56 kilogram, lingkar pinggang 65 sentimeter. Secara keseluruhan, sosokku kencang, garis tubuhku tampak bila mengenakan pakaian yang ketat terutama pakaian senam. Aku adalah Ibu dari dua anak berusia 44 tahun dan bekerja sebagai seorang guru disebuah SLTA di kota S.

    Kata orang tahi lalat di daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku mirip Minati Atmanegara yang tetap kencang di usia yang semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat dengan olahraga yang teratur.

    Kira-kira 6 tahun yang lalu saat usiaku masih 38 tahun salah seorang sehabatku menitipkan anaknya yang ingin kuliah di tempatku, karena ia teman baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku menyetujuinya. Nama pemuda itu Sandi, kulitnya kuning langsat dengan tinggi 173 cm. Badannya kurus kekar karena Sandi seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Sandi ini pernah menjadi muridku saat aku masih menjadi guru SD.

    Sandi sangat sopan dan tahu diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau mengantar kedua anakku jika ingin bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama. Aku juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Sandi memperlihatkan sikap yang wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku.

    Cerita Sex Ngentot Mantan Murid

    Cerita Sex Ngentot Mantan Murid

    Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah S-2 keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan sex-ku yang masih menggebu-gebu. Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku jalankan, sehingga hasrat tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan kepergiannya otomatis aku harus menahan diri.

    Awalnya biasa saja, tapi setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah menunjukkan angka 9. Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar suara pintu dIbuka dari kamar Sandi.

    Kudengar suara langkahnya mendekatiku.

    “Bu Asmi..?” Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Sandi sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus berpura-pura tertidur.

    “Bu Asmi..?” Suara Sandi terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak atau tidak.

    Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai keleher.

    Lalu kurasakan Sandi mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura tertidur kuatur napas selembut mungkin.

    Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian aku merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap diam sampai saatnya tiba.

    Sekarang tangan Sandi sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti amalah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Sandi mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali.

    Tangan kanan Sandi mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Sandi menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku. Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Sandi mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri Sandiwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.

    “Sandi!! Ngapain kamu?”

    Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Sandi menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Sandi mecium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Sandi makin keras menekan pundakku, malah sekarang pemuda itu menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak.

    “Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya Bu… ” Sandi melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.

    “Kamu kan bisa denagan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua,” Ujarku lembut.

    “Tapi saya sudah tergila-gila dengan Bu Asmi.. Saat SD saya sering mengintip BH yang Ibu gunakan… Saya akan memuaskan Ibu sepuas-puasnya,” jawab Sandi.

    “Ah kamu… Ya sudah terserah kamu sajalah”

    Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya.

    Lalu Sandi melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku. Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku, kupandangi badanku di cermin. Benarkah pemuda seperti Sandi terangsang melihat tubuhku ini? Perduli amat yang penting aku ingin merasakan bagaimana sich bercinta dengan remaja yang masih panas.

    Keluar dari kamar mandi, Sandi persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun.

    “Body Ibu bagus banget.. ” dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.

    “Ibu hebat…,” desisnya.

    “Apanya yang hebat..?” Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Sandi yang panjang seleher.

    “Badan Ibu enggak banyak berubah dibandingkan saya SD dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.

    “Itu karena Ibu teratur olahraga” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. DIbukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.

    Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Sandi minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku.

    “Masukin aja yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu San!” Cegahku sambil menciumnya.

    Sandi tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya ?” godanya.

    “Kamu juga sudah enggak kuatkan sebenarnya San,” Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot.

    Sandi tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Sandi pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Sandi yang besar.

    Berbeda dengan suamiku, Sandi nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.

    Sandi menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Sandi, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah merekah.

    “Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak ‘bercinta’ sama Ibu…,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Sandi, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.

    Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Sandi semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu…, terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya…!!!

    Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Sandi memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.

    “Oohh…,” sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Sandi mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.

    “Saann, penismu enaaak…!!!,” kataku setengah menjerit.

    Sandi tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.

    “Oohh…, toloongg.., gustii…!!!”

    Sandi malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.

    “Aahh, penismu…, oohh, aarrghh…, penismuu…, oohh…!!!”

    Sandi terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Sandi sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.

    “Ibu mau keluar! Ibu mau keluaaar!!” aku menjerit-jerit.

    “Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget ‘bercinta’ sama Ibu!” Sandi menyodok-nyodok semakin kencang.

    “Sodok terus, Saann!!!… Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!”

    “Teruuss…, arrgghh…, sshh…, ohh…, sodok terus penismuuu…!”

    “Oh, ah, uuugghhh… ”

    “Enaaak…, penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss…”

    Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Sandi, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!

    Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin sudah ada lima tahun aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Sandi mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.

    Kuturuti permintaan Sandi. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Sandi mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam vaginaku.

    Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.

    Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Sandi dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Sandi segera menunduk, dikecupnya pipiku.

    “San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar,” kataku terus terang.

    “Emangnya Ibu suka kalau aku cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku.

    Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Sandi mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.

    Sandi melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.

    “Oorrgghh…, aahh…, ennaak…, penismu enak bangeett… Ssann!!”

    Sandi tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Sandi pun kali ini segera akan mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Sandi. Pemuda itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.

    Tiba-tiba Sandi menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Sandi langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Sandi memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.

    “Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.

    “Aku hampir keluar!” Sandi bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandi. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

    “Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.

    “Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Erang Sandi

    “Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.

    “Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”

    “Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”

    “Ah, oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaaar…!”

    “Yaahh teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann…, aku mau keluar, aku mau keluar, vaginaku keenakan, aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…, teruss…, aarrgghh…, ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!”

    Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Sandi menekan kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.

    “Oohhh…!!!” dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.

    Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Sandi memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas.

    “Enak banget,” bisik Sandi beberapa saat kemudian.

    “Hmmm…” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Sandi bergerak-gerak di dalam vaginaku.

    “Vagina Ibu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu…”

    “Apalagi penis kamu…, gede, keras, dalemmm…”

    Sandi bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Sandi menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.

    Sandi lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Sandi karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Sandi mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,

    “Aku bisa enggak puas-puas ‘bercinta’ sama Ibu… Ibu juga suka kan?”

    Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Sandi sebagai jawaban. Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Sandi kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga.

    Hampir tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sehari semalam dengan bekas muridku yang perkasa.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Kisah Sex Ibu Kost Lily Yang Sangat Menggairahkan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Kisah Sex Ibu Kost Lily Yang Sangat Menggairahkan – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1463 views

    Perawanku – Sudah hampir setahun Zaki tinggal di tempat kost bu Lily. Bisa tinggal di tempat kost ini awalnya secara tidak sengaja ketemu bu Lily di pasar. Waktu itu bu Lily kecopetan, trus teriak dan kebetulan Zaki yang ikut menolong menangkap copet dan mengembalikan dompet bu Lily.

    Trus ngobrol sebentar, kebetulan Zaki lagi cari tempat kost yang baru dan bu Lily mengatakan dia punya tempat kost atau bisa di bilang rumah bedengan yang dikontrakkan, yah jadi deh tinggal di kost-an bu Lily.Bu Lily lumayan baik terhadap Zaki, kelewat baik malah, karena sampai saat ini Zaki sudah telat bayar kontrak rumah 3 bulan, dan bu Lily masih adem-adem aja. Mungkin masih teringat pertolongan waktu itu. Tapi justru Zaki yang gak enak, tapi mau gimana, lha emang duit lagi seret. akhirnya Zaki lebih banyak menghindar untuk ketemu langsung dengan bu Lily.

    Sampai satu hari…… waktu itu masih sore jam 4. Zaki masih tidur-tiduran dengan malasnya di kamarnya. Tempat kost itu berupa kamar tidur dan kamar mandi di dalam. Terdengar pintu kamarnya di ketok… tok..tok..tok.. lalu suara bu Lily yang manggil,”Zack…Zaki… ada di dalem gak?” Sontak Zaki bangun, wah bisa berabe kalo nanyain duit sewa kamar nie, pikir Zaki. Dengan cepat meraih handuk, pura-pura lagi mandi aja ah, ntar juga bu Lily pergi sendiri. Setelah masuk kamar mandi kembali terdengar suara bu Lily,” Zaki lagi tidur ya..?” dan dari kamar mandi Zaki menyahut sedikit teriak,” lagi mandi bu….”

    Sesaat tidak ada sahutan, tapi kemudian suara bu Lily jadi dekat,”ya udah mandi aja dulu Zack, ibu tunggu di sini ya…” eh ternyata masuk ke kamar, Zaki tadi gak mengunci pintu. “busyet dah, terpaksa bener-bener harus mandi nie,”pikir Zaki.

    Sekitar lima belas menit Zaki di kamar mandi, sengaja mandinya agak dilamain dengan maksud siapa tau bu Lily bosan trus gak jadi nunggu. Tapi rasanya percuma lama-lama toh bu Lily sepertinya masih menunggu. Akhirnya keluar juga Zaki dari kamar mandi, dengan hanya handuk yang melilit di pinggang, tidak pakai celana dalem lagi, maklum tadi gak sempet ambil karena terburu-buru.

    Bu Lily tersenyum manis melihat Zaki yang salah tingkah,”lama juga kamu mandi ya Zack…” bu Lily membuka pembicaraan. “pasti bersih banget mandinya ya…” gurau bu Lily sambil sejenak melirik dada bidang Zaki. “ah ibu bisa aja… biasa aja kok bu.., oia ada apa ya bu..?” jawab Zaki sekenanya saja sambil mengambil duduk di pinggiran tempat tidur. Bu Lily mendekat dan duduk di samping Zaki, “Cuma mau ngingetin aja, uang sewa kamarmu dah telat 3 bulan lho… trus mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu, kan dah lama gak ngobrol, kamu sie pergi mlulu…”ucap bu Lily. Zaki jadi kikuk,”wahduh… kalo uang sewanya ntar aku bayar cicil boleh gak bu? Soalnya lagi seret nie…” jawab Zaki dengan sedikit memohon.

    Bu Lily terlihat sedikit berpikir…”mmmm… boleh deh, tapi jangan lama-lama ya… emang uangmu di pakai untuk apa sie?” terlihat bu Lily sedikit menyelidik. “hmmm… pasti buat cewe mu ya…”dia terlihat kurang senang.

    “ah nggak juga kok bu….. saya emang lagi ada keperluan,” jawab Zaki hati-hati melihat raut wajah bu Lily yang kurang senang.

    “huh…laki-laki sama aja, kalo lagi ada maunya, apa aja pasti di kasih pada perempuan yang lagi di dekatinya, hhhh… sama aja dengan suamiku….”keluh bu Lily dengan nada kesal.

    Waduh nampaknya bu Lily lagi marahan nie sama suaminya, jangan-jangan amarahnya ditumpahkan pula sama Zaki. Dengan cepat Zaki menjawab,”tapi saya janji kok bu, akan saya lunasi kok…”

    “hhhhh….”bu Lily menghela nafas,”udahlah Zack, gak apa-apa kok, gak di bayar juga kalo buat kamu ga masalah… ibu Cuma lagi kesel aja sama suamiku, dia cuma perhatiannya sama Marni terus… aku seperti gak dianggap lagi, mentang-mentang Marni jauh lebih muda ya.”

    sedikit penjelasan bahwa bu Lily ini istri pertama dari pak Kardi, sedangkan istri keduanya bu Marni. Dan sekarang sepertinya pak Kardi lebih sering tinggal di rumahnya yang satu lagi bersama bu Marni dan bu Lily tampaknya udah mulai kesepian nie

    “wah kalo masalah keluarga sie aku kurang paham bu…. “jawab Zaki kikuk

    “gak apa-apa Zack, ibu hanya mau curhat aja sama kamu… boleh kan Zack?” suara bu Lily sendu. Agak lama terdiam, terdengar tarikan nafas bu Lily terasa berat, dan sedikit sesunggukan, waduh lama-lama bisa nangis nie, gawat dong pikir Zaki.

    “udah bu jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Kardi kembali lagi kok, kan ibu juga gak kalah cantiknya sama bu Marni,”Zaki bermaksud menghibur.

    “ah kamu Zack… emang ibu masih cantik menurutmu?” bu Lily menatap sendu ke arah Zaki, terlihat dua butir air mata mengalir di pipinya. Uhh…. ingin rasanya Zaki menghapus air mata itu, pak Kardi emang keterlaluan masa wanita cantik nan elok seperti ini dianggurin sie, coba Zaki bisa berbuat sesuatu… busyet… Zaki memaki dalam hati… “kenapa otak gwa jadi kotor gini.”

    Dengan sedikit gugup Zaki menjawab,”mmm…eee…iya kok bu, ibu masih cantik, kalo masih gadis mungkin aku yang duluan tergoda.” Uupsss …. Maksud hati ingin menghibur, tapi kenapa kata-kata yang menggoda yang keluar dari mulut… gerutu Zaki dalam hati. Zaki jadi panik, jangan-jangan bu Lily marah dengan ucapan Zaki. Tapi ternyata Zaki salah, karena bu Lily tersenyum, manis sekali dengan deretan gigi yang putih dan rapi,”ih Zaki bisa aja menghibur…. Iya juga sie, kalo masih gadis bisa aja tergoda, pantes aja suamiku gak ngelirik aku lagi, bis nya dah tua sie…” rona wajah bu Lily berubah sedih lagi,”kalo menurutmu Zack, apa ibu emang gak menarik lagi…?” sambil berdiri dan memperhatikan tubuhnya kemudian menatap Zaki minta penilaian. Terang aja Zaki makin kikuk,”wah aku mau ngomong apa ya bu…? Takutnya nanti di bilang lancang lho… tapi kalo mau jujur…. Ibu cantik banget, seperti masih 30an deh.”

    Bu Lily tampaknya senang dengan pujian itu,”hmmm.. kamu ada-ada aja saja… ibu udah 43 lho.. emang Zaki liat dari mananya bisa bilang begitu?”

    Zaki jadi cengar cengir,” ….itu penilaian laki-laki lho bu, saya malu bilangin nya.”

    Bu Lily kembali duduk mendekat, sekarang malah sangat dekat hampir merapat ke Zaki sambil berkata,” ah.. gak perlu malu…. Bilang aja…”

    Nafas Zaki terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan bu Lily, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Zaki mengalihkan pandangan ke arah tubuh bu Lily mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh Zaki memperhatikan bahwa bu Lily memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya. Hmmm .. kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandangan Zaki beralih ke bagian depan uupss… terlihat belahan dada yang hmmm… sepertinya buah dada itu lumayan besar. Sentuhan lembut tangan bu Lily di paha Zaki yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkan Zaki. Dengan penuh selidik bu Lily bertanya,”lho… kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an…”

    Zaki sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh bu Lily,”mmm… eeemm.. ibu benar-benar masih cantik, kulitnya masih kencang… masih sangat menggoda…”

    Tidak ada jawaban dari mulut bu Lily, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat… dan seperti ada magnet yang kuat, wajah bu Lily makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah. Zaki pun seakan terbawa suasana, dan tanpa komando lagi, Zaki menyambut bibir merah bu Lily, desahan nafas mulai terasa berat hhhh…hhhh…ciuman terus bertambah dahsyat, bu Lily menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulut Zaki, dan dibalas dengan lilitan lidah Zaki sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.

    Dengan naluri yang alami, tangan Zaki merambat naik ke bahu bu Lily, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Zaki meraba bahu bu Lily sampai ke lehernya…. Kemudian turun ke arah dada, dengan remasan lembut Zaki meremas payudara yang masih terbungkus bra itu. “hhhhh…hhhh” nafas bu Lily mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak. Jemari lentik bu Lily tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut dada Zaki… melingkari pinggang Zaki, mencari lipatan handuk, hendak membukanya…

    Uupps…. Zaki tersentak dan sadar….,”ups…hhh… maaf bu… maaf bu… saya terbawa suasana….” Zaki tertunduk tak berani menatap bu Lily sambil merapikan kembali handuknya, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah bu Lily.

    Terlihat bu Lily pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka. Pemandangan yang menakjubkan. “napa Zack… kita sudah memulainya… dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang lama terpendam… kamu harus menyelesaikannya Zack…” tatapan bu Lily terlihat semakin sendu…
    “mmm… ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu… bisa gawat dong… pak Kardi juga bisa marah besar bu…” jawab Zaki.

    Tanpa menjawab bu Lily bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Zaki terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh bu Lily. Kemudian dengan tenang bu Lily melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya. Saat berjalan membelakangi Zaki itu nampak gerakan bokong bu Lily naik turun, dan perasaan Zaki semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat bu Lily berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur, Zaki tidak melepaskan sedikit pun gerakan bu Lily. Sampai bu Lily berdiri dekat di depan Zaki dan berkata,”kamarnya udah di kunci Zack, dan gak ada yang akan mengganggu….”

    Zaki tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan. Bu Lily kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Zaki mendekat dan duduk di samping bu Lily… hmmm… nampak payudara itu masih montok dan kenyal, ingin Zaki langsung melahap dengan mulut dan menjilatnya.

    Bu Lily yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leher Zaki, menarik wajah dan langsung melumat bibir Zaki dengan nafsu yang membara. Zaki membalas dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah bu Lily, tangan Zaki meremas payudara montok milik bu Lily. Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah. Setelah beberapa saat, bu Lily mendorong lembut badan Zaki, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang memburu. Zaki mendorong lembut tubuh bu Lily, berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Dada yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang. Tanpa menunggu lagi Zaki melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting. Dengan gemas Zaki menyedot dan memainkan puting susu itu sambil tangan meremas payudara kembarannya ………………… “HHHH…. AHHH….MMMH….”suara bu Lily mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan. Zaki melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel bu Lily yang menggelinjang kegelian.

    Zaki menghentikan penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam bu Lily, melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan bu Lily mengangkat kaki ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan vagina dengan rambut-rambut yang tertata rapi. Zaki mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha bu Lily yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir vagina yang mulai mengeluarkan cairan senggama. Tanpa menunggu lama, Zaki menyapu cairan senggama itu dengan lidahnya dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir vagina bu Lily dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat bu Lily mengerang kenikmatan,”AHHHH…. MMMMH… HHH… Zack….UHH…”desahan birahi yang memuncak dari bu Lily membuat Zaki semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke liang senggama yang menanti pemenuhan itu.

    Setelah beberapa menit Zaki mengeksplorasi liang kewanitaan itu, nampaknya bu Lily tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahinya,”Zack…. Ayo sayang… masukkin Zack… hhhh…mmmmh.” Suara bu Lily ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.

    Dengan tenang Zaki menyudahi penjelajahan lidah dan bersiap bertempur yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung penis dengan bagian kepala yang merah mengkilap. Bu Lily semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap liang wanitanya. Zaki naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan batang penis ke arah vagina bu Lily yang dengan sigap lansung meraih dan meremas batang kemaluan Zaki dan membantu mengarahkannya tepat ke liang vaginanya.

    Dengan sekali dorongan penis Zaki amblas sampai setengahnya. Zaki menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya penis yang disambut desahan bu Lily,” AHHH….TERUSKAN ZACK….AHHH.” kemudian dengan meresapi masuknya penis sampai sedalam-dalamnya. Setelah dorongan pertama dan batang zakar yang masuk seluruhnya barulah Zaki memompa menaik turunkan pantat dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.

    Zaki bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan bu Lily mencengkam punggung Zaki, meresapi dorongan dan tarikan penis yang bergerak nikmat di liang senggamanya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh,”AH..AH..AH..MMH…MHH…HHHH.” tak hentinya desahan meluncur dari bibir Zaki dan bu Lily. Sesaat Zaki menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, bu Lily memeluk Zaki dan menggulingkan badan tanpa melepas penis yang tetap berada di liang vaginanya. Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, bu Lily memompa dan menaikturunkan pantatnya dengan badan bertumpu pada lengan. Sesekali bu Lily memutar pantatnya dan kemudian memasukkan batang zakar Zaki lebih dalam. Zaki tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting susu bu Lily. Suasana makin membara dengan peluh yang bercucuran, sampai saat bu Lily seperti tak sanggup melanjutkan pompaan karena birahi yang hendak mencapai puncak pemenuhan. Dengan sigap Zaki membalikkan posisi, bu Lily kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan Zaki meneruskan pertempuran. “Zack…AHH..AH..AH..UH…TERUS ZACK…. AHHH…AHH IBU SAMPAI…ZACK….AHHHHHHHHH… MMMMMHHH.” Setelah teriakan tertahan bu Lily mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Zaki merasa vagina yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot zakarnya.Zaki menikmatinya dengan memutar –mutar pantatnya dan memasukkan lebih dalam lagi batang zakarnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti batang zakarnya, semakin besar dan sesaat Zaki kembali mendorong batangnya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar batanga zakarnya dan melepaskan air maninya di atas perut bu Lily…. Yang dengan cepat meraih penis Zaki dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut bu Lily mengusap penis yang mulai turun ketegangannya. Zaki membaringkan tubuhnya disamping bu Lily. Terdiam untuk beberapa saat.

    Bu Lily bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas Zaki. “makasih ya sayang… ini rahasia kita berdua… I love u Zack,” bisik mesra bu Lily di telinga Zaki.

    “mmm…baik bu…”belum sempat Zaki menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk bu Lily menempel di bibirnya, “kalo lagi berdua gini jangan pangil ibu dong…”ucap bu Lily manja.

    “iya sayang….” Balas Zaki, senyum manis merekah di bibir seksi bu Lily.

    Setelah itu dengan cepat Zaki dan bu Lily merapikan pakaian, dan sebelum meninggalkan Zaki, bu Lily berbisik mesra,”sayang… tar malem suamiku gak ada di rumah….. aku tunggu di kamar ya… berapa ronde pun dilakoni buat Zaki sayang.” Sambil berpelukan mesra, Zaki menyanggupi ajakan bu Lily.

  • Cerita Seks Aku Diajari Ngentot Oleh Tante Yosi – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Seks Aku Diajari Ngentot Oleh Tante Yosi – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1889 views

    Perawanku – Seperti biasa kali ini admin Perawanku akan membagikan cerita tentang Cerita Seks Aku Diajari Ngentot Oleh Tante Yosi. Yuk mari saja langsung kita simak cerita dewasa ini.

    “Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah?” kataku.
    Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitorisnya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu–bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat–jilat kemaluan si Tante dengan pelan–pelan. “Ogh.. Don, pintar sekali yah kamu merangsang Tante..” dengan suara yang mendesah. “Wah.. natural tuh Tante, padahal saya belum pernah sampai sejauh ini loh..” jawabku. Tak terasa, tahu–tahu rambutku dijambaknya dan tiba–tiba tubuh tante mengejang dan aku merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, cuma berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apapun tentunya sudah tidak menjadi masalah.

    Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar–benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Yossie sekarang meminta saya untuk memasukan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.
    “Don.. ayoo dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih,” minta si Tante.
    “Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana..” tanyaku.
    “Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang–tenang aja deh,” sambil berusaha meyakinkanku.

    Benar–benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya. Walaupun sakitnya juga lumayan. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan, karena masih terasa sakit. “Ahh.. dorong terus dong Don..” minta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali. Mendengar desahannya saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat walaupun rasa sakit juga terasa. Akhirnya saya mulai terbiasa dan mulai mendorong dengan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas–remas payudaranya, sampai tiba–tiba tubuh Tante Yossie mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya. Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar–benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, dan tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.

    “Oh.. oh.. nikmat sekali Donniie..!” teriak si Tante.
    “Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih..” kata saya.
    “Sabar yah Don.. tunggu sebentar lagi dong, Tante juga udah mau keluar lagi nih..” jawab si Tante.

    Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante. “Arghh..!” teriak si Tante Yossie. Tante Yossie kemudian mencakar pundak saya sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot–otot kemaluannya benar–benar meremas batang kemaluanku. Setelah itu kami berdua letih dan langsung tidur saja di atas ranjangnya. Tanpa disadari setelah 3 jam tertidur, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke dapur. Ketika di dapur saya melihat Tante Yossie dalam keadaan telanjang, mungkin dia sudah biasa seperti itu. Entah kenapa, tiba–tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata–kata, saya langsung memeluk Tante Yossie dari belakang, dan mulai lagi meremas–remas payudaranya dan pantatnya yang bahenol serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.

    “Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya?” kataya sambil tertawa kecil.
    “Agh Tante bisa aja deh,” jawabku sambil menciumi bibirnya kembali.
    Saking nafsunya, saya mengajak untuk sekali lagi bersenggama dengan si Tante, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Yossie kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di dapurnya. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya doggie style.”Um.. dorong lebih keras lagi dong Don..” desahnya. Semakin nafsu saja aku mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokanku kepada si Tante, sementara itu tanganku menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.
    “Don.. mandi yuk?” mintanya.
    “Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah?” jawab saya.

    Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya mendudukkan Tante Yossie di atas wastafel, dan kemudian saya kembali menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.
    “Hm.. nikmat sekali jilatanmu Don.. agghh..” desahnya.
    “Don.. kamu sering–sering ke sini dong..” katanya dengan nafas memburu.
    “Tante, kalo tahu ada service begini mah saya tiap hari kalau bisa juga mau,” jawabku sambil tersenyum.

    Setelah puas menjilatinya, saya memasukkan batang kemaluan saya kembali ke lubang kemaluan Tante Yossie. Kali ini, dorongan saya sudah semakin kuat, karena rasa sakit saya sudah mulai berkurang ataukah saya sudah mulai terbiasa yah? Bosan dengan gaya tersebut, saya duduk di atas kloset dan Tante Yossie saya dudukkan di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini saya sudah mulai tidak terlalu merasakan sakit sama sekali, namun rasa nikmat lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat akhirnya saya “KO” kembali, saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Yossie kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.

    Setelah selesai mandi, Tante Yossie memasakkan makan malam untuk kami berdua, dan setelah itu saya pamitan untuk balik ke rumah. Setelah kajadian itu saya baru tahu bahwa kesepian seorang Tante dapat membawa nikmat juga kadang–kadang. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan bersetubuhan. Kami biasanya melakukan di apartmetnya di kala anaknya George sedang sekolah atau les. Dan sering juga Tante mem-booking hotel berbintang dan kami bertemu di kamar.

  • Galeri Foto Bugil Gadis Semok di Pantai Bikin Sange

    Galeri Foto Bugil Gadis Semok di Pantai Bikin Sange


    2503 views

    Perawanku – Siapa sih yang tak gemetar ketika melihat kemolekan dan kecantikan wanita jepang ? Hal tersebut sudah tak diragukan lagi dalam industry perlendiran yang semakin menjadi-jadi.

    Dengan wanita yang cantik” dan sexy dan pastinya semok-semok, Bicara tentang semok ini sudah kami siapkan Buat para bos ku yang lagi sange bisa melihat Galeri Foto bugil cewek semok ini yang lagi dipantai pastinya bikin semua bos ku sange terus crot :

  • Ilmu Seks yang Kupelajari dari Papa Tiri Dikala Sedang Terangsang – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    Ilmu Seks yang Kupelajari dari Papa Tiri Dikala Sedang Terangsang – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018


    1646 views

    Perawanku – Perkenalkan, namaku Nina, umurku 24 tahun. Untuk lebih memperjelasnya, aku memiliki tubuh yang cukup bagus dengan buah dada berukuran 34B. Kulitku putih bersih dengan rambut panjang sepunggung. Aku beberapa kali menonton dan membuka situs porno karena rasa penasaranku terhadap aktivitas seks yang sangat digemari di kalangan anak laki-laki.

    Ketika menonton film-film porno itu, ada rasa ingin mencoba karena kulihat betapa nikmatnya wajah sang wanita yang disetubuhi. Aku pun sering membayangkan bahwa yang ada di film itu adalah aku dan pria idamanku, namun ironisnya aku kehilangan keperawanan bukanlah dengan pria idamanku. Beginilah cerita awalnya..

    Pada suatu Minggu pagi, Ibuku tidak ada di rumah hampir sepanjang hari karena harus menunggui kakaknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Jadi, aku tinggal di rumah sendiri. Ketika aku berjalan ke ruang makan untuk makan pagi, aku hanya melihat Papa seorang diri sedang menyantap nasi goreng.

    “Pa, Mama mana? Kok gak ada?” tanyaku sambil mengucek mataku yang masih mengantuk.

    Pada saat itu Papaku tidak langsung menjawab, Ia tercengang untuk beberapa saat dan menatapku dengan pandangan tajam. Ketika kusadari, ternyata pada saat itu aku mengenakan daster putih tipis pendek yang tembus pandang hingga memamerkan lekuk tubuhku. Puting susuku terpampang jelas karena aku tidak memakai bra. Kurasakan mukaku memerah dan spontan aku menutupi dadaku.

    “Ehem.. Nin, Mama pergi sejak jam 4 subuh. Tante Firda mendadak koma,” kata Papa segera setelah sadar dari kagetnya.
    “Apa?! Tan.. Tante koma?” ujarku terbata-bata.
    “Iya, Nin. Papa tahu kamu kaget. Nanti kita jenguk jam 12 ya?”

    Aku terisak sedih dan air mataku mulai mengalir. Tante Firda adalah tante favoritku. Ia sangat baik terhadap Ibu dan aku. Ketika aku masih terisak, Papa segera menghampiri dan memeluk diriku.

    “Tenang Nin, masih ada harapan kok,” hiburnya sambil mengelus rambutku.

    Aku balas mendekapnya dan mulai menangis tersedu-sedu. Papa mengelus-elus punggungku ketika aku menangis, namun nafas Papaku terdengar berat dan kurasakan penisnya yang membesar menekan perutku. Aku segera melepaskan pelukanku namun Papa menahannya.

    “Pa, lepaskan aku!” jeritku ketakutan.
    “Tidak bisa, Nina sayang.. Salahmu sendiri menggoda Papa dengan baju tipismu itu,” ujar Papa, kemudian tangannya mulai meremas-remas pantatku dengan gemas.
    “Pa, jangan.. Nina gak mau, Pa!” isakku sambil memberontak, namun tenaga Papa jauh lebih kuat daripadaku, tak ada gunanya aku melawan juga.
    “Kamu diam saja, sayang.. Enak kok.. Nanti pasti kamu ketagihan,” bisik Papa sambil terengah-engah, setelah itu tangan Papa mulai menyusup ke dalam celana dalamku dan meremas kembali pantatku dari dalam.

    Aku berkali-kali melawan, namun tak berdaya karena perbedaan tenaga kami. Kemudian, Papa mengangkat satu kakiku dan menahannya selagi tangan satunya meraih lubang vaginaku.

    “Ohh.. Pa.. Ja.. Jangan,” rintihku.

    Namun, kurasakan birahiku mulai naik, bahkan lebih daripada ketika aku menonton film porno di kamarku diam-diam. Jarinya dengan lincah menggosok-gosok lubang vaginaku yang mulai basah. Nafasku juga mulai cepat dan berat. Melihat reaksiku yang mulai pasrah dan terbawa nafsu, Papa melanjutkan aksinya.

    Ia membawaku ke sofa ruang tamu dan mendudukkan diriku di pangkuannya dengan posisiku memunggunginya. Tak lupa pula ia membuka celana dalamku dengan kasar. Tangannya dengan kasar membuka lebar-lebar pahaku sehingga vaginaku terpampang lebar untuk dijelajahi oleh tangannya. Sebelum sempat melawan, dengan sigap tangannya kembali meraih vaginaku dan meremasnya.

    “Nin, memek kamu seksi banget.. Nanti Papa sodok ya..” bisik Papaku di telingaku dan menjilatinya ketika tangannya mulai bermain di klitorisku.

    Birahiku sudah tak tertahankan lagi hingga aku pun pasrah terhadap perlakuan Papaku ini. Aku mulai mendesah-desah tak keruan. Jilatan maut di telingaku menambah nafsuku. Papa terlihat mencari-cari titik rawan di klitorisku dengan cara menekan-nekan klitorisku dari atas ke bawah. Ketika akhirnya sampai di titik tertentu, aku meracau tak karuan.

    “Ahh.. Shh.. Paa..” desahku bernafsu.
    “Nin, Papa suka banget sama kamu..” balas Papa sambil mencium pipiku.

    Jarinya dengan lihai menggosok-gosok dan menekan titik rawan itu dengan berirama. Rasanya bagaikan melayang dan desahanku berubah menjadi rintihan kenikmatan. Tak sampai 15 menit kemudian, aku mendapat orgasmeku yang pertama.

    “Paa.. Nina pengen pipiss..” desahku tak tahan menahan sesuatu yang ingin meledak di dalam diriku, tanganku meremas tangan Papa yang sedang bermain di klitorisku dengan bernafsu.

    Di luar perkiraanku, Papa malah memperkeras dan mempercepat gerakannya. Papa merebahkanku di sofa dan merentangkan kedua pahaku. Kurasakan jilatan lidah di bibir vaginaku, rasa menggelitik yang luar biasa menyerang tubuhku.

    Jilatan itu menjalar ke klitoris dan membuat vaginaku membanjir. Di sela jilatan-jilatan Papa yang maut, kurasakan gigitan lembut di klitorisku yang kian merangsang hasrat seks-ku. Aku melenguh keras disertai jeritan-jeritan kenikmatan yang seakan menyuruh papaku untuk terus dan tak berhenti.

    Melihat reaksiku, Papa semakin berani dan menggesekan jarinya di liang vaginaku yang sudah membanjir. Tak kuasa menahan nikmat, aku pun mendesah keras terus-menerus. Aku meracau tidak beraturan. Kemudian kurasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya tak lama kemudian.

    Vaginaku mengeluarkan cairan deras bening yang sebelumnya belum pernah kulihat. Papa tampak senang melihatku mengalami orgasme yang pertama. Setelah sensasi nikmat itu surut, kurasakan tubuhku lelah tak berdaya bagai tak bertulang.

    Papa membopongku ke kamarnya dan menidurkanku di kasur. Papa memelukku dengan lembut. Kami tidak berkata apa-apa. Papa kemudian membuka dasterku, kemudian Papa tampak semakin bernafsu ketika melihat payudaraku yang berukuran cukup besar.

    Hasratku sudah menurun dan rasa malu mulai menyergapku hingga aku segera menutupi payudara dan vaginaku dengan kedua tangan, namun Papa malah menyingkirkan tanganku dengan kasar. Lelah masih terasa karena orgasme tadi sehingga aku tidak mampu melawan.

    “Pa.. Jangan, Pa. Sudah cukup.. Nina takut..” isakku mulai menitikkan air mata. Melihat reaksiku, Papa malah semakin bernafsu.
    “Nina sayang. Papa entot kamu ya.. Oh, Nina. Memekmu pasti nikmat. Sini Papa entotin ya, sayang..” rayu Papa dengan nafas memburu karena nafsu.

    Dengan semangat, Papa meremas toket ku dengan sangat keras. Pertama-tama, aku berteriak kesakitan namun Papa tak mempedulikan teriakan minta ampunku, malah tampak dia semakin bernafsu untuk menyetubuhiku. Jari-jarinya dengan terampil memilin putingku diselingi dengan cubitan keras sehingga lama kelamaan teriakanku berubah menjadi jeritan nikmat.

    Libidoku mulai naik lagi dan vaginaku mulai basah. Puting susuku yang berwarna merah muda sekarang berwarna merah tua karena cubitan-cubitan kerasnya, begitu pula dengan payudara putihku yang berubah menjadi kemerahan.

    “Ahh.. Ahh.. Ukhh.. Paa..” racauku tak karuan.

    Merasa puas melihat reaksiku, Papa membuka semua bajunya dan betapa terkejutnya aku melihat penis papaku yang berukuran besar. Dengan lihainya, Papa segera menggesekkan kepala penisnya yang kemerahan ke lubang vaginaku yang sudah basah. Aku merasakan sensasi lebih daripada jilatan lidah Papa di vaginaku sebelumnya hingga kutanggapi sensasi luar biasa itu dengan rintihanan keras kenikmatan.

    “Ahh! Papaa.. Ohh.. Entotin Nina, paa..” racauku. Sudah hilang kesadaran akan harga diriku.

    Melihat lampu hijau dariku, Papa segera menjalankan aksinya. Dengan perlahan ia memasukkan kepala penisnya ke dalam liang vaginaku, namun terhalang oleh selaput daraku. Papa tampak kesulitan menembus selaput daraku.

    Akhirnya dengan satu sodokan keras, vaginaku berhasil ditembus untuk pertama kalinya. Rasa sakit luar biasa terasa di vaginaku. Papa dengan tanpa perasaan segera menyodok-nyodok penisnya dengan kuat dan keras di vaginaku yang masih sempit.

    Rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat bagaikan melayang di surga. Papa mendesah terus-menerus memuji kerapatan dan betapa enaknya vaginaku. Penis Papa yang panjang dan besar terasa menyodok dinding rahimku hingga membuatku orgasme untuk kedua kalinya.

    Papa tampak masih bernafsu menggenjot vaginaku. Kemudian Papa membalikkan badanku yang telah lemas dan menusukkan penisnya ke dalam vaginaku lewat belakang. Ternyata posisi ini lebih nikmat karena terasa lebih menggosok dinding vaginaku yang masih sensitif.

    “Oh Ninaa.. Memekmu bagaikan sorga, Nin.. Nanti Papa entotin tiap hari yaa.. Ahh..”

    Akhirnya setelah menggenjotku selama setengah jam, Papa mendapatkan orgasmenya yang luar biasa. Spermanya terasa dengan kuat menyemprot dinding vaginaku. Papa menjerit-jerit nikmat dan badannya mengejang-ngejang. Tangannya dengan kuat meremas payudaraku dan menarik-narik putingku.

    Setelah orgasmenya, Papa berbaring di sebelahku dan menjilati puting susuku. Putingku disedot-sedot dan digerogotinya dengan gemas. Tampaknya Papa ingin membuatku orgasme lagi. Tangannya kembali menjelajahi vaginaku, namun kali ini jarinya masuk ke dalam liang vaginaku. Papa menekang-nekan dinding vaginaku yang masih rapat.

    Ketika sampai pada suatu titik, badanku mengejang nikmat dan Papa tampaknya senang sekali hingga jarinya kembali menggosok-gosok daerah rawan itu dan menekannya terus menerus. Wow! Rasanya ajaib sekali! Terasa seperti ingin pipis, namun nikmatnya tak tertahankan. Ternyata itulah G-Spot.

    Aku tidak bertahan lama dan akhirnya orgasme untuk ketiga kalinya. Badanku mengejang dan cairan orgasme kembali mengalir dengan deras bercampur darah keperawananku. Akhirnya, kami menyudahi permainan seks kami yang perdana dan mandi. Baru setelah itu, kami pergi ke rumah sakit.

    Sejak kejadian itu, kami menjadi sering melakukan hubungan seks dan mencari-cari kesempatan untuk menerapkan ilmu seks tanpa sepengetahuan orang lain. Bahkan aku pernah membolos sekolah karena pada saat itu Papa sedang naik libidonya dan ingin memberikan ilmu seks baru.

    Akhirnya kami memesan hotel dan sama-sama membolos, aku dari sekolah dan Papa dari kantornya. Papa juga mengajariku berbagai ilmu seks mengenai posisi dan bagaimana cara mengulum penis dengan benar (blow-job). Ilmu seks yang Papa berikan akhirnya membuatku dicintai oleh beberapa lelaki lain karena serviceku yang memuaskan.

    Itulah pengalaman seks-ku yang pertama kalinya dan ilmu seks tersebut tak akan kulupakan seumur hidup.

  • Tyas Gadis Glamor Penuh Sensasi Seksual

    Tyas Gadis Glamor Penuh Sensasi Seksual


    1687 views


    Perawanku – Hidup sekarang ini beriringan ditengah kemajuan teknologi membuat gue serasa jadi org paling beruntung, dimana gue bisa tau awal kemajuan teknologi & internet. Yap, gue idup di zaman teknologi lagi berkembang. gue kelahiran 1987, tinggi ya standar 170cm, BB 60kg, badan biasa aja ga atletis ga gendut. cuman gue rajin olahraga dan kadang fitnes juga (tapi kalo lagi ga mager itu juga), penampilan gue perfeksionis, muka bisa dibilang cukup diatas pas – pas an, yang pasti gue pinter mainin kata” alias gombal. lumayan lah bwt bikin beberapa cewek baper. hha

    sebut saja gue aril (nama samaran), yap sebut saja begitu tapi jgn samain sama ariel yang itu ya. ini cuman samaran. ppfftt

    cerita gue banyak sih klo tentang hal per exe an, cuman yang masih gue inget tuh ada beberapa dan gue mo ceritain satu” nih. siapin rokok sama kopi bosku, kali aja menarik nih cerita gue.

    klo ga salah di tahun 2012 nih, tepatnya ketika facebook lagi booming, lo bisa cari temen, relasi, main game bahkan cari jodoh. karena gue technology holic banget jdi gue pinter klo masalah teknologi komputasi and internet.
    kebetulan sodara gue punya warnet waktu itu, dan gue sering banget online di warnet dia ketika waktu senggang. sekedar googling, youtube, kadang buka link porn dan lain lain. hahaa

    skip with that, yang pasti gue online sambil buka fb. yakali gue bisa stalking dan hunting cewek” cakep di fb. ada beberapa cewek yang cakep yang gue kenal di fb, dan yang bikin gue penasaran tuh cewek dengan nama tyas (nama samaran juga) di friendlist gue, wawww.. tyas cakep banget bro, lo tau lah standar cewe cakep, glamour dan gemesin di social media spt apa. cewe kelas atas menurut gue, secara pergaulan dia traveling terus keliatannya. gue stalking profile dia dan foto” dia, glamour banget bro, liburannya dalam negeri dan luar negeri, gue bisa liat dia foto di merlion singapore, malaysia, dan tempat” elit lainnya. tak sedikit gue liat foto” seksi dia lagi clubing dan pemotretan, dengan baju minim yang memperlihatkan body semoknya, mata gue ga lepas dari belahan dadanya yang montok dan paha mulusnya. ajibbb bener lah ni cewe bikin gue berimajinasi.

    fakk gue bilang dalam hati jauh banget mana bisa deketin cewek se glamour dia, sedangkan gue cuman cowok biasa aja.

    jurus pertama gue cari perhatian dari dia yaitu like postingannya, karena gue sadar ga mungkin dia respon kalo gue langsung personal chat, siapa elo? artis? yang ada dikacangin seumur hidup.

    gue like terus status” dia, bahkan uploadan foto”nya, bwt sekedar nyadarin dia aja kalo ada gue yang slalu update bwt mantengin postingannya. enek enek dah ga peduli gue. namanya jg gue lagi caper. iya ga?

    kadang gue komen postingan & uploadan dia, awalnya ga di bales tapi lama kelamaan dia risih kali ato mungkin penasaran sama gue. al hasil kita sering bales komenan, tapi gue blm berani personal chat. gue tahan dulu bosku.
    selang beberapa hari dia mulai nih nge like postingan” gue, nah loh udh kena umpannya nih. dari situ kita mulai intense mantengin beranda masing”, yang gue rasa dia cukup terhibur sama komen” gue yang aga sedikit ke arah lucu dan cuek. yap, itu jurus gue bosku, jadi cowo lucu dan cuek. itu kunci gue deketin cw, jaim lah dikit. hahaa
    selang beberapa bulan gue mulai berani personal chat sama tyas, ngobrol ini itu ga karuan dan gue berlagak so tau pokonya, tapi dia terlihat nyaman sama gue. karna dia udh mulai bisa curhat sama gue dan minta pendapat tentang sesuatu ke gue. gue seneng saat itu, seneng banget malahan, ga nyangka gue bisa chat intense sama cw cakep & glamour di fb. katro ya gue. wkwk

    obrolan kita berlanjut di BBM bahkan telpon, tapi kita blom ketemu karna gue gamau rusuh bwt ngajak ketemuan. batin gue tambah nyeksrek klo telponan sama dia, suaranya sexy banget, manja” basah gitu. jujur gue jatuh cinta sama dia, ato bisa dibilang ambisi bwt dapetin dia.

    tyas ini emang cewe high class, dia jujur klo dia emg matre, dan pilihan banget klo sama cowo. pergaulan dia bebas dan ga ayal dia bilang pernah pake narkoba jg. tapi bisa gue bilang dia cewe baik hati dan fair, karna kebaikannya dia sering banget dia dimanfaatin dan dikhianati sama temen temennya. jadi gue kenal sama dia pas ria mau tobat, jauhi pergaulan dan hidup lebih baik. itu sih yang gue baca dari obrolan kita selama ini.

    pagi yang cerah gue bangun dan seperti biasa gue cek inbox BBM gue, dan seperti biasa juga ada BBM tyas yang ucapin selamat pagi. bahagia banget gue, otak dan otong menggebu” klo mikirin tyas. dan yang bikin gue bahagia banget banget banget ketika baca BBM dia “ril, ntar sore temenin aku lari yuk, pengen olahraga nih”. JACKPOT bosku, umpan udah kena telak, gue bisa ketemu cw idaman gue. gue ngelamun liat chat dia, gue cuman bisa bales “ayok” saking ga percayanya gue diajak ktemu sama tyas.

    “kamu bisa kerumah jam brp? bareng aja perginya pake motor kamu, motor aku dipake adek, mobil jg di bengkel” yap dia cw bermobil dan udh punya rumah sendiri gais.
    “siang aja aku berangkat, sekitar jam 1, kasi tau aja alamatnya” padahal gue pgn brangkat secepatnya gais. haha

    jam menunjukan pukul 12.00, gue siap” pake baju keren dan ga lupa parfum andalan gue semprot ke badan gue biar wangi dan berharap tyas nyaman sama cowo wangi kaya gue. dan gue pun bergegas memacu motor kurusku, dalem hati gue bilang apa gabakalan ilfeel tyas liat pake motor kurus kaya gini? wkwk. tapi kadang gue suka heran, ko cewe sekelas dia ramah banget ya, ga jutek, ga sombong, dan nyambung kalo diajak ngobrol. biasanya kan cewe kelas atas suka jual mahal. tapi yang gue rasain ko ngga ya. hmm

    tanpa kendor gue gas sepeda motorku, dengan alamat di tangan gue nanya kesana kesini bwt cari alamat, karna waktu itu gue gapake google maps.
    sedikit bingung juga sih cari rumahnya karena dia tinggal di perumahan, al hasil gue telpon tyas bwt nuntun gue kerumahnya.

    “halo yas sebelah mana rumahnya, aku bingung nih”
    “kamu dimana?”
    “depan komplek yas”
    “lurus aja ada pos belok kiri, lurus ada lapangan belok kanan, aku tunggu di depan rumah”
    berkat panduan tyas gue sampai di depan rumahnya, gue standarin motor sambil mata terbelalak. akhirnya gue bisa liat cewe idaman gue.

    tyas berdiri di balik gerbang pendek hitam yang masih tertutup sambil tersenyum melihatku. dengan memakai hotpants jeans dan kaos longgar putih, gue bisa liat paha mulus dan toket ukuran 38, buset gede banget toketnya ga nyangka gue. dia cukup tinggi untuk standar cewe, ya sekitar 168cm lah, BB 55kg, rambut panjang item sepunggung, kulit putih kuning langsat, wajah ouval dagu lancip belah, bibir tipis, dan yang bikin sange mukanya tuh menantang banget gan. haduhh menggoda banget pokonya. pasti tiap cowo ga akan lepas pandangan dari cewe kaya tyas. gue gugup disitu, gue cuman autofokus betapa cakep dan montoknya tyas.

    tyas pun membuka gerbang rumahnya dan menyuruhku masukin motor. rumah sederhana tipe 36 yang sangat nyaman, sungguh cewe glamour.

    gue turun dari motor dan membuka helmku.

    “ayo masuk” ajak tyas

    aku cuman bisa berjalan dibelakang dia sambil liat rambut panjang extension dan pantatnya yang bulat. ughhh seneng banget gue.

    pekarangan kecil udh gue lewati dan masuk ke pintu coklat dan gue liat ruang tengahnya kosong.

    “ril ke kamar aja sini, di ruang tamu ga ada kursi”
    “kursinya kemana? kamu jual?” candaku
    “ngga, dipindahin ke rumah mama, kan rumah ini mau aku jual”
    “nah terus?”
    “udh ga nyaman aku dirumah ini, pgn pindah”
    “oh” dalem hati gue bilang, enteng banget ni cewe mw ganti rumah

    gue masuk ke kamar tyas di kiri ruang tamu, aroma wangi khas kamar wanita membuat hati gue terasa tenang dibuatnya, gue liat kamar luas dengan kasur pendek beserta furnitur lainnya. dan ada kamar mandinya jg di dalem. beuhh dalem otak gue mulai ngeres, abis exe gampang nih bwt bersih”. haha

    “mw minum apa?”
    “bebas yas” gue sambil duduk di karpet sebelah kasur
    “ambil aja tuh di kulkas klo haus” tunjuk tyas ke kulkas dipinggir tv
    “oke yas”
    “jadi kita mw lari jam brp nih?” tanya tyas sambil nyalain marlboro menthol di tangannya dan duduk di kasur di sebelah gue
    “jam 4 aja deh, biar ga panas, kasian kulit mulus km kalo kebakar matahari” canda gue
    “hahaa, bisa aja. oke deh, eh km bawa baju bwt larinya?
    “ada nih di tas” jawab gue

    waktu masih panjang, sekitar 3 jam lagi menuju jam 4. kita cuman ngobrol ngelantur dengan dihiasi candaan yang bikin tyas terlihat terhibur dengan candaan yang keluar dari mulut gue. dan gue cuman bisa fokus ke bibirnya yang tipis imut dan toket ukuran 38 nya, otak gue udh ngebayangin megang toket itu, pasti gede dan kenyal banget haduhhh. gue duduk sebelahan sama dia, gue ngadep tv, tyas duduk di kasur duduk aga miring ke arah gue.
    ga kerasa waktu begitu cepat dan jam menunjukan udh pukul 3 sore, tapi saat itu cuaca sangat mendukung, tiba” mendung banget, gelap diluar udh pasti bakalan ujan.

    “ril, mendung banget, gmn kalo ujan?” tanya panik tyas
    “iya nih, bahaya kalo ujan”
    “gajadi lari deh klo ujan, kasian km udah jauh dateng kesini”
    “gpp yas, yang penting aku bisa ketemu kamu, itu sih intinya. haha” candaku
    “ihhh bisa aja, emang kamu ngebet ya pgn ketemu aku?” tanya tyas
    “emmhh.. gmn ya? ya pgn ketemu lah, masa tiap hari ngbrol lewat telpon dan BBM aja, kan ga seru” jawabku
    “ahh bisa aja km ril” sambil cubit bahu gue

    dan ya turunlah ujan yang sangat lebat, dalem hati gue bilang “yes ujan, ga jadi lari” haha
    ga tau kenapa cuaca hari itu sangat mendukung, hujan sampe jam 8 malem ga berhenti dan hasilnya kita ga jadi lari.

    “duhh ujannya ga mendukung banget, masa iya ujan ampe jam segini, ga jadi deh larinya kita”
    “gpp lah yas, daripada kita keujanan pas lari kan brabe”
    “iya juga sih, eh kamu laper ga?”
    “laper sih”
    “ywd kita cari makan yuk kedepan, aku ga masak soalnya”
    “emg kamu bisa masak?” candaku
    “helooww… bisa lah, jago aku kalo masak”
    “lain kali masak bwt aku ya?”
    “boleh” tegas tyas

    sitmenn.. dari jawaban itu negasin klo dia ga bosen bwt ktemu gue lagi.

    “ywd yu kita cari makan”

    tyas beranjak dan membawa sweater abu beserta dompet, gue jg bawa tas kecil gue lah. masa iya gue ga bawa dompet. kan gengsi.
    meluncurlah kita dengan motor kurusku, sepanjang jalan gue ngrasa bangga bisa bonceng cewe cakep kaya tyas, dan

    pastinya gue bisa ngerasain toketnya yang gede nempel” di punggung gue. ugghhh anget dan kenyal banget asli. otak gue udh ngeres bawaannya. dan yang bikin baper tuh si tyas duduknya nempel ke gue mulu, bikin gue makin gugup. asemm ni cewe, bisa banget bikin sange.

    “makan apa ril?” tanya tyas
    “bebas yas, yang enak apa disini?
    “ada nasi goreng kambing yang enak banget tuh di depan, cobain deh”
    “sip” nasi goreng kambing bosku, bisa bikin libido naik nih. waduhh bahaya

    2 bungkus nasi goreng kita pesan, kalo ga salah total harga tuh 40 ribu. ahh enteng bosku cuman 40rb ini. gue keluarin dompet di tas kecil gue.

    “berapa bang?”
    “semua jadi 40rb mas” jawab si tukang nasi goreng
    “ril mw ngapain?” selang tyas
    “bayar lah, masa iya ga dibayar yas” sanggah gue
    “uda udah ihh gue yang bayarin” tegas tyas
    “masa km yang bayar yas? ngga ah” gue ngerutin alis gue
    “udah aku yang bayar arieeeellll.. km kan tamu aku, laen kali deh km yang bayarin aku makan kalo diluar” bujuk tyas
    “ohh ok deh” sempet terbesit apa dia mancing bwt jalan sama gue nanti? apa gue mw diporotin sama tyas?

    secara kan cewe seperti tyas rata rata doyan matrein cowo dengan modal kecantikannya. ahhh tapi gue kesampingin pikiran itu, yang penting gue harus beresin misi gue hari ini, yaitu puas puasin berduaan bareng dia. kapan lagi kan bisa berduaan sama cewe se kece dia. jajan di tukang nasi goreng aja banyak banget yang fokus liatin tyas, mata para cowo mata kranjang yang gatel. wkwk.. iyalah, badan tinggi tegap dengan dada dan pantat menonjol diikuti gerak tubuhnya yang sexy abis layaknya model, siapa yang ga tergoda coba. bahkan liat cara dia berjalan pun udh bikin mata melongo.

    dan kita pun balik ke rumah. sesampainya dirumah kita makan bareng sambil nonton tv. sbenernya aga jaim juga sih gue makan depan cw cakep. tapi dia mah cuek aja.

    selesai makan kita lanjut ngobrol ngelantur, sementara aku masih duduk ditempat yang sama dan tyas tiduran di kasur. makin keliat aja tuh toket nonjol gede banget. imajinasi gue udh liar di badan tyas.

    “eh yas km ga bete tinggal sendiri di rumah?” tanyaku sambil nyalain roko marlboro merah
    “bete sih, tapi klo lagi bosen dirumah ya paling kerumah mama di blok depan”
    “cari suami aja udah biar ga kesepian” iseng aku tanya
    “ga ada calonnya” jawab tyas
    “ini ada”
    “mana? kamu? ihhhh”
    “hahaa” malu gue disitu gais, asli malu, gendok banget sama ekspresi dia
    “idihhhhhh.. yakali baru jg ketemu sekali”
    “tapi nyaman kan ngobrol sama aku?”
    “yaaa.. iya nyaman sih ril” nada lembut dengan tatapan sayu ke arah gue

    makin berdegup aja ni jantung srasa mw loncat.

    “ehh km emang ga kmana mana yas? ga maen kmana gitu” gue pnasaran
    “ngga, aku lagi males kmana mana juga, bosen maen mulu, malah abisin duit ga jelas ril” terang tyas sambil bangun dan duduk disertai ikut ngeroko
    “iya juga sih, tapi kan happy klo liburan terus”
    “happy sih, tapi yaaa.. pengeluaran membengkak ril, blm bayar rumah, cicilan mobil, motor, dll”
    “emg kamu kerja apaan si yas?” makin pnasaran gue, karna gue blm prnh nanya kerjaan dia sebelumnya karna gue takut dia gamau negasin ttg kehidupannya.
    “aku jualan online sih, baju, kosmetik, tas, semua deh perlengkapan cewe cowo. tapi biasanya sih dulu suka dikirimin duit tiap bulan sama pacar aku”
    nah loh pacar? pikiran gue udh mulai macem macem, apa dia cewe simpanan ato koleksi para gadun? hmm gue curiga
    “ohh bagus dong, skr masih jualannya?”
    “masih ril, tapi ya aga sepi juga sih, tapi lumayan sih kalo bwt jajan, cuman suka repot jg bwt cicilan rumah dan mobil, biasanya kan dibantu sama pacar aku, beli rumah ini juga kan ide aku sama pacar aku, cuman ya gitu dehhh” jawab tyas lemes
    “ohhh.. jadi terus pacar km kmn yas? kepo banget gue
    “udah putus, dia selingkuh ril, emang brengsek, salah pilih aku, tadinya cuman mau matrein dia tapi malah aku beneran suka, eh pas sayang malah putus, kan nyesek”

    dalem hati gue bilang wahh apa bisa gue deketin dia? haha

    “ihhh matre ya kamu” nada gue bercanda
    “iya aku emg matre ril, tapi liat liat juga kalo matrein cowo, kalo yang patut di matrein ya matrein, kalo ngga ya ngga, ngapain jg kan matrein cowo yang kere” tegas tyas sambil hembusin asep rokonya
    “wahh bisa di matrein juga ni aku” tegas gue sambil ketawa
    “hahaa.. ya ngga lah ril, emg km mau dimatrein sama aku? berani biayain aku berapa per bulan?” nada iseng tyas terucap
    “hahahahaa.. gamau lah, lagian apa yang mw di matrein dari aku” jawabku aga sedikit nyesek juga kala itu

    ngobrol ngelantur ga karuan dan ga kerasa udah jam 11 malem, what?!! cepet banget ni waktu, gue masih pengen disini, pengen berduaan sama tyas. ughhh kesel gue waktu itu sama jam. akhirnya gue harus pamit.

    “yas aku pulang skarang ya, udah malem”
    “pulang sekarang? udah malem ril, jam 11 ini, gelap loh di jalannya”
    “ya makanya aku harus pulang udah malem ini ga enak juga sama tetangga, keenakan ngobrol jadi gatau waktu nih, sory ya”
    “nginep aja ril, gpp ko.. aku seneng ada temen ngobrol, lagi bete juga aku” tegas tyas dengan tatapan yang bikin gue mencair
    “hah? yas serius? kalo nginep ntar ketauan ortu mu loh, kan rumahnya deket” jawabku dengan harapan tyas kasih jawaban yang bisa yakinin gue bwt nginep
    “iya serius ril, nginep aja gpp, lagian mama ku jarang kesini, paling adek aku yang sering kesini”
    “gmn kalo ketauan adek km ada cowo nginep?” tanyaku ingin tahu
    “gpp kali dia mah santei, ga akan bawel ngadu ke ortu aku”
    “yakin nih aku nginep?”
    “iya ihh bawel amat, santei aja kali, dulu juga pacar aku sering nginep disini”

    yessss.. dan dari situ gue putusin buat nginep!!! seneng banget gue. hahaa otak gue udah mikir macem macem, kapan lagi gue bisa nginep bareng cewe cakep montok seperti tyas. haduhh prasaan campur aduk ga karuan.

    “huufff.. aku ganti baju dulu ya sambil cuci muka, diem loh jangan ngintip, haha” tawa kecil tyas sambil beranjak ke toilet

    waduhhh pengen banget gue intip dia, toiletnya kan ga ada pintunya. tapi gue harus tahan, berharap ada keajaiban nanti malem. hahaa

    tyas pun keluar dari toilet dengan memakai celana pendek 20cm diatas lutut dengan tengtop longgar putih dan terlihat putingnya kecetak di kiri kanan dadanya. haduhh otak gue panasssss banget.

    “ril ganti baju gih, km kan bawa baju olahraga di tas, ganti gih di toilet” tanya tyas
    “ooo.. ohh oke yas” gugup gue jawabnya

    gue pun ambil baju ganti di tas dan beranjak ke toilet, selang ganti baju gue cuman bisa pegangin otong gue biar tenang jgn bangun secara tiba tiba. wkwk.. gue pipis tuh dan sambil bilas bersih otong gue ya siapa tau nanti ada kejadian di atas kasur. ngeres banget kan otak gue.

    “kalo mw tiduran sini aja ril di kasur” tegas tyas yang lagi tiduran
    “oke yas” jawabku cepet

    gue pun tiduran disamping dia, kecium banget aroma parfum khasnya yang sangat wangi. kita tiduran berdua sambil nonton tv dan ngobrol panjang lebar. gue gugup, ga karuan, pengen banget gue nerkam badan dia dan lumat abis tiap jengkal badannya yang sexy dan wangi. uugghhhhh

    tyas bangun dan berjalan kearah dinding untuk matiin lampu. dan kita hanya diterangi oleh tv malam itu. wahh romantis banget, makin ga tahan gue dibuatnya.

    jam menunjukan pukul 00.30, dan gue gabisa ngantuk. pikiran gue ngeres bawaannya, tiap menit gue selalu curi cara bwt liatin toket dia yang gede dibalik tengtop longgarnya. jelas banget terlihat belahan dan mulusnya toket tyas ketika tiduran disamping gue. bikin otong gue ga karuan.

    gue tiduran di pojok dket tembok, soalnya tyas ga suka tidur di deket tembok, dia pgn bebas gerak kayanya. gue selalu mastiin apakah tyas udh tidur ato belum karena waktu itu dia seketika tidak bersuara. ternyata dia fokus nonton tv, gue pgn tau apa yang ada dipikiran tyas kala itu, apa dia mikirin nidurin gue ato ngga? haha

    ide iseng gue muncul ketika lihat guling di samping kiri tyas, sengaja gue lingkarin tangan kanan bwt ambil tu guling dari sisi tyas. seetttt..

    “ihhh ariel, ini guling akuu.. aku gabisa tidur kalo ga ada gulinggggg” rengek tyas
    “sama aku juga yasttt” tegasku
    “ihhh gamau ahh sini” narik guling yang gue pegang
    dari situ kita tarik menarik guling sambil tertawa kecil.
    “guling km aku aja yastt” celoteh gue reflek
    “iihhh kamu curang” tangan kiri tyas bertengger di perut gue yang wkt itu tiduran menghadap gue

    sekitar 10 detik kita bertatapan, tyas dengan wajah polosnya menatap gue dalam, begitupun gue dengan tatapan so perhatian. dan gue beranikan diri bwt tempatin tangan kanan gue di pinggang tyas. tyas diam ga ada respon apapun. dengan wajah lurus aku mendekati wajah tyas yang ada di depanku. gue memberanikan diri tempelin bibir gue di bibirnya. bodo amat kala itu gue fikir, paling gue kena tampar, yang pasti gue udh ga tahan sama suasana kamar malam itu.

    tyas pun tetap diam ketika bibir gue menempel di bibirnya, mungkin dia jg terbawa suasana malam itu. selang beberapa detik gue ngerasa bibir tyas mulai terbuka dan wahh artinya dia bisa nerima ciuman gue. dari situ gue mulai bermain, gue cium lembut bibir tyas, bibir atas gue emut begitupun bibir bawahnya. tyas pun membalas ritme ciuman gue. anget banget, lembut banget, dan gue bisa rasain cairan mulut tyas yang hangat. tyas berciuman sambil menutup matanya, kerasa desahan lembut tanda dia menikmati ciuman gue, nafas tersengal makin berat. sepertinya dia mulai sange, karena tangan dia mulai bersarang di pinggang gue.

    sekitar 5 menit kita berciuman hebat, tyas yang udah horny dengan lidah nakalnya yang melumat seluruh isi mulut gue. gue dorong badan tyas perlahan sampe dia rebahan, gue terus serang bibir tyas tanpa henti. bisa terasa kaki dia gerak pelan ga karuan. gue fikir gede banget ni cewe nafsunya. tangan kanan gue kala itu ada di pinggang kiri tyas, tangan kiri tyas nempel di pipi gue. perlahan gue usap perut tyas dengan lembut dan memberanikan diri bwt geser tangan kanan gue ke toket kirinya. tangan gue hanya diam ketika berada di toket tyas, gue pgn tau reaksi dia. ternyata dia diem dan malah menambah laju ciumannya. dari situ gue mulai gerakin perlahan jari jemari gue yang posisinya tepat di toketnya, ugghhh terasa banget toket gede ukuran 38 yang masih kenyal padet dibalik bajunya. ga salah emang perawatan ga bakalan bohong.

    tyas menikmati jari jari gue yang menari lembut di toketnya. gue masukin tangan gue kebawah bajunya dan mulai pegang erat toketnya dibalik baju. sontak nafas tyas semakin tersengal, “ehhmmmm” gue terus maenin toketnya sambil gue usap lembut putingnya. tangan kanan tyas yang berada dibawah badan gue kerasa mencengkram seprei seakan menahan nafsu birahinya. ciuman gue turunin ke leher kirinya, gue kecup gue jilat lembut leher tyas tanpa sisa, nafas tyas semakin tersengal sembari kepala menggelinjang ga karuan. gue abisin seluruh centi lehernya, tak lepas gue jilat lembut telinganya.

    “emmhhhh… ahhhhh..” desah lembut dari mulut tyas yang menganga, tangan kanan tyas meremas rambut belakangku seolah memapahku utk tidak melewatkan satu bagian pun dari lehernya. desah tyas semakin ekspresif kala itu, waktunya gue tarik baju tyas keatas. terlihat jelas toket besarnya keluar dari balik baju, sungguh bulat, putih, dengan puting sedikit cokelat. mata gue semakin terbelalak sementara tyas hanya bisa menutup mata sembari mendesah lembut. tangan gue memijit toket kiri tyas ditambah dengan kecupan lembut di dadanya. lidah gue bermain di pinggir puting tyas yang gede. sungguh nikmat, hangat, lembut, kenyal. dan aromanya sungguh khas.

    “emmhhh.. ahhhh.. ril, emmhhh”. gue jilat putingnya dan isap perlahan diselangi gigit lembut. tangan tyas semakin liar, tangan kanan menjambak rambut dan menekan kepalaku utk terus nempel di toketnya, sementara tangan kiri tyas yang dibawah badanku lebih liar lagi, tangan tyas mencari kontiku yang udah ngaceng dan berair. grekkkk kerasa tangan tyas mencengkram kontiku dibalik celana tipisku, remasan lembut liar diselingi usapan lembut terasa banget. kepala gue semakin panas, gue semakin bernafsu. dan dari situ gue yakin tyas udh profesional banget masalah exe an.

    tanpa jeda gue libas toket tyas, kiri kanan udah gue lumat semua tanpa sisa. desahan tyas semakin menjadi ketika lidah gue mulai bermain di perut, pinggang dan pusernya.

    “emmhhh.. owhhh..” hanya desahan itu yang terus menerus gue dengar.

    tangan kanan gue selipin diantar kedua paha tyas, dan dengan pasrah tyas membuka lebar kedua pahanya, seolah mempersilahkan tangan gue utk bermain di selangkangannya. gue usap lembut selangkangan mulusnya, dan gue usap meki dia dibalik celananya.

    “emhhh ril….” bisa terasa ada yang basah dibalik celana tyas, dia udah sange berat gue rasa.

    gue udh ga tahan, gue angkat baju tyas dan tyas pun bangun dari tidurnya, begitupun tyas yang menarik keatas baju gue. posisi kita udh gapake baju skarang, tyas menancapkan ciuman ke bibir gue, kita ciuman sambil duduk, tangan gue liar di punggung tyas. begitupun tyas. sontak kaget ketika tyas memutar dan mendorong badanku dan dia menindihku, tyas liar bermain di leherku, ughhhh sangat hangat lidahnya bergoyang lembut melumat tiap jengkal leherku. mahir banget gue pikir ni cewe, servisnya sangat luarbiasa. bagian yang bikin gue gabisa tahan yaitu ketika dia emut dan jilat puting gue, aarrgghhh.. skarang gue yang ga karuan, gue reflek mendesah dengan permainan lidah tyas di puting gue. geli, enak, hangat, semua bercampur, getarannya sampe ke lulut gue. terasa lemas banget badan gue. edan ni cewe.. parah gue pikir. tanpa henti tyas melumat seluruh badan gue, dan tangannya yang bersarang di konti gue, dia gesek gesekan seolah dia ngocok konti gue dibalik celana. nafsuku udah berada di puncak, kepala gue udah panas, tyas pun yang udah sange berat mulai menarik celana dan cd gue barengan, spertinya dia udh ga tahan pgn nikmatin konti gue. sreettt.. clana gue udah lepas dan konti gue yang udah berdiri hebat ngaceng maksimal di depan wajah tyas, konti gue ga gede.. standar asia, cuman kelebihannya konti gue bisa dibilang panjang, sekitar 2 kepalan tangan org dewasa.

    “ariell… panjang banget kontimu??!!” tyas kaget
    “panjang gitu? ahh biasa aja prasaan” nada gue yang berharap bakalan di oral sama tyas
    “ihh ini panjang banget tau” sambil mengusap konti gue
    “suka ga?” tanyaku
    “heeh suka” tersenyum ngocok pelan kontiku

    tyas mulai menjilati kontiku dengan lembut, dia melumat seluruh bagian kontiku, cairan pelicin yang keluar dari lubang konti pun dia lumat abis seakan dia adalah cewe yang haus. tyas mulai melumat biji pelirku, jilat dan memasukan ke mulutnya. owhhh parah, kaki gue gabisa diem ketika tyas lakuin hal itu. dia memasukan kontiku perlahan ke mulutnya sambil menatap nantang ke arahku. kepala kontiku terasa hangat masuk ke mulut tyas, rasa hangat melaju ke batang kontiku. tyas mulai mengoral kontiku perlahan, tak ayal dia mencoba memasukan semua batang kontiku ke mulut dia, tapi dia tak berhasil malah selalu tersedak karena kontiku udh mentok di pangkal tenggorokannya.
    kita sedikit tertawa ketika melihat usaha tyas ingin memasukan selurih bagian kontiku.

    “hahaa.. gabisa masuk semua” celoteh tyas sambil tertawa
    “jangan maksain yas, haha.. masukin lagi” jawabku ga tahan
    “emhhhh” desah tyas

    mulut tyas maju mundur diikuti tangan kanan mengocok pangkal kontiku, “clokk clokk clokkk..” ughhh parah, pinter banget tyas, dia oral sambil isep kenceng kontiku di mulutnya. serasa beneran ada di dalam meki pikir gue.
    cukup lama gue di oral, karna gue takut keluar duluan kan sayang nih. gue angkat kepala tyas dan menarik wajahnya utk gue cium, bodo amat gue pikir bibir dia bekas konti gue ini, gue lumat abis bibir dia sambil gue balikin badan dia untuk bergantian. tyas skr udah rebahan, karna gue tetep ga tahan liat toketnya, gue kembali isep putingnya secara bergantian sembari gue masukin jari gue ke balik celananya. basah banget jari gue ketika mengusap belahan meki dia, ga ada satu helai pun bulu jembut di meki dia, waduhh otak gue semakin brutal, udah kaya di film bokep nih cewenya ga ada jembut, gue mainin jari gue di belahan meki dia, gue teken klitorisnya yang membuat desahan tyas kembali terdengar “emhhh ril.. emhh.. buka aja celana aku sayang”. what?? sayang, gue ga bisa lupa momen pertama dia manggil gue sayang, bodo amat karna nafsu juga yang penting gue dipanggil sayang sama tyas.

    dengan semangat gue tarik celana tyas dibantu tyas yang mengangkat pantatnya biar gue gampang buka celana dia. dan iya gue liat meki tembem bersih dengan bulunya yang lembut, gue makin bernafsu gue mainin jari gue di luar lubang mekinya. astagaa ni meki bersih amat, pgn gue jilat abis ni meki. gue buka perlahan kaki tyas sehingga terlihat jelas lubang mekinya, dia udah ga perawan sih, tapi untuk ukuran cewe ga perawan, meki dia terlihat rapih dan lubangnya pun aga rapet. kebrutalan bibir gue mulai bermain di paha dan selangkangan tyas, nafas berat tyas semakin terdengar jelas ketika lidahku mendekati mekinya.

    “owhhh ril… geli ril…” tyas menggelinjang ga karuan. gue tempatin lidah gue di klitoris tyas sambil menghisap pelan. “AAWWWW…!!!” teriak tyas sambil bangun dan bergeser ke belakang.
    “kenapa yas?” gue kaget.
    “km apain meki aku ril?” duduk menekuk kaki menutupi meki
    “barusan aku jilat klitoris km yas, kenapa?” tanyaku cemas
    “ngga.. itu.. ko rasanya aneh ya?”
    “aneh knapa? emg kamu belum pernah dijilat itunya?”
    “belum, aku ga suka karna aku ga kuat ril.. paling dimasukin jari aja, kalo di isep gitu ga pernah”
    “cobain deh, tahan aja dan rasain” harap gue tegas
    “iya tapi aku gakuat ril, aku bisa teriak klo gitu”
    “udah sini aku bakalan pelan ko sayang” gue tarik kedua kaki tyas
    “pelan ya, kalo aku tiba tiba teriak tanggung jawab loh”
    “oke, udah sini cepet rebahan lagi”
    “ihh kamu sange yaaaa..” gurau tyas tersenyum
    “hahaa.. iyalah sange, udh di oral sama km juga, skr giliran aku yang puasin kamu”
    “yakin bisa puasin aku?
    “nantang nih?” gue semakin bernafsu
    “coba aja kalo bisa” kembali tyas merebahkan badan semoknya
    “toket km gede banget yas, ukuran brp sih?”
    “38, kadang pake BH ukuran 40 jg sih”

    what?? gila ni toket, bisa abis nafas klo tu toket nemplok di muka gue.

    “jadi pake jari aja nih?” tanyaku sambil ngarahin jari gue ke mekinya
    “iya jari aja, ga kuat klo dijilatin”

    jari tengah gue mulai bermain di belahan meki tyas, gue usap lembut bersama cairan meki tyas dan ludah gue yang bercampur. gue masukin perlahan ke dalem lubang kenikmatannya, hangat dan lembut banget.

    “owhhh rill” tangan tyas sambil mengusap puting gue

    birahi gue semakin naik, gue naikin kecepatan jari gue mengocok lubang meki tyas.

    “ahhh.. ahhh.. ahhh.. emhhh..”

    tyas kembali menggelinjang dengan menggelengkan kepala ke kiri dan kanan. gue tau apa yang dirasain tyas, pasti enak banget. gue mulai cari Gspot di mekinya dan gue teken halus kemudian kenceng.

    “emmhhh ril, apa itu.. enak banget yang.. mmmhhhh.. aaa.. aku jadi pgn pipis ril.. ahhh ariell.. emmhhh” tangan tyas meremas bahu gue.

    sepertinya tyas udh mulai mau orgasme. sontak gue memposisikan diri utk menjilat klitorisnya lagi, bodo amat dia mw teriak yang pasti gue udah gelap mata pengen puasin dia.
    gue jilat dan hisap kembali meki tyas sembari mengocok mekinya.

    “aahhh.. sayanggg.. ahhh.. ngga.. ahhh” erangan tyas yang ga kuat tapi nikmat, badannya seakan pgn mundur tapi tertahan karna rasa nikmat dari oral yang gue kasih.
    “AHHHH.. emmhhhh” teriakan keras tyas terdengar dan mulai pelan karena dia tutup mulut dengan tangannya
    “emhhh.. rill.. dikit lagiiiii”.. ahh.. ahhh.. aaahhhhhh..aaaaaa !!!!” tyas mengerang badan tyas bergetar dan pinggang dia naik turun, tangan kanannya menggenggam erat kepala gue. terasa ada cairan licin keluar dari lubang meki tyas, rasa aga asem dan khas di lidah gue, spertinya tyas udh orgasme. gue berenti oral meki tyas utk memberikan jeda biar tyas bisa narik nafas.
    “hhh..hh.hhh” suara nafas tyas kecapean
    “apa itu ril, rasanya enak banget, aku ampe lemess” tanya tyas dengan nada ngos ngosan
    “km keluar ya? enak?”
    “iya enak banget ril”

    tyas yang masih rebahan dengan kaki yang terbuka, gue mendekati bibir dia dengan posisi meniduri badan semoknya. gue cium pelan bibirnya, tangan tyas merangkul kepala gue. dengan pelan gue mulai gesekin konti gue di permukaan meki tyas. lidah tyas mulai kembali liar di mulut gue. gue arahin konti gue ke lubang meki tyas, gue masukin pelan kepala konti gue tiba tiba tyas melepaskan ciumannya.

    “ril mw ngapain?” kaget nada tyas
    “masukin” tegasku
    “jangan, aku takut hamil, ga ada kondom juga disini, kamu bawa kondom ga?” tanya tyas
    “ngga lah yas, ngapain jg aku bawa bawa kondom”
    “jangan deh, ntar aku hamil gimana?” tyas panik
    “yas, aku ga bakalan jail ko, percaya deh”
    “beneran? km ga bakalin keluar di dalem kan?”
    “ngga yas, suerr.. aku ga bakalan jail”

    rasa takut terhalang sama rasa nikmat, tyas kembali mencium gue, dan gue lanjutin usaha gue bwt masukin konti gue. semakin erat rangkulan tyas ketika kepala konti gue berada di mulut mekinya, gue pegang dan dorong perlahan konti gue masuk ke meki tyas, tyas mulai menggigit bibir gue ketika kepala konti gue udah masuk ke mekinya.

    “emhhhh.. pelan sayang.. oohhhh”
    setengah kontiku udh masuk ke meki tyas, terasa hangat, licin dan lembut banget dinding mekinya.
    “ahhhhh.. emhhhh” tangan tyas mulai mencakar pelan punggung gue

    gue berusaha bwt masukin semua konti gue, tapi ketika gue udah mw masuk semua tyas terkejut.

    “aaahhh ril ahhh.. udh mentok itu.. ahhhhhh”

    konti gue gabisa masuk semua dengan posisi missionari, al hasil gue mulai genjot pelan konti gue. masih kerasa remasan
    dinding meki tyas di konti gue, walopun licin karna tyas udh orgasme tapi kontiku terasa dipijat di dalam mekinya. nikmat banget

    “oohhhhh.. emmhhhh” desah tyas dengan nafas tersengal

    sungguh erat pelukan tyas, kepala gue ampe diem di leher dia dan gabisa gerak. gue cuman bisa kecup leher dia dan jilat leher dan telinganya. gue pacu lebih kenceng, dan kepala tyas semakin menggelinjang, sempat pula dia menggigit telingaku. nafsunya sangat besar, mata dia merem melek menikmati mekinya dihajar sama konti panjang gue.
    darah udh ampe ubun ubun, gue tambah greget, gue genjot meki tyas dengan kecepatan super, konti gue yang mentok terus nyelusup sampe bisa masuk semua.
    desahan tyas berubah menjadi erangan.

    “aaaaa.. rill.. aaaaa.. terus rilll.. emmhhh.. owhh” kedua tangan tyas memegang pantat gue, kakinya melingkar di pinggang gue

    tak sedikit gue denger jeritan kecil spt di bokep jepang, erangan seakan mw nangis. imajinasi gue ga berhenti disitu, gue rangkul badan tyas dengan kedua tangan gue, gue balikin badan dalam posisi konti masih menancap dalem di meki dia. skr posisi tyas ada diatas. gue bisa liat jelas wajah meringis engap karena konti gue masuk semua di mekinya.
    wajah cantik dengan rambut terurai ada di atas gue, wajah tyas yang sexy meringis keenakan sungguh membuat gue bangga kala itu. toket gede menggantung bulat berkeringat memacu adrenalin gue. perlahan tyas mengatur goyangan pinggulnya, karna pasti kerasa aga sakit konti panjangku menancap semua di mekinya. wajah meringis kesakitan tapi berujung enak terlihat dari matanya, kita saling bertatapan mata dan tak ayal tyas melempar senyum manis seakan mengatakan

    “aku sungguh menikmati ini, terima kasih ariel”

    tyas mempercepat goyangan pinggulnya, dan ahhh konti gue serasa makin diremas di dalam. gerakan maju mundurnya sangat profesional, gue gamau momen ini habis, gue pengen terus melihat momen ini. rasa nikmat di sekujur tubuh, lutut gue terasa lemas ketika tyas bermain di atas.

    “eee eemmhh.. ee emmhh.. ahhhh” erang tyas

    gue menikmati goyangan tyas dengan meremas kedua payudaranya diikuti tangan tyas yang menggenggam jemari gue di toketnya.

    tyas mw orgasme, dan gue membantu laju konti gue seiring goyangannya. terdengar erangan kenceng dipinggir telinga gue. gue percepatan genjotan dan erangan tyas smakin menjadi.

    “arrgghhh.. ahhhh.. ahh haaa.. rill… emhhhh”
    “aaaaaaaaa… ” tyas melonggarkan pelukannya, tanda dia sudah mencapai orgasme
    serentak gue berhenti, kasian tyas membutuhkan space untik bernafas dan menikmati kenikmatan yang dia dapatkan.

    tyas berbisik dengan lemas “ril.. enak banget sayang” lalu mengecup pipi kiri gue

    “kamu belum keluar kan ril?” tanya tyas
    “belum yas”
    “kuat banget km, lama loh kita ini”

    entah ada angin apa malem itu, badan gue terasa fit banget, sudah stengah jam gue exe tyas tapi gue blom mencapai orgasme. emg waktu itu gue rajin olahraga sih, mungkin gara” itu kali ya jadi badan gue kuat.

    “yokk lanjut yas”
    “heeh”
    “nungging ya”

    tyas pun membalikan badannya dan nungging depan gue, wuuhhh pantat bulatnya terlihat menggairahkan, dan meki yang merah merekah memanggil konti gue bwt nyelem lagi disana.

    dengan hati hati gue arahin konti gue masuk ke mekinya, blessss.. posisi DS bisa membuat semua kontiku masuk dengan gampang.

    gue mulai genjotannya sambil memegang kedua pinggul tyas. erangan kmbali terdengar, kepala tyas kembali menggelinjang.

    “plokkk plokkk plokk” suara paha gue menabrak pantat tyas yang bulat

    keringet gue udh bercucuran, begitupun tyas, badannya menjadi licin membuat suasana lebih hot. sungguh nikmat banget malam itu, tangan gue gabisa diem mengusap seluruh bagian belakang badan tyas, sungguh mulus banget kulitnya, greget banget seolah olah gue pengen memiliki tiap inci bagian tubuhnya.

    pinggang gue kerasa panas banget karna pegel, keringet udah ga karuan, sial gue pikir ko lama banget orgasmenya. nafsu ga berimbang sama stamina nih.

    gue percepat laju genjotan, “plokk plokk plakk plakkk” tyas yang mulai ngerasa lemas hanua bisa nungging dengan kepala berada di bantal. wajah dia yang cantik hanya bisa merem dengan mulut menganga sambil mengeluarkan desahan sexy.
    udah sejam lebih gue hajar meki tyas, tapi tak kunjung mencapai orgasme. gue gatau tyas udh orgasme berapa kali. ini real, gatau knapa tiba” stamina gue kuat banget. gue lemes tapi ngerasa bangga bisa ngalahin tyas.

    posisi skr tyas udh terkulai lemas tanpa perlawanan, dengan gaua missionary gue terus genjot meki tyas. tyas hanya bisa merem dan lemas.

    “ril, cepet keluarin, lama banget.. aku udh lemess banget, ampun ril” keluh tyas dengan muka lemasnya
    “iya sayang.. bentar lagi”

    seprai kasur udh basah karna keringet kita, berbagai gaya udh kita cobain. tyas kalah telak malam ini.
    akhirnya setelah hampir 2 jam gue ngerasa gatel di kepala konti gue, ugghhh akhirnua gue mw orgasme. gue buka lebar kaki tyas dan gue genjot kenceng sekenceng kencengnya. gue pegang kedua pinggung tyas.

    “plakk plakkk plakkk plakkk”
    “ahhh.. ahhh. ahhh..” wajah tyas ga beraturan, dia hanya bisa merem dan balik balik kepala ga karuan
    “aku mau keluar yas!!!”
    “cepet sayang!!! keluarin!!! aku gakuat!!!” rintih tyas
    semakin cepat ku genjot.. ughhhh rasa gatel di kepala konti semakin kerasa banget.
    “keluarin di luar ril.. ouhhh.. mmhhh”
    “ahhhh.. yas.. emhhh.. ” racaukuuu

    kerasa banget getaran dari otak dan lutut berakhir di kepala kontiku, segera gue cabut konti dan gue arahin di toket tyas. dengan reflek tyas pegang konti dan ngocok kenceng. dia udah tau apa yang harus dilakuin.

    “clokkk clokk clokk clokkkk”
    “ahhh yas.. ahhhh..terus yastt!!!”
    “keluarin sayang cepettt…” tangan tyas ngocok dan meremas lembut bijiku
    “CROOTTT..CROTTT..CROTTTT”

    entah berapa miliar sel sperma yang gue keluarin di toket tyas, seluruh toket tyas terlapisi sperma gue, begitupun dagu dan mulut dia kena semprot cairan kejantanan gue.

    ahhh akhirnya gue bisa mencapai orgasme, gue terlentang dipinggir tyas dengan lemas. kita berdua hanya bisa melihat keatas dan mencoba mengatur nafas. sungguh malam yang panas dan basah.
    sekitar 2 menit kita mengatur nafas tanpa berbicara.

    “kamu kalah yas”
    “hh.. hhh.. hhh.. kamu curang, kamu pake obat ya?” sindir tyas
    “yeehhh.. obat apaan, mana ada pikiran pake obat, kepikiran bwt ML sama km aja ga ada”
    “iya juga sih.. tapi ko bisa lama banget ya, aku baru ML selama ini, ampe lemes banget tubuhku”
    “puas kan?” tanya gue
    “iya puas banget.. tapi lemes.. meki aku ampe lecet nih, perih ril, jahat kamu” nada manja tyas sambil nyubit konti gue
    “haha.. duhh aku bisa tidur nyenyak nih”
    “hehh.. bersih bersih dulu lah” sentak tyas
    “iya iya tuan putriiiii…”

    tyas bangun dan berjalan ke kamar mandi, gue bisa liat dia berjalan lemas dengan kaki aga ngangkang. hahaa pasti dia telak banget ML sama gue.

    dan akhirnya malam yang indah bersama cewe glamour udh gue rasain, gue merasa bersyukur dan bangga banget.
    kita pun tidur berpelukan mesra layaknya suami istri.

    esoknya kita bangun kesiangan, dan its oke emg hari ini kita ga ada kegiatan. gue membuka mata dan gue liat tyas udh duduk di depan tv sambil ngeroko. dengan rbut terikat keatas membuat dia terlihat makin cakep.

    “hey udah bangun?” tanya tyas
    darisitu gue ngrasa malu dan kaku, anjirrr apa yang terjadi.. gue serasa ga prcaya gue ada di kamar tyas.
    “duhhh.. lemes banget badan aku yas” gue bangun dan duduk
    “iyalahh lemes.. 2 jam lebih km nyiksa aku” ledek tyas
    “ihhh.. nyiksa apa coba, haha”
    “taukk ahh.. perih nih aku” dengan muka cemberutnya
    “tapi enak kan? lagi?” iseng gue bcanda
    “ya ampunn rill.. ini aja masih lecet, masi tega kamu nidurin aku?” sambil melotot tapi dihiasi senyuman
    “ya kali aja masi nantang” haha
    “ogahh.. kalah aku sama kamu” ketus tyas

    gue pun beranjak ke toilet untuk cuci muka dan merapikan mukaku yang kusut akibat bangun tidur. malu dong masa gue kusut dihadapan tyas.
    keluar dari toilet tyas langsung menyapa.

    “makan yuk, aku udh masak”

    busettt gue pikir, udh gue dapet ngentot, skr dibikinin sarapan, bahagia banget gue.. haha. dan kita lanjut sarapan lalu ngobrol sejenak. setelah aga siang gue pulang kerumah dengan rasa bangga.
    dan tau ga? darisitu gue fix pacaran sama dia, kerasa percaya ga percaya gue bisa macarin dia. tapi berita buruknya gue hanya bertahan 1 bulan jadi pacar dia. tapiiiii ada kabar baiknya juga.. kita putus ga sekedar putus, kita sering berhubungan dan ketemu juga. malah bisa dibilang TTM.

  • Cerita Sex Aku Di Perkosa Adik Iparku Sendiri Di Hotel – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Aku Di Perkosa Adik Iparku Sendiri Di Hotel – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    2324 views

    Perawanku – Cerita Sex yang ingin coba aku bagi dalam cerita sex kali ini adalah cerita dewasa yang cukup memilukan hati. Aku telah diperkosa oleh adik iparku sendiri. Sebelum memulai cerita seks ini aku perkenalkan namaku Namaku Elly. Usiaku kini 23 tahun. Aku sudah menikah dengan Albert yang kini berusia 25 tahun, dan kini aku adalah seorang ibu muda, dengan seorang anak yang baru berusia 6 bulan yang kami beri nama Michael. Sejak pacaran dan menikah sampai sekarang ini, suamiku sering berpergian ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Aku sendiri adalah wanita yang mendapat karunia wajah yang cantik, itu menurut teman temanku. Aku memiliki rambut yang lurus dan panjang sampai sebahu. Tubuhku sudah kembali ramping dan indah seperti pujian suamiku, meskipun aku baru melahirkan setengah tahun yang lalu. Mungkin hal itu karena aku rajin mengikuti senam aerobik, dan memang aku menjaga pola makan supaya badanku tak semakin melar, dan aku sedikit banyak bangga karenanya.

    Aku sendiri tidak bekerja di luar, karena suamiku memiliki penghasilan yang lebih dari cukup. Dan memang suamiku ingin aku menjadi ibu rumah tangga yang baik saja, dengan tinggal di rumah untuk merawat anak kami dengan baik. Kehidupan seks kami juga luar biasa. Suamiku adalah lelaki perkasa di tempat tidur, dan aku sungguh menikmati kehidupanku ini. Kini kalau suamiku tak ada di rumah, aku hanya tinggal dengan anakku, juga pembantu kami yang kupanggil bi Iyem, satpam kami yang bernama Adrian, tukang kebun kami yang bernama pak Jono, dan juga sopir kami yang bernama Sarman. Di usiaku yang sekarang ini, nafsu seksku tentu sedang tinggi tingginya. Ditinggal oleh suamiku bekerja seperti ini, kadang aku amat merindukan bermain cinta dengannya. Demikian sekilas tentang keadaanku dan keluargaku.

    Hari itu hari Sabtu. Siang hari itu, aku menerima telepon dan aku terkejut dengan berita yang aneh. Aku mendapatkan hadiah sebuah mobil lewat undian sebuah produk. Dan seingatku, aku tak pernah mengikuti prosedur undian itu.

    Dengan santai aku berkata, “Pak, terserah bapak mau bicara apa, tapi saya tak akan pernah mentransfer uang apapun untuk pajak atau yang lain”.

    Dan orang itu berkata panjang lebar, “Ibu Elly, kami memaklumi kalau ibu berhati hati, memang kami tak menyuruh ibu membayar apapun, karena pajak hadiah ditanggung oleh kami. Kami akan mengantarkan hadiah itu langsung ke rumah ibu sekitar satu jam lagi. Gratis bu, tak dipungut biaya apapun. Ibu boleh mencobanya, kalau ternyata mobilnya bermasalah kami langsung mengganti dengan yang baru. Tapi itu tidak akan terjadi bu, karena kami sudah melakukan More…pemeriksaan terhadap mobil ini”.

    Mendengar hal ini, aku hanya bisa mengangkat bahu dan berkata, “Ya terserah bapak. Maaf, dengan bapak siapa saya bicara?”.

    Dan orang itu menjawab, “Dengan bapak Anto. Ibu bisa menghubungi kantor kami di nomer *** ****. Aku mengiyakan saja dan kemudian memutus pembicaraan. Dalam hati aku merasa aneh, tapi ya kalau gratis, apa salahnya?

    Kulihat sekarang ini adalah jam 1 siang. Aku baru selesai makan siang, maka aku menyusui dan menidurkan anakku, supaya nanti ketika aku pergi aku tak begitu kuatir. Dan memang satu jam kemudian aku mendengar bel rumahku berbunyi, dan ketika aku keluar, aku melihat sebuah mobil Kijang Innova keluaran terbaru, dengan cat yang mulus mengkilap. Di belakangnya berhenti sebuah mobil Kijang pickup. Mungkin untuk mereka yang mengantar mobilku ini pulang nanti. Aku agak terkejut juga, berarti mungkin ini benar. Seseorang turun dari mobil pickup itu, sementara orang yang sudah berdiri di depan pintu rumah menyapaku.

    “Bu Elly? Saya Anto”, kata orang yang bernama Anto itu sambil mengulurkan tangannya.

    Aku menjabat tangannya dengan sedikit perasaan ragu dan menjawab “Elly”.

    Orang itu memang penampilannya rapi. Tapi wajahnya agak seram. Aku mencoba membuang semua pikiran negatif. Dan kemudian orang satunya yang berpenampilan biasa biasa, yang juga berwajah biasa biasa, menjabat tanganku.

    “Seto”, katanya.

    Aku menjabat tangannya dan menjawab, “Elly”.

    Setelah acara kenalan yang menurutku hanya formalitas ini, kami duduk di teras rumah, dan aku disodori formulir yang aku baca di bagian awal dan akhir saja, untuk memastikan aku tak keluar uang apapun untuk mendapatkan hadiah ini. Lalu Anto menawarkan padaku untuk mencoba mobil itu, karena nantinya aku harus mengisi formulir untuk memberikan ‘penilaian’ tentang kondisi mobil itu, sebelum acara serah terima surat kendaraan dilakukan. Aku setuju saja, dan aku menerima kunci mobil itu dari Anto. Aku masuk ke dalam mobil itu, joknya masih terbungkus plastik semua, baunya khas mobil baru. Dan dengan didampingi mereka, aku mulai mencoba mobil itu.

    Semua baik baik saja, sampai tiba tiba di sebuah gang yang sepi di dekat rumahku, Anto yang duduk di kursi depan menarik handbrake. Aku terkejut sekali, sampai lupa menginjak pedal kopling dan mesin mobil ini mati. Aku menoleh kepada Anto, tapi belum sempat aku bertanya, dari belakang aku dibekap, oleh Seto tentunya. Kurasakan bau yang menyengat, dan tak lama kemudian semuanya gelap…

    Perlahan aku mulai sadar. Aku mengeluh perlahan, ketika aku tak bisa menggerakkan kedua tanganku yang terentang. Sakit rasanya. Aku mulai mencoba mengerti apa yang terjadi pada diriku. Ternyata kedua pergelangan tanganku yang terentang ini, terikat erat pada semacam pilar di ruangan ini. Sedangkan aku sendiri terbaring di atas matras. Yang membuatku tercekat, aku sudah tak mengenakan apa apa lagi selain bra dan celana dalamku. Kakiku memang masih bebas, tapi apa artinya? Aku kini sudah tak berdaya dengan tangan yang terpasung seperti ini. Aku memejamkan mata dan menggigit bibir, tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padaku. Aku mulai menyesali kebodohanku tadi, mengapa bisa terjebak dengan iming iming hadiah itu.

    Tiba tiba pintu ruangan ini terbuka, lalu masuk seseorang yang membuatku ternganga tak percaya pada pengelihatanku.

    “Arman?”, seruku tak percaya.

    “Halo Elly… lama tak jumpa… bagaimana kabarnya?”, kata Arman dengan senyum yang membuat hatiku dingin seperti disiram air es. Aku takut sekali.

    “Arman… apa yang kamu lakukan ini? Ingat Arman, aku ini kakak iparmu. Tolong lepaskan aku..”, aku mencoba menyadarkan Arman walaupun aku tahu ini mungkin sekali merupakan hal yang sia sia.

    Aku tahu Arman memang menginginkan aku sejak aku dikenalkan Albert pada keluarganya. Arman adalah adik Albert yang kini berusia 24 tahun. Wajahnya memang cukup tampan. Dan sejak ia mengenalku, ia sudah beberapa kali mencoba mendekatiku, tapi tentu saja aku tak memberinya respon. Suatu hari ketika aku berkunjung ke rumah Albert saat masih tinggal bersama keluarganya, Arman nekat dan nyaris berhasil memperkosaku. Untung saja waktu itu kepulangan Albert menyelamatkanku, dan sejak itu aku tahu aku harus menghindari orang ini. Tapi kini aku sudah jatuh ke dalam tangannya. Tanpa sadar aku bergidik ngeri.

    Mendengar kata kataku, Arman hanya tertawa. Ia mendekatiku dan ‘krek…’. Arman merenggut braku hingga tali talinya putus.

    “Aduh…”, aku mengeluh perlahan, sedikit sakit rasanya pada bagian tubuhku yang tertekan tali braku saat ditarik Arman. Aku memejamkan mataku erat erat, malu sekali rasanya payudaraku terlihat oleh laki laki lain selain suamiku.

    “Elly… Elly… kamu kira aku segoblok itu sudah bersusah payah menjebakmu seperti ini dan melepaskan kamu begitu saja? Hahaha… aku belum gila, Elly”, kata Arman sambil menyeringai mengerikan saat aku menatapnya dengan marah bercampur takut.

    “Arman, kamu gila… lepaskan aku!!”, aku mulai panik dan membentaknya.

    ‘breeet… breeet’… seruanku dijawab Arman dengan merenggut robek celana dalamku, hingga kini aku sudah telanjang bulat.

    Aku menjerit kecil. Kini aku hanya bisa memandangi Arman dengan jantung berdebar ketika ia mulai melucuti pakaiannya sendiri. Sesekali aku mencoba meronta, tapi tak ada hasil sama sekali karena aku benar benar tak bisa menggerakkan kedua tanganku yang terentang lebar. Aku tahu, nasib yang buruk akan segera menimpaku, dan perlahan aku mulai menangis.

    “Lho sayang… kok nangis sih? Tenang saja, sebentar lagi kamu juga akan keenakan kok”, ejek Arman yang sudah bersiap di selangkanganku.

    Aku semakin ngeri, dengan suara gemetar aku memohon, “Arman, tolong jangan begini… aku ini kakakmu… kakak iparmu… masa kamu tega berbuat begini padaku…”.

    Arman tertawa sinis dan berkata dengan suara kasar, “Diam Elly. Kamu telah merendahkanku. Kamu selalu menolakku. Kamu tak pernah menghargai aku”.

    Aku sadar kalau aku memang selalu menjaga jarak dengannya, karena aku merasa ia berbahaya. Dan kini memang semuanya terbukti kan?

    Dan sambil merenggangkan kedua pahaku lebar lebar, Arman melanjutkan, “Kamu tak pernah mau aku ajak pergi makan berdua. Kamu anggap aku tak layak pergi berdampingan bersamamu. Benar benar perempuan sombong! Karena itu sekarang rasakan pembalasanku!”.

    Berkata begitu, Arman menempelkan kepala penisnya ke bibir liang vaginaku. Aku makin panik dan berusaha menggerakkan pinggulku menghindari hunjaman penis Arman saat Arman mulai memajukan pinggulnya.

    Berhasil, penis itu tak sampai melesak masuk menerobos liang vaginaku.

    Tapi rupanya Arman marah dengan perbuatanku, ia menamparku dengan keras, hingga aku mengaduh dan menangis kesakitan.

    “Jangan coba coba lagi Elly, atau nanti kamu akan kuberikan pada dua kacungku di depan itu!”, ancam Arman dengan suara yang mengerikan.

    Mendengar hal itu aku langsung melemas dan pasrah, di sela tangisanku, aku hanya bisa mengumpat getir, “Kamu gila.. Arman”.

    Arman hanya tertawa dan aku hanya bisa membiarkan kepala penis Arman menemukan bibir liang vaginaku, dan sesaat kemudian aku mengerang kesakitan saat liang vaginaku tertembus oleh batang penis Arman.

    Aku mulai menangis saat Arman memompa liang vaginaku. Walaupun aku sudah pernah melahirkan, tapi berkat senam dan ramuan khusus, liang vaginaku kembali menyempit. Konsekuensinya, kini aku merasa kesakitan karena liang vaginaku dipompa penis Arman yang cukup besar.

    Aku memalingkan mukaku supaya tak melihat wajah Arman yang kesenangan karena berhasil mendapatkan tubuhku. Ia meremasi kedua payudaraku dengan gemas, seolah melampiaskan segala nafsunya yang tak kesampaian untuk menikmati tubuhku sejak dulu. Sedangkan aku sendiri hanya bisa terus menggeliat kesakitan.

    “Elly… punyamu enaak”, erang Arman dengan tatapan penuh gairah padaku sambil terus menggenjotku.

    Ingin aku menamparnya, tapi kedua tanganku tak bisa kugerakkan. Aku hanya bisa merelakan liang vaginaku ditembusi oleh laki laki yang harusnya memperlakukanku sebagai kakak iparnya. Tapi Arman memang sudah kesetanan, ia mulai mencumbuiku dengan sangat bernafsu. Bibirku dilumatnya dengan ganas, sementara kedua payudaraku diremasnya dengan kuat.

    Perlahan aku mulai terangsang karena perbuatan adik iparku ini, rasa terhina karena diperkosa mulai berganti dengan rasa nikmat yang melanda selangkanganku dan juga sekujur tubuhku.

    Rupanya vaginaku sudah mampu beradaptasi dengan ukuran penis Arman yang tadinya terasa begitu menyesakkan. Aku malu sekali, ingin rasanya aku menyembunyikan wajahku yang terasa panas ini. Tapi tentu saja hal itu tak bisa kulakukan, maka aku hanya bisa pasrah namun mati matian berusaha menahan diri supaya tak kelihatan menikmati hal ini.

    Tapi sayangnya, tubuhku terlalu jujur, perlahan tanpa mampu kucegah, pinggangku terangkat saat aku menahan nikmat yang luar biasa. Kurasakan penis Arman melesak begitu dalam ketika ia menghunjamkan kuat kuat kedalam liang vaginaku, membuatku menggeliat keenakan seperti cacing kepanasan.

    Arman tertawa sinis dan mulai menghinaku, “Ternyata kamu menikmati punyaku juga Elly. Makanya kamu jadi cewek jangan sok suci.. hahaha.. kalau sudah kemasukan gini, toh kamu keenakan juga..”.

    Sambil menghinaku Arman terus memompa liang vaginaku dengan gencar. Aku sudah tak tahu apa yang harus kulakukan, karena perlahan tapi pasti aku sedang diantar menuju orgasme.

    “Arman… oohh… sudaah… ampuuun… ennngghh”, aku mulai mengerang dan melenguh.

    “Kenapa El? Enak ya?”, ejek Arman dan malah makin gencar memompa liang vaginaku.

    “Kamu…”, aku tak bisa menjawab, tubuhku menggigil, selangkanganku serasa akan meledak.

    Aku terus mengerang dan melenguh, sampai akhirnya aku mengejang hebat, kepalaku terlempar ke sana kemari karena aku menggelepar dihantam badai orgasme ini.

    “Oh Elly… kamu cantik sekali kalau seperti ini”, desah Arman yang tak menunjukkan tanda tanda akan orgasme, sementara aku sendiri sedang menderita dalam kenikmatan orgasme yang berkepanjangan ini, dan nikmatnya selangkanganku yang terus dipompa Arman semakin menjadi jadi.

    Namun rasa ngilu mulai menghampiri liang vaginaku, dan makin lama rasa itu makin menderaku.

    Aku sudah tak kuat lagi, dan berteriak “Armaaan… aaaaah… hentikaaaan… amppuuuun…”.

    Ia benar benar perkasa seperti suamiku, hanya saja suamiku lebih pengertian, membiarkanku beristirahat kala aku mengalami orgasme. Sedangkan Arman sama sekali tak memperdulikan keadaanku, ia hanya mencari kenikmatannya sendiri.

    Aku makin menderita dalam kenikmatan ini, rasanya tulang tulang di dalam tubuhku terlepas semua dari sambungannya, sementara tubuhku meliuk liuk dan menggelepar terhempas badai orgasme yang terus menerus ini. Entah cairan cintaku sudah membanjir berapa banyak, aku mulai pening dan tak mampu mengerang lagi. Dengan kejam Arman terus memompa liang vaginaku, sampai akhirnya ruangan ini rasanya berputar, semuanya gelap…

    Ketika aku mulai sadar, kurasakan kedua puting susuku seperti ada yang mengulum dan menyedoti dengan kuat. Vaginaku masih terasa sedikit sakit, tapi sudah tak terasa sesak, artinya Arman sudah selesai memompa liang vaginaku. Becek sekali rasanya liang vaginaku, aku tahu si brengsek itu pasti mengeluarkan spermanya di dalam sana. Untungnya aku sedang dalam masa tidak subur, jadi aku tak perlu takut hamil. Tapi kini aku sadar, ada dua orang sekaligus yang mengulum puting susuku, yang berarti ada orang lain selain Arman. Dan aku mulai mengenali mereka berdua ini, bahkan Arman bukan salah satu dari mereka. Ternyata Anto dan Seto yang kini sedang menyusu pada kedua payudaraku.

    “Jangaaaan”, aku menjerit ngeri.

    Aku tak bisa berbuat apa apa, kedua tanganku yang terentang ini tak bisa kugerakkan sedikitpun, sementara mereka berdua dengan santai meneruskan perbuatan mereka.

    “Lepaskan aku… Armaaan kamu bajingaaaan…”, aku mengumpat dalam keputus asaanku.

    Dan kudengar tawa yang membuatku bergidik ngeri. Kemudian aku melihat Arman masuk, dan memegang handycam.

    Ia merekamku! Merekamku yang sedang pasrah tak berdaya saat kedua puting susuku disedot oleh kedua kacungnya.

    “Biadab kamu Arman… Kamu kan sudah janji..”, aku langsung terdiam.

    Bajingan ini memang tak pernah berjanji apa apa.

    “Kenapa Elly? Kok diam? Apa aku salah? Aku memang tak pernah berjanji kalau kamu tak akan kuberikan pada mereka bukan? Hahahaha…”, Arman tertawa dengan memuakkan.

    Aku hanya bisa menangis. Habislah aku, aku sudah dalam cengkeraman Arman sepenuhnya. Entah seperti apa nasibku di hari hari berikutnya. Sementara kedua kacung Arman ini tertawa senang, dan mereka kembali mencucup kedua puting susuku dengan bersemangat, tak lupa tentunya mereka juga meremasi payudaraku.

    Beberapa saat kemudian, dengan gaya yang menjijikkan, mereka membuka mulut mereka yang penuh air susuku ke arah kamera.

    “Wow.. air susu Elly”, kata Arman sambil menyorot mulut kedua kacungnya.

    Kedua orang itu menelan air susuku.

    “Bagaimana rasanya Anto? Seto? Enak tidak?”, tanya Arman penasaran.

    “Gurih abis bos, susu amoy gini”, kata Anto.

    “Lebih enak dari susu sapi”, sambung Seto.

    Kurang ajar sekali mereka ini. Dan Arman kelihatannya penasaran, lalu ia menaruh handycamnya.

    “Aku juga ingin coba”, gumannya.

    Ia mendekati payudaraku, dan setelah memberikan beberapa jilatan yang membuatku mau tak mau merasa terangsang, tiba tiba ia sudah mencucup puting susuku. Beberapa sedotan dilakukannya, sementara aku hanya bisa mendesah keenakan.

    “Bos, susunya diremas”, kata Anto.

    “Bisa tambah banyak keluarnya”, Seto menyambung.

    Maka Arman menyedot puting susuku sambil meremasi payudaraku. Aku sedikit menggeliat kesakitan. Ia terus melakukannya sampai puas, sementara aku hanya bisa menggigil menahan nikmat.

    “Susu yang enak, Elly”, kata Arman dengan nada puas.

    “Nanti aku minta lagi”, sambungnya sambil kembali mengambil handycamnya.

    “Lanjutkan”, perintah Arman pada Anto dan Seto.

    Mereka berdua yang sudah melepaskan semua baju mereka hingga telanjang bulat selagi menunggu Arman mencicipi susuku. Mereka tentu saja kembali mengerubutiku dengan kesenangan.

    Handycam itu kembali merekamku. Kini Anto dan Seto berniat memuaskan diri mereka sendiri, bisa terlihat dari mereka mengocok penis mereka sendiri untuk makin menegangkan ereksi penis mereka. Melihat ukuran penis mereka berdua ini, aku makin ngeri. Baik panjang maupun diameternya semuanya lebih dari ukuran milik Arman.

    Aku berusaha mematikan semua perasaanku. Kini aku digumuli oleh dua kacung si Arman. Kedua pahaku dilebarkan oleh Anto. Aku masih terlalu lemas untuk mencoba menghindar.

    Akibatnya, bless… kembali liang vaginaku tertusuk oleh sebatang penis.

    Cerita Dewasa -Aku menggigit bibir, menahan segala perasaan malu dan sakit ini, air mataku terus mengalir. Handycam yang dipegang Arman terus menyorot ke arah vaginaku yang sedang dipompa oleh Anto. Mukaku rasanya panas sekali membayangkan aku sedang membintangi film porno amatir ini.

    Perlahan Arman mengarahkan sorotan handycamnya ke arah tubuhku bagian atas, dan sempat berhenti agak lama ketika menyorot kedua payudaraku. Seto sempat meremasi kedua payudaraku dan semua itu disorot oleh Arman. Sementara itu tubuhku harus terus menggeliat karena menerima rangsangan dua orang sekaligus. Liang vaginaku dipompa dengan gencar oleh Anto sementara kedua payudaraku diremas dengan gemas oleh Seto. Aku sendiri antara mendesah keenakan dan merintih kesakitan. Liang vaginaku masih belum beradaptasi sepenuhnya dengan ukuran penis Anto, tapi sudah mendatangkan nikmat yang membuatku serasa melayang.

    “Sudah… hentikaaan…”, aku mengerang dan mulai menggelepar, karena kurasakan liang vaginaku kembali ngilu dipompa segencar itu.

    Anto sendiri kelihatannya sudah akan berejakulasi, tubuhnya bergetar hebat saat menggenjotku, dan tak lama kemudian ia mengerang panjang dan meneriakkan namaku, “Ooouuuhhh… bu Ellyyy…”.

    Cerita Bokep – Tubuhnya berkelojotan di atasku, dan kurasakan penisnya berdenyut keras di dalam sana. Beberapa semprotan lahar panas kurasakan membasahi liang vaginaku, dan Arman segera bergerak ke tempat yang bagus untuk menyorotan handycamnya ke arah vaginaku. Kurasakan Anto mencabut penisnya perlahan, dan Arman terus menyorot daerah vaginaku, aku malu sekali. Gejolak yang sempat membuatku hampir orgasme kini mereda. Tapi gilanya, si Seto langsung bersiap menggilirku, ia sudah mengarahkan penisnya ke liang vaginaku. Aku memang tak bisa apa apa, hanya bisa menggigit bibir saat kurasakan liang vaginaku tertusuk oleh penisnya Seto. Hanya saja sekarang rasanya tak begitu sakit, dan setelah beberapa genjotan, Arman menyorot mukaku, karena si Anto sudah menempelkan penisnya ke mulutku.

    “Elly, ayo kulum”, perintah Arman.

    Aku hanya bisa menurut, toh aku sudah tak ada gunanya lagi membantah. Daripada aku mendapat tamparan atau siksaan lain, aku lebih baik mengikuti kemauan bedebah ini. Perlahan kubuka mulutku, dan penis Anto yang masih belepotan sperma dan cairan cintaku, menerjang masuk ke dalam mulutku. Rasanya amis dan asin, membuatku ingin muntah. Tapi aku berusaha tak memikirkan rasanya, dan ingin cepat menyelesaikan tugasku. Aku terus mengulum penis si Anto ini, kubersihkan cepat cepat dan kutelan semua sisa spermanya dan cairan cintaku sendiri. Anto yang sudah tak tahan mengerang panjang dan menarik penisnya dari mulutku.

    Penderitaanku belum selesai.

    “Buka mulutmu, Elly”, perintah Arman sambil menyorotkan handycamnya ke mulutku.

    “Perlahan!”, perintahnya lagi.

    Aku mulai membuka mulutku perlahan, dan Arman terus menyorot mulutku.

    “Bagus”, katanya dengan puas.

    Aku malu sekali, pasti aku terlihat layaknya seorang wanita nakal dalam handycam itu. Tak lama kemudian tubuhku terguncang guncang, rupanya Seto mulai menikmati liang vaginaku. Dengan bersemangat ia menggenjot liang vaginaku, sementara aku tak tahu bagaimana sekarang raut wajahku saat menahan malu dan nikmat dan disorot oleh handycam milik Arman. Panas sekali wajahku rasanya, untungya Arman kemudian ganti menyorot tubuhku bagian bawah. Kini aku tinggal memusatkan perhatianku pada si Seto.

    Diam diam aku melakukan gerakan kegel, sejenis gerakan menahan buang air kecil, sambil pura pura merintih keenakan, supaya Seto cepat ejakulasi dan semua ini segera berakhir. Sesuai harapanku, tak lama kemudian Seto yang terangsang habis habisan, melolong lolong dan meneriakkan namaku.

    “Aaaaarrrrghh… Bu Ellyyyyy…”, jeritnya dan kemudian ia menarik penisnya, tentu saja setelah di dalam sana liang vaginaku dibasahi lahar panasnya.

    Arman dengan giat terus menyorot liang vaginaku yang tentunya tak mampu menampung sperma kedua pemerkosaku ini. Jari tangannya ditusukkan ke liang vaginaku mengorek sisa sperma Anto dan Seto. Seto sendiri segera beranjak ke arah wajahku, aku tahu ia hendak menagih jatah servis oral dariku.

    Seperti tadi, Arman yang buru buru mengarahkan handycamnya ke wajahku memberikan instruksi instruksi padaku hingga membuatku kembali terlihat seperti pelacur. Tapi aku hanya bisa menurutinya, walaupun dengan hati pedih.

    Setelah semua selesai, Arman mematikan handycamnya.

    “Arman, sudah, lepaskan aku… please”, aku memohon.

    Tapi Arman tak menjawab, malah ia dengan bernafsu melihat ke arah payudaraku.

    Aku langsung tersadar dan teringat keinginan Arman tadi, yaitu ingin merasakan air susuku lagi.

    Dan memang benar, Arman segera melumat puting susuku, ia menyedot susuku sepuas puasnya. Aku mendesah keenakan, memang rasanya nikmat sekaligus amat merangsangku. Aku menggigit bibir, apalagi Anto ikutan melakukan hal yang sama pada puting susuku yang sebelah. Kini dua orang dewasa menyusu pada kedua payudaraku seperti bayi, dan aku hanya bisa memejamkan mata berharap mereka segera selesai.

    Aku melamunkan suamiku… maafkan aku Albert… aku bahkan sempat orgasme ketika diperkosa adikmu…

    Tak terasa sampai si Seto juga sudah puas menyusu, dan akhirnya ikatanku dilepaskan. Lega rasanya, walaupun terasa sakit pada bekas ikatan di kedua pergelangan tanganku. Aku duduk dan mengurut kedua pergelangan tanganku, dan aku memandang Arman dengan benci sekaligus takut, karena dengan rekaman handycam itu, ia pasti akan menggunakannya untuk mengancamku agar menurutinya kelak kalau ia menginginkan tubuhku lagi. Ia tersenyum dengan penuh kemenangan ketika bersama dua kacungnya melihat hasil rekaman film porno tadi.

    Aku malu sekali, dan aku mencari cari pakaian luarku yang ternyata berserakan tak jauh dari tempat aku digangbang tadi.

    “Sudah puas kalian?”, bentakku dengan jengkel dan menahan tangis.

    Aku memakai pakaianku tanpa bra dan celana dalam. Keduanya memang sudah tak bisa aku pakai karena tadi direnggut paksa dari tubuhku hingga robek. Mereka tertawa tawa dan beberapa saat lamanya mereka menonton rekaman pemerkosaan terhadap diriku, kemudian Arman mematikan handycamnya. Ia menghampiriku dan tiba tiba melumat bibirku.

    Aku menarik wajahku ke belakang untuk melepaskan diri dari ciumannya, lalu aku menamparnya, keras sekali.

    “Bajingan kamu Arman! Kamu tega sekali melakukan ini semua… sekarang antarkan aku pulang!”, kataku lirih, sambil menangis.

    Arman mengelus pipinya yang baru kutampar keras itu dan memandangku dengan aneh. Aku bergidik ditatap oleh Arman seperti itu. Lalu Arman melangkah ke arah luar diikuti oleh kedua kacungnya. Aku mengikuti mereka, dan dengan tegang aku masuk ke dalam mobil Kijang Innova pembawa petaka itu. Aku duduk di kursi penumpang depan, Arman yang menyetir, sementara Anto dan Seto duduk di belakang.

    Dalam perjalanan, kami semua diam, sedangkan aku sendiri dalam ketegangan yang luar biasa, karena aku berada semobil dengan para pemerkosaku. Tapi untungnya mereka tak melecehkanku lebih lanjut, dan mobil sialan ini mengarah ke rumahku.

    Ketika aku turun dari mobil, aku mendengar Arman berkata, “Elly, sampai ketemu lagi, kapan kapan kita main main lagi ya”.

    Dengan muak aku membanting pintu mobil, dan aku segera masuk ke dalam rumah sambil menahan tangis.

    Aku segera melihat anakku. Agak lega melihatnya masih tertidur pulas.

    Aku segera mandi dan keramas, membersihkan tubuhku yang sudah ternoda oleh adik iparku yang bejat itu, yang tega menyerahkanku pada dua kacungnya. Aku memang rindu bermain cinta, tapi itu adalah dengan suamiku sendiri, bukan dengan Arman, bukan dengan mereka ini. Apalagi diperkosa seperti tadi, sakit sekali hatiku rasanya. Tanpa sadar aku kembali menangis.

    Aku tahu hari ini adalah hari pertama aku mengalami penghinaan seperti ini, dan ini bukan hari terakhir.

    Terbukti dua hari kemudian, aku mendapat kiriman DVD dari Arman, yang berisi rekaman pemerkosaan terhadap diriku oleh dua kacungnya itu, dengan sebuah surat bertuliskan “Elly, lain kali kita bermain tanpa ikatan pada kedua tanganmu… kamu pasti akan lebih menikmatinya”.