Author: perawanku

  • Cerita Sex Nafsuku Di Puaskan Oleh Anak Bungsu ku

    Cerita Sex Nafsuku Di Puaskan Oleh Anak Bungsu ku


    1341 views

    Perawanku – Cerita Sex Nafsuku Di Puaskan Oleh Anak Bungsu ku, Bukan salahku bila aku masih menggebu-gebu dalam bersangkutan seks, Sayangnya suamiku telah uzur, kami lain umur nyaris 15 tahun, sampai-sampai dia bukan lagi dapat memberi kepuasan kepadaku. Dan bukan salahku pula lantas aku menggali pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk mengisi hasrat seks-ku yang makin menggebu di umur kepala 3 ini.

    Namun sepandai-pandainya aku berselingkuh kesudahannya ketahuan juga. Suamiku marah bukan kepalang memergoki aku berdekapan dengan seorang lelaki muda seraya telanjang bulat di suatu motel. Dan ultimatum pun terbit dari suamiku. Disinilah kisah ewe ini dimulai.

    Aku dilarang olehnya beraktivitas di luar lokasi tinggal tanpa pengawalan. Entah tersebut dengan suamiku ataupun kedua anakku. Tak sedikitpun aku lepas dari pemantauan mereka bertiga. Secara bergantian ketiganya mengawasiku. Tommy anak sulungku yang baru masuk kuliah bisa giliran memantau di pagi hari sebab dia masuk siang.

    Siangnya giliran Bagus yang duduk di ruang belajar dua SMA, guna mengawasiku. Dan malamnya suamiku kena giliran. Tentu saja kegiatan seks-ku juga terganggu total. Hasratku tidak jarang tak terlampiaskan, akibatnya aku tidak jarang uring-uringan. Memang sih aku dapat masturbasi, tapi tidak cukup nikmat. Dua minggu selesai aku masih dapat menahan diri.

    Sebulan selesai aku telah stres berat. Bahkan frekuensi masturbasiku terus bertambah, hingga pernah sehari 10 kali kulakukan. Tapi tetap saja tak pernah menjangkau kepuasan yang total. Aku masih perlu kemaluan laki-laki!

    Seperti pada pagi hari Senin, ketika bangun pagi jam 8 lokasi tinggal sudah sepi. Suamiku dan Bagus telah pergi, dan bermukim Tommy yang terdapat di bawah. Aku masih belum bangkit dari lokasi tidurku, masih malas-malasan guna bangun.

    Tiba-tiba aku tersentak sebab merasa darahku mengalir dengan cepat. Ini memang kebiasaanku ketika bangun pagi, nafsu seks-ku muncul. Sebisanya kutahan-tahan, namun selangkanganku telah basah kuyup. Aku juga segera melorotkan CD-ku dan langsung menyusupkan dua jari tangan kananku ke lubang kemaluanku.

    Aku mendesis pelan ketika kedua jari tersebut masuk, terus kukeluar-masukkan dengan pelan namun pasti. Aku masih asyik bermasturbasi, tanpa menyadari terdapat sesosok tubuh yang sedang menyimak kelakuanku dari pintu kamar yang tersingkap lebar. Dan ketika mukaku menghadap ke pintu aku terkejut menyaksikan Tommy, anak sulungku, sedang memperhatikanku bermasturbasi.

    Tapi herannya aku tidak kelihatan marah sama sekali, tangan kanan masih terus memainkan kemaluanku, dan aku justeru mendesah keras sambil menerbitkan lidahku. Dan Tommy terlihat tenang-tenang saja menyaksikan kelakuanku.

    Aku jadi salah tingkah, tapi menikmati liang vagina yang kian basah saja, aku turun dari lokasi tidur dan berlangsung ke arah Tommy. Anak sulungku tersebut masih tenang-tenang saja, sebenarnya saat turun dari lokasi tidur aku telah melepas pakaian dan sekarang telanjang bulat. Aku yang telah terbuai oleh nafsu seks tak mempedulikan statusku lagi sebagai mamanya.

    Saat kami berhadapan tangan kanan langsung meraba selangkangan anak sulungku itu.

    “Bercintalah dengan Mama, Tommy!” pintaku seraya mengelus-elus selangkangan Tommy yang telah tegang.

    Tommy tersenyum, “Mama tahu, semenjak Tommy berumur 17 Tommy telah sering menginginkan bagaimana nikmatnya kalo Tommy bercinta dengan Mama…”

    Aku terperangah mendengar omongannya.

    “Dan tidak jarang kalo Mama tidur, Tommy telanjangin unsur bawah Mama serta menjilatin kemaluan Mama.”

    Aku tak percaya mendengar ucapan anak sulungku ini.

    “Dan sekarang dengan senang hati Tommy bakal entot Mama hingga Mama puas!”.

    Tommy langsung memegang daguku dan menghirup bibirku dan melumatnya dengan sarat nafsu. Lidahnya menyelusuri rongga mulutku dengan ganas. Sementara kedua tangannya bergerilya ke mana-mana, tangan kiri meremas-remas payudaraku dengan lembut sedangkan tangan kanannya membelai permukaan kemaluanku. Aku langsung pasrah diperlakukan anakku sedemikian rupa, melulu sanggup mendesah dan menjerit kecil. Puas berciuman, Tommy melanjutkan sasarannya ke kedua payudaraku.

    Kedua puting susuku yang masa-masa kecil pernah Tommy hisap, pulang dihisap anak sulungku tersebut dengan lembut. Kedua permukaan payudaraku dijilati hingga mengkilat, dan aku tidak banyak menjerit kecil ketika putingku digigitnya pelan tetapi mesra. Aduh, tak henti-hentinya aku mendesah dampak perlakuan Tommy.

    Ciuman Tommy berlanjut ke perut, dan anakku tersebut pun berjongkok sedangkan aku tetap berdiri. Aku tahu apa yang bakal Tommy kerjakan dan ini ialah bagian di mana aku tidak jarang orgasme. Yah, aku sangat tak tahan bila kemaluanku di oral seks.

    Tommy tersenyum sebentar ke arahku, sebelum mulutnya menghirup permukaan lubang lokasi di mana dia dulu pernah keluar. Lidahnya juga menari-nari di liang vagina mamanya, membuatku melonjak laksana tersetrum. Kedua tanganku terus memegangi kepalanya yang terbenam di selangkanganku, ketika lidahnya menjilati klitorisku dengan lembut.

    Dan benar saja, tak lama lantas tubuhku mengejang dengan hebatnya dan desahanku semakin keras terdengar. Tommy tak peduli, anak sulungku tersebut terus menjilati kemaluanku yang memuncratkan cairan-cairan kental ketika aku berorgasme tadi.

    Aku yang keletihan langsung mengarah ke tempat istirahat dan istirahat telentang. Tommy tersenyum lagi. Anakku tersebut kini melucuti pakaiannya sendiri dan siap guna menyetubuhi mamanya dengan penisnya yang sudah tegang. Tommy bersiap memasukkan penisnya ke lubang vaginaku, dan aku menahannya, “Tunggu sayang, biar Mama kulum burungmu tersebut sebentar.”

    Tommy menurut, di sodorkannya penis yang besar dan keras tersebut ke arah mulutku yang langsung mengulumnya dengan sarat semangat. Penis anakku tersebut kini kumasukkan seluruhnya ke dalam mulutku sedangkan anakku mengelus rambutku dengan rasa sayang. Batangnya yang keras kujilati sampai mengkilap.

    “Sekarang kau boleh entot kemaluan Mama, Tom..” kataku sesudah puas mengulum penisnya. Anakku tersebut mengangguk. Penisnya segera dituntun anakku mengarah ke lubang kemaluan lokasi Tommy lahir. Vaginaku yang basah kuyup mempermudah penis Tommy guna masuk ke dalam dengan mulus.

    “Ahh.. Tomm!” aku mendesah ketika penis Tommy amblas dalam kemaluanku. Tommy kemudian langsung menggenjot tubuhnya dengan cepat, kemudian berubah lambat namun pasti. Diperlakukan begitu kepalaku berputar-putar saking nikmatnya.

    Apalagi Tommy seringkali tidak mempedulikan kepala penisnya menggesek-gesek permukaan kemaluanku sampai-sampai aku kegelian. Berbagai macam posisi diperagakan oleh Tommy, mulai dari gaya anjing hingga tradisional membuatku orgasme berkali-kali.

    Tapi anak sulungku tersebut belum pun ejakulasi membuatku penasaran dan bangga. Ini baru anak yang perkasa. Dan baru ketika aku sedang di atas tubuhnya, Tommy mulai kewalahan. Goyangan pinggulku langsung memacunya untuk menjangkau puncak kenikmatan.

    Dan ketika Tommy mendekap dengan erat, saat tersebut pula air mani anak sulungku tersebut membasahi kemaluanku dengan derasnya, membuatku pulang orgasme guna yang kesekian kalinya. Selangkanganku sekarang sudah banjir tidak karuan bercampur aduk antara mani Tommy dengan cairanku sendiri. Tommy masih memelukku dan menghirup bibirku dengan lembut.

    Dan kami terus bermain cinta hingga siang dan baru berhenti ketika Bagus kembali dari sekolah. Sejak saat tersebut aku tak lagi stress sebab sudah mendapat pelampiasan dari anakku. Setiap ketika aku tidak jarang kali dapat memuaskan nafsuku yang begitu besar.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Bercinta Dengan Supir Pribadiku

    Cerita Sex Bercinta Dengan Supir Pribadiku


    3741 views

    Perawanku – Cerita Sex Bercinta Dengan Supir Pribadiku, Namaku Lia. Aku adalah ibu rumah tangga yang telah berumur 35 tahun. Hidupku boleh dikatakan beruntung, aku mempunyai rumah yang megah di Pulomas dan harta benda yang melimpah, sehingga bagiku krisis moneter tak terlalu berpengaruh bagi perekonomian keluargaku.

    Suamiku, Liem, 50 tahun, mempunyai jaringan bisnis baik di Indonesia maupun di luar negri. Ia adalah pengusaha yang sukses. Walaupun dijejali dengan materi yang melimpah ruah, tetapi kehidupanku rumah tanggaku terasa hambar. Dulu, aku dikawinkan dengan Liem setelah aku menamatkan kuliahku, umurku kira-kira 22 tahun. Aku adalah anak tunggal. Aku tidak terlalu mengenalnya, keluargaku yang menjodohkanku dengannya karena pada waktu itu Liem adalah rekan bisnis ayahku, dan ayahku sangat mempercayainya.

    Di awal perkawinan, hubungan suami istri kami hanya sebagai formalitas saja, Liem banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, bahkan hingga umurnya yang telah mencapai setengah abad ini, ia masih sering berada di luar. Sedangkan di rumah, sering aku merasa kesepian, karena aku belum juga dikaruniai seorang anak yang bisa mengisi kesepianku. Untuk memenuhi hasrat birahiku, aku sering menonton film Blue.

    Aku terangsang tiap kali melihat gerakkan penis yang menusuk-nusuk vagina. Uuhh.., aku mulai mempermainkan vaginaku dengan jariku, membayangkan, penis yang panjang dan besar itu, menghunjam keras, menusuk-nusuk liang vaginaku. Suara-suara melenguh, gerakan-gerakan pinggul, ekspresi muka dari masing-masing pasangan yang begitu mendalami kenikmatan bersetubuh.

    Tak henti-hentinya tanganku memain-mainkan klitorisku.., naik.., turun.., naik.., turun.., sambil berputar.., kugerakkan tanganku dengan cepat, sehingga vaginaku mulai basah dan membengkak.., “aahhkk..”, walaupun penis itu hanya bayanganku saja, tapi sudah terasa nikmat sekali. Kadang, kugoyang-goyangkan pinggulku.

    “aahhkk nikmat sekali..”. Sementara, suara ceplak ceplok terdengar dari TV, gaya dog-style.., “aahh.., aahh.., aahh..”, bercampur-baur dengan lenguhan-lenguhan nikmat. Aku menikmati segala suara-suara senggama yang keluar dari TV 36 inch-ku itu. “Ssshh.., sshh..”, kugigit bibir bawahku, mendalami khayalku bersenggama dengan penis raksasa, aku merasakan kanikmatan yang makin memuncak. “aahh.., aahh..”, eranganku membahana menyamai erangan di TV.

    Kupercepat gerakan jariku, aku tak tahan lagi, sesuatu akan menyemprot keluar dari dalam liang Vaginaku. “aahhkk.., ahhkk.., ahhkk..”, otot-otot tubuhku mengejang bagaikan tersetrum listrik ribuan volt. Alam pikirku terbang ke awang-awang meresapi kenikmatan orgasme. “aahh.., aahh.., niikkmaat sekali..”, kuhela nafas panjang. Kukira sampai disini saja masturbasiku.

    Akibat lama-lama bermasturbasi dengan berkhayal disetubuhi oleh penis raksasa, aku jadi ingin betul-betul merasakan nikmatnya penis raksasa. Tapi, penis siapa..?, Sampai pada suatu hari, pertanyaanku itu terjawab.

    Hari itu, aku hendak pergi ke Gym, biasa, Fitness. Untuk mempertahankan tubuhku agar tetap langsing dan kencang. Aku mempunyai supir pribadi yang biasa mengantarku ke Gym, namanya Pak Marlon, orang dari Sorong, Irian Jaya. Pak Marlon ini telah dipercaya menjadi supir pribadi suamiku selama hampir 10 tahun. Kami mendapatkan beliau dari seorang teman. Pak Marlon ini setia menjadi supir keluarga kami, apalagi dengan gaji $500 per bulan, ia selalu dapat diandalkan. Tetapi pagi itu, kudapati seorang anak muda sedang mengelap mobil Mercy-ku.

    “Mana Pak Marlon..?”, tanyaku.
    “Pagi bu, maaf, nama saya Rony, saya anak Pak Marlon, hari ini bapak tidak bisa kerja sebab beliau harus menjenguk keluarga kami yang sakit di Bandung, jadi untuk sementara saya gantikan..”, katanya dengan sopan.

    Hmm.., anak muda ini.., kuperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah.., boleh juga badannya yang gelap dan atletis, tangannya yang kekar, dadanya yang bidang dengan bahu yang lebar. Mukanya.., rasanya aku pernah lihat. Hmm.., mirip seperti Baby Face, penyanyi itu. Boleh juga nih, kataku dalam hati.
    “Oke Rony.., kamu bisa antar saya ke Gym..?”, tanyaku.
    “Bisa nyonya..”, jawabnya.

    Dalam perjalanan, aku bertanya banyak tentang dia. Ternyata umurnya telah 23 tahun, dan ia sekarang ia telah menyelesaikan kuliahnya di– (edited by Yuri) jurusan Teknik Sipil. Aku berusaha untuk akrab dengannya. Kadang pada saat aku memulai suatu pembicaraan, aku sentuh bahunya, dia tampak salah tingkah.:)

    Sampai di Gym, aku segera berganti baju dengan menggunakan Bicycle Pents yang pendeknya 2-3 senti dari selangkanganku, dan menggunakan baju tanpa lengan yang ketat, menampakkan perutku yang kencang. Dengan pakaian itu, tubuhku yang tinggi (169/52) dan kulitku yang putih (Chinese), serta rambutku yang bergaya Demi More di film Ghost, aku tampak seksi dan sportif. Mulailah aku menjalani latihanku.

    Selesai Fitness, dengan masih mengenakan pakaian senamku tadi dan handuk kecil untuk mengelap keringat, aku berjalan keluar Gym menuju mobilku di areal parkir. Rony yang sejak tadi menunggu di mobil, segera berdiri dan membukakan pintu belakang mobil untukku. Lalu aku bilang kalau aku ingin duduk di depan. Dengan cepat ia menutup pintu belakang, kemudian membuka pintu depan.

    Ketika itu, lengannya secara tidak sengaja menyerempet payudaraku, “Ups.., geli..”, ketika lengan itu bersentuhan dengan payudaraku. Kulihat Rony jadi salah tingkah. Aku tersenyum kepadanya. Kulihat ia memperhatikan bagian bawah tubuhku, ketika aku memasukkan kakiku jenjang dan mulus itu, dan pantatku ke dalam mobil dan mendudukkan pantatku di jok. Setelah menutup pintu, ia berlari kecil melalui depan mobil ke arah pintu pengemudi. Dari dalam mobil, kulihat bagian atas celana Rony yang menggembung.

    Di dalam mobil, kamipun kembali ngobrol. Agar lebih akrab, kularang ia memanggilku dengan sebutan nyonya, panggil saja Lia. Makin lama obrolan kami terasa makin akrab, kadang aku tertawa, mendengar obrolan-obrolan lucu yang menyerempet-nyerempet, dan dengan gemas kucubit lengan Rony yang berisi itu. Kadang kuperhatikan tangannya yang hitam dan kekar itu memegang kemudi. Sungguh macho.

    Suatu ketika, Rony membanting stir ke kanan secara tiba-tiba, ternyata, karena keasyikan ngobrol, Rony tidak memperhatikan sepeda motor yang ada di depannya. Ketika itu, tubuhku jatuh ke arah kanan, dan secara refleks, tanganku jatuh tepat di bagian kemaluan Rony. “Upss..”, dalam hatiku. Ketika mobil kembali stabil, tak kulepas telapak tanganku di atas celananya itu. Kutatap wajah Rony yang terlihat grogi, salah tingkah, dan memerah

    Tiba-tiba, muncul keberanianku untuk mengelus-ngelus “terpedo” Rony yang makin lama membengkak itu. Waahh.., seperti memegang lontong saja, pikirku. Setelah beberapa lama kuelus, tanpa bicara, kuberanikan diri untuk membuka relsliting celananya, kusikap celananya. Tampak “terpedo” Rony yang begitu ketat dibungkus oleh celana dalamnya, dengan kepala terpedo yang menyembul ke atas CD, seakan berusaha keluar dari sesaknya bungkusan CD itu.

    Kuselipkan tanganku ke dalam CD-nya. Wuuh.., Gede amat, genggaman jari jempol dan jari tengahku hampir tak saling bertemu dan batang yang sangat keras menegang. Untuk beberapa saat kuelus-elus penis Rony yang besar itu. mmhh.., tiba-tiba birahiku bergejolak. Segera kutundukkan kepalaku ke arah penis Rony, dan kusibakkan CD-nya. Tampak penis Rony yang hitam, besar dan panjang itu dan kelilingi oleh rambut yang lebat dan keriting.

    Seperti di film BF, kujulurkan lidahku ke “kepala” penis Rony. Kujilat-jilat “kepala” penis yang menyerupai “topi Pak tani” itu. Kumainkan lidahku di sekeliling kepala penis itu dan kemudian mengarah ke batang. Kukecup-kecup batang penis yang panjangnya kira-kira 2 telapak tanganku itu.

    “Cup.., cup.., cup..”, Kudengar desahan-desahan nikmat dari Rony yang masih terus memegang setir itu, dan itu membuatku terangsang. Segera kumasukkan kepala penis itu ke dalam rongga mulutku. Kusedot-sedot penis itu dengan nafsuku yang sudah meletup-letup. mmhh.., Mhh.., sambil kunaik-turunkan kepalaku. Penis itu tidak seutuhnya bisa masuk ke mulutku, hanya 1/3 bagiannya saja. mmhh.., mmhh.., enakk sekali rasanya, seperti anak kecil yang sedang dahaga, dan dibelikan es krim. Itulah yang kurasakan saat itu, aku dahaga akan seks. Terus kusedot-sedot penis itu, sembari kumainkan lidahku dan mulai kukocok batang penis dengan menggunakan tanganku.

    oohh.., nikmatnya merasakan penis raksasa ini. Tiba-tiba aku berfikir, “Hei..! mungkin inilah penis raksasa yang selama ini aku idam-idamkan”. Setelah beberapa saat, kulepas penis Rony dari mulutku, dan aku kembali duduk tegak, sementara tanganku masih mengocok penis itu.

    “Gimana Ron, Enak?”, tanyaku sambil mengatur nafasku yang sejak tadi tidak teratur.
    “Enak Lin, Enak banget..!”, serunya riang.

    Setelah beberapa lama membicarakan apa yang telah kami alami tadi, aku berinisiatif mengajaknya ke kamar apartemenku yang belum laku tersewa. Sebelum memasuki gerbang apartemen yang di jaga satpam, Rony menutup kembali bagian atas celananya yang terbuka tadi.

    Setelah tiba di depan pintu apartemen, kubuka pintu apartemen, dan kusuruh Rony untuk menutupnya, sementara aku langsung menuju ke kamar dan menyalakan AC Split. Setelah itu, aku berbalik, dan ternyata, Rony yang telah melepaskan seluruh bajunya langsung merangkulku dan menjatuhkan tubuh kami berdua di Kasur. Di ciuminya mukaku, dari pipi, kemudian ke bibirku.

    mmghh.., disedot-sedotnya “bibir bawah”-ku dengan gemas, kemudian dimain-mainkan lidahnya ke dalam rongga mulutku yang terbuka, merasakan keenakan permainannya. Sementara tangan kirinya memegangi kepalaku, tangan kanannya beraksi berusaha melepas celanaku dengan susah payah. Kusadari kesulitannya membuka celanaku, kemudian kudorong tubuhnya ke arah kanan, dan aku berdiri sambil melepas baju dan celanaku. Sambil kulihat Rony yang tanpa berkedip melihatku melepas bajuku dengan pelan-pelan sekali, sehingga tampak kemolekan tubuhku yang putih dan masih kencang ini.

    Kulihat tubuh Rony yang atletis, dengan bulu-bulu kecil dan kriting di dadanya, bentuk badannya yang berbentu huruf V, dan bagian kemaluannya yang besar itu, menjuntai, menantang, hitam legam, berbeda dengan tubuhku yang putih mulus, tanpa ada suatu cacatpun. Setelah semuanya lepas dari tubuhku, segera kujatuhkan tubuhku di atas tubuh Rony.

    Kukecup bibirnya yang basah, dan kumainkan lidahku seperti tadi ia memainkan lidahnya. mmhh.., lidah kami saling bertaut, kumasukkan lidahku dan kusedot lidah Rony. mmhh.., Kuelus dadanya yang bidang, kumainkan putingnya. Rony tampak menikmati kegelian permainan tanganku di putingnya. Lalu, kepalaku turun ke putingnya, kujilat putingnya, kuisap dan kadang kugigit kecil puting Rony yang berwarna hitam gelap itu. Rony sekali lagi menikmati permainanku, tangannya mengusap-usap kepalaku dengan gemas

    Setelah beberapa saat, di dorongnya tubuhku ke arah kiri, gantian sekarang, putingku yang merah kecoklat-coklatan di isapnya dengan ganas.

    “oohh.., nikmatnya.., engkau pandai sekali Rony..”, putingku di kanan di isapnya, dan dimainkan dengan lidahnya, sementara payudara sebelah kiri di peras dengan tangannya yang kekar itu dan dimainkan putingku dengan jarinya. uuhh.., bagaikan terkena listrik arus lemah, geli sekali kurasakan.., tubuhku menggelinjang keenakan.

    Selama beberapa menit, kunikmati permainannya yang ganas di payudaraku. Kemudian, tangannya yang tadi memegang payudaraku, tiba-tiba beralih mengusap-usap selangkanganku. “aahh..”, aku tersentak dan kurasakan aliran darahku bagaikan turun dari kepala. Oh, usapan lembut itu, sudah lama tak kurasakan dari seorang lelaki. Biasanya suamiku (dulu), sebelum menancapkan batangnya, ia mengelus-elus vaginaku dengan lembut, sama seperti yang kurasakan saat ini. Elusan itu lama-lama semakin cepat, memainkan clitoris di selangkanganku. Nafasku terus memburu, mengikuti gerakan jari-jemari Rony yang terus memainkan clitorisku dengan tempo yang makin cepat, sementara mulut Rony belum lepas dari payudaraku yang semakin menegang dan keras.

    oohh.., kurasakan kedahsyatan permainan jari-jemari Rony. “aahh.., aahh.., ahh”, desahku begitu dahsyatnya, hingga kurasakan cairan mengalir melalui saluran di dalam kemaluanku. Kucoba kutahan cairan itu keluar. Tapi tak bisa kebendung kenikmatan yang telah meletup-letup itu dan “aahhgg.., aahhgg.., Roonnyy.., aahhgg.., eennaak”, sambil kutahan nafasku, kudalami kenikmatan itu. Kenikamatan orgasme.

    Wuuff.., tubuhku yang tadi mengejang berubah menjadi lemas dengan segala peluh di tubuhku, aku berusaha mengatur nafasku sementara, kurasakan kegelian di selangkanganku, kulihat, ternyata sekarang Rony telah mencicipi cairan yang keluar dari liang kemaluanku.Lidahnya menjilat-jilat vaginaku sambil sesekali menyedot-nyedotnya. “Sssrrpp.., ssrrpp.., seperti tidak mau membersihkan cairan yang tadi keluar dari dalam lubang kenikmatanku. Sambil kurasakan kenikmatan tiada tara itu, pikiranku melayang.., enaknya hidup ini kalau dari dulu aku mengenal anak ini.., aku tidak perlu lagi repot-repot bermasturbasi di depan TV.

    Selagi pikiranku melanglang buana, tiba-tiba Rony menimpa tubuhku, dan menciumi mukaku dengan lembut.
    “Bagaimana Lia, puas..?”, tanyanya sambil tersenyum.
    “Wuah.., andaikan kamu dapat merasakan kenikmatan yang aku rasakan sekarang.., tiada taranya.., fantastis!”, kataku.., hey, tiba-tiba kusadari penis Rony yang masih mengeras di antara perutku dan perut Rony.
    “Ron, kamu belum..?”, belum selesai aku berkata, kembali bibirnya memagut bibirku.

    mmhh, dan kurasakan badannya agak ditinggikan, kemudian tangannya diarahkan ke bawah, dan tiba-tiba kurasakan benda yang keras menyumbat mulut vaginaku. Aku mengerti maksudnya. Kunaikan kakiku, merangkul pinggangnya. Sementara, mulut kami masih saling bertaut, dengan tangannya, ia memainkan kepala penisnya di mulut vaginaku. Birahiku kembali muncul atas perlakuan yang demikian. mmhh.., aku sudah tak sabar ingin merasakan kenikamatan penis raksasa itu.., kataku dalam hati

    Tapi Rony masih saja mempermainkan penisnya, dan itu membuatku menggelinjang kegelian dan perasaanku sudah tak sabar. Kulepaskan pagutan bibirnya.

    “Ron.., ayo.., langsung aja”, kataku dengan nafas yang tidak teratur lagi. Kemudian dengan tangannya, ia meraba-raba vaginaku untuk mencari dimana “lubang surga dunia” itu berada. Setelah menemukannya, segera ia tusukkan kepala “terpedonya” ke lubang itu. Begitu pinggulnya menekan dengan keras, secara refleks (karena sakit..) pinggulku terdorong ke depan.
    “Ahh.., Ronn.., pelan-pelan dong..”, kataku sambil meringis.

    Kemudian dicobanya lagi kepada penisnya dicocokkan ke lubang vaginaku. Kali ini ia mencobanya berhati-hati dan pelan. “oohhgg.., oohhgg..”, kepala terpedo Rony terasa menyesaki lubang kemaluanku, aku mencoba menahan rasa sakit.., rasa sakit yang telah lama tak kurasakan. Kemudian sedikit demi sedikit, “lontong kulit” itu masuk ke dalam liang Vaginaku.., sampai akhirnya. “Bleess..”, masuk semua.. “Ooohhgg”, kurasakan kenikmatan.., fantastis.., seluruh batang penis Rony memenuhi liang Vaginaku.

    “Goyang Ron..”, pintaku. Langsung, Rony menggoyangkan pinggulnya, keluar.., masuk.., keluar.., masuk.., “Ooohhgg.., oohhgg..” sungguh nikmat, teringat aku akan film BF yang aku tonton dulu. Goyangan pinggul Rony kubarengi dengan goyangan pinggulku, sehingga terasa penis Rony menggesek-gesek dinding vaginaku yang rasanya membengkak, sehingga bisa menyedot semua batang milik Rony.

    Kurasakan saat itu bukan hanya tubuhku yang bergetar, kasurpun ikut bergetar akibat dorongan pinggul Rony yang kuat, terus menghunjam-hunjamkan penis raksasanya ke liang vaginaku. Desahan-desahan kenikmatan dari kami berdua bersahut-sahutan. “Aahhgg.., aahhgg.., aahhgg”, kadang kugigit bibir bawahku saking nikmatnya permainan kami. Aku teringat akan film BF yang aku tonton, dan aku minta kepada Rony untuk mencoba gaya standing-bamboo. Kali ini, aku berada di atas, dan Rony tidur di bawah.

    Dengan mudah penis Rony dapat masuk ke liang Vaginaku, dan akupun mulai bergerak naik turun. Rony mengimbanginya gerakanku itu.., “Ooohh nikmatnya”, melihat payudaraku yang bergerak-gerak seiring pergerakan tubuhku, tangan Rony kemudian memegangi kedua payudaraku, dan meremas-remasnya. Sementara itu.., aku merasakan kenikmatan klimaks sudah dekat, aku terus menggenjot dengan cepat.., aahh.., aahh.., aahh.., truss”, Rony dan aku saling mendesah, hingga akhirnya aku merasakan kembali tubuhku mengejang, tanganku mencengkram seprei dengan kuat dan sekali lagi aku mencapai orgasme.

    “aahhgg.., aahghgg.., aahgg”, aku mengerang dengan lantang. Sukmaku kembali melejit ke langit ke tujuh.
    “oohh.., Rony, engkau memang jagoanku”, Belum habis aku menikmati dahsyatnya orgasme keduaku, Rony memintaku untuk menungging, dan kemudian ia mulai menusukkan penisnya dari belakang. “oohh.., Oohh..”, aku kembali merasakan kenikmatan bersenggama, suara desahan kami berdua kembali mengalun dibarengi dengan suara “ceplok-ceplok.., plok.., plok.., plok..”.

    Rony makin mempercepat hunjaman penisnya ke vaginaku, tempo permainan semakin cepat. Kudengar suara desahan Rony semakin keras dan pada akhirnya ia melenguh keras, seperti suara orang menahan sesuatu dibarengi dengan dihunjamkannya kuat-kuat seluruh penisnya ke dalam Vaginaku.
    “aahhgg.., aahhgg.., aahhgg..”

    Akhirnya.., ia mengalami orgasme. Segera kubalikkan tubuhku, dan kuisap-isap kepala penis serta kukocok-kocok batangnya, mencari sisa-sisa sperma yang dimuntahkan penis Rony, hingga akhirnya tak tersisa sama sekali, dan Rony tergeletak lemas.

     

    Sejak saat itulah aku menemukan kenikmatan seks sejati. Sementara dengan suamiku, hubungan kami bertambah dingin, dan kukira ia tak menghiraukan akan hal tersebut, ia masih menyibukkan dirinya dengan kegiatan di luar rumah, ia tak menghiraukan lagi keindahan tubuh istrinya yang haus akan hunjaman-hunjaman kenikmatan.

    Frekwensi hubungan seks-ku dengan Rony makin bertambah sering, walaupun sekarang Pak Marlon telah kembali menjadi supir keluarga kami, Rony kubekali dengan HP, yang sewaktu-waktu bila keinginanku untuk “ditusuk-tusuk oleh terpedo” Rony muncul, aku bisa langsung menghubunginya, dan bertemu di apartement.

    Hingga kini, apartement itu tidak aku sewakan, dan menjadi tempat rahasia kami untuk bercinta.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Tom Jangan Buru-buru Klimaks Masih Nikmat

    Cerita Sex Tom Jangan Buru-buru Klimaks Masih Nikmat


    1306 views

    Perawanku – Elin adalah salah seorang manager pada bagian Treasury di sebuah bank asing. Elin berumur 28 tahun, dia adalah seorang Sunda yang berasal dari daerah Bogor. Elin telah bersuami dan mempunyai seorang anak yang baru berumur 7 tahun. Tubuh Elin apat dikatakan kurus dengan tinggi badan kurang lebih 163 cm, dengan berat badannya kurang lebih 49 kg. Buah dadanya berukuran kecil tetapi padat, pinggangnya sangat ramping dengan bagian perut yang datar. Kulitnya kuning langsat dengan raut muka yang manis.

    Setibanya di Semarang, setelah check in di hotel mereka langsung mengadakan kunjungan pada beberapa nasabah, yang dilakukan sampai dengan setelah makan malam. Setelah selesai berurusan dengan nasabah, mereka kembali ke hotel, dimana Tom dan Anita melanjutkan acara mereka dengan duduk-duduk di bar hotel sambil mengobrol dan minum-minum. Elin pada awalnya diajak juga, tapi karena merasa sangat lelah, dan di samping itu ia juga merasa tidak enak mengganggu mereka, maka ia lebih dulu kembali ke kamar hotel untuk tidur.

    Menjelang tengah malam, Elin tiba-tiba terbangun dari tidurnya, hal ini disebabkan karena ia merasa tempat tidurnya bergerak-gerak dan terdengar suara-suara aneh. Dengan perlahan-lahan Elin membuka matanya untuk mengintip apa yang terjadi. Hatinya terkesiap melihat Tom dan Anita sedang bergumul. Keduanya berada dalam keadaan polos sama sekali. Anita yang bertubuh kecil itu, sedang berada di atas Tom seperti layaknya seseorang yang sedang menunggang kuda, dengan pantatnya yang naik turun dengan cepat. Dari mulutnya terdengar suara mendesis yang tertahan,

    “Ssshhh…, sshhh…”, karena mungkin takut membangunkan Elin.

    Kedua tangan Tom sedang meremas-remas kedua buah dada Anita yang kecil tetapi padat berisi itu. Elin sangat panik dan berada dalam posisi yang serba salah. Jadi dia hanya bisa terus berlagak seperti sedang tidur. Elin mengharapkan mereka cepat selesai dan Tom segera kembali ke kamarnya. Besok dia akan menegur Anita agar tidak melakukan hal seperti itu lagi di kamar mereka. Seharusnya mereka dapat melakukan hal itu di kamar Tom sehingga mereka dapat melakukannya dengan bebas tanpa terganggu oleh siapa pun. Dari bau whisky yang tercium, rupanya keduanya masih berada dalam keadaan mabuk. Elin berusaha keras untuk dapat tidur kembali, walaupun sebenarnya ia merasa sangat terganggu dengan gerakan dan suara-suara yang ditimbulkan oleh mereka.    Agen Obat Kuat Pasutri

    Pada saat Elin mulai terlelap, tiba-tiba ia merasakan sesuatu sedang merayap pada bagian pahanya. Elin sangat terkejut dan tubuhnya mengejang, karena pada saat dia perhatikan, ternyata tangan kanan Tom sedang mencoba untuk mengusap-ngusap kedua pahanya yang masih tertutup selimut. Elin berpura-pura masih terlelap dan mencoba mengintip apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rupanya permainan Tom dan Anita sudah selesai dan Anita dalam keadaan kelelahan serta mengalami kepuasan yang baru dinikmatinya, sudah tergolek tidur.

    Tom yang masih berada dalam keadaan polos dengan posisi badan setengah tidur disamping Elin, sambil bertumpu pada siku-siku tangan kiri, tangan kanannya sedang berusaha menyingkap selimut yang dipakai Elin. Elin menjadi sangat panik, pada awalnya dia akan bangun dan menegur Tom untuk menghentikan perbuatannya, akan tetapi di pihak lain dia merasa tidak enak karena pasti akan membuat Tom malu, karena dipikirnya Tom melakukan hal itu lebih disebabkan karena Tom masih berada dalam keadaan mabuk. Akhirnya Elin memutuskan untuk tetap berpura-pura tidur dengan harapan Tom akan menghentikan kegiatannya itu.

    Akan tetapi harapannya itu ternyata sia-sia belaka, bahkan secara perlahan-lahan Tom bangkit dan duduk di samping Elin. Tangannya menyingkap selimut yang menutupi tubuh Elin dengan perlahan-lahan dan dari mulutnya menggumam perlahan,

    Cerita Sex Tom Jangan Buru-buru Klimaks Masih Nikmat

    Cerita Sex Tom Jangan Buru-buru Klimaks Masih Nikmat

    “Psssttt sayang, mari kubantu menikmati sesuatu yang baru…, nih.., kubantu melepaskan celana dalammu…, nggak baik kalau tidur pakai celana dalam”, sambil tangannya yang tadinya mengelus-elus bagian atas paha Elin bergerak naik dan memegang tepi celana dalam Elin, kemudian menariknya dengan perlahan-lahan ke bawah meluncur di antara kedua kaki Elin.

    Badan Elin menjadi kaku dan dia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Elin seakan-akan berubah menjadi patung, pikirannya menjadi gelap dan matanya dirasakannya berkunang-kunang. Tom melihat kedua gundukan bukit kecil dengan belahan sempit di tengahnya, yang ditutupi oleh rambut hitam kecoklatan halus yang tidak terlalu lebat di antara paha atas Elin. Jari-jari Tom membuka satu persatu kancing daster Elin, sambil tangannya bergerak terus ke atas dan sekarang ia menyingkapkan seluruh selimut yang menutupi tubuh Elin, sehingga terlihatlah payudara Elin yang membukit kecil dengan putingnya yang kecil berwarna coklat tua.

    Sekarang Elin tergolek dengan tubuhnya yang tanpa busana, tungkai kakinya yang panjang dan pantat yang penuh berisi, serta buah dada yang kecil padat dan belahan di antara paha atas yang membukit kecil, benar-benar sangat merangsang nafsu birahi Tom. Tom sudah tidak sanggup menahan nafsunya, penisnya yang baru saja terpuaskan oleh Anita, sekarang bangkit lagi, tegang dan siap tempur.

    Sejak saat itu Tom bertekad untuk tidak akan membebaskan Elin. Ia terlalu berharga untuk di biarkan, Tom akan menikmati tubuh Elin berulang-ulang pada malam ini. Kemolekan tubuh Elin terlalu sayang untuk disimpan oleh Elin sendiri pikir Tom. Tom mendorong tubuh Elin dan mulai meremas-remas payudara Elin yang telah terbuka itu,

    “Dengerin sayang, you akan saya ajarin menikmati sesuatu yang nikmat, asal you baik-baik nurutin apa yang akan saya tunjukkan”.

    Kesadaran Elin mulai kembali secara perlahan-lahan dan dengan tubuh gemetar Elin perlahan-lahan membuka matanya dan memperhatikan Tom yang sedang merangkak di atasnya. Elin mencoba mendorong badan Tom sambil berkata,

    “Tom, apa yang sedang kau lakukan ini?”, “Sadarlah Tom, aku khan sudah bersuami, jangan kau teruskan perbuatanmu ini!”. Karena menganggap Tom berada dalam keadaan mabuk, Elin mencoba membujuk dan menggugah kesadaran Tom.

    Akan tetapi Tom yang telah sangat terangsang melihat tubuh Elin yang molek halus mulus dan bugil di depan matanya mana mau mengerti, apalagi penisnya telah dalam keadaan sangat tegang.

    “Gila! Cakep banget! Lihat buah dadamu, padat banget. Cocok sama seleraku! You emang pinter menjaga tubuhmu, sayang!”, kata Tom sambil menekan tubuhnya ke tubuh Elin.

    Elin berusaha bangun berdiri, akan tetapi tidak bisa dan dia tidak berani terlalu bertindak kasar, karena takut Tom akan membalas berlaku kasar padanya.

    Sedangkan dalam posisinya itu saja ia sudah tidak ada lagi kemungkinan untuk lari.

    Sambil menjilat bibirnya Tom berbaring di sisi Elin.

    “Lin, lebih baik you mengikuti kemauanku dengan manis, kalau tidak saya akan maksa you dan saya perkosa you habis-habisan. Kalau you nurutin, you akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sakit”. Lalu tangannya ditangkupkan di buah dada Elin, sambil meremas-remasnya dengan sangat bernafsu, sambil merasakan kehalusan dan kepadatan buah dada Elin. “Bodi you oke banget!”, kata Tom. “Coba you berputar Elin!”. Perlahan-lahan dengan perasaan yang putus asa Elin berputar membelakangi Tom. Dan dirasakanya tangan Tom sekarang ada di pantatnya meremas dan meraba-raba.

    Kemudian Tom menyibakkan rambut Elin, dan dihirupnya leher Elin dengan hidungnya sementara lidahnya menelusuri leher Elin. Sambil melakukan hal itu tangan Tom berpindah menuju kemaluan Elin. Pada bagian yang membukit itu, tangannya bermain-main, mengelus-elus dan menekan-nekan, sambil berkata,

    “Kasihan you, Elin, pasti suami you tidak tahu cara membahagiakan you?”,
    “Tapi tenang aja sayang, dengan saya, you nggak bakalan bisa lupa seumur hidup, you bakalan merasakan bagaimana menjadi wanita sejati!”. Sambil memutar kembali tubuh Elin.

    Setelah itu Tom mengambil tangan Elin dan meletakkannya di kemaluannya yang telah sangat tegang itu.

    Ketika merasakan tangannya menyentuh benda hangat yang besar lagi keras itu, tubuh Elin tersentak, belum sempat Elin dapat berpikir dengan jelas, terasa badannya telah ditelentangkan oleh Tom dan dengan cepat Tom telah berjongkok di antara kedua kakinya yang dengan paksa terkangkang akibat tekanan lutut Tom. Dengan sebelah tangannya menuntun penisnya yang besar, Tom lalu menempelkan ujung penisnya ke bibir vagina Elin,

    “Apa you mau saya masukin itu?”,
    “Aaahhh…, jangaaann…, jaaangaaann…, Toomm…”, Elin dengan suara mengiba-iba masih berusaha mencoba menghalangi niat Tom.

    Elin mencoba mengeser pinggulnya ke samping, berusaha menghindari penis Tom agar tidak dapat menerobos masuk ke dalam liang kewanitaannya.

    Sambil tersenyum Tom berkata lagi,

    “You tidak dapat kemana-mana lagi, lebih baik you diam-diam saja dan menikmati permainan saya ini..!”. Tom lalu memajukan pinggulnya dengan cepat dan menekan ke bawah, sehingga penis besarnya yang telah menempel pada bibir kemaluan Elin dengan cepat menerobos masuk ke dalam liang vagina Elin dengan tanpa dapat dihalangi lagi.

    Testis Tom mengayun-ayun menampar bagian bawah vagina Elin, sementara Elin megap-megap karena dorongan keras Tom.

    Elin belum pernah merasakan saat seperti ini, setiap bagian tubuhnya serasa sangat sensitif terhadap rangsangan. Buah dadanya terangsang saat ditindih oleh dada Tom. Dirinya sudah lupa kalau sedang diperkosa, ia tidak peduli pada tubuh besar Tom yang sedang bergerak naik turun menindih tubuhnya yang langsing. Elin mulai merasakan suatu sensasi kenikmatan yang menggelitik di bagian bawah tubuhnya, vaginanya yang telah terisi oleh penis besar dan panjang milik Tom, terasa menggelitik dan menyebar ke seluruh tubuhnya, sehingga Elin hanya bisa menggeliat-geliat dan mendesis mirip orang kepedasan.

    Elin hanya berusaha menikmati seluruh rasa nikmat yang dirasakan tubuhnya. Sekarang Elin mencoba untuk berusaha aktif dengan ikut menggerakkan pinggulnya mengikuti irama gerakan Tom di atasnya. Tom melihat Elin mengerang, merintih dan mengejang setiap kali ia bergerak. Dan Elin sudah mulai terbiasa mengikuti gerakannya. Tom merasakan tangan Elin merangkul erat pada punggung bawahnya mengelus-elus ke bawah dan meremas-remas pantatnya serta menariknya ke depan agar semakin merapat pada tubuh Elin. Tom terus menggosok-gosokkan penisnya pada klitoris Elin.

    Tom sekarang ingin membuat Elin orgasme terlebih dahulu. Elin semakin terangsang dan tak terkendali lagi setiap kali bagian tubuhnya bergerak mengikuti tekanan dan sodokan Tom, sekarang wajahnya terbenam di dada bidang Tom, mulutnya megap-megap seperti ikan terdampar di pasir, dengan perlahan-lahan mulutnya bergeser pada dada Bossnya dan sambil terus menjilat akhirnya tiba pada puting susu Tom. Sekarang Elin secara refleks mulai menyedot dan menghisap puting susu Tom, sehingga badan Tom mulai bergetar juga saking merasa nikmatnya. Penis Tom terasa semakin keras, sehingga Tom semakin ganas saja menggerakkan pantatnya menekan pinggul Elin dalam-dalam. Elin merasakan vaginanya berkontraksi, sambil berusaha menahan rasa geli yang tidak terlukiskan menggelitik seluruh dinding liang kemaluannya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.

    Perasaan itu makin lama makin kuat menguasainya sehingga seakan-akan menutupi kesadarannya dan membawanya melayang-layang dalam kenikmatan yang tidak pernah dialaminya selama ini dan tidak dapat dilukiskan ataupun diuraikan dengan kata-kata. Kenikmatan yang dialami Elin tercermin pada gerakan tubuhnya yang meronta-ronta liar tanpa terkendali bagaikan ikan yang menggelepar-gelepar terdampar di pasir. Desahan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulutnya yang mungil,

    “Ooohhhh…., aagghh…, adduhhh..!”.

    Kedua pahanya melingkari pantat Tom dan dengan kuat menjepit serta menekan ke bawah, disertai tubuhnya yang mengejang dan kedua tangannya mencengkeram alas tempat tidur dengan kuat, benar-benar suatu orgasme yang dahsyat telah melanda Elin. Tom merasakan penisnya terjepit dengan kuat oleh dinding kemaluan Elin yang berdenyut-denyut disertai isapan kuat seakan-akan hendak menelan batang penisnya. Terasa benar jepitan dinding vagina Elin dan di ujung sana terasa ada “tembok” yang mengelus kepala penisnya.

    Setelah beristirahat sejenak dan melihat Elin sudah agak tenang, Tom mulai memompa lagi. Pompaan Tom kali ini segera dibalas oleh Elin, pinggulnya bergerak-gerak “aneh” tapi efeknya luar biasa. Penis Tom serasa dilumat dari pangkal sampai kepalanya. Lalu masih ditambah dengan variasi, ketika pinggul Elin berhenti dari gerakan aneh itu, tiba-tiba Tom merasakan penisnya terjepit dengan kuat dan dinding-dinding kemaluan Elin berdenyut-denyut secara teratur, sekitar 4-5 kali denyut menjepit, baru kemudian bergoyang aneh lagi.

    Wah, suatu sensasi melanda perasaan Tom, suatu hubungan kelamin yang belum pernah dinikmatinya dengan wanita manapun juga selama ini. Menyesal Tom karena tidak dari dulu-dulu menikmatinya. Gerakan aneh di dalam liang kemaluan Elin makin bervariasi. Terkadang Tom malah meminta Elin berhenti bergoyang untuk sekedar menarik nafas panjang. Lumatan dinding kemaluan Elin pada penis Tom membuatnya geli-geli dan serasa akan ‘meledak’.

    Tom tidak ingin cepat-cepat sampai, karena masih ingin menikmati

    “elusan” vagina Elin. Tetapi gerakan-gerakan di dalam liang kewanitaan Elin semakin menggila dan semakin liar.

    Hingga akhirnya Tom harus menyerah, tak mampu menahan lebih lama lagi perasaan nikmat yang melandanya, semakin cepat Tom bergerak mengimbangi goyangan pinggul Elin, semakin terasa pula rangsangan yang akan meletupkan lahar panas yang sedang menuju klimaks, mendaki puncak, saat-saat yang paling nikmat. Dan akhirnya, pada tusukan yang terdalam, Tom menyemprotkan maninya kuat-kuat di dalam liang kewanitaan Elin, sambil mengejang, melayang, bergetar. Pada detik-detik saat Tom melayang tadi, tiba-tiba kaki Elin yang pada awalnya mengangkang, diangkatnya dan menjepit pinggul Tom kuat-kuat. Amat sangat kuat.

    Lalu tubuhnya ikut mengejang beberapa detik, mengendor dan terus mengejang lagi, lagi dan lagi…, Elin pun tidak sanggup menahan dorongan orgasme yang melandanya lagi, punggungnya melengkung ke atas, matanya terbeliak-beliak, serta keseluruhan tubuhnya bergetar dengan hebat tanpa terkendali, seiring dengan meledaknya kenikmatan orgasme di vaginanya. Orgasme kedua dari Elin.

    “Toommm, aduuuh, Toomm, aahhhhh…, aaduuhh…, nikmaaatt.., Toomm….!”.

    Tom tersenyum puas melihat tubuh Elin terguncang-guncang karena orgasme selama 15 detik tanpa henti-hentinya. Kemudian tangan Elin dengan eratnya menekan pantat Tom ke arah selangkangannya sambil kakinya menggelepar-gelepar ke kiri kanan. Tom pun terus menggerakkan penisnya untuk menggosok klitoris Elin. Setelah orgasmenya selesai, tubuh Elin langsung terkulai lemas tak berdaya, terkapar, dengan kedua tangan dan kakinya terbentang melebar ke kiri kanan. Elin merasa bagian-bagian tubuhnya seolah terlepas dan badannya tidak dapat digerakkan sama sekali.

    Setelah gelombang dahsyat kenikmatan yang melandanya surut, Elin kembali ke alam nyata dan menyadari bahwa dia sedang terkapar di bawah tindihan badan kekar lelaki bule berkulit putih yang bukan suaminya yang baru saja memberikan kepuasan yang tiada tara padanya. Suatu perasaan malu dan menyesal melandanya, bagaimana dia bisa begitu gampang ditaklukkan oleh lelaki tersebut. Tanpa terasa air mata penyesalannya bergulir keluar dan Elin mulai menangis tersedu-sedu. Dengan tubuhnya yang masih menghimpit badan Elin, Tom mencoba membujuknya dengan memberikan berbagai alasan antara lain karena ia terlalu banyak minum sehingga tidak dapat mengontrol dirinya.

    Sambil membujuk dan mengelus-elus rambut Elin dengan perlahan-lahan penisnya mulai tegang lagi dan dengan halus penisnya yang memang telah berada tepat di depan kemaluan Elis ditekan perlahan-lahan agar masuk ke dalam kewanitaan Elin. Pada saat merasakan penis Tom mulai menerobos masuk ke dalam kewanitaannya, Elin bereaksi sedikit dengan mencoba memberontak lemah tapi akhirnya diam pasrah dan membiarkan penis besar tersebut masuk sepenuhnya ke dalam liang kewanitaannya.

    Dengan perlahan-lahan Tom menggerakkan badannya naik-turun, sehingga lama-kelamaan tubuh Elin mulai terangsang kembali dan bereaksi, dan pergumulan kedua insan tersebut semakin lama semakin seru mendaki puncak kepuasan dan kenikmatan, terlupa akan segala penyesalan. Pertarungan mereka terus berlanjut sepanjang malam dan baru berhenti menjelang fajar menyingsing keesokan harinya.

    Pukul 10 pagi keduanya baru terbangun dan terlihat Anita telah berpakaian rapi, sedang menikmati sarapan paginya sambil mengerling ke arah mereka dengan senyum-senyum rahasia. Pada mulanya Elin merasa sangat malu terhadap Anita, tapi melihat reaksi Anita yang seperti itu, seakan-akan mengajak bersekutu, akhirnya Elin menjadi terbiasa.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Jeritan Nikmat Tante Ayu

    Cerita Sex Jeritan Nikmat Tante Ayu


    1149 views

    Perawanku – Cerita Sex Jeritan Nikmat Tante Ayu, Aq mendapat kisah yang asyk dan tak bisa terlupakan padahal kisah itu terjadi kira kira 1 tahun yang lalu tapi rasanya baru kemarin aq rasakan, cerita ini berkisah tentang istri dari pamanku dimana pamanku baru saja melangsungkan pernikahannya walaupun bisa dikata telat, karena umurnya suah rada tua.

    Cerita Seks Jeritan Nikmat Tante Ayu – Pamanku terbilang orang sukses karena dalam bisnisnya lancer semua, mungkin sebab itu pamanku sibuk ke bisnisnya sampai lupa pendamping hidupnya, sudah disarankan kepada keluarganya dan dipilihakn wanita tapi selalu saja ada pertimbangan yang khusus dari paman sendiri, minta ini minta itu dan pada suatu saat paman membawa wanita yang sangat cantik.

    Namanya Ayu seperti namanya dia juga cantik, tak cantik pula dia juga supel kepada kami, dia berusia 24 tahun dan saat itu ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan teman pamanku itu.

    Kemudian kami bercakap-cakap, ternyata Ayu memang enak untuk diajak ngobrol. Dan aq melihat sepertinya pamanku tertarik sekali dengannya, karena aq tahu matanya tidak pernah lepas memandang wajah Ayu.

    Tapi tidak demikian halnya dengan Ayu. Ia lebih sering memandangku, terutama ketika aq berbicara, tatapannya dalam sekali, seolah-olah dapat menembus pikiranku. Aq mulai berpikir jangan-jangan Ayu lebih menyukaiku.

    Tapi aq tidak dapat berharap banyak, soalnya bukan aq yang hendak dijodohkan. Tapi aq tetap saja memandangnya ketika ia sedang berbicara, kupandangi dari ujung rambut ke kaki, rambutnya panjang seperti gadis di iklan sampo, kulitnya putih bersih, kakinya juga putih mulus, tapi sepertinya dadanya agak rata, tapi aq tidak terlalu memikirkannya.

    Tidak terasa hari sudah mulai malam. Kemudian sebkamum mereka pulang, pamanku mentraktir mereka makan di sebuah restoran chinese food di dekat rumahnya di daerah Sunter. Ketika sampai di restorant tersebut, aq langsung pergi ke wc dulu karena aq sudah kebelet. Sebkamum aq menutup pintu, tiba-tiba ada tangan yang menahan pintu tersebut. Ternyata adalah Ayu.

    “Eh, ada apa Yu?”

    “Enggak, aq pengen kasih kartu nama aq, besok jangan lupa telpon aq, ada yang mau aq omongin, oke?”

    “Kenapa enggak sekarang aja?”

    “Jangan, ada paman kamu, pokoknya besok jangan lupa.”

    Setelah acara makan malam itu, aq pun pulang ke rumah dengan seribu satu pertanyaan di otakku, apa yang mau diomongin sama Ayu sih. Tapi aq tidak mau pikir panjang lagi, lagipula nanti aq bisa-bisa susah tidur, soalnya kan besok harus masuk kerja.

    Besoknya saat istirahat makan siang, aq meneleponnya dan bertanya langsung padanya.

    “Eh, apa sih yang mau kamu omongin, aq penasaran banget?”

    “Eeee, penasaran ya, Ton?”

    “Iya lah, ayo dong buruan!”

    “Eh, slow aja lagi, napsu amet sih kamu.”

    “Baru tahu yah, napsu aq emang tinggi.”

    “Napsu yang mana nih?” Ayu sepertinya memancingku.

    “Napsu makan dong, aq kan bkamum sempat makan siang!”

    Aq sempat emosi juga rasanya, sepertinya ia tidak tahu aq ini orang yang sangat menghargai waktu, terutama jam makan siang, soalnya aq sambil makan dapat sekaligus main internet di tempat kerjaq, karena saat itu pasti bosku pergi makan kkamuar, jadi aq bebas surfing di internet, gratis lagi.

    “Yah udah, aq cuma mau bilang bisa enggak kamu ke apartment aq sore ini abis pulang kerja, soalnya aq pengen ngobrol banyak sama kamu.”

    Aq tidak habis pikir, nih orang kenapa tidak bilang kemarin saja.

    Lalu kataq, “Kenapa enggak kemarin aja bilangnya?”

    “Karena aq mau kasih surprise buat kamu.” katanya manja.

    “Ala, gitu aja pake surprise segala, yah udah entar aq ke tempat kamu, kira-kira jam 6, alamat kamu di mana?”

    Lalu Ayu bilang, “Nih catet yah, apartment XXX (edited), lantai XX (edited), pintu no. XXX (edited), jangan lupa yah!””Oke deh, tunggu aja nanti, bye!”

    “Bye-bye Ton.”

    Setelah telepon terputus, lalu aq mulai membayangkan apa yang akan dibicarakan, lalu pikiran nakalku mulai bekerja. Apa bisa aq menyentuhnya nanti, tetapi langsung aq berpikir tentang pamanku, bagaimana kalau nanti ketahuan, pasti tidak enak dengan pamanku. Lalu aq pun mulai tenggelam dalam kesibukan pekerjaanku.

    Tidak lama pun waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, sudah waktunya nih, pikirku. Lalu aq pun mulai mengendarai motorku ke tempatnya. Lumayan dekat dari tempat kerjaq di Roxymas. Sesampainya di sana, aq pun langsung menaiki lift ke lantai yang diberitahukan. Begitu sampai di lantai tersebut, aq pun langsung melihatnya sedang membuka pintu ruanganya.

    Langsung saja kutepuk pundaknya, “Hai, baru sampe yah, Yu..”

    Ayu tersentak kaget, “Wah aq kira siapa, pake tepuk segala.”

    “Kamu khan kasih surprise buat aq, jadi aq juga mesti kasih surprise juga buat kamu.”

    Lalu ia mencubit lenganku, “Nakal kamu yah, awas nanti!”

    Kujawab saja, “Siapa taqt, emang aq pikirin!”

    “Ayo masuk Ton, santai aja, anggap aja rumah sendiri.” katanya setelah pintunya terbuka.

    Ketika aq masuk, aq langsung terpana dengan apa yang ada di dalamnya, kulihat temboknya berbeda dengan tembok rumah orang-orang pada umumnya, temboknya dilukis dengan gambar-gambar pemandangan di luar negeri. Dia sepertinya orang yang berjiwa seniman, pikirku. Tapi hebat juga kalau cuma kerja sebagai sekretaris mampu menyewa apartment. Jangan-jangan ini cewek simpanan, pikirku.

    Sambil aq berkeliling, Ayu berkata, “Mau minum apa Ton?”

    “Apa saja lah, asal bukan racun.” kataq bercanda.

    “Oh, kalau gitu nanti saya campurin obat tidur deh.” kata Ayu sambil tertawa.

    Sementara ia sedang membuat minuman, mataq secara tidak sengaja tertuju pada rak VCD-nya, ketika kulihat satu persatu, ternyata lebih banyak film yang berbau porno. Aq tidak sadar ketika ia sudah kembali, tahu-tahu ia nyeletuk, “Ton, kalo kamu mau nonton, setel aja langsung..!”

    Aq tersentak ketika ia ngomong seperti itu, lalu kubilang, “Apa aq enggak salah denger nih..?”

    Lalu katanya, “Kalo kamu merasa salah denger, yah aq setelin aja sekarang deh..!”

    Lalu ia pun mengambil sembarang film kemudian disetelnya. Wah, gila juga nih cewek, pikirku, apa ia tidak tahu kalau aq ini laki-laki, baru kenal sehari saja, sudah seberani ini.

    “Duduk sini Ton, jangan bengong aja, khan udah aq bilang anggap aja rumah sendiri..!” kata Ayu sambil menepuk sofa menyuruhku duduk.

    Kemudian aq pun duduk dan nonton di sampingnya, agak lama kami terdiam menyaksikan film panas itu, sampai akhirnya aq pun buka mulut, “Eh Yu, tadi di telpon kamu bilang mau ngomong sesuatu, apa sih yang mau kamu ngomongin..?”

    Ayu tidak langsung ngomong, tapi ia kemudian menggenggam jemariku, aq tidak menyangka akan tindakannya itu, tapi aq pun tidak berusaha untuk melepaskannya.

    Agak lama kemudian baru ia ngomong, pelan sekali, “Kamu tau Ton, sejak kemarin bertemu, kayaknya aq merasa pengen menatap kamu terus, ngobrol terus. Ton, aq suka sama kamu.”

    “Tapi khan kemarin kamu dikenalkan ke Paman aq, apa kamu enggak merasa kalo kamu itu dijodohin ke Paman aq, apa kamu enggak lihat reaksi Paman aq ke kamu..?”

    “Iya, tapi aq enggak mau dijodohin sama Paman kamu, soalnya umurnya aja beda jauh, aq pikir-pikir, kenapa hari itu bukannya kamu aja yang dijodohin ke aq..?” kata Ayu sambil mendesah.

    Aq pun menjawab, “Aq sebenarnya juga suka sama kamu, tapi aq enggak enak sama Paman aq, entar dikiranya aq kurang ajar sama yang lebih tua.”

    Ayu diam saja, demikian juga aq, sementara itu film semakin bertambah panas, tapi Ayu tidak melepaskan genggamannya.

    Lalu secara tidak sadar otak pornoku mulai bekerja, soalnya kupikir sekarang kan tidak ada orang lain ini. Lalu mulai kuusap-usap tangannya, lalu ia menoleh padaq, kutatap matanya dalam-dalam, sambil berkata dengan pelan, “Ayu, aq cinta kamu.”

    Ia tidak menjawab, tapi memejamkan matanya. Kupikir ini saatnya, lalu pelan-pelan kukecup bibirnya sambil lidahku menerobos bertemu lidahnya. Ayu pun lalu membalasnya sambil memkamukku erat-erat.

    Tanganku tidak tinggal diam berusaha untuk meraba-raba buah dadanya, ternyata agak besar juga, walaupun tidak sebesar punyanya bintang film porno. Ayu menggeliat seperti cacing kepanasan, mendesah-desah menikmati rangsangan yang diterima pada buah dadanya.

    Kemudian aq berusaha membuka satu persatu kancing bajunya, lalu kuremas-remas payudara yang masih terbungkus BRA itu.

    “Aaaaahhh, buka aja BH-nya Ton, cepat.., oohh..!”

    Kucari-cari pengaitnya di belakang, lalu kubuka. Wah, ternyata lumayan juga, masih padat dan kencang, walaupun tidak begitu besar. Langsung kusedot-sedot putingnya seperti anak bayi kehausan.

    “Esshh.. ouww.. aduhh.. Ton.. nikmat sekali lidahmu.., teruss..!”

    Setelah bosan dengan payudaranya, lalu kubuka skamuruh pakaiannya sampai bugil total. Ia juga tidak mau kalah, lalu melepaskan semua yang kukenakan. Untuk sesaat kami saling berpandangan mengagumi keindahan masing-masing. Lalu ia menarik tanganku menuju ke kamarnya, tapi aq melepaskan pegangannya lalu menggendongnya dengan kedua tanganku.

    “Aouww Ton, kamu romantis sekali..!” katanya sambil kedua tangannya menggelayut manja melingkari leherku.

    Kemudian kuletakkan Ayu pelan-pelan di atas ranjangnya, lalu aq menindih tubuhnya dari atas, untuk sesaat mulut kami saling pagut memagut dengan mesranya sambil berpkamukan erat. Lalu mulutku mulai turun ke buah dadanya, kujilat-jilat dengan lembut, Ayu mendesah-desah nikmat. Tidak lama aq bermain di dadanya, mulutku pelan-pelan mulai menjilati turun ke perutnya, Ayu menggeliat kegelian.

    “Aduh Ton, kamu ngerjain aq yah, awas kamu nanti..!”

    “Tapi kamu suka khan? Geli-geli nikmat..!”

    “Udah ah, jilati aja memek aq Ton..!”

    “Oke boss.., siap laksanakan perintah..!”

    Langsung saja kubuka paha lebar-lebar, tanpa menunggu lagi langsung saja kujilat-jilat klitorisnya yang sebesar kacang kedele. Ayu menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan liar seakan-akan tidak mau kalah dengan permainan lidahku ini.

    “Oohh esshhh aaouuw uuhh teeruss.., lebih dalemm, oohhh.. nikmat sekali..!”

    Agak lama juga aq bermain di klitorisnya sampai-sampai terlihat banjir di sekitar vaginanya.

    “Ton, masukkin aja titit kamu ke lobang aq, aq udah enggak tahan lagi..!”

    Dengan segera kuposisikan diriku untuk menembus kemaluannya, tapi ketika kutekan ujung penisku, ternyata tidak mau masuk. Aq baru tahu ternyata dia masih perawan.

    “Ayu, apa kamu tidak menyesal perawan kamu aq tembus..?”

    “Ton, aq rela kalau kamu yang ngambil perawan aq, bagi aq di dunia ini cuma ada kita berdua aja.”

    Tanpa ragu-ragu lagi langsung kutusuk penisku dengan kuat, rasanya seperti ada sesuatu yang robek, mungkin itu perawannya, pikirku.

    “Aduh sakit Ton, tahan dulu..!” katanya menahan sakit.

    Aq pun diam sejenak, lalu kucium mulutnya untuk meredakan rasa sakitnya. Beberapa menit kemudian ia terangsang lagi, lalu tanpa buang waktu lagi kutekan pantatku sehingga batang kemaluanku masuk semuanya ke dalam lubangnya.

    “Pelan-pelan Ton, masih sakit nih..!” katanya meringis.

    Kugoyangkan pinggulku pelan-pelan, lama kelamaan kulihat dia mulai terangsang lagi. Lalu gerakanku mulai kupercepat sambil menyedot-nyedot puting susunya. Kulihat Ayu sangat menikmati sekali permainan ini.

    Tidak lama kemudian ia mengejang, “Ton, aa.. aqu.. mau kkamuarr.., teruss.. terus.., aahh..!”

    Aq pun mulai merasakan hal yang sama, “Yu, aq juga mau kkamuar, di dalam atau di luar..?”

    “Kkamuarin di dalem aja Sayang… ohhh.. aahh..!” katanya sambil kedua pahanya mulai dijepitkan pada pinggangku dan terus menggoyangkan pantatnya.

    Tiba-tiba dia menjerit histeris, “Oohh… sshh… sshh… sshh…”

    Ternyata dia sudah kkamuar, aq terus menggenjot pantatku semakin cepat dan keras hingga menyentuh ke dasar liang senggamanya.

    “Sshh.. aahh..” dan, “Aagghh.. crett.. crett.. creet..!”

    Kutekan pantatku hingga batang kejantananku menempel ke dasar liang kenikmatannya, dan kkamuarlah spermaq ke dalam liang surganya.

    Saat terakhir air maniku kkamuar, aq pun merasa lemas. Walaupun dalam keadaan lemas, tidak kucabut batang kemaluanku dari liangnya, melainkan menaikkan lagi kedua pahanya hingga dengan jelas aq dapat melihat bagaimana rudalku masuk ke dalam sarangnya yang dikelilingi oleh bulu kemaluannya yang menggoda. Kubelai bulu-bulu itu sambil sesekali menyentuh klitorisnya.

    “Sshh.. aahh..!” hanya desisan saja yang menjadi jawaban atas perlaqanku itu.

    Setelah itu kami berdua sama-sama lemas. Kami saling berpkamukan selama kira-kira satu jam sambil meraba-raba.

    Lalu ia berkata kepadaq, “Ton, mudah-mudahan kita bisa bersatu seperti ini Ton, aq sangat sayang pada kamu.”

    Aq diam sejenak, lalu kubilang begini, “Aq juga sayang kamu, tapi kamu mesti janji tidak boleh meladeni paman aq kalo dia nyari-nyari kamu.”

    “Oke bossss, siap laksanakan perintah..!” katanya sambil memkamukku lebih erat.

    Sejak saat itu, kami menjadi sangat lengket, tiap malam minggu selalu kami bertingkah seperti suami istri. Tidak hanya di apartmentnya, kadang aq datang ke tempat kerjanya dan melaqkannya bersama di WC, tentu saja setelah semua orang sudah pulang.

    Kadang ia juga ke tempat kerjaq untuk minta jatahnya. Katanya pamanku sudah tidak pernah mencarinya lagi, soalnya tiap kali Ayu ditelpon, yang menjawabnya adalah mesin penjawabnya, lalu tak pernah dibalas Ayu, mungkin akhirnya pamanku jadi bosan sendiri.

    Aq Dengan Calon Istri Pamanku sering jalan-jalan ke Mal-Mal, untungnya tidak pernah bertemu dengan pamanku itu. Sampai saat ini aq masih jalan bersama, tapi ketika kutanya sampai kapan mau begini, ia tidak menjawabnya. Aq ingin sekali menikahinya, tapi sepertinya ia bukan tipe cewek yang ingin punya kkamuarga. Tapi lama-lama kupikir, tidak apalah, yang penting aq dapat enaknya juga.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Selingkuh Dengan Sepupuku

    Cerita Sex Selingkuh Dengan Sepupuku


    1131 views

    Perawanku – Cerita Sex Selingkuh Dengan Sepupuku, Seharian aku menunggu suamiku pulang tapi dia tidak datang juga, aku takut kalau kabar yang aku dengar benar, Tadi siang aku mendengar dari temanku kalau suamiku sedang berduaan di sebuah cafe dengan wanita cantik, dan dia bilang kalau wanita itu lebih muda dariku dan penampilannya sungguh seksi. Akupun menjadi takut kalau-kalau suamiku akan selingkuh dariku seperti dalam cerita dewasa.

    Akhir-akhir ini sikapnya memang sedikit berubah, dia lebih sering mengotak-atik ponselnya. Tapi aku tidak banyak nanya takutnya di bilang terlalu ikut campur urusannya meskipun aku adalah istrinya, pernikahan kami sudah berjalan selama 8 tahun lamanya. Dan anak kami juga sudah kelas 1 SD tahun ini, bagaimana jika mas Alan menghianatiku, sungguh aku begitu takut.

    Karena sekarang banyak terjadi perselingkuhan dan bukan hanya salah satu cerita dalam cerita dewasa. Apalagi suamiku bekerja di kantoran sedangkan aku hanya wanita yang hanya di rumah saja, dan jauh dari penampilan modis seperti halnya wanita karir yang bekerja di kantoran. Hubungan kami begitu langgeng selama ini, hanya saja sikap mas Alan lebih dingin akhir-akhir ini.

    Aku tahu dengan usia memasuki 30 tahun mungkin aku sudah terlihat lebih tua, tapi apa yang harus aku lakukan. Kalau aku harus merawat diri seperti wanita yang sering pergi ke salon, darimana aku harus dapat uang lebih. Sedangkan aku harus pintar-pintar menabung sisa dari menyisihkan uang belanja yang di berikan oelh suamiku, sebenarnya siapa wanita itu.

     Aku tidak banyak bertanya pada suamiku namun aku mempunyai saudara sepupu yang bekerja di kantor yang sama dengan suamiku. Aida namanya dan hari ini aku sudah ada janji dengannya di sebuah tempat makan yang tidak jauh dengan kantornya “Hei.. mbak.. tumben nih..” Katanya menyapaku lebih dulu “Iya.. ayo duduk dulu.. kita makan aja nanti mbak ceritain masalah mbak..” Kataku padanya.

    Sambil makan akupun menceritakan tentang suamiku pada Aida sepupuku “Kamu kan satu kantor dengan suami mbak.. kamu tahu dia dekat dengan wanita lain nggak..” Aida terkejut kemudian dia bilang “Nggak mungkin lah mbak.. mas Alan selingkuh dari mbak.. mbak kan cantik..” Kata Aida padaku, diapun menenangkan hatiku. Dan berjanji akan memberitahuku kalau dia melihat mas Alan dengan wanita lain.

    Akupun pulang dengan hati sedikit lapang, karena Aida bilang kalau mas Alan masih seperti dulu. Dia tidak suka jalan sama wanita meskipun banyak wanita cantik di kantornya, sampai di rumah aku langsung masak kesukaan mas Alan. Mungkin aku yang kurang memberikan perhatian padanya, jadi aku akan berubah lebih perhatian dan akan percaya pada suamiku.

    Tepat jam pulang kantor dia tiba di rumah, aku langsung menyediakan makan malam dan mendekatinya “Makan dulu ya mas..” Tapi bukannya sikap lembut yang aku terima dia malah berkata dengan nada kasar “Kamu ngapain nanya-nanya tentang aku sama Aida.. kamu ingin mempermalukan aku..” Aku kaget karena suamiku tahu kalau aku menemui Aida, bukannya Aida bilang akan merahasiakannya dari suamiku.

    Bukannya lebih tenang sejak saat itu kami menjadi lebih sering bertengkar, bahkan ketika aku mencoba menghubungi Aida dia sepertinya tidak mau mengangkat telpon dariku. Mungkin dia juga kena marah suamiku karena itu dia menjadi takut untuk berhubungan denganku, dan akupun tidak lagi berhubungan dengannya apalagi aku takut kalau datang lagi menemui Aida suamiku akan tahu.

    Sikap suamiku benar-benar keterlaluan kini dia sudah dua hari tidak pulang, dan aku sudah mencoba menghubunginya tapi tidak bisa. Akhirnya aku pergi ke rumah orang tuaku untuk menitipkan anakku, kebetulan hari ini tepat hari minggu. Aku berniat mencari suamiku tapi aku tidak memberitahu orang tuaku tentang masalah yang sedang aku hadapi.

    Kebetulan disana aku bertemu dengan tanteku, yakni orang tua dari Aida. Dia bilang kalau Aida sekarang sudah tidak tinggal dengannya lagi, tapi mengontrak di kawasan tempat dia bekerja, mendengar hal itu aku senang setelah mendapat alamat Aida aku segera menuju ke sana. karena aku ingin mengajak Aida untuk mencari tahu keberadaan suamiku, Aida teman satu kantornya dia pasti banyak tahu tentang teman suamiku.

    Sampai di depan rumah kontrakan Aida aku begitu kaget, di halaman rumahnya yang tidak begitu luas terpakir mobil suamiku. Saat itu juga hatiku sudah mulai curiga, dengan langkah cepat aku masuk kedalam rumah Aida yang kebetulan tidak terkunci pintu depannya. Benar saja aku mendengar suara seseorang yang berada di dalam kamar rumah itu yang memang hanya ada satu kamar tidur itu.

    Tapi entah kenapa kakiku seperti tidak dapat melangkah lagi “Aahhhh.. maaaasss.. jangaaan.. aaaggggghhh… aaaagggghhh…” Di dalam sana aku melihat suamiku sedang melepas handuk yang di pakai oleh Aida sepupuku, ketika handuk itu terlepas merekapun saling menindih dengan tubuh keduanya dalam keadan telanjang bulat dan aku mampu melihatnya dengan jelas.

    Suamiku lalu mengacungkan kontolnya dan dengan mudah dapat masuk ke dalam kemaluan Aida “Ooouuuugggghhh… yang keraaaas… maaaas… aaaghhhh… aaaaggghhh…. 

    aagghhhh… aaagggggghhhhh…. aaaggghhhh… ” Aida sepertinya begitu menikmati permainan seks dari suamiku, dia begitu senang terdengar dari mulutnya diapun mendesah di sela senyumannya.

    Aida terus mendesah “OOouuuggghhhh…. aaaaggghhhh… aaaggghh.. niiikmaaaat sayaaaang… aaaggghh.. yaaaccchhh.. terussssss… aaaagggghhh..” Merekapun saling pagut dan saling berciuman sambil terus bergerak, saat Aida membalikan tubuhnya dan berganti dia yang berada di posisi atas. Saat itu juga aku mampu mengeraskan tangisanku meskipun masih dalam keadaan duduk di lantai.

    Karena kakiku sepertinya tidak ada kekuatan untuk berdiri lagi “OOouuuggghhh…. aaggggghhh… mbaaak…. ” Aida melihat ke arahku, saat itu juga suamiku mas Alan juga melihat ke arahku. Mereka tertahan sejenak sebelum akhirnya sama-sama bangun lalu mengambil pakaian mereka masing-masing sedangkan aku benci pada kakiku yang tidak bisa berdiri juga.

    Hingga mas Alan mendekatiku dan berkata “Ayo kita pulang…” Dia berusaha menarik tanganku, saat itu juga aku memiliki kekuatan untuk berteriak sekeras-kerasnya hingga banyak orang yang menghampiri rumah kontrakan Aida, sebelum aku mampu berdiri aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Ketika terbangun aku sadar kalau aku sudah berada di dalam ruangan rumah sakit.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Foto Sexy Model Asia Toge – Foto Cewek Sexy Terbaru 2018

    Foto Sexy Model Asia Toge – Foto Cewek Sexy Terbaru 2018


    2092 views

    Perawanku –  Benua Asia bagian tenggara ternyata tak hanya kaya akan keindahan alam dan budaya nya saja. Seperti kita ketahui bersama bahwa asia tenggara juga memiliki wanita-wanita yang cantik mempesona dengan ciri khas nya sendiri.

    Namun kali ini kami tak akan hanya menampilkan kecantikan wajah mereka. Tapi juga, keindahan tubuh montok mereka ketika dalam keadaan bugil telanjang tanpa sehelai benang pun.

    Langung saja deh kamu liat satu per satu foto bugil Model asia tenggara yang wajahnya tak hanya cantik tapi juga memiliki tubuh yang montok terawat ini:

  • Cerita Sex Bertiga TreeSome Denyutan-Denyutan Memekku

    Cerita Sex Bertiga TreeSome Denyutan-Denyutan Memekku


    2662 views

    Perawanku – Teman SMA ku dulu yang bernama Gilang kini menjadi suamiku kami dikaruniai anak anak yang sudah remaja
    sekarang dan kuliar di luar kota , sekarang tinggallah kami berdua di rumah terasa sepi , suamiku yang
    bekerja sebagai karyawan PMA sehinga kehidupan kami sudah cukup.

    Aku juga hobi dengan pergi ke salon unutk merawat tubuhku walaupun wajahku tidak cantik banget tapi
    kata orang bodyku tidak boseni jika dilihat, suamiku selalu sering memuji dengan kata kat gombalnya
    “hari ini kamu cantik baget sayangku”

    Suamiku senang olah raga tenis dan golf kalau badan tidak terlalu tinggi 165 cm tapi cukup atletis
    dengan berat badan 63 kg. Urusan diranjang sebenarnya aku cukup bahagia karena suamiku orangnya
    telaten dan sabar dia selalu memberikan kesempatan dulu padaku untuk orgasme seteleh itu baru dia
    melakukan penetrasi sampai aku orgasme yang kedua.

    Pengalaman ini terjadi karena rasa kesepianku di rumah sendiri akhirnya aku usul untuk menerima kost
    toh kamar anakku 2 kamar tidak ada yang nempati.

    Akhirnya suamiku sepakat dia yang cari dan kebetulan ada teman kenalannya seorang pengusaha yang biasa Fastbet99
    mondar-mandir Jakarta ke kotaku karena ada anak perusahaannya di kotaku.

    Pertimbangannya dari pada ke hotel boroAgen Bola Maxbets karena kadang harus sampai dua minggu. Namanya Rendra
    (samaran) keturunan arab dengan cina orangnya tinggi (176 cm 76 kg) besar dengan kulit putih tapi
    wajah arab kayak Omar Syarif dengan bulu diseluruh tubuhnya, orangnya sangat santun.

    Kami cepat akrab bahkan seperti keluarga sendiri karena makan malam kami selalu bersama bahkan
    pada waktu lapor Pak RT kami mengaku sebagai saudara. Oh iya aku panggilnya Dik karena umurnya baru 38
    tahun.

    Bahkan jika suamiku dan Aku pergi berlibur ke Tawangmangu atau Bandungan dan pas ada di kotaku ia kami
    ajak. Begitu akrabnya kami sehingga tak jarang kami Dik Rendra juga membantu kalau ada kerepotan
    dirumah sehingga lingkungan taunya memang adik saya.

    Untuk sehari-hari setelah berjalan 3 bulan kami makin akrab saja bahkan suamiku suatu hari, ketika
    kami ngobrol habis makan malam.

    “Ajaklah Isterimu jalan-jalan kemari Dik Rendra,” celetuk suamiku, “Biar
    dia kenal mbakyumu” lanjutnya, Dik Rendra hanya diam dan menghela napas
    panjang.

    “Ada apa.. Ada yang salah?” lanjut Mas Gilang melihat gelagat yang kurang
    enak.

    “E.. Anu Mas Aku sebenarnya duda isteriku meninggal 3 tahun yang lalu
    diruamh cuma ada anak-anak dengan pembantu saja” jawabnya dengan mata
    berkaca-kaca.

    Kami akhirnya tahu statusnya dan kami minta suatu ketika kalau liburan sekolah biar anak-anak diajak
    kebetulan anaknya 2 orang masih 7 tahun dan 4 tahun.

    Sejak itu keakraban kami tambah dekat bahkan suamiku sering membisiki aku kalau keturunan arab
    biasanya barangnya besar dan panjang.

    Akupun merasa Dik Rendra makin memperhatikan aku, pernah aku dibawakan hadiah liontin permata yang
    cantik. Bahkan sehari-hari kami makin terbuka misalnya ditengah guyonan, kadang kadang Dik Rendra
    seolah mau memelukku dan bahkan sembunyi-sembunyi berani menciumi pipiku kalau mau pamit pulang
    Jakarta.

    Demikian pula sebaliknya Mas Gilang seolah membiarkan kami bercengkarama kadang kadang bahkan
    ngompori, “Ooo mabkyumu itu biar STW tapi malah tambah punel (maksudnya memeknya) lho Dik Rendra”
    kalau sudah begitu aku yang merah padam, tapi untungnya hanya kami bertiga.

    Seperti kebiasan kami, pada hari libur Sabtu Minggu kami bertiga week end di kebun kami di
    Tawangmangu. Walaupun tidak terlalu luas namun kebun ini cukupanlah untuk hiburan dan cukup nyaman
    untuk beristirahat.

    Entah apa sebabnya Mas Gilang hari itu dengan manja tiduran berbantal pahaku di depan Dik Rendra
    setelah selesai makan malam sambil menonton TV dan ngobrol kesana kemari diruang keluarga.

    Kulihat Mas Gilang sangat atraktif mempertontonkan kemesraannya di depan di Rendra. Aku sebenarnya
    agak kikuk tapi karena sudah seperti adik sendiri aku bisa mengatasi perasaanku, lagian Dik Rendra
    sudah sering melihat kemesraan kami sehari-hari dirumah. Kulihat Dik Rendra acuh saja melihat tingkah
    laku Mas Gilang. Malah akhirnya Dik Rendra mengambil inisiatif mengambil kasur dari kamar tidur untuk
    dihamparkan ke lantai.

    Akhirnya kamipun menonton TV sambil tiduran, aku dan Dik Rendra bersandar didinding berjajar cuma
    berjarak setengah meter sedang Mas Gilang tiduran di pahaku. Acara yang ditayangkan kebetulan agak
    menyerempet-nyerempet hubungan suami isteri.

    Kulihat Dik Rendra tidak bisa konsentrasi, ia lebih sering mencuri pandang ke arah dadaku yang saat
    itu hanya terbungkus daster, aku pura-pura nggak tahu tapi aku sempat melihat arah tengah
    celananya yang aku yakin sudah setengah ereksi.

    Tiba-tiba Mas Gilang memeluk pahaku sambil mengusap usap tonjolan payudara dari luar baju daster yang
    kukenakan, aku bingung.

    “Mas malu ah masa ada Dik Rendra,” protesku sambil melemparkan tangannya
    kasar.

    “Ah nggak apa apa, wong Di Rendra juga pernah merasakan koq.” sahut Mas
    Gilang sambil senyum penuh arti ke Rendra.

    Rendra tersenyum kecut Aku melengos sebel tapi jujur saja rabaan Mas Gilang membuat aku on apalagi
    udara dingin Tawangmangu yang menusuk tulang.

    Sementara Mas Gilang malah nekat dan kepalanya yang menindih pahaku digeser ke arah selangkanganku,
    sehingga tak terhindarkan baju dasterku yang memang pendek makin tersingkap sehingga Rendra makin
    leluasa melahap pahaku yang terbuka lebar..

    “Mbak.. Aku.. Jadi ingin nih..” Rendra bicara padaku.

    Gila batinku aku benar-benar kaya kepiting rebus mendengar kata-kata Rendra hampir saja aku tampar.
    Tapi Mas Gilang malah menimpali, “Nggak pa-pa, ya Mam? Kasihan khan Dik Rendra sudah lama lho nggak
    merasakan” sahutnya.

    “Pap!! apa-apaan sih ini” sahutku nggak kalah seru.

    “Papa boleh kok mam, papa iklas please, ..!” pintanya sambil mengedip ke
    Dik Rendra.

    Cerita Sex Bertiga TreeSome Denyutan-Denyutan Memekku

    Cerita Sex Bertiga TreeSome Denyutan-Denyutan Memekku

    Rupanya Rendra tanggap langsung saja dia miringkan badannya, karena jarak kami cuma sejengkal maka
    langsung direngkuhnya belakang kepalaku dan diciumnya mulutku dengan paksa.

    Aku ingin menolak tapi Mas Gilang memegang tanganku dan meraba tengah CDku aku terombang-ambing antara
    nafsu dan nilai yang ada dalam diriku tapi aku makin terangsang, tanpa sadar malah
    kumiringkan tubuhku menghadap Dik Rendra sehingga aku bisa berhadapan.

    Melihat reaksiku tanpa segan Dik Rendra menyelusupkan tangannya dibalik dasterku untuk meremas remas
    buah dadaku, sementara Mas Gilang tangannya sudah masuk CD untuk mengelus elus klitorisku yang menjadi
    titik kelemahanku.

    Mendapat seranngan dua orang sekaligus sensasiku melambung tinggi ada kenikmatan yang tiada tara.
    Kucoba memberanikan diri meraba perut Rendra dan turun kebawah pusar, ada rasa penasaran ingin tahu
    ukuran barangnya. Link Alternatif Fastbet99

    WAU.. luar biasa rupannya sudah berdiri keras dan tidak pakai CD lagi tanganku tak bisa memegang
    semuanya genggamanku penuh itupun baru separonya.

    Ketika itu Mas Gilang melepaskan seluruh pakaiannya dan mencopoti dasterku, Rendra melepaskan
    pakainnya juga dan menggeser posisinya merapat ke arahku dari sebelah kiri kami berhadapan, sedangkan
    Mas Gilang memiringkan tubuhnya yang bugil sebelah kanan (belakangku).

    Sehingga dengan sendirinya kontol Mas Gilang yang sudah kencang menempel bokongku dan kontol Rendra
    yang luar biasa panjang dan besar menempel pahaku karena Rendra tak mau melepaskan pelukannya padaku
    jadi Mas Gilang hanya merogoh memekku dari belakang.

    Rendra menciumi diriku sambil mengelus payudara penuh nafsu, kulihat Rendra yang penuh dengan gairah,
    aku ikut terhanyut. Aku tak sempat berfikir macam macam, nafsuku telah mendominasi pikiranku,
    kunikmati apa yang dilakukan Rendra padaku tanpa menghiraukan Mas Gilang yang meremas-remas bokongku,
    dan mengelus vaginaku yang sudah basah.

    Aku mendesis desis tak karuan karena keenakan dengan tangan kanannya Rendra mendekap punggungku erat
    erat, sedangkan tangan kirinya mulai menyibak vaginaku rupanya dia
    sudah nggak tahan ingin memasukkan kontolnya ke memekku.

    Dituntunnya penisnya ke arah lubang vaginaku, dan dalam tempo singkat aku sudah melayang kelangit ke
    tujuh menikmati kontol Dik Rendra yang panjang besar ada meskipun rasa perih dan penuh menyesak di
    vaginaku namun kenikmatan yang kurasakan mampu membuatku melupakan rasa perih memekku.

    Otomatis jepitan lobang kemaluanku makin jadi dan denyutan-denyutan memekku yang selama ini dipuja
    oleh Mas Gilang dirasakan oleh Rendra.

    “Oh Mbak memekmu luar biasa, benar-benar punel Mbak” bisik Rendra sambil
    mulai memompa batang kemaluannya secara ritmis.

    Sementara aku mengimbangi mengocoknya perlahan lahan, Rendra mendesis desis keenakan, kini wajah
    Rendra menghadap ke arahku dengan matanya yang terpejam sungguh tampan sekali apalagi desisanya
    membuatku benar-benar melayang.

    Gesekan bulu dada di ujung putingku membuatku seperti kesetrum listrik ribuan watt. Setelah hampir
    sepuluh menit Rendra memompa memekkuaku mulai kesetanan mau meledak tapi dia mulai mengendurkan
    pelukannya.

    “Ganti posisi yuk Mbak, nggak adil kan masa yang punya (Mas Gilang
    maksudnya) nggak kebagian” bisik Rendra padaku.

    Rendra melepaskan kontolnya dari memekku pelan-pelan terasa ada yang hilang dari selanggkanganku,
    Rendra berdiri sambil membimbingku Mas Gilang masih ikut dibelangku sambil meremasi pantatku.

    Aku menoleh memandang suamiku penasaran ingin tahu reaksinya, tapi ternyata kulihat Mas Gilang
    begitu bahagia bahkan dia tersenyum.

    “Kita main bersamaan ya Mas?” ajak Rendra pada suamiku.

    Rendra mengambil posisi duduk bersandar di sofa dengan paha mengangkang, tampak kontolnya yang besar
    panjang dan kokoh dengan topi baja yang mengkilat karena cairan memekku berdiri seperti prajurit siap
    serbu, kemudian ia menyuruhku mengangkang diatasnya dengan menumpangkan pahaku pada pahanya sambil
    membelakanginya.

    Perlahan-lahan aku turunkan bokongku dan Rendra membibing kontolnya untuk memasuki memekku, bles,
    ahh.. Rasanya tambah nikmat dan sudah nggak perih lagi.

    Dengan posisi begitu maka dari depan mencuatlah klitorisku yang sudah keras dan kencang, perlahan-
    lahan aku mulai memompa dengan menaik turunkan bokongku, melihat pemandangan seperti itu Mas Gilang
    langsung duduk jongkok di depanku oh.. Ia menjilati klitorisku yang terbiar menantang.

    Oh.. Luar biasa sensasi yang timbul seluruh tubuhku bergetar kurasakan memekku makin berdenyut keras,
    kuraih kepala Mas Gilang kurapatkan ke selangkanganku sementara Rendra terus menyodokku dari bawah.
    Ahh.. Aku mau meledak.. Mas.. Aku mau meladak..!!

    Rendra menggeram karena kontolnya kucengkeram dengan denyutan memekku yang makin kuat,. Dan dengan
    sambil meremas-remas payudarku kurasakan kontol Rendra dalam memekku berdenyut keras.. Ahh Mbak aku
    mau keluar..

    Ditariknya putingku sambil menyodokku dari bawah kuat-kuat sementara Mas Gilang melumat klitorisku aku
    benar-benar tidak bisa menggambarkan kenikmatan yang kudapat ketika kontol Rendra menyemburkan
    spermanya ke dalam memekku bersamaan orgasmeku dan hisapan-hisapan pada klitorisku.

    Belum selesai sensasiku Mas Gilang menarikku dan memintaku nungging ini kebiasaan Mas Gilang dia mau
    memompaku kalau aku sudah orgasme katanya enak sekali keRendran-keRendran memekku kalau orgasme.

    Aku mengambil posisi nungging dengan bertumpu pada kedua paha Rendra pas kontolnya yang
    berlendir-lendir di mukaku langsung saja aku bersihkan sementara Mas Gilang mulai memasukkan kontolnya
    yang meskipun tidak panjang tapi kepalanya sangat leber sehingga seperti klep pompa.

    Kurasakan sensasi yang lebih hebat lagi ketika Mas Gilang mulai memompaku dari belakang.
    Hampir saja kugigit kontol Rendra kalau saja Rendra tidak berteriak, mengaduh. Entah aku merasa tidak
    kuat lagi menahan ledakankanku yang berikutnya dan segara saat kontol Mas Gilang mulai berkedut-kedut
    akan menyemburkan spermanya akupun juga merasakan diriku akan meledak lagi.

    Dan aahh dengan teriakan panjang Mas Gilang menyemprotkan spermanya ke dalam memekku. Aku segera
    berbalik untuk membersihkan kontol Mas Gilang, rasa sperma dua orang laki-laki yang bercampur membuat
    lidah merasa aneh dan asing.

    Kami terkulai lemas tapi aku merasa lapar dengan tetap bugil aku kedapur untuk masak kulihat dua orang
    laki-laki itu berpelukan saling
    menepuk punggung.

    “Gimana dik?” lamat lamat kudengan suara Mas Gilang menanyakan kesannya
    pada Rendra.

    “Wah luar biasa Mas, aku nggak nyangka kalau Mbak Rin.. Begitu hebat,
    pantas Mas Gilang tidak pernah jajan,” timpal Rendra.

    “Begini aja dik, Dik Rendra nggak usah sungkan lagi sekarang ini mbakyumu ya isterimu, tapi janji Dik
    Rendra nggak boleh jajan, aku jijik kalau mbayangkan Dik Rendra jajan,” sambung Mas Gilang.

    “Sumpah Mas aku nggak pernah jajan sepeninggal isteriku, pernah pembantuku aku pakai itupun cuma
    sekali selebihnya aku pake alat,” lanjut Rendra.

    “Jadi janji betulan lho dik, dan kita nggak boleh cemburu, satu sama lain..”

    “Eh.. Enak aja ngomongin nasib orang nggak ngajak yang diomongin” aku langsung protes nglendot di
    pangkuan Mas Gilang.

    “Tapi Mama setujukann..” lanjut suamiku.

    “Mmm.. Gimana.. Ya.. Mmm” sengaja kubuat-buat jawabanku aku ingin melihat reaksi Rendra.

    “Maaf Mbak, kalau Mbak nggak setuju aku nggak pa-pa kok Mbak” Rendra memelas.

    “Habis.. Habis..” jawabku nggak kulanjutkan.

    “Habis apa Mbak?” Rendra panasaran.

    “Habis.. E n a a k hi.. Hi.. Hi” jawabku sambil cekikikan.

    Rendra langsung menubrukku yang masih dipangkuan Mas Gilang, tanpa sungka lagi diciumnya ibirku
    diremasnya dadaku kulihat kontolnya sudah ngacung. “Eh.. Makan duluu.. Ah aku lapar nih.. Nasi goreng
    sudah masak tuh di meja” pintaku.

    Rendra menghentikan cumbuannya terus membopongku kekursi makan sambil memangkuku dia menghadapi meja
    makan sementara Mas Gilang mengikuti dari belakang dan mereka duduk berimpitan kursi.

    Aku membagi bokongku diatas kedua paha mereka yang berhimpitan satu berbulu yang satu agak licin.
    Mereka dengan sabar bergantian menyuapi aku. Aku benar-benar bahagia mereka berdua sekarang suamiku,
    yang siap memuaskanku.

    Selesai makan kusiapkan sikat gigi dan odol buat mereka, aku mendahului membersihkan diriku di kamar
    mandi sperma yang kering berleleran di pahaku terasa lengket. Setelah itu aku kekamar utama menyisir
    rambut ku di depan cermin.

    Tak lama kemudian kulihat mereka berdua mengendap-endap beriringan masuk kamar aku seolah tak melihat.
    Kurasakan elusan lembut sebuah tangan dengan bulu-bulu halus menelusuri bokongku, bahkan kemudian
    mengarah keselangkangan dan mengelus memekku.

    Aku sudah bisa menduga pemilik tangan itu, dan hatiku berdesir ketika kulihat tangan Rendra lah yang
    sedang mengelus belahan memekku, dan Mas Gilang mengelus batang penisnya, sambil mulutnya menciumi
    dadaku.

    Sambil berubah posisi dengan setengah duduk di depanku Mas Gilang siap dengan selangkanganku yang
    terbuka lebar memperlihatkan vagina merah basah yang sangat indah, sementara tangan kanannya
    menggosokan gosokkan kemaluanya, sementara Rendra tidak tinggal diam buah dadaku yang menggantung
    diremas remas dan diciumi dari belakang.

    Rendra merubah posisinya dengan duduk di meja rias dengan kontol siap dimuka mulutku. Sekarang aku
    baru bisa mengukur panjangnya kontol Rendra yang ternyata ada dua kepalan tanganku dengan kepala agak
    meruncing dan diameter kepala bajanya lebih kecil dari punya Mas Gilang.

    Langsung kugenggam dan ku jilati dan kukocok-kocok. Begitu kulakukan sampai hampir setengah jam dan
    dalam waktu yang tidak terlalu lama gerakan Rendra tak terkendali, bahkan ia membalas menekan kepala
    Mas Gilang yang sedang mengenyot klitorisku dibawah meja pada saat itulah Rendra menghentak hentakkan
    pinggul dan menyorong-nyorongkan kontolnya dimulutku dan.. Agen Bola Maxbet
    Croot.. Croot.. Croot..

    Sperma Rendra memenuhi kerongkonganku. Dia telah orgasme. Ini terlalu cepat, padahal aku merasa masih
    belum apa-apa. Rendra terus turun membopongku ke ranjang dan Mas Gilang sekarang menindihku semetara
    Rendra mempermainkan ku dari bawah ah rupanya mereka telah kompak untuk kerja sama memuaskan diriku.

    Mas Gilang sudah terlengkup ditubuhku, sementara pinggulnya naik turun, mengocok batangnya yang sudah
    melesak ditelan liang kenikmatanku. Sekali kali tangannya meremas bokongku.

    Aku mulai on lagi dan otot-otot vaginaku mulai berdenyut-denyut tapi tiba-tiba Mas Gilang menghentikan
    kocokannya, dan mencabut penisnya, aku masih tanggung tetapi aku memang juga tidak ingin selesai
    sekarang, aku masih berharap Rendra bangkit lagi setelah istirahat.

    Aku ingin Rendra memompaku dulu baru Mas Gilang yang mengakhiri puncaknya. Tapi Mas Gilang minta aku
    dan Rendra melakukan 69 dengan posisi Rendra dibawah begitu aku posisi enam sembilan Mas Gilang
    menusukku dari belakang dan Rendra ganti yang ngenyot klitorisku.

    Sungguh luar biasa rasanya ber 69 sambil memekku dipompa aku tak dapat menahan kenikmatan yang
    menyerbu lubang memekku. Denyutan-denyutan mencengkeram makin keras dan ini yang paling disukai Mas
    Gilang, kemudian kurasakan Mas Gilang mulai mencengkeram bokongku dan melenguh seperti sapi di
    sembelih sambil mempercepat goyangannya, semetara mulut Rendra tak henti menciumi klitorisku dan
    lidahnya menerobos kadang masuk ke memekku disela kontol Mas Gilang.
    Nafasku tersengal, aku mulai masuk kemasa orgasme.

    Tanpa menunggu waktu lagi Mas Gilang mempercepat kocokannya, dan kemaluankupun sudah berdenyut denyut
    kencang, akan segera akan keluar. Mas Gilang merengkuh bokonku, makin kencang, sambil dari mulutnya
    keluar erangan kenikmatan yang panjang dan kemaluannya ditekan keras ke kemaluanku, dia semprotkan
    spermanya..

    Crot.. Crot.. Crot tapi aku belum orgasme.

    Dan segera berlelehanlah air maninya menyemprot didalam vaginaku Pada saat yang sama, aku tak tahan
    menahan orgasmeku, kugenggam kontol Rendra kuat-kuat dan kuhisap sampai batangnya sambil mengejan
    menikmati orgasmeku bersama Mas Gilang mendapat perlakuan begitu Rendra juga orgasme kembali dan
    menyemburkan maninya ke mulutku untuk yang kedua kali.

    Kenikmatan yang luar biasa. ceritasexdewasa.org Walaupun permainan sudah berakhir tetapi Mas Gilang tidak mau mencopot
    kemaluanku dari memekku, aku paham betul dia paling suka menikmati denyutan memekku.

    “Pah.. Aku sudah nggak tahan.. Pahaahh.. Eghh.. Eegghh capek nih kasian Rendra kita tindih”

    Malam ini adalah malam pertama aku merasakan penis orang lain selain punya Mas Gilang apalagi penisnya
    lebih panjang, sebuah pengalaman yang sangat memuaskanku.

    Pembaca terhormat masih banyak pengalaman nikmat yang kualami bersama ke dua suamiku namun sementara
    sampai disini dulu, bila ada kesempatan akan aku ceritakan lainnya.
    Sejak kejadian itu Rendra minta jatahnya padaku setiap ada dikotaku bahkan anak-anaknya sering diajak
    untuk bersama tinggal dikotaku saat libur agar tidak bolak-balik.

    Saat Rendra ada hampir tiap hari sekali aku mendapat giliran dari Mas Gilang
    dan Rendra kadang kami lakukan treesome kadang hanya berdua saja dengan salah sat dari mereka, dan
    kami sepakat hanya dilakukan bertiga saja.

    Pembaca yang terhormat kalau anda wanita disayangi 2 orang pria percayalah mereka bisa akur sabar
    tidak ada rasa cemburu dan yang hebat anda akan dimanja seperti diriku.

    Nggak percaya cobalah. Pengalaman ini benar-benar nyata kami telah 5 tahun bersama tapi kasih sayang
    mereka sangat tulus padaku. Aku jadi rajin jamu dan senam untuk kepuasanku dan kepuasan mereka bagi
    yang ingin tanya silahkan kirim email pasti dijawab. Mau coba aku punya caranya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sedarah Kakek Mesum yang Memperawani Kedua Cucunya yang Cantik – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sedarah Kakek Mesum yang Memperawani Kedua Cucunya yang Cantik – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1682 views

    Perawanku – Namaku Budyanto (bukan nama asli), saat ini usiaku 63 tahun. Boleh dibilang untuk urusan main perempuan aku adalah pakarnya. Ini bisa kukatakan karena pada saat usiaku 13 tahun aku sampai menghamili 3 temanku sekaligus.

    Dan di usiaku ke 17 sampai dengan 5 orang teman yang aku hamili, satu di antaranya Winnie, seorang gadis peranakan Belanda dan Cina yang pada akhirnya aku terpaksa mengawininya karena hanya dia yang ambil risiko untuk melahirkan bayi atas kenakalanku dibanding gadis lain.

    Winnie sampai memberiku 3 orang anak, tetapi selama aku mendampinginya dalam hidupku, aku masih juga bermain dengan perempuan sampai usiaku 50 tahun, inipun disebabkan karena Winnie harus tinggal di Belanda karena sakit yang dideritanya hingga akhir hayatnya yaitu 7 tahun yang lalu, otomatis aku harus mendampinginya di Belanda sementara ketiga anakku tetap di Indonesia.

    Kira-kira satu tahun yang lalu petualanganku dengan perempuan terjadi lagi, tapi kali ini orangnya adalah yang ada hubungan darah denganku sendiri yaitu Dhea dan Marsha, keduanya merupakan cucuku sendiri.

    Satu tahun yang lalu, anakku yang kedua mengontakku di Belanda yang memberitahukan bahwa kakaknya yaitu anakku yang pertama dan istrinya mengalami kecelakaanyang akhirnya harus meninggalkan dunia ini. Aku si kakek mesum pun langsung terbang ke Jakarta.

    Setiba di Jakarta aku lansung menuju ke rumah anakku, di sana aku menemukan anakku dan istrinya telah terbujur kaku dan kulihat Dhea dan adiknya Marsha sedang menagis meraung-raung di depan keduajenazah itu. Sewaktu kutinggal ke Belanda, Dhea dan Marsha masih kecil.

    Setelah peguburan jenazah kedua anakku, atas anjuran anakku yang kedua, aku diminta untuk tinggal di Jakarta saja dan tidak usah kembali ke Belanda, aku harus menjaga kedua cucuku, aku pun setuju. Sejak saat itu, aku pun tinggal di Indonesia.

    Satu minggu aku sudah tinggal di rumah almarhum anakku, dan kutahu Dhea usianya 19 tahun sedangkan adiknya Marsha usianya 17 tahun ini kutahu karena tugasku sekarang menjaga dan mengantarkan cucuku sekolah. Dhea sudah tumbuh menjadi anak gadis tetapi kelakuannya agak nakal, setiap pulang dari sekolah bukannya belajar malah main ke temannya sampai jam 09.00 malam baru kembali, di saat aku sudah tertidur.

    Suatu hari ketika Dhea pulang aku si kakek mesum masih terbangun, Dhea langsung masuk kamar setelah mandi dan berdiam di dalam kamarnya yang membuat aku penasaran melihat sikap Dhea, sampai di depan kamarnya sebelum kuketuk aku coba mengintip dari lubang pintu dan aku terkaget-kaget melihat apa yang dilakukan Dhea di kamarnya.

    TV di kamar itu menyala dimana gambarnya film porno, sedangkan Dea sedang mengangkat roknya dan jarinya ditusukkan ke dalam lubang kemaluannya sendiri. Aku mengintipnya hampir 15 menit lamanya yang membuat aku tidak sadar bahwa batangkemaluanku mulai mengeras dan celanaku basah. Setelah itu kutinggalkan Dhea yang masih onani, sedang aku si kakek mesum pun ke kamar untuk tidur, tapi dalam tidurku terbayang kemaluan Dhea.

    Paginya aku bangun terlambat karena mimpiku. Dhea dan Marsha sudah berangkat sekolah naik angkutan kota. Sore hari aku kembali setelah mengurus surat-surat kuburan anakku. Ketika aku masuk ke ruang keluarga, aku sempat terkejut melihat Dhea sedang menonton TV,

    pikirku tumben sore-sore Dhea ada di rumah dan aku makin terkejut ketika aku menghampiri Dhea, Dhea sedang melakukan onani sementara TV yang ia tonton adalah film porno yang tadi malam sudah dilihatnya. Dhea pun tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya dimana Dhea sedang asyik-asyiknya onani.

    “Dhea… kamu lagi… ngapain?”
    “Uh… kakek.. ngagetin aja… nih…”

    Dhea yang kaget langsung menutupinya dengan rok dan memindahkan channel TV.

    “Kamu kaget.. yach, kamu.. belajar begini sama siapa.. kamu ini bandel yach..”
    “Belajar dari film dan bukunya temen, tapi Dhea.. nggak bandel loh… Kek…”
    “Sini Kakek.. juga mau nonton,” kataku sambil duduk di sebelahnya.”Kakek mau nonton juga.. Kakek nggak marah sama Dea khan?” katanya agak manja sambil melendot di bahuku.
    “Nggak… ayo pindahin channel-nya!”

    Gambar TV pun langsung berubah menjadi film porno lagi. Tanpa bergeming, Dhea asyik menatap film panas itu sementara nafasku sudah berubah menjadi nafsu buas dan batang kemaluanku mulai mengeras berusaha keluar dari balik celanaku.

    “Dhe… mau Kakek pangku.. nggak?” Tanpa menoleh ke arahku Dhea bergeser untuk dipangku. Dhea yang sudah meloloskan celana dalamnya merasa terganggu ketika kemaluannya yang beralaskan roknya tersentuh batang kemaluanku yang masih tertutup celana.

    “Ah.. Kakek.. ada yang mengganjal lubang kemaluan Dhea nih dari bawah.”
    “Supaya nggak ganjal, rok kamu lepasin aja, soalnya rok kamu yang bikin ganjal.”

    Tiba-tiba Dhea menungging dipangkuan melepaskan roknya, badannya menutupi pemandanganku ke arah TV tapi yang kulihat kini terpampang di depan mukaku pantat Dhea yang terbungkus kulit putih bersih dan di bawahnya tersembul bulu-bulu tipis yang masih halus menutupi liang kemaluannya yang mengeluarkan aroma bau harum melati.

    “Dhea.. biar aja posisi kamu begini yach!”
    “Ah.. Kakek, badan Dhea khan nutupin Kakek… nanti Kakek nggak lihat filmnya.”
    “Ah.. nggak apa-apa, Kakek lebih suka melihat ini.”

    Pantatnya yang montok sudah kukenyot dan kugigit dengan mulut dan gigiku. Tanganku yang kiri memegangi tubuhnya supaya tetap berdiri sedangkan jari tengah tangan kananku kuusap lembut pada liang kemaluannya yang membuat Dhea menegangkan tubuhnya.

    “Ah… Ah… ssh.. sshh…”

    Pelan-pelam jari tengahku kutusukkan lebih ke dalam lagi di lubamg kemaluannya yang masih sangat rapat. “Aw.. aw… aw.. sakit.. Kek…” jerit kecil Dhea. Setelah lima menit jariku bermain di kemaluannya dan sudah agak basah, sementara lubang kemaluannya sudah berubah dari putih menjadi agak merah.

    Kumulai memainkan lidah ke lubang kemaluannya. Saat lubang kemaluan itu tersentuh lidahku, aku agak kaget karena lubang kemaluan itu selain mengeluarkan aroma melati rasanya pun agak manis-manis legit, lain dari lubang kemaluan perempuan lain yang pernah kujilat, sehingga aku si kakek mesum berlama-lama karena aku menikmatinya.

    “Argh… argh… lidah Kakek enak deh.. rasanya.. agh menyentuh memek Dhea… Dhea jadi suka banget nih.”
    “Iya… Dhea, Kakek juga suka sekali rasanya, memekmu manis banget rasanya.”

    Dengan rakusnya kujilati lubang kemaluan Dhea yang manis, terlebih-lebih ketika biji klitorisnya tersentuh lidahku karena rupanya biang manisnya dari biji klitorisnya. Dhea pun jadi belingsatan dan makin menceracau tidak karuan.

    “Argh.. sshh.. agh… aghh… tidddaak… Kek… uenak… buanget… Kek.. argh… agh.. sshhh…”

    Hampir 30 menit lamanya biji klitoris Dhea jadi bulan-bulanan lidahku dan limbunglah badan Dhea yang disertai cairan putih kental dan bersih seperti lendir, mengucur deras dari dalam lubang kemaluannya yang langsung membasahi lubang kemaluannya dan lidahku. Tapi karena lendir itu lebih manis lagi rasanya dari biji klitorisnya langsung kutelan habis tanpa tersisa dan membasahi mukaku.

    “Arggghh.. aaawww… sshhh.. tolong… Kek… eennaak… baangeeet… deh…” Jatuhlah tubuh Dhea setelah menungging selama 30 menit meniban tubuhku.

    Setelah tubuhku tertiban kuangkat Dhea dan kududukkan di Sofa, sementara badannya doyong ke kiri, aku melepaskan semua pakaianku hingga bugil dimana batang kemaluanku sudah tegang dan mengeras dari tadi.

    Kemudian kedua kaki Dhea aku si kakek mesum lebarkan sehingga lubang kemaluan itu kembali terbuka lebar dengan sedikit membungkuk kutempelkan batang kemaluanku persis di liang kemaluannya. Karena lubang kemaluannya masih sempit, kumasukkan tiga buah jari ke lubang kemaluannya, supaya lubang kemaluan itu jadi lebar.

    Ketika jari itu kuputar-putar, Dhea yang memejamkan mata hanya bisa menahan rasa sakit, sesekali ia meringis. Setelah 5 menit lubang kemaluannya kuobok-obok dan terlihat agak lebar, kutempelkan batang kemaluanku tepat di lubang kemaluannya, lalu kuberikan hentakan. Tapi karena masih agak sempit maka hanya kepala kemaluanku saja yang bisa masuk. Dhea pun menjerit.

    “Awh… sakit.. Kek… sakit.. banget…”
    “Sabar… sayang… nanti juga enak.. deh…”

    Kuhentak lagi batang kemaluanku itu supaya masuk ke lubang kemaluan Dhea, dan baru yang ke-15 kalinya batangan kemaluanku bisa masuk walau hanya setengah ke lubang kemaluan Dhea. Dhea pun 15 kali menjeritnya. “Ampun… Kek… sakit.. banget… ampun!” Karena sudah setengah batang kemaluanku masuk, dan mulai aku gerakan keluar-masuk dengan perlahan, rasa sakit yang dirasakan Dhea berubah menjadi kenikmatan.

    “Kek.. Kek.. gh… gh… enak.. Kek… terus.. Kek.. terus.. Kek… batang.. Kakek.. rasanya… sampai.. perut Dhea.. terus… Kek!”
    “Tuh.. khan… benar.. kata Kakek… nggak.. sakit lagi sekarang.. jadi enak.. kan?”

    Dhea hanya mengangguk, kaus yang digunakannya kulepaskan berikut BH merah mudanya, terlihatlah dengan jelas payudara Dhea yang baru tumbuh tapi sudah agak membesar dimana diselimuti kulit putih yang mulus dan di tengahnya dihiasi puting coklat yang juga baru tumbuh membuatku menahan ludah. Lalu dengan rakusnya mulutku langsung mencaplok payudara itu dan kukulum serta kugigit yang membuat Dhea makin belingsatan.

    Setelah satu jam, lubang kemaluan Dhea kuhujam dengan batang kemaluanku secara ganas, terbongkarlah pertahanan Dhea yang sangat banyak mengeluarkan cairan lendir dari dalam lubang kemaluannya membasahi batanganku yang masih terbenam di dalam lubang kemaluannya disertai darah segar yang otomatis keperawanan cucuku Dhea telah kurusak sendiri. Dhea pun menggeleparlalu ambruk di atas Sofa.

    “Agh… agh.. agh.. argh… argh… sshh… ssshh… argh… gh.. gh… Dhea… keluar.. nih.. Kek.. aw… aw…”

    Lima belas menit kemudian aku si kakek mesum pun sampai pada puncak kenikmatan, dimana tepat sebelum keluar aku sempat menarik batang kemaluanku dari lubang kemaluan Dhea dan menyemburkan cairan kental hangat di atas perut Dhea dan aku pun langsung ambruk meniban tubuh Dhea.

    “Aw.. agh.. agh.. Dhea.. memekmu.. memang.. luar biasa, kontol Kakek.. sampai dipelintir di dalam memekmu…agh… kamu.. me.. memang… hebat…”

    Setengah jam kemudian, dengan terkaget aku terbangun oleh elusan tangan lembut memegangi kontolku.

    “Kakek… habis… ngapain.. Kakak Dhea… kok… Kakak Dhea dan Kakek telanjang… kayak habis.. mandi.. Marsha juga.. mau dong telanjang.. kayak… Kakek dan.. Kakak Dhea.”
    “Hah.. Marsha jangan… telanjang!”

    Tapi perkataanku kalah cepat dengan tindakannya Marsha yang langsung melepaskan semua pakaiannya hingga Marsha pun bugil. Aku si kakek mesum terkejut melihat Marsha bugil dimana tubuh anak ini kelihatan sempurna, lubang kemaluan Marsha yang masih gundul belum tumbuh bulu-bulu halus tetapi payudaranya sudah mulai berkembang malah lebih montok dari payudara Dhea. Kulit tubuh Marsha pun lebih putih dan mengkilat dibanding kulit tubuh Dhea, sehingga membuat nafsu seks-ku kembali meningkat.

    “Kek… Marsha kan tadi ngintip ketika perut Kakak Dhea dimasukin sama punya kakek.. Marsha juga mau dong.. kata mama dan papa, kalau Kakak Dhea dapat sesuatu pasti Marsha juga dapat.”

    “Oh… mama dan papa bilang begitu yach, kamu memang mau perut kamu dimasukin punya Kakek.”
    “Iya.. Kek.. Marsha mau sekali.”

    Tanpa banyak basa-basi kusuruh Marsha terlentang di atas karpet. Dengan agak riang Marsha langsung terlentang, aku si kakek mesum duduk di sampingnya kedua kakinya aku lebarkan sehingga lubang kemaluannya yang gundul terlihat jelas. Kusuruh Marsha menutup mata. “Marsha sekarang tutup matanya yach, jangan dibuka kalau Kakek belum suruh, nanti kalau sakit Marsha hanyaboleh bilang sakit.”

    Marsha pun menuruti permintaanku. Lubang kemaluannya kuusap dengan jari tengahku dengan lembut dan sesekali jariku kumasukkan ke lubang kemaluannya. Tangan kiriku dengan buasnya telah meremas payudaranya dan memelintir puting yang berwarna kemerahan. Marsha mulai menggelinjang.

    Dia tetap memejamkan matanya, sedang mulutnya mulai nyerocos. “Ah… ah… ah.. sshh.. ssh…” Kedua kakinya disepakkan ketika jari tengahku menyentuh klitorisnya. Lidahku mulai menjilati lubang kemaluannya karena masih gundul, dengan leluasa lidahku mengusapliang kemaluannya sampai lidahku menyentuh klitorisnya.

    Dikarenakan usianya lebih muda dari Dhea maka lubang kemaluan dan klitoris Marsha rasanya belum terlalu manis dan 10 menit kemudian keluarlah cairan kental putih yang rasanya masih hambar menetes dengan derasnya dari dalam lubang kemaluannya membasahi lidahku yang sebagian tidak kutelan karena rasanya yang masih hambar sehingga membasahi paha putihnya.

    “Ah… ah… ngeh.. ngeh… Marsha.. basah nih Kek…” Kuambil bantal Sofa dan kuganjal di bawah pantat Marsha sehingga lubang kemaluan itu agak terangkat, lalu kutindih Marshadan kutempelkan batang kemaluanku pada lubang kemaluannya yang masih berlendir.

    Kuhentak batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Marsha yang masih lebih rapat dari lubang kemaluan Dhea. Kuhentak berkali-kali kemaluanku sampai 25 kali baru bisa masuk kepala kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha. 25 kali juga Marsha menjerit.

    “Aw.. aw.. sakit.. Kek… sakit.. sekali..”
    “Katanya kamu mau perutmu aku masukin punya Kakek seperti lubang kemaluan Kakak Dhea.”
    “Iya Kek… Marsha mau… Marsha tahan aja deh sakitnya.”

    Kepala kemaluanku yang sudah masuk ke lubang kemaluan Marsha kehentak sekali lagi, kali ini masuk hampir 3/4-nya batang kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha, ini karena lubang kemaluan Marsha masih licin sisa lendir yang tadi dikeluarkannya.

    “Hegh… hegh… hegh.. iya Kek sekarang Marsha nggak sakit lagi… malah enak.. rasanya di perut Marsha ada yang dorong-dorong… Hegh.. Hegh…” komentar Marsha ketika menahan hentakan batang kemaluanku di lubang kemaluannya.

    Setelah 30 menit lubang kemaluannya kuhujam dengan hentakan batang kemaluanku, meledaklah cairan kental dan tetesan darah dari lubang kemaluan Marsha keluar dengan derasnya yang membasahi kemaluanku dan pahanya. Marsha pun langsung pingsan.

    “Arrgh.. arrghh.. ssh… Kek… Marsha.. nggak kuat… Kek… Marsha.. mau pingsan… nih… nggak.. ku.. kuaatt…”

    Pingsannya Marsha tidak membuatku mengendorkan hentakan kemaluanku di lubang kemaluannya yang sudah licin, malah membuatku makin keras menghentaknya, yang membuatku sampai puncak yang kedua kalinya setelah yang pertama kali di lubang kemaluannya Dhea,

    tapi kali ini aku tidak sempat menarik batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluan Marsha sehingga cairan kental hangat itu kubuang di dalam perut Marsha dan setelah itu baru kulepaskan batang kemaluanku dari lubang kemaluan Marsha yang masih mengeluarkan lendir.

    “Ah.. ah… ser… ser… ser… jrot.. jrot.. agh… ag.. ssh… argh…”

    Tubuhku pun langsung ambruk di tengah Marsha yang pingsan di atas karpet dan Dhea yang tertidur di sofa. Satu jam kemudian aku si kakek mesum terbangun di saat batang kemaluanku berasa dijilat dan ketika aku melirik aku melihat Dhea dan Marsha sedang bergantian mengulum batang kemaluanku dan menjilati sisa cairan lendir tadi, kuusap kedua kepala cucuku itu yang lalu kusuruh keduanya mandi.

    “Dhea.. sudah.. sayang.. sana ajak adikmu.. bersih-bersih dan mandi setelah itu kita ke Mall, beli McDonal.. ayo sayang!”
    “Kek.. Dhea puas deh.. lain.. kali lagi yach Kek!”
    “Asyik beli McDonal.. tapi lain kali lagi yach… Kek, perut Marsha jadi hangat.. deh.. enak..”
    “Iya.. sayang.. pasti lagi.. ayo sekarang Kakek yang mandiin.”

    Setelah itu kami pun mandi bertiga, sejak saat itu kedua cucuku selalu tiap malam minta coba lagi keganasan batang kemaluanku. Aku si kakek mesum pun tersenyum bangga bahwa aku memang penakluk perempuan, walau perempuan yang aku taklukan adalah kedua cucuku yang sekarang tinggal bersamaku.

  • Koleksi Foto Sexy Xia Mei Toge Padat & Kenyal (Bikin Pengen Nyicip)

    Koleksi Foto Sexy Xia Mei Toge Padat & Kenyal (Bikin Pengen Nyicip)


    2859 views

    Perawanku – Malam dingin begini, ingin rasanya berfantasi seks kembali, Namun lagi-lagi saya menemukan lagi foto panas yang tak kalah asik untuk ditambahkan sebagai koleksi web 139.99.33.211, yaitu koleksi foto toket bulat besar pelecut napsu birahi yang akan saya tuangkan dalam sebuah galeri.  Bodynya yang semok dan toket bulat yang mulus tentu saja membuat foto narsis bugil perek semok yang lagi narsis di dalam kamarini menarik untuk ikut dikoleksi. Apalagi dengan wajah cantik nya ini, bakalan bikin semua pria pengen menyicip toket gede nya. Admin sih mauu banget (hehe). Bagaimana denganmu? Berikut ini foto Xia Mei pemilik Toket Gede, Padat dan Kenyal :

    Masih belum cukup buat ngecrot ? Baca juga cerita sex bergambar kami yang update setiap hari nya. Cukup Klik Disini untuk melihat kumpulan cerita sex terbaru

  • Bercinta Dengan Bini Orang

    Bercinta Dengan Bini Orang


    1796 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Bercinta Dengan Bini Orang ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Sebagai seorang ibu rumah tangga bekerja pagi itu sudah aku menyelesaikan semua. Aku hempaskan diriku di sofa ruang keluarga untuk melihat acara TV pagi. Setelah aku pindah di sekitar saluran TV ternyata tidak ada acara penonton.

    Akhirnya saya memutuskan untuk berbaring di kamar tidur. Setelah beberapa lam merebahkan tubuhku tidak mau berubah dengan mata tertutup. Rumah besar ini yang merasa sangat kesepian di saat-saat seperti ini. Maklum suami bekerja di kantor kembalinya awal pukul 15.00 WIB, yang kuliah pertama saya di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung.

    Mulut anak saya yang kedua pagi untuk meminta izin untuk pulang sore karena ada acara ekstrakurikuler di sekolah. Sebagai seorang istri saya menetapkan bahwa karyawan BUMN pada usia 45 tahun yang memiliki kesempatan untuk mengurus tubuh.

    Terbaru mesum cerita | Teman-teman saya sering memuji kecantikan dan kesintalan tubuhku. Tapi sering membuat saya tidak nyaman adalah tatapan seorang pria yang tampaknya menanggalkan pakaian saya. Bahkan teman-teman teman-teman saya sering berlama-lama bermain di rumahku. Aku tahu mata mereka sering mencuri pandang ke arahku.

    rumah saya terletak di pinggiran kota S, kawasan yang kami huni tidak terlalu padat. halaman rumah saya luas terutama bagian depan berada di sisi halaman, tetapi ada banyak ditumbuhi warna pepohanan. Kami membuat teras juga di sebelah rumah kami. Rata-rata kamar saya dan suami saya punya balasan jendela langsung menghadap halaman samping rumah kami.

    Namun sempat menutup mata saya, saya mendengar suara dari halaman samping rumah saya. Aku bangkit dan melihat keluar. Aku melihat dua anak SMP di dekat mulut saya. Mereka seem’re mencoba untuk memetik mangga yang berbuah.

    Tentu saja Anda sebagai pemilik rumah tidak laku bahagia dari anak-anak ini. Aku bergegas keluar rumah.Seraya dgn bertolak pinggang aku berkata kepada mereka,

    “Saudara, jangan dipetik sekali ketika Anda memasak pasti Ibu cinta”.

    Tentu saja mereka berdua ketakutan. Aku melihat mereka jatuh di wajah mereka. Aku hendak mendapatkan tadi marah akhirnya merasa kasihan.

    “Tidak apa-apa Sis, Ibu hanya meminta untuk tidak picked’m masih belum matang nanti jika sakit perut bagaimana” aku mencoba menghibur.

    Mereka berani mengangkat wajah sedikit. Dari makeup dan penampilan mereka tampak bahwa anak-anak mereka mampu. Melihat wajah mereka kasihan mereka yang akhirnya saya membawa mereka ke dalam rumah. Aku bertanya-tanya mengapa di jam belajar mereka benar-benar ada di luar sekolah ternyata belajar terserah guru pertemuan.

    Setelah tahu begitu aku memiliki mereka tinggal untuk sementara waktu karena mungkin mereka belum dijemput. Iseng-iseng saya juga punya teman untuk ngobrol. Benar dugaan mereka adalah anak-anak orang kaya, meskipun keduanya masih kecil, tapi aku bisa melihat garis ketampanan mereka yang muncul bersama dengan orang-orang yang membersihkan kulit putih. Yang satu bernama Doni yang hanya lagi disebut Edo.

    Ketika obrolan saya tahu mata mereka sering menyelinap melihat dada saya, saya menyadari bahwa saya tidak punya tombol dasterku waktu kancing., Sehingga bagian atas payudara saya yang terlihat jelas. Saya pikir itu adalah orang yang sama yang hanya dari muda ke mulut tua. Pada awalnya saya tidak suka perilaku mereka, tapi akhirnya ada perasaan lain yang aku membiarkan mata mereka untuk menikmati keindahan payudara. Aku sedang menikmati perilaku mereka kepada saya.

    Bahkan, saya berpikir bahwa lebih gila lagi untuk menggoda mereka, aku sengaja membuka beberapa tombol dasterku alasan hari itu sangat panas. Tentu saja hal ini membuat mereka semakin tidak nyaman. Sekarang mereka bisa melihat secara bebas.

    “Hayoo .. pada ngliatin apa!”, Aku pura-pura mengagetkan mereka.

    Tentu saja itu sangat membuat mereka sangat tidak nyaman.

    “Ti .. DAK .. kenapa .. Bu Heni” Doni membela diri.

    “Aku .. itu acara TV yang baik Bu Heni” tambah Edo.

    “Tidak apa-apa Aku tahu kau melihat payudara Ibu mengakui aja ..” Saya mencoba untuk mendorong mereka.

    “E .. Anu Bu Heni” Edo tampaknya untuk mengatakan sesuatu, namun belum selesai kalimat yang saya diucapkan kembali menimpali,

    “Mama kalian juga harus, pertama kalian netek dari Mama Anda”

    “Aku .. ya Bu Heni,” kata Doni. “Tapi sekarang kita sudah tidak netek lagi, lagian punya lain Mama ama memiliki Bu Heni” Edo tampaknya telah mampu menguasai situasi.

    “Lain apa?” Saya bertanya.

    “Mama Got Bu Heni belum sebesar” jawab Doni.

    Kata-kata ini membuat saya berpikir lebih gila lagi. Semakin meningkatnya gairah yang telah mengatasi norma-norma yang ada, aku sudah kehilangan kontrol yang Anda miliki di depan saya adalah anak-anak yang tidak bersalah yang masih pikiran yang bersih. Aku menarik kursi ke mereka.

    “Doni, Edo Anda mungkin sekarang tidak netek lagi karena Anda memiliki banyak Anda harus benar-benar ..” kataku.

    Tentu saja, kata-kata ini membuat mereka penasaran. “Can melakukan Bu Heni,” kata Doni.

    “Bisa netek ibu yang sama, Anda tidak akan ..?” Aku bertanya, meskipun aku sudah tahu jawaban mereka.

    “E .. ma .. u” kata Edo.

    “Saya akan senang dong” jawab Doni.

    Jawaban mereka membuat saya lebih bersemangat. Saya pikir hari ini saya akan mendapatkan sensasi orang-orang muda. Aku duduk di depan mereka dan kemudian dengan tergesa-gesa sedikit aku membiarkan daster bagian dari saya sehingga sekarang hanya menutupi saya atas tubuh BH krem. Sepertinya mereka tidak sabar lagi terlihat dari tangan mereka yang mulai menggeraygi susu saya. Saya geli melihat perilaku mereka.

    “Kesabaran sayang .. Ibu off bra pertama” kataku sambil tersenyum.

    Setelah saya menghapus bra, tumpahlah isinya, payudara saya sekarang terbuka bebas. Mereka semakin melotot mata menatap payudara saya. Tampaknya mereka bingung apa yang harus mereka lakukan. “Mari kita mulai mengapa bahkan bingung” Aku sadar mereka.

    Mereka bangkit dari tempat duduknya. tangan mereka tampak berebut untuk memeras. “Jangan melawan dong .. ah .. .. e Doni yang meninggalkan mulut kanan” perintah.

    Birahiku meningkat, sementara Doni sudah mulai menempelkan bibirnya ke puting saya sambil membelai dipilin- Edo masih terdampar puting. Edo mulai mengisap puting saya. Oh betapa aku merasa seolah-olah melayg ke awan, terutama ketika mereka berdua secara bersamaan mengisap napas dalam napas.

    Tanganku membelai kadang-kadang sedikit robek sambil memegang kepala mereka untuk lebih dalam menikmati payudara saya. Mereka semakin menikmati mainan mereka, aku terbawa, saya ingin lebih dari hanya ini. Aku bahkan lupa.

    Ketika nikmat baru kesenangan tiba-tiba isapannya rilis Edo mengatakan, “Bu Heni mengapa tidak keluar susu?”.

    Saya terkejut harus menjawab apa akhirnya Anda menjawab santai, “Edo tidak akan, jika tidak ingin membiarkan Doni hanya .. ingin tidak?”

    “Ingin ..” Edo jawaban langsung.

    Doni mengabaikannya lebih sungguh-sungguh menikmati payudara saya. Akhirnya, saya ingin lebih dari itu.

    “Don .. Edo .. Air .. pertama berhenti ..” tanya saya.

    “Apa Bu Heni?” tanya Doni.

    “Kami ke ruang yuk .. Posisi yang benar-benar buruk di sini” jawabku.

    Lalu aku berdiri saja daster yang saya pakai merosot. Mata mereka menataptubuhku gemuk mulut lapar.

    “Ayo ..” Saya diundang.

    Aku berjalan ke kamarku hanya menggunakan celana dalam hitam yang yang kontras dengan mulut kulit putih. Dipimpin oleh hidung seperti kerbau mereka mengikuti saya. Di ruang aku duduk di sisi tempat tidur. “Don .. Edo .. sayang lepas seragam Anda” Aku memohon.

    “Tapi Bu Heni” Edo masih agak ragu.

    “Ayo ditaati” jawab saya.

    Malu-malu mereka mulai melepas baju seragam dan celana. Lihatlah, penis laki-laki muda telah ngaceng. rambut kemaluan mereka tampak belum tumbuh lebat, sementara batang kemaluannya belum tumbuh benar masih agak kecil. Namun, melihat pemandangan ini libidoku naik semakin tinggi.

    “Bu Heni kecurangan ..” kata Edo.

    “Mengapa menipu bagaimana?” Saya bertanya.

    “Bu Heni tidak melepas celana Ibu!” kata Edo.

    Gila anak ini, aku tersenyum dan kemudian bangkit dari tempat duduk. Lalu aku menghapus celana saya. Sekarang kami bertiga telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. tatapan mereka tetap pada objek yang di bawah pusar saya.

    Bulu yang tumbuh tebal dan hitam yang menarik perhatian mereka. Aku duduk kembali dan agak meringsut ke rangjang lalu meletakkan kaki dan mengangkangkannya saya. Pussy terbuka lebar dan tentu saja terlihat isinya. Mereka semakin dekat dan melihat vagina saya.

    “Ini adalah vagina, yang lainnya dengan Anda” Saya jelaskan

    . “Kau lahir di sini” aku melanjutkan.

    tangan mereka membelai bibir vagina. Ini Touches lezat. “Inilah sebabnya mengapa ada lubang lagi” tanya Doni.

    “Mengapa lubang untuk BEOL” Saya agak geli saat ia menjelaskan.

    jari Doni masuk ke lubang vagina saya dan bermain di dalamnya. Cairan tampak semakin membanjiri liang vagina. Sementara tampaknya lebih tertarik lubang jari Edo duburku. Edo jari yang pada awalnya mengelus anal lubang kemudian muncul untuk memulai berani untuk masuk ke dalam duburku lubang.

    Aku membiarkan kesenangan ini berlangsung.

    “Ouw .. a .. duh .. e .. sekali .. nik nak .. .. mat .. sa .. balas .. Terr .. kita” Aku mengerang.

    Para pemuda di ini agak lama aku biarkan mengobok- obok lobangku lobang-. Memang orang-orang muda yang memberi saya senang. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku tanpa bisa berbicara hanya mengerang dan terengah-engah yang sengal.Akhirnya saya mendorong mereka aku bangkit dan pergi ke orang-orang yang berdiri di tepi tempat tidur. Aku berjongkok di depan mereka sambil memegang tangan saya diikuti oleh meremas-meremas penis mereka kecil.

    Aku meletakkan wajahku pada penis Doni aku kulum dan menjilat kepala penis laki-laki muda nan ini. lutut Doni tampak senang. Aku memasukkan seluruh batang penis ke dalam mulut saya dan saya membuat gerakan bolak-balik. Doni tangan erat mencengkeram kepala. Sementara tangan-shake untuk mengocok lain satu penis Edo.

    “Bu Heni .. katakanlah .. ya .. ma .. u .. ken .. kucing ..” Doni mengerang.

    Tampaknya anak ini akan orgame aku tidak benar membiarkan ini terjadi karena saya masih ingin ini berlanjut.Kemudian permainan saya beralih pada penis Edo. Tampak penis agak lebih besar dari Doni milik. Aku mulai menjilat dari pangkal sampai ke ujung, menari lidah saya di kepala penis Edo. Saya tusukan-tusukan kecil lubang Edo kemih maka saya memasukkan seluruh batang penis Edo. Edo menarik rambut tegang sekali ketika saya mendapatkan mempercepat kulumanku.

    “Wouw .. a .. aku .. .. mo ga ju .. .. .. ya ken .. cing” Edo mengerang.

    Aku berhenti kulumanku maka saya bangkit dan naik ke tempat tidur dan kemudian aku kangkangkan kaki lebar sehingga vagina yang terbuka lebar. “Siapa bayi pertama, itu tititnya dimasukkan ke sini” aku berkata dengan tangan menunjuk ke vagina lubang yang tampaknya sudah direndam.

    Mereka berpendapat, tampaknya membuat perjanjian. Dan akhirnya pertama Doni yang Sebaiknya menusuk. Doni naik ke tempat tidur dan mengangkangiku tampak penis yang tegang waHeni siap menusuk lubang mengkilap yang pantas menjadi neneknya.

    Saya telah menyebabkan penis masuk ke dalam lubang Doni kesenangan saya. Saya telah menyebabkan pemuda ini melepas keperjakaannya, memasuki kenikmatan penuh cinta. Dan memberkati .. testis berasal Doni lenyap ke dalam vagina.

    “Ah ..” aku mendesis seperti kepedasan

    “Masukkan .. le .. BIH .. da .. lam lagi .. dan genjot .. katakanlah .. ang” aku memberi perintah.

    “Ya .. Bu Heni .. e .. naak .. se .. kali” kata Doni.

    Aku hanya bisa tersenyum, menggigit bibir bawah saya. Doni tampaknya cepat memahami kata-kata saya, dia memompa waHeni ada tua di bawah hati-hati. Genjotannya lebih cepat dan lebih cepat. mulut Edo menunggu hanya tertegun dengan permainan kami. Doni dipercepat genjotan aku Seimbangkan dengan goyganku. Dan tampaknya hal ini membuat Doni tidak lagi memegang sperma yang akan keluar.

    Dan akhirnya

    “Sa .. ya .. mo .. ken .. cing .. la .. gi .. ada .. ta .. han .. la .. gi ..” Doni hampir berteriak.

    Aku melipat kaki saya terus ass Doni. Doni erat memeluk tubuh saya dan .. cret .. cret ser .. .. hangat cairan kewaHenianku membajiri liang. Doni merosot di tubuhku, butir-butir keringat keluar dari tubuhnya.

    “Ini baik .. se .. ka .. li Bu Heni,” kata Doni.

    “Ya .. tapi sekarang giliran Edo dong sayang” kataku.

    Doni mencabut penisnya yang agak kempes dan berbaring lemas di sampingku. “Edo sekarang sayang giliran Anda” Saya berkata kepada Edo. “Kau tusukan ibu dari belakang ya ..” aku memberi perintah.

    Lalu aku mengambil posisi menungging yang vaginanya dalam posisi yang menantang. Edo naik ke tempat tidur dan kembali menusuk dar. Dan memberkati .. penis pria muda yang baik masuk mulut pit seharusnya tidak menjadi kesenangan saya dia merasa sebagai melaygnya keperawanannya.

    Tampaknya Edo agak bisa menggerakkan tubuhnya ke kanan dia melihat permainan Doni. Edo bergerak maju mundur pantat. Saya menyambut dengan goygan erotis. Semakin lama gerakan tidak teratur Edo lebih cepat dan tampaknya klimaks akan dicapai oleh anak ini.

    Dan akhirnya memelukku dari belakang, meremas saya susu Edo eject sperma .. cret .. cret .. lubang vaginanya terasa hangat setelah sperma dikenakan ini..Edo dua anak manis berbaring di sampingku.

    Dua anak mengapitku berbaring lemas setelah memasuki dunia kesenangan. Aku bangkit dan berjalan ke dapur tanpa berpakaian dengan daya makan biarkan mereka sembuh. Setelah berpakaian dan susu, mereka meminta izin untuk pulang.

    “Doni, Edo Anda bisa pulang dan melakukan cerita kepada siapa pun tentang semua ini, Anda mungkin akan diminta lagi setiap saat dan tempat asal memungkinkan” kataku, kemudian mencium dua anak .Saya memberi tunjangan mereka masing-masing 50.000 ribu.

    Dan sampai sekarang mereka telah kuliah, aku masih pergi keluar dengan mereka. Aku mulai sayang dengan mereka.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Pijatan Pembangkit Birahi

    Cerita Sex Pijatan Pembangkit Birahi


    1703 views

    Perawanku – Di tempat reflexi tersebut menurut penjelasan pemijatnya tidak hanya kaki saja yg di pijat tapi juga seluruh badan, dari pundak kepala, pundak sampai kaki, dan pemijat nya semua laki-laki. Kebetulan pada hari biasa masih sepi dan cuma ada 2 pemijat.

    Ditempat itu ada 2 bilik kamar yg hanya ditutup kain untuk yang mau dipijat semuanya dan tempat beberapa tempat duduk untuk yang mau dipijat kakinya saja .

    Kita berdua akhirnya masuk kesana untuk coba pijat reflexinya, tp karena aku laper banget, makanya aku suruh istri aku masuk dan aku cari makan.

    Sebelum pergi aku liat dulu seperti apa sih dipijatnya, istri aku yg memang hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan, memang keliatan seksi sekali. Istri aku kemudian berbaring dengan santai dan pertama2 memang dipijit telapak kaki, setelah beberapa saat memperhatikan kemudian aku pamitan untuk cari makan di keluar.

    Setelah selesai makan, aku balik lagi ke tempat refleksi itu, dan aku liat tidak ada orang lagi di depan, jadi aku langsung masuk ke dalam, karena tidak mau menggangu aku hanya duduk2 di depan bilik kamar istri aku.

    Sekilas aku dengar suara leguhan istri aku, tp itu mungkin karena enak di pijit, tapi karena penasaran akhirnya aku coba intip di balik kain bilik kamar tsb. ternyata istri aku memang sedang menikmati pijatan sang pemijat. Pemijat tsb. mulai memijat paha istri aku yang putih, pemijat itu meminta agar istri aku tidur tengkurap mengharap tempat tidur.

    Lalu pemijat itu trus memijat paha istri aku, kemudian meminta dengan sopan agar celana pendek nya di buka saja, karena agak menggangu. Istri aku pertama menolak, tp karena di kasih keterangan yang menyakinkan akhirnya celana istri aku dibuka juga, tp dengan syarat ditutup selimut.

    Waktu aku liat istri aku buka celana, langsung jantung aku berdebar kencang, ada perasahaan suka melihat istri aku di sentuh oleh lelaki lain.  Agen Obat Kuat Pasutri

    Setelah ditutupi kain putih, si pemijat juga langsung mulai memijat di daerah paha, aku liat sempat menyentuh pantat nya dan daerah V nya, istri aku mungkin percaya sama si pemijat atau memang sedang menikmati, krn dia tidak protes sama sekali, dan ini membuat si pemijat trus memijat daerah paha dan sekitarnya. Melihat itu aku jadi tambah gila, sambil menggosok si adik yg memang sudah tegang berat.

    Si pemijat mungkin sengaja atau tidak, membuat kain penutupnya agak terjatuh, sehingga dia bisa melihat langsung paha istri aku yang putih mulus, dengan dibungkus cd saja.

    Sempat si pemijat terdiam melihat pemandangan tsb. dan gau perhatikan juga ada tanda basah di cd istri aku. Tanpa sadar istri aku , mungkin juga keenakan, trus dipijat tanpa dilindungi kain, ini membuat si pemijat makin berani mencoba meijat daerah pantat dan selankangan istri aku.

    Akhirnya si pemijat mengambil kembali kain yg jatuh dan menutupi badan istri aku lagi, tp yg buat aku kaget, si pemijat meminta istri aku untuk membuka bajunya karena akan di pijat daerah punggung dan leher, setelah di beri penjelasan akhirnya istri aku membuka bajunya sambil masih tiduran, jadi si pemijat tidak melihat krn ditutupi kain.

    Cerita Sex Pijatan Pembangkit Birahi

    Cerita Sex Pijatan Pembangkit Birahi

    Istri aku sekarang hanya menggunakan bh dan cd saja, ntah apa yang membuat dia berani spt itu, apa ada hipnotis ya? tp aku sangat menikmati pemandangan ini. setelah beberapa saat memijat daerah punggung, si pemijat meminta ijin untuk membuka kain krn ingin dikasih minyak punggungnya, istri aku hanya mengganguk saja, tp tanpa sadar kali, si pemijat juga membuka bra istri aku dan anehnya istri aku diam saja.

    Lalu si pemijat mulai menggosok punggung istri dan aku intip si pemijat juga kadang2 melihat pinggiran tete istri aku yg keliatan dan juga sempat menyentuh nya, krn bh nya sdh terlepas ke samping. Kemudian si pemijat memijit leher dengan sentuhan yang lembut, kayakya ini membuat istri aku terangsang, terdengar dari suaranya yang mendesah.

    Melihat situasi itu si pemijat kemudian mencoba membuka kain dan mulai memijat daera pantat adn sekitarnya dan ini membuat istri aku tambah terangsang keliatan sekali cd nya yg ada tanda basah.

    Kemudian si pemijat dengan sopan membuka cd istri aku tanpa ijin lagi, dan dia memulai aksinya dengan menggosok gosok daerah selangkangan istri aku.

    Istri aku sempat bilang jangan tapi si pemijat itu dengan lembut mengatakan tidak apa2 nikamati saja. Aku bingung kok istri aku nurut saja, ada perasaan cemburu tp masih kalah dengan rangsangan hebat melihat istri aku di sentuh oleh orang lain (apa ini kelainan ya?).

    Si pemijat sambil membuka celananya dengan 1 tangan krn tangan yg 1 lagi masih menggosok2 daerah clitoris di selangkangan istri aku.

    Terlihat kontol si pemijat sudah ngaceng berat dan ukurannya cukup besar dengan bulu2 yg tidak terlalu lebat, mungkin baru di cukur, ketika akan membuka baju nya, si pemijat mengkat pantat istri aku sedikit dan langsung menjilat nya.

    Sehinggan dia dapat membuka bajunya. Istri aku yang di jilat meki nya langsung keliatan spt tersengat aliran listri, dan tidak berapa lama kemudian keliatan istri aku mengejang krn klimaks nya.

    Si pemijat tersenyum sinis, krn telah berhasil membuat istri aku klimaks. Setelah sama2 telanjang kemudian si pemijat membalikan badan istri aku, sehinggan kelihatan lah payudaranya yg indah dengan putih berwarna hitam yg sdh menegang,

    Tapi dengan masih malu2 istri aku menutupi dadanya dan bilang takut suaminya datang, dan dengan halus si pemijat bilang tidak usah takut krn aku masih sendang makan di luar. Akhirnya karena rangsangan yang hebat .

    Istri aku membuka tangannya dan oleh si pemijat tangan istri aku di pegang ke samping kepala istri aku, sehinggan dengan leluasa si pemijat bisa melihat dada adn ketiak istri aku yang mulus dan wangi. Si pemijat mungkin penggemar ketiak karena ketiak istri aku di jilat dan di ciumi terus, sehingga istri aku kegelian dan terangsang hebat.

    Kemudian si pemijat mulai melepas tangan istri aku tp posisi tangannya tetap terlentang di samping kepala, lalu mulai menciumi payaudara istri aku yang masih kencang krn kami blm mempunyai anak. Istri aku keliatan sangat menikmati puting nya di isap dan di jilat.

    Setelah selesai menikmati payudara istri aku di mulai menjilat vagina istri aku yg sdh basah, krn mungkin sdh tidak tahan, akhirnya si pemijat ingin memasukkan kontol nya tp sebelumnya dia melap vagina istri aku.

    Mungkin karena sdh basah dengan cairan vagina dan ludah nya. ketika mau masuk istri aku keliatan agak kaget mungkin karena agak sakit sebab kontolnya si pemijat lebih besar dari aku punya, mungkin itu yang ingin dirasakan oleh istri aku.

    Istri aku pernah bilang kontol aku ngak besar dan dia kurang menikmatinya, tp mau gimana lagi, krn sdh dikasih seperti ini. Si pemijat akhirnya berhasil memasukan kontolnya dan mulai menyodoknya serta tidak lupa menciumi payudara istri aku dan juga ketiaknya secara bergantian.

    Aku yang sdh tidak tahan akhirnya mengocok dan mengeluarkan mani aku di sapu tangan yg aku bawa. Si pemijat setelah 10 menit keliatan mau klimaks, istri aku bilang jangan di buang didalam, akhirnya si pemijat mencabut kontolnya dan membuang mani nya di badan istri aku, sampai kena ke muka istri aku. Istri aku keliatan puas sekali.

    Setelah istrihat sebentar aku liat mereka langsung beres2 dan si pemijat dengan mesra me lap air main di tubuh dan muka istri aku serta memakaikan bh istri aku dengan meremas remas lagi dan mencium leher istri aku dengan mesranya.

    karena takut aku dateng maka, mereka membereskan semuanya dengan rapi, aku diam diam langsung keluar, dan kemudian masuk lagi, aku liat istri aku dengan wajah cerah, sedang duduk dibangku ruang tunggu dan mengajak aku pulang.

    Berawal dari sahabatku Arman yang bercerita tentang seorang tukang pijat yang hebat dan bisa dipanggil ke rumah, aku jadi tertarik. Apalagi ketika ia berbicara tentang kemampuan tukang pijat itu meningkatkan gairah dan kemampuan seks wanita dengan pijatan supernya.

    Arman bercerita dengan cukup detail bagaimana tukang pijat itu yang katanya bernama Pak Daru, kakek usia kepala tujuh melakukan pijatan super pada istrinya. Hasilnya sungguh luar biasa. Aku jadi ingin mencobanya..

    “Tapi loe harus inget, waktu dipijat sama Pak Daru istri loe harus bugil total. Mau nggak dia?” Arman bertanya padaku.

    “Hah? Dipijat bugil? Nanti istri gue diapa-apain ama dia?

    “Ya enggak laah.. Loe juga ada disitu koq. Lagian Pak Daru itu udah tua banget. Udah gitu dia juga pemijat profesional. Gue jamin ngga masalah. Tapi istri loe harus setuju dulu.”

    “Nanti gue coba tanya dia deh..”

    “Pokoknya sip banget deh!”

    Malamnya aku bicarakan hal itu dengan Vie istriku. Aku ceritakan apa yang kudengar dari Arman sambil memeluk tubuh mungilnya. Mulanya dia tertarik tetapi ketika mendengar bahwa ia harus telanjang bulat mukanya langsung merah padam.

    “Malu ah.. telanjang di depan orang lain” protesnya.

    “Tukang pijatnya udah tua. Lagipula menurut Arman istrinya bilang dipijatnya enak dan tangannya sama sekali tidak menyentuh atau meraba memek koq”

    “Ih..” muka Vie semakin merah.

    “Kenapa khusus cewek?”

    “Nggak tau juga. Tapi coba dulu deh. Siapa tahu nanti ketagihan.”

    Vie mencubit perutku, tapi akhirnya mau juga dia mencoba. Besoknya kuhubungi Arman untuk menanyakan cara menghubungi Pak Daru. Setelah itu kucoba menghubungi Pak Daru dari nomor HP yang kudapat dari Arman.

    Singkatnya Pak Daru akan datang ke rumahku esok malamnya dengan perlengkapannya. Setelah itu kuberitahu Vie. Esok malamnya sesuai janji Pak Daru tiba di rumahku. Perawakannya kurus hitam dan kelihatannya memang sudah tua sekali.

    Apa bisa dia melakukan pijat? Aku terheran-heran sendiri sementara Vie hanya melirikku dengan pandangan ragu.

    Kami menuju ke ruang tamu dalam dan aku menyingkirkan meja tamu untuk mendapatkan tempat yang luas. Aku sudah memastikan kalau pembantu kami Darsih sudah masuk ke kamarnya. Sejenak basa-basi, Pak Daru langsung “To the point” menghamparkan selimut tebal di lantai.
    “Silakan Ibu berbaring tengkurap di atas sini” katanya sambil menunjuk selimut sebagai alas.
    “Maaf, tapi saya minta Ibu melepas pakaian” sambungnya lagi.
    Wajah Vie merona merah. Dia kelihatan nervous karena itu aku membantunya melepas dasternya sehingga hanya tinggal mengenakan bra dan celana dalam.
    “Untuk sementara begitu saja. Silahkan, Bu” Pak Daru memotong.
    Vie berbaring tengkurap diatas selimut. Pak Daru mengeluarkan dua botol kecil obat yang menurutnya adalah obat ramuan rahasia turun temurun.

    Kemudian ia membuka yang bertutup hijau dan menggosokkan minyak tersebut pada kedua telapak tangannya. Ia mulai memijat bagian belakang hingga samping kepala Vie dengan perlahan. Aku duduk menyaksikan.

    Entah kenapa saat itu aku mulai terangsang membayangkan nantinya tubuh istriku akan dijamah oleh kakek tua ini. Tentu saja di bawah sana penisku menegang.

    Pijatan di kepala beralih ke tengkuk Vie yang mulus dan dipenuhi rambut halus. Nampaknya Vie merasa enak dengan pijatan Pak Daru di kepala dan tengkuknya. Ternyata kakek tua ini hebat pijatannya.

    Dari tengkuk diteruskan ke bahu Vie yang terbuka dan dilanjutkan ke lengan sampai telapak tangan. Setelah itu Pak Daru meminta agar istriku melepas tali bra di punggungnya.

    Vie melepas kaitan branya sehingga bra tersebut sudah tidak menutupi tubuh Vie dan hanya tergeletak diantara selimut dan kedua susunya yang tergencet sehingga menyembul ke samping. Pak Daru mengolesi punggung Vie dengan minyak dari botol pertama dan mulai mengurut serta memijat punggung. Vie tampak menikmati pijatan ini.

    “Maaf Bu, tapi selanjutnya celana dalam harus dilepas. Bagaimana kalau suami Ibu yang melepasnya?” Pak Daru tiba-tiba berkata.

    Wajah Vie memerah lagi. Aku mengikuti permintaan Pak Daru melepas celana dalam Vie tanpa mengubah posisinya yang tengkurap. Pantat Vie yang indah dan celah vaginanya terlihat jelas membuat penisku semakin tegang.

    Pak Daru melumuri dua bongkahan pantat Vie dengan minyak dan segera memijat dengan perlahan. Kali ini Vie mengeluarkan suara tertahan. Jelas Vie mulai terangsang birahinya dengan pijatan Pak Daru.

    Apalagi ketika Pak Daru memijat pangkal paha bagian dalam, tarikan nafas Vie berubah menjadi lebih berat dan matanya terpejam.

    Pak Daru tetap memijat seperti tidak terjadi apa-apa. Kakek tua itu memijat pantat, paha dan kemudian betis hingga akhirnya melakukan pijat di telapak kaki.
    “Ini adalah salah satu tahap penting dalam pijatan ini” Pak Daru menjelaskan.

    “Terdapat titik-titik penting di telapak kaki untuk meningkatkan gairah” lanjutnya.
    Kemudian ia mengambil botol minyak kedua bertutup merah yang dari tadi belum pernah dipakainya.

    Digunakannya untuk memijat telapak kaki Vie. Kali ini pijatannya sangat intensif dan memakan waktu cukup lama. Terkadang Vie merintih, mungkin pijatan si kakek cukup kuat.

    “Maaf Bu, untuk tahap berikutnya saya akan memijat di daerah bagian depan tubuh. Sebaiknya Ibu duduk bersila membelakangi saya dan menghadap ke arah Pak Saldy agar saya tidak melihat tubuh bagian depan Ibu.” kata Pak Daru setelah selesai memijat kaki istriku.
    Kali ini kelihatannya Vie sudah mulai terbiasa dan kemudian ia mengambil posisi duduk bersila membelakangi Pak Daru. Tubuh indah Vie yang telanjang bulat berhadapan denganku. Pak Daru kembali menggosokkan minyak kedua pada telapak tangannya. Pak Daru terlebih dahulu meminta persetujuan aku dan Vie.

    “Saya minta izin kepada Pak Saldy dan Ibu Vie untuk melakukan pijatan di tubuh bagian depan Ibu Vie..”

    “Silakan, Pak Daru” jawabku

    “Silakan..” jawab Vie.

    Langkah pertama Pak Daru adalah melumuri bagian sekitar vagina Vie dengan minyak dari botol bertutup merah dan mulai melakukan pijatan di daerah itu dari belakang. Walaupun tidak menyentuh vagina, tetapi tangannya memijat mencakup pangkal paha, pinggul depan, termasuk daerah yang ditumbuhi bulu kemaluan.

    Mulut Vie sedikit terbuka. Aku tahu Vie merasakan nikmat disamping rasa malu. Pijatan Pak Daru pasti membuat birahinya naik ke ubun-ubun.

    Beberapa kali tangannya terlihat seakan hendak menyusup ke dalam celah vagina Vie yang membuat Vie menahan nafas tetapi kemudian beralih. Bulu kemaluan Vie dibasahi oleh minyak pijat Pak Daru sementara Vaginanya basah oleh cairan nafsunya.
    Pak Daru melanjutkan pijatannya ke bagian perut Vie, dan memijat perut terutama bagian pusar sehingga membuat Vie kegelian. Hanya sebentar saja, setelah itu Pak Daru meminta Vie mengangkat tangannya.

    “Maaf Bu, tapi ini adalah tahap terakhir dan saya harus memijat di bagian ketiak dan payudara. Coba angkat kedua tangan Ibu.”

    Vie mengangkat tangan dan meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Pak Daru memulai pijatannya di daerah ketiak dari belakang.
    “Ihh.. geli pak..” Vie menggelinjang.

    “Ditahan Bu. ”

    Pak Daru mengabaikan Vie yang sedikit menggeliat menahan geli dan melanjutkan pijatannya di ketiak Vie. Setelah itu Pak Daru mengambil minyaknya lagi dan dituangkan ke telapak tangannya.

    Selanjutnya dari belakang tangannya meraup kedua gunung susu milik Vie yang langsung membuat Vie mendesah. Pak Daru melakukan massage lembut pada susu Vie yang sudah tegang.

    Terkadang kakek itu melakukan gerakan mengusap. Jari-jari terampil yang memijat pada kedua susunya membuat Vie sangat terangsang dan lupa diri, mengeluarkan suara erangan nikmat.

    Aku melotot melihat pemandangan luar biasa itu. Payudara istriku yang berusia 27 tahun, mulus, kenyal, dan berlumur minyak sedang dicengkeram dan diusap oleh tangan kasar hitam seorang kakek berusai 70-an, membuatku sangat bernafsu.

    Berbeda dengan Pak Daru yang sama sekali tidak bereaksi apa-apa, Vie merintih dan mendesah. Posisinya sudah berubah tidak lagi duduk bersila, tetapi duduk mengangkang memperlihatkan vaginanya yang sudah becek kepadaku sambil tangannya mencengkeram rambut.

    “Ukhh..” kali ini Vie mendesah keras. Aku sangat terangsang mendengarnya. Ingin sekali aku menggantikan Pak Daru memijat susu Vie.

    Pak Daru menarik puting susu Vie dengan telunjuk dan jempolnya dengan perlahan sehingga membuat Vie mengeluarkan suara seperti tercekik. Sampai akhirnya Vie merintih pelan, panjang. Vaginanya banjir. Hebat sekali pijatan si kakek ini.

    “Saya rasa sudah cukup. Silakan Ibu mengenakan pakaian. Sementara itu ada yang ingin saya bicarakan dengan Pak Saldy” Pak Daru menyudahi aksinya.

    “Ya Pak?”

    Pak Daru menyerahkan sebuah botol kecil berisi carian kepadaku.

    “Apa ini, Pak Daru?”

    “Pijatan saya itu membuat gairah seorang wanita meledak-ledak tetapi orgasmenya akan menjadi lebih cepat. Selain itu ini adalah ramuan untuk membuat susu wanita tetap kencang dan padat. Usapkan dengan gerakan memeras. Saya yakin Pak Saldy bisa.” bisiknya sambil tersenyum.

    Setelah itu aku membayar Pak Daru dan ia pamit pulang. Vie sudah mengenakan pakaiannya lagi.

    “Eh.. buka lagi bajunya. Aku mau coba hasil pijatan Pak Daru.” kataku.

    Vie tidak menjawab, tetapi dari sinar matanya aku tahu saat ini dia sedang dalam gairah yang tinggi. Mukanya merah dan nafasnya memburu. Aku segera meraihnya dan mencium bibirnya. Ciuman yang ganas karena aku sendiri sejak tadi menahan nafsuku melihat tubuh Vie yang sedang dipijat.

    Vie membalas tak kalah bernafsu sambil melucuti pakaiannya sendiri dan langsung melucuti pakaianku sehingga kami berdua telanjang bulat di ruang tamu.

    “Senggamai aku.. aku ingin segera kamu masuk ke sini” Vie meracau sambil menunjuk vaginanya yang sudah basah kuyup sejak tadi.

    “Beres sayang.. ”

    Aku segera memutar tubuhnya menghadap dinding dan mencoba menyetubuhinya dari belakang. Vie segera mengambil posisi tangan bertumpu pada dinding. Dengan perlahan-lahan penisku menerobos vaginanya yang sempit dan licin.

    Adalah proses yang sangat nikmat luar biasa saat penis memasuki vagina. Aku pejamkan mataku merasakan sensasinya sementara Vie merintih nikmat. Sampai akhirnya seluruh penisku masuk de dalam vaginanya yang panas berlendir dan nikmat.

    “Aahh..” Vie menghela nafas, tubuhnya bergetar.

    Nikmat sekali. Vaginanya yang panas itu mencengkeram penisku dengan kuat. Jepitannya lebih hebat dari biasanya. Sementara dengan sudut mataku aku melihat kalau ternyata pembantu kami, Darsih, sedang mengintip dari balik dinding ruang tamu. Aku bisikkan ke telinga Vie tentang hal itu.

    “Masa bodoh. Biar dia nonton kamu entotin aku.” Vie balas berbisik.

    “Okee..”

    Aku gunakan kakiku untuk mengambil bajuku dan mengeluarkan botol pemberian Pak Daru dengan tanganku tanpa melepas penisku yang sudah menancap. Lalu aku tuangkan pada tanganku.

    “Apa itu..?” tanya Vie heran.

    “Ini minyak dari Pak Daru, bagus buat payudara kamu”

    “Ya udah.. cepetan! Terserah kamu mau ngapain. Yang penting garap aku sampai kamu puas.”
    Aku segera mengusapkan tanganku yang berlumur minyak itu pada kedua susunya yang bergelantungan bebas.

    Lalu aku mulai mengocok vaginanya dengan lembut. Vie menghelas nafas dengan keras. Akh.. nikmat sekali rasanya sambil meremas daging kenyalnya. Tangan kanan di susu kanan, tangan kiri di susu kiri.

    Seiring kupercepat sodokanku, kumainkan puting susunya dan sesekali kuremas miliknya itu dengan lebih kuat. Rasanya menjadi lebih dahsyat terutama karena kami mengetahui bahwa kami bersanggama sambil ditonton Darsih secara sembunyi-sembunyi. Mungkin dia mengintip sambil onani, aku tidak perduli.

    “Mhh.. terus.. aah.. ” Vie merintih terengah-engah. Seiring gerakan keluar masuk penisku di vaginanya semakin intens, Vie menggeliat.

    Aku lepaskan tanganku dari payudaranya, membiarkan kedua daging menggairahkan itu bergelantung bergoyang-goyang mengikuti sodokan penisku. Tanganku berganti menggosok-gosok vaginanya yang berlepotan cairan nafsunya.

    Sesekali kugesek klitorisnya sehingga Vie menjerit keenakan. Tiba-tiba tubuh Vie menyentak dan vaginanya terasa menyempit membuat penisku seperti diperas oleh dinding kenikmatannya.

    Lalu Vie melepaskan orgasmenya disertai erangan panjang dan kemudian ia terkulai. Benar kata Pak Daru, Vie orgasme cepat sekali. Aku terus menyodok vaginanya mengabaikan tubuhnya yang lemas. Tak lama Vie bangkit kembali nafsunya dan mulai merintih-rintih.

    “Saldy sayaang.. aku.. ingin kamu.. entotin aku dengan kasaar..” Vie meracau membuat aku tercengang.

    “Nanti kamu kesakitan..” jawabku cepat disela kenikmatan.

    “Biaar.. masa bodoh.. aku sukaa.. aa.. ahh”

    “As you wish.. Istriku yang cantiik..”

    Aku keluarkan sebagian besar penisku dari vaginanya, kemudian dengan satu hentakan cepat dan kasar aku sodok ke dalam. Penisku terasa ngilu dan nikmat.

    “Eaahh..” Vie menjerit keras.

    “Aah..iya..ah.. begiituu..”

    Aku lakukan gerakan tadi berulang diiringi jeritan-jeritan Vie. Berisik sekali.. mungkin tetangga mengira aku sedang menyiksa Vie.

    Entah apa yang ada di pikiran Darsih yang sedang mengintip.

    “Teruuss.. sayaang.. remas susuku ini.. dengan kuat.. akh! Aku.. ingin merasakan.. tenagamu.. uuhh..”

    Aku meraih susunya yang sejak tadi hanya berayun-ayun, kemudian sesuai keinginannya aku remas dengan kuat sambil terus menyodok vaginanya dengan kasar. Lagi-lagi Vie menjerit keras. Aku yakin ia kesakitan tapi bercampur nikmat.

    “Lebih kuaatt.. lebih kuat dari itu..” Vie setengah berteriak.

    “Jangan ngaco.. sayang..”

    “Ngga apa ap.. aa.. aah..!”

    Vie kembali orgasme. Sudah kepalang tanggung, aku ingin mencapai puncak secepatnya. Kukocok dengan cepat vagina Vie sampai pinggangku pegal. Vie mendesah lemah.

    “Keluarin.. yang banyak di dalam..” katanya pelan.

    “Aku.. sedang subur.. biar jadi anak..”

    Tak lama aku merasakan denyutan di penisku yang menandakan aku sudah mendekati puncak. Dan akhirnya penisku menyemprotkan sperma yang sangat banyak dan berkali-kali ke dalam rahim Vie. Kami berdua jatuh berlutut di lantai sementara penisku masih bersarang di vaginanya.

    “Anget..” Vie menggumam.

    “Apanya?” tanyaku terengah-engah.

    “Sperma kamu, di rahimku..”

    “Emang biasanya dingin ya?”

    “Yang sekarang lebih..”

    Aku mengusap rambutnya, dan memeluknya dengan sayang. Sementara itu Darsih sudah menghilang. Puas sudah dia melihat “Live show” kami. Setelah itu kami berdua membersihkan tubuh kami, terutama Vie yang tubuhnya penuh minyak.
    Tetapi setelah selesai mandi Vie kembali ganas dan “Memperkosa” aku. Gila! Aku benar-benar KO malam itu.. kalah telak!

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Panas Selingan Ranjangku Part 13 – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    Cerita Panas Selingan Ranjangku Part 13 – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018


    1828 views

    Perawanku – Beberapa jam sebelum berangkat ke hotel Shantika yg disewakan oleh teman istriku untuk kegiatan tukar guling yg akan kami lakukan, aku kembali duduk pada kursi di depan TV sambil membaca kembali yg menjadi larangan yg tidak boleh dilakukan dan intinya adalah sesuai kesepakatan antar pasangan, jadi semacam larangan yg ada bisa tidak berlaku kalau pasanganku mau melakukan. namun yg cukup digaris bawahi adalah diantaranya BDSM seperti dalam film 50 Shades of Grey, kekerasan, pemaksaan dan memperlakukan pasangan bukan seperti istri sendiri baik kekerasan verbal yg menyakiti hati mapun kekerasan fisik. Selain itu yg lainnya adalah intinya atas persetujuan pasangan masing-masing. aku masih berharap tidak melewati batas saja, karena jika ada yg sampai mengandung karena kegiatan ini maka akan jadi tanggungjawab suami sahnya.

    Waktu sudah menunjukkan pukul 18.20 malam, janjian berkumpulnya adalah pukul 19.30 di private lobby hotel Shantika, katanya nanti tanya pada resipsionis untuk diarahkan ke private lobby. kencan akan dimulai malam ini hingga selesai pada hari minggu, 2 malam yg bakal panas. istriku sedang berdandan di dalam kamar, entah apa saja yg dia lakukan, akupun penasaran untuk melihatnya.
    “wangi banget sayang”, ujarku sambil mencium lehernya.
    “hehe apaan sih mas”, ujarnya sambil dia memegangi pipiku dari depan, “kamu kok belum siap-siap”, lanjutnya.
    “perlu bawa ganti gak sih”, tanyaku. Situs Judi Online
    “kamu bawa dong buat jaga-jaga, kalau malas bawa tas, ditaruh di mobil aja, kalau butuh baru diambil, aku bawa tas ini, lumayan muat beberapa”, terangnya, yg aku tak melihat apa saja yg dia bawa.
    setelah istriku selesai berdandan, dia cukup cantik dan anggun, pakaian yg dia gunakan atasan lengan panjang sedikit longgar dan celana jeans ketat dan katanya akan menggunakan highheelsnya yg berwarna krem. lalu istriku ke dapur untuk berbicara dengan kedua pembantuku memberi instruksi terkait selama kami berdua tidak dirumah, kedua anakku justru malah senang karena bisa bermain bebas.
    aku berdandan layaknya akan bertemu my worst enemy, itu tips yg diberikan bosku saat akan bertemu dengan orang yg baru untuk memberikan kesan wow saat first impression. aku memilih menggunakan pakaian lengan panjang dan celana chinosku ditambah sepatu kulit buaya berwarna hitam kehijauanku. parfum Bvlgari aku semprotkan pada leher dan kedua ketiakku, tak lupa aku membawa parfum Bvlgariku yg lain yg berukuran travel size.

    Setelah berpamitan pada kedua pembantu dan anakku, istriku duduk pada kursi penumpang dan aku menyalakan mobil C-Classku serta memasukkan tas kecilku ke dalam bagasi dan kuarahkan jalan keluar komplek, namun sebelumnya aku berhenti pada pos satpam mengingatkankan mereka bahwa aku akan pulang hari minggu karena ada tugas diluar.
    “pak, saya dan istri ada keperluan luar kota, pulang minggu. anak-anak dan pembantu dirumah, mohon diawasi lebih ya”, ujarku sambil membuka jendela.
    “siap, ndan!!”, balasnya dengan memberi hormat.
    “pak, ini buat beli kopi dan rokok untuk kalian berempat”, ujarku sambil memberikan 5 lembar uang bergambar proklamator kita.
    lalu mobil kuarahkan pada hotel yg kami tuju, istriku hanya diam saja, begitupun juga aku, rasanya seperti akan pertama kali berkencan.
    “diem aja yang”, ujarku memecah keheningan.
    “hehe nervous mas”, balasnya singkat, yg lalu aku memegang tangannya sangat dingin, “nervous karena pertama kali aja”, lanjutnya.
    lantas setelah beberapa menit, kami tiba pada hotel yg dimaksud. hotel dengan khas warna pencahayaannya dengan berwarna kekuning-kuningan dimaksudkan agar terlihat mewah. aku memarkirkan mobilku pada basement dan berjalan menuju lobby.

    pada lobby terlihat beberapa orang lalu lalang, lalu kita disambut oleh temannya yg aku tak tau namanya, dia wajahnya sangat oriental dan badannya langsing namun payudaranya sangat besar dan menarik. turut ada disebelahnya lelaki berkacamata dengan bertubuh tegap.
    “kenalkan Mario”, ujarnya sambil mengulurkan tangannya dengan memberi senyum.
    “Heri”, balasku dengan bersalaman menggunakan kedua tangan dengan tangan kiriku diatas kedua tangan kami saat berjabat tangan, artinya adalah persahabatan.
    “Claudia”, ujar wanita yg ada didepanku tadi bernama Claudia yg tak lain adalah istri dari Mario.
    lalu beberapa saat kemudian satu pasangan lagi hadir juga, kali ini seorang pria dan istrinya yg juga berhijab, dia memperkenalkan dirinya sebagai Petra, dan aku tak berkenalan dengan istrinya. lalu Claudia, istriku dan istrinya Petra berjalan duluan untuk menuju ruangan yg dimaksud diawal. sedangkan kami bertiga berjalan beberapa langkah dibelakangnya. saat kami masuk, ternyata semua sudah ada didalam, dan semuanya sudah lengkap. akupun lantas berkenalan dengan sesama pria dan sedikitpun tidak berkenalan dengan para wanitanya, namun aku diam-diam mengamati para wanita itu. menurutku yg paling menggairahkan adalah Claudia.

    Cerita Panas Selingan Ranjangku

    “oke ladies and gentlement, selamat datang, nerveous yah atau excited”, ujar Claudia memecah keheningan, “jadi disini saya dan suamiku yg akan membacakan beberapa rules of the game yg sepertinya sudah kalian baca semua”, terangnya dengan jelas. lantas dia sibuk membaca semua peraturannya yg isinya persis dengan yg aku baca tadi sebelum berangkat.
    “jadi untuk pembagian kamarnya….ini bagian yg paling seru”, ujar Claudia dengan sangat excited, “ini ada 12 kunci, 1 kamar ada 2 kunci, yg kunci sebelah kiri akan diambil oleh para wanita, dan yg kanan adalah para pria”, terangnya.
    “jadi nanti yg wanita akan mengambil dulu, lalu berjalan ke kamar masing-masing, baru nanti yg pria giliran ngambil”, ucapnya.
    dalam pikiranku sudah gak bisa tenang, kira-kira siapa yg akan menjadi teman tidurku untuk 2 malam kedepan, dan tentunya siapa yg akan meniduri istriku. wajahnya yg sungguh kalem dan hanya senyum-senyum disana, aku tak bisa membayangkan jika ada pria yg menumpahkan spermanya pada wajahnya selain aku.

    aku berdiri dengan para pria sambil kami sedikit berbasa-basi terkait latar belakang kita dan kenalan tentunya. namun aku bersyukur bahwa para pria ini nampaknya cowok yg lurus-lurus dan bukan tipe cowok yg doyan ngeseks atau selingkuh selain dengan istrinya.
    “hmmm tanya dong mbak, bagaimana untuk memastikan bahwa itu bukan istri sendiri?”, tanya pria yg berbaju putih polo itu, yg lalu kuketahui namanya Tama.
    “oh iya ya, bagaimana pah?”, ujar Claudia yg lalu berbisik dengan suaminya. lalu kami semua pada saling berbicara mencarikan solusi.

    “hmm gini saja ya, kalau gitu, nanti wanita ngambil satu per satu, ngambil kartu lalu ditunjukin pada suaminya kamar berapa. setelah wanita ngambil semua, gantian si pria ngambil, kalau dapat nomor yg sama, maka nanti minta tukar kartu. ingat yah, hanya ditunjukin pada suami, setelah ditunjukin pada suami, langsung jalan menuju kamar yah”, terang Claudia dengan jelas, yg lalu kami ikuti dengan manggut-manggut kepala kita, “nah, nanti aku terakhir aja, berarti cowok yg dapet kamar kosong, berarti dapat aku hihi, gitu yah paham?”, lanjut Claudia dengan sangat jelas.
    “ini dilakukan biar gak tau suaminya siapa tidur dengan istri siapa, biar tetap anynomous”, terang Mario yg sekarang aku paham.

    “oh iya hampir lupa, nanti yg wanita bawa tas itu yak”, lantas Claudia mengambil salah satunya dan mengeluarkan isinya, “isinya kondom 3 pack, 1 pack-nya isinya 6 kondom, dan tiap packnya jenis kondomnya beda-beda, ada yg biasa, adanya super tipis dan ada yg dotted. lalu ada durex pelicin, lalu obat perangsang dan obat kuat. obat perangsang ini yg warnanya pink, bisa bikin basah dan hot haha dan yg obat kuat bisa bikin keras cukup lama walau udah keluar”, lanjutnya.
    “woooooo hahhhaa”, lalu diiringi dengan riuh tawa dan canda kami semua.
    “hahaha tenang-tenang, udah jam setengah 9 nih, gimana udah siap??”, tanya Claudia pada kami semua.
    “udaaaaaaaaahhh”, teriak para pria.
    “haha yg pria semangat sekali ya”, ujar Claudia sambil tertawa lepas.

    “yauda yuk ladies, silahkan ambil kartunya dan tasnya itu”, ajak Claudia, lalu majulah wanita yg wajahnya putih kecil dan imut tak berjilbab itu, dan dia mengambil kartu yg disediakan lalu dia berjalan kearah suaminya sambil menunjukkan nomor kartunya sambil meminta cium di pipi. setelah itu, dia berjalan keluar untuk menuju kamarnya. lalu satu per satu semua wanita melakukan hal yg sama, termasuk istriku. dia menggambil kartu dan tas, lalu dia berjalan kearahku sambil memelukku meminta cium, dia menunjukkan nomer kamarnya yaitu kamar 207. hingga akhirnya semua wanita mendapat kartu dan berjalan ke kamarnya, hanya tersisa mbak Claudia.
    “mas Mario, kamu pertama sini”, lalu Mario mengambil kartu dan istrinya hanya tersenyum dan memberi ciuman. dan berjalanlah Mario menuju kamarnya.

    “siapa yg mau ngamar sama aku haha”, ujar Claudia sambil berwajah genit.
    “haha udah aku aja mbak!”, teriak salah satu pria itu dan akhirnya kami semua pada mau.
    “kasian dong yg lainnya nunggu dan gak kunjung datang pasangannya haha”, terangnya sambil tertawa.
    badan Claudia ini sungguh sempurna, paha yg tebal, perut rata, wajah cantik dan payudara yg besar, suara yg imut jadi membayangkan jika dia berada dibawahku dengan kontol tebalku mengobok-obok vaginanya.
    “yuk para pria, buruan ambil kartu”, perintah Claudia, “ingat ya yg dapet kamar kosong, udah pasti aku hihi”, ujarnya genit.
    “ddduuhhh semoga aku nih”, ujar pria yg tadi bertemu denganku di lobby.
    lalu semua pria berjalan kedepan dan mengambil kartu yg dimaksud, setelah mengambil semua berdiri dan membuka kartunya apakah nomornya sama dengan istrinya.
    “nomornya bagaimana, beda semua?”, tanya Claudia.
    “beda sih”, ujarku lalu disetujui oleh para pria yg lain.
    “yauda, havefun boys, boys will be boys, udah sana hush hush”, ujar Claudia.
    “lho mbak Claudia mau kemana?”, ujar salah satu pria.
    “mau ke resiptionis sebentar mengembalikan kunci ini”, ujarnya sambil berjalan kearah yg berlawanan dengan kami.
    lalu satu per satu para pria berjalan menuju kamarnya, ada memegangi kartuku dengan berdebar kira-kira siapa yg akan aku tiduri, yg jelas bukan istriku. aku mendapat nomor 611, entah siapa yg ada didalamnya, yg jelas bukan cowok.

    aku menuruni lift yg berada di lantai 6, aku berjalan menuju nomor kamar berdasarkan arahan di dinding dimana letak nomor kamar 611, yaitu belok kanan setelah keluar dari lift. dengan pikiran yg campur dam jantung berdebar, rasanya seperti pertama kali melakukam hubungan seks. rasanya sungguh excited dan sedikit takut.
    aku berdiri tepat di depan kamar 611, aku berdiam sesaat untuk menyaksikan pakaianku, kerapian dan kewangiannya.
    “KNOCK KNOCK KNOCK”, suaraku mengetuk pintu kamar itu, walau sebenarnya aku bisa membukanya dari luar.
    “yaaaaaaaaa”, balas dari dalam dengan suara lembut dan merdu, aku masih belum bisa menebak kira-kira wanita yg mana.
    “ahh bukan kosong, berarti bukan mbak Claudia”, pikirku dalam hati.
    dan pintu itu dibukanya dari dalam..

    (POV HERI)

    aku berdiri tepat di depan kamar 611, aku berdiam sesaat untuk menyaksikan pakaianku, kerapian dan kewangiannya.
    “KNOCK KNOCK KNOCK”, suaraku mengetuk pintu kamar itu, walau sebenarnya aku bisa membukanya dari luar.
    “yaaaaaaaaa”, balas dari dalam dengan suara lembut dan merdu, aku masih belum bisa menebak kira-kira wanita yg mana.
    “ahh bukan kosong, berarti bukan mbak Claudia”, pikirku dalam hati.
    dan pintu itu dibukanya dari dalam……….
    terlihatlah sosok wanita yg berhijab, wajahnya putih dengan kemerahan dipipinya hasil dari makeup yg dia kenakan, bodi badannya yg lebih berisi dari istriku dan tinggi badannya yg hampir setinggi diriku karena menggunakan highheels tinggi berwarna merah tua dengan model tertutup layaknya sepatu yg digunakan karyawan kantoran. highheels tidak hanya berhak pada bagian tumit, namun juga pada bagian depannya.
    “silahkan masuk mas”, ujar dia sambil mempersilahkan aku masuk. memasuki kamar hotel, bentuknya sama seperti hotel pada umumnya, setelah pintu utama, sebelah kanan terdapat pintu kamar mandi, namun lorong hingga menuju kamar panjangnya berbeda dengan hotel umumnya, maka aku menafsirkan hotel ini menawarkan kamar mandi yg luas. saat melewati dirinya, sangat terasa bau parfum yg dia gunakan, sungguh wangi. dia menutup dan mengunci pintunya saat aku sudah melewati dirinya. pada ruang utama terdapat kasur double yg cukup besar, disebelah kanan kirinya ada meja lampu dan tepat diatas kasur ada kaca yg cukup besar yg melintang sepanjang lebar kasur.

    “terimakasih mbak. hmm maaf dengan mbak siapa ya, belum kenalan tadi?”, ujarku sambil mengulurkan tanganku.
    “hmm Stella, mas. kalau mas?”, balasnya dengan sedikit malu-malu.
    “Heri”, balasku dengan singkat.
    “oh iya, hmmm silahkan duduk mas”, mintanya kembali.
    “oh iya heehe”, aku merasakan awkward sekali, sambil berjalan melihat di jendela dan melihat-lihat ruangan dan Stella hanya berdiri di pojokan di depan lorong pintu masuk sambil bingung akan bagaimana, “maaf mbak, saya akward hehe”, lanjutku sambil melihat dia.
    “hehe sama mas”, balasnya dengan tawa yg awkward.
    “sama mbak, hmmm kalau boleh tanya mbak, jadi mbak juga setuju dengan kegiatan ini?”, tanyaku.
    “hmm hehe iya mas”, balasnya dengan singkat yg diiringi dia berjalan dan duduk diatas kasur, “mas sudah pernah melakukan seperti ini selain dengan istri?”, lanjutnya.
    “belum mbak, mbak sendiri?”, tanyaku berusaha memecah keheningan, sambil aku duduk di kursi didepan kasur.
    “belum mas, pertama kali ini, nanti pelan-pelan ya mas”, ujarnya sambil menunduk.
    “iya mbak, saya juga masih amatir kok”, balasku, “udah punya momongan mbak?”, lanjutku.
    “sudah mas 2, mas sendiri?”, tanyanya.
    “sama mbak”, balasku.

    aku merasa sangat aneh, dan bingung bagaimana harus memulai, secara mbak Stella sungguh pasif dan diam saja, mungkin aku harus memancingnya dengan obrolan yg nakal.
    “hmm mbak, sebelum mulai hehe ada pantangan gak, misal enggak suka apa atau apa?”, tanyaku mulai nakal.
    “hmm apa ya mas hehe enggak ada nampaknya”, balasnya dengan malu-malu.
    lalu setelah beberapa saat melewati awkard, aku berdiri dan berjalan mendekat kearahnya dia duduk, aku mengulurkan tanganku, dia menerima tanganku dan aku ajaknya berdiri. aku memeluk badannya dengan melingkarkan tanganku pada pinggangnya, pinggul kami saling bergoyang kiri dan kanan layaknya sedang berdansa. mata kami saling pandang, kepala kami saling mendekat, dan bibir kami bersentuhan.
    “smooooccccchhhhh”, bibir lembutnya menyentuh bibirku. kami saling berciuman dengan mersa, dia sedikit membuka mulutnya, mata kami terpejam menikmati ciuman ini. lidah kami saling bertemu, nafas dia mulai bersuara. tanganku meremas pantatnya dengan nakal, namun bibir kami tak saling lepas.

    dia lalu sedikit mendorong badanku dan aku terduduk di kursi tadi. Stella berdiri tepat didepanku dengan tatapan mulai sange, dalam hatiku liar juga dia. lalu dia bertulut di depanku, dan mulai sibuk melepaskan ikat pinggangku dan celanaku, dia menarik kebawah celanaku beserta celana dalamku lalu terbukalah penisku yg sudah tersimpan.
    “woooaahh mas, ini gede banget”, ujarnya terkaget sambil tertawa kecil. aku tak menjawab apapun, lalu dia membuka mulutnya dan mulai memasukkan penisku pada mulutnya.
    “wooahh mbak Stella ahhh”, desahku saat kontolku masuk ke dala mulutnya. dia dengan lembut memainkan kontolku beserta tangannya mengurut-urut dengan lembut. setelah beberapa kali dorongan dengan memainkan lidahnya saat kontolku berada didalamnya.

    “mulutku sampai penuh mas”, ujarnya sambil tersenyum padaku
    “enak yah”, ujarku singkat, lalu dia sedikit mengangkat tubuhnya dan berusaha menelan kontolku hingga pangkalnya. mulutnya terbuka dengan maksimal, matanya terpejam berusaha fokus, nafas dari hidungnya sangat terasa di pangkal penisku, namun usahanya tidak membuahkan hasil. dia mengeluarkan kontolku kembali setelah beberapa kali mencoba memasukkan semua hingga akhirnya tersedak.
    “uhuuk..uhuuukk..uhuuukkkk hihi gak muat masuk semua mas”, katanya sambil mulutnya penuh dengan ludah.
    lalu aku memegangi dagunya, dan menariknya kearah bibirku, namun dia berusaha menolak, tapi akhirnya bibir kami bersentuhan, “smoooccchhhhh”.
    “mas, kok mau nyium aku setelah bibirku nyepongin penismu”, ujarnya setelah berciuman.
    “lha emangnya kenapa, kan gapapa”, balasku sembari berdiri dan melepas baju dan celanaku hingga akhirnya aku telanjang bulat, sedangkan Stella masih lengkap dari jilbabnya, baju lengan panjang dan jeansnya yg bewarna hitam ketat membungkus pahanya yg tebal.

    “sini mbak”, perintahku dia mengarahkan pada kasur. kedua tanganku sibuk melepas jilbabnya, terlihatlah rambut bergelombangnya sepanjang punggung bagian atas. lalu aku melepas bajunya, BH berwarna pink itu sungguh cocok menempel dibadannya. dan langsung saja aku melepas celana jeansnya saat dia terbaring dikasur, celana dalam berwarna sama dengan BH nya, model celana dalam seperti celana ini sungguh seksi di badannya. aku menarik celananya namun kesusahan karena ada heelsnya.
    “mas, heelsnya dilepas dulu”, perintahnya.
    “aku pengin kamu pakai heels”, balasku
    “dilepas dulu, nanti dipakai lagi setelah celananya lepas”, ujarnya dan aku langsung melakukannya. setelah terlepas, aku memasang kembali heelsnya, dan aku menjatuhkan diriku diatara pahanya untuk melahap vaginanya yg masih tertutup celana dalam.

    “mas Heri dilepas aja semua, biar tambah enak”, ujarnya genit, dan aku melepas semua yg tersisa dibadannya. aku lalu langsung menyibukkan diri pada vaginanya, dan Stella hanya merancu dan mendesah sambil memegangi kepalaku.
    “oh mas Heri, enak sekali mas”
    “ahh mas terus mas, jilat memek Stella mas”
    “puasin Stella mas, ooh mas enak mas awh awh awhh mas awwh”, desahnya tak karuan, aku menikmati vaginanya yg berbau khas vagina dan bersih dari bulu yg nampaknya sudah dipersiapkan sebelum kegiatan ini. klirotis dan bibir vaginanya tak ada yg luput dari jilatanku. Stella terus mendesah mendesah dan mendesah tanpa malu walau aku bukan suaminya, tangan kirinya sambil meremat susunya, kepalanya sudah khayang dan matanya merem melek keenakan. lidahku bermain pada klitorisnya sedangkan jariku sedikit membuka memeknya, yg aku juga serang bagian pintu menuju surga dunianya. badannya yg sedikit berisi membuatnya nampak sempurna saat dia telanjang ditambah dengan kulitnya yg putih, selain itu wajahnya yg nampak innocent. namun sebenarnya memiliki nafsu yg sungguh tinggi.

    Cerita Panas Selingan Ranjangku

    “mas…”, ujar Stella dengan lembut, lalu aku menatap dia dari diantara pahanya, “Stella sudah gak kuat mas, ayo setubuhin aku mas”, ujarnya dengan nakal.
    lalu aku langsung bangkit dan bersiap untuk memasukkannya namun sebelumnya aku kembali melahap bibirnya.
    “mas, aku gak biasa pakai kondom, enak gak?”, tanya dia dengan polos.
    “aku juga belum pernah mbak”, balasku dengan jujur.
    “lha ini gimana pakai gak?”, tanya dia.
    “pakai aja mbak, biar aman”, balasku, lalu aku mengambil tas kecil yg dibagikan tadi, lalu mengambil kondom yg superthin dan aku gunakannya.
    tanpa menunggu, aku langsung mengarahkan penisku pada bibir vagina Stella. dia hanya memejamkan matanya saat ujung penisku menyentuh bibir vaginanya dan perlahan memasuki tubuhnya. dia menggerutkan dahinya saat seluruh tubuh penisku memasuki tubuhnya.
    “awwhhhh bentar mas, jangan di goyang dulu”, desah Stella sambil terus memejamkan matanya dan menggigit bibir bagian bawahanya. hampir 30 detik dia memintaku untuk diam, “ayo mas, pelan-pelan”, lanjut dia, lalu aku mulai memajumundurkan pinggulku dengan sangat pelan. aku menarik kontolku hingga ujung kepalanya dan memasukkan hingga sangat dalam.
    “awwhh panjang banget awwhhhh”
    “ehhmm enak banget mass”
    “iya mas pelan-pelan saja”
    aku menjatuhkan tumpuanku, dada kami saling bersentuhan dan Stella memelukku melingkarkan kakinya pada pinggulku.
    “mas ahhh kerasa banget sampai rahimku ahhh mass, mas agak kencengan mas…”, minta dia, lalu aku kembali bertumpu pada telapak tanganku dan masuk pada gigi 5.

    PLOK PLOK PLOK PLOK
    PLOK PLOK PLOK PLOK
    PLOK PLOK PLOK PLOK
    “awhh mass awhh mas ahh enak mass ahhh yaampun enak banget siihh ahhh ahhh ahhh”, teriak dia sungguh liar, aku terus memompa dia tanpa henti hingga pinggangku mulai mati rasa, aku terus maju dan mundur, hingga berpikir kok dia gak segera orgasme, bisa-bisa aku duluan ini.
    “masih jauh mbak Stella?”, tanyaku sambil terus memompa.
    “enggak mas, gitu terus mas ahh ahhh ahhh whhh ahhh ahh”
    aku masih pada kecepatan yg sama, Stella mulai merancu semakin kencang dan dia mulai meremas remas susunya sendiri sambil merem melek, vaginanya mulai terasa hangat dan memijat pijat. pinggul bergerak maju dan mundur layaknya piston mesin yg sedang dipacu, keringat sudah mulai keluar dari dalam pori-pori badanku. aku memandangi Stella yg innocent sedang keenakan dan aku juga ingin segera memuaskan diriku dengan memandangi dan menikmati istri sementaraku.

    beberapa saat kemudian, badannya mulai meregang, dia mulai bergeliat seperti cacing kepanasan, ototnya semakin mengencang, kakinya yg melingkar semakin mencengkramku, wajahnya jadi super sange dan akhirnya dia meledak.
    “AWWWHHHH MASSSS AWWHHHH YAAMPUUUNN AHH AKU GAK KUAAAT AHHHH AHHHH OOOWHHH AHHHH”, teriakan yg sangat keras beserta badan yg seperti kerasukan.
    “awwhhhhh Stellaaaaa ahhhhh jepitanmu enak bangeeett”, aku juga turut mendesah karena vaginanya meremas remas dengan kencang.
    “ahh hossh hoosh hoosshh istirahat bentar mas, maaf dicabut dulu ya mas”, ujar dia memintaku untuk mencabut.
    dia lalu hanya terbaring di kasur sambil menutup wajahnya dengan bantal.
    “mbak, aku ambilkan minum ya”, ujarku sambil berusaha membuka bantalnya.
    “makasih mas, aku malu mas, bisa teriak sampai seperti tadi hehe”, balasnya.
    “dashyat banget ya mbak”, candaku sambil mengulurkan air padanya.
    “aku meledak mas hahahha gila, jangan cerita siapa-siapa ya mas, malu”, mintanya.
    “aman mbak, yg terjadi disini tetap disini”, balasku sambil aku mendekatkan bibirku pada keningnya.

    “mau posisi gimana mas?”, ucap dia saat dia sudah kembali mendapatkan tenaga untuk kembali bersenggama, hubungan tanpa obat kuat maupun perangsang ini ternyata juga cukup menggairahkan jika kedua insan manusia saling bisa menikmati indahnya bercinta.
    “tengkurap aja mbak, sampai aku keluar ya”, mintaku pada Stella, lalu dia tengkurap pada dadanya. dan aku memasukkan kontolku dari posisi belakang, dan kali ini Stella bisa melihat dirinya dan diriku melalui kaca yg ada di atas kasur kami.
    setelah penisku masuk, aku lalu memompanya tanpa ampun. Stella hanya memejamkan mata dan kadang melihat dirinya sedang dipompa oleh cowok yg baru dia kenal beberapa saat lalu, dia tidak mendesah, namun terus menggigit bibirnya pertanda keenakan.
    aku masuk posisi gigi sedang, udah tak mampu pada gerakan tertinggi, pinggulku sudah mau copot, keringat pada tubuhku terus bercucuran, dan Stella juga turut berkeringat. aku terus mempompanya hingga entah berapa menit, kontol tebalku ditambah lapisan tipis ini berhasil menunda aliran pejuh yg seharusnya harus segera keluar. aku sudah tak kuat dengan pinggul dan badanku, aku terus konsentrasi agar segera keluar. akhirnya yg ditunggu sudah mengantri untuk keluar.
    badanku mulai menegang, ototku jadi lebih kencang, penisku jadi semakin tebal dan Stella mengetahuinya, dia lalu melihatku yg akan orgasme melalui kaca.

    CROOT CROOT CROOT CROOOT CROOOOT CROOOT CROOOTT
    “ARRGGHHHHH ARRRGGHHHH AHHHHWWWWHHH OOWWHHHHH AWWHHH AWRRGGHHHHH”, desahku sambil bertumpu pada tanganku, aku terus menggerutu dan memompa penisku dengan perlahan hingga tetes terakhir yg tertampung pada kondom.
    “haha sampai menggerutu gitu ya mas”, tanya Stella sambil tersenyum.
    “iya mbak, pas mau keluar vaginamu malah semakin njepit”, ujarku.
    “iya mas enak yah hihi”, candanya, yg lalu aku menimpa badannya dan menciumi lehernya. lantas aku melepas kondomku yg menampung beberapa cc benih cintaku, Stella memintanya yg memainkan untuk beberapa saat dengan mencium baunya dan memasukkan jarinya pada kubangan pejuhku.
    “tadi mending di crootin dibadanku aja mas”, ujarnya dengan innocent.
    “haha next time lah, mana tau kalau kamu doyan”, balasku sambil duduk di kasur dengan wajah sedikit terlelah dan penuh dengan kerigat walau ruangan kamar ini sudah ber-AC.

    setelah selesai dengan obrolan ringan pasca seks perdana, aku memberesi kondomku dan merapikan baju kami yg tercecer untuk dilipat, Stella berada di kamar mandi untuk mencuci vaginanya dan badannya. kami berdua lalu tiduran di dalam selimut sambil pelukan diatas kasur dengan tanpa baju satu helaipun, dan mengobrolkan masalah yg ringan-ringan. hingga pada malam itu kami melanjutkan untuk nambah satu ronde lagi hingga kami baru tertidur pukul setengah 12 malam.

    keesokan harinya setelah selesai sarapan dan aku telah menyelesaikan mandi sebelum Stella. aku hanya duduk diatas kasur hanya menggunakan celana dalamku sambil nonton TV channel luar negeri menunggu Stella sedang mandi.
    setelah beberapa saat, lalu dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan semacam lingerie.
    “kok pakai baju gituan, ntar aku nafsu lho”, ujarku memuji badannya yg sungguh seksi.
    “hehe hanya bawa baju kemarin dan ini mas, masa mau telanjang”, pembelaannya. lalu dia duduk diatas kasur berada disebelahku.
    “mas, apa yg membuatmu mau ikutan ini?”, tanya Stella memecah keheningan selain suara TV.
    “diajak istri dan hmm jarang berhubungan juga mbak, istriku kurang menikmati penisku yg gede ini, kalau mbak?”, tanyaku kembali setelah menjawab.
    “sama sih mas, udah bosan mungkin aku dan suami haha, lhaah yaampun penis segede itu idaman wanita lho”, balasnya, “katanya karena apa mas?”, lanjutnya.
    “katanya kurang menikmati aja”, balasku padanya.
    “yaampun, mungkin istrimu belum tau caranya menghandle penis besar mungkin hihi”, ucapnya sambil tertawa kecil.
    “emang caranya gimana mbak?”, tanyaku penasaran.
    “seperti aku kemarin hehe di diemin dulu mas, biar memeknya penyesuaian sama biar basah dulu, penis suamiku gak sebesar kamu mas, tapi aku punya dildo yg gedenya segitu mas, tapi jangan bilang-bilang lho, awalnya juga sakit, tapi karena tau tehniknya, jadi enak banget”, terang Stella yg membuatku berpikir bahwa walau dia hijaber, namun cukup nakal juga sampai punya dildo, “ya karena bosan itu sih mas, akhirnya aku memberanikan diri beli toys seks untuk memuaskan hasrat terpendam, kadang main sendiri sampai orgasme beberapa kali hingga badan lemas hihi, tapi emang lebih enak dengan yg nyata seperti malam ini hihi”, lanjutnya dengan polos.

    pada hari sabtu ini, kami terus saling pompa dan bersenggama hingga tak dihitung lagi Stella orgasme berapa kali dan juga aku. dikarenakan volume pejuh yg keluar semakin dikit dan dikit hingga akhirnya hanya berupa tetesan saja, maka kami berani untuk tidak menggunakan kondom agar lebih intim karena kulit kontolku dan dinding rahim Stella bersentuhan. mulai posisi yg biasa hingga yg tak biasa kami lakukan dan kami eksplore. Stella wanita yg nampaknya pendiam dan pemalu, namun saat sudah diberi daging yg bernama kontol, dia seakan berubah menjadi sosok yg super liar dan nakal. pengalaman pertama berhubungan selain dengan istriku sungguh luar biasa, hubungan ini bisa melupakan sesaat apa yg dilakukan istriku pada pasangan mesumnya.

    saking tak ingin terbuang waktu untuk bercinta, untuk makan siang dan malam kami order fastfood yg diantarkan oleh Gojek, bahkan pakaian kami terus tertanggal, agar tak masuk angin, kami tak menggunakan AC namun membuka balcony selebar mungkin agar udara bisa masuk dengan bebas. keringat demi keringat, pejuh demi pejuh terus membasahi badan kami. teriakan demi desahan kami keluarkan dari mulut kami untuk menggambarkan betapa nikmatnya kegiatan tukar guling ini. selain untuk menghilangkan kebosanan namun juga untuk mengeluarkan binatang buas yg tersimpan pada tubuh kami.

    “AHHHHHHH MBAK STELLAAAA AHHHH NIKMAT BANGEEET AWWHHH OWWHHH”
    “MAS HERIII AHHHH PEJUHIN AKU TERUS DENGAN KONTOLMU YG JUMBO AHH MASSSS”, desah panjang kami menutup adegan seks terakhir pada hari sabtu, pukul 23.17 malam dengan pejuh yg tak lagi menetes dan Stella yg orgasme yg seperti harimau yg sudah tak diberi daging bertahun-tahun, lalu memakan daging. sungguh buas dan liar. aku dan Stella terbaring diatas kasur dengan telentang, badan Stella dan aku penuh dengan cairan kelamin, kontolku terlemas diantara pahaku. Stella menaruh kepalanya di pundakku dan kami mulai tertidur.

    bangun keesokan harinya, setelah selesai sarapan, kami berdua mulai untuk beres-beres sebelum dikembalikan pada pasangan masing-masing. seperti pada kesepakatan saat sebelum kami memasuki kamar masing-masing bahwa kegiatan ini akan berakhir pada hari minggu jam 10 pagi dan berkumpul di private lobby. seperti saat kami mulai, para wanita terlebih dulu berjalan ke lobby setelah 10 menit baru yg para pria ke lobby, untuk menyembunyikan siapa tidur dengan siapa biar tidak ada kecemburuan. ide yg brilian.

    Stella masih di kamar mandi dengan pintu terbuka sudah menggunakan bajunya lengkap, sama denganku juga, aku sudah duduk di kasur menunggu Stella bersolek. namun penisku berkata lain, dia masih ingin bersarang pada memek Stella sebelum kami berpisah. karena sudah lumayan tegang, aku berjalan menuju kamar mandi.
    “hi mbak, masih berdandan”, tanyaku saat dia sedang merapikan jilbabnya.
    “udah nih, yuuk”, ujarnya sambil akan berjalan keluar karena sudah mendekati pukul 10.
    “mbak, quicky yuk bentar aja”, ajakku.
    “yah mas, udah rapi ini, ntar berantakan lagi aku”, ujarnya sambil menolak. tapi aku sudah memegangi pinggulnya.
    “jeansnya aja diturunkan dikit, yg penting bisa masuk”, ujarku.
    “hmm yauda yuuk, ambil pelicinnya mas, belum basah ini, langsung masukin aja”, ajaknya dan aku berjalan menuju kamar menggambil pelicin.
    Stella sudah memposisikan diri dengan sedikit nungging, lalu dari belakang, tanganku meraih kancing jeansnya, melepasnya. dan menariknya kebawah hingga sebatas paha. lalu aku gantian melepas celanaku aku turunkan hingga bawah karena longgar.
    penisku aku beri pelicin dan langsung kuarahkan pada memek Stella.
    “shhhhh ahhhhh, langsung aja mas”, perintahnya yg aku langsung bergerak maju mundur dengan kecepatan sedang. Stella terlihat sedang merem melek keenakan dan mengigit bibirnya, terlihat jelas dari kaca yg besar ini. lalu agar sama-sama segera keluar, aku menaikkan tempo sodokanku.

    PLOK PLOK PLOK PLOK
    PLOK PLOK PLOK PLOK
    PLOK PLOK PLOK PLOK
    Stella memegangi dengan erat wastafel hotel ini, matanya terpejam, punggungnya sudah maju kedepan, memeknya sungguh terasa sedang memijat pijat dan mulai hangat, mulai terasa badannya akan orgasme, namun dia hanya diam saja.
    “ssshhhhhhhhhhhhh ehhhmmmm shhhhhhhh ehhmmmm shhhhhhh”, dia bergetar cukup hebat namun tak mengeluarkan desahnya, hanya menggegam dengan erat wastefel itu.
    “mbak, orgasme yah hehe”, ujarku dengan canda.
    “hehe mas, buruan”, balasnya dengan memintaku lebih cepat. lalu aku ngentotin dengan tempo cepat dan setelah beberapa kali sodokan, akhirnya akan terasa pejuh yg sudah kutunggu.
    “ahh aku mau keluar, keluar dimana mbak?”, tanyaku mengingat aku tak menggunakan kondom.
    “di dalem aja mas gapapa, paling gak banyak”, ujarnya sambil terus menahan desah sambil mengigit bibirnya.
    badanku lalu merasa menegang dan otot penisku semakin terasa mengembang.

    Cerita Panas Selingan Ranjangku

    CRIIT CRIIT
    “arrghhhhhh aooowhhhhh arrgggghhhhh”, desahku sambil mencengkram pantat Stella yg bulat itu. aku istirahat sejenak di dalam vaginanya yg lalu aku mengambil tisu yg berada d sebelah Stella. lalu aku mencabut penisku diikuti dengan membersihkan vagina Stella dengan tissue itu. setelah cukup bersih, Stella menarik celana jeansnya naik ke atas.
    “tadi dikit yah mas”, tanyanya sambil berkaca dan merapikan bajunya.
    “iya dikit banget mbak”, balasku.
    “wiih udah jam 10, aku turun sekarang ya mas”, ujarnya sambil melihat jam di lengannya.
    “yahh, ntar kalau aku kangen bagaimana mbak hehe?”, tanyaku sambil bercanda dan membetulkan celanaku.
    “semoga bulan depan, dapet kamu lagi mas, penismu jelas nagih hehe”, ujarnya sambil meraih kedua pipiku dan mendekatkannya pada bibirnya, “SMOOCCHHH, love you mas, bye”, ujarnya. “love you too, mbak”, balasku singkat.
    dia melambaikan tangannya sambil mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu keluar kamar.

    aku kembali memasuki kamar untuk last check apakah ada yg tertinggal, kuperhatikan kondom dan obat-obatnya tidak ada, mungkin dibawa oleh Stella untuk digunakan lagi pada tukar pasangan selanjutnya. aku menunggu hingga 10 menit, lalu aku keluar dari kamar dan berjalan menuju lift. di dalam lift aku bertemu dengan seorang pria yg turut ikut kegiatan ini, namun aku lupa namanya.
    “eh mas, haha, gimana?”, tanyaku pada pria itu.
    “dahsyat mas, mantab banget, kamu gimana?”, ujarnya dengan sambil memberiku tepukan di punggung.
    “haha rasanya seperti mengeluarkan binatang buas mas”, balasku.
    “hahaa bener-bener”, lanjutnya lagi sambil tertawa bebas.
    tibalah kami pada lantai Ground, keluar dari lift dan berjalan menuju di private lobby. tiba disana sudah ada istriku, Stella atau lebih tepatnya semua wanita. beberapa langkah setelah aku masuk, pria lainnya juga baru saja tiba. kami tutup pintu lobby dan aku bersalaman dengan semua pria yg ada disana, dan menebak-nebak mana yg meniduri istriku, dan bagaimana sikap istriku selama didalam dengan pria itu. tapi tebakanku tidak membuahkan hasil, mereka menutup rapat-rapat dengan siapa mereka tidur.

    “hello, ladies and gents hehe, gimana masih mau lagi?”, canda Claudia memulai.
    “hahaha massiiiiihhhhhhhhh”, ujar lantang para pria yg diikuti tawa dari semuanya.
    “wah yg cowok pada mau nambah ini ladies, gimana?”, canda Claudia, lalu diiringi dengan tawa dan canda dari kita semua.
    “hmmm kegiatan hmmm apa ya…tukeran haha..pertama udah berakhir, semoga tidak ada yg kapok dan bisa mengikuti kegiatan ini lagi bulan depan, hati-hati dijalan dan jangan lupa bawa pasangan sahnya haha thankyou”, ujar Claudia menutup acara tukar guling perdana yg berjalan sesuai dengan rencana, intinya sukses.
    lalu semua berpamitan dan istriku datang kearahku memberi peluk dan cium. lalu dari sebelah mataku aku melihat Stella yg turut menyambut suaminya. masing-masing pasangan sah lalu meninggalkan ruangan itu, begitu pula denganku.
    “gimana yang haha”, basa-basiku dengan istriku saat berjalan menuju mobilku yg terparkir di basement.
    “apaan sih mas, nanti aja tanya-tanyanya, masa tanya di tempat seperti ini”, candanya sambil menjiwit lenganku.
    lalu kami memasuki mobilku, menunggu untuk panas dan mengarahkan mobil berjalan menuju rumah. ada rasa awkward sedikit dengan istriku namun aku berusaha untuk membuat santai dan tidak baper dengan apa yg baru saja kita lakukan. semoga selingan ini membawa keutuhan dan semakin erat keluarga masing-masing..

  • Pengalaman Ngentot Si Fitri Pemuas Nafsuku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Pengalaman Ngentot Si Fitri Pemuas Nafsuku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1905 views

    Perawanku – Saat aku sedang menonton tv dikamarku tiba tiba Tika keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju
    tidur yang tranparan , waooowww dia habis cuci muka dan bersih bersih siap untuk tidur, dikamar tidur
    kami memang ada tv dan kamar mandi dalammnya jadi kami dapat menonton tv dengan tiduran , saat ini Tia
    yang sedang tidur disampingku. Judi Bola Sbobet

    Melihat tubuh Tia yang seksi aku sungguh horny, dengan mata tepejam aku mengajak Tia bicara.
    Lho kok udah tidur sih?? tanyaku

    Dengan nada bergumam Tia hanya menjawab “Hmmmmmmm”

    Sambil membuka matanya dan tersenyum kecilnya, uhh membuat burungku semakin tegang tangannya sambil
    mengelus pipiku kemudia dia mecium pipiku
    “Tidur yang nyenyak yaa..” katanya perlahan.

    Lalu ia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Tidur! Nah lho? Sial
    benar. Cuma begitu saja? Aku terbengong beberapa saat.

    “Tia!..!” aku mengguncang-guncang tubuhnya.

    “Umm.. udah maleem.. Tia ngantuk niih..”

    Kalau sudah begitu, percuma saja. Dia tidak akan bangun. Padahal aku sedang birahi tinggi dan butuh
    pernyaluran. Si “ujang” masih tegang dan penasaran minta jatah.

    Begitulah Tia. Sebagai istri, dia hampir sempurna. Wajah dan fisiknya enak dilihat, sifatnya baik dan
    menarik. Perhatiannya pada kebutuhanku sehari-hari sangat cukup.

    Hanya saja, kalau di tempat tidur dia sangat “hemat”. Nafsuku terbilang tinggi. Sedangkan Tia, entah
    kenapa (menurutku) hampir tidak punya nafsu seks.

    Tidak heran meskipun sudah lebih setahun kami menikah, sampai saat ini kami belum punya anak. Untuk
    pelampiasan, aku terkadang selingkuh dengan wanita lain. Tia bukannya
    tidak tahu.

    Tapi tampaknya dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Nafsuku sulit ditahan. Rasanya ingin kupaksa
    saja Tia untuk melayaniku. Tapi melihat wajahnya yang sedang pulas, aku jadi tidak tega.

    Kucium rambutnya. Akhirnya kuputuskan untuk tidur sambil memeluk Tia. Siapa
    tahu dalam mimpi, Tia mau memuaskanku? Hehehe..

    Esoknya saat jam istirahat kantor, aku makan siang di Citraland Mall.
    Tidak disangka, disana aku bertemu dengan Andri, sahabatku dan Tia semasa kuliah dahulu.

    Kulihat Andri bersama dengan seorang wanita yang mirip dengannya. Seingatku, Andri tidak punya adik.
    Ternyata setelah kami diperkenalkan, wanita itu adalah adik sepupu Andri.

    Fitri namanya. Heran juga aku, kok saudara sepupu bisa semirip itu ya? Pendek kata, akhirnya
    kami makan satu meja.

    Sambil makan, kami mengobrol. Ternyata Fitri seperti juga Andri, tipe yang mudah akrab dengan orang
    baru. Terbukti dia tidak canggung mengobrol denganku.

    Ketika aku menanyakan tentang Joe (suami Andri, sahabatku semasa kuliah), Andri bilang bahwa Joe
    sedang pergi ke Surabaya sekitar dua minggu yang lalu untuk suatu keperluan.

    “Paling juga disana dia main cewek!” begitu komentar Andri.

    Aku hanya manggut-manggut saja. Aku kenal baik dengan Joe, dan bukan hal yang aneh kalau Joe ada main
    dengan wanita lain disana.

    Saat Fitri permisi untuk ke toilet, Andri langsung bertanya padaku.

    “Van, loe ama Tia gimana?”

    “Baek. Kenapa?”

    “Dari dulu loe itu kan juga terkenal suka main cewek. Kok bisa ya akur
    ama Tia?”

    Aku diam saja.

    Aku dan Tia memang lumayan akur. Tapi di ranjang jelas ada masalah. Kalau dituruti nafsuku, pasti
    setiap hari aku minta jatah dari Tia.

    Tapi kalau Tia dituruti, paling hebat sebulan dijatah empat atau lima kali! Itu juga harus main paksa.
    Seingatku pernah terjadi dalam sebulan aku hanya dua kali dijatah Tia.

    Jelas saja aku selingkuh! Mana tahan?

    “Kok diem, Van?” pertanyaan Andri membuyarkan lamunanku.

    “Nggak kok..”

    “Loe lagi punya masalah ya?”

    “Nggaak..”

    “Jujur aja deh..” Andri mendesak.

    Kulirik Andri. Wuih, nafsuku muncul. Aku jadi teringat saat pesta di rumah Joe. Karena nafsuku sudah
    sampai ke ubun-ubun, maka akal sehatku pun hilang.

    “Cerita doong..!” Andri kembali mendesak.

    “Mi.., loe mau pesta “assoy” lagi nggak?” aku memulai. Andri kelihatan kaget.

    “Eh? Loe jangan macem-macem ya Van!” kecam Andri.

    Aduh.., kelihatannya dia marah.

    “Sorry! Sorry! Gue nggak serius.. sorry yaa..” aku sedikit panik.

    Tiba-tiba Andri tertawa kecil.

    “Keliatannya loe emang punya masalah deh.. Oke, nanti sore kita ketemu lagi di sini ya? Gue juga di
    rumah nggak ada kerjaan.”

    Saat itu Fitri kembali dari toilet. Kami melanjutkan mengobrol sebentar, setelah itu aku kembali ke
    kantor.

    Jam 5 sore aku pulang kantor, dan langsung menuju tempat yang dijanjikan. Sekitar sepuluh menit aku
    menunggu sebelum akhirnya telepon genggamku berdering.

    Dari Andri, menanyakan dimana aku berada. Setelah bertemu, Andri langsung mengajakku naik ke mobilnya.
    Mobilku kutinggalkan disana. Di jalan Andri langsung menanyaiku tanpa basa-basi.

    “Van, loe lagi butuh seks ya?”

    Aku kaget juga ditanya seperti itu. “Maksud loe?”

    “Loe nggak usah malu ama gue. Emangnya Tia kenapa?”

    Aku menghela nafas. Akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan uneg-unegku.

    “Mi.. Tia itu susah banget.. dia bener-bener pelit kalo soal begitu. Loe bayangin aja, gue selalu
    nafsu kalo ngeliat dia. Tapi dia hampir nggak pernah ngerespon.

    Kan nafsu gue numpuk? Gue butuh penyaluran dong!

    Untung badannya kecil, jadi kadang-kadang gue paksa dia.”

    Andri tertawa. “Maksudnya loe perkosa dia ya? Lucu deh, masa istri sendiri
    diperkosa sih?”

    “Dia nggak marah kok. Lagi gue perkosanya nggak kasar.”

    “Mana ada perkosa nggak kasar?” Andri tertawa lagi. “Dan kalo dia nggak
    marah, perkosa aja dia tiap hari.”

    “Kasian juga kalo diperkosa tiap hari. Gue nggak tega kalo begitu..”
    “Jadi kalo sekali-sekali tega ya?”

    “Yah.. namanya juga kepepet.. Udah deh.. nggak usah ngomongin Tia lagi ya?”

    “Oke.. kita juga hampir sampe nih..”

    Aku heran. Ternyata Andri menuju ke sebuah apartemen di Jakarta Barat.
    Dari tadi aku tidak menyadarinya.

    “Mi, apartemen siapa nih?”

    “Apartemennya Fitri. Pokoknya kita masuk dulu deh..”

    Fitri menyambut kami berdua. Setelah itu aku menunggu di sebuah kursi, sementara Fitri dan Andri masuk
    ke kamar. Tidak lama kemudian Andri memanggilku dari balik pintu kamar tersebut.

    Dan ketika aku masuk, si “ujang” langsung terbangun, sebab kulihat Andri dan Fitri tidak memakai
    pakaian sama sekali. Mataku tidak berkedip melihat pemandangan hebat itu. Dua wanita yang cantik yang
    wajahnya mirip sedang bertelanjang.

    bulat di depanku.

    Mimpi apa aku?

    “Kok bengong Van? Katanya loe lagi butuh? Ayo sini..!” panggil Andri lembut.
    Aku menurut bagai dihipnotis. Fitri duduk bersimpuh di ranjang.

    “Ayo berbaring disini, Mas Ivan.”

    Aku berbaring di ranjang dengan berbantalkan paha Fitri. Kulihat dari
    sudut pandangku, kedua bagian bawah payudara Fitri yang menggantung
    mempesona.

    Ukurannya lumayan juga. Fitri langsung melucuti pakaian atasku, sementara Andri melucuti akaianku
    bagian bawah, sampai akhirnya aku benar-benar telanjang. Batang kemaluanku mengacung keras menandakan
    nafsuku yang bergolak.

    “Gue pijat dulu yaa..” kata Andri.

    Kemudian Andri menjepit kemaluanku dengan kedua payudaranya yang montok itu. Ohh.., kurasakan pijatan
    daging lembut itu pada kemaluanku. Rasanya benar-benar nyaman. Kulihat Andri tersenyum kepadaku.

    Aku hanya mengamati bagaimana kedua payudara Andri yang sedang digunakan untuk memijat batang penisku.

    “Enak kan, Van?” Andri bertanya.

    Aku mengangguk. “Enak banget. Lembut..”

    Fitri meraih dan membimbing kedua tanganku dengan tangannya untuk mengenggam payudaranya. Dia
    membungkuk, sehingga kedua payudaranya menggantung bebas di depan wajahku.

    “Van, perah susu gue ya?” pintanya nakal.

    Aku dengan senang hati melakukannya. Kuperah kedua susunya seperti
    memerah susu sapi, sehingga Fitri merintih-rintih.

    “Ahh.. awww.. akh.. terus.. Van.. ahh.. ahh..”

    Payudara Fitri terasa legit dan kenyal. Aku merasa seperti raja yang dilayani dua wanita cantik.
    Akhirnya Andri menghentikan pijatan spesialnya.

    Berganti tangan kanannya menggenggam pangkal si “ujang”.

    “Dulu diwaktu pesta di rumah gue, kontol loe belum ngerasain lidah gue ya?” kata Andri, dan kemudian
    dengan cepat lidahnya menjulur menjilat si “ujang” tepat di bagian bawah lubangnya.

    Aku langsung merinding keenakan dibuatnya. Dan beberapa detik kemudian kurasakan hangat, lembut, dan
    basah pada batang kemaluanku. Si “ujang” telah berada di dalam mulut Andri, tengah disedot dan
    dimainkan dengan lidahnya.

    Tidak hanya itu, Andri juga sesekali mengemut telur kembarku sehingga menimbulkan rasa ngilu yang
    nikmat. Sedotan mulut Andri benar-benar membuatku terbuai, apalagi ketika ia menyedot-nyedot ujung
    kemaluanku dengan kuat.

    Enaknya tidak terlukiskan. Sampai kurasakan alat kelaminku berdenyut-denyut, siap untuk memuntahkan
    sperma.

    “Mi.. gue.. udah mau.. ke.. luar..”

    Andri semakin intens mengulum dan menyedot, sehingga akhirnya kemaluank menyemprotkan sperma berkali-
    kali ke dalam mulut Andri. Lemas badanku dibuatnya.

    Tanganku yang beraksi pada payudara Fitri pun akhirnya berhenti. Andri terus mengulum dan menyedot
    kemaluanku, sehingga menimbulkan rasa ngilu yang amat sangat. Aku tidak tahan dibuatnya.

    “Aahh.. Andri.. udahan dulu dong..!”

    “Kok cepet banget keluar?” ledeknya.

    “Uaah.., gue kelewat nafsu sih.. maklum dong, selama ini ditahan terus.”
    aku membela diri.

    “Oke deh, kita istirahat sebentar.”

    Andri lalu menindih tubuhku. Payudaranya menekan dadaku, begitu kenyal rasanya. Nafasnya hangat
    menerpa wajahku. Fitri mengambil posisi di selangkanganku, menjilati kemaluanku.

    Gairahku perlahan-lahan bangkit kembali. Kuraba-raba kemaluan Andri hingga akhirnya aku menemukan
    daging kenikmatannya. Kucubit pelan sehingga Andri mendesah perlahan. Kugunakan
    jari jempol dan telunjukku untuk memainkan daging tersebut, sementara jari manisku kugunakan untuk
    mengorek liang sanggamanya.

    Desahan Andri semakin terdengar jelas. Kemaluannya terasa begitu basah. Sementara itu Fitri terus saja
    menjilati kemaluanku. Tidak hanya itu, Fitri mengosok-gosok mulut dan leher si “ujang”, sehingga
    sekali lagi bulu kudukku merinding menahan nikmat.

    Kali ini aku merasa lebih siap untuk tempur, sehingga langsung saja aku membalik posisi tubuhku,
    menindih Andri yang sekarang jadi telentang. Dan langsung kusodok lubang sanggamanya dengan batang
    kemaluanku.

    Andri mendesis pendek, lalu menghela nafasnya. Seluruh batang kemaluanku terbenam ke dalam rahim
    Andri. Aku mulai mengocok maju mundur. Andri melingkarkan tangannya memeluk tubuhku.

    Fitri yang menganggur melakukan matsurbasi sambil mengamati kami berdua yang sedang bersatu dalam
    kenikmatan bersetubuh. Andri mengeluarkan jeritan-jeritan kecil, sampai akhirnya berteriak saat
    mencapai puncak kenikmatannya, berbeda denganku yang lebih kuat setelah sebelumnya mencapai orgasme.

    Kucabut batang kemaluanku dari vagina Andri, dan langsung kuraih tubuh Fitri. Untuk mengistirahatkan
    si “ujang”, aku menggunakan jari-jariku untuk mengobok-obok vagina Fitri.

    Kugosok-gosok klitorisnya sehingga Fitri mengerang keras. Kujilati dan kugigit lembut sekujur
    payudaranya, kanan dan kiri. Fitri meremas rambutku, nafasnya terengah-engah dan memburu.
    Setelah kurasakan cukup merangsang Fitri, aku bersedia untuk main course.

    Fitri nampaknya sudah siap untuk menerima seranganku, dan langsung mengambil doggy style. Vaginanya
    yang dihiasi bulu-bulu keriting nampak sudah basah kuyup.

    Kumasukkan kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya dengan pelan tapi pasti. Fitri merintih-rintih
    keras saat proses penetrasi berlangsung. Setelah masuk seluruh penisku, kudiamkan beberapa saat untuk
    menikmati kehangatan yang diberikan oleh jepitan vagina Fitri.

    Hangat sekali, lebih hangat dari milik Andri. Setelah itu kumulai menyodok
    Fitri maju mundur.

    Fitri memang berisik sekali! Saat kami melakukan sanggama, teriakan-teriakannya terdengar kencang.
    Tapi aku suka juga mendengarnya. Kedua payudaranya bergelantungan bergerak liar seiring dengan gerakan
    kami.

    Kupikir sayang kalau tidak dimanfaatkan, maka kuraih saja kedua danging kenyal tersebut dan angsung
    kuremas-remas sepuasnya. Nafsuku semakin memuncak, sehingga sodokanku semakin kupercepat, membuat
    Fitri semakin keras mengeluarkan suara.

    “Aaahh.. Aaahh.. Gue keluaar.. Aaah..” teriak Fitri dengan lantang.

    Fitri terkulai lemas, sementara aku terus menyetubuhinya. Beberapa saat
    kemudian aku merasa mulai mendekati puncak kepuasan.

    “Fit.. gue mau keluar nih..”

    Fitri langsung melepaskan kemaluannya dari kemaluanku, dan langsung mengulum kemaluanku sehingga
    akhirnya aku memuntahkan spermaku di dalam mulut Fitri, yang ditelan oleh Fitri sampai habis

    Aku berbaring, capek. Nikmat dan puas sekali rasanya. Andri berbaring di sisiku.

    Payudaranya terasa lembut dan hangat menyentuh lengan kananku. Fitri masih membersihkan batang
    kemaluanku dengan mulutnya.

    “Gimana Van? Puas?” Andri bertanya.

    “Puas banget deh.. Otak gue ringan banget rasanya.”

    “Gue mandi dulu ya?” Fitri memotong pembicaraan kami.

    Lalu ia menuju kamar mandi.

    “Gue begini juga karena gue lagi pengen kok. Joe udah dua minggu pergi.
    Nggak tau baliknya kapan.” Andri menjelaskan.

    “Nggak masalah kok. Gue juga emang lagi butuh sih. Lain kali juga gue
    nggak keberatan.”

    “Huss! Sembarangan loe. Gue selingkuh cuma sekali-sekali aja, cuma pengen balas dendam ama Joe. Dia
    suka selingkuh juga sih! Beda kasusnya ama loe!”

    Aku diam saja. Andri bangkit dari ranjang dan mengingatkanku.

    “Udah hampir setengah delapan malem tuh. Nanti Tia bingung lho!”

    Aku jadi tersadar. Cepat-cepat kukenakan pakaianku, tanpa mandi terlebih dahulu. Setelah pamiit dengan
    Fitri, Andri mengantarku kembali ke Citraland.

    Disana kami berpisah, dan aku kembali ke rumah dengan mobilku. Di rumah, tentu saja Tia enanyakan
    darimana saja aku sampai malam belum pulang. Kujawab saja aku habis makan malam bersama teman.

    “Yaa.. padahal Tia udah siapin makan malem.” Tia kelihatan kecewa.

    Sebenarnya aku belum makan malam. Aku lapar.

    “Ya udah, Ivan makan lagi aja deh.. tapi Ivan mau mandi dulu.” kataku
    sambil mencium dahinya.

    Tia kelihatan bingung, tapi tidak berkata apa-apa.

  • Cerita Sex Malam Pertama

    Cerita Sex Malam Pertama


    927 views

    Perawanku – Cerita Sex Malam Pertama, Panggil saja aku Nita, Statusku sekarang telah mempunyai suami.Setelah sekian lama kami menjalin hubungan tanpa status yang resmi dari KUA akhirnya pagi tadi sekitar pukul 08.00 disaksikan orang tua, 2 saksi resmi, dan ratusan orang dari pihak pengantin pria maupun wanita, kami telah resmi menjadi sepasang suami istri yang telah sah, resmi, dan bebas untuk melakukan hubungan seks kapan saja dimana saja baik siang, malam, dikamar, didapur, dikamar mandi, ditengah rumah, sambil masak, sambil nonton TV, pokoknya kata pak penghulu tadi bilangnya bebas sebebasnya asal sesuai dengan aturan agama yang kami anut.

    Tibalah saatnya kami memasuki malam pertama di kamar pengantin tepatnya sekitar pukul 23.30 dimana acara resepsi pernikahan telah usai, para tamu tidak ada lagi yang datang, dan orang-orang dirumah juga tampaknya tinggal beberapa orang saja yang masih terjaga menunggu peralatan resepsi, adapun kebanyakan sudah tertidur pulas karena pasti kecapean melayani tamu demi tamu yang datang tak henti silih berganti baik tamu dari pengantin pria, pengantin wanita, maupun tamu dari orang tua kami.

    Setelah mengunci rapat pintu kamar, suamiku berkata setengah berbisik “Dik, ini malam pertama kita sebagai suami istri. Tebak apa yang akan kita perbuat pertama kali dikamar pengantin ini?” Mendengar pertanyaan suamiku tersebut aku hanya tertunduk malu sambil menggeleng-gelengkan kepala isyarat menjawab tidak tahu. Padahal sebenarnya dalam hatiku banyak sekali yang ingin kuungkapkan, namun karena aku malu jadi hanya bisa terdiam tanpa sanggup berkata-kata.Cerita Sex Malam Pertama –

    Sesekali kulihat wajah suamiku yang tak henti menatap wajahku sambil tersenyum hingga akhirnya dia menggunakan telunjuknya untuk menganggat daguku agak tak terus tertunduk. Masih dengan perasaan malu, akupun menegakkan wajahku hingga menatap lurus ke wajah suamiku. Kulihat suamiku kembali tersenyum yang reflek kubalas senyuman suamiku itu dengan senyuman malu.

    “Abang kan sekarang sudah menjadi suami adik, tak perlu malu seperti itu lagi dong! Kita sudah halal untuk berdua-duaan dikamar seperti ini, jangan takut digerebek hansip atau pak RT kaya semasa tunangan dulu” canda suamiku coba mencairkan suasana. Aku hanya mengangguk sambil sedikit tertawa namun tetap menujukkan rasa malu.
    Dan kami pun lansung berpelukan, didalam pelukkan suamiku, aku merasa ada barang yang keras menempel di pahaku. ternyata tongkat tersebut adalah kerisnya si suamiku yang sudah mulai menegang. aku pun menatap suamiku dan suamiku lansung mencium bibir ku dan kedua tangannya satu meraba bagian dada ku dan satunya sudah masuk dalam CD ku.
    Terasa sekali bila suamiku memengang miss V ku, ia dengan lembut mengosok-gosok klitorisku yang membuat aku tidak bisa mengontrol nafsu birahi yang mulai memanas ini. Dan aku juga mengosok-gocok celana suami ku dan aku cium-cium leher suamiku dan setelah itu sambil tidak berpisah satu sama lain kami berdua berjalan step by step menuju ke ranjang.
    Setelah sampai diranjang suamiku kayaknya sudah engak bisa nunggu lagi untuk menjalankan tugasnya ini, ia lansung membuka semua bajuku dan bajunya. Ia lansung mengajariku gimana untuk sedot kerisnya yang begitu panjang dan besar..hehehe sampai-sampai mulutku yang kecil ini tidak muat untuk kerisnya.
    Aku pun berusaha supaya tidak mengecewakan suamiku, aku jilat dan hisap perlahan-lahan keris suamiku kadang aku melirik ekspresi suamiku yang sedang menikmati serviceku yang amatir ini. Setelah sekitar 10 menit aku sedot suamiku meminta untuk foreplay dengan posisi 69. Aku sendiri si agak malu karena belum pernah barangku di jilat sama orang lain, dengan muka yang malu saya juga menuruti permintaan suamiku. Suamiku lansung menjilat-jilat miss V ku yang sudah mulai basah berlendir itu dan kami sesama saling menyervis satu sama lain.
    Setelah foreplay nya selesai suamiku membaringkanku dan membuka lebar kedua kakiku, walau masih malu dan sedikit deg degan karna aku ni masih perawan, jadi aku pun dengan lembut bilang sama suamiku untuk pelan-pelan aja, maklum belum pernah ML takut sakit juga.
    Dan suamiku pun mulainya dengan pelan-pelan dan ia coba untuk memasukkan kerisnya ke miss v ku, ia mulai dengan lembut pelan-pelan memasukkan kepala kerisnya namun karena sakit saya pun menahan tubuh suamiku untuk berhenti sejenak dan perlahan-lahan masuk. Suamiku tau kalau aku lagi sakit jadi dia pun dengan halus mainnya. Perlahan-lahan keris pun masuk ke dalam miss v ku dan terasa banget kalu ada tongkat yang keras muat dalam lobang miss v ku. dan perasaan itu susah untuk dikatakan “sakit campur enak”.
    Suami ku pun pelan-pelan keluar masuk kerisnya dan lama-lama mungkin karna aku juga teransang jadinya engak gt terasa sakitnya malahan ada satu perasaan yang enak then aku pun menikmatinya, setelah 20 menit gitu suamiku bergoyang-goyang diatas tubuhku, aku melihat kalau suamiku sudah mulai kecapean jadi aku pun menyuruh suamiku untuk mengajarku posisi lain yang biar aku yang menyervisnya. si suamiku lansung ambil keluar kerisnya, dan dikerisnya terdapat banyak darah perawanku yang sudah aku pertahankan sekian lama.
    Dan suamiku lansung baring diranjang dan menyuruh aku untuk menaikinya “ya kayak lagi nunggang kuda” suamiku menyuruh aku untuk bergoyang dan dia menempatkan tangan ku di dada nya untuk jari-jariku bisa bermain sama puting nya.Cerita Sex Malam Pertama – Dan suamiku kedua tangannya juga sambil meraba-raba dada ku yang kian montok.
    Setelah aku goyang-goyang lumayan lama, suamiku memintaku untuk berdiri dan merungkuk di ranjang, sedangkan suamiku bangun dan berlutut dibelakangku. ia mengangkat pinggulku dan menusuk dari belakang. dipikiran ku suamiku ini kuat juga ya sudah mau sejam kami berhubungan tapi suamiku masih terlihat fit aja. Dan suamiku juga dorong-dorong aku dari belakang, makin didorong terasa kecepatan dorongannya semakin cepat, cepat, cepat, dan makin cepat, habis itu suamiku lansung ambil keluar kerisnya dan lansung memutar badanku untuk berbaring dan menyemprot maninya di mukaku. Maninya yang menetes di muka ku terasa panas dan ada sedikit bau.
    Setelah semua mani nya crot dimukaku, aku sedot lagi keris suamiku nampak sekali kalau suamiku terasa sangat nikmat.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Baiknya Ibu Dokter Harni

    Cerita Sex Baiknya Ibu Dokter Harni


    1711 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Baiknya Ibu Dokter Harni ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Kali ini aku akan bercerita tentang bagaimana aku bisa ngentot dengan cewek yang aku akui dia berkulit gelap tapi dia adalah seorang dokter umum, saat itu aku masih bekerja sebgai karyawan di bagian marketing sebuah produk , tapi sebelumnya itu aku bekerja sebagai sales untuk obat farmasi dan aku bertugas untuk mengenalkan dan meyakinkan obat obat kepada dokter.

    Sebulan sekali aku tugas luar kota ke Ambon selama satu minggu. Itu sekitar tiga tahun lalu . Sekarang karena sudah banyak perkembangan, di Ambon sudah ditempatkan seorang Detailer, dengan panggilan Dino. Sekarang aku ditempatkan di Jakarta membawahi beberapa Detailer.

    Suatu hari, hari Kamis saat itu, aku dipanggil oleh Sales Manager ke kantornya, ” Ardy, kamu kenal dokter…(sambil menyebutkan nama) yang di Ambon kan ?” tanya bossku

    ” Kenal, pak. Emang kenapa ? ” aku balas bertanya.

    ” Tadi Dino telpon katanya istri dokter tersebut mau datang ke Jakarta ada keperluan. Jadi besok kita jemput bersama2 di Bandara ” jelas bossku

    ” Ooh, dokter Harni yang mau datang, saya juga kenal dia, baik pak besok kita jemput bersama2 ”

    Adalah sudah biasa bagi perusahaan farmasi untuk menjamu seorang dokter dan atau keluarganya, apalagi dokter tersebut banyak menuliskan produk2nya di resep. Demikian juga dengan suami dokter Harni ini, dia adalah paling banyak membantu perusahaan kami di Ambon.

    Kalau dokter Harni sendiri bertugas di sebuah puskesmas kecil di Ambon dan dia tidak praktek pribadi, jadi hanya meresepkan obat2 generik. Tapi aku sudah mengenal dia sewaktu aku sering ke Ambon dulu.

    Dokter Harni sewaktu aku di Ambon baru menikah 2 tahun dan belum dikaruniai anak. Dia orangnya baik, wajahnya cantik khas wajah Ambon boleh dibilang manis, tinggi badannya sekitar 165 cm, usianya waktu itu sekitar 27 tahun, jadi sekarang sekitar 30 tahun, mengenai bentuk tubuhnya aku tidak begitu jelas karena saat ketemu dia selalu mengenakan jubah putih dokternya yang longgar dan aku tidak terlalu memperhatikan karena aku waktu itu tidak tertarik dengan wanita yang berkulit gelap

    Walaupun kulit dokter Harni tidak terlalu hitam. Yang aku dengar (karena aku belum pernah melihat sendiri) dokter Harni sewaktu belum married adalah seorang atlet volley dan sering mewakili Maluku di kejuaraan2 tingkat Nasional.

    Hari Jumatnya aku dan bossku menjemput doketr Harni di bandara,

    ” Halo dokter Harni, selamat datang….sendiri saja dokter ? ” sambut kami di pintu penjemputan sambil menyalami dia yang nampak segar dengan celana katun hitam longgar dan kaos lengan panjang berwarna cream yang juga longgar.

    ” Ya, saya sendiri saja habis suamiku masih sibuk cari duit terus…..

    waah Ardy, kamu masih seperti dulu saja…. tetap awet muda….” balas dia sambil tersenyum memamerkan giginya yang putih rapi.

    Saat di dalam mobil aku menanyainya ” Belum punya momongan dokter ? ”

    ” Tuhan belum kasih ” jawabnya singkat, tapi aku tahu dia agak berat untuk menjawab dan aku alihkan pembicaraan.

    ” Dokter Harni, kita mau ke mana dulu nich ? ” tanyaku

    ” Kita langsung aja ke hotel dulu, aku mau ganti baju dulu udah lengket badanku ” jawab dokter Harni

    ” Ngga makan siang dulu saja dokter Harni ? ” tanya bossku, walaupun aku tahu saat itu sudah lewat waktu makan siang.

    ” Ngga ah, tadi sudah makan di pesawat dan sekarang masih kenyang. ” jawabnya sambil kembali memperlihatkan giginya yang putih.

    ” Kalau begitu kami antar dokter ke hotel dulu supaya dokter istirahat dulu biar nanti malam Ardy jemput dokter untuk makan malam atau mungkin dokter mau pergi kemana, kalau saya tidak bisa ikut, saya ada janji dengan orang…” kata Sales Managerku, dalam hatiku langsung berkata… ” bakalan jadi sopir nich, tapi yach…. inilah bagian dari pekerjaanku. I have to enjoy it ”

    ” Aduh….jadi ngrepotin nich ” jawabnya basa basi.

    Kami antar dokter Harni ke sebuah Hotel bintang empat yang tentu saja dibiayain perusahaan dimana aku bekerja. Setelah check-in dan mengantar dokter Harni kekamarnya aku dan bossku pulang ke kantor dan aku langsung pulang kerumah untuk mandi dan ganti baju. Sampai disini aku masih tetap belum mempunyai perasaan apa2 terhadap dokter Harni.

    Pukul enam lewat sepulu menit aku ketuk kamar dokter Harni. Tidak lama kemudian pintu dibuka dan …. dokter Harni keluar dengan dandanan yang baru kali ini aku melihatnya. Dokter Harni mengenakan celana jeans stretch ketat warna biru tua dengan T shirt ketat berleher V yang cukup rendah sehingga belahan dadanya yang kencang sedikit terlihat, dengan warna yang sama celananya.

    Disinilah aku mulai melihat keindahan tubuh dokter Harni, payudara tang tidak terlalu besar tapi padat berisi, pinggang ramping dengan perut yang masih rata diteruskan dengan pantat yang padat serta bentuk paha yang panjang berisi, dia hanya memakai sepatu kets, rambutnya diikat model ekor kuda sehingga menyisakan rambut2 halus di kening dan tengkuknya dengan kulitnya yang coklat tapi mulus. Sejenak aku terpesona.

    ” ardy, kenapa kamu bengong ? ayo kita jalan ” katanya mengagetkanku

    ” eh..ya..ayo kemana kita dokter ? ” jawabku agak gugup

    ” Ardy, aku kan mau beliin kado buat hadiah keponakan Bapak yang mau menikah hari Sabtu besok dan aku mau beliin dia kalung mas saja, jadi kamu antar ke mal yang ada toko masnya, setelah itu kita makan malam di Pecenongan saja biar santai ..” kata dokter Harni setelah di dalam mobil inventarisku.

    ” Beres bos…” jawabku setengah bercanda.

    Singkat cerita, kami malam itu hanya kemal membeli apa yang dia cari dan makan malam saja langsung pulang ke hotel.

    ” Besok rencana mau kemana lagi dokter ? ” tanyaku saat di lobby hotel

    ” Pagi aku ngga kemana2, kamu ngga usah jemput saya..” jawabnya

    ” Kalau begitu saya dan sales manager akan menjemput dokter untuk makan siang.. Itu yang boss pesan tadi untuk acara besok ” kataku lagi

    ” Ok kalau begitu, thank’s ya Ardy ”

    ” Baik dokter saya pamit dulu. Selamat malam ” akupun langsung pulang. Besoknya kami hanya makan siang dan dia juga tidak mau ditemani jalan2 malam harinya. ” Wah.. legaa ” pikirku senang.
    Ngentot Dengan Dokter di Hotel Jakarta

    Selesai jam kantor sekitar jam 5 sore ketika aku sudah bermaksud pulang, tiba2 terdengar bunyi hpku, dan ketika aku lihat ternyata dokter Harni yang memanggil. ”

    Ardy, kamu ada dimana ? Kalau masih dekat dengan hotel, kamu mampir dulu kesini ya…” terdengar suara dokter Harni dari seberang hp.

    ” Baik dokter, kebetulan saya baru keluar kantor. Saya akan langsung kesana ” jawabku setengah mengeluh karena pikirku bakalan jadi sopir lagi nich…..

    Setengah jam kemudian aku sampai di hotel tempat dokter Harni menginap dan aku langsung mengetuk pintu kamarnya. Ketika pintu dibuka muncul dokter Harni hanya mengenakan baju renang, one peace sih tapi pas di bagian perut

    Pinggang dan punggung bagian bawah modelnya berlubang sehingga nampak pusar dan kulit yang coklat mulus dibagian yang selama ini aku tidak pernah melihat, sayang bagian yang lebih bawah tidak bisa terlihat karena ditutup dengan handuk sampai ke lutut.

    ” Ayo temani aku berenang, tadi pas jalan2 dikolam renag aku jadi kepingin berenang tapi aku malas sendirian, makanya aku panggil kamu buat nemani aku..” sambutnya saat membuka pintu

    ” Tapi…saya ngga bawa pakaian renang dok ” kataku agak bingung

    ” Kan bisa beli dikantin kolam renang hotel. Ayo pokoknya temani aku berenang, ambil tuh handuk hotel yang satunya..” katanya setengah memaksa.

    Akupun ngga bisa menolak dan kami menuju kolam renang hotel. Dokter Harni hanya memakai baju renang yang bagian bawahnya dibalut handuk sedangkan aku masih memakai pakaian kantor lengkap dengan menenteng handuk.

    Setelah sampai dokter Harni langsung menuju kolam dan meletakan handuknya dibangku dipinggir kolam, aku membeli celana renang dan menuju kamar ganti dan akupun menyusul doktr Harni, sayang aku ngga sempat melihat dokter Harni membuka lilitan handuknya karena saat itu aku lagi di kantin untuk beli celana renang.

    Satu jam berlalu kami berenang dan kadang sambil cerita kesana kemari, langit mulai gelap dan lampu2 sekitar kolam renang sudah dinyalakan, dokter Harni mengajakku untuk berhenti akupun setuju dan inilah saat yang aku tunggu2 yaitu saat dia naik dan aku bisa melihat keindahan tubuhnya dibalik pakaian renangnya.

    Benar saja aku melihat tubuh yang sexy milik dokter Harni walaupun kulitnya berwarna coklat tapi mulus sekali apalagi dalam keadaan basah seperti ini lebih menambah kesexyan tubuhnya pikirankupun mulai macam2 apalagi saat naik kepinggiran kolam dia menoleh sambil senyum kearahku.

    Sepertinya dia tahu aku bakalan terpesona melihat bentuk tubuhnya dan memang begitulah kenyataannya sampai2 aku merasakan ada pemberontakan dibagian bawahku, tapi aku segera mengalihkan supaya burungku tidak berdiri, kan malu kalau saat keluar kolam burungku berdiri, aku kan hanya pakai celana renang, bisa kelihatan menonjol donk.

    Akupun keluar dari kolam dan mengambil bajuku, aku jadi ingat kalau kami ngga bawa sabun atau shampoo buat bilas.

    ” Kita bilas dikamar hotel saja ndry….lebih enak, kan ada air panasnya.” katanya sambil melilitkan handuknya dan akupun melilitkan handuku sedangkan pakaianku aku tenteng, sepertinya dokter Harni tahu apa yang ada dipikiranku.

    Kamipun menuju ke kamar hotel. Saat kami didalam kamar dan pintu sudh kami kunci tiba2 tangan dokter Harni menariku ” yuk…kita bilas sama2…”

    Aku kaget, tentu saja ngga menolak ” bener nih..? ‘ tanyaku meyakinkan. Dokter Harni hanya senyum sambil tangan kanannya menariku sedangkan tangan kirinya melepaskan handuknya dan membiarkannya berserak di lantai dan akupun mengikutinya.

    Di dalam kamar mandi dia langsung menghidupkan air panas dan menutup lubang bath tub sehingga mulai terisi air panas. Sambil masih tersenyum dan memandangku dia melepaskan baju renangnya. sekejap dia sudah telanjang bulat diahadapanku.

    Kakiku agak goyah melihat pemadangan ini, didepanku berdiri dengan rambut yang masih basah tanpa busana selembarpun seorang wanita cantik berkulit coklat bertitel dokter dengan tubuh yang sangat sexy, tubuh padat berisi dengan bulu kemaluan yang hitam tebal, paha yang berbentuk indah dengan bulu2 lembutnya

    Punggung bagian atasku tanpa trasa bersandar ke tembok dan tanpa aku sadari pula dokter Harni sudah membungkuk sambil melepaskan celana renangku dan langsung saja burungku yang sudah berdiri nongol keluar karena aku ngga pakai cd sewaktu berenang tadi. Sementara itu bath tub sudah mulai penuh dengan air hangat.

    ” Jangan bengong saja, ayo kita mandi…” akupun sadar dari kekagumanku pada tubuh dokter Harni dan akupun menarik nafas panjang berulang2 mencoba menguasai diri dan aku berhasil.

    ” OK, mana sabunnya biar aku gosok punggung dokter ….eh tapi aku shampooin dulu aja…” setelah aku shampooin rambutnya akupun mulai mengosok punggung dokter Harni sambil berdiriyang mulus dengan sabun cair miliknya

    Pertama ku gosok dengan kedua tanganku punggungnya, kemudian tengkuknya, lehernya, akupun mulai merapatkan tubuhku ketubuh dokter Harni dan dari belakang aku mulai meggosok payudaranya yang ternyata masih kencang dokter Harni mulai naik birahinya, kepalanya mulai disandarkan ke bahuku dan kepalanya digeser2kan ke telinganku sambil mulutnya mulai mendesis…….sssshhh…ssssh hh….Tanganku yang basah dan licin karena sabun aku elus2kan dikedua payudaranya terkadang aku turunkan keperutnya dan mengusap bulu jembutnya, aku naikan lagi ke payudaranya.

    Tangan kanannya mengambil sabun cair dan dituangkan ketelapak tangan kirinya, sambil punggungnya masih ttap bersandar ke tubuhku tangan kirinya meraih burungku dan mulai mengusap2 burungku yang udah berdiri dan semakin tegang saat tangannya yang halus dan licin karena sabun mulai pelan2 mngocok burungku….eeeggghhhh…….d ari mulutkupun keluar suar tertahan karena nikmat.

    Dokter Harni terus meremas dan mengurut burungku, sementara tangankupun terus mengelus payudara, perut dan selangkangannya. Birahikamipun memmuncak. Apalagi akuyang rasanya hampir menyemprotkan spermaku.

    Posisi kami sudah saling berhadapan dengan tangan dokter Harni masih terus mempermainkan burungku. Aku terus menciumi wajah dan bibir dokter Harni. Tiba2 ……byuuur…..kami berdua terjatuh ke bath tub dan berdua langsung tertawa terbahak2 rupanya tanpa sadar kami bergerak dan kaki kakiku menabrak bath tub sehingga mnyebabkan kami kecebur. Spermakupun ngga jadi keluar dan kami putuskan mandi dulu, foreplaynya ditunda.

    Selesai mandi dokter Harni langsung menyeretku ke tempat tidur. Aku disuruh duduk di pinggir kasur dan dia jongkok sambil meraih burungku yang mulai mengecil dan menyedotnya hanya sebentar burungku mulai naik lagi diapun mulai menjilati bagian kepala buungku kemudian leher bagian bawah burungku yang merupakan bagian paling sensitif tanganku mulai untuk menopang tubuhku sambil aku terus mnikmati jilatan dan hisapan dokter Harni.

    Dokter Harni berdiri dan mencium bibirku. Aku minta dia tetap berdiri dan sambil duduk aku mulai menciumi payudaranya, lidahku aku putar2kan di putingnya kdua tanganku menggerayangi pantatnya yang padat…..ssshhh…ndry….dar i mulutnya terdengar desisan sambil tangannya megusap2 rambutku.

    Ciumanku turun keperutnya terus aku jilati jembutnya, selangkangannya. Kakinya mulai mengangkang. Dengan mulutku terus menciumi selangkangannya aku berlutut di bawah dokter Harni dan dengan posisi mengadah lidahku mulai menjilati klitorisnya…..aahhh….ssshs sshh…..mulut dokter Harni terus mengeluarkan erangan kenikmatan , pantatnya digoyang2kan mengimbangi gerakan lidahku, tangannya menekan kepalaku supaya lidahku lebih menekan ke klitorisnya.

    Tiba2 dokter Harni menaikan kaki kirinya ke pinggiran kasur sehingga memeknya yang sudah basah dan licin lebih terbuka, lidahku makin gila keluar masuk menjilati seluruh bagian memeknya dan diapun mekin keras menggoyang pantatnya, tiba2 dia tangannya menekan keras2 kepalaku sambil pantatnyapun ditekan kuat2 ke mukaku badannya bergetar ……hhggghhh…..hhgghhhh… …ahhhhh…..srrt.. .srtt..lidahku merasakan cairan kental asin menyemprot masuk mulutku dan dokter Harnipun jatuh terduduk di pinggiran kasur, nafasnya tidak teratur, dadanya naik turun, aku berlutut di lantai sambil memeluk pinggangnya dan menciumi perutnya.

    “…ndry..gila kamu ndry….aku bisa keluar banyak sekali….. kamu telan ya ? ”

    ” Emang sama suami ngga pernah begini ? ” aku balas bertanya

    ” Main oral sih tapi ngga sampai keluar begini dia minta buru2 dimasukin. Lidahmu benar2 pintar muasin perempuan. Ngga tahu yang bawah soalnya kelihatanya tidak perkasa dan ukurannya juga ngga gede ” katanya sambil mendorongku untuk terlentang, aku menolak dan menyuruhnya terlentang sambil kakinya tetap di lantai sehingga nampak memek dengan bulu lebatnya menggunung, aku langsung mengarahkan burungku ke lubang memeknya yang sudah sangat licin dan langsung masuk ….slep…aku mulai memompa pelan2 dan makin kencang dan terdengar ….crop…crop….crop…

    karena memeknya semakin basah dan licin dan suara iu makin keras saat aku memompanya lebih keras . Kedua kakinya mulai dibuka lebar2 sambil ditekuk dan ditahan dipinggiran kasur .

    Saat posisi ini aku tidak memompa tapi aku tekan pantatku sehingga burungku mentok didinding rahimnya dan aku putar kuat2………..ahhh……hhhh ….terusndry..putar yang kuat…..aku tahu dokter Harni mau orgasmeyang kedua dan aku putar kuat2 ambil menekan dan tangan dokter Harni menarik pantatku dan….aahhhku …hmmhh….badannya mengejang sesaat dan matanya yang indah melotot.

    Hhh….badanyapun terkulai lemas. dokter Harni meraih kepalaku dan mencium bibirku sambil senyum manis..”benar2 luar biasa, mulut dan burungngmu, ayo kamu dibawah”

    “Masih kuat ?” tanyaku

    dokter Harni langsung jongkok di atas burungku dan memasukannya ke memeknya yang semakin basah bahkan membasahi batang burungku.

    Crop….crop….crop, terdengar suara saat dia mulai mengayun pantatnya dan dia tengkurap sambil merapatkan kakkinya dan membuka kedua kakiku.

    Dia tidk menaik turunkan pantatnya tapi menggoyangkannya sehingga burungku terasa diputar didalam memeknya dan burngngku lebih menempel ke klitorisnya membuat birahi kami gampang naik dan sebentar gerakannya pun makin liar dan akupun sudah tidak bisa menahan ledakan spermaku, tubuh kami bergetar dan saling memeluk erat2…”dokter….aku keluaarrr”

    “aku juga ndry” kami aling berciuman dan sebntar terkulai lemas.

    Terpaksa aku menemani dokter Harni tidur dihotel dan kami mengulanginya dua kali.

    Kini dokter Harni sudah kembali ke Ambon. Aku hanya berharap ada saudaranya lagi yang menikah supaya ia datang ke Jakarta lagi.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • CERITA SEX KU GODA SUAMI YANG LUGU

    CERITA SEX KU GODA SUAMI YANG LUGU


    1471 views

    Cerita Sex ini berjudul ” CERITA SEX KU GODA SUAMI YANG LUGU ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Aku Syifa. Setelah lulus kuliah aku langsung bekerja di salah satu perusahaan swasta terkemuka di jakarta. Belon lama aku lulus dan bekerja, kedua orang tuaku yang sudah berusia senja menyuruhku menikah dengan salah putra kerabat jauh mereka.

    aku menuruti saja kemauan kedua orang tuaku, walaupun sekarang sudah gak jamannya lagi menerapkan pernikahan ala Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih, aku langsung nikah tanpa pacaran sebelumnya.

    Pria itu (untuk selanjutnya aku sebut ja abang) lebih tua dari aku. resepsi pernikahan kami berjalan lancar. Malam pertama lewat begitu aja. Gak da tu gulat smekdon yang menggebugebu. Kami langsung tertidur karena ternyata menjalani resepsi tu sangat melelahkan, walaupun cuma senyum dan salaman.

    Ketika paginya aku bangun, dia sudah tidak ada disebelahku, aku memang bobo duluan semalem. aku keluar dari kamar untuk membuat secangkir kopi di dapur, dia lagi baca koran. Setelah minum kopi dan mandi, aku segera beberes untuk siap2 kekantor.

    Aku memang gak bisa cuti walaupun baru nikah. Bosku minta dengan sangat aku menunda cuti nikah karena ada proyek besar yang harus selesai dalam waktu dekat ini, dan porsi kerjaan yang menjadi bagianku penting sekali untuk keberhasilan proyek ini. Walaupun kesal ya aku iya aja. Joker128

    Cerita Sex Ku Goda Suami Yang Lugu

    Syifa ke kantor ya bang, pulangnya mungkin malem, nguber dead line proyek ujarku sambil mengenakan sepatu di ruang tengah.
    Iya, jawabnya singkat, gak yau apa yang ada dibenaknya, kok malem pertamaku bisa lewat bgitu aja tanpa nyoleknyolek aku, istrinya yang baru ja dinikahinya.

    Masa bodoh ah, aku juga terpaksa nikah ma dia untuk menyenangkan kedua ortu aja. Dia gak mo nyentuh aku ya no problemo juga, mantan2 pacarku diluar banyak yang bersedia menyentuh aku begitu aku kasi signal hihi.

    Di kantor rame sekali, temen2 kerjaku yang prempuan cipika cipiki dengan aku sambil menggodaku betapa nikmatnya malem pertama, aku cuma senyum2 ja, gak tau ja semalem aku bobo ja ampe pagi, gak da yang nyolek2. Yang lelaki menyalami aku saja, kelihatan sekali kalo mereka kecewa dengan keputusanku untuk menikah, artinya gak bisa dugem lagi bareng mereka lagi.

    Malemnya, aku pulang dengan segudang rasa lelah akibat kerja rodi di kantor, itu juga blon slesai kerjaanku. Bos nyuru aku pulang duluan walau tim yang laen masi trus menggeluti kerjaannya masing2, toleransi buat pengantin anyar kata bos, dan disambut dengan gemuruh ketawaan dari seluruh tim ketika aku pamit duluan.

    Setibanya di rumah dia blon pulang, padahal dah malem banget. aku hanya merebahkan badanku yang capek di ranjang tanpa melepas pakean kerjaku. tiba tiba, udah pulang kamu? tanyanya sambil masuk ke kamar.

    sorry bang, tadi Syifa nggak sempet masak, kita pesen makanan delivery aja yah jawabku.

    Kami menyantap makan malam kami setelah pesenannya dateng.

    Dibandingkan temen2 prempuan dikantor, dan juga pengakuan temen2 lelakiku, aku termasuk wanita yang cantik, menawan serta sexy. Selain itu aku orang yang mudah mencairkan suasana dan nyambung jika diajak bercerita, makanya aku binun banget ngeliat kelakuan suamiku itu, gak tau lugu pa jutek, ampe aku juga gak tau mo ngomong apa ma dia. Walaupun dijodohkan tapi namanya malem pertama gak ngapa2in aneh juga untukku, mana ada kucing yang nolak ikan asin hihi.

    Cerita Sex Terbaru Ku Goda Suami Yang Lugu

    Setelah mandi dia nonton tv, karena gak da acara yang menarik menurutnya, dia duduk di meja kerjanya meneruskan pekerjaan kantor yang dibawanya pulang. Dah jam 23.30, aku dah ngantuk nungguin movenya, tapi kayanya ni malem bakal lewat lagi bgitu aja. aku menghampirinya,

    Blon slesai kerjanya bang.
    Blon, jawabnya singkat, tanpa memandang wajahku yang berdiri disamping meja kerjanya.
    ya udah, kalo gitu Syifa tidur duluan yah, jawabku dengan tetep senyum manis walaupun bete banget.

    Malam itu rupanya sofa menjadi tepat tidurnya karena keesokan harinya aku bangun dan dia gak diranjang. Kukira dia olahraga ato apa, ketika aku keluar kamar ternyata dia sedang tidur di sofa. Rupanya malem kmaren dia juga bobo di sofa, aneh banget, takut aku makan kali ya, padahal aku dah jinak banget, dimakan si enggak paling diemut2 hihi. Aku segera membuatkan secangkir kopi untuknya dan kembali ke sofa dimana dia tidur.

    Bang, kok nggak tidur di kamar? Entar masuk angin loh, mending kan masuk ke Syifa, kataku melihat dia menggeliat terbangun karena suara sandalku memecah keheningan pagi itu.

    nggak apaapa kok, takut ngeganggu kamu yang dah bobo duluan, jawabnya sambil mengusap , guyonanku gak dapet respon papa.
    Syifa buatin kopi ni. nggak, nggak usah aku bisa buat sendiri kok jawabnya.

    udah, nih ujarku sambil menyodorkan secangkir kopi kepadanya, buset dah juteknya, bukannya trima kasi dah dibikinin kopi ma istrinya.

    setelah itu aku sengaja duduk mepet disampingnya, sangat dekat hingga paha kami berdua bersentuhan. Pagi itu seperti biasa aku menggunakan celpen dan kaos oblong yang kebesaran (ni seragam rumahku).

    nggak ngantor? tanyanya. aku sengaja menaruh tanganku di pahanya, dan menatapnya.
    jam 9 lewat dikit baru aku berangkat, abang? tanyaku balik.
    sama, aku juga, kita berangkat bareng mau nggak?
    Siap komandan, jawabku sambil tertawa, lumayan gunung es mulai merespons signalku.

    Waktu sebelum berangkat ke kantor itu kami gunakan untuk bercanda dan saling mengenal lebih dekat lagi. Hari itu terasa sangat singkat, tugastugas di kantor terasa lebih ringan mungkin karena suasana hatiku yang sedang senang.

    Sepulang kantor dia menjemputku di kantor, sambil bergandengan tangan kami menuju mobil lalu meluncur ke sebuah rumah makan yang bersuasana romantis. Sampai di rumah makan itu lalu kami memesan makan dan minum.

    Sambil menunggu kami , aku mencoba membuka pembicaraan, Bang, Syifa seneng deh abang ajak makan, ni kan resepsi khusus buat kita berdua ja ya bang. Kemudian aku banyak cerita tentang kerjaan di kantor, problema yang aku hadapi di kantor, dia hanya menjadi pendengar yang baek tanpa mengomentari apa2 critaku.

    Kemudian makanan sudah dihidangkan oleh waiter dan selanjutnya kami makan dan aku selingi dengan menyuapinya. Dia merespons dengan menyuapi aku juga. Kami memang duduk bersebelahan, dah aku atur gitu. pembicaraan terhenti karena mulut masing2 sibuk mengunyah makanan yang dihidangkan.

    Setelah makan kami pun pulang. Gak banyak pembicaraan yang kami lakukan, aku dah mulai ngantuk, kekenyangan penyakit orang kaya, kalo bis makan trus ngantuk. Maklum, kata ahli kesehatan seabis makan darah banyak mengalir ke perut untuk mengolah makanan yang masuk, mata gak kebagian darah sehingga akhirnya makin menyipit kerna ngantuk. Tapi lumayanlah, gunung es lebih mencair dibandingkan semalem.

    Cerita Dewasa Ku Goda Suami Yang Lugu

    Sesampainya di rumah, dia mandi duluan dan langsung menonton tv. Jam 21.00, aku baru slesai mandi, aku hanya mengenakan celpen tanpa atasan. Aku sedang mencari baju kaos gombrong dilemari. Tiba2 pintu terbuka, refleks langsung dia menutup pintu sembari meminta maaf. Aku yakin, walaupun beberapa detik tadi dia pasti melihat kedua toketku yang lumayan besar dan masi kencang banget,

    Syifa, sorry aku mau ngambil bantal, aku nggak ngintip kok ujarnya dari luar kamar.

    Walaupun jengkel tapi aku jadi geli sendiri melihat kelakuan bodoh seorang lelaki yang judulnya suamiku itu. Apa impoten kali ya dia, sampe gak tergiur sama sekali melihat toketku tadi. Kukira gunung esnya makin cair karena sejak tadi pagi dia nampak lebi ceria, gak taunya.

    nggak apaapa masuk aja. teriakku dari dalam kamar.

    Dengan menggunakan tangan kiri, dia menutup matanya sedangkan tangan kanannya merabaraba permukaan tempat tidur untuk mencari bantal. udah, gak usah nutupin mata, ntar kesandung2 lagi, kataku sambil mencolek pinggangnya.

    Sorry, aku bukan mau ngintip tadi, aku benerbener nggak sengaja, katanya lagi.
    nyantai aja lagi, Syifa yang di intip kok abang yang panik, balasku sambil tertawa,
    eh, nggak pegel apa tidur di sofa? Enakan tidur di sini bareng Syifa, sambungku sambil menepuk tempat tidur.
    udah, cepetan tvnya di matiin dulu, lanjutku sambil sedikit mendorongnya.

    Lumayan gunung es nurut juga ma aku, selangkah lebi maju lagi.

    Setelah tv dimatikan, dia kembali ke kamar. Di kamar aku dah berada di atas tempat tidur, bobo sini bang, kataku sambil membetulkan posisi bantal yang berada di sampingku. Dia merebahkan tubuhnya tepat disampingku dan langsung memejamkan matanya.

    Abang masih punya pacar yah waktu kita nikah dia membuka matanya pelanpelan, menatap wajahku yang sangat dekat dengan wajahnya, karena posisi tubuhku yang menindih sebagian tubuhnya.
    nggak, emang napa? tanyanya balik.
    penasaran aja, abisnya abang dingin bangetserem tau jawabku sambil tersenyum.
    aku cuman kaget aja, keadaan berubah drastis banget jawabnya.
    ohh Syifa kira abang jeruk makan jeruk.
    aku masi normal kali jawabnya, tanganku perlahan mulai memeluk perutnya,
    abisnya.. aku cekikikan ja.

    Sepertinya signal yang aku berikan gak sia2 sama sekali walaupun belum membuahkan hasil. ternyata ada juga lelaki macam ini didunia.

    Karena tidak bisa lagi menahan kantuk akhirnya kami berdua tertidur sampai pagi, hanya tertidur tanpa melakukan sesuatu. Keesokan harinya aku bangun terlebih dahulu, sepanjang malam aku memeluknya dan tertidur dengan posisi setengah tubuhku menindih tubuhnya, aku gak meriksa ada yang tegang gak diselangkangannya.

    Aku nyesel gak mriksa, kalo tegang artinya dia masi normal seperti yang diucapkannya.

    bang, bangunnggak ngantor? tanyaku sambil menjepit hidungnya. Dia menggeliat dan bangun sambil mengucekngucek mata.

    pagi itu, di kantor aku memberi perhatian lebih padanya dan terus saja mengirimkan sms yang menanyakan kegiatannya dan lainlain. Aku terus saja mengirimkan signal2 kepadanya dan kayanya response nya positif.

    Cerita Mesum Ku Goda Suami Yang Lugu

    Malemnya aku sampe duluan dirumah. Hari ini hari Jumat, besok kami berdua libur, aku menyiapkan strategiku untuk mendorong dia mau mengemeliku. aku dah nyiapin makan malem buat dia. aku mengenakan kaos berlambang MU dengan celpen, karena kegedean bajunya aku atur hingga bahu sebelah kananku terlihat keluar dari leher baju. Dia bengong melihat aku pake baju kaya gitu.

    Kenapa kok abang bengong? tanyaku.
    tu kan kaos aku, katanya.
    iya, emang istri nggak boleh pake baju suaminya? tanyaku balik.
    bole aja sih, eh tapi kamu cantik loh kayak gitu. Aku sampe terpana ngeliatnya katanya.
    bisa merayu juga toh abang. Kalo cantik mah Syifa dari kecil bang, abang baru nyadar ya kalo istri abang cantik, aku menggodanya.
    udah makan dulu sana.keburu dingin, kataku lagi.
    Masakanmu enak Fa.
    Tu kan selain cantik, istri abang koki yang baek juga ya. Dia senyum2 ja mendengar ocehanku.

    Sehabis makan, dia nyamperin aku, aku lagi nonton film di tv.

    duduk sini bang, deket Syifa. perlahan dia duduk disampingku.

    Aku langsung menarik tangannya dan menggengam jemarinya eraterat. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa, aku langsung menyandarkan kepalaku di bahunya. Dia menaikan tangannya sedikit agar aku bisa meletakkan kepalaku di dadanya, tanganku menyusuri pinggangnya lalu kupeluk.

    Fa, kalo mau minta tolong, atau mau ngomong sesuatu, kasih tahu aja, aku siap bantu kok katanya untuk memecah suasana.
    abang masih belum nerima kenyataan kalo kita udah nikah ya? jawabku pelan.
    sekarang udah nggak, abis kamu baik, cantik lagi.
    ih gombal,. jawabku sambil mencubit pinggangnya.
    kalo Syifa sih pasrah aja, orang tuaku mau nyuruh apa juga, yang penting pekerjaan Syifa nggak keganggu. Syifa mau minta sesuatu sama abang, bole gak.
    minta apa?
    ehm, gimana ngomongnya ya, jawabku.
    udah, bilang aja, nggak usah malu
    beneran nih, gak papa?tanyaku lagi.
    iya, beneran, trus apa?
    boleh minta cium nggak?
    ooh.. langsung dia mencium pipiku.
    iiihhbukan di situ, tapi di sini kataku sambil menunjuk bibir.

    Dia tidak meresponse, padahal signal yang kuberikan dah kuat banget.

    abang nggak mau ya, nggak apaapa deh kalo gitu kataku dengan nada sedikit kecewa.
    nggak, aku cuma..
    Cuma apa bang? kataku karena dia diam sejenak.
    belum pernah ciuman jawabnya malumalu, mukanya memerah.
    astaga, jadi kalo kita ciuman, itu first kiss abang dong? aku mengangkat wajahnya yang tertunduk malu.
    Syifa prempuan pertama yang abang cium di bibir ya? kataku lagi,
    Syifa ajarain dulu ya, terus nanti kalo udah bisa, abang bales.

    Segera kucium bibirnya. mula2 hanya nempelin bibir, kemudian aku mulai memagut bibirnya dan mulai menjulurkan lidahku kedalam mulutnya. dibales dong kataku di selasela seranganku ke bibirnya. Alhamdulilah, dia membalas ciumanku dengan cara yang sama seperti yang kuajarkan.

    mmhhh lenguhku.

    Setelah beberapa menit, kulepaskan ciumanku. aku tertawa lepas sambil memandangnya,

    nah, bibir abang udah nggak perjaka lagi. kataku sambil menepuk dadaku.
    hebat juga kamu ya, master banget deh kayaknya, ngasi kursus juga ya?
    ya nggak lah, Syifa juga baru pertama kali praktek nih, tau dari baca buku ama liat film bokep, ternyata rasanya dahsyat yah jawabku.
    jadi bibir kamu sekarang juga udah nggak perawan nih, candanya.
    apa lagi yang masih perawan?
    ya semuanya lah jawabku.
    mau dong nyobain
    sok atuh, silahken, jawabku sambil menarik tangannya mendekati tubuhku.
    aku becanda kok
    beneran juga nggak apaapa. nanggung kan rasanya kalo cuman gitugitu aja lanjutku memancing. terus maunya gimana?
    nggak ngertingerti juga? jawabku, kok ada ya didunia ini lelaki yang selugu itu, gak tau deh kalo dia cuma pura2 lugu.
    ngomongnya langsung aja, nggak usah berbelitbelit, bingung aku
    Syifa mau diemelin ma abang jawabku to the point sambil menarik bajunya.
    yahnggak tau harus gimana duluan jawabnya. kan ada film Bokep, liat dari situ aja bisa kan? aku coba deh. Aku segera berjalan menuju kamar tidur kami dan kembali membawa kotak kecil yang isinya adalah kumpulan DVD filmfilm porno dari jepang, asean, gak da bule maen ma bule, aku gak demen si liatnya, kalo bule maen ma asean pa jepang baru asik diliatnya. lengkap banget,..hobby nonton ginian yah? tanyanya sambil melihatlihat dvdnya. eh, ini punya temen kantor lagi, nonton sih sering tapi kalo punya koleksi sebanyak ini.enggak deh, jawabku.

    aku kira kamu hyper katanya bercanda.
    eh hyper juga asik tau, bisa siap setiap saat jawabku sambil tertawa dan terus mencari bokep yang menurutku sangat bagus.
    nah ini dia akhirnya ketemu. kataku sambil merapihkan dvd lain yang berantakan di atas sofa. nontonnya di kamar aja, supaya kalau capek bisa langsung tidur.
    emangnya kita mau nyangkul? kok capek? tanyaku bercanda.

    Adegan pertama ciuman, dia duduk diatas tempat tidur dan aku duduk di pangkuannya.

    itu namanya foreplay bang, kataku.

    Mulailah aku memagut bibirnya, selama beberapa menit kami mempertahankan posisi seperti itu. Kami saling berpagutan bibir serta kedua lidah kami saling menjalar ke seluruh rongga mulut lawan. film pun berganti adegan, sang lelaki bule mulai menggerayangi tubuh si prempuan asia, kayanya thai deh. Baju si prempuan disingkap keatas dan toketnya mulai diemut oleh si bule.

    pengen deh di gituin kataku sambil melepaskan ciuman kami.

    Posisiku sekarang duduk berhadapan dengannya, aku tetep duduk di pangkuannya.

    ya udah, bajunya di buka jawabnya.

    Aku membuka bajuku perlahan, sedikit demi sedikit toketku yang tidak tertutup bra mulai tersingkap. Seperti orang bodoh, toketku hanya diperhatikan tanpa berbuat apaapa.

    kok cuman diliatin doang, aku pake lagi nih bajunya kataku kesel.
    sorry, speechless aja aku, gede amir, seumurumur baru pernah liat yang ginian selain ibuku punya, eh besar lagi. sexy banget tubuh kamu, jawabnya untuk meredakan rasa keselku.
    Ach masak begini saja sexy dan cantik, biasa aja kali. di emut dong kataku lagi sambil tersenyum. nggak ahh, entar lecet, nanti kalo mandi kan nyeri, jawabnya.
    jadi gimana dong?
    aku jilatin aja, mau nggak?

    Kami langsung berpagutan lagi. Dia mencium bibirku, kemudian aku melepaskan ciumannya dan menarik kepalanya ke arah toketku. lidahnya menjulur dan mulai menjilati melingkar disekitar pentilku, ujung pentilku disentuh perlahan menggunakan ujung lidahnya.

    Mmhhenak bang, terus..terus.. yang kanan juga..aahh, desahku yang membuat dia bersemangat melakukannya.

    15 menit dia menyerang kedua toketku, hanya suara desahan yang keluar dari bibirku, saat tubuhku mengelijang hebat, ada cairan membasahi celanaku.

    Fa, celana kamu basah
    iya, Syifa kluar tadi, jawabku sambil menciumi pipinya.

    Adegan di film kini berubah lagi, konti bule yang besar panjang sudah sedari tadi tegang mulai diurut turun naik oleh siprempuan., kemudian dimasukkan kedalam mulutnya.

    mau Syifa gituin nggak? tanyaku.
    udah gak usah, lain kali aja jawabnya cepat.
    nggak apaapa, nggak usah malu..enak lagi balasku.

    Aku segera menarik celananya, dan langsung menggenggam kontinya yang belum menegang sama sekali dibalik cdnya.

    gila, Syifa udah hampir dua kali orgasme, abang berdiri aja belon.
    aku baru sekali diginiin jawabnya.

    aku kemudian menarik turun celananya.

    besar juga punya abang, beda dikit lah ama yang di film, kataku sambil tersenyum.

    Aku mengenggam kontinya dan mulai mengurutnya dari atas ke pangkal pahanya, selama 10 menit, kemudian aku menempelkan bibirku ke ujung kepala kontinya dan menghisapnya pelan, kujilati kembali kepala kontinya dan lalu kukulum dengan mengeluarmasukkan kontinya ke dalam mulutku.

    udahudahudah, katanya sambil mencoba menarik kontinya keluar dari mulutku, keluarlah maninya di dalam mulutku.

    Aku agak terkejut dan mengeluarkan kontinya dari dalam mulutku sehingga muncratan mani berikutnya membasahi wajahku. Aku bisa menerimanya dan kujilati yang masih tersisa di kontinya. Wah blon apa2 dah ngecret dianya, percaya deh kalo dia masi perjaka ting ting (sodaranya ayu ting ting kali ya). Dia membetulkan clananya lalu mengambil handuk di lemari untuk membersihkan maninya di wajahku.

    ketelen gak?
    dikit.. jawabku sambil tersenyum.

    Tibalah film itu di puncak aksinya, si bule melepas cd si prempuan dan mulai melumat slangkangannya. rebahan deh, katanya. Saat aku berbaring di tempat tidur, dia telungkup diatasku dan mulai menciumku lagi. Kemudian dia menyerang leherku, seperti instruksi di film itu. Mmhh.., lenguhku.

    Tak lama setelah itu, kedua toketku dimainkan, dipijat pelan dan mulai dijilat perlahan. Desahan nikmat terdengar dari mulutku ketika dia menghisap serta menggigitgigit kecil kedua pentilnya.

    Ooohh.. baang.. teruuss baanngg..! jeritku perlahan dan tertahantahan.

    Dia terus mengulum toket dan pentilku. Kemudian turun ke arah dan pusarku, dia menjilat sekeliling pusarku sambil tangannya meremas lembut kedua toketku. Aku menggenggam dengan kuat rambutnya sambil menjepitkan kedua kakiku ke badannya.

    Cerita sex, cerita ngentot, cerita mesum

    Bang.. Syifa nggak mau disituu ajaa..teruuss tuurruunn..

    Dia ikuti kemauanku. Dihentikannya remasan pada kedua toketku, aku menaikan pinggulku dan menurunkan celanaku. Sekarang aku sudah tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhku.

    kok nggak pake cd si, katanya sambil mencubit pipiku.
    kalo nggak ada abang sih Syifa pake, tapi kalo ada abang ya gak lah, kalo tibatiba abang minta gimana? jawabku.

    dia kembali menciumi pusarku sampai di atas vegiku yang tidak memiliki bulu sedikitpun.

    sering dicukur ya Fa?
    nggak juga sih, gak tau kenapa, bulunya lama numbuh jawabku.

    Dia menjilati dengan lembut pusarku hingga aku menggelepar menerima rangsangan yang terasa nikmat.

    Ach.. Uch bang enak sekali.. ceracauku sambil terengahengah.

    Aku memejamkan mataku, kunikmati saja ciumannya yang panas. perlahanlahan dengan tangan kirinya dia membuka kedua belah bibir vegiku.

    dengan disertai jeritan kecil, aku menekan kepalanya ke arah vegiku sambil mendesah,

    Bang.. oohh.. ngg.. nikmaatt.. bang.. Sementara mulutnya, lidahnya terbenam di antara bibir vegiku yang sudah basah dengan keluarnya cairan bening dengan aroma yang khas, agak asin dan kental.

    Dia mengisap serta menelannya. Dikecupnya klitku. Aku menjerit kecil dan menggoyangkan pantatku naik turun disertai erangan dan desahan nikmat kadang jeritanjeritan kecil. cepet belajar juga dia rupanya, sekali liat di bokep langsung ngerti kudu ngapain.

    aku semakin terangsang hebat sampai pantat kuangkatangkat supaya lebih dekat dengan mulutnya. Dia pun merespons hal itu dengan memainkan lidahnya ke dalam vegiku, kemudian dia mempercepat jilatannya di liang vegiku. Semakin cepat dia menjilat, semakin aku menjepit kepalanya di tengah kedua pahaku,

    kalo Syifa tau enaknya gak ketulungan gini, Syifa dah minta dari awal. Aku makin mengejang hebat dan mencoba menarik rambutnya agar kepalanya menjauh dari vegiku, tapi dia meneruskan permainannya hingga kurasakan suatu cairan keluar membasahi vegiku.

    Aku mengerang panjang,

    Ooohh baang.. Syifa keluaarr..mmff.. sambil menjepitkan kedua pahaku di kepalanya sampai dia sulit bernafas.

    Akhirnya jepitanku berangsurangsur melemah dan aku tergeletak sambil membukakan kedua pahaku dan dia bisa menghirup udara segar sejenak.

    Enak? tanyanya.
    iya, enak lah.
    ya udah, gitu aja dulu yah, kepalaku sakit banget, abis kamu jambak tadi.
    kok udahan sih? sorry tadi Syifa keenakan jadinya nariknarik rambut abang deh.
    entar baru nyambung lagi ya.
    iya, tapi jangan lamalama.

    Aku hanya terbaring di tempat tidur, tubuh bugilku ditutupinya dengan selimut. Film porno itu di pause sebentar. Dia segera menuju wastafel untuk mencuci muka, kulihat waktu menunjukan jam 11.00. Setelah minum segelas air, dia segera kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya disampingku,

    Fa, aku mau minta maaf kalo aku udah jutek sama kamu sejak kita nikah, sekarang aku ngerasa bersalah banget.
    biarin aja berlalu yang kayak gitu mah, gak usah dipikir lagi, Syifa juga udah lupa, abang juga makin hari makin asik, seneng Syifa, jawabku.

    Kok jadi gerah ya, katanya sambil membuka baju kaosnya dan tinggal memakai celana basket yang sejak tadi dipakainya.
    ribet banget nih selimutkataku sambil menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhku,

    Aku segera memulai lagi adegan di film yang tadi kami pause. Aku menarik tangannya dan menempelkan telapak tangannya ke selangkanganku. Kini adegan di film itu bertambah panas, pemeran pria di film itu mulai memasukkan kontinya kedalam vegi pemeran wanita. Pemeran wanita di film itu hanya menggumam tak karuan. Beberapa menit kami menyaksikan film itu.

    mau coba gituan? tanyaku.
    kalo sekarang nggak bisa, gak apaapa juga..kamu aja yang master blon siap apa lagi aku, jawabnya.
    kita coba tapi pelanpelan yahsoalnya Syifa kan masih perawan.
    gak apaapa nanti aja.
    tapi Syifa pengen banget.
    ya uda.,,,tapi bakal sakit loh nanti. Dia menghentikan filmnya dan melepas celananya.

    Kontinya dah tegang lagi, bole juga tu, baru ngecret dah bisa keras lagi.

    Aku menaikkan pinggulku dan pantatku disanggah dengan bantal. Dia membuka sedikit lubang vegiku.

    beneran masukin sekarang? tanyanya.
    iya bang tapi pelanpelan yah. Dia menggesekgesekan kepala kontinya dulu pada vegiku yang sudah banyak lendirnya.
    Ayo bang cepat, Syifa sudah tidak tahan lagi pintaku dengan bernafsu.

    Dengan pelan tapi pasti dia masukan kontinya kedalam vegiku. Terasa perih ketika selaput prawanku ditrobos kontinya, aku meneteskan air mata. Ada darah membekas di batang kontinya. Aku mulai menggoyangkan pinggulku, karena dia mengeluar masukkan kontinya pelan didalam vegiku.

    sakit?, tanyanya pelan. udah nggak kok,perih aja tadi, banget jawabku.
    mau diterusin? tanyanya lagi. iya.. jawabku manja.

    Perlahan mulai dia memasukkan kontinya ke vegiku sampai pada akhirnya masuk semua. Lalu dia tarik pelanpelan juga dan dimasukkan lagi sampai mendalam dan terasa kontinya menyentuh bibir rahimku saking dalamnya. Dalam permainan ini kami saling cium menjalarkan tangan kesana kemari sambil mengeluarkan suara erotis di antara kami . Aku hanya menggumam sambil meremas toketku ndiri.

    ennnaaakk bang hingga selang beberapa lama dia memaju mundurkan pinggulnya, makin lama makin cepat.

    kami hampir bersamaan orgasme dan gak lama lagi,

    Bang pompa yang cepat, bang, Syifa mau keluar ach.. Uch.. Enak bang, lenguhku, sampe akhirnya, mmhhSyifa. keelluuaarr.. Dengan hitungan detik kami berdua orgasme bersama sambil merapatkan pelukan dan kontinya berkedutan di dalam vegiku.

    Lemas dan capai kami berbaring sebentar untuk memulihkan tenaga. Orgasme ku disusul olehnya, senang sekali melihat expresinya ketika menyemprotkan maninya didalam vegiku. Cairan yang keluar dari vegiku bercampur sedikit dengan darah.

    Fa..sorry tadi aku keluarin di dalem.., katanya.
    nggak apaapa kali,..kalo nanti Syifa hamil.. ya abang jadi bapaknya. Akhirnya kami pun kelelahan dan tertidur.

    Kira2 satu jam kami tertidur, aku terbangun dan menuju ke kamar mandi, pipis. Dia menyusulku ke kamar mandi, rupanya pipis juga. Setelah itu kami kembali lagi ke ranjang. Gairahku timbul lagi untuk mengulang kenikmatan yang baru aja aku rasakan. aku menggapai kontinya untuk aku kulum.

    Mau lagi ya tanyanya.
    Ehm, habis nikmat bang, Syifa mau lagi ya.
    Enak kan Fa kontiku , katanya sambil menikmati kulumanku.
    Jelas enak bang, punya abang kan besar apalagi panjang lagi, ada 17 cm ya bang. Awaknya si perih tapi udahannya nikmat buangetz.

    Dia diam tidak menjawab karena sangat menikmati kulumanku. Aku mengulum serta menjilati pelirnya hingga dia sampai terangsang berat menuju orgasme kedua. Aku berhenti untuk menjilatinya dan ganti dengan posisi 69. Dari posisi ini kami saling mengulum lagi. vegiku dia buka sedikit dengan jari dan dimasukkannya jarinya sambil dikeluar masukkan.

    Selang beberapa lama kami melakukan pemanasan maka dia berinisiatif untuk melakukan penetrasi pada vegiku. Agen Joker128

    Fa kalau masih mau, kamu nungging gih, kaya di film tadi, sepertinya nikmat juga ya pintanya. Oh, mau doggy style ya, ayo ajakku bersemangat.

    Setelah aku siap menungging, dengan pelan ditempelkannya kepala kontinya ke bibir vegiku dan
    perlahanlahan ditekan masuk sedikit demi sedikit,

    Terus bang.. emmff.. enaakk, oohh.. aku mendesah.
    Bleess..! akhirnya masuk semua batang kontinya ke dalam vegiku, kemudian mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, aku menggoyangkan pinggul seirama dengan gerakan pantatnya.
    Aaahh.. bang.. enak sekali teruuss.. oohh.. aku merintih penuh nikmat.

    Ada kirakira 5 menit kami saling bergoyang dan tangan kirinya menjalar ke toketku dan diremasremas pelan. Kontinya masuk semakin dalam dan dipompanya dengan semakin cepat hingga aku semakin menikmati permainan ini.

    Ooohh.. baangg.. Syifa nggak tahan lagi.. rintihku dan akhirnya aku mencapai orgasmeku lagi.

    Dia makin gencar menggenjot kontinya keluar masuk vegiku sehingga akhirnya ditekannya pantatnya dengan keras sehingga kontinya tenggelam habis ke dalam vegiku dan

    Sroott.. sroott.. sroott.. entah berapa banyak mani yang disemprotkan di dalam vegiku.

    Kami berdua mencapai klimaks orgasme pada saat yang sama. Sepertinya dia dah lulus dari kursus singkat bokep. Dia mencabut kontinya dari vegiku dan terkapar disebelahku yang telungkup diranjang. setelah permainan itu kembali kami kembali tertidur dalam posisi itu.

    Ketika kami terbangun hari sudah siang banget. Dengan mesra aku ajak dia mandi bersama. Di dalam kamar mandi kami saling membersihkan dan berciuman. Siapa dulu yang memulai kami tidak tahu karena secara spontan aku segera jongkok dan siap menjilat serta mengulum kontinya yang sudah tegak berdiri. Lalu kukulum kontinya sambil mengocoknya pelanpelan naik turun.

    Setelah dia merasa nikmat lalu ganti dia yang jongkok dan minta aku berdiri sambil kakiku satunya ditumpangkan di kloset wc, agar siap mendapat serangan oral nya yang nikmat.

    Cerita sex, cerita ngentot, cerita mesum

    Dia menyerang selangkanganku dengan lidah yang menarinari kesana kemari pada klitku sehingga aku mengerang sambil memegang kepalanya untuk menenggelamkannya lebih dalam ke vegiku. dia menjulurkan lidahnya lebih dalam ke vegiku sambil dia korekkorek klitku dengan jari manisnya.

    Semakin hebat rangsangan yang aku rasakan dari dia sampai aku mengalami orgasme dengan derasnya hingga lendir kenikmatan itu keluar tanpa bisa dibendung lagi. Dijilatinya dan ditelannya semua lendir kenikmatanku yang ada itu tanpa sisa.

    Gimana Fa, rasanya permainan kita tadi, puas tidak? tanyaku.
    Puas banget bang, tapi abang blon kluar.

    Kami saling membersihkan diri, disiraminya seluruh tubuhku, kemudian disabuni. Aku melakukan hal yang sama terhadapnya. Tubuh kami masih basah, kontinya mulai mengeras kembali akibat remasan tanganku, sementara dia mengusapusap toketku kemudian turun mengusap bibir vegiku. jarinya masuk dan mempermainkan klitku dengan lembut. Aku mulai mendesah. Sambil berpandangan kami saling mengusap, meremas lembut apa saja yang dapat kami sentuh, sehingga pengen maen lagi.

    Tanpa sempat untuk mengeringkan badan, aku ditariknya kembali ke tempat tidur, direbahkannya diriku dan dengan agak kasar karena mulai gak tahan, aku menarik sehingga dia jatuh menindihku. Kami saling memandang, diciumnya dengan lembut bibirku. Aku menggigit lembut bibirnya sambil tanganku mulai meraba kontinya yang masih tegang, kubelai dan kukocok pelanpelan, membuatnya merintih nikmat sambil memejamkan mata, sementara mulut kami berdua terkunci dengan kecupankecupan yang makin lama makin buas. Tangannya meremas toket dan pentilku yang mengeras.

    Aku bangun dan merayap ke atas tubuhnya hingga vegiku tepat berada di atas hidung dan mulutnya. Dia menekan pantatku dan mengecup bibir vegi serta klitku dengan lembut. Dia memainkan lidahnya pada klitku terus ke lubang vegiku,

    Ooohh bang.. teruuss.. baang..! erangku nikmat. pantatku bergoyang mengimbangi permainan bibir dan lidahnya.

    Cerita sex, cerita ngentot, cerita mesum

    Aku gak bisa menahan napsuku sehingga aku mempoisisikan vegiku diatas kontinya, kuarahkan kontinya ke vegiku kemudian pantat kuturunkan sehingga masuklah kontinya penuh ke lubang vegiku. Aku merebahkan tubuhku diatas tubuhnya. Dia mulai menggerakkan pantatnya keatas memberi tekanan pada vegiku dengan kontinya. Akupun menyambut serangannya dengan menggerakkan juga pantatku naik turun dengan perlahanlahan. Makin cepat.. makin cepat..

    Ooohh.. bang.. mmff.. desahanku semakin menggila.

    Tangannya tidak tinggal diam, kedua toketku diremas dan pentilku diplintir lembut menambah kenikmatan bagiku. sekonyongkonyong aku menjatuhkan badanku ke atas dadanya sehingga remasan di toketku terlepas.

    Bang.. Syifa nggak tahaann.. oohhmmff.. lenguhku sambil memagut bibirnya dan akupun nyampe kembali.

    Vegiku berdenyut keras memerah kontinya yang masih nancap dengan gagahnya sehingga akhirnya dia gak bisa menahan lebih lama lagi, dan

    Crroott.. crroott.. crroott.. maninya muncrat.

    Aku menelungkup diatasnya, bibirku dipagutnya sambil memelukku erat sekali. Hebat juga si abang, yang tadinya cuek saja ternyata menjadi pejantan tangguh di ranjang yang bisa membuat aku berkali2 mendapat O, luar biasa. Dah selesai semuanya baru terasa laper karena hari dah mo siang tapi kita sarapan ja belon. sarapannya diganti breakfast in bed alias emel.

    weekend itu kamu terus saja mengadu konti dan vegi, staminanya benar2 hebat seakan2 dia gak pernah puas menggenjot vegiku dengan kontinya sampe aku lemas Lugu diawal akhirnya jadi buas banget, nikmatnya.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Ngewek ML Dengan Kekasih Saudara Kembarku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Ngewek ML Dengan Kekasih Saudara Kembarku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1698 views

    Perawanku – Nаmа ogut Dinо. Ogut mаhаѕiѕwа di ѕеbuаh реrguruаn tinggi tеrnаmа di Surаbауа. Ogut аdаlаh аnаk kеmbаr (tеtарi bukаn kеmbаr idеntik). Sаudаrа kеmbаr ogut bеrnаmа Dоni, dаn diа jugа kuliаh di tеmраt yg ѕаmа dgn ogut.

    Sеbelom kuliаh di Surаbауа, Dоni kuliаh di реrguruаn tinggi di Jаkаrtа. Di ѕаnа, iа mеmрunуаi ѕеоrаng kekasih bеrnаmа Almira. Sеsudah ѕеtаhun kuliаh di Jаkаrtа, Dоni dаn Almira tak bеtаh, dаn аkhirnуа mеrеkа bеrduа рindаh kе Surаbауа (di univеrѕitаѕ & faqultаѕ yg ѕаmа).

    Sewaktu реrtаmа kаli ogut bеrtеmu dgn Almira, ogut tеrраnа dgn раrаѕnуа yg саntik. Ogut mеrаѕа Dоni ѕаngаt bеruntung mеndараtkаn kekasih ѕеоrаng perempuan yg саntik ѕереrti Almira. Mеmаng, Dоni bеrсеritа bаhwа Almira mеruраkаn rеbutаn lelaki-lelaki di kаmрuѕnуа (bаik di Jаkаrtа mаuрun Surаbауа). Sewaktu bеrѕаlаmаn dgnnуа, ogut tak dараt mеlераѕkаn раndаngаn dаri wаjаhnуа yg ѕаngаt саntik dаn imut itu.

    Sеsudah реrkеnаlаn реrtаmа dgn Almira, diа ѕеlаlu tеrbаyg dаlаm рikirаnku. Aраlаgi Almira ѕеring mаin kе rumаh kаmi (о iуа, ogut dаn Dоni tinggаl bеrduа di ѕеbuаh rumаh di Surаbауа). Sеtiар Almira dаtаng kе rumаh, ogut раѕti mеrаѕа dеg-dеgаn. Sеаkаn-аkаn Almira аdаlаh kekasih ogut ѕеndiri (ара kаrеnа Dоni dаn ogut kеmbаr, jаdi ogut mеrаѕаkаn hаl ini уа?). Kаdаng-kаdаng, Dоni & Almira ѕukа bеrduааn di kаmаr Dоni, dаn ogut ѕеring mеndеngаr mеrеkа сеkikikаn bеrduа di kаmаr. Ogut jаdi mеrаѕа iri dgn Dоni. Ogut belom реrnаh рunуа kekasih ѕеjаk dulu. Mеmаng dibаnding Dоni, ogut аnаknуа sedikit lеbih реndiаm. Ogut tеtар рunуа kawan-kawan perempuan, tарi bukаn bokin.

    Suаtu kаli, Dоni ѕеdаng реrgi kеluаr kоtа bеrѕаmа kawan-kawannуа untuk bеbеrара minggu (hаmрir ѕеbulаn kalo tak ѕаlаh). Almira tеtар di Surаbауа, kаrеnа diа mеngаmbil ѕеmеѕtеr реndеk. Ogut ѕеmраt mеrаѕа sedikit kеѕерiаn jugа di rumаh, kаrеnа ogut hаnуа ѕеndiriаn ѕаjа. Aраlаgi kalo Dоni tak di ѕini, bеrаrti Almira jugа nggаk аkаn dаtаng kе rumаh ogut kаn?:(

    Nаh, раdа ѕuаtu ѕiаng di rumаh, tibа-tibа ogut ѕереrti mеndеngаr ѕuаrа mоtоr Almira dаri kеjаuhаn.

    “Ah, aqu раѕti tеrlаlu mеrindukаn kеhаdirаn Almira”, рikirku, ѕаmраi ѕuаrа mоtоr lеwаt рun ogut ѕаngkа ѕuаrа mоtоr Almira.

    Eh, tеrnуаtа ѕuаrа mоtоr itu mеmаng mеnuju kе rumаhku, аnd guеѕѕ whаt, itu mеmаng Almira! Diа mеngеnаkаn kаоѕ kеtаt bеrwаrnа оrаnуе-biru, dаn сеlаnа jеаnѕ ngаtung yg jugа kеtаt. Sunggu mеnggаirаhkаn ѕеkаli реnаmрilаnnуа ѕааt itu. Ogut gеmbirа саmрur bingung, kеnара Almira dаtаng kе ѕini, раdаhаl Dоni kаn lаgi реrgi?

    “Hаlо Dinо.. Sеndiriаn аjа уа di rumаh? Kаѕiаn, ditinggаl Dоni ѕеndiriаn. Pаѕti ѕерi уа?”, kаtа Almira sembari mеnuntun mоtоrnуа mаѕuk.

    “Iуа nih Mirr, ѕеndiriаn tеruѕ tiар hаri. Kаmu tumbеn dаtеng kе ѕini? Adа аngin ара Mirr?”

    “Ini Nо, aqu mаu ngаmbil саtеtаnku yg dulu diрinjеm Dоni. Sоаlnуа аdа реrlu buаt ѕеmеѕtеr реndеk.”

    “Oоо.. kаlо gitu mаѕuk аjа Mirr. Aqu kurаng tаu di mаnа Dоni nуimреn саtеtаnmu. Liаt аjа di kаmаrnуа.”, jаwаbku lаgi.

    Almira рun mаѕuk kе kаmаr Dоni dаn mеnсаri саtеtаnnуа di lасi mеjа kоmрutеr Dоni. Sереrtinуа diа mеmаng ѕudаh tаu kalo Dоni mеnуimраnnуа di ѕаnа. Untuk mеmbukа lасi itu, diа mеѕti sedikit mеmbungkuk. Sewaktu mеmbungkuk, bаgiаn bеlаkаng bаju kаоѕnуа sedikit tеrаngkаt, dаn terlihatlаh оlеhku рunggungnуа yg рutih muluѕ. Wаhh.. meskiрun hаnуа ѕеdikit yg terlihat, tарi itu ѕudаh mеmbuаt рikirаnku mеlаyg dаn оtоmаtiѕ kemaluanku рun ikut bеrdiri.

    “Udаh dареt nih Nо, саtеtаnnуа.”, kаtа Almira kераdaqu.

    “Oh, di ѕаnа tеrnуаtа diа ѕimреn уа? Okе dеh. Itu аjа yg реrlu Mirr?”, kаtaqu dgn sedikit ѕеdikit kесеwа, kаrеnа kalo mеmаng hаnуа itu tujuаn diа kе ѕini, bеrаrti diа udаh mаu bаlik dоng..?

    “Iуа, ini аjа. Aqu рulаng dulu dеh уа Nо.”

    Yааhh.., ѕеbеntаr bаngеt aqu ѕеmраt kеtеmu dgn Almira, рikirku.:((Kеmudiаn Almira kеluаr mеnuju mоtоrnуа. Di dераn mоtоrnуа aqu mеlihаt diа mеnggаntungkаn ѕеbuаh tаѕ yg sedikit bеѕаr.

    “Bаwа арааn tuh Mirr?”, tаnуaqu ѕаmа Almira.

    “Oh, ini? Sеbеnаrnуа ѕеsudah ini aqu bukаn mаu рulаng ѕih. Aqu rеnсаnаnуа mаu kе tеmраt tеmеnku. Numраng mаndi. Abiѕ, аir di kоѕku lаgi hаbiѕ. Sumurnуа kеring Nо. Wаh, jаdi kеtаuаn dеh kаlо aqu belom mаndi nih.. Jаdi mаlu..”, kаtа Almira dgn sedikit mаlu-mаlu.

    Wаh.., kеѕеmраtаn nih!

    “Kеnара nggаk mаndi di ѕini аjа Mirr? Airnуа bаnуаk kоk di ѕini. Dаriраdа rероt-rероt kе tеmраt tеmеnmu lаgi. Gimаnа? Mаu?”, сесаrku dgn реnuh ѕеmаngаt (саmрur napsu:)

    “Mmm.., nggаk ара-ара nih Nо?”, tаnуа Almira sedikit rаgu.

    “Nggаk ара-ара kоk. Bеnеr. Suwеr. Sаmbеr gеlеdеk.”, jаwаbku dgn ѕеdikit bеrсаndа.
    “Yа оkе dеh kаlо gitu. Aqu numраng mаndi уа..”

    Yеѕѕ.. Akhirnуа aqu рunуа kеѕеmраtаn untuk bеrѕаmа Almira lеbih lаmа lаgi.. Almira lаngѕung mаѕuk lаgi mеnuju kаmаr mаndi. Aqu hаnуа dараt mеmbаygkаn ара yg tеrjаdi di dаlаm kаmаr mаndi itu. Aqu mеmbаygkаn Almira mеmbukа bаju kеtаtnуа, dаn mеlераѕkаn сеlаnа jеаnѕnуа. Aqu mеmbаygkаn bаgаimаnа badan ѕеkѕi Almira hаnуа bеrbаlutkаn BH dаn сеlаnа dаlаm ѕаjа. Hhhmm.. kemaluanku lаngѕung tеgаng dgn ѕеndirinуа tаnра реrlu kuѕеntuh. Sеdаng еnаk-еnаk mеlаmun, tibа-tibа рintu kаmаr mаndi Almira tеrbukа. Oh, tеrnуаtа Almira mаѕih mеngеnаkаn раkаiаnnуа, tak ѕереrti dаlаm bаygаnku.

    “Dinо, aqu biѕа рinjеm hаnduk nggаk? Aqu luра bаwа nih. Sоri уа ngеrероtin.”

    “Oh, nggаk ара-ара. Ntаr ku аmbilin.”

    Sewaktu aqu mеmbеrikаn hаndukku kераdа Almira, tеrlihаt tаli BH Almira yg bеrwаrnа hitаm di bаhunуа. Meskiрun itu hаnуа ѕеutаѕ tаli BH di bаhu, tарi itu ѕudаh сukuр untuk mеmbuаtku bеrimаjinаѕi yg bukаn-bukаn tеntаng Almira.

    “Mаkаѕih уа Dinо..”, wаh, ѕuаrаnуа bеnаr-bеnаr biѕа mеmbuаtku tеrbаng kе lаngit kеtujuh..

    “еh, iуа..”, jаwаbku.

    Lаlu Almira mаѕuk kеmbаli kе kаmаr mаndi. Tаk lаmа kеmudiаn ѕudаh tеrdеngаr ѕuаrа сеbуаr-сеbуur аir. Aqu tаk dараt bеrhеnti mеmbаygkаn badan Almira yg tеlаnjаng.. Kulitnуа раѕti muluѕ.., рutih.., dаn bаdаnnуа ѕаngаt ѕеkѕi ѕеkаli.. mmhh.. aqu tаk kuаѕа untuk mеnаhаn napsuku.. Aqu mаѕuk kе kаmаr, dаn mаѕuk kе kаmаr mаndiku (lеtаknуа tераt di ѕеbеlаh kаmаr mаndi tаmu tеmраt Almira mаndi).

    Di dаlаm kаmаr mаndi, aqu lаngѕung mеlераѕkаn ѕеluruh раkаiаnku dаn mеngаmbil ѕаbun untuk оnаni. Aqu mеmеgаng kemaluanku yg ѕudаh ѕаngаt tеgаng (rаѕаnуа belom реrnаh “diа” ѕеbеѕаr ini.Bаygаn аkаn Almira bеnаr-bеnаr sudah mеmbuаtnуа ѕаngаt kеrаѕ..). Dgn ѕеdikit ѕаbun, aqu mulаi mеrеmаѕ-rеmаѕ kemaluanku, dаn реlаn-реlаn mulаi mеngосоknуа mаju-mundur.. mm.. aqu mеmbаygkаn ini аdаlаh tаngаn Almira yg mеngосоk kemaluanku.. ооhh Almira.. аndаikаn kаmu mаu mаndi bеrѕаmaqu di ѕini.. hhmm.. Imаjinаѕiku sudah mеlаyg kе mаnа-mаnа. Sеdаng аѕуik-аѕуiknуа оnаni, tibа-tibа рintu kаmаr mаndiku dikеtuk dаri luаr.

    “Dinо.. Kаmu lаgi mаndi уа? Sоri mеnggаnggu lаgi. Kаmu аdа ѕаbun сuсi mukа nggаk? Aqu luра bаwа tаdi..”, tеrdеngаr ѕuаrа Almira mеmаnggil.

    Aqu terkejut! Wаh, mаnа udаh mаu klimаkѕ, еh Almira ngеtuk рintu. Buуаr dеh imаjinаѕiku yg ѕudаh kubаngun dаri tаdi. Wаh, раѕti Almira ѕudаh раkаi bаju lеngkар lаgi ѕереrti tаdi, tak tеlаnjаng ѕереrti dаlаm bаygаnku. Tарi nggаk ара-ара dеh, kаn aqu biѕа ngеliаt Almira lаgi jаdinуа. Aqu lingkаrkаn hаnduk di рinggаngku untuk mеnutuрi kemaluanku yg tеgаng, lаlu aqu аmbilkаn ѕаbun сuсi mukaqu untuk Almira.
    “Ini Mirr, ѕаbun сuсi mukаnуа”, kаtaqu sembari mеmbukа рintu.

    Wаhh.. tеrnуаtа Almira hаnуа mеngеnаkаn hаndukku yg kubеrikаn tаdi, bukаnnуа bеrраkаiаn lеngkар! Rеjеki lаgi nih! Dgn bаlutаn hаndukku yg tak tеrlаlu lеbаr itu, terlihat kulitnуа yg bеnаr-bеnаr рutih muluѕ. Hаndukku hаnуа mеnutuрi dаri dаdаnуа ѕаmраi ѕеkitаr 15 сm di аtаѕ lututnуа. Terlihat оlеhku раhаnуа yg bеgitu indаh. Rаmbutnуа yg bаѕаh jugа mеmbеri еfеk yg mеmbuаtnуа ѕеmаkin kеlihаtаn ѕеkѕi.. Tаnра biѕа dibеndung, kemaluanku mеnjаdi ѕеmаkin tеgаng lаgi..

    “Mаkаѕih Dinо.. Wаh, bеnеr-bеnеr ѕоri уа, jаdi ngеgаnggu mаndimu..”, kаtа Almira lаgi.

    “Ehm.., nggаk ара-ара kоk Mirr.”, jаwаbku tеrbаtа-bаtа kаrеnа nggаk kuаt mеnаhаn napsuku..

    Tаnра kuѕаdаri, kemaluanku ѕеmаkin mеnуеmbul dаn mеmbuаt hаndukku hаmрir сороt. Jаrаkku dgn Almira wаktu itu ѕаngаt dеkаt, ѕеhinggа kemaluanku yg ѕudаh bеrdiri itu mеnуеntuh bаgiаn реrut Almira (kemaluanku dаn реrut Almira ѕаmа-ѕаmа mаѕih tеrtutuрi hаnduk). Almira terkejut, kаrеnа аdа ѕеѕuаtu yg mеnеkаn реrutnуа.

    “Eh, aqu mаndi lаgi уа Nо.”, kаtа Almira buru-buru dgn mukа yg mеmеrаh. Sереrtinуа diа mаlu саmрur bingung.

    “Mmm, iуа.., aqu jugа mаu mаndi lаgi”, jаwаbku jugа dgn реnuh mаlu.

    Almiraрun kеmbаli kе kаmаr mаndinуа, dаn aqu jugа mаѕuk lаgi kе kаmаr mаndiku.
    Di dаlаm kаmаr mаndi aqu bеrрikir, ара kirа-kirа tаnggараn Almira аtаѕ kеjаdiаn tаdi уа? Aра diа аkаn lароr kе Dоni kalo aqu bеrbuаt kurаng аjаr? Aра diа mаrаh ѕаmа aqu? Atаu ара? Aqu jаdi taqut.. Sеsudah tеrmеnung bеbеrара mеnit, аkhirnуа aqu mеmutuѕkаn untuk mеlаnjutkаn ара yg kukеrjаkаn tаdi. Mаѕаlаh nаnti уа uruѕаn bеlаkаngаn. Bаru ѕаjа aqu mаu mulаi untuk оnаni lаgi, рintu kаmаr mаndiku dikеtuk lаgi.

    “Dinо.., ѕоri mеnggаnggu lаgi. Aqu аdа реrlu lаgi nih”, kаtа Almira dаri luаr.

    “оh iуа, bеntаr..”

    Sеkаrаng aqu раkаi CD & сеlаnа реndеkku. Aqu nggаk mаu tеrulаng lаgi kеjаdiаn mеmаlukаn tаdi. Aqu kеluаr dаri kаmаr mаndi.

    “Adа ара Mirr? Aра lаgi yg kеtinggаlаn? Mаu рinjеm CD?”, саndaqu раdа Almira.

    “Ah, kаmu аdа-аdа аjа.”, kаtа Almira sembari tеrtаwа. Hhh.., mаniѕ ѕеkаli ѕеnуumаnnуа itu.. Btw, diа mаѕih mеngеnаkаn hаnduk ѕереrti tаdi. Sеkѕi..!

    “Gini Nо.. Wаktu aqu minjеm ѕаbun сuсi mukа tаdi, aqu tаu kаlо kаmu ѕеmраt.. mm.. ара уа iѕtilаhnуа? Tеrаngѕаng?”, kаtа Almira.

    “Hаh? Aра? Mаkѕudnуа gimаnа? Aqu nggаk ngеrti?”, tаnуaqu рurа-рurа bеgо.

    “Nggаk ара-ара kоk Nо. Nggаk uѕаh mаlu. Kuaqui, aqu tаdi jugа ѕеmраt mеmbаygkаn “itu” mu wаktu aqu mаѕuk kаmаr mаndi lаgi.

    Aqu bаhkаn hаmрir ѕаjа mаu.. mm.. mаѕturbаѕi sembari mbаygin kаmu. Tарi kuрikir, ngараin раkе tаngаn ѕеndiri, kаlо “bаrаng”nуа аdа di ѕеbеlаh?”, jаwаb Almira.

    “Hhhааhh? Aра mаkѕudmu Mirr? Aqu jаdi mаkin bingung? Aqu nggаk”

    Belom ѕеmраt aqu mеnуеlеѕаikаn kаlimаtku, Almira ѕudаh mеrаbа kemaluanku dаri luаr сеlаnа реndеkku.

    “Ini yg kumаkѕud, Dinо! Kemaluanmu yg tеgаng ini! Aqu mеnginginkаnnуа!”, kаtа Almira sembari tеruѕ mеrаbа-rаbа dаn mеrеmаѕ kemaluanku.

    “hhmm.., Almira.. kаmu..”

    “Dinо.. Meskiрun aqu kekasihnуа Dоni, kаmu nggаk uѕаh mаlu bеgitu.

    Sеjаk bеrtеmu dgnmu di Djоkdjа ini, aqu ѕеlаlu mеmbаygkаnmu dаlаm ѕеtiар fаntаѕi ѕеkѕku. Bukаnnуа aqu nggаk сintа Dоni. Tарi dgn mеmbаygkаn ѕеѕuаtu yg “tаbu”, biаѕаnуа aqu ѕеlаlu mеnjаdi bеgitu tеrаngѕаng, dаn ѕеlаlu kuаkhiri dgn mаѕturbаѕi sembari mеmbаygkаn bеrсintа dgn ѕаudаrа kеmbаr kekasihku ѕеndiri.

    “Dinо.. ѕааt ini ѕudаh lаmа kutunggu-tunggu. Aqu ѕеlаlu mеmbаygkаn bаgаimаnа rаѕаnуа mеngulum kemaluanmu dаlаm mulutku. Bаgаimаnа rаѕаnуа mеmаinkаn kemaluanmu dаlаm kemaluanqu.. hhmm.. Yоu’rе аlwауѕ оn mу fаntаѕу, Dinо..”, сеrосоѕ Almira sembari ѕеmаkin kuаt mеrеmаѕ kemaluanku (mаѕih dаri luаr сеlаnа реndеkku).

    “Ohh.., ооhhmm.., Almira.. Aqu.., jugа.. ѕеlаlu mеmbаygkаnmu dаlаm ѕеtiар оnаniku. Aqu nggаk tаhаn mеlihаt kесаntikаn dаn kеѕеkѕiаnmu, ѕеjаk реrtаmа kаli aqu bеrtеmu dgnmu. Aqu сеmburu dgn Dоni. Aqu ѕеlаlu mеmbаygkаn badanmu yg рutih, hаluѕ, lеmbut, dаn ѕеkѕi ini.. Aqu mеnginginkаnmu Almira..”, jаwаbku sembari mеrаbа bаhu dаn tаngаnnуа yg bеgitu hаluѕ dаn lеmbut.

    Kеmudiаn tаnра bеrрikir lаgi, aqu rаih rаmbutnуа dаn kutаrik mukаnуа kе mukaqu, dаn kuсium Almira dgn buаѕ. Kulumаt bibirnуа yg mеrаh dаn mungil itu. Inilаh реngаlаmаn реrtаmaqu mеnсium perempuan. Rаѕаnуа bеnаr-bеnаr nikmаt ѕеkаli. Aраlаgi tаngаnnуа mаѕih tеruѕ mеrеmаѕ kemaluanku yg ѕudаh bеrdеnуut-dеnуut dаri tаdi.

    “Hmmрр.., mmhhmmhh..”, Almira jugа mеmbаlаѕ сiumаnku dgn lumаtаn bibirnуа dаn lidаhnуа bеrmаin-mаin di dаlаm mulutku.

    Aqu tеruѕ mеnghiѕар bibir & lidаhnуа, dаn tаngаnku mulаi mеrаbа buah dadanуа yg mаѕih tеrtutuр hаnduk. Buah dadanуа сukuр bеѕаr. Bеlаkаngаn kukеtаhui ukurаnnуа 34B. Tеrаѕа рutingnуа yg mеngеrаѕ dаri bаlik hаnduk.

    “Ohh.. Dinо.. rеmаѕ ѕuѕuku! Rеmаѕ, Dinо.. Ohhmmhh..”,

    dеѕаh Dinо di tеlingaqu, ѕеmаkin mеmbuаtku bеrnapsu.. Tаnра рikir раnjаng, lаngѕung kulераѕkаn hаnduk Almira, ѕеhinggа terlihatlаh di dераn mаtaqu kеindаhаn badan tеlаnjаng Almira yg ѕеlаmа ini hаnуа аdа dаlаm fаntаѕiku.

    “Almira.. kаmu ѕunguh-ѕungguh саntik.. Aqu mеnginginkаnmu..”.

    Aqu рun lаngѕung mеnеrkаmnуа dаn tаnра mеmbuаng wаktu lаngѕung kuhiѕар buah dadanуа yg bulаt & раdаt itu. Sеbelomnуа aqu hаnуа dараt mеmbаygkаn bеtара indаhnуа buah dada Almira yg ѕеring mеngеnаkаn kаоѕ kеtаt itu. Bаhkаn реrnаh ѕеkаli diа mеngеnаkаn kаоѕ kеtаt tаnра BH, ѕеhinggа terlihat ѕаmаr-ѕаmаr рutingnуа yg mеrаh оlеhku wаktu itu.

    “Dinо.. Mmmhhmm.. Kаmu bеnаr-bеnаr hеbаt Dinо.. Bаhkаn Dоni tak реrnаh biѕа mеmbuаtku jаdi gilа ѕереrti ini.. Oооhh.. hiѕар рutingku Dinо. Jilаt.. hhmm..” jеrit Almira yg ѕudаh bеnаr-bеnаr реnuh napsu birаhi itu.

    Aqu tеruѕ mеnjilаti dаn mеnghiѕар buah dadanуа, dаn ѕеkаli-ѕеkаli kugigit kаrеnа gеmаѕ, ѕеhinggа buah dadanуа mеnjаdi mеrаh-mеrаh. Tарi Almira tak mаrаh, mаlаh ѕереrtinуа iа ѕаngаt mеnikmаti реrmаinаn mulutku.

    Bоѕаn bеrѕikар раѕif, Almira рun mеlераѕkаn сеlаnа реndеkku dgn реnuh napsu, ѕеhinggа terlihatlаh оlеhnуа kemaluanku yg ѕudаh bеrdiri tеgаk hinggа kеluаr dаri рinggаng сеlаnа dаlаmku.

    “Bеѕаr ѕеkаli kemaluanmu Dinо! Wоw.. Lеbih bеѕаr dаri kekasihku yg dulu. Bаhkаn lеbih bеѕаr dаri рunуа Dоni! Kukirа рunуа ѕudаh yg tеrbеѕаr yg аdа!”, рuji Almira dgn mаtа bеrbinаr sewaktu mеlihаt kemaluanku.

    Almira mеnаrik CDku hinggа lераѕ, bеrlutut di dераn kemaluanku dаn lаngѕung mеnjilаti tеlоrku yg реnuh rambut itu.

    “Aаhhmm.. еnаk ѕеkаli Almira..! mmhhmm.. Kаmu mеmаng hеbаt ѕеkаli..”,
    aqu mеrасаu kеnikmаtаn sembari tеruѕ mеmbеlаi rаmbutnуа yg indаh.

    “ооhhmm.. aqu ѕukа ѕеkаli kemaluanmu Dinо.. bеѕаr, раnjаng, dаn hitаm.. ооhhооhhmm..”,

    Almira mеmаѕukkаn kemaluanku kе mulutnуа yg mungil, dаn mеnghiѕарnуа dgn kuаt.
    “Ahh.., Almira.. AAhhmmhh..”,

    aqu bеnаr-bеnаr dаlаm рunсаk kеnikmаtаn yg belom реrnаh kurаѕаkаn ѕеbelomnуа. Kеnikmаtаn оnаni hаnуаlаh ѕереrѕеkiаn dаri kеnikmаtаn dihiѕар dаn dijilаt оlеh mulut dаn lidаh Almira yg ѕеdаng mеngulum kemaluanku ini.

    Almira dаngаn реnuh ѕеmаngаt tеruѕ mеnghiѕар kemaluanku, dаn kаrеnа iа mеmаju mundurkаn kераlа & bаdаnnуа dgn kеnсаng, terlihat оlеhku buah dadanуа bеrgоyg-gоyg kеѕаnа kеmаri.

    Sewaktu aqu hаmрir mеnсараi klimаkѕ, lаngѕung kutаrik kemaluanku dаri mulutnуа, dаn kuреluk Almira еrаt-еrаt sembari mеnjilаti & mеnсiumi ѕеluruh mukаnуа. Mulаi dаri kеningnуа, mаtаnуа, hidungnуа yg mаnсung, рiрinуа, tеlingаnуа, lеhеrnуа, dаgunуа, dаn kutеruѕkаn kе bаwаh ѕаmраi аkhirnуа ѕеluruh badannуа bаѕаh оlеh аir liurku dаn di bеbеrара tеmраt bаhkаn ѕаmраi mеrаh-mеrаh kаrеnа hiѕараn dаn gigitаn gеmаѕku. Almira bеnаr-bеnаr mеnikmаti реrlaquаnku tеrhаdар badannуа, tеrutаmа sewaktu aqu mеnjilаti dаn mеnghiѕар dаun tеlingаnуа. Diа bеnаr-bеnаr mеrinding sewaktu itu.

    “ооhh Dinо.., kаmu hеbаt ѕеkаli.. Belom реrnаh аdа ѕеbelomnуа yg biѕа mеmbuаtku оrgаѕmе tаnра реrlu mеnуеntuh kemaluanqu. Ohhmm.. уоu’rе thе grеаtеѕt..!”, kаtа Almira lаgi.

    Sеsudah bеriѕtirаhаt ѕеjеnаk, aqu mulаi mеnjilаti kemaluan Almira.

    “Dinоо.. nikmаt ѕеkаli.. kаmu hеbаt ѕеkаli mеmаinkаn lidаhmu.. mmhhmm.. ааhhgghh..”, Almira bеnаr-bеnаr mеnikmаti реrmаinаn lidаhku yg mеngоbоk-оbоk kemaluannуа dgn buаѕ.

    “Almira.., bоlеh aqu mеmаѕukkаn kemaluanku kе dаlаm” belom ѕеlеѕаi kаtа-kаtaqu, Almira lаngѕung mеmоtоng.

    “Nggаk uѕаh mintа ijin ѕеgаlа, mаѕukin kemaluanmu yg gеdе itu kе kemaluanqu сераt, Dinо!”, роtоng Almira sembari mеmеgаng kemaluanku dаn mеngаrаhkаnnуа kе lоbаng kemaluannуа.

    “Ahh.. ѕеmрit ѕеkаli Almira.. Mmmgghh..”, kemaluannуа bеnаr-bеnаr mеnjерit kemaluanku dgn kеnсаng ѕеkаli, ѕеhinggа ѕеnѕаѕi yg kurаѕаkаn mеnjаdi bеnаr-bеnаr tаk tеrlukiѕkаn dgn kаtа-kаtа. Pоkоknуа еnаk bаngеt!!

    “Oооhh Dinо.. kemaluanmu bеѕаr ѕеkаli!! HHhhmmhh.. ааhh.. nikmаt ѕеkаli Dinо!”
    Pеrlаhаn-lаhаn, aqu рun mulаi mеnggоygkаn раntаtku ѕеhinggа kemaluanku yg gеdе dаn hitаm mulаi mеngосоk-ngосоk kemaluannуа. Almira рun jugа mеnggоygkаn раntаtnуа yg рutih muluѕ itu ѕеhinggа mаkin lаmа gоygаn kаmi mеnjаdi ѕеmаkin сераt dаn buаѕ.

    “Diinоо.. hh.. hh.. hh.. aqu ѕukа kemaluanmu! mmhh.. lеbih сераt, сераt.. kеrаѕ.. aqu.. hhооhhmmhh..”,

    rасаuаn Almira mаkin lаmа mаkin tak jеlаѕ.

    “Aqu hhааmmрir kеluuааr.. Miraaaa.. hhmmhh..”,

    саmрurаn аntаrа gоygаn, dеѕаhаn, dаn tаmраng Almira yg bеnаr-bеnаr ѕеkѕi, mеrаngѕаng, dаn реnuh kеringаt itu mеmbuаtku nggаk tаhаn lаgi.

    “Kеluаrkаn di dаlаm ѕаjа, Dinо.. Aqu jugаа.. mаuu.. ѕаmраi.. hh..”.

    “AAHHMMHH.. AARRGGHH.. OOHHMMHH.. NIKMAAT SEKAALLII.. AAHHMMHH..!!” kаmi bеrduа mеnсараi klimаkѕ раdа ѕааt yg bеrѕаmааn.

    Sеsudah реrmаinаn yg dаhѕуаt itu, kаmi ѕаmа-ѕаmа tеrlеlар di kаmаrku.

    Sеwаktu tеrbаngun tеrnуаtа hаri ѕudаh mаlаm. Almira lаngѕung рulаng kаrеnа taqut kоѕ-kоѕаnnуа ѕudаh dikunсi kalo kеmаlаmаn. Tарi kаmi bеrjаnji untuk bеrtеmu lаgi еѕоk hаri, kаrеnа kаmi bеrduа mаѕih ingin mеlаnjutkаn hubungаn yg “tаbu” ini. Kаmi ѕаmа-ѕаmа mеnikmаtinуа. HHmm.. Cаn’t wаit ’til tоmоrrоw соmеѕ.

  • Cerita Sex Hot Kepuasan Seks Dari Lelaki Yang Bukan Suamiku

    Cerita Sex Hot Kepuasan Seks Dari Lelaki Yang Bukan Suamiku


    2372 views

    Perawanku – Karena jabatan suamiku sudah tidak mungkin lagi naik di perusahaannya, untuk menambah penghasilan kami, aku meminta ijin kepada Mas Hadi untuk bekerja, mengingat pendidikanku sebagai seorang Accounting sama sekali tidak kumanfatkan semenjak aku menikah.

    Pada dasarnya suamiku itu selalu menuruti keinginanku, maka tanpa banyak bicara dia mengijinkan aku bekerja, walaupun aku sendiri belum tahu bekerja di mana, dan perusahaan mana yang akan menerimaku sebagai seorang Accounting, karena aku sudah berkeluarga.

    “Bukankah kamu punya teman yang anak seorang Direktur di sini?” kata suamiku di suatu malam setelah kami melakukan hubungan badan.
    “Iya… si Yanthi, teman kuliah Ridha..!” kataku.
    “Coba deh, kamu hubungi dia besok. Kali saja dia mau menolong kamu..!” katanya lagi.
    “Tapi, benar nih.. Mas.. kamu ijinkan saya bekerja..?”
    Mas Hadi mengangguk mesra sambil menatapku kembali.

    Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku.
    “Terimakasih.. Mas.., mmhh..!” kusambut ciuman mesranya.
    Dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang lagi, dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang ketiga. Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Hingga kami lelah dan tanpa sadar kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masing-masing.

    Perlu kuceritakan di sini bahwa Rendy, anak kami tidak bersama kami. Dia kutitipkan ke nenek dan kakeknya yang berada di lain daerah, walaupun masih satu kota. Kedua orangtuaku sangat menyayangi cucunya ini, karena anakku adalah satu-satunya cucu laki-laki mereka.

    Siang itu ketika aku terbangun dari mimpiku, aku tidak mendapatkan suamiku tidur di sisiku. Aku menengok jam dinding. Rupanya suamiku sudah berangkat kerja karena jam dinding itu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku teringat akan percakapan kami semalam. Maka sambil mengenakan pakaian tidurku (tanpa BH dan celana dalam), aku beranjak dari tempat tidur berjalan menuju ruang tamu rumahku, mengangkat telpon yang ada di meja dan memutar nomor telpon Yanti, temanku itu.

    “Hallo… ini Yanti..!” kataku membuka pembicaraan saat kudengar telpon yang kuhubungi terangkat.
    “Iya.., siapa nih..?” tanya Yanti.
    “Ini.. aku Ridha..!”
    “Oh Ridha.., ada apa..?” tanyanya lagi.
    “Boleh nggak sekarang aku ke rumahmu, aku kangen sama kamu nih..!” kataku. Agen Obat Kuat Pasutri
    “Silakan.., kebetulan aku libur hari ini..!” jawab Yanti.
    “Oke deh.., nanti sebelum makan siang aku ke rumahmu. Masak yang enak ya, biar aku bisa makan di sana..!” kataku sambil sedikit tertawa.
    “Sialan luh. Oke deh.., cepetan ke sini.., ditunggu loh..!”
    “Oke.., sampai ketemu yaa.. daah..!” kataku sambil menutup gagang telpon itu.

    Setelah menelepon Yanti, aku berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi itu aku melepas pakaianku semuanya dan langsung membersihkan tubuhku. Namun sebelumnya aku bermasturbasi sejenak dengan memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri sambil pikiranku menerawang mengingat kejadian-kejadian yang semalam baru kualami. Membayangkan penis suamiku walau tidak begitu besar namun mampu memberikan kepuasan padaku. Dan ini merupakan kebiasaanku.

    Walaupun aku telah bersuami, namun aku selalu menutup kenikmatan bersetubuh dengan Mas Hadi dengan bermasturbasi, karena kadang-kadang bermasturbasi lebih nikmat.

    Singkat cerita, siang itu aku sudah berada di depan rumah Yanti yang besar itu. Dan Yanti menyambutku saat aku mengetuk pintunya.
    “Apa khabar Rida..?” begitu katanya sambil mencium pipiku.
    “Seperti yang kamu lihat sekarang ini..!” jawabku.
    Setelah berbasa-basi, Yanti membimbingku masuk ke ruangan tengah dan mempersilakan aku untuk duduk.

    Cerita Sex Hot Kepuasan Seks Dari Lelaki Yang Bukan Suamiku

    Cerita Sex Hot Kepuasan Seks Dari Lelaki Yang Bukan Suamiku

    “Sebentar ya.., kamu santailah dahulu, aku ambil minuman di belakang…” lalu Yanti meninggalkanku.
    Aku segera duduk di sofanya yang empuk. Aku memperhatikan ke sekeliling ruangan ini. Bagus sekali rumahnya, beda dengan rumahku. Di setiap sudut ruang terdapat hiasan-hiasan yang indah, dan pasti mahal-mahal. Foto-foto Yanti dan suaminya terpampang di dinding-dinding. Sandi yang dahulu katanya sempat menaksir aku, yang kini adalah suami Yanti, terlihat semakin ganteng saja. Dalam pikirku berkata, menyesal juga aku acuh tak acuh terhadapnya dahulu. Coba kalau aku terima cintanya, mungkin aku yang akan menjadi istrinya.

    Sambil terus memandangi foto Sandi, suaminya, terlintas pula dalam ingatanku betapa pada saat kuliah dulu lelaki keturunan Manado ini mencoba menarik perhatianku (aku, Yanti dan Sandi memang satu kampus). Sandi memang orang kaya. Dia adalah anak pejabat pemerintahan di Jakarta. Pada awalnya aku pun tertarik, namun karena aku tidak suka dengan sifatnya yang sedikit sombong, maka segala perhatiannya padaku tidak kutanggapi. Aku takut jika tidak cocok dengannya, karena aku orangnya sangat sederhana.

    Lamunannku dikagetkan oleh munculnya Yanti. Sambil membawa minuman, Yanti berjalan ke arah aku duduk, menaruh dua gelas sirup dan mempersilakanku untuk minum.
    “Ayo Rid, diminum dulu..!” katanya.
    Aku mengambil sirup itu dan meminumnya. Beberapa teguk aku minum sampai rasa dahaga yang sejak tadi terasa hilang, aku kembali menaruh gelas itu.

    “Oh iya, Mas Sandi ke mana?” tanyaku.
    “Biasa… Bisnis dia,” kata Yanti sambil menaruh gelasnya. “Sebentar lagi juga pulang. Sudah kutelpon koq dia, katanya dia juga kangen sama kamu..!” ujarnya lagi.

    Yanti memang sampai sekarang belum mengetahui kalau suaminya dahulu pernah naksir aku. Tapi mungkin juga Sandi sudah memberitahukannya.

    “Kamu menginap yah.. di sini..!” kata Yanti.
    “Akh… enggak ah, tidak enak khan..!” kataku.
    “Loh… nggak enak gimana, kita kan sahabat. Sandi pun kenal kamu. Lagian aku sudah mempersiapkan kamar untukmu, dan aku pun sedang ambil cuti koq, jadi temani aku ya.., oke..!” katanya.
    “Kasihan Mas Hadi nanti sendirian..!” kataku.
    “Aah… Mas Hadi khan selalu menurut keinginanmu, bilang saja kamu mau menginap sehari di sini menemani aku. Apa harus aku yang bicara padanya..?”
    “Oke deh kalau begitu.., aku pinjam telponmu ya..!” kataku.
    “Tuh di sana…!” kata Yanti sambil menujuk ke arah telepon.

    Aku segera memutar nomor telpon kantor suamiku. Dengan sedikit berbohong, aku minta ijin untuk menginap di rumah Yanti. Dan menganjurkan Mas Hadi untuk tidur di rumah orangtuaku. Seperti biasa Mas Hadi mengijinkan keinginanku. Dan setelah basa-basi dengan suamiku, segera kututup gagang telpon itu.

    “Beres..!” kataku sambil kembali duduk di sofa ruang tamu.
    “Nah.., gitu dong..! Ayo kutunjukkan kamarmu..!” katanya sambil membimbingku.
    Di belakang Yanti aku mengikuti langkahnya. Dari belakang itu juga aku memperhatikan tubuh montoknya. Yanti tidak berubah sejak dahulu. Pantatnya yang terbungkus celana jeans pendek yang ketat melenggak-lenggok. Pinggulnya yang ramping sungguh indah, membuatku iseng mencubit pantat itu.

    “Kamu masih montok saja, Yan..!” kataku sambil mencubit pantatnya.
    “Aw.., akh.. kamu. Kamu juga masih seksi saja. Bisa-bisa Mas Sandi nanti naksir kamu..!” katanya sambil mencubit buah dadaku.
    Kami tertawa cekikikan sampai kamar yang dipersiapkan untukku sudah di depan mataku.
    “Nah ini kamarmu nanti..!” kata Yanti sambil membuka pintu kamar itu.

    Besar sekali kamar itu. Indah dengan hiasan interior yang berseni tinggi. Ranjangnya yang besar dengan seprei yang terbuat dari kain beludru warna biru, menghiasi ruangan ini. Lemari pakaian berukiran ala Bali juga menghiasi kamar, sehingga aku yakin setiap tamu yang menginap di sini akan merasa betah.

    Akhirnya di kamar itu sambil merebahkan diri, kami mengobrol apa saja. Dari pengalaman-pengalaman dahulu hingga kejadian kami masing-masing. Kami saling bercerita tentang keluhan-keluhan kami selama ini. Aku pun bercerita panjang mulai dari perkimpoianku sampai sedetil-detilnya, bahkan aku bercerita tentang hubungan bercinta antara aku dan suamiku. Kadang kami tertawa, kadang kami serius saling mendengarkan dan bercerita. Hingga pembicaraan serius mulai kucurahkan pada sahabatku ini, bahwa aku ingin bekerja di perusahan bapaknya yang direktur.

    “Gampang itu..!” kata Yanti. “Aku tinggal menghubungi Papa nanti di Jakarta. Kamu pasti langsung diberi pekerjaan. Papaku kan tahu kalau kamu adalah satu-satunya sahabatku di dunia ini..” lanjutnya sambil tertawa lepas.
    Tentu saja aku senang dengan apa yang dibicarakan oleh Yanti, dan kami pun meneruskan obrolan kami selain obrolan yang serius barusan.

    Tanpa terasa, di luar sudah gelap. Aku pun minta ijin ke Yanti untuk mandi. Tapi Yanti malah mengajakku mandi bersama. Dan aku tidak menolaknya. Karena aku berpikir toh sama-sama wanita.Sungguh di luar dugaan, di kamar mandi ketika kami sama-sama telanjang bulat, Yanti memberikan sesuatu hal yang sama sekali tidak terpikirkan.

    Sebelum air yang hangat itu membanjiri tubuh kami, Yanti memelukku sambil tidak henti-hentinya memuji keindahan tubuhku. Semula aku risih, namun rasa risih itu hilang oleh perasaan yang lain yang telah menjalar di sekujur tubuh. Sentuhan-sentuhan tangannya ke sekujur tubuhku membuatku nikmat dan tidak kuasa aku menolaknya. Apalagi ketika Yanti menyentuh bagian tubuhku yang sensitif.

    Kelembutan tubuh Yanti yang memelukku membuatku merinding begitu rupa. Buah dadaku dan buah dadanya saling beradu. Sementara bulu-bulu lebat yang berada di bawah perut Yanti terasa halus menyentuh daerah bawah perutku yang juga ditumbuhi bulu-bulu. Namun bulu-bulu kemaluanku tidak selebat miliknya, sehingga terasa sekali kelembutan itu ketika Yanti menggoyangkan pinggulnya.

    Karena suasana yang demikian, aku pun menikmati segala apa yang dia lakukan. Kami benar-benar melupakan bahwa kami sama-sama perempuan. Perasaan itu hilang akibat kenikmatan yang terus mengaliri tubuh. Dan pada akhirnya kami saling berpandangan, saling tersenyum, dan mulut kami pun saling berciuman.

    Kedua tanganku yang semuala tidak bergerak kini mulai melingkar di tubuhnya. Tanganku menelusuri punggungnya yang halus dari atas sampai ke bawah dan terhenti di bagian buah pantatnya. Buah pantat yang kencang itu secara refleks kuremas-remas. Tangan Yanti pun demikian, dengan lembut dia pun meremas-remas pantatku, membuatku semakin naik dan terbawa arus suasana. Semakin aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dibalasnya ciumanku itu dengan bernafsu pula.

    Hingga suatu saat ketika Yanti melepas ciuman bibirnya, lalu mulai menciumi leherku dan semakin turun ke bawah, bibirnya kini menemukan buah dadaku yang mengeras. Tanpa berkata-kata sambil sejenak melirik padaku, Yanti menciumi dua bukit payudaraku secar bergantian. Napasku mulai memburu hingga akhirnya aku menjerit kecil ketika bibir itu menghisap puting susuku. Dan sungguh aku menikmati semuanya, karena baru pertama kali ini aku diciumi oleh seorang wanita.

    “Akh.., Yaantiii.., oh..!” jerit kecilku sedikit menggema.
    “Kenapa Rid.., enak ya..!” katanya di sela-sela menghisap putingku.
    “Iya.., oh.., enaaks… teruus..!” kataku sambil menekan kepalanya.
    Diberi semangat begitu, Yanti semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut dan mesra. Tangan kirinya menahan tubuhku di punggung.

    Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Aku teringat akan suamiku yang sering melakukan hal serupa, namun perbedaannya terasa sekali, Yanti sangat lembut memanjakan tubuhku ini, mungkin karena dia juga wanita.

    Setelah tangan itu berada di kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek kelentitku yang masih tersembunyi, maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar.

    Ketika jari itu menyentuh kelentitku yang mengeras, semakin asyik Yanti memainkan kelentitku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku. Aku menggelinjang hebat ketika rasa geli campur nikmat menjamah tubuhku. Pori-poriku sudah mengeluarkan keringat dingin, di dalam liang vaginaku sudah terasa ada cairan hangat yang mengalir perlahan, pertanda rangsangan yang sungguh membuatku menjadi nikmat.

    Ketika tanganku menekan bagian atas kepalanya, bibir Yanti yang menghisap kedua putingku secara bergantian segera berhenti. Ada keinginan pada diriku dan Yanti mengerti akan keinginanku itu. Namun sebelumnya, kembali dia pada posisi wajahnya di depan wajahku. Tersungging senyuman yang manis.

    “Ingin yang lebih ya..?” kata Santi.
    Sambil tersenyum aku mengangguk pelan. Tubuhku diangkatnya dan aku duduk di ujung bak mandi yang terbuat dari porselen. Setelah aku memposisikan sedemikian rupa, tangan Yanti dengan cekatan membuka kedua pahaku lebar-lebar, maka vaginaku kini terkuak bebas. Dengan posisi berlutut, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Aku menunggu perlakuannya dengan jantung yang berdebar kencang.

    Napasku turun naik, dadaku terasa panas, begitu pula vaginaku yang terlihat pada cermin yang terletak di depanku sudah mengkilat akibat basah, terasa hangat. Namun rasa hangat itu disejukkan oleh angin yang keluar dari kedua lubang hidung Yanti. Tangan Yanti kembali membelai vaginaku, menguakkan belahannya untuk menyentuh kelentitku yang semakin menegang.

    Agak lama Yanti membelai-belai kemaluanku itu yang sekaligus mempermainkan kelentitku. Sementara mulutnya menciumi pusar dan sekitarnya. Tentu saja aku menjadi kegelian dan sedikit tertawa. Namun Yanti terus saja melakukan itu.
    Hingga pada suatu saat, “Eiist… aakh… aawh… Yanthhii… akh… mmhh… ssh..!” begitu suara yang keluar dari mulutku tanpa disadari, ketika mulutnya semakin turun dan mencium vaginaku.
    Kedua tangan Yanti memegangi pinggul dan pantatku menahan gerakanku yang menggelinjang nikmat.

    Kini ujung lidahnya yang menyentuh kelentitku. Betapa pintar dia mempermainkan ujung lidah itu pada daging kecilku, sampai aku kembali tidak sadar berteriak ketika cairan di dalam vaginaku mengalir keluar.
    “Oohh… Yantii… ennaakss… sekaalii..!” begitu teriakku.

    Aku mulai menggoyangkan pinggulku, memancing nikmat yang lebih. Yanti masih pada posisinya, hanya sekarang yang dijilati bukan hanya kelentitku tapi lubang vaginaku yang panas itu. Tubuhku bergetar begitu hebat. Gerakan tubuhku mulai tidak karuan. Hingga beberapa menit kemudian, ketika terasa orgasmeku mulai memuncak, tanganku memegang bagian belakang kepalanya dan mendorongnya. Karuan saja wajah Yanti semakin terpendam di selangkanganku.

    “Hissapp… Yantiii..! Ooh.., aku.. akuu.. mau.. keluaar..!” jeritku.
    Yanti berhenti menjilat kelentitku, kini dia mencium dan menghisap kuat lubang kemaluanku.
    Maka.., “Yaantii.., aku.. keluaar..! Oh.., aku.. keluar.. nikmaathhs.. ssh..!” bersamaan dengan teriakku itu, maka aku pun mencapai orgasme.
    Tubuhku seakan melayang entah kemana. Wajahku menengadah dengan mata terpejam merasakan berjuta-juta nikmat yang sekian detik menjamah tubuh, hingga akhirnya aku melemas dan kembali pada posisi duduk. Maka Yanti pun melepas hisapannya pada vaginaku.

    Dia berdiri, mendekatkan wajahnya ke hadapan wajahku, dan kembali dia mencium bibirku yang terbuka. Napasku yang tersengal-sengal disumbat oleh mulut Yanti yang menciumku. Kubalas ciuman mesranya itu setelah tubuhku mulai tenang.

    “Terimakasih Yanti.., enak sekali barusan..!” kataku sambil tersenyum.
    Yanti pun membalas senyumanku. Dia membantuku turun dari atas bak mandi itu.
    “Kamu mau nggak dikeluarin..?” kataku lagi.
    “Nanti sajalah.., lagian udah gatel nih badanku. Sekarang mending kita mandi..!” jawabnya sambil menyalakan shower.

    Akhirnya kusetujui usul itu, sebab badanku masih lemas akibat nikmat tadi. Dan rupanya Yanti tahu kalau aku kurang bertenaga, maka aku pun dimandikannya, disabuni, diperlakukan layaknya seorang anak kecil. Aku hanya tertawa kecil. Iseng-iseng kami pun saling menyentuh bagian tubuh kami masing-masing. Begitupula sebaliknya, ketika giliran Yanti yang mandi, aku lah yang menyabuni tubuhnya.

    Setelah selesai mandi, kami pun keluar dari kamar mandi itu secara bersamaan. Sambil berpelukan, pundak kami hanya memakai handuk yang menutup tubuh kami dari dada sampai pangkal paha, dan sama sekali tidak mengenakan dalaman. Aku berjalan menuju kamarku sedang Yanti menuju kamarnya sendiri. Di dalam kamar aku tidak langsung mengenakan baju. Aku masih membayangkan kejadian barusan. Seolah-olah rasa nikmat tadi masih mengikutiku.

    Di depan cermin, kubuka kain handuk yang menutupi tubuhku. Handuk itu jatuh terjuntai ke lantai, dan aku mulai memperhatikan tubuh telanjangku sendiri. Ada kebanggaan dalam hatiku. Setelah tadi melihat tubuh telanjang Yanti yang indah, ternyata tubuhku lebih indah. Yanti memang seksi, hanya dia terlalu ramping sehingga sepintas tubuhnya itu terlihat kurus. Sedangkan tubuhku agak montok namun tidak terkesan gemuk.

    Entah keturunan atau tidak, memang demikianlah keadaan tubuhku. Kedua payudaraku berukuran 34B dengan puting yang mencuat ke atas, padahal aku pernah menyusui anakku. Sedangkan payudara Yanti berukuran 32 tapi juga dengan puting yang mencuat ke atas juga.

    Kuputar tubuhku setengah putaran. Kuperhatikan belahan pantatku. Bukit pantatku masih kencang, namun sudah agak turun, karena aku pernah melahirkan. Berbeda dengan pantat milik Yanti yang masih seperti pantat gadis perawan, seperti pantat bebek.

    Kalau kuperhatikan dari pinggir tubuhku, nampak perutku yang ramping. Vaginaku nampak menonjol keluar. Bulu-bulu kemaluanku tidak lebat, walaupun pernah kucukur pada saat aku melahirkan. Padahal kedua tangan dan kedua kakiku tumbuh bulu-bulu tipis, tapi pertumbuhan bulu kemaluanku rupanya sudah maksimal. Lain halnya dengan Yanti, walaupun perutnya lebih ramping dibanding aku, namun kemaluannya tidak menonjol alias rata. Dan daerah itu ditumbuhi bulu-bulu yang lebat namun tertata rapi.

    Setelah puas memperhatikan tubuhku sendiri (sambil membandingkan dengan tubuh Yanti), aku pun membuka tasku dan mengambil celana dalam dan Bra-ku. Kemudian kukenakan kedua pakaian rahasiaku itu setelah sekujur tubuhku kulumuri bedak. Namun aku agak sedikit kaget dengan teriakan Yanti dari kamarnya yang tidak begitu jauh dari kamar ini.

    “Rida..! Ini baju tidurmu..!” begitu teriaknya.
    Maka aku pun mengambil handuk yang berada di lantai. Sambil berjalan kukenakan handuk itu menutupi tubuhku seperti tadi, lalu keluar menuju kamarnya yang hanya beberapa langkah. Pintu kamarnya ternyata tidak dikunci. Karena mungkin Yanti tahu kedatanganku, maka dia mempersilakan aku masuk.

    “Masuk sini Rid..!” kataya dari dalam kamar.
    Kudorong daun pintu kamarnya. Aku melihat di dalam kamar itu tubuh Yanti yang telanjang merebah di atas kasur. Tersungging senyuman di bibirnya. Karena aku sudah melangkah masuk, maka kuhampiri tubuh telanjang itu.

    “Kamu belum pake baju, Yan..?” kataku sambil duduk di tepi ranjang.
    “Akh.., gampang… tinggal pake itu, tuh..!” kata Yanti sambil tangannya menunjuk tumpukan gaun tidur yang berada di ujung ranjang.
    Lalu dia berkata lagi, “Kamu sudah pake daleman, ya..?”
    Aku mengangguk, “Iya..!”
    Kuperhatikan dadanya turun naik. Napasnya terdengar memburu. Apakah dia sedang bernafsu sekarang.., entahlah.
    Lalu tangan Yanti mencoba meraihku. Sejenak dia membelai tubuhku yang terbungkus handuk itu sambil berkata, “Kamu mengairahkan sekali memakai ini..!”
    “Akh.., masa sih..!” kataku sambil tersenyum dan sedikit menggeser tubuhku lebih mendekat ke tubuh Yanti.

    “Benar.., kalo nggak percaya.., emm.. kalo nggak percaya..!” kata Yanti sedikit menahan kata-katanya.
    “Kalo nggak percaya apa..?” tanyaku.
    “Kalo nggak percaya..!” sejenak matanya melirik ke arah belakangku.
    “Kalo nggak percaya tanya saja sama orang di belakangmu… hi.. hi..!” katanya lagi.

    Segera aku memalingkan wajahku ke arah belakangku. Dan.., (hampir saja aku teriak kalau mulutku tidak buru-buru kututup oleh tanganku), dengan jelas sekali di belakangku berdiri tubuh lelaki dengan hanya mengenakan celana dalam berwarna putih yang tidak lain adalah Mas Sandi suami Yanti itu. Dengan refleks karena kaget aku langsung berdiri dan bermaksud lari dari ruangan ini. Namun tangan Yanti lebih cepat menangkap tanganku lalu menarikku sehingga aku pun terjatuh dengan posisi duduk lagi di ranjang yang empuk itu.

    “Mau kemana.. Rida.., udah di sini temani aku..!” kata Yanti setengah berbisik.
    Aku tidak sempat berkata-kata ketika Mas Sandi mulai bergerak berjalan menuju aku. Dadaku mulai berdebar-debar. Ada perasaan malu di dalam hatiku.
    “Halo.., Rida. Lama tidak bertemu ya…” suara Mas Sandi menggema di ruangan itu.
    Tangannya mendarat di pundakku, dan lama bertengger di situ.

    Aku yang gelagapan tentu saja semakin gelagapan. Namun ketika tangan Yanti dilepaskan dari cengkramannya, pada saat itu tidak ada keinginanku untuk menghindar. Tubuhku terasa kaku, sama sekali aku tidak dapat bergerak. Lidahku pun terasa kelu, namun beberapa saat aku memaksa bibirku berkata-kata.
    “Apa-apaan ini..?” tanyaku parau sambil melihat ke arah Yanti.
    Sementara tangan yang tadi bertengger di bahuku mulai bergerak membelai-belai. Serr.., tubuhku mulai merinding. Terasa bulu-bulu halus di tangan dan kaki berdiri tegak.

    Rupanya Sentuhan tangan Mas Sandi mampu membangkitkan birahiku kembali. Apalagi ketika terasa di bahuku yang sebelah kiri juga didarati oleh tangan Mas Sandi yang satunya lagi. Perasaan malu yang tadi segera sirna. Tubuhku semakin merinding. Mataku tanpa sadar terpejam menikmati dalam-dalam sentuhan tangan Mas Sandi di bahuku itu.

    Pijatan-pijatan kecil di bahuku terasa nyaman dan enak sekali. Aku begitu menikmati apa yang terasa. Hingga beberapa saat kemudian tubuhku melemas. Kepalaku mulai tertahan oleh perut Mas Sandi yang masih berada di belakangku. Sejenak aku membuka mataku, nampak Yanti membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meremas pelan kedua payudaranya secara bergantian. Tersungging senyuman di bibirnya.

    “Nikmati Rida..! Nikmati apa yang kamu sekarang rasakan..!” suara Yanti masih sedikit membisik.
    Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Mas Sandi yang mulai mendarat di daerah atas payudarara yang tidak tertutup. Mataku masih terpejam.
    “Ini.. kan yang kamu inginkan. Kupinjamkan suamiku..!” kata Yanti lagi.
    Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Yanti yang masih dengan posisinya.
    “Ayo Mas..! Nikmati Rida yang pernah kamu taksir dulu..!” kata Yanti lagi.
    “Tentu saja Sayang.., asal.. kamu ijinkan..!” kata suara berat Mas Sandi.

    Tubuhnya dibungkukkan. Kemudian wajahnya ditempelkan di bagian atas kepalaku. Terasa bibirnya mencium mesra daerah itu. Kembali aku memejamkan mata. Bulu-buluku semakin keras berdiri. Sentuhan lembut tangan Mas Sandi benar-benar nikmat. Sangat pintar sekali sentuhan itu memancing gairahku untuk bangkit. Apalagi ketika tangan Mas Sandi sebelah kanan berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku itu.

    “Oh.., Mas.., Maas… jangaan… Mas..!” aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Mas Sandi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh.
    Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku. Aku sudah terbius suasana.

    Mas Sandi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran disentuhnya, dan aku mendesah nikmat ketika leherku mulai dicium mesra oleh Mas Sandi. Sementara desahan-desahan kecil terdengar dari mulut Yanti.

    Aku melirik sejenak ke arah Yanti, rupanya dia sedang masturbasi. Lalu aku memejamkan mata lagi, kepalaku kutengadahkan memberikan ruangan pada leherku untuk diciumi Mas Sandi. Persaanku sudah tidak malu-malu lagi, aku sudah kepalang basah. Aku lupa bahwa aku telah bersuami, dan aku benar-benar akan merasakan apa yang akan kurasakan nanti, dengan lelaki yang bukan suamiku.

    “Buka ya.. BH-nya, Rida..!” kata Mas Sandi sambil melepas kancing tali BH-ku dari punggung.
    Beberapa detik BH itu terlepas, maka terasa bebas kedua payudaraku yang sejak tadi tertekan karena mengeras. Suara Yanti semakin keras, rupanya dia mencapai orgasmenya. Kembali aku melirik Yanti yang membenamkan jari manis dan jari telunjuknya ke dalam vaginanya sendiri. Nampak dia mengejang dengan mengangkat pinggulnya.

    “Akh.., nikmaats… ooh… nikmaatts.. sekalii..!” begitu kata-kata yang keluar dari mulutnya.
    Dan tidak lama kemudian dia terkulai lemas di ranjang itu. Sementara Mas Sandi sibuk dengan kegiatannya.

    Kini kedua payudaraku sudah diremasi dengan mesra oleh kedua telapak tangannya dari belakang. Sambil terus bibirnya menjilati inci demi inci kulit leherku seluruhnya. Sedang enak-enaknya aku, tiba-tiba ada yang menarik celana dalamku. Aku membuka mataku, rupanya Yanti berusaha untuk melepas celana dalamku itu. Maka kuangkat pantatku sejenak memudahkan celana dalamku dilepas oleh Yanti. Maka setelah lepas, celana dalam itu juga dibuang jauh-jauh oleh Yanti.

    Aku menggeser posisi dudukku menuju ke bagian tengah ranjang itu. Mas Sandi mengikuti gerakanku masih dari belakang, sekarang dia tidak berlutut, namun duduk tepat di belakang tubuhku. Kedua kakinya diselonjorkan, maka pantatku kini berada di antara selangkangan milik Mas Sandi. Terasa oleh pantatku ada tonjolan keras di selangkangan. Rupanya penis Mas Sandi sudah tegang maksimal.

    Lalu Yanti membuka lebar-lebar pahaku, sehingga kakiku berada di atas paha Mas Sandi. Lalu dengan posisi tidur telungkup, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku, dan apa yang terjadi…
    “Awwh… ooh… eeisth.. aakh..!” aku menjerit nikmat ketika kembali kurasakan lidahnya menyapu-nyapu belahan vaginaku, terasa kelentitku semakin menegang, dan aku tidak dapat mengendalikan diri akibat nikmat, geli, enak, dan lain sebagainya menyatu di tubuhku.

    Kembali kepalaku menengadah sambil mulutku terbuka. Maka Mas Sandi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tahu maksudku. Dari belakang, bibirnya langsung melumat bibirku yang terbuka itu dengan nafsunya. Maka kubalas ciuman itu dengan nafsu pula. Dia menyedot, aku menyedot pula. Terjadilah pertukaran air liur Mas Sandi dengan air liurku. Terciuma aroma rokok pada mulutnya, namun aroma itu tidak mengganggu kenikmatan ini.

    Kedua tangan Mas Sandi semakin keras meremas kedua payudaraku, namun menimbulkan nikmat yang teramat, sementara di bawah Yanti semakin mengasyikkan. Dia terus menjilat dan mencium vaginaku yang telah banjir. Banjir oleh cairan pelicin vaginaku dan air liur Yanti.
    “Mmmhh… akh… mmhh..!” bibirku masih dilumati oleh bibir Mas Sandi.

    Tubuhku semakin panas dan mulai memberikan tanda-tanda bahwa aku akan mencapai puncak kenikmatan yang kutuju. Pada akhirnya, ketika remasan pada payudaraku itu semakin keras, dan Yanti menjilat, mencium dan menghisap vaginaku semakin liar, tubuhku menegang kaku, keringat dingin bercucuran dan mereka tahu bahwa aku sedang menikmati orgasmeku. Aku mengangkat pinggulku, otomatis ciuman Yanti terlepas. Semakin orgasmeku terasa ketika jari telujuk dan jari manis Yanti dimasukkan ke liang vaginaku, kemudian dicabutnya setengah, lalu dimasukkan lagi.

    Perlakuan Yanti itu berulang-ulang, yaitu mengeluar-masukkan kedua jarinya ke dalam lubang vaginaku. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa nikmat dan enak pada saat itu.
    “Aakh… aawhh… nikmaatss… terus.. Yantii.. oooh… yang cepaat.. akh..!” teriakku.
    Tubuh Mas Sandi menahan tubuhku yang mengejang itu. Jarinya memilin-milin puting susuku. Bibirnya mengulum telingaku sambil membisikkan sesuatu yang membuatku semakin melayang. Bisikan-bisikan yang memujiku itu tidak pernah kudengar dari Mas Hadi, suamiku.

    “Ayo cantik..! Nikmatilah orgasmemu.., jangan kamu tahan, keluarkan semuanya Sayang..! Nikmatilah.., nikmatilah..! Oh.., kamu cantik sekali jika orgasme..!” begitu bisikan yang keluar dari mulut Mas Sandi sambil terus mengulum telingaku.
    “Aakh.. Maass, aduh.. Yanti.., nikmaats… oh… enaaks.. sekali..!” teriakku.
    Akhirnya tubuh kejangku mulai mengendur, diikuti dengan turunnya kenikmatan orgasmeku itu.

    Perlahan sekali tubuhku turun dan akhirnya terkulai lemas di pangkuan Mas Sandi. Lalu tubuh Yanti mendekapku.
    Dia berbisik padaku, “Ini.. belum seberapanya Sayaang.., nanti akan kamu rasakan punya suamiku..!” sambil berkata demikian dia mencium keningku.
    Mas Sandi beranjak dari duduknya dan berjalan entah ke arah mana, karena pada saat itu mataku masih terpenjam seakan enggan terbuka.

    Entah berapa lama aku terlelap. Ketika kusadar, kubuka mataku perlahan dan mencari-cari Yanti dan Mas Sandi sejenak. Mereka tidak ada di kamar ini, dan rupanya mereka membiarkanku tertidur sendiri. Aku menengok jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Segera aku bangkit dari posisi tidurku, lalu berjalan menuju pintu kamar. Telingaku mendengar alunan suara musik klasik yang berasal dari ruangan tamu. Dan ketika kubuka pintu kamar itu yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tamu, mataku menemukan suatu adegan dimana Yanti dan suaminya sedang melakukan persetubuhan.

    Yanti dengan posisi menelentang di sofa sedang ditindih oleh Mas Sandi dari atas. Terlihat tubuh Mas Sandi sedang naik turun. Segera mataku kutujukan pada selangkangan mereka. Jelas terlihat penis Mas Sandi yang berkilat sedang keluar masuk di vagina Yanti. Terdengar pula erangan-erangan yang keluar dari mulut Yanti yang sedang menikmati hujaman penis itu di vaginanya, membuat tubuhku perlahan memanas. Segera saja kuhampiri mereka dan duduk tepat di depan tubuh mereka.

    Di sela-sela kenikmatan, Yanti menatapku dan tersenyum. Rupanya Mas Sandi memperhatikan istrinya dan sejenak dia menghentikan gerakannya dan menengok ke belakang, ke arahku.
    “Akh… Mas.., jangan berhentiii doong..! Oh..!” kata Yanti.
    Dan Mas Sandi kembali berkonsentrasi lagi dengan kegiatannya. Kembali terdengar desahan-desahan nikmat Yanti yang membahana ke seluruh ruangan tamu itu. Aku kembali gelagapan, kembali resah dan tubuhku semakin panas. Dengan refleks tanganku membelai vaginaku sendiri.

    “Oh.. Ridhaa.., nikmat sekaallii.. loh..! Akuu… ooh… mmh..!” kata Yanti kepadaku.
    Aku melihat wajah nikmat Yanti yang begitu cantik. Kepalannya kadang mendongak ke atas, matanya terpejam-pejam. Sesekali dia gigit bibir bawahnya. Kedua tangannya melingkar pada pantat suaminya, dan menarik-narik pantat itu dengan keras sekali. Aku melihat penis Mas Sandi yang besar itu semakin amblas di vagina Yanti. Samakin mengkilat saja penis itu.

    “Oh Mas.., aku hampiir sampaaii..! Teruus… Mas… terus..! Lebih keras lagiih.., oooh… akh..!” kata Yanti.
    Yanti mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya, Mas Sandi terus dengan gerakannya menaik-turunkan tubuhnya dalam kondisi push-up.
    “Maass.., akuuu… keluaar..! Aakh… mhh… nikmaats.., mmh..!” kata Yanti lagi dengan tubuh yang mengejang.
    Rupanya Yanti mencapai orgasmenya. Tangannya yang tadi melingkar di pantat suaminya, kini berpindah melingkar di punggung.

    Mas Sandi berhenti bergerak dan membiarkan penis itu menancap dalam di lubang kemaluan Yanti.
    “Owhh… banyak sekali Sayang.. keluarnya. Hangat sekali memekmu..!” kata Mas Sandi sambil menciumi wajah istrinya.

    Dapat kubayangkan perasaan Yanti pada saat itu. Betapa nikmatnya dia. Dan aku pun belingsatan dengan merubah-rubah posisi dudukku di depan mereka. Beberapa saat kemudian, Yanti mulai melemas dari kejangnya dan merubah posisinya. Segera dia turun dari sofa ketika Mas Sandi mencabut penis dari lubang kenikmatan itu. Aku melihat dengan jelas betapa besar dan panjang penis Mas Sandi. Dan ini baru pertama kali aku melihatnya, karena waktu tadi di dalam kamar, Mas Sandi masih menutupi penisnya dengan celana dalam.

    Dengan segera Yanti menungging. Lalu segera pula Mas Sandi berlutut di depan pantat itu.
    “Giliranmu… Mas..! Ayoo..!” kata Yanti.
    Tangan Mas Sandi menggenggam penis itu dan mengarahkan langsung ke lubang vagina Yanti. Segera dia menekan pantatnya dan melesaklah penis itu ke dalam vagina istrinya, diikuti dengan lenguhan Yanti yang sedikit tertahan.
    “Owwh… Maas… aakh..!”
    “Aduuh… Yantii.., jepit Sayangh..!” kata Mas Sandi.

    Lalu kaki Yanti dirapatkan sedemikian rupa. Dan segera pantat Mas Sandi mulai mundur dan maju.Ufh.., pemandangan yang begitu indah yang kulihat sekarang. Baru kali ini aku menyaksikan sepasang manusia bersetubuh tepat di depanku secara langsung. Semakin mereka mempercepat tempo gerakannya, semakin aku terangsang begitu rupa. Tanganku yang tadi hanya membelai-belai vaginaku, kini mulai menyentuh kelentitku.

    Kenikmatan mulai mengaliri tubuhku dan semakin aku tidak tahan, sehingga aku memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri. Aku sendiri sangat menikmati masturbasiku tanpa lepas pandanganku pada mereka. Belum lagi telingaku jelas mendengar desahan dan rintihan Yanti, aku dapat membayangkan apa yang dirasakan Yanti dan aku sangat ingin sekali merasakannya, merasakan vaginaku pun dimasukkan oleh penis Mas Sandi.

    Beberapa saat kemudian Mas Sandi mulai melenguh keras. Kuhentikan kegiatanku dan terus memperhatikan mereka.
    “Aakhh… Yantii… nikmaats… aakh… aku keluaar..!” teriak Mas Sandi membahana.
    “Oh… Maas… akuu… juggaa… akh..!”
    Kedua tubuh itu bersamaan mengejang. Mereka mencapai orgasmenya secara bersama-sama.

    Penis Mas Sandi masih menancap di vagina Yanti sampai akhirnya mereka melemas, dan dari belakang tubuh Yanti, Mas Sandi memeluknya sambil meremas kedua payudara Yanti. Mas Sandi memasukkan semua spermanya ke dalam vagina Yanti.

    Lama sekali aku melihat mereka tidak bergerak. Rupanya mereka sangat kelelahan. Di sofa itu mereka tertidur bertumpukan. Tubuh Yanti berada di bawah tubuh Mas Sandi yang menindihnya. Mata mereka terpejam seolah tidak menghiraukan aku yang duduk terpaku di depannya. Hingga aku pun mulai bangkit dari dudukku dan beranjak pergi menuju kamarku. Sesampai di kamar aku baru sadar kalau aku masih telanjang bulat. Maka aku pun balik lagi menuju kamar Yanti di mana celana dalam dan BH yang akan kupakai berada di sana.

    Selagi aku berjalan melewati ruang tamu itu, aku melihat mereka masih terkulai di sofa itu. Tanpa menghiraukan mereka, aku terus berjalan memasuki kamar Yanti dan memungut celana dalam dan BH yang ada di lantai. Setelah kukenakan semuanya, kembali aku berjalan menuju kamarku dan sempat sekali lagi aku menengok mereka di sofa itu pada saat aku melewati ruang tamu.

    Sesampai di kamar, entah kenapa rasa lelah dan kantukku hilang. Aku menjadi semakin resah membayangkan kejadian yang baru kualami. Pertama ketika aku dimasturbasikan oleh suami istri itu. Dan yang kedua aku terus membayangkan kejadian di mana mereka melakukan persetubuhan yang hebat itu. Keinginanku untuk merasakan penis Mas Sandi sangat besar. Aku mengharapkan sekali Mas Sandi sekarang menghampiri dan menikmatiku. Namun itu mungkin tidak terjadi, karena aku melihat mereka sudah lelah sekali.

    Entah sudah berapa kali mereka bersetubuh pada saat aku terlelap tadi. Aku semakin tidak dapat menahan gejolak birahiku sendiri hingga aku merebahkan diri di kasur empuk. Dengan posisi telungkup, aku mulai memejamkan mata dengan maksud agar aku terlelap. Namun semua itu sia-sia. Karena kembali kejadian-kejadian barusan terus membayangiku. Secara cepat aku teringat bahwa tadi ketika mereka bersetubuh, aku melakukan masturbasi sendiri dan itu tidak selesai. Maka tanganku segera kuselipkan di selangkanganku. Aku membelai kembali vaginaku yang terasa panas itu.

    Dan ketika tanganku masuk ke dalam celanaku, aku mulai menyentuh klitorisku. Kembali aku nikmat. Aku tidak kuasa membendung perasaan itu, dan jariku mulai menemukan lubang kemaluanku yang berlendir itu. Dengan berusaha membayangkan Mas Sandi menyetubuhiku, kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang itu dalam-dalam. Kelembutan di dalam vaginaku dan gesekan di dinding-dindingnya membuatku mendesah kecil.

    Sambil mengeluar-masukkan jari tengahku, aku membayangkan betapa besar dan panjangnya penis Mas Sandi. Beda sekali dengan penis Mas Hadi yang kumiliki. Kemaluan Mas Sandi panjang dan besarnya normal-normal saja. Sedangkan milik Mas Sandi, sudah panjang dan besar, dihiasi oleh urat-uratnya yang menonjol di lingkaran batang kemaluannya. Itu semua kulihat tadi dan kini terbayang di dalam benakku.

    Beberapa menit kemudian, ketika ada sesuatu yang lain di dalam vaginaku, semakin kupercepat jari ini kukeluar-masukkan. Sambil terus membayangi Mas Sandi yang menyetubuhiku, dan aku sama sekali tidak membayangkan suamiku sendiri. Setiap bayangan suamiku muncul, cepat-cepat kubuang bayangan itu, hingga kembali Mas Sandi lah yang kubayangkan.

    Tanpa sadar, ketika aku akan mencapai orgasme, aku membalikan badan dan aku memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang vaginaku. Dalam keadaan telentang aku mengangkangkan selebar mungkin pahaku. Kini dua jariku yang keluar masuk di lubang vaginaku. Maka kenikmatan itu berlanjut hebat sehingga tanpa sadar aku memanggil-manggil pelan nama Mas Sandi.

    “Akh… sshh… Masss… Sandii… Okh… Mass.. Mas.. Sandi.. aakkh..!” itulah yang keluar dari mulutku.
    Seer… aku merasa kedua jariku hangat sekali dan semakin licin. Aku mengangkat ke atas pinggulku sambil tidak melepas kedua jariku menancap di lubang vaginaku. Beberapa lama tubuhku merinding, mengejang, dan nikmat tidak terkira. Sampai pada akhirnya aku melemas dan pinggulku turun secara cepat ketika kenikmatan itu perlahan berkurang.

    Aku mencabut jari jemariku dan cairan yang menempel di jari-jari itu segera kujilati. Asin campur gurih yang kurasakan di lidahku. Dengat mata yang terpejam-pejam kembali aku membayangkan penis Mas Sandi yang sedang kuciumi, kuhisap, dan kurasakan. Cairan yang asin dan gurih itu kubayangkan sperma Mas Sandi. Ohhh.., nikmatnya semua ini.

    Dan setelah aku puas, barulah kuhentikan hayalan-hayalanku itu. Kutarik selimut yang ada di sampingku dan menutupi sekujur tubuhku yang mulai mendingin. Aku tersenyum sejenak mengingat hal yang barusan, gila… aku masturbasi dengan membayangkan suami orang lain.

    Pagi harinya, ketika aku terjaga dari tidurku dan membuka mataku, aku melihat di balik jendela kamar sudah terang. Jam berapa sekarang, pikirku. Aku menengok jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku kaget dan bangkit dari posisi tidurku. Ufh.., lemas sekali badan ini rasanya. Kukenakan celana dalamku. Karena udara sedikit dingin, kubalut tubuhku dengan selimut dan mulai berdiri.

    Ketika berdiri, sedikit kugerak-gerakan tubuhku dengan maksud agar rasa lemas itu segera hilang. Lalu dengan gontai aku berjalan menuju pintu kamar dan membuka pintu yang tidak terkunci.

    Karena aku ingin pipis, segera aku berjalan menuju kamar mandi, sesampainya di kamar mandi segera kuturunkan celana dalamku dan berjongkok. Keluarlah air hangat urine-ku dari liang vagina. Sangat banyak sekali air kencingku, sampai-sampai aku pegal berjongkok. Beberapa saat kemudian, ketika air kencingku habis, segera kubersihkan vaginaku dan kembali aku mengenakan celana dalamku, lalu kembali pula aku melingkari kain selimut itu, karena hanya kain ini yang dapat kupakai untuk menahan rasa dingin, baju tidur yang akan dipinjamkan oleh Yanti masih berada di kamarnya.

    Aku keluar dari kamar mandi itu, lalu berjalan menuju ruangan dapur yang berada tidak jauh dari kamar mandi itu, karena tenggorokanku terasa haus sekali. Di dapur itu aku mengambil segelas air dan meminumnya.

    Setelah minum aku berjalan lagi menuju kamarku. Namun ketika sampai di pintu kamar, sejenak pandangan mataku menuju ke arah ruang tamu. Di sana terdapat Mas Sandi sedang duduk di sofa sambil menghisap sebatang rokok. Matanya memandangku tajam, namun bibirnya memperlihatkan senyumnya yang manis. Dengan berbalut kain selimut di tubuhku, aku menghampiri Mas Sandi yang memperhatikan aku. Lalu aku duduk di sofa yang terletak di depannya. Aku membalas tatapan Mas Sandi itu dengan menyunggingkan senyumanku.

    “Yanti mana..?” tanyaku padanya membuka pembicaraan.
    “Sedang ke warung sebentar, katanya sih mau beli makanan..!” jawabnya.
    “Mas Sandi tidak kerja hari ini..?”
    “Tidak akh.., malas sekali hari ini. Lagian khan aku tak mau kehilangan kesempatan..!” sambil berkata demikian dengan posisi berlutut dia menghampiriku.

    Setelah tepat di depanku, segera tangannya melepas kain selimut yang membungkusi tubuhku. Lalu dengan cepat sekali dia mulai meraba-raba tubuhku dari ujung kaki sampai ujung pahaku. Diperlakukan demikian tentu saja aku geli. Segera bulu-bulu tubuhku berdiri.
    “Akh… Mas..! Gellii..!” kataku.
    Mas Sandi tidak menghiraukan kata-kataku itu.

    Kini dia mulai mendaratkan bibirnya ke seluruh kulit kakiku dari bawah sampai ke atas. Perlakuannya itu berulang-ulang, sehingga menciptakan rasa geli campur nikmat yang membuatku terangsang. Lama sekali perlakuan itu dilakukan oleh Mas Sandi, dan aku pun semakin terangsang.
    “Akh… Mas..! Oh.., mmh..!” aku memegang bagian belakang kepala Mas Sandi dan menariknya ketika mulut lelaki itu mencium vaginaku.
    Semakin aku mengangkangkan pahaku, dengan mesranya lidah Mas Sandi mulai menjilat kemaluanku itu. Tubuhku mulai bergerak-gerak tidak beraturan, merasakan nikmat yang tiada tara di sekujur tubuhku.

    Aku membuang kain selimut yang masih menempel di tubuhku ke lantai, sementara Mas Sandi masih dengan kegiatannya, yaitu menciumi dan menjilati vaginaku. Aku menengadah menahan nikmat, kedua kakiku naik di tumpangkan di kedua bahunya, namun tangan Mas Sandi menurunkannya dan berusaha membuka lebar-lebar kedua pahaku itu. Karuan saja selangkanganku semakin terkuak lebar dan belahan vaginaku semakin membelah.
    “Akh.. Mas..! Shh.. nikmaats..! Terus Mass..!” rintihku.

    Kedua tangan Mas Sandi ke atas untuk meremas payudaraku yang terasa sudah mengeras, remasan itu membuatku semakin nikmat saja, dan itu membuat tubuhku semakin menggelinjang. Segera aku menambah kenikmatanku dengan menguakkan belahan vaginaku, jariku menyentuh kelentitku sendiri. Oh.., betapa nikmat yang kurasakan, liang kemaluanku sedang disodok oleh ujung lidah Mas Sandi, kedua payudaraku diremas-remas, dan kelentitku kusentuh dan kupermainkan. Sehingga beberapa detik kemudian terasa tubuhku mengejang hebat disertai perasaan nikmat teramat sangat dikarenakan aku mulai mendekati orgasmeku.

    “Oh… Mas..! Aku… aku… akh.., nikmaats… mhh..!” bersamaan dengan itu aku mencapai klimaksku.
    Tubuhku melayang entah kemana, dan sungguh aku sangat menikmatinya. Apalagi ketika Mas Sandi menyedot keras lubang kemaluanku itu. Tahu bahwa aku sudah mencapai klimaks, Mas Sandi menghentikan kegiatannya dan segera memelukku, mecium bibirku.

    “Kamu sungguh cantik, Ridha.., aku cinta padamu..!” sambil berkata demikian, dengan pinggulnya dia membuka kembali pahaku, dan terasa batang kemaluannya menyentuh dinding kemaluannku.
    Segera tanganku menggenggam kemaluan itu dan mengarahkan langsung tepat ke liang vaginaku.
    “Lakukan Mas..! Lakukan sekarang..! Berikan cintamu padaku sekarang..!” kataku sambil menerima setiap ciuman di bibirku.

    Mas Sandi dengan perlahan memajukan pinggulnya, maka terasa di liang vaginaku ada yang melesak masuk ke dalamnya. Gesekan itu membuatku kembali menengadah, sehingga ciumanku terlepas. Betapa panjang dan besar kurasakan. Sampai aku merasakan ujung kemaluan itu menyentuh dinding rahimku.
    “Suamimu sepanjang inikah..?” tanyanya.
    Aku menggelengkan kepala sambil terus menikmati melesaknya penis itu di liang vaginaku.

    Beberapa saat kemudian sudah amblas semua seluruh batang kemaluan Mas Sandi. Aku pun sempat heran, kok bisa batang penis yang panjang dan besar itu masuk seluruhnya di vaginaku. Segera aku melipatkan kedua kakiku di belakang pantatnya. Sambil kembali mencium bibirku dengan mesra, Mas Sandi mendiamkan sejenak batang penisnya terbenam di vaginaku, hingga suatu saat dia mulai menarik mundur pantatku perlahan dan memajukannya lagi, menariknya lagi, memajukannya lagi, begitu seterusnya hingga tanpa disadari gerakan Mas Sandi mulai dipercepat. Karuan saja batang penis yang kudambakan itu keluar masuk di vaginaku. Vagina yang seharusnya hanya dapat dinikmati oleh suamiku, Mas Hadi.

    Di alam kenikmatan, pikiranku menerawang. Aku seorang perempuan yang sudah bersuami tengah disetubuhi oleh orang lain, yang tidak punya hak sama sekali menikmati tubuhku, dan itu sangat di luar dugaanku. Seolah-olah aku sudah terjebak di antara sadar dan tidak sadar aku sangat menikmati perselingkuhan ini. Betapa aku sangat mengharapkan kepuasan bersetubuh dari lelaki yang bukan suamiku. Ini semua akibat Yanti yang memberi peluang seakan sahabatku itu tahu bahwa aku membutuhkan ini semua. film bokep klik

    Beberapa menit berlalu, peluh kami sudah bercucuran. Sampailah aku pada puncak kenikmatan yang kudambakan. Orgasmeku mulai terasa dan sungguh aku sangat menikmatinya. Menikmati orgasmeku oleh laki-laki yang bukan suamiku, manikmati orgasme oleh suami sahabatku. Dan aku tidak menduga kalau rahimku pun menampung air sperma yang keluar dari penis lelaki selain suamiku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex I Love You Rini

    Cerita Sex I Love You Rini


    1156 views

    Perawanku – Cerita Sex I Love You Rini, Malam itu Rini sedang menangis di hadapanku. Kisah selingkuh kami ketahuan oleh istriku. Aku yang sangat mencintai istriku telah berjanji untuk berhenti selingkuh, dan malam ini adalah kesempatanku untuk menjelaskan pada Rini. Rini adalah wanita berjilbab yang masih single, berusia 22 tahun. Dulunya dia adalah rekan kerja dari sahabatku. Hobi fotografi membuat kami saling kenal, karena dia bersedia untuk difoto olehku yang masih sangat pemula.

    Tidak lama setelah berkenalan, Rini mulai menceritakan kisah cintanya yang ternyata tidak bahagia. Meskipun telah berencana menikah, calon suaminya ternyata sering berlaku keras dan berkata kasar. Akupun sering bercerita tentang masalah keluargaku. Pernikahan di usia muda membuatku dan istri sering bertengkar. Sementara ketika menghadapi Rini yang sabar dan penyayang, aku merasa sangat nyaman. Begitu juga yang Rini rasakan ketika bertemu aku. Tanpa sadar, kami pun sering ber sms dan mulai mengatakan saling menyayangi. Hanya saja, sebuah sms yang salah kirim membongkar semua. Kini Rini bersedia datang menemuiku di kamar kosan tempat kami biasa berduaan.

    Rini yang mencoba memahami situasi ini terlihat sangat sedih. Katanya dia takut kehilangan aku. Oh, betapa tangis wanita selalu bisa melumpuhkan dunia, begitupun aku saat itu. Wanita ini sangat baik, sabar, penyayang, dan memiliki keinginan kuat. Matanya yang sembab membuatku sangat ingin memeluknya, mungkin untuk yang terakhir kali. Akhirnya kuraih tangannya dan meletakkan kepalanya di pundakku. Isak tangisnya pun meledak, tak lagi sanggup dibendung. Entah mengapa aku sangat merasa bersalah, meskipun aku merasa itu salah kami berdua. Semakin erat pelukanku kepadanya, dan kurasakan dia melakukan hal yang sama. Kemudian kuangkat wajahnya, kudekatkan kewajahku, aku tak sanggup menahan bibir untuk bicara, “I Love You, Rini”. Dalam isak tangisnya dia juga berkata, “Love You Too, Ari…”. Sungguh bergetar hatiku saat itu, dan tidak terasa aku mengecup bibirnya perlahan.

    Kulihat untuk sesaat Rini memejamkan matanya, sepertinya dia merasakan getaran perasaan hingga ke hati. Kurasakan jantungku berdetak semakin cepat. Rasa sayang ini menyatu bersama kekecewaan mendorongku untuk memagutnya lebih dalam. Kukulum bibirnya yang ranum dan jarang disentuh laki-laki, dan kurasakan bibirnyapun membalas ciumanku. Sepertinya “pertemuan terakhir” ini menjadi luapan segala emosi yang pernah kita jalani bersama. Pertemuan sembunyi-sembunyi, memasak untukku, makan bareng, ciuman-ciuman kecil, dan menghabiskan malam berdua meskipun hanya memandang bulan. Dan sedikit pelukan tentunya.

    Malam ini Rini terasa seperti kehilangan rem. Lidahku mulai menjelajah liang mulutnya, meraba deretan giginya, dan sesekali dihisapnya. Ketika kutemukan lidahnya, kuelus dengan lidahku dan bertarung dahsyat. Bibir dan kepala kamipun mulai bergerak liar. Pelukan yang tadinya kencang mulai mengendur, karena satu tanganku tidak lagi memeluk. Dia telah berpindah ke depan untuk memegang lembut dadanya. Sebuah reflek yang biasa kulakukan ketika berciuman dengan istriku, tapi ini yang pertama kali kulakukan pada Rini. Awalnya aku kaget dan takut membuat Rini marah, namun anehnya Rini tidak bereaksi apapun kecuali melanjutkan aksi ciuman kami. Karena merasa dia memberikan ijin, tanganku mulai meraba kedua perhiasan yang selama ini dijaganya itu. Payudaranya memang tidak besar, namun menyentuhnya membuat darahku makin memanas.

    Di saat itu sepertinya rem kami berdua makin blong. Kurebahkan Rini yang masih berbusana lengkap plus jilbab di kasurku, supaya aku bisa leluasa menciumnya sambil menjelajahi dua bukit muda yang jarang dijamah itu. Terasa makin lama nafas Rini pun makin memburu, seolah mengisyaratkan kepadaku bahwa dia ingin kumiliki. Ciuman kami dan rabaanku semakin liar hingga jilbabnya mulai berantakan. Karena makin menggangu, maka kulepas saja jilbab itu, namun agak sulit karena banyak peniti disana sini. Jilbab itu akhirnya tanggal setelah dia membantunya. Tampaklah wajah dan rambutnya yang baru pertama ini kulihat. Wajah putihnya yang cantik ditambah rambutnya yang acak-acakan semakin membuatku menjadi bernafsu. Untuk sementara kulupakan rasa bersalahku, kulupakan rasa hormatku, dan kulupakan istriku. Yang ada hanya nafsu yang memuncak.

    Tak tahan lalu kucoba mencari kancing bajunya, dan ingin kulepaskan. Aku menjelajah ke seluruh tubuhnya, namun tak kutemukan. Aku ternyata kurang akrab dengan baju seperti ini. Rini yang mengetahui kebingunganku tersenyum kecil dan membuka resleting baju yang ada di bagian samping, dan membiarkan aku melakukan sisanya. Tanpa lama-lama lagi, kubuka baju itu, dan terpampang sebuah pemandangan yang sangat indah yang seperti baru pertama kali kulihat. Hamparan kulit putih bersih dan tercium wangi yang biasa ditutup sangat rapat sekarang terbuka lebar di hadapanku untuk kunikmati. Kuelus lembut perutnya, dan ternyata sangat sangat halus dan lembut. Payudara yang tersembul tertutupi bra warna hijau adalah puncak keindahan pemandangan itu. Namun aku yakin ada yang lebih indah di dalamnya.

    Cerita Sex I Love You Rini

    Cerita Sex I Love You Rini

    Kulepas paksa bra itu, diiringi rintihan penolakan kecil yang tak berarti dan tidak menghentikan aku untuk melakukannya. Tak perlu usaha keras, bra itupun tak lagi menutupi keindahan itu. Dua buah payudara yang putih dan sangat mulus, berujungkan puting kecil berwarna merah muda yang menegang. Warnanya yang merah muda segar menandakan area ini belum pernah dijamah pria manapun. Sungguh makin tak kuasa aku menahan gejolak ini. Kuremas payudara itu dengan lembut, dan kuhisap putingnya. Gerak lidahku bermain membuat Rini mendesah-desah pendek, sambil menggerak-gerakkan kakinya. Aku tahu dia gelisah, terjadi pertarungan antara ketakutan karena ini adalah pengalaman pertama, sekaligus dorongan nafsu yang sudah di ubun-ubun. Kurasakan tangannya menyentuh bagian belakang kepalaku dan membantunya bergerak. Dia menikmati itu. Pasti.

    Ciumanku kembali ke atas, menjamah leher dan kemudian telinganya. Aku sempat bertanya, “Kenapa mau Rin?”. Sambil menyentuhkan payudaranya ke dadaku yang kini bersentuhan, dia berbisik, “Beginilah kalau wanita sudah cinta, Ari..”. Karena terbawa suasana, tanganku kini menjelajah pangkal pahanya yang masih tertutup rok panjang warna hitam. Untuk sejenak kucari celah kecil dari luar rok, dan kurasakan Rini melonggarkan kakinya dan menikmati itu. Tak lama kuangkat rok itu hingga pinggang, namun masih ada stocking yang menggangguku. Pertahanan wanita ini sungguh berlapis. Maksudnya memang untuk menjaga diri dari godaan lelaki. Apa daya malam ini dia benar-benar takluk padaku. Kulepaskan stockingnya dengan terburu-buru dan kulemparkan entah kemana. Celana dalam sebagai pertahanan terakhirpun segera kutanggalkan. Aku sangat tidak tahan.

    Setelah kupastikan celah itu sudah basah melalui sentuhan jariku, kupindahkan kepalaku menuju vagina nya. Tercium aroma khas yang agak asam dan wangi, dan berbulu tidak terlalu lebat. Wanita ini benar-benar merawat aset pribadi nya. Kucium dan kujilat-jilat pintu vaginanya, membuat Rini mengerang lebih keras. Terdengar rintihannya, “Ariiii, oh, Ariiiii… shhhh…”. Rintihan yang seperti penyemangat ku untuk mengeksplor lebih, kucari klitorisnya, kujilat dan kukulum. Lidahku kumainkan berirama, cepat dan lambat bergantian. Tidak lama, kurasakan pahanya bergetar dan tangannya mencengkeram rambutku sekitar 3 detik, lalu melemas. Sepertinya dia orgasme. Barangkali untuk yang pertama kali sepanjang hidupnya.

    Kuhentikan semua aktifitasku. Kubiarkan dia telentang agak ngangkang dengan mata terpejam dan nafas yang masih memburu. Hanya rok yang tersingkap di pinggang yang tersisa di tubuhnya. Kupandangi sekujur tubuhnya yang putih mulus tanpa cacat. Sungguh sayang badan seperti ini selalu ditutup. Betapa beruntung laki-laki yang memilikinya nanti, pikirku. Namun tiba-tiba aku berpikir, bukankah aku lebih beruntung jika berhasil merasakannya untuk yang pertama kali? Seketika hasratku kembali memuncak. Kulepaskan seluruh pakaianku tanpa sisa. Senjataku yang mengeras tampak tegang menantang. Rini melihat itu tidak terlihat kaget. Mungkin dia pernah melihatnya di bokep atau di tempat lain. Segera kudekatkan ke mulutnya dan dengan sigap Rini mengulum dan menghisapnya.

    Dari caranya memperlakukan itu, sepertinya itu bukan yang pertama. Mungkin calon suaminya pernah memaksa melakukan itu. Atau memang dia sangat berbakat, entahlah. Yang pasti dari bentuk dada dan responnya terhadap rangsanganku, calon suaminya itu seperti tidak berani bertindak jauh dalam menjamah Rini. Ah, sudahlah, tidak perlu memikirkan orang lain. Yang jelas kuluman ini terasa sangat nikmat, pinggangku otomatis mengikuti gerak maju mundur. Sesekali mata Rini melirik mataku dan tersenyum ketika melihat aku keenakan.

    Tak lama kulepaskan senjataku dari mulutnya. Aku rasa inilah saatnya. Segera badanku menindihnya, langsung mengulum bibir Rini dan meremas-remas dadanya. Rini seperti belum siap untuk kembali terangsang, tapi aku tidak peduli. Kulitku telah menyentuh kulit putih mulusnya, dan senjataku bergerak-gerak di depan liang kenikmatan itu. Aku menatap matanya seolah bertanya, dan spontan kepala Rini menggeleng. Namun ketika kupagut lagi bibirnya, gelengannya berhenti, berganti dengan ciuman balasan yang maut, pelukan ke pundak, dan lutut yang kini menekuk. Karena kuanggap dia lengah, maka nekat saja kudorong kepala senjataku memasuki liang vaginanya. Keningnya mengrenyit, ciumannya berhenti, dan kembali menggeleng. Namun badannya tidak bereaksi apapun. Maka kudorong lagi pinggangku lebih dalam. Rini terpejam dan memalingkan mukanya. Tangannya yang masih melingkar di pundakku terasa menegang. Tak tahan lagi, maka kucoba masukkan lebih dalam. Dan, blessssssss… separuh senjataku pun masuk diiringi lenguhan tertahan dari Rini.

    Kurasakan senjataku mentok tertahan tidak bisa masuk lagi, maka kugoyangkan saja separuh yang di dalam itu. Aku merasa sangat sangat nikmat. Kehangatan vagina wanita yang disetubuhi pertama kali memang tak tergantikan. Tak ada lagi bentuk penolakan apapun dari Rini. Dia hanya terpejam dan keningnya mengrenyit. Maka kupagut lagi lehernya, kutinggalkan cupang kecil untuk kenang-kenangan. Ketika pinggang Rini mulai ikut bergerak, kucabut lagi senjataku dari liangnya, lalu kumasukkan kembali perlahan-lahan. Masuk-keluar ini berlangsung beberapa kali hingga secara refleks tiba-tiba pinggangku menghentak dan mendorong lebih dalam. Bleessssssss!!!!!

    “Aaaaahhhhh…..” Rini kini memekik. “Aaaarrriiiii…”. Senjataku sudah ada di dalam sepenuhnya. Rini lalu melingkarkan kakinya di pinggangku. Entah apa yang ada di pikirannya kini. Yang jelas posisi ini membuatku leluasa untuk memaju mundurkan pinggangku. Vagina nya yang basah dan hangat benar-benar nikmat dan membuatku terbang. Seorang wanita berjilbab yang biasa menutupi tubuhnya dengan pertahanan berlapis sedang berada di bawahku, kutindih, kusetubuhi, kunikmati, dan kutusuk vagina nya dengan senjata ampuhku hingga membuatnya keenakan. Kugerakkan pinggangku tanpa ampun. Senjataku pun keluar-masuk dengan sangat bebas dan berirama. Kadang cepat dan kadang lambat. Rini benar-benar terbawa suasana dan menikmati permainan ini.

    Kulihat sekarang Rini mulai on fire. Nafasnya yang memburu, wajahnya yang memerah, dan pinggulnya yang ikut bergerak menandakan dia sedang bergerak menuju titik nikmat itu. Kuhentikan gerakanku, kusuruh dia pindah ke atas. WOT. Sebuah posisi yang agak aneh untuk wanita berjilbab, namun aku yakin itu akan membuatnya bahagia. Meskipun agak ragu, Rini menuruti juga. Aku yang telentang dengan senjata mengacung tegak menunjuk langit segera didudukinya. Dengan senjataku ada di dalam vaginanya, Rini bergerak bergoyang mencari iramanya sendiri. Tanganku membantunya dengan meremas dua bukit nikmatnya dan meremas pantatnya yang sangat kenyal dan padat, sambil sesekali meraih kepalanya untuk melumat bibirnya. Setelah beberapa menit bergoyang, Rini tiba-tiba bergerak tak beraturan sambil mengerang tak jelas. Tangannya menggenggam lenganku dengan kuat. Gerakan ini berlangsung sekitar 10 detik. Rini orgasme. Lagi.

    Ketika Rini sudah lemas, kini giliranku untuk menghabisinya. Kubiarkan dia telentang ngangkang tanpa tenaga, dan ku eksplorasi liang vaginanya dengan senjataku yang sudah tegang sejak awal permainan tadi. Dengan wajah sayu dan mata terpejam, Rini menerima begitu saja sodokan-sodokanku di vaginanya. Sambil merem keluar beberapa suara dari mulutnya. “Hmmmpfh..”, “Ariiii…”, “Sayaaaangh…”, “Eeemmmhhh…”, “Ssssh…”. Aku merasakan nikmat tiada tara yang makin lama makin memuncak. Gerakan pinggangku makin lama makin cepat, dan senjataku terasa makin peka. Kupercepat saja goyangan itu karena sodokan itu makin enak, dan rupanya Rini menyambutnya dengan kembali melingkarkan tangan di pundak serta kakinya di pinggangku. Spontan kusambut dengan pelukan juga, dengan dadaku menyentuh payudaranya yang lembut.

    Setelah beberapa detik goyanganku mencapai titik tercepat, aku berhenti. “Riniii… oooooh… Ouch, Ergh, ssssh.. Akkkkuuuuu keellluaaaaar…”. Semburan sperma tak sanggup kutahan terlepas ke dalam rahim Rini. Aku tak ingat apapun termasuk kemungkinan Rini hamil. Aku benar-benar larut dalam kenikmatan. Spermaku keluar hingga tujuh kali. Setiap kali sperma keluar, Rini sedikit melenguh sambil menolehkan kepala ke sisi yang lain. Di semprotan ke empat terasa pelukan Rini kembali menguat dengan kepalanya bergerak tak teratur dan erangan tipis. Tampaknya Rini orgasme untuk yang ketiga kali, namun kali ini tidak terlalu kuat. Setelah semua spermaku kurasakan keluar, akupun terjatuh lemas di sebelah Rini. Kasur kosku yang tidak luas sangat pas untuk tubuh telanjang kami berdua. Sungguh kenikmatan luar biasa yang kurasakan saat itu. Terlebih lagi karena mampu membuat Rini bahagia.

    Beberapa menit setelah kami mulai bisa mengumpulkan kewarasan, Rini kembali terisak. Kali ini tidak ditahannya. Dibiarkan air mata itu mengalir di pipinya. Aku tahu dia menyesal, aku tahu dia marah, aku tahu dia kecewa, namun aku tahu bahwa ini adalah luapan cinta kami yang sangat indah meskipun salah arah. Selamat tinggal Rini, kenanglah aku selalu. Kutunggu kabar darimu, dan tak sabar aku melihat seperti apa wajah anakmu kelak.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Puspa Adalah Sepupuku

    Cerita Sex Puspa Adalah Sepupuku


    1437 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Puspa Adalah Sepupuku ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Biasa orang memanggilku Boy jujur saja dalam soal percintaan aku masih lugu belum tau apa apa padahal umurku yang sekarng sudah 26 tahun, beda dengan orang orang zaman sekarang yang semua cepat tanggap apalagi soal sex , sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan di bidang jasa, aku tinggal bersama Om saya dia adalah kepala sekolah SMK di kota kami.

    Cerita Dewasa Puspa Adalah Sepupuku
    cerita sex ngentot, cerita ngentot terbaru, cerita orang ngentot, kumpulan cerita ngentot, ngentot cerita, cerita hot ngentot, cerita nyata ngentot, koleksi cerita ngentot, cerita ngentot baru, kumpulan cerita ngentot terbaru

    Kedua anaknya tinggal kost di kota lain karena mereka tidak mau kuliah di kota kami. Sejak kedua anaknya kuliah dan tinggal di kota lain, om dan tante saya hanya tinggal bertiga dengan seorang pembantu.

    Sekitar dua bulan kemudian Om Rudy mengajak saya agar saya tinggal bersama mereka, dengan alasan daripada saya harus kost di luar, lebih baik saya tinggal di rumah om saya saja karena di rumahnya ada kamar yang kosong, kata om Rudy memberi alasan.

    Sebulan kemudian, tante Rini membawa keponakannya ke rumah. Nama keponakan tante Rini adalah Puspa, usianya 15 tahun, ia sudah duduk di kelas dua SMKK Negeri. Puspa adalah seorang gadis yang cantik, cerdas, rajin dan baik hati pada semua orang. Suatu ketika, om Rudy dan tante Rini pergi menghadiri acara perpisahan siswa kelas II di sekolah tempat om mengajar.

    Ia sempat mengajak saya, namun saya menolak dengan alasan saya agak lelah, lalu tante Rini mengajak Puspa, namun Puspa juga menolak dengan alasan Puspa lagi ada tugas dari sekolah yang harus diselesaikan malam itu juga karena besok tugas itu sudah harus dikumpulkan.

    Sebelum om dan tante meninggalkan rumah, mereka tidak lupa berpesan agar kami berdua berhati-hati, karena sekarang banyak maling yang pura-pura datang sebagai tamu, namun ternyata sang tamu tiba-tiba merampok setelah melihat situasi yang memungkinkan. Setelah selesai berpesan, om dan tante pun pergi sambil menyuruh saya menutup pintu.

    Sejak kepergian om dan tante, rumah jadi hening, kini hanya ada suara TV, namun sengaja saya kecilkan volumenya karena Puspa sedang belajar. Saya hanya duduk di ruang depan menonton sebuah sinetron yang ditayangkan salah satu stasiun TV swasta.

    Saya sempat menyaksikan adegan panas seorang lelaki paruh baya yang sedang asyik berselingkuh dengan seorang gadis yang ternyata teman sekantornya sendiri. Karena terlalu asyiknya saya nonton TV, sehinggak saya sangat kaget ketika sebuah tangan menepuk pundak saya.

    Setelah saya lihat ternyata Puspa, ia tersenyum manis sambil menarik lenganku dengan manja menuju kamarnya. Saya jadi deg-degan setelah melihat penampilannya, ternyata ia hanya mengenakan celana pendek ketat warna coklat muda dengan kaos orangenya yang super ketat, sehinggak lekuk-lekuk tubuhnya tampak begitu jelas.

    Sejenak saya terpana melihat tubuhnya yang nyaris sempurna. Saya amati pinggangnya bagai gitar spanyol dengan paha yang kencang, mulus, dan bersih. Selain itu juga tampak buah dadanya sangat menantang.

    Sepertinya ukuran BH-nya 34B. Pemandangan itu sempat mengundang pikiran jahat saya. Bagaimana rasanya kalau saya menikmati tubuhnya yang nyaris sempurna itu. Namun saya berusaha menyingkirkan pikiran itu karena saya pikir bahwa dia adalah sepupu ipar saya, tinggal serumah dengan saya dan saya pun menganggapnya sudah seperti adik kandung saya sendiri.

    “Ada apa sih? Kok kamu mengajak saya masuk ke kamar kamu?” kataku agak bingung sambil berusaha melepaskan tangan saya.

    Sebenarnya bukan karena saya menolak tetapi hanya karena grogi saja. Maklum saya belum pernah masuk ke kamar Puspa sebelumnya.

    “Kak, Puspa mau minta tolong nih!” katanya sambil menatapku manja.

    “Kakak mau nggak membantu saya menyelesaikan tugas ini, soalnya besok sudah harus dikumpul.” kata dia setengah merengek.

    “Oh, maksudnya kamu mau minta tolong agar saya membantu kamu mengerjakan tugas itu? Okelah. Saya akan membantumu dengan senang hati, saya kan sudah berjanji untuk selalu menolongmu.” kataku mantap.

    “Asyik, makasih ya kak.” kata Puspa sambil menciumku.

    Kontan saya merasa tersengat aliran listrik karena meskipun umur sudah 25 tahun, saya belum pernah mendapat ciuman seperti itu dari seorang gadis, apalagi ciuman itu datangnya dari gadis secantik Puspa.

    Saya pun segera membantunya sambil sesekali mencuri padang padanya, namun sepertinya ia tidak menyadari kalau saya memperhatikanya. Setelah kami mengerjakan tugas itu sekitar 30 menit, tiba-tiba Puspa berhenti mengerjakan tugas itu. Ia mengeluh sambil memegangi keningnya.

    “Kak, Puspa pusing nih, boleh nggak kakak pijitin kepala Puspa?” katanya sambil merapatkan badannya ke dada saya.

    Sempat saya merasakan gesekan dari payudaranya yang cukup kencang namun terasa lembut.

    “Emang kenapa kok Puspa tiba-tiba pusing?” tanya saya agak heran.

    “Ayo kak, tolong pijatin dong, kepala Puspa pening!”

    “Oke, dengan senang hati lagi.” kataku penuh antusias.

    Saya lalu mulai menekan-nekan keningnya dengan tangan kiri saya dan tangan kanan. Saya menahan lehernya agar badannya tidak bergoyang. Sesekali saya juga mengelus pundaknya yang putih bersih.

    “Kak, belakang leher Puspa juga kak, soalnya leher Puspa agak kaku nih.” katanya sambil menuntun tangan saya pada lehernya. Setelah saya memijatnya sekitar lima menit, ia lalu berdiri sambil menarik tangan saya.

    “Kak, Puspa baring di ranjang aja ya? Biar pijitnya gampang.”

    “Terserah Puspa ajalah.” kata saya sambil mengikutinya dari belakang.

    Lagi-lagi saya terkesima melihat pinggulnya yang sungguh aduhai. Ia lalu berbaring telungkup di atas ranjang sambil menyuruh saya memijat leher dan punggungnya.

    Sesekali saya melihat dia menggerakkan tubuhnya, entah karena sakit atau karena geli. Saya tidak tahu pasti, yang jelas saya juga sangat senang memijat punggungnya yang sangat seksi. Entah karena gerah atau bagaimana, tiba-tiba saja ia bangun.

    “Kak, Puspa buka baju saja ya? Sekalian pakai balsem biar cepat sembuh.”

    “Mungkin Puspa masuk angin.” katanya sambil melepaskan kaosnya, lalu kembali berbaring di depan saya.

    Saya terkesima melihat kulit tubuhnya yang kuning langsat. Dalam hati saya berpikir alangkah bahagianya saya kalau kelak mempunyai istri secantik Puspa. Saya terus memijatnya dengan lembut. Sesekali saya memutar-mutar jari-jari saya di tepi rusuknya.

    Setiap saya meraba sisi rusuknya, ia kontan menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Kadang juga pinggulnya ditarik.

    Maklum, ia belum terbiasa disentuh laki-laki. Saya juga sudah mulai merasakan penis saya mulai bergerak-gerak dan kini sudah semakin tegang. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah saya.

    “Kak, Puspa buka aja BH-nya ya kak? Soalnya gerah nih.” “Terserah Puspa lah.” kata saya.

    Kini kami saling berhadap-hadapan, ia berbaring menatap ke arah pandangan saya dan saya berlutut di samping kanannya. Dia hanya tersenyum manja, saya pun membalas senyumanya, nafas saya sudah mulai tidak menentu.

    Sepertinya nafas Puspa juga sudah mulai tidak terkendali, saya melihat bukitnya yang nampak berdiri kokoh dengan pucuk warna merah jambu kini sudah mulai turun naik. Saya sempat grogi dibuatnya, bagaimana tidak, selama ini saya belum pernah melihat pemandangan seindah ini.

    Di depan saya kini tergeletak seorang gadis yang tubuhnya begitu memabukkan dengan desahan nafas yang membuat batang kejantanan saya sudah berdenyut-denyut. Seakan-akan penis saya mau lompat menerjang tubuh Puspa yang terbaring mengeliat-geliat, sungguh darah muda saya mulai berdesir kencang. Kini saya mulai merasakan detak jantung saya sudah tidak beraturan lagi.

    “Kenapa kak?” katanya sambil tersenyum manja.

    “Nggak, nggak papa kok.” kata saya agak grogi.

    “Sudahlah, ayo Kak pijatnya yang agak keras dikit.”

    “Iya, iya” jawab saya.

    Saya lalu mulai mengelus-elus perutnya yang putih bersih itu, tanpa sengaja saya menyenggol gundukan di dadanya.

    “Ahh..” katanya sambil menggeliatkan tubuhnya. Saya dengan cepat memindahkan tangan, tetapi ia kembali menariknya

    “Tidak apa-apa kak, terusin saja.” katanya.

    Wa, benar-benar malam ini adalah malam yang sangat menyenangkan bagi saya karena tidak pernah terlintas di dalam pikiran saya akan mendapat kesempatan seperti ini. Kesempatan untuk mengelus-elus tubuh Puspa yang sangat merangsang.

    “Saya tidak boleh melewatkan kesempatan sebaik ini,” kata saya dalam hati.

    Kini Puspa semakin merasakan sentuhan jari-jari saya, saya melihat dari desahan nafasnya dan dari tubuhnya yang sudah mulai hangat. Entah setan apa yang membuat Puspa lupa diri, dia tiba-tiba menarik wajah saya, lalu mengusapnya dengan jari-jarinya yang lembut dan mulai mencium dan menggigit bibir saya.

    Saya hanya pasrah dan terus terang saya juga sebenarnya sangat menginginkanya, namun selama ini saya pendam saja karena saya menghargainya dan menganggapnya sebagai adik sendiri.

    Tetapi saat ini pikiran itu telah sirna dari kepala saya yang dialiri oleh gelora darah muda saya yang menggelora. Ia terus mencium saya dan kini ia melepaskan kaos yang saya pakai lalu membuangnya di samping ranjang.

    “Puspa, ada apa ini?” tanya saya setengah tidak percaya dengan apa yang sedang ia lakukan.

    Tetapi ia tidak memperdulikan kata-kata saya lagi. Melihat gelagat Puspa yang sudah di luar batas kendali itu, saya pun tidak mau tinggal diam.

    Saya mulai membalas ciumannya, melumat bibirnya dan menghisap lehernya yang putih bersih. Saya merasakan penis saya semakin keras dan berdenyut-denyut.

    Puspa terus mencium bibir saya dengan nafas tersengal-sengal. Saya pun tidak mau kalah, saya mulai meremas-remas payudaranya yang masih kencang dan menantang. Kini saya muli mengisap pucuknya.

    “Achh..” ia menggeliat.

    Saya melihat Puspa semakin menikmati perbuatannya. Sesekali ia menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan sambil mendesah nikmat. Puspa melihat penis sudah mendongkrak celana pendek saya, ia lalu menyelipkan tangannya ke dalam CD saya dan ia kini sudah menggenggam penis saya yang berdiri tegak dengan otot-otot yang berwarna kebiruan.

    Ia lalu menarik celana pendek dan CD saya dan kemudian melemparkannya ke lantai. Ia kembali menangkap penis saya dan mengocoknya dengan jari-jarinya yang lembut.

    “Aachh.. achh..” benar-benar nikmat rasanya. Saya merasakan penis saya semakin tegang dan semakin panjang. Ia terus mempermainkan milik saya yang sudah berdenyut-denyut dan mulai mengeluarkan cairan bening.

    Saya pun tidak mau ketinggalan. Saya lalu menyelipkan jari-jari saya ke selangkangannya. Saya merasakan lubang kemaluannya sudah hangat dan sudah sangat basah dengan cairan warna bening mengkilat.

    Rupanya ia sudah benar-benar sangat terangsang dengan permainan kami. Dengan nafas yang tersengal-sengal, saya lalu melorotkan celana Puspa lalu meremas-remas pahanya yang putih mulus dan masih kencang.

    Saya tidak sanggup lagi menahan nafsu saya yang sudah naik ke ubun-ubun saya. Dengan sekali tarik, saya berhasil melepaskan CD-nya Puspa. Kini ia benar-benar bugil.

    Saya sejenak terpana menyaksikan tubuhnya yang kini tanpa sehelai benang, dengan kulit kuning langsat, halus, bersih dan bentuk badan yang sangat seksi sungguh nyaris sempurna. Saya benar-benar tidak tahan melihat vaginanya yang ditumbuhi rambut tipis dan halus dengan bentuknya yang mungil berwarna coklat agak kemerah-merahan.

    Kembali penis saya berdenyut-denyut, seakan meronta-ronta ingin menerjang lubang nikmat Puspa yang masih terkatup rapat. Saya sangat gemas melihat liang kemaluannya dan kini saya mulai mengusap-usap bibirnya dan meremas klitorisnya.

    Lubang nikmat Puspa sudah sangat basah. Saya melihat Puspa semakin terlelap dalam nafsunya. Ia hanya mengerang nikmat.

    “Achh.. achh.. ohh.. ohh..” Saya terus menjilat klitorisnya. Ia hanya mendesah,

    “Achh.. achh..” sambil menarik-narik pinggulnya.

    “Kak, ayo masukin kak!” sambil menarik penis saya menuju bibir kemaluannya.

    “Oke sayang,” lalu saya membuka kakinya.

    Kemudian saya melipat kakinya dan menyuruhnya supaya ia membuka pahanya agak lebar. Saya lalu menarik pantat saya dan merapatkan pada selangkangannya. Ia dengan cekatan meraih batang kemaluan saya lalu menempelkannya di bibir kemaluannya yang masih sangat rapat namun sudah basah dengan cairan lendirnya.

    “Pelan-pelan ya kak, Puspa belum biasa.”

    “Iya sayang,” kata saya sambil mengecup bibirnya yang merekah basah. Saya kemudian mendorongnya pelan-pelan.

    “Achh.. sakit kak.”

    “Tahan sayang.”

    Saya lalu kembali mendorongnya pelan-pelan dan kini batang saya sudah bisa masuk setengahnya. Puspa hanya menggeliat dan menggigit bibirnya. Saya terus mendorongnya sambil memeluk tubuhnya. Sesekali saya menyentaknya agak keras.

    “Achhkk.. sakit kak, pelan-pelan donk!” memang vaginanya masih sangat rapat, maklum ia masih perawan.

    “Tahan ya sayang,” saya mencoba menenangkannya sambil memegang pinggulnya erat-erat.

    “Akk..” Puspa meringis keras. Ia memukul dada saya dengan keras sambil menarik pantatnya.

    “Sakit kak, sakitt..”

    Saya merasakan batang kejantanan saya menembus sesuatu yang kenyal dalam lubang kenikmatan Puspa. Rupanya batang saya telah berhasil menembus selaput daranya. Dari liang sorga Puspa tampak mengalir darah segar.

    Saya terus menggoyang-goyangkan pinggul maju mundur sambil menciumi bibirnya dan meremas-remas gunungnya yang sangat menantang itu. Sesekali saya melihat dia merapatkan kedua pahanya sambil mengigit bibirnya.

    Benar-benar milik Puspa sungguh nikmat, saya merasakan vaginanya semakin basah dan licin, namun tetap saya merasakan kejantanan saya terjepit dan kadang seperti dihisap oleh vaginanya Puspa. Kini saya merasakan batang kemaluan saya sudah berdenyut-denyut sepertinya ingin memuntahkan sesuatu, namun saya tetap menahannya dengan mengurangi irama permainan saya.

    “Terus kak, terus..” ia menggeliat.

    Saya melihat kedua kakinya mengejang. Gerakan saya kembali saya pacu, membuat payudaranya agak bergoyang dan sepertinya semakin membesar berwarna kemerah-merahan.

    “Achh.. achh.. Kak cepat kak, cepat kak.” sambil menggeliat.

    Ia merapatkan pahanya. Dia mulai menggerak-gerakkan tangannya mencari pegangan. Akhirnya ia memelukku dengan erat dan mengangkat kedua kakinya. Sambil menggigit bibirnya, ia memejamkan matanya.

    Saya merasakan kalau kini badannya sudah kaku dan hangat. Akhirnya Puspa memelukku erat-erat dan mengangkat pantatnya sambil berteriak.

    “Achhkk..” Saya merasakan badannya bergetar dan sepertinya ada sesuatu yang hangat menyentuh batang kejantanan saya, rupanya Puspa sudah orgasme.

    Saya semakin tidak kuat menahan denyutan dari buah kejantanan saya, akibat kenikmatan yang diberikan Puspa sangat luar biasa, batang saya semakin berdenyut-denyut dan kini saya benar-benar tidak sanggup lagi menahannya.

    Lalu saya mempercepat gerakan saya dan mendorong penis saya lebih dalam lagi sambil menarik tubuh Puspa dengan erat ke dalam pelukan saya.

    Saya merasakan kenikmatan yang sangat dahsyat itu. Kini semuanya mengaliri dan menggetarkan seluruh tubuh saya mulai dari ubun-ubun sampai ujung kaki saya.

    Akhirnya, “Srett.. srett.. srett..” Kejantanan saya mengeluarkan cairan hangat dalam lubang kemaluan Puspa.

    Saya sempat bingung dan takut karena telah menikmati tubuh Puspa secara tidak sah. Namun rasa nikmat itu lebih dahsyat sehingga pikiran itu segera sirna. Saya hanya tersenyum lalu mengecup bibir Puspa dan mengucapkan terima kasih pada Puspa.

    Tampak tubuh Puspa basah dengan keringatnya tetapi terlihat wajahnya berseri-seri karena puas. Puspa hanya merapatkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Ketika saya mencabut batang kejantanan saya dari vaginanya ia hanya tersenyum saja.

    Astaga, saya melihat di sprey Puspa terdapat bercak darah. Tetapi segera Puspa bangun dan menenangkan saya.

    “Tenang mas, nanti saya cuci, tak akan ada yang mengetahuinya.”

    katanya sambil meletakkan jarinya di kedua bibir saya. Kami berdua lalu menuju ke kamar mandi. Di situ kami masih sempat melakukannya sekali lagi, lalu akhirnya kami kembali mandi dan kembali ke kamarnya Puspa.

    Setelah saya mengambil baju dan celana, saya pun menuju ruang tamu. Tidak lama kemudian keluarlah Puspa dari kamarnya lalu mengajak saya makan malam berdua. Katanya, ia sengaja duluan makan karena tidak ingin bertemu dengan om dan tante malam ini.

    Mungkin Puspa malu dan takut kalau perbuatan kami ketahuan. Setelah makan, ia kembali ke kamarnya. Entah ia tidur atau belajar, saya tidak tahu pasti.

    Tidak lama kemudian, om dan tante datang. Mereka menceritakan keadaan pesta itu yang katanya cukup ramai dibanding tahun lalu karena tahun ini siswanya lulus 100 persen dengan nilai tertinggi di kota kami.

    Om menanyakan Puspa, tetapi saya katakan mungkin ia sudah tidur sebab tadi setelah makan ia sempat mengatakan kepada saya bahwa ia agak lelah. Om hanya mengangguk lalu menuju kamarnya, katanya ia juga sudah makan dan kini ia pun ingin istirahat.

    Saya tersenyum puas dan kembali menonton sebentar, lalu masuk kamar saya. Di dalam kamar, saya tidak bisa tidur membayangkan kejadian yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu. Malam ini saya sangat senang karena telah merasakan sesuatu yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya dan pengalaman yang sangat manis ini tentu tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Ngentot Ketika PKL Di Hotel

    Cerita Sex Ngentot Ketika PKL Di Hotel


    9110 views

    Perawanku – Cerita Sex Terbaru – Kisah ini berawal dari tahun 2016, saat itu gw masih berusia 19 tahun, sedang melakukan praktek kerja lapangan di salah satu hotel di Bandung.

    Oia …. nama gw indra. PKLnya oleh personalia hotel, gw ditempatkan di bagian front office sebagai receptionist. Salah satu karyawati (receptionist supervisor) namanya Yanti, tapi semua orang memanggilnya Teteh.

    Usianya saat itu 28 tahun, sudah menikah tapi belum dikaruniai seorang anakpun. Wajah teteh tidak terlalu cantik, tetapi good looking (seperti kebanyakan typikal seorang wanita priangan).Ukuran dadanya sedang tapi padat, tetapi pinggulnya penuh (body gitar kalee).

    Yang paling gw suka dari teteh adalah tidak seperti kebanyakan cewek pada umumnya yang senang bergosip ria, teteh tidak banyak bicara. Jika berbicara tutur katanya sangat halus, pelan namun sangat tegas, dan sangat dihormati oleh bawahannya. Jika selesai bertugas (lepas uniform) pakaiannya pun sopan dan tertutup, selalu memakai celana panjang. Dan dibalik kemeja atau baju atasannya selalu dilapisi kaos dalam sehingga makin menyembunyikan BHnya. Agen Obat Kuat Pasutri

    Selama gw PKL, teteh sangat banyak membantu. Jika dalam satu shift hanya kita berdua, gw terang-terangan bicara sama teteh kalo gw suka sama teteh. Dan teteh hanya tersenyum “Gak boleh … teteh sudah ada yang punya” tegasnya.

    “Teh … kalo putus sama si Akang, hubungi aku yah” gw selalu menggoda. Dan teteh hanya tersenyum.

    Dua bulan kemudian teteh di mutasikan ke Sales Markering Dept. bersamaan dengan selesainya PKL gw. Dua minggu seterusnya, setelah meng-collect data-data atau bahan-bahan untuk makalah di kampus, gw pamit sama teteh.

    Cerita Sex Ngentot Ketika PKL Di Hotel

    Cerita Sex Ngentot Ketika PKL Di Hotel

    “Teh … aku mau pamit, terima kasih buat bimbingannya selama aku praktek disini yah … dan maafin kalo selama ini aku sering menggoda teteh” kata gw diplomatis.

    “Gak papa ndra … teteh senang bisa bantu kamu. Kapan pulang ke Jakarta ?”

    “Besok” sahutku.

    “Bareng aja sama teteh. Besok teteh dinas ke Jakarta, dapat tugas untuk sales call selama 3 hari di Jakarta … naik mobil kantor”

    Besoknya gw pulang ke Jakarta ikut sama teteh, naik mobil espass. Gw di depan sama sopir, teteh sendirian di belakang. Selama di perjalanan kami ngobrol, setiap kali gw nengok ke belakang (saat ngobrol) yang terlihat adalah kaki teteh yang putih mulus dengan betis yg sangat ranum (slurupp). Terkadang jika dia merubah posisi duduknya, terlihat paha mulusnya (duh … kecian neeh adik gw, mencuat/melengkung di sangkarnya).

    Singkat kata kami tiba di hotel pukul 16.00 (saat itu perjalanan Bdg-Jkt memakan waktu kl 4 jam).

    “Teh … bolehkan aku antar sampai teteh c/i di kamar”

    Teteh hanya tersenyum. Udara Jakarta yang panas, ditambah AC mobil yang tidak maksimal, membuat badan teteh dibanjiri keringat. Gw kasihan melihatnya, dan saat itu dalam lift (walaupun berAC) teteh sibuk melap keringat di wajahnya dan leher memakai tissue …. Ya ampun, itulah pemandangan terindah yang pernah gw lihat … badan gw menggigil, napas gw sesak, napsu gw naik … tapi apa daya. (sementara adik gw masih menggeliat-geliat dalam sangkarnya, minta belaian kalee yak ?).

    Setelah semua lagguagenya teteh sudah gw taro di lemari, gw langsung pamit.

    “Teh … aku pulang dulu yah (sambil cipika cipiki), minta kenang-kenangan dong” candaku.

    “Nih … satu kecupan di kening” kata teteh sambil kecup kening gw. Sekali lagi badan gw menggigil, bau badan khas wanita, membuat libidoku naik. Dan tanpa basa basi kucium bibirnya. Teteh melonjak kaget, dan meronta-ronta.

    “Jangan .. ndra …jangan” gumam teteh tidak berdaya. Punggungnya nempel ke dinding dekat pintu keluar. Teteh yang badannya kecil berusaha melepaskan diri dengan meronta-ronta. Mulut gw melakukan sedotan-sedotan liar dari bibir beralih ke leher dan kemudian ke lubang telinganya. Badan teteh menggerinjal hebat. Kemudian bibir gw kembali menutup bibirnya ….. perlawanan teteh mulai melonggar. Degup jantungnya sampai terdengar tidak beraturan. Bibirnya terbuka perlahan dan tangannya melingkar ke leher gw. Desahan nafas teteh mulai memburu. Tangan gw mulai berani memeras bukit kembarnya dibalik blousenya (belakangan baru tahu ternyata teteh memakai t-shirt u can see di dalam blousenya). teteh sudah mulai pasrah dan mulai mengimbangi sedotan bibir gw, lidahnya mulai menari-nari dan bertautan dengan lidah gw. Punggung teteh masih menempel di dinding, kedua tangannya gw angkat ke atas kepalanya. Tampak bulu-bulu halus di bawah ketiaknya, tidak lebat … dan bau khas wanita yang agak soft menyeruak hidung gw … saat membaui ketiak teteh.

    Teteh makin menggerinjal dan dengan pasrah membiarkan gw melucuti semua baju atasannya. BH nya yg warna hitam sengaja tidak gw lepas, Libido gw makin menjadi-jadi kala melihat BH hitamnya teteh. Adik gw yg daritadi berdenyut-denyut makin mengeras ketika sebuah tangan halus mulai membelai-belainya. Tanpa gw sadari teteh sudah berhasil membuka celana berikut hings yg gw pakai. Adik gw bersorak kegirangan manakala tangan halus teteh bermain-main, kadang memijatnya, kadang mengocoknya, bahkan biji-biji gw pun tidak lepas dari permainan tangan teteh.

    Teteh mulai agresif … bertolak belakang dengan kesehariannya yang tenang dan kalem. Badan gw sudah telanjang bulat, demikian pula dengan roknya teteh sudah terbang entah kemana. CD teteh pun berwarna hitam ukuran midi tampak menonjol ditengah-tengahnya. Gw sengaja minta sama teteh agar CD dan BH nya jangan dulu dibuka. Puting teteh yang agak coklat tidak lepas dari sedotan bibir gw, demikian pula bukitnya tidak pernah lepas dari remasan tangan gw, bergantian dengan sedotan bibir teteh ke puting gw.

    “Ndra … pegangin punya teteh …. ohh .. ahh” erang teteh sambil membawa tangan gw ke pangkal pahanya. CDnya sudah mulai basah …. tangan gw mulai menyeruak ke dalam rambut halus teteh, sementara tangan yg satunya bermain-main di pantatnya teteh. Bibir gw mulai menelusuri belakang telinganya. Bibir teteh mulai menjilati leher gw kadang-kadang niup telenga gw.

    “Pindah yu .. ndra ke sofa” teteh menuntun gw menuju sofa. Teteh menyuruhku duduk, dan teteh duduk dipakuan gw menghadap gw. BHnya mulai gw lepas … bukitnya yg padat ranum masih gw remas dan yang satunya gw sedot putingnya. ” ooohh … ndra …. geli … ndra”

    “OOh …. teh … masukin yah …teh” kemudian teteh berdiri sebentar, gw membuka CDnya. Setelah lepas CDnya gw cium …. bau khasnya makin menaikan libido gw. Bulu-bulu halus teteh tampak tidak beraturan di pangkal pahanya berkat tangan gw yg mengacak-ackanya. Teteh menjerit kegelian “ohh … ohhh .. ahhh, masukin aja ndra, teteh udah gak tahan” erangnya.

    Berkali-kali gw coba memasukan adik gw, tetapi selalu meleset … dan gagal terus. Teteh yg sudah gak sabar akhirnya membimbing adik gw untuk memasuki tubuhnya. Bleeessss … ohh akhirnya. Seumur hidup belum pernah terbayangkan nikmatnya burung gw masuk kedalam memeknya teteh. Teteh menjerit …. dan mulai menggerakan pantatnya … kadang naik turun, terkadang melingkar-lingkar. Gesekan demi gesekan membawa kami melayang layang jauh. 10 menit telah berlalu ….

    Teteh menarik pantatnya dan menarik gw ke tempat tidur. Tubuh teteh terlentang, kedua kakinya dibuka lebar.

    “Ayo … ndra … ayo masukin … cepat”

    Gw mulai memasuki tubuhnya …. mulut kami berpagutan dan lidah kami saling membelai. Pinggul gw mulai naik turun dengan cepatnya mengimbangi putaran pantatnya teteh … sehingga terdengar bunyi ciprakan, akibat kocokan batang gw pada kemaluan teteh. Gerakan teteh mulai liar, kedua kakinya dilingkarkan ke pinggang gw.

    “ooohh… ndra …. sssshh ….ohhh …. awww” teteh makin meracau sambil menggigit bibir bawahnya.

    Sambil terus meremas dan kadang-kadang menggigit putingnya … gerakan gw pun terbawa liar.

    “ndra …. kocok teruzzzz ndra …. teteh mau keluar”

    Gw makin mempercepat tempo dan agak kasar. Masih terdengar erang kenikmatan dari mulut teteh.

    “ohhh … ooohh …. ndra ….yang keras …ndra”

    Kemudian kurasakan sensasi yang luar biasa, sepertinya kami akan mencapai bersama-sama, dan Ooooh…. CRett .. crett ….cret …. seperma gw muncrat didalam kemaluannya teteh. Bersamaan dengan terdengarnya jeritan kenikmatan dari mulut teteh “Ndraaaa …. ooh … ohhhh”.

    Sejak saat itu, gw gak pernah lagi bertemu dengan teteh, bahkan komunikasi via telponpun gak pernah. Jika ditelpon ke kantornya … selalu menghindar. Berbagai maca pesan pun tidak pernah dibalasnya. Akhirnya gw nyerah dan berusaha untuk melupakan teteh.

    Tujuh tahun kemudian, tanpa diduga gw bertemu teteh dalam suatu seminar di Jakarta. Rupanya teteh sudah lama tidak bekerja di hotel. Teteh masih seperti yang kukenal 7 tahun yang lalu. Teteh yang kalem dan tidak banyak bicara. Teteh yang tidak pernah meninggalkan senyum khasnya.

    “apa khabar ndra ? Berapa tahun yah kita tidak bertemu ?”

    “Teteh sendiri bagaiman khabarnya ?” gw malah balik bertanya.

    Iiihh… gemes banget deh (dalam hati gw). Adik gw bisa mencium bau yg pernah dikenalnya, karena seketika itu juga langsung bangun.

    Disela-sela coffee break dan lunch, kami banyak menghabiskan waktu dg obrolan-obrolan yang ringan, sambil menanyakan kegiatan masing-masing, tanpa menyinggung kejadian di kamar hotel itu.

    Seminar hanya satu hari, tapi karena selesai pukul 19.00, teteh menginap di hotel yg sama dg tempat seminar. Katanya gak mungkin kalo pulang ke Bandung malam itu juga. “Ndra … besok antar teteh ke gambir yah …” Gw mengangguk dan berharap lebih dari sekedar mengantar.

    “Teh … selesai seminar, kita jalan-jalan yuk !!” timpalku.

    “Nggak ah .. teteh mau istirahat aja di kamar” katanya.

    Selesai seminar, gw memaksa untuk mengantar teteh ke kamarnya. Teteh menolak keras. Tapi setelah di desak dan berjanji tidak akan macam-macam, akhirnya teteh mau.

    Para peserta seminar turun memakai lift menuju lobby, tetapi kami berdua naik lift ke atas menuju lantai 15. Di dalam lift kami diam membisu. Namun tanpa diduga … teteh menubruk gw dan menempelkan bibirnya dibibirku. Dengan cepat gw bisa menguasai diri dan mengimbangi serangan teteh. Tangan kiri teteh masih mendekap map seminar sementara tangan kanannya memegang kepala gw. Tangan kiri gw melingkar pinggangnya dan tangan kanan gw meremas pantatnya. Alamaak … teteh gak pakai Celana Dalam.

    Aktifitas kami berhenti ketika bel lift berbunyi di lantai 7. Rupanya ada 2 orang tamu lain yg akan menuju lantai 12. Dada gw masih deg-degan gak karuan, jakun gw naik turun. Setelah orang tersebut turun di lantai 14 … gw hendak bergerak lagi, tetapi ditahan teteh.

    “Teh … sejak kapan gak pakai Celana Dalam ?” tanyaku dengan napas memburu. Teteh hanya tersenyum …menggoda.

    “Nih … ndra, ambil kunci kamar di dalam tas teteh” kata teteh santai. Gw mulai mencari-cari kunci dalam tas teteh …. alamak …. malah nemu Celana Dalam teteh yang berwarna hitam berenda. CDnya gw tarik keluar dan gw isep, bau khas wanita membuat libidoku makin naik ke ubun-ubun.

    “Hey… kuncinya mana ?” kata teteh yang sudah tiba lebih dulu di depan pintu kamar. Gw sibuk membuka pintu kamar. Napsu kami berbedua sudah tidak bisa ditahan. Ketika pintu tertutup di belakang kami, langsung saja kami berdua terlibat dalam pergulatan yang sangat panas. Tas, map, sepatu, baju dll berserakan di dekat pintu. Bibir kami saling pagut, tangan teteh sudah membelai batang gw, tangan gw sudah menelusuri kesana-kemari. Gw bugil 100% sementara teteh masih memakai BH warna hitamnya, tetapi nenen nya udah keluar dari cupnya.

    Teteh dulu … lain dengan teteh sekarang, kalo dulu masih memakai gaya convensional, tapi sekarang ……..

    Gw menggerinjal kenikmatan, pasalnya batang gw sudah dalam genggamannya dan keluar masuk bibirnya yang mungil. Terkadang di sedot, kadang2 dijilatinya.

    BHnya teteh udah gw buka sepenuhnya ….. teteh yang masih jongkok dan asik dg permainannya gw angkat ke tempat tidur. Posisi kami 69. Teteh dibawah masih nyedot batang gw, dan gw diatas mulai menjilati kemaluannya. Bau teteh (baunya soft, kayaknya dirawat banget tuh kemaluan teteh) mulai menyeruak ke dalam hidung gw.

    10 menit berlalu … posisi kami berubah. Masih rebahan di tempat tidur …. teteh membelakangi gw …. dan gw penetrasi dari belakang. Tangan gw meremas-remas dan memelintir putingnya teteh. Pantat teteh bergerak memutar kadang-kadang naik turun ” ooohhh ndra…enak banget ndra” erangnya. Ganti posisi lain ndra” Gumam teteh sambil melepaskan adik gw. Kemudian Teteh menungging …. tanpa disuruh gw masukin kemaluannya teteh. Berbagai macam style udah kita cobain.

    “Ayo ndra …teteh udah gak tahan … pengen keluar” erangnya

    Teteh terlentang, kakinya dibuka lebar-lebar. Batang gw sudah masuk ke dalam kemaluan teteh. Gerakan kami berirama, pantat gw naik turun, pantat teteh berputar-putar. Makin lama makin liar….. dan makin tidak terkendali.

    Dan akhirnya …. Ahhhhh …. Crett…cret…cret. Semprotan air mani gw begitu kuatnya … hingga membuat teteh menjerit kenikmatan … karena bersama-sama mencapai puncak asmara. Tubuh kami terkulai lemas diatas tempat tidur….. Tak puas-puasnya gw mencium bulu-bulu halus dibawah ketiak teteh. Setelah mandi … kami turun ke coffee shop untuk makan. Selesai makan tanpa membuang waktu kami kembali ke kamar ……. sambil berjalan bergandengan, teteh membisiki gw ….. “Ndra….. teteh gak pake celana dalam …..

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

     

  • Pasrah Ditiduri Oleh Sopirku

    Pasrah Ditiduri Oleh Sopirku


    1949 views


    Perawanku – Saat aku sendirian dirumah bapakku yang masih kerja di kantor dan Ibu sedang seminar di luar kota dan aku dirumah hanya ada aku, sopirku dan pembantuku satunya, supirku manto namanya dia sudah menikah tapi istrimya ditinggal di luar kota.

    Aku merasakan kecapekan setelah seharian aku jalan-jalan dan aku ingin sekali tidur tetapi entah mengapa aku tidak bisa memejamkan mataku ini lalu aku mempunyai ide untuk menelepon temanku Nisa untuk aku ajak ngobrol melalui telepon.

    Telepon Nisa angkat awalnya kami ngobrol biasa saja tetapi tidak tahu kenapa tiba-tiba Nisa nafasnya memburu dan terdengar teriakan-teriakan juga suara seorang cowok yang seperti suara pacar Nisa. Aku hanya memdengar suara-suara teriakan kesakitan tetapi juga seperti merasakan sesuatu kenikmatan dan teleponpun terputus dengan sendirinya.

    Pikiranku melayang kemana-mana dan aku mulai memikirkan tentang seseorang yang sedang berhubungan badan. Aku semakin terangasang setelah mendengar suara Nisa juga khayalanku sendiri dan akupun membuka kaos ketatku, bra, serta celana dalam aku meremas payudaraku dan memasukkan jariku ke vaginaku.

    Aku kocok vaginaku hingga aku pun menyapai orgasme ditempat tidur, aku merasa puas dan akupun memakai bajuku lalu merencanakan untuk pergi makan.

    Aku cari sopirku kemana-mana tetapi tidak ada hingga aku temukan dia dikamar tidurnya, dia tertidur pulas dengan hanya mengunakan kaos tanpa lengan dan sarung.

    Aku mau membangunkan dia tetapi melihat dia tertidur pulas akupun mengurungkan niatku untuk membangunkan dia, kasihan dia kecapekan setelah mengantar aku seharian jalan-jalan pikirku.

    Sebelum aku meninggalkan kamarnya mataku tiba-tiba tertuju pada tonjolan yang ada dibalik sarungnya sehingga membuat aku ingin mengetahui bagaimana wujud tonjolan itu.

    Aku beranikan diri untuk melihat tonjolan itu dari bawah lalu aku singkapkan sarungnya secara perlahan, aku terkejut melihatnya karena dia tidak memakai celana dalam sehinnga aku bisa melihat dengan leluasa penis yang agak berdiri dan membuat aku ingin memegang, mengelus, dan mengulumnya.

    Aku ingin sekali memegangnya tetapi aku takut sopirku nanti terbangun dan dia akan marah terhadapku, dengan tangan yang gemetaran juga dingin dan jantung yang berdetak kencang aku beranikan diri untuk memegangnya. Aku singkapkan sarungnya lebih keatas dan akupun mulai memegangnya, terasa hangat dan membuat tanganku yang tadinya dingin menjadi hangat.

    Aku semakin tertarik untuk menikmatinya lagi, aku elus berkali-kali penisnya hingga berdiri dan semakin panjang penis itu. Jantungku semakin berdetak kencang tetapi keinginanku untuk melakukan yang lebih lagi juga semakin besar maka ku putuskan untuk mencoba mengulumnya.

    Ku jilati serta memberikan gigitan kecil pada buah pelirnya yang berwarna kecoklatan hingga membuat aku makin bernafsu dan sedikit demi sedikit aku mulai menuju penis yang telah berdiri.

    Aku masukkan secara perlahan terasa hangat yang disertai rasa asin dan masuklah penis itu sampai pada ujung tenggorokanku, aku coba masuk dan keluarkan sehingga membuat tubuhku mengeluarkan keringat yang di ikuti rasa gemetaran.

    Payudaraku terasa semakin membesar dan mengeras sehingga membuat braku terasa sesak juga vaginaku yang terasa mengeluarkan cairan. Akupun semakin tidak bisa menahan nafsuku yang sudah memuncak lalu aku semakin mempercepat kulumanku sehingga membuat penis sopirku licin karena liurku.

    Di saat aku sedang keenakkan melakukan kuluman di penis sopirku tiba-tiba aku terkejut oleh teriakan sopirku dan mencabut penisnya dari mulutku. Dia lalu berdiri dan memarahi aku, dia merasa bersalah pada orang tuaku karena membiarkan aku melakukan hal ini,

    Akupun tidak mau menyerah begitu saja dan karena aku tidak bisa menahan nafsuku lagi yang seperti mau meledak akupun mengancam sopirku dengan mengatakan pada ayahku bahwa aku telah diperkosa sopirku juga akan mengatakan pada istrinya kalau tidak mau melayani kenginanku.

    Dia ketakutan dan menyerah padaku, akupun tidak menyia-nyiakannya langsung saja aku melepas sarungnya dan aku jongkok didepannya. Kulihat wajah sopirku terlihat wajahnya menampakkan kesedihan tetapi aku tidak mempedulikannya.

    Aku tidak peduli bagaimana perasaan sopirku, aku hanya ingin kenikmatan seperti yang telah temanku rasakan. Aku ingin membuat dia agresif terhadapku dan melupakan istrinya sesaat, karena keinginanku itu aku mulai melakukan rangsangan terhadapnya. Kukulum lagi penisnya yang telah lemas tanpa canggung dan takut lagi pada sopirku, kupercepat kulumanku sehingga membuat penisnya kembali berdiri. Aku sangat menikmati penis.

    “Ehhmm.. Enak.. Ehmm” dan aku merasa bahagia karena membuat dia mulai terangsang yang mulai menunjukkan ke agresifannya. Sopirku mendesis menikmati kulumanku.

    “Ough.. Terus.. Cepat.. Ouh Melda”

    Hanya itu saja kata yang keluar dari mulutnya akupun semakin bersemangat dan semakin mempercepat kulumanku. Hingga beberapa kuluman penisnya terasa semakin membesar dan menegang juga disertai denyutan dan dia pun memegang kepalaku juga memcambak rambutku dengan kasar dia semakin memaju mundurkan kepalaku dan akupun semakin bersemangat karena aku tahu dia akan sampai.

    “Ouhh.. Ouuhh aku sampai aku sampai Melda ough” dan keluarlah spermanya ke mulutku hingga mulutku tidak muat untuk menampungnya. Spermanya terasa hangat, asin, dan baunya membuat diriku ingin memuntahkan sperma itu dari mulutku tetapi dia menarik kepalaku lalu mencium aku.

    Ciumannya yang sangat bersemangat kepadaku membuat aku terpakasa untuk menelan spermanya untuk mengimbangi permainan bibir itu.

    Aku merasa kerepotan untuk mengimbanginya karena baru kali ini aku dicium oleh cowok, dia terus mencium aku dan tangannya mulai menyelinap masuk ke kaosku. Tangannya menuju ke payudaraku, dia meremas-remasnya sehingga membuat nafasku semakin memburu yang disertai degupan jantung yang cepat. Dia semakin agresif dengan membuka kaos ketatku, rok, bra serta celana dalamku.

    Terbukalah sudah apa yang selama ini aku tutupi, aku merasa risih karena baru kali ini aku telanjang dihadapan cowok sehinnga tangankupun secara spontan menutup vaginaku juga payudaraku. Tetapi karena nafsuku yang semakin memuncak maka aku biarkan tubuhku telanjang dan akupun dengan agresif melucuti kaosnya.

    Sekarang kita benar-benar telanjang bulat, kita saling berhimpitan sehingga penis yang telah mengacung itu menempel pada vaginaku. Aku ingin sekali merasakan penis itu masuk ke vaginaku dan aku telah mencoba memasukannya tetapi tidak bisa, dengan terpaksa aku hanya mengesekkan penisnya ke vaginaku dan itu membuat aku semakin bernafsu.

    Setelah dia puas mencium aku dia menurunkan kepalanya menuju kaki, dia menciumi kakiku sampai ke vaginaku. Dia menjilati vaginaku, menyedot vaginaku dan juga memberikan gigitan kecil pada vaginaku sehingga membuat aku tak bisa menahan getaran tubuhku.

    Semakin dia mempercepat jilatannya semakin keras pula erangan serta desissan yang keluar dari mulutku. Tanganku berpegangan pada kepalanya dan akupun menekan kepalanya serta mengangkat salah satu kakiku kepundaknya agar bisa semakin masuk ke vaginaku, jilatan dia membuat aku tak bisa lagi menahan tubuhku sendiri. Tubuhku melengkung ke belakang dan kepalaku medongak keatas yang disertai keringat yang semakin mengucur deras.

    “Auhh.. Ouhh..”

    Dia terus menjilati vaginaku sehingga membuat aku semakin tidak tahan “Ough.. Yes.. Ouugh.. Aku keluar” dan akupun mengalami orgasmeku yang pertama, aku merasa kenikmatan yang luar biasa karena baru kali ini kali mengalami orgasme bersama cowok.

    Sopirku menghisap-hisap vaginaku hingga terasa kering, nafasku yang tadinya memburu sekarang sudah mulai reda. Aku yang telah mengalami orgasme terasa badanku lemas tetapi sopirku masih saja semangat, dia mengendongku ke tempat tidur dan menjatuhkanku.

    Dia bermain di payudaraku yang berukuran sedang putih bersih kemerahan, sopirku mengulum, menyedot, meremas dan juga menggigit-gigit payudaraku. Permainan mulutnya sanggup menaikkan kembali nafsuku, sopirku sangat menikmati payudaraku dan dia selalu memuji payudaraku yang kenyal dan kencang itu.

    Aku yang ingin kembali menikmati penis sopirku segera aku menggulingkan sopirku disampingku, aku menindihnya dengan vaginaku menghadap ke muka sopirku dan kita pun saling melakukan rangsangan. Aku kembali mengulum penisnya sedangkan dia menjilati vaginaku.

    Permainan lidahnya yang liar di vaginaku membuat tak kuasa menahan nafsuku yang mau meledak dan dengan segera akupun minta untuk memasukkan penisnya ke vaginaku dan diapun mengijinkannya.

    Aku membalikkan badan dan sekarang penis itu tepat di bawah vaginaku, aku memegang penis itu dan mengarahkannya ke vaginaku tetapi aku tidak bisa memasukkannya terasa sulit walaupun vaginaku telah basah. Penis sopirku seperti tidak mau masuk penisnya selalu ke kanan atau ke kiri.

    Sopirku pun membantuku, dia memegang penisnya sedangkan tangan satunya menuju vaginaku dan memasukkan jarinya ke vaginaku, akupun terkaget dan berteriak “Ouhh”.

    Jarinya maju mundur dan seperti mengaduk vaginaku, sopirkupun mengeluarkan jarinya lalu mencoba memasukkan penisnya ke vaginaku. Secara mengejutkan penis itu masuk dengan mudah, aku terkaget merasakannya lalu berteriak “Auhh.. Ough..”

    Dan mataku melotot serta kepalaku mendongak ke atas. Vaginaku terasa penuh dan disertai rasa nyeri yang sangat hebat tetapi sopirku duduk menghiburku dengan menciumku.

    Dia menyuruhku naik turun tetapi itu sulit bagiku karena baru yang pertama aku melakukannya, aku mencoba naik turun rasanya nikmat sekali merasakan dua alat kelamin bergesekan tetapi tetap rasa nyeri tetap ada. Akhirnya akupun lancar menaik-turunkan, melihat itu sopirku semangat dia mulai meremas payudaraku dan mulai melakukan gerakan juga.

    Lama-kelamaan rasa nyeri itu berubah menjadi rasa nikmat tiada duanya dengan cepat aku menaik turunkan. Gesekan itu sangat nikmat Nisambah lagi remasan sopirku di payudaraku.

    “Uhh.. Aauhh.. Oouughh” aku terus mendesis.

    Malam yang sunyi kembali berisik oleh bunyi kocokan serta teriakanku, kulihat sopirku sekali memejamkan mata menikmati kocokanku. Hingga beberapa lama kita tetap pada posisi itu dan akupun merasakan sesuatu yang mau meledak di vaginaku.

    “Ouhh.. Ouughh.. Aku sampai” akupun merasakan orgasme yang kedua kali.

  • Sang Kepala Desa Cabul – Part II

    Sang Kepala Desa Cabul – Part II


    2136 views

    Cerita lendir 2017 ini merupakan lanjutan dari Part I yang bisa kamu baca DISINI. Jika sudah, maka langsung saja baca lanjutan cerita lendir 2017 berikut ini:

    Cerita Lendir 2017 – Sang Kepala Desa Cabul – Part II

     

    Perawan – Rasa penat dan kelelahan seharian ditambah pengaruh obat menyebabkan Yanti tertidur nyenyak – tidur yang sangat menyenangkan karena disertai dengan mimpi menunggu tunangannya di landasan udara. Sebentar lagi pesawatnya mendarat dan ia akan menikmati lagi kehangatan pelukan tunangannya itu. Yanti menoleh kekiri kekanan karena di rasakannya ada yang aneh dan tak biasa di pangkalan udara itu. Aneh sekali airport yang biasa selalu ramai hiruk pikuk kini begitu sepi, tak ada penumpang yang berdiri didepan meja untuk check in, tak ada para pengantar, tak ada kuli yang menawarkan jasa mengangkat koper, tak ada petugas douane, beberapa orang yang berada disitu koq aneh sekali tak ada yang bercakap cakap.

    Apakah matanya yang salah lihat atau panca inderanya terganggu semacam fata morgana ?. Yanti berusaha menggerakkan tangan kirinya untuk mengusap matanya namun tak berhasil entah mengapa, dicobanya dengan tangan kanan namun hasilnya serupa.

    Cerita Lendir 2017 | Dicobanya menggelengkan kepala namun entah mengapa di rasakan berat seolah membawa ember terisi air dijunjung diatas kepala, oooh apa yang terjadi. Mendadak hidungnya tersengat oleh bau yang tak disenanginya, bau rokok yang memang selalu dijauhinya kini seolah olah tak mau hilang dari hidungnya, dan bukan itu saja bahkan bau tembakau yang menyengat kemudian menerobos masuk mulutnya. Bau tembakau yang sangat dibencinya itulah yang akhirnya membuatnya sadar dan betapa terkejutnya Yanti ketika dilihat keadaan sebenarnya yang sedang dialaminya.

    Ternyata memang benar kedua lengannya sukar digerakkan karena direjang erat dikiri kanan oleh Warso dan Udin. Keduanya sambil menyeringai mesum mennyekal menekan kedua pergelangan tangannya kekasur diatas kepalanya. Sedangkan bau rokok yang tercium dalam keadaan mimpi adalah dari mulut Tholil yang melekat di bibirnya dan berulang ulang mendorong masuk lidahnya yang basah kedalam mulutnya sendiri. Yanti berusaha bangun dan berteriak sekuatnya namun semua sia sia, kakinya menendang seadanya kekiri kekanan namun gerakan itu hanya membuat roknya semakin tersingkap dan ternyata pergelangan kakinya yang langsing itupun kini berada dalam cengkraman tangan Tholil yang kuat sehingga sukar bergerak.

    “Emmpfffh, apa apaan, too, toolooong, sialaaan, bangs…aemmppffh, jaangaaan, nnnnggaa maaauu, emppppfh, aauw lepaaaskaan”, Yanti berusaha berteriak sejadinya meminta tolong dan mengharap teriakannya akan didengar.

    Ternyata ketiga lelaki jahanam itu sedemikian kuatnya seolah diberi kekuatan tenaga tambahan oleh iblis, sehingga meskipun kini Yanti telah sadar sepenuhnya dan pulih dari obat tidur penenang namun semua rontaannya sia sia saja. Karena kedua tangannya tak dapat melindungi sama sekali maka hanya dalam waktu singkat Tholil kini telah duduk diatas perutnya yang demikian datar langsing sehingga Yanti merasakan sukar bernafas. Jari tangan Tholil kini mulai membuka sisa kancing blus Yanti yang masih tertutup dan sebegitu blus itu terbuka Tholil dengan kasar menarik BH Santi berukuran 34C sehingga langsung terlepas menampakkan kedua buah dadanya yang sedemikian sempurna. Udin dan Warso langsung melotot melihat betapa indahnya pemandangan pegunungan dihadapan mata mereka :

    “Waah, baguuus betul tetek si neng, pasti enak diremas dan di enyot nih. Boleh engga gan nyicipin nyusu duluan?”, tanya Warso dan Udin hampir bersamaan kepada Tholil.

    “Kalian harus sabar nunggu, pasti ntar gue bagi daging montok, tapi sekarang mesti ditelanjangin dulu nih cewek”, dengus Tholil sambil dengan rakusnya melahap bibir manis Yanti, sementara kedua tangannya mencakup kedua bola di dada Yanti sambil meremas remas.

    Cerita Lendir 2017 | Yanti semakin liar meronta dan air mata mulai mengalir disudut matanya, menyadari keadaan yang mengerikan sedang dihadapinya. Selama berpacaran Yanti belum pernah lebih dari ciuman tersembunyi ketika menonton adegan romantis dikegelapan ruangan bioskop. Tunangannya pun penuh pengertian dan hanya sesekali saja menyentuh dan meremas buas dadanya dari luar blusnya, tak pernah dikasari apalagi dibuka BH-nya seperti saat ini. Teriakan dan jeritan Yanti kembali teredam oleh ciuman ganas Tholil dan rasa mual mulas mulai muncul kembali, kali ini bukan karena obat yang dimasukkan di makanan tapi karena rasa takut dan jijik ketika Tholil memasukkan lidah kasar di mulutnya yang kecil itu. Ludah Tholil tercium sangat bau memuakkan kini ikut tercampur dengan ludahnya sendiri sementara buah dadanya terasa sakit diremas oleh tangan Tholil yang kasar.

    Gerakan kedua kaki Yanti yang menendang tak teratur kekiri kanan dan keatas justru memberikan kesempatan para pemerkosanya untuk melepaskan dengan paksa secabik celana dalam string yang melindungi auratnya terakhir. Disaat Yanti menendang dengan kedua kakinya agak keatas maka pinggulnya pun ikut naik sedikit sehingga Warso yang mempunyai tangan paling panjang segera merenggut cd string Yanti berwarna ungu muda itu yang langsung robek. Kini Yanti sang jururawat ayu manis telah telanjang bulat seperti bayi yang baru dilahirkan, isak tangisnya semakin menjadi, menyadari sebentar lagi akan kehilangan miliknya yang paling berharga. Dicobanya dengan kekuatan tenaga seorang wanita yang masih ingin membela kehormatannya meronta melepaskan diri dari malapetaka yang mengancam. Sejenak Yanti berhasil melepaskan kedua tangannya dari cengkraman Warso dan Udin dan langsung di cobanya mencakar muka Tholil, namun Tholil dengan sigap dapat menduga maksud gerakan Yanti dan ditangkapnya kedua nadi yang langsing itu dan ditekannya ke kasur disamping kepala Yanti.

    “Eh, kalian gimana sih engga becus masa kalah tenaga dengan cewek, ayoh rejeng lagi tangannya, awas kalo lepas lagi semua perjanjian akan dibatalkan !”, bentak Tholil dengan maksud perjanjian pemghapusan hutang anak buahnya.

    “Oke, oke boss , jangan takut , nih cewek akan gue ringkus sampe engga berkutik lagi”, demikian jawaban Udin yang langsung bersama Warso kembali mengambil alih tugas memegang nadi Yanti.

    Keduanya berpandangan dan saling mengangguk, kemudian Warso meraih saku celananya yang terletak dilantai, dikeluarkannya tali rami yang kuat dan diikatnya kedua pergelangan tangan Yanti lalu diletakkannya diatas kepala, sehingga kedua ketiak Yanti terpampang.

    “Wah, ketiaknya bagus boss, engga ada bulunya sama sekali, emang lain nih perawat dari kota”, ujar Warso sambil mengelus ketiak Yanti yang segera ditiru oleh Udin, menimbulkan rasa geli tak terkira pada Yanti.

    “Mulutnya perlu ditutup lakban apa engga boss ?”, tanya Udin kepada Tholil, karena sementara itu Yanti masih saja berteriak minta tolong.

    “Kalian goblok amat sih, masa ditutup lakban , kan lebih baik kalo disumpel sama rudal gue”, jawab Tholil sementara itu mengurangi tindihannya di perut Yanti hanya dengan maksud melepaskan celana dalam boxernya. Aksi Tholil itu segera juga di ikuti oleh kedua anak buahnya, sehingga sesaat kemudian tak hanya Yanti yang bugil melainkan ketiga lelaki yang sedang menjarahnya.

    Yanti menatap dengan mata membesar di pengaruhi rasa ketakutan dan ngeri karena meskipun sebagai jururawat sudah terbiasa melihat dan merawat tubuh pria sebagai pasiennya, namun belum pernah di saksikannya penis penis sebesar dan sepanjang itu. Semuanya terlihat mulai mengacung mengangguk didepannya, hitam legam penuh pembuluh darah seolah memberi salam dan meminta permisi untuk membantai kegadisannya.

    Tholil kini menggeser tubuhnya kearah kepala korbannya, dipegangnya penis hitamnya dan disodorkan dihadapan mulut Yanti yang tentu saja menolak dan menutup serapat mungkin sambil melengoskan kepalanya kesamping.

    “He he he, pake malu malu nih si neng, pasti orang kota seneng makan sosis ya, ini cobain sosis desa asli yang bisa bikin neng ketagihan”, celoteh Tholil sambil mengusapkan penisnya ke bibir dan ke pipi Yanti yang amat halus. Rasa jijik Yanti tak dapat diuraikan kata kata, namun penolakannya tak berlangsung lama karena Tholil menutup hidung bangir Yanti sehingga tak dapat bernafas. Sekaligus dipilin, dicubit dan ditariknya puting susu Yanti menyebabkan rasa ngilu dan :

    “Aaaaauw, sakiiff……ouuf, eemmffh”, teriakan sakit Santi langsung teredam oleh kemaluan Tholil.

    “Naaah, begitu pinter ya si neng, ayo kulum, jilaaaat, iseeep yang rajin, ntar dapet hadiah joghurt alami, aaah ini kan babak permulaan dan lubang pertama yang abang perkosa, babak berikut segera nyusul, ooooh terus”, demikianlah dengusan Tholil yang merem melek merasakan hangatnya mulut Yanti menyelubungi kemaluannya.

    Sebagai jururawat Yanti sangat memperhatikan soal kebersihan, bukan saja kemaluan sendiri namun tunangannya pun selalu dianjurkan dimana mungkin untuk selalu membersihkan ujung kepala kemaluannya setelah kecing agar tidak berbau pesing. Kini mulutnya sendiri dijejal dipenuhi oleh penis besar yang berbau tidak enak, bahkan bulu kemaluan Tholil yang lebatpun berbau asam entah sudah berapa lama tak dibersihkan dicuci tuntas. Yanti berusaha melepehkan mendorong keluar penis yang sedang menyiksa rongga mulutnya itu dengan lidahnya, namun hal ini tentu saja tak diizinkan oleh Tholil bahkan dorongan lidah Yanti disalah tafsirkannya sebagai gerakan menyapu dan menjilat kepala kejantanannya.

    “Ooooh, iya iya iyaaaa teruuuus, anak manis pinteeer bangeeet, abang nggga lama lagi mau keluaaaar niih”, terdengar geraman suara Tholil yang kini justru memegang erat kepala Yanti sehingga tak dapat bergerak lagi. Sekaligus Tholil mendorong penisnya sedalam mungkin sehingga masuk sekitar sepertiganya, tapi itu sudah cukup dalam untuk ukuran mulut Yanti yang memang sangat mungil. Ujung penis Tholil kini mendesak dan menyentuh dinding tenggorokan Yanti sehingga Yanti betul betul kelabakan sukar bernafas dan semakin menggelepar di ranjang seperti ikan kekurangan air. Air matanya semakin deras mengalir di kedua pipinya, namun hal ini sama sekali tak menimbulkan rasa kasihan para pemerkosanya, bahkan sebaliknya.

    Koleksi Cerita Lendir 2017 | Warso dan Udin kini semakin memberanikan diri mereka untuk mengambil bagian dalam penjarahan gadis kota yang malang itu. Kedua pergelangan tangan Yanti yang telah terikat tali rami diatas kepalanya kini direntangkan lalu diikat kekaki ranjang, sehingga ketiaknya semakin terentang lebar dijadikan sasaran ciuman, gelitikan dan jilatan Udin dan Warso. Tak puas sampai disini saja keduanya dengan penuh nafsu meremas memijit kedua gunung didada Yanti, tak luput pula putingnya yang semakin mencuat keatas diusap, dipilin, ditarik, dan sekaligus dicubit diantara jari jari mereka yang kasar. Bergantian pula mulut dan lidah kedua kuli pegawai Tholil menyupangi ketiak Yanti yang harum, diselang seling dengan gigitan gemas sehinga ketiak Yanti penuh bercak merah.

    “Oooouh, ngga tahaaan lagi nih, neng denok bapak mau banjir nih, minuuuum ya semuaaaanya”, seperti kesurupan Tholil menekan pinggulnya ke wajah Yanti, alat kemaluannya berdenyut denyut dan semburan lahar sperma hangat menyemprot kedalam mulut Yanti.

    Tholil yang dengan sengaja telah beberapa hari tak menggauli istrinya mempunyai cadangan sperma cukup banyak, dan kini mulai disumbangkannya di mulut yang masih perawan itu. Yanti tak dapat berbuat apa apa didalam kekuasaan ketiga lelaki yang sedang kesetanan itu, kerongkongannya dipenuhi cairan kental hangat agak asin sepat dan berbau hanyir. Yanti berusaha menahan nafasnya dan masih menolak untuk menelan tapi begitu banyak cairan aneh yang belum pernah dirasakannya itu terkumpul didepan kerongkongan dan tenggorokannya itu sehingga ia hanya mempunyai pilihan : tersedak dan terselak oleh benih kelakian Tholil atau terpaksa ditelannya. Akhirnya mau tak mau ditelannya cairan hanyir yang dirasakan sangat menjijikkan itu dan benar benar dirasakannya sangat tersiksa dan terhina sehingga hampir saja di muntahkannya kembali.

    Namun untuk itu Tholil tak memberikan kesempatan sama sekali : penisnya yang begitu besar menutup seluruh rongga mulut Yanti sehingga seluruh laharnya terpaksa di telan oleh korbannya itu. Setelah dirasakan denyutan rudalnya telah berhenti dan Yanti telah kehabisan nafas barulah dilepaskan cekalannya pada kepala perawat secantik bidadari itu. Yanti hanya sanggup menangis terisak isak sambil masih merasakan sengatan bau yang aneh di mulutnya, namun segera Tholil kembali menciumnya dengan ganas dan mencampurkannya dengan ludahnya yang didalam penciuman Yanti tak kalah baunya dengan cairan lahar panasnya.

    “Hhmmm, gimana neng rasanya semprotan sosis abang, enak kan – ayoh ngaku deh jangan malu malu”, tanya Tholil penuh kepuasan; “sekarang gantian abang mau minum cairan madu kenikmatan dari neng Yanti nih”, sambungnya di sertai seringai serigalanya. Yanti yang merasa mulai lemas namun terus terusan dirangsang oleh Warso dan Udin tidak langsung memahami apa maksud kalimat Tholil terakhir itu. Ia hanya berusaha sia sia melepaskan kedua tangannya yang terikat erat di kedua ujung kaki ranjang diatas kepalanya, namun apa artinya rontaan gadis seperti Yanti ?

    Dirasakannya Tholil kini beralih menggeserkan badannya yang berbulu lebat itu kebawah, kedua tangan kasar berbulu menepis tangan Warso dan Udin yang sedang asyiknya bermain di puting Yanti. Kini remasan, pilinan, pijitan dan cubitan di putingnya terasa semakin ngilu dan menyakitkan, karena birahi Tholil semakin meningkat melihat indahnya hiasan alamiah dada Yanti.

    Buah dada yang biasanya tersembunyi dibalik BH berukuran 34C itu tidak terlalu besar namun sangat sesuai dengan proporsi tubuh seorang wanita Asia khususnya Indonesia. Terlihat sangat padat montok tanpa terlihat ngondoy sedikitpun kearah bawah, bahkan justru seolah olah menonjol membusung kedepan seolah olah sangat bangga menjadi atribut kewanitaan Yanti. Kedua bukit daging yang sangat elastis di dalam remasan Tholil itu dihiasi pula oleh puting kerucut berwarna coklat muda kemerah-merahan dengan areola berwarna coklat muda pula. Yanti tak sanggup menahan rintihan keluar dari bibirnya yang setengah terbuka ketika Tholil terus menerus memilin dan bahkan kini menggigit gigit dan menjilati puting sedemikian peka, menyebabkan puting itu terasa membengkak.

    Sementara itu Warso dan Udin menukar siasatnya dan menjilati telinga Yanti dari kiri kanan menyebabkan kegelian sukar ditahan, akibatnya Yanti makin menggeliatkan bagian badannya yang masih bebas yaitu kedua kakinya. Tholil semakin menurunkan badannya dan jilatan lidahnya kini telah mencapai perut yang datar langsing, makin turun menciumi pusar, mengendus di bawah pusar, mencupangi , menjilati menggigiti bagian dalam paha dan selangkangan, untuk akhirnya……Yanti berusaha mati matian menahan rasa aneh yang muncul di tubuhnya yang sehat sebagaimana wanita dewasa : rasa muak, jijik dan benci terhadap semua bibir ketiga laki laki yang bergantian menciumnya, mual tergadap cairan kejantanan yang terpaksa harus ditelannya, geli atas hembusan nafas panas di kedua liang telinganya, geli atas usapan dan cupang cupangan di ketiaknya, geli dan ngilu tercampur sakit di buah dada dan terutama putingnya yang di pilin, di remas, di cubit, ditarik tarik dan di gigit gigit dengan ganas.

    Semua rasa itu kini makin bertambah dengan rasa malu tak terkira ketika Tholil semakin memusatkan rangsangan di bagian bawah tubuhnya. Bulu tengkuknya ikut berdiri merasakan kecupan, jilatan dan gigitan di perut bawahnya, di lipatan pahanya, bagian dalam pahanya dan kini beralih ke selangkangannnya. Dicobanya sekuat tenaga merapatkan kedua pahanya yang putih mulus, namun apakah daya gadis remaja di kerubuti tiga lelaki kasar. Selain besarnya tenaga Tholil menguakkan pahanya sehingga tak sanggup dikatupnya lagi, juga Udin dan Warso yang kini tak perlu lagi memegangi tangan Yanti yang telah terikat disudut kaki ranjang ikut membantu mencekal pergelangan kakinya lalu dipaksa ditekuk keatas dan kesamping.

    Koleksi Cerita Lendir 2017 | Terbukalah semua bagian intim si perawan dihadapan muka Tholil, dan dengan disertai geraman ibarat binatang buas disentuhnya aurat Yanti yang belum pernah tersentuh jari lelaki manapun, termasuk tunangannya. Karena kuatnya tenaga Warso dan Udin sebagai kuli kuli kasar perkebunan dibandingkan dengan tenaga Yanti maka keduanya cukup hanya memakai satu tangan saja merejang pergelangan kaki Yanti yang langsing. Warso yang berada disebelah kanan Yanti memakai tangan kirinya untuk meremas remas buah dada Yanti sebelah kanan sementara tangan kanannya merejang pergelangan kaki kanan Yanti dan ditariknya semaksimal mungkin kesamping.

    Tak cukup sampai disini saja – kini telapak kaki Yanti yang juga sedemikian halus terawat kulitnya dijilat jilatnya kemudian jari jari kaki kanan Yanti dimasukkan kemulut dan dikulum kulumnya pula. Hal yang sama dilakukan oleh Udin yang berada disebelah kiri badan Yanti yang semakin meliuk meliuk meronta sekuatnya karena kegelian.

    “Jangaaaan paak, jangaaan, lepasin saya, ngga mau diginiin, lepaaas, toloooong, ampuuuun, udaaaah”, kembali teriak Yanti memenuhi ruangan namun tak ada seorang pun disaat itu yang akan mendengarnya. Hampir semua penduduk desa itu sedang menikmati hidangan musik dangdut dan goyangan pinggul ngebor artis terkenal dari ibukota.

    “He he he, coba ya bapak periksa apa benar masih ada jururawat dari ibukota yang masih perawan, bapak inspeksi ya apa selaput bentuk bulan sabit masih menutupi goa surgawi si neng”, kembali Tholil mengeluarkan silat lidahnya yang disambut dengan anggukan kepala Udin dan Warso sebagai tanda setuju.

    Tholil mengusap usap bukit Venus Yanti yang hanya tertutup sedikit oleh bulu kemaluan halus karena Yanti memang selalu merawat dan mencukurnya setiap minggu. Celah kemaluan yang begitu merangsang mata lelaki terlihat masih terlihat merapat, bibir kemaluan berwarna kemerah merahan seolah masih malu membuka, mengingatkan buah duren berdempetan belum terbuka atau kerang laut yang masih mengatup.

    Wajah Tholil dengan seringai cabulnya semakin lama semakin mendekati bukit Venus itu, dengusan nafasnya yang panas ibarat serigala keleparan terasa semakin menghembus belahan kenikmatan Yanti.

    Jururawat ayu cantik itu semakin ketakutan menghadapi nasib yang tak akan terelakkan lagi, inikah perasaan seorang gadis dizaman purba yang akan dijadikan korban persembahan untuk dewa angkara murka ? Pernah dibacanya pelbagai kisah di Mesir sebelum puncak kekuasaan Faraoh atau keganasan suku Viking yang selalu mengorbankan perawan murni kepada dewa Odin. Bagaimanapun rontaan yang dicobanya tak sanggup mengatasi tenaga tiga pria setengah baya yang terbiasa dengan pekerjaan kasar di perkebunan atau sebagai serdadu.

    Tholil kini meletakkan ibu jari dan telunjuknya dikiri kanan celah yang sebentar lagi akan dijarahnya itu, dibukanya celah ditengah bukit Venus itu dengan amat perlahan lahan seolah takut merusak sesuatu yang sangat berharga. Bagian dalam dari celah itu terkuak memperlihatkan panorama yang selalu menjadi impian setiap lelaki : dinding celah berwarna merah jambu muda dihiasi pembuluh darah halus bak rambut. Dinding itu agak berkilat akibat cairan pelumas alami yang mau tak mau akan keluar sendiri jika seorang wanita dirangsang.

    Dibagian atas tengah yang lebih berwarna merah gelap terlihat lubang amat kecil yang pasti berhubungan ke kandung kemihnya. Dibawahnya terlihat pula celah yang dikiri kanannya terlindungi selaput tipis warna merah jambu agak mirip bulan sabit – inilah yang dicari cari oleh Tholil. Dengan tak sabar dan penuh kerakusan dikecupnya celah surgawi Yanti yang kini telah terbuka karena kiri kanannya ditahan oleh telunjuk dan ibu jari Tholil. Dijulurkannya lidahnya yang kasar untuk merasakan kehalusan selaput lendir celah perawan yang sebentar lagi akan dicicipinya penuh kehausan. Yanti yang belum pernah mengalami intim dengan lelaki – apalagi telanjang bulat dipaksa membuka selangkangan aurat kewanitaannya – mencoba mati matian mengatupkan lagi pahanya – namun tak mampu melawan kekuatan kuli² di kiri kanannya yang menahan posisi memalukannya itu.

    Cerita Lendir Terbaru 2017 | Terasa seluruh paha betisnya kaku kejang kesemutan karena terus menerus dipaksa mengangkang maksimal disamping merasa geli karena pahanya pun diusap usap. Terlebih lagi rasa malu Yanti ketika dirasakan lidah Tholil mulai memasuki liang sanggamanya, menyapu mengusap – menyelinap kebagian lebih dalam lagi mendekati batas antara kegadisan dan kedewasaan seorang wanita. Mendadak dirasakannya sapuan lidah itu mencari mengalihkan tujuan dan kini menyentuh daging kecil diujung atas vaginanya, daging kecil ibarat butir jagung sangat peka kini menjadi sasaran lidah , bibir dan gigi gigi tajam Tholil. Ibarat tersentuh aliran listrik voltage tinggi Yanti melentingkan badannya karena dirasakannya geli tak terkira, bibir yang selama ini hanya merintih dan melenguh lemah kembali mengeluarkan jeritan melengking :

    “Auw jangaan pak, jangaan, toloooong, saya mau diapaiiin, ampuuuun, aampuuun, udaaaah paaak, lepasin, kasihani saya pak, auuuw”, teriakan Yanti terdengar memilukan, namun hanya menambah semangat ketiga lelaki yang memperoleh gadis si ayu.

    Bunyi kecipak mulut dan lidah Tholil tak kalah serunya menimpali keluhan memelas Yanti :”Mmmmmh, legiiit amat nih jagung muda, mana maniiiis lagi, hhhmh bapak mesti hemaat nih pakenya engga boleh sembarangan”, celoteh Tholil penuh kepuasan menikmati geliatan rontaan Yanti tanpa memperdulikan jeritan jeritan yang makin melemah.

    Jeritan itu pun kita semakin tersendat terputus putus karena ketika melihat Tholil telah memusatkan perhatiannya dibagian badan bawah korbannya, maka Udin dan Warso kini mempunyai lebih banyak kebebasan dibagian atas badan Yanti. Bergantian Warso dan Udin merajah mulut mungil Yanti, menciuminya dengan rakus, memasukkan lidah mereka yang tak kalah baunya kerongga mulut Yanti, sementara tangan mereka meremas remas buah dada. Disaat Udin menyerang mulut Yanti maka Warso menciumi ketiak , leher dan buah dada si perawat yang semakin memerah penuh cupangan, dan putingnya semakin menegak mencuat akibat jilatan dan gigitan ganas, demikian sebaliknya. Geli, nyeri, ngilu , sakit dan nikmat tak henti hentinya dirasakan oleh Yanti yang semakin lemas pasrah.

    Gelombang demi gelombang rangsangan menghantam menyerbu benteng pertahanan Yanti yang semakin menipis, badan sehat wanita dewasa memang di”atur” oleh alam untuk pada saat tertentu mempersiapkan diri menerima benih pria. Oleh karena itu percuma sajalah Yanti melawan semua naluri alamiahnya itu , baik secara fisik maupun mental – betapapun perlawanan di bawah kesadaran masih memberontak, namun dari bawah kesadaran itu pula akan muncul gejolak badaniah lain yang akan mengalahkan semuanya.

    “Aaauuuuuw, ennggggaaaa mauu, jangaaan, aaaaaahh, tolooooong, geliiiii, aaaaaah, emmmmhh, lepaaaaaaa, oooooh, jangaaaan paak, tolooooong, aauuuuw”, desahan Yanti dengan rontaan dan geliatan semakin lemah dan lemas.

    Tholil merasakan semakin bertambahnya cairan pelicin keluar dari lubang vagina korbannya, dan sebagai pria pengalaman ia merasakan pula perubahan rasa cairan itu : semula terasa asam dan perlahan lahan berubah menjadi lebih sepat. Ini tanda tak dapat dipungkiri lagi bahwa sang betina telah disiapkan oleh alam untuk bersatu badan dengan sang jantan. Tholil memberikan tanda kepada kedua konconya untuk melepaskan cengkraman mereka dipergelangan kaki Yanti, di raihnya kedua betis si bidadari dan diletakkkannnya paha mulus itu di atas pundaknya. Ibarat hewan persembahan yang tinggal menunggu penyembelihan Yanti hanya pasrah lemas diperlakukan demikian, hanya sekali dua dipukulkan tumit kakinya yang mungil itu ke punggung Tholil.

    Dengan penuh kepuasan dan rasa kemenangan ditatapnya wajah Yanti yang meskipun kini terlihat kuyu dengan rambut tergerai tak teratur, wajah yang tetap ayu manis cantik sebentar lagi pasti akan meringis bergolek kekanan kekiri jika merasakan sakit tak terkira. Tholil memegang kemaluannya yang telah mengeras membesar maksimal, diarahkannya kedalam celah licin basah oleh lendir kewanitaan, perlahan tapi pasti kejantanan itu memasuki gerbang surgawi yang diapit oleh bibir kemaluan berbulu halus. Bibir kemaluan Yanti dipaksa untuk membuka, dipaksa untuk merekah dan alat pemerkosa berkepala helm seperti jamur itu mendesak masuk : milimemeter demi milimeter dibelahnya dinding vagina sang gadis ibarat pentungan daging penuh air mani.

    Yanti merintih, meratap dan memohon dikasihani, memohon agar milik satu satunya itu jangan direnggut, air matanya mengalir deras disertai :

    “Aduuuuuh, aaaaaah, nyerriiiiiii, sakiiiiiiiiit paak, ampuuuuuun, udaaaaah, sakiiiiit, tolooong, jangaaaan diterusin, auuuuuuuuuww……”. Tholil kembali memberikan tanda kepada kedua anak buahnya untuk kini melepaskan ikatan tangan Yanti karena ia ingin merasakan rontaan dan terutama cakaran kuku seorang gadis yang direnggut keperawanannya. Dan memang betul : sebegitu lekas kedua tangan terlepas, meskipun masih terasa kaku kesemutan Yanti berusaha mencakar muka Tholil, namun sia sia karena muka Tholil telah melekat dengan muka Yanti dan bibirnya yang tebal dower dengan kumis kaku kasar ibarat ijuk menutup mulut Yanti. Teriakan dan tangisan Yanti kini teredam sehingga hampir tak terdengar dan si perawat cantik itu didera oleh rasa sakit tak terkira dikemaluannya.

    Sebagai lelaki yang sudah sangat pengalaman dalam merenggut kegadisan wanita muda Tholil semakin lama semakin mahir mengendalikan hawa nafsunya, semakin mahir merasakan kapan senjatanya yang besar itu mulai menyentuh selaput dara seorang gadis. Selaput dara yang sangat peka itu tidak di terobosnya sekaligus sebagaimana anak muda ingusan atau suami yang tak punya pengalaman, namun selalu disentuh ditekan tekannya sehingga terasa sangat sakit ngilu. Tholil mempunyai kecenderungan sadis untuk menikmati wajah wanita – apalagi seorang gadis – yang dilanda rasa sakit saat menerima tusukan rudalnya yang besar dan lebar itu. Apalagi kali ini adalah wajah cantik jelita seorang perawat kota : wajah Yanti yang menengadah keatas atau menoleh kekiri kekanan , wajah penuh air mata dan mulut mungil bibir basah terbuka mengeluarkan rintihan memilukan merasakan siksaan sementara hidung bangir mancung kembang kempis menahan isak tangis :

    “Sakiiiiiit, paaaak, ampuuuuun, auuuuuw, udaaaah pak, kasihani saya paaaaak, ngggaaa tahaaaan paaak, udaaaah dong, aaamppuuuun”, namun semua laki laki disitu hanya tertawa.

    Sekitar seperempat jam Tholil mempermainkan senjatanya menyiksa selaput tipis yang sedemikian sensitif sebelum akhirnya dengan geraman penuh kemenangan ditembusnya keperawanan Yanti. Saat pecah robeknya keperawanannya Yanti tak berdaya lagi menahan diri : raungan dan jeritan memenuhi ruangan, disusul dengan rintihan tangis – dan disaat itu Yanti dengan sekuat tenaga menancapkan kukunya dipunggung Tholil, kemudian tanpa disadari sendiri digigitnya sekuat tenaga bahu Tholil yang kekar penuh otot itu. Tholil hanya tersenyum bangga, dicekalnya kedua pergelangan tangan Yanti, ditekannya ke kasur, diangkatnya tubuh bagian atasnya sendiri sehingga gigitan Yanti lepas. Kini dimulainya gerakan maju mundur pinggulnya yang berarti disiksanya lubang surgawi yang bari diterobosnya itu : Yanti merasakan betapa perihnya luka dari selaput daranya yang bari sobek dan kini luka masih terbuka itu digosok gosok oleh benda asing, maju mundur , maju mundur tanpa terhenti semakin lama semakin cepat dan akhirnya………

    Bagaikan gunung merapi yang telah lama memendam lahar panas kini meletus dan menyemburkan laharnya itu ke luar membanjiri vagina dan rahim Yanti. Selama menyemburkan spermanya itu Tholil tak berhenti bergerak, bahkan tetap menjedug jedug mulut rahim yang saat itu juga sangat peka.

    Namun Yanti sudah sedemikian lemah dan hanya dapat pasrah merasakan tubuhnya di perkosa habis habisan , diharapkannya agar semua mimpi buruk ini lekas berlalu namun yang terjadi justru sebaliknya : dari tengah selangkangannya yang sedang disiksa itu muncul perlahan lahan rasa lain yang aneh. Ada rasa hangat sedikit ngilu gatal menyebabkan keinginan agar gerakan maju mundur yang baru saja dialaminya dan sangat menyakitkan itu bahkan terulang kembali, justru seolah meminta dan menagih diteruskan dan jangan dihentikan.

    Yanti tidak mengerti “pengkhianatan” tubuhnya terhadap perkosaan yang baru dialaminya. Rasa sangat jijik , muak dan kebencian terhadap para pemerkosanya kini tercampur rasa keinginan untuk ditaklukkan kembali, merasakan ketidak berdayaan dikuasai dan direjang sehingga tak berkutik sama sekali. Disaat Tholil ambruk menindih tubuhnya setelah orgasmus dan ejakulasi justru Yanti melingkarkan kakinya yang mulus itu ke pinggang si pemerkosanya, seolah tak ingin melepaskan penis yang masih tertancap di vaginanya. Tanpa disadari Yanti menggeser pinggulnya kekiri kekanan, kemudian bergoyang berputar dengan lemah seperti menginginkan agar “kegatalan”nya di “obati” dengan gerakan maju mundur yang mungkin memberikan kesan seperti “menggaruk”.

    Tholil sendiri merasakan ada denyutan dan remasan halus di kemaluannya yang sebetulnya mulai “tidur” didalam liang vagina Yanti dan ini sama sekali belum pernah dialaminya ketika menggagahi wanita manapun termasuk para istrinya apalagi oleh seorang gadis yang baru saja di perkosa habis habisan. Tholil mengangkat tubuh atasnya dan meperhatikan wajah Yanti yang penuh keringat dan kelihatan tak sadar dengan dengusan dan rintihan halus dari hidung serta mulut yang begitu mungil. Betapa luar biasa bidadari kota ini pikirnya – perempuan ini agaknya houri yang turun dari firdaus untuk selalu memenuhi hasrat birahi laki laki. Diawasinya wajah yang sedemikian ayu manis selalu menimbulkan hasrat hewaniah lawan jenisnya , dan diingatnya bahwa setelah mulut dan vagina masih ada satu lagi lubang yang masih dapat diperawaninya malam ini.

    Namun apakah tubuh bidadari ini akan masih kuat untuk mengalami pembantaian sekali lagi dimalam ini , apakah lebih baik menunggu esok hari ? Namun diingatnya lagi bahwa malam ini adalah kesempatan yang mungkin takkan terulang atau kembali lagi : hampir semua penduduk desa sedang absen karena menikmati goyangan ngebor pantat artis Imul Laracitra di desa tetangga. Tholil perlahan lahan bangun melepaskan Yanti dari tindihannya dan kedua anak buahnya pun menghentikan kegiatan sexual mereka seolah olah mulai menduga apa rencana juragan mereka berikutnya. Keduanya menyeringai bergantian dan Udin mengambil kesempatan bertanya :

    “Mau diapain lagi nih si nok bahenol Yanti ini gan, boleh ikut ngicipin engga boss ?”.

    “Jangan coba coba berpikiran kotor lu, disini cuma gue yang boleh menggarap perawat kota ini, ingat apa perjanjian pelunasan hutang kalian, apa mau dibatalkan hah !” , demikian bentak Tholil seolah tak sadar bahwa benaknya pun pada saat ini tak lain hanya terisi pikiran kotor.

    Kedua anak buahnya menggerutu namun sadar berada di fihak lemah akibat hutang mereka yang telah berlarut menumpuk di lintah darat penguasa desa itu. Tholil tak mau bahwa ada benih lain tercampur di rahim si bidadari cantik ini – jika Yanti sampai hamil maka pasti adalah hasil bibitnya, tak ada campuran dengan lelaki lain. Namun sedikit rasa terima kasih Tholil terhadap kedua anak buahnya yang telah membantunya malam ini dan rupanya iblis ikut memberikannya sedikit pertimbangan untuk memberikan sedikit extra bonus :

    “Begini deh, gue bagi juga kenikmatan untuk kalian – silahkan bergantian menjarah mulut gadis ini tapi jangan sampai banjir di dalam , kalian boleh semprot dan mandikan wajahnya dengan air myni kalian. Awas kalo sampai ada yang banjir di dalam mulut gue akan batalkan penghapusan hutangnya, faham ?”.

    “Okee boss, akuuur, beres deh dijamin mantab siraman di muka si neng , pasti akan jadi obat awet muda wajahnya”, hampir bersamaan kedua kuli itu menjawab majikan mereka.

    Kemudian mereka berunding siapakah yang akan mulai dengan perkosaan mulut Yanti di babak kedua – akhirnya Warso mengalah : Udin memulai dan Warso berikutnya. Tubuh Yanti yang langsing bahenol dan masih lemas lunglai setengah pingsan itu kini dibalik tengkurap, kemudian kedua lengannya ditekuk di sikunya, demikian pula kakinya di tekuk di lututnya. Akibatnya kini tubuh Yanti dalam posisi merangkak seperti serdadu yang sedang latihan, hanya bedanya Tholil ikut campur dengan menarik lipatan paha Yanti keatas sehingga pantatnya menungging keatas. Dalam posisi ini terlihatlah vagina Yanti yang licin mengkilat dan basah oleh cairan pelumasnya sendiri tercampur dengan lahar Tholil yang secara perlahan agak mengalir meleleh keluar.

    Namun yang lebih jelas lagi terlihat adalah lingkaran lubang anus Yanti berwarna coklat kemerah merahkan bagaikan kuncup bunga yang masih sangat rapat, dihiasi dengan kerut kerut yang menandakan masih utuhnya fungsi otot otot pengunci lubang paling rahasia dan intim ini. Tholil hanya dapat menduga duga betapa akan kerasnya tangis dan teriakan kesakitan Yanti jika disodominya – ketiga istri dan wanita lain didesa itu yang pernah disodominya hampir semuanya meraung raung ibarat hewan disembelih bahkan setengahnya betul betul pingsan lebih dari satu jam.

    Tholil mengambil lotion untuk bayi yang telah diambilnya di apotik beberapa hari lalu dan di-oleskannya pelumas yang harum itu di seluruh kepala penisnya yang disunat bahkan juga seluruh batang kemaluannya karena diameternya akan sukar sekali diterima oleh diameter anus Yanti.

    Namun Tholil bertekad : Yanti akan dperkosa ketiga lubangnya malam ini, Yanti akan diajarinya untuk takluk dan tunduk sepenuhnya sebagai calon istrinya, Yanti harus menerima nasibnya secara pasrah untuk melayani keinginan seksualnya , Yanti akan diajari mengalami derita sakit tapi nikmat ! Cukup dengan membayangkan itu semua kemaluan Tholil kembali membesar menegang dan mengeras, siap tunaikan tugas berikut, terakhir, namun mungkin yang terberat malam ini : memasuki lubang tersempit ditubuh molek Yanti.

    Masih dalam keadaan hanya setengah sadar Yanti merasakan tubuhnya menungging dengan pantat semakin tinggi ke atas, lalu dirasakan ada jari jari mengoleskan cairan agak dingin di lubang anusnya. Hal ini membuatnya sadar dan ingin berontak namun tubuhnya kembali dipegangi dari dua arah oleh Warso dan Udin sehingga tak dapat berkutik atau membebaskan diri dari posisi tak nyaman itu. Ketika Yanti berusaha untuk menepiskan jari jari yang kurang ajar di anusnya itu mendadak kedua tangannya diputar di telikung dan direjang kebelakang punggungnya sehingga mulai terasa sakit di sendi bahunya menyebabkan Yanti merintih. Yanti merasakan kedua pergelangan tangannya di rejang oleh jari jari kuat dan kasar sehingga tak dapat bergerak dan sekaligus anusnya dimasuki oleh sebuah jari yang licin. Naluri alamiah Yanti memeperingatkannya apa yang mungkin akan terjadi dan isak tangisnya mulai muncul kembali :

    “Jangaaaaan, jangaaaan, aduuuuh, enggaaa maaaau disitu, jangaaaaan , toloooong, ampuuuuun, kasihaniiii doong, ya Allaaah, ampuuuun, enggaaaa maauuuuu, auuuuuw, auuuuw, ngiluuuuu”, Yanti meliuk liukkan badannya tak berdaya ketika dirasakannya bukan hanya satu melainkan dua jari Tholil memasuki anusnya dan berusaha melebarkan lubang duburnya.

    Ketika Yanti berteriak sekuat kuatnya tiba tiba rambutnya dijambak kebelakang oleh Warso dan mulutnya yang terbuka lebar di masuki oleh penis Udin yang juga cukup panjang dan besar dan sangat berbau pesing tak enak.

    Yanti merasakan tubuhnya seolah bukan lagi miliknya : mulutnya dijarah oleh penis yang memualkan, payu daranya terutama putingnya di pilin dan di cubiti serta ditarik tarik oleh jari jari Warso , dan duburnya dipaksa dilebarkan oleh dua buah jari Tholil. Mendadak kedua jari yang menyiksanya itu ditarik keluar sehingga Yanti menarik nafas agak lega, namun hal ini tidak berlangsung lama karena kini dirasakannya sebuah benda lain menekan mencoba memasuki anusnya.

    Yanti mulai sadar bahwa benda asing itu adalah alat kejantanan Tholil yang belum lama ini merenggut merobek selaput kegadisannya. Kini alat kejantanan yang sama berusaha merebut keperawanannya yang kedua – ya Allah toloong, jangan biarkan hal ini! Yanti merasakan kemaluan Tholil terus menekan, mendorong dan mendesak berusaha mengalahkan pertahanan otot dubur yang secara alamiah sangat kuat mengunci lubang paling intim di tubuh manusia itu.

    Otot berbentuk lingkaran itu kini dipaksa untuk membuka bukan dengan cara alamiah melainkan cara kasar perkosaan dan meskipun telah di berikan lotion pelumas yang biasa dipakai oleh bayi, namun tetap saja bertahan mati matian melawan benda asing yang ingin masuk. Yanti tak tahu lagi apa yang terasa di tubuhnya saat itu , jijik dan mual dengan kemaluan Udin yang bau di mulutnya, putingnya terasa membesar lebih dari tiga kali akibat cubitan dan gigitan ganas pemerkosa, dan nyeri sakit tak terkira di duburnya yang sedang dipaksa melebar diluar ukuran normal.

    Tholil mendesak dan mencoba melesakkan kemaluannya sekuat tenaganya namun belum ada kemajuan meskipun dengan dorongan semaksimal mungkin sementara Yanti hampir pingsan menahan sakit tak terkira. Oleh karena itu Tholil menukar taktiknya dan selain mendorong kejantanannya ia kini meraba raba ke selangkangan Yanti lalu ia mengusap usap kelentit Yanti yang masih sangat peka akibat rangsangan bibir, lidah dan giginya tadi.

    Diluar kemampuan dan keinginannya otot otot vagina Yanti berkontraksi lalu relaks kembali kontraksi dan relaks – hal sama terjadi dengan otot otot lingkar sekitar anusnya. Dan justru pada saat otot otot lingkar sekitar anusnya sedikit relaks maka Tholil menekan kepala penisnya sekuat tenaga , akibatnya …. blesssss, bagian kepala penis berbentuk seperti topi helm serdadu masuk membelah dan memerawani lubang dubur yang sempit itu.

    Yanti berteriak dan menjerit jerit sekuat isi paru parunya namun tak dapat keluar karena mulutnya dipenuhi oleh batang kemaluan Udin, yang keluar hanyalah rintihan :

    “Aooouuufffhhh, empfhhhhhh, sssssskkkkkttttt, mmmppppn, jjjjjjnnnggggggnnn, ennggggghhhhhh”,

    dan akhirnya tak ada suara lagi yang keluar. Rupanya Yanti telah kelenger tak dapat lagi menahan siksaan yang sedang diderita tubuhnya, dan pada saat bersamaaan Udin menarik keluar batang rudalnya yang langsung menyemburkan sperma membasahi wajah Yanti yang telah layu itu. Namun Tholil masih saja asyik menjarah dan memasukkan penisnya semakin dalam, semakin dalam akhirnya biji pelirnya menempel dengan bongkahan pantat Yanti.

    Kini mulailah dimaju mundurkannya pinggulnya dengan ritme gonta ganti, terkadang halus perlahan menggoyang kekiri kekanan dan memutar seolah sedang menggoda korbannya, tak lama kemudian diganti dengan ritme ganas stakkato seolah olah bor listrik sedang menghantam dinding beton. Kini Udin menjambak rambut Yanti dengan kasar dan pada saat bersamaan Tholil menghantamkan senjatanya sedalam mungkin – dan akibatnya Yanti melenguh perlahan dan mulai sadar lagi.

    Kesempatan ini tak dibiarkan begitu saja oleh Warso yang masih ingin meminta jatahnya : diangkatnya dagu Yanti dan di lekatkannya batang penisnya di bibir yang setengah terbuka. Telah habis sama sekali rupanya tenaga Yanti untuk melawan dan dimakluminya tugas apa yang masih harus dipenuhinya : dengan air mata berlinang dibiarkannya penis Warso yang tak begitu panjang namun lebih lebar diameternya daripada milik Udin memasuki rongga mulutnya, maju mundur maju mundur maju semakin dalam sehingga menyentuh lagi kerongkongannya sehingga hampir Yanti terbatuk batuk.

    Dengan wajah yang tetap cantik meskipun acak acakan Yanti pasrah menerima sodokan dari depan dan belakang, dari depan menyebabkannya sukar bernafas dan ingin muntah sedangkan sodokan dari belakang sangat menyakitkan anusnya yang terasa sangat panas pedih seperti disayat sayat pisau silet.

    Bagaikan telah sepakat satu sama lain kedua lelaki pemerkosa itu makin mempercepat ritme hunjaman mereka ke mulut dan anus Yanti untuk akhirnya disertai geraman penuh kepuasan keduanya menumpahkan cairan sperma mereka : Tholil didalam rektum dan Warso di wajah dan rambut Yanti. Isakan tangis Yanti yang menimbulkan rasa iba mengiringi ambruk tubuhnya tertelungkup ke ranjang – hanya gerakan halus pernafasan disertai sesenggukan menandakan bahwa perawat malang itu masih hidup.

    Ketiga lelaki setengah baya yang telah menjarah jururawat malang itu habis habisan kini memapang Yanti nenuju kamar mandi , dimandikannya tubuh langsing namun sintal bahenol itu sehingga bersih dari bekas sperma, ludah dan darah keperawanannya, dipakaikan lagi bh dan cd baru dari lemari pakaian, lalu baju tidur yang bersih pula, kemudian diletakkan hati hati diranjang dan ditutupi dengan selimut. Yanti yang merasa seolah tubuhnya tak bertulang sama sekali langsung jatuh tidur kembali, sedangkan ketiga pemerkosanya perlahan lahan meninggalkannya, menutup dan mengunci pintu dari luar kemudian menghilang di kegelapan malam dengan motor motor mereka.

    Selama 3 hari Yanti tak dapat melayani pasien di Puskesmas karena sakit demam – ia hanya bangun keluar ranjang untuk makan minum. Di hari ke empat desa itu geger karena perawat Yanti menghilang entah kemana, semua barang miliknya ditinggal, koper dan tasnya masih berada di lemari. Hanya tas kecil yang selalu terisi KTP, kartu kartu penting lain dan juga uang tunai tak ada, demikian pula sepatunya tak ditemukan.

    Ini merupakan indikasi bahwa Yanti telah meninggalkan desa itu secara diam diam dan berusaha menghapuskan kenangan mengerikan yang dialaminya. Tak dapat di bayangkan betapa marahnya Tholil karen mangsa yang baru sempat diperkosa sekali dan diimpikannya akan menjadi istrinya yang ke 4 lolos dari cengkramannya. Diadukannya hal ini ke pusat namun disitu pun tak ada yang tahu kemana perginya Yanti si perawat.

    Tunangan Yanti pun mendadak kembali ke tanah air karena mendengar peristiwa menghilangnya Yanti – di kamar kostnya pun tak ada yang hilang , semua lengkap hanya penghuninya ibarat masuk ke dalam bumi tak ada jejaknya. Usaha pencarian Yanti setelah berbulan bulan akhirnya dihentikan tanpa hasil dan setelah lebih dari setahun perlahan lahan semuanya mulai melupakan individu Yanti ini ; tunangannya pun sudah mempunyai pacar baru.

    Di desa yang menjadi saksi bisu peristiwa perkosaan Yanti itu setengah tahun kemudian mengalami beberapa kejutan : Udin si mandor perkebunan mengalami kecelakaan mobil dan terluka sangat parah dan langsung meninggal. Warso si buruh perkebunan karet di gigit ular berbisa yang entah muncul begitu saja dan langsung menghilang lagi dan karena sangat terlambat mencari pertolongan akhirnya dihari yang sama juga meninggal.

    Tholil dalam tahun yang sama mengidap tumor di otak – tak langsung meninggal tapi perlahan lahan fungsi tubuhnya memburuk – dimulai dengan lumpuh kakinya, kemudian sukar untuk bicara, sukar menelan, sukar bernafas, sebelum akhirnya meninggal dalam keadaan kurus kering dalam tahun berikutnya.

    ########################

    EPILOG

    Di sebuah RS cukup besar dan modern di salah satu negara Eropa bekerja pasangan suami istri dokter Indo dan jururawat berasal dari Indonesia. Keduanya terlihat sangat serasi , sang dokter spesialis bedah cakep dan ganteng sedangkan istrinya jururawat di bagian penyakit dalam ayu cantik penuh keramahan kesabaran, sehingga keduanya sangat disenangi dan dihormati disitu , baik oleh rekan kerja maupun para pasien orang orang bulé.

    Keduanya ibarat sudah ditakdirkan untuk bertemu dan menjadi pasangan sejoli : sang dokter yang sedang liburan di Indonesia mengendarai mobil di tengah malam menjelang pagi setelah pulang seminar. Tak biasanya ia mengambil jalan memotong desa tanpa melewati jalan besar – dan ditengah jalan diantara desa desa yang jarang diterangi lampu dilihatnya seorang gadis berdiri dipinggir jalan.

    Cerita Lendir Terbaru 2017 | Gadis itu sangat cantik namun terlihat sedang dilanda kesedihan tidak terkira – sang dokter merasa sangat heran namun bersedia mengantarkan si gadis ketempat kostnya. Seminggu kemudian si dokter dengan orangtua dulunya berasal dari Indonesia tapi sudah lama tinggal di LN kembali ke Eropah – dan duduk disampingnya dalam pesawat adalah gadis cantik yang ditemukannya ditengah malam. Keduanya semula ingin menikah di Indonesia namun karena keduanya berbeda agama maka banyak sekali rintangan birokrasi yang harus diatasi.

    Oleh karena itu mereka akhirnya menikah di luar negeri : di sebuah negara di Eropah , dimana sama sekali tak ada masalah apakah pasangan calon suami istri berbeda agama atau bahkan sama sekali tak beragama. Agama adalah urusan pribadi – setiap individu harus mempertanggung jawabkan bagaimana kehidupannya kepada Yang Maha Agung – tak perlu di campur adukkan dengan urusan negara apalagi urusan untuk menikah. Konsekwensi jika berbeda agama adalah harus ditanggung oleh pribadi masing masing – negara harus bersikap netral dan tak boleh ikut campur.

    Sang suami tak pernah dan tak mau bertanya mendalam tentang latar belakang kehidupan istrinya : yang terpenting adalah saling mencintai setulusnya. Keduanya selalu berpendapat apa yang telah berlalu biarkanlah berlalu, tujukan hidup ke masa depan dan selalu berusaha untuk optimis.

    Sang suami tak pernah menyinggung apakah isrinya masih perawan atau tidak sebagaimana masih sering dijadikan masalah oleh para pria munafik – bagi pasangan yang mencintai satu sama lain dengan setulusnya maka nilai sehelai selaput berbentuk bulat sabit adalah dapat diabaikan. Sang istri juga tak pernah menyinggung bagaimana kehidupan sang suami dimasa lalu – apakah karena ia hidup remaja di Barat sudah sering melakukan sex dengan wanita lain. Yang penting adalah sejak menikah maka keduanya harus saling mencintai dan setia terhadap satu sama lain , itu adalah resep sederhana untuk bahagia di masa depan.

  • Galeri Foto Ngentot Gadis Jepang Toge

    Galeri Foto Ngentot Gadis Jepang Toge


    2352 views

    Perawanku – Nah, buat kamu yang pengen ngocok maka kami sudah mengumpulkan Foto Ngentot Gadis Jepang Toge dengan tubuh yang sexy aduhai pantat yang montok dan dada yang membusung di jamin bos ku yang melihat foto ngentot ini terasa ingin langsung masuk dan ingin ngentotin wanita tersebut :

     

  • Cerita Sex Dihipnotis Orang Tak Dikenal

    Cerita Sex Dihipnotis Orang Tak Dikenal


    1191 views

    Perawanku – Cerita Sex Dihipnotis Orang Tak Dikenal, Saya Ira (26 thn) dan suami saya Bayu (28) tahun (nama samaran), kami mengalami suatu kejadian yang tidak bisa terlupakan dan sangat mengganggu kehidupan kami berdua. Saat ini kami sedang dalam perawatan Psikiater. Saya ingin menceritakan pengalaman buruk kami agar rekanrekan dapat berhatihati dan selalu waspada jika didekati seseorang yang meminta bantuan.

    Pada hari Jumat tgl 16 July 99 sekitar jam 7 malam sepulang kantor kami menuju ke Warung Tenda Semanggi untuk makan malam.
    Cerita Bokep Saya memilih sebuah tempat di sekitar cafe Bis Tingkat, kami duduk di sebuah meja bagian luar sehingga dapat memperhatikan orang yg sedang lewat. Pada saat kami sedang berbincangbincang, ada tiga pria datang dan mengambil meja tepat disamping kami. Kemudian salah satu dari mereka, ingin menyalakan rokok dan meminjam korek Bayu.
    Tanpa rasa curiga Bayu menyalakan rokok si Pemuda tadi, pada saat yg hampir bersamaan Pria tsb menepuk bahu kami berdua dan seingat saya memandang mata saya dengan tajam. Bayu ternyata merasakan hal yg sama juga. Dia mengatakan bahwa dia bekas teman Bayu waktu kuliah dulu di Amerika (padahal Bayu tidak pernah kuliah di Amerika), tapi anehnya seperti di hipnotis kami percaya dan mengganggap mereka seperti teman baik. Dua orang yg tadi duduk di meja samping kami sekarang bergabung di meja saya. Kami berlima makan malam seperti kawan yg akrab sekali. Ketigatiganya masih muda dan berpenampilan menarik, saya hanya ingat salah satu bernama Rico.
    Setelah Bayu membayar bill, Rico mengajak kami untuk melanjutkan bincangbincang di tempat dia. Saya dan Bayu menurut saja, kemudian kami menuju ke mobil mereka, seingat saya Kijang Baru. Setelah berputarputar kami dibawa kesebuah hotel disekitar Blok M / Senayan, kemungkinan Grand Mahakam atau Hotel Mulia (kami tidak ingat dengan jelas). Kami kemudian berada pada sebuah kamar yang cukup besar dengan ruang tamu (suite room). Seperti di sihir, salah satu dari mereka mengajak bayu ke ruang tamu untuk minumminum sedangkan yg dua (Rico dan temannya) meminta saya masuk ke dalam kamar yg terpisah dengan ruang tamu.
    Anehnya saya merasa senang dan menuruti semua perkataan Rico, menurut pengakuan Bayu dia juga merasakan hal yg sama.
    Saat itu saya memakai baju kerja, atasan warnah merah, rok mini warna coklat tua, blazer Coklat muda, stoking putih, celana dalam putih, BH No 34C putih , dilengkapi dengan suspender warna putih pula.
    Rico kemudian melepas blazer dan semua baju saya yg lain, sekarang saya tinggal mengenakan stocking dan baju dalam. Pada saat itu Rico membuka celana panjangnya dan menarik saya agar melakukan oral sex. Anehnya saya menuruti perkataannya, meskipun sebenarnya saya menolak untuk melakukan. Beberapa saat kemudian, saat saya masih dlm posisi berlutut dihadapan Rico, pria yg satu lagi membuka BH saya dari belakang dan meremasremasnya payu dara saya. Karena kurang puas, pria ini (Roni) memaksa membuka celana dalam saya dari belakang. Saya mengenakan suspender sehingga cukup susah untuk melepas CDnya, maka Roni merobek CD putih saya sehingga sekarang pussy saya yg merah terlihat dng jelas.
    Sekarang saya hanya mengenakan suspender dan stocking yg tetap tidak dilepas. Roni dengan beringas mencium dan menjilat pantat saya, menepuknepuk dan memegangnya dan selanjutnya memasukkan lidahnya ke dalam bibir vagina. Lidahnya diarahkan ke clitoris bagain atas dan dihisap kuatkuat. Belum puas, Roni kembali menciumi bagian pantat saya yg memang sangat indah, mulus dan bundar.
    Sepertinya Rico sudah tidak tahan menahan nafsunya, saya ditarik dan direbahkan terlentang di Tempat tidur serta dia meminta Roni untuk menghentikan menjilati pussy saya. Perlahanlahan Rico menjilati seluruh tubuh mulai dari kaki, liang vagina, clitoris .. di sini dia menjilat beberapa saat dan merasakan kenikmatan juice yg keluar dari liang pussy. Setelah itu Rico menciumi payudara dan setelah sampai dibagian atas, dia membimbing penisnya ke pussy yg saat ini sudah cukup basah.
    Tubuh Rico sekarang berada diatas saya dan mulai naikturun menghunjamkan penisnya, sedangkan bibirnya menciummi saya dan tangannya merabaraba payu dara saya yg masih kencang. Gerakannya pertama perlahanlahan kemudian semakin cepat, dengan kedua tangannya dia menarik kaki saya agar diletakkan mengelilingi pinggannya. Selanjutnya Roni menggoyang semakin cepat, dan tampaknya setelah 10 menit dia sudah akan mencapai klimaks.
    Roni meminta gara Rico tidak melepaskan spermanya didalam, karena dia mau mengambil giliran berikutnya. Beberapa saat kemudian, Rico menarik Penisnya dan menyemprotkan spermanya ke payu dara, perut dan sebagian menetes ke stocking saya sambil berteriak Gila enak sekali cewek ini. Pussynya sangat kencang dan basah, serta badannya sangat indah. Aku akan ambil bagian lagi setelah kamu dan TOmmy
    Roni cepat cepat mengambil Tissue yg ada disamping tempat tidur dan membersihkan ceceran sperma yg cukup banyak diatas payu dara dan perut saya.
    Karena teriakan Rico, Bayu seperti tersadar dan menuju ke kamar dimana saya sedang terlentang tanpa daya. Dia tampak sangat terkejut, tapi dengan cepat Rico menatapnya kembali dan mengatakan bahwa tidak ada apaapa. Istrimu lagi sakit, jadi kami harus memijatnya kata Rico. Bayu masih cukup sadar dan bertanya Kalo dipijat, mengapa kok dia telanjang ? Satusatunya cara untuk menyembuhkan dia adalah dengan dipijat dalam keadaan telanjang Masih penasaran Bayu kembali beragumen Mengapa kamu juga telanjang ?
    Cerita Dewasa Rico kembali menatap mata Bayu dan berkata Sudahlah, pokoknya setelah ini Ira istrimu pasti sehat, tapi yg jelas istrimu ini sangat cantik dan punya body yg super sexy dan enak .. Rico sepertinya keceplosan mengatakan hal tsb. Bayu tampak marah Jadi kamu tidurri dia ? Ya, jawab Rico dengan suara keras dan itu satusatunya cara agar dia sembuh Hipnotis Rico kembali bekerja dan Bayu menurutinya untuk kembali keluar menuju ruang tamu.
    Sekarang giliran Roni yg tampaknya sudah sangat beringas, dia membalik badan saya dan menginginkan berhubungan sex dengan Doggy Style. Saya sebenarnya sudah mulai sadar, tapi tetap saja melakukannya. Pussy saya masih cukup basah akibat berhubungan sex dengan Rico. Roni membuka bajunya, penisnya yg cukup besar dibimbing masuk ke pussy saya dari belakang. Roni menunggangi saya dan dengan gerakan yg kasar dia menggoyanggoyangkan pantatnya sekitar 5 menit,
    setelah itu dia mencaput penisnya. Tampaknya Roni sangat suka dengan bagian pantat jadi dia kembali menciumi dan mengeluselus pantat saya. Setelah puas, dia memeluk badan saya dan menariknya agar saya menungging kepala direbahkan ke tempat tidur. Agar lebih enak posisinya, Roni meletakkan bantal besar dibawah perut saya. Sekarang dia kembali memasukkan penisnya dan menggoyang perlahanlahan, sedang kedua tangannya meremasremash payu dara. Akhirnya setelah sekitar 10 menit dia kembali mencabut penisnya dan meminta saya untuk berdiri berlutut didepannya. Astaga, dia memasukkan penisnya ke dalam mulut saya !! Dengan rasa yg sedikit asin campuran antara precum Roni dan cairan pussy, saya hisap keluar masuk penis tsb. Sesaat kemudian keluarlah cairan sperma Roni kedalam mulut dengan semprotan yg cukup kuat. Ayo, minum sperma saya dan jilati sampai habis, kata Roni Itu adalah obat agar kamu cepat sembuh . haha.ha
    Masih belum puas, Roni kembali memasukkan penisnya yg sekarang setengah keras kedalam mulut saya. Oh .. oh enak sekali
    Hai Roni, cukup ! sekarang giliran Tommy . kata Rico
    Rico mengajak saya ke kamar mandi dan memberikan Gelas supaya saya berkumur dan membersikannya wajah dengan handuk kecil. Dengan masih menggunakan stocking dan Suspender, saya kembali digiring ke dalam kamar. Rico memanggil teman yg ada diluar kamar, Hey Tom ! Dia sudah bersih, sekarang giliran kamu. Ingat jangan dikeluarkan didalam Pussynya karena saya masih mau lagi
    Tomy, agak halus dan memulai dengan mencium bibir saya dengan lembut. Dia minta agar saya berada diatas, dan sayapun kembali menuruti semua permintaan orangorang tsb. Ayo, goyang yg keras Ira, yaya Tomy sekarang juga ikut bergoyang mengikuti irama goyangan pantat saya. Sekarang, tetap dalam posisi diatas, tapi menghadap ke sana Tommy kembali membimbing Penisnya ke dalam pussy. tangannya meremashremas payu dara saya dari belakang sambil meminta saya terus bergoyang naik turun.
    Setelah puas, Tomy meminta saya untuk terlentang dan menggangkat kedua kaki saya dengan bentuk V, dia kembali menggoyang tapi sekarang agak keras. Dan akhirnya dia mencabut penisnya dan melepaskan spermanya ke wajah saya, masih belum puas Tomy memasukkan penisnya ke dalam mulut dan meminta saya untuk membersihkan penisnay dengan mulut saya.
    Kini wajah saya penuh dengan sperma, Tommy mengambil Tissue dan membersikannya.
    Dia kemudian melepas suspender dan stocking saya dan menggiring saya masuk ke Bathtub. Telanjang bulat saya masuk ke BathTub ukuran besar (setengah linggaran) yg didalamnya sudah ada air hangat, ternyata Rico sudah menunggu saya didalam BathTub.
    Dengan usapanusapan lembut Rico membersikan badan saya dengan sabun. Setelah bersih dia membilas dengan shower, dan dia mengambil handuk putih besar untuk mengeringkan badan saya. Saya dibimbing keluar dari Bathtub dan digiring menuju Wastafel, sambil kedua tangan memegang wastafel dan badan agak bengkok, Rico kembali menyebadani saya dari belakang. Tangannya meremasremas payu dara saya.
    Goyangannya makin lama makin keras dan akhirnya di menyemprotkan spermanya ke dalam pussy saya. Baru kali ini pussy saya disemprot dng sperma, tiga kali hubungan sex sebelumnya semuanya dikeluarkan diwajah, badan bahkan di mulut saya.
    Dia kembali membersihkan saya dengan shower dan mengeringkan dengan handuk.
    Saya digiring keluar dari kamar mandi telanjang bulat, setelah memakai Baju kembali, mereka meminta semua perhiasan, jam, dompet, HP saya.
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Aku tertipu rayuan pacar

    Cerita Sex Aku tertipu rayuan pacar


    1060 views

    Perawanku – Cerita Sex Aku tertipu rayuan pacar, Baru pertengahan bulan, tapi habis sudah gajiku bulan ini, hanya tersisa untuk makan dan beli rokok sampai gajian bulan depan yang masih 2 minggu lagi. Haduuuh.., semua karena intensitas chek in di hotel dengan Ita pacar baruku yang baru berjalan 3 bulan..

    Dengan pacar2 sebelumnya pernah tau yang namanya check in.. tapi dengan Ita, baru pacaran seminggu sudah dikasih ML..

    Namaku Mario, aku dan Ita sama-sama berdomisili di pesisir utara Jakarta..
    Jika tanggal tua kami selalu jalan-jalan ke mall, karaoke, atau check in di hotel melati.. Tapi saat sedang tanggal tua, aku ngapel ke rumah Ita dan tentunya  jalan kemana-mana…
    Pemirsa tau kan alasannya ? Hehehehe…

    Kami hanya di rumah saja.. Ngobrol ngalor ngidul tanpa aktifitas sex sama sekali,, maklum ada orang tuanya..
    Tapi malam minggu ini sedikit berbeda, rumahnya sepi…
    “Papa, mama & adik mu pada kemana sayang ? Kok sepi banget ?” Ku tanya Ita untuk memastikan keadaan.
    “Papa & mama lagi ke rumah sodara yang baru melahirkan.. Nengokin bayi.. Kalau 2 adikku lagi main di luar rumah..” Jawabnya singkat.
    “Wah asik dong.., malam ini kita Ъќ perlu sewa hotel…” Kataku sambil mengangkat kedua alisku..
    “Iyaa.., aku sengaja Ъќ ikut papa mama,, dengan alasan jagain rumah dan adik-adikku..”Timpalnya

    Setelah itu kami pun mulai bermesraan di sofa ruang tamu yang berbatasan langsung dengan kamar orang tua dan kamar adikya,, kepala Ita bersandar di pundakku, sedang tangannya mengelus-elus pahaku yg terbungkus celana jeans.. Tanganku membelai-belai rambutnya yang panjang sebahu.. Tak lama kemudian kami saling berciuman., tanganku sudah merambah ke balik bra..

    Gundukan daging di dadanya terasa hangat.. Lama kami berciuman,, Ita yang ternyata sudah horny berat melepaskan ciuman lalu membuka kaus putih dan bra hitam yang dia kenakan.. Toketnya yang tidak terlalu besar kini bebas untuk dijamah.. Bibirku langsung tertuju ke toketnya yg berputing hitam.. Ku isap bagian pinggir puting Ita sambil meremas-remasnya dengan lembut…

    Lalu dilanjutkan memilin putingnya dengan bibirku., Ita tak tinggal diam, dia menekan kepalaku seakan tak ingin isapanku terhenti. Aku dan Ita yang sudah kesetanan oleh nafsu birahi menghentikan sejenak aktifitas untuk melucuti semua pakaian kami. Kini kami berdua telah bugil di ruang tamu, Ita mengarahkan mulutnya ke penisku yang berkepala besar dan sudah tegang dari tadi.. Dimainkan kepala penisku dengan bibir dan lidahnya..

    Lalu dimasukkan batang penisku ke mulutnya, sementara tangannya meraba-raba bijiku. Maju mundur gerakan yang Ita lakukan membuat penis ini makin tegang, dia melepaskan emutan di penis ini lalu meminta aku menjilat memeknya yang sudah basah.. Ita benar-benar sudah horny.. Dia merangkak naik ke badanku yg sedang terlentang di sofa,, dia mengarahkan memeknya ke mulut dan mukaku..

    “Oh My God… Cairan memeknya sudah membasahi jembutnya yang lebat..” Fikirku dalam hati..
    Ku jilati dan ku gesek memeknya dengan kumis tipisku.. Dia mengerang hebat disertai getaran ditubuhnya dan juga cairan memek yang makin banyak menumpahi mulutku… Terasa sedikit asin… Sepertinya dia sudah orgasme..

    Ita merubah posisi, kini dia turun berjongkok dan mengarahkan lubang memeknya ke penisku.. Aku masih terlentang,, Ita melakukan beberapa kali gerakan berjongkok naik turun.. Lalu tengkurep diatas tubuhku.. Kami berciuman,, Ita mengggoyang pantatnya naik turun.. Sungguh lihai permainan pinggul yang dilakukan Ita..

    “Sayaaaang,,, aku Ъќ tahaaaann… ” erang ku menahan nikmat yg luar biasa.. Ita malah bangkit dan lututnya diletakkan ke sofa,, dia menggenjot makin kencang… dan makin kencang…
    Ku pegang pinggulnya untuk memberhentikan gerakannya yang sangat cepat…
    “Stoop dulu.. Aku mau keluar..”Pintaku..
    Dia menghentikan gerakan lalu disambut dengan semprotan air mani dari penisku.. Dan juga cairan dari memeknya…

    Creeet… Creeeet… Creeet…. Seeer…seeeerr… “Aaaaarrrrgghhh….” Kami orgasme bersama…
    Setelah denyutan terakhir dari penisku, memek Ita seperti memeras penisku beberapa kali.. Lalu dia kembali menggoyang pinggulnya… Linu yang terasa dikepala penis ini sungguh tak karuan… Aku coba menahan… Sampai akhirnya Ita berhenti berbarengan dengan cairan orgasme yang keluar dari memeknya. Kami berdua lemas didera kenikmatan..

    Setelah istirahat beberapa saat, kami merapikan pakian dan melanjutkan obrolan sambil bermesraan.. Ita merebahkan kepalanya di pahaku, aku berbincang dan bercanda sambil mengelus-elus rambutnya..kecupan-kecupan kecil pun menghiasi canda kami..
    Saat Ita sedang ke dapur untuk mengambilkan air minum, betapa kagetnya diriku melihat papanya Ita keluar dari kamar yang pintunya langsung bersinggungan dengan ruang tamu tempat dimana kami barusan melampiaskan nafsu…

    “Ooohhh Shiiitt…. Ternyata Ita berbohong,, bagaimana jadinya kalau papanya keluar kamar saat kami berdua sedang asik ML ????” Aku bengong takaruan..
    Ita kembali dari dapur,, aku bertanya rada ngotot..

    “Sayang.. Kamu gila.. Kamu nekat… Tadi bilang papa sedang keluar rumah,, ternyata dia di kamar… Kalau tadi dia keluar saat kita sedang ML, urusan bisa berabe…”Tanyaku sedikit marah dengan suara pelan tertahan..

    “Tenang sayang.. Toh Ъќ terjadi kan ???, kalau aku beritahu kamu papa ada di kamar, kita Ъќ bakal ML… Makanya aku berbohong.. Lagian papa tadi baru pulang kerja.. Dia pasti tidur pulas…aku sudah memperhitungkannya..”Jawabnya sambil tersenyum manis…
    Aku Ъќ tau harus berkata apa lagi,, tapi kejadian ini sungguh menjadi pengalaman ML yang sangat hebat dan tak akan terlupakan…

    Sofa di ruang tamu yang berdekatan dengan kamar papanya Ita menjadi saksi bisu pernah terjadi pergulatan seru dua insan yang sedang dibakar gelora cinta…

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Mami Mertua Tergila-gila Dengan Kontol Ku

    Cerita Sex Mami Mertua Tergila-gila Dengan Kontol Ku


    2947 views

    Perawanku – Cerita Sex Mami Mertua Tergila-gila Dengan Kontol Ku, Banyak yang bilang kalau kita habis makan sesuatu yang berminyak lalu tangan kita diusapkan ke tungkai kaki kita maka kita akan disayang mertua. Aku sering melakukannya, tapi aku nggak yakin kalau hal itu benar, sampai suatu hari aku benar-benar membuktikannya.

    Aku dan istriku hidup terpisah dari mertua, tapi tak jauh, masih satu kota. Karena berdua bekerja, anakku tiap hari kutitipkan pada mertua atau neneknya anakku. Pagi kuantar ke sekolah, siang dijemput neneknya dan sorenya sepulang dari kerja aku jemput anakku dan kubawa pulang.

    Untuk anakku memang mertuaku adalah neneknya, tapi jangan berfikir mertuaku sudah nenek- nenek. Dia masih cling diusianya yang memasuki 50-an. Dia sudah janda ditinggal mati. Ceritanya begini.

    Hari itu setelah nganterin anakku ke sekolah pagi, aku sempatkan mampir ke rumah mertua mau ngasihin uang sekolah dan uang jajan anakku seperti biasanya setiap awal bulan. Hari itu suasana rumah sepi, adik-adik iparku sudah pada pergi kerja dan kuliah. Jadi hanya mertuaku, atau biasa kupanggil Mamih, di rumah. Kuketuk pintu nggak ada yang nyahut, tapi waktu pintu kudorong, tak terkunci jadi aku langsung masuk. Karena saking kebelet kencing, aku langsung menuju kamar mandi.

    Kudorong pintu, terbuka dan tanpa tengok kiri kanan langsung soooooorrrr, enak tenan. Ya karena kupikir nggak ada orang dirumah, aku sudah buka celanaku sebelum masuk kamar mandi. Eee a laaa begitu aku balik kanan mau cuci kontolku yang sudah nogong dari tadi nahan kencing, di depan ku berdiri si Mamih telanjang hanya dililit handuk sebatas dada. Membelalak matanya menatap kontolku, sementara akupun terbelalak menatap bodinya yang meski sudah umur tapi maih mulus, putih.

    Payudaranya yang seperti dua buah pepaya menggelantung, menyembul tak kuasa tertutup handuk kami berdua terpana, tak bergerak, hanya kontolku yang mengacung berkejut- kejut antara mau layu sehabis kencing dan mau tetap tegar merespon mataku yang tak berkedip menatap susu yang besar menggelayut. Susu yang besar memang selalu jadi idamanku, karena susu istriku kecil sekepal tanganku. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba aku sudah mengelus bundaran di dada yang kenyal itu, sementara kontolku juga terasa dielus-elus lembuuuuutt sekali. Aku pejamkan mataku merasakan elusan itu sambil merasakan pula kenyalnya daging birahi.

    Kuplintir putingnya yang kanan dengan tangan kiriku sementara tangan kananku meremas-remas buah yang kiri. Kudengar dia melenguh membuang nafasnya yang kurasakan hangat dimukaku. Lalu kurasakan bibirnya menyentuh bibirku, mendesakkan lidahnya yang kusambut dengan membuka mulutku. Lidahnya liar menggapai- gapai atap mulutku, mengusap-usap pangkal lidahku, niiiikkkkkkmmmaaatt banget. Belum pernah aku berciuman seperti itu seumur-umur. Aku coba imbangi dengan ikut memainkan lidahku, ternyata lebih nikmat lagi.

    Pelan-pelan dia tarik kontolku, rupanya dia mengajakku beranjak dari kamar mandi. Dibimbingnya tongkatku laksana seorang buta dituntun dengan menggandeng tongkatnya. Dia terus menciumku tanpa melepasnya sembari jalan menuju kamarnya yang tak begitu jauh. Sesampai di sana direbahkannya aku, telentang dan dia di atasku. Kini tak sehelai benangpun menutupi tubuhnya, sementara aku masih mengenakan baju dan celana dalam yang sudah mlorot ke paha.

    Tangan kirinya tak lepas dari kontolku, mengurut-urutnya sampai-sampai aku merasakan hampir bobol pertahanku, karena merasakan sesuatu yang lain dari biasanya. Tangan kanannya mulai membuka kancing- kancing bajuku, sambil mulutnya terus bertengger di mulutku, berperang lidah. Terbuka sudah seluruh tubuhku kecuali cancutku yang kini tengah diplorotin. Dia turun ke arah selangkanganku, membelai-belai kontolku yang kian menegang, terlihat mengkilat helemnya dengan setitik cairan bening di lubangnya. Tak kusangka, dia mau meloco kemaluanku.

    Cerita Sex Mami Mertua Tergila-gila Dengan Kontol Ku

    Cerita Sex Mami Mertua Tergila-gila Dengan Kontol Ku

    Dijilati bagian bawah batangku benar2 enak, sementara tangannya tak henti- hentinya mengusap-usap lembut buah pelirku yang penuh jembut lebat. Dan, “aaaaaakkkkkhhhh, Miiiiiiihhhh” hanya itu yang bisa kulenguhkan. Kini dimasukkannya batangku seluruhnya. Entah sedalam apa mulutnya kok bisa menampung batang kontolku yang lebih dari 12 cm.

    Istriku kadang suka mengeluh sakit kalau buru-buru kumasukkan basokaku ke memeknya yang baru mulai basah. Dia bilang basokaku gedhe banget. Temenku juga pernah bilang begitu waktu kita mandi sama-sama sehabis berenang: “Ris, kontolmu gede amat sih”. Memang kontolku unik, sebenarnya yang gede hanya kepalanya, garis tengahnya sebesar pantat gelas plastik Aqua, tapi batangnya ke pangkal mengecil sampai sebesar pipa pralon ukuran ?.

    Dilumati terus dengan berbagai teknik yang sulit digambarkan, aku nggak tahan juga. Kujambaki rambut si Mamih sambil melenguh, “Miiiih, akkkkuuu mmmmaaaauuuu kelllllluaarrrrr ”. “Keluarin ajahhhh, biar ku telllleeenn.” Hiiiii, apa nggak jijik mmmmmiiiiihhh” “Nggggaaaaa, buat awet mudaaaaa, pittttttaaaaammmmiiinnn.

    Sambil melenguh keras kusemburkan air mani yang sudah mendesak- desak dari tadi, beberapa kali semburan. Lima-enam kali semprotan maniku semua nyembur di dalam mulut Mamih, tak setetespun keluar. Kudengar suara menelan, “Glleeecck glllekk”. Lalu terus dijilati kepala kontolku sampai bersih dan mengkilat lagi. Gellii banget, kalau habis keluar dipegang apalagi dijilati. “Eeeeeeuuuuuhhhhh” Akupun menggelosor kecapaian. Plong banget rasanya dada ini setelah hampir setengah jam dipacu. Lama juga permainannya. Kupikir usai sudah permainan, eeeh nggak tahunya dia nggak juga nglepasin kontolku.

    Terus saja dijilati, diloco, dikocok-kocok, sambil dia membalikkan tubuhnya. Diarahkannya pantatnya ke arahku, dia masih di atasku jadi sekarang wajahku tepat di bawah memeknya. Seumur-umur pula aku belum pernah menjilat memek, tapi entah kenapa saat itu dengan serta merta kupegang pantatnya yang ternyata masih padat, kuturunkan sedikit sehingga memeknya dapat kuraih dengan mulut dan lidahku. Kujilati bibir memeknya, kucucrup itilnya yang cukup besar yang sembunyi dibalik selaput tertutup jembut yang tak begitu tebal.

    Kumakan memeknya sebisaku, kupraktekkan hasil dari nonton BF selama ini. Dan ternyata, kurasakan memeknya membanjir meleleh ke ujung hidungku. Baunya asem- asem sedep. Ini barangkali yang kata temen-temen, bau comberan rasa duren. Aneh juga seih, kenapa bau yang mestinya nggak sedep ini kok tercium sedep juga, bahkan kini aku semakin geram mencucrupi memeknya. Kutusuk-tusukkan lidahku ke lubang memeknya yang makin berlendir.

    Aku sudah tak mikirin lagi kontolku lagi diapain karena saking asiknya bermain dengan memeknya yang makin lama makin mengasyikkan. Tiba-tiba, kurasakan asin memuncrat ke lidahku dan kudengar dia mengerang seperti kesakitan: “Riiiiiiiisssss, akkkkkkuuuuuuu???. ” Dan hhheeeeggg memek dan pantatnya yang besar menjatuhi mukaku, menutupi seluruh wajahku membuatku nggak bisa bernafas. Ku dorong ke samping, lantas dia menggeser badannya dan berbalik, lalu menciumiku sertubi-tubi.

    “Riiissss, eennnakkkk sekalli, udah lama Mamih nggak ngerasain yang begini.” Iya Mihh, aku juga baru kali ini ngrasain enaknya diloco, mau nggak Mamiih ngloco lagi lain kali” “Mau dong. Kamu mau nggak ngrasain sesuatu yang belum pernah kamu rasakan selama ngewe ” ” Apa itu Miih ?” “Ayo lah, masukin kontolmu ke memekku, kamu pasti ketagihan nanti. ” Dan permainan pun belum juga usai.

    Dia telentang mengangkangkan kakinya. Kulihat lubang memeknya yang basah kuyup, dilap dengan celana dalamku, dan kini agak kering lembab. Dituntunnya kontolku memasuki gua gelap nan lembab. Bllleeeeeesss, nggak ada kesulitan karena sudah berlendir, dan rudalku juga sudah mulai ngaceng lagi setelah diloco bermenit-menit. Aku memang merasakan sesuatu yang lain. Memeknya terasa bergerigi, seperti ada jonjot-jonjot di dinding- dindingnya.

    Memek istriku nggak seperti ini rasanya. Aku bener- bener nggak tahan. Daripada nyembur sebelum waktunya, lebih baik kutahan saja, jadi kubiarkan kontolku diam dijepit memeknya yang masih tetap kencang meski sudah melahirkan enam kali. “Miiiih, akkuu nggakkk tahaann. Memek Mamih ennnakkk baangeett. Kayaa ada pasirnyaaa ” Dia tersenyum penuh arti “Riiiisss, ittu belum seberapa. Kamu diaaamm saajaa, biiar kugoyang yyaahhh”.

    Benar saja, kontolku yang ? tegang dikilir kiri kanan ke atas ke bawah. Benar2 profesional. Terkadang kurasakan kontolku seperti ditolak, didorong keluar, tapi belum sempat keluar gua, kurasakan kepalanya disedot, keras sekali. Meskipun aku diam saja, tapi kontolku serasa disedot, ditiup, diplintir, ngilu-ngilu enaaaakkk sekali.

    Aku tak tahan, kugenjot juga akhirnya, pelan-pelan kutarik, kubenamkan lagi maju mundur. Dan sensasi yang kurasakan semakin tak terlukiskan manakala kutarik keluar, tapi dari dalam memeknya kontolku disedotnya habis-habisan. Entah gimana caranya dia punya memek bisa seperti mengulum-ngulum batang dan kepala kontolku.

    Inikah yang disebut empot ayam? Makin lama kupompa, rupanya diapun sedang menikmati pompaanku, buktinya kulihat wajahnya merah meranum dan matanya meredup-redup. Lalu tiba-tiba dia goyangkan pantatnya keras-keras kiri-kanan-kiri-kanan, diangkat tinggi-tinggi sambil melenguh “Riiiisssss, tekeeeen yaaaaaang kerrrraaaasssss?.. aaakkuuu mmmaaaauuuu keeelluuuaaaar?.. ayyyoooo kkaaaamu jugaaaa barreeeennng biiiiaarrr taaaahhhuuu apppaaa yaaanggg mmmmaaaaammmiiih bilaaaanng taaaadddddiiiiii”.

    Kutekankan keras-keras rudalku, daleeeeem sekali, sambil kupegang pantatnya, dua-duanya kuratik mendekat ke pangkal kontolku. Serasa kontolku amblas masuk memeknya sampai sa peler-pelernya, daannnn “Miiiiiihhhhhh akkkkkukelllluaaarrrrrrrr ” “Akkkuuuuuu juggggaaaa” ?.. sesaat kurasakan dinding2 memeknya berdenyut-denyut keras sekali tapi berirama, dan pada saat itu pula aku semburkan isi pelirnya. Serasa diperas-peras sampai pol-polan nggak tersisa sedikitpun di dalam tandonnya.

    Sementara semprotan maniku sudah selesai, kontolku masih merasakan denyutan-denyutan memeknya. Hebat benar Mamihku ini. Sudah keluar juga masih mendenyut atau mungkin keluarnya panjang karena bersamaan dengan itu lalu kurasakan semburan hangat ke kepala kontolku yang masih tertanam dalam sekali di gua birahinya. “uuuuuuuuhhhhhhhhhhhhh eeehhhhh, uuuuhhhhh” hanya itu suara yang keluar dari mulutnya.

    Matanya memejam, tapi kedua tangannya masih mencengkeram pantatku seolah-olah aku nggak boleh mengangkatnya. Lalu kami berduapun terdiam sejenak. Diciuminya mukaku, dijilati pipi dan telingaku, turun ke dagu, leher dan putting susuku kiri kanan. Ooooohh nikmatnya.

    Baru kali ini aku merasa bener-bener puas kontolku. Sebuah pengalaman baru. Ternyata makin tua, perempuan bukan makin tak enak seperti yang selama ini terpatri di benakku dan mungkin juga benak setiap lelaki, sehingga khayalannya hanya ingin mencari dan ngewe sama perempuan2 muda dan anak-anak ABG. Terbukti kini bahwa pengalaman adalah segala-galanya. Meski mungkin memek sudah kendor, longgar tapi teknik makin canggih, jadi rasanya lebih gurih.

    Kuciumi pula wajahnya, bibirnya, dagunya, lehernya dan akhirnya putting susunya. “Miiiihhh, gimana sih rasanya dijepit pakai susu” “Besok datang lagi yaa, ntar Mamih jepit rudalmu. Pantesan si Ita (istriku) lengket banget sama kamu, rupanya kontolmu istimewa. Bagi-bagi terus sama Mamih ya biar Mamih panjang umur, makin sayang sama kamu, sama anakmu. Nanti Mamih sediain jamu biar kamu tetep seger, tambah kuat. Malem buat Ita, pagi buat Mamiih yaah” Tingkahnya macam ABG lagi pacaran saja, menggeleyot menuntunku ke kamar mandi.

    Akupun dimandiin. “Miiih, nanti si Ita dikasih resepnya, biar kelak tuanya kayak Mamih, jadi awet muda terus. Tapi akan aku awasi habis-habisan, jangan- jangan mantuku yang ngrasain ” “Hussh, nggak boleh, cukup Mamih saja ” Sampai saat ini hubungan ini terus berlanjut, dan kehidupan rumah tanggaku semakin bahagia.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Pemerkosaan Dokter Amoy Muda

    Cerita Sex Pemerkosaan Dokter Amoy Muda


    1467 views

    Perawanku – Cerita Sex Pemerkosaan Dokter Amoy Muda, Seorang dokter wanita muda keturunan Tionghoa menceramahi Yoga begitu ia masuk ke dalam kamar periksa, Yoga yang merasakan badannya masih sakit, berjalan terpincang hanya bisa diam tidak menjawab.

    “Saya perhatikan cuma kalian anak-anak muda asli daerah sini saja yang suka balapan liar. Apa udah gak sayang sama nyawa kalian..?

    Dokter muda itu masih terus berceloteh. Yoga berusaha tetap cool dengan celotehan pedas itu. Kalau diikutkan perasaan, hatinya memang panas dihina bergitu. Tapi karena badannya sakit dan lutut serta sikutnya tengah dibalut dengan perban karena terjatuh dari motor maka dia mengambil sikap diam.

    Yoga teringat peristiwa malam tadi saat dia dan teman-temannya berlomba balapan motor liar di jalanan malam kota. Nasibnya malang karena tergelincir di tikungan dan badannya terhempas ke jalan aspal yang keras. Badan, lutut dan sikunya memar serta mengeluarkan banyak darah. Nasib baik helm yang dipakainya tidak terlepas tetap melindungi kepalanya, kalau tidak kepalanya mungkin bisa bocor.

    Yoga memilih untuk mendapat perawatan di sebuah klinik dokter umum. Dia enggan ke rumah sakit karena para suster di sana pasti akan menyindir hobinya itu. Tapi tak disangkanya, di klinik dokter umum ini pun sang dokter meyinggung-nyinggung hobinya itu. Dokter keturunan cina muda itu sungguh cantik dan Toge.. yupzz bahkan toket gedenya teramat sangat masih kenceng, maklumlah mungkin dia masih perawan. Dokter ini pantas jadi seorang model, fikir Yoga.

    “Duduk, anda sakit apa?” Tanya dokter muda itu.

    Yoga berjalan perlahan sambil memandang ke dinding di belakang dokter yang memakai baju dokter warna putih. Di dalam sebuah figura terlihat ijazah dokter ini. Dr. Sinta Angeline Chie.

    “Saya sakit di sini dokter,” jawab Yoga malu sambil menunjukkan selangkangannya.

    “Memangnya kenapa?” tanya sang dokter.

    “Terjepit resleting dokter,” jawab Yoga terputus-putus menahan malu.

    “Coba anda buka celananya dan berbaring di sana,” sambil tangannya menunjukkan sebuah tempat tidur kecil yang dijadikan tempat pemeriksaan.

    Yoga membuka celana yang dipakainya dan berbaring di tempat tidur pemeriksaan seperti yang diarahkan oleh si dokter Tionghoa tersebut.

    Dr. Sinta memeriksa sambil memegangi batang kontol Yoga dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan karet.

    “Ini salah kamu sendiri. Kalau saja kamu tidak membuang kulit yang membungkusi kepala penismu ini tentu tidak akan begini jadinya.” Dr. Sinta bersuara sambil mengelusi kepala licin kontol Yoga yang lecet.

    Yoga berfikir. Salahkah aku karena aku disunat. Dokter cina ini menyalahkan aku karena kulit kulupku telah dibuang.

    “Anda tak tau kan, kulit kulup berfungsi untuk melindungi kepala penis. Kalau kulupnya dibuang itu emangnya untuk apa?” Dr. Sinta masih mengomel.

    “Saya suka perempuan-perempuan kalian, kepala mereka ditutup dengan baik. Tapi saya tak suka penis kalian, kulit penutup kepala malah dibuang.”

    Yoga sungguh geram saat kontolnya dihina seperti itu oleh sang dokter. Namun perasaan marahnya tidak ditunjukkan karena lukanya sedang diperiksa. Kalau gak bisa nahan emosi udah diterjang dokter cina itu. Malunya semakin menjadi saat sang asisten dokter tersebut senyum-senyum ketika Dr. Sinta terus-terusan mengomel.

    “Susi! Kalau Suami kamu disunat gak?”

    “Enggak, dokter,” jawab Susi yang tampak dari penampilannya berasal dari Papua.

    “Kamu suka yang disunat atau gak disunat?” tanya Dr. Sinta lagi.

    “Saya tak permasalahkan itu dokter. Asalkan kontol itu bisa bangun cukup keras dan bisa memuaskan saya.” Jawab Susi ringan.

    Yoga geram. Dokter ni mau mengobatinya yang lagi kesakitan ini atau malah mau mengobrol dengan asistennya.

    “Saya kalau nikah nanti mau pilih yang tak disunat,” Dr. Sinta berceloteh tanpa rasa malu kepada Yoga yang sedang dirawatnya. Atau dokter amoy ini memang sengaja ingin memojokkan Yoga.

    “Kalau ternyata dia disunat lalu bagaimana dokter?” tanya Susi.

    “Sebelum dinikahi, saya pasti akan periksa kontolnya terlebih dulu. Saya perlu uji keperkasaannya.”

    “Dokter tak masalah kalau nanti saat malam pertama dokter sudah tidak virgin lagi?”

    “Sekarang pun saya sudah tak virgin.” Oceh mulut tipis dokter muda itu.

    Yoga hanya diam saja di atas ranjang pemeriksaan. Perasaan geramnya masih bersisa. Rasa malu dan terhina muncul sepanjang dokter bermata sipit itu berceloteh menganggap rendah kontol miliknya. Sang dokter terus menyapu cairan obat ke bagian kepala kontol yang terluka. Yoga merasa pedih ketika obat diusapkan. Sensasi geli juga ada ketika kapas obat merayap di kepala kontolnya.

    “Okay, dah selesai. kontolmu ini berukuran kecil sekali. Tak ada perempuan yang suka.” Sempat pula dokter muda ini menyepet Yoga dengan sinis.

    Emosi Yoga kembali tersulut bara api. Ngomongnya sih pelan tapi dalem… Mungkin kalau dia tidak sedang sakit waktu itu juga dokter cina itu akan diperkosanya. Kata-kata dokter tersebut melukai perasaannya. Yoga merasa terhina.

    “Aku merasa terhina dengan dokter haram sialan itu.” Yoga menceritakan kejadian yang menimpanya kepada Reza kawannya seminggu setelah pemeriksaan.

    “Lalu sekarang kamu mau ngapain?” tanya Reza.

    “Aku mau balas dendam, biar dia rasakan batang kontolku ni,” Yoga masih menyimpan amarah.

    “Kau mau ikut aku?” tanya Yoga.

    “Bolehlah, aku ingin menjajal liang bool tuh amoy.”

    Jam sepuluh malam itu Yoga dan Reza sedang menunggu di depan klinik Dr. Sinta. Satu persatu asisten dokter tersebut meninggalkan klinik. Sepuluh menit mengamati munculah Dr. Sinta. Dia sedang memegangi kunci untuk menutup kliniknya. Lalu dengan cepat Yoga dan Reza menerobos dan memegangi sang dokter muda dari belakang. Sambil mulutnya dibekap badan dokter tersebut didorong masuk ke dalam klinik.

    Yoga dibantu Reza menarik dokter amoy tersebut ke dalam ruang periksa pasien. Lampu dinyalakan terang dan dokter tersebut dibaringkan di atas tempat tidur untuk memeriksa pasien. Yoga mengeluarkan pisau kecil yang disimpan dalam sakunya dan ujungnya dirapatkan ke pipi licin sang dokter.

    “Kalau kamu menjerit pisau ini akan menoreh pipimu yang cantik ini.” Yoga memberi ancaman kepada Dr. Sinta.

    “Kalau mau selamat ikuti saja perintah kami,” sambung Reza.

    Dengan penuh ketakutan Dr. Sinta mengikuti saja ancaman mereka tanpa berupaya melawan. Dua orang pria lokal yang berbadan kekar ini bisa melakukan apapun kepada dirinya. Yoga memegang erat paha Dr. Sinta yang memakai rok pendek berwarna hitam. Dr. Sinta hanya memejamkan matanya saat kancing bajunya di copot satu persatu .. hingga tampaklah toket gede dokter amoy itu.

    Lalu rok mininya yang berwarna hitam diangkat jemari Yoga keatas. Airmata mulai jatuh keluar dari kelopak matanya saat Yoga kemudian menanggalkan rok yang dipakainya itu sehingga menampilkan paha dan batang kakinya yang amat putih namun memeknya masih di bungkus celana dalam berwarna cream. Yoga menjilati paha dokter amoy itu karena terangsang menikmati pemandangan indah di hadapannya.

    “Minggu lalu kau menghina burungku. Kau bilang burung bersunat buruk rupa. Kau bilang lagi burungku kecil, tak ada perempuan mau. Sekarang aku mau kau rasakan burung milikku ini.”

    Dengan perasaan yang masih takut Dr. Sinta mulia teringat pada lelaki di hadapannya. Dr. Sinta masih ingat pemuda yang mengangkang dan dirawatnya disini karena kepala penisnya terjepit resleting. Dr. Sinta lalu mulai menyesal kerana telah menghina pemuda ini. Tak disangkanya pemuda ini berdendam kepadanya.

    Lalu Dokter sinta disuruh berdiri, setelah berdiri di doronglah dokter sinta ke tembok, hingga ia terpojok di tembok itu setelah itu dibukalah baju dinas dokter Sinta yang berwarna putih itu… dan kini dokter sinta hanya mengenakan Celana Dalamnya yang berwarna cream, dia hanya bisa pasrah bersender di tembok sambil menutup mukanya.

    Kenudian dokter sinta kembali di baringkan di tempat tidur tadi dan Akhirnya hanya celana dalam Dr. Sinta yang berwarna cream itu yang menutupi tubuh mulusnya. Yoga pun menciumi dari ujung kaki hingga sampai ke celana dalam Dr. Sinta.

    Mengeliat-geliat lah Dr. Sinta diperlakukan begitu. Yoga kemudian menarik turun celana dalam Dr. Sinta dan menampakkan gundukan memek putih yang tertutupi dengan bulu-bulu halus warna hitam dan amat mennggairahkan.

    Yoga pun terus mengarahkan mukanya ke celah belahan memek dari Dr. Sinta dan menjilat-jilatnya dengan penuh nafsu. Mengeliat-ngeliat Dr. Sinta diperlakukan begitu. Memeknya terasa geli dijilati Yoga. Walau pun tanpa kerelaan tapi lidah Yoga yang menyiksa kelentitnya membuat nafsunya membara juga. Sambil menjilat memek Dr. Sinta, tangan Yoga tak henti-henti meraba-raba paha dan seluruh tubuh Dr. Sinta. Dr. Sinta menjerit-jerit kecil disaat Yoga menghisap biji kelentitnya yang terasa nikmat. Terangkat-angkat pantat Dr. Sinta menahan cobaan tapi nikmat.

    Yoga tak peduli dengan memek si perempuan sipit yang bau Air kencing itu. Mungkin Dr. Sinta tak mencuci memeknya sehabis kencing. Yoga mulai mengganas dan ingin menggarap bagian atas tubuh Dr. Sinta juga.

    Bibir Dr. Sinta kini menjadi mangsa ciuman Yoga dan jari-jemarinya meremas buah dada toge nan padat milik Dr. Sinta. Kelihatan pipi Dr. Sinta yang lembut dan putih itu berubah menjadi kemerah-merahan kelika Yoga semakin mengganas. Yoga mulai membuka pakaian dan celana jeansnya. Yoga pun menanggalkan celana dalamnya dan mengeluarkan batang kontolnya yang telah lama mengeras. Batang kontol sepanjang enam inci itu mengganguk-angguk menunggu mangsanya.

    “Jangan… tolong jangan lanjutkan…, saya minta maaf,” kata Dr. Sinta memohon belas kasihan.

    “Sudah terlambat kau minta maaf. Sekarang kau rasakanlah kontol yang sudah disunat ku ni.” Yoga tertawa kecil.

    Yoga mengurut batang kontolnya. Helm bulat warna coklat tua itu mengkilat. Sengaja didekatkan ke muka amoy cantik itu… Dr. Sinta tak menyangka batang penis kecil dan pendek waktu dia periksa minggu lalu dapat tumbuh hingga sebesar itu.

    “Sekali kau mencoba kontolku yang udah disunat ini, kamu akan ketagihan. Rasakan sensasi dan kenikmatannya.”

    Yoga terus mengangkangkan Dr. Sinta yang tidak berdaya itu lalu kelihatan lubang memeknya terbuka lebar dan siap untuk digarapnya. Yoga tidak menunggu lama lagi.. yogapun menusukkan batang kontol yang pernah dihina sang dokter cina ke dalam liang memek Dr. Sinta yang masih sempit itu. Yoga merasakan kenikmatan yang tidak terhingga ketika batang penisnya masuk menerobos ke dalam memek si amoy. Dr. Sinta hanya menutupi mukanya. “Jleb-jleb-jleb” blebes .. bunyi memek milik Dr. Sinta digenjoti Yoga dengan penuh nafsu.

    Reza yang tadinya hanya menonton mulai beraksi karena nafsunya juga ikut membahana badai, selain itu karena reza juga sering membuka situs bokepdo.com, jadi nafsunya semakin beringas. Toket milik wanita cina yang sintal itu diremas-remasinya.

    Ketiak licin dokter amoy itu dicium dan dihirupinya. Cukup wangi ketiak dokter muda ini. Dr. Sinta kegelian saat lidah Reza mulai bolak-balik di kulit ketiaknya yang licin.

    Yoga meneruskan aksinya. Batang kontolnya ditarik dari lubang memek Dr. Sinta. Diangkatnya badan dokter muda itu dan diletakkan di lantai. Diarahkan dokter amoy itu supaya merangkak. Kontolnya yang basah dengan lendir memek Dr. Sinta didorongnya masuk dari belakang. Dr. Sinta hanya mampu mengerang. Terayun-ayun toketnya yang tergantung. kini mereka melakukan Doggy style

    Reza yang mengamati saja tingkah laku Yoga dan Dr. Sinta tak dapat lagi menahan nafsunya. Celananya dipelorotkan dan kontol miliknya yang sedikit lebih besar dengan milik Yoga berdiri menegang dengan keras. Kontol itu dipaksakankan masuk ke mulut Dr. Sinta.

    “Sekarang hisap juga kontol yang udah sunat milikku. Nanti tentu kau akan merasakan enaknya,” usik Reza sambil mengarahkan kontolnya yang besar dan panjang itu ke muka Dr. Sinta. Dr. Sinta hanya mampu melihat tanpa berani melawan.

    “Buka mulutmu dan sedotilah, tunggu apa lagi,” perintah Reza dengan suara keras.
    Dr. Sinta membuka mulut tanpa daya dan mulai mengecapi kepala licin bentuk helm jerman menerobos ke mulutnya. Dr. Sinta menghisap dan mengemut batang kontol yang besar hingga Reza mengerang-ngerang keenakan.

    Lama-kelamaan Dr. Sinta telah keletihan dan hanya mampu menuruti saja perlakuan Yoga dan Reza kehadapnya. Akhirnya Dr. Sinta tidak mampu bertahan lagi dengan genjotan dari kontol Yoga dan dia pun telah basah berkeringat karena hampir klimaks. Mata Dr. Sinta kelihatan amat kuyu dan keletihan sementara buah dadanya menegang tajam karena merasakan orgasme yang amat hebat, maklumlah kali pertama baginya dientot oleh lelaki yang bersunat. konto yang sebelumnya dianggapnya tidak menarik ternyata terasa sungguh hebat.

    Akhirnya Dr. Sinta klimaks dan air juice memeknya keluar juga dengan banyaknya dan kelihatan meleleh pada liang memeknya. Kali pertama Dr. Sinta mendapat orgasme dari persetubuhannya dengan penis yang udah disunat. Sebelumnya teman lelakinya yang masih berkulup yang melayaninya ngentot. Mengerang hebat si amoy cantik saat dia mengalami klimaks. Menggigil badannya merasakan kenikmatan yang amat sangat.

    Yoga juga turut orgasme menyusul sang dokter saat melihat amoy muda yang cantik yang digenjotnya itu klimaks dan dia meraung kuat dalam orgasme sambil menembak-nembakkan air kejantannya ke dalam liang memek Dr. Sinta. Perempuan cina itu dapat merasakan cairan panas menerpa kencang ke rongga rahimnya. Pangkal rahimnya terkemut-kemut menyedot benih pria pribumi yang amat banyak. Mungkin dua buah zakar punya Yoga ngecrot disana mengosongkan seluruh amunisinya.

    Reza juga tak tertahan lagi saat mulut mungil yang hangat itu membelai batang penisnya. Reza yang belum pernah merasakan kengahatan dari perempuan tak dapat bertahan lama dan menembakkan air maninya ke dalam mulut Dr. Sinta. Dr. Sinta dengan lemah menelan semua mani dari kontol Reza. Terasa anyir tapi ditelan juga.

    “Sekarang kau nikmati kontol yang kau hina. Kau bilang tak ingin kontol yang sunat. bagaimana rasanya?”

    “Enaak..” Dr. Sinta menjawab dengan perasaan malu.

    Sekarang Dr. Sinta mengakui batang penis pria lokal milik dua orang ini lebih nikmat dari batang teman lelakinya. Dia telah salah sangka. Dan dia merasa bersalah karena menghina kontol lelaki ini. Tapi bila dipikirkan ada pula hikmahnya. Dia dapat menikmati batang penis yang dipotong kulit penutupnya. Rasanya juga nikmat. Dr. Sinta mulai berpikir untuk menyuruh teman lelakinya dikhitan juga.

    Reza dan Yoga mengenakan pakaian dan meninggalkan dokter cina tersebut terbaring kecapekan di lantai.

    “Tak sempat aku merasakan memeknya amoy. Hisapannya pasti dahsyat, aku sudah tak tahan.” Reza mengeluh perlahan.

    “Kau jangan sedih. Minggu depan kita garap lagi dokter cina tu.”

    Yoga dan Reza tertawa berderai dalam mobil. Yoga dan Reza membuat rencana mereka selanjutnya. Apalagi Reza bersikukuh ingin menikmati juga memek milik amoy yang cantik itu. Kali ini mereka akan mengajak seorang teman dekat mereka yang juga ingin merasai memek amoy yang ketat itu. Maklum saja dua orang jejaka jones ini belum pernah merasai nikmatnya ngentot. Hanya nyabun dan coli saja yang mereka tahu, itupun sudah terasa nikmat yang tak terhingga.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Bokep Bercinta Dengan Gadis Perawan Di Hotel – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Bokep Bercinta Dengan Gadis Perawan Di Hotel – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1595 views

    Perawanku – Siang itu aku berada di kantor sedang membaca suratsurat dan dokumen yang barusan dibawa sekretarisku LIA, untuk aku tanda tangani. Kulihat di layar handphone ku tampak sebuah nomor telepon yang sudah kukenal.

    Hello.. Dita.. Apa kabar sapaku. Hi.. Pak Robert.. Kok udah lama nih nggak kontak Dita. Iya habis sibuk sih jawabku sambil terus menandatangani suratsurat di mejaku. Ini Pak Robert.. Ada barang bagus nih.. terdengar suara Dita di seberang sana.

    Dita ini memang kadangkadang aku hubungi untuk menyediakan wanita untuk aku suguhkan pada tamu atau klienku. Memang terkadang untuk menggolkan proposal, perlu adanya servis semacam itu. Terkadang lebih ampuh dari pada memberikan uang di bawah meja.

    Bagusnya gimana Dit? tanyaku penasaran.

    Masih anakanak Pak.. Baru 15 tahun. Kelas 3 SMP. Masih perawan, benerbener gadis virgin Mendengar hal itu langsung senjataku berontak di sarangnya.

    Memang sering aku kencan dengan wanita cantik, ABG atupun istri orang. Tetapi jarangjarang aku mendapatkan yang masih perawan seperti ini. Cantik nggak? tanyaku

    Cantik dong Pak.. Tampangnya innocent banget. Bapak pasti suka deh.. rayu Mami Dita ini. Setelah itu aku tanya lebih lanjut latar belakang gadis itu. Namanya Tari, anak keluarga ekonomi lemah yang perlu biaya untuk melanjutkan sekolahnya.

    Orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya lagi sehabis SMP nanti, sehingga setelah dibujuk Dita, dia mau melakukan hal ini.

    Minta berapa Dit? tanyaku

    Murah kok Pak.. cuma lima juta Wah.. Pikirku.

    Murah sekali.. Aku pernah dengar ada orang yang beli keperawanan sampai puluhan juta. Singkat kata, akupun setuju dengan tawaran Dita.

    Aku berjanji untuk menelponnya lagi setelah aku sampai di lokasi nanti. Lia.. Ke sini sebentar kutelpon sekretarisku yang sexy itu.

    Tak lama Lia pun masuk ke ruanganku. Sambil tersenyum manis dia pun duduk di kursi di hadapanku. Ada apa Pak Robert? tanyanya sambil menyilangkan kakinya memamerkan pahanya yang putih. Belahan buah dadanya tampak ranum terlihat dari balik blousenya yang agak tipis. Ingin rasanya aku nikmati dia saat itu juga, tetapi aku lebih ingin menikmati perawan yang ditawarkan Dita.

    Toh masih ada hari esok untuk Lia, pikirku.

    Saya perlu uang lima juta untuk entertain klien. Tolong minta ke bagian keuangan ya kataku.

    Baik Pak jawabnya. Ada lagi yang bisa saya bantu Pak Robert..? Lia berkata genit sambil menatapku menggoda

    Nggak.. Mungkin lain kali Lia.. Saya sibuk banget nih kataku purapura. Aku tak ingin staminaku habis sebelum bertempur dengan Tari, anak SMP itu. Liapun beranjak pergi dengan raut muka kecewa, dan tak lama dia kembali membawa uang yang aku minta beserta slip tanda terima untuk aku tandatangani.

    Nanti kalau perlu lagi, panggil Lia ya Pak katanya masih mengharap.

    Baik Lia.. Saya pergi dulu sekarang. Jangan telepon saya kecuali ada emergency ya jawabku sambil mengemasi laptopku. Tak lama akupun sudah meluncur dengan Mercy kesayanganku menuju hotel di kawasan Semanggi.

    Akupun cek in di hotel yang berdekatan dengan plaza yang baru dibangun di daerah itu. Setelah mendapatkan kunci akupun bergegas menuju kamar suite di hotel itu. Setiba di kamar, kutelpon Dita untuk memberitahukan lokasiku.

    Dia berjanji untuk datang sekitar satu jam lagi. Sambil menunggu kunyalakan TV dan menonton siaran CNN di ruang tamu kamarku. Sedang asyikasyiknya melihat berita perang di Irak tibatiba HPku berbunyi.

    Sialan Lia. Aku khan sudah bilang jangan telepon. pikirku sambil mengangkat telepon tanpa melihat caller IDnya.

    Halo. Pak Robert.. Ini Santi kata suara di seberang sana.

    Santi ini adalah istri dari Pak Arief, manajer keuangan di kantorku.

    Oh Santi.. Aku pikir sekretarisku. Ada apa San?

    Nggak Pak Robert.. Cuma kangen aja. Pengin ketemu lagi nih Pak.. Aku pengin ulangi kejadian yang di pesta dulu itu.

    Bisa ketemuan nggak Pak hari ini?

    Wah.. Kalau hari ini nggak bisa San.. Aku sedang di tempat klien nih jawabku mengelak.

    Khan minggu depan suamimu sudah pergi.. Jadi kita bisa puas deh nanti seharian lanjutku.

    Habis Santi udah kangen banget Pak.. rengeknya.

    Sabar ya sayang.. Tinggal beberapa hari lagi kok hiburku. OK deh.. Sorry kalau mengganggu ya Pak katanya menyudahi pembicaraan.

    Wah, ternyata dia sudah tak sabar ke pengin aku kencani, pikirku. Mungkin baru pertama dia bertemu dengan laki laki jantan sepertiku di pesta perkawinan dulu. Kemudian aku telepon Lia untuk menanyakan kepastian kepergian Pak Arief ke Singapore, yang dijawab bahwa semuanya sudah confirm dan Pak Arief akan berangkat tiga hari lagi.

    Setelah satu jam setengah aku menunggu, terdengar bunyi bel kamarku. Kubuka pintu kamarku dan tampak Dita bersama seorang gadis belia, Tari.

    Maaf Pak Robert. Tadi Tari baru pulang dari latihan pramuka di sekolahnya alasan Dita. Mungkin tampak di wajahku kalau aku kesal menunggu mereka.

    OK nggak apa.. Ayo masuk kataku sambil memperhatikan Tari.

    Cerita Dewasa Hari itu dia mengenakan tanktop yang memperlihatkan bahunya yang putih mulus. Juga rok mini jeans yang dikenakan menambah cantik penampilannya. Tubuhnya termasuk bongsor untuk anak seusia dirinya. Dari balik tanktopnya tersembul buah dadanya yang baru tumbuh.

    Yang membuat aku kagum adalah wajahnya yang cantik dan terkesan innocent. Tari.. Ini Oom Robert kata Dita memperkenalkanku padanya. Kuulurkan tanganku dan disambutnya sambil berkata lirih, Tari.. Kemudian kami bertiga duduk di sofa, dengan Tari duduk disamping sedangkan Dita berhadapan denganku.

    Kurengkuh pundak Tari dengan tangan kiriku, sambil kuelus elus sayang. Gimana Pak.. OK khan Dita bertanya OK.. Kamu jemput lagi aja nanti jawabku sambil mengelus dan meremas lengan Tari yang mulus itu gemas.

    Setelah itu Dita pamitan, tentu saja setelah menerima pembayarannya. Kamu lapar nggak Tari? Kita pesan makanan dulu yuk saranku. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Sekarang memang sudah waktunya makan malam, dan aku tak mau staminaku tidak prima hanya karena perutku yang lapar.

    Apalagi ternyata gadis yang dibawa Dita ini cantik sekali. Pesan apa? tanyaku sambil memberikan room service menu padanya.

    Nasi goreng aja Oom Minumnya? Minta susu boleh Oom? jawabnya. Langsung aja aku pesan beefsteak dan bir untukku, dan nasi goreng serta susu untuk Tari. Sambil menunggu pesanan datang, kamipun menonton TV.

     

    Channelnya Tari ganti ya Oom katanya sambil mengambil remote.

    Oh ya.. Oom juga bosen lihat perang terus jawabku sambil mengagumi keindahan Tari. Setelah dia duduk, kueluselus rambutnya yang berpita dan panjangnya sebahu itu.

    Tari kemudian mengubah channel TV ke channel Disney. Rupanya dia suka menonton film kartun. Maklum masih anakanak, pikirku.

    Kamu sudah punya pacar? tanyaku setelah kami terdiam beberapa saat.

    Belum Oom.. Kenapa? tanyaku lagi Tari khan masih kecil.. katanya sambil terus menatap adegan kartun di TV.

    Cerita Sex Aku pun makin bernafsu mendengar jawabannya. Yah.. Akulah nantinya yang akan menikmatimu untuk pertama kalinya he.. He.. Kuciumi pipinya sambil kueluselus pahanya. Tari nampak tak terbiasa dan bergerak agak menghindar.

    poker online terbaik – Pahanya yang putih mulus makin tersibak menampakkan pemandangan yang indah. Tanganku kemudian meraba dadanya yang baru tumbuh itu. Kemudian kupegang wajahnya dan kucium bibirnya. Tampak sekali bahwa dia belum berpengalaman dalam hal seperti ini.

    Tanganku sudah ingin melucuti tanktopnya ketika tibatiba bel kamarku berbunyi. Room Service terdengar suara di depan kamarku. Akupun berdiri meninggalkan Tari untuk membuka pintu. Tampak ada perasaan lega di raut wajah Tari ketika aku beranjak pergi.

    Ada pesanan lagi Pak? tanya petugas room service setelah meletakkan makanan di meja. Nggak jawabku Mungkin buat anaknya? tanyanya lagi Mungkin nanti menyusul kataku sambil menandatangani bill yang diserahkannya.

    Cerita Sex Aku geli juga mendengar si petugas menyangka Tari adalah anakku. Memang pantas sih dilihat dari perbedaan umur kami. Kamipun lalu menyantap makanan kami. Tari menikmati nasi goreng dan segelas susunya sambil terus menonton kartun kesayangannya.

    Mau buah Tari? kataku sambil mengambil buahbuahan dari minibar. Nggak Oom.. Udah kenyang. Dibungkus aja boleh ya Oom.. Untuk adik di rumah katanya. Hm.. Benarbenar manis ini anak, pikirku.

    Dalam hati aku kasihan juga pada dia, tapi aku tak dapat menahan nafsu birahiku untuk menikmati tubuhnya yang muda itu.

    Aku makan satu buah apel dan kuberikan sisanya padanya. Diterimanya buahbuahan itu dan kemudian dimasukkan dalam tasnya. Akupun kembali duduk disampingnya dan kemudian kuambil remote dan kumatikan TVnya.

    Ayo sayang kita mulai ya.. kataku sambil menciumi pundaknya yang terbuka. Aku kemudian beralih menciumi bibirnya sambil tanganku meremas remas dadanya. Tak ada response darinya. Ketika tangannya yang mungil aku letakkan di atas kemaluanku, dia diam saja.

    Kok diam saja sih!! Bentakku. Oom.. Tari nggak pernah Oom.. Belum ngerti jawabnya lirih ketakutan. Ya sudah sini kamu.. kataku sambil beranjak ke meja dimana laptopku berada.

    Tari mengikutiku dari belakang. Langsung kusetel film BF yang aku simpan di dalam harddiskku. Ayo sini duduk Oom pangku kataku. Taripun duduk di atas pangkuanku sambil melihat adegan persetubuhan dimana seorang wanita bule cantik sedang dengan rakusnya mengulum kemaluan orang berkulit hitam.

    Mata Tari tampak takjub melihat adegan yang pasti baru pertama kalinya dia lihat itu. Sementara aku menciumi dan menjilati pundak dan lehernya yang jenjang dari belakang. Tangankupun telah masuk ke dalam tanktopnya dan meremasremas buah dadanya yang masih tertutup BH itu.

    Kutarik ke atas cup BHnya sehingga tangankupun leluasa menjelajahi dan meremas buah dadanya yang mulai tumbuh itu. Kupilin perlahan puting dadanya yang mulai mengeras.

    Oom.. Jangan Oom.. Tari malu katanya sambil menatap adegan di laptopku dimana si wanita bule sedang mengerangerang nikmat disetubuhi dari belakang. Nggak usah malu sayang jawabku sambil agak memutar tubuhnya sehingga aku leluasa menikmati dadanya.

    Kulumat buah dada yang baru tumbuh itu dan kujilat lalu kuisap putingnya yang kecil berwarna merah muda itu. Sementara tanganku yang satu telah merambah paha sampai mengenai celana dalamnya.

    Pelanpelan Oom.. Sakit desahnya ketika tanganku mengusapusap kemaluannya setelah celana dalamnya aku sibak. Mulutku masih sibuk mencari kepuasan dari buah dada anak belia ini.

    Kamu cantik sekali Tari.. Ohh yeah.. kataku meracau sambil mengulum dan menjilati buah dadanya. Tanganku mengeluselus pundaknya yang jernih, sedangkan yang satunya sedang merambah kemaluan anak perawan ini. Kemaluanku tampak memberontak di dalam celanaku, bahkan sudah mengeluarkan cairannya karena sudah sangat terangsang.

    Kuturunkan Tari dari pangkuanku, dan akupun berdiri didepannya. Kuciumi bibirnya dengan ganas sambil tanganku meremasremas rambutnya.

    Emmhh.. Emmhh.. hanya itu yang terdengar dari mulut Tari. Kumasukkan lidahku dan kujelajahi rongga mulutnya. Sementara kuraih tangan Tari dan kuletakkan ke kemaluanku yang sudah sangat membengkak.

    Tetapi lagilagi dia hanya diam saja. Memang dasar anakanak, belum tahu cara memuaskan lelaki, pikirku. Dengan agak kesal kutekan pundaknya sehingga dia berlutut di depanku. Dia agak berontak akan bangun lagi.

    Ayo.. Berlutut!! kataku sambil menarik rambutnya. Tampak air mata Tari berlinang di sudut matanya. Dengan cepat aku lepas celana dan celana dalamku, sehingga kemaluanku berdiri dengan gagah di depannya.

    Ayo isap!! perintahku pada Tari yang tampak ketakutan melihat kemaluanku yang sebesar lengannya itu. Kugenggamkan tangannya pada kemaluanku itu.

    Ampun oomm.. Jangan Oom.. Besar sekali.. Nggak muat Oom katanya mengibaiba. Terasa tangannya bergetar memegang kemaluanku.

    Ayo!! bentakku sambil menarik rambutnya sehingga kemaluankupun menyentuh wajahnya yang imut dan innocent itu. Tampak Tari sambil menahan tangisnya membuka mulutnya dan akupun sambil berkacak pinggang menyorongkan kemaluanku padanya.

    Aahh.. Yes.. Make Daddy happy.. desahku ketika kemaluanku mulai memasuki mulutnya yang mungil. Akupun mengeluselus rambutnya yang berpita itu dengan penuh kasih sayang ketika Tari mulai menghisapi kemaluanku.

    Ayo jilati batangnya.. Sayang kataku sambil mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Taripun mulai menjilati batang kemaluanku dengan perlahan.

    Ayo isap lagi instruksiku lagi sambil tanganku mengangkat dagunya dan menyorongkan kemaluanku padanya. Taripun mulai lagi mengulum kemaluanku, walaupun hanya ujungnya saja yang masuk ke dalam mulutnya.

    Kutekan kemaluanku ke dalam mulutnya sehingga hampir separuhnya masuk kedalam mulutnya. Tampak dia tersedak ketika kemaluanku mengenai kerongkongannya. Dikeluarkannya kemaluanku untuk mengambil nafas, sementara aku tertawa geli melihatnya.

    Sudah. Oom.. Jangan lagi Oom Tari memohon. Air matanya tampak menetes di pipinya Oom belum puas. Ayo lagi!! bentakku sambil menjambak rambutnya, sehingga wajahnya terdongak ke atas menatapku.

    Taripun terisak menangis, tetapi kemudian dia kembali menjilati dan mengulum kemaluanku. Pemandangan di kamar hotel itu sangatlah indah menurutku. Seorang lakilaki dewasa dengan tubuh tinggi besar sedang berkacak pinggang, sementara seorang anak di bawah umur dengan wajah tanpa dosa sedang mengulum kemaluannya.

    Mungkin sekitar 15 sampai 20 menit aku ajari anak perawan itu cara untuk memberikan kepuasan oral pada lelaki. Setelah itu aku merasakan kemaluanku akan meledakkan cairan ejakulasinya.

    Buka mulutmu!! perintahku pada Tari sambil mengeluarkan kemaluanku dari kulumannya. Kemudian kukocokkocok kemaluanku sebentar, dan kemudian muncratlah cairan spermaku ke dalam mulutnya dan sebagian mengenai wajahnya.

    Oh.. Yeahh.. Nikmat.. Kamu hebat Tari.. erangku saat orgasme.

    Ayo telan!! perintahku lagi ketika melihat dia akan memuntahkan spermaku keluar. Tampak dia berusaha menelan spermaku, walaupun karena jumlahnya yang banyak, sebagian meleleh keluar dari mulutnya.

    Diambilnya tisu dan dibersihkannya wajahnya sambil membetulkan pakaiannya sehingga rapi kembali. Dia pun kemudian mengambil dan meminum habis sisa susunya. Sementara aku pergi ke toilet untuk buang air kecil.

    Sekembalinya aku dari toilet, tampak Tari sedang duduk gelisah di sofa. Pandangan matanya tampak kosong dan berubah menjadi takut ketika melihat aku menghampirinya. Aku tersenyum dan duduk disampingnya. Kembali kueluselus pundak dan tangannya.

    Omm.. Tari pengin pulang Oom.. Tari capek.. katanya. Yach kamu istirahat dulu aja sayang jawabku sambil mencium pipinya. Kamipun duduk terdiam. Kusetel kembali TV yang masih menayangkan acara kartun kesukaannya itu.

    Kuusapusap tubuhnya yang duduk di sampingku sambil sesekali kuciumi. Aku menunggu hingga kejantananku bangkit kembali. Aku beranjak ke meja dimana laptopku masih menayangkan adegan syur semenjak tadi.

    Di layar sekarang seorang pria bule sedang dihisap kemaluannya oleh dua wanita cantik. Yang satu bule juga, sedangkan yang lain wanita Asia, kalau tidak salah Asia Carrera namanya. Memang film produksi Vivid ini bagus sehingga aku menyimpannya di harddiskku.

    Melihat adegan demi adegan di layar, kejantananku pun perlahan bangkit kembali. Kudatangi sofa dimana Tari berada. Tari tampak gelisah ketika aku berlutut di depannya. Aku ingin menikmati memekmu sayang kataku sambil menyibakkan rok mininya.

    Kuciumi pahanya dan kujilati sampai mengenai celana dalamnya. Kemudian kulepas celana dalamnya itu sehingga vaginanya yang bersih tak berbulu itu tampak mempesonaku.

    Jangan Oom.. Tolong Oom kata Tari ketika tanganku mulai meraba kemaluannya. Karena gemas, langsung aku jilati dan isap vaginanya. Lidahku menarinari dan kumasukkan ke dalam liangnya yang perawan itu.

    Uhh.. Ampun Oom.. erangnya ketika aku menemukan klitorisnya dan langsung kuhisap. Sementara tanganku naik ke atas meremas buah dadanya. Kupilinpilin putingnya sehingga mulai mengeras. Sementara vaginanya pun sudah mengeluarkan lendir tanda dia telah siap untuk disetubuhi.

    Ayo kita lanjutkan di ranjang, manis.. kataku sambil merengkuh tubuhnya dan menggendongnya. Aku ciumi bibirnya sambil badannya tetap aku gendong menuju kamar tempat tidur. Kurebahkan tubuhnya di ranjang, dan akupun mulai melucuti pakaianku.

    Tampak kemaluanku sudah kembali membengkak ingin diberi kenikmatan oleh anak kecil ini. Tari tampak memandangku dengan tatapan mengiba. Matanya menampakkan ketakutan melihat ukuran kemaluanku.

    Langsung kuterkam tubuhnya di ranjang dan kuciumi wajahnya yang manis. Kubuka tanktopnya juga BHnya dan kulempar ke lantai. Langsung kusantap buah dadanya yang masih dalam masa pertumbuhan itu, dan kujilati dan kuisapi putingnya hingga mengeras.

    Lalu kubuka rok mininya, sehingga Taripun sudah telanjang bulat pasrah di atas ranjang. Jariku kemudian menari merambah vaginanya dan mengusapusap klitorisnya.

    Tolong jangan Oom.. Aduh.. Oom.. Jangan Oom.. Tari masih perawan Oom. rengeknya. Aku menghentikan kegiatanku dan menatapnya Memangnya Bu Dita bilang apa? tanyaku Katanya Tari nggak akan diperawani.

    Cuma dipegang dan diciumi aja jawabnya terisak.

    Mendengar itu timbul perasaan iba karena ternyata dia telah dibohongi oleh Dita.

    Ya sudah.. Kataku. Kamu hisap lagi aja kontol Oom seperti tadi perintahku.

    Akupun lalu tidur telentang dan Taripun kutarik hingga wajahnya berada di depan kemaluanku yang sudah berdiri tegak. Kutekan kepalanya perlahan, hingga Taripun kembali memberikan kenikmatan mulutnya pada kemaluanku.

    Tampak dari tatapanku, kepalanya naik turun menghisapi kemaluanku. Tangankupun mengeluselus rambutnya penuh rasa sayang seperti rasa sayang bapak kepada anaknya.

    Ya terus.. Sayang erangku menahan nikmat yang tiada tara. Setelah beberapa menit, kutarik tubuhnya sehingga wajahnya tepat berada diatas wajahku. Kuciumi bibirnya sambil tanganku meremasremas pantatnya.

    Kemudian kubalikkan badannya, sehingga badanku yang tinggi besar menindih tubuh belianya. Kusedot puting buah dadanya dan kugigitgigit sehingga menimbulkan bekas memerah. Lalu kurenggangkan pahanya, dan kuarahkan kemaluanku ke vaginanya.

    Jangan Oom.. Ampun Oom.. Jangan.. Ampun.. rengek Tari ketika kemaluanku mulai menyentuh bibir vaginanya.

    Aku tambah bernafsu saja mendengar rengekannya, dan kutekan kemaluanku sehingga mulai menerobos liang vagina perawannya.

    Terasa sesuatu menghalangi kemaluanku, yang pasti adalah selaput daranya Ahh.. Sakiitt.. jeritnya menahan tangis ketika kutekan kemaluanku merobek selaput daranya.

    Kutahan sebentar menikmati saat aku mengambil keperawanan anak ini, kemudian kugerakkan pantatku maju mundur menyetubuhinya.

    Ah.. Nikmat.. Ahh.. God.. Memekmu enak Tari. racauku Oh.. Ampun.. Sakit.. Udah Oom.. Ampun.. Tari merintih kesakitan sambil menangis.

    Yes.. You naughty girl.. Daddy must punish you.. Yeah.. aku kembali meracau kenikmatan. Kugenjot terus kemaluanku, dan aku merasakan nikmatnya jepitan vagina Tari yang sangat sempit itu. Tampak air mata Tari meleleh membasahi pipinya, dan ketika kugenjot kemaluanku tampak wajahnya menyeringai menahan sakit.

    Kemudian kutarik pahanya sehingga melingkari pinggangku, dan sambil duduk di ranjang kugenjot lagi vaginanya. Tanganku sibuk menjelajahi buah dadanya. Bosan dengan posisi itu, kubalikkan badannya dan kusetubuhi dia dengan gaya doggy style. Sudah tak terdengar lagi rengekan Tari, hanya suara erangannya dan isak tangisnya yang memenuhi ruangan itu.

    Ahh.. Sakit Oom ampun.. rengeknya kembali ketika rambutnya kutarik sehingga wajahnya terdongak ke atas. Sambil kusetubuhi tubuhnya, kadang kuciumi dan kugigiti pundak dan lehernya dari belakang, sambil tanganku memerah buah dadanya.

    Setelah kurang lebih satu jam aku setubuhi dia dengan berbagai macam posisi, akupun tak tahan untuk mengeluarkan cairan ejakulasiku. Kubalikkan badannya dan kugesekgesekkan kemaluanku di dadanya. Kadang kugesekgesekkan juga ke seluruh wajahnya.

    Ahh.. Memang enak perawan kamu Tari.. erangku sambil menumpahkan spermaku di dadanya. Akupun kemudian bergegas menuju toilet untuk membersihkan diri. Kemaluanku pun kubersihkan dari sisa sperma bercampur darah perawan Tari.

    Sekembalinya aku dari toilet, kulihat Tari masih terbaring di ranjang sambil menangis terisakisak. Kubiarkan saja dia di sana, karena aku sudah merasa puas dan merasa menjadi lebih muda setelah mereguk kenikmatan dari anak itu.

    Kuminum sisa birku, dan kutelepon Dita untuk menjemput Tari. Tak lama, Dita pun datang. Gimana Pak Robert? tanyanya tersenyum.

    Wah.. Puas.. Tuh anak enak banget kataku tertawa kecil. Syukurlah Pak Robert puas. Sengaja saya pilihin yang bagus kok Pak katanya lagi.

    Percaya deh sama Dita. Tuh anaknya masih di kamar Dita pun masuk ke kamar tidur sedangkan aku nonton TV di sofa. Lagilagi masih berita perang di CNN. Sementara itu, terdengar Tari menangis di kamar sedangkan Dita berusaha menghiburnya.

    Setelah kurang lebih setengah jam, merekapun muncul dari dalam kamar tidur.

    Saya permisi dulu Pak Robert pamit Dita.

    Oh ya Dit.., kalau ada yang bagus lagi telepon ya. Untuk obat awet muda. jawabku sambil mengedipkan mataku.

    Beres Pak jawabnya sambil menggandeng Tari keluar. Ini tasnya ketinggalan kataku sambil menyerahkan tas Tari yang berisi buahbuahan untuk adiknya itu.

    Kuperhatikan mata Tari masih sembab, dan jalannya pun agak pincang ketika meninggalkan kamar hotelku. Tak lama akupun cek out dari hotel. Dalam perjalanan pulang ke apartemenku, aku mampir di panti pijat langgananku.

    Tubuhku agak pegal sehabis menyetubuhi Tari tadi. Setelah dipijat, dan mandi air hangat, tubuhku terasa sangat segar. Akupun bergegas pulang dengan mengendarai Mercy silver metalik kesayanganku.

  • Cerita Sex Kisah Tragis Dicabuli Rame – Rame

    Cerita Sex Kisah Tragis Dicabuli Rame – Rame


    2623 views

    Perawanku – Nasib yang tak beruntung ditimpa oleh Kina mahasiswi yang wajahnya cantik dan mungil tersebut, dimana
    nasibnya diperkosa secara bergilir oleh teman kampusnya, Kina yang masih muda mempunyai tubuh yang
    memang menggoda kaum para laki laki, apalagi dengan payudara yang besar dan bulat, rambut pendeknya
    dan mudah bergaul dengan siapa saja.

    Di kampus dan pergaulannya dia sering mengenakan jilbab, walau begitu jika sedang dirumah dia tak
    berjilbab dan berpakain santai seperti cewek kebanyakan.

    Kejadiannya bermula pada hari sabtu siang ketika Kina baru saja pulang dari kampus dan hendak
    beristirahat. Tiba-tiba hp miliknya berdering.dilayar tercantum nama Doni.dia adalah teman kampus
    Kina.

    “halo don, ada apa?”. sapa Kina.

    “halo juga, ga aku cuma mau ngajak kamu belajar bareng dirumahku!” Jawab Doni.

    “sama sapa aja?” Tanya Kina lagi.

    “sama aku, Heri, Tio, Agus terus Evi, Ika sama Tika juga ikut”.jelas Doni.

    Karna merasa ada cewek lain yang ikut akhirnya Kina pun mengiyakan ajakan Doni.

    SekKinar pukul 3 sore dia menuju rumah Doni yang berjarak tak jauh dari kost-kostan Kina .dia
    mengenakan jilbab hKinam serta kaus lengan panjang berwarna merah muda serta celana jeans yang makin
    membuat lekuk tubuhnya terlihat walau dia berjilbab.

    Berapa saat kemudian Kina sampai dirumah Doni disana sudah ada Agus, Tio dan Heri namun dia belum
    melihat ada cewek yang datang.

    “eh kalian dah nyampe, mana Vivi sama yang lain?” Tanya Kina.

    Mereka tak menjawab pertanyaan Kina. Agus langsung bangkit dan mengunci pintu sedangkan Tio, Heri dan
    Doni menghampiri Kina yang berdiri kebingungan.

    “eh,apa-apaan ini? apa yang akan kalian lakukan?”. Kina mulai panik dengan keadaan ini.  Agen Judi Bola

    “tenang sayang, kKina akan bersenang senang sampai pagi!” Doni menimpali Kina dengan senyum yang aneh.

    Sementara Tio dan Heri mulai menghampiri Kina dan memegang kedua tangan Kina .Agus langsung maju dan
    memeluk Kina dan memaksa memagut bibir mungil Kina. Tio dan Heri mulai bergerilya dipayudara mungil
    Kina yang menawan.

    Doni tak mau kalah dia memeluk Kina dari belakang tangannya bergerilya ke daerah selangkangan Kina,
    mengelus vagina Kina dari luar. Doni mulai mencari retsleting celana jeans Kina untuk membukanya.

    Kina tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangannya dipegang erat oleh Tio dan Heri.sementara Agus
    yan memagut bibirnya membuat dia susah bernafas.

    Akhirnya Doni berhasil membuka celana jeans milik Kina dan menurunkannya sampai batas mata kaki.Doni
    kembali berdiri dan kembali meraba vagina Kina .kali ini dia langsung menyentuh vagina Kina melalui
    celah cd warna krem milik Kina .

    “wah, mem3k kamu anget banget, jembutnya juga halus!”. komentar Doni.

    Tio dan Heri tak mau kalah mereka mulai melucuti kaos yang dikenakan Kina, Agus pun berhenti memagut
    Kina untuk memudahkan Tio dan Heri membuka kaos Kina. Kini Kina berdiri dengan jilbab dan bh serta cd
    saja, dikelilingi oleh 4 pria yang menatapnya dengan buas seolah-olah siap menghabisi mangsanya.

    “bener-bener mulus nih cewek, susunya juga montok”. komentar Heri.

    Kina yang merasa risih langsung menyilangkan kedua tangannya untuk menutup payudara dan vaginanya.

    “wah, jangan malu-malu gitu dong, kamu khan cantik”. timpal Tio.

    Kemudian Agus mendekat dan memeluk tubuh Kina tangannya bergerilya dipunggung Kina untuk mencari
    pengait bh Kina. kemudian tanpa ragu-ragu Agus membuka bh hKinam milik Kina. Semua pria menatap kagum
    pada payudara Kina yang ranum dengan pentil merah muda yang terlihat begitu segar dan menggoda.

    Tanpa komando mereka mengerubuti tubuh bugil Kina. Doni dan Agus berbagi payudara Kina sementara Tio
    melepas cd Kina dan mulai memainkannya dia menjilat dan membuka vagina Kina dengan kedua jarinya tak
    lupa dia juga menggosok klitoris mungil milik Kina.

    Sementara Tio memeluk Kina dari belakang dan mencium bibir Kina dengan semangat. Beberapa kali mereka
    berpindah peran hingga semua mencicipi bibir, payudara, vagina dan pantat sekal Kina. Entah sudah
    berapa kali Kina orgasme, tubuhnya terasa lemas.

    Mungkin jika tak ditopang oleh Agus, Kina sudah jatuh lemas. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat yang
    semakin memancarkan aroma khas yang menggoda pria disekKinarnya. Mereka sudah merasakan cairan vagina
    Kina yang manis dan gurih, sudah hampir 30 menit mereka menggerayangi Kina diruang tamu dalam posisi
    berdiri.hingga akhirnya Doni mengambil gelang besi yang terikat tambang.

    Kemudian dia memasangkan gelang itu dikaki kanan Kina, kemudian Doni menarik tambang dan memaksa Kina
    yang lemah untuk melangkah. Doni membawa Kina ke kamarnya. Disana ada tempat tidur yang cukup luas.

    Kemudian Doni memasang gelang lagi dikedua tangan Kina kemudian mengaitkan dengan tambang untuk
    menggantungkan Kina. Kembali Kina akan diperkosa dalam keadaan berdiri. Kini kondisinya lebih parah
    karena tangannya terikat keatas yang semakin mengekspos keindahan tubuhnya. Ketiaknya juga menjadi
    daya tarik tersendiri

    Cerita Sex Kisah Tragis Dicabuli Rame - Rame

    Cerita Sex Kisah Tragis Dicabuli Rame – Rame

    SekKinar pukul 02.00 dini hari, Agus terbangun dari tidurnya dia merasakan ada benda kenyal dan empuk
    dKinangannya. Ternyata itu adalah payudara Kina yang masih terlelap. Agus memandang wajah Kina yang
    terlelap dengan jilbab dikepalanya.

    Betapa manis dan cantiknya wajah itu. Kemudian dia mulai meremas payudara milik Kina, tentu saja hal
    itu membuat Kina terkejut dan bangun dari tidurnya. Tak hanya itu, semua yang ada disitupun ikut
    terbangun bahkan Heri yang dari semalam jarinya berada divagina Kina langsung menyodoknya. JerKinan
    dan tangisan Kina pun kembali pecah.

    “toloongg…jangaaan..saya udah cape…” rintih Kina .

    Namun tanpa ampun mereka terus menggerayangi tubuhnya.bahkan mereka sudah bersiap untuk memperkosa
    Kina. Kali ini mereka akan main secara keroyokan. Dini hari memang waktu yang sangat menggairahkan.
    Mereka mengangkat tubuh Kina, sementara Tio sudah terlentang menunggu vagina Kina.

    “ayo cepat masukin, kont0l gue pengen ngebor mem3knya lagi.” Perintah Tio.

    Kemudian mereka memapah Kina kemudian mengarahkan vagina Kina ke penis Tio. Kemudian dari arah
    belakang Heri mulai mengarahkan penisnya ke pantat Kina, sementara Doni memaksa membuka mulut Kina dan
    memasukan penisnya kesana.

    Agus mengarahkan tangan Kina dan mengarahkan untuk mengocok penisnya. Mereka terus menggarap tubuh
    Kina dan mengejar klimaks masing-masing. Sepertinya mereka tak memperdulikan kondisi Kina yang lemas.

    Kondisi pagi hari yang sepi menambah sensasi erotis dikamar itu. Selang berapa lama, Heri mulai
    mencapai klimaks disusul Tio, Agus kemudian Doni. Mereka saling bertukar posisi hingga akhirnya mereka
    lemas dan mengakhiri permainannya.

    Kini tubuh Kina kembali berlumur sperma dan keringat. Namun itu semua belum berakhir karena hari masih
    panjang dan esok adalah hari minggu. Jadi mereka masih punya banyak kesempatan untuk meniduri Kina .

    Pagi akhirnya datang, mereka terbangun sekKinar pukul 08.00. Rasa pegal dan lemas tentu melanda mereka
    semua, terlebih Kina yang menjadi pelampiasan keempat pria tersebut. Mereka menggendong Kina dan
    membawanya kekamar mandi Doni, karna ukurannya yang mewah dan cukup luas, memungkinkan mereka masuk
    semua kesana.

    Tio mulai memutar kran shawer, air dingin mengalir mengenai tubuh Kina membuat dia tersentak, mereka
    mengkerubuti Kina dan berebut untuk menyabuninya.

    Jilbab yang dari kemarin melekatpun mulai dicopot, kini nampak jelas rambut pendek sebahu Kina yang
    telah basah, kemudian Heri mengambil shampo dan mulai mengkeramasi rambut Kina .Namun tak hanya rambut
    yang dikepala, rambut vagina Kina juga ikut dikeramasi bahkan disela aktivKinasnya,

    Heri masih sempat meremas payudara Kina dan memagut bibir Kina, posisinya yang berada dibelakang tubuh
    Kina membuat penisnya menempel dipantat Kina yang sekal. Tak dapat dihindari lagi. Penis Heri pun
    mulai mencari lubang anus milik Kina untuk disodomi.

    Dalam posisi berdiri Kina kembali mengalami pelecehan seksual,bahkan kini Agus mulai maju dan
    mengangkat kaki kanan Kina untuk kemudian memasukan penisnya kelubang vagina Kina .kini Kina diapit
    oleh dua orang pria dibawah siraman air yang dingin.setelah Heri dan Agus selesai, kini giliran Tio
    dan dino.

    Tubuh Kina lemas setelah beberapa kali klimaks, andai Tio tak menopang tubuhnya mungkin dia sudah
    ambruk tak berdaya. Tio mendapat anus Kina sementara dino mendapat vagina. Setelah masing masing
    mencapai klimaks, mereka mendudukan Kina dipinggir bath-up. Agus mengambil cukuran jenggot milik dino
    hendak mencukur bulu vagina Kina .

    “ayo manis, dicukur dulu jembutnya biar tambah imut..hehehe..!” Kata Agus.  Agen Judi Bola

    Heri dan Tio pun membuka kaki Kina lebar-lebar. Sementara dino mengoleskan krim disekKinar vagina
    Kina. Kini Agus sudah siap untuk mencukur bulu vagina Kina. Kina yang nampak tak setuju mencoba
    menutup kakinya,

    Namun peganan Heri dan Tio dikakinya begitu kuat hingga membuat usahanya sia-sia. Selang satu menit,
    Agus sudah selesai mencukur bulu kemaluan Kina. Kemudian mereka memapah Kina dan menepatkannya didepan
    cermin yang besar hingga membuat pantulan tubuhnya terlihat jelas.

    “gimana cantik, bagus ga hasil karyaku?” Tanya Agus sambil mencubit vagina Kina yang kini plontos.
    Lagi-lagi Kina hanya menangis dan meratapi nasibnya.

    SekKinar pukul 09.00 akhirnya mereka selesai mandi, namun tak ada satu pun yang berpakaian. Semuanya
    masih bugil termasuk Kina yang kini juga sudah tidak mengenakan jilbab lagi, bahkan tubuh bugil itu
    dibiarkan basah oleh mereka.

    Karna menurut mereka, tubuh Kina menjadi semakin sexy. Dengan tubuh basah dan bugil, mereka membawa
    Kina ke dapur mereka ingin Kina memasak sesuatu untuk mereka. Akhirnya Kina memasak nasi goreng untuk
    mereka, disela-sela aktivKinasnya memasak, mereka juga bergantian jongkok dibawah Kina untuk menjilati
    vaginanya dan memainkan klitorisnya dengan jari mereka. Tak jarang, ketika mencapai klimaks Kina
    merasa lemas dan hampir terjatuh. Heri dan teman-temannya juga bergantian mengemut payudara Kina .

    Setelah makanan siap, mereka memapah Kina dan membaringkannya dimeja makan.Disekeliling Kina dKinaruh
    berbagai lauk pauk, bahkan Heri menaruh ice cream di vagina, payudara dan perut Kina.

    Setelah itu, dia juga menuangkan susu kental manis disekujur tubuh Kina dari kepala sampai kaki. Tentu
    saja ini terasa amat menyiksa bagi Kina, karna dia harus menahan dinginnya ice cream di daerah
    sensitifnya.

    Namun tak demikian dengan ke empat pria yang ada bersama Kina, disela-sela mereka menikmati makanan,
    mereka juga menikmati ice cream serta susu kental manis yang berada ditubuh Kina .

    “wah, ini ice cream terenak yang pernah gue rasain. Ice cream rasa mem3k!” Komentar Tio.

    “apalagi ini, susu rasa susu hahahaha!” Sambung Agus yang sedang menjilati susu kental manis yang
    berada di payudara Kina .

    Selesai makan,mereka mempersilahkan Kina untuk makan, namun kali ini menunya khusus. Mereka mencampur
    nasi yang akan dimakan oleh Kina dengan sperma mereka berempat.

    “ayo, sarapan nasi campur peju pasti sehat!” Celoteh Doni.

    Kina juga tak boleh turun dari meja,dia harus makan dalam posisi merangkak seperti anjing. Tentu saja
    Kina merasa terhina dan sedih mendapatkan perlakuan tersebut.

    “tolong hentikan, kapan kalian akan melepaskanku?” Tanya Kina lirih.

    Namun tak ada satupun yang menjawab. Doni dan Heri yang duduk disebelah kanan Kina langsung meremas
    payudara Kina yang menggantung dengan indah sementara Agus dan Tio dipayudara satunya lagi.

    Setelah itu, Tio bangkit dan mengambil sesuatu dilemari es. Ternyata dia mengambil dua batang
    mentimun, langsung tia mengangkat satu kaki Kina dari samping dan memasukan batang mentimun itu
    kevagina Kina. Tentu saja hal itu membuat Kina kaget dan memekik.

    “aaaaawww…..aaahhhh…..apa yang kalian lakukan?” Pekik Kina .

    Kembali vagina Kina merasa amat dingin, dia juga merasakan sakit karena vaginanya yang masih kering
    dan tekstur timun yang tidak halus. Heri mulai tertarik akan hal tersebut lalu mengambil sebuah wortel
    dan langsung memasukannya keliang anus milik Kina.

    Sementara Kina yang belum menyelesaikan makannya dipaksa mengulum batang penis milik Agus. Sementara
    Doni menikmati kedua payudara Kina yang menggantung bebas. Setelah beberapa menit, cairan vagina Kina
    mulai mengalir, kemudian Tio mencabut timun yang berada didalam vagina Kina dan memaksa Kina untuk
    memakanya.

    “ayo manis, rasakan mentimun rasa mem3k dan peju!” Perintah Tio dengan sedikit memaksa.
    Tak hanya itu, Heri juga memaksa Kina untuk memakan wortel yang tadi dimasukan kelubang anus Kina.

    Setelah selesai, mereka kembali berpindah tempat, kali ini mereka menuju keruang tengah. Agus yang
    menggendong Kina didepan tak mau kehilangan kesempatan dia memasukan penisnya ke vagina Kina dalam
    posisi berdiri dan berjalan.

    Payudara Kina bergesekan dengan dada Agus yang berbulu, sesampainya diruang tamu, Agus yang belum
    klimaks langsung memepet tubuh Kina ditembok kemudian dia semakin cepat menggenjotnya.akhirnya Agus
    klimaks juga dia langsung lemah dan menjatuhkan Kina dari gendongannya, Kina pun langsung duduk tak
    sanggup berdiri karena kaki yang sudah lemas.

    Tio menyeret tubuh Kina dan disuruh melakukan oral sex kepada mereka semua yang kini sudah duduk
    disofa panjang.

    Tanpa pilihan Kina melakukan hal tersebut sambil terkadang juga disuruh mengocok batang penis mereka.
    Tak hanya dimulut, mereka juga mengeluarkan sperma diluar yang mengenai rambut, wajah, leher serta
    payudaranya.

    Setelah selesai Tio mengangkat tubuh Kina dan mendudukannya diatas penisnya. Dia menggenjot dengan
    penuh semangat, payudara Kina yang berguncang membuat Tio gemas kemudian meremasnya dan terkadang
    menggigit puting Kina .

    “aw…sakiiiitt….!” Rintih Kina yang merasa Tio meremas payudaranya begitu keras.

    Setelah klimaks, Kina harus melayani Heri dan Doni semetara Agus sudah mendapat jatah pertama.

    Setelah selesai semua, Kina pun lemas tubuh bugil dan mungilnya kini tergolek lemah dikarpet, tubuhnya
    penuh dengan sperma dan bekas merah, terutama dibagian payudaranya. Merekapun terus menggilir Kina
    sampai malam, kadang diruang tamu, didapur, tangga dan berbagai tempat dirumah itu.

    Mereka juga sempat mendandani Kina menggunakan seragam smu, karna tubuh dan wajahnya yang imut Dia
    masih terlihat pantas mengenakan seragam smu. Sementara mereka berempat berperan sebagai gurunya.

    Kina kembali digenjot bergilir dengan kemeja putih dan rok abu-abu masih melekat pada dirinya.setelah
    cukup puas memperkosa dan menyiksa Kina, akhirnya mereka mengantarkan Kina kembali ke kost-annya.

    Sejak saat itu, mereka bebas menikmati tubuh Kina dimanapun kapanpun. Bahkan mereka sempat mengeroyok
    Kina di toilet kampus. Kina pun harus siap melayani mereka baik semua ataupun perorangan. Itulah
    sekelumit kisah wanita cantik nan imut yang mengalami nasib tragis.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Aku Di Bikin Konak Oleh Pembantu Genit Tetanggaku

    Cerita Sex Aku Di Bikin Konak Oleh Pembantu Genit Tetanggaku


    1233 views

    Perawanku – Cerita Sex Aku Di Bikin Konak Oleh Pembantu Genit Tetanggaku, Di kompleks perumahan ibuku, Tri terkenal sebagai pembantu yang genit, ganjen, centil dan sebagainya. Dia sering gonta ganti pacar. Tri baru berumur kurang lebih 22 tahun. Bodynya bagus, dengan payudara berukuran kira-kira 34D dan pantat bulat dan padat.

    Yang lebih menggairahkan adalah cara berpakaiannya. Dia kerap mengenakan kaos ketat dan celana model ABG sekarang yang memperlihatkan pinggul dan pusar. Wajahnya cukup manis, bibirnya sensual sekali. Aku sering menelan ludah kalau melihat bibirnya.

    Tugas Tri adalah menjaga anak majikannya yang masih kecil-kecil. Kalau sore hari, dia selalu mengajak anak majikannya berjalan-jalan sambil disuapi. Nah, aku sering sekali berpapasan dengannya saat dia sedang mengasuh Nabila (anak bungsu pasangan tempat Tri bekerja).

    Nabila ini seorang anak yang lucu, sehingga kadang-kadang aku berhenti sebentar untuk mencubit pipinya. Suatu kali, seperti biasa aku bertemu dengan Tri yang sedang mengasuh Nabila, dan aku berhenti sebentar untuk mencubit pipinya.

    Tiba-tiba Tri nyeletuk, “Kok cuma Nabila yang dicubit Pak?”
    Aku sedikit terkesiap, “Haah?” dan aku memandang kepada Tri.

    Dia sedang menatapku dengan kerlingan genit dan tersenyum menggoda.

    “Habis, kalau aku cubit pipi Mbak Tri, aku takut Mbak Tri marah,” kataku.
    “Kalau cubitnya pelan-pelan, aku nggak marah kok Pak. Malah seneng,” sahut Tri.

    Kurang ajar anak ini, aku membatin, tapi mulai tergoda untuk memancingnya lebih jauh.

    “Kalau cuma cubit aku enggak mau Tri.” kataku.
    “Terus maunya apa? Emang berani?” dia malah menantang. Benar-benar ganjen anak ini.
    “Aku maunya, cium bibir kamu yang seksi itu, boleh?” aku bertanya.
    Dia malah balik bertanya, “Cuma cium? Enggak mau kalau cuma cium.”

    Astaga, ini sudah keterlaluan.

    “Tri, aku kan sudah punya isteri, emang kamu masih mau?” aku bertanya.
    “Yaa, jangan sampai isteri Pak Irwan tahu dong. Masak cuma Mbak Enny aja yang boleh ngerasain Pak Irwan.” balas Tri.

    Aku agak kaget juga mendengar ucapan Tri. Rupanya Enny curhat sama Tri. Tapi, kepalang tanggung pikirku.

    “Jadi benar nih kamu mau Tri?” aku memastikan.
    Tri menjawab, “Siapa takut? Kapan?”
    “Kamu bisanya kapan Tri? Aku sih kapan aja bisa,” jawabku sambil melirik ke toketnya yang bagus itu.

    Saat itu Tri pake kaos ketat yang tipis, sehingga bra hitamnya membayang dan memperlihatkan lekuk yang sangat mengairahkan. Pembaca, terus terang saat itu aku sudah “Konak”. Penisku kurasakan sudah mengeras.

    “Ya sudah, nanti malam aja Pak, kebetulan Bapak-Ibu mau ke Bogor, anak-anak mau diajak semua.” kata Tri.
    “Oke, nanti jam berapa aku ke rumahmu?” tanyaku.
    “Yaa, jam delapanan deh,” jawab Tri sambil membusungkan dadanya.

    Dia tahu aku sedang memperhatikan toketnya. Nafsuku menggelegak.

    “Kamu nantang benar sih Tri, ya sudah, nanti jam delapan aku dateng. Awas nanti kamu ya.” ancamku sambil tersenyum.
    Eh, dia malah menjawab, “Asal Pak Irwan kuat aja nanti malam.”

    Sambil mengedipkan matanya dan bibirnya membuat gerakan mengecup. Ya ampuunn, bibirnya benar-benar seksi. Aku menyabarkan diri untuk tidak menggigit bibir yang menggemaskan itu.

    “Kalau gitu aku pulang dulu ya Tri, sampai nanti malam ya.” kataku.
    “Benar yaa. Jangan boong lho. Tri tunggu ya sayang..” Tri membalas.

    Malamnya, jam delapan, aku sudah berada di depan pagar rumah Tri, lebih tepat rumah majikannya. Tri sudah menungguku. Dia membukakan pintu pagar dan aku langsung masuk setelah melihat situasi aman, tidak ada yang melihat. Kami masuk ke dalam dan Tri langsung mengunci pintu depan.

    Tri memakai celana yang sangat pendek, dengan kaos ketat. Kulitnya cukup mulus walaupun tidak terlalu putih, namun dibandingkan dengan Enny, masih lebih putih Tri. Aku tidak mau membuang waktu, langsung kudekap dia dan kuserbu bibirnya yang memang sudah lama sekali aku incar. Bibir kami berpagutan, lidah kami saling membelit, dipadu dengan nafas kami yang memburu.

    Tiba-tiba Tri melepaskan ciuman kami, dan dia memegang kedua pipiku sambil menatapku, lalu berkata manja.

    “Pak Irwan, kalau Pak Irwan mau ngewe sama Tri, ada syaratnya Pak.”
    Aku bingung juga, “Apa syaratnya Tri?” tanyaku.
    “Pak Irwan harus panggil aku Mbak, terus aku panggil Pak Irwan Yayang. Gimana? Mau nggak?” tanya Tri sambil tangannya turun ke dadaku dan dia meremas dadaku dengan gemas.

    Pembaca, ini yang mengherankan, aku seorang yang sudah berusia di atas 40 tahun, punya isteri dan anak, jabatanku cukup tinggi di kantor, dan seorang pembantu rumah tangga yang berumur baru 22 tahun mencoba untuk menguasaiku, dan aku merasa senang.

    Aku mengangguk sambil menjawab, “Iya Mbak, aku mau.”
    Sementara itu, penisku sudah ereksi dengan maksimal.

    “Sekarang, Yayang harus nurut apa yang Mbak bilang ya.” perintah Tri, maksudku Mbak Tri.
    “Iya Mbak.” jawabku pasrah.

    Lalu Mbak Tri menuntunku ke kamarnya di bagian belakang rumah. Kami masuk ke kamar itu, Mbak Tri menutup pintu dan sekarng dia yang memeluk dan menyerbu bibirku. Kembali kami berpagutan sambil berdiri, lidah saling belit dalam gelora nafsu kami.

    Mbak Tri kembali melepaskan ciuman kami, dan berkata,” Yaang, kamu jongkok dong.”

    Aku menurut, aku berjongkok di depan Mbak Tri.

    “Lepasin celana Mbak Yang, pelan-pelan ya Yaang.”
    “Iya Mbak.” cuma itu kata yang bisa aku keluarkan.

    Lalu akupun mulai menurunkan celana pendeknya yang tinggal ditarik saja kebawah karena dia memakai celana olahraga. Perlahan mulai tampak pemandangan indah di depan mataku persis. Pembaca, memeknya gundul tanpa bulu sedikitpun, dan montok sekali bentuknya. Warnanya kemerahan dan diatasnya terlihat clitnya yang juga montok. Mbak Tri melibarkan pahanya sedikit, sehingga memeknya agak terkuak. Mbak Tri mendongakkan wajahku dengan tangannya.

    Dan dia bertanya, “Gimana Yang? Bagus nggak Memek Mbak?”
    “Iya Mbak. Bagus banget. Tembem.” jawabku tersendat, karena menahan nafsu dalam diriku.
    “Yayang mau cium Memek Mbak?” tanyanya.
    “Mau Mbak.”

    Aku tidak menunggu diperintah dua kali. Langsung kuserbu Memek yang sangat indah itu. Mbak Tri menaikkan sebelah kakinya ke atas tempat tidur, sehingga lebih terbuka ruang bagiku untuk mencium keharuman memeknya.

    Mula-mula hidungku menyentuh kelembaban memeknya, dan aku menghirup keharuman yang memabokkan dari Memek Mbak Tri. Kususupkan hidungku dalam jepitan daging kenikmatan Memek Mbak Tri.

    Mbak Tri mengerang, “Aahh, Yayaanngg. Terusin Yang.”

    Lalu kukecup memeknya dengan penuh kelembutan. Dan perlahan mulai keluarkan lidahku untuk menjelajahi bibir memeknya. Kugerakkan lidahku perlahan-lahan kesekeliling memeknya. Tanganku meremas-remas pantatnya. Sesekali lidahku menyapu klitnya, dan kujepit klitnya dengan kedua bibirku.

    Cerita Sex Aku Di Bikin Konak Oleh Pembantu Genit Tetanggaku

    Cerita Sex Aku Di Bikin Konak Oleh Pembantu Genit Tetanggaku

    Tubuh Mbak Tri mengejang sambil mendesah, “Aarrgghh.. Yayaanngg.. Ennaakk Yaanngg..”

    Kedua tangan Mbak Tri meremas rambutku sambil menekan kepalaku ke belahan pahanya. Wajahku terbenam di Memek Mbak Tri, aku hampir tidak bisa bernafas.

    “Yaanngg.. Tunggu Yaang. Mbak nggak kuat berdiri Yang.”

    Lalu Mbak Tri merebahkan tubuhnya di kasur sambil melepaskan kaos dan branya. Dia terlentang di kasur. Aku berdiri dan ingin mulai melepas baju dan celanaku.

    “Jangan Yang, kamu jangan buka baju dulu. Jilatin Memek Mbak dulu Yang.” perintah Mbak Tri. Lagi-lagi aku nurut.

    Lalu Mbak Tri kembali menekan kepalaku ke selangkangannya. Kuteruskan kegiatan mulut dan lidahku di pesona kewanitaan Mbak Tri yang sangat indah kurasa. Kumasukkan lidahku ke dalam memeknya, dan kuputar-putar di dalam memeknya.

    Dia menggelinjang kenikmatan. Rambutku sudah berantakan karena diremas terus oleh Mbak Tri. Sekitar sepuluh menit kujilati Memek Mbak Tri dan memberinya kenikmatan sorgawi. Akhirnya dia menjerit tertahan, tubuhnya mengejang dan tangannya menekan kepalaku dengan kuatnya.

    “Aauugghh.. Yaanngg. Mbakk.. Kkeeluaarr Yaanngg” rintihnya.
    Pantat dan pingulnya bergerak memutar dengan liar dan tiba-tiba berhenti.
    “Sshh.. Oogghh.. Yaanngg.. Ennaakk banggeett Yaangg.”

    Kusedot seluruh cairan yang membanjir dari Memek Mbak Tri. Rasanya gurih dan wanginya harum sekali. Kurasakan becek sekali Memek Mbak Tri saat itu. Setelah berisitirahat kurang lebih sepuluh menit, Mbak Tri bangun dan mulai membuka pakaianku.

    “Sekarang giliran kamu Yang. Mbak mau gigitin kamu” perintahnya.

    Setelah semua pakaianku lepas, Mbak Tri memandang ke penisku yang sudah pusing dari tadi. Dia menggenggam penisku dengan gemas dan mulai mengocoknya dengan lembut. Kemudian aku disuruhnya telentang, lalu dia mendekatkan kepalanya ke penisku. Dikecupinya kepala penisku, dan lidahnya mulai menjelajahi bagian atas penisku.

    Astaga, permainan lidah Mbak Tri luar biasa sekali. Dalam sekejap aku dibuatnya melayang ke angkasa. Kenikmatan yang diberikan melalui lidah dan mulutnya, membuatku mendesah dan menggelepar tidak karuan.

    Dari bagian kepala, lalu ke batang penisku dan bijiku semua dijilatinya dengan penuh nafsu. Sesekali bijiku dimasukkan ke dalam mulutnya. Sampai terbalik mataku merasakan nikmatnya. Ujung lidahnya juga menyapu bahkan menusuk anusku. Kurasakan listrik yang menyengat ke sekujur tubuhku saat lidah Mbak Tri bermain di anusku. Sepuluh menit lamanya Mbak Tri menjilati dan mengemut penis dan anusku.

    Kemudian dia merayap naik ke badanku, mengangkangiku, dan mengarahkan penisku ke memeknya. Perlahan dia menurunkan pantatnya. Kurasakan penisku mulai melakukan penetrasi ke dalam belahan memeknya yang sangat montok itu. Agak susah pada awalnya karena memang tembem sekali Memek Mbak Tri. Setelah masuk semua, Mbak Tri mulai menaik turunkan pantatnya.

    “Aauugghh, Mbak. Enak Mbak.” rintihku.
    “Iya Yang, Mbak juga ngerasain enak. Adduuhh. Kontol kamu enak banget Yang.”

    Dan Mbak Tri mulai melakukan putaran pinggulnya. Pantatnya tidak lagi turun naik, melainkan pinggulnya yang berputar. Ini benar-benar membuat sensasi yang luar biasa nikmatnya. Mbak Tri sangat pintar memutar pinggulnya. Aku mengimbangi gerakan Mbak Tri dengan menusuk-nusukan penisku.

    Tapi, “Yaanngg. Kamu diem aja ya Yaangg. Biar Mbak aja yang muter.”

    Akupun diam dan Mbak Tri semakin liar memutar pinggulnya. Tidak lama kemudian, Mbak Tri menghentikan putaran pinggulnya, dan kurasakan memeknya menyedot penisku. Serasa dipilin oleh gumpalan daging yang hangat, kenyal dan kesat.

    Lalu Mbak Tri mengerang keras, “Yaanngg.. Aarrgghh. Mbak keluar laggii Yaanngg..”

    Mbak Tri rebah di atas tubuhku, sementara memeknya terus menyedot penisku. Luar biasa sekali rasanya memek Mbak Tri ini. Kemudian Mbak Tri memberi perintah agar aku bergantian di atas. Aku menurut, dan tanpa melepaskan penisku dari dalam memeknya kami berubah posisi.

    Sekarang aku berada di atas. Mbak Tri melingkarkan kakinya ke kakiku, sehingga aku tidak leluasa bergerak. Rupanya ini yang diinginkan oleh Mbak Tri, agar aku diam saja. Mbak Tri juga tidak menggerakkan pinggulnya, hanya kurasakan daging di dalam memeknya yang melakukan gerakan menyedot, memijit, memutar dan entah gerakan apa namanya.

    Yang pasti aku merasakan jepitan Memek yang sangat kuat namun enak sekali. Aku tidak dapat menggerakkan penisku di dalam memeknya. Juga tidak dapat menarik penisku dari dalam Memek itu. Tidak lama kurasakan Memek Mbak Tri menyedot penisku. Lalu perlahan Mbak Tri mulai memutar pinggulnya.

    Aku merasa sperti perahu yang berada di dalam lautan yang bergelora karena ada badai yang dahsyat. Dan semakin lama gelombang itu semakin kuat menggoncang perahu. Nafas kami sudah memburu, keringat sudah mengucur membasahi tubuh kami.

    Dan kurasakan Memek Mbak Tri mulai berdenyut keras lagi, bersamaan dengan aku mulai merasakan desakan lahar dalam diriku yang menuntut untuk keluar dari tubuhku. Putaran pinggul Mbak Tri semakin menggila, dan akupun membantu dengan menekan-nekankan pinggulku walaupun tidak terlalu bebas.

    “Oogghh.. Yaanngg.. Mbaakk nnggaakk kkuatt laaggi Yaanngg..” erang Mbak Tri.
    Aku juga sudah tidak bisa menahan lagi desakan dari dalam itu, “Iyaa mbaakk.. Aakkuu juggaa.. Aarrgghh.”

    Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku, karena saat itu muncratlah sudah cairan kenikmatanku di dalam memek Mbak Tri. Bersamaan dengan itu, Mbak Tri juga sudah mengejang sambil memelukku dengan kuatnya.

    “Sshh.. Oouugghh.. Enaak baannggett Yaangg.”

    Kami merasakan nikmat yang tiada duanya saat air mani kami bercampur menjadi satu di dalam memek Mbak Tri. Mbak Tri mencium bibirku, akupun membalasnya dengan penuh gairah. Dan.. Kamipun terkulai tak berdaya. Aku terhempas di atas tubuh Mbak Tri. Nafas kami tinggal satu-satu. Seprai dan kasur Mbak Tri sudah basah sama sekali karena keringat dan air mani kami yang meluap keluar dari Memek Mbak Tri saking banyaknya.

    “Yayaanngg..” Mbak Tri memanggilku dengan mesranya.
    “Iya mbaakk.” aku menjawab dengan tidak kalah mesranya.
    “Kamu hebat deh Yaang.” kata Mbak Tri sambil mengecup bibirku dengan lembut.
    “Mbak juga hebat. Memek Mbak enak banget deh Mbak.” kataku.

    Mbak Tri tersenyum, “Yayang suka sama memek Mbak?” tanyanya.
    “Suka banget Mbak. Memek Mbak bisa nyedot gitu. Nanti boleh lagi ya Mbak?” aku merayunya.
    “Pasti boleh Yang. Memek ini emang untuk Yayang kok.” Kata Mbak Tri.

    Dan malam itu, kami melakukannya sebanyak tiga kali, sampai kudengar adzan subuh dari mesjid terdekat. Lalu aku keluar dari rumah itu setelah melihat bahwa situasi aman, dan pulang ke rumahku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Waktu KKN Ke Desa

    Cerita Sex Waktu KKN Ke Desa


    1912 views

    Perawanku – Cerita Sex Waktu KKN Ke Desa, Saya Panji, mahasiswa universitas di Solo. Pada saat melakukan kegiatan KKN ,saya dapat pembagian kelompok yang kebetulan bebarengan dengan cewek yang sangat seksi dan cantik, bernama Nita. Kita hanya kenal sebatas kenalan saja karena kita satu angkatan dan beda prodi.

    Dia tergolong wanita dengan postur tubuh yang ideal, tubuhnya semampai bak gitar spanyol dengan paras yang oval dan bicara dengan dada nya sangat menonjol terlihat sekali kalo sedang memakai kaos ketat. Semenjak kami melakukan survey lokasi desa yang akan kami diami, kami berdua semakin akrab saja karena kemana mana selalu bebarengan, jadi dengan kegiatan KKN kita menjadi semakin deket.

    Saat itu ketika pertama kalinya kami survey, Nita bebarengan dengan temen wanitanya, setelah itu pada saat survey berikutnya Nita bersamaku. Karena pada saat itu teman-temanyang lain pada masih sibuk dengan urusannya masing-masing dan yang bisa hanya kami berdua saja. Pada awalnya kami hanya hubungan biasa saja dan santai, tpi kadang-kadang terbesit di pikiranku teman-teman berpikiran yang enggak-enggak. Karena dengan paras yang secantik Nita yang kadang-kadang dapat menggoda kaum adam.

    Dan kemudian aku menyarankan Nita untuk mengajak temen satunya lagi dengan alasan biar seru dan rame. Kemudian kita melakukan survey berikutnya dengan temen KKN ku cewek di boncengin sama pacarnya dan aku pun bocengan dengan Nita. Sewaktu kita perjalanan, aku sedikit gerah dan tak kosentrasi karena dada Nita yang selalu menekan punggungku. Karena dengan model motorku yang jok nya sedikit agak merosot ke depan, membuatnya selalu merosot dan payudaranya yang empuk selalu menempel di punggungku. Saya perhatikan dari spion motorku, nampaknya dia mulai salah tingkah dan membenarkan posisi duduknya.

    Semakin lama gak semakin menempel saja payudaranya sampai aku megantarkan pulang ke kosnya, udah kemana-mana pikranku. Pada waktu kita sudah mendiami rumah warga yang berada di pedesaaan yang lingkungannya lumayan dingin, selama KKN kemanapun anggotaku ada acara kami pun selalu bersaamaan. Udah di bilang, kagak bisa di pisahin deh.

    Kebetulan si Nita sudah punya cowok, akan tetapi aku sudah di pertemukan cowoknya, dan mempercayakan ke aku. Dan aku sih oke oke saja. Selang 1 bulan berlanjut, selama kegiatan KKN ya gitu-gitu aja.pada saat aku memperhatikan Nita yang memakai baju santai kadang bajunya yang nerawang sehingga nampak kutang nya yang bermotif bunga, kadang kala aku ngingetin ke Nita kalo kutang nya bagus berbunga-bunga.

    Hubungan kami semakin deket saat kita berfoto, dia lebih sering merangkul ku, dan culunnya aku malah pasang muka datar ketika tanganku nganggur untuk merangkulnya ada kesempatan juga, tpi tak aku kugunakan. Sangaat mubazir sekali payudaranya menganggur tak jadi ku pegang saat berfoto. Ketika progam KKN sudah berjalan padat, kita sibuk dengan progam kerja masing-masing. Aku sengaja mencari progam yang sama dengan Nita agar kita bisa bersamaan terus deh. Saat progam KKn yang kami lakukan telah selesai, Nita dan aku pun langsung pulang tanpa teman-teman menaruh curiga kepada kami.

    Sesampainya di rumah , terlihat sepi tak ada orang sama sekali dan pikirku si pemilik rumah pergi ke pasar seperti biasanya menjajankan uang bulanan untuk keperluan dapur. Akhirnya kami pun menuju kamar masing-masing untuk menganti pakaian dan tiduran sejenak karena terasa letih pada saat kegiatan. Belom sampai nya sepuluh menit aku rehatan, Nita memanggil-manggilku. Dengan buru-buru aku segera menuju kamarnya, sebenarnya apa sih yang terjadi kok sampai histeris teriak-teriak. Oiya, kamar kita saling berhadapan.

    Jadi satu deret khusus cewek, yang satunya khusus cowok. Aku kemudian menghampirinya ,dan menanyakan “ada apa??apa yang terjadi??”. Ternyata Nita ingin ngobrol denganku, mungkin karena kesepeian kali ya? Kami pun membicarakan pada waktu sekolah dulu, namau pada akhirnya ketika aku menanyakan tentang pacarnya Nita langsung jhanya diam saja. Ntah apa yang ku ucapkan kok jadi begini ya??

    Aku menjadi bingung saat Nita mulai merengek di hadapannku. Kemudian aku bertanya kembali ,emang apa yang sebenarnya terjadi denganmu?? Nita pun menjawab,”aku lagi sebel sama pacarku”. Memang saat aku melihat Nita , dia sering kali murung entah karana apa?oowh , ternyata sedang galau dengan pacarnya. Tanpa sadar, tanganku mulai mengelus rambutnya dan mulai untuk menenangkannya secara perlahan.

    Ku sapu air matanya dengan jariku di pipinya, sambil ku elus-elus wajahnya yang begitu halus. Nita pun agak sedikit kaget dengan perlakuanku terhadapnya kemudian dia pun menggenggam tanganku. Kami pun saling bertatapan mata sampai kita saling bersentuhan bibir, entah siapa yang memulai berjalan begitu aja.

    Ku rasakan dengan nafas yang belum beraturan akibat rengekan Nita, sambil aku mulai mengelus-ngelusnya kembali. Aku membisikkan ke Nita, “tenang saja..masih ada aku “ucapku. Ketika aku tatap matanya kembali Nita langsung menciumku dengan halus dan lembut. Ku lanjutkan lagi dengan pergerakan untuk mengimbanginya, ku mainkan pula gerakan lidahku yang menjulur.

    Nita terlihat geli keenakan karena pada saat ku mainkan lidahku ke dalam mulutnya sambil menahan “heemmmm…..”. setelah itu tanganku mulai bergerak di bagian pantatnya sambill menjelajah lekukan tubuh Nita yang begitu aduhay.

    Kami pun melepas ciuman dan saling bertatapan, dia tersenyum dengan manja-manja sayu sehingga setiap para pria pasti ingin menciumnya. Kemudian secara langsung aku memegang payudaranya, dan dia hanya diam saja dan mengangguk dengan senyuman.

    Aku lancarkan kembali seranganku utnuk meremas-remas payudaranya yang kenyal itu dan kami sambil berciuman kembali. Nita kembali mendesah kenikmatan “uuh,,,,,,,ahhhhh…”ketika aku menciumnya sampai ke telinga. Ketika aku mau melepaskan kutangnya, terdengar gerumunan suara dari luar rumah. Kami pun segera membenahi diri, ternyata teman-teman KKN yang sudah selesai mekkan kegiatannya.

    Semenjak itu lah ubungan kami menjadi tambah akrab dan deket. Nita sering memanggiku “Say”, awalnya sih aku agak kaget karena Nita mamangilku seperti itu. Karena pada saat memanggilku kayak gitu d I hadapan teman-teman pada saat dia sedang memberikan aku minuman. Tapi teman-teman jhnaya menganggapnya hanya suatu candaan. Kalo aku ma terserah Nita mau manggil aku apa, lagian aku sebagian sudah menikmati tubuhnya.

    Aduhai… Setelah minggu ke empat berlalu, Nita mendadak ijin pulanhg ke ketua KKN karena ada keperluan keluarga dan aku di ajak untuk menemaninya untuk mengantarkan. Selama perjalanan nita sembari memeluk saat berboncengan dijalan desa yang sepi dan jarang kendaraan yang lewat, sesekali dia mencium leherku. Dan aku hanya diam saja untuk menikmatinya saja, sambil mringis aja.

    Kemudian hari pada saat aku jalan-jalan sore dengan teman-teman di daerah pedesaan tersebut, nita tiba-tiba menelpon ku “ lagi dimana say??sedang apa?ucapnya.” Lagi kumpul sama temen-temen, gimana Nit?”jawabku.”Jemput aku donk, di tempat kemarin . aku tunggu ya?” bisa donk kalo kamu yang meminta, oke tunggu sebentar 5menit tan aku nyampe”. Ung Kemudian di putusnya telepon. Langsung saja aku berpamitan dengan temen-temen dan langsung aku mengambil motor untuk menjemputnya.

    Sesampainya menjemput Nita, dia melihatku sambil tersenyum manis”cepet banget ya sayaang”ucapnya. “Iya donk , demi kamu aku secepat kilat.hehehe…”jawabku. Kemudian dis langsung memboncengku dan kami mulai menancap gass..selama perjalanan kita sambil ngobrol-ngobrol dan bercadaan sambil dia nyubit pinggangku.

    Aduuh , kayaknya dia mulai nantangin dan aku sambil mulai memegang tangannya sambil mengendarai motor pake tangan satu. Ku elus-elus tangannya dan dia mulai diam sepertinya Nita mulai menikmati kasih sayangku.heheehe… Sesampainya tiba di posko KKN, dia langsung bergegas ke kamarnya dan bergegas langsung mandi dan aku ngumpul kembali dengan teman-teman untuk menonton acara tv.

    Di lingkungan pedesaan ini terlihat cuaca yang agak mendung, padahal kita ada progess untuk berkunjung ke sekolahan tempat kami mengadakan KKN untuk sosialisasi terakhir kalinya. Ketika sedang mau berangkat untuk sosialisasi, aku dapat jatah mandi terakhir dan terlambat untuk menghadiri kegiatan tersebut. Secara tidak sengaja, Nita pun juga terlambat untuk menghadiri kegiatan itu.

    Kami berdua tertinggal karena acara yang sudah di mulai, sesaat kami bergegas untuk berangkat tibi-tiba hujan turun dengan lebatnya. Kemudian aku mengabari ketua yang memimpin acara itu, untuk tidak bisa hadir karena disisni sudah hujan angin. Dan ketua mengijinkan pula untuk tidak berangkat ke sekolah, karena pada saat itu di sana juga mengalami hujan deras.

    Aku dan Nita pun mengobrol-ngobrol saja, dan kadang juga bercada. Nita sering mencubitku saat kita bercandaan dan aku mulai agak sedikit memancingnya. “oiya , disini Bapak Ibu kos gak di rumah lho?? Soalnya aku tau dari temen-temen yang hendak bergegas berangkat sosialisai, sebelum berangkat hendak mengunci pagarnya karena Bapak Ibu pergi ke luar kota untuk kondangan.

    Kemudian sambil ngobrol duduk kami pun saling berdekatan danentah kenapa aku mulai membelai rambut nya yang panjang sambil memainkannya. Terasa wangi sekali aroma rambutnya saat aku menciumi rambutnya dan mungkin apa karena keramas tadi.

    Kemudian aku pegang kembali rambutnya yang terurai dan aku memegang bahunya. Nita pun berkata

    ” aku gak nyangka kita bisa begini”,

    aku pun sangat binggung dengan lontaran kata yagn di ucapkan Nita. Apa maksut dari perkataannya,

    ”maksudmu?”tanyaku.

    Kemudian Nita mulai merebahkan tubuhnya ke pelukanku dan kepalanya mulai menyandarkan ke bahuku.

    Nita berkata” kamu baik sekali,bisa ngertiin aku , perhatian ke aku, kamu ini beda dengan pria-pria yang aku temui. Kemudian aku melihat mata nya yang berkaca-kaca, seiring aku belai rambutnya aku pun mulai menenangkannya.

    Dia menatapku dalam-dalam dan tanpa kusadari kemudian kita sudah saling bersentuhan bibir entah apa yang terjadi.nita pun meumat bibirku dengan kencangnya. Aku pun membalas dengan memainkan lidahku, nita juga gk mau kalah

    ” Hmmmmm…mhhhh….”

    Tanganku langsung dengan spontan meraba payudaranya yang masih tertutup oleh jaket. Kemudian tiba-tiba Nita melepas ciumannya dan bebisik “ kita ke kamar saja y sayang…” langsung dengan cepat aku arahkan ke kamar yang aku tempati. Setelah sesampainya sudah di kamar , aku mengunci kamar dan mulai ku lepas jaketnya. Nita memakai kemeja yang menurutku sangat cantik dan anggun sekali dengan postur tubuhnya yang membentuk dan aduhaaay.

    Ucap Nita

    ” kamu kok diem saja” dalam otakku

    “ wah,,,iya juga ya??cewek ini memang bener2 butuh??”

    Langsung saja aku mulai melumat bibirnya yang sexy dan ku mainkan lidahku. Dia juga ikut membalasnya dan sesekali dia menyedot lidahku ke dalam. Tanganku yang gencar menyerang payudaranya, dengan ukuran yang lumayan dengan genggaman tanganku.

    Berbalutkan warna putih menerawang, semakin tambah pula gairahku untuk menjamahnya.kemudian aku langsung saja melepasnya perlahan-lahan dan nampak buah dada yang putih dan kenyal memerah dengan putting yang menonjol semakin menegang konolku ini.

    Aku remas dan ku elus-elus kumainkan putingnya dan terdengar desahaan,,

    ”ahhh…..mhhhhh….uhhh….” ucap Nita,

    Enak…enak…terus say..

    Tanpa perintah pun aku dengan sendiri memainkannya dan mulai menjilati ke dua buah dadanya sampai mejalar ke lubang telinga dan lehernya agar Nita menjadi semakin terangsang dan semakin menggairahkan. Ucap Nita

    ” di emut-emut say…”

    aku mulai mengemut lagi putingnya yang lincip itu yang berwarna sawo matang sambl tanganku bergerak memainkan puting yang satunya.

    Mhhhhh . . .. .Enaakkk. . . .geli sayaaaangg…,ucapnya.

    Terdengar desahan seperti itu, tanganku yang satu mulai merosot ke bawah untuk meraba-raba memeknya yang masih tertupi oleh celana nya. Sepertinya aku sudah merasakan memeknya yang sudah mulai basah karena rangsangan yang aku perbuat.

    Tak ambil awktu yang lama, aku kemudian mencopot celananya dan nampak CD yang sudah basah yang berwarna putih terawang sehingga membuat ku semakin tambah bergairah lagi. Ku mulai melepas baju dan melorotkan celana sehingga sudah terlihat kontolku yang sudah menegak dank eras yang mencuat keatas.

    Nita pun langsung memegangi kontolku yang mencuat ke atas, langsung saja dia mulai mengemutnya dan menjilati serta di sedot-sedotnya pula. Perasaanku saat itu enaaak sekali, ku ucap

    ”Teruss sayanngg. . . . . .”

    Ku lihat wajahnya yang sangat cantik dan bersih sambil dia mengemut kontolku yang sangat menggairahkan sekali. Aku gak diem saja, aku copot saja CD nya dan nampak gundukan memek yang sangat bersih dengan bulu tipis yang sedikit dengan lumeran cairan yang sedikit menetes dari dalam memeknya.

    Dengan ada nya itu,birahiku semakin liar dan langsung aku mulai menjilati memeknya yang agak sedikit basah. Ku lakukan dengan gaya berbalik , mirip gaya 69 yang ada pada adegan porno.

    Sungguh nikmat sekali rasanya saat aku menjilati memeknya dan ku goyang-goyangkan klitorisnya dengan ujung lidahku kadang pula aku sedot dan ku emut-emut. Sambil dia masih aktif dengan mengemut kontolku dan desahan menggeli saat aku menjilatinya memeknya.

    “oouuwwhh…..yeess..mhhh….”enak sekali rasanya…. . .

    Setelah tiba saatnya, ku mulai memasukkan kepala kontolku ke dalam lubang vagina nya secara perlahan dulu,setelah sudah masuk baru batang kontolku ku tancapkan dalam-dalam ke lubang vagina. Kemudian beberapa saat setelah sudah masuk semua baru mulai ku genjot perlahan keluar masuk agar memeknya sudah mulai terbiasa. Ku lanjut dengan genjotan berikutnya, maju mundur dia pun sudah merintih keenakan nggak karuan rasanya.

    ” Terus . . . .sayaang . . .yang daleeem. . “

    Lalu kepercepat gerakkanku dan Nita semakin menjerit pelan dengan mimik muka yang kaget karena pergerakannku dan menggeliat

    “Ahhhh…..Uhh. . . . .Ah. . . . Enak sayang…milikmu dasyat. . “

    Sambil memeluk tubuhku dengan kaki yang melingkar ke pinggang. Seteaa aku rasa dengan gaya ini agak sedikit capek, kulanjutkan dengan gaya dengan tubuh wanita tiduran ke samping yang mengempit memeknya. Aku masukkan batang kontolku ke dalam dan tersa sangat sempit dengan himpitan selakangan, memeknya semakin keset, semakin nikmat lama aku menggenjotnya.

    ” Ahhh….Sayaaang. . . .Uhmm. . . .”

    Dengan nafas yang sedikit terengah-engah dan desahan nya semakin terdengar kembali.

    “Sayaang. . .aku mau keluaaar. . . . uhh…….ahh…”

    Dan aku mersakan lelehan yang kental dan hangat yang membasahi kontolku. Dan semakin licin pula kontolku karena cairan yang keluar dari memeknya Nita. Ternyata Nita sudah keluar lumayan banyak. Setelah rehat sejenak, kisaran satu menit untuk dia menikmati masa orgasme nya, dan sekarang giliran aku yang diam.

    Nita kemudian yang mulai beraksi , dia beranjak dari ranjang dan menindihku dari atas. Aku hanya tidur terlentang saja, pada posisi ini Nita semakin liar dengan hasrat yang sudah meluap-luap. Dengan gerakan naik turun dengan memek yang mencengkranm kontolku dari atas, dia putar-putarkan pinggulnya.

    Kontolku tersa di plintir dari dalam memeknya ketika dia sedang menggoyangkan bokongnya, mirip film bokep saja dalampikiranku. Oh,,,,nikmat sekali rasanya dengan gaya ini,memek nya yang masih terasa seret dan kencang menggoyangkan lidahku dengan ucap,

    ”Terus Sayaang,,,di goyaaang…”

    sambil aku mendesah tak karuan karena tindihan itu pula. Tenganku kemudian mulai meraba payudaranya yang menggatung bergerak tak karuan ntah kemana arah tujuan nya. Dan mulai ku cengkaram payudara yang kenyal itu, sambil ku remas-remas dan memainkan putingnya yang mungil itu. Kontolku semakin berdenyut-denyut, sepertinya mau keluar karena dengan goyangan Nita yang di atas membuat ku semakin cepat terasa dengan plintiran memeknya.

    “Nit, aku mau keluar sepertinya. . ..”ucapku dan Nita sepertinya juga mau keluar

    “ Sama-sama ya sayaaang,. . ., kontol kamu enak banget sampai aku mau keluar lagi. . .”ucap Nita.

    “Ouwwh…..yesss….aah. . . . .”

    Dan kemudian aku mulai memuncratkannya, karena aku sudah tak tahan lagi dengan gesekkannya, begitu pula dengan si Nita yang mulai menyemburkan kembali cairannya.

    “AHHHH……”

    Akhirnya kami berdua secara bersamaan keluar bersamaan dan Nita langsung lemas, merebahkan tubuhnya di pelukanku. .

    Hari berganti dan terus berganti hingga tiba saatnya KKN kami selesai, semenjak kejadian itu sebelum tiba hari pelepasan dari kampus dan perangkat desa, Nita masih sering mengajak sekedar curi-curi cium, memainkan dan mencubitku.

    NIta pun memeluk satu-satu temanku, dan pada saat memeluk ku erat sekali pelukan nya. Aku sudah tidak menghiraukan temanku yang lain, nampak air matanya menetes dari wajah cantik nya dan aku pun mengusap nya. Saat tim kami akan menuju ke kecamatan untuk upacara pelepasan aku mengendarai motor ku secara pelan agar bisa ngobrol lebih lama dengan NIta.

    “Sudah saatnya kita kembali ke kehidupan masing-masing, kamu yang aku kenal di kampus akan selalu aku kenal seperti kamu di sini, kita tetep usahakan komunikasi walaupun nggak sesering di sini, terimakasih untuk kebersamaan nya, semuanya yang kamu beri untuk aku”.

    Nita pun terdiam agak lama, memeluk ku erat, lalu dia juga membalas

    “terimakasih juga udh ngertiin aku, nglindungin aku, kamu lebih dari yang aku duga, aku harap ini bukan perpisahan, di kampus mungkin aku nggak bakal bisa panggil kamu pacar, tapi di dalam hatiku kamu tetep pacar aku”.

    Sambil dia mengecup leher ku saat perjalanan ke kecamatan. Akhir cerita sampai saat ini kita masih sering ketemu di kampus karena kita sama-sama sedang menyelesaikan skripsi, meskipun kita hanya melempar senyum, ada maksud tersendiri dibalik senyuman.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,